D O R

D O R

(Putu Wijaya)

SEBUAH BANGKU. BEBERAPA ORANG TUA DUDUK-DUDUK DIBANGKU ITU BERJEMUR SEPERTI MENUNGGU GILIRANNYA UNTUK MATI. KEDEKAT ORANG–ORANG ITU, MUNCUL SESEORANG MEMEGANG BUNTALAN PANJANG. IA MEMPERHATIKAN ORANG-ORANG TUA ITU. ORANG-ORANG TUA ITU MENYISIHKAN SEDIKIT TEMPAT. ORANG ITU LALU DUDUK. IA MELETAKKAN DI PANGGKUANNYA BARANG YANG TERBALUT KORAN ITU. IA NAMPAK SAKIT-SAKITAN TAPI SEDANG BERSIAP UNTUK MELAKSANKAN TUGASNYA. KEMUDIAN IA MULAI BICARA KEPADA ORANG-ORANG TUA ITU, SEAKAN – AKAN ITU SUDAH SERING DILAKUKANNYA. ORANG –ORANG TUA ITU MULA-MULA ACUH TAK ACUH DAN DINGIN TETAPI LAMA-LAMA PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN. Baca lebih lanjut

KEMERDEKAAN

KEMERDEKAAN

(LEMBAH ITU DIKELILINGI BUKIT BATU YANG TERJAL, BULAN MENGGANTUNG PADA AWAN HITAM YANG BERARAK PELAN. DUA ORANG LELAKI YANG TUA DAN YANG MUDA BERADA DALAM KESIAPAN YANG PENUH MENUNGGU SESUATU. TETAPI SETELAH SEKIAN LAMA DITUNGGU SESUATU ITU TIDAK JUGA DATANG. BAHKAN MUNGKIN TIDAK AKAN DATANG SAMA SEKALI. YANG MUDA MENARIK NAFAS PANJANG, YANG TUA BERJALAN MONDAR MANDIR MELEPASKAN KEGELISAHAN) Baca lebih lanjut

Setan Dalam Bahaya

Setan Dalam Bahaya

Tauifik Al-Hakim

(RUANG KANTOR DENGAN PERABOT SEDERHANA. FAILASUF SEDANG DUDUK DI TENGAH-TENGAH TIMBUNAN BUKU DAN MAJALAH. MEMBACA DAN BERPIKIR DENGAN SIKAP TENANG WAKTU MALAM. TELEPON DI SAMPINGNYA TIBA-TIBA BERDERING)

FAILASUF  :  (MENGANGKAT GAGANG TELEPON) Hallo! Hallo juga!… Minta bertemu dengan saya?… sekarang?… hal penting?… di situ siapa?… apa katamu?… Setan?… Oh, sekarang bukan waktu bergurau. Waktu sudah larut malam begini kau malah mengajak orang bergurau? … Sudahlah. Tolong tutup saja… (MELETAKKAN GAGANG TELEPON) Kurang ajar dan kurang punya selera! (TERDENGAR PINTU KAMAR DIKETUK. PINTU KAMAR TERBUKA DAN SETAN MUNCUL DENGAN PAKAIAN BERWARNA MERAH) Baca lebih lanjut

PARA PENJUDI

PARA PENJUDI

Karya : N. Gogol

Terjemahan : J Sunarja

Adaptasi   : Rachman Sabur

TEATER   PAYUNG   HITAM

Tokoh-tokoh:

1.     Juan Pedro (Penjudi Ulung)

2.     Juki (Sopirnya)

3.     Nyoman Wiwi (Pelayan Hotel)

4.     Raam Hotahot (Penjudi)

5.     Madame Jolly (Pemilik / Manager Hotel)

6.     Tobing (Penjudi)

7.     Wan Abab (Orang Kaya)

8.     Wan Antum (Anaknya Orang Kaya)

9.     Nyonya Meymey (Penjudi)

10.   Paimin S.S.S.SE (Penghubung Bisnis) Baca lebih lanjut

RT NOL RW NOL

RT NOL RW NOL

(Iwan Simatupang)

Adegan I

(KOLONG SUATU JEMBATAN UKURAN SEDANG, DI SUATU KOTA BESAR. PEMANDANGAN BIASA DARI SUATU PEMUKIMAN KAUM GELANDANGAN. LEWAT SENJA. TIKAR-TIKAR ROBEK. PAPAN-PAPAN. PERABOT-PERABOT BEKAS RUSAK. KALENG-KALENG MENTEGA DAN SUSU KOSONG. LAMPU-LAMPU TOMPLOK.

DUA TUNGKU, BERAPI. DI ATASNYA KALENG MENTEGA, DENGAN ISI BERASAP. SI PINCANG MENUNGGUI JONGKOK TUNGKU YANG SATU, YANG SATU LAGI DITUNGGUI OLEH KAKEK. ANI DAN INA, DALAM KAIN TERLILIT TIDAK RAPIH, DAN KUTANG BERWARNA, ASYIK DANDAN DENGAN MASING-MASING DI TANGANNYA SEBUAH CERMIN RETAK. SEKALI-KALI KEDENGARAN SUARA GEMURUH DI ATAS JEMBATAN, TANDA KENDARAAN BERAT LEWAT. SUARA GEMURUH LAGI). Baca lebih lanjut

“ nyanyian TERSISA “

“ nyanyian   TERSISA “

(Karya : Mamat Mariamang)

SINOPSIS :

Sunyi yang menyelimuti terus meronta-ronta di dalam diri. Ada bara besar yang berusaha menghambur keluar membakar semua keraguan, akan sesuatu terjadi dalam hidup yang semestinya tidak perlu dikungkung dan di sembunyikan. Seperti gejolak yang terus berkecamuk dalam dirinya. Kamu mesti tahu, mesti dengar, tidak menutup mata dan telinga, terus bergerak dan terus bergerak seperti air yang meliuk-liuk dan katakan bukan dengan diam.

Bernyanyi dan teruslah bernyanyi walau dalam suara kesunyian, tak ada yang mendengar, tak ada yang mengubris. Terus dan teruslah hingga sisa-sisa suaramu, walau terdengar parau, serak. Jangan ada kata surut mesti…………………………………… Baca lebih lanjut