Matahari Esok Pagi (JIlid 1 – 3)

New Picture

Matahari Esok Pagi

Karya : SH Mintardja

(JIlid 1 – 3)

Jilid 1

Bab 1 Tanah Kelahiran

KEDATANGANNYA kembali diterima dengan penuh haru oleh orang-orang Kademangan Kepandak, terutama orang-orang di padukuhan Gemulung. Lebih dari sepuluh tahun ia meninggalkan rumah itu. Tetapi kini ia terpaksa kembali. Suaminya, seorang prajurit Mataram telah gugur dalam pengabdiannya kepada Tanah Kelahiran, pada saat pasukan Mataram atas perintah Sultan Agung menyerang Betawi yang diduduki oleh orang-orang Kulit Putih berkebangsaan Belanda. Dan Nyai Wiratapa yang sudah menjadi janda itu terpaksa pulang ke rumah orang tuanya.

Ayahnya adalah orang tua yang sudah berkeriput. Dan ibunya sudah mulai terbongkok-bongkok. Rambutnya sudah menjadi putih. Umur mereka telah melampaui pertengahan abad, dan bahkan, laki-laki tua itu sudah lebih dari enampuluh tahun. Namun meskipun demikian, laki-laki tua itu masih kuat mengangkat cangkul di atas pundaknya. Setiap hari ia masih pergi ke sawahnya yang tidak terlampau luas. Sekedar cukup memberinya makan sekeluarga.

Kini anaknya yang menjanda dan seorang cucunya ada diantara mereka.

Tetapi atas kemurahan hati Sultan Agung, prajurit-prajuritnya yang gugur di

medan perang, mendapat anugerah sebidang tanah meskipun hanya

sekedarnya, di daerah yang dipilih oleh jandanya, Dengan demikian maka Nyai

Wiratapapun mendapat sebidang tanah yang diserahkannya kepada ayahnya

yang tua itu pula untuk digarap.

Sejak kehadiran Nyai Wiratapa dan anaknya Sindangsari, rumah mereka

banyak dikunjungi oleh para tetangga. Mereka menyampaikan salam bela

sungkawa. Bahkan ada diantara mereka yang sambil memeluk Sindangsari,

menangis tersedu-sedu. Kepergian mereka sepuluh tahun yang lalu seakanakan

baru saja kemarin terjadi. Dan gadis yang sekarang sudah dewasa itu,

adalah seorang gadis kecil yang manis pada saat mereka berangkat ke kota.

“Semua yang terjadi tidak dapat disesali” berkata seorang laki-laki tua, setua

kakek Sindangsari.

Nayi Wiratapa beserta ayah ibunya yang tua itupun mengangguk-anggukkan

kepalanya. Tetapi Sindangsari tidak dapat menahan titik air yang mengambang

di matanya.

“Tuhan Maha Tahu” orang tua itu melanjutkan “dan Tuhan itu Maha Pengasih

dan Maha Penyayang. Apa yang terjadi adalah cobaanNya. Memang terasa

pahit oleh kita”

Nyai Wiratapa mengangguk-angguk meskipun tenggorokannya terasa menjadi

pepat.

Namun keakraban sikap tetangga-tetangga itu dapat sedikit memberikan

ketenteraman di hati Nyai Wiratapa. Meskipun sepuluh tahun ia tidak ada di

rumah itu, namun ia merasa bukan orang asing ketika ia kembali berkumpul

dengan ayah dan ibunya serta tetangga-tetangganya.

Bahkan bukan saja orang-orang tua yang datang berkunjung ke rumah janda

itu, tetapi gadis-gadis yang sebaya dengan Sindangsaripun berdatangan pula.

Mereka adalah kawan bermain-main semasa mereka masih kanak-kanak. Dan

kini mereka bertemu kembali di usia dewasa.

Demikianlah Nyai wiratapa segera dapat menyesuaikan dirinya hidup di

padukuhannya kembali. Keramah-tamahannya sangat menarik hati orangorang

di sekitarnya, sehingga iapun segera mendapat tempat yang baik di

dalam lingkungannya. Orang-orang di sekitarnya menganggap Nyai Wiratapa

sebagai seorang yang mempunyai pengalaman agak lebih banyak dari mereka,

sehingga perempuan-perempuan padukuhannya selalu datang berkunjung

kepadanya untuk mendapatkan beberapa petunjuk dan nasehat tentang

bermacam-macam hal. Nyai Wiratapa dapat memberi beberapa petunjuk

memasak berbagai macam makanan yang belum dikenal oleh orang

Gemulung. bahkan orang-orang seluruh Kademangan Kepandak.

Sejalan dengan itu, gadis-gadis Gemulungpun banyak mendapat ceritera

tentang kota Mataram dari Sindangsari. Jalan-jalan yang lebar dan regol-regol

halaman yang tinggi dan besar. Rumah-rumah joglo bertiang sebesar pohon

randu alas pojok desa, dan pintu-pintu berukir yang disungging dengan warnawarna

emas.

Dan gadis-gadis desa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mata mereka

memmancarkan kekaguman hati. Satu dua diantara mereka memang ada yang

pernah pergi ke kota, tetapi hanya satu dua hari mengunjungi sanak saudara.

Tetapi merekapun akan segera kembali sebelum mereka melihat terlalu banyak

seperti yang dilihat oleh Sindangsari.

Bukan saja gadis-gadis yang sering mendengarkan ceritera Sindangsari.

Kadang-kadang anak-anak mudapun mengerumunminya di tepian apabila

Sindangsari bersama kawan-kawan gadisnya sedang mencuci di kali.

“Aku pernah melihat” berkata salah seorarlg anak muda yang berwajah keras

“tetapi hanya sehari”

“Aku bermalam sepekan di Mataram” berkata yang lain. “Aku melihat cukup

banyak”

“Tetapi belum sebanyak Sindangsari” potong seorang gadis.

“Tentu” jawab pemuda itu “meskipun demikian lebih banyak dari kau”

Gadis itu mengerutkan keningnya. Katanya “Aku sebulan berada di rumah

paman di Mataram”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang berkeliling

dilihatnya senyuman di setiap bibir.

Tiba-tiba terpercik warna merah di pipinya, sehingga tanpa sesadarnya iapun

berkisar surut, sehingga akhirnya ia berada di paling belakang.

Seperti ibunya, di lingkungan anak-anak muda dan gadis-gadis, Sindangsari

segera mendapat banyak kawan. Ia ramah dan cerdas, melampaui kawankawan

sebayanya. Lebih dari itu, ia mempunyai sedikit kelainan di mata anakanak

mudanya. Meskipun gadis-gadis Gemulung tidak kurang yang secantik

Sindangsari, tetapi cara mengetrapkan pakaiannya, cara berjalan dan

berbicara, Sindangsari mempunyai kelainan. Sebagai seorang gadis yang

pernah tinggal di kota kerajaan yang besar, Sindangsari mempunyai kebiasaan

yang agak berbeda dengan gadis-gadis desa asalnya, Gemulung.

Dan karena itulah, maka kehadiran Sindangsari justru telah menumbuhkan

persoalan-persoalan baru di padukuhannya. Persoalan-persoalan anak-anak

muda yang mulai mengaguminya.

Di saat-saat matahari terbit, dihampir setiap pagi, Sindangsari beserta dua tiga

kawan-kawannya selalu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Mereka

berusaha menyelesaikan pekerjaan mereka pagi-pagi, supaya pakaian-pakaian

itu segera kering pula. Apalagi apabila langit mendung dan hujan turun. Selain

itu, mereka masih mendapat kesempatan pergi ke pasar untuk berbelanja

kebutuhan sehari-hari.

Tanpa disadarinya, setiap pagi apabila Sindangsari pergi ke kali sepasang mata

selalu memandanginya dari balik pintu regol rumahnya. Sebuah rumah yang

cukup besar dan berhalaman luas menurut ukuran padukuhan Gemulung,

bahkan menurut ukuran Kademangan Kepandak. Rumah itu adalah rumah

seorang pedagang ternak yang kaya.

Ketika pagi itu Sindangsari lewat pula bersama tiga orang kawannya, mata

itupun mengikutinya pula sampai gadis itu hilang di balik rimbunnya rumpun

bambu di halaman sebelah. Sambil mengerutkan keningnya orang itu

melambaikan tangannya, memanggil seseorang yang sedang bekerja di

halaman.

“He, gadis itu lewat lagi” desisnya.

Orang yang dipanggilnya itupun mengerutkan keningnya. Sejenak ia mencoba

memandang kebalik pintu regol. Tetapi ia tidak melihat sesuatu.

“Ia sudah jauh” bentak orang yang berdiri di muka regol.

Orang yang datang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepalanya yang

botak. Wajahnya yang kasar menjadi berkerut-kerut sejenak. Tetapi tubuhnya

yang tinggi besar itu tegak seperti patung.

“Apakah maksudmu dengan gadis itu? Apakah aku harus mengambilnya?”

“Bodoh, kau memang bodoh”

Orang yang bertubuh tinggi besar berkepala botak itu diam mematung. Tatapan

matanya yang kosong menyentuh wajah orang yang memanggilnya, namun

wajah itupun segera berpaling.

“Jadi apakah maksudmu?” ia bertanya tanpa memandang wajah lawan

bicaranya, seorang anak muda yang gagah dalam pakaian yang bagus rapi.

Ank muda itu termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata ”Tidak apa-apa”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu terheran-heran sejenak. Kemudian iapun

meninggalkan anak muda itu. Langkahnya satu-satu seperti derap kaki seekor

gajah.

“Lamat” tiba-tiba anak muda itu memanggil.

Dan orang yang bertubuh tinggi besar itu terhenti. Kemudian sambil memutar

tubuhnya ia bertanya ”Kau memanggil aku?”

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi ialah yang datang mendekat.

“Kau pernah melihat gadis itu bukan?

“Ya”

“Cantik?”

“Cantik”

“Huh, kau memang tidak mempunyai otak yang dapat kau pergunakan untuk

berpikir. Kau menjawab asal saja menjawab ”

Orang yang tinggi besar itu mengerutkan keningnya. Desisnya ”Tetapi

bukankah ia memang cantik?”

“Sejak kapan kau mengenal seorang perempuan cantik?”

Lamat, orang yang botak itu tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah anak muda

yang kini tersenyum. Perlahan-lahan anak muda itu mendekatinya, kemudian

menepuk bahunya ”Tentu, kaupun tentu mengenal wajah cantik seorang

perempuan, meskipun agaknya kau sama sekali tidak tertarik. Terbukti sampai

sekarang kau tidak mau kawin juga”

Laki-laki itu tidak menjawab.

“He, kenapa kau tidak kawin Lamat?”

Laki-laki botak itu menarik nafas dalam-dalam. Pandangan wajahnya kemudian

terlempar kekejauhan. Jawabnya lambat ”Wajahku terlampau jelek buat

seorang perempuan”

Anak muda itu tertawa ”Kau terlampau perasa. Betapapun jeleknya wajah

seorang laki-laki, tetapi itu tidak berarti menutup segala kemungkinan untuk

beristeri.

“Kau tidak pernah mengerti perasaanku, karena wajahmu tidak jelek”

Anak muda itu masih saja tertawa.

“Pergilah” desis anakmuda itu ”mungkin pada suatu ketika aku memerlukan

kau”

Lamat menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkahkan kakinya

kembali kepekerjaannya. Memecah kayu bakar di halaman, dengan sebuah

kapak yang besar dan bertangkai panjang.

Sejenak anak muda itu memandanginya. Kemudian mengangguk-anggukkan

kepalanya sambil melangkah, meninggalkan halamannya, keluar regol dan

menyusur di sepanjang jalan.

Semula ia tidak tahu, kemana ia harus pergi. Namun tanpa disadarinya ia telah

pergi ke kali, menyusul gadis-gadis yang sedang mencuci.

Tetapi anak muda itu berhenti beberapa puluh langkah dari tepian. Ia menjadi

ragu-ragu untuk mendekat, Kadang-kadang ia melihat seorang dua orang anakanak

muda berada di tepian itu juga dengan berbagai macam alasan. Ada yang

mencuci cangkul, ada yang mencuci rumput yang baru disabitnya, atau

mencuci apapun. Tetapi karena tidak seorangpun yang tampak, anak muda itu

menjadi segan juga mendekat. Karena itu, maka iapun kemudian melangkah

kembali, berjalan dengan tergesa-gesa ke sawah ayahnya yang luas, untuk

melihat orang-orangnya yang sedang bekerja.

Sindangsari yang sedang mencuci itu sama sekali tidak menyadari, bahwa

dirinya telah menarik banyak perhatian. Anak-anak muda. Karena itu, sikapnya

sama sekali tidak berubah. Ia bersikap ramah kepada siapapun, kepada anakanak

muda yang manapun. Juga kepada anak muda anak pedagang ternak

yang kaya itu, yang bernama Manguri, tetapi juga dengan anak-anak muda

yang tidak begitu kaya, bahkan dengan anak-anak muda yang miskin

sekalipun.

Itulah sebabnya, maka Sindangsari tidak segan-segan berhenti di pematang

apabila ia mendengar seruling seorang gembala yang seakan-akan menyentuh

perasaannya. Meskipun gembala itu duduk di bawah sebatang pohon yang

rindang tanpa memakai baju. selain sehelai kain yang lungset dan celana hitam

yang longgar.

Tetapi suara seruling itu sangat menarik perhatiannya, seperti kicau burung

yang berloncatan di dahan-dahan. Lincah disela-sela desir angin yang lembut

membelai batang-batang padi yang hijau.

“Kehidupan dipedesan mempunyai keindahannya tersendiri” desisnya ”tenang,

damai seakan-akan tidak diburu-buru oleh persoalan-persoalan yang

memeningkan kepala”

Tetapi ketenangan hidup Sindangsari yang telah mulai mapan itu segera goyah.

Adalah mengejutkan sekali ketika pada suatu hari seorang datang berumahnya.

Seorang perempuan tua yang berpakaian rapi.

“Aku diutus oleh angger Manguri Nyai” berkata perempuan itu kepada Nyi

Wiratapa.

“Siapakah angger Manguri itu?” bertanya Nyai Wiratapa itu.

“Putera seorang pedagang ternak yang paling kaya di seluruh Gemulung”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku diutus menyerahkan bingkisan ini kepada puteri Nyai yang bernama

Sindangsari”

Sepercik warna merah menyala di wajah perempuan itu. Dengan ragu-ragu ia

bertanya ”Apakah isi hingkisanitu?”

“Sepengadeg kain, baju dan kelengkapannya”

“He” Nyai Wirata terkejut bukan buatan. “Apakah maksudnya?”

“Tidak apa-apa Nyai. Sekedar sebagai tanda persahabatan. Bukankah Nyai

sedang dirundung oleh kesusahan karena kehilangan suami dan angger

Sindangsari kehilangan ayah?”

“Tetapi, tanda persahabatan itu berlebih-lebihan”

“Jangan memikirkan yang tidak-tidak” Nyai Wiratapa terdiam sejenak.

Dipandanginya sebungkus bingkisan yang menurut keterangan perempuan

yang membawanya berisi sepengadeg pakaian.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berkata

”Terima kasih atas kebaikan hati angger Manguri. Tetapi maaf, bukan

maksudku menolak tanda persahabatan. Namun saat ini aku belum dapat

menerimanya. Anakku seorang gadis dan angger Manguri adalah seorang anak

muda. Seandainya anakkkupun seorang anak muda seperti angger Manguri,

maka aku akan menerimanya dengan senang hati”

“O” perempuan itu mengerutkan keningnya maksud Nyai, Nyai tidak dapat

menerima bingkisan ini?”

“Maaf, saat ini belum”

Perempuan itu menjadi tegang sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum ”Nyai,

adalah suatu kehormatan yang tidak ada taranya karena angger Manguri telah

memberikan bingkisan sebagai tanda keakraban itu”

Nyai Wiratapa memandang perempuan itu semakin tajam. Senyumnya adalah

senyum yang tidak wajar. Semakin lama justru semakin memuakkan.

Agaknya perempuan tua itu salah menilai Nyai Wiratapa yang pernah hidup di

dalam pergaulan yang lebih luas. Justru perempuan tua yang mencoba

tersenyum-senyum itulah yang sama sekali tidak dapat mengerti, siapakah

lawan bicaranya. Kebiasaan yang dilakukan sebelumnya dengan tingkah laku

yang dibuat-buat itu selalu berhasil. Tetapi terhadap perempuan-perempuan

yang picik dan kurang dapat menanggapi keadaan. Bukan terhadap Nyai

Wiratapa.

“Jangan menyia-nyiakan kehormatan ini Nyai” desis perempuan tua itu sambil

bergeser maju. Didorongnya bingkisan yang dibawanya sambil tertawa ”Tidak

akan ada seseorang yang berbaik hati seperti angger Manguri”

Nyai Wiratapa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bertanya ”Nyai,

apakah tidak ada pamrih apapun di balik pemberian ini”

“O, tentu tidak. Tentu tidak Nyai. Aku mengenal angger Manguri dengan baik.

Anak itu sudah seperti anakku sendiri” jawab perempuan tua itu.

“Jangan seperti sedang merayu anak perawan Nyai. Kita sudah cukup

berpengalaman. Aku pernah menjadi seorang gadis muda dan kaupun pernah.

Bagaimana perasaanmu selagi kau seorang gadis remaja vang mendapat

bingkisan dari seorang anak muda?”

“Ah, kau berpikir terlampau jauh. Itu berlebih-lebihan Nyai. Tetapi apabila

perkembangan persahabatan anak-anak kita akan sampai kesana, itu bukan

persoalan kita yang tua tua lagi. Bukankah wajar sekali, bahwa pergaulan anakanak

muda akan sampai ke puncaknya dan diakhiri dengan perkawinan yang

bahagia?”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya ”Nah, bukankah

itu tujuannya. Apapun yang kau lakukan, tetapi kau sedang diutus oleh angger

Manguri untuk merayu anakku. Itulah”

Semburat warna merah membayang di wajah perempuan tua itu. Belum pernah

ia mengalami perlakuan yang demikian selama berpuluh-puluh tahun ia

menjalankan tugasnya untuk berpuluh-puluh anak-anak muda. Karena itu maka

sejenak ia justru terdiam. Meskipun bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak

sepatah katapun yang diucapkannya. Sama sekali berbeda dengan

kebiasaannya. Ia selalu banyak berbicara apabila ia sedang menghadapi

seorang ibu dari seorang gadis yang sedang dibujuknya. Sambil tertawa dan

tersenyum-senyum diserahkannya sebuah bingkisan ke tangan perempuan

yang beranak gadis itu.

Biasanya ia tidak gagal. Ia tahu pasti, ibu gadis itu akan merasa berhutang

budi, sehingga dengan segala usaha ia akan mendorong gadisnya untuk

menerima tawaran apapun dari anak muda yang berbudi, yang telah

melimpahkan kebaikan hati kepadanya. Tetapi ibu yang dihadapinya kali ini

ternyata agak berbeda, meskipun ia tahu pasti, bahwa janda inipun masih

banyak memerlukan barang-barang serupa itu untuk mencukupi keperluan

anak gadisnya karena penghasilan sawahnya yang tidak seberapa luas.

“Nyai” berkata Nyai Wiratapa kemudian kepada perempuan tua itu “sekali lagi

aku minta maaf. Sebenarnyalah bahwa aku sangat berterima kasih. Tetapi aku

tidak mau memacu perhubungan anakku dengan siapapun juga. Biarlah hati

anak-anak itu berkembang dengan wajar. Apabila kelak anakku tertarik oleh

anggger Manguri, aku tidak akan keberatan. Tetapi biarlah semuanya berjalan

sewajarnya”

Wajah perempuan tua itu kini benar-benar menjadi merah. Ditatapnya Nyai

Wiratapa dengan tajamnya. Tetapi perempuan tua itu kini sudah tidak lagi dapat

memilih kata-kata yang paling manis. Debar jantungnya yang semakin cepat itu

membuatnya gemetar, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah

kata-kata yang kasar, “Kau menghina angger Manguri Nyai. Kalau kau tidak

boleh anakmu bergaul dengan anak pedagang yang paling kaya itu, maka kau

adalah janda yang paling bodoh. Bukan saja anakmu akan menjadi menantu

orang yang kaya raya itu tetapi kalau nasibmu baik, kau sendiri akan mendapat

kesempatan menjadi isteri pedagang kaya itu. Baru-baru ini isterinya yang

keempat baru saja dicerainya, karena ia kedapatan mencuri beberapa helai

kain, justru yang akan diberikan kepadanya sendiri”

Terasa sebuah tamparan menyengat pusat syarat Nyai Wiratapa. Hampir saja

ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Tetapi sebagai seorang perempuan yang

lebih bayak mengenal sudut-sudut penghidupan, maka ditahankannya hatinya.

Dengan susah payah ia menjawab sareh “Terima kasih atas kebaikan hati itu.

Tetapi maaf, bahwa semuanya aku tidak memerlukan. Sekarang aku

persilahkan kau membawa barang-barang itu kembali kepada angger Manguri,

meskipun aku tidak akan melarang anakku bergaul dengannya sebagai kawan

se padukuhan”

Perempuan tua itu sudah tidak dapat berkata apapun. Dihentakkannya

bingkisan yang sudah diletakkannya di amben bambu itu, kemudian dengan

wajah yang berkerut merut, tanpa minta ijin lagi ia segera berdiri dan

melangkah keluar pintu.

Meskipun demikian Nyai Wiratapa masih mengantarkannya sampai ke muka

pintu. Namun ketika perempuan itu telah melintasi halaman rumahnya dan

turun kejalan, maka segera ia masuk kembali. Tanpa sesadarnya ia terduduk di

amben sambil mengusap dadanya. Ia tidak berhasil membendungnya, ketika

titik-titik air yang jernih meleleh di pipinya. Betapa pedihnya hidup menjanda,

menghadapi orang-orang yang tidak berperasaan itu.

Nyai Wiratapa cepat menyeka matanya ketika ia mendengar langkah kaki

ayahnya. Sambil berdesah panjang orang tua itu melangkah masuk.

Melepaskan caping bambunya dan menyangkutkannya di dinding, di sisi pintu.

Kemudian meletakkan cangkulnya di sudut ruangan.

“Panasnya bukan main” gumamnya.

Nyai Wiratapa segera menghampirinya. Semua kesan di wajahnya telah

berhasil dihalaukannya. Sambil tersenyum ia mengambil sebuah gendi berisi air

“Ayah haus” desisnya.

Orang tua itu menerima gendi dari tangan anaknya. Kemudian meneguknya.

Segar sekali.

“Dimana anakmu?” bertanya laki-laki tua itu.

“Keluar, ayah” jawab Nyai Wiratapa.

Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil

mengusap keringat di wajahnya yang sudah berkeriput ia berkata ”Udara panas

sekali. Sebaiknya anakmu tinggal di rumah”

Nyai Wiratapa menganggukkan kepalanya ”Ya ayah. Aku akan

memberitahukannya nanti”

“Panas yang tajam dapat menimbulkan penyakit. Apalagi anakmu. Ia tidak

biasa berada di sawah dan berjemur di terik matahari”

“Ya ayah”

Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah

masuk keruang dalam. Sementara ibu Nyai Wiratapa lagi sibuk menyiapkan

makan di dapur.

Namun sementara itu, Sindangsari memang lagi bermain bersama beberapa

orangkawannya di pinggir desa. Beberapa orang gadis yang baru pulang dari

sawah, berhenti sebentar untuk beristirahat dan bergurau.

Tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya ketika suara seruling lamat-lamat

menyentuh telinga. Suara itu serasa langsung menyusup ke dalam dadanya.

Dalam panasnya udara, suara seruling itu dapat memberikan kesegaran di

hatinya.

“Apa yang kau dengar?” bertanya seorang kawannya.

“Seruling. Siapakah yang meniup seruling itu?” jawab Sindangsari sambil

bertanya pula.

“Disini hampir setiap orang dapat meniup seruling. Akupun dapat. Ruri, Sasi,

dan beberapa orang lainpun dapat pula”

Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata gadis-gadis itu juga

dapat meniup seruling. Tetapi bunyi seruling ini agak lain dari bunyi seruling

yang sudah sering di dengarnya. Suara seruling ini seakan-akan sebuah alunan

perasaan yang mengambang dibawa angin mengembara sampai ke batas yang

jauh sekali.

“Tetapi” berkata Sindangsari kemudian”aku belum pernah mendengar suara

seruling seperti ini. Lagu apakah yang dibawakannya?”

“Entahlah. Agaknya ia asal saja membunyikan serulingnya tanpa patokan.

Bukan Dandanggula, tetapi juga bukan yang lain. Mirip sedikit dengan

Asmaradana dipermulaannya, tetapi kemudian berpindah pada Pangkur.

Agaknya ia tidak mengenal gending”

“Ya. Tetapi justru dengan demikian perasaannya dapat bebas mengembara

didunianya. Tanpa kekangan yang dapat membatasi sayap-sayap yang sudah

mengembang, terbang tinggi di langit berlapis tujuh”

Kawan-kawan Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi merekapun

kemudian tersenyum ”Kau lucu”

Sindangsari yang semula bersungguh-sungguh, kemudian tersenyum pula.

“Suara itu datang dari balik gerumbul di pinggir parit di sudut pategalan itu” tiba

tiba salah seorang kawannya berdesis.

“Siapakah yang sering berada di sana?”

“Anak-anak kecil sering menggembala kambing di sana. Kadang-kadang kakak

mereka yang sedang beristirahat dari kerja mereka di sawah, berteduh pula di

sana”

“O, aku tahu” sahut yang lain ”yang sering bermain seruling di sudut pategalan

itu adalah Pamot”

“Tidak hanya Pamot, juga Windan dan Wisesa”

Gadis-gadis itu tersenyum, sedang Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.

Katanya ”Jadi yang bermain seruling itu mungkin Pamot, mungkin Windan dan

mungkin pula Wisesa”

“Mungkin yang lain lagi” sahut kawannya. Dan gadis-gadis itupun tertawa.

Tetapi suara tertawa mereka segera terputus ketika mereka melihat sesosok

tubuh meloncat pematang di sisi batang-batang jagung muda. Ketika orang itu

berada di pinggir jalan, barulah mereka jelas, bahwa yang meloncati pematang

itu adalah Manguri.

“He, Manguri” desis seorang gadis.

“Ya. Darimana dia?”

“Tentu dari sawahnya”

Sindangsari mengerutkan keningnya ketika kemudian ia melihat kawankawannya

kemudian bersikap lain. Ada yang dibuat-buat, tetapi ada juga yang

justru menundukkan kepalanya.

Ketika anak muda. itu, lewat di hadapan mereka, maka salah seorang

kawannya menegur dengan ramahnya ”Darimana kau Manguri?”

Langkah Manguri terhenti. Sambil tersenyum ia menjawab ”Dari sawah”

“Matahari terlampau terik. Kenapa kau memerlukan pergi ke sawah juga?”

bertanya yang lain.

“Apa salahnya. Anak-anak muda yang lain juga pergi ke sawah”

Tetapi kau tidak perlu. Kau dapat mengupah orang. Ayahmu terlampau kaya”

Manguri tertawa. Jawabnya ”Itu adalah pikiran yang salah. Bagaimanapun juga

aku harus belajar bekerja. Kalau tidak, maka kekayaan ayah nanti pasti akan

segera habis. Aku justru harus mengembangkannya”

Gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tatapan mata

kekaguman mereka memandang senyum Manguri yang jernih itu.

Dan tiba-tiba ia bertanya ”Kenapa kalian disini?”

“Beristirahat. Panasnya bukan main”

“Di sebelah ada penjual dawet cendol aren. Kalian dapat minum di sana”

“Darimana kami akan membayar?” tiba-tiba salah seorang gadis memotong

dengan manjanya.

Manguri tersenyum. Kemudian tangannya dimasukkannya ke dalam sakunya.

Katanya ”Ini ada beberapa keping uang. Cukup buat membeli dawet cendol.

Berebutan gadis-gadis itu meloncat maju menerima uang dari tangan Manguri.

Salah seorang yang paling dahulu berteriak ”Aku yang diberinya”

“Buat kalian semua” desis Manguri.

“Terima kasih”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya yang cerah masih

saja menghiasi bibirnya. Namun kemudian tanpa berkata sepatah katapun juga

ia melangkah pergi.

Tetapi beberapa langkah kemudian ia berpaling. Kali ini ia berusaha menatap

salah satu saja dari wajah gadis-gadis yang sedang kegirangan itu.

Sindangsari.

Tanpa sesadarnya Manguri menarik nafas dalam-dalam. Wajah itu memang

tidak terpaut banyak dari gadis-gadis cantik di Gemulung. Tetapi Manguri

melihat kelainan pada wajah itu.

Namun Manguri kemudian meneruskan langkahnya. Ditinggalkannya gadisgadis

yang sedang berebut uang beberapa keping itu .

“Aku, aku saja yang membawa” gadis yang menerima uang itu

mempertahankan.

“Bagi, bagi saja”

Yang agak lebih dewasa kemudian berkata ”Kita pergunakan bersama-sama.

Mari, kita pergi ke penjual dawet itu. Dawet dengan cendol dan legen aren”

Gadis itupun kemudian berlari-larian pergi ke sebelah tikungan.

Tetapi langkah merekapun kemudian tertegun. Ternyata diantara gadis-gadis

itu, seseorang tidak ikut berlari-lari.

Bahkan dengan termangu-mangu ia memandangi kawan-kawannya yang

seakan-akan telah melupakan panasnya udara yang telah memeras peluh

mereka.

“He Sari, Mari, kita minum”

Sindangari menggelengkan kepalanya sambil menjawab ”Aku tidak haus”

“He, udara begini panas. Alangkah segarnya kita minum dawet cendol”

Sekali lagi Sindangsari menggelengkan kepalanya. Katanya ”Silahkan”

“Kenapa kau? Malu?”

“Tidak. Tetapi kepalaku sering menjadi pening apabila aku minum air tawar di

udara yang begini panas”

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari

mereka berkata ”Cobalah. Beginilah kehidupan kami di Gemulung. Mungkin

memang agak berbeda dengan di kota Mataram”

“Tidak. Bukan begitu” sahut Sindangsari cepat-cepat ”bukan maksudku berkata

begitu. Tetapi itu adalah sekedar kebiasaan saya sendiri, karena kelemahanku.

Aku tidak tahan minum air mentah apabila keringatku sedang mengalir

sebanyak ini”

Sekali lagi gadis itu saling memandang, kemudian salah seorang dari mereka

berkata “Baiklah. Tunggulah di situ atau kau ikut kami ke sebelah tikungan”

Sindangsari menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak beranjak.

Dipandanginya kawan-kawannya yang hilang di balik tikungan.

Gadis itu menjadi heran melihat sikap kawan-kawannya. Apakah ini memang

sudah menjadi kebiasaan mereka, menerima pemberian Manguri?

Tetapi itu tidak baik baginya. Ia tidak boleh menerima pemberian begitu saja.

Apalagi dari seorang anak muda. Karena itu, betapapun ia menahan haus,

tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan kemudian dicarinya tempat di

bawah sebatang pohon rindang, untuk duduk beristirahat sambil bersandar

batangnya. Dipandanginya cahaya terik matahari yang seakan-akan membakar

dedaunan.

Di kejauhan tampak seakan-akan uap air yang memenuhi udara. Menggelepar

kepanasan. Bahkan seakan-akan tampak bayangan lamat-lamat meloncatloncat

seperti berpijak pada bara. Endeg pangamun-amun.

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak beranjak dari

tempatnya. Panas udara serasa semakin membakar kulitnya, sedang kawankawannya

yang sedang pergi membeli dawet aren masih juga belum tampak

kembali.

“Haus sekali” desisnya. Tetapi untuk ikut bersama kawan-kawannya

Sindangsari masih belum sampai hati.

Namun tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya. Lamat-lamat ia mendengar

suara seruling. Semakin lama menjadi semakin dekat. Seolah-olah seruling

yang mendendangkan kidung yang segar itu sedang terbang melayang

mendekatinya.

Tetapi akhirnya suara seruling itu tidak lagi bergerak di tempatnya, meskipun

suaranya menjadi semakin jelas terdengar.

Sindangsari perlahan-lahan berdiri. Ditajamkannya telinganya untuk

mengetahui, darimanakah arah suara seruling itu.

“Agaknya tidak terlampau jauh” katanya kepada diri sendiri.

Tanpa sesadarnya Sindangsari itupun berkisar dari tempatnya. Selangkah demi

selangkah ia berjalan menyusur jalan di pinggir desa sepanjang rimbunnya

dedaunan. Kadang-kadang ia berhenti termangu-mangu.

Namun suara seruling yang anehku menarik perhatiannya. Justru karena lagu

yang dibawakannya tidak terikat oleh bentuk-bentuk yang sudah ada.

Ketika Sindangsari sampai di sudut desa. Ia melangkah sebuah parit kecil.

Kemudian disusunnya tanggul parit yang membujur di sepanjang pagar batu.

Suara seruling itu menjadi semakin dekat” gumamnya ”aku pergi ke arah yang

benar”

Namun akhirnya ia terhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan berjalan

terus mencari sumber suara itu? Apakah itu baik?. Beberapa langkah lagi”

desisnya.

“Apakah salahnya?“ ia bertanya kepada dirinya. “Suara seruling itu sangat

menarik“

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti di tarik oleh sebuah

pesona yang tidak dimengertinya, Sindangsaripun kemudian melangkah terus.

Ia tersadar ketika tiba-tiba saja suara seruling itu berhenti. Alangkah terkejutnya

gadis itu ketika tiba-tiba saja ia mendengar seseorang menyapanya. Hampir

saja ia meloncat terjun ke dalam parit yang mengalirkan air yang gemericik

bening.

“Sindangsari“ terdengar suara yang berat dari balik pagar batu “kemana kau?“

Sindangsari berpaling. Dilihatnya sebuah kepala tersembul dari balik pagar batu

beberapa langkah di hadapannya.

“Oh“ Sindangsari menarik nafas dalam-dalam “kau membuat aku sangat

terkejut. Hampir saja aku lari tunggang langgang”

Seorang anak muda muncul dari balik pagar. Di tangannya tergenggam

sebatang seruling yang panjang.

“Kenapa kau menyusuri parit itu he? Apakah sawah kakekmu kering?” bertanya

anak muda itu.

Sindangsari bingung sesaat. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya

sambil berkata “Tidak. Aku tidak sedang mencari air“

“Lalu, kenapa kau menyusur tanggul itu?“ Sindangsari menarik nafas dalamdalam.

Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan itu. Bahkan ialah yang kemudian

bertanya “Kaukah yang baru saja bermain dengan serulingmu itu?“

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Diamat-amatinya seruling di tangannya

seakan-akan baru pertama kali itu di lihatnya.

“Apakah anehnya?“

“Tidak apa-apa. Tetapi caramu meniup seruling acak berbeda dengan kawankawanmu

yang lain”

“Apakah bedanya?“

“Kau tidak mengikuti ikatan-ikatan gending yang sudah ada”

Anak muda itu tertawa. Katanya “Mungkin aku memang tidak dapat memahami

gending-gending itu. Tetapi mungkin juga karena aku tidak puas dengan ikatanikatan

yang ada”

“Itulah yang menarik”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia berkata “Kemarilah.

Halaman ini adalah halaman kakekku. Karena kakek sudah terlampau tua dan

tinggal bersama ayah dan ibu, maka halaman ini menjadi kosong”

Sindangsari berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya

”Terima kasih. Kalau ada waktu, biarlah lain kali saja aku datang”

“Kenapa tidak sekarang?“

“Kau sendiri?”

“Ya”

“Terima kasih”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya ”Lalu

apakah maksudmu sebenarnya?”

“Tidak apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu”

“Kau aneh. Aku tidak dapat mengerti”

Sindangsari tidak segera dapat menjawab. Ia sendiri menjadi bingung apa yang

harus dilakukannya. Sementara itu anak muda itu telah meloncati dinding batu

dan berdiri di hadapannya.

“Aku akan pulang” gumam Sindangsari.

“He” anak muda itu menjadi semakin heran ”lalu apakah kepentinganmu

dengan suara seruling itu?”

“Hanya ingin tahu.

Sindangsari tidak menunggu jawaban anak muda itu lagi. Segera ia memutar

tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan anak muda yang keheranan

sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ketika Sindangsari meloncati parit kecil di pinggir desa itu, terdengarlah suara

kawan-kawannya hampir berbareng ”Itu. itulah Sindangsari”

Dan yang lain berteriak ”Sari, darimana kau?”

Sindangsari tidak segera menjawab. Dengan tergesa-gesa ia pergi

mendapatkan kawan-kawannya.

“Darimana kau he?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Mencuci kaki diparit itu. Panasnya bukan main”

“Apakah baru sekarang kau sadari? Salahmu. Kau tidak mau minum bersama

kami. Alangkah segarnya”

“Salahmu” sahut yang lain.

Sindangsari tersenyum. Jawabnya ”Justru karena panasnya bukan main itulah

aku tidak berani minum air mentah. Bukankah sudah aku katakan?”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian salah

seorang dari mereka bertanya ”Sekarang, setelah kita tidak haus lagi, kemana

kita pergi? Apakah kita akan kembali ke sawah?”

“Tidak” salah seorang menyahut sambil menggelengkan ”aku segan”

“Kalau aku, mau tidak mau harus kembali lagi ke sawah. Biyungku ada di

gubug itu. Ia pasti akan menunggu aku sampai aku datang kesana”

“Kenapa kau sekarang berada disini?”

“Panas sekali. Aku tidak tahan berada ditengah-tengah sawah meskipun di

dalam gubug”

“Bohong” jawab yang lain lagi ”kau tahu Manguri akan lewat disini”

“Ah, tentu tidak. Siapa tahu ia akan lewat disini. Aku tidak tahu bahwa ia ada di

sawahnya”

“Bohong, bohong” yang lain hampir berbareng. Dan gadis itu menjadi merah

padam.

“Sudahlah, jangan mengganggu. Aku akan kembali ke sawah”

“Sebentar lagi Manguri akan menyusul”

“Embuh ah” dan gadis itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan

kawannya. Tetapi beberapa langkah ia berpaling sambil melambaikan

tangannya.

Sindangsari sama sekali tidak ikut di dalam sendau gurau itu. Ia masih belum

terbiasa dengan gadis-gadis kawan sepermainannya. Hubungannya masih

terbatas meskipun semakin lama menjadi semakin akrab.

Tanpa prasangka apapun ia bertanya kepada salah seorang kawannya

”Apakah menjadi kebiasaan Manguri membagikan uangnya?”

“Sering benar ia berbuat demikian” jawab salah seorang gadis ”ia terlalu baik”

ulang Sindangsari.

“Ia tidak pernah mendendam” desis yang lain ”ketika ia ditinggal oleh

kekasihnya yang dahulu, ia sama sekali tidak menuntut apapun. Baik dari gadis

itu, maupun dari laki-laki yang melarikannya”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Apalagi ketika yang lain menyambungnya

”Sudah lebih dari tiga kali ia ditinggal oleh gadis-gadis yang semula tampaknya

akrab sekali. Ketiganya dilarikan oleh laki-laki lain setelah mereka mendapat

terlampau banyak dari Manguri”

“Sampai tiga kali dan bahkan lebih?”

“Ya. Dan Manguri sama sekali tidak bersedih karenanya. Meskipun untuk sehari

dua hari ia tidak keluar dari rumahnya”

Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya ia berkata

”Itulah agaknya sebabnya, kenapa Manguri senang sekali bergaul dengan

gadis-gadis. Agaknya ia ingin melupakan yang telah hilang itu”

“Kasian anak muda itu” terdengar suara seorang gadis dalam nada yang

rendah.

Kawan-kawannya berpaling kepadanya, dan seorang berkata ”He, apakah kau

ingin menggantikan yang hilang itu?”

Jawabnya benar-benar di luar dugaan Sindangsari Bukankah kita sama-sama

menginginkannya?”

****

Bab 2 : Tembang Macapat

“Ah” gadis-gadis itu mengerutkan keningnya.

Namun kemudian mereka tertawa hampir

meledak.

Sindangsari tidak dapat ikut tertawa, karena

ia tidak mengerti apakah yang harus

ditertawakannya. Bahkan ia menaruh iba

terhadap Manguri yang sudah tiga kali

bahkan lebih kehilangan kekasihnya.

“Marilah kita pergi ke sawah” berkata salah

seorang gadis diantara mereka.

“Marilah. Kalau nasib kita baik, kita akan

bertemu lagi dengan Manguri. Di tengahtengah

bulak itu ada penjual rujak nanas”

Beberapa orang diantara mereka berpikir

sejenak. Dan hampir berbareng mereka

berkata ”Mari, mari kita pergi ke sawah”

Sindangsari menjadi ragu-ragu. Ia tidak mempunyai banyak kepentingan di

sawah. Apalagi panasnya liukan main. Ia tidak biasa berada di teriknya

matahari, meskipun ia mencoba untuk menyesuaikan diri. Tetapi kadangkadang

kepalanya masih terasa pening.

Dan belum lagi ia mendapat keputusan, dilihatnya seorang laki-laki tua berjalan

sambil memanggul cangkul di pundaknya. Di kepalanya tersangkut sebuah

caping bambu yang kasar. Laki-laki itu adalah kakeknya.

“Itu kakek” desisnya.

Kawan-kawannya memandang serentak kepada laki-laki tua itu. Salah seorang

diantara mereka berkata “Nah, kau dapat bersama-sama dengan kakekmu”

Sindangsari menganggukkan kepalanya.

Tetapi ketika laki-laki tua itu sampai ke tempatnya, maka iapun berkata

”Pulanglah Sari. Ibumu menunggumu”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Jawabnya ”Aku akan pergi ke sawah

bersama kawan-kawan kakek”

Kakeknya berhenti sejenak. Dipandanginya gadis-gadis yang ada di sekitarnya.

Gadis Gemulung. Gadis-gadis yang telah biasa berada di terik matahari,

sehingga kulit mereka menjadi merah tembaga. Namun karena kebiaaan

mereka bekerja, tubuh merekapun menjadi ketat berisi. Tetapi kakek tua itu

berkata ”Pulanglah. Kau harus membiasakan dirimu sedikit demi sedikit,

supaya kau tidak sakit”

Sindangsari menjadi kecewa. Tetapi ia tidak berani membantah. Karena itu,

maka ia berdesis kepada kawan-kawannya ”Aku akan pulang”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari

bahwa Sindangsari tidak dapat melanggar pesan kakeknya.

Karena itu, maka Sindangsari tidak ikut bersama dengan gadis-gadis itu ketika

mereka berjalan berjingkat-jingkat di panasnya matahari yang seakan-akan

telah membakar debu di jalan-jalan.

Kini yang berdiri di hadapannya tinggallah kakeknya. Dengan mengusap

keringat di keningnya laki-laki tua itu berkata ”Kau belum biasa membakar diri di

terik matahari Sari. Pulanglah”

Sindangsari mengangguk ”Ya kakek”

Maka ketika kakeknya meneruskan perjalanannya ke sawah, Sindangsaripun

kemudian berjalan pulang ke rumahnya.

Belum lagi ia duduk ketika ia memasuki ruang depan rumahnya, ibunya telah

bertanya kepadanya ”Darimana kau Sari?”

“Dari sudut desa ibu. Bermain-main dengan kawan-kawan”

Ibunya memandanginya dengan sorot mata yang aneh. Sorot mata yang

seolah-olah belum dikenal oleh Sindangsari. Tetapi Sindangsari tidak berani

bertanya.

“Keringatmu terlampau banyak Sari” berkata ibunya sambil mengusap

keningnya perlahan-lahan ”kau dapat menjadi sakit karenanya. Wajahmupun

jadi merah seperti terbakar. Apakah kau berjemur di panas matahari?”

“Tidak ibu. Aku berada di tempat yang teduh. Tetapi udara memang panas

sekali”

“Lain kali jangan terlalu lama pergi”

Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya.

Di pojok desa aku bermain-main dengan kawan-kawan” berkata Sindangsari

”mereka sedang beristirahat sebentar”

“Apakah yang mereka kerjakkan?” bertanya ibunya.

“Macam-macam” jawab Sindangsari ”ada yang menunggui padi yang sedang

bunting. Ada yang mengirimkan makanan ke sawah. Ada yang bermain-main

saja”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Anak-anak muda juga banyak yang beristirahat di pojok desa dan di pojok

pategalan. Mereka bermain seruling bu. Alangkah merdunya”

“Siapa?”

Hampir semua anak-anak muda dan gadis-gadis Gemulung dapat bermain

seruling”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dan tiba-tiba ibunya mengerutkan keningnya ketika anaknya berkata ”Manguri

juga lewat di pojok desa itu”

“Manguri?” ulang ibunya.

“Ya. Anak pedagang ternak yang kaya itu. Ia sangat baik”

Kerut-merut di wajah ibunya menegang. Dengar nada yang datar perempuan

itu bertanya “Apakah yang telah di lakukan?“

“Membagi uang”

“Membagi uang“ mata ibunya terbelalak karenanya ”Kau diberinya juga?“

Sindangsari menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak ikut memiliki

pemberian itu. Kawan-kawan membeli dawet aren beramai-ramai dengan uang

pemberian Manguri. Tetapi aku tidak mau”

“Bagus Sari. Kau harus bersikap demikian. Tidak baik menerima pemberian

orang tanpa alasan”

“Tetapi Manguri biasa berbuat demikian. Ia memang anak yang baik bu. Baik

sekali. Ramah dan tidak kikir”

Ibunya tidak segera menjawab. Di tatapnya saja wajah anaknya dengan

saksama.

“Hampir semua kawan-kawan mengatakan tentang Manguri. Bahkan ia tidak

mendendam ketika kekasihnya lari bersama laki-laki lain”

“Ah. Kau mengerti terlalu banyak tentang anak muda itu”

“Kawan-kawan menceriterakan tanpa aku minta”

“Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Sudahlah. Sebaiknya

kau beristirahat. Kalau sudah kering keringatmu, pergilah mencuci muka. Kau

belum makan bukan?“

Sindangsari menganggukkan kepalanya. Kemudian iapun pergi ke sumur untuk

mencuci mukanya.

Setelah makan siang. Sindangsari pergi ke kebun di belakang rumahnya. Di

bawah pohon yang rindang ia membentangkan sehelai tikar pandan. Kemudian

di lingkarkannya sehelai tali di pinggangnya bertaut dengan ujung kakinya.

Sejak ia kembali ke padukuhan Gemulung ia sudah mempelajari cara-cara

menganyam tikar, dan agaknya Sindangsari cepat dapat mengerti.

Meskipun demikian, meskipun jari-jarinya yang panjang telah memegang helaihelai

pandan yang sudah mulai teranyam, namun kali ini, tangan itu sama

sekali tidak bernafsu untuk bergerak. Sekali-sekali terbayang wajah kawankawannya

dipermainkan di pojok desa. Wajah Manguri yang tersenyum cerah.

Kemudian suara seruling yang mengalun di sela-sela desau angin yang panas.

“Hal yang tidak pernah aku alami di kota” desisnya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Sindangsari merenungi dedaunan

yang bergerak-gerak dibelai angin. Kadang-kadang terasa sentuhan daun-daun

kering yang jatuh menimpanya.

Angin yang silir telah membuatnya mengantuk. Tanpa sesadarnya kadangkadang

kepalanya tertunduk. Namun kemudian ia terkejut dan berusaha

membuka matanya selebar-lebarnya.

“Kau lelah Sari” terdengar suara ibunya dari pintu belakang dapur.

Sindangsari berpaling sambil tersenyum “Udara membuat aku sangat

mengantuk.

“Tidurlah”

Tetapi Sindangsari menggeleng “Tidak ibu. Itu akan menjadi kebiasaan”

Ibunya tersenyum pula. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati anaknya dan

kemudian duduk di sampingnya. Perlahan-lahan tangannya membelai rambut

anaknya yang hitam.

“Sari” berkata ibunya kemudian “kau sudah menjadi semakin besar”

Sindangsari mengerutkan keningnya.

“Kau sekarang sudah menjadi gadis remaja” Sindangsari masih belum

menyahut. Dan ibunya berkata terus ”Dengan demikian kau harus menyadari,

bahwa seandainya bunga, kau sudah hampir mekar”

“Ah“ gadis itu berdesah.

Ibunyapun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iiba-tiba saja ia menjadi raguragu

untuk mengatakan bahwa Manguri telah menyuruh seseorang datang

memberikan hadiah kepadanya.

Kesan yang ditangkap oleh Nyai Wiratapa dari ceritera anaknya tentang

Manguri telah membuatnya bimbang. Mungkin anak itu memang baik. Mungkin

Kegagalannya yang berulang kali itulah yang membuatnya berlaku aneh.

“Tetapi cara itu sama sekali tidak aku sukai” berkata Nyi Wiratapa di dalam

hatinya “aku lebih senang perhubungan yang wajar di antara mereka. Tetapi

dengan menyuruh perempuan tua itu datang ke rumah ini, penilaianku terhadap

Manguri menjadi lain”

Dan Nyai Wiratapa memang tidak dapat menghapuskan kesan itu. Meskipun ia

belum mengenal Manguri dari dekat, tetapi ia sudah tidak menyukainya.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Sindangsari berkata “Ibu, pada suatu

saat, aku ingin berbuat seperti kawan-kawan di padukuhan ini. Menyampaikan

makanan ke sawah, atau membantu menunggui padi. Bahkan beberapa orang

kawan-kawanku dapat juga menyiangi tanaman dan menunggu air”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya “Sedikit demi sedikit kau akan dapat

menyesuaikan dirimu Sari. Tetapi tidak dengan tiba-tiba. Kau harus

membiasakan dirimu lebih dahulu”

“Aku tidak mau disebut anak manja ibu. Apalagi kakek seakan-akan bekerja

sendiri di sawah. Sedang kakek sudah tua. Apakah salahnya kalau aku bekerja

seperti kawan-kawanku yang lain? Aku bukan anak orang kaya”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya “Bagus Sari. Kau memang

anak yang baik. Tetapi kau harus menyesuaikan kemampuanmu. Aku tidak

berkeberatan, bahkan aku senang melihat kau bekerja di sawah kelak, apabila

kau sudah mampu melakukannya”

“Tentu aku akan mampu ibu. Sedang Manguri, anak pedagang yang kaya raya

itupun bekerja pula di sawah. Katanya tidak baik orang bermalas-malas.

Betapapun kekayaan tertimbun di rumah, tetapi kekayaan itu kelak akan habis.

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ternyata Manguri

menyadari kewajibannya meskipun ia anak seorang yang kaya raya.

“Bukankah begitu ibu?“

“Tentu, tentu Sari. Pada saatnya kau akan bekerja pula di sawah”

Sindangsari tersenyum. Kemudian di pandanginya anyaman tikar yang sudah di

mulainya. Sesaat kemudian jari-jarinya telah mulai menari, mempermainkan

helai-helai pandan yang putih. Selarik demi selarik tikar itupun seakan-akan

tumbuh menjadi tikar pandan yang semakin lebar meskipun belum begitu halus.

Ibunya yang duduk di sampingnya masih saja bimbang. Apakah ia harus

mengatakannya kepada Sindangsari bahwa ada seorang utusan Manguri yang

datang untuk menyerahkan sepengadeg pakaian?.

“Anak ini sudah dewasa” katanya di dalam hati ia harus mulai mengerti

persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya”

Karena itu, maka dengan hati-hati Nyai Wiratapa mengatakan, apa yang terjadi,

selagi ia tidak berada di rumah. “Perempuan itu adalah utusan Manguri” berkata

ibunya kemudian.

Sindangsari terkejut. Tetapi sepercik kebanggaan menggelora di dadanya. Ia

ternyata mendapat perhatian jauh lebih banyak dari kawan-kawannya, justru

Kawan-kawannya yang ingin dekat dengan anak muda itu. Teringat olehnya

salah seorang kawannya yang menjadi kemerah-merahan ketika kawankawannya

wanita lain mengganggunya, dan menghubung-hubungkannya

dengan Manguri.

“Tetapi ternyata akulah yang mendapat perhatian lebih banyak dari mereka;

Mereka hanya mendapat uang pembeli dawet cendol aren. Tetapi aku

mendapat sepengadeg pakaian”

Namun ibunya justru menjadi cemas melihat kesan vaug tersirat di wajah gadis

itu. Karena itu, maka iapun segera menyambung “Tetapi Sari, Sudah tentu ibu

tidak dapat menerimanya”

Sekali lagi Sindangsari terkejut. Dan ia mendengar ibunya menjelaskan “Itu

tidak baik. Seorang gadis menerima pemberian seorang anak muda. Kau sudah

bersikap benar, bahwa kau tidak ikut membelanjakan uang pemberiannya. Dan

kaupun tidak akan dapat menerima pemberian-pemberian yang lain”

Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kau harus tahu Sari, bahwa pemberian serupa itu pasti mempunyai pamrih”

Sindangsari tidak menyahut. Tetapi hal itu di sadarinya.

“Cobalah mengerti, kenapa ibu menolak pemberian itu. Bukan karena ibu tidak

senang melihat kau berpakaian baik. dan mahal. Tetapi, pakaian itu akan

mengikatmu. Mengikat perasaanmu”

Sindangsari tidak menjawab. Bahkan kepalanya menjadi semakin tertunduk.

“Itulah yang ibu maksudkan. Kau sudah menjadi dewasa sekarang. Anak-anak

muda mulai memandangmu dari sudut yang lain. Bukan sekedar kawan

bermain kejar-kejaran lagi”

Sindangsari seakan-akan justru membisu. Dan ibunyapun mengerti, bahwa

Sindangsari tidak akan mengatakan apapun juga. Karena itu sambil mengusap

dahi gadisnya yang berkeringat Nyai Wiratapa berkata “Kau harus menjadi

semakin berhati-hati”

Tanpa sesadarnya kepala gadis itu terangguk kecil.

“Nah, teruskanlah anyamanmu. Ibu akan membantu nenek di rumah”

Sindangsaripun kemudian ditinggalkannya sendiri, duduk di bawah pohon yang

rindang di kebun rumahnya. Tetapi kembali tangannya seakan-akan membeku.

Helai-helai pandan di tangannya sama, sekali sudah tidak bergerak lagi.

Sedang tatapan matanya jauh hinggap pada bayangan matahari yang bermainmain

di atas tanah yang kering.

Sindangsari tidak menyadari, betapa lama ia duduki termenung. Ia terperanjat

ketika ia mendengar derik sapu lidi di halaman depan. Ternyata neneknya

sudah mulai menyapu halaman. Adalah kebiasaannya membantu neneknya

dengan membersihkan kebun belakang.

Karena itu, iapun segera membenahi anyamannya yang hampir tidak

bertambah sama sekali. Dimasukkannya helai-helai pandan yang putih ke

dalam bakul. Kemudian disimpannya semuanya itu di dalam biliknya. Dan

sejenak kemudian Sindangsari telah memegang sebuah sapu lidi dan ambil

terbungkuk-bungkuk ia membersihkan kebun di belakang rumahnya.

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ibunya membawa

kelenting di lambung, mengusung air dari sumur ke dalam dapur. Sepercik

perasaan iba menyentuh pusat jantungnya. Tetapi kemudian terdengar desah

lirih “Kami harus bekerja keras. Jangankan kami, sedang Manguri anak seorang

yang kaya raya itupun bekerja dengan keras pula”

Dengan demikian maka tangannyapun segera bergerak kembali, mengayunayunkan

sapu lidinya dan beringsut setapak demi setapak maju.

Ketika ia menyimpan sapu lidi di sisi dapur, maka dilihatnya kakeknya sudah

ada di rumah. Laki-laki itu sedang sibuk membersihkan lampu minyak di

longkangan belakang. Tampaklah keringatnya masih membasah di punggung

dan keningnya.

“Kakek baru pulang dari sawah?” bertanya Sindangsari.

Kakeknya berpaling, kemudian kepalanya terangguk-angguk “Ya Sari. Aku baru

pulang”

Sindangsari menengadahkan kepalanya. Dilihatnya warna-warna senja yang

tersangkut di dedaunan. Dan sekali lagi ia berdesah di dalam hati “Kami

memang harus bekerja keras”

Sejenak kemudian setelah semua pekerjaan selesai, barulah mereka seorang

demi seorang mandi. Kemudian seperti hampir di setiap sore, mereka dudukduduk

di amben bambu, melingkari mangkuk-mangkuk makanan yang

sederhana.

Tetapiv Sindangsari kali ini agak berubah dari kebiasaannya. Ia tidak banyak

berbicara dan bertanya tentang bermacam-macam persoalan. Begitu ia selesai

makan, maka iapun segera minta ijin untuk masuk ke dalam biliknya.

“Kenapa kau Sari” bertanya neneknya.

“Kepalaku agak pening nek” jawab gadis itu.

“Nah” sahut kakeknya “itulah akibatnya. Kau terlampau lama berjemur di terik

matahari siang tadi. Ingat Sari, kau belum biasa dibakar oleh udara sepanas itu”

Sindangsari menganggukkan kepalanya.

“Di dalam geledeg masih ada beberapa buah jeruk dan segumpal enjet.

Lekatkan sepotong jeruk enjet di keningmu. Mudah-mudahan pening kepalamu

segera sembuh” berkata neneknya. Sindangsari mengangguk.

“Marilah Sari“ ajak ibunya “aku bantu kau mengobati peningmu itu”

Sekali lagi Sindangsari mengangguk.

Keduanyapun kemudian berdiri. Ibunya mengambil pisau di dapur dan

Sindangsari mengambil sebuah jeruk pecel di geledeg dan sedulit enjet putih.

Setelah membantu Sindangsari sejenak, dan membaringkannya di

pembaringannya, maka Nyai Wiratapapun kembali duduk-duduk di amben

bersama ayah dan ibunya untuk berbincang.

Di pembaringannya Sindangsari sama sekali tidak dapat memejamkan

matanya. Sekali-sekali dipandanginya nyala lampu minyak kelapa yang

kekuning-kuningan.

Lamat-lamat ia mendengar ibunya masih berbicara perlahan-lahan dengan

kakek dan neneknya. Tetapi betapapun ia mencoba menangkap pembicaraan

mereka, namun ia tidak berhasil sama sekali. Sepatah katapun tidak ada yang

dapat di dengarnya dengan jelas. Sehingga akhirnya Sindangsari tidak

menghiraukannya lagi, meskipun kadang-kadang timbul keinginannya untuk

ikut berbicara diantara mereka seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi ia sudah

terlanjur minta diri dan mengatakan kepada mereka bahwa kepalanya sedang

pening.

Karena itu, maka Sindangsaripun tetap berbaring di tempatnya. Namun anganangannya

tidak dapat dibatasinya. Ditembusnya dinding-dinding ruangan yang

sempit itu, menerawang jauh sekali tanpa batas.

Terbayang semuanya yang terjadi di siang hari. Manguri yang tersenyum cerah.

Gadis-gadis yang manja dan keping-keping uang yang di berikan oleh anak

pedagang yang kaya raya itu.

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Terbersitlah sebuah kekecewaan di

hatinya karena ibunya telah menolak pemberian Manguri kepadanya.

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba telinganya

menangkap suara ibunya agak mengeras “Begitulah menurut Sindangari ayah”

Kakeknya yang tua tidak segera menjawab. Tetapi kata-kata itu sangat menarik

perhatian Sindangari. Perlahan-lahan iapun kemudian bangkit dari

pembaringannya dan berjalan berjingkat melekat dinding. Beberapa langkah ia

berhasil mendekati tempat duduk ibu dan kedua kakek dan neneknya.

Ternyata pembicaraan merekapun menjadi agak mengeras “Kau harus berhatihati

mengurusi anakmu itu Wiratapa” berkata kakeknya “Aku tidak senang ia

bergaul dengan Manguri”

“Aku sudah mencoba memberitahukannya ayah”

“Kau sudah bertindak tepat. Jangan menerima pemberian apapun dari

padanya”

“Ya ayah” jawab ibunya.

Sejenak kemudian menjadi sepi. Baik ibunya, maupun kakek dan neneknya

tidak segera berbicara apapun. Tiba-tiba kakeknya bertanya “Apakah Sari

sudah tidur?”

“Entahlah” jawab ibunya.

“Lihatlah”

Ketika ibunya berdiri, maka sambil berjingkat Sindangsari pergi tergesa-gesa ke

pembaringannya. Dibaringkannya tubuhnya sambil membentangkan selimut,

sehelai kain panjang di atas tubuhnya.

Sindangsari mendengar pintu lereg biliknya berderit. Hanya sebentar. Dan

ketika untuk kedua kalinya pintu itu berderit kembali, ia membuka matanya

perlahan-lahan. Ternyata pintu kamarnya telah tertutup rapat.

“Agaknya anak itu telah tidur ayah“ Sindangsari mendengar suara ibunya.

“Kemarilah, aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu”

Sejenak tidak terdengar sesuatu kecuali derak amben bambu tempat ibu dan

kakeknya berbicara.

Tetapi pembicaraan yang kemudian sama sekali tidak dapat di dengar oleh

Sindangsari, selain gemeremang suara kakek, nenek dan ibunya berganti-ganti.

Meskipun Sindangsari kemudian bangkit dari pembaringannya dan melekatkan

telinganya di dinding, namun pembicaraan orang-orang tua itu sama sekali

tidak jelas baginya. Hanya sekali-sekali ia mendengar namanya di sebut,

kemudian nama Manguri dan nama beberapa orang lain.

“Huh“ akhirnya gadis itu menjadi kesal “biarlah mereka berbicara tentang

persoalan yang tidak mereka mengerti”

Tetapi tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Meskipun kata-kata itu hampir tidak terdengar sama sekali, meskipun oleh

dirinya sendiri, namun ia menyesal sekali. Tidak pernah ia mempunyai

perasaan yang demikian terhadap ibu, kakek dan neneknya.

“Tetapi, tetapi“ Sindangsari mencoba memperbaiki “maksud ibu, kakek dan

nenek pasti untuk kebaikanku. Pasti”

Sindangsaripun kemudian meletakkan tubuhnya di pembaringannya kembali.

Ditariknya selimutnya untuk menutup hampir sekujur tubuh, selain kepalanya.

Dan Sindangsari benar-benar tidak mendengar ketika kakeknya berkata

“Memang demikianlah kesan hampir setiap anak-anak muda di Gemulung

tentang Manguri. Anak itu memang terlampau julig, sehingga semua

perbuatannya sama sekali tidak berbekas. Tetapi hal yang serupa itu tidak

boleh terjadi atas Sari”

Dengan mulut ternganga Nyai Wiratapa mendengarkan ceritera ayahnya.

Namun tanpa di sadarinya ia brdesis “Apakah memang demikian?“

“Ya. Hanya orang yang sangat terbatas yang mengetahui keadaan yang

sebenarnya. Dengan bujukan yang hampir tidak terelakkan ia mencari anakanak

muda sebayanya. Dengan dibekali uang, pakaian dan bermacam macam

janji, maka anak muda itu di suruhnya membawa gadis yang sudah dinodainya

itu. Memang tidak ada pilihan lain bagi gadis yang demikian. Sebab mereka

merasa, bahwa tidak mungkin dapat memaksa Manguri untuk bertanggung

jawab. Mereka sadar, bahwa Manguri dapat melakukan kekerasan atas

mereka, justru karena ia kaya raya” orang tua itu berhenti sejenak, lalu

“demikianlah yang sudah terjadi, tiga atau empat kali. Gadis yang telah ternoda

itu dipaksanya pergi bersama laki-laki yang telah disuap dengan apapun.

Mereka akan kawin dan bebaslah Manguri dari segala macam pertanggungan

jawab”

“O“ keringat dingin mengalir di punggung Nyai Wiratapa ”Mengerikan sekali”

“Demikianlah yang sebenarnya terjadi. Namun kesan yang dibuat dari peristiwa

itu adalah, seakan-akan gadis-gadis Manguri itu meninggalkannya dan lari

dengan laki-laki lain”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dadanya serasa

menjadi pepat. Ia tidak menyangka, bahwa hal yang serupa itu dapat terjadi.

“Sekali dua kali, tidak ada seorangpun yang menaruh curiga. Tetapi ketika hal

itu terulang kembali, maka mulailah beberapa orang tua-tua bertanya-tanya”

“Apakah orang tuanya tidak berbuat sesuatu” bertanya Nyai Wiratapa.

Ayahnya yang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Memang kita

tidak akan menghukum Manguri sebagai seorang anak yang binal tanpa

menghiraukan orang tuanya. Kesalahannya memang tidak seluruhnya terletak

pada anak itu” laki-laki tua itu berhenti sejenak; kemudian “Ayah Manguri

adalah seorang pedagang ternak yang kaya raya. Ia jarang sekali berada di

rumahnya. Hampir setiap hari ia berkeliling dari pasar ternak yang satu ke

pasar yang lain. Kemudian melakukan jual beli dalam jumlah yang besar

dengan pedagang-pedagang dari Utara. Dari Mataram, dari Bagelen dan dari

daerah-daerah yang lain”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya “Jadi anak itu tidak

mendapat pengawasan secukupnya bukan? Tetapi bagaimana dengan

ibunya?“

“Ibunya terlampau memanjakannya” jawab ayahnya, kemudian suaranya

menurun “tetapi lebih dari pada itu. Ayahnya adalah seorang laki-laki yang tidak

terkekang. Hampir di segala sudut daerah Selatan mi ia mempunyai isteri.

Bahkan kadang-kadang ia masih juga mengganggu isteri orang” laki-laki tua itu

berhenti sebentar, kemudian dan isterinya, ibu Manguri itu, di dalam kesepian ia

telah melakukan hubungan yang terlarang. Dan hubungan itu diketahui oleh

anak laki-lakinya. Celakanya, anak laki-laki itu sudah pandai memeras ibunya.

Setiap kali ia mengancam akan mengatakannya kepada ayahnya apabila

ibunya tidak memenuhi permintaannya. Apapun”

“Gila, gila“ tanpa sesadarnya Nyai Wiratapa memotong kata-kata ayannya”

“Sst” desis ibunya “jangan terlampau keras, kau akan membangunkan anakmu”

Sebenarnyalah Sindangsari terkejut mendengar suara ibunya. Tetapi ia tidak

tahu, apakah yang sebenarnya sedang di persoalkan. Karena itu, maka ia tidak

mengacuhkannya lagi. Mungkin ibunya sedang menilai anak-anak muda

padukuhan Gemulung yang sudah menjadi kawan-kawanya bermain.

“Ayah” desis Nyai Wiratapa perlahan-lahan “jadi benar juga kata-kata

perempuan tua yang datang untuk menyerahkan pakaian sepengadeg itu.

Katanya, kalau nasibku baik, bukan saja Sindangsari yang akan mendapat

tempat di dalam keluarga yang kaya raya itu, tetapi mungkin aku juga akan

diambil selir oleh pedagang kaya itu”

“Yang benar adalah, perempuan itu berkata demikian” sahut ayahnya “tetapi

belum tentu hal itu akan sebenarnya terjadi”

Nyai Wiratapa menundukkan kepalanya. Terdengar ia berdesis perlahan

“Sudah demikian parahkah keadaan padukuhan ini, sehingga tidak lagi ada tata

kehidupan?“

“Jangan salah sangka Wiratapa” berkata ibunya “tidak semua orang Gemulung

berbuat seperti itu”

Nyai Wiratapa mengangguk-angguk perlahan.

“Mudah-mudahan aku dapat menyingkirkan anakku dari bencana ini” berkata

Nyai Wiratapa di dalam hatinya.

Sementara itu Sindangsari masih saja berbaring diam di dalam biliknya.

Matanya berkejap-kejap memandang langit-langit di atas biliknya. Kadangkadang

seekor cicak melintas sambil menciap, seperti anak burung yang

memanggil induknya dari sarang.

Tiba-tiba Sindangsari mengerutkan keningnya. Di kejauhan terdengar suara

tembang yang mengambang di sepinya malam. Tembang macapat, seakanakan

merambat di dinding biliknya.

“Asmaradana” desis gadis itu, lalu “kenapa masih sesore ini orang itu memilih

lagu Asmaradana dan bukan Dandanggula?“

Namun suara tembang itu mengalun semakin jelas menyentuh telinga

Sindangsari. Tanpa sesadarnya terbayanglah seorang anak muda yang

meloncat dari balik dinding batu di pinggir desa siang tadi. Anak muda yang

bermain seruling dengan nada-nada yang lain dari tembang-tembang macapat

seperti yang didengarnya itu.

Dan tanpa sesadarnya Sindangsari telah memperbandingkannya dengan anak

muda periang yang bernama Manguri, anak seorang pedagang ternak yang

kaya raya.

“Lain” desisnya “keduanya mempunyai cirinya tersendiri. Manguri adalah

seorang periang yang tampaknya tidak pernah bersungguh-sungguh, ia berbuat

sesuka hatinya, apa saja yang sedang diingatnya di lakukannya. Tetapi anak

yang berseruling itu bukanlah seorang yang berbuat apa saja sesuka hati. Ia

mempunyai pertimbangan dan ada kesungguhan, meskipun ia tidak seriang

Manguri”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Pada anak muda itu yang paling

menarik baginya adalah suara serulingnya.

“Namanya tidak begitu baik. Pamot” gadis itu berdesis.

Namun sementara itu suara tembang di kejauhan masih saja membelai

telinganya, sehingga lambat laun, seperti silirnya angin malam, telah

mendorongnya ke dalam alam yang lamat-lamat. Perlahan-lahan ia mulai

terlena, sehingga akhirnya Sindangsari tertidur dengan nyenyaknya. Ia sudah

tidak mendengar lagi ketika suara tembang itu kemudian beralih kepada nadanada

yang lebih keras, sehingga sampailah kemudian ke dalam suasana

perang yang dahsyat ”Durma”

Ketika matahari terbit di keesokan paginya. Sindangsari benar-benar merasa

pening di kepalanya. Belahan jeruk yang semalam dilekatkan di keningnya

sudah terjatuh di sisinya berbaring. Tetapi ia tidak mau tetap berada di dalam

biliknya. Seperti biasa ia bangun dan membantu neneknya menyapu halaman.

Tetapi pembicaraan ibu serta kakek dan neneknya semalam selalu

dikenangnya. Meskipun ia tidak mendengar pembicaraan itu, tetapi ia merasa

bahwa mereka sedang berbicara tentang dirinya. Setelah selesai menyapu

halaman, maka seperti biasanya Sindangsari mengumpulkan pakaian-pakaian

kotor yang akan dicucinya di kali bersama beberapa orang kawan gadisnya.

Tetapi tidak seperti biasanya, ibunya mendapatkannya sambil berkata ”Hatihatilah

Sari. Jangan terlalu lama”

Sindangsari menganggukkan kepalanya. Jawabnya ”Ya bu. Kepalaku juga agak

pening”

Sindangsari hanya menunggu sebentar ketika beberapa orang kawannya lewat

di muka rumahnya. Kemudian bersama-sama mereka pergi ke sungai sambil

menjinjing bakulnya masing-masing.

Sementara itu, beberapa pasang mata sedang mengintai. Tetapi mata itu kini

memancarkan perasaan yang bergejolak dan jantung yang berdentangan.

“Lamat” Manguri memanggil orangnya yang tinggi besar ”Lihat, gadis itu lewat

lagi”

Lamat berjalan dengan langkahnya yang berat mendekati Manguri.

“Sindangsari telah menolak pemberianku. Sesuatu yang selama hidupku belum

pernah terjadi” berkata Manguri ”setiap gadis pasti tunduk di bawah

pengaruhku, bahkan apapun yang aku minta pasti diberikannya tanpa banyak

persoalan. Dan kini aku belum meminta sesuatu. Justru aku baru memberi.

Tetapi ia sudah menolak”

Lamat mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar suaranya datar ”Yang

manakah gadis yang bernama Sindangsari?”

“Bodoh, bodoh kau. Kau memang bodoh seperti kerbau”

Lamat tidak menjawab.

“Lihat, gadis yang berkain lurik hijau gadung itu”

“Yang menjinjing bakul?”

“Semua menjinjing bakul. Apakah kau tidak melihat?” Lamat terdiam.

“Berkain lurik hijau gadung dan berbaju coklat muda”

Lamat tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk

“Kau lihat he?”

“Ya, ya. Aku melihat”

“Nah, gadis itu yang sudah menghinaku. Mengerti”

Lamat mengangguk-angguk kepalanya. Lalu ia bertanya ”Apakah aku harus

mengambilnya dan membawanya kemari”

Manguri tidak segera menjawab. Tetapi melihat sikap gadis itu ia menjadi raguragu.

Sindangsari bersama beberapa kawannya masih saja berjalan seperti

biasanya. Kadang-kadang mereka berpaling memandangi pintu regol yang

tampaknya tertutup. Tetapi mereka tidak tahu bahwa Manguri sedang mengintip

mereka dari balik pintu yang mereka sangka tertutup rapat itu.

“Tidak” kemudian ia menjawab ”Tidak sekarang. Aku ingin tahu, apakah anak

itu atau keluarganyalah yang berkeberatan. Mungkin aku masih mempunyai

cara lain. Tetapi kalau cara itu semuanya gagal, barulah aku memerlukan kau”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab. Dipandanginya saja anak

muda itu dengan kerut-merut di keningnya.

“Sebaiknya aku menemuinya dan bertanya langsung kepadanya” gumam

Manguri kepada diri sendiri.

Lamat masih tetap berdiri di tempatnya. Dan tiba-tiba saja Manguri berteriak

”Pergi, pergi kau”

Perlahan-lahan Lamat melangkah surut. Kemudian dengan kepala tunduk ia

kembali ke pekerjaannya. Meskipun ia masih mendengar Manguri bersungutsungut

sambil mengumpat-umpat, tetapi ia sudah tidak berpaling lagi.

Sejenak kemudian Manguripun segera berlari masuk ke dalam rumahnya.

Ditemuinya ibunya sedang melipat pakaiannya di dalam biliknya.

“Bu, aku perlu uang”

Ibunya mengangkat wajahnya. Di pandanginya anaknya yang tampak tergesagesa.

“Untuk apa?” bertanya ibunya.

“Aku akan menemui gadis itu langsung. Belum pernah seseorang menolak

pemberian kita”.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Manguri,

apakah kau mash juga akan berbuat demikian? –

Manguri mengerutkan keningnya “Maksud ibu?”

“Duduklah”

Manguri tertegun sejenak. Tetapi iapun melangkah maju dan duduk di amben.

“Manguri, umurmu semakin lama menjadi semakin bertambah”

“Ya”

“Kau harus menyadari, bahwa hidupmu kelak akan tergantung kepadamu

sendiri. Ayah dan ibu tidak akan dapat membimbing kau untuk seterusnya.

Suatu ketika ayahmu menjadi tua dan tidak dapat mencari uang lagi. Kalau kau

tidak belajar sejak sekarang, maka kau akan mengalami kecanggungan kelak”

Manguri terdiam sejenak. Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Katanya “Nasehat ibu baik

sekali. Tetapi ayah dapat melakukan kedua-duanya berbareng. Mencari uang

dan perempuan”

Ibu Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat ingkar. Karena

itu maka katanya “Kau benar Manguri. Kalau aku memberi kau nasehat lebih

lanjut, mungkin kau akan menyentuh kesalahan ibumu pula. Aku tidak ingkar.

Ayahmupun tidak akan ingkar. Hidupku dan ayahmu bukanlah contoh yang

baik. Tetapi sudah tentu aku tidak ingin melihat anakku berbuat seperti itu”

Manguri masih tertawa. Katanya “Tidak. Aku tidak akan menunjuk kesalahan

ibu. Aku tidak peduli. Aku merasa bahwa aku sudah cukup dewasa menanggapi

keadaan. Seharusnya aku tidak menjadi seorang anak muda yang cengeng.

Yang merintih sepanjang hidupnya karena kesalahan orang lain. Tidak”

Manguri berhenti sejenak, lalu “Tetapi beri aku uang”

“Manguri“ suara ibunya merendah “kau harus sudah mulai berpikir tentang

masa depanmu”

“Ya, aku memang sudah memikirkannya ibu, Masa depan yang paling

menyenangkan adalah cara hidup yang ditempuh oleh ayah”

“Oh“ ibunya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Manguri sama sekali tidak

menghiraukan desah ibunya. Bahkan ia mendesak “Ibu, beri aku uang”

Ibunya yang tidak dapat mengatasi permintaan itu, seperti biasanya lalu berkata

“Ambillah di dalam kampil itu”

Manguripun segera meloncat mengambil uang di dalam kampil di geledeg.

Tanpa di hitungnya. Dan uang yang segenggam itupun kemudian

dimasukkannya ke dalam kantong ikat pinggangnya. Beberapa keping

berjatuhan di lantai tanpa di hiraukannya.

“Kemana kau Manguri?“ ibunya masih bertanya.

“Ke sawah. Mungkin aku akan dapat bertemu dengan Sindangsari seperti!

kemarin. Ia bermain-main di pinggir desa bersama beberapa orang gadis”

Ibunya tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Manguri meninggalkan biliknya.

Namun sepercik kecemasan telah merayapi jantungnya. Bagaimanakah masa

depan anaknya itu? Bagaimanapun gila ayahnya terhadap perempuan di

segala tempat, namun ayahnya dapat mencari uang untuk membeayai

kegilaannya, dan membeayai rumah tangganya yang sudah ada. Meskipun

sifat-sifatnya kurang disukai oleh orang-orang Gemulung, tetapi ia tetap

seorang yang terhormat karena ia kaya. Bahkan dirinya sendiri yang tidak

bersih lagi itupun masih tetap mendapat tempat yang baik, karena ia dapat

memberi pekerjaan dan sumber hidup bagi tetangga-tetangganya yang ikut

membantu di rumahnya dan memelihara sawah dan ternak.

Tetapi Manguri tidak dapat berbuat seperti ayahnya. Ia hanya meniru satu segi

dari kehidupan ayahnya. Justru kelemahannya. Bukan kecakapan berusaha

dan tanggung jawabnya. Sampai umurnya yang telah menginjak dewasa

Manguri sama sekali tidak mempunyai tanda-tanda bahwa ia rajin bekerja

seperti ayahnya. Bahwa ia mampu melakukan pekerjaan yangberat dan

bertanggung jawab. Yang dilakukannya sehari-hari adalah menghamburkan

uang untuk kepuasan semata-mata.

Dan ibunya menjadi sedih karenanya. Betapa kelamnya hati seorang ibu,

namun ia masih juga ingin melihat hidup anaknya yang cerah. Tetapi Manguri

tidak dapat diharapkannya sama sekali.

Sementara itu Manguri berjalan tergesa-gesa di sepanjang jalan padesan.

Semula ia akan menyusul gadis-gadis yang pergi mencuci ke sungai. Tetapi

niat itu diurungkannya. Ia masih juga segan turun ke sungai menunggui gadisgadis

yang sedang mencuci dan mandi. Karena itu, maka iapun pergi meniti

pematang ke sawahnya, meskipun hanya sekedar tidur di dalam gubug.

Menghentikan penjual apapun yang lewat untuk menghabiskan waktu,

kemudian pergi menemui gadis-gadis di pinggir desa.

“Aku harus tidak hanya sekedar lewat dan memberikan uang. Aku harus

berhenti dan mencoba melakukannya sendiri. Tidak dengan perantaraperantara

yang bodoh. Aku tidak mau gagal kali ini. Jarang aku menemui gadis

seperti Sindangsari sepanjang hidupku. Juga di masa yang akan datang”

Dan bayangan-bayangan yang menegangkan urat syarafnya selalu

mengganggunya. Selagi ia berbaring di dalam gubug di tengah-tengah

sawahnya, hatinya selalu saja gelisah. Sama sekali tidak ada perhatiannya atas

burung-burung yang berterbangan di atas batang-batang padi yang mulai

menguning, seperti segumpal asap yang berputar-putar. Kemudian menukik

bertebaran di atas bulir-bulir padi yang mulai menunduk. Namun sejenak

kemudian terdengar penunggu-penunggu sawah itu berteriak-teriak sambil

mnarik tali-tali penggerak orang-orangan di tengah-tengah sawah itu. Dan

burung-burung itupun menghambur berterbangan dalam gumpalan-gumpalan

memenuhi udara yang bersih.

Dalam pada itu Sindangsari dan kawan-kawannya lagi sibuk mencuci di pinggir

kali. Tetapi Sindangsari tidak segembira biasanya. Ia tiba-tiba saja menjadi

pendiam yang kadang-kadang merenung untuk sesaat, sehingga kawankawannya

menjadi heran melihat perubahan itu.

“He, Sari. Kenapa kau selalu merenung” bertanya Kandi tiba-tiba “apakah

semalam kau bermimpi?”

Sindangsari terkejut. Ia mencoba tersenyum, tetapi terasa senyumnya hambar.

“Ya, pasti bermimpi” sahut kawannya yang lain “ayo katakan Sari, kau mimpi

apa?”

“Aku tidak pernah bermimpi” jawab Sindangsari.

“Bohong“ hampir berbareng kawan-kawannya menyahut “tidak ada orang yang

tidak pernah bermimpi. Dan agaknya semalam kau bermimpi bagus sekali”

“Bermimpi tentang apa Sari. Ayo katakan”

“Sungguh. Aku tidak bermimpi” Sari mengelak “aku tidak bermimpi tentang

apapun”

“Sari” berkata kawannya yang lain. Tampaknya wajahnya menjadi sangat

bersungguh-sungguh ”Dengar. Aku tahu pasti, bahwa kau bermimpi digigit ular”

“Ya, mimpi digigit ular“ hampir berbareng kawan-kawannya menjerit.

Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya menjadi

kemerah-merahan. Tetapi ia tidak marah. Ia tahu, bahwa kawan-kawannya

hanya sekedar bergurau.

Dan kawannya yang bertubuh kecil dan pendek tiba-tiba berkata dengan suara

yang dibuat-buat “Eyang, akhirnya ular sebesar ibu jariku itu lenyap. Yang ada

adalah seorang kesatria yang gagah dan tampan. Wajahnya cerah seperti

matahari. Namanya ……….eh, siapa namanya Sari”

Sekali lagi suara kawan-kawannya berderai. Dan Sindangsari menjadi semakin

tunduk, meskipun ia mencoba tersenyum. “Sebaiknya kau berterus-terang”

desis kawannya yang duduk di sampingnya.

Dan tiba-tiba saja gadis itu terpekik karena Sindangsari mencubitnya di

pahanya.

“Jangan Sari, jangan” Tetapi Sindangsari tidak melepaskannya. Sehingga gadis

itu mencoba meronta untuk melepaskan diri. Karena hentakannya sendiri itulah

ia kehilangan keseimbangan. Sejenak kemudian ia terdorong dan jatuh ke

dalam air.

Gadis-gadis itupun menjadi semakin riuh. Mereka justru menyiram gadis itu

bersama-sama, sehingga dengan demikian perhatian mereka beralih dari

Sindangsari yang ikut pula menyiram gadis itu sampai terengah-engah.

****

Bab 3 : Kayu Bakar

Senda gurau itu membuat Sindangsari

melupakan dirinya sendiri untuk sejenak.

Tetapi setelah anak-anak itu tidak lagi

berteriak-teriak, pening di kepalanya terasa

lagi. Dan sebelum kawan-kawannya

mengganggunya, maka Sindangsari

mendahului berkata “Kepalaku memang agak

pening”

Kandi yang agak lebih tua dari kawankawannya

mendekatinya sambil bertanya*

“Sejak kapan kau merasa pening?“

“Kemarin sore”

“Nah, kau kehausan kemarin” potong seorang

kawannya. Tetapi yang lain tidak

menyambung ketika mereka melihat Kandi

meletakkan tangannya di dahi Sari.

“Jangan terlalu lama berendam” berkata Kandi “kau memang agak panas”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka

bertanya “Apakah kau benar-benar pening Sari?“

Sindangsari menganggukkan kepalanya dan kawannya yang lain menyahut

“Kalau begitu, marilah kita cepat pulang”

“Apakah kau nanti tidak bermain di pinggir desa, di waktu kami beristirahat dari

kerja kami di sawah?”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Jawabnya “Kalau kepalaku masih pening,

aku tidak pergi ke pinggir desa”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi salah seorang

yang lain menyahut “Kau tidak ingin minum dawet cendol atau rujak nanas

Sari?”

Sindangsari menggelengkan kepalanya.

“Ayo, cepat. Kita harus segera pulang. Matahari menjadi semakin tinggi. Ayah

menunggu aku di sawah” berkata Kandi.

Dan gadis-gadis itu mempercepat kerja mereka, supaya mereka segera dapat

pulang. Dengan demikian, maka Sindangsari tidak dapat pergi ke pinggir desa

hari itu. Ia berbaring saja di pembaringannya. Badannya terasa agak panas.

Tetapi tidak terlampau tinggi, sehingga tidak begitu menggelisahkan ibu, kakek

dan neneknya.

Tetapi yang masih saja gelisah adalah Manguri. Sekali-sekali ia bangkit dan

duduk di bibir gubug yang berkaki tinggi. Kemudian berbaring lagi. Bahkan

kadang-kadang ia meloncat tunrun dan berjalan hilir mudik di pematang.

Namun terasa waktu berjalan terlampau lamban.

“Apakah gadis-gadis itu sudah berada di pinggir desa“ ia bertanya kepada diri

sendiri.

Setiap kali Manguri menengadahkan kepalanya. Setiap kali ia mencoba melihat

kalau-kalau ia melihat gadis-gadis yang pergi berteduh ke pinggir desa.

“Sudah waktunya“ tiba-tiba ia berdesis ketika ia melihat di kejauhan seorang

gadis berjalan berjingkat-jingkat ke pinggir desa untuk berteduh “mereka pasti

sudah berkumpul di sana. Aku akan memberi mereka beberapa keping. Tetapi

aku akan minta Sindangsari tinggal. Aku ingin berbicara”

Manguripun kemudian berjalan tergesa-gesa menyusur pematang seperti yang

dilakukannya kemarin. Ketika ia meloncat turun ke jalan, maka ia mendengar

beberapa orang gadis menyebut namanya. Justru sengaja agar ia

mendengarnya. Tetapi Manguri tetap mencoba menenangkan dirinya. Ia

berjalan seperti kemarin mendekati gadis-gadis itu.

Tetapi semakin dekat, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak

melihat Sindangsari di antara gadis-gadis itu.

Meskipun demikian ketika gadis-gadis itu menegurnya iapun berhenti pula.

Seperti kemarin diberikannya beberapa keping uang kepada mereka. Tetapi

kali ini ia bertanya “Di mana Sindangsari?“

Gadis-gadis itu saling berpandangan sejenak. Kemudian sambil tertawa

tertahan mereka saling mencubit.

“Dimana?“ Manguri mendesak.

“Sindangsari sedang sakit. Ia tidak keluar rumah siang ini”

“Sakit” bertanya Manguri sambil mengerutkan keningnya.

“Ya. Kepalanya pening. Semalam ia mimpi di gigit ular” yang lain berkelakar,

dan suara tertawanya meledaklah.

Manguri tersenyum. Tetapi tanpa berkata apapun ia melangkah meninggalkan

gadis-gadis itu.

Sebenarnya hatinya menjadi sangat kecewa. Ia ingin segera bertemu gadis itu

sendiri. Penolakan atas pemberiannya itu benar-benar telah menyakitkan

hatinya. Kalau penolakan itu benar-benar dilakukan oleh Sindangsari, maka ia

harus berbuat sesuatu. Kalau perlu dengan kekerasan, atau dengan cara lain.

“Mungkin aku dapat membelinya. Ibunya adalah seorang janda, dan kakeknya

seorang petani miskin” Manguri menggeram “mereka tidak akan dapat bertahan

melihat uang yang cukup banyak. Bahkan mungkin dua ekor lembu yang besar

cukup untuk menukar gadis itu. Aku tidak akan memerlukan sepasang lembu

itu, bahkan dengan bajaknya sama sekali, agar kakek tua itu dapat bekerja

dengan baik di sawahnya”

Dan tiba-tiba Manguri itu bergumam “Aku akan pergi ke rumahnya sekarang.

Aku tidak mau terlambat”

Dan langkah Manguripun menjadi semakin cepat. Meskipun hatinya agak

berdebar-debar juga, tetapi ia melangkah terus. Ia harus segera mendapat

penjelasan, kenapa, pemberiannya itu terpaksa ditolak. Apakah perempuan

yang di suruhnya itu berkata sebenarnya, atau sekedar dibuat-buat. Yang ingin

diketahuinya, siapakah yang sebenarnya telah menolak pemberiannya itu.

“Apakah benar ibunya, seperti yang dikatakan oleh perempuan bodoh itu, yang

menolak pemberianku, atau memang Sindangsari sendiri?“ Manguri

menggerutu di sepanjang jalan “aku harus mengetahuinya”

Dan langkahnyapun menjadi semakin cepat. Sementara itu Sindangsari masih

saja terbaring di dalam biliknya. Ia tidak dapat melupakan perasaannya, bahwa

ibu, kakek dan neneknya sedang mempersoalkannya semalam. Tetapi ia tidak

tahu, apakah yang dipersoalkan itu.

Dalam arus angan-angannya yang menggelepar di dalam dadanya itu, tiba-tiba

terselip gema suara yang lain. Suara yang seakan-akan bergetar dari alam

yang asing. Namun Sindangsaripun segera menyadari. Bahwa yang di

dengarnya itu adalah suara seruling. Sehingga karena itu, maka tanpa

sesadarnya ia mengangkat kepalanya.

“Begitu dekat” desisnya.

Sindangsari kini sudah mengerti, bahwa anak muda yang bermain seruling

dengan cara yang tersendiri itu adalah Pamot. Dan suara seruling yang di

dengarnya kini adalah suara seruling Pamot itu pula.

“Tetapi dimana anak itu bermain?“ Sindangsari bertanya kepada diri sendiri

“Rumahnya tidak berada di sekitar tempat ini. Bahkan agak jauh di pinggir

desa.

Namun anak yang sedang agak sakit itu tidak dapat mengekang dirinya.

Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan ke pintu biliknya. Ketika ia

menjengukkan kepalanya, dan tidak seorangpun yang dilihatnya di ruang

dalam, maka tertatih-tatih ia melangkah keluar biliknya dan langsung ke pintu

depan.

“Dimanakah ibu dan nenek” desisnya. Tetapi ia tidak melihat keduanya.

“Mungkin mereka ada di dapur“ ia mencoba menjawabnya sendiri.

Karena itu, maka tanpa minta diri kepada siapapun Sindangsari berjalan

melintasi halaman, turun ke jalan. Dipasangnya telinganya baik-baik, sehingga

segera ia tahu arah suara itu.

“Di perempatan sebelah” desisnya.

Seperti di tuntun oleh suara yang mengumandang dari ujung seruling bambu

itu. Sindangsari berjalan terus. Tidak terlampau jauh. Hanya beberapa puluh

langkah dari regol halamannya. Sindangsari berhenti di muka sebuah gardu

peronda. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Kau Pamot”

Pamot mengangkat serulingnya dari mulutnya. Sambil tersenyum ia bertanya

“He, aku dengar kau sedang sakit Sari”

“Darimana kau tahu?“

“Aku bertemu Kandi di sawah”

“O, hanya sedikit” jawab Sindangsari “tetapi apa kerjamu disini”

“Meniup seruling”

“Kau perlukan datang ke gardu ini sekedar meniup seruling?“

Pamot tertawa. Sambil menunjuk seikat kayu bakar ia berkata “Aku mengantar

kayu itu pulang dari pategalan. Tetapi agaknya aku kelelahan, sehingga aku

beristirahat di gardumu ini sebentar sambil meniup seruling”

Sindangsari memandang seonggok kayu disamping gardu itu. Dengan dahi

yang berkerut-merut ia bertanya ”Kau kuat mengangkat kayu sebanyak itu

seorang diri?“

“Kenapa?“ tanya Pamot “setiap kali aku mengantar kayu sebanyak itu dari

pategalan”

“Kau kuat sekali”

Pamot tersenyum “Bagi anak-anak muda Gemulung, kerja ini adalah kerja yang

kami lakukan sehari-hari”

“Aku tahu” sahut Sindangsari “tetapi anak-anak muda yang lain tidak sekuat

kau”

Kini Pamot tertawa berkepanjangan.

Namun tiba-tiba suara tertawanya terputus ketika ia melihat seseorang berjalan

tergesa-gesa ke gardu itu pula. Dengan wajah yang tegang ia memandangi

Sindangsari dan Pamot berganti-ganti.

“Sst, kau lihat anak itu?“ desis Pamot.

Sindangsari berpaling. Di lihatnya Manguri berjalan cepat-cepat ke arahnya.

Tetapi Manguri tidak tersenyum seperti biasanya. Dan wajah itu tidak secerah

wajah yang dilihatnya kemarin.

Bahkan Sindangsari terkejut ketika ia mendengar Manguri itu bertanya

kepadanya, sebelum ia berhenti. “He Sindangsari. Apa kerjamu di situ?“

Sindangsari heran mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia berusaha untuk

bersikap wajar. Ketika Manguri kemudian berhenti dan berdiri di hadapannya,

barulah ia menjawab “Aku mendengarkan suara seruling”

“Seruling apa?“

“Pamot”

Manguri berpaling. Kini di pandanginya wajah Pamot yang masih duduk dengan

tenangnya di bibir gardu.

“Kenapa kau berada di sini?“

Pamot tersenyum. Jawabnya “Melepaskan lelah sebentar”

Manguri mengerutkan keningnya. Ia melihat seikat kayu bakar di samping

gardu, sehingga ia tahu bahwa pamot sedang mengantarkan kayu itu pulang ke

rumah.

“Tidak biasa kau lewat jalan ini sejak kau kanak-kanak” bentak Manguri.

Pamot tidak segera menjawab, tetapi sorot matanya memercikkan keheranan.

“Kalau kau mau pulang, cepat, pulanglah” berkata Manguri pula.

Pamot menjadi semakin heran. Bahkan ia bertanya “Kenapa kau berkeberatan

aku berada di sini?“

Wajah Manguri menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba ia memandang

Sindangsari yang berdiri termangu-mangu sambil berkata “Sari, pulanglah.

Bukankah kau sedang sakit?“

Sindangsari menjadi terheran-heran. Ia tidak mengerti, hak apakah yang

mendorong Manguri untuk berlaku demikian kepadanya. Sebagai seorang

gadis Sindangsari dalam hidupnya sehari-hari adalah seorang yang rendah

hati. Tetapi menghadapi sikap Manguri, tiba-tiba hatinya justru mengeras.

Dengan nada datar ia bertanya “Kenapa aku harus pulang sekarang? Aku

sedang mendengarkan Pamot bermain dengan serulingnya”

“Tetapi kau sedang sakit” jawab Manguri “sebaiknya kau tetap berada di rumah”

“Aku sudah sembuh”

“Kau masih pucat sekali”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Kini ia menjadi ragu-ragu. Dan

Manguri berkata selanjutnya “Kalau kau tidak segera sembuh, aku akan dapat

membantumu, mencari obat”

Sindangsari masih belum menjawab. Kini hatinya dicengkam oleh

kebimbangan. Hampir saja ia menuruti kata-kata Manguri, karena kemudian

kata-kata itu terasa sebagai ungkapan persahabatan mereka. Tetapi niat itu

justru diurungkannya ketika Manguri kemudian mengulangi kata-katanya

kepada Pamot “Kau beristirahat terlampau lama di sini. Kenapa tidak di gardu

simpang empat sebelah pohon orah itu?“

Pamot mengerutkan keningnya. Dan Sindang-saripun mulai menilai sikap

Manguri.

“Akulah yang sakit” berkata gadis itu “bukan Pamot”

“Ya, kaulah yang sakit. Karena itu kau sebaiknya pulang. Tetapi Pamot itu

ternyata telah mengganggu istirahatmu hingga kau terpaksa keluar rumah dan

pergi ke gardu ini”

“Itu terserah kepadaku”

Pamot yang duduk keheran-heranan itu menjadi semakin heran. Ia belum

pernah melihat Sindangsari bersikap begitu keras. Karena itu ia mulai

menimbang-nimbang. Agaknya Manguri meletakkan kesalahan itu kepadanya.

Dan ia masih segan untuk bertengkar dengan anak pedagang ternak yang kaya

itu. Karena itu, maka iapun kemudian berkata kepada Sindangsari “Memang

sebaiknya kau pulang Sari. Kau masih terlampau pucat”

Dan sebelum Sindangsari menjawab, Pamot telah meloncat dari bibir gardu dan

berjalan dengan langkah gontai ke sisi gardu. Perlahan-lahan ia merunduk.

Kemudian dengan satu hentakan ia mengangkat seikat kayu itu di atas

kepalanya.

“Aku juga akan pulang” desisnya “aku sudah tidak lelah”

Sindangsari masih tetap berdiam diri. Di pandanginya saja langkah Pamot

menjauh. Semakin lama semakin jauh sambil membawa kayu di atas

kepalanya.

Tiba-tiba Sindangsari berdesis “Aku akan pulang”

“Tunggu” sahut Manguri dengan serta-merta “tunggu sebentar”

“Aku sedang sakit”

“Aku ingin bicara dengan kau, Hanya sebentar“ Sindangsari tertegun sejenak.

“Hanya sebentar Sari”

“Tetapi bukankah kau minta aku segera pulang karena aku masih sakit”

“Ya, tetapi aku minta kau mendengarkan kata-kataku sejenak”

Sindangsari mencoba untuk mengerti atas keadaan yang sedang dihadapinya.

Sementara hatinya masih diamuk oleh kebimbangan, ia berkata kepada diri

sendiri ”Inilah sebabnya, kenapa Manguri seakan-akan mengusir Pamot dari

gardu ini. Agaknya ia mempunyai suatu kepentingan khusus dengan aku”

Tiba-tiba dada Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Terngiang katakata

kawan-kawannya, gadis-gadis Gemulung tentang Manguri. Sebagai

seorang gadis yang sudah menjelang dewasa penuh Sindangsari segera dapat

mengerti, hasrat apa yang terimpan di dalam hati anak muda itu. Apalagi

Manguri telah pernah mencoba memberinya sesuatu, tetapi ditolak oleh ibunya.

Dan terngiang kata-kata kawannya di pinggir desa kemarin “He, apakah kau

ingin menggantikan yang hilang itu?“

Dan kawannya yang lain menjawab “Bukankah kita sama-sama

menginginkannya?“

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Pada saat ia mendengar dari ibunya

bahwa Manguri menyuruh seseorang untuk menyerahkan sepengadeg pakaian

kepadanya, ia menjadi bangga. Kalau kawan-kawannya bersama-sama ingin

mendapat perhatian lebih banyak dari Manguri, maka ia adalah yang terbanyak.

Tetapi tiba-tiba membersit pertanyaan di dadanya “Apakah hanya aku seorang

diri yang pernah mendapat pemberian serupa itu?“

Dan pertanyaan itu dijawabnya sendiri “Kalau ada orang lain yang pernah

mendapatkannya, mereka pasti akan bercerita dengan dada tengadah”

Sindangsari terkejut ketika ia mendengar suara Manguri “Sari, Kau mau

mendengarkan bukan?“

Sindangsari tidak menjawab.

“Kenapa pemberianku kemarin ditolak oleh ibumu? Menurut perempuan tua itu.

Ibumulah yang menolaknya. Apakah benar begitu?“

Terasa desir yang lembut menyentuh dada Sindangsari. Dan hatinya yang

lembut pula itupun segera bergolak. Ia tidak membebankan penolakan itu

kepada ibunya semata-mata. Karena itu, maka sejenak ia justru terbungkam.

“Aku ingin mendengar keteranganmu Sari”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bertanya “Kenapa kau

memberikan itu kepadaku”

“Kau akan mengerti maksudnya kelak” Tetapi tiba-tiba Sindangsari

menggelengkan kepalanya “Tetapi tidak sekarang Manguri. Aku tidak dapat

menerima pemberian itu”

Sepercik warna merah membayang di wajah anak muda itu ”Jadi kau memang

menolaknya?“

“Bukan maksudku menolak. Tetapi aku masih belum dapat menerima

sekarang”

Tiba-tiba dada Manguri bergetar. Belum pernah ia mendengar penolakan

serupa itu, sehingga tiba-tiba saja perasaannya menjadi meluap ”Sari. Belum

pernah pemberianku kembali seperti yang terjadi kali ini. Semua gadis yang

didatangi oleh pesuruhku itu selalu menerima pemberianku sambil terbungkukbungkuk.

Bahkan seandainya aku menyebar pakaian di simpang empat ini,

maka gadis-gadis di seluruh padukuhan Gemulung, bahkan seluruh

Kademangan Kepandak, akan ikut berebutan”

Tetapi luapan perasaan itu telah mengejutkan Sindangsari, sehingga hampir

tanpa sesadarnya ia bertanya ”jadi kau pernah memberikan barang-barang

serupa kepada banyak gadis-gadis”

Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali oleh Manguri, sehingga sejenak ia

tergagap. Namun kemudian ia menjawab ”Ya Sari. Aku pernah memberikannya

kepada beberapa orang gadis. Pemberianku itu diterimanya dengan baik.

Tetapi akhirnya satu-satu mereka lari dengan laki-laki lain.

Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian ”Hal yang

serupa jangan sampai terulang lagi Manguri. Itulah sebabnya aku tidak dapat

menerimanya, supaya aku tidak menambah deretan nama-nama gadis-gadis

yang meninggalkan kau”

“Maksudmu?” mata Manguri terbelalak.

“Hubungan yang bersungguh-sungguh tidak dapat tumbuh dalam waktu yang

singkat. Atau sesudah aku menerima pemberianmu. Tidak Manguri. Ada atau

tidak ada pemberian serupa itu, apabila hati bertaut, maka tidak akan ada

apapun yang dapat menghalangi. Tetapi pemberian serupa itu memang dapat

menumbuhkan salah sangka. Dengan senang hati seorang gadis menerima

pemberianmu. Tetapi tanpa pertautan hati yang sebenarnya, maka akan

terulanglah peristiwa-peristiwa itu sekali lagi dan sekali lagi”

Manguri terdiam beberapa saat.

“Karena itu Manguri. Bukan cara itu yang sebaik-baiknya kau tempuh”

Belum pernah Manguri menjumpai gadis seperti Sindangsari. Ia sama sekali

tidak menyangka, bahwa gadis itu akan dapat berkata tentang masalah serupa

itu. Gadis-gadis Gemulung yang selalu dijumpainya setiap hari, akan bersoraksorak

menerima beberapa keping uang daripadanya. Yang lain akan

kegirangan setengah mati menerima pemberiannya, sepengadeg pakaian,

sehingga persoalan-persoalan selebihnya berjalan terlampau lancar. Tetapi

gadis ini berbicara tentang masalah yang belum pernah dipikirkannya. Selama

ini ia merasa, bahwa ia adalah laki-laki yang paling mengerti tentang

perempuan dan gadis-gadis. Bahkan dengan mudahnya ia akan dapat

menguasai sepuluh atau duapuluh orang gadis sekaligus apabila ia

menghendaki. Dengan sedikit umpan, maka ia pasti sudah akan berhasil

membawa siapapun. Tetapi kali ini ia menjumpai seorang gadis yang lain.

Dalam pada itu, selagi Manguri termangu-mangu, Sindangsari berkata

”Sudahlah Manguri. Aku akan pulang. Kepalaku masih terasa pening”

“Tunggu, tunggu Sari. Jadi bagaimana jawabmu”

Sindangsari berpaling sejenak. Sambil melangkah ia berkata ”Aku sudah

menjawab”

“Sari, tunggu” Manguri mencoba uuntuk mengikuti Sindangsari dan berjalan

disampingnya. Tetapi Sindangsari tidak berhenti.

“Dengarlah, aku belum selesai”

“Kepalaku pening lagi Manguri. Jangan kau bebani lagi aku dengan persoalanpersoalan

yang akan menambah sakit saja. Kau seharusnya dapat mencari

maksud kata-kataku”

“Tetapi.”

Namun Sindangsari tidak berhenti, sehingga ketika mereka sampai di regol

halaman gadis itu. Manguri terhenti. Ia hanya dapat memandangi gadis itu

berjalan tergesa-gesa melintasi halaman dan naik tangga rumahnya. Ketika ia

membuka pintu, dilihatnya ibunya berdiri beberapa langkah di hadapannya.

Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani memandang

tatapan mata ibunya, yang seolah-olah langsung menembus ke pusat

jantungnya.

“Darimana kau Sari?” bertanya ibunya.

“Dari gardu disimpang empat itu ibu” jawabnya.

“Bersama Manguri?”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Agaknya ibunya melihat ia berjalan

bersama-sama Manguri sampai ke depan regol.

“Hanya kebetulan saja ia lewat di jalan ini”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Tatapan matanya menjadi aneh, sehingga

ketika sekilas Sindangsari melihatnya, iapun menjadi semakin tunduk ”Apakah

betul hanya suatu kebetulan Sari”

Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Kini mengerti, kenapa tatapan mata

ibunya itu terasa aneh. Agaknya ibunya tidak begitu mempercayai

keterangannya.

“Ya ibu. Hanya kebetulan”

“Dan kenapa kau pergi kegardu itu”

Sindangsari menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi lebih baik berterus terang

daripada dituduh yang bukan-bukan. Maka Jawabnya ”Aku mendengar suara

seruling, ibu. Aku tertarik sekali, sehingga aku tidak dapat menahan diri untuk

keluar sejenak”

“Manguri bermain seruling?”

“Sindangsari mengegelengkan kepalanya ”Bukan. Bukan Manguri”

“Siapa?”

“Pamot”

“Tetapi kenapa kau berjalan bersama Manguri?”

“Kebetulan. Hanya suatu kebetulan”

Ibunya tidak segera menyahut. Tetapi matanya menjadi semakin redup.

Perlahan-lahan didekatinya anaknya. Kemudian dielusnya ujung rambutnya

yang berjuntai ”Sindangsari. Seumur hidupku kau tidak pernah berdusta kepada

ibu. Kenapa kau sekarang berdusta”

“Ibu” Sindangsari terkejut ”aku tidak berdusta ibu” Dan Sindangsari menjadi

semakin terkejut ketika ia melihat sorot mata ibunya yang sedih.

Sindangsari” berkata ibunya ”aku melihat kau berjalan bersama Manguri. Tetapi

kau mengatakan itu hanya suatu kebetulan. Padahal sepengetahuan ibu, jarang

sekali Manguri berjalan lewat jalan ini, dan apalagi kau tadi ibu tinggalkan

kebelakang sedang terbaring di pembaringanmu”

“Tetapi, tetapi……….” Sindangsarti tergagap.

“Apapun yang kau lakukan Sari, sebenarnya ibu lebih senang kalau kau berkata

terus terang”

“Aku sudah berterus-terang ibu“ Terasa tenggorokan Sindangsari mulai

tersumbat.

Namun kemudian mereka terkejut ketika terdengar suara berat di luar pintu,

suara kakek Sindangsari “Sari berkata sebenarnya Wiratapa”

“O“ Nyai Wiratapa berpaling. Ketika pintu kemudian terbuka semakin lebar,

tersembullah tubuh laki-laki tua itu dengan sebuah cangkul di pundaknya dan

caping tua di tangannya.

“Apakah ayah mengetahuinya” bertanya Nyai Wiratapa.

“Aku melihatnya” jawabnya “aku lagi singgah di rumah sebelah gardu itu,

melihat ayam jantan aduan yang baik sekali. Aku melihat Sari datang ke gardu

itu selagi Pamot sedang bermain dengan serulingnya. Kemudian aku melihat

pula angger Manguri datang”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Pamotlah yang pulang lebih dahulu, kemudian baru Sindangsari diikuti oleh

angger Manguri.

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ditatapnya wajah

anaknya yang menunduk. Desisnya “Ternyata ibu keliru Sari. Menuruti

kakekmu, kau sudah berkata sebenarnya”

Sindangsari tidak menjawab. Meskipun ibunya mengakui kekeliruannya, tetapi

terasa, bahwa ibunya tidak senang melihatnya berjalan bersama Manguri.

“Dan apakah kau sudah tidak pening lagi?“ Sindangsari menjadi ragu-ragu.

Tetapi ia tidak dapat menganggukkan kepalanya, meskipun kepalanya memang

masih terasa pening. Bahkan kemudian ia menjawab “Tidak ibu. Aku sudah

sembuh”

“Bagus” jawab ibunya “kau sudah dapat membantu nenek”

Perlahan-lahan kepala Sindangsari terangguk. Dan sebelum beranjak dari

tempatnya kakeknya yang baru saja meletakkan cangkulnya di sudut rumah

berkata “Pamot memang pandai bermain seruling. Hampir setiap orang tertarik

kepada suara serulingnya yang justru tidak lajim. Agaknya Sindangsari tidak

pernah mendengarnya di kota”

Nyai Wiratapa mengerutkan keningnya. Dan laki-laki tua itu berkata selanjutnya

“Dan Pamot adalah anak yang baik”

Nyai Wiratapa masih berdiam diri. Tetapi ia melihat Sindangsari menarik nafas

dalam-dalam.

“Biarlah anak ini beristirahat” desis kakek gadis itu “seandainya ia telah

sembuh, biarlah sakitnya tidak kambuh kembali”

Nyai Wiratapa tidak menjawab. Di pandanginya saja anaknya yang masih

menundukkan kepalanya.

“Masuklah ke bilikmu” berkata kakeknya pula.

Dengan langkah yang tertegun-tegun oleh keragu-raguan Sindangsari

melangkah ke dalam biliknya. Kemudian setelah menutup pintu, dibantingnya

dirinya di atas pembaringannya sehingga amben bambu itu berderak-derak.

Ketika ia mencoba memejamkan matanya, maka melintaslah bayanganbayangan

yang kalut bercampur-baur. Kemudian sedikit demi sedikit bayanganbayangan

itu mulai saling berpisah. Akhirnya Sindangsari melihat wajah-wajah

yang berkesan di hatinya. Wajah Manguri yang riang, dan wajah Pamot yang

bersungguh-sungguh.

Tetapi kini Sindangsari sudah mempunyai bahan banding yang lebih lengkap.

Ternyata Manguri yang riang itu agak terlampau kasar.

“Mungkin demikianlah kebiasaannya di rumah. Karena ia anak seorang yang

kaya raya, maka ia biasa berlaku kasar terhadap orang-orangnya” berkata

Sindangsari di dalam hatinya “tetapi apakah ia berhak berbuat demikian juga

kepadaku, kepada Pamot dan kepada kawan-kawannya bermain?”

Tanpa disadarinya Sindangsari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Agaknya Pamot dapat bersikap lebih baik dari Manguri“ ia meneruskan di

dalam hatinya ”Tetapi sayang, Pamot terlampau asing bagi kawan-kawan,

gadis-gadis Gemulung”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam ”Suara seruling itu“ ia berdesah.

Maka mau tidak mau, Sindangsari harus menilai keduanya di dalam dirinya.

Bahkan ia merasa menyesal, bahwa ia mengenal keduanya dan tertarik oleh

sifat yang khusus dimiliki oleh masing-masing anak muda itu.

Sementara itu, Manguri berjalan dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya.

Meskipun masih jugu terpercik secercah harapan, tetapi ia merasa tersinggung

sekali oleh sikap Sindangsari. Biasanya gadis-gadis Gemulung segera

bersimpuh di hadapannya, apabila ia mulai menaburkan keping-keping uang

dan pakaian kepadanya. Tetapi Sindangsari bersikap lain.

“Aku tidak sabar” desisnya. Namun terasa sesuatu yang lain bergetar di

hatinya. Penilaiannya terhadap Sindangsari, ternyata berbeda justru karena ia

merasa tersinggung karenanya. Ada sepercik keseganan menyentuh

jantungnya.

“Anak ini memang lain”

Namun dengan demikian, keinginannya untuk menaklukkan Sindangsari

menjadi semakin menyala di dalam dadanya.

“Aku harus dapat mengambil dengan segala macam cara. Kalau perlu dengan

kekerasan” tetapi kemudian ia mengerutkan keningnya ”aku akan membelinya

dari kakeknya yang tua. Ia harus menyerahkan gadis itu kepadaku. Aku harus

membuktikan kepada Sindangsari, tidak seorang gadispun dapat melawan

kehendakku”

Manguripun kemudian menghentakkan tangannya sambil menggeram ”Pada

saatnya kau akan tunduk di bawah kehendakku. Ikhlas atau tidak ikhlas”

Pikiran Manguri dihari-hari berikutnya, terpusat pada usahanya untuk

menaklukkan Sindangsari dengan segala macam cara. Namun sejalan dengan

usahanya itu, penilaiannya terhadap Sindangsari justru menjadi semakin

mantap. Maksudnya untuk mendapatkan Sindangsari sekedar untuk

melepaskan dendam hatinya, semakin bergeser.

“Aku tidak dapat menganggapnya seperti gadis-gadis Gemulung yang lain”

desisnya ”aku harus mengambilnya dengan sungguh-sungguh. Kalau aku

masih menginginkan yang lain, itu tidak apa. Tetapi aku harus mempunyai

seorang isteri yang baik”

Dan Manguripun harus mengakui, bahwa ia mempunyai perasaan yang lebih

mendalam pada gadis ini dari gadis-gadis yang pernah bergaul terlampau rapat

dengannya. Dan Manguri yang sudah menjadi semakin dewasa itu mulai dapat

membedakan, bahwa terhadap Sindangsari ia tidak sekedar dicengkam oleh

nafsu semata-mata. Tetapi ia benar-benar mulai mencintainya.

“Perasaan apapun yang tersimpan di dalam hati” katanya kepada diri sendiri

”tetapi aku harus mendapatkannya lebih dahulu, sebelum orang lain

mengambilnya“

Dengan demikian, maka cara yang dianggapnya terbaik itulah yang akan

dilakukannya. Ketika matahari yang terik berada di pusat langit, Manguri

berjalan tergesa-gesa menyusur pematang pergi ke sawah yang sedang

digarap. Sawah yang ditumbuhi oleh batang-batang padi muda yang hijau

segar. Dibatasi oleh pematang yang ditanami kacang panjang dengan lanjaran

bambu yang berjajar-jajar.

Seorang laki-laki tua yang sedang menyiangi tanamannya, terbungkuk-bungkuk

di teriknya panas matahari. Seluruh tubuhnya telah menjadi basah oleh

keringat, sedang kakinya yang terendam di air setinggi mata kakinya itu

berlumuran dengan lumpur-lumpur yang kehitam-hitaman.

Orang tua itu tertegun ketika ia mendengar seseorang memanggilnya ”Kakek.

Apakah kakek tidak beristirahat? Tidak baik bekerja tepat di tengah hari”

Laki-laki tua itu menggeliat sambil menekan lambungnya dengan kedua

tangannya yang kotor. Kemudian perlahan-lahan berpaling ke arah suara yang

menyapanya.

“O, kau Manguri” orang tua itu tersenyum ”Ya, kek, Kakek bekerja terlampau

keras”

“Sekedar menyiangi” jawab laki-laki tua itu.

“Sebaiknya kakek beristirahat seperti orang-orang lain. Di tengah hari kita

beristirahat sebentar. Apabila matahari telah turun, barulah kita memulainya

lagi”

Kakek tua itu tertawa. Jawabnya ”Kerjaku hanya tinggal kurang sedikit. Kalau

aku pulang untuk makan, maka aku akan malas kembali lagi ke sawah. Tetapi

kalau aku lanjutkan kerja ini, sebentar lagi sudah selesai. Barulah aku dapat

pulang dengan tenang, karena aku tidak perlu pergi lagi ke sawah hari ini”

“Kenapa kakek setiap tengah hari pulang?”

“Makan. Aku tidak biasa makan pagi. Dan bukankah orang-orang lain berhenti

bekerja pula tengah hari”

“Tetapi mereka tidak pulang. Mereka makan di gubug masing-masing.

Laki-laki tua itu tertawa ”Ada yang mengirimkan makanan mereka ke sawah”

“Kenapa kakek tidak minta dikirimi makanan”

Kakek itu masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

“Bukankah kakek mempunyai seorang anak dan seorang cucu. Lihat, orangorang

lain juga dikirimi makanan di sawah oleh anak anak mereka, atau cucucucu

mereka. Juga gadis-gadis pergi ke sawah membawa makanan dan gendi

air. Kenapa cucu kakek itu tidak mau melakukannya? Itu tidak baik. Anak-anak

muda dan gadis-gadis harus belajar bekerja seperti kebiasaan kita para petani

bekerja. Juga anak dan cucumu itu kek”

Kakek tua itu mengangguk-angguk.

“Dengan demikian kakek tidak kehilangan waktu mondar-mandir ke sawah

meskipun tidak terlalu jauh”

“Perlahan-lahan Manguri. Aku harus mengajari anak dan cucuku itu menjadi

petani. Tetapi tidak dengan tiba-tiba. Sedikit demi sedikit mereka memang

sudah mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan petani”

“Kakek terlalu sayang kepada cucumu”

“O, siapa yang tidak sayang kepada anak dan cucunya?”

“Tetapi berlebih-lebihan“

Kakek tua itu hanya tertawa saja.

“Tetapi itupun wajar” tiba-tiba Manguri menyambung ”gadis itu adalah satusatunya

keturunan kakek yang dapat menyambung nama kakek di masa

datang. Anak kakek hanya satu. Menantu kakek sudah mati dan cucu kakek

hanya satu pula Kalau yang satu ini gagal, maka berakhirlah garis keturunan

kakek. Bukankah begitu”

“Ya, begitulah kira-kira”

“Bukan kira-kira. Begitulah yang pasti”

Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, Sindangsari harus mendapat tempat yang sebaik-baiknya

Bukankah begitu?”

“Demikianlah yang aku harapkan Manguri. Aku memang ingin melihat

Sindangsari bahagia”

Manguri tersenyum. Kemudian katanya ”Gadis kakek itu memang harus

berbahagia. Mungkin ia tidak biasa melakukan pekerjaan terlampau kasar

seperti gadis-gadis Gemulung”

“Aku akan mengajarinya. Tetapi sudah tentu sedikit demi sedikit”

“Itu tidak perlu kakek”

Kakek tua itu mengerutkan keningnya ”Kenapa ?” ia bertanya.

“Kalau cucumu itu kelak kawin dengan seorang yang dapat memberinya tempat

yang baik, maka ia tidak perlu turun ke dalam lumpur seperti kakek ini”

Kakek tua itu mengangkat wajahnya. Kemudian terdengar suara tertawanya.

“Aku berkata sebenarnya kek”

“Mudah-mudahan Manguri” jawab kakek tua itu ”tetapi sebaiknya anak itu tidak

membayangkan masa depan yang terlalu baik, supaya ia tidak menjadi

kecewa”

Manguri terdiam sejenak. Ia tahu, sawah kakek tua itu tidak begitu luas.

Diseberang jalan adalah sawah Kyai Wratapa yang diterimanya dari Sultan

Agung sebagai penghargaan atas jasa-jasa suaminya. Ki Wiratapa.

“Kalau kakek mempunyai sepasang lembu, aku kira kerja kakek menjadi lebih

ringan. Bahkan mungkin lembu itu dapat disewa oleh tetangga-tegangga kakek

di musim mengerjakan sawah sebelum menanam padi”

“O, tentu Manguri. Sepasang lembu akan dapat membantu sekali. Tetap

darimana aku mendapat sepasang lembu”

“Di rumah kakek ada sepasang lembu yang tidak kakek pergunakan. Bahkan

sama sekali kakek simpan di dalam bilik”

“He” kakek itu terkejut ”maksudmu?”

“Jangankan sepasang lembu kek. Apa saja dapat kakek peroleh, kalau kakek

dapat memanfaatkannya”

“Aku tidak mengerti”

“Sindangsari”

“He, jadi kau anggap Sindangsari dan ibunya sebagai sepasang lembu?”

Manguri tertawa “Jangan salah sangka kek. Bukan maksudku berkata

demikian. Tetapi Sindangsari dapat mendatangkan tidak hanya sekedar

sepasang lembu”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaknya ia masih

belum memahami benar-benar kata-kata Manguri.

“Apakah kakek membutuhkan sepasang lembu dan bajak?“

Kakek tua itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kalau kakek memerlukan, besok di halaman rumah kakek akan terikat

sepasang lembu dan sebuah bajak. Beberapa orang akan bekerja di sana

membuat kandang. Sedang kakek sama sekali tidak perlu menyediakan bahan

apapun dan upah apapun”

Kakek tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera

menjawab. Bahkan kemudian ia melangkah beberapa langkah menepi dan naik

ke pematang di sebelah Manguri. Perlahan-lahan orang tua itu duduk sambil

bergumam “Duduklah Manguri”

Manguri termangu-mangu sejenak. Ia tidak tahu pasti, tanggapan orang tua itu

atas tawarannya. Karena itu, maka dadanya justru menjadi berdebar-debar.

Tetapi iapun kemudian duduk di samping kakek tua itu. Dentang jantungnya

serasa menjadi semakin keras memukul di dadanya, oleh kediaman orang tua

itu beberapa saat lamanya.

“Bagaimana kek“ Manguri tidak sabar menunggu orang tua yang masih berdiam

diri itu.

“Manguri. Apakah maksudmu, kau akan memberi aku sepasang lembu dan

bajak, tetapi kemudian kau akan mengambil Sindangsari?“

Manguri tergagap karenanya. Pertanyaan itu terlampau langsung pada

persoalannya sehingga ia menjadi agak bingung.

Namun kemudian kepalanya terangguk perlahan-lahan. Dan terdengar

suaranya datar “Maksudku, aku ingin mengambil Sindangsari kek. Apapun

maskawinnya, aku sanggup membayarnya”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya “Sebenarnya aku senang

sekali Manguri. Tetapi semua keputusan berada di tangan Sindangsari sendiri.

Aku akan bertanya kepadanya, kepada ibunya dan kepada neneknya”

Manguri mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab “Tetapi

bukankah kepala rumah tangga itu adalah kakek sendiri? Kakek dapat

menentukan segala-galanya”

“Benar Manguri. Tetapi persoalan ini adalah persoalan hari depan yang

panjang”

“Kakek dapat memaksa gadis itu. Kakek mempunyai wewenang. Kemudian apa

yang kakek butuhkan, aku akan memenuhinya”

Kakek tua itu menggelengkan kepalanya “Jangan begitu Manguri. Bukankah

kau sudah mengatakan bahwa gadis itu adalah penyambung garis

keturunanku. Kalau aku memaksakan sesuatu yang tidak di senanginya,

kemudian gadis itu membunuh diri, nah, putuslah semua riwayat yang pernah

terbentang dari nenek moyangku hingga anakku dan cucuku itu saja”

“Itu pikiran yang cengeng. Gadis itu tidak akan membunuh diri. Ia akan bahagia

menjadi isteriku. Isteri seorang yang kaya raya. Paling kaya di seluruh

padukuhan Gemulung”

“Apakah kebahagiaan itu tergantung pada kekayaan melulu”

“Tetapi itu dapat menjadi unsur utama kek”

“Kau keliru anak muda“ kakek itu menggeleng “tetapi biarlah Sindangsari yang

menentukannya sendiri”

Wajah Manguri menjadi merah padam. Ternyata kakek tua ini sekeluarga

mempunyai pandangan sendiri, tentang masalah duniawi. Anaknya perempuan,

ibu Sindangsari pernah menolak pemberiannya untuk gadis itu. Sindangsari

sendiri pernah juga menyakiti hatinya, dan sekarang kakek tua itupun menolak

pemberiannya yang tidak terbatas.

“Maaf Manguri. Tetapi aku tidak dapat memutuskan. Keputusan terakhir ada di

tangan cucuku”

Manguri sudah tidak mendengar kata-kata itu dengan jelas. Iapun kemudian

meloncat berdiri sambil berkata “Pertimbangkan, kek. Selagi aku masih

memberi kesempatan. Sawahmu akan bertambah luas dan cucumu akan

menjadi seorang yang kaya”

Manguri tidak menunggu kakek itu menjawab. Dengan tergesa-gesa ia

meninggalkan laki-laki tua itu termangu-mangu.

“Hem“ orang tua itu berdesah “anak ini memang keras kepala. Tetapi aku justru

menjadi kasihan kepada Sindangsari”

Dan sejenak ia masih berdiri di pematang sawahnya sambil memandangi

Manguri yang berjalan tergesa-gesa, seperti dikejar hantu.

****

Bab 4 : Di Balik Tanaman Jagung

Namun di sepanjang jalan manguri

mengumpat tidak habis-habisnya. Agaknya

ia tidak akan dapat pula menembus jalan

lewat kakek-kakek tua itu. Semuanya

akhirnya tergantung pada Sindangsari

sendiri. Ibunya, kakeknya, semuanya

menyerahkan persoalannya kepada

Sindangsari.

“Orang-orang bodoh“ ia menggeram.

Namun dengan demikian keinginannya

untuk memiliki Sindangsari apapun

tanggapannya atas gadis itu menjadi

semakin menyala. Bahkan wajah gadis itu

sama sekali tidak mau menghindar dari

pelupuk matanya.

“Aku akan menunggu kesempatan”

desisnya. Ketika matahari menjadi

semakin condong ke barat, maka kakek

Sindangsaripun meninggalkan sawahnya. Di sepanjang jalan angan-angannya

selalu di ganggu oleh sikap Manguri.

“Ibunya harus mengetahuinya” gumamnya.

Dan hal itupun kemudian dikatakannya kepada Nyai Wiratapa. Ketika mereka

duduk bercakap-cakap setelah makan malam, selagi Sindangsari mencuci

mangkuk di belakang.

“Anakmu harus berhati-hati. Mungkin Manguri akan mempergunakan cara-cara

yang lain. Mungkin ia akan membujuknya, memberinya janji dan apapun juga,

sehingga anakmu yang hijau itu pada suatu saat akan tergelincir”

“Apakah aku dapat berterus terang?” bertanya Nyai Wiratapa.

“Tidak seluruhnya. Kalau kau katakan semuanya itu sekaligus, mungkin anak

itu justru tidak percaya”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun dengan demikian Nyai Wiratapa menjadi semakin berhati-hati atas anak

gadisnya. Setiap kali Sindangsari pergi keluar halaman, ia selalu berpesan

kepadanya, agar ia dapat menjaga dirinya.

Tetapi pesan yang terlampau sering itu justru menjadi terlampau biasa di

telinga Sindangsari. Sebagai seorang gadis, kadang-kadang ia ingin juga

bermain-main dengan kawan-kawan sebayanya. Bahkan kadang-kadang tanpa

setahu ibu, kakek dan neneknya, ia pergi ke sawah kawan-kawannya.

Namun demikian, yang paling menarik perhatiannya adalah suara seruling

Pamot. Apapun yang sedang dikerjakan, apabila ia mendengar suara seruling

itu, ia selalu tertegun sejenak.

“He, kau terbius oleh suara seruling itu?” bertanya Kandi.

“Aku senang sekali. Pamot ternyata seorang peniup seruling yang baik”

Tetapi kawan-kawannya sama sekali tidak tertarik kepada anak muda pendiam

dan yang jarang sekali bergaul dengan mereka. Gadis-gadis Gemulung.

memang lebih tertarik kepada Manguri yang sering memberi mereka beberapa

keping uang.

“Aku akan belajar meniup seruling” berkata Sindangsari kepada Kandi

“bukankah kau dapat juga berlagu dengan seruling”

“Tetapi aku tidak sepandai Windan. Belajarlah kepadanya”

Sindangsari mengerutkan keningnya. Katanya “Windan tidak memberikan

warna tersendiri. Ia bermain seperti orang-orang lain”

Kandi menjadi heran. Kemudian “Akupun bermain seruling seperti orang lain.

Apalagi aku tidak sepandai Windan”

Sindangsari termenung sejenak. Ia mengangkat wajahnya ketika Kandi berkata

“Maksudmu seperti Pamot yang tidak mengenal gending-gending itu”

Perlahan-lahan kepalanya terangguk “Ya”

“Kalau begitu kau harus belajar kepadanya”

Sindangsari tidak menjawab. Sementara itu gadis-gadis yang lainpun

berdatangan berteduh di pojok desa.

“He. Manguri sudah meniti pematang” berkata salah seorang gadis “sebentar

lagi ia akan datang kemari”

“Benar?“

“Ya”

Berdesak-desakan gadis-gadis itupun kemudian duduk di atas seonggok padas

di pinggir jalan selain Sindangsari. Ia berdiri sambil tersenyum melihat kelakuan

kawan-kawannya.

Hampir berbareng gadis-gadis itu kemudian berdesis “Itu dia”

Ketika mereka serentak berpaling, maka Manguri telah berjalan menuju ke arah

mereka.

“Siapa yang akan menerimanya kali ini” desis salah seorang dari mereka.

“Entahlah” sahut yang lain.

Gadis-gadis yang duduk berdesak-desakan itu sama sekali tidak menghiraukan

apapun selain Manguri. Mereka tidak mendengar suara seruling yang mengalun

di sela-sela desir angin yang lembut.

“Suara itu“ ia berdesis.

Seorang gadis berpaling kepadanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Apa yang

kau katakan Sari?“

“Kau dengar suara seruling itu”

“O” sahut kawannya “sempat juga kau mendengar suara seruling itu. Jangan

hiraukan. Aku haus sekali. Di tikungan ada orang menjual rujak nanas”

Tetapi Sindangsari tidak mempedulikannya. Ia tidak berkepentingan sama

sekali dengan Manguri. Kini pandangannya terhadap Manguri sudah menjadi

agak berubah, sejak sikapnya yang kasar itu, meskipun ia tidak membencinya.

Meskipun demikian ia tetap berdiri di tempatnya. Sambil bersandar dinding batu

ia memandang langkah Manguri yang menjadi semakin dekat.

Dan seperti biasanya, Manguri kemudian berhenti di hadapan gadis-gadis itu

sambil tersenyum. Sekilas ia memandang wajah Sindangsari dan sejenak

kemudian ia mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat pingganghnya

yang besar.

“Kalian memerlukan ini?“

“Ya, sahut gadis-gadis itu”

Manguri tersenyum. Ia tahu benar bahwa Sindangsari tidak pernah ikut

mempergunakan uang pemberiannya.

Dengan polah yang dibuat-buat seorang gadis mendekatinya “Buat apakah

uang-uang itu Manguri?”

Manguri tertawa ”Buat kalian“ katanya “tetapi kalau kalian tidak memerlukan

tidak apa. Aku dapat memberikannya kepada orang lain. Kau tahu, bahwa di

Gemulung ini ada lebih dari duapuluh lima gadis-gadis cantik, duapuluh lima

gadis-gadis sedang, dan puluhan gadis-gadis kebanyakan. Semua itu

memerlukan keping-keping uang. Kalau ada diantara kalian yang menolak

pemberianku itu hanya berarti bahwa orang itu akan tersisih dari pergaulan di

padukuhan Gemulung”

Dada Sindangsari berdesir mendengar kata-kata Manguri itu. Wajahnya

berkerut dan tiba-tiba jantungnya berdentang. Ia merasakan kata-kata sindiran

itu. Namun justru karena itu, ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu.

Seakan-akan darahnya jadi membeku.

Sejenak kemudian ia melihat Manguri mengacungkan keping-keping uang itu,

dan seperti biasanya gadis-gadis itu berebutan untuk menerimanya. Tetapi

karena seorang diantara mereka telah mendekatinya dengan solah yang

dibuat-buat, maka ia adalah orang yang pertama-tama menangkap tangan

Manguri.

Tetapi tingkah laku Manguri ternyata telah semakin menyinggung perasaan

Sindangsari. Ketika gadis-gadis itu berebutan, justru tangannya tidak segera

dibuka. Kepingan-kepingan uang itu digenggamnya semakin erat.

Terdengarlah gadis-gadis itu memekik dan berteriak-teriak sambil mencoba

membuka tangan Manguri. Mereka berdesak-desakan dan tarik-menarik.

Bahkan ada diantara mereka yang justru menarik Manguri pada lengan dan

tangannya.

Akhirnya Manguri membuka tangannya sambil tertawa berkepanjangan.

Katanya “Kalian berebutan untuk mendapatkan uang ini, atau kalian ingin

sekedar mendesak-desak aku?“

Gadis-gadis itu tertawa. Salah seorang menjawab “Kedua-duanya”

Sambil memandang Sindangsari yang masih berdiri di tempatnya Manguri

berkata “Kenapa kau tidak ikut?”

Sindangsari terkejut menerima pertanyaan yang tidak disangka-sangkanya itu.

Karena itu tergagap ia menjawab “Tidak. Aku tidak ikut”

“Aku sudah tahu” sahut Manguri “tetapi kenapa?”

“Aku tidak haus”

Manguri mengerutkan keningnya.

Tetapi gadis-gadis yang berebut uang itu menjadi semakin riuh karena uang

Manguri bertebaran jatuh di tanah. Beberapa orang segera berjongkok

memungutnya dan yang lain bahkan begitu saja bersimpuh di kaki Manguri.

Manguri tersenyum. Seakan-akan ia berkata kepada Sindangsari “Lihat, gadisgadis

ini telah bersimpuh di bawah kakiku untuk sekedar mendpat uang

sekeping”

Namun Sindangsari telah menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan

mata Manguri itu.

“Sindangsari” berkata Manguri kemudian “kau tidak berbuat seperti kawankawanmu.

Aku kira kau memang tidak suka berkawan. Karena itu sebenarnya

aku segan menyampaikan pesan kakekmu yang harus aku katakan kepadamu”

Sindangsari mengerutkankeningnya. Dan tiba-tiba ia beranjak selangkah maju

“Apakah kakek berpesan sesuatu kepadamu?“

“Ya”

“Apakah pesannya”

Manguri mengerutkan keningnya. Kemudian ia berdesis “Biarlah kakekmu saja

nanti menyampaikannya sendiri, atau biarlah ia berpesan kepada orang lain”

“Kalau kakek sendiri dapat menyampaikan kepadaku, kenapa ia harus

berpesan?” bertanya Sindangsari.

“Begitulah agaknya “Manguri berpikir sejenak, lalu “kau nampaknya seperti

orang aing disini Sari”

Gadis-gadis yang saling memperebutkan uang itupun kini telah berdiri sambil

mengibaskan pakaian mereka yang kotor oleh debu. Mereka masih saja

berteriak-teriak. Apalagi mereka yang tidak mendapatkannya.

“He” berkata Manguri “bagi adil. Semua harus mendapat bagian”

“Nah dengar. Semua harus mendapat bagian”

“Ya, semua harus mendapat bagian”

Manguri masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum memandangi gadis-gadis

yang kini saling mengejar di sepanjang jalan, berputar-putar sambil tertawa.

“Mereka adalah gadis-gadis periang” desis Manguri.

Sindangsari tidak memperhatikannya kata-kata itu, Bahkan ia bertanya “Apakah

pesan kakek”

“O, sama sekali tidak penting. Apakah aku harus mengatakannya”

“Penting atau tidak penting, aku ingin mendengar”

“Kau di panggilnya”

Sindangsari mengerutkan keningnya pula.

“Ketika aku lewat di pematang sawah yang berbatasan dengan sawah kakekmu

ia berpesan kepadaku, agar kau datang ke sawah untuk mencoba

mencelupkan kakimu ke dalam lumpur”

“Aku sudah sering melakukannya” jawab Sindangsari.

“Jangan kau katakan kepadaku. Katakanlah kepada kakekmu. Atau barangkali

kau tidak bersedia datang, terserah pula kepadamu. Aku sudah

menyampaikannya meskipun sikapmu tidak menyenangkan aku”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Ia agak ragu-ragu untuk

mempercayainya. Tetapi ia ragu-ragu pula untuk tidak menghiraukannya

seandainya kakeknya benar-benar berpesan kepada anak muda itu.

Manguri yang acuh tak acuh terhadap Sindangsari itu kini melihat gadis-gadis

yang berebutan uangnya itu menghambur kebalik tikungan untuk membeli rujak

nanas atau dawet cendol aren. Bahkan tanpa berpaling lagi Manguripun

melangkah meninggalkan tempat itu.

“Manguri“ Sindangsari memanggilnya. Manguri berhenti sejenak. Di tatapnya

wajah Sindangsari yang termangu-mangu.

“Apa perlumu memanggil aku?“

“Apakah benar kakek berpesan kepadamu?“

“Terserahlah kepadamu. Percaya atau tidak percaya”

Sindangsari menggigit bibirnya. Sebelum ia berkata sesuatu manguri telah

melangkah pergi, “Tunggu“ panggil Sindangsari pula. Sekali lagi langkah

Manguri tertegun.

“Apalagi Sindangsari”

“Maksudku, bagaimana pesan kakek itu. Apakah aku harus datang sekarang”

“Aku tidak tahu, kakekmu hanya berkata begitu. Apakah itu berarti kau harus

datang sekarang atau besok atau kapanpun, aku tidak tahu”

Sindangsari menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi ia tidak mendapat penegasan

apapun dari Manguri. Manguri telah melangkah pergi tanpa berpaling lagi.

Sejanak Sindangsari memandangi langkah Manguri. Anak muda itu berjalan

menyusur tanggul parit, dan kemudian hilang di balik batang-batang jagung

muda.

“Ia kembali ke sawahnya” desis Sindangsari.

Tetapi pesan yang disampaikannya itu benar-benar mempengaruhinya. Kalau

ia tidak pergi, sedang kakeknya itu benar-benar mengharapkannya datang,

orang tua itu pasti akan menunggunya.

“Ah, apa salahnya aku pergi ke sawah” desisnya. Maka tanpa berpikir lagi

Sindangsaripun segera melangkahkan kakinya, pergi ke sawah kakeknya.

Namun sepasang mata dengan penuh kecurigaan selalu mengawasinya. Sejak

gadis-gadis kawan Sindangsari berebutan keping-keping uang, sepasang mata

itu telah memandangi mereka dengan kening yang berkerut-merut.

Suara riuh, gelak dan tawa yang di dengarnya, serasa tusukan-tusukan duri

yang runcing langsung mengenai jantungnya. Apalagi pesan yang disampaikan

oleh Manguri kepada Sindangsari, yang ternyata dipercayainya.

Sementara itu Sindangsari berjalan tergesa-gesa menyusuri pematang ke

sawahnya. Ia sama sekali tidak berprasangka apapun. Apalagi di siang hari.

Karena itu, iapun berjalan tanpa menghiraukan apapun lagi. Seandainya

Manguri membohonginya, kakeknya pasti tidak akan marah kepadanya.

“Biarlah kakek menegur Manguri nanti apabila ia tidak berkata sebenarnya, dan

hanya sekedar mengganggu aku karena sikapku yang tidak disukainya”

Dengan demikian, maka Sindangsaripun berjalan semakin cepat. Ia tidak dapat

berlari-lari seperti kawan-kawannya yang sudah terlampau biasa. Ia kadangkadang

masih tergelincir pada bagian-bagian yang agak licin, sehingga ia

masih harus berjalan berhati-hati sekali.

Ketika Sindangsari menjadi semakin dalam terbenam ke dalam tanamantanaman

jagung muda itu, terasa panas matahari semakin menyengat

kepalanya. Tanpa sesadarnya ia menengadahkan kepalanya. Matahari berada

tinggi di puncak langit.

“Apakah kakek tidak pulang di saat begini“ tiba-tiba saja pertanyaan itu timbul di

hatinya.

“Apakah kakek benar-benar berpesan“ keragu-raguannyapun mulai merambat

di dadanya.

Namun Sindangsari masih melangkahkan kakinya di atas pematang. Tiba-tiba

Sindangsari menjadi berdebar-debar. Ketika ia memandang berkeliling, ia tidak

melihat seorangpun. Apalagi pandangan matanya dibatasi oleh batang-batang

jagung yang hampir setinggi dirinya sendiri.

“Mereka pasti sedang beristirahat di saat-saat begini. Dan kakekpun pasti

sudah pulang”

Sindangsari tertegun sejenak. Hampir saja ia melangkah kembali. Tetapi dalam

keragu-raguan ia berdesis “Tetapi bagaimana kalau kakek justru menunggu aku

sekarang?“

Dengan demikian maka Sindangsaripun melanjutkan langkahnya. Namun kini ia

berjalan secepat dapat dilakukannya.

Tiba-tiba saja langkah Sindangsari itu terhenti. Dilihatnya seseorang muncul

dari balik jagung-jagung muda itu. Manguri.

Terasa darah Sindangsari seakan-akan terhenti mengalir. Kakinya menjadi

gemetar dan nafasnya terengah-engah. Ketika Manguri kemudian melangkah

mendekatinya, Sindangsaripun beringsut beberapa langkah surut.

“Jangan takut Sindangsari” berkata Manguri -aku tidak akan berbuat apa-apa.

Aku bukan termasuk orang yang liar sama sekali meskipun aku bukan seorang

yang terlalu baik.

Sindangsari tidak menjawab.

“Aku hanya akan berbicara kepadamu tanpa di dengar oleh orang lain” berkata

Manguri selanjutnya.

“Tetapi, tetapi“ Sindangsari tergagap “apakah kakek benar-benar berpesan

kepadamu?“

Manguri menggelengkan kepalanya “Tidak”

“Jadi kau menipu aku?“

“Bukan maksudku Sari. Tetapi aku hanya sekedar ingin berbicara kepadamu”

“Tetapi kenapa kau ambil cara itu Manguri“

“Aku tidak mempunyai cara lain Sari“ Manguri berhenti sejenak, lalu “kalau kau

tidak senang dengan caraku, aku minta maaf. Tetapi aku minta kau

mendengarkan kata-kataku selanjutnya”

Sindangsari tidak segera menjawab.

“Sari“ suara Manguri merendah “aku sudah menemui kakekmu. Aku memang

berbicara tentang kau. Sebenarnyalah bahwa aku mengharap kau dapat

mengerti perasaanku. Kakekmu sama sekali tidak berkeberatan. Semuanya

tergantung kepadamu sendiri”

Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak bersiap sama

sekali untuk menerima pertanyaan itu.

Dan wajahnya menjadi semakin menunduk ketika anak muda itu mendesaknya

”jawablah Sari“

Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Terasa dadanya seakan-akan

berguncang-guncang. Dan ia sadar, apapun jawab yang akan diucapkan, akan

menyudutkannya dalam kesulitan.

Tetapi yang terpenting baginya sekarang, adalah melepaskan diri dari keadaan

yang mendebarkan ini. Ia harus berusaha untuk menenangkan hati Manguri

tanpa memberikan harapan kepadanya. Tetapi bagaimana ia dapat memberi

jawaban itu kalau hatinya sendiri sedang bergejolak.

“Sari, kenapa kau diam saja?“

Sindangsari menggigit bibirnya.

“Jawablah. Kau tahu banyak tentang diriku. Aku adalah anak tunggal seperti

kau. Ayahku adalah seorang pedagang yang kaya raya. Bukankah ku dapat

membayangkan, siapakah yang akan memiliki kekayaan itu kelak?”

Sindangsari masih belum menyahut.

“Kenapa kau diam saja Sari?“

Sindangsari menjadi semakin cemas. Karena itu, di usahakannya untuk

mengatur perasaannya. Kemudian dengan suara yang patah-patah ia mencoba

menjawab “Jangan kau minta jawaban itu sekarang manguri. Berilah aku

kesempatan untuk berpikir”

“Kesempatan itu sudah cukup lama”

Sindangsari menggeleng “Aku baru mendengarnya sekarang”

“Tetapi kau pasti sudah mengerti maksudku sejak aku mengirimkan seseorang

untuk memberikan sepengadeg pakaian itu”

Sindangsari terdiam sejenak. Namun kemudian ia mengulangi jawaban satusatunya

yang dapat diucapkan “Aku tidak dapat menjawab sekarang. Berilah

aku waktu”

“Kau sudah mempunyai waktu yang cukup. Aku yakin bahwa kau sudah dapat

mengambil sikap” Manguri brhenti sejenak “semuanya terserah kepadamu.

Kakek, nenek dan ibumu tidak akan memaksamu untuk berbuat lain dari

keputusanmu sendiri”

Tetapi Sindangsari menggeleng “Aku tidak dapat menjawab sekarang”

“Sari“ Manguri menjadi tidak sabar lagi “tidak pernah ada seorang gadispun

yang pernah menolak aku. Kau lihat sendiri, apapun yang akan aku lakukan

atas kawan-kawanmu bermain itu, aku tidak akan mendapatkan kesulitan sama

sekali. Jangankan seorang dari mereka, tiga empat orang sekaligus aku akan

mendapatkannya.

Sindangsari tidak menjawab.

Dan Manguri berkata selanjutnya “Tetapi tidak seorangpun dari mereka yang

menarik Sari. Mungkin untuk kawan bergurau sehari dua hari. Namun aku tahu,

bahwa kau tidak dapat diperlakukan seperti itu. Karena itulah maka akupun

memperlakukan kau dengan cara yang lain. Agaknya benar kata ibuku, bahwa

aku sudah dewasa, dan aku harus memikirkan hidupku di masa mendatang”

Sindangsari menjadi semakin tunduk karenanya.

“Karena itu Sari” berkata Manguri seterusnya “aku memerlukan kau dengan

kesungguhan hati”

Tetapi Sindangsari masih juga menjawab dengan jawabannya yang itu-itu juga

“Jangan kau tunggu jawabanku sekarang manguri. Berilah aku waktu dua tiga

hari lagi”

“Ah“ Manguri melangkah maju “kau jangan mempersulit dirimu sendiri.

Berkatalah dengan jujur apa yang terbersit di hatimu sekarang”

Karena Manguri maju selangkah, maka Sindangsaripun surut selangkah pula

“Manguri“ katanya dalam kecemasan “jangan kau paksa aku menjawab”

“Aku memerlukan, jawaban itu sekarang. Aku tidak dapat menunggu sampai

dadaku bengkah, atau sampai kau dilarikan orang”

“Tidak Manguri. Aku tidak dapat menjawab sekarang”

“Tidak ada seorangpun yang dapat menolak maksudku Sari. Ingat. Seluruh

padukuhan Gemulung ini telah dikuasai oleh ayahku. Apa yang dikehendakinya

pasti terjadi, dan apa yang aku kehendakipun harus terjadi pula. Sadari. Aku

dapat menempuh jalan dan cara seribu macam untuk mendapatkan apa yang

aku kehendaki itu, termasuk kau”

Sepercik warna merah merambat kewajah gadis itu. Kini kecemasan di

dadanya menjadi semakin memuncak.

“Jawablah Sari“ suara Manguri tiba-tiba merendah.

Sari yang menjadi gemetar masih juga menggelengkan kepalanya dan

menjawab “Maaf Manguri. Aku tidak tahu bagaimana aku akan menjawab

pertanyaanmu itu. Karena itu berilah aku waktu”

“Sari“ dan tiba-tiba saja nada suara Manguri melonjak naik. Ia telah benarbenar

kehilangan kesabaran” jawab pertanyaanku sekarang. Tidak seorangpun

dapat melawan kehendakku. Kaupun tidak. Aku menghendaki kau menjawab

sekarang. Karena itu kau harus menjawab”

Serasa darah Sindangsari berhenti mengalir. Kakinya menjadi semakin gemetar

dan mulutnya justru menjadi terkunci karenanya.

Manguri yang memang telah diketahuinya sebagai seorang anak muda yang

kasar itu, ternyata jauh lebih kasar dari dugaannya. Meskipun ia adalah anak

seorang prajurit yang harus mengutamakan ketrampilan jasmaniah, tetapi

ayahnya tidak sekasar Manguri.

“Kau tidak akan dapat melepaskan dirimu Sari” geram Manguri sambil

melangkah maju, sehingga Sindangsaripun mundur beberapa langkah “apa

yang aku ingin darimu harus kau berikan. Sebenarnya aku sangat

menghormatimu. Aku ingin kau menjadi seorang istri yang bahagia. Tetapi kau

tidak mau menjawab pertanyaanku sekarang”

Sindangsari benar-benar telah menjadi ketakutan sehingga ia tidak dapat

menjawab sama sekali.

“Aku memang memilih saat ini Sari, sehingga tidak ada orang lain yang dapat

mengganggu kita. Apalagi di tengah-tengah tanaman jagung ini. Aku dapat

berbuat apa saja. Bahkan membunuhmu sekali apabila aku kehendaki“ Manguri

terhenti sejenak, lalu dilanjutkannya “Sari. Aku tidak akan gila untuk minta

sesuatu yang berlebih-lebihan dari padamu sekarang. Tetapi aku hanya minta

kau menjawab pertanyaanku. Itu saja”

Tetapi mulut Sindangsari justru terkatub semakin rapat.

“Sari, Sari“ Manguri maju selangkah sambil menghentakkan tangannya ”jawab.

Ayo jawab”

Sindangsari bahkan telah kehilangan kemampuan sama sekali untuk

melakukan apapun juga. Kini ia berdiri saja dengan tubuh gemetar.

“Apakah kau tetap akan membisu?“ Suara Manguri menjadi semakin berat di

sela-sela gemeretak giginya.

Sindangsari yang ketakutan itu tiba-tiba tidak lagi dapat menguasai dirinya.

Ketika ia mencoba melangkah surut tiba-tiba saja ia tergelincir dan jatuh

terbaring di pematang.

Dengan wajah yang pucat, Sindangsari menggelepar di atas rerumputan.

Namun oleh ketakutan yang sangat, ia justru mnjadi seakan-akan tidak berdaya

untuk bangkit.

TIBA-TIBA mata Manguri menjadi merah melihat gadis yang seolah-olah

berbaring di hadapannya. Kakinya yang mencoba mencari alas untuk berpijak

itu seakan-akan justru memanggilnya untuk mendekat.

Sejenak Manguri terpaku di tempatnya. Perlahan-lahan sifat-sifatnya mulai

merambati dadanya. Sifat yang seakan-akan diturunkan oleh ayahnya

kepadanya.

“Sari” terdengar ia berdesis. Suara itu seolah-olah sudah bukan suara Manguri

lagi.

Seperti harimau yang akan menerkam korbannya, Manguri melangkah setapak

demi setapak maju, sedang Sindangsari yang ketakutan telah hampir menjadi

pingsan karenanya.

Namun dalam keadaan yang demikian itu, selagi Manguri masih berjarak

selangkah dari Sindangsari yang tergolek di tanah, tiba-tiba terdengar gemerisik

batang-batang jagung di sebelah. Sejenak kemudian Manguri melihat

seseorang meloncat ke pematang di belakang Sindangsari sambil

menggenggam sebatang seruling.

Sejenak Manguri berdiri tegak di tempatnya. Namun sejenak kemudian

terdengar suaranya gemetar “Kau Pamot. Apa maksudmu datang kemari?“

“He“ Pamot tersenyum “bukankah sawah di sebelah ini sawah pamanku?“

Manguri terdiam sejenak. Namun gejolak di dadanya menjadi semakin

menggelora.

“Aku disuruh oleh pamanku itu menengoknya”

“Kenapa kau? Kau tidak biasa berada di sawah pamanmu ini”

“He“ Pamot mengerutkan keningnya “kau selalu berkata begitu. Ketika kau

melihat aku beristirahat di gardu itu, kau juga berkata bahwa aku tidak biasa

berada di gardu itu. Kau juga berkata bahwa aku tidak biasa berjalan lewat

jalan itu sejak kanak-kanak. Sekarang kau juga berkata bahwa aku tidak biasa

berada di sawah pamanku” Pamot berhenti sejenak, lalu “dengan demikian

ternyata bahwa kau tidak mengenal aku dengan baik”

Manguri memotong dengan serta-merta “Tidak ada seorangpun dari padukuhan

Gemulung ini yang mengenal kau dengan baik. Meskipun aku tahu, kau

dilahirkan di sini, tetapi kau seakan-akan menjadi orang asing di padukuhanmu

sendiri”

“He” Pamot menyahut ”benarkah begitu? Kau keliru Manguri. Aku memang

tidak banyak dikenal di Gemulung ini. Tetapi oleh gadis-gadis. Bukan oleh

anak-anak muda. Adalah sebaliknya dengan kau. Kau lebih banyak dikenal

oleh gadis-gadis daripada oleh anak-anak muda”

“Bohong” teriak Manguri.

“Apalagi aku memang tidak mempunyai terlampau banyak waktu seperti kau.

Setiap hari aku harus bekerja di sawah dan pategalan. Mengusung kayu bakar,

dan kadang-kadang membawanya kepada mereka yang memerlukannya.

Sekali-sekali juga aku mengantar seonggok kayu bakar ke rumahmu, karena

ibumu membelinya” Pamot berhenti sejenak, lalu “kemudian setiap sepekan

dua kali aku harus berada di Kademangan Kepandak. Nah, apakah kau tahu

bahwa anak-anak muda mendapat kesempatan untuk berkumpul di

Kademangan sepekan dua kali?“

“Persetan dengan igauanmu itu. Sekarang aku tidak membutuhkan kau. Juga

aku tidak ingin membeli kayu bakar. Aku baru berusaha untuk menolong

Sindangsari yang terjatuh itu”

Pamot tercenung sejenak. Dipandanginya sekilas Sindangsari yang masih

terduduk di tanah.

“Bangkitlah Sari” desis Pamot.

“Aku akan menolongnya” berkata Manguri.

“Jangan sentuh gadis itu” potong Pamot.

“Kau adalah orang yang paling dungu, yang tidak mengenal sopan santun

sama sekali. Adalah seharusnya seorang laki-laki menolong perempuan”

“Tetapi laki-laki itu bukan kau” jawab Pamot “dan bukan pula aku sekarang”

Wajah Manguri menjadi merah padam. Di pandanginya Sindangsari dan Pamot

berganti-ganti. Namun demikian ia masih juga bergeser maju.

“Gadis itu dapat bangkit sendiri” berkata Pamot “nah, bangkitlah Sari”

Kata-kata itu telah menjalar ke dalam jantung Sindangsari, sehingga seolaholah

ia mendapat kekuatan baru. Meskipun ia masih gemetar, tetapi perlahanlahan

ia mencoba untuk berdiri.

“Nah, bukankah ia dapat berdiri sendiri” desis Pamot kemudian kepada

Sindangsari ia berkata ”pulanglah Sari. Kau pasti sudah ditunggu oleh ibumu”

Sindangsari tidak menjawab, dan juga tidak beranjak dari tempatnya.

“Pulanglah Sari” Pamot mengulang kata-katanya.

Kata-kata itu terasa benar pengaruhnya di dada Sindangsari. Kini ia tidak lagi

membeku karena ketakutan. Kehadiran Pamot yang tiba-tiba itu telah

membuatnya sedikit tenteram. Karena itu, maka dengan gemetar ia melangkah

meninggalkan tempat itu dengan pakaiannya yang kotor.

“Sari” tiba-tiba Manguri memanggilnya “jangan hiraukan anak edan ini.

Tinggallah di sini. Aku antarkan kau pulang ke rumah”

Sindangsari tertegun sejenak. Namun sebelum ia berbalik, terdengar Pamot

tertawa “Jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu apa yang telah terjadi.

Adalah kebetulan sekali bahwa aku mendengar pembicaraan kalian”

“Kau mengintip?“ Manguri hampir berteriak.

“Jangan berteriak Manguri. Kalau ada orang yang mendengarnya, maka

mereka akan berdatangan.

“Apa peduliku kepada mereka. Kau takut barangkali, karena mereka pasti akan

berpihak kepadaku”

“Kenapa aku takut? Aku justru kasihan kepadamu. Setiap orang akan

mengetahui, apa yang telah kau lakukan di sini”

Wajah Manguri yang merah menjadi semakin merah. Dan ia mendengar Pamot

berkata “Pulanglah Sari. Supaya tidak tumbuh persoalan apapun, katakan

kepada mereka yang bertanya kepadamu, bahwa kau tergelincir di pematang.

Tergelincir begitu saja, tanpa sebab”

Sindangsari tidak menjawab, Bahkan berpalingpun tidak. Kakinya yang masih

saja gemetar segera terayun di sepanjang pematang. Lambat-lambat, karena ia

benar-benar akan tergelincir beberapa kali. Bukan karena pematang yang licin,

tetapi justru karena kakinya yang gemetar.

Manguri yang melihat Sindangsari berjalan terus, memanggilnya sekali lagi

“Berhenti kau Sari. Aku akan mengantarkan kau dan mengatakan kepada

ibumu, apa yang telah terjadi”

“Tidak perlu Manguri” jawab Pamot “gadis itu berani pulang sendiri”

“Persetan“ anak muda itu menggeram “jangan mencampuri persoalanku”

“Tidak, aku memang tidak mencampuri persoalanmu. Tetapi apabila kau

terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang sesat, aku wajib

memperingatkan kau”

“Apa yang akan aku lakukan? Apa?“

“Kau setidak-tidaknya sudah menakut-nakuti Sindangsari. Karena itu biarlah ia

pulang”

Manguri menjadi marah sekali. Ia sudah tidak dapat mengendalikan dirinya,

sehingga ia berkata lantang ”Pamot, minggir kau. Atau aku harus

memaksamu?“

“Jangan terlampau kasar Manguri”

“Aku tidak peduli. Pergi. Seharusnya kau tahu, siapa aku”

“Tentu, aku mengerti bahwa kau adalah Manguri, anak seorang pedagang

ternak yang kaya”

“Bukan itu saja. Sebagai laki-laki yang berhadapan dengan laki-laki aku

mempunyai pegangan”

Pamot mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba terdengar suaranya dalam nada

yang rendah “Aku tahu. Kau murid Kiai Pencar Jati. Tetapi kau tinggalkan

perguruanmu sebelum kau selesai”

“Huh” jawab Manguri “aku sudah memiliki semua ilmunya. Apa gunanya lagi

aku berada di padepokan terpencil itu”

“Tetapi bagiku Manguri. Apakah kau putera seorang pedagang yang kaya,

apakah kau bekas murid Kiai Pencar Jati, namun tindakanmu yang tidak

sewajarnya itu memang harus dicegah.

Manguri tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Pamot.

Tetapi Pamotpun sudah bersedia. Ia sadar, bahwa Manguri pasti akan sampai

pada puncak tindakannya. Karena itu, maka iapun segera menghindarkan

dirinya betapa cepatnya serangan Manguri. Bahkan dengan memutar tubuhnya,

kakinya yang mendatar menyambar lambung lawannya. Tetapi Manguri

memang tangkas. Dengan lincahnya ia berhasil meloncat selangkah mundur,

kemudian bersiap kembali untuk menyerang dengan sepasang tangannya.

Ketika Sindangsari mendengar kegaduhan itu, ia berpaling sejenak. Ia masih

melihat kedua anak muda itu berkelahi. Namun kemudian ia justru

mempercepat langkahnya. Meskipun ia anak seorang prajurit, tetapi jarang

sekali ia menyaksikan perkelahian yang sebenarnya. Yang sering dilihatnya

adalah latihan-latihan sodoran atau perang-perangan di Alun-alun.

Ternyata kedua anak-anak muda itu berkelahi dengan sengitnya. Masingmasing

mempunyai kemampuan yang cukup. Manguri yang pernah berguru

kepada seorang tua di pinggir kali Praga dan bernama Kiai Pencar Jati itu,

memiliki kelincahan yang mengagumkan. Tetapi lawannya adalah anak muda

yang tangguh. Yang mempunyai kekuatan tubuh melampaui kawan-kawannya.

Namun semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa Manguri tidak dapat

mengimbangi kekuatan Pamot, Meskipun setiap kali serangan Manguri

mengena, namun Pamot seakan-akan tidak merasakan apapun juga

menyentuh tubuhnya yang mempunyai daya ketahanan yang luar biasa.

Selingkar batang-batang jagung muda menjadi berserak-serakan. Tanah yang

gembur itu seolah-olah baru saja selesai dicangkul. Bahkan beberapa batang

lanjaran kacang panjang di pematangpun menjadi roboh yang berbujur lintang

tidak keruan.

Tetapi Manguri akhirnya harus menyadari keadaannya. Meskipun ia tidak

segera dapat dikalahkan, namun lambat laun, ia menjadi kehabisan nafas.

Beberapa kali ia berhasil memukul lawannya. Tangannya dapat mengenai di

beberapa bagian tubuh Pamot. Lengannya, dan bahkan dadanya. Namun

Pamot seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali. Tetapi apabila terjadi

sebaliknya, apabila tangan Pamot mengenai Manguri, terasa kesakitan yang

sangat telah menyengat tubuhnya. Apalagi ketika pada suatu kali, kelengahan

Manguri telah memberi kesempatan kepada Pamot sebaik-baiknya untuk

memasukkan pukulannya tepat mengenai kening.

Manguri terdorong beberapa langkah surut. Sebelum ia mampu menguasai

keseimbangannya, pukulan tangan Pamot yang lain mengangkat dagunya,

sehingga ia terlempar jatuh terlentang. Kini Pamot berdiri dengan kaki renggang

di samping tubuh Manguri yang masih terbujur di tanah. Di pandanginya wajah

yang biru pengab dan pakaiannya yang kotor oleh lumpur.

Manguri yang dengan susah payah bangkit dan duduk di pematang

menggeretakkan giginya. Dadanya serasa hampir meledak karena marah.

Dengan jari-jarinya yang bergetar ditudingnya hidung Pamot sambil

mengumpatinya “Setan kau Pamot. Kau tidak tahu siapa aku”

“Aku sadar dengan siapa aku berhadapan”

“Tunggulah, besok atau lusa, kau pasti akan menyesal”

“Aku tidak akan menyesal. Sudah lama aku menjadi muak melihat tingkah

lakumu”

“Kau sudah berani membuat persoalan dengan Manguri, anak pedagang yang

paling kaya di seluruh Gemulung”

“Aku bukan sejenis orang-orang yang dapat kau beli, Manguri”

“Mungkin kau tidak. Tetapi dengan uangku aku dapat membeli berapa banyak

tenaga yang aku kehendaki untuk melemparkan kau ke kubangan yang paling

kotor”

Pamot tidak segera menjawab. Tetapi ia dapat mengerti, bahwa hal itu memang

dapat terjadi. Tanpa disadarinya ia menarik nafas dalam-dalam. Perselisihan

dengan Manguri memang dapat berarti kesulitan baginya. Orang tuanya

mungkin akan ikut campur. Mungkin juga gurunya, meskipun kemungkinan itu

sangat kecil, karena gurunya sudah di kecewakannya. Ketika terlintas di dalam

ingatannya, seorang yang bertubuh tinggi kekar yang tinggal bersama Manguri,

dada Pamot memang berdesir. Orang dungu itu akan dapat berbahaya

baginya.

“Jangan menyesal” tiba-tiba Manguri yang tertatih-tatih berdiri berteriak “Jangan

menyesal. Kau harus mengembalikan hutangmu hari ini dengan bunga berlipat

sembilan”

“Jangan banyak bicara” bentak Pamot “aku dapat membunuhmu sekarang”

“Dan kau akan di gantung di halaman Kademangan”

Pamot terdiam. Dan Manguri berkata selanjutnya “Hati-hatilah kau untuk

seterusnya. Kau sudah menggali lubang untuk dirimu sendiri”

“Aku tidak peduli” tiba-tiba Pamot menjawab dengan lantang “tetapi satu

perbuatan yang baik menurut pendapatku sudah aku lakukan. Aku berhasil

mencegah kegilaanmu kali ini, meskipun akibatnya terlampau pahit. Jangan kau

kira aku akan menyerah pada keadaan. Kalau terjadi sesuatu atasku, setiap

orang akan mengetahui sebabnya”

“Tidak seorangpun yang menyaksikan persoalan ini”

“Sindangsari mempunyai mulut juga”

“Persetan” geram Manguri sambil berjalan tertatih-tatih meninggalkan tempat

itu. Tetapi langkahnya tertegun ketika tiba-tiba saja mereka melihat seseorang

dengan menyandang pacul di pundaknya berjalan ke arah mereka.

Ketika orang itu melihat wajah Manguri dan pakaiannya yang kotor ia menjadi

heran. Di pandanginya anak muda itu dengan herannya. Kemudian ditatapnya

wajah Pamot yang tegang dan sikapnya yang garang.

“Kalian berkelahi?” bertanya orang itu.

Kedua anak-anak muda itu tidak menjawab.

“Kalian berkelahi he?“

Keduanya masih tetap berdiam diri”

“Sial. Sial sekali. Kalian harus menyadari bahwa perkelahian di antara kalian

dapat membawa bencana bagi padukuhan ini. Perkelahian dapat membuat

tanaman-tanaman padi dan jagung ini dimakan hama. Ayo, katakan, apa

sebabnya kalian berkelahi?“

Keduanya tidak menjawab.

Namun orang itu tiba-tiba mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berkata

“Aku melihat seorang gadis muncul dari ujung pematang ini juga” ia berhenti

sejenak. Matanya tiba-tiba terbelalak sambil berkata “Apakah kalian berkelahi

karena gadis itu? Sial. Sial sekali. Panenan musim ini pasti akan morat-marit.

Danyang-danyang akan marah oleh perbuatan yang hina itu”

“Paman” tiba-tiba suara Manguri bergetar “jangan takut pagebluk yang

betapapun dahsyatnya. Di rumahku masih tersimpan padi dan jagung

berlumbung-lumbung. Aku akan memberi kau secukupnya kalau kau

memerlukan”

“He?“ sekali lagi mata orang itu terbelalak. Orang itu kenal benar, bahwa ayah

Manguri memang kaya raya. Anak muda itu sama sekali pasti tidak sekedar

membual.

“Datanglah ke rumahku apabila tanamanmu benar-benar dimakan hama. Anak

setan itu memang tidak menyadari apa yang dilakukannya”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kini dipandanginya wajah Pamot yang

masih tegang ”Kenapa kau Pamot?“

“Kami memang berkelahi paman. Sudah tentu, bahwa kami berselisih

pendapat”

“Tentang perempuan?“

Pamot tidak segera menjawab.

“Ya. Apaboleh buat“ Mangurilah yang menyahut “anak itu mencoba

menghalangi hubunganku dengan gadis yang barangkali paman lihat”

“Nah, apa kataku. Sawah dan ladang akan kering. Terutama tanah ini. Di mana

kalian berkelahi karena soal perempuan. Tanah ini akan menjadi sangar. Kau

lihat, tanaman jagung itu sudah menjadi porak-poranda”

“Ini sawah pamanku” jawab Pamot.

“Persetan, sawah setan belang sekalipun” potong orang itu.

“Memang tanah ini akan mendapat kutuk dari danyang-danyang” desis Manguri

“tetapi tidak sawah dan ladangku, karena aku dapat memberi syarat apapun

yang diperlukan”

“Ya, kau tidak. Tetapi Pamotlah yang akan terkutuk karenanya”

“Paman belum mendengar persoalan yang sebenarnya”

“Apakah paman perlu mendengar” potong Manguri.

Orang itu terdiam sejenak. Tetapi terngiang kata-kata Manguri “Kalau paman

memerlukan datang ke rumahku. Di rumahku masih tersimpan padi dan jagung

berlumbung-lumbung”

Dan karena itulah maka tiba-tiba ia menjawab “Persetan dengan bualanmu.

Tetapi perkelahian dapat mendatangkan bencana”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah dihadapkan kepada suatu

contoh kebenaran kata-kata Manguri. Ia dapat membeli berapa orang saja yang

diperlukan.

“Ayo pergi setan-setan kecil” teriak orang yang membawa pacul itu”kutuk

danyang-danyang dan orang-orang sepedukuhan harus kalian tanggungkan”

kemudian suaranya menurun ”kecuali bagi mereka yang dapat memberikan

sarana untuk menghindarkan diri dari kutukan kutukan itu”

Manguri tersenyum di dalam hati. Dipandanginya wajah Pamot yang tegang.

Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Tertatih-tatih ia melangkahkan kakinya

di pematang. Meninggalkan tempat yang telah mengotori pakaian dan hatinya

itu.

“Kenapa kau masih berdiri disitu” bentak orang itu ketika ia melihat Pamot

masih tegak di tempatnya.

“Aku memang sedang berada di sawah paman ketika Manguri mencoba

mengganggu Sindangsari” jawab Pamot “dan sekarang aku akan menunggu

paman, mengatakan apa yang telah terjadi. Kerusakan sebagian tanamannya

memang harus aku pertanggung jawabkan”

“Anak bengal” gerutu orang itu “kau akan dipukuli pamanmu nanti”

Pamot tidak menjawab. Ia sadar, bahwa orang itu pasti tidak akan

mempercayainya. Ia sudah dikuasai oleh Manguri, meskipun baru dengan janji.

Tetapi janji yang demikian memang dapat melumpuhkan daya pikir seseorang

sehingga ia tidak akan dapat melihat jalan lurus dihadapkannya.

“Hem” Pamot menarik nafas ketika ia melihat orang yang menyandang pacul

dipundaknya itu meneruskan langkahnya.

“Mudah-mudahan paman dapat mengerti” desahnya kemudian sambil mencoba

memperbaiki tanaman-tanaman yang rusak karena perkelahian itu.

Dengan berdebar-debar Pamot menunggu kedatangan pamannya. Biasanya

meskipun hanya sebentar pamannya pasti datang ke sawah. Biasanya setelah

matahari lewat puncak langit, sesudah beristirahat dari pekerjaan di sawahnya

sebelah susukan yang mulai dibajak, sebelum ia mulai bekerja lagi.

Sejenak kemudian pamannya itu benar-benar datang. Ia menjadi terkejut sekali

melihat selingkar tanaman jagungnya menjadi rusak, sedang Pamot duduk

sambil bertopang dagu di pematang.

“Apa yang sudah terjadi Pamot?“ pamannya bertanya dengan cemas.

Pamot menceritakan apa yang telah terjadi dari awal sampai akhir. Ia

menceritakan pula ancaman-ancaman yang diberikan oleh Manguri dan sikap

seseorang yang dengan mudahnya terpengaruh oleh janji-janji seorang yang

memang mempunyai bekal untuk memberi janji-janji yang demikian.

Pamannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau akan terlibat dalam

kesulitan Pamot. Hati-hatilah. Sebaiknya kau menghindari benturan dengan

Manguri itu”

“Aku tidak mempunyai pilihan lain paman. Aku tidak sampai hati membiarkan

hal itu terjadi tanpa berbuat apapun”

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya, Tetapi akibatnya akan terasa

berat bagimu”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari sepenuhnya akan hal

itu. Tetapi untuk membiarkan hal yang tidak sepatutnya itu terjadi, ia memang

tidak akan sampai hati. Apalagi yang akan mengalami hal itu adalah

Sindangsari”

“Kenapa Sindangsari“ pertanyaan itu timbul di hatinya dengan tiba-tiba

”Bagaimana kalau gadis yang lain”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan ia mencoba melihat perasaannya

sendiri ”Seandainya gadis lain sekalipun, aku tidak akan membiarkannya. Itu

sudah menjadi kuwajibanku. Bahkan kuwajiban setiap orang”

Pamotpun kemudian minta diri kepada pamannya setelah ia minta maaf, karena

tanaman jagung yang rusak itu.

“Tanaman ini tidak seberapa nilainya dibanding dengan keselamatanmu sendiri

Pamot”

“Aku akan selalu mengingat pesan paman”

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika kemudian Pamot berjalan menjauh, pamannya bergumam “Ia

menghadapi masalah yang sulit. Ayah dan ibunya harus mengetahuinya”

Sementara itu Sindangsari berjalan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Di

tikungan ia terkejut, ketika hampir saja ia melanggar kakeknya yang akan

berangkat lagi ke sawah.

“He“ kakeknya menghentikannya “darimana kau Sari”

Sindangsari tidak segera menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Sari“ panggil kakeknya. Tetapi Sindangsari tidak berani memandang wajah

kakeknya.

“Kami di rumah menunggumu. Biasanya kau tidak pulang terlampau lambat

seperti hari ini” kakeknya berhenti sejenak. Ketika ia melihat pakaian

Sindangsari yang kotor, maka hatinya menjadi berdebar-debar “Kenapa

pakaian sekotor itu Sari”

Sindangsari masih tetap berdiam diri.

“Kenapa pakaianmu kotor?“ desak kakeknya.

“Aku terjatuh kakek” jawab Sindangsari.

“Dimana ?“

“Aku meniti pematang yang licin”

“Darimana kau Sari“ suara kakeknya merendah.

Sekali lagi Sindangsari terdiam. Ketika sekilas ia memandang wajah kakeknya,

dilihatnya wajah itu berkerut merut.

Tetapi yang lebih terkejut lagi adalah kakeknya. Ia melihat setitik air dipelupuk

mata cucunya.

“Pulanglah Sari. Ibumu menunggu. Tetapi kenapa kau sebenarnya?“

Sindangsari justru tidak dapat berkata apapun lagi. Lehernya serasa tersumbat

dan matanya menjadi panas.

****

Bab 5 : Lamat

Namun ternyata kakeknya cukup bijaksana.

Ia tahu benar bahwa Sindangsari sedang

mengalami kesulitan yang tidak dapat

dikatakannya saat itu. Karena itu maka

katanya kemudian “Sudahlah. Pulanglah”

Kakeknya pura-pura tidak menghiraukannya

lap align=”left”p align=”left”gi. Dengan langkah satu-satu orang tua itu

meneruskan perjalanannya, sedang

Sindangsaripun dengan tergesa-gesa pulang

ke rumahnya.

Ibunya terkejut ketika tiba-tiba saja pintu

yang terbuka sedikit itu berderak. Apalagi

ketika ia melihat Sindangsari berlari-lari

masuk.

“Sari” sapa ibunya.

Sindangsari tertegun sejenak. Ditatapnya

wajah ibunya yang termangu-mangu. Namun gadis itupun kemudian meloncat

berlari memeluknya sambil menangis.

“Sari. Apakah yang sudah terjadi?“ ibunya menjadi sangat cemas. Apalagi

ketika ia melihat pakaian anaknya yang kotor itu”

“Sari. Sari” diguncangnya lengan gadisnya sambil bertanya terbata-bata

“Kenapa kau he? Kenapa ?“

Sindangsari menangis semakin keras sambil memeluk ibunya. Tetapi ia tidak

sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengalir seperti banjir.

“Kenapa kau he? Apakah yang sudah terjadi”

Neneknya yang berada di belakang mendengar suara Nyai Wiratapa dan tangis

cucunya. Karena itu tergopoh-gopoh ia masuk. Yang dilihatnya adalah

Sindangsari menangis sambil memeluk ibunya erat-erat.

Tetapi perempuan tua itu ternyata lebih tenang dari anak-anaknya. Dengan

sareh ia membelai rambut cucunya sambil berkata lirih “Duduklah Sari.

Tenanglah. Aku ingin berbicara”

Tetapi Sindangsari masih berpegangan ibunya erat-erat. Air matanya telah

membasahi baju ibunya dan bajunya sendiri yang kotor”

“Sudahlah Sari. Duduklah. Kalau ada persoalan, marilah kita pecahkan.

Dengan menangis kesulitanmu tidak akan terselesaikan”

Nyai Wiratapa yang matanya menjadi basah juga menyambung kata-kata

ibunya “Duduklah Sari. Duduklah”

Tetapi Sindangsari masih menangis terus.

Ibunya yang sudah menjadi agak tenang kemudian membimbingnya perlahanlahan.

Didudukkannya anaknya di atas bale-bale, dan ia sendiri duduk di

sampingnya sebelah menyebelah dengan nenek gadis itu.

“Tenanglah Sari” berkata neneknya “kenapa kau tiba-tiba menangis?“

Sindangsari mencoba untuk menahan isak tangisnya. Dicobanya pula untuk

mengatur perasaannya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu , apakah ia akan

mengatakan keadaan sebenarnya, atau seperti pesan Pamot, supaya ia

sekedar mengatakan, bahwa ia telah tergelincir di pematang.

Ibunya yang kecemasan mendesaknya “Sari. Apakah terjadi sesuatu atasmu ?“

Sambil terisak Sindangsari menjawab “Aku tergelincir ibu”

Ibunya mengerutkan keningnya ”kau tergelincir“ ia mengulangi”

“Ya ibu”

“Hanya itu ?“

“Ya ibu”

Nyai Wiratapa terdiam sejenak. Menilik pakaian anaknya yang kotor itu, maka

ia mempercayainya. Tetapi apabila anaknya hanya sekedar tergelincir, kenapa

ia menangis sampai terisak-isak. Sebagai gadis yang sudah dewasa,

seandainya ia hanya sekedar terjatuh di pematang, maka ia tidak akan

menangis begitu pedih.

Neneknya yang sudah tua itupun tidak dapat menganggap bahwa jawaban itu

adalah jawaban yang sebenarnya. Karena itu, dengan hati-hati ia bertanya

“Dimana kau jatuh Sari ?“

“Di pematang”

“Ya, tetapi diarah mana ?“

“Dekat sawah pamannya Pamot”

Neneknya mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya “Kau bermain-main

sampai kesana Sari ? Apakah tidak ada orang yang menolongmu ?“

Sindangsari menjadi bingung. Wajahnya yang gelisah kini tidak dapat

disembunyikannya lagi.

“Sari, Sari“ ibunya justru menjadi lebih gelisah lagi daripada Sindangsari sendiri

“kenapa kau sampai ke tempat itu Sari ?“

Sindangsari mengusap air matanya “Tidak apa-apa ibu”

“Kau sendiri? Sendiri saja ?“

Sindangsari tidak dapat segera menjawab.

“Katakan Sari. Apakah sudah terjadi sesuatu atasmu ?”

Sindangsari menundukkan kepalanya.

“Sari” suara ibunya menjadi semakin meninggi” katakan yang sebenarnya ?

Apakah kau sudah melanggar pesan itu”

Sindangsari terkejut. Tiba-tiba air matanya mengalir pula. Sambil

menelungkupkan kepalanya dipangkuan ibunya ia berkata “Aku tergelincir ibu”

Tetapi ibunya menggelengkan kepalanya. Sebagai seorang ibu, seolah-olah

ada gema getaran suara hati anaknya di dadanya sendiri. Karena itu terasa

juga kepedihan perasaan gadis itu.

“Katakan Sari. Katakan, apakah yang sudah terjadi”

Sindangsari tidak segera menjawab. Namun neneknya ikut pula mendesaknya”

katakan Sari”

Mereka berpaling ketika mereka melihat seseorang memasuki rumah itu pula.

Ternyata kakek Sindangsari tidak terus pergi ke sawahnya, tetapi menilik

gelagat cucunya, iapun kemudian berbalik lewat jalan yang lain pulang ke

rumah.

“Ya Sari. Sebaiknya kau mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya”

berkata kakek tua itu.

Sindangsari tidak dapat ingkar lagi. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk

dengan gelisah. Kini kakeknya sudah duduk di atas sebuah dingklik bambu

yang tinggi di hadapannya.

“Katakanlah, supaya kami dapat membantu kesulitanmu Sari. Kau pasti tidak

hanya sekedar tergelincir dan jatuh di pematang. Jika demikian, kau tidak akan

menangis seperti kanak-kanak”

Sindangsari menjadi semakin tersudut, sehingga akhirnya ia tidak dapat

berdusta lagi. Ketika ibunya, kakek dan neneknya semakin mendesaknya,

iapun terpaksa mengatakan apa yang telah terjadi atasnya.

Belum lagi ceriteranya selesai seluruhnya, Sindangsari sudah tidak dapat

menahan tangisnya. Sekali lagi ditelungkupkan wajahnya dipangkuan ibunya.

“Kau harus mengucap sokur Sari, bahwa tidak terjadi bencana yang

mengerikan atasmu” berkata ibunya sambil membelai kepala anaknya. Tetapi

air matanya sendiripun satu demi satu menitik di kepala anaknya. Bukan saja

karena Sindangsari yang hampir saja mengalami nasib yang jelek, tetapi

perempuan itu memandang kenasibnya sendiri. Luka-luka yang tergores di

hatinya, pada saat suaminya meninggal seakan-akan telah kambuh kembali.

“Kalau ayah anak ini masih ada, tidak akan ada seorangpun yang berani

memperlakukan demikian“ katanya di dalam hati

Sementara itu kakeknya menarik nafas dalam-dalam. Desisnya “Ya, untunglah

ada Pamot. Untunglah. Setidak-tidaknya anak yang bernama Manguri itu pasti

akan memaksamu untuk menyetujui maksudnya. Ia memang sudah

menghubungi aku untuk membelimu dengan apapun yang aku minta.

Sepasang lembu dengan bajaknya. Lumbung, sawah dan apa lagi. Tetapi

sudah tentu aku tidak akan melemparkan kau ke dalam neraka itu”

Neneknya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sementara kakek

tua itu berkata lagi “Meskipun akibatnya akan menjadi sangat berat bagi Pamot”

Tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya. Butir-butir air matanya masih

mengambang di pelupuk ”Akibat apakah yang dapat terjadi atas Pamot kakek?”

“Ia berhadapan dengan seorang yang kaya raya, yang dapat mempergunakan

kekayaannya untuk segala kepentingannya”

Sindangsari menjadi berdebar-debar. Kini ia duduk dengan gelisah

memandangi wajah kakeknya. “Apakah Manguri akan mendendam Pamot ?“

Tetapi orang tua itu menggelengkan kepalanya “Entahlah. Mudah-mudahan

tidak. Tetapi anak itu harus berhati-hati”

Sementara itu, Manguri bergegas masuk ke regol halamannya. Beberapa orang

pembantu rumahnya memandanginya dengan penuh keheranan. Anak muda

itu dilekati oleh lumpur dan kotoran tidak saja pada pakaiannya, tetapi juga

pada tubuhnya.

Ketika Manguri sampai di tangga pendapa rumahnya, tiba-tiba ia berteriak

“Lamat, Lamat. Dimana kau ?“

Lamat yang sedang bekerja di sebelah rumah menengadahkan kepalanya.

Sekali lagi ia mendengar Manguri memanggil pamanya. Diletakkannya kapal

ditangannya , dan dengan tegesa-gesa pula ia pergi memenuhi panggilan itu.

“Cepat kemari kau dungu” bentak Manguri. Lamatpun berjalan semakin cepat

mendekati Manguri.

“He, kau lihat pakaianku ?”

Lamat tidak segera mengerti maksud Manguri. Meskipun ia melihat pakaian

yang kotor itu, tetapi ia masih tetap berdiam diri.

“Apa kau tuli he ? Kau lihat pakaianku ?“

Lamat menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Ya. Aku melihat”

“Kenapa pakaianku ?“

Lamat mengerutkan keningnya. Dengan suara yang ragu-ragu ia menjawab

“Kotor sekali”

“Nah, kau mampu juga melihat pakaian kotor meskipun kau sendiri selalu kotor.

Kenapa pakaianku kotor he ?“

Lamat tidak dapat menjawab.

“Bodoh, bodoh kau“ Manguri mengumpat “dengar, aku telah berkelahi melawan

Pamot”

Sekali lagi Lamat mengerutkan keningnya.

“Kenapa kau diam saja he ?“

“Apakah aku harus menemui Pamot ?“

“Tentu. Aku tidak dapat meremukkan tulang-tulang iganya. Sayang ada orang

yang melihat. Kalau tidak, aku tidak memerlukan kau. Ketika aku hampir

menyelesaikannya, seseorang telah melerai. Tetapi ingat, kau tidak boleh

gagal. Buat anak itu cacat. Buat kakinya timpang atau tangannya lumpuh.

Mengerti ?“

Lamat menganggukkan kepalanya.

“Sekarang ?“

“Bodoh, bodoh. Kau memang terlalu bodoh. Sekarang ia berada di rumahnya”

Manguri diam sejenak, lalu “tunggu sampai ada kesempatan. Awasi anak itu.

Kalau ia terpisah dari orang lain, apalagi di malam hari, kau dapat

melakukannya. Jangan sampai dilihat orang. Jika demikian orang-orang itu

akan melerai, dan bahkan mungkin mereka akan mengambil sikap terhadapmu”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya ”Baik”

“Bagus. Kau akan mendapat hadiah. Aku akan memberimu sehelai kain

panjang”

“Terima kasih”

“Sekarang pergilah”

Lamat menganggukkan kepalanya. Dengan wajah yang beku ia berjalan

meninggalkan Manguri yang masih berdiri di tangga pendapa rumahnya.

“Kalau Lamat gagal, aku dapat membeli lima atau sepuluh orang untuk

menyelesaikan anak itu”

Sambil menggeretakkan giginya, Manguripun segera masuk ke dalam

rumahnya, langsung ke biliknya. Sambil mengumpat-umpat ia menukar

pakaiannya yang kotor oleh lumpur.

“Baik Pamot maupun Sindangsari harus mengerti, bahwa Manguri tidak

terlawan di seluruh padukuhan Gemulung. Apapun yang aku ingini pasti akan

terjadi”

Lamat yang telah bekerja kembali, sekali-sekali tertegun. Diletakkannya

kapaknya di tanah. Kemudian disekanya keringat di keningnya. Sambil menarik

nafas dalam-dalam ia berdesis ”Pamot. Pamot. Nanti malam aku akan

mencarinya”

Pamot sendiri memang menyadari, seperti yang dikatakan oleh pamannya,

bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi. Manguri pasti tidak akan

membiarkan dirinya terhina.

Tetapi Pamot bukan seorang pengecut. Ia telah bersiap menghadapi apa saja

yang dapat dilakukan oleh Manguri. Ia masih berprasangka baik terhadap

orang-orang sepedukuhannya. Manguri tidak akan mudah mendapatkan orangorang

yang dapat disewanya untuk menyakiti orang sepedukuhannya.

“Hanya orang-orang gila saja yang akan melakukan hal itu” desisnya.

Tetapi ketika pamannya datang ke rumahnya dan berbicara dengan orang tua

Pamot, mereka berkata “Kaulah yang bodoh Pamot. Untuk mendapatkan

orang-orang yang dikehendaki Manguri tidak akan mendapat kesulitan apapun”

Pamot tidak menjawab.

“Kau memang harus berhati-hati. Hindarilah bentrokan-bentrokan yang akan

terjadi kemudian. Hal itu tidak akan menguntungkan kau sama sekali”

Pamot mengangguk-angggukkan kepalanya. Jawabnya “Baik. Aku akan selalu

mencoba menghindarkan diri”

Meskipun demikian Pamot tidak dapat bersembunyi saja di dalam rumahnya. Ia

harus melakukan pekerjaannya saja di dalam rumahnya. Ia harus melakukan

pekerjaannya sehari-hari. Meskipun ia dapat mengerti pesan paman dan orang

tuanya, namun ia tidak berniat sama sekali untuk tetap tinggal di rumah sampai

berhari-hari.

“Kalau kau melihat gelagat yang kurang baik Pamot“ pesan pamannya “lebih

baik kau segera masuk ke padukuhan atau bergabung dengan orang-orang laih

di sawah. Di malam hari, kau dapat pergi ke gardu perondan, sehingga dengan

demikian kau dapat menghindarkan dirimu dari bahaya”

“Ya paman” jawab Pamot.

Tetapi kemudaannya tidak dapat diikat dengan bayangan-bayangan yang

meremangkan bulu-bulunya. Ia sama sekali tidak merubah kebiasaannya.

Malam itu juga Pamot pergi seperti biasa menyusuri parit untuk mendapatkan

air.

“Banyak orang berada di sawah menunggui tanamannya” desisnya “bahkan

mungkin anak-anak yang mengintai babi hutan itu masih selalu berkumpul di

perapatan”.

Dengan demikian maka Pamot tidak mencemaskan dirinya. Ia percaya kepada

dirinya sendiri. Meskipun kadang-kadang terbersit juga pikiran “Kalau aku tidak

dapat melawan orang-orang yang disewa oleh Manguri, aku adalah pelari yang

baik”

Sambil berangan-angan Pamot telah berada di tengah-tengah sawah, meniti

pematang. Bintang-bintang di langit bertaburan dari ujung sampai ke ujung

Gemerlapan seperti saling bersaing.

Namun bagaimanapun juga, terasa debar di jantung Pamot. Sekali-sekali ia

berpaling, kalau-kalau ada seseorang yang mengikutinya.

Dadanya berdesir ketika tiba-tiba saja ia melihat seorang yang bertubuh tinggi

kekar meloncat dari balik batang-batang jagung muda beberapa langkah di

belakangnya. Pamot segera mengenal, orang itu adalah Lamat. Pembantu

Manguri yang paling setia.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Orang itupun sudah diperhitungkannya

pula, sebagai orang yang pertama-tama akan melakukan tugas yang

dibebankan oleh Manguri kepadanya.

Tetapi Pamot tidak berhenti karenanya. Ia berjalan semakin cepat. Sekali-sekali

terngiang ditelinganya pesan pamannya, tetapi kadang-kadang darah

mudanyalah yang berbicara.

“Apakah benar orang itu bertenaga raksasa seperti yang dikatakan orang”

berkata Pamot di dalam hatinya. Sebagai seorang anak muda Pamot

mempunyai kebanggaan pula atas kekuatannya. Memang seperti apa yang

pernah dikatakan oleh Sindangsari, Pamot mampu melakukan sesuatu yang

melampaui kemampuan kawan-kawannya. Tenaga Pamotpun jauh melampaui

kekuatan tenaga orang-orang biasa.

“Meskipun tenaganya sembilan kali lipat tenaga manusia biasa tetapi

tampaknya orang itu terlampau dungu” Pamot masih berkata kepada diri

sendiri.

Dengan demikian, darah Pamot yang muda itu justru telah menggelitiknya

untuk mencoba kemampuan Lamat. Bahkan Pamot berkata di dalam hatinya

“Kalau aku dapat mengalahkan orang ini, maka Manguri pasti akan menjadi

segan” namun dibantahnya sendiri “atau ia menjadi semakin sakit hati, dan

menyewa limapuluh orang sekaligus untuk mematahkan tanganku”

Ketika Pamot berpaling, ia masih melihat Lamat berjalan mengikutinya pada

jarak yang tetap.

“Setan“ tetapi tiba-tiba hatinya menjadi gelisah pula ”Aku harus mengambil

tindakan lebih dahulu”

Maka ketika Pamot kemudian berbelok, iapun segera menyelinap di balik

batang-batang jagung. Sambil menahan nafasnya ia menunggu Lamat. Ia

sudah bertekad untuk menyerang lebih dahulu. Seandainya Lamat benar-benar

mempunyai kelebihan, maka ia tidak akan didahuluinya. Pada serangan yang

pertama-tama dan tiba-tiba ia harus mengurangi kemungkinan, bahwa

lawannya akan dapat mengalahkannya.

Sejenak kemudian ia mendengar langkah Lamat yang berat semakin lama

menjadi semakin dekat. Namun agaknya langkah itupun telah membuatnya

semakin berdebar-debar.

Tetapi Pamot telah bertekad bulat ”Aku adalah seorang laki-laki. Aku tidak

dapat selalu menghindarkan diri dari benturan serupa ini. Kalau sekarang kau

menghindar, maka besok atau lusa akhirnya akan terjadi juga. Kalau aku

bersembunyi, maka aku adalah seorang pengecut”

Karena itu, ketika Lamat menjadi semakin dekat, Pamotpun segera

mempersiapkan diri. Ditahankannya nafasnya, agar Lamat tidak mengetahui,

bahwa ia berada dalam bahaya.

Tetapi agaknya Lamatpun menjadi ragu-ragu. Ketika ia sampai di tikungan,

langkahnya terhenti. Ia merasa kehilangan buruannya. Sejenak ia berdiri

termangu-mangu. Di pandanginya pematang yang membujur memanjang di

bawah kakinya, menghunjam kekegelapan.

“Setan” desis Pamot di dalam hatinya, “kenapa ia tidak maju lagi?“

Tetapi Lamat masih berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia memiringkan

kepalanya, seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu. Tubuhnya janjang

tinggi tegap itu seakan-akan menjulang semakin tinggi menurut tangkapan

mata Pamot yang sedang bersembunyi di balik tanaman jagung sambil

mengintip.

Darah Pamot berdesir ketika tiba-tiba ia mendengar suara raksasa itu datar

”Pamot, kemarilah”

Pamot menggeretakkan giginya.

“Jangan bersembunyi di situ”

Pamot benar-benar merasa terhina. Meskipun jantungnya menjadi kian

berdebar-debar. Ternyata raksasa itu bukanlah terlampau dungu seperti yang

dikiranya. Ia dapat menangkap desah nafasnya, meskipun barangkali belum

melihat orangnya.

Kini Pamot tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mendahuluinya. Langsung ke

tempat yang berbahaya di bagian tubuh lawannya.

Perlahan-lahan Pamot bergeser maju. Hati-hati sekali. Meskipun ia sadar

bahwa desir kakinya di atas tanah dan sentuhan tubuhnya dengan daun jagung

itu pasti di dengarnya pula.

Pamot melihat Lamat menggeser tubuhnya. Tetapi ia masih berdiri tegak di

tempatnya. Dalam keremangan malam Pamot melihat sesuatu mencuat dari

ikat pinggang Lamat. Sarung sebuah golok yang besar.

Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak bersenjata. Yang dibawanya adalah

sebilah sabit. “Tetapi apakah aku akan melukainya dengan sabit ini?“ ia

bertanya kepada diri sendiri.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar suara Lamat yang berat ”Pamot,

kemarilah”

Kini Pamot tidak dapat berlama-lama lagi. Ia harus segera bertindak. Tetapi ia

masih belum berhasrat melukai lawannya dengan sabitnya yang tajam.

“Aku harus memukulnya di pangkal lengannya atau di tengkuknya“ katanya di

dalam hati “itu akan mengurangi kemampuannya melawan untuk seterusnya.

Kalau ia mencabut goloknya, apaboleh buat. Aku harus mendahuluinya sekali

lagi”

Perlahan-lahan Pamot berkisar semakin dekat. Kini dipegangnya sabitnya

dengan tangan kirinya. Ia sudah bertekad untuk meloncat, dan sekaligus

memukul tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya.

Lamat masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Ia hanya berputar sedikit,

kemudian diam lagi.

Kini Pamot berada tidak lebih dari tiga langkah. Dengan segala kemampuannya

ia memusatkan segenap perhatiannya kepada orang yang masih berdiri di

pematang itu. Sejenak kemudian maka Pamot menghentakkan dirinya. Dengan

sigapnya ia meloncat berdiri beberapa langkah maju. Kemudian dengan sebuah

tendangan mendatar anak muda itu seolah-olah terbang menghantam tubuh

Lamat. Begitu cepatnya seperti lontaran anak panah yang kepas dari busurnya.

Tangan kanannya telah siap untuk menghantam tengkuk lawannya apabila

orang itu sedang berusaha memperbaiki keseimbangan karena dorongan

kakinya.

Lamat yang masih berdiri di pematang itupun terkejut mendapat serangan yang

tiba-tiba dan begitu cepatnya. Ia tidak mungkin lagi berbuat sesuatu. Serangan

yang tidak disangka-sangka itu langsung mengenai lambungnya, sehingga ia

terdorong beberapa langkah ke samping masuk ke dalam gerumbul tanaman

jagung muda.

Pamot yang telah siap itupun segera meloncat pula. Kali ini tangannyalah yang

terayun ketengkuk Lamat yang masih terhuyung-huyung.

Tetapi adalah di luar dugaan Pamot, bahwa Lamat bukanlah seorang raksasa

yang dungu. Meskipun ia belum menguasai keseimbangannya seluruhnya,

namun ketika tangan Pamot terayun ke tengkuknya, Lamat justru menjatuhkan

dirinya dan berguling beberapa kali. Tetapi Pamot tidak melepaskannya.

Dengan tangkasnya iapun meloncat maju tanpa menghiraukan batang-batang

jagung yang berserakan. Ketika Lamat meloncat berdiri, maka iapun

menyerangnya dengan sekuat tenaganya.

Tetapi kali ini Pamot terperanjat bukan buatan. Ia merasa tangkapan yang kuat

pada pergelangan tangannya, kemudian oleh kekuatannya sendiri, ditambah

dengan sebuah hentakkan yang tidak terlawan ia terlempar ke samping.

Kini Pamotlah yang tidak dapat menguasai keseimbangannya sama sekali.

Dengan derasnya ia jatuh terjerembab. Wajahnya membentur sebongkah batu

yang mencuat di pematang.

Sekejap matanya menjadi berkunang-kunang.

Bintang-bintang di langit seolah-olah berputaran seperti beras di penampian.

Tetapi Pamot tetap menyadari dirinya, bahwa ia sedang berkelahi melawan

Lamat. Karena itu, maka iapun segera berusaha bangkit, Namun ia menjadi

kecewa, ketika ia sadar, bahwa sabitnya telah terlepas dari tangannya.

Ketika Pamot tertatih-tatih berdiri, dilihatnya dalam kekaburan, Lamat sudah

berdiri tegak di hadapannya. Sebelum ia dapat menguasai dirinya sepenuhnya,

Lamat telah menyentuh dadanya, sehingga sekali lagi ia terdorong dan jatuh

terlentang.

Tetapi Pamot menggeram. Ia tidak menjadi berputus asa. Meskipun wajahnya

yang membentur batu terasa sakit bukan buatan, ia masih berusaha untuk

berguling menjauhi lawannya, kemudian berusaha pula bangkit berdiri.

Namun seperti yang baru saja terjadi. Ketika ia tegak di atas kedua kakinya

yang masih gemetar, Lamat telah berdiri di hadapannya, seperti batu karang

yang teguh dan tidak tergoyahkan oleh ombak dan badai.

Pamot segera mempersiapkan dirinya. Meskipun ia sudah tidak bersenjata

sama sekali, namun ia tidak mau menyerah. Ia akan melawan sampai

kemungkinan terakhir yang dapat dilakukannya.

Tetapi Pamot menjadi heran. Lamat yang mempunyai banyak kesempatan itu

berdiri saja membeku di tempatnya. Pandangan mata Pamot yang menjadi

semakin jelas, melihat orang itu diam mematung.

Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Sekilas terbayang wajah raksasa yang beku

itu. Agaknya ia dapat berbuat apa saja sekehendak hatinya tanpa mengerutkan

keningnya.

Kekejaman yang mengerikan memancar dari mata Manguri tidak menjawab

lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Pamot. Tetapi Pamotpun sudah

bersedia. Ia sadar, bahwa Manguri pasti akan sampai pada puncak

tindakannya.

Lamat, justru karena wajahnya seakan-akan tidak terpengaruh sama sekali oleh

keadaan lawannya. Kakinya yang renggang dan tangannya yang tergantung di

kedua sisinya membuat Pamot semakin bertanya-tanya di dalam hati ”Apakah

yang akan dilakukannya?“

Tetapi Lamat masih berdiri saja di tempatnya. Dipandanginya Pamot yang

gelisah itu seperti seekor kucing menatap seekor tikus yang putus-asa.

Namun Pamot sama sekali tidak berputus asa. Ia sengaja membiarkan Lamat

berdiri saja di tempatnya, sementara ia dapat mengatur dirinya. Nafasnya yang

tersengal-sengal, dan pipinya yang serasa bengkak.

“Mungkin ia membiarkan aku mati ketakutan” katanya di dalam hati ”atau

sedang berpikir cara yang paling baik untuk melumpuhkan aku. Agaknya

Manguri berpesan sesuatu kepadanya”

Karena itu maka sejenak mereka saling berdiam diri. Betapapun ketegangan

mencengkam hati masing-masing, hamun masing-masing tidak segera berbuat

sesuatu.

Sejenak kemudian, Pamot terkejut mendengar suara Lamat yang datar dan

dalam “Kenapa kau menyerang aku Pamot?“

Pamot tidak menyangka, bahwa Lamat akan bertanya demikian kepadanya,

sehingga sesaat ia berdiri saja dengan mulut yang bergerak-gerak meskipun

tidak sepatah katapun yang meluncur dari sela-sela bibirnya.

“Kenapa?“ terasa penyesalan mewarnai pertanyaan Lamat.

Pamot tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Dipandanginya saja wajah

Lamat yang beku.

“Kenapa kau bersikap bermusuhan terhadapku?” Lamat bertanya pula.

Dan Pamot akhirnya merasa bahwa ia memang harus menjawabnya “Kenapa

kau bertanya Lamat? Pertanyaanmu itulah yang justru terdengar aneh di

telingaku”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya, karena aku adalah

budak Manguri”

“Nah, kau sudah tahu jawabnya”

“Ya. Aku memang mendapat perintahnya untuk membuat kau cacat”

Terasa dada Pamot berdesir.

“Persetan. Kalau aku tidak belas kasihan padamu, kau sudah mati pada

seranganku yang pertama. Aku memang tidak mempergunakan sabit itu,

karena aku memang tidak ingin membunuh”

“Perintah itu juga tidak untuk membunuh” suara Lamat masih mendatar.

Debar di dada Pamot menjadi semakin keras. Ditatapnya raksasa itu dari ujung

kaki sampai ke ujung kepalanya yang botak.

Sejenak kemudian, terdengar Pamot menggeram “Apakah yang akan kau

lakukan? Kau sangka aku akan menyerahkan diri begitu saja?“

Lamat menarik nafas dalam-dalam.

“Pamot” berkata Lamat masih dalam nada yang datar “kau memang tidak keliru.

Semua orang akan menganggapku begitu. Mungkin karena bentuk tubuh dan

wajahku yang kasar, sehingga mereka termasuk kau menganggap aku tidak

lebih dari seekor serigala. Itulah penderitaan yang paling pahit yang harus aku

telan” Lamat berhenti sejenak, dan Pamotpun menjadi terheran-heran. Sejenak

kemudian Lamat melanjutkan “Tetapi mungkin juga karena aku adalah

pembantu, bahkan lebih dari itu, seorang budak dari keluarga pedagang yang

kaya raya itu. Adalah wajar sekali kalau kau berprasangka jelek terhadapku”

Pamot kini diam mematung.

“Pamot” berkata Lamat kemudian “aku memang mendapat perintah dari

Manguri untuk membuat kau cacat. Tetapi ketahuilah, bahwa perintah itu telah

membuat aku menjadi semakin berprihatin. Aku semakin merasa bahwa aku

adalah manusia yang paling tidak berguna dan tidak berharga”

Pamot menjadi semakin tidak mengerti.

“Apa yang harus aku kerjakan itu sebenarnya bertentangan dengan kata hatiku

sendiri” berkata Lamat itu selanjutnya. Kepalanya tiba-tiba tertunduk, dan

suaranya menjadi semakin rendah “Tetapi aku sadar, bahwa tidak seorangpun

yang mempercayaiku. Wajahku yang jelek, tubuhku dan mungkin sorot mataku”

Pamot masih tetap berdiam diri.

“Itulah kenyataanku Pamot. Seharusnya aku tidak perlu heran karena kau telah

menyerangku lebih dahulu. Tetapi kadang-kadang aku ingin meyakinkan diriku

sendiri, apakah aku memang tidak sewajarnya bergaul dengan orang-orang

yang lain, yang tidak berwajah kasar dan barangkali berkesan kejam seperti

wajahku” Suara Lamat menjadi parau ”Aku memang sekali-sekali pernah

bercermin di dalam air. Dan aku hanya dapat menerima semuanya yang ada

padaku, seperti juga aku tidak dapat pergi dari rumah Manguri”

“Kenapa?“ tiba-tiba Pamot bertanya “kalau apa yang kau lakukan itu sama

sekali bertentangan dengan kata hatimu, kenapa kau tidak pergi saja dari

rumah itu?”

Lamat menggelengkan kepalanya “Aku tidak dapat melakukannya Pamot. Aku

sudah berhutang budi kepada keluarga itu. Sejak kecil aku mendapat makan

dan pakaian, kebutuhan hidup dan apapun yang perlu bagi kelangsungan

hidupku”

“Tetapi kau sama sekali tidak berhutang budi Lamat” sahut Pamot “semua itu

sudah kau bayar tunai. Tenagamu sudah kau serahkan. Karena itu, semuanya

sudah lunas”

Lamat menggelengkan kepalanya “Tidak Pamot“ orang yang botak itu terdiam.

Ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi kalimat-kalimat yang sudah berada

di rongga mulutnya itu seakan-akan ditelannya.

Dengan demikian maka sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Lamat yang

bertubuh tinggi tegap berkepala botak dan berwajah kasar itu menarik nafas

beberapa kali, seakan-akan seluruh udara malam di sawah itu akan dihirupnya.

Dan tiba-tiba orang itu terperanjat ketika Pamot bertanya “Lalu sekarang, apa

yang akan kau lakukan? Apakah kau akan melakukannya perintah itu?”

Lamat menggelengkan kepalanya “Tidak Pamot. Aku tidak dapat. Aku yakin

bahwa kau tidak bersalah”

“Tetapi apakah dengan demikian Manguri tidak akan marah kepadamu?“

“Kalau ia tahu aku tidak berbuat apa-apa, ia pasti akan marah”

“Jadi bagaimana dengan kau?“

Lamat termenung sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya “Kenapa kau selalu

meraba-raba pipimu?“

“Ketika aku kau kibaskan, kepalaku membentur batu”

Lamat memandang wajah Pamot sejenak. Kemudian katanya ”Pamot.

Sebaiknya kau tinggal saja di rumah untuk sepekan atau dua pekan”

“Kenapa? Apakah pada waktu-waktu itu Manguri akan berbuat sesuatu lagi

atasku?“

“Tidak. Tetapi aku minta tolong kepadamu, supaya aku tidak dimarahinya. Aku

akan berkata kepadanya, bahwa aku telah mencoba melakukan perintahnya.

Tetapi kau tidak sejinak seekor kambing yang bodoh. Aku akan memberi kesan

kepadanya, bahwa akibat dari perkelahian itu, kau tidak dapat keluar dari

rumahmu untuk waktu yang lama, meskipun harus ada kesan pula, bahwa

akupun mengalami cidera”

Pamot mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata “Lamat. Kenapa

kau harus berbuat demikian? Kau membuat hidupmu menjadi semakin sulit.

Sebaiknya kau berterus terang. Kau harus mencoba untuk membaca apa yang

tergurat di dalam hatimu. Kau harus belajar menyatakannya kepada orang lain,

meskipun orang lain itu Manguri atau ayah dan ibunya sekaligus”

Lamat menggelengkan kepalanya “Tidak Pamot, aku tidak dapat”

“Kau hidup dalam dunia yang aneh. Kau selalu dibayangi oleh sikap berpurapura.

Itu tidak jujur Lamat”

“Aku sadar Pamot”

“Kenapa kau biarkan dirimu di belenggu oleh keadaan itu?”

“Jangan kau tanyakan sekarang. Sekarang pulanglah, dan jangan keluar

halaman selama sepekan”

Pamot mengerutkan keningnya. Semula darahnya melonjak untuk menolak

permintaan itu. Ia sama sekali tidak perlu bersembunyi. Seharipun tidak. Kalau

ia ingin keluar rumah dan pergi ke manapun tidak ada orang yang dapat

menghalangi.

Tetapi ketika terpandang olehnya kepala Lamat yang menunduk, maka

timbullah iba hatinya. Ia tidak harus bersembunyi, tetapi menurut Lamat, ia

harus menolongnya.

“Hidupmu sulit sekali Lamat“ tanpa sesadarnya ia berdesis.

“Kau benar Pamot” sahut Lamat “tetapi untuk sementara aku masih harus

menjalaninya”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Pipinya memang terasa sakit

sekali, seolah-oleh tulangnya menjadi retak. Namun kemudian iapun berkata

“Baiklah Lamat. Aku akan memenuhinya. Aku akan tinggal di rumah sepekan

meskipun itu tidak berarti bahwa aku tidak boleh keluar halaman”

“Aku minta tolong Pamot”

“Baiklah”

“Sekarang pulanglah”

“Sabitku terlempar, ketika kau menghentakkan tanganku”

Lamatpun kemudian membantu Pamot mencari sabitnya dan mencoba

memperbaiki batang-batang jagung yang berserakan. Ketika Pamot telah

menemukan sabitnya, maka iapun segera pulang kembali ke rumahnya. Di

sepanjang jalan tangannya tidak henti-hentinya meraba-raba pipinya yang

membengkak. Namun di sepanjang jalan pula, tidak henti-hentinya ia berpikir

tentang Lamat, raksasa yang terbelenggu oleh perasaan berhutang budi.

“Aneh” desis Pamot di dalam hatinya “wajahnya yang kasar itu ternyata tidak

tumus sampai ke dalam hatinya. Ternyata ia seorang perasa yang bahkan agak

cengeng. Apalagi ilmunya sebenarnya termasuk ilmu yang tinggi dan sulit di

mengerti, seperti keadaan hidupnya yang sulit pula di mengerti”

Tetapi Pamotpun mengalami kesulitan pula apabila ia akan mendapat

pertanyaan dari orang tuanya atau kawan-kawannya. Apakah yang akan

dikatakannya? Lamat?”

“Hem“ ia berdesah ”aku tidak akan sampai hati menyebut namanya. Kalau

orang tuaku dan kawan-kawannya mendendamnya, maka hidupnya akan

menjadi semakin pahit. Ia menjadi semakin jauh tersingkir dari pergaulan yang

wajar. Kalau pada suatu saat ia menjadi putus-asa, dan merasa dirinya

memang tidak berharga, ia akan menjadi berbahaya. Mungkin ia akan benarbenar

menjadi seorang yang kejam, justru paling kejam, karena ia merasa

dunia telah berbuat terlalu kejam kepada dirinya”

Dalam keragu-raguan itu langkah Pamot menjadi semakin mendekati

pedukuhannya. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke pojok desa. Kalau

kawan-kawannya berada di gardu, maka mereka pasti akan bertanya

kepadanya.

Tiba-tiba Pamot berhenti sejenak. Kemudian ia berbelok dan menyelinap

menyusur pematang. Ia menghindari jalan yang disangkanya akan berjumpa

dengan seseorang.

Sehingga dengan demikian, maka akhirnya Pamot sampai juga ke halaman

rumahnya tanpa sebuah pertanyaanpun. Ketika serombongan peronda lewat,

Pamot sengaja berdiri di balik segerumbul perdu di halamannya sebelum ia

kemudian naik ke rumah.

Ternyata bahwa wajah Pamot memang mengejutkan orang tuanya. Meskipun

Pamot tidak mengatakan sesuatu, namun orang tuanya segera bertanya

tentang pipinya yang memang membengkak itu.

Sejenak Pamot berada dalam kesulitan. Ia masih belum menemukan jawaban.

Tetapi ketika orang tuanya mendesak lagi, maka iapun mencoba untuk

membuat jawabnya “Aku berkelahi”

“He, kau berkelahi lagi. Setelah kau berkelahi melawan Manguri, sekarang

dengan siapa lagi kau berkelahi?”

“Sebenarnya tidak dengan orang lain. Ini adalah kelanjutan dari yang pernah

terjadi. Manguri telah menyewa seseorang untuk mencegatku di sawah”

“He“ orang tuanya terperanjat, kemudian ”bukankah sudah aku katakan, seperti

juga pamanmu telah mengatakannya”

“Tetapi aku tidak kalah” jawab Pamot.

Orang tuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi terbayang di wajahwajah

mereka kecemasan yang mendalam. Bahkan kakeknyapun menjadi

cemas pula melihat wajah cucunya yang menjadi biru pengab.

“Siapakah orang yang telah disewa Manguri itu?”

Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan

kepalanya ”Aku tidak tahu”

“Apakah kau belum mengenalnya?”

Sekali lagi ia menggeleng ”Aku tidak tahu”

Kecemasan yang membayangi keluarga itu kini sudah mulai menjadi

kenyataan. Mungkin Manguri tidak akan puas dengan pembalasan dendamnya

kali ini, karena menurut Pamot, ia melawan sekuat-kuat tenaganya sehingga

lawannya tidak berhasil mengalahkannya.

“Aku kira iapun mendapat cidera” berkata Pamot kemudian.

“Tetapi kau harus berhati-hati Pamot, mungkin ia masih akan berbuat lebih

banyak lagi”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang untuk sepekan ia tidak

akan pergi kemanapun, meskipun dengan demikian pekerjaannya akan

terbengkelai.

Sementara itu, Lamatpun telah kembali ke rumah Manguri. Ternyata Manguri

masih menunggunya di pendapa. Ketika ia melihat Lamat berjalan tertatih-tatih

memasuki regol, segera ia berjalan menyongsongnya.

“Lamat” Manguri memanggil. Dan Lamatpun kemudian mendekatinya di tangga

pendapa.

“Apa yang sudah kau kerjakan?”

“Aku menemuinya di tengah-tengah sawah”

“Lalu?” Manguri tidak sabar.

“Kami berkelahi”

“Berkelahi? Apakah kau tidak dapat meremasnya begitu saja sehingga kau

membuang-buang waktu untuk berkelahi?”

“Ternyata Pamot tidak selemah yang aku bayangkan. Ia mempunyai

kemampuan untuk melawan, sehingga kami harus berkelahi”

“Persetan. Tetapi bagaimana akhirnya?”

“Aku berhasil melukainya. Wajahnya aku kira akan menjad bengkak”

“Cukup” bentak Manguri ”apakah kau berhasil mematahkan kakinya, atau

tangannya?”

Lamat merenung sejenak. Namun kemudian Jawabnya ”Ia berhasil lari. Tetapi

ia pasti akan mendalami cidera.

“He” mata Manguri terbelalak. Dengan tangan gemetar ia menunjuk hidung

Lamat ”jadi apa kerjamu he? Tubuhmu yang sebesar gajah itu tidak mampu

menangkap dan meremas tangannya?”

Lamat tidak menjawab. Ia memang sudah menduga kalau Manguri akan

marah-marah kepadanya. Tetapi kalau Pamot bersedia memenuhi

permintaannya, maka kemarahan Manguri itu tidak akan berkepanjangan

sampai berhari-hari.

“Tidak ada gunanya aku dan ayah memanjakan kau? Kalau kau masih saja

malas dan tidak mau berbuat apa-apa, aku bunuh kau. Nyawamu memang

seharusnya sudah tidak kau miliki lagi, kalau kau tidak diselamatkan oleh

ayahku. Kini kau sama sekali tidak tahu membalas budi. Kau tidak pernah

dapat melakukan pekerjaan dengan baik, seperti yang aku perintahkan”

Lamat tidak menjawab. Sudah terlampau biasa Manguri mengumpat-umpat,

sehingga telinganya memang sudah agak kebal., Namun setiap kali masih juga

terasa pedih tergores di dinding jantungnya.

Lamat menggelengkan kepalanya seperti setiap kali ia menerima pertanyaan

serupa itu ”Tidak” jawabnya.

“Pergi. Pergi ke bilikmu” bentak Manguri.

Perlahan-lahan Lamat melangkah mengitari rumah itu pergi ke biliknya di

belakang longkangan tengah, di samping dapur. Dengan tarikan nafas yang

dalam ia membaringkan dirinya yang masih basah oleh keringat.

Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya anyaman bambu di langit-langit

rumahnya, berjajar rapi, terikat oleh tali ijuk yang hitam. Setiap kali langit langit

itu dilihatnya, dan setiap kali masih seperti yang kemarin. Tidak ubahnya

dengan dirinya sendiri. Sekarang dan kemarin masih juga serupa. Besok dan

lusa.

“Apakah untuk seterusnya?” desisnya ”setiap orang ingin perkembangan di

dalam hidupnya. Tetapi hidupku serasa mati”

Perlahan-lahan Lamat menarik golok dari pinggangnya. Kemudian

diletakkannya di sisinya. Sebenarnya ia sama sekali tidak memerlukan senjata

itu. Ia sama sekali tidak berkeinginan untuk mempergunakan senjata, apalagi

menumpahkan darah dan melenyapkan nyawa seseorang.

“Ternyata nyawa itu sangat berharga” katanya di dalam hati ”aku harus

menebus nyawaku dengan seluruh umurku, tenagaku dan kehormatanku”

Sejenak terbayang masa kanak-kanaknya yang buram. Ketika padukuhannya

diamuk oleh segerombolan perampok yang tidak berperi-kemanusiaan.

Ayahnya yang termasuk orang berada menjadi pusat sasaran para perampok

itu.

Maka terjadilah bencana itu. Rumahnya menjadi neraka oleh api yang

berkobar, setelah isinya dirampok habis-habisan bersama beberapa rumah

yang lain. Lamat yang masih kecil waktu itu, tidak tahu apakah yang

selanjutnya terjadi. Panas yang membakar tubuhnya telah membuatnya

pingsan.

Ia sadar, ketika ia sudah berada diperjalanan, di dalam sebuah pedati. Ternyata

seorang kawan ayahnya, juga seorang pedagang ternak telah

menyelamatkannya. Orang itu adalah ayah Manguri.

Lamat sama sekali tidak pernah mempersoalkan, kenapa ayah Manguri itu tibatiba

saja ada di padukuhannya bahkan di rumahnya dan berhasil

menyelamatkannya.

“Aku wajib berterima kasih kepadanya. Terima kasih tanpa batas, karena ia

telah menyelamatkan nyawaku” desisnya ”Apalagi kemudian aku dipeliharanya

sampai aku menjadi orang”

Namun Lamat tidak berani memandang dengan wajah tengadah, kenyataan

yang dihadapinya. Ia selalu mencoba menekan setiap perasaan yang hendak

memberontak atas keadaan yang dialaminya selama ini.

“Aku harus berterima kasih. Aku harus mengenal budi orang terhadap diriku”

Sehingga ternyata apa yang telah terjadi itu telah membuat bukan saja tubuh

Lamat yang menjadi cacat oleh jilatan api, tetapi jiwanyapun menjadi cacat

pula. Ia seolah-olah terbelenggu oleh kebaikan hati ayah Manguri.

Lamat adalah seorang raksasa yang dikekang oleh seutas kendali yang sangat

kuat.

Perlahan-lahan Lamat bangkit dari pembaringannya. Diraihnya gendi yang

berisi air dingin diajuk-ajuk. Terasa betapa segarnya air yang mengusap

kerongkongannya.

Namun kesegaran air itu tidak dapat melepaskannya dari kegelisahan yang

mencengkam. Seandainya Pamot tidak mau memenuhi permintaannya, maka

berhari-hari Manguri pasti masih saja mengumpatinya.

Namun Pamot memang sudah menyatakan kesediaannya untuk menolongnya.

Ketika matahari terbit, Pamot tidak segera bangun dan mandi ke sungai seperti

biasanya. Tetapi ia pergi kesumur dan mandi pula disitu.

“Kau tidak pergi ke sungai?” bertanya kakeknya. Pamot menggelengkan

kepalanya.

“Bagus, kau memang harus berhati-hati menanggapi keadaanmu yang agaknya

memang tidak terlampau menyenangkan” Dan di luar dugaannya kakeknya itu

berkata ”Tetapi kau tidak usah menyesal. Kau sudah berbuat suatu kebajikan,

meskipun kau harus mendengarkan pendapat pamanmu”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.

Hari itu, Pamot memang tidak meninggalkan halaman rumahnya. Betapapun

hatinya mendesaknya untuk keluar, tetapi ia selalu bertahan. Bukan karena ia

terlampau hati-hati seperti disangka kakeknya, tetapi ia mencoba untuk

memenuhi permintaan Lamat.

Adalah tanpa disangka-sangka sekali, bahwa tiba-tiba saja Manguri telah berdiri

di muka regol rumahnya. Kali ini dengan wajah yang dibayangi oleh senyum

mengejek ia memanggilnya ”Pamot kemarilah”

Sejenak Pamot justru mematung. Dipandanginya Manguri yang berdiri di luar

regol halamannya itu seperti memandang hantu.

“Jangan takut Pamot, kemarilah”

Terasa darah Pamot seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir. Hampir

saja ia melompat dan menerkam anak muda yang sombong itu. Tetapi

untunglah bahwa ia segera menyadari dirinya, sehingga diurungkan niatnya itu.

Agaknya Pamot memang masih segan untuk melakukan pertentangan terbuka

dengan anak pedagang ternak yang kaya itu.

“Kanapa kau diam saja?” berkata Manguri kemudian ”kemarilah. Aku ingin

berbicara sedikit”

Dengan langkah yang berat Pamot berjalan mendekat pula. Setiap kali

terngiang pesan pamannya, agar ia berhati-hati menghadapi anak orang kaya

raya itu.

“Pamot” berkata Manguri ketika Pamot sudah mendekat. Sambil mengerutkan

keningnya Manguri menunjuk pipi Pamot membengkak ”Kenapa pipimu itu

Pamot?”

Pamot maju semakin dekat. Dipandanginya wajah Manguri dengan tajamnya.

“Apa maksudmu datang kemari Manguri?” bertanya Pamot.

Manguri tersenyum, katanya ”Aku tidak sengaja datang kemari. Aku lewat jalan

ini ketika aku melihat kau di halaman”

“Kau tidak biasa lewat jalan ini?”

“He” Manguri mengerutkan keningnya ”kau selalu berkata begitu. Kau selalu

menganggap aku tidak pernah lewat jalan yang manapun”

Pamot menggeram ketika ia melihat senyum mengejek di bibir Manguri.

“Baik” jawab Pamot ”kenapa kau memanggil aku?”

“Aku ingin bertanya, kenapa pipimu membengkak?”

“Orangmu pasti sudah melaporkannya kepadamu. Raksasa yang dungu pasti

sudah melaporkannya kepadamu”

“Raksasa yang dungu itu memang harus dibunuh. Diapakannya kau?”

“Bertanyalah kepada orangmu itu. Ternyata ia lebih bodoh dari kerbau”

“Ah, kasian kau Pamot. Untunglah kau berhasil melarikan diri. Kalau tidak,

orang sebodoh kerbau itu pasti akan meremukkan tulang-tulangmu”

“Itu tidak mungkin” jawab Pamot ”kau kira aku terlampau lemah untuk

melawannya. Ia memang lebih kuat daripadaku. Tetapi ia tidak akan banyak

berhasil, karena aku mempunyai otak, dan orang dungu itu hanya mempunyai

tenaga melulu”

Manguri mengerutkan keningnya. Ia melihat kebenaran kata-kata Pamot. Lamat

dipandangan matanya tidak lebih dari seekor kerbau ”Itulah sebabnya Lamat

tidak berhasil” desis Manguri. Namun kemudian ia tersenyum di dalam hatinya

”Aku tidak boleh mengulangi kesalahan ini. Ternyata aku tidak dapat

mempercayai orang dungu itu“

“Pamot” berkata Manguri kemudian ”ternyata kau masih mampu menolong

dirimu sendiri kali ini. Tetapi bahwa kau sudah terperosok ke dalam persoalan

yang rumit, jangan kau sesali”

Pamot tidak menjawab. Betapa hatinya menjadi sangat muak, tetapi ia masih

selalu menahan hati.

Kemudian Manguripun pergi meninggalkan regol rumah Pamot. Suara

tertawanya yang menyakitkan hati terdengar menggelitik hati. Namun Pamot

masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

“Berapa hari kau akan tinggal di rumah Pamot?” bertanya Manguri dari

kejauhan.

Pamot tidak menjawab. Bahkan iapun kemudian berbalik dan masuk ke dalam

regol halaman rumahnya.

Baru saja ia masuk, maka dilihatnya kakeknya dengan tergesa-gesa datang

menemuinya sambil bertanya ”Apakah yang telah terjadi?”

“Anak gila itu selalu memancing persoalan”

“Kau sudah bertindak tepat Pamot. Jangan kau layani”

Pamot mengangguk-angguk meskipun jantung mudanya tidak mau menerima

nasehat itu, sehingga ia berkata di dalam hatinya ”Kalau aku mendapat

kesempatan, aku putar leher anak itu”

Dalam pada itu, meskipun Manguri sudah melihat sendiri, bahwa wajah Pamot

menjadi bengkak, tetapi ia tidak puas atas keadaan itu. Kalau Pamot nanti

sembuh, maka ia pasti masih belum jera mencampuri persoalannya.

“Aku masih belum berputus-asa., Aku harus mendapatkan Sindangsari dengan

cara apapun juga”

Tetapi yang terjadi kemudian benar-benar telah menyakitkan hati Manguri.

Sindangsari yang mendengar, bahwa Pamot kemudian mendapat cidera di

wajahnya, segera dapat menghubungkannya dengan apa yang terjadi atas

dirinya.

Dan ternyata peristiwa itu telah mendorong perasaannya semakin dekat

dengan anak yang sering bermain seruling dengan caranya sendiri itu.

Bersama kakeknya Sindangsari memerlukan pergi ke rumah Pamot. Selain

untuk menyatakan terima kasih mereka yang tidak terhingga, merekapun

berhasrat menengok anak muda itu. Cidera apakah yang sudah dialaminya,

akibat dari usahanya menolong Sindangsari.

“Kami tidak dapat membayangkan, apakah yang terjadi atas cucu kami apabila

Pamot tidak melihat hal itu terjadi dan kemudian menolongnya, meskipun ia

sadar bahwa ia akan selalu dibayangi oleh anak pedagang yang kaya itu”

berkata kakek Sindangsari.

Orang tua Pamot dan kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang

Pamot yang ikut menemui tamu-tamu itupun hanya menundukkan kepalanya

saja. Sekali-sekali ia mencuri pandang wajah Sindangsari. Tetapi wajah itupun

tertunduk dalam-dalam.

“Sekarang hal itu sudah ternyata” berkata kakek Sindangsari selanjutnya

”Pamot telah mengalaminya”

“Tidak seberapa kakek” sahut Pamot dengan nada yang dalam.

“Sokurlah, tetapi untuk selanjutnya kau harus berhati-hati”

Pamot mengangguk-angguk. Semua orang menasehatinya untuk berhati-hati.

“Sementara ini Pamot memang selalu berada di rumah” berkata kakek Pamot

”meskipun agaknya anak itu sendiri tidak menghendaki”

“Ada baiknya juga demikian” sahut kakek Sindangsari.

“Tetapi dengan demikian ayah bekerja terlampau berat” berkata Pamot.

“Sekedar untuk kebaikanmu” berkata ayah Pamot ”mudah-mudahan Manguri

segera melupakannya, sehingga kau tidak diancamnya lagi”

Pamot tidak menyahut. Sekilas terngiang kata-kata Manguri di muka regol

rumahnya ”kau sudah terperosok ke dalam persoalan yang rumit. Jangan kau

sesali”

“Aku tidak menyesal” berkata Pamot di dalam hatinya. Justru ia sudah terlanjur

melakukannya, maka ia tidak akan berhasrat mundur setapakpun.

Kunjungan kakek Sindangsari bersama gadis itu, seakan-akan telah

meyakinkan Pamot, bahwa iapun harus berjalan terus. Perlahan-lahan namun

pasti, wajah Sindangsari semakin dalam terpahat di dinding hatinya.

Tetapi Pamot tidak dapat berlaku sekasar Manguri. Dengan hati-hati dan

perlahan-lahan ia mencoba mendekatkan hatinya. Ia tahu Sindangsari senang

mendengarkan suara serulingnya, karena itu, maka setiap kali ia pergi ke

rumah Sindangsari sebelum ia turun ke sawah karena pipinya yang masih biru,

selalu dibawanya serulingnya.

Ternyata hati Sindangsaripun telah terbuka pula untuknya. Kekasaran Manguri

justru telah mendesaknya semakin dekat kepada Pamot yang jauh lebih

sederhana dari Manguri sendiri.

Betapapun hal itu dirahasiakan, namun lambai laun peristiwa yang terjadi atas

Sindangsari itupun telah merambat dari telinga ke telinga. Kawan-kawannya

mulai membicarakannya pula. Bahkan satu dua diantara mereka mulai berhatihati

menghadapi Manguri. Mereka tidak mau menjadi sasaran kekecewaan

anak muda itu, karena ia gagal mendapatkan Sindangsari.

Hal itulah yang membuat Manguri semakin sakit hati. Hubungan antara Pamot

dan Sindangsari yang semakin rapat, dan gadis-gadis yang mulai menjauhinya.

“Pamot memang tidak jera“ ia menggeram “usahaku yang pertama untuk

mendapatkan Sindangsari dengan cara apapun adalah menjauhkan Pamot

daripadanya”

Tetapi Manguri tidak lagi ingin mempergunakan Lamat. Meskipun menurut

penilaian Manguri, Lamat tidak gagal sama sekali namun Pamot berhasil

melawannya dan melepaskan diri. Kini ia akan mempergunakan tenaga yang

meyakinkan. Pamot harus benar-benar jera.

Dengan demikian, maka Manguri telah mempergunakan kekayaannya untuk

memuaskan hatinya, seperti yang dikatakannya. Ia dapat menyewa berapa

orang saja yang dikehendakinya.

Untuk membuat Pamot jera, Manguri telah memanggil lima orang yang

dianggapnya akan dapat menyelesaikan masalahnya. Mereka harus

menangkap Pamot, dan membawanya kelumbung di belakang rumah. Manguri

sendiri yang akan memaksanya untuk berjanji, bahwa Pamot tidak akan

berhubungan lagi dengan Sindangsari.

“Tetapi hati-hatilah menghadapi anak itu” berkata Manguri “aku sendiri tidak

berhasil mengalahkannya. Bahwa ia dapat melepaskan diri dari tangan Lamat.

Mungkin benar kata Pamot, bahwa Lamat tidak berkelahi dengan otaknya, ia

hanya berkelahi dengan tenaganya saja”

Kelima orang yang telah disewa oleh Manguri itu mengangguk-anggukkan

kepalanya.

“Sekarang bertanyalah kepada Lamat, apa yang perlu kalian ketahui tentang

Pamot.

Maka Lamatpun kemudian dipanggil oleh Manguri. Ia harus menjawab berbagai

macam pertanyaan tentang Pamot. Dan Lamatpun berusaha menjawabnya,

meskipun ia harus berhati-hati. Tetapi kesan kedunguan di wajahnya, sama

sekali tidak menumbuhkan prasangka apapun apabila ia kadang-kadang

menemui kesulitan untuk menjawab pertanyaan salah seorang dari kelima

orang yang telah disewa oleh Manguri itu.

“Nah” berkata Manguri kemudian “kalian sudah mendapat gambaran tentang

Pamot. Kini Pamot telah melakukan kerjanya sehari-hari seperti sediakala. Di

malam hari kalian akan mendapat kesempatan sebaik-baiknya. Hampir setiap

malam Pamot pergi ke gubugnya di tengah sawah ayahnya. Kalian dapat

menemuinya di tengah sawah ayahnya. Kalian dapat menemuinya di sana.

Jangan menunggu terlampau lama. Besok malam kalian sudah dapat

melakukan pekerjaana itu. Ingat, jangan gagal seperti Lamat yang dungu ini.

Malam nanti akurkan melihatnya, apakah ia berada di gubugnya bersama

Lamat”

Kelimanya mengangguk-anggukkan kepala. Pamot, betapapun kuatnya, bagi

kelima orang itu sama sekali tidak akan menjadi beban yang terlampau berat.

Seorang demi seorang mereka tidak gentar melawan anak muda yang kuat itu.

Namun untuk menangkapnya dan membawanya ke Lumbung di belakang

rumah, memang diperlukan beberapa orang kawan.

“Sekarang kalian boleh pergi” berkata Manguri “besok siang kalian kembali lagi

kemari sebelum di malam harinya kalian harus melakukan pekerjaan itu. Awas,

kalau kalian gagal, maka tidak sekeping uangpun aku berikan kepada kalian”

“Jangan takut. Apalagi seekor tikus, seekor serigalapun tidak akan lepas dari

tanganku”

Sepeninggal orang-orang itu, maka Manguripun berkata kepada Lamat “Nanti

malam kau pergi bersama aku melihat apakah Pamot masih dalam

kebiasaannya, pergi ke gubugnya. Sekarang pergilah. Kau terlampau bodoh

untuk mengerti persoalanku, sehingga karena itu aku terpaksa mempergunakan

orang lain”

Lamat tidak menjawab. Wajahnya yang tampak bengis namun terlalu bodoh itu

tertunduk dalam-dalam. Perlahan-lahan ia meninggalkan Manguri kembali ke

pekerjaannya.

Namun dalam pada itu, sesuatu bergolak di dadanya. Meskipun ia berusaha

untuk tidak menghiraukannya, tetapi setiap kali jantungnya serasa dituntut oleh

suatu keharusan untuk berbuat sesuatu.

Ia sudah terlalu biasa dipergunakan oleh keluarga Manguri untuk menakutnakuti

orang yang lambat membayar hutang. Bahkan kadang-kadang dengan

sedikit kekerasan. Tetapi kali ini ia tidak dapat menahan hati membiarkan

Pamot mengalami nasib yang terlampau jelek, justru ia yakin bahwa anak itu

tidak bersalah.

“Anak itu bukan sanak bukan kadang“ ia mencoba menghilangkan kerisauan

perasaannya itu. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya “Aku harus

memberitahukan kepadanya”

Demikianlah, ketika pada sore hari, seperti kebiasaannya Lamat pergi ke

sungai, dengan tergesa-gesa ia berusaha singgah ke rumah Pamot. Ia

menunggu hari mulai gelap, supaya tidak seorangpun yang melihatnya, setidaktidaknya

melihatnya dengan pasti.

“Mudah-mudahan Pamot masih ada di rumahnya” desisnya “anak yang berani

itu sama sekali tidak gentar, meskipun Manguri mengancamnya seribu kali.

Dengan ragu-ragu Lamat berdiri di muka pintu rumah Pamot. Sejenak ia

mematung. Namun sejenak kemudian tangannyapun bergerak mengetuk pintu

rumah itu.

“Siapa?“ terdengar seseorang menyapa dari dalam. Tetapi suara itu bukan

suara Pamot. Meskipun demikian Lamat sudah tidak dapat mundur lagi.

Waktunya sudah menjadi terlampau sempit.

“Aku” jawabnya.

Kemudian perlahan-lahan pintu rumah itu terbuka. Ketika ayah Pamot yang

membuka pintu itu melihat, siapa yang berada di luar, terasa dadanya seolaholah

berguncang. Lamat.

Sejenak ia berdiam diri sambil memandangi raksasa yang berdiri tegak di

dalam keremangan malam. Namun dalam pada itu keringat dingin telah

membasahi seluruh tubuhnya.

“Siapa yang di luar” bertanya ibu Pamot.

Suaminya tidak segera menjawab. Bahkan selangkah ia surut. Ia mengerti betul

bahwa Lamat adalah pembantu setia Manguri yang sangat ditakuti orang. Ia

mempunyai kekuatan seperti seekor gajah.

Ayah Pamot itu semakin tergetar hatinya ketika ia mendengar Lamat bertanya

“Dimanakah Pamot?“

Sejenak ia tidak menjawab. Dan isterinya bertanya sekali lagi “Siapa yang di

luar ?“

Ayah Pamot tidak menjawab. Ia tidak menjawab pertanyaan istrinya, dan tidak

menjawab pertanyaan Lamat.

Namun dalam pada itu, Pamot yang ada di ruang dalam mendengar

pembicaraan mereka. Karena itu, maka iapun segera mendatanginya. Tetapi ia

terkejut ketika begitu ia muncul ayahnya hampir berteriak berkata kepadanya

“Pergi, pergi kau Pamot”

“Kenapa ?“

“Pergi kau”

Tetapi Pamot masih berdiri di tempatnya. Ia mencoba melihat siapakah yang

berdiri di luar pintu, yang telah membuat ayahnya ketakutan.

Namun sebelum Pamot berhasil mengenal orang itu, terdengar suara di luar

pintu “Aku, Pamot, Lamat”

“O, kau. Masuklah”

“Pamot“ ayahnya menahannya ketika ia mendekati pintu.

“Ia tidak apa-apa ayah. Lamat orang yang baik”

“Tetapi” desis ayahnya.

“Biarlah ia masuk”

Ayahnya tidak dapat mencegahnya lagi. Ibunya terkejut pula ketika dari balik

pintu muncul seseorang yang tinggi besar dan berkepala botak.

“Maafkah aku” berkata Lamat “barangkali aku sudah mengejutkan kalian”

Ayah dan ibu Pamot tidak menjawab. Kakek Pamot yang kemudian datang pula

keruang itu menjadi bertanyaannya di dalam hati.

“Aku hanya sebentar Pamot” berkata Lamat kemudian “apakah kau akan pergi

ke sawah malam ini”

“Ya” Pamot menganggukkan kepalanya tanpa ragu-ragu.

“Baiklah. Aku bersama Manguri akan mengintai, apakah kau ada di gubugmu

atau tidak” berkata Lamat selanjutnya “tetapi untuk besok malam, kau benarbenar

akan diintai oleh bahaya. Manguri telah menyewa lima orang untuk

menangkapmu”

“He” Pamot membelalakkan matanya, sedang orang tuanya menjadi pucat.

“Hem” Pamot kemudian menggeram ”ia benar-benar mendendamku. Tetapi

apaboleh buat”

“Kau harus berhati-hati Pamot. Lima orang yang disilaukan oleh uang itu dapat

berbuat apa saja di luar sadar mereka”

“Terima kasih. Aku akan berhati-hati”

“Sudahlah. Aku harus segera berada di rumah. Nanti menjelang tengah malam

aku akan pergi bersama Manguri, melihat apakah kau berada di dalam

gubugmu itu”

“Baiklah. Aku akan berada di sana. Dan besukpun aku akan berada di sana

pula”

“Pamot” berkata Lamat ”menghadapi kelima orang itu kau jangan menuruti

perasaanmu saja. Kau harus mau melihat kenyataan, bahwa kau tidak akan

dapat melawan mereka. Sependengaranku, kau akan ditangkap dan dibawa ke

lumbung di belakang rumah Manguri. Manguri sendirilah yang akan

mengurusmu kelak. Aku tidak begitu tahu, apakah yang akan dilakukannya”

Pamot menggeretakkan giginya.,

“Ingat, jangan kau biarkan perasaanmu bergejolak tanpa kendali. Kau tidak

akan dapat menghindari kenyataan. Kau akan menyesal kalau kau tidak

mencari jalan keluar dari kesulitan itu”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya ”Terima kasih Lamat”

Dan Lamatpun kemudian segera minta diri, meninggalkan seisi rumah yang

keheran-heranan.

“Aku tidak mengerti” desah ayah Pamot ”apakah kau tidak mengenalnya?”

“Tentu, aku mengenalnya dengan baik”

“Bukankah aku tidak salah lihat, bahwa orang itu adalah Lamat pembantu

keluarga Manguri?”

“Ya, bukankah ia telah menyebut namanya pula?”

“Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan” ayah Pamot masih

bingung ”menurut pendengaranku ia justru memberimu peringatan bahwa kau

terancam bahaya”

“Ya ayah” jawab Pamot.

“Aku menjadi bingung. Aku kira ia akan menyeretmu keluar dan memukulmu

sampai pingsan. Wajahnya yang bengis tetapi bodoh itu benar-benar

meyakinkan bahwa ia adalah seekor kerbau yang telah dicocok hidungnya”

“Tetapi dugaan itu ternyata meleset. Akupun semula menduganya demikian

pula. Aku kira ia adalah seorang kejam yang bodoh., Namun ternyata

sebaliknya. Hatinya lunak dan bahkan perasa. Ia sama sekali bukan seorang

yang bodoh. Ia dapat menasehati aku dan memberi arah jalan keluar”

“Aku tidak menyangka. Selama ini Lamat adalah sesosok hantu raksasa bagi

orang-orang Gemulung dan hampir di seluruh Kademangan Kepandak. Bahkan

orang-orang Mangirpun menyebut-nyebut namanya, sampai orang-orang di

pesisir Selatan”

“Aku tidak tahu, kenapa kali ini ia bersikap lain”

“Tetapi apakah kau dapat mempercayainya?” bertanya ayahnya tiba-tiba.

Pamot termenung sejenak. Namun kemudian ia mengangguk ”Aku

mempercayainya. Kalau ia ingin berbuat jahat, maka ia pasti sudah

melakukannya”

Ayah Pamot tidak segera menjawab.

“Ia telah melanggar perintah Manguri untuk melakukan pembalasan. Aku

memang tidak mengatakan kepada keluarga di rumah ini sebelumnya, bahwa

aku telah salah paham pula”

Orang tua Pamot dan kakeknya semakin terheran-heran. Apalagi ketika mereka

mendengar Pamot menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi, ketika

pipinya menjadi bengkak.

“Kau berdusta saat itu Pamot?” bertanya ayahnya.

“Ya ayah” Jawabnya ”Aku bingung, bagaimana aku harus mengatakannya.

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya ”Kalau kau

dapat mempercayainya, maka kau benar-benar harus berhati-hati besok

malam. Manguri yang hatinya masih dibakar oleh kekalahannya itu telah

menyewa lima orang yang menurut Lamat tidak akan dapat kau lawan. Kalau

begitu sebaiknya kau telah berada di rumah saja.

Tetapi Pamot menggelengkan kepalanya ”Tidak ayah. Aku akan mencari jalan

lain. Tetapi tidak tetap tinggal di rumah seperti perempuan yang takut

mendengar suara anjing menggonggong”

“Bukan begitu Pamot, Lamat sudah mengatakan kepadamu, bahwa kau harus

melihat kenyataan. Kau tidak akan dapat melawan mereka”

“Ya. Aku memang harus mencari jalan keluar. Dan aku akan berusaha”

“Tetapi kau jangan menuruti perasaanmu saja Pamot. Aku ikut menjadi cemas”

berkata ibunya ”kalau kau masih anak-anak, aku akan mendukungmu kemana

aku pergi. Tetapi kau sekarang hampir tidak dapat disentuh ujung kainmu”

“Ibu jangan cemas. Aku akan berhati-hati. Tetapi tidak sepantasnya anak

seperti Manguri itu dibiarkan untuk berbuat sesuka hatinya”

“Ia mempunyai uang Pamot”

“Tidak selalu bahwa uang itu mempunyai nilai yang paling tinggi di dalam

pergaulan hidup ini”

Ibunya yang berkaca-kaca akhirnya berkata ”Aku hanya mengharap kau

selamat. Tidak lebih dari itu”

Pamot tidak menjawab lagi. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Tetapi ia sama

sekali tidak berhasrat untuk bersembunyi dimanapun.

“Kau sudah cukup dewasa Pamot” kakeknyalah yang kemudian berbicara ”kau

dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang waras. Tidak terlalu

dibumbui oleh darah mudamu seperti Manguri”

“Ya kakek”

“Aku percaya kepadamu”

Pamotpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepercayaan kakeknya

itu justru menumbuhkan kesungguhan kepadanya. Bahwa ia memang bukan

anak-anak lagi.

“Biarlah ia mencari jalan” berkata kakeknya kemudian kepada kedua orang tua

Pamot ”sebenarnya aku memang lebih senang melihat ia berhasil

membebaskan dirinya secara jantan. Tidak dengan menyembunyikan diri.

Sebab dengan demikian, Manguri pasti masih akan mencarinya, sehingga

persoalannya sebenarnya masih belum selesai”

Ayah Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ibunya diam saja.

“Aku tahu, bahwa kalian sangat cemas akan nasib anakmu, karena kebetulan

bahwa ia berselisih dengan Manguri. Memang Manguri mempunyai harta dan

kekayaan untuk mendapat kawan., Tetapi Pamotpun mempunyai kelebihan

yang lain. Ia memang mempunyai kawan yang sebenarnya kawan”

Pamot mengangkat wajahnya. Memang sudah terkilas di kepalanya, bahwa ia

akan menghubungi beberapa kawan dekatnya. Kawan yang setiap kali

bersama-sama pergi ke kademangan.

“Mereka pasti bersedia membantu aku” kata Pamot di dalam hatinya ”Mereka

akan ikhlas berbuat apapun tanpa upah seperti yang dilakukan oleh Manguri.

Orang-orang upahan akan segera meninggalkan majikannya apabila ada orang

lain yang mengupahnya lebih banyak lagi. Hubungan diantara mereka tidak

ubahnya seperti hubungan jual belu saja. Yang satu memberikan jasa, yang

lain membayarnya”

“Nah, sekarang biarlah Pamot mempersiapkan dirinya” berkata kakeknya yang

sudah tua itu ”sebentar lagi kau akan ke sawah melihat air”

“Tetapi” potong ibunya.

“Tidak apa-apa. Akupun akhirnya percaya, bahwa Lamat berkata dengan jujur”

Ibunya tidak mencegahnya lagi, sedang ayahnya duduk saja termangu-mangu.

Namun sebenarnya iapun mulai dapat mempercayai, bahwa Lamat tidak akan

menjerumuskan anaknya ke dalam bencana. Kalau ia ingin melakukannya,

maka kesempatan itu telah pernah dimilikinya.

“Sekarang, kalian dapat tidur dengan tenang. Setidak-tidaknya malam nanti

tidak akan terjadi sesuatu atas Pamot, meskipun itu bukan berarti bahwa ia

dapat berbuat sesuka hatinya. Ia tetap harus berhati-hati dan bersiaga.

Segala kemungkinan memang dapat terjadi karena sifat Manguri itu sendiri”

berkata kakek Pamot. Kemudian ”Aku memang lebih senang melihat anak-anak

muda yang berani. Tetapi itu hanya karena pengaruh hidupku di masa muda

dahulu. Pada masa anak-anak muda itu dapat dikekang lagi. Begitu Mataram

berdiri, kami langsung ikut berjuang menegakkannya. Tetapi kemudian kami

kehilangan sasaran ketika Mataram sudah tidak diguncang-guncang lagi.

Akibatnya memang tidak menyenangkan” Orang tua itu agaknya merasakan

kerinduan yang mendalam kepada masa mudanya, masa yang memberinya

kebanggaan.

“Tetapi sekarang harus sudah lain. Sekarang Mataram memang sedang

memerlukan tenaga anak-anak mudanya. Bukankah Pamot setiap kali harus

pergi ke Kademangan? Disana ia menerima latihan-latihan yang perlu, apabila

setiap saat Mataram memanggilnya.

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikian juga kedua orang tuanya.

“Nah, pergilah Pamot. Tetapi kau jangan menjadi besar kepala, karena

kepalamu itu masih dapat juga dibeli dengan uang Manguri”

Pamotpun kemudian berdiri. Kini ia tidak saja membawa sabit, tetapi

diselipkannya goloknya di pinggangnya.

“Kau bersenjata” bertanya ayahnya.

Pamot mengangguk.

Kakeknya kengerutkan keningnya sejenak. Tetapi katanya kemudian

”Sebenarnya senjata tidak selalu membuat kau menjadi lebih aman. Ada dua

kemungkinan yang dapat terjadi. Kau menjadi liar karena kau merasa kuat,

sehingga akhirnya kau terperosok ke dalam suatu tindakan yang tidak kau

harapkan. Misalnya, tidak dengan sengaja kau telah melakukan pembunuhan.

Atau kemungkinan yang lain, senjata itu telah membakar hati lawan-lawanmu

dan memancing senjata-senjata mereka keluar dari wrangkanya. Kau mengerti

maksudku?”

Pamot mengangguk ”Ya kakek”

“Apa”

“Aku dapat membunuh atau dibunuh karenanya”

“Nah pertimbangkan”

“Tetapi kalau lawan-lawanku bersenjata dan aku tidak bersenjata sama sekali,

maka aku tidak akan dapat melawan mereka”

Jilid 2

Bab 1 : Punta

“MESKIPUN demikian, mereka tidak akan dengan serta merta membunuh kau”

Pamot mengerutkan keningnya. Ia memang dapat mengerti maksud kakeknya. Tetapi

apakah orang-orang yang membayanginya itu mempunyai pertimbangan-pertimbangan

yang waras.

Kakeknya melihat keragu-raguan di wajah Pamot, sehingga ia merasa perlu menjelaskan ”Pamot, perkelahian bersenjata selamanya selalu mencemaskan. Kalau kau kalah kau akan dikubur, tetapi kalau kau menang, maka dengan banyak cara, orang kaya itu dapat menyeretmu ke dalam hukuman yang berat”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya ”Baik. Aku tidak akan membawa senjata”

Ketika Pamot meletakkan goloknya, ayahnyalah yang bertanya ”Apakah memang

demikian seharusnya?”

“Begitulah menurut pertimbanganku”

Ayah Pamotpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia

berkata ”kau pergi dengan aku Pamot”

“Jangan ayah” pinta Pamot ”Aku ingin agar mereka mempunyai kesan bahwa

aku memang selalu seorang diri di gubug itu”

Ayahnya mengerutkan keningnya ”Tetapi kalau terjadi sesuatu atasmu, aku

bukan sekedar penonton Pamot”

“Malam ini pasti tidak ayah” jawab Pamot.

Ayahnya termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia mengangguk ”Baiklah.

Tetapi kalau pada saatnya kau belum kembali, aku terpaksa pergi. Aku tau,

persoalan ini adalah persoalan anak-anak. Tetapi Manguri telah memanfaatkan

kekayaan ayahnya. Sedang yang dapat aku berikan kepadamu Pamot, adalah

sekedar tenagaku”

Pamot menundukkan kepalanya. Ia justru terdiam sejenak. Dengan nada yang

datar iapun kemudian berkata ”Maafkan ayah, ibu dan kakek. Aku sama sekali

tidak bermaksud membuat ayah, ibu dan kakek menjadi gelisah”

“Aku tahu” jawab ayahnya ”tetapi yang sudah terlanjur terjadi ini akan

berkepanjangan. Pada suatu saat memang diperlukan penyelsaian yang tuntas”

Pamot mengangguk-angguk.

“Sudahlah” berkata kakeknya ”berangkatlah”

“Baik kakek” jawab Pamot.

Anak muda itupun kemudian minta diri kepada kedua orang tuanya beserta

kakeknya,. Meskipun hampir setiap malam ia melakukan pekerjaan ini tanpa

ada persoalan apapun, namun kali ini Pamot seolah-olah sedang bersiap untuk

berangkat kemedan perang. Dengan hati yang berdebar-debar orang tuanya

dan kakeknya melepaskannya.

Sejenak kemudian Pamotpun telah menyusup ke dalam gelap. Melintasi

halaman dan berjalan menyusur jalan pedukuhan. Jalan yang sudah setiap hari

dilaluinya. Tetapi rasa-rasanya jalan ini seperti menjadi bertambah panjang.

Langkah-langkahnya serasa menjadi terlampau pendek atau kakinya memang

gemetar?.

Namun Pamot berjalan terus. Di tangannya tergenggam sebilah sabit. Hanya

itu. Senjata yang selalu dibawanya ke sawah dan ke pategalan. Kadangkadanga

ia memang harus memotong kayu dan membelahnya sama sekali.

Kalau ia sengaja pergi menebang kayu maka ia selalu membawa sebuah kapak

yang besar.

Tetapi sudah tentu tidak di malam hari, sehingga karena itu maka Pamot tidak

dapat membawa kapak, meskipun kapak merupakan senjata yang lebih baik

dari hanya sebuah sabit.

Ternyata bagaimanapun juga ia mencoba memahami pesan kakeknya, namun

Pamot pasti akan merasa dirinya lebih aman apabila ia bersenjata, bukan

sekedar sebuah sabit. Tetapi dengan sebuah sabit, masih juga lebih baik

daripada ia sama sekali tidak bersenjata apapun.

Namun agaknya apa yang dikatakan oleh Lamat memang benar. Malam itu

tidak ada apa-apa terjadi. Ketika ia duduk memeluk lututnya justru di bawah

gubugnya yang berkaki agak tinggi, ia melihat dua orang berjalan di pematang

sawahnya. Seorang yang bertubuh tinggi besar sedangkan yang lain anak

muda sebayanya.

“Manguri dan Lamat” desis Pamot.

Tetapi Pamot itupun menjadi berdebar-debar ketika keduanya berhenti

beberapa langkah dari gubugnya. Manguri mencoba memandangi gubug itu

tajam-tajam. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Pamot duduk di

pematang justru di bawah gubug yang kegelapan.

Tiba-tiba tanpa di-sangka-sangka Manguri justru menanggilnya. “Pamot,

Pamot”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan keluar dari

bawah gubugnya sambil terbungkuk-bungkuk.

“Kau mencari aku Manguri”

“O” Manguri agak terkejut ”Kenapa kau bersembunyi?”

“Aku tidak bersembunyi. Aku sedang melihat tinggi air di sawahku”

Manguri tertawa ”Benar begitu?”

“Apa gunanya aku menipumu?”

“Aku sangka kau sudah menjadi seorang pengecut sehingga kau sudah tidak

berani lagi berada di atas gubugmu”

“Apa yang aku takuti?”

“Bagaimana kalau sekarang Lamat sekali lagi meremukkan tulang kepalamu?

Kau pasti tidak akan dapat lari lagi. Kalau kami berdua berkelahi bersama-sama

maka kau dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atasmu”

“Jangan menghina” potong Pamot ”apakah kalian ingin mencoba?”

Manguri tertawa. Benar-benar menyakitkan hati.

“Kau memang terlampau sombong. Tetapi aku sekali-sekali memang ingin

melihat kepalamu retak. Apakah kau mau mencoba?”

Lamatlah yang menjadi berdebar-debar. Kalau Pamot tidak dapat

mengendalikan diri, maka keadaan akan menjadi lain dari rencana semula.

Mungkin mereka akan terlibat dalam perkelahian yang sulit.

Dan ternyata Pamotpun menjawab ”Apaboleh buat. Begitukah yang kau

inginkan”

Suara tertawa Manguri tiba-tiba terputus. Dipandanginya wajah Lamat. Namun

kemudian ia berkata ”Kita tinggalkan saja anak gila itu. Jangan layani”

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat Manguri sudah

melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, maka Lamatpun segera

mengikutinya pula. Ketika ia berpaling, dilihatnya Pamot masih tetap berdiri

tegak di tempatnya.

Lamat menjadi heran ketika ia melihat Manguri tiba-tiba berhenti, sehingga

hampir saja ia melanggarnya.

“Kenapa” tanpa sesadarnya ia bertanya.

Manguri tidak mengacuhkannya. Tetapi ia berkata kepada Pamot dibarengi

dengan suara tertawanya yang serasa menusuk-nusuk jantung ”kau tidak perlu

menjadi demikian ketakutan dan bersembunyi di bawah gugubmu anak manis.

Kau lihat, bahwa kami bukan harimau-harimau kelaparan yang siap

menerkammu. Besok kau akan berjalan lewat pematang sawahmu ini pula,

untuk melihat, apakah kau juga masih bersembunyi di bawah gubugmu”

Manguri tidak menunggu jawaban Pamot. Suara tertawanya tiba-tiba meninggi.

Namun kemudian hilang di telan sepinya malam.

Lamat berjalan dengan patuh di belakang Manguri ketika ia meninggalkan

sawah keluarga Pamot itu. Sekali-sekali masih terdengar Manguri tertawa kecil.

Namun kemudian katanya ”Anak yang sombong itu besok pasti akan datang

lagi. Biarlah ia merasakan, bahwa ia tidak dapat bermain-main sekehendak

hatinya dengan Manguri,. Besok ia akan ditangkap dan dibawa ke lumbung

yang sudah tidak penuh lagi itu. Aku akan memaksanya berjanji untuk menjauhi

Sindangsari. Setelah itu, baru aku akan mencari cara untuk menjerat burung liar

itu”

Lamat sama sekali tidak menjawab. Ia berjalan saja dengan kepala menunduk.

Ikat kepalanya, yang membelit saja tanpa menutupi botaknya itu, berjuntai

hampir sampai ke pundaknya.

Sepeninggal Manguri dan Lamat, Pamot menarik nafas dalam-dalam. Begitulah

cara Manguri mengintai. Ia sama sekali tidak bersembunyi di balik tanaman,

atau di balik batang-batang jarak di pojok-pojok sawah. Tetapi ia datang

dengan dada tengadah, dan bahkan memanggil manggil namanya.

Pamotpun kemudian naik ke gubugnya perlahan-lahan. Kini ia sudah dapat

beristirahat, justru setelah ia tahu, Manguri telah mendatanginya. Ia sadar,

bahwa Manguri sengaja mengelitik harga dirinya, supaya besok ia benar-benar

datang ke gubugnya.

“Hem, ternyata Lamat berkata sebenarnya” Pamotpun kemudian merebahkan

dirinya di atas galar yang kering, dialasi oleh selembar tikar yang kasar.

Perlahan-lahan silirnya angin telah membelai keningnya, sehingga tanpa

disadarinya, anak muda itupun akhirnya tertidur betapa ia mencoba untuk tidak

lengah sekejappun.

Pamot terkejut ketika ia mendengar derit di tangga gubugnya, sehingga

gubugnya yang kecil itu berguncang. Dengan serta-merta ia bangkit sambil

menyambar sabit di sampingnya. Namun ternyata bahwa sinar kemerahmerahan

di timur telah menyilaukannya.

“Pamot” ia mendengar seseorang memanggil. Kemudian sebuah kepala

tersembul di hadapannya. Kepala ayahnya.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia terhenyak duduk

kembali. Sambil meletakkan sabitnya ia berkata ”Ayah mengejutkan aku”

“Kau mencemaskan seluruh keluarga di rumah. Kau tidak kembali pada

saatnya”

“Aku tertidur ayah”

“Anak dungu” ayahnya mengumpat ”kami yang di rumah tidak sekejappun

dapat tidur. Kau tidur mendekur disini sampai matahari hampir terbit”

Pamot menundukkan kepalanya. Tetapi ia tersenyum. Ia beringsut ketika

ayahnya duduk di sampingnya. Diletakkannya paculnya di sudut gubugnya

yang kecil itu.

“Tidak terjadi sesuatu apapun ayah” berkata Pamot.

“Kau mengetahui bahwa tidak terjadi sesuatu. Tetapi kami tidak”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya ”Aku tertidur disini”

“Kau lengah Pamot. Kalau selagi kau tidur terjadi sesuatu atasmu, maka

kesalahan terbesar terletak padamu sendiri”

“Tetapi aku tertidur setelah aku merasa, bahwa tidak akan terjadi sesuatu”

“Bagaimana kau tahu?”

“Setelah Lamat mengantarkan Manguri datang kemari”

“Mereka datang?”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Diceriterakannya tentang Manguri

dan Lamat yang lewat di pematang sawahnya sambil menyindir-nyindirnya.

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya ”Kalau begitu malam nanti

agaknya Manguri benar-benar mengharap kau berada di gubug ini Pamot”

“Ya ayah. Aku akan memenuhi keinginannya itu”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam ”kau terlalu dikuasai oleh perasaanmu.

Perasaan seorang anak muda”

“Tidak ayah. Aku akan membuat perhitungan sebaik-baiknya supaya aku tidak

terjebak karenanya”

“Perhitunganmu adalah perhitungan yang terlampau dipengaruhi oleh sifatsifatmu”

Pamot mengerutkan keningnya. Terdengar ia berkata lirih ”Aku akan mencoba

untuk lebih dewasa berpikir ayah”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata lirih

”Aku sadar, bahwa pada suatu saat yang tua-tua inipun tidak akan dapat tinggal

diam. Aku lebih senang kalau kau tidak terlibat dalam persoalan semacam ini,

apalagi dengan Manguri. Tetapi karena masalahnya sudah terlanjur, apaboleh

buat”

Pamot tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Pulanglah. Ibumu dan kakekmu menunggu. Mereka sama sekali tidak tidur

sekejappun”

“Baik ayah”

Pamotpun kemudian turun dari gubugnya, menjinjing sabitnya dan berjalan

pulang. Di sepanjang jalan ia berusaha untuk mencari jalan agar ia terhindar

dari malapetaka tetapi tanpa menyembunyikan diri di rumah atau dimanapun.

“Aku bukan pengecut” desisnya.

Langkah Pamot tiba-tiba terhenti ketika ia melihat seseorang berjalan sambil

berkerudung kain panjangnya. Sejenak ia berpikir dan sejenak kemudian iapun

melangkah semakin cepat memotong jalan orang itu, lewat pematangpematang

yang membujur lintang diantara tanaman-tanaman di sawah.

“Punta” Pamot memanggil.

Yang dipanggil itupun kemudian berhenti. Seorang anak muda sebaya dengan

Pamot. Tetapi anak itu agak lebih pendek, namun tampaklah otot-ototnya

menjelu-juri seluruh tubuhnya.

“He, kau dari sawah?” bertanya Punta.

Pamot mengangguk ”Dari mana kau?“

“Dari Kademangan. Bukankah malam ini aku mendapat giliran ronda?”

Pamot mengingat-ingat ”O, ya Aku masih tiga hari lagi”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Punta” berkata Pamot sungguh-sungguh ”apakah kau mau menolong aku?”

Punta mengerutkan keningnya ”Apakah kau mempunyai kesulitan?

“Kau pasti sudah mendengar” jawab Pamot.

”Persoalanmu dengan Manguri?”

“Ya” Pamot menganggukkan kepalanya.

Punta menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya

ia berkata “Pamot. Aku adalah kawanmu yang dekat, seperti beberapa kawan

yang lain. Tetapi untuk mencampuri persoalanmu secara langsung, kami agak

berkeberatan. Dengan demikian persoalan yang seharusnya semakin lama

menjadi semakin padam, justru akan menjadi sebaliknya. Aku membantumu,

dan Manguri akan mencari kawan-kawan pula. Dengan demikian persoalannya

tidak akan dapat selesai” Punta berhenti sejenak ”apakah tidak ada suatu cara

yang baik untuk menyelesaikan masalah itu?”

“Aku sudah berusaha melupakannya Punta. Tetapi tiba-tiba aku dihadapkan

pada suatu keharusan untuk melawan. Manguri terlampau tinggi hati untuk

berbicara sebagai seorang kawan. Semalam ia datang ke gubugku di sawah

bersama Lamat. Agaknyp align=”left”a ia memang akan membuat persoalan ini menjadi

besar”

Punta mengerutkan keningnya ”Apa yang akan dilakukannya?”

Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata ”Punta. Aku akan

berkata sebenarnya dan apa yang ada. Terserah tanggapanmu atas persoalan

itu” Pamot berhenti sejenak. Ketika Punta menganggukkan kepalanya, maka

Pamotpun menceriterakan masalahnya kepada Punta.

Punta mengerutkan keningnya. Wajahnya kian lama menjadi kian tegang.

Sehingga akhirnya ia bertanya ”kau berkata sebenarnya?

“Sudah aku katakan” jawab Pamot ”kau mengenal aku sejak kanak-kanak. Kau

mengenal tabiat dan sifat-sifatku, sehingga seharusnya kau dapat menebak

apakah aku berbohong ataukah aku berkata sebenarnya”

“Pamot” jawab Punta ”dalam persoalan sehari-hari kau memang tidak pernah,

atau katakanlah, jarang sekali berbohong. Tetapi dalam persoalan-persoalan

yang khusus, kebiasaan kadang-kadang tidak berlaku lagi. Seseorang dapat

berbuat aneh-aneh, dan bahkan bertentangan sama sekali dengan kebiasaan

dan pandangan hidupnya sendiri. Apalagi seseorang yang sudah terlanjur

terdorong masuk ke dalam suatu perbuatan. Biasanya ia akan terlalu sulit untuk

menarik diri, meskipun untuk bertahan ia akan mempergunakan cara-cara yang

ditentang oleh hati nuraninya sendiri”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Terkilas sepintas dianganangannya

bayangan seorang raksasa botak yang bernama Lamat.

“Bukankah begitu?” bertanya Punta.

“Kau benar Punta” jawab Pamot ”tetapi bagaimana aku dapat meyakinkan kau,

bahwa aku berkata sebenarnya?”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya ”Jadi

bagaimana maksudmu sebenarnya?”

“Sudah aku katakan bahwa aku akan mengatakan yang akan terjadi. Kemudian

aku justru mengharap sikapmu” jawab Pamot ”apakah kau menganggap bahwa

hal itu sudah wajar, dan sudah wajar pula untuk dibiarkan tanpa tanggapan

apapun, atau sudah wajar pula bahwa aku harus bersembunyi atau

bagaimana?”

Punta menepuk bahu Pamot sambil tersenyum. Katanya ”Baik Pamot. Kau

berhasil memaksa aku menurut caramu untuk melibatkan diri dalam persoalan

ini” berkata Punta kemudian ”tetapi aku tidak akan bersikap mutlak. Aku akan

melihat perkembangan keadaan. Seandainya ada perbedaan antara ceriteramu

dengan apa yang akan terjadi, aku dapat melakukan tindakan-tindakan darurat”

“Sudah aku katakan, terserah kepadamu”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya ”Memang, agaknya kau tidak sedang

bermain-main. Baiklah. Aku akan membantumu”

“Ingat, Manguri akan membawa lima orang kawan-kawannya ”Pamot berdesis,

namun segera disusulinya ”Bukan. Sama sekali bukan kawan-kawannya, tetapi

orang-orang upahannya”

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya “Pamot, apa

yang akan kau lakukan seandainya kau tidak menjumpai aku pagi ini?”

Pamot mengerutkan keningnya. Katanya ”Pada dasarnya aku memang akan

minta bantuan kepada kawan-kawanku. Tetapi seandainya aku tidak

menemuimu disini, mungkin aku akan langsung menghubungi pemimpin

kelompok kita di Kademangan”

Punta tersenyum. Katanya ”kau sudah benar-benar kebingungan. Tetapi kau

dapat mempercayai aku. Aku tidak akan ingkar, selagi kau tidak

menjerumuskan aku ke dalam kesulitan sekedar untuk memuaskan hatimu.

Maksudku, kaulah yang mencari perkara. Tetapi selagi kau dalam sikap

mempertahankan dirimu dan kehormatanmu, aku akan membantumu”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdesis ”Terima

kasih. Apakah aku harus datang ke rumahmu untuk memberikan penjelasan

tentang keadaanku dan tentang kelima orang itu?”

Aku kira keteranganmu sudah cukup jelas. Aku akan mencoba menyesuaikan

diriku, mengenai tempat dan waktu. Kalau ada keragu-raguan, biarlah aku

datang ke rumahmu. Kalau aku sudah yakin, maka aku tidak perlu lagi

menanyakan sesuatu”

“Terima kasih”

“Mudah-mudahan kita berhasil. Sebenarnya akupun tidak dapat melihat

Manguri berbuat sekehendak hatinya lebih lama lagi. Tetapi sudah tentu aku

tidak akan berselisih dengan siapapun tanpa sebab”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia berkata ”Terima kasih.

Aku percaya kepadamu”

Keduanyapun kemudian berpisah. Pamot sudah menjadi agak lega, bahwa ia

sudah berhasil menemukan jalan yang mungkin dapat menghindarkannya dari

bencana. Bukan sekedar bersembunyi dan menunda penyelesaian. Kalau kali

ini ia dan kawan-kawannya berhasil, maka hal itu akan merupakan peringatan

bagi keluarga Manguri”

“Tetapi bagaimana kalau Punta gagal?” desisnya ”Kalau Punta tidak dapat

mengatasi dan mengalahkan orang-orang Manguri, maka mereka akan menjadi

semakin besar kepala”

Kembali keragu-raguan membayang di hati Pamot. Namun meskipun demikian

ia tidak lagi terombang-ambing dalam keadaan yang tidak menentu. Kalah atau

menang, entahlah. Tetapi kalau ia tidak seorang diri, maka persoalannya akan.

Manguri tidak lain akan dapat berbuat terlampau banyak terhadap beberapa

orang sekaligus.

Ketika ia memasuki halaman rumahnya, matahari sudah menjenguk dari balik

perbukitan. Kakeknya sudah mulai menyapu halaman dan ibunya sudah sibuk

menuang air panas ke dalam mangkuk. Ketika mereka melihat Pamot pulang,

dengan serta merta merekapun segera menyongsongnya.

“Bagaimana dengan kau Pamot?” bertanya kakeknya.

“Lamat berkata sebenarnya, kakek. Tidak ada apa-apa yang terjadi atasku”

“Tetapi kenapa kau jauh terlambat pulang? Apakah kau tidak bertemu dengan

ayahmu”

“Ketika ayah sampai ke gubug, aku masih ada disana. Agaknya aku tertidur

semalam“

“Hem” kakeknya menarik nafas dalam-dalam ”dalam keadaan serupa itu kau

masih juga dapat tidur. Bukan main. Kamilah yang semalam selalu gelisah.

Kalau aku tahu, akulah yang menyusul kau ke sawah. Aku ikat kaki dan

tanganmu dengan tiang-tiang gubug”

Pamot tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum di dalam hati. Namun dengan

demikian ia kini menyadari, bahwa seluruh keluarga telah ikut menjadi gelisah

karena pokalnya. Ayahnya, ibunya dan kakeknya yang sudah tua itupun

mencemaskannya. Bahkan semalam suntuk mereka sama sekali tidak tertidur.

“Aku telah membuat mereka selalu gelisah” katanya di dalam hati.

Tetapi sudah tentu Pamot tidak dapat berbuat lain. Ia masih tetap merasa

sebagai seorang anak laki-laki yang tidak boleh melarikan diri dari kesulitan.

“Minumlah” berkata ibunya kemudian.

Pamotpun kemudian masuk keruang dalam dan duduk di atas sebuah amben

besar. Sambil menyeka keringat dinginnya yang mengalir karena berbagai

masalah yang bergejolak di dalam dadanya, ia melepaskan ikat kepalanya.

Kemudian menggantungkannya pada dinding di sebelah pintu masuk ke dalam

bilik kiri. Sambil bertelekan pada lambungnya ia menggeliat.

“Kalau kau akan mencuci muka, pergilah kesumur lebih dahulu” berkata ibunya.

“Baik bu” jawab Pamot sambil mengangguk. Ibunya ternyata begitu banyak

menaruh perhatian kepadanya. Hal itu sudah berjalan bertahun-tahun sejak ia

masih kanak-kanak masih bayi dan bahkan sejak di dalam kandungan. Tetapi

dalam keadaan yang demikian, kecemasan seorang ibu menjadi semakin

terasa. Bahkan mungkin kegelisahan ibunya melampaui kegelisahannya

sendiri.

Pamotpun kemudian pergi kesumur membersihkan dirinya. Ia tidak melupakan

tanaman sirihnya. Disiramnya batang-batang sirih itu dengan beberapa timba

air yang dialirkannya lewat sebuah parit kecil.

Setelah minum beberapa teguk air hangat, Pamot tidak melewatkan tugastugasnya

di rumah. Membersihkan kebun belakang, kandang kerbau dan

mengisi tempat air di dapur.

“Beristirahatlah” berkata ibunya ”kau tentu lelah”

Pamot mengerutkan keningnya. Setiap malam ia pergi ke sawah. Setiap malam

ia melakukan pekerjaan serupa, bahkan kadang-kadang ia sama sekali tidak

tidur menunggui air. Di pagi harinya kerja yang itu-itu juga yang dilakukannya.

Bahkan kadang-kadang membelah kayu. Tetapi kini tiba-tiba ibunya

menyusurnya beristirahat.

Karena itu, maka Jawabnya ”Aku tidak lelah ibu”

Ibunya tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah anaknya. Wajah itu sama

sekali tidak membayangkan kecemasan, kegelisahan dan kelelahan, karena

Pamot memang berusaha untuk menyembunyikannya di hadapan ibunya.

“Ibulah yang agaknya lelah” berkata Pamot kemudian ”bukankah aku sudah

biasa melakukan pekerjaan ini. Bahkan semakin aku dapat tidur di atas gubug”

Ibunya menjadi heran pula. Kenapa tiba-tiba ia menganggap anaknya menjadi

terlampau sibuk dan banyak sekali membuang tenaga.

“Pamot benar” katanya di dalam hati ”Aku sendirilah yang kebetulan lelah

sekali. Lelah, gelisah, dan cemas”

Hari itu Pamot sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang aneh. Ia

melakukan pekerjaannya sehari-hari seperti biasanya. Di siang hari ia masih

juga pergi ke pategalan membawa sebuah kapak untuk mencari kayu bakar.

Tetapi tidak setahu keluarganya, ketika ia pulang dari pategalan ia memerlukan

singgah juga ke rumah Punta.

“Bagaimana Punta?” bertanya Pamot”

“Darimana kau?” bertanya Punta pula.

”Dari pategalan”

“Jangan cemas. Aku sudah berusaha. Mudah-mudahan usahaku berhasil”

“Terima kasih”

“Aku akan berada di tempat yang baik. Aku akan datang jauh sebelum saat

yang kita duga itu”

“Terima kasih”

Pamot merasa menjadi semakin ringan. Beban yang menghimpit jantungnya

telah tersalurkan untuk sebagian, sehingga dadanya tidak lagi terasa seakanakan

pepat.

Ketika ia sampai di rumah, ayahnya telah berada di rumah pula. Sejenak

kemudian merekapun makan bersama-sama. Dan sudah tentu pula mereka

berbicara tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Pamot, malam nanti”

“Aku sudah menghubungi kawanku” berkata Pamot.

“Siapa?”

“Punta”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, Katanya ”Anak baik. Aku percaya

kepadanya, meskipun keadaannya tidak lebih dari keadaan keluarga kita”

Kakeknyapun mengangguk-anggukkan pula. Katanya ”’Mudah-mudahan ia

dapat menolongmu”

Semakin sore, ibu Pamot menjadi semakin gelisah. Meskipun Pamot sendiri

dan ayahnya masih juga pergi ke sawah. Berbagai macam bayangan hilir mudik

di kepalanya. Kalau terjadi sesuatu atas anaknya, maka hatinya pasti akan

hancur seperti mangkuk yang terjatuh di atas batu pualam.

“Kakek” berkata Pamot kepada kakeknya, ketika kakeknya berada di halaman

belakang tanpa ada orang lain ”apakah malam nanti aku juga tidak boleh

bersenjata?”

Kakeknya mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia berdesis ”Pamot,

malam nanti kau akan menghadapi orang orang yang lain dari Manguri sendiri.

Mereka adalah orang-orang upahan yang tidak mempergunakan nalar sama

sekali”

Pamot mengangguk-angguk.

“Mereka hanya sekedar menjalankan perintah Manguri. Bukankah mereka

diperintahkan menangkap kau hidup-hidup dan membawa ke rumah Manguri?”

“Ya”

Mereka tidak akan mempergunakan senjata yang akan dapat membahayakan

nyawamu”

“Ya, tetapi aku sendiri bagaimana? Apakah aku boleh membawa senjata atau

tidak?”

Sekali lagi kakek itu merenung sambil mengerutkan keningnya. Sejenak

kemudian ia menjawab ”Baiklah. Orang-orang yang akan kau hadapi adalah

orang-orang liar. Mereka tidak mau gagal, sehingga mereka kehilangan upah

yang sudah dijanjikan”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tahu benar maksud katakata

kakeknya. Orang-orang itu menggantungkan hasil kerjanya pada usaha

mereka menangkap Pamot. Kalau mereka berhasil, mereka akan mendapat

upah, kalau tidak, mereka tidak akan mendapat apa-apa. Jadi dengan

demikian, tujuan mereka hanyalah menangkap Pamot, tanpa menghiraukan

apapun juga.

“Maka dari itu, kau harus benar-benar siap menghadapi keadaan” berkata

kakeknya pula ”apakah Punta sudah benar benar dapat kau percaya?”

“Aku percaya kek”

“Dimana mereka akan menunggu kau?”

“Mereka tidak menyebutkannya. Tetapi mereka akan datang jatuh sebelum

saat-saat yang aku duga itu tiba, tengah malam”

“Bagus” berkata kakeknya ”sekarang beristirahatlah. Sebentar lagi hari akan

gelap. Kau harus bersiap-siap untuk pergi. Ibumu pasti tidak akan dapat tidur

semalam suntuk”

Pamot menganggukkan kepalanya.

Maka sejenak kemudian Pamotpun segera pergi ke sumur. Setelah

membersihkan diri, sebagaimana biasa setelah matahari terbenam, merekapun

duduk di atas amben yang besar di ruang tengah mengitari makan malam.

Tetapi tidak seorangpun yang dapat makan dengan enaknya. Semuanya sudah

mulai dibayangi oleh kegelisahan tentang keadaan Pamot pada malam yang

sudah mulai meraba pedukuhan Gemulung itu.

Namun dengan demikian, mereka justru tidak terlampau banyak berbicara

seperti biasanya. Pamot menyuapi mulutnya sambil menunduk. Ibunya hampir

tidak menelan nasi sama sekali, sedang ayah dan kakeknya hanya berbicara

satu-satu. Dan pembicaraan mereka itupun berkisar pada keadaan Pamot,

Manguri, Punta dan Lamat.

“Kau memang harus berhati-hati Pamot” desis kakeknya kemudian. Sedang

ayahnya menyambung ”Kalau Punta salah hitung, maka keadaan akan sangat

berlainan. Dalam keadaan yang demikian, kau jangan terlampau membiarkan

hatimu berbicara, tetapi otakmu”

“Baik ayah”

“Nah, sekarang kau masih mempunyai waktu untuk beristirahat atau melakukan

apa-apa yang perlu buatmu”

“Aku akan berangkat agak awal ayah. Mungkin aku memerlukan sesuatu”

“Bagaimana dengan Punta?“ kakeknya masih mencoba menegaskan.

“Ia akan datang lebih awal juga”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Kalau hal itu

kau anggap menguntungkan, maka terserahlah kepadamu”

“Baiklah ayah” jawab Pamot “aku akan dapat melihat keadaan sebelumnya ”

Pamotpun kemudian mempersiapkan dirinya, meskipun hatinya juga dirayapi

oleh kegelisahan. Ia masih juga cemas, bagaimana kalau Punta tidak dapat

memenuhi janjinya.

Tetapi ia memang keras hati. Ia tidak mau surut selangkah. Apapun yang akan

terjadi, harus dihadapinya.

Malam itu Pamot berangkat jauh sebelum waktu yang biasa dilakukannya. Ia

berjalan berkerudung kain panjangnya untuk menyembunyikan sarung

parangnya yang mencuat di lambung kirinya.

“He, kemana kau Pamot?” bertanya seorang kawannya, seorang anak muda

yang bertubuh tinggi tegap.

“Melihat air di sawah” jawab Pamot.

“Masih terlalu sore. Marilah kita duduk-duduk di gardu”

“Terima kasih. Nanti, setelah aku pulang dari sawah, aku akan duduk-duduk di

gardu”

“Ah kau” berkata anak muda itu ”Kenapa tergesa-gesa?“

“Sore tadi aku tidak pergi ke sawah. Sekarang aku harus menengoknya ”

“Aku melihat kau pergi dengan ayahmu”

Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia bergumam “O, ya. Aku

lupa. Tetapi sekarang aku perlu sekali”

Kawannya tidak segera menjawab. Dan Pamotpun terdiam sejenak. Ia menjadi

ragu-ragu. Anak muda yang bertubuh tinggi tegap itu adalah kawannya bermain

sejak kecil. Kawan yang baik. Kalau ia memberitahukan kesulitannya, maka ia

pasti akan membantunya seperti Punta.

“Tetapi aku sudah menyerahkan semua persoalan kepada Punta” berkata

Pamot di dalam hatinya “kalau aku masih menghubungi orang lain, maka aku

akan dianggapnya kurang mempercayainya. Akupun, menurut pendapatku,

sudah tidak keliru lagi, karena Punta adalah tetua, meskipun tidak resmi, dari

anak-anak muda gemulung yang setiap kali ikut pergi ke Kademangan

termasuk anak ini”

“Maaf” Pamot kemudian berkata “lain kali kita bermain-main. Sekarang aku

takut ayah marah”

Pamot menjadi heran ketika ia melihat anak muda yang bertubuh tinggi itu

tertawa “Kau Pamot. Ada-ada saja yang kau lakukan”

“Kenapa?“ Pamot menjadi heran.

Tiba-tiba saja, tanpa di sangka-sangka anak muda itu meraba lambung Pamot,

sehingga Pamot terkejut.

“Apa yang kau bawa itu? Parang? Golok?“

“Hus” Pamot berdesis.

“Aku sudah curiga. Biasanya kau membawa sabit atau cangkul atau kapak.

Tetapi sekarang kau membawa parang di dalam sarungnya. Kenapa?“

Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab “Aku memang

sering membawa parang, sejak babi hutan itu mengganggu tanaman. Bahkan

akhir-akhir ini aku mendengar ada seekor harimau yang berkeliaran di daerah

persawahan”

Tetapi Pamot menjadi semakin heran ketika kawannya itu tertawa semakin

keras. Katanya “Baik, baik. Pergilah. Sebentar lagi aku juga akan pergi ke

sekitar sawahmu”

“Kenapa?“ dada Pamot berdesir. Tetapi anak itu masih saja tertawa.

“Kenapa?“ Pamot mendesak.

Akhirnya anak muda itu berkata “Jangan gelisah. Aku tahu semua persoalan

yang sedang kau hadapi. Bukankah kau akan berkelahi? Kau sudah bersiaga

dengan senjata itu”

“Kau mimpi” jawab Pamot.

“Punta sudah menemui aku. Bukankah kau harus menghadapi lima orang

bayaran yang akan dikirim oleh Manguri?“

Wajah Pamot menjadi tegang. Tetapi anak muda itu masih tertawa juga ”Aku

adalah salah seorang dari kawan-kawan kita yang akan pergi bersama Punta”

Kini Pamot menarik nafas dalam. Sambil memukul lengan kawannya yang

tinggi besar itu ia berdesis “Kau membuat aku hampir gila” katanya “terima

kasih. Mudah-mudahan kita berhasil”

“Aku memang sudah muak pula melihat tingkah laku Manguri. Kadang-kadang

aku memang menunggu, kapan aku mendapat kesempatan serupa ini tanpa

memulainya. Kini kita tidak akan dapat dipersalahkan oleh siapapun, karena

kita memang membela diri. Setidak-tidaknya kau sedang membela dirimu”

“Terima kasih. Aku memang mengharap bantuan kalian. Aku tidak dapat

melawannya seorang diri. Manguri mempunyai uang untuk melakukan apa saja.

Tetapi aku mempunyai kawan”

Anak yang tinggi tegap itu masih saja tertawa “Pergilah. Aku akan menyusul

kelak”

Pamotpun segera melanjutkan perjalanannya. Kini hatinya menjadi semakin

tenteram. Setidak-tidaknya ia sudah mempunyai dua orang kawan. Yang tinggi

tegap itu beserta Punta sendiri. Bertiga dengan dirinya sendiri.

“Kalau mereka benar-benar hanya berlima, maka tiga dari kami sudah cukup

untuk menghadapinya” desis Pamot di dalam hatinya. Namun kemudian “Tetapi

aku belum tahu, siapakah yang lima itu?“

Di sepanjang jalan Pamot selalu membayangkan apa yang kira-kira bakal

terjadi. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi gemericik air di parit, di bawah

kakinya. Batang-batang jagung muda yang hijau dan kunang-kunang yang

bertebaran seakan-akan tidak tampak di matanya.

Tetapi Pamot menarik nafas dalam-dalam ketika terasa angin yang silir

mengusap wajahnya yang berkeringat.

“Hem” Pamot menarik nafas sekali lagi dan sekali lagi, seakan-akan akan di

hirupnya udara malam di seluruh padang.

Sebenarnya Pamot sama sekali tidak menghendaki hal-hal yang dapat

mengguncangkan ketenteraman hidup rakyat Gemulung. Tetapi apabila tidak

ada sikap apapun, maka yang sudah berjalan itu akan berjalan terus tanpa

batas. Khususnya di lingkungan anak-anak muda dan gadis-gadis. Perbuatan

Manguri benar-benar tidak dapat dibiarkannya.

“Tetapi apakah aku sudah bertindak tepat” bertanya Pamot kepada diri sendiri

“Aku seolah-olah sekedar menuruti perasaan. Kawan-kawan akan terlibat

dalam bentrokan karena hubunganku dengan Sindangsari. Kalau hal itu yang

akan dijadikan sumber dari benturan ini, maka akulah yang telah menyeret

kawan-kawan itu ke dalam kesulitan. Apalagi apabila di antaranya ada yang

cidera”

Pamot justru menjadi termangu-mangu.

“Tetapi semuanya sudah terlanjur, “untuk menenteramkan hatinya Pamotpun

berkata kepada diri sendiri “mereka tidak sekedar membantuku. Tetapi mereka

memang berpendirian, bahwa kelakuan Manguri itu sudah tidak pantas lagi”

Pamotpun kemudian menaiki gubugnya jauh sebelum masanya, seperti yang

dilakukannya sehari-hari. Tetapi dengan demikian ia masih sempat mengatur

getar di dadanya. Dari atas gubugnya ia mencoba melihat-lihat berkeliling.

Tetapi ia tidak melihat sesuatu, selain hitamnya malam dan daun-daun yang

hijau gelap menjorok ke dalam kelam.

Tanpa sesadarnya Pamot meraba-raba hulu parangnya. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata kepada diri sendiri “Aku tidak memulainya”

Sementara itu, agak jauh dari padukuhan Gemulung, di bawah sebatang pohon

nyamplung yang besar dan rimbun, beberapa orang sedang duduk sambil

berkelakar. Di antara mereka terdapat Manguri dikawani oleh Lamat.

“Sebentar lagi kalian harus berangkat ke gubug itu” berkata Manguri ”biasanya

hampir tengah malam ia baru datang, Jangan terlalu banyak menimbulkan

kegaduhan, karena kadang-kadang ada juga orang lain yang berkeliaran di

sepanjang pematang menyusur air. Kalian harus bertindak cepat, dan

membawa anak itu malam ini juga ke rumah. Ia harus benar-benar jera. Bukan

saja tidak lagi mengganggu gadis itu, tetapi ia tidak boleh membuka mulutnya

kalau ia ingin selamat”

Orang-orang yang duduk di bawah pohon nyamplung itu mengangguk-angguk.

Salah seorang menjawab “Kau masih saja ragu-ragu. Seharusnya kau sudah

mengenal kami dengan baik”

Manguri menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Di dalam setiap persoalan

yang baru, aku harus menganggapnya kalian orang-orang baru. Persoalan kita

bukan sekedar persoalan yang dapat diselesaikan dengan kebiasaan, karena

kerja yang kita hadapipun bukan masalah kebiasaan pula. Orang-orang yang

kau hadapi adalah orang-orang yang berbeda-beda yang kadang-kadang kau

belum tahu, sampai dimana kemampuannya”

“Meskipun seandainya anak itu dapat menangkap angin, kami tidak akan gagal”

Manguri mengangguk-anggukan kepalanya “Mudah-mudahan”

“Nah, kapan kami harus berangkat?“

“Kau dapat saja berangkat sekarang. Tetapi awas jangan sampai seorangpun

yang mengetahui kehadiran kalian. Kalian akan tampak sebagai orang-orang

asing di padukuhan ini. Kecurigaan yang dapat timbul pasti akan mengganggu

pekerjaanmu”

“Baiklah. Kami akan berangkat saja sekarang. Kamu sudah tahu benar letak

gubug yang kau katakan.

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia

berpalingkepada Lamat sambil berkata “Apakah kalian memerlukan seorang

penunjuk jalan?“

Orang-orang upahan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Merekapun memandang

Lamat dengan wajah bertanya-tanya.

Sementara itu, dada Lamat menjadi berdebar-debar. Kalau ia langsung

dilibatkan ke dalam masalah yang rumit ini, ia pasti tidak akan dapat

menghindar lagi. Bersama-sama dengan kelima orang itu ia tidak akan dapat

berpura-pura. Ia harus ikut bersama mereka menangkap Pamot dan

membawanya ke rumah Manguri.

Tetapi setitik embun serasa jatuh ke dinding jantungnya ketika ia mendengar

salah seorang dari kelima orang itu berkata “Tidak perlu. Kehadirannya akan

mengurangi nilai kerja kami. Seakan-akan tanpa orang lain kami tidak mampu

menyelesaikannya, sehingga tidak akan ada alasan bagimu untuk memotong

upah yang sudah kau janjikan”

“Gila” Manguri berdesis “kau kira aku berpikir sampai kesana?“

Kelima orang itu tertawa ”Jangan tersinggung” berkata salah seorang dari

mereka ”kami pernah mengalami hal serupa itu”

“Tetapi bukan aku”

“Ya, bukan kau”

“Baik. Lamat tidak akan menyertai kalian. Tetapi ingat, jangan gagal”

Sekali lagi kelima orang itu tertawa hampir berbareng. Salah seorang dari

mereka menjawab “Kau tampaknya kurang percaya kepada kami”

Manguri tidak menjawab. Dicobanya mengamati kelima orang itu satu demi

satu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hati

“Mereka sudah terlampau biasa melakukan pekerjaan ini. Mudah-mudahan

mereka berhasil”

Sejenak kemudian maka kelima orang itupun minta diri. Mereka berjalan

menyusur jalan kecil di pinggir parit sebelum meloncat ke sebuah pematang.

“Lamat” desis Manguri “apakah kau dapat mempercayai mereka, bahwa

mereka akan berhasil?

“Sudah tentu” sahut Lamat.

“Bohong” tiba-tiba Manguri membentak ”jawab yang sebenarnya. Apakah

kelima orang itu lebih kuat dari kau seorang diri menghadapi Pamot”

Bab 2 : Gerombolan Sura Sapi

“Ya, ya“ Lamat tergagap “aku kira mereka

pasti lebih kuat daripada aku seorang diri.

Mereka dapat menghadapi lawannya

yang hanya seorang itu dari lima arah

yang akan sangat membingungkan”

Manguri mengangguk-anggukkan

kepalanya. Katanya “Kalau kau tidak

terlampau dungu, aku tidak perlu

mempergunakan orang-orang semacam

monyet-monyet itu. Seharusnya kau dapat

memutar leher Pamot. tetapi kau gagal.

Mudah-mudahan orang-orang itu tidak

gagal”

Lamat tidak menjawab. Wajahnya yang

keras seolah-olah tambah mengeras

seperti sebongkah batu asahan. Namun

terasa goresan-goresan yang pedih pada

dinding hatinya yang lunak. Perlahanlahan

kepalanya menunduk-meskipun ia

masih tetap berdiri tegak di atas kakinya

yang renggang.

Manguri masih berdiri di tempatnya, memandang ke arah kelima orang

upahannya itu menghilang di balik tanaman. Terbayang orang-orang yang

kasar dan kuat itu mengepung Pamot yang ketakutan.

“Huh” tiba-tiba ia bergumam “salahnya sendiri. Kalau ia tidak membuat

persoalan dengan Manguri, maka tidak akan terjadi bencana baginya”

Lamat mengangkat wajahnya. Di pandanginya saja Manguri yang masih berdiri

tegak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lamat” katanya “bagaimana, seandainya kau seorang diri harus berkelahi

melawan kelimanya? Apakah kau akan mampu mengalahkannya?“

Dada Lamatp align=”left”p align=”left”p align=”left” menjadi berdebar-debar kembali. Ia tidak tahu maksud itu. Apakah

sesudah mereka menangkap Pamot, kemudian ia harus mengusir kelima orang

itu?

“He, apakah kau sudah mati?“ bentak Manguri “kenapa kau diam saja?“

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya “Aku belum dapat

mengatakan. Aku belum mengetahui, sampai dimana kemampuan mereka

seorang demi seorang.

“Tetapi apakah kau berani melawan mereka berlima?

“Aku tidak pernah takut terhadap apapun dan siapapun. Tetapi aku tidak dapat

mengatakan, apakah aku akan dapat memenangkan perkelahian itu?“

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Kau memang berani.

Tetapi kau terlampau bodoh. Kau tidak dapat menangkap Pamot, meskipun kau

dapat menyakitinya”

Sekali lagi Lamat menarik nafas. Sudah lebih dari seribu kali Manguri

menyebutnya sebagai seorang yang bodoh karena tidak dapat menangkap

Pamot. Untunglah tidak tersengaja, Pamot telah membentur batu, sehingga

wajahnya menjadi bengkak dan biru pengab. Kalau Manguri tidak melihat

bengkak itu, maka ia akan mengumpatinya setiap saat.

“Marilah kita pulang. Aku mengharap kelimanya berhasil. Menilik badan mereka

yang kekar. Wajah mereka yang keras dan bengis. Mata yang menyala seperti

mata kucing. Dan nafsu yang tidak terkendalikan untuk mendapatkan uang”

Manguri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian “yang bertubuh jangkung

meskipun agak kurus itu memiliki sepasang mata seperti mata setan. Sedang

yang berjambang lebat dan berkumis jarang itu bagaikan serigala yang

kelaparan” Manguri tertawa berkepanjangan. Sambil mengayunkan kakinya ia

berkata di sela-sela tertawanya “Aku akan melihat, bagaimana Pamot menjadi

ketakutan. Aku akan membuatnya jera. Sebenarnya jera” Dan suara tertawa

Manguri melengking di sepinya malam, di tengah-tengah bulak yang sunyi.

Keduanyapun kemudian berjalan semakin lama semakin cepat, pulang ke

rumah Manguri. Di sudut desa mereka melihat beberapa orang anak-anak

muda yang meronda. Salah seorang dari anak muda itu menyapanya “Siapa

he?“

“Buka matamu” jawab Manguri “aku Manguri bersama Lamat”

Anak muda yang bertanya itu serasa tersentuh api di ujung telinganya. Tiba-tiba

saja ia meloncat turun dari gardu. Namun ketika terpandang wajah Lamat yang

kasar, dan matanya yang serasa akan menelannya, anak muda itu menahan

dirinya.

“Darimana kau Manguri?” bertanya anak muda itu.

“Itu urusanku”

“Biasanya kau tidak sekasar itu” berkata anak muda yang berada di gardu.

Kawan-kawannyapun satu persatu turun dan berdiri berjajar di muka gardu.

Empat orang.

Manguri tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba terbersit di hatinya,

kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan. Kini ia sedang

menghadapi Pamot, yang jauh lebih dekat pada anak-anak muda itu

daripadanya sendiri.

Karena itu, maka iapun kemudian menjawab “aku tergesa-gesa. Maaf mungkin

aku terlampau kasar”

Anak-anak muda yang berdiri di muka gardu itu menarik nafas.

“Aku akan pulang”

Tidak seorangpun yang menjawab. Dan tiba-tiba Manguri bertanya “He, apakah

kalian sudah mendapat minum dan makanan?“

Anak-anak muda yang sedang meronda itu saling berpandangan sesaat. Salah

seorang dari mereka menjawab “Nanti, tengah malam”

“Kenapa kalian tidak beli saja gula kelapa dan ketela pohung? Kemudian

merebus air dan ketela sambil duduk mengelilingi perapian”

Tidak seorangpun yang menjawab.

“Mungkin kalian memerlukan uang” Manguri mengambil beberapa keping uang

dari saku ikat pinggangnya “kalian dapat membelinya”

Anak-anak muda yang sedang berdiri di muka gardu itu menjadi termangumangu.

Namun slah seorang dari mereka menjawab “Terima kasih Manguri.

Tetapi tidak ada penjual gula kelapa dan pohung yang masih ada di malam

begini”

“O“ Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Aku akan

mengirimkan dari rumah”

“Tengah malam kami sudah mendapatkannya ”

“Sebelum tengah malam, agar kalian tidak kedinginan”

Manguri tidak menunggu jawaban anak-anak muda itu. Ia berjalan terus dengan

tergesa-gesa. Di belakangnya Lamat mengayunkan kakinya sambil

menundukkan kepalanya.

Begitu Manguri masuk ke halaman rumahnya, langsung ia pergi ke belakang,

membangunkan pembantu rumah tangganya.

“Rebus ketan hitam seberuk”

Lamat mengerutkan keningnya. Di gardu hanya ada empat orang. Betapa besar

perut mereka, namun mereka tidak akan dapat menghabiskan ketan seberuk.

Tetapi ia tidak berkata apapun. Ia duduk saja di muka pintu dapur menunggui

orang-orang yang merebus ketan sambil bersungut-sungut. Ia tahu benar,

bahwa ialah yang nanti harus mengantarkan ketan itu ke gardu.

Sepeninggal Manguri, anak-anak muda yang berada di gardu itupun menjadi

terheran-heran. Sikap Manguri agak terasa asing bagi mereka. Biasanya,

meskipun tidak terlampau baik. Manguri bukanlah orang yang bersikap terlalu

kasar, meskipun anak-anak muda itu mengetahui, bahwa wataknya terlampau

sombong. Tetapi ia tidak juga akan seramah malam itu. Menyediakan uang

untuk membeli pohung dan gula kelapa.

“Biasanya hanya gadis-gadislah yang sering diberinya uang disiang hari untuk

membeli rujak nanas, atau rujak degan” desis salah seorang dari mereka.

“Aneh” berkata yang lain ”pasti pada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Mungkin ia tergila-gila kepada seorang gadis, dan malam ini baru saja pergi

melamarnya.

Kawannya tersenyum. Katanya ”Anak itu sedang tergila-gila kepada

Sindangsari. Bukankah ia pernah berkelahi melawan Pamot karena ia

mencegat Sindangsari di sawah dan kebetulan Pamot melihatnya”

“Itu hanya karena salah paham” berkata yang lain, yang seakan-akan

mengetahui persoalannya dengan pasti.

Tetapi pembicaraan itu terhenti, ketika hampir tengah malam, Lamat datang

dengan ketan yang masih hangat. Beberapa tangkep gula kelapa dan

sebungkus kelapa parut.

“Aku disuruh Manguri menyampaikan ini kepada kalian” suara Lamat dalam dan

datar.

Sekali lagi anak-anak muda yang sedang bertugas ronda itu saling

berpandangan.

“Terimalah. Tidak ada apa-apanya ”

Salah seorang dari para peronda itu menerimanya sambil berkata ”Terima

kasih”

“Kalian akan menjadi hangat. Kemudian kalian akan dapat tidur dengan

nyenyak”

“Kami sedang ronda. Kami tidak akan tidur”

“Manguri berpesan, agar kalian makan ketan itu dan menghabiskannya”

”Terima kasih”

Lamatpun kemudian meninggalkan gardu itu dengan langkah yang lamban.

Keempat anak-anak muda yang berada di gardu itu memandanginya dengan

mata yang hampir tidak berkedip.

“Hantu yang menakutkan” desis salah seorang dari mereka ”kalau tanganmu

dapat diremasnya, maka tulang-tulangmu pasti akan remuk. Selain bertubuh

raksasa, ia memang mempunyai tenaga raksasa”

“Ia merupakan pengawal yang sangat patuh kepada Manguri. Apapun yang

dikatakannya. Bahkan kadang-kadang ia di bentak-bentaknya”

Anak-anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian

merekapun segera membuka bungkusan ketan ireng, kelapa parut dengan

sedikit garam dan gula kelapa. Dengan lahapnya mereka makan kiriman itu,

tanpa menghiraukan lagi apa yang telah terjadi di bagian-bagian lain dari

padukuhannya.

Menjelang tengah malam, di tengah-tengah sawahnya Pamot menjadi gelisah.

Ia tidak melihat seorangpun di sekitarnya. Ia tidak melihat Punta, tetapi juga

tidak melihat orang-orang Manguri yang lima.

Dengan dada yang berdebar-debar Pamot turun dari gubugnya. Ia lebih merasa

aman di bawah daripada di atas. Di bawah ia banyak mendapat kesempatan,

kalau perlu untuk bekejar-kejaran. Kalau lawannya lebih banyak jumlahnya,

maka bekejar-kejaran adalah permainan yang mengasikkan.

Dengan dada berdebar-debar Pamot berdiri tegak bersandar tiang gubugnya.

Tangannya sudah melekat di hulu parangnya. Setiap saat ia siap untuk

menghadapi setiap kemungkinan.

Tetapi Pamot rasa-rasanya masih dihadapkan pada suatu teka-teki. Apakah

yang dikatakan Lamat seluruhnya benar, atau seandainya benar, apakah

Manguri tidak merubah rencananya? Seandainya tidak, apakah Punta dapat

menepati janjinya?.

Teka-teki itu telah membuat Pamot menjadi semakin gelisah. Dadanya serasa

sesak oleh bayangan-bayangan yang tidak menentu. Ingin rasanya ia berteriak

sekuat-kuatnya untuk melepaskan himpitan di dalam dadanya yang sudah

hampir tidak tertahankan lagi.

Di rumahnya Manguripun selalu diganggu oleh kegelisahan. Semakin dekat

dengan tengah malam, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ia mengharap

kelima orang suruhannya itu segera menyelesaikan tugasnya dan membawa

Pamot ke lumbung di belakang. Ia akan dapat berbuat apa saja atas anak

muda itu, dan mengancamnya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun.

Di bilik belakang, Lamatpun menjadi gelisah pula. Terbayang kesulitan yang

bakal dialami oleh Pamot, yang menurut penilaiannya pasti tidak bersalah.

Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar apa yang telah terjadi dengan

gadis-gadis yang pernah berhubungan dengan Manguri. Kasar atau halus,

mereka telah terpaksa mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Kemudian

kasar atau halus, mereka harus pergi dengan tuduhan yang hina lari bersama

laki-laki.

Dada Lamat menjadi berdebar-debar semakin keras, seperti juga Manguri dan

Pamot. Ia sadar, bahwa ia telah turut ambil bagian di dalam segala macam

kecurangan yang telah dilakukan oleh Manguri meskipun hanya sekedar

menakut-nakuti.

“Apakah hidupku untuk seterusnya tidak akan mengalami perubahan?“

pertanyaan itu selalu mengganggunya “sampai saat ini aku tidak lebih dari

sesosok hantu yang dapat menakut-nakuti setiap orang di Gemulung”

Tanpa sesadarnya Lamat berjalan hilir mudik di dalam biliknya Pada saat yang

bersamaan Manguripun telah sampai pada puncak kegelisahannya. Di

kejauhan sudah mulai terdengar ayam jantan berkokok untuk yang pertama

kalinya. Tengah malam.

“O, apakah orang-orang sudah mati dicekik hantu” geramnya.

Tetapi tengah malam adalah waktu yang dipilih oleh kelima orang upahan

Manguri itu untuk merayap mendekati gubug Pamot. Pamot sendiri hampir tidak

sabar menunggu, apa yang bakal terjadi atasnya. Seperti Lamat dan Manguri

dibilik masing-masing.

Pamotpun kemudian melangkah beberapa langkah mondar-mandir di bawah

gubugnya dengan penuh kewaspadaan. Ia mendengarkan setiap desir yang

tertangkap oleh telinganya, dan mengamati setiap gerak yang tertangkap oleh

matanya. Tetapi ia masih belum mendengar dan melihat sesuatu.

Tetapi ketika lamat-lamat ia mendengar kokok ayam jantan di padukuhan,

sahut menyahut, maka ia berdesis “Tengah malam. Waktu inilah agaknya yang

telah dipilih oleh Manguri”

Ternyata dugaan Pamot itu tepat. Belum lagi ia mengatupkan bibirnya rapatrapat,

terdengar suara cengkerik yang berderik di sudut sawahnya.

“Kalau benar-benar cengkerik yang berderik itu, maka cengkerik itu adalah

cengkerik raksasa” gumam Pamot ”Cengkerik tidak akan mampu berderik

sekeras itu”

Tetapi cengkerik yang berderik itu memang tidak berusaha untuk

menyembunyikan dirinya. Suara itu hanya sekedar aba-aba untuk memanggil

kawan-kawannya yang lain. Karena sejenak kemudian bermunculan di segenap

penjuru, lima orang yang seakan-akan telah mengepungnya.

Pamot berdiri tegak di tempatnya. Kini ia benar-benar telah menggenggam hulu

pedangnya, meskipun masih belum ditariknya dari sarungnya.

“Kaukah yang bernama Pamot?“ terdengar salah seorang dari mereka

bertanya.

Pamot tidak segera menjawab. Ada niatnya untuk mengelabui orang-orang itu,

dengan mengingkari namanya.

Tetapi itu tidak akan ada gunanya, karena mereka pasti sudah yakin, bahwa

dirinyalah yang bernama Pamot. Manguri pasti sudah berpesan pula, ciri-ciri

tentang dirinya. Karena itu, maka kemudian dengan tabah ia menjawab “Ya,

Aku Pamot. Siapakah kalian?“

“Kami berlima. Masing-masing mempunyai nama sendiri-sendiri. Tetapi aku kira

kami tidak mempunyai waktu untuk menyebutnya satu demi satu. Karena itu,

maka sama sekali tidak ada gunanya kau bertanya tentang nama kami.

Sekarang, menyerahlah. Kami tidak akan berbuat apa-apa”

Pamot mengerutkan keningnya. Kini ia yakin, bahwa Lamat memang berkata

dengan jujur. Ternyata pula, bahwa Lamat bukanlah seorang yang bengis dan

dungu seperti yang terbayang di wajahnya. Di dalam hati, tersirat ucapan terima

kasih Pamot yang tidak ada taranya kepada raksasa yang malang itu. Namun

kemudian, apakah Punta sudah ada disekitar tempat itu pula?.

Karena Pamot tidak segera menjawab, kata-kata orang-orang upahan itu, maka

salah seorang dari kelima orang itu berkata seterusnya “Menyerahlah. Jangan

banyak tingkah. Kami memang benar-benar tidak akan berbuat apa-apa

atasmu. Kami hanya sekedar ingin membawamu kepada seseorang yang

sangat ingin bertemu denganmu”

“Siapa orang itu ?” bertanya Pamot.

“Apakah kau perlu mengetahuinya?“

“Tentu. Baru aku dapat mengambil keputusan apakah aku bersedia atau tidak”

“Jangan begitu. Jangan menentukan pilihan, bersedia atau tidak, karena kami

memang tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk memilih. Kami hanya

sekedar memberitahukan kepadamu, bahwa kami akan membawamu, karena

seseorang memerlukan kau”

Dada Pamot berdesir. Kata-kata itu benar-benar telah menyinggung

perasaannya, sehingga tanpa berpikir lagi ia menjawab “Kau siapa, dan aku

siapa? Apakah ada hakmu untuk memperlakukan aku demikian? Tidak

seorangpun dapat memerintah aku dalam persoalan yang tidak jelas. Ki

Demangpun tidak. Hanya dalam hubungan tugas-tugasku sajalah Ki Demang,

pemimpin pengawal Kademangan, dan tetua anak-anak muda pedukuhan

Gemulung dapat memerintah aku”

Dada Pamot menjadi serasa bengkah ketika ia mendengar beberapa orang dari

kelima orang itu tertawa bersama-sama.

“Benar kata orang, bahwa Pamot adalah anak yang berani. Kau memang luar

biasa, Pamot, tidak seorangpun yang berani berbuat seperti kau terhadap kami

berlima. Memang agaknya kau belum mengenal kami. Karena itu sebaiknya

kau mendengar nama kami. Salah seorang dari kami bernama Sura Sapi. Nah,

karena itu maka gerombolan kami yang lima ini disebut gerombolan Sura Sapi.

Kau sadar sekarang, dengan siapa kau berhadapan?“

Sebuah desir yang tajam terasa seakan-akan membelah jantung Pamot. Yang

di hadapannya itu adalah gerombolan Sura Sapi ”Gila“ ia mengumpat di dalam

hatinya “begitu jauh tindakan Manguri sehingga ia telah menghubung

gerombolan Sura Sapi”

“Apa katamu sekarang?“

Tetapi Pamot bukan seorang yang berhati kecil. Karena itu, maka

dihentakkannya kakinya sambil menggeretakkan gigi. Jawabnya lantang

“Siapapun kau, aku tidak akan menyerah. Aku memang pernah mendengar

nama Sura Sapi. Tetapi kalianpun pasti pernah mendengar nama pengawal

khusus Kademangan Kepandak. Aku adalah salah seorang anggautanya. Tidak

sepantasnya anggauta pengawal khusus Kademangan Kepandak menyerah

kepada gerombolan Sura Sapi”

“Persetan“ ternyata salah seorang dari kelima orang itu, yang bertubuh pendek

dan berjambang tidak sabar lagi. Setapak ia maju sambil berkata “Kenapa kita

terlampau banyak berbicara? Aku sudah muak mendengar kata-katanya.

Marilah kita memberi kesempatan terakhir” Kemudian kepada Pamot ia berkata

“Lemparkan senjatamu, dan ikuti kami”

“Tidak” jawab Pamot tegas.

“Setan alas. Kau mau kami mempergunakan kekerasan”

“Itu urusanmu”

Orang yang pendek itu sudah tidak sabar lagi. Perlahan-lahan ia maju

mendekat. Dalam pada itu kawan-kawannya yang memencar itupun melangkah

maju pula, sehingga kepungan kelima orang itu menjadi semakin lama semakin

sempit.

Pamot memang menjadi gelisah. Tetapi ia sudah bertekad, dengan atau tidak

dengan orang lain, ia akan melawan. Melawan sekuat-kuatnya.

Dengan demikian maka suasanapun meningkat semakin lama semakin tegang,

seperti wajah-wajah yang terpaku pada tubuh Pamot yang berdiri tegak seperti

patung di bawah gubugnya.

Tetapi Pamot telah bertekad bulat. Bahkan ia sudah tidak dapat menimbangnimbang

lagi seperti yang dikatakan kakeknya. Dengan serta-merta ia menarik

parangnya sambil menggeram “Kalian hanya akan menemukan mayatku.

Bawalah mayatku kemana kalian kehendaki”

“Kau memang bodoh” sahut yang jangkung agak kekurus-kursan “sebenarnya

kau tidak perlu melakukan hal itu”

Pamot tidak menyahut. Tetapi hatinya berguncang ketika ia melihat orangorang

itupun mulai mencabut senjatanya masing-masing.

“Benar kata kakek” desis Pamot. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Kini ia

berhadapan dengan lima orang yang bersenjata pula.

“Tugas kami menangkap kau hidup-hidup” berkata orang yang jangkung itu

”tetapi kalau kau menghina kami, persoalannya jadi lain. Persoalannya adalah

kami akan tetap mempertahankan kehormatan nama gerombolan. Sura Sapi

tidak pernah gagal. Kegagalan yang paling jauh kami alami adalah, karena

kami tidak berhasil menangkap seseorang hidup-hidup. Tetapi itu adalah

salahnya sendiri, seperti kau sekarang”

Pamot tetap berdiri di tempatnya. Namun wajahnya semakin lama menjadi

semakin tegang.

Ketika mereka telah berada di puncak ketegangan yang hampir meledak itu,

tiba-tiba mereka dikejutkan oleh langkah seseorang menyelusuri pematang.

Seseorang berjalan dengan cangkul di pundaknya. Seperti tidak terjadi sesuatu

orang itu berhenti sambil berkata “He, Pamot, apakah kau ada disitu?“

Dada Pamot yang hampir meledak tiba-tiba serasa terpecik air embun. Ia

mengenal suara itu. Suara Punta.

Tetapi kehadiran seseorang itu telah semakin menegangkan urat syaraf dari

kelima orang yang menyebut dirinya gerombolan Sura Sapi. Tiba-tiba salah

seorang menggeram “Kita terlampau lama berbicara. Marilah kita selesaikan

sebelum orang yang lain datang”

“Bagaimana dengan orang itu?“

“Terpaksa, kita harus berbuat sesuatu. Biarlah ia pingsan dan tidak mengetahui

apa yang terjadi”

Orang yang pendek tidak lagi menunggu perintah. Segera ia meloncat ke arah

bayangan yang berdiri di pematang sambil menyandang cangkul di pundaknya

itu.

“Tidurlah anak muda” berkata orang yang pendek itu sambil mengayunkan

sarung pedangnya ke arah tengkuk Punta.

Tetapi orang yang pendek itu terkejut. Terasa sarung pedangnya membentur

sesuatu. Tangkai pacul.

“Maaf” berkata Punta “aku masih mempunyai banyak pekerjaan, sehingga aku

masih belum berhasrat untuk tidur”

“Persetan” desis orang yang pendek itu. Kini ia tidak lagi mempergunakan

sarung pedangnya, tetapi pedangnyalah yang sudah mulai bergetar.

“Marilah kita selesaikan bersama-sama” katanya kepada keempat kawannya.

Tetapi sekali lagi orang-orang itu terganggu. Tiba-tiba saja mereka mendengar

suara tertawa di balik batang-batang jagung muda.

Sejenak orang-orang yang ada di ladang Pamot itu seakan-akan membeku.

Dan suara tertawa di belakang tanaman jagung muda itu menjadi semakin

jelas.

“Kau curang” tiba-tiba terdengar suatu suara “kau bersembunyi disitu”

“Apa pedulimu” jawab yang lain “aku boleh bersembunyi dimana saja. Sekarang

kau harus membayar taruhan itu. Kau menemukan aku sudah lewat tengah

malam”

“Belum” sahut yang lain.

“Sudah. Aku sudah mendengar ayam jantan berkokok. Dan bintang gubug

penceng sudah tegak di selatan”

“Baiklah. Aku akan minta barang taruhan itu kepada Pamot”

Suara itu berhenti sejenak. Namun tiba-tiba salah seorang dari kelima orang

upahan itu berkata lantang “Setan alas. Jangan memperbodoh kami. Sekarang

aku tahu, bahwa kalian memang sudah menunggu kedatangan kami. Ini suatu

kebodohan. Apakah Manguri yang bodoh, atau ia memang sengaja

menjerumuskan kami. Tetapi mungkin juga kamilah yang bodoh, sehingga satu

dua orang melihat jejak atau bayangan kami. Tetapi itu kami tidak akan peduli

lagi. Kami sudah siap berkelahi. Gerombolan Sura Sapi tidak pernah kalah.

Disini kami mungkin akan terpaksa membunuh”

Pamot, Punta dan dua orang lainnya yang muncul dari balik tanaman jagung

kini berdiri tegak sambil memandang lawan-lawan mereka yang terpencar.

Kemudian terdengar lagi seseorang yang menguap keras-keras, dan muncullah

seorang anak muda yang tinggi besar. Ialah yang bertemu dengan Pamot

ketika ia berangkat ke sawah. Tetapi agaknya Punta tidak mau bermain-main

menghadapi orang-orang upahan, sehingga masih ada dua orang lagi yang

datang ke sawah Pamot itu. Semuanya ada enam orang, dan ditambah Pamot

sendiri”

“Kita sudah lengkap” berkata Punta kemudian.

“Kenapa kalian turut campur” bertanya orang yang jangkung.

“Sebagian dari kami adalah pengawal khusus Kademangan Kepandak. Adalah

tugas kami untuk mencegah tindakan sewenang-wenang”

Orang-orang upahan itu menggeram. Salah seorang yang berjambang berkata

“Anak-anak yang malang. Jangan merasa diri kalian terlampau kuat, hanya

karena kalian menjadi pengawal khusus. Tujuh orang pengawal khusus sama

sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kami”

“Jangan menakut-nakuti. Kami dipersiapkan untuk melawan orang-orang asing

di Betawi. Pada suatu saat kami akan berangkat. Menyesal sekali bahwa kami

harus berbenturan dengan saudara-saudara kita sendiri”

“Kalau begitu kenapa hal ini kalian lakukan?“

“Pertanyaan yang aneh” Punta menjawab “aku memang tidak segera

menampakkan diri, karena aku ingin meyakinkan, apakah yang sebenarnya

terjadi. Aku tidak dapat mempercayai begitu saja aduan-aduan yang kurang

kami yakini. Tetapi kini kami melihat sendiri. Kalian telah berbuat sewenangwenang,

meskipun kalian sekedar orang upahan Manguri”

“Kami tidak ingkar. Tetapi kami memerlukan uang itu. Kami tidak dapat hidup

tanpa makan. Dan sekarang, kami sedang mencari makan. Ternyata kalian

telah mengganggu kami, sedang kami tidak pernah mengganggu kalian”

“Jangan memutar balik keadaan” jawab Punta “aku sudah menyaksikan sendiri.

Kau mencari makan dengan mengorbankan orang lain. Kau tidak

mempedulikan nasib orang lain itu. Padahal masih banyak jalan yang terbuka.

Tanah garapan masih luas”

“Kami tidak biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berarti apa-apa

bagi seorang laki-laki jantan” jawab salah seorang dari mereka.

“Bagus” sahut Punta “kamipun sedang melakukan tugas kami sebagai lelaki

jantan. Kami harus memerangi kesewenang-wenangan. Kami harus memerangi

tindak kekerasan seperti yang akan kalian lakukan itu”

Orang-orang yang tergabung dalam gerombolan Sura Sapi itu sama sekali

sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada berkelahi. Anak-anak muda

yang sebagian terdiri dari apa yang mereka sebut pengawal khusus

Kademangan Kepandak itu agaknya memang bersungguh-sungguh. Karena itu,

maka orang yang tertua, yang sebenarnya bernama Sura Sapi itupun segera

berteriak “Hancurkan saja mereka”

“Bagus” sahut Punta “kalian sudah terperosok ke dalam lingkaran setan. Kalau

kalian kalah, kalian akan kami ikat dan kami bawa ke Kademangan. Tetapi

kalau kalian menang, maka Manguri akan segera ditangkap, dan ia akan

dipaksa menemukan kalian. Kalian akan dirampok seperti macan dialun-alun

Mataram”

Tetapi orang-orang itu tidak menyahut lagi. Tiba-tiba saja mereka telah

berloncatan menyerang.

Namun agaknya, anak-anak muda yang sebagian terdiri dari pengawalpengawal

khusus yang memang dipersiakan apabila Mataram memerlukan

sewaktu-waktu itu, sudah benar-benar mempersiapkan dirinya. Karena itu,

maka merekapun segera menanggapi serangan kelima orang-orang upahan

yang tergabung dalam kelompok yang sesat itu.

Sejenak kemudian maka perkelahianpun segera berkobar. Anak muda

Gemulung berjumlah lebih banyak. Tetapi ternyata bahwa orang-orang upahan

itu memang mempunyai kecakapan dan pengalaman lebih banyak dari mereka,

sehingga dengan demikian, maka benturan bersenjata itu menjadi semakin

lama semakin seru.

Namun demikian ternyata anak-anak muda Gemulung itu juga tidak

mengecewakan. Satu dua orang dapat memanfaatkan setiap keadaan. Mereka

yang tidak mempunyai lawan, berusaha untuk mengisi setiap kekurangan.

Bahkan kadang-kadang mereka dapat bertukar tempat dan bertukar lawan.

Kelima orang-orang upahan itu menjadi semakin marah. Mereka tidak

menyangka bahwa anak-anak muda itu telah memiliki kemampuan yang tidak

mereka sangka-sangka. Apalagi Pamot. Meskipun Pamot bukan tetua anakanak

muda Gemulung, namun ia memiliki beberapa kelebihan. Ia kadangkadang

melontarkan unsur-unsur gerak yang sama sekali tidak dimiliki oleh

kawan-kawannya. Sehingga orang-orang upahan yang berpengalaman itu

segera mengetahui, bahwa Pamot tidak sekedar mendapatkan ilmunya dari

para pelatih yang didatangkan dari lingkungan keprajuritan Mataram.

Salah seorang dari gerombolan Sura Sapi itu berkata di dalam hatinya “Pantas

bahwa Manguri tidak dapat mengalahkannya, dan bahkan anak ini berhasil

melepaskan dirinya dari tangan Lamat, raksasa yang menakutkan itu”

Sedang yang lain berkata pula kepada diri sendiri ”Pamot memang memiliki

kelebihan”

Demikianlah maka Pamot telah berhasil melawan dengan gigih. Ia tidak berada

di bawah kemampuan gerombolan itu seorang demi seorang, sehingga karena

itu. maka ia tidak memerlukan orang lain untuk membantunya.

Bahkan sejenak kemudian ternyata bahwa Pamot benar-benar dapat

menguasai keadaan.

Selain Pamot, Punta, tetua anak-anak muda Gemulung itupun mempunyai

kemampuan yang cukup untuk bertahan. Ia mempunyai tenaga yang kaut dan

pengamatan yang baik atas lawannya. Karena itu, maka ia tidak segera dapat

didesak oleh lawannya. Demikian pula anak muda yanp align=”left”g tinggi tegap, yang

bertemu dengan Pamot pada saat ia berangkat ke sawahnya.

Tetapi selain mereka, kawan-kawannya merasa berat melawan orang-orang

yang cukup berpengalaman itu. Untunglah bahwa jumlah anak-anak muda itu

agak lebih banyak, sehingga kelebihan itu dapat membantu, menambah

kekuatan anak-anak muda yang bukan dari pengawal khusus Kademangan

Kepandak.

Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Mereka

sudah tidak lagi saling mengekang diri. Kelima orang upahan itu sama sekali

sudah tidak dapat mengingat lagi pesan Manguri, bahwa mereka harus

menangkap Pamot hidup-hidup. Kini mereka masing-masing sedang bertahan

karena anak-anak muda Gemulung agaknya memang tidak dapat mereka

abaikan. Mereka sedang berusaha untuk mempertahankan hidup mereka

masing-masing.

Manguri yang menunggu kedatangan orang-orangnya itu di rumahnya, menjadi

semakin lama semakin gelisah. Sekali-sekali ia menjengukkan kepalanya, lewat

daun pintu yang tidak diselaraknya. Tetapi yang dilihatnya hanyalah sekedar

cahaya lampu di regol halaman rumahnya. Selainnya sepi.

Di bilik belakang, Lamatpun tidak kalah gelisahnya. Apakah Pamot dapat

mencari jalan keluar dari kesulitan ini? Terloncat pula keinginannya untuk

melihat, apakah yang sudah terjadi. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan

halaman itu. Setiap saat Manguri akan memanggilnya. Dengan demikian, yang

dapat dilakukannya, adalah berjalan saja hilir mudik di dalam bilik yang sempit.

Menarik nafas panjang-panjang, kemudian duduk perlahan-lahan di amben

bambunya.

Bukan saja Manguri dan Lamat yang menjadi gelisah. Tetapi seisi rumah

Pamot, tidak seorangpun yang dapat tidur. Ayahnya, ibunya dan kakeknya.

Merekapun sedang membayangkan, apa yang terjadi atas Pamot saat itu.

Tiba-tiba saja ayah Pamot berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan kesudut ruang.

Sejenak ia berdiri memperhatikan sesuatu yang tergantung pada dinding di

bawah ajug-ajug lampu. Namun sejenak kemudian tangannya terjulur

menyambar benda itu. Sebuah golok.

“He” bertanya kakek Pamot “apa yang akan kau lakukan?“

“Ayah, aku tidak dapat menunggu saja dengan gelisah di rumah ini, sedang aku

tahu, saat ini anakku di dalam bahaya”

“Pamot sudah tahu, apa yang harus dikerjakan”

“Tetapi aku masih saja selalu gelisah. Aku ingin melihatnya”

“Yang aku cemaskan” berkata kakek Pamot kemudian “masalah ini akan

berkembang semakin luas. Masalah ini akan menjadi masalah orang tua-tua.

Sampai saat ini, biarlah parsoalannya dibatasi pada persoalan anak-anak muda

saja”

“Tetapi Manguri telah mencari orang-orang upahan. Itu tidak jujur”

“Dan Pamotpun sudah menghubungi kawan-kawannya. Anak-anak muda. Aku

kira anak-anak muda Gemulung akan dapat menilai, apa yang sudah terjadi”

“Tetapi kita tidak tahu ayah, siapakah orang-orang upahan Manguri itu. Kalau

mereka terdiri dari orang-orang yang memang menempatkan diri mereka dalam

dunia yang buas itu. maka anak-anak Gemulung pasti akan mengalami

kesulitan. Belum lagi dapat dikatakan kalau jatuh korban diantara mereka. Jika

demikian, maka persoalannya tidak akan menjadi sederhana lagi”

Kakek Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya

“Sekarang, apa maksudmu?”

“Aku ingin melihat dahulu ayah. Apa yang telah terjadi, baru kemudian

mengambil sikap”

Ibu Pamot yang kecemasan duduk di amben dengan kaki gemetar. Dengan

suara parau ia bertanya “Kau akan pergi kemana pak?“

“Aku akan pergi ke sawah”

“Tetapi, kau tidak membawa seorang temanpun”

“Aku hanya akan sekedar melihat. Tetapi apabila keadaan memaksa, aku pasti

bukan sekedar seorang penonton”

“Itulah yang aku cemaskan. Pedagang ternak itupun pasti akan turut campur. Ia

dapat mempargunakan uangnya untuk maksud-maksud yang jahat”

“Tetapi apaboleh buat. Aku tidak akan dapat membiarkan anak itu berada

dalam kesulitan”

Kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah. Tetapi

kaupun harus berhati-hati. Bersikaplah sebagai seorang tua”

“Ya ayah. Aku akan berhati-hati. Aku akan menimbang setiap keadaan. Kalau

aku tidak perlu berbuat sesuatu, sudah tentu aku tidak akan berbuat apapun

juga”

Kakek Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi itu Pamotlah yang

agaknya menjadi semakin gelisah.

“Tenanglah di rumah” berkata suaminya “aku akan melihat ke sawah. Aku kita

itu lebih baik daripada aku tetak duduk diam di rumah dengan hati berdebardebar”

Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Sudahlah. Aku akan pargi sekarang”

Isterinya menganggukkan kepalanya pula, sedang kakek Pamot berdesis

“Jangan menambah suasana menjadi semakin kisruh”

Sambil menggeleng ayah Pamot menjawab “Aku akan memperhitungkan setiap

kemungkinan.

Sejenak kemudian maka ayah Pamot itupun telah tenggelam di dalam

kegelapan, menyusur jalan menuju ke pinggir padukuhan.

Dalam pada itu, perkelahian yang terjadi di tengah-tengah sawah itupun

semakin menjadi sengit. Kedua pihak sudah mengerahkan segenap

kemampuan yang ada. Pamot masih tetap bertahan dan bahkan ia sama sekali

tidak berada dalam pengaruh lawannya. Puntapun masih selalu berhasil

mempertahankan dirinya. Tetapi kawan Pamot yang tinggi itu ternyata masih

belum dapat mengimbangi pengalaman lawannya. Lawannya yang kasar dan

liar sedikit demi sedikit berhasil mendesaknya, meskipun belum

membahayakan. Namun agaknya, anak muda itu terlampau bernafsu sehingga

semua tenaganya seolah-olah sudah dikurasnya. Dalam saat-saat terakhir, ia

seolah-olah sudah kehilangan sebagian dari kekuatannya.

Tetapi keempat kawan-kawannya yang lain, yang berkelahi melawan dua orang

anggauta gerombolan Sura Sapi masih tetap dapat bertahan dengan baik.

Mereka dapat berkelahi berpasangan, sehingga keadaan mereka tidak

mencemaskan.

Namun keseluruhan dari perkelahian itu adalah perkelahian yang seru, semakin

lama semakin seru.

Selagi orang-orang di tengah sawah itu bertempur tanpa menghiraukan

tanaman-tanaman yang terinjak-injak kaki, yang patah dan berserakan, maka di

bagian lain, seorang tua dengan tekunnya menunggui air yang mengalir diparit

yang kecil.

Tetapi agaknya air itu tidak memenuhi keinginannya. Dengan penuh

kesungguhan ia meneliti tanaman-tanaman yang masih muda itu. Bahkan

parlahan-lahan ia berdesis “Kalau aku tidak mendapat cukup air, kasihan.

Batang-batang padi muda ini akan kehausan. Besok kalau matahari menjadi

terik, daun-daunnya akan layu. Masih agak baik batang-batang jagung itu.

Seandainya air tidak terlampau banyak, mereka masih dapat bertahan lebih

kuat dari batang-batang padi ini.

Orang tua itupun kemudian sambil bersungut-sungut mengambil cangkulnya

sambil berkata “Aku harus melihat ke sidatan air ini. Apakah airnya memang

terlampau sedikit, atau tambak di sidatan sobek”

Tertatih-tatih orang itu kemudian berjalan di sepanjang tanggul yang sempit.

Apalagi di malam hari. Meskipun demikian, ia tidak mau sawahnya kekurangan

air. Sehingga betapapun gelapnya ia berjalan juga ke sidatan parit yang

mengaliri sawahnya.

Tetapi ketika sampai dikelokan, orang tua itu berhenti sejenak. Namun

kemudian ia berdesis “Lebih baik aku mengambil jalan memintas”

Maka kemudian diambilnya jalan pamatang yang akan langsung sampai ke

sidatan, tanpa mengikuti tanggul parit yang berkelok-kelok seperti ular yang

sedang berambat.

Dengan hati-hati ia melangkah di atas pematang yang agak licin sambil

menyandang cangkulnya. Kini ia berjalan di sepanjang batas tanaman jagung

yang juga masih muda.

Sekali-sekali orang tua itu memandang ke langit yang ditaburi oleh bintangbintang

yang gemerlapan. Binatang gubug penceng di ujung Selatan telah

bergeser sedikit kebarat.

Namun tiba-tiba langkah orang tua itu terhenti. Ketika ia menyusup semakin

dalam di daerah tanaman jagung muda itu, ia menjadi sangat berdebar-debar.

Tiba-tiba saja ia mendengar suara yang tidak dimengertinya.

“He, suara apakah itu?“ orang tua itu bertanya kepada diri sendiri. Tiba-tiba

teringat olehnya, bahwa kadang-kadang masih saja ada babi hutan yang sering

mengganggu tanaman. Karena itu, maka dirabanya sabit yang terselip

dipunggungnya. Perlahan-lahan ia berdesis “Kalau suara itu suara babi hutan,

biarlah aku gedig kepalanya”

Tetapi suara itu sama sekali bukan suara babi hutan. Semakin dekat orang tua

itu justru semakin tidak mengerti.

Meskipun demikian ia ingin juga tahu, apakah yang telah menimbulkan bunyi

yang aneh itu.

Namun tiba-tiba matanya terbelalak. Kini ia melihat bahwa beberapa orang

sedang berkelahi. Tanaman jagung di sekitarnya telah terinjak-injak tidak

menentu.

Meskipun demikian orang tua itu tidak menjadi lemas dan terduduk di tanah.

Justru ia kemudian melemparkan cangkulnya dan berlari kencang-kencang.

Tetapi karena kakinya yang lamah, karena ketuaannya, maka sekali-sekali

iapun tergelincir dan jatuh terguling di samping pematang.

Orang-orang upahan yang liar itu melihat juga kehadiran seorang lagi di dekat

arena. Namun kemudian orang itu berlari-lari meninggalkan perkelahian.

Sekilas mereka dapat menerka, bahwa orang itu sama sekali bukan kawan

Pamot. Namun demikian orang itu telah menumbuhkan debar pula di dada

mereka.

Tetapi tidak seroangpun dari kelima orang itu sempat mencegah. Mereka harus

berhadapan dengan lawan masing-masing. Lawan yang tidak dapat segera

dikalahkannya. Karena itu, maka yang mereka lakukan adalah memeras

kemampuan mereka, untuk segera mengalahkan lawan masing-masing.

Dalam pada itu, orang tua yang melihat perkelahian itupun berlari-lari

sekencang-kencangnya dapat dilakukannya. Ketika ia meloncat kejalan yang

lebih lebar, begitu ia tergesa-gesa, sehingga ia jatuh terjerembab. Tetapi iapun

segera bangkit berdiri dan berlari kesudut desa.

Belum lagi ia mendekat, ia sudah berteriak-teriak labih dahulu “He, ada orang

berkelahi. Orang berkelahi”

Para peronda yang ada di dalam gardu di sudut desa terkejut karenanya.

Diantara mereka adalah ayah Pamot yang baru saja duduk di gardu sebelum

melanjutkan perjalanannya ke tengah sawah. Ia ingin mendengar lebih dahulu

apa bila para peronda itu mendengar sesuatu tentang anaknya.

Tetapi ternyata mereka tidak mengerti apa-apa. Kini justru seseorang telah

berlari-lari sambil berteriak-teriak.

Serentak setiap orang yang ada di gardu itupun berloncatan turun. Seorang

anak muda yang sedang bertugas ronda segera menyongsong orang tua itu

sambil bertanya “Dimana?“

Nafas orang tua itu menjadi terengah-engah. Sambil berdiri bertelekan

punggung ia menjawab terputus-putus “Di tengah sawah”

“Siapa yang berkelahi?” bertanya anak muda itu.

Orang tua itu menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu. Banyak orang

berkelahi bersama-sama. Mereka bersenjata”

Anak muda itu berdiri termangu-mangu. Beberapa orang yang menyusulnyapun

saling berpandangan sejenak.

“Bagaimana?” bertanya anak muda itu kepada seseorang yang lebih tua

daripadanya.

“Marilah kita lihat” jawab yang ditanya.

“Tetapi, tetapi“ orang tua itu memotong “yang berkelahi adalah orang banyak.

Bukan hanya sekedar dua orang”

“Kita tengok bersama-sama” sahut yang lain.

“Lalu gardu ini kita kosongkan?“

Sejenak mereka termangu-mangu. Tiba-tiba salah seorang berkata “Kita pukul

kentongan”

“Jangan” tiba-tiba ayah Pamot ikut dalam pembicaraan “seluruh penduduk akan

menjadi gempar. Kita bangunkan saja satu dua orang di sekitar gardu itu. Kita

minta mereka menjaga gardu sejenak. Kita bersama-sama pergi ke sawah,

untuk melihat perkelahian itu”

“Bagaimana kalau mereka ingin ikut pula?“

“Paling sedikit dua orang harus tinggal”

Sejenak mereka saling memandang. Namun kemudian merekapun

mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Cepat. Marilah kita membangunkan mereka”

“Kita memerlukan kawan. Kalau keadaan menjadi sangat berbahaya, biarlah

salah seorang dari kita akan membunyikan kentongan. Terpaksa”

Beberapa orangpun kemudian berlari-larian membangunkan beberapa orang

saja yang rumahnya paling dekat dengan gardu perondan. Dengan terkantukkantuk

mereka mendengar beberapa penjelasan yang tidak banyak mereka

mengerti. Yang mereka dengar hanyalah permintaan para peronda untuk

membantu mereka tinggal di gardu, sedangkan anak-anak muda yang sedang

bertugas ronda akan pergi ke tengah sawah melihat siapakah yang sudah

berkelahi itu.

Sambil berselimut kain panjang, orang-orang yang baru saja terbangun itupun

berjalan tertatih-tatih ke gardu di pinggir desa. Tetapi ketika mereka sudah naik,

maka merekapun segera merebahkan diri melingkar berselimut kain.

“Hem“ anak-anak muda yang sudah segera ingin pergi itu menarik nafas dalamdalam.

“Biarlah” berkata salah seorang dari mereka.

“Apakah bapak akan tinggal disini ?” bertanya salah seorang anak muda

kepada ayah Pamot.

Tetapi ayah Pamot menggeleng “Aku ikut bersama kalian”

Tidak seorangpun yang dapat mencegahnya. Karena itu, maka merekapun

segera pergi berlari-lari ke sawah yang ditunjukkan oleh orang tua itu. Ke

sawah keluarga Pamot.

****

Bab 3 : Ki Demang Kepandak

Mereka sampai ke tempat perkelahian itu

sejenak, sebelum keseimbangan benar-benar

akan bergeser. Anak muda yang tinggi tegap

itu justru telah benar-benar terdesak,

meskipun belum sampai pada bahaya yang

sebenarnya. Tetapi empat anak-anak muda

yang bertempur melawan dua orang

gerombolan Sura Sapi justru dapat mendesak

lawan mereka, sedang Punta dan Pamot

masih tetap bertahan dalam keseimbangan.

Meskipun demikian ternyata bahwa orang

upahan itu lebih pandai menempatkan diri.

Mereka agaknya sengaja memancing seluruh

tenaga lawan-lawan mereka, sehingga

akhirnya Puntapun kelihatan menjadi

berangsur lemah.

Dalam keadaan itulah, terdengar suara

mereka yang berlari-lari mendekati tempat perkelahian itu. Orang tua yang

pertama-tama melihat, berteriak lantang “Disitu, disitu”

Teriakan-teriakan itu membuat orang-orang upahan yang tergabung dalam

gerombolan yang menyebut dirinya Sura Sapi itu berpikir. Kehadiran orangorang

itu sudah pasti tidak akan menguntungkan mereka. Kalau jumlah mereka

cukup banyak, lima orang atau lebih, maka keadaan mereka, gerombolan yang

tidak terkalahkan itu menjadi gawat. Lima orang dengan kemampuan seperti

mereka yang sudah datang lebih dahulu.

Untunglah, bahwa gerombolan itu tidak tahu banyak tentang anak-anak muda

Gemulung. Hanya beberapa orang sajalah yang mempunyai kemampuan

berkelahi sebaik itu. Mereka adalah anggauta-anggauta pengawal yang setiap

kali berkumpul di Kademangan untuk mendapatkan latihan keprajuritan. Apalagi

pengawal khusus, yang memang dipersiapkan untuk kepentingan Mataram.

Setiap saat mereka dapat diambil dan dibawa kemedan, seperti para prajurit

yang lain

Karena itu, ketika mereka melihat beberapa orang berlari-lari di sepanjang

pematang, dan menurut hitungan mereka lebih dari lima orang, maka

merekapun harus segera mengambil sikap.

Betapa sakit hati mereka, namun mereka tidak dapat berbuat lain. Selain

mereka kehilangan upah yang sudah dijanjikan oleh Manguri, merekapun harus

mengalami kegagalan dan kekalahan. Kalau mereka tidak mau melihat

kenyataan itu. maka akibatnya pasti akan lebih parah bagi mereka. Mungkin

satu dua dian-tara mereka masih dapat lolos. Tetapi meskipun hanya seorang

saja dari mereka yang tertangkap, namun nama mereka pasti akan menjadi

semakin cemar dalam lingkungan gerombolan-gerombolan yang seakan-akan

hidup di luar lingkungan masyarakat dan peradabannya. Mereka pasti tidak

akan mendapat tempat lagi di dalam lingkungan mereka itu. Lingkungan yang

tidak terikat oleh peraturan apapun, selain terikat oleh tajamnya pedang dan

runcingnya ujung tombak. Karena senjata dan kekuatan bagi mereka akan

menentukan tinggi rendahnya martabat mereka di dalam lingkungannya.

Demikianlah, maka orang yang sebenarnya bernama Sura Sapi, yang

memimpin gerombolan itu harus segera mengambil keputusan. Dan keputusan

itu adalah menyingkir dari arena, karena mereka tidak dapat melawan orangorang

Gemulung dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Sejenak kemudian, terdengar Sura Sapi berteriak memberikan tanda, bahwa

semua anggauta gerombolan yang berjumlah lima orang itu harus melarikan

diri. Perintah itu ternyata tidak perlu diulangi. Setiap orang di dalam gerombolan

itu mempunyai perhitungan yang serupa, sehingga sejenak kemudian

merekapun segera berloncatan mundur.

Pada saat orang-orang Gemulung menyerbu ke arena, orang-orang itu seakanakan

telah lenyap tenggelam ke dalam tanaman jagung yang masih muda.

Apalagi gelapnya malam agaknya sangat membantu, sehingga dalam beberapa

saat, orang-orang Gemulung itu sudah kehilangan lawan-lawan mereka.

Punta dan kawan-kawannya memang tidak mengejar mereka. Mereka

menyadari, bahwa orang-orang upahan itu dalam keadaan terpaksa, akan

berbuat apa saja. Termasuk perbuatan-perbuatan yang sangat licik.

Namun demikian, meskipun orang-orang upahan itu telah melarikan diri, Pamot

dan Punta masih saja berdiri termangu-mangu. Kini mereka pasti akan

dihadapkan pada persoalan yang lain. Orang-orang yang baru saja datang itu

pasti akan bertanya tentang pekerlahian itu. Sebab-sebabnya dan siapa saja

yang telah terlibat.

“Apaboleh buat” berkata Punta di dalam hatinya

“memang agaknya hal ini lebih baik diketahui oleh setidak-tidaknya bebahu

Kademangan yang berada di Gemulung atau malahan Ki Jagabaya sama

sekali”

Dan ternyata dugaan itu benar-benar terjadi. Belum lagi Pamot dan kawankawannya

menyeka peluh mereka, maka seperti bunyi seribu ekor burung

betet, orang-orang Gemulung itu bertanya menurut selera masing-masing.

“Kami akan melaporkannya kepada Ki Jagabaya“ berkata Punta kepada

mereka “besok kalian akan mendengar apa yang telah terjadi”

Namun mereka tidak puas dengan jawaban itu, sehingga mereka justru

memutari anak-anak mudayang baru saja berkelahi itu dengan seribu macam

partanyaan yang bersimpang siur.

“Kami menjadi bingung” berkata anak muda yang tinggi “tetapi pada dasarnya,

kami telah berkelahi melawan gerombolan Sura Sapi”

“He“ beberapa orang menjadi terbelalak. Bahkan dada ayah Pamotpun menjadi

berdebar-debar. Ternyata yang dilawan oleh anak-anak muda itu adalah

gerombolan Sura Sapi. Namun demikian sepercik kebanggaan telah

mengembang di dalam dada orang tua itu. Anak-anak muda Gemulung telah

mampu bertahan terhadap orang-orang yang memang ditakuti karena

kebuasan mereka.

“Kenapa tiba-tiba saja mereka telah berada disini?” bertanya yang lain.

“Entahlah” jawab anak muda yang tinggi besar itu.

Tetapi orang lain bertanya “Kenapa kalian berada disini pula bersama-sama”

Anak yang tinggi, yang nafasnya masih terengah-engah itu berdesah. Namun

pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab. Katanya “Kebetulan saja, kebetulan

aku sedang berada di gubug Pamot. Kami sedang bermain kotekan”

“Tetapi kami tidak mendengar kotekan itu” jawab orang tua yang pertama kali

melihat perkelahian itu.

Anak muda itu menarik nafas. Desahnya “Aku lelah sekali. Ini tanganku

berdarah tersentuh senjata orang-orang gila itu”

Tetapi orang-orang yang mengerumuninya tidak mempedulikan. Mereka masih

bertanya terus. Namun ternyata bahwa tidak semua anak-anak muda itu

menyimpan persoalan yang sebenarnya telah terjadi. Satu dua diantara

mereka, tanpa mereka sadari telah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi

itu. Bahkan dengan berterus terang, seorang anak muda yang bertubuh kecil

berkata “Mereka telah mendapat upah dari Manguri untuk menangkap Pamot”

Demikianlah maka berita itupun segera tersebar. Orang-orang Gemulung yang

kembali ke padukuhan merekapun segera berceritera dan berbincang yang

satu dengan yang lain. Karena jawaban anak-anak muda yang berkelahi itu

tidak sama, karena mereka belum bersepakat apakah yang harus mereka

katakan, maka berita tentang perkelahian itupun menjadi bersimpang siur.

“Tetapi yang lebih dekat dengan nalar, adalah ceritera tentang orang-orang

upahan itu” berkata seseorang “bukankah beberapa saat yang lampau Manguri

pernah berkelahi dengan Pamot dan kemudian raksasa itu pula ?“

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun diantara mereka masih

juga ada dugaan-dugaan yang berbeda satu dengan yang lain.

Ketika ayah Pamot kemudian lewat di depan gardu yang penuh dengan orangorang

yang sedang berbincang, maka salah seorang telah menarik tangannya

sambil berkata “Nah, kalau ayah Pamot ini, aku kira mengerti persoalanpersoalannya

dengan baik. Sekarang ceriterakanlah apa yang telah terjadi

dengan anakmu”

Ayah Pamot mengerutkan keningnya. Sejenak ia membuat pertimbanganpertimbangan.

Namun kemudian ia menganggap, bahwa lebih baik ia berkata

sebenarnya. Dengan demikian maka tidak akan ada salah pengertian lagi

tentang apa yang sudah terjadi itu. Adalah sangat membingungkan apabila

setiap orang mempunyai ceritera tersendiri tentang perkelahian di tengah

sawah itu.

Maka ayah Pamotpun kemudian menceriterakan apa yang sesungguhnya telah

dialami oleh anaknya. Namun demikian, ayah Pamot masih juga membatasi

pembicaraannya. Ia sama sekali tidak menyinggung-nyinggung Lamat sama

sekali.

Pada waktu yang bersamaan, anak-anak muda Gemulung yang baru saja

berkelahi itu telah mengetuk pintu rumah Ki Jagabaya. Meskipun mereka agak

ragu-ragu, tetapi adalah lebih baik bahwa Ki Jagabaya mendengar peristiwa itu

dari merika sendiri, daripada dari sumber yang bersimpang siur.

Ki Jagabaya yang baru tidur dengan nyenyaknya, menggeliat sambil menguap.

Lamat-lamat ia mendengar pintu rumahnya diketuk perlahan-lahan Tetapi suara

itu serasa mengambang di dalam mimpinya. Baru ketika ia mendengar ketukan

pintu untuk kedua kalinya ia membuka matanya.

Sekali lagi ketukan pintu itu terdengar.

“Huh, benar-benar tidak tahu aturan “ia menggeramang “malam-malam begini

mengetuk rumah orang”

Sambil terkantuk-kantuk ia bangkit dan duduk di pinggir pembaringannya.

Ketika sekali lagi ia mendengar pintu diketuk, maka iapun berteriak “Tunggu

he? Apakah kau takut diterkam hantu”

Pamot, Punta dan kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Tetapi

merekapun kemudian mengerutkan kening mereka.

“Siapa?“ terdengar suara Ki Jagabaya pula.

“Aku”

“Aku siapa? Setan, gendruwo atau demit?“

“Punta”

“Punta siapa?“

“Anak Gemulung”

Ki Jagabayapun kemudian berdiri. Sejenak ia ragu-ragu. Dipandanginya

bindinya yang tergantung pada dinging.

Sekali lagi ia menguap. Tetapi tangannya menyambar bindinya itu. Tertatih-tatih

ia berjalan menuju ke pintu pringgitan sambil bersungut-sungut.

Tetapi ketika ia berdiri di muka pintu, maka langkahnyapun telah menjadi

mantap. Dipandanginya pintu itu sejenak, kemudian dibenahinya pakaiannya.

Dengan tangan kirinya ia menarik selarak dan perlahan-lahan membuka pintu.

“He, kau” desisnya.

“Ya Ki Jagabaya. Kami mempunyai keperluan yang menurut pendapat kami

tidak sebaiknya ditunda sampai besok. Karena itu, maafkan kami, apabila kami

sudah mengganggu” berkata Pamot.

“Apakah kalian anak-anak Gemulung?“

“Ya”

“Masuklah”

Anak-anak muda itupun kemudian masuk ke pringgitan. Mereka dipersilahkan

duduk di atas selembar tikar pandan yang kasar. Dengan kerut merut didahinya

Ki Jagabaya bertanya “Apakah keperluan kalian?“

Maka Pamotpun mulailah berceritera, dari awal sampai akhir, apa yang

sebenarnya pernah terjadi dengan dirinya. Tetapi seperti juga ayahnya, ia sama

sekali tidak menyinggung raksasa yang bernama Lamat.

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata

“Kenapa kalian mencoba mengatasi persoalan itu sendiri? Kalau kalian

mengerti, bahwa Manguri akan menyewa beberapa orang, kenapa kalian tidak

melaporkannya kepadaku sebelum hal itu terjadi, he?“

“Maaf Ki Jagabaya” berkata Pamot “aku tidak yakin bahwa hal itu benar-benar

akan terjadi”

“Dari mana kau dengar, bahwa Manguri akan melakukan hal itu?“

Sejenak Pamot menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata “Dari salah

seorang pembantu Manguri yang minta dilindungi namanya ”

“Siapa? Ya siapa orang itu?“

Pamot masih juga tetap ragu-ragu.

“Siapa?“ Ki Jagabaya hampir berteriak.

Pamot menjadi gelisah. Akhirnya ia menjawab “Orang dari pedukuhan Sapu

Angin. Aku tidak begitu kenal namanya. Tetapi orang memanggilnya Lamat”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya anak-anak muda itu satu

persatu. Dan Ki Jagabayapun melihat keheranan memancar di wajah mereka.

“Bohong” tiba-tiba Ki Jagabaya berkata “aku kenal Lamat. Ia adalah salah

seorang yang termasuk di dalam pengamatanku. Justru karena sifat-sifatnya

yang tidak banyak aku kenal”

Pamot menelan ludahnya. Kemudian katanya “Tetapi Ki Jagabaya, seperti

permintaannya sendiri, ia minta dilindungi namanya” Kemudian kepada kawankawannya

iapun berkata “Kepada kalianpun aku minta, agar kalian tidak

mencelakakan anak itu”

“Ia orang yang kasar dan bengis. Kau kira ia dapat berbuat sebaik itu

kepadamu?” berkata Ki Jagabaya.

“Sebenarnya Ki Jagabaya”

“Itu pasti hanya sekedar suatu jebakan. Ia akan berbuat lebih jauh dan kasar.

Mungkin ia memang berusaha menggagalkan kerja kelima orang itu, agar ia

mendapat kesempatan menangkap kau. Bukap align=”left”n orang lain, dan upah itu akan

jatuh ke tangannya”

Bahkan dengan berterus terang, seorang anak muda yang bertubuh kecil

berkata “Mereka telah mendapat upah dari Manguri untuk menangkap Pamot”

Pamot mengerutkan keningnya. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Tetapi

jika demikian, maka Lamat justru sudah mendapat kesempatan lebih dahulu

dari kelima orang itu.

Meskipun demikian Pamot tidak membantah. Ia mengangguk-anggukkan

kepalanya meskipun ia berpendapat lain.

“Tetapi bagaimanapun juga kalian sudah terlibat dalam perkelahian itu. Dan itu

sudah mengganggu ketenteraman”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. “Sudah tentu aku

tidak akan dapat mempercayai kalian begitu saja. Aku akan mengusut

persoalannya. Aku akan memanggil Manguri dan ayahnya. Tetapi apabila

kalian berkata sebenarnya, Manguri memang harus ditindak. Ia menjadi sumber

persoalan yang semakin berlarut-larut ini”

“Terima kasih Ki Jagabaya” berkata Pamot “tetapi bagaimanapun juga, aku

minta, agar Ki Jagabaya tetap melindungi nama Lamat apabila Manguri dan

orang tuanya akan dipanggil kemari”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya “Sepanjang aku

tidak memerlukan sekali, aku tidak akan menyebut namanya”

“Terima kasih” Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok pagi aku akan mengurusnya” berkata Ki Jagabaya kemudian, lalu

“sekarang kalian boleh pulang. Aku akan tidur lagi”

Anak-anak muda Gemulung itu saling berpandangan sejenak. Namun

merekapun kemudian minta diri untuk meninggalkan rumah Ki Jagabaya.

“Kalian tidak boleh meninggalkan padukuhan kalian” berkata Ki Jagabaya itu

kemudian “setiap saat aku memerlukan kalian. Terutama Pamot”

Pamot mengangguk sambil menjawab “Baik Ki Jagabaya“

“Besok aku akan memanggil Manguri, kalau perlu orang tuanya”

Maka sejenak kemudian anak-anak muda Gemulung itupun meninggalkan

rumah Ki Jagabaya. Kini mereka mengerti, bahwa persoalan mereka tidak

terhenti sampai sekian. Persoalan mereka masih akan berkepanjangan.

“Aku minta maaf” berkata Pamot kepada kawan-kawannya.

“Kenapa?” bertanya Punta.

“Ternyata aku telah menyeret kalian ke dalam persoalan yang panjang”

Punta tertawa pendek “Itu sudah merupakan kewajiban kami”

“Mudah-mudahan Ki Jagabaya dapat segera menyelesaikan masalah ini”

“Ia harus dapat menyelesaikan. Itu adalah tugasnya”

“Tetapi ayah Manguri adalah seorang yang kaya dan berpengaruh tidak saja di

Gemulung”

“Aku parcaya kepada Ki Jagabaya“ berkata Punta.

Pamot terdiam. Sedang kawan-kawannyapun terdiam pula. Kini mereka

berjalan semakin cepat. Mereka merasa, bahwa mereka telah menempuh jalan

yang sebaik-baiknya. Menyampaikan masalahnya kepada Ki Jagabaya.

Ketika mereka melihat bayangan fajar di langit, maka merekapun mempercepat

langkah mereka kembali ke padukuhan Gemulung. Mereka mengharap bahwa

padukuhan mereka masih sepi agar mereka tidak dikerumuni oleh pertanyaanpertanyaan

yang membingungkan.

“Masih sepi” desis salah seorang dari mereka.

“Mudah-mudahan” sahut Pamot.

Tetapi mereka terkejut ketika mereka menjadi semakin dekat. Di sudut desa

tampak samar-samar berjejal-jejal orang-orang Gemulung berkerumun di

sekitar gardu. Agaknya mereka memang menanti kedatangan anak-anak muda

yang pergi ke rumah Ki Jagabaya.

“Sst, mereka menunggu kita agaknya” desis Punta.

“Ya”

“Menjemukan sekali. Pertanyaan mereka tidak akan berkeputusan. Marilah kita

mengambil jalan lain.

Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian merekapun

menusup diantara batang-batang jagung, menyusur pematang yang menyilang

jalan menuju kesudut desa.

“Kita meloncat pagar batu” desis anak yang tinggi itu.

Tidak ada jawaban, tetapi merekapun menuju ke lambung pedukuhan dan

meloncati pagar batu. Dengan diam-diam mereka berjalan tergesa-gesa ke

rumah masing-masing.

Orang-orang yang menunggu di pojok desa masih juga menunggu. Mereka

menyangka bahwa anak anak itu akan segera kembali dan melewati jalan itu.

Mereka ingin mendengar langsung keterangan dari mulut-mulut mereka dan

tanggapan dari Ki Jagabaya atas paristiwa itu.

Tetapi anak-anak itu tidak juga segera lawat. Dengan demikian maka orangorang

yang menunggu itu menjadi cemas. Salah seorang dari mereka berdesis

“Apakah Ki Jagabaya menjadi marah dan menahan mereka di rumahnya?“

“Ah tentu tidak. Anak-anak kita tidak bersalah”

“Tetapi mungkin mereka harus menunggu panyelesaian. Mungkin Ki Jagabaya

memanggil orang-orang yang berkepentingan”

“Apakah Ki Jagabaya akan memanggil gerombolan Sura Sapi ?“

“Tentu tidak mungkin. Tetapi ia dapat memanggil Manguri dan Lamat”

Orang-orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan ayah

Pamot yang ikut berkerumun di sudut desa itupun mengangguk-angguk pula.

Tetapi ia menjadi semakin lama semakin cemas, sehingga ia berkata “Aku akan

berganti pakaian. Lebih baik aku menyusul mereka daripada berdiri termangumangu

disini”

Tetangga-tetangganya yang berada di pojok desa itu mengerutkan kening

mereka. Sejenak mereka tidak menyahut. Tetapi sejenak kemudian salah

seorang dari mereka berkata “Kau akan disangkutkan pula pada masalah ini”

“Itu sudah sewajarnya. Aku adalah ayah Pamot. Mau tidak mau aku pasti akan

tersangkut”

Orang itu tidak menjawab lagi.

Tidak seorangpun yang mencegahnya lagi ketika ayah Pamot itu kemudian

meninggalkan tetangga-tetangganya yang berkerumun di depan gardu di pojok

desa. Dengan tergesa-gesa ia pulang untuk mengganti pakaiannya, karena ia

ingin datang sendiri ke rumah Ki Jagabaya menanyakan anaknya.

Tetapi ia terkejut ketika ia memasuki pintu rumahnya. Dilihatnya Pamot sudah

ada di dalam. Anak itu duduk sambil minum air hangat dan gula kelapa. Di

sisinya duduk ibunya dan di hadapannya kakeknya.

“Kau sudah pulang Pamot?” bertanya ayahnya dengan serta-merta.

“Belum lama ayah”

“Aku menunggumu di pojok desa. Apakah kau tidak mengambil jalan itu?“

Pamot menggeleng “Memang tidak ayah. Kami bersepakat untuk mengambil

jalan lain ketika kami ketahui, banyak sekali orang yang berkerumun di pojok

desa”

“He, kenapa kami tidak melihat kalian?“

“Kami berjalan beriringan. Tetapi agaknya orang-orang Gemulung sedang sibuk

berbantah tentang peristiwa semalam, sehingga mereka sama sekali tidak

menghiraukan apapun lagi”

Ayah Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Orang-orang itu

pasti akan kecewa. Aku akan memberitahukan kepada mereka, bahwa yang

mereka tunggu telah pulang”

“Jangan ayah. Aku lelah sekali. Mereka pasti akan bertanya-tanya menurut

kehendak mereka sendiri tanpa menghiraukan orang yang mereka tanya.

Sedang aku benar-benar lelah dan kantuk”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Sambil duduk di amben itu pula ia

mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti keberatan Pamot itu.

Tetapi apakah ia akan membiarkan orang-orang itu menunggu?.

Isterinyapun kemudian memberinya semangkuk air panas pula. Sambil

meneguk ia berdesah. Lalu katanya “Tetapi orang-orang yang ada di pojok

desa itu harus tahu, bahwa yang mereka tunggu sudah lewat” ia berhenti

sebentar “kalau begitu, sebaiknya kau masuk saja ke dalam bilik. Aku akan

mengatakan kepada mereka, bahwa anak-anak itu sudah pulang, tetapi mereka

baru tidur. Mereka lelah sekali setelah semalam-malaman tidak tidur dan

apalagi berkelahi melawan gerombolan orang-orang yang liar itu”

Pamot mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Terserahlah kepada ayah”

Ayah Pamotpun kemudian berdiri sambil berkata “Akan pergi sekarang. Mereka

sudah terlampau lama menunggu”

Sepeninggal ayahnya, maka Pamotpun kemudian masuk ke dalam biliknya. Ia

mengharap bahwa ia benar-benar tidak akan diganggu oleh partanyaanpertanyaan

yang membingungkan dan melingkar-lingkar tidak habis-habisnya.

Badannya yang latih dan matanya yang sangat kantuk, membuatnya malas

untuk bertemu dengan siapapun juga.

Tetapi meskipun kemudian ia berbaring, dan rasa-rasanya ia akan segera

tertidur dengan nyenyaknya, namun ternyata matanya sama sekali tidak mau

terpejam. Terbayang semua masalah dan peristiwa yang baru saja terjadi.

Pertengkaran, perkelahian demi perkelahian, sehingga akhirnya ia telah

menyeret kawan-kawannya ke dalam persoalan ini.

Dalam pada itu, maka Pamotpun sampai pada sumber persoalannya, Sindang

Sari. Dadanya menjadi berdebar-debar mengenangkan gadis itu. Gadis itu pasti

akan segera mendengar pula apa yang sudah terjadi. “Kasian anak itu”

Pamot terkejut ketika ibunya membuka pintu biliknya. Kemudian memasukinya

sambil membawa tempurung berisi air yang berwarna ke kuning-kuningan.

“Apa itu ibu?” bertanya Pamot.

“O, jadi kau belum tidur?“

Pamot menggeleng sambil bangkit duduk di pinggir ambennya ”Aku tidak dapat

tidur, betapa letihnya”

“Aku membawa cairan param untukmu Pamot. Aku tahu, kau pasti terlampau

letih”

Pamot menarik nafas dalam-dalam.

“Berbaringlah”

Pamot tidak membantah. lapun kemudian berbaring lagi. Ibunya menggosok

kakinya, tangannya, punggungnya dan seluruh tubuhnya dengan param yang

hangat.

“Mudah-mudahan segala perasaan sakit dan letih akan berkurang” berkata

ibunya.

“Terima kasih ibu”

“Nah, cobalah untuk tidur”

Ibunyapun kemudian meninggalkan Pamot di dalam biliknya. Terasa sekujur

tubuhnya menjadi hangat. Perasaan letih dan sakit memang berangsur

berkurang. Tulang-tulangnya tidak lagi serasa saling terlepas.

Tetapi Pamot tetap tidak dapat memejamkan matanya. Setiap ia berusaha

untuk tidur dan melepaskan segala ingatan tentang apapun, maka bayangan

Sindangsari justru menjadi semakin jelas mengawang.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia berdesah “Semuanya

sudah terlanjut terjadi. Kawan-kawanku yang semula tidak tahu menahu, kini

telah terseret ke dalam parsoalanku. Karena itu, apa-boleh buat. Aku tidak akan

surut”

Dalam pada itu, Ki Jagabaya yang terlambat bangun, segera berkemas sambil

bersungut-sungut “Anak-anak Gemulung itu sudah mulai gila. Mereka membuat

persoalan saja. Kademangan ini sebenarnya sudah mulai baik dan perlahanlahan

meningkatkan diri. Tetapi tiba-tiba saja, anak-anak muda itu terlibat

dalam perbuatan-perbuatan yang memuakkan”

Sambil menyuapi mulutnya dengan makan pagi Ki Jagabaya berkata kepada

isterinya “Aku akan pergi ke rumah Ki Demang”

“Aku mendengar persoalan semalam” berkata isterinya.

“Manguri memang perlu mendapat perhatian”

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata “Ki

Demang sedang gelap hati”

Ki Jagabaya mengerutkah keningnya “Kenapa?“

“Bukankah ia baru saja bercerai?“

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Itulah kegilaannya.

Sudah berapa kali ia bercerai dan kawin lagi?“

“Seingatku lima kali. Seorang meninggal karena sakit-sakitan. Yang lain

bercerai setelah beberapa tahun kawin. Isterinya yang ketiga hanya betah

tinggal di rumah Ki Demang selama setengah tahun”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata “Tetapi

masalahnya harus dibedakan. Aku akan membicarakan masalah Kademangan

Kepandak dan padukuhan. Ki Demang harus menyediakan waktu. Ia harus

memisahkan masalah tanggung jawabnya sebagai seorang Demang, dan

masalah-masalah pribadinya”

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang dikatakan

suaminya, tetapi ia mengerti juga bahwa kadang Ki Demang kehilangan

keseimbangan antara tugas-tugas jabatannya dan masalah-masalahnya

sendiri.

Setelah makan pagi, maka Ki Jagabayapun kemudian dengan tergesa-gesa

pergi ke rumah Ki Demang di Kepandak untuk menyampaikan masalah yang

terjadi semalam.

Selain masalah anak-anak muda Gemulung, ternyata bahwa gerombolan Sura

Sapi telah mulai menyentuh kademangan ini pula, meskipun agaknya diundang

oleh orang-orang Gemulung sendiri.

“Dengan demikian Manguri telah melakukan kesalahan dua kali lipat” desis Ki

Jagabaya di sepanjang jalan.

Dengan demikian langkah Ki Jagabaya menjadi semakin cepat. Tetapi sekalisekali

ia menguap, karena semalam tidurnya agak terganggu oleh kehadiran

anak-anak Gemulung itu.

Beberapa puluh langkah dari regol Kademangan, Ki Jagabaya mengerutkan

keningnya. Ia melihat seekor kuda tertambat di halaman Kademangan.

“Sepagi ini sudah ada tamu?“ ia bertanya kepada diri sendiri.

Keinginannya untuk mengetahui, siapakah tamu yang datang dipagi-pagi benar

itu telah mendorongnya untuk berjalan lebih cepat lagi.

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tidak seorangpun duduk di pendapa. Ki

Demang tidak dan apalagi tamunya. Tetapi ketika ia melihat pintu pringgitan

terbuka, maka iapun segera mengerti, bahwa tamunya kali ini diterima di dalam

pringgitan.

Ki Jagabayapun kemudian perlahan-lahan naik ke pendapa agar

kedatangannya tidak mengejutkan. Kemudian iapun mengetuk pintu yang

memang sudah terbuka itu.

“Siapa” bertanya Ki Demang.

“Aku Ki Demang, Supa”

“Supa Jagabaya?“

“Ya”

“O“ terasa ada keragu-raguan sedikit pada nada suara Ki Demang. Namun

kemudian “masuklah”

Ki Jagabaya itu mengerutkan keningnya sejenaK. Tetapi iapun kemudian

mendorong pintu pringgitan dan menyembulkan kepalanya.

Tetapi Ki Jagabaya tidak segera melangkah masuk. Ia terperanjat melihat tamu

yang sudah duduk di dalam pringgitan, di atas sehelai tikar pandan yang putih

dan bahkan di hadapannya sudah tersedia beberapa macam hidangan.

Orang itu adalah pedagang ternak yang kaya raya dari Gemulung. Ayah

Manguri.

“Masuklah” desis Ki Demang kemudian.

Kini Ki Jagabayalah yang menjadi termangu-mangu sejenak Dipandanginya

saja wajah Ki Demang dan wajah pedagang ternak yang kaya raya itu.

“Masuklah” berkata Ki Demang kemudian.

Ki Jabagaya mengerutkan keningnya. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia

masih saja melihat pedagang yang kaya itu seakan-akan acuh tidak acuh saja

atas kehadirannya.

Namun akhirnya Ki Jagabaya masuk juga ke dalam pringgitan dan duduk di

atas tikar pandan itu pula.

“Kau datang terlampau pagi hari ini Ki Jagabaya?” berkata Ki Demang

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula “Apakah

bebahu yang lain masih belum datang?“

Ki Demang tersenyum “Belum”

“Aku merasa kesiangan” berkata Ki Jagabaya “sehingga aku menjadi terlampau

tergesa-gesa”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Disambarnya wajah tamunya

yang pertama, kemudian wajah Ki Jagabaya. Keduanya sudah saling

mengenal, tetapi keduanya masih belum saling menyapa.

Meskipun Ki Jagabaya merasa duduknya kurang tenang, namun ia sengaja

tidak mau menyapa pedagang kaya itu lebih dahulu. Ia tidak senang melihat

sikapnya yang angkuh ”Kalau orang itu menyapa, baru aku akan menjawab”

katanya di dalam hati.

Tetapi pedagang kaya itupun masih saja acuh tidak acuh. Bahkan kemudian ia

menundukkan kepalanya tanpa menghiraukan lagi kepada Ki Jagabaya. Tetapi

di dalam hatinyapun ia berkata “Aku adalah tamu Ki Demang. Jagabaya ini

memang sombong benar. Apakah disangkanya jabatan Jagabaya itu

merupakan jabatan tertinggi di seluruh dunia? Aku adalah seorang yang kaya

raya, yang sudah menjelajahi hampir seluruh daerah Selatan”

Ki Demang yang menjadi tuan rumah merasa aneh, bahwa keduanya tidak

saling menyapa. Tetapi Ki Demang belum tahu, apakah sebenarnya yang telah

membuat sikap mereka menjadi kaku.

Tanpa mereka sadari, sebenarnya di dalam sudut hati Ki Jagabaya telah

tersimpan perasaan tidak senang kepada Manguri, anak pedagang kaya itu,

yang telah mengundang gerombolan Sura Sapi memasuki daerah Kademangan

Kepandak. Hal itu pasti akan mengganggu kedamaian dan ketenteraman

Kademangan ini. Dan ini adalah tugas yang akan dibebankan kepadanya.

Dalam pada itu, pedagang kaya itupun merasa bahwa pasti tersimpan suatu

prasangka di dalam hati Ki Jagabaya. Ia yakin bahwa anak-anak muda

Gemulung yang berpihak pada Pamot pasti sudah menghadap Ki Jagabaya.

Apalagi anak-anak yang termasuk dalam keanggautaan pengawal khusus

Kademangan Kepandak.

Namun Ki Demang tidak membiarkan tamu-tamunya untuk duduk membeku,

sehingga dengan kaku pula ia berkata “He, bukankah kalian akan saling

memerlukan dalam masalah yang sedang kita hadapi?”

Keduanya berpaling memandang wajah Ki Demang. Dan sementara itu Ki

Demang melanjutkan “Kami bertiga memang harus berunding. Adalah

kebetulan sekali Ki Jagabaya datang pagi-pagi, sehingga masalahnya akan

menjadi semakin cepat kita selesaikan”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia memandang wajah

pedagang kaya itu, selagi pedagang itu memandangi wajahnya pula. Dengan

demikian, maka keduanyapun kemudian menganggukkan kepala mereka

dengan kaku.

Sejenak kemudian seorang pelayan Ki Demang telah membawakan

semangkuk air panas untuk Ki Jabaya. Sambil mengerutkan keningnya Ki

Jagabaya menerima mangkuk itu. Namun di dalam hati ia berkata “Tamu Ki

Demang kali ini pasti seorang tamu yang luar biasa. Suguhannyapun luar biasa

pula. Tidak pernah seorang tamu di Kademangan ini mendapat suguhan

makanan sampai lima macam. Apalagi sepagi ini. Darimana saja Ki Demang

mendapatkannya?“

“Minumlah Ki Jagabaya” berkata Ki Demang.

“Terimakasih”

Namun belum lagi Ki Supa Jagabaya meneguk mangkuknya, Ki Demang sudah

berkata “Ki Jagabaya. Kedatangan Ki Sukerta dari Gemulung ini ada sangkut

pautnya dengan pergaulan puteranya”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang sudah menduga.

“Ternyata anak-anak Gemulung sekarang sudah menjadi liar. Mereka sama

sekali sudah tidak mengenal sopan santun”

Dada Ki Jagabaya berdesir. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan

kepalanya. Ia sadar bahwa ceritera ini adalah ceritera ayah Manguri. Sehingga

apabila ada perbedaan warna dan nada, adalah wajar sekali.

Sejenak kemudian Ki Demang melanjutkan “Sejak beberapa saat yang lalu

telah terjadi beberapa kali perkelahian. Namun masalahnya masih belum

terlampau parah. Orang-orang tua padukuhan Gemulung sendiri berusaha

untuk menyelesaikannya. Namun ternyata anak-anak muda Gemulung yang

tidak mempunyai kesibukan tertentu itu hampir-hampir tidak dapat dikendalikan

lagi”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan terus. Ia ingin mendengarkan pengaduan

ayah Manguri itu sampai habis.

Dan Ki Demangpun berkata “Ki Sukerta, pedagang ternak ini datang kepadaku

untuk mengadukan masalah itu. Sudah tentu Ki Sukerta mencemaskan nasib

puteranya ”

Ki Jagabaya masih belum menjawab. Sekilas ditatapnya wajah pedagang

ternak itu. Ketika ia melihat wajah itu tersenyum-senyum, maka iapun

mengumpat di dalam hati.

“Nah, itulah yang perlu kau ketahui Ki Jagabaya”

“Hanya itu” tiba-tiba Ki Jagabaya menyahut sambil mencoba melihat tanggapan

pada wajah Ki Sukerta, pedagang yang kaya dari Gemulung itu.

Tanggapan itu memang seperti yang disangkanya. Pedagang itu mengerutkan

keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Sambil memandang wajah Ki

Jagabaya ia bertanya dengan serta-merta “Kenapa hanya itu?“

Ki Jagabayalah yang kini tersenyum. Jawabnya “Tidak ada pengaduan lain?

Misalnya anak-anak muda Gemulung sudah berhubungan dengan orang-orang

dari lain padukuhan untuk membentuk suatu gerombolan atau bahkan dari lain

Kademangan?“

Ki Demangpun kemudian mengerutkan keningnya.

Di tatapnya wajah Ki Jagabaya yang tersenyum-senyum itu, kemudian wajah Ki

Sukerta yang tegang.

“Apa maksudmu Ki Jagabaya?” bertanya pedagang itu.

“Aku tidak bermaksud apa-apa” jawab Ki Jagabaya “tetapi aku bertanya.

Kemungkinan yang demikian itu sekarang dapat saja terjadi, dimana anak-anak

muda Gemulung itu tidak mempunyai kesibukan apapun”

“Pasti ada latar belakang dari pertanyaanmu itu” desis pedagang kaya itu

“setidak-tidaknya kau menganggap laporanku itu sebagai dongeng ngaya-wara,

sehingga tanggapanmu itu terlampau menyakitkan hati”

“Kau mudah menjadi sakit hati Ki Sukerta” berkata Ki Jagabaya ”sebaiknya kau

agak bersabar sedikit. Biasanya seorang pedagang tidak lekas kehilangan

kesabaran”

Wajah pedagang itu menjadi merah padam. Tetapi ia masih mencoba untuk

menahan diri.

“Baiklah, baiklah aku memberi penjelasan” berkata Ki Demang “peristiwanya

terjadi semalam. Tetapi semalam itu adalah akibat dari peristiwa beberapa hari

sebelumnya ”

Ki Jagabaya terdiam. Ia memang ingin mendengarkan laporan ayah Manguri

itu.

“Anak-anak Gemulung telah mengganggu Manguri” berkata Ki Demang

seterusnya “tetapi sudah tentu sebagai seorang anak muda. maka Manguripun

mempertahankan harga dirinya. Masalah ini semula adalah masalahnya

Manguri dengan seorang anak muda yang bernama Pamot. Tetapi agaknya

Pamot membentuk suatu kelompok anak-anak muda untuk melawan Manguri.

Adalah kebetulan sekali bahwa kawan dan pembantu Manguri yang bernama

Lamat mampu melindunginya” Ki Demang berhenti sejenak, lalu “tetapi

kelompok anak-anak muda itu menjadi semakin banyak, sehingga akhirnya

Manguri, terpaksa minta bantuan teman-temannya pula. Karena anak-anak

muda Gemulung sebagian terbesar sudah dipengaruhi oleh Pamot. maka lebih

aman bagi Manguri untuk minta perlindungan orang-orang yang bekerja pada

ayahnya. Orang-orang yang setiap hari memelihara ternak yang belum terjual.

Orang-orang yang kerjanya mencari dedaunan dan rerumputan. Namun sudah

tentu bahwa mereka tidak akan dapat memadai, karena diantara kawan-kawan

Pamot dan Pamot sendiri adalah anggauta-anggauta pengawal khusus

Kademangan Kepandak”

“Pengawal Kademangan Kepandak, beserta pengawal khususnya adalah

orang-orang yang ada di dalam tanggung jawabku” berkata Ki Jagabaya.

“Ya. Itulah sebabnya, maka kita akan mencari penyelesaian yang sebaikbaiknya

tanpa menyakiti hati kedua belah pihak”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya ”Baik. Memang baik sekali”

“Nah, marilah sekarang kita berbicara dengan baik, agar kita dapat menemukan

cara yang kita kehendaki itu.

Ki Jagabaya mengangguk anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera

menyahut.

“Ki Demang“ Ki Sukertalah yang kemudian berbicara “sebaiknya aku minta diri.

Terserahlah kepada Ki Demang, penyelesaian yang manakah yang baik harus

dilakukan. Aku hanya ingin anakku tidak selalu dibayangi oleh kecemasan

tentang dirinya sendiri, karena anak-anak Gemulung yang selalu

mengancamnya. Anakku kini sudah tentu tidak akan berani keluar rumah. Dan

karenanya aku minta perlindungan kepada Ki Demang”

“Tunggu” potong Ki Jagabaya “aku kira akan lebih baik kalau kita mendengar

laporan dari kedua belah pihak. Aku condong untuk memanggil Manguri dan

Pamot bersama-sama”

“Buat apa?” bertanya pedagang ternak itu.

“Aku ingin mempertemukan. Aku ingin keduanya berbicara. Kemudian aku akan

menyarankan agar mereka berjanji untuk tidak bermusuhan lagi apapun

sebabnya”

Pedagang ternak itu menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba saja ia menggeram

“Kau tidak dapat memanggil anakku, aku atau keluargaku yang lain. Aku datang

hari ini atas kehendakku sendiri”

“Kenapa ? Aku adalah petugas yang mengurusi masalah-masalah yang dapat

mengguncang ketenteraman. Aku dapat memanggil setiap orang yang aku

perlukan”

“Kau dapat memanggil Pamot, memanggil petani-petani kecil atau anak anak

gembala. Tetapi tidak anakku. Anak seorang pedagang yang bukan saja

bergerak di padukuhan Gemulung, tetapi aku sudah menjelajahi seluruh

Mataram, bahkan sampai ke Madiun”

“Lalu kenapa? Kalau kau sudah sampai ke ujung bumi, lalu kau bebas untuk

berbuat sekehendakmu di kampung halamanmu sendiri?“

“Sudahlah“ Ki Demang menengahinya “jangan ribut. Biarlah Ki Sukerta pulang.

Kita akan berbicara untuk mencari penyelesaian itu”

Ki Jagabaya tidak menjawab. Ditatapnya Ki Demang dan pedagang ternak itu

berganti-ganti.

“Terima kasih Ki Demang” berkata Ki Sukerta, kemudian katanya “ingat aku

tidak mau diganggu oleh urusan anak-anak”

Ki Jagabaya sama sekali sudah tidak mengacuhkannya lagi. Ketika Ki Sukerta

kemudian berdiri, Ki Jagabaya masih tetap saja duduk di tempatnya.

“Ki Jagabaya” berkata Ki Demang “Ki Sukerta akan meninggalkan kita. Apakah

kau masih mempunyai pertanyaan”

Ki Jagabaya menggeleng “Tidak. Aku akan memanggil yang berkepentingan.

Kalau ia tidak datang, aku dapat memakai kekerasan”

“Persetan” desis pedagang ternak itu.

“Aku akan menentukan segala-galanya” tiba-tiba Ki Demang memotong,

sehingga Ki Jagabaya terkejut karenanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas

dalam-dalam. Ia tidak dapat membantah lagi, apabila hal itu memang sudah

dikehendaki oleh pemimpin tertinggi Kademangan Kepandak.

Ki Sukertapun kemudian meninggalkan Kademangan itu. Ki Jagabaya yang

akhirnya berdiri juga hanya mengantarkannya sampai ke pintu pringgitan. Ia

berdiri sambil bersilang tangan di dada, bersandar uger-uger pintu, ketika Ki

Demang mengikuti tamunya sampai ke kudanya.

“Ki Demang“ Ki Sukerta berbisik “aku akan memenuhi semua yang sudah aku

katakan. Ki Demang kelak dapat melihat sendiri, yang manakah yang Ki

Demang kehendaki. Aku kira Ki Demang memang harus segera kawin lagi.

Sebagai seorang Demang, tidak sepantasnya hidup sendiri hanya dilayani oleh

pembantu-pembantu yang barangkali tidak cukup cakap”

Ki Demang tersenyum

“Kecuali itu, keperluan Ki Demang yang lain dapat pula aku penuhi”

“Ya, ya. Aku percaya bahwa kau mampu melakukannya. Tetapi aku tidak

memerlukan yang lain”

“Baiklah. Sekarang aku minta diri”

Ki Sukerta itupun kemudian meloncat keatas punggung kudanya. Kemudian

tanpa berpaling lagi, kudanya berderap meninggalkan halaman Kademangan

itu.

Ki Demang yang masih berdiri di bawah tangga pendapa menganggukanggukkan

kepalanya. Kemudian iapun melangkah naik untuk menemui Ki

Jagabaya yang masih berdiri di tempatnya.

Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat beberapa orang bebahu telah

mulai berdatangan.

“Duduklah” berkata Ki Demang “aku masih mempunyai keperluan dengan Ki

Jagabaya”

Bebahu Kademangan itupun menyahut “Silahkan”

Bab 4 : Penyelidikan

Ki Demangpun kemudian masuk kembali ke

pringgitan, diikuti oleh Ki Jagabaya. Setelah

mereka duduk kembali di tempat semula

maka Ki Jagabayapun bergumam

“Pedagang dari Gemulung itu terlampau

sombong. Ia merasa orang yang kaya raya,

yang dapat mempergunakan uangnya

untuk segala macam kepentingan”

Ki Demang mengangguk-anggukkan

kepalanya ”Ya, Karena itu kita memang

harus berhati-hati menghadapinya. Kalau ia

marah, ia memang dapat berbuat terlampau

banyak. Setidak-tidaknya ia dapat

mengganggu ketenangan pekerjaan kita

sehari-hari”

“Tetapi kita dapat bertindak tegas

terhadapnya.

“Tidak semudah itu Ki Jagabaya. Aku

sudah mendengar banyak tentang pedagang kaya itu. Ia mempunyai banyak

sekali pelindung yang dapat digerakkan setiap saat. Beberapa kepeng uang

telah membuat seseorang kehilangan akal dan mengorbankan dirinya untuk

kepentingan pedagang itu“

“Tetapi kita mempunyai pasukan Ki Demang. Pasukan pengawal. Dan adalah

kebetulan sekali bahwa Mataram telah memilih beberapa orang pengawal untuk

mendapat latihan khusus, apabila setiap saat, Mataram akan mengirim pasukan

lagi ke Betawi”

“Tetapi aku tetap menganggap bahwa apabila mungkin setiap masalah tidak

diselesaikan dengan kekerasan. Apakah kau mengerti maksudku?“

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Juga masalah anak-anak muda itu”

Sekali lagi Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berdesah

“Kalau kita selalu memanjakannya, maka ia tidak akan dapat mengerti, bahwa

ia adalah salah seorang dari warga Kademangan ini yang terikat oleh berbagai

macam hubungan timbal balik. Ia tidak dapat berdiri sendiri disini dengan dalih

apapun. Berbuat apapun. Aku kira lebih baik ia membawa orang-orangnya dan

membuka hutan di lereng Gunung Sewu Ia akan dapat membuat tata pergaulan

menurut seleranya. Kitapun kemudian tidak akan mengusik dan mengganggu

gugat apa yang dilakukannya, karena mereka tidak merugikan kita,

mengganggu kita dan melanggar tata pergaulan yang sudah kita sepakati

bersama”

“Aku tahu Ki Jagabaya. Memang kita harus berbuat sesuatu Yang kita pikirkan

sekarang adalah, bagaimana cara yang sebaik-baiknya”

“Ki Demang” berkata Ki Jagabaya “apakah Ki Demang ingin mendengarkan

laporan dari pihak lain? Bukan dari pihak Manguri tetapi dari pihak Pamot?“

Ki Demang mengerutkan keningnya.

“Mungkin laporan itupun tidak benar seluruhnya. Tetapi setidak-tidaknya akan

dapat menjadi pertimbangan Ki Demang sebelum mengambil keputusan.

Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini di hadapan pedagang yang sombong

itu. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan”

Mau tidak mau Ki Demang harus menganggukkan kepalanya “Baiklah.

Katakanlah”

“Ki Demang” berkata Ki Jagabaya “yang terpenting adalah, bahwa Manguri

telah mengundang gerombolan Sura Sapi untuk ikut campur di dalam

persoalannya”

“He?” ternyata Ki Demang terkejut pula mendengarnya.

“Gerombolan Sura Sapi itulah yang semalam berkelahi melawan anak-anak”

Ki Demang termenung sejenak. Tetapi tanggapannya benar-benar di luar

dugaan Ki Jagabaya “Nah, bukankah kau akhirnya harus percaya bahwa ia

dapat berbuat terlampau banyak? Jauh lebih banyak dari dugaanku. Kini ia

baru memanggil Sura Sapi, lain kali ia memanggil yang lain, yang lain lagi.

Dengan demikian maka Kademangan ini akan menjadi semakin kacau balau”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Memang bukan

kegemaranku untuk berkelahi. Aku tahu bahwa Ki Demangpun mempunyai

kemampuan yang hampir tidak ada bandingnya. Jangankan gerombolan Sura

Sapi, gerombolan-gerombolan yang mempunyai agul-agul yang betapapun

tangguhnya, aku kira tidak akan dapat mengatasi Ki Demang dari Kepandak.

Namun Ki Demang masih selalu berpegangan, bahwa berkelahi adalah cara

yang sama sekali tidak dikehendaki. Tetapi meskipun demikian Ki Demang,

seperti terhadap anak-anak kita yang nakal kita kadang-kadang harus

menyelentiknya di kuping atau mencubitnya di paha”

“Tetapi terhadap pedagang itu lain lagi Ki Jagabaya. Kalau kita nyelentik di

kuping, ia akan memukul kening kita, sedang kalau kita mencubit di paha, ia

akan mematahkan tukang belakang kita”

“Kalau begitu kita cekik saja orang itu”

“Nah, kekakuanmu sudah tumbuh lagi”

“Bukan begitu Ki Demang. Maksudku memang pertaman-tama kita mencari

jalan yang baik. Kita panggil kedua-duanya supaya mereka saling berjanji untuk

tidak mengulangi masalahnya. Sedang gadis sumber persoalannya, sebaiknya

harus segera menentukan sikap, supaya tidak menumbuhkan salah paham di

pihak-pihak yang lain. Apabila kelak salah satu pihak melanggar persetujuan

itu, kita akan bertindak lebih tegas lagi”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku dapat mengerti.

Tetapi biarlah aku melihat persoalan itu dari dekat. Akulah yang nanti akan

datang ke Gemulung. Tentu bersama kau Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya terperanjat ”Kenapa kita yang harus pergi kesana? Jalan yang

paling mudah, kita panggil anak-anak itu. Kita adalah orang-orang tua yang

mempunyai wewenang dan tanggung jawab”

“Jangan terlampau kaku. Apakah salahnya kita melihat masalah ini langsung.

Kita dapat melihat tempat-tempat kejadian dan kita dapat mendengar

keterangan dari beberapa orang yang berdiri di luar masalah ini, sehingga

lengkaplah keterangan-keterangan kita sebelum kita menentukan sikap”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia tidak sependapat dengan

Ki Demang, bahwa pimpinan Kademangan harus terlampau mengalah dan

merendahkan diri terhadap pedagang ternak yang walaupun kaya raya itu.

Tetapi Ki Jagabayapun tidak dapat membantah keputusan yang diambil oleh Ki

Demang. Merekalah yang akan mengunjungi Gemulung, melihat sendiri dari

dekat, apa yang telah terjadi.

“Aku sependapat sekali untuk melihat keadaan itu langsung, Ki Demang. Tetapi

kalau hal ini didorong oleh keseganan kita memanggil Manguri, aku akan

berpikir lagi” desis Ki Jagabaya.

“Tidak. Sebenarnya kita sama sekali tidak boleh ragu-ragu untuk bertindak.

Tetapi kali ini aku memang ingin melihat sendiri, apa yang sudah terjadi di

Gemulung. Masalahnya bukan sekedar masalah yang dapat diselesaikan

dengan sepintas lalu. Yang tersangkut kali ini adalah anak pedagang yang kaya

raya itu, yang dapat banyak berbuat baik maupun buruk, beberapa orang

pengawal, bahkan pengawal khusus dan menurut keteranganmu, Sura Sapi

telah ikut pula di dalam perkelahian itu”

“Bukan sekedar turut serta, memang gerombolan itulah yang berkelahi

melawan para pengawal“ Ki Jagabaya berhenti sejenak, lalu “tetapi aku dapat

berbangga. Ternyata pengawal itu mampu menandingi gerombolan Sura Sapi.

Itu saja baru anak-anak Gemulung. Belum anak muda dari padukuhanpadukuhan

lain. Bukankah dengan demikian kita dapat menilai kekuatan yang

tersimpan di padukuhan-padukuhan di seluruh Kademangan”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya. Akupun berbangga. Tetapi

itu bukan berarti bahwa kita harus selalu mempergunakan kekerasan”

“Tidak Ki Demang. Aku sudah menegaskan. Bukan itu”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Baiklah nanti kita pergi

ke Gemulung”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Minumlah“ Ki Demang kemudian mempersilahkan.

“Terima kasih” berkata Ki Jagabaya “tetapi baiklah aku melengkapi ceriteraku”

“Tentang?“

“Manguri dan Pamot”

Dengan segannya menunggu jawabannya, Ki Jagabaya langsung

menceriterakan apa yang didengarnya dari Pamot dan kawan-kawannya.

Ki Demang mengangguk-angguk ”Memang ada beberapa perbedaan” katanya

“tetapi banyak persamaan. Masalahnya berkisar dari Sindangsari. Keduanya

mengaku, Sindangsari berada dipihaknya. Aku harus mendengar sendiri,

bagaimana sikap gadis itu”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya pula. Sesuatu tersirat disorot matanya.

Sesuatu yang tidak terkatakan. Apalagi Ki Jagabaya mengerti, bahwa Ki

Demang baru saja bercerai dari isterinya yang kelima. Isterinya yang masih

terlalu muda. Meskipun Ki Demang masih belum tua, dan belum beranak pula,

tetapi Ki Demang sudah terlalu sering berganti isteri, sehingga agaknya ia

bukan seorang suami yang baik.

Sejenak kemudian, maka keduanyapun keluar dari pringgitan dan menemui

beberapa orang bebahu yang lain, yang duduk-duduk di pendapa. Mereka

setiap hari datang menjenguk Kademangan meskipun hanya sebentar, apabila

ada sesuatu yang harus mereka kerjakan.

“Hari ini kita tidak mempunyai persoalan apa-apa” berkata Ki Demang.

Bebahu Kademangan yang berada di pendapa itu mengangguk-anggukkan

kepala mereka. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya “Apakah

Ki Demang dan Ki Jagabaya sudah mendapat laporan tentang anak-anak

Gemulung yang saling berkelahi?”

“O“ Ki Demang tersenyum “sudah. Aku sudah mendengar laporan. Tetapi itu

sekedar persoalan anak-anak Aku dan Ki Jagabaya akan segera

menyelesaikannya”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata

“Sokurlah. Tetapi menurut pendengaranku, perkelahian itu bukan sekedar

masalah anak-anak”

“Apa yang kau dengar?” bertanya Ki Jagabaya.

“Ternyata gerombolan Sura Sapi telah ikut campur”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Ki Demang

sejenak. Katanya kemudian “Ya. Begitulah menurut pendengaranku”

“Bukankah dengan demikian masalahnya bukan sekedar masalah anak-anak?“

“Ya, begitulah menurut pendapatku”

“Ah“ Ki Demang memotong “kita masih harus membuktikan lebih dahulu.

Sampai seberapa jauh akibat yang timbul. Kadang-kadang kita membayangkan

sesuatu persoalan jauh lebih dahsyat dari apa yang sebenarnya terjadi. Karena

itu, yang paling baik adalah melihat sendiri perkembangan dan peristiwa yang

terjadi itu”

Orang-orang yang berada di pendapat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Diantara mereka memang sependapat dengan keterangan Ki Demang.

“Apapun yang terjadi, sebaiknya langsung dapat dilihat dari dekat, supaya tidak

salah mengambil kesimpulan dan usaha penyelesaian”

Tetapi mereka sama sekali tidak menyimpan kerisauan seperti Ki Jagabaya.

Usaha Ki Demang untuk melihat persoalannya itu seakan-akan hanya karena ia

tidak dapat memanggil anak-anak yang terlibat di dalam masalah itu.

Namun demikian masih ada juga yang berkata “Tetapi Ki Demang, betapapun

juga kecil masalahnya, tetapi keterlibatan Sura Sapi sebenarnya sudah

memberikan kecemasan yang tidak dapat diabaikan”

“Kenapa kalian masih saja dihantui oleh nama gerombolan itu? Kalian harus

melihat kenyataan” jawab Ki Demang “gerombolan Sura Sapi sama sekali tidak

berdaya menghadapi anak-anak Gemulung. Sebab sebagian dari mereka

adalah pengawal-pengawal khusus Kademangan Kepandak. Bukankah itu

justru memberikan kebangggaan kepada kita?.

“Ya, aku mendengar Ki Demang. Tetapi apakah kira-kira masalahnya akan

berhenti sampai sekian? Apakah gerombolan Sura Sapi yang liar itu dengan

senang hati menerima kekalahannya? Kalau semua Sura Sapi hanya sekedar

menerima upah untuk melakukan sesuatu, maka dilain kali ia akan menuntut

balas atas kekalahannya itu tanpa diundang oleh siapapun. Lebih ngeri lagi

apabila Sura Sapi datang bersama kawan-kawan mereka yang merasa

tersinggung pula atas kekalahan itu”

“Kau menakut-nakuti dirimu sendiri” jawab Ki Demang “sudah aku katakan,

bahwa aku akan mengambil kesimpulan setelah aku melihat sendiri apa yang

terjadi di Gemulung. Nanti aku akan pergi kepa-dukuhan itu bersama Ki

Jagabaya. Seandainya Sura Sapi benar-benar mendendam padukuhan

Gemulung atau katakanlah Kademangan Kepandak, apakah yang kita

takutkan? Kita mempunyai sepasukan pengawal. Kita mempunyai Ki Jagabaya,

Ki reksatani, adikku yang kalian mengetahui, dapat juga diketengahkan sebagai

seorang yang dapat dihadapkan pada gerombolan-gerombolan seperti Sura

Sapi atau bahkan gerombolan yang manapun, dan sudah tentu aku akan

mempertanggung jawabkan semuanya itu” Ki Demang berhenti sejenak, lalu

“Nah, apakah yang kalian cemaskan lagi?“

Tidak seorangpun yang menjawab.

“Tetapi aku kira kita tidak akan terperosok demikian jauh. Kita-memang sering

berangan-angan”

Orang-orang yang berada di pendapa itu mengangguk-anggukkan kepala

mereka.

“Nah, sekarang, terserah kepada kalian. Yang masih ingin berada di tempat ini

aku persilahkan. Yang mempunyai tugas-tugas lain di luar halaman inipun aku

persilahkan pula“

Demikianlah maka beberapa orang diantara merekapun segera meninggalkan

Kademangan, termasuk Ki Jagabaya. Kepada Ki Demang, Ki Jagabaya berkata

“Aku akan segera kembali. Lebih baik kita segera pergi ke Gemulung.

“Aku akan mengambil kudaku, supaya perjalanan kita agak lebih cepat”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya ”Ya, bagus sekali. Kita akan

pergi berkuda”

Namun di sepanjang jalan, beberapa orang bebahu yang tidak puas

mendengarkan pembicaraan di pendapa Kademangan, masih saja bertanya

kepada Ki Jagabaya. Sedang Ki Jagabayapun sama sekali tidak merahasiakan

sesuatu. Apa yang diketahuinya disampaikannya kepada bebahu yang lain,

meskipun ia berpesan “Jangan kalian sebar luaskan. Kalau masalah ini sudah

menjadi pembicaraan setiap orang, maka usaha penyelesaian justru akan

tertanggu karenanya. Kalian harus mencoba menyimpan serapat mungkin

masalah-masalah yang terjadi. Apalagi antara dua ceritera yang berbeda itu.

Apakah kalian dapat mengerti?“

Orang-orang yang mendengarkan ceritera itupun mengangguk-anggukkan

kepalanya. Tetapi bagaimanapun juga mereka tidak dapat menganggap

masalah itu sebagai masalah yang dapat diabaikan. Seandainya masalahnya

itu terbatas antara Manguri dan Pamot beserta kawan masing-masing, maka

usaha penyelesaian akan jauh lebih mudah dari yang dihadapi sekarang.

Tetapi mereka hanya dapat menunggu untuk sementara. Menunggu dengan

cemas. Kadang-kadang timbul juga ketenangan di hati mereka “Memang kita

kadang-kadang terlampau mempertajam persoalan. Ki Demang dan Ki

Jagabaya akan dapat segera menyelesaikan persoalannya. Kenapa kita

menjadi cemas?“

Demikianlah ketika matahari telah menjadi semakin tinggi, Ki Jagabaya telah

berada kembali di Kademangan dengan menunggang seekor kuda. Mereka

siap untuk pergi ke Gemulung, melihat sendiri apa yang telah terjadi.

Ki Jagabaya hanya berada sebentar di halaman Kademangan, karena Ki

Demangpun telah siap pula untuk berangkat.

“Kau tinggal disini sebentar” berkata Ki Demang kepada seorang yang bertubuh

tegap dan kekar, agak lebih tinggi dari Ki Demang sendiri. Berkumis rata

meskipun tidak begitu tebal, dan membiarkan bajunya terbuka, sehingga bulubulu

di dadanya tampak kehitam-hitaman.

“Apakah kakang tidak lama? orang itu bertanya. Ki Demang menggeleng.

“Apakah kau tidak ikut bersama kami, Ki Reksatani?” bertanya Ki Jagabaya.

Ki Reksatani, adik Ki Demang menggeleng sambil tersenyum “Aku menunggui

rumah ini. Sebenarnya aku hanya akan singgah ke rumah ini sebentar. Tetapi

terpaksa aku jadi penjaga”

“Bukankah ada pengawal di regol depan?“

“Pengawal cukup lengkap” jawab adik Ki Demang “tetapi kakang Demang minta

aku tetap disini”

“Sudahlah” potong Ki Demang “kalau kau mau makan, makanlah. Di geledeg

ada nasi seceting dan sepotong ayam goreng”

Adiknya tertawa. Ki Jagabayapun tertawa pula.

Keduanya kemudian meninggalkan halaman Kademangan di atas punggung

kuda. Langkah kaki kuda-kuda mereka tidak terlampau cepat. Sambil melihatlihat

daerah Kademangan Kepandak mereka berjalan ke Barat Menyusur jalan

yang berbatu-batu di tengah daerah persawahan.

Setiap kali mereka berdua harus menganggukkan kepala mereka apabila

mereka berpapasan dengan orang-orang yang sedang pergi atau pulang dari

sawah, dari pasar dan dari manapun juga. Setiap kali keduanya harus

menjawab sapa yang ramah dari orang-orang Kademangan Kepandak.

Sebelum mereka sampai disebuah tikungan, Ki Demang berkata “Kita ambil

jalan memintas. Kita lewat jalan kecil ini”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya ”Kita tidak lewat Gunung Sepikul?“

“Tidak” sahut Ki Demang,

Ki Jagabaya tidak menyahut lagi. Kini mereka berbelok mengikuti sebuah jalan

kecil. Kuda-kuda merekapun berjalan semakin cepat, karena mataharipun

menjadi semakin tinggi, sehingga panasnya mulai terasa menyengat kulit.

Perjalanan ke Gemulung sama sekali bukan perjalanan yang panjang. Karena

itu, maka di tengah hari mereka berdua telah ada diambang padukuhan.

Kedatangan Ki Demang dan Ki Jagabaya hanya berdua agaknya telah

mengejutkan orang-orang Gemulung. Namun mereka langsung dapat

menebak, apakah keperluan kedua bebahu Kademangan itu, justru Ki Demang

sendiri.

Mereka langsung menghubungkan kedatangan Ki Demang itu dengan peristiwa

anak-anak muda Gemulung baru-baru ini. Perkelahian yang memang telah

menggoncangkan ketenteraman hidup rakyat Gemulung.

Di mulut lorong yang memasuki padukuhan Gemulung, Ki Demang berhenti

sejenak. Ia melihat beberapa orang yang lewat mendekatinya. Salah seorang

dari mereka menyapanya ”Selamat siang Ki Demang dan Ki Jagabaya”

“Ya, ya terima kasih” jawab Ki Demang.

“Kami sudah menduga, apakah keperluan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Sudah

tentu bukan soal parit yang rusak di sebelah padukuhan ini. Kalau masalahnya

masalah parit itu, maka Ki ulu-ulunya yang akan datang hari ini”

Ki Demang tersenyum. Katanya ”Baiklah. Kalau kalian sudah tahu kepentingan

kedatanganku, maka coba, sebaiknya aku harus datang kepada siapa?”

Orang itu termenung sejenak. Jawabnya kemudian tidak disangka-sangka

sama sekali oleh Ki Demang ”Kalau aku Ki Demang, sebaiknya Ki Demang

datang saja ke rumah pedagang kaya itu. Ki Demang dapat minta agar anaknya

diajar supaya tidak selalu mengganggu orang di padukuhan ini”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah Ki Jagabaya

dengan sudut matanya, dilihatnya Ki Jagabaya itu tersenyum sambil

mengangguk-angguk.

“Kalau tidak ke rumah pedagang itu, kemana aku sebaiknya pergi untuk

mendapat keterangan lebih banyak”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian Jawabnya ”Tentu saja ke rumah

Pamot”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah Ki Jagabaya

dengan sudut matanya, dilihatnya Ki Jagabaya itu tersenyum sambil

mengangguk-angguk.

Ki Demang mengangguk-angguk. Desisnya “Aku akan pergi ke rumahnya

sebelum ke rumah pedagang kaya itu. Aku ingin mendengar banyak

keterangan”

Ki Jagabaya tidak membantah. Dibiarkannya Ki Demang memilih arah.

“Terima kasih, terima kasih” berkata Ki Demang kemudian kepada orang-orang

yang menyongsongnya “aku akan pergi ke rumah Pamot”

Ki Demang dan Ki Jagabayapun kemudian memasuki lorong yang membelah

padukuhan Gemulung, langsung menuju ke rumah Pamot.

Kedatangan Ki Demang benar-benar mengejutkan keluarga itu. Ayah Pamot

sendiri tidak ada di rumah, sehingga karena itu, maka dengan tergesa-gesa

disuruhnya seorang anak tetangga untuk menjemputnya di sawah.

Pamot dan kakeknyalah yang menemui kedua tamunya sebelum ayahnya

pulang dari sawah. Dengan dada berdebar-debar mereka duduk di amben

panjang sambil menundukkan kepala mereka.

“Ayahmu pergi?” bertanya Ki Demang.

“Sebentar lagi ia datang Ki Demang” jawab kakek Pamot “seseorang sudah

menyusulnya ”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah mendengar ceritera tentang kau dari Ki Jagabaya” berkata Ki

Demang “tetapi agaknya lebih puas mendengarnya dari kau sendiri”

Pamot menarik nafas dalam-dalam.

“Ceriterakan yang penting”

Pamot mengerutkan keningnya ”Kenapa aku harus menceriterakannya kembali

?“ ia bertanya kepada dirinya sendiri.

Tetapi akhirnya ia menyadari, bahwa apa yang akan diceriterakan harus tepat

sama seperti yang dikatakannya kepada Ki Jagabaya. Kalau ada perbedaan

sedikit saja, maka seluruh ceriteranya pasti tidak akan dipercaya lagi. Bahkan

mungkin ia akan dianggap telah memberikan keterangan dan pengaduan paslu.

Karena itu, maka dengan hati-hati Pamot mulai berceritera. Tetapi karena apa

yang diceriterakan adalah keadaan yang sebenarnya, maka sama sekali tidak

ada kesalahan apapun yang telah diucapkannya.

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Ki Jagabaya menarik

nafas dalam-dalam.

“Jadi permusuhanmu sudah mulai beberapa lama sebelum perkelahian itu

terjadi?” bertanya Ki Demang.

“Sebenarnya aku tidak merasa permusuhan itu Ki Demang, tetapi sikap

Manguri agak kurang menyenangkan”

“Pamot” bertanya Ki Demang “cobalah berkata berterus terang. Apakah

Sindangsari, gadis yang kau sebut-sebut itu benar-benar telah memilih kau

sebagai bakal suaminya?“

Wajah Pamot menjadi kemerah-merahan. Sejenak ia menunduk. Namun

kemudian ia menjawab “Aku belum dapat mengatakannya Ki Demang. Tetapi

kami memang telah terlibat dalam suatu hubungan yang agak lain dari sifat

hubungan kawan biasa”

“Aku ingin mendengar, apakah bukan kau yang terlalu perasa? aku belum yakin

kalau Sindangsari menaruh hati juga kepadamu. Menurut penilaian lahiriah,

seorang gadis pasti akan memilih Manguri daripada kau. Seandainya kau lebih

tampan sedikit dari Manguri, sedang menurut penilaianku Manguri juga cukup

tampan, maka seorang gadis pasti akan memilihnya, karena banyak sekali

masalah yang tidak ada padamu, tetapi ada padanya”

Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab Ki Jagabaya telah

mendahului “Pertanyaan itu kurang mengenai sasarannya Ki Demang.

Meskipun Pamot pantas juga diminta untuk memberikan keterangan tetapi

pertanyaan ini lebih tepat diberikan kepada Sindangsari”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata “Maksudku

apakah kita tidak keliru menangkap ceritera Pamot?“

Ki Jagabaya tidak segera menangkap kata-kata Ki Demang itu.

Sementara itu, maka ayah Pamotpun dengan tergesa-gesa memasuki

rumahnya. Keringatnya yang membasahi seluruh tubuhnya menitik satu-satu

dilantai ketika ia berdiri sambil membungkukkan kepalanya.

“Maaf Ki Demang dan Ki Jagabaya, aku tidak tahu, bahwa aku akan menerima

tamu hari ini”

Pamot dan kakeknyalah yang menemui kedua tamunya sebelum ayahnya

pulang dari sawah. Dengan dada berdebar-debar mereka duduk amben

panjang sambil menunduk kepala mereka.

“Akupun tidak mimpi untuk datang ke Gemulung kalau anakmu tidak berkelahi”

jawab Ki Demang.

Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Ki Demang dan

Ki Jagabaya berganti-ganti, kemudian wajah anaknya, ayahnya dan yang

terakhir ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sedang bertanya tentang beberapa hal kepada anakmu” berkata Ki

Demang.

“O, silahkan Ki Demang”

“Duduklah disini” berkata Ki Demang selanjutnya “pertanyaanku masih banyak”

Ayah Pamotpun kemudian duduk pula di samping anaknya.

“Menurut anakmu, ia telah berkelahi dengan gerombolan Sura Sapi”

“Ya Ki Demang, akupun melihat sendiri gerombolan itu”

“He, apakah kau juga turut berkelahi?“

“Tidak Ki Demang. Kebetulan seseorang melihat anak-anak itu berkelahi di

sawah. Kami yang berada di gardupun berlari-larian ke sawah pula. Kami masih

sempat melihat perkelahian itu, tetapi kami tidak sempat ikut membantu, karena

gerombolan Sura Sapi segera melarikan diri”

Ki Demang mengerutkan keningnya, sedang Ki Jagabayapun menganggukanggukkan

kepalanya.

“Tetapi aku masih belum puas dengan keterangan anakmu” berkata Ki Demang

selanjutnya “ketika ia melihat Manguri berusaha mengganggu Sindangsari, ia

mencoba untuk melindungi gadis itu. Aku menyangka kalau Pamot salah

mengatakannya”

Pamot, ayahnya, kakeknya dan bahkan Ki Jagabaya sendiri tidak segera

mengerti maksud Ki Demang.

“Menurut penilaianku, agaknya Pamotlah yang terlalu perasa. Ia melihat

Manguri berjalan bersama Sindangsari. Kemudian karena ia merasa cemburu,

maka ia telah berbuat sesuatu yang mengejutkan keduanya. Sudah tentu

Sindangsari menjadi malu sekali, dan segera berlari meninggalkan Manguri,

Nah, ceritera inilah yang sengaja atau tidak sengaja telah kau ceriterakan

setelah kau sesuaikan dengan seleramu”

“Ah” tiba-tiba Pamot berdesah “tidak Ki Demang. Memang sebaiknya Ki

Demang bertanya kepada Sindangsari. Mungkin itu akan lebih baik, seperti kata

Ki Jagabaya. Dengan demikian Ki Demang tidak akan tertipu olehku, atau

barangkali oleh Manguri”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Jagabayapun

menyahut “Hanya Sindangsarilah yang mengetahui perasaannya sendiri, lebih

baik dari siapapun”

“Ya, ya” berkata Ki Demang “tetapi sudah tentu bahwa aku belum dapat

mempercayaimu Pamot. Kami masih memerlukan banyak sekali keterangan”

Pamot tidak menjawab, tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

Kepada ayah Pamot Ki Demang berkata “Jagalah anakmu baik-baik. Jangan

kau ajari anakmu berbohong atau jangan kau dorong ia untuk setiap kali

berkelahi”

“Tentu tidak Ki Demang. Aku selalu mencoba mengawasinya agar ia dapat

berbuat sebaik-baiknya.

“Kau terlampau banyak mempergunakan waktumu untuk mencari uang,

mencukupi kebutuhan hidupmu sehari-hari, sehingga kau tidak mempunyai

waktu lagi untuk mengawasi anakmu”

“Aku sudah mencoba Ki Demang” jawab ayah Pamot “aku membagi waktuku

sebaik-baiknya sehingga anakkupun selalu dapat aku awasi”

“Baik” jawab Ki Demang “tetapi kalau akhirnya ternyata masalahnya tidak

seperti yang kau katakan, maka aku akan mengambil tindakan”

“Silahkan Ki Demang. Agaknya anakku tidak berbohong”

Ki Jagabaya yang mendengarkan percakapan itupun tiba-tiba menyahut “Kau

jangan mencoba menghindari tanggung jawab atas perbuatan anakmu. Kalau

ia bersalah, kau harus melepaskannya untuk menerima hukumannya. Jangan

mencoba melindungi kesalahan anakmu dengan cara apapun juga”

“Tentu, tentu Ki Jagabaya. Kalau ternyata Pamot bersalah, aku serahkan anak

itu dengan kedua tanganku, apapun yang akan terjadi atasnya”

“Bagus” sahut Ki Jagabaya “sejak sekarang awasilah anakmu baik-baik.

Bukankah kau tidak terlampau sering pergi keluar Kademangan?”

“Tentu tidak Ki Jagabaya. Bahkan keluar padukuhanpun jarang sekali”

“Bukankah kau tidak selalu keluar rumah, mengurusi apapun kemana-mana ?

Ke Madiun dan kemanapun sehingga kau tidak sempat mengurusi anakmu?“

Ayah Pamot mendengar pertanyaan Ki Jagabaya itu dengan mulut ternganga.

Ia sama sekali tidak mengerti pertanyaan itu. Dipandanginya wajah Ki

Jagabaya dan Ki Demang berganti-ganti.

Tetapi Ki Demanglah yang menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud

pembantunya itu. Sejak semula agaknya Ki Jagabaya tidak sependapat dengan

cara yang ditempuh oleh Ki Demang. Ki Demang tahu benar, bahwa yang

dimaksud oleh Ki Jagabaya adalah justru ayah Manguri. Tetapi Ki Demang

tidak kehilangan kesabaran. Bahkan ia berkata “Bagus, kalau begitu baiklah.

Aku kira kau tidak berbohong. Mudah-mudahan anakmupun tidak berbohong”

Ki Jagabaya menarik nafas pula. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Keduanyapun kemudian segera minta diri. Mereka bersepakat untuk menemui

Sindangsari di rumahnya. Kepadanyalah sebagian dari penyelesaian masalah

ini dapat dicari.

Di sepanjang jalan Ki Jagabaya tidak terlampau banyak lagi berbicara. Kini ia

menjadi semakin men-yakini pendapatnya bahwa Ki Demang agak tidak kurang

wajar menanggapi masalah ini. Sikapnya terhadap kedua orang tua dari anakanak

yang bermusuhan itu tampak jauh berbeda. Ayah Manguri terlampau

mendapat penghormatan daripadanya, sedang ayah Pamot justru diancam dan

ditakut-takuti.

“Apakah yang sebenarnya telah terjadi?“ pertanyaan itu selalu mengganggu Ki

Jagabaya “apakah memang harus ada perbedaan, karena ayah Manguri

seorang yang kaya raya, sedang ayah Pamot hanyalah seorang petani biasa?

Apakah dengan demikian kebenaranpun terpengaruh pula oleh keadaan itu?“

Tetapi Ki Jagabaya berjanji di dalam hatinya “Aku: akan mencoba melihat

kebenaran itu ditegakkan. Aku tidak peduli siapakah ayah Manguri dan

siapakah ayah Pamot. Bahkan apapun yang dapat terjadi atasku seandainya

ayah Manguri itu mengancam” Namun nada suara hati itu menurun “Tetapi

kalau Ki Demang mengambil sikap lain, aku tidak akan banyak berdaya”

Meskipun demikian sejauh mungkin Ki Jagabaya akan berusaha untuk berdiri

tegak sebagai seorang petugas dan bebahu Kademangan Kepandak.

Semakin lama merekapun menjadi semakin dekat rumah Sindangsari.

Beberapa orang yang melihatnya, segera dapat menebak pula bahwa

keduanya pasti akan pergi ke rumah Sindangsari.

Bahkan beberapa orang anak-anak telah berlari-lari lebih dahulu dan berkata

kepada Sindangsari “Ki Demang pasti akan kemari”

“Ki Demang?“ Sindangsari terkejut.

“Ya. Bersama Ki Jagabaya. Mereka berkuda ke arah ini”

Sindangsaripun menjadi bingung. Ketika ia menyampaikannya pula kepada

ibunya, ibunyapun menjadi bingung pula.

“Jangan bingung“ kakeknya yang kebetulan ada di rumah mencoba

menenangkan mereka “apa yang mesti di bingungkan? Ki Demang dan Ki

Jagabaya pasti hanya sekedar mencari keterangan tentang keributan yang baru

saja terjadi. Bukankah kau tidak bersalah?“ kakeknya berhenti sebentar, lalu

“tetapi kau harus menjawab semua pertanyaannya sesuai dengan yang terjadi

sebenarnya. Ingat, apa adanya. Itu adalah perbuatan yang sebaik-baiknya kau

lakukan saat ini.

Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, sebenarnyalah Ki Demang dan Ki Jagabaya telah

memasuki halaman rumah kakek Sindangsari. Dengan tergopoh-gopoh orang

tua itu menyongsong mereka, dan mempersilahkan mereka memasuki rumah

mereka yang tidak terlampau besar.

Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka keduanyapun kemudian mengikuti

kakek Sindangsari, masuk keruang tengah dan duduk di atas balai-balai bambu

yang besar.

“Aku hanya sebentar” berkata Ki Demang “panggilan anakmu yang bernama

Sindangsari”

“Maksud Ki Demang, cucuku?“

“He, cucumu? Ya, cucumu”

Maka dipanggilnyalah Sindangsari bersama ibunya untuk menghadap Ki

Demang dan Ki Jagabaya.

Sejenak Ki Demang memandangi kedua ibu dan anaknya itu berganti-ganti.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam “Jadi Sindangsari ini

adalah anakmu?“

“Ya Ki Demang”

“Baik, baik” desis Ki Demang “duduklah disini. Marilah kita berbicara “

Keduanyapun duduk pula sambil menundukkan kepalanya di amben itu juga.

“Aku akan berbicara dengan Sindangsari” berkata Ki Demang.

“Silahkan, silahkan” jawab kakeknya.

“Majulah”

Dengan kepala yang semakin menunduk Sindangsaripun beringsut sedikit.

“Apakah kau sudah mendengar, apa yang telah terjadi antara Pamot dan

Manguri?” bertanya Ki Demang.

Dada Sindangsari berdesir. Tetapi ia selalu teringat akan pesan kakeknya,

bahwa ia harus berkata sebenarnya.

Sambil mengangguk ragu ia menjawab “Sudah Ki Demang”

“Coba katakan, apakah yang sudah terjadi?“

“Beberapa anak muda telah berkelahi melawan gerombolan Sura Sapi yang

diundang oleh Manguri”

“Ah” potong Ki Demang “begitulah berita itu?

Sindangsari mengangguk.

“Dari siapa kau mendengar?“

Sindangsari ragu-ragu sejenak. Tetapi sekali lagi ia teringat pesan kakeknya.

Maka jawabnya “Dari kakek, Ki Demang”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kemudian kepada kakek

Sindangsari ia bertanya “Apakah benar demikian?“

“Menurut pendengaranku Ki Demang”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini ia memandang

Sindangsari hampir tanpa berkedip lagi.

“Sindangsari“ ia berkata “kau akan menjadi sumber penyelesaian dari masalah

ini. Coba katakan, apakah kau dapat memilih dengan tegas salah seorang dari

kedunyanya?“

Ternyata pertanyaan itu telah menggetarkan dada Sindangsari. Sebagai

seorang gadis, maka pertanyaan itu membuatnya tersipu-sipu. Pipinya menjadi

merah, dan kepalanya justru menunduk dalam-dalam.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan Ki Demang itu

dirasakannya terlampau langsung. Dengan demikian, maka Sindangsari pasti

akan menemui kesulitan untuk menjawabnya.

Karena itu maka Ki Jagabayapun kemudian mencoba untuk menolongnya

“Sindangsari” katanya “maksud Ki Demang adalah, agar Manguri dan Pamot

tidak selalu bertengkar karena mungkin mereka salah paham. Sudah tentu

semuanya itu bukan salahmu. Mungkin kau sama sekali tidak menghendaki

pertengkaran diantara kawan-kawan se padukuhan. Tetapi salah paham itu

memang mungkin saja terjadi. Bahkan terlampau biasa terjadi. Nah, supaya hal

itu hidak berlarut-larut, maka kau harus menegaskan sikapmu“ Ki Jagabaya

berhenti sejenak, lalu “Sindangsari, siapakah menurut anggapanmu yang

bersalah dari keduanya? Apakah Manguri ataukah Pamot?“

Sindangsari masih menundukkan kepalanya. Tetapi pertanyaan Ki Jagabaya

masih lebih mudah dijawab olehnya daripada pertanyaan Ki Demang.

“Tentu salah seorang dari keduanya keliru“ sambung Ki Demang “yang keliru

sebaiknya mendapat peringatan. Supaya kami tidak salah memberikan

peringatan itu, nah, kaulah yang dapat menunjuk, siapakah yang wajib

mendapat teguran itu”

Sejenak Sindangsari terbungkam. Sambil mempermainkan ujung bajunya ia

menggigit bibirnya.

“Jawablah Sari“ bisik ibunya “semuanya ini untuk kebaikanmu dan kebaikan

padukuhan Gemulung. Apabila terjadi sesuatu, bukan kaulah yang akan

dipersalahkan lagi”

Sindangsari bergeser sedikit. Perlahan-lahan sekali terdengar suaranya “Yang

salah adalah Manguri ibu”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata “Begitulah Ki

Demang. Menurut Sindangsari, Mangurilah yang bersalah”

Ki Demang mengerutkan keningnya, sedang Ki Jagabaya berkata “Nah, Ki

Demang, kita tinggal mengambil kesimpulannya. Kalau Manguri yang bersalah,

tentu Pamotlah yang benar. Begitu?“

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Keterangan ini langsung kita dengar dari Sindangsari sendiri” berkata Ki

Jagabaya “sehingga keragu-raguan kita, apakah Pamot yang mencegat

Manguri yang sedang berjalan bersama Sindangsari, ataukah ceriteranya lain

lagi, atau ceritera-ceritera lain yang setiap orang dapat mengarangnya, kini

sudah mendapat penjelasan langsung dari yang berkepentingan”

Ki Demang mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Tetapi tampaklah

sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya. Namun demikian ia tidak dapat

membantah lagi kata-kata Ki Jagabaya itu, karena sebenarnyalah bahwa

Sindangsari memang sudah menyebut sendiri, Mangurilah yang bersalah.

Akhirnya terdengar suara Ki Demang dalam nada yang datar “Baik, baik. Kita

sudah mendengar keterangan Sindangsari” ia berhenti sejenak, lalu “aku kira

keperluan kita sudah cukup hari ini”

“Begitu tergesa-gesa Ki Demang ?” bertanya kakek Sindangsari.

“Aku hanya memerlukan penjelasan itu” jawab Ki Demang “Bukankah begitu Ki

Jagabaya?”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya Ki Demang. Aku kira

keperluan kita memang sudah selesai”

Maka keduanyapun kemudian minta diri. Sambil mengerutkan keningnya Ki

Demang meninggalkan halaman rumah Sindangsari. Sekali-sekali ia berpaling,

namun kemudian kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Apakah kita akan pergi ke rumah pedagang itu?” bertanya Ki Jagabaya.

Ki Demang menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Tidak. Aku tidak

memerlukan keterangannya lagi”

“Jadi, apakah kita sudah dapat mengambil kesimpulan, kemudian melakukan

tindakan-tindakan yang penting untuk mencegah terulangnya perstiwa ini?”

Ki Demang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tetapi ia tidak

menjawab.

Ki Jagabaya menjadi heran. Apalagi yang dipikir oleh Ki Demang ini?.

Ki Demang hampir-hampir tidak menghiraukan lagi, bahwa ia berkuda

bersama-sama dengan Ki Jagabaya. Sesuatu yang bara, yang sama sekali

tidak terbayang di kepalanya sebelum ia berangkat, kini tiba-tiba saja telah

tumbuh. Namun dengan demikian, maka di padukuhan Gemulung dan di

Kademangan Kepandak telah timbul pula suatu persoalan yang baru sama

sekali.

Ki Jagabaya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Ki Demang

kemudian berkata “Kita kembali ke Kademangan”

Dan ternyata Ki Demang sama sekali tidak memerlukan pertimbangan lagi.

Tiba-tiba saja kudanya dilarikannya semakin cepat. Sedang Ki Jagabaya

mengikutinya saja di belakang. Hanya kadang-kadang ia mengkibas-kibaskan

lengan bajunya karena debu yang diterbangkan oleh kaki-kaki kuda Ki Demang

melekat dibajunya itu.

Sementara itu, Manguri yang merasa telah gagal untuk sekian kalinya, menjadi

semakin marah bukan buatan. Apalagi ketika ia sadar, bahwa seluruh

padukuhan kini mengetahuinya apa yang telah dilakukannya. Sambil

menggeretakkan giginya ia berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Ia tidak tahu

apa yang akan dilakukannya. Ia merasa seluruh padukuhan Gemulung kini

mengarahkan pandangan mata mereka kepadanya.

“Gila“ ia menggeram “ternyata nama Sura Sapi itu sama sekali tidak berarti

“namun kemudian “tetapi kenapa Pamot dapat mengetahui bahwa gerombolan

Sura Sapi itu akan mengeroyoknya, sehingga ia sempat mempersiapkan dirinya

bersama beberapa orang kawan?“

Tetapi pertanyaan itu tidak dapat dijawabnya. Karena itu ia hanya dapat

menghentakkan kakinya saja dilantai, atau memukul tiang dengan telapak

tangannya.

Manguri terkejut ketika ia mendengar suara ayahnya memanggilnya. Dengan

tergesa-gesa ia mendatanginya.

“Duduklah” berkata ayahnya.

Manguripun kemudian duduk di hadapan ayahnya.

“Kau sudah membuat aku pening” gumam ayahnya.

Manguri tidak menyahut.

“Tetapi agaknya aku dapat mengatasinya. Aku sudah bertemu dengan Ki

Demang. Karena Ki Demang baru saja kehilangan isterinya, maka

persoalannyapun berkisar kepada seorang calon isteri baru”

Manguri tidak menjawab.

“Tetapi Jagabaya yang bernama Supa itu agaknya memang besar kepala”

Manguri mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya “Apa katanya?“

“Tetapi sudah tentu ia berada di bawah pengaruh Ki Demang”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Untuk sementara kau harus tetap berada di rumah. Kalau kau keluar, mungkin

akibatnya kurang baik sekarang, sebelum Ki Demang mengambil langkahlangkah

yang dapat menguntungkan kita. Aku sudah menemui Ki Demang

sendiri pagi tadi, kemudian aku pergi ke tempat perempuran yang dapat aku

jadikan calon isteri Ki Demang itu. aku sudah menjanjikannya”

“Siapakah perempuan itu?“

“Kenapa kau bertanya? Sudah tentu bukan Sindangsari”

“ibunya?“

“Hus” bentak ayahnya “apakah kau sangka Ki Demang itu sudah terlampau

tua?“

“Perempuan itupun belum terlampau tua”

“Aku mempunyai beberapa orang gadis yang pantas untuknya” sahut ayahnya.

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Mudahmudahan

Ki Demang segera bertindak” Manguri berhenti sejenak “tetapi

bagaimana aku dapat mendapatkan anak itu ?“

“Jangan tergesa-gesa. Kalau kau mempergunakan caramu yang bodoh itu, kau

akan terjerumus lagi ke dalam kesulitan. Dan aku lagi yang harus

mengurusnya. Dengan demikian aku akan kehilangan banyak waktu untuk

mengurusi pekerjaanku”

“Seharusnya ayah memang menyediakan waktu untuk mengurusi masalahku.

Selama ini ayah hanya mengurusi lembu, kerbau dan ibu-ibu muda saja”

“Apa tahumu tentang hal itu“ ayahnya membelalakkan matanya “aku dan ibumu

menyediakan uang dan semua kebutuhanmu secukupnya. Seumurmu itu, kau

harus sudah dapat mengurus dirimu sendiri. Meskipun dalam masalah-masalah

seperti kali ini aku masih harus ikut menjadi sibuk. Kalau Jagabaya yang gila itu

berkeras kepala, pekerjaanku akan menjadi semakin panjang karenanya”

Manguri tidak menjawab. Kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Selain urusanku dengan Ki Demang, jangan kau sangka bahwa orang dari

gerombolan Sura Sapi itu akan berdiam diri. Kau juga yang bodoh, kenapa kau

hubungi cucurut-cucurut itu. Akhirnya mereka tidak dapat menyelesaikan

tugasnya, bahkan kemudian rahasiamu diketahui oleh orang se padukuhan,

bahkan se Kademangan”

“Itulah yang aneh ayah” berkata Manguri kemudian “darimana Pamot tahu,

bahwa Sura Sapi telah mengancamnya”

“Mungkin Sura Sapi sendiri. Mereka terlampau membanggakan diri. Tetapi

akhirnya mereka hanya dapat melarikan dirinya saja”

“Tidak mungkin ayah. Apakah mereka terlampau bodoh untuk berbuat

demikian?“

“Jika tidak demikian, mereka pasti akan mendendammu. Mereka merasa kau

menjerumuskan mereka ke dalam suatu kesulitan”

Manguri mengerutkan keningnya. Hal itu memang mungkin sekali terjadi.

“Nah, sekarang kau lihat. Seharusnya besok aku pergi ke tlatah Menoreh

mengantarkan beberapa ekor sapi. Tetapi aku harus menunda

keberangkatanku karena masalahmu”

Manguri tidak menjawab.

“Kalau kau juga mengingini gadis itu, maka masalah ini memang akan

berkepanpangan. Dan aku akan menjadi semakin cepat tua”

“Sedang ibu-ibu muda masih banyak menunggu”

“Tutup mulutmu“ ayahnya menggeram ”Kalau kau masih ribut saja, aku tidak

akan menyelesaikan urusanmu. Baik dengan Ki Demang, dengan anak-anak

Gemulung, dengan gerombolan Sura Sapi, maupun dengan Sindangsari”

Manguri tidak menjawab lagi. Kalau ayahnya menjadi marah, maka ia akan

benar-benar meninggalkannya pergi dan tidak mau lagi mengurus

persoalannya itu.

Bab 5 : Dlupak Minyak Kelapa

Dalam pada itu, seperti yang diperhitungkan

oleh ayah Manguri, maka gerombolan Sura

Sapi yang merasa terhina oleh kekalahan

mereka dari anak-anak Gemulung, tidak

juga dapat melupakannya. Bagi mereka,

kesalahan pertama dilemparkannya kepada

Manguri. Manguri pasti tidak menyimpan

rahasia penyergapan itu baik-baik, sehingga

Pamot mengetahuinya, dan sempat

mempersiapkan beberapa orang kawannya.

“Aku akan menuntut kerugian daripadanya”

desis Sura Sapi sendiri kepada kawankawannya.

Kawan-kawannya mendengarkannya

dengan penuh keragu-raguan. Apakah

Manguri akan memenuhinya? Bahkan

menurut mereka, Manguri justru merasa

telah dirugikan.

“Manguri justru menyesali kegagalan kita” berkata salah seorang dari mereka.

“Itu adalah karena salahnya” jawab Sura Sapi.

“Gerombolan Sura Sapi tidak pernah gagal sebelumnya. Kami selalu bekerja

dengan teliti. Tidak mungkin kedatangan kami telah mereka tunggu kalau berita

tentang usaha kami ini tidak dibocorkan oleh Manguri sendiri”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kami akan mendatangi rumahnya. Kami akan menuntut upah yang sudah

dijanjikan”

“Kalau ia berkeberatan?“

“Kami pergunakan kekerasan”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak pernah terkalahkan. Bahwa kita gagal menangkap Pamot, adalah

bagaikan arang yang tercoreng di kening kita “Nilai harga diri kita jauh lebih

tinggi dari upah itu”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi mereka

masih juga ragu-ragu. Di rumah Manguri ada beberapa orang pekerja yang

tinggal di rumah itu siang dan malam.

Sura Sapi seakan-akan dapat membaca perasaan beberapa orang kawannya

sehingga ia berdesis “Apakah kalian berpikir bahwa para pekerja itu mampu

menahan kita? Mereka tidak lebih dari tukang-tukang rumput, tukang-tukang

sapu dan gamel”

Kawan-kawannya masih juga mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kalau kalian masih juga ragu-ragu” berkata Sura Sapi “kita akan

mengajak seorang kawan lagi dan dapat dipercaya”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Hal serupa ini tidak pernah mereka

lakukan sebelumnya. Mereka tidak pernah membawa orang lain di dalam

gerombolan mereka. Tetapi kali ini pimpinan mereka menganggap perlu untuk

membawa orang lain bersama mereka.

“Jangan cemas. Orang itu sebenarnya bukan orang asing bagi kita. Ia adalah

kakak kandungku sendiri yang kebetulan pulang dari perantauan”

“Pulang kemana?“ tiba-tiba salah seorang ang-gutanya bertanya.

“Ke rumah. Rumah yang sudah sekian tahun aku tinggalkan. Tetapi di rumah itu

ada paman dan bibi. Sekali-sekali aku lewat juga di rumah itu. Dan aku melihat

kakang Temon ada di rumah”

“Kau percaya kepada kakak kandungmu?“

Sura Sapi tertawa, jawabnya “Aku sudah ketemu dengan kakang Temon. Ia

akan ikut bersama kami. Ia memerlukan bekal untuk kembali ke tempatnya ”

“Dimana ia tinggal?“ ‘

“Di ujung Gunung Kendeng”

“Kalau kau sudah mempercayainya, kami tidak akan berkeberatan” desis

kawan-kawannya kemudian.

Maka merekapun kemudian sepakat untuk pergi ke rumah Manguri. Anak itu

harus membayar upah yang sudah dijanjikannya, karena kegagalan usaha

mereka menangkap Pamot dipengaruhi oleh keadaan di luar perhitungan, yang

menurut Sura Sapi, kesalahannya terletak justru pada Manguri.

“Nanti malam kita datangi rumahnya”

“Tetapi anak-anak muda Gemulung pasti masih berjaga-jaga karena peristiwa

itu” berkata salah seorang dari mereka.

“Bodoh kau” bentak Sura Sapi “apakah kita tidak dapat menemukan lubang

sama sekali pada dinding padukuhan seluas itu? Mereka pasti hanya akan

berkumpul di gardu-gardu atau sekali dua kali berbondong-bondong

mengelilingi padukuhan lewat jalan diseputar padukuhan itu”

“Ya, ya” desis beberapa orang yang lain.

“Nah, sekarang kalian tidak mempunyai pekerjaan apapun. Kalau kalian mau

tidur tidurlah. Aku akan menemui kakang Temon”

Demikianlah maka Sura Sapi kemudian meninggalkan sarangnya. Wajahnya

yang keras dan kasar, pakaiannya yang justru terlampau bagus dan mahal,

membuatnya tidak mudah dikenal oleh orang-orang disekitar rumahnya. Sura

Sapi rasa-rasanya sudah berganti wajah. Karena itu tidak seorangpun yang

menaruh curiga ketika ia memasuki sebuah halaman rumah di pinggir desa.

Rumah yang sudah lama ditinggalkannya.

Kakak kandungnya, Temon, ternyata telah melakukan pekerjaan serupa

dengan adiknya, meskipun di tempat yang agak jauh. Karena itu tawaran Sura

Sapi sama sekali tidak ditolaknya.

“Nanti malam kita pergi ke rumah pedagang kaya itu” berkata Sura Sapi.

“Apakah di rumah itu aku dapat menemukan sesuatu?“

“Maksudku, aku akan menuntut upah yang sudah dijanjikan untuk pekerjaan

yang sudah aku katakan tadi. Meskipun tugas itu gagal”

Temon mengangguk-anggukkan kepalanya “Apakah pedagang itu akan

membayar tuntutan kalian?“

“Kami akan memaksa. Aku kira ia tidak akan berani melawan. Setidak-tidaknya

ia akan segan bertengkar dengan kami, meskipun dalam keadaan terpaksa ia

akan melakukannya. Karena itu, tuntutan kitapun tidak akan terlampau berlebihlebihan

supaya kita tidak memaksa ia melakukan perlawanan”

Temon mengangguk-anggukkan kepalanya ”Baik. Aku ikut bersama kalian”

Demikianlah maka gerombolan Sura Sapi mendapat tambahan seorang lagi

untuk sementara. Bagaimanapun juga Sura Sapi masih mempertimbangkan

kemungkinan-kemungkinan pahit yang dapat terjadi di halaman rumah

pedagang kaya itu.

Ketika malam mulai menyentuh padukuhan Gemulung dan sekitarnya, di ujung

hutan rindang, Sura Sapi dan kawan-kawannya sudah siap untuk pergi ke

Gemulung dengan tuntutan yang melonjak-lonjak di dalam dada mereka. Kalau

mereka tidak mau memberikan upah seperti yang dijanjikan, maka harga diri

mereka akan mereka tebus dengan kekerasan atas keluarga Manguri.

Pada saat yang bersamaan Ki Demang Kepandak duduk di pendapa rumahnya

seorang diri menghadapi sebuah dlupak minyak kelapa, semangkuk air panas

dan beberapa macam makanan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya di

lihatnya sebuah lentera yang menyala di emper gardu di regol halaman.

Beberapa orang peronda sudah ada di dalamnya sambil berbicara

berkepanjangan.

Biasanya Ki Demang sering turun juga kehalaman dan berbicara dengan

mereka. Tetapi kali ini Ki Demang lebih senang duduk seorang diri sambil

merenungi nyala api dlupaknya yang bergerak-gerak, dibelai angin yang

lembut.

Sekali-sekali Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian giginya

gemeretak sambil menghentakkan tangannya ditelapak kakinya sendiri.

“O, kenapa aku datang sendiri di Gemulung” desisnya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat apapun. Hal itu sudai. terlanjur dilakukan. Dan ia

sudah terlanjur melihat sendiri gadis yang bernama Sindangsari itu.

“Aku bukan seorang suami yang baik” katanya kepada diri sendiri “lima kali aku

kawin, dan lima kali pula perkawinan itu pecah. Apakah aku masih mempunyai

kesempatan untuk kawin lagi?“

Dada Ki Demang serasa menjadi sesak. Teringat olehnya janji pedagang ternak

yang kaya dari Gemulung, bahwa ia akan mencarikan seorang isteri buat Ki

Demang.

“Aku memang masih ingin kawin” katanya kepada diri sendiri “tetapi tidak

bersungguh-sungguh. Kawin sekedar sebagai kelajiman saja” Ki Demang

kemudian berdesah “tetapi Sindangsari sangat menarik bagiku. Ia seorang

gadis yang cantik dan luruh. Agaknya ia’ jujur pula. Pantaslah bahwa

Sindangsari dapat menimbulkan masalah di antara anak-anak muda

Gemulung”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Namun

kemudian ia mengerutkan keningnya sambil menggeram “0, aku harus

mencegah benturan-benturan berikutnya. Kalau gadis itu ada disini, maka tidak

seorangpun yang akan mendendam. Baik Pamot maupun Manguri, tidak akan

berani mempersoalkannya lagi”

Dan tiba-tiba saja Ki Demang itu bangkit. Dengari tergesa-gesa ia masuk ke

pringgitan. Namun kemudian ia keluar lagi. Sesaat kemudian terdengar

suaranya menggeletar memanggil seorang peronda yang ada di dalam gerdu di

regol halamannya.

Dengan tergesa-gesa pula peronda itu mendekatinya sambil bertanya “Apakah

Ki Demang memanggil aku?“

“Ya, ya” sahut Ki Demang “kemarilah”

Peronda itu semakin mendekat.

“Panggil Ki Reksatani. Cepat” teriak Ki Demang.

“Bukankah siang tadi Ki Reksatani baru saja datang kemari Ki Demang?“

“Aku tahu, aku tahu. Tetapi panggil sekarang”

Peronda itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya “Baiklah. Aku akan

memanggilnya”

Maka peronda itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman

Kademangan setelah mengatakan keperluannya kepada kawan-kawannya.

“Buat apa Ki Reksatani dipanggil sekarang?“

“Hus” desis peronda itu “lehermu dapat dipuntirnya sampai patah”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia tersenyum kecut.

Dengan langkah yang panjang peronda itupun kemudian pergi ke rumah Ki

Reksatani.

“He, apa keperluanmu?” bertanya Ki Reksatani ketika peronda itu sudah

sampai ke rumahnya.

“Ki Reksatani dipanggil oleh Ki Demang”

“Aku?”

“Ya“

“He, bukankah aku baru saja bertemu dengan kakang Demang? Kakang

Demang tidak mengatakan apa-apa”

“Tetapi mungkin berkembang suatu persoalan baru sehingga Ki Demang

memerlukan kawan berbincang”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menganggukanggukkan

kepalanya sambil berkata “Baiklah. Aku akan pergi ke

Kademangan. Pergilah dahulu. Sebentar lagi aku akan menyusul”

“Baiklah. Aku akan mendahului, dan mengatakan kepada Ki Demang bahwa

sebentar lagi Ki Reksatani akan menyusul”

“Ya”

Peronda itupun kemudian meninggalkan rumah Ki Rekstani, sementara Ki

Reksatani merenung sejenak memandang kekegelapan.

“Apa lagi keperluan kakang Demang kali ini” desisnya.

Reksatani itupun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia minta diri kepada

isterinya setelah membenahi pakaiannya.

“Aku dipanggil kakang Demang” katanya.

Isterinya yang mendengar peronda dari Kademangan yang menyampaikan

pesan Ki Demang kepada Ki Reksatani itupun berkata “Tentu ada keperluan

yang tiba-tiba. Bukankah kakang baru saja pergi ke Kademangan?“

“Ya, malahan aku disuruhnya menunggui rumah itu. Disediakannya di dalam

geledeg seceting nasi dan sepotong ayam goreng, meskipun tinggal sebelah

sayapnya ”

Isterinya tersenyum ”Tentu ada kepentingan”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku akan pergi

sekarang”

Tetapi sebelum suaminya melangkam tlundak pintu, Nyi Reksatani berkata

lambat “Kakang, bukankah kakang Demang baru saja kehilangan isterinya”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya.

“Apakah Kakang Demang baru saja berkeliling wilayah?“

“Siang ini kakang Demang pergi ke Gemulung”

Isterinya menarik nafas dalam-dalam.

“Kenapa?“

“Apakah agaknya kakang Demang melihat perempuan cantik di sepanjang

jalan?“

Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah isterinya sejenak. Lalu

terdengar ia berdesah Itulah yang tidak aku sukai pada kakang Demang.

Mungkin ia akan membicarakan soal itu pula. Sebenarnya aku sudah jemu.

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan aku dapat memberikan pendapatku kepadanya. Sudahlah,

aku akan pergi. Apakah anak-anak sudah tidur semuanya?“

“Sudah kakang”

Ki Reksatanipun kemudian turun dari tangga rumahnya dan melintasi halaman

yang gelap. Di regol sebuah lentera yang redup, terguncang-guncang oleh

angin yang lemah.

Ki Reksatani masih sempat menarik sumbu lenteranya, sehingga nyalanya

menjadi agak terang. Kemudian membuka pintu regol dan hilang di balik

dinding.

Ki Demang yang menunggu kedatangannya dengan dada yang berdebardebar,

hampir tidak sabar lagi. Dengan gelisah ia duduk dipringgitan. Sekalisekali

ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Namun kemudian ia duduk lagi

menghirup air panas dimangkuk yang masih setengah isi.

Setiap kali ia mendengar langkah seseorang, disangkanya Ki Reksatani sudah

datang.

Ketika ia mendengar pintu pringgitan diketuk orang dengan tergesa-gesa ia

meloncat berdiri. Ketika pintu dibukanya ia melihat peronda yang disuruhnya

memanggil adiknya.

“Dimana Reksatani ?“ Ki Demang bertanya dengan serta-merta.

“Sebentar lagi ia akan menyusul Ki Demang”

“He, apakah kau tidak mengatakan bahwa aku memerlukannya sekarang?“

“Ya Demang”

“Kenapa ia tidak datang bersamamu?“

“Aku disuruhnya dahulu, kemudian ia akan menyusul”

“Setan elek” Ki Demang mengumpat “kenapa tidak sekarang he”

Peronda itu tidak menjawab.

“Kenapa kau berdiri saja disitu?“

Peronda itu terkejut. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

“Kembali ke gardumu”

Peronda itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Baik Ki Demang”

Namun ketika ia baru saja beranjak, Ki Demang memanggilnya “He, kau”

Orang itu menjadi semakin bingung.

“Eh, maaf. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu “Ki Demang

mengangguk-angguk “sebenarnya aku sangat berterimakasih. Mungkin

kepalaku sedang pening, sehingga kadang-kadang aku kehilangan

pengamatan diri”

Peronda itu menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah udara seisi pendapa itu

mau dihirupnya.

“Nah, kembalilah ke gardumu. Tetapi apakah kau haus?“

“Di gardu sudah disediakan minum Ki Demang”

“Lapar barangkali?“

Peronda itu menggeleng “Terima kasih Ki Demang, aku sudah makan di rumah”

“Baik, baik. Terima kasih”

Peronda itupun kemudian kembali ke gardunya. Ketika ia menuruni tangga

pendapa Kademangan, ia menarik nafas sekali lagi sambil berdesah “Hem, Ki

Demang sudah mulai lagi. Apabila ia ditinggalkan isterinya, entah mati entah

cerai, maka ia menjadi seperti orang yang kebingungan. Baru berapa pekan ia

bercerai kali ini. Ia sudah mulai lagi dijangkiti penyakitnya”

Namun gumamnya itu terputus. Sekali ia berpaling. Tetapi ketika ia tidak

melihat Ki Demang di pendapa, ia tersenyum sendiri.

Baru sejenak kemudian seseorang memasuki regol halaman Kademangan.

Orang itu adalah Ki Reksatani. Adik Ki Demang. Peronda yang tadi

menjemputnya menyongsongnya sambil berkata “Ki Demang sudah menunggu

demikian lama. Hampir-hampir ia tidak sabar lagi, dan aku dibentak-bentaknya,

meskipun kemudian ditawarkan kepadaku makan”

Mau tidak mau Ki Reksatani tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya ia menjawab “Sekarang kau sudah kenyang ya?“

“Aku tidak mau, karena baru saja aku makan di rumah”

Adik Ki Demang itu tertawa “Biarlah aku nanti yang makan”

“Sekarang silahkan. Ki Demang sudah terlampau gelisah”

Ki Reksatani itupun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke pringgitan. Desir

langkahnya di pendapa telah didengar oleh Ki Demang sehingga sebelum ia

mengetuk, pintu pringgitan sudah terbuka.

“Anak demit kau“ umpat Ki Demang “kenapa kau tidak datang bersama anak

itu?“

Ki Reksatani tersenyum. Katanya “Bukankah aku harus melihat apakah semua

palang-palang pintu di rumah sudah baik? Mungkin juga membenahi barangbarang.

Tetapi bukankah aku sudah pesan kepada peronda itu?“

“Uh, ada saja alasanmu. Mari duduk disini. Apakah kau sudah makan?“

Ki Reksatani tertawa. Jawabnya “Sudah kakang. Aku sudah makan”

“Baik. Baik” desis Ki Demang “sekarang, dengarkan. Aku mempunyai

kepentingan yang tidak dapat aku tunda-tunda lagi”

Adiknya menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Kepentingan Kademangan

Kepandak?“

“Ya, ya. Kepentingan Kademangan Kepandak”

Ki Reksatani mengangguk-angguk pula ”apakah kepentingan itu kakang?“

“Reksatani. Kau tahu, bahwa tidak ada keluarga lain daripadaku, selain kau.

Sepeninggal ayah dan ibu, maka kau adalah satu-satunya keluargaku,

sehingga kaulah yang pertama kali akan aku ajak berbicara tentang masalahku

kali ini.

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terkenang olehnya, tidak

lebih dari setahun yang lalu, kakaknya pernah berkata begitu pula kepadanya.

Kata-kata itu rasa-rasanya masih terngiang sampai saat ini. Dan kini kakaknya

telah mengucapkannya lagi. Sudah tentu untuk kepentingan yang serupa.

“Reksatani, kau tentu sudah tahu pula, bahwa isteriku yang mengguk itu baru

saja pergi dari rumah ini”

Ki Reksatani mengangguk-angrukkan kepalanya.

“Aku sekarang hidup sendiri. Tidak ada seorangpun yang dapat aku ajak

berbicara dalam segala masalah. Sedang di Kademangan Kepandak semakin

hari semakin banyak persoalan yang harus diselesaikan. Nah, kau dapat

membayangkan. Aku selalu kelelahan hampir setiap hari. Tetapi tidak ada

orang yang dapat memijitku, atau mengusapkan parem beras kencur di kakiku”

Ki Reksatani bergeser sejengkal maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia

berkata “Bukankah maksud kakang, kakang ingin aku memberikan

pertimbangan terhadap seseorang yang baru saja kakang lihat hari ini, mungkin

diperjalanan ke Gemulung, atau mungkin dimanapun juga?“

“Hus“ Ki Demang berdesis “darimana kau tahu”

“Hal ini sudah kakang lakukan berulang kali. Aku sudah menjadi terbiasa

karenanya”

“Baiklah. Aku tidak ingkar. Aku memang ingin mendapat pertimbanganmu.

Bagaimana kalau aku kawin saja lagi?“

“Kakang” jawab Ki Reksatani kemudian “sebenarnya aku menjadi sangat sulit

untuk menjawab pertanyaan ini. Aku tahu, bahwa kakang ingin aku

mengiakannya. Menyetujui dan bahkan mendukungnya”

“Tentu, tentu”

“Tetapi sebenarnya aku berpendirian lain kakang“ Ki Reksatani berhenti

sejenak “siapakah orang yang kakang lihat itu?“

Ki Demang tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah adiknya dengan

kening yang berkerut-kerut.

“Tetapi” berkata Ki Reksatani “siapakah perempuan itu ? Janda atau gadis atau

siapa?“

“Katakanlah, apakah kau setuju?“ sahut Ki Demang “dan apakah yang kau

maksud dengan pendirianmu yang lain itu ?“

“Seharusnya kakang mengatakannya lebih dahulu, siapakah perempuan itu”

Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Dan adiknya berkata seterusnya

“Kenapa kakang ragu-ragu. Biasanya kakang tidak pernah ragu-ragu

mengatakan. Apakah sekali ini kakang mempunyai pertimbangan yang agak

berbeda?“

“Ya. Aku memang mempunyai pertimbangan yang agak berbeda kali ini” jawab

Ki Demang.

“Sebaiknya kakang mengatakan kepadaku. Baru kakang bertanya, bagaimana

pertimbanganku itu”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ragu-ragu namun ia

berkata “Baiklah Reksatani. Sebenarnya terlampau berat bagiku untuk

menyebutnya. Tetapi apaboleh buat. Aku memang perlu pertimbanganmu”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kali ini aku tidak semata-mata mementingkan diriku sendiri” berkata Ki

Demang, sedang Ki Reksatani mendengarkannya dengan saksama “Seperti

kau ketahui, anak-anak Gemulung baru saja terlibat dalam perkelahian.

Adiknya mengangguk, tetapi ia bertanya “Apakah ada hubungannya dengan

rencana kakang untuk kawin?“

“Dengar dulu, baru bertanya”

“0, ya”

“Persoalannya berkisar pada seorang gadis” Ki Demang berhenti pula menarik

nafas “Kau dengar?“

“Ya, ya“

“Tentu saja hal itu tidak dapat dibiarkan saja. Jika demikian masalahnya pasti

akan menjadi berlarut-larut. Keduanya pasti akan saling mendendam dan

berusaha untuk merebut sumber persoalan itu”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya.

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menganggukanggukkan

kepalanya sambil berkata “Baiklah, aku akan pergi ke Kademangan.

Pergilah dahulu. Sebentar lagi aku akan menyusul”

“Karena itu, maka sumber persoalannya itulah yang harus diselesaikan dengan

sebaik-baiknya. Keduanya harus mendapatkan atau kedua-duanya tidak. Tetapi

bahwa kedua-duanya harus mendapatkan adalah tidak mungkin sama sekali”

“O” tiba-tiba Ki Reksatani memotong sambil mengangguk-angguk. Katanya

“Sekarang aku tahu. Daripada hal itu akan tetap menjadi masalah, maka

sebaiknya keduanya sama sekali tidak mendapatkannya. Tegas-tegas begitu.

Dan jalan yang akan kakang tempuh, mengambil saja sumber persoalannya,

dan dibawa ke rumah ini menjadi seorang isteri. Begitu?“

Ki Demang menegang sejenak. Namun kemudian ia mengangguk “Ya,

begitulah”

“Jadi tegasnya, orang yang kakang inginkan itu seorang gadis yang bernama

Sindangsari?“

“Bukan yang aku inginkan. Tetapi, sekedar untuk mencegah masalahnya

menjadi berlarut-larut”

“Hem“ Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam “suatu pengorbanan yang luar

biasa. Itu adalah suatu tanggung jawab yang tidak kepalang tanggung”

“Hus, jangan menyindir”

“Aku tidak menyindir kakang. Tetapi bagaimana seandainya gadis yang

bernama Sindangsari itu sama sekali tidak pantas untuk dijadikan isteri seorang

Demang? Mungkin wajahnya terlampau jelek, atau katakan terlampau bodoh”

“Ah, tentu tidak”

“Apakah kakang sudah melihat?“

“Bukankah aku dari Gemulung?“

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tetapi

tampaklah bahwa senyumnya adalah senyum yang hambar. Dengan nada yang

rendah ia bertanya “Jadi kakang Demang sudah melihat sendiri gadis yang

bernama Sindangsari itu?“

Ki Demang mengangguk-angguk ”Cantik?”

Ki Demang ragu-ragu sejenak, lalu menggeleng sambil menjawab “Tidak cantik.

Tetapi itu tidak penting bagiku”

“Tentu cantik. Kalau tidak, ia tidak akan menimbulkan persoalan antara anakanak

muda”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Tetapi katakanlah,

apakah kau setuju atau tidak? Aku sudah memenuhi permintaanmu. Aku sudah

menyebut namanya, dan kau sudah mendapat gambaran latar belakang dari

tindakanku kali ini”

“Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejengkal ia bergeser maju.

“Kakang” katanya ragu-ragu “apakah aku boleh mengatakan perasaanku yang

sebenarnya, bukan sekedar untuk menyenangkan hati kakang seperti

biasanya?“

Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Ditatapnya saja wajah adiknya tajam-tajam.

“Apa maksudmu?“ desisnya kemudian.

“Kakang, sebenarnya aku segan untuk menjawab pertanyaan kakang itu”

“Jangan segan. Jawablah”

Ki Reksatani mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia berkata “Tetapi aku

minta maaf sebelumnya kakang. Kali ini aku terpaksa mengatakan isi hatiku

yang sebenarnya” Reksatani berhenti sejenak, lalu “sebenarnya aku

berkeberatan atas rencana kakang Demang itu. Sepengetahuanku Sindangsari

itu pasti masih sangat muda. Lebih muda dari Pamot yang sudah pernah aku

kenal”

Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu “Kakang, aku harap kakang berusaha

mencari cara lain untuk mengatasi persoalan itu. Meskipun seandainya dengan

demikian, persoalan itu dapat selesai, karena kedua belah pihak tidak dapat

lagi berbuat apa-apa. namun kakang telah mengambil korban yang terlampau

besar”

“Apakah kau menyindir aku lagi?“

“Bukan. Bukan begitu. Maksduku, apakah Sindangsari akan dapat menerima

cara penyelesaian yang akan kakang tempuh? Sindangsari adalah seorang

gadis yang masih remaja. Ia masih menginginkan menikmati hari depan yang

baik dan panjang.

Ki Demang menjadi tegang mendengar kata-kata adiknya itu, dan Ki Reksatani

berkata seterusnya “Maaf kakang. Apakah aku dapat melanjutkannya?“

Wajah Ki Demang menjadi merah. Tetapi ia menjawab dengan kasar ”katakan.

Katakan isi hatimu seluruhnya”

“Kakang” berkata Reksatani “aku kira aku memang lebih baik berkata

sebenarnya menurut pertimbanganku, dari pada aku masih juga berpura-pura”

“Ya katakan. Katakan bahwa kau tidak setuju. Katakan bahwa aku sudah tidak

pantas lagi kawin dengan gadis kecil itu. Aku memang sudah tidak remaja lagi

meskipun belum tua. Dan aku memang sudah pernah kawin entah berapa kali.

Bukankah begitu ?“

Ki Reksatani menundukkan kepalanya.

“Kenapa kau diam saja he?“

“Aku takut, kakang akan menjadi semakin marah”

Ki Demang membelalakkan matanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalamdalam

”katakan. Aku tidak akan marah. Kita sudah cukup tua untuk membuat

pertimbangan-pertimbangan”

“Apakah benar kakang tidak akan marah?“

“Ya”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Begitulah

kira-kira kakang. Tetapi sekali lagi, kita berbicara sebagai seorang yang sudah

mampu mengendalikan diri, sehingga tidak sepantasnya kita saling bertegang

urat untuk mempertahankan pendirian masing-masing. Kalau pendirian kita

berbeda, kakang, maka demikianlah agaknya. Memang pendirian kita berbeda.

Tetapi bukankah aku tidak dapat mengikat kakang dalam suatu keharusan

untuk mentaatinya? Tetapi aku mengharap dengan sangat, agar setidaktidaknya

kakang sempat mempertimbangkan pendapatku”

Ki Demang tidak menyahut.

“Kakang, seperti yang sudah kakang katakan sendiri. Kakang sudah beberapa

kali kawin. Kalau aku tidak salah menghitung, kakang sudah kawin lima kali.

Apakah pantas kalau kakang kini mengambil seorang gadis remaja untuk

menjadi isteri kakang? Dan apakah kakang tidak menaruh belas kasihan

kepadanya, kepada gadis itu?“

“Bodoh kau. Kalau orang tuanya mengijinkan, persoalan gadis itu sudah

selesai”

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia tidak menyahut.

Diangguk-anggukannya kepalanya perlahan-lahan, namun tampak benar

bahwa ia sama sekali tidak dapat mengerti jalan pikiran kakaknya, Ki Demang

di Kepandak.

Ki Demangpun tidak segera menyambung kata-katanya, sehingga ruangan itu

menjadi hening sejenak. Di luar, di gardu, masih terdengar para peronda

bercakap-cakap. Kadang-kadang terdengar gelak memecah sepinya malam.

Namun sejenak kemudian, seperti ada sesosok hantu yang lewat, gardu itu

menjadi sepi. Tetapi tiba-tiba pembicaraan diantara mereka telah meledak lagi

untuk mencegah kantuk yang mulai beraba-raba mata mereka.

“Jadi bagaimana?” bertanya Ki Demang.

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam “Aku sudah mengatakan pendapatku

kakang”

“Jadi kau tetap tidak setuju?“

Ki Reksatani tidak menjawab

“Kau benar-benar tidak berperi-kemanusiaan”

Ki Reksatani terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya “Kenapa aku justru tidak

berperi-kemanusiaan?“

“Reksatani” berkata Ki Demang “kau tahu, bahwa sampai saat ini aku sama

sekali tidak mempunyai anak? Bukankah wajar sekali kalau aku menginginkan

seorang anak atau lebih?“

Wajah Ki Reksatani tiba-tiba menegang. Tetapi hanya sekejap, sehingga sama

sekali tidak berkesan pada kakaknya. Jawabnya kemudian “Tentu kakang.

Adalah wajar sekali kalau kakang menginginkan seorang anak. Tetapi, cobalah

kakang ingat, kakang sudah kawin berkali-kali. Dan kakang sama sekali belum

mempunyai seorang anakpun”

“Tentu, tentu. Perempuan-perempuan mandul itu sama sekali tidak berarti apaapa

bagiku. Kalau aku masih juga harus kawin dengan janda, dengan gadis

sakit-sakitan atau dengan perawan tua yang liar dan tidak terkendali sama

sekali, sudah tentu aku akan tetap tidak mempunyai seorang anakpun. Tetapi

kalau suatu ketika aku kawin dengan seorang gadis, gadis yang baik dan sehat,

mungkin aku akan mempunyai seorang anak.

Ki Reksatani mengerutkan dahinya. Katanya Kalau kakang baru satu dua kali

kawin, maka kakang dapat menyalahkan perempuan-perempuan itu. Tetapi

untuk yang kesekian kalinya kakang tetap tidak mempunyai seorang anakpun”

“Jadi kau akan mengatakan, bahwa akulah yang tidak mampu berbuat sebagai

seorang laki-laki, begitu he” wajah Ki Demang menjadi merah padam.

“Tidak kakang. Tidak” Reksatani menundukkan kepalanya “sudah aku katakan,

kalau kakang hanya akan marah saja, tidak ada gunanya aku memberi

pertimbangan Akibatnya akan tidak baik. Kakang adalah saudara tuaku. Ganti

orang tua. Sudah tentu aku tidak akan berani menyanggah niat kakang, apabila

kakang memang berkeras, apaboleh buat. Sudah aku katakan, bahwa aku

hanya sekedar memberikan pertimbangan-pertimbangan”

Ki Demangpun kemudian terdiam sejenak. Terdengar nafasnya yang memburu,

seolah-olah baru saja ia melakukan pekerjaan yang memeras segenap

tenaganya. “Reksatani” berkata Ki Demang itu kemudian “sayang. Aku sudah

berketetapan hati untuk melamar gadis itu. Tentu saja tidak tergesa-gesa. Aku

harus menyiapkan diri sebelum aku mengadakan peralatan perkawinan itu”

Reksatani tidak menyahut.

“Gadis itu memang tidak terlampau cantik. Tetapi aku ingin mengambilnya

sebagai seorang isteri yang baik. Gadis itu tidak boleh jatuh ketangan anak

muda cengeng yang hanya mampu berkelahi. Manguri, meskipun anak seorang

kaya, tetapi kelakuannya agaknya memang tidak terpuji. Lebih buruk lagi,

agaknya ayahnya melindunginya. Dan aku sama sekali tidak gentar, apapun

yang akan dilakukannya. Aku percaya kepada Ki Jagabaya, kepadamu dan

kepada bebahu yang lain, kepada para pengawal dan apalagi para pengawal

khusus yang mendapat latihan keprajuritan dari prajurit-prajurit Mataram”

Ki Reksatani hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

“Seandainya Sindangsari itu kemudian mendapat suami yang meskipun

dicintainya, Pamot, ia akan tetap berada dalam bahaya. Manguri akan dapat

berbuat terlampau banyak untuk mengganggu ketenteraman keluarganya.

Bahkan mungkin ia akan mengambil gadis itu dengan kekerasan, sekedar

untuk melepaskan nafsu dan sakit hatinya, meskipun kemudian gadis itu akan

dilepaskannya kembali. Tetapi apakah keluarga yang demikian akan dapat

bahagia?“ Ki Demang berhenti sejenak “Tidak Reksatani. Untuk kebaikan

semuanya, Sindangsari akan aku ambil saja”

Ki Reksatani masih tetap tidak menyahut. Kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Bagaimana pendapatmu ?“

Seperti biasa Ki Reksatani kini di sudutkan pada suatu keharusan untuk

menyetujuinya, seperti setiap kali mereka berbincang tentang perempuanperempuan

yang akan diambil oleh Ki Demang untuk menjadi isterinya.

“Bagaimana?“ desak Ki Demang “kenapa kau diam saja?“

Ki Reksatani mengangkat wajahnya. Sekali ia berdesah, kemudian jawabnya

“Sudah aku katakan kakang, kalau kakang memang berkeras hati untuk

mengambil gadis itu apaboleh buat”

“Kau setuju apa tidak?“

Ki Reksatani menjadi semakin bingung. Tetapi akhirnya ia menganggukkan

kepalanya “Ya, aku setuju kakang”

“Nah, kau memang adikku yang baik. Kau selalu dapat mengerti perasaanku.

Memang kadang-kadang kita berbeda pendirian, tetapi akhirnya kau dapat

mengerti juga”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkana kepalanya. Tetapi ia menggerutu di

dalam hatinya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat dengan ikhlas menyetujui

pendapat kakaknya. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain, kecuali

menganggukkan kepalanya sambil menyetujuinya.

“Reksatani” berkata Ki Demang kemudian “aku tidak mempunyai kepercayaan

lain, kecuali kau. Kaulah yang pada saatnya harus datang kepada keluarga

Sindangsari untuk melamar gadis itu”

“Tetapi …” Ki Reksatani akan menjawab, namun Ki Demang memotongnya

“Jangan mengelak. Kau adalah satu-satunya keluargaku. Kau adalah adikku.

Tidak ada orang lain yang dapat mengerti perasaanku sedalam-dalamnya

selain dari pada kau. Kaulah yang akhirnya dapat menyetujui niatku ini. Orang

lain mungkin tidak. Meskipun mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka,

tetapi belum tentu, bahwa hal itu akan meresap sampai ke hatinya”

“Bukan main” desah Ki Reksatani di dalam hati. Tetapi iapun mengerti benar,

bahwa kakaknya mencoba menyudutkannya agar ia tidak dapat berbuat lain

sama sekali.

“Lusa kau datang kepada keluarganya. Melamar gadis itu. Kemudian akan kita

tentukan hari-hari perkawinan. Tidak usah tergesa-gesa. Tetapi dengan

demikian, baik Manguri maupun Pamot tidak akan mempertentangkannya lagi”

Ki Reksatani tidak mendapat kesempatan apapun lagi. Karena itu iapun hanya

dapat menundukkan kepalanya saja sambil bersungut-sungut di dalam hati.

“Nah, pembicaraan kita sudah selesai” berkata Ki Demang “apakah kau sudah

makan?“

“Sudah kakang”

“O, ya. Aku sudah menanyakannya”

“Baiklah kakang. Kalau pembicaraan memang sudah selesai, aku minta diri.

Aku akan mengatur diri dan membenahi hati yang agak gelisah ini, karena

tugas yang berat itu”

“Bukankah kau juga yang melamar isteri-isteriku yang terdahulu?“

“Ya, tetapi kali ini agak lain kakang“ dan di dalam hati Reksatani menggeram

“aku selalu gelisah begini setiap kali”

“Baiklah. Aku akan menentukan hari itu, kapan kau pergi kepada keluarga gadis

itu. Kau harus membawa tukon sama sekali. Setangkep pisang raja, kain,

kemben dan sebagainya”

“Tetapi itu bukan suatu kebiasaan kakang. Kalau pembicaraan telah selesai,

barulah kakang memberikan peningset itu”

“Sekaligus. Bukankah dengan demikian pekerjaan akan segera selesai”

Ki Reksatani menggigit bibirnya.Kemudian ia mengangguk-angguk kecil

”Terserahlah kepada kakang. Tetapi sebaiknya kakang berbicara dengan orang

tua-tua di kademangan ini”

“Aku hanya akan memberitahukan saja kepada mereka. Tidak minta

pertimbangan lagi”

Ki Reksatani tidak menjawab lagi. Ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat

merubah lagi pendirian kakaknya. Ki Demang benar-benar ingin kawin lagi

dengan seorang gadis, yang bernama Sindangsari itu. Iapun menyadari, bahwa

tidak akan ada seorangpun yang akan dapat mencegahnya lagi. Orang tua-tua,

para bebahu pembantunya dan siapapun juga.

Karena itu, maka sejenak kemudian Iapun berkata “Baiklah kakang, semuanya

terserah kepada kakang. Aku minta diri”

“Tetapi bukankah kau menyetujui rencana ini?”

“Ya, ya. Aku menyetujui”

“Bagus. Kau memang adikku yang baik”

Ki Reksatanipun kemudian berdiri. Sekali lagi ia minta diri, kemudian

meninggalkan halaman Kademangan itu dengan hati yang bergelora. Sekalisekali

ia menghentakkan kakinya sambil menggeram “Gila kakang Demang.

Sungguh-sungguh gila”

Tetapi ia berjalan terus. Kadang-kadang giginya gemeretak oleh luapan

perasaan dan dingin malam yang menembus sampai ke tulang sungsum.

Bersamaan waktunya, sekelompok orang sambil mengendap-endap berjalan

mendekati padukuhan Gemulung. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi

malam yang dingin dan silirnya angin yang basah. Yang ada di dalam anganangan

mereka adalah upah yang harus mereka terima dari Manguri, meskipun

usaha mereka menangkap Pamot gagal.

Enam orang dari gerombolan Sura Sapi yang ditambah seorang lagi itu,

semakin lama menjadi semakin dekat.

“Kita meloncati pagar batu itu” desis Sura Sapi. Tidak ada jawaban. Tetapi

orang-orang yang lain mengikuti Sura Sapi di belakangnya.

“Sepi” desis Sura Sapi “aku sangka Manguri kini justru terasing dari orangorang

di sekitarnya. Seandainya ada juga peronda yang nganglang, maka

rumah Manguri pasti akan di lampaui“

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian mereka telah melekat dinding padukuhan. Dengan hati-hati

mereka menyelusur beberapa langkah. Setelah mereka yakin bahwa tidak

seorangpun yang melihat mereka, maka seorang demi seorang mereka

berloncatan memasuki padukuhan Gemulung.

Sekali lagi mereka membeku di tempat masing-masing, ketika mereka sudah

berada di dalam pagar batu. Mereka menunggu sejenak untuk melihat suasana.

Ternyata malam memang terlampau sepi.

“Kita menyusur pagar ini”

“Kita tidak akan sampai ke rumah itu” sahut salah seorang dari mereka.

“Bodoh. Kita berbelok setelah kita mendekati rumahnya. Kita lewati kebun salak

di sebelah rumahnya, langsung meloncat masuk ke halaman belakang, tanpa

melalui regol”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka mengikuti saja Sura Sapi yang

semakin lama menjadi semakin mendekati rumah Manguri.

“Mereka harus membayar” desis Sura Sapi itu di dalam hatinya “kalau tidak,

kami akan mengambil sendiri”

Dengan hati-hati mereka maju terus. Semakin lama menjadi semakin dekat.

Dengan hati-hati pula mereka kini memasuki kebun salak langsung menuju

kebagian belakang rumah pedagang ternak yang kaya itu.

“Bukankah dinding yang tinggi itu dinding rumah Manguri” desis Sura Sapi.

“Ya “hampir bersamaan kawan-kawannya menjawab.

“Apakah kita akan meloncati dinding itu?” bertanya Temon.

“Ya”

Temon mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Kau yakin bahwa di balik

dinding itu tidak ada peronda?“

“Tidak ada peronda di dalam halaman orang. Para peronda biasanya hanya

berkeliling padukuhan lewat jalan-jalan yang agak besar. “Maksudku peronda

yang dipasang dan diupah oleh pedagang itu sendiri”

Sura Sapi mengerutkan keningnya. Katanya “Di rumah itu memang terdapat

beberapa orang. Ada juga di antara mereka yang harus di perhitungkan. Para

pengawal ternak apabila pedagang itu mengirimkan ternaknya keluar daerah.

Tetapi mereka pada umumnya hanya bekerja kalau pedagang kaya itu

melakukan pengiriman. Kalau tidak, mereka biasanya pulang ke rumah masingmasing.

“Tetapi satu dua pasti ada yang tinggal”

“Mereka tidak banyak berarti”

Temon mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Apalagi mereka kini berada tepat di belakang rumah Manguri.

“Aku akan naik untuk melihat keadaan” berkata Sura Sapi.

Kawan-kawannya menganggukkan kepalanya. Dan dengan lincahnya Sura

Sapi meloncat keatas dinding. Sejenak ia berjongkok, dan sejenak kemudian ia

memberikan isyarat, bahwa halaman belakang itu ternyata sepi.

Maka berloncatanlah kelima orang yang lain susul menyusul, sehingga sejenak

kemudian, mereka berenam telah berada di halaman belakang rumah Manguri.

“Kita langsung mengetuk pintu samping” berkata Sura Sapi.

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka mengikuti saja langkah Sura Sapi

dengan hati-hati.

Sura Sapi yang memang pernah datang ke rumah itupun kemudian mengetuk

pintu samping rumah Manguri. Perlahan-lahan, beberapa kali.

Yang pertama-tama mendengar ketukan pintu itu justru ayah Manguri. Karena

itu, maka iapun segera bangkit dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia

melangkah keluar biliknya Tetapi ia tidak segera membuka pintu.

Ketukan di pintu samping itu masih terdengar.

Kecurigaan Ki Sukerta itu memang beralasan. Waktunya sudah terlampau

malam untuk seorang tamu. Namun ketukan itu masih juga terdengar terus.

Semakin lama semakin keras.

Ki Sukerta bukanlah seseorang yang tidak berperhitungan. Kecurigaannya

pertama-tama memang kepada gerombolan Sura Sapi. Ia merasa, bahwa

gerombolan itu pasti masih mengancam ketenangan anaknya justru karena

kegagalannya.

Ternyata ketukan pintu itu telah membangunkan Manguri pula. Ketika ia keluar

dari biliknya ia melihat ayahnya termangu-mangu. Tetapi ketika ia akan

berbicara, ayahnya memberinya isyarat dengan meletakkan telunjuk jarinya di

mulutnya.

Manguri mengerutkan keningnya. Ia berdiri saja di tempatnya ketika ia melihat

ayahnya masuk kembali ke dalam biliknya yang sejenak kemudian telah berdiri

di muka pintu bilik itu kembali. Tetapi kini ia membawa pedangnya di lambung.

Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun berjingkat masuk ke

dalam biliknya pula untuk mengambil senjatanya.

Ketika ketukan pintu itu terulang kembali, maka ayah Manguri itupun bertanya

lantang “Siapa diluar he?”

Pertanyaan yang demikian kerasnya sama sekali tidak diduga oleh Sura Sapi

dan kawan-kawannya. Namun kemudian mereka sadar, bahwa dengan

demikian Ki Sukerta telah berusaha membangunkan orang-oranng seisi rumah

itu.

“Setan alas” desis Sura Sapi “agaknya Ki Sukerta tidak mau diajak berbicara”

“Aku mengharap demikian“ bisik Temon “dengan demikian kita menjadi leluasa.

Kita tidak hanya sekedar minta upah yang sudah dijanjikan”

“Lalu ?”

“Kita mengambil sendiri upah yang kita perlukan.

Sura Sapi mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar lagi suara Ki Sukerta

“Siapa di luar he?“

Sura Sapi ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia menyahut “Kami Sura Sapi

dan kawan-kawan “

Ki Sukerta yang sudah menduga, sama sekali tidak terkejut. Tetapi Manguri

mengerutkan keningnya.

“Apa maksud kalian datang di malam hari begini?”

“Tidak apa-apa Ki Sukerta. Kami hanya sekedar ingin memberikan laporan.

Kami tidak ingin disangka-sangka bahwa kami sengaja menggagalkan usaha

kami. Kami ingin memberikan penjelasan”

“Kenapa kalian datang di malam begini?“

“Sudah tentu. Kami tidak ingin dibantai oleh anak-anak muda Gemulung. Kalau

mereka melihat kami, maka mereka akan memukul kentongan beramai-ramai

menangkap kami seperti rampokan macan di alun-alun Mataram”

Ki Sukerta mengerutkan keningnya. Alasan itu memang masuk akal. Namun

demikian. Ki Sukerta masih tetap bercuriga.

“Apakah Manguri dapat menerima kami?“

Ki Sukerta tidak segera menyahut, dipandarginya Manguri yang berdiri

termangu-mangu sejenak, seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangan

daripadanya. Tetapi Manguri sama sekali tidak memberikan tanggapan apaapa.

“Bagaimana Ki Sukerta” terdengar pertanyaan itu lagi.

“Tunggu” jawab Ki Sukerta sambil mendekati anaknya.

“Bagaimana” bertanya Ki Sukerta perlahan-lahan.

“Terserahlah kepada ayah”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Sebaiknya kita terima

saja mereka. Apa yang mereka kehendaki selagi ayah berada di rumah.

Apapun yang akan terjadi, kau tidak seorang diri”

“Tetapi bagaimanakah kalau mereka menuntut yang bukan-bukan”

“Aku ada sekarang”

Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya “Terserah kepada ayah”

Ayahnya masih berpikir sejenak. Katanya kemudian “Lebih baik kita selesaikan

sekarang daripada mereka akan selalu mengganggumu. Kalau ayah pergi,

mereka akan lebih leluasa lagi sebelumnya kita menemukan penyelesaian”

Manguri tidak menjawab.

“Biarlah, kita akan menerima mereka. Aku akan membuka pintu. Jangan

terlampau dekat di belakang ayah. Kalau aku memerlukan jarak untuk menjaga

diri. Tetapi kaupun harus bersiap pula apabila terjadi sesuatu. Aku tidak

mempercayai mereka sepenuhnya.

Manguri menganggukkan kepalanya. Tangannya kini telah melekat di hulu

pedangnya. Dengan dada yang berdebar ia melangkah beberapa langkah di

belakang ayahnya.

Dengan penuh kewaspadaan ayahnya mendekati pintu. Selangkah demi

selangkah.

“Bagaimana Ki Sukerta?“ terdengar suara Suara Sapi di luar.

Ki Sukerta tidak menyahut. Tetapi maju lagi beberapa langkah mendekati pintu.

Tepat di muka pintu, ayah Manguri itu masih juga ragu-ragu. Tetapi kemudian

ia menetapkan keputusannya. Sekarang semuanya harus selesai.

Perlahan-lahan tangannya meraba selarak pintu. Perlahan-lahan dan sangat

berhati-hati.

Sejenak kemudian maka selarak pintu itu sudah terlepas. Kini tangannya tibatiba

menjadi gemetar ketika ia menarik daun pintunya dengan tangan kirinya,

sementara tangan kananya telah melakat di hulu pedangnya.

“Aku akan membukakan pintu” desisnya. Namun tidak ada jawaban. Yang

terdengar adalah desah nafas gerombolan Sura Sapi yang tegang di luar pintu.

Akhirnya pintu samping itupun terbuka. Ki Sukerta menarik nafas dalam-dalam

ketika ia melihat beberapa orang yang berdiri di luar pintu tanpa menggenggam

senjata ditangan masing-masing.

Apalagi ketika Sura Sapi sendiri menganggukkan kepalanya sambil berkata

“Selamat malam Ki Sukerta”

“Selamat malam “tanpa sesadarnya Ki Sukerta menjawab.

“Kami ingin bertemu dengan Manguri”

Ki Sukerta tidak menyahut. Tetapi ia berpaling memandang Manguri yang

berdiri termangu-mangu.

Namun Manguripun kemudian melangkah maju. Dengan penuh kebimbangan

ia bertanya “Apakah keperluan kalian?“

Sura Sapi termenung sejenak, kemudian “Aku ingin menyampaikan laporan.

Aku sudah menerima tawaranmu. Adalah kewajibanku untuk melaporkan apa

yang sudah terjadi, supaya tidak hanya saling sangka-menyangka”

Menguri mengangguk-anggukkan kepalanya “Baik. aku tidak berkeberatan”

Sura Sapi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia menunggu, tetapi

baik Manguri maupun ayahnya masih juga berdiam diri sambil berdiri di pintu

samping.

“Apakah kami tidak kalian persilahkan masuk?” bertanya Sura Sapi kemudian.

Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah ayahnya untuk

mendapat pertimbangan.

Tetapi ayahnya kemudian berkata “Sudah terlampau malam. Kau dapat berkata

seperlunya. Marilah kita duduk saja di pendapa”

“Sangat berbahaya bagi kami” desis Sura Sapi.

“Pintu regol sudah tertutup. Apakah kalian dapat membuka dari luar?“

“Kami tidak melalui pintu regol”

“Nah, kalau begitu, silahkan naik ke pendapa”

Kini gerombolan Sura Sapi itulah yang saling berpandangan. Namun akhirnya

Sura Sapi jugalah yang harus mengambil keputusan “Apakah kalian menjamin

bahwa kehadiran kami di pendapa tidak akan menumbuhkan kecurigaan

seandainya ada peronda yang lewat?“

“Sudah aku katakan, pintu regol rumah kami telah kami selarak”

“Tetapi mungkin pula seseorang menjenguk lewat dinding batu disekitar

halaman”

“Mereka tidak akan melihat kami. Pendapa itu gelap. Kami tidak menaruh

lampu di sana”

Sura Sapi akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya “Baik, kami akan naik

ke pendapa”

Sura Sapi dan kawan-kawannya itupun kemudian berjalan mengitari rumah Ki

Sukerta menuju ke pendapa di bagian depan Setelah menutup pintu samping

dan nenyelaraknya, maka Ki Sukertapun pergi pula ke pendapa lewat bagian

dalam rumahnya. Namun sebelum ia keluar dari pringgitan ia berbisik kepada

Manguri “Manguri, aku tidak mempercayai mereka sepenuhnya. Pergilah ke

belakang sebentar”

“Untuk apa ayah?”

“Panggil Lamat”

Manguri mengagguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia

pergi ke belakang sementara ayahnya membuka pintu dan keluar ke pendapa.

Perlahan-lahan Manguri mengetuk pintu Lamat. Ia tidak usah mengulangi,

karena pintu itu segera terbuka.

“Pemalas kau” desis Manguri “lihat, di pendapa ada enam orang dari

gerombolan Sura Sapi”

“Kenapa mereka datang kemari?” bertanya Lamat.

“Aku juga bertanya begitu, kenapa mereka kemari” sahut Manguri “tetapi itu

tidak penting. Awasi mereka dari luar pendapa. Ayah dan aku akan

menemuinya”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya

“Kenapa enam orang?“

“? Ya, kenapa” Aku tidak tahu”

“Maksudku, gerombolan Sura Sapi itu hanya terdiri dari lima orang. Bukankah

begitu?“

Manguri mengerutkan keningnya. Semula ia sama sekali tidak memperhatikan

jumlah itu. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya “He, kau

agaknya dapat juga menghitung jumlah itu. Aku tidak tahu siapa yang seorang

lagi. Tetapi awasi mereka. Kau tidak boleh tidur saja seperti kerbau“

Lamat menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang kosong

Manguripun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu, dan masuk

ke ruang dalam, langsung menuju ke pendapa.

Sepeninggal Manguri, Lamat menarik nafas dalam-dalam Ia sudah mengira

bahwa hal yarg serupa itu dapat terjadi. Masalahnya tidak akan sekedar

berhenti sampai kegagalan itu.

Dengan tanpa sesadarnya Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sebenarnya ia sudah mendengar meskipun tidak begitu jelas, Ki Sukerta

berkata lantang. Ia sudah terbangun sebelum Manguri mengetuk pintu biliknya.

Karena itu, maka begitu Manguri mengetuk, pintunya sudah dibukanya.

Lamat yang tinggi, besar dan berkepala botak itupun kemudian meraih

senjatanya dari dinding biliknya. Tetapi golok itu disangkutkannya kembali.

Agaknya ia mempunyai perhitungan lain, karena kemudian ia melangkah ke

sudut biliknya untuk mengambil sebatang tombak pendek. Tombak pendek

yang sangat sederhana dan sama sekali tidak pantas disebut sebatang tombak.

Lebih tepat disebut sebatang galah berujung besi. Tetapi galah itu adalah kayu

berlian betapapun kasar buatannya.

“Mudah-mudahan aku tidak membunuh” desis Lamat. Dan sesuai dengan

senjatanya, maka kemungkinan mematikan adalah memang kecil sekali.

Lamatpun kemudian melangkah meninggalkan biliknya setelah ia menutup

pintunya kembali. Kemudian berjalan mengendap-endap ke bagian depan

halaman rumah itu.

Lamatpun kemudian melangkah meninggalkan biliknya setelah ia menutup

pintunya kembali. Kemudian berjalan mengendap-endap ke bagian depan

halaman rumah itu. Ketika ia melewati kandang ternak, ia tahu benar bahwa

ada seorang pengawal ternak yang tidur di dalamnya, yang adalah kebetulan

sekali ia tidak pulang ke rumahnya yang agak jauh.

Tetapi Lamat tidak membangunkannya. Kalau keadaan berkembang semakin

buruk, orang itu pasti akan terbangun dengan sendirinya.

Ketika ia sampai ke samping pendapa, maka Lamatpun segera bersembunyi di

balik gerumbul perdu. Meskipun tidak begitu jelas, namun matanya yang tajam

dapat melihat bayangan kehitam-hitaman duduk dalam sebuah lingkaran di

pendapa yang sama sekali tidak berlampu.

Bahkan meskipun lambat, Lamat dapat menangkap pembicaraan orang orang

di atas pendapa itu. Kadang-kadang ia mendengar jelas, tetapi kadang-kadang

ia sama sekali tidak mendengar selain gemeremang yang tidak diketahui

artinya.

“Ki Sukerta” berkata Sura Sapi kemudian “yang penting bagi kami sekarang

adalah memberi tahukan kepada Manguri, kenapa kami telah gagal malam itu”

Ki Sukerta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baik, katakanlah”

Sura Sapi beringsut sedikit, kemudian “Manguri. Ternyata kami telah terjerumus

ke dalam kesulitan malam itu“

Manguri mengerutkan keningnya. Pilihan kata-kata itu telah mendebarkan

jantungnya.

“Ternyata Pamot telah bersiap bersama beberapa orang kawan-kawannya

menyambut kedatangan kami. Bahkan kemudian para perondapun beramairamai

berlari-larian menonton perkelahian yang barangkali mereka anggap

sangat menarik itu”

“Ya, aku dengar Pamot telah bersiap” sahut Manguri “itu membuat aku sangat

menyesal. Kegagalan kalian telah membuat namaku dan keluargaku semakin

suram”

“Dan membuat nama gerombolan Sura Sapi menjadi bernoda” potong Sura

Sapi “kami tidak pernah gagal. Rencana kami selalu dapat kami selesaikan

dengan baik. Tetapi agaknya kami telah terjerumus kali ini”

“Kenapa kalian merasa terjerumus?“ sela Ki Sukerta.

“Kami menjadi bertanya-tanya. Darimana Pamot dapat mengetahui bahwa kami

akan mendatanginya ke sawah malam itu ?“ geram Sura Sapi.

Lamat yang kebetulan mendengar percakapan itu menjadi berdebar-debar pula.

“Akulah yang seharusnya bertanya” berkata manguri “kenapa kalian sampai

terbentur pada anak-anak Gemulung yang sudah terlatih itu. Agaknya kalian

terlalu yakin akan kekuatan kalian, sehingga kalian menjadi kurang berhati-hati“

Sura Sapi mengerutkan keningnya. Kemudian iapun berkata dengan nada yang

dalam “Jangan memutar balikkan keadaan. Aku dan kawan-kawanku tidak gila

untuk berbuat demikian. Seandainya kami mampu membunuh orang

sepedukuhan ini, namun kami pasti akan mengambil jalan yang paling mudah.

Apalagi upah yang kau janjikan itu sama sekali tidak memadai. Apakah kami

berusaha untuk mempersulit diri kami sendiri?“ Sura Sapi berhenti sejenak, lalu

“nah, coba lah kau lihat dirimu sendiri. Siapakah yang paling mungkin

membocorkan rencana ini”

“Akupun tidak gila” sahut Manguri “aku ingin Pamot tertangkap hidup, supaya

aku dapat memberinya peringatan untuk menjauhi gadis itu”

“Tetapi kau tidak terlampau biasa menyimpan rahasia seperti kami, sehingga

mungkin tanpa kau sadari, kau sudah mengatakannya kepada siapapun”

“Jangan mencari-cari” jawab Manguri.

“Tidak. Kami tidak mencari-cari. Tetapi baiklah kita tidak mempersoalkan

siapakah yang bersalah dan siapakah yang benar. Kedatanganku kemari

memang tidak untuk berbuat demikian“ Sura Sapi berhenti sejenak, lalu “tetapi

bagaimanapun juga kami sudah melakukan tugas kami. Karena itu kami ingin

menerima upah kami yang sudah kau janjikan”

“Gila kau“ Manguri hampir berteriak “aku sudah mengatakan kepada kalian,

kalau kalian gagal, maka sekepingpun aku tidak akan membayar upah itu.

Jilid 3

Bab 1 : Rerungkudan

“MANGURI” berkata Sura Sapi kemudian “jangan bersikap terlampau keras.

Kegagalanku bukan karena kesalahanku dan kawan-kawanku. Kita tidak membicarakan

kemungkinan yang ternyata telah terjadi itu,

Kita tidak membicarakan, bagaimana masalah upah itu kalau ternyata ada pihak lain yang campur tangan. Menurut pengertianku, kau tidak akan membayar kalau kami gagal menangkap Pamot. Pamot sendiri tanpa orang lain, seperti yang kau

katakan, bahwa Pamot selalu seorang diri di gubugnya di malam hari.

Tetapi ternyata tidak. Ternyata ada orang lain. Bahkan enam atau tujuh orang. Nah, apa katamu ?“

“Tidak. Aku tetap pada janjiku. Kalau kalian tidak berhasil membawa Pamot kemari, upah itu tidak akan aku bayar”

“Tetapi kami menuntut” suara Sura Sapipun menjadi semakin keras “kau jangan menganggap kami seperti anak-anak yang takut kau gertak. Kami sudah bekerja. Kami sudah bertempur, dan kami hampir terjebak karenanya, yang menurut perhitunganku adalah karena kebodohanmu. Nah, sekarang kau masih akan ingkar”

“Tutup mulutmu” bentak Manguri pula “aku berpegang teguh pada janji. Kalau

kalian laki-laki jantan, kalian juga tidak akan melanggar janji”

“Kami tidak melanggar janji. Tetapi kemungkinan yang terjadi itu tidak kita

bicarakan sebelumnya. Karena itu, karena kami sudah melakukan tugas kami,

dan kami memang sudah benar-benar melakukan perkelahian sepenuh tenaga

kami, maka kau harus mengerti. Kami tidak saja memeras tenaga untuk

mencoba menangkap Pamot seperti yang seharusnya kami lakukan, tetapi

kami harus juga mempertaruhkan nama kami”

“Aku tidak peduli” jawab Manguri “aku hanya mau membayar upah itu atas

penyerahan Pamot. Selain itu, aku tidak mau tahu”

“Manguri“ Sura Sapi mulai membentak “kau jangan menutup mata atas

kenyataan itu. Apakah kau sengaja menjerumuskan kami dengan janji itu?“

Wajah Manguripun menjadi merah. Tetapi sebelum ia berbicara, ayahnya telah

menengahinya “Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Setelah aku mendengar

perdebatan kalian, maka aku ingin mengusulkan jalan tengah yang barangkali

dapat ditempuh. Kita memang tidak dapat bersitegang atas janji yang sudah

dibuat. Kenyataan yang pahit bagi kita di kedua belah pihak, memerlukan

pengertian yang cukup“ Ki Sukerta berhenti sejenak, lalu “aku berpendapat,

bahwa sebaiknya kita masing-masing harus mau mengorbankan nilai perjanjian

itu. Bagaimana kalau Manguri membayar separo dari upah yang dijanjikan?“

Keduanya terdiam sejenak. Namun kemudian Sura Sapi menggelengkan

kepalanya “Tidak. Harga tenaga kami tidak separo-separo. Sepenuhnya itupun

sebenarnya kami merasa berkeberatan karena ternyata kami telah terjebak.

Jangan menawar-nawar lagi”

“Bukan menawar, bukan pula merendahkan harga kalian” jawab ayah Manguri

“tetapi kami dan kalian masing-masing telah mengalami hal-hal yang tidak kita

duga-duga sebelumnya ”

“Harga tenaga kami bukan semacam ketela pohung yang dapat ditawar-tawar“

ternyata Temon yang selama ini menahan nafas, tidak lagi dapat

mengendalikan diri “kami minta sepenuhnya dan ditambah lagi dengan harga

kecuranganmu”

Ki Sukerta mengerutkan keningnya, Ditatapnya wajah Temon yang samarsamar

di dalam kegelapan. Tetapi wajah itu tidak dapat dilihatnya dengan jelas.

“Jangan mencoba menawar lagi” katanya “aku benar-benar tidak telaten

berbicara seperti sedang berjual beli dagangan”

Ki Sukerta tidak segera menjawab. Ia merasa tidak senang mendengar

jawaban yang terlampau kasar itu. Tetapi ia masih berdiam diri.

Yang tidak dapat mengendalikan dirinya adalah Manguri. Tiba-tiba saja ia

berkata lantang “kalau kalian tidak mau, kami tidak akan membayar sama

sekali”

“Kami akan mengambil sendiri” teriak Temon. Suasana menjadi semakin lama

semakin tegang.

Ayah Manguri masih tampak berpikir. Namun agaknya ia tidak mau bertengkar

lebih jauh lagi. Ia masih mempunyai terlampau banyak urusan dengan

ternaknya yang tersebar di beberapa tempat. Karena itu, apabila ia terpancang

dan terlibat dalam persoalan Sura Sapi, urusannya pasti akan terganggu pula.

Karena itu, setelah berpikir sejenak ia berkata kepada Manguri “Manguri,

biarlah kita penuhi saja permintaan itu. Bagi kita, uang itu tidak terlampau

banyak artinya. Tetapi dengan demikian kita sudah tidak mempunyai persoalan

lagi dengan mereka”

Manguri mengerutkan keningnya ”Tetapi, dengan demikian kita secara tidak

langsung mengakui bahwa kita telah bertindak salah”

“Tentu tidak. Kita membayar upah yang sudah dijanjikan. Itu saja. Tanpa

pengertian lain”

Manguri tidak menyahut. Sejenak ia merenung. Namun sejenak kemudian

kepalanya terangguk kecil.

“Begitulah” berkata ayah Manguri kepada Sura Sapi “kami memang tidak ingin

bertengkar. Kami akan memenuhi permintaan kalian. Upah yang sudah

dijanjikan itu akan dibayar oleh Manguri”

Sura Sapi mengerutkan keningnya. Sedang Temon beringsut setapak maju.

Perlahan-lahan ia menggamit adiknya sebagai suatu isyarat.

Tetapi Sura Sapi tidak segera mengerti maksud kakaknya, sehingga kaena itu

ia masih tetap berdiam diri.

Namun di setiap kepala keenam orang itu terasa getar kemenangan yang

melonjak-lonjak. Mereka melihat seolah-olah Ki Sukerta dan Manguri sama

sekali tidak berdaya menolak tuntutan mereka. Ternyata tanpa kesulitan

apapun mereka bersedia memenuhi tuntutan yang mereka ajukan.

“Kenapa kami tidak menuntut lebih dari itu“ hampir bersamaan timbul

pertanyaan itu di dalam hati mereka.

Agaknya Temonlah yang paling tidak dapat mengekang dirinya. Perlahan-lahan

ia berbisik “Hanya itu? Perkelahian yang terjadi dengan tujuh orang itu sama

sekali tidak kau hitung?“

Tetapi suara bisik itu terlampau keras sehingga Manguri masih mendengarnya.

“Apalagi yang akan kalian minta?“ anak muda itu tiba-tiba membentak.

Sura Sapi menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan kakaknya memang telah

ada di dalam otaknya. Tetapi ia tidak segera mengucapkannya, karena ia raguragu,

apakah di dalam halaman itu tidak ada orang-orang yang benar-benar

harus dipertimbangkan.

“Bagaimana?“ Temon semakin tidak sabar.

“Aku kira pembicaraan kita sudah selesai” berkata ayah Manguri ”Tidak ada lagi

persoalan-persoalan baru”

“Tentu ada” jawab Temon “upah itu adalah hak yang harus kami terima. Tetapi

ganti tenaga yang sudah kami curahkan di dalam perkelahian itu harus

diperhitungkan.

“Persetan” sahut Manguri “itu bukan urusan kami. Seandainya ada diantara

kalian yang mati sekalipun kami sama sekali tidak peduli. Itu adalah tanggung

jawab yang kalian. Apalagi setelah kami membayar upah kalian”

Tiba-tiba terdengar suara Temon tertawa ”He, kalian anggap kami ini anakanak

ingusan. Manguri, kau jangan mencari perkara. Aku kira ayahmu juga

tidak senang terjadi keributan di halaman rumah ini. Bagi ayahmu dan bagimu,

agaknya lebih baik kalau kami mengajukan permintaan itu daripada kami harus

mengambil sendiri. Dengan memenuhi permintaan kami itu masalahnya akan

segera selesai. Ayahmu yang mempunyai seribu macam persoalan itu tidak

akan terganggu lagi oleh masalah-masalah yang tidak berarti apa-apa. Aku

yakin bahwa kalian menyimpan uang sepuluh atau duapuluh kali lipat dari yang

akan kami minta”

“Tidak“ Manguri hampir berteriak “kami tidak akan memberi apa-apa lagi”

“Jangan begitu“ Sura Sapilah yang berbicara “sebaiknya kalian

mempertimbangkan. Ki Sukerta agaknya mampu berpikir lebih baik dari

Manguri. Darah muda Manguri yang masih meluap-luap itu kadang-kadang

dapat mencelakankannya. Bukankah begitu Ki Sukerta?“

Kini Ki Sukerta menyadari keadaannya. Sikapnya yang lunak itu ternyata telah

disalah artikan. Orang-orang itu menganggap bahwa ia menjadi ketakutan dan

tidak berani menolak tuntutan mereka. Ternyata tuntutan gerombolan Sura Sapi

itu semakin lama menjadi semakin berkembang.

Karena itu, kini Ki Sukertapun harus mengambil sikap Kalau ia mau mundur ia

harus bersedia menyerahkan isi rumahnya kepada gerombolan Sura Sapi itu.

Tetapi kalau tidak, ia harus bersikap tegas.p align=”left”

“Bagaimana Ki Sukerta?” bertanya Sura Sapi “Aku kira lebih baik bagimu untuk

memenuhi permintaan kami yang tidak berarti itu. Besok kau akan segera

mendapatkan gantinya. Lima, sepuluh atau duapuluh kali lipat. Kami tidak akan

mengganggu kalian lagi”

Tetapi Sura Sapi, Temon dan kawan-kawannya terkejut ketika ia kemudian

mendengar suara Ki Sukerta yang berubah “Tidak. Kami tidak akan

memberikan apa-apa kepada kalian. Yang sudah aku janjikan, memenuhi upah

yang sudah di sanggupkan Manguri itupun aku cabut. Ternyata kalian

menyalah artikan kelunakan sikapku. Kalian sangka bahwa kalian akan dapat

memeras kami?“

Wajah Sura Sapi menjadi merah padam. Apalagi Temon yang darahnya lebih

cepat mendidih. Sejengkal ia beringsut sambil berkata “Ki Sukerta, apakah kau

menyadari kata-katamu itu?“

“Tentu. Aku menyadarinya. Aku sadar bahwa apabila kalian berani, kalian akan

mengambil cara yang biasa kalian pergunakan. Kekerasan”

“Nah, kau mengerti. Aku minta kau pertimbangkan sekali lagi. Dengan siapa

kau berhadapan?“

“Aku tahu, aku berhadapan dengan Sura Sapi. Tetapi kalianpun harus tahu,

siapa Ki Sukerta”

Wajah Sura Sapi menjadi merah padam. Demikian juga Temon dan kawankawannya.

Mereka merasa tersinggung oleh sikap Ki Sukerta, yang seolah-olah

langsung menantangnya. Namun demikian merekapun tidak dapat menghindari

kenyataan, bahwa Ki Sukerta memang tidak dapat diabaikan. Ki Sukerta yang

sudah terlampau sering melakukan perjalanan tidak saja di daerah Mataram,

tetapi juga sampai ke wilayahnya yang tersebar itu, pasti mempunyai

kemampuan yang cukup untuk membela dirinya.

Meskipun demikian Sura Sapi memang sudah memperhitungkan hal itu. Karena

itu, maka dengan suara yang bergetar Sura Sapi berkata “Ki Sukerta. Jadi Ki

Sukerta ingin membuat persoalan yang kecil ini menjadi perselisihan yang

mungkin akan menimbulkan benturan diantara kita?“

“Tidak. Aku tidak ingin”

Sura Sapi mengerutkan keningnya “Jadi kenapa Ki Sukerta seakan-akan telah

menantang kami?“

“Siapa yang menantang?“

Sura Sapi terdiam sejenak. Tetapi sebelum ia berkata selanjutnya, Temon telah

mendahuluinya “Kau memang terlampau banyak bicara. Berikan upah itu dan

sekedar pengganti keringat kami yang telah terlanjur menitik. Lima kali dari

upah yang sudah ditentukan. Kalau tidak, kami akan mengambil seratus kali

lebih banyak dari itu”

“Tidak”

“Nah, kalau begitu kau benar-benar ingin kekerasan”

“Aku tidak ingin. Tetapi aku juga tidak mau memberi apa-apa kepada kalian.

Kalau kalian sedikit mempunyai otak, bertanyalah kepada diri sendiri. Siapakah

yang menginginkan keributan. Kalau kau mengajukan permintaan yang tidak

masuk akal, dan aku tidak mau memenuhinya, apakah sudah wajar, bahwa

akulah yang menginginkan keributan? Kalau kau mau merampok kami dan

kami mempertahankan hak kami, kamikah yang membuat keonaran?“

“Persetan” geram Sura Sapi “berikan yang kami minta”

“Tidak. Aku tidak akan memberikan apapun”

“Huh, apakah kalian akan melawan Sura Sapi? Aku kira kaupun sudah

dipencilkan dari pergaulan padukuhan ini. Aku kita tidak akan ada peronda

yang datang membantumu seandainya kalian sempat memukul tanda bahaya”

“Aku tidak memerlukan orang lain. Aku sudah cukup matang untuk bertindak

sendiri. Sadari ini, Di perjalanan, di hutan-hutan dan diara-ara yang panjang,

aku tidak memerlukan bantuan orang lain apabila ada penyamun-penyamun

yang mencegat perjalananku”

“Setan alas“ Sura Sapi hampir berteriak “aku memang harus membunuh seisi

rumah ini. Tidak seorangpun yang akan menyangka bahwa kami yang

melakukan. Biarlah besok Pamot ditangkap oleh Jaga-baya Kepandak.

Tuduhan pertama pasti jatuh kepadanya dan keluarganya termasuk anak-anak

muda yang dipersiapkan melawan kami itu”

“Aku tidak akan menghiraukan apa yang akan dikatakan orang. Tetapi

seandainya kamilah yang berhasil membunuh kalian berenam dan

melemparkan kepojok desa, tidak seorangpun yang akan menyangka, bahwa

kamilah yang telah menumpas gerombolan Sura Sapi yang terkenal itu. Ki

Jagabaya pasti akan menyangka bahwa kalian telah dibunuh beramai-ramai

oleh orang-orang Gemulung. Namun seandainya ada orang yang melihat

bahwa kamilah yang telah membunuh kalian, maka mereka akan berterima

kasih kepada kami.

“Gila kau” teriak Sura Sapi “aku memang harus membunuh kalian dan

mengambil semua milik kalian. Aku tidak peduli lagi, apakah itu merupakan

upah kaliah atau bukan”

“Langkahi mayat kami” geram ayah Manguri.

Temonlah yang tidak dapat menahan hatinya. Tiba-tiba ia meloncat berdiri

sambil menarik senjatanya, sebuah golok yang besar meskipun tidak begitu

panjang.

“Aku dapat memotong paha kerbau dengan sekali gores” desisnya “bagaimana

dengan leher kalian?“

“Aku tidak sedungu kerbau“ Manguripun sudah meloncat berdiri pula dengan

senjata di tangan.

Maka berloncatanlah orang-orang yang berada di pendapa itu. Tiba-tiba saja

mereka sudah menggenggam senjata masing-masing.

“Kalian memang terlampau bodoh” geram Sura Sapi, lalu “kalian lebih

mencintai harta kalian daripada nyawa Kau masih akan dapat mencari harta

dengan mudah, tetapi kau tidak akan dapat membeli nyawa dimanapun dengan

kekayaan yang betapapun banyaknya”

Ki Sukerta tidak menjawab. Tetapi dengan garangnya ia berdiri tegak di atas

kakinya yang renggang. Sambil menyilangkan pedangnya di dada ia merendah

sedikit pada lututnya.

Gerombolan Sura Sapi itu mulai bergerak memencar untuk mengepung Ki

Sukerta dan Manguri yang kini berdiri berlawanan arah. Namun Manguri masih

mencoba menebarkan pandangan matanya, mencari di mana Lamat

bersembunyi.

Dalam keadaan yang tegang itulah, maka muncul seseorang yang bertubuh

raksasa dari balik dedaunan. Dengan tenangnya ia berjalan naik keatas

pendapa sambil menjinjing tombaknya. Sejenak ia berdiri di bibir pendapa itu

sambil melihat suasana yang sudah mencapai puncak ketegangannya.

Ternyata kehadirannya telah mendebarkan jantung Sura Sapi dan kawankawannya.

Tetapi mereka memang sudah memperhitungkan, bahwa di

halaman rumah itu ada seseorang raksasa yang dungu. Namun menurut

Manguri sendiri, raksasa itu sama sekali tidak berhasil menangkap Pamot,

sehingga dengan demikian, maka raksasa itu adalah raksasa yang jinak.

“Ikat raksasa itu“ perintah Sura Sapi kepada orang-orangnya “biarlah aku dan

kakang Temon menangkap pedagang yang sombong ini beserta anaknya ”

Beberapa orang saling berpandangan. Namun kemudian tiga dari anak buah

Sura Sapi memisahkan diri menyongsong Lamat yang melangkah semakin

dekat.

Lamat masih tetap melangkah dengan tenang. Namun kemudian ia berhenti

ketika ia melihat tiga orang menyongsongnya. Sambil menarik nafas dalamdalam

ia meraba-raba tangkai tombaknya yang kasar.

Sejenak ia melihat tiga orang yang lain berhadapan dengan Ki Sukerta dan

anaknya Manguri.

Sebelum mereka mulai menggerakkan senjata-senjata mereka, tiba-tiba

mereka terkejut ketika mereka mendengar langkah seseorang berlari-lari.

Serentak mereka berpaling, dan merekapun melihat seseorang dengan

tergesa-gesa meloncat naik ke pendapa. Sejenak ia berdiri mematung sambil

menggosok-gosok matanya. Agaknya ia terkejut dari tidurnya dan dengan

tergesa-gesa berlari keluar. Orang itu adalah pengawal yang tidur di kandang

ternak.

“Apa yang telah terjadi ?“ desisnya.

“Hati-hatilah” sahut Lamat.

Orang itu maju selangkah mendekati Lamat.

“Lindungilah Manguri“ bisik Lamat lirih.

Orang itu kini menyadari apa yang sedang dihadapinya. Karena itu maka iapun

segera menarik pedangnya. Perlahan-lahan ia maju mendekati Manguri yang

berdiri di belakang ayahnya beradu punggung.

Lamat menyadari bahwa untuk melawan tiga orang sekaligus adalah pekerjaan

yang sangat berat baginya. Dan tiga orang ini adalah gerombolan Sura Sapi.

Tetapi Sura Sapi sendiri agaknya berusaha untuk dapat berhadapan langsung

dengan Ki Sukerta.

“Aku harus bertahan. Hanya bertahan dan mengikat ketiganya dalam

perkelahian supaya salah seorang dari mereka tidak dapat meninggalkan arena

dan membantu Sura Sapi menghadapi Ki Sukerta” berkata Lamat di dalam

hatinya.

Demikianlah, maka di pendapa itu terjadi dua lingkaran yang akan menjadi

arena perkelahian. Lamat yang menghadapi tiga orang gerombolan Sura Sapi

dan di lingkaran yang lain, tiga orang berhadapan dengan tiga orang pula.

Tetapi dua diantara yang tiga itu adalah Sura Sapi sendiri dan kakaknya Temon

yang selama ini tinggal di kaki Gunung Kendeng.

“Apakah ini keputusanmu Ki Sukerta?”

”Sura Sapi masih bertanya.

“Ya” jawab Ki Sukerta Apalagi kini di pendapa itu telah hadir Lamat dan

seorang pengawal upahannya.

“Bagus” desis Temon “aku tidak akan pernah melupakan sambutan yang

hangat ini sampai aku kembali ke Gunung Kendeng”

Ki Sukerta tidak menjawab. Tetapi ia bersiaga sepenuhnya. Untunglah bahwa

pengawal ternaknya itu berada di sampingnya. Ia akan dapat membantu

melindungi Manguri apabila ia segera terdesak.

Sejenak kemudian Sura Sapi melangkah maju. Ia bergeser beberapa langkah

ke samping, kemudian tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Ki Sukerta dengan

garangnya.

Tetapi Ki Sukerta benar-benar telah bersiap menghadapi serangan itu. Dengan

tangkasnya ia mengelak, dan bahkan pedangnyapun segera terjulur lurus

mengarah kelambung Sura Sapi.

Sura Sapi menggeliat untuk menghindari ujung pedang itu, dengan selingkar

gerakan yang cepat, ia menyerang mendatar. Ki Sukerta yang gagal

menyentuh lambung lawan terpaksa meloncat ke samping. ketika senjata

lawannya menyambarnya.

Karena sura Sapi sudah mulai, maka yang lainpun segera berloncatan pula.

Temon segera menyerang Manguri, tetapi pengawal ternak yang ada di

sampingnya segera menempatkan dirinya untuk melawan. Sedang orang yang

lain lagi, mau tidak mau harus berhadapan dengan Manguri.

Di lingkaran perkelahian yang lain, ketiga orang gerombolan Sura Sapi itupun

segera menyerang Lamat hampir berbareng. Tetapi Lamat yang meskipun

tenang-tenang saja itu, mampu menghindari mereka dengan cepat. Selangkah

ia mundur, kemudian melingkar sebuah tiang pendapa sambil mengangkat

tombaknya.

Ketika sebuah ujung pedang terjulur kedadanya, maka tangkai tombaknya

langsung memukul punggung pedang itu Demikian kerasnya sehingga hampir

saja pedang itu meloncat dari tangan.

Orang yang hampir kehilangan pedang itu berdesis. Meskipun ia baru mulai,

tetapi segera ia mendapat gambaran kekuatan Lamat yang memang luar biasa

itu. Ayunan tangkai tombak yang tampaknya belum dilambari dengan sekuat

tenaga itu saja, sudah cukup menggetarkan jari-jarinya.

Tetapi orang itu sama sekali tidak mengeluh, dan bahkan sama sekali berusaha

untuk tidak menumbuhkan kesan, bahwa kekuatan Lamat memang luar biasa.

Ia tidak mau menumbuhkan kecemasan dan kebimbangan di hati kawankawannya.

Demikianlah muka perkelahian di atas pendapa itupun segera menjadi semakin

seru. Lamat yang harus melawan tiga orang, selalu berusaha untuk

menghindari serangan-serangan yang datang dari berbagai jurusan. Tiangtiang

di pendapa rumah itu agaknya dapat membantunya. Setiap kali ia

berperisai tiang-tiang rendapa, kemudian meloncat maju sambil menjulurkan

ujung tombaknya yang tidak begitu tajam itu.

Sedang Sura Sapi sendiri berkelahi mati-matian untuk segera dapat

menundukkan Ki Sukerta. Tetapi ternyata seperti katanya sendiri, Ki Sukerta

yang selalu menjelajahi daerah yang luas itu benar-benar seorang yang

memang mempunyai bekal untuk mela akan pekerjaannya yang berat. Ternyata

ia sama isekali tidak dapat segera dikuasai oleh Sura Sapi. Bahkan Ki Sukerta

masin mendapat kesempatan untuk sekali-sekali melihat anaknya yang dengan

susah payah mempertahankan dirinya.

Tetapi Ki Sukerta masih belum mencemaskan Manguri, karena Manguri

agaknya masih mampu bertahan. Seperti Lamat, Manguri dapat memanfaatkan

tiang-tiang pendapa untuk memperpanjang perlawanannya. Sehingga Ki

Sukerta masih dapat memusatkan perlawanannya atas Sura Sapi sendiri.

Temon tidak terlampau banyak mempunyai kelebihan dari pengawal ternak Ki

Sukerta, meskipun segera tampak, bahwa ia akan berhasil memenangkan

berkelahian itu pada suatu saat apabila mereka dibiarkannya berkelahi seorang

lawan seorang.

Sementara itu Lamat berusaha untuk tetap mengikat ketiga lawannya. Ia

melihat bahwa hanya Ki Sukerta sajalah yang agaknya akan mampu

mengimbangi lawannya untuk waktu yang lama.

Tetapi melawan tiga orang gerombolan Sura Sapi, merupakan pekerjaan yang

berat pula bagi Lamat. Ia masih tetap sadar bahwa sebaiknya ia tidak

melakukan pembunuhan.

Karena itu maka Lamat tidak mempergunakan seluruh kekuatannya di dalam

perlawanannya. Meskipun sekali-sekali ia menyerang, namun sebagian

terbesar yang dilakukannya adalah menghindar dan menangkis. Apalagi

kelincahan lawan-lawannya kadang kadang memang agak

membingungkannya, sehingga setiap kali ia selalu meloncat mengambil jarak

dari ketiga lawan-lawannya.

Namun lambat laun Lamat tidak dapat berkelahi dengan caranya. Ketika ujung

pedang salah seorang gerombolan Sura Sapi itu menyentuh kulit lengannya,

sehingga darahnya menitik, sadarlah ia bahwa ia tidak sedang bermain-main.

Ki Sukerta, Manguri dan pengawal yang seorang itupun sedang terancam

bahaya kematian apabila keadaannya tidak segera berubah.

Karena itu, Lamat yang kemudian dilanda oleh kebimbangan dan keraguraguan

itu terpaksa mencari jalan untuk mengatasi perkelahian itu.

“Akan lebih baik kalau aku berkelahi di dalam kelompok itu pula” desisnya di

dalam hati “setidak-tidaknya aku dapat mengawasi dan mencoba mengurangi

tekanan atas Manguri”

Dengan demikian maka Lamatpun berusaha dengan susah payah untuk

mendekati lingkaran perkelahian yang lain. Ketika serangan-serangan

lawannya membuatnya semakin bingung, maka tiba-tiba ia menggeram.

Diayunkannya tangkai tombaknya dengan sekuat tenaganya menyerang salah

seorang daripadanya, supaya lawan-lawannya berloncatan surut, untuk

memberinya kesempatan mengatur diri.

Tetapi agaknya ada diantara mereka yang tidak sempat berusaha untuk

menghindar. Dengan senjatanya ia mencoba menangkis ayunan tangkai

tombak Lamat yang dibuatnya dari kayu berlian itu.

Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Sesaat mereka mendengar keluhan

tertahan, kemudian mereka mendengar gcmerincing pedang yang terjatuh di

lantai.

Orang itu tidak berhasil mempertahankan senjatanya. Tenaga Lamat ternyata

terlampau kuat, meskipun lawannya itu salah seorang dari gerombolan Sura

Sapi yang terkenal. Bahkan tangkai tombak Lamat masih juga menyentuh

pahanya, sehingga iapun terpelanting jatuh.

Dengan susah payah orang itu meloncat berdiri. Tetapi kemudian ternyata

bahwa ia menjadi timpang karenanya. Rasa-rasanya tulang pahanya menjadi

retak.

Kedua kawannya yang lain segera mencoba melindunginya. Keduanya

menyerang hampir bersamaan, sehingga Lamat terdesak surut beberapa

langkah.

Kesempatan itu dipergunakan oleh salah seorang gerombalan yang kehilangan

senjatanya itu. Tertatih-tatih ia berloncatan memungut senjatanya. Kemudian

dengan kaki timpang ia kembali memasuki arena perkelahian.

Lingkaran perkelahian Lamatpun semakin lama menjadi semakin dekat dengan

arena perkelahian Manguri, ayahnya dan pengawal yang seorang itu. Namun

agaknya lawan-lawannyapun berusaha untuk menahannya dan mendorongnya

semakin jauh.

Lamat masih saja berkelahi dengan tenangnya. Ia masih berusaha untuk tidak

melakukan pembunuhan. Namun setiap kali tumbuh pertanyaan “Bagaimana

kalau justru Manguri sendiri yang terbunuh? Betapapun bengalnya anak itu,

tetapi ia masih agak lebih baik dari gerombolan Sura Sapi.

Dalam pada itu, isteri Ki Sukerta yang mendengar hiruk pikuk di pendapa,

mencoba untuk mengintipnya. Meskipun dalam kegelapan, namun ia dapat

melihat bayangan yang samar-samar berloncatan kian kemari. Nafas yang

berdesah dan dentang senjata beradu. Dengan demikian segera ia mengetahui,

bahwa di pendapa rumahnya agaknya telah terjadi perkelahian yang dahsyat.

Nyai Sukerta itupun kemudian berlari-lari ke bagian belakang rumahnya.

Didorongnya saja pintu bilik Lamat. Tetapi ia sudah tidak melihat orang itu di

dalam biliknya.

“Agaknya ia sudah ikut berkelahi” desisinya. Dengan demikian maka iapun

kemudian berlari ke gubug-gubug di samping lumbung. Dibangunkannya para

pekatik, para gembala dan juru sapu.

“Cepat, pergi ke pendapa. Mereka sedang berkelahi”

“Siapa?” bertanya salah seorang pekatik kuda.

“Aku tidak tahu”

Orang-orang itu menjadi bingung. Mereka tidak mengerti bagaimana mereka

harus membantu. Hampir sepanjang umurnya mereka tidak pernah berkelahi.

Tetapi ada juga dua orang yang segera berlari ke dalam biliknya untuk

mengambil parang dan kapak. Dengan tergesa-gesa keduanya pergi melingkari

rumah ke pendapa, di bagian depan dari rumah Ki Sukerta.

Ketika mereka sampai ketangga pendapa mereka melihat bahwa perkelahian

yang seru masih berlangsung di pendapa.

Ternyata Manguri menemui banyak kesulitan di dalam perkelahian itu.

Anggauta gerombolan Sura Sapi yang berkelahi melawannya, agaknya benarbenar

akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya tanpa tanggung-tanggung.

Meskipun kedua orang pembantu Manguri itu bukan orang orang yang

mempunyai pengetahuan yang cukup di dalam olah senjata, tetapi agaknya

mereka mampu melihat, bahwa Manguri sudah hampir tidak mampu lagi untuk

bertahan. Dengan demikian, maka keduanyapun segera mendekatinya dan

mencoba untuk membantunya.

Namun ternyata bahwa kedua orang itu tidak terlampau banyak berpengaruh.

Meskipun demikian, mereka telah dapat memecah perhatian lawan Manguri,

sehingga Manguri mempunyai sedikit kesempatan memperbaiki keadaannya.

Ayahnya, Ki Sukerta yang melihat keadaan anaknya, menjadi sangat cemas.

Itulah sebabnya, maka ia telah mengerahkan segenap kemampuan dan

ilmunya. Seluruh tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya telah

dibangunkannya, untuk mempercepat penyelesaian.

Ternyata bahwa Ki Sukerta tidak sekedar menyebut dirinya sebagai seorang

pedagang keliling dan bahkan seorang petualang hampir di segala bidang

kehidupan. Telah dijelajahinya sudut-sudut yang paling berbahaya di dalam

usahanya mencari kekayaan dan mengejar perempuan yang disukainya.

Dengan demikian, maka menghadapi Sura Sapi itu sendiri Ki Sukerta akhirnya

berhasil sedikit demi sedikit menguasainya.

“Aku harus lebih dahulu, sebelum Manguri kehabisan napas” katanya di dalam

hati. Bagaimanapun juga Manguri adalah satu-satunya anak dari isterinya yang

paling tua, isterinya yang sah.

Sura Sapi menahan nafasnya untuk sejenak, ketika hampir saja pundaknya

tergores pedang lawannya. Meskipun ia telah memperhitungkan, bahwa Ki

Sukerta bukannya sekedar seorang pedagang yang mempercayakan

keselamatannya kepada para pengawalnya saja, namun ia sama sekali tidak

menyangka bahwa Ki Sukerta itu mampu mengimbanginya, bahkan semakin

lama semakin terasa betapa beratnya menghadapi pedagang ternak itu.

“Setan alas“ Sura Sapi menggerutu. Sesaat terbayang kegagalan mereka di

tengah-tengah sawah sawaktu mereka menghadapi Pamot dan kawankawannya

Apakah kegagalan ini harus terulang?”

“Sura Sapi tidak pernah gagal” desisnya. Tetapi bagaimanapun juga, ternyata

kemampuan Ki Sukerta tidak dapat diingkarinya.

Meskipun Temon sedikit demi sedikit dapat mendesak lawannya, tetapi untuk

mengalahkannya agaknya ia masih memerlukan waktu yang cukup lama,

sedang Sura Sapi semakin lama sudah menjadi semakin lemah.

“Sura Sapi tidak pernah gagal” terdengar Sura Sapi itu menggeram.

Di lingkaran perkelahian yang lain, yang semakin lama menjadi semakin dekat,

Lamat masih tetap bertahan. Meskipun ia tidak segera tampak menguasai

keadaan, tetapi agaknya keadaannya sama sekali tidak mencemaskan.

Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin ribut. Desak

mendesak tidak berketentuan. Yang seorang dapat mendorong lawannya,

sedang yang lain hampir-hampir dapat dikuasai.

Namun agaknya Sura Sapi sendiri berada di dalam kesulitan. Setiap kali ia

terdesak mundur. Setiap kali ia menggeram karena ujung senjata Ki Sukerta

menyentuh pakaiannya. Dan bahkan ketika punggungnya terantuk tiang

pendapa, sebuah goresan telah menyobek lengannya.

Terdengar Sura Sapi itu mengaduh tertahan. Kemudian mengumpat sejadijadinya.

Goresan itu ternyata telah menitikkan darahnya, sehingga perasaan

pedih seolah-olah menyengat di segenap lekuk tangannya. Untunglah bahwa

Sura Sapi mampu mempergunakan kedua tangannya dengan kekuatan

seimbang, sehingga karena tangan kanannya terluka, maka senjatapun segera

dipindahkannya ke tangan kiri” Namun demikian titik-titik darah itu telah

membuatnya menjadi cemas, bahwa pada suatu saat ia akan menjadi semakin

lemah.

Belum lagi gema desah Sura Sapi itu lenyap, maka seorang yang melawan

Lamat ternyata telah terpukul oleh tangkai tombak Lamat, yang terbuat dari

kayu berlian. Orang itu terpelanting membentur sebuah tiang pendapa.

Untunglah, bahwa ia masih dapat melindungi kepalanya, sehingga dengan

susah payah ia masih dapat segera bangkit.

Namun demikian, di bagian lain terdengar seseorang menjerit ngeri. Agaknya

salah seorang dari kedua orang yang membantu Manguri tertusuk senjata

lawannya di pahanya Tertatih-tatih ia berlari menepi, kemudian tanpa dapat

mempertahankan keseimbangannya lagi ia terjatuh sambil mengaduh.

Meskipun demikian, Sura Sapi sendiri agaknya tidak akan mampu

mengalahkan Ki Sukerta yang tampaknya semakin lama menjadi semakin

garang. Kali ini ia berkelahi sepenuh tenaganya untuk menyelamatkan

anaknya, harta bendanya dan namanya.

Dalam keadaan yang kalut demikian itulah, akhirnya Sura Sapi tidak dapat

mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Lukanya menjadi kian pedih, sedang

lawannya masih juga nampak segar. Raksasa yang dianggapnya dungu itu

ternyata tidak segera dapat dikalahkan oleh ketiga orang-orangnya. Temon

yang diharapkannya akan dapat membantunya, ternyata terikat oleh

perkelahian yang masih memerlukan waktu yang lama.

Apalagi ketika kemudian beberapa orang meskipun dengan ragu-ragu,

berdatangan mengerumuni pendapa. Orang-orang itu adalah pekatik-pekatik,

pelayan-pelayan dan tenaga-tenaga kasar di rumah itu. Dita-ngan masingmasing

tergenggam berbagai macam senjata. Linggis, kapak, parang, bahkan

kayu selumbat kelapa dan pemukul kentongan.

Meskipun mereka tidak akan dapat banyak berbuat, namun kehadiran mereka

benar-benar telah mempengaruhi niat Sura Sapi untuk memaksakan

kehendaknya.

Demikianlah, maka sekali lagi Sura Sapi merasa, bahwa ia akan gagal. Gagal

seluruhnya seperti pada saat gerombolannya akan menangkap Pamot. Itulah

sebabnya maka ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali seperti pada kegagalan

yang dahulu, meninggalkan arena.

Sejenak kemudian maka terdengar Sura Sapi memberikan aba-aba itu. Abaaba

yang pernah diberikannya juga dalam perkelahiannya melawan anak-anak

Gemulung.

Kawan-kawannya tidak menunggu keadaan berkembang semakin buruk.

Dengan serta-merta merekapun segera berloncatan menjauh. Kemudian berlari

secepat-cepat dapat mereka lakukan, turun dari pendapa, melintasi halaman

samping dan menghilang di kebun belakang untuk seterusnya berlari lintang

pukang meloncati dinding batu di belakang.

Tetapi mereka tidak berhenti sampai di balik dinding batu. Mereka masih berlari

terus masuk ke dalam rerungkudan.

Demikian cemasnya, mereka hampir tidak sempat berpaling. Bahkan di dalam

gelap malam, tiba-tiba saja kaki Temon terantuk sesosok tubuh yang sedang

berjongkok, sehingga keduanya terpelanting dan jatuh berguling-guling.

“Setan alas, dimana matamu he” bentak orang yang berjongkok itu, yang tidak

lain adalah Sura Sapi.

“Siapa kau?” bertanya Temon.

“O” suara Sura Sapi merendah ”kaukah itu kakang?

“Ya aku. Kenapa kau berjongkok disitu?”

Nafas Sura Sapi menjadi semakin terengah-engah ”Tanganku dan pundakku

terasa pedih sekali”

“Kauterluka?”

“Ya. Di lengan dan di beberapa tempat lagi meskipun hanya goresan-goresan

kecil”

Temon merangkak mendekati adiknya. Katanya kemudian ”Marilah kita

menjauhi tempat terkutuk itu dahulu”

Sura Sapipun kemudian berdiri perlahan-lahan. Dengan hati-hati ia

memandang berkeliling.

“Tidak ada orang yang mengejar kita” berkata Temon.

“Ya. Agaknya merekapun tidak berani keluar dari batas dinding rumahnya “

“Kenapa?”

“Agaknya mereka tidak ingin terlibat dalam Kesalah pahaman dengan anakanak

muda Gemulung”

Temon mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kita harus cepat menyingkir”

“Ya. Kita harus cepat menyingkir”

Keduanyapun kemudian berlari-lari kecil sambil terbungkuk-bungkuk di selasela

dedaunan yang rimbun di kebun-kebun yang tidak terpelihara. Namun

Sura Sapi semakin lama menjadi semakin lemah. Darahnya masih saja

mengalir meskipun tidak begitu deras, dari luka-lukanya, terutama luka

dilengannya.

“Marilah” ajak Temon.

“Napasku” desis Sura Sapi ”badanku menjadi sangat lemah. Darahku masih

saja mengalir”

Temonpun kemudian mendekati adiknya. Dibantunya Sura Sapi berjalan

tertatih-tatih. Kemudian merekapun dengan hati-hati mendekati dinding

padukuhan dan setelah mereka merasa aman, maka dengan susah payah Sura

Sap align=”left”pipun segera meloncat dibantu oleh kakaknya.

Malam yang gelap masih juga. terasa gelap, meskipun bintang-bintang di langit

bertebaran dari ujung sampai ke ujung.

Keenam orang dari gerombolan Sura Sapi termasuk Temon, berjalan tersuruksuruk

menjauhi padukuhan Gemulung.

“Lain kali kita bakar padukuhan terkutuk itu” geram Sura Sapi.

“Ya, kita jadikan nereka” desis yang lain. Merekapun kemudian meneruskan

langkah mereka menyusur pematang. Beberapa orang dari mereka berjalan

dengan timpang karena kaki-kaki mereka terkilir. Tetapi Sura Sapi sendiri

menjadi semakin lemah, meskipun ia masih mampu berjalan dibantu oleh

kakaknya.

“Dua kali kita gagal di neraka terkutuk itu” gumam Sura Sapi “tetapi lain kali kita

pasti akan berhasil”

“Apa yang akan kau lakukan lain kali?”

“Membakar padukuhan itu menjadi karang abang. Kemudian merampok rumah

pedagang yang kikir itu habis-habisan dan membunuh seisi rumahnya”

Temon tidak menjawab. Ia sadar, bahwa kata-kata itu terlontar oleh

kekecewaan yang sangat mencengkam dada Sura Sapi.

Sejenak kemudian merekapun terdiam. Mereka berjalan tertatih-tatih semakin

lama semakin jauh dari Gemulung, dengan luka-luka tidak saja pada tubuh

mereka, tetapi juga di hati.

Sementara itu Manguri yang hampir kehabisan nafas masih sempat

membentak-bentak Lamat yang berdiri termangu-mangu “Kenapa kau biarkan

mereka lari, he? Kenapa kau tidak mengejar mereka dan menangkap meskipun

hanya satu atau dua orang?“

Lamat tidak menjawab. Sekilas dipandanginya Ki Sukerta, dan sekilas

kemudian pengawal ternak yang berdiri diam membeku.

“Kaupun tidak berbuat apa-apa” bentak Manguri kepada pengawal itu.

Pengawal itupun tidak segera menjawab.

“Semua orang di rumah ini sudah gila. Sekian banyak orang berkeliaran tidak

menentu. Apa yang kalian kerjakan? Kalian membiarkan demit-demit itu

melarikan dirinya. Kalau kalian berhasil menangkap atau membunuh mereka,

aku akan menyembelih tiga ekor sapi. Tidak, tidak hanya tiga ekor. Dua ekor

untuk setiap orang yang tertangkap“

Tidak seorangpun yang menjawab. Dan kemarahan Manguri menjadi semakin

melonjak-lonjak, .Wadah kemarahannya terutama adalah Lamat. Katanya “Kau

pemalas. Kau ingin segera tidur saja. Kau sama sekali tidak berusaha untuk

memenangkan perkelahian. Kau yang sebesar gajah itu sama. sekali tidak

berdaya menghadapi hanya tiga orang lawan. Dan yang tiga itu tidak termasuk

pemimpinnya ”

Lamat menundukkan kepalanya. Ia sudah terlalu biasa diumpat-umpat dengan

kata-kata yang bagaimanapun menyakitkan, hati. Karena itu justru ia menjadi

kebal.

“Sudahlah Manguri“ ayahnya mencoba menahannya “untung sekali kau masih

dapat melihat matahari terbit esok pagi. Sekarang biarlah mereka beristirahat.

Orang yang terluka itu harus segera mendapat pertolongan”

“Tetapi itu terlalu sekali” geramnya “seharusnya Lamat dapat berbuat sesuatu.

Dengan keadaan ini kita masih selalu harus berjaga-jaga. Mereka pasti masih

akan menuntut penyelesaian yang memberi kepuasan kepada mereka”

“Tetapi kita sudah dapat menduga sebelumnya, sehingga kita akan dapat

berjaga-jaga” sahut ayahnya.

“Mereka, Sura Sapi dan gerombolannya itu., terlampai buas. Mereka dapat

membawa kawan-kawan mereka berdatangan ke rumah ini, sedangkan kami

tidak akan dapat mengharapkan orang-orang Gemulung yang gila itu”

“Aku dapat memanggil para pengawal ternak yang biasa membantu aku dalam

perjalanan. Merekapun orang-orang yang dapat dipercaya. Tidak kalah dari

orang-orang gerombolan Sura Sapi”

“Tetapi jumlah itu sangat terbatas”

“Aku kira cukup banyak. Aku mempunyai lima orang pengawal”

“Hanya lima”

“Disini ada kau, ada aku dan Lamat serta seorang pengawal lagi”

“Tetapi gerombolan Sura Sapi adalah gerombolan yang paling gila dan liar.

Mereka dapat berbuat apa saja melampaui setan yang paling jahat”

“Sudahlah, jangan ribut“ kemudian kepada Lamat Ki Sukerta berkata “rawatlah

orang yang terluka itu”

Lamat tidak menjawab. Sambil memegang tombaknya di tangan kiri ia

memapah orang yang terluka itu dan dibawanya turun dari pendapa.

“Ingat pemalas” teriak Manguri “kaulah sumber kegagalan kita menangkap

orang-orang itu. Kalau sekali lagi kau ulangi, maka kau akan menyesal seumur

hidupmu”

“Manguri” potong ayahnya “jangan menjadi gila karena kegagalan kita kali ini.

Sebenarnya kita sama sekali tidak gagal. Kita sudah berhasil mempertahankan

diri dan hak milik kita”

“Tetapi masalahnya belum selesai ayah”

“Katakan, siapakah yang telah membuka masalah ini. Siapakah yang dengan

dungunya menghubungi Sura Sapi untuk keperluan yang gila itu pula. Siapa?“

Manguri tidak menjawab.

“Kau. Kaulah yang bersalah. Kaulah sumber dari kekalutan yang telah terjadi di

rumah ini. Sekarang kau membentak-bentak seperti orang mabuk tuak”

Manguri mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab, karena ia sadar,

bahwa ayahnya sudah mulai marah lagi kepadanya.

“Masuklah” berkata ayahnya “jangan ribut lagi”

Dengan kepala tunduk Manguripun kemudian berjalan masuk ke pringgitan.

Ketika ia masuk ke ruang dalam dilihatnya ibunya menggigil ketakutan. Begitu

Manguri muncul di pintu, maka dengan serta merta dipeluknya anaknya yang

sudah sebesar ayahnya itu sambil menangis “Kau tidak apa-apa Manguri”

Manguri menggelengkan kepalanya “Tidak ibu, aku tidak apa-apa”

“Nah, jadilah pelajaran bagimu, Manguri. Untuk seterusnya kau jangan bermain

api”

“Bukankah hal itu sudah sewajarnya? Aku seorang anak laki-laki ibu. Aku

memang sudah seharusnya berusaha untuk mendapatkan seorang gadis yang

aku cintai”

“Tetapi kau dapat mencari gadis yang lain, yang tidak usah menumbuhkan

banyak persoalan seperti gadis anak janda prajurit itu”

“Aku mencintainya ibu”

“Anakku. Kau harus dapat mempertimbangkan perasaanmu. Betapa besar

cintamu kepadanya, tetapi hal itu dapat membahayakan nyawamu, bahwa

berbahaya bagi seluruh keluarga”

“Sudahlah bu” berkata Manguri sambil melepaskan pelukan ibunya “ibu tidak

usah mencemaskan aku”

“Tidak mungkin Manguri, karena kau adalah anakku”

“Ibu akan menyakiti perasaan ibu sendiri. Aku sudah bertekad untuk

mendapatkannya dengan segala cara”

“Jangan Manguri. Berkatalah, gadis mana yang kau cintai, selain gadis yang

sudah jelas menolakmu itu. Aku akan melamarnya untukmu”

“Aku tidak mencintai gadis lain lagi, kecuali gadis itu”

“Tidak. Aku tidak menyetujui kau berhubungan lagi dengan Sindangsari”

“Ibu“ Manguri membelalakkan matanya “kenapa tiba-tiba ibu bersikap demikian”

“Ibu tidak senang melihat hubungan yang selalu mendebarkan jantung. Apakah

kau akan merasa bahagia kelak, apabila kau selalu diganggu oleh kegelisahan

dan kecemasan. Apalagi isterimu itu tidak mencintaimu”

“Ibu, aku kadang-kadang merasa bahwa semakin sulit aku berusaha

mendapatkan seorang gadis, aku merasa bahwa aku kelak akan menjadi

semakin berbahagia, apabila aku berhasil”

“O, jalan pikiranmu sudah terbalik”

“Bukankah cinta yang berliku-liku itu justru memberikan kepuasan yang

mendalam”

“Tidak. Kau keliru”

“Ibu“ Manguri tiba-tiba berbisik “ibu jangan melarang aku. Sebenarnya aku tidak

sejahat ini, karena aku harus memeras ibuku sendiri. Tidak. Tetapi aku hanya

ingin membuktikan, bahwa kadang-kadang kita memang ingin hidup di dalam

dunia yang lain dari kewajaran hidup ini. Coba katakan, apakah yang ibu dapat

dari hubungan yang berbelit-belit antara ibu dengan laki-lki itu?“

“Manguri“ ibunya hampir berteriak “kau sudah gila”

“Maaf ibu, aku hanya sekedar memberikan contoh, betapa di dalam hidup ini

kita memerlukan kelainan-kelainan yang kadang-kadang tidak masuk akal.

Maaf bahwa contoh yang paling mudah aku dapat kali ini adalah kehidupan ibu

sendiri. Hubungan itu menurut pendapatku adalah terlampau mengerikan.

Tetapi ibu melakukannya juga. Apakah dapat dinikmati suatu kebahagiaan

dalam ujud apapun, apabila setiap kali ibu selalu diburu oleh kegelisahan

kecemasan dan ketakutan?“

“Diam, diam kau Manguri”

“Jangan berteriak ibu. Aku sudah berbisik-bisik supaya tidak ada orang lain

yang mendengar. Tetapi ibu justru berteriak-teriak seperti itu”

”kau menghina ibumu sendiri Manguri. Kau menyakiti hatiku”

“Bukan maksudku. Karena itu aku minta maaf. Tetapi dengan demikian, maka

ibu akan dapat mengerti, bahwa aku kali ini berbuat sesuatu yang aneh yang

tidak patut atau katakanlah, sangat berbahaya menurut penilaian orang lain

Tetapi aku justru ingin melakukannya karena dorongan yang tidak aku

mengerti”

“O” tiba-tiba ibunya berlari ke biliknya. Dijatuhkannya tubuhnya di

pembaringannya.

Yang terdengar kemudian adalah isak tangisnya, sambil menelungkupkan

wajahnya pada kedua tangannya yang bersilang.

Dengan dada yang berdebar-debar Manguri melihat ibunya menangis.

Perlahan-lahan ia mendekatinya dan duduk di bibir pembaringan itu.

“Aku minta maaf bu” Ibunya tidak menyahut.

“Aku minta maaf. Sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin menyakiti hati ibu”

Ibunya mengangkat wajahnya. Kemudian terdengar suaranya parau di selasela

isak tangisnya “Inikah hukuman yang harus aku tanggungkan karena dosa

itu?“

“Tidak ibu. Bukan”

“Aku memang penuh dengan dosa Manguri. Tetapi ternyata kau memang

benar. Kadang-kadang kita menginginkan sesuatu yang tidak pantas, yang

tidak patut. Bahkan yang berbahaya sekalipun. Tetapi aku tidak dapat

menghentikannya. Setiap kali hal itu terjadi, aku merasa bahwa untuk

seterusnya aku tidak akan mengulanginya lagi. Bahkan aku merasa sangat

membencinya. Tetapi apabila aku merasa kesepian, dan laki-laki itu

menampakkan dirinya, aku terdorong lagi ke dalam dosa itu”

“Sudahlah ibu. Tidak pantas hal itu disesali. Kalau hal itu memang terjadi,

marilah kita nikmati sepuas-puas hati. Bukankah hal itu memang terjadi dan

tidak dapat kita elakkan lagi”

“O, inilah. Inilah kutukan itu, Aku memang sudah memberikan contoh

kepadamu, untuk terjun ke dalam neraka yang paling jahanam. Dan kau

agaknya memang mengikuti jejak itu. Jejakku dan jejak ayahmu”

Manguri menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum di

dalam hatinya. Kini ia benar-benar merasa hidup di dalam kubangan yang

paling kotor. Ia tidak akan dapat membersihkan dirinya selama ia masih tetap

berada di kubangan itu. Seribu kali ia mandi sehari, maka ia akan segera

dilumuri oleh noda-noda yang paling kotor itu kembali.

Bab 2 : Perasaan Remaja

Tetapi Menguri tidak mengatakannya. Ia

bangkit berdiri dan berkata kepada ibunya

“Ayah berada di luar. Mungkin ayah sedang

mengurusi orang-orang yang kebingungan di

halaman. Atau barangkali ikut menolong

orang yang terluka itu. Aku akan pergi keluar

juga”

Ibunya menganggukkan kepalanya. Dengan

ujung bajunya ia mengusap air mata yang

masih membasahi matanya.

“Hati-hatilah”

“Ya ibu”

Manguripun kemudian melangkah keluar

bilik. Ditutupnya pintu bilik itu. Sekilas ia

masih melihat ibunya berbaring. Ibunya yang

nampaknya masih sangat muda.

Ketika ia melangkah untuk kembali ke

pendapa, maka sekilas ia teringat kepada gadis-gadis yang pernah

mengguratkan namanya pada dinding jantungnya.

Manguri tersenyum di dalam hati, meskipun senyum yang pahit.

“Dimanakah mereka sekarang” desisnya.

Terbayanglah gadis-gadis itu seorang demi seorang bersimpuh di hadapan

kakinya. Mula-mula mereka mengharapkan kehangatan cintanya. Namun

beberapa bulan kemudian, mereka bersimpuh sambil menangis seorang demi

seorang untuk minta belas kasihannya.

“Aku mengandung“ kalimat-kalimat itulah yang mereka ucapkan. Hampir

bersamaan dalam nada dan susunan kata-kata. Hampir selalu pula gadis-gadis

itu membasahi kakinya dengan air mata.

“Hanya seorang itulah yang menjadi gila, dan hampir menikam aku” katanya.

Kini Manguri benar-benar tersenyum pada bibirnya, meskipun juga sebuah

senyuman yang pahit.

Tetapi tidak seorangpun dari gadis-gadis itu yang akhirnya berhasil menjadi

isterinya. Manguri kemudian mencari dan membayar anak-anak muda yang

dungu, untuk melarikan gadis-gadis itu.

“Tidak“ mula-mula gadis-gadis itu menolak “aku tidak mencintai anak muda

yang bodoh itu”

“Kau tidak mempunyai pilihan lain” jawab Manguri kepada mereka itu “kalau

kau menolak, maka kau akan menjadi sangat malu, karena kau mengandung di

luar perkawinan. Aku tidak akan dapat kau paksa mengawinimu, karena aku

mempunyai seribu cara untuk menolaknya. Sekarang ada anak muda yang

dengan hati yang bersih bersedia mengawinimu. Apakah itu bukan suatu

anugerah?”

“Tetapi anak di dalam kandungan ini adalah anakmu”

Saat itu Manguri masih sempat tertawa “Tidak seorangpun di atas bumi ini

dapat membuktikan bahwa anak itu adalah anakku. Siapa tahu kau pernah

berhubungan dengan laki-laki yang lain”

“Aku bersumpah. Aku bersumpah”

“Tidak akan ada gunanya” Manguri bahkan masih sempat mengancam “atau

kau memilih aku untuk mempergunakan jalan lain yang pasti tidak akan kau

senangi”

“Jalan yang manakah itu ?“

“Membungkam mulutmu untuk selama-lamanya”

“Jangan. Jangan. Jangan kau bunuh aku”

Sekali lagi Manguri tertawa. Katanya waktu itu ”Nah sambutlah suamimu.

Cintailah. Ia akan mencintai kau juga. Ia akan melupakan bahwa anak yang kau

kandung itu bukan anaknya”

Memang tidak ada pilihan lain bagi gadis-gadis ayng sudah terdorong ke dalam

kegelapan itu. Mereka harus menerima keadaan mereka dengan hati yang

lemah.

Kesenangan yang mereka kecap sebelumnya ternyata tidak berimbang sama

sekali dengan penyesalan yang akan mereka bawa sampai di hari-hari terakhir

nanti. Meskipun sesaat-saat mereka dapat melupakan, namun setiap kali luka

itu telah menyengat jantung mereka kembali.

Ternyata suami-suami upahan itupun tidak sebaik suami yang lain. Meskipun

ada juga diantara merema yang akhirnya dapat saling menyesuaikan diri,

namun anak-anak yang lahir kemudian adalah jurang yang telah membatasi

mereka.

Tetapi ternyata Sindangsari tidak dapat diperlakukan serupa itu. Memang

hampir tidak masuk akal, bahwa Sindangsari telah memilih Pamot, seorang

anak muda yang bagi Manguri, tidak ada artinya, yang hanya mempunyai

sejengkal sawah dan pategalan, setapak kebun kelapa yang tidak begitu subur

di pinggir desa.

Tetapi Menguri tidak dapat mengelakkan kenyataan itu, Dan kini ia sedang

berusaha untuk merebut gadis itu dengan cara apapun.

Ketika Manguri menjengukkan kepalanya, dilihatnya pendapat rumahnya sudah

sepi. Agaknya ayahnya dan orang-orang yang lain telah membawa orangnya

yang terluka ke biliknya. Tetapi sejenak kemudian ia melihat beberapa orang

dengan obor di tangan dan sebumbung air naik ke pendapa itu.

“Apa yang akan kalian kerjakan?” bertanya Manguri

“Ki Sukerta memerintahkan kepada kami untuk membersihkan bekas-bekas

perkelahian itu, termasuk tetes-tetes darah”

Manguri mengangguk anggukkan kepalanya. Di bawah sinar obor ia melihat

darah yang tergenang. Sedang di beberapa tempat lagi darah berceceran

menodai lantai pendapa.

Dengan air orang-orang itu membersihkan noda-noda darah itu. Bahkan ada

yang melekat pada tiang.

Manguri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia kembali masuk ke

pringgitan. Setelah menutup pintu rumahnya, ia langsung masuk ke dalam

biliknya. Setelah melepas senjatanya dan meletakkannya di pembaringannya,

Manguripun merebahkan dirinya. Tetapi matanya tidak segera dapat terpejam.

Ia mendengar ketika ayahnya masuk dan menyelarak pintu, kemudian desir

langkahnya ke biliknya.

“Apakah ayah tidak akan melaporkannya kepada K i Demang?” bertanya

Manguri di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mencari jawabnya sendiri.

“Lebih baik bertanya kepada ayah besok”

Meskipun keluarga Ki Sukerta berusaha untuk tidak mengatakannya kepada

siapapun, namun satu dua diantara para pembantunya ada juga yang di luar

sadarnya telah menceriterakan apa yang teiah terjadi itu, sehingga berita

kedatangan gerombolan Sura Sapi ke rumah Ki Sukerta itupun segera tersebar.

Berbagai tanggapan telah berkembang diantara orang-orang Gemulung dan

anak-anak mudanya.

“Senjata itu hampir berbalik mengenai diri Manguri sendiri” desis Punta kepada

kawan-kawannya.

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Mereka sama sekali

tidak mau membunyikan tanda apapun”

“Mereka menganggap bahwa kita tidak akan menolong mereka”

“Apakah begitu?“

“Tidak“ Punta mengeleng “kalau kita tahu, kita pasti akan membantu mereka.

Seandainya kita tidak menolong Manguri, maka kitapun wajib berusaha

menangkap gerombolan Sura Sapi itu”

“Mungkin tanpa kita mereka merasa sudah cukup kuat”

“Manguri merasa bahwa ia bersalah” jawab Punta.

“Tentu raksasa itu yang telah menyelamatkan mereka.

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya “Tidak ada orang lain yang dapat

dibanggakan, selain Lamat”

“Sukerta sendiri?“

“Ya. Sukerta sendiri”

Dalam pada itu. Pamot mendengar berita tentang Sura Sapi yang telah

menyerang rumah Manguri itu dengan hati yang berdebar-debar. Ternyata

persoalan itu masih akan berkepanjangan. Ia belum melihat langkah-langkah

yang diambil oleh Ki Demang dan Ki Jagabaya. Namun agaknya masih akan

berkembang masalah-masalah sampingan yang tidak akan kalah kalutnya

dengan masalahnya sendiri.

Namun demikian, semua peristiwa yang terjadi itu telah mendorongnya

semakin dekat kepada Sindangsari. Meskipun orang tua kedua belah pihak

menganjurkan agar mereka untuk sementara membatasi perhubungan mereka,

namun hati yang sedang terbakar oleh perasaan remaja itu seakan-akan tidak

dapat ditahankannya lagi.

Keduanya mempergunakan setiap kesempatan untuk bertemu. Kadang-kadang

di ladang, kadang-kadang di pinggir kali, selagi Sindangsari mencuci

pakaiannya.

Kawan-kawan Pamot dan Sindangsari sama sekali tidak mengganggunya lagi.

Bahkan mereka merasa kasihan, hubungan yang tulus itu agaknya masih harus

mengalami gangguan-gangguan yang tidak diharapkan.

Apalagi kedua anak muda itu sendiri. Kadang-kadang mereka merasa bahwa

mereka seakan-akan berdiri di ujung duri. Manguri dengan kekayaannya, setiap

saat akan dapat melakukan banyak sekali kemungkinan untuk memisahkan

mereka. Belum lagi dendam Sura Sapi yang telah mereka kalahkan.

“Jangan cemas“ Punta yang sudah labih tua dari Pamot kadang-kadang

mencoba menenteramkan kegelisahan anak muda itu “kawan-kawan kita

mengerti apa yang harus mereka lakukan. Kami sudah bersiaga apabila Sura

Sapi datang untuk melepaskan dendamnya. Kini mereka baru mencoba

membuat perhitungan dengan Manguri, itupun gagal. Apalagi apabila mereka

ingin membuat perhitungan dengan seluruh padukuhan ini”

“Aku percaya kepadamu dan kepada kawan-kawan yang lain” desis Pamot.

Dan ia melihat dengan mata kepala sendiri kesiagaan anak-anak muda

Gemulung di gardu-gardu perondan di setiap malam.

Tetapi kecemasan yang sangat adalah pada Sindangsari Ia tidak melihat

kesiagaan anak-anak muda Gemulung. Berbeda dengan Pamot Sindangsari

merasa bahwa dirinya terlampau lemah. Apabila Manguri kemudian

mempergunakan kekerasan dan diarahkan kepadanya, maka ia tidak akan

dapat berbuat apapun.

Meskipun demikian Sindangsari tidak ingin mundur Hatinya kini telah benarbenar

dicengkam oleh perasaannya. Dan ia telah menyerahkan dirinya kepada

perasaan itu

Kakang berkata Sindangsari kepada Pamot ketika mereka bertemu di pinggir

kali “aku selalu dikejar oleh kegelisahan”

“Jangan gelisah Sindangsari” jawab Pamot “hampir setiap orang di Gemulung

berpihak kepada kita. Lebih-lebih anak-anak mudanya. Aku tahu benar, bahwa

mereka telah berjaga-jaga apabila ada sesuatu yang akan menimpa padukuhan

ini Memang mungkin Sura Sapi mendendam dan mungkin pula Manguri

mengambil sikap lain. tetapi percayalah, bahwa menghadapi sikap yang keras,

kita tidak sendiri”

Sindangsari menundukkan kepalanya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya

kalau tiba-tiba saja pada suatu malam seseorang atau segerombolan orang

datang ke rumahnya dan memaksanya pergi bersama mereka.

Namun demikian Sindangsari tidak mengatakannya. Yang dikatakan kepada

Pamot adalah “Kakang Pamot. Kapankah kita dapat mengakhiri hubungan kita

serupa ini?“

“He“ Pamot terkejut “maksudmu?“

“Maksudku, apakah kita tidak ingin meningkatkan hubungan kita, sehingga

kemungkinan-kemungkinan yang lain dapat kita perkecil” Pamot tidak segera

menjawab.

“Di rumahku tidak ada laki-laki lain kecuali kakek yang sudah tua. Sudah tentu

kakek tidak akan dapat melindungi aku karena umurnya yang sudah lanjut.

Apalagi di malam hari. Tetapi kalau persoalan kita menjadi sudah pasti, maka

kemungkinan-kemungkinan itu akan menjadi berkurang. Mungkin Manguri juga

akan kehilangan nafsunya lagi untuk mengganggu kita.

“Maksudmu, kita segera kawin?“

Sindangsari tidak menjawab.

“Sari” suara Pamot menjadi dalam sekali “persoalan yang paling berat bagiku,

aku sama sekali belum mempersiapkan diri menghadapinya. Aku belum punya

apa-apa”

“Meskipun belum sejauh itu kakang, tetapi setidak-tidaknya seperti yang

dimaksudkan oleh Ki Demang dan Ki Jagabaya. Persoalan ini menjadi tegas.

Aku merasa bahwa aku telah dipersalahkan, karena sikapku dapat

menumbuhkan salah paham pada beberapa orang kawanku. Diantaranya kau

dan Manguri. Tetapi kalau kau sudah bersikap tegas, maka kemungkinan itu

tidak akan ada lagi”

“Jadi maksudmu?“

“Kau dan orang tuamu datang ke rumahku”

“Melamar?“

Sindangsari tidak menyahut. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Ia tidak

berani memandang wajah Pamot. Namun di dalam dadanya bergeloralah

harapan agar Pamot dapat mengerti maksudnya, dan tidak menjadi salah

paham karenanya.

Sejenak kemudian terdengar Pamot berkata perlahan-lahan “Sindangsari. Aku

dapat mengerti kegelisahanmu. Kau pasti selalu berada dalam kegelisahan dan

kecemasan. Kalau dengan demikian akan sedikit dapat memberimu

ketenteraman, maka aku akan segera melakukannya.

Dengan serta-merta Sindangsari mengangkat wajahnya Sepercik harapan

memancar dari sorot matanya. Namun ketika tatapan mata mereka beradu.

Sindangsari segera menundukkan kepalanya kembali. Namun terdengar ia

berkata lirih ”Aku akan sangat berterima kasih kepadamu kakang. Dengan

demikian ikatan diantara kita menjadi resmi dan disaksikan oleh keluarga kita

masing-masing dan beberapa orang tetua padukuhan ini”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah Sari. Tetapi kelanjutan dari lamaran itu harus diperhitungkan sebaikbaiknya.

Bukan karena aku ragu-ragu, tetapi aku ingin mempersiapkan diri lebih

dahulu”

“Tentu aku tidak berkeberatan kakang”

“Permintaanmu itu akan segera aku penuhi. Aku akan segera

menyampaikannya kepada ayah dan ibuku”

Setitik air mata kegirangan meleleh di pipi Sindangsari Ia mengharap bahwa

dengan demikian, hubungannya dengan anak muda itu menjadi semakin kukuh.

Ketika untuk sejenak mereka saling berdiam diri sambil menundukkan

kepalanya, beberapa orang anak-anak muda yang baru saja naik dari

ladangnya berjalan ketepian. Tetapi mereka terhenti sejenak. Yang paling

depan diantara mereka berbisik “He, jangan ganggu anak anak itu”

Yang lainpun kemudian melangkah surut sambil tersenyum-senyum. Tetapi

salah seorang dari mereka tergelincir. Meskipun ia tidak jatuh, tetapi beberapa

buah kerikil yang tersentuh kakinya, terlempar masuk ke dalam air.

Pamot dan Sindangsari terkejut karenanya. Ketika mereka berpaling, mereka

melihat beberapa orang sedang berdri termangu-mangu di pinggir tanggul.

Pamot segera berdiri sambil tersenyum. Seorang kawannya di atas tanggul

berkata “Maaf Pamot. Kami sama sekali tidak ingin mengganggu. Tetapi anak

ini tergelincir, sehingga melemparkan beberapa butir batu yang ternyata telah

mengejutkan kau”

“Ah kau” jawab Pamot “kemarilah, Bukankah kau akan membersihkan dirimu

setelah kau berendam di kubangan”

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun kemudian merekapun

melangkah turun perlahan-lahan.

“Aku akan pulang saja kakang” desis Sindangsari kemudian.

“Apakah kau sudah selesai dengan cucianmu ?“

“Aku tidak mencuci hari ini”

“Kenapa?” bertanya Pamot. Sindangsari tidak menjawab.

“Marilah, aku antarkan kau pulang”

Sindangsari menggeleng “Tidak usah. Aku berani pulang sendiri”

“Tetapi…”

“Itu kawan-kawanmu datang”

Sindangsari tidak menunggu jawaban Pamot. Segera diambilnya bakul dan

beberapa potong pakaiannya yang tidak jadi dicucinya.

“He, apakah kami mengganggu?” bertanya salah seorang dari kawan-kawan

Pamot yang baru datang.

“Tidak” jawab Pamot.

“Tetapi kemana Singansari itu?“

Pamot tidak menjawab. Dipandanginya saja Sindangsari yang sudah mulai

melangkah “Kemana kau Sari?” bertanya kawannya yang lain.

“Aku akan pulang”

“Kenapa? Apakah kami mengganggu?“

“Tidak. Aku memang akan pulang. Ternyata matahari sudah terlampai tinggi.

Kalian sudah naik”

“Belum begitu tinggi. Kami baru akan makan pagi”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ia berjalan dengan tergesa-gesa

meninggalkan tepian.

“He, Sari. Ada yang ketinggalan” teriak salah seorang dari kawan-kawannya.

Sindangsari tertegun. Ketika ia berpaling kawannya itu berkata “Telapak

kakimu.

“Uh“ Sindangsari berdesah.

“Yang lebih besar lagi adalah Pamot” sahut yang lain.

Kawan-kawannya tertawa. Tetapi Sindagsari sudah tidak berpaling lagi.

Meskipun demikian terasa langkah Sindangsari menjadi ringan. Ia kini mulai

berpengharapan, bahwa segala sesutau akan menjadi kian baik nanti apabila

Pamot telah datang ke rumahnya.

“Tentu tidak nanti sore“ Sindangsari berkata kepada diri sendiri “nanti sore

Pamot baru mengatakannya kepada orang tuanya. Besok sore orang tuanya

berunding, kemudian lusa orang tua Pamot menemui beberapa orang tua untuk

pergi melamar” Sindangsari tersenyum sendiri “Sepekan lagi. Sepekan lagi

orang tua Pamot akan melamar dengan resmi”

Sepercik kegembiraan melonjak di dalam hati Sindangsari. Meskipun Pamot

seorang anak muda yang sederhana, tetapi nampaknya ia mempunyai

tanggung jawab yang besar.

Berbeda dengan Sindangsari, maka sehari-harian Pamot labih banyak

termenung sendiri. Ia sedang mereka-reka kalimat bagaimana ia akan

menyampaikan hal itu kepada yahanya.

“Ayah sudah tahu hubungan ini, sehingga ayah pasti tidak akan terkejut. Tetapi

bahwa begitu mendesak, mungkin masih akan menjadi pertimbanganya”

katanya di dalam hati “tetapi aku harus berusaha memenuhi permintaan

Sindangsari secepatnya, supaya ia tidak menjadi kian gelisah.

Dengan demikian betapapun beratnya, akhirnya Pamot mengatakannya pula

kepada ayahnya, bahwa sebaiknya ayahnya segera melamar Sindangsari.

Pamot menjadi heran, bahwa ayahnya sama sekali tidak memberikan kesan

apapun. Bahkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Baiklah

Pamot. Aku akan segera membicarakannya dengan orang tua-tua”

Sindangsarilah yang hampir tidak sabar lagi menunggu Setiap hari ia selalu

menghitung waktu. Ia mengharap agar waktu yang sepekan itu segera berlalu,

dan orang-orang tua yang menjadi utusan orang tua Pamot segera datang ke

rumah ini.

Tetapi yang terjadi adalah sebuah prahara yang tidak disangka-sangka, justru

datang dari jurusan yang sama sekali tidak diduga.

Sebelum orang tua Pamot datang melamar, maka datanglah dua orang utusan

dari Kademangan, bahwa dalam waktu dua hari lagi, akan datang

serombongan utusan yang lain dari Ki Demang Kepandak.

“Apakah keperluan utusan-utusan itu?” bertanya ibu Sindangsari.

“Aku tidak diperkenankan mendahului utusan itu. Yang boleh aku beritahukan,

bahwa utusan-utusan itu akan membicarakan kemungkinan bagi puterimu yang

barnama Sindangsari”

Jawaban itu bagaikan petir yang meledak di atas kepala Sindangsari yang

mendengar jawaban itu pula. Sejenak ia membeku, namun kemudian terasa

kepalanya menjadi pening.

“Tetapi apakah maksudnya membicarakan tentang anakku itu ?“

“Baiklah, barangkali keluarga ini memang perlu menyiapkan diri untuk

menerima utusan itu. Ki Demang ingin membicarakan kemungkinan,

mengambil Sindangsari sebagai isterinya”

Sindangsari tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba pandangan matanya

menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja ia tidak mengerti, apa yang terjadi atas dirinya

selanjutnya.

Ketika seisi ramah menjadi bingung, maka utusan itupun minta diri, katanya

“Kami tidak mau mengganggu. Mudah-mudahan anak itu tidak apa-apa. Ia

hanya sekedar terkejut. Mungkin ia tidak menyangka sama sekali, bahwa

nasibnya akan menjadi begitu baik”

Orang tua Sindangsari tidak sempat menjawab. Mereka sibuk dengan gadis

yang pingsan itu.

Ketika Sindangsari kemudian sadar, maka sehari-harian ia hanya dapat

menangis saja. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa bencana yang paling

dahsyat justru datang dari Ki Demang, bukan dari Manguri atau gerombolan

Sura Sapi.

“Sari” berkata kakeknya “sebaiknya kau jangan tergesa-gesa menjadi gelisah

dan cemas. Utusan yang sebenarnya itu belum datang. Kalau mereka nanti

datang, aku akan dapat menjelaskan, bahwa kau sudah berjanji untuk hidup

bersama-sama dengan seorang laki-laki”

Sindangsari tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

Apalagi ketika kakeknya berkata “Tetapi sayang, bahwa seandainya benar

demikian, orang tua anak itu atau utusannya sampai saat ini masih belum

datang untuk menyatakah maksudnya”.

Sindangsari masih tetap berdiam diri. Sekilas memercik penyesalannya, bahwa

Pamot begitu lamban memenuhi permintaannya, sehingga orang-orang

Kademangan itu telah datang mendahuluinya.

“Tetapi masih ada waktu dua hari” berkata Sindangsari di dalam hatinya “kalau

di dalam dua hari ini utusan itu datang, maka mereka telah mendahului Ki

Demang”

Sindangsari yang kebingungan itu, akhirnya berkata kepada kakeknya “Kakek,

bagaimana kalau mereka datang sebelum utusan Ki Demang itu datang dua

hari lagi?“

“Siapa?”

Terasa sangat berat untuk mengucapkannya. Namun di paksanya juga ia

berkata “Orang tua Pamot.

Kakeknya menarik nafas dalam-dalam “Aku tidak tabu sari. Apakah hal itu

dapat dimengerti oleh Ki Demang. Mungkin mereka akan menyangka, bahwa

itu hanya dalih saja yang dibuat-buat untuk menolak lamarannya”

“Kakek” bertanya Sindangsari “apakah keberatannya kalau kakek memang

menolaknya, meskipun tanpa dalih apapun”

“Itulah Sari. Aku menjadi bingung” jawab kakeknya “tetapi aku akan berusaha.

Berusaha sejauh-jauhnya. Aku tahu bahwa aku sama sekali tidak menghendaki

untuk menjadi isteri Ki Demang. Akupun sebenarnya tidak”

Titik-titik air mata telah mulai mengambang di mata gadis itu. Bahkan ibunya

seakan-akan sudah kehilangan nalar, sehingga sama sekali ia tidak dapat lagi

menyatakan pendapatnya. Yang ada di dalam dirinya justru penyesalan yang

dalam ”Seandainya aku bukan seorang janda. Seandainya aku tidak kembali ke

rumah ini. Seandainya Sindangsari bukan seorang gadis. Seandainya dan

seandainya. Tetapi semuanya bagaikan duri-duri yang menghunjam ke pusat

jantungnya. Meskipun ia tidak menangis, namun dari matanya yang kering itu

memancar kepahitan yang menggenangi dadanya.

“Jangan menjadi bingung” berkata kakeknya “aku akan berusaha“

Tetapi Sindangsari sama sekali tidak dapat menenangkan hatinya. Ketika

dadanya seakan-akan menjadi retak, Sindangsari sudah tidak dapat menahan

dirinya lagi. Diam-diam ia meninggalkan halaman rumahnya, menyelusur jalan

padukuhan pergi ke rumah Pamot.

Kedatangannya telah membuat orang tua Pamot terkejut. Di saat senja mulai

kelam, gadis itu datang dengan wajah yang muram.

Tetapi orang tua Pamot cukup bijaksana. Mereka tidak bertanya apapun

kepada gadis itu. Dipersilahkannya ia masuk, kemudian orang tua Pamot

membiarkan anaknya menemuinya. Agaknya memang ada sesuatu yang

penting telah terjadi.

“Kenapa kau datang kemari di saat-saat begini?” bertanya Pamot, yang baru

saja selesai mandi, setelah bekerja di sawah sehari-harian.

Pertanyaan itu telah membuat Sindangsari menyadari keadaannya. Sebagai

seorang gadis, ia telah datang ke rumah Pamot diwaktu malam mulai turun.

“Ibu tentu mencari aku” desisnya di dalam hati. Karena itu, maka katanya tibatiba

“Aku akan pulang”

“Sari” sahut Pamot “tetapi kau belum mengatakan sesuatu kepadaku”

“Tidak. Kakek dan ibu pasti akan mencari aku”

“Apakah kau tidak minta ijin kepada mereka?“

“Tidak. Aku pergi dengan diam-diam”

“Tetapi kau belum mengatakan maksudmu”

“Aku akan pulang”

“Sari”

Sindangsari tidak menunggu labih lama lagi, iapun segera berdiri. Tetapi ketika

ia meloncat dari tempatnya, tiba-tiba tangan Pamot telah menangkapnya.

“Tunggu Sari”

“Lepaskan, lepaskan. Aku akan pulang”

“Tetapi kau belum mengatakan apa-apa”

Sindangsari meronta. Ketika ia menghentakkan tangannya tangan itu terlepas

dari pegangan Pamot. Segera ia berlari menuju ke pintu. Namun tiba-tiba ia

tertegun ketika ia melanggar ayah Pamot yartg sudah berdiri di muka pintu

ketika pintu itu didorongnya.

“Angger Sindangsari” suara orang tua itu sareh “aku sadar, bahwa hati angger

Sindangsari sedang diliputi oleh kegelapan”

Sindangsari berdiri termangu-mangu.

“Tenanglah. Memang sebaiknya angger Sindangsari pulang. Marilah, aku

antarkan, tidak baik kau berjalan sendiri dalam gelap. Mungkin tidak

seorangpun yang melihat. Tetapi kalau kau bertemu dengan Manguri atau

orang-orangnya, mungkin kau akan dibawanya”

Terasa bulu-bulu kuduk Sindangsari meremang.

“Marilah aku antarkan”

Sidangsari tidak menjawab. Tetapi ia berpaling. Dilihatnya Pamot berdiri di

belakangnya.

“Atau barangkali Pamot dapat juga mengantarkan kau ngger”

Sepercik warna merah menjalar di wajah Sindangsari, sehingga kepalanya

tertunduk karenanya.

“Nah, terserah kepadamu. Siapakah yang akan mengantarkan kau pulang

ngger. Tetapi sudah tentu tidak sendiri”

Sindangsari menjadi semakin tunduk. Tidak ada keberaniannya untuk

menjawab pertanyaan itu.

Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Biarlah Pamot

mengantarkan kau. Hati-hatilah di jalan”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ketika ayah Pamot menepi, gadis itu

melangkahi pintu perlahan-lahan.

“Aku minta diri” desisnya.

“Baiklah” ayah Pamot berhenti sejenak, lalu “tetapi sebaiknya kau berusaha

untuk mengurangi beban yang agaknya terlampau berat bagimu. Kau datang

kemari, pasti dengan maksud tertentu, meskipun mungkin karena kegelapan

hati”

Sindangsari tidak menyahut.

“Cobalah mengatakan ngger” berkata ayah Pamot kemudian, lalu “tetapi

baiklah kau pulang”

Sindangsari melangkah perlahan-lahan, penuh keragu-raguan. Kepalanya

masih menunduk, sedang hatinya seakan-akan menjadi pepat. Namun ia

mendengar kata-kata ayah Pamot itu “Kau datang kemari pasti dengan maksud

tertentu, meskipun mungkin karena kegelapan hati”

Dan Sindangsari mendengar orang tua itu berkata kepada Pamot “Antarkan

angger Sindangsari sampai ke rumahnya. Serahkanlah ia kepada orang tuanya

“Baik ayah”

“Pergilah, mumpung belum terlampau gelap”

Sindangsari kemudian melangkah meninggalkan rumah itu diikuti oleh Pamot.

Perlahan-lahan mereka melintasi halaman, kemudian menyelusur jalan

padukuhan setelah mereka keluar dari regol.

Keduanya masih belum berbicara apapun juga. Mereka berjalan beriringan,

seperti mereka sedang berjalan di atas pematang yang sempit.

Tetapi suasana yang kaku itu membuat dada Pamot menjadi tegang, sehingga

akhirnya ia mempercepat langkahnya dan berjalan di sisi Sindangsari.

“Sari“ ia berdesis perlahan-lahan “apakah sebenarnya maksudmu datang ke

rumah?“

Sindangsari masih berjelan sambil menundukkan kepalanya. Bahkan

langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat.

“Sudah tentu kau membuat seisi rumahku bertanya-tanya. Sikapmu dan kesan

di wajahnya menunjukkan bahwa kau sedang diliputi oleh kegelapan hati”

Sindangsari masih belum menjawab.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia berkata “Apakah kau

marah, karena aku masih belum memenuhi janjiku, minta kepada orang-orang

tua untuk datang melamarmu?“

Sindangsari masih berdiam diri.

“Aku sudah membicarakan dengan ayah, ibu, kakek dan orang-orang tua.

Mereka telah sepakat untuk datang besok ke rumahmu”

Pemberitahuan itu membuat dada Sindangsari berdesir. Tetapi ia masih

berjalan justru semakin cepat.

Pamot menjadi bingung karenanya. Sekali-sekali ditatapnya jalan sempit yang

membujur di keremangan malam. Di sebelah jalan itu terdapat sebuah kebun

yang penuh dengan tanaman salak, ubi dan tanaman-tanaman lain yang

merambat. Di sebelah yang lain adalah semak-semak liar yang tidak terpelihara

sama sekali. Beberapa puluh langkah di hadapannya tampak sebuah lentera

yang terpancang di regol halaman sebuah rumah yang sedang besarnya.

Pamot yang tidak tahu apa yang harus dikatakan itu tiba-tiba berhenti, sehingga

Sindangsari yang terkejut karenanya berhenti pula selangkah di depannya.

Dengan penuh pertanyaan Sindangsari memandang wajah Pamot yang tidak

begitu jelas disaput oleh hitam malam yang menjadi semakin lama semakin

pekat.

Tiba-tiba pula Pamot melangkah setapak surut sambil memandang lurus-lurus

ke depan. Setapak lagi dan setapak lagi.

“Kakang, ada apa?“ Sindangsari mulai meremang.

Tetapi Pamot tidak menjawab. Ia masih menatap lurus ke depan, kebayangan

yang kelam di dekat gerumbul liar di hadapannya.

“Kakang, kakang”

Ketika Pamot mundur selangkah lagi, Sindangsari menjadi ketakutan. Tiba-tiba

saja ia berlari dan berpegangan tangan Pamot erat-erat.

“Ada apa kakang, ada apa?“

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Tidak ada apa-apa?”

“Tetapi?“

“Aku kebingungan, bagaimana memaksamu berbicara. Kalau kau masih tetap

diam aku akan meninggalkan kau berlari, atau aku akan berhenti disini sampai

esok pagi”

“O” tiba-tiba Sindangsari mencubit tangan, lengan dan punggung Pamot sejadijadinya

“kau nakal sekali”

“Sari, Sari”

“Biar, biar kulitmu hangus. Kau menakut-nakuti aku”

“Sari. Sari”

Tetapi Sindangsari tidak mau berhenti, sehingga Pamot terpaksa melangkah

surut. Semakin lama semakin menepi, sehingga akhirnya ia bersandar pada

dinding batu di bawah rimbunnya dedaunan perdu yang tumbuh di pekarangan

yang tidak terpelihara.

“Sudahlah Sari, Sari”

“Biar saja. Kau terlampau nakal”

Karena Sindangsari tidak mau berhenti juga, maka tiba-tiba tangan Pamot

menangkap kedua pergelangan tangan Sindangsari. Mula-mula Sindangsari

meronta juga, namun kemudian ia tidak melawan ketika Pamot menarik

tangannya sehingga tubuhnya menjadi semakin dekat.

“Sudahlah Sari” terdengar kemudian suara Pamot sareh ”Sebenarnya aku

hanya ingin tahu, apakah yang membuat kau menjadi bingung?“

Sindangsari terdiam sejenak. Meskipun tidak tampak jelas olehnya, tetapi

Sindangsari merasa, bahwa Pamot sedang menatapnya.

Sejenak, dada gadis itu bergelora. Kecemasan, kebingungan dan segala

macam perasaannya tiba-tiba saja terungkat. Terbayang wajah Ki Demang

yang sudah tidak muda lagi, meskipun belum tua juga. Kemudian sekilas lewat

bayangan Manguri yang terseyum-senyum menghina.

“Katakan Sari” desis Pamot.

Suara itu telah mendorong semua perasaannya yang telah tertahan di dadanya.

Dan tiba-tiba pula Sindangsari menjatuhkan kepalanya di dada Pamot sambil

menangis.

“Sari” desis Pamot “jangan menangis disini. Kalau nanti ada orang yang lewat

di jalan ini, ia akan menyangka lain”

“Biar, biar aku menangis” sahut Sindangsari “aku akan berteriak-teriak”

“Jangan Sari”

“Aku ingin melepaskan sakit di dadaku.

“Katakan, katakan saja. Kau tidak perlu berteriak-teriak Kalau aku dapat

membantumu Sari, aku akan mencoba membantumu”

Sindangsari tidak segera menjawab.

“Katakan” desis Pamot.

Sindangsari mencoba menahan isaknya. Kemudian dengan terputus-putus

diceriterakannya kedatangan kedua utusan Ki Demang, memberitahukan

bahwa dua hari lagi, akan datang serombongan utusan yang lain untuk

melamarnya.

Cerita. Sindangsari itu terdengar bagaikan ledakan guruh yang dahsyat di

telinga Pamot Sejenak ia berdiam diri. Namun terasa oleh Sindangsari, dada

anak muda itu bagaikan akan meledak.

Betapa Pamot mencoba menahan nafasnya yang terengah-engah. Sedang

giginya menjadi terkatub rapat-rapat.

Kedua anak-anak muda itu kembali saling berdiam diri. Mereka telah

dicengkam oleh sebuah angan-angan yang mendebarkan jantung.

Dalam ketegangan perasaan itu kemudian terdengar Pamot berkata “Besok

orang tua-tua akan melamarmu”

Sindangsari mengangkat wajahnya. Diusapnya air matanya dengan ujung

bajunya. Katanya “Apakah hal itu tidak dianggap sebagai suatu permainan,

justru setelah kedua utusan Ki Demang itu datang”

“Aku tidak peduli. Aku memang sudah mempersiapkannya. Apapun yang akan

terjadi atasku, aku tidak akan menghiraukannya lagi“

Nafas Pamot menjadi semakin cepat mengalir “Sari, katakan kepada orang

tuamu, kepada kakekmu, bahwa besok kami akan datang“

Sindangsari mengangguk perlahan-lahan.

“Aku tidak menyangka bahwa masalahnya akan menjadi terlampau rumit. Ki

Demang sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada kita, tetapi justru

ia sendiri telah melibatkan dirinya secara langsung”

Sekali lagi Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya, “Itulah yang tadi

akan kau katakan?“

“Ya Kakang. Hatiku tidak dapat menampungnya. Aku menjadi bingung sekali,

sehingga aku pergi begitu saja dari rumah”

Pamot mengangguk-anggukkan pula “Jadi kau tadi tidak minta ijin?“

Sindangsari menggeleng.

“Marilah aku antar kau pulang, sebelum kakekmu mencarimu kemana-mana”

Sindangsari kemudian mengusap air matanya pula sambil melangkah surut.

Tiba-tiba ia telah kehilangan perasaan malunya. Ia merasa tenang berada di

dekat anak muda itu, seakan-akan ia dapat berlindung padanya dari segala

bahaya yang akan menerkamnya.

Keduanyapun kemudian meneruskan langkah mereka pulang ke rumah

Sindangsari. Berbagai macam perasaan telah berkecamuk di dalam dada

kedua anak-anak muda itu.

“Sari” berkata Pamot ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah

Sindangsari “aku sudah bertekad untuk melamarmu”

Sindangsari menundukkan kepalanya. Tetapi kepala itu kemudian

mengangguk.

“Bagiku, Sari, kini lebih terasa bahwa kau telah menjadi bagian dari hidupku”

Sekali lagi Sindangsari mengangguk. Namun Pamot kemudian terdiam. Ia tidak

dapat mengucapkan kata-kata yang lain lagi. Ingin agaknya ia mengucapkan

seribu macam janji, sumpah dan apalagi. Tetapi mulutnya serasa tidak lagi

dapat mengucapkannya. Bahkan merayupun ia sudah tidak mampu lagi selagi

mereka dihantui oleh badai yang dapat menumbangkan cinta yang lagi bersemi

di dalam hati masing-masing.

Malampun menjadi kian sepi. Meskipun sudah dinyalakan di regol-regol, tetapi

rasa-rasanya malam menjadi terlampau gelap, seperti hati kedua anak-anak

muda itu.

Ketika mereka berbelok di tikungan, maka mereka sudah melihat obor minyak

jarak di muka regol rumah Sindangsari Nyalanya yang terayun-ayun dibelai

angin melontarkan warna yang kemerah-merahan.

“Aku akan pulang sendiri” desis Sindangsari.

“Tidak. Aku akan menyerahkan kau kepada orang tuamu”

Sindangsari tidak menyahut. Tetapi ia tidak menolak ketika Pamotpun

kemudian berbelok memasuki regol rumahnya.

Perlahan-lahan Sindangsari mengetuk pintu rumahnya. Dan dari dalamnya

terdengar suara ibunya “Siapa?“

“Aku bu”

“Sindangsari?“

“Ya”

Yang terdengar kemudian adalah langkah tergesa-gesa ke pintu depan.

Kemudian terdengar pintu itu terdorong ke samping. “Sari, darimana kau?“

Sindangsari tidak segera menjawab, tetapi ia berpaling kepada Pamot.

“Kau tidak sendiri?“ Sindangsari menggelengkan kepalanya.

“Dengan siapa?“

Sindangsari tidak menyahut. Tetapi yang terdengar adalah jawaban Pamot

“Aku bu. Pamot”

“O, marilah. Masuklah”

“Terima kasih. Aku hanya mengantarkan Sindangsari. Kemudian aku minta diri”

“Apakah anak ini pergi ke rumahmu?“

Pamot menjadi ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia menganggukkan

kepalanya “Ya ibu”

Ibunya memandang Sindangsari dengan tajamnya. Namun kemudian ia

berdesis “Kakekmu mencari kau. Tetapi kakekmupun sudah menduga bahwa

kau pergi ke rumah Pamot”

Kedua anak-anak muda itu sama sekali tidak menyahut. Keduanya kini

menunduk dalam-dalam.

“Marilah, silahkan masuk. Apakah kau akan menunggu kakek Sari?

Ternyata Pamot dapat menanggapi pertanyaan itu. Jawabnya “Terima kasih.

Aku minta diri, hari sudah terlampau malam”

“Baiklah. Terima kasih”

Pamot membungkuk sambil berkata “Lain kali aku akan berkunjung”

Pamotpun kemudian meninggalkan rumah itu. Sebelum sampai di regol ia

berpaling. Ia masihmelihat ibu Sindangsari menarik gadis itu masuk ke

rumahnya, dan pintupun segera tertutup.

“Kau pergi di malam hari begini Sari?“ desis ibunya “Ingat, kau adalah seorang

gadis”

Sindangsari menjadi semakin tunduk.

“Bagaimanapun juga, kau harus dapat menahan dirimu”

Sindangsari masih tetap berdiam diri.

“Kau dengar Sari. Tahankanlah perasaanmu sedikit. Jangan terlampau

dicengkam oleh kebingungan, sehingga kau sudah berbuat di luar kesadaran

seorang gadis. Bagaimana kalau ada seseorang yang melihat kau pergi ke

rumah Pamot di malam begini?“

Sindangsari tetap mematung

“Ingat, ingat Sari. Kau mengerti ?“ Perlahan-lahan kepala gadis itu terangguk

lemah.

“Aku tahu bahwa hatimu sedang pepat. Tetapi kau tidak sebaiknya pergi ke

rumah anak muda itu. Apalagi di malam hari begini”

“Belum terlampau malam ibu” suara Sindangsari lirih “ketika aku pergi, aku

masih melihat cahaya matahari yang kemerah-merahan”

“Tentu tidak. Aku masih menyapu halaman senja tadi”

Sindangsari tidak menjawab lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin

tunduk. Sedang di matanya mulai mengambang air matanya yang jernih.

Ketika ibunya masih akan memarahinya lagi, terdengar pintu bergerit.

“Ha, kau sudah kembali Sari” kata kakeknya yang kemudian muncul dari balik

daun pintu “aku mencarimu ke rumah Pamot Ayahnya mengatakan bahwa kau

sudah pulang, diantar oleh Pamot sendiri”

Kepala Sindangsari terangguk kecil.

“Sudahlah, pergilah ke belakang. Tetapi ingat, jangan kau ulangi. Kau

mengerti? Aku mendengar sedikit pesan ibumu”

“Ya kakek”

“Nah, ambilkan kakek air panas. Kakek akan minum”

Sindangsari kemudian pergi ke belakang. Ibunya memandanginya sampai

gadis itu hilang di pintu dalam. Ia berpaling ketika ia mendengar ayahnya,

kakek Sindangsari itu berdesah. “Aku mengikutinya” desisnya.

Nyai Wiratapa, ibu Sindangsari itu, mengerutkan keningnya. Kemudian iapun

bertanya “Apakah ayah mengikutinya dari rumah Pamot ?“

“Ya, ketika aku sampai di sana, anak-anak itu baru saja pergi. Kemudian

akupun menyusulnya”

Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kurang baik di malam-malam begini berdua saja di jalan-jalan yang gelap”

“Tetapi hampir setiap orang di padukuhan ini sudah mengetahui hubungan

anakmu dengan Pamot. Justru karena bermacam-macam masalah yang

menyertainya, tetangga-tetangga kita menaruh perhatian terhadap masalah ini.

Mereka pada umumnya bersikap baik dan mengerti apa yang teriah terjadi”

“Memang ayah, mungkin tetangga-tetangga tidak akan mengatakan apa-apa

karena mereka menaruh iba dan welas kepada anak-anak itu. Tetapi bahaya itu

dapat datang dari diri mereka sendiri”

Kakek Sindangsari itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk

kecil.

“Apalagi Sindangsari baru dilanda oleh kecemasan melihat hari depannya yang

suram terlebih-lebih lagi setelah datang kedua utusan dari Kademangan.

Kakek Sindangsari masih tidak menjawab.

“Bukankah begitu?“

“Ya, ya“ kakeknya mengangguk-angguk lagi. Kakek Sindangsari menarik nafas

dalam-dalam.

Katanya “Memang hal itu dapat terjadi. Tetapi kau jangan terlampau

menyalahkan anakmu dan Pamot. Kadang-kadang mereka didorong oleh

keadaan sehingga mereka, terutama seorang gadis, memerlukan tempat untuk

melepaskan pepat di dalam dadanya”

“Tentu hal itu aku tidak berkeberatan. Tetapi lebih dari pada itu. Di dalam gelap

yang sepi, iblis berkeliaran untuk mencari korbannya”

“Wiratapa” berkata. kakek Sindangsari “memang apa yang kau katakan itu

dapat terjadi”

“Ayah”

“Kadang-kadang seseorang tidak lagi dapat menguasai perasaanya yang

terlampau meledak-ledak oleh tekanan keadaan yang beruntun”

“Maksud ayah, apa yang aku cemaskan atas Sindangsari itu sudah terjadi?“

“Tentu tidak terlampau jauh. Memang menurut adat kita, keduanya sudah

melakukan perbuatan yang melampaui batas pergaulan yang dibenarkan bagi

anak anak muda yang belum diikat dalam suatu perkawinan. Tetapi sudah aku

katakan, tidak terlampau jauh, supaya kau tidak menjadi pingsan“ orang tua itu

berhenti sejenak “namun meskipun aku melihat, aku tidak dapat mencegahnya.

Keduanya melakukannya dengan jujur didorong oleh perasaan yang tidak

terkendali lagi”

Nyai Wiratapa menundukkan kepalanya. Meskipun demikian ia berkata “Aku

mengerti apa yang ayah maksudkan. Tetapi sudah tentu hal itu tidak boleh

terulang lagi. Mereka sudah berada di bibir tangga yang terakhir untuk

melakukan dosa yang lebih besar lagi”

“Tentu, tentu. Memang hal itu tidak boleh terulang lagi. Tetapi kita yang tua-tua

inipun harus mengerti, bahwa pada suatu saat kita akan dapat membedakan,

sikap-sikap yang jujur dan bersih, dengan sekedar pelepasan nafsu yang

rendah di lingkungan anak-anak kita seperti kita pernah menyaksikannya”

Nyai Wiratapa tidak menjawab karena didengarnya desir langkah Sindangsari

yang membawa semangkuk air panas.

“Apakah ibu juga?“ ia bertanya.

Ibunya menggelengkan kepalanya “Tidak. Aku tidak usah”

“Sekarang, setelah mencuci kakimu, tidurlah. Kau harus menenangkan hatimu”

berkata kakeknya.

Sindangsari menganggukkan kepalanya. Kemudian setelah membersihkan

dirinya ia pergi ke biliknya. Namun ia sama sekali tidak dapat segera

memejamkan matanya.

Sindangsari menahan nafasnya ketika ia melihat seseorang masuk ke dalam

biliknya.

“Nenek“ ia berdesis.

Perlahan-lahan neneknya mendekatinya. Kemudian duduk di pembaringannya

pula. Sambil membelai rambut cucunya ia bertanya “Kau belum makan Sari?

Sindangsari menggeleng “Aku tidak lapar, nek”

“Tetapi kau akan dapat menjadi semakin lemah. Akhir-akhir ini kau tampaknya

tidak ada selera makan sama sekali”

Sindangsari tidak menyahut.

“Apakah kau gelisah?“ Sindangsari masih tetap diam saja.

Bab 3 : nDaru Sebulat Rembulan

“Sari” berkata neneknya “memang kadangkadang

hidup ini terasa terlampau sulit.

Seolah-olah memang sudah disediakan

jalan yang harus kita lewati. Jalan itu

mungkin lurus dan licin, tetapi kadangkadang

sempit, licin dan berbatu-batu

tajam.

Sindangsari masih juga diam.

“Aku dahulu Sari” berkata neneknya

kemudian “seperti juga ibunya, sama sekali

belum pernah melihat dan mengenal bakal

suami kami. Melihat mungkin pernah, tetapi

sekedar bentuk lahiriahnya saja. Tetapi

nenek menerimanya dengan ikhlas”

Terasa dada Sindangsari menjadi semakin

Berdebar-debar.

“Yang penting Sari, kita akan berusaha.

Tetapi Apabila usaha ini gagal, maka kau harus menerima sebagai suatu

kenyataan yang tidak dapat diingkari lagi”

“Maksud nenek?“ tiba-tiba Sindangsari bangkit.

“Tenanglah. Nenek hanya mencoba menenteramkan hatimu. Kalau kita

memang harus melampaui jalan yang terjal, licin dan berbatu-batu tajam maka

kita jangan kehilangan akal. Kita akan melaluinya dengan hati terbuka, dengan

ikhlas.

“O?” Sindangsari membanting dirinya di pembaringannya. Tetapi tidak

menjawab sama sekali.

Namun demikian ia menyadari sepenuhnya, bahwa sudah menjadi keharusan

bagi setiap gadis untuk menerima bakal suaminya begitu saja tanpa

mempersoalkannya pabila memang dikehendaki oleh orang tuanya.

Tetapi selama ini orang tuanya tidak mencegahnya berhubungan dengan

Pamot. Orang tuanya dan kakek serta neneknya tampaknya sama sekali tidak

berkeberatan atas kelangsungan hubungan itu untuk seterusnya.

Tetapi Sindangsaripun sadar, bahwa di Kademangan ini tidak ada orang lain

yang lebih berkuasa darr Ki Demang. Kalau Ki Demang memang menghendaki

demikian, maka ia akan menjadi korban yang tidak akan dapat mengelak lagi.

“Alangkah pahitnya” tiba-tiba kerongkongannya serasa menjadi panas. Tetapi

Sindangsari menahan dirinya untuk tidak menangis di hadapan neneknya.

“Tidurlah Sari“ neneknya membelai rambutnya kembali.

Sindangsari menganggukkan kepalanya.

“Besok kau bangun dengan tubuh yang segar”

Sekali lagi Sindangsari menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan

neneknyapun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkannya di pembaringan.

Namun begitu neneknya hilang di balik pintu, maka meledaklah tangisnya yang

tertahan-tahan.

“Apakah aku harus menerima nasib yang terlampai pedih ini dengan ikhlas?“

pertanyaan itu telah berulang kali mengetuk dinding jantungnya.

Tetapi Sindangsari masih mempunyai satu harapan seperti yang dikatakan oleh

kakeknya. Kakeknya akan berkata kepada utusan Ki Demang, bahwa

Sindangsari telah berhubungan pembicaraan dan bahkan berjanji untuk hidup

bersama seorang laki-laki yang dipilihnya sendiri”

Meskipun demikian, Sindangsari tidak juga segera dapat memejamkan

matanya sampai jauh melampaui tengah malam Namun akhirnya, gadis yang

sedang gelisah dan cemas itupun jatuh tertidur pula.

Tetapi sebelum fajar, iapun sudah tergagap bangun, ketika ia diterkam oleh

suatu mimpi yang menakutkan. Seolah-olah tampak olehnya sebuah nyala api

yang besar yang mengepulkan asap yang hitam tebal. Asap itu semakin lama

semakin tebal membumbung tinggi sampai menyentuh langit. Tetapi tiba-tiba

seolah-Olah tumbuh sepasang tangan yang hitam dan mengerikan dari kepulan

asap itu. Tangan, yang dahsyat itu telah menyambarnya dengan serta-merta

tanpa seorangpun yang dapat mencegahnya.

Perlahan-lahan Sindangsari bangkit dan duduk di pembaringannya. Mimpi itu

benar-benar mengerikan. Dan ia mencoba menghubungkannya dengan jalan

hidup yang telah menganga di hadapannya.

“O, apakah aku tidak akan dapat menghindar lagi ?“ setitik air matanya jatuh di

pangkuannya.

Meskipun kemudian ia merebahkan dirinya pula, tetapi sampai kokok ayam

jantan yang terakhir kalinya, ia sama sekali tidak dapat lagi tertidur.

Sehari-harian berikutnya Sindangsari maIH tetap saja gelisah Ia mengharap

matahari berjalan lebih cepat lagi. Malam nanti, akan datang beberapa orang

tamu yang akan membawa lamaran Pamot untuknya.

Meskipun kakeknya agak ragu-ragu, tetapi kakeknya tidak menolak utusan itu.

Katanya ”Baiklah, aku akan menerimanya meskipun Ki Demang akan dapat

menuduh apa saja yang dikehendakinya. Karena utusan itu datang justru

setelah Ki Demang memberitahukan bahwa iapun akan mengirimkan utusan

pula untuk melamar.

Demikianlah di sore harinya, lewat senja, beberapp orang tua-tua telah datang

beserta orang tua Pamot untuk menyampaikan lamaran. Mereka dengan segala

macam tata cara, telah minta untuk ikut serta mengaku anak atas Sindangsari,

serta apabila tidak berkeberatan akan dijodohkannya dengan Pamot.

Memang sulit sekali bagi kakek Sindangsari yang mewakili ayahnya, untuk

memberikan jawaban. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam diri saja.

Karena itu, maka seperti yang sudah dipersiapkannya setelah berpikir masak-

masak, maka orang tua itupun mengatakan dengan berterus terang, apa yang

sebenarnya telah terjadi.

“Kami tidak menolak” katanya “apalagi kami, orang tua-tua ini mengetahui

bahwa kedua anak-anak muda itu agaknya sudah mempertautkan hati masingmasing.

Tetapi kami masih harus mempertimbangkan kemungkinankemungkinan

lain yang dapat terjadi karena utusan Ki Demang itu”

Jawaban itu telah membuat orang tua Pamot menjadi cemas, bahwa akhirnya

mereka tidak akan dapat berbuat lain kecuali menyaksikan gadis itu diambil

oleh Ki Demang, ikhlas atau tidak ikhlas.

Tetapi merekapun menyadari kesulitan yang dihadapi oleh orang tua dan kakek

Sindangsari. Kalau besok mereka berhasil memberi penjelasan kepada utusan

Ki Demang, dan penjelasan itu diterima, maka mereka masih mempunyai

harapan untuk meneruskan pembicaraan mereka dihari-hari kemudian. Tetapai

kalau Ki Demang menghendaki Sindangsari tanpa dapat dielakkan, maka

mereka pasti tidak akan dapat menemukan jalan lain daripada menerima hal itu

sebagai suatu kenyataan.

Karena itu, maka orang tua Pamotpun tidak dapat mendesakkan pembicaraan

itu. Mereka menyadari kekuasaan yang seakan-akan tidak terbatas di

Kademangan Kepandak. Selain daripada itu, mereka mengetahui, bahwa Ki

Demang adalah seorang yang luar biasa. Kemampuannya dalam olah

kanuragan dan kekerasan hatinya yang tiada batasnya. Apalagi kedudukannya

yang memungkinkannya untuk melakukan tindakan yang mendasarkan kepada

kekuasaannya untuk kepentingan apapun.

Dengan demikian, maka orang tua Pamot itupun kemudian hanya dapat

menunggu Pada saatnya kakek Sindangsarilah yang akan datang kepada

mereka, menyampaikan persoalan itu, setelah utusan Ki Demang datang besok

malam.

Sindangsari yang mendengarkan pembicaraan itu dari balik dinding akhirnya

menjadi kecewa. Meskipun ia tahu, bahwa tidak akan dapat membicarakan

persoalannya lebih dari itu, tetapi ia kini menjadi kian terombang-ambing oleh

kegelisahan yang semakin mencengkamnya.

Sehari semalam ia menunggu. Dan kini ia masih harus menunggu lagi sehari

semalam, apakah yang akan dibicarakan oleh kakeknya dengan utusan Ki

Demang besok Bahkan harapan untuk dapat lolos rasa-rasanya menjadi

semakin kecil.

Sindangsari kini sudah mulai merasa seperti seekor burung di dalam sangkar.

Betapa indahnya sangkar itu, dan betapa ia tidak kekurangan makan dan

minum, namun sangkar emas itu tidak akan lebih baik dari sebuah kungkungan

yang membatasi kebebasannya.

Demikianlah Sindangsari harus menunggu lagi di dalam kegelisahan. Sehariharian,

ia tidak banyak berbicara. Matanya tampak bendul dan kemerahmerahan.

“Semalam ia pasti tidak tidur, dan bahkan menangis terus-menerus” gumam

ibunya.

Neneknya menganggukkan kepalanya ”Ia selalu gelisah, Ketika aku

menengoknya, lewat tengah malam, anak itu menelungkup. Tetapi ia tidak

tidur”

“Kasihan” desis ibunya “ia sudah tidak berayah dan sekarang pada umurnya

yang masih terlampau muda, ia harus menanggung keruwetan hidup yang pasti

terasa sangat berat baginya”

Neneknya mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Dipandanginya saja Sindangsari yang sedang membersihkan halaman depan.

Tetapi gadis itu tidak dapat melakukannya selincah biasanya. Kini kadangkadang

ia berhenti. Kemudian merenungi dedaunan yang hijau di kejauhan.

Beberapa lama ia berbuat demikian. Apabila kemudian ia sadar, maka

diteruskannya kerjanya.

Ibunya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Kakeknya yang sedang mengemasi alat-alat yang akan dibawanya ke sawah

tertegun pula melihat Sindangsari yang muram. Di dekatinya isterinya sambil

berbisik “Suruh ia bekerja di dalam. Ia sangat payah lahir dan batin”

Nenek Sindangsari mengangguk-anggukkan lagi ”Baiklah” jawabnya.

Maka kemudian sepeninggal kakeknya, nenek Sindangsari itu menghampirinya.

Katanya “Sudahlah Sari, tinggalkan kerja ini. Biarlah aku atau ibumu yang

melakukannya. Sebaiknya kau beristirahat saja. Kau tampak terlampau letih.

Tetapi Sindangsari menggelengkan kepalanya “Tidak nenek. Aku tidak lelah”

“Kau kurang tidur, kurang makan dan kurang beristirahat. Bukan saja tubuhmu,

tetapi juga perasaanmu” berkata neneknya “aku dapat menebak apa yang

sedang bergolak di dadamu. Karena itu, beristirahatlah. Kalau kau tidak mau,

maka lakukanlah pekerjaan yang lebih ringan di dapur Begitu?“

Sejenak Sindangsari justru diam mematung mendengar bujukan neneknya itu.

Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi ketika ibunya datang mendekatinya, dan

tanpa mengatakan sesuatu anaknya dibimbingnya masuk sambil berkata

“Letakkan sapu itu Sari. Biarlah orang lain yang melakukannya”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ia berjalan saja mengikuti langkah ibunya.

“Duduk sajalah” berkata ibunya setelah mereka berada di dalam rumahnya

“atau barangkali labih baik kalau kau dapat tidur meskipun hanya sejenak”

Sindangsari memandang ibunya sejenak, namun kemudian ia menggeleng

“Aku tidak akan tidur bu”

“Kalau tidak, berbaringlah. Barangkali akan membuat kau agak menjadi segar”

Sindangsari tidak menjawab, karena ibunya segera meninggalkannya.

Sejenak gadis itu masih saja duduk di tempatnya. Dipandanginya isi rumahnya

satu demi satu. Namun akhirnya, ia sampai kepada dirinya sendiri yang rasarasanya

berada di ujung senja yang menjelang kelam.

“Sore nanti mereka akan datang” desisnya kepada diri sendiri.

Betapapun juga, akhirnya mataharipun semakin lama menjadi semakin rendah.

Berbeda dengan hari sebelumnya. Sindangsari menunggu senja dengan hati

yang berdebar-debar penuh harapan. Tetapi hari ini ia menunggu senja dengan

kecemasan yang mencengkam.

Namun saat itupun datang. Ketika ujung malam meraba padukuhan Gemulung,

datanglah beberapa orang memasuki halamah rumah Sindangsari. Beberapa

orang tua-tua, beberapa orang lagi membawa sanggan, setangkap pisang,

beberapa potong pakaian dan upacara yang lain, kemudian di belakang mereka

beberapa orang mengusung tiga buah jodang berisi makanan dan pakaian.

Kedatangan mereka benar-benar telah mengejutkan seisi rumah. Bukan saja

seisi rumah, tetapi setiap orang yang menyaksikan kedatangan utusan itu.

Meskipun orang tua dan beberapa orang tetangga Sindangsari telah

mendengar, bahwa malam itu utusan Ki Demang akan datang melamar, tetapi

mereka tidak menyangka bahwa tamu itu akan membawa berbagai macam

barang dan makanan.

Sejenak kakek Sindangsari berdiri termangu-mangu di depan rumahnya melihat

kehadiran utusan itu, sehingga ia terperanjat ketika seorang yang masih agak

muda, yang berdiri di paling depan, membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

“O, kau anakmas “kakek Sindangsari menyapanya dengan jantung yang

berdebaran “marilah, marilah. Silahkan masuk. Tetapi, tetapi aku tidak

menyangka, bahwa aku akan kedatangan tamu sebanyak ini, sehingga aku

sama sekali tidak menyediakan tempat selayaknya”

Orang yang berdiri di paling ujung itu tersenyum ”Tidak apa paman. Biarlah

sebagian dari kami berada di luar”

“Tidak. Tidak Aku persilahkan kalian semuanya masuk, meskipun kalian akan

duduk berdesak-desakan”

“Terima kasih” jawab orang itu, yang menjadi pimpinan utusan Ki Demang.

Orang itu adalah Ki Reksatani. adik Ki Demang di Kepandak.

Kedatangan utusan itu benar-benar telah menarik perhatian hampir setiap

orang di Gemulung. Meskipun hari telah mulai gelap, namun beberapa orang

telah memerlukan dengan tergesa-gesa pergi ke seputar rumah Sindangsari.

Meskipun mereka tidak menyaksikan iring-iringan itu berjalan, tetapi mereka

masih dapat melihat beberapa orang yang masih berdiri di halaman. Baru

sejenak kemudian mereka memasuki rumah Sindangsari yang tidak begitu

besar sambil membawa semua barang-barang yang akan mereka serahkan

kepada orang tua Sindangsari.

“Bukan main” desis seorang perempuan setengah umur ”agaknya nDaru

sebulat rembulan penuh telah jatuh keatas rumah ini”

“Jangan iri. Kalau kau mempunyai anak secantik Sindangsari, maka mungkin

kau akan menjadi mertua Ki Demang di Kepandak”

Perempuan setengah tua itu mengerutkan keningnya. Katanya “Ya. Aku ingin

mempunyai anak yang cantik”

“Tetapi kau terlambat”

“Siapa tahu, isteri Ki Demang yang inipun akan dicerainya pula”

Lawannya berbicara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut. Yang

didengar adalah desis seorang laki-laki di sebelahnya ”Lalu, bagaimana dengan

Pamot? Bukankah kemarin orang tuanya datang juga untuk melamar?”

“Kasihan” jawab orang yang berdiri di sebelahnya ”mereka hanya datang orangorang

saja”

“Maksudmu?”

“Mereka tidak membawa sanggan. Tidak membawa setangkep pisang dan

sepengadeg pakaian. Belum lagi terhitung tiga buah jodang”

Tetapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga dari semuanya itu”

sahut seorang anak muda yang berdiri di belakangnya.

“Apa?” bertanya orang yang pertama.

“Tanggapan cinta Sindangsari. Mereka membawa hati Pamot. Dan itu bagi

seorang gadis adalah harta yang paling berharga bagi hidupnya”

Orang-orang tua itu mengerutkan keningnya. Meskipun mereka tidak menjadi

langsung, namun salah seorang dari mereka berkata “Omong kosong. Anakanak

muda sekarang terlampau banyak bersikap aneh. Mana ada cinta yang

dikatakan lebih berharga dari semuanya itu. Orang tidak akan dapat hidup

hanya dengan cinta. Tetapi kita perlu makan, sandang dan memelihara anakanak

kita kelak. Hanya orang-orang tua yang bodoh sajalah yang menolak

lamaran ini, meskipun seandainya ada kemungkinan untuk dicerai seperti isteriisteri

yarig lain. Tetapi selama itu, keluarga ini sudah dapat memanfaatkan

keadaan. Setidak-tidaknya memperbaiki rumah yang sederhana ini menjadi

rumah joglo yang besar”

Anak muda yang berdiri di belakangnya itu mengerutkan keningnya. Kemudian

iapun berdesis “Kasihan”

“Apa yang kasihan”

“Anak-anak yang disewakan untuk memperbaiki rumah joglo”

“Hus“ Orang tua itu tiba-tiba menjadi marah. Tetapi ketika ia memutar tubuhnya,

anak muda itu sudah pergi.

“Nah, kau dengar” berkata orang tua itu kepada orang yang berdiri di

sampingnya “begitulah anak-anak muda yang tidak tahu adat. Ia sudah berani

menentang pendapat orang-orang tua. Bahkan menyindir dengan kata-kata

yang kasar. Kalau saja ia tidak pergi, aku ajari ia bersikap sopan”

Orang yang berdiri di sampingnya tidak menjawab.

Karena orang yang berdiri di sampingnya tidak menjawab maka orang tua

itupun terdiam.

Namun sekarang mereka sudah tidak dapat melihat seorangpun lagi di

halaman. Semua orang sudah masuk ke dalam ruangan yang tidak terlampau

luas. Tiga buah jodang itupun telah dibawa masuk pula dan diletakkan di

tengah-tengah ruangan di samping sebuah amben bambu yang besar.

“Silahkan, silahkan“ kakek Sindangsari sibuk mempersilahkan tamunya yang

kemudian duduk berdesak-desakan di amben itu pula.

“Aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat menyediakan tempat yang wajar”

“Sudahlah jangan terlampau repot. Apa yang ada ini sudah terlampau baik buat

kami. Bukankah kami hanya akan duduk disini sebentar saja?“

“Tentu tidak hanya sebentar”

“Kalian tidak usah ribut-ribut. Kalian tidak usah memikirkan apa yang akan

kalian suguhkan kepada kami. Kami sudah membawa sendiri. Makanan di

dalam jodang itu adalah oleh-oleh yang sengaja kami bawa, agar kalian disini

tidak bingung, dengan apa kalian akan menjamu kami”

“Terima kasih” jawab kakek Sindangsari “terima kasih sekali”

“Ambillah isi jodang itu. Itu tidak termasuk dalam kelengkapan upacara yang

kami bawa di atas nampan ini”

“Terima kasih” tetapi orang tua itu tidak segera beranjak dari tempatnya untuk

mengambil sebagian dari isi jodang itu.

“Ambillah, kenapa kau ragu-ragu”

“Tidak, aku tidak ragu-ragu, Tetapi biarlah nanti saja aku ambil”

Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian iapun tersenyum “Baiklah.

Mungkin kau agak segan melakukannya. Tetapi sebenarnya kau tidak perlu

segan. Semuanya ini adalah pertanda hubungan yang akan kami buka untuk

seterusnya”

“Terima kasih”

Ki Reksatani menganggung-anggukkan kepalanya. Kakek Sindangsari kini

malahan duduk pula di amben besar itu. Sementara ibu dan nenek Sindangsari

sibuk di dapur merebus air.

Dengan penuh hormat orang tua itu kemudian mengucapkan kata-kata

kebiasaan bagi tamu-tamu yang dihormati. Selamat datang, kemudian

bertanya-tanya tentang keselamatan masing-masing.

“Kami bergembira sekali dapat berkunjung ke rumah ini” berkata Ki Reksatani.

“Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa rumah ini akan mendapat

kehormatan kunjungan utusan Ki Demang yang sedemikian lengkapnya” sahut

kakek Sindangsari.

Ki Reksatani tertawa “Kami hanyalah sekedar menjadi utusan. Ki Demang

sendirilah yang menyiapkan semuanya ini”

Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan

matanya beredar dari satu nampan ke nampan yang lain. Dari jodang yang satu

ke jodang yang lain. Adalah di luar mimpinya sekalipun bahwa Ki Demang akan

mengirim sekian banyak macam barang dan makanan kepadanya.

Di luar beberapa orang masih saja berdiri di kegelapan. Mereka masih juga

mempercakapkan keluarga kecil itu. Ada yang menganggap kehadiran utusan

itu sebagai suatu kurnia. Tetapi ada juga yang menjadi iba dan belas kasihan,

karena mereka sudah mengerti sebelumnya hubungan Sindangsari dengan

Pamot.

“Tidak ada orang yang akan dapat menyainginya“ desis seseorang “beberapa

buah nampan penuh dengan peningset dan tiga buah jodang”

“Terlampau tergesa-gesa” sahut yang lain “lamaran itu baru diajukan sekarang.

Tetapi mereka sudah membawa peningset sekaligus. Bagaimana kalau

lamaran itu ditolak”

“Tidak mungkin. Siapakah yang dapat memberikan peningset selengkap itu?“

“Satu-satunya orang adalah Manguri”

Kawannya berbicara itupun menarik nafas dalam-dalam. Memang Manguri

akan dapat memberikan sebanyak yang dibawa oleh utusan Ki Demang itu.

Tetapi setiap orangpun tahu, bahwa Sindangsari sama sekali tidak tertarik

bahkan membenci anak muda itu.

Dalam pada itu, sebuah bayangan menyusup diantara dedaunan di kebun

sebelah rumah Sindangsari. Semakin lama semakin dekat. Dengan wajah yang

tegang ia memandang halaman rumah yang telah kosong itu.

Sekali-sekali terdengar ia berdesah. Namun kemudian terdengar ia

menggeretakkan giginya.

Ia berpaling ketika seseorang menggamitnya dari belakang sambil berkata

“Jangan kehilangan akal Pamot”

Pamot yang sedang berusaha menyaksikan apa yang telah terjadi itu menarik

nafas dalam-dalam. Seorang anak muda yang lain kemudian mendekatinya

“Kau harus dapat menimbang, panjang dan pendek. Jauh dan dekat”

“Hatiku terbakar Punta” jawab Pamot.

“Aku tahu. Tetapi kau harus tetap mempergunakan nalar” anak muda yang lain

itu berdesis “Coba apakah yang dapat kau lakukan sekarang dengan

kemarahanmu?“

Pamot tidak menjawab.

“Kau harus mengerti, bahwa yang datang itu adalah utusan Ki Demang yang

baru akan melamar. Mereka belum menentukan apa-apa selain berbicara

apakah lamaran itu diterima atau tidak”

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis “Tetapi apakah ada

seseorang yang dapat menolak lamaran Ki Demang?“

Puntalah yang kini terdiam. Dipandanginya pintu yang masih terbuka di

kejauhan.

“Aku akan mendekat”

“Untuk apa? Itu hanya akan memanaskan hatimu sendiri?“

Pamot mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian “Aku tidak akan berbuat

apa-apa Punta. Terima kasih atas peringatanmu. Tetapi aku ingin mendekat.

Aku tidak tahu kenapa tumbuh keinginan itu”

“Kau setiap saat dapat kehilangan nalar, dan melakukan tindakan yang justru

dapat merugikan kau sendiri”

Pamot menggelang “Tidak Punta. Aku akan selalu mencoba mengingat akan

hal itu“

Punta mengangguk-anggukkan kepalanya ”Marilah aku ikut” tiba-tiba saja

Punta berdesis “di sekitar rumah itu masih ada beberapa orang yang melihat

seperti mereka melihat tontonan yang menarik”

Pamot tidak menjawab. Tetapi ia segera bergeser maju di ikuti oleh Punta.

Mereka tertegun ketika mereka melihat bayangan dua buah kepala yang

tersembul di atas pagar batu. Meskipun malam menjadi semakin gelap, tetapi

Pamot masih melihat bayangan yang bergerak-gerak itu.

“Siapakah mereka?“ Pamot berbisik.

“Tidak hanya mereka, tetapi banyak yang lain”

“Tetapi yang dua ini agaknya lain daripada orang-orang yang berdiri di luar

halaman rumah itu”

“Ya, seperti kita berdua. Akupun kadang-kadang heran, kenapa kita mesti harus

mengendap-endap?“

“Aku malu dilihat orang“

Punta mengerutkan keningnya.

“Orang itu agaknya sengaja menyendiri pula. Mungkin ia malu seperti kita,

tetapi mungkin juga dengan maksud yang lain”

“Aku akan melihat” bisik Pamot kemudian “tunggulah disini. Kalau terjadi

sesuatu, kau jangan membiarkan aku sendiri”

Punta menganggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata lirih “Tetapi hatihati.

Mungkin orang itu adalah pengawas-pengawas yang memang dipasang

oleh Ki Demang untuk mencegah sesuatu terjadi”

Pamot mengangguk-angguk “Ya, aku akan berhati-hati”

Pamotpun kemudian merangkak maju. Hati-hati sekali Semakin lama menjadi

semakin dekat, dan kedua bayangan itupun menjadi semakin jelas baginya.

Bahkan kemudian ia melihat di dalam samar-samar tubuh-tubuh mereka yang

berdiri melekat dinding. Keduanya agak membungkukkan punggungnya sambil

menelekankan tangan mereka yang bersilang di atas pagar batu, agar tubuh

mereka tidak terlampau banyak tersembul di atas pagar itu.

Pamot merangkak semakin dekat. Dadanya berdesir ketika ia kemudian melihat

sesuatu mencuat di lambung mereka. Senjata.

“Mereka membawa senjata” berkata Pamot di dalam hatinya “pasti bukan

orang-orang Gemulung yang sekedar ingin menonton”

Karena itu, maka nafsu Pamot untuk mengetahui keduanya menjadi semakin

besar, sehingga iapun merangkak semakin dekat.

Tetapi tiba-tiba sekali, sama sekali di luar dugaan, salah seorang dari kedua

orang itu menjatuhkan dirinya secepat kilat. Kemudian berguling-guling seperti

roda.

Pamot tidak sempat berbuat apa-apa. Ia sadar ketika tangannya seakan-akari

telah terjepit oleh kepingan besi. Meskipun dengan sebuah tenaga ia

menghentakkannya, namun justru persendiannya sendirilah yang menjadi sakit,

seakan-akan tulang-tulang tangannya akan terlepas satu dengan yang lain.

Dalam keadaan itu, Pamot tidak dapat berbuat lain dari pada menyerang

dengan tangannya yang sebelah. Namun ketika tangannya yang tergenggam

itu terpilin ke belakang, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Meskipun ia masih

mencoba menyerang dengan kakinya, tetapi sama sekali tidak berhasil.

Karena itu, ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia mengharap Punta dapat

melihatnya. Kemudian membantunya. Kalau ia dapat melepaskan tangannya,

maka mungkin ia tidak akan semudah itu ditundukkan, karena ia masih dapat

mengharapkan kecepatannya bergerak.

Tetapi selagi ia menahan nafasnya, terasa pegangan tangan orang itu

mengendor. Perlahan-lahan bahkan tangannya dilepaskannya.

“Kau Pamot” desis orang itu.

Begitu tangannya terlepas Pamotpun segera berputar sambil menyiapkan

dirinya. Namun orang yang telah memilin tangannya itu tidak berbuat apa-apa.

Pamotlah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Orang itu adalah Lamat.

Namun selagi mereka berdiri berhadapan, terdengar suara perlahan-lahan

“Kenapa kau lepaskan anak itu Lamat?“

Pamot sadar, bahwa kedua orang itu adalah Manguri dan Lamat.

“Biar saja tangannya kau patahkan” Pamot menggeretakkan giginya.

“Jangan mencoba membuat keributan disini Manguri“ yang terdengar adalah

suara dari kegelapan. Pamot segera mengenal, bahwa suara itu adalah suara

Punta ”Kalau kau masih saja ingin membuat persoalan dengan anak-anak

Gemulung, maka kamipun dapat berbuat lebih banyak dari gerombolan Sura

Sapi yang dapat kau usir itu. Kami dapat mengumpulkan tidak hanya lima atau

enam orang anak-anak muda, tetapi puluhan”

Manguri menggeram. Tetapi ia tidak ingkar, bahwa yang dikatakan Punta itu

memang dapat terjadi. Bahkan kemudian Manguri masih juga sempat tertawa.

Katanya “Aku tidak bersungguh-sungguh. Apakah gunanya kita sekarang

bertengkar? Lihat, gadis itu sekarang sudah diambil oleh Ki Demang. Lagi-lagi

yang gila perempuan itu. Berapa kali ia kawin dan berapa kali ia berpisah lagi”

Pamot tidak menjawab.

Dan Manguri masih saja tertawa meskipun perlahan-lahan. Katanya kemudian

“Tetapi yang paling parah adalah kau Pamot. Aku memang sudah kalah sejak

kau hadir diantara kami. Tetapi agaknya kau yang merasa menang itu kini

harus menelan kekalahan. Kekalahan yang sudah tentu sangat pahit”

Pamot mengerutkan keningnya.

“Kita besok atau lusa atau sepekan lagi akan melihat persiapan yang lebih

bersungguh-sungguh. Akhirnya kita akan melihat kedua mempelai itu

bersanding“ Manguri berhenti sejenak “memang sakit rasanya. Tetapi itu lebih

baik bagiku. Aku lebih senang melihat Sindangsari menjadi isteri Ki Demang

daripada menjadi isterimu”

“Tutup mulutmu” Pamot membentak dengan tiba-tiba. Darahnya jang memang

sedang bergolak itu terasa menggelegak sampai ke kepala ”jangan berolokolok

dalam keadaan begini Manguri”

“Jangan menjadi kalap Pamot. Kau harus berpikir baik-baik. Di tempat ini

banyak orang yang bertebaran di sekitar halaman rumah Sindangsari untuk

melihat utusan Ki Demang yang serba mentakjubkan itu. Beberapa buah

nampan berisi sanggan dan tiga buah jodang. Tiga buah jodang, Ingat. Separo

kekayaan ayahmu tidak cukup untuk membeli pakaian dan makanan sebanyak

itu. Apakah kau kira kau akan dapat menyainginya?“ Manguri berhenti sejenak

“kalau aku memang mungkin sekali. Aku dapat membawa lebih banyak hadiah

untuk gadis itu. Tetapi agaknya itupun tidak akan ada gunanya, karena Ki

Demang selain seorang yang cukup kaya, ia mempunyai kekuasaan”

Hati Pamot serasa sudah menyala di dadanya. Tetapi terasa tangan Punta

menggamitnya. Katanya “Jangan kau dengarkan anak itu mengigau. Lihat,

betapa kecut wajahnya. Aku tidak percaya bahwa hatinya tidak menjadi parah

seperti hatimu. Kalau Sindangsari tidak diambil oleh Ki Demang, Manguri pasti

masih akan berusaha terus. Tetapi usahanya kini telah tertutup. Dan ia

mencoba menutupi kekecewaannya dengan sikapnya itu”

“Punta“ mata Manguri menjadi terbelalak “kau jangan turut campur”

“Aku akan turut campur. Masalahnya adalah masalah sikapmu yang berlebihlebihan

itu. Sudah aku katakan. Aku dapat membawa lebih dari tiga kali lipat

kekuatan Sura Sapi ke rumahmu. Aku dapat berbuat apa saja. Membakar

rumahmu dengan segala isinya? Menangkap kau dan menyeret di sepanjang

jalan padukuhan? Apa lagi? Tidak seorangpun sempat mengurus perkara ini

karena Ki Demang sedang sibuk dengan hari perkawinannya. Aku yakin bahwa

Ki Jagabaya dan bebahu-bebahu lainnya ada di dalam rombongan itu pula”

“Persetan“ Manguri berpaling ke arah Lamat. Tetapi raksasa itu menundukkan

kepalanya.

“Tidak akan banyak artinya” desis Manguri di dalam hati “kalau aku membuat

keributan disini, mungkin orang-orang di dalam rumah Sindagsari menjadi salah

paham, dan menyangka aku menjadi sakit hati dan berbuat keonaran”

Dengan demikian maka Manguripun tidak membuat persoalan itu menjadi

berlarut-larut. Bahkan kembali ia tertawa sambil berkata “Baiklah. Aku memang

lebih baik pergi. Tidak ada gunanya terlampau lama disini. Itu memang hanya

akan menyakitkan hati” ia berhenti sejenak, lalu “Marilah Pamot. Tinggalkan

saja Sindangsari. Lupakan gadis itu yang sebentar lagi akan sudah menjadi Nyi

Demang di Kepandak” Manguri berhenti pula sambil melemparkan pandangan

matanya ke pintu yang terbuka. Seberkas cahaya pelita terlontar keluar dan

jatuh di atas tanah yang kering.

“Pamot” tiba-tiba ia berdesis “kalau kau setiap kali pergi ke Kademangan untuk

berlatih, kau akan selalu melihatnya. Kau akan dapat pergi ke dapur dan

berkata kepadanya “Nyi Demang, aku haus. Haus sekali”

Manguripun kemudian tertawa pula. Nadanya meninggi meskipun tidak menjadi

terlampau keras.

“Bukankah kau salah seorang anggauta pengawal khusus?“

“Diam, diam kau Manguri” Pamot menggeram.

Suara tertawa Manguri masih terdengar. Katanya “Kita bersama-sama telah

menjadi sakit hati karena peristiwa ini. Ki Demang ternyata bukan seorang

pemimpin yang baik. Ia lebih mementingkan nafsunya sendiri daripada

kesejahteraan rakyatnya ”Manguri tiba-tiba menjadi bersunggug-sungguh “he

Pamot, apakah kau dapat menelan kepahitan ini?“

Pamot tidak menjawab.

Manguri kemudian menggeram, tetapi kata-kata yang terloncat dari bibirnya

tidak begitu jelas terdengar.

“Lamat” katanya kemudian “marilah kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku

mengagumi gadis itu ketika ia menolak pemberianku. Tetapi kalau pemberian

Ki Demang ini diterimanya, baik oleh Sindangsari maupun oleh orang tuanya,

maka gadis itu tidak lebih dari perempuan hina yang memperbandingkan upah

yang akan didapatkannya dari penyerahan dirinya. Dengan demikian dongeng

tentang cinta yang murni antara Sindangsari dan Pamot akan segera lenyap

dari padukuhan Gemulung. Kawan-kawan, para gembala dan gadis-gadis yang

mencuci di kali tidak akan lagi mendengarkan tembang asmaradana yang

mereka jalin dengan nama-nama Sindangsari dan Pamot”

Dada Pamot serasa akan retak karenanya. Tetapi ia masih menahan diri.

Dipandanginya saja Manguri yang kemudian melangkah menyusup digerumbulgerumbul

liar diikuti oleh Lamat di belakangnya.

“Bagaimanapun juga anak itu tetap berbahaya” desis Punta.

“Ya” Pamot menganggukkan kepalanya.

“Kau percaya bahwa ia akan berhenti sampai disni meskipun Sindangsari kelak

terpaksa dibawa oleh Ki Demang Kepandak”

Perlahan-lahan Pamot menggelengkan kepalanya.

“Suatu keadaan yang rumit” berkata Punta tetapi semuanya harus

diperhitungkan dengan nalar. Tidak hanya dengan perasaan semata-mata”

Pamot tidak segera menjawab. Tetapi kini dilemparkannya pandangan matanya

ke arah pintu yang masih terbuka itu. Meskipun ia tidak melihat, tetapi

terbayang di rongga matanya, utusan Ki Demang itu sedang tertawa-tawa

sambil mengunyah makanan yang mereka bawa sendiri dari Kademangan.

Tetapi Pamot tidak berani membayangkan, apakah yang sedang dilakukan oleh

Sindangsari sekarang. Apakah ia juga tertawa melihat peningset yang dibawa

oleh utusan Ki Demang itu di atas nampan dan di dalam jodang, ataukah ia

sedang menangis di dalam biliknya.

“Pamot” berkata Punta “sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Aku kira tidak

ada gunanya kau tetap disini. Tidak ada gunanya bagimu dan tidak ada

gunanya bagi Sindangsari”

“Aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan” jawab Pamot.

“Kau pasti sudah dapat memperhitungkannya berkata Punta kemudian “mereka

akan melamar dan menyerahkan barang-barang itu kepada ibu, nenek dan

kakek Sindangsari. Apakah kemudian lamaran itu mereka terima, kita tidak

akan tahu malam ini, meskipun kita menunggui mereka, sampai mereka

meninggalkan rumah itu”

Pamot menarik nafas.

“Marilah kita kembali. Lebih baik bagimu untuk berkumpul dengan kawankawan

di gardu daripada kau berada disini”

Pamot tidak menyahut.

“Kau tidak perlu melukai hatimu sendiri. Kalau luka itu memang sudah tumbuh,

jangan kau buat luka itu menjadi semakin parah”

Akhirnya Pamot menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Baiklah”

“Bagus” sahut Punta “marilah. Biar sajalah apa yang akan terjadi di dalam

rumah itu terjadi”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengikuti saja seperti anak-anak

di belakang ayahnya. Dan keduanyapun kemudian pergi ke sudut desa,

berkumpul dengan kawan-kawan mereka di gardu.

Kakeknya yang sedang mengemasi alat-alat yang akan dibawanya ke sawah

tertegun pula melihat Sindangsari yang muram. Di dekatnya istrinya sambil

berbisik “Suruh ia bekerja di dalam. la sangat payah lahir dan batin.

Ternyata kawan-kawan Pamotpun dapat mengerti, bahwa anak muda itu

sedang mengalami goncangan yang dahsyat di dalam dirinya. Karena itu, maka

mereka sama sekali berusaha untuk menjauhkan pembicaraan mereka dari

persoalan Sindangsari yang malam ini telah mendapat lamaran dari Ki Demang

Kepandak.

Dalam pada itu, di dalam rumah Sindangsari, para utusan Ki Demang itupun

sedang menikmati minuman dairi mangkuk masing-masing. Diselingi oleh gelak

dan tertawa merekapun berbicara mengenai masalah mereka sehari-hari.

Mengenai air di sawah yang kadang-kadang tidak mengalir, mengenai harga

kebutuhan sehari-hari yang memanjat terus karena kebutuhan yang meningkat,

sejalan dengan meningkatnya persiapan Sinuhun Sultan Agung yang berniat

untuk mengusir orang yang berkulit putih dari Betawi, yang nampaknya

semakin lama semakin melanggar hak dan Kekuasaan Mataram. Namun

akhirnya, setelah malam menjadi semakin dalam, Ki Reksatani yang menjadi

pimpinan utusan itupun berkata “Nah, agaknya hari menjadi semakin malam

tanpa sesadar kita. Dengan demikian, maka baiklah kiranya kami akan memulai

mengatakan keperluan kami datang kemari”

Kakek Sindangsari menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Silahkan.

Silahkanlah”

“Mungkin keluarga disini sudah mengetahui keperluan kami seperti yang

pernah diberitahukan oleh utusan pendahuluan kami yang datang dua hari yang

lampau”

“Ya, ya. Demikianlah kiranya”

“Meskipun demikian, kami akan mengulanginya dengan semestinya, sesuai

dengan tata cara yang berlaku”

Kakek Sindangsari mengangguk-angguk “Silahkan”katanya.

Maka Ki Reksatanipun kemudian mempersilahkan seorang yang sudah agak

lanjut usianya untuk menyampaikan keperluan mereka datang ke rumah

Sindangsari itu.

Dengan segala macam kebiasaan seseorang yang datang melamar, dengan

menyebut segala macam kebaikan kedua belah pihak, maka akhirnya orang tua

itu berkata “Dengan demikian, maka sampailah lamaran Ki Demang yang

bijaksana itu cucunda Sindangsari yang telah sesuai menurut pilihan hati Ki

Demang dan orang tua-tua yang akan merestuinya. Keduanyapun akan

menjadi pasangan yang seimbang dan sempurna.

Kakek Sindangsari mendengarkan kata demi kata dengan saksama. Sudah

lebih dari sepuluh kali ia mendengar kata-kata serupa itu apabila ia diminta oleh

tetangga-tetangganya untuk menerima tamu yang datang melamar di rumah

mereka. Sebagai seorang yang termasuk telah cukup tua, iapun sering diminta

untuk mengikuti ututsan-utusan dari anak-anak tetangganya, yang melamar

bakal isteri mereka. Namun kini ia sendirilah yang harus menerima lamaran itu.

Karena itu, maka baru kinilah ia mendengarkan kata-kata yang sudah tersusun

demikian itu dengan teliti”

Ternyata kata-kata utusan itu hampir tidak ada kebenarannya sama sekali.

Semua pujian yang diucapkannya adalah yang pernah didengarnya lebih dari

sepuluh kali itu juga. Sedang jodoh yang seimbang menurut penilaian orang

itupun sama sekali bukan penilaiannya yang sebenarnya. Kata-kata itu

diucapkan seperti yang seharusnya diucapkan siapapun yang disebutnya.

Adalah tidak wajar sama sekali bahwa kedua calon penganten ini, Ki Demang

dan Sindangsari adalah pasangan yang seimbang dan sempurna.

Orang tua itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah

mempersoalkannya meskipun ia pernah menunggui seseorang yang menerima

lamaran dari seorang laki-laki tua yang sudah mempunyai dua orang, isteri atas

seorang gadis kecil. Tetapi baru sekarang ia memperhatikan kata demi kata itu.

“Demikianlah kata-kata lamaran itu” berkata orang tua itu selanjutnya “dan kami

sekeluarga mengharap bahwa lamaran ini akan terkabulkan. Bersama ini kami

membawa sekedar tanda yang akan menguatkan ikatan dari pembicaraan kita

ini”

Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia

menjawab “Kami mengucapkan terima kasih atas lamaran ini “ia berhenti

sejenak, dan tiba-tiba saja ia telah kehilangan gairah untuk menjawab lamaran

itu seperti yang biasanya harus diucapkan. Sekilas terbayang di wajah orang

tua itu keragu-raguan, namun kemudian ia berkata seperti kata di dalam hatinya

“Ki Sanak, lamaran ini memang merupakan kehormatan yang tiada taranya

bagi kami. Tetapi apaboleh buat, bahwa saat ini kami masih belum dapat

menjawabnya. Karena itu pula, maka kami masih belum dapat menerima tanda

ikatan yang kalian bawa dari Ki Demang” orang tua itu berhenti sejenak

Kemudian iapun berkata berterus terang ”Aku tidak akan menyembunyikan

kenyataan, bahwa cucuku telah mengikatkan hatinya dengan seorang anak

muda yang bernama Pamot. Aku kira, Ki Demangpun telah mengetahuinya

pula. Bahkan Ki Demang pernah datang ke rumah ini untuk menyelesaikan

masalah anak-anak muda yang timbul di Gemulung”

Sejenak para utusan Ki Demang itu saling berpandangan. Seharusnya kakek

tua itu menjawab, bahwa ia tidak berkebaratan dan ia akan bertanya kepada

cucunya. Tetapi sudah tentu bahwa cucunya itu tidak akan dapat menolak

keputusan orang-orang tua itu.

Tetapi ternyata kakeknya itu tidak menjawab demikian, tidak menjawab seperti

yang seharusnya menurut mereka.

Sementara itu kakek Sindangsari melanjutkan “Apalagi kemarin telah datang

utusan keluarga Pamot untuk melamar cucuku, tanpa mengetahui lebih dahulu,

bahwa Ki Demangpun akan mengirimkan utusan ini.

Wajah-wajah dari para utusan itupun menjadi tegang. Sejenak mereka saling

berpandangan.

“Demikianlah“ kakek Sindangsari mengakhiri jawabannya “Aku kira aku lebih

baik berterus terang daripada aku mengucapkan jawaban yang tidak

didasarkan pada kenyataan yang kita hadapi sekarang”

Para utusan itu tidak segera dapat menanggapi keadaan itu. Mereka seakanakan

justru terpesona oleh sikap kakek Sindangsari yang keluar dari tatacara

yang selajimnya. Dalam keragu-raguan mereka saling berpandangan dengan

sorot mata yang bertanya-tanya.

Namun adalah di luar dugaan pula ketika Ki Reksatanilah yang kemudian

menyahut “Terima kasih atas jawaban itu. Kami menghargai setiap sikap

berterus terang. Kami sadar, bahwa memang kami tidak akan dapat berbuat

banyak dalam hal ini. Apabila gadis itu memang sudah resmi di dalam suatu

ikatan janji dengan seorang laki-laki, maka aku kira, demikianlah yang akan kita

katakan kepada kakang Demang”

“Nanti dulu adi Reksatani” berkata salah seorang dari anggauta utusannya

“jangan tergesa-gesa menerima jawabannya. Kita sudah mendapat kekuasaan

sepenuhnya dari Ki Demang. Apalagi Ki Demang sudah menyediakan sanggan

dan perlengkapannya. Itu berarti bahwa Ki Demang sudah menganggap

pembicaraan ini adalah pembicaraan yang sudah jadi”

“Maksud kakang“ bertanya Ki Reksatani.

“Ki Demang tidak akan menarik diri dalam keadaan apapun” jawab orang itu

dengan pasti.

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menganggukanggukkan

kepalanya. Katanya “Tetapi kami adalah utusan-utusan yang tidak

dapat mengambil keputusan apapun. Kami mendapat tugas untuk

menyampaikan lamaran, dan kami sudah menyampaikannya. Kini kami

mendengar jawaban dari orang yang berkepentingan. Bukankah tugas kita

menyampaikan jawaban ini kepada kakang Demang? Kalau kemudian kakang

Demang mengambil keputusan, kita akan memberitahukan keputusan itu pula”

“Itu akan memakan waktu. Apakah kita sekarang tidak dapat menyampaikan

hasrat hati Ki Demang yang sudah pasti kita ketahui”

“Tentu” jawab Ki Reksatani “tetapi itu kurang bijaksana agaknya”

Orang itupun kemudian terdiam. Ki Reksatani adalah pimpinan dari utusan ini,

sehingga keputusannyalah yang akan berlaku. Namun demikian para anggauta

utusan itu menjadi heran. Ki Reksatani agaknya tidak mendesakkan maksud Ki

Demang itu kepada kakek gadis itu. Setidak-tidaknya ia dapat memberikan

gambaran, bahwa niat Ki Demang ini tidak akan dapat dicegah lagi.

“Meskipun demikian” tiba-tiba Ki Reksatani itu berkata “semua barang-barang

yang telah kami bawa kemari, akan kami serahkan kepada keluarga disini.

Kami tidak akan membawa kembali sehelai pakaianpun”

Kakek Sindangsari mengerutkan keningnya.

“Dan kami juga tidak akan membawa kembali makanan yang sudah kami

serahkan, kecuali yang sudah kami makan” Ki Reksatani masih sempat

tertawa.

Kawan-kawannya benar-benar tidak dapat mengerti sikap adik Ki Demang ini.

Agaknya ia acuh tidak acuh saja atas jawaban kakek Sindangsari yang tidak

berkepastian itu.

“Kakek tua ini terlampau besar kepala” berkata salah seorang dari utusan itu di

dalam hatinya “kurang apa lagi kurnia yang diterimanya. Ia akan mendapat

menantu seorang Demang dan mendapat peningset sekian banyaknya. Kalau

saja aku mempunyai seorang anak gadis”

Tetapi yang lain berpikir “Ki Reksatani melihat kejanggalan itu. Gadis itu tentu

tidak akan merasa berbahagia kawin dengan seorang laki-laki yang pernah

beristeri lima kali, meskipun ia masih muda. Apakah perkawinan ini merupakan

perkawinan yang dicita-citakan oleh seorang gadis seperti Sindangsari? Dan

agaknya kakek tua itu mencoba mengerti perasaan cucunya, meskipun

dibayangi oleh sekian banyak barang-barang yang cukup berharga”

Dan yang terdengar kemudian adalah suara kakek tua itu “Tetapi, kami

mengharap Ki Reksatani sudi membawa barang-barang ini kembali. Bukan

karena kami menolak. Tidak. Kami masih belum menyatakan penolakan atas

lamaran ini. Kami hanya minta Ki Demang mengerti, bahwa Sindangsari telah

terikat oleh suatu janji yang telah disaksikan oleh orang tua masing-masing”

“Tidak” jawab Ki Reksatani “aku dapat mengerti persoalan ini sepenuhnya.

Tetapi aku tidak dapat memutuskannya. Adalah tidak pantas bahwa apa yang

sudah kami serahkan itu kami ambil kembali”

“Soalnya bukan pantas atau tidak pantas” jawab kakek Sindangsari “tetapi

barang-barang itu adalah suatu adat tatacara. Barang-barang itu adalah suatu

pertanda ikatan. Sedang ikatan itu masih belum dapat kami tentukan sekarang.

Dengan demikian maka peningset ini tidak sepantasnya pula kami terima”

Ki Reksatani tertawa. Jawabnya “Soalnya bukan pantas atau tidak pantas.

Tetapi barang-barang ini sudah ada disini. Terimalah apapun namanya. Apakah

barang-barang itu kau sebut peningset, atau oleh-oleh atau barangkali alat

untuk memaksa agar lamaran ini kau terima, atau bahkan bukan apa-apa.

Tetapi biarlah semuanya itu disini. Kami tidak akan membawanya kembali ke

Kademangan”

Ketika kakek Sindangsari masih akan menjawab Ki Keksatani mendahuluinya

”Jangan dipersoalkannya lagi. Kami akan segera minta diri dan melaporkan

kehadiran kami disini. Melaporkan apa yang telah terjadi dan melaporkan

jawaban kalian”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak

menjawab lagi. Kepalanya yang diwarnai oleh rambutnya yang telah memutih,

yang satu-satu berjuntai di bawah ikat kepalanya itupun menunduk.

“Sangat berat rasanya menghadapi persoalan ini“ katanya di dalam hati.

Kemudian Ki Reksatani beserta kawan-kawannyapun segera minta diri. Mereka

sama sekali tidak mau lagi membicarakan jodang dan nampan-nampan yang

masih terletak di amben yang besar itu.

Maka sejenak kemudian merekapun meninggalkan rumah Sindangsari dengan

angan-angan yang berbeda-beda.

Salah seorang tua yang ada di dalam rombongan itu bertanya “Kenapa kau

bersikap begitu Ki Reksatani. Seolah-olah kau tidak mengambil suatu kepastian

bahwa Ki Demang benar-benar mengingini anak itu”

Ki reksatani menarik nafas dalam-dalam, katanya “Aku juga mempunyai anak

perempuan meskipun masih kecil. Terbayang di dalam angan-anganku, betapa

anakku itu menangis meronta-ronta apabila ia menjadi kecewa. Nah, itulah kata

hati yang sejujur-jujurnya. Anak-anak berkata berterus terang. Ia tertawa kalau

ia sedang bergembira, dan ia menangis kalau ia sedang sakit, kecewa, marah

dan perasaan lain yang tidak menyenangkan”

Orang tua itu mengerutkan keningnya.

“Orang-orang yang lebih besar dan apalagi dewasa, dapat menyembunyikan

perasaannya. Mereka dapat berpura-pura. Bahkan kadang-kadang demikian

cakapnya seseorang berpura-pura sehingga kita tidak dapat mengerti,

perasaan yang sebenarnya tersembunyi di dalam hatinya. Nah, apakah katamu

seandainya orang tua itu menerima lamaran kakang Demang? Apakah, ia

bersikap jujur?”

Orang tua itu tidak menjawab.

“Orang tua itu sudah berkata sebenarnya. Kita harus menghargai sikapnya ”

“Tetapi kaupun sudah berpura-pura pula” sahut orang tua itu “kau tahu pasti

bahwa Ki Demang memang menghendaki Sindangsari. Sindangsari harus

menjadi isterinya. Kenapa kau tidak berkata begitu?“

“Aku tidak berpura-pura sekarang. Keberangkatanku inilah yang berpura-pura”

Orang tua itu menjadi bingung.

“Kalau kau ingin mendengar penjelasannya, baiklah. Aku memang tidak senang

melihat kakang Demang kawin lagi dengan gadis kecil itu. Dan aku sudah tidak

jujur terhadap diriku sendiri karena aku bersedia melamarnya. Tetapi aku tidak

sampai hati untuk memaksakan kehendak kakang Demang itu. Kau tahu,

betapa parah hati Sindangsari”

Orang tua itu tiba-tiba menggeleng “Belum tentu“ bantahnya “aku sudah melihat

lebih dari sepuluh orang gadis yang harus kawin sesuai dengan pilihan orang

tuanya. Mereka dapat hidup tenteram, salah seorang dari mereka adalah

isteriku sendiri. Isteriku belum pernah melihat aku sebelumnya. Apalagi

berkenalan”

“Tetapi bakal isterimu tahu. bahwa kau adalah seorang jejaka. Kau seorang

yang baik hati, yang rajin bekerja dan pandai menyesuaikan diri dengan

lingkungan-lingkungan baru”

Bab 4 : Lamaran Kedua

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Lalu

“Ya, aku memang orang yang baik hati

yang rajin bekerja dan pandai

menyesuaikan diri dengan lingkunganlingkungan

baru. Isteriku lambat laun

mencintaiku juga”

“Itulah bedanya ”

“Tetapi” tiba-tiba ia sadar akan dirinya “aku

juga pernah melihat nah, kau pasti juga

kenal, Kerta Bungkik. Ia sudah pernah

kawin tiga kali. Umurnya waktu itu lebih tua

dari Ki Demang sekarang. Dan ia kawin

dengan seorang gadis kecil. Meskipun

mula-mula gadis itu menangis merontaronta,

kau tahu, berapa anaknya

sekarang?“

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam.

“Anaknya dua-belas“ sambung orang tua

itu “ya dua-belas. Kalau ia tidak keguguran dua kali, maka anaknya pasti

menjadi ampat belas”

Ki Reksatani tidak menjawab.

“Kemudian, aku dapat membuktikan bahwa perempuan yang menjadi isterinya

itu telah benar-benar jatuh cinta kepadanya meskipun lambat laun.

“Apa buktinya?” bertanya Reksatani.

“Ketika Kerta Bungkik itu kawin lagi dengan janda di sebelah rumahnya,

isterinya menangis tiga hari tiga malam. Bukankah itu suatu bukti bahwa ia

tidak mau kehilangan orang bungkik yang mengambil selagi ia masih gadis

walaupun bungkik itu sudah pernah kawin tiga kali?“

“O“ Ki Raksatani berdesah. Katanya “pikiranmu memang sudah terbalik. Sudah

tentu perempuan itu menangis. Sama sekali bukan ia tergila-gila pada

suaminya yang bungkik itu. Tetapi ia merasa sakit hati. Ia sudah dipaksa untuk

menjadi isterinya, dan akhirnya ia harus mengalami masa yang pahit. Hidup

dimadu adalah hidup yang paling tidak menyenangkan bagi perempuan”

“Itupun tidak benar. Kalau demikian, maka janda di sebelah rumah Bungkik itu

tidak akan mau menjadi isterinya, karena ia tahu pasti bahwa Bungkik sudah

mempunyai seorang isteri yang cantik meskipun anaknya sudah dua-belas”

Ki Reksatani menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak akan dapat

menjelaskan seluruh masalahnya dalam waktu singkat. Tetapi dengan demikian

ia mempunyai gambaran-gambaran yang jelas, bagaimana cara orang tua-tuta

itu menilai sebuah perkawinan.

Dalam pada itu, mereka yang ditinggalkan oleh utusan Ki Demang itupun

menjadi sangat gelisah. Apalagi Sindangsari sendiri. Ia tidak dapat lagi

menahan air matanya yang menitik satu-satu di pangkuannya.

Kakeknyapun duduk tepekur di amben yang besar itu sambil merenungi

barang-barang yang sama sekali belum disentuhnya, kecuali makanan yang

kemudian disuguhkannya kembali kepada utusan itu.

“Apakah mereka akan memaksa kek” bertanya Sindangsari.

“Kakeknya tidak menyahut. Meskipun tampaknya Ki Reksatani mencoba untuk

mengerti alasannya, namun menurut pembicaraan kawan-kawannya maka

sama sekali tidak akan ada harapan lagi bagi Sindangsari untuk mengelakkan

dirinya.

“Bagaimana kek“ desak Sindangsari.

“Aku tidak dapat mengatakannya sekarang Sari. Tetapi aku sudah mencoba

untuk menjelaskan, bagaimana keadaanmu sekarang. Kalau Ki Demang dapat

mengerti keadaanmu, maka mudah-mudahan ia akan memberi kesempatan.

Tetapi semuanya masih gelap bagiku”

Titik air mata Sindangsari masih menetes di pangkuannya. Ibunya yang duduk

di sampingnya hanya mampu menundukkan kepalanya sambil menahan diri,

untuk tidak ikut menangis pula agar ia tidak membuat anaknya menjadi

semakin berkecil hati.

Neneknya sama sekali terdiam. Ia merenungi keadaan itu dengan saksama.

Perempuan tua itu mencoba menimbang-nimbang, apakah salahnya kalau

lamaran ini diterima. Bukankah akan jauh lebih baik, bersuami seorang

Demang daripada bersuamikan Pamot, seorang petani yang sederhana saja.

Tetapi perempuan itu tidak berani mengucapkannya. Ia sadar, bahwa suaminya

agaknya mempunyai pertimbangan lain. Karena itu ia akan patuh saja kepada

suaminya seperti demikianlah yang diperbuatnya selama ia menjadi isterinya.

Jarang sekali ia mempunyai pendirian dan sikap yang dipertahankannya di

hadapan suaminya, karena orang tua selalu menasehatinya selagi ia masih

gadis “Laki-laki adalah tempatmu bertumpu. Sedih gembira, sorga neraka, kau

harus ikut bersamanya. Apapun yang akan terjadi, ia adalah tempat kau

menompangkan dirimu”

“Sari” terdengar kemudian suara kakeknya “sudahlah. Tidurlah. Jangan kau

risaukan lagi masalah ini. Masalah ini tentu akan berkembang sesuai dengan

p align=”left”

apa yang harus terjadi. Kita memang wajib berusaha. Tetapi pada suatu saat

kita akan melihat kenyataan. Apakah kenyataan itu akan sesuai dengan

keinginan kita atau tidak, itu adalah di luar jangkauan” kakeknya berhenti

sejenak, lalu “tetapi adalah kurang bijaksana, bahwa kita akan selalu

dicengkam oleh kecemasan dan ketakutan. Pada suatu saat kita memang

harus berani menghadapi kenyataan itu betapapun pahitnya. Dengan demikian

kita tidak akan ditinggalkan oleh nalar”

Sindangsari masih menitikkan air mata. Ia kini sadar, bahwa kakeknyapun

menganggap, terlampau sulit untuk menghindarkan dirinya dari Ki Demang

yang telah lima kali kawin itu.

“Tidurlah”

Sindangsari tidak menyahut. Tetapi iapun kemudian bangkit dan melangkah ke

biliknya.

Demikianlah ia meletakkan dirinya di pembaringannya, maka iapun segera

menelungkup sambil mencurahkan air matanya, seakan-akan banjir yang

tertahan-tahan, pecah menghambur tanpa dapat ditahan-tahan lagi.

Di ruang dalam, kakeknya, neneknya dan ibunya masih duduk sambil

merenungi keadaan. Sekali-sekali mereka memandangi barang-barang yang

masih berada di tempat masing-masing. Mereka seakan-akan sama sekali tidak

menyentuhnya sama sekali.

“Ayah” terdengar suara ibu Sindangsari lirih “bagaimanakah sebenarnya

pertimbangan ayah?“

“Aku kasihan kepada anakmu” jawab ayahnya “tetapi kita semua tahu, tidak

ada kekuasaan yang dapat membatasi kekuasaan Ki Demang disini”

“Ayah” berkata Nyai Wiratapa “bagaimana kalau anak itu aku bawa saja ke

kota?“

“He“ ayahnya terkejut “lalu, kau akan tinggal dimana?”

Nyai Wiratapa terdiam. Terbayang masa-masa hidupnya sebagai seorang isteri

prajurit yang meskipun tidak kaya, tetapi kecukupan. Tetapi suaminya kini

sudah tidak ada lagi. Dan ia sudah memilih kampung halamannya ini menjadi

tempat tinggal. Sinuhun Sultan Agung sudah berkenan memberikan sebidang

tanah di dekat kampung halamannya sebagai tongkat hidupnya sepeninggal

suaminya.

“Hidupmu akan menjadi bertambah sulit”

Nyai Wiratapa tidak menjawab. Namun seakan-akan terkenang kembali apa

yang pernah dialaminya sebelum ia pulang ke kampung halaman. Seorang lakilaki

pernah datang kepadanya dan berkata dengan hati terbuka “Nyai Wiratapa,

kita masing-masing sudah ditinggalkan oleh sisihan kita. Isteriku sudah

meninggal, dan kini suamimu meninggal. Apakah kita tidak dapat hidup

bersama-sama?“

Belum lagi ia mengambil keputusan, Sindangsari yang mendengar persoalan itu

menangis tanpa dapat ditenangkannya, sebelum ia berjanji bahwa ia tidak akan

menerima lamaran itu.

Sebagai orang-orang yang cukup dewasa maka laki-laki itupun dapat mengerti

keadaannya, dan iapun mengurungkan niatnya.

Namun kini tiba-tiba terkilas di dalam angan-angannya “Bagaimana kalau aku

berbicara kepada Sindangsari tentang hal itu supaya ia dapat pergi ke kota?“

Nyai Wiratapa memejamkan matanya. Ia tidak lagi memikirkan dirinya sendiri,

apakah ia mencintai laki-laki itu atau tidak. Yang penting baginya adalah

meninggalkan padukuhan Gemulung ini.

Namun dengan demikian Sindangsari akan terhindar dari kepedihan yang satu

dan akan jatuh ke dalam keadaan yang serupa pula, karena gadis itu tidak

dapat melihat perkawinan ayah dan ibunya ternoda, meskipun ayahnya sudah

meninggal.

Air mata Nyai Wiratapapun menitik pula.

“Sudahlah” desis ayahnya “kau jangan menambah anakmu menjadi semakin

bingung”

Nyai Wiratapa mengusap air matanya. Tetapi ia sama sekali tidak mengatakan

kepada ayahnya, apa yang sedang berkecamuk di dalam hati.

“Sebaiknya kau jangan berpikir kemungkinan untuk tinggal di kota” berkata

kakeknya “belum tentu kau dan anakmu akan dapat hidup tenteram karena kau

berdua adalah perempuan yang hidup sendiri. Apakah kata orang-orang di

sekitarmu tentang kau berdua”

“Tetapi” tiba-tiba Nyai Wiratapa berdesis “bagaimana dengan Sindangsari ayah.

Apakah aku akan sampai hati membiarkan anak itu terperosok ke dalam

kehidupan yang sama sekali tidak diingininya”

“Aku juga berpikir demikian. Namun kemampuan kita benar-benar terbatas”

ayahnya berhenti sejenak, lalu “beristirahatlah”

“Jangan terlampau kau pikirkan” berkata ibunya “kita masih belum tahu, apakah

benar Sindangsari tidak akan menemui kebahagiaan apabila ia menjadi isteri

Demang itu? Memang ia pernah kawin lima kali, tetapi isterinya yang terdahulu

sama sekali tidak pantas untuk menjadi seorang isteri Demang yang baik.

Apalagi mereka tidak mempunyai anak sama sekali. Sedang Sindangsari

mempunyai beberapa kelebihan dari gadis-gadis padukuhan ini. Barangkali ia

akan dapat memenuhi keinginan Ki Demang dan tidak akan mengalami nasib

seperti kelima isterinya yang terdahulu”

Nyai Wiratapa tidak menyahut. Itu adalah pemupus yang paling dalam, apabila

mereka memang sudah tidak berpengharapan untuk menghindar.

“Tidurlah” berkata ayahnya kemudian.

Nyai Wiratapapun kemudian berdiri dengan ragu-ragu. Namun ia tidak segera

pergi ke biliknya. Dijenguknya anaknya yang masih menangis di

pembaringannya.

Meskipun seakan-akan Nyai Wiratapa tidak dapat lagi menahan perasaannya,

namun ia berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk tidak menangis. Disentuhnya

bahu anaknya sambil berbisik “Sudahlah Sari. Tidurlah. Kakekmu akan

berusaha terus, menghindarkan kau dari kesulitan ini”

Sindangsari sama sekali tidak menjawab. Isaknya masih tetap menyesakkan

dadanya.

“Tidurlah sayang” bisik ibunya di telinganya. Kemudian ditinggalkannya

anaknya itu dengan hati yang berat.

Dalam pada itu, Ki Reksatani beserta rombongan kecilnya, tidak segera pulang

ke rumah masing-masing. Tetapi mereka langsung pergi ke Kademangan untuk

melaporkan hasil kunjungan mereka ke rumah gadis yang bernama Sindangsari

itu.

Dengan tergopoh-gopoh Ki Demang mempersilah-kan mereka masuk. Tanpa

membenahi pakaiannya yang kusut, ia segera menemui orang-orang yang baru

pulang dari melamar itu.

“Bagaimana Reksatani? Kau tidak parnah gagal sebelumnya” berkata Ki

Demang.

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati “Sudah tentu

tidak akan pernah gagal, karena kekuasaan kakang Demang ”tetapi ia tidak

mengucapkannya. Yang dikatakannya adalah “Kami sudah melakukan tugas

kami sebaik-baiknya kakang”

“Bagus, bagus” sahut Ki Demang “apakah kakek gadis itu sudah menentukan

hari dan tanggal perkawinan kami”

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Katanya “Aku belum sampai begitu jauh.

Aku baru menyampaikan lamaran kakang Demang untuk cucunya yang

bernama Sindangsari”

“Ya, ya. Itu tidak perlu kau ulangi. Aku sudah tahu”

“Tidak, Barangkali kakang salah tebak“

Ki Demang terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Ki Reksatani dengan

tajamnya.

“Maksudmu?“ ia bertanya.

“Sebaiknya aku menceriterakannya dari permulaan sekali, supaya kakang

Demang tidak salah paham karenanya” jawab Ki Reksatani.

“Aku tidak telaten. Apa yang sudah aku ketahui tidak usah kau ulangi.

“Jangan tergesa-gesa. Kali ini hasil rombongan kami agak berbeda dengan

yang pernah kami lakukan sebelumnya”

“He“ Ki Demang menjadi tegang.

Ki Reksatani bergeser setapak maju. Kemudian dengan hati-hati

diceriterakannya hasil pembicaraannya dengan kakek Sindangsari, tentang

orang tua Pamot dan tentang sikap Sindangsari sendiri menurut

pendengarannya.

“Mereka agaknya sudah benar-benar saling mencintai, kakang. Apakah kita

akan sampai hati memisahkannya?“

Wajah Ki Demang menjadi merah padam. Dengan tangan gemetar ia menunjuk

wajah Ki Reksatani “Reksatani, kenapa kau berbuat begitu bodoh. Kau bukan

anak-anak lagi. Kau harus tahu menempatkan dirimu. Sudah aku katakan

selagi gadis itu masih berhubungan dengan Pamot atau Manguri, maka pasti

masih akan timbul persoalan diantara mereka. Satu-satunya jalan adalah

memisahkan keduanya. Dan aku sudah menempuh jalan ini. Apalagi aku

memang memerlukan seorang isteri”

Ki Reksatani tidak menyahut. Bahkan kepalanyapun kemudian ditundukkannya

dalam-dalam.

Dan Ki Demangpun masih melanjutkannya “Reksatani, kalau aku tidak tahu,

bahwa kau terlampau setia kepada isterimu, aku pasti menuduh bahwa kau

sendirilah yang akan mengambil anak itu menjadi isterimu kedua. Atau kalau

kau mempunyai anak seorang jejaka mungkin gadis itu akan kau ambil menjadi

menantumu”

Ki Reksatani masih tetap berdiam diri.

“Apakah kau sengaja menggagalkan perkawinanku, karena sejak semual

agaknya kau sudah tidak setuju? Begitu?“

Ki Reksatanai menggelengkan kepalanya “Tidak kakang. Sama sekali bukan

begitu”

“Lalu apa maksudmu sebenarnya?“

“Aku sendiri tidak mempunyai maksud apa-apa kakang. Aku hanya

menyampaikan pesan kakek Sindangsari barangkali ada belas kasihan kakang

Demang untuk memikirkannya sekali lagi tentang kemungkinan yang lain”

“Tidak. Aku tidak akan berpikir lagi. Aku sudah berkeputusan bahwa gadis itu

harus menjadi isteriku”

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam.

“Aku sudah memutuskannya. Tidak seorangpun dapat merubahnya lagi. Aku

memerlukan gadis itu”

Ki Reksatani tidak menyahut. Ketika ia memandang wajah-wajah di sekitarnya,

terasa bahwa merekapun telah menyalahkannya pula.

“Reksatani” berkata Ki Demang “besok kau kembali ke rumah gadis itu.

Katakan, bahwa aku sudah berketetapan hati untuk mengambilnya. Aku

mempersilahkan keluarga Sindangsari untuk menentukan hari perkawinan itu.

Tetapi tidak terlampau lama”

Reksatani tidak dapat menghindarkan dirinya lagi. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata “Baiklah kakang. Kalau kakang memang tidak

bersedia meninjau keputusan itu lagi, apaboieh buat”

“Cukup. Jangan kau singgung-singgung lagi keputusanku itu”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang, kalian boleh pulang. Besok kalian akan berangkat seperti waktu

kalian berangkat tadi dari rumah ini pula. Kalian besok tidak perlu membawa

apapun lagi, sehingga karena itu, tidak perlu kalian pergi bersama-sama

sebanyak ini”

Ki Reksatani dan kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalian dapat pergi tidak lebih dari tiga orang saja, supaya kedatangan kalian

tidak membuat keluarga yang kalian datangi terlampau sibuk”

“Baiklah kakang” jawab Rekstani “besok sore aku akan datang kemari”

“Baik. Tetapi kalian jangan membuat kebodohan sekali lagi”

“Baiklah kakang. Sekarang aku minta diri”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun ia masih bersungutsungut.

Bahkan ia bergumam “Kalian sudah bukan anak kecil lagi. Seharusnya

kalian tidak usah mengulangi tugas ini”

Sekali lagi wajah-wajah yang hadir itu memandangi Ki Reksatani tetapi tidak

seorangpun yang mengatakan sesuatu.

Sejenak kemudian, maka merekapun telah meninggalkan rumah Kademangan

pulang ke rumah masing-masing. Di sepanjang jalan mereka membicarakan

apa yang baru saja terjadi itu.

Ketika mereka sudah berpisah dengan Ki Reksatani, maka hampir setiap orang

menganggapnya telah bersalah.

“Ia tidak bersikap tegas” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya, tidak seperti biasanya. Ki Reksatani tampak ragu-ragu” sahut yang lain.

Dan yang lain lagi berkata “Agaknya ia menaruh belas kepada kedua anakanak

muda itu”

“Ah, ia bukan orang yang cengeng”

“Memang bukan, tetapi seperti yang dikatakannya, ia dapat mengerti perasaan

gadis itu. Apalagi ia juga mempunyai seorang anak perempuan”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Tetapi itu hanya sekedar untuk menghindari

kemungkinan mereka saling berbantah. Namun di dalam hati, sebagian

terbesar dari mereka, menganggap bahwa Ki Reksatani menjadi bimbang untuk

bersikap tegas.

“Tetapi besok tidak boleh ada keragu-raguan lagi” berkata orang-orang itu di

dalam hati mereka.

Ki Reksatani yang kemudian berjalan seorang diri, mengeluh beberapa kali.

Katanya “Kenapa aku harus memaksa gadis itu untuk menjadi isteri kakang

Demang”

Pikiran Ki Reksatani menjadi kusut. Ketika teringat kata-kata kakaknya, bahwa

seandainya ia tidak terlampau setia kepada isterinya, ia akan dituduh

mempunyai niat sendiri terhadap gadis itu.

Ki Reksatani tersenyum sendiri.

“Gila” desisnya. Tetapi, ketika tumbuh pertanyaan di dalam hatinya “Apakah

benar aku terlampau setia kepada isteriku?“

Ki Reksatani menelan ludahnya. Sekali melintas di kepalanya seorang

perempuan yang selalu didatanginya di saat-saat ia kesepian di rumah oleh

beberapa macam sebab. Meskipun perempuan itu bukan seorang gadis,

bahkan bukan seorang perempuan muda, namun ia seakan-akan sudah tidak

akan dapat melepaskan diri lagi daripadanya, betapapun keadaannya.

“Tetapi aku tidak akan merusak keluargaku sendiri” katanya.

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun

ketika ia menyadari keadaannya. Bahkan kemudian ia mengedarkan

pandangan matanya kesekelilingnya. Kalau-kalau ada seseorang yang

melihatnya.

Ketika ia mengetuk pintu rumahnya, maka dengan tergesa-gesa isterinya

membuka pintu. Sebelum Ki Reksatani sempat duduk di amben dalam sesudah

menutup dan menyelarak pintunya kembali, isterinya sudah bertanya

“Bagaimana hasilnya kakang?“

Ki Reksatani mengangkat pundaknya sambil berdesah- Akulah yang bernasib

jelek”

“Kenapa?“

“Kakang Demang marah-marah kepadaku”

“Kenapa?“

Ki Reksatani tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia duduk di amben sambil

mengipasi tubuhnya dengan ujung kainnya.

“Panasnya bukan main” desisnya “aku haus”

Isterinyapun kemudian dengan tergesa-gesa mengambil semangkuk air dingin.

“Apakah kakang ingin minum panas? Kalau kakang menghendaki, aku akan

merebusnya sebentar”

“Tidak, Aku hanya haus saja” sahut Ki Reksatani.

Isterinyapun kemudian duduk di sampingnya sambil bertanya “Kenapa kakang

Demang marah”

Setelah meletakkan mangkuknya, maka Ki Reksatanipun menceriterakan

pembicaraannya dengan kakek Sindangsari.

Ki Reksatani menggigit bibirnya. Tetapi ia melihat sesuatu yang aneh di mata

isterinya.

Setelah meneguk air dari mangkuknya sekali lagi Ki Reksatani meneruskan

“Karena aku tidak mengambil keputusan saat itu, maka kakang Demang

menjadi sangat marah. Meskipun tidak langsung, aku telah dituduh bsrusaha

untuk menggagalkan perkawinan ini”

Isterinya mengangguk-angguk sambil berkata “Memang kasihan anak-anak itu.

Di usia mereka, maka khayalan cinta itu pasti membubung setinggi langit

Jangankan anak-anak muda, sedang orang-orang tuapun yang sedang dibius

oleh kemesraan cinta tidak ada sesuatu yang akan dapat menghalangi“

Ki Reksatani mengerutkan keningnya “Maksudmu?”

Isterinya menggeleng “Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengatakan,

bahwa orang-orang tuapun dapat menjadi gila karena cinta itu. Misalnya,

kakang Demang”

“Sebenarnya gadis itu memang kasihan” berkata isterinya “tetapi apaboleh

buat. Kakang Reksatani tidak akan dapat berbuat lain daripada melakukan

tugas yang diberikan oleh kakang Demang”

Ki Reksatani tiba-tiba telah merenung dalam-dalam. Keningnya menjadi

berkerut-kerut. Sedang kedua alisnya seakan-akan bertumpu menjadi satu.

“Sebenarnya aku memang berkeberatan atas perkawinan itu”

“Aku tahu kakang. Tetapi apaboleh buat. Kita tidak akan dapat membela kedua

anak-anak muda itu. Hal itu pasti akan melampaui kemampuan yang ada pada

kita”

Ki Reksatani tidak menyahut.

“Betapa kita menaruh belas kasihan, tetapi sudah tentu kita tidak akan dapat

melawan perintah kakang Demang, karena kitapun harus menaruh belas

kasihan kepada diri kita sendiri pula”

“Aku tahu maksudmu. Tetapi kita berkepentingan, bahwa perkawinan itu batal”

“Apakah kepentingan kita? Tidak. Kita tidak mempunyai kepentingan langsung,

selain perasaan keadilan kita tersinggung. Apakah kita cukup mempunyai

keberanian dan kekuatan untuk memperjuangkan keadilan ini sekarang, selagi

kakang Demang ada di dalam puncak kekuasaannya”

Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ia memang tidak dapat menyangkal katakata

isterinya itu. Memang sulitlah baginya untuk melawan keinginan Ki

Demang Kepandak yang agaknya memang sudah bertekad untuk kawin

dengan Sindangsari.

Tetapi untuk membiarkan perkawinan itupun ia sebenarnya sangat

berkeberatan, sehingga dengan demikian terasa benturan-benturan yang keras

telah tarjadi di dadanya.

“Kakang” berkata isterinya kemudian “aku kira, sebaiknya kita tidak usah

memikirkannya terlampau panjang. Lakukankah perintah kakang Demang itu.

Bukankah kakang hanya sekedar menyampaikan pesan kakang Demang”

“Tidak. Bukan sekedar menyampaikan pesan”

“Lalu?”

“Aku sangat berkeberatan atas perkawinan ini”

“Kita tidak dapat memberatkan Sindangsari dari kepentingan kita sendiri. Kalau

kakang Demang marah kepada kita, maka akibatnya pasti akan sangat tidak

menyenangkan bagi kita”

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tampak betapa hatinya

sedang kisruh.

“Apakah kakang sudah makan?” bertanya isterinya.

Ki Reksatani menggelengkan kepalanya ”Belum” jawabnya “aku tidak disuguh

makan, dan kakang Demang yang marah itupun tidak menyuruhku makan

seperti biasanya”

“Kalau begitu, biarlah aku sediakan makan meskipun sudah dingin”

“Tidak usah” jawab Reksatani “aku tidak lapar”

“Tetapi bukankah kakang belum makan“

“Tidak ada nafsuku untuk makan”

“Kakang agaknya terlampau memikirkan gadis itu?”

“He“ Ki Reksatani terkejut “maksudmu?“

“Maksudku” isterinya segera menjelaskan “kakang terlampau berbelas kasihan

kepadanya, sehingga mempengaruhi perasaan kakang”

“Nyai” tiba-tiba suara Ki Reksatani memberat “sebenarnya aku ragu-ragu untuk

mengatakan pertimbanganku yang sebenarnya, kenapa aku menjadi sangat

berkeberatan atas perkawinan itu”

“Sudahlah kakang”

“Nanti dulu. Kau belum tahu jalan pikiranku” sahut Ki Reksatani “kalau kau

masih belum terlampau lelah dan kantuk, dengarlah”

Isterinya menjadi berheran-heran.

Bahkan isterinya menjadi berdebar-debar karena Ki Reksatani masih belum

mengatakan sesuatu selain duduk tepekur sambil membelai ukiran kerisnya.

Nyai Reksatani yang kemudian duduk di sampingnya membiarkannya

mengangguk-anggukkan kecil tanpa sepatah pertanyaanpun.

Baru sejenak kemudian Ki Reksatani berkata “Nyai, sebenarnya keberatanku

itupun bertolak dari kepentingan kita sendiri”

Nyai reksatani menjadi heran, Dipandanginya saja wajah suaminya. Tetapi ia

masih tetap berdiam diri.

“Nyai, sebenarnya kita memang tidak berkepentingan sama sekali dengan

gadis yang bernama Sindangsari atau gadis yang manapun juga. Dan akupun

akan tetap berkeberatan, seandainya kakang Demang akan mengawini gadis

yang lain, yang meskipun belum berhubungan pembicaraan dengan seroang

laki-laki, atau bahkan gadis yang tergila-gila kepada kakang Demang sekalipun

ditambah dengan perksetujuan orang tuanya.

Nyai Reksatani menjadi semakin heranmeskipun ia masih tetap terdiam, karena

ia menunggu suaminya selesai berceritera.

“Yang penting bagiku, kakang Demang tidak boleh kawin lagi. Apalagi dengan

gadis-gadis muda”

Tanpa sesadarnya isterinya bertanya “Kenapa?

“Aku sama sekali tidak mempertimbangkan kepentingan Sindangsari kali ini.

Tetapi kepentingan kita”

“Apakah hubungannya?

“Nyai“ Ki Reksatani menelan ludahnya “Aku sama sekali tidak ingin melihat

kakang Demang beristeri muda. Karena itu akan membahayakan hari depan

kita. Kalau isterinya itu kemudian melahirkan seorang anak, maka hilanglah

semua harapanku”

Nyai Reksatani kini benar-benar tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan

oleh suaminya. Dengan tatapan mata yang kosong ia merenungi wajah

suaminya yang tegang.

“Kalau kakang Demang beristeri muda, maka kemungkinan itu menjadi

bertambah besar. Kalau kemudian isterinya itu benar-benar melahirkan seorang

anak, maka anak itu akan menyambung kedudukan yang akan ditinggalkannya

apabila ia meninggal”

Isterinya mengangkat wajahnya mendengar penjelasan itu. Dan sebelum ia

menyahut, suaminya sudah meneruskannya “Aku tidak tahu apakah kau setuju

atau tidak. Tetapi aku sudah memikirkan hari depan kita yang agak jauh. Hari

depan anak-anak kita”

“Aku tidak jelas kakang”

“Nyai” suaranya menjadi semakin dalam kalau kakang Demang mempunyai

anak, maka apabila kakang Demang kelak meninggal, anaknya itulah yang

akan menggantikannya menjadi Demang. Kalau ia laki-laki, ia akan langsung

menjabat kedudukan itu. Kalau anak itu perempuan tanpa saudara laki-laki,

maka suaminyalah yang akan menjadi seorang Demang”

Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Kini ia mulai berpikir.

“Tetapi, kalau kakang Demang tidak mempunyai seorang anak” berkata Ki

Reksatani seterusnya “maka tidak akan ada seorangpun keturunannya yang

akan menggantikan kedudukannya.

Tiba-tiba isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum suaminya

melanjutkan, ia sudah mendahului “Jadi, maksud kakang, kalau kakang

Demang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai keturunan yang akan

meneruskan kedudukannya, maka kedudukan itu akan bergeser kepada satusatunya

saudaranya”

Ki Reksatani mengangguk “Ya”

“Dan satu-satunya saudara kakang Demang adalah kakang sendiri”

“Ya”

Isterinya menarik nafas panjang. Panjang sekali. Namun dengan demikian ia

menjadi terdiam karenanya.

Keduanyapun sejenak saling berdiam diri. Dihanyutkan oleh arus perasaan

masing-masing.

Tiba-tiba Nyai Reksatani itupun berdesah sambil berkata “Tetapi apakah cara

itu dapat dibenarkan kakang?“

“Apakah salahnya? Aku tidak berbuat apa-apa. Bukan salahku kalau kakang

Demang tidak mempunyai anak”

“Tetapi kakang telah merintangi perkawinan itu”

“Perkawinan yang tidak seimbang”

“Tetapi bukankah bukan keseimbangan itu yang menjadi masalah yang

sebenarnya?“

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Kemudian ia menganggukkan kepalanya

“Ya”

Isterinyapun kemudian merenung sejenak. Lalu katanya “Tetapi kakang,

apakah kakang masih menyangka bahwa kakang Demang akan dapat

mempunyai keturunan?“

“Kenapa tidak?“

“Sudah beberapa kali ia kawin. Isterinya tidak seroangpun yang pernah

mempunyai anak. Bahkan salah seorang dari mereka mengandungpun tidak.

Apakah itu bukan pertanda bahwa kakang Demang tidak akan mempunyai

anak. Meskipun ia akan kawin sepuluh kali lagi?“

“Belum tentu”

“Memang belum tentu. Tetapi kita dapat memperkirakannya”

“Ki Reksatani terdiam sejenak. Agaknya ia sedang membuat pertimbanganpertimbangan

tertentu.

“Kakang” berkata isterinya kemudian “kita tidak usah menjadi gelisah. Kita

biarkan saja mereka kawin. Aku mempunyai dugaan bahwa isterinya itupun

tidak akan mempunyai keturunan”

“Tetapi kalau perhitungan itu salah”

“Apaboleh buat”

“Tetapi akan lebih baik kalau perkawinan itu batal”

“Mungkin kakang berhasil membatalkan perkawinan yang sekarang. Tetapi

kakang Demang akan segera mencari bakal isterinya yang lain. Tentu berulang

kali sampai ia berhasil”

Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti jalan

pikiran isterinya. Memang terlampau sulit baginya untuk mencegah sama sekali

agar Ki Demang di Kepandak itu tidak akan kawin lagi.

“Ya” katanya kemudian “aku memang tidak akan mungkin menentang niat

kakang Demang ”Aku sependapat dengan kau. Kita akan menunggu dan

melihat, apakah yang akan terjadi kemudian. Kalau gadis itu memang benarbenar

mendapat tanda-tanda akan mempunyai keturunan, aku akan berbuat

sesuatu, meskipun caranya akan menjadi lebih buruk dari mencegah

perkawinan itu”

Isterinya tidak menjawab. Tetapi ia mengerti maksud suaminya, bahwa apabila

ada tanda-tanda isteri baru Ki Demang itu akan mempunyai keturunan,

usahanya akan menjadi lebih sulit lagi.

Namun Nyai Reksatani itu benar yakin bahwa Ki Demang Kepandak itu tidak

akan dapat mempunyai anak barang seorangpun. Kalau perempuanperempuan

yang pernah diperisterikan itu mandul, sudah tentu tidak kelima

kalinya.

“Setiap kemandulan pasti selalu dipersalahkan kepada pihak perempuan”

berkata Nyai Reksatani di dalam hatinya “tetapi itu pasti hanya sekedar alasan,

agar laki-laki dapat kawin lagi tanpa banyak rintangan“ meskipun demikian ia

tidak berani mengatakannya kepada suaminya.

Demikianlah maka Ki Reksatani tidak dapat lagi bersikap lain. Ia memang tidak

mempunyai jalan untuk menggagalkan perkawinan itu. Karena itu, maka mau

tidak mau ia harus melihat, kakaknya kawin sekali lagi. Kali ini yang akan

dijadikan isterinya adalah seorang gadis yang bernama Sindangsari.

Dihari berikutnya, ketika senja mulai turun, Ki Raksatani sudah berada di rumah

kakaknya lagi. Ia harus pergi sekali lagi ke rumah kakek Sindangsari untuk

memberikan ketegasan kepada kakek gadis itu, bahwa tidak ada persoalan

yang dapat menghalangi niat Ki Demang, mengambil gadis itu untuk dijadikan

isterinya.

Ki Reksatani malam itupun terpaksa berangkat sekali lagi. Tetapi kini mereka

hanya bertiga, dan kini mereka menyambung langkah mereka dengan duduk di

atas punggung kuda.

Kakek Sindangsari sebenarnya sudah tidak terkejut menerima kedatangan

mereka. Ia sudah menyangka, bahwa utusan Ki Demang itu akan segera

kembali dan melamar cucunya dp align=”left”engan nada yang lain. Nada seorang yang

berkuasa tanpa batas di atas Tanah Kepandak.

“Aku hanya sekedar menyampaikan pesan kakang Demang” berkata Ki

Reksatani “semuanya itu sama sekali bukan maksudku sendiri”

Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya, aku

mengerti. Sudah tentu semuanya ini bukan maksud Ki Reksatani sendiri”

“Demikianlah” jawab Ki Reksatani “lalu, bagaimanakah jawaban yang harus aku

sampaikan kepada Kakang Demang”

“Apakah aku masih harus menjawab?“ desis kakek Sindangsari “kali ini Ki

Demang bukan melamar cucuku. Tetapi Ki Demang sudah merampasnya. Lalu,

apakah aku masih harus menjawab?“

Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih sepapat tersenyum

“Bukan maksudnya. Tetapi kalau terasa demikian, aku kira, memang sulitlah

untuk dibedakan”

“Nah” berkata kakek Sindangsari “aku tidak perlu menjawab. Tetapi aku

mengharap, bahwa pada suatu saat hati Ki Demang itu terbuka, bahwa cucuku

sama sekali tidak merasa berbahagia dengan perampasan ini. Seluruh keluarga

yang kecil dan sederhana ini merasa kehilangan karenanya”

“Tidak. Sindangsari tidak akan hilang. Ia akan tinggal dikademangan Setiap

saat kalian dapat mengunjunginya dan Sindangsari dapat berkunjung ke rumah

ini”

“Memang, Sindangsari tidak akan hilang. Dan kamipun tidak akan merasa

kehilangan gadis itu”

Ki Reksatani menjadi heran. Karena itu ia bertanya “Tetapi bukankah keluarga

ini merasa kehilangan karena perkawinan itu”

“Tetapi bukan Sindangsarilah yang hilang” jawab kakeknya.

“Lalu, apakah yang hilang itu?“

“Kebebasan anak itu. Kebebasan kami menentukan nasib salah seorang

anggauta keluarga kami”

Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah laki-laki tua itu

sejenak. Namun kemudian kepalanya segera terangguk-angguk. “Aku dapat

mengerti”

“Karena itu, di dalam keadaan yang demikian, maka aku tidak akan

memberikan jawaban apapun”

“Baiklah” jawab Ki Reksatani “Aku akan segera minta diri. Aku akan

menyampaikannya kepada Ki Demang, apa yang sudah kami lakukan disini

dan tanggapan yang kami dapatkan”

“Silahkan”

Ki Reksatanipun segera minta diri. Diperjalanan terasa jantungnya menjadi

berdebar-debar? Sebenarnyalah bahwa ia tidak lagi memikirkan nasib gadis itu.

Tetapi kini yang selalu melintas diangan-angannya adalah hari depannya

sendiri. Hari depan anak-anaknya.

Kalau Ki Demang di Kepandak itu untuk seterusnya tidak mempunyai

keturunan, maka orang yang paling berhak atas kedudukan itu adalah dirinya

sendiri. Kemudian kedudukan itu akan temurun kepada anak laki-lakinya.

Tetapi kalau dari perkawinan ini akan lahir seorang anak, maka cita-citanya itu

akan pecah seperti asap dihembus angin yang kencang.

Selama ini ia sudah berhasil berpura-pura, seolah-olah ia adalah seorang yang

baik hati, yang mengerti keberatan dan perasaan gadis yang bernama

Sindangsari itu. Seolah-olah ia sudah membela kebersihan cinta antara

Sindangsari dan Pamot, Namun ternyata permainannya yang baik itu tidak

menghasilkan sama sekali.

“Persetan dengan keluarga Sindangsari dan Pamot“ ia justru menggeram di

dalam hatinya “kenapa perempuan itu membawa anaknya pulang ke

Gemulung?“

Kini yang menonjol dipermukaan hatinya adalah sifat-sifatnya yang sebenarnya.

Bukan seorang Reksatani yang sangat perasa, yang dengan iba hati melihat

Sindangsari yang hatinya terpecah-pecah. Tetapi kini ia justru mendendam

kepada gadis yang telah memikat hati kakaknya itu.

“Aku tidak tahu, apakah yang akan aku lakukan kelak seandainya ternyata

gadis itu mulai mengandung” katanya di dalam hatinya pula “agaknya aku tidak

melihat jalan lain daripada menyingkirkannya untuk selama-lamanya”

Tiba-tiba wajah Reksatani menjadi tegang. Senyum dan sorot mata yang penuh

iba itu sudah lenyap sama sekali. Kini matanya seakan-akan menjadi merah

membara, dibakar oleh nafsunya yang tidak terkendali. Usahanya untuk

mencegah perkawinan itu dengan cara yang paling baik itu telah gagal.

Sepeninggal Ki Reksatani, Sindangsari sama sekali tidak dapat mengendalikan

perasaannya lagi. Seperti di saat ia kematian ayahnya, ia menangis sejadijadinya.

Seluruh isi rumah itu tampaknya bukan sedang menghadapi hari-hari

perkawinan satu-satunya anak gadis mereka. Tetapi keluarga itu bagaikan

sedang kematian orang yang sangat mereka kasihi.

Kakek Sindagsari duduk tepekur di atas amben besar di ruang tengah. Kerutkerut

ketuaannya rasa-rasanya menjadi semakin banyak dan dalam. Sedang

isterinya yang duduk di sampingnya tidak berani menegurnya sama sekali.

Sindangsari yang berada di dalam biliknya menangis tanpa dapat ditenangkan.

Ibunya yang menungguinya justru tidak dapat menahan air matanya sendiri

yang menitik.

“Ibu, kenapa aku harus mengalami perlakuan ini?”

Ibunya tidak dapat menjawab. Dibelainya saja rambut anaknya yang kusut

dengan curahan kasih seorang ibu.

Semalam suntuk tidak ada seorangpun yang dapat tidur. Di dalam geledeg

masih tersusun rapi, lembaran-lembaran pakaian yang telah dikirimkan oleh Ki

Demang ketika untuk pertama kalinya Ki Reksatani datang melamar. Seisi

rumah itu sama sekali tidak bernafsu untuk menjamah pakaian-pakaian itu.

Apalagi Sindangsari.

Tetapi ia tidak akan dapat ingkar.

Ketika fajar membayang di langit, maka kakek Sindangsaripun turun kehalaman

untuk membersihkan dirinya, disusul oleh isterinya sambil menjinjing sapu lidi.

Nyai Wiratapa telah berada di dapur menunggui api yang menyala, memanasi

air.

Dalam keremangan fajar itu, Sindangsari yang tidak kuat lagi menahan gejolak

perasaannya, dengan diam-diam meninggalkan rumahnya. Berlari-lari kecil ia

pergi ke rumah Pamot. Ia ingin dapat mencurahkan segala sesak di dadanya

yang rasa-rasanya akan mencekiknya.

Tetapi ketika ia berada di depan regol halaman rumah Pamot, ia menjadi raguragu.

Seakan-akan sesuatu telah membatasinya dari anak muda itu. Dan

sebuah jerit yang memelas terdengar di sudut hatinya “Tidak. Aku tidak berhak

lagi datang kepadanya. Ia akan mengusir aku karena aku harus ingkar akan

janjiku kepadanya”

Tiba-tiba saja Sindangsari berhenti beberapa langkah di depan regol itu. Ia

tidak menghiraukan lagi rambutnya yang terurai dan pakaiannya yang kusut.

Adalah kebetulan sekali, bahwa Pamotpun sudah bangun pula. Ia sudah

berada meskipun ia belum mulai melakukan sesuatu. Di tangannya sudah

tergenggam tangkai sapu lidi yang panjang. Namun ia masih saja berdiri di

bawah rimbunnya dedaunan menyelusuri angan-angannya yang membubung

disela-sela bintang yang suram.

Ia terkejut ketika ia melihat bayangan yang samar-samar berdiri di hadapan

regol halaman rumahnya. Kemudian bayangan itu segera berbalik dan berlari

menjauh.

Seperti digerakkan oleh tenaga gaib, Pamotpun segera melemparkan sapunya,

dan meloncat mengejar bayangan itu. Ketajaman perasaannya segera

memastikan bahwa orang itu adalah Sindangsari.

Ia tidak memerlukan waktu yang panjang untuk menyusulnya. Dengan sertamerta

Pamot menangkap tangan gadis itu, kemudian ditariknya agar ia berhenti

berlari.

“Lepaskan lepaskan“ Sindangsari tiba-tiba saja meronta-ronta.

Pamot terkejut melihat tingkah laku Sindangsari yang aneh itu. Namun ia tidak

melepaskan tangannya, bahkan gadis itu ditariknya semakin mendekat.

Tetapi Sindangsari masih saja berusaha melepaskan diri sambil menggeram

“Lepaskan, lepaskan. Kau tidak berhak lagi berbuat sesuatu atasku”

“Sari, kenapa kau he?“

“Lepaskan, kalau tidak aku akan berteriak ”

“Tetapi kau datang ke rumahku”

“Sama sekali tidak” suara Sindangsari menjadi semakin keras “lepaskan”

Sindangsari ternyata telah menjadi terlampau bingung. Hampir saja ia berteriak,

namun Pamot bergerak cepat, menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

“Jangan berteriak”

Sindangsari menjadi semakin meronta, tetapi tangan Pamotpun semakin keras

mendekapnya “Jangan berteriak. Dengan demikian kau akan membuat

keributan”

Sejenak Sindangsari masih berusaha melepaskan diri, tetapi tangan Pamot

terlampau kuat, sehingga akhirnya Sindangsaripun menjadi semakin lemah.

Ketika Sindngsari hampir kehabisan tenaga ia mendengar Pamot berdesis

“Kenapa kau menjadi bingung Sari? Seharusnya kau tidak berbuat demikian.

Marilah, mumpung masih agak gelap. Masuklah ke rumah, supaya tidak

seorangpun melihat keadaanmu yang begini”

Sindnagsari mengibaskan tangan Pamot yang menutup mulutnya sambil

berkata “Kau menyakiti aku”

“Kau akan membuat dirimu sendiri menjadi pembicaraan orang. Kalau kau

berteriak, orang-orang akan datang kemari. Mereka akan melihat keadaanmu

yang kusut. Banyak arti yang dapat dibuat oleh orang-orang yang melihatmu

menurut selera masing-masing. Apakah kau tidak menyadarinya?“

Sindangsari terdiam. Di pandanginya wajah Pamot yang tegang. Namun ketika

tatapan mata mereka beradu, tiba-tiba Sindangsari menjatuhkan kepalanya di

dada anak muda itu sambil menangis.

“Sari, jangan menangis di sini. Marilah kita masuk ke rumahku. Hal ini akan

dapat menimbulkan salah paham apabila seseorang melihat kita”

Sindangsari tidak menjawab. Ia tidak mengelak lagi ketika tangannya kemudian

dibimbing oleh Pamot pergi ke rumahnya.

Keluarga Pamot terkejut melihat kedatangan Sindangsari dalam keadaan itu.

Dengan muka pucat ibunya bertanya ”Pamot, apakah yang sudah kau

lakukan?“

Pamot tidak segera menjawab. Dipersilahkannya Sindangdari duduk di amben

besar. Kemudian ia sendiri duduk pula di sampingnya.

“Pamot” suara ibunya menjadi dalam. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan jelas di katakannya apa

yang sebenarnya telah terjadi.

“O“ ibunya mematung di tempatnya. Di pandanginya wajah Sindangsari yang

kusut dan pucat. Rambutnya yang terurai dan pakaiannya yang tidak teratur.

“Sari” berkata perempuan itu “benahilah pakaianmu dahulu. Keadaanmu

memang dapat menimbulkan salah mengerti”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Namun

seperti orang yang kehilangan kesadaran ia menurut saja ketika ibu Pamot

membimbingnya masuk ke dalam bilik.

“Nah, benahilah dirimu. Pakaianmu, rambutmu dan air matamu”

Sindangsari masih tetap berdiam diri, tetapi ia menganggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Pamot duduk di ruang tengah dengan hati yang berdebardebar.

Meskipun Sindangsari belum mengatakan sesuatu, tetapi Pamot sudah

dapat meraba, apakah yang membuat Sindangsari menjadi bingung dan

kehilangan nalar.

“Utusan Ki Demang itu pasti sudah datang” katanya di dalam hati.

Sejenak kemudian maka Sindangsari yang telah selesai membenahi pakaian

dan rambutnyapun telah keluar dari dalam bilik dan duduk kembali di

tempatnya. Namun demikian kepalanya masih saja tertunduk dalam-dalam.

“Sindangsari” bertanya ibu Pamot “masih sepagi ini kau sudah sampai kemari?

Apakah kau tidak akan dicari oleh ibu atau kakekmu seperti beberapa hari yang

lalu?“

Sindangsari tidak menjawab.

“Bukankah kau tidak memberitahukan kepergianmu ini kepada siapapun juga?“

Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya.

“Lain kali kau harus minta diri kepada ibu, Sari” berkata ibu Pamot kemudian

“Perasaan seorang ibu selalu saja dihinggapi oleh kecemasan apabila anaknya

tidak ada di sampingnya, meskipun anak itu sudah dewasa. Apalagi tanpa

diketahui kemana perginya”

Sindangsari tidak menyahut

“Apakah kau akan segera pulang” bertanya ibu Pamot “marilah. Sekarang,

akulah yang akan mengantarkan Bukan Pamot dan bukan ayahnya”

Sindangsari masih berdiam diri.

“Sebentar lagi matahari sudah akan terbit”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi, sebelum kau pulang, apakah kau akan mengatakan sesuatu?“

Sindangsari menjadi ragu-ragu.

“Katakanlah. Kau tahu, bagaimana perasaan kami terhadapmu”

Sindangsari mulai dijalari oleh perasaan pahit yang menyesakkan dadanya

kembali. Karena itu, maka matanya mulai basah, dan nafasnya serasa

tersumbat di kerongkongan.

“Jangan menangis” bisik ibu Pamot “kau tidak usah menangis lagi. Air matamu

agaknya sudah cukup kau peras. Aku dapat melihatnya pada matamu yang

bendul”

Sindangsari beringsut setapak. Kemudian katanya terbata-bata “Aku harus

melakukan sesuatu yang sama sekali tidak aku kehendaki”

Ibu Pamot hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun segera

mengerti, bahwa agaknya Ki Demang benar-benar menghendaki anak itu untuk

dijadikan isterinya.

Dengan demikian, maka perempuan itupun tidak lagi dapat mengatakan

sesuatu. Ki Demang adalah orang yang paling berkuasa di Kepandak. Tidak

seorangpun dapat menghalangi maksudnya. Apalagi keluarganya.

Sejenak seisi ruangan itupun saling berdiam diri. Dada Pamot serasa terbakar

karenanya. Namun ia menyadari keadaannya dan keluarganya.

Namun sejenak kemudian ibu Pamot yang agaknya masih tetap menguasai

perasaannya berkata “Sindangsari, baiklah semuanya ini merupakan persoalan

yang harus kita pikirkan. Tetapi kasihan ibumu yang kebingungan di rumah. Ia

pasti menunggu kau. Marilah, aku antarkan kau pulang”

Sindangsari tidak menjawab. Tetapi lewat pintu yang terbuka ia melihat

halaman yang sudah menjadi semakin terang.

“Marilah” desis ibu Pamot.

Tetapi sebelum mereka beranjak dari tempatnya, tampaklah seseorang

memasuki halaman rumah itu dan langsung menuju ke pintu. Orang itu adalah

kakek Sindangsari.

Dengan tergopoh-gopoh ayah Pamot menyongsongnya keluar pintu sambil

berkata “Marilah, silahkan masuk”

“Terima kasih” jawabnya. Dan iapun kemudian bertanya “Apakah Sindangsari

kemari ?“

“Demikianlah” suara ayah Pamot menjadi datar “ia ada di dalam”

Kakek Sindangsari mencoba melihat ke dalam ruangan yang masih agak gelap.

Samar-samar ia melihat seorang gadis duduk sambil menekurkan kepalanya.

Sindangsari.

“Aku sudah menyangka, bahwa ia akan datang kemari”

“Ya. Aku juga sudah mendengar, meskipun tidak jelas, bahwa anak itu tidak

dapat lagi mengelakkan dirinya”

Kakek gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya “Suatu kenyataan yang

pahit yang harus kami telan sekeluarga”

“Kami merasakannya pula”

Orang tua itu mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Ia mengerti

bahwa keluarga Pamotpun akan terpercik kepahitan peristiwa yang menimpa

keluarganya, karena dengan demikian Pamotpun akan kehilangan sebagian

dari hidup yang selama ini telah membayanginya.

“Kami sudah berusaha” berkata kakek Sindangsari itu kemudian “Tetapi kami

gagal”

Ayah Pamot berdesah perlahan-lahan. Namun tiba-tiba ia berkata “Silahkan

masuk”

“Terima kasih. Aku ingin segera membawa Sindangsari pulang”

Ayah Pamotpun segera berpaling sambil berkata “Sindangsari ini kakekmu

menyusulmu”

Tetapi Sindangsari sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.

“Sari“ panggil kakeknya “ibumu menjadi bingung Marilah kita palang”

Sindangsari masih tetap duduk ditempuhnya.

“Sari” panggil kakeknya sekali lagi.

Tetapi Sindangsari berpalingpun tidak.

Kakeknya yang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya disela-sela desah

nafasnya “Aku dapat mengerti perasaannya”

“Ya” sahut ayah Pamot “harapan yang dijalinkannya di hari mendatang, tiba-tiba

saja hanyut tanpa dapat ditolaknya”

Kakek Sindangsari terdiam. Meskipun kepalanya masih terangguk-angguk,

tetapi tatapan matanya menyorotkan kegelisahan yang luar biasa.

“Tadi, ibu Pamot juga berusaha untuk mengantarkannya pulang” berkata ayah

Pamot itu kemudian “tetapi agaknya hatinya masih terlampau gelap“

“Ibu Sindangsari menjadi sangat cemas”

“Tentu. Sebagai seorang ibu, ia adalah orang yang paling dekat dari anak itu”

ayah Pamot berhenti sejenak, kemudian desisnya perlahan-lahan “marilah

masuk. Mungkin anak itu dapat ditenteramkan”

Kakek Sindangsari tidak menolak lagi. Maka iapun segera masuk mengikuti

ayah Pamot dan duduk di samping cucunya.

“Sari” berkata orang tua itu sareh “marilah, kita pulang dahulu. Kalau ada

persoalan yang masih dapat kita bicarakan, nanti kita bicarakan”

Sindangsari sama sekali tidak bergerak.

“Sari” desis kakeknya,

Tetapi Sindangsari benar-benar seperti sebuah patung yang beku.

Bab 5 : Kebun Kosong

Namun ketika kakeknya kemudian

membelai pundaknya meledaklah perasaan

gadis itu. Tiba-tiba ia menangis sambil

menelungkupkan kepalanya di pangkuan

kakeknya.

“Aku tidak mau kakek. Aku tidak mau”

Kakeknya hanya dapat berdesah lewat

mulutnya. Ia menyayangi cucunya yang

tidak berayah lagi itu. Karena itu,

seandainya mungkin, ia memang ingin

mempertahankannya. Tetapi ia benarbenar

tidak dapat mengabaikan kenyataan,

bahwa Ki Demang Kepandak sama sekali

tidak bermaksud mengurungkan niatnya.

“Rasa-rasanya memang tidak ada yang

dapat aku lakukan” katanya di dalam hati.

Dengan penuh pengertian dibiarkannya

saja Sindangsari itu menangis sepuaspuasnya.

Kadang-kadang ia memang berusaha menenteramkannya, namun

orang tua itu mengharap, bahwa dengan tangis itu, Sindangsari dapat

mengurangi beban yang menyesak di dadanya.

Barulah ketika tangis itu mereda, kakeknya mencoba memberinya beberapa

petunjuk, agar gadis itu sedikit mendapat kekuatan menghadapi jalan hidupnya

yang terjal.

“Jangan seperti kanak-kanak lagi Sari” berkata kakeknya “marilah semuanya ini

kita hadapi dengan, sikap dewasa”

Sindangsari masih terisak, dan diantara isaknya ia menjawab “Tetapi aku tidak

mau kakek”

Kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku mengerti, betapa

beratnya hatimu menghadapi masalah ini. Tetapi kau tidak dapat

menyelesaikannya dengan sekedar pergi dari rumah dan tidak mau pulang.

Bukan itu. Kita harus mencari cara yang sebaik-baiknya”

Sindangsari terdiam.

“Kasihan ibumu Sari” berkata kakeknya kemudian “dan jangan kau sangka,

bahwa ibumu tidak berprihatin menghadapi masalahmu. Karena itu, marilah kau

pulang. Di rumah kita dapat banyak berbicara”

Sindangsari masih tetap membeku. Sekilas ia melihat sinar matahari yang

kekuning-kuningan menyusup diantara dedaunan.

Pagi yang cerah. Tetapi hatinya sendiri masih tetap kelam seperti kelamnya

malam.

“Semuanya itu masih dibatasi oleh waktu. Perkawinan itu tidak akan terjadi

nanti siang, seminggu atau bahkan sebulan. Selama ini kita masih mempunyai

kesempatan untuk berpikir dan berbuat”

Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah Sari”

Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya.

Maka kakek Sindangsaripun kemudian minta diri bersama cucunya. Kesan

yang pahit masih membayang di wajah keduanya. Namun juga di wajah Pamot

yang mengantarkan mereka sampai ke regol halamannya.

Anak muda itu tidak peduli ketika satu dua orang lewat di depan rumahnya,

memandang wajahnya yang suram dan matanya yang redup. Tatapan matanya

terlontar jauh ketikungan sebelah, dimana Sindangsari dan kakeknya seakanakan

hilang ditelan gerumbul-gerumbul di pinggir jalan.

Pamot berpaling ketika ia mendengar suara ibunya memanggilnya. Meskipun

suaranya lirih, tetapi terdengar jelas di telinga hatinya, betapa kasih seorang ibu

kepada anaknya.

“Sudahlah Pamot. Jangan terlampau kau risaukan. Memang kadang-kadang

kita harus menghadapi kenyataan-kenyataan yang sama sekali tidak kita

inginkan. Tetapi kau adalah orang laki-laki. Kau tidak boleh terbenam dalam

kepedihan. Sedang dunia ini masih akan berputar terus seperti roda pedati.

Kalau kau berhenti, maka kau akan ketinggalan dan kehilangan kesempatan

untuk seterusnya”

Pamot tidak menjawab.

“Masuklah”

Pamotpun kemudian berjalan perlahan-lahan dengan kepala tunduk. Ia

mengerti maksud ibunya, bahwa ia tidak boleh terbenam dalam persoalan itu

saja. Persoalan Sindangsari .Dengan demikian maka segi hidupnya yang lain

akan terhenti pula.

“Tinggallah hari ini di rumah, Pamot” berkata ayahnya “biarlah aku selesaikan

pekerjaan di sawah.

Tetapi Pamot menggeleng “Tidak ayah. Aku akan pergi ke sawah”

Ketika ayahnya akan mencegahnya, ibunya memotong “Biarlah ia pergi ke

sawah. Itu akan lebih baik baginya dari pada ia duduk termenung saja di

rumah”

Ayahnya berpikir sejenak, namun kemudian ia berkata ”Baiklah. Kalau begitu

mandilah. Aku akan menunggumu”

Pamotpun kemudian segera pergi ke belakang. Tetapi angan-angannya tidak

dapat lepas dari Sindangsari. Terbayang di rongga matanya gadis itu kemudian

akan tinggal di rumah Kademangan Kepandak. Apabila setiap kali ia pergi ke

Kademangan sebagai salah seorang anggauta pengawal khusus maka ia akan

melihat isteri Ki Demang itu duduk merenung memandang kekejauhan.

Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tetapi memang lebih baik baginya mengisi

waktunya dengan kerja, supaya ia tidak semakin dalam terbenam di dalam

kepahitan perasaan.

Ternyata bukan hanya Pamot sajalah yang mendapat goncangan perasaan. Di

rumahnya Manguripun selalu marah-marah tanpa sebab. Kalau Sindangsari

menjadi isteri Ki Demang, maka lenyaplah semua harapannya untuk

mendapatkan gadis itu. Meskipun demikian Manguri masih juga menemui

ayahnya untuk mempersoalkan gadis itu.

“Ayah, apakah ayah tidak dapat menemui Ki Demang dan mengatakan bahwa

ayah ingin mengambilnya sebagai menantu”

Ayahnya tidak segera menjawab.

“Ayah dahulu pernah berkata bahwa Ki Demang akan menyelesaikan masalah

ini sebaik-baiknya dan mencarikan kemungkinan yang mendekatkan aku

kepada gadis itu. Tetapi kini anak itu justru diambilnya sendiri”

“Itulah sulitnya, Manguri” jawab ayahnya “kalau Ki Demang sendiri tidak

mengingininya, aku akan lebih mudah mendapatkan bantuannya. Tetapi tibatiba

ia sendiri memerlukan gadis itu”

“Ayahlah yang bersalah. Kenapa ayah membawa Ki Demang itu ke rumah

Sindangsari”

“Aku tidak membawanya kesana. Ia sendirilah yang pergi ke rumah itu bersama

Ki Jagabaya untuk mendapatkan keterangan tentang kau dan Pamot”

“Tetapi aku minta ayah berusaha. Apapun yang dapat ayah jalankan untuk

kepentingan ini” Manguri diam sejenak, tiba-tiba ia berbisik “kita dapat

menculiknya”

“Gila kau”

“Belum tentu kalau kita akan mendapat tuduhan. Dan sudah tentu kita tidak

akan berbuat terlampau bodoh”

Ayahnya mengerutkan keningnya.

“Kita culik bersama-sama, Sindangsari dan Pamot”

“Buat apa Pamot?“

“Kalau keduanya hilang, semua orang, termasuk Ki Demang akan menyangka,

bahwa mereka berdua melarikan diri”

Ayahnya tidak segera menjawab.

“Kita bunuh Pamot, dan kita lenyapkan bekasnya”

Tetapi ayahnya kemudian menggelengkan kepalanya “Tidak Manguri.

Bahayanya terlampau besar. Kalau kau ingin berbuat demikian, maka kau akan

melakukan kesalahan sekali lagi, seperti ketika kau mengundang Sura Sapi

untuk menangkap Pamot di sawahnya”

Manguri mengerutkan keningnya. Dengan bersungguh-sungguh ia berkata

“Apakah kita tidak dapat belajar dari pengalaman? Tentu kita tidak akan

berbuat sebodoh itu. Kita akan melakukannya dengan hati-hati dan dengan

perhitungan yang masak.

“Setelah mereka itu kita ambil, apakah yang dapat kau lakukan dengan

Sindangsari?“

Manguri menarik nafas dalam-dalam.

“Kita dengan mudah akan membunuh Pamot, melenyapkan bekas-bekasnya.

Tetapi sesudah itu, apakah kau akan dapat kawin dengan Sindangsari?“

Manguri berpikir sejenak, lalu “Kita dapat menyingkir jauh-jauh dari Gemulung”

“Siapakah dengan kita itu?“

“Aku, ayah dan seluruh keluarga”

“Kau memang bodoh sekali. Aku adalah orang Gemulung sejak kecil. Aku

sudah mempunyai sawah, pategalan dan rumah disini. Bahkan paling luas

dibanding dengan orang-orang lain. Rumah inipun adalah rumah yang paling

besar di seluruh Gemulung, bahkan di seluruh Kepandak” ayahnya berhenti

sejenak, lalu “Kita harus meninggalkan semuanya itu, yang aku kumpulkan

sedikit demi sedikit hanya karena kau menjadi gila kepada gadis yang bernama

Sindangsari itu ?“

Manguri mengerutkan keningnya. Namun ia masih menjawab “Kalau begitu,

biarlah aku saja yang menyingkir bersama Sindangsari“

“Itupun perbuatan gila. Kalau kau pergi setelah Sindangsari hilang, maka setiap

orang akan membuat perhitungan. Semula Sindangsari dan Pamot, kemudian

kau?“

Manguri akhirnya menjadi jengkel “Lalu, bagaimanakah yang sebaiknya

menurut ayah?“

“Manguri, telah berapa kali kau terseret ke dalam keadaan serupa ini. Telah

berapa orang gadis yang terpaksa kau singkirkan. Tetapi kau tidak pernah

menjadi segila sekarang ini”

“Ayah” berkata Manguri “kali ini aku bersikap lain Sindangsari bukan sekedar

seorang gadis yang pantas dimiliki untuk sesaat, kemudian dilemparkan seperti

gadis-gadis lain. Tetapi ia mempunyai kelebihan yang sulit untuk dikatakan. Aku

mengingininya untuk menjadikannya seorang teman hidup yang baik”

“Sekarang kau berkata demikian. Tetapi kaupun akan segera menjadi jemu

kalau kau sudah berhasil.

“Tidak”

“Sekarang kau berkata tidak. Kau sangka aku tidak mengerti perangaimu yang

buruk itu”

“Ayah“

“Jangan membantah. Aku tidak percaya bahwa kau akan bersikap sungguhsungguh.

Manguri memandang ayahnya dengan tajamnya. Ia menjadi kecewa sekali

bahwa ayahnya tidak mempercayainya, sehingga karena itu maka ia berkata

“Ayah. Apakah aku dapat memberikan sebuah contoh, bahwa hal itu akan

dapat terjadi ?“

“Apa contohmu ?“

Manguri menjadi ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian ia berkata “Maaf ayah.

Contoh itu tidak terlampau jauh. Disini ayah mempunyai seseorang yang

menjadi kawan hidup ayah seterusnya, ibu, meskipun masih ada orang lain lagi

di dalam hidup ayah”

“Diam” bentak ayahnya tiba-tiba “kalau kau ulangi lagi hal itu, aku pukul kau”

Manguri terdiam. Tetapi ia mengumpat-umpat di dalam hatinya.

“Manguri” berkata ayahnya “sebaiknya kau lupakan saja gadis itu. Di Gemulung

masih banyak gadis-gadis yang bersedia menjadi kawan hidupmu. Bukan saja

di Gemulung, di Kepandak masih tersedia berapa saja yang kau ingini”

“Terlampau sulit untuk melupakannya ayah” jawab Manguri.

“Perlahan-lahan. Kalau kau tidak pernah melihatnya lagi, maka kau akan lupa

kepadanya. Apalagi kalau kau sudah mendapat kawan lain. Aku kira

Sindangsari bukanlah gadis yang paling cantik di Kepandak”

Manguri berpikir sejenak, namun ia kemudian menjawab “Tetapi aku minta

ayah tetap berusaha”

“Aku akan berusaha. Tetapi kau jangan menganggap bahwa tanpa Sindangsari

kau tidak dapat hidup lagi. Jika demikian kau akan benar-benar tidak akan

dapat hidup seterusnya. Hidupmu akan terhenti, meskipun secara badaniah kau

masih tetap hidup”

Manguri mengguk-anggukkan kepalanya.Namun di dalam hatinya ia tidak dapat

mengerti, apakah keberatannya kalau gadis itu diambilnya saja dengan paksa,

kemudian disembunyikannya disuatu tempat? Setiap kali ia akan dapat

mengunjungi gadis itu, dikehendaki atau tidak dikehendakinya. Sementara

Pamot yang disingkirkannya itu, tidak akan dapat mengganggunya lagi untuk

selama-lamanya.

“Ayah memang tidak mau memikirkan anaknya” berkata Manguri di dalam

hatinya “ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kalau ayah sendiri yang

menghendaki seorang gadis, apapun dikorbankannya”

Dengan demikian, maka meskipun ayahnya tidak sependapat, tetapi ada benih

pikiran di kepala Manguri, bahwa Sindangsari sebaiknya diambilnya saja

dengan paksa. Bahkan bersama Pamot, yang harus segera dibunuhnya dan

dilenyapkannya.

“Aku tidak peduli lagi. Tetapi aku harus mendapat gadis itu” katanya di dalam

hati.

Tiba-tiba Manguri teringat kepada ibunya. Apakah ibunya dapat menolongnya

dengan caranya?

Manguri yang kecewa itu, sehari-harian hanya marah-marah saja. Dibentakbentaknya

Lamat yang tidak mengerti ujung dan pangkal kemarahan Manguri.

Tetapi seperti biasa, Lamat tidak terlampau banyak bicara. Ia melakukan apa

saja yang dikehendaki Manguri.

“Lamat” tiba-tiba manguri itu memanggilnya “kemari. Aku akan berbicara

sedikit”

Lamat termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak sempat berpikir lebih lama lagi

ketika Manguri membentak “Cepat”

Dengan ragu-ragu Lamat mendekatinya. Ditatapnya sejenak wajah Manguri

yang gelap. Namun iapun kemudian duduk di dekatnya.

“Lamat” desis Manguri “kita akan menghadapi kerja yang berat. Apakah kau

sanggup ?“

Lamat yang belum mengerti, kerja apa yang harus dilakukan tidak segera

menjawab dan ia mendangar Manguri berkata pula “Kalau kerja ini gagal, maka

kita akan digantung bersama-sama”

“Apakah yang harus aku kerjakan?” bertanya Lamat.

“Meskipun aku masih harus mengatakannya kepada ibu, tetapi kau sebaiknya

mempersiapkan dirimu lebih dahulu”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak mengerti.

“Lamat” suara Manguri menurun “pada saatnya kita akan mengambil

Sindangsari dengan paksa”

Lamat terkejut sehingga darahnya terasa menjadi semakin cepat mengalir.

Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan kesan itu

“Tidak ada jalan lain“ Manguri meneruskan.

“Tetapi” berkata Lamat “apakah dengan demikian persoalannya tidak akan

menyangkut Ki Demang di Kepandak?“

“Aku tahu” jawab Manguri.

“Kalau persoalannya sekedar menyangkut Pamot, kita tidak akan terlampau

banyak mengalami kesulitan. Tetapi kini Sindangsari ternyata dikehendaki oleh

Ki Demang itu sendiri”

“Aku sudah tahu, aku sudah tahu. Aku tidak sedungu kau mengerti” potong

Manguri. Lalu suaranya merendah “Dengarlah seluruh rencanaku. Aku akan

menghubungi laki-laki yang sering datang kepada ibu. Aku yakin bahwa ia akan

dapat memberi jalan kepadaku untuk mengambil gadis itu. Kemudian kita ambil

pula Pamot. Dengar baik-baik, supaya kau tidak salah dengar” Manguri berhenti

sesaat. Dipandanginya wajah Lamat yang tegang ”Pamot itu kita bunuh. Dan

kita akan bebas dari segala tuduhan. Ki Demang akan menyangka bahwa

Sindangsari lari bersama Pamot”

Darah Lamat menjadi semakin cepat mengetuk pintu jantungnya, sehingga

jantung itu berdentangan di dalam dadanya. Ia tidak menyangka, bahwa

rencana Manguri akan sampai sedemikian jauh. Dengan demikian ia sudah

merancang sebuah pembunuhan dan penculikan.

“Bagaimana pendapatmu Lamat?” bertanya Manguri.

Lamat menjadi bingung. Apakah yang harus dikatakannya menjawab

pertanyaan itu.

“He, apakah kau tidur?“ bentak Manguri.

Dalam kebingungan Lamat ganti bertanya “Apakah kau sudah mengatakannya

kepada ayahmu?“

“Gila kau. Buat apa aku harus mengatakannya kepada ayah” Tetapi kemudian

ia membentak “Akulah yang bertanya. Apakah kau setuju?“

Lamat menarik nafas dalam. Dan ia mendengar Manguri bertanya lantang “Kau

takut he? Kau takut?”

“Soalnya bukan aku takut” jawab Lamat “tetapi hal itu akan sangat berbahaya.

Bukan saja bagi kita, tetapi bagi seluruh keluarga”

“Tutup mulutmu” potong Manguri “apa kau sangka aku tidak dapat berpikir? Aku

sudah mengerti kalau hal itu sangat berbahaya. Berbahaya bagi kita dan

keluarga kita. Tetapi kita mempunyai otak. Nah, kau memang tidak pernah

mempergunakan otakmu itu”

Lamatpun terdiam. Betapa dadanya menggelepar, tetapi ia tidak mengatakan

apapun lagi. Dengan sorot mata yang buram dipandanginya bayangan matahari

yang bermain di dedaunan.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” desis Manguri kemudian “kau setuju atau

tidak?

Lamat menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan Manguri itu sebenarnya

sama sekali bukan pertanyaan. Ia harus menjawab seperti apa yang

dikehendakinya. Karena itu, maka iapun menganggukkan kepalanya seperti

yang seharusnya dilakukan sambil berkata “Aku setuju”

“Bagus. Kita akan mengatur langkah-langkah selanjutnya. Kita tidak usah

tergesa-gesa”

Lamat hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Di pandanginya saja kemudian

Manguri yang melangkah meninggalkannya tanpa berkata sepatah katapun

lagi.

“Siapa lagi yang akan diundang oleh Manguri ini“ Lamat berdesis di dalam

hatinya “apakah ia akan memanggil gerombolan-gerombolan perampok yang

lain dari gerombolan Sura Sapi, atau akulah yang kali ini harus melakukan?“

Namun rencana itu benar-benar telah menggelisahkan Lamat. Kalau ia harus

melakukannya dengan tangannya, maka ia pasti akan merasa tersiksa seumur

hidupnya.

“Atau …….” Lamat menjadi ragu-ragu. Ia merasa berhutang budi kepada

keluarga Manguri. Bukan sekedar budi, tetapi ia merasa bahwa keluarga ini

pulalah yang telah menyambung nyawanya. Kalau ia tidak ditolong oleh ayah

Manguri saat itu, barangkali umurnya sudah lama terpotong.

Perlahan-lahan Lamat berdiri. Kemudian dengan kepala tunduk ia melangkah

kekebun belakang. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun ia tidak

menemukan pemecahan yang dapat memberinya ketenteraman.

“Mudah-mudahan Manguri membatalkan rencananya, atau ada rencana lain

yang lebih baik dari rencana pembunuhan ini” desis Lamat.

Untuk melupakan kerisauan hatinya, maka segera diambil sebuah kapak yang

besar. Di kebun belakang masih tergolek sepotong kayu yang harus

dipecahkan menjadi kayu bakar.

“Lamat mengerutkan keningnya ketika ia melihat seorang pekatik duduk

terkantuk-kantuk di bawah pohon jeruk sambil memeluk keranjangnya. Tetapi ia

melangkah terus sambil menjinjing kapaknya.

Dalam pada itu, setiap orang di Gemulung telah mempercakapkan lamaran Ki

Demang. Kadang-kadang mereka merasa iri, bahwa janda itu telah mendapat

nasib yang baik, karena anaknya akan diperisteri oleh seorang Demang yang

kaya. Tetapi kadang-kadang mereka menaruh juga belas kasihan. Agaknya

Sindangsari benar mencintai Pamot dan sebaliknya. Meskipun hampir pasti

Sindangsari akan menjadi isteri Demaig di Kepandak, tetapi gadis itu tidak akan

merasa berbahagia karenanya.

Perhatian seluruh rakyat Gemulung benar-benar telah dicengkam oleh

persoalan kedua anak-anak muda itu. Tetapi mereka sama sekali tidak

mengerti, bahwa dengan diam-diam Manguripun telah menyusun rencananya.

Yang langsung dapat dilihat oleh orang-orang Gemulung adalah wajah Pamot

yang suram, dan Sindangsari yang sering mereka lihat membersihkan halaman

rumahnya, selalu dibasahi oleh air matanya.

Namun di luar pengetahuan siapapun, Pamot selalu berusaha untuk dapat

menemui Sindangsari. Diam-diam ia selalu berkunjung ke rumah gadis itu.

Kalau malam menjadi semakin dalam, maka sampailah saatnya keduanya

melepaskan perasaan masing-masing.

Apabila ibu, kakek dan neneknya sudah tidur, Sindangsari sering merayap

keluar rumah. Ia tahu benar, bahwa Pamot menunggunya di belakang pakiwan

di sebelah sumur.

Tetapi bahwa mereka menyangka tidak ada seorangpun yang mengetahuinya

adalah salah sekali. Beberapa orang ternyata mengikutinya dengan diam-diam.

Yang paling dekat dengan mereka adalah kakek Sindangsari sendiri.

Kadang-kadang ia mendengar gerit pintu terbuka di malam hari. Namun orang

tua itu sama sekali tidak sampai hati untuk mengahalanginya. Meskipun

demikian ia tidak dapat melepaskannya kedua anak-anak muda itu tanpa

pengawasan, sehingga karena itu, maka lewat pintu yang lain, iapun menyusul

mereka dan mengawasinya dari kejauhan apabila kedua anak-anak itu

terperosok ke dalam jurang yang paling gawat dalam kehidupan anak-anak

muda.

Tetapi bukan saja orang tua itulah yang selalu mengawasi apa yang terjadi.

Seorang petugas yang sengaja dikirim oleh Ki Demangpun selalu

mengawasinya. Meskipun tidak setiap malam ia berada di dekat rumah Pamot

dan Sindangsari, namun pada suatu ketika ia berhasil melihat pertemuan kedua

anak-anak muda itu.

Orang itu menjadi berdebar-debar karenanya. Ia ditugaskan oleh Ki Demang

untuk mengawasi gadis yang akan menjadi isterinya. Tetapi sebagai manusia ia

mengerti, bahwa ikatan yang menghubungkan hati kedua anak-anak muda itu

agaknya memang sulit diuraikan. Ia tidak berbuat apa-apa, dan sama sekali

tidak melaporkannya, ketika ia baru melihat sekali dari pertemuan itu. Tetapi

kemudian ia melihat kedua, ketiga dan keempat kalinya.

Orang itu justru menjadi bingung. Ia tidak mengerti apa yang sebaiknya

dilakukan. Tetapi kalau ia berdiam diri saja apabila, kemudian timbul akibat

yang tidak dikehendaki, maka ia akan menjadi tempat yang harus menampung

kemarahan Ki Demang di Kepandak.

Semula orang itu mengharap, bahwa hubungan itu semakin lama akan menjadi

semakin jarang. Tetapi harapannya itu sama sekali tidak terpenuhi. Pamot

masih saja selalu datang dengan diam-diam ke rumah Sindangsari dalam

waktu-waktu tertentu.

“O” orang itu mengeluh ”Kenapa aku mendapat tugas yang gila ini. Mengintip

orang yang saling berkasihan”

Namun akhirnya orang itu tidak dapat memilih cara lain daripada

menyampaikan apa yang dilihatnya itu kepada Ki Demang, agar ia tidak harus

bertanggung-jawab apabila kedua anak anak muda itu salah langkah.

“He, kau melihatnya?” wajah Ki Demang menjadi merah.

“Ya Ki Demang”

“Beberapa kali kau melihat pertemuan itu? Orang itu menjadi ragu-ragu

sejenak.

Tetapi ia kemudian menjawab ”Satu kali Ki Demang”

“Hanya satu kali?”

Sekali lagi orang itu ragu-ragu. Ia tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang

dilihatnya. Kalau ia mengatakan tiga atau empat kali, maka darah Ki Demang

pasti akan segera mendidih.

“Ya, sekali. Itupun samar-samar. Tetapi aku memang menyangka bahwa

mereka telah mengadakan pertemuan, meskipun barangkali Sindangsari di

dalam dinding rumahnya dan Pamot berada di luar”

Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Masih juga anak itu berani

menghubungi Sindangsari. Padahal sudah jelas bagi setiap orang, bahwa

Sindangsari akan menjadi isterinya.

Tiba-tiba saja Ki Demang itu menggeram ”Pertemuan berikutnya harus dicegah.

Kalau mereka leluasa berbuat demikian, maka mereka pasti akan

mengulanginya”

Orang yang mendapat tugas mengawasi Pamot itu menundukkan kepalanya. Ia

terkejut ketika Ki Demang kemudian berkata ”Besok bawa Kerpa serta”

“Maksud Ki Demang?”orang itu menjadi berdebar-debar.

“Kerpa harus membuat Pamot jera. Tetapi ingat, Pamot tidak boleh mengenal,

bahwa orang yang menghalangi pertemuan itu adalah Kerpa. Kalau ia

mengetahui bahwa orang itu Kerpa, ia akan langsung mengetahui, bahwa

akulah yang menyuruhnya”

“Apakah keberatannya kalau Pamot mengetahui, bahwa memang Ki Demang

yang mencegah pertemuan itu. Bukankah hal itu sudah sewajarnya?”

“Sebaiknya sementara ini tidak”

Orang itu mengangguk-angguk kepalanya. Perlahan-lahan ia bertanya ”tetapi

bukankah Kerpa hanya mencegah pertemuan itu. Tidak lebih daripada itu”

“Ya”

Orang itu menggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah Besok aku akan pergi ke

Gemulung bersama Kerpa”

Demikianlah pada malam berikutnya, dua orang petugas yang dikirim oleh Ki

Demang, dengan diam-diam mengawasi jalan yang lewat di samping rumah

Sindangsari. Ketika malam mulai menjadi kelam, keduanya bersembunyi di

balik segerumbul perdu. Disitulah petugas Ki Demang itu setiap kali

bersembunyi.

“Mungkin hari ini anak itu tidak datang kemari” desisnya.

Kerpa mengerutkan keningnya. Katanya ”Aku mengharap ia datang.

“Lalu? Apa yang akan kau lakukan”

Orang itu tertawa tertahan-tahan. Tetapi suara tertawanya telah mendirikan

bulu roma.

Kawannya menjadi heran mendengar suara tertawa Kerpa. Dipandanginya saja

wajahnya yang disaput oleh keremangan malam. Namun wajah itu seakanakan

menjadi sangat menakutkan.

“Kadang-kadang kita harus mengajari anak-anak untuk sedikit sopan” geram

Kerpa kemudian ”Pamot adalah gambaran anak-anak yang tidak mengenal

adat”

“Maksudmu?” bertanya kawan Kerpa.

Kerpa tidak segera menjawab, tetapi suara tertawanya terdengar lagi.

“Ingat Kerpa” berkata kawannya ”kau hanya bertugas mencegah pertemuan itu

Tidak lebih“

“Tentu, tentu. Tetapi aku tidak ingin setiap malam mendekam di tempat yang

banyak sekali nyamuknya itu”

“Lalu?”

“Aku akan membuatnya jera”

“Ya, memang. Tetapi tidak berlebih-lebihan”

“Aku juga tidak akan berbuat terlampau banyak dan berlebihan-lebih. Aku

hanya akan membuat jera. Hanya itu”

“Caramu?”

“Tergantung pada keadaan. Aku tahu bahwa Pamot adalah salah seorang

anggauta pengawal khusus yang terlatih baik. Kalau langkahku agak terdorong

sedikit, jangan menyalahkan aku. Karena kalau aku terlampau baik hati, maka

akulah yang akan dibuatnya jera”

Kawannya mengerutkan keningnya. Ia mengenal Kerpa dengan baik. Ia orang

yang bodoh, tetapi terlampau setia kepada Ki Demang, sehingga kadangkadang

ia melakukan suatu tindakan yang agak berlebih-lebihan. Maksudnya

agar ia mendapat pujian dan hadiah karena tindakannya itu, tanpa

menghiraukan akibat yang dapat timbul karenanya.

Sejenak kemudian mereka terdiam. Tetapi debar jantung kawan Kerpa itu

menjadi semakin cepat. Ia sudah mulai membayangkan, apa yang akan terjadi.

Mungkin Kerpa akan membuat Pamot menjadi cacat seumur hidupnya atau

bahkan kalau ia kehilangan kendali, maka ia akan berbuat sesuatu di luar

dugaan.

“Gila” desis Kerpa kemudian ”Kenapa anak itu belum juga datang”

“Aku tidak yakin bahwa ia akan datang”

“Tetapi bukankah kau pula yang melaporkannya kepada Ki Demang bahwa

anak itu pernah menemui Sindangsari?”

“Ya”

“Itu memang perbuatan yang paling gila” Kerpa menggeram ”itu sudah suatu

perbuatan yang sebenarnya tidak dapat dimanfaatkan seandainya Ki Demang

bukan orang yang sangat sabar. Meskipun belum terjadi perkawinan itu, tetapi

Sindangsari sudah menjadi hak Ki Demang. Tidak seorangpun lagi boleh

mengganggunya”

Kawannya tidak menyahut.

“Kalau Pamot itu mengganggu isteriku, maka isi perutnya pasti akan

kutumpahkan”

“Tetapi sekarang, bahkan bakal istri Ki Demang”

“Tetapi Ki Demang tidak memerintahkan kepadamu lebih dari mencegah

pertemuan itu. Kalau kau melakukan yang lain, maka kau pasti akan mendapat

hukuman”

Kerpa mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian ia

masih meragukan keterangan kawannya itu. Apakah benar Ki Demang tidak

marah sekali dan maksud kata-katanya itu tidak lebih jauh dari mencegah saja

hari ini.

Maka selagi mereka hanyut dalam angan-angan masing-masing, di kejauhan

sesosok tubuh berjalan mengendap-endap di pinggir jalan padukuhan.

Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Kadang-kadang ia berhenti

sejenak, kemudian meneruskan langkahnya melekat dinding batu di pinggir

jalan.

Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa dua pasang mata di balik gerumbul

sedang memandanginya dengan tajamnya.

Melihat kedatangannya Kerpa tersenyum. Sambil menggamit kawannya ia

berdesis ”Akhirnya ia datang. Agaknya kau telah memberikan keterangan yang

benar, bahwa Pamot memang pernah menghubungi Sindangsari. Kau tidak

sekedar mengada-ada untuk mendapat pujian dari Ki Demang bahwa kau

memang melakukan tugasmu dengan baik. Pertemuan antara keduanya itu

bukan sekedar desas-desus yang merambat dari mulut yang satu kemulut yang

lain”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia menjadi berdebar-debar karenanya.

“Kau duduk saja disini. Aku akan menyelesaikannya sendiri”

“Jangan gila. Kau hanya mencegah pertemuan ini”

“Dan membuatnya Ki Demang marah kepadamu”

Kerpa tidak menjawab. Tetapi ia tertawa tertahan-tahan.

Sementara itu langkah Pamot semakin lama menjadi semakin dekat. Tanpa

berprasangka apapun ia masih tetap berjalan menepi. Sama sekali tidak

disangkanya, bahwa di dekat halaman yang kosong, di balik sebuah gerumbul,

seseorang telah menunggunya dengan menahan nafas.

Pamot menjadi sangat terkejut, dan bahkan darahnya serasa berhenti ketika

tiba-tiba. aja sepasang tangan yang kuat menerkamnya dan menyeretnya

masuk ke dalam gerumbul.

Tetapi Pamot adalah seorang anak muda yang cukup terlatih, sehingga ia tidak

langsung menyerah pada keadaan itu. Dengan tangkasnya ia justru berguling

melanda orang yang menerkamnya, kemudian menggeliat untuk melepaskan

pegangan sepasang tangan yang menerkamnya itu.

Pamot adalah seorang pengawal khusus yang memang pernah mendapat

latihan keprajuritan. Bahkan lebih dari itu. Iapun memiliki bekal ilmu yang

melengkapi latihan-latihan keprajuritannya itu. Dengan demikian, maka

geraknya yang cepat dan tangkas itu sama sekali tidak diduga oleh Kerpa,

sehingga tangkapan tangannyapun terlepas karenanya.

Hentakan tenaga Pamot telah menghempaskan keduanya. Sejenak mereka

terguling-guling. Dan hampir bersamaan mereka berloncatan berdiri.

Kini mereka tegak berhadapan. Sejenak Pamot mencoba mengenal orang yang

menutupi wajahnya dengan ikat kepalanya itu. Tetapi ia tidak segera dapat

mengetahui dengan siapa ia berhadapan.

“Siapa kau?“ Pamot menggeram.

Kerpa mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dibuat-buat agar Pamot

tidak dapat mengenalnya, ia menjawab “He, kau ingin tahu siapa aku?“

“Ya. Bukalah tutup wajah itu”

“Tidak mau. Sebaiknya kau tidak usah melawan. Aku hanya akan membuatmu

lumpuh tanpa membunuhmu”

Kawan Kerpa yang bersembunyi di balik gerumbul itupun menjadi berdebardebar.

Agaknya Kerpa benar-benar ingin membuat Pamot cacat, agar ia

menjadi benar-benar jera. Tetapi sudah tentu, bukan itu maksud Ki Demang.

Dalam pada itu ia mendengar Pamot menggeram “Apa maksudmu

mengganggu aku?“

“Aku tidak sekedar mengganggumu. Aku memang berusaha mencegahmu

datang kepada gadis itu. Bukan hanya malam ini, tetapi untuk malam-malam

selanjutnya. Karena itu, kau harus tidak dapat berjalan lagi”

“Apa kepentinganmu”

“Tidak ada”

“Kalau tidak ada, kenapa kau mencampuri urusanku”

“He? Bukan tidak ada. Tetapi tidak langsung” jawab Kerpa “kau tahu he, bahwa

gadis itu adalah bakal isteri Ki Demang. Kalau kau masih berhubungan dengan

dia, maka kau sudah melanggar pagar ayu. Kau tahu bahwa padukuhan

Gemulung dan Kademangan Kepandak dan kau pernah juga mendengar,

bahwa hampir seratus tahun yang lalu, Kademangan Kepandak pernah ditimpa

oleh bencana wabah yang luar biasa. Separo dari penduduk Kepandak

meninggal. Kakekku, yang sekarang berumur seratus lebih tujuh tahun, masih

ingat akan peristiwa itu. Kau ingin tahu sebabnya? Ya, karena ada orang yang

melanggar pagar ayu. Seorang laki-laki iblis yang menghubungi isteri Ki

Demang pada waktu itu. Kakek Ki Demang yang sekarang. Nah, apakah kau

akan mengulanginya dan membuat Kepandak diterkam oleh wabah yang maha

dahsyat itu lagi?“

“Omong kosong” bantah Pamot, namun kemudian ia menyambung “maksudku,

aku sama sekali tidak melanggar pagar ayu. Akulah yang lebih dahulu

melamarnya. Tetapi Ki Demang telah merampasnya. Apalagi kalau anak itu

diberi hak untuk memilih. Ia tidak akan memilih Ki Demang yang sudah lima kali

kawin”

“Persetan. Tetapi yang sekarang diakui, gadis itu adalah bakal isteri Ki

Demang”

“Seandainya demikian, dan seandainya aku disebut melanggar pagar ayu,

itupun tidak akan membuat bencana apapun. Apakah kau berpura-pura tidak

tahu bahwa ada saja pelanggaran-pelanggaran yang serupa, bahkan yang

sudah lebih jauh dari sekedar sebuah pertemuan”

“Diam kau” bentak Kerpa “kau ingin membenarkan sikapmu dengan menyebut

kesalahan-kesalahan yang serupa. Aku tidak peduli. Tetapi pertemuan yang

demikian tidak boleh terjadi. Kau sangka aku tidak tahu bahwa malam ini

bukanlah malam yang pertama kau datang kepadanya”

Wajah Pamot menjadi merah. Kini ia telah benar-benar menjadi marah.

Katanya “Memang. Malam ini bukan yang pertama aku datang kepadanya. Aku

sudah datang kepadanya lebih dari seratus kali sejak aku mengenalnya. Gadis

itupun datang ke rumahku sebanyak bilangan itu pula. Sampai saatnya Ki

Demang di Kepandak berusaha memutuskan hubungan kami. Pamot berhenti

sejenak. Namun perasaan di dadanya menghentak-hentak sehingga ia tidak

sadar lagi dengan siapa ia berbicara. Endapan-endapan yang serasa

menyumbat dadanya kemudian tertumpah saja tanpa dapat dikekangnya.

Katanya “Tetapi itu perbuatan yang bodoh sekali. Memang mungkin Ki Demang

dengan kekerasan apapun dapat menghalangi hubunganku dengan

Sindangsari. Tetapi itu hanya sekedar hubungan badaniah. Tetapi tidak

seorang manusiapun yang dapat memadamkan api yang telah menyala di

dalam dada kami masing-masing. Dan itulah yang dinamakan cinta”

Kerpa mengerutkan keningnya sesaat. Namun kemudian ia tertawa. Katanya

“Aku tidak tahu apakah hubunganmu dengan Ki Demang di dalam soal cinta.

Tetapi aku hanya mencegah wabah itu berjangkit lagi di Kepandak. Itu saja”

“Kenapa kau tidak datang kepada Ki Demang dan mencegah Ki Demang

merampas gadis itu? Jangan pura-pura tidak tahu, bahwa disini sekarang

sudah timbul wabah? Wabah yang jauh lebih dahsyat dari penyakit apapun?“

“Wabah apa?“

“Wabah kekuasaan, di mana orang-orang yang berkuasa dapat berbuat apa

saja seperti yang dilakukan oleh Ki Demang sekarang atas Sindangsari”

“Persetan. Sudah aku katakan. Aku tidak berurusan dengan Ki Demang. Tetapi

adalah kewajibanku untuk mencegahmu sekarang”

Ketika Pamot akan menjawab maka Kerpapun mendahuluinya “Jangan banyak

bicara. Kau harus jera. Tidak hanya sekedar mulutmu saja yang

mengatakannya, tetapi lain kali diam-diam kau langgarnya”

“Dengar kau. orang yang tidak berani menengadahkan wajahnya” geram Pamot

“cacingpun akan menggeliat kalau terpijak. Apalagi aku”

“Tutup mulut, atau aku yang akan menutupnya”

Pamot tidak sempat menjawab lagi. Agaknya Kerpa memang sudah kehabisan

kesabaran. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang.

Tetapi Pamot yang sudah sampai ke puncak kemarahannya itupun telah

bersiaga pula. Dengan demikian maka dengan tangkasnya ia menghindarinya

dan bahkan iapun segera membalas serangan itu dengan sebuah serangan

mendatar setinggi lambung.

Kerpa menjadi berdebar-debar. Ternyata anak ini memiliki kemampuan yang

cukup baik. Apalagi setelah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin

seru. Terasalah oleh Kerpa bahwa Pamot bukan sekedar seorang pengawal

yang mendapat latihan keprajuritan sekali sepekan atau dua kali di halaman

Kademangan oleh prajurit-prajurit Mataram yang dikirim untuk itu.

Karena itu, maka Kerpapun menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar, bahwa ia

tidak boleh lengah. Ikat kepalanya tidak boleh terlepas, dan apa lagi ia dapat

dikalahkan dalam perkelahian itu.

Dengan demikian maka perkelahian itupun menjadi semakin cepat. Pamot telah

dibakar oleh darah mudanya, sehingga ia sama sekali tidak peduli lagi, dengan

siapa ia berkelahi. Sedang Kerpa merasa bahwa dirinya mendapat

kepercayaan dari Ki Demang untuk melakukan tugas itu.

Namun perkelahian yang sengit itu agaknya telah membuat Kerpa menjadi

semakin marah. Lambat laun ia tidak dapat membatasi diri lagi, bahwa ia

ditugaskan sekedar mencegah pertemuan antara Pamot dengan gadis yang

bakal menjadi isteri Ki Demang itu. Namun serangan-serangannya yang gagal

beberapa kali, dan bahkan sentuhan-sentuhan serangan Pamot pada tubuhnya,

telah menyeret Kerpa itu ke dalam suatu perkelahian yang sesungguhnya,

seperti juga Pamot berkelahi bersungguh-sungguh.

Kawan Kerpa yang bersembunyi di balik gerumbul menyaksikan dengan hati

yang bergelora. Meskipun ia tidak mempunyai kemampuan sebesar Kerpa,

namun ia dapat melihat bahwa perkelahian itu telah memanjat menjadi

perkelahian yang mendebarkan jantung. Seperti Kerpa, ia memang tidak

menyangka bahwa Pamot memiliki ilmu yang setingkat lebih tinggi dari para

pengawal khusus. Apalagi dibandingkan dengan para pengawal yang lain.

Namun orang itupun mengerti bahwa Kerpa bukan orang kebanyakan. Karena

itulah, maka dadanya menjadi semakin sesak. Semakin gigih Pamot melawan,

orang itu akan menjadi semakin marah, sehingga pada saatnya, ia akan

berbuat hal-hal yang semakin buruk akibatnya bagi Pamot.

Tetapi ia tidak akan dapat mencegahnya lagi. Ia tidak dapat muncul di sekitar

arena. Dengan demikian Pamot akan mengenalnya dan pasti akan segera

mengenal bahwa lawannya berkelahi itu adalah Kerpa.

Demikianlah perkelahian di halaman kosong itu menjadi semakin seru. Masingmasing

telah berusaha untuk memeras tenaganya. Pamot memang memiliki

kelincahan dan kekuatan yang cukup. Namun Kerpa adalah orang yang

berpengalaman. Itulah sebabnya maka setelah mereka berkelahi beberapa

saat, tampaklah bahwa Pamot menjadi semakin lama semakin terdesak.

Tetapi hati Pamot memang sekeras batu karang, Ia tidak segera menyerah

kepada keadaan. Ia sadar, bahwa menyerahpun akibatnya pasti sangat

menyakitkan hatinya. Karena itu, maka ia berkelahi terus sekuat-kuat

tenaganya.

Lambat laun namun pasti, Kerpa berhasil menguasai lawannya. Sekali-sekali

Pamot terpelanting oleh pukulan atau hempasan kaki lawannya. Namun setiap

kali ia bangkit kembali dan melawan seperti orang kesurupan, meskipun karena

kelelahan dan kemarahan yang menggoncang jantungnya, geraknya menjadi

semakin tidak terarah. Serangan-serangannya tidak lagi mengenai sasarannya,

dan bahkan kadang-kadang ia terdorong oleh tenaganya sendiri, sehingga

sentuhan yang lambat telah membuatnya jatuh tertelungkup.

Kerpa yang memiliki pengalaman dan ilmu lebih tinggi daripadanya, akhirnya

yakin, bahwa Pamot tidak akan dapat melawannya lagi.

Karena itu, maka Kerpa akan segera mengakhiri perkelahian itu. Ia tidak dapat

lagi menahan kemarahan yang menghentak di dadanya karena sikap Pamot.

Apalagi beberapa bagian badannya sendiri terasa juga bekas-bekas sentuhan

serangan anak muda yang kehilangan pengendalian diri itu.

Pada saat-saat terakhir itulah Kerpa kemudian justru memperbesar tenagatenaga

serangannya, sehingga Pamot menjadi jatuh bangun. Sekali ia

terpental, kemudian di saat yang lain ia jatuh terjerembab.

Badannya menjadi merah biru, sedang darahnya menitik dari luka-luka hampir

di seluruh tubuhnya. Luka oleh serangan Kerpa, tetapi juga luka karena batubatu

padas di bawah kakinya. Apabila ia terpelanting jatuh menimpa ujung batu

yang runcing, ujung-ujung kayu dan bahkan duri-duri kemarung sepanjang

kelingking, yang tumbuh berhamburan di kebun kosong itu.

Betapa besar nafsunya untuk melawan, namun tenaga Pamotpun memang

terbatas. Ia mampu melawan salah seorang dari anggauta gerombolan Sura

Sapi, tetapi kali ini ia mau tidak mau harus melihat kenyataan bahwa ia sudah

terkalahkan.

Ketika sebuah pukulan mengenai dagunya, maka kepalanyapun terangkat

tinggi-tinggi. Tetapi ia tidak sempat jatuh terlentang ketika tangan-tangan yang

kuat menahan bajunya. Namun terasa kemudian seolah-olah seluruh perutnya

terpelanting keluar ketika tangan-tangan yang kuat memukul perutnya bertubitubi.

Tiba-tiba kepala Pamot menjadi pening. Pandangan matanya menjadi semakin

kabur.

Ketika pukulan-pukulan itu berhenti, maka ia tidak lagi dapat berdiri tegak di

atas kedua kakinya. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun kemudian iapun

jatuh tertelentang.

Pamot masih sempat melihat bintang yang bertaburan di langit yang seakanakan

berputaran mengelilingi kepalanya. Semakin lama semakin cepat, namun

semakin kabur.

Meskipun demikian Pamot tidak menjadi pingsan. Meskipun ia tidak berhasil

untuk mengatasi pening dan mual, sehingga ia tidak lagi sempat bangun,

namun ia masih melihat bayang-bayang lawannya yang kabur kehitam-hitaman.

Pamot masih mendengar orang itu tertawa, kemudian melangkah semakin

dekat. Kini orang itu berdiri bertolak pinggang selangkah di sampingnya.

Tangannya seolah-olah berguncang-guncang oleh gelak yang tertahan-tahan.

“Nah, apakah kau masih akan melawan?“ terdengar ia berdesis.

Pamot tidak menyahut. Nafasnya serasa sudah benar-benar hampir terputus.

“Kau sudah membuat hatiku menjadi panas, berkata Kerpa di sela-sela suara

tertawanya yang menyakitkan hati. Tetapi suara tertawa itupun merupakan

lontaran dari sakit hatinya pula. Katanya selanjutnya ”Kalau kau tidak melawan,

dan tidak menyombongkan dirimu, maka aku kira aku tidak akan berbuat apaapa.

Kalau kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan datang lagi menemui gadis

itu, maka persoalanku sudah selesai. Tetapi sekarang kau telah membuat

darahku menjadi panas. Nafasku hampir putus pula karenanya, dan tubuhku

menjadi sakit-sakit. Kau harus menebusnya dengan penyesalan.

Pamot sama sekali tidak menjawab. Kekuatannya seakan-akan telah lenyap,

Bahkan untuk menggerakkan ujung jarinya saja, terasa terlampau sulit. Karena

itu, apapun yang akan dilakukan oleh orang yang melindungi wajahnya dengan

ikat kepalanya itu, ia tidak akan dapat mencegahnya.

“Dengar anak muda” desis Kerpa dari balik ikat kepalanya “aku dapat

membunuhmu”

Pamot masih tetap berdiam diri.

“Tetapi aku akan memberimu kesempatan memilih. Mati atau cacat untuk

seumur hidupmu”

Terasa darah Pamot berdesir. Bahkan kawan Kerpa yang bersembunyi di balik

rimbunnya dedaunanpun menjadi berdebar-debar. Kerpa memang bukan

seseorang yang dapat diajak bergurau dengan cara apapun. Tetapi ia tidak

dapat meloncat untuk mencegahnya.

“Katakan, manakah yang kau pilih?“

Pertanyaan itu serasa telah membakar isi dada Pamot. Namun ia masih tetap

berdiam diri.

“Jawablah” bentak Kerpa.

Ketika Pamot tidak juga menjawab, maka dengan kakinya ia mengguncang

tubuh anak muda itu “Ayo jawab. Kalau kau ingin mati aku tinggal menginjak

lehermu saja. Tetapi kalau kau masih ingin hidup, katakan, apa yang harus aku

lakukan.

Tetapi mulut Pamot serasa sudah terkunci. Ia tidak ingin menjawab sepatah

katapun. Ia tidak peduli lagi, apa yang akan terjadi atas dirinya yang sama

sekali tidak berdaya itu.

Tetapi ketika orang yang menutupi wajahnya dengan ikat kepalanya itu sekali

lagi mengguncang tubuhnya dengan kakinya, tiba-tiba ia terdorong surut sambil

mengaduh pendek. Terasa sesuatu telah mengenai dadanya. Begitu kerasnya,

sehingga seolah-olah tulang-tulang rusuknya menjadi retak.

“Setan alas“ Kerpa mengumpat “siapa yang menyerang aku dari

persembunyiannya. Pengecut. Ayo keluar”

Tetapi tidak ada jawaban. Serangan itu datang dari arah yang lain dari tempat

persembunyian kawannya, sehingga ia tidak dapat menuduhnya. Dan

sebenarnyalah kawannya itu sama sekali tidak mengerti, apa yang telah terjadi.

Dengan heran ia melihat Kerpa terhuyung-huyung sambil memegangi dadanya.

“Siapa he? Kalau kau memang laki-laki, ayo kita berhadapan”

Tetapi tidak seorangpun yang menampakkan dirinya. Tetapi ketika Kerpa akan

membuka mulutnya lagi, terasa sebuah batu kerikil mengenai lehernya.

Leher Kerpa serasa tercekik karenanya. Sejenak ia terbatuk-batuk sambil

memegangi lehernya. Lemparan itu pasti bukan lemparan orang kebanyakan.

Selain orang yang melemparnya itu seorang pembidik yang baik, ia pasti

mempunyai kekuatan yang cukup.

Karena itu Kerpa harus berhati-hati. Ia menghadapi seseorang yang kuat, tetapi

licik. Menyerang dari persembunyian. Dengan hati-hati Kerpa kemudian maju

selangkah. Untuk sementara ia membiarkan Pamot terbaring di tanah. Menurut

penilaian Kerpa Pamot sama sekali sudah tidak berbahaya lagi baginya.

“Jangan menyerang sambil bersembunyi. Marilah kita berhadapan sebagai lakilaki”

geram Kerpa.

Namun dadanya berdesir ketika ia mendengar jawaban yang lambat tersendatsendat

“Kau juga bersembunyi di balik ikat kepala itu. Coba, bukalah ikat

kepalamu. Aku akan keluar dari persembunyianku”

“Persetan” jawab Kerpa dengan suara bergetar “dimana kau. Akulah yang akan

datang kepadamu kalau kau tidak mau keluar”

“Aku bersembunyi” terdengar suara itu.

Namun suara orang itu telah menuntun Kerpa untuk menemukan tempat

persembunyiannya.

Ketika Kerpa sudah yakin, dimana orang itu bersembunyi, maka segera iapun

meloncat melingkari sebuah gerumbul. Ia tidak mau kehilangan lawannya yang

licik itu.

Dadanya berdesir ketika ia melihat sesosok tubuh yang berjongkok di balik

gerumbul itu. Sudah tentu tidak ada orang lain lagi yang telah menyerangnya

selain orang itu. Karena itu, ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sertamerta

ia telah menyerangnya.

Tetapi ternyata kemampuan orang yang bersembunyi itu jauh melampaui

dugaannya. Demikian ia menyerang dengan lontaran kakinya, tiba-tiba terasa

kakinya tertangkap. Ia tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali, ketika

tubuhnya serasa terbang berputaran. Agaknya lawannya dengan mudahnya

telah memutar tubuhnya di udara. Kerpa masih berusaha menggeliat sambil

menyerang dengan kakinya yang lain. Namun tiba-tiba saja kakinya yang

tertangkap itupun dilepaskan sehingga ia terlempar beberapa langkah.

Dengan kemampuan yang ada padanya, Kerpa masih berusaha menempatkan

diri ketika ia terbanting jatuh. Dilipatnya tubuhnya, dan dilekatkannya tangannya

di dadanya. Kerpa berusaha menjatuhkan dirinya pada pundaknya, agar ia

tidak mendapatkan cidera di bagian dalam. Namun begitu kerasnya ia

terbanting, sehingga matanya menjadi berkunang-kunang.

Nafas Kerpa serasa terputus di lehernya. Sejenak ia sama sekali tidak dapat

bergerak. Isi dadanya seakan-akan telah menyumbat lehernya. Sehingga

karena itu, ia tergolek seperti Pamot yang lemas itu pula.

Kawannya yang bersembunyi di balik gerumbul hanya melihat Kerpa terlempar.

Namun demikian hatinya menjadi kecut. Ia tidak memiliki kemampuan seperti

Kerpa. Karena itu, maka seandainya ia harus berkelahi melawan lawan Kerpa

yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas itu, pasti ia tidak akan dapat bertahan.

Dengan demikian, maka sejenak ia kebingungan. Ia tidak tahu apa yang

seharusnya dilakukan.

Selagi ia menimbang-nimbang, sebutir batu telah jatuh tepat di hadapannya,

sehingga ia tersentak setapak surut. Dadanya yang berdebar-debar menjadi

semakin berdentangan. Ternyata lawan Kerpa yang mampu memutarnya di

udara kemudian melemparkannya itu telah melihat di mana ia bersembunyi.

Apalagi ketika ia mendengar suara berat beberapa langkah saja di hadapannya

“Apakah kau juga akan melawan?“

Seolah-olah tanpa sesadarnya ia menjawab “Tidak. Aku tidak akan melawan”

“Kalau begitu, pergilah”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi ragu-ragu.

“Bawa kawanmu itu pergi. Cepat, sebelum aku merubah pendirian”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Dan ia mendengar suara itu lagi “Cepat”

Tidak ada pilihan lain lagi baginya. Dengan hati yang berdebar-debar ia berdiri

dan melangkah setapak demi setapak.

“Cepat”

Ia mempercepat langkahnya mendekati Kerpa yang masih terbaring di

tempatnya sambil menyeringai.

“Bawa dia pergi”

Orang itupun segera menolong Kerpa. Dibantunya Kerpa itu berdiri, kemudian

dipapahnya berjalan melintasi halaman yang kosong itu menyusup gerumbulgerumbul

liar. Meskipun sambil mengeluh, namun Kerpa telah memaksa dirinya

untuk meninggalkan tempat terkutuk itu.

Halaman kosong itupun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah

desah nafas Pamot yang kesakitan. Dengan susah payah ia berusaha untuk

bangkit. Sambil mengerang iapun kemudian berhasil duduk bertelekan kedua

tangannya.

Pamot berpaling ketika ia mendengar suara gemerisik di balik gerumbul di

belakangnya. Hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat lawannya yang

memakai tutup ikat kepala di wajahnya itu telah dilontarkan oleh seseorang

yang juga tidak dikenalnya.

“Apakah ia memang berusaha membantu aku atau sekedar ingin mendapat

kepuasan, mencekik aku dengan tangannya” berkata Pamot di dalam hatinya.

Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seseorang yang

bertubuh tinggi kekar menghampirinya.

“Lamat” desis Pamot “kenapa kau berada di sini?“

Lamat tidak segera menjawab. Dihampirinya Pamot yang masih kesakitan.

Setelah ia berjongkok di sampingnya, iapun berkata “Kau tidak apa-apa?“

“Beginilah, seperti yang kau lihat”

Lamat mengerutkan keningnya. Katanya “Maksudku, tidak ada luka-luka yang

parah di tubuhmu atau di dalam. Mungkin tulang-tulangmu atau bagian-bagian

yang lain?“

Pamot menggeleng “Aku kira tidak” jawabnya.

“Apakah kau dapat berjalan pulang“

Pamot menarik nafas. Katanya “Sebaiknya aku beristirahat dahulu. Nafasku

serasa akan putus, dan seluruh tubuhku menjadi sakit”

Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya “Apakah

kau mengetahui siapakah lawanmu itu?“

Pamot menggeleng “Tidak. Aku tidak mengetahuinya. Kenapa kau tidak

membuka tutup kepalanya ketika ia menjadi hampir pingsan?“

“Aku tidak berani menampakkan diriku”

“Kenapa?“

“Justru karena aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu siapa dan apakah

maksudnya yang sebenarnya. Tetapi aku kira ia akan segera dapat mengenal

aku. Aku tidak dapat menyembunyikan diriku meskipun aku memakai tutup

wajah seperti orang itu. Setiap orang di Gemulung dan bahkan di seluruh

Kademangan Kepandak akan segera mengenal bentuk tubuhku”

Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Kalau saja kau

membuatnya benar-benar pingsan”

“Aku tidak berani melakukannya. Kalau aku agak terdorong sedikit dan tanpa

aku kehendaki aku telah membunuhnya, maka aku akan menyesal”

Sekali lagi Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia

bertanya kembali “Kenapa kau ada disini?“

Lamat terdiam sejenak. Tatapan matanya terlontar kekejauhan menembus

hitamnya malam.

“Kenapa?“

“Aku ditugaskan oleh Manguri”

“Apa tugasmu?“

“Mengawasi kau. Manguri masih menyangka bahwa kau selalu datang

mengunjungi Sindangsari”

Pamot mengerutkan dahinya.

“Ternyata dugaannya itu benar. Kau masih selalu datang kepadanya. Bahkan

hampir setiap malam”

Pamot mengangguk.

“Dan ternyata itu sangat berbahaya bagimu. Seandainya ada orang yang

melihatnya, dan orang itu tidak menyukaimu, maka kau akan dapat dilaporkan

kepada Ki Demang” Lamat berhenti sejenak, lalu “bahkan mungkin orang-orang

yang berkerudung di wajahnya itu juga suruhan Ki Demang“

Pamot masih mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba suaranya tersentak “Kau

benar Lamat. Orang yang satu, yang bersembunyi tadi adalah orang yang

pernah aku kenal”

“Akupun pernah melihatnya. Orang dari Sapit. Tetapi siapakah yang

menyuruhnya. Itu yang aku tidak tahu”

“Kenapa ia tidak kau paksa untuk berbicara”

“Aku tidak mau mereka mengenalku” Pamot mengangguk-angguk pula.

“Ternyata banyak sekali orang yang merasa berkepentingan atasmu. Manguri,

orang-orang itu, dan kakek Sindangsari sendiri. Jangan kau sangka bahwa

kakek Sindangsari tidak melihat apa yang kau lakukan selama ini”

(Bersambung ke Jilid 4)

Iklan

One thought on “Matahari Esok Pagi (JIlid 1 – 3)

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s