7 Senjata – Pedang Abadi (Seri 1)

New Picture (3)dd

SERIAL 7 SENJATA

PEDANG ABADI

(Zhang Seng Jian)

(Seri 1)

Karya : Khu Lung / Gu Long

Kota pualam putih di langit, Punya lima menara dan duabelas benteng, Di mana dewa berdiam di atas kepalaku, Memelihara rambut yang panjang dan hidupku bersamanya. ~ Li Bai ~

Bab 1: Losmen Angin Dan Awan

Senja. Di atas jalan berpelat batu itu, sembilan orang yang berpenampilan aneh muncul, semuanya memakai baju tunik dari kain rami, sepatu rami, dan anting-anting emas sebesar mangkuk di daun telinga kiri mereka. Semuanya berambut merah acak-acakan yang terurai di bahu mereka seperti bara api.

Di antara sembilan orang itu, ada yang bertubuh jangkung, pendek, tua, muda; masing-masing

dengan wajah yang berbeda, tapi semuanya sama-sama

menampilkan ekspresi wajah seperti mayat. Mereka berjalan tanpa

menggerakkan bahu ataupun menekuk lutut, persis seperti mayat

hidup. Perlahan mereka melangkah dalam bentuk barisan

menyusuri jalan yang panjang itu, membuat hening setiap

tempat yang mereka lewati. Bahkan anak-anak pun tiba-tiba

berhenti menangis karena ketakutan.

Di ujung jalan, empat buah lentera raksasa terpasang di puncak

sebuah tiang bendera setinggi sepuluh meter. Lentera merah yang

terang-benderang, tulisan yang hitam mengkilap! Tertulis di situ:

“Losmen Angin dan Awan”.

Sembilan manusia aneh berambut merah itu berjalan sampai di

Pintu losmen dan berhenti. Orang pertama lalu melepaskan

anting-anting emasnya dan mengayunkan tangannya. Duk!

Anting-anting besar itu menghantam dinding batu di samping pintu

gerbang bercat hitam. Percikan api tampak berlompatan ketika

anting-anting itu menancap di batu. Orang kedua lalu

mengambil segumpal rambut merah dari pundaknya dan

memotong rambut itu dengan tangan kirinya, seakan-akan sedang

memotong dengan sebilah pisau.

Kemudian orang kedua itu mengikatkan potongan rambut tadi pada

anting-anting yang menancap di dinding. Lalu kesembilan orang itu

meneruskan langkah mereka. Untaian rambut merah itu melambailambai

dalam hembusan angin seperti bara api, tapi kesembilan

orang tadi telah menghilang dalam kegelapan yang tiada batas.

Tepat pada saat itulah delapan ekor kuda yang kekar berlari

mendekat dari balik kegelapan. Bunyi derap kaki kuda terdengar

bergemuruh di atas jalan batu itu seperti hujan badai yang

menghantam daun jendela atau genderang yang dipukul bertalu-talu

di medan perang. Semua penunggangnya memakai baju hijau,

kain putih melilit di kepala mereka, sepatu yang berujung

runcing dan kain pembalut yang melilit di betis mereka. Setiap

orang dari mereka tampak gagah dan tangkas.

Ketika delapan ekor kuda itu melesat melewati “Losmen Angin

dan Awan”, kedelapan orang penunggangnya semuanya

mengayunkan tangan pada saat yang bersamaan.

Terlihat kilauan golok seperti petir dan terdengar bunyi

“DUKK!”. Tiba-tiba, sekarang sudah ada delapan buah golok baja

yang berkilauan tertancap di tiang bendera yang tebal itu. Gagang

golok masih bergetar, pita sutera merah di gagangnya masih terayun

kian ke mari. Tapi kedelapan ekor kuda itu sudah menghilang.

***

Kegelapan semakin pekat. Bunyi derap kaki kuda tiba-tiba

kembali bergema di jalan, agaknya gemuruhnya bahkan lebih

keras daripada yang ditimbulkan gerombolan yang baru lewat tadi.

Tapi ternyata hanya seekor kuda yang muncul. Seekor kuda yang

putih mulus tanpa cacat dari ujung kepala hingga ke ujung kaki,

sudah tiba di depan pintu. Bersamaan dengan suara ringkik

kuda, penunggangnya pun segera menegakkan badannya.

Sekarang kita bisa melihat dengan jelas bahwa penunggangnya

adalah seorang lelaki kekar tak berbaju dengan jenggot yang ikal.

Otot-otot di tubuhnya yang hitam tampak seolah-olah terbuat dari

baja. Orang itu menarik tali kekang dan melihat anting-anting emas

dan rambut merah di dekat pintu sertadelapan buah golok yang

menancap di atas tiang bendera. Sambil menyeringai, dia pun

melompatturun dari pelana dan tangan kanan-kirinya masing-masing

mencengkeram sebelah kaki kudanya.

Dengan mengeluarkan suara raungan yang mengguntur, orang

itu lalu mengangkat kudanya tinggi-tinggi di udara dan

meletakkannya di atas wuwungan pintu. Kembali terdengar suara

ringkikan kuda. Bulu surai kuda itu menari-nari di udara, tapi

keempat kakinya, tanpa bergerak sedikit pun, seperti sudah

menancap di wuwungan itu.

Si brewok pun tertawa terbahak-bahak dengan kepala menengadah

ke atas, kemudian dia melangkah pergi. Dalam sekejap mata dia

sudah menghilang, tapi kuda putih itu ditinggal sendirian,

berdiri di bawah awan gelap dan tiupan angin barat, menyebabkan

timbulnya suasana seram di udara.

***

Jalan yang panjang itu sunyi senyap, karena semua orang sudah

menutup pintu rumah mereka.

“Losmen Angin dan Awan” juga tidak berpenghuni. Bila pelanggan

losmen melihat anting-anting emas dan delapan bilah golok itu,

diam-diam mereka tentu akan menyelinap keluar lewat pintu

belakang. Tapi kuda putih itu masih berdiri tanpa bergerak,

seperti patung batu, menantang datangnya hembusan angin

barat.

Tiba-tiba seorang pelajar berwajah tirus, berusia setengah baya,

berbaju biru dan berkaus kaki putih, pelan-pelan berjalan

mendekat dengan gaya yang sangat santai, tapi sepasang

matanya tampak berkilat-kilat dengan tajam. Ia berjalan pelan-pelan

ke arah losmen itu dengan bergendong tangan, mengangkat

dagunya untuk melihat dan menarik napas, “Kuda yang hebat!

Benar-benar kuda yang hebat, tapi pemiliknya tidak punya hati

dan menyalahimu.”

Tiba-tiba ia mengibaskan sebelah tangannya dari balik

punggungnya, lengan bajunya yang panjang pun berkibar-kibar,

membawa gelombang angin yang kuat. Kuda putih itu ketakutan dan

meringkik lagi, seolah dia hendak melompat turun dari wuwungan

pintu. Pelajar setengah baya itu menyangga perut kuda dengan

kedua tangannya dan menurunkan hewan itu ke atas tanah dengan

perlahan. Lalu dia menepuk-nepuk pantatnya dan berkata,

“Pulanglah dan beritahu majikanmu untuk datang ke mari.

Katakan saja ada seorang teman baik yang menunggunya.”

Seolah-olah memahami maksud laki-laki itu, kuda putih itu segera

berlari pergi dari tempat itu. Si pelajar setengah baya lalu

menurunkan anting-anting emas di pinggir pintu dan kemudian

melangkah masuk ke dalam losmen dan menepuk tiang bendera.

Delapan buah golok itu semuanya jatuh pada saat yang bersamaan.

Si pelajar mengibaskan lengan bajunya lagi dan mengepit kedelapan

golok itu dalam lengan bajunya. Lalu ia bertanya dengan nada

serius, “Di mana benderanya?”

Sesosok bayangan yang kecil dan kurus tiba-tiba melesat keluar dari

dalam losmen, memanjat tiang bendera seperti seekor kera, dan

dalam beberapa detik sudah tiba di puncak.

Sehelai bendera besar tiba-tiba bergulung keluar dari ujung tiang.

Di atas kain bendera itu terpampang gambar seekor naga hitam

yang perkasa, tampak seolah-olah akan melesat melewati awan

dan terbang pergi setiap saat!

2.

Malam.

Tidak ada bintang ataupun rembulan, dengan awan yang gelap dan

angin yang kencang. Tapi di taman itu lampu-lampu tampak terangbenderang

dan di atas meja pun sudah tersedia arak.

Si pelajar setengah baya tampak bergumam sendirian sambil

minum arak. Tiba-tiba ia mengangkat cawannya ke arah sebatang

pohon beringin besar di luar taman dan tersenyum, “Kudengar

kemasyuran ketua Miao sudah tersebar melintasi sungai dan

samudera. Karena kau sudah berada di sini, mengapa tidak turun

dan ikut minum bersamaku?”

Dari balik daun-daun pohon beringin yang lebat itu, terdengar

suara tawa yang aneh seperti bunyi kukuk-beluk (burung hantu).

Sesosok bayangan melesat seperti anak panah dan mendarat di

atas tanah dengan ringan seperti sepotong kapas yang hanya

berbobot empat ons.

Hidung orang ini seperti hidung anjing, mulutnya lebar,

kepalanya berambut merah, dan memakai tiga buah anting-anting

emas di telinganya. Walau dia telah berada di atas tanah,

anting-antingnyamasih bergemerincing. Dialah ketua dari

Perkumpulan Rambut Merah, Miao Shao-tian.

Sepasang matanya, seperti bara api yang berkobar-kobar,

menatap si pelajar setengah baya, dan berkata dengan suara

berat, “Apakah tuan adalah Tuan Gong-suen dari Perkumpulan Naga

Hijau?”

Si pelajar bangkit berdiri dan membungkuk sambil bersoja dan

menjawab, “Ya, itulah aku, Gong-suen Jing.”

Tawa Miao Shao-tian yang seperti kukuk-beluk kembali terdengar

menggelegar, “Benar-benar pantas menjadi tokoh penting dalam

Perkumpulan Naga Hijau, mata yang amat tajam.”

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda yang bergemuruh

seperti bunyi hujan lebat, datang mendekat ke arah mereka.

Sepasang alis Miao Shao-tian segera dikerutkan dan dia pun

berkata, “Zhang kecil juga sudah tiba. Sama sekali tidak lambat.”

Bunyi derap kaki kuda sekonyong-konyong berhenti; terdengar suara

tawa yang jernih, “Hari penting bagi Naga Hijau, di dunia ini siapa

yang berani datang terlambat?”

Sementara suara tawa yang jernih itu masih berkumandang di

udara, tahu-tahu seseorang sudah melompati tembok masuk ke

dalam. Orang itu berbaju ringkas, sengaja dibiarkan terbuka di

bagian dada untuk memperlihatkan dada berototnya yang bahkan

lebih putih daripada bajunya.

Miao Shao-tian mengacungkan jempolnya dan mendengus,

“Zhang San kecil si ‘Kuda Putih’ yang hebat. Sudah bertahuntahun

tidak bertemu, tapi tampaknya kau malah semakin muda dan

tampan? Jika Miao tua ini punya seorang puteri, aku tentu akan

mengambilmu sebagai menantu.”

“Walau kau punya seorang puteri, tak seorang pun yang akan

berani meminangnya,” jawab Kuda Putih Zhang San dengan

ringan.

“Kenapa?” Miao Shao-tian menatapnya.

“Dilihat dari keangkeranmu, puterimu tentu tidak akan jauh beda.”

Miao Shao-tian menatapnya, menatapnya sekian lama sampai

akhirnya ia menjawab, “Kita datang ke mari hari ini untuk

berdagang, dan jangan coba-coba untuk memulai perkelahian.”

“Bagaimana dengan minum arak?” tanya Kuda Putih Zhang San.

“Kalau itu, tak usah berlama-lama. Ayo, mari kita bersulang tiga

cawan untuk Tuan Gong-suen dulu.”

Gong-suen Jing tertawa, “Kekuatan minum arakku cukup

terbatas, bagaimana kalau aku dulu yang bersulang untuk kalian

sebanyak tiga cawan?”

Miao Shao-tian mengerutkan alisnya, “Tiga cawan?”

Terdengar suara tawa seseorang dari wuwungan atap bangunan

sebelah, “Rambut Merah dari Sungai Timur dan Kuda Putih dari

Sungai Barat sudah tiba, betapa lancangnya diriku karena datang

terlambat.”

Miao Shao-tian bertanya, “Zhao Yi-dao dari Tai-xing?”

Tapi ia tidak perlu menunggu jawabannya. Ia sudah melihat golok

yang berkilauan itu, golok yang tajam! Tidak ada sarungnya.

Golok yang berkilauan itu diselipkan langsung di ikat pinggangnya

yang berwarna merah. Baju hijau, ikat kepala putih, dan sabuk

yang lebih merah daripada rambut Miao Shao-tian, amat

sesuai dengan pita yang terlilit di goloknya.

Sorot mata Gong-suen Jing tajam seperti golok, menusuk langsung

ke wajah orang itu, “Perkumpulan Naga Hijau menyebarkan

duabelas surat undangan, tapi hanya kalian bertiga yang datang

malam ini. Apakah kesembilan orang lainnya tidak akan datang?”

“Bagus, pertanyaan yang amat langsung ke tujuan,” kata Zhao Yidao.

“Kalian bertiga datang dari tempat yang jauhnya ribuan mil,

tentu kalian bukan datang untuk mendengarkan omong kosong,”

Gong-suen Jing berkata.

“Tentu saja tidak.”

Miao Shao-tian menyeringai seram, “Dari sisa sembilan orang

tamu itu, setidaknya ada tiga orang yang tak akan datang.”

Zhao Yi-dao meralat, “Enam orang.”

“Perkumpulan Daun Bambu, Sekte Cincin Baja, dan keluarga Li

dari Tai-yuan adalah hasil perbuatanku,” kata Miao Shao-tian.

Zhao Yi-dao menambahkan, “Ketiga teman kita dari Perserikatan

Duabelas Ayam, dari Perairan Yangtze, dan Tinju keluarga Yen dari

Chen-zhou, tiba-tiba merasa sakit kepala ketika mereka berada

dalam perjalanan ke sini, maka…..”

“Maka… apa?”

“Sekarang, kepala mereka tidak sakit lagi,” Zhao Yi-dao menjawab.

“Siapa yang mengobati mereka?”

“Aku.”

“Bagaimana caranya?”

Zhao Yi-dao menjawab, “Aku menebas putus kepala mereka.”

Lalu ia menambahkan dengan lambat, “Siapa pun yang kepalanya

ditebas putus, mereka tidak akan pernah sakit kepala lagi.”

Miao Shao-tian tertawa, “Cara yang bagus, sangat mujarab.”

Kuda Putih Zhang San sekonyong-konyong berkata, “Aku

khawatir dua tetua dari Perkampungan Seribu Bambu dan Kuil Ikan

Terbang juga tidak akan datang.”

“Oh?”

“Mereka sedang tidur, dan tidurnya amat lelap.”

“Di mana mereka tidur?”

“Di dasar Danau Dong-ting.”

Miao Shao-tian tertawa, “Cerdik sekali. Tempat itu bukan saja

sejuk, tapi juga tak akan pernah diganggu orang.”

Kuda Putih Zhang San menjawab dengan tenang, “Aku selalu sangat

memperhatikan tetua-tetua dari Wulin.”

Zhao Yi-dao berkata, “Orang-orang yang seharusnya berada di sini,

seharusnya juga sudah tiba, tapi di mana orang-orang Perkumpulan

Naga Hijau?”

“Bagus, pertanyaan yang langsung ke tujuan,” jawab Gong-suen

Jing.

“Tuan mengundang kami ke sini bukan untuk mendengarkan omong

kosong belaka, kurasa.”

Gong-Suen Jing mengangguk, “Memang bukan.”

Zhao Yi-dao bertanya, “Bersediakah kau dengar dulu berapa

hargaku?”

“Jangan sekarang.”

“Apa lagi yang kita tunggu?” tanya Zhao Yi-dao.

“Barang itu tidak kami dapatkan dengan mudah; semakin banyak

orang yang ikut dalam pelelangan ini, akan lebih baik pula

harganya.”

Miao Shao-tian menatap dengan tajam, “Kau masih menunggu

seseorang?”

“Jangan lupa, aku mengundang sembilan orang tamu lagi ke sini,

tapi kalian baru menghabisi delapan orang di antaranya.”

“Siapa yang masih tersisa?”

“Orang yang tidak sakit kepala ataupun tertidur.”

“Sejujurnya, barang itu tentu akan jatuh ke tangan kami

Perkumpulan Rambut Merah, jadi tidak usah perdulikan apakah ada

lagi orang yang akan datang,” seringai Miao Shao-tian.

Kuda Putih Zhang San mengejek dengan dingin, “Perkumpulan

Naga Hijau selalu adil dalam berdagang. Asal tawaran hargamu

adalah yang tertinggi, barang itu tentu akan jatuh ke tangan

Perkumpulan Rambut Merah.”

Miao Shao-tian berkata dengan kasar, “Kalian ingin bersaing

denganku?”

“Untuk apa lagi kami datang?”

Miao Shao-tian segera bangkit dan menatapnya dengan tajam.

Anting-anting emas di telinganyamasih bergemerincing.

Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dan ringkik kuda. Sebuah

kereta yang indah, ditarik oleh enam ekor kuda, berhenti di luar.

Empat orang laki-laki kekar berdada bidang yang berpegangan pada

kereta itu, lalu melompat turun, dan membungkuk untuk

membukakan pintu.

Setelah sekian lama, seorang laki-laki bermuka pucat, tidak

berjenggot dan amat gemuk, melangkah keluar dari kereta dengan

terengah-engah. Belum ada tiga langkah, dia sudah kelelahan dan

megap-megap mencari napas seperti seekor kerbau yang habis

membajak sawah.

Di belakangnya, seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian hitam,

mengikutinya seperti bayangan. Wajahnya berwarna coklat dan

kedua matanya cekung, persis seperti roh halus yang sedang

sakit. Tapi langkah kakinya amat ringan dan dua buah benda

yang berkilauan tampak tergantung di pinggangnya. Bila dilihat

lebih dekat, benda-benda itu adalah sepasang pedang yang

berbentuk unik.

Senjata semacam itu bukan saja sulit dilatih, tapi juga sukar

untuk dibuat. Orang-orang yang menggunakan senjata seperti ini

amatlah langka, tapi siapa pun yang memakai senjata ini, sembilan

dari sepuluh orang tentulah jago yang tangguh.

Miao Shao-tian, Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San, tiga pasang

mata, semuanya segera tertuju pada sepasang pedang yang unik

itu.

Kuda Putih Zhang San mengerutkan alis sambil bertanya dengan

pelan, “Siapa dia?”

Gong-suen Jing menjawab, “Tuan Muda Zhu dari Gedung Sejuta

Emas di Suzhou.”

“Dan pengawalnya?”

Gong-suen Jing tersenyum, “Aku khawatir dia cuma seorang

pengawal.”

Kuda Putih Zhang San terdiam, tapi tiba-tiba dia berpaling kepada

Zhao Yi-dao, “Bukankah dia datang dari arahmu?”

“Kurasa begitu,” jawab Zhao Yi-dao.

“Kenapa dia tidak sakit kepala?”

“Walaupun dia sakit kepala, aku tidak bisa mengobatinya.”

“Kenapa?”

“Kepalanya terlalu besar,” kata Zhao Yi-dao dengan nada ringan.

***

Tuan Muda Zhu sudah duduk, tapi tak henti-hentinya dia menghapus

peluhnya dan terengah-engah.

Dia cuma berjalan paling banyak duapuluh atau tigapuluh langkah,

tapi kelihatannya seperti baru saja mendaki tujuh atau delapan buah

gunung.

Laki-laki baju hitam itu tetap menempel di belakangnya seperti

bayangan, tidak pernah lebih dari satu inci pun dari sisinya,

sepasang tangannya yang kurus seperti cakar burung tak pernah

meninggalkan senjata unik yang tergantung di pinggangnya.

Matanya yang cekung itu seperti mengejek, seolah-olah

menertawakan siapa pun yang berdiri di depannya, seakan-akan

bertanya mengapa mereka membuang-buang waktu mereka datang

ke sini.

Lampu lentera Losmen Angin Dan Awan bergoyang-goyang tertiup

angin; persis seperti anting-anting emas Miao Shao-tian yang selalu

bergemerincing itu.

Kuda Putih Zhang San merasa kedinginan, dan pelan-pelan menarik

bajunya menutupi dadanya yang telanjang, sehingga hanya sedikit

bagian dadanya yang masih belum tertutupi.

Zhao Yi-dao seperti sedang termenung menatap cawan arak di

atas meja, seolah-olah sedang mengambil keputusan mengenai

suatu masalah yang rumit.

Tidak seorang pun yang bicara karena hawa permusuhan terasa

tebal di antara orang-orang yang hadir.

Gong-suen Jing jelas sedang menikmati hawa permusuhan itu.

Pelan-pelan ia menarik napas dan tersenyum, “Kalian berempat

tidak kenal satu sama lain, tapi tentu pernah mendengar nama

masing-masing. Karena itu, aku tidak perlu memperkenalkan kalian

lagi.”

“Memang tidak,” kata Miao Shao-tian.

“Kami datang ke mari bukan untuk mencari teman,” tambah Kuda

Putih Zhang San.

“Walaupun seandainya kami berteman, untuk benda itu kami tidak

akan berteman lagi,” Miao Shao-tian memutar bola matanya ke

samping untuk meliriknya.

Kuda Putih Zhang San mengejek, “Ucapan Ketua Miao memang

selalu masuk di akal.”

Miao Shao-tian balas mencemooh, “Sekarang semua orang sudah

ada di sini, di mana barangnya?”

“Tentu saja barangnya ada, tapi……” kata Gong-suen Jing.

“Tapi…. apa?”

“Perkumpulan Naga Hijau selalu mengikuti aturan ketika sedang

berdagang. Kami selalu bersikap adil, baik kepada pelanggan yang

tua maupun muda, dan pertukaran uang hanya berlangsung di

tempat.”

“Baik!” Miao Shao-Tian setuju.

Dia lalu bertepuk tangan, dan sembilan orang laki-laki aneh berbaju

tunik tiba-tiba muncul dari balik kegelapan. Setiap orang memegang

sebuah tas dari kain tunik, jelas tidak ringan bobotnya.

Pada saat itulah kembali terdengar bunyi langkah kaki yang berat di

pintu. Laki-laki berjenggot ikal itu pun datang membawa sebuah peti

besi berukuran besar di atas kepalanya, sambil melangkah masuk

dengan perlahan-lahan. Otot-ototnya yang hitam seperti besi

tampak menonjol keluar. Setiap kali melangkah, kakinya selalu

meninggalkan jejak kaki yang dalam di permukaan tanah.

“Anting-anting emas mengelilingi delapan tembok, kuda putih

meringkik dalam hembusan angin, sekarang aku sudah melihat,

aku lihat Sembilan Pendekar Rambut Merah dan Raksasa Besi pun

telah datang,” Gong-suen Jing tersenyum.

“Jangan lupakan pula Delapan Golok Pemusnah,” tambah Kuda Putih

Zhang San.

Zhao Yi-dao akhirnya mengangkat kepalanya dan tertawa,

“Rambut Merah dari Sungai Timur dan Kuda Putih dari Sungai

Barat, keduanya memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar.

Bagaimana mungkin Golok-golok Kilat dari Tai-xing bisa bersaing

untuk menjadi yang terdepan? Untuk barang ini, kami bersaudara

akan mengundurkan diri dari persaingan.”

Miao Shao-tian tertawa terbahak-bahak, “Bagus, Ketua Zhao

memang berakal sehat.”

Tawanya tiba-tiba berhenti, sorot matanya yang seperti api

terpaku pada Tuan Muda Zhu, “Bagaimana dengan tuan muda dari

Gedung Sejuta Emas?”

Napas Tuan Muda Zhu yang berat itu akhirnya berhenti dan ia

lalu menatap tangannya seperti seorang pemuda yang sedang

memandang kekasih pertamanya.

Tapi ia tetap menjawab pertanyaan Miao Shao-tian dengan

pertanyaan pula, “Kau menanyakan tawaranku?”

“Hmm!”

“Tidak ada, aku biasanya terlalu malas untuk berpikir.”

Wajah Miao Shao-tian sekarang memperlihatkan kemarahannya,

“Tidak ada tawaran? Tidak ada emas?”

“Ada.”

“Berapa banyak yang kau bawa?”

“Kau ingin melihatnya?”

“Di sini, mereka amat menekankan pada pertukaran uang tunai di

tempat.”

“Kau sudah melihatnya.”

“Di mana?”

“Kata-kataku adalah emas.”

Wajah Miao Shao-tian menjadi serius, “Jadi berapa banyak pun

yang kau katakan, jumlahnya pasti tersedia?”

“Benar.”

“Maksudmu, jika aku menawar seratus ribu, kau akan menawar

seratus ribu satu?”

“Kau memang orang yang bijak.”

Tatapan mata Miao Shao-tian tiba-tiba bergeser ke arah sepasang

pedang berbentuk unik itu.

Sembilan manusia aneh berambut merah dan berbaju tunik

diam-diam telah bergerak mengepung Tuan Muda Zhu. Tapi

Tuan Muda Zhu tetap menatap sepasang tangannya. Seolah,

selain keduatangannya itu, tidak ada lagi yang berharga untuk

dipandang.

Dengan bunyi “tring!”, seperti dua buah cawan emas yang

berbenturan, tangan Miao Shao-tian telah mencakar ke arah

sepasang pedang yang unik itu. Gerak-geriknya tangkas dan akurat.

Dia tidak pernah mengira kalau sepasang tangan lain ternyata

bergerak lebih cepat daripadasepasang tangannya yang gemuk dan

terperlihara dengan baik.

Tangannya belum sempat menjangkau sepasang pedang unik itu,

tapi sepasang tangan lain itu tahu-tahu sudah merenggut antinganting

emas dari telinganya.

Anting-anting emas itu berbenturan satu sama lain, dan terdengar

bunyi “tring” lagi.

Miao Shao-tian berjumpalitan tinggi-tinggi di udara dan mundur

sejauh enam meter.

Laki-laki baju hitam itu tetap menempel di belakang Tuan

Muda Zhu seperti bayangan, sama sekali tidak bergerak.

Tuan Muda Zhu masih menatap sepasang tangannya, cuma kali

ini, anehnya, tangan itu sudah menggenggam sepasang antinganting

yang terbuat dari emas.

***

Ekspresi wajah Kuda Putih Zhang San pun berubah.

Zhao Yi-dao menatap cawan arak di hadapannya dan tiba-tiba

menghela napas, “Sekarang kalian sudah paham apa maksudku?”

“Artinya?”

“Walaupun dia punya sakit kepala, aku tidak bisa mengobatinya.”

Kuda Putih Zhang San tak kuasa untuk tidak menghela napas

juga, “Ya, kepala ini memang terlalu besar.”

***

Gong-suen Jing tersenyum tipis, lalu berkata dengan perlahanlahan,

“Karena semua orang sudah membawa uangnya, kita akan

pergi melihat barang itu.”

“Benar, sebaiknya kita lihat dulu barang itu. Mungkin saja aku

nanti tidak jadi mengajukan penawaran,” kata Tuan Muda Zhu

dengan santai.

Dia meletakkan anting-anting emas di tangannya ke atas meja,

mengeluarkan sehelai kain sutera seputih salju untuk menghapus

keringatnya dengan hati-hati, dan akhirnya bangkit berdiri, “Silakan,

silakan tunjukkan jalannya.”

***

“Silakan, silakan ikuti aku,” kata Gong-suen Jing.

Dia yang lebih dulu berjalan memasuki losmen itu, diikuti dari

belakang oleh Tuan Muda Zhu dengan perlahan-lahan, sepertinya

dia sudah akan terengah-engah lagi.

Laki-laki baju hitam tetap mengikuti, tidak lebih dari selangkah

jauhnya dari Tuan Muda Zhu. Sekarang Kuda Putih Zhang San

pun paham kenapa mata orang ini menyimpan sorot mata yang

mencemooh.

Dia bukan memandang rendah orang-orang di sekitarnya, tapi

malahan memandang remeh dirinya sendiri.

Karena hanya dia yang paham bahwa orang yang dia lindungi

sebenarnya tidak membutuhkan perlindungannya sama sekali.

3.

Miao Shao-tian berjalan di urutan terakhir, sambil mencengkeram

sepasang anting emasnya erat-erat, sehingga urat-urat biru di

punggung tangannya menonjol keluar. Dia seharusnya tidak ikut,

tapi dia harus ikut. Benda itu seperti memiliki daya tarik yang

aneh, menarik dirinya ke arahnya selangkah demi

selangkah.

Sampai saat terakhir pun dia tidak akan melepaskan kesempatan itu.

Tangga batu itu mula-mula menuju ke atas, tapi sekarang tibatiba

menurun ke bawah, memperlihatkan sebuah lorong yang

gelap.

Di pintu lorong, berdiri dua orang manusia yang mirip patung. Setiap

sepuluh langkah setelah itu juga berdiri dua orang laki-laki, seperti

dua orang pertama. Wajah mereka kelam seperti dinding batu

hijau.

Di dinding batu itu terukir seekor naga hijau perkasa.

Menurut kabar angin, Perkumpulan Naga Hijau mempunyai tiga

ratus enampuluh lima cabang. Tempat ini tentu salah satunya.

Di ujung lorong, ada sepasang jeruji besi yang amat tebal.

Gong-suen Jing mengeluarkan serenteng besar kunci dari sabuknya

dan menggunakan tiga buah dari kunci-kunci itu untuk membuka

tiga buah gembok. Baru kemudian dua orang penjaga di balik jeruji

itu mendorong pintu hingga terbuka.

Tapi ini bukanlah pintu terakhir.

Gong-suen Jing tersenyum lembut, “Aku tahu banyak orang

yang mampu untuk datang ke mari; keamanan di tempat ini

bukanlah yang paling sulit ditembus. Tetapi bergerak maju

mulai dari sini adalah tugas yang berat.”

“Mengapa?” tanya Tuan Muda Zhu.

“Di antara titik ini dan pintu batu di sana itu, total ada tigapuluh

macam perangkap tersembunyi. Bisakujamin bahwa cuma tujuh

orang di dunia ini yang bisa melewati semuanya.”

Tuan Muda Zhu menghela napas, “Untunglah, tentu aku bukan salah

satu dari ketujuh orang itu.”

“Mengapa kau tidak mencoba?” kata Gong-suen Jing dengan sikap

yang makin ramah.

“Mungkin aku akan mencobanya lain kali, tapi tidak sekarang.”

“Mengapa tidak?”

“Karena aku masih amat senang dengan hidupku sekarang ini.”

***

Jarak dari jeruji besi ke pintu batu itu tidak terlalu jauh, tapi setelah

mendengar kata-kata Gong-suen Jing, pintu batu itu seperti menjadi

sepuluh kali lebih jauh. Pintu batu itu tidak berat.

Kembali Gong-suen Jing menggunakan tiga buah kunci untuk

membuka gembok-gembok di pintu itu. Di balik pintu setebal dua

kaki itu terdapat sebuah sel batu selebar sembilan kaki. Ruangan itu

terasa menyeramkan dan dingin, seolah-olah sedang berada di

tengah kuburan kaisar jaman kuno. Di mana seharusnya peti mati

berada, malah ada sebuah peti besi yang amat besar. Untuk

membuka peti ini, dibutuhkan paling sedikit tiga buah kunci lagi.

Tapi ketiga kunci ini bukanlah yang terakhir, karena di dalam peti itu

ada lagi sebuah peti besi yang lebih kecil.

Tuan Muda Zhu kembali menghela napas, “Menilik keamanan

yang amat ketat ini, seharusnya kita mengajukan penawaran yang

lebih tinggi.”

“Tuan Muda Zhu memang orang yang bijak,” seringai Gong-suen

Jing.

Ia mengeluarkan peti kecil itu dan membukanya.

Senyumnya yang ramah tiba-tiba lenyap, ekspresi wajahnya

seperti orang yang disumpal mulutnya

dengan sebutir buah kesemek busuk.

***

Peti besi kecil itu kosong melompong, hanya ada sehelai kertas di

dalamnya. Di atas kertas tertulis, “Terima kasih, kau memang orang

yang baik.”

4.

Kamar batu itu seram dan dingin, tapi Gong-suen Jing malah

mengucurkan keringat. Butir-butir keringat sebesar kacang kedelai

pun mengucur di wajahnya yang pucat.

Tuan Muda Zhu memandangnya, sorot matanya lembut seperti

ketika dia sedang menatap tangannyasendiri, dan katanya dengan

lembut, “Kau tentu tahu.”

“Tahu…. tahu apa?”

“Tahu siapa yang berterima-kasih padamu.”

Gong-suen Jing mengepalkan tinjunya dan tiba-tiba membalikkan

badan dan berlari keluar. Tuan Muda Zhu menarik napas dan

bergumam, “Agaknya dia benar-benar orang yang baik.

Sayangnya, mereka bilang orang yang baik tidak akan berumur

panjang……”

***

“Misalkan benar-benar cuma tujuh orang yang bisa melewati

ketigapuluh perangkap tadi, siapa saja ketujuh orang itu?”

“Ada satu orang yang jelas tidak akan menemui hambatan

sama sekali. Tak perduli bagaimanapun caramu menentukan

ketujuh orang itu, dia tetap harus menjadi salah satu dari ketujuh

orang itu.”

“Siapa dia?”

“Bai Yu-jing!”

Bab 2: Bai Yu-Jing

Bai Yu-jing tidak berada di khayangan, tapi di atas punggung kuda.

[Catatan: Bai Yu-jing berarti Kota Pualam Putih, yang muncul

pada bait syair terkenal di atas, digunakan oleh Gu Long sebagai

nama tokoh utama dalam cerita ini.]

Pelananya sudah usang, sepatu kulit dan sarung pedangnya pun

sama tuanya, tapi bajunya masih baru.

Sarung pedang itu terayun-ayun di pelananya; angin musim semi

berhembus lembut di wajahnya. Ia merasa amat senang, amat

gembira.

Pelana tua terasa lebih empuk untuk diduduki; sepatu kulit usang

terasa lebih nyaman di kaki; sarung bekas tidak akan merusak

ujung pedangnya yang tajam; pakaian baru selalu membuatnya

merasawaspada dan tenang, penuh tenaga.

Yang paling membuatnya gembira, tapinya, bukanlah benda-benda

itu, tapi sepasang mata. Di dalam kereta besar di depannya,

sepasang mata yang indah menawan sedang mengintip ke

arahnya dengan sembunyi-sembunyi. Ini bukanlah pertama

kalinya ia melihat mata itu. Ia ingat bahwa saat pertama kali ia

melihatnya adalah ketika berada di sebuah losmen di sebuah kota

kecil.

Dia baru saja memasuki losmen itu, gadis itu kebetulan sedang

melangkah keluar. Gadis itu pun bertubrukan dengannya.

Senyum minta maafnya tampak malu-malu, wajahnya merah

padam seperti matahari yang dibasahi oleh air hujan.

Melihat tingkahnya yang malu-malu, dia pun berharap gadis itu

akan bertubrukan lagi dengannya, karena walaupun perempuan

itu seorang wanita yang amat menarik, dia sendiri bukanlah

seorang lelaki sejati yang sempurna.

Kali kedua ia melihatnya di sebuah rumah makan. Ia baru saja

hendak meneguk cawan minumannyayang kedua ketika gadis itu

masuk, dan memberikannya senyuman yang sama, sambil

menundukkan kepalanya dengan malu-malu kucing.

Senyuman gadis itu tetap malu-malu. Kali ini Bai Yu-jing juga

tersenyum. Ini dilakukannya karena dia tahu, seandainya gadis ini

berjumpa dengan orang lain, dia tentu tak akan tersenyum seperti

itu. Dia juga tahu bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang tidak

menarik, sesuatu yang amat dia yakini penuh. Itulah sebabnya ia

pergi lebih dulu, tapi tidak tergesa-gesa melanjutkan perjalanannya.

Seperti yang diperkirakan, kereta gadis itu sekarang telah

menyusulnya – apakah ini terjadi dengan sengaja? Atau murni

kebetulan saja? Dia memandang dirinya sendiri sebagai seorang

petualang, terlahir untuk mengembara, dan telah bertemu segala

jenis manusia di sepanjang perjalanannya.

Ada orang-orang liar berjenggot merah yang berkeliaran di luar

dinding peradaban, dan para ksatriaberbaju besi yang memacu

kudanya melintasi gurun pasir besar; ada pula penjahat-penjahat

kejam yang membunuh orang tanpa berkedip matanya, serta orangorang

muda yang idealis.

Tapi hidupnya selalu segar dan berwarna.

Ia tidak pernah bisa meramal – peristiwa apa yang akan terjadi

pada tahap berikutnya dari perjalanannya? Orang-orang macam apa

pula yang akan ia temui?

Angin berhembus semakin dingin.

Hujan musim semi yang membawa kabut tiba-tiba turun dari awan,

membasahi baju barunya. Kereta di depannya tiba-tiba berhenti. Ia

lalu mendekatinya dan melihat bahwa tirainya telah tersingkap,

dan mata yang memikat itu sedang menatapnya dengan tajam.

Sorot mata yang memikat, senyum malu-malu, bentuk wajah yang

seperti biji kuaci, tanpa sentuhan alat rias, tetapi mengenakan baju

berwarna cerah seperti matahari terbenam di balik awan.

Gadis itu menunjuk pada kakinya yang indah, lalu pada baju Bai Yujing

yang basah. Tangannya tampak halus dan jari-jarinya lentik

seperti daun bawang di musim semi. Bai Yu-jing menunjuk dirinya

sendiri, kemudian menunjuk bagian dalam kereta.

Gadis itu mengangguk, dan dengan senyum memikat, membukakan

pintu. Bagian dalam kereta itu tampak nyaman dan kering, alas

tempat duduk yang terbuat dari sutera tampak halus seperti kulit

gadis itu. Ia turun dari kuda dan melangkah masuk ke dalam kereta.

Hujan masih turun bersama kabut; hujan ini turun pada saat yang

tepat.

Di musim semi, agaknya alam sering sekali memanjakan

manusia dengan mengatur perjumpaan-perjumpaan tak disengaja,

membuat orang-orang yang menawan hati bertemu di tempattempat

tak terduga.

Tidak ada kecanggungan, juga tiada kata-kata yang tidak perlu.

Seolah-olah Bai Yu-jing sudah mengenalnya sejak dia lahir.

Seakan-akan di sepanjang hidupnya dia sudah terbiasa duduk di

dalam kereta ini.

Ini perjalanan yang sunyi, penuh kepedihan bagi orang-orang yang

melakukannya – tapi siapa yang bisa mengatakan bahwa mereka

seharusnya tidak bertemu secara kebetulan?

Ketika dia bermaksud hendak mengusap wajahnya yang basah

dengan lengan bajunya, gadis itu memberikan sehelai saputangan

sutera merah yang lembut. Dia menatap gadis itu, tapi si nona

menundukkan kepalanya dan bermain-main dengan ujung

bajunya.

“Terima kasih kembali.”

“Margaku Bai, namaku Bai Yu-jing.”

Si nona tersenyum menawan dan berkata, “Kota pualam putih

di langit? Punya lima menara dan duabelas benteng, di mana

seorang dewa berdiam di atas kepalaku, memelihara rambut

yang panjang dan hidupku bersamanya.”

Bai Yu-jing pun tersenyum. “Kau juga menyukai Li Bai?”

Si nona memegang ujung bajunya dengan jari-jarinya yang lentik,

dan mulai bersyair dengan suarayang sungguh-sungguh, “Saat

melakukan perjalanan di Laut Timur, aku melihat keajaiban

gunung Lao. Di atas gunung aku bertemu dengan Tuan An

yang legendaris, yang memberiku buah plum sebesar melon,

sehingga aku berangkat tua tanpa teringat pada kampung

halamanku. Rona muka seorang pemuda telah lenyap dari

wajahku, dan rambutku pun memutih yang menandakan akhir

kehidupanku. Aku dahaga akan obat awet muda, dan melangkah ke

atas kereta awan. Aku ingin ikuttuanku ke negeri khayangan di

seberang sana, dan menghabiskan waktuku dengan

membersihkan bunga-bunga yang berguguran, ditemani oleh para

bidadari.”

Di bagian yang menyebutkan ‘gunung Lao’, suaranya agak berhenti

sejenak.

Bai Yu-jing memberanikan diri, “Nona Lao?”

Sambil menundukkan kepala semakin rendah, si nona menjawab

dengan lembut, “Yuan Zi-xia.”

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda, tiga ekor kuda lalu

melintas, dan tiga pasang mata yang tajam menyapu ke bagian

dalam kereta. Saat kuda-kuda itu lewat dengan kecepatan tinggi,

penunggang kuda yang paling belakang mendadak melompat dari

pelananya, melayang ke belakang sejauh dua zhang dan mendarat

di atas pelana kuda Bai Yu-jing, dan dengan ujung kakinya

menggaet sarung pedang yang tergantung di pelana.

Ketiga ekor kuda tadi kembali berbalik ke arah kereta. Sambil

memutar tubuhnya, penunggang kuda tadi lalu berpindah

dengan cekatan ke atas kudanya sendiri. Dalam sekejap mata

ketiga ekor kuda itu sudah menghilang dalam kabut yang

samar-samar, tidak terlihat lagi.

Mata indah Yuan Zi-xia terbelalak dan ia pun berseru, “Mereka

mencuri pedangmu!”

Bai Yu-jing menyeringai tipis.

Yuan Zi-xia berkata, “Kau melihat mereka mengambil barangmu,

dan kau tidak mau berbuat apa-apa?”

Bai Yu-jing tetap menyeringai.

Sambil menggigit bibirnya, Yuan Zi-xia berkata, “Menurut cerita, ada

orang-orang di dunia persilatan yang memandang pedang mereka

sebagai nyawa mereka sendiri.”

“Aku bukan orang seperti itu,” kata Bai Yu-jing.

Yuan Zi-xia menghela napas dengan lembut, tampaknya dia kecewa.

Apakah ada gadis yang tidak mengagumi pahlawan-pahlawan yang

tampan? Jika kau berkelahi hingga mati demi sebilah pedang,

mereka mungkin akan menganggapmu sebagai orang tolol, atau

mungkin mereka akan menumpahkan air mata untukmu.

Tapi jika kau cuma duduk mengawasi orang lain mengambil

pedangmu dan tak berbuat apa-apa, mereka tentu akan merasa

kecewa.

Bai Yu-jing menatapnya, lalu menyeringai sekali lagi dan berkata,

“Agaknya kau tahu banyak tentang dunia persilatan.”

Yuan Zi-xia menjawab, “Tidak banyak, tapi aku suka mendengarkan

dan menonton.”

“Itukah sebabnya kau pergi dari rumah untuk melakukan perjalanan

seorang diri?” tanya Bai Yu-jing.

Yuan Zi-xia mengangguk, dan memain-mainkan ujung bajunya lagi.

Bai Yu-jing lalu berkata, “Untunglah belum banyak yang kau lihat;

bila telah banyak yang kau lihat, kau tentu akan kecewa.”

“Mengapa?” Yuan Zi-xia bertanya.

“Hal-hal yang akan kau lihat tidak seromantis cerita-cerita yang

pernah kau dengar,” Bai Yu-jing menjawab.

Yuan Zi-xia agaknya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tidak jadi.

Tepat saat itulah bunyi derap kaki kembali berkumandang, tiga

ekor kuda yang baru lewat tadi ternyata kembali lagi.

Penunggang satunya mencondongkan badan ke belakang seperti

bendera yang tertiup angin, dan dengan tangan terjulur,

mengembalikan sarung tadi ke tempatnya semula di samping

pelana.

Pada saat yang sama, kedua temannya menjura bersamaan dan

membungkukkan badan ke depan dari pelana mereka, sebelum

kembali menghilang dalam kabut.

Mata Yuan Zi-xia pun terbelalak, tampaknya ia merasa bingung

dan bersemangat, “Mereka mengembalikan pedangmu!”

Bai Yu-jing hanya menyeringai.

Yuan Zi-xia mengedip-ngedipkan matanya, lalu berkata, “Kau tahu

mereka akan mengembalikannya?”

Bai Yu-jing menyeringai lagi.

Yuan Zi-xia menatapnya, matanya bersinar terang. “Agaknya mereka

takut padamu.”

“Takut padaku?” Bai Yu-jing mengulang.

“Kau…. kau tentu telah banyak membunuh orang dengan

pedang itu!” suara Yuan Zi-xia bergetar karena terlalu

bersemangat.

“Apakah aku kelihatan seperti seorang pembunuh?” Bai Yu-jing

mengulang.

“Tidak,” Yuan Zi-xia mengakui.

“Kurasa juga tidak,” kata Bai Yu-jing.

“Tapi, kalau begitu, kenapa mereka takut padamu?” Yuan Zi-xia

bertanya dengan ragu-ragu.

“Mungkin mereka takut padamu, bukan padaku,” Bai Yu-jing

berkata.

Yuan Zi-xia tersenyum. “Aku? Mengapa mereka takut padaku?”

Bai Yu-jing berkata sambil menghela napas, “’Satu senyuman

bisa menaklukkan sebuah kota, satu senyuman lagi bisa

meratakan sebuah negara’. Tak perduli betapa pun tajamnya

sebuah pedang, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan

senyuman seorang perempuan cantik.”

Kali ini senyuman Yuan Zi-xia semakin menawan. Dengan mata

berkedip-kedip, ia pun bertanya, “Kau…. kau takut padaku tidak?”

Seperti ada kekuatan yang tak tertahankan di dalam sorot matanya,

sesuatu yang seperti menantang Bai Yu-jing.

Sambil menarik napas, Bai Yu-jing berkata, “Walaupun aku tidak

ingin takut padamu, tapi aku tak bisa mencegahnya.”

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya, lalu berkata, “Jika kau takut padaku,

sebaiknya kau lakukan apa yang kukatakan, benar?”

“Tentu saja,” Bai Yu-jing menjawab.

“Bagus,” Yuan Zi-xia tampak puas. “Aku ingin kau minum

bersamaku.”

Bai Yu-jing tampak heran. “Kau bisa minum?”

“Aku kan tidak kelihatan seperti orang yang tak kuat minum?”

“Memang,” Bai Yu-jing menjawab sambil menghela napas lagi.

Ia tidak punya pilihan kecuali harus mengakuinya.

Karena ia tahu, minum itu seperti membunuh orang, kau tidak bisa

tahu siapa yang hebat dalam hal itu hanya dari tampangnya saja.

Bai Yu-jing pernah mabuk sebelumnya, cukup sering malah, tapi

tidak pernah semabuk ini. Ketika dia masih amat muda, dia telah

mendapatkan sebuah pelajaran.

Di dunia persilatan, ada tiga jenis manusia yang paling sukar

dihadapi – pengemis, pendeta dan perempuan.

Jika kau ingin melewati hari-harimu dengan tenang, sebaiknya

jangan ganggu mereka, baik itu dengan berkelahi atau dengan

adu minum.

Sayangnya lama-kelamaan dia telah melupakan pelajaran ini,

mungkin karena dia tidak ingin hari-harinya lewat begitu tenang.

Inilah sebabnya kenapa dia akhirnya tersadar dengan kepala yang

rasanya seperti akan pecah. Dia hanya teringat bahwa akhirnya dia

beruntun kalah tiga babak dalam adu minum mereka, dan

dihukum harus menenggak tiga cawan besar arak dengan amat

cepat.

Sesudah itu benaknya seperti mendadak kosong, dan jika bukan

karena sesuatu yang dingin seperti es menyentuh wajahnya, dia

mungkin tidak akan terbangun.

Sesuatu yang dingin seperti ini tentulah tangan Xiao Fang.

Tidak ada orang yang memiliki tangan sedingin ini, kecuali

karena Xiao Fang tidak punya tangan kanan.

Di tempat di mana seharusnya tangan kanannya berada, terdapat

sebuah gaetan besi.

Xiao Fang bernama Fang Long Xiang, walaupun dia tidak kecil lagi.

Jika kau dengar nama ini, dan mengira dia seorang wanita,

maka kau keliru besar, karenakemungkinan besar amat sedikit

laki-laki yang lebih jantan daripada dirinya.

Walaupun sudut matanya sudah ada kerutan, matanya masih tajam

dan cemerlang, dan bisa melihat apa saja yang mungkin tidak kau

lihat. Sekarang dia sedang menatap Bai Yu-jing.

Bai Yu-jing mengangkat kepala dan, sambil mendekap kepalanya,

berkata, “Ya Tuhan, kau. Mengapakau datang?”

“Aku ada di sini karena nenek-moyangmu sudah cukup mendapatkan

ganjarannya,” Fang Long Xiang menjawab.

Dengan gaetan besinya dia membelai pelan leher Bai Yu-jing,

dan berkata dengan nada acuh tak acuh, “Jika aku adalah Gaetan

Kembar Wei Chang, aku khawatir kepalamu mungkin sudah berada

di tempat lain.”

Bai Yu-jing menghela napas sambil bergumam, “Kematian yang

amat cepat seperti itu mungkin tidak begitu menyenangkan.”

Fang Long Xiang juga menghela napas, “Itulah salah satu

masalahmu, hidupmu selama ini terlalu menyenangkan.”

“Bagaimana kau tahu aku berada di sini?” Bai Yu-jing bertanya.

“Kau tahu bagaimana kau bisa berada di sini?” Fang Long Xiang

balas bertanya.

Mereka berada di sebuah kamar yang tampaknya amat bersih,

dengan sebuah jendela yang memperlihatkan kerimbunan sebatang

pohon pakis besar di luar sana.

Bai Yu-jing memandang ke sekelilingnya, menyeringai tak berdaya

dan berkata, “Benarkah kau yang membawaku ke mari?”

Fang Long Xiang berkata, “Lalu menurutmu siapa lagi?”

Bai Yu-jing berkata, “Di mana Nona Yuan?”

“Dia mabuk sepertimu,” Fang Long Xiang menjawab.

Bai Yu-jing tersenyum. “Aku tahu dari awal, tidak mungkin dia bisa

minum lebih banyak dariku.”

“Dia tidak bisa minum lebih banyak darimu? Lalu bagaimana kau

bisa mabuk lebih dulu?” Fang Long Xiang bertanya.

“Aku minum lebih banyak.”

“Oh.”

“Sebagai seorang lelaki, aku tidak mendesak agar dia minum

sebanyak diriku, dan sementara kami adu minum, aku tidak

memintanya untuk berpegang teguh pada aturan, jadi bagaimana

mungkin aku tidak bisa minum lebih banyak dari dia?” Bai Yu-jing

memberikan alasan.

“Jika kalian berdua berkelahi, sebagai seorang laki-laki, kau juga

tentu tidak akan menanggapinya dengan serius,” kata Fang Long

Xiang.

“Tentu saja.”

Fang Long Xiang menghela napas. “Ujar-ujar orang tua dulu di dunia

persilatan memang tidak pernah keliru.”

“Ujar-ujar yang mana?”

“Karena sebagian besar laki-laki punya masalah yang sama

denganmu, jadi orang-orang tua dulu sudah paham, baik berkelahi

atau minum, jangan pernah bertanding dengan seorang wanita.”

“Kau sekarang sudah jadi orang tua?” Bai Yu-jing menyeringai.

Fang Long Xiang melanjutkan, “Tapi, ada satu hal yang tidak

terpikirkan olehku, yaitu betapa besarnya perkembangan egomu.”

“Ego yang mana?”

“Sementara kau enak-enakan tidur di sini, sedikitnya ada sepuluh

orang yang berdiri menjaga di luar.”

Tampak terperanjat, Bai Yu-jing segera bertanya, “Orang-orang

macam apa?”

“Orang-orang yang biasanya dikirim oleh musuh yang tangguh.”

“Siapa saja mereka?”

“Jika kau bisa bangkit, lebih baik kau lihat sendiri.”

Kamar itu adalah kamar terakhir di lantai atas sebuah bangunan

kecil. Di kamar itu terdapat sebuah jendela belakang yang

menghadap ke sebuah gang sempit.

Seorang laki-laki bungkuk memakai topi sobek dan mantel

hujan yang compang-camping duduk terkantuk-kantuk di bawah

terik matahari musim semi.

Fang Long Xiang mendorong daun jendela hingga terbuka dengan

gaetannya. “Tahukah kau siapa si bungkuk itu?”

“Aku hanya bisa melihat bahwa dia bungkuk,” Bai Yu-jing berkata

dengan nada getas.

“Kau akan tahu siapa dia jika dia melepaskan topinya.”

“Bagaimana aku bisa tahu?”

“Karena warna rambutnya berbeda dengan orang lain.”

Sambil mengerutkan alisnya, Bai Yu-jing berkata, “Perkumpulan

Rambut Merah dari Sungai Timur?”

Fang Long Xiang mengangguk. “Dilihat dari tampangnya, jika

bukan orang kedua dari Sembilan Sekawan Berambut Merah, dia

tentu yang nomor tujuh.”

Bai Yu-jing tidak bertanya lagi, karena dia selalu percaya pada mata

Fang Long Xiang yang tajam.

Fang Long Xiang berkata, “Kau lihat lagi orang yang berada di

bawah pohon di pintu masuk sana.”

Di pintu masuk ke gang sempit itu berdiri sebatang pohon

buah yang besar, di bawahnya terdapat sebuah gerobak penjual

sup akar teratai. Pemilik gerobak itu sedang menuangkan

seperiuk air mendidih ke dalam semangkok tepung.

“Kekuatan pergelangan tangannya lumayan,” Bai Yu-jing berkata.

“Tentu saja lumayan,” Fang Long Xiang menjawab. “Kalau tidak, dia

tak akan mampu menggunakan golok seberat duapuluh tujuh pon.”

“Golok seberat duapuluh tujuh pon? Dia dari Gunung Tai-hang?”

“Akhirnya kali ini kau benar. Goloknya disembunyikan di dalam

gerobaknya.”

“Bagaimana dengan orang yang sedang makan sup itu?” Bai Yu-jing

menunjuk.

Berjongkok di bawah pohon itu ada seorang laki-laki yang

menggenggam mangkuk berisi sup akar teratai. Dia

menghirupnya lambat-lambat, tapi matanya selalu terpaku ke arah

kamar mereka.

Fang Long Xiang berkata, “Di gerobak itu terdapat dua bilah golok.”

Bai Yu-jing bertanya, “Mereka berdua adalah kakak-beradik di bawah

pimpinan Zhao Yi-dao?”

“Dialah Zhao Yi-dao,” Fang Long Xiang menjawab. Dia menepuk

bahu Bai Yu-jing. “Mendapatkan Zhao Yi-dao sebagai penjagamu,

kau tak bisa mengatakan kalau egomu kecil.”

Bai Yu-jing tersenyum. “Egoku memang tidak kecil.”

Tepat saat itulah, seorang detektif pemerintah, memakai topi

berujung bundar dan berseragam warna pucat, datang

mengendap-endap dari ujung lain gang itu. Ketika tiba di bawah

pohon, dia jugamembeli semangkuk sup.

“Tampaknya Zhao Yi-dao seharusnya berganti profesi menjadi

penjual sup akar teratai saja,” Bai Yu-jing berkata sambil

menyeringai. “Berdagang sup ini hasilnya lumayan, dan agaknya

tidak adaresikonya.”

“Tidak beresiko?” tanya Fang Long Xiang.

“Resiko apa yang ada di sana?” Bai Yu-jing balas bertanya.

“Laki-laki bertopi merah berujung bundar itu, siapa yang tahu

kapan dia akan menusuk punggungnya.”

“Sejak kapan detektif pemerintah membunuh orang semaunya

sendiri di sebuah gang sempit?”

“Dia sekarang sedang memakai topi detektif, tapi dia datang ke sini

dengan seekor kuda putih.”

“Kuda Putih Zhang San?” kata Bai Yu-jing.

“Kau tidak yakin?”

“Kuda Putih Zhang San selalu bekerja seorang diri. Bagaimana

dia bisa bergabung dengan orang-orang ini?”

Fang Long Xiang berkata dengan nada kering. “Itulah pertanyaan

yang ingin kuajukan padamu.”

“Mungkinkah ini kebetulan saja?”

“Sedikit sekali kejadian yang serba kebetulan di dunia ini.”

Bai Yu-jing menuangkan secawan teh dingin untuk dirinya

sendiri, menenggaknya dalam satu tegukan, lalu bertanya, “Selain

keempat orang itu, siapa lagi yang ada di sana?”

“Kau tidak ingin melihat keluar?” kata Fang Long Xiang.

“Orang-orang ini saja sudah cukup untuk kulihat.”

“Cobalah perhatikan lebih jauh, kujamin orang-orang lainnya tidak

kalah menarik.”

“Bagaimana kau tahu semua orang ini akan datang ke sini?” Bai Yujing

bertanya.

“Jangan lupakan tempat siapa ini,” Fang Long Xiang menjawab

sambil menyeringai.

Bai Yu-jing pun menyengir. “Jika aku lupa, aku tidak akan pingsan

dalam keadaan mabuk.”

Fang Long Xiang mengawasinya dengan kesal. “Jadi semua ini

sudah direncanakan olehmu. Kau sudah memperhitungkan kalau

aku akan menjagamu.”

“Kau adalah penjagaku, dan kau pun tentu bersedia memberi

piutang padaku,” Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum. “Karena

aku tamu di sini, aku akan menyerahkan segalanya ke tanganmu.”

“Kau akan berhutang apa saja?”

“Aku berhutang makan dan minum, sampai kau menjerit meminta

bantuanku.”

Fang Long Xiang menarik napas dan tersenyum letih. “Orang

sepertimu memang tidak pernah mabuk di tempat yang salah.”

Di bawah jendela depan kamar itu terdapat sebuah halaman yang

tidak besar dan juga tidak kecil. Sebatang pohon ungu tumbuh di

halaman itu, di bawahnya terdapat sebuah gentong besar berisi ikan

mas.

Seorang pemuda gemuk, dengan menggendong tangan, sedang

mengawasi ikan mas itu. Sesosok tubuh jangkung dan kurus

berbaju hitam berada di belakangnya bagaikan sebuah bayangan.

Seorang wanita tua yang seluruh rambutnya sudah memutih,

membimbing seorang bocah berusia tigabelas atau empatbelas

tahun menyeberangi halaman itu dengan langkah-langkah yang

lambat.

Tiga orang laki-laki kekar berbaju warna terang dan ringkas

berdiri dalam sebuah barisan di depan kamar-kamar di sebelah

barat halaman itu, menatap lurus ke pintu gerbang seakan-akan

sedang menantikan seseorang.

“Aku melihat tiga orang itu kemarin,” Bai Yu-jing berkata.

“Di mana?” kata Fang Long Xiang.

“Di jalan raya.”

“Mereka sedang mencarimu?”

“Mereka hanya ingin meminjam pedangku untuk dilihat.”

“Lalu?”

“Lalu mereka mengembalikannya,” Bai Yu-jing menjawab dengan

tenang. “Seandainya ketua Perkumpulan Naga Hijau sendiri yang

meminjam pedangku, dia pun tentu akan mengembalikannya

juga.”

Fang Long Xiang mengerutkan kening dan berkata, “Kau tahu

mereka berasal dari Perkumpulan NagaHijau?”

“Jika bukan dari Naga Hijau, aku ragu kalau yang lainnya punya nyali

sebesar ini.”

Fang Long Xiang meliriknya dari sudut matanya, lalu menggelenggelengkan

kepalanya dan berkata, “Memangnya kau pikir siapa

dirimu?”

“Aku adalah Bai Yu-jing.”

Fang Long Xiang mengedip-ngedipkan matanya. “Lalu orang macam

apakah Bai Yu-jing itu?”

Bai Yu-jing menjawab sambil menyeringai, “Orang yang tidak

gampang dibunuh.”

Tiba-tiba, dengan bunyi gemeretak yang nyaring, gentong berisi ikan

mas tadi pecah, ditimpuk oleh sebuah benda tak dikenal. Air di

dalamnya tumpah, dan nyaris membasahi pemuda gemuk tadi.

Tidak ada yang menyangka kejadian itu, tapi tubuh pemuda

gemuk yang berbobot beberapa ratus pon itu tiba-tiba melayang

ke atas. Dengan sebuah jari ia menggaet sebuah ranting pohon

dan bergantungan di udara, seolah-olah tubuhnya terbuat dari

kertas.

Yang mengejutkan, ternyata celana laki-laki baju hitam di

belakangnya yang menjadi basah kuyup.

“Siapa yang menyangka, ilmu ginkangnya ternyata lumayan,” kata

Bai Yu-jing.

“Kau tidak tahu siapa dia?” Fang Long Xiang bertanya.

“Dilihat dari gerakannya, tampaknya dia dari Sekte E’Mei, tapi sejak

tigapuluh tahun yang lalu di sekte itu cuma ada pendeta-pendeta

wanita, semuanya juga cuma makan sayuran. Mereka tidak mungkin

mempunyai anggota gemuk seperti dia.”

“Kau lupa dengan ketua sekte E’Mei,” Fang Long Xiang memotong.

“Dari keluarga mana dia berasal, sebelum dia menjadi seorang

pendeta?”

“Keluarga Zhu, dari propinsi Su.”

“Benar,” Fang Long Xiang membenarkan. “Orang gemuk ini adalah

putera sulung keluarganya, sang tuan muda.”

“Bagaimana dengan pengawalnya?”

“Aku tidak yakin,” kata Fang Long Xiang. “Tapi dinilai dari

kungfunya, paling-paling hanya seorang jagoan kelas tiga.”

“Dia jelas-jelas punya kungfu kelas satu, jadi mengapa membawa

seorang pengawal kelas tiga?”

“Karena hal itu menyenangkan dirinya?” Fang Long Xiang

mengangkat bahu.

Ikan mas dalam gentong tadi ikut keluar bersama air. Mereka

bergelimpangan tak keruan di atas tanah.

Tapi laki-laki baju hitam itu tetap berdiri tak bergerak dengan kaki

terendam dalam air. Matanya yang cekung tujuh bagian

memperlihatkan perasaan muram, dan tiga bagian perasaan duka.

Fang Long Xiang tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata,

“Itulah orang yang patut dikasihani.”

“Kau kasihan padanya?” Bai Yu-jing bertanya.

“Jika bukan terbentur tembok hingga tak bisa lari ke manamana,

siapa yang mau menerima pekerjaan seperti ini? Juga,

dilihat dari senjatanya, dahulu dia mungkin memiliki sedikit

ketenaran di dunia persilatan, tapi sekarang…..” Fang Long Xiang

sekonyong-konyong merubah pokok pembicaraan dan malah

bertanya, “Tahukah kau siapa yang memecahkan gentong tadi?”

“Si-Ma Guong?” Bai Yu Jing menerka-nerka.

* [Si-Ma Guong, seorang pelajar dan pejabat ternama di masa

dinasti Song Utara, yang dalam sebuah dongeng terkenal

memecahkan sebuah gentong dengan batu-bata untuk menolong

seorang sahabatnya.]

Fang Long Xiang menatapnya dengan kesal. “Lucu, lucu sekali.”

Bai Yu-jing menyeringai dan berkata, “Jika bukan Si-Ma Guong yang

memecahkan gentong itu, tentu seseorang yang bersembunyi di

kamar ketiga di sisi timur sana.”

Setelah menjatuhkan diri dari ranting pohon tadi, Tuan Muda

Zhu pun mendengus ke arah kamar sana.

Perempuan tua berambut putih tadi lalu muncul dengan sebuah

baskom cucian, jelas dia ingin memasukkan ikan-ikan mas tadi ke

dalamnya. Langkah kakinya limbung, tiba-tiba dia tersandung, dan

air di dalam baskom pun tumpah ke atas tanah.

“Menurutmu, siapa perempuan itu?” Bai Yu-jing bertanya.

“Seorang wanita tua,” Fang Long Xiang menjawab.

“Mengapa seorang wanita tua datang ke sini?”

“Ini adalah losmen, siapa pun boleh datang ke tempat ini.”

“Setidaknya, dia bukan ke mari karena aku?”

“Kau belum cukup tua.”

“Naga Hijau, Golok Kilat, Rambut Merah dan Kuda Putih, semua

orang ini datang ke sini hanyauntukku?” Bai Yu-jing terdengar

ragu-ragu.

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau pernah bersalah pada mereka sebelumnya?”

“Tidak,” Bai Yu-jing menggelengkan kepalanya.

“Tidak pernah mengambil barang milik mereka?”

“Apakah aku seorang perampok?”

“Meskipun tidak, kau kan tidak jauh dari itu.”

Bai Yu-jing tertawa, lalu berkata dengan santai, “Jika mereka

benar-benar datang ke sini untukku, mengapa mereka tidak

mencariku?”

“Mungkin mereka takut padamu, atau mungkin mereka sedang

menunggu seseorang,” Fang Long Xiang menjawab.

“Menunggu siapa?”

“Perkumpulan Naga Hijau mempunyai tiga ratus enam puluh

lima cabang, masing-masing dipimpin oleh seorang kepala cabang.

Tidak seorang pun dari mereka bisa diatasi dengan mudah.”

“Aku pun agaknya tidak bisa diatasi dengan mudah,” Bai Yu-jing

berkata sambil tersenyum.

“Bagaimana dengan dia?” Fang Long Xiang bertanya.

“Dia?”

“Pendekar wanitamu yang sedang mabuk itu.”

“Kenapa dengan dia?”

“Karena dia datang bersamamu, kau tidak akan meninggalkannya

begitu saja, kan?” Fang Long Xiang bertanya. “Mereka sudah tahu

kalau dia bersamamu, jadi menurutmu mereka akan melepaskan

dia begitu saja?”

Sambil mengerutkan keningnya, Bai Yu-jing pun terdiam.

Fang Long Xiang menghela napas. “Hidupmu sudah cukup

menyenangkan. Mengapa membuang semua itu dan datang ke sini

untuk mengalami penderitaan?”

Bai Yu-jing tersenyum tenang. “Aku toh belum menderita.”

“Walaupun belum dimulai, masalah itu tentu hanya tinggal

menunggu waktu,” Fang Long Xiang berkata sambil menyeringai.

Baru saja habis kata-katanya, terdengar seseorang mengetuk

dinding kamar sebelah.

“Itukah dia?” Bai Yu-jing bertanya.

Fang Long Xiang mengangguk dan menepuk bahunya. “Aku

khawatir penderitaanmu baru saja dimulai.”

“Penderitaan apa?”

“Terkadang penderitaan adalah kesenangan, dan kesenangan adalah

penderitaan,” Fang Long Xiang bertutur dengan bijaksana.

Yuan Zi-xia berbaring di bantal dengan rambut yang kusut,

wajahnya pucat pasi seperti baru saja menderita sakit yang parah.

Pintu kamarnya tertutup tapi tidak dikunci. Tak diketahui apakah ia

baru saja membuka kunci pintu itu atau memang tidak pernah

menguncinya.

Dia menggenggam sebuah sepatu di tangannya, jejak sepatu

tampak membekas di atas dinding kamar.

Bai Yu-jing memasuki kamar itu dengan perlahan dan memandang si

nona.

Tiba-tiba saja dia menyadari bahwa seorang wanita yang baru saja

mabuk malam sebelumnya seperti memperlihatkan daya tarik baru

yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata di pagi harinya.

Denyut jantungnya pun seperti berpacu.

Jika seorang laki-laki, yang mabuk malam sebelumnya, melihat

seorang perempuan cantik di pagi harinya, jantungnya tentu akan

berdebar lebih kencang.

Yuan Zi-xia juga sedang menatapnya. Sambil menggigit bibirnya

kuat-kuat, ia berkata, “Kepalaku rasanya seperti akan pecah, dan

kau masih bisa tertawa.”

“Aku tidak tertawa,” kata Bai Yu-jing.

“Wajahmu tidak tertawa, tapi hatimu yang sedang tertawa.”

Bai Yu-jing menyengir. “Kau bisa melihat ke dalam hatiku?”

“Emm,” Yuan Zi-xia mengiyakan dengan suara tak jelas.

Suara itu seperti berasal dari hidungnya.

Suara yang keluar dari hidung seorang wanita, sering jauh

lebih merangsang daripada suara yang keluar dari mulutnya.

Bai Yu-jing tak tahan lagi dan bertanya, “Kau tahu apa yang ada

dalam hatiku?”

“Emm.”

“Katakan.”

“Aku tak bisa,” Yuan Zi-xia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Karena….karena…..” Wajahnya tiba-tiba memerah, ia menarik

selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu tersenyum dan berkata

dengan malu, “Karena di hatimu ada pikiran-pikiran yang tidak

bersih.”

Jantung Bai Yu-jing berdebar makin kencang.

Memang di benaknya sedang muncul pikiran-pikiran kotor.

Seorang laki-laki yang mabuk malam sebelumnya biasanya menjadi

lebih rapuh di pagi harinya, dan kurang mampu untuk bertahan

terhadap godaan.

Bagaimana dengan seorang perempuan yang mabuk malam

sebelumnya? Bai Yu-jing hampir tak bisa menahan keinginan untuk

melangkah menghampirinya.

Mata Yuan Zi-xia mengintipnya dari balik selimut. Sepertinya dia juga

berharap agar Bai Yu-jing mau mendekat.

Dia bukan seorang laki-laki sejati, tapi bila teringat pada

“penjaga-penjaga yang berdiri di luar” untuknya, hatinya pun

serasa karam.

Dengan wajah memerah seperti matahari terbenam, Yuan Zi-xia

menggigit bibirnya dan berkata, “Saat aku melihatmu terus

berusaha membuatku mabuk tadi malam, aku pun tahu kau bukan

orang baik-baik.”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata dengan senyum dikulum,

“Aku yang berusaha membuatmu mabuk?”

“Bukannya memang begitu?” Yuan Zi-xia menatapnya dengan kesal.

“Lalu kenapa kita minum dengan cawan-cawan besar? Sejak kapan

kau lihat seorang gadis minum dengan cawan besar?”

Bai Yu-jing tidak bisa berkata apa-apa.

Bila seorang wanita mengajakmu berdebat, walaupun ada sesuatu

yang hendak kau katakan, sebaiknya kau tutup saja mulutmu.

Ini adalah prinsip yang dia pahami benar-benar.

Sayangnya Yuan Zi-xia tidak mau melepaskannya dengan mudah.

“Sekarang kepalaku sangat sakit, bagaimana tanggung-jawabmu?”

ia berkata lagi.

“Kau saja yang mengatakannya.” Bai Yu-jing menyeringai sedih.

Si nona memandangnya dengan termangu. “Kau… kau setidaknya

harus meredakan sakit kepalaku.”

Sebuah suara tiba-tiba saja berteriak, “Itu gampang, tebas saja

batok kepalanya.”

Suara itu berasal dari lorong di luar kamar.

Sebelum suara itu hilang, Bai Yu-jing sudah melompat ke luar pintu.

Lorong itu amat sempit. Daun-daun pohon pakis bergoyanggoyang

dalam hembusan angin sepoi-sepoi.

Tidak seorang pun yang terlihat, bahkan bayangan pun tidak

ada, Fang Long Xiang sudah pergi beberapa saat yang lalu.

Dia tidak mau berada di tengah-tengah dua pihak yang bertikai.

Jika bukan Fang Long Xiang, lalu suara siapa itu? Halaman itu

kembali sunyi senyap.

Seseorang sudah membersihkan ikan mas dari atas tanah. Tuan

Muda Zhu dan pengawalnya agaknyajuga sudah kembali ke kamar

mereka.

Cuma tiga orang laki-laki kekar dari Perkumpulan Naga Hijau yang

masih ada, masih berdiri di sanasambil mengawasi pintu gerbang,

menunggu seseorang yang tidak diketahui identitasnya.

Bai Yu-jing hanya bisa kembali ke dalam kamar.

Yuan Zi-xia sudah duduk di ranjang. Wajahnya kembali tampak

pucat, dia bertanya, “Siapa di luar?”

“Tidak ada siapa-siapa,” Bai Yu-jing menjawab.

Mata si nona pun terbelalak. “Tidak ada orang? Lalu siapa yang

bicara tadi?”

Bai Yu-jing cuma tersenyum, itulah satu-satunya jawaban yang

terpikir olehnya.

Mata Yuan Zi-xia seperti disaput awan karena ketakutan dan dia pun

berkata dengan bimbang, “Dia… dia menyuruhmu untuk menebas

batok kepalaku… Kau tidak akan melakukannya, kan?”

Bai Yu-jing hanya bisa menghela napas.

Tiba-tiba Yuan Zi-xia melompat bangkit dari atas ranjang dan

menghambur ke dalam pelukannya, suaranya terdengar bergetar,

“Aku takut. Tempat ini menyeramkan, kau tidak boleh

meninggalkanku sendirian di sini.”

Tangan gadis itu memeluk lehernya erat-erat. Lengan bajunya

pun tersingkap, memperlihatkan lengannya yang mulus seperti

pualam.

Yang dia kenakan adalah sehelai gaun tipis. Dadanya terasa hangat

dan kencang. Bai Yu-jing bukan terbuat dari kayu, dia juga bukan

seorang malaikat yang luput dari nafsu.

Yuan Zi-xia berbisik, “Aku ingin kau tinggal di sini bersamaku.

Kau… kenapa kau tidak menutup pintu?”

Bibirnya yang lembut dan merangsang itu berbisik di dekat

telinganya, sangat dekat malah. Tepat saat itu tiba-tiba terdengar

suara tangisan yang memilukan hati dari halaman sana. Siapa yang

menangis itu? Siapa pun dia, tangisannya itu telah dikeluarkan pada

saat yang tidak tepat.

Tangan Yuan Zi-xia pun terlepas. Tidak perduli siapa pun yang

mendengar suara tangisan seperti itu, jantung mereka tentu terasa

karam.

Gadis itu berdiri di lantai dengan kaki telanjang, sorot matanya

tampak seperti orang bingung, seperti seorang bocah yang tersesat

arah. Tangisan itu pun agaknya berasal dari seorang bocah.

Bai Yu-jing berjalan ke arah jendela dan melihat sebuah peti.

Perempuan tua berambut putih dan bocah kecil tadi tampak

bersandar di peti mati itu sambil menangis tersedu-sedu, suara

mereka sudah hampir hilang.

Tidak jelas siapa yang membawa peti itu ke sana, tapi mereka

telah meletakkan peti mati itu di tempat gentong ikan mas tadi

berada.

Sudah cukup orang hidup yang datang ke tempat ini, dan

sekarang, entah dari mana asalnya, satu orang mati pun sudah

datang.

Bai Yu-jing menghela napas sambil bergumam, “Setidaknya

orang mati tak mungkin datang karena aku……”

Yuan Zi-xia menutup pintu, menarik sebuah kursi dan duduk di

pinggir jendela.

Di halaman, tampak dua orang biksu yang sedang membacakan

doa. Menyaksikan upacara ini dari bangunan sebelah atas, kepala

biksu-biksu yang berkilauan itu mungkin tampak amat lucu, tapi

suara mereka saat membacakan doa terdengar khusyuk dan

memilukan.

Di samping suara yang monoton dan memilukan itu, juga terdengar

suara isak tangis perempuan tuadan bocah itu. Hal ini membuat

orang-orang yang mendengarnya akan teringat kembali pada

kesedihan dan kerisauan di hati mereka.

Yuan Zi-xia menarik napas dan mengangkat muka untuk melihat

cuaca. Dia tidak tahu pukul berapa dia bangun tadi, tapi sekarang

jelas sudah senja.

Langit tampak mendung, seolah akan turun hujan. Tiga orang

lelaki dari Perkumpulan Naga Hijau juga sudah memindahkan kursi

mereka dan duduk di bawah wuwungan. Mereka melihat ke

sekeliling mereka sambil menanti dengan wajah gelisah.

Bai Yu-jing dan Fang Long Xiang sedang berjalan, melangkah

dengan perlahan ke arah pintu gerbang. Mereka tentu saja tidak

memandang pada orang lain, tetapi mereka dapat merasakan

banyaknya mata yang menatap mereka di balik punggung

mereka. Jika secara kebetulan mereka berpaling ke arah sana,

pandangan mata orang-orang itu tentu akan segera beralih dari

mereka.

Yuan Zi-xia tentu saja merupakan pengecualian. Di matanya

terlihat kehangatan yang tak dapatdiuraikan dengan kata-kata,

terulur seperti benang sutera yang terikat di tumit kaki Bai Yu-jing.

Di luar pintu, pemandangan tampak indah seperti lukisan. Jalan yang

terlihat coklat gelap, berkelok-kelok mulai dari tempat itu seperti

seekor cacing, menembus hutan yang hijau, menelusuri danau

berair biru yang dalam, lalu tiba di jalan raya yang ramai.

Gunung di kejauhan tampak berawan, seperti dalam kabut, terlihat

indah sekaligus penuh hawa gaib. Kota kecil itu tentu saja tidak jauh

dari sini, tapi ada danau biru dan hutan hijau yang memisahkan

tempat ini dengan keramaian di bawah gunung sana.

Bai Yu-jing menarik napas dalam-dalam untuk menghirup udara

segar dan merasa sedih. Tak tahan ia menghela napas dan berkata:

“Aku suka tempat ini.”

Fang Long Xiang berkata: “Banyak orang yang menyukai tempat ini.”

Bai Yu-jing berkata: “Ada orang hidup dan ada juga orang mati.”

Fang Long Xiang berkata: “Biasanya orang mati tidak diterima di

sini.”

Bai Yu-jing berkata: “Hari ini adalah kekecualian.”

Fang Long Xiang berkata: “Tamu mana pun yang tinggal di

tempat ini, tak perduli siapa pun dia, harus patuh pada aturan

dan tidak boleh melanggarnya.”

Bai Yu-jing berkata: “Jika dia membunuh orang?”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Hal itu tergantung pada

siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh.”

Bai Yu-jing berkata dengan dingin: “Omonganmu itu jelas cuma

basa-basi seorang pedagang.”

Fang Long Xiang berkata: “Aku memang seorang pedagang.”

Bai Yu-jing berjalan maju beberapa langkah dan berkata:

“Kukira mereka tidak akan membiarkanku pergi, tapi waktu aku

keluar, tidak seorang pun yang menghalangiku.”

Fang Long Xiang berkata: “Emm.”

Bai Yu-jing berkata pula: “Mungkin mereka bukan datang untukku.”

Fang Long Xiang berkata: “Mungkin.”

Bai Yu-jing tiba-tiba menepuk pundaknya dan berkata sambil

tersenyum: “Kali ini nasibmu memang bagus.”

Fang Long Xiang berkata: “Nasib apa?”

Bai Yu-jing berkata: “Kau tidak perlu takut kalau aku menyalahgunakan

kebaikanmu. Aku akan pergi besok pagi-pagi sekali.”

Fang Long Xiang berkata: “Malam ini kau…..”

Bai Yu-jing berkata: “Malam ini aku ingin minum, jangan biarkan

lemarimu tertutup rapat.”

Mimik wajah Fang Long Xiang mendadak berubah sendu, dan

sambil menatap gunung berawan di kejauhan sana, perlahanlahan

ia berkata: “Malam ini pasti amat panjang.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh.”

Fang Long Xiang berkata: “Malam yang begini panjang, tentu akan

ada banyak urusan.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh.”

Fang Long Xiang berujar: “Juga cukup panjang untuk membunuh

orang.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh.”

Fang Long Xiang tiba-tiba berpaling dan menatapnya. Lalu ia

berkata: “Kau tentu menunggu kedatangan orang itu, dan

kemudian barulah kau mau pergi?”

Bai Yu-jing berkata: “Siapa orang itu?”

Fang Long Xiang berkata: “Orang yang sedang ditunggu oleh orangorang

Naga Hijau.”

Bai Yu-jing tersenyum, di matanya terlihat ekspresi yang amat

luar biasa. Setelah sekian lama, barulah kemudian ia berkata

dengan perlahan: “Sejujurnya, lambat laun aku merasa orang ini

sangat menarik.”

Fang Long Xiang berkata: “Kau tidak tahu apa-apa tentang dia.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena aku tidak tahu, maka aku menganggap

dia menarik.”

Fang Long Xiang berkata: “Asalkan ada urusan yang menarik, kau

tak akan pergi?”

Bai Yu-jing berkata: “Biasanya ya.”

Fang Long Xiang berkata: “Adakah orang yang bisa membuatmu

berubah pikiran?”

Bai Yu-jing berkata: “Tidak ada.”

Fang Long Xiang menghela napas dan berkata: “Bagus, akan

kuambilkan arak dan biar kau loloh pendekar wanitamu itu

sampai mabuk.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku juga harus pergi berganti pakaian.”

Fang Long Xiang berkata: “Sekarang?”

Bai Yu-jing berkata: “Bila tiba waktu minum arak, aku selalu

mengenakan baju baru.”

Sorot mata Fang Long Xiang tampak berkilat-kilat, katanya: “Bila

tiba waktu untuk membunuh, kau juga selalu berganti pakaian

baru?”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata dengan nada ringan: “Itu

tergantung siapa orang yang akan kubunuh.”

Yuan Zi-xia duduk di atas ranjang, memegang selimut yang terlipat

dan berkata: “Mengapa kita tidak membawa arak itu ke sini dan

minum di kamar ini.”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Untuk minum arak, kita

butuh tempat yang tepat, kalau tidak arak yang enak pun akan

terasa getir.”

Yuan Zi-xia berkata: “Mengapa tempat ini tidak tepat?”

Bai Yu-jing berkata: “Tempat ini gunanya untuk tidur.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tapi… di bawah ada banyak orang, aku

tidak punya pakaian baru untuk dikenakan, bagaimana aku bisa

turun ke bawah?”

Bai Yu-jing berkata: “Akulah pakaian barumu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kau?”

Bai Yu-jing berkata: “Dengan aku berada bersamamu, kau tidak

perlu berganti baju, orang lain mungkin tidak akan

memandangmu.”

Yuan Zi-xia tersenyum menawan dan berkata: “Kau selalu mengira

dirimu ini amat hebat?”

Bai Yu-jing berkata: “Biasanya ya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Mukamu tidak pernah memerah?”

Bai Yu-jing berkata: “Tidak.”

Tiba-tiba ia membalikkan badan dan berkata: “Tapi di sini aku takluk

padamu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kenapa?”

Bai Yu-jing berkata: “Karena wajahku sekarang sedang memerah.

Bila aku malu, aku tak mau orang lain melihatnya.”

Yuan Zi-xia mengambil sebuah kotak dan mengeluarkan

seperangkat pakaian. Walaupun ini bukan pakaian baru, tapi

tampak indah seperti awan ungu. Dia menyukai pakaian

berwarna cerah dan menyukai orang-orang ‘berwarna cerah’.

Bai Yu-jing agaknya adalah orang seperti ini. Dia angkuh, melakukan

apa pun yang dia sukai, kadang-kadang suka meledak-ledak seperti

anak kecil, terkadang tenang tapi menghanyutkan seperti rubah

yang licik. Dia tahu laki-laki seperti ini tidak mudah untuk

dihadapi. Bila seorang wanita ingin memikatnya, itu bukan hal yang

gampang. Tapi dia memutuskan untuk berusaha.

Rumah makan itu tentu saja tidak besar, tapi sangat baik. Mejanya

terbuat dari kayu padat, lantainyadilapisi oleh batu-batu yang

indah. Di atas dinding juga terpajang kaligrafi dan lukisan yang

sesuai, dan beberapa macam tanaman dengan bunga yang mekar

digantung di dekat pintu. Bila seseorang memasuki ruangan itu, ia

bisa melihat bahwa mencicipi makanan di tempat itu akan membuat

orang merasa terhormat. Karena itu harganya pun lebih mahal

daripada di tempat lain, tapi tidak ada yang keberatan.

Tiga orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau duduk di sebuah

meja di dekat pintu, mata merekamenatap keluar pintu. Mereka

jelas sedang menunggu seseorang. Meja Tuan Muda Zhu berada

di dekat jendela. Dia pun sudah mulai makan dan minum

dengan enaknya, sementara si baju hitam berdiri seperti

bayangan di belakangnya.

“Apakah pelanggan ini juga ikut makan?”

“Dia akan menungguku selesai makan, baru dia akan makan.”

Membiarkan orang lebih dulu dan menunggu orang selesai makan

sebelum bisa makan. Itulah takdir yang dipilih oleh beberapa orang.

Upacara Buddha tadi sudah selesai, secara tak disangka-sangka

kedua biksu tadi juga makan di sini. Kepala mereka yang berkilauan

tampak gemerlap seperti pantat botol. Agaknya kepala mereka baru

saja dicukur.

Dalam hembusan angin, suara isak tangis perempuan tua itu

bisa terdengar samar-samar. Sebenarnya siapa yang mati?

Mengapa dia menangis begitu sedih? Apakah orang yang

memecahkan gentong ikan mas itu pernah muncul? Mengapa dia

bersembunyi di dalam kamar seperti tidak berani bertemu siapa

pun?

Teh itu rasanya enak, araknya juga arak yang baik.

Bai Yu-jing sudah berganti pakaian dengan baju baru berwarna biru.

Dia sudah minum beberapa gelas arak, seakan-akan tidak ada

urusan yang perlu dirisaukan olehnya. Fang Long Xiang tampak

termangu, dia hanya minum sedikit dan juga tidak banyak makan

sayuran.

Yuan Zi-xia berkata dengan menawan: “Kau makan lebih sedikit

daripada seorang gadis muda.”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Karena aku bayar

sendiri, aku selalu tidak mau menghambur-hamburkan uang.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku juga tidak.”

Tiba-tiba ia bertepuk tangan memanggil pelayan dan berkata:

“Bawakan beberapa macam makanan dan arak terbaik untuk orang

di belakang sana.”

Fang Long Xiang berkata dengan dingin: “Juga untuk si pemakai topi

sobek?”

Bai Yu-jing berkata: “Pepatah mengatakan, mereka yang tidak

mengikuti musim, mungkin tak akan berhasil mendapatkan

makanan untuk dimakan.”

Tiba-tiba Yuan Zi-xia menyeletuk: “Makanan di sini enak. Kira-kira

bahannya apa ya?”

Fang Long Xiang berkata: “Kelabang, kadal, ular kecil.”

Wajah Yuan Zi-xia mendadak pucat pasi, dia tak tahan lagi dan

muntah-muntah.

Di ruangan itu semua orang diam-diam memandangnya, bahkan

kedua biksu tadi pun tidak terkecuali. Mulut mereka memang

pantang makan daging, tapi mata mereka tentu tidak pantang apaapa.

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda. Seekor kuda yang

besar berhenti di luar pintu. Ketiga orang laki-laki dari

Perkumpulan Naga Hijau pun mendadak bangkit. Segera muncul

mimik muka yang gembira di wajah mereka. Orang yang mereka

tunggu-tunggu akhirnya tiba.

Fang Long Xiang memandang Bai Yu-jing, mengangkat cawan

arak dan berkata: “Kusulang kau secawan arak.”

Bai Yu-jing berkata: “Mengapa kau tiba-tiba bersulang untukku?”

Fang Long Xiang menarik napas dan berkata: “Aku hanya khawatir

aku tak akan punya kesempatan lagi untuk bersulang.”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Kita lihat dulu orang ini, baru

kemudian bersulang untukku, tentu masih belum terlambat.”

Ketika dia bicara begitu, mata semua orang sedang menatap ke arah

pintu masuk. Kuda besar tadi berdiri di luar, seseorang lalu

masuk dengan tergesa-gesa. Seorang laki-laki kekar berbaju

hitam melangkah masuk dengan keringat bercucuran.

Ketiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau melihatnya, di wajah

mereka segera timbul kekecewaan, dan dua orang di antaranya

kemudian duduk. Orang yang datang itu jelas bukan orang yang

dinanti-nantikan.

Yang seorang lagi menyambut kedatangan teman mereka itu,

mengerutkan kening dan bertanya: “Kenapa…..”

Orang lain mendengar ucapannya itu, tapi suaranya tiba-tiba

berubah menjadi rendah seperti berbisik. Orang yang baru masuk itu

pun berbicara dengan nada yang lebih rendah. Dia hanya

mengucapkan beberapa patah kata sebelum pergi lagi dengan

terburu-buru.

Ketiga orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau itu saling

berpandangan. Mereka lalu duduk dan minum. Raut muka yang

gelisah tadi tidak terlihat lagi di wajah mereka. Walaupun

orang yang mereka tunggu belum datang, jelas mereka sudah

mendapatkan berita. Tapi berita apa?

Tuan Muda Zhu mengerutkan alisnya dengan gelisah, raut muka

tak sabaran yang tadi terlihat di wajah orang sekarang pun

muncul di wajahnya.

Kedua biksu tadi tiba-tiba bangkit, merapikan pakaian mereka

dan berkata: “Tagihan biksu-biksu miskin ini, harap dicatatkan

atas nama Nyonya Guo.” Biksu-biksu itu makan di sini karena

keadaan istimewa, tentu saja mereka tidak membayar.

Tapi entah karena alasan apa, Bai Yu-jing selalu merasa bahwa

kedua orang biksu itu tidak terlihat seperti biksu. Sorot matanya

pun tampak seperti orang yang sedang merenung. Ketika mereka

sudah keluar, tiba-tiba dia berkata sambil tersenyum: “Kudengar

kau punya sepasang mata yang tajam seperti rubah sejak lahir.

Aku ingin mengujimu.”

Fang Long Xiang berkata: “Ujian macam apa?”

Bai Yu-jing berkata: “Ada dua macam ujian.”

Fang Long Xiang menghela napas dan berkata: “Ujilah aku.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau lihat kedua biksu tadi, bagian tubuh mana

yang tadi tidak ada?”

Yuan Zi-xia merasa bingung. Kelima panca indera dua orang biksu

tadi seluruhnya lengkap, dan mereka bukan orang-orang cacat.

Kenapa ada bagian tubuh yang hilang?

Fang Long Xiang memikirkan pertanyaan yang sulit itu dan tiba-tiba

menjawab: “Luka bekas bakaran dupa.”

Yuan Zi-xia hanya bisa menghela napas. “Mata kalian benar-benar

tajam, agaknya mereka memang tidak punya luka bekas bakaran

dupa.”

Bai Yu-jing berkata: “Kedua orang itu memang tidak punya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Mereka…. mereka bukan biksu sungguhan?”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Kenyataan adalah ilusi, ilusi

adalah nyata, asli dan palsu, kenapakita begitu serius

memikirkannya?”

Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata: “Kapan kau juga berubah

menjadi biksu? Kenapa kau bicara begitu bijak?”

Fang Long Xiang berkata: “Dia bukan hanya bisa bicara bijak

seperti seorang biksu, dia juga bisa makan tanpa membayar.” Dia

tidak membiarkan Bai Yu-jing buka mulut dan berkata lagi: “Kau

telah menguji sekali, lalu apa lagi?”

Bai Yu-jing merendahkan suaranya dan berkata: “Kau tahu

siapa orang yang sedang ditunggu oleh orang-orang Naga Hijau

itu?”

Fang Long Xiang menggelengkan kepalanya.

Bai Yu-jing berkata: “Mereka sedang menunggu Wei Tian-ying!”

Fang Long Xiang segera mengerutkan keningnya dan berkata:

“Wei Tian-ying? Si ‘Pisau Iblis’ Wei Tian-ying?”

Bai Yu-jing mengangguk.

Mimik wajah Fang Long Xiang pun berubah dan ia berkata:

“Bukankah orang itu sudah diusir oleh musuh bebuyutannya ke

timur sana, ke Pulau Fu Sang?”

Bai Yu-jing berkata: “Fu Sang bukanlah neraka. Walaupun dia pergi

ke sana, tidak mustahil baginyauntuk kembali.”

Fang Long Xiang mengerutkan alisnya dan berkata: “Menurut cerita,

bukan ilmu pisaunya saja yang menakutkan, tapi ia juga telah

mempelajari ilmu ‘tahan derita’ ala Fu Sang. Dalam Perkumpulan

Naga Hijau, dia dianggap sebagai salah seorang dari ‘Dua belas

hantu Naga Hijau’.”

Bai Yu-jing berkata dengan nada ringan: “Kurasa juga begitu.”

Yuan Zi-xia menatapnya dan berkata: “Apa itu ilmu ‘tahan derita’?”

Bai Yu-jing berkata: “Ilmu ‘tahan derita’ adalah kungfu

istimewa yang mengajarkan cara melukai orang secara diam-diam,

jadi lebih baik kau tidak mendengarnya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tapi aku ingin dengar.”

Bai Yu-jing berkata: “Walau kau ingin mendengarnya, aku tak dapat

mengatakannya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kenapa?”

Bai Yu-jing berkata: “Karena aku pun tidak tahu.”

Sebenarnya dia tahu sedikit tentang ilmu ini. Menurut dongeng, ilmu

‘tahan derita’ diwariskan dari Jiu Mixian (Dewa Jarak Jauh), di jaman

Istana Kebajikan, lalu diteruskan oleh ‘perkumpulan kera terbang’

dan anggota-anggota ‘ruang kabut rahasia’, serta jago-jago beladiri

dari pulau Fu Sang.

Walaupun seperti ilmu gaib, kungfu ini sebenarnya dilandasi

oleh ilmu meringankan tubuh, ilmu menyaru, tenaga dalam dan

kepandaian menyelam. Keistimewaan dari ilmu ini adalah bahwa

mereka bisa menggunakan hewan-hewan yang biasa hidup di

bawah tanah sebagai alat untuk menghindari pengejaran

musuhnya. Ilmu ini dibagi dalam tujuh bagian.

Walaupun Bai Yu-jing memahami semua itu, tapi dia tak mau

menyebutnya karena hal itu terlalu rumit. Jika kau ingin

menerangkan sebuah urusan yang rumit pada seorang wanita, maka

hanya akan muncul kecanggungan saja.

Fang Long Xiang dari tadi cuma merenung saja, tiba-tiba

sekarang dia bertanya: “Bagaimana kau tahu kalau mereka sedang

menunggu Wei Tian-ying?”

Bai Yu-jing berkata: “Mereka tadi baru saja mengatakannya.”

Fang Long Xiang berkata: “Kau bisa mendengar percakapan

mereka?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak bisa mendengar, tapi aku bisa

melihat.”

Yuan Zi-xia tidak faham dan tak tahan lagi ia pun bertanya:

“Mereka bercakap-cakap dan kau bisamelihat? Bagaimana kau bisa

melihatnya?”

Bai Yu-jing berkata: “Dengan memperhatikan bibir mereka.”

Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata: “Kau benar-benar orang

yang menakutkan. Agaknya tidak ada urusan yang bisa

disembunyikan darimu.”

Bai Yu-jing berkata: “Apa kau takut padaku?”

Yuan Zi-xia berkata: “Mmm.”

Bai Yu-jing berkata: “Jika kau takut padaku, seharusnya kau

dengarkan kata-kataku.”

Yuan Zi-xia tersenyum. Dia pernah mengucapkan kata-kata yang

sama pada Bai Yu-jing. Diatersenyum lembut dan berkata: “Kau

memang bukan orang baik-baik.”

Tuan Muda Zhu berjalan keluar dengan lagak yang angkuh. “Kau

makanlah. Setelah selesai makan, segera kembali.”

Si baju hitam segera menyantap makanan di dalam mangkuk

dengan tergesa-gesa. Lalu dia melangkah pergi dengan terburuburu.

Bai Yu-jing tiba-tiba berkata, “Sobat, tunggu, tunggu dulu!”

Si baju hitam menghentikan langkahnya, tapi tidak berpaling.

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum: “Di sini ada arak yang enak,

mengapa kau tidak tinggal di sini

dulu dan minum tiga cawan?”

Si baju hitam akhirnya membalikkan badannya. Wajahnya tidak

menampilkan ekspresi apa-apa, tapi gerak-geriknya memperlihatkan

perasaan duka yang makin mendalam. Dia menjura sambil

berkata: “Aku juga ingin minum banyak-banyak, tapi sayangnya ada

delapan orang lagi dalam keluargaku yang butuh makan.”

Walaupun perkataannya itu amat sederhana, tapi membayangkan

kepedihan hati yang teramatsangat.

Bai Yu-jing berkata: “Tuan Muda Zhu sudah memanggilmu?”

Jawaban si baju hitam sederhana saja: “Aku rasa begitu.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau tidak ingin melakukan pekerjaan lain?”

Si baju hitam: “Aku cuma tahu kungfu. Walaupun dulu aku

juga terjun ke dunia Kang-ouw, tapi sekarang…. “ Ia

menundukkan kepalanya dan berkata dengan lesu: “Walau aku

sudah tua, aku tidak mau mati dan juga tidak boleh mati.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena itu kau hanya bisa tinggal bersama

Tuan Muda Zhu?”

Si baju hitam: “Ya.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau bersamanya, tentunya bukan untuk

melindunginya, tapi karena kau ingin dia melindungimu!” Dia

mengucapkan kalimat ini dengan tajam, dengan tatapan mata yang

menusuk.

Si baju hitam seperti ditampar oleh sebuah telapak tangan

terbuka, mundur terhuyung-huyung beberapa langkah sebelum

kemudian membalikkan badan dan berlari keluar.

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata: “Kau….. mengapa kau

melukai hati orang seperti itu?”

Wajah Bai Yu-jing juga menampilkan ekspresi yang sedih.

Setelah sekian lama, dia lalu menarik napas panjang dan

berkata: “Karena aku bukan orang baik-baik…..”

Tapi tidak ada yang mendengar kata-katanya, karena tepat pada

saat itu tiba-tiba terdengar jeritan yang memilukan dalam

keheningan malam. Suara jeritan yang membuat beku darah orang.

Jeritan itu seperti berasal dari luar pintu depan. Fang Long

Xiang melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya, dia

mengayunkan gaetan besinya. Dengan menimbulkan bunyi “brak!”

yang keras, dia telah menghancurkan daun jendela.

Diterangi oleh cahaya yang keluar dari pintu depan, halaman yang

luas itu tampak sunyi senyap. Peti mati tadi telah dibawa masuk.

Di tengah halaman tidak adasiapa-siapa. Tapi sekarang, tibatiba

muncul seseorang yang berlari masuk lewat gerbang depan

seperti orang gila.

Seorang biksu.

Cahaya lampu yang samar-samar memperlihatkan tidak adanya

bekas luka bakaran dupa di kepalanya yang gundul. Tidak ada

bekas luka, tapi ada darah! Darah yang tidak berhenti mengalir

dan membasahi wajahnya. Masuk ke matanya, masuk ke dalam

kerutan-kerutan di sudut matanya. Di bawah sinar rembulan yang

remang-remang, wajah itu tampak sangat menakutkan. Dia berlari

masuk ke halaman dan melihat jendela yang hancur berantakan itu.

Fang Long Xiang berlari keluar lewat jendela. Sorot mata biksu

tadi memperlihatkan perasaan terkejut, takut, duka dan gusar.

Sudut mulutnya berkerut-kerut tiada henti. Mungkin dia berusaha

membersihkan wajahnya dengan tangannya tapi malah melukai

sudut mulutnya.

Setelah keluar lewat jendela, Fang Long Xiang merendahkan

suaranya: “Siapa dia? Siapa yang melakukan perbuatan yang keji

ini?”

Biksu itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan mendesis:

“Hijau… Hijau.. Hijau..”

Fang Long Xiang berkata: “Hijau apa?”

Biksu itu belum sempat mengucapkan kata kedua ketika kaki dan

tangannya tiba-tiba berkelojotan. Dia pun melompat di atas satu kaki

dan terjungkal roboh!

Fang Long Xiang mengerutkan alisnya dan bergumam: “Hijau apa?

Naga hijau?”

Pelan-pelan dia pun berpaling. Tiga orang dari Perkumpulan Naga

Hijau berbaris di bawah wuwungan atap. Tampaknya mereka pun

sangat terkejut.

Darah pelan-pelan mengalir menuruni kepala biksu tadi dan

akhirnya mengental. Hal itu membuatsebuah kilauan emas terlihat

sehingga Fang Long Xiang segera berjongkok dan memutar kepala

itu ke arah sinar lampu untuk melihat sumber kilauan tadi. Dia

segera melihat sebuah logam keemasan berbentuk seperti mata

rantai. Mata rantai berdiameter tujuh inci itu menancap di

kepala tersebut, hanya sebagian saja yang terlihat.

Fang Long Xiang akhirnya paham kenapa biksu ini tadi bertingkah

seperti orang gila dan tampak amatmenyeramkan. Sebuah mata

rantai emas berdiameter tujuh inci, jika menancap di kepala

orang, orang itu tentu akan segera menjadi gila.

Bai Yu-jing mengerutkan keningnya dan berkata: “Rantai emas

Perkumpulan Rambut Merah?”

Fang Long Xiang mengangguk, bangkit berdiri, matanya menatap

pintu kamar ketiga sana dan bergumam: “Mengapa dia harus

membunuh biksu ini?”

“Mengapa kau tidak pergi dan bertanya padanya?” Orang yang

bicara ini adalah Tuan Muda Zhu.

Jelas dia tadi mendengar suara jeritan yang memilukan itu, keluar

dengan tergesa-gesa, dan sekarang sedang berlipat tangan, berdiri

di bawah lampu. Si baju hitam membayanginya dalam jarak dekat.

Fang Long Xiang memandangnya dan berkata: “Sejak kapan Gedung

Sejuta Emas dan Perkumpulan Rambut Merah bermusuhan?”

Tuan Muda Zhu berkata: “Bermusuhan? Siapa bilang Gedung

Sejuta Emas mempunyai sengketa dengan monster-monster

rambut merah itu?”

Fang Long Xiang berkata: “Bagaimana gentong ikan mas tadi bisa

pecah?”

Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata: “Mungkin mereka

bersengketa mengenai ikan mas itu…. Mengapa kau tidak

bertanya padanya saja?”

Fang Long Xiang berkata: “Kau ingin aku bertanya padanya?”

Tuan Muda Zhu berkata: “Hal itu terserah padamu.” Fang Long

Xiang menyeringai, tiba-tiba tubuhnya melesat pergi. Pintu kamar

ketiga biasanya selalu tertutup, tapi sekarang terlihat sinar lampu

keluar darinya.

Fang Long Xiang tidak mengetuk pintu, pintu memang terbuka.

Seseorang berdiri di ambang pintu, di telinganya terpasang dua buah

anting-anting emas berbentuk mata rantai yang berbunyi “tingtang”,

matanya tampak berapi-api.

Fang Long Xiang memandang anting-anting emas di telinganya:

“Ketua Miao?”

Miao Shaotian berkata dengan wajah tenang: “Tuan Fang benarbenar

memiliki mata yang tajam.”

Fang Long Xiang berkata: “Tadi…..”

Miao Shaotian: “Tadi aku sedang makan. Bila sedang makan, aku

tidak pernah membunuh orang.”

Di atas meja memang ada baki berwarna kuning keemasan, di

atas baki terdapat seekor ular yang kulitnya sudah separuh

terkelupas. Di sudut mulut Miao Shaotian terdapat darah.

Perut Fang Long Xiang tiba-tiba terasa memberontak, agaknya orang

ini sedang memakan seekor ular berbisa.

Miao Shaotian melirik Tuan Muda Zhu di halaman sana.

Dengan dingin dia berkata: “Jangan lupa, siapa saja yang punya

rantai emas, dia bisa melemparkan mata rantai emas itu. Asal orang

itu punya tangan, dia bisa menggunakan mata rantai emas itu untuk

membunuh orang.”

Fang Long Xiang mengangguk, dia tidak bisa membuka

mulutnya karena khawatir kalau dia akan muntah.

Di kamar sebelah, suara isak tangis yang amat memilukan sayupsayup

masih terdengar.

Miao Shaotian membanting pintunya hingga tertutup. Dia

meneruskan makannya lagi.

Tiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau pun telah menarik diri.

Yuan Zi-xia memegang tangan Bai Yu-jing erat-erat. Dia takut

kalau pemuda itu menyelinap pergi dengan tiba-tiba. Mayat biksu

tadi telah menjadi kaku.

Fang Long Xiang mengerutkan keningnya dan berkata: “Siapa

yang membunuhnya? Mengapa dia dibunuh?”

Bai Yu-jing berkata: “Karena dia biksu palsu.”

Fang Long Xiang berkata: “Biksu palsu? …… Mengapa ada orang

yang membunuh biksu palsu?”

Tidak seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Fang Long Xiang menghela napas, lalu berkata sambil tersenyum

pahit: “Jika tidak keliru, di luar jugatentu ada mayat seorang biksu

palsu lagi.”

Bai Yu-jing berkata: “Mayat biksu palsu lagi?”

Yuan Zi-xia berpegangan pada tangan Bai Yu-jing, dan berjalan

masuk ke dalam paviliun mungil itu. Tangannya terasa dingin seperti

es.

Bai Yu-jing berkata: “Kau kedinginan?”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku bukan kedinginan, tapi ketakutan.

Mengapa begitu banyak orang menyeramkan yang datang ke

mari?”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Mungkin mereka semua datang

untukmu.”

Wajah Yuan Zi-xia makin pucat pasi dan ia berkata: “Untukku?”

Bai Yu-jing berkata: “Semakin menakutkan seseorang itu,

semakin menarik pula wanita yang dia sukai.”

Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata: “Bagaimana denganmu?

Bukankah kau juga orang yang amat menakutkan?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku…..”

Tiba-tiba ia melihat pintu kamar Yuan Zi-xia telah terbuka. Ia ingat,

ketika mereka turun tadi, mereka telah menutup pintu dan

membiarkan lampu kamar tetap menyala.

Yuan Zi-xia membawa enam atau tujuh buah kotak. Ada perempuan

yang tidak mau membiarkan laki-laki melihat barang-barang

miliknya berserakan di mana-mana. Yuan Zi-xia merasa malu,

sekaligus gelisah, dia pun berseru: “Ada… ada pencuri.”

Tangan Bai Yu-jing mendorong pintu kamar itu hingga terbuka.

Sebenarnya kamarnya masih lebih berantakan daripada kamar ini.

Tapi Yuan Zi-xia tidak membiarkan dia melihat-lihat lagi, dan

telah menariknya keluar. Dia tak mau membiarkan barang-barang

miliknya dilihat oleh orang laki-laki, wajahnya sudah memerah

hingga ke telinga.

Bai Yu-jing berkata: “Barang apa yang tidak boleh kulihat?”

Wajah Yuan Zi-xia makin memerah, ia pun berkata: “Aku…. tidak…

tidak ada barang berharga milikku yang dicuri orang.”

Bai Yu-jing menyeringai dan berkata: “Mungkin memang tidak ada

pencurinya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Mengapa pencuri itu tidak datang ke

kamar yang lain dan mengacak-acak di sana?”

Bai Yu-jing berkata: “Agaknya mereka memang sedang mencariku.”

Yuan Zi-xia berkata: “Mencarimu? Siapa? Mengapa mereka

mencarimu?”

Bai Yu-jing tidak menjawab, dia melangkah dan membuka daun

jendela sebelah belakang.

Di lorong sempit berkabut itu tidak terlihat siapa-siapa.

Pengemis yang meminta makanan, pedagang kaki lima, si bungkuk

bertopi sobek, semuanya entah ke mana.

Bai Yu-jing berkata: “Aku akan pergi untuk melihat-lihat keadaan.”

Dia baru saja membalikkan badan, tapi Yuan Zi-xia segera memburu

dan memegang tangannya. Diaberkata: “Kau… jangan pergi,

aku… aku… aku bisa mati ketakutan jika tidak ada orang lain

yang berada di kamar ini.”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Tapi aku…..”

Yuan Zi-xia berkata: “Kumohon, kumohon padamu, sekarang aku

benar-benar sangat ketakutan.”

Wajahnya pucat seperti kertas, dadanya yang montok tampak

kembang-kempis.

Bai Yu-jing memandangnya, sorot matanya melembut dan ia pun

berkata: “Kau benar-benar ketakutan sekarang ini?”

Yuan Zi-xia berkata: “Mmm.”

Bai Yu-jing berkata: “Kalau tadi?”

Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan berkata: “Tadi… tadi aku

berdusta padamu.”

Bai Yu-jing berkata: “Mengapa harus berdusta?”

Yuan Zi-xia berkata: “Karena aku….”

Wajahnya yang pucat juga sudah memerah, tiba-tiba ia memukuli

dada Bai Yu-jing dan berkata: “Kenapa kau harus memaksa orang

lain untuk mengatakannya? Kau memang bukan orang baik-baik.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena aku bukan orang baik-baik, kau juga

berani membiarkan aku tinggal di kamarmu ini?”

Wajah Yuan Zi-xia semakin memerah, ia pun berkata: “Aku

akan menyerahkan tempat tidur ini untukmu. Aku akan

beristirahat di lantai.”

Bai Yu-jing berkata: “Apakah aku tega membiarkanmu tidur di

lantai?”

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata: “Tidak apa-apa, asal kau

mau tinggal di sini, tidak usah perdulikan hal lainnya lagi.”

Bai Yu-jing berkata: “Naik ke ranjang!”

Yuan Zi-xia berkata: “Tidak….”

Yuan Zi-xia berbaring di atas ranjang.

Bai Yu-jing juga berbaring di atas ranjang.

Mereka sudah melepaskan sepatu mereka sebelum berbaring di atas

tempat tidur itu. Tanpa sepatu, tapi pakaian masih dikenakan

lengkap.

Setelah sekian lama, barulah Yuan Zi-xia menghela napas dan

berkata: “Aku tidak mengira kalau kau orang seperti ini.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku juga tidak.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kau… kau tidak khawatir kalau ada orang yang

masuk?”

Bai Yu-jing berkata: “Sama sekali tidak.”

Yuan Zi-xia berkata: “Sama sekali tidak?”

Bai Yu-jing berkata: “Walaupun aku bukan seorang laki-laki sejati,

aku juga bukan seorang bajingan yang akan mengambil keuntungan

dari keadaan seseorang yang sedang tidak menentu.”

Ia mengulurkan tangannya dan membelai tangan si nona dengan

lembut. Lalu ia berkata dengan suara yang lemah-lembut:

“Mungkin karena aku menyukaimu, karena itu aku tidak mau

menakut-nakutimu, apalagi dalam situasi yang kuciptakan sendiri.”

Yuan Zi-xia membelalakkan matanya dan berkata: “Kau sengaja

memanggil orang-orang ini untuk menakut-nakutiku?”

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum getir: “Mungkin, tapi

sebenarnya mereka sedang mencariku.”

Yuan Zi-xia berkata: “Mengapa mereka mencarimu?”

Bai Yu-jing berkata: “Karena ada sebuah benda yang sangat mereka

inginkan berada di tubuhku.”

Yuan Zi-xia berkata dengan mata berkedip-kedip: “Apakah kau kira

aku menginginkan benda itu, dan karena itu aku pun mencarimu?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak pernah punya pikiran seperti itu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Jika aku memintanya darimu?”

Bai Yu-jing berkata: “Maka aku akan memberikannya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Memberikan benda itu kepadaku?”

Bai Yu-jing berkata: “Mmm.”

Yuan Zi-xia berkata: “Benda itu begitu berharga, mengapa kau

begitu mudah memberikannyapadaku?”

Bai Yu-jing berkata: “Benda apa pun, asal kau membuka mulutmu,

akan kuberikan padamu dengan segera.”

Yuan Zi-xia berkata: “Benarkah?”

Bai Yu-jing berkata: “Sekarang juga kuberikan padamu.”

Dia benar-benar memasukkan tangannya ke dalam bajunya.

Yuan Zi-xia tiba-tiba memeluknya erat-erat. Seluruh tubuhnya

seperti dipenuhi perasaan yang hangatdan ia berkata dengan

lembut: “Aku tidak ingin apa-apa, asal kau mau

menemaniku….” Suaranyabercampur dengan isak tangis, air mata

tiba-tiba telah mengalir turun.

Bai Yu-jing berkata: “Kau menangis?”

Yuan Zi-xia mengangguk dan berkata: “Karena aku terlalu bahagia.”

Ia menghapus air mata di wajahnya yang jatuh ke wajah Bai Yu-jing.

Lalu ia berkata, “Lebih dulu ada yang hendak kukatakan padamu.”

Bai Yu-jing berkata: “Katakanlah, aku akan mendengarkan.”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku diam-diam minggat dari rumah,

karena ibuku memaksaku untuk menikah dengan seorang laki-laki

tua yang kaya.” Ini cerita yang amat biasa, yang juga merupakan

cerita yang amat kasar. Tapi dalam cerita semacam ini, entah berapa

banyak air mata yang tumpah. Asal ada ibu yang serakah akan

uang, dan ada laki-laki tua bernafsu besar di dunia ini, cerita seperti

ini selamanyaakan terus terjadi.

Yuan Zi-xia berkata: “Ketika aku minggat, aku hanya membawa

sebuah perhiasan kecil bersamaku. Sekarang semuanya sudah

terjual.”

Bai Yu-jing mendengarkan.

Yuan Zi-xia berkata: “Aku belum pernah bekerja mencari nafkah,

karena itu… karena itu aku ingin mencari seorang pria.”

Perempuan memang tidak bisa hidup sendirian, biasanya mereka

akan mencari seorang pria dambaan. Urusan seperti ini juga tidak

akan pernah berubah.

Yuan Zi-xia berkata pula: “Saat itulah aku menemukanmu, tentu saja

bukan karena aku menyukaimu, tapi cuma karena aku merasa kau

amat meyakinkan, kau tentu bisa memberiku nafkah.”

Bai Yu-jing hanya tersenyum dipaksa.

Yuan Zi-xia menghela napas dengan lembut dan berkata: “Tapi

sekarang, segalanya terasa berbeda.”

Bai Yu-jing berkata: “Apa perbedaannya?”

Suaranya seperti menyimpan rasa sakit.

Yuan Zi-xia berkata dengan suara yang lembut: “Sekarang aku

tahu bahwa aku tidak akan bisamenemukan laki-laki yang lebih

baik darimu. Aku bisa menemukanmu, itulah nasib baikku, aku… aku

benar-benar bahagia.”

Air matanya mengalir turun membasahi pipinya, ia memeluk Bai

Yu-jing erat-erat. Lalu ia berkata: “Asal kau mau, aku akan

memberikan segalanya kepadamu, aku tidak akan meninggalkanmu

seumur hidupku…..”

Bai Yu-jing tak tahan lagi dan balas memeluknya erat-erat, lalu

katanya dengan suara yang lembut: “Apakah aku menginginkan

dirimu? Bagaimana mungkin aku tidak menginginkanmu?”

Yuan Zi-xia tersenyum sambil menangis dan berkata: “Kau mau

membawaku pergi?”

Bai Yu-jing berkata: “Sejak saat ini, tak perduli apa pun yang

aku lakukan, aku tentu akan membawamu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Benarkah?”

Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing membuka mulutnya dan

menutup mulut laki-laki itu dengan mulutnya sendiri. Dia lalu

berkata: “Aku tahu kau mungkin mulai jengkel, tapi aku hanya

memintamu untuk tidak pergi dengan orang-orang itu. Kita tidak

usah memperdulikan mereka dan pergi saja diam-diam dari

tempat ini.”

Bai Yu-jing mengecup air mata yang membasahi wajahnya dan

berkata: “Aku berjanji, aku akan berusaha sekuatnya untuk tidak

pergi bersama mereka.”

Yuan Zi-xia berkata: “Sekarang juga kita pergi?”

Bai Yu-jing menghela napas: “Sekarang aku hanya khawatir

kalau mereka yang tidak akan membiarkan kita pergi. Tapi jika

kita menunggu sampai besok pagi, aku tentu akan punya cara untuk

membawamu pergi, maka nantinya tidak ada lagi orang yang akan

bisa mengganggu kita.”

Yuan Zi-xia tersenyum, sorot matanya memancarkan

kegembiraan dan juga harapan akan kebahagiaan di masa depan.

Akhirnya dia memperoleh apa yang dia inginkan. Seorang wanita

cantik dengan sifatnya yang baik, mengapa hal ini tidak lebih

sering terjadi sehingga mereka bisa memperoleh apa yang mereka

dambakan?

Bab 3: Malam Yang Tiada Akhir

Ketika bintang-bintang mulai naik, tak lama kemudian mereka

pun akan menghilang. Bumi sunyi senyap, bahkan dalam

ketenangan itu bunyi riak air di danau sana pun bisa terdengar.

Lentera di pintu depan berayun-ayun lembut ditiup angin, sementara

sinarnya berkerlap-kerlip dalam hembusan angin.

Yuan Zi-xia meringkuk dalam pelukan Bai Yu-jing. Perlahan-lahan dia

sudah tertidur lelap. Dia benar-benar kelelahan, lelah seperti

seekor merpati yang tersesat, yang akhirnya menemukan

tempat bertengger yang aman.

Mungkin semula dia tidak mengantuk, tapi daya pandangnya

pelan-pelan lenyap, kegelapan yang lembut dan hangat akhirnya

merengkuh dirinya.

Bai Yu-jing memandangnya, menatap hidungnya yang mancung

dan bulu matanya yang panjang. Tangannya lalu mengelus

pinggangnya dengan lembut.

Lalu tangannya tiba-tiba berhenti di atas perutnya.

Dia tidak bergerak, dibiarkannya gadis itu tertidur lelap sampai pagi

menjelang.

Setelah itu diam-diam dia turun dari tempat tidur, memakai sepatu

kulitnya dan diam-diam melangkah pergi.

Kenapa dia tega meninggalkan gadis itu di kamar, apakah dia

tidak khawatir orang-orang itu melukainya? Tapi dia memang tidak

merasa khawatir.

Karena dia telah memutuskan bahwa dialah yang harus lebih

dulu mencari orang-orang ini, dia memutuskan untuk

menyelesaikan urusan ini sebelum pagi tiba.

Setelah itu dia akan membawanya pergi.

Dia telah berjanji padanya.

Dia bukan seekor merpati, tapi seekor elang. Tapi dia juga

sudah terlalu letih untuk terus terbang, dan dia juga

menginginkan tempat yang aman untuk bertengger.

Sinar lampu tampak suram. Bunga fuji di halaman sudah berwarnawarni,

tapi pucuk bunganya jugasudah merunduk dalam hembusan

angin.

Bai Yu-jing memakai sepatu kulitnya, sepatu kulit tua yang nyaman.

Hatinya terasa damai, karena dia tahu bahwa dia telah membuat

keputusan yang paling sulit. Hidupnya setelah ini tentu akan

berubah.

Anehnya, bila seseorang membuat perubahan yang amat penting

dalam hidupnya, biasanyaperubahan itu hanya diputuskan dalam

sekejap mata.

Hal ini terjadi karena emosi yang teramat tebal, karena itu

keputusan pun datang begitu cepat! Cinta sering timbul secara

tiba-tiba, tapi hanya dengan persahabatan cinta itu akan

berkembang dan bertambah dalam.

Fang Long Xiang berada di paviliun mungil.

Bai Yu-jing baru saja melewati pintu yang sengaja dibuka oleh

Fang Long Xiang. Dia berdiri menatapnya dari ambang pintu.

Jelas dia juga tidak bisa beristirahat dengan baik.

Bai Yu-jing berkata: “Apa ada seorang perempuan di kamarmu?”

Fang Long Xiang berkata: “Hari ini bukan hari baik. Karena itu,

walaupun di tempat ini biasanya selalu ada perempuan, tiba-tiba

tempat ini kekurangan perempuan yang baik-baik.”

Bai Yu-jing berkata: “Mengapa kau tidak mencari isteri saja,

sehingga tidak akan mengalami nasib sial seperti hari ini?”

Fang Long Xiang berkata: “Aku tidak gila.”

Bai Yu-jing berkata: “Memang aku yang gila.”

Fang Long Xiang berkata: “Setiap laki-laki tentu sekali-sekali akan

bertindak gila. Asal kau bisa segera sadar, itulah yang terbaik.”

Bai Yu-jing tersenyum, dia hanya tersenyum.

Dia tahu keadaannya sekarang yang sedang peka. Bukan cuma Xiao

Fang yang bisa memahaminya.

Fang Long Xiang juga tersenyum dan berkata: “Tapi aku tidak

mengira kalau malam ini kau masih membutuhkan seorang

teman, tak disangka-sangka kau masih mencariku ke sini.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku bukan sedang mencarimu, aku ingin kau

mencari seseorang.”

Fang Long Xiang berkata: “Siapa?”

Bai Yu-jing berkata: “Kau tahu ke mana si bungkuk bertopi sobek

dan pedagang kaki lima itu pergi?”

Fang Long Xiang mengerutkan keningnya: “Mereka tidak

mencarimu, sebaliknya malah kau yang harus mencari mereka

sekarang?”

Bai Yu-jing berkata: “Apa kau tidak paham, siapa yang

bergerak lebih dulu akan mengendalikan situasi?”

Fang Long Xiang berpikir, lalu berkata: “Mungkin aku bisa

menemukan mereka.”

Bai Yu-jing berkata: “Bagus, suruh mereka datang ke sini, sementara

itu aku akan makan di aula dan menunggu.”

Fang Long Xiang memandangnya, agaknya dia merasa bimbang

sekaligus curiga. Tak tahan lagi dia pun bertanya: “Apa yang hendak

kau lakukan?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada

mereka.”

Fang Long Xiang berkata: “Apa itu?”

Bai Yu-jing berkata: “Apa pun yang mereka inginkan, akan kuberikan

pada mereka.”

Fang Long Xiang menghela napas dan berkata: “Baik, akan kucari

mereka. Aku hanya berharap kau tidak membunuh, atau terbunuh di

sini, sehingga aku masih bisa mencari makan.”

Tuan Muda Zhu juga sedang beristirahat.

Tiba-tiba daun jendela terguncang dengan keras dan seseorang

sudah berdiri di ambang jendela. Dalam sekejap mata orang itu

sudah tiba di depan ranjangnya, sarung pisau di tangannya

sudah menyentuh tenggorokannya.

“Ikut denganku.”

Tuan Muda Zhu pun hanya bisa mengikutinya.

Dia tidak pernah menyangka ada kungfu seperti ini di dunia ini.

Ketika dia berjalan keluar dari pintu, si baju hitam sudah mengikuti

di belakangnya. Dia berada di sana bukan untuk melindunginya, dia

cumaingin dilindungi.

Ia melangkah keluar dari pintu, dan melihat Miao Shaotian dan tiga

orang anggota Perkumpulan Naga Hijau juga sudah berdiri di

halaman. Mimik muka mereka terlihat jauh lebih kesal daripada

dirinya.

Lampu sudah dinyalakan. Sepuluh buah lampu. Walaupun lampu itu

terang benderang, tapi mimik wajah setiap orang tampak amat jelek.

Bai Yu-jing adalah kekecualian. Di wajahnya bahkan tersungging

senyuman.

Sayangnya tidak ada orang yang memandang wajahnya, tiap orang

sedang menatap pedangnya. Sarung pedang yang usang, dan

gagang pedang yang sama tuanya berbalut kain satin. Tidak

adayang bisa mengenali warna aslinya.

“Ini tentu pedang yang sudah banyak membunuh orang itu.”

Di dalam sarung yang usang itu ada sebilah pedang yang tentunya

jauh lebih tajam. Karena pedang inilah senjata yang paling

menakutkan di dunia Kang-ouw.

Pedang Abadi!

Dia cuma membunuh, tidak seorang pun yang bisa merintangi bila

dia membunuh orang!

Tuan Muda Zhu tiba-tiba menyesali tindakannya yang mengusik Miao

Shaotian dulu, kalau tidak, jika mereka bekerjasama, mungkin ada

harapan, tapi sekarang…..

Sekarang tiba-tiba dia melihat Kuda Putih Zhang San dan Zhao

Yi-dao pun berjalan mendatangi, kedua orang ini tentu saja

merupakan jago-jago kelas satu di dunia persilatan. Sorot mata Tuan

Muda Zhu segera dipenuhi dengan harapan.

Semua orang tahu, cuma ada dua pilihan yang tersedia.

Membunuh! Atau dibunuh! Tapi mereka semua keliru.

Bai Yu-jing juga tahu bahwa mereka keliru. Dia sengaja

menundukkan mukanya dan berkata: “Aku tahu sebab apa kalian

semua datang ke sini.”

Tidak ada yang menjawab. Mereka adalah orang-orang yang bijak.

Jika tidak perlu, mereka tidak akan membuka mulutnya untuk bicara.

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Bai Yu-jing lalu berhenti.

Kemudian dia menatap Tuan Muda Zhu, lalu melirik setiap orang.

Terakhir dia menatap Zhao Yi-dao secara langsung. Lalu pelanpelan

dia berkata: “Siapa aku, semua orang tentu tahu?”

Mereka mengangguk. Tapi mata mereka terus-menerus melirik ke

arah gagang pedang itu.

Bai Yu-jing tiba-tiba tersenyum dan berkata: “Semua orang

menginginkan sesuatu yang ada padaku.” Bola mata semua orang

semakin membesar. Di mata itu terlihat harapan, nafsu dan

keserakahan.

Kuda Putih Zhang San sebenarnya merupakan orang yang berbakat

amat luar biasa, tapi saat ini dia tiba-tiba tidak bisa mengatakan

apa-apa.

Cuma si orang baju hitam yang tidak mempunyai ekspresi apaapa

di wajahnya, karena di hatinyatidak ada nafsu. Sebenarnya

dia merupakan orang yang amat buruk rupa, tapi di dalam

kelompok orang ini, tiba-tiba dia tampak lebih menyenangkan.

Bai Yu-jing berkata: “Jika semuanya menginginkan benda itu, urusan

menjadi sangat sederhana, asal setiap orang menyetujui

permintaanku.”

Tuan Muda Zhu tak tahan dan berkata: “Permintaan apa?”

Bai Yu-jing berkata: “Setelah mendapatkan benda itu, kalian semua

harus segera pergi. Sejak saat ini, tidak boleh ada orang yang

mencariku lagi.”

Bola mata setiap orang makin membesar karena heran dan tertarik.

Siapa yang mengira kalau urusan akan menjadi begitu sederhana

dan mudah?

Tuan Muda Zhu terbatuk dua kali. Dengan berat hati dia pun

tersenyum: “Kami dan Pendekar Muda Bai tidak punya ikatan tali

persahabatan. Tapi, Pendekar Bai, asal kami bisa mendapatkan

benda itu, kami akan segera pergi, dan tidak akan berani

mengganggu Pendekar Bai lagi.”

Zhao Yi-dao segera mengangguk untuk menyatakan persetujuannya.

Kuda Putih Zhang San dan tiga orang anggota Perkumpulan Naga

Hijau tentu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Tapi Miao Shaotian hendak mengatakan sesuatu.

Tiba-tiba dia bertanya: “Tapi kami tidak tahu kepada siapa

Pendekar Bai akan memberikan benda itu?”

Bai Yu-jing berkata: “Itu urusan kalian. Sebaiknya kalian bicarakan

lebih dulu.”

Kuda Putih Zhang San memandang pada Miao Shaotian, dan juga

pada Tuan Muda Zhu tanpa berkata apa-apa.

Tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau agaknya ingin

mengatakan sesuatu, tapi mereka hanyamemutar-mutar bola mata

mereka dan menunggu.

Tuan Muda Zhu tiba-tiba berkata, “Benda itu berasal dari

Perkumpulan Naga Hijau, seharusnya kitamemberikannya kepada

saudara-saudara dari Perkumpulan Naga Hijau.”

Zhao Yi-dao bertepuk tangan dan berkata: “Bagus. Itu masuk di

akal.”

Tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau segera bangkit berdiri

dan memberi hormat.

Salah seorang di antara mereka lalu berkata: “Apa yang Tuan

berdua katakan, sudah sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan.

Perkumpulan Naga Hijau tidak akan melupakan kebaikan Tuan

berdua.”

Zhao Yi-dao mengangkat tangannya dan berkata: “Tidak apa-apa.”

Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata: “Gedung Sejuta Emas

akan membutuhkan bantuan Perkumpulan Naga Hijau di masa

yang akan datang, ketiga saudara tua tidak usah begitu sungkan.”

Walaupun tuan muda ini agaknya cuma tahu makan sepanjang

harinya, tetapi bila dia bicara, dia selalu memperlihatkan sikap

yang cerdik dan menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang

saudagar yang amat cakap.

Dia tahu kapan harus mengikuti arah angin, tapi tanpa harus

kehilangan kesempatan. Dia seperti sudah tahu urusan sejak

dilahirkan ke dunia ini.

Miao Shaotian menatapnya dengan perasaan dendam. Walaupun di

dalam hatinya dia keberatan, tapi dia tidak punya pilihan lain.

Bai Yu-jing berkata: “Jadi urusan ini sudah diputuskan?”

Miao Shaotian: “Hmm.”

Setelah menarik napas panjang, Bai Yu-jing lalu mengeluarkan

sebuah buntalan bersulam emas dari dalam bajunya, dan

melemparkannya ke atas meja dengan sikap acuh tak acuh.

Tak perduli seperti apa pun bentuk kantung itu, nilai benda di dalam

kantung bersulam itu tampaknya tidak kecil.

Meskipun begitu, dia melemparkannya begitu saja seperti sedang

membuang sampah.

Mata setiap orang segera tertuju ke kantung bersulam itu,

wajah mereka tampak tegang. Tidak seorang pun mampu berkatakata.

Bai Yu-jing berkata dengan dingin: “Benda itu sudah ada di atas

meja, mengapa kalian tidak mengambilnya?”

Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau saling berpandangan, salah

satu dari mereka lalu mendekat dan membuka ikatan kantung

bersulam itu dengan tangan gemetar.

Puluhan macam benda beraneka warna lalu bergulir di atas meja.

Ada batu mata kucing dari Persia, permata dari India, batu giok yang

indah, dan batu-batu mutiara berukuran besar.

Semuanya berkilauan terang seperti sinar lampu.

Bai Yu-jing bersandar dengan santai di atas kursi. Ia memandang

tumpukan permata itu dengan sorotmata yang amat aneh.

Benda-benda itu tidak didapatkannya dengan mudah, tapi dia

bersedia memberikannya semua.

Dia mengerti dengan amat baik apa yang bisa didapatkannya

dengan batu permata ini – arak yang enak, baju yang bagus, tempat

tidur yang bersih dan nyaman, perempuan cantik yang lemah

lembut, dan rasa hormat yang berasal dari perasaan iri orang lain.

Itulah semua yang menjadi kebutuhan dasar setiap laki-laki.

Tapi sekarang, dia telah mencampakkannya. Sedikit pun tidak ada

rasa penyesalan di hatinya. Karena dia tahu yang dia peroleh jauh

lebih baik. Karena seluruh harta di dunia ini tetap tidak bisa mengisi

hati yang kesepian.

Dan sekarang dia tidak lagi kesepian dan ‘kosong’.

Harta itu ‘bergulir’ di atas meja. Anehnya, tidak seorang pun yang

hadir mengulurkan tangan untuk mengambilnya.

Yang lebih aneh lagi, mata setiap orang tampak suram saat

memandang batu-batu permata itu, mereka malah terlihat amat

kecewa.

Bai Yu-jing mencondongkan tubuhnya ke depan dan memandang

mereka. Ia mengerutkan keningnya:

“Apa lagi yang kalian inginkan?”

Tuan Muda Zhu menggelengkan kepalanya.

Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau juga menggelengkan kepala

mereka.

Tuan Muda Zhu tiba-tiba berkata: “Pendekar Bai tunggu di sini

dulu. Kami akan pergi dan segerakembali lagi ke sini.”

Bai Yu-jing berkata: “Apa lagi yang hendak kalian rundingkan?”

Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum getir: “Hanya sebuah

urusan kecil.”

Bai Yu-jing memandang mereka dengan bimbang. Akhirnya dia

membiarkan mereka pergi.

Semua orang sudah pergi.

Bai Yu-jing menyeringai ke arah tempat orang-orang itu menuju. Dia

tidak takut sama sekali dan diatidak khawatir mereka mempunyai

rencana licik apa pun.

Dia bersedia menyerahkan benda itu dengan senang hati, cuma

karena dia ingin membawa si ‘dia’ pergi dari tempat itu. Karena dia

tidak ingin membuat si ‘dia’ ketakutan atau terluka.

Jadi sama sekali bukan karena dia tidak mau terluka, jika hal itu

harus terjadi. Kalau dipikir-pikir, urusan ini benar-benar bodoh.

Apa lagi yang mereka inginkan sekarang? Tapi dugaannya juga tidak

sepenuhnya benar.

Jendela itu terbuka.

Dia bisa melihat gerak-gerik mereka. Tidak seorang pun yang pergi

ke paviliun mungil. Paviliun mungil itu sangat tenang.

Si ‘dia’ tentu sedang beristirahat dengan amat pulas. Bila si ‘dia’

sedang beristirahat, dia tampak seperti seorang bayi yang mungil.

Suci dan bahagia.

Sudut mulut Bai Yu-jing memperlihatkan ekspresi yang bahagia –

tapi tiba-tiba semua orang tadi sudah kembali lagi secara

mendadak. Masing-masing membawa sebuah kantung kain yang

kemudian mereka letakkan di atas meja. Mereka lalu membuka

ikatannya.

Kuda Putih Zhang San membawa sebongkah mutiara. Miao Shaotian

membawa sebungkus daun emas. Orang Naga Hijau membawa

sebuah kotak perak. Tuan Muda Zhu membawa lembaran-lembaran

cek yang masih baru.

Benda-benda ini, tak perduli yang mana pun di antaranya, semuanya

mewakili nilai harta yang besar. Nilainya sama sekali tidak berada di

bawah nilai batu-batu permata Bai Yu-jing.

Bai Yu-jing tak tahan dan bertanya: “Apa artinya ini?”

Tuan Muda Zhu bangkit dan berkata: “Ini semua untuk

menunjukkan rasa hormat kami, silakan Pendekar Bai

menerimanya.”

Bai Yu-jing bukan orang yang gampang memperlihatkan

perasaannya, tapi sekarang dia benar-benar tak dapat

mengendalikan perasaan herannya.

Mereka tidak menginginkan permatanya, tapi mereka malah

memberikan semua harta ini kepadanya. Ini semua untuk apa? Dia

juga tidak bisa mencari jawabannya.

Tuan Muda Zhu terbatuk pelan dan berkata: “Kami… kami juga ingin

memohon sesuatu dari Pendekar Bai.”

Bai Yu-jing berkata: “Apa itu?”

Tuan Muda Zhu berkata, “Berapa lama Pendekar Bai berencana

untuk tinggal di sini?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku harus pergi saat fajar tiba.”

Wajah Tuan Muda Zhu menjadi terang dan dia berkata sambil

tersenyum: “Bagus sekali.”

Bai Yu-jing berkata: “Katamu tadi hendak meminta sesuatu padaku?”

Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum: “Jika Pendekar Bai

sudah ingin pergi, maka tidak ada urusan lagi.”

Bai Yu-jing tercengang.

Dia semula mengira mereka tidak ingin dia pergi, siapa tahu mereka

malah berharap dia cepat-cepat pergi. Malah mereka juga bersedia

memberikan harta ini kepadanya.

Apa sebab semua ini? Dia tidak berhasil mencari jawabannya.

Tuan Muda Zhu tampak bimbang. Dia berkata: “Tapi, kami tidak

tahu apakah Pendekar Bai akan pergi dengan orang lain?”

Bai Yu-jing tiba-tiba paham.

Mereka bukan sedang mencarinya, tapi Yuan Zi-xia. Cuma, karena

mereka memiliki masalah dengan pedang panjangnya, mereka tidak

berani memulai gerakan mereka sampai saat ini.

Mereka tidak ragu untuk memberikan harta yang begini besar

untuk mendapatkan gadis itu, apamaksud mereka yang

sebenarnya terhadapnya?

Jika dia cuma seorang gadis yang minggat dari pernikahannya

dan pergi dengan tergesa-gesa, kenapa dia bisa bertemu dengan

begini banyak jago-jago kungfu yang berpengaruh? Apakah yang dia

ucapkan sebelumnya semua cuma dusta? Apakah perkataannya tadi

cuma untuk menggugah hatinya, agar dia mau melindunginya?

Apakah ini alasannya kenapa gadis itu memintanya untuk

mengabaikan orang-orang ini dan pergi bersamanya dengan diamdiam?

Hati Bai Yu-jing serasa karam.

Semua orang sedang memandangnya, menunggu jawabannya.

Di atas meja berserakan batu permata dan emas yang

berkilauan gemerlap di bawah sinar lampu. Tapi tidak seorang

pun yang memandangnya.

Yang mereka inginkan adalah sesuatu yang jauh lebih bernilai.

Apakah itu? Apakah Yuan Zi-xia sendiri, atau sesuatu yang dia miliki?

Tuan Muda Zhu melihat ekspresi di wajahnya dan berkata,

“Pendekar Bai dan gadis Yuan itu hanyabertemu secara kebetulan.

Pendekar Bai tentu tak akan menyinggung perasaan seorang teman

demi dia.”

Bai Yu-jing berkata dengan dingin, “Kau bukan temanku.”

Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum: “Kami tidak berani

bersahabat dengan orang yang berasal dari tingkat sosial yang

lebih tinggi. Tapi seorang perempuan seperti gadis Yuan itu,

Pendekar Bai tentu akan banyak menemuinya nanti, kenapa….”

Bai Yu-jing memotong ucapannya dan berkata: “Yang kalian

inginkan bukan dia?”

Tuan Muda Zhu tersenyum.

Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak yakin apa yang sebenarnya kalian

inginkan?”

Mata Tuan Muda Zhu tampak berkilauan, “Pendekar Bai tidak tahu?”

Bai Yu-jing menggelengkan kepalanya.

Wajah Tuan Muda Zhu memperlihatkan sebuah senyuman licik.

Dia berkata sepatah demi sepatah yang menunjukkan rasa

jerihnya terhadap Bai Yu-jing, “Mungkin Pendekar Bai akan

tergiur setelah tahu segalanya.” Karena itu, dia tidak mau

mengatakan apa-apa.

Nilai benda itu pasti lebih besar dari seluruh emas dan harta lainnya

yang ada di sini. Bai Yu-jing benar-benar tak mampu menemukan

jawabannya. Benda apakah yang begitu berharga di tubuh Yuan

Zi-xia? Seluruh isi kamarnya tadi telah diobrak-abrik oleh mereka.

Tuan Muda Zhu berkata pula, “Menurut pendapatku, Pendekar Bai

tidak usah mempertimbangkan hal ini lagi. Jika kau punya uang

dan permata sebanyak ini, kau tidak akan menemui kesulitan

untuk mencari perempuan secantik bidadari lainnya.”

Bai Yu-jing pelan-pelan memungut kantung permata miliknya,

dan mengembalikannya ke dalam sakunya. Lalu dia melangkah

pergi. Dia tidak perlu lagi berkata apa-apa, cuma pergi begitu saja.

Mata setiap orang tertuju padanya. Walaupun mereka merasa benci

padanya, tidak seorang pun yang berani bergerak.

Karena mereka juga harus menunggu seseorang yang bisa

menghadapi Pedang Abadi itu. Mereka merasa yakin pada orang

ini.

Malam yang panjang sebentar lagi akan berakhir.

Itulah saat tergelap sebelum fajar tiba, tapi udara sudah terasa

dingin dan segar.

Bai Yu-jing berjalan di atas tanah dan menarik napas panjang. Tibatiba

ia menyadari bahwa cahaya lampu di jendela paviliun mungil itu

telah tertutup oleh dua sosok bayangan.

Bayangan satunya ramping dan indah dipandang, Yuan Zi-xia.

Tapi yang seorang lagi? Bayangan kedua orang itu cukup jauh, tapi

tampaknya begitu dekat. Apakah mereka sedang membicarakan

sesuatu?

Tuan Muda Zhu, Zhao Yi-dao, Miao Shao-tian, Kuda Putih

Zhang San, dan ketiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau

semuanya berada di lantai pertama dalam bangunan itu.

Lalu siapa yang berada di paviliun? Bai Yu-jing menggenggam

pedangnya erat-erat, tangannya terasa lebih dingin daripada gagang

pedang itu.

Dia benar-benar tidak tahu apakah dia harus naik ke atas atau tidak.

Bab 4: Mayat Yang Kaku

Malam itu bukanlah malam yang tidak pernah berakhir.

Angin membawa berita bahwa fajar telah menjelang. Udara pun

terasa lebih menyegarkan dan dingin. Bai Yu-jing berdiri dengan

tenang dalam tiupan angin dingin. Dia berharap, semakin dingin

hembusan angin itu, semakin jernih pula pikirannya. Ketika berusia

13 tahun, dia sudah mulai mengembara di dunia Kang-ouw. Kejadian

itu sudah berlalu 14 tahun.

Selama 14 tahun ini, dia selalu berpikiran jernih, karena itu dia tetap

bisa hidup sampai sekarang. Mengingat pengalaman, serangan dan

bahaya apa saja yang pernah dia alami dulu, jika dia ingin tetap

hidup, hal itu tidak akan gampang.

“Sang dewa membawaku terbang tinggi, hingga mencapai

keabadian.”

Di dalam hatinya, dia sedang menyeringai. Dia telah mendengar

cerita tentang dirinya di dunia persilatan. Dia merasa saat ini

persis seperti dalam cerita itu. Dia membutuhkan otaknya tetap

bekerja, sambil terus menjaga ketenangan dirinya. Sekarang dia

harus tenang.

Di jendela, salah satu bayangan itu tampak berjalan mendekat. Dia

tidak mau menduga-duga siapa orang ini, karena dia tidak ingin

mencurigai temannya sendiri. Xiao Fang adalah temannya.

Karena orang-orang lainnya semua berada di lantai satu, siapa lagi

yang berada di dalam paviliun itu selain Fang Long-xiang?

Xiao Fang juga seorang laki-laki yang menarik. Mungkin dia memiliki

kekuatan yang lebih besar untuk melindunginya dibandingkan

dengan dirinya.

Jika si dia pergi ke pelukan Xiao Fang, dia juga tidak perlu sedih.

Karena di antara mereka memang tidak ada kontrak tertulis.

“Jika keadaan berbalik arah, walau cuma sedikit, tidaklah perlu

terlalu dikhawatirkan.”

Bai Yu-jing menghembuskan napas panjang dan memaksakan

dirinya untuk tidak lagi memikirkan urusan ini. Tapi hatinya

seperti tertusuk jarum, tertusuk amat dalam. Dia memutuskan

untuk melangkah pergi. Memang, pergi jauh adalah tindakan yang

bagus, karena tidak ada hal di dunia ini yang perlu dipikirkan begitu

bersungguh-sungguh. Dia pelan-pelan membalikkan badannya.

Tapi saat itulah tiba-tiba ia mendengar suara jeritan kaget Yuan Zixia.

Terkandung perasaan terkejutdan takut dalam jeritan itu, seperti

suara seseorang yang melihat ular berbisa.

Bai Yu-jing segera melesat seperti anak panah ke paviliun itu, dan

“brak!”, ia telah mendobrak daun jendela. Di dalam kamar memang

ada dua orang manusia.

Wajah Yuan Zi-xia benar-benar pucat, bahkan tampak lebih

ketakutan daripada cuma melihat ular berbisa. Dia sedang

memandang orang di seberangnya. Orang ini memang lebih

menakutkan daripada ular berbisa. Rambutnya panjang

menyeramkan, tubuhnya kaku kejang, wajahnya bersimbah

darah; dia amat mirip dengan sesosok mayat hidup.

Orang ini bukan Xiao Fang. Untuk sesaat Bai Yu-jing benar-benar

merasa menyesal di dalam hatinya. Seharusnya dia tidak

mencurigai sahabatnya itu. Tapi sekarang bukanlah waktunya untuk

merasa kesal terhadap dirinya sendiri.

Dia baru saja menerobos masuk lewat jendela ketika mayat itu

mengayunkan sebuah cambuk ke arahnya. Ujung cambuk itu

seperti ular yang bernyawa. Bergerak dengan amat cepat.

Kungfu ‘mayat’ ini ternyata tidak kalah dibandingkan dengan jagojago

ternama di dunia Kang-ouw. Tubuh Bai Yu-jing melayang

tinggi, tapi dia juga tidak bisa mundur. Agaknya dia tak akan

mampu mengelakkan serangan itu, cambuk itu sudah hampir

membelit tenggorokannya.

Tapi tidak seorang pun di dunia ini yang mampu melilitkan cambuk

di tenggorokannya. Ketika tangannya diangkat, segera sarung

pedangnya terbelit erat-erat oleh cambuk yang panjang itu.

Tangannya yang lain telah menghunus pedang itu dengan kecepatan

seperti kilat. Sinar pedang berwarna perak, berkilauan begitu

terangnya sehingga orang hampir tidak bisa membuka matanya.

Dengan jari kaki menotol di ambang jendela, sinar pedang yang

berwarna keperak-perakan itu telah menusuk ke arah ‘mayat’

tersebut. Cambuk ‘mayat’ itu telah melepaskan belitannya dan

ditarik kembali karena tidak berhasil dalam serangannya.

Tapi hawa dingin terasa menggigit ketika bintik-bintik bintang yang

dingin memenuhi angkasa, seperti hujan badai yang menerjang ke

arah Bai Yu-jing. Sinar pedang Bai Yu-jing bergerak ke sana ke

mari, bintik-bintik bintang yang dingin itu tiba-tiba

lenyap dari angkasa.

Tapi saat itu ‘mayat’ tadi telah bergerak cepat ke arah jendela.

Bagaimana mungkin Bai Yu-jing melepaskannya pergi?

Ia melirik ke sekelilingnya, sudut matanya menangkap sosok tubuh

Yuan Zi-xia yang sudah pingsan karena ketakutan. Mengingat

orang-orang yang berada di lantai bawah, dia tidak boleh

membiarkan gadis itu sendirian di sini.

Apakah dia harus mengejar? Atau tidak?

Sejenak dia merasa sulit untuk memutuskan. Untunglah tiba-tiba

dia mendengar suara Xiao Fang: “Apa yang terjadi?”

“Kuserahkan dia……”

Ucapannya belum selesai tapi orangnya telah melesat keluar lewat

jendela seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Siapa

sangka, walaupun tubuh ‘mayat’ tadi kaku seperti kayu,

gerakannya ternyata cepat seperti meteor.

Ketika Bai Yu-jing menjawab pertanyaan Xiao Fang tadi, tubuhnya

telah melesat keluar sejauh 70-80 kaki. Tapi bayangan ‘mayat’ tadi

pun sudah melayang pergi secepat kilat. Bai Yu-jing mengejarnya,

tapi dia telah menghilang.

Suara kokok ayam jantan terdengar bergema di kejauhan.

Apakah dia benar-benar sesosok mayat hidup? Saat ayam jantan

berkokok, maka dia pun menghilang secara gaib?

Di timur mulai muncul warna langit yang kebiru-biruan, cakrawala

pandangan pun mulai tampak.

Di sekeliling halaman yang luas itu terdapat hutan yang jauhnya

kira-kira 300 kaki. Tidak mungkin ada yang mampu menempuh

jarak 300-400 kaki dalam sekejap mata. Bahkan orang nomor

satu dalam ilmu ginkang di jaman dulu, Chu Xiang-shi, tidak

mempunyai kemampuan seperti ini!

Angin berhembus semakin dingin.

Bai Yu-jing berdiri di atas tanah yang agak tinggi, berpikir

dengan tenang. Tiba-tiba dia melompat pergi.

Di lantai bawah bangunan itu ada empat buah kamar. Kamar

ketiga adalah tempat di mana Miao Shaotian tinggal. Sekarang

kamar itu amat sepi, semua lampu telah dipadamkan.

Di kamar kedua terdapat lampu yang menyala.

Dalam sinar lampu yang suram, sosok tubuh seseorang tampak

membayang di jendela. Melihat bentuk tubuhnya, mungkin dia

adalah perempuan tua bungkuk yang kemarin menangis tersedusedu

itu.

Dia jelas sedang berduka karena kematian anggota keluarganya.

Mungkin itulah sebabnya sejak malam tadi dia tidak bisa tidur.

Mungkin dia bukan berkabung karena kematian orang lain, tapi

sedang sedih memikirkan nasibnya sendiri.

Bila orang sudah tua, dia tentu sangat sensitif dan amat takut pada

kematian.

Bai Yu-jing berdiri di luar jendela, mengawasi perempuan tua itu

dengan tenang. Tak terasa dia pun menghela napas dengan lembut.

Anehnya, bila seseorang sedang berduka, perasaannya biasanya

malah lebih tajam.

Dari dalam kamar segera ada orang yang bertanya, “Siapa itu?”

“Aku.”

“Siapa kau?”

Sebelum Bai Yu-jing menjawab, pintu sudah dibuka.

Perempuan tua ubanan itu, dengan tangan di pintu danpunggungnya

yang bungkuk di belakangnya, berdiri di ambang pintu. Dia

tampak curiga dan sorot matanya membayangkan perasaan

benci. Diabertanya: “Siapa kau? Apa yang kau inginkan?”

Bai Yu-jing bimbang sebentar, lalu dia berkata: “Tadi ada orang yang

agaknya lari ke arah sini. Aku tak tahu apakah dia telah

mengejutkan nyonya atau yang lain-lainnya?”

Sorot mata benci di mata perempuan itu semakin terlihat jelas,

“Ada orang ke sini? Ini kan sudah sangat larut. Di mana orang

itu, apa kau bukan sedang berkhayal?”

Bai Yu-jing tahu suasana hati perempuan ini sedang tidak baik,

karena itu pula perasaan bencinya itu timbul. Ia lalu tersenyum dan

berkata: “Mungkin aku yang keliru, maaf.”

Dia pun tidak berkata apa-apa lagi. Ia menjura dan membalikkan

badan untuk pergi ke halaman. Detik itu terasa sangat lama, dia

seolah-olah sudah merasa teramat letih.

Saat itulah dia mendengar bunyi “bruk!”.

Perempuan tua itu, karena lelahnya, wajahnya sudah menjadi

pucat dan kehijauan karena terlalu banyak berduka. Dia seperti

sebuah kotak yang penuh berisi mesiu. Tiba-tiba kotak itu meledak

dan dia pun terjungkal roboh.

Bai Yu-jing melayang balik untuk memapahnya. Nadinya masih

berdenyut, dan dia pun masih bernapas. Cuma napasnya sudah

amat lemah. Bai Yu-jing menghembuskan napas karena lega. Dia

segera memberikan pertolongan pertama. Setelah sekian lama,

wajahnya yang pucat mulai memerah. Denyut nadinya pun pelanpelan

kembali normal.

Tapi mata dan mulutnya masih tertutup. Sudut mulutnya tidak hentihentinya

mengeluarkan air liur.

Bai Yu-jing berkata dengan lembut, “Nyonya, bangunlah.”

Perempuan tua itu tiba-tiba menghela napas panjang, matanya pun

terbuka. Dia lalu menatap Bai Yu-jing, tapi agaknya dia seperti tidak

melihat apa-apa.

Bai Yu-jing berkata: “Tak apa-apa. Asal kau berbaring sejenak,

segalanya akan baik-baik saja.”

Perempuan tua itu menarik napas dengan susah-payah. Dia

berkata: “Kau pergilah. Kau tidak usah memperdulikanku.”

Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin Bai Yu-jing

meninggalkannya begitu saja?

Dia tidak bisa menghindar dari kesulitan dan segera membawanya

ke dalam.

Mungkin inilah pertama kalinya dia membopong seorang wanita

yang usianya lebih dari 30 tahun. Peti mati itu berada di dalam

kamar, meja persegi empat dipenuhi oleh uang kertas, dengan

duabatang lilin bundar dan tiga buah dupa harum.

Asap dupa mengepul di udara, sinar lilin tampak suram, seluruh

kamar itu dipenuhi perasaan muram yang tebal. Tubuh bocah tadi

tampak meringkuk di atas meja, seperti sesosok mayat yang

sedang tidur.

Bila seorang bocah sedang beristirahat, walau langit runtuh pun

dia akan sangat sulit untuk terbangun. Bai Yu-jing merasa ragu.

Dia tidak tahu di mana dia harus membaringkan perempuan tua ini.

Tiba-tiba tubuh perempuan tua itu bergerak dalam pelukannya,

dua buah tangannya yang kurus seperti cakar telah menjepit

tenggorokannya. Gerakannya bukan cuma cepat, tapi juga penuh

tenaga. Napas Bai Yu-jing segera berhenti, bola matanya seperti

akan melompat keluar dari kelopaknya.

Pedangnya tadi telah disisipkan di ikat pinggang. Saat ini,

seandainya pun dia bisa memegang gagang pedang itu, dia tidak

punya tenaga untuk menghunusnya.

Wajah perempuan tua itu memperlihatkan seringai seperti iblis.

Wajah tua yang sedih dan letih tadi tiba-tiba berubah menjadi wajah

serigala yang jahat. Jari-jarinya pelan-pelan menjepit semakin kuat.

Dia menyeringai seperti iblis sambil berkata: “Pedang Abadi, kau

matilah!……..”

Dia baru saja menyelesaikan ucapannya, ketika tiba-tiba dia

merasakan sebuah benda yang dingin seperti es menyentuh

rusuknya. Itulah gagang sebuah pedang.

Dia kembali memandang wajah Bai Yu-jing. Di wajah itu sama

sekali tak ada perasaan takut, tapi malah tersungging sebuah

senyuman. Tiba-tiba dia merasakan jepitannya seperti bukan

sedang mencekik leher orang, tapi kulit ular yang lunak. Lalu

terasa sebuah perasaan sakit yang teramat sangat, yang

menyebabkan jepitan kesepuluh jarinya pelan-pelan mengendur.

Pedang itu telah berada di tangan Bai Yu-jing. Ujung pedang

menusuk rusuknya, darahnya pun merembes keluar, menodai

pakaian yang baru saja dia ganti.

Bai Yu-jing memandangnya, tersenyum dan berkata: “Aktingmu

memang bagus. Sayangnya kau tidak bisa menyembunyikan

kebenaran dariku.”

Mata perempuan tua itu memperlihatkan perasaan takut. Dengan

gemetar dia berkata, “Kau…. kau sudah tahu?”

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum: “Seorang perempuan

yang sudah tua, tentu tidak bisa terbangun begitu cepatnya. Dia

juga tidak mungkin begitu berat.”

Pedang yang berkilauan itu lalu menyingkap segumpal rambutnya.

Di bawah rambut ubanan itu, rambutnya ternyata masih hitam pekat

dan halus seperti sutera.

Perempuan tua itu menarik napas dan berkata: “Bagaimana kau

bisa tahu tentang seluk-beluk seorang perempuan tua?”

Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja aku tahu.”

Tentu saja dia tahu, sudah terlalu banyak perempuan yang

pernah dipeluk olehnya. Ketika dia membopong perempuan ini, dia

segera tahu bahwa usia perempuan ini tidak akan lebih dari 35

tahun.

Otot-otot seorang perempuan tua tentu sudah lemah, tulangtulangnya

pun juga ringan.

Seorang perempuan berusia 35 tahun, jika ia merawat dirinya,

tulang-tulang tubuhnya tentu akan tetap elastis.

Perempuan tua itu berkata, “Sekarang apa yang kau inginkan?”

Bai Yu-jing berkata: “Harus kulihat dulu dirimu.”

Perempuan tua itu berkata, “Melihat diriku?”

Bai Yu-jing berkata: “Kulihat dulu apakah kau orang yang patuh.”

Perempuan tua itu berkata, “Aku selalu patuh.”

Sorot matanya tiba-tiba memperlihatkan ekspresi yang memikat

dan mempesona. Dia menggosok-gosokkan tangan di wajahnya,

dan semacam debu pun seperti rontok dari wajahnya.

Seraut wajah yang matang, cantik dan molek pun segera muncul.

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Kau memang masih

belum tua.”

Perempuan itu tersenyum memikat dan berkata: “Siapa bilang aku

sudah tua?”

Tangannya beralih ke kancing bajunya, sebelum dia pelan-pelan

melepaskan bajunya.

Di balik pakaian itu terdapat tubuh yang padat, lunak, matang

dan menarik. Bai Yu-jing menatap dadanya. Dua buah puting di

dada itu sudah sangat mengeras.

Wanita itu menggigit bibirnya dan berkata dengan suara yang

lembut: “Sekarang kau bisa melihat, aku orang yang selalu

penurut.”

Bai Yu-jing hanya bisa mengakuinya.

Perempuan itu tersenyum menawan dan berkata: “Aku bisa

melihat bahwa kau adalah orang yang berpengalaman. Mengapa

kau cuma berdiri di situ seperti anak kecil?”

Bai Yu-jing berkata: “Kau ingin melakukannya di sini?”

Perempuan itu tersenyum memikat dan berkata: “Apa kurangnya

tempat ini? Hantu tua itu sudah mati, bajingan kecil itu sudah tidur

seperti mayat. Asal kau tutup pintu itu….”

Pintu masih terbuka.

Tatapan Bai Yu-jing masih tertuju ke wajah perempuan itu.

Tiba-tiba bocah yang tidur seperti mayat itu melompat bangkit.

Dia bangkit dengan cepat dan melemparkan sepuluh buah bintik

bintang. Bocah itu bertindak tak terduga-duga dan juga begitu

cepat. Yang paling menakutkan, tentu saja tidak ada yang bisa

menduga kalau seorang bocah akan bertindak begitu keji, apalagi

Bai Yu-jing sedang menghadapi seorang perempuan telanjang.

Di dunia ini tidak ada yang bisa menarik perhatian seorang laki-laki

seperti seorang perempuan cantik yang telanjang bulat!

Senjata rahasia yang disebarkan itu tentu saja sangat mematikan.

Tapi Bai Yu-jing agaknya sudah memperhitungkan hal ini. Dengan

sebuah kibasan pedang, senjata-senjata rahasia yang mematikan itu

telah lenyap dari pandangan.

Perempuan itu mengertakkan giginya dan berkata dengan geram:

“Anak yang baik, perempuan tua ini akan membantumu.”

Bocah itu melompat dan secara tak diduga-duga mengeluarkan dua

bilah pisau yang runcing dari balik bantal. Yang satu dia lemparkan

pada perempuan itu. Dua bilah pisau yang runcing segera melesat

seperti kilat ke arah Bai Yu-jing.

Saat itulah tutup peti tadi tiba-tiba terangkat, sebuah cambuk

meliuk keluar seperti ular berbisa, meluncur ke arah pinggang Bai

Yu-jing.

Serangan cambuk ini benar-benar mematikan!

Pinggang Bai Yu-jing terancam oleh cambuk, sementara dua

bilah pisau bergerak dengan cepat ke arahnya.

Dia benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menghindar!

Tapi dia tidak menghindar, dia malah menyambut pisau-pisau itu.

Orang di dalam peti mati itu membawa angin tenaga yang kuat

luar biasa ketika dia bergerak. Ternyata dia adalah ‘mayat’ yang

menghilang tadi.

Perempuan tadi melihat kedua bilah pisau itu menusuk ke

tubuh Bai Yu-jing, siapa tahu tiba-tiba terjadi keajaiban. Pisaupisau

itu seperti berhasil menembus kulit dagingnya, tapi tiba-tiba

terjatuh ke lantai.

Dan mendadak mulut perempuan dan bocah itu sudah berlumuran

darah.

Pedang Bai Yu-jing adalah keajaibannya.

Sinar pedang berkilauan, merontokkan dua bilah pisau yang

dilemparkan kedua orang itu. Pada saat yang bersamaan, pedang itu

bergerak lagi untuk memotong cambuk panjang itu.

Mayat itu semula berusaha untuk menarik kembali cambuknya.

Ketika cambuk putus, dia segera kehilangan keseimbangannya.

Dia pun terpental menabrak daun jendela.

Bocah dan perempuan itu berteriak dengan terkejut. Bai Yu-jing

mengepalkan tinjunya dan pada saatyang tepat berhasil memukul

perut bocah itu. Dalam suasana gelap, si bocah merasa kesakitan

dan akhirnya jatuh pingsan.

Wajah perempuan itu penuh dengan rasa takut. Dia membalikkan

badannya untuk melarikan diri.

Baru saja tubuhnya bergerak, gagang pedang Bai Yu-jing telah

memukul kepalanya – dia pun jatuh pingsan lebih cepat daripada si

bocah.

‘Mayat’ tadi berdiri membelakangi jendela. Dia menatap Bai Yu-jing

dengan sorot mata ketakutan.

Dia hampir tidak percaya kalau dia tidak melihat sendiri bahwa

dia sedang berhadapan dengan seseorang yang gerakannya begitu

cepat.

Bai Yu-jing juga sedang memandangnya dengan dingin dan berkata:

“Kenapa kau tidak lari?”

Mayat itu tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata: “Aku

tidak mengganggumu, kenapa aku harus lari?”

Bai Yu-jing berkata: “Memang kau tidak menggangguku. Kau cuma

menginginkan nyawaku.”

Mayat itu berkata: “Hal itu terjadi karena kau yang memaksa kami.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh?”

Mayat itu berkata: “Yang kuinginkan cuma benda yang ditipu

perempuan itu dariku.”

Bai Yu-jing mengerutkan kening dan berkata: “Benda apa yang

ditipunya darimu?”

Mayat itu berkata: “Sebuah peta rahasia.”

Bai Yu-jing berkata: “Sebuah peta rahasia! Peta rahasia apa? Peta

rahasia harta karun?”

Mayat itu berkata: “Bukan.”

Bai Yu-jing berkata: “Bukan?”

Mayat itu berkata: “Peta itu sendiri merupakan harta yang terkubur.

Siapa pun yang mempunyai petaini, dia bukan cuma menjadi orang

terkaya di dunia, tapi juga orang yang paling tangguh di dunia ini.”

Bai Yu-jing berkata: “Kenapa begitu?”

Mayat itu berkata: “Kau tidak perlu bertanya kenapa. Asal kau

lepaskan aku, aku akan membantumu untuk menemukan peta ini.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh.”

Mayat itu berkata pula: “Aku hanya tahu peta itu ada padanya.”

Bai Yu-jing merasa bimbang. Tiba-tiba dia tersenyum dan

berkata: “Karena peta itu ada padanya, kenapa aku membutuhkan

bantuanmu untuk menemukannya?”

Mayat itu berkata: “Karena dia tidak akan memberitahukan hal

sebenarnya kepadamu, dia tidak akan memberitahukannya pada

siapa pun. Tapi aku bukan hanya tahu rahasianya, tapi juga

tahu……”

Suaranya tiba-tiba berhenti dengan sekonyong-konyong.

Sepasang gaetan besi tiba-tiba masuk lewat jendela.

Tenggorokannya tiba-tiba terjepit oleh gaetan itu tanpa bisa berkata

apa-apa lagi. Matanya melotot, darah pun mengalir dari sudut

matanya yang terbuka.

Lalu seluruh tubuhnya pun lunglai, seperti pohon yang melayu. Jika

orang tidak melihat dengan mata kepala sendiri, dia tentu tidak akan

mengetahui betapa menakutkannya situasi seperti ini.

Sekali saja melihatnya, dia tidak akan pernah bisa melupakannya.

Bai Yu-jing merasakan perutnya seperti berontak. Dia harus

menahan diri untuk tidak muntah.

Dia menatap Fang Long Xiang yang pelan-pelan memasuki

kamar itu dalam pakaian sutera putih seperti salju. Dia lalu

mengusap darah dari gaetan besinya.

Bai Yu-jing berkata dengan tenang, “Seharusnya kau tidak

membunuhnya.”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Mengapa kau tidak

melihat tangannya?”

Mayat itu sudah roboh ke lantai, tapi kedua tangannya tetap

menggenggam sesuatu dengan erat.

Fang Long Xiang berkata dengan enteng, “Kau kira dia benarbenar

sedang bicara denganmu? Jika aku tidak membunuhnya,

aku khawatir kau sudah berubah menjadi sarang lebah.”

Fang Long Xiang menggunakan gaetan besinya untuk membuka

tangan itu. Tangan itu pun akhirnya terbuka, penuh dengan senjata

rahasia.

Di dalam genggaman tangan itu ada empat macam senjata rahasia

yang berbeda.

Fang Long Xiang berkata: “Aku tahu Pedang Abadimu adalah musuh

utama senjata rahasia. Tapi apa kau tahu kenapa aku tetap merasa

tidak aman?”

Bai Yu-jing berkata: “Kenapa?”

Fang Long Xiang berkata: “Karena aku juga tahu senjata rahasia

orang ini amat jarang meleset dari sasarannya.”

Bai Yu-jing berkata: “Siapa dia?”

Fang Long Xiang berkata: “Ahli senjata rahasia nomor satu dari

sebelah selatan Sungai Yangtse, Gongsun Jing.”

Bai Yu-jing berkata: “Gongsun Jing dari Perkumpulan Naga Hijau?”

Fang Long Xiang berkata: “Benar.”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Tapi seharusnya kau tidak

membunuhnya begitu cepat.”

Fang Long Xiang berkata: “Mengapa?”

Bai Yu-jing berkata: “Ada banyak pertanyaan yang hendak kuajukan

padanya.”

Fang Long Xiang berkata: “Kau boleh bertanya padaku.”

Dia lalu melangkah masuk, memandang ke sekelilingnya untuk

memeriksa keadaan. Dia melihatperempuan itu dan menghela

napas: “Aku tidak tahu kalau Gongsun Jing bukan hanya paham

senjatarahasia, tapi juga amat paham cara memilih perempuan.”

Bai Yu-jing berkata: “Ini adalah perempuan miliknya?”

Fang Long Xiang berkata: “Ini adalah isterinya.”

Bai Yu-jing berkata: “Bocah itu puteranya?”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Bocah? ….. Kau benarbenar

mengira dia masih bocah?”

Bai Yu-jing berkata: “Memangnya bukan?”

Fang Long Xiang berkata: “Usia bocah ini setidaknya sepuluh tahun

lebih tua darimu.”

Dia menggunakan kakinya untuk menendang wajah ‘bocah’ itu

dan semacam debu pun rontok dari wajahnya. Tak disangkasangka,

ternyata muncul kerut-kerutan di wajah bocah itu.

Fang Long Xiang berkata: “Orang ini dijuluki si ‘paku beracun’. Dia

telah berlatih kungfu sejak lahir. Dia juga pengikut setia Gongsun

Jing.”

Tak terasa Bai Yu-jing pun menghela napas. Dia lalu berkata

sambil tersenyum getir: “Orang mati ternyata bukan orang mati,

bocah bukan bocah, perempuan tua bukan perempuan tua –

semua ini benar-benar menakjubkan.”

Fang Long Xiang berkata dengan enteng, “Bila kau bertemu

peristiwa menakjubkan seperti ini lagi, kau akan mati.”

Bai Yu-jing berkata: “Pengaruh Perkumpulan Naga Hijau sudah

tersebar ke seluruh dunia, mengapa orang Perkumpulan Naga Hijau

ini bertindak begitu rahasia?”

Fang Long Xiang berkata: “Karena yang berusaha mereka hindari

justru adalah Perkumpulan Naga Hijau.”

Bai Yu-jing berkata: “Kenapa begitu?”

Fang Long Xiang berkata: “Karena Gongsun Jing telah membuat

malu Perkumpulan Naga Hijau.”

Bai Yu-jing berkata: “Urusan apa itu?”

Fang Long Xiang berkata: “Benda yang sangat penting itu diperdaya

orang dari tangannya. Dia tentu saja tahu bagaimana kebiasaan

Perkumpulan Naga Hijau.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena itu dia lalu menyaru bersama isteri dan

pengikutnya ini. Mereka berusaha mendapatkan kembali benda itu

secara diam-diam?”

Fang Long Xiang berkata: “Benar.”

Bai Yu-jing berkata: “Bagaimana kau tahu tentang urusan ini?”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Kau sudah lupa siapa

aku?”

Bai Yu-jing berkata: “Benda itu benar-benar ada pada Yuan Zi-xia?”

Fang Long Xiang berkata: “Ini harus kau tanyakan sendiri padanya.”

Bai Yu-jing berkata: “Di mana dia?”

Bai Yu-jing segera pergi keluar, Fang Long Xiang mengikutinya dari

belakang. Tiba-tiba sebuah gaetan besi mengiris tangannya, Pedang

Abadi pun jatuh berdenting. Setelah itu, gaetan besi itu seperti tinju

besi yang memukul jalan darah Bai Yu-jing di bawah pinggangnya.

Sinar lilin bergoyang-goyang, seluruh kamar itu seperti bergoyanggoyang.

Bai Yu-jing tidak membuka matanya, tapi dia merasakan sebuah

gaetan besi sedingin es menggelitik tenggorokannya.

Akhirnya dia bangun. Mungkin dia tidak ingin bangun kembali,

karena dia benar-benar tidak mau melihat muka Fang Long Xiang

lagi.

Wajah yang amat luar biasa itu sekarang tampak sangat jelek.

Wajah itu sedang tersenyum padanya. Dia berkata: “Kau tentu tidak

menduga!”

Bai Yu-jing berkata: “Aku memang tidak menduga, karena aku

selalu memandang dirimu sebagai sahabatku.”

Dia tetap berusaha memasang wajah yang tenang – karena dia

sudah kalah, kenapa dia harus bersikap kekanak-kanakan?

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Siapa bilang aku

bukan sahabatmu: aku selalu menjadi sahabatmu.”

Bai Yu-jing berkata: “Sekarang?”

Fang Long Xiang berkata: “Sekarang hal itu tergantung padamu.”

Bai Yu-jing berkata: “Jika aku tidak menurut?”

Fang Long Xiang berkata: “Kau bisa tunduk sedikit.”

Bai Yu-jing berkata: “Jika aku tetap tidak menurut?”

Fang Long Xiang tiba-tiba menghela napas panjang. Dia menatap

gaetan besi di tangannya dan pelan-pelan berkata: “Aku orang

yang cacat, orang cacat biasanya sukar untuk terjun ke dunia Kangouw.

Jika aku tidak punya dukungan yang sangat kuat, walaupun

aku tidak mau terima, aku tak akan dapat hidup dengan nyaman.”

Bai Yu-jing berkata: “Siapa yang mendukungmu?”

Fang Long Xiang berkata: “Kau tidak bisa menebaknya?”

Bai Yu-jing akhirnya paham dan berkata sambil tersenyum pahit:

“Jadi kau juga anggota Perkumpulan Naga Hijau.”

Fang Long Xiang berkata: “Kepala cabang Perkumpulan Naga Hijau.”

Bai Yu-jing berkata: “Tempat ini juga merupakan cabang

Perkumpulan Naga Hijau?”

Fang Long Xiang menghela napas: “Aku tahu lambat laun

pikiranmu akan jernih. Kau adalah orang yang cerdas.”

Bai Yu-jing merasa seperti menelan pil yang pahit tapi tidak bisa

meludahkannya keluar.

Fang Long Xiang berkata: “Tiga tahun yang lalu, aku juga

berada dalam posisi yang sama. Aku tergeletak di sebuah tempat,

dengan beberapa orang menodongkan pisau ke tenggorokanku.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena itu kau lantas masuk Perkumpulan

Naga Hijau? Kau tidak bisamenghindarkannya?”

Fang Long Xiang berkata: “Orang itu memang tidak memaksaku

masuk Perkumpulan Naga Hijau. Dia memberiku dua macam

pilihan.”

Bai Yu-jing berkata: “Dua pilihan seperti apa?”

Fang Long Xiang berkata: “Yang satu adalah masuk peti mati, yang

lain adalah masuk Perkumpulan Naga Hijau.”

Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja kau memilih yang kedua.”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Aku ingin banyak

orang yang memilih dengan cara yang sama sepertiku.”

Bai Yu-jing berkata: “Itu bagus. Tidak ada yang bilang kau salah

memilih.”

Fang Long Xiang berkata: “Kita selalu bersahabat baik. Tentu

saja aku memberimu setidaknya dua macam pilihan!”

Bai Yu-jing berkata: “Terimakasih sudah mengatakannya, kau benarbenar

teman yang baik!”

Fang Long Xiang berkata: “Yang pertama tidak jauh-jauh, di

dekatmu ada peti mati.”

Bai Yu-jing berkata: “Peti mati ini terlalu tipis. Bagi orang

yang begitu ternama seperti diriku, seharusnya kau paling tidak

memberiku peti mati yang jauh lebih baik.”

Fang Long Xiang berkata: “Tidak bisa. Kujamin kau bisa

berbaring di dalamnya, tapi tidak bisa membuat peti ini lebih

tebal.” Gaetan besi di tangannya mulai bergerak. Sambil

tersenyum dia berkata: “Tapi, beristirahat di atas ranjang selalu

lebih enak daripada beristirahat di dalam peti mati. Kau pun boleh

membawa perempuan itu ke atas ranjang.”

Bai Yu-jing mengangguk dan berkata: “Itu benar. Cuma, bila sedang

beristirahat di atas ranjang, aku tidak menginginkan perempuan.”

Fang Long Xiang berkata: “Oh!”

Bai Yu-jing berkata: “Jika di atas ranjang ada seekor sapi

telanjang, aku lebih suka beristirahat di dalam peti mati saja.”

Fang Long Xiang berkata: “Kau tentu tidak menganggap nona Yuan

itu sebagai seekor sapi.”

Bai Yu-jing berkata: “Dia memang bukan sapi, dia seorang pelacur.”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Menurut pendapatmu

yang sejujurnya, katakanlah apayang dia bilang itu benar, siapa

yang mengira kalau seekor rubah tua seperti Gongsun Jing pun akan

terperdaya oleh pelacur itu?”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Menurut pendapatku

yang sejujurnya, aku benar-benar sedikit bersimpati kepadanya.”

Fang Long Xiang berkata: “Aku juga bersimpati kepadanya.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena itu kau membunuhnya.”

Fang Long Xiang menghela napas: “Jika aku tidak membunuhnya,

mungkin dia akan mati sepuluh kali lebih mengerikan.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh.”

Fang Long Xiang berkata: “Perkumpulan Naga Hijau

mempunyai seratus macam cara untuk menghukum orang seperti

dia, tiap cara akan membuatnya menyesali kenapa dia hidup di

dunia ini.”

Bai Yu-jing berkata: “Sebenarnya urusan memalukan apa yang telah

diperbuatnya?”

Fang Long Xiang bimbang sejenak sebelum berkata: “Pernahkah kau

dengar tentang ‘bulu merak’?”

Raut muka Bai Yu-jing segera berubah. Dia berkata: “Bulu merak

dari Perkampungan Burung Merak?”

Fang Long Xiang berkata: “Ternyata kau pernah mendengarnya.”

Bai Yu-jing menghela napas: “Di dunia Kang-ouw, jika ada orang

yang belum pernah mendengar kedua patah kata itu, dia mungkin

belum pernah mendengar juga tentang Pedang Abadi.”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Kau sangat rendah

hati.”

Bai Yu-jing juga tersenyum dan berkata: “Rendah hati adalah

salah satu sifat baikku yang paling utama.”

Fang Long Xiang berkata: “Oh? Kau juga punya sifat baik lainnya?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak berjudi, tidak minum, tidak ambisius,

aku cuma punya satu masalah.”

Fang Long Xiang berkata: “Masalah apa?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku suka berdusta. Tapi cuma satu kali sehari.”

Fang Long Xiang berkata: “Hari ini kau belum berdusta sekali pun?”

Bai Yu-jing berkata: “Belum, karena itu aku harus cepat-cepat

berdusta sekarang, agar nanti tidak kehilangan kesempatan lagi.”

Dia tersenyum dan kemudian berkata: “Karena itu jika sekarang aku

mengatakan sesuatu, sebaiknya kau tidak mempercayainya.”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Terimakasih

banyak karena sudah mengingatkanku, tentu saja aku tidak akan

mempercayaimu.”

Bai Yu-jing berkata: “Jika aku katakan bahwa Gongsun Jing

yang tadi dibunuh olehmu telah hidup kembali, kau tentu tidak

akan percaya padaku.”

Bab 5: Pisau Kilat

Fang Long Xiang berkata: “Tentu saja!”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Jika kukatakan isterinya

telah datang dan akan menyerangmu, kau percaya padaku?”

Fang Long Xiang berkata: “Aku tidak akan mempercayainya.”

Walaupun mulutnya mengatakan tidak percaya, tapi tak terasa

ia pun memalingkan kepalanya. Tangannya juga bergerak, gaetan

besi itu menjauh dari tenggorokan Bai Yu-jing.

Di belakangnya, Bai Yu-jing tiba-tiba berputar ke kiri dan bangkit.

Pedang Abadi terjatuh di dekat mayat Gongsun Jing.

Ketika dia membalikkan badan, tangannya telah menggenggam

gagang pedang itu.

Tapi saat itulah kekuatannya yang baru terkumpul tiba-tiba lenyap.

Ia baru saja melayang sejauh tiga kaki, tapi sedikit demi sedikit

turun kembali.

Lalu didengarnya suara tawa Fang Long Xiang yang puas pada

dirinya sendiri. Hatinya serasa karam. Karena dia tahu bahwa ini

adalah kesempatan terakhirnya. Sekarang kesempatan itu telah

hilang dan tak akan pernah datang lagi.

Dingin dan lembab.

Bai Yu-jing meringkuk di lantai, seluruh tubuhnya tidak mau

bergerak lagi. Tapi gaetan besi itu telah mengangkat pinggangnya

dan membalikkan tubuhnya.

Fang Long Xiang sedang memandangnya sambil tersenyum.

Tersenyum seperti seekor kucing yang mencengkeramkan

kukunya pada seekor tikus. Bila kucing menangkap seekor tikus,

dia biasanya memberikan kesempatan sebanyak 12 kali bagi

tikus itu untuk minggat, karena dia tahu tikus itu tentu saja tidak

akan bisa melarikan diri.

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Aku tidak menyangka

ilmu totokanmu telah banyak maju, seharusnya kita merayakannya.”

Fang Long Xiang berkata: “Sebenarnya saat kau menipuku

untuk memalingkan kepala, aku telah memberimu kesempatan

untuk mencoba.”

Bai Yu-ing berkata: “Oh.”

Fang Long Xiang berkata: “Kau kira tadi kau benar-benar berhasil

menipuku?”

Bai Yu-jing berkata: “Jika aku menjadi kau, aku pun tak akan

sanggup mencegah diriku untuk berpaling.”

Fang Long Xiang berkata: “Tapi sebenarnya aku tidak perlu

melakukannya.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh.”

Fang Long Xiang tersenyum dengan gembira dan berkata:

“Karena aku tahu bahwa isteri Gongsun Jing telah mati.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau…. kau tadi telah membunuhnya?”

Fang Long Xiang berkata: “Aku tidak suka membiarkan orang

hidup di belakangku, karena itu walaupun saat ini aku

membutuhkan seorang perempuan, aku terpaksa harus

mengorbankan dirinya dengan berat hati.”

Bai Yu-jing menarik napas: “Seingatku, kau dulu seorang yang

penuh kasih sayang.”

Fang Long Xiang memperlihatkan kebencian yang luar biasa di

wajahnya dan berkata dengan dingin:

“Sebelumnya aku juga orang yang mempunyai dua tangan.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena kau tidak lagi punya tangan, kau

pun tidak percaya lagi pada perempuan?”

Fang Long Xiang berkata: “Aku hanya percaya pada satu jenis

perempuan, yaitu yang sudah mati.”

Tiba-tiba tersungging sebuah senyuman gembira di wajahnya, ia

berkata: “Jadi sekarang kita bisa melanjutkan pembicaraan kita?”

Bai Yu-jing berkata: “Pembicaraan soal apa? Bulu merak?”

Fang Long Xiang mengangguk dan berkata: “Menurut kabar, ada

360 macam senjata rahasia di dunia ini, tapi bulu merak dapat

dipastikan sebagai senjata yang paling berhasil dan paling

menakutkan.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku mengakui hal itu.”

Soal ini memang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

Menurut cerita, bila senjata rahasia ini dilontarkan, dia terlihat

indah seperti seekor burung merak yang mengembangkan

ekornya. Bukan hanya tampak indah, tapi juga mempesona dan

cemerlang. Tentu saja tidak ada senjata lain di dunia ini yang bisa

dibandingkan dengannya.

Tapi sekali bergerak, senjata ini akan membuatmu bingung dan

segera mencabut nyawamu.

Fang Long Xiang berkata: “Yang paling menakutkan, selain

keturunan langsung dari Perkampungan Burung Merak, tidak ada

orang lain di dunia ini yang tahu rahasia dari senjata rahasia ini.

Tidak adayang tahu bagaimana cara senjata ini menyerangmu.”

Bai Yu-jing berkata: “Memang tidak ada yang tahu.”

Fang Long Xiang berkata: “Tapi sekarang seseorang sudah

mendapatkan rahasia itu.”

Dengan mata berkilauan, dia berkata: “Peta rahasia Gongsun Jing

yang diperdaya darinya adalah petacara pembuatan bulu merak itu,

beserta cara menggunakannya.”

Raut wajah Bai Yu-jing segera berubah. Dia berkata: “Bagaimana

peta ini bisa jatuh ke tangannya?”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Jika Perkumpulan Naga

Hijau ingin memperoleh sesuatu, mereka biasanya punya banyak

cara.”

Bai Yu-jing berkata: “Apakah peta itu dicuri dari Perkampungan

Burung Merak?”

Fang Long Xiang berkata: “Mungkin.”

Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing bertanya lagi tentang hal itu.

Dia berkata lagi: “KarenaPerkampungan Burung Merak

mempunyai senjata seperti itu, mereka telah menguasai dunia

Kang-ouw selama puluhan tahun. Tidak ada yang berani

menentang mereka, bahkan Perkumpulan NagaHijau tidak mau

mencari gara-gara dengan mereka.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku tahu Perkumpulan Naga Hijau sudah

lama merasa tidak puas dengan Perkampungan Burung Merak.”

Fang Long Xiang berkata: “Tapi jika yang lain juga bisa

membuat bulu merak itu, kekuasaan dan pengaruh

Perkampungan Burung Merak akan berkurang secara drastis.

Selama bertahun-tahun ini mereka telah banyak membuat

permusuhan dengan orang lain.”

Bai Yu-jing merenungkan informasi itu. Lalu dia berkata: “Kuda

Putih, Rambut Merah, Pisau Tajam, Gedung Sejuta Emas, mereka

semua mempunyai permusuhan yang amat mendalam dengan

mereka.”

Fang Long Xiang berkata: “Karena itu mereka tidak ragu untuk

mengorbankan segalanya dan bergegas hendak membeli peta

rahasia ini. Setidaknya, jika mereka berhasil membuat bulu

merak, mereka bisa membalas dendam dengan segera. Lebih

dari itu, mereka juga akan mendapat namadengan sangat cepat.”

Bai Yu-jing berkata: “Benar. Amat penting bagi beberapa orang

di dunia Kang-ouw untuk membeli bulu merak, tidak perduli

betapa pun tinggi harganya.”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Mungkin lebih banyak

daripada orang-orang yang ingin membeli Pedang Abadi-mu.”

Bai Yu-jing berkata: “Kenapa Perkumpulan Naga Hijau tidak

membuat sendiri bulu merak itu? Kenapamereka harus menjualnya

pada orang lain?”

Fang Long Xiang berkata: “Karena putera sulung Naga Hijau cuma

tertarik pada satu hal.”

Bai Yu-jing berkata: “Emas.”

Fang Long Xiang berkata: “Perak dan permata juga bagus.”

Dia tersenyum amat misterius dan berkata: “Perkumpulan Naga

Hijau bisa memperoleh benda ini, tentu saja telah menghabiskan

banyak uang. Pengeluaran Perkumpulan Naga Hijau amat besar,

karena itu Naga Hijau tak sabar ingin melepaskan benda ini dengan

harga yang pantas.”

Bai Yu-jing juga tersenyum dan berkata: “Apalagi benda ini adalah

benda yang sangat panas, semakin cepat kau melepaskannya,

semakin cepat masalah akan berpindah kepada orang lain.”

Fang Long Xiang berkata: “Itu benar.”

Bai Yu-jing berkata: “Juga, ada banyak orang di dunia Kangouw

yang telah mati di bawah bulu merak. Jika kau

membunuhnya dengan bulu merak, anggota keluarganya tentu juga

ingin membalas dendam terhadap bulu merak.”

Fang Long Xiang memperlihat penghargaannya atas analisa ini dan

berkata: “Itu tentu saja tak bisa dihindari.”

Bai Yu-jing berkata: “Urusan seperti ini akan menyebabkan huruhara

di dunia Kang-ouw. Bila Kang-ouw semakin kacau,

Perkumpulan Naga Hijau bisa mengail di air keruh untuk mendapat

kesempatan lebih besar.”

Dia menghela napas dan berkata: “Putera sulung Naga Hijau kalian

benar-benar orang yang berbakat. Semua orang tak punya pilihan

kecuali harus mengaguminya, termasuk aku.”

Fang Long Xiang tertawa dan berkata: “Aku tidak menyangka

kau juga akan mengakui hal ini, aku juga mengagumimu.”

Bai Yu-jing berkata pula dengan enteng: “Jika aku punya benda

seperti itu di tanganku, setidaknya aku tak akan terperdaya oleh

siapa pun.”

Fang Long Xiang berkata: “Gongsun Jing adalah orang yang

cakap. Dia mempunyai pengalaman menangani hal ini. Dia juga

orang ternama di Perkumpulan Naga Hijau, jadi sayang sekali

kalau ternyata dia juga punya masalah yang sama denganmu.”

Bai Yu-jing berkata: “Dia juga suka berdusta?”

Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Dia bernafsu besar,

bahkan lebih bernafsu darimu. Dia juga seperti dirimu, dia menyukai

gadis Yuan itu.”

Dia menghela napas dan berkata: “Dia benar-benar perempuan

yang tahu bagaimana cara menipu laki-laki. Laki-laki yang

bertemu dengannya, jika dia tidak menggantung diri sendiri,

mungkin sebaiknya dia terjun saja ke sungai.”

Wajah Bai Yu-jing memperlihatkan perasaan yang menderita.

Dia tersenyum getir dan berkata: “Untunglah aku tidak sampai

menggantung diri, juga tidak terjun ke sungai, karena aku

punyaseorang sahabat baik yang mau menjagaku.”

Wajah Fang Long Xiang tidak memerah. Dia tetap tersenyum

dan berkata: “Karena itu aku selalu berkata bahwa nasibmu

memang bagus.”

Dia melanjutkan perkataannya, “Bagaimana gadis Yuan itu bisa

mencuri benda itu, sampai sekarang aku juga tidak jelas.

Kecurigaanku adalah bahwa suatu waktu dia telah membuat

Gongsun Jing teramat letih, membuat cetakan kuncinya, lalu

membuat kuncinya. Kemudian dia menyuap orang yang menjaga

lorong itu untuk mencurinya.”

Bai Yu-jing berkata: “Dugaanmu sangat beralasan.”

Fang Long Xiang berkata: “Setelah memperhitungkan segalanya

dengan akurat, Gongsun Jing tentu berhasil melacak jejaknya. Tapi

dia telah diperdaya di bawah hidungnya sendiri. Dia sendiri tidak

bisalolos dari kejahatan itu, tentu saja dia tidak bisa mengungkapkan

urusan ini pada siapa pun.”

Dia menghela napas dan berkata: “Gadis Yuan ini agaknya telah

mempertimbangkan segalanya. Sayangnya dia telah melupakan

satu hal.”

Bai Yu-jing berkata: “Oh!”

Fang Long Xiang berkata: “Dia lupa kalau Naga Hijau bisa membuat

siapa pun bicara, asalkan orang itu belum mati.”

Bai Yu-jing berkata: “Apakah penjaga itu telah mengatakan

keberadaannya?”

Fang Long Xiang mengangguk dan berkata: “Dia telah menyuap dua

orang penjaga. Saat pergantian petugas jaga, dia menyelinap ke

ruang rahasia bawah tanah dengan kunci duplikat itu, mencuri peta

bulu merak, dan kemudian pergi ketika mereka berganti petugas

jaga lagi.”

Bai Yu-jing berkata, “Kenapa dia tidak membunuh kedua penjaga itu

untuk menutup mulut mereka?”

Fang Long Xiang berkata: “Karena dia khawatir akan

mengejutkan yang lainnya, karena ilmu kungfunya tidak begitu

tinggi, dan karena dia tidak punya waktu yang cukup banyak.”

Dia pun tersenyum dan berkata: “Karena itu, jika kau pikir hatinya

tidak cukup keji, kau keliru.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku melihat orangnya, dan seringkali salah

menebak sifatnya. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa

menganggapmu sebagai seorang teman baikku?”

Fang Long Xiang tidak memperdulikannya dan berkata: “Naga

Hijau mempunyai orang-orang yang tersebar di seluruh dunia.

Ketika mereka tahu tentang dia, mereka tentu akan dapat

menemukan keberadaannya.”

Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja.”

Fang Long Xiang berkata: “Gongsun Jing tentu saja tidak mau begitu

saja menyerah pada nasib. Dia ingin mendapatkan kembali benda

itu. Tapi dia juga amat paham tentang cara-cara Naga Hijau

menangani anggotanya yang bersalah.”

Bai Yu-jing berkata: “Karena itulah dia menyamar sebagai orang

mati dan bersembunyi di dalam peti mati.”

Fang Long Xiang berkata sambil menyeringai: “Dia mengira cara

ini amat cerdik dan sangat aman. Tapi dia tidak pernah

menyangka, ketika dia membeli peti mati itu, toko tersebut juga

milik Perkumpulan Naga Hijau.”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Perkumpulan Naga Hijau

memang sangat memperhatikan segala sesuatunya. Begitu kau

memasuki Perkumpulan Naga Hijau, mereka telah mempersiapkan

segala hal yang harus dilakukan setelah kematianmu.”

Fang Long Xiang berkata dengan enteng, “Cara mati seperti itu

setidaknya masih lebih baik daripada dilemparkan sebagai makanan

anjing.”

Bai Yu-jing berkata: “Kedua biksu itu? Mereka telah menjadi

makanan anjing?”

Fang Long Xiang berkata: “Kedua biksu itu tentu saja kakitangannya

juga. Mereka menyamar sebagai biksu untuk sampai ke

sini.”

Bai Yu-jing berkata: “Sayangnya kepala mereka terlalu ringan,

pakaiannya terlalu baru, apalagi tatapan mata mereka saat melihat

gadis muda.”

Fang Long Xiang berkata: “Karena samaran mereka bisa terlihat

orang dengan jelas, maka jarum beracun lalu digunakan untuk

melenyapkan saksi-saksi, tapi juga untuk melemparkan dosa

kepada Miao Shaotian.”

Bai Yu-jing berkata: “Siapa orangnya yang menggeledah kotak-kotak

nona Yuan itu? Bukan kau?”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Mengapa aku

melakukan hal seperti itu. Jika orang lain tidak mendapatkan benda

itu, aku pun akan tahu juga, bukan?”

Bai Yu-jing mengangguk dan berkata: “Jika bukan kau, tentu Zhang

San atau Zhao Yi-dao. Saat itu hanya mereka yang punya

kesempatan.”

Fang Long Xiang berkata: “Sayangnya kau mengirimkan sayursayuran

dan arak yang enak itu kepada mereka.”

Bai Yu-jing berkata: “Walaupun Gongsun Jing tidak mau

mengambil resiko, tapi dia juga khawatir penundaan yang terlalu

lama akan menimbulkan lebih banyak masalah lagi. Karena itu

ketika kami semua berada di dalam bangunan itu, dia pun mencari

Yuan Zi-xia.”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Kukira, ketika dia

muncul, mulanya dia cuma hendak berdiskusi dengan Yuan Zi-xia.

Siapa tahu perempuan muda itu ternyata keras kepala, mungkin

karena dia tahu asalkan dia berteriak, kau akan bertindak bagai

pahlawan yang menyelamatkan perempuan cantik.”

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum pahit: “Yang paling lucu,

aku malah menyerahkan dia kepadamu, karena aku ingin kau

melindunginya.”

Fang Long Xiang berkata: “Mengabulkan permintaan orang adalah

masalah kesetiaan. Aku tentu saja bisa melindunginya dengan

sangat baik.”

Bai Yu-jing berkata: “Sekarang tugas besarmu akhirnya selesai, apa

lagi yang kau inginkan?”

Fang Long Xiang berkata: “Jasa yang besar ini belum mendapatkan

keberhasilan, tapi hampir.”

Bai Yu-jing berkata: “Hampir bagaimana?”

Fang Long Xiang berkata: “Peta merak itu masih berada di tangan

orang lain.”

Bai Yu-jing berkata: “Di tangan siapa?”

Fang Long Xiang berkata: “Kau.”

Bai Yu-jing berkata: “Di tanganku?”

Wajah Fang Long Xiang menjadi muram dan ia berkata: “Kau tidak

mengakuinya?”

Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Perempuan… Oh, dia

jelas memintaku untuk mati sebelum memberitahukan rahasia ini,

siapa tahu dia malah mengungkapkannya terlebih dulu.”

Fang Long Xiang tampak tersenyum puas dan berkata: “Sudah

kukatakan padamu, Perkumpulan Naga Hijau bisa memaksa siapa

pun untuk bicara, meskipun orang mati, apalagi cuma seorang

perempuan?”

Bai Yu-jing menarik napas: “Jika kau ingin seorang perempuan

menyimpan rahasia, mungkin hal itu sama dengan meminta orang

mati untuk membuka mulutnya.”

Fang Long Xiang berkata dengan santai: “Sudah kukatakan,

kau hanya punya dua pilihan, pilihan kedua menjamin lebih

banyak kebahagiaan daripada yang pertama.”

Bai Yu-jing berkata: “Apa pilihan kedua?”

Fang Long Xiang berkata: “Bawa peta merak itu ke Perkumpulan

Naga Hijau, dan kau akan diberikan posisi yang ditinggalkan

Gongsun Jing di perkumpulan kami.”

Bai Yu-jing tiba-tiba tersenyum.

Fang Long Xiang berkata: “Kenapa kau tersenyum?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku sedang menertawakan diriku sendiri.”

Fang Long Xiang berkata: “Menertawakan dirimu? Kenapa?”

Bai Yu-jing berkata: “Karena aku hampir mempercayai kata-katamu.”

Fang Long Xiang berkata: “Kau tidak mempercayainya?”

Bai Yu-jing berkata: “Kau jelas sudah tahu bahwa aku mempunyai

peta merak itu. Karena kau punyacara untuk memaksaku buka

mulut, kenapa kau mengucapkan kata-kata yang menyenangkan

ini untuk menipuku agar merasa gembira?”

Fang Long Xiang berkata: “Karena kau orang yang berbakat,

Perkumpulan Naga Hijau membutuhkan semua orang yang berbakat

di dunia ini.”

Bai Yu-jing bimbang dan berkata: “Tapi aku tidak percaya.”

Fang Long Xiang berkata: “Lalu bagaimana caranya supaya kau bisa

percaya?”

Bai Yu-jing berkata: “Bebaskan aku dulu, lalu akan

menyerahkan peta merak itu. Aku tidak akan menipumu…..”

Fang Long Xiang tersenyum. Dia berkata: “Untunglah tadi kau telah

mengingatkanku. Kalau tidak aku pun hampir mempercayaimu.”

Bai Yu-jing menghela napas: “Aku tahu kita tidak akan berhasil

membicarakan transaksi ini. Tapi ada suatu urusan yang juga ingin

kukatakan padamu.”

Fang Long Xiang berkata: “Katakan saja.”

Bai Yu-jing berkata: “Jika aku tidak mau bicara, tidak ada

orang di dunia ini yang bisa memaksaku buka mulut. Jika aku

tidak mengatakan di mana peta merak itu berada, maka tidak ada

orang di duniaini yang bisa menemukannya.”

Mata Fang Long Xiang berkilauan. Dia lalu tersenyum dan

berkata: “Malam ini, kau belum pergi ke mana-mana. Jika aku

menggeledah tempat ini dengan teliti, kenapa aku tidak bisa

menemukannya?”

Wajahnya menjadi masam dan ia pun berkata: “Jika aku harus

mencari, aku tentu akan mulai dari tubuhmu.”

Bai Yu-jing berkata: “Silakan kalau begitu.”

Fang Long Xiang menatapnya, matanya seperti mata seekor rubah

yang sedang memburu anjing.

Mata Bai Yu-jing melirik ke sekelilingnya, menghindari kontak

dengan mata lawan. Seolah-olah dia khawatir kalau matanya akan

mengungkapkan rahasianya.

Di kamar itu terdapat banyak barang.

Dia memandang semuanya, pada lukisan yang tergantung di

dinding, pada lilin putih di atas meja, pada peti mati dan pada

mayat di dalam peti.

Dia tidak memandang pedangnya.

Dia tidak memasukkan pedang itu dalam pengamatannya ke

sekeliling tempat itu.

Mata Fang Long Xiang tiba-tiba bersinar-sinar. Mendadak dia

berkata: “Jika aku menjadi kau, di manakuletakkan peta merak itu?”

Bai Yu-jing berkata: “Kau bukan aku.”

Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Itulah bagus, aku

memang bukan kau. Tapi aku jugatidak mempunyai Pedang

Abadimu.”

Mimik muka Bai Yu-jing pun berubah seakan-akan darah telah

berhenti mengalir di wajahnya.

Fang Long Xiang tertawa. Dengan lembut dan cepat, “tring!”,

dia mengangkat Pedang Abadi itu dengan gaetan besinya.

Sinar pedang itu gemerlap seperti perak, gagang pedang dililit

oleh kain sutera berwarna hitam keunguan.

Fang Long Xiang mengelus badan pedang dengan perlahan, sambil

melirik Bai Yu-jing dengan sudutmatanya. Dia pun bergumam:

“Pedang yang bagus. Benar-benar pedang yang bagus, tapi

sayangnya gagang pedang ini membuatnya tampak buruk.”

Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum dipaksa: “Nanti bila aku

punya kesempatan, aku tentu akan menggantinya.”

Fang Long Xiang tiba-tiba berkata sambil tersenyum: “Bagus, aku

akan menggantinya untukmu.”

Bai Yu-jing tersenyum dipaksa dan berkata: “Kau tidak usah

repot-repot. Aku terpaksa menolak maksud baikmu itu dengan rasa

terima-kasih.”

Fang Long Xiang berkata: “Karena kita adalah teman baik, kenapa

kau begitu sopan?”

Pelan-pelan dibalikkannya pedang itu dan diayunkan. Dia

menggunakan kedua jarinya untuk mengetuk-ngetuk dan

mendengarkan. Lalu dia berkata: “Hei, kenapa bagian dalamnya

seperti kosong?”

Dia menggunakan lidahnya untuk menjilat bibirnya yang kering.

Rasanya seperti ikan asin.

Fang Long Xiang pelan-pelan mengangguk dan berkata: “Mmm,

sebenarnya tidak kosong, tapi agaknya tersimpan segulung kertas

di dalamnya.”

Bai Yu-jing menghela napas panjang dan menutup matanya.

Fang Long Xiang tertawa. Dia menepuk-nepuk gagang pedang

itu dan memutarnya dengan ketiga jarinya – gagang pedang itu

benar-benar kosong karena bisa dibuka dengan putaran tersebut.

Cuma rahasia di dalam gagang pedang itu bukanlah segulung

kertas, tapi puluhan batang jarum. Jarum beracun Niu Mangpan.

Sambil berbunyi “sing!”, puluhan jarum beracun Niu Mangpan

telah menancap di wajah dan mata Fang Long Xiang. Dia segera

menutup wajahnya dengan tangannya dan meraung-raung dengan

keras seperti orang gila. Dia lalu menubruk ke arah Bai Yu-jing,

seolah-olah ingin mati bersama Bai Yu-jing. Tapi begitu terjatuh, dia

tidak bisa bergerak lagi. Gaetan besi di tangannya telah merobek

wajahnya sendiri dan merusak raut mukanya.

Hawa terasa dingin dan lembab. Tapi tampak seberkas cahaya yang

menerobos lewat jendela. Malam yang panjang akhirnya berlalu. Bai

Yu-jing tergeletak di dalam kamar, di mana dia bisa merasakan

darah Fang Long Xiang yang mengalir dari wajahnya.

Darah itu telah membasahi baju atas dan bawahnya. Di dalam

hatinya timbul perasaan berduka. Orang ini selalu menjadi

sahabatnya. Jika ada pilihan lain, dia tidak akan melakukan apa yang

barusan telah terjadi. Tapi dia tahu tidak ada pilihan lainnya.

Walaupun dia menyerahkan peta merak itu, Xiao Feng tentu tidak

akan melepaskannya. Apalagi, dia memang belum pernah melihat

peta merak yang ajaib itu.

Xiao Fang tentu saja tidak akan melepaskannya, karena mereka

dulunya bersahabat. Jika kau mengkhianati sahabatmu, kau tidak

bakalan bisa melepaskannya karena kau tidak akan punya muka

untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.

Jendela dan pintu semuanya masih tertutup, kokok ayam jantan

sayup-sayup terdengar dari kejauhan, sinar matahari pelan-pelan

menerobos masuk lewat jendela. Di luar pintu gerbang, mendadak

terdengar bunyi langkah kaki orang banyak.

Bai Yu-jing menghela napas dalam hatinya: “Akhirnya mereka

datang juga.”

Dia tahu bahwa jerit kesakitan Xiao Fang tadi tentu akan

mengundang semua orang datang ke sini.

“Juragan, di mana kau?”

“Apa yang terjadi?”

“Kau yakin tadi mendengar suara juragan Fang?”

“Aku tidak mungkin keliru.”

“Tapi kamar ini adalah tempat tinggal perempuan tua itu.”

“Aku sudah curiga kalau perempuan tua itu punya sesuatu yang

disembunyikan.”

Tuan Muda Zhu, Miao Shaotian, Zhao Yi-dao, Kuda Putih Zhang San

dan ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau telah datang.

Bai Yu-jing cuma bisa berharap agar mereka berdiri di luar dulu

sambil berunding, agar jalan darahnya bisa pulih sementara itu.

Tapi sekarang di jendela telah muncul sebuah cahaya. Dengan

menggunakan retakan yang disebabkan gaetan besi tadi, mata

seseorang sedang mengamat-amati keadaan di dalam kamar –

mata yang seperti penuh dengan kobaran api yang menyala-nyala.

Kuda Putih Zhang San: “Siapa yang kau lihat?”

Miao Shaotian berkata: “Mayat, kamar yang penuh mayat.”

Dia baru saja bicara sampai di situ ketika pintu kamar telah

didobrak orang. Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau sudah

menghambur masuk. Tapi mereka cuma mengawasi keadaan di situ

sebentar sebelum mundur kembali.

Suasana di dalam kamar itu benar-benar terlalu menyedihkan, terlalu

menyeramkan. Setelah menunggu sekian lama, Zhao Yi-dao dan

Kuda Putih Zhang San pelan-pelan melangkah masuk.

Serempak kedua orang itu berteriak pelan.

Kuda Putih Zhang San: “Mereka benar-benar sudah mati.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kenapa si juragan bilang dia ini tua…..” Dia

mendapatkan bahwa perempuan tua itu belumlah tua, dia tentu saja

tak bisa melanjutkan kata-katanya.

Kuda Putih Zhang San pun berkata: “Siapa pula orang ini? ……

Gongsun Jing? Kenapa bisa Gongsun Jing?”

Tiba-tiba Tuan Muda Zhu berkata sambil menyeringai: “Tidak ada

yang melihat kalau ada seorang yang hidup di sini.”

Zhao Yi-dao berkata: “Siapa?”

Tuan Muda Zhu berkata pula: “Tentu saja orang keras kepala yang

pura-pura mati itu.”

Memang Bai Yu-jing semula bermaksud untuk pura-pura mati buat

sementara waktu, tapi Tuan Muda Zhu berjalan mendekatinya. Dia

lalu duduk dan mengawasinya. Kemudian dia tersenyum dan

berkata: “Pendekar Bai sedang beristirahat?” Orang baju hitam

itu masih merupakan bayangan yang tak terpisahkan di

belakangnya.

Kuda Putih Zhang San pun berseru: “Bai Yu-jing juga ada di sini! Dia

benar-benar belum mati.”

Tuan Muda Zhu berkata dengan santai: “Kalian lupa kalau Pendekar

Bai adalah dewa.”

Kuda Putih Zhang San menggunakan sudut matanya untuk

melirik Zhao Yi-dao. Lalu dia berkata dengan dingin: “Sebenarnya

aku tidak tahu apakah sakit kepalanya tiba-tiba kambuh?”

Zhao Yi-dao berkata: “Kurasa memang kambuh. Mari kita

sembuhkan.”

Bai Yu-jing membuka matanya. Dia melihat sebilah pisau baja yang

berkilauan seperti salju menebas ke arah tenggorokannya. Pisau kilat

yang bagus dan gemerlapan!

Bab 6: Bayangan Wei Tian-ying

Pisau kilat yang bagus dan gemerlapan!

Pisau baja sedingin es itu meluncur dengan cepat ke arah

tenggorokan Bai Yu-jing. Tiba-tiba dia hanya bisa memandangnya

tanpa berkedip.

Tapi pisau itu tidak menebas tenggorokannya. Pisau baja itu

tiba di tenggorokan dan mendadak berhenti.

Zhao Yi-dao menatapnya. Tiba-tiba ia berkata sambil tersenyum:

“Pendekar Bai tahu, bila pisau ini menggorok leher, maka leher

itu pun akan buntung?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku tahu.”

Zhao Yi-dao berkata: “Tapi kau tidak takut.”

Bai Yu-jing berkata: “Aku tahu pisau ini tidak akan menebas

leherku.”

Zhao Yi-dao berkata: “Oh?”

Bai Yu-jing berkata: “Karena ada sesuatu yang tergantung di

leherku.”

Zhao Yi-dao berkata: “Apa itu?”

Bai Yu-jing berkata: “Peta burung merak?”

Mimik Zhao Yi-dao pun berubah dan dia berkata: “Kau tahu tentang

peta burung merak?”

Kuda Putih Zhang San memotong dan berkata: “Kau tahu di mana

peta burung merak itu?”

Bai Yu-jing menutup mulutnya.

Wajah Zhao Yi-dao menjadi gelap dan dia berkata: “Kenapa kau

tidak buka mulut?”

Tuan Muda Zhu berkata, “Jika ada sebilah pisau di leherku, aku juga

tidak akan mampu berkata apa-apa.”

Zhao Yi-dao tertawa dan dengan bunyi “sret!”, pisau itu telah masuk

ke dalam sarung.

Tuan Muda Zhu kembali duduk dan berkata sambil tersenyum:

“Kami tadi telah mengabulkan permintaan Pendekar Bai.

Sekarang kau pun bisa menepati janjimu. Asal Pendekar Bai

membantu kami menemukan peta merak itu, kami akan

membebaskan Pendekar Bai dengan segera – kau bahkan boleh

membawa emas permata yang tak ternilai itu untuk dinikmati

seumur hidupmu.”

Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Majikan Gedung Sejuta

Emas benar-benar tahu cara bicara enurut aturan.”

Tuan Muda Zhu berkata pula, “Aku seorang pedagang. Tentu saja

aku paham cara bertransaksi yang adil atau bagaimana cara

merundingkannya!”

Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja kita bisa merundingkan transaksi

ini.”

Tuan Muda Zhu berkata lagi, “Aku bisa melihat bahwa Pendekar Bai

adalah orang yang bijak.”

Bai Yu-jing berkata: “Peta burung merak itu tentu saja berada

di tangan gadis Yuan itu. Asal kau bebaskan jalan darahku, aku

akan membawa kalian mencari dia.”

Baru saja Bai Yu-jing mengucapkan kata-kata ini, dia telah

menyesalinya dalam hati. Seharusnya dia tidak membiarkan orang

lain tahu bahwa jalan darahnya telah tertotok. Sekarang orang

lain pun bisa melihatnya. Jika seseorang merasa terlalu gelisah

ingin menyelesaikan suatu urusan, segalanya malah bisa menjadi

kacau.

Siapa tahu Tuan Muda Zhu malah mengiyakan dengan amat cepat

dan segera berkata, “Bagus.”

Baru saja mengucapkan kata “bagus”, dia telah menepuknya –

bukan pada jalan darah Bai Yu-jing yang tertotok, tapi malah

pada jalan darah di sambungan lututnya.

Hati Bai Yu-jing terasa makin pahit, walaupun dia berusaha untuk

tetap terlihat tenang. Dia berkata dengan enteng: “Mungkin kau

tidak menginginkan peta merak itu?”

Tuan Muda Zhu tersenyum lirih dan berkata: “Tentu saja aku

menginginkannya. Tapi aku tidak berani membuat Pendekar Bai

capek sendiri.”

Bai Yu-jing berkata: “Tuan Muda Zhu terlalu sopan santun.”

Tuan Muda Zhu berkata pula, “Asal Pendekar Bai katakan di mana

gadis Yuan itu berada, bila kami menemukannya, kami tentu akan

segera kembali untuk melepaskan Pendekar Bai. Dengan demikian,

kami tidak akan membuat lelah Pendekar Bai yang terhormat.”

Bai Yu-jing berkata: “Bagus, cara ini memang amat bagus.”

Zhao Yi-dao tak tahan untuk tidak memotong dan berkata: “Kau

sudah memikirkannya, kenapa kau tidak mengatakannya saja?”

Bai Yu-jing berkata: “Cuma sayang, walaupun aku tahu di

mana dia berada, aku tidak bisamengatakannya.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kenapa tidak?”

Bai Yu-jing berkata: “Aku lupa nama tempat itu.”

Tuan Muda Zhu menghela napas dan berkata: “Teman-teman,

adakah yang bisa membuat Pendekar

Bai mengingat nama tempat itu?”

Miao Shaotian berkata dengan dingin: “Aku.”

Tiba-tiba dia menerobos lewat, tangannya menyusup masuk ke

dalam kantung kain tunik di pinggangnya. Lalu di tangannya

telah tergenggam seekor ular belang berbisa yang amat

menyeramkan.

Seekor ular rumput yang bercincin. Zhao Yi-dao tak terasa mundur

sejauh dua langkah.

Miao Shaotian berkata sambil menyeringai: “Daging ular amat

bergizi, jika Pendekar Bai menelan ular ini, ingatanmu pun bisa

membaik.”

Tangannya tiba-tiba terulur ke arah Bai Yu-jing, lidah ular yang

merah sudah hampir menyentuh hidung Bai Yu-jing.

Bai Yu-jing merasa urat-urat di wajahnya pelan-pelan menegang,

keringat dingin membasahi telapak tangannya.

Mendadak terdengar suara yang amat merdu di halaman. Suara

itu berkata: “Apakah semua orang sedang mencariku?”

Pagi baru saja tiba, kabut masih berputar-putar seperti angin di

halaman sana. Kabut itu membentuk sebuah tirai kabut yang indah

dengan bunga fuji di atasnya

Yuan Zi-xia berdiri di bawah bunga fuji, berdiri tegak dalam

kabut yang pekat. Dia menggenggam sebatang lilin di tangannya.

Dia bahkan tampak lebih cantik, sejenis kecantikan lembut yang

mengandung hawa gaib, sehingga bunga fuji di dekatnya pun

seperti kehilangan warnanya.

Miao Shaotian dan Kuda Putih Zhang San hendak memburu ke

arahnya.

Tapi Yuan Zi-xia berseru: “Berhenti!”

Tiba-tiba dia mengangkat tangannya yang lain dan berkata: “Jika

kalian berdua berani mendekat ke sini, aku akan membakar benda

ini.”

Sinar lilin berkilat-kilat dalam genggaman tangannya yang halus

dan indah seperti giok. Diamengangkat sehelai kertas tinggitinggi,

memisahkannya dari lilin hanya sejarak setengah kaki.

Miao Shaotian dan Kuda Putih Zhang San segera berhenti, sorot

mata mereka tak bisamenyembunyikan perasaan serakahnya.

Kuda Putih Zhang San tersenyum dipaksa dan berkata: “Nona

seharusnya tahu bahwa benda itu sama nilainya dengan segudang

emas. Kau tentu tidak akan membakarnya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku tentu saja tahu. Tapi jika aku mati, apa

gunanya segudang emas?”

Miao Shaotian dan Kuda Putih Zhang San saling berpandangan dan

pelan-pelan menarik diri.

Tuan Muda Zhu melangkah maju, membungkukkan tubuhnya dalamdalam

dan berkata: “Jejak Nonayang harum telah menghilang

dengan tiba-tiba, membuat semua orang merasa gelisah. Tak

disangka-sangka kalau Nona ternyata kembali ke sini.”

Yuan Zi-xia berkata dengan gaya memikat: “Baik sekali kalau

ternyata Tuan selalu memperhatikan aku.”

Tuan Muda Zhu berkata pula, “Terima kasih atas pujianmu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kudengar Tuan Muda Zhu bukan hanya

seorang jutawan muda, juga lemah lembut dan sopan santun. Hari

ini aku bisa melihat sendiri bahwa nama itu memang tidak kosong.”

Tuan Muda Zhu berkata, “Aku juga telah mendengar bahwa Nona

adalah seorang gadis yang cantik bagaikan bidadari. Hari ini aku bisa

melihatnya sendiri, aku merasa amat terhormat.”

Miao Shaotian tak dapat menahan seringainya dan berkata: “Di sini

bukan ruang tamu Gedung SejutaEmas, di mana orang bisa bicara

omong kosong!”

Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum: “Ketua Miao tidak paham,

yang paling suka didengarkan oleh perempuan adalah pujian yang

manis. Jika kalian ingin melunakkan hatiku, seharusnya kalian

lebih banyak mengatakan kata-kata pujian.”

Miao Shaotian membelalakkan matanya dan berkata: “Kenapa aku

ingin melunakkan hatimu?”

Yuan Zi-xia berkata dengan santai: “Karena jika hatiku sudah

lunak, mungkin aku bisa memberimu benda ini.”

Tuan Muda Zhu tiba-tiba berseru: “Itu tidak baik, tidak baik.

Benda ini tidak didapatkan oleh Nona dengan mudah, bagaimana

kau bisa memberikannya begitu saja kepada kami?”

Yuan Zi-xia tersenyum manis dan berkata: “Semula aku berpikir

begitu, tapi sekarang jalan pikiranku amat berbeda.”

Tuan Muda Zhu berkata, “Oh?”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku hanya seorang perempuan yang

kesepian dan terlantar. Jika aku membawa-bawa benda ini, cepat

atau lambat, suatu hari nanti aku pun akan mati di tangan

orang lain.”

Tuan Muda Zhu menarik napas, tampaknya dia sangat bersimpati,

dan berkata: “Di dunia Kang-ouw, setiap langkah demi langkah bisa

merupakan jalan yang sempit dan berbahaya. Nona memang harus

sangat berhati-hati.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tapi jika aku telah menyerahkan benda ini,

maka tidak ada lagi orang yang akan mencariku?”

Tuan Muda Zhu berusaha menyembunyikan kegembiraan di

wajahnya dan berkata: “Tentu saja begitu. Tapi jika Nona ingin

memberikan benda itu, tentu harganya pun harus sesuai.”

Yuan Zi-xia mengedip-ngedipkan matanya dan terbelalak. Dia

berkata: “Kalau begitu, menurut Tuan Muda Zhu, berapa yang

seharusnya kuterima?”

Tuan Muda Zhu berkata: “Setidaknya cukup bagi seorang gadis

untuk menikmati kekayaan seumur hidupnya. Lagipula, imbalan itu

harus berupa emas dan permata, bukan yang lainnya.”

Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata: “Aku juga berpikir

begitu, tapi… kekayaan yang begitu besar, siapa yang bersedia

memberikannya padaku?”

Miao Shaotian tiba-tiba tertawa dengan keras: “Asal kau

memberi ijin, setiap orang di sini akan bersedia memberikannya

kepadamu.”

Yuan Zi-xia berkata dengan sangat gembira: “Bagus sekali,

cuma……”

Miao Shaotian segera bertanya: “Cuma kenapa?”

Yuan Zi-xia berkata: “Di dalam sana juga ada seorang temanku,

bolehkah aku melihatnya dulu?”

Tiba-tiba tak seorang pun yang bicara lagi, tidak ada yang mau

menerima tanggung-jawab itu.

Yuan Zi-xia menghela napas: “Tanganku lelah mengangkatnya,

jika tidak hati-hati, dan benda ini terbakar, apa yang akan terjadi?

Walaupun cuma terbakar sedikit, tentu akan berabe.”

Tuan Muda Zhu mendadak tersenyum dan berkata: “Karena

Pendekar Bai adalah teman Nona, Nona tentu mengkhawatirkannya.

Ini sungguh bisa dipahami. Nona, silakan.”

Yuan Zi-xia menggelengkan kepalanya dan berkata: “Itu tidak baik,

aku tidak berani.”

Tuan Muda Zhu berkata: “Mengapa?”

Yuan Zi-xia berkata: “Di sana terlalu banyak berdiri orang laki-laki

yang bertubuh besar. Aku sangat takut.”

Tuan Muda Zhu berkata pula, “Nona ingin kami pergi?”

Yuan Zi-xia berkata: “Jika kalian bisa mundur ke samping, barulah

aku berani.”

Tuan Muda Zhu berkata, “Lalu?”

Yuan Zi-xia memonyongkan bibirnya dan berkata sambil

tersenyum: “Di luar sini ada begitu banyak orang, apa yang bisa

kuperbuat dengannya? Aku hanya ingin menyampaikan dua patah

kata, dan kemudian aku akan keluar dan menyerahkan benda ini.

Sementara itu, kalian bisa merundingkan dulu siapa yang akan

menerima benda ini.”

Tuan Muda Zhu memandang Zhao Yi-dao, Zhao Yi-dao memandang

Kuda Putih Zhang San.

Kuda Putih Zhang San tiba-tiba berkata, “Akan kutanya dia dulu

apakah dia mau bertemu denganmu.”

Dia tidak menunggu yang lain menjawab, dan segera melesat ke

dalam kamar. Dia lalu menotok limajalan darah Bai Yu-jing, dan

kemudian berputar untuk membuka jendela.

Walaupun jalan darah yang ditotok tetap sama, tapi teknik totokan

setiap orang tidak sama. Jika jalan darah seseorang ditotok oleh

tigamacam teknik yang berbeda, walau seseorang ingin

membebaskannya, tentu hal itu akan sangat sukar.

Jika mereka melihat Yuan Zi-xia hendak membebaskan totokan itu,

mereka pun masih akan sempat bertindak.

Tuan Muda Zhu tersenyum samar dan berkata: “Pendekar Bai tentu

amat memandang Nona, kenapa aku tidak membolehkan kalian

bertemu?”

Bai Yu-jing tergeletak di tempatnya, menatap Yuan Zi-xia ketika

gadis itu masuk. Dia seperti sedang memandang orang asing, di

wajahnya tidak ada ekspresi.

Yuan Zi-xia juga sedang menatapnya dengan raut muka yang

berubah-ubah, entah itu menunjukkan perasaan pedih atau sedih.

Bai Yu-jing berkata dengan dingin: “Apa yang hendak kau lakukan?”

Yuan Zi-xia tersenyum sedih. Dia berkata: “Kau…. kau benarbenar

tidak tahu apa yang hendak kulakukan?”

Bai Yu-jing berkata sambil menyeringai: “Kau tentu datang untuk

menolongku, karena kau baik hati. Kau punya maksud baik yang

sama dengan Fang Long Xiang, kalian semua adalah teman baikku.”

Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan berkata: “Aku bisa saja

menyelinap pergi dengan diam-diam. Jika aku tidak perduli

denganmu, kenapa aku harus datang?”

Matanya tampak merah, air mata pelan-pelan jatuh membasahi

pipinya.

Tiba-tiba seorang anggota Perkumpulan Naga Hijau di luar berkata

dengan keras: “Benda ini semula adalah milik Perkumpulan Naga

Hijau, wajar kalau benda ini harus dikembalikan pada

Perkumpulan Naga Hijau. Tuan Muda Zhu dan ketua Zhao tadi telah

menyetujuinya.”

Walaupun kelopak mata Yuan Zi-xia dipenuhi air mata, tapi

sudut mulutnya mulai memperlihatkan ekspresi gembira.

Angin berhembus makin kencang. Anting-anting emas yang besar

milik Miao Shaotian berbunyi “ting-tang”, kedua matanya membara

seperti api yang ditujukan ke arah tiga orang anggota Perkumpulan

Naga Hijau.

Zhao Yi-dao berbaring di pojok sana, seolah-olah tidak perduli

dengan urusan itu. Tapi dia tidak pernah berhenti mengawasi

keadaan.

Kuda Putih Zhang San menepuk-nepuk pilar bangunan itu dengan

jarinya. Dia tidak tahan terhadap kesunyian itu, dan sengaja

membuat suara yang gaduh.

Orang baju hitam berdiri tak bergerak di belakang Tuan Muda

Zhu. Wajahnya tidak menampilkan ekspresi. Urusan ini memang

tidak ada hubungannya dengan dia. Yang dia perdulikan adalah

delapan orang anggota keluarga yang menunggunya mencari

makan.

Orang-orang Naga Hijau mengepalkan tinju mereka erat-erat,

sebelum salah seorang dari merekatiba-tiba berkata: “Tuan

Muda Zhu tadi mengucapkan kata-kata itu. Biasanya ucapanmu

selalu ditepati, kali ini kau tidak bisa menarik kembali kata-katamu

itu dan mengingkari janji.”

Tuan Muda Zhu akhirnya tersenyum dan berkata: “Tentu saja

aku tidak bisa, tentu tidak bisa, cuma……”

“Cuma apa?”

Orang ini bertubuh tinggi besar, dengan jenggot berwarna

tembaga. Sekilas pandang, bisa dilihatbahwa dia adalah orang

yang amat gampang naik darah.

Tuan Muda Zhu berkata pula, “Walaupun aku setuju dengan kalian,

tapi yang lain……”

Orang berjenggot naga itu segera memotong: “Kata-kata Tuan Muda

Zhu adalah yang paling efektif dan berpengaruh. Walaupun cuma

Tuan Muda Zhu yang setuju, saudara-saudaraku dan aku akan

merasa lega.”

Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata: “Asal aku setuju dengan

kalian, kalian bertiga benar-benar bisa merasa lega?”

Si jenggot naga berkata, “Tepat!”

Tuan Muda Zhu menghela napas dan berkata: “Bagus, aku berjanji

pada kalian.”

Si jenggot naga menjadi makin gembira. Wajahnya cerah dan

dia berkata: “Untuk ini, Perkumpulan Naga Hijau tidak akan

melupakan Tuan Muda Zhu…..”

Tiba-tiba ‘crep!”, suaranya mendadak terputus.

Terdengar suara jeritan yang memilukan.

Jeritan itu dikeluarkan oleh teman-temannya, karena sebuah anting

emas tiba-tiba telah menancap di tenggorokannya.

Dia tidak melihat darah itu, tapi dia tidak perlu menjerit lagi karena

dia sedang menutupi wajahnya.

Dan kemudian, darah pelan-pelan mengalir keluar dari lehernya….

Dia berdiri di sisi kiri, sementara jeritan-jeritan yang memilukan

itu berasal dari orang-orang di sebelah kanannya.

Ketika Miao Shaotian bertindak, Kuda Putih Zhang San juga

mendadak bergerak. Dia meluncurkan telapak tangannya,

menghantam tulang hidung seorang anggota Naga Hijau lainnya.

Darah bercipratan ke mana-mana. Dia menjerit memilukan dan

menutupi wajahnya, Kuda Putih Zhang San lalu menendangnya.

Dia terjerembab di tanah seperti lumpur. Tubuhnya melingkar,

air mata dan lendir mengalir keluar bersama darah. Kemudian

tubuhnya mendadak kejang dan tidak bergerak lagi.

Orang yang di tengah mula-mula merasa senang, karena jika

mereka bisa memperoleh kembali peta merak itu, tentu akan diberi

imbalan yang besar. Perkumpulan Naga Hijau selalu memberikan

hadiah yang amat besar pada anggotanya tanpa ragu-ragu. Ketika

benaknya sedang membayangkan apayang akan diterima

olehnya: emas, perempuan cantik dan kejayaan, tiba-tiba kedua

rekannya telah terjungkal dan mati.

Zhao Yi-dao berdiri di hadapannya, dan menatapnya dengan dingin.

Dia merasakan perutnya berontak. Rasa takut menyergap dirinya

seperti tangan yang tidak terlihat, meremas-remas dan

memutar-balikkan perutnya. Dia hampir muntah sebelum

berkata: “Ketua Zhao…. Ketua Zhao, kukira kau tadi telah

setuju……”

Zhao Yi-dao berkata dengan dingin: “Tadi tidak ada yang tahu

apakah peta burung merak itu bisadidapatkan atau tidak, juga

tidak ada yang pernah melihat peta itu, tapi sekarang…….”

Dia memandang lubang di jendela sambil tersenyum dan berkata:

“Sekarang peta itu boleh dibilang sudah berada di tangan kami,

mengapa kami harus memberikannya ke Perkumpulan Naga Hijau?”

Orang itu berkata: “Perkumpulan Naga Hijau selalu

membedakan antara terima-kasih dan dendam, hari ini Ketua

Zhao membunuh kami, apa kau tidak khawatir dengan

pembalasan dari perkumpulan kami?”

Zhao Yi-dao berkata dengan tenang, “Kau jelas dibunuh oleh

Gongsun Jing, kenapa Perkumpulan Naga Hijau harus membalas

dendam?”

Orang ini akhirnya paham. Perkumpulan Naga Hijau juga sering

melemparkan kesalahan pada orang lain.

Seluruh tubuhnya pun gemetar. Sambil mengertakkan giginya,

dia berkata: “Anggota Perkumpulan Naga Hijau siap mengorbankan

dirinya. Ketua Zhao tidak akan mendapatkan peta itu. Wei Tian-ying

dari Perkumpulan Naga Hijau juga akan segera datang…..”

Baru saja menyebut nama “Wei Tian-ying”, tiba-tiba

keberaniannya timbul kembali dan dia berkata dengan keras:

“Sekarang dia mungkin sudah tiba. Walaupun kami bertiga mati di

tangan kalian, kalian juga tidak usah berharap akan hidup terus.”

Mendengar disebutnya nama “Wei Tian-ying”, wajah Miao

Shaotian, Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San pun berubah

secara drastis. Tak terasa mereka lalu melihat ke pintu depan

secaraserentak.

Lampu lentera di pintu gerbang telah padam. Tidak terdengar

suara orang, juga tidak terlihat bayangan siapa pun.

Zhao Yi-dao berkata sambil menyeringai: “Tidak perduli apakah kami

mati atau hidup, kalianlah yang lebih dulu harus pergi.”

Kuda Putih Zhang San: “Sekarang kepalanya tentu amat sakit.”

Zhao Yi-dao berkata: “Aku akan menanganinya.” Pantulan pisau itu

tampak berkilauan, pisau baja itu segera meninggalkan sarungnya

dan menebas ke leher orang itu.

Zhao Yi-dao dikenal sebagai ‘Sebatang Pisau’, sukar

membayangkan betapa cepat dan kejinyatusukan pedang pendek

itu.

Tangan orang itu telah menggenggam gagang pisaunya, tapi dia

tidak bisa menghunus pisau itu. Dia terpaksa harus berusaha

menahan serangan itu.

Siapa tahu gerakan Zhao Yi-dao mendadak berubah dalam sekejap,

sebuah tusukan horizontal malah langsung menghunjam ke

dadanya.

Darah pun muncrat ke mana-mana. Orang itu menjerit memilukan

dengan suara berdesis: “Wei Tian-ying, tetua Wei, kau harus….

membalaskan dendam kami!”

Jeritan itu tiba-tiba terputus, karena dia sudah bersimbah darah.

Sunyi, dan makin sunyi.

Walaupun tidak ada yang pernah melihat Wei Tian-ying, dia telah

berkembang menjadi sosok seperti monster yang gaib dan

menakutkan di dalam benak mereka.

Zhao Yi-dao mengeringkan darah di pisaunya dengan alas

sepatunya. Miao Shaotian juga memungut kembali anting emasnya

dari tenggorokan anggota Naga Hijau tadi.

Kuda Putih Zhang San membelai tinjunya dengan perlahan,

sementara kedua alisnya berkerut amatkencang.

Tuan Muda Zhu tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata:

“Ketiga orang ini akhirnya sudah merasa lega, tapi giliran siapa

berikutnya?”

Raut wajah Kuda Putih Zhang San pun berubah, dia menatap Miao

Shaotian.

Miao Shaotian berkata sambil menyeringai: “Zhang San muda, kau

bisa yakin bahwa orang berikutnya bukanlah aku.”

Zhao Yi-dao tiba-tiba terbatuk keras dan berkata: “Bagus. Aku

ingin kau tahu bahwa, perkumpulan pisau tajam dan

perkumpulan rambut merah telah terikat bagaikan saudara. Sejak

saat ini, urusan Ketua Miao adalah juga urusanku.”

Miao Shaotian tertawa dengan keras dan berkata: “Bila sedang

memasak terong pedas, yang pertama memilih akan mendapatkan

yang terlunak. Kau paham kata pepatah ini?”

Zhang San berkata: “Aku paham.”

Miao Shaotian berkata sambil tersenyum: “Aku khawatir, di

antara kalian bertiga, orang berikutnya adalah kau. Yang lebih

muda kan biasanya lebih pedas.”

Wajah Kuda Putih Zhang San tampak berubah seperti bara api

yang hampir padam. Dia berkata: “Bagus. Aku tidak takut

padamu.” Miao Shaotian: “Cobalah kalau begitu.”

Anting emas tergenggam di tangannya dan dia pun bersiap-sedia.

Zhao Yi-dao berkata: “Ketua Miao seharusnya merasa lebih baik

karena aku akan berada di belakangmu.”

Miao Shaotian berkata sambil tersenyum kejam: “Zhang San muda,

majulah.”

Kuda Putih Zhang San meraung, tiba-tiba dia menyerang dengan

tinjunya sebanyak tiga kali. Tak disangka-sangka, dia ternyata

telah mengeluarkan jurus tinjunya.

Miao Shaotian merasa yakin sembilan puluh persen bahwa dia sudah

menggenggam kemenangan di tangannya. Dia tentu saja tidak

mau beradu pukulan dengan lawan, takut akan merusak

wajahnya. Dia mundur tiga langkah, dan tertawa: “Walaupun kau

mengadu jiwa, itu tidak ada gunanya……”

Suara tawanya tiba-tiba berubah menjadi raungan yang memilukan.

Pisau Zhao Yi-dao telah menusuk punggungnya. Ujung pisau

terbenam ke dalam tulang sehingga terdengar suara gemeretak

yang keras.

Tubuh Miao Shaotian terpental ke depan, tapi tinju besi Kuda

Putih Zhang San pun menghantam wajahnya dengan keras.

Terdengar suara tulang yang berpatahan.

Miao Shaotian terjatuh ke atas tembok rendah yang ada di

tempat itu, tangannya yang menggenggam anting emas itu pun

tertahan di atas dinding. Akibatnya tubuhnya tidak sepenuhnya

menyentuh ke lantai. Tetapi wajahnya yang berlumuran darah

tampak meringis dengan mata melotot yang mengandung perasaan

terkejut, takut dan murka. Dengan suara tak jelas dia berkata: “Zhao

Yi-dao, kau…. kau bang…., aku akan mati tapi aku tak akan

mengampunimu!”

Zhao Yi-dao menggosok darah di pisaunya dengan alas sepatu. Dia

menarik napas dalam-dalam dan berkata: “Tak masalah.

Perkumpulan pisau tajam dan kuda putih telah terikat bagaikan

saudara. Kenapa kau tidak bisa melihatnya?”

Kuda Putih Zhang San tertawa dengan keras dan berkata:

“Orang lain membentuk persekutuan dengan minum darah, kita

malah minum bubuk semen.”

Miao Shaotian mengertakkan giginya, kedua tangannya masuk ke

dalam kantung di pinggangnya. Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang

San segera mundur tiga langkah. Bahu membahu mereka berdiri di

sana, sambil menatap tangannya. Walaupun kondisi Miao Shaotian

sekarang tidak baik, tapi Perkumpulan Rambut Merah

mempunyai lima macam makhluk berbisa yang ditakuti setiap

orang……

Siapa tahu ketika dia baru saja memasukkan tangannya, tubuhnya

tiba-tiba melompat ke atas. “Brak!”, dia menabrak langit-langit

serambi sebelum pelan-pelan merosot jatuh dan tak mampu

bergerak lagi.

Tangannya terjulur dan memperlihatkan sebuah bekas gigitan

ular berbisa yang masih berlumuran darah di punggung

tangannya. Ternyata ular itu juga menyukai darah Miao

Shaotian, persis seperti Miao Shaotian yang selalu menyukai darah

ular.

Tuan Muda Zhu menghela napas panjang. Dia berkata: “Bila

majikannya terluka, ular berbisa bisa melakukan tindakan yang

tak terduga…….. Ular adalah ular, jika orang mengira dia bisa

berteman dengan ular seperti dengan manusia, maka dia pun akan

bernasib buruk.”

Kuda Putih Zhang San berkata dengan dingin: “Orang ini

memang tidak perlu berbicara tentang persahabatan.”

Zhao Yi-dao berkata: “Benar.”

Ucapan mereka itu ditujukan pada Tuan Muda Zhu.

Tuan Muda Zhu mengangkat kepalanya dan berkata: “Walaupun

Miao Shaotian telah mati, jangan lupa kalau ‘Sembilan Siluman

Rambut Merah’ juga sukar dihadapi.”

Zhao Yi-dao berkata sambil menyeringai: “Walaupun ‘Sembilan

Siluman Rambut Merah’ sukar untuk dihadapi, kungfu mereka

masih berada di bawahnya, kau tidak usah mengkhawatirkan kami.”

Tangannya menggenggam gagang pisau. Dengan mata berkilat-kilat

yang ditujukan pada Tuan MudaZhu, tiba-tiba sebuah tinju darinya

menghantam rusuk Kuda Putih Zhang San; pukulan itu benarbenar

keras.

Kuda Putih Zhang San tidak menyangka pukulan itu sama sekali

dan terpental menabrak tembok rendah tadi.

Dia belum sempat membalikkan badan, tapi Zhao Yi-dao telah

menghunus pisaunya!

Pisau kilat yang bagus.

Darah pun bercipratan, darah yang lebih segar. Ular yang berada di

punggung tangan Miao Shaotian mencium darah itu dan tiba-tiba

meluncur ke arahnya.

Zhao Yi-dao mengusap kedua sisi pisau itu dengan alas

sepatunya. Lalu dia berkata sambil menyeringai: “Seperti yang

kau bilang, orang ini tidak usah bicara tentang persahabatan.

Jika kau tidak ingin bicara tentang persahabatan, akulah orang

pertama yang tidak mau bicara tentang persahabatan.”

Tuan Muda Zhu menambahkan: “Itu benar. Jika seseorang ingin

bicara tentang persahabatan, cara ini memang yang paling baik.”

Zhao Yi-dao membalikkan badannya dan berkata: “Tapi kita

memang sedang bicara tentang persahabatan.”

Tuan Muda Zhu berkata, “Tentu saja.”

Zhao Yi-dao tertawa dan berkata: “Lucu sekali, mereka tidak

tahu kalau Gedung Sejuta Emas dan Perkumpulan Pisau Tajam

telah tiga tahun membentuk persekutuan.”

Tuan Muda Zhu berkata, “Aku memang orang yang selalu menjaga

mulutku.”

Zhao Yi-dao berkata: “Aku juga.”

Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata: “Karena itu tidak ada yang

tahu tentang urusan itu.”

Jeritan-jeritan memilukan dari luar sana terdengar beruntun

seperti suara kokok ayam jantan di tempat kejauhan.

Raut muka Bai Yu-jing tampak pucat dan wajahnya tersenyum

ironis. Tapi dia tidak bisamenyembunyikan kesedihan di wajahnya.

Dia tentu saja tidak berduka untuk orang-orang itu.

Yang membuatnya berduka adalah tragedi kemanusiaan –

ketamakan dan kekejaman manusia.

Wajah Yuan Zi-xia juga pucat. Tiba-tiba dia menarik napas dan

berkata: “Kau akhirnya bisa menebak siapa orang yang terakhir

bertahan?”

Bai Yu-jing berkata: “Yang jelas bukan kau.”

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata: “Kau…. kau kira aku

sudah menipumu, karena itu kau berharap aku mati sedikit demi

sedikit di hadapanmu.”

Bai Yu-jing menutup matanya. Seringai di sudut mulutnya sudah

menjadi amat memilukan. Dengan suara yang dalam, dia berkata:

“Tentu saja hal itu bukan kesalahanmu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Memang bukan.”

Bai Yu-jing juga menghela napas dan berkata: “Orang yang terjun ke

dunia Kang-ouw memang harus dapat menipu orang lain agar tetap

hidup. Salahku sendiri kenapa tertipu olehmu. Aku tidak merasa

dendam padamu.”

Wajah Yuan Zi-xia tampak berubah. Dengan suara yang pilu dan

patah semangat, dia berkata: “Tapi aku…….”

Bai Yu-jing tiba-tiba memotong ucapannya dan berkata: “Tapi kau

juga keliru.”

Yuan Zi-xia berkata: “Oh!”

Bai Yu-jing berkata: “Jika kau kira kau bisa menggunakan peta

merak di tanganmu itu untuk memaksa mereka menuruti

kemauanmu, kau keliru.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kenapa?”

Bai Yu-jing berkata: “Peta merak di tanganmu itu boleh

dianggap sudah berada di tangan mereka. Bila mereka mau,

mereka bisa merampasnya begitu saja.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kau kira aku tidak berani membakarnya?”

Bai Yu-jing berkata: “Kau tidak akan berani. Karena, jika kau

membakarnya, kau juga akan mati, dan mati dengan sangat cepat.

Apalagi, tidak sukar memadamkan lilin di tanganmu itu dengan

kungfu mereka.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tapi tadi…..”

Bai Yu-jing memotongnya lagi: “Tadi mereka sengaja

melakukannya, cuma karena mereka sedang mencari kesempatan

untuk saling membunuh lebih dulu. Bila tidak ada lagi yang

menghalangi, maka mereka akan merampas petamu.” Pelan-pelan

dia berkata: “Tuan Muda Zhu selalu bekerja dengan sangat hatihati.

Dia telah membayar banyak untuk peta ini, karena itu dia tak

akan mengambil resiko lebih jauh.”

Yuan Zi-xia tiba-tiba berpaling, karena sekarang dia telah mendengar

gelak tawa Tuan Muda Zhu. Lalu dia melihat si baju hitam dan Tuan

Muda Zhu.

Tuan Muda Zhu telah melipat tangannya di depan dada, berdiri di

ambang pintu. Dia tersenyum: “Aku tidak sadar kalau Pendekar Bai

telah mengetahui sifat-sifatku.”

Yuan Zi-xia berseru: “Keluar sekarang juga, kalau tidak aku……”

Dia tidak melanjutkan kata-katanya, karena lilin di tangannya tibatiba

telah terpotong oleh sambaran sebilah pisau. Tapi api lilin masih

belum padam. Pisau tersebut cuma berhasil memotong lilin hingga

setengahnya saja, tapi pisau itu selalu siap sedia.

Pemegang pisau adalah Zhao Yi-dao.

Dia mengangkat pisaunya dan menatap Yuan Zi-xia dengan dingin.

Wajah Yuan Zi-xia menjadi merah. Tiba-tiba dia menggigit bibirnya,

dan berusaha melemparkan peta itu pada Tuan Muda Zhu. Dia

berteriak dengan keras: “Ambillah!”

Zhao Yi-dao berkata: “Terima kasih banyak.”

Dia menyemburkan kata-kata ini sambil melesat. Dengan

punggung pisaunya, dia telah merenggut peta itu dari udara.

Lilin pun padam karena kibasan pisau. Sementara itu, dia pun

berhasil mendapatkan peta itu.

Gerakan tangannya benar-benar cekatan dalam situasi yang genting

ini.

Yuan Zi-xia tiba-tiba berkata dengan keras: “Kuberikan benda itu

pada Tuan Muda Zhu. Kau lihat, benda itu malah dirampas

seseorang!”

Wajah Zhao Yi-dao segera berubah setelah sempat terlihat amat

gembira.

Tuan Muda Zhu tertawa: “Kami bersaudara. Siapa pun yang

mengambil benda ini, itu sama saja.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kau tidak takut dia akan memilikinya sendiri?”

Tuan Muda Zhu berkata: “Kami telah membicarakan tentang

persahabatan kami.”

Zhao Yi-dao pun tersenyum: “Bagus. Kami memang telah

membicarakan tentang persahabatan kami. Jika ada yang ingin

memecah-belah, akulah yang lebih dulu akan mencabut nyawanya!”

Tuan Muda Zhu berkata: “Kalau begitu, tunggu apa lagi. Nona

Yuan sekarang sedang sangat sakit kepalanya.”

Zhao Yi-dao tertawa dengan keras: “Akulah yang paling cekatan

dalam mengobati sakit kepala.”

Tuan Muda Zhu berkata pula: “Kupikir lebih baik kau tangani

Pendekar Bai dulu. Dia adalah orang yang selalu

memperlihatkan perasaan yang penuh kasih sayang, dan

mungkin dia tak akan tahan melihat kepala Nona Yuan dipisahkan

lebih dulu.”

Zhao Yi-dao berkata: “Tidak masalah siapa yang pergi lebih dulu.

Terkadang pisauku bisa mengobati dua sakit kepala sekaligus.”

Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum: “Kurasa pisaumu itu

sangat menarik.”

Zhao Yi-dao tertawa dengan keras: “Dijamin memang amat

menarik.”

Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya. Dia menatap Bai Yu-jing

dengan perasaan duka dan berkata: “Aku telah mempersulit

dirimu……”

Bai Yu-jing berkata: “Tidak apa-apa.”

Yuan Zi Xia berkata: “Aku hanya berharap kau paham sesuatu hal.”

Bai Yu-jing berkata: “Katakanlah.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tidak semua yang kukatakan itu dusta. Tidak

perduli apa pun yang kukatakan tentang urusan lain, tapi tentang

kau dan aku……..”

Bab 7: Jenis Senjata Pertama

Tuan Muda Zhu tertawa: “Aku tahu kau tulus hati padanya, karena

itu aku akan membantumu dengan membiarkanmu mati

bersamanya. Jika ada yang ingin kau katakan, kau harus menunggu

dulu sampai kau berada dalam perjalanan ke surga.”

Ucapannya itu belum habis dikatakan, tubuhnya tiba-tiba

mengejang. Sudut matanya tiba-tibamengencang, seakan-akan

sebuah palu besi yang tak kelihatan tiba-tiba menghantamnya dari

udara. Dan wajahnya lalu tampak berkerut-kerut, sebelum tubuhnya

ambruk ke atas tanah.

Orang baju hitam tentu saja tidak ikut bersamanya, dia masih

berdiri diam di sana tanpa ekspresi. Tapi di tangannya

tergenggam sebuah pisau, ujung pisau berlumuran darah……

Dia akhirnya tidak mengikuti Tuan Muda Zhu lagi. Pemuda itu

tentu tidak menyangka kalau dirinya akan berbuat seperti ini.

Fajar.

Suara kokok ayam jantan tadi terdengar bersahut-sahutan, tapi

sekarang agaknya yang terdengar cuma suara napas Tuan Muda

Zhu yang berat. Dia meringkuk di atas tanah seperti seekor sapi

yang kehabisan napas. Darah mengalir tak henti-hentinya dari luka

di pinggangnya.

Orang baju hitam itu menatapnya dingin dengan sorot mata yang

mengejek. Dia tentu saja bukan sedang mengejek dirinya sendiri,

tapi mengejek orang lain. Zhao Yi-dao menatapnya dengan mulut

ternganga.

Jika dia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, dia tentu tidak

akan percaya pada kenyataan ini. Tiba-tiba bunyi napas yang berat

itu juga berhenti.

Tubuh Tuan Muda Zhu telah menjadi bangkai, bangkai yang

berlumuran darah. Si baju hitam memandang tetesan darah di

ujung pisaunya, sebelum akhirnya berkata: “Kau tentu setuju

bahwa bila aku ingin membunuh orang, sebilah pisau juga sudah

cukup.”

Zhao Yi-dao mundur selangkah demi selangkah dan berkata: “Tapi

dia….. dia tidak segera mati.”

Si baju hitam: “Itu karena aku tidak ingin membiarkan dia mati

terlalu cepat, dan juga untuk membiarkan dia merasakan

kejahatan yang telah dia lakukan pada orang lain.”

Zhao Yi-dao berkata: “Sebenarnya siapa kau?”

Si baju hitam: “Kau tidak bisa menebak?”

Zhao Yi-dao memandang ekspresi wajahnya sebelum rasa takutnya

semakin mendalam. Akhirnya dia menghela napas: “Elang Langit…

kau Wei Tian-ying.”

Si baju hitam tersenyum.

Sorot matanya memperlihatkan perasaan bahagia seperti ujung

pisau yang runcing, tapi di wajahnya sama sekali tidak muncul

ekspresi apa-apa.

Zhao Yi-dao berkata: “Sejak semula kau sudah datang, kau sudah

ikut dengan kami selama ini.”

Wei Tian-ying berkata: “Bukankah sekarang kau juga merasa hal itu

sangat lucu?”

Zhao Yi-dao tiba-tiba berteriak dengan keras: “Nona Yuan, cepat

bebaskan totokan Bai Yu-jing. Aku akan menahan dia.”

Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata: “Kenapa kau harus

menunggu sampai sekarang baru mengijinkan aku membuka

totokannya? Sekarang sudah terlambat.”

Dia berpaling dan tersenyum pada Wei Tian-ying. Lalu dia

berkata: “Kakak kedua, benar kan ucapanku, bukankah sekarang

sudah terlambat?”

Ketika mendengar panggilan “kakak kedua” itu, Zhao Yi-dao

merasa seperti terjatuh dari udara ke dalam lubang es yang

teramat dalam.

Kakak kedua.

Ternyata Wei Tian-ying adalah kakak keduanya.

Mereka ternyata bersekongkol.

Zhao Yi-dao hampir tidak percaya. Kenyataan ini terlalu ganjil, terlalu

aneh.

Yuan Zi-xia jelas telah mencuri “peta merak” Perkumpulan Naga

Hijau, Naga Hijau jelas bermaksud hendak membunuhnya.

Wei Tian-ying jelas merupakan orang Naga Hijau yang dikirim untuk

memburu dan membunuhnya.

Bagaimana mungkin mereka bisa berada di pihak yang sama?

Siapa yang bisa menjelaskan hal ini?

Zhao Yi-dao menundukkan kepalanya. Dia sedang memandang

pisau dan peta di tangannya seperti ibu yang sekarat sedang

memandang pada puteranya.

Dia menjatuhkan pisaunya, lalu menyerahkan peta itu dengan kedua

tangannya pada Wei Tian-ying.

Jika peristiwa ini terjadi di lain waktu, mungkin dia bisa bertahan

untuk sementara waktu. Tapi sekarang, semua hal yang tak

masuk di akal telah terjadi, sehingga tiba-tiba dia menyadari

bahwa dirinya telah terjatuh ke dalam jebakan yang amat rumit,

amat cerdik dan amat menakutkan.

Yang paling menakutkan adalah, sampai saat ini dia bahkan

tidak tahu bagaimana dia bisa terperangkap.

Hal ini menyebabkan dia benar-benar kehilangan semangat

bertarungnya.

Wei Tian-ying memandang peta di tangannya. Sorot matanya yang

mengejek tampak semakin jelas, dan dia berkata dengan enteng:

“Kau tidak ingin menyimpannya?”

Zhao Yi-dao berkata: “Kurasa tidak.”

Wei Tian-ying: “Kurasa juga tidak.”

Dia menerima peta itu, dan kemudian, tanpa melihat lagi, merobekrobek

peta itu dan membuangnya.

Angin berhembus, meniup terbang potongan-potongan peta itu

seperti kupu-kupu yang sedang beterbangan.

Zhao Yi-dao tercengang.

Demi peta itu, ada orang yang telah mengkhianati rekan-rekannya,

teman-temannya. Demi peta itu, darah yang mengalir sudah dapat

memerahkan seluruh air danau di luar sana.

Tapi sekarang Wei Tian-ying tidak melihat, dan bahkan merobekrobeknya

begitu saja. Mengapa?

Zhao Yi-dao hanya bisa meringis getir, sebelum berpaling dan

memandang Yuan Zi-xia. Dia berkata: “Apakah peta itu palsu?”

Yuan Zi-xia berkata: “Benar, peta itu palsu.”

Zhao Yi-dao berkata: “Benarkah?”

Yuan Zi-xia berkata: “Benar, yang asli ada di Perkampungan Burung

Merak.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kau… apakah kau yang mencuri peta itu dari

tangan Gongsun Jing?”

Yuan Zi-xia berkata: “Memang akulah yang mencuri peta itu.”

Zhao Yi-dao berkata: “Tapi peta itu palsu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku tahu.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kau tahu persis bahwa peta itu palsu, lalu

kenapa kau harus mengambil resiko dengan mencurinya?”

Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata: “Karena semua ini adalah

jebakan.”

Dia tersenyum gembira dan menawan. Lalu dia meneruskan

dengan perlahan: “Yang paling cerdik dari jebakan ini adalah

kenyataan bahwa kami sudah tahu bahwa peta ini palsu. Jika

kami tidak menyebut hal ini, aku khawatir kau selamanya tidak

akam paham hal ini.”

Zhao Yi-dao hampir saja jatuh pingsan.

Demi peta itu, mereka tidak ragu untuk pergi keluar, bergelimang

darah, bahkan tidak bimbang untuk ‘menggigit’ satu sama lain

seperti anjing liar.

Tapi peta itu ternyata cuma barang palsu yang tidak berharga

sepeser pun. Demi peta itu, sudah tak terhitung jumlah kematian

tragis dalam gelimangan darah. Orang bukan hanya tidak bisa

tersenyum lagi, menangis juga tidak bisa.

Sesungguhnya dia tidak tahu ‘obat apa’ yang sedang berusaha

‘dijual’ oleh Wei Tian-ying dan Yuan Zi-xia.

Yuan Zi-xia berkata: “Peta itu semula dibeli oleh kakak keduaku

dengan menghabiskan banyak uang.”

Zhao Yi-dao berkata dengan bibir yang kering: “Tapi setelah

membelinya, kalian lalu menyadari bahwa peta itu palsu.”

Yuan Zi-xia berkata: “Benar.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kalian terpaksa harus menelan barang

busuk, tapi kalian tidak berani menyiarkannya. Karena siapa pun

yang menghabiskan uang Perkumpulan Naga Hijau hanya untuk

membeli barang palsu, tentu tidak akan dimaafkan oleh mereka.”

Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata: “Apalagi Kakak Kedua Wei

juga tidak berhasil menangkap orang itu, karena itu aku pun

menawarkan sebuah gagasan kepadanya.”

Zhao Yi-dao berkata: “Gagasan seperti apa?”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku harus melindungi Kakak Kedua dengan

memberikan peta ini pada Gongsun Jing. Aku adalah atasannya, jadi

bila aku menyuruhnya untuk mengurus penjualan barang milik Kakak

Wei, dia tentu tak berani mencurigai Kakak Kedua Wei.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kentang panas ini tiba di tangan

Gongsun Jing, maka tangannya pun harus dijulurkan keluar.”

Yuan Zi-xia berkata: “Dia seharusnya tidak menerimanya, tapi

sayangnya dia tidak punya pilihan kecuali harus menerimanya.”

Zhao Yi-dao berkata: “Tapi… kenapa kau harus mencuri kentang

panas itu dari tangannya?”

Yuan Zi-xia berkata: “Karena aku tentu saja ingin kalian percaya

bahwa peta ini asli.”

Zhao Yi-dao berkata: “Aku tidak paham.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kalian semua adalah orang-orang yang

cerdik. Kalian tentu tidak akan mau berdagang kalau nantinya

menderita kerugian.”

Zhao Yi-dao berkata: “Tentu saja tidak.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kalian juga tentu tahu tentang kebiasaan

Perkumpulan Naga Hijau yang tidak akan mengganggu sahabat

Kang-ouw.”

Zhao Yi-dao menghela napas dan tersenyum pahit: “Memang aku

mengetahuinya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Karena itu, sebelum kalian menawar,

kalian tentu harus melihat dulu peta ini untuk mengetahui palsu

tidaknya. Menurut kebiasaan Perkumpulan Naga Hijau, hal ini tidak

menjadi masalah.”

Dia tersenyum menawan: “Setelah melihatnya dari sudut pandang

ini, kau sudah tahu di mana letak masalahnya?”

Zhao Yi-dao berkata: “Karena itu kau lalu mencuri peta itu,

orang lain tentu saja tidak curiga lagi kalau peta itu palsu.”

Inilah salah satu kelemahan manusia. Perempuan ini bukan

hanya sangat memahami ilmu psikologi seperti ini, dia juga bisa

memanfaatkannya dengan amat baik.

Zhao Yi-dao menghela napas: “Ditambah lagi dengan kenyataan

bahwa Gongsun Jing segeramelarikan diri dari hukuman, kami

tentu saja tidak curiga akan adanya permainan.”

Yuan Zi-xia berkata: “Karena itu kalian tentu saja segera memburu

dengan tergesa-gesa.”

Zhao Yi-dao berkata: “Benar.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tapi jika aku bisa dikejar oleh kalian dengan

mudah, mungkin kalian akan mulai curiga.”

Zhao Yi-dao berkata sambil tersenyum pahit: “Benar. Tidak

mendapatkan sesuatu dengan mudah memang selalu dipandang

lebih berharga.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tapi aku harus berhasil dikejar oleh kalian.”

Zhao Yi-dao tidak paham dan bertanya: “Kenapa?”

Yuan Zi-xia berkata: “Karena peta ini memegang kuncinya. Kami

ingin kalian percaya bahwa peta ini asli. Kami ingin kalian melihat

peta ini. Kami ingin kalian saling bunuh untuk mendapatkan

peta ini, lalu…..”

Zhao Yi-dao berkata: “Lalu apa?”

Yuan Zi-xia berkata dengan enteng sambil tersenyum: “Sesudah

menunggu kematian kalian, kami bisa membawa pulang emas

dan permata. Kami tidak perlu susah-payah membawanya

pulang, apalagi kami tidak usah khawatir kalau ada orang yang akan

mencari masalah. Karena kalian sudah saling bunuh dan kami sama

sekali tidak tersangkut-paut.”

Zhao Yi-dao berkata: “Jadi kalian melakukan hal ini, karena

kalian ingin kami membawa emas dan permata.”

Yuan Zi-xia berkata: “Uang menggerakkan hati manusia, pepatah ini

tentu kau pun tahu.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kau melibatkan Bai Yu-jing, karena kau

juga menginginkan sesuatu pada orangnya.”

Yuan Zi-xia berkata: “Dia membawa pedang bersamanya.”

Tiba-tiba dia menghela napas dan berkata: “Tapi aku amat

berterima-kasih padanya. Jika bukan diayang melindungiku, mungkin

rencana ini tidak akan berhasil.”

Zhao Yi-dao berkata: “Kenapa?”

Yuan Zi-xia berkata: “Karena jika kami ingin rencana ini berakhir

dengan sukses, Gongsun Jing tentu harus mati dulu, kalau tidak

Fang Long Xiang juga tidak akan mau terlibat.”

Zhao Yi-dao berkata: “Mengapa?”

Yuan Zi-xia berkata: “Karena jika mereka tidak mati, peta ini tentu

tidak akan jatuh ke tangan orang-orang yang ingin

mendapatkannya.”

Zhao Yi-dao merenungkannya sejenak sebelum kemudian

berkata sambil tersenyum pahit: “Benar. Karena kami yakin bisa

memperoleh peta itu, barulah kemudian kami mau membunuh Miao

Shaotian dan Kuda Putih Zhang San.”

Yuan Zi-xia juga menghela napas dan berkata: “Tapi jika bukan

karena Pedang Abadi milik Bai Yu-jing, bagaimana mungkin

Gongsun Jing dan Fang Long Xiang bisa mati begitu mudah?”

Zhao Yi-dao berkata: “Jadi Gongsun Jing juga meraba-raba dalam

gelap seperti kami?”

Yuan Zi-xia berkata: “Tentu saja.”

Zhao Yi-dao berkata: “Apakah dia tidak mengenalimu? Apakah dia

tidak tahu bahwa kau juga anggota Perkumpulan Naga Hijau?”

Yuan Zi-xia berkata dengan enteng: “Dia hanya seorang pemimpin

aula yang kecil, bila dia bertemu dengan seorang anggota

Perkumpulan Naga Hijau lainnya, sembilan puluh persen dia

mungkin tidak akan mengenalinya.”

Zhao Yi-dao berkata: “Bagaimana kau memperdayainya?”

Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata: “Jika aku menginginkan

nyawanya, itu amat mudah, apalagi jika aku cuma ingin

memperdayainya.”

Zhao Yi-dao memandang wajahnya yang gembira dan

tersenyum menawan itu. Akhirnya dia tak tahan untuk

menghembuskan napas panjang dan berkata: “Jika aku adalah dia,

aku khawatir aku pun juga akan tertipu.”

Yuan Zi-xia berkata dengan mempesona: “Aku khawatir kau pun

akan tertipu, malah bisa tertipu lebih hebat lagi.”

Zhao Yi-dao berkata: “Tapi Fang Long Xiang juga anggota

Perkumpulan Naga Hijau, kenapa kau harus membunuhnya?”

…………………

………………..

………………..

………………..

Zhao Yi-dao berkata dengan heran, “Sekarang bukan waktu yang

tepat?”

Yuan Zi-xia berkata: “Tentu saja bukan.”

Dia tersenyum manis: “Sekarang setiap sen uang yang ada di sini

akan menjadi milik aku dan Kakak Kedua Wei.”

Zhao Yi-dao terperangah sejenak. Lalu dia tersenyum pahit: “Aku

juga orang yang bijak. Aku sudah melihat banyak orang-orang

yang keji dan kejam, dan mendengar banyak tipuan yang

cerdik dan licik. Tapi dibandingkan denganmu, orang-orang itu

cuma anak kecil yang masih menyusu.”

Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum: “Terima kasih atas pujianmu,

aku tentu saja tidak akan pernah melupakannya.”

Wei Tian-ying tiba-tiba berkata sambil tersenyum: “Kau telah

menanyakan semuanya?”

Zhao Yi-dao berkata: “Ya.”

Wei Tian-ying berkata: “Sekarang, bukankah kepalamu sudah sangat

sakit?”

Zhao Yi-dao berkata: “Memang amat sakit.”

Wei Tian-ying berkata: “Kau bisa mengobati sendiri sakit kepalamu?”

Zhao Yi-dao menghela napas dan berkata: “Untunglah aku juga bisa

mengobatinya, kalau tidak aku khawatirnya rasanya akan benarbenar

sakit.”

Dia benar-benar telah menyembuhkan sakit kepalanya sendiri.

– Jika kepala seseorang sudah dibacok putus, bukankah tidak timbul

sakit kepala lagi?

Selama itu Bai Yu-jing terus-menerus mengawasi. Sambil

mendengarkan pembicaraan itu, wajahnyaseperti serupa dengan

wajah Wei Tian-ying, seolah-olah memakai topeng.

“Mudah berbaur” juga merupakan bagian dari “ilmu tahan derita”.

Tapi Tuan Muda Zhu tidak pernah mengenalinya, tentu bukan

karena “ilmu tahan derita”-nya yang teramat bagus.

Hal itu terjadi karena Tuan Muda Zhu tidak pernah benar-benar

perduli akan peran orang ini yang cuma seorang pengawal yang

patuh. Di mata Tuan Muda Zhu, dia tidak lebih dari seekor

anjing, sangat tidak penting.

Jika dia mau perduli pada orang lain, mungkin dia tidak akan mati

begitu menyedihkan.

Wei Tian-ying memandang pisau di tangannya, sebelum kemudian

dia berkata dengan dingin: “Zhao Yi-dao orang yang cerdik, dia

bertindak begitu cepat sehingga kepalanya tidak sakit sama sekali.”

Yuan Zi-xia berkata: “Bila orang yang cerdik bertindak, dia tidak

akan membuat kesulitan bagi orang lain.”

Wei Tian-ying berkata: “Bai Yu-jing?”

Yuan Zi-xia mengedip-ngedipkan matanya sebentar dan berkata:

“Agaknya kecerdikannya berada di bawah Zhao Yi-dao.”

Wei Tian-ying berkata: “Karena itu dia akan memberi masalah

bagimu.”

Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya dan menyerahkan pisau itu

pada Yuan Zi-xia.

Yuan Zi-xia berkata: “Kau tahu, aku tidak suka memegang pisau.”

Wei Tian-ying berkata: “Bila kau membunuh orang, kau tidak

menggunakan pisau?”

Yuan Zi-xia berkata dengan gaya memikat: “Lagipula aku juga tidak

suka melihat darah.”

Wei Tian-ying berkata: “Apa kau bisa membuat pengecualian kali

ini?”

Yuan Zi-xia menghela nafas dan berkata: “Kau ingin aku melakukan

urusan ini, bagaimana aku bisa

menolak?”

Dia menerima pisau itu dan berputar untuk memandang pada

Bai Yu-jing. Dia lalu berkata sambil bergurau: “Aku benar-benar

tidak tega membunuhmu, tapi jika aku tidak membunuhmu, Kakak

Kedua Wei akan marah, karena itu aku harus meminta maaf

padamu.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau tidak perlu begitu bersopan santun.”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku jarang menggunakan pisau. Jika pisau

ini tidak bisa membunuhmu, mungkin rasanya akan sakit.”

Bai Yu-jing berkata: “Tidak apa-apa.”

Yuan Zi-xia berkata: “Baguslah kalau begitu.”

Tiba-tiba dia membalikkan badan dan pisau itu pun ditusukkan pada

Wei Tian-ying.

Pisau kilat yang amat bagus.

Selain dirinya, tentu tidak ada lagi orang yang bisa mengatakan

bahwa dia tidak bisa menggunakan pisau.

Mata Wei Tian-ying memperlihatkan ekspresi mengejek. Ketika pisau

itu ditusukkan, kedua tangannya pun bergerak dan mencengkeram

ujung pisau yang tajam.

Wajah Yuan Zi-xia akhirnya berubah, benar-benar berubah.

Wei Tian-ying berkata sambil menyeringai: “Kau tahu kenapa

aku mau memberikan pisau ini kepadamu?”

Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya.

Wei Tian-ying berkata: “Aku ingin kau mencoba membunuhku.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kenapa?”

Wei Tian-ying berkata: “Karena aku sepertimu, aku juga ingin

memiliki sendiri harta itu.”

Yuan Zi-xia menarik napas dan berkata: “Kau ingin aku mencoba

membunuhmu dulu, agar kau bisa membunuhku?”

Wei Tian-ying berkata: “Benar, kalau tidak aku tak akan tega

melakukannya.”

Yuan Zi-xia menghela napas: “Agaknya aku sudah membuat sebuah

kesalahan.”

Wei Tian-ying berkata: “Setiap orang tak terhindar dari berbuat

salah.”

Yuan Zi-xia berkata: “Tapi kau juga keliru.”

Wei Tian-ying berkata: “Oh?”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku harus membunuhmu bukan karena

menginginkan harta itu untuk diriku sendiri.”

Wei Tian-ying berkata sambil menyeringai: “Apakah untuk

menyelamatkan dia?”

Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum sedih: “Lihatlah aku. Jika

aku tidak tergugah oleh perasaan yang murni, bagaimana aku

bisa membuat sebuah kesalahan?”

Wei Tian-ying berkata dengan dingin: “Sayangnya dia tidak bisa

menyelamatkanmu.”

Tiba-tiba Bai Yu-jing juga menghela napas: “Kau keliru.”

Ketika kata-kata itu diucapkan, Yuan Zi-xia sudah mencelat mundur

sejauh tujuh kaki, ujung ibu jari kakinya telah menjepit dan

melemparkan Pedang Abadi.

Bai Yu-jing melompat dan menangkap pedang itu.

Baru saja habis kata-katanya, dia telah melancarkan tiga kali

serangan pedang, sinar pedang seperti hujan bintang di luar

angkasa.

Pisau Wei Tian-ying mungkin bisa menghalau tiga serangan

pedang itu. Cuma sayang, dia sedang menggenggam ujung pisau.

Jika tangannya kosong, mungkin dia juga bisa menangkisnya.

Sayangnya tangannya sedang mencengkeram ujung pisaunya

sendiri. Dia mundur sambil membalikkan ujung pisau dengan

tangannya. Perubahan ini amat cepat. Sayangnya Pedang Abadi Bai

Yu-jing lebih cepat lagi.

Merah dan putih berbaur bersama kilatan pedang. Tangan

berlumuran darah yang mencengkeram pisau itu pun jatuh secara

bersamaan.

Tak ada yang tahu kapan, tapi matahari telah naik tinggi, sinarnya

menyorot masuk lewat jendela.

Di jendela tadinya ada gambar bunga plum yang sedang mekar,

yang sekarang berubah menjadi gambar sekuntum bunga plum

dengan hiasan darah.

Bai Yu-jing berdiri dengan tenang menghadap jendela. Setelah

sekian lama, pelan-pelan dia berkata: “Kau tahu jalan darahku sudah

terbuka totokannya, karena itu kau tidak mencoba membunuhku.”

Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan tidak bicara.

Bai Yu-jing berkata: “Apakah kau tahu?”

Yuan Zi-xia tidak bicara.

Bai Yu-jing tiba-tiba berpaling kepadanya: “Sebenarnya kenapa kau

berada di sini?”

Yuan Zi-xia tiba-tiba tersenyum dengan wajah yang gembira.

Dia berkata dengan sikap menawan: “Bisakah kau tebak?”

Dia tersenyum sungguh manis.

Bai Yu-jing menarik napas dan berkata: “Aku khawatir aku

tidak akan dapat menebak untuk selamanya.”

Yuan Zi-xia membelalakkan matanya. Tiba-tiba dia menggaruk

kepalanya dengan jari-jarinya dan berkata: “Suatu hari kau tentu

akan tahu.”

Bai Yu-jing terdiam sekian lama sebelum tiba-tiba dia berkata:

“Bagus, sekarang kita pergi.”

Yuan Zi-xia berkata: “Pergi ke mana?”

Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja ke Perkumpulan Naga Hijau.”

Yuan Zi-xia mengerutkan keningnya: “Kenapa harus pergi ke sana?”

Wajah Bai Yu-jing menjadi masam, dia pun berkata: “Kau benarbenar

tidak tahu siapa aku?”

Yuan Zi-xia berkata: “Siapa kau?”

Bai Yu-jing berkata dengan dingin: “Aku termasuk 12 dewa

Perkumpulan Naga Hijau, tetua Bendera Merah (Hong-qi-lao). Orang

berkedudukan rendah sepertimu tentu saja tidak mengenalku.”

Mimik wajah Yuan Zi-xia mendadak berubah, berubah secara drastis.

Bai Yu-jing berkata dengan tenang: “Kau kira urusan ini bisa kalian

tutupi sehingga dewa-dewa pun tidak tahu. Tapi putera sulung Naga

Hijau sebenarnya sudah tahu, karena itu dia mengutusku untuk

menyelidiki hal ini secara diam-diam.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kau…. kau benar-benar hendak mengirimku

pulang?”

Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja.”

Yuan Zi-xia berkata: “Kau tega?”

Bai Yu-jing berkata sambil menyeringai: “Menghadapi orang berhati

kejam, aku tidak pernah bersikap sopan.”

Yuan Zi-xia menatapnya, sebelum tiba-tiba dia tertawa hingga

terbungkuk-bungkuk dan air mata mengalir di pipinya.

Bai Yu-jing menjadi terpana. Dia memandang gadis itu dengan

bingung dan tak tahan untuk tidak bertanya: “Kenapa kau

tertawa?”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku sedang menertawaimu.”

Bai Yu-jing berkata: “Menertawaiku? Memangnya aku begitu lucu?”

Yuan Zi-xia menghentikan tawanya dengan susah-payah dan

berkata: “Kau bisa bersandiwara dengan baik, tapi, jika kau adalah

tetua Bendera Merah, lalu aku siapa?”

Bai Yu-jing terperanjat.

Yuan Zi-xia berkata: “Sejujurnya kuberitahukan padamu bahwa

aku adalah salah satu dari 12 dewa Naga Hijau, tetua Bendera

Merah.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau…. kau?”

Yuan Zi-xia berkata sambil tersenyum: “Wei Tian-ying kecanduan

berjudi dan sudah kalah 302.000 tael. Dia sengaja berkata bahwa

dia telah membeli peta merak yang palsu; Gongsun Jing

bernafsu besar, dia telah merayu banyak perempuan dari

keluarga terhormat; Fang Long Xiang tamak akan uang, dia

menggelapkan 162.000 buah aset. Urusan ini sudah diketahui oleh

tetua Naga Hijau, karena itu dia memanggilku khusus untuk

membersihkan perkumpulan.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau sendirian?”

Yuan Zi-xia berkata: “Aku biasa bekerja seorang diri.”

Bai Yu-jing berkata: “Kau ingin membersihkan perkumpulan?”

Yuan Zi-xia berkata: “Seorang saja sudah cukup.”

Bai Yu-jing berkata: “Tapi kungfumu……”

Yuan Zi-xia berkata dengan enteng: “Asal seseorang paham cara

menggunakan kelebihannya, diatidak perlu menggunakan kungfu

untuk menyerang orang.”

Bai Yu-jing berkata: “Apa kelebihanmu?”

Yuan Zi-xia hanya tersenyum, tapi tidak bicara.

Dia tersenyum sungguh manis, sungguh cantik.

Amat cantik…….

“Kau telah menipuku berulang kali, semula aku ingin menipumu juga

lalu membiarkan kau tahu sedikit demi sedikit. Aku tidak menyangka

kalau kau bisa mengetahuinya,” kata Bai Yu-jing.

“Kapan aku menipumu?”

“Memangnya kau tidak menipuku?”

“Jika aku telah menipumu, kenapa aku mau pergi denganmu,

meninggalkan kedudukan tetua Bendera Merah dan segalanya?”

“Mungkin kau memang bukan tetua Bendera Merah yang

sebenarnya.”

“Hm…..”

“Bukankah begitu?”

“Kenapa tidak kau tebak saja?”

Bai Yu-jing tahu dia tak akan dapat menebak dengan benar

untuk selamanya, tapi hal ini tidak penting.

Yang lebih penting, si dia sekarang berdiri di sisinya. Lagipula

dia tak akan pernah bisa meninggalkannya lagi. Ini sudah cukup.

Inilah cerita pertama, cerita tentang senjata jenis pertama.

Pelajaran yang bisa kita dapatkan dari cerita ini adalah, tak

perduli betapa tajamnya pedang, tetap tidak bisa dibandingkan

dengan senyum menawan.

Karena itu, menurutku, senjata jenis pertama bukanlah sebilah

pedang, tapi senyuman. Hanya senyuman yang bisa menaklukkan

hati manusia.

Karena itu, bila kau memahami kebenaran ini, seharusnya kau

melepaskan pedangmu dan banyak-banyaklah tersenyum!

TAMAT

Dilanjutkan dengan buku 2, Kait Perpisahan.

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s