Darah Ksatria (Harkat Pendekar)

New Picture

Darah Ksatria (Harkat Pendekar)

Karya : Khu Lung

Saduran : Gan KH

 Menurut penilaian orang, dalam tiga ratus tahun ini, orang yang paling beruntung di dunia Kang-ouw adalah putera sulung keluarga Toan di Kim-tan, Toan Giok. Di Kim-tan, keluarga Toan adalah keluarga ternama. Di dunia Kang-ouw, keluarga Toan juga merupakan keluarga persilatan yang termasyur.

Walaupun ilmu golok yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga itu bersifat lembut dan serasi, tanpa menggunakan racun atau cara-cara licik lainnya, tapi ilmu tenaga dalam mereka amat murni dan mendalam. Juga luar biasa. Dan karena itu, persis seperti sifat Toan Giok sendiri, ilmu golok mereka tidak membangkitkan perasaan takut di hati orang lain, tapi menimbulkan perasaan hormat. Senjata warisan keluarga itu, Bik-giok-to (Golok Kemala), juga termasuk senjata pusaka. Golok itu mempunyai riwayat yang hebat dalam sejarah persilatan.

Tapi kisah yang akan kita ceritakan ini tentu saja bukan mengenai Bik-giok-to. Di dunia Kang-ouw, juga ada sebuah mustika yang disebut Bik-giok-je (Tusuk Konde Kemala).

Bila Bik-giok-to membawa pemiliknya kepada nasib baik dan kemakmuran, Bik-giok-je ini justru membawa kemalangan dan bencana. Menurut cerita, siapa pun yang memiliki Bik-giok-je ini, suatu bencana tentu akan segera menimpa dirinya.

Menurut cerita itu juga, setiap pemiliknya akan mengalami kematian yang tragis, tanpa terkecuali. Di dunia Kang-ouw, banyak beredar cerita dongeng yang berhubungan dengan Bik-giok-je. Ada yang lebih mirip mitos, penuh takhyul dan khayalan belaka. Tapi kisah kita ini juga bukanlah cerita tentang Bik-giok-je. Kisah yang akan kita ceritakan sekarang adalah tentang Bik-giok-cu.Apakah Bik-giok-cu itu? Apakah seorang manusia? Sejenis senjata? Sejenis pusaka? Atau semacam obat yang mujarab?

Bab 1: Empat Tuan Muda

Pertengahan musim dingin, dan hawa terasa amat dingin menggigit. Lembah itu tertutup oleh salju. Sejauh mata memandang, yang tampak cuma es, dan bumi kelihatan berwarna putih keperakan. Di lembah bersalju itu, seorang laki-laki sedang sibuk menggali sebuah lubang berukuran lebar tiga kaki, dalam lima kaki dan panjangnya tujuh kaki.

Dia masih muda, kuat, bertubuh tinggi dan berwajah tampan. Dan lebih dari itu, sikapnya seperti seorang pemuda terpelajar dan berasal dari keluarga berada. Bajunya tampaknya terbuat dari bahan yang mahal, dengan mantel berbulu tebal yang berharga seribu tael emas. Dia menggenggam sebilah tombak perak yang berkilauan di tangannya, dan gagang tombak terbuat dari perak murni.

Di atas gagang tombak terukir beberapa huruf berbunyi: “Hong Seng, Gin-jio, Khu”.

Pemuda seperti ini seharusnya bukan seorang penggali tanah. Tombak perak sebagus itu juga seharusnya tidak digunakan untuk menggali tanah. Tempat itu adalah sebuah lembah yang indah di bawah naungan langit biru yang cerah. Tumpukan salju berwarna putih keperakan. Bunga bwe bermekaran dengan warna yang merah menyala. Dia datang ke sini dengan menaiki kuda, menempuh perjalanan yang jauh. Kuda itu merupakan turunan kuda jempolan yang ternama, harganya pasti amat mahal. Kuda jempolan. Pelana yang bagus dan mengkilap. Bahkan sanggurdinya pun terbuat dari perak murni.

Mengapa pemuda segagah ini, dengan kuda sebagus ini, mau menempuh perjalanan jauh datang ke sini dan menggunakan senjatanya untuk menggali tanah?

Lubang itu sudah selesai digali. Dia lalu berbaringnya di dalamnya seperti sedang mengukur besarkecilnya, apakah sudah cukup nyaman baginya untuk rebah di sana. Apakah pemuda ini menggali lubang itu untuk dirinya sendiri?

Cuma orang mati yang menggunakan lubang seperti ini. Padahal dia masih muda dan sehat, agaknya dia masih bisa hidup selama beberapa puluh tahun lagi. Mengapa dia menggali lubang kubur untuk dirinya sendiri? Apakah dia ingin mati? Manusia mana pun ingin hidup. Kenapa dia ingin mati? Dan kenapa harus mati di tempat ini?

Hujan salju sudah berhenti sejak tadi malam dan cuaca sudah menjadi cerah. Dia melepaskan pelana kudanya dan menepuk leher kudanya dengan perlahan. Lalu dia berkata, “Pergilah. Carilah seorang majikan yang baik.” Kuda yang gagah itu meringkik pelan dan segera berlari keluar dari lembah bersalju itu. Pemuda itu lalu duduk di atas pelana yang ditaruh di atas salju dan mendongak ke angkasa. Entah apa yang sedang dilamunkannya, sorot matanya tampak resah dan sedih.

Saat itulah serombongan orang datang ke lembah bersalju itu. Ada yang membawa kotak makanan. Ada yang memanggul meja dan kursi. Juga ada yang memikul dua guci arak. Mereka semua datang dari luar lembah. Orang yang berjalan di depan tampaknya seperti seorang pengurus rumah makan. Dia datang menghampiri pemuda tadi dan bertanya sambil tersenyum, “Maafkan hamba, Kongcu. Apakah tempat ini Han-bwe-kok?”

Pemuda penggali tanah itu mengangguk. Dia bahkan tidak melirik ke arah mereka. Orang itu bertanya lagi, “Apakah Toh-siauwya yang mengundang Kongcu ke mari?” Pemuda penggali tanah itu diam saja.

Pengurus rumah makan itu menghela napas. Dia lalu menggerutu sendiri, “Aku tidak paham. Kenapa Toh-kongcu menyuruh kami mengantarkan makanan dan arak ke sini?”

Seorang temannya tertawa dan berkata, “Anak-anak keluarga kaya kan tingkahnya aneh-aneh. Orang miskin seperti kita tentu saja tidak bakal mengerti.”

Segera mereka mengatur meja dan kursi di bawah sebatang pohon bwe, menyiapkan makanan dan arak di atas meja, dan kemudian bergegas pulang. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari luar lembah terdengar suara senandung dengan nada yang tinggi, “Langit cerah, salju bertumpuk. Bunga bwe mekar semerbak di mana-mana. Naik keledai melintasi jembatan. Keleningannya berbunyi nyaring.”

Bunyi keleningan memang berkumandang nyaring dan merdu. Seorang yang menaiki keledai hitam dan seorang lagi menunggang kuda putih lalu memasuki lembah itu. Si penunggang keledai berwajah pucat, seperti orang berpenyakitan. Tapi wajahnya selalu dihiasi senyuman yang hangat dan pakaiannya pun perlente. Temannya berpakaian indah, dengan sebilah pedang panjang yang tergantung di pinggangnya, sebuah topi berbulu rase di kepalanya, dan sebuah mantel berbulu rase warna perak. Dengan menunggang seekor kuda putih yang gagah dan besar, sekujur badannya kelihatan berwarna putih keperakan. Dia tampak amat angkuh. Tentu saja dia pantas untuk bersikap angkuh. Memang tidak banyak pemuda yang setampan dia. Agaknya ketiga pemuda ini semuanya berasal dari keluarga berada, berkumpul di sini tanpa perjanjian sebelumnya. Tapi jelas tujuan mereka berbeda. Kedua pemuda yang baru datang ini

sedang berjalan-jalan menelusuri salju, mengagumi bunga-bunga bwe yang sedang mekar, dan menikmati pemandangan alam sambil minum arak. Pemuda yang menggali tanah itu sedang menunggu ajalnya. Di bawah pohon bwe sudah tersedia arak. Pemuda yang selalu tersenyum tadi lalu menuangkan secawan dan menenggaknya. Lalu dia berkata, “Arak bagus.”

Di depan arak tumbuh kembang, dan bunga-bunga itu sedang mekar. Pemuda tadi menghabiskan secawan arak lagi dan berkata, “Kembang bagus!”

Warna kembang terpantul di salju, merah menyala. Dia menenggak secawan lagi dan berkata, “Salju bagus.”

Setelah tiga cawan arak masuk ke dalam perutnya, wajahnya yang pucat pun bersemu merah. Dia seolah-olah hendak melayang – semangatnya pun berkobar-kobar. Walaupun tubuhnya lemah karena penyakitan, dia bisa menghargai kesenangan hidup. Agaknya dia tertarik pada segala sesuatu, dan karenanya dia hidup dalam aneka ragam kesenangan. Pemuda tampan yang menunggang kuda putih, berbaju bulu dan membawa pedang panjang itu, ekspresi wajahnya justru tampak kelam dan kaku, seolah-olah tak ada yang bisa menarik perhatiannya.

Sambil tersenyum tipis, pemuda berpenyakitan tadi bertanya, “Salju bagus, kembang bagus, arak bagus. Kenapa kau tidak minum secawan?”

“Aku tidak minum arak,” jawab pemuda tampan itu.

Pemuda berpenyakitan berkata, “Kita jauh-jauh datang ke sini, dan kau tidak mau minum arak. Kau

tidak memperdulikan lembah bersalju yang indah dan ribuan bunga bwe yang sedang mekar di

sini.”

Dia lalu menghela napas dan bergumam, “Orang ini benar-benar kelewatan. Sungguh menyebalkan,

kenapa aku berteman dengan dia?”

Si pemuda penggali tanah masih duduk melamun. Pemuda berpenyakitan itu tiba-tiba bangkit

berdiri, berjalan menghampiri dan mengelilingi lubang itu beberapa kali. Lalu dia berkata, “Lubang

bagus.”

Si pemuda penggali tanah cuma diam saja.

Pemuda berpenyakitan lalu meneruskan, “Lubang ini digali dengan bagus.”

Pemuda penggali tanah tetap diam tak memperdulikannya.

Maka pemuda berpenyakitan itu lalu beranjak ke hadapannya dan bertanya, “Apa kau yang

menggali lubang ini?”

Pemuda penggali tanah itu tidak bisa diam lagi. Dia terpaksa berkata, “Ya.”

Pemuda berpenyakitan bertanya pula, “Tadi kubilang lubang ini digali dengan bagus. Apa kau tahu

maksudku?”

“Kau ingin aku minum arak denganmu,” jawab pemuda penggali tanah.

Sambil tertawa, pemuda berpenyakitan berkata, “Kau bukan cuma bisa menggali tanah, tapi kau

juga bisa menebak maksud hati orang lain.”

“Sayangnya, aku tidak mau minum,” kata pemuda penggali tanah.

Pemuda berpenyakitan tertawa lebar dan bertanya, “Kau tidak pernah minum?”

Pemuda penggali tanah menjawab, “Jika sedang senang, aku minum. Tapi jika tidak, buat apa

minum?”

Pemuda berpenyakitan bertanya, “Dan sekarang, kenapa kau tidak mau minum?”

“Karena sekarang aku sedang susah, aku tidak mau minum,” jawab si pemuda penggali tanah ketus.

Walaupun demikian, pemuda berpenyakitan itu tetap tertawa dan berkata, “Sekarang aku tahu siapa

kau. Sudah sering kudengar orang mengatakan bahwa watak Gin-jio Kongcu persis seperti

tombaknya, lurus dan keras. Kau tentu Khu Hong-seng.”

Pemuda penggali tanah itu tidak menghiraukannya lagi.

Pemuda berpenyakitan tadi berkata, “Aku she Toh, namaku Ceng-lian (Teratai Hijau).”

Khu Hong-seng tetap tidak memperdulikannya, seolah-olah belum pernah mendengar nama itu.

Padahal dia mengenal nama itu. Di antara orang-orang yang berkelana di dunia Kang-ouw, amat

sedikit yang tidak mengenal nama ini.

Di dalam Bu-lim, di jaman ini tentu tidak ada orang yang tidak kenal nama Bu-lim-si-toakongcu,

empat kongcu ternama – Gin-jio (Tombak Perak), Pek-ma (Kuda Putih), Ang-yap (Daun Merah)

dan Ceng-lian (Teratai Hijau). Dia juga tahu bahwa si pemuda tampan yang menunggang kuda

putih, bermantel bulu dan membawa pedang panjang itu adalah Pek-ma Kongcu, Ma Ji-liong. Tapi

dia pura-pura tidak mengenalnya.

Toh Ceng-lian menghela napas dan berkata, “Agaknya kau telah memutuskan untuk tidak minum

hari ini.”

Mendadak terdengar sebuah suara yang nyaring dari luar lembah, “Kalau mereka tidak mau minum,

biar aku saja.”

Orang yang gemar minum pun tiba. Setelah hujan salju berhenti, hawa malah lebih dingin dari

sebelumnya. Mereka mengenakan pakaian berbulu, tapi tetap saja merasa dingin. Sebaliknya orang

ini memakai baju tipis, dan walaupun bahannya bagus, baju itu tidak cocok dipakai dalam udara

sedingin ini. Maka dia pun menggigil kedinginan. Tapi, walau udara teramat dingin, dia malah

memegang sebuah kipas lempit di tangannya. Guci arak berada di atas meja, begitu pula dengan

cawan-cawannya. Mereka melihat dia berjalan ke sana dan mengangkat sebuah guci dengan kedua

tangannya. Lalu dia menenggak beberapa teguk. Setelah itu, sambil menghela napas dia berkata,

“Arak bagus.”

Toh Ceng-lian tertawa.

Lalu orang itu menenggak sekali lagi dan berkata, “Bukan hanya arak dan kembangnya yang bagus,

tapi saljunya juga bagus.” Setelah minum beberapa teguk, dia pun tidak menggigil lagi. Wajahnya

mulai bersemu merah.

Walaupun orang ini miskin, dia tidak tampak menyebalkan. Dia justru mampu menarik simpati

orang. Alisnya yang panjang lentik dan bola matanya yang cemerlang tampak menyenangkan. Bila

tersenyum, sudut mulutnya terangkat, dua lesung pipi pun tampak menghiasi wajahnya. Toh Cenglian

mulai menyukainya.

Orang ini benar-benar menyenangkan.

Orang ini juga berkata, “Dengan perasaan seperti ini, pemandangan yang seperti ini, di saat seperti

ini, orang yang tidak mau minum seharusnya…..”

Toh Ceng-lian berkata, “Seharusnya…. apa?”

“Seharusnya dipukul pantatnya,” jawab orang itu.

Toh Ceng-lian tertawa terbahak-bahak. Pemuda penggali tanah itu tetap pura-pura tidak mendengar

dan membisu. Kecuali orang yang sedang dia khawatirkan dan persoalan yang sedang membuatnya

bingung dan gundah, dia tidak perduli pada urusan lain.

Walaupun Ma Ji-liong mengerutkan keningnya karena gusar, namun dia masih menahan sabar.

Bukannya dia tidak berani. Dia cuma tidak mau menurunkan martabatnya dan bersikap kasar seperti

orang ini.

Tapi pemuda yang baru datang itu justru mendekati dirinya. Sambil menepuk guci arak, dia berkata,

“Ayo, kau pun minum secawan.”

“Kau tidak setimpal,” kata Ma Ji-liong dengan dingin.

Orang itu bertanya, “Oh, orang macam apa yang cukup setimpal untuk minum denganmu?”

“Orang macam apakah kau?” kata Ma Ji-liong.

Orang itu tidak menjawab. Malah, “sret!”, dia membuka lebar-lebar kipas di tangannya. Di kipas itu

tertulis beberapa huruf. Tulisan itu sangat indah, amat berseni, persis seperti dirinya sendiri.

“Daun-daun di musim gugur lebih merah daripada bunga-bunga di bulan dua.”

Walaupun orang ini miskin, kipasnya itu jelas merupakan barang berkualitas tinggi. Selain itu,

huruf-huruf di kipasnya pun tentu ditulis oleh seorang seniman ternama.

Toh Ceng-lian menenggak secawan arak lagi dan berkata, “Tulisan yang bagus.”

Orang itu mengangkat guci arak dan menenggak isinya. Lalu dia berkata, “Pandanganmu tajam

juga.”

Toh Ceng-lian berkata, “Siapa yang menulis huruf-huruf itu?”

Orang itu menjawab, “Kecuali aku, siapa lagi yang bisa menulis sebagus itu?”

“Sekarang aku juga tahu siapa kau,” kata Toh Ceng-lian sambil tertawa tergelak.

Orang itu berseru, “Oh, benarkah begitu?”

Toh Ceng-lian melanjutkan, “Kecuali Sim Ang-yap, siapa lagi yang segila dirimu?”

Di antara Bu-lim-si-toakongcu itu, yang paling angkuh adalah Pek-ma (Kuda Putih) Ma Ji-liong.

Yang paling keras wataknya adalah Gin-jio (Tombak Perak). Toh Ceng-lian adalah yang berhati

paling hangat. Dan yang paling edan adalah Sim Ang-yap.

Tiga orang pertama – Ma, Khu dan Toh – berasal dari keluarga ternama. Sementara Kuda Putih,

Tombak Perak dan Teratai Hijau adalah kongcu-kongcu yang berasal dari keluarga terkenal dan

baik-baik, asal-usul Sim Ang-yap sendiri benar-benar misterius.

Menurut cerita, dia adalah keturunan dari pendekar nomor satu di jaman dulu, Sim Long.

Juga dikabarkan bahwa sahabat karib Siau Li Tam-hoa (Li Sun-hoan) – dan jago pedang tercepat di

dunia – Ah Fei, adalah leluhurnya.

Sejarah hidup Ah Fei sendiri merupakan teka-teki, dan karena itu pula kisah hidup Sim Ang-yap

juga merupakan teka-teki. Dia sendiri tidak pernah bercerita tentang asal-usulnya. Orang

mencantumkan dirinya dalam Bu-lim-si-toakongcu karena dia dibesarkan dalam keluarga Yap.

Keluarga Yap yang dimaksud tentu saja keluarga Yap Kay. Dan Yap Kay adalah murid Siau Li

Tam-hoa. – Siapakah Siau Li si Pisau Terbang? Siapa yang tidak tahu tentang pendekar besar itu?

Saat ini Bu-lim-si-toakongcu sudah datang semua. Tapi bukan maksud mereka untuk bertemu di

sini. Tempat ini letaknya ribuan li dari rumah mereka. Toh Ceng-lian memiliki selera yang tinggi,

tidak mungkin dia mau menempuh perjalanan ribuan li hanya untuk menikmati panorama bunga

bwe yang indah dan minum arak.

Khu Hong-seng juga tidak mungkin menempuh perjalanan jauh dan hanya duduk di situ untuk

menunggu ajalnya. Jika orang ingin mati, di tempat mana pun bisa. Kenapa mereka semua datang

ke sini? Untuk apa?

Dengan sikap dingin, Ma Ji-liong duduk di sana, bertingkah seolah-olah nama Sim Ang-yap tidak

berarti apa-apa buat dirinya. Tapi tangannya telah bergerak meraba gagang pedangnya. Dia menatap

Sim Ang-yap dengan dingin dan mendadak berkata, “Bagus sekali.”

Sim Ang-yap bertanya, “Apanya yang bagus sekali?”

“Kau adalah Sim Ang-yap. Itu bagus sekali,” jawab Ma Ji-liong.

Sim Ang-yap bertanya, “Kenapa begitu?”

“Mulanya aku menganggap dirimu tidak berharga, tidak setimpal bagiku untuk mencabut pedangku.

Pedangku tidak pernah membunuh seorang badut,” jawab Ma Ji-liong.

Sim Ang-yap melanjutkan, “Dan sekarang?”

Ma Ji-liong berkata, “Sim Ang-yap bukan badut. Maka, jika sekarang kau menyemprotkan katakata

kotor, di antara kau dan aku akan terjadi pertumpahan darah dan harus ada yang mati.”

Sambil tersenyum pahit, Sim Ang-yap menghela napas dan berkata, “Aku cuma meminta kau untuk

minum arak denganku, dan kau sudah sebegitu marahnya!”

Toh Ceng-lian menyela, “Dia tidak mau minum. Tapi aku mau.” Lalu dia merebut guci arak dari

tangan Sim Ang-yap, membuka mulutnya dan menenggak beberapa teguk. Sambil terbatuk, dia

berkata, “Arak bagus.”

Sim Ang-yap merampas guci itu kembali dari tangannya dan minum beberapa teguk. Sambil

menghela napas, dia berkata, “Arak seperti ini, biarpun diracuni juga akan tetap kuminum sampai

mati.”

Toh Ceng-lian terkekeh dan berkata, “Benar sekali. Jika kita bisa mati di sini sekarang, itulah nasib

kita yang bagus.”

Sim Ang-yap bertanya, “Kenapa begitu?”

“Karena… di sini sudah ada orang yang menggali liang lahatnya,” jawab Toh Ceng-lian.

Sim Ang-yap bertanya lagi, “Baguskah liang lahat itu?”

“Bagus sekali,” jawab Toh Ceng-lian.

Sim Ang-yap mendadak bangkit, sambil membawa guci arak dengan kedua tangannya, dia

mengelilingi lubang di tanah itu beberapa kali. Lalu dia bergumam, “Benar, ini liang yang amat

bagus. Jika orang mati dan dikuburkan dalam liang yang bagus seperti ini, dia benar-benar bernasib

mujur.”

“Sayangnya dia bukan menggali liang ini untuk kita,” kata Toh Ceng-lian.

Sim Ang-yap berkata, “Cuma orang mati yang menggunakan liang seperti ini. Apakah dia ingin

mati?”

“Agaknya begitu,” jawab Toh Ceng-lian.

Sim Ang-yap tampak kaget dan berkata, “Orang ini kenapa ingin mati?”

“Karena, seperti kita, dia sudah menerima sepucuk surat yang mengundangnya untuk datang ke sini

hari ini.”

Sim Ang-yap bertanya, “Apakah surat yang dikirimkan oleh Bik-giok Hujin itu?”

Toh Ceng-lian menjawab, “Tentu saja.”

Sim Ang-yap berkata, “Bik-giok Hujin mengundang kita semua datang ke sini. Apakah karena dia

ingin agar salah seorang dari kita menjadi menantunya?”

“Benar,” jawab Toh Ceng-lian.

Sim Ang-yap melanjutkan, “Bik-giok Hujin adalah jago kosen yang paling terkenal di dunia. Di

Bik-giok-san-ceng, semua penghuninya adalah perempuan-perempuan yang amat cantik. Saat

menerima surat itu, aku merasa begitu senangnya hingga tidak bisa tidur.”

“Aku bisa membayangkannya,” balas Toh Ceng-lian.

Sim Ang-yap berkata, “Jika dia memilihku sebagai menantunya, kurasa aku bisa gila saking

senangnya.”

“Sebaiknya kau jangan menjadi gila. Bik-giok Hujin tidak mau menantunya menjadi gila,” kata Toh

Ceng-lian.

Sim Ang-yap bertanya, “Apakah dia mau mengambil orang mati sebagai menantunya?”

“Tentu saja tidak,” jawab Toh Ceng-lian.

Sim Ang-yap bertanya lagi, “Kalau begitu, kenapa Khu-kongcu kita mendadak ingin mati di sini?”

Toh Ceng-lian berkata, “Karena dia adalah pemuda yang romantis. Ia sudah bertunangan dengan

seorang nona muda yang cantik dan bersumpah setia sampai mati.” Ia menghela napas dan

meneruskan, “Jika Bik-giok Hujin memilih dia menjadi menantunya, dia tidak akan bisa hidup

bersama nona itu lagi.”

“Jadi, jika Bik-giok Hujin mengambilnya sebagai menantu, maka dia akan mati di sini,” tebak Sim

Ang-yap.

“Benar sekali,” jawab Toh Ceng-lian.

“Tapi persoalan ini masih bisa dilihat dari sudut pandang lain,” kata Sim Ang-yap setelah berpikir

sejenak.

Toh Ceng-lian bertanya, “Sudut pandang apa?”

Sim Ang-yap berkata, “Apakah menurutmu Bik-giok Hujin bisa melihat liang ini?”

Toh Ceng-lian terkekeh dan berkata, “Liang ini begitu besar. Walaupun orang tidak ingin

melihatnya, rasanya hal itu sulit untuk dihindari.”

“Jika dia melihat liang ini, dia akan menyadari bahwa Khu-kongcu sudah bertekad untuk mati.

Tidak mustahil dia akan membebaskannya pergi dan memilihku sebagai menantu Bik-giok-sanceng,”

kata Sim Ang-yap.

Sambil menghela napas, Toh Ceng-lian menjawab, “Kau benar-benar orang yang cerdas. Sudut

pandang orang cerdas memang selalu berbeda dengan orang lain, apalagi dengan orang romantis.”

“Orang romantis belum tentu tidak cerdas,” kata Sim Ang-yap sambil tertawa tergelak.

Rona muka Khu Hong-seng sudah berubah. Tiba-tiba dia berdiri dan menatap Toh Ceng-lian. Lalu

dia bertanya, “Kenapa kau bisa tahu semua ini?” Ini adalah rahasia, dan cuma dua orang yang tahu

tentang hal ini. Tapi ucapannya itu telah mengukuhkan bahwa kata-kata Toh Ceng-lian memang

benar.

Sambil menghela napas, Toh Ceng-lian berkata, “Kau tidak menyangka kalau aku pun tahu hal ini,

bukan?”

“Ya, aku tidak mengira, kau tahu dari siapa?” tanya Khu Hong-seng.

“Semula aku juga tidak tahu, sayangnya nona cantik itu…..”

Dia tidak menyelesaikan kata-katanya. Mendadak muncul mimik yang aneh di wajahnya. Mukanya

yang semula pucat mendadak berubah menjadi gelap. Dia menatap Sim Ang-yap dan membuka

mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.

Sim Ang-yap berkata, “Apakah kau…..” Suaranya pun mendadak hilang setelah beberapa patah kata

itu.

Mimik mukanya tampak aneh. Kedua orang itu berdiri saling berpandang-pandangan, sorot mata

mereka menampilkan perasaan takut yang teramat sangat.

“Plok!”, guci arak Sim Ang-yap terlepas dari genggaman tangannya dan jatuh ke dalam liang, pecah

berantakan.

Mendadak, dengan senyum yang sedih dan misterius di wajahnya, sepatah demi sepatah kata dia

berujar dengan serak, “Agaknya nasibku lebih baik darimu. Aku berdiri di pinggir liang ini….” Ini

adalah kata-kata terakhirnya. Dan belum habis bicara, tubuhnya sudah jatuh ke dalam liang.

Walaupun liang lahat itu bukan dipersiapkan untuknya, tapi dia sudah masuk lebih dulu.

Memangnya orang hidup mau berebut liang lahat dengan orang mati?

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 2: Pembunuh

Toh Ceng-lian pun juga roboh. Sebelum terjatuh, darah merembes dari sudut mulutnya. Tapi dia

masih berjuang untuk bangkit. Di atas meja masih ada arak di dalam guci lainnya. Ia merangkak ke

sana dan menenggak arak itu. Sambil tertawa dengan keras, dia berkata, “Arak bagus. Arak bagus.”

Suara tawanya terdengar melengking dan menyedihkan.

“Ini arak yang amat bagus. Walaupun aku tahu arak ini beracun, aku tetap meminumnya. Kalian

berdua lihat, bukankah hari ini aku minum sampai mati?” Ketika suara tawanya lenyap, dia pun

terjungkal ke dalam liang itu. Dia tidak mau membiarkan Sim Ang-yap memakai liang itu sendirian.

Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap, angin dingin terasa mengiris kulit, tapi kedua pemuda itu

tidak akan pernah merasa kedinginan lagi.

Khu Hong-seng dan Ma Ji-liong mengawasi kematian kedua orang itu dengan ketakutan, mereka

merasa diri mereka sendiri pun seperti akan ambruk juga. Perubahan ini terlalu mendadak, terlalu

mencekam dan terlalu menakutkan.

Setelah sekian lama, Khu Hong-seng pelan-pelan mengangkat kepalanya dan menatap Ma Ji-liong.

Tatapan matanya lebih dingin daripada angin. Sorot matanya tajam seperti pisau, seakan-akan dia

hendak merobek dada Ma ji-liong dan mengorek hatinya. Kenapa dia memandang Ma Ji-liong

seperti itu? Ma Ji-liong sudah pulih kembali ketenangannya. Toh Ceng-lian adalah temannya, yang

baru saja mati dengan tiba-tiba tepat di hadapannya. Tapi dia tidak kelihatan sedih. Kematian Toh

Ceng-lian sangat aneh. Tapi dia pun tidak kelihatan terkejut.

Agaknya dia tidak perduli apakah orang lain hidup atau mati, atau bagaimana mereka bisa mati,

karena dia masih hidup. Karena dia masih tetap Ma Ji-liong, yang selamanya dijuluki Pek-ma

Kongcu Ma Ji-liong.

Khu Hong-seng menatapnya. Tiba-tiba dia bertanya, “Kau benar-benar tidak pernah minum?”

Ma Ji-liong tidak menjawab. Jarang sekali dia mau menjawab pertanyaan orang. Biasanya, dialah

yang bertanya dan memberikan perintah.

“Aku tahu kau juga minum arak. Aku pernah melihatmu minum, dan minummu itu tidak sedikit,”

kata Khu Hong-seng.

Ma Ji-liong tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkal.

Khu Hong-seng berkata, “Kau bukan cuma pernah minum, tapi kau juga sering minum. Bahkan kau

sering mabuk. Saat berada di rumah makan Tin-cu-hong di Hangciu, kau minum siang dan malam

selama tiga hari berturut-turut. Kau mengusir semua tamu di rumah makan Tin-cu-hong itu karena

mereka semua jorok, tidak setimpal untuk minum denganmu.” Dia berhenti sejenak dan kemudian

melanjutkan, “Menurut cerita orang, kau pernah menghabiskan seluruh persediaan arak Li-ang-ciu

di rumah makan Tin-cu-hong itu, arak simpanan sebanyak 20 kati setiap gucinya. Dan kau

menghabiskan empat guci. Sampai saat ini, belum ada yang berhasil memecahkan rekormu itu.”

Ma Ji-liong berkata dengan dingin, “Guci terakhir bukan berisi arak Li-ang-ciu. Rumah makan Tincu-

hong itu cuma punya tiga guci arak Li-ang-ciu yang tulen.”

“Setelah menghabiskan enam puluh kati arak simpanan, kau masih bisa membedakan bahwa guci

terakhir bukan berisi arak yang tulen. Kemampuan minum arakmu benar-benar bagus.”

“Kemampuanku minum arak memang bagus,” kata Ma Ji-liong.

Khu Hong-seng berkata, “Tapi…. hari ini kau tidak menyentuh arak setetes pun.” Sorot matanya

semakin dingin. “Kenapa hari ini kau tidak minum? Kau tahu ada racun di dalam arak ini, bukan?”

Ma Ji-liong tetap tutup mulut.

Khu Hong-seng meneruskan, “Kau datang ke mari bersama Toh Ceng-lian. Kau tentu tahu di mana

dia memesan makanan dan arak. Kau menyuap seseorang untuk meracuni arak itu. Itu benar-benar

urusan yang amat mudah.”

Walaupun Ma Ji-liong tidak membenarkan, anehnya dia pun tidak menyangkalnya.

Khu Hong-seng berkata, “Aku sudah bertekad hendak mati daripada masuk ke Bik-giok-san-ceng.

Sekarang Toh Ceng-lian dan Sim Ang-yap sudah tergeletak mati seperti ini, maka Bik-giok Hujin

tidak perlu memilih lagi. Paduka yang mulia ini tentu akan menjadi menantunya.” Lalu dia

menyeringai dan berkata, “Hal ini benar-benar menggembirakan.”

Ma Ji-liong tetap berdiam diri. Baru kemudian, dengan dingin dia berkata, “Sekarang aku paham

apa maksudmu.”

“Seharusnya kau sudah paham,” Khu Hong-seng berkata, tombak perak sudah berada di tangannya.

Ma Ji-liong tidak mau bicara lagi. Perlahan-lahan dia melangkah dan berhadapan dengan Khu

Hong-seng.

Mendadak seseorang muncul dan berkata, “Khu Hong-seng adalah milikku. Sekarang bukan

giliranmu.”

Tidak ada yang tahu kapan orang ini tiba. Mungkin waktu Toh Ceng-lian dan Sim Ang-yap tewas

secara tragis. Tidak ada yang memperhatikan urusan lain pada saat itu.

Orang ini bertubuh jangkung dan kurus, dengan tulang pipi yang menonjol tinggi. Kedua tangannya

berukuran amat besar, memegang sepasang tombak emas. Kedua tombak ini panjangnya empat kaki

sembilan dim, dan ujungnya gemerlap berkilauan. Andaikan tidak terbuat dari emas, bahan baku

tombak-tombak itu amat mirip dengan emas.

Pakaian orang ini juga berwarna kuning keemasan. Bajunya tampaknya terbuat dari bahan yang

mahal dan dijahit sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ini adalah mereknya, sehingga bila orang-orang

Kang-ouw melihatnya, mereka akan segera mengenalinya sebagai Kim-jio (Tombak Emas) Kim

Tin-lin.

Dulunya, di dunia Kang-ouw, tombak yang paling terkenal adalah tombak emas ini – tombak emas

Kim Tin-lin. Tapi keadaan sudah berubah sejak Gin-jio Kongcu mengalahkan tombak emas ini tiga

tahun yang lalu. Sejak saat itu, di antara mereka sudah timbul kebencian yang tidak bisa

dihilangkan oleh siapa pun.

Kim Tin-lin berkata, “Kita masih punya urusan yang belum beres. Hutang lama ini harus

diselesaikan dulu.”

Dia mengacungkan tombak emasnya pada Khu Hong-seng dan berkata, “Dan kita akan

melakukannya hari ini juga.”

Khu Hong-seng menyeringai dan berkata, “Waktumu amat tepat.”

Kim Tin-lin balas menyeringai. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, bergerak maju selangkah dan

menusukkan tombak emas dengan ganas. Ketika sinar keemasan tampak berkilauan, Ma Ji-liong

mengulurkan tangannya, tapi dia melangkah mundur. Ini adalah kebiasaan di dunia Kang-ouw bila

orang lain hendak menyelesaikan hutang-piutang lama.

Serangan tombak emas itu keji, lincah dan kuat. Selain itu, tombak itu juga lebih panjang daripada

tombak perak. Semakin panjang, semakin kuat. Tapi, tombak perak lebih ringan dan cepat, dan

teknik yang digunakan juga jauh lebih baik daripada tombak emas. Tentu tombak emas akan kalah

lagi. Khu Hong-seng jelas ingin mengakhiri pertarungan ini dengan cepat. Saat dia menjulurkan

tangannya, dia sudah bersiap untuk menggunakan seluruh tenaganya. Tapi ketika dia hendak

mendesak Kim Tin-lin, tiba-tiba seseorang muncul dari balik sebatang pohon bwe yang tertutup

salju.

Orang ini serba hitam. Dengan baju hitam dan topeng hitam, seluruh badannya serba hitam.

Tubuhnya lebih tinggi dan kurus dibandingkan dengan Kim Tin-lin, persis seperti sebatang anak

panah berwarna hitam. Dia bergerak dengan cepat, amat mirip dengan sebatang anak panah.

Tangannya menggenggam sebilah golok, golok Yap-hap-to yang tipis dan tajam. Sinar golok

berkilauan, langsung menyerang dengan cepat ke arah leher Khu Hong-seng. Benar-benar sebuah

serangan golok yang mematikan.

Khu Hong-seng mengelakkan serangan golok itu, tapi akibatnya dadanya terbuka lebar. Tombak

emas Kim Tin-lin pun secepat kilat menusuk ke jantungnya.

Serangan tombak ini juga mematikan! Setelah menyerang, Kim Tin-lin tidak berhenti lagi.

Tubuhnya melayang di udara dan mencelat mundur sejauh 40 kaki.

Darah Khu Hong-seng menyembur keluar. Saat dia ambruk ke atas tanah, Kim Tin-lin sudah

menjauh 100 kaki. Orang serba hitam malah mundur lebih cepat darinya.

Ma Ji-liong tidak mengejar. Dia malah menghambur ke arah Khu Hong-seng. Dia tidak perduli

dengan nyawa orang lain. Tapi sekarang, jika dia tidak memeriksa, dia akan kehilangan kesempatan

untuk melihat apakah Khu Hong-seng benar-benar sudah mati. Dan dia telah salah perhitungan –

sesuatu yang tidak pernah diduga oleh siapa pun!

Kim Tin-lin tersusul oleh orang serba hitam, dan kedua orang itu lalu melarikan diri secara

berdampingan. Orang serba hitam itu pelan-pelan mulai ketinggalan. Tiba-tiba, bagaikan kilat,

golok Yap-hap-to di tangannya membacok ke leher sebelah kiri Kim Tin-lin. Serangan ini, bila

dibandingkan dengan serangan yang dia lancarkan tadi, jauh lebih cepat dan keji.

Kim Tin-lin menjerit kesakitan, darah pun muncrat. Dia ingin memutar kepalanya untuk menyerang

orang serba hitam itu. Tapi saat tubuhnya bergerak, dia pun ambruk ke atas tanah.

Setelah menyerang, orang serba hitam tadi tidak memperlambat gerakannya. Tubuhnya naik turun,

melesat keluar dari lembah. Teknik membunuhnya benar-benar bersih, mulus dan amat efektif.

Jelas dia adalah orang yang sangat berpengalaman. Setelah membunuh orang, dia pun pergi tanpa

memandang ke belakang. Sayangnya gerakannya itu masih kurang cepat.

Tiba-tiba dia sudah dihadang oleh beberapa orang. Tadi dia membunuh untuk melenyapkan saksi,

dan segera dia pun berpikir bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama pula. Dia tidak

menunggu lawan melancarkan serangan. Dia menyerang lebih dulu. Goloknya lebih beracun

daripada ular berbisa. Saat membunuh orang, jarang sekali dia membuat kesalahan. Sayangnya kali

ini dia memilih sasaran yang salah.

Di mulut lembah itu berdiri berdampingan tiga orang laki-laki -– yang satu bertubuh amat besar dan

kuat; satunya lagi gemuk luar biasa; dan yang ketiga adalah seorang hwesio. Si tinggi besar tadi

adalah seorang laki-laki tua berambut putih, bermuka merah dengan wajah yang serius dan sikap

yang agung. Sedangkan untuk si hwesio itu, siapa pun yang terjun ke dunia Kang-ouw pasti tahu

bahwa ‘pengemis, wanita dan pendeta’ adalah tiga jenis manusia yang paling sulit dihadapi.

Sebagai seorang pembunuh yang profesional, tentu saja dia akan memilih orang yang paling lemah.

Dia pun memilih orang yang tampaknya bukan cuma gemuk luar biasa – tapi juga kelihatan amat

lamban itu.

Mimpi pun dia tidak menyangka kalau orang gemuk ini adalah Peng Thian-pa, yang amat terkenal

karena ilmu golok Ngo-hou-toan-bun-to keluarganya itu. Di jaman ini, itulah ilmu golok yang

tercepat, paling keji dan paling termasyur di dunia Kang-ouw.

Peng Thian-pa tentu saja membawa golok di pinggangnya, masih tersarung. Tapi tahu-tahu golok

itu sudah menyentuh tenggorokan si orang serba hitam. Tadi orang serba hitam itu sudah

melancarkan serangan terlebih dulu, tapi mendadak dilihatnya kilauan golok yang menyambar

tenggorokannya sendiri.

Si orang tua tinggi besar buru-buru berseru, “Jangan bunuh saksi……” Sayangnya, saat ketiga patah

kata ini baru saja dikeluarkan, kepala orang serba hitam itu sudah terpisah dari lehernya.

“Kau terlambat!” Peng Thian-pa berkata sambil menghela napas.

Si orang tua tinggi besar juga menghela napas. Dia berkata, “Benar, seharusnya aku sudah tahu.

Tidak pernah ada saksi hidup di bawah serangan golokmu.”

Si hwesio berkata dengan nada menyindir, “Walaupun Peng-tayhiap sudah banyak membunuh

orang, tapi mereka semua memang pantas mati. Orang ini sudah mengambil nyawa lima orang

secara berturut-turut, maka kematiannya tidak patut disesali.”

Si orang tua tinggi besar berkata, “Aku cuma ingin menanyai dia tentang kelima orang pelayan dari

rumah makan Kik-hong-wan. Mereka bukan orang-orang Kang-ouw dan tidak punya musuh.

Kenapa dia harus memasang perangkap kematian untuk mereka?”

Peng Thian-pa berkata, “Walaupun orang ini sekarang sudah mati, belum tentu kita tidak bisa

menuntaskan persoalan ini cepat atau lambat.”

Orang tua itu menyindir, “Siapa yang akan kita tanyai? Kecuali dia, siapa lagi yang tahu tentang

persoalan ini?”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang keras, “Aku.”

Ternyata Khu Hong-seng tidak mati. Dia berjuang untuk bangkit dan mendorong Ma Ji-liong ke

samping. Dengan terengah-engah dia berkata, “Untunglah aku tahu apa yang telah terjadi.”

Sejak jaman kemasyuran puteri-puteri dari Ih-hoa-kiong (Istana Bunga), perempuan yang paling

ajaib dan misterius di dalam Bulim adalah Bik-giok Hujin, dan tempat yang paling rahasia di dunia

ini adalah Bik-giok-san-ceng. Tidak seorang pun di dunia Kang-ouw yang tahu banyak tentang Bikgiok-

san-ceng atau di mana letaknya. Ini terjadi karena, seperti Ih-hoa-kiong, Bik-giok-san-ceng

adalah dunianya para wanita, di mana laki-laki tidak diperbolehkan masuk.

Menurut cerita orang, perempuan-perempuan di sana bukan saja amat cantik, mereka semua juga

melatih semacam ilmu kungfu yang amat misterius. Tapi, biarpun mereka adalah perempuanperempuan

yang hebat, ada saatnya di mana laki-laki tetap dibutuhkan. Jika mereka ingin punya

keturunan, mereka tidak bisa melakukannya tanpa laki-laki.

Puteri Bik-giok Hujin sudah cukup umur, dan Bik-giok Hujin sendiri tentu saja tidak mau anaknya

hidup sendirian untuk selamanya. Seperti ibu-ibu lainnya, dia pun harus mencari menantu yang

tepat. Di jaman ini, laki-laki yang paling pantas dipilih di dunia Kang-ouw, yang patut menjadi

menantunya, sudah pasti keempat orang Bu-lim-si-toakongcu.

Sayangnya dia cuma punya seorang puteri dan hanya bisa memilih satu dari keempat orang pemuda

itu. Maka dia pun mengundang mereka ke Han-bwe-kok sini. Bila Bik-giok Hujin mengundang

orang, tidak seorang pun yang bisa mengatakan tidak. Tidak satu pun yang berani.

Karena itu keempat orang Bu-lim-si-toakongcu -– Khu Hong-seng, Ma Ji-liong, Toh Ceng-lian dan

Sim Ang-yap –- semua datang ke sini. Bik-giok Hujin tentu saja tidak berniat menyimpan rahasia

ini, tapi keempat pemuda itu sendiri tidak mau menyinggung hal itu. Ini terjadi karena hanya salah

satu dari mereka yang akan terpilih, dan yang tidak terpilih tentu akan kehilangan muka. Keempat

pemuda itu sama-sama terkenal. Ditolak orang tentu saja sangat memalukan.

Tidak seorang pun yang menduga bahwa arak beracun akan membunuh Toh Ceng-lian dan Sim

Ang-yap dan bahwa musuh bebuyutan Khu Hong-seng – Kim-jio Kim Tin-lin – akan muncul di

sini. Selain itu juga ada si pembunuh bayaran. Selain keempat orang pemuda itu, tidak ada yang

tahu kalau Khu Hong-seng hari ini akan berada di sini. Kenapa Kim Tin-lin bisa tahu tentang hal

ini?

Tentu ada seseorang yang menyuruhnya datang ke sini. Orang itu juga menyewa seorang pembunuh

bayaran karena dia tahu bahwa Kim Tin-lin mungkin bukanlah tandingan Khu Hong-seng.

Tentu orang ini pula yang meracuni arak. Lalu, untuk membungkam mulut para saksi, dia

menyuruh Kim Tin-lin dan pembunuh bayaran itu untuk membinasakan kelima orang pelayan dari

rumah makan Kik-hong-wan.

Orang itu juga menyuruh si pembunuh bayaran untuk membunuh Kim Tin-lin agar melenyapkan

seorang saksi lagi. Dia tidak takut kalau si pembunuh bayaran akan membuka rahasianya karena

pembunuh bayaran itu seorang profesional. Dia bukan saja mempunyai hati yang hitam, tangan

yang keji dan golok yang cepat, bibirnya juga akan selalu tertutup rapat. Maka, biarpun pembunuh

bayaran itu tetap hidup, dia tidak akan membocorkan rahasia pelanggannya.

Khu Hong-seng akhirnya menarik kesimpulan, “Menurut rencana itu, seharusnya aku sudah mati

oleh tombak emas Kim Tin-lin, dan kalian bertiga tidak ada di sini. Rencana orang ini benar-benar

hebat, dan tak ada orang yang lebih cerdik darinya. Bik-giok Hujin pasti tidak perlu memilih lagi.

Tentu orang inilah yang akan menjadi menantu Bik-giok-san-ceng.”

Khu Hong-seng tidak menyebutkan siapa orang itu, dan dia memang tidak perlu mengatakannya.

Semua orang jelas paham. Semua orang sedang menatap Ma Ji-liong dengan dingin.

Ma Ji-liong tidak menjawab. Tak perduli bagaimanapun orang lain memandangnya, tak perduli apa

pun yang orang pikirkan tentang dia, dia tetap acuh tak acuh.

Peng Thian-pa berjalan mondar-mandir. Meskipun gemuk, dia amat aktif. Langkah kakinya terhenti

oleh mayat Kim Tin-lin, lalu dia memungut tombak emas itu. Dia menimbang-nimbangnya dalam

genggamannya dan bergumam, “Tombak ini tidak berat.”

“Dia melatih ilmu Tombak Bunga dari keluarganya. Ilmu itu memang termasuk ilmu tombak

ringan,” Khu Hong-seng menjelaskan.

Peng Thian-pa berkata, “Menurut cerita, pernah ada seseorang yang melemparkan tujuh keping

uang tembaga di depannya. Dalam sekali ayunan, tombaknya sudah berhasil menusuk tembus

semuanya.”

“Ilmu tombaknya memang sangat akurat,” Khu Hong-seng memberi komentar.

Sambil menghela napas, Peng Thian-pa berkata, “Tentu dia tidak berpikir begitu. Kali ini

tusukannya meleset.”

Khu Hong-seng berkata, “Memang benar.”

Peng Thian-pa berkata dengan nada kering, “Kalau tusukannya tidak meleset dari sasaran,

bagaimana mungkin kau masih bisa hidup?”

Khu Hong-seng tidak memberikan jawaban langsung. Dia malah berusaha membuka pakaiannya.

Baju luarnya merupakan mantel bulu yang tebal. Di dalamnya ada tiga lapisan lagi. Lapisan baju

yang terdekat dengan kulit mempunyai sebuah kantung, persis di atas jantungnya. Di dalam kantung

itu tersimpan sebuah dompet.

Di atas dompet itu tersulam gambar bunga. Sulaman itu amat bagus, jelas dibuat oleh tangan

perempuan yang cekatan. Sekarang, dompet bersulam itu sudah tertusuk bolong. Di dalam dompet

juga ada sepotong Giok-pwe (mainan kalung dari batu giok), dan Giok-pwe itu juga sudah hancur

berantakan.

Tentu saja tombak Kim Tin-lin tidak meleset. Tombak itu pasti sudah menembus mantel bulu Khu

Hong-seng dan kemudian menusuk jantungnya. Tapi Kim Tin-lin tidak menduga kalau ada

sepotong giok yang tersimpan tepat di luar kulitnya, persis di depan jantung.

Khu Hong-seng berkata, “Dompet ini diberikan oleh Siau-hoan kepadaku. Dia ingin agar aku

memakainya tepat di luar kulitku. Dia tak mau aku melupakannya karena perempuan lain.”

Tiba-tiba sorot matanya melunak. Dia berkata, “Aku tidak melupakannya, dan karena itulah aku

masih hidup.” Siau-hoan pasti kekasihnya. Dia lebih suka mati daripada mengingkari kekasihnya.

Peng Thian-pa menghela napas. Dengan sinar mata berseri, dia berkata, “Agaknya menjadi orang

romantis juga ada keuntungannya.”

Si orang tua tinggi besar tiba-tiba berkata, “Khu-kongcu, walaupun aku tak mengenalmu, tapi aku

mengenali tombak perak ini.”

Khu Hong-seng berkata, “Tombak ini diwariskan turun-temurun di keluargaku. Boanpwe tidak

berani memamerkan diri sendiri.”

Orang tua itu berkata, “Aku tahu.” Dengan ekspresi wajah yang hangat, dia meneruskan, “Dulu

ayahmu menggunakan tombak perak ini untuk bertempur melawan kawanan beruang dari Tiangpek-

san. Aku pun ikut berada di sana.”

Kawanan beruang dari Tiang-pek-san adalah penjahat-penjahat yang berkuasa dan jahat, bertahuntahun

mereka menduduki daerah Liau-tang. Orang-orang di dunia Kang-ouw tidak berani

melanggar daerah kekuasaan mereka itu.

Suatu saat ayah Khu Hong-seng dan Hong-seng-thian Tayhiap, Pang Tio-hoan, menyerbu ke

gunung Tiang-pek-san. Dengan tombak perak dan sepasang gun-goan-pai yang terbuat dari baja

murni – logam pipih yang dinamakan sesuai dengan tenaga kasar Pang Tio-hoan, mereka berhasil

mengobrak-abrik sarang kawanan beruang dari Tiang-pek-san itu. Pertempuran tersebut bukan

hanya mengguncangkan dunia di jaman itu, sampai hari ini pun orang masih membicarakannya.

Khu Hong-seng bertanya, “Apakah Cianpwe adalah Pang-tayhiap?”

“Benar, aku Pang Tio-hoan,” jawab orang tua itu.

Sambil tersenyum tipis, orang tua itu menunjuk Peng Thian-pa, “Kau lihat dia menggunakan golok.

Tentu kau tahu siapa dia.”

Selain ilmu golok Ngo-hou-toan-bun-to, di kolong langit ini benar-benar tidak ada golok yang bisa

menyayat seperti itu. Sebuah sabetan golok — akibatnya perasaan orangnya disabet, manusianya

disabet dan nyawanya pun disabet! Selain itu, sekali golok itu membunuh orang, selamanya tidak

akan pernah ada saksi.

Sambil menghela napas, Khu Hong-seng berkata, “Orang ini memang sudah berbuat jahat. Dia

pantas mati di bawah Ngo-hou-toan-bun-to-hoat.”

Peng Thian-pa tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Tadi, jika si hwesio yang turun tangan, aku

khawatir kematiannya akan lebih cepat lagi.”

Memangnya kungfu hwesio itu lebih keji lagi daripada ilmu golok Ngo-hou-toan-bun-to?

“Apakah Cianpwe ini adalah Coat-taysu dari Siau-lim-si?” Khu Hong-seng menebak-nebak.

“Benar. Dia adalah Coat-taysu,” jawab Peng Thian-pa.

Coat-taysu dari Siau-lim-pay memang benar-benar keji dan tidak punya perasaan. Semua kejahatan

di kolong langit ini adalah musuhnya. Semua penjahat yang jatuh ke dalam cengkeramannya akan

segera pergi ke neraka.

Khu Hong-seng menghela napas dan berkata, “Tidak ada yang mengira kalau dewata akan

mengutus ketiga Cianpwe datang ke sini.”

“Jika kami tidak bermaksud datang ke sini, maka kami tidak akan datang,” kata Peng Thian-pa.

Pang Tio-hoan menambahkan, “Sebenarnya kami cuma ingin minum-minum di rumah makan Kikhong-

wan.” Dia adalah pelanggan tetap Kik-hong-wan.

Di rumah makan ini, pelanggan tetap mempunyai pelayan sendiri yang siap melayani mereka,

karena hanya pelayan-pelayan ini yang tahu kesukaan si pelanggan. Tidak perduli apakah mereka

ingin makan atau minum, mereka tidak perlu memesan lagi. Tapi hari ini, ketika Pang Tio-hoan

berada di sana, pelayannya sedang dikirim untuk mengantarkan makanan dan arak ke Han-bwe-kok.

Cuaca sedingin ini, tapi ada orang yang ingin menyaksikan bunga bwe dan minum-minum di

lembah. Tentulah orang ini mempunyai selera yang tinggi.

Peng Thian-pa meneruskan, “Setelah minum tiga cawan arak, kami bertiga mendapatkan ide yang

cemerlang, hendak melihat orang yang berselera tinggi ini.”

Pang Tio-hoan menambahkan, “Kami tidak menyangka kalau di pertengahan jalan ke lembah ini,

kami akan menemui mayat orang-orang dari rumah makan.”

“Semuanya dibunuh dengan sebilah golok. Setiap sabetan pun bersih dan amat cepat!” Peng Thianpa

berkata.

Pang Tio-hoan melanjutkan, “Dia sendiri adalah seorang jago golok. Tentu saja dia tidak tahan

ingin melihat siapa orang yang mempunyai ilmu golok secepat itu!”

Peng Thian-pa mengakhiri, “Itulah sebabnya kami bertiga, yang seharusnya tidak datang, sekarang

berada di sini.”

Ini benar-benar sudah takdir. Khu Hong-seng menengadah ke langit dan bergumam, “Thian yang

maha pemurah, Kau tidak buta. Siapa yang membunuh, akan dibunuh!” Tiba-tiba ia bangkit berdiri

dan menghadap ke arah Ma Ji-liong. Lalu dia berujar sepatah demi sepatah kata, “Kau ingat ini di

dalam benakmu dan jangan pernah lupa.”

Saat itulah langit berubah menjadi gelap. Malam di musim dingin memang selalu datang teramat

cepat.

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 3: Thian-sat

Tetap tidak ada jawaban dari Ma Ji-liong. Jika itu orang lain, seandainya tidak minggat, mereka

tentu akan menyangkal dosanya dengan keras. Tapi dia tidak. Dia cuma berdiri dengan tenang di

sana, seolah-olah hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan dia.

Dia tidak menyangkal. Apakah karena dia tahu kalau persoalan ini tidak bisa dibantah?

Dia tidak melarikan diri. Apakah karena dia tahu bahwa tidak seorang pun bisa lolos dari kejaran

tiga orang di depannya ini?

Coat-taysu sejak tadi berdiri di sana dengan tenang, wajahnya tanpa ekspresi. Baru sekarang dia

mulai bicara, “Agaknya aku pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa ilmu golok Ngo-houtoan-

bun-to adalah ilmu golok terbaik di dunia, dan tidak ada ilmu golok yang tidak dia ketahui di

kolong langit ini.”

Peng Thian-pa berkata, “Kau memang pernah mendengarnya. Bukan ‘agaknya’.”

Coat-taysu bertanya, “Siapa yang mengucapkan kata-kata itu?”

“Tentu saja aku,” Peng Thian-pa menjawab.

Coat-taysu berkata, “Jika kau yang bicara, tentu tidak salah.”

Peng Thian-pa berkata, “Meskipun aku suka membual, aku cuma membual pada wanita, bukan

pada hwesio.” Dia tertawa dan meneruskan, “Membual pada hwesio sama seperti bermain musik di

depan sapi, tidak ada gunanya.”

Coat-taysu tidak menjadi marah, dia juga tidak balas bergurau. Wajahnya tetap dingin dan kaku.

Dia berkata, “Orang serba hitam tadi hendak membunuhmu dengan goloknya. Serangan golok tadi

pasti merupakan jurus terbaiknya.”

Peng Thian-pa berkata, “Dalam keadaan seperti tadi, dia pasti menggunakan jurus terbaiknya.”

“Tapi agaknya kau pernah bilang bahwa tidak ada ilmu golok yang tidak kau ketahui di kolong

langit ini,” kata Coat-taysu.

“Memang,” kata Peng Thian-pa.

Coat-taysu bertanya, “Kalau begitu, jurus tadi berasal dari partai mana?”

Peng Thian-pa berkata, “Tidak tahu.” Jawabannya langsung saja, tanpa tedeng aling-aling. Orangorang

Kang-ouw memang tahu bahwa ketua perguruan golok Ngo-hou-toan-bun-to sekarang ini

adalah orang yang tidak suka bertele-tele.

Coat-taysu bertanya lagi, “Kau benar-benar tidak tahu?”

Peng Thian-pa menjawab, “’Tidak tahu’ berarti ‘tidak tahu’. Memangnya ada arti lain?”

“Kau tidak tahu, tapi aku tahu,” kata Coat-taysu.

Tentu saja Peng Thian-pa sangat terkejut. Terlontar kata-katanya, “Kau tahu?”

Coat-taysu berkata, “’Aku tahu’ berarti ‘aku tahu’. Tidak ada arti lain.”

Peng Thian-pa tertawa dan bertanya, “Jurus golok itu berasal dari partai mana?”

“Itulah Thian-sat!” Coat-taysu menjawab.

Thian-sat!

Peng Thian-pa bertanya, “Aku masih tidak mengerti. Apa itu Thian-sat?”

“Buka bajunya dan periksalah,” jawab Coat-taysu.

Di dada orang serba hitam itu terdapat belasan huruf berwarna merah menyala. Apakah huruf-huruf

itu ditato dengan tinta merah ataukah darah?

Tulisan itu berbunyi, “Thian memberikan segalanya kepada manusia, manusia tidak pernah

memberikan apa-apa kepada Thian, Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!”

Bunuh!

Peng Thian-pa bertanya, “Inikah Thian-sat itu?”

“Benar,” kata Coat-taysu.

“Sayangnya aku masih belum paham,” kata Peng Thian-pa.

Coat-taysu menjelaskan, “Thian-sat adalah sebuah organisasi pembunuh bayaran. Di dalam

organisasi ini, anggotanya membunuh untuk mencari nafkah, dan mereka membunuh demi

kesenangan. Asal kau punya uang, siapa pun yang kau ingin mereka bunuh, mereka akan bunuh

orang itu untukmu.”

Peng Thian-pa bertanya, “Bagaimana kau tahu?”

“Aku sedang memburu mereka, aku sudah memburu mereka selama lima tahun ini,” jawab Coattaysu.

“Bagaimana caramu memburu mereka?” Peng Thian-pa bertanya lagi.

Coat-taysu menjawab, “Aku memburu markas mereka, pemimpin mereka, dan nyawa mereka!”

Lalu dia meneruskan dengan pelan, “Siapa yang membunuh, harus dibunuh. Mereka sudah

membunuh banyak korban. Jika mereka tidak mati, lalu di mana letaknya keadilan?”

“Kau belum menemukan mereka?” Peng Thian-pa bertanya.

“Belum,” jawab Coat-taysu.

Peng Thian-pa berkata, “Tapi suatu hari nanti kau akan menemukan mereka. Jika tidak, mati pun

kau tidak akan melepaskan mereka.”

“Benar,” kata Coat-taysu.

Langit menjadi gelap, angin yang dingin menyayat bagaikan pisau. Peng Thian-pa membungkukkan

badan dan menutup mayat orang serba hitam itu dengan mantelnya, seolah-olah dia khawatir kalau

orang serba hitam itu kedinginan. Tapi orang mati tentu saja tidak merasa kedinginan.

Seandainya orang serba hitam itu masih hidup, dia tentu sudah membeku ketakutan. Peng Thian-pa

tidak perlu melakukan hal ini. Tapi orang memang selalu bersikap baik pada orang mati. Ini terjadi

karena setiap orang pasti mati, dan mereka berharap orang lain pun akan bersikap baik pada mereka

bila giliran mereka sudah tiba. Tapi saat Peng Thian-pa menarik mantel itu, sebuah benda tiba-tiba

terjatuh.

Itulah sepotong giok – paling langka di antara yang langka dan paling berharga di antara bendabenda

berharga. Giok adalah benda yang membawa kemujuran. Bukan hanya bisa mengusir setan,

tapi juga membawa kemakmuran dan ketenangan.

Dalam sebuah kisah klasik, diceritakan bahwa giok pun bisa ‘berkorban’ untuk pemiliknya.

Potongan giok yang diberikan oleh Siau-hoan pun sudah menyelamatkan nyawa Khu Hong-seng.

Tapi potongan giok yang ini malah menginginkan nyawa Ma ji-liong. Karena giok itu terikat

dengan seutas tali sutera. Ujung lain tali sutera itu terikat pada sebuah medali emas. Di salah satu

sisi medali emas itu terukir lukisan seekor kuda. Di sisi lain medali itu ada tertulis beberapa huruf!

“Thian-ma-hing-khong”.

Inilah lencana perintah Thian-ma-tong. Dan Ma Ji-liong adalah putera pemimpin Thian-ma-tong.

Bagaimana mungkin lencana perintah Thian-ma-tong bisa ditemukan di tubuh pembunuh ini? Cuma

ada satu penjelasan. Ma Ji-liong tentu menggunakan potongan giok dan lencana perintah ini untuk

meminta si pembunuh agar datang ke sini dan membunuh orang – Toh Ceng-lian, Sim Ang-yap,

Khu Hong-seng, Kim Tin-lin, dan para pelayan dari rumah makan Kik-hong-wan.

Tapi dia tak menduga kalau Khu Hong-seng tidak mati dan Peng Thian-pa, Pang Tio-hoan dan

Coat-taysu akan tiba di tempat kejadian. Inilah kejadian yang tak disangka-sangka. Kegagalan

membunuh juga tidak diduga-duga. Inilah pesan dari Thian untuk si pembunuh!

Sampai sekarang tidak seorang pun yang menyebut nama orang ini. Karena hal ini adalah persoalan

besar. Kematian Toh Ceng-lian, Sim Ang-yap, dan Kim Tin-lin tentu akan mengguncangkan dunia

Kang-ouw. Lebih dari itu, tidak mustahil akan segera terjadi aksi balas dendam di antara keluargakeluarga

ternama di dunia Kang-ouw!

Bila peristiwa itu sampai terjadi, maka tidak akan mudah mengakhirinya. Tidak seorang pun yang

tahu berapa banyak orang tak berdosa yang akan mati karenanya.

Dengan raut muka kelam, Pang Tio-hoan perlahan-lahan berkata, “Sekarang kita harus

mendengarkan apa yang akan dikatakan Ma Ji-liong.”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ma Ji-liong pelan-pelan melepaskan mantel bulu rubahnya.

Lalu dia berkata dengan perlahan-lahan, “Sam-siok (paman ketigaku) mendapatkan ini waktu

berburu pada malam hari di gunung saat dia masih muda. Ini adalah barang milik pamanku. Aku

tidak boleh merusaknya di tanganku.”

Dia menyerahkan mantel bulu rubah itu pada Peng Thian-pa dan berkata, “Aku tahu, dulu Cianpwe

dan Sam-siok bersahabat. Kuharap kau mau membawa benda ini kembali ke Thian-ma-tong dan

memberikannya pada bibiku.”

Sambil menghela napas, Peng Thian-pa berkata, “Ma-samko mati muda. Aku…… aku pasti akan

mengembalikannya untukmu.”

Ma Ji-liong pelan-pelan melepaskan pedang panjangnya yang indah dan berkilauan, dan

memberikannya pada Coat-taysu.

Dia berkata, “Pedang ini mulanya diberikan kepada ayahku oleh ketua Bu-tong-pay. Siau-lim dan

Bu-tong berasal dari aliran yang sama. Kuharap kau bersedia mengembalikan pedang ini kepada

Hian-cin Koancu di Bu-tong-pay sehingga tidak terjatuh ke tangan yang salah!”

“Baik,” kata Coat-taysu.

Kembali Ma Ji-liong mengeluarkan setumpuk perak dan daun emas dari tubuhnya dan

memberikannya pada Pang Tio-hoan.

“Kepada siapa kau ingin memberikannya?” Pang Tio-hoan bertanya.

“Harta tidak ada pemilik aslinya. Kau boleh memberikannya pada siapa saja,” jawab Ma Ji-liong.

Pang Tio-hoan merenung sejenak dan kemudian berkata, “Aku akan mendermakannya untukmu. Ini

perbuatan yang baik.”

Sekarang setiap orang sudah tahu bahwa Ma Ji-liong sedang menjelaskan pada mereka apa yang dia

inginkan setelah dia mati. Jarang ada orang yang menentang keinginan terakhir orang yang akan

mati. Mereka menggenggam benda-benda yang diberikan Ma Ji-liong dengan kedua tangan mereka,

hati mereka terasa berat.

Sambil menghela napas dalam-dalam, Ma Ji-liong bergumam, “Sekarang yang tersisa cuma kuda

ini.”

Kuda putihnya masih terikat pada sebatang pohon bwe di pinggir sana. Kuda itu adalah hewan yang

terlatih dan terkenal. Dan, seperti majikannya, meskipun dalam bahaya dia tetap tenang seolah-olah

tidak terjadi apa-apa. Ma Ji-liong berjalan menghampiri dan melepaskan talinya. Dia menepuk

bokong hewan itu dan berkata, “Pergilah!”. Kuda putih itu meringkik perlahan dan segera berlari

pergi.

Lalu Ma Ji-liong membalikkan badan dan menghadapi Pang Tio-hoan. Dia berkata, “Sekarang

cuma ada satu hal yang hendak kukatakan.”

“Katakanlah,” kata Pang Tio-hoan.

Ma Ji-liong berkata dengan dingin, “Sekarang kalian harus mengejarku!”

Habis berkata begitu, tubuhnya segera melesat seperti anak panah dan meletik di udara. Kuda

putihnya tadi pergi dengan berlari-lari kecil, tapi kemudian bertambah kencang, dan sekarang

jaraknya ada 20-30 kaki. Ma Ji-liong mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya, menampilkan ilmu

ginkang Thian-ma-hing-khong (Kuda Langit Berlari Di Angkasa). Ilmu ginkang ini sebenarnya

menguras banyak energi. Tapi, di saat tenaganya surut, dia telah berhasil menyusul kudanya. Inilah

kuda dengan kecepatan tak tertandingi. Sekarang tubuhnya sudah hangat, maka dia bisa berlari

secepat mungkin. Ma Ji-liong melompat ke atas punggung kuda, dan kuda itu pun meringkik

panjang. Lalu mereka bergerak seperti naga. Penunggang dan kudanya sama-sama serba putih, dan

begitu pula dengan bumi.

Pang Tio-hoan dan Peng Thian-pa bergerak mengejar, tapi tangan mereka menggenggam daun

emas dan mantel bulu rubah yang diberikan Ma Ji-liong pada mereka. Saat mereka merasa betapa

mengganggunya benda-benda itu, penunggang dan kudanya ternyata sudah lenyap dari pandangan.

Pang Tio-hoan membanting kakinya, dan tumpukan daun emas itu terjatuh ke atas tanah. Lalu dia

berkata, “Aku benar-benar bodoh.”

Langit semakin gelap. Angin bertambah dingin, menyayat seperti pisau. Tapi wajah Ma Ji-liong

tampak merah membara – merah karena gusar! Ini terjadi karena dia tahu sendiri bahwa dia tidak

membunuh siapa-siapa. Dan tentu saja dia tidak meracuni arak itu.

Sayangnya, selain dirinya sendiri, tidak ada orang yang akan percaya bahwa dia tidak bersalah. Dia

memahami hal ini. Karena itu dia lari.

Dia tentu saja tidak perduli dengan kematian. Bertarung sampai mati dengan orang-orang yang

menuduhnya sebagai pembunuh tentu menyenangkan. Tapi jika dia mati di tangan mereka, ketidakadilan

ini tak akan pernah tersingkap. Jika ingin mati, dia harus mati dalam keadaan bersih dan

jujur. Dia bersumpah pada dirinya sendiri – bila urusan ini mendapat titik terang dan semua

kebenaran sudah terungkap, dia akan mencari mereka dan bertarung dengan mereka sampai mati.

Siapakah pembunuh sebenarnya? Siapa yang menebar racun ke dalam arak? Siapa yang menyewa

Thian-sat?

Dia masih belum punya petunjuk.

Siapa pun itu, satu hal sudah jelas. Dia adalah orang yang amat jahat dan keji. Rencana yang

disusunnya amat teliti dan tak ada cacatnya. Sekarang dia tak bisa mengatakan apakah dia akan

mampu mengungkapkan persoalan ini dan menemukan penjahat sebenarnya, dia juga tak tahu

hendak mulai dari mana. Tapi dia tahu – bila dia tidak berhasil menemukan orang itu, maka dialah

yang menjadi penjahatnya di mata dunia.

Jika Pang Tio-hoan, Peng Thian-pa dan Coat-taysu dari Siau-lim-pay mengatakan bahwa orang

tertentu adalah seorang pembunuh, tidak seorang pun di dunia Kang-ouw yang akan meragukan

kata-kata mereka. Tak perduli ke mana pun dia pergi, tentu akan ada orang yang berusaha

membunuhnya. Dia pun tidak bisa membawa urusan ini ke rumah. Orang-orang akan mengetahui

keberadaannya. Benar-benar tidak ada tempat yang bisa dituju olehnya dan tidak ada tempat untuk

berpaling baginya.

Jika orang lain yang berada dalam situasi seperti dirinya, mereka tentu akan menyerah dan bunuh

diri. Tapi dia tidak perduli. Dia percaya bahwa dunia ini luas, dan akan selalu ada tempat ke mana

dia bisa pergi. Dia percaya bahwa Thian itu maha kuasa, melihat semua dan tahu semua. Suatu hari

nanti dia akan menyingkap persoalan ini dan menemukan penjahat sebenarnya. Dia yakin pada

dirinya sendiri. Tak satu sel pun dalam tubuhnya yang tidak dia percayai. Dibandingkan dengan

orang lain, tangannya pun lebih kuat, otaknya lebih cerdas, mata dan telinganya lebih tajam.

Saat itulah dia mendengar sesuatu yang tidak mungkin bisa didengar orang lain. Suara yang mirip

jeritan, tapi lemah, seperti suara bisikan. Lalu dia melihat segumpal rambut. Walaupun langit sudah

gelap, rambut hitam itu amat bertolak-belakang dengan salju yang putih, dan karena itu bisa

tertangkap oleh matanya.

Jika itu orang lain yang lewat di sini, mereka pun mungkin sudah melihat gumpalan rambut ini.

Tapi mereka tentu tidak bisa melihat orangnya. Seluruh tubuh orang ini terkubur dalam salju dan es,

dan cuma setengah dari wajah pucatnya yang tersembul. Saat bayangan setengah wajah itu melintas

di depan matanya, kudanya sudah melesat lewat. Ma Ji-liong tidak berhenti. Dia sedang sibuk

menyelamatkan diri.

Terkenal karena kesadisannya, Coat-taysu tentu tidak akan melepaskannya, dan saat ini dia

mungkin sudah sangat dekat. Jika orang-orang itu berhasil menyusulnya, tentu tidak akan ada lagi

kesempatan baginya untuk melarikan diri. Tentu saja dia tak boleh berhenti hanya untuk seorang

asing yang sudah hampir mati karena beku.

Orang itu memang masih belum mati. Tapi apa salahnya kalau dia lebih mementingkan dirinya

sendiri? Ma Ji-liong adalah orang yang egois dan sangat angkuh.

Rambut hitam kelam itu sudah penuh dengan es, dan sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda

kehidupan di wajah yang pucat membiru itu. Orang ini benar-benar sebuah keajaiban hidup. – Jika

terkubur dalam salju dan es seperti ini, berapa banyakkah orang yang tidak mati beku?

Katanya perempuan lebih tahan terhadap kelaparan, kedinginan dan rasa sakit, karena itu mereka

lebih kuat daripada laki-laki. Orang ini adalah seorang perempuan. Dia masih amat muda, tapi tidak

cantik. Kenyataannya, dia berwajah buruk – sangat buruk. Di bawah hidungnya ada sepasang bibir

yang gemuk dan tebal seperti bibir babi. Gadis ini seperti sebuah boneka porselen mentah yang

rusak di dalam tungku saat dibakar.

Walaupun sekarang dia masih hidup, amat sulit baginya untuk bertahan hidup. Jika ada secawan

arak, semangkok sup panas dan seorang tabib yang sangat baik, dia mungkin bisa bertahan hidup.

Sayangnya, tidak satu pun dari semua itu yang ada di sana sekarang.

Baju Ma Ji-liong sendiri tidak cukup untuk melindungi dirinya dari hawa dingin, dan dia sendiri

mungkin tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Dia tahu benar bahwa sekarang adalah

waktunya untuk mengacuhkan orang asing yang amat jelek itu dan terus melarikan diri. Tapi dia

malah melepaskan satu-satunya pakaian yang tetap kering di tubuhnya dan menyelubungi

perempuan itu dengannya. Lalu dia memeluknya erat-erat, menggunakan panas tubuhnya untuk

menghangatkan gadis itu.

Yang paling menyedihkan dari seorang laki-laki adalah kebodohannya, dan yang paling jelek bisa

terjadi pada seorang perempuan adalah keburukannya. Perempuan buruk rupa biasanya tampak

menyedihkan. Tapi Ma Ji-liong bukan saja tidak mencampakkannya karena dia buruk rupa, dia juga

bersimpati kepadanya. Asalkan dia masih bernapas, dia tak akan membiarkan gadis ini mati beku

seperti anjing liar. Tapi dia tidak tahu ke mana harus membawanya. Sekarang dia sendiri tidak

punya apa-apa dan tidak ada tempat tujuan.

Sekarang langit sudah gelap gulita. Malam di musim dingin bukan saja datang sangat cepat, tapi

juga amat lama berakhirnya.

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 4: Malam Yang Panjang

Malam yang panjang baru saja dimulai. Ma Ji-liong memungut beberapa potong ranting kering dan

menemukan sebuah kuil yang rusak dan terpencil sebagai tempat berlindung dari tiupan angin. Lalu

dia membuat api unggun.

Kemungkinan besar api itu akan menarik perhatian musuh. Setiap orang pun tahu bahwa seorang

buronan tidak boleh menyalakan api unggun, biarpun dia sudah hampir mati beku. Tapi gadis itu

benar-benar membutuhkannya. Dia sendiri boleh mati beku, tapi dia tidak boleh membiarkan orang

asing ini mati karena dia khawatir musuh-musuhnya akan segera menemukannya. Dia lebih suka

mati daripada kehilangan kehormatannya.

Api unggun menyala terang benderang. Dia lalu memindahkan gadis itu ke tempat yang paling

hangat dan kering. Dia sendiri butuh beristirahat. Tapi, tak lama sesudah dia menutup matanya,

tiba-tiba terdengar sebuah suara lengkingan, “Siapa kau?”

Ternyata gadis itu sudah bangun. Dia bukan saja amat buruk rupa, suaranya pun tajam melengking.

Ma Ji-liong tidak menjawab. Saat ini, dia sendiri pun tak tahu siapa dirinya, dia sudah seperti mayat

hidup.

Dia tidak punya masa depan, juga tidak punya masa lalu. Perlahan-lahan dia bangkit, bermaksud

hendak memeriksa keadaan gadis itu.

Dia ingin melihat apakah dia bisa bergerak, atau apakah dia bisa bertahan hidup. Dia tidak menduga

kalau gadis itu tiba-tiba mengambil sepotong kayu kering dari api unggun dan berteriak dengan

keras, “Jika kau berani mendekat, aku akan memukulimu sampai mati!”

Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menolong gadis ini, tapi perempuan yang aneh dan amat

buruk rupa ini malah seakan-akan menganggap bahwa dia hendak memperkosanya. Ma Ji-liong

tidak berkata apa-apa.

Dia kembali duduk.

Sambil memegang kayu api erat-erat, gadis itu menatapnya tajam dengan sepasang matanya yang

mirip dengan mata tikus. Ma Ji-liong menutup matanya. Dia benar-benar terlalu letih untuk

memandang gadis itu lagi. Tapi gadis itu kembali bertanya dengan suara yang nyaring, “Bagaimana

aku bisa berada di sini?”

Ma Ji-liong terlalu lelah untuk menjawab.

Akhirnya, teringat pada nasibnya sendiri, gadis itu berkata, “Tadi aku terkubur di dalam salju.

Apakah kau yang menolongku?”

“Ya,” Ma Ji-liong menjawab.

Dia tidak mengharapkan gadis itu bertanya lagi, tapi ternyata dia masih bicara, “Karena kau sudah

menyelamatkanku, kenapa kau tidak membawaku ke tabib? Kenapa kau malah membawaku ke kuil

rusak ini?”

Suaranya makin melengking, “Aku tahu orang sepertimu. Aku tahu kau tidak bertindak dengan

maksud baik.”

Ma Ji-liong sudah hampir habis kesabarannya dan ingin berkata, “Jangan kau khawatir. Seandainya

aku hendak memperkosamu, melihat tampangmu itu, aku jadi kehilangan minat.” Tetapi dia tidak

mengatakannya. Dalam sinar api unggun, gadis itu tampak lebih jelek lagi. Dia tidak tega melukai

hatinya, karena itu dia hanya menghela napas panjang dan berkata, “Aku tidak membawamu ke

tabib karena aku tidak punya uang.”

Gadis itu menyeringai dan berkata, “Bagaimana mungkin orang dewasa sepertimu bisa tidak punya

uang? Tentu karena kau terlalu malas untuk mencari pekerjaan.” Ma Ji-liong menyabarkan diri saat

mendengar omelan itu. Tapi gadis itu tidak mau sudah. Dia terus menyemprot dan melemparkan

tuduhan kepadanya, tak henti-hentinya.

Tiba-tiba Ma Ji-liong bangkit berdiri. Dia berkata dengan dingin, “Di sini ada api unggun.

Seharusnya cukup untuk satu malam. Besok pagi, orang-orang tentu akan datang ke sini.” Dia

benar-benar tak tahan lagi. Dia lebih baik pergi.

Sekali lagi gadis itu mengomel, “Apa yang kau lakukan? Kau hendak pergi? Apakah kau benarbenar

hendak meninggalkanku, perempuan lemah yang sengsara ini, sendirian di sini? Laki-laki

macam apa kau ini?” Seseorang seperti ini tidak mungkin bisa dianggap ‘lemah’. Sayangnya, dia

memang seorang perempuan.

Gadis itu menyeringai dan meneruskan, “Apa kau takut kalau musuhku akan menyusulku ke sini?

Itukah sebabnya kenapa kau ingin cepat-cepat pergi?”

Ma Ji-liong tak bisa menahan diri lagi. Dia bertanya, “Kau punya musuh?”

“Jika tidak, kenapa aku harus menguburkan diriku sendiri di dalam salju? Memangnya aku sudah

gila?” Gadis itu mencemooh.

Ma Ji-liong duduk lagi dengan perlahan-lahan. Dia tidak menanyakan siapa musuh gadis itu, atau

kenapa dia diburu orang. Dia cuma tahu bahwa sekarang dia tidak mungkin pergi. Seseorang sudah

menguburkan seorang gadis yang lemah di dalam es dan salju, dengan maksud agar dia mati.

Seorang laki-laki sejati tidak boleh mengacuhkan persoalan ini.

Gadis itu bertanya lagi, “Sekarang kau tidak jadi pergi?”

“Tidak,” Ma Ji-liong menjawab.

Tapi gadis itu melanjutkan lagi, “Kenapa tidak? Apakah kau hendak melakukan sesuatu yang

busuk?“

Tapi Ma Ji-liong malah tersenyum. Padahal dia benar-benar sudah tak tahan. Perempuan seperti ini

benar-benar sangat langka, dan tak pernah dia sangka akan bisa dijumpainya. Apa lagi yang bisa dia

lakukan selain tersenyum? Apakah dia harus menangis terisak-isak atau membenturkan saja

kepalanya sendiri ke batu hingga tewas?

Kembali gadis itu berteriak, “Kenapa kau tersenyum sendiri? Rencana jahat apa yang sedang kau

pikirkan? Ayo katakan!”

Ma Ji-liong tidak bicara… karena sebuah suara dari luar kuil rusak itu sudah memotong, “Dia tidak

akan berkata apa-apa. Pek-ma Kongcu ini tak pernah memberitahukan maksud hatinya pada orang

lain.”

Nyala api berkerlap-kerlip, dan seseorang melangkah masuk ke dalam kuil itu dengan perlahanlahan.

Ternyata dia adalah Peng Thian-pa.

Peng Thian-pa menjinjing mantel bulu rubah itu di tangan kirinya, dan sebilah golok di tangan

kanannya. Golok itu sudah dihunus. Sayangnya gadis ini tidak mengenalnya, tidak juga goloknya.

Dia menatap Peng Thian-pa dengan sepasang matanya yang seperti mata tikus itu. Dengan suara

yang keras dia bertanya, “Siapa kau?”

“Aku seekor babi,” kata Peng Thian-pa.

“Seandainya pun kau lebih gemuk, kau tetap agak kurus bila dibandingkan dengan seekor babi,”

gadis itu berkomentar.

Sambil menghela napas, Peng Thian-pa berkata, “Sayangnya aku lebih dungu daripada seekor babi,

itulah sebabnya kenapa aku membawa mantel bulu rubahnya ini.”

Gadis itu jelas terkejut. Dia bertanya, “Apakah mantel itu miliknya?”

“Benar,” jawab Peng Thian-pa.

“Kenapa dia memberimu benda sebagus itu?” gadis itu bertanya.

“Karena dia ingin menaruh mantel ini di tanganku,” jawab Peng Thian-pa.

Gadis itu bertanya lagi, “Apakah kau menggunakan tanganmu untuk memegang mantel itu atau

mantel itu yang mencegahmu untuk menggunakan tanganmu?”

“Keduanya sama,” kata Peng Thian-pa.

Gadis itu bertanya, “Kenapa begitu?”

Peng Thian-pa menjelaskan, “Tak perduli apakah tanganku yang terhalang atau aku yang

menggunakan tanganku untuk memegang mantel ini…… yang jelas tanganku sudah sibuk sehingga

aku tidak bisa mencabut golokku atau menggunakan senjata rahasiaku.”

Senjata rahasia Toat-beng-hui-hou (Harimau Terbang Pengejar Nyawanya) sama menakutkannya

dengan ilmu golok Ngo-hou-toan-bun-to-nya.

Gadis itu tetap tidak paham. Dia bertanya, “Kenapa dia tidak membiarkanmu mencabut golokmu

atau melemparkan senjata rahasia?”

“Karena dia ingin melarikan diri,” jawab Peng Thian-pa.

Gadis itu bertanya lagi, “Kenapa dia ingin lari? Apakah karena kau menakut-nakutinya? Kenapa

kau menakut-nakuti orang?”

Peng Thian-pa cuma tersenyum dipaksa. Dia baru menyadari bahwa berbicara dengan gadis ini

bukanlah hal yang baik. Wajahnya pun menjadi masam dan dia berkata dengan dingin, “Makongcu,

kau tidak usah lari lagi. Saat ini kami bertiga sudah datang dari tiga penjuru. Sekarang baru

aku yang berada di sini. Kau boleh membunuhku untuk melenyapkan saksi lagi.”

Ma Ji-liong tidak menjawab.

Gadis itu menyela, “Dia tidak akan membunuhmu. Dia orang yang baik.”

Peng Thian-pa mengulangi, “Dia orang yang baik?”

Gadis itu menambahkan, “Tentu saja dia orang yang baik. Aku belum pernah melihat orang yang

sebaik ini. Jika kau berani menyentuhnya, aku akan membunuhmu.”

Peng Thian-pa menyeringai. Mendadak gadis itu melompat maju dan mencengkeram lengannya.

Lalu dia berseru, “Aku akan menghalanginya. Cepat kau lari.”

Tapi Ma Ji-liong tidak lari, dan gadis itu pun tidak bisa menghentikan Peng Thian-pa. Peng Thianpa

hanya mengangkat tangannya, dan gadis itu sudah terbanting ke atas tanah.

Peng Thian-pa berkata, “Bicara terlalu banyak seperti ini, kau tentu lelah. Lebih baik kau berbaring

saja.” Setelah berkata begitu, kakinya pun diayunkan dan menotok jalan darah tidurnya. Lalu dia

melemparkan mantel bulu rubah di tangannya ke atas tubuh gadis itu.

Ma Ji-liong menatap goloknya, menunggu senjata itu bergerak. Siapa sangka kalau Peng Thian-pa

malah menyarungkan goloknya lagi dan menaruh tangannya di atas api unggun. Dia tahu bahwa Ma

Ji-liong tidak bisa lolos, maka dia pun menggunakan kesempatan itu untuk menghangatkan

tangannya. Sikap tenang jago tua ini menimbulkan kekaguman di hati orang.

Anehnya, Ma Ji-liong juga bersikap sangat tenang. Dia tidak kelihatan gelisah, juga tidak mau

melancarkan serangan lebih dulu.

Api unggun itu sudah hampir padam. Peng Thian-pa lalu melemparkan beberapa potong ranting lagi

dan berkata dengan perlahan-lahan, “Kau tahu bahwa paman ketigamu dan aku bersahabat, bukan?”

“Hmm,” kata Ma Ji-liong.

Peng Thian-pa bertanya lagi, “Apakah dia pernah bercerita tentang aku sebelum dia mati?”

“Hmm,” kata Ma Ji-liong.

Peng Thian-pa meneruskan, “Apakah dia menceritakan bagaimana dia dan aku bisa bersahabat?”

Ma Ji-liong menjawab, “Tidak.”

Peng Thian-pa lalu berkata, “Kami berdua harus bertarung dulu sebelum bersahabat.” Dia tertawa

dan melanjutkan lagi, “Paman ketigamu adalah orang yang amat angkuh. Tentu saja dia tidak mau

menceritakan hal ini padamu.”

Ma Ji-liong bertanya, “Kenapa begitu?”

Peng Thian-pa berkata, “Karena……… walaupun kecerdasan dan pengetahuanku kalah dibandingkan

dengan dia, sayangnya minatnya terlalu luas. Dia ingin mempelajari semuanya – musik, catur,

sastera, melukis, apa saja – dan karena itu dia tidak punya banyak waktu untuk melatih ilmu

pedangnya sendiri.”

Ma Ji-liong pernah mendengar hal itu. Paman ketiganya bukan hanya dikenal karena ilmu

pedangnya yang hebat, tapi dia juga seorang pecinta seni yang termasyur.

Peng Thian-pa berkata, “Maka, walaupun dia agak lebih kuat dariku, tapi kungfunya tidak setanding

denganku. Kami bertarung sebanyak tiga kali, dan setiap kalinya aku berhasil mengalahkan dia

dalam seratus jurus.” Dia tidak membiarkan Ma Ji-liong bicara, tapi tiba-tiba dia bertanya,

“Bagaimana ilmu pedangmu bila dibandingkan dengan ilmu pedang pamanmu?”

Tanpa menunggu jawaban, dia berkata, “Aku yakin ilmu pedangmu masih di bawah ilmunya.

Maka, seandainya kau punya pedang di tanganmu, aku masih mampu untuk membunuhmu dalam

seratus jurus.” Dia meneruskan dengan lembut, “Sekarang kau bertangan kosong, paling banyak

kau hanya bisa bertahan sebanyak 60 jurus.”

Ma Ji-liong tetap tutup mulut. Peng Thian-pa melanjutkan, “Golokku ini, meskipun hanya

digunakan untuk membunuh orang yang pantas dibunuh, setiap serangan selalu dilancarkan dengan

sekuat tenaga. Kadang-kadang aku tidak ingin membunuh orang, tapi sekali golokku ini diayunkan,

aku sendiri tidak bisa mengendalikannya lagi.”

Sambil menghela napas, dia berkata, “Karena itu, tidak banyak orang hidup yang bisa bicara

tentang golokku.”

Ma Ji-liong bertanya, “Apa maksud tujuanmu?”

Setelah bimbang sekian lama, akhirnya Peng Thian-pa berkata dengan perlahan, “Tiba-tiba aku

teringat pada beberapa kejadian aneh.”

“Ya?” Ma Ji-liong berkata.

Peng Thian-pa bertanya, “Apakah kau tahu kenapa aku bisa mencarimu ke sini?”

Ma Ji-liong menggelengkan kepalanya.

Peng Thian-pa menjelaskan, “Kaulah yang membawaku ke sini. Aku mengikuti jejak kaki yang

ditinggalkan kudamu di atas salju.”

Ma Ji-liong tidak berpikir sampai ke situ. Dia belum pernah menjadi seorang buronan.

Peng Thian-pa berkata, “Jika kau bisa membuat rencana yang keji dan tanpa cacat seperti itu untuk

melukai orang, tentu kau tidak akan begitu lalai seperti ini dan, di saat kritis antara hidup dan mati,

kau tentu tidak akan mengambil resiko untuk menolong perempuan yang aneh dan buruk rupa ini.”

Sambil menghela napas, dia berkata, “Tapi kau malah melakukan semua itu. Sesudah kupikir-pikir,

pasti ada yang tidak benar. Walaupun aku mudah ditipu seperti babi bodoh, aku tetap merasa hal ini

sedikit aneh, karena itu……”

Lalu dia meneruskan, “Kuharap kau mau ikut denganku secara sukarela agar aku tidak perlu

menggunakan kekerasan.”

“Ke mana kau akan membawaku?” Ma Ji-liong bertanya dengan sikap mengejek.

Peng Thian-pa menjawab, “Akan kubawa kau ke Siau-lim-pay. Beri aku waktu tiga bulan dan aku

pasti akan menyingkap kebenaran ini dan memberimu keadilan.”

Ma Ji-liong tidak mengiyakan, juga tidak menolak tawaran itu.

Peng Thian-pa berkata, “Sekarang kau sudah terkepung. Tak perduli ke mana pun kau pergi, orangorang

tidak akan melepaskanmu. Cuma ini satu-satunya jalan keluar.” Dia benar, sama sekali benar.

Peng Thian-pa pelan-pelan berjalan menghampiri dan berkata, “Jadi sekarang kau harus benarbenar

mempercayaiku. Akulah satu-satunya orang yang bisa menolongmu.” Lalu dia mengulurkan

kedua tangannya, agaknya memang dialah satu-satunya orang di dunia ini yang bersedia menolong

Ma Ji-liong.

Akhirnya, sambil menerima uluran tangannya, Ma Ji-liong berkata, “Aku percaya padamu, tapi……”

Belum habis kata-katanya, kaki Peng Thian-pa tahu-tahu sudah melayang dan menendang jalan

darah ‘huan tiao’-nya, akibatnya kakinya pun tertekuk. Lalu tangan Peng Thian-pa melesat secepat

kilat, menotok jalan darah di pergelangan tangannya.

Sambil tertawa dengan keras dan gembira, Peng Thian-pa berkata, “Lihat, sekarang siapa yang

babi?”

Tangan Peng Thian-pa terayun ke bawah lagi dan begitu pula tubuh Ma Ji-liong. Kemudian,

“sing!”, golok Ngo-hou-toan-bun-to sudah meninggalkan sarungnya. Golok ini memang termasuk

golok terbaik di dunia Kang-ouw. Bukan hanya bisa dihunus dengan mulus dan cepat, bentuknya

juga amat indah.

Gaya membunuh ilmu golok ini pun sangat indah. Dan sekali meninggalkan sarungnya, golok itu

pasti akan membunuh orang. Tapi setidaknya dia kan harus bertanya dulu pada Ma Ji-liong.

Seandainya dia sudah memutuskan bahwa Ma Ji-liong adalah penjahat yang sebenarnya, seharusnya

dia menginterogasi dulu untuk memastikan. Kenapa sekarang dia mencabut goloknya?

Ma Ji-liong akhirnya paham. Saat dia melihat golok Peng Thian-pa dicabut keluar, dia tahu bahwa

Peng Thian-pa adalah pembunuh sebenarnya! Rencana busuknya disusun secara rahasia, dan itulah

sebabnya dia tidak bisa membiarkan orang serba hitam itu, pembunuh bayaran dari Thian-sat, tetap

hidup sehingga bisa membocorkan rahasianya.

Dan itulah sebabnya kenapa dia tidak perlu bertanya lagi. Dia pun tidak membiarkan Ma Ji-liong

hidup dan membocorkan rahasianya. Sayangnya, Ma Ji-liong terlambat memahami hal ini. Sinar

golok yang berkilauan sudah terayun ke arahnya.

Siapa yang bisa membayangkan kalau golok itu ternyata tidak berhasil membacok tenggorokan Ma

Ji-liong? Malah tubuh Peng Thian-pa yang terpental dan berjungkir-balik di udara sebelum akhirnya

terbanting jauh. Wajahnya menjadi gelap karena ketakutan dan dia berteriak dengan suara serak,

“Siapa di situ?”

Kecuali dua orang manusia yang jalan darahnya tertotok, tidak ada orang lain di sana. Mungkinkah

dia sudah bertemu dengan hantu?

Api unggun berkerlap-kerlip. Wajah Peng Thian-pa tampak berubah bolak-balik dari merah ke

gelap. Tapi di sana tidak ada orang lain, bahkan bayangan hantu pun tidak. Mendadak dia melompat

bangkit, goloknya ditusukkan kembali ke tenggorokan Ma Ji-liong.

Kembali hantu itu muncul! Dan kali ini bahkan lebih menakutkan. Walaupun Ma Ji-liong tidak

melihat apa-apa, tapi tubuh Peng Thian-pa tahu-tahu sudah terpental dan berputar-putar di udara.

Saat mendarat di tanah, dia segera melarikan diri tanpa melirik lagi ke belakang.

Suasana di luar kuil rusak itu tampak gelap, begitu gelapnya sehingga tidak terlihat satu bayangan

pun. Nyala api menari-nari, angin menderu-deru. Tiba-tiba, bersama dengan bunyi deruan angin,

terdengar suara jeritan kaget dan ngeri yang pendek dan nyaring.

Ma Ji-liong mendengar suara jeritan Peng Thian-pa itu, tapi dia tidak bisa menduga apa yang telah

terjadi. Dia sangat ingin melompat keluar dan melihatnya. Sayangnya jalan darah di pergelangan

tangan dan kakinya sudah tertotok.

Walaupun Peng Thian-pa terkenal dengan ilmu goloknya, ternyata ilmu totokannya pun tidak kalah

dari orang lain. Sekarang, jika datang seseorang dengan golok di tangannya – siapa pun, dengan

senjata apa pun – dia bisa menebas tenggorokan Ma Ji-liong dengan mudah. Untunglah tidak ada

yang datang, baik itu orang, hantu, tidak ada suara, tidak ada gerakan, tidak ada apa-apa. Seolaholah

Thian tahu bahwa kedua orang itu tidak mampu menggerakkan tubuhnya, api pun akhirnya

padam.

Tapi Ma Ji-liong tahu bahwa orang lain bisa datang setiap saat. Peng Thian-pa tidak akan datang

kembali, tapi Coat-taysu, Pang Tio-hoan, dan Khu Hong-seng masih mungkin. Dan tidak perduli

siapa pun yang datang, orang ini tidak akan melepaskan dirinya.

Malam panjang yang dingin itu serasa tiada berakhir, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Malam di musim dingin memang selalu panjang, benar-benar amat panjang.

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 5: Gadis Bernama Toa-hoan

Ranting kering terbakar sangat cepat, dan api unggun pun semakin redup. Ma Ji-liong ingin

menjaga ketenangannya, tapi pikiran di benaknya tidak mau menurut. Tubuhnya makin dingin dan

akan segera membeku. Api unggun akan padam, tapi dia tetap tidak tahu kapan totokan di tubuhnya

akan terbuka.

Dan sekarang adalah saat yang paling dingin di malam hari. Jika terus begini, mungkin dia akan

mati beku di sini. Dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Kemungkinan dirinya sendiri

akan mengalami nasib seperti ini sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya.. Memang tidak

seorang pun yang bisa meramalkan masa depan, tidak seorang pun juga yang tahu tentang

takdirnya. Inilah permainan nasib!

Ma Ji-liong menghela napas dalam-dalam, baru sekarang dia menyadari bahwa sifatnya yang

angkuh sudah lenyap. Saat itulah, mendadak gadis tadi mengangkat kepalanya dari mantel bulu

rubah itu.

Jalan darah Ma Ji-liong masih tertotok, tapi jalan darah gadis itu tidak. Dengan sepasang matanya

yang seperti mata tikus, sekian lamanya dia melirik ke sana ke mari seperti tikus yang sedang

mengawasi keadaan sekelilingnya. Lalu dia menghela napas yang panjang sekali dan berkata,

“Siapa yang menyangka kalau orang gemuk itu tiba-tiba akan pergi dan kau ternyata masih hidup.”

Itu memang kejadian yang tak terduga! Tak seorang pun yang bisa membayangkan kalau Peng

Thian-pa tiba-tiba akan melepaskan Ma Ji-liong dan melarikan diri seperti kelinci yang terkena

panah, kabur ke dalam hutan rimba.

Si nona bangkit berdiri, sambil mengenakan mantel bulu Ma Ji-liong. Sambil tersenyum dia

berkata, “Bulu mantel ini lumayan. Rasanya enteng, halus dan hangat. Ukurannya pun pas.”

Untunglah Ma Ji-liong masih bisa bicara.

Dia tak tahan lagi dan berkata, “Sayangnya mantel itu milikku.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan berkata, “Bukan milikmu. Bukan kepunyaanmu lagi.”

“Kenapa begitu?” Ma Ji-liong bertanya.

“Karena kau sudah memberikannya pada orang gemuk tadi, yang kemudian memberinya padaku,”

gadis itu menerangkan.

Lalu dia menambahkan sambil tersenyum riang, “Jadi mantel ini sekarang milikku.”

Ma Ji-liong tidak mau berdebat. Dia bukan orang yang kikir, dan tentu saja dia tidak perduli dengan

urusan seperti itu. Tapi dia benar-benar sangat kedinginan. Maka, tak tahan lagi dia pun bertanya,

“Bisakah kau menyalakan api unggun itu?”

“Kenapa aku harus menyalakannya? Aku kan tidak kedinginan,” jawab gadis itu.

Sambil tersenyum pahit, Ma Ji-liong berkata, “Kau tidak, tapi aku ya.”

“Aku tidak kedinginan. Kenapa kau bisa kedinginan?” gadis itu berkata.

Ma Ji-liong tertegun. Gadis ini benar-benar gila, begitu gilanya sehingga dia bahkan tak bisa

menangis biarpun dia ingin. Dia pun tidak bisa tertawa. Mendadak perutnya terasa kosong. Itulah

nasibnya sendiri.

Tapi gadis itu melanjutkan lagi, “Orang muda harus tahan terhadap kesulitan dan kerja keras. Apa

salahnya kedinginan sedikit? Kau masih muda. Jika kau tidak bisa menahan sedikit penderitaan,

bagaimana kau bisa melakukan sesuatu yang besar di kemudian hari?”

Ma Ji-liong menutup mulutnya. Akhirnya dia sadar bahwa menjelaskan sesuatu kepada orang

seperti ini bukan saja sia-sia belaka, tapi juga merupakan perbuatan yang bodoh. Bila seorang lakilaki

bertemu dengan perempuan seperti ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menutup mata dan

mulutnya.

Tiba-tiba gadis itu berpaling dan bergumam, “Apakah langit sudah cerah? Aku akan pergi melihat.”

Dia bicara pada dirinya sendiri sambil melangkah keluar pintu. Tapi tiba-tiba dia menjerit keraskeras

dan berlari masuk kembali, seolah-olah sebatang anak panah sudah menancap di bokongnya.

Ma Ji-liong sebenarnya tidak ingin memperdulikannya lagi. Tapi, walaupun gadis ini tidak

menyenangkan, tapi dia cukup baik padanya.

Gadis itu bukan hanya mengatakan bahwa dia orang yang baik, tadi dia bahkan berani

mempertaruhkan nyawanya untuk menghalangi Peng Thian-pa agar dia bisa lari. Asal dia masih

hidup, dia harus hidup dengan kesadaran yang jernih, harus mampu membedakan antara terima

kasih dan dendam.

Maka Ma Ji-liong tidak punya pilihan lain kecuali bertanya, “Ada apa?”

“Di luar…. ada seseorang di luar,” gadis itu berkata dengan ketakutan.

Hawa amat dingin, bumi serasa membeku, dan malam pun sudah larut. Bagaimana mungkin ada

orang di luar kuil yang rusak dan terpencil ini?

Kembali Ma Ji-liong bertanya dengan terpaksa, “Siapa?”

“Orang gemuk yang tadi,” jawab gadis itu.

Mimik muka Ma Ji-liong pun berubah. Dia lalu berkata, “Dia belum pergi?”

Gadis itu menjawab, “Belum.”

Dia belum pergi, tapi kenapa dia tidak masuk?

Ma Ji-liong bertanya, “Apa yang dia lakukan di luar sana?”

Gadis itu menjawab, “Siapa yang tahu apa yang sedang diperbuatnya? Dia berbaring sendirian di

sana, seperti sedang tidur.”

Anehnya, dia masih bisa berkata lagi, “Orang gemuk memang selalu suka tidur.”

Tapi tak perduli betapa pun gemuknya seseorang, atau betapa sukanya dia tidur, tidak mungkin dia

tidur di atas salju.

Ma Ji-liong berkata, “Mungkin kau salah lihat.”

Gadis itu berkata, “Tentu saja tidak. Aku bukan hanya bisa melihat jauh, pandangan mataku juga

sangat baik.”

Dari kejauhan matanya memang tidak terlihat buruk, setidaknya masih lebih baik sedikit daripada

mata seekor tikus.

“Bisakah kau pergi keluar dan memeriksa lagi?” Ma Ji-liong meminta.

“Kenapa kau tidak pergi sendiri?” gadis itu bertanya.

Gadis itu memandangnya dan tiba-tiba dia tertawa. Lalu dia berkata, “Aku paham. Kau sama

sepertiku. Tadi kau ditendang oleh orang gemuk itu, sekarang kau tidak bisa bergerak.”

Ma Ji-liong tidak berkata apa-apa.

Secara tidak terduga gadis itu kemudian berkata, “Baik, aku akan memeriksa keluar untukmu.

Paling tidak kau sudah bersikap baik padaku.”

Tapi, baru saja keluar, dia sudah menjerit dan berlari masuk kembali ke dalam kuil, tampaknya dia

bahkan lebih ketakutan daripada tadi.

“Dia tidak ada di sana?” Ma Ji-liong bertanya.

Napas gadis itu terengah-engah. Setelah tenang, dia lalu berkata, “Dia… dia ada di sana. Tapi dia

tidak akan pergi lagi.”

“Kenapa begitu?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu menjawab, “Karena dia sudah mati!”

Bagaimana Peng Thian-pa bisa mati? Tadi dia masih segar bugar. Selain itu dia pun sehat, tanpa

penyakit atau merasa sakit, agaknya dia bahkan lebih sehat daripada orang lain.

“Apakah dia benar-benar sudah mati?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu menjawab, “Mati ya mati, benar-benar mati, mati sungguhan.”

“Apakah kau tahu kenapa dia tiba-tiba mati?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu berkata, “Tentu saja aku tahu.”

Tubuhnya tampak menggigil, “Tak perduli siapa pun, aku tentu saja tahu bahwa tidak mungkin bisa

hidup setelah tenggorokannya digorok orang!”

Ma Ji-liong makin terkejut. Ilmu golok Peng Thian-pa berada di deretan terbaik dan paling

termasyur di dalam Bulim. Bagaimana seseorang bisa menggorok lehernya? Siapa yang

melakukannya? Apakah ada orang di dunia ini yang memiliki ilmu golok yang lebih cepat dan lebih

ternama? Dan kenapa orang itu menggorok tenggorokannya?

Cuma ada satu penjelasan. Peng Thian-pa bukan penjahat sebenarnya. Masih ada orang lain di balik

persoalan ini, yang memberikan perintah kepadanya. Dan orang ini telah membunuhnya untuk

melenyapkan saksi. Siapakah orang ini? Setelah membunuh Peng Thian-pa, kenapa dia tidak masuk

untuk menghabisi Ma Ji-liong?

Kecuali ‘orang ini’, tidak ada orang lain yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ma Ji-liong

akhirnya tahu bahwa persekongkolan ini bahkan lebih rumit dan lebih menakutkan daripada yang

semula dia perkirakan.

Gadis itu tiba-tiba berkata, “Ini tidak bagus.”

“Apanya?” Ma Ji-liong bertanya.

“Kita tidak boleh tinggal di sini,” gadis itu menerangkan.

Ma Ji-liong setuju dengannya. Mereka tentu saja tak boleh tinggal lagi di sini. Sayangnya dia tidak

bisa berjalan.

Mendadak gadis itu berkata, “Aku seorang perempuan.”

“Aku tahu,” kata Ma Ji-liong.

Gadis itu berkata, “Semua pahlawan adalah laki-laki. Laki-laki sejati juga laki-laki. Jadi…”

“Jadi apa?” Ma Ji-liong bertanya.

“Aku bukan seorang laki-laki sejati, juga bukan seorang pahlawan,” ia berkata sambil menghela

napas.

“Jadi, walaupun kau tidak bisa berjalan, aku tetap harus pergi,” dia menambahkan.

Demi dia, Ma Ji-liong berhenti di tempat ini, membuat api unggun, dan mendapat masalah.

Sekarang dia berkata bahwa dia harus pergi begitu saja, seorang diri.

Anehnya, Ma Ji-liong hanya menjawab, “Kau memang harus pergi.”

Tapi gadis itu menambahkan pula, “Tapi aku tidak bisa berjalan kaki. Aku membutuhkan kudamu.”

Ma Ji-liong malah berkata, “Boleh, silakan bawa.”

Gadis itu akhirnya merasa bahwa orang ini sedikit ganjil. Sesungguhnya dia tetap seorang manusia

juga. Tak dapat menahan helaan napasnya, dia berkata, “Kau benar-benar orang yang baik.

Sayangnya…..”

Ma Ji-liong bertanya, “Sayangnya… apa?”

“Sayangnya orang baik selalu mati muda,” kata gadis itu.

Dan dia pun benar-benar pergi. Dia mengenakan mantel bulu Ma Ji-liong, naik ke atas punggung

kuda putih Ma Ji-liong dan pergi. Api unggun sudah padam. Dia pun tidak menambahkan kayu api

lagi untuk pemuda itu. Apa yang dilakukan gadis itu benar-benar sadis, lebih sadis daripada yang

pernah diperbuat oleh Coat-taysu.

Malam yang dingin dan sepi. Sebelum bunyi derap kaki kuda menghilang di kejauhan, bersama

dengan hembusan angin dingin, terdengar bunyi langkah kaki yang amat ringan dan cepat. Itulah

langkah kaki dua orang manusia, yang kemudian berhenti tepat di luar kuil rusak itu.

“Di sini ada mayat,” terdengar sebuah suara berkata. “Mayat Peng Thian-pa.”

“Masih bisakah kita menyelamatkannya?”

“Luka ini mematikan. Bahkan dewa pun tak akan sanggup menghidupkannya kembali.”

Hati Ma Ji-liong serasa karam. Mendengar suara-suara itu, dia tahu bahwa dua orang yang datang

itu adalah Coat-taysu dan Pang Tio-hoan. Mereka baru saja menemukan mayat Peng Thian-pa. Jika

mereka menemukan dia di sini, mereka tentu tidak akan memberinya kesempatan untuk

menjelaskan lagi. Tapi tidak seorang pun menyangka kalau mereka malah tidak jadi masuk ke

dalam kuil. Ini terjadi karena mereka tadi sempat melihat kepergian kuda putihnya itu.

“Itulah kuda Naga Putih dari Thian-ma-tong.”

Mereka juga melihat seseorang yang mengenakan mantel bulu di atas punggung kuda itu.

“Inilah serangan golok yang mematikan. Dia membunuh dan kemudian pergi. Benar-benar tangan

yang keji! Benar-benar orang yang jahat!”

“Dia tidak akan lolos.”

“Tapi Peng Thian-pa…..”

“Peng Thian-pa akan menunggu di sini. Ma Ji-liong tidak. Maka, ayo kita kejar dia!”

Baru saja terdengar kata-kata itu, bunyi langkah kaki dan lengan baju yang berkepak di udara pun

kemudian terdengar menghilang di kejauhan. Mereka mengira penunggang kuda bermantel bulu

rubah itu adalah Ma Ji-liong, tanpa menyadari bahwa masih ada seseorang lagi di dalam kuil rusak

itu.

Jika gadis itu tidak pergi, atau jika di sana masih ada api unggun, atau jika kuda putih itu pun ada di

sana, apa yang akan terjadi sekarang? Tadinya Ma Ji-liong tentu saja tidak memikirkan semua itu.

Tiba-tiba dia menyadari bahwa gadis itu bukan saja tidak sadis, tapi juga amat baik hati dan

misterius. Ia juga menyadari bahwa gadis itu bukan seorang perempuan yang sulit dan semaunya

sendiri seperti kelihatannya tadi. Dia mungkin malah lebih cerdik daripada orang lain.

Tak perduli betapa dingin atau betapa panjangnya malam di musim dingin, fajar tetap akan selalu

datang. Tidak perduli betapa hebatnya ilmu totokan seseorang, jalan darah yang tertotok akhirnya

tentu akan terbuka.

Sekarang fajar sudah mulai merekah. Darah dan hawa pun sudah mengalir menembus jalan darah

yang tertotok itu.

Peng Thian-pa tentu saja tidak menggunakan ilmu totokan yang berat. Dia tidak bermaksud

menotok jalan darah Ma Ji-liong untuk waktu yang sangat lama, karena dia menyangka pemuda itu

akan segera mati. Siapa yang menduga kalau saat ini Ma Ji-liong masih hidup, tapi dia sendiri sudah

berubah menjadi mayat yang dingin dan kaku. Golok itu menggorok tenggorokannya sebelah kiri,

mulai dari depan hingga ke belakang, memutuskan semua jalan darah utama di lehernya.

Inilah serangan golok yang amat mematikan. Orang ini adalah jago golok nomor satu di dalam

Bulim. Agaknya tidak seorang pun yang bisa mengelakkan serangan goloknya. Dan tentu saja tidak

ada serangan golok yang tidak bisa ditangkis olehnya. Tapi golok ini telah mengambil nyawanya.

Mimpi pun dia tidak menyangka kalau orang itu akan berbalik melawannya, atau golok itu akan

menggorok tenggorokannya. Ini terjadi karena orang itu adalah temannya – teman akrabnya –

teman yang setia dan dipercayainya. Mereka sudah merencanakan semua ini bersama-sama. Dia

tidak menyangka kalau orang itu akan membungkamnya setelah segalanya berhasil. Siapakah orang

itu? Ma Ji-liong tidak bisa menebak. Dia juga tidak punya petunjuk sama sekali. Benar-benar tidak

ada orang yang tahu jawaban untuk pertanyaan ini.

Pertanyaan yang lebih gampang adalah – setelah rencana mereka sukses, apa yang akan terjadi?

Apakah akibatnya? Siapa yang akan mendapat keuntungan?

Tentu orang ini membuat rencana tersebut untuk keuntungannya sendiri. Setelah rencana

dilaksanakan, Ma Ji-liong akan menjadi kambing hitamnya. Keluarga dan teman-teman Toh Cenglian,

Sim Ang-yap dan Khu Hong-seng akan memburu Ma Ji-liong.

Jika mereka tidak berhasil menemukan Ma Ji-liong, mereka tentu akan mencarinya ke Thian-matong.

Dan jika mereka berhasil membunuh Ma Ji-liong, Thian-ma-tong akan membalas dendam.

Dan akhirnya persoalan ini akan menjadi dendam keluarga, dendam antara Thian-ma-tong dan

keluarga Toh, Sim dan Khu.

Permusuhan di antara keluarga-keluarga ternama ini akan menyebabkan kehancuran bersama. Bila

ikan dan kepiting bertarung, yang untung adalah sang nelayan. Siapakah si nelayan ini?

Di bawah naungan langit yang tak berawan, jejak kaki kuda di atas salju terlihat dengan jelas

sehingga mirip seperti seseorang yang sudah memberi petunjuk untuk diikuti orang lain. Apakah

mereka sudah berhasil menyusul gadis itu?

Ma Ji-liong tidak bisa membayangkan mimik muka “entah tertawa entah menangis” di wajah kedua

orang itu bila mereka tahu orang macam apa gadis itu. Dia tiba-tiba merasa bahwa gadis yang

sangat kasar, amat buruk rupa dan aneh luar biasa itu benar-benar menarik.

Inilah pertama kalinya dia merasa gadis itu sangat menarik.

Tapi dia tidak berhutang apa-apa pada gadis itu, dan dia mungkin tidak akan bertemu dengannya

lagi. Perempuan itu pergi ke arah timur. Dia tentu saja akan pergi ke barat. Sekarang dia merasa

amat kedinginan dan kelaparan. Dia tahu bahwa di sebelah barat sana ada sebuah kota besar dengan

losmen yang sangat bagus. Di losmen itu kamar-kamarnya selalu tertata rapi dan bersih, dengan

seprai yang selalu diganti dengan yang baru dan perapian yang hangat! Di dapurnya selalu tersedia

daging kambing rebus yang sangat lezat dan kue biji wijen yang harum dan lembut. Dan itulah yang

dia butuhkan sekarang ini.

Kota itu adalah kota yang ramai dan sibuk dengan jalan raya yang bersih dan rapi. Pelayan losmen

sedang menunggu di depan pintu, berusaha menarik perhatian calon pelanggan. Ketika hendak

berjalan masuk ke dalam losmen, Ma Ji-liong tiba-tiba teringat bahwa dia tidak punya uang, bahkan

tidak untuk sepotong kue biji wijen, maka ia pun tidak berani masuk. Pelayan losmen itu pun tidak

berusaha mengundangnya. Dalam cuaca yang amat dingin seperti ini, orang ini bahkan tidak punya

secarik bulu pun di tubuhnya. Dia pasti bukan calon pelanggan yang baik.

Mendapat perlakuan yang dingin dari orang lain, mulutnya pun terasa getir. Inilah pertama kalinya

Ma Ji-liong menerima perlakuan seperti ini. Akhirnya dia menyadari bahwa orang-orang jauh lebih

menghargai uang daripada dia. Karena itu, meskipun kedinginan, kelaparan dan kelelahan, dia lalu

menegakkan tubuhnya dan terus bergerak dengan langkah-langkah yang lebar.

Walaupun dia tidak tahu ke mana dia akan pergi, tapi kakinya tidak pernah berhenti. Tiba-tiba dia

melihat seekor kuda putih. Dia mengenali kuda ini, dan agaknya kuda itu pun mengenalinya.

Kuda itu mengangkat kakinya dan meringkik pelan. Itulah kuda naganya sendiri.

Kuda itu terikat di bawah emperan sebuah rumah makan. Tiba-tiba seseorang tampak menjulurkan

kepalanya dari jendela rumah makan itu dan memberi isyarat kepadanya.

Yang membuatnya terkejut, orang itu ternyata gadis buruk rupa yang sadis, misterius dan menarik

itu. Jelas dia pergi ke arah timur. Kenapa tiba-tiba dia muncul di kota sebelah barat ini?

Dengan suara yang keras, gadis itu berseru, “Ayo naik. Ayo naik, cepat.”

Ma Ji-liong merasa bimbang. Tapi gadis itu mendesak lagi, “Kau mau bergabung denganku di sini,

atau aku harus menjemputmu ke sana?”

Ma Ji-liong hanya bisa tersenyum dipaksa. Dia berkata, “Aku datang. Aku akan datang sendiri.”

Rumah makan itu luas dan hangat, penuh dengan aroma daging kambing rebus, ikan goreng dan

kue biji wijen.

Seorang diri dia duduk di sebuah meja yang bisa ditempati delapan orang, dan di atas meja sudah

tersedia begitu banyak makanan dan arak yang bahkan tidak mungkin bisa dihabiskan oleh delapan

orang sekaligus. Dia masih memakai mantel bulu Ma Ji-liong.

Si nona memandangnya dan berkata, “Duduklah. Duduklah, cepat.”

Ma Ji-liong hanya bisa duduk.

Kembali dia memerintahkan, “Makanlah. Makanlah, cepat.”

Dan Ma Ji-liong pun makan. Dia tidak mau gadis itu mendesak-desaknya, juga tidak mau

perempuan itu menyuapkan daging kambing ke mulutnya. Agaknya dia bukan tipe perempuan yang

akan membiarkan orang lain melakukan sendiri apa yang dia mau.

Melihat Ma Ji-liong sudah menelan sepotong kecil daging kambing rebus, matanya berkedip-kedip

dengan berseri. Tapi kemudian dia memasang muka serius dan berkata, “Orang muda harus dapat

menahan rasa lapar, dan mereka pun harus bisa makan. Jika kau tidak menghabiskan semangkok

daging kambing rebus ini, tak perduli apa pun yang kau katakan, aku tidak mau mendengarkannya.”

Ma Ji-liong benar-benar menghabiskan semangkok besar daging kambing rebus itu dan dua potong

kue biji wijen.

Gadis itu menuangkan semangkok besar arak untuknya dan menyerahkannya padanya. Dia berkata,

“Kau sudah makan. Sekarang kau boleh minum. Minumlah, cepat.”

“Aku tidak mau minum,” Ma Ji-liong menggelengkan kepalanya.

Gadis itu berkata, “Kau ingin aku menjepit hidungmu dan menuangkan arak ini ke dalam

mulutmu?”

Ma Ji-liong tidak memperdulikannya. Dia benar-benar tidak percaya kalau seorang gadis akan

berani menjepit hidungnya di depan umum. Tapi dia keliru. Gadis itu benar-benar menjepit

hidungnya dengan jari tangannya.

Walaupun wajahnya buruk dan aneh, tapi tangannya indah, halus dan mulus.

Tangan yang lembut dan lemas. Inilah pertama kalinya Ma Ji-liong menyadari bahwa ada sesuatu

yang indah di tubuh gadis ini. Dia pun menghabiskan semangkok arak itu.

Dia tidak pernah menyentuh setetes pun arak sejak dia bermabuk-mabukan selama tiga hari di

rumah makan Tin-cu-hong. Dia sudah memutuskan untuk berhenti minum. Tapi, tak perduli apa

pun yang sudah diputuskan seseorang, setelah mengalami serentetan peristiwa buruk dan seorang

gadis menjepit hidungnya di depan umum seperti ini, keputusan seseorang bisa saja goyah.

Gadis itu akhirnya tertawa dan berkata, “Sekarang kau baru tampak hidup. Jika seorang laki-laki

tidak berani minum arak, maka dia bukan seorang laki-laki sejati.”

Dia menuangkan semangkok lagi dan berkata, “Tapi jangan khawatir. Tidak ada racun di dalam

arak ini. Aku pasti tidak ingin meracunimu sampai mati.”

Sekarang setelah Ma Ji-liong minum lagi setelah berpantang sekian lama, dia pun minum dengan

riang gembira. Siapa pun orangnya, jika mereka menjadi dia, mereka pun tentu ingin mabuk.

Sesudah minum tiga mangkok, tubuhnya mulai mengendur. Akhirnya ia bertanya, “Sekarang, boleh

aku bicara?”

Gadis itu berkata dengan dingin, “Jika itu hal yang baik, bicaralah. Jika cuma omong kosong, diam

sajalah.”

“Bagaimana kau bisa tiba di sini?” Ma Ji-liong bertanya.

“Aku merasa suka, maka aku datang,” gadis itu menjawab.

“Tapi tadinya kau menuju ke timur, bukan?” Ma Ji-liong bertanya.

Gadis itu menjawab, “Tiba-tiba aku ingin pergi ke barat.”

“Apakah kau sedang memata-mataiku?” Ma Ji-liong melanjutkan.

“Apakah kau kira kau begitu tampannya sehingga setiap gadis harus memata-mataimu?” gadis itu

membalas.

Sambil menyeringai, tiba-tiba dia berkata, “Aku toh bukan ibu Toh Ceng-lian, juga bukan ibu Sim

Ang-yap. Aku pun bukan nenek-moyangnya hwesio bau itu. Kenapa aku harus memata-mataimu?”

Mimik muka Ma Ji-liong segera berubah. Dia bertanya, “Apakah kau juga tahu tentang hal itu?”

Gadis itu cuma menyahut, “Hmmm.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Ma Ji-liong bertanya.

“Hmmm,” jawab gadis itu.

Ma Ji-liong bertanya pula, “Apakah kau bertemu dengan Pang Tio-hoan dan Coat-taysu? Apakah

mereka yang memberitahukan semua itu padamu?”

Gadis itu tidak bersuara lagi. Pelan-pelan dia menuangkan semangkok arak lagi untuknya,

semangkok besar arak.

Sambil menghela napas, Ma Ji-liong berkata, “Apakah kau selalu minum dengan mangkok yang

besar?”

“Ya,” akhirnya gadis itu menjawab.

Ma Ji-liong bertanya, “Mengapa begitu?”

Gadis itu berkata, “Cuma Siau-hoan yang minum dengan mangkok kecil (siau hoan). Aku bukan

Siau-hoan.”

Siau-hoan? Ma Ji-liong merasa seperti pernah mendengar nama ini sebelumnya. Dia tadi

mendengarnya dari Khu Hong-seng, yang mengatakan bahwa kekasihnya bernama Siau-hoan. Dan

potongan giok di kantungnya itu diberikan kepadanya oleh Siau-hoan itu.

Ma Ji-liong tidak bisa menahan diri. Dia bertanya lagi, “Apakah kau juga kenal Siau-hoan?”

Gadis itu berkata dengan dingin, “Kau terlalu banyak bertanya.”

“Tapi kau tidak menjawab satu pun,” kata Ma Ji-liong.

Gadis itu berkata, “Itu karena kau terus mengajukan pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan,

dan kau tidak menanyakan apa yang seharusnya kau tanyakan.”

“Lalu apa yang seharusnya kutanyakan?” Ma Ji-liong berkata.

Gadis itu menjawab, “Kau sudah mencicipi makananku. Kau sudah meminum arakku. Setidaknya

kau seharusnya sudah menanyakan namaku!”

“Siapa namamu?” Ma Ji-liong bertanya.

Dia berkata, “Siau-hoan selalu minum dengan mangkok kecil (siau hoan). Aku minum dengan

mangkok besar (toa hoan). Jadi apa namaku?”

“Namamu Toa-hoan?” Ma Ji-liong berkata.

Gadis itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Akhirnya kau semakin cerdas.”

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 6: Mangkok Pecah

Gadis ini bernama Toa-hoan. Walaupun mukanya galak dan buruk, tangannya ternyata lebih indah

daripada tangan sebagian besar gadis. Dan walaupun matanya kecil dan sipit, bila tersenyum, mata

itu ternyata amat lembut, seperti air mata air yang mengalir dalam sinar matahari.

Kata-katanya pendek dan lugas, tapi jika orang benar-benar memikirkannya, kata-kata itu seperti

menyampaikan pesan yang mendalam.

Dan meskipun dia bisa membuat orang “tak bisa tertawa tak bisa menangis” dan sikapnya sering tak

masuk di akal, orang-orang kemudian akan menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk

kebaikan mereka sendiri. Jika dia tidak memakai mantel bulu Ma Ji-liong dan membawa pergi kuda

putihnya, dia mungkin tidak bisa hidup sampai sekarang.

Mungkin sekali dia sudah mendengar persoalan ini dari Pang Tio-hoan. Tapi dia tetap tidak

memperlakukan pemuda itu sebagai pembunuh berdarah dingin. Jika sekarang ada orang yang

bersedia menjadi temannya di dunia ini, mungkin dialah orangnya. Tapi sebenarnya, siapakah dia?

Mendadak Ma Ji-liong berkata, “Kau orang yang baik.”

Dia menghela napas lagi, “Sebelumnya aku selalu menganggapmu aneh. Baru sekarang aku tahu

bahwa kau adalah orang yang baik.”

“Bagaimana kau tahu kalau aku orang yang baik?” Toa-hoan bertanya.

“Aku belum bisa mengatakannya, tapi aku tahu,” jawab Ma Ji-liong.

Lalu dia menuangkan semangkok arak untuk si nona. Dia berkata, “Ayo, aku pun menggunakan

mangkok besar (toa hoan) untuk menghormatimu.”

Anehnya, Toa-hoan benar-benar meminum semangkok besar arak itu. Dia minum dengan gembira.

Tiba-tiba Ma Ji-liong bertanya lagi, “Kau bernama Toa-hoan. Apakah ada hubungannya dengan

Siau-hoan?”

“Tidak,” jawab Toa-hoan.

“Sayang,” kata Ma Ji-liong.

Toa-hoan bertanya, “Kenapa? Apakah karena kau ingin bertemu dengan Siau-hoan?”

“Aku benar-benar ingin bertemu dengannya,” jawab Ma Ji-liong.

Toa-hoan berkata, “Sayangnya kau tidak bisa menemukannya.”

Ma Ji-liong tersenyum dipaksa dan berkata, “Sayangnya dia bukan bernama Toa-hoan.”

“Kenapa harus disayangkan?” Toa-hoan berkata.

Ma Ji-liong menjawab, “Jika namanya adalah Toa-hoan, tentu mudah menemukannya. Sayangnya

dia bernama Siau-hoan.”

Lalu dia menjelaskan, “Tidak mungkin banyak gadis yang bernama Toa-hoan, tapi yang bernama

Siau-hoan pasti lebih sedikit lagi. Aku cuma tahu bahwa namanya Siau-hoan. Bagaimana aku bisa

menemukannya?”

Toa-hoan berkata, “Walaupun kau tidak bisa menemukannya, tapi selalu ada orang yang bisa.”

“Siapa yang bisa menemukannya?” Ma Ji-liong bertanya.

Toa-hoan tidak menjawab. Dia malah bertanya, “Berapa banyak yang sudah kau minum hari ini?”

Ma Ji-liong berkata, “Delapan mangkok, delapan mangkok besar.”

“Kau masih bisa minum semangkok lagi?” Toa-hoan bertanya.

“Tak tahu,” kata Ma Ji-liong.

Toa-hoan berkata, “Apa kau masih sanggup minum banyak lagi?”

Ma Ji-liong berkata, “Entahlah… Biasanya aku minum tidak menggunakan mangkok.”

“Apa yang kau gunakan?” Toa-hoan bertanya.

“Aku minum dari guci arak,” kata Ma Ji-liong.

Toa-hoan tertawa.

“Kau kira aku membual?” Ma Ji-liong bertanya.

Toa-hoan berkata, “Jika kemampuan minum arakmu benar-benar hebat, aku bisa membawamu

menemui seseorang.”

“Siapa?” Ma Ji-liong bertanya.

Toa-hoan menjawab, “Seseorang yang tidak minum dari mangkok kecil (siau hoan) tapi pasti bisa

menemukan Siau-hoan itu.”

“Lalu dia minum pakai apa?” Ma Ji-liong bertanya.

“Mangkok pecah,” Toa-hoan menjawab.

Ma Ji-liong berkata, “Jika dia minum dari mangkok pecah, maka dia bernama Boa-hoan (Mangkok

Pecah), bukan?”

“Aku terkejut melihatmu semakin cerdas,” kata Toa-hoan dengan senang.

Dengan mata bersinar-sinar, Ma Ji-liong berkata, “Mangkok pecahmu ini, apakah dia bukannya

Boa-hoan Ji Ngo?”

“Siapa lagi kalau bukan dia?” Toa-hoan berkata.

***

Selain dia, memang tidak ada orang lain. Pasti tidak ada orang lain seperti dia. Tidak ada orang

yang bisa minum seperti dia, dan tidak ada orang yang memahami arak lebih baik darinya. Tak

seorang pun yang bisa menandingi kemampuannya makan, dan tak seorang pun yang sangat pilihpilih

soal makanan seperti dia.

Tapi dia bukan cuma terkenal dengan kemampuan makan dan minumnya. Dulu, jago nomor satu di

dunia Kang-ouw – Ye Kai – pernah menguraikan dirinya sebagai berikut, “Semiskin debu, sekaya

satu negara, terkenal ke seluruh dunia, tapi tidak seorang pun yang bisa mengenalinya.”

Menggunakan kata-kata ini untuk menjelaskan tentang dirinya adalah yang paling tepat. Garam

adalah sumber kekayaan terbesar di dunia, dan perdagangan yang paling cepat menghasilkan uang

adalah yang berhubungan dengan minyak dan beras, sutera, kayu dan toko gadai. Keluarga Ji di

Kanglam bukan hanya merupakan pedagang garam terbesar, keluarga ini juga terkenal dalam

keempat usaha lainnya. Mereka tentu saja termasuk orang terkaya di antara orang-orang kaya.

Kekayaan mereka sama dengan kekayaan satu negara.

Keluarga Ji dari Kanglam terdiri dari lima bersaudara, dan Ji Ngo adalah orang kelima.

Orang paling miskin di dunia tentu saja pengemis. Ji Ngo juga salah seorang dari tetua para

pengemis, dan ketua partai pengemis yang sekarang. Walaupun namanya menonjol di dalam Bulim,

tapi tidak banyak orang yang pernah bertemu dengannya, dan dia biasanya tidak dikenal orang. Tapi

anak-buahnya adalah pengemis-pengemis di seluruh dunia, baik yang berada di sebelah utara dan

selatan sungai Tiangkang. Dan karena itu, jika orang ingin menemukan seseorang yang tidak bisa

ditemukan, maka orang itu harus pergi mencarinya.

“Kau bisa menemukan dia?” Ma Ji-liong bertanya.

“Jika aku tidak bisa, lalu siapa yang bisa?” Toa-hoan menjawab.

Ma Ji-liong bertanya, “Kau tahu di mana dia berada?”

Toa-hoan berkata, “Seharusnya kau tahu. Dia tentu saja berada di sebuah tempat di mana dia bisa

makan dan minum.”

Bagi pengemis, seluruh dunia adalah rumah mereka. Di mana ada makanan, maka mereka pun

makan di sana. Tempat mana pun adalah tempat yang baik untuk makan, dan tempat mana pun juga

baik untuk minum. Banyak tempat yang bisa dipakai untuk makan dan minum, dan di mana-mana

juga ada warung makanan dan warung arak yang kecil.

Toa-hoan membawanya ke sebuah rumah makan yang sangat kecil. Itulah rumah makan yang

benar-benar sempit, cuma ada dua buah meja rusak dan beberapa buah kursi yang berantakan di

dalamnya.

Ma Ji-liong melangkah melewati ambang pintu dan tercium olehnya bau yang busuk. Di atas salah

satu meja kecil tersedia beberapa macam sayur asin yang warnanya sudah berubah. Selain itu sayur

itu pun tampak kering dan keras seperti setumpuk batu yang diambil dari selokan. Meskipun orang

yang hampir mati kelaparan, dia tentu tidak berani mencicipinya. Dengan melihat sayur asin ini

saja, orang bisa membayangkan bagaimana rumah makan ini dijalankan. Walaupun Ji Ngo seorang

pengemis, dia adalah ketua partai pengemis yang paling bersih dan paling pilih-pilih soal makanan.

Dalam urusan makan, dia tidak pernah sembarangan. Bagaimana mungkin dia mau datang ke

tempat ini untuk makan dan minum?

Di tempat ini tidak ada tamu, dan seorang pelayan tua tampak sedang tidur lelap. Toa-hoan berjalan

menghampiri dan membisikkan beberapa patah kata ke telinganya. Dia segera bangun, sepasang

matanya yang tadi seperti linglung tiba-tiba tampak bersinar dengan terangnya. Dunia kang-ouw

memang penuh dengan harimau mendekam dan naga bersembunyi. Mungkinkah orang tua ini juga

seorang jago Bulim yang sedang menyamar?

Dia terus mengawasi Toa-hoan dengan cara yang amat aneh. Jelas dia bersikap setengah hormat dan

setengah gembira, seperti seorang bocah yang tiba-tiba bertemu dengan seorang idola yang sudah

lama dikaguminya. Ma Ji-liong berwajah tampan, dan di seluruh dunia Kang-ouw orang yang

tampan seperti dirinya adalah langka. Biasanya dia akan menarik perhatian orang ke mana pun dia

pergi. Tetapi, anehnya, orang tua ini bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Berdiri di samping Toahoan,

dia seperti dianggap tidak ada. Ma Ji-liong merasa pengalaman ini sangat menarik.

Orang tua itu tiba-tiba menghela napas dalam-dalam. Lalu dia bergumam, “Aku tidak mengira, aku

tidak menyangka. Aku sama sekali tidak menduga.”

Toa-hoan berkata, “Kau tidak menyangka aku akan berada di sini?”

Orang tua itu menjawab, “Hamba mendapat kesempatan untuk bertemu dengan nona, hidupku ini

tidak akan sia-sia.”

Tiba-tiba dia berlutut, menjatuhkan dirinya ke lantai, dan merangkak untuk mencium kaki Toahoan.

Sikapnya amat mirip dengan seorang pejabat pemerintah setia yang sedang memberi hormat

pada kaisarnya. Lalu dia bangkit berdiri dan berkata, “Ji Ngo sedang berada di dapur, di belakang.

Silakan ikuti hamba.”

Ma Ji-liong merasa sangat aneh. Bagaimanakah asal-usul gadis buruk rupa yang aneh ini? Orang itu

memberinya hormat seperti ini. Dia pun menerimanya tanpa canggung sedikit pun, seolah-olah dia

sudah menduganya.

Toa-hoan tahu apa yang sedang dia pikirkan, maka ia berkata dengan lembut, “Dulu orang tua ini

pernah bekerja untuk kami sebagai pelayan di dapur. Adat-istiadat di dalam keluarga kami memang

selalu ketat.”

Ma Ji-liong ingin bertanya, “Jadi pelayan dalam keluarga kalian harus mencium kakimu bila

mereka melihatmu? Bahkan di istana kaisar tidak ada adat-istiadat seperti itu.” Tapi dia tidak

sempat mengatakannya karena mereka telah berjalan memasuki dapur.

Tidak seorang pun bisa menduga bahwa rumah makan kecil dan bau ini akan mempunyai dapur

seperti ini. Ruangan dapur itu luas, bersih dan berkilauan. Semuanya tertata rapi. Piring dan

mangkok lebih mengkilap daripada cermin, dan bahkan tidak setitik debu pun yang terlihat di

tungku pembakaran. Thian-ma-tong adalah rumah milik keluarga bangsawan, di mana orangorangnya

tidak mau makan sembarangan. Tetapi dapurnya bahkan tidak sebersih dan seluas ini.

Tampak seseorang sedang memasak makanan di dapur. Bila orang sedang menggoreng sesuatu,

sikapnya tentu tidak kelihatan agung. Tapi orang ini merupakan kekecualian. Di tangannya

tergenggam sebuah sudip, tapi dia terlihat seperti Bu Tau-ji – pelukis terbesar sepanjang masa –

yang sedang memegang kuas, atau Sebun Jui-soat – jago pedang yang unik dan termasyur itu –

sedang memegang pedangnya. Sikap dan gerak-geriknya bukan saja indah, dia pun benar-benar

asyik dengan masakannya.

Dia sedang menggoreng tahu, tahu isi udang. Karena sekarang tahu-tahu itu belum selesai digoreng,

maka orang tua tadi hanya berdiri saja di belakangnya, tidak berani mengusik. Anehnya Toa-hoan

juga tidak mengganggunya. Orang itu bertubuh sedang, dengan wajah yang halus dan cerah. Dan

meskipun penuh dengan tambalan, bajunya yang panjang itu bersih tak bernoda. Dia seperti seorang

laki-laki terpelajar.

Ma Ji-liong tak sanggup berdiam diri terus. Dia lalu bertanya, “Apakah dia adalah Kanglam Ji

Ngo?”

Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata, “Siapa lagi kalau bukan dia?”

Tahu itu sudah selesai digoreng, dan periuk pun telah dipindahkan dari atas api. Dia lalu

menggunakan sudip untuk mengambil tahu itu satu demi satu. Setiap potongnya dimasak dengan

baik. Dimasak dengan suhu yang rendah, tahu-tahu itu sudah berwarna kuning, ditumpuk di atas

sebuah piring porselen berwarna putih seperti salju, tampak seperti gumpalan-gumpalan emas. Tapi

gumpalan emas pasti tidak harum dan mengundang selera seperti ini. Dia memandang tahu-tahu itu

dan tampak sangat puas pada dirinya sendiri. Lalu dia gunakan kedua tangannya untuk meletakkan

piring tadi di atas sebuah meja kayu yang tidak bernoda. Lalu dia menghela napas dan mengangkat

kepalanya.

Akhirnya dia melihat Toa-hoan dan berkata, “Kau rupanya.”

“Ini aku,” Toa-hoan berkata sambil tertawa terbahak-bahak. Dia tidak memperlihatkan penampilan

yang memuakkan lagi. “Aku terkejut Ji Ngo mengenaliku.”

Ji Ngo bersikap hangat kepadanya. Dia berkata, “Apa hari ini kau sudah minum?”

“Baru sedikit,” jawab Toa-hoan.

Ji Ngo berkata, “Bagus, bagus sekali. Aku baru saja hendak mencari orang yang bisa menemaniku

minum.”

Sambil terkekeh dia berkata, “Minum arak itu seperti main catur. Perlu dua orang baru menarik.”

Ji Ngo akhirnya menatap Ma Ji-liong. Lalu dia bertanya, “Apakah dia juga minum? Bisakah dia

minum?”

“Kudengar kekuatan minum araknya cukup bagus,” jawab Toa-hoan.

“Siapa yang bilang?” Ji Ngo bertanya.

Toa-hoan berkata, “Dia sendiri yang mengatakannya.”

Ji Ngo bertanya, “Dia berkata begitu dan kau percaya begitu saja?”

“Kenapa kau tidak mencoba dan melihatnya sendiri?” Toa-hoan berkata.

“Bagus, bagus sekali,” Ji Ngo terkekeh.

Tahu itu sangat enak. Ma Ji-liong sampai lupa menjaga sopan-santun. Dengan sekali telan dia sudah

menghabiskan tiga potong. Setiap potongnya diikuti dengan semangkok arak. Dalam sekejap dia

sudah minum tiga mangkok, tiga mangkok besar. Ji Ngo juga sudah minum tiga mangkok.

Ji Ngo benar-benar menggunakan sebuah mangkok yang pecah, mangkok pecah yang sangat besar.

Mangkok itu pecah menjadi tiga keping yang kemudian direkatkan kembali. Mangkok itu berwarna

biru terang, seperti warna langit setelah badai reda.

Tiba-tiba Ma Ji-liong berkata, “Mangkok yang bagus.”

“Kau tahu ini mangkok yang bagus?” Ji Ngo bertanya.

Ma Ji-liong menjawab, “Mangkok ini dibuat oleh Chaifu, mangkok terbaik yang pernah keluar dari

tempat pembakaran. Kecuali sebuah yang ada di istana kaisar, pasti tidak ada mangkok lain seperti

ini di dunia ini.”

Ji Ngo berkata, “Benar, memang cuma ada dua mangkok seperti ini di dunia ini.”

Dia memandang Ma Ji-liong dan terkekeh, “Ternyata pandangan matamu cukup bagus. Kau bukan

hanya pandai melihat orang, kau pun pintar melihat mangkok.”

“Bila melihat orang, pandangan matanya tidak begitu bagus,” Toa-hoan berkata dengan dingin.

Sambil tertawa terbahak-bahak, Ji Ngo berkata, “Jika dia tidak pandai melihat orang, kenapa dia

bisa menyukaimu?”

Toa-hoan seolah-olah tidak mendengarnya. Wajah Ma Ji-liong sendiri sudah memerah sedikit.

Tiba-tiba Ji Ngo berkata, “Kalian berdua datang ke sini. Tujuan kalian tentunya bukan untuk minum

arak denganku.”

“Aku ingin mencari seseorang, tapi aku tidak tahu di mana dia berada,” kata Ma Ji-liong.

“Kau ingin aku membantu menemukannya, bukan?” Ji Ngo bertanya.

“Benar!” Ma Ji-liong menjawab.

Ji Ngo bertanya, “Siapa yang ingin kau temukan itu?”

“Namanya Siau-hoan,” kata Ma Ji-liong.

Ji Ngo tertawa dengan kerasnya. Dia berkata, “Siau-hoan tidak sebaik Toa-hoan. Kau sudah

mendapatkan gadis ‘hoan’ yang ini, kenapa kau harus mencari Siau-hoan lagi?”

Pengamatan pendekar terkenal ini jelas tidak begitu bagus. Dia mengira Ma ji-liong adalah kekasih

Toa-hoan.

Melihat kedua orang itu, yang satunya sangat buruk rupa, yang lainnya amat tampan. Seharusnya

dia dapat melihat bahwa mereka tidak sebanding.

Toa-hoan sengaja bertanya, “Kenapa Siau-hoan tidak sebaik Toa-hoan?”

Ji Ngo berkata, “Apabila kau ingin makan atau minum, mangkok kecil (siau hoan) tidak bisa

menampung sebanyak mangkok besar (toa hoan). Jadi Siau-hoan jelas kalah bila dibandingkan

dengan Toa-hoan.”

“Bagaimana dengan mangkok pecah (boa hoan)?” Toa-hoan bertanya.

“Mangkok pecah bahkan lebih baik daripada mangkok besar,” Ji Ngo berkata.

Toa-hoan bertanya, “Kenapa begitu?”

Ji Ngo berkata, “Mangkok yang pecah berarti mangkok itu sudah melalui hal yang baik dan buruk.

Seperti manusia, orang harus melalui tantangan hidup untuk menjadi tua. Pengalaman orang tua

selalu lebih banyak daripada pengalaman seorang bocah, seperti jahe yang makin tua semakin

pedas.”

Lalu dia mengangkat mangkok pecahnya dan meneguk habis araknya. Sambil tertawa terbahakbahak,

dia lalu berkata, “Dan itulah sebabnya mangkok pecah lebih baik daripada mangkok besar.”

Toa-hoan juga tertawa. Dia berkata, “Untunglah kita bicara tentang manusia, bukan mangkok. Siauhoan

yang ini bukan hanya lebih baik daripada Toa-hoan, dia juga lebih baik daripada boa-hoan

(mangkok pecah).”

“Oh, ya?” Ji Ngo berkata.

Toa-hoan berkata pula, “Siau-hoan ini adalah gadis yang sangat cantik. Selain itu dia juga lembut

dan penuh kasih sayang.”

“Bagaimana kau tahu?” Ji Ngo bertanya.

Toa-hoan menjelaskan, “Karena dia adalah kekasih Khu Hong-seng. Tentu saja gadisnya si Tombak

Perak tidak mungkin makhluk yang buruk dan aneh seperti diriku.”

Ji Ngo tertawa dan berkata, “Siau-hoan ini rupanya milik orang lain. Tak heran kenapa kau biarkan

aku membantu dia menemukannya.”

Dia tidak membiarkan Ma Ji-liong membantah, dia juga tidak bertanya lagi.

Tiba-tiba dia berkata, “Ayo kita buat perjanjian.”

“Perjanjian apa?” Ma Ji-liong bertanya.

Ji Ngo menjawab, “Kau tinggal di sini dan minum bersamaku, dengan menggunakan mangkok

besar. Lalu akan kuberitahukan cara menemukan Siau-hoan ini padamu.”

“Baik,” kata Ma Ji-liong.

“Dalam tiga hari, aku akan mendapatkan berita untukmu,” Ji Ngo berkata.

“Aku akan tinggal di sini menemanimu minum selama tiga hari,” Ma Ji-liong menegaskan.

Ji Ngo berkata, “Dengan mangkok besar?”

“Tentu saja menggunakan mangkok besar,” kata Ma Ji-liong.

Ji Ngo berkata, “Dan kau bertanding minum denganku?”

“Tentu,” jawab Ma Ji-liong.

Ji Ngo menatapnya sekian lama. Lalu dia bertanya lagi, “Apakah kau tahu kemampuan terbaikku?”

“Katakanlah,” kata Ma Ji-liong.

Ji Ngo berkata, “Kemampuan terbaikku adalah makan, minum dan tidur.”

Ma Ji-liong berkata, “Aku tidak tahu dengan makan dan tidur, tapi minum…. aku akan

menandingimu.”

Ji Ngo bertanya, “Kau tidak takut mabuk?”

Ma Ji-liong menjawab, “Biarpun mabuk sampai mati, aku tetap akan minum.”

Ji Ngo tertawa terbahak-bahak. Lalu dia berkata, “Bagus, benar-benar bagus.”

Di dunia ini ada orang yang lebih suka mati daripada menyerah kalah. Ma Ji-liong tentu saja

termasuk orang seperti ini.

Melihat mereka berdua menenggak minuman mereka terus-menerus, Toa-hoan pun menghela napas

dan berkata, “Saat pergi dari rumah, ibuku sudah memperingatkan aku agar tidak mabuk atau

bercampur-baur dengan orang-orang mabuk. Dia bilang – semua pemabuk di dunia ini sama saja.

Mereka bukan saja tidak tahu siapa diri mereka, mereka juga selalu bertindak bodoh dan tak masuk

akal terhadap orang lain.”

Toa-hoan melanjutkan lagi, “Dan kemudian dia berkata – bila bertemu dengan seorang pemabuk,

yang sebaiknya dilakukan oleh seorang gadis yang cerdik adalah pergi jauh-jauh secepatnya.”

Ma Ji-liong berkata, “Benar.” Dia minum semangkok lagi dan berkata, “Benar sekali.”

“Dua orang pemabuk tentu saja lebih buruk daripada seorang,” kata Toa-hoan.

Ji Ngo berkata, “Benar.” Dia juga minum semangkok lagi dan berkata, “Satu-satunya yang lebih

buruk daripada satu orang pemabuk adalah dua orang pemabuk.”

Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata, “Sayangnya aku segera akan bertemu dengan dua orang

pemabuk.”

Ji Ngo bertanya, “Di mana? Di mana ada dua orang pemabuk?”

Toa-hoan berkata, “Agaknya akan ada di sini, tepat di hadapanku.”

Ji Ngo memandang Ma Ji-liong. Ma Ji-liong memandang Ji Ngo. Dan mereka berdua lalu tertawa

terbahak-bahak.

“Ibuku cuma menyuruhku lari bila bertemu dengan seorang pemabuk. Dia tidak memberitahu apa

yang harus kulakukan jika bertemu dengan dua orang pemabuk.” Sambil tertawa cekikikan, dia

berkata, “Untunglah aku menemukan jalan keluarnya.”

Ji Ngo bertanya, “Apa itu?”

“Aku harus mabuk juga.” Dia menenggak semangkok besar dengan cepat. “Jika aku mabuk, aku

tidak perlu takut pada pemabuk lagi.”

Ji Ngo bertepuk tangan dan berkata, “Benar.”

“Tapi ada satu hal lagi,” kata Ma Ji-liong.

Ji Ngo bertanya, “Apa itu?”

Ma Ji-liong berkata, “Bukankah tiga orang pemabuk lebih buruk daripada dua orang pemabuk?”

Ji Ngo berkata, “Tentu saja.” Lalu dia menghela napas, “Di dunia ini, kurasa satu-satunya yang

lebih buruk daripada dua orang pemabuk mungkin adalah tiga orang pemabuk.”

“Dan sekarang aku sudah bertemu tiga orang pemabuk,” kata Ma Ji-liong sambil menghela napas.

“Karena aku adalah salah seorang dari mereka.”

Dia sendiri belum mabuk, maka ini bukanlah omongan orang mabuk. Hatinya masih dibanjiri oleh

berbagai macam perasaan. Seorang laki-laki tidak bisa melarikan diri dari dirinya sendiri.

Kesalahan dan tanggung-jawabnya tak bisa dihindari. Karena semua itu seperti bayangannya

sendiri, dari mana orang tidak bisa melarikan diri.

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 7: Gadis Bernama Siau-hoan

Ma Ji-liong sedang mabuk. Bila seseorang minum bersama orang-orang yang bisa dia percayai,

maka amat mudah baginya untuk mabuk, dan dia mempercayai Toa-hoan dan Ji Ngo.

Bila hati seseorang sedang gundah, menderita ketidak-adilan, mudah juga baginya untuk mabuk.

Walaupun dia yakin bahwa kesalah-pahaman ini suatu hari akan terungkap, dia tetap tak bisa

menahan perasaan gundahnya.

Dia sudah minum selama dua-tiga hari dan karenanya dia pun mabuk. Dan bila seseorang dalam

keadaan seperti dia, apa pun yang dikatakan atau dilakukannya, dia tak akan ingat dengan jelas.

Meskipun dia ingat, pasti samar-samar seperti dalam mimpi, atau lebih mirip seperti orang lain yang

mengatakan atau melakukannya daripada dirinya sendiri.

Dia agaknya ingat dirinya pernah mengatakan sesuatu yang membuatnya berjingkrak kaget bila

mengingatnya sekarang. Saat itu setiap orang sudah hampir mabuk. Dia lalu mencengkeram tangan

Toa-hoan dan berkata, “Maukah kau menikah denganku?”

Toa-hoan tertawa. Dia tertawa tiada hentinya sampai kehabisan napas. Lalu dia bertanya, “Kenapa

kau ingin aku menikah denganmu?”

“Karena aku tahu kau sangat baik padaku. Karena di saat orang lain mencurigaiku dan

memperlakukan aku sebagai pembunuh berdarah dingin dan berusaha membunuhku, tapi kau

mempercayaiku. Kau adalah satu-satunya orang yang bersedia menolongku.”

Ma Ji-liong mengutarakan isi hatinya. Bila seseorang mabuk seperti ini, dia pasti selalu mengatakan

perasaan yang sebenarnya.

Tapi Toa-hoan tidak mempercayainya. “Kau cuma ingin menikah denganku karena kau sedang

mabuk. Tunggu sampai kau sadar, kau pasti akan menyesal.”

Dia tertawa, tapi suaranya terdengar pedih. “Tunggu sampai kau bertemu dengan gadis yang lebih

cantik dariku, kau pasti ingin bunuh diri karena menyesal.”

Lalu dia berkata pula, “Aku buruk rupa, dan aneh, dan jahat. Dan tidak terhitung jumlah gadis yang

lebih cantik dariku.”

Sekarang Ma Ji-liong sudah sadar, dia tak ingat apakah Toa-hoan menerima ‘lamarannya’ itu. Tidak

henti-hentinya dia bertanya pada dirinya sendiri, “Jika dia mengatakan ya, apakah aku

menyesalinya atau tidak? Sekarang, apakah aku masih ingin menikah dengannya?”

Tapi dia tidak tahu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini.

Lalu dia melihat seorang gadis, seorang gadis yang jauh lebih cantik daripada Toa-hoan.

Ketika dia terbangun, dia tidak berada di dapur itu lagi, dan Ji Ngo dan Toa-hoan tiba-tiba tidak

kelihatan lagi. Dia menemukan dirinya sedang berbaring di sebuah ranjang yang kecil tetapi lembut,

yang juga beraroma harum dan sangat nyaman. Ranjang ini ditaruh di sebuah kamar yang kecil

tetapi amat bersih, sangat mewah dan amat harum.

Di kamar ini, orang bisa melihat beberapa batang pohon bunga di luar jendela. Di bawah jendela

terdapat sebuah meja rias kecil. Di atas meja rias ada sebuah cermin tembaga yang mungil. Di dekat

cermin ada sebuah pot berisi bunga bwe. Dan berdiri di sebelah bunga bwe itu adalah gadis ini.

Bunga bwe itu indah luar biasa, dan begitu pula gadis ini. Dan seperti bunga-bunga itu, dia pun

cantik molek. Tapi walaupun dia mengenakan gaun merah, wajahnya kelihatan pucat kebiruan.

Meski matanya bening dan indah, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan yang teramat

sangat.

Dia sedang memandang Ma Ji-liong. Dia sedang menatapnya dengan sinar yang sangat aneh di

matanya, seolah-olah dia setengah ragu dan setengah takut. Ma Ji-liong merasa kepalanya sangat

sakit. Dia tidak mengenal gadis ini, dia juga tidak tahu kenapa dia bisa berada di sini.

Tiba-tiba gadis itu bertanya, “Apakah kau Ma-kongcu, ‘Pek-ma Kongcu’ Ma Ji-liong?”

Ma Ji-liong menjawab, “Ya.”

“Apakah kau pergi ke Han-bwe-kok beberapa hari yang lalu?” gadis itu bertanya.

“Benar,” kata Ma Ji-liong.

Gadis itu bertanya, “Apakah kau bertemu dengan Khu Hong-seng?”

Tapi Ma Ji-liong berkata, “Apakah kau juga mengenalnya?”

Gadis itu mengangguk. Alisnya dikerutkan dengan sedih. Lalu dia berkata dengan lembut, “Aku she

So, namaku Siau-hoan. Kau ingin bertemu denganku?”

“Tempat apakah ini?” Akhirnya Ma Ji-liong bertanya. “Kenapa aku bisa berada di sini?”

“Seorang Tuan Ngo yang membawamu ke sini,” dia memilih untuk menjawab pertanyaan kedua.

Lalu, untuk menjelaskan kenapa dia mau menerima kedatangan seorang laki-laki asing yang sedang

mabuk, dia berkata, “Tuan Ngo berkata bahwa kau adalah teman Khu Hong-seng dan cuma kau

yang tahu di mana dia berada sekarang.”

Ma Ji-liong tersenyum dipaksa. Ji Ngo masih mampu mengantarnya ke mari. Seorang laki-laki yang

sedang mabuk tentu tidak bisa melakukannya. Dia tak pernah menyangka kalau ada orang yang

mampu mengalahkan dirinya dalam soal minum. Dia tiba-tiba menyadari bahwa dia terlalu

memandang tinggi dirinya sendiri.

Dengan sopan dia bertanya, “Apakah ini rumahmu?”

Siau-hoan menjawab, “Aku tidak punya rumah. Tempat ini tidak bisa disebut rumah.”

Ma Ji-liong paham apa maksudnya.

Tentu saja sebuah ‘rumah’ bukan sekedar sebuah rumah. Tidak perduli betapa pun cantiknya sebuah

rumah, sebuah ‘rumah’ dan sebuah rumah tetap tidak sama.

Siau-hoan berkata, “Dulu aku bekerja di Ti-hong-wan di kota Kay-hong sebagai seorang….. seorang

pelacur. Sejak kecil aku sudah tidak punya ayah dan ibu. Hong-seng membawaku keluar dari

tempat itu dan membelikan rumah ini untukku.”

Dia pun tersenyum, sebuah senyuman yang mengungkapkan penderitaannya. Lalu dia melanjutkan,

“Tapi, jika dia tidak ada di sini, bagaimana tempat ini bisa disebut rumah lagi?”

Ma Ji-liong menghela napas dan berkata, “Aku tidak tahu kalau dia adalah orang yang begitu

romantis!”

Bagi seorang pemuda dari keluarga ternama dan kaya raya seperti Khu Hong-seng, tergila-gila pada

seorang perempuan seperti ini benar-benar amat menyentuh hati.

Siau-hoan berkata, “Walaupun dia keras dan tidak mau kalah, dia adalah orang yang baik dan

tegas.”

Berbicara tentang Khu Hong-seng, sorot matanya memperlihatkan emosi yang lembut. Lalu dia

meneruskan, “Dia begitu baik. Dia melakukan segalanya untukku. Dan dia tidak pernah bersikap

kasar padaku, seorang perempuan yang seperti ini….. Aku bisa bertemu dengan seorang laki-laki

seperti itu…. mati pun aku puas.”

Ma Ji-liong berkata, “Kalian berdua masih muda, kenapa kau bisa mati?”

Siau-hoan tersenyum getir, “Seandainya kau datang terlambat, kau tidak akan bertemu denganku

lagi.”

Ma Ji-liong tiba-tiba teringat bagaimana Khu Hong-seng menggali liang di tanah itu.

Siau-hoan berkata, “Sebelum pergi, dia berjanji padaku bahwa paling lama dia akan kembali tadi

malam.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana jika dia tidak pernah kembali?”

Dengan hati yang patah, Siau-hoan berkata, “Berarti dia sudah meninggalkan dunia ini. Aku pun

tentu akan menemaninya dalam kematian.”

Walaupun suaranya lembut, tapi mengandung keputusan yang kuat untuk mati. Mereka sudah

bersumpah untuk tetap bersama dalam hidup dan mati.

Ma Ji-liong menutup mulutnya. Dia pun tidak tahu di mana Khu Hong-seng berada sekarang. Saat

Peng Thian-pa, Pang Tio-hoan dan Coat-taysu mengejarnya, Khu Hong-seng tentu tidak ikut

dengan mereka.

Walaupun dia tidak mati akibat tusukan tombak Kim Tin-lin, luka-lukanya pasti tidak ringan. Ke

manakah seorang laki-laki yang terluka parah bisa menuju?

Hari itu mereka semua pergi ke Han-bwe-kok karena undangan Bik-giok Hujin. Apakah perempuan

itu akhirnya muncul? Apakah dia yang membawa Khu Hong-seng ke Bik-giok-san-ceng?

Ma Ji-liong tidak yakin.

Siau-hoan menatapnya, menunggu jawabannya. Ma Ji-liong benar-benar tak sanggup mengutarakan

isi hatinya, tidak ingin menyakiti gadis yang mengibakan ini lagi.

Siau-hoan menghela napas dengan lembut. Dia berkata, “Aku tahu jika dia masih hidup, dia pasti

akan kembali. Kenapa kau mendustaiku?”

Ma Ji-liong berkata, “Aku…..”

Siau-hoan tidak membiarkannya bicara lagi. Dia memotong, “Kau memang tidak bisa

memperdayaiku. Aku tahu ini – dia dan aku saling mencintai. Itu sudah cukup untukku.”

Sikapnya tiba-tiba menjadi dingin. Dia berkata, “Hari akan segera menjadi gelap. Aku tidak berani

menahan Ma-kongcu lagi.”

Setelah dia berkata begitu, maka percakapan pun tidak bisa diteruskan lagi.

Ma Ji-liong cuma bisa pergi. Tapi, sebelum pergi, dia berkata, “Aku paham keputusanmu dan aku

tidak akan memaksamu. Tapi kuharap kau bisa menunggu selama tiga hari. Dalam tiga hari ini, aku

bisa memberikan kabar yang lebih banyak tentang Khu Hong-seng.”

Siau-hoan tampak bimbang. Lalu akhirnya dia setuju, “Baik. Aku akan menunggu selama tiga hari.”

Langit sudah menjadi gelap. Rumah Siau-hoan berada di mulut sebuah gang yang sempit dan

panjang. Ma Ji-liong menaikkan kerah bajunya sebelum melangkah keluar dalam hembusan angin.

Dia ingin menemukan Siau-hoan karena dia hendak menegaskan apakah Khu Hong-seng

mengatakan hal yang sebenarnya pada hari itu. Dia tidak meragukan Khu Hong-seng, tapi dia

benar-benar tidak punya petunjuk lain. Seperti orang yang hampir tenggelam, dia harus

berpegangan erat-erat pada apa pun yang terlihat di tangannya.

Sekarang ia sudah memastikan bahwa Khu Hong-seng benar-benar orang yang romantis, cinta

mereka sungguh menggugah hatinya. Dia ingin menolong mereka. Dia berharap dia bisa

mengetahui keberadaan Khu Hong-seng dalam waktu tiga hari ini.

Dia berharap dia bisa menyatukan kembali kedua kekasih ini.

Tapi dia tetap merasa ada sesuatu yang tidak benar, tapi dia tidak bisa menunjukkannya. Dia selalu

merasa ada sesuatu yang terlalu sedikit dan terlalu banyak pada rumah Siau-hoan itu. Tapi apakah

yang hilang? Apakah yang terlalu banyak? Dia benar-benar tidak bisa mengatakannya.

Apakah Toa-hoan sekarang sudah bangun? Apakah dia pun merasa sakit kepala seperti dirinya?

Tiba-tiba dia menyadari bahwa dia merindukan gadis itu. Gadis yang aneh luar biasa, buruk rupa

dan tidak rasional itu agaknya masih mempunyai sisi-sisi yang menarik.

Sayangnya ia tidak tahu dari mana gadis itu berasal, juga tidak tahu ke mana dia hendak pergi.

Mereka bertemu secara kebetulan. Nantinya mereka tentu akan pergi ke arah tujuan masing-masing.

Mungkin ia tidak akan pernah melihatnya lagi. Ma Ji-liong menghela napas dan memutuskan untuk

tidak memikirkan gadis itu lagi.

Sekarang sudah akhir musim dingin. Ketika akhir tahun semakin dekat, setiap keluarga tentu akan

membeli baju Tahun Baru dan barang-barang lainnya. Di saat seperti ini, setiap orang tentu

memiliki uang di sakunya dan sibuk melakukan jual-beli. Persis di luar jalan sempit itu juga

terdapat sebuah pasar bunga yang mungil. Bunga lili dan wintersweet kebetulan sedang mekar.

Seorang isteri saudagar dan pelayannya yang masih muda baru saja kembali dari belanja barangbarang

Tahun Baru – jamur jarum, jamur kuping kayu, kurma merah, buah pek, pakis dan rebung

bambu – yang semuanya terkemas dalam sebuah keranjang. Gadis itu sedang menjinjing keranjang

di tangannya tapi matanya tertuju pada setangkai bunga seruni. Gadis berumur 15-16 tahun mana

yang tidak menyukai hal-hal yang indah? Bagaimana mungkin orang tidak menyukai bunga seruni

yang cerah dan harum itu?

Gadis itu tidak tahan lagi. Dia lalu bertanya, “Toa-naynay (Nyonya Besar), apa kita beli saja

beberapa tangkai bunga seruni ini?”

“Tidak,” Si nyonya berbaju sutera menjawab dengan tegas, wajahnya tampak kaku.

Gadis muda itu tidak menjadi surut. Dia bertanya lagi, “Bunga-bunga ini tidak mahal. Kenapa kita

tidak membeli beberapa agar bisa kita pandang di rumah?”

“Karena aku tidak suka.”

Sambil menghela napas, pelayan muda itu bergumam, “Nyonya terlalu banyak pikiran. Tuan cuma

pergi beberapa hari dan dia sudah tidak suka melihat bunga.”

Walaupun pelayan itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dia masih sempat bicara sendirian

sebelum mengikuti majikannya pulang. Ini cuma urusan sepele dan tidak seorang pun yang

memperhatikan mereka.

Tapi Ma Ji-liong lain.

Isteri saudagar tadi membawa seorang pelayan untuk mendampinginya. Melihat latar belakang

keluarga Khu Hong-seng dan bagaimana cara pemuda itu memperlakukan kekasihnya, mengapa

Siau-hoan tidak mempunyai seorang pelayan pun di rumahnya?

Dan di atas meja rias kecil itu ada sebuah pot berisi bunga mawar. Bunga yang masih segar.

Jika Ma Ji-liong tidak muncul, dia tentu sudah bunuh diri karena urusan cinta. Tapi kenapa dia

masih sempat-sempatnya memetik bunga?

Sekarang dia tahu apa yang aneh pada rumah itu. Di ruangan itu tidak ada pelayan. Dan pot bunga

itu seharusnya tidak ada di sana.

Maka dia lalu membalikkan badannya. Sebagian besar orang yang tinggal di jalan itu adalah

keluarga-keluarga saudagar yang kaya. Rumah Siau-hoan lebih besar dari kebanyakan rumah di

tempat itu, dengan tembok yang tinggi. Pintu gerbangnya terbuat dari potongan papan yang keras

dan tebal, dengan kunci gembok di sebelah dalam.

Tapi jika Ma Ji-liong ingin masuk, hal itu benar-benar tidak sulit.

Dia sudah bisa melompati tembok seperti ini sejak berusia belasan tahun. Di dunia Kang-ouw,

Thian-ma-tong menduduki tempat yang tinggi karena ilmu ginkang dan ilmu pedangnya. Dia curiga

kalau Siau-hoan menyembunyikan sesuatu darinya, seharusnya dia melompati tembok ini untuk

menyelidiki rahasia gadis itu. Dia juga tahu bahwa jika dia ingin mengetahui tabiat orang yang

sebenarnya, dia harus mencari tahu di saat orang itu tidak menyadari bahwa dia berada di sana.

Sayangnya dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak pernah melakukannya sebelumnya, dan tidak

akan pernah.

Dia memutuskan untuk mengetuk pintu. Tapi ketika dia hendak mengetuk, tiba-tiba dia mendengar

suara yang aneh.

Dia mendengar seseorang tertawa. Suara tawa itu sendiri tentu tidak aneh. Walaupun kejadian

buruk sering terjadi di dunia ini, orang masih tetap bisa mendengar suara tawa seseorang di manamana.

Yang anehnya di sini adalah suara tawa ini adalah suara tawa seorang laki-laki. Selain itu, suara

tawa ini berasal dari dalam rumah tersebut, yang dibeli Khu Hong-seng untuk Siau-hoan. Cuma ada

seseorang, Siau-hoan, di sana, kenapa bisa terdengar suara tawa laki-laki?

Malam itu sunyi, dan begitu pula jalan tersebut. Walaupun suara tawa itu hanya berkumandang

sebentar, tapi dia mendengarnya dengan amat jelas.

Setiap orang yang terlibat dalam urusan ini, mengalami kematian yang tragis satu demi satu.

Ada orang yang selalu tertawa sebelum membunuh.

Apakah itu adalah suara tawa seseorang yang berusaha membunuh Siau-hoan untuk membungkam

mulutnya?

Ma Ji-liong tidak perduli lagi dengan sopan-santun. Dia segera melompati tembok itu.

Di dalam ruangan tadi, tampak api unggun menyala berkobar-kobar, dan sebuah jendela dibiarkan

terbuka. Sambil bersembunyi di sebatang pohon cemara di luar rumah, dia bisa melihat lewat

jendela bahwa Siau-hoan sedang berdiri di ruangan tadi.

Tadi Ma Ji-liong melompat masuk lewat tembok dan kebetulan mendarat di atas pohon cemara ini.

Dia tidak ingin mengganggu orang lain. Tapi… dia sudah melihat mereka. Dia melihat Siau-hoan

dan seorang laki-laki.

Dia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu.

Orang itu duduk membelakangi jendela. Sambil berhadapan dengan Siau-hoan, dia bersandar di

sebuah kursi yang empuk.

Ma Ji-liong hanya bisa melihat sebuah kaki yang terjulur dari kursi tersebut. Kaki itu mengenakan

sebuah sepatu kulit yang amat indah, jenis sepatu yang hanya dipakai oleh laki-laki yang kaya dan

selalu menyukai kemewahan.

Siau-hoan berdiri di depan laki-laki itu. Dia memandang laki-laki itu dengan tatapan yang sangat

aneh. Tiba-tiba dia berkata dengan dingin, “Kau benar-benar menginginkan aku mati?”

Dengan suara yang sama laki-laki itu menjawab, “Kau kira aku tidak tega? Kau kira aku takut

padamu?”

Siau-hoan berkata, “Bagus. Kau ingin aku mati. Akan kuperlihatkan padamu.”

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 8: Hubungan Rahasia

Ada orang yang sangat menyukai bunga. Tak perduli bagaimana pun suasana hati mereka, mereka

akan selalu memetik bunga dan meletakkannya di dalam pot.

Agaknya Siau-hoan tidak menyembunyikan apa-apa atau mempunyai sebuah skandal. Dia benarbenar

sudah memutuskan untuk mati demi cinta. Tapi kenapa laki-laki ini harus memaksanya mati?

Apa hubungannya dengan gadis itu? Apakah dia sahabat Khu Hong-seng yang datang untuk

memaksanya bunuh diri atas nama cinta atau datang untuk membungkam mulutnya?

Berpikir sampai sejauh ini, Ma Ji-liong tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan

sebelumnya walaupun dalam mimpi. Mendadak Siau-hoan berjalan mendekat dan duduk di

pangkuan laki-laki itu. Dia lalu melingkarkan lengannya di leher laki-laki itu dan menggigit daun

telinganya dengan perlahan.

Dengan terengah-engah dia berkata, “Kau ingin aku mati. Aku ingin kau juga mati.”

Gaun luarnya tahu-tahu sudah merosot jatuh. Di balik gaun sutera yang ketat itu terdapat pakaian

dalam berwarna merah menyala, yang membuat kulitnya tampak semakin putih. Ma Ji-liong benarbenar

tidak sanggup menonton terus. Ini adalah skandal orang lain. Dia seharusnya tidak mengorekngorek

urusan mereka.

Tapi… dia teringat pada Khu Hong-seng yang dirundung cinta di dekat liang itu. Dia ingin berteriak

dan memisahkan kedua orang yang hendak ‘mati’ itu. Dia juga bermaksud untuk melompat masuk

lewat jendela.

Tapi dia malah melompat keluar tembok lagi dan mengetuk pintu gerbang. Dia mengetuk beberapa

kali sebelum akhirnya mendengar suara Siau-hoan dari dalam, “Siapa itu?”

“Ini aku.”

“Siapa kau? Bagaimana aku tahu siapa kau? Apakah kau tidak punya nama?” Nada suara Siau-hoan

tidak begitu ramah, tapi akhirnya ia keluar untuk membukakan pintu gerbang.

“Oh, kau!”

Melihat Ma Ji-liong, dia tentu saja terkejut, tetapi ketenangannya kembali pulih dengan cepat.

Dengan muka tanpa ekspresi, dia berkata dengan dingin, “Aku tidak tahu kalau Ma-kongcu akan

datang lagi. Apakah kau khawatir kalau aku akan kesepian di malam hari? Apakah kau datang ke

sini untuk menghiburku sebagai pengganti Khu Hong-seng?”

Kata-kata ini amat menusuk. Mendengar ucapan seperti ini, orang yang mempunyai maksud seperti

yang dikatakannya itu tentu akan cepat-cepat pergi.

Sayangnya Ma Ji-liong tidak bermaksud begitu. Dia berkata dengan tenang, “Aku tahu pasti bahwa

kau tidak kesepian. Aku cuma khawatir kalau kau akan mati di tangan seseorang.”

Wajah Siau-hoan memerah, lalu berubah pucat. Tiba-tiba dia membalikkan badan dan berjalan

masuk ke dalam rumah. Lalu dia berkata, “Ikutlah denganku.”

Ma Ji-liong mengikutinya. Ternyata gadis itu membawanya ke ruangan tadi. Laki-laki itu telah

lenyap.

“Duduklah,” perempuan itu menunjuk kursi empuk yang tadi diduduki laki-laki itu. “Silakan

duduk.”

Ma Ji-liong tidak duduk. Dia tidak melihat laki-laki itu, tapi dia melihat sepasang sepatu kulit itu,

sepasang sepatu kulit yang amat indah.

Di kamar itu ada sebuah ranjang. Di belakang ranjang tergantung sehelai tirai kain yang amat

panjang. Tetapi ujungnya masih belum menyentuh lantai. Dan sepasang sepatu kulit itu terlihat

berada di bawah tirai.

Siau-hoan bertanya, “Kenapa kau tidak duduk?”

“Agaknya kursi ini bukan diperuntukkan buatku,” kata Ma Ji-liong.

Siau-hoan tertawa, tapi tentu saja tawanya itu tidak timbul dengan wajar. Dia berkata, “Kau tidak

duduk. Lalu siapa yang akan duduk di sini?”

“Agaknya ada seseorang,” kata Ma Ji-liong.

Siau-hoan berkata, “Selain Khu Hong-seng, kau adalah satu-satunya orang yang pernah

menginjakkan kaki di kamar ini. Bagaimana mungkin ada orang lain?”

Dia menekan amarahnya, masih ngotot mengatakan bahwa tidak ada orang lain di ruangan itu. Ma

Ji-liong juga merasa marah. Dia tak tahan lagi, lalu dia melangkah maju dan menyingkap tirai kain

itu. Tentu saja memang ada seseorang di balik tirai itu. Tapi memang bukan orang lain yang pernah

datang ke ruangan ini. Karena orang di balik tirai itu ternyata adalah Khu Hong-seng.

Ma Ji-liong menghambur keluar dari kamar itu, keluar dari pintu gerbang, dan keluar ke jalan

sempit itu. Untunglah di luar sudah gelap.

Hari sudah gelap dan hawa terasa dingin menggigit, dan tidak ada siapa-siapa di jalan raya. Kalau

tidak orang tentu akan mengira kalau dia adalah orang gila.

Sekarang satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah menampar telinganya sendiri berkali-kali. Dia

tidak akan pernah melupakan bagaimana dia menyingkap tirai kain tadi dalam sekali sapuan, atau

mimik muka Khu Hong-seng, atau bagaimana cara Siau-hoan menatapnya pada saat itu.

Dia seharusnya tahu bahwa Khu Hong-seng akhirnya akan pulang. Dia seharusnya juga sudah

menduga bahwa orang itu mungkin sekali Khu Hong-seng. Tapi, di saat merasa gusar tadi, dia

benar-benar tidak bisa berpikir. Dia juga seharusnya mengenali suara Khu Hong-seng, tapi dia tidak

memperhatikannya.

Khu Hong-seng adalah seorang pemuda terpelajar dari keluarga bangsawan. Dalam keadaan seperti

tadi, anehnya, dia malah tertawa. Tapi, bagi Ma Ji-liong, kejadian tadi rasanya lebih buruk daripada

telinganya ditusuk-tusuk orang. Dan begitulah, dia pun melarikan diri seperti dikejar-kejar orang

dengan sapu ijuk.

Kembali dia sendirian, tanpa uang dan tanpa tujuan, dan dia tetap tidak punya petunjuk tentang apa

yang sedang terjadi. Nyawanya seperti tergantung pada seutas benang, tubuhnya tergantung di

udara. Walaupun dia belum jatuh, dia mungkin akan segera ambruk menuju kematiannya.

Tapi dia keliru! Tiba-tiba dia merasa bahwa dirinya tidak sendirian lagi. Di belakangnya sudah

muncul seseorang.

Dia tidak memutar kepalanya untuk melihat siapa orang itu. Dia pun tidak tahu kenapa perasaannya

yang seperti tergantung pada seutas benang tadi tiba-tiba telah menghilang. Orang itu menyusulnya,

lalu memberikan sesuatu yang amat indah kepadanya.

Ma Ji-liong menerimanya. Sekarang yang paling dia butuhkan adalah obat untuk sakit kepalanya.

Dan orang itu dengan tepat telah memberikan sebungkus obat sakit kepala kepadanya.

Orang itu menunggu dirinya menelan obat tersebut. Lalu dia mengeluarkan tujuh-delapan bungkus

obat lagi. Ada yang berupa pil bundar, ada pula yang berbentuk tablet. Bahkan ada yang berbentuk

bubuk. Dia memberikan semuanya kepadanya.

“Ini untuk menghilangkan pengaruh arak. Ini tablet emas ungu. Ini untuk meredakan rasa sakit di

perut. Yang ini bagus untuk sistem pencernaanmu…..”

Ma Ji-liong tersenyum, “Memangnya kau pikir aku siapa? Kaleng obat?”

Dia balas tersenyum, “Aku tahu kau bukan kaleng obat. Kau adalah guci arak.”

Lalu dia tertawa cekikikan, “Sayangnya, guci ini sangat-sangat kecil dan tidak bisa menampung

arak terlalu banyak.”

Toa-hoan tampak lebih bersemangat daripadanya, dan rona mukanya juga lebih cerah. Dalam

hatinya dia berpikir, “Apakah kemampuan minum araknya lebih baik dariku?”

Ma Ji-liong tidak yakin. Dia pun terpaksa bertanya, “Kepalamu tidak terasa sakit?”

“Tidak,” jawab Toa-hoan.

“Bagaimana bisa?” Ma Ji-liong bertanya.

Toa-hoan menjawab, “Karena aku tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain.”

Ikut campur urusan orang memang merupakan sumber utama sakit kepala. Bukan hanya bisa

membuat orang sakit kepala, kepalanya juga akan terluka.

Lalu si nona bertanya, “Kau sudah bertemu Siau-hoan?”

“Hmm.”

“Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Bagaimana rupanya?”

“Dia sangat cantik.”

Toa-hoan tertawa cekikikan, “Kalau dia sangat cantik, kenapa kau kelihatan seperti baru bertemu

hantu?”

Sambil menghela napas, Ma Ji-liong menjawab, “Jika aku melihat hantu, hal itu masih jauh lebih

baik.”

“Lalu apa yang kau lihat?” Toa-hoan bertanya.

Ma Ji-liong menjawab, “Aku melihat Khu Hong-seng.”

Aneh, dia membicarakan segala sesuatu yang baru saja terjadi. Semula dia mengira bahwa dia tidak

akan pernah menceritakan kejadian itu pada siapa pun. Tapi, entah karena alasan apa, dia merasa

bahwa dia boleh menceritakan semuanya pada gadis ini, dan tidak usah menyembunyikan apa-apa.

Toa-hoan tidak menertawakannya. Dia malah menghela napas dan berkata, “Jika aku adalah kau,

aku pasti ingin melarikan diri juga.”

Ini memang sesuai dengan perasaannya. Tiba-tiba dia menyadari bahwa walaupun gadis ini

kelihatan licik, kejam dan buruk rupa, tapi dia sebenarnya berhati baik. Selain itu dia juga penuh

pengertian dan simpatik. Inilah pertama kalinya dia memiliki perasaan seperti ini.

Tiba-tiba Toa-hoan berkata, “Tapi aku tidak paham.”

“Apa yang tidak kau pahami?” Ma Ji-liong bertanya.

Toa-hoan berkata, “Khu Hong-seng jelas-jelas tahu bahwa kau yang berada di sana, kenapa dia

harus bersembunyi?”

Ma Ji-liong menjelaskan, “Mereka berdua masih belum menikah secara resmi. Dengan latar

belakang keluarganya, dia tentu harus berhati-hati. Jika aku adalah dia, aku mungkin akan

bersembunyi juga.”

Toa-hoan menatapnya. Sambil tersenyum lirih, dia berkata, “Aku tidak tahu kalau kau pun bisa

mempertimbangkan perasaan orang lain.”

Ma Ji-liong bertanya, “Memangnya kau kira aku orang macam apa?”

Toa-hoan berkata, “Kukira kau adalah orang yang angkuh dan mementingkan diri sendiri, tidak

perduli apakah orang lain akan hidup atau mati.”

Lalu suaranya mendadak menjadi lembut, “Tapi sekarang aku tahu bahwa aku keliru.”

Gadis yang aneh ini bisa mengakui bahwa dirinya keliru. Hal ini tentu saja membingungkan orang.

Kembali Toa-hoan bertanya, “Apa yang dia katakan ketika dia melihatmu tadi?”

“Rasanya bahkan semakin serba salah karena dia tidak berkata apa-apa,” jawab Ma Ji-liong.

“Dan apa yang kau katakan?” Toa-hoan bertanya.

Ma Ji-liong tersenyum dipaksa. Dia berkata, “Apa yang bisa kukatakan di saat seperti itu?”

Toa-hoan berkata, “Apakah dia berusaha menangkapmu untuk Pang Tio-hoan?”

“Tidak,” Ma Ji-liong menjawab.

Toa-hoan berkata, “Dan kau tidak bertanya kepadanya apa yang terjadi di Han-bwe-kok setelah kau

pergi? Apakah Bik-giok Hujin sudah muncul? Apakah beliau memilihnya sebagai menantunya?”

“Aku tidak menanyakannya,” jawab Ma Ji-liong.

Tiba-tiba dia balik bertanya, “Bagaimana kau tahu tentang semua ini?”

Toa-hoan tersenyum. Senyumannya amat misterius. Dia berkata, “Tentu saja ada yang

memberitahuku.”

Ma Ji-liong bertanya, “Siapa?”

“Orang mabuk,” kata Toa-hoan.

Ma Ji-liong bertanya, “Apakah orang mabuk itu adalah aku?”

Toa-hoan tertawa, “Kau tidak terlalu bodoh.”

Ma Ji-liong cuma bisa tersenyum dipaksa. Dia tentu mengatakan banyak hal dalam keadaan mabuk,

tapi sayangnya dia sendiri tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan olehnya.

“Bik-giok Hujin tentu tidak perlu memilih lagi. Toh Ceng-lian dan Sim Ang-yap sudah mati. Kau

telah menjadi sasaran kebencian seluruh dunia. Selain Gin-jio Kongcu Khu Hong-seng, tidak ada

yang cukup baik untuk menjadi menantu Bik-giok-san-ceng.”

Dia menghela napas dan meneruskan, “Meskipun Bik-giok Hujin ingin memilih, tidak ada lagi yang

bisa dipilih.”

Itulah kenyataannya. Setelah apa yang terjadi, Khu Hong-seng menjadi satu-satunya calon.

Ma Ji-liong berkata, “Tapi… tidak mungkin dia penjahatnya!”

“Kenapa tidak?” Toa-hoan bertanya.

Ma Ji-liong menerangkan, “Karena dia sudah mempunyai kekasih sehidup semati. Dia tidak ingin

menjadi menantu Bik-giok-san-ceng.”

Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata, “Aku pun tidak berpikir bahwa dia bisa melakukan

semua ini. Tapi, jika dia bukan penjahatnya, dan kau pun bukan, lalu siapa yang membunuh semua

orang itu?”

Ma Ji-liong berkata, “Pasti Thian-sat!”

Toa-hoan bertanya, “Siapa Thian-sat itu?”

Ma Ji-liong berkata, “Thian-sat bukan nama seseorang. Itu adalah nama sebuah organisasi rahasia,

organisasi pembunuh bayaran.”

Toa-hoan bertanya, “Tapi kenapa mereka melakukannya? Mengapa mereka memfitnahmu?”

Ma Ji-liong menebak-nebak, “Karena… mereka ingin menciptakan kekacauan.”

Lalu dia menjelaskan, “Jika keluarga kami bertarung satu sama lain, dunia Kang-ouw akan porakporanda.

Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk naik.”

Penjelasannya itu masuk di akal. Peristiwa seperti itu pernah terjadi di masa lalu. Dan hal itu

mungkin bisa terjadi lagi.

Ma Ji-liong berkata, “Sekarang mereka hanya sebuah organisasi penjahat biasa. Jika rencana

mereka berhasil, mereka bisa menjadi sebuah partai yang terbuka dan berdaulat. Karena saat itu

tidak seorang pun di dunia Kang-ouw yang akan mampu untuk menghentikan mereka.”

Toa-hoan berkata, “Karena saat itu seluruh keluarga sudah saling menghancurkan karena

perselisihan ini.”

Ma Ji-liong berkata, “Tapi aku tentu saja tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.”

Toa-hoan bertanya, “Apa rencanamu untuk menghentikan mereka?”

Ma Ji-liong berkata, “Pertama aku harus mencari tahu dulu siapa pemimpin Thian-sat sebenarnya.”

“Bagaimana caramu melakukannya?” Toa-hoan bertanya.

Ma Ji-liong tidak menjawab. Dia benar-benar tidak punya petunjuk saat itu. Dia pun tak tahu

bagaimana cara memulainya.

Toa-hoan berkata, “Orang ini pasti tahu bahwa Bu-lim-si-toakongcu akan berada di Han-bwe-kok

hari itu.”

“Benar,” kata Ma Ji-liong.

Toa-hoan berkata, “Bagaimana dia bisa tahu? Selain kalian berempat, siapa lagi yang tahu tentang

hal itu? Apakah kau pernah memberitahukan hal ini pada orang lain?”

Ma Ji-liong berkata, “Aku tidak. Tapi Khu Hong-seng……”

Tiba-tiba dia teringat bahwa Siau-hoan pernah menyebut tentang Han-bwe-kok.

Siau-hoan bertanya padanya – apakah kau pergi ke Han-bwe-kok beberapa hari yang lalu? Dia pasti

tahu bahwa mereka pergi ke Han-bwe-kok. Khu Hong-seng telah memberitahukan hal itu

kepadanya. Dan jika Khu Hong-seng bisa memberitahu hal itu padanya, maka dia pun bisa

memberitahukannya pada orang lain. Siau-hoan juga bisa buka mulut. Seperti laki-laki lainnya, dia

pun tidak percaya kalau seorang perempuan bisa menyimpan rahasia. Ini adalah satu-satunya

petunjuk yang dimilikinya.

Ma Ji-liong berkata, “Aku harus bertanya padanya. Ada begitu banyak hal yang baru bisa kupahami

setelah bertemu dengannya.”

Toa-hoan bertanya, “Apakah kau hendak pergi bertanya padanya?”

“Tentu saja,” kata Ma Ji-liong.

Setelah berkata begitu, dia pun bersiap-siap hendak pergi.

Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata, “Kau benar-benar pandai memilih waktu. Tidak ada

waktu lain seperti ini. Sekarang mereka berdua mungkin sedang melakukan ‘kau ingin aku mati, aku

juga ingin kau mati’. Mereka tentu akan sangat berterima-kasih bila kau memaksa masuk untuk

menolong mereka di saat seperti ini.”

Ma Ji-liong tidak jadi pergi. Dia bisa membayangkan mimik wajah kedua orang itu jika mereka

melihat dia kembali ke sana. Situasinya tentu akan serba salah, dan tidak ada orang yang akan

menyambutnya dengan baik karena hal itu.

Ma Ji-liong bertanya, “Menurutmu, kapan seharusnya aku pergi ke sana?”

Mendadak sorot mata Toa-hoan memancarkan sinar yang aneh. Dia cepat-cepat merendahkan

suaranya, “Sebaiknya kau pergi sekarang juga. Pergilah cepat.”

Hati seorang perempuan memang seperti cuaca di bulan enam. Perubahannya benar-benar cepat.

Ma Ji-liong terpaksa bertanya, “Kenapa kau ingin aku pergi sekarang?”

“Karena jika tidak, kau tak akan bisa pergi lagi untuk selamanya,” Toa-hoan menjawab.

Tiba-tiba dia menghela napas dan berkata, “Sekarang aku rasa sudah terlambat.”

Saat itu mereka sedang berjalan di sebuah gang yang gelap. Ma Ji-liong tidak perlu bertanya

‘kenapa’ lagi, karena dia telah melihat beberapa orang sudah menghadang mereka di kedua ujung

gang. Semuanya ada tujuh orang, tujuh orang berpakaian hitam.

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 9: Musuh Dan Hati Yang Suci

Tak diragukan lagi, gang ini adalah tempat tinggal para saudagar kaya.

Orang-orang kaya ini harus menjaga diri dari perampok dan maling yang ingin mencuri harta

mereka. Karena mereka tidak bisa melihat dengan jelas setelah matahari terbenam, maka mereka

harus tinggal di balik tembok yang tinggi. Dan begitulah, kedua sisi jalan sempit itu diapit oleh

tembok-tembok yang sangat tinggi, begitu tingginya sehingga orang yang memiliki ginkang Thianma-

hing-khong pun tidak sanggup untuk melompatinya.

Gang ini panjang dan sangat gelap. Di depan mereka ada empat orang, dan tiga orang lagi di

belakang. Ketujuh orang itu berpakaian serba hitam, pakaian yang ketat, masing-masing

menggunakan sehelai kain hitam untuk menyembunyikan wajahnya. Mereka melangkah perlahanlahan

seperti acuh tak acuh. Mereka tahu bahwa kedua orang itu seperti kura-kura dalam tempayan,

atau ikan yang terperangkap di dalam jala, tidak mempunyai jalan keluar lagi.

Ma Ji-liong merendahkan suaranya, “Kau tidak perlu takut. Aku akan meminta mereka untuk

melepaskanmu pergi.”

“Dan mereka akan melepaskanku begitu saja?” Toa-hoan bertanya.

Ma Ji-liong berkata, “Kau tidak punya sangkut-paut dengan mereka. Kenapa mereka tidak mau

melepaskanmu?”

“Kau kira mereka datang untukmu?” Toa-hoan bertanya.

“Tentu saja,” kata Ma Ji-liong.

Toa-hoan berkata, “Kau keliru.”

Sambil menghela napas, dia melanjutkan, “Aku pun berharap mereka datang ke sini untukmu.

Sayangnya tidak begitu halnya.”

“Kenapa tidak?” Ma Ji-liong bertanya.

Toa-hoan menjawab, “Kau dianggap seorang pembunuh. Menangkap pembunuh adalah hal yang

benar, dan orang-orang akan melakukannya secara terbuka, kenapa mereka harus menyembunyikan

wajah mereka di balik topeng hitam?”

Ma Ji-liong akhirnya teringat bahwa gadis ini pun berada dalam masalah seperti dirinya. Ada orang

yang ingin membunuhnya.

Toa-hoan berkata, “Tapi kau tidak usah takut. Aku pun bisa meminta mereka untuk

melepaskanmu.”

Ma Ji-liong bertanya, “Kau kira aku bisa pergi?”

Toa-hoan menjawab, “Kita tidak punya hubungan. Orang-orang ini bukan mengejarmu. Apa kau

ingin mati denganku di sini?”

Ma Ji-liong berkata, “Bagaimana pun juga, aku tidak boleh membiarkanmu sendirian di sini.”

“Kenapa tidak?” Toa-hoan bertanya.

“Karena aku tidak boleh melakukan hal seperti itu,” kata Ma Ji-liong.

“Alasan itu tidak cukup baik,” kata Toa-hoan.

Ma Ji-liong berkata, “Menurutku, itu sudah cukup.”

“Mungkin aku seorang perempuan jahat, seorang pencuri. Mungkin kau seharusnya membantu

mereka untuk menangkapku,” Toa-hoan berkata.

“Aku tahu kau bukan orang seperti itu,” kata Ma Ji-liong.

Toa-hoan berkata, “Kau tidak mungkin tahu. Kau bahkan tidak tahu nama margaku.”

Ma Ji-liong berkata, “Tapi aku percaya padamu.”

Toa-hoan menatapnya. Tiba-tiba dia menghela napas dan berkata, “Kukira kau sudah semakin

pintar. Tidak kusangka kalau kau sedungu ini.”

Walaupun tempat itu adalah sebuah gang yang panjang dan ketujuh orang itu melangkah dengan

perlahan-lahan, tapi sekarang mereka sudah benar-benar dekat. Dan mereka semua menggenggam

senjata, masing-masing merupakan senjata yang langka. Ada yang memegang Liong-hong-kimhoan

yang tidak pernah digunakan orang lagi sejak kematian Siangkoan Kim-hong di tangan Siau-li

Tam-hoa, dan ada pula yang membawa Yan-yan-gua-hou-lan.

Senjata-senjata itu sudah lama menghilang dari dunia Kang-ouw. Hal ini terjadi karena, walaupun

senjata-senjata itu amat ampuh, tapi juga sangat sukar untuk dipelajari. Dan karena itu, orang yang

bisa menggunakan senjata-senjata ini pasti bukan jago sembarangan.

Ma Ji-liong benar-benar tidak tahu cara mengatasi mereka, tapi dia tidak merasa takut.

Toa-hoan mendadak berkata, “Hei, kalian datang untukku atau untuk dia?”

Orang yang memegang Liong-hong-kim-hoan itu bertubuh kecil tapi kuat. Langkah kakinya teguh,

dan sinar matanya tampak berkilat-kilat di balik topeng hitam itu. Dia pasti seorang jago yang

tangguh.

Dia menyeringai, “Bagaimana jika aku datang untukmu? Bagaimana jika aku datang untuk dia?”

Toa-hoan berkata, “Jika kalian memburunya, itu bukan urusanku. Aku bukan seorang pendekar,

juga bukan seorang laki-laki sejati. Jika kalian datang ke sini untuk membunuhnya, maka aku tidak

ada hubungannya dengan kalian.”

Orang itu berkata dengan dingin, “Tidak usah dijelaskan. Aku bisa melihatnya.”

Toa-hoan berkata, “Tapi jika kalian mencariku, situasinya akan berbeda.”

“Oh, ya?” laki-laki itu berkata.

Toa-hoan menjelaskan, “Walaupun masalahnya sendiri sudah cukup besar, dia tidak akan

berpangku tangan. Jika kalian ingin menangkapku, dia akan berkelahi dengan kalian sampai mati.”

Orang itu berkata, “Jadi jika kami ingin menangkapmu, maka kami harus membunuhnya dulu.”

Toa-hoan melirik Ma Ji-liong. Lalu dia bertanya, “Benarkah itu?”

“Ya,” jawab Ma Ji-liong.

Dia sendiri tidak tahu kenapa dia berkata seperti itu. Sebenarnya masih banyak yang harus dia

kerjakan. Rencana busuk itu belum tersingkap, dan karena itu dia tidak boleh mati. Jika dia mati di

sini sekarang, dia bukan hanya mengalami kematian yang tragis, fitnah dan ketidakadilan yang

dideritanya pun tidak akan pernah lagi diungkapkan. Tapi dia sudah mengatakan ya. Dia tidak mau

menarik kembali kata-katanya, dia juga tidak menyesalinya.

Toa-hoan berkata, “Hei, kalian dengar apa yang barusan dia katakan?”

Orang baju hitam itu menyeringai, “Agaknya dia bukan hanya seorang pendekar, tapi juga seorang

laki-laki sejati.”

“Agaknya memang begitu,” kata Toa-hoan.

“Sayangnya orang seperti ini selalu mati muda,” kata orang itu.

Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata, “Aku sudah mengatakan hal itu padanya. Sayangnya dia

tidak mau mendengarkan.”

Sebuah bunyi “tring!” terdengar bergema ketika kedua roda itu saling berbenturan, bunga api

memercik ke segala penjuru. Di jaman dulu, Siangkoan Kim-hong menguasai dan mengguncangkan

dunia, dia pun mendirikan partai Kim-ci-pang yang memerintah dunia Kang-ouw. Dia bukan hanya

seorang laki-laki yang sangat berambisi, kungfunya juga luar biasa. Sayangnya, dalam daftar

senjata, Liong-hong-kim-hoan Siangkoan Kim-hong hanya tercantum di urutan kedua. Tapi

sebagian besar orang di dunia Kang-ouw yakin bahwa kungfunya tidak berada di bawah jago nomor

satu, Thian-ki Lojin.

Selama beberapa saat orang itu menggenggam Liong-hong-kim-hoan di telapak tangannya agar

orang-orang mengenali senjata terampuh di dunia itu. Senjata seperti itu di tangan orang seperti dia

tidak akan menyamai aura yang dimiliki Siangkoan Kim-hong saat memerintah dunia Kang-ouw,

tapi kekuatannya tetap menakutkan.

Toa-hoan bahkan tidak melirik senjata itu. Dia sedang menatap Ma Ji-liong dengan senyuman yang

hangat dan gembira.

Musuh-musuh tangguh sudah datang ke sini untuk membunuh mereka, dan hidup atau mati akan

diputuskan dalam waktu singkat. Anehnya, dia tampak sangat gembira. Hal ini terjadi karena Ma Jiliong

tidak meninggalkannya dan pergi melarikan diri. Tak perduli apa yang pernah dia katakan,

apa yang sedang dia rasakan di hatinya sekarang agaknya lebih penting daripada hidup dan mati.

Ma Ji-liong tiba-tiba merasakan kegembiraannya yang meningkat. Sepasang matanya yang jelek itu

menjadi tampak lebih menarik. Keindahan dan keburukan memang tidak bisa dipisahkan dengan

jelas. Orang yang berbahagia biasanya akan terlihat cantik.

Toa-hoan bertanya dengan lembut, “Kau takut?”

Ma Ji-liong tentu saja tidak benar-benar hilang rasa takutnya. Perasaan takut adalah salah satu

kelemahan manusia yang paling sulit untuk ditaklukkan. Untunglah ada beberapa macam perasaan

yang bisa digunakan manusia untuk mengatasi rasa takut.

Toa-hoan berkata, “Jika kau takut, mungkin masih ada waktu bagimu untuk pergi.”

“Aku tidak akan pergi,” kata Ma Ji-liong.

Toa-hoan menghembuskan napas lembut. Lalu dia berkata, “Maka aku……”

Dia tidak menyelesaikan kata-katanya itu. Suaranya seolah tiba-tiba terpotong oleh sebuah golok

yang tak terlihat, dan tenggorokannya dicekik oleh sesosok setan yang tidak kelihatan. Sorot

matanya juga memperlihatkan perasaan takut seakan-akan dia telah melihat hantu yang tidak bisa

dilihat oleh orang lain.

Ma Ji-liong memutar kepalanya untuk melihat. Apa yang dilihat gadis itu ternyata hanya seseorang

– seorang perempuan berbaju hitam yang amat sederhana dengan keranjang bunga di tangannya.

Dia baru saja berbelok memasuki gang itu.

Ma Ji-liong tidak memutar kepalanya lagi dan dia hanya bertanya, “Ada apa?”

Toa-hoan berkata, “Aku harus pergi. Kau tidak pergi, tapi aku harus.”

Dan pergilah dia. Sebelum dia selesai bicara, tubuhnya sudah mengapung ke atas. Tidak seorang

pun yang bisa membayangkan bahwa dia akan mampu melompati tembok yang tinggi itu seperti

ini.

Perempuan penjual bunga yang sederhana itu terus berjalan dengan kepala tertunduk, seolah-olah

dia tidak melihat adanya tembok tinggi di depannya. Melihatnya kepalanya akan menubruk tembok,

setiap orang pun mengira kepalanya akan pecah dan darah akan berhamburan. Tapi tak disangkasangka,

ternyata kepalanya tidak pecah tapi tembok itu yang hancur berantakan. Dengan bunyi

“brak!” yang keras, pada tembok setebal dua-tiga kaki itu sudah terukir lubang berbentuk tubuh

manusia, tembok yang tahan terhadap angin kencang dan api itu! Penjual bunga yang sederhana itu

berjalan menjebol tembok seolah-olah tembok itu terbuat dari sehelai kertas yang tipis.

Ma Ji-liong merasa terperanjat, dan begitu pula semua orang lainnya. Ilmu ginkang Toa-hoan sudah

cukup mencengangkan, tapi kungfu perempuan penjual bunga ini bahkan lebih hebat lagi.

Mendadak langit bertambah gelap, angin pun semakin dingin. Kedua perempuan itu sudah pergi.

Orang yang hendak mereka bunuh sudah pergi bersama angin. Tapi roda emas perenggut nyawa itu

masih berada di sini.

Ma Ji-liong akhirnya bertanya, “Kalian mengejar dia atau aku?”

“Gadis itu,” kata si orang baju hitam.

“Dia sudah pergi,” kata Ma Ji-liong.

Si orang baju hitam berkata, “Sayang sekali kalau begitu.”

“Kenapa?” Ma Ji-liong bertanya.

Orang baju hitam itu menjawab, “Seharusnya kau tahu. Golok yang sudah dihunus harus melihat

darah, kalau tidak malah akan mendatangkan nasib buruk.”

Dia mempunyai senjata yang berbahaya di tangannya dan nafsu membunuh di sorot matanya.

Dia lalu meneruskan, “Kami semua di sini sama. Jika kami sudah mulai, maka kami harus

membunuh. Sekarang dia sudah pergi, maka kami hanya bisa membunuhmu.”

“Bagus sekali,” kata Ma Ji-liong.

Sebenarnya dia tahu kalau situasinya tidak begitu bagus. Tidak perduli siapa pun yang dia hadapi,

keadaannya tetap tidak begitu bagus. Dia tidak membawa senjata. Dia tidak punya nafsu

membunuh. Dan dia tidak punya pilihan.

Kenapa manusia harus membunuh manusia lainnya? Dia benci kekerasan. Tapi dalam situasi

tertentu, orang terpaksa harus menggunakan kekuatan untuk menghentikan kekerasan. Dia pun

menghimpun seluruh tenaganya. Dia hanya punya satu nyawa, dan dia tidak mau mati. Dia harus

menghentikan kekerasan ini.

Dengan mengeluarkan bunyi “tring!”, kim-hoan (roda emas) itu berbenturan sekali lagi, bunga api

terpercik ke segala penjuru seperti air hujan. Tubuh Ma Ji-liong tiba-tiba melesat seperti anak

panah. Dia tidak punya nafsu membunuh, tapi dia punya sesuatu yang lain.

Yaitu keberanian!

Tentu saja dia tidak mengincar orang baju hitam yang memegang kim-hoan itu, tapi seorang

lainnya. Taktik ‘harus menangkap sang raja lebih dulu’ tidak benar-benar bisa digunakan dalam

situasi seperti ini. Sekarang dia harus menyerang titik terlemah mereka.

Benar dan salah tidak bisa hidup berdampingan. Dalam situasi di mana seseorang ditekan oleh

kekuatan musuh yang berjumlah lebih banyak, jika dia bisa melindungi tubuhnya sendiri, maka

tubuhnya harus dilindungi. Jika dia bisa menghabisi salah seorang musuh, maka musuh itu harus

dibinasakan.

Orang yang dia serang adalah Tuan Hitam.

She (marga) Tuan Hitam adalah Oey (kuning). Setiap orang memanggilnya Tuan Hitam hanya

karena dia adalah yang paling jahat dan bertubuh paling besar di antara mereka, persis seperti

seorang tuan besar. Tubuh Tuan Hitam tingginya delapan kaki sembilan dim, dan bahunya selebar

tiga kaki. Lengannya sebesar paha laki-laki dewasa dan tinjunya seukuran kepala anak-anak.

Kenapa Ma Ji-liong menganggap orang seperti ini sebagai titik terlemah dari musuh? Apakah

karena orang ini selalu mengikuti ke mana pun Roda Emas perenggut nyawa pergi? Benalu tumbuh

pada sebatang pohon besar agar bisa tetap hidup. Rubah yang licik selalu mengandalkan kekuatan

harimau agar dia bisa menakut-nakuti manusia. Yang lemah selalu berharap agar mereka bisa

bergantung pada yang kuat untuk mendapatkan perlindungan. Bagaimana kuat atau lemahnya

seseorang tentu saja tidak bisa dilihat dari penampilannya, dan penilaian Ma Ji-liong ternyata tidak

keliru.

Senjata Tuan Hitam adalah sepasang lempengan besi yang agaknya berbobot 60-70 kati. Ma Jiliong

bergerak menyerang, dan Tuan Hitam, dengan bersenjatakan lempengan besi itu, membalas

serangan itu dengan sebuah sapuan mendatar dan sebuah hantaman tegak lurus. Sayangnya nilai

sebuah senjata pun tidak bisa dilihat dari bobotnya saja.

Tinju Ma Ji-liong melayang masuk di antara sepasang lempengan besi itu dan mendarat di atas

batang hidung Tuan Hitam. Sebuah suara yang amat perlahan seperti bunyi seseorang memukul

daging pun terdengar. Tapi, tanpa menjerit sekali pun, Tuan Hitam sudah roboh terjengkang di atas

tanah.

Saat orang itu terjungkal, Ma Ji-liong tentu saja bisa keluar dari kepungan itu dengan segera. Dia

pun bisa meloloskan diri lewat lubang di tembok sana. Tapi dia memutuskan tidak melakukannya

karena dia tiba-tiba merasa bahwa dirinya sanggup bertahan terhadap keroyokan mereka dan dia

bukannya tidak memiliki kesempatan sama sekali. Dan asalkan ada sedikit kesempatan, maka dia

tidak akan menyerah.

Dia adalah orang yang angkuh, orang yang benar-benar sangat angkuh.

Tuan Hitam sudah roboh. Ma Ji-liong lalu menggaet salah satu lempengannya dengan kakinya dan

kemudian meraupnya dengan tangan kirinya. Lalu dia memanfaatkan situasi dan mengayunkan

senjata itu pada orang yang bersenjata roda emas. Tangan kanannya juga menghantam dengan keras

pada pergelangan tangan orang lainnya dan memukul jatuh senjata boan-koan-pit-nya.

Tapi roda emas tetap berada di tangan musuh, dan seseorang lainnya masih memegang yan-yangua-

hou-lan. Kedua pasang tangan dan kedua jenis senjata itu benar-benar menakutkan. Ketika dia

melihat kekuatan gabungan kedua senjata itu, dia baru menyadari kekeliruannya yang tidak bisa

dimaafkan. Dia terlalu memandang rendah musuh-musuhnya dan memandang tinggi dirinya sendiri.

Kesalahan seperti ini tidak akan pernah terulang karena sekali saja sudah cukup fatal! Tapi dia

masih bisa bertarung sampai mati! Bila seseorang sudah bertekad untuk mati dan mengerahkan

segala kemampuannya, maka dia bukan hanya berbahaya, tapi juga menakutkan. Dan hanya orang

yang sudah tersudut yang akan bertarung mati-matian, tapi kenapa orang-orang ini pun tidak takut

mati bersamanya?

Pasti Thian-sat!

Mereka memang datang untuk membunuhnya. Tiba-tiba dia menyadari hal ini.

Tuan Hitam berusaha bangkit. Hidungnya yang patah membuatnya sukar untuk bernafas, maka dia

pun hanya bisa terengah-engah. Tiba-tiba dia merobek bagian depan bajunya yang besar. Lalu dia

mendesis seperti orang gila, “Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!

Bunuh!”

Itulah suara jeritan yang nyaring dan memilukan! Di balik bajunya yang robek, terlihat belasan

huruf merah darah di atas dada Tuan Hitam!

Thian-sat!

Tak perduli apa pun cara yang harus mereka gunakan atau siapa yang harus mereka korbankan,

mereka pasti akan membunuhnya!

Tinju Ma Ji-liong terkepal erat. Dia menggertakkan giginya, bersiap untuk bertarung mati-matian!

Dia telah merobohkan seorang lagi dengan tinjunya. Dia tidak sempat melihat siapa orang itu

karena tiba-tiba dia melihat sekilas sinar perak, sinar perak dari sebilah tombak yang sedang

meluncur tiba. Tombak perak!

“Gin-jio (Tombak Perak) Khu Hong-seng.”

Ketika tombak perak itu tiba, Khu Hong-seng lalu berkata, “Jika kalian ingin membunuhnya, maka

kalian harus mematahkan tombak perak ini dulu. Jika kalian ingin mematahkan tombak ini, maka

kalian harus membunuhku dulu!”

Dia tak pernah menyangka kalau Khu Hong-seng akan datang untuk menolongnya, tapi memang

Khu Hong-seng yang datang! Dan di tangannya tergenggam tombak perak.

Seseorang telah datang untuk ikut bertarung mati-matian dengannya! Kenapa orang harus selalu

berhadapan dengan musuh dulu baru bisa tahu bagaimana sosok orang itu sebenarnya dan

mengenali siapa teman yang sesungguhnya?

Tombak itu sudah menembus tenggorokan satu orang musuh, dan tinjunya telah menghancurkan

rusuk musuh yang lain. Kali ini setiap orang bisa mendengar suara tulang yang hancur berantakan

itu.

Tidak ada lagi musuh yang roboh. Tiba-tiba semua telah menghilang. Tentu saja dua orang yang

bertekad untuk bertempur mati-matian lebih berbahaya daripada satu orang, apalagi kalau kedua

orang itu adalah Khu Hong-seng dan Ma Ji-liong.

Tidak seorang pun yang tahu jam berapa saat itu, tapi malam sudah amat larut. Jalan yang kecil itu

pun terasa dingin dan gelap. Tahu-tahu Ma Ji-liong merasakan sebuah tangan yang hangat sedang

menggenggam tangannya.

Suara Khu Hong-seng pun sama hangatnya. Dia berkata, “Aku tahu apa yang kau butuhkan

sekarang ini. Kau benar-benar membutuhkan secawan arak.”

HARKAT PENDEKAR

Saduran : Gan K. H

Bab 10: Pertanyaan-pertanyaan

Arak itu memang tidak begitu enak. Juga bukan termasuk jenis arak yang bagus, dan tentu saja

bukan arak Li-ji-ang. Arak itu cuma sejenis arak yang bisa kau beli di pasar biasa. Walaupun Ma Jiliong

tidak perduli, tapi Siau-hoan tetap menjelaskan dengan nada meminta maaf, “Hong-seng

sangat jarang minum di sini. Dia pun tidak pernah mengundang temannya ke sini. Baru tadi aku

membeli seguci arak ini.”

Arak itu baru saja dibelinya, dan makanan baru saja dimasaknya. Ini terjadi karena di tempat itu

tidak ada seorang pun pelayan.

“Hong-seng sangat menyukai ketenangan. Dia tidak mau ada pelayan. Maka aku mengerjakan

segalanya di sini sendirian.” Suaranya penuh mengandung kelembutan seorang perempuan. Seluruh

hidupnya berkutat di sekitar Khu Hong-seng. Dia pasti akan melakukan apa saja yang diinginkan

Khu Hong-seng.

Cinta sudah cukup bagi mereka. Kenapa mereka butuh orang lain? Mengapa mereka perlu arak

yang bagus untuk diminum? Tiba-tiba Ma Ji-liong merasa iri pada mereka. Dia tak henti-hentinya

bertanya pada dirinya sendiri, seandainya dia memiliki seorang perempuan seperti Siau-hoan ini –

yang tidak memikirkan apa pun selain dirinya dan selalu melayani seluruh kebutuhannya – maukah

dia meninggalkan segalanya dan hidup sederhana seperti ini?

Tiba-tiba dia teringat pada Toa-hoan. Jika dia menikahi gadis itu, apakah gadis itu akan

memperlakukan dia seperti ini?

Ma Ji-liong tidak mencari tahu lebih lanjut. Pertanyaan ini bukan saja aneh, tapi juga lucu.

Tentu saja dia tidak akan menikahi seorang perempuan seperti Toa-hoan, meskipun lehernya

ditodong dengan sebilah pisau. Walaupun Toa-hoan sekarang tidak begitu buruk dan jahat seperti

sebelumnya, tapi dia masih jauh dari kesan menarik dan menyenangkan. Bagaimana mungkin Pekma

Kongcu menikahi gadis seperti itu? Ma Ji-liong mengangkat cawannya dan menghabiskan

araknya dalam satu tegukan, dia memutuskan untuk melupakan gadis tersebut sejak saat itu.

Agaknya Khu Hong-seng sudah cukup banyak minum. Dan karena hari ini dia ingin minum, Siauhoan

tentu saja ikut minum bersamanya. Mereka berdua tampaknya sudah agak mabuk, dan tingkah

mereka terlihat semakin mesra, agaknya mereka lupa kalau Ma Ji-liong berada tepat di hadapan

mereka. Ma Ji-liong sudah mulai merasa diabaikan, maka dia pun mencari kesempatan untuk

mengucapkan selamat tinggal.

Semula dia hendak mengajukan banyak pertanyaan pada Khu Hong-seng, tapi sekarang dia tidak

mau lagi. Ini terjadi karena dia sudah sangat mempercayai Khu Hong-seng. Tepat ketika dia akan

bangkit, Khu Hong-seng tiba-tiba mengajak bersulang.

Dia menarik tangan Siau-hoan dan berkata sambil tersenyum, “Kau harus minum tiga cawan untuk

menghormatinya, tiga cawan besar.”

Sambil cekikikan, Siau-hoan menggelengkan kepalanya, “Aku hanya akan minum secawan.”

“Kau harus minum tiga cawan.”

“Jika aku minum tiga cawan, aku pasti akan mati karena mabuk.”

“Jika kau tidak minum, maka aku akan mencekikmu sampai mati.”

Siau-hoan tersenyum memikat, sorot matanya penuh dengan perasaan cinta. Dia berkata, “Aku

lebih suka dicekik olehmu sampai mati.”

“Benarkah?”

“Tentu saja, sungguh.”

“Bagus.” Khu Hong-seng tersenyum, sambil meremas leher gadis itu dengan tangannya.

Lalu dia berkata dengan lembut, “Maka aku akan mencekikmu hingga mati.”

Ma Ji-liong benar-benar tidak ingin mendengarkan lagi, dia juga tidak mau bertindak sebagai

penonton lagi. Seharusnya dia segera pergi, tapi tidak jadi. Karena ketika dia bangkit, tiba-tiba dia

melihat sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya meskipun dalam mimpinya. Dia melihat mata

Siau-hoan yang indah melotot keluar seperti mata ikan mati, mukanya menjadi biru dan tubuhnya

menjadi kaku. Kali ini dia benar-benar mati. Khu Hong-seng benar-benar mencekiknya hingga

mati.

Ma Ji-liong merasa terperanjat, seolah-olah lehernya juga sudah tercekik oleh sebuah tangan yang

tidak kelihatan. Napasnya tiba-tiba berhenti. Tubuhnya menjadi kaku. Bahkan tangan dan kakinya

pun terasa dingin seperti es. Tubuh Siau-hoan akhirnya ambruk ke lantai, dan Khu Hong-seng

mengawasi tubuh itu tanpa perubahan sedikit pun di wajahnya.

Yang mengejutkan, di wajahnya malah tersungging sebuah senyuman.

“Berbohong itu buruk. Aku tidak pernah berbohong.”

Sambil tersenyum dia berkata, “Kubilang aku akan mencekiknya hingga mati, dan itulah yang

kulakukan. Maka, nanti, apa pun yang kukatakan, kau harus mempercayaiku.”

Ma Ji-liong tidak sanggup bicara. Dia cuma ingin muntah, membuang semua yang baru saja dia

makan dan minum. Tapi dia bahkan tidak bisa melakukannya.

Khu Hong-seng tertawa dengan riangnya, “Mengapa kau tidak bertanya kenapa aku mencekiknya?”

Dia tidak menunggu Ma Ji-liong bertanya. Dia malah mulai bicara lagi, “Sebenarnya, aku sudah

berencana untuk membunuhnya sejak kami bertemu pertama kalinya. Aku menebus dia dan

membeli rumah ini agar terlihat mustahil kalau aku sebenarnya akan membunuhnya. Aku

memungut gadis ini karena dia bukan saja sangat cantik, tapi dia juga bodoh. Perempuan seperti ini

memang amat cocok untuk rencanaku.”

Rencananya? Rencana apa?

Meskipun Ma Ji-liong tidak bodoh, tapi dia benar-benar belum paham tentang segala kejadian ini.

Khu Hong-seng menerangkan lagi, “Aku harus membuat semua orang tahu bahwa aku sudah

bertekad untuk mati dengan gadisku dan bahwa kami sudah bersumpah setia satu sama lain dan

maut pun tidak akan bisa memisahkan kami. Setiap orang pun akan percaya bahwa aku tidak ingin

menjadi menantu Bik-giok Hujin.”

Sambil menghela napas, dia berkata, “Padahal sesungguhnya, aku sangat menginginkan hal itu.”

Tapi saingan-saingannya terlalu kuat dan dia sendiri pun belum tentu terpilih.

Dia melanjutkan, “Maka aku harus menyingkirkan kalian bertiga dulu.”

Sesungguhnya, menyingkirkan tiga orang manusia tidaklah mudah.

“Untunglah aku tahu bahwa kalian semua adalah pemabuk, dan aku pun kebetulan tahu bahwa Tohkongcu

sudah memesan makanan dan arak dari Kik-hong-wan.”

Maka dia menyuap seorang pegawai Kik-hong-wan untuk meracuni arak dan kemudian memesan

Thian-sat untuk membungkam orang-orang dari rumah makan itu.

“Tapi aku tidak menyangka kalau kau tidak mau minum.”

Dia meneruskan lagi, “Untunglah rencanaku amat teliti. Aku punya orang-orang di belakangku.”

Orang-orang itu adalah Kim Tin-lin dan Peng Thian-pa. Kim Tin-lin dulu pernah ditundukkan

olehnya, dan Peng Thian-pa sudah sejak lama menjadi kaki tangannya. Giok-pwe yang tergantung

di dadanya juga merupakan bagian dari rencana. Sesudah itu, semua saksi harus disingkirkan.

“Pang Tio-hoan dan Coat-taysu sebenarnya tidak tahu apa-apa. Aku sengaja menyuruh Peng Thianpa

mengundang mereka minum di Kik-hong-wan dan membawa mereka ke Han-bwe-kok untuk

membuktikan bahwa aku benar-benar tidak bersalah dan bahwa kau adalah penjahat yang

sesungguhnya.”

Dia tertawa terbahak-bahak, “Tapi kau tidak boleh menyalahkan diriku. Kau hanya bisa

menyalahkan nasibmu sendiri yang buruk sehingga kau tidak meminum arak itu dan mati begitu

saja. Jika kau mati, maka kau tidak akan mengalami masalah seperti ini.”

Sekarang dia tidak punya saingan lagi. Tapi, jika Siau-hoan tidak mati, dia tidak punya cara untuk

menjelaskan status dirinya, juga tidak bisa mencampakkannya begitu saja untuk menjadi menantu

Bik-giok Hujin. Maka Siau-hoan pun harus mati.

Khu Hong-seng menatap Ma Ji-liong. Lalu dia berkata, “Dan sekarang, apakah kau hidup atau mati

tetap tidak ada artinya. Setiap orang tahu bahwa kau adalah si pembunuh. Bila kau tetap hidup, hal

itu malah akan menjadi keuntungan buatku.”

“Keuntungan apa?” Ma Ji-liong akhirnya sanggup bersuara. “Kenapa hal itu baik untukmu?”

Khu Hong-seng menghela napas dan mendadak berkata, “Apakah kau belum bisa menebak kalau

aku adalah ketua Thian-sat?”

Segalanya menjadi jelas, dan Ma Ji-liong pun berdiri tertegun. Selama ini dia mengira bahwa dia

tidak akan pernah memahami apa yang telah terjadi. Dia tidak menyangka kalau penjahat yang

sebenarnya akan memberitahukan semua ini padanya.

Tak tahan lagi dia pun bertanya, “Kenapa kau memberitahukan rahasiamu padaku?”

Sambil tersenyum, Khu Hong-seng berkata, “Karena………”

Dia tidak menyelesaikan kata-katanya. Wajahnya tiba-tiba berubah, persis seperti wajah Toh Cenglian

yang ketakutan menjelang saat kematiannya. Mukanya yang pucat tiba-tiba menjadi gelap. Dia

berusaha bangkit, tapi kakinya malah menendang meja. Dan ketika meja itu terbalik, maka dia pun

terjungkal ambruk.

Bab 11: Hukuman Gantung

Ma Ji-liong tercengang. Bagaimana mungkin ada racun di dalam arak itu? Siapa yang membubuhi

racun? Mungkinkah Siau-hoan sudah tahu bahwa Khu Hong-seng akan membunuhnya, maka dia

memutuskan untuk meracuni arak itu lebih dulu? Ma Ji-liong minum dari guci arak yang sama.

Sekarang Khu Hong-seng mati keracunan, tapi kenapa dia tidak merasa apa-apa?

Begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab, dan semuanya juga begitu rumit. Selain itu, semua

peristiwa ini terjadi begitu tiba-tiba. Pikirannya menjadi kacau, dan dia bahkan tidak sanggup

menjawab meskipun pertanyaan yang paling sederhana. Sekarang, yang sebaiknya dilakukan adalah

meninggalkan tempat ini dengan segera. Mungkin sekali kejadian ini juga merupakan sebuah

rencana yang telah direkayasa dengan baik untuk menjebaknya. Dia sudah memikirkan hal ini.

Sayangnya, sementara dia sedang berpikir, dia benar-benar sudah terjebak. Rencana itu memang

akurat dan berbisa. Tak perduli siapa pun yang terjatuh ke dalam perangkap ini, dia tidak akan bisa

lolos.

Di ruangan itu ada empat buah lampu, empat buah lampu kristal Persia yang sangat mahal. Barang

mahal adalah barang yang berkualitas. Meskipun jatuh ke lantai, lampu-lampu itu tidak akan pecah.

Keempat lampu itu dipasang dengan teguh di atas sebuah meja.

Tiba-tiba terdengar suara „wut!‟, dan kap lampu pun pecah. Sinarnya tampak berkerlap-kerlip.

Saat itulah Ma Ji-liong merasakan gelombang tekanan yang luar biasa kuatnya menghantamnya dari

segala penjuru. Jantungnya berdebar dengan keras dan kencang. Napasnya hampir berhenti.

Hidungnya berdarah, dan dia pun bisa merasakan darah di tenggorokannya. Bola matanya seperti

akan melompat keluar. Dia sudah hampir pingsan. Tapi tekanan yang aneh dan menakutkan itu tibatiba

menghilang ketika empat orang manusia muncul di ruangan itu. Orang pertama yang dilihatnya

adalah Coat-taysu yang tidak punya hati ataupun perasaan itu.

Karena Coat-taysu sudah tiba, tentu saja Pang Tio-hoan juga berada di sini. Orang ketiga adalah

seorang hwesio yang amat kurus dan bermuka hitam, seperti seorang pertapa yang berlatih ilmu

menyiksa diri. Dan walaupun ia mengenakan jubah hwesio yang ditambal di sana sini, tapi dia

menggenggam seuntai tasbih giok yang tak ternilai harganya.

Orang terakhir adalah seorang tosu yang mengenakan jubah berlengan lebar, memakai sandal

jerami tanpa kaus kaki. Rambutnya disanggul, dan kulitnya putih berkilauan, membuat dirinya

kelihatan seperti sebuah patung yang diukir dari giok putih. Dia merupakan kebalikan dari hwesio

pertapa yang tampak kasar itu.

Keempat orang itu datang dari empat penjuru, dan tenaga dalam mereka muncul mendahului

kedatangan mereka, lwekang yang telah dilatih selama puluhan tahun. Orang-orang ini pasti

mengirimkan lwekang mereka untuk menutup jalan lari Ma Ji-liong dan menangkal serangannya.

Mereka menggunakan langkah terakhir ini terhadap Ma Ji-liong karena mereka yakin bahwa dia

akan melakukan apa saja untuk melarikan diri.

Tadi, saat energi mereka menyerangnya, kekuatan dari arah timur dan barat jauh lebih hebat

daripada yang datang dari arah utara dan selatan. Yang datang dari arah timur adalah hwesio

pertapa itu, dan Giok-tojin (tosu dari giok) tiba di tempat itu dari arah barat. Ternyata kedua orang

itu mempunyai lweekang yang jauh lebih dahsyat daripada Coat-taysu yang termasyur ke seluruh

dunia itu.

Ma Ji-liong tidak perlu melihat mereka untuk tahu siapa mereka sebenarnya.

Nama Budha hwesio pertapa itu adalah Cia-go (tahan kesukaran). Dia memang tahan terhadap

berbagai macam kesukaran. Dia pernah pergi ke India, tapi dia tentu saja tidak pergi ke sana untuk

mencari kitab agama Budha. Dia malah mengembara ke seluruh negeri itu untuk mencari kungfu

misterius kaum Hud-bun (Budha). Tentunya perjalanannya itu tidak sia-sia belaka.

Dan Giok-tojin dulunya adalah Giok-long-kun yang berjuluk „Satu Pedang Tanpa Rintangan‟, yang

pernah mengguncangkan dunia Kang-ouw. Semua pendekar di dunia ini pasti akan gemetar

ketakutan terhadap dirinya, dan semua perempuan cantik pasti akan menyerahkan hatinya pada

Giok-long-kun ini.

Melihat keempat orang itu, hati Ma Ji-liong serasa karam. Tentu saja tidak seorang pun di dunia ini

yang bisa melarikan diri dari mereka, dan tidak seorang pun juga yang bisa menyelamatkan

seseorang dari cengkeraman mereka. Itulah kenyataan yang tidak bisa dibantah.

Lampu-lampu belum dipadamkan. Ini terjadi karena mereka tidak ingin lampu-lampu itu padam.

Bila orang-orang ini ingin melakukan sesuatu, mereka tentu saja akan dan bisa melakukannya. Jika

tidak, tak seorang pun yang bisa memaksa mereka untuk bertindak. Agaknya mereka tidak melihat

Ma Ji-liong, karena pandangan mata mereka tertuju pada Khu Hong-seng.

Khu Hong-seng sudah berhenti bernapas, dan guci arak serta cawan telah terbalik dan berserakan di

lantai. Cia-go Hwesio memungut dan mengendusnya. Lalu, seperti sebilah golok yang tajam, sinar

dingin tampak berkilat-kilat di sepasang mata yang cekung itu. Dia pernah mengikuti rute ke barat

yang dahulu digunakan oleh pendeta Tong Sam-cong(1) saat melakukan perjalanan ke Thian-tiok

(India), dan jalur ini tentu saja tidak mudah untuk dilalui. Dia harus melewati gunung-gunung yang

tandus, sungai-sungai liar dan rawa-rawa, semua yang ada di sana pun amat berbisa – serangga

berbisa, ular berbisa, bunga beracun dan tanaman-tanaman beracun. Dia sudah melihat hampir

semua racun yang ada di dunia ini dan, karenanya, dalam hal racun dia hampir sama ahlinya dengan

Sin-long (Petani Sakti) yang termasyur itu.

Meskipun Coat-taysu telah menjadi orang beribadat selama puluhan tahun, sifatnya yang tidak

sabaran sama sekali tidak berubah.

Tak dapat menahan diri lagi, dia lalu bertanya, “Bagaimana?”

Cia-go Hwesio tidak berkata apa-apa dan menutup matanya. Coat-taysu menjadi makin gelisah.

Jika Cia-go Hwesio tidak bisa menebak racun apa yang telah diminum Khu Hong-seng, tentu saja

tidak ada lagi orang lain yang tahu di dunia ini. Untunglah Cia-go Hwesio akhirnya angkat bicara.

“Tidak ada racun di guci arak itu.”

“Lalu di mana racunnya?”

“Di cawannya yang terakhir.”

“Racun apa itu?”

“Itulah Jiu-jo-san yang dibuat dari tiga macam tumbuhan beracun – Jian-ki, Toan-yang dan Siohun.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Racun jenis ini tidak berwarna dan tidak berasa. Paling baik bila dicampur dengan arak, karena

dengan arak racun ini akan bekerja dengan sangat cepat.”

“Berapa cepat?”

“Racun ini akan langsung bekerja setelah masuk ke tenggorokannya. Dan bila mencapai usus, dia

akan sama saja seperti ulat di musim gugur.”

“Jadi racun di dalam tubuhnya sudah bekerja.”

“Maka racun itu pasti berada di dalam cawan arak terakhirnya.”

“Bisakah dia diselamatkan?”

“Orang tidak selalu harus mati karena racun ini. Jika kita bertindak cukup cepat, racun ini masih

bisa ditawarkan.”

“Bisakah kau melakukannya?”

“Aku tidak bisa, tapi dia bisa.”

Cia-go Hwesio memalingkan kepalanya pada Giok-tojin. Lalu dia berkata, “Tidak ada orang yang

tahu tentang racun sebaik diriku, tapi dalam hal menawarkan racun, aku tidak sebaik dirimu.”

Giok-tojin bertanya, “Bagaimana kau tahu kalau kau tidak sebaik diriku?”

Cia-go Hwesio menjawab, “Karena kau dulu seorang penakluk wanita dan aku bukan.”

Giok-tojin tersenyum. Dia tidak punya pilihan kecuali mengakui hal itu. Sejak dia berusia enam

belas tahun, tak ada yang tahu berapa banyak perempuan yang telah berusaha membunuhnya

dengan racun. Ini terjadi karena kekasihnya terlalu banyak dan dia tidak pernah pilih-pilih. Karena

banyak perempuan yang memujanya, dan mereka tidak mau melepaskannya jatuh ke pelukan

perempuan lain, mereka pun tahu bahwa mereka harus meracuninya sampai mati. Jika tidak, cepat

atau lambat pikirannya akan berubah. Karena seringnya dia diracuni orang, akhirnya dia menjadi

terbiasa dengan racun.

Bagaimana mungkin orang seperti dia tidak tahu cara menawarkan racun?

Cia-go Hwesio berkata, “Jika dia tidak tahu cara menawarkan racun ini, pemuda ini pasti sudah

mati.”

Coat-taysu bertanya, “Jika dia tidak bisa menawarkan racun ulat musim gugur ini, apakah tidak ada

orang lain yang bisa?”

Kali ini Giok-tojin sendiri yang menjawab pertanyaan itu. Dia berkata, “Tidak.”

Ma Ji-liong akhirnya paham. Ini bukan cuma sebuah perangkap. Tapi merupakan seutas tali, tali

yang akan digunakan untuk menggantungnya. Racun itu ada di dalam cawan arak terakhir. Saat

Khu Hong-seng meminum cawan itu, Siau-hoan sudah mati, jadi tidak mungkin dia yang menaruh

racun itu. Tapi jika Khu Hong-seng meracuni dirinya sendiri, siapa yang akan percaya kalau dia

berbuat begitu?

Dan karena itu, Ma Ji-liong tentu saja menjadi tersangka.

Khu Hong-seng diracun dengan cara yang sama seperti Sim Ang-yap dan Toh Ceng-lian. Pasti

racun di dalam guci arak di Han-bwe-kok juga adalah racun Jiu-jo-san ini.

Dan karenanya, tersangka peristiwa itu juga adalah Ma Ji-liong.

Khu Hong-seng sudah tahu bahwa Coat-taysu dan kawan-kawannya akan datang. Dia sudah tahu

pasti bahwa dirinya akan tertolong. Karena itu dia meracuni arak tersebut.

Barusan dia telah memberitahu Ma Ji-liong bahwa dialah penjahat yang sebenarnya, tapi tak ada

orang lain kecuali Ma Ji-liong yang telah mendengar pengakuannya itu. Tak seorang pun di dunia

ini yang akan percaya bahwa dia bisa meracuni dirinya sendiri. Dan meskipun Ma Ji-liong ngotot

mengatakan hal yang sebenarnya kepada orang-orang, tak ada orang yang akan mempercayainya.

Dan karena orang-orang menganggap bahwa Ma Ji-liong adalah orang yang meracuni Khu Hongseng,

mereka juga akan percaya bahwa dialah yang telah mencekik Siau-hoan hingga mati. Mereka

tidak akan menyelidiki lagi kenapa dia harus membunuh Siau-hoan. Memangnya masih ada yang

tidak bisa diperbuat oleh seorang pembunuh seperti dirinya?

Semua pembunuh harus mati. Sekarang Ma Ji-liong telah dihadapkan dengan hukuman gantung.

——————————————

(1)Tong Sam-cong = pendeta Budha dalam cerita ‘Perjalanan Ke Barat’

Bab 12: Kembang Melati

Khu Hong-seng tidak mati. Inilah kali kedua dia berhasil selamat setelah bersinggungan dengan

maut. Ma Ji-liong teringat dengan tombak Kim Tin-lin dan bagaimana Khu Hong-seng telah

menyembunyikan Giok-pwe itu di dadanya. Saat itu nama Siau-hoan yang digunakan olehnya untuk

menjelaskan hal itu. Setiap langkah dan setiap detil rencananya benar-benar dirancang dengan

seksama. Dan setiap kalinya dia telah menyediakan perangkap kematian untuk dirinya sendiri

sehingga tidak ada orang yang akan mencurigainya.

Sekarang dia telah memuntahkan semua arak beracun itu, setiap orang bisa melihat bahwa dia pasti

akan selamat, dan mungkin dia akan hidup lebih lama daripada siapa pun.

Saat itulah perhatian mereka mulai dialihkan pada Ma Ji-liong, dan sorot mata mereka amat mirip

dengan senjata yang tajam.

Yang pertama bicara adalah Pang Tio-hoan.

Dia berkata, “Apa lagi yang hendak kau katakan?”

Ma Ji-liong tidak bisa berkata apa-apa. Jika dia mengungkapkan hal yang sebenarnya, siapa yang

akan percaya kalau Khu Hong-seng telah mencekik Siau-hoan hingga mati? Siapa yang akan

percaya kalau dia telah mengungkapkan rahasianya sendiri? Dan siapa yang akan percaya kalau dia

telah meracuni araknya sendiri?

Coat-taysu bertanya dengan dingin, “Apa yang akan kau berikan pada kami kali ini?”

Meskipun Ma Ji-liong punya sebilah pedang mestika di tangannya, setumpuk emas di kantungnya,

dan sehelai mantel bulu rubah di tubuhnya, tipuan lamanya tidak akan berhasil lagi.

Coat-taysu berkata, “Bukti kejahatanmu sudah amat banyak, tapi bila kau tidak mengakuinya, kami

tidak bisa mengikat tanganmu.”

Ma Ji-liong tahu bahwa dia bukan hanya tidak bisa membersihkan dirinya dari tuduhan, dia pun

tidak bisa melarikan diri. Dia sangat paham akan hal ini.

Tapi asalkan dia masih bernapas, dia tidak akan pernah menyerah tanpa bertarung.

Coat-taysu berkata, “Dengan kami berempat berada di sini, menangkapmu akan sama mudahnya

dengan memakan kue. Tapi kami tidak mau menang cuma karena jumlah kami lebih banyak

darimu.”

“Aku paham,” kata Ma Ji-liong.

“Apa yang kau pahami?” Coat-taysu bertanya.

Ma Ji-liong berkata, “Kau ingin bertarung sendiri denganku dan berharap kau sendiri sudah

sanggup membunuhku.”

Lalu dia meneruskan dengan tenang, “Karena membunuh orang adalah hobimu.”

Kalimat ini seperti jarum yang menusuk ke hati lawan. Tapi Coat-taysu tidak perduli.

Dia menyeringai, “Jika kau tidak ingin aku yang membunuhmu, kau boleh memilih siapa pun yang

kau inginkan untuk bertarung denganmu.”

“Aku memilihmu,” kata Ma Ji-liong.

“Bagus sekali,” kata Coat-taysu.

Ma Ji-liong berkata, “Benar, seharusnya bukan kau. Walaupun lwekangmu tidak sehebat Cia-go

Hwesio dan ilmu pedangmu tidak sebanding dengan Giok-tojin, tapi pengalaman membunuhmu

jauh lebih banyak daripada mereka. Dan karena itu caramu membunuh pasti lebih baik daripada

mereka.”

Sambil menghela napas, dia melanjutkan, “Sayangnya, meskipun tahu hal ini, aku tetap harus

memilihmu.”

Coat-taysu tak tahan lagi dan bertanya, “Kenapa?”

Ma Ji-liong menjawab, “Karena aku selalu berpikir bahwa meskipun kau adalah orang gila yang

kejam, keras kepala dan angkuh, aku bisa berharap padamu untuk membawa keadilan dan bila kau

menuduh seseorang, maka kau akan bertindak bengis dan tidak akan membiarkan orang itu hidup.”

Suaranya terdengar berduka ketika dia berkata, “Aku memilihmu karena aku harus membunuhmu

demi orang-orang yang telah salah dibunuh olehmu. Meskipun aku bukan tandinganmu, aku bisa

menjamin bahwa aku punya cara untuk membuat agar kau dan aku gugur bersama.”

Coat-taysu terpaksa bertanya, “Cara apa?”

Mau tak mau dia harus percaya pada Ma Ji-liong. Ekspresi wajahnya mulai berubah. Walaupun dia

ingin membunuh Ma Ji-liong, dia sendiri pun takut terbunuh.

Dan dia tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya itu.

Tiba-tiba Ma Ji-liong tertawa terbahak-bahak. Dia berkata, “Sesungguhnya kau tidak sebengis yang

orang kira. Kau takut pada kematian seperti juga orang lain.”

Suaranya terdengar penuh dengan nada ejekan, “Sebenarnya aku tidak punya cara tertentu untuk

membunuhmu. Aku cuma ingin menakut-nakutimu saja, tidak lebih.”

Bila jago-jago kungfu akan bertarung, mereka bukan hanya harus menenangkan pikirannya, mereka

pun harus mengendalikan emosinya. Kalau tidak mereka akan rapuh terhadap serangan. Coat-taysu

sudah lama paham akan hal ini.

Tapi saat itu amarahnya telah memuncak, bola matanya memerah seperti berdarah, di keningnya

muncul urat-urat biru. Kedua tangannya pun diulurkan seperti cakar burung rajawali.

Dia bergerak ke arah Ma Ji-liong, selangkah demi selangkah.

Ruangan ini berlantai papan kayu yang mengkilap, dan ke mana pun dia menginjakkan kakinya,

papan kayu itu segera hancur berkeping-keping.

Coat-taysu telah mengumpulkan seluruh tenaganya. Jika orang terpukul oleh tangannya, dia tentu

akan terjungkal mati!

Tak pernah terpikir olehnya kalau dia mungkin akan membunuh orang yang salah!

Kecuali bunyi papan kayu yang hancur, seolah-olah tidak ada suara lain di dunia ini.

Mendadak mereka mendengar suara teriakan seseorang yang menjajakan bunga.

“Anggrek mutiara. Kembang melati.”

Suara penjual bunga itu terdengar nyaring dan merdu seperti mengalun dari tempat yang jauh. Tapi

suara itu tiba-tiba bergerak semakin dekat hingga seakan-akan kata-kata tadi diucapkan orang di

pinggir telinga mereka.

“Brak!”, tiba-tiba sebuah lubang berbentuk manusia telah muncul di dinding yang putih dan cerah

itu.

“Anggrek mutiara. Bunga melati.”

Tiba-tiba seseorang telah muncul dari lubang di dinding tersebut. Dia adalah seorang penjual bunga

bertubuh ramping, memakai topi bambu dan bergaun hitam. Di tangannya terdapat beberapa

kuntum bunga melati yang terikat oleh seutas kawat besi.

Bunga melati yang harum tentu indah, dan begitu pula tangan penjualnya. Ma Ji-liong tiba-tiba

teringat, ketika mereka berada di jalan sempit itu, Toa-hoan telah pergi bersamaan dengan

kedatangan seorang perempuan penjual bunga yang misterius. Apakah yang akan dilakukan

perempuan itu di sini?

“Apakah Tuan suka bunga melati?”

Tiba-tiba dia meletakkan sekuntum melati di antara cakar rajawali Coat-taysu. Seperti anak panah

yang dipentang kencang pada sebuah busur, tangan ini mengandung tenaga yang akan terlepas saat

bersentuhan. Dan jika dilepaskan, bahkan batu karang pun akan hancur karenanya.

Yang mengejutkan, ternyata bunga melati itu tidak hancur. Malah sepertinya bunga melati itu yang

menusuk tangannya. Dan rasa sakitnya pun pasti telah menusuk hatinya, karena setelah

mendapatkan bunga itu, dia lalu melompat ke udara dan – seperti anak panah – melesat keluar lewat

jendela.

Siapakah gadis penjual bunga ini? Kekuatan misterius macam apa yang dimiliki bunga melati itu?

Penjual bunga itu membalikkan badan dan berjalan menghampiri Giok-tojin.

“Tuan suka bunga melati?”

Dia mengambil sekuntum bunga lagi.

“Inilah sekuntum bunga melati yang harum dan indah. Tuan harus membelinya sekarang juga.

Kalau tidak, Tuan pasti akan menyesalinya nanti.”

“Aku ingin membelinya. Berapa harganya?” Giok-tojin bertanya.

“Bungaku berharga pantas. Aku tidak pernah berlaku curang.”

Suaranya terdengar jernih dan lembut, “Satu nyawa…. untuk sekuntum bunga melati.”

Giok-tojin tersenyum dipaksa. Lalu dia berkata, “Aku tidak sanggup.”

Tiba-tiba dia melesat mundur, tubuhnya meluncur lewat lubang di tembok seperti sebatang anak

panah yang lepas dari busurnya. Cia-go Hwesio dan Pang Tio-hoan juga ikut pergi dengan

kecepatan yang sama.

Sambil menghela napas, penjual bunga itu berkata, “Bunga melati yang begini indah, kenapa tidak

ada yang mau membelinya?”

Ma Ji-liong tiba-tiba berkata, “Mereka tidak mau, tapi aku mau.”

Perempuan penjual bunga itu tidak berpaling. Dia hanya berkata, “Kau cuma punya satu nyawa.

Kau pun tidak akan sanggup.”

“Bagaimana jika aku benar-benar ingin membelinya?”

“Aku tidak jual.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku tidak menginginkan nyawamu.”

“Aku baru saja mendapatkan kembali nyawaku.”

“Karena kau baru saja mendapatkannya kembali, seharusnya kau benar-benar menghargainya.”

Sambil bicara, dia pun mulai melangkah. Ma Ji-liong lalu membuntutinya. Dan mereka berdua pun

berjalan keluar dari rumah itu dan masuk ke jalan raya yang gelap di luar sana.

Bab 13: Gadis Penjual Bunga

Malam yang dingin, tidak berawan dan penuh bintang. Di bawah sinar bintang, punggung gadis

penjual bunga itu terasa sudah dikenalnya, seolah-olah gadis itu adalah kenalan lamanya. Dia tidak

menggunakan ginkang, dia pun tidak lari. Tapi Ma Ji-liong tetap tidak mampu menyusulnya.

Maka dia lalu menggunakan Thian-ma-hing-khong yang termasyur di dunia Kang-ouw. Tapi tibatiba

gadis itu sudah menjauh 50-60 kaki. Dia berusaha menyusulnya lagi, tapi gadis itu malah

semakin jauh di depan sana.

Ketika dia menurunkan kecepatannya, maka langkah kaki gadis itu pun melambat.

Ketika dia berhenti, maka gadis itu pun berhenti.

Agaknya, meskipun gadis itu tidak mau dia menyusulnya, ia pun sebenarnya tidak mau

meninggalkan dirinya jauh-jauh di belakang.

Mendadak Ma Ji-liong bertanya, “Kau tidak membiarkan aku melihatmu karena kau tidak ingin aku

tahu siapa kau, benarkah begitu?”

Dia tidak menjawab. Dia pun tidak membantah.

Ma Ji-liong tertawa kecil, “Sayangnya aku sudah tahu siapa kau.”

“Tentu saja kau seharusnya sudah tahu.”

Dia tertawa cekikikan dan berkata, “Karena kau tentu tidak begitu bodoh.”

Tentu saja gadis itu adalah Toa-hoan yang tadinya telah lari karena takut pada seorang gadis penjual

bunga. Saat ini dia telah mengenakan baju gadis penjual bunga itu, bahkan keranjang bunga di

tangannya juga milik gadis itu. Tapi di manakah penjual bunga yang misterius itu?

Ma Ji-liong tidak memahami gadis ini. Kehidupan Toa-hoan, kungfunya dan asal-usulnya, semua

terlalu misterius. Bagaimana dia dulu bisa terkubur di dalam es dan salju? Coat-taysu dan Gioktojin

termasuk jago-jago terbaik di dalam Bulim, tapi kenapa mereka begitu takut padanya? Tidak

seorang pun yang bisa menjelaskan kejadian yang terjadi di sekitarnya ini. Semakin lama dia

bergaul dengan gadis ini, sebaliknya dia malah semakin tidak bisa memahaminya.

Dan dia tentu saja tidak bisa pergi. Setiap kali gadis ini muncul, sesuatu yang misterius tentu akan

terjadi. Kali ini apa lagi yang akan diperbuat olehnya? Tipuan licik apa lagi yang ada di dalam

benaknya? Ma Ji-liong benar-benar ingin tahu.

Tentunya Toa-hoan punya tipuan lain. Dengan mata yang bersinar-sinar, tiba-tiba dia berkata, “Aku

sudah tahu bahwa kau adalah orang yang pemberani, maka kali ini aku akan membawamu ke

sebuah tempat yang aneh.”

“Untuk apa?”

“Untuk bertemu dengan seseorang.” Toa-hoan sengaja bersikap misterius. “Seorang perempuan

yang amat aneh.”

“Pernahkah aku bertemu dengannya?”

“Mungkin pernah satu kali.”

“Maksudmu gadis penjual bunga itu?”

“Kau memang tidak bodoh.”

Lalu Toa-hoan meliriknya dan bertanya, “Kau berani pergi menemuinya?”

Ma Ji-liong tentu saja berani. Meskipun gadis penjual bunga itu adalah makhluk pemakan manusia,

dia tetap ingin bertemu dengannya.

Sambil mengedipkan mata penuh arti, Toa-hoan bertanya lagi, “Kau tidak akan menyesal? Setelah

kau bertemu dengannya dan apa pun yang terjadi, kau sama sekali tidak akan menyesalinya?”

Jawaban Ma Ji-liong sudah pasti. “Aku sudah banyak mengalami hal yang patut disesalkan. Apa

artinya kalau ditambah dengan satu lagi?”

Toa-hoan tertawa dan berkata, “Tidak ada artinya.” Suara tawanya terdengar nyaring seperti bunyi

lonceng. “Memang tidak ada artinya.”

Maka mereka pun berangkat. Dalam perjalanan, Ma Ji-liong terus bertanya-tanya tentang tempat

tujuan mereka. Dia memikirkan beberapa tempat yang aneh, tapi dia tidak pernah menduga kalau

gadis itu ternyata membawanya ke kantor pengadilan Xiangcheng.

Meskipun hakim di sini hanya berpangkat rendah, tempat ini tetap saja kantor pengadilan dan

ukurannya jauh lebih besar daripada yang dulu dibayangkan oleh Ma Ji-liong. Jalan masuknya

sudah ditutup, sehingga mereka pun masuk lewat pintu samping.

Inilah pertama kalinya Ma Ji-liong memasuki kantor pengadilan. Di atas kepalanya ada sebuah

genderang dan di aula utama tergantung sebatang tongkat bambu untuk menghukum terdakwa. Di

situ juga dipertunjukkan segala jenis alat siksaan. Semua yang ada di sini membuatnya merasa

ganjil dan aneh.

Di sana juga ada prajurit-prajurit bertopi merah. Walaupun hakim telah keluar dari aula utama itu,

di sana tetap ada prajurit-prajurit yang bertugas jaga, dua orang di tiap pintu. Tapi prajurit-prajurit

ini seperti buta semua matanya, tidak perduli akan kedatangan mereka.

Prajurit-prajurit itu pasti tidak buta. Dia dan Toa-hoan jelas-jelas berjalan melewati mereka. Kenapa

mereka tidak melihatnya? Apakah Toa-hoan menggunakan semacam ilmu sihir? Apakah dia bisa

menyembunyikan sosok mereka dari pandangan para prajurit itu?

Di belakang aula utama itu ada sebuah halaman yang suram, di sana juga ada dua orang prajurit

bertopi merah yang bertugas jaga. Tiba-tiba Ma Ji-liong berjalan menghampiri salah seorang dari

mereka dan berkata, “Hei, kau tidak melihatku?”

Prajurit itu tidak perduli, bahkan tidak meliriknya. Dia malah bertanya pada temannya, “Apakah

barusan ada orang yang bicara?”

“Tidak.”

“Apakah kau melihat seseorang?”

“Tidak, bahkan bayangan setan pun tidak ada.”

Tentu saja Ma Ji-liong merasa heran. Jika bukan Toa-hoan yang membawanya datang ke halaman

ini, dia tentu akan mencoba untuk mencubit mereka. Apakah mereka akan kesakitan?

Sambil tertawa cekikikan, Toa-hoan berkata, “Meskipun kau berjungkir-balik di depan mereka,

mereka tidak akan melihatmu.”

“Kenapa begitu?”

Tiba-tiba gadis itu merubah pokok pembicaraan dan berkata, “Apakah kau tahu tempat apa ini?”

Ma Ji-liong tidak tahu, tapi dia sudah bisa merasakan hawa yang menyeramkan di tempat itu.

“Ini adalah kamar mayat,” kata Toa-hoan. “Jika ada orang yang terbunuh di daerah ini, mayat

mereka akan dibawa ke sini untuk diotopsi.”

Ma Ji-liong tidak melihat jenazah, juga tidak mencium bau darah yang menyengat, tapi perutnya

sudah mulai terasa tidak enak. Di tempat seperti ini, tidak ada orang yang bisa merasa tenang.

Kenapa Toa-hoan membawanya ke sini?

Di halaman itu ada dua baris bangunan, tanpa lampu maupun jendela. Tapi dari kamar terakhir di

sebelah kanan, meskipun pintunya tertutup, sepertinya ada secercah cahaya yang merembes keluar

dari retakan pintu. Dan Toan-hoan berjalan memasuki pintu itu.

Ma Ji-liong tak tahan lagi dan bertanya, “Apakah kau membawaku ke sini untuk bertemu dengan

seseorang di kamar ini?”

“Kenapa kau tidak masuk dan melihat sendiri?” Dan gadis itu mendorong pintu hingga terbuka.

Di kamar itu memang ada cahaya, dan orang bisa melihat sebuah lampu yang redup dan sebuah

ranjang yang besar. Di atas tempat tidur ada selembar kain putih yang menutupi sesosok tubuh di

bawahnya. Walaupun mukanya tertutup kain, tapi kakinya tidak.

Yang pertama dilihat Ma Ji-liong adalah kaki itu, sepasang kaki yang seputih salju dan betis yang

indah.

Jari-jari kakinya tampak lembut dan indah. Siapa pun yang melihat sepasang kaki ini tentu segera

menyadari bahwa ini adalah sepasang kaki wanita, yang tentunya milik seorang perempuan yang

cantik jelita.

Ma Ji-liong sekarang teringat bahwa dia belum sempat melihat wajah gadis penjual bunga tersebut

di dalam gang gelap itu. Tak tahan lagi dia pun menghela napas.

“Apakah dia sudah mati?”

“Tampaknya begitu.”

“Apakah kau yang membunuhnya?”

Toa-hoan menjawab dengan acuh tak acuh, “Dia selalu memandang rendah pada diriku, dia

mengira bahwa dia lebih baik dariku dan bisa mengalahkanku kapan saja. Asal melihatnya, aku

pasti lari. Itulah yang membuat dirinya menganggap enteng padaku.”

Meremehkan musuh selalu merupakan kesalahan yang tak bisa dimaafkan.

Toa-hoan berkata dengan tenang, “Dia memandang rendah pada diriku, itulah sebabnya aku masih

bisa berdiri tegak sementara dia sudah ambruk. Bagiku, dia sama saja sudah mati.”

Ma Ji-liong terpaksa bertanya sekali lagi, “Kau bilang, dia sama saja sudah mati?”

“Hmm.”

“Jadi dia sebenarnya belum mati?”

“Kenapa kau tidak melihat sendiri?” Gadis itu tersenyum misterius. “Lihatlah baik-baik.”

Agar bisa dilihat, lembaran kain itu pun harus disingkap. Ma Ji-liong lalu menyingkapnya dan

segera melepaskannya kembali secara mendadak, wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan jantungnya

berdebar-debar semakin keras. Walaupun dia belum melihat dengan jelas, dia tidak berani melihat

lagi.

Di balik kain itu adalah tubuh seorang gadis yang telanjang bulat sama sekali. Dia belum pernah

melihat seorang perempuan dengan tubuh yang seindah dan wajah yang secantik itu. Jika

perempuan seperti dia benar-benar sudah mati, hal ini benar-benar patut disayangkan.

Toa-hoan bertanya lagi, “Lihatlah. Apakah dia sudah mati?”

Ma Ji-liong tidak tahu.

Toa-hoan berkata, “Kau cuma melihatnya sepintas, tentu saja kau tidak tahu apakah dia sudah mati

atau tidak. Tapi kau tentu bisa melihat bahwa perempuan secantik dia itu adalah langka.”

Ma Ji-liong mengakui hal itu.

Toa-hoan berkata, “Kalau begitu, seharusnya kau tahu bahwa dia masih hidup.”

“Kenapa begitu?” Ma Ji-liong bertanya.

Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata, “Karena dia benar-benar terlalu cantik. Aku tidak tega

membiarkan dia mati. Meskipun aku sangat ingin membunuhnya, tapi aku tidak tega.”

Ma Ji-liong menghela napas.

Toa-hoan bertanya, “Kenapa kau menghela napas?”

Ma Ji-liong berkata, “Bagaimana kau bisa menemukan dia?”

Sambil menghela napas sekali lagi, Ma Ji-liong lalu meneruskan, “Aku sudah melihatnya, dan aku

yakin bahwa dia masih hidup. Tapi aku malah semakin bingung.”

Toa-hoan bertanya, “Bingung kenapa?”

Ma Ji-liong berkata, “Apakah aku mengenalnya?”

“Tidak,” jawab Toa-hoan.

Ma Ji-liong bertanya, “Lalu apa hubungan dia denganku?”

“Sekarang memang belum ada hubungannya,” jawab Toa-hoan.

Ma Ji-liong berkata, “Lalu kenapa kau membawaku untuk bertemu dengannya?”

Toa-hoan berkata, “Karena meskipun kalian berdua belum ada hubungannya, tapi nanti pasti ada.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”

Senyuman Toa-hoan menjadi makin misterius. Dia berkata, “Ada hal-hal yang belum bisa

kuceritakan kepadamu saat ini, tapi aku berjanji, apa pun yang kuingin kau lakukan, kau tidak akan

menyesalinya.”

Ma Ji-liong bertanya, “Apa yang sekarang sudah kau rencanakan untukku?”

“Aku hendak membawamu untuk bertemu seorang lagi,“ kata Toa-hoan.

Ma Ji-liong bertanya, “Siapa dia?”

Toa-hoan menjawab, “Seorang laki-laki yang amat menyukaimu, dan agaknya kau pun

menyukainya.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana kau tahu kalau aku menyukainya?”

Toa-hoan menjelaskan, “Asalkan orang berjumpa dengannya, sangat sulit bagi orang itu untuk tidak

menyukainya.”

Segera Ma Ji-liong teringat pada seorang laki-laki yang tidak sulit untuk disukai orang lain dan dia

pun berkata, “Kanglam Ji Ngo?”

Toa-hoan berkata, “Siapa lagi kalau bukan dia?”

Ma Ji-liong bertanya, “Dia juga ada di sini?”

“Ada di sisi sana,” jawab Toa-hoan.

Ma Ji-liong bertanya, “Apa yang sedang dia lakukan?”

Toa-hoan tertawa dan berkata, “Seumur hidupmu, kau tidak akan bisa menebak apa yang sedang dia

kerjakan.”

Bab 14: Tiada Ampunan

Pertama kalinya Ma Ji-liong melihat Ji Ngo, Ji Ngo sedang memasak makanan. Banyak orang yang

memasak setiap harinya di dunia ini, jadi memasak bukanlah hal yang aneh. Tapi bila Kanglam Ji

Ngo yang memasak di dapur, orang-orang pasti akan merasa kagum.

Tapi tempat ini adalah kamar mayat, bukan rumah makan atau sebuah dapur.

“Jika kau bisa menebak apa yang sedang dia lakukan, aku akan menghormatimu.”

“Aku tidak ingin kau menghormatiku. Aku tidak bisa menebak.”

“Dia sedang menyisir rambut.”

Menyisir rambut pun bukanlah hal yang aneh. Kanglam Ji Ngo tentu saja menyisir rambutnya

sendiri seperti yang dilakukan orang lain. Tapi ternyata dia bukan sedang menyisir rambutnya

sendiri. Dia sedang menyisir rambut orang lain. Dia sedang menyisir rambut seorang perempuan tua

yang hampir semua giginya sudah ompong.

Di sebuah kamar di seberang sana, entah sejak kapan tahu-tahu sudah menyala sebuah lampu.

Seorang perempuan tua sedang duduk di bawah cahaya lampu. Dia memakai baju merah, kelihatan

seperti seorang pengantin yang mengenakan gaun sulam merah. Salah satu kakinya sedang

diangkat, dan dia mengenakan sepasang sepatu sutera berwarna merah cerah. Wajahnya penuh

dengan kerutan. Jumlah giginya juga lebih sedikit daripada seorang bocah berumur dua tahun. Tapi

rambutnya masih hitam mengkilap, persis seperti sutera hitam.

Orang akan tercengang bila melihat Kanglam Ji Ngo sedang menyisir rambut seorang perempuan

tua seperti ini. Gerakan menyisirnya sama seperti gerakan waktu dia sedang menggoreng makanan,

indah dan mempesona. Tidak ada bedanya apakah dia sedang memegang sudip atau sisir.

Bagaimana pun juga dia adalah Kanglam Ji Ngo, Kanglam Ji Ngo yang tiada duanya itu.

Meskipun Ma Ji-liong tidak bisa menebak kenapa dia menyisir rambut perempuan tua itu, atau

kenapa Toa-hoan membawanya untuk melihat hal ini, dia mulai merasa heran. Agaknya Ji Ngo

tidak melihat kedatangan mereka. Apa pun yang dia lakukan, dia selalu melakukannya dengan hati

dan jiwanya. Itulah sebabnya dia melakukannya lebih baik daripada orang lain.

Saat itu dia menggunakan sebuah jepit rambut yang hitam dan panjang untuk membuat sanggul

rambut yang rapi buat perempuan itu, dan dia pun mengagumi karyanya sendiri sembari

melakukannya. Memang itulah sebuah karya yang bagus, bahkan Ma Ji-liong pun harus

mengakuinya. Perempuan tua itu menjadi tampak lebih muda puluhan tahun. Ji Ngo menutup

matanya sebentar, dan ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang dibelai oleh kekasihnya.

“Kau benar-benar tidak ada tandingan. Benar-benar tidak ada orang yang bisa dibandingkan

denganmu.” Suara perempuan itu terdengar parau, tapi orang masih bisa merasakan betapa merdu

dan lembutnya suara itu di masa mudanya dulu. Dia menghela napas dengan perlahan dan berkata,

“Jika ilmu kungfumu bisa setengah saja dari keahlian menata rambutmu, kau pasti akan

menaklukkan dunia.”

Ji Ngo tergelak, “Untunglah, aku tentu saja tidak ingin menaklukkan dunia.”

“Kenapa tidak?”

“Karena jika seseorang berhasil menaklukkan dunia, hari-harinya tentu akan menjadi sangat

membosankan.”

Perempuan tua itu tertawa terbahak-bahak. Lalu dia berkata, “Aku suka padamu. Aku benar-benar

menyukaimu. Meskipun kau tidak menata rambutku, kurasa aku tetap akan melakukannya

untukmu.”

Siapakah perempuan tua ini? Ji Ngo ingin dia melakukan apa? Saat keinginan-tahu Ma Ji-liong

semakin membesar, Toa-hoan malah menariknya keluar.

“Sekarang kau tentu sedang bingung. Kau tidak tahu apa yang hendak kulakukan.”

“Apakah rencanamu? Siapa lagi yang akan kita temui kali ini?”

Toa-hoan berkata, “Kita akan melihat ‘orang dalam lukisan’.” Lalu dia meneruskan, “Meskipun kau

seratus kali lebih cerdik daripada sekarang, kau pasti tidak akan bisa menebak identitasnya.”

Sebuah lampu sedang menyala di kamar sebelah, terlihat sebuah lukisan di atas dinding. Itulah

lukisan seorang laki-laki setengah baya yang tampaknya amat jujur.

Ma Ji-liong belum pernah melihat orang ini. Atau kalau pun pernah, dia pasti tidak ingat lagi.

Orang seperti ini bukannya tidak berharga untuk diingat, tapi dia memang tidak akan meninggalkan

kesan yang mendalam di hati orang lain.

“Dia bermarga Thio. Namanya Thio Eng-hoat. Dia adalah orang yang amat jujur dan baik hati. Dia

membuka sebuah toko kelontong kecil di kota, bersama seorang pembantu yang hampir sama

jujurnya dengan dia sendiri.”

Toa-hoan menjelaskan tentang orang dalam lukisan itu, “Dia terlahir pada tahun Babi, dan tahun ini

dia berusia empat puluh empat tahun. Ketika berumur sembilan belas tahun, dia menikah dengan

seorang perempuan bernama Ong Kui-ci. Perempuan itu pemarah dan jatuh sakit karena dia tidak

bisa punya anak. Semakin timbul amarahnya, maka makin menjadi sakitnya. Terakhir sakitnya

menjadi begitu parah, sehingga dia harus berbaring saja di tempat tidur dan si tua Thio yang harus

memberinya makan. Setelah sakit yang teramat parah ini, perangainya yang buruk malah semakin

menjadi-jadi. Tidak satu pun tetangga yang tahan mendengar ocehannya.”

Tiba-tiba dia berhenti dan bertanya pada Ma Ji-liong, “Apakah kau mendengarkan dengan jelas?”

Ma Ji-long memang mendengar uraiannya dengan jelas, tapi dia tetap merasa bingung. Dia tidak

bisa membayangkan kenapa Toa-hoan membawanya untuk melihat lukisan ini dan menjelaskan

tentang laki-laki dalam lukisan itu secara begitu terperinci.

Tentu saja dia pun akhirnya bertanya, “Jadi laki-laki ini ada hubungannya denganku?”

“Begitulah.”

“Bagaimana mungkin dia punya hubungan denganku?”

“Karena orang ini adalah kau.” Agaknya Toa-hoan tidak sedang bergurau. “Kau adalah dia, dan dia

adalah kau.”

Ma Ji-liong merasa sangat lucu, begitu lucunya sehingga dia hampir bergulingan di lantai sambil

tertawa sampai perutnya sakit. Sayangnya tidak ada suara tawa yang keluar. Karena dia tahu bahwa

Toa-hoan tidak sedang bergurau. Dia pun tidak gila.

Maka dia pun bertanya, “Orang bernama Thio Eng-hoat ini adalah aku?”

“Tepat sekali.”

“Sedikit pun dia tidak mirip denganku.”

“Tapi kau akan segera mirip dengannya, sangat mirip dengannya. Bahkan aku bisa mengatakan,

persis seperti dia.”

“Sayangnya aku tidak bisa merubah diriku sendiri.”

“Kau tidak bisa, tapi orang lain bisa melakukannya untukmu.”

Toa-hoan tiba-tiba bertanya, “Tahukah kau kenapa Ji Ngo menata rambut perempuan muda itu?”

Ma Ji-liong berkata, “Perempuan itu tidak muda lagi. Tampaknya dia sudah tua.”

Anehnya Toa-hoan tidak setuju dengannya. “Dia tidak tua. Dia perempuan muda. Ada orang yang

bisa hidup sampai berusia 180 tahun. Jadi dia masih terhitung muda.”

“Apakah dia orang seperti itu?”

“Benar.” Toa-hoan meneruskan, “Jika bukan begitu, takkan ada orang seperti itu di dunia ini.”

“Kenapa bisa demikian?”

“Karena dia bermarga Giok (1).”

Ma Ji-liong akhirnya teringat pada seseorang, “Apakah dia ada hubungannya dengan Giok-hujin

yang termasyur sejak 60 tahun lalu itu?”

Toa-hoan menjawab, “Dialah Giok-hujin. Dialah Giok-jiu Ling-long, Giok Ling-long.”

—–

(1) Giok = batu giok, kemala

Bab 15: Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long

Mulai bab 15 ini, ceritanya berasal dari buku yang diterjemahkan oleh Gan K.H., yaitu Harkat

Pendekar. Kontributor: adis (dewira).

——————————————————————————-

Enam puluh tahun yang lalu, di dunia kangouw ada tiga pasang tangan manusia yang terkenal dan

dikagumi, yaitu Bu-ceng-thiat-jiu, Sin-tho-biau-jiu dan Ling-long-giok-jiu.

Thiat-jiu-bu-ceng (Tangan Besi Tidak Kenal Ampun), setiap beroperasi tidak ada korban yang

hidup meskipun hanya sekejap saja.

Biau-jiu-sin-tho (Maling Sakti Bertangan Lincah), barang apa saja yang tidak mungkin dicuri orang

lain, dengan mudah dapat diambilnya.

Giok-jiu-ling-long (Tangan Kumala Ahli Operasi), tidak ada orang tahu, sepasang tangan ini dapat

melakukan apa saja yang sebetulnya tidak masuk akal, kenyataannya ia justru dapat menciptakan

sesuatu yang aneh dan ganjil, namun nyata. Dalam jangka setengah jam, seseorang bisa dirubah

bentuk wajahnya menjadi orang lain oleh keprigelan kedua tangannya itu.

Ilmu tata rias dan ilmu operasi yang dikuasainya sedemikian bagus dan sempurna, kecuali Toa-sinthong

Biau-hoat-thian-ong dari Persia, tiada orang kedua di Tionggoan yang dapat menandinginya.

—————00000——————–

Sekarang Ma Ji-liong paham, “Ji Ngo mau menyisir rambutnya karena hendak meminta bantuannya

memproses diriku menjadi Thio Eng-hoat, begitu?”

“Betul.”

“Kalian memilih tempat ini karena kaum persilatan tiada yang berkeliaran di sini?”

“Betul.”

“Para petugas itu pura-pura bisu, tuli, dan buta karena mereka memerlukan bantuan Ji Ngo, maka

mereka memberi kesempatan kepadanya?”

“Betul, memang demikian.”

“Aku difitnah sebagai pembunuh kejam, sudah kepepet, dan tidak bisa mungkir, maka kalian

berdaya upaya untuk menyelamatkan diriku?”

“Tidak benar,” tukas Toa-hoan tegas, suaranya berat dan serius. “Ji Ngo percaya kepadamu,

prihatin akan nasibmu, aku pun mempercayai dirimu, kami yakin kau difitnah, dijadikan kambing

hitam. Kami juga sadar, watakmu angkuh, tidak gampang membujukmu merendahkan diri menjadi

majikan sebuah toko serba ada yang tiada artinya.”

Lama Ma Ji-liong menepekur tanpa suara. Darahnya mendidih, tenggorokannya tersumbat, agak

lama kemudian dia baru bertanya dengan serak, “Kenapa kau percaya kepadaku?”

“Seseorang pembunuh di kala buron, jiwa sendiri susah diselamatkan, mana mungkin mau

menyelamatkan jiwa orang lain yang terpendam di bawah salju, menolong seorang gadis jelek yang

hampir mati kaku kedinginan. Maka aku percaya di balik persoalan ini pasti ada lika-liku yang patut

diselidiki.”

Ma Ji-liong tidak bicara, perasaannya sukar dilukiskan dengan rangkaian kata.

Toa-hoan berkata pula, “Kau harus percaya, keadilan dan kebenaran masih tegak di dalam dunia,

kejahatan harus ditumpas, muslihat keji juga harus dibongkar, akan datang saatnya fitnah atas

dirimu akan terungkap, hal ini hanya soal waktu saja.” Perlahan ia menggenggam tangan Ma Jiliong,

lalu menambahkan, “Yang penting kau yakin, demi membongkar kejahatan ini, sudilah kau

merendahkan derajatmu sementara.”

Ma Ji-liong masih termenung beberapa kejap, mendadak ia bertanya, “Di mana letak toko serba ada

itu?”

“Di sebuah gang sempit di kota sebelah barat, langgananmu adalah penduduk sekitarnya, mereka

adalah rakyat jelata dari kalangan sedang dan rendah, semua berhati baik dan sederhana, keluargakeluarga

yang cukup untuk sesuap nasi setiap hari, penduduk di sana jarang mau mencampuri

urusan orang lain,” Toa-hoan menjelaskan, kemudian sambungnya lebih lanjut, “Pegawaimu she

Thio, orang lain memanggilnya Lo-thio, kadang ia mencuri satu dua cawan arak di kamarnya, tetapi

pegawai yang dapat dipercaya penuh.”

“Apakah ia tak curiga bila majikannya ganti orang lain?”

“Mata Thio-lausit sudah lamur, kupingnya juga agak tuli.”

“Umpama Lo-thio tidak mengenal perbedaanku, bagaimana dengan orang lain?”

“Orang lain?” Toa-hoan balas bertanya sambil tertawa geli. “Maksudmu bininya yang sakit-sakitan

itu?”

Ji-liong tertawa getir, tanyanya pula, “Orang macam apakah dia?”

Toa-hoan tertawa, katanya, “Sebetulnya kau sudah pernah melihat dan mengenalnya.”

“Aku pernah melihat dan mengenalnya? Kapan aku pernah melihatnya?”

“Barusan bukankah kau sudah melihatnya?”

Ma Ji-liong melenggong, “Jadi gadis yang hampir mati tadi adalah…… adalah……” mendadak Jiliong

sadar salah omong, cepat ia menambahkan, “Apakah gadis tadi akan dijadikan isteri Thio

Eng-hoat?”

“Sebetulnya bukan, tapi tak lama lagi akan diproses menjadi isteri Thio Eng-hoat, demikian pula

dirimu, nanti setelah dioperasi akan menjadi Thio Eng-hoat tulen.”

“Siapakah dia sebetulnya?”

Toa-hoan terpekur, agaknya sulit memberi penjelasan, sikapnya jelas tak ingin memberi keterangan.

Tapi Ma Ji-liong mendesak, “Orang macam apakah dia? Urusan sudah berlarut sejauh ini, kau

masih main rahasia terhadapku?”

Toa-hoan menarik napas panjang, katanya, “Ya, kalau aku masih main rahasia, rasanya memang

keterlaluan.”

Ma Ji-liong diam.

“Ia she Cia bernama Giok-lun, lengkapnya Cia Giok-lun,” demikian Toa-hoan menerangkan.

“Ya, aku sudah tahu.”

“Dia seorang perempuan.”

“Memangnya aku tidak bisa membedakan laki-laki atau perempuan?”

Toa-hoan tertawa getir, katanya, “Kau pasti tahu aku sengaja mengulur waktu. Terus terang saja,

aku tidak tahu betapa banyak urusan yang harus kuterangkan kepadamu.”

“Ya, berapa banyak yang akan kau beritahu kepadaku?”

Setelah termenung sejenak, Toa-hoan berkeputusan, “Baiklah, biar kujelaskan kepadamu. Tahun ini

dia berusia 19 tahun, mungkin belum pernah menyentuh atau disentuh laki-laki.”

“Apa betul berusia 19 tahun?”

“Memangnya kau kira dia sudah nenek-nenek?”

“Kalau betul berusia 19 tahun, padahal ilmu silatnya setinggi itu, tembok ditabraknya ambrol,

kekuatan sedahsyat itu, laki-laki berusia 91 tahun juga belum tentu mampu melakukannya!”

“Ilmu silatku tidak asor dibandingkan dia, apa kau kira aku sudah tua?”

Terkancing mulut Ma Ji-liong. Umpama dirinya goblok juga takkan berani mengatakan gadis jelek

ini sudah tua.

Toa-hoan berkata, “Ilmu silat tidak diyakinkan secara serampangan, tinggi rendahnya lwekang

seorang ahli silat tidak ada sangkut pautnya dengan usia dan besar kecilnya umur.”

“Aku mengerti.”

“Ilmu silatnya memang tinggi, para enghiong dan pendekar yang kau kenal di zaman ini, yakin

tidak genap sepuluh orang yang mampu mengalahkan dia. Ia punya seorang guru yang baik, guru

jempolan, lihai, sejak keluar dari rahim ibunya sudah belajar dan latihan silat.”

“Siapakah gurunya?” tanya Ma Ji-liong.

“Aku hanya berjanji menjelaskan perihal pribadinya, bukan tentang gurunya.”

“Baiklah, aku tidak tanya gurunya.”

“Tabiat nona itu tidak baik, maklum nona pingitan yang disayang, dalam segala hal ingin menang

dan minta diladeni secara berlebihan, jika mendadak ia sadar dan tahu dirinya menjadi bini seorang

pemilik toko serba ada yang kecil di kampung jorok di pinggir kota, mungkin dia bisa jadi gila.”

“Celaka kalau gilanya kumat, pemilik toko serba ada itu mungkin bisa digorok lehernya. Hal ini

perlu kuperhatikan karena pemilik toko serba ada itu adalah diriku.”

Toa-hoan tertawa manis, katanya lembut, “Tentang hal itu tak perlu kuatir, dia tidak akan

menggorok lehermu.”

“Bagaimana kau tahu dia tidak akan berlaku kasar terhadapku?”

“Ingat, dia sedang sakit, makin lama penyakitnya makin parah hingga sepanjang hari rebah di

ranjang, berdiri pun tidak bisa.”

Jago silat kosen yang mampu menjebol tembok dengan langkah seenaknya, bagaimana mungkin

mendadak jatuh sakit? Ma Ji-liong bukan laki-laki yang suka rewel, tidak suka bertanya, hatinya

sudah membayangkan bagaimana datangnya penyakit itu. Kepandaian Toa-hoan cukup mampu

membuat seseorang jatuh sakit dan itu bukan pekerjaan yang sukar.

Ma Ji-ling berkata, “Kelihatannya dia tidak mirip bini seorang pemilik toko.”

“Saat ini tidak mirip, sebentar lagi akan persis, kutanggung dia akan berubah persis bentuk aslinya.”

“Apa betul Giok Ling-long punya kemampuan selihai itu?”

“Betapa besar kemahirannya, boleh kau buktikan sendiri.”

Ma Ji-liong menghela napas, katanya, “Sebetulnya aku sih tidak ingin melihatnya.”

“Bila dia sadar nanti, dirinya sudah rebah di ranjang dalam kamar besar yang terletak di belakang

toko serba ada itu.”

“Dan aku?”

“Sebagai suami, kau harus merawat dan menjaganya di pinggir ranjang, kalian adalah suami isteri

yang hidup rukun belasan tahun lamanya.”

Ji-liong menyengir kecut, katanya, “Wah, bisa geger dan dia mungkin akan mencaci maki diriku.”

“Sudah pasti dia akan ribut, kau harus bersikap lebih sayang dan prihatin karena kesehatan isterimu

makin buruk. Binimu itu she Ong bernama Kwi-ci. Sudah 18 tahun kalian menikah, tanpa

dikaruniai anak seorang pun. Apa pun yang ia katakan, keributan apa saja yang ia lakukan, kau

harus sabar, menjaga, dan meladeninya dengan penuh pengertian.”

“Bila aku membandel, berkata bahwa ia adalah isteriku sejak 18 tahun lalu, ia pasti bingung dan

heran, bertanya-tanya dalam hati, siapa dia sebenarnya.”

“Syukur kau sudah mengerti.”

“Masih ada satu hal yang tidak kumengerti.”

“Coba jelaskan.”

“Aku tidak kenal siapa dia, tidak pernah bermusuhan, kenapa dia harus kuperlakukan demikian?”

“Karena kejadian ini amat berguna bagi dirimu, juga bermanfaat untuknya, dua pihak sama-sama

mendapatkan keuntungan. Kurasa hanya dengan cara begini kau bisa mencuci bersih fitnah itu,

membongkar muslihat keji ini,” sikap Toa-hoan menjadi serius, nada perkataannya tegas dan tulus.

“Aku tahu sebagai pemuda jumawa, perbuatan yang merugikan orang lain ini tak sudi kau lakukan,

kali ini anggaplah kau bekerja karena aku, demi diriku. Aku percaya padamu, maka paling sedikit

kau juga harus percaya kepadaku. Lakukan apa yang telah kami atur dan rencanakan ini.”

Ma Ji-liong tidak bicara lagi, dia memang jumawa, tidak mau berhutang budi kepada orang lain.

Tentang perbuatannya ini, setelah kejadian usai, apakah fitnah terhadap dirinya dapat dicuci bersih,

hakikatnya tidak terpikir lagi olehnya.

Apa yang dilakukan Ma Ji-liong biasanya memang bukan untuk kepentingan pribadinya. Umpama

ada orang bertanya kepadanya, “Orang macam apakah kau ini?” Jawabannya pasti berbeda dengan

sebelum Ji-liong mengalami musibah. Setiap orang yang pernah mengalami siksa derita dan

gemblengan hidup yang nyata, baru akan mengenal dirinya sendiri, maka ia bertanya, “Sekarang

apa yang harus kulakukan?”

“Kau harus minum. Sekarang akan kusuguh arak kepadamu,” Toa-hoan tertawa lebar. “Ji Ngo di

sini, kau juga di sini. Kalau kalian tidak diberi kesempatan minum sepuas-puasnya, bukankah aku

ini tidak tahu diri?”

—————000000————

Di belakang kedua deret rumah itu terdapat rumah besar tunggal yang letaknya agak jauh.

Wuwungan rumah berbentuk serong, tembok berwarna kelabu gelap. Siapa pun yang berada di

tempat ini akan merasa seram dan bergidik.

Dilihat dari luar, dari bentuknya, orang akan membayangkan bahwa rumah besar ini adalah gudang

mayat. Di dalam gedung inilah para petugas membedah mayat yang terbunuh, maka orang akan

membayangkan di sana terdapat berbagai jenis alat dan perkakas, berbagai jenis pisau, juga ada

ganco yang karatan, jarum, benang, dan masih banyak lagi benda-benda yang tak terpikir oleh

orang.

Namun bila sudah masuk dan berada di dalam rumah itu, jalan pikiran akan berbalik berubah.

Di luar dugaan, rumah ini amat bersih, luas dan bercahaya, dinding bagian dalam putih bersih, jelas

tidak lama baru dikapur. Meja dilembari taplak putih. Di meja ini tersedia enam menu masakan dan

enam guci arak ukuran sedang. Empat guci diantaranya tersegel rapat, isinya adalah Sian-yang, dua

guci yang lain adalah Li-ji-ang yang beratnya dua puluh kati.

Orang biasa bila melihat arak sebanyak itu, belum minum pun sudah mabuk.

Ma Ji-liong bukan orang biasa, terutama dalam hal minum meminum. Setiap melihat arak hatinya

amat getol. Minum dan mabuk-mabukan memang bukan perbuatan baik, tapi berhadapan dengan Ji

Ngo, kalau tidak minum, lebih baik menjahit mulut sendiri saja. Kali ini Ma Ji-liong akan membalas

meloloh Ji Ngo hingga mabuk, ia sudah berkata dalam hati akan membatasi minum.

Ji Ngo sedang mengawasinya dengan senyum lebar, seolah sudah dapat menerka apa yang terpikir

di dalam benaknya.

“Aku tahu kau gemar minum Li-ji-ang, sayang di tempat ini sukar memperoleh Li-ji-ang lebih dari

dua guci.”

“Sian-yang juga arak bagus.”

“Mari kita habiskan dulu Li-ji-ang baru dilanjutkan dengan Sian-yang,” Ji Ngo tampak gembira,

tawanya lebar. “Satu orang satu guci, setelah habis satu guci, minum arak lain juga akan sama.”

“Satu orang satu guci,” ujar Ma Ji-liong ke arah Toa-hoan, “Dia bagaimana?”

“Hari ini aku tidak minum,” Toa-hoan berkata dengan tertawa, “Giok-toasiocia memberi tahu

kepadaku, perempuan kalau minum banyak bukan saja lekas tua, juga mudah ditipu orang.”

Ma Ji-liong menghela napas, ia maklum apa yang dipikir tadi tiada harapan dan tak mungkin

terlaksana.

——————00000————-

Giok-toasiocia bukan lain adalah Giok Ling-long.

Giok Ling-long berda di rumah besar itu, duduk di depan sebuah meja. Meja besar dan panjang. Di

atas meja menggeletak sebuah mainan jade dan sebuah kotak perak, belasan kaleng bundar yang

terbuat dari perak murni. Di pinggir meja terdapat sebuah baskom besar yang juga terbuat dari

perak.

Dalam baskom berisi air hangat, Giok Ling-long menurunkan tangan ke dalam baskom untuk

mengukur suhu panas air, apakah sesuai dengan kebutuhan Toa-siocia yang satu ini. Meski sudah

lanjut usia, sudah patut menjadi nenek, tapi gaya dan gerak-geriknya tidak kelihatan tua. Apalagi

dipandang dari belakang, gerak kaki maupun tangan, kepala maupun sekujur badannya, demikian

pula kerlingan matanya tetap terlihat muda dan manis serta luwes. Bila lebih diperhatikan, maka

akan terasa dia belum tua, bukan nenek peyot. Ya, harus maklum karena Giok ling-long tidak

pernah merasa dirinya tua.

“Silakan minum sepuasnya, aku akan mulai bekerja,” demikian kata Giok Ling-long dengan

tertawa, “Aku tidak pernah minum arak, tapi tidak pernah pula melarang orang minum arak. Aku

malah senang melihat orang minum.”

Toa-hoan tertawa, katanya, “Biasanya aku pun demikian, melihat orang minum jauh lebih nikmat

daripada aku sendiri yang minum.”

Giok Ling-long sependapat, katanya, “Ada orang mabuk yang mengoceh tidak karuan, membuat

ribut dan brengsek, tapi ada juga orang mabuk yang menjadi patung malah, sepatah kata pun tidak

mau bicara. Ada juga orang mabuk yang menangis, ada yang tertawa ngakak, aku jadi geli dan

senang melihat tingkah lakunya yang lucu.” Mendadak dia bertanya kepada Ma Ji-liong,

“Bagaimana keadaanmu setelah mabuk?”

“Aku tidak tahu,” Ma Ji-liong menjawab. Memang tiada orang tahu bagaimana keadaan diri sendiri

waktu mabuk. Seseorang bila mabuk pikirannya seperti meninggalkan badan. Setelah sadar akan

merasa lidahnya terbakar, tenggorokannya kering, kepala pusing. Persoalan apa pun dilupakan,

persoalan yang harus diukir dalam sanubari dilupakan, sebaliknya persoalan yang harus dilupakan

justru terukir di dalam sanubarinya.

Giok Ling-long tertawa, katanya, “Sejak muda sampai setua ini usiaku, hanya pernah kulihat dua

pria yang betul-betul cakap dan tampan. Kau adalah salah satu diantaranya. Aku percaya umpama

sudah mabuk tampangmu msih kelihatan bagus.”

Ji Ngo bergelak tawa, serunya, “Bagaimana keadaannya setelah mabuk, sebentar dapat kau saksikan

sendiri.”

Kali ini Ma Ji-liong bertahan lebih lama baru mulai sinting. Setelah habis tiga guci baru betul-betul

mabuk. Sambil minum ia memperhatikan gerak-gerik Giok Ling-long.

Setelah merendam sepasang tangannya di air panas dalam baskom, lalu diambilnya handuk kecil

untuk mengeringkan telapak tangannya. Dari sebuah kotak perak ia mengeluarkan sebilah pisau

lengkung kecil lalu mulai membersihkan kuku jari.

Apa pula isi peti perak itu?

Setelah membersihkan kuku, dari tujuh delapan kaleng yang berbeda-beda di atas meja itu, ia

menuang tujuh delapan jenis obat yang berbeda warna. Ada puyer, ada cairan seperti minyak, ada

kuning dan kelabu, ada juga yang berbuih biru. Tujuh delapan bahan obat yang berbeda itu ia tuang

ke dalam baskom yang lebih kecil lalu diaduk dengan sendok perak.

Ma Ji-liong tahu ramuan obat itu merupakan persiapan pertama untuk mengubah bentuk wajah

orang. Melakukan kerja apa pun kalau sebelumnya sudah dipersiapkan secara teliti dan baik, buah

karyanya tentu amat bermutu.

Setelah tiga guci arak masuk ke perut Ma Ji-liong, pikirannya mulai kabur, “Giok Ling-long pandai

merias wajah orang, yang jelek menjadi cantik, yang tua menjadi muda demikian pula sebaliknya.

Kenapa dia tidak merias wajah sendiri? Mengubah dirinya menjadi nona jelita?”

Seperti dapat meraba jalan pikiran Ma Ji-liong saja, Giok Ling-long berkata, “Aku hanya bekerja

untuk orang lain, tak pernah bekerja untuk diriku sendiri.” Sembari tertawa ia melanjutkan,

“Sebabnya, umpama aku berubah menjadi muda, katakanlah berhasil menipu orang lain, tetap tidak

bisa menipu diriku sendiri.” Suaranya menjadi tawar, lalu menyambung dengan suara keras, “Kerja

untuk membohongi orang lain bisa kukerjakan, menipu diri sendiri aku emoh melakukannya.”

Sembari bicara tangannya merogoh peti perak. Ia mengeluarkan beberapa jenis alat dan perkakas

yang semuanya terbuat dari perak. Ada gunting, pisau, obeng, dan sekop kecil, ada juga gergaji

mini.

Untuk apa ia mempersiapkan alat-alat itu?

Kalau Ji-liong belum mabuk, masih segar bugar, melihat perkakas yang dipersiapkan untuk

mengoperasi dirinya, mungkin dia akan cepat-cepat kabur alias angkat langkah seribu. Sayang

badannya lunglai oleh pengaruh arak yang ada di perutnya. Keadaan Ma Ji-liong sudah hampir

mabuk. Satu kejadian yang masih sempat terlintas dalam benaknya adalah jari-jari Giok Ling-long

meraba, memijat, dan mengelus wajahnya. Tangan orang terasa halus, dingin, gerakannya lincah

lagi lembut.

Bab 16: Toko Serba Ada

Bentuk rumah itu terlalu rendah, lelaki bertubuh tinggi kalau mengulur tangan bisa menjakau langitlangit

rumah. Kapur dinding juga sudah luntur, di dinding tengah yang menghadap pintu luar

tergantung sebuah papan ukiran yang menggambarkan Kwan Kong berduduk sambil membaca

buku Jun-jiu. Di pinggirnya tergantung kertas panjang yang memuat tata tertib kehidupan keluarga

menurut tradisi kuno yang ditulis Cu-hucu. Di sisi lain adalah tulisan berisi petuah bagi manusia

untuk hidup rukun, jujur, dan bajik, serta bertakwa kepada Thian. Gaya tulisannya amat kuat dan

indah dengan model kuno lagi, merupakan tulisan yang tinggi nilainya.

Rumah pendek itu hanya ada satu jendela dan satu pintu. Di pintu dipasang kain tirai biru yang

sudah luntur warnanya. Sebuah meja segi delapan terbuat dari kayu merah kelihatan sudah tua dan

kotor ternyata masih berguna dan diletakkan di seberang pintu.

Di atas meja ditaruh sebuah poci teh yang mulutnya sudah gumpil separuh, tiga cawan kecil berjajar

di depan poci. Di sebelah atas bagian belakang meja terdapat sebuah altar pemujaan yang masih

kelihatan rapi dan terpelihara–yang dipuja bukan Kwan-te-kun, tetapi Koan-im Hudco yang

membopong orok kecil gendut dan mungil.

Di pojok kamar bertumpuk tiga peti kayu. Di pojok lain ada sebuah meja rias yang kelihatannya

tidak terpakai karena berdebu, kacanya kotor dan buram, sisir yang terbuat dari kayu juga sudah

patah sebagian besar.

Kecuali itu hanya ada sebuah ranjang. Ranjang besar terbuat dari kayu berukir dengan empat batang

galah di keempat kakinya sebagai penyangga kelabu. Di atas ranjang tempat tidur terdapat seorang

perempuan–tubuhnya ditutup tiga lapis selimut tebal yang terbuat dari kapas.

Rambut perempuan ini kusut masai. Mukanya kuning pucat. Kelihatannya amat kuyu lagi kurus dan

lemas. Kalau sedang tidur terdengar mulutnya merintih-rintih.

Udara dalam rumah berbau obat yang beraroma tebal. Di luar ada seorang perempuan bermulut

tajam dengan suaranya yang melengking sedang mengomel panjang pendek. Katanya telur yang

dijual oleh toko ini kecil-kecil, demikian pula minyak goreng yang dia beli kemarin bercampur air,

garam juga lebih mahal dari yang ia beli di pasar.

—————-00000——————

Waktu Ma Ji-liong terjaga dari pulasnya, ia mendapatkan dirinya berada di tempat itu. Semula ia

mengira dirinya sedang bermimpi, kecuali bermimpi orang seperti dirinya mana mungkin berada di

tempat seperti itu. Untungnya, meski pengaruh arak belum hilang sepenuhnya, kepalanya juga

masih pusing, namun pikirannya sudah segar. Lekas sekali ia maklum apa yang terjadi dan di mana

sekarang dirinya berada.

Reaksi pertama yang dilakukan Ma Ji-liong setelah sadar adalah melompat berdiri dari kursi malas

di mana barusan ia tertidur lelap. Ia bergegas menghampiri meja rias serta membersihkan kaca

dengan lengan bajunya. Ji-liong merasakan jari jemarinya dinging dan gemetar.

Bagaimana hasil operasi Giok Ling-long atas mukanya? Lumrah kalau Ji-liong ingin lekas tahu

berubah macam apa wajahnya sekarang.

Yang terbayang dalam cermin buram itu bukan lagi wajah aslinya yang dulu, tetapi wajah Thio

Eng-hoat seperti yang pernah ia lihat di gambar itu. Ma Ji-liong mengucek-kucek matanya,

akhirnya ia yakin bayangan dalam cermin memang betul adalah wajah Thio Eng-hoat–bukan wajah

Ma Ji-liong lagi.

Seseorang bercermin di depan kaca, wajah yang terbayang di cermin ternyata wajah orang lain,

bagaimanakah perasaan hatinya? Bagi yang belum pernah mengalami kejadian seperti ini mimpi

pun takkan pernah membayangkan apa yang terkandung di dalam hatinya. Dalam hal ini jarang Ma

Ji-liong mengagulkan dir, tetapi kenyataannya memang demikian–siapa pun mengakui bahwa Ma

Ji-liong adalah seorang pemuda berwajah tampan. Entah mereka yang membenci dirinya atau

merasa dengki dan iri karena kalah tampan dan gagah, namun mereka harus bertekuk lutut

menghadapi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Dalam keadaan seperti ini mau tidak mau Jiliong

bertanya-tanya dalam hati, “Kelak apakah wajahku bisa dipulihkan seperti semula?”

Sudah tentu Ji-liong tidak bisa menjawab pertanyaan yang membuatnya khawatir. Hatinya gregetan

dan gegetun setengah mati karena kenapa sebelum ini tidak bertanya langsung kepada Toa-hoan

atau Giok Ling-long.

————–00000—————-

Suara ribut di luar sudah tak terdengar. Mungkin perempuan cerewet itu sudah pulang. Sementara

itu perempuan yang tidur di ranjang masih terlelap dalam mimpi. Besar rasa ingin tahu Ma Ji-liong.

Ia ingin melihat wajah perempuan yang tidur di atas ranjang. Begitu berdiri di pinggir ranjang,

seketika ia berjingkat mundur saking kagetnya.

Apa betul perempuan bermuka pucat dan kuning, berbadan kurus dan kuyu tanpa cahaya sedikitpun

ini, betul adalah gadis cantik rupawan bertubuh montok padat dan semampai yang pernah diintipnya

di kamar mayat di balaikota waktu itu?

Ma Ji-liong tahu bahwa dirinya sudah divermak sedemikian rupa, namun tak urung hatinya masih

kaget dan takut.

Kalau perempuan ini bangun nanti, mendadak tahu dirinya tidur di ranjang dan di tempat asing,

tahu pula dirinya sudah berubah rupa, entah apa yang akan dilakukannya.

Ma Ji-liong mulai bersimpati terhadapnya.

————–00000————-

Kini Thi Eng-hoat yang sau ini sudah bertemu dengan dirinya sendiri, melihat keadaan rumah

tinggalnya, dan menyaksikan isterinya yang sakit-sakitan di ranjang.

Toko serba ada macam apa pula toko miliknya ini? Orang macam apa pula Thio-lausit–pegawainya

yang jujur dan setia itu? Ji-liong ingin melihat sendiri pembantunya itu.

Dinamakan toko serba ada karena toko ini menjual dan menyediakan bahan sandang-pangan.

Dalam toko penuh berbagai jenis barang, dari keperluan dapur sampai keperluan sehari-hari. Ada

minyak, garam, kecap, cuka, beras, gula, telur ayam, telur bebek, telur asin, udang kering, permen,

sabun, jarum, benang, pisau, gunting, paku, kertas, alat-alat tulis juga lengkap. Setiap bahan yang

dibutuhkan untuk kehidupan keluarga dapat dibeli di toko serba ada ini. Di atas pintu rumah

tergantung sebuah papan merk yang dihiasi empat huruf gaya tegak ‘Thio-ki-jay-hwe’.

Di depan pintu terdapat sebuah gang–jalan kampung yang tidak begitu lebar. Bila angin menghebus

kencang, debu dan pasir berterbangan. Bila datang hujan, jalanan menjadi becek. Para tetangga

kanan kiri adalah keluarga miskin. Anak-anak ingusan tanpa pakaian ataupun kalau berpakaian juga

tidak genah–tidak lengkap, berkeliaran di jalan, berkelahi, menangis, dan ribut. Kotoran ayam,

bebek, anjing, dan kucing ada di mana-mana. Di depan setiap rumah sepanjang gang sempit itu

bergantungan pakaian orok atau popok bayi dan baju orang tua yang dijemur matahari.

Di tempat seperti itu, dalam lingkungan keluarga yang serba kurang, kecuali menimang anak, boleh

dikata tiada kerja lain untuk mengisi waktu dan menghibur kehidupan ini.

Para enghiong atau orang gagah yang berkecimpung di dunia persilatan pasti tak akan sudi datang

ke tempat sejorok ini.

Mimpi pun M Ji-liong tak akan menyangka dirinya bakal berubah begini nasibnya–menjadi juragan

sebuah toko kecil di sebuah kampung miskin.

———-00000————

Thio-lausit bertubuh pendek kurus. Gerak-geriknya selambat babi hamil yang kurang makan. Wajah

bulat dengan sepasang mata yang selalu mengantuk, seperti tidak pernah tidur pulas. Hidungnya

menonjol merah seperti terong.

Terhadap taoke atau majikannya, sikap Thio-lausit tidak sopan, tidak mau menggubrisnya, kalau

tidak ditanya tidak akan bicara, menjawab juga hanya seperlunya saja, tingkah lakunya kaku, segan

bicara karena selalu mengantuk. Sewaktu Ma Ji-liong beranjak keluar, jangan kan menyapa, melirik

pun ia malas.

Maklum, di toko serba ada yang serba kotor dan jorok begini, memangnya kenapa kalau kau adalah

majikan dan aku hanya kuli? Bagaimanakah tata krama sepantasnya? Yang pasti majikan atau kuli

sama-sama mencari sesuap nasi. Kalau bisa makan saja sudah cukup, kenapa pula harus banyak

peradatan membedakan tinggi rendah segala?

Setelah berputar-putar dalam toko atau jelasnya mengadakan pemeriksaan ala kadarnya, Ma Ji-liong

malah merasa puas. Seandainya Thio-lausit itu cerewet, suka menjilat majikan umpamanya, justru

dirinya akan kikuk, takkan lama hidup begini.

Kemanakah Thio Eng-hoat dan bininya–pemilik asli toko serba ada ini? Mungkin Ji Ngo sudah

mengatur hidup mereka secara rapi dan baik. Hidup mereka pasti akan lebih baik, tenteram, dan

bahagia.

Maka Ma Ji-liong bertanya-tanya dalam hati, “Hidup dalam keadaan seperti ini, berapa lama aku

bisa bertahan di sini?”

——————–00000—————–

Pembeli datang, ternyata seorang nyonya muda yang bunting tua membeli satu kilo gula merah.

Ma Ji-liong sedang memperhatikan keadaan di luar sambil menggendong tangan ketika mendadak

ia berjingkat kaget oleh jeritan yang memilukan. Walaupun suaranya tidak keras, tetapi selama

hidup belum pernah Ma Ji-liong mendengar jeritan gugup, panik, dan ketakutan seperti itu.

Ternyata Cia Giok-lun sudah terjaga dari pulasnya. Ia tentu telah melihat perubahan yang terjadi

pada dirinya–perubahan yang menakutkan.

Hampir saja Ma Ji-liong tidak berani masuk menengoknya.

Didengarnya nyonya muda yang besar perutnya itu menggerutu sambil menggeleng kepala,

“Penyakit Laupan-nio (isteri juragan) kelihatannya makin berat saja.”

Ma Ji-liong hanya tersenyum getir. Lekas ia menyingkap tirai dan menyelinap masuk. Tampak Cia

Giok-lun sedang meronta bangun, sorot matanya tampak kaget, gugup, juga ngeri. Sukar bagi Ma

Ji-liong melupakan mimik wajahnya waktu itu–gusar, panik, dan takut sehingga suaranya serak.

Begitu Ji-liong masuk ia melolot dan menatap dengan pandangan curiga, “Siapa kau? Tempat apa

ini? Kenapa aku ada di sini?”

“Ini kan rumahmu, sudah delapan belas tahun kau tinggal di sini. Aku kan suamimu, masa suami

sendiri sudah tidak dikenal lagi?” Ma Ji-liong sendiri merasa sewaktu bicara dirinya seperti musang

mencuri ayam yang ketahuan oleh pemiliknya. Tapi ia harus bicara dan menanggapinya dengan

wajar, “Kulihat penyakitmu makin berat, biar aku mencari tabib untuk memeriksa penyakitmu.”

Cia Giok-lun mengawasinya dengan mata terbelak. Tidak ada orang yang bisa melukiskan

bagaimana mimik matanya. Bagaimana perasaannya saat itu.

Nyonya muda yang perutnya besar itu mendadak melongok ke dalam sambil menyingkap tirai.

Katanya sambil menghela napas, “Mungkin suhu badan Laupan-nio amat tinggi, maka mengoceh

tak keruan. Seduhkan wedang jahe dicampur gula merah dan lekas diminumkan!”

Belum habis ia berbicara, mendadak Cia Giok-lun meraih sebuah mangkok yang terletak di atas

meja kecil di pinggir ranjang. Sekuat tenaga ia timpukkan ke sana. Mungkin karena sakitnya berat,

tenaga lemah, mangkok sekecil itu tidak kuat ia lemparkan. Keruan saja ia lebih panik–lebih takut

hingga sekujur badannya gemetar. Padahal ia tahu betapa tinggi ilmu silatnya–sampai dimana taraf

lwekang yang ia yakini, namun sekarang kemanakah ilmu silat yang dimilikinya selama ini?

Sambil menghela napas dan menggeleng kepala, nyonya muda yang hamil tua itu mengeret mundur

lalu beranjak pulang. Dalam jangka waktu setengah jam, para tetangga sudah tahu dan mendenger

berita bahwa sakit bini Thio-laupan (juragan Thio) semakin parah aja–mungkin sudah menjadi gila.

Cia Giok-lun memang hampir gila. Waktu melihat tangannya sendiri, tangan dengan jari-jari putih

halus terpelihara itu kini telah berubah menjadi kering, kusut, dan kasar seperti cakar ayam.

Bagaimana dengan anggota badannya yang lain?

Perlahan ia masukkan tangan ke dalam selimut. Sejenak ia celingukan, dilihatnya cermin tembaga

di atas meja rias. Sekuat tenaga ia meronta miring lalu merangkak ke pinggir ranjang mendekati

cermin itu. Begitu melihat wajahnya sendiri di depan cermin, seketika ia menjerit lalu semaput.

Perlahan-lahan Ma Ji-liong berjongkok membersihkan pecahan mangkok yang hancur di lantai–

kalau sebagai Ma Ji-liong, ia segan melakukan hal seperti ini. Dia menampar muka dan mulutnya

sendiri delapan belas kali di hadapan bininya lalu membeberkan persoalan sebenarnya kepada nona

Cia yang terpaksa ikut berkorban karena dirinya.

Tapi ia sadar tidak boleh mengingkari kepercayaan Toa-hoan kepada dirinya. Toa-hoan percaya

kepadanya, sudah sepantasnya ia juga percaya kepada Toa-hoan. Bahwa Toa-hoan sampai berbuat

demikian tentu punya makna yang mendalam, tujuan yang baik, juga berguna untuk semua pihak.

Ma Ji-liong menarik napas panjang. Perlahan ia melangkah ke pintu, melongok keluar lalu memberi

pesan kepada pegawainya, “Hari ini kita tutup toko lebih dini.”

Bab 17: Tidak Ada Yang Tidak Dilakukan

Malam itu Ma Ji-liong hanya makan nasi dengan lauk ikan goreng lombok, satu macam menu saja,

ada satu mangkuk kuah tulang daging babi juga tersedia di meja, semangkuk kuah ini untuk bininya

yang sakit.

Bininya digotong ke atas ranjang dan diselimuti, sudah sadar, tapi rebah diam tidak bergerak,

matanya melotot mengawasi langit-langit rumah.

Habis makan Ma Ji-liong merasa iseng, ia duduk santai di kursi malas yang terbuat dari rotan di sisi

ranjang. Otaknya memikirkan banyak persoalan, mengenang masa lalu, segala kejadian dan

perbuatan dirinya di masa lalu yang patut dibanggakan.

Apa betul perbuatannya dulu patut ia lakukan? Pantaskan diagulkan dan membuatnya bangga?

Manusia dengan manusia, kenapa terdapat jurang pemisah sebesar itu? Kenapa ada sementara orang

hidup dalam kemelaratan? Kenapa ada juga orang yang hidup berkelebihan?

Ji-liong sadar, jika bisa memperpendek jarak antara manusia dengan manusia itu, barulah patut

berbangga diri. Di sinilah letak kemajuan Ma Ji-liong, setelah merasakan, bisa meresapi, jika

sekarang ia masih hidup dalam lingkungan lama, pasti tidak pernah Ma Ji-liong berpikir sejauh dan

seluas ini.

Dalam mengarungi hidup, jika manusia mengalami proses hidup yang tidak menyenangkan,

menderita pukulan lahir batin, bukankah kejadian itu langsung membawa manfaat bagi dirinya?

Toa-hoan berbuat demikian terhadap Cia Giok-lun, apakah lantaran sebab itu juga? Teringat akan

hal ini, perasaan Ma Ji-liong menjadi lega malah, gejolak hatinya jauh lebih tenteram.

Ia yakin, meski belum pernah mengenal pribadi gadis ini, Cia Giok-lun pasti seorang gadis yang

suka berbangga hati, gadis ini memang mempunyai nilai tinggi untuk membanggakan diri.

Entah sejak kapan Cia Giok-lun mengawasi dirinya, lama menatapnya. “Coba ulangi sekali lagi,”

demikian pintanya dengan nada datar.

“Apa yang harus kuulangi?” tanya Ma Ji-liong.

“Katakan, kau siapa dan aku siapa?”

“Aku bernama Thio Eng-hoat, kau bernama Ong Kwi-ci.”

“Kita adalah suami isteri?”

“Ya, suami isteri sejak 18 tahun yang lalu, sejak menikah kita tinggal di sini membuka toko serba

ada, dagang kecil-kecilan hingga sebesar ini, lumayan. Para tetangga di kampung ini siapa yang

tidak kenal kau dan aku?” Ma Ji-liong menghela napas, lalu berkata pula, “Mungkin kau merasa

kehidupan ini serba kekurangan, sudah bosan dan sebal tinggal di rumah bobrok ini, maka ingin

melupakan pengalaman hidup masa lampau.” Ma Ji-liong berganti nada, “Sebenarnya kehidupan

begini juga ada baiknya, paling sedikit kita hidup tenteram dan berkecukupan meski sederhana,

hanya sayang kita tidak punya anak.”

Cia Giok-lun mendengar sambil menatapnya lekat. “Dengarkan,” katanya kemudian dengan nada

tegas. “Aku tidak tahu dan tidak kenal kau siapa, juga tidak tahu apa yang telah terjadi atas diriku,

tapi aku yakin kejadian ini kau lakukan karena disuap atau diperalat orang lain untuk membuatku

celaka begini.”

“Siapa yang membuatmu celaka? Kenapa membuatmu celaka?”

“Apa betul kau tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya?”

Ma Ji-liong memang tidak tahu, tapi dia bertanya, “Kau kira kau ini siapa?”

Cia Giok-lun menyeringai dingin, katanya, “Kalau kau tahu siapa diriku, kau bisa mati saking

kagetnya.” Nadanya tinggi mengandung rasa bangga dan jumawa, “Aku putri malaikat, tiada

perempuan di dunia ini yang bisa menandingi aku, setiap saat aku bisa membuatmu kaya raya, tapi

juga bisa membunuhmu. Oleh karena itu, lekas kau antar aku pulang, kalau tidak akan datang suatu

hari aku akan mengiris tubuhmu untuk dimakan anjing.”

Gadis ini memang jumawa, terlalu membanggakan diri, tidak pandang sebelah mata kepada orang

lain, jiwa raga orang lain tidak berharga sama sekali, kecuali dirinya, jiwa siapa pun tidak ada

nilainya. Perempuan galak dan bawel seperti ini memang pantas dihajar adat, biar merasakan sedikit

derita, biar kapok, kejadian ini akan membawa manfaat bagi dirinya.

Ji-liong menghela napas, katanya, “Penyakitmu kumat lagi, lekas tidur saja.” Setelah melontarkan

ucapannya, baru Ji-liong sadar, masalah tidur menjadi persoalan bagi dirinya. Di dalam rumah itu

hanya ada satu ranjang, di mana ia harus tidur malam ini?

Tentu Cia Giok-lun juga memikirkan hal ini, mendadak ia berteriak, “Awas, berani kau tidur di sini,

berani kau menyentuh aku, aku akan…. aku akan…..” Ia tak meneruskan omongannya.

Bahwasanya ia takkan berbuat apa pun terhadap gadis yang berdiri pun tidak kuat, kalau Ma Jiliong

mau berbuat kasar dan main kekerasan, jelas gadis ini takkan mampu melawan.

Untung Ma Ji-liong tidak berbuat apa-apa terhadapnya. Ma Ji-liong memang pemuda yang tulus

lagi bijak, tidak sia-sia namanya menjulang tinggi dalam percaturan dunia persilatan, hakikat

seorang pendekar memang melekat pada dirinya.

Ma Ji-liong adalah laki-laki sejati, sehat lagi kuat dan normal, pernah melihat wajah dan tubuhnya

yang polos semampai, tahu bahwa gadis ini rupawan lagi jelita. Dalam kamar yang remang-remang,

di atas ranjang yang tertutup kain mori…… Pandangan sekilas itu terukir dalam relung hatinya,

seumur hidup takkan terlupakan. Tapi Ma Ji-liong adalah Ma Ji-liong, pendekar muda, harkat

pendekar melekat pada pribadinya, maka Ma Ji-liong tidak berbuat apa-apa, tindakan maupun

perkataan.

Walau jalan pikirannya sudah berubah, sekarang Ma Ji-liong sadar dirinya tidak perlu

membanggakan diri seperti dulu, tapi ada sementara perbuatan yang tak mungkin mau ia lakukan,

umpama memaksa dengan mengancam akan membunuhnya juga pantang ia lakukan. Hal ini saja

patut membuat dirinya bangga.

—————————-ooo00ooo————————–

Hidup ini berkembang, berlalu dari hari ke hari, dari minggu menjadi bulan, lambat laun Cia Gioklun

menjadi betah dan tenang, meski tanpa kerja dan hanya berbaring saja di atas ranjang dengan

tenteram dan damai, hanya tidak bisa bergerak atau turun dari ranjang. Maklum, bila seorang

menghadapi kenyataan apa boleh buat, siapa pun akan menerima nasib secara penuh kesabaran,

penuh pengertian. Memangnya mau apa kalau tidak sabar, apa yang bisa dilakukan, umpama

menjadi gila, ribut dan bergulingan di tanah, kecuali nekad menumbukkan kepala ke tembok untuk

bunuh diri.

Lalu bagaimana dengan Ma Ji-liong selama ini?

Tata kehidupan ini jelas bertolak belakang dibanding kehidupannya sebagai anak hartawan, sebagai

pendekar muda yang gagah terkenal, kini hidup terpencil dalam sebuah rumah, setiap hari

mendampingi wanita yang tidak bisa berbuat apa-apa, malah harus meladeninya dengan penuh

kesabaran, putus hubungan dengan orang-orang yang ia kenal, dengan keluarganya. Orang-orang

yang dulu ia pandang rendah dan bodoh serta miskin, sekarang ia temukan gambaran lain di balik

kemiskinan mereka yang bijak lagi sederhana itu.

Datang saatnya ia juga merasa risau lagi bebal, bosan dan murung, ingin keluar mencari berita,

pergunjingan apa yang telah terjadi di Kangouw selama ini, ingin pergi mencari Toa-hoan dan Ji

Ngo. Sayang dalam keadaan dirinya sekarang, meski keinginan teramat besar dan susah dibendung,

namun orang lain tidak mengizinkan ia berbuat demikian. Karena ia juga sadar bahwa dirinya

sekarang adalah Thio Eng-hoat, walau bukan Thio Eng-hoat tulen.

————————ooo00ooo————————–

Beberapa hari ini, secara beruntun menjelang maghrib, tokonya kedatangan seorang pembeli. Orang

yang membuka toko jamak kalau kedatangan pembeli yang membutuhkan sesuatu untuk keperluan

hidup sehari-hari. Tapi lain dengan pembeli yang satu ini, pembeli aneh, karena setiap datang selalu

membeli dua puluh butir telur ayam, dua kilo kertas merang, dua kilo garam dan sekati arak beras

merah.

Adalah lumrah bila orang punya duit setiap hari makan telur, tapi jarang ada orang yang makan dua

puluh butir telur setiap hari, untuk apa pula dua kilo kertas merang dan garam, siapa pun pasti akan

menaruh perhatian dan prasangka. Kejadian ini memang aneh dan mencurigakan, tapi pembeli itu

justru tidak merasa aneh. Telur ayam, kertas merang, garam dan arak adalah barang biasa untuk

keperluan sehari-hari. Pembeli itu seorang laki-laki berperawakan tinggi agak kurus dengan muka

legam, tak ubahnya lelaki umumnya, hanya sikap dan tindak-tanduknya saja yang kelihatan agak

gelisah, gugup dan keletihan.

Hingga pada suatu hari, tepatnya pada hari kedelapan, kebetulan nyonya muda yang hamil tua juga

melihatnya di depan toko. Setelah pembeli aneh itu pergi, baru nyonya muda hamil tua itu bertanya

dengan setengah berbisik kepada Ma Ji-liong, “Siapakah orang ini? Belum pernah aku melihatnya?”

Sejak itu baru Ma Ji-liong menaruh perhatian.

Nyonya muda itu dilahirkan dan dibesarkan di kampung ini, setiap penduduk di kampung ini ia

kenal dengan baik. Dasar perempuan yang satu ini memang cerewet, maka ia bertanya lagi dengan

nada tegas, “Eh, siapakah dia? Laki-laki ini pasti bukan penduduk asli, dulu pasti tak pernah datang

ke mari. Entah kalau penduduk baru yang pindah belum lama ini.”

————————-ooo00ooo————————-

Diam-diam Ma Ji-liong menaruh perhatian terhadap pembeli yang misterius ini, memperhatikan

secara seksama. Sebetulnya Ma Ji-liong tidak berpengalaman dan tidak mahir membuat

penyelidikan, apalagi mencari tahu asal-usul orang lain. Tuan muda yang dilahirkan dari keluarga

besar dan kaya raya seperti dirinya, biasanya jarang dan bukan kegemarannya untuk mencari tahu

hal-ihwal orang lain. Kalau memerlukan suatu keterangan, cukup memberi perintah pada orang

untuk mencari tahu, kapan pula ia pernah turun tangan sendiri. Tapi dari pengamatan yang cermat,

apalagi setelah beberapa bulan hidup prihatin, Ji-liong mendapatkan beberapa titik persoalan yang

ganjil pada laki-laki langganannya yang baru ini.

Perawakan laki-laki itu kurus tinggi, tapi tangan dan kakinya luar biasa kasar dan kuat. Waktu

mengambil barang dan mengulurkan uang, selalu bergerak ragu-ragu tetapi cepat dan tangkas,

seperti ingin menyembunyikan tangannya yang panjang dan besar, maksudnya supaya orang tidak

memperhatikan tangannya, tapi justru tingkah-lakunya yang takut-takut ini malah menarik perhatian

Ma Ji-liong.

Setiap hari menjelang maghrib, di saat penduduk sekitarnya siap makan malam, saat itu jarang ada

penduduk di luar atau berlalu-lalang di jalanan.

Perawakan lelaki ini memang tinggi, satu kepala lebih tinggi dari Ma Ji-liong, kakinya kekar, kasar

lagi kuat, lengannya bergerak enteng, setiap datang hampir tidak terdengar langkah kakinya, tahutahu

orangnya sudah berdiri di depan toko. Sore hari itu kebetulan turun hujan, jalan kampugn

becek dan licin, tapi sepatu rumput laki-laki ini tidak kelihatan kotor seperti sepatu orang lain yang

berjalan di tanah becek.

Musim dingin sudah lewat, musim semi pun menjelang, tapi hawa masih terasa dingin. Orang lain

masih memakai baju tebal, tapi laki-laki ini hanya berpakaian tipis saja, namun tidak kelihatan

kedinginan.

Betapapun Ma Ji-liong pernah berkecimpung di Kangouw, meski belum lama dan tak banyak

pengalaman, namun berdasarkan beberapa kenyataan itu, ia menarik kesimpulan bahwa lelaki ini

pasti pernah meyakinkan ilmu silat, malah ilmu silat yang hebat dan lihai, sepasang telapak

tangannya kasar, mungkin pernah meyakinkan Thi-soa-ciang, Ilmu Pukulan Pasir Besi, atau

sejenisnya.

Seorang jago Bulim setiap hari membeli telur ayam, kertas, garam dan arak untuk keperluan apa?

Kalau menyembunyikan diri dari pengejaran musuh yang menuntut balas kepadanya, rasanya tidak

perlu setiap hari membeli barang-barang itu.

Jika anak buah Ji Ngo yang diutus ke sini untuk menjaga dan melindungi Ma Ji-liong berdua,

rasanya tidak perlu melakukan langkah-langkah yang bisa mengundang perhatian orang.

Mungkinkah Khu Hong-seng, Coat-taysu dan lain-lain sudah tahu adanya gejala-gejala tidak normal

di toko serba ada ini, maka mengirimkan anak buah untuk mengawasi gerak-geriknya?

Kalau betul demikian, kan tidak perlu membeli dua puluh butir telur ayam dan dua kilo kertas dan

garam setiap harinya?

Beberapa persoalan ini sukar mendapatkan jawabannya. Persoalan yang tidak bisa dimengerti lebih

baik tak usah dipikir, tapi Ma Ji-liong mulai tertarik oleh kejadian ini.

Setiap orang pasti menaruh perhatian terhadap sesuatu menurut kesenangannya, demikian pula Ma

Ji-liong dan Cia Giok-lun pun tak terkecuali, lama-kelamaan ia pun tahu adanya pembeli aneh

setiap maghrib yang mencurigakan itu, maka suatu petang Cia Giok-lun bertanya, “Orang yang

kalian bicarakan itu, apa betul seorang laki-laki?”

“Sudah tentu laki-laki.”

“Mungkinkah samaran perempuan?” tanya Cia Giok-lun.

“Tidak mungkin, pasti lelaki tulen.”

Walaupun bukti sudah di depan mata, Ma Ji-liong sudah berkenalan langsung dengan keajaiban tata

rias, tapi ia percaya lelaki pembeli garam itu pasti bukan perempuan yang menyamar.

Dilihatnya Cia Giok-lun memperlihatkan rasa kecewa.

Ma Ji-liong merasa pertanyaan orang agak aneh, maka ia balas bertanya, “Kenapa kau tanya dia laki

atau perempuan? Kau mengharap pembeli itu seorang perempuan?”

Lama Cia Giok-lun diam tidak memberi jawaban. Setelah menghela napas, baru dia berkata, “Kalau

perempuan, mungkin sekali sedang berusaha menolong aku.”

Mengapa kalau pembeli itu perempuan, maka akan menolong dirinya?

Ma Ji-liong tidak bertanya, ia hanya berkata tawar, “Delapan belas tahun kau menikah dengan aku,

selama ini aku baik terhadapmu, kenapa orang lain harus menolongmu dan membawamu pergi?”

Cia Giok-lun melotot gemas setiap membicarakan hal ini, sorot matanya memancarkan derita,

dendam dan kebencian. Bila terjadi perubahan pada mimik dan sikap perempuan yang satu ini, Ma

Ji-liong lekas menyingkir, tidak tega dan kasihan, tidak berani ia bertatap muka dan beradu pandang

dengannya.

————————ooo00ooo—————————-

Suatu malam, belum lama setelah laki-laki misterius itu datang membeli keperluan yang itu-itu

juga, nyonya muda yang hamil tua itu datang lagi dengan langkahnya yang gontai seperti bebek,

sikapnya kelihatan tegang lagi gugup, tapi juga bangga. “Aku sudah tahu, aku sudah tahu,”

napasnya sedikit memburu. “Aku tahu di mana orang itu tinggal.”

Sungguh heran, Thio-lausit yang biasanya tak banyak mulut dan tidak mau mencampuri urusan

orang lain, kali ini bertanya, “Dia tinggal di mana?”

“Tinggal di rumah To Po-gi,” nyonya muda itu menerangkan. “Dengan mata kepalaku sendiri

kulihat dia masuk ke sana.”

To Po-gi adalah kepala opas di wilayah kampung itu, kabarnya dulu pernah berlatih silat, tapi dia

sendiri tidak pernah bilang atau mengagulkan diri, tidak ada orang yang pernah melihat ia berlatih

silat. Ia menempati sebuah rumah setengah permanen yang cukup besar menurut ukuran rumah

penduduk di sekitarnya, rumahnya bertembok dengan genteng merah.

Seorang kepala opas tentu punya banyak kawan, pergaulan luas. Kalau ada teman yang tinggal di

rumahnya, sepatutnya tak perlu dibuat heran. Tapi keluarga To Po-gi hanya terdiri dari suami-isteri

saja tanpa anak, ditambah seorang tamu, umpama tiap hari mampu menghabiskan dua puluh butir

telur ayam, rasanya tak mungkin makan dua kilo garam. Isteri To Po-gi juga bukan pedagang

makanan atau mengerjakan sesuatu yang memerlukan garam sebanyak dua kilo setiap harinya, dua

kilo garam cukup membuat tiga orang itu kering menjadi ikan asin.

Nyonya muda itu berkata pula, “Tadi sengaja aku bermain ke rumah To Po-gi dan berbincangbincang

dengan isterinya, dari depan aku berkeliling ke belakang, namun bayangan orang itu tidak

kelihatan, padahal jelas aku melihat dia masuk ke rumah itu. Secara bisik-bisik aku bertanya pada

bini To Po-gi, untuk apa setiap hari orang itu membeli dua kilo garam? Entah kenapa, dengan suatu

alasan yang kurang wajar, To Po-gi mendadak mengajak ribut mulut dengan bininya. Tanpa

mendapat jawaban, terpaksa aku mengeluyur pulang.”

Thio-lausit hanya mendengarkan, mendadak dia bertanya pada perempuan itu, “Hari ini kau tidak

membeli gula merah?”

“Hari ini aku tidak membeli apa-apa.”

“Juga tidak membeli kecap?”

“Kecapku belum habis.”

Thio-lausit menarik muka, katanya, “Kalau begitu, kenapa tidak lekas kau pulang tidur saja?”

Nyonya muda itu berkedip-kedip matanya, sejenak berdiri melongo, tanpa bicara lagi lekas ia

mengeluyur pulang.

Thio-lausit bersiap menutup toko, mulutnya menggerundel, “Mencampuri urusan orang lain tidak

baik. Aku paling benci melihat tampang yang suka mencampuri urusan orang lain.”

Ma Ji-liong mengawasinya, mendadak ia menemukan sesuatu yang aneh pada orang jujur ini, untuk

pertama kalinya Ma Ji-liong merasakan adanya keanehan pada Thio-lausit yang jujur dan setia ini.

Bab 18: Orang Yang Makan Garam

Seperti biasanya, malam itu Ma Ji-liong menggelar tikar untuk tidur di lantai di pinggir ranjang.

Tapi dia tidak bisa tidur.

Agaknya Cia Giok-lun juga tidak bisa tidur, mendadak ia bersuara, “He, kau belum tidur?”

“Hampir saja pulas, tapi belum tidur.”

Orang yang sudah tidur mana mungkin diajak bicara.

“Kenapa kau tak bisa tidur?” Cia Giok-lun bertanya. “Apa kau sedang memikirkan persoalan orang

itu?”

“Persoalan apa?” sengaja Ma Ji-liong balas bertanya.

“Bila opas itu pernah meyakinkan ilmu silat, mengapa kau tidak menduga kalau dulu ia seorang

begal atau penjahat besar? Orang yang tiap hari membeli garam itu adalah komplotannya,

kehadirannya di sini mungkin sedang merencanakan sesuatu?”

“Maksudmu melakukan kejahatan? Apa sangkut-pautnya dengan membeli garam?” bantah Ma Jiliong.

“Apa pula sangkut-pautnya dengan kita?”

“Siapa tahu dia menaksir tokomu dan akan merampoknya habis, membeli garam hanya untuk

mencari tahu seluk-beluk tokomu ini.”

Tak tahan Ma Ji-liong bertanya, “Ada barang penting atau berharga apa di toko kita yang harus

direbut orang lain?”

“Hanya ada satu.”

“Satu yang mana?”

“Akulah yang mereka incar.”

“Kau kira mereka hendak merebut atau menculik dirimu?” Kali ini Ma Ji-liong tidak bisa tertawa,

karena ia maklum rasa kuatir Cia Giok-lun memang beralasan.

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas, katanya, “Mungkin kau memang tidak tahu siapa aku

sebenarnya, tapi kau harus percaya, jika aku jatuh ke tangan kawanan penjahat itu……..” Suaranya

menjadi lemah, lidah seperti kaku, seolah-olah membayangkan akibat yang mengerikan, sorot

matanya tampak panik dan takut. Sesaat lamanya baru ia mendesah pula, “Selama ini aku tidak

habis pikir, kenapa kau berbuat begini terhadapku, tapi setelah hidup bersama dalam rumah ini

sekian bulan, aku juga sudah melihat dan tahu, kau bukan orang jahat, sukalah kau menolong aku

mencari tahu asal-usul orang itu.”

“Bagaimana aku harus mencari tahu asal-usulnya?” tanya Ma Ji-liong.

Mendadak Cia Giok-lun tertawa dingin, katanya, “Kau kira aku tidak tahu bahwa kau juga pandai

silat, umpama betul kau adalah pemilik toko serba ada ini, dulu kau pasti pernah berkecimpung di

Kangouw, mungkin seorang terkenal di Bulim, aku menilai ilmu silatmu tidak rendah.”

Ji-liong menunduk bungkam. Seorang pesilat kosen yang sudah belasan tahun berlatih ilmu silat,

banyak segi dan kondisi yang berbeda dengan orang biasa. Ia percaya apa yang dikatakan Cia Gioklun

memang benar, setiap hari orang selalu memperhatikan gerak-geriknya. Maklum Cia Giok-lun

memang benar, setiap hari orang selalu ia perhatikan, tiada buku yang dapat ia baca di rumah ini.

Cia Giok-lun menatapnya sekian lama, lalu katanya, “Kalau kau tidak melaksanakan permintaanku

ini, aku akan……..”

“Kau akan apa?”

“Sejak saat ini aku akan mogok makan dan minum, yang pasti aku sudah tidak ingin hidup tersiksa

seperti ini.”

Akal bagus dan tepat. Sudah tentu Ma Ji-liong tidak akan membiarkan dia mati kelaparan.

“Bagaimana?” desak Cia Giok-lun.

“Kapan aku harus melakukannya?”

“Sekarang, sekarang juga harus kau lakukan,” sejenak ia berpikir, lalu menambahkan, “Kau harus

berganti pakaian hitam, menutup kepala dengan kain hitam pula. Jika jejakmu ketahuan orang dan

dia mengejarmu, jangan langsung lari pulang. Aku tahu kau pun tidak suka kalau asal-usulmu

diketahui orang, benar tidak?” Ternyata perempuan ini juga paham lika-liku kehidupan kaum

persilatan.

Cia Giok-lun berkata lebih lanjut, “Kau harus bekerja menurut petunjukku, aku sendiri belum

pernah berbuat seperti apa yang kuanjurkan tadi, tapi ahli Kangouw mengajarkan dan memberi

petunjuk kepadaku.” Setelah menghela napas ia menyambung, “Aku rela dan tinggal diam selama

ini di atas ranjang yang menyebalkan ini, dengan satu tekad: apa yang terjadi, apa yang kualami ini,

akan datang suatu hari nanti seorang pasti datang menjelaskan kejadian sebenarnya, maka jangan

kau biarkan orang lain mencariku. Kalau kau abaikan peringatanku, kita berdua bisa mati konyol.”

Ma Ji-liong hanya mendengarkan, hanya tertawa getir. Selama hidup belum pernah ia bertindak

sembunyi-sembunyi, tapi kali ini harus bekerja secara diam-diam macam panca-longok saja.

————————-ooo00oo—————————

Larut malam.

Keluarga miskin, karena kerja keras di siang hari, umumnya penduduk kampung beristirahat lebih

dini. Kecuali menghemat minyak, juga untuk mengejar hiburan, menikmati kesenangan yang bisa

dilakukan di dalam rumah gelap, tanpa merogoh kantong. Mungkin juga ada berbagai alasan lain,

maka mereka selalu tidur pagi-pagi.

Jalan kampung yang sempit panjang itu gelap gulita tiada lampu, juga tak ada orang lewat. Sesekali

hanya terdengar anjing menggonggong dan kucing brengsek yang lagi bermain cinta.

Dengan Ginkang yang tinggi Ma Ji-liong keluar dari toko serba ada, pakaiannya ketat serba hitam,

dengan kain penutup kepala hitam pula, yang kelihatan hanya sepasang matanya saja.

Menetap tiga bulan lebih di kampung itu, Ma Ji-liong pernah juga keluyuran ke rumah tetangga,

maka ia tahu di mana letak rumah To Po-gi. Rumah To Po-gi dibangun dengan batu bata dan

genteng merah, seluruhnya ada lima bangunan rumah, tiga terang dua gelap, namun lampu sudah

dipadamkan. Di belakang rumah ada pekarangan yang tidak begitu besar, di sebelah kiri pekarangan

ada dapur, ada gudang kayu, di bagian tengah ada sebuah sumur.

Hampir empat bulan lamanya Ma Ji-liong tidak pernah latihan, malam ini ia mengembangkan

Ginkangnya yang tinggi, dengan seksama memeriksa dari luar hingga ke belakang rumah To Po-gi.

Tapi tiada sesuatu yang ditemukan, tiada yang menarik perhatian, suara apa pun tidak terdengar.

Isteri To Po-gi masih muda, segan ia mengintip kamar tidur orang dari jendela. Setelah yakin tiada

sesuatu yang berhasil diselidiki, segera ia pulang ke rumah.

——————————-ooo00ooo————————–

Cia Giok-lun belum tidur, matanya masih terbuka lebar, melotot mengawasi langit-langit rumah

yang gelap, ia menunggu dengan penuh kesabaran. Dengan terbelalak ia mendengar laporan Ma Jiliong,

lalu menghela napas, katanya kemudian, “Aku keliru. Tadi aku bilang kau terkenal, sekarang

baru aku sadar dugaanku ternyata keliru. Kenyataannya kau masih hijau, tidak paham seluk-beluk

dan segi kehidupan kaum persilatan.”

Sebetulnya Cia Giok-lun tidak keliru. Seorang ternama belum tentu kawakan Kangouw, kawakan

Kangouw belum tentu terkenal.

Ma Ji-liong tidak ingin berdebat, pokoknya dia sudah pergi melaksanakan tugas, memberi

keterangan sesuai kenyataan.

Ternyata Cia Giok-lun tidak puas, ia menganggap Ma Ji-liong belum menunaikan tugasnya dengan

baik, maka ia berkata, “Tempat yang tidak perlu diperiksa sudah kau periksa, tempat yang harus kau

perhatikan justru kau abaikan.”

“Tempat apa yang harus kuperiksa?” tanya Ma Ji-liong.

“Kau sudah memeriksa dapur?” tanya Cia Giok-lun.

“Tidak,” Ma Ji-liong tidak mengerti. “Di dapur tidak ada orang, kenapa aku harus memeriksa

dapur?”

“Kau harus periksa apakah dapur masih digunakan, apakah tungkunya masih hangat.”

Ma Ji-liong bingung, tidak habis mengerti. Dapur digunakan untuk memasak atau tidak, apa

sangkut-pautnya dengan persoalan ini?

Cia Giok-lun berkata, “Pernahkah kau memeriksa sumur itu? Apakah sumur itu berair?”

“Kenapa sumur itu harus kuperiksa.”

“Karena dapur yang tidak dipakai, sumur yang tidak ada airnya adalah tempat bagus untuk

bersembunyi. Di dalam dapur atau sumur bukan mustahil ada lorong rahasia di bawah tanah.”

Ma Ji-liong menghela napas, katanya, “Ahli silat yang mengajar berbagai segi kehidupan kaum

persilatan kepadamu itu, agaknya luas sekali pengalamannya.”

“Betul, apa yang pernah kupelajari, sekarang kuajarkan kepadamu.”

“Maksudmu, aku harus ke sana lagi?”

“Lebih baik kau segera berangkat, periksa lagi dengan teliti.”

————————ooo00ooo—————————–

Tungku masih hangat, di pinggir tungku ada arang yang masih menyala, di atas tungku juga ada

wajan yang berisi air hangat.

Sumur itu memang tidak ada airnya.

Apa betul orang itu bersembunyi di dasar sumur? Dasar sumur amat gelap, Ma Ji-liong tidak

melihat apa-apa kecuali kegelapan.

Waktu kecil Ma Ji-liong pernah meyakinkan Pia-hou-kang (Ilmu Cecak Merambat). Untuk

memeriksa keadaan dasar sumur tidak sukar, tapi kalau benar ada orang bersembunyi di dasar

sumur, bila ia melorot ke bawah, tentu akan mudah disergap dan mungkin terbunuh secara konyol.

Kalau betul orang itu buronan, jejaknya tentu pantang diketahui orang, maka jiwanya nanti takkan

diampuni.

Dengan bekal kepandaiannya, Ma Ji-liong mungkin mampu mempertahankan diri, mungkin juga

mampu balas menyerang. Tapi kenapa harus menyerempet bahaya? Tiada alasan dan tujuan apa pun

untuk berkorban secara konyol, ia sudah siap meninggalkan tempat itu, siap mendengarkan omelan

Cia Giok-lun pula.

Walau belum pernah menikah, belum menjadi suami, namun Ma Ji-liong sudah maklum, sudah

paham, seorang suami kalau selalu diomeli isterinya yang cerewet, bagaimana rasa dan keadaannya.

Sebelum Ma Ji-liong beranjak meninggalkan mulut sumur, mendadak didengarnya suara dingin

berkumandang dari dasar sumur, “Thio-laupan, kau sudah datang?” Suaranya serak rendah, betul

adalah suara pembeli garam itu, Ji-liong kenal suaranya. Sebelum dirinya melihat

persembunyiannya, orang sudah tahu kedatangannya.

Ma Ji-liong tertawa getir, sahutnya, “Ya, aku datang.”

Pembeli garam berkata pula, “Kalau sudah datang, kenapa tidak turun ke mari dan duduk

mengobrol sebentar?”

Kalau mau Ma Ji-liong bisa tinggal pergi dengan leluasa, tiada orang yang bisa merintangi, tapi

orang di dasar sumur sudah tahu kedatangannya, umpama sekarang pergi, orang akan meluruk ke

toko untuk membuat perhitungan dengan dirinya. Seorang buronan tentu harus merahasiakan

jejaknya.

Ma Ji-liong maklum dan tahu akan hal ini, karena ia juga terhitung buronan, sekarang ia juga

sedang menyembunyikan diri. “Baik, aku akan turun,” sahutnya kemudian.

————————–ooo00ooo————————-

Sinar api mendadak menyala di dasar sumur yang semula gelap gulita, setitik sinar lampu kecil.

Di dasar sumur ternyata ada dua orang, seorang adalah pembeli garam, seorang lagi orang yang

makan garam. Pemakan garam ini berpundak lebar, kaki panjang, jidat tinggi, tulang pipi menonjol,

seharusnya terhitung laki-laki yang bertubuh kekar, namun sekarang sudah menjadi kurus kering

tinggal kulit membungkus tulang, keadaannya tidak menyerupai manusia umumnya, kulit badannya

kering.

Anehnya ia terus meneguk air, seteguk air segenggam garam, lalu menelan sebutir telur ayam.

Bukan saja tak takut asin, juga tidak mati karena terlalu banyak makan garam, air yang tertelan ke

perutnya entah mengalir ke mana. Kulit badannya kelihatan mirip tanah liat yang kering kerontang

lalu merekah.

———————–ooo00ooo————————–

Bab 19: Berbuat Pasti Ada Tujuan

Pembeli garam duduk di pinggir sambil minum arak, hanya sebotol arak untuk dirinya sendiri. Ia

minum seteguk demi seteguk, minum perlahan-lahan, gayanya mirip setan arak yang kikir, mau

minum tidak mau merogoh kantong, yang pasti ia gemar minum tapi sayang keluar uang.

Di sini, di dasar sumur ini, tidak bisa tidak harus minum arak, tapi tidak boleh mabuk. Badan harus

selalu segar, pikiran harus selalu jernih, karena harus menjaga keselamatan dan merawat kesehatan

saudaranya, mengawasi orang yang tidak takut asin dan terus melalap garam seperti kakap

mencaplok teri itu.

Dasar sumur ternyata amat lebar dan luas, di situ ada sebuah pembaringan, sebuah meja dan satu

kursi.

Lampu minyak kecil terletak di atas meja.

Pemakan garam duduk setengah tiduran di ranjang, pembeli garam duduk di kursi. Duduk diam dan

tenang mengawasi Ma Ji-liong yang melorot turun dengan Pia-hou-kang.

Tangan yang memegang botol kelihatan gede dan kasar, kuku jarinya mengkilap, jelas pernah

meyakinkan ilmu pukulan sejenis Cu-soa-ciang yang keji. Di pinggir kursi tergeletak sebatang Cucoat-

pian yang berat, ruyung beruas tujuh yang terbuat dari baja murni, selintas pandang bobotnya

mungkin ada empat-lima puluh kati. Senjata itu tergeletak di tempatnya, pembeli garam itu juga

tetap duduk minum, yang pasti Ma Ji-liong disambut dengan sikap dingin dan pandangan tajam

penuh selidik.

Dengan menatap dingin, pembeli garam berkata, “Thio-laupan, kami sudah menduga, cepat atau

lambat, kau pasti ke mari, terbukti sekarang kau berada di sini.”

“Kau tahu aku akan ke mari?” tanya Ma Ji-liong tidak mengerti. “Dari mana kau tahu?”

Pembeli garam meneguk araknya sekali, seteguk kecil saja, lalu berkata, “Jika aku membuka toko,

tiap hari ada orang yang membeli dua kilo garam, aku pun akan curiga.” Sambil menyeringai

dingin, ia melanjutkan, “Tapi seseorang yang betul-betul membuka toko, berusaha mencari nafkah

secara jujur, umpama merasa heran dan curiga terhadap langganannya, ia pasti takkan mencampuri

urusan orang lain, sayang kau bukan pengusaha toko.”

“Aku bukan apa?”

“Kau bukan pengusaha toko yang baik, pengusaha tulen,” demikian desis si pembeli garam.

“Seperti juga aku, tidak pantas membeli garam di tokomu itu.”

“Agaknya kau pandai melihat kenyataan,” ujar Ji-liong.

Pembeli garam berkata, “Kau ingin tahu asal-usulku, bukan? Ketahuilah, aku pun sudah mencari

tahu tentang dirimu. Seharusnya kau bernama Thio Eng-hoat, delapan belas tahun membuka toko,

kau punya bini yang sakit-sakitan dan seorang pegawai yang jujur setia, selama hidup Thio Enghoat

tidak suka ikut campur urusan orang lain.” Sampai di sini ia menghela napas, “Sayang kau

bukan Thio Eng-hoat yang sesungguhnya, pasti bukan.”

“Dari mana kau tahu aku bukan Thio Eng-hoat?” tanya Ma Ji-liong.

“Kuku jarimu terlalu bersih, rambut pun tersisir rapi, malah setiap hari kau mandi. Aku sudah

mencari tahu, Thio Eng-hoat yang asli adalah laki-laki yang jorok dan bau, laki-laki yang pelit lagi

kikir, dua tiga hari bisa tidak mandi atau ganti pakaian, tapi teliti menghitung laba rugi

dagangannya. Karena rajin kerja itulah maka isterinya selalu mengomel dan menggerutu, sehingga

jatuh sakit.”

Ma Ji-liong diam saja, tidak membantah. Ia maklum dirinya sedang berhadapan dengan kawakan

Kangouw yang banyak pengalaman. Sebelum Ma Ji-liong menaruh curiga terhadapnya, orang

sudah lebih dulu menaruh perhatian terhadap dirinya.

“Kalau kau bukan Thio Eng-hoat, lalu siapa kau? Kenapa kau menyaru sebagai Thio Eng-hoat?

Thio Eng-hoat yang asli kau apakan? Di mana dia sekarang?” ujar si pembeli garam. Lebih jauh ia

berkata, “Persoalan ini sering kupikirkan, sejak lama kupikirkan.”

“Kau sudah mendapatkan jawabannya?”

“Hanya sedikit, tidak berarti.”

“Sedikit bagaimana?”

“Aku yakin kejadian ini pasti direncanakan secara cermat. Setiap segi, setiap langkah sudah

diperhitungkan dengan seksama. Kau bisa menyamar sebagai Thio Eng-hoat, dapat mengelabui

isterinya yang sudah menikah dan hidup bersama selama belasan tahun lamanya, demikian pula

pegawainya, ini membuktikan bahwa kau berganti rupa dengan tata rias yang luar biasa baiknya,”

nadanya tegas dan pasti, lalu sambungnya, “Meski tidak sedikit kaum persilatan yang ahli di bidang

tata rias, tapi yang mampu berbuat sebagus ini, di kolong langit ini mutlak hanya satu orang saja.”

Yang dimaksud orang yang satu ini tentu Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long.

Lebih jauh pembeli garam berkata, “Giok-toasiocia pernah bilang, dua puluh tahun beliau tidak

mencampuri urusan Kangouw, tapi ada seorang yang dapat menyeretnya keluar untuk

mengembangkan keahliannya.”

“Ya, memang hanya satu orang saja,” ucap Ma Ji-liong.

“Mutlak hanya satu orang. Kecuali Kanglam Ji Ngo, tiada orang lain yang bisa mengundang dan

meminta bantuannya.”

Ma Ji-liong menyengir kecut. Akhirnya dia paham, di dunia ini tiada rencana betapa pun

sempurnanya yang tidak bisa dibongkar, tidak ada titik kelemahannya, juga tidak ada rahasia yang

selalu bisa mengelabui orang.

Sayang, sejauh ini Ma Ji-liong belum berhasil membongkar rahasia Khu Hong-seng.

Pembeli garam berkata pula, “Kau sudah diatur sedemikian rapi, memakan banyak waktu dan

tenaga, berjerih payah menyamar sebagai pemilik toko serba ada, itu berarti kau sama dengan kami,

kau juga seorang buronan, menyingkir dari muka umum dan bersembunyi dari pelacakan musuh.

Berbagai hal di atas dapat kami simpulkan, bahwa musuh yang menuntut jiwamu pasti jauh lebih

menakutkan dibanding musuh kami.” Dengan tertawa pembeli garam menambahkan, “Sebagai

sesama buronan, orang yang dikejar-kejar musuh, buat apa harus menyelidiki rahasiamu?

Sebetulnya kau tidak perlu mencari tahu tentang diriku, karena setiap hari aku akan membeli garam

di tokomu.”

“Sebetulnya aku tidak punya niat ke mari,” ujar Ma Ji-liong menghela napas.

“Tapi kau sudah berada di sini,” ujar pembeli garam.

“Apa kau hendak membunuhku?” tanya Ma Ji-liong.

“Kanglam Ji Ngo mau membantumu, kalau kau keroco, kuyakin dia takkan bersusah payah, kau

pasti punya latar belakang yang meyakinkan. Umpama aku berniat membunuhmu, belum tentu aku

berhasil.” Dengan tertawa pembeli garam berkata, “Jika betul kau adalah orang yang kuduga, bila

mau turun tangan, mungkin aku yang mati lebih dulu di tanganmu.”

Ma Ji-liong berkata, “Siapakah orang yang kau duga itu?”

“Ma Ji-liong,” sahut si pembeli garam. “Tuan muda Thian-ma-tong, Pek-ma Kongcu Ma Ji-liong.”

Berdebar keras jantung Ma Ji-liong. Kalau wajahnya tidak dipermak oleh Giok-jiu-ling-long, orang

pasti melihat betapa jelek perubahan mimik mukanya. Ji-liong balas bertanya, “Berdasarkan apa

kau mengira aku Ma Ji-liong?”

“Ya, aku punya alasan.”

Alasannya adalah buronan terbesar yang sedang dikejar-kejar kaum persilatan saat ini adalah Ma Jiliong.

Hanya Ma Ji-liong saja yang mungkin mendapat bantuan Kanglam Ji Ngo.

Pembeli garam berkata lebih jauh, “Dalam kalangan Kangouw, ada tiga marga besar persilatan,

Ngo-toa-bun-pay (Lima Perguruan Besar), mereka berani mengeluarkan hadiah lima laksa tahil

emas murni bagi siapa saja yang bisa membekuk atau membunuh Ma Ji-liong. Jago-jago kelas

wahid yang dikerahkan untuk mencari jejakmu ada lima-enam puluh orang, hanya murid-murid

Kaypang saja yang tidak ikut berlomba memperebutkan hadiah sebesar itu, mereka seperti tutup

mata dan menyumbat telinga, seolah-olah segan mencampuri urusan ini.”

Murid Kaypang tersebar luas, jumlahnya juga tidak terhitung banyaknya, kekuasaan mereka

berkembang terus makin luas dan besar. Di seluruh pelosok dunia ada orang mereka yang bisa

memberi informasi yang tidak mudah diperoleh pihak lain, tidak sedikit ahli-ahli mereka yang

pandai melacak jejak orang. Dapat kita bayangkan betapa besar ongkos kehidupan untuk keperluan

organisasi besar ini, lima laksa tahil emas bukan nilai yang kecil.

Pembeli garam berkata pula, “Kenapa mereka tak ikut berlomba memperebutkan hadiah besar itu?

Bagiku sudah jelas, karena Kanglam Ji Ngo punya hubungan intim dengan Ji-liong.”

Lama Ma Ji-liong terpekur, lalu berkata perlahan, “Sebetulnya tidak perlu kau bicara sepanjang

itu.”

“Setelah kubeberkan rahasiamu, kau akan membunuh aku? Kau kira aku ingin lima laksa tahil emas

murni itu?”

“Apa kau tidak ingin kaya?” Ma Ji-liong menegas.

“Aku tidak ingin kaya,” sahut pembeli garam.

“Kenapa?” tanya Ma Ji-liong.

Sebelum pembeli garam menjawab, pemakan garam menyeletuk, “Karena aku.”

—————————-ooo00ooo————————

Laki-laki kurus ini terus mengganyang garam dengan lahap, garam kasar lagi murni, garam yang

asin. Sukar dibayangkan ada manusia yang suka makan garam sebanyak itu.

Sudah separoh dari dua kilo garam itu dilalap orang ini. Setelah 10 butir telur ayam masuk ke

perutnya, rona wajahnya baru kelihatan merah, baru leluasa ia bicara, katanya, “Selama dua puluh

tahun, orang-orang yang ingin menjagal kepalaku, yakin tidak kalah jumlahnya dibanding dengan

mereka yang mengejarmu. Bagaimana rasanya orang yang difitnah, aku sudah kenyang

merasakannya.” Kelihatan ia lemah lagi kurus, tapi waktu berbicara sikapnya kelihatan berwibawa.

“Lima laksa tahil emas memang tidak sedikit, tapi jumlah sebesar itu tidak terpandang dalam

mataku.”

“Dari mana kau menduga kalau aku difitnah orang?”

Pemakan garam menjelaskan, “Karena aku percaya kepada Ji Ngo. Kalau bukan terfitnah, maka

dialah orang pertama yang akan membunuhmu.”

“Kau siapa?” tanya Ma Ji-liong.

“Seperti kau, aku juga sering difitnah orang, seorang yang kepalanya berharga ribuan tahil, seorang

yang terpaksa menyembunyikan diri seperti tikus yang takut dilihat orang. Kami belum ingin mati,

kami ingin membersihkan diri, umpama akhirnya mati juga harus mempertahankan nama baik,

maka sebelum masuk liang kubur, kami harus membongkar dulu kasus itu, membekuk orang yang

memfitnah kami, menangkap biang keladinya.”

Pemakan garam tertawa besar, tawa yang getir lagi memilukan, “Tentang siapa namaku, lebih baik

kau tidak tahu.”

Ma Ji-liong menatapnya lekat sekian lama, lalu menoleh ke arah pembeli garam, katanya, “Aku

percaya kau tak akan mengkhianati aku.”

“Aku juga percaya padamu,” ujar pemakan garam sambil mengulurkan tangannya.

Seperti juga telapak tangan pembeli garam, jari dan telapak tangan pemakan garam ini pun kasar,

besar lagi dingin. Waktu Ji-liong bergenggam tangan dengan orang, timbul rasa hangat di dalam

dadanya.

Pemakan garam tertawa lebar, katanya, “Pergilah, aku tidak merintangimu.”

“Kalau kalian memerlukan garam, aku tidak akan banyak usil lagi.”

Pemakan garam mengawasinya, lalu menghela napas, ujarnya, “Sayang baru hari ini kita bertemu,

aku terluka dalam separah ini, mungkin aku takkan bisa membersihkan nama baikku, membongkar

fitnah keji itu. Kalau bisa bertahan hidup lebih lama lagi, aku ingin bersahabat dengan engkau.”

“Sekarang belum terlambat kau bersahabat denganku, bersahabat dengan kawan tidak harus saling

memperalat, tetapi harus saling membantu.”

Pemakan garam bergelak tawa, suaranya serak lagi pendek, ternyata ia tidak bisa tertawa lagi, tapi

sikap dan perbawanya kelihatan gagah dan berwibawa, katanya, “Aku tidak perduli apakah kau Ma

Ji-liong atau bukan. Perduli siapa kau, aku suka dan senang bersahabat dengan engkau.”

Dengan kencang Ma Ji-liong menggenggam tangan orang, “Aku juga tidak perduli siapa kau, aku

pun senang bersahabat dengan kau.”

—————————–ooo00ooo——————————

Saat itu belum terang tanah, cuaca masih gelap, hawa dingin sekali.

Tapi perasaan Ma Ji-liong amat hangat, sekujur badan terasa panas, dadanya seperti dibakar. Hari

ini, tepatnya pagi ini, ia bersahabat dengan seorang gagah, laki-laki jantan, kawan setia.

Bersahabat dengan seorang yang tidak dikenal asal-usulnya, tanpa perduli apa akibat dan

bagaimana tanggung-jawabnya, tapi mereka benar-benar tahu sama tahu, seia sekata, kawan karib,

sahabat sejati. Jika menemukan dan bersahabat dengan kawan seperti itu, maka ia akan dapat

menyelami perasaan Ji-liong.

Sayang sekali, jarang ada manusia di dunia ini yang bisa bersahabat seperti jalinan batin pemakan

garam dengan Ma Ji-liong.

——————————-ooo00oo——————————-

“Kau bersahabat dengan dia,” Cia Giok-lun belum tidur. Pertanyaan pertama yang diajukan sejak

mendengar laporan Ma Ji-liong. “Padahal siapa dia kau tidak tahu, tapi kau mau berkenalan dan

bersahabat dengan dia?”

Ma Ji-liong berkata, “Biar seluruh umat manusia di dunia ini menganggap dia sebagai musuh,

semua orang ingin mencincang atau mencacah tubuhnya, aku tetap bersahabat dan rela berkorban

untuknya.”

“Lho, kenapa?” Cia Giok-lun menegas dengan nada tidak mengerti.

“Tidak kenapa.”

Tidak kenapa. Dua patah kata yang besar maknanya, dua patah kata yang menjalin persahabatan

dua insan manusia yang berbeda. Jika ‘karena sesuatu’ kau bersahabat dengan orang, sahabat macam

apakah kenalan baikmu itu? Terhitung teman macam apa pula kau ini?

—————————-ooo00ooo——————————-

Cahaya sudah tampak memutih di luar jendela. Ma Ji-liong duduk di bawah jendela, Cia Giok-lun

mengangkat kepala mengawasinya dengan badan miring. Lama sekali baru ia menghela napas,

katanya, “Aku tahu maksudmu, tapi aku tak bisa berbuat seperti itu.”

Seorang gadis muda yang dapat memahami segi-segi kehidupan yang serba ruwet tentang citra rasa

dan perasaan memang jarang ada, memang jarang ada orang yang bisa berbuat seperti itu.

Mendadak Cia Giok-lun bertanya, “Tahukah kau kenapa temanmu itu harus makan garam?”

Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak tahu karena tidak bertanya.

“Aku tahu,” ujar Cia Giok-lun. “Karena terkena pukulan Sam-yang-coat-hu-jiu.”

“Sam-yang-coat-hu-jiu,” Ma Ji-liong adalah keturunan keluarga persilatan, namun belum pernah ia

mendengar nama ilmu pukulan keji itu.

“Ilmu pukulan yang sudah lama putus turunan, maksudnya sudah lama tidak pernah dipelajari

manusia lagi. Orang yang terkena pukulan ini sekujur badannya akan kehilangan kadar air, kulit

badan akan mengering dan merekah, lebih celaka lagi sekujur badan pati rasa, keinginannya hanya

makan garam melulu. Makin banyak garam yang dimakan, makin banyak air yang ia butuhkan, luka

dalamnya juga akan lebih parah. Bila mati, sekujur badan akan pecah, seperti roti kering yang

merekah karena dipanggang terlalu lama di perapian yang bersuhu tinggi,” sejenak Cia Giok-lun

termenung, lalu melanjutkan, “Makan telur ayam memang lebih baik dibanding minum air, tapi

paling lama hanya bisa memperpanjang usianya setengah bulan, akhirnya akan tetap mampus juga.”

“Mutlak tidak bisa ditolong?” tanya Ma Ji-liong.

Tidak menjawab pertanyaan Ma Ji-liong, Cia Giok-lun malah balas bertanya, “Orang macam

apakah temanmu itu? Bagaimana tampang dan perawakannya?”

“Kupikir semula dia seorang laki-laki kekar, perawakannya tinggi tegap, kedua pundaknya setengah

kaki lebih besar dibanding pundak orang biasa, tangan besar kaki gede, pukulan tenaga luarnya

tentu diyakinkan dengan sempurna,” demikian tutur Ma Ji-liong. “Walau dia terluka parah hampir

mati, waktu bicara dan gerak-geriknya tetap kelihatan gagah dan berwibawa.”

Sorot mata Cia Giok-lun seperti bercahaya, “Sudah terpikir siapa dia,” katanya.

“Siapa?”

Cia Giok-lun tidak menjawab langsung, “Ilmu pukulan jenis ini jauh lebih keji, lebih dahsyat

dibanding Sam-im-coat-hu-jiu dari keluarga Im dan Cui, jauh lebih sukar diyakinkan, karena orang

yang meyakinkan ilmu ini selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan.”

Selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan maksudnya adalah tidak pernah kawin, alias

tidak punya bini, berapa banyakkah orang-orang Kangouw yang jejaka kecuali Hwesio?

“Menurut apa yang kutahu,” ujar Cia Giok-lun lebih lanjut. “Selama lima puluh tahun ini, yang

meyakinkan ilmu ganas dan keji itu hanya seorang.”

“Siapa?” Ma Ji-liong mendesak.

“Coat-taysu,” ucap Cia Giok-lun. “Coat-taysu selalu bertindak tegas dan tuntas dalam perkara.

Setiap musuh yang dianggap jahat, tidak pernah diberi ampun, tapi jarang menggunakan ilmu

pukulan keji yang amat dirahasiakan itu. Kecuali lawan memang gembong silat yang benar-benar

lihai dan menakutkan, itu pun kalau dia kepepet dan kewalahan baru melancarkan ilmu pukulan

itu.”

Sudah lazim bahwa tokoh silat kosen di Kangouw menyembunyikan ilmu tunggal yang

diyakinkannya. Jika jiwa tak terancam bahaya, tidak akan mengeluarkan ilmu kebanggaannya.

Apalagi ilmu pukulan jahat seperti Sam-yang-coat-hu-jiu harus diyakinkan dengan syarat tidak

boleh kawin selama hidup.

Bagi kaum persilatan yang punya kedudukan dan nama besar di Bulim, bila selama hidup tidak

bergaul dengan perempuan alias tidak kawin, tentu dipandang tidak wajar dan aib, orang akan

membayangkannya sebagai laki-laki tidak normal, laki-laki mandul, lelaki impoten, mana ada tokoh

silat yang mau dipandang sebagai pendekar impoten.

“Jika tidak terpaksa terdesak oleh keadaan hingga tiada pilihan lain, Coat-taysu takkan melancarkan

Sam-yang-coat-hu-jiu,” kata Cia Giok-lun, lalu ia bertanya pada Ma Ji-liong, “Berapa banyak jago

silat di Kangouw yang bisa menyudutkan Coat-taysu hingga ia bernasib mengenaskan?”

“Ya, hanya beberapa orang saja,” sahut Ma Ji-liong.

“Pernah dengar nama besar Hoan-thian-hu-te (Membalik Langit Mengaduk Bumi) Thiat Tinthian?”

Cia Giok-lun bertanya. “Dia masuk hitungan tidak?”

Ma Ji-liong tahu dan sadar bahwa air mukanya pasti berubah waktu mendengar nama julukan orang

itu. Sebagai insan persilatan, wajar kalau Ji-liong pernah mendengar ketenaran nama Hoan-thianhu-

te Thiat Tin-thian, tokoh legendaris yang sudah malang melintang sejak dua puluh tahun yang

lalu, membunuh orang seperti membabat rumput, tak terhitung jumlah korban jiwa di tangannya,

perkaranya menumpuk bagai gunung. Betapa banyak kaum persilatan yang ingin memenggal

kepalanya, umpama tidak ribuan pasti ada ratusan banyaknya, tokoh besar atau penjahat yang

ditakuti orang, tingkat kejahatan yang pernah ia lakukan tak berlebih kalau dijuluki Membalik

Langit Mengaduk Bumi.

Jejak Hoan-thian-hu-te bagai mega, orang sukar mengikuti jejaknya, apalagi ilmu silatnya amat

tinggi, hati kejam tangan telengas, orang-orang yang kesamplok atau musuh yang menemukan

jejaknya juga pasti tergetar bubar sukmanya, kalau kepala tidak pecah tentu badan yang terpukul

remuk oleh telapak tangan besinya.

“Coba pikir, mungkin tidak temanmu itu adalah Thiat Tin-thian?” tanya Cia Giok-lun.

Ma Ji-liong menunduk, mulutnya bungkam.

Orang itu jelas adalah Thiat Tin-thian. “Selama dua puluh tahun, betapa banyak orang yang ingin

memenggal kepalaku, ratusan lipat lebih banyak dibanding musuh yang menginginkan jiwamu.

Lima laksa tahil emas tidak terpandang dalam mataku”. Kecuali Thiat Tin-thian, siapa lagi yang

berani mengucapkan kata-kata demikian. Tapi ia pun pernah berkata begini, “Bagaimana rasanya

difitnah orang, aku juga sudah mengalaminya.”

Mendadak Ma Ji-liong mengangkat kepala, katanya lantang, “Aku tidak perduli siapa dia, perduli

apa yang pernah ia lakukan, kupikir ada latar belakang yang tidak diketahui orang sehingga

terpaksa melakukan kejahatan. Situasi mendesak dan memojokkan dirinya, terpaksa ia bertindak

lebih ganas, lebih banyak korban jatuh, dipandang dari kaca mata kaum pendekar, ia adalah

gembong penjahat yang harus ditumpas.”

“Apakah Coat-taysu juga memfitnah orang baik?” tanya Cia Giok-lun.

Ma Ji-liong tertawa dingin, katanya, “Orang-orang yang ia fitnah bukan hanya Thiat Tin-thian

saja.”

Cia Giok-lun menghela napas, katanya, “Kau ini memang orang baik. Bisa berkenalan dengan kau,

siapa pun akan merasa beruntung, sayang sekali persahabatan kalian tidak akan bertahan lama.”

“Apa betul luka dalamnya tak bisa ditolong lagi?”

Tawar suara Cia Giok-lun, “Kalau aku adalah Toa-siocia dari keluarga Cia, mungkin aku bisa

menolongnya.” Sengaja ia menghela napas, “Sayang, aku hanya bini seorang pemilik toko yang

sakit-sakitan, berjalan juga tidak mampu, penyakitku sendiri tak mampu kuobati, bagaimana

mungkin mengobati orang lain?”

Ma Ji-liong kehabisan kata. Dia maklum apa yang dimaksud Cia Giok-lun. Kalau ia membeberkan

duduk persoalannya, mungkin Cia Giok-lun mau menolong Thiat Tin-thian. Tapi kalau ia berbuat

demikian, itu berarti ia ingkar terhadap Toa-hoan, juga mengkhianati Ji Ngo, mereka juga teman

baiknya.

Cia Giok-lun membalikkan badan, mungkur ke arah dinding, katanya, “Kau sudah lelah, tidurlah.”

Ma Ji-liong tidak tidur, ia tahu dirinya pasti tak bisa tidur.

Entah pura-pura tidur atau benar-benar sudah lelap, ternyata Cia Giok-lun tidak bergerak, juga tidak

mengajak bicara lagi.

Fajar baru saja menyingsing, di luar masih belum terdengar suara orang. Perlahan Ma Ji-liong

mendorong pintu, dengan kalem ia melangkah keluar.

Bab 20: Tiada Pilihan Lain

Beberapa langkah setelah meninggalkan rumah, baru Ma Ji-liong mendengar suara tangis bayi dari

rumah seberang. Beberapa langkah kemudian, sebuah pintu kecil yang ditempel kertas gambar

malaikat rejeki terbuka.

Nyonya muda dengan perutnya yang buncit itu sedang berdiri di depan pintu, mengantar suaminya

yang masih muda tegap berangkat kerja di ladang.

Ma Ji-liong sengaja pura-pura tidak melihat. Suami muda itu juga tidak menoleh ke kanan kiri, dia

beranjak pergi sambil menjinjing buntalan dan memanggul pacul. Nyonya muda itu juga tidak

memperhatikan Ma Ji-liong, ia memutar tubuh terus merapatkan pintu.

Bagai anak panah terlepas dari busurnya, mendadak Ma Ji-liong menjejakkan kaki, tubuhnya

melejit ke depan, beberapa kali lompatan langsung menerobos ke pekarangan belakang To Po-gi.

Ada suara di dapur, suara ketikan batu untuk menyalakan api, lalu suara membasuh beras hendak

menanak nasi. Isteri To Po-gi memang perempuan yang rajin dan setia, tahu apa kewajibannya,

sepagi ini sudah siap menanak nasi untuk suami yang akan bekerja di kantor.

Ma Ji-liong tidak perduli, tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya, To Po-gi pernah berlatih

silat, dulu mungkin pernah menjadi anak buah Thiat Tin-thian, tidak perlu kuatir dirinya kepergok

oleh suami isteri itu. Dengan kecepatan tinggi, Ji-liong bergerak lincah melompat ke dalam sumur.

———————————ooo00ooo———————————–

Sekati arak beras sudah diminum habis, pembeli garam kelihatan lebih segar meski semalam suntuk

tidak tidur, ia sedang membenahi pembaringan temannya.

Pemakan garam juga tidak tidur, sisa setengah bungkus garam tadi sudah dimakan lagi hingga

tinggal seperempat. Melihat kedatangan Ji-liong, mereka tidak menunjukkan sikap kaget atau heran,

seolah-olah sudah tahu bahwa Ma Ji-liong bakal kembali lagi.

Begitu kakinya menginjak dasar sumur, Ma Ji-liong langsung bertanya, “Kau adalah Thiat Tinthian,

bukan?”

“Betul,” sahut pemakan garam, suaranya tegas dan gamblang. “Aku adalah rampok besar Thiat Tinthian

yang gemar membunuh orang.”

“Kau terpukul Sam-yang-coat-hu-jiu Coat-taysu?”

“Betul,” sikapnya tampak heran dan kaget, tapi Thiat Tin-thian tidak balas bertanya dari mana Ma

Ji-liong mendapat tahu.

“Luka dalammu masih bisa ditolong?” tanya Ji-liong pula.

Kali ini Thiat Tin-thian balas bertanya, “Kenapa kau mencampuri urusanku?”

“Karena kau adalah temanku.”

“Kau sudah tahu kalau aku adalah Thiat Tin-thian, masih berani kau berkawan dengan aku?”

“Aku sudah bersahabat denganmu. Perduli siapa kau, sikapku tidak berubah.”

Thiat Tin-thian menatapnya lekat-lekat, mendadak ia tertawa lebar, “Selama hidup betapa banyak

kesalahan yang pernah dilakukan Thiat Tin-thian, tapi belum pernah keliru bersahabat dengan

orang.”

Thiat Tin-thian benar-benar tertawa, tawa yang riang. Setelah bersahabat dengan seorang kawan,

umpama dirinya terbunuh juga akan mati dengan meram, tidak menyesal.

Pembeli garam menyeletuk, “Selama hidup dia memang banyak melakukan kesalahan, karena

berwatak kasar, berangasan, gegabah dan emosional. Demi membela seorang teman, perbuatan apa

pun berani dilakukannya.” Dengan suara tandas pembeli garam meneruskan, “Kali ini pasti tidak

berbuat salah.”

Apa yang ia lakukan kali ini? Bagaimana sampai difitnah orang?

Ji-liong mengulangi pertanyaannya tadi, ia percaya orang ini, “Luka-lukamu bisa disembuhkan?”

“Bisa,” sahut pembeli garam. “Hanya sejenis obat di dunia ini yang dapat menolong jiwanya.”

“Obat apa?”

Pembeli garam menghela napas, roman mukanya guram, katanya, “Kujelaskan juga tidak berguna,

karena obat itu mutlak tidak bisa kami peroleh.” Dengan tertawa getir ia menambahkan, “Bukan

saja sukar untuk memperolehnya, dicuri juga tidak bisa, direbut apa lagi, kalau bisa tentu sudah

kurebut atau kucuri.” Untuk menolong jiwa temannya, umpama harus mencuri dan merebut milik

orang lain, apakah perbuatan itu terhitung salah?

Ma Ji-liong tertawa pula, “Obat yang kalian maksud apakah bisa diperoleh dari keluarga Cia?”

Terbeliak mata si pembeli garam, suaranya juga meninggi, “Dari mana kau tahu kalau keluarga itu

she Cia?” Perubahan roman mukanya terlalu cepat, menyolok dan aneh.

“Kenapa aku tidak bisa tahu?”

“Karena…….” suaranya terhenti, sikapnya bimbang.

Untuk membeberkan rahasia, jelas tidak berani berterus terang.

Dengan suara keras Thiat Tin-thian menimbrung, “Orang itu tidak mau orang luar tahu dirinya she

Cia. Dulu ia pernah mengalami pukulan batin yang menyedihkan. Siapa saja, bila menyinggung

perkara lama, pasti tak diberi ampun.”

“Siapakah dia?” desak Ma Ji-liong.

“Bik-giok Hujin dari Bik-giok-san-ceng, lukaku hanya dapat disembuhkan dengan Bik-giok-cu

milik keluarganya.”

Ma Ji-liong melenggong.

Bik-giok Hujin ternyata she Cia, pernah ada hubungan apa Cia Giok-lun dengan Bik-giok Hujin?

Apa gadis itu ada hubungannya dengan Bik-giok-san-ceng? Mendadak Ji-liong sadar, urusan ini

pasti ada latar belakang yang ruwet lagi genting. Dulu tak pernah ia memikirkan persoalan ini, tapi

sekarang harus memutar otak.

Sekonyong-konyong seseorang tertawa dingin dan berkata di mulut sumur di sebelah atas, “Thian

Tin-thian, kau tak bisa lolos dari sini. Thiat Coan-gi, kau juga menyerah saja, jiwamu boleh

diampuni.”

Para pengejar itu akhirnya menemukan sumur ini, jejak mereka sudah ketahuan. Bila buronan

berada di dalam sumur, umpama ikan di dalam kuali, jelas takkan bisa lolos lagi, memangnya ke

mana mereka bisa melarikan diri?

Perasaan Ma Ji-liong seberat batu yang tenggelam ke dasar air dingin. Ia kenal suara orang yang

bicara di mulut sumur, bukan lain ialah Pang Tio-hoan. Kalau Pang Tio-hoan sudah datang, Coattaysu

pasti juga berada di sini, demikian pula Cia-go Hwesio dan Giok-tojin pasti ikut datang.

Umpama bukan dirinya yang menjadi buronan, dirinya juga bisa keluar dari tempat ini.

Ma Ji-liong sudah akan bicara, mendadak Thiat Tin-thian mendekap mulutnya dengan sebelah

tangan. Dengan tangan yang lain dia menjejalkan garam ke dalam mulut sendiri. Setelah garam

tertelan, baru ia bergelak tawa, serunya, “Betul, aku memang ada di sini, adikku juga ada, kami

menunggumu.”

Sesaat tidak terdengar jawaban dari atas. Orang-orang di atas seperti sedang heran dan bingung,

kenapa Thiat Tin-thian belum mampus setelah terpukul Sam-yang-coat-hu-jiu yang ganas itu? Nada

bicaranya juga masih segar dan bertenaga.

Sesaat kemudian baru terdengar Coat-taysu berkata dengan nada dingin, “Thiat Tin-thian, naiklah

ke atas, jiwa Thiat Coan-gi akan kuampuni.”

Thiat Coan-gi adalah pembeli garam, “Kami bersaudara sudah seia sekata, bersumpah setia, sehidup

semati, kalau harus mati biarlah kami mati bersama.”

“Bagus,” teriak Thiat Tin-thian bergelak tawa. “Ayolah turun kalau kalian hendak menagih jiwa

kami berdua.”

Coat-taysu tidak turun, tiada orang yang berani turun. Sumur itu memang buntu, tiada jalan lain

untuk meloloskan diri, tapi siapa yang berani turun pasti mengantarkan jiwa dengan percuma.

“Mana mereka berani turun,” Thiat Tin-thian merendahkan suara setengah mengejek. “Mereka

diagulkan sebagai pendekar besar, buat apa gagah-gagahan di sini.”

“Ya, mereka yakin kita tak dapat melarikan diri,” Thiat Coan-gi juga bicara dengan suara rendah.

“Mereka pasti menunggu di atas.”

“Tetapi mereka pasti tak mau menunggu lama,” ujar Thiat Tin-thian. “Pasti mencari akal untuk

memancing kita keluar, entah menyerang dengan api atau asap, mengguyur air ke dalam sumur atau

dengan cara keji lainnya.”

Ma Ji-liong berkata, “Sebagai pendekar yang diagulkan, apakah mereka juga berbuat sekeji dan

sekotor itu?”

Thiat Tin-thian menyeringai, katanya, “Berani saja, namanya saja pendekar, padahal perbuatannya

tidak beda dengan bajingan, apalagi punya alasan untuk berbuat demikian.” Senyum wajahnya

dilembari cemoohan dan rasa sedih serta penasaran. “Menghadapi kawanan penjahat kejam seperti

kita, cara apa pun berani mereka lakukan, sebab diagulkan sebagai pendekar, orang lain tidak

menganggap perbuatan mereka rendah. Tapi kalau kami yang menggunakan cara seperti itu

terhadap mereka, nilainya tentu berbeda.” Mendadak ia menggenggam tangan Ma Ji-liong. “Apa

betul kau sahabatku?” tanyanya tegas.

“Sudah pasti,” sahut Ma Ji-liong tegar.

“Usiaku jauh lebih tua, pantas tidak kau tunduk padaku?” ujar Thiat Tin-thian dengan nada tinggi.

“Menghadapi situasi genting ini, kau harus patuh terhadapku.”

“Kasus apa yang kau maksud?”

“Mereka akan menyerang entah dengan api atau air, kami akan menerjang ke atas.”

“Bagus,” tanpa sangsi Ma Ji-liong berkata. “Sekarang juga kita bisa menerjang keluar bersama.”

“Kami yang kumaksud adalah aku dan Thiat Coan-gi, adikku, bukan dengan engkau,” suara Thiat

Tin-thian lebih lirih. “Mereka hanya tahu aku dan Coan-gi bersembunyi di sini, tapi pasti tidak tahu

ada orang ketiga berada di sini.”

“Ya, mereka pasti tidak menduga majikan toko serba ada di kampung ini juga berada di sini, apalagi

bersahabat dan menjadi kawan rampok besar macam Thiat Tin-thian yang ditakuti dan dibenci

orang banyak.”

“Yang akan mereka bekuk adalah kami berdua. Bila berhasil mereka pasti segera berlalu, takkan

memeriksa tempat ini.”

“Setelah mereka pergi, kau boleh keluar dan mengundurkan diri,” Thiat Tin-thian menggenggam

tangan Ji-liong lebih kencang. “Perpisahan kita hari ini, mungkin menjadi perpisahan untuk

selamanya. Aku tidak ingin kau menuntut balas bagi kematianku, juga tidak minta kau mencuci

bersih nama baikku, membongkar kasus terpendam itu hingga fitnah ini tersingkap tabirnya. Aku

hanya berharap kau bertahan hidup, menyelamatkan diri, berarti kau sudah bertanggung jawab

terhadapku.”

Untuk apa ia berkawan dengan Ma Ji-liong? Tidak untuk apa-apa. Dalam batin ia berdoa supaya

temannya ini selamat, karena dia tahu ada sementara orang, kalau bertahan hidup adalah suatu

usaha, suatu perjuangan yang serba sulit.

Ma Ji-liong hanya mendengarkan saja, diam tanpa memberi reaksi, juga tidak berbicara. Banyak

yang ingin diucapkan, tapi sepatah kata pun tidak keluar karena ia merasa tak perlu melimpahkan isi

hatinya. Dalam hati diam-diam ia sudah mengambil keputusan.

Thiat Tin-thian juga tidak bicara lagi, kembali ia melalap segenggam garam, segenggam demi

segenggam terus dijejalkan ke dalam mulut dan langsung ditelannya. Selama hayat masih

dikandung badan, selama dirinya masih bernapas, masih bisa berjuang, ia berani dan harus mengadu

jiwa. Wataknya mirip Ma Ji-liong, dua orang yang berwatak sama seperti sengaja dipertemukan di

dasar sumur.

——————-ooo00ooo————————————-

Sudah sekian lama belum ada gerakan apa-apa di atas sumur, sudah pasti orang di dasar sumur

takkan bisa melarikan diri, Coat-taysu memang orang yang sabar, tahan uji dan ulet.

Dari ikat pinggangnya Thiat Coan-gi meloloskan sebilah Bian-to, perlahan ia mengelus mata golok

tipis itu dengan jari-jarinya yang panjang. Mendadak ia mendesis penuh kebencian, “Biar tubuhnya

tercacah hancur, aku akan berusaha mengganyangnya lebih dulu.”

“Siapa yang hendak kau ganyang?” tanya Thiat Tin-thian.

“Siapa lagi, To Po-gi tentunya,” sahut Thiat Coan-gi dengan penuh dendam.

“Jangan, tidak boleh kau membunuhnya.”

“Dia telah mengkhianati kita, kenapa aku tak boleh mengganyangnya?”

“Karena dia sudah berkeluarga, punya bini yang akan melahirkan keturunannya. Bukan To Po-gi

seorang yang mengkhianati temannya di dunia Kangouw, bukan hanya sekali ini kau dan aku

dikhianati teman, lalu kenapa kau harus membunuhnya?” mendaak ia menghela napas panjang,

“Kalau kau ingin membunuh orang, pertama yang harus kau bunuh sekarang bukanlah To Po-gi,

tapi aku.”

“Kau?” teriak Thiat Coan-gi terbelalak.

“Jika bukan lantaran diriku, nasibmu takkan sejelek ini.”

Thiat Coan-gi memandang saudaranya dengan tatapan tajam, mendadak ia terloroh-loroh, serunya,

“Betul, kau memang betul, kalau tiada kau, mana mungkin keadaanku menjadi begini. Ayahbundaku

disembelih, isteriku digagahi secara bergiliran, anakku pun dibantai. Para pendekar itu

beranggapan, kejadian itu adalah akibat perbuatan jahatku sendiri, ganjaran atas dosa-dosaku, aku

harus menelan karma, menerima pembalasan atas kejahatanku. Bila tiada kau, siapa yang

membantu aku menuntut balas, melampiaskan dendam kesumatku? Aku…….” Makin bicara makin

emosi, suaranya menjadi serak dan tersendat. Kulit mukanya mengkeret basah oleh air mata,

mendadak ia melompat berdiri sambil meraung, “Thiat Tin-thian malang-melintang selama hidup,

aku membunuh orang tak terhitung banyaknya, hari ini umpama batok kepalaku terpenggal, biar

kujual kepada kalian, apa salahnya jiwaku melayang? Lekaslah kalian ambil saja.”

Padahal dia Thiat Coan-gi, bukan Thiat Tin-thian. Ia berkata demikian hanya ingin menerjang

keluar lebih dulu, biar orang lain mengira dirinya Thiat Tin-thian dan mengincar jiwanya, biar

dirinya berkorban asal saudaranya lolos dan selamat. Dia tidak memikirkan lagi mati hidupnya.

Ji-liong tahu maksudnya, demikian pula Thiat Tin-thian juga maklum. Mendadak ia bergelak tawa,

“Kau tak boleh rebutan dengan aku. Kalau harus mati, biar aku yang gugur lebih dulu. Selama hayat

masih dikandung badan, siapa pun jangan harap mengusik dirimu.” Di tengah gelak tawanya yang

panjang, tubuhnya yang kurus kering mirip tengkorak hidup, mendadak menubruk ke depan bagai

harimau mengamuk. Sebelah kakinya menginjak pundak Thiat Coan-gi, sekali jejak tubuhnya lantas

melesat mumbul keluar mulut sumur.

Kejap lain, terdengar kumandang jeritan yang mengerikan dari mulut sumur.

Tangkas sekali Thiat Coan-gi juga ikut melompat keluar. Tidak perduli siapa mati duluan atau mati

belakangan, mereka harus mati bersama.

Kalau kejadian ini berlangsung setahun yang lalu, melihat teman segagah dan begitu perwira, air

mata tentu berkaca-kaca di pelupuk mata, tapi sekarang air mata tidak berlinang, hanya darah yang

bergolak di rongga dada.

Darah panas mendidih, seorang yang sudah bertekad mengucurkan darah, biasanya takkan

mengucurkan air mata lagi. Dia tahu, apa yang dikatakan Thiat Tin-thian memang tidak salah.

“Jika Ji-liong mau bersembunyi di dasar sumur, setelah kedua sahabatnya itu mati, musuh tentu

akan pergi, dirinya akan punya waktu untuk meloloskan diri dan selamat pulang ke tokonya.

Hari-hari selanjutnya takkan ada orang yang membeli garam sebanyak itu, rahasia dirinya tetap

adalah rahasia. Dia bisa melupakan peristiwa ini, melupakan orang yang bernama Thiat Tin-thian

dan lupa bahwa dirinya pernah mengenal seorang penjahat yang berjiwa ksatria.

Sebaliknya kalau sekarang ia ikut menerjang keluar, maka dirinya akan gugur bersama Thiat Tinthian.

Maklum bila dirinya keluar dari sumur, Coat-taysu dan begundalnya tentu akan mengeroyok,

dan akan ketahuan pula siapa dia sebenarnya.

Seorang pemilik sebuah toko, hidup tenteram dan rukun, pasti tak mau membela Thiat Tin-thian

yang terkenal jahat dan ganas, apalagi mau mempertaruhkan jiwa raga sendiri. Demikian pula

seorang yang berpikiran sehat dan punya akal budi lumrah, pasti tak mau melakukan perbuatan

bodoh, mengorbankan jiwa sendiri secara percuma.

Ji-liong bukan orang bodoh. Ia juga tahu, cara bagaimana harus mempertahankan jiwa raga sendiri.

Manusia hanya hidup sekali, hanya punya satu jiwa. Seperti juga manusia umumnya, ia pasti sayang

dan ingin mempertahankan hidupnya.

Sayang sekali pada detik-detik yang genting ini, mendadak Ji-liong sadar, ia menemukan sesuatu

yang lebih berharga dibandingkan dengan jiwa orang hidup di dunia ini.

————————————-ooo00ooo————————————

Coat-taysu memang menduga di dalam sumur hanya ada dua orang saja. Jika ada orang yang

mendadak menerjang keluar, mereka pasti amat kaget. Di saat mereka kaget itulah, kesempatan

yang amat berharga untuk Ma Ji-liong turun tangan.

Meski hanya sedikit kesempatan, Ma Ji-liong takkan mengabaikannya. Umpama tak ada

kesempatan, Ji-liong tetap akan menerjang keluar melabrak musuh. Maka dengan tekad bulat,

dengan mengerahkan seluruh kekuatan, ia pun menerjang keluar.

Bab 21: Kesetiaan Yang Teruji

Manusia kenapa harus mempertahankan hidup? Apakah karena ia ingin melaksanakan tugas dan

kewajiban yang harus dilakukan? Kalau seorang beranggapan tugas yang mutlak ia kerjakan tak

mampu ia lakukan, lalu apa artinya ia bertahan hidup?

Sumur itu terletak di tengah pekarangan. Mentari pagi sudah memancarkan cahayanya yang

benderang, hawa sejuk dan nyaman, tampak merah darah. Darah memang berceceran di tanah.

Darah orang lain, juga darah dari tubuh Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi.

Waktu Thiat Tin-thian menerjang keluar, sebilah Bian-to menyongsong batok kepalanya. Golok

tipis itu membacok lurus dengan jurus lihai, namun sekali raih sambil menundukkan kepala, Thiat

Tin-thian berhasil menangkap pergelangan tangan orang terus dipelintirnya ke kiri, berbareng

tangan yang lain mencengkeram pundaknya. Di tengah raungan gusarnya, lengan orang ini ia betot

hingga putus seperti pengemis menarik paha ayam panggang layaknya. Sayang yang menjadi

korban kelihaian permainan telapak tangannya bukan Coat-taysu, juga bukan Pang Tio-hoan, tapi

seorang jago silat yang tidak terkenal.

Di luar pintu dapur ditaruh dua kursi, Coat-taysu dan Pang Tio-hoan tampak bercokol dengan

kereng tanpa bergerak. Dengan dingin mereka mengawasi buronan yang mirip tikus di tengah jalan

raya, terkepung rapat dan tak mampu melarikan diri. Jumlah orang yang berkumpul di sini tidak

sedikit, mereka adalah orang-orang yang ingin mengganyang gembong iblis pembunuh saudara atau

keluarganya, maka mereka pula yang harus beraksi, berebut pahala. Kecuali menuntut balas, Coattaysu

dan Pang Tio-hoan segan turun tangan, mereka menjaga gengsi, tidak mau menghadapi lawan

yang sudah terluka.

Coat-taysu, Pang Tio-hoan dan lain-lain memang tidak menyangka kalau di bawah sumur masih ada

orang ketiga. Setiap manusia, siapa pun orangnya, bila menghadapi suatu peristiwa di luar dugaan

atau di luar perhitungannya, sedikit banyak tentu akan terkejut. Begitu lena sekejap saja, maka akan

mengundang kesalahan yang fatal akibatnya.

Mumpung ada kesempatan, sebetulnya Ma Ji-liong sudah siap memberikan sergapan yang

mematikan. Asal seorang di antara dua gembong silat ini berhasil dilumpuhkan, itu berarti ia punya

harapan dan peluang untuk merobohkan lagi yang lain.

Sayang sekali perhitungan Ma Ji-liong meleset jauh dari dugaan semula. Begitu ia menerjang

keluar, ternyata Coat-taysu dan Pang Tio-hoan jauh beberapa tombak dari mulut sumur. Namun Ma

Ji-liong sudah terlanjur bertindak, sudah terlanjur bergerak, maka ia tetap menerjang ke sana. Ia

sudah bertekad berbuat sesuai rencana dan keinginan hatinya, tidak memikirkan gagal atau berhasil.

Apalagi keadaan segenting ini, ia tidak boleh berhenti atau membatalkan rencana.

Ma Ji-liong masih berpakaian hitam dari kain kasar, kedok kepalanya yang hitam entah sejak kapan

sudah ia tanggalkan, mungkin waktu pertama kali ia terjun ke dasar sumur tadi.

Selama berkecimpung di kalangan Kangouw, belum pernah Ma Ji-liong merasa gentar menghadapi

persoalan pelik, sekalipun di saat dirinya masih normal, normal dalam arti dirinya adalah Ma Jiliong

tulen, bukan Thio Eng-hoat seperti sekarang. Wajah yang sekarang sudah tentu bukan wajah

Ma Ji-liong yang pernah dikenal oleh Coat-taysu, Thio Eng-hoat tidak dikenal atau pernah dilihat

oleh orang persilatan di mana pun.

Bahwasanya kepandaian Ma Ji-liong belum terhitung kelas wahid atau jago kosen kalangan

Kangouw, tapi sejak ia mulai belajar berjalan, ayah bundanya sudah melatih dirinya hingga umur

tujuh tahun mulai dipupuk dasar pelajaran silat. Ilmu silat Ji-liong mungkin tak sejajar dengan ilmu

silat Siau-lim dan Bu-tong yang sudah tercatat dalam lembaran sejarah sebagai aliran silat yang

ternama, perguruan besar yang disegani dan ditakuti, namun ilmu silat Thian-ma-tong mempunyai

ciri khas dan keistimewaan sendiri.

Seseorang bila berhasil dan sukses mengejar karir hingga terkenal, kuat bertahan sampai lama, pasti

mempunyai kemampuan yang luar biasa, keistimewaan yang boleh diagulkan, terutama Ginkang

dari keluarganya, ilmu ringan tubuh dari Thian-ma-tong.

Sudah puluhan tahun, turun temurun Ginkang Thian-ma-tong malang melintang, bagai kuda terbang

yang melesat di udara. Di kala menyergap musuh dari udara, perbawanya memang amat

mengejutkan.

Seorang laki-laki baju hitam yang kelihatan kasar, sederhana dengan gerak tubuh secepat kilat

mendadak menerjang keluar dari dalam sumur yang semula dikira tidak ada orangnya lagi, langsung

menubruk ke arah dirinya, sudah tentu Coat-taysu amat kaget dan heran. Menghadapi kejadian di

luar dugaan, siapa pun pasti kaget dan panik, apalagi penyergap ini memiliki Ginkang yang tinggi.

Sigap sekali Thiat Tin-thian melemparkan korbannya ke samping. Dengan raungan keras ia

menjejakkan kaki, tubuhnya melesat ke depan mengejar Ma Ji-liong dengan tubrukan katak, kedua

tangannya ternyata dapat mulur beberapa senti lebih panjang. Tangkas sekali ia berhasil

mencengkeram ikat pinggang Ma Ji-liong, berbareng jari telunjuk dan jari tengahnya menutuk Hiatto

di belakang pinggangnya. Di saat suara raungannya belum sirap, sekuat tenaga ia menarik dan

melemparkan Ma Ji-liong ke belakang dari atas kepalanya. Mati pun Thiat Tin-thian tidak rela

sahabatnya ini berkorban untuk dirinya, ia harus mencegah perbuatan nekad Ji-liong.

Di saat Ma Ji-liong menyergap dari udara, dilihatnya Coat-taysu sudah berdiri sambil mengulurkan

kedua tangannya ke depan. Telapak tangannya dengan jari-jari setengah tertekuk bagai cakar elang

sudah berubah dua kali, dari warna hijau pupus menjadi merah maron, demikian pula urat hijau di

punggung tangannya juga berubah merah kuning, mirip cahaya matahari di kala tenggelam ke

peraduannya, mulai redup tapi gemerdep.

Tidak ada orang lain yang lebih paham kecuali Thiat Tin-thian, betapa mengerikan pukulan Samyang-

coat-hu-jiu itu. Secara lahir batin Thiat Tin-thian sudah merasakan betapa besar siksa derita

orang yang terkena pukulan keji ini, maka ia harus mencegah Ma Ji-liong menyerempet bahaya

demi dirinya.

Coat-taysu yang sudah berjingkrak berdiri dan siap menyerang dengan kedua telapak tangannya,

kini menurunkan lagi kedua tangannya, lalu duduk pula di tempatnya, tatapan matanya dingin,

“Siapa orang ini?” pertanyaannya dingin kaku.

“Seorang kawan,” sahut Thiat Tin-thian.

“Hm, kau juga punya kawan?” jengek Coat-taysu.

Thiat Tin-thian tertawa latah, serunya, “Orang she Thiat membunuh orang tak terhitung banyaknya,

musuh tersebar luas di seluruh pelosok dunia, tapi yakin kawanku tidak kalah banyak dibanding

kau. Apalagi kawan seperti dia, aku yakin selama hidupmu kau justru tak pernah punya kawan

seperti kawanku yang satu ini.”

Lama Coat-taysu menatapnya dengan memicingkan mata, perlahan ia menoleh ke arah Ma Ji-liong

yang berdiri tak jauh di pinggir sana. “Apa betul kau kawannya?”

“Betul,” tegas jawaban Ma Ji-liong.

“Apa betul kau rela berkorban untuk kawanmu ini?”

Ma Ji-liong menjawab, “Aku berani berkorban untuk diriku sendiri, jiwaku berani kupertaruhkan.”

Ia tidak sengaja merubah suara, tapi suaranya memang berubah.

Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long yang lihai bukan saja merubah bentuk wajahnya, dia

juga merubah suaranya.

Sudah tentu Coat-taysu juga tidak kenal suaranya, maka ia bertanya pula, “Tahukah kau, kenapa

aku hendak membunuhnya?”

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia memang tidak tahu.

Coat-taysu bertanya pula, “Tahukah kau siapa tiga saudara Nyo yang dijuluki orang ‘teman bak

saudara, setia dan adil tiada bandingan’?”

Ma Ji-liong tahu. Meski tidak kenal, ia pernah mendengar kebesaran nama Nyo bersaudara ini.

Mereka tinggal di Ho-tiong, keluarga besar persilatan ini sudah turun temurun menjagoi daerah itu

dengan kekayaan yang berlimpah-limpah. Meski tiga saudara, namun mereka hidup akur dan rukun,

tri-tunggal yang kokoh kuat dan tak tergoyahkan, punya uang, ternama, berkuasa, berjiwa besar,

luhur budi, setia kawan, berbakti, suka membela keadilan. Tiga saudara dengan keluarga masingmasing

tinggal di dalam satu perkampungan besar, secara bergilir mereka meladeni ayah bundanya

yang sudah lanjut usia.

Sikap Coat-taysu tampak prihatin, berat dan sedih, katanya pula, “Nah, dua puluh sembilan orang

anggota keluarga marga Nyo itu, besar kecil, tua muda, seluruhnya mati dalam sekejap mata oleh

golok Thiat Tin-thian. Tujuh belas perempuan muda yang masih hidup, ia jual ke markas tentara di

perbatasan untuk dijadikan babu dan pelampias nafsu tentara yang rakus berahi itu.”

Mendadak Thiat Coan-gi meraung gusar sambil memburu ke depan, “Jangan kau mengoceh demi

kebenaranmu sendiri. Tahukah kau kenapa ia berbuat demikian?” Suaranya beringas dan

memilukan, “Tahukah kau dengan cara bagaimana ketiga saudara Nyo itu menyiksa dan membunuh

ayah bundaku? Menggagahi isteriku dan membantai putra-putriku?”

Coat-taysu menyeringai dingin, jengeknya, “Itulah pembalasan atas perbuatanmu.”

“Betul, juga pembalasan atas perbuatan mereka!” hardik Thiat Tin-thian. “Tiga saudara Nyo dan

seluruh keluarganya, akulah yang membunuhnya. Aku yang berbuat, aku yang bertanggung-jawab,

tiada sangkut-paut dengan orang lain.” Lalu ia menuding beberapa orang yang tersebar di

pekarangan, mereka adalah murid-murid berbagai perguruan yang dibawa Coat-taysu untuk

menuntut balas, mereka siap menjagal Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi, “Orang-orang ini tentu

sanak-kadang atau teman baik keluarga Nyo, mereka sudah tahu kalau aku telah terluka oleh SamKoleksi

Kang Zusi

yang-coat-hu-jiu. Mereka juga tahu, bila dapat membunuh aku, nama mereka akan terangkat dan

boleh menepuk dada di muka umum sebagai penumpas kejahatan. Sebaliknya kau adalah pendekar

besar, Coat-taysu yang tersohor, tidak perlu kau ikut rebutan pahala, celaka kalau kau gugur di

tanganku.”

Coat-taysu diam saja, hanya sorot matanya tampak gusar dan beringas.

Thiat Tin-thian juga makin beringas, lebih emosi, teriaknya, “Tapi aku belum mampus, kalian ingin

merenggut jiwaku, maka kau undang orang-orang bodoh yang gila jasa ini, tapi yakinlah, sebelum

aku ajal, aku masih mampu memelintir putus leher beberapa orang, memukul remuk badan

mereka.”

Coat-taysu menyeringai, katanya, “Mereka membela keadilan, mengejar kebajikan, mati demi

menuntut balas sakit hati teman, tidak perlu dibuat menyesal, aku tidak bisa dan takkan mencegah

mereka berjuang demi kemuliaan.”

Thiat Tin-thian berkata, “Baiklah, aku akan menyempurnakan mereka sekuat tenagaku.” Lalu ia

menuding Ji-liong, “Apa yang pernah kulakukan sedikit pun tiada sangkut-pautnya dengan orang

ini. Asal kau membiarkan dia pergi, terserah siapa yang kau suruh memenggal leherku, aku pasti

takkan membalas.”

Lama Coat-taysu mengawasinya dengan mata terpicing, sekilas ia menoleh ke arah Ma Ji-liong,

“Sebelum hari ini, aku belum pernah melihat kau, kelihatannya kau bukan orang jahat.”

Ma Ji-liong hanya mendengar, tidak bicara, tidak bertanya, tidak membantah juga tidak memberi

komentar.

“Sejak kapan kau berkenalan dengan Thiat Tin-thian?” tanya Coat-taysu.

“Baru saja,” sahut Ma Ji-liong.

“Ya, kapan?” desak Coat-taysu.

Thiat Tin-thian menimbrung, “Belum setengah hari ia kenal denganku.”

Coat-taysu menghela napas, katanya, “Kenal belum setengah hari tapi sudah rela mengadu jiwa

untuk orang lain? Memang jarang ada manusia seperti dirimu.” Mendadak ia menoleh ke arah Ma

Ji-liong, lalu katanya sambil mengulapkan tangan, “Kau pergi saja.”

———————-ooo00ooo————————————

Ma Ji-liong tetap berdiri di tempatnya, berdiri tegak tidak bergeming.

Coat-taysu menatapnya lagi sekian lama, kemudian ia bertanya, “Kau tak mau pergi?”

“Aku tidak akan pergi,” sahut Ma Ji-liong tegas. “Pasti takkan pergi.”

That Tin-thian meraung lagi, “Kau harus pergi, lekas pergi.”

“Hanya ada satu cara untuk memaksa aku pergi,” suara Ma Ji-liong lantang tapi tenang dan wajar,

tegas lagi berani, “Bunuh aku dan gotong pergi.”

Memicing mata Coat-taysu, jengeknya, “Tidak sukar membunuhmu. Tadi kalau dia tidak

menarikmu, sekarang kau sudah digotong pergi, tahu.”

“Aku tahu.”

“Kau ingin digotong pergi?”

“Ya, bila perlu dan terpaksa.”

“Kenapa kau ngotot ingin membela mereka?”

“Tidak kenapa.”

Bahwasanya jawaban ini tidak kena sasaran. Seseorang boleh ‘tidak kenapa’ berkenalan dan

bersahabat dengan orang lain yang dianggap cocok, tidak memikirkan untung ruginya, tidak perduli

akibatnya, juga tiada maksud dan tujuan tertentu. Tetapi setelah berkenalan dan bersahabat dengan

orang itu, apa yang ia lakukan untuk temannya, bukan lagi dinilai dengan dua buah kata ‘tidak

kenapa’, tapi lantaran suatu ikatan atau tepatnya karena adanya jalinan persahabatan yang meresap

akrab lahir batin, yang pasti jalinan persahabatan itu sukar dijelaskan bentuknya.

Karena suatu tujuan lantas berbuat atau melakukan, demi keadilan berani melakukan, keberanian

yang ditunjang kesetiaan, untuk memberikan pertanggungan jawab terhadap nurani dan rohani,

supaya dirinya tidak bisa tidur di tengah malam mana kala sedang bermimpi buruk. Supaya dirinya

tidak berdosa, menanggung beban batin di kala hidup, biar mati juga lega, mati dengan tenteram.

Kenapa bisa terjadi ‘tidak kenapa’? Kalau sukses bagaimana? Kalau gagal kenapa pula? Kalau hidup

kenapa? Kalau mati bagaimana?

Sukses atau gagal, mati atau hidup tetap takkan goyah, terus maju tak mau berpaling, tidak mau

menundukkan kepala.

Bab 22: Bukan Kabut Bukan Halimun

Ma Ji-liong mengangkat kepala, sinar mentari menyorot mukanya. Walau wajahnya bukan lagi

muka yang gagah dan tampan, bukan wajah yang bisa mempesona para gadis hingga jatuh cinta

padanya, tapi siapa pun yang melihatnya, sikapnya pasti hormat dan serius.

Thiat Tin-thian mengawasinya, “Transaksiku tadi sebetulnya cukup baik, boleh sekarang juga teken

kontrak, kenapa kau malah tidak setuju?”

“Karena aku juga akan menawarkan transaksi yang lebih baik untuk mereka, kutanggung bila

syaratnya sudah kujelaskan, mereka akan menerima dengan senang hati,” demikian bantah Ji-liong.

“Transaksi apa?” tanya Coat-taysu. “Ada persoalan apa yang lebih baik daripada transaksi yang ia

tawarkan tadi?”

“Mereka mempertaruhkan dua jiwa untuk menebus diriku,” demikian ujar Ma Ji-liong tertawa.

“Jelas transaksi ini mengundang kerugian, kenapa aku setuju?”

“Lalu bagaimana dengan transaksimu?” tanya Coat-taysu.

“Kebalikannya, yaitu dengan satu jiwa menebus dua jiwa mereka,” sahut Ma Ji-liong.

Coat-taysu menyeringai dingin, “Transaksimu tak bisa diterima.”

“Lho, kenapa?”

“Tidak ada orang yang dapat menebus jiwa kedua orang ini,” sinis nada perkataan Coat-taysu.

“Tidak ada jiwa seseorang di dunia ini yang bernilai setinggi itu.”

“Ada, hanya seorang saja,” seru Ji-liong. “Aku tahu ada seorang yang cukup setimpal untuk

menebus jiwa mereka berdua.”

“Siapa dia?” tanya Coat-taysu.

“Ma Ji-liong.”

Memicing mata Coat-taysu begitu mendengar nama Ma Ji-liong, dahi pun berkerut.

Ma Ji-liong alias Thio Eng-hoat ini juga memicingkan mata. “Aku tahu orang yang ingin kalian cari

bukan Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong adalah buronan kalian yang utama.”

Coat-taysu mengangguk.

“Dengan jiwa Ma Ji-liong, setimpal tidak untuk menebus jiwa mereka?”

“Ya, cukup setimpal,” ujar Coat-taysu, jelas sekali perubahan mimik mukanya berusaha menekan

emosi. “Sayang sekali siapa pun tidak bisa menemukan jejak Ma Ji-liong.”

“Ada orang yang bisa menemukan dan menunjukkan di mana sekarang ia berada,” seru Ma Ji-liong

lantang. “Paling sedikit ada seorang yang dapat menunjukkannya.”

“Siapa yang bisa menunjukkan jejak Ma Ji-liong?”

“Aku!” teriak Ma Ji-liong lantang, jelas ia pun berusaha mengendalikan diri. “Bila kalian

membebaskan kedua orang ini, aku tanggung kalian akan menemukan Ma Ji-liong.”

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Kau memang kawan baik, transaksimu juga bagus

sekali, sayang siapa pun takkan mau meneken kontrak yang kau tawarkan itu.” Suaranya serak dan

tersendat. “Siapa mau percaya obrolanmu.”

Coat-taysu diam saja, tidak perduli. Ma Ji-liong juga tidak menghiraukan ocehan Thiat Tin-thian.

Dua orang ini berhadapan, bertatap muka, saling pandang, meski mata memicing, tapi sorot mata

mereka setajam jarum.

Sepatah demi sepatah Ma Ji-liong berkata, “Kau tentu tahu dan yakin, bahwa apa yang kuucapkan

bukan obrolan. Aku tidak membual.”

“Ya, aku tahu,” sahut Coat-taysu. “Tapi aku tak bisa dan tidak akan membebaskan mereka lebih

dulu sebelum memperoleh jaminan atau bukti.”

“Kau tidak percaya kepadaku?”

“Bila kau serahkan Ma Ji-liong, mereka segera kubebaskan.”

“Aku saksinya,” seru Pang Tio-hoan dari samping.

Ma Ji-liong menyeringai, “Kalian tidak percaya kepadaku, kenapa aku harus percaya kepada

kalian?”

“Karena aku adalah Pang Tio-hoan dan dia adalah Coat-taysu, sebaliknya kau adalah manusia yang

belum dikenal asal-usulnya.” Sebetulnya alasannya kurang tepat, tapi justru merupakan jawaban

yang kena sasaran.

“Kalau kau ingin aku teken kontrak, kau harus patuh kepada kami,” demikian Coat-taysu

menegaskan. “Kalau tidak, terpaksa kami bunuh Thiat Tin-thian lebih dulu, lalu membunuhmu.”

Pernyataan yang tegas, memang Coat-taysu orang yang serba tegas, hatinya kaku, pendiriannya

tidak pernah goyah, perasaannya beku, membunuh orang tanpa kenal kasihan.

Ji-liong tersudut, tiada pilihan lain, “Baiklah.” Sambungnya kemudian, “Aku percaya padamu.”

Tinjunya mengepal, “Aku adalah orang yang kalian cari.”

“Jadi kaulah Ma Ji-liong.”

“Aku adalah Ma Ji-liong.”

Laki-laki setengah baya pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong menyerahkan

diri sendiri, mengkhianati diri sendiri. Kalau ada orang yang bertanya, “Kenapa kau menyerahkan

diri?” Ma Ji-liong pasti tak bisa menjawab, karena tidak mungkin ia bilang ‘tidak kenapa’ lagi.

Padahal Ji-liong sendiri tidak sadar, tidak tahu apa yang mendorong ia berbuat demikian. Mungkin

karena emosi? Atau karena darah yang mendidih di rongga dada? Karena setia kawan? Atau karena

kobaran semangat dan ingin menjebol belenggu keadilan yang tak terpecahkan?

Kenapa orang disebut manusia, karena manusia punya perasaan, punya peri-kemanusiaan. Peri

kemanusiaan yang paling diagungkan di dalam kemanusiaan itu sendiri justru sering tak bisa

dijelaskan, susah dimengerti.

Ma Ji-liong mengangkat kepalanya, cahaya mentari masih menyinari mukanya, “Kau tidak

mengenalku karena wajahku sudah dirias orang,” demikian ucap Ma Ji-liong. “Di sini aku

bersembunyi sebagai pemilik toko serba ada, cukup lama orang tidak menemukan jejakku.” Karena

tidak bisa memperlihatkan aslinya, terpaksa Ma Ji-liong membuka rahasia sendiri, soalnya Ji-liong

tidak mampu mencuci bersih atau merubah wajahnya yang sudah dipermak menjadi wajah Ma Jiliong

yang asli. Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long-nya telah merubah kulit wajahnya

dengan operasi yang tak mampu dilakukan orang lain. Namun rahasia ini tak mungkin Ji-liong

jelaskan secara terperinci, karena rahasia orang lain pantang ia bocorkan. Tapi dalam perkara yang

dihadapinya ini, Ma Ji-liong telah bicara dengan jujur, setiap patah kata adalah kenyataan. Maka ia

bertanya, “Sekarang, apakah kalian mau membebaskan mereka?”

Coat-taysu menoleh ke arah Pang Tio-hoan, Pang Tio-hoan juga sedang mengawasinya. Rona muka

mereka tidak kelihatan berubah.

“Bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Coat-taysu.

“Bagaimana pendapatmu?” Pang Tio-hoan malah balas bertanya. “Kalau benar dia adalah Ma Jiliong,

apa alasan dia berkorban untuk menolong Thiat Tin-thian?”

“Ya, tiada alasan,” ujar Coat-taysu. “Sedikit pun tidak ada alasannya.”

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Aku tahu kau tidak akan dapat menipu mereka, aku juga

tahu siapa pun takkan mau percaya obrolanmu.” Begitu keras ia tertawa sampai napasnya sesak,

mulut pun megap-megap.

Ma Ji-liong juga ingin tertawa, tertawa sepuas-puasnya, tapi ia tidak bisa tertawa. Ucapannya bukan

bualan, setiap patah kata yang ia ucapkan adalah kenyataan, tetapi tidak ada orang yang percaya

kepadanya. Bukankah kejadian ini amat lucu dan menggelikan? Kejadian yang mengundang gelak

tawa orang hingga air mata meleleh.

Kalau Ji-liong bisa tertawa, kalau air matanya meleleh, termasuk jenis apakah air matanya?

Thiat Tin-thian masih berloroh-loroh, tampak air matanya sudah meleleh di pipi, termasuk jenis apa

pula air matanya?

“Kau adalah keroco yang tidak diketahui asal-usulnya, tapi aku adalah Hoan-thian-hu-te, perampok

besar yang kejam, umpama jiwamu rangkap sepuluh juga takkan dapat menukar satu jiwaku, lekas

kau pergi saja.”

Ma Ji-liong membandel, dia tidak mau pergi.

Loroh tawa Thiat Tin-thian mendadak berhenti, mendadak ia meraung, “Kontrak dagangmu jelas

gagal, kenapa tidak lekas kau enyah dari sini?”

“Karena ia adalah kawanmu, kawanmu adalah sahabat baikmu,” dingin suara Coat-taysu. “Sebagai

sahabat baik, ia bertekad untuk mengiringi kematianmu di sini.”

Mendadak Thiat Tin-thian membalikkan tubuh, menatapnya dengan beringas, sorot matanya

memancarkan sinar gusar, ngeri dan panik. “Tadi kau bilang suruh dia pergi.”

“Ya, aku pernah bilang, kusuruh dia pergi.”

“Sekarang apakah kau tetap menyuruhnya pergi?”

“Bukan aku yang melarang dia pergi, tapi dia sendiri yang tidak mau pergi,” dingin suara Coattaysu.

“Tidak pernah aku memaksa orang, maka siapa pun kularang memaksa dia pergi. Kalau ada

yang berani memaksa dia pergi, biar aku yang membunuhnya lebih dulu.”

Melotot bola mata Thiat Tin-thian, ujung matanya seperti hampir merekah, “Aku mengerti, aku

sudah mengerti.” Desis suaranya setengah memekik sedih, “Sekarang aku sudah tahu.”

“Kau tahu apa?” tanya Coat-taysu.

Gemertak gigi Thiat Tin-thian, tinjunya terkepal, desisnya geram, “Jiwamu sempit pikiran cupat,

hati kejam tangan gapah. Aku masih menganggap kau sebagai manusia lumrah, tapi kau tidak bisa

membedakan atau tidak mau membedakan salah dan benar, main bunuh habis perkara, aku tetap

menganggapmu sebagai manusia. Thiat Tin-thian malang melintang seumur hidup, tak terhitung

manusia yang terbunuh oleh kedua tanganku, bukan mustahil aku pernah salah membunuh orang

yang tidak berdosa, membunuh orang yang terfitnah, lalu apa artinya kalau suatu ketika aku juga

difitnah orang, umpama terpenggal batok kepala atau hancur luluh tubuhku juga lumrah.” Dengan

nada tinggi dan beringas, ia meraung pula, “Tapi sekarang aku tahu, kenyataan membuktikan bahwa

kau bukanlah manusia.”

Coat-taysu mendengarkan sambil memicingkan mata, lalu ia bertanya, “Kau ingin melihat

kawanmu mati lebih dulu? Atau ingin membiarkan temanmu melihat kau mampus dengan konyol?”

Mendadak Thiat Tin-thian memekik keras, bagai serigala kelaparan ia menjejakkan kaki terus

menubruk dengan kalap ke arah Coat-taysu. Tenaganya sudah hampir habis, tapi tubrukan kalap

dengan sisa tenaganya ini seperti singa mengamuk.

Pada saat genting itulah, dari luar pekarangan mendadak berkumandang suara merdu yang

melengking tajam, “Semua orang ingin hidup sehat, kenapa di sini ada orang yang ingin mati?”

Di saat nada tinggi merdu itu bergema di udara, dari luar tembok tampak muncul segumpal halimun

tebal yang melayang kencang ditiup angin, halimun tebal warna hijau pupus yang melebar secara

cepat itu ternyata berbau harum seperti kembang melati.

Bila beberapa patah kata ucapan merdu tadi selesai diucapkan, halimun tebal tadi sudah berubah

menjadi kabut hijau yang berkembang luas, setebal asap cerobong tungku besar yang bergulunggulung

ke empat penjuru. Padahal halimun hijau itu bukan kabut, kabut hijau itu bukan halimun.

Tak ada kabut warna hijau di dunia ini, tapi kelihatan bahwa yang tertiup oleh hembusan angin lalu

itu adalah kabut. Dalam jarak dekat, orang yang terbungkus dalam kabut tidak bisa melihat orang

atau keadaan di sekitarnya.

Seumpama Ma Ji-liong betul adalah Ma Ji-liong, tapi kalau dipandang dan diamat-amati ternyata

tidak mirip dan bukan Ma Ji-liong.

Bab 23: Orang Jujur Yang Tidak Jujur

Tubrukan nekat Thiat Tin-thian sebetulnya merupakan tubrukan mengadu jiwa dengan sisa tenaga

terakhir, sergapan yang akan menentukan mati atau hidup. Thiat Tin-thian sudah bertekad mati, rela

berkorban untuk menyelamatkan Ma Ji-liong, tetapi ia tidak mati, karena di saat tubuhnya terapung

di udara, tahu-tahu tubuhnya malah tertarik mundur ke belakang.

Ternyata berbareng dengan tubrukan Thiat Tin-thian itu, Ma Ji-liong juga menubruk di

belakangnya. Dengan kedua tangan ia cengkeram ikat pinggangnya serta menarik sekuat tenaga. Di

sana Coat-taysu juga sudah siap menyambut tubrukannya, tapi ia tidak jadi melontarkan

pukulannya.

Begitu suara merdu itu bergema, kabut pun datang, gerakannya pun terhenti, wajah yang semula

kaku mendadak menunjukkan mimik aneh, romannya kelihatan ganjil.

Hanya sekejap Coat-taysu sudah tidak melihat Thiat Tin-thian lagi, kabut hijau itu seperti

terhembus keluar dari mulut iblis raksasa, seakan-akan pekarangan kecil itu mendadak ditelan

bulat-bulat. Kecuali kabut tebal itu, apa pun tidak terlihat lagi.

Lekas Ma Ji-liong membawa Thiat Tin-thian pulang kembali ke toko serba ada miliknya itu.

Coat-taysu dan kawan-kawannya juga tidak bisa melihat apa pun, sudah tentu mereka tidak berani

sembarangan bertindak, demikian pula Ma Ji-liong yang seperti orang buta di tempat itu. Tapi

sebagai penduduk yang sudah sekian bulan tinggal di daerah itu, sedikit banyak ia sudah hafal

keadaan sekelilingnya, apalagi ia pernah beberapa kali dolan ke rumah To Po-gi. Maka Ji-liong

tidak kuatir dirinya salah langkah seperti yang dikuatirkan Coat-taysu. Ia tidak takut dibokong, juga

tidak takut menumbuk tembok hingga tulang patah dan kepala bocor. Seorang yang sudah berani

mempertaruhkan jiwa raga, sudah siap berlaga dan mati di medan perang, lalu apa lagi yang

ditakuti? Dengan leluasa Ji-liong sampai di rumah tanpa kurang suatu apa pun.

———————————–ooo00ooo————————————–

Umumnya kalau orang tidur agak dini tentu bangunnya juga lebih pagi. Penduduk kampung itu

kebanyakan tidur sore-sore, biasanya begitu kokok ayam mulai bersahutan penduduk sudah banyak

yang bangun. Begitu fajar menyingsing, toko serba ada itu juga sudah buka pintu.

Tapi hari ini agak berbeda, keadaan tidak seperti biasanya.

Dengan menggendong Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong melompat masuk lewat pintu samping.

Sebelumnya ia sudah putar kayun keluar masuk lorong-lorong kampung yang sempit, jorok dan bau

untuk menghilangkan jejak dari pengejaran musuh. Setelah yakin dirinya tidak dikuntit, langsung ia

berputar ke belakang dan melompat masuk dari tembok belakang.

Begitu diturunkan, Thiat Tin-thian tampak lemah dan lesu, mirip orang lumpuh. Walau sergapannya

tadi berhasil digagalkan oleh Ji-liong, tapi dia sudah terlanjur mengerahkan seluruh sisa tenaganya,

kini tenaga seperti lepas dari badan sehingga sekujur tubuh terasa lemas lunglai.

Waktu Ma Ji-liong menyeretnya lari tadi, terpaksa dia menurut saja, padahal dia tidak bisa

melupakan saudaranya, Thiat Coan-gi. Walau Thiat Coan-gi bukan saudara kandungnya, tapi

selama beberapa tahun belakangan ini mereka berjuang bersama dan bertempur berdampingan, mati

hidup juga harus bersama. Di antara dua saudara ini sudah terjalin ikatan batin yang kental,

persahabatan yang kekal, lebih kental dibanding kentalnya darah.

“Aku tak boleh meninggalkan Coan-gi di sana,” demikian desis Thiat Tin-thian waktu dirinya

digendong Ma Ji-liong. “Kita harus kembali dan menolongnya juga.”

Kalau saat itu putar balik bukan saja sudah tidak keburu, salah-salah jejak mereka bisa ketahuan

musuh pula.

“Yang diburu Coat-taysu bukan dia,” demikian bujuk Ma Ji-liong. “Sebelum kau jatuh ke tangan

mereka, mereka pasti tidak akan membunuhnya.”

Pekarangan belakang toko serba ada ini, bentuk dan luasnya mirip dan sama dengan pekarangan

rumah To Po-gi, cuma di sini tidak ada sumur. Di tengah pekarangan dibangun sebuah rumah

tambahan di mana Thio-lausit tidur. Kamar tempat tinggal Thio-lausit tampak terbuka, Thio-lausit

tidak berada di kamarnya, juga tidak ada di dapur, sementara pintu kamar mandi terpalang dari luar.

Umpama belum tidur pulas, Cia Giok-lun tentu terlena meski hanya sekejap, demikian batin Ma Jiliong.

Perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati, Ma Ji-liong mendorong daun pintu, lalu

menyelinap masuk. Tiada gangguan atau suara lirih sekalipun yang dapat mengejutkan seseorang

sehingga terjaga dari tidurnya.

Setelah diturunkan, Thiat Tin-thian dibimbing duduk di kursi rotan di mana ia biasa duduk istirahat.

Lalu ia berlari ke toko untuk mengambil segentong garam dan sekeranjang telur ayam, ditaruh di

dekat Thiat Tin-thian. Bayangan Thio-lausit ternyata juga tidak kelihatan di dalam toko.

Setelah melalap beberapa genggam garam dan dua butir telur ayam, keadaan Thiat Tin-thian

kelihatan lebih segar, barulah ia bicara, “Ini toko serba ada milikmu?”

“Ehm,” Ma Ji-liong mengiakan.

“Siapakah perempuan di atas ranjang itu?” tanya Thiat Tin-thian. “Binimu?”

Susah Ji-liong menjawab pertanyaan orang. Ia tidak ingin membohongi Thiat Tin-thian, namun ia

juga tidak tahu, pantaskah ia mengakui hal itu? Atau harus menyangkal? Hakikatnya ia tidak tahu

bagaimana harus menjawab.

Untung Thiat Tin-thian tidak bertanya lagi, ia menghela napas, “Seharusnya kau tidak membawa

aku ke tempat ini, tidak pantas aku berada di sini.”

“Bukan saja kau harus kubawa ke mari, aku pun harus menyelamatkan jiwamu.”

“Kenapa?” tanya Thiat Tin-thian tidak habis mengerti.

“Karena di sini ada seseorang yang mungkin dapat menyembuhkan lukamu.”

Bercahaya bola mata Thiat Tin-thian, betapa pun ia senang, bergairah dan menyala semangatnya.

Asal ada orang yang dapat menyembuhkan luka-lukanya, itu berarti ia punya keyakinan lagi untuk

menghadapi Coat-taysu, menuntut balas sakit hatinya. Dulu ia terlalu percaya diri, terlalu yakin

bahwa dirinya mampu dan kuat, sepenuh tenaga pukulan mengadu kekuatan melawan Coat-taysu,

umpama bukan tandingan juga harus gugur bersama. Kini setelah pengalaman membuktikan dirinya

bukan tandingan lawan, bahkan terluka parah lagi, maka Thiat Tin-thian tidak berani mengulangi

kesalahan, memburu keinginan yang belum pasti.

“Siapa yang dapat menyembuhkan lukaku?” ingin Thiat Tin-thian bertanya, tapi belum ia membuka

suara, seseorang sudah menyeletuk bicara.

Ma Ji-liong mengira Cia Giok-lun yang diam tak bergerak itu sudah tertidur pulas, tapi mendadak ia

bersuara, “Memang tidak pantas kau membawa orang ini ke sini. Ketahuilah, di sini pasti tiada

orang yang bisa menyembuhkan luka-lukanya. Kecuali keluarga Cia dan orang-orangnya, siapa pun

takkan dapat menolong jiwanya.”

“Tapi kau……..”

Mendadak Cia Giok-lun melotot, serunya, “Aku bukan anggota keluarga Cia yang kau maksud, aku

adalah bini pemilik toko serba ada ini.”

Cia Giok-lun tahu, inilah kesempatan dirinya untuk memaksa Ma Ji-liong membeberkan kenyataan,

sudah tentu ia tidak mau mengabaikan peluang baik ini.

Mendadak Thiat Tin-thian berdiri, ia mencomot lagi beberapa genggam garam serta ditelannya, lalu

mencaplok dua butir telur ayam, “Biar aku pergi saja.” Lalu ia betul-betul melangkah pergi. Sudah

dua puluh tahun ia malang melintang, ia tahu di balik persoalan dan keadaan di rumah ini, pasti

terselip sesuatu yang tidak boleh dijelaskan. Ia tidak ingin menyudutkan Ma Ji-liong, membuatnya

serba susah. Ia tidak mau dan pantang membuat teman yang mempercayai dirinya susah.

Jikalau kau ingin bersahabat dengan seorang teman, kau harus mengukir perkataan ini di dalam

sanubarimu. Seorang kawan sejati, pasti tak membiarkan kawannya susah, apalagi menderita.

Cia Giok-lun tidak memberi kesempatan Ma Ji-liong bicara, katanya, “Kau memang harus lekas

pergi, sekarang juga.”

Tidak dinyana Thiat Tin-thian malah duduk kembali, “Aku tidak boleh pergi.”

“Kenapa?” tanya Cia Giok-lun.

Jawaban Thiat Tin-thian justru ditujukan pada Ma Ji-liong. “Biar aku tinggal di sini. Bila mereka

meluruk ke mari, aku akan membantu kalian menghalau mereka atau mengadu jiwa.”

“Mencari aku?” Ji-liong menegas dengan bingung. “Mana mungkin mereka mencari aku?”

“Bukankah Ma Ji-liong adalah buronan mereka yang utama, maka sekarang kaulah orang yang

mereka cari dan uber.”

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak mengerti.

Thiat Tin-thian menghela napas, katanya, “Apa kau kira mereka tidak percaya pada perkataanmu

tadi?”

“Kau kira mereka percaya?”

“Pasti percaya, percaya sekali.”

“Tapi, bukankah mereka tidak mau menerima usulku?”

“Jangan bodoh. Kalau mereka menerima usulmu dan mengakui bahwa kau benar adalah Ma Jiliong,

maka mereka harus membebaskan kami berdua,” ujar Thiat Tin-thian sambil menyeringai

dingin. “Kita bertiga sudah terkepung, seumpama burung dalam sangkar, siapa pun tak mampu lari

atau meloloskan diri, kenapa mereka harus menerima persyaratanmu? Kenapa harus membebaskan

aku?”

Ma Ji-liong melenggong, berdiri menjublek sekian saat, mulutnya bungkam tak bisa tertawa.

Sekarang ia sadar dan mengerti, betapa keji dan culas hati manusia yang sudah berkecimpung di

Kangouw, lika-liku kehidupan kaum Bulim kadang kala sukar dibayangkan dengan nalar sehat.

Sejak tadi Cia Giok-lun diam dan mengawasi Ma Ji-liong, mendadak ia meronta bangun dan duduk,

serunya, “Jadi kau inilah Ma Ji-liong, penjahat besar yang buron itu?” Suaranya serak, “Kau inikah

Ma Ji-liong yang durjana dan sudah kelewat batas melakukan kejahatan itu?”

Darah seperti mendidih di rongga dada Ma Ji-liong, amarahnya berkobar, rasa penasaran membuat

ia naik pitam, “Betul, aku adalah Ma Ji-liong,” suaranya juga serak. “Aku adalah Ma Ji-liong,

keparat yang telah banyak melakukan kejahatan.”

Thiat Tin-thian menjublek di atas kursi.

Tahun-tahun belakangan ini, jarang ada kejadian apa pun di dunia ini yang bisa membuatnya kaget,

apalagi menjublek. Tapi perempuan ini seharusnya adalah bini Ma Ji-liong, kenapa dia tidak tahu

kalau Ma Ji-liong adalah Ma Ji-liong?

Ternyata Cia Giok-lun juga menjublek di tempatnya, lama sekali baru dia menarik napas panjang,

desisnya perlahan, “Kau bukan Ma Ji-liong.”

“Akulah Ma Ji-liong, Ma Ji-liong tulen.”

“Kau bukan Ma Ji-liong, bukan Ma Ji-liong!” demikian teriak Cia Giok-lun, tegas suaranya. “Ma

Ji-liong adalah penjahat keji lagi telengas, perbuatan kotor apa pun berani dan pernah ia

lakukan……” Mendadak suaranya berubah halus dan lembut, “Tapi sudah tiga bulan dua puluh hari

aku tinggal di sini berdampingan denganmu, aku tahu dan yakin kau pasti bukan orang jahat, kau

alim dan bajik, jujur lagi.”

Ji-liong diam saja, ia memang tak mampu bicara, tenggorokannya seakan tersumbat. Sejak kasus ini

terjadi, ia sudah mulai biasa dihina, dicaci maki, difitnah. Rasa kasihan dan simpati orang lain

terhadapnya malah mengundang rasa sedih, murung dan masygul serta membuat hatinya mendelu.

Pada saat itulah di dalam toko mendadak terdengar suara orang, suara Thio-lausit. Ji-liong sungkan

berhadapan dengan Cia Giok-lun, maka ia segera memburu keluar.

Ternyata Thio-lausit memang ada di dalam toko, sedang menyapu lantai, gelagatnya ia siap

membuka toko.

Ma Ji-liong menatapnya beberapa kejap. “Kau sudah pulang?” tanyanya.

“Aku tidak pulang,” sahut Thio-lausit. “Aku tidak pernah keluar, kenapa harus pulang?”

Apa betul dia tidak keluar? Jelas tadi dia tidak berada di dalam rumah, juga tidak ada di dapur, di

toko juga tidak kelihatan bayangannya. “Tadi aku berada di kakus,” demikian Thio-lausit

menerangkan.

Padahal pintu kakus dipalang dari luar, itu berarti dia juga tidak berada di sana. Siapa pun pasti

maklum, orang yang membuang hajat tentu menutup dan memalang daun pintu dari dalam, hal ini

sudah diperiksa dan diperhatikan oleh Ma Ji-liong.

Setelah mengalami musibah ini, Ma Ji-liong sudah belajar banyak, sudah pandai memperhatikan

urusan-urusan kecil, karena sekarang ia sudah tahu, banyak urusan besar berhasil dilihat, dinilai dan

dibongkar dari urusan kecil yang tidak berarti. Kini diam-diam Ji-liong merasa bahwa pegawainya

yang setia ini ternyata tidak jujur.

Bab 24: Langganan Lama Dan Pemborong

Pada umumnya sebelum membuka pintu, toko serba ada perlu mengadakan pemeriksaan pada

barang-barang persediaannya, barang apa yang kurang dan perlu ditambah, menata kembali secara

rapi dan lain sebagainya, persiapan selalu diperlukan demi memberikan pelayanan yang baik.

Sebagai pegawai lama dan sudah berpengalaman, Thio-lausit setiap pagi mengerjakan semua itu

dengan rapi dan beres. Apalagi sudah delapan belas tahun sejak toko serba ada ini dibuka Thiolausit

sudah bekerja di sini, ia rajin bekerja, jujur dan setia, pengadaan barang berada dalam

tangannya, kalau di dalam toko mendadak kehilangan segentong garam dan sekeranjang telur ayam,

tidak mungkin ia tidak tahu.

Tapi Thio-lausit justru diam saja, seperti sudah tahu di mana barang itu berada, maka ia bersikap

adem-ayem saja.

Kemarin sore turun hujan lebat, lumpur di jalan kampung itu cukup tebal dan becek. Sepatu Thiolausit

juga kelihatan berlumpur meski sedikit, belum kering juga, ini menandakan bahwa barusan ia

berada di jalanan. Apa betul barusan ia keluar? Ke mana? Kenapa tidak berterus terang?

Mendadak Ma Ji-liong sadar, bukan saja pegawainya ini tidak jujur, gerak-geriknya juga misterius,

aneh dan patut dicurigai.

Sudah dua kali Ma Ji-liong dihinggapi perasaan seperti ini.

Thio-lausit sudah siap membuka daun pintu.

Tapi baru saja tangan Thio-lausit menurunkan palang pintu, Ma Ji-liong mendadak berkata, “Hari

ini kita tutup toko saja.”

Thio-lausit menoleh dengan memiringkan kepala, katanya kemudian, “Apakah hari ini hari besar?”

“Bukan.”

“Hari ini kita merayakan sesuatu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kita tidak membuka toko?”

Sudah tentu Ma Ji-liong tidak bisa memberikan penjelasan, juga tak bisa mengarang cerita untuk

mencari alasan. Ji-liong memang bukan pembual. “Toko ini adalah milikku, aku yang berkuasa di

sini,” terpaksa Ma Ji-liong mengada-ada. “Kalau aku bilang hari ini tutup, maka toko tidak buka.”

Thio-lausit menundukkan kepala, beberapa kejap ia terpekur. Alasan yang dikemukakan

majikannya sebetulnya tidak tepat, tapi sebagai pegawai ia harus tunduk dan patuh pada perintah

majikan. Tapi nyonya majikan yang berada di kamar justru menentang.

“Hari ini toko kita tetap buka seperti biasa, apa yang ia katakan jangan dituruti.” Itulah suara Cia

Giok-lun. Di mana-mana, omongan juragan perempuan memang jauh lebih manjur, lebih

berwibawa dan disegani dibanding juragan sendiri.

Ma Ji-liong memburu masuk, ia mulai naik pitam, “Kenapa omonganku tak boleh dituruti? Kenapa

kau mencampuri urusanku?”

“Bukannya aku mencampuri urusanmu, tapi temanmu ini yang meminta aku turut campur,”

demikian sahut Cia Giok-lun.

Thiat Tin-thian berkata, “Toko serba ada ini harus dibuka seperti biasa.”

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak mengerti.

“Sekarang mereka sudah tahu bahwa pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Setiap saat

mereka bisa meluruk ke sini, kenapa aku harus membuka pintu mengundang mereka masuk?”

“Justru mereka sudah tahu kau ada di sini, maka kau harus tetap membuka toko seperti biasa.”

“Kenapa?”

“Kalau toko serba ada ini tutup, mereka pasti meluruk ke mari dan menerjang masuk dengan

kekerasan, dengan menjebol pintu,” demikian kata Thiat Tin-thian. “Biar kita buka saja pintu toko

seperti biasa. Mereka belum tahu bagaimana keadaan kita di sini, aku berani menjamin mereka

takkan berani sembarangan bertindak.”

Dengan suara dingin Cia Giok-lun menimbrung, “Kelihatannya setiap orang yang ada di sini dapat

berpikir lebih cermat dibanding engkau.”

Terpaksa Ma Ji-liong mengancing mulut, terpaksa ia harus mengakui apa yang dipikir Cia Giok-lun

dan Thiat Tin-thian memang lebih cermat dan teliti, tapi bagaimana dengan Thio-lausit? Apakah

pegawai yang belum pernah berkecimpung di Kangouw ini juga memikirkan hal ini?

————————————ooo00ooo————————————-

Empat lembar daun pintu sudah diturunkan dan ditaruh di pinggir, toko serba ada dibuka seperti

biasa. Thio-lausit memegang sapu, melanjutkan pekerjaannya membersihkan lantai dan barangbarang

dalam toko dibetulkan letaknya, seolah-olah ia sudah menyadari sebentar lagi toko ini akan

dibanjiri pembeli yang royal membuang duit, maka ia rajin bekerja sebagai tanda hormat untuk

menyambut mereka.

Suasana di jalan kampung ternyata tenang-tenang saja, tidak terdengar suara apa pun.

Waktu Cukat Bu-hou (Cukat Liang) di jaman Sam Kok merancang muslihat kota kosong yang

terkenal itu, bukankah ia juga menyuruh tentara-tentara yang lanjut usia dan cacat badan untuk

membersihkan jalan dan membuka pintu kota untuk menyambut kedatangan Suma Gi?

Bukankah Suma Gi yang banyak curiga itu tak berani menerjang masuk ke dalam kota setelah

melihat keadaan itu?

Demikian pula peristiwa hari ini, bukankah seperti kenyataan dulu, padahal hikayat kuno itu sampai

sekarang masih sering dipuji dan diperbincangkan orang banyak, siapa pun mengacungkan jempol

memuji kecerdikan Cukat Liang. Pembuat karya cerita ini jelas juga seorang cerdik pandai.

Mendadak Thiat Tin-thian bertanya, “Orang yang menyapu di luar itu, apakah dia pegawaimu?”

“Ya, pegawai lama.”

“Orang macam apa dia?”

“Orang jujur, pegawai setia,” seolah-olah Ma Ji-liong sedang membohongi diri sendiri. “Ia bernama

Thio-lausit.”

Bercahaya bola mata Thiat Tin-thian, katanya, “Aku suka orang jujur.” Omongannya mengandung

arti ‘hanya orang jujur yang bisa menipu orang-orang jahat, keji dan banyak curiga’. Ia menyeringai

dingin, “Coat-taysu yang terkenal di seluruh jagad sebagai kuncu itu, jelas adalah manusia rendah

yang jahat dan banyak curiga.”

Ji-liong meresapi perkataan orang, betapa berang hatinya.

“Ia percaya kalau kau adalah Ma Ji-liong, ia bisa membunuh Thiat Tin-thian lebih dulu baru

menjagal Ma Ji-liong. Kalau ia berani berbuat demikian, aku malah kagum dan memujinya,” Thiat

Tin-thian tertawa dingin, sambungnya, “Tapi ia tidak berani, di hadapan orang banyak ia tidak akan

melakukan perbuatan yang ingkar janji dan menjilat ludah sendiri, ia harus bersikap sedemikian

rupa supaya orang tahu bahwa ia betul-betul gembongnya yang membenci kejahatan.” Dengan

kencang ia mengepalkan tinju dan mengacungkannya di atas kepala, “Sungguh gemas dan benci,

kenapa aku tidak dapat mencacah hancur Kuncu palsu itu, ingin aku memberantas jiwa munafik

orang-orang yang berkedok Kuncu.”

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas panjang, katanya, “Sayang sekali kau tidak mampu

membunuhnya, tiada seorang pun Kuncu yang pernah kau bunuh, kau sendiri malah yang akan

mampus.”

Kenyataan memang demikian, siapa pun tidak akan membantah, kenyataan tak pernah kenal

kasihan. Betulkah kenyataan itu kejam?

Cia Giok-lun berkata pula, “Umpama mereka tak tahu keadaan di sini, belum berani sembarangan

bergerak, tapi toko serba ada ini tentu diawasi, sudah dikepung, jangan harap kalian bisa

meloloskan diri dari tempat ini.” Suaranya mengandung makna yang aneh. Entah merasa kasihan?

Sedih atau menyindir? “Kalian dipaksa menunggu di sini, aku pun dipaksa menunggu bersama

kalian. Tapi pasti, entah cepat atau lambat mereka akan menyerbu, bukan mustahil sekarang juga

sudah mengutus orang untuk menyelidiki keadaan di sini. Tidak sukar untuk mencari tahu keadaan

kalian, karena tempat ini adalah toko serba ada, siapa pun boleh ke mari pura-pura membeli ini dan

itu.” Dengan suara tawar, Cia Giok-lun melanjutkan, “Bila mereka meluruk datang, mungkin aku

harus mampus bersama kalian, aku akan mati konyol dan penasaran.”

Ini pun kenyataan, tidak bisa dibantah. Cia Giok-lun mengawasi Ma Ji-liong, “Aku tidak perduli

apa dulu kau pernah melakukan kejahatan. Aku ingin tanya kepadamu.” Pertanyaannya ini terasa

seperti pecut, “Kau menyeret aku ke dalam kancah ini, mati secara penasaran, apakah dalam

sanubarimu tidak merasa berdosa?”

Begitu pertanyaan itu dilontarkan, pecut seperti menghajar tubuh Ma Ji-liong. Tidak boleh, ia tidak

boleh berbuat dosa terhadap gadis yang tidak bersalah, maka Ma Ji-liong berkata, “Aku akan

memberitahu kepada mereka bahwa kau tidak bersalah, tidak tahu apa-apa, tiada sangkut-paut

dengan kasus ini.” Serak gemetar suaranya, lanjutnya, “Aku bisa mengantar kau keluar lebih dulu.”

Cia Giok-lun menyeringai dingin, “Ke mana kau bisa menyingkirkan aku? Mereka mau percaya

bahwa aku tidak terlibat dalam kasus ini? Agaknya kau ingin melihat mereka menyeret diriku

seperti mencincang anjing kurap ke tempat jagal? Supaya aku disiksa dan dikompas?”

Ma Ji-liong sudah merasa dirinya seperti disiksa dan dikompas, ia kehabisan akal, “Memangnya apa

yang harus dilakukan?”

“Bukan aku ini suka ribut dan bikin gara-gara, aku hanya menuntut beberapa hak milikku saja.”

“Hak milik apa? Apa yang harus kukembalikan?”

“Kembalikan wajah asliku, pulihkan kondisi badan dan ilmu silatku,” mendadak Cia Giok-lun

memekik dengan luapan amarah yang tak terbendung. “Entah dengan cara apa kau membuatku

begini. Jika kau seorang bajik, masih punya nurani, sekarang juga pulihkan keadaanku.”

Sudah tentu Ma Ji-liong mati kutu, mana mungkin ia mengembalikan apa yang dituntut oleh Cia

Giok-lun itu? Karena tak berani beradu pandang, Ji-liong melengos ke arah lain. Ia tahu dirinya

mirip maling kesiangan, dalam hati ia berharap gadis yang satu ini memegang cemeti, ia rela

dirinya dihajar dan disiksa dengan cara yang paling kejam daripada memikul beban batin yang tak

berujung pangkal.

Di tengah keheningan itulah, tiba-tiba Thiat Tin-thian buka suara dengan nada rendah,

“Kelihatannya langganan pertama sudah datang untuk berbelanja.”

Setiap pembeli, entah siapa pun dia, mungkin adalah utusan Coat-taysu atau mata-mata yang

ditugaskan untuk menyelidiki keadaan di sini.

Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak merongkol keluar, “Coba kau dengar, dia membeli apa?

Apa betul membeli barang-barang keperluan yang dibutuhkan? Atau akan membeli jiwa kita?”

Yang datang adalah nyonya muda yang sedang hamil tua itu.

Sebelum keluar Ma Ji-liong sudah mendengar tawa cekikikan nyonya centil itu. Di sekitar kampung

ini, nyonya muda ini memang terkenal cerewet dan suka mencampuri urusan orang lain. Kecuali

suka mengobrol, ia juga perempuan yang paling suka tertawa.

Hari ini dia kelihatan riang, senyum lebar selalu menghiasi wajahnya, riang dan senang karena

benih-benih kehidupan yang dikandungnya genap sembilan bulan, tak lama lagi bakal lahir dari

rahimnya.

Ma Ji-liong tidak keluar, ia berdiri di belakang pintu. Terhadap orang yang satu ini, ia boleh merasa

lega. “Dia langganan lama yang tinggal di sebelah, setiap hari dia datang membeli ini itu.”

“Setiap hari datang? Membeli apa?” tanya Thiat Tin-thian.

“Paling sering membeli gula merah,” tutur Ma Ji-liong. “Ia berpendapat gula merah seperti Jin-som,

bukan saja dapat menambah kesehatan badan, juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit.”

Orang biasa tidak mampu membeli Jin-som karena mahal harganya, terpaksa mereka membeli gula

merah. Jin-som dan gula merah sama-sama adalah kepercayaan hidup manusia, seperti orang yang

memuja malaikat dewata, ada pula yang memuja roh suci.

Di luar dugaan, nyonya muda yang hamil tua itu hari ini bukan membeli gula merah. Ma Ji-liong

mendengar ia sedang bicara dengan Thio-lausit, “Aku tahu kau pasti heran,” demikian katanya

merdu dengan cekikikan, “Karena hari ini aku tak membeli gula merah seperti biasanya.”

“Kau mau beli apa?” Thio-lausit bertanya.

“Beli garam,” sahut nyonya muda itu.

Di toko ini memang ada menjual garam, setiap keluarga setiap harinya membutuhkan garam, maka

tidak perlu dibuat heran kalau ada orang yang membeli garam.

“Beli berapa?” tanya Thio-lausit pula.

“Malam nanti aku akan membikin dendeng dan telur asin, makin asin makin enak, rasanya

tanggung lezat,” nyonya muda itu sengaja memberi penjelasan. “Aku beli tiga puluh kati garam.”

Setiap hari banyak penduduk kampung yang membeli garam untuk masak atau keperluan lain,

namun jarang ada yang sekaligus beli tiga puluh kati. Padahal toko serba ada di mana pun jarang

ada yang menyediakan garam lebih dari dua puluh lima kati, persediaan sebanyak itu pun sebulan

baru habis terjual.

Suasana menjadi tegang di dalam rumah. Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak lebih besar.

“Suruh dia masuk ke mari,” desisnya dengan suara gemetar. “Kalau dia tidak mau masuk, bekuk

dan seret dia.”

Ma Ji-liong tidak bergerak dari tempatnya, ia hanya menggelengkan kepala.

“Kenapa kau tidak keluar?”

“Perutnya besar,” ucap Ma Ji-liong tegas.

Ada sementara persoalan dalam keadaan bagaimana pun tidak boleh dilakukan, tidak mau

melakukan. Biar mati tetap tidak akan dilakukan.

Tin-thian menatapnya sekian lama. Mendadak ia menghela napas dengan lesu, ujarnya, “Kau

memang orang yang baik, belum pernah aku melihat orang sebaik kau, sayang jarang ada manusia

seperti kau di dunia ini, umpama ada jumlahnya juga sangat sedikit.”

Tiba-tiba Cia Giok-lun juga menghela napas gegetun, katanya, “Betul, aku pun tak pernah melihat

orang sebaik dia.”

———————————ooo00ooo—————————————–

Nyonya muda itu sudah pergi sambil membusungkan perutnya yang besar. Thio-lausit sudah

memberitahu kepadanya, “Garam sudah terjual habis, persediaan belum datang, lebih baik nanti

sore kau kembali lagi.”

Sebelum pergi nyonya muda itu cekikikan geli. Agaknya ia merasa lucu, toko serba ada sampai

kehabisan bahan persediaan, tidak heran kalau ia cekikikan geli.

Thiat Tin-thian berkata, “Kau biarkan dia pergi, berarti kau memberitahu Coat-taysu bahwa aku ada

di sini, karena garam yang ada di toko ini diperuntukkan buatku.”

Sudah tentu Ma Ji-liong maklum dan tahu akan hal ini.

Thiat Tin-thian berkata pula, “Oleh karena itu, aku berani bertaruh, tokomu akan kebanjiran

pembeli, daganganmu akan laris.”

Ramalan Thiat Tin-thian memang menjadi kenyataan. Tak lama kemudian, pembeli kedua pun

datang. Orang ini adalah pemborong. Dengan lagak seperti cukong, ia melangkah masuk ke dalam

toko, katanya dengan suara agak rendah sambil bertolak pinggang, “Aku membutuhkan banyak

barang, persediaan barang apa saja yang ada di toko ini, semua kuborong.”

“Setiap barang yang tersedia di sini akan kau beli?” tanya Thio-lausit.

“Ya, semua kubeli,” ucap orang itu. “Semua kuborong.”

Bab 25: Ketemu Batunya

Kalau ada orang yang mau memborong dagangan, berarti jualannya laris. Dagang adalah dagang,

kau punya barang apa, orang beli apa, apa yang orang ingin beli, kau harus menjualnya. Berapa

banyak orang yang ingin beli, selama persediaan lengkap, kau harus melayaninya.

Tampak oleh Ji-liong, roman muka Thiat Tin-thian mulai berubah, Ji-liong sendiri juga merasakan

air mukanya berubah.

Sayang ia tidak melihat roman muka Thio-lausit, namun ia mendengar Thio-lausit berkata, “Toko

serba ada ini tidak besar, namun persediaan yang ada tidak kecil jumlahnya. Barang yang kami

sediakan juga banyak ragamnya. Kau seorang diri mana mampu membawa sekian banyak?”

“Aku akan menyuruh orang bantu mengangkutnya dengan cikar,” demikian jawab pemborong itu.

“Kau sebut saja berapa harganya, aku akan bayar tanpa menawar, nanti akan kusuruh orang ke mari

mengangkutnya.” Suruh orang mengangkut, siapa yang akan disuruh mengangkut? Mengangkut

barang dagangan? Atau mengangkut jiwa mereka?

Ma Ji-liong tetap tidak mau keluar menghapi pemborong itu. Mendadak ia merasa adanya sesuatu

yang ganjil. Ia yakin Thio-lausit yang ada di luar mempunyai akal untuk melayani dan menghadapi

pemborong itu.

Didengarnya Thio-lausit sedang berkata, “Aku hanya pegawai toko. Urusan jual-beli dalam jumlah

sebesar itu, tak berani aku memutuskan.”

“Siapa yang bisa memberi keputusan?” tanya pemborong itu.

“Sudah tentu juragan kami,” sahut Thio-lausit.

“Juraganmu ada tidak?”

“Ada di dalam, kau boleh masuk dan langsung bicara dengan beliau.”

“Aku tidak mau masuk, suruh saja dia keluar.”

“Lho, kenapa kau tidak mau masuk?”

“Kenapa bukan dia saja yang keluar?” sikap pemborong ini mulai kaku dan ketus.

Jawaban Thio-lausit lebih ketus lagi, “Karena dia adalah juragan. Perduli juragan besar atau juragan

kecil, ia punya gengsi sebagai juragan.”

Pemborong itu agaknya kurang senang, katanya, “Kalau dia tidak mau keluar, aku batal membeli.”

Tiba-tiba Thio-lausit memberi pernyataan lantang, “Kau sudah datang ke mari, kau sendiri yang

menyatakan akan memborong seluruh isi toko ini, sebagai laki-laki, bicara mengapa plintat-plintut,”

demikian tegur Thio-lausit. “Oleh karena itu, kau harus masuk.”

Sepenuh perhatian Thiat Tin-thian mendengarkan percakapan mereka, sorot matanya menampilkan

rasa ragu, seperti menyelidik dan mengingat-ingat. Suara percakapan Thio-lausit berdua tidak lirih,

setiap patah kata terdengar jelas dari dalam, sebetulnya tidak perlu ia pasang kuping, apalagi

mendengarkan dengan seksama. Agaknya ia sedang membedakan, berusaha mengenali suara

pemborong itu, mungkin ia pernah mendengar atau kenal suara pemborong itu.

Ji-liong siap bertanya apakah ia tahu asal-usul pemborong itu, mendadak Thiat Tin-thian sudah

berseru, “Ong Ban-bu!” Suaranya tegang dan panik, “Awas, kedua lengan pegawaimu itu.”

Dalam Bulim hanya ada satu Ong Ban-bu, Hun-kin-joh-kut-jiu dan Tay-lik-eng-jiau-kang yang

diyakinkan Ong Ban-bu menjagoi Kangouw, keculasan hati dan kegapahan tangannya serasi dengan

ilmu silat yang ia latih, kedua ilmu tunggal itu dikuasai dengan sempurna dan terkenal tak pernah

mendapat tandingan. Bila ia turun tangan, yang diserang adalah sendi tulang atau Hiat-to lawan

yang penting dan mematikan, lawan yang terserang kalau tidak lumpuh seketika, cacat seumur

hidup, jiwa pasti melayang.

Pemborong alias Ong Ban-bu yang berada di luar itu agaknya sudah turun tangan. Peringatan Thiat

Tin-thian terlambat. Belum habis ia bicara, Ji-liong sudah mendengar suara tulang patah. Suara

yang lirih, tapi cukup menusuk pendengaran, dari telinga langsung menusuk ke sanubari, menusuk

perut meresap ke tulang.

Seketika Ma Ji-liong merasa perutnya mengkeret, tubuhnya mengejang kaku, sendi tulang sekujur

badan mendadak linu. Perduli Thio-lausit seorang jujur tulen atau pura-pura jujur, jelek-jelek dia

adalah pegawainya, selama tiga bulan dua puluh satu hari hidup bersama di dalam satu rumah.

Anehnya kupingnya hanya menangkap suara tulang patah, tapi tidak mendengar jeritan atau keluh

kesakitan.

Hanya ada dua macam orang yang kuat menahan siksa dan kesakitan tanpa mengeluarkan jeritan.

Orang pertama adalah laki-laki yang keras kepala, keras tulangnya, teguh pendirian. Macam kedua

adalah orang yang sudah mati, atau orang yang mendadak semaput dan hampir mampus.

Ma Ji-liong sudah siap menerjang keluar, demikian pula Thiat Tin-thian sudah melompat berdiri

hendak menerobos keluar. Tapi sebelum mereka bergerak lebih lanjut, seseorang sudah menyelinap

masuk lebih dulu.

Orang ini masuk dengan mundur, lengannya tampak terjuntai sebatas sikut, ternyata sendi tulang di

sikut kirinya terpelintir putus. Saking kesakitan, peluh dingin bercucuran di selebar mukanya,

sekujur badan juga basah kuyup seperti ayam kecemplung ke air, namun dia menggertak gigi tanpa

merintih.

Orang ini memang laki-laki jantan, laki-laki sejati. Insan persilatan di Kangouw, siapa yang tidak

tahu bahwa Ong Ban-bu adalah laki-laki tabah, keras kepala dan tahan uji.

Yang berjalan mundur ke dalam bukan Thio-lausit yang mereka kuatirkan, sebaliknya Ong Ban-bu

yang lihai dan telengas, Ong Ban-bu yang tersohor karena Hun-kin-joh-kut-jiu tidak pernah

dikalahkan musuh, jago nomor satu yang termasyhur di Bulim, berkuasa di wilayah Hoay-lam, Ong

Ban-bu yang pernah memelintir putus lengan dan mematahkan tulang rusuk jago-jago kosen, tak

terhitung jumlah musuh yang kecundang di tangannya.

Sekarang lengannya malah yang putus, dipelintir oleh Thio-lausit, pegawai toko di sebuah kampung

yang tidak ternama. Sudah tentu ia amat penasaran, namun bukti menunjukkan bahwa lengan

kirinya putus. Demikian pula Thiat Tin-thian yang tahu pribadinya, Ma Ji-liong juga tidak percaya,

tidak menduga bahwa pegawainya itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Peristiwa yang dianggap tak mungkin terjadi sudah menjadi kenyataan. Memang tiada sesuatu yang

mutlak di dunia ini. Satu hal harus dicatat, diukir dalam sanubari setiap orang, kalau sesuatu yang

dianggap tidak mungkin terjadi suatu ketika betul-betul terjadi, maka akan merasa kaget, heran dan

menderita. Karena bila peristiwa yang dianggap tidak mungkin itu betul-betul terjadi, maka

peristiwa itu pasti mengundang siksa derita. Ada kalanya derita itu jauh lebih besar dibandingkan

siksa patah lengan atau putus kaki.

——————————-ooo00ooo————————————-

Bukan hanya mengunjuk rasa heran, rona muka Ong Ban-bu juga mengunjuk rasa sakit, kaget dan

takut. Selama hidup, belum pernah ia merasa takut seperti sekarang. Tapi pegawai toko serba ada

yang tak dikenalnya ini benar-benar membuatnya jeri.

Hun-kin-joh-kut-jiu (Gerakan Memelintir Tulang dan Mengunci Urat Nadi) dan Tay-lik-eng-jiaukang

(Ilmu Cakar Elang Bertenaga Raksasa) adalah ilmu tunggal ciptaan Eng-jiau-ong (Raja Cakar

Elang) dari Hoay-lam yang tiada taranya. Ong Ban-bu adalah ahli waris murni Eng-jiau-ong yang

lurus, jago kosen nomor satu dari Hoay-lam-bun.

Tak pernah terbayang dalam benaknya, hari ini, di saat dirinya akan menggasak korban yang tak

dikenal dan tidak ternama ini, dirinya malah kecundang. Hanya satu gebrak setengah jurus, pegawai

toko ini sudah mengunci gerakannya dan menutup jalan mundur dirinya, sekaligus memelintir putus

lengannya.

Selangkah demi selangkah ia mundur, mundur karena didesak dan diancam oleh Thio-lausit,

mundur ke dalam rumah lewat pintu kecil yang berkain tirai itu.

Kain tirai menjuntai turun. Pegawai jujur yang bertampang biasa itu tidak kelihatan ikut masuk.

Ong Ban-bu terus mundur tanpa memperhatikan bahwa di belakang dan di sekitarnya ada beberapa

orang yang sedang memperhatikan dirinya, mengawasi dengan pandangan kaget, heran dan tak

habis mengerti. Sorot mata Ong Ban-bu kelihatan amat sedih, kesakitan yang amat sangat, matanya

lurus menatap ke depan seperti tidak melihat keadaan sekitarnya.

Mendadak Thiat Tin-thian maju selangkah seraya mengulurkan tangan menarik pundak orang

sehingga Ong Ban-bu jatuh terduduk di kursi rotan itu.

Semestinya Ong Ban-bu mengenal Thiat Tin-thian, mereka pernah menjadi teman baik, kawan

seperjuangan, tapi akhirnya mereka berselisih dan menjadi musuh bebuyutan, musuh besar jelas

lebih sukar dilupakan daripada kawan. Tapi ia seperti tidak kenal, tidak melihat orang yang berdiri

di depannya ini adalah Thiat Tin-thian, musuh yang ia segani dan takuti, seolah-olah matanya sudah

buta tapi melek, tidak melihat ada orang berdiri di depannya.

Keringat masih bercucuran dari jidatnya, membasahi selembar mukanya, mulutnya mengigau

seperti orang bermimpi, “Siapakah dia? Siapakah orang itu?”

Sudah tentu besar pula hasrat Thiat Tin-thian untuk mengetahui siapa sebenarnya pegawai toko itu,

maka ia berpaling dan bertanya pada Ma Ji-liong, “Siapa sebenarnya pegawaimu itu?”

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak bisa menjawab. Ia pun tidak tahu siapa dan bagaimana

asal-usul pegawainya. Ia hanya tahu pegawainya itu bernama Thio-lausit, seorang yang jujur dan

setia, tindak-tanduknya mirip orang linglung. Dulu ia tidak punya pengalaman gemilang, kelak juga

takkan punya masa depan cemerlang, seakan hidupnya cukup makan minum sampai mati di dalam

toko serba ada yang makin kotor dan jorok ini.

Tiada orang yang kenal asal-usulnya, namun hanya dalam segebrak saja ia mampu melumpuhkan

Ong Ban-bu, jago kosen yang sudah menggetarkan Bulim.

Ma Ji-liong juga tidak habis mengerti, maklum Thio Eng-hoat atau juragan toko serba ada yang

sekarang bukan juragan yang lama, demikian pula pegawai yang satu ini juga bukan Thio-lausit

yang asli, bukan pegawai lama yang jujur itu.

Seharusnya Ma Ji-liong bisa menduga hal ini sejak mula, namun kenyataan memang susah

dimengerti, siapa sebetulnya pegawai ini. Ji-liong betul-betul tidak tahu.

————————————-ooo00ooo—————————————-

Wajah Ong Ban-bu basah karena keringat, mulutnya terus mengigau, entah sudah berapa kali

mengulangi pertanyaan yang sama.

Mendadak Thiat Tin-thian mengayunkan tangan menggampar mukanya. Selama hidup Ong Ban-bu

mungkin tidak pernah digampar orang, apalagi setelah dia menduduki jabatan tinggi dari

perguruannya. Patah sikutnya betul-betul membuatnya patah semangat, malu dan jatuh mental,

sehingga dia mengigau seperti hilang ingatan. Namun tamparan Thiat Tin-thian cukup membuatnya

kaget dan sadar. Seperti orang baru terjaga dari mimpi yang lelap, dia celingukan melihat orangorang

yang berdiri di sekitarnya. Begitu melihat Thiat Tin-thian, matanya lantas memicing,

bayangan ngeri terunjuk pada mimik mukanya. Kejadian masa lalu, kenangan lama segera

terbayang di dalam benaknya.

“Engkau……..” desis Ong Ban-bu. “Engkau………. di sini.”

“Ya, aku di sini,” suara Thiat Tin-thian seperti tertelan dalam tenggorokan, jelas ia juga teringat

akan masa lalu. “Seharusnya kau tahu kalau aku ada di sini.”

Beberapa kejap Ong Ban-bu mengawasi, sorot matanya berubah makin sedih dan tersiksa, katanya,

“Aku tahu kau ada di sini, aku ke mari juga lantaran ingin merenggut nyawamu. Aku tahu aku

pernah bersalah terhadapmu, aku pernah memfitnahmu, mengkhianatimu. Oleh karena itu aku

makin membencimu, hasratku lebih besar lagi untuk membunuhmu.” Cukup tegas apa yang ia

ucapkan, tapi kenyataan memang demikian.

Jika kau pernah mengkhianati orang, maka kau pasti membenci orang itu, kau akan berusaha

membunuh dan melenyapkan dia dari hadapanmu. Selama dia masih hidup, hatimu takkan pernah

tenteram. Selama hidup kau akan merasa berdosa, dibayangi oleh kesalahanmu sendiri. Setelah

keadaan berlarut sejauh itu, yang kau benci mungkin bukan dia lagi, tapi dirimu sendiri.

“Sepuluh tahun yang lalu,” demikian kata Ong Ban-bu dengan suara bergetar. “Aku pernah

memfitnah engkau, karena saat itu aku pernah melakukan kesalahan terhadapmu, aku takut kau tahu

perbuatanku yang terkutuk itu, maka…….. maka aku ingin meminjam golok orang lain untuk

membunuh engkau.”

“Aku tahu,” kereng suara Thiat Tin-thian.

“Kalau betul kau tahu, kenapa tidak kau bunuh aku waktu itu?” sikap Ong Ban-bu kelihatan lebih

tersiksa. “Aku rela mati di tanganmu. Kalau waktu itu kau bunuh aku, nasibku takkan seperti ini.”

Ini pun kenyataan. Dapat gugur di tangan Hoan-thian-hu-te, rampok besar Thiat Tin-thian, jauh

lebih mending dibandingkan kecundang di tangan seorang pegawai toko.

Kekalahan yang terlalu fatal, teramat runyam, sangat mengenaskan. Thiat Tin-thian meresapi

perasaannya, tahu betapa besar derita batinnya. Pengalaman masa lalu sudah lewat, namun duka

lara tetap abadi sepanjang masa.

Di luar tidak terdengar suara apa pun, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Thio-lausit juga

tidak masuk, tetap di luar menjaga toko, mirip seorang jujur, duduk di kursi yang berada di pinggir

pintu, bekerja rajin dan setia menunggu barang dagangan, tiada orang yang tahu bahwa dia seorang

jago silat kelas wahid yang memiliki ilmu silat tinggi.

Siapakah dia? Kenapa dia menemani Ma Ji-liong bersembunyi di toko ini? Mendadak Ma Ji-liong

menerobos keluar, hasratnya lebih besar untuk mendapatkan jawaban itu dibanding Thiat Tin-thian.

Thio-lausit duduk tenang dan tegak di atas kursi, di mana dia biasa duduk. Keadaan toko ini pun

seperti biasa, tapi keadaan di luar rumah justru berbeda dengan biasanya. Dalam waktu seperti itu,

biasanya jalan kampung yang jorok dan becek kalau hujan itu selalu ramai, di sana kucing di sini

anjing, keadaan biasanya ramai dan hiruk-pikuk. Meski jalan kampung ini dalam wilayah yang

berpenduduk miskin, tapi kehidupan di sini tetap diliputi suasana riang gembira. Namun keadaan

yang biasanya ramai itu kini berubah menjadi sepi lengang, bayangan seorang pun tidak kelihatan

di luar rumah, anjing dan kucing juga tidak tampak. Jalan kampung ini mendadak berubah menjadi

jalan mati, seperti tiada kehidupan di daerah sekitarnya.

Bab 26: Daerah Mati

Berbeda dengan lazimnya, toko serba ada yang satu ini tidak mirip dengan toko yang lain. Di toko

lain ada meja dan lemari kasir. Di sini hanya ada sejilid buku yang sudah lusuh dan luntur warna

sampulnya dan sebuah meja kecil yang berlaci satu untuk menyimpan uang–itulah meja kasir.

Ma Ji-liong menarik kursi lalu duduk di meja kasir. Dari tempat duduknya ia memperhatikan Thiolausit.

Seperti biasanya Thio-lausit tetap lugu, reaksinya lamban, wajahnya jarang menampilkan mimik

perasaan hatinya. Sekarang dia tetap dalam keadaan demikian. Kalau ada orang bilang dalam

sekejap tadi dia mampu mengalahkan Ong Ban-bu yang tersohor sebagai jago nomor satu dari

Hoay-lam, orang pasti tidak percaya.

Apakah wajahnya juga pernah divermak dengan tata rias Giok Ling-long dengan Giok-jiu-linglongnya?

Siapakah dia sebenarnya?

Ada beberapa tokoh besar dalam Bu-lim ini yang mampu mengalahkan Ong Ban-bu dalam

segebrak saja?

Lama Ma Ji-liong terpekur sambil memperhatikan orang ini. Mendadak ia membuka mulut

memanggil nama orang, “Toa-hoan.”

“Toa-hoan?” Thio-lausit tampak gelagapan, gerak-geriknya seperti orang linglung, “Kau minta Toahoan

(mangkuk besar)? Mangkuk besar ada di dapur, apa perlu aku mengambilnya?”

“Tidak,” sahut Ji-liong. “Toa-hoan yang kumaksud adalah nama seseorang.”

“O, nama orang?”

“Kau tidak pernah melihatnya?”

“Toa-hoan yang pernah kulihat adalah mangkuk besar–bukan manusia.”

Ma Ji-liong menghela napas, perlahan ia berdiri lalu menghampiri sampai di depan orang.

Mendadak ia turun tangan, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah ia mencolok kedua mata Thiolausit.

Mata Thio-lausit segera terpejam. Hanya itu reaksinya. Kecuali kedua matanya, sekujur badannya

tak memberi reaksi apa-apa.

Sudah tentu Ji-liong tidak menyerang sungguhan. Mendadak ia sadar bahwa dirinya adalah orang

bodoh. Umpama Thio-lausit betul adalah orang jujur, betapapun tentu sudah tahu bahwa juragannya

takkan turun tangan keji terhadap dirinya yang setia dan rajin bekerja, tiada alasan membuat dirinya

cidera, sudah tentu ia takkan berhasil memancingnya mengeluarkan ilmu silat.

Ditanya tidak menjawab, dicoba juga gagal, lalu dengan akal apa baiknya? Di kala Ma Ji-liong

sedang bingung, tidak tahu bagaimana ia harus bertindak lebih jauh, dilihatnya ada dua orang

mendatangi dari ujung jalan kampung sebelah timur.

————————-ooo00ooo————————

Tok, tok, tok itulah suara sentuhan tongkat kayu yang beradu dengan tanah, dari kejauhan sudah

terdengar jelas.

Yang datang ada dua orang, dua-duanya timpang, maka kedua orang ini memakai tongkat. Kalau

dipandang dari jauh, badan bagian atasnya saja, kelihatan seperti terdiri satu orang.

Maklum wajah, pakaian, sikap dan bentuk tubuh mereka mirip satu dengan yang lain, seperti pinang

dibelah dua, keduanya sama-sama memiliki kaki yang cacat, buntung dan tergantung di udara,

betapa jijik dan jelek tampaknya.

Tapi rona muka dan sikap kedua orang cacat ini amat serius, sinar mata mereka dilembari

keyakinan. Hanya ada satu perbedaan dari kedua orang ini, cacat kaki mereka yang satu di sebelah

kiri, yang lain di sebelah kanan.

Melihat keadaan kedua orang ini, Ma Ji-liong lantas teringat kisah lama, kisah yang sudah lama

tersiar luas di kalangan Bu-lim, yaitu dua tokoh besar yang sudah punya nama gemilang di masa

silam. Di ujung utara Sing-siok-hay di puncak Kun-lun san, ada sepasang saudara kembar yang

cacat badannya, mereka bernama Thian-jan dan Te-coat.

Karena cacat, mereka berjiwa aneh, sepak terjangnya menyeleweng dari kebiasaan umum, demikian

pula ilmu silat mereka juga serong, murid-murid yang mereka terima juga harus saudara kembar

yang cacat pula, anak-anak kembar dan cacat sejak dilahirkan.

Kaum persilatan angkatan tua banyak yang tahu tentang mereka, namun jarang ada yang pernah

melihat atau berhadapan langsung dengan mereka. Murid-murid Sing-siok-hay juga jarang

berkecimpung di Kangouw. Sudah beberapa tahun belakangan ini, tidak ada murid mereka yang

datang ke Kanglam.

Berita yang tersiar luas di luar itu simpang siur, berbeda satu dengan yang lain. Ada sementara

pihak yang bilang, pakaian murid-murid Sing-siok-hay mewah lagi mahal. Namun potongan atau

modelnya lucu dan tidak lazim dipandang mata. Malah katanya ada murid Sing-siok-hay yang

mengenakan jubah mutiara, maksudnya jubah yang dibuat dari rangkaian mutiara besar kecil.

Maklum cacat badan membuat mereka rendah diri, aneh dan suka melakukan sesuatu yang

menonjol, mereka senang menonjolkan diri dengan cara-cara yang tidak lumrah bagi pandangan

manusia normal.

Berbeda dengan kedua pemuda cacat ini, pakaian mereka biasa saja, tiada sesuatu yang luar biasa

pada kedua pemuda ini, tak berbeda banyak dibandingkan manusia umumnya.

Konon murid-murid Sing-siok-hay hanya boleh berkecimpung di Kangouw setelah mereka lulus

ujian. Bila guru mereka beranggapan mereka cukup tangguh dan takkan kalah melawan jago-jago

silat aliran lain, baru mereka diizinkan turun gunung, mengembara di Bu-lim mencari pengalaman.

Sebagai orang cacat, dalam meyakinkan ilmu silat sudah tentu jauh lebih sukar, makan tenaga dan

memeras otak, jauh lebih menderita. Bila mereka lulus ujian dan mulai berkecimpung di Kangouw,

tentu usianya sudah cukup tua.

Tapi kedua pemuda cacat kembar ini masih muda, gagah dan tampan, paling banyak berusia 24

tahun. Mungkinkah dalam usia semuda itu mereka mampu meyakinkan ilmu tunggal Sing-siokhay?

Sudah yakin bahwa mereka tak terkalahkan?

Semua yang diuraikan di atas adalah berita yang tersebar luas di kalangan Kangouw, namun berita

itu sudah meresap, sudah berakar di sanubari orang-orang yang pernah mendengar tentang kisah

mereka, kejadian sering kali lebih nyata dari sesungguhnya, jauh lebih mudah diterima oleh orang

lain.

Ketika suara tongkat berhenti, kedua orang itu pun sudah berada di depan mata. Ma Ji -liong

bangkit perlahan, lalu berputar menghadapi mereka. Dalam hati ia menduga, bahwa kedua pemuda

cacat ini memang benar adalah murid Sing-siok-hay, tapi ia bertanya dengan suara lantang, “Kalian

mau membeli apa?”

“Kami tidak akan berbelanja,” yang cacat kaki kirinya berbicara lebih dulu, lalu yang kaki kanannya

cacat menimbrung,”Kami hanya ingin melihat-lihat dan membuktikan sebetulnya kau ini orang

macam apa, dengan cara apa kau mampu menawan Ong Ban-bu?” Mereka bicara blak-blakan, terus

terang menyatakan maksud kedatangannya, tidak bermuka-muka juga tidak pasang aksi.

“Aku she Sun bernama Ca,” yang cacat kaki kirinya bicara. “Dia adalah saudara kembarku,

bernama Sun Jia.”

“Soalnya aku dilahirkan sedikit lambat,” yang cacat kaki kanannya menambahkan.

Nama mereka sangat sederhana, nama yang umum dan sering terdengar di kalangan rakyat jelata,

tidak seperti murid-murid Sing-siok-hay yang sering berbuat aneh, mengada-ada dan tindaktanduknya

misterius.

Sun Ca berkata, “Kami terlihat seperti murid-murid Sing-siok-hay.”

Sun Jia meneruskan pula, “Oleh karena itu, kau pasti juga beranggapan bahwa kami adalah murid

Sing-siok-hay.”

“Tapi kalau kau beranggapan demikian, kau keliru,” ucap Sun Ca. “Dengan Sing-siok-hay,

hakikatnya kami tidak punya hubungan.”

“Sepuluh tahun yang lalu, pernah kami meluruk ke Sing-siok-hay,” Sun Jia berkata. “Kami juga

ingin mencari orang aneh yang diagulkan dalam berita itu, kami mengharap beliau suka mengajar

ilmu silat yang lihai kepada kami, supaya kami memiliki kepandaian yang tiada taranya dan malang

melintang di dunia Kangouw.”

“Tapi kami amat kecewa, kami gagal menemui mereka.”

“Puncak gunung itu hanya tanah belukar yang tidak pernah dijelajahi manusia. Musim panas

mentari amat terik laksana bara, musim dingin hawa membuat beku tulang sumsum, orang biasa

jelas takkan hidup di tempat itu.”

“Kami menjelaskan tentang kenyataan ini, hanya supaya kau tahu ilmu silat yang kami yakinkan

sekarang adalah berkat latihan kami sendiri, latihan yang rajin dan tekun.”

“Oleh karena itu, kau tak usah kuatir dan jangan menganggap kami orang cacat, maka kau sungkan

turun tangan.”

Ma Ji-liong mendengarkan mereka bicara sampai habis, dalam hati ia meresapi sesuatu. Mereka

adalah anak-anak muda, mereka tidak pura-pura, tidak bermuka-muka, tidak bertingkah, bersikap

tegas tidak aleman dan sungguh-sunguh. Mereka ingin memperjuangkan hidup sendiri, mengangkat

nama tanpa mendapat bantuan pihak lain. Walau mereka cacat badan, ternyata tak rendah diri, juga

tidak uring-uringan dan gampang mengumbar adat.

Ma Ji-liong tidak ingin bermusuhan dengan kedua pemuda cacat ini. ” Aku tidak ada maksud

menahan kalian,” katanya dengan suara tawar. “Setiap waktu kalian boleh datang ke mari, juga

boleh pergi sesuka hati kalian.”

Mereka tidak pergi. Sepasang kembar yang cacat ini menatap Ji-liong dengan pandangan yang

sama, tajam dan mengancam, sorot mata mereka tampak ganjil.

Sun Ca pula yang membuka suara lebih dulu, “Kami tahu dan merasakan, kau tidak menganggap

kami sebagai musuh. Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong. Kalau orang lain, kami ingin bersahabat

denganmu.”

“Ternyata kau bukan manusia rendah budi, bukan orang jahat yang berhati kejam seperti yang

mereka gambarkan,” demikian ucap Sun Jia. “Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong yang harus

dibekuk dan dihukum.”

Dua saudara kembar ini sama-sama menghela napas, sama-sama membalik badan, “tok, tok, tok”,

tongkat mereka berbunyi serempak, agaknya mereka siap meninggalkan tempat itu, seakan-seakan

mereka segan atau tidak akan bermusuhan lagi dengan Ma Ji-liong. Tapi mereka tidak keluar,

karena di saat tongkat mereka bergerak ketiga kalinya, baru saja ujung tongkat menyentuh lantai,

tangan Thio-lausit mendadak bergerak.

Ma Ji-liong hanya mendengar desir angin tajam memecah udara, dua batang tongkat yang dipegang

dua saudara kembar itu mendadak patah persis di bagian tengah, menyusul dua benda kecil

menggelundung jatuh bersama tongkat yang patah itu. Waktu Ji-liong melirik ke sana, ternyata dua

butir kacang tanah yang mematahkan tongkat kayu sebesar lengan bayi itu.

Thio-lausit gemar minum arak, kacang tanah adalah kawan intim bagi seorang yang suka minum

arak, makan kacang supaya tidak lekas mabuk.

Di atas meja Thio-lausit selalu bertumpuk kacang tanah. Thio-lausit mampu menimpuk patah

tongkat kayu sebesar lengan bayi yang montok, padahal dibacok golok pun tongkat itu takkan putus

seketika.

Sun Ca dan Sun Jia tidak menduga. Walau mereka tidak jatuh karenanya, mereka masih berdiri

dengan sebelah kakinya yang utuh, bendiri tegak seperti terpukau atau berakar di bumi. Tapi roman

muka mereka tampak berubah hebat, demikian pula rona muka Ma Ji-liong juga berubah. “Apa

yang kau lakukan?” serunya spontan.

“Terpaksa aku harus menahan mereka,” sahut Thio-lausit, wajahnya tidak menunjukkan perubahan

apa-apa. “Kau tak mau bertindak, biar aku yang menahan mereka.”

Ma Ji-liong tidak sempat bertanya ‘kenapa’ lagi, karena dalam sekejap mata, ia merasakan

datangnya perubahan pada ujung jari tangan dan kaki, mulut serta ujung mata dan setiap tempat

yang peka. Begitu cepat perubahan terjadi, kejap lain ia merasakan juga badannya mulai kejang dan

pati rasa.

Hanya sekejap setelah tongkat mereka patah, Sun Ca dan Sun Jia tiba-tiba melambung tinggi ke

udara. Meski hanya menjejak dengan sebelah kaki, tapi tubuh mereka meluncur kencang bagai

panah ke arah luar pintu.

Walau cacat badan, tapi di kala tubuh mereka melesat di udara, bukan saja gayanya indah,

kecepatannya pun bagai elang mengejar burung dara. Meski kedua pemuda ini tuna raga, dari

gerakan itu dapat dinilai betapa tinggi Ginkang mereka, jarang ada jago silat semuda mereka dapat

menandingi kemampuannya.

————————-ooo00ooo————————

Menurut cerita, dalam jangka tiga ratus tahun mendatang, orang yang mempunyai telinga paling

tajam di seluruh dunia persilatan adalah seorang tuli. Seorang tuli benar-benar, tuli tulen, namun

dalam jarak tiga puluh tombak, dia bisa mendengar bisikan orang (baca Pukulan Si Kuda Binal).

Maklum dia bukan mendengar dengan telinga, tapi mendengar dengan mata. Cukup dia melihat

gerak bibir seseorang, bentuk mulut waktu orang bicara, maka dia dapat mendengar apa yang

diucapkan orang itu. ltulah ilmu tunggal orang tuli itu, kepandaian khusus yang tidak mungkin

dimiliki atau diyakinkan orang lain, ilmu hasil latihan dan gemblengan berat. Karena dia tuli, maka

dia berhasil meyakinkan ilmu tunggal yang tiada bandingannya.

Seseorang bila tubuhnya mempunyai ciri, entah ciri apa pun, jika dia bisa memanfaatkan

kekurangannya sendiri, sering terjadi usaha yang tak kenal lelah, jerih payahnya akan

mendatangkan sukses yang gemilang.

Bahwa Sun Ca dan Sun Jia yang tuna raga mampu meyakinkan Ginkang setinggi itu juga lantaran

mereka tapa daksa. Karena tahu dirinya tuna raga, maka mereka mau menggembleng diri, latihan

yang mereka lakukan jelas lebih sukar, lebih berat dan lebih menyiksa.

Secara mendadak tubuh mereka melambung tinggi begitu saja, seperti kaki mereka dipasang pegas,

gerakan keduanya pun serasi, cepat, indah lagi mempesona.

Gerak tujuan mereka ke arah luar pintu. Namun di saat tubuh mereka melorot turun, ternyata

kakinya tetap menginjak lantai di dalam toko. Begitu kaki anjlok ke bawah dan menginjak tanah,

lalu tak mampu melompat lagi. Bukan hanya tidak mampu melompat, mereka pun tidak bisa

bergerak, berdiri kaku seperti patung, ada empat Hiat-to di tubuh mereka tertutuk. Delapan butir

kacang tanah menggelinding di lantai.

Tokoh silat kosen yang memiliki kepandaian sejati, meski hanya menggunakan kelopak kembang

juga dapat melukai musuh, maka tidak perlu beran bila dengan kacang tanah seseorang yang

memiliki ilmu silat tinggi dapat menutuk Hiat-to di tubuh orang.

Namun belum ada orang tahu bahwa Thio-lausit yang pegawai toko ini adalah seorang jago kosen

yang memiliki kepandaian tinggi.

Kapan dan bagaimana Thio-lausit menyambitkan kacang tanah, bagaimana pula Sun Ca dan

saudara kembarnya kecundang? Ma Ji-liong tidak tahu, juga tidak sempat menyaksikan karena

keadaan dirinya juga sudah gawat, pandangannya mulai kabur, sekujur badan sudah mengejang

kaku.

Ma Ji-liong tak merasakan, Thio-lausit segera berdiri dan menghampiri dirinya, dari dalam kantung

Sun Ca dia merogoh keluar sebotol obat. Dari botol kecil itu ia menuang dua butir pil lalu dijejalkan

ke mulut Ma Ji-liong, selang beberapa saat kemudian baru Ma Ji-liong mulai pulih kesadarannya.

Sikap Thio-lausit biasa saja, tidak menunjukkan rasa tegang, senang atau kaget, namun ia bertanya

dengan suara tawar, “Sekarang tentu kau sudah tahu kenapa aku menahan mereka.”

Ma Ji-liong sudah tahu. Ada beberapa adegan tidak sempat ia saksikan tadi, tapi ia maklum banyak

peristiwa yang terjadi di dunia ini, tak usah kau saksikan sendiri pun kau bisa maklum sendiri.

Ia maklum kenapa dirinya mendadak kejang dan pati rasa, karena terkena racun jahat yang

ditaburkan Sun Ca dan Sun Jia. Jenis racun yang tidak kelihatan, tidak bisa dirasakan dan tidak

berwarna, ternyata lihai juga saudara kembar cacat ini menggunakan racun. Apa yang mereka

ucapkan tadi mungkin setulus hati, hanya omongan jujur untuk menarik perhatian orang, hanya

dengan bersikap jujur maka lawan dapat dibuat lena.

Di kala mereka bersikap tidak bermusuhan, saat itulah mereka menyerang dengan cara mereka yang

khas dengan racun jahat. Tanpa bayangan, juga tidak menunjukkan gerakan yang mencurigakan.

Umpama orang menganggap orang lain sebagai teman baiknya, tanpa hubungan yang baik, takkan

ada kesempatan dia mengkhianati temannya itu.

————————-ooo00ooo————————

Bukan berarti Ma Ji-liong tahu jelas duduknya persoalan, tapi setelah ia bisa buka suara, ia lantas

berkata, “Bebaskan mereka, sekarang juga biarkan mereka pergi.”

“Kenapa kau melepaskan mereka?” tanya Thio-lausit heran.

“Karena aku adalah Ma Ji-liong. Karena melaksanakan tugas, mereka pantas berbuat demikian.”

Mereka juga masih muda, sepak terjang anak muda umumnya memang demikian, mereka ingin

terkenal, mendapat kedudukan dan disegani, ingin menjadi orang yang sukses, orang besar, maka

mereka tidak salah. Seorang pemuda harus punya cita-cita, mengejar nama, maka usahanya itu pasti

tidak salah.

Setelah Hiat-to yang ditutuk di tubuhnya dibebaskan, Sun Ca dan Sun Jia segera beranjak keluar,

Waktu berjalan pergi, Sun Ca dan Sun Jia tidak berpaling, melirik pun tidak ke arah Ma Ji-liong,

mereka juga tidak menghaturkan terima kasih.

Ma Ji-liong juga sengaja melengos ke jurusan lain, ia tidak ingin menambah beban batin dan rasa

malu mereka. la bertanya pada Thio-lausit, “Apa betul kau tidak pernah melihat Toa-hoan? Juga

tidak tahu siapa dia? Apa betul kau sudah menjadi pegawai toko serba ada ini selama delapan belas

tahun?”

Thio-lausit tidak menjawab, ia membungkuk badan memungut kacang tanah yang berserakan di

lantai, satu persatu diambil, dikuliti dan langsung dijejalkan ke dalam mulut. Sambil mengunyah

kacang tanah di dalam mulutnya, ia menghela napas, lalu bergumam, “Persoalan yang harus dia

ketahui tidak ditanyakan, kepada siapa dia harus bertanya juga tidak diperhatikan, malah bertanya

persoalan yang tak berguna kepadaku.”

“Aku tahu aku harus bertanya kepada Ong Ban-bu,” demikian ucap Ma Ji-liong. “Berapa banyak

orang mereka yang meluruk ke tempat ini? Siapa pemimpinnya dan tokoh-tokoh silat siapa saja

yang ikut datang? Begitu?”

“Kalau sudah tahu, kenapa tidak kau tanya kepadanya?”

“Karena pertanyaanku yang kuajukan kepadamu kurasa lebih penting.”

“Penting, apanya yang penting?” Thio-lausit menghela napas pula. “Memangnya kenapa kalau aku

pernah melihat Toa-hoan? Bagaimana pula kalau tidak pernah melihatnya? Kenapa kau justru

bertanya hal ini?”

“Karena aku ingin tahu sekarang dia di mana,” tegas jawaban Ma Ji-liong. “Aku benar-benar ingin

tahu.”

“Dia ada di mana, apa sangkut-pautnya denganmu?”

“Sudah tentu ada sangkut-pautnya,” Ma Ji-liong menatap Thio-lausit. “Jika kau juga pernah

merindukan seseorang, kau pasti tahu dan maklum perasaanku sekarang.”

Wajah Thio-lausit tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa, tapi sisa kacang tanah yang masih

digenggam di telapak tangannya mendadak berjatuhan di atas lantai. Bergegas ia berjongkok

memungutinya lagi, seperti sengaja menghindari tatapan mata Ma Ji-liong yang tajam dan hangat

bagaikan bara.

Di saat Ma Ji-liong berdiri menjublek, dari dalam rumah berkumandang teriakan Cia Giok-lun,

“Kalau kau ingin tahu tentang Toa-hoan, kenapa tidak kau tanya kepadaku.”

Bergegas Ji-liong melangkah ke dalam. Di saat ia membalik badan menutup kain tirai, mendadak

dilihatnya sebaris orang dengan derap langkah lembut masuk ke jalan kampung dari arah utara.

Barisan ini terdiri dari 28 orang, muda, kekar, gerak- geriknya lincah dan tangkas, gerak kaki dan

tangan mereka amat rapi dan rata. Ke-28 pemuda itu seluruhnya berpakaian hitam ketat dengan

potongan dan model yang sama, dengan gerak kaki setinggi lutut berderap maju dengan rajin,

tangan kiri mereka menjinjing kantong kain hitam yang bentuk dan besarnya sama.

Apa isi kantong kain hitam itu? Apa kerja ke-28 pemuda berpakaian hitam itu di tempat ini? Setiap

orang pasti tertarik dan ingin tahu bila melihat barisan serapi itu. Yang sedang ber jalan menoleh,

yang sedang bekerja berhenti, semua memperhatikan barisan yang menyolok pandangan, entah apa

maksud kedatangan mereka.

Ternyata Ma Ji-liong tidak peduli, dia tetap melangkah ke dalam. Hanya sekilas ia menoleh dan

menatap keluar, lalu menyingkap tirai menyelinap masuk. Kecuali Toa-hoan, orang lain, urusan

lain, seperti tidak menarik perhatiannya.

Cia Giok-lun meronta berduduk, mimik mukanya kelihatan aneh, entah marah, derita atau

penasaran? Mungkin juga sedih? Berbagai perasaan campur aduk dalam relung hatinya. Dengan

melotot ia mengawasi Ji-liong. “Kau kenal Toa-hoan? Bukankah kalian bersekongkol, mengatur

rencana busuk ini untuk mencelakai aku?”

Ma Ji-liong diam, tidak menyangkal, juga tidak membantah. Ia tidak ingin berdebat. Dalam keadaan

seperti ini ia tidak bisa menyangkal, juga tidak perlu menyangkal.

Jari-jari Cia Giok-lun yang kurus kering itu mencengkeram ujung selimut kapas yang tebal itu,

kelihatan tubuhnya gemetar.

“Selama beberapa bulan ini, kau selalu merindukan dia?” suara Cia Giok-lun berubah serak terisak.

“Tiga bulan lebih kau mendampingi aku, tapi setiap hari kau malah merindukan dia?”

Ma Ji-liong tidak mungkir, hal ini memang tidak perlu dibantah.

Tubuh Cia Giok-lun berguncang lebih keras. “Kenapa kau merindukan dia? Apa kau mencintai

wanita jelek itu?”

Pertanyaan ini setiap hari mengganjal dalam benak Ma Ji-liong. Kenapa aku selalu merindukan dia?

Apa betul aku sudah kasmaran kepadanya? Kalau lagi kasmaran, maka perasaannya bukan lagi

suka, tapi dirinya sudah jatuh cinta. Karena cinta maka ia kuat bertahan sekian lama

menyembunyikan diri sebagai pemilik toko serba ada, karena cinta pula sehingga amat keras dan

begitu besar rasa rindunya. Tapi hal ini tak pernah Ji-liong pikirkan, Ji-liong memang tak habis

mengerti, kenapa dirinya punya pikiran demikian.

Mendadak Cia Giok-lun menghentikan isak tangisnya, badan juga tidak gemetar lagi, jengeknya

sambil menyeringai dingin, “Ingin tidak kau tahu siapa dia?”

“Ingin sekali,” jawab Ma Ji-liong dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling.

“Jika kau tahu siapa dia sebenarnya, aku yakin kau akan kecewa;”

“Tidak, pasti tidak,” tegas dan jelas jawaban Ma Ji-liong. “Peduli siapa dia, sikapku terhadapnya

takkan pernah berubah.”

“Baiklah, biar kujelaskan,” suara Cia Giok-lun seperti memekik. “Dia adalah babu di rumahku.”

Ma Ji-liong tetap bersikap tenang dan wajar, “Kau adalah Toa-siocia, nona besar, dia adalah

babumu. Engkau seorang gadis cantik, sebaliknya dia buruk rupa. Tapi peduli kau siapa dan dia

siapa, aku tetap merindukan dia.” Habis bicara ia beranjak keluar pula.

“Kembali kau!” pekik Cia Giok-lun. “Masih ada yang akan kuberitahukan kepadamu.”

Ma Ji-liong tidak berbalik, juga tidak berpaling. Apa pun yang akan dikatakan Cia Giok-lun, ia

tidak mau mendengar lagi.

Dengan gemas Cia Giok-lun menjatuhkan diri, menyusupkan kepala ke bawah bantal, lalu

menangis gerung-gerung, menangis dengan sedih. Sebagai Toa-Siocia, atau nona besar, ia memang

amat binal, lebih brengsek dibandingkan putri raja, lebih agung dibanding bidadari. Belum pernah

ada orang yang melihat ia mencucurkan air mata. Apa pun yang ia minta, apa pun yang ia inginkan

di rumah maupun di luar, belum pernah tidak terkabul. Tapi kenapa kali ini ia menangis? Karena

apa ia mencucurkan air mata?

Thio Eng-hoat duplikat Ma Ji-liong ini hanya juragan toko serba ada di kampung di mana sebagian

besar penduduknya adalah kalangan rendah. Ma Ji-liong tidak lebih hanya keparat yang berani

melakukan kejahatan, seorang buronan yang akan dijatuhi hukuman mati oleh kaum pendekar.

Peduli untuk siapa dan kepada siapa, tidak pantas Cia Giok-lun mencucurkan air mata.

————————-ooo00ooo————————

Sejak tadi Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu hanya menonton saja dari samping, diam, bersikap

dingin. Mendadak Thiat Tin-thian menghela napas, “Aku ini laki-laki bergajul, laki-laki yang suka

pelesir, selama hidup entah berapa ratus perempuan yang pernah tidur denganku.”

“Aku pun kira-kira demikian,” ucap Ong Ban-bu.

“Tapi sejak mula hingga yang terakhir, belum pernah aku memahami jiwa mereka, menyelami hati

perempuan, seumur hidupku mungkin tak bisa memahami hati wanita.”

Ong Ban-bu juga menghela napas, katanya gegetun, “Aku pun demikian.”

————————-ooo00ooo————————

Ma Ji-liong berada di luar, tidak mendengar percakapan mereka. Begitu berada di luar, ia kaget dan

menjublek oleh perubahan yang terjadi di jalanan. Belum pernah ia membayangkan di lorong yang

jorok dan kotor serta becek itu, bisa menyaksikan perubahan yang benar-benar mengejutkan.

Hanya Thio-lausit saja yang tidak berubah. Gelagatnya pegawai ini sudah terpengaruh oleh arak

yang masuk ke perutnya. Poci arak sudah kosong dan menggeletak miring di atas meja yang sudah

reyot. Thio-lausit mendekam di meja, entah masih sadar atau sudah tertidur? Sudah mabuk atau lagi

sedih?

Keadaan biasa memang demikian, kejadian hari ini bukan untuk yang pertama kali. Perubahan yang

mengejutkan telah terjadi dalam kampung yang berpenduduk serba kekurangan ini. Bayangan

manusia dan hewan sudah tidak kelihatan lagi, penduduk yang tinggal di gubuk-gubuk reyot

sepanjang kampung itu entah sudah lari ke mana. Rumah mereka yang terbuat dari papan beratap

rumbia itu pun sudah tidak kelihatan, entah kapan dibongkar atau dipindah ke mana. Tanah

kampung itu kini telah kosong.

Hanya sekejap mata, dalam waktu singkat, rumah-rumah penduduk di sekeliling toko serba ada ini

telah dibongkar bersih. Dibongkar oleh ke-28 pemuda baju hitam yang berperawakan tegap, kekar

dan kuat. Isi kantong hitam yang mereka bawa ternyata alat pertukangan, digunakan untuk

menjebol dan membongkar rumah-rumah itu.

Gerak mereka rapi, hati-hati, kuat lagi cekatan. Genteng satu persatu dilempar ke bawah, demikian

pula papan dinding satu persatu dipreteli, paku satu persatu dicabut. Lekas sekali bangunan rumah

yang sudah dibongkar dipindahkan ke lain tempat.

Demikian pula perabot rumah tangga. Dari meja, kursi, almari, mainan anak-anak, harta benda

besar maupun kecil, seluruhnya diangkut dan habis. Penduduk kampung ini dari keluarga miskin,

namun dalam pandangan mereka, betapapun reyot dan miskin keadaan rumah mereka, setelah

sekian tahun tinggal di tempat itu, berteduh dari teriknya matahari dan hujan lebat, berat dan sayang

untuk meninggalkan tempat ini. Tidak sedikit malah penduduk kampung yang dilahirkan di sini,

kampung halaman di mana mereka tumbuh dewasa dan tua. Tapi sekarang rumah mereka

dibongkar, lenyap begitu saja, seluruh rumah di daerah ini sudah dirobohkan. Perkampungan ini

sudah bukan lagi kampung. Jalan sempit itu juga bukan jalan kampung lagi. Segala apa yang ada di

sini sudah berubah, semuanya sudah dipindahkan.

Dalam sekejap mata, perkampungan telah berubah menjadi tanah lapang yang kosong, tanah lapang

yang sebagian berlumpur. Tanah kosong, tanah mati, daerah mati, tiada kehidupan lagi di tempat

ini.

Bab 27: Batu Hitam

Mega putih, langit membiru. Di kejauhan masih ada bangunan rumah, ada toko, suara orang dan

keributan yang lazim terjadi dalam perkampungan. Langit tetap membiru, kehidupan dalam toko itu

pun masih berlangsung, tapi kehidupan dalam toko serba ada ini bukan lagi milik Ma Ji-liong

sendiri, seolah kehidupan sejati makin jauh meninggalkan Ma Ji-liong.

Selepas mata Ma Ji-liong memandang, yang terlihat hanya tanah kosong belaka. Sekian lama ia

menjumblek, kaget dan tidak mengerti, bagaimana perubahan ini berlangsung. Waktu ia menoleh,

dilihat Thio-lausit sedang menggeliat dan menguap, seperti baru sadar dari pulasnya, entah sadar

karena mabuk, atau karena sedih dan mendelu? Atau dari tidur pulas sungguhan? Ada kalanya

orang sadar lebih celaka daripada tidur, lebih enak mabuk saja, karena begitu ia membuka mata,

seketika ia membelalak, kecuali kaget, heran dan juga ngeri.

Ma Ji-liong bertanya kepada Thio-lausit, “Apa yang kau saksikan?”

“Tidak ada yang kusaksikan,” sahut Thio-lausit. “Apa pun tidak menyaksikan.” Tidak menyaksikan

apa pun adalah amat menakutkan dibanding kau melihat sesuatu yang mengerikan, tidak tahu

seolah-olah ditakdirkan menjadi ketakutan yang terbesar dan mendalam dalam kehidupan manusia.

Ma Ji-liong berkata pula, “Umpama mereka mengurung kita hingga mati kelaparan di sini,

sebetulnya tak perlu membongkar rumah-rumah penduduk itu, mereka kan bisa bersembunyi di

rumah-rumah itu untuk menyelidik keadaan kita di sini dari dekat.” Ma Ji-liong tak habis mengerti,

kenapa rumah-rumah penduduk dibongkar hingga rata dengan tanah dan daerah perkampungan itu

menjadi tanah kosong. Dengan mengajukan pertanyaan, Ji-liong berharap Thio-lausit bisa memberi

keterangan kepadanya, ikut memecahkan teka-teki ini.

Belum Thio-lausit menjawab, dari arah barat muncul barisan 28 pemuda berpakaian hitam ketat,

mereka muncul dengan berbaris rajin dan rapi, langsung menuju ke depan tokonya. Ma Ji-liong

dapat membedakan ke-28 pemuda yang ini bukan barisan yang tadi, namun mereka terdiri pemudapemuda

kekar dan kuat juga, sama-sama berseragam hitam, hanya pakaian mereka masih kering,

belum basah oleh keringat, karena mereka belum bekerja berat. Yang mereka bawa juga bukan

kantong kain hitam, tapi keranjang bambu hitam.

Keranjang bambu ini kelihatan lebih berat karena isinya batu-batu hitam berbentuk bulat seperti

bola hitam mengkilap hingga kelihatan seperti mutiara hitam. Sudah dua puluh tahun lebih Ji-liong

hidup di dunia ini, tak pemah ia melihat batu seperti itu, susah ia mengenali anak buah siapakah

pemuda-pemuda gagah tegap dan cekatan ini. Batu hitam bulat dan mengkilap seperti itu jelas susah

ditemukan meski hanya satu atau dua butir saja. Gembong-gembong silat Kangouw yang mampu

memelihara atau mendidik pemuda-pemuda berseragam hitam seperti mereka juga hanya beberapa

gelintir saja.

Yang lebih aneh lagi, pemuda-pemuda itu menata batu-batu dalam keranjang bambu itu di atas

tanah secara teratur, rapi dan rapat baris demi baris, mirip petani yang sedang menanam padi di

sawah. Gerakan mereka rapi dan rajin serta seirama lagi cepat, tanah kosong yang berlumpur itu

seketika tertutup oleh taburan batu hitam itu.

Lekas sekali keranjang bambu para pemuda Itu sudah kosong, kejap lain mereka sudah berlari pergi

dengan derap yang tetap rapi. Belum lenyap bayangan ke-28 pemuda yang ini, dari arah Timur

muncul lagi 28 pemuda lain dalam bentuk barisan yang sama, berseragam hitam juga membawa

keranjang bambu hitam berisi batu-batu bulat warna hitam mengkilap pula, derap langkah mereka

mirip pasukan kerajaan yang sedang mengadakan upacara di halaman istana.

Ma Ji-liong ingin bertanya pada Thio-lausit, apakah ia tahu anak buah siapa gerangan para pemuda

ini? Atau menerka dari mana asal mereka? Entah apa yang sedang dilakukan oleh para pemuda itu?

Ma Ji-liong belum sempat bertanya karena mendadak dilihatnya perubahan yang ganjil pada wajah

Thio-lausit. Sejak tadi Thio-lausit bersikap acuh tak acuh, malas dan mengantuk, namun sorot mata

yang tadi guram kini mencorong terang dengan menampilkan rasa takut dan ngeri. Tanpa diperintah

atau diminta oleh Ma Ji-liong, mendadak ia memburu keluar. Dengan kecepatan yang luar biasa,

satu persatu ia pasang daun pintu toko serba ada dan menutupnya rapat. Padahal tadi ia bersikap

bandel untuk tetap membuka toko ini seperti biasa supaya tidak menarik kecurigaan musuh,

mengapa sekarang tanpa diminta ia malah menutup toko?

Ma Ji-liong melenggong, diam saja mengawasi kelakuan pegawainya yang aneh. Tiba-tiba Thiolausit

menarik lengannya terus diseret masuk ke dalam rumah. Hanya sinar pelita yang menerangi

keadaan rumah itu, remang-remang saja di dalam. Tiga orang yang ada di dalam rumah kelihatan

amat lesu dan kuyu. Tanpa bicara, begitu masuk Thio-lausit merogoh kantong di balik bajunya

mengeluarkan sebuah botol hitam dari kayu, langsung ia angsurkan kepada Thiat Tin-thian. “Ini

untukmu,” suaranya gugup gelisah. “Makan dulu separuh, sisanya makan lagi setengah jam

kemudian, kunyah dulu baru ditelan.”

Sudah tentu Thiat Tin-thian bertanya, “Ini apa?”

“Itulah Bik-giok-cu,” ujar Thio-lausit. “Dalam jangka setengah jam setelah kau makan obat itu, luka

dalammu yang parah akan sembuh setengah bagian. Menjelang magrib nanti kau telan lagi sisanya

yang separuh, tengah malam nanti kekuatanmu akan pulih delapan bagian dari keadaan semula.”

Mendadak ia menghela napas, lalu katanya pula, “Semoga kau kuat bertahan hingga saatnya nanti.”

Mendengar ‘Bik-giok-cu’, bola mata Thiat Tin-thian seketika bercahaya. Tubuhnya bergetar keras,

ia tahu obat dalam botol kayu hitam yang ia pegang sekarang adalah obat mujarab, satu-satunya

obat penyembuh yang dapat menolong dirinya di kolong langit ini, obat mujizat yang tak ternilai

harganya. Tetapi Thiat Tin-thian tidak segera menelannya, ada beberapa persoalan yang ingin ia

ketahui lebih dulu, maka ia bertanya, “Siapa kau?” Pertanyaan itu ditujukan kepada Thio-lausit, lalu

sambungnya, “Dari mana kau bisa memiliki Bik-giok-cu ini?”

“Semua itu tiada sangkut-pautnya dengan kau. Pokoknya lekas kau makan obat itu dan sembuh,

titik.”

“Siapa bilang tiada sangkut pautnya,” tegas jawaban Thiat Tin-thian. “Selama hidup belum pernah

Thiat Tin-thian menerima kebaikan atau bantuan orang lain. Kalau aku tidak tahu kau siapa, mana

boleh aku menerima obatmu?” Laki-laki yang tegas membedakan budi dan dendam, lebih rela mati

daripada hutang budi kepada orang lain, mati pun tidak mau berhutang budi kepada orang yang

tidak dikenalnya.

Mendadak Ma Ji-liong menyeletuk, “Kau boleh menerima obatnya, juga harus menerima budi

pertolongannya, malah tidak perlu kau membalas kebaikannya.”

“Kenapa?” tanya Thiat Tin-thian.

“Karena dia adalah temanku, demikian pula kau,” tandas ucapan Ma Ji-liong.” Antara kawan, peduli

siapa untuk siapa, tidak perlu menyinggung soal balas membalas kebaikan.”

Tanpa bicara lagi, Thiat Tin-thian membuka tutup botol, lain menuang separuh isi obat di dalamnya

ke mulut serta ditelan begitu saja.

Mendadak Ong Ban-bu menghela napas lega, katanya pula, “Thiat Tin-thian, sekarang boleh kau

bunuh aku saja, sekarang mati pun aku tidak menyesal.” Sekarang ia sudah tahu, orang yang

mengalahkan dirinya jelas bukan tokoh sembarangan, karena hanya murid Bik-giok Hujin yang

mempunyai Bik-giok-cu. Kalah di tangan anak murid Bik-giok Hujin jelas bukan peristiwa yang

memalukan. Kenyataan dirinya sudah kalah, kecundang, mati pun tak perlu menyesal.

Walau Ong Ban-bu tidak menjelaskan, namun Thiat Tin-thian cukup maklum perasaan hatinya.

Kini siapa pun berani memastikan bahwa Thio-lausit adalah anak murid Bik-giok Hujin. Selama

seratus tahun terakhir ini, belum pernah ada berita yang menyatakan Bik-giok Hujin menerima

murid laki-laki, maka dapat dipastikan bahwa Thio-lausit yang satu ini adalah penyamaran seorang

perempuan, seorang gadis.

Ma Ji-liong menatapnya lekat, sepatah demi sepatah ia berkata, “Sekarang apakah belum tiba

saatnya kau berterus terang?”

“Berterus terang tentang apa?” tanya Thio-lausit.

“Berterus terang bahwa kau adalah Toa-hoan.”

Akhirnya Thio-lausit menghela napas panjang, ujarnya kemudian, “Betul, aku memang Toa-hoan.”

Pegawai jujur yang tidak jujur ini memang betul adalah Toa-hoan. Bukan Toa-hoan yang berarti

mangkuk besar, mangkuk besar yang sering dipakai nyonya rumah di dapur, tapi Toa-hoan yang

satu ini adalah nama seorang gadis, gadis yang berdarah daging, manusia tulen, gadis yang berani

berbuat berani bertanggung jawab, Toa-hoan yang selama ini membuat Ma Ji-liong rindu, gadis

jelek yang membuat Ma Ji-liong kasmaran.

Apa selama ini Toa-hoan juga merindukan Ma Ji-liong? Jika muda-mudi ini sama-sama merindukan

lawan jenisnya, kenapa selama tiga bulan lebih ia tega merahasiakan dirinya, tidak memberitahu

kepada Ma Ji-liong-liong bahwa dirinya menyaru menjadi Thio-lausit, pegawainya yang jujur dan

setia?

Ma Ji-liong tidak habis mengerti, hati perempuan memang sukar dijajaki, tak mudah diselami.

Toa-hoan sudah mengulur tangannya. Begitu ujung jarinya menyentuh tangan Ma Ji-liong, lekas ia

menyurut mundur lagi. Tidak ada orang yang lebih kuasa mengendalikan perasaan hatinya seperti

dia. “Tenaga Thiat Tin-thian akan segera pulih, Ong Ban-bu tidak perlu mati, demikian pula

engkau,” suara Toa-hoan dingin. “Asal ada kesempatan, kalian harus menerjang keluar.”

Ma Ji-liong juga berusaha menahan gejolak hatinya, tapi tak tahan ia bertanya, “Dan kau

bagaimana?”

“Aku……” Toa-hoan tergagap.

Mendadak Cia Giok-lun berteriak, “He, kenapa kalian tak bertanya pada diriku? Bagaimana nasibku

nanti?”

Pelahan Toa-hoan membalik badan menghadapi Cia Giok-lun. Cia Giok-lun melotot gusar penuh

emosi, wajahnya dilembari dendam dan kebencian. “Kenapa kau membuatku celaka begini rupa?”

pekiknya dengan suara tersendat.

“Aku memang bersalah, berdosa terhadapmu,” kata Toa-hoan. “Tapi kau harus percaya kepadaku,

maksudku baik, aku tidak akan membuatmu celaka.”

“Tapi kenapa kau lakukan semua ini?”

“Supaya tugas yang kuemban tidak sia-sia, dapat menunaikan tugas dengan baik, aku harus

mencegah kau menikah dengan Khu Hong-seng,” demikian jawab Toa-hoan. “Sejak kecil kita

dibesarkan bersama, maka aku tidak boleh berpeluk tangan melihat kau menikah dengan orang yang

keji, licik dan munafik itu.”

Ma Ji-liong memekik kaget, “Jadi dia ini putri kesayangan Bik-giok Hujin?”

“Betul,” sahut Toa-hoan. “Cia-hujin mengundang kalian berempat berkumpul di Han bwe-kok,

maksudnya untuk memilih seorang di antara kalian sebagai calon menantunya.”

“Jadi hari itu kau juga berada di Han-bwe-kok?” tanya Ma Ji-liong.

Toa-hoan manggut, “Ya, aku ada di sana waktu kejadian itu berlangsung, aku mengikuti seluruh

peristiwa itu.”

Siapa saja bila menyaksikan peristiwa itu serta mengikuti perkembangan selanjutnya, pasti

berkesimpulan dan menuduh Ma Ji-liong sebagai pembunuhnya, biang keladi dari rentetan kasus

yang berbuntut panjang itu.

Toa-hoan berkata, “Tapi aku berpendapat, dari pengamatanku di belakang tabir, di balik peristiwa

ini tentu ada muslihat keji yang terselubung.”

“Kenapa kau berkesimpulan demikian?” tanya Ma Ji-liong.

“Karena kejadian yang berlangsung secara ‘kebetulan’ dalam peristiwa itu terlalu banyak,” Toa-hoan

menjelaskan. “Aku tidak percaya kejadian yang selalu kebetulan.” Liang lahat di tanah bersalju,

batu jade milik Siau-hoan, tusukan tombak Kim Tin-lin yang tepat mengenai mainan kalung, Coattaysu

dan Peng Tio-hoan muncul pada saat yang tepat dan lain-lain, semua itu terjadi secara

kebetulan. Peristiwa yang terjadi secara kebetulan, umumnya sudah diatur secara rapi, sudah

direncanakan dengan sempurna.

Lebih lanjut Toa-hoan berkata, “Cia-hujin mengutus aku sebagai juri dengan tugas memilih calon

menantunya. Aku mendapat kepercayaan penuh, tugas dan kewajibanku tidak ringan, apalagi

peristiwa ini menyangkut masa depan Toa-siocia, maka aku hrus bekerja secara hati-hati dan teliti.

Setelah menghadapi persoalan rumit itu, aku tak berani mengambil keputusan.” Toa-hoan

mengawasi Ji-liong, “Oleh karena itu, sengaja kubiarkan kau melarikan diri, aku belum yakin

bahwa kaulah biang keladi kasus ini, aku masih ingin memancing dan mencoba dirimu, aku ingin

tahu dari dekat, orang macam apa sebetulnya kau ini?”

Terpendam di bawah salju, sengaja memperlihatkan rambut kepala sambil merintih lemah, itulah

percobaan pertama. “Kalau kau tidak berhenti dan menolong aku dari timbunan salju itu, hari itu

juga aku sudah membunuhmu.”

Pembunuh yang lagi buron pasti tak mau menolong gadis jelek yang tidak pernah dikenalnya,

menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, apalagi Ji-liong menyerahkan jaket berbulu dan kudanya

kepada orang yang telah ditolongnya.

Tapi percobaan pertama belum memuaskan, belum meyakinkan bahwa Ji-liong bukan

pembunuhnya, maka perlu dilanjutkan dengan percobaan demi percobaan.

“Setelah beberapa kali kucoba, akhirnya aku percaya kau bukan orang jahat, kau orang baik, hanya

sifatmu saja yang terlalu angkuh. Aku menjadi curiga terhadap Khu Hong-seng,” demikian tutur

Toa-hoan lebih lanjut. “Rencananya memang amat rapi dan sempurna, susah aku melihat titik

kelemahan muslihatnya. Walau aku tahu kau terfitnah dalam kasus ini, namun aku tak berdaya

menolong kau membersihkan diri.” Setelah menghela napas panjang Toa-hoan melanjutkan, ” Aku

tak punya bukti. Untuk membuat Cia-hiujin percaya bahwa kau tidak berdosa dalam kasus ini, aku

harus punya bukti.”

Ma Ji-liong menyengir tawa, tawa yang getir, “Umpama Cia-hujin percaya, Coat-taysu dan lain-lain

pasti tidak mau percaya. Aku tetap menjadi kambing hitam di tangan mereka.”

Seorang yang sudah dianggap atau dituduh pembunuh kejam oleh orang-orang gagah dan pendekar,

apalagi tokoh seperti Coat-taysu yang disegani dalam Bu-lim, mana mungkin menjadi calon

menantu Bik-giok Hujin.

“Belakangan baru aku tahu,” tutur Toa-hoan lebih lanjut. “Di saat aku menguntit dirimu, sebelum

tugas selesai, penyelidikanku juga belum mencapai hasil, kudengar Cia-hujin sudah mengambil

keputusan untuk memilih Khu Hong-seng sebagai calon menantu, malah hari pernikahan juga sudah

ditetapkan.”

Mendadak Ong Ban-bu menyeletuk, “Aku juga mendengar berita itu.”

“Putusan yang sudah ditentukan Cia-hujin, jarang diubah, meski nasi sudah menjadi bubur juga

tidak menyesal,” demikian ucap Toa-hoan sinis. “Kecuali aku dapat mencari bukti bahwa peristiwa

ini adalah rencana busuk Khu Hong-seng, Khu Hong-seng adalah biang keladi atau pembunuh

utamanya.”

Toa-hoan sudah bekerja keras, dibantu Ji Ngo lagi, namun sukar baginya menemukan bukti yang

diharapkan.

Khu Hong-seng memang cerdik pandai, ia bekerja secara rapi dan penuh perhitungan, orang sukar

menemukan kesalahannya. Lebih hebat lagi secara gamblang ía sudah memaparkan kunci persoalai

peristiwa ini, secara blak-blakan bicara dengan Ma Ji-liong, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Umpama Ji- liong ganti memaparkan persoalan ini seperti apa yang diakui Khu Hong-seng kepada

orang lain, penegak hukum pun takkan mau percaya. Memang sulit bagi Ji-liong untuk

mengetengahkan alasannya. Bukan saja tak percaya, orang lain justru beranggapan Ji-liong sengaja

memfitnah Khu Hong-seng, bahkan akan lebih meyakinkan lagi bahwa dialah pembunuh atau biang

keladi dalam kasus ini.

Khu Hong-seng memang cerdas, sengaja ia meletakkan dirinya pada posisi yang paling celaka, pada

kedudukan yang tidak menguntungkan, lalu secara licin meloloskan diri tanpa meninggalkan jejak,

karena ia tahu dan mahfum titik kelemahan sifat manusia umumnya.

Toa-hoan menghela napas pula, “Rencana itu bukan saja rapi dan sempurna, juga telak, untuk itu

harus diacungi jempol. Meski gagal menemukan bukti, gagal membongkar kejahatan Khu Hongseng,

aku tidak rela dan tidak boleh berpeluk tangan menyaksikan Toa-siocia dipersunting oleh

keparat itu.”

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas, “Waktu ibu mengumumkan pilihannya, aku sudah

berangkat dari Bik-giok-san ceng. Bukan mencari Khu Hong-seng, tapi mencari kau.”

“Aku mengerti,” lembut suara Toa-hoan. “Meski perkataanmu kasar, sikapmu garang, namun aku

tahu di dalam hatimu kau masih menganggap aku sebagai saudara kandungmu sendiri.”

Cia Giok-lun menyengir kecut, katanva, “Tapi mimpi pun aku tidak menduga, mendadak kau

menutuk Hiat-toku.”

“Untuk menjernihkan suasana, untuk menunda perkembangan lebih lanjut, terpaksa aku harus

mengamankan kau lebih dulu,” demikian Toa-hoan menjelaskan.

Toa-hoan perlu waktu untuk mencari bukti, ia bekerja sepenuh tenaga untuk membongkar kasus ini,

maka jalan pendek yang perlu segera dilakukan adalah mengamankan Cia Giok-lun, memaksa Ciahujin

mengulur waktu atau menunda pernikahan putrinya. Jika mempelai perempuan mendadak

lenyap tak keruan parannya, upacara nikah tentu tak bisa dilangsungkan.

“Setelah kupikir-pikir, cara yang terbaik adalah kalian harus disembunyikan bersama. Kecuali orang

banyak sukar menemukan kalian, sekaligus kalian bisa bertatap muka, berkumpul dan hidup dalam

satu rumah. Aku yakin dengan cara yang kugunakan ini, kau akan memperoleh kesempatan

menyelami dan memahami orang macam apa sebetulnya Ma Ji-liong,” ujar Toa-hoan lebih lanjut.

“Sengaja pula kuberi kesempatan padanya supaya tahu kau adalah gadis jelita, perempuan

sempurna, maksudku untuk mencoba dia pula dalam kamar gelap itu, apakah dia kuat menguasai

dirinya.”

“Untuk menjaga segala sesuatu, maka kau ikut menyamar dan tinggal di sini juga,” ujar Cia Gioklun.

“Agaknya kau belum lega, kau masih kuatir, maka kau masih harus mengawasi dari dekat.”

Toa-hoan mengangguk, katanya, “Kalau dia berani berbuat tidak senonoh terhadap kau, aku tidak

akan membiarkan dia hidup sampai sekarang.”

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas. “Kau tidak salah menilai dia,” suaranya mendadak

berubah menjadi halus. “Dia memang bukan orang jahat.”

Ma Ji-liong pasang kuping, mendengarkan saja, kunci persoalan berlika-liku, sekarang ia baru

mengerti duduknya persoalan.

Thiat Tin-thian mendadak menghela napas, katanya, “Dia memang orang baik, kejadian ini

sebetulnya kejadian baik, sayang sekali dia berkenalan dengan orang jahat.”

“Kawan adalah kawan,” Ma Ji-liong memberi komentar. “Kawan tidak perlu diperdebatkan baik

atau buruk, karena kawan hanya ada satu macam. Jika ia bersalah terhadapku, mengkhianati aku,

maka ia tak setimpal menjadi kawanku, tidak patut ia disebut kawan.” Sikapnya serius lagi keren,

lanjutnya, “Aku tidak percaya adanya setan atau malaikat, aku hanya percaya kepada kawan.”

Ji-liong percaya kepada kawan, karena dia tidak pernah keliru mengartikan makna dari kebesaran

dan keluhuran ‘kawan’ itu. Kawan memang hanya sebuah kata, satu pengertian yang agung, suci dan

serius. Kawan tak boleh diartikan secara bengkok, juga tidak boleh dianggap remeh.

“Aku tahu maksudmu,” kata Thiat Tin-thian. “Tapi kalau kau tidak punya kawan seperti aku,

penyamaranmu takkan terbongkar, sekarang kau masih aman sebagai pemilik toko ini. Apa yang

telah terjadi, akulah yang membuatmu celaka.”

“Apakah kau menyesal berkawan dengan aku?” tanya Ma Ji-liong. “Atau kau akan memaksa aku

menyesal telah berkawan denganmu?”

“Aku tidak menyesal,” ujar Thiat Tin-thian. ” Aku tahu kau pun pasti tidak menyesal.”

Didorong oleh ‘persahabatan’ yang kekal, mereka memang tidak kenal apa artinya ‘menyesal’.

Tiba-tiba Ong Ban-bu menghela napas, “Melihat persahabatan dua kawan seperti kalian, aku baru

sadar, selama aku hidup hingga sekarang belum pernah aku punya kawan sejati.”

————————-ooo00ooo————————

Rahasia penyamaran Ma Ji-liong memang terbongkar lantaran Thiat Tin-thian, lalu bagaimana

dengan Toa-hoan? Kalau bukan karena Ma Ii-liong, siapa yang tahu Thio-lausit adalah samaran

Toa-hoan? Siapa pula yang tahu kalau dia adalah murid Bik-giok-san-ceng? Kalau bukan karena

Ma Ji-liong, mana mungkin rencananya terbengkalai dan gagal di tengah jalan? Tapi ia tidak marah,

tidak mengomel, juga tidak menyesal. Kalau bukan karena Ma Ji-liong, bahwasanya ia tidak akan

melakukan semua ini.

Ma Ji-liong bertanya, “Waktu kami terkepung, kaukah yang menolong kami dengan kabut hijau

itu?”

“Ya,” Toa-hoan menerangkan. “Kabut hijau itu dinamakan Jiu-han-yam buatan Bik-giok-san-ceng,

lebih tebal dari kabut, juga lebih cepat buyar dibanding kabut. Bila asap dingin itu berkembang, apa

pun tidak kelihatan meski jarimu sendiri.”

“Karena kau menggunakan Jiu-han-yam, maka mereka tahu di sini ada orang Bik-giok-san-ceng,”

Ma Ji-liong mencari tahu.

“Betul, setelah mereka tahu ada orang Bik-giok-san-ceng di sini, mereka tidak berani bertindak

secara gegabah,” Toa-hoan berkata. “Selama mereka tidak beraksi, asal bisa mengulur waktu,

mungkin kita punya kesempatan meloloskan diri. Sayang sekali keadaan sudah jauh berbeda, kita

sudah tidak punya peluang untuk mengundurkan diri dari sini.”

“Kenapa?” tanya Ma Ji-liong.

“Apa yang kau lihat di luar?” Toa-hoan balas bertanya.

“Kulihat puluhan pemuda berseragam hitam,” sahut Ma Ji-liong.

“Apa kerja mereka di luar?” tanya Toa-hoan.

“Mereka menata batu-batu hitam bulat di atas tanah.”

Bab 28: Rahasia Lembah Kematian

Apa yang menakutkan dari batu-batu hitam itu?

Asal orang tidak memaksa kau menelan batu itu, juga tiada orang yang menimpukkan batu itu di

atas kepalamu, perduli apa bila batu itu putih, hitam, biru atau kuning? Batu hitam itu meski

bentuknya bulat aneh tapi kan tidak perlu dibuat takut?

Anehnya Toa-hoan justru memperlihatkan rasa takut dan ngeri, demikian pula Cia Giok-lun setelah

mendengar adanya batu-batu hitam bulat itu menunjukkan rasa takut dan panik.

Mendadak Cia Giok-lun bertanya, “Batu-batu bulat yang kau lihat itu, apakah hitam legam? Bundar

lagi mengkilap?”

“Ya.”

“Di mana kau lihat batu-batu itu?” tanya Cia Giok-lun.

“Dibawa pemuda-pemuda berseragam hitam itu,” sahut Ji-liong. “Setiap pemuda membawa

sekeranjang batu hitam.”

“Lalu?”

“Satu persatu batu bulat hitam yang sama besar kecilnya itu ditata di atas tanah dengan rapi.”

Cia Giok-lun tidak bertanya lagi. Mulutnya terkancing, sorot matanya seperti membayangkan

peristiwa yang mengerikan. Sikap dan mimiknya seperti Toa-hoan, bak bocah yang mendadak

melihat atau berhadapan dengan setan-iblis yang pernah disaksikannya dalam mimpi buruk.

Kenapa kedua nona ini begitu takut terhadap batu-batu hitam itu?

Thiat Tin-thian menjadi tertarik, maka ia bertanya, “Di daerah ini apakah ada batu-batu seperti itu?”

“Tidak ada, pasti tidak ada,” sahut Ji-liong. “Umpama ada batu bulat di sini juga tidak sebesar itu,

hitam lagi warnanya.”

Ong Ban-bu mendadak menambahkan, “Waktu aku datang, sebelumnya sudah kuperiksa beberapa

li di sekitar kampung ini. Batu macam apa saja ada, tapi yang bundar hitam dan mengkilap, jelas tak

pernah kulihat meski hanya sebutir saja.”

“Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa batu-batu hitam itu jelas diangkut ke mari dari daerah

yang jauh dari sini.”

“Ya, pasti dari jauh.”

Thiat Tin-thian heran, “Kenapa bersusah-payah mengangkut batu-batu sebanyak itu dari jauh ke

mari serta menatanya rapi di depan pintu?”

Sebetulnya tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini, tetapi Toa-hoan segera

menjelaskan, “Karena dia seorang gila. Orang gila kan bisa melakukan apa saja yang tidak mungkin

dilakukan orang lumrah.”

Apa betul orang gila harus ditakuti?

Banyak orang gila di dunia ini, berbagai macam orang gila. Asal kau tidak mengusik atau

mengganggu dia, dia tidak usah ditakuti. Banyak orang yang tidak gila, orang waras di dunia ini,

justru lebih menakutkan dibanding orang gila.

Toa-hoan menerangkan, “Orang yang betul-betul gila tidak perlu ditakuti. Yang menakutkan adalah

orang yang kelihatan waras, lebih normal dibanding orang biasa, padahal dia seorang yang betulbetul

gila.”

Lebih jauh Toa-hoan menjelaskan, “Biasanya kau lihat dia bekerja secara sopan, teratur dan rapi.

Sikapnya juga ramah tamah, tutur katanya lembut, tapi bila penyakit gilanya kumat, perbuatan apa

pun berani dilakukan. Perbuatan yang tidak mungkin dilakukan orang gila juga bisa dia lakukan.”

Lebih menakutkan lagi karena siapa pun tidak tahu kapan dia akan gila. Tidak bisa ditebak kapan

sakit gilanya itu kumat, maka orang takkan siaga, tidak menduga. Di saat kau kira dia waras dan

normal, mungkin saat itulah dia akan memotong hidungmu untuk umpan anjing. Setelah hidungmu

hilang, kau masih juga tak percaya bahwa dia benar-benar telah gila, dia yang telah melukai dirimu.

“Begitulah gambaran orang gila yang kumaksud, orang gila yang menakutkan,” Toa-hoan

mengakhiri ceritanya.

“Kau pernah melihatnya?” Thiat Tin-thian bertanya.

“Aku tidak pernah melihatnya. Semula kukira selama hidup aku tak akan melihatnya,” setelah

menghela napas, Toa-hoan menambahkan, “Sayang sekali, tak lama lagi aku akan melihatnya,

bahkan berhadapan langsung dengan dia.”

Mendadak Cia Giok-lun mengulurkan tangan menarik lengannya, “Apa betul dia ke mari?”

“Dia pasti datang,” ujar Toa-hoan. “Jui-ham-yan telah mengundangnya ke mari.”

“Setelah kau melihat batu hitam itu, kau tahu bahwa dia sudah datang?” tanya Ma Ji-liong.

“Betul,” sahut Toa-hoan. “Di kolong langit ini, batu-batu hitam bulat seperti itu hanya ada di tempat

tinggalnya sana.”

“Dia tinggal di mana?” tanya Ji-liong.

“Di lembah mati,” sahut Toa-hoan. “Lembah mati yang tak ada apa-apanya, yang ada hanya batubatu

bulat hitam mengkilap.”

Dengan suara tertekan ia bercerita lebih jauh, “Lembah itu tak pernah diinjak manusia, lembah yang

kering kerontang, burung juga susah hidup di sana, apalagi manusia. Tetapi berbeda dengan

manusia yang satu itu, ternyata dia bisa bertahan hidup, malah hidup panjang hingga sekarang.”

“Kenapa dia tinggal di lembah seperti itu?”

“Manusia adalah manusia. Meski dia gila, sebetulnya tidak mau dan tak rela tinggal di lembah mati

itu, tapi ada orang yang memaksanya.”

“Siapa yang memaksa dia?”

“Di dunia ini hanya seorang yang bisa dan mampu memaksa dia,” demikian tutur Toa-hoan. “Hanya

orang itu yang bisa memaksa dia melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan,” tuturnya. Mendadak

Toa-hoan bertanya, “Tahukah kalian, tiga puluh tahun yang lalu, di kalangan Kangouw pernah

muncul seorang tokoh besar bernama Bu-cap-sah?”

“Bu-cap-sah?” Ma Ji-liong mengulang nama itu.

“Ya, Bu-cap-sah, artinya Tiga Belas Tidak Punya.”

“Kenapa dia bernama Bu-cap-sah?”

“Katanya dia tidak punya she, tidak punya nama, tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya

abang, tidak punya adik laki, tidak punya kakak, tidak punya adik perempuan, tidak punya bini,

tidak punya putra, tidak punya putri dan tidak punya kawan.”

“Kan hanya dua belas ‘tidak punya’?” tanya Ma Ji-liong. “Satu lagi tidak punya apa?”

“Tidak punya tandingan.”

“Tidak punya tandingan?” Ma Ji-liong tidak percaya. “Betulkah dia tidak punya tandingan?”

“Tiga puluh tahun yang lalu, dalam usia dua puluh tiga tahun, dia sudah menyapu jagat tanpa

menemukan tandingan, kepandaian silatnya tiada bandingan di seluruh dunia.”

Ma Ji-liong masih tidak percaya, “Peristiwa yang terjadi tiga puluh tahun yang lalu sebetulnya

masih belum terlalu lama, kenapa sampai sekarang belum ada orang yang tahu?”

Mendadak Thiat Tin-thian menimbrung, “Ada orang yang tahu, banyak yang tahu, aku juga tahu.”

Thiat Tin-thian berkata penuh keyakinan. “Tahun itu kebetulan aku berusia 19 tahun, tepatnya hari

raya Ciong-yang, aku mendengar orang membicarakan tentang dirinya.”

“Kau masih ingat dengan jelas?” tanya Ma Ji-liong.

“Sudah tentu jelas, karena hari itu kebetulan hari kelahiranku,” Thiat Tin-thian bercerita. “Pada hari

ulang tahunku itu, kebetulan dia berhasil mengalahkan Lian San-hun.”

Lian San-hun adalah jago silat paling top masa itu. Dengan Heng-hun-jik-jit dan Si-cap-kau-kiam,

dia malang melintang di Kangouw, terutama 49 Jurus Ilmu Pedang Penyapu Mega Menutup

Matahari itu teramat lihai, jelas tidak asor dibanding Wi-hong-bu-liu Si-cap-kau-kiam ciptaan Kotojin

dari Pa-san.

“Setelah berhadapan, belum sempat dia melancarkan ilmu pedangnya yang 49 jurus itu, Lian Sanhun

sudah roboh binasa secara mengenaskan. Dikalahkan oleh pemuda yang baru terjun di dunia

persilatan.”

“Lian San-hun dikalahkan oleh Bu-cap-sah?” tanya Ma Ji-liong.

“Waktu itu aku tidak tahu siapa dia, aku hanya mendengar ada seorang jago pedang tersohor di

seluruh jagat bernama Yan Cap-sah. Tapi tiga bulan kemudian, aku selalu mendengar orang

bercerita tentang Bu-cap-sah seorang,” tutur Thiat Tin-thian, lalu ia menekankan, “Tiga bulan tepat,

sembilan puluh hari.”

Tak tahan Ma Ji-liong bertanya lagi, “Bagaimana kau ingat bahwa tepat sembilan puluh hari dia

menggegerkan dunia persilatan?”

“Karena dari hari raya Ciong-yang hingga tanggal 8 bulan 11 tepat 90 hari. Dalam jangka waktu 90

hari itu dia berhasil mengalahkan 43 jago-jago silat kosen yang paling terkenal pada masa itu,”

demikian tutur Thiat Tin-thian. “Yang terakhir dia kalahkan adalah Ciangbunjin Thiat-kiam-bun.

Saat itu dia sedang berkumpul dengan anak muridnya, akan berpesta makan bubur ayam campur

tiram. Belum ada satu gebrakan, Ciangbunjin Thiat-kiam-bun ini dikalahkan lalu dijungkir-balikkan

ke dalam wajan di mana bubur ayam sedang dimasak.”

“Selanjutnya bagaimana?”

“Selanjutnya tidak ada.”

“Tidak ada? Apa maksudnya tidak ada?”

“Tidak ada, maksudnya sejak hari itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi,” Thiat Tin-thian

bercerita. “Selanjutnya, tiada orang persilatan yang mendengar kabar beritanya, tiada orang yang

pernah melihat jejaknya.”

“Apa betul tiada orang yang tahu ke mana dia pergi?”

“Ya, tidak ada.”

“Ada,” tiba-tiba Toa-thoan menyeletuk. “Ada orang yang tahu di mana dia berada, akulah

orangnya.”

Apa yang aku tahu, orang lain pasti tidak tahu.

Suatu hari, entah dengan cara apa Bu-cap-sah berhasil menemukan Bik-giok-san-ceng dan meluruk

ke sana. Sehari menjelang tutup tahun, jadi pada saat orang-orang mempersiapkan diri untuk

menyambut datangnya tahun baru, Bu-cap-sah menantang bertanding Bik-giok Hujin di Pui-kuipoh

di luar Bik-giok-san-ceng.

Bik-giok Hujin memiliki kepandaian silat yang tiada taranya, tiada kaum persilatan yang tahu

sampai di mana taraf kepandaiannya. Yang pasti, belum pernah ada tokoh lihai mana pun yang

mampu mengalahkan dia. Maka dalam duel seru di luar Bik-giok-san-ceng itu, Bu-cap-sah akhirnya

kalah setelah bertempur ratusan jurus. Kemampuan Bu-cap-sah sudah memecahkan rekor dari para

lawan yang pernah berhadapan dengan Bik-giok Hujin. Tidak ada orang yang bisa mengalahkan

dirinya, sejak dulu hingga saat ini, belum ada yang mampu mengalahkan dia.

Anehnya, di luar kebiasaan, Bik-giok Hujin tidak membunuh lawannya yang kurang ajar ini, tapi

hanya mengurung atau tepatnya menghukumnya di dalam lembah mati. Bu-cap-sah diharuskan

bersumpah selama hidup takkan keluar dari lembah itu dan membuat onar lagi di luar.

Rumput atau pohon tidak tumbuh, burung pun tidak bisa hidup di lembah itu. Seperti juga Singsiok-

hay yang terletak di kutub utara, dingin lagi belukar, belum pernah ada manusia yang hidup di

tempat itu.

Sejak saat itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi. Riwayatnya menjadi legenda kaum persilatan,

namun lekas sekali keperkasaannya sudah dilupakan orang.

Toa-hoan berkata, “Tapi aku tidak pernah melupakan dia, karena Hujin sering bilang kepada kami,

di dunia ini hanya ada seorang yang bisa hidup di lembah mati, orang itu pasti hanya Bu-cap-sah

saja. Kalau dia mampu bertahan hidup di sana, bila dia merasa dirinya sudah mampu menuntut

balas, akan datang suatu hari dia pasti akan melanggar sumpah, keluar dari lembah dan merajalela

di dunia Kangouw.”

Ma Ji-liong berkata, “Apakah lembah mati itu hanya dihuni dia seorang saja?”

“Ya, hanya dia seorang,” sahut Toa-hoan.

“Tapi kenyataannya ia punya delapan puluh empat orang anak buah yang cekatan.”

Toa-hoan menghela napas, katanya, “Mungkin Hujin sendiri tidak menduga, entah bagaimana dia

bertahan hidup di lembah itu, juga takkan menyangka orang-orang itu juga bisa hidup di tempat

gersang itu. Tapi Hujin juga pernah bilang, suatu yang tidak bisa dilakukan orang lain, Bu-cap-sah

pasti bisa dan mampu melakukannya.”

————————————-ooo00ooo——————————————-

Keadaan di luar semula amat tenang dan sepi. Mendadak berkumandang tawa seseorang yang

lantang. Dengan nada riang dan bangga, seseorang berkata di luar, “Banyak terima kasih atas pujian

Toa-siocia dan Toa-kohnio. Sebetulnya aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya saja nasibku

memang jauh lebih mujur dibanding orang lain, itu saja.”

Dari suaranya, dapat diperkirakan jarak pembicaraan dengan rumah ini masih cukup jauh, tapi

setiap patah kata yang diucapkannya dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada di

dalam rumah.

Setiap patah kata pembicaraan Ma Ji-liong dengan Toa-hoan di dalam rumah juga ternyata dapat

didengarnya dengan jelas.

Sambil mendongak, Toa-hoan bertanya, “Kaukah Bu-cap-sah?” Sengaja ia bicara dengan nada

rendah, suaranya tidak keras.

“Ya, aku di sini,” sahut orang di luar itu.

Sengaja Toa-hoan menghela napas, katanya, “Kupingmu sungguh tajam, lebih tajam dibanding

telinga kelinci.”

Toa-hoan sengaja memancing amarah orang di luar itu, supaya orang menerjang masuk ke dalam

dan mudah disergap atau dijebak. Ternyata orang di luar juga cerdik, dia hanya bergelak tawa, tawa

yang riang malah, “Telingaku memang amat tajam, hasil latihanku selama beberapa tahun di

lembah yang sepi itu. Aku hidup sebatang kara dua puluh tahun di lembah mati, suara apa pun tidak

kudengar. Saking sebal dan pengap hampir gila rasanya, maka aku berdaya upaya untuk

mendengarkan suara yang tidak mungkin didengar orang lain.”

“Suara apa?” tanya Toa-hoan.

“Umpamanya suara sepasang ular yang lagi bermain cinta di lubang istananya, kutu cilik yang

merayap di tanah, ular menelan katak, rayap menggerogoti akar pohon, suara kura-kura yang

sedang bertelur,” sambil tertawa Bu-cap-sah berkata dengan bangga, “Pernahkah kalian mendengar

suara-suara itu? Sungguh mengasyikkan.”

“Tidak ada, pasti tidak ada orang yang dapat mendengar ular bermain cinta dan kura-kura bertelur.”

Terdengar Bu-cap-sah berkata pula, “Tapi sekarang aku bisa mendengar semua, malah mendengar

dengan jelas sekali.”

Bila manusia bisa mendengar suara-suara yang mendekati gaib itu secara jelas, suara apa pula yang

tidak bisa dia dengar?

Lebih jauh Bu-cap-sah berkata, “Untung sekarang aku tak perlu mendengarkan suara-suara itu.”

“Lho, kenapa? Kau tidak suka lagi?” tanya Toa-hoan.

“Ya, aku tidak perlu mendengarnya lagi. Sejak lima tahun yang lalu, aku sudah punya banyak

teman untuk kuajak bicara,” demikian kata Bu-cap-sah. “Lembah mati yang semula tidak pernah

dihuni manusia dan hewan, sekarang ada delapan ratus dua puluh empat orang yang bisa kuajak

bicara di sana. Kusuruh mereka bilang apa, mereka mengatakan apa. Aku ingin bilang apa, mereka

segera mengutarakan isi hatiku.”

“Bagaimana kau bisa mencari orang sebanyak itu untuk menemani kau bicara?” tanya Toa-hoan.

“Karena nasibku amat mujur,” Bu-cap-sah tertawa riang. “Kecuali batu hitam, dalam lembah itu

masih ada benda lain yang lebih berharga.”

“Benda apa?” Toa-hoan ingin tahu.

“Emas, emas murni,” amat riang suara Bu-cap-sah. “Kutanggung, seumur hidup kalian belum

pernah melihat logam mulia sebanyak itu.”

Kalau seseorang memiliki sebongkah logam mulia bagaikan gunung, kerja apa saja yang tidak dapat

dia lakukan?

Bu-cap-sah berkata lagi, “Setelah memiliki harta sebanyak itu, dari hari ke hari hidupku makin

gembira, senang dan tenteram. Ilmu silatku juga setingkat lebih maju, maka timbul keinginanku

keluar melihat keramaian dunia. Tujuanku yang utama sudah tentu untuk menengok Cia-hujin dan

Toa-siocia. Jika bukan lantaran dia, bagaimana aku bisa kaya-raya seperti sekarang?”

Tidak tahan Toa-hoan bertanya pula, “Dari mana kau tahu Toa-siocia berada di sini?”

“Sudah tentu aku tahu,” ujar Bu-cap-sah tertawa. “Seorang yang sudah memiliki emas banyak,

jarang ada persoalan di dunia ini yang tidak diketahuinya.”

“Kenapa kau tak masuk ke mari menengoknya?” Toa-hoan memancing.

“Buat apa tergesa-gesa. Sudah dua puluh tahun aku menunggu, apa salahnya aku menunggu

beberapa hari lagi?”

“Apa yang kau tunggu?”

“Aku sudah menyuruh orang membeli sutera dan kain halus lainnya. Sudah kupanggil tukang jahit

pakaian yang paling ahli untuk mengukur dan menjahit pakaian baru untuk Toa-siocia. Sengaja

kusuruh orang ke kotaraja untuk membeli bahan-bahan rias yang termahal buatan Pek-sek-cay,”

demikian ujar Bu-cap-sah dengan tawa lebar. “Setelah Toa-siocia berganti pakaian, berdancan dan

dirias, aku pasti akan masuk dan bertemu dengannya. Sekarang aku tidak perlu buru-buru, aku tidak

suka perempuan yang kotor.”

——————————————-ooo00ooo————————————————

Riang gembira nada suaranya, tutur katanya juga sopan lagi halus. Tapi perasaan Toa-hoan seperti

batu yang kecemplung air dingin. Ia tahu makna menakutkan dari perkataan Bu-cap-sah.

Bu-cap-sah menyenangi gadis yang didandani, gadis yang sudah bersolek, molek jelita. Bila Cia

Giok-lun sudah kelihatan ayu, ia siap mempersuntingnya. Biasanya kaum lelaki hanya memakai

satu cara untuk menyenangkan perempuan. Demikian pula bila lelaki akan memberi hajaran,

menuntut balas kepada perempuan, juga menggunakan cara yang satu ini.

Sudah tentu Thiat Tin-thian maklum cara apa yang akan digunakan orang gila itu. Mendadak ia

bertanya pada Toa-hoan, “Apakah dia manusia?”

“Kelihatannya mirip,” sahut Toa-hoan.

“Bagus sekali,” seru Thiat Tin-thian. “Kalau dia manusia, aku juga manusia, kenapa aku tidak

keluar menemuinya?”

Bu-cap-sah yang ada di luar segera berkata, “Silakan keluar, lekas keluar, di sini aku sudah

menyiapkan sebuah meja perjamuan. Kutunggu kehadiran kalian di luar.”

Thiat Tin-thian tertawa besar, katanya, “Memang aku ingin makan minum dengan lahap dan

sepuasnya.” Mendadak ia bertanya pada Ong Ban-bu, “Kau ikut tidak?”

Ong Ban-bu segera berdiri, katanya, “Aku juga ingin makan.”

Bab 29: Perjamuan Besar

Meja perjamuan tidak kelihatan. Bahwasanya tiada meja perjamuan di luar rumah. Tanah kosong

yang semula becek itu kini ditaburi batu-batu hitam mengkilap. Di tengah taburan batu hitam bulat

mengkilap itu hanya ada sebuah dipan kecil yang terbuat dari kayu cendana berbentuk persegi,

terukir indah seluas satu meter persegi.

Di bagian belakang dipan persegi dengan ukiran antik itu, berdiri dua tiang kayu setinggi satu

meter. Tiang kayu untuk tempat sangkutan kelambu yang menjuntai turun. Seorang laki-laki tinggi

gede bercambang dengan telanjang dada berdiri di belakang dipan sambil membusungkan dada.

Dari tampang dan kalung bundar besar yang menggelantung di telinga kirinya, dapat diperkirakan

bahwa laki-laki gede ini adalah bangsa Persia. Pengawal Persia ini bermata biru melotot bundar

dengan topi pendek warna merah terbuat dari beludru, di pinggir kanan dihiasi pita biru yang

melambai ditiup angin, jaket sutera pendek ketat tanpa kancing berwarna hitam disulam garis-garis

benang emas tersingkap di bawah ketiaknya. Ikat pinggangnya lebar lagi tebal berwarna merah

maron, tangannya memegang gagang golok melengkung yang terselip di pinggangnya.

Bu-cap-sah duduk di atas dipan berkasur empuk, berbantal dua dan berkopiah mewah seperti

hartawan yang suka pamer kekayaan. Dari tampang dan sikapnya, orang ini tidak mirip orang yang

sebatang kara atau anak yang tidak beribu bapak, bukan orang yang tidak punya she, wajahnya yang

halus putih bersih pasti tidak mirip orang gila.

Roman muka laki-laki yang duduk di atas dipan itu putih, kalau tidak mau dikatakan pucat, tapi

kelihatan tampan. Sikapnya lembut tapi gagah. Dari mukanya yang pucat itu, sukar orang menebak

berapa usianya. Gerak-gerik dan senyumnya menarik simpati orang lain, apalagi berpakaian mewah

dan mahal. Orang akan silau oleh dandanan dan sikapnya yang perkasa, sehingga tidak

memperhatikan lagi usianya.

Mungkin meja perjamuan belum dipersiapkan, padahal tamu yang hadir sudah cukup banyak. Coattaysu

dah kawan-kawannya, seperti juga orang lain, mereka berdiri berkeliling di sekitar dipan kayu

itu. Kecuali dipan atau ranjang persegi itu, hakikatnya tiada meja kursi di tempat itu, juga tiada

benda apa pun untuk mereka duduk kecuali duduk bersimpuh di atas batu-batu bulat hitam itu.

Tapi setelah Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu beranjak keluar, laki-laki di atas ranjang dengan

sikapnya yang sopan dan ramah mempersilahkan para tamunya untuk duduk. Lalu ia menoleh

kepada pengawal Persia itu, katanya, “Menurut pendapatmu, apakah masih ada tamu-tamu lain

yang akan datang?”

“Kurasa tidak ada lagi, sekian saja sudah cukup,” sahut pengawal Persia itu.

Sekali lagi Bu-cap-sah yang sedang berbaring di atas dipan itu mengangkat sebelah tangannya

menyilakan hadirin duduk. Kelakuannya persis seperti seorang cukong yang mengundang tamutamunya

berpesta di restoran. Lalu dengan sikap dibuat-buat ia berkata, “Silakan duduk, silakan

mencari tempat duduk. Sambil makan minum, boleh kita mengobrol.” Orang pertama yang duduk

ternyata adalah Coat-taysu. Ia maju selangkah lalu duduk di atas kursi yang sama sekali tidak ada,

kursi yang tidak kelihatan. Pantatnya bergantung di udara, namun gayanya persis seorang yang

duduk santai di atas kursi sungguhan. Sesuai wataknya yang kaku, sikap dan rona mukanya juga

kaku, namun kepandaiannya memang mengagumkan. Kuda-kuda kakinya memang kokoh kuat.

Dengan cara jongkok seperti itu, sedikit pun ia tak kelihatan payah atau lelah.

Setelah ada contoh, maka orang banyak lantas meniru perbuatan Coat-taysu. Mereka pun duduk

bergaya seperti Coat-taysu. Hanya Thiat Tin-thian yang tetap berdiri tegak di tempatnya.

Bu-cap-sah berpaling ke arahnya, lalu bertanya dengan nada tinggi, “He, kenapa tuan tidak duduk?”

“Aku suka makan sambil berdiri,” Thiat Tin-thian menjawab. “Makan sambil berdiri bukankah

dapat gegares lebih banyak?”

“Masuk akal,” seru Bu-cap-sah sambil keplok. “Nah, kalian juga harus makan lebih banyak. Hari

ini sengaja aku siapkan hidangan istimewa. Ikan hitam dari Tang-hay, ikan terbang dari Pak-hay,

sarang burung dan udang galah dari Lamhay, sate kambing dari kotaraja dengan panggang

bebeknya sekalian, ikan asin dari Kanglam, kepiting goreng dari Tiangkang, dan masih ada lagi

panggang sapi dan kambing bakar utuh. Kurasa hidangan ini cukup kusediakan untuk makan

kenyang kita semua.”

Bahwasanya menu yang diucapkan tadi tidak ada barangnya, tapi dia menyilakan para tamunya

makan dengan sikap ramah, membujuk supaya makan lebih banyak. Kecuali beberapa menu yang

disebutkan tadi, Bu-cap-sah juga menjelaskan tiga macam menu yang khusus disiapkan untuk Coattaysu,

hidangan vegetarian.

—————————————–ooo00ooo———————————————–

Orang pertama yang bergaya dan bertingkah seperti orang makan ternyata juga Coat-taysu. Karena

Coat-taysu sudah mulai makan, sudah tentu orang lain sungkan untuk diam saja. Padahal yang hadir

adalah gembong-gembong silat yang pernah menggetarkan Bulim di wilayah masing-masing,

orang-orang gagah dan ksatria Bulim. Tapi tingkah laku mereka sekarang mirip bocah yang lain

mainan, semua bergaya duduk dan menggerakkan kedua tangan seperti gerak orang yang

memegang sumpit dan mangkuk serta makan dengan lahapnya. Duduk di kursi yang tidak

kelihatan, makan dan menyikat.

Ada satu perbedaan dengan mainan anak-anak yang lagi bersandiwara di panggung umpamanya.

Orang tua atau tokoh-tokoh silat ini seperti tidak merasa bahwa kelakuan mereka amat lucu dan

menggelikan, namun sikap dan mimik mereka kelihatan amat prihatin dan was-was. Kecuali Coattaysu,

rona muka hadirin seperti orang yang tercekik lehernya oleh sepasang tangan iblis yang tidak

kelihatan.

Wajah Coat-taysu tidak menunjukkan perubahan. Sumpit di tangannya bergerak naik-turun seperti

lazimnya orang yang lagi menjejalkan nasi dan lauk di dalam mangkuk ke mulutnya. Tidak jarang

sumpitnya diulur ke depan seperti mengambil sayuran, ikan dan daging. Dengan lahap mulutnya

bergoyang, lidah menari menikmati makanan yang dikunyah dengan penuh selera. Entah yang

dikunyah itu amarah, penasaran atau ketakutan? Atau mungkin air liur yang getir?

Sejak Coat-taysu terkenal dan disegani orang, kapan pernah berlaku runyam di hadapan orang

banyak, memalukan sekali. Tapi sekarang ia mengunyah dan menelan nama besar yang diperoleh

dengan cucuran keringat dan jerih payah selama puluhan tahun, selahap orang yang melalap

hidangan yang betul-betul sedap.

———————————–ooo00ooo————————————————

Merinding sekujur badan Thiat Tin-thian menyaksikan kenyataan yang lucu ini. Ia tidak habis

mengerti kenapa Coat-taysu sudi dan rela berbuat serendah itu? Sebagai pendekar, entah dibuang ke

mana jiwa ksatrianya, kenapa begitu takut terhadap si gila yang satu ini?

Tapi lamat-lamat Thiat Tin-thian akhirnya mengerti, orang gila macam apa sebetulnya Bu-cap-sah.

Tadi Toa-hoan sudah menggambarkan secara jelas, tapi Thiat Tin-thian baru sekarang betul-betul

maklum. Padahal betapa jelas keterangan Toa-hoan tadi, tapi belum cukup menggambarkan betapa

menakutkannya kegilaan orang ini. Bu-cap-sah mengawasi Thiat Tin-thian. Hanya Thiat Tin-thian

yang berdiri diam, tidak menggerakkan tangan, tidak makan atau minum. “Kenapa kau tidak

makan?” tanyanya kemudian dengan nada serak.

“Makan apa?” Thiat Tin-thian balas bertanya.

“Lihat, sate kambing dan ikan asin dari Kanglam ini, sedap rasanya. Panggang bebek ini juga harus

dimakan mumpung masih hangat,” Bu-cap-sah mengoceh penuh semangat.

“Masa kau tak melihat hidangan sebanyak ini?” tanya Bu-cap-sah.

“Aku tidak melihat apa-apa.”

“Ah, orang lain bisa melihat, kenapa kau tidak lihat?”

“Ya, mungkin aku tidak sepandai mereka. Makanan yang kau sebut tadi hanya dihidangkan untuk

orang-orang pandai, hanya bisa dilihat oleh orang pandai.”

Bu-cap-sah menatapnya sekian saat, mendadak ia bergelak tawa, “Ternyata kau ini orang pikun.

Hidangan enak sebanyak ini, hanya orang pikun yang tidak bisa melihatnya.” Mendadak suaranya

terputus, roman mukanya berubah beringas. Dengan melotot ia berpaling ke arah Pang Tio-hoan

yang kebetulan berada di sampingnya, semprotnya dengan gusar, “Kenapa kau berbuat sekasar ini?”

“Aku berbuat apa?” tanya Pang Tio-hoan melenggong.

“Sekian banyak hidangan kusediakan di sini, kenapa kau justru merebut anak anjing bakar

kesenanganku?”

“Anak anjing bakar apa?” Pang Tio-hoan berseru nyaring dengan nada tidak mengerti apa yang

dimaksud orang. “Di mana ada anjing bakar?”

“Barusan ditaruh di pinggir sini. Tapi barusan telah kau gares, kulit, tulang dan dagingnya kau telan

bulat-bulat,” kelihatannya ia bukan saja marah dan penasaran, ia pun amat sedih seperti anak kecil

yang kehilangan boneka kesayangannya. “Anjing kecil itu sudah kupelihara sekian tahun,

kupandang seperti anakku sendiri, gemuk dan banyak dagingnya, kenapa kau mengganyangnya?

Kenapa kau rebut anjing bakarku?”

Berubah air muka Pang Tio-hoan. Hong-seng-thian Tayhiap Pang Tio-hoan sudah terkenal sejak

tiga puluh tahun yang lalu. Dengan sepasang Gun-goan-thi-pay (Sepasang Tameng Besi) yang

beratnya enam puluh tiga kati, ia malang melintang di antara gunung dan sungai, peristiwa apa yang

tak pernah ia alami dan saksikan? Sudah tentu ia maklum bahwa Bu-cap-sah sengaja mencari garagara

hendak mempersulit dirinya.

Sekilas Tio-hoan melirik ke arah Coat-taysu, ia harap temannya itu mau bantu bicara membela

dirinya, bila perlu adu jiwa bersama si gila ini. Sudah sekian puluh tahun mereka sebagai kawan

seperjuangan, apalagi sejak belasan tahun yang lalu mereka tidak pernah berpisah. Sebagai sahabat

kental, pantasnya Coat-taysu campur bicara membela dirinya, memberi penjelasan umpamanya.

Tapi tidak pernah ia bayangkan, bukan Coat-taysu si sahabat kental yang pertama membantu bicara

atau membela dia, tetapi sebaliknya Thiat Tin-thian, musuh yang ia benci dan ia uber-uber selama

ini.

Thiat Tin-thian berkata, “Bahwasanya di sini tiada hidangan seperti yang kau sebut tadi, apalagi

anjing bakar segala. Tidak ada.”

“Kau orang pikun, orang pikun takkan melihat hidanganku,” Bu-cap-sah berteriak sambil menuding

Thiat Tin-thian. “Aku sendiri melihat anjing bakar itu ditaruh di sini, pasti tidak keliru.”

“Mungkin kau salah lihat, kau melihat setan,” jengek Thiat Tin-thian.

“Jadi kau yakin di sini tidak ada hidangan anjing bakar?” damprat Bu-cap-sah.

“Pasti tidak ada. Yang bilang ada adalah orang gila!” teriak Thiat Tin-thian, ia pun mulai emosi.

“Tapi aku bilang ada, sudah ditelan bulat-bulat ke dalam perut orang ini,” wajah Bu-cap-sah

menampilkan senyum gaib, senyum yang menggiriskan, “Kau berani bertaruh denganku?”

“Berani saja, bertaruh apa?”

“Bertaruh dengan batok kepalamu, kalau anjing bakar itu berada di dalam perutnya.”

Seketika Thiat Tin-thian merasa kaki tangannya menjadi dingin, perut mengkeret, isi perut hendak

tumpah. Kecuali bergidik, Thiat Tin-thian juga ngeri, ia sudah meraba apa yang akan dilakukan si

gila ini.

Sudah tentu Pang Tio-hoan juga maklum. Mendadak ia meraung, dengan kalap ia menerkam ke

arah Bu-cap-sah.

Hou-jiu-kun dan Gun-goan-thi-pay adalah dua ilmu tunggal yang diyakinkan Pang Tio-hoan. Di

samping sepasang tameng besi, ilmu cakar harimaunya juga pernah menggetarkan Koan-tang.

Sebelum kejadian, Pang Tio-hoan sudah dipengaruhi oleh suasana. Di saat kepepet dan terdesak

lagi, pikirannya menjadi kacau dan kalap. Orang kalap selalu ceroboh, bertindak gegabah. Saking

murka karena kalapnya, ia menerkam ke arah Bu-cap-sah tanpa memperhatikan keadaan

sekelilingnya, tanpa siaga bahwa di belakang Bu-cap-sah berdiri pengawal Persia yang perkasa itu.

Begitu Pang Tio-hoan meraung kalap, berubah rona muka Coat-taysu, betapapun ia masih

memperhatikan keselamatan temannya. Mendadak ia menjerit gugup, “Berhenti, lekas berhenti!”

Sayang peringatannya terlambat.

Begitu Pang Tio-hoan menerkam maju, golok melengkung di pinggang pengawal Persia yang

berdiri di belakang Bu-cap-sah segera terayun. Sinar golok berkelebat, darah pun muncrat seperti

hujan deras.

Hanya ada satu cara untuk membuktikan apakah seseorang betul menelan seekor anjing kecil, yaitu

dengan cara yang paling liar, cara liar yang dilakukan orang purba jaman dulu, menyembelih hewan

buruannya dengan membedah perutnya. Cara menjagal binatang yang paling kejam dan keji, cara

yang dilakukan oleh orang buas, manusia sinting. Kali ini orang gila alias Bu-cap-sah

mempraktekkan cara liar itu di sini, terhadap Pang Tio-hoan.

Sudah tiga puluh tahun Pang Tio-hoan malang melintang di Kangouw, namun hanya dalam sekali

sabet perut hingga dadanya telah robek dan merekah besar oleh golok melengkung orang. Isi perut

pun berhamburan. Pang Tio-hoan menjerit ngeri dan mampus terkapar di tanah.

Wajah hadirin segera berubah. Yang tidak tahan sudah tumpah-tumpah, yang bernyali kecil segera

melompat mundur dan lari. Ada juga yang menubruk ke depan secara nekat, daripada mati konyol

lebih baik melawan sekuat tenaga.

Bu-cap-sah terloroh-loroh, tawa latah yang mengerikan. Siapa yang mendengar suara tawanya pasti

merinding dan mengkirik bulu kuduknya. Selama hidup takkan melupakan loroh tawa yang ganjil

dan menggiriskan itu.

Tidak ada orang yang mampu menyelamatkan diri dari tebasan golok sabit pengawal Persia itu. Di

saat golok melengkung itu bergerak, sebutir batu hitam kecil tentu melesat lebih dulu dengan

kecepatan kilat. Batu hitam yang dijentik jari tangan Bu-cap-sah. Si gila ini menjentik batu hitam

dengan jari tengah. Begitu batu menderu kencang dan deras, batu tepat menutuk Hiat-to lawan

sehingga lawan tak berkutik lagi. Saat itulah golok melengkung pengawal Persia menyambar

lehernya.

Hanya Coat-taysu dan Thiat Tin-thian serta dua-tiga orang lagi yang mampu menyelamatkan diri,

tapi mereka tidak mampu mendekati ranjang untuk menyerang Bu-cap-sah. Sinar golok dan

muncratnya darah mengaburkan pandangan mereka. Boleh dikata mereka tidak melihat lagi

bayangan Bu-cap-sah.

Pada saat kritis itulah, mendadak mereka melihat Ma Ji-liong.

Ma Ji-liong terjun ke kancah pertarungan, menerjang ke dalam sinar golok dan tabir darah yang

berhamburan. Bukan mengantar jiwa, tapi keluar untuk menolong orang. Walau ia sendiri tidak

yakin dapat menyelamatkan diri, mundur secara utuh, tapi untuk menyelamatkan kawan, ia harus

berani menyerempet bahaya.

Tidak ada orang yang bisa mencegah dia, tidak ada orang yang bisa menariknya mundur. Biar diri

sendiri berkorban, ia tidak bisa berpeluk tangan menyaksikan pembantaian kejam itu berlangsung.

Orang-orang itu harus ditolong, mereka yang masih hidup harus dibebaskan dari renggutan elmaut.

Dalam waktu sekejap, hakikatnya Ma Ji-liong tidak memikirkan mati hidupnya sendiri.

————————————–ooo00ooo——————————————–

Ma Ji-liong tidak mati, malah tidak terluka atau cedera. Meski sekujur badan berlepotan darah,

namun ia berhasil menolong beberapa orang. Tapi begitu ia masuk ke dalam toko serba ada, begitu

pintu tertutup, Ma Ji-liong lantas roboh terlentang dengan napas ngos-ngosan. Ia nekat,

menyerempet bahaya, mempertaruhkan jiwa raga, lalu siapa saja yang berhasil ditolong oleh Ma Jiliong?

Bab 30: Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu

Ma Ji-liong akhirnya sadar. Kegaduhan sudah sirap, alam semesta seperti dilingkupi keheningan

yang membeku. Kini Ji-liong rebah di atas ranjang besar itu, ranjang satu-satunya yang ada di

rumah itu. Sejak beberapa bulan yang lalu, baru pertama kali ini ia rebah di atas ranjang.

Cia Giok-lun duduk di samping mengawasinya dengan rasa kuatir dan penuh perhatian. Di dalam

rumah itu hanya ada mereka berdua saja. Ma Ji-liong berusaha tersenyum, tapi senyumnya getir dan

nyengir, segera ia bertanya, “Mana orangnya?”

“Orang siapa?” Cia Giok-lun balas bertanya.

“Orang-orang yang kutolong itu?”

Cia Giok-lun tidak menjawab, ia malah balas bertanya, “Tahukah kau siapa saja yang kau tolong?”

“Aku tahu,” sahut Ma Ji-liong. “Thiat Tin-thian kembali bersama aku.”

“Kecuali dia, masih ada siapa lagi?”

“Masih ada Coat-taysu,” sikap Ma Ji-liong kelihatan tenang dan wajar. “Coat-taysu kembali

bersama kami.”

Cia Giok-lun malah emosi, serunya, “Sadarkah kau bahwa orang yang kau tolong adalah Coattaysu?”

“Bagaimana aku tidak sadar?” Ma Ji-liong tertawa lebar. Kenapa ada sementara orang yang bisa

tertawa di saat tidak pantas tertawa?

“Kau sadar?” Cia Giok-lun memekik sambil terisak. Ia tak dapat mengekang perasaannya lagi,

suaranya melengking, “Kau sadar bahwa dialah yang menguber dirimu, orang yang hendak

membunuhmu sehingga kau menjadi buronan yang kepepet dan menghadapi jalan buntu? Tapi kau

masih mau menolongnya?”

“Yang kutolong adalah manusia,” sahut Ma Ji-liong tegas. “Asal dia manusia, perduli siapa dia, tak

boleh aku berpangku tangan melihat dia mati di tangan si gila itu. Perduli dia temanku atau musuh

yang hendak menuntut jiwaku, sikapku takkan berubah, aku tetap menolongnya tanpa kecuali.”

Cia Giok-lun menatapnya dengan pandangan aneh. Lama sekali baru ia bertanya, “Kau bicara jujur?

Atau sengaja bermuka-muka di hadapanku?”

Ma Ji-liong tak menjawab, ia menolak memberikan jawaban.

“Kau betul-betul baik hati, kau tidak berpura-pura,” desis Cia Giok-lun. “Tadi kau betul-betul

mempertaruhkan jiwa untuk menolong mereka.” Mendadak ia menghela napas, lalu lanjutnya,

“Sebetulnya aku tidak percaya bahwa kau orang baik, tapi sekarang aku percaya.”

—————————————-ooo00ooo——————————————–

Sejak tadi Coat-taysu berdiri mematung di pinggir rak toko di pojok sana. Sejak ia masuk ke dalam

toko serba ada ini, ia berdiri di sana, tidak pernah pindah atau bergerak, juga tidak bersuara, melirik

pun tidak kepada orang lain. Tapi badannya penuh berlepotan darah, pakaian sobek, badan pun

terluka. Tapi ia tetap bersikap tenang dan wajar, luka-luka juga tidak diobati, darah dibiarkan

mengalir.

Masih ada dua kerabatnya yang tertolong bersama Coat-taysu. Kecuali Thiat Tin-thian, ada dua

orang yang ikut mengeroyok di rumah To Po-gi itu, tapi kedua orang ini menganggap tidak pernah

melihat Coat-taysu berada di dalam rumah itu. Sikap mereka seperti jijik, seakan-akan bila didekati

Hwesio yang satu ini, maka mereka akan ketularan penyakit jahat yang bisa merenggut jiwa

mereka. Sudah tentu mereka tahu orang-orang yang ada di toko ini adalah musuh besar Coat-taysu,

jelas kedua orang ini takut tersangkut oleh permusuhan kedua pihak.

Coat-taysu tidak memperdulikan orang lain. Pandangannya kosong, ia berdiri menjublek mirip

orang linglung.

Setelah hening sekian lama, tiba-tiba Toa-hoan bersuara lebih dulu, “Aku tahu, setelah kejadian ini

hatimu pasti mendelu. Asal kau mau berada di sini, kami pasti takkan mengusirmu.”

Coat-taysu tetap bungkam, tidak memberi reaksi.

Toa-hoan berkata pula, “Apakah kau ingin berbicara?”

“Ya,” tiba-tiba Coat-taysu berkata. “Tapi aku hanya ingin bicara dengan seorang saja.”

“Bicara dengan siapa?”

“Aku akan bicara dengan Ma Ji-liong saja.”

Rumah kecil di tengah pekarangan itu dalam keadaan kalang kabut, kotor dan tidak pernah

dibersihkan. Di dalam rumah yang jorok itulah Toa-hoan sebagai Thio-lausit menetap empat bulan

lamanya. Sungguh heran bahwa gadis yang biasanya suka kebersihan ini tahan tinggal di tempat

yang kotor seperti kandang hewan itu. Kini ada dua orang yang sedang bicara di rumah kecil itu.

Akhirnya Coat-taysu bertatap muka dengan Ma Ji-liong.

“Tadi kau telah menolongku,” demikian Coat-taysu membuka kata. “Jikalau bukan karena

pertolonganmu, saat ini aku takkan berada di sini. Kalau aku tidak berada di sini, seperti juga orangorang

itu, pasti sudah mampus di luar sana.” Suaranya kalem, lalu ia melanjutkan, “Tapi urusanmu

dengan aku belum selesai, persoalan itu tetap harus dibereskan. Sehari aku belum mati dan kau

belum mampus, aku tetap akan membuat perhitungan dengan kau.”

Ma Ji-liong tertawa, katanya tawar, “Aku menolong kau bukan menuntut imbalan, bukan lantaran

kau adalah Coat-taysu yang menuntut jiwaku. Aku tak akan memaksa kau untuk membatalkan

urusanmu dengan aku, menuntut imbalan kepadamu. Kalau aku punya maksud demikian, buat apa

aku menolongmu?”

“Akan tetapi, persoalan itu belum boleh dianggap beres.”

“Betul. Aku tidak perduli bagaimana sikapmu terhadapku sebelum ini, karena kita belum tentu

dapat mempertahankan hidup sampai besok.”

“Tetapi sekarang kita belum mati,” Coat-taysu berkata. “Penjahit belum datang, pupur dan gincu

juga belum diantar, si gila takkan menerjang ke mari dalam waktu dekat ini.”

“Ya, semoga demikian.”

“Tapi memang demikian,” ucap Coat-taysu. “Aku paham sepak terjang si gila itu. Ia anggap kita

sebagai ikan dalam jaring, maka tidak perlu ia merenggut jiwa kita secara tergesa-gesa.” Demikian

katanya pula, “Oleh karena itu, bukan mustahil kita masih punya kesempatan untuk meloloskan diri,

maka aku ingin bicara dengan kau. Entah selanjutnya kita menjadi kawan atau lawan, dalam jangka

waktu dekat ini, aku Sin Coat-cu akan tunduk pada perintah seorang yang bernama Ma Ji-liong saja.

Selama hidupku, belum pernah tunduk apalagi diperintah orang, namun kali ini terkecuali.”

Ma Ji-liong menatapnya lekat. Lama sekali baru ia bertanya, “Untuk hal itukah kau ingin bicara

dengan aku?”

“Ya,” pendek jawaban Coat-taysu.

Kecuali Thiat Tin-thian dan Coat-taysu, yang ditolong Ma Ji-liong masih ada dua orang lagi.

Seorang adalah Ong Ban-bu. Meski sebelah lengannya dipelintir putus oleh Toa-hoan yang

menyaru sebagai Thio-lausit, untung dia tidak mampus oleh sambaran golok sabit yang tidak

mampu dikelit orang lain itu.

Di saat Coat-taysu berbicara dengan Ma Ji-liong, Toa-hoan bertanya kepada Thiat Tin-thian, “Aku

tahu saudara angkatmu jatuh ke tangan Coat-taysu, apa kau tidak ingin tahu bagaimana nasib

saudaramu itu?”

“Sudah tentu aku ingin tahu,” sahut Thiat Tin-thian.

“Kenapa tidak kau tanyakan kepadanya?” kata Toa-hoan.

“Aku tidak mau tanya, juga tidak ingin tanya,” tertekan suara Thiat Tin-thian. “Aku takut dia sudah

mati di tangan Hwesio gundul itu.”

Jika benar Thiat Coan-gi sudah ajal ditangan Coat-taysu, Thiat Tin-thian harus menuntut balas,

pasti takkan membiarkan Coat-taysu berdiri di rumah itu.

“Tapi aku tak boleh membunuhnya,” demikian kata Thiat Tin-thian lebih jauh. “Dengan

mempertaruhkan jiwa, Ma Ji-liong menolongnya, maka aku tidak boleh melukainya, meski hanya

seujung rambutnya saja.”

Saat mana Ma Ji-liong sudah kelihatan keluar dari rumah kecil itu, Ong Ban-bu mendadak berkata

kepada Toa-hoan, “Aku juga ingin bicara empat mata dengan dia.”

“Dengan siapa?” tanya Toa-hoan. “Bicara dengan Ma Ji-liong?”

“Betul,” sahut Ong Ban-bu.

“Kau juga ingin omong?” Toa-hoan bertanya. “Apa yang ingin kau katakan apakah hanya boleh

diketahui dia saja?”

Ong Ban-bu menganggukkan kepala. Di waktu mengangguk, matanya mengawasi Thiat Tin-thian,

karena ia tahu Thiat Tin-thian pasti ingin bicara dengannya.

Thiat Tin-thian memang bertanya, “Tahukah kau kenapa kau belum mati?”

Ong Ban-bu menyahut, “Aku belum mati, karena kau melindungi aku. Dahulu kita memang kawan

juga musuh, sekarang kau anggap aku sebagai teman baik lagi.”

“Tapi apa yang ingin kau katakan hanya boleh didengar Ma Ji-liong saja, kenapa kau tidak bicara

dengan aku? Jelas kau tidak percaya kepadaku?”

“Aku percaya kepadamu, tapi aku lebih percaya kepada Ma Ji-liong.”

“Kenapa kau lebih percaya kepadanya?” desak Thiat Tin-thian.

“Karena Coat-taysu percaya kepadanya. Apakah Coat-taysu kawan baiknya?”

“Bukan.”

“Musuh besar dan kawan-kawan pun percaya kepada Ma Ji-liong, kenapa orang lain tidak boleh

percaya kepadanya?”

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Bagus,” serunya memuji. “Bagus sekali ucapanmu itu.”

Dengan keras ia menepuk pundak Ong Ban-bu, “Baiklah, kau boleh bicara empat mata dengan dia.”

————————————-ooo00ooo———————————————–

Ma Ji-liong tidak mengira bahwa Ong Ban-bu ingin bicara dengan dia, lebih tak diduganya lagi

kalau persoalan yang dibicarakan Ong Ban-bu adalah rahasia yang sebetulnya tidak boleh diketahui

orang lain.

“Aku belum mati bukan karena Thiat Tin-thian melindungi aku,” Ong Ban-bu berkata. “Aku belum

mati karena Bu-cap-sah tidak ingin membunuh aku.” Lebih jauh ia membeberkan rahasia Bu-capsah.

“Kepandaian Tan-ci-sin-thong atau Jentikan Batu Menutuk Hiat-to yang diyakinkan Bu-capsah

memang sudah sempurna. Betapa cepat sambaran golok pengawal Persia itu juga lebih unggul

dibanding orang lain, akan tetapi orang-orang yang mati oleh tebasan golok sabit itu bukan

seluruhnya gugur oleh timpukan batu dan terbacok golok pengawal Persia itu.”

“O, tidak seluruhnya?”

“Orang-orang yang mati itu, sebagian besar adalah mereka yang mau diperbudak dan disogok oleh

harta dan kedudukan,” demikian Ong Ban-bu menjelaskan lebih lanjut. “Thio-sam adalah kawan

baik Li-si, mereka datang bersama. Thio-sam mau diperbudak setelah disiksa dan diancam jiwanya

oleh Bu-cap-sah, hal ini di luar tahu Li-si. Begitu golok melengkung di tangan pengawal Persia

menyabet, batok kepala Li-si terpenggal dan mati. Bukankah orang lain beranggapan bahwa

kematian Li-si lantaran tidak mampu menyelamatkan jiwanya dari sambaran golok musuh?”

“Ya, pasti demikian anggapan orang,” ujar Ma Ji-liong.

“Apalagi orang lain melihat Bu-cap-sah menjentik jari dan batu pun terbang, apakah tidak

beranggapan bahwa kematian Li-si lantaran tersambit Hiat-tonya oleh jentikan batu Bu-cap-sah?”

“Ya, betul.”

“Tapi kenyataannya bukan demikian,” tutur Ong Ban-bu. “Sebenarnya Hiat-to mereka bukan

tertutuk oleh sambitan batu Bu-cap-sah, namun Hiat-to mereka tertutuk oleh kawan sendiri di saat

keadaan sedang ribut. Li-si mati karena sebelumnya Hiat-tonya sudah ditutuk oleh Thio-sam, sudah

tentu dia tidak mampu menyelamatkan diri dari tebasan golok melengkung itu.” Sampai di sini Ong

Ban-bu menghela napas, “Aku membocorkan rahasia ini kepadamu karena aku tidak ingin kau

menilai ilmu silat Bu-cap-sah terlalu tinggi. Kuharap kau tidak memandangnya sebagai malaikat

yang digdaya.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana kau tahu tentang rahasia ini?”

“Karena aku juga diperbudak oleh Bu-cap-sah,” Ong Ban-bu mengaku terus terang. “Sebagai salah

satu alatnya yang terpercaya, maka aku tidak mati di arena pertempuran tadi.”

“Lalu kenapa kau membongkar rahasia ini kepadaku?” tanya Ma Ji-liong.

“Karena aku mempercayaimu,” kata Ong Ban-bu. “Sekarang aku sudah yakin, engkau pasti takkan

mengkhianati orang lain.”

Kecuali Coat-taysu, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu, masih ada seorang lagi yang ditolong oleh Ma

Ji-liong.

Usia orang keempat ini belum terlalu tua kalau tidak mau dibilang masih setengah baya, tapi juga

tidak muda lagi. Dilihat tampangnya, wajahnya tidak tampan, tapi juga tidak jelek, pakaiannya tidak

mewah, namun pasti tidak sembarangan. Setiap hari di mana saja kau bisa bertemu banyak orang

seperti laki-laki setengah baya ini. Mungkin karena kelihatannya dia biasa saja, tiada tanda-tanda

yang menyolok pada dirinya.

Menjadi orang ‘biasa’ kadang kala juga merupakan suatu cara yang baik untuk mengelabui orang,

suatu cara untuk menyelamatkan diri.

Jelas dan gamblang Toa-hoan adalah salah satu jenis orang seperti itu. Sejak tadi dia

memperhatikan orang biasa ini, mendadak ia bertanya, “She apakah engkau?”

Orang ‘biasa’ ini hanya tertawa lebar, manggut-manggut lalu menggelengkan kepala pula, tingkah

dan sikapnya seperti orang pikun dan linglung.

Toa-hoan bertanya pula, “Kau tidak mendengar pertanyaanku? Atau tidak bisa bicara?”

Orang ‘biasa’ ini tetap tidak bersuara. Kembali ia manggut-manggut lalu menggelengkan kepala

pula, namun mimik mukanya selalu tersenyum ramah.

Tiada orang yang tahu apa arti kelakuannya yang jenaka ini, demikian pula Toa-hoan juga tidak

habis mengerti. Mungkin orang ‘biasa’ ini sengaja bertingkah dengan lucu dan penuh teka-teki

supaya orang lain tidak tahu.

Mendadak Toa-hoan tertawa juga meniru sikap dan tingkah orang, “Kau jelas bukan orang tuli dan

bisu, namun kau tidak mau memperkenalkan diri,” suaranya tawar. “Memang kau boleh tidak

menjawab setiap pertanyaanku, tapi kalau orang lain yang bertanya kepadamu, kalau kau tidak

memberi keterangan, kan berabe jadinya.”

Mendadak orang itu bersuara, ia balas bertanya, “Bukankah kalian sedang menunggu seseorang?”

“Menunggu seseorang? Ah, tidak,” ujar Toa-hoan menggelengkan kepala.

“Lho, sudah lupa? Kalian kan menunggu tukang jahit,” demikian kata orang itu. “Tukang jahit

utusan Bu-cap-sah untuk mengukur dan menjahit pakaian pengantin she Cia di sini.”

Toa-hoan menatap tajam, “Dari mana kau tahu kalau Bu-cap-sah mengutus seorang tukang jahit ke

mari? Dari mana pula kau tahu kalau kami sedang menunggu dia?”

“Kenapa aku tidak tahu,” ucap orang itu. “Aku malah tahu bahwa penjahit itu sekarang sudah

datang. Bukan saja kain, gincu dan pupur sudah dibawa, ia pun membawa sebuah tandu berhias

kembang untuk menjemput mempelai perempuan.”

“Di mana penjahit itu sekarang?” tanya Toa-hoan.

“Berada di sini,” orang biasa itu mendadak mengunjuk tawa yang tidak biasa. “Aku adalah penjahit

utusan Bu-cap-sah.”

Kalau dipandang dengan seksama, orang ini memang mirip penjahit. Tapi bila kau perhatikan lebih

lanjut, kau akan merasa dia tidak mirip apa pun. Terserah kau mau bilang dia tukang apa atau ahli

apa, orang lain pasti tak curiga.

Dalam setiap usaha yang ada di dunia ini, pasti ada orang sejenis dia, biasa dan awam. Tampang

biasa, sikap dan tingkah laku biasa, sederhana dan ramah tamah serta murah senyum.

“Aku adalah penjahit yang baik. Seratus li di daerah ini, aku yakin tiada penjahit lain yang lebih

baik dari aku,” demikian kata orang ‘biasa’ itu dengan senyum simpul. “Hasil karyaku cocok dan

memenuhi selera, model mutakhir dan potongan pun memenuhi selera.”

Penjahit yang baik memang selalu disenangi dan banyak langganannya. Kecuali penjahit yang satu

ini, dalam keadaan dan situasi begini, di tempat ini lagi, pasti tak ada orang yang senang kepadanya,

tiada orang yang mau menerima kehadirannya.

Tawa Toa-hoan kelihatan dipaksakan, katanya, “Aku juga bisa melihat kau memang seorang

penjahit yang baik. Tapi betapapun baik seorang penjahit, tanpa ada bahan untuk bekerja, dia tetap

takkan bisa membuat pakaian.”

Bila pakaian selesai dijahit, Bu-cap-sah takkan memberi kesempatan kepada mereka untuk duduk

dan mengobrol secara santai begitu. Maka mereka mengharap penjahit ini tak bisa menunaikan

tugasnya, pakaian tidak rampung dijahit, karena jelas orang ini tidak membawa kain dan benang,

jarum atau gunting.

Tukang jahit itu berkata, “Tadi aku sudah bilang, kain sudah kubawa, kutanggung mutunya juga

yang terbagus, warnanya baik, coraknya juga indah, mutunya tinggi. Kutanggung takkan luntur

meski dicuci seratus kali.”

“Di manakah bahan pakaian yang kau bawa itu?”

Bab 31: Penjahit Luar Biasa

“Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini.”

Toa-hoan, Cia Giok-lun, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu menyaksikan penjahit ini tidak membawa

apa-apa, bertangan kosong, tetapi sambil bicara ia berputar satu lingkaran. Waktu ia menghadap

pula ke arah mereka, tangannya sudah memegang dua blok kain. Satu blok kain sutera di tangan

kanannya berdasar merah, malah tersulam kembang mawar kuning emas.

Sudah tentu Toa-hoan berempat berdiri melongo. Tak ada di antara mereka yang melihat jelas

dengan cara apa penjahit ini menyembunyikan dan mengeluarkan dua blok kain sutera itu. Seperti

main sulap saja, tahu-tahu bahan pakaian sudah tersedia. Beruntun penjahit itu mengeluarkan lagi

sebungkus pupur wangi, gincu dan minyak wangi. Sukar orang membayangkan dan rasanya tidak

masuk akal, barang sebanyak itu entah di mana ia sembunyikan.

Thiat Tin-thian berkata setelah menghela napas, “Sungguh tak dinyana, kami gembong-gembong

silat yang sudah kawakan berkecimpung di Kangouw juga dapat kau kelabui dengan cara yang

begini sepele. Aku rasa saudara tentu seorang kosen juga.”

Dengan senyum manis penjahit itu menggelengkan kepala, katanya, “Aku bukan orang kosen,

sedikit pun aku tidak kosen. Yang pasti kau berperawakan lebih tinggi gede dibanding aku. Orang

yang bertubuh gede akan makin gagah dan enak dipandang bila mengenakan pakaian karyaku.”

Dari atas sampai bawah ia memperhatikan tubuh Thiat Tin-thian, “Hanya sayang pakaian yang

melekat di tubuhmu sekarang jelek jahitannya, tidak cocok dengan potongan tubuhmu. Lain kali

kalau ada waktu, akan kubuatkan beberapa perangkat pakaian untukmu.”

“Kalau tidak salah tadi aku mendengar kau bilang membawa juga tandu pengantin?” tanya Thiat

Tin-thian.

“Kalau sudah tiba saatnya, tandu pengantin pasti akan ke mari,” demikian ujar penjahit itu.

“Mempelai laki dan perempuan saja tidak gugup, tidak ingin lekas kawin, kenapa justru kalian yang

terburu nafsu.”

Mendengar penjahit ini bicara tentang ‘mempelai laki dan perempuan’, roman muka semua orang

pun berubah hebat. Terutama Cia Giok-lun, tubuhnya bergoncang dan berkeringat dingin.

Dugaan mereka tidak keliru. Ambisi Bu-cap-sah tidak kecil. Jika ia mempersunting puteri tunggal

Bik-giok-san-ceng, Bik-giok Hujin pasti bisa mati saking marahnya. Toa-hoan juga harus bunuh

diri dengan menumbukkan kepala ke dinding karena gagal menunaikan tugasnya.

Mendadak Thiat Tin-thian bertanya kepada Toa-hoan, “Apakah kita biarkan saja orang ini membuat

pakaian untuk nona Cia?”

“Tidak boleh, jangan beri peluang dia bekerja di sini,” sahut Toa-hoan.

“Adakah penjahit di dunia ini yang tidak bisa membikin pakaian orang?”

“Kurasa ada, hanya dengan satu macam cara untuk membuat penjahit tidak bisa bekerja.”

“Dengan satu cara? Lalu penjahit macam apa yang takkan bisa bekerja itu?”

“Penjahit yang sudah putus jiwanya.”

Ternyata penjahit itu bersikap tenang dan wajar. Dengan asyik ia mendengarkan percakapan mereka

dengan tersenyum ramah, seperti orang linglung yang tidak mengerti apa arti percakapan mereka.

Akhirnya dia berkata, “Aku bukan penjahit mampus. Sekarang aku masih segar bugar, penjahit

bagus yang selalu bekerja penuh gairah.”

“Sayang sekali, betapapun penjahit bagus akhirnya akan mampus juga,” demikian jengek Thiat Tinthian.

Perlahan ia mengulurkan tangannya ke depan. Luka-lukanya sudah hampir sembuh. Di mana

telapak tangan besinya terangkat, ruas tulang tubuhnya mendadak berkeratakan seperti petasan.

Umpama penjahit itu orang pikun, manusia goblok, pasti juga paham apa maksud perkataan Thiat

Tin-thian. Mendadak ia berseru sambil mengangkat sebelah tangan, “Tunggu dulu, aku masih ingin

bicara.”

“Katakan, lekas.”

“Persoalan yang ingin kubicarakan, hanya akan kubicarakan empat mata saja dengan Ma Ji-liong,”

demikian kata penjahit itu.

“Dia tidak akan mendengarkan obrolanmu,” jengek Thiat Tin-thian sambil mendesak dua langkah.

“Aku tahu dia tidak akan mau mendengar.”

Mendadak Ji-liong menepuk bahu penjahit itu lalu menggandengnya keluar, ke belakang. Tidak ada

yang mencegah, tidak ada orang yang berani menentang. Suatu yang diputuskan Ma Ji-liong, tidak

ada orang yang berani menentang.

Rahasia apa yang dibicarakan penjahit itu dengan Ma Ji-liong? Kenapa hanya boleh dibicarakan

dengan Ma Ji-liong seorang saja?

Tidak ada orang yang tahu, tiada orang yang ingin tahu. Semua orang percaya kepada Ma Ji-liong,

seperti mereka percaya kepada diri sendiri. Siapa pun tidak tahu jelas, sejak kapan keadaan seperti

ini terjadi dan seperti menjadi ketentuan di sini, yang jelas keadaan sekarang memang sudah

demikian.

—————————————-ooo00ooo——————————————

Cukup lama kemudian baru kelihatan Ma Ji-liong memasuki rumah besar pula. Toa-hoan berlari

menyongsong sambil bertanya, “Mana penjahit itu?”

“Di belakang sedang mengukur badan Cia Giok-lun dan membikin pakaian.”

“Kenapa kau memberi izin dia bekerja?”

“Dia seorang penjahit, kehadirannya di sini untuk membuat pakaian. Lebih dulu mengukur badan,

memotong kain lalu menjahit,” demikian ucap Ma Ji-liong kalem. “Kan bukan hanya dia seorang

tukang jahit yang ada di dunia ini, kalau aku tidak memberi izin kepadanya, penjahit lain juga bisa

diutus ke mari.”

Penjelasan Ma Ji-liong tidak memuaskan, hati orang tidak lega dan puas. Sekarang mereka perlu

mengejar waktu, semenit lebih cepat, semenit lebih banyak peluang mereka.

Pantasnya Ma Ji-liong tahu akan hal ini, sayang ia justru berbuat bodoh, pura-pura tidak mengerti?

Di saat orang-orang di dalam toko serba ada itu menghela napas gegetun, Bu-cap-sah yang ada di

luar toko malah bergelak tawa, “Sudah lama aku tidak pernah merasa kagum dan memuji orang

lain,” demikian serunya. “Sekarang aku harus memuji kau.”

“Kau kagum padaku?” tanya Ma Ji-liong. “Kenapa kau memuji aku?”

“Karena kau adalah Ma Ji-liong. Laki-laki gundul itu adalah musuh besarmu, sejak lama dia ingin

membekuk dan menguburmu hidup-hidup,” demikian ucap Bu-cap-sah lantang. “Tapi sekarang

mereka tunduk kepadamu, rahasia apa pun hanya dibicarakan denganmu seorang saja. Umpama

tahu apa yang kau lakukan adalah perbuatan seorang goblok, namun tiada orang yang menentang.

Orang macam dirimu sebetulnya tidak setimpal mampus bersama mereka.”

“Memangnya aku harus bagaimana?” tanya Ma Ji-liong.

“Kau harus keluar, berhadapan dengan aku dan menjadi sahabatku. Hanya kau yang setimpal

menjadi sahabatku.”

Ma Ji-liong segera menjawab dengan tegas, “Baik, aku segera keluar.”

Habis bicara Ma Ji-liong melangkah keluar. Siapa pun tak menduga bahwa Ma Ji-liong berani

keluar dan betul-betul keluar, Bu-cap-sah sendiri juga tidak mengira.

Tapi Ma Ji-liong betul-betul melakukan perbuatan yang tidak mampu dilakukan orang lain meski di

alam mimpi sekalipun. Apa betul ia ingin bersahabat dengan si gila itu? Apakah ia tidak tahu,

begitu keluar jiwanya mungkin akan melayang di tangan si gila?

Apakah Ma Ji-liong juga seorang gila, gila seperti Bu-cap-sah? Biasanya ia kelihatan waras,

padahal ia juga gila, orang edan?

———————————————–ooo00ooo—————————————————

Setelah Ma Ji-liong membuka pintu kecil di samping pojok sana, baru orang banyak terbelalak

kaget. Toa-hoan memburu maju hendak menariknya, tapi batal. Thiat Tin-thian mengawasi ToaKoleksi

Kang Zusi

hoan, Toa-hoan juga mengawasinya. Kedua orang ini seperti tak percaya bahwa Ma Ji-liong

mendadak berubah menjadi manusia gila.

“Apakah dia juga sudah gila?”

“Kelihatannya tidak.”

Sebetulnya hanya Toa-hoan seorang di antara mereka yang paling paham tentang pribadi Ma Jiliong,

menyelami watak dan jiwanya, tapi sekarang Toa-hoan pun bimbang, ia tidak yakin apakah

yang dirasakan selama ini pada pemuda yang satu ini adalah benar dan sehat.

“Kelihatannya dia bukan orang bodoh.”

“Otaknya memang amat cerdas.”

“Lalu kenapa dia keluar?”

“Hanya Thian yang tahu.”

Kejadian yang susah dimengerti, susah diterima nalar begini memang hanya bisa diketahui oleh

Thian saja, kenapa hal ini harus terjadi?

Mendadak Thiat Tin-thian bertanya, “Menurut pendapatmu, apakah penjahit itu tidak

mencurigakan?”

“Ya, aneh dan patut dicurigai, harus diawasi.”

Terhadap siapa saja, kalau seseorang dalam sekejap dapat menyulap dua blok kain hanya dengan

sekali putar badan, mengeluarkan dua blok kain sutera sebesar itu dari dalam pakaiannya, maka dia

pasti bukan orang biasa.

“Aku tahu di kalangan Kangouw ada sejenis ilmu yang dinamakan Sip-sim-sut (ilmu sihir),

penonton dikelabui oleh kekuatan gaibnya sehingga pandangan kabur dan pikiran ngelantur.”

“Ya, memang ada ilmu seperti itu.”

“Menurut pendapatmu, apakah Ma Ji-liong bukan terpengaruh oleh ilmu sihir itu? Maka ia

mendadak berubah gila?”

Dugaan itu mungkin tepat, mungkin juga keliru. Tapi masih ada kemungkinan lain, yaitu penjahit

itu tengah menyandera Cia Giok-lun, lalu Ma Ji-liong diancam dan dipaksa melakukan

permintaannya.

Agaknya jalan pikiran Thiat Tin-thian dan Toa-hoan sama. Tanpa berjanji kedua orang ini serempak

menerjang ke dalam lewat pintu kecil bertirai itu. Tapi begitu berada di dalam, seketika mereka

tertegun kaget, jauh lebih kaget dibanding waktu melihat Ma Ji-liong membuka pintu dan beranjak

keluar tadi, lebih kaget dibanding bila mereka melihat setan yang mengerikan.

Sudah puluhan tahun Thiat Tin-thian malang melintang di Kangouw, kejadian apa saja pernah ia

hadapi, tapi belum pernah ia menghadapi kejadian yang mengejutkan seperti kali ini. Mereka

hampir tidak percaya oleh pandangan matanya sendiri, tidak percaya menghadapi kenyataan.

———————————-ooo00ooo——————————————-

Mereka melihat apa?

Bab 32: Tangan Yang Mengejutkan

Keadaan di dalam rumah sudah berbeda dibanding waktu mereka meninggalkan tempat ini.

Ranjang besar yang terletak di tengah ruang sudah dibongkar dan disingkirkan ke pinggir. Cia

Giok-lun yang semula harus meronta-ronta untuk berganti pakaian dan membersihkan badan itu

sekarang sudah berdiri tegak, berjalan atau bergerak dengan leluasa seperti orang sehat.

Tapi ini bukan sebab utama kenapa Thiat Tin-thian dan Toa-hoan kaget setengah mati. Mereka

kaget karena di dalam rumah melihat Ma Ji-liong lagi. Yang berdiri jajar di pinggir Cia Giok-lun

ternyata bukan penjahit tadi, tetapi adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong masih dalam penyamarannya

sebagai Thio Eng-hoat.

Padahal mata mereka belum lamur, melihat dengan nyata, dengan gamblang bahwa Ma Ji-liong

lewat di depan mereka, tapi sekarang mereka melihat dengan jelas pula seorang Thio Eng-hoat alias

Ma Ji-liong berdiri segar bugar di hadapan mereka.

———————————————ooo00ooo————————————————

Ternyata Thio Eng-hoat alias Ma Ji-liong yang mereka lihat beranjak keluar tadi bukan Ma Ji-liong

yang asli. Jadi dua kali mereka melihat Thio Eng-hoat, padahal dalam kesan mereka Thio Eng-hoat

adalah samaran Ma Ji-liong, dwi tunggal, dua orang yang menjadi satu. Kini di dalam rumah

mereka saksikan lagi seorang Thio Eng-hoat, padahal laki-laki ini tadi sudah keluar rumah. Lalu

dari mana dia masuk dan tahu-tahu sudah berada di dalam rumah pula. Lalu di mana tukang jahit

tadi?

Karena ranjang besar itu dibongkar dan disingkirkan, kamar itu menjadi luang dan lebar. Bukan

duduk atau mondar-mandir, ternyata Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun berdiri diam penuh perhatian di

tempat itu, di mana tadi ranjang itu berada. Mata mereka tertuju ke lantai, penuh perhatian mereka

mengawasi lantai kosong itu. Begitu Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menerobos masuk, Ma Ji-liong

segera mengangkat jari telunjuk mendekap mulut, memberi isyarat dengan maksud supaya mereka

tidak bersuara.

Syukur Toa-hoan dan Thiat Tin-thian adalah orang-orang yang tabah. Meski menghadapi kejadian

yang mengejutkan, mereka tidak berteriak kaget. Agaknya mereka tidak lupa bahwa si gila mampu

mendengar ular yang lagi bermain cinta dan kura-kura bertelur.

Sigap sekali Toa-hoan berlari keluar. Waktu masuk lagi dia membawa kertas dan alat tulis. Dengan

tulisan ia bertanya pada Ma Ji-liong, “Siapa kau?”

Agaknya susah baginya membedakan apakah Thio Eng-hoat yang satu ini betul adalah samaran Ma

Ji-liong tulen.

Orang ini betul adalah Ma Ji-liong. Cia Giok-lun memberikan kesaksian.

“Siapakah orang yang keluar tadi?” tanya pula Toa-hoan dengan tulisan.

“Tukang jahit itu,” kembali Cia Giok-lun yang menjawab, sudah tentu dengan tulisan pula.

Walau sudah menduga hal itu, tetapi Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tak mau percaya begitu saja,

“Bagaimana tukang jahit itu bisa berubah menjadi Thio Eng-hoat?”

Kali ini Ma Ji-liong tertawa. Dengan alat tulis ia menjawab pertanyaan itu, tulisannya bergaya

indah, “Kalau dia mampu mengubah aku menjadi Thio Eng-hoat, kenapa dia sendiri tidak mampu

merubah dirinya menjadi Thio Eng-hoat?”

Toa-hoan melongo. Ia betul-betul kaget dan heran, juga amat senang. Sungguh tak pernah terbayang

dalam benaknya kalau orang ini bisa datang ke mari. Sekarang ia paham apa yang telah terjadi.

Tapi Thiat Tin-thian masih belum mengerti. “Siapakah orang yang kalian bicarakan itu?” tanyanya

dengan tulisan juga.

Toa-hoan segera menulis ‘Giok-jiu-ling-long Giok Ling-long, tokoh besar yang misterius, namanya

sudah menggetarkan dunia persilatan sejak enam puluh tahun yang lalu.

——————————————-ooo00ooo——————————————

Persoalan yang kelihatannya ruwet dan mengejutkan, kalau sudah terbongkar, jawabannya ternyata

amat mudah, sederhana dan sepele.

Sekarang Thiat Tin-thian juga sudah mengerti. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long, nama yang

cukup memberi jaminan, memberi penjelasan tuntas.

Dengan tata rias yang tiada banding di dunia ini, menyamar menjadi seorang tukang jahit yang

kelihatannya biasa dan tidak menarik perhatian orang, sebagai tukang jahit undangan Bu-cap-sah ia

menyelundup ke mari. Tiada orang yang menduga bahwa ia akan dan sudah berada di sini, oleh

karena itu tiada orang yang melihat gejala-gejala yang mencurigakan pada dirinya.

Kesempatan waktu ia berhadapan empat mata dengan Ma Ji-liong tadi, ia merubah dirinya menjadi

seorang Thio Eng-hoat yang lain dengan bahan-bahan make-up yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Baru sekarang Toa-hoan membayangkan, wajah tukang jahit tadi lapat-lapat memang ada sedikit

mirip dengan Thio Eng-hoat, beberapa segi malah ada titik persamaannya. Dengan kemampuannya

yang luar biasa, hanya sekedar memproses sini dan memperbaiki sana, dengan keahlian kedua

tangannya, lekas sekali wajahnya sudah berubah menjadi Thio Eng-hoat. Jelas hal ini juga sudah ia

rencanakan lebih dulu.

Kenapa Giok Ling-long berbuat demikian? Kenapa ia menampilkan diri pula dalam percaturan

Kangouw sebagai Ma Ji-liong, berani keluar untuk menemui dan berhadapan langsung dengan Bucap-

sah? Toa-hoan tidak habis mengerti, Thiat Tin-thian juga bingung.

Lantai kosong di mana ranjang besar tadi berada, kecuali debu kotoran yang tidak pernah disapu,

tidak ada barang apa pun di lantai itu. Lalu apa yang dilihat dan diperhatikan oleh Ma Ji-liong dan

Cia Giok-lun?

Kenapa ranjang besar itu mereka bongkar? Toa-hoan dan Thiat Tin-thian juga merasa bingung.

Mereka bertanya dengan tulisan pada Ma Ji-liong, tapi yang ditanya hanya tertawa-tawa saja, tawa

yang penuh mengandung arti. Terpaksa mereka hanya ikut berdiri melongo seperti orang bodoh

mengawasi lantai kosong yang tidak ada apa-apanya yang bisa ditonton itu.

Di saat Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menghela napas, merasa dirinya seperti orang bodoh,

mendadak mereka berjingkat mundur. Kembali mereka menyaksikan kejadian luar biasa yang

mengejutkan.

————————————–ooo00ooo———————————————–

Mereka berjingkat karena melihat sebuah tangan, tangan manusia. Lantai kosong yang semula tiada

apa-apanya itu, mendadak tanahnya kelihatan bergerak-gerak lalu mencuat minggir seperti digali

oleh seekor tikus dari dalam tanah, lalu muncul sebuah tangan manusia dari bawah tanah.

Tangan manusia yang kelihatan kasar, kekar lagi penuh tenaga, mirip benih pohon yang mulai

bersih mencuat keluar dari dalam tanah. Jari tengah, jari manis dan jari kelingking tegak berdiri,

sementara jari telunjuk berpadu dengan ibu jari membuat lingkaran. Gaya tangan seperti itu

umumnya memberi tanda bahwa segala urusan sudah beres, berarti dia sudah menunaikan tugas

dengan baik, segala persoalan tidak perlu dikuatirkan.

Tangan siapakah yang muncul dari dalam tanah ini? Bagaimana mungkin tangan manusia muncul

dari bawah tanah? Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tidak ragu dan bimbang bahwa tangan itu benar

milik manusia hidup. Tangan orang mati tak mungkin bisa bergerak dan memberi tanda dengan

gerakan.

Sudah berapa lama Toa-hoan tinggal di rumah ini, tak pernah tahu ada sesuatu gejala yang

mencurigakan bahwa di bawah tanah ini ada dihuni orang. Dengan kemampuan Toa-hoan, tidak

mungkin diketahui bila ada manusia hidup dan tinggal di bawah tanah di mana mereka bertempat

tinggal.

Toa-hoan dan Thiat Tin-thian amat kaget begitu melihat tangan itu muncul dari dalam tanah, tetapi

Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun ternyata bersikap adem-ayem, tidak kaget sama sekali, Cia Giok-lun

malah tersenyum lega.

Ma Ji-liong maju selangkah lalu membungkuk badan, tangannya diulur, dengan jari telunjuk ia

menutul tiga kali di ujung jari tengah tangan itu. Selang beberapa saat ia menutul tiga kali, beruntun

ia menutul tiga kali tiga sama dengan sembilan kali.

Tangan yang mengejutkan itu mendadak mengkeret masuk ke dalam tanah. Tanah kosong yang

tiada apa-apanya itu kini betul-betul menjadi kosong, hanya bertambah sebuah lubang. Lubang yang

cukup besar untuk tangan orang diulur keluar atau tangan yang merogoh masuk ke dalam lubang.

Tangan itu sudah lenyap, tiada kelihatan, tapi lubang itu masih menganga meski lubangnya tidak

lebar.

———————————————–ooo00ooo—————————————————-

Tangan keluar dari dalam lubang, lalu dari mana datangnya lubang itu? Tanah di bawah rumah ini

jelas bersatu dengan bumi, tanah di bawah rumah ini jelas tidak berbeda dengan tanah di lain

tempat. Di sini mungkin kau bisa menanam pohon atau rumput, pohon juga bisa tumbuh

berkembang dan berbuah, tapi tak mungkin tanpa sebab mendadak bolong atau berlubang. Lubang

yang sembarang waktu bisa dilalui tangan yang keluar dan masuk.

Toa-hoan mengawasi Thiat Tin-thian, Thiat Tin-thian juga mengawasi Toa-hoan, lalu mereka

menoleh bersama ke arah Ma Ji-liong. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, namun mereka

yakin Ma Ji-liong bisa memberi penjelasan.

Ma Ji-liong masih asyik memperhatikan lubang itu, tidak memandang mereka, melihat pun tidak,

seluruh perhatian ditujukan ke arah lubang itu.

Lubang itu semula selebar mulut gelas, mendadak tampak berubah makin besar, tanah di sekitar

lubang mendadak bergerak seperti beriak. Makin lama riak gelombang makin besar, tanah juga

berguguran ke bawah hingga bergolak seperti air mendidih di dalam kuali.

Mendadak tanah yang bergolak itu seluruhnya amblas ke bawah, lubang kecil itu mendadak

berubah menjadi lubang gede, lubang sebesar permukaan meja bundar. Begitu lubang menjadi

besar, dari bawah tanah muncullah seseorang, seorang berwajah persegi yang berlepotan tanah,

namun cahaya matanya bersinar terang. Pertama dia mengawasi Ma Ji-liong sambil tertawa, lalu

berganti menatap Cia Giok-lun, Toa-hoan dan Thiat Tin-thian.

Tetapi keempat orang ini tiada yang mengenalnya, sudah tentu laki-laki ini juga tidak mengenal

mereka. Kedua pihak sama-sama belum pernah kenal, belum pernah bertemu apalagi kenal.

Orang itu melompat keluar dari dalam lubang, lalu membersihkan tanah di atas badannya, berdiri di

pinggir lubang yang dibuatnya. Sambil tersenyum puas ia mengawasi lubang besar itu, sorot

matanya tampak riang, puas dan bangga, seperti seniman yang sedang menikmati buah karyanya

yang paling diagulkan.

Lama ia menikmati buah karyanya itu baru membalikkan badan. Alat tulis dan kertas masih ada di

atas meja, ia mengambil pena lalu menulis, “Silakan tuan-tuan masuk.”

Lubang itu tidak begitu dalam, membelok lurus ke arah timur, mirip lubang gua yang amat dalam

dan panjang. Sebetulnya lubang ini tidak mirip gua, lebih tepat kalau dikatakan gorong-gorong,

lorong di bawah tanah yang sempit dan lembab.

Dapat diduga bahwa lorong ini digali dari tempat yang cukup jauh, mulut lorong pasti jauh terletak

di luar perkampungan yang sudah dibongkar dan dikuasai oleh orang-orang Bu-cap-sah dengan

pengepungan yang ketat.

Sekarang baru Toa-hoan paham, semua orang juga paham, lorong bawah tanah ini adalah jalan satusatunya

untuk mereka melarikan diri.

Sudah tentu tanpa diminta kedua kalinya, satu persatu mereka menyelinap masuk ke dalam lorong.

Ternyata lorong ini lebih panjang dari yang mereka bayangkan semula. Mereka harus banyak

memeras keringat dan tenaga, kadang kala mereka harus merangkak cukup jauh baru berjalan lagi

sambil membungkukkan badan. Maklum lorong itu dibuat secara darurat, jadi tidak memenuhi

syarat sebagai jalan rahasia di bawah tanah yang biasa dipersiapkan untuk melarikan diri. Mulut

lorong memang berada jauh di luar perkampungan yang sudah kosong dan luas, malah melampaui

beberapa jalan raya lalu membelok ke selatan.

Beberapa jam diperlukan untuk menerobos lorong yang pengap lagi lembab itu. Begitu melompat

keluar dari dalam lubang, mereka menghirup napas segar dan rasa lega. Tak jauh dari mulut lorong

berhenti sebuah kereta besar yang hanya dimiliki hartawan besar atau kaum bangsawan. Kereta

bercat hitam itu mengkilap bersih. Kereta ditarik empat ekor kuda yang gagah dan kekar, jelas

merupakan kuda-kuda pilihan yang sudah terlatih baik dan mampu berlari kencang.

Ada pula tiga buah kereta lain dalam bentuk dan ukuran sama berjajar di pinggir hutan sana. Tiga

kereta itu masing-masing menuju ke tiga arah, kusir kereta sudah duduk di tempatnya siap

menghalau kereta dengan cemeti di tangan.

Laki-laki kekar baju hitam yang menggali lubang itu melompat keluar lebih dulu. Setelah orang

banyak melemaskan otot dan menenteramkan napas dan perasaan, segera ia memberikan

penjelasan, “Untuk menghindari pengejaran Bu-cap-sah, maka kita sediakan tiga kereta lain yang

sama bentuk dan ukurannya. Di atas kereta juga ditumpangi enam pria satu wanita, tujuh orang,

bekas roda kereta yang ditinggalkan di jalan raya juga pasti sama, tidak banyak berbeda.”

Laki-laki ini bilang enam pria satu perempuan karena Toa-hoan masih berpakaian laki-laki,

sementara ia juga akan mengiringi Ma Ji-liong dan lain-lain naik kereta yang terdekat.

“Kita tidak usah menunggu Giok-toasiocia, ia punya cara dan akal untuk menghadapi Bu-cap-sah,

yakinlah bahwa dia dapat meloloskan diri tanpa kurang suatu apa,” sembari bicara laki-laki ini

mengawasi Ma Ji-liong yang belum juga mau naik kereta. “Beliau sudah memberi pesan kepadaku

supaya tidak usah menunggu dia, karena dia tahu kau ini paling bandel, maka beliau merasa perlu

memberi pesan kepadaku.”

Untung kali ini Ma Ji-liong tidak membandel. Begitu ia duduk di atas kereta, sais kereta segera

mengayunkan cemeti, “Tar!”, enam belas ekor kuda serempak menggerakkan kaki, tiga puluh dua

roda kereta serempak menggelinding ke depan. Empat kereta empat arah yang ditempuh, keempat

kereta itu meninggalkan bekas roda dan tapak kuda yang sama.

Laki-laki penggali tanah itu berkata, “Dari empat jalan raya yang kita tempuh ini, satu menuju ke

Thian-ma-tong, satu lagi langsung menuju ke Siong-san, yang ketiga pergi ke Bik-giok-san-ceng.”

“Yang satu lagi menuju ke mana?” tanya Toa-hoan.

“Yang keempat ini adalah jalan yang dilalui Bu-cap-sah waktu datang ke sini,” penggali lubang

menjelaskan. “Jalan ini menuju ke lembah mati.”

“Jalan mana yang kita tempuh?” tanya Cia Giok-lun penuh harap. “Apakah kita langsung pulang ke

Bik-giok-san-ceng?”

“Bukan,” sahut Toa-hoan. “Pasti bukan.”

“Kenapa bukan?” tanya Cia Giok-lun.

Penggali lubang menjelaskan, “Karena Bu-cap-sah pasti juga sudah menduga bahwa kita mungkin

akan menempuh jalan itu.”

Cia Giok-lun menghela napas. Toa-hoan berkata, “Ke mana kau akan membawa kami?”

“Lembah mati,” sahut penggali lubang. “Karena siapa pun pasti tidak menduga kalau kita justru

pergi ke lembah mati, ke sarang Bu-cap-sah malah.” Lalu ia menambahkan setelah menarik napas,

“Giok-toasiocia juga menganjurkan supaya kita menempuh jalan ini, ia bilang akan menyusul kita

di sana.”

Tidak ada yang bertanya ‘Kenapa dia juga akan ke sana?’, karena setiap orang percaya, apa yang

dilakukan Giok-toasiocia ada alasannya sendiri.

Kereta berjalan cepat dan tenang. Kabin kereta memang lebar dan panjang, mereka dapat duduk

santai dan takkan merasa penat atau gerah. Sejak kereta berangkat, Toa-hoan selalu memperhatikan

penggali lubang itu. Mendadak ia bertanya, “Tuan, apakah kau murid Kaypang?”

Melihat tindak-tanduk, dandanan dan tutur bicaranya, siapa pun akan beranggapan bahwa penggali

lubang ini adalah murid Kaypang, karena hanya murid Kaypang saja yang mampu menunaikan

tugas yang berat dan sukar ini. Hanya pihak Kaypang saja di bawah pimpinan Kanglam Ji Ngo yang

berani mengambil-alih tugas dan mencampuri urusan ini.

Tapi penggali lubang itu menggelengkan kepala, “Aku bukan murid Kaypang.” Ia menjawab sambil

tersenyum, “Bahwasanya aku tidak pernah berkecimpung di Kangouw.”

Jawabannya di luar dugaan orang banyak. Toa-hoan bertanya pula, “Kau she apa dan siapa nama

tuan?”

Penggali lubang itu tampak bimbang sejenak. Agaknya ia segan memperkenalkan diri, seakan-akan

bila ia memperkenalkan diri maka namanya akan mengundang ejekan orang, dirinya akan malu

berhadapan dengan orang. Tapi setelah ditunggu dan diawasi sekian saat, akhirnya ia menjawab

dengan terpaksa, “Aku bernama Ji Liok.”

“Ji Liok?” Toa-hoan berteriak. Orang banyak juga melengak heran. Toa-hoan bertanya pula,

“Pernah apa kau dengan Kanglam Ji Ngo?”

“Ji Ngo adalah engkohku yang kelima,” sahut penggali lubang itu.

—————————————-ooo00ooo——————————————–

Kanglam Ji Ngo terkenal di seluruh jagat, ia mengepalai Pang terbesar di dunia, anggotanya

tersebar luas di seluruh pelosok Kangouw. Adalah pantas kalau adik Ji Ngo juga seorang yang

terkenal, anehnya siapa pun tidak pernah mendengar seorang yang bernama Ji Liok, apalagi sebagai

adik Ji Ngo.

“Kalian tentu tidak tahu kalau Ji Ngo masih punya adik seperti diriku,” demikian ucap penggali

lubang yang mengaku bernama Ji Liok itu. “Kalian pasti heran, adik Kanglam Ji Ngo, kenapa tidak

pernah muncul dalam percaturan dunia persilatan?”

“Ya, kau tidak pernah muncul, kami pun tak pernah mengenalmu.”

Ji Liok tertawa getir, katanya, “Kalau aku sudah punya engkoh seperti Kanglam Ji Ngo yang

tersohor, memangnya apa yang bisa kuperoleh kalau berkecimpung di Kangouw? Umpama aku

berjuang seratus tahun juga akan tetap sebagai adik Ji Ngo.” Ia mengawasi jari-jari tangannya yang

kasar, lalu ia melanjutkan dengan perlahan, “Apalagi aku tidak punya kemampuan apa-apa, aku

hanya pandai menggali lubang.”

Ma Ji-liong mengawasinya, sorot matanya berubah hormat dan kagum. Biasanya ia memang

menghargai orang yang punya pambek, laki-laki yang tegas berpijak pada pendirian sendiri,

menghormati harga diri orang yang berani berdikari.

“Kau bilang tak punya kemampuan apa-apa kecuali menggali lubang,” demikian timbrung Ma Jiliong.

“Padahal untuk menggali lubang bawah tanah dalam jarak sejauh itu, melampaui empat jalan

raya sepanjang tujuh-delapan puluh tombak, bukanlah pekerjaan yang ringan, apalagi arah yang

dituju sudah diperhitungkan dengan tepat, jalan keluarnya tepat menuju sasaran yang sudah

ditentukan di tengah rumah toko serba ada itu.” Setelah menghela napas, Ji-liong menyambung

pula, “Kau bilang tidak mampu berbuat apa-apa, tapi lorong tanah sepreti itu, kecuali kau siapa pula

yang mampu menggalinya?”

Ji Liok tertawa lebar, “Mendengar pujianmu, aku baru merasa bahwa ternyata aku memiliki

keahlian khusus juga.” Dengan senyum dikulum, ia melirik ke arah Ma Ji-liong, “Sekarang aku

baru paham kenapa Ngo-ko berkata demikian kepadaku.”

“Apa yang dia katakan?” tanya Ji-liong.

“Ngo-ko bilang kau ini baik hati. Dalam keadaan apa pun kau tidak pernah melupakan kepentingan

orang lain,” demikian ucap Ji Liok. “Dia juga bilang, orang seperti dirimu, dalam masa hidupnya

hanya pernah melihat dua orang saja.”

“Dua orang yang mana?” tanya Ji-liong pula.

“Yang seorang sudah tentu dirinya sendiri,” kata Ji Liok tertawa. “Seorang lagi adalah engkau.”

Sorot matanya tampak hangat dan bersahabat, “Maka dia menyuruh aku bertanya kepadamu, kau

mau tidak bersahabat dengan orang yang hanya pandai menggali lubang?”

Ma Ji-liong segera mengulurkan tangan menjabat tangan Ji Liok.

Bab 33: Malam Tragis Di Gedung Besar

Kanglam Ji Ngo adalah pendekar besar yang terkenal, seorang cerdik, pelajar ternama, ilmu sastra

maupun ilmu silatnya jarang ketemukan tandingan, pokoknya serba bisa.

Tapi berbeda dengan Ji Liok yang satu ini. Seperti apa yang ia katakan sendiri, kelihatannya mirip

orang kasar, orang desa atau kampung yang bersahaja, kaki besar tangan kasar, hidup tenteram dan

sederhana. Menilai wajahnya yang persegi, kelihatannya tak cukup pintar, namun bila tersenyum

maka orang baru membayangkan wajah Ji Ngo melekat pada wajahnya juga.

Kini setiap orang mulai tertarik kepadanya. Semua merasa pribadinya tidak seperti lahiriahnya yang

sederhana dan biasa. Banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepadanya, karena siapa pun ingin

tahu lebih jauh siapakah dia sebenarnya.

“Kau belum pernah berkecimpung di Kangouw? Lalu apa kerjamu sehari-hari?” Ma Ji-liong

bertanya lebih jauh.

“Kerja apa saja kulakukan,” sahut Ji Liok. “Namun belakangan ini aku sering memborong

bangunan, jelasnya sebagai pemborong bangunan.”

“Kau ini tukang batu atau tukang kayu?” sela Toa-hoan.

“Tukang batu aku dapat bekerja, tukang kayu juga kulakukan, pokoknya kerja kasar yang halal dan

dapat uang. Tapi dalam kerja besar ini aku hanya menggambar pola bangunannya saja.”

Untuk membangun rumah harus dibuat pola gambarnya lebih dulu. Setelah pola gambarnya dilukis

dan diperinci secara cermat, baru kerja dimulai. Berapa tinggi bentuk rumah itu, berapa dalam

pondasi yang harus ditanam? Berapa pula sudut miring wuwungan yang akan dibentuk? Berapa

berat kekuatan yang ditopang? Setiap sudut ruang pun harus diperhitungkan dan direncanakan lebih

dulu. Setelah seluruhnya diperinci secara jelas, bangunan yang sudah dirancang dengan baik itu

pasti terbangun dengan hasil yang memuaskan. Karena sedikit salah perhitungan, bukan mustahil

rumah itu akan ambruk dan akibatnya tentu fatal.

Demikian pula untuk menggali lubang di bawah tanah, juga harus diperhitungkan arah, jarak dan

letaknya. Sedikit melenceng, jalan keluarnya pasti meleset jauh dari titik yang sudah ditentukan.

Demikian halnya dengan lorong bawah tanah yang digalinya itu. Bila melenceng sedikit dan

keluarnya di luar toko serba ada, atau malah muncul di depan Bu-cap-sah, bukankah berarti ia

menggali liang kuburnya sendiri. Celakanya adalah ketujuh orang di dalam toko juga ikut menjadi

korban sia-sia.

Toa-hoan menghela napas, katanya, “Sekarang baru aku tahu, kenapa engkohmu sengaja mengutus

engkau untuk menggali lubang itu. Untuk menggali lubang panjang di bawah tanah seperti itu, jelas

lebih sukar dibanding membangun sebuah gedung.”

“Seorang diri aku takkan mampu menggali lorong sepanjang itu. Orang-orang yang duduk di dalam

kereta yang tiga itu adalah pembantuku yang boleh diandalkan.”

Jelas rencana kerja ini pun sudah diperhitungkan secara matang dan tepat. Saat datang orang-orang

itu membantunya menggali lubang, waktu mau pergi dapat memancing Bu-cap-sah ke arah yang

sesat, jelas setiap orang sudah mengembangkan daya kemampuannya.

“Tentunya mereka adalah orang-orang engkohmu yang diutus untuk membantu kau bekerja,

betulkah mereka murid-murid Kaypang?” tanya Toa-hoan.

Siapa pun sependapat dengan pertanyaan ini. Ji Liok tertawa, katanya, “Mereka juga bukan murid

Kaypang. Mereka adalah pembantuku yang biasa bekerja di bangunan. Sebagai pekerja bangunan,

sudah layak bila mereka pun pandai menggali lubang.”

Ji-liong melengak. Toa-hoan melenggong, demikian pula Cia Giok-lun dan Thiat Tin-thian

bungkam, heran dan takjub.

“Kau sendiri yang membuat rencana kerja ini?” tanya Ma Ji-liong.

Ji Liok tertawa pula, katanya, “Kalau engkohku menyuruh aku bekerja, maka aku akan bekerja

lebih baik dan nilainya tentu jauh lebih memuaskan.”

——————————————-ooo00ooo——————————————————

Rencana serapi itu, kerja besar yang memerlukan banyak tenaga, ternyata hanya dipimpin oleh

seorang kasar saja. Kelihatannya ia memang serba kasar, kaki tangan dan mukanya kotor

berlumpur, kuku jarinya juga hitam-hitam, tapi sekarang tiada orang yang berani menganggapnya

kasar dan kotor.

“Di mana engkohmu sekarang?” tanya Toa-hoan.

Ji Liok menghela napas, sahutnya, “Setelah menyerahkan tugas ini, dia lantas pergi entah ke mana,

tidak mau turut campur lagi.”

Mendadak Thiat Tin-thian menghela napas, katanya, “Jika aku punya saudara seperti kau, aku pun

akan bersikap seperti Ji Ngo, persoalan apa pun tidak perlu kukerjakan sendiri.”

Waktu menghela napas, kedua matanya mengawasi Coat-taysu, siapa pun tahu bahwa dia sedang

terkenang pada saudara angkatnya Thiat Coan-gi.

Memang Thiat Coan-gi, saudara angkatnya itu mungkin tidak sembabat dibanding adik Ji Ngo, tapi

saudaranya itu juga mampu mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin bisa dikerjakan orang lain.

Kini saudaraya itu sudah gugur demi mempertahankan jiwa raga saudaranya.

Coat-taysu tidak memberikan reaksi, Apa pun yang diucapkan orang lain, kritik apa pun yang

ditujukan kepada dirinya, ia anggap tidak dengar saja.

———————————————-ooo00ooo——————————————————

Malam makin larut.

Waktu mereka naik ke kereta dan berangkat tadi, hari baru saja gelap. Kini mereka sudah tiga jam

menempuh perjalanan. Mereka berpendapat Ji Liok akan menempuh perjalanan semalam suntuk,

tapi dugaan orang banyak ternyata meleset.

Waktu itu kereta sedang memasuki sebuah kota besar. Entah apa nama kota ini, yang pasti ada jalan

raya yang cukup besar dengan gedung-gedung besar berderet di kedua pinggir jalan. Bila kereta

membelok ke arah kanan, keadaan di sini jauh lebih sepi kalau tidak mau dikata lengang. Rumahrumah

penduduk di sini sudah tutup semua. Dari bentuk bangunan dan jalan raya yang beralas batu

gunung yang tebal dan kuat, dapat diduga bahwa kota ini cukup besar dan makmur.

Diam-diam Toa-hoan dan Cia Giok-lun mengintip keluar lewat jendela. Di saat kereta membelok

lagi ke kanan memasuki sebuah gang yang tidak begitu lebar, setelah maju lagi beberapa saat,

tampak gang ini ternyata buntu. Meski cuaca sudah gelap, tapi dapat diketahui bahwa gang ini tiada

jalan tembus. Di sini hanya ada rumah gedung yang terletak di depan, tampaknya milik hartawan

kaya raya.

Pintu gerbang pelindung rumah ini bercat merah. Di kanan kiri luar pintu berjongkok dua batu singa

besar, di tengah adalah jalan rata yang dapat dilewati kereta untuk keluar masuk.

Semula pintu gerbang bercat merah itu tertutup rapat, tapi kereta kuda itu terus maju ke depan,

langsung mencongklang ke arah pintu gerbang yang tembus ke dalam gedung. Meski pintu gerbang

masih tertutup, jarak juga makin dekat, tapi laju kereta tetap dalam kecepatan sedang. Kalau tidak

segera dihentikan, sebentar lagi kereta kuda pasti akan menumbuk pintu gerbang yang tertutup rapat

itu.

Belasan langkah sebelum kereta kuda itu tiba di ambang pintu, mendadak daun pintu gerbang yang

besar dan berat itu terpentang ke kanan kiri, maka kereta terus menerjang masuk dan berhenti di

pekarangan yang besar dan luas.

Begitu kereta kuda itu masuk ke pekarangan, pintu gerbang lantas tertutup lagi. Pintu kereta lantas

dibuka oleh Ji Liok.

“Silakan kalian turun,” kata Ji Liok.

“Turun? Untuk apa turun?” tanya Toa-hoan.

“Malam ini kita menginap di sini,” demikian Ji Liok menjelaskan.

“Lho, kenapa harus menginap di sini?” Toa-hoan bertanya pula dengan nada keki.

Ji Liok tertawa, katanya, “Kurasa Bu-cap-sah akan mengira kita menempuh perjalanan dengan

tergesa-gesa di tengah malam.”

Padahal Ma Ji-liong dan lain-lain juga beranggapan demikian. Kereta kuda dikira akan terus

menempuh perjalanan hingga fajar, maka Ji Liok mengambil keputusan secara tegas, kereta

berhenti dan menginap di gedung ini.

“Akalmu memang bagus,” demikian puji Thiat Tin-thian sambil tertawa.

——————————————-ooo00ooo————————————————–

Pekarangan besar dan luas, gedung itu pun besar dan megah bentuknya. Dindingnya berkembang,

sakanya terukir, jendela juga ditempel kertas putih bak salju, di tengah malam buta rata begini

kelihatan mengkilap.

Tetapi gedung besar ini masih kosong melompong, tiada apa-apanya, tidak ada meja kursi atau

perabot rumah tangga lainnya, juga tidak ada penerangan lampu. Walau gedung ini dalam keadaan

gelap gulita, tetapi di luar sinar bintang berkerlap-kerlip, bulan sabit juga mengintip di balik mega,

sehingga keadaan terasa sunyi dan sepi.

Ji Liok menjelaskan, “Inilah salah satu gedung yang kuborong untuk dibangun. Bangunan ini belum

selesai, baru sembilan bagian rampung dikerjakan. Pemiliknya adalah seorang pembesar tinggi yang

sudah pensiun, menurut rencana pertengahan bulan depan baru akan pindah ke sini.”

Saat itu masih tanggal muda, jadi masih ada satu setengah bulan lagi. Gedung ini belum dihuni

orang, tak heran kalau keadaannya masih kosong dan sepi.

“Siapakah yang membuka pintu tadi?” Toa-hoan yang suka rewel lalu bertanya.

“Salah seorang pembantuku yang kusuruh menjaga gedung ini,” sahut Ji Liok. “Aku tanggung dia

tidak akan membocorkan jejak kita.”

————————————————ooo00ooo—————————————————

Orang tua renta itu memang takkan bisa membocorkan rahasia siapa pun, karena dia seorang bisu

tuli. Seorang tua renta yang setengah pikun dan bungkuk, timpang lagi, usianya sudah tua,

badannya cacat lagi, jelas tidak punya gairah atau harapan hidup di masa depan, sudah tiada urusan

apa pun di dunia ini yang menarik perhatiannya.

Sebuah gedung megah yang kosong melompong, seorang tua cacat yang setengah pikun, dengan

hanya memiliki sebuah lampion kotor yang sudah buram cahayanya, di malam dingin yang gelap di

musim semi, tujuh orang buronan.

Lampion yang sudah butut itu tampak bergoyang-gontai ditiup angin malam. Si kakek timpang

tertatih-tatih berjalan di depan menunjukkan jalan. Orang takkan suka melihat wajahnya, terutama

anak perempuan, agaknya orang tua ini juga segan memperlihatkan tampangnya yang buruk di

depan umum, maka lampion ia gantung rendah dan ia pun berjalan sambil menunduk.

Tujuh orang dibagi empat kamar yang berbeda dan tersebar letaknya.

Ma Ji-liong sekamar dengan Ji Liok, Toa-hoan sudah tentu sekamar dengan Cia Giok-lun. Thiat

Tin-thian sekamar dengan Ong Ban-bu, Coat-taysu seorang diri di satu kamar yang terpisah di

tempat yang agak jauh.

Tidak ada orang yang mau bercampur dan sekamar dengan dia, ia pun segan bergaul dengan orang

lain.

Di tengah malam yang dingin di musim semi ini, seorang beribadah seperti Coat-taysu, seorang diri

tinggal di kamar kosong melompong, kenangan lama dan kejadian di depan mata, dendam lama dan

sakit hati baru terbayang di benaknya. Entah bagaimana ia harus menenteramkan gejolak

perasaannya?

Setelah menempuh perjalanan jauh, apalagi mereka harus merangkak dan merunduk jalan di dalam

lorong bawah tanah tadi, badan terasa amat penat, tapi dalam keadaan seperti itu, jarang ada orang

yang bisa tidur.

Cia Giok-lun tidak tidur. Di atas lantai ia lembari rumput kering, bagian atas dilapisi tikar, mereka

tidur di lantai dengan hanya beralaskan tikar. Deru angin malam di luar jendela dirasakan seperti

isak tangis perempuan yang ditinggal pergi oleh suami dan menyesali nasibnya sendiri.

“Kau sudah tidur belum?” tanya Cia Giok-lun.

“Belum.”

Toa-hoan juga tidak bisa tidur, maka Cia Giok-lun bertanya kepadanya, “Kenapa kau tidak bisa

tidur? Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Apa pun tidak mungkin kupikirkan, aku hanya tidak ingin lekas tidur.”

Mendadak Cia Giok-lun tertawa, katanya, “Tidak usah kau membohongi, aku tahu apa yang

terkandung di dalam benakmu.”

“Oh?”

“Kau sedang merindukan Ma Ji-liong,” demikian ucap Cia Giok-lun berseloroh. “Aku tahu kau

amat menyukainya.”

Toa-hoan tidak menyangkal juga tidak membenarkan, ia malah balas bertanya, “Kenapa tidak bisa

tidur? Apa pula yang sedang kau pikirkan?”

Jawaban Cia Giok-lun ternyata cukup mengejutkan siapa saja bila mendengar perkataannya,

“Seperti juga kau, aku juga sedang memikirkan Ma Ji-liong.” Setelah menghela napas, ia

melanjutkan, “Beberap a bulan aku hidup serumah dengannya, tidur dalam satu kamar meski tidak

satu ranjang, setiap malam aku mendengar deru napasnya, kenapa sekarang aku tidak merindukan

dia? Sekarang aku berpisah dengan dia, bagaimana aku bisa tidur?”

Toa-hoan terdiam. Tanpa bicara, mendadak ia bangkit lalu melangkah membuka daun jendela.

Di tengah malam nan dingin seperti ini, seorang gadis seperti dirinya, jika isi hatinya dikorek orang,

apa pula yang bisa ia katakan? Agaknya Toa-hoan punya banyak persoalan yang ingin dibicarakan

dengan Cia Giok-lun. “Aku tidak punya kakak, tidak punya adik, sejak kecil sebatang kara, aku ini

anak yatim piatu,” demikian kata Toa-hoan.

“Betul, aku juga anak tunggal, tidak punya saudara besar maupun kecil, sejak kecil orang yang

terdekat dengan aku hanya engkau,” demikian kata Cia Giok-lun. “Selama hidup hingga kini tidak

pernah aku membayangkan bahwa kau akan membuatku celaka begini. Aku sudah menganggap kau

sebagai saudaraku sendiri, maka aku tidak pernah menaruh curiga sedikit pun terhadapmu. Oleh

karena itu, waktu kau menutuk Hiat-toku hari itu, sungguh aku terkejut setengah mati.” Setelah

menghela napas, Cia Giok-lun meneruskan, “Sekarang aku sudah mengerti, sudah maklum bahwa

kau memang pantas menjadi saudaraku yang sejati. Apa yang kau lakukan memang bertujuan baik,

demi masa depanku. Tetapi waktu itu, kecuali kaget, aku juga dendam dan membencimu.”

Toa-hoan berdiri diam saja menghadap keluar jendela, tidak menoleh juga tidak menanggapi

perkataannya.

Cia Giok-lun melanjutkan, “Jika waktu itu aku pingsan oleh tutukanmu, mungkin agak mending.

Sayang sekali, meski badan tidak bisa bergerak, tapi aku masih dalam keadaan sadar. Apa yang kau

lakukan atas diriku bisa kurasakan dengan jelas, aku tahu apa yang kau lakukan atas diriku.” Suara

Cia Giok-lun amat kalem, “Kejadian itu takkan kulupakan selama hidupku.” Setelah menghela

napas, ia menyambung, “Kau membawa aku ke balaikota, kau mengurungku dalam sebuah kamar

remang-remang, membelejeti pakaianku hingga aku telanjang bulat, lalu merebahkan aku di atas

ranjang yang keras dan dingin. Tak lama kemudian kau membawa laki-laki untuk melihat badanku

yang bugil, setiap perbuatanmu kuketahui dengan jelas.”

Mendadak Toa-hoan menghela napas, katanya, “Waktu itu aku kira kau sudah pingsan dan tidak

sadarkan diri, maka…….”

Cia Giok-lun tidak memberi kesempatan, ia bertanya, “Tahukah kau, bagaimana perasaan hatiku

waktu itu? Tahukah kau, bila gadis perawan dalam keadaan polos dilihat seorang lelaki, betapa

remuk hatinya, saking malu rasanya ingin mati saja.”

“Aku tidak tahu,” sahut Toa-hoan. Ya, tidak tahu karena tidak mengalami dan merasakan sendiri.

“Sudah tentu kau tidak tahu,” ujar Cia Giok-lun. “Karena kau belum pernah dibelejeti pakaianmu,

belum pernah ada laki-laki yang melihat tubuhmu dalam keadaan telanjang bulat.” Dengan tertawa

Cia Giok-lun menyambung, “Tapi kutanggung kau akan segera merasakan sendiri.”

Muka Toa-hoan berubah, mendadak tubuhnya melompat ke atas menerobos jendela menerjang

keluar. Sayang gerakannya masih terlambat setindak. Di saat tubuhnya melompat keluar, Cia Gioklun

sudah turun tangan dari belakang, sekali gerak beberapa Hiat-to di belakang tubuhnya telah

tertutuk hingga tubuhnya tak berkutik lagi.

Cia Giok-lun hendak membalas. Toa-hoan sadar dan waspada, maka ia berusaha melarikan diri.

Siapa pun pasti berpikir demikian, dugaan demikian memang masuk akal. Tapi kalau berpendapat

demikian, maka adalah salah besar, meleset.

Rona muka Toa-hoan berubah lalu melompat keluar jendela, itu benar, tapi Toa-hoan melompat

keluar dan berubah kaget air mukanya bukan karena ia takut atas pembalasan Cia Giok-lun, bukan

karena ia takut Cia Giok-lun menyerang dirinya. Hakikatnya ia tidak mendengar apa yang

dibicarakan Cia Giok-lun tadi terhadap dirinya.

Mukanya berubah lalu melompat keluar karena Toa-hoan melihat suatu kejadian yang mengerikan,

peristiwa yang menakutkan. Siapa saja pasti kaget melihat kejadian itu, kejadian yang tak pernah

diduga akan disaksikan oleh dirinya sendiri.

Jika saat itu ia sempat membeberkan kejadian yang ia saksikan, kejadian yang lebih menakutkan

tentu takkan berkepanjangan. Sayang Hiat-tonya tertutuk, ia tak bisa bicara. Cia Giok-lun sudah

menutuk beberapa jalan darah di punggungnya, termasuk jalan darah di leher yang membuatnya

bisu. Jangan kata bicara, menjerit pun tidak sempat lagi.

———————————————–ooo00ooo————————————————

Jika Cia Giok-lun tahu Toa-hoan telah menyaksikan suatu peristiwa yang mengerikan, pasti ia juga

terkejut. Sayang Cia Giok-lun tidak melihat, juga tidak tahu, maka ia masih tertawa-tawa, tawa

yang riang malah.

“Sekarang kau akan tahu bagaimana perasaan hatiku waktu itu,” kata Cia Giok-lun sambil

cekikikan. “Karena akan kugunakan cara yang kau gunakan terhadapku tempo hari untuk membalas

perbuatanmu sendiri. Biar Ma Ji-liong juga melihat tubuhmu yang bugil. Hihihi……..”

———————————————–ooo00ooo————————————————–

Ma Ji-liong juga tidak bisa tidur. Ia ingin mengajak Ji Liok mengobrol. Sayang, begitu merebahkan

diri, Ji Liok lantas mendengkur, tidur lelap.

Ji Liok bukan kaum persilatan, bukan pendekar Bulim yang kenamaan, juga bukan anak hartawan

besar yang suka royal dan pelesir, anak orang berada yang suka kelayapan malam.

Ji Liok tidak punya sesuatu yang harus dibuat bangga seperti orang ternama yang harus jaga gengsi

dan mempertahankan kedudukannya. Ia tak punya persoalan yang merisaukan benaknya seperti

orang-orang gede yang banyak terlibat kegiatan.

Diam-diam Ma Ji-liong menghela napas, dalam hatinya timbul keinginan untuk menjadi manusia

awam seperti Ji Liok saja, hidup bersahaja, setiap malam tidur menggeros dan lelap setiap rebah di

ranjang, tanpa memikirkan tetek-bengek, merisaukan persoalan apa pun.

Sayang Ma Ji-liong ditakdirkan lahir dalam keluarga besar. Sayang dia adalah Ma Ji-liong,

pendekar kita yang tidak boleh ditawar. Tapi perasaan Ma Ji-liong itu hanya sekedar pelampiasan

kekesalan hatinya saja. Tidak pernah terbetik dalam benaknya rasa sesal karena dirinya terfitnah

dan mengalami peristiwa yang membuatnya sengsara. Harkat seorang pendekar sudah melekat

dalam sanubarinya. Seorang pendekar mutlak harus mengabdikan diri untuk kepentingan orang

banyak, mempertahankan kepribadian, membela keadilan dan kebenaran. Harkat pendekar sudah

berjiwa raga pada darah daging Ma Ji-liong.

————————————————ooo00ooo—————————————————

Daun jendela setengah tertutup, deru angin malam merintih-rintih di luar. Mendadak Ji-liong

melihat bayangan seseorang yang sedang melambaikan tangan kepadanya di luar jendela.

Ma Ji-liong melihat Cia Giok-lun sedang melambaikan tangan dengan isyarat supaya ia keluar.

Begitu Ma Ji-liong berada di luar, Cia Giok-lun lantas berbisik, “Akan kubawa kau melihat

sesuatu.” Bersinar bola mata Cia Giok-lun, “Kutanggung kau pasti senang melihatnya.” Tawanya

penuh arti, tawa yang riang, sudah tentu Ma Ji-liong tertarik. Ia ingin tahu, maka tanpa bicara ia ikut

saja waktu diseret Cia Giok-lun.

Mereka kembali ke kamar di mana Cia Giok-lun dan Toa-hoan tinggal. Lewat jendela mereka

melompat masuk. Di atas lantai ada dua gulung tikar. Tadi Cia Giok-lun merebahkan Toa-hoan di

salah satu gulungan tikar, lalu menutupnya pula dengan gulungan tikar yang lain.

“Coba kau singkap tikar penutup itu,” demikian pinta Cia Giok-lun. “Lihat dulu ujung yang sini,

lalu lihat lagi ujung yang sana.” Pertama ia ingin Ma Ji-liong melihat kaki Toa-hoan, lalu melihat

wajah, dada dan tubuhnya.

Tanpa bicara lagi Ma Ji-liong melakukan permintaan Cia Giok-lun. Ia menyingkap dahulu tikar di

sebelah sini dan melongok ke bawah, seketika roman mukanya berubah. Bila ia melongok pula

ujung yang sebelah sana, roman mukanya berubah jelek dan ngeri.

Cia Giok-lun masih tertawa cekikikan, katanya, “Semula aku tidak mengira kau akan terkejut

sedemikian rupa, karena kau pasti bisa menduga bahwa aku harus dan berhak menuntut balas

padanya.”

Makin menakutkan perubahan rona Ma Ji-liong. Cukup lama ia berdiri menjublek, lalu balas

bertanya, “Kepada siapa sebenarnya kau hendak menuntut balas?”

“Sudah tentu kepada Toa-hoan,” ucap Cia Giok-lun sambil tertawa. “Dulu bagaimana dia

memperlakukan aku, sekarang begitu pula aku balas mempermainkan dia.”

“Dulu bagaimana dia mempermainkan kau, sekarang dengan cara itu pula kau balas

mempermainkan dia,” Ma Ji-liong mengulang perkataan Cia Giok-lun, suaranya seperti rintihan

orang yang kesakitan setelah punggungnya dibacok dengan golok.

“Apakah kau juga menutuk Hiat-tonya? Apakah kau menutupnya di bawah tikar ini?” tanya Ma Jiliong

dengan suara gemetar.

Cia Giok-lun memanggut, menggigit bibir sambil tertawa senang.

Tanpa bicara lagi, mendadak Ma Ji-liong berjongkok terus menyingkap tikar penutup itu dengan

sendalan keras ke pinggir.

Semula Cia Giok-lun masih tertawa riang, tapi mendadak kulit mukanya menjadi kaku, tawanya

pun membeku menjadi seringai getir, mimik mukanya seperti orang yang ditusuk pisau pantatnya.

Masih segar dalam ingatannya, sekarang dirinya pun masih segar, jelas tadi ia merebahkan Toahoan

di atas tikar lalu menutupnya dengan tikar yang lain. Tapi begitu Ji-liong menyingkap tikar ke

pinggir, yang berada di bawah tikar ternyata bukan lagi Toa-hoan, tetapi si kakek timpang yang

bungkuk lagi bisu tuli penjaga gedung ini.

Bab 34: Malam Yang Menakutkan

Kakek timpang yang cacat ini tak berbeda lagi dengan kebanyakan manusia, karena sekarang dia

sudah mati, mayatnya rebah di bawah tikar yang disingkap Ji-liong.

Setiap orang akhirnya pasti mati. Orang mati sudah tentu sama, kaku dingin tidak bernapas lagi.

Entah bagaimana dia mati, mati dibunuh, mati sakit atau kecelakaan, setelah dia mati, tubuhnya

akan kaku menjadi mayat. Peduli di masa hidupnya dia seorang Enghiong, seorang Pendekar,

perempuan cantik atau ratu sekalipun, setelah mati dia akan berubah dalam bentuk yang sama,

sebagai mayat yang tak mampu berbuat apa-apa lagi.

Namun dalam seribu satu kesamaan itu, ada satu perbedaannya. Perbedaan yang menyolok di atas

mayat yang satu ini dengan mayat lain pada umumnya, walau kakek bungkuk lagi timpang ini

sudah mati, namun sepasang tangannya saling genggam di depan perutnya. Seperti seorang budak

miskin yang menggenggam kantong uangnya, harta miliknya yang dipertahankan dari rebutan

pembunuhnya. Barang apakah yang tergenggam di kedua tangannya?

Perlahan Ma Ji-liong berjongkok, perlahan pula ia membuka genggaman tangan kakek timpang itu.

Begitu jari tangan si kakek ia kendorkan dan terbuka, seketika air mukanya berubah pucat dan

panik. Ternyata yang tergenggam di kedua tangan kakek cacat ini hanyalah sebutir batu, batu

bundar hitam dan mengkilap sebesar buah duku.

Hanya di lembah mati ada batu hitam bulat dan mengkilap seperti ini.

Tanpa sadar Cia Giok-lun memekik seram, “Bu-cap-sah!”

Jikalau Bu-sap-sah yang datang ke mari, lalu di mana Toa-hoan?

Sudah tentu Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun tidak bisa menjawab teka-teki ini, malah menduga atau

memikir juga tidak berani.

Satu persoalan kembali mengganjal dalam sanubari mereka. Rencana Ji Liok cukup rapi dan amat

dirahasiakan, dengan cara apa Bu-cap-Sah dapat menemukan jejak mereka dan menyusul ke mari?

——————————ooo00ooo—————————–

Semenjak jadi buronan, belum pernah Thiat Tin-thian dapat tidur pulas, demikian pula kali ini.

Sebetulnya ia juga masih buron, tapi ia percaya akan rencana kerja Ji Liok, yakin bahwa kawankawan

yang lain pasti dapat menanggulangi bersama segala persoalan. Badan agak segar setelah

lukanya agak sembuh, namun setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya merasa penat

juga, maka Thiat Tin-thian kali ini dapat tidur dengan nyenyak. Umumnya kawakan Kangouw

seperti dirinya, bila ada kesempatan tidur, biasanya tidak akan disia-siakan, apalagi ia yakin

persembunyian mereka di gedung ini cukup aman. Akan tetapi sebagai kawakan Kangouw, meski

tidur nyenyak juga mudah terjaga oleh sesuatu gerakan atau suara lirih sekalipun.

Thiat Tin-thian terjaga oleh suara yang aneh. Waktu ia celingukan, ternyata Ong Ban-bu sudah

tidak kelihatan, tikar yang disediakan untuk alas tidurnya juga ikut lenyap. Padahal kamar itu hanya

ada satu pintu dan satu jendela, pintu dan jendela masih terpalang dari dalam, jelas tidak pernah

disentuh atau dibuka orang. Tin-thian yakin tidak mendengar suara Ong Ban-bu membuka jendela

atau pintu, apalagi daun jendela tertutup rapat dan terpalang lagi, tidak mungkin Ong Ban-bu

memasang palang lagi dari luar jendela. Tapi persoalan sudah jelas, pintu dan jendela tidak pernah

dibuka, namun Ong Ban-bu lenyap tak keruan parannya, cara bagaimana dia meninggalkan kamar

ini?

Penjelasan yang paling benar adalah di kamar ini ada pintu rahasia, atau lorong bawah tanah. Dalam

gedung besar milik hartawan kaya raya, tidak heran kalau dibuat juga pintu rahasia atau dinding

berlapis, apalagi gedung ini dibangun sendiri oleh Ji Liok yang serba ahli.

Dengan pengalamannya Thiat Tin-thian tak mampu menemukan pintu rahasia ini, sudah tentu ia

lebih heran dan bertanya-tanya lagi. Maklum Ong Ban-bu juga seperti dia, baru pertama kali datang

ke tempat ini. Kalau ia tidak bisa menemukan rahasianya, dari mana Ong Ban-bu bisa

menemukannya dan menghilang?

Kecuali itu sudah tentu masih ada lagi persoalan lain.

Kenapa tadi Ong Ban-bu tidak tidur di tempat yang sudah disediakan untuk dirinya? Kenapa secara

diam-diam mengeluyur keluar? Umpama ia mau keluar juga tidak perlu main sembunyi. Kecuali

ada sesuatu yang harus dirahasiakan, apalagi keluar lewat jalan rahasia?

Thiat Tin-thian memang orang kasar. Beberapa persoalan ini tidak dipikir olehnya, satu hal yang

tidak dimengerti memang tak pernah ia pikirkan lebih lanjut, sekarang ia mulai beraksi.

Waktu ia membuka pintu dan melangkah keluar, saat itulah Cia Giok-lun memanggil Ji-liong serta

mengajak ke kamarnya.

Kebetulan Thiat Tin-thian memergoki mereka, tapi ia diam saja malah menyembunyikan diri tak

mau mengganggu. Di malam dingin di bawah rembulan remang-remang, bila seorang pemuda

berkencan dengan seorang gadis, bisik-bisik atau lagi bermain cinta, kenapa aku harus mengganggu

mereka? Demikian batin Thiat Tin-thian. Maklum sebagai buronan yang sudah cukup lama terasing

dari dunia ramai, Thiat Tin-thian juga adalah laki-laki normal meski usianya sudah lebih setengah

abad, rangsangan nafsu masih menguasai jiwanya. Kecuali pantang mengganggu keasyikan orang,

ia pun berusaha menghindarkan diri supaya tidak mengundang goncangan perasaan sendiri.

Sekarang ia hanya ingin mencari Ong Ban-bu.

Kamar dimana mereka tinggal terletak di bagian luar dari bilangan tengah, di belakang kamar

mereka adalah sebuah taman besar yang berada di paling belakang. Maklum gedung ini belum

selesai dibangun seluruhnya, maka taman kembang ini juga masih setengah rampung. Di tengah

malam yang dingin di musim semi ini, terasa keadaan di sini agak lembab dan seram.

Pelahan dan hati-hati, penuh kewaspadaan lagi, Thiat Tin-thian beranjak di jalanan kecil yang

ditaburi batu-batu kerikil. Mendadak ia mendengar suara ganjil dari belakang gunungan sana, suara

orang yang lagi mrerintih. Sukar Tin-thian membedakan suara rintihan siapa, namun terasa olehnya

suara rintihan itu diliputi siksa derita yang luar biasa, gejolak nafsu yang tidak terlampias.

Di belakang gunungan batu karang itu terdapat sebuah kolam. Walau kembang teratai belum

berbunga, tapi air kolam kelihatan jernih dan mengalir kalem ke pinggir selokan dengan suaranya

yang gemercik lembut.

Waktu Thiat Tin-thian tiba di pinggir gunungan, tampak seorang muncul dari dalam air kolam yang

jernih, begitu melompat keluar lalu menjatuhkan diri di pinggir kolam yang berlumpur, tubuh yang

bugil itu tampak mengejang dan menggigil, kedua tangannya juga terangkap kaku di tengah kedua

selangkangannya.

Laki-laki telanjang yang meringkel di tanah sambil merintih ini ternyata bukan Ong Ban-bu, dia

adalah Coat-taysu.

——————————ooo00ooo——————————-

Thiat Tin-thian menjublek di tempatnya. Tak pernah terbayang dalam ingatannya bahwa Coat-taysu

bisa berubah seperti itu di kala gejolak nafsunya tak terkendali lagi. Namun lekas sekali ia maklum

kenapa Coat-taysu begitu menderita.

Coat-taysu juga manusia, laki-laki normal. Ia pun punya keinginan, punya nafsu, ada saatnya ingin

menyalurkan keinginannya itu seperti laki-laki umumnya, kalau tidak punya bini bisa jajan di luar,

tapi Coat-taysu adalah orang beribadat, tokoh silat yang meyakinkan ilmu dengan pantangan harus

menjaga keperjakaannya alias tidak boleh kawin, sudah tentu sukar ia menyalurkan keinginan yang

mendesak. Terpaksa di tengah malam buta rata, di luar tahu orang lain, seorang diri diam-diam ia

membenamkan diri dalam air dingin berusaha menekan gejolak nafsunya itu, dengan air dingin ia

berusaha mencuci otaknya.

Mendadak Thiat Tin-thian sadar Coat-taysu juga seorang yang harus dikasihani. Sikap yang dingin

kaku, watak yang aneh adalah akibat dari nafsu yang sekian tahun terbenam, tertekan dan tak

pernah tersalurkan secara wajar.

Mendadak Coat-taysu melompat sesigap kelinci karena terkejut oleh daya ciumnya yang tajam,

inderanya memperingatkan sesuatu tengah mengintai gerak-geriknya. Lekas sekali ia meraih baju

lalu mengenakannya, dengan tertegun ia mengawasi Thiat Tin-thian yang masih menjublek.

Selang beberapa kejap kemudian, Thiat Tin-thian menghela napas, katanya kalem, “Tidak usah kau

kuatir dan takut, aku berjanji tidak akan membicarakan dirimu dengan orang lain. Apa yang kulihat

malam ini, anggaplah tidak pernah terjadi, kejadian ini takkan diketahui orang ketiga. Kalau aku

melanggar janji, biarlah aku mati tanpa liang kubur.”

Dapat dibayangkan betapa kaget, gugup, malu, dan sesal perasaan Coat-taysu, apalagi yang

memergoki dirinya adalah Thiat Tin-thian, musuh besarnya. Mendadak ia bertanya dengan

beringas, “Apa kau tak tahu bahwa Thiat Coan-gi sudah mampus?”

Terkepal tinju Thiat Tin-thian, desisnya, “Kau yang membunuhnya?”

“Tak usah kau tahu siapa yang membunuhnya. Kalau kau ingin menuntut balas, sekarang juga boleh

kau turun tangan padaku,” demikian jengek Coat-taysu.

Thiat Tin -thian mengawasi dengan dada berombak, namun lambat laun ia dapat menguasai diri.

Bukan saja tidak bermaksud turun tangan, ia malah menghela napas. “Sekarang aku tak boleh

membunuhmu,” demikian kata Thiat Tin-thian lesu.

“Kenapa?” Coat-taysu meraung.

Karena Thiat Tin-thian merasa simpatik dan kasihan terhadap Coat-taysu, nafsu membunuh tidak

membakar hatinya. Sudah tentu Thiat Tin-thian tidak melontarkan pikirannya. Saat itulah, sebelum

ia bicara, dari kejauhan di depan sana terdengar lengking jeritan.

Itulah jeritan Cia Giok-lun waktu ia melihat mayat di bawah tikar yang disingkap Ma Ji-liong.

——————————ooo00ooo—————————–

Tiada noda darah, mayat itu memang tidak terluka, kakek timpang ini mati karena jantungnya

tergetar hancur oleh pukulan tenaga dalam yang amat dahsyat. Tenaga lunak yang mengandung

kekuatan hebat, pukulan yang hanya menggetar hancur jantung orang, tapi tidak meninggalkan

bekas pukulan sedikit pun di luar tubuh si korban.

Waktu Thiat Tin-thian memburu tiba, Ji Liok juga berlari datang. Sikapnya kelihatan gugup, kaget,

dan gusar.

“Siapa yang membunuhnya?” tanya Ji Liok. “Mengapa membunuh orang cacat yang tidak

berdosa?”

Thiat Tin-thian juga gusar, serunya, “Pembunuh itu tidak perlu memakai alasan untuk merenggut

jiwa orang.”

“Maksudmu Bu-cap-sah?” teriak Ji Liok penasaran.

“Siapa lagi kecuali dia?” ujar Thiat Tin-thian.

Ji Liok terbelalak kaget, serunya, “Bagaimana mungkin dia menemukan tempat ini? Apakah

rencanaku kurang rapi?”

Hal ini juga terpikir oleh orang banyak.

“Ya, aku sudah mengerti,” tiba-tiba Cia Ciok-lun berkata.

“Kau mengerti apa?” tanya Ji Liok.

“Kalau iblis laknat itu dapat mendengar suara kura-kura bertelur, tentu dia juga mendengar orang

menggali tanah. Kukira dia sudah menunggu di mulut lorong bawah tanah itu, sejauh ini dia selalu

mengawasi gerak gerik kita.”

“Tidak benar,” sahut Ji Liok tegas. “Dia pasti tak mendengar aku menggali tanah.”

“Kenapa tidak mendengar?” tanya Thiat Tin-thian.

“Kalau dia mendekam di tanah dan mendekatkan telinganya ke bumi serta mendengarkan dengan

seksama, mungkin bisa mendengar,” demikian kata Ji Liok. “Kurasa dengan cara itu pula baru dia

bisa mendengar kura-kura bertelur.”

Apalagi ‘kura-kura bertelur’ paling hanya sebagai ungkapan kata untuk melukiskan ketajaman

kuping seseorang belaka. Apa betul kura-kura bertelur mengeluarkan suara? Yakin tiada manusia di

dunia ini yang pernah mendengarnya, siapa pun tidak tahu kapan dan bagaimana kura-kura bertelur.

“Waktu aku menggali tanah, seluruh perhatian Bu-cap-sah ditujukan untuk mendengarkan gerakgerik

kalian di dalam toko, mana mungkin mendengar suara orang menggali tanah di dalam bumi?”

Ji Liok berkata penuh keyakinan. “Kami juga bekerja dengan waspada, amat hati-hati, boleh dikata

setiap cangkul dan sekop bekerja tidak menimbulkan suara sedikit pun.”

Kalau Ji Liok amat yakin pada dirinya, adalah lumrah bila orang lain menaruh kepercayaan penuh

kepadanya, maka persoalan kembali pada titik keluar semula.

“Jika Bu-cap-sah tidak mendengar suara kalian menggali tanah, berarti rencana ini cukup sempurna,

lalu cara bagaimana dalam jangka setengah malam dia mampu mengejar ke tempat ini?”

“Hanya ada satu titik kelemahan dalam rencana ini,” mendadak Thiat Tin-thian bersuara.

“Di mana titik kelemahannya?” tanya Ji Liok.

“Pada Ong Ban-bu,” sahut Thiat Tin-thian.

Ji Liok berkata, “Kau anggap dia mata-mata? Sepanjang jalan dia meninggalkan tanda rahasia

sehingga Bu-cap-sah dapat menyusul ke sini?”

Pertanyaan ini sebetulnya merupakan jawaban pula. Kecuali Ong Ban-bu, tidak mungkin orang

kedua di sini yang patut dicurigai sebagai mata-mata. Kalau tiada mata-mata lawan, bagaimana

mungkin Bu-cap-sah dapat menguntit sampai di sini.

“Di mana sekarang Ong Ban-bu?” tanya Ji Liok.

“Dia menghilang tidak keruan parannya,” sahut Thiat Tin-thian. “Waktu aku terjaga tadi, dia sudah

menghilang entah ke mana.”

“Kenapa kau terjaga?” tanya Ji Liok.

“Aku terjaga oleh suara aneh,” tutur Thiat Tin-thian. “Sebetulnya sukar aku membedakan suara

apakah itu, sekarang baru terpikir olehku, kemungkinan sekali suara orang membuka pintu rahasia

di bawah tanah.”

Ji Liok segera membuktikan kebenaran dugaan ini, “Kamar yang kau tempati ini, memang akan

dijadikan kamar buku pemilik rumah ini. Di waktu dia menjabat pembesar tinggi dulu, mungkin

tidak sedikit musuhnya, maka dia minta dibuatkan sebuah kamar rahasia di bawah tanah.”

“Tapi aku tidak bisa menemukan,” ujar Thiat Tin-thian.

Pintu rahasia di bawah tanah itu dibuat oleh Ji Liok, sudah tentu orang lain sukar menemukan,

untung ia memberi petunjuk bagaimana menemukan dan membuka pintu rahasia itu.

——————————ooo00ooo—————————–

Sebagai kamar buku pemilik gedung besar yang kaya raya, sudah tentu kamar itu amat besar dan

luas. Semula Ong Ban-bu tidur di dekat jendela sebelah pojok sana. Ternyata pintu rahasia itu tepat

di bawah tikar di mana tadi dia tidur. Bila alat rahasianya diputar, pintu rahasia lantas terbuka,

dengan mudah dia bisa melarikan diri lewat pintu rahasia yang menjeplak terbalik.

Bahwa Thiat Tin-thian tidak menemukan tombol untuk membuka pintu rahasia itu, karena alat

rahasianya dipasang pada vas bunga di atas ukiran daun jendela di sebelah atasnya.

Begitu Ji Liok memuntir ukiran daun di atas jendela, papan atau tepatnya pintu rahasia lantas

terbalik, maka muncullah pintu rahasia di bawah tanah. Lorong bawah tanah itu lembab lagi apek,

jalan keluarnya di mulut sumur. Sudah tentu sumur yang satu ini juga tidak berair. Walau di sini

tidak ada air, tapi mereka menemukan sesosok tubuh, seorang yang sudah menjadi mayat, sesosok

mayat yang dibungkus tikar. Tikar adalah alas tidur. Tikar kasar dan murah harganya, orang yang

tergulung dalam tikar itu memang bukan lain adalah Ong Ban-bu.

Bab 35: Setelah Kentongan Ketiga

Mayat Ong Ban-bu juga tidak terluka, tiada noda darah pula, jantungnya tergetar hancur oleh

pukulan lunak yang amat dahsyat, itulah penyebab kematiannya.

“Kenapa ia pun dibunuh?” yang bertanya adalah Cia Giok-lun.

Yang menjawab Thian Tin-thian, “Dia memang pantas dibunuh. Orang yang menjadi mata-mata,

mengkhianati sahabat, memang beginilah nasibnya.”

“Kau kira Bu-cap-sah sengaja membunuhnya supaya rahasia dirinya tidak terbongkar?” tanya Ji

Liok.

Ya, memang demikian. Secara langsung pertanyaan itu sudab terjawab, satu-satunya kemungkinan,

juga satu-satunya jawaban.

Pertanyaan yang tidak bisa dijawab orang yaitu Bu-cap-sah di mana? Toa-hoan di mana? Dengan

cara keji apa Bu-cap-sah akan menyiksa atau mempermainkan Toa-hoan?

Mereka tidak berani memikirkan persoalan ini, menduga pun mereka tidak berani.

——————————ooo00ooo—————————–

Kentongan berbunyi tiga kali, kentongan ketiga adalah saat yang membuat orang putus jiwa dan

melayang sukma.

Mendadak Thiat Tin-thian teringat pada Coat-taysu. Waktu mendengar jeritan kaget Cia Giok-lun

tadi, Thiat Tin-thian langsung memburu ke sana, tapi Coat-taysu tetap berada di pinggir kolam di

taman belakang.

Padahal ia pun mendengar jeritan itu, pantasnya ia menduga di sini telah terjadi sesuatu yang

menakutkan, seharusnya ia pun memburu ke mari. Tapi ia tidak datang, bayangannya tidak

kelihatan, entah apa yang sedang dilakukan di sana.

Apa Coat-taysu juga dibunuh seperti Ong Ban-bu? Setelah jiwa melayang, mayatnya

disembunyikan di suatu tempat gelap dalam gedung kosong dan menakutkan ini?

Di tangannya juga menggenggam sebutir batu hitam?

Tempat ini mulai dilingkupi suasana seram, bayangan gelap yang sewaktu-waktu siap untuk

merenggut jiwa manusia. Setiap orang di antara mereka mungkin menjadi korban berikutnya,

disergap dan dibunuh secara keji.

Kakek timpang yang cacat tubuh itu sudah menjadi korban yang pertama, kedua adalah Ong Ban-bu

dan ketiga mungkin sekali adalah Coat-taysu, lalu giliran siapa pula selanjutnya?

——————————ooo00ooo—————————–

Kentongan ketiga baru saja lewat, tabir malam makin kelam. Mungkin sekali korban berikutnya

yang akan jatuh menjelang fajar lebih banyak. Pembunuh kejam itu laksana setan gentayangan, siap

mengintai jiwa mereka, sedikit lena jiwa bisa melayang. Mungkin sekali dari tempat

pcrsembunyiannya pembunuh itu sudah mengincar salah satu korban di antara mereka.

Ma Ji-liong insyaf sekarang sudah tiba saatnya untuk mengambil keputusan tegas. “Kalian lekas

pergi saja,” demikian katanya.

“Pergi?” teriak Cia Giok-lun. “Pergi ke mana?”

“Terserah kalian mau pergi ke mana, asal lekas meninggalkan tempat ini.”

“Kau suruh kami pergi, lalu apa yang akan kau lakukan di sini?” tanya Cia Giok-lun sengit.

“Aku….” tersendat suara Ma Ji-liong.

Mendadak Cia Giok-lun berkata keras, “Aku tahu apa yang akan kau lakukan, kau akan tinggal di

sini mencari Toa-hoan. Jika kau tidak menemukan dia, kau pasti tak mau pergi.”

Ji-liong memanggut. Katanya, “Apa aku tidak pantas mencarinya?”

“Ya, memang kau pantas mencari dia,” jengek Cia Giok-lun. “Tapi kenapa tak kau pikirkan? Apa

kau bisa menemukan dia? Kalau ketemu memangnya kenapa? Memangnya kau mampu merebut dia

dari tangan Bu-cap-sah? Apa kau kira Bu-cap-sah tak berani membunuhmu?” Makin bicara makin

emosi, “Tujuanmu hanya mencari dia. Kecuali Toa-hoan, memangnya kami bukan manusia?

Kenapa kau tak memikirkan kepentingan orang lain? Kenapa tak memikirkan keselamatanmu

sendiri?” Pada kalimat yang terakhir, air matanya sudah tidak terbendung lagi, ia menangis terisak.

Mereka yang hadir sama-sama tahu kenapa Cia Giok-lun meneteskan air mata. Sudah tentu Ma Jiliong

juga maklum, tapi sepatah kata pun ia tidak bicara lagi. Tidak bicara maksudnya ia tidak perlu

bicara lagi. Apa yang perlu dibicarakan sudah dibicarakan, apa pun anggapan orang lain, ia tetap

akan tinggal di sini.

Cia Giok-lun menggigit bibir lalu membanting kaki, serunya, “Baiklah, kalau kau ingin mampus

biar kau mampus sendiri, mari kita pergi.” Jelas ia sudah bertekad pergi, tapi kakinya tidak

melangkah meski hanya setengah tindak.

Mungkin karena ia membanting kaki sekuat tenaga hingga kakinya tertanam dan berakar di lantai.

Mirip pohon besar yang sudah berakar dalam bumi, begitu berat untuk beringsut selangkah

sekalipun.

Akhirnya Ma Ji-liong menghela napas, katanya halus, “Sebetulnya kau juga harus maklum. Jikalau

yang hilang bukan Toa-hoan, umpama kau yang diculik musuh, aku juga akan tinggal di sini

mencarimu.”

Sebelum Ma Ji-liong habis bicara, Cia Giok-lun sudah menangis terisak-isak, air matanya

bercucuran dengan deras.

Mendadak Thiat Tin-thian mendongak sambil bergelak tawa, katanya, “Sekarang aku sudah

mengerti.”

“Kau mengerti apa?” sentak Cia Giok-lun.

“Semula aku berpendapat, orang yang tidak takut mati adalah orang yang tidak punya perasaan,

tidak kenal cinta kasih. Sekarang barulah aku sadar, aku salah,” demikian kata Thiat Tin-thian.

“Ternyata orang yang punya perasaan, punya rasa cinta terhadap sesamanya lebih tidak takut mati.

Karena benih cinta bersemi dalam sanubari mereka, segala persoalan sudah dibuang jauh, sudah

dilupakan seluruhnya.” Dengan keras ia menepuk pundak Ma Ji-liong, “Kalau kau tidak pergi, kami

pun takkan pergi. Sebelum Toa-hoan ditemukan, entah mati atau masih hidup, siapa pun takkan

pergi atau berpisah dengan engkau.”

Baru saja habis bicara, mendadak tubuh Thiat Tin-thian melompat jauh keluar jendela terus berlari

secepat anak panah.

Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun juga ikut memburu keluar.

Ternyata di saat mereka bicara, tepat waktu Thiat Tin-thian habis bicara, di luar terdengar ringkik

kuda, ringkik kuda yang terkejut lalu dibedal kencang. Agaknya ada orang melarikan kereta kuda

itu keluar dari pekarangan gedung.

Ternyata pintu gerbang besar dan berat itu juga sudah terbuka lebar. Ringkik kuda masih

berkumandang di kejauhan, suara roda kereta yang menggelinding di jalan raya berlapis papan batu

hijau itu pun menimbulkan gema yang ramai di tengah malam yang sunyi.

Kusir kereta yang memegang kendali waktu kereta datang tampak menggeletak di undakan. Kaki

tangannya sudah dingin, di tangannya juga menggenggam sebutir batu hitam mengkilap.

Siapakah yang mengendalikan kereta? Siapa pula yang dibawa lari?

Kereta itu dilarikan dengan kencang sekali, hanya sekejap sudah pergi jauh. Tapi di tengah malam

nan hening, derap lari kuda dengan roda kereta yang gemuruh sayup-sayup masih terdengar di

kejauhan, maka untuk mengejarnya tidak perlu kuatir kehilangan jejak.

“Kejar!” teriak Thiat Tin-thian memberi tanda sambil mementang kedua lengan, segera ia

kembangkan Ginkang Pat-pou-kan-sian (Delapan Langkah Mengejar Tonggeret), bagai anak panah

tubuhnya meluncur tangkas mengejar ke arah larinya kereta.

Setiap insan persilatan sudah tahu adanya Ginkang lihai ini, siapa pun pernah mendengar nama Patpou-

kan-sian. Tapi orang yang betul-betul mampu meyakinkan Ginkang yang satu ini, jelas tidak

sebanyak yang diduga orang.

Untung Ma Ji-liong mewarisi Thian-ma-hing-khong dari leluhur keluarganya. Thian-ma-hingkhong

juga salah satu ilmu meringankan tubuh yang sudah terkenal sejak puluhan tahun di

Kangouw.

Lekas sekali Ma Ji-liong sudah menyusul Thiat Tin-thian. Dapat berlari kencang beradu pundak

dengan Thiat Tin-thian yang sudah tersohor puluhan tahun di dunia persilatan, jelas merupakan

kejadian yang patut dibuat bangga.

Thiat Tin-thian ikut merasa bangga mendapat sahabat selihai ini Ginkangnya, maka ia menepuk

pundak Ma Ji-liong tanda memuji. Tapi lekas sekali mereka merasakan kemahiran Ginkang masingmasing

yang dibanggakan sebetulnya tldak pantas terlalu diagulkan, ternyata Ginkiang mereka tidak

sehebat yang pernah mereka bayangkan sendiri.

Cepat sekali Cia Giok-lun ternyata juga sudah menyandak mereka. Dengan berlari seringan kapas

melayang, Cia Giok-lun sudah berada di belakang mereka. Tanpa terasa mereka sudah berlari

beberapa li jauhnya, namun mereka tetap berjajar tiga. Kelihatannya Cia Giok-lun berlari tanpa

mengeluarkan tenaga sedikit pun, masih tersenyum-senyum lagi.

Sejak munculnya tukang jahit samaran Giok-jiu-ling-long, Cia Giok-lun sudah dipulihkan

keadaannya. Kesehatan maupun wajahnya sudah sembuh dan normal kembali. Ilmu silat serta

lwekangnya sudah pulih seperti sedia kala.

Dengan kekuatan gabungan mereka bertiga, apakah cukup menghadapi Bu-cap-sah yang dibantu

golok kilat pengawal Persia itu?

——————————ooo00ooo—————————–

Manfaat Ginkang yang paling utama bukan untuk menyerang musuh, tapi untuk mundur dan

bertahan. Peduli dalam pertarungan macam apa pun, kegunaan mundur dan bertahan pasti tidak

kalah besar artinya dibanding menyerang, karena kekuatan untuk berputar dan berkelit kadang kala

jauh lebih besar daripada tenaga menyerang.

Demikian pula di saat pengembangan Ginkang. Karena tenaga, napas dan kondisi tubuh merupakan

syarat penting yang menentukan, pasti tidak kalah besar artinya dibanding kalau seseorang sedang

melancarkan jurus silat macam apa pun.

Sembari berlari Cia Giok-lun masih dapat membuka suara dengan sikap wajar, “Kita pasti tak dapat

mengejarnya. Kuda penarik kereta itu kuda pilihan, bukan saja terlatih baik, daya tahannya juga

cukup kuat dan lama. Waktu duduk di dalam kereta tadi, diam-diam sudah kuperhitungkan betapa

pesat kecepatan lari keempat ekor kuda itu.”

Sudah tentu untuk bicara Cia Giok-lun juga harus berganti napas, “Sejak di mulai, kita memang

berlari lebih cepat dari keempat ekor kuda itu, maka dalam waktu singkat kelihatannya jarak makin

dekat, kita seolah bisa mengejarnya. Namun dalam jarak yang jauh, kita akan makin lambat dan

lemah, mereka justru berlari lebih kencang, mantap dan semangat.”

Manusia adalah makhluk unggul di antara segala makhluk yang hidup di dunia, makhluk yang

punya daya pikir. Manusia memperalat, menunggang, memecut dan menendang kuda, sementara

orang malah ada yang makan daging kuda, tulang kuda juga dimanfaatkan, demikian pula kulit

kuda untuk sepatu, tas dan lain sebagainya, tapi dalam hal adu lari temyata kuda lebih unggul

dibanding manusia.

Di situkah letak kekurangan manusia? Ataukah berarti untuk menyindir? Tiada orang yang bisa

memberi jawaban tentang pertanyaan ini.

Ma Ji-liong tahu perhitungan Cia Giok-lun tidak keliru, tapi ia tetap mengejar, tidak mengejar juga

harus dikejar. Itulah jawaban. Karena manusia punya akal sehat, tekad yang bulat dan teguh,

mempunyai keyakinan besar meski tahu dirinya tak unggul, tapi tetap akan mengejarnya. Itulah

senjata manusia, karena senjata yang ampuh ini maka manusia bisa mempertahankan kelangsungan

hidupnya turun-temurun.

——————————ooo00ooo—————————–

Mereka memang tidak mampu menyusul kereta kuda itu. Kereta itu makin jauh dan tak kelihatan

lagi. Namun begitu derap kaki kuda dan suara roda kereta di depan itu lenyap dari pendengaran,

dari belakang justru menyusul derap kaki kuda dan roda kereta yang berlari kencang bagai mengejar

setan, makin lama makin dekat. Ternyata Ji Liok menyusul atau tepatnya mengejar dengan sebuah

kereta lain. Ji Liok memang berangkat lebih lambat. Setelah memperoleh kereta, entah dari mana,

segera ia memburu dengan kencang. Kereta yang dibawa Ji Liok ternyata lebih panjang dengan

enam roda ditarik empat ekor kuda juga.

Lekas sekali ia sudah menyusul tiba serta suruh Ma Ji-liong, Thiat Tin-thian dan Cia Giok-lun naik

ke atas kereta, kejap lain kereta besar itu sudah mencongklang ke depan pula.

“Kita pasti dapat menyusul kereta itu ke tempat tujuannya,” demikian kata Ji Liok penuh keyakinan.

“Jalan ini lurus dan tidak bercabang, hanya satu jalan ini yang bisa mereka tempuh.”

“Jalan ini menuju ke mana?” tanya Cia Giok-lun.

“Ke lembah mati,” sahut Ji Liok.

Memangnya kenapa dan mau apa setelah mereka mengejar ke lembah mati? Kalau mereka bukan

tandingan Bu-cap-sah, setiba di tempat tujuan bukankah hanya akan menyerahkan jiwa belaka?

Tapi mereka tidak peduli, mereka tidak mau berpikir soal mati atau hidup.

Sekarang Cia Giok-lun dan Thiat Tin-thian seperti dihinggapi atau tepatnya ketularan tabiat Ma Ji –

liong, bekerja menurut prinsip, tidak peduli akibatnya.

Sikap Ma Ji-liong bisa dijelaskan dengan apa yang diucapkan oleh Cia Giok-lun, “Apa pun yang

akan terjadi, karena bukan setiap orang dapat pergi ke lembah mati, kalau kita bisa pergi ke sana,

mati pun tidak perlu dibuat kecewa.”

——————————ooo00ooo—————————–

Siapa pun tidak pernah ke lembah mati, lembah yang tidak pernah dihuni manusia maupun

binatang, maka tiada orang tahu di mana letak sesungguhnya lembah mati, seperti apa pula lembah

mati itu?

Kini tiap orang bisa membayangkan, menduga-duga, tempat itu bukan lagi daerah belukar, gersang

dan liar, daerah yang tak pernah dijelajah manusia. Dan di sana ada gunung emas, gudang emas

yang belum pernah dibayangkan manusia meski dalam mimpi.

Emas murni akan merubah segala bentuk daerah itu dari wajahnya yang semula. Sudah banyak

pemuda gagah sehat dan kemaruk harta ditarik ke tempat itu, ikut membangun istana megah yang

serba antik dan kaya. Itulah bayangan yang terjangkau oleh akal sehat mereka, setiap orang pasti

berpikir demikian.

Sayang sekali dugaan mereka keliru, mereka termakan tipu Bu-cap-sah, kenyataan tidaklah

demikian.

Bab 36: Lembah Mati

Lembah mati tetap lembah mati, tiada perubahan. Di sini tiada emas, tiada istana, apa pun tidak ada.

Secara misterius kereta kuda yang mereka kejar lenyap tak keruan parannya begitu masuk ke mulut

lembah mati, lenyap tanpa bekas.

———————–ooo00ooo———————-

Fajar menyingsing, sang surya telah terbit. Sinar pagi menyoroti batu-batu hitam yang kelihatan

mengkilap, terang gemerdep seperti sinar emas. Sayang batu hitam tetap batu hitam,tidak bisa

berubah jadi emas. Betapa pun terang sinar gemerdep yang dipantulkan oleh pancaran sinar surya di

permukaan batu bundar itu, ia tetap batu hitam yang tiada harganya, bukan emas murni yang dapat

membuat manusia kaya, juga dapat membuat manusia edan.

Di manakah adanya emas murni di dalam lembah ini?

Kalau di sini tidak ada emas, dengan apa Bu-cap-sah menarik pemuda-pemuda sebanyak itu? Kalau

di sini ada emas seperti yang diceritakan Bu-cap-sah, kenapa pasir emas pun tidak kelihatan?

———————–ooo00ooo———————-

Yang menarik perhatian Ma Ji-liong bukan emas juga bukan batu hitam, tapi Toa-hoan. Ia yakin

bila kereta itu ditemukan, mereka pasti dapat menemukan Toa-hoan juga.

Kereta kuda itu lari ke mana? Padahal kereta besar dengan empat kuda penariknya bukan barang

kecil yang bisa diangkat lalu dimasukkan dan disembunyikan di dalam kantong, bagaimana

mungkin dalam sekejap mata kereta kuda itu lenyap seperti kabut dihembus angin lalu?

“Di bawah,” mendadak Ma Ji-liong menarik kesimpulan.

“Apa yang di bawah?” tanya Cia Giok-lun.

“Kereta kuda, emas, manusia, semua ada di bawah,” demikian ucap Ma Ji-liong. “Mereka pasti

membangun istana di bawah tanah, istana yang besar dan megah.”

lni bukan khayalan. Emas dapat menghancurkan segala persoalan yang semula tidak bisa

dihancurkan. Dengan emas bisa melakukan perbuatan apa pun yang semula tidak bisa dilakukan,

dengan emas bisa mengendalikan setan untuk mengerjakan sesuatu yang diinginkan.

Kalau betul di tempat ini ada lubang rahasia, di antara mereka yang mampu menemukan rahasianya

hanyalah Ji Liok. Tapi Ji Liok menggelengkan kepala. “Kau keliru,” katanya. “Mereka pasti tak di

bawah tanah, tapi mereka di atas.”

“Di atas?” Ma Ji-liong menoleh lalu mengangkat kepala memandang ke atas menurut arah

pandangan Ji Liok, maka matanya tertumbuk pada golok melengkung yang terselip di ikat pinggang

warna merah lombok itu, golok melengkung itu gemerdep ditingkah sinar surya pagi.

Tampak pengawal Persia itu berdiri merentangkan kedua kakinya sambil bertolak pinggang, berdiri

di batu cadas yang bergantung di dinding gunung di atas mulut lembah. Pengawal Persia itu

menyeringai sambil melambaikan tangan kepadanya.

“Ma Ji-liong,” suara pengawal Persia itu serak lagi keras, bergema di dalam lembah memantulkan

gelombang suara tinggi, “Siapa yang bernama Ma Ji-liong, kalau kau ingin mencari Toa-hoan,

ikutlah aku. Kalau ada orang yang ikut ke mari, Toa-hoan akan segera kupenggal kepalanya.”

———————–ooo00ooo———————-

Cuaca cerah, langit membiru, sinar surya kuning keemasan. Kehidupan begini semarak, siapa yang

rela meninggalkan dunia seindah ini?

Namun ada sejenis manusia di dunia ini, berani menyerempet bahaya, melakukan apa yang dia

ingin lakukan meski jiwa terancam bahaya. Karena dia beranggapan kerja ini harus dia lakukan,

meski berkorban jiwa sekalipun juga takkan mundur, tetap maju dan berani menghadapi ancaman

apa pun.

Ma Ji-liong adalah simbol manusia jenis ini. Perlahan ia membalikkan badan menghadapi para

kawannya, sudah tentu kawan-kawannya paham dan mengerti orang macam apa sebetulnya Ma Jiliong.

Sebetulnya Thiat Tin-thian tidak ingin bicara, karena apa pun yang ia katakan tidak akan ada

gunanya. Tapi ada kalanya sepatah kata pun harus diucapkan meski dalam keadaan yang paling

buruk, sepatah kata pesan, “Dia orang gila, membunuh orang tidak pakai alasan.”

“Aku tahu,” sahut Ma Ji-liong memanggut.

“Sekarang ia punya alasan untuk membunuh kau,” tegas suara Thiat Tin-thian. “Kau pernah

menipunya, maka ia takkan mengampunimu. Setelah ia membunuh kau, ia tetap akan membunuh

Toa-hoan juga.”

” Aku tahu,” kembali Ma Ji-liong mengiakan.

“Kau tetap akan memenuhi panggilannya?” Thiat Tin-thian memekik.

Ma Ji-liong menatapnya bulat-bulat, “Jikalau kau menjadi aku, kau penuhi tidak panggilannya?”

Thiat Tin-thian menghela napas, sikapnya tampak amat gregetan, katanya, “Aku akan memenuhi

panggilannya, aku akan pergi menemuinya.” Maju beberapa langkah, ia menggenggam pundak Ma

Ji-liong, Ji Liok juga mendekat menggenggam pundak yang lain, tanpa bicara mereka melengos dan

menyingkir.

Mereka tahu Cia Giok-lun pasti ingin bicara juga. Ada pesan yang perlu dibicarakan dengan Ma Jiliong.

Mereka tidak mau mendengar, juga tidak tega mendengarnya.

———————–ooo00ooo———————-

Sinar matahari yang merambat dari balik bukit kebetulan menyorot wajah Cia Giok-lun. Cahaya

mentari begitu cemerlang, namun wajahnya tampak begitu pucat.

“Aku juga tahu dan maklum kau pasti pergi menunaikan kewajibanmu,” kali ini Cia Giok-lun tidak

menangis, suaranya malah tenang dan tertawa sendu. “Jika aku yang jatuh di tangan mereka, kau

juga akan berusaha menolong aku. Tapi sebelum kau pergi, kuharap kau tahu dan mengerti akan

satu hal.”

“Tentang hal apa?” tanya Ma Ji-liong melengak.

“Perduli kau mati atau hidup, kembali atau tidak, perduli siapa yang kau cintai, sudah pasti aku

adalah milikmu, milikmu tunggal,” kata Cia Giok-lun dengan tertawa manis. “Kau sudah melihat

tubuhku, pernahkah kau bertanya pada dirimu sendiri, kecuali kau, apakah aku boleh menikah

dengan laki-laki lain?”

Ji-liong sudah pergi tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun. Ia tak bisa menjawab pertanyaan

Cia Giok-lun, tak berani menjawab, tak tega melihat betapa pedih senyum tawanya.

Setelah Ma Ji-liong pergi, cuaca tetap cerah ceria, cahaya mentari makin benderang, batu-batu

hitam yang bertaburan di tanah tetap berkilauan, dunia takkan berubah hanya lantaran mati hidup

seseorang. Sudah cukup lama Ma Ji-liong pergi, belum juga kelihatan ia kembali.

“Kalian pulang saja,” mendadak Cia Giok-lun bersuara.

“Kau suruh kami pulang?” tanya Thiat Tin-thian. “Kenapa kami harus pulang?

“Kalian tahu Ji-liong tidak akan kembali,” demikian sahut Cia Giok-lun. “Lalu untuk apa kalian

menunggunya di sini? Apa gunanya kalian menunggu lebih lama di sini?”

“Ada gunanya!” mendadak Ji Liok bersuara keras.

“Apa gunanya?” tanya Cia Giok-lun.

“Aku sudah menemukan,” sahut Ji Liok.

“Apa yang kau temukan?” tanya Cia Giok-lun pula.

Ji Liok tidak menjawab dengan mulut, tapi menjawab dengan aksi. Ia sudah menemukan rahasia

lembah mati ini, sudah menemukan kunci rahasia untuk masuk ke dalam lembah mati.

———————–ooo00ooo———————-

Batu-batu hitam yang bertaburan di tanah itu disinari cahaya matahari, semua berkilauan. Ribuan

atau laksaan batu-batu hitam itu kelihatannya sama bentuk dan warnanya.

Padahal ada perbedaannya.

Jika punya pengalaman dan pandangan tajam seperti Ji Liok, sejenak diperhatikan dengan seksama,

pasti dapat ditemukan sesuatu yang ganjil di antara laksaan batu-batu hitam itu, sedikitnya ada

empat puluh sembilan butir batu di antaranya yang bentuk dan warnanya agak berbeda.

Ma Ji-liong memang tidak salah. Rahasia lembah mati memang berada di bawah tanah, mulut

lubang rahasia di bawah tanah itu memang betul terletak di lingkaran ke empat puluh sembilan batu

yang berbeda itu.

Sayang sekali, Ji Liok menemukan rahasia lembah mati setelah Ma Ji-liong pergi, ia tidak tahu dan

takkan melihat kebenaran dugaannya.

———————–ooo00ooo———————-

Gunung belukar jalanan pun berbahaya, tanah gersang, pohon dan rumput tidak tumbuh di sini.

Hanya setiap musim semi saja rumput liar bisa tumbuh bersemi.

Tanpa bicara Ma Ji-liong mengikuti langkah pengawal Persia itu naik turun batu-batu gunung yang

terjal. Entah ke mana dirinya akan dibawa? Entah berapa jauh mereka akan berjalan? Tapi dia sudah

tahu di mana sekarang kereta kuda yang mereka kejar tadi.

Di luar lembah tadi mereka mencari jejak kereta, ternyata kereta ini tidak lenyap seperti yang

mereka duga, juga tidak masuk ke dalam lembah, tapi hanya berputar mengitari sebuah gundukan

batu besar dan tepatnya berada di tanah belukar di pegunungan luar sebelah pinggir jurang. Siapa

pun pasti tidak menyangka di atas pegunungan belukar yang tidak pernah dijelajah manusia ini,

ternyata ada jalan setapak yang cukup lebar untuk jalan sebuah kereta. Di medan pegunungan ini,

kereta biasa pasti takkan mungkin berjalan di tempat seperti ini, namun kenyataannya kereta besar

dan mewah itu dapat berjalan di semak belukar pegunungan seperti ini, adalah pantas kalau orang

merasa kagum dan takjub. Agaknya pembuatan kereta mewah itu memang sudah dirancang dengan

baik, kecepatan larinya sudah diperhitungkan secara khusus, maka dengan leluasa kereta ini bisa

berlari kencang di tanah pegunungan yang tidak rata, kalau kereta biasa tentu sudah terjungkal.

Tapi di ujung jalan pegunungan yang belukar ini tidak ada istana mewah seperti yang mereka

bayangkan semula. Bentuk rumah umumnya juga tidak kelihatan, yang ada hanyalah sebuah lubang

raksasa yang kelihatannya seperti gua yang dalam, kereta besar itu pun bisa masuk dengan leluasa.

Gua ini menghadap ke barat maka sinar matahari tak dapat menyorot ke dalam gua. Setelah berada

di dalam gua, Ji-liong dapat melihat keadaan gua besar yang kosong melompong ini. Tiada orang di

sini kecuali Bu-cap-sah seorang diri yang berdiri di ambang gua sambil menggendong kedua

tangannya, tampak santai sikapnya. Sekarang Ma Ji-liong melihat dari dekat orang ini, berhadapan

langsung dengan Bu-cap-sah.

Bu-cap-sah juga mengawasinya, dua orang berdiri berhadapan saling bertatap muka. Lama sekali

baru tampak perubahan rona muka Bu-cap-sah yang kaku dan pucat itu, secercah senyum yang

ganjil menghias wajahnya. Mendadak ia mengeluarkan perkataan yang tak diduga oleh siapa pun

termasuk Ma Ji-liong.

Bu-cap-sah bertanya kepada Ma Ji-liong, “Apakah sandiwara yang kita perankan bersama ini belum

juga berakhir?”

———————–ooo00ooo———————-

Bab 37: Rahasia Bu-cap-sah

Di bawah tanah tiada emas, tiada istana, kereta kuda itu pun tidak kelihatan bayangannya.

Mulut lorong itu memang dibangun secara bagus oleh tangan seorang ahli, tapi keadaan di bawah

jauh lebih sempit dan buruk dibanding yang pernah mereka pikirkan.

Lorong yang berbentuk kerucut itu tembus ke sebuah kamar batu. Di kamar bawah tanah itu hanya

ada sebuah ranjang, sebuah meja, satu kursi, semua terbuat dari tanah, bagian luar atau lapisan

luarnya semua dilapisi batu-batu hitam bulat yang ditata sedemikian rupa bagusnya.

Di kamar bawah tanah inikah tempat tinggal Bu-cap-sah?

Bu-cap-sah adalah pendekar aneh, tokoh silat yang disegani kaum persilatan tanpa tandingan pada

masa jayanya dulu, mungkinkah ia bertempat tinggal di kamar batu seperti ini?

Siapa saja yang masuk ke kamar ini pasti kaget, heran, kecewa dan tidak percaya. Tapi bila mau

berpikir secara cermat, segera akan paham bahwa tempat ini memang sejak mula sudah begini

keadaannya.

Kamar batu ini terletak di dalam lembah mati, lembah mati yang dikenal orang luar sebagai daerah

tandus gersang, tiada kehidupan di lembah ini. Bu-cap-sah adalah manusia biasa, bukan malaikat

bukan dewa. Walau ia punya otak cerdik, punya tekad, keteguhan iman, keprigelan tangan untuk

membuat lorong rahasia sebuah kamar batu di bawah ini, namun secara gaib tak mungkin

menciptakan sebuah ranjang batu begitu saja.

Karena Bu-cap-sah ingin tidur di atas ranjang, maka ia harus membikin sendiri dari tanah batu

hitam, karena di sini hanya ada tanah batu hitam. Hal ini mudah dimengerti oleh slapa pun.

Hanya ada satu persoalan yang membuat mereka tidak habis pikir, yaitu anak buah yang berjumlah

puluhan dengan tubuh kekar gagah, cekatan lagi, bagaimana Bu-cap-sah dapat melatih pemudapemuda

sebanyak itu di tempat seperti ini? Dari mana ia menarik atau menggaruk pemuda-pemuda

sebanyak itu? Lalu di mana pula pemuda-pemuda sebanyak itu tinggal?

Lebih aneh lagi, Bu-cap-sah ternyata tidak mampu membuat atau mendapatkan sebuah ranjang

yang normal, ranjang sesungguhnya, entah terbuat dari besi atau kayu. Demikian pula meja kursi

yang lumrah juga tidak mampu dibuatnya sendiri. Menarik perhatian pula bahwa di atas ranjang ada

selimut, di atas meja juga ada lampu.

Selimut tebal berbulu warna merah di atas ranjang itu ternyata buatan toko terkenal di kotaraja,

terbuat dari sutera dan kapas yang kering empuk. Bagian muka selimut tebal itu disulam dengan

benang warna-warni menggambarkan burung bangau dihiasi kembang warna-warni.

Lampu di atas meja tanah itu tidak mudah ditemukan pada keluarga biasa, kecuali hartawan yang

berkantong tebal, karena lampu kaca itu buatan Persia yang tinggi harganya, lampu kaca yang

menggunakan minyak kayu.

Umpama betul di sini tidak ada apa-apa, tiada emas tiada perak, ranjang meja kursi pun terbuat dari

tanah, lalu dari mana datangnya selimut apik dan lampu kaca itu?

————————ooo00ooo————————-

Tiap kali keluar pintu Ji Liok selalu membawa batu ketikan untuk menyulut api, lekas sekali ia

sudah menyulut lampu minyak di atas meja. Begitu lampu menyala cahayanya menerangi kamar

batu yang lebarnya lima kali lima meter. Mendadak Cia Giok-lun menjerit kaget takut sambil

mendekap mulut, langkahnya mundur mendekati Thiat Tin-thian, waktu Thiat Tin-thian menoleh ke

arah ranjang, ia pun menyurut kaget. Ia berpengalaman luas, lama berkecimpung di Kangouw,

julukannya saja tangan besi, nyali besi, maksudnya sebagai orang tabah pemberani, tak urung kali

ini ia pun menjerit tertahan.

Di kamar batu itu mereka melihat sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mereka

melihat seorang. Sesuai namanya, lembah mati ini memang tidak pernah dihuni manusia maupun

hewan, memang sukar mempertahankan hidup di tempat yang tandus lagi gersang seperti ini,

apalagi di kamar bawah tanah yang lembab ini. Tapi kenyataannya seseorang sedang tidur nyenyak

di atas ranjang, tidur mungkur menghadap dinding, sekujur badannya tertutup selimut, hanya

kelihatan kepalanya. Entah sengaja atau memang terlalu lelap orang ini tidur, kehadiran mereka

yang banyak menimbulkan suara ternyata tidak membuatnya terjaga.

Karena orang itu tidur mungkur ke dalam, sulit bagi mereka melihat tampangnya, yang kelihatan

hanya rambut kepalanya yang sudah setengah ubanan di luar selimut berserakan diatas bantal.

Dengan menebalkan keberaniannya, Thiat Tin-thian memburu maju mendahului Cia Giok-lun dan

Ji Liok, dua tindak di depan ranjang ia berhenti dan bertanya dengan suara menggelegar, “Siapa

kau?”

Kecuali orang tuli, umpama orang pikun yang lagi tidur nyenyak juga pasti terjaga bangun oleh

suara Thiat Tin-thian yang menggeledek itu.

Tapi orang itu tetap tidur lelap, tidak bergerak sedikit pun. Maka dapat disimpulkan sekarang, kalau

orang ini bukan tuli, mungkin sesosok mayat yang sudah kaku dingin, lalu siapakah orang yang

sudah menjadi mayat ini?

Bagaimana mungkin di tempat yang tersembunyi ini ada manusia mati?

Thiat Tin-thian juga manusia biasa, bukan manusia hebat, tapi nyalinya memang besar. Mendadak

ia melangkah maju sambil mengulurkan tangan menyingkap selimut tebal itu.

Dua orang kembali menjerit kaget dan ngeri. Cia Giok-lun segera melengos, Thiat Tin-thian juga

menyurut mundur dengan terbelalak. Yang tidur nyenyak di bawah selimut bukan lagi manusia

lumrah, juga tidak benar kalau dianggap mayat, tapi lebih tepat kalau disebut jerangkong. Kecuali

rambut kepalanya yang masih kelihatan utuh, sekujur badan orang ini sudah tinggal kerangka

tulangnya saja, pakaiannya juga sudah lapuk. Di atas kerangka, tepatnya di bagian dada, sebatang

bambu sebesar ibu jari yang runcing ujung depannya, menancap dari punggung menembus jantung

hingga muncul di depan dada.

————————ooo00ooo————————-

Melihat keadaan posisi tidur kerangka tulang manusia ini, jelas orang ini dibokong dari belakang

waktu sedang tidur, jelasnya dibunuh orang dengan maksud jahat, maka tidak tampak adanya tandatanda

perlawanan atau dengan kata lain si korban mati seketika tanpa meronta, sekali tusuk jiwa

melayang.

Pembunuh keji yang membokong itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, serangan telak yang

lihai dan kejam. Jika gerak-geriknya tidak lincah cekatan, tentu pembunuh ini sudah apal selukbeluk

tempat ini, malah mungkin kehadirannya di tempat ini tidak pemah dicurigai oleh sang

korban, maka sang korban tidak siaga dan pembunuh itu pun dapat turun tangan dengan leluasa.

Siapakah pembunuh itu? Kenapa Bu-cap-sah meninggalkan sesosok mayat di atas ranjangnya?

Siapakah korban pembunuhan ini?

Akhirnya Cia Giok-lun berani mendekat. Selang beberapa kejap, baru Cia Giok-lun dapat berbicara,

“Orang atau jerangkong ini adalah Bu-cap-sah.”

Thiat Tin-thian dan Ji Liok berjingkat kaget seperti disengat kala, dengan melenggong mereka

mengawasi Cia Giok-lun. “Kau bilang orang yang sudah mati ini adalah Bu-cap-sah?” tanya Thiat

Tin-thian.

“Ya, pasti benar,” sahut Cia Giok-lun penuh keyakinan.

“Dari mana kau tahu kalau orang ini Bu-cap-sah?” tanya Thiat Tin-thian.

“Bu-cap-sah pernah berkunjung ke Bik-giok-san-ceng,” sahut Cia Giok-lun.

“Waktu Bu-cap-sah berkunjung ke Bik-giok-san-ceng, kau sudah lahir?”

“Belum.”

Thiat Tin-thian menghela napas, katanya dengan senyum getir, “Waktu itu kau belum lahir,

bagaimana kau yakin kalau jerangkong ini adalah Bu-cap-sah?”

Ji Liok menimbrung, “Umpama kata kau pernah melihatnya, tapi sekarang setelah dia mati begini,

bagaimana kau dapat mengenali dirinya?”

Memang tak mudah untuk mengenali tulang kerangka manusia, sukar membuktikan siapa nama

korban ini, berapa usianya dan bagaimana riwayat hidupnya.

Tapi Cia Giok-lun tenang-tenang saja, ia amat yakin bahwa pendapatnya pasti benar, mungkin ia

punya alasan atau bukti kenapa berani berkata demikian.

“Sejak dilahirkan belum pernah aku melihat Bu-cap-sah, tapi aku bisa membuktikan bahwa orang

yang sudah mati ini adalah Bu-cap-sah.”

“Bagaimana kau bisa membuktikannya?”

“Ibu sering bercerita tentang sepak terjang dan seluk-beluk kehidupannya,” demikian tutur Cia

Giok-lun. “Berdasarkan satu di antara keterangan ibuku itu, aku dapat mengenal siapa korban

pembunuhan keji ini. Maksudku, korban pembunuhan yang tinggal tulang kerangka ini betul adalah

Bu-cap-sah.”

“Satu keterangan?” seru Ji Liok. “Satu keterangan apa?”

“Tentang giginya,” ujar Cia Giok-lun.

“Tentang giginya? Kenapa giginya?” tanya Ji Liok pula.

“Betul, tentang giginya,” ujar Cia Giok-lun. “Wajah seseorang bisa berubah, dimakan umur

umpamanya, tapi giginya pasti takkan berubah. Apalagi pertumbuhan gigi setiap orang tidak sama

satu dengan yang lain.”

Gigi juga pasti takkan bisa membusuk seperti tulang-tulang manusia lainnya.

Cia Giok-lun bercerita lebih lanjut, “Ibuku sering bilang, manusia yang giginya tumbuh paling aneh

di dunia ini mungkin hanya Bu-cap-sah saja.”

Ji Liok dan Thiat Tin-thian maju lebih dekat, dengan seksama mereka perhatikan dan periksa gigi

tulang kerangka itu, namun susah membedakan di mana letak perbedaan atau keanehan gigi

kerangka orang ini di waktu masih hidup dulu.

Karena tidak mengerti, Thiat Tin-thian bertanya, “Apa yang aneh pada giginya?”

“Hitunglah giginya itu, jumlahnya empat lebih banyak dibanding gigi manusia umumnya,”

demikian Cia Giok-lun memberi keterangan. “Dia memiliki tiga puluh delapan gigi, ditambah dua

lagi gigi silang di bagian belakang, jumlah seluruhnya ada empat puluh, betul tidak?” Lalu ia

bertanya pada Thiat Tin-thian, “Pernah kau melihat manusia yang punya empat puluh gigi?”

Sudah tentu tidak pernah, Thiat Tin-thian tahu umumnya manusia hanya memiliki tiga puluh dua

buah gigi, demikian pula Ji Liok juga tahu tentang hal ini. Seperti setiap manusia memiliki dua

mata, satu hidung, dua telinga, dua kaki, dua tangan dengan masing-masing sepuluh jari.

Kembali Ji Liok dan Thiat Tin-thian menghitung, memang benar gigi tulang kerangka ini berjumlah

empat puluh.

“Aku sendiri sudah nlenghitung dua kali,” kata Cia Giok-lun. “Oleh karena itu, aku berani bertaruh

bahwa tulang kerangka ini adalah Bu-cap-sah.”

————————ooo00ooo————————-

Thiat Tin-thian menjublek, Ji Liok juga melongo, lama sekali mereka tidak buka suara.

“Kalau betul orang yang sudah mati ini adalah Bu-cap-sah,” hampir berbareng mereka bertanya.

“Lalu siapakah Bu-cap-sah yang berlagak itu?”

“Bu-cap-sah yang palsu,” sahut Cia Giok-lun tenang.

“Palsu?” Ji Liok dan Thiat Tin-thian menjerit bersama.

“Bahwasanya di tempat ini tidak ada emas, tidak mungkin Bu-cap-sah mengundang orang sebanyak

ini untuk menjadi kacungnya segala, maka berani kupastikan bahwa Bu-cap-sah yang satu ini

adalah palsu,” ujar Cia Giok-lun, lalu ia menambahkan, “Apalagi tiada orang pernah mengenal atau

melihat Bu-cap-sah, orang sukar membedakan tulen atau palsu, setiap orang mungkin saja memalsu

dirinya.”

“Mengapa harus memalsu Bu-cap-sah?” desak Thiat Tin-thian.

Cia Giok-lun belum menjawab, mendadak mereka mendengar seorang lain berbicara.

Di dalam kamar batu di bawah tanah itu hanya ada tiga orang, suara yang mereka dengar pasti

diucapkan oleh mulut seseorang, jelasnya oleh orang keempat. Suaranya perlahan, kedengarannya

dari tempat yang amat jauh, tapi mereka mendengar dengan jelas. Terdengar orang keempat itu

berkata, “Bukankah sudah saatnya sandiwara ini berakhir?”

Bab 38: Bu-cap-sah Palsu Ternyata……..

Setiap orang harus bernapas, kamar di bawah tanah ini pun perlu udara segar, maka dibuat sebuah

lubang angin di langit-langit kamar. Karena adanya lubang angin yang tembus ke kamar bawah

tanah ini, maka mayat Bu-cap-sah yang meninggal entah kapan sudah membusuk sejak lama, kini

tinggal kerangkanya saja.

Sebatang bambu besar dipotong sepanjang yang dikehendaki, setiap ruas bambu itu dibikin lubang,

bambu besar yang sudah berlubang itu pun dijadikan lubang angin yang menyerap hawa segar di

luar ke dalam kamar batu di bawah tanah ini. Suara pembicaraan yang mereka dengar datang dari

lubang angin di langit-langit kamar itu.

Pertama kali mendengar suara itu, mereka sukar membedakan orangnya, tapi menyusul terdengar

pula suara orang bertanya dengan nada kaget dan heran, “Sandiwara? Siapa yang main sandiwara?

Main sandiwara apa?”

Suara orang ini cukup lantang, mereka cukup kenal suara itu, karena yang bicara adalah Ma Jiliong.

Dengan siapa Ma Ji-liong berbicara?

“Sudah tentu kau dan aku yang bermain sandiwara.”

“Jadi kau bukan Bu-cap-sah?” tanya Ma Ji-liong.

“Siapa bilang aku Bu-cap-sah,” orang itu tertawa. “Kau membayar lima ribu tahil perak supaya aku

berperan sebagai Bu-cap-sah, kenapa kau pura-pura pikun malah?”

“Aku menyuruh kau berperan sebagai Bu-cap-sah dengan bayaran lima ribu tahil perak?”

melengking suara Ma Ji-liong, heran dan gusar.

“Siapa lagi kalau bukan kau.”

“Kenapa aku harus bersandiwara segala?”

“Supaya orang banyak beranggapan kau sebagai manusia terbaik yang tiada bandingan di kolong

langit, sebaliknya aku adalah tokoh jahat yang tiada bandingan di jagad. Sengaja permainan

sandiwara ini dibuat ribut dan ruwet, rencanca telah kau atur sedemikian rupa sehingga di tengah

kekacauan, mereka saling gontok dan bunuh. Setelah mencapai babak akhir, kau memberi

kesempatan kepada pengawal Persia itu untuk membabat kepala mereka dengan golok

melengkungnya, dalam permainan ini aku kan hanya boneka belaka.”

“Ke mana orang-orang yang membongkar rumah-rumah penduduk itu?”

“Lho, mereka kan orang-orangmu, siapa yang tidak tahu Thian-ma-tong punya duit, besar

pengaruhnya, pekerjaan apa yang tidak bisa dilakukan orang-orang Thian-ma-tong?” dengan

tertawa orang itu berkata lebih lanjut. “Sungguh aku amat kagum padamu, entah bagaimana kau

dapat merangkai cerita khayal itu, tapi mereka memang percaya bahwa di lembah mati ini ada

emas, kau memang seorang cerdik.”

Ma Ji-liong bungkam.

Dengan tertawa orang itu berkata pula, “Lebih lucu lagi, aku ini orang biasa, orang lemah, memikul

air segantang juga tidak kuat, maka kau buatkan alat jepretan untuk menyambitkan batu hitam, kau

suruh aku menyimpan alat jepretan itu dalam lengan baju, supaya orang beranggapan aku memiliki

tenaga luar biasa, memiliki kepandaian menimpuk yang tepat dan telak.”

Lama sekali baru terdengar Ma Ji-liong bertanya, “Apa betul kau tidak pandai main silat?”

“Main silat sih bisa sedikit, gerakan cakar kucing saja, tapi kalau dibanding kau, Pendekar Besar

Ma Ji-liong, jelas bedanya seperti langit dan bumi.”

Ma Ji-liong manggut-manggut, “Cara bagaimana kau dapat mendengarkan percakapan kami di

dalam toko?”

“Mendengar percakapan apa?” orang itu balas bertanya. “Sepatah kata pun aku tidak mendengar

percakapan kalian.”

“Jadi bukan kau yang berbicara di luar waktu itu?”

“Sudah tentu bukan.”

“Memangnya siapa kalau bukan kau?”

“Mana aku tahu, yang benar tidak ada orang bicara di luar waktu itu.” Orang itu membela diri, “Aku

jadi heran. Kecuali pemain watak yang ulung, kau juga sebagai pengatur laku dalam permainan

sandiwara ini, seluk-beluk organisasinya juga hanya kau yang tahu. Aku hanya pemain kecil, apa

yang kutahu tidak sebanyak yang kau kuasai.” Setelah menghela napas, orang itu menyambung,

“Apa pun yang telah terjadi, sandiwara ini harus segera diakhiri, nona Toa-hoan dan Hwesio gundul

itu berada di dalam gua, lekas kau ajak mereka keluar saja. Kali ini kau berhasil berperan sebagai

orang gagah, pendekar besar yang membela dan menolong gadis cantik, Hwesio gundul musuhmu

itu pasti akan takluk dan kagum serta tunduk lahir batin kepadamu. Aku hanya pemain bayaran,

sebab dan akibat permainan sandiwara ini tiada sangkut pautnya dengan aku, namun lima ribu tahil

adalah imbalan yang kurang setimpal untuk perananku. Kalau kau berhati baik, tolong tambah

bayaranku……”

Belum habis ia bicara, suaranya mendadak terhenti, tepat di saat suaranya terputus, terdengarlah

suara lain yang kedengarannya aneh, “Cres”, hanya sekali dan pendek.

Lalu keadaan menjadi hening, pembicaraan terhenti, keadaan sepi lengang.

—————————-ooo00ooo—————————-

Suasana di kamar bawah tanah juga sepi, tidak ada orang bicara, sepatah kata pun tiada yang

bersuara.

Ma Ji-liong adalah kawan mereka, sekarang terjadi peristiwa seperti ini. Dari pembicaraan di atas,

mereka dapat mengambil kesimpulan, duduk persoalan peristiwa ini sudah gamblang, setelah kasus

ini terbongkar, apa yang bisa mereka lakukan? Apa yang bisa mereka katakan?

Entah berapa lama kemudian, Ji Liok menarik napas panjang, katanya dengan suara rawan,

“Sungguh tak nyana, Ma Ji-liong ternyata orang demikian.”

Siapa pun sukar menduga dan meraba. Kalau mereka tidak menemukan kamar bawah tanah ini,

mendengar percakapan itu dengan jelas, mereka pasti terus dikelabui seumur hidup. Untunglah

Thian Maha Kuasa, Maha Adil, memberi ganjaran setimpal kepada setiap umatnya yang melakukan

kejahatan.

Mendadak Thiat Tin-thian berkata, “Masih ada persoalan yang belum kupahami.”

“Persoalan apa yang tak kau pahami?” tanya Cia Giok-lun.

“Bu-cap-sah palsu tadi bilang dia tidak bicara atau mendengar percakapan kita di dalam rumah,

padahal kami mendengar jelas apa yang dikatakan Bu-cap-sah, lalu siapa yang bicara?”

“Kalau dugaanku tidak meleset,” demikian kata Ji Liok. “Pasti yang bicara seorang yang berada di

dalam toko juga.”

“Tapi adakah orang di dalam toko yang bicara waktu itu?” Thiat Tin-thian balas bertanya.

“Memang tidak ada yang membuka mulut, tapi ada sementara orang tanpa buka mulut juga bisa

berbicara,” Ji Liok coba meyakinkan mereka.

“Orang macam apa yang dapat bicara tanpa pakai mulut?” tanya Cia Giok-lun.

“Orang yang pandai ilmu Hok-gi-sut (Ilmu bicara dengan perut),” ucap Ji Liok. “Aku pernah

menyaksikan orang yang dapat bicara dengan perut.” (Sampai sekarang masih ada orang yang

mahir ilmu bicara dengan perut, terutama dalang ‘boneka bicara’, ilmu bicara dengan perut

dinamakan ventriloquisme.)

“Betul,” sahut Tin-thian. “Aku pun pernah melihat orang yang pandai bicara dengan perut. Jelas kau

dengar suaranya berkumandang dari tempat lain, padahal orang yang bicara ada di depanmu.”

Sejenak ia berhenti, lalu menghela napas, “Tak heran, waktu itu aku sudah merasakan nada suara

orang itu aneh dan agak sumbang, apalagi yang bicara seperti dekat di pinggir telingaku.”

“Umpama benar orang itu bicara di dalam rumah dengan ilmu bicara dalam perut, coba kau terka

siapa kira-kira orang yang pandai bicara dengan perut di antara kita?”

“Siapa lagi kalau bukan Ong Ban-bu,” ujar Thiat Tin-thian. “Aku yakin tentu dia.”

“Berdasar apa kau yakin kalau yang bicara dengan perut adalah Ong Ban-bu?” tanya Ji Liok.

“Sebetulnya dia tidak perlu menyerahkan diri, maksudku masuk ke dalam toko,” demikian Thiat

Tin-thian menjelaskan. “Kehadirannya dalam toko serba ada itu memang disengaja sesuai rencana,

tujuannya untuk membuat kita panik, supaya kita berpendapat bahwa Bu-cap-sah memang memiliki

sesuatu yang luar biasa dan tak mampu ditandingi orang lain, supaya kita percaya Bu-cap-sah yang

itu betul adalah Bu-cap-sah tulen.”

“Maka di saat tenaganya tidak diperlukan lagi, ia pun harus dilenyapkan dari muka bumi, sudah

tentu maksudnya supaya rahasianya tidak terbongkar,” demikian Ji Liok menerangkan.

Thiat Tin-thian menyeringai, katanya, “Manusia khianat seperti Ong Ban-bu memang pantas

memperoleh ganjaran yang setimpal.”

Lalu ganjaran apa yang harus diterima oleh Ma Ji-liong?

“Mari kita tunggu Ji-liong di atas,” kata Thiat Tin-thian menggenggam kedua tangan sendiri. “Mari

kita saksikan apa pula yang bisa ia katakan kepada kita.” Sembari bicara ia mengulurkan tangan

hendak menggandeng Ji Liok keluar.

“Tunggu sebentar,” Cia Giok-lun yang sejak tadi diam saja mendadak bersuara.

“Tunggu apa lagi?” tanya Ji Liok.

“Barangku ada yang jatuh di sini,” ucap Cia Giok-lun. “Aku harus menemukan dulu baru boleh

keluar dari sini.”

Cia Giok-lun datang bersama mereka, sejak masuk tak pernah bilang bahwa barangnya ada yang

hilang dan jatuh di tempat ini, kenapa sekarang mendadak mencari barangnya yang jatuh? Kapan

barangnya jatuh? Barang apa yang jatuh?

Tapi Cia Giok-lun memang menemukan barang yang jatuh di kamar ini, yang ia temukan adalah

tiga butir mutiara sebesar buah kelengkeng di pojok dinding yang gelap di dekat pintu.

Thiat Tin-thian dan Ji Liok terbeliak heran. Sejenak mereka saling beradu pandang, lalu berbareng

mereka bertanya, “Mutiara itu milikmu?”

“Kalau bukan milikku, memangnya aku serakah mengambil milik orang lain?”

“Mengapa mutiaramu jatuh di sini? Kapan?” Thiat Tin-thian bertanya.

Jawaban Cia Giok-lun amat mengejutkan, “Dulu waktu aku datang ke sini, kalung mutiaraku putus,

tiga di antaranya ketinggalan di sini.”

Keruan Thiat Tin-thian dan Ji Liok menjublek sekian lama, tanpa berjanji mereka bertanya pula

bersama, “Bagaimana kau bisa datang ke tempat ini? Untuk apa kau datang ke sini?”

“Aku ke mari hendak menengok Khu-khu (adik ibu),” sahut Cia Giok-lun.

“Kau punya Khu-khu?” seru Thiat Tin-thian. “Apakah Bu-cap-sah adalah Khu-khumu?”

“Ya, beliau adalah adik kandung ibu, kenapa bukan Khu-khuku?” Cia Giok-lun balas bertanya

sambil menghela napas.

“Tapi belum pernah aku melihat dia, karena laki-laki tidak boleh tinggal di Bik-giok-san-ceng.

Umpama saudara kandungku sendiri juga tidak terkecuali. Sejak dilahirkan, kalau dia laki-laki

harus segera dibawa keluar perkampungan, disingkirkan ke tempat yang jauh.”

Baru sekarang Thiat Tin-thian maklum kenapa Bu-cap-sah menamakan dirinya Bu-cap-sah.

Agaknya setelah dia tahu riwayat hidupnya, karena gusar dan penasaran serta sedih, timbullah tekad

dan putusan tegas, dia bersumpah untuk menganggap dirinya yatim piatu, tidak berayah bunda,

tidak punya saudara laki maupun perempuan, dengan rajin dan tekun dia belajar ilmu. Setelah

malang melintang dan yakin bahwa ilmu silatnya cukup tinggi, maka dia meluruk ke Bik-giok-sanceng

untuk melampiaskan rasa dongkol dan penasaran hatinya, hendak mendobrak aturan keluarga

yang dianggapnya usang, ingin membalas dendam.

Sayang sekali usahanya gagal, dia dikalahkan oleh Bik-giok Hujin, kakak kandungnya sendiri yang

mewarisi ilmu silat keluarga yang digdaya.

Sekarang Thiat Tin-thian maklum kenapa Bik-giok Hujin melanggar kebiasaan dan mengampuni

Bu-cap-sah. Padahal setiap musuh yang berani menyatroni Bik-giok-san-ceng tidak ada seorang pun

yang diberi ampun, semua dibunuh, habis perkara.

Meski Bik-giok Hujin berkuasa penuh di Bik-giok-san-ceng, tetapi dia tidak pernah mengabaikan

nasib saudara laki-lakinya yang terpaksa harus disingkirkan dari perkampungan itu. Leluhurnya

sudah menentukan laki-laki tidak boleh tinggal di perkampungan itu, maka sejak dia memegang

kekuasaan di sana, peraturan ini pun tidak pernah dilanggarnya. Meski sejak lahir Bu-cap-sah

disingkirkan dari perkampungan, jarak usia mereka pun terpaut belasan tahun, tapi biasanya hidup

Bu-cap-sah sejak kecil ditanggung oleh Bik-giok-san-ceng, seluk-beluk kehidupannya juga selalu

dilaporkan anak buahnya yang bertugas di luar. Tidak perlu dibuat heran kalau Bik-giok Hujin tahu

persis pertumbuhan gigi Bu-cap-sah yang lain daripada yang lain. Cia Giok-lun berkata, “Walau ibuku menyingkirkan dan mengurungnya di lembah mati, tapi beliau tidak pernah melupakan saudaranya ini. Di hadapan kami sering kali menceritakan sepak terjangnya. Oleh karena itu, setelah dewasa aku berkeputusan untuk menemui beliau di lembah mati ini.”

“Jadi kau sudah lama tahu kalau Bu-cap-sah telah mati, kau pun tahu kalau Bu-cap-sah yang bersandiwara itu pun palsu,” demikian tanya Thiat Tin-thian.

“Betul, aku sudah tahu sebelumnya,” ujar Cia Giok-lun.

“Kenapa tidak kau bongkar muslihatnya?”

“Sejak kedatanganku yang pertama dan menemukan Khu-khu mati dibunuh orang secara keji, timbul niatku untuk menuntut balas dan membongkar kasus pembunuhan ini secara tuntas.

Kebetulan ada peristiwa yang menimpa Ma Ji-liong, diriku pun terlibat, mumpung ada kesempatan baik ini, maka tidak kuabaikan peluang baik ini, aku tahu inilah satu-satunya kesempatan bagiku untuk membongkar beberapa kasus pembunuhan sekaligus.”

Hanya pembunuh kejam yang membokong Bu-cap-sah yang tahu bahwa Bu-cap-sah sudah mati, maka pembunuh itu pun berani menyaru sebagai Bu-cap-sah.

“Aku yakin bila berhasil membongkar kasus yang melibatkan Ma Ji-liong ini, menangkap biang keladinya, karena kedua kasus ini merupakan mata rantai yang tak terpisahkan, maka pembunuh laknat itu pasti dapat kutemukan.”

Tak urung Ji Liok menarik napas panjang, katanya gegetun, “Tentu kau tidak mengira kalau pembunuh durjana itu adalah Ma Ji-liong.”

Mendadak Cia Giok-lun berputar menghadapi Ji Liok, sorot matanya menampilkan rona ganjil saat menatap tajam ke muka Ji Liok. Agak lama kemudian baru dia berkata sepatah demi sepatah, “Kau keliru.”

“Aku keliru? Dalam hal apa aku keliru?” tanya Ji Liok membelalakkan mata.

“Pembunuh durjana itu bukan Ma Ji-liong,” tegas suara Cia Giok-lun. “Pasti bukan Ji-liong.”

“Kalau bukan Ma Ji-liong, memangnya aku?”

Cia Giok-lun menatapnya lekat-lekat. Sorot matanya mulai berubah gusar dan benci serta dendam, perlahan mulutnya mendesis, “Ya, kaulah pembunuhnya.” Jarinya menuding hidung Ji Liok, “Kaulah biang keladi kasus ini, kau pembunuh Bu-cap-sah. Kau pula yang membunuh Toh Cenglian, Sim Ang-yap dan lain-lain.”

Ternyata Ji Liok tenang-tenang saja, malah tertawa lucu dan geli, “Kau pasti sedang bergurau, sayang banyolanmu ini takkan mengundang gelak tawa orang banyak.”

“Betul, orang banyak tidak akan tertawa oleh perbuatanmu, kejadian ini memang bukan senda gurau.”

“Jadi kau menuduh aku sebagai pembunuhnya.”

“Semula memang tidak pernah aku mengira akan dirimu,” kata Cia Giok-lun kalem. “Untung secara kebetulan aku tahu suatu rahasia yang tidak diketahui orang lain.”

“Kau tahu rahasia apa?” tanya Ji Liok, sikapnya tetap tenang dan wajar.

“Aku tahu Ji Ngo tidak punya adik, Ji Ngo adalah saudara termuda di antara lima bersaudara,” tandas suara Cia Giok-lun. “Maka Ji Ngo pasti tidak punya adik.” Tekanan suaranya lebih keras lagi, dilanjutkan dengan kata-kata yang lebih tegas, “Aku tahu jelas silsilah keluarganya karena kebetulan Ji Ngo juga adik kandung ibuku.”

Thiat Tin-thian berdiri menjublek. Ternyata Ji Liok masih meremehkan tuduhan Cia Giok-lun, sikapnya masih tenang dan tertawa malah, santai saja, “Hanya berdasarkan pengakuanmu itu, kau lantas menuduhku sebagai pembunuh? Besar amat nyalimu, bisa kau membuktikan bahwa aku adalah pembunuh?”

“Ya, bukti itu memang belum cukup,” sahut Giok-lun. “Untung secara kebetulan Toa-hoan melihat dan memergoki kejadian yang sebetulnya tidak pantas dia saksikan.” “Kejadian apa?” tanya Ji Liok melotot.

“Dia melihat kau memukul dada Ong Ban-bu, kau membunuhnya. Toa-hoan melihat dengan mata kepalanya sendiri.”

Wajah Ji Liok membesi, tawanya tadi juga berubah kaku. Cia Giok-lun berkata pula, “Waktu itu aku tidak memberi kesempatan kepadanya untuk membongkar muslihatmu, karena saat itu kami belum tahu siapa kau sebetulnya.”

Ji Liok bertanya, “Sekarang kau sudah tahu siapa diriku?”

“Sekarang aku sudah tahu. Kau merencanakan muslihat keji ini dengan tujuan menjerumuskan Ma Ji-liong, memfitnah dia. Ma Ji-liong kau jadikan kambing hitam, tapi karena perkembangan selanjutnya tidak menguntungkan, kau tahu orang banyak sudah melihat wajah aslinya, sudah tahu orang macam apa dia sebenarnya, semua orang mulai goyah curiganya. Dari berbagai kenyataan orang mulai percaya bahwa dia tidak mungkin melakukan perbuatan jahat, maka kau lantas berdaya upaya dengan cara yang kotor memfitnah dia sebagai pembunuh.” Sampai di sini Cia Giok-lun menoleh, lalu bertanya kepada Thiat Tin-thian, “Tahukah kau, siapa yang paling besar hasratnya mencelakai jiwa Ma Ji-liong?”

Thiat Tin-thian tahu, dia sudah mengikuti perkembangan peristiwa ini dengan seksama, maka tanpa pikir ia menjawab, “Sudah tentu Khu Hong-seng.”

“Betul,” seru Cia Giok-lun, “Memang Khu Hong-seng.” Lalu ia menuding Ji Liok sambil berkata sepatah demi sepatah, “Dia inilah Khu Hong-seng.”

Ji Liok dituduh sebagai pembunuh, dituduh sebagai Khu Hong-seng, tertawa lebar malah. “Agaknya kau sudah tahu seluruh persoalannya, kurasa aku pun tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi,” dengan kelam Ji Liok mengaku terus terang. “Betul, aku memang Khu Hong-seng.”

Cia Giok-lun menghela napas lega, katanya, “Syukurlah kalau kau berani mengaku. Tak kuduga kau berani berterus terang.”

“Masih ada satu hal, aku yakin tidak pernah kau duga.”

“Hal apa?”

“Aku adalah murid tunggal Bu-cap-sah.”

Khu Hong-seng memang betul adalah murid tunggal Bu-cap-sah.

Sejak kecil Khu Hong-seng sudah punya ambisi untuk menjadi orang besar, tokoh silat yang tiada tandingan, menjagoi dan menguasai dunia. Tapi Hong-seng sadar, hanya dengan bekal sepasang tombak perak warisan keluarganya, dirinya tidak akan mampu mengangkat diri sebagai gembong silat yang ditakuti, apalagi bersimaharaja di dunia persilatan.

Suatu ketika tanpa sengaja dia mendengar kisah kepahlawanan Bu-cap-sah.

“Bu-cap-sah memang seorang aneh, seorang pintar,” Khu Hong-seng bertutur. “Riwayat hidupnya terselubung, pengalaman hidupnya juga penuh lika-liku, aku betul-betul kagum dan tertarik padanya. Setelah berdaya upaya sekian tahun, akhirnya aku berhasil menemukan lembah mati.

Kebetulan pada waktu itu Bu-cap-sah sedang merana. Supaya kepandaiannya tidak ikut terbenam bersama kematiannya kelak, dia berkeinginan mengambil murid. Kedatanganku ke sana seakan pucuk dicinta ulam tiba, maka aku pun digembleng dengan caranya yang luar biasa, aku dituntut untuk belajar dan mencapai taraf yang dia kehendaki supaya kelak aku melampiaskan dendam penasaran hatinya.”

Kenyataan memang demikian, Bu-cap-sah mengambilnya sebagai murid, seluruh ilmu silat yang dia kuasai diajarkan kepada murid tunggalnya ini. Bu-cap-sah memang orang cerdik dalam ilmu silat, ia punya cara tersendiri untuk menggembleng muridnya menjadi tokoh besar yang mengemban tugas berat dengan bekal ilmu yang beraneka-ragam. Sayang sekali muridnya ini bukan manusia baik-baik.

“Cara yang paling baik untuk menggali tanah juga dia ajarkan padaku,” demikian tutur Khu Hongseng lebih lanjut. “Tentang ilmu falak, ilmu bumi, teknik membuat perkakas rahasia, membuat barisan yang menyesatkan, ilmu tata rias dan menguasai racun juga dipahami seluruhnya.”

“Guru sebaik itu, tidak sedikit kepandaian yang kau peroleh dari gurumu, kenapa kau membunuhnya malah?”

“Untuk latihan aku banyak menderita, gerak-gerikku selalu diawasi, aku dikekang, aku tidak bisa bebas, aku tak kuat menahan sabar. Tapi seluruh ilmu yang dia kuasai, semua berhasil kupelajari dengan baik,” demikian tutur Khu Hong-seng tertawa lebar. “Kalau aku tidak membunuhnya, mungkin sampai sekarang aku belum bebas, sampai sekarang aku masih tinggal di lembah yang menyebalkan ini.”

“Ya, Bu-cap-sah telah kau bunuh. Untuk mengejar ambisimu, Toh Ceng-lian dan Sim Ang-yap juga kau bunuh, Ma Ji-liong kau fitnah, kau jerumuskan ke dalam perangkapmu sehingga dia menemukan jalan buntu, seharusnya kau sudah puas dan berhenti sampai di situ,” sampai di sini Cia Giok-lun berganti nada, ia bertanya, “Kenapa kau masih juga melanjutkan muslihat jahatmu?”

“Apa yang kau katakan tadi memang betul. Belakangan aku baru tahu, dari berbagai kenyataan kalian mulai sadar dan percaya kepadanya,” Khu Hong-seng menghela napas gregeten. “Ma Ji-liong memang seorang yang tidak mudah dilayani.”

“Setelah mencapai bagian tertentu dari rencana jahatmu, sebetulnya tidak perlu kau lanjutkan dengan aksimu yang berkepanjangan. Bahwasanya kami tidak menemukan bukti tentang kejahatanmu, kami tak bisa menuduhmu semena-mena,” Cia Giok-lun juga menghela napas.

“Sayang sekali kau terlalu pintar.”

“Terlalu pintar juga bukan tidak baik. Kalian tidak menemukan bukti, aku tetap bebas, kan sama saja.”

“Lho kok sama? Bagaimana bisa sama?”

“Karena cepat atau lambat kalian akhirnya akan mampus.” Mendadak Khu Hong-seng bertanya,

“Tahukah kalian suara apa yang berbunyi ‘Cres’ di atas tadi?”

“Kalau tidak salah suara golok yang menggorok leher,” jawab Cia Giok-lun.

“Ya, tapi leher siapa yang digorok? Pakai golok siapa?” tanya Khu Hong-seng, segera ia menjawab sendiri, “Jikalau kalian mengira leher yang tergorok golok itu adalah leher Bu-cap-sah palsu itu, maka kalian pasti keliru.”

“0, kenapa keliru?”

“Yang terpenggal adalah leher Ma Ji-liong, golok itu adalah milik Peng Thian-ko, dia adalah pengawal Persia itu, pengawalku yang setia,” Khu Hong-seng menjelaskan lebih lanjut. “Peng Thian-ko adalah adik Peng Thian-pa, ilmu goloknya jauh lebih lihai dan ganas dibanding Peng Thian-pa. Sayang dia anak pungut, ibunya adalah budak bangsa Persia. Oleh karena itu, selama hidup dia takkan mendapat warisan apa pun termasuk Ngo-hou-toan-bun-to.”

“Kau menghasut dia dan mengangkatnya sebagai antekmu, atas petunjukmu pula dia membunuh Peng Thian-pa,” demikian jengek Thiat Tin-thian.

Dengan tersenyum Khu Hong-seng mengangguk sebagai jawaban, mendadak ia mengalihkan pembicaraan, “Waktu Bu-cap-sah masih hidup, pernah aku bertanya padanya, barang apa yang paling dia inginkan? Sungguh tak terduga olehku, barang yang dia idamkan selama ini hanyalah sebuah selimut dan sebuah lampu minyak.”

“Maka kau segera memenuhi permintaannya,” Thiat Tin-thian menjengek pula.

“Ya, kubelikan selimut yang termahal dan lampu minyak yang paling antik, sumbu lampu juga kupilih yang nomor satu, demikian pula minyak juga kupilih yang paling balk. Hanya terkecuali yang kubeli terakhir kali.”

“Terakhir kali apa yang kau belikan untuk dia?” tanya Cia Giok-lun.

“Yaitu sumbu dan minyak lampu yang sudah kucampur dengan obat bius,” Khu Hong-seng tertawa lebar. “Obat bius yang kugunakan sudah tentu juga mutu yang paling balk, yaitu obat bius yang tanpa kalian sadari juga telah membius kalian sejak sumbu lampu di atas meja ini menyala.” Habis bicara Khu Hong-seng tertawa latah, sayang tidak lama dia bergelak tawa.

“Ting” mendadak lampu minyak itu pecah dan api pun padam, keadaan kamar menjadi gelap gulita, tapi kejap lain cahaya api tampak menyala di atas lorong. Di bawah obor yang menyala benderang, muncul bayangan seseorang, seseorang yang dianggap takkan pernah muncul lagi, seseorang yang sudah mati terpenggal lehernya. Yang menuruni undakan lorong sambil mengangkat tinggi obor itu ternyata adalah Ma Ji-liong. Khu Hong-seng mengawasi Ma Ii-liong dengan terbelalak.

Kecuali Ma Ji-liong, ternyata Toa-hoan dan Coat-taysu juga muncul di belakangnya. Ternyata mereka belum mati. Mereka selamat disebabkan tipu daya yang telah direncanakan oleh Cia Gioklun, tipu menjebak Khu Hong-seng. Toa-hoan diculik juga adalah salah satu rencananya untuk memancing kesalahan Khu Hong-seng.

Kini giliran Cia Giok-lun memberi penjelasan kepada Khu Hong-seng, “Setelah aku menutuk Hiatto Toa-hoan, sengaja aku bicara dengan suara keras, maksudku agar kau mendengar pembicaraan kami, percaya bahwa aku memang ingin menuntut balas pada Toa-hoan. Lalu aku keluar mengundang Ma Ji-liong, padahal aku sengaja memberi peluang kepadamu. Di luar tahumu, sebelum keluar aku sudah membebaskan tutukan Hiat-to di tubuh Toa-hoan.”

Dengan suara tawar Toa-hoan menimbrung, “Karena tak tertutuk Hiat-toku, maka suara ‘Cres’ dari golok yang menggorok leher yang kalian dengar, bukanlah leher Ma Ji-liong yang terpenggal. Golok itu memang milik Peng Thian-ko, tapi yang terpenggal adalah lehernya sendiri, berarti senjata makan tuan.”

Akhir Kata

Setiap perkara pasti ada saatnya berakhir, lalu bagaimana akhir dari kasus panjang ini? Untuk perbuatan jahatnya, Khu Hong-seng mendapat ganjaran setimpal. Coat-taysu mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan dan mengasingkan diri jauh ke puncak Kun-lun-san, menghukum diri dan menyesali kesalahannya dengan semedi menghadap tembok hingga akhir hayatnya.

Thiat Tin-thian dan Ma Ji-liong duduk berhadapan di atas loteng sebuah restoran besar di kota Kayhong, tiga hari tiga malam mereka minum arak, tapi pada malam keempat yang gelap dandingin lagi mendung, kedua orang ini menghilang tidak keruan parannya. Kanglam Ji Ngo tetap merajai dunia persilatan di daerah Kanglam. Demikian pula jejak Giok-toasiocia susah diikuti, pergi datang seperti malaikat.

Lalu bagaimana dengan Toa-hoan dan Cia Giok-lun? Bagaimana akhir hubungan Ma Ji-liong?

Tidak ada orang yang tahu bagaimana akhir hubungan ketiga orang ini. Entah berpisah atau sudah menikah? Tapi di kalangan Kangouw tersiar berita yang beraneka macam ragamnya. Ada orang bilang, Toa-hoan sebetulnya cantik jelita, wajahnya kelihatan buruk karena dia mengenakan topeng tipis, sengaja menyamar demi menunaikan tugas. Setelah kasus pembunuhan itu terbongkar, topengnya sudah tidak dipakai lagi, ternyata Toa-hoan adalah gadis rupawan yang tidak kalah ayu dibanding Cia Giok-lun, akhimya dia menikah juga dengan Ma Ji-liong.

Ada juga orang yang bilang, Toa-hoan memang gadis yang jelek wajahnya tapi Ma Ji-liong sudah telanjur jatuh cinta kepadanya, Ji-liong tidak mencampakkan dia, akhimya mereka pun menikah secara sederhana. Ma Ji-liong yakin, wajah manusia setiap saat bisa berubah, tapi cinta takkan pudar untuk selamanya. Sementara ada juga pihak yang bilang, karena tubuh Cia Giok-lun yang bugil sudah disaksikan oleh Ma Ji-liong, apalagi sudah hidup serumah empat bulan dengan Ma Ji-liong, gadis aleman dari Bikgiok-san-ceng ini juga jatuh cinta kepadanya, maka atas prakarsa Bik-giok Hujin, mereka telah melangsungkan pernikahan secara kekeluargaan saja, tidak dirayakan dengan pesta besar menurut lazimnya.

Pada jaman mereka dahulu, sering terjadi salah tafsir dengan ajaran kuno bahwa laki-laki harus mempunyai keturunan untuk mempertahankan marga keluarga, maka tak jarang keluarga yang kaya raya sekaligus mempunyai tiga empat bini atau gundik. Kesalahan tafsir ini lama kelamaan menjadi tradisi bagi kaum kolot hingga sekarang. Demikian halnya dengan Ma Ji-liong, karena mereka suka sama suka, rela dan senang, maka sekaligus ia mempersunting dua gadis jelita. Sebaliknya kedua gadis jelita itu sudah pasrah, cinta membuat mereka lemah, lalu apa salahnya mereka menjadi bini Ma Ji-liong?

Dalam kalangan rakyat jelata hal seperti itu sudah merupakan kebiasaan umum, demikian pula dalam kalangan bangsawan, keluarga istana. Kalau ratu dan putri raja dan para selirnya boleh punya seorang suami, kenapa Toa-hoan dan Cia Giok-lun tidak boleh kawin dengan Ma Ji-liong?

Banyak ragam cerita yang tersiar luas di kalangan Kangouw, malah ada pula berita yang mengatakan, Ma Ji-liong emoh kawin, dia minggat dan menyembunyikan diri di suatu gunung, mengasingkan diri bersama Thiat Tin-thian. Apa betul cerita terakhir ini, tiada yang tahu pasti, yang jelas cerita satu dengan yang lain simpang siur, hanya cerita angin belaka, akhirnya orang susah membedakan berita mana yang benar dan cerita mana yang salah.

Pada suatu malam, setahun sejak Khu Hong-seng dijatuhi hukuman setimpal dengan perbuatannya, ada orang yang bertemu dengan Ma Ji-liong di sebuah toko. Malam itu menjelang tahun baru, kelihatannya Ma Ji-liong banyak memborong barang-barang untuk keperluan perayaan hari raya Sin-cia. Ada kain, benang, jarum, pupur, gincu, makanan dan arak, ada lilin dan dupa. Pada kesempatan yang ada, orang itu bertanya kepada Ma Ji-liong tentang cerita burung yang tersiar luas di kalangan Kangouw itu. Ma Ji-liong tidak mau memberi tanggapan, dia hanya tertawa ramah kepada orang itu, katanya, “Sin Cun Kiong Hi, selamat tahun baru, semoga kau mendapat rejeki lebih besar di tahun yang akan datang.” Habis bicara dia membawa belanjaannya terus tinggal pergi.

TAMAT

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s