Amanat Marga

New PictureAmanat Marga
(Hu Hua Ling)
Karya : Khu Lung
Saduran : Gan KL
Ebook oleh : Dewi KZ
Source : Tiraikasih Website

Angin menderu, awan berarak mengelilingi lereng bukit Jong-liong-nia yang merupakan lereng pegunungan Hoa. Bukit yang memanjang terjal dengan jurang yang dalam, puncaknya yang menegak dipandang dari jauh serupa sebilah pisau mengilat yang menembus awan di tengah langit.
Cahaya fajar menyimak awan, kabut pun mulai
menipis. Di puncak Jong-liong-nia itu, di bawah
tugu peringatan pujangga Han-bun-kong berdiri
seorang gadis rupawan dengan gayanya yang indah
sedang memandang jauh ke arah jalan yang
menuju ke atas bukit dengan kening bekernyit.
Tidak lama kemudian, benarlah di jalan
pegunungan itu muncul beberapa sosok bayangan
orang. Wajah si nona cantik berubah berseri, lalu
mendengus perlahan penuh rasa benci dan
dendam.
Sekejap kemudian beberapa sosok bayangan itu
sudah melayang tiba dan berhenti di depan si nona
cantik.
Nona itu mengerling sekejap, lalu berucap
dengan dingin, “Ikut padaku!”
Dengan suatu gerakan indah ia melompat
mundur beberapa tombak jauhnya, tanpa
memandang lagi ia terus melayang ke atas menuju
ke puncak selatansana .
Pendatang itu seluruhnya terdiri dari lima orang,
seorang di antaranya lelaki kekar berbaju hitam,
bermuka berewok, berbaju ringkas dan membawa
pedang, alis tebal dan mata besar, ia berkata
kepada seorang nyonya muda berbaju merah di
sampingnya dengan tertawa, “Hah, latah benar
nona cilik tadi, tampaknya lebih angkuh daripada
waktu engkau masih muda.”
“Masa?” si nyonya muda berpaling dengan
tersenyum.
“Sudah tentu benar,” seru lelaki baju hitam
dengan tertawa. “Bilamana orang memperistrikan
dia, tanggung akan lebih runyam daripada aku
Liong Hui. Hahaha!”
Suara tertawanya menggema angkasa,
mengandung rasa kasihan atas diri sendiri dan
juga penuh rasa puas.
Si nyonya muda bersuara aleman dan mendekap
ke dada si berewok, rambutnya tertebaran tertiup
angin dan bertaut dengan jenggot pendek si lelaki
kekar.
Di tengah gelak tertawa, seorang pemuda
berbaju merah dan berbadan kurus yang menyusul
tiba mendadak berdehem dan berucap, “Suhu
datang!”
Seketika si berewok berhenti tertawa dan si
nyonya baju merah juga berdiri tegak kembali.
Tertampaklah muncul seorang kakek berjubah
satin, muka memakai kerudung kain sutera tipis
wama hitam. Di belakangnya mengikut dua lelaki
kekar lain dan juga berbaju hitam mulus,
berdandan ringkas dan membawa golok.
Kedua orang ini menggotong sepotong barang
sepanjang satu tombak dan lebarnya antara tiga
kaki, berbentuk lonjong, tapi tertutup oleh sehelai
kain pancawama sehingga tidak jelas kelihatan
sesungguhnya barang apa yang mereka usung ini.
Melihat si kakek, si berewok, nyonya muda baju
merah dan pemuda kurus tadi sama berdiri dengan
sikap hormat dan tidak berani bersuara lagi.
Sesudah berhenti, si kakek menyapu pandang
sekejap dengan sinar matanya yang tajam, lalu
bertanya dengan suara tertahan, “Di mana dia?”
“Sudah naik ke atas,” jawab si berewok dengan
hormat.
Si kakek mendengus, “Ayo berangkat!”
Segera ia mendahului menuju ke atas puncak
gunung, ujung jubahnya tersingkap oleh tiupan
angin sehingga kelihatan sarung pedangnya yang
berwama hijau terbuat dari kulit ikan hiu.
Si nyonya muda yang tertinggal di belakang
berucap perlahan, “Ai, hari ini ayah …” dia tidak
meneruskan ucapannya.
Si pemuda kurus tadi berpaling memandang dua
orang muda-mudi sekejap, ia terkesima sejenak,
lalu berkata. “Sumoay (adik perempuan keempat)
dan Gote (adik kelima), boleh kalian menunggu di
bawah gunung saja.”
Habis berkata ia lantas menyusul si berewok dan
si nyonya muda. Kedua muda-mudi saling pandang
sekian lama dan tiada yang bicara apa pun.
Puncak selatan merupakan puncak tertinggi di
Jong-liong-nia, hampir seluruhnya tertutup oleh
gumpalan awan, angin meniup kencang, sejak
dahulu kala jarang ada manusia berkunjung ke
sini.
Namun sekarang sang surya baru terbit, puncak
utama pegunungan Hoa yang terkenal ini telah
banyak didatangi orang. Tertampak empat
perempuan setengah umur dengan rambut sudah
mulai beruban dan berbaju hijau singsat berdiri
berjajar di bawah pohon cemara tua, wajah setiap
orang tampak prihatin.
Ketika si nona cantik tadi melayang tiba segera
ia mendesis, “Itu dia sudah datang!”
Baru lenyap suara, dari bawah puncak lantas
berkumandang seruan orang, “Janji sepuluh tahun
yang lalu tidak pemah dilupakan Liong Po-si,
mengapa Sip-tiok-li tidak menyambut kedatangan
kenalan lama?”
Suaranya tidak keras, namun setiap katanya
berkumandang dengan jelas.
Keempat perempuan berbaju hijau itu saling
pandang sekejap, tapi tidak ada yang bergerak.
Sedangkan si nona cantik hanya mendengus saja,
lalu berduduk santai di atas batu hijau di samping
pohon cemara.
Baru saja suara orang tadi lenyap, di atas
puncak sudah muncul bayangan si kakek yang
tinggi besar dan berwibawa itu, dengan sorot mata
tajam ia menyapu pandang kelima orang
perempuan di bawah pohon, lalu bertanya,
“Apakah tempat ini puncak Hoa-san yang tertinggi?
Apakah kalian anak murid Tan-hong?”
Dengan tak acuh si nona cantik menjawab,
“Betul!”
“Dan di manakah Tan-hongYap Jiu-pek?” tanya
pula si kakek sambil melangkah maju.
Perlahan si nona cantik berbangkit, ia
mengawasi si kakek beberapa kejap dari atas ke
bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu
menjengek, “Apakah engkau ini Put-si-sin-liong
Liong Po-si?”
Put-si-sin-liong atau si naga sakti tak
termatikan, Liong Po-si, yaitu si kakek berjubah
satin itu tampak melenggong, mendadak ia
menengadah dan tertawa terbahak-bahak,
“Hahaha, bagus, bagus! Tak tersangka hari ini di
dunia Kangouw masih ada orang berani menyebut
namaku langsung di depanku!”
Si nona cantik tertawa dingin, ucapnya dengan
sikap pongah, “Bagus, bagus! Tak terduga hari ini
di dunia Kangouw ada orang berani menyebut
nama guruku di hadapanku.”
Melengak juga si kakek, mendadak ia mendekati
keempat perempuan berbaju hijau, ia tuding si
nona cantik dan bertanya, “Apakah dia muridYap
Jiu-pek?”
Keempat perempuan berbaju hijau
memandangnya tanpa berkedip dan menjawab
berbareng, “Betul!”
Serentak Liong Po-si berpaling dan menegur
dengan gusar, “Sepuluh tahun yang lalu gurumu
berjanji akan bertemu denganku di sini, mengapa
sekarang dia tidak muncul, sebaliknya
menyuruhmu bersikap kurang sopan kepada kaum
Cianpwe?”
“Hm, betapa pentingnya janji pertemuan juga
takkan dipenuhi lagi oleh guruku,” kata si nona
dengan dingin.
“Memangnya kenapa?” bentak Liong Po-si
dengan gusar.
“Guruku telah wafat tiga bulan yang lalu,” jawab
si nona dengan perlahan. “Sebelum meninggal
beliau memberi pesan agar kuwakili pertemuan ini,
tapi beliau tidak pemah memberitahukan padaku
bahwa engkau ini kaum Cianpwe apa segala.”
Dia bicara dengan tenang, nadanya dingin tanpa
emosi, sama sekali tidak ada tanda duka seorang
murid lagi menyampaikan berita tentang
meninggalnya sang guru.
Kembali Liong Po-si melengak, kain sutera yang
mengerudungi mukanya tampak bergetar, jenggot
perak di bawah dagunya juga rada gemetar.
Keempat perempuan berbaju hijau juga saling
pandang lagi sekejap, tapi tetap tidak bersuara.
Dalam pada itu si berewok, si nyonya muda dan
pemuda kurus berlima juga sudah menyusul tiba.
Kedua lelaki berbaju hitam menaruh perlahan
barang yang mereka usung itu, lalu menyurut
mundur dengan sikap hormat.
Si berewok alias Liong Hui mendekati Liong Posi,
dengan suara perlahan ia tanya, “Bagaimana,
ayah?”
Mendadak Liong Po-si menghela napas dan
berkata, “Yap Jiu-pek sudah mati!”
Dengan menyesal ia lantas membalik tubuh dan
melangkah pergi.
Sorot mata si nona cantik yang dingin itu
memancarkan cahaya yang aneh, mendadak ia
menengadah dan tertawa dingin, “Hah, sayang,
sungguh sayang! Tak tersangka tokoh paling gagah
yang termasyhur di dunia Kangouw Put-si-sin-liong
ternyata cuma begini saja setelah kulihat.”
Serentak Liong Po-si berhenti di tempat. Alis
Liong Hui juga menegak, dampratnya gusar, “Apa
katamu?”
“Apa kataku tiada sangkut pautnya denganmu,”
jawab si nona ketus, “Di sini tidak ada hak bicara
bagimu.”
Tentu saja Liong Hui tambah gusar, tapi Liong
Po-si telah memutar balik dan menegur si nona,
“Kau bilang apa tadi?”
Dengan tenang si nona menjawab, “Apa yang
ditetapkan dalam perjanjian guruku denganmu
sepuluh tahun uang lalu mengenai pertemuan ini?”
Liong Po-si tampak kecewa, jawabnya, “Yang
menang akan ditetapkan menjadi pemimpin dunia
Kangouw selamanya, dan yang kalah …. Ai,
kalauYap Jiu-pek sudah mati, biarpun orang she
Liong dapat merajai dunia Kangouw ….”
“Meski guruku sudah wafat, apakah engkau
pasti dapat merajai dunia Kangouw?” mendadak si
nona memotong dengan ketus.
“Memangnya hendak kau tantang diriku untuk
bertanding?” tanya si kakek.
“Hm, biarpun ada maksudku demikian, mungkin
engkau juga tidak sudi bergebrak denganku,”
sahut si nona.
“Memang betul,” ujar Liong Po-si.
“Selama berpuluh tahun kira-kira ada berapa
kali engkau bertanding dengan guruku?” tanya si
nona mendadak.
“Berapa kali, sukar dihitung lagi.”
“Dan pemahkah engkau menangkan beliau
setengah atau satu jurus?”
“Tapi juga tidak pemah kalah.”
“Nah, kalau kalah dan menang tidak pemah
terjadi dan engkau lantas ingin merajai dunia
Kangouw, apakah di dunia ini ada urusan
segampang ini?”
Liong Po-si melenggong, “Yap Jiu-pek sudah
mati, masakah harus kutantang orang mati untuk
bertanding?”
“Hm, meski guruku sudah meninggal, tapi beliau
meninggalkan satu seri ilmu pedang, bila engkau
tidak mampu mengalahkan ilmu pedang ini,
hendaknya segera engkau membunuh diri di
puncak Hoa-san ini dan setiap anak murid Ci-hausan-
ceng selanjutnya dilarang berkecimpung di
dunia Kangouw.”
Belum lagi Liong Po-si menjawab, mendadak si
berewok Liong Hui bergelak tertawa dan berteriak,
“Dan bagaimana kalau ayahku menang?”
Sama sekali si nona tidak menghiraukannya,
melirik pun tidak, ucapannya seolah-olah tidak
terdengar olehnya.
Liong Hui tertawa keras dan berseru pula, “Jika
ayahku kalah diharuskan segera membunuh diri,
bila ayah menang, memangnyaYap Jiu-pek itu
dapat mati sekali lagi? Apalagi jelas-jelas kau tahu
ayahku tidak sudi bergebrak dengan kaum muda,
apa gunanya biarpunYap Jiu-pek meninggalkan
ilmu pedang segala?”
“Diam?” mendadak Liong Po-si membentak. Lalu
ia mendekati si nona cantik dan berucap dengan
suara tertahan, “Selama sepuluh tahun ini, apakah
dia telah menciptakan pula seri ilmu pedang
baru?”
“Betul,” jawab si nona.
Mencorong sinar mata Liong Po-si, tapi lantas
menghela napas lagi dan berkata, “Biarpun ada
ilmu pedang mahasakti, kalau tidak dimainkan
oleh orang yang menguasai keuletan yang cukup,
memangnya dapat mengalahkanku begitu saja?”
Perlahan ia menunduk, tampaknya sangat
kecewa.
Dengan ketus si nona berkata pula, “Jika ada
orang yang keuletannya sebanding denganmu, lalu
dengan ilmu pedang tinggalan guruku untuk
bergebrak denganmu, bukankah hal itu serupa
halnya guruku bertempur sendiri denganmu?”
Sorot mata Liong Po-si tambah buram, ucapnya
dengan hampa, “Sejak 17 tahun yang lalu segenap
jago dunia persilatan kelas top berkumpul di Wisan,
kecuali gurumu dan aku, semuanya gugur
dalam pertarungan di Wi-sansana . Sekarang bila
ingin mencari seorang yang mempunyai kekuatan
sebanding denganku, untuk itu mungkin perlu
menunggu tiga ataulima puluh tahun lagi.”
“Untuk menguasai ilmu pedang dengan baik
memang diperlukan kekuatan latihan yang cukup,
kurang salah satu di antaranya takkan mampu
menjadi jago kelas tinggi, dalil ini cukup jelas,
sebab itulah setelah pertemuan Wi-san, tiada lagi
jago lain yang mampu mengungguli Tan-hong dan
Sin-liong. Biarpun di antara angkatan muda ada
juga yang mendapatkan penemuan mukjizat dan
memperoleh ilmu gaib, tapi tetap juga tiada
seorang pun yang berkekuatan melebihi Tan-hong
dan Sin-liong, betul tidak?”
“Ya, memang,” sahut si kakek.
“Sepuluh tahun yang lalu, apakah kekuatan
guruku sebanding denganmu?”
“Umpama ada selisih juga tidak ada artinya.”
“Tapi selama sepuluh tahun ini guruku tidak
pemah melupakan janji pertarungan denganmu di
sini, beliau giat berlatih siang dan malam.”
“Memangnya aku tidak begitu?” ujar si kakek.
“Jika begitu keadaannya, bila sekarang kalian
berhadapan, bukankah kekuatan kalian juga tetap
tidak berbeda banyak?”
“Ya, kecuali di dalam sepuluh tahun ini gurumu
(perempuan) bisa mendapatkan obat mukjizat yang
dapat menambah kekuatannya dengan cepat,
kalau tidak pati tidak dapat melebihiku.”
Setelah menghela napas, mendadak ia berpaling
dan berkata kepada si berewok, “Nah, anak Hui,
ketahuilah bahwa bertambahnya kekuatan latihan
seorang serupa halnya kawanan burung membuat
sarang dan manusia membangun gedung, harus
setingkat demi setingkat maju secara teratur,
sedikit pun tidak dapat dipaksakan, pantang tinggi
hati dan ingin maju dengan cepat, fondasi harus
terpupuk dengan kuat, kalau tidak, biarpun
bangunan gedung sudah berdiri, jelas tidak tahan
lama. Memang ada juga obat-obat mukjizat yang
dapat menambah kekuatan, tapi obat ajaib
demikian sukar dicari. Banyak juga orang Kangouw
yang ingin menemukan obat mukjizat demikian
sehingga menimbulkan macam-macam peristiwa
menyedihkan.”
Liong Hui menunduk dan mengiakan.
“Apalagi, pertarungan di antara jago kelas tinggi,
waktu, tempat dan si pelaku sendiri adalah faktor
yang menentukan,” kata Liong Po-si pula.
“Tapi kalau guruku berhasil menciptakan satu
seri ilmu pedang tanpa ciri, bukankah dengan
mudah dapat mengalahkanmu?” kata si nona
cantik.
“Di dunia ini mutlak tidak ada Kungfu yang
tanpa ciri kelemahan,” ujar Liong Po-si. “Namun
bila ciri di antara ilmu pedang gurumu itu tidak
dapat kutemukan, atau satu jurus serangannya
membuatku tak berdaya untuk mematahkannya,
maka jelas aku akan kalah.”
“Janji pertemuanmu dengan guruku belum
terlaksana dan guruku lantas wafat, sungguh di
alam baka pun beliau tak bisa tenang,” ucap si
nona cantik.
“Hm, memangnya tidak kurasakan sebagai
penyesalan selama hidupku ini?” jengek Liong Posi.
Nona itu menengadah, katanya pula, “Sebelum
wafat guruku pemah berkata kepadaku bahwa di
dalam sepuluh tahun ini engkau pasti juga akan
menciptakan Kungfu baru untuk menghadapi
beliau.”
“Haha, memang cumaYap Jiu-pek saja benarbenar
sahabat yang tahu perasaanku,” seru Liong
Po-si dengan tertawa, namun tertawa yang pedih
dan mengharukan.
Tiba-tiba si nona berkata pula, “Tapi kau pun
tidak perlu risau karena Kungfu yang kau latih
selama ini tidak berguna lagi. Sebelum wafat
guruku sudah memikirkan satu cara bagimu
bilamana engkau ingin menentukan kalah-menang
dengan beliau.”
Suara tertawa Liong Po-si seketika berhenti, ia
pandang si nona dengan tajam.
Nona cantik itu tidak menghiraukannya, katanya
lagi, “Begini caranya, jika boleh kututuk tiga Hiatto
tubuhmu, yaitu Koat-bun-hiat di bagian bahu,
Sin-cong-hiat di punggung dan Yang-koan-hiap di
dekat pinggul, dengan begitu tertutuplah urat nadi
Tok-im yang dapat mengekang sebagian tenagamu,
dengan kelihaianmu tentu tertutuknya ketiga Hiatto
itu takkan membahayakan jiwamu, tapi
tenagamu dapatlah susut menjadi cuma tujuh
bagian saja dan berarti sama kuatnya denganku,
lalu akan kugunakan ilmu pedang guruku untuk
bergebrak sendiri denganmu.”
Dia bicara kian kemari, akhirnya yang dituju
ternyata begini. Liong Po-si jadi melengak lagi.
Didengarnya si nona berkata pula, “Cara ini
adalah pesan guruku sebelum wafat, bilamana
tidak kau terima, tentu juga aku tak dapat
memaksa.”
Mendadak pemuda berewok Liong Hui berseru,
“Huh, kau bicara seperti permainan anak kecil
saja, mana boleh pertandingan dilakukan secara
begitu.”
Si nyonya muda berbaju merah yang berdiri
agak jauhsana mendadak melompat maju dan
menjengek, “Hm, jika begitu, bila kugunakan ilmu
silat ayahku untuk bergebrak denganmukan juga
sama saja.”
Nona cantik itu mendengus dan melengos,
mendadak ia menengadah dan menghela napas,
katanya, “Wahai Suhu,kansudah kukatakan dia
pasti takkan terima caramu ini, tapi engkau tidak
percaya, sekarang terbukti dugaan Suhu memang
salah.”
Lalu ia mendekati keempat perempuan berbaju
hijau di bawah pohonsana dan berucap, “Ayolah
kita pergi, apa alangannya membiarkan Ci-hausan-
ceng merajai dunia persilatan.”
“Nanti dulu!” bentak Liong Po-si mendadak.
Si nona menoleh dan mengejek, “Jika engkau
tidak mau menepati janji terhadap orang mati,
tentu juga aku tidak menyalahkan dirimu. Anggap
saja memang tidak pemah ada perjanjian sepuluh
tahun yang lalu itu.”
Liong Po-si menengadah dan bergelak tertawa
lantang, serunya, “Selama berpuluh tahun, entah
sudah berapa kali aku menyerempet bahaya dan
belum pemah kupikirkan soal mati dan hidup,
lebih-lebih tidak pemah ingkar janji terhadap siapa
pun. Meski Yap Jiu-pek sudah mati, namun janji
tetap janji, jika dia telah meninggalkan pesan cara
bertanding denganku, mana boleh kuingkar janji
padanya.”
Keruan Liong Hui dan si nyonya muda terkejut,
cepat mereka berseru, “Ayah! ….”
Tapi Liong Po-si terus menarik kain
kerudungnya.
Sekilas pandang terkesiap juga hati si nona
cantik. Dilihatnya wajah orang penuh bekas luka
silang-menyilang, biarpun dipandang di siang hari
tetap juga menimbulkan rasa seram.
Dengan suara berat Liong Po-si berkata kepada
Liong Hui, “Selama hidup ayahmu sudah
mengalami beratus kali pertempuran besar atau
kecil dan belum pemah kalah, betapa pun
tangguhnya lawan tetap dapat kutundukkan dia
dengan pedangku, semua itu adalah karena
dadaku lapang, tekadku yang bulat, tidak ada
sesuatu yang kutakuti, tapi bila satu kali aku
ingkar janji, tentu dadaku tidak lagi selapang itu,
dan bisa jadi sudah lama kumati.”
Sinar matanya menjadi buram, dia seperti
tenggelam dalam lamunan masa lampau.
Cahaya sang surya yang baru terbit menembus
kabut tipis dan menyinari wajahnya yang penuh
bekas luka sehingga garis-garis bekas luka itu
bersemu merah.
Perlahan ia meraba dahi sebelah kanan, di situ
ada sejalur luka pedang memanjang dari dahi
kanan hingga ujung mata, bila miring lagi sedikit
ke kiri tentu mata kanan itu sudah lama cacat.
“Empat puluh tahun yang lalu, di benteng Gioklui-
koan ….” dia bergumam perlahan dan scakanakan
terbayang kembali adegan dahulu ketika dia
berhadapan dengan Ko Siau-thian, itu tokoh utama
Go-bi-pay yang berjuluk Coat-ceng-kiam atau si
pedang tanpa kenal ampun, dengan sejurus
“Thian-ce-keng-hong” atau pelangi menghias ujung
langit, pedang Ko Siau-thian telah meninggalkan
bekas luka pada dahinya itu, sekarang dirabanya
dengan perlahan, rasanya masih dapat merasakan
penderitaan waktu kulit dagingnya tersayat pedang
dahulu.
Mendadak ia menengadah dan bersuit, lalu
bergelak tertawa dan berteriak, “Wahai Ko Siauthian,
meski aku tidak mampu menangkis jurus
seranganmu Thian-ce-keng-hong itu, tapi engkau
sendiri masakah mampu lolos dari pedangku? ….”
Suara tertawanya berubah lemah, tapi waktu
tangan menyentuh tiga garis bekas luka di dahi
kanan, kembali terkenang olehnya kejadian lain,
waktu itu dia berkelana menjelajah dunia, dia
berhadapan dengan Pah-san-kiam-kek, melawan
jago keluarga Pang dan juga mengunjungi Siaulim-
si, di mana-mana dia menantang bertanding,
setiap kali menyerempet bahaya, tapi selalu lolos
dari elmaut dan akhirnya menang, semua itu
mendatangkan julukan baginya sebagai Put-si-sinliong
atau si naga sakti tak termatikan. Teringat
olehnya 30 tahun yang lalu orang Bu-lim
mengadakan pesta di Sian-he-nia untuk
mengukuhkan julukannya, di mana, berkumpul
kesatria dari segenap penjuru, pesta yang meriah
dan juga membanggakan, terkenang pada kejadian
dulu itu, tanpa terasa tersembul senyuman pada
ujung mulutnya.
Perlahan ia mengelus jenggotnya sehingga
menyentuh setitik bekas luka tusukan pedang,
inilah akibat serangan Sam-hoa-sin-kiam atau si
pedang sakti tiga bunga, luka ini paling ringan,
tapi juga paling berbahaya pada waktu itu.
“Kiu-ih-hui-eng (si elang sembilan sayap) Tik
Bong-peng sungguh tokoh paling sulit dihadapi
selama hidupku ….” demikian Liong Po-si
bergumam pula perlahan, “tapi betapa lihai ilmu
pedangnya tetap tidak dapat lolos di bawah
pedangku.”
Lalu dia meraba lagi bekas luka di tepi mata
kanan, itulah tusukan pedang jago Kun-lun-pay.
Malahan bagian iganya juga terdapat bekas luka
pedang Bu-tong-pay, diam-diam ia mengakui
kebaikan hati orang Bu-tong, hanya menyerang
tubuh tanpa merusak wajahnya, sebab itulah Liong
Po-si sendiri juga tidak membunuh lawannya, tapi
siapa yang menyangka dalam pertarungan di Wisan
itu, ketiga sesepuh Bu-tong-pay yang berhati
welas asih itu juga tewas.
Terkenang kepada semua kejadian masa lampau
itu, tanpa terasa Liong Po-si menghela napas
panjang lagi. Bahwa dalam pertarungan di Wi-san
itu hampir segenap jago inti dunia persilatan telah
tewas seluruhnya, sebaliknya Liong Po-si sendiri
tidak mengalami cedera apa pun, memangnya apa
sebabnya?
“Hal ini lantaran segala ilmu silat di dunia ini
telah kuuji dan kupelajari, maka tidak ada lagi
sesuatu Kungfu yang mampu melukaiku!”
Ia memandang jauh puncak di gunung
seberangsana , mendadak timbul semacam
perasaan kosong yang sukar dijelaskan. Ingin
menang tidak bisa adalah hal yang menyedihkan,
minta kalah tidak dapat juga mengharukan. Segala
kejadian masa lampau seolah-olah awan yang
mengambang di udara itu melayang lewat dalam
benaknya ….
Mendadak suara elang berkumandang dari
bawah gunung menyadarkan lamunan Put-si-sinliong
Liang Po-si. Suasana di atas puncak terasa
sunyi senyap, sorot mata tajam si nona cantik lagi
menatapnya, seperti sedang menunggu, seperti
juga hormat dan kagum, tapi juga seperti
meremehkan.
Sekonyong-konyong Liong Po-si tertawa lantang
sambil membentangkan kedua tangannya,
terdengar suara “trang-tring” nyaring, belasan
kancing emas jubahnya sama rontok jatuh ke
tanah.
Terkesiap si berewok Liong Hui, serunya, “Ayah,
buat apa? ….”
“Jika tidak kulayani ilmu pedang tinggalan Yap
Jiu-pek, selain dia mati tidak tenteram di alam
baka, aku pun akan menyesal selama hidup,” kata
Liong Po-si dengan tertawa.
Si nona cantik mendengus, perlahan ia
mengeratkan tali pinggang dan siap tempur.
“Tapi … tapi hal ini kurang adil, Ayah ….” seru
Liong Hui pula.
“Kau tahu apa?” bentak Liong Po-si. Mendadak
ia tertawa lagi. “Hahaha, selama hidupku dijuluki
Put-si (tak termatikan), bilamana sudah tua harus
mati di bawah pedang orang lain, rasanya juga
menggembirakan bagiku.”
Cepat Liong Hui menyurut mundur ketika
melihat tangan sang ayah bergerak, jubah satin
berwama ungu mendadak terlempar ke atas serupa
segumpal awan terbang ke angkasa, lalu semampir
di pucuk cemara.
“Koat-bun, Sin-cong, Yang-koan ….” dengan
ketus si nona cantik menyebut nama ketiga Hiatto.
Liong Po-si mendengus, ia lantas memutar
punggungnya ke arah Liong Hui, katanya dengan
tenang, “Anak Hui, apakah masih ingat gerakan
Ho-cui-keng (tenaga cocokan bangau)?”
“Masih,” jawab Liong Hui dengan ragu.
“Nah, gunakangaya Ho-cui-keng untuk menutuk
ketiga Hiat-to yang disebutnya itu,” ucap Liong Posi.
“Tapi … ayah ….”
“Cepat!” bentak si kakek.
Liong Hui ragu sejenak pula, akhirnya ia
mengertak gigi dan memburu maju ke belakang
sang ayah, tangan kanan terangkat, jari telunjuk
dan jempol terangkap serupa paruh burung
bangau dan perlahan menutuk Koat-bun-hiat di
bagian pundak.
Si nyonya muda berbaju merah menghela napas,
ia berpaling ke arah lain, sekilas terlihat barang
yang tertutup oleh kain satin yang diusung kedua
orang berbaju hitam tadi, serentak ia berpaling
kembali dan dilihatnya si berewok Liong Hui belum
lagi melancarkan tutukannya, rupanya baru
terjulur sampai setengah jalan tangan Liong Hui
lantas bergemetar dan tidak sanggup turun tangan
lebih lanjut.
Liong Po-si melirik ke belakang dan
mendamprat, “Manusia tak … becus!”
Cukup bengis dia memaki, tapi ketika
mengucapkan “becus”, suaranya berubah menjadi
lunak.
Liong Hui meluruskan kembali kedua tangannya
dan menghela napas, ucapnya, “Ayah, kupikir
urusan ini agak ganjil ….”
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong
sesosok bayangan orang melayang tiba, kiranya si
pemuda belia dan tampak lemah lembut dan selalu
mengikut di belakang pemuda kurus berbaju hitam
itu bersama seorang anak dara tadi.
“Untuk apa kau datang kemari, Gote?!” seru
Liong Hui dengan kening bekernyit.
Pemuda lemah itu menjawab dengan lugas, “Jika
Toako tidak sanggup turun tangan, biarlah Siaute
saja menggantikan engkau.”
“Apa kau gila?” bentak Liong Hui dengan
mendelik.
Pemuda lemah itu memandang lurus ke depan
dengan air muka kaku.
Put-si-sin-liong membalik tubuh dan mengawasi
anak muda itu beberapa kejap, lalu berkata dengan
gegetun, “Ai, selama ini kuanggap kau terlalu
lemah lembut serupa anak perempuan, tak
tersangka di luar kau halus tapi keras di dalam,
serupa diriku pada waktu muda, jika sekali ini aku
dapat ….” mendadak ia terbatuk, lalu
menyambung, “Baiklah, jika kau pun paham
gerakan Ho-cui-keng, boleh lekas kau turun
tangan.”
Liong Hui lantas melangkah mundur dengan
menunduk seperti tidak ingin melihat apa yang
bakal terjadi.
Maka terdengarlah suara “tek-tek-tek” perlahan
tiga kali, Liong Po-si lantas menghela napas lega,
lalu menarik napas lagi dalam-dalam disusul
dengan suara mendering dan cahaya pedang yang
menyilaukan mata.
Dalam pada itu si nyonya muda lantas
mendekati Liong Hui, dibisikinya, “Untuk apa kau
sedih, toh ayah tidak pasti kalah.”
Mendadak Liong Hui mengangkat kepalanya,
seperti mau bicara, tapi urung.
Terlihat si nona cantik tadi telah menerima
sebatang pedang dari salah seorang perempuan
berbaju hijau tadi, disentilnya batang pedang
dengan dua jarinya, “tring”, terdengar suara
nyaring bergema.
Liong Po-si juga sedang memandang pedang
sendiri yang bercahaya hijau, sampai sekian lama
ia tidak bergerak, hanya jarinya saja yang merabaraba
batang pedang serupa seorang ibu sedang
membelai anak kesayangannya.
Kemudian dia menanggalkan sarung pedang
yang masih tergantung di pinggangnya, ia
membalik dan menyerahkan sarung pedang itu
kepada si pemuda lemah tadi.
Pemuda yang berwajah putih cakap itu
mendadak terkilas rasa kejut dan heran, cepat ia
sambut pemberian sarung pedang itu.
“Mulai hari ini, pedang Yap-siang-jiu-loh (embun
musim rontok di atas daun) ini adalah milikmu,”
demikian kata Liong Po-si.
Dengan sinar mata mencorong pemuda itu
memegang sarung pedang dan melangkah mundur,
lalu dia berlutut dan menyembah tiga kali kepada
Liong Po-si.
Air muka si berewok Liong Hui berubah hebat,
alisnya yang tebal terkerut, dia seperti mau bicara,
tapi si nyonya baju merah telah menarik ujung
bajunya, keduanya saling pandang sekejap, lalu
menunduk diam.
“Jangan sia-siakan pedang ini!” demikian pesan
Liong Po-si.
Pemuda lembut itu lantas berbangkit, mendadak
ia mendekati benda panjang yang tertutup oleh
kain satin itu, perlahan ia menjulurkan sarung
pedang untuk menyingkap kain penutup
pancawama itu. Maka tertampaklah benda itu
ternyata sebuah peti mati terbuat dari kayu
cendana.
Liong Po-si menatap anak muda itu tanpa
berkedip, tanyanya dengan suara berat, “Adakah
yang ingin kau katakan?”
Pemuda itu kembali berlutut lagi perlahan dan
menyembah tiga kali terhadap peti mati itu,
mendadak ia melolos sebilah belati berbentuk
naga, dengan ujung belati ia menusuk ujung jari
sendiri, darah lantas mengucur keluar, ia
kebaskan tangannya sehingga beberapa titik darah
menetes di atas peti mati.
Air muka Liong Po-si yang kereng mendadak
tersembul senyuman puas, ucapnya, “Bagus,
bagus!”
Habis itu barulah ia mendekati si nona cantik
tadi.
“Anda menyiapkan peti mati dengan harapan
akan kalah, Put-si-sin-liong memang tidak malu
disebut sebagai jago perkasa nomor satu di dunia
persilatan,” kata si nona dengan tersenyum.
Sampai di sini barulah nona ini memperlihatkan
senyumannya, senyum yang manis bagai bunga
yang mekar semarak, senyum yang memikat dan
sukar untuk dilukiskan.
Pemuda lemah tadi telah menggantungkan
sarung pedang kulit ikan hiu pada pinggangnya,
mendadak sorot matanya memancarkan cahaya
aneh menatap wajah si nona cantik, lalu selangkah
demi selangkah didekatinya dengan perlahan.
Nona itu mengerling, sinar mata kedua orang
kebentrok, tanpa terasa si nona terkesima,
sesudah pemuda itu berada di depannya barulah ia
menegur, “Kau mau apa?”
Liong Po-si juga lantas berkata, “Di sini sudah
tidak ada lagi urusanmu, kenapa tidak
mengundurkan diri saja!”
Namun anak muda itu tidak menjawab,
mendadak kedua tangannya terpentang, telapak
tangan kiri menghantam iga si nona, sebaliknya
telapak tangan kanan memukul iga kiri Put-si-sinliong
Liong Po-si.
Sungguh luar biasa kecepatan dan ketepatan
kedua serangan pemuda ini, si nona cantik dan
Liong Po-si sama terkesiap, mereka tidak
menyangka mendadak bisa diserang.
Pada saat mereka melenggong itulah tangan si
pemuda lemah sudah menyambar tiba, cepat si
nona cantik menangkis dengan sebelah tangan,
“plok”, kedua tangan beradu.
Liong Po-si terpaksa juga menangkis, ia
menggeser dan angkat sebelah tangannya, ia pun
beradu tangan dengan muridnya itu.
Di tengah suara adu pukulan itu, si berewok
Liong Hui memburu maju sambil membentak, “Apa
kau gila, Gote?”
Tapi segera terlihat pemuda lembut itu menarik
kembali tangannya dan menggeser mundur, lalu
berkata dengan hormat, “Suhu, nona ini tidak
berdusta!”
“Maksudmu, kekuatanku sekarang telah
scimbang dengan dia?” tanya Liong Po-si,
mendadak ia bergelak tertawa dan berkata pula,
“Haha, bagus, bagus, baru sekarang ketemukan
lawan yang sama kuat!”
Liong Hui tampak tercengang sejenak, katanya
kemudian kepada pemuda lembut, “Kiranya
tujuanmu cuma untuk menguji kekuatan
perempuan itu apakah sebanding dengan Suhu
atau tidak?”
“Ya, begitulah,” sahut anak muda itu dengan
menunduk.
“Jika maksudnya bukan untuk mencoba, mana
dia bisa menyerang guru sendiri,kan mubazir
pertanyaanmu itu,” ujar Liong Po-si dengan tertawa
cerah.
Kakek yang gagah dan kereng ini, meski
sekarang menghadapi pertempuran yang pasti
sangat berbahaya, namun hatinya justru terasa
sangat gembira, entah lantaran menemukan lawan
yang “sama kuat” atau karena merasa tindakan
muridnya itu sangat cocok dengan seleranya?
Liong Hui tampak kikuk dan mundur teratur
sambil melirik sekejap kepada pemuda lembut itu.
Si nyonya muda berbaju merah tertawa dan
berkata, “Usia Gote masih muda belia, tak
tersangka sudah mempunyai kecerdasan dan
kekuatan sehebat ini.”
Liong Po-si berucap dengan gegetun, “Sesudah
lama baru ketahuan hati manusia, setelah
perjalanan jauh baru tahu tenaga kuda. Untuk
mengetahui watak dan kecerdasan seorang juga
baru kelihatan bilamana menghadapi keadaan
genting.”
Pemuda lembut tadi menunduk. Sedangkan
Liong Hui saling pandang sekejap dengan si nyonya
muda.
Anak dara yang berdiri berdampingan dengan si
pemuda lembut tadi tampak tersenyum senang dan
bangga.
Baru sekarang pandangan si nona cantik
berpindah dari wajah si pemuda lembut, lalu
menjengek, “Nah, sesudah dicoba, bolehkah
dimulai sekarang?”
“Tentu saja,” kata Liong Po-si sambil mengayun
pedangnya sehingga menerbitkan suara dering
nyaring dan mengakibatkan rontoknya lidi cemara
yang menjatuhi tubuh keempat perempuan berbaju
hijau ringkas itu.
Meski tenaga dalam Liong Po-si sudah susut
banyak, tapi tetap selihai ini, tanpa terasa keempat
perempuan itu saling pandang dengan terkesiap.
Tapi si nona cantik anggap seperti tidak tahu,
ucapnya ketus, “Jika boleh mulai, silakan Anda
ikut padaku!”
Liong Po-si jadi melenggong lagi, “Masakah
bukan di sini?”
“Ya, di sini bukan tempat yang baik untuk
bertanding,” segera si nona cantik seperti hendak
membalik kesana .
“Sebab apa?” tanya Liong Po-si.
“Jika kubunuh dirimu, tentu anak murid-mu
akan menuntut balas padaku, padahal pengaruh
Ci-hau-san-ceng di dunia persilatan sangat besar,
sebaliknya guruku cuma menerima seorang murid
seperti diriku saja, bila mereka menuntut balas
padaku, tentu aku tidak mampu melawannya,
betul tidak?”
“Dengan sendirinya engkau tidak mampu
melawan!” bentak Liong Hui
“Hm, hanya mengandalkan sedikit
kepandaianmu ini kau kira dapat mengalahkan
guru kami?” jengek si nyonya muda mendadak.
Liong Po-si melirik kedua anak muridnya itu
sekejap, diam-diam seperti merasa menyesal,
segera ia berkata, “Tentu maksudmu ingin
merahasiakan ilmu pedangmu untuk berjaga
bilamana anak muridku menuntut balas padamu
setelah berhasil kau bunuh diriku, begitu?”
“Betul,” jawab si nona cantik. “Pada waktu Suhu
mengajarkan ilmu pedang ini padaku, kecuali
menugaskanku membunuhmu, ada juga orang lain
yang harus kubunuh, mana boleh kuperlihatkan
ilmu pedang ini di depan umum sehingga orang
sempat mempelajari ciri kelemahan ilmu pedangku
ini?”
“Ya, betul juga, bilamana aku menciptakan
sesuatu Kungfu baru, tentu aku pun akan
merahasiakannya,” ujar Liong Po-si dengan
mengangguk. Mendadak ia menghela napas
panjang, dan menatap tajam si nona cantik, lalu
bertanya sekata demi sekata. “Menjelang wafatnya
gurumu, apakah dia masih begitu benci padaku?”
“Bila benci dan dendam sudah mendalam, apa
bedanya waktu hidup atau sudah mati?” jengek si
nona.
“Haha, apa bedanya … apa bedanya ….”
mendadak Liong Po-si menengadah dan bersuit,
lalu membentak, “Baik, di mana tempatnya? Ayo,
akan kuikuti!”
Tanpa bicara lagi si nona cantik lantas,
membalik tubuh dan melangkah pergi.
Mendadak si berewok Liong Hui membentak,
“Nanti dulu!”
Tapi si nona tetap melangkah ke depan seperti
tidak mendengar. Tiba-tiba terdengar kesiur angin
lewat, tahu-tahu si pemuda lembut sudah
mengadang di depannya.
Bekernyit juga kening si nona cantik, ia menoleh
memandang Liong Po-si sekejap.
Segera Put-si-sin-liong Liong Po-si membentak,
“Kalian mau apa lagi?”
Si nyonya muda melompat maju dan berkata,
“Betapa pun kita harus berjaga segala
kemungkinan, apabila mereka telah mengatur
perangkap disana , bukankah Suhu akan
terjebak?”
Liong Po-si menjadi sangsi, ia memandang
sekejap si nona cantik.
Si nona cantik batas menatapnya dengan dingin
scakan-akan sedang berkata, “Pergi atau tidak
terserah padamu ….”
Sebelum Liong Po-si berkata pula, cepat si
nyonya muda mendahului bicara, “Sampai saat ini
belum juga kami minta petunjuk akan nama nona
yang terhormat, sungguh kurang sopan.”
Dia bicara dengan lemah lembut dan tersenyum
pula sehingga mau tak mau orang harus menjawab
pertanyaannya.
Meski air muka si nona tetap dingin, tidak urung
ia menjawab singkat, “Namaku Yap Man-jing.”
“Sungguh nama yang bagus,” ujar si nyonya
muda dengan tersenyum. “Dan namaku Kwe Giokhe,
nama kampungan, tapi … ai, apa boleh buat.”
Dalam keadaan demikian dan di tempat seperti
ini dia justru bicara tetek bengek, tampaknya Liong
Po-si merasa tidak sabar, tapi agaknya dia sangat
sayang kepada nyonya muda itu, maka dia tidak
mencegahnya.
Si berewok Liong Hui tampaknya juga sangat
hormat dan juga jeri terhadap nyonya muda itu.
Hanya si pemuda lembut saja tetap kelihatan kaku
tanpa emosi, tidak bicara juga tidak tertawa.
Terdengar nyonya muda itu menyambung lagi,
“Nona Yap, meski kita tidak pemah bertemu
sebelum ini, namun nama gurumu sudah lama
kami dengar, ditambah lagi nona Yap sendiri
ternyata begini cantik dan menyenangkan, sebab
itulah segala apa yang diucapkan nona Yap telah
kami turuti semua.”
Si nona cantik alias Yap Man-jing hanya
mendengus saja tanpa menanggapi.
Maka Kwe Giok-he meneruskan lagi, “Cuma
syarat yang dikemukakan nonaYap tadi betapa pun
kami rasakan agak kurang baik ….”
“Kurang baik apa? Urusan ini tidak ada sangkut
pautnya denganmu, mengapa engkau ikut
campur?” jengekYap Man-jing dengan ketus.
Namun Kwe Giok-he tetap tersenyum cerah dan
berkata, “Jika benar nonaYap tidak menghendaki
kami melihat rahasia ilmu pedang gurumu,
seharusnya hal ini kau bicarakan jauh
sebelumnya, mengapa mesti menunggu sampai
sekarang baru dikemukakan olehmu. Sungguh aku
tidak habis mengerti akan dalil ini.”
Yap Man-jing memandangnya beberapa kejap,
lalu menjengek, “Hm, apa benar kau minta
kukatakan terus terang?”
“Sebabnya kutanya kepada nona memang
berharap engkau suka memberitahukan apa
alasannya, kalau tidak untuk apa kuikut bicara?”
ujar Kwe Giok-he dengan tersenyum.
Perlahan Yap Man-jing mengerling sekejap,
setiap orang yang hadir di sini seolah-olah sudah
dipandangnya semua, lalu menjengek, “Sebabnya
hal ini tidak kukemukakan tadi adalah lantaran
kulihat di antara kalian yang berada di sini tidak
ada seorang pun yang dapat melihat ciri
kelemahan ilmu pedangku,”
“Dan mengapa sekarang harus kau
kemukakan?” tanya Kwe Giok-he.
Seperti tidak sengajaYap Man-jing melirik
sekejap si pemuda lembut, lalu berkata, “Sebabnya
kukemukakan syaratku ini adalah lantaran tibatiba
kulihat di antara anak murid Put-si-sin-liong
ternyata bukan orang goblok semua, sedikitnya
ada satu di antaranya terhitung pintar.”
Air muka Kwe Giok-he rada berubah, tapi segera
ia tersenyum lagi dan berkata, “Terima kasih atas
pujian nonaYap . Pantas Sip-tiok-li mati begitu dini
dengan hati lega, sebab dia mempunyai seorang
murid baik sebagai nona.”
Kata berjawab, gayung bersambut, kontan Kwe
Giok-he membalas ucapan orang dengan sama
tajamnya, namun tetap ramah tamah dan
tersenyum manis.
Air mukaYap Man-jing tampak berubah juga, ia
mendengus terus hendak melangkah pergi.
Dengan tersenyum Kwe Giok-he memandang
bayangan punggung orang, agaknya dia merasa
senang karena dapat mengalahkan orang dengan
perang lidah.
Siapa tahu mendadak Liong Po-si menghela
napas dan memandangnya dengan sorot mata
buram, ucapnya, “Alangkah baiknya bilamana
anak Hui memiliki setengah kecerdasanmu.”
Giok-he menunduk dengan tersenyum, tapi
Liong Po-si lantas menambahkan, “Cuma sayang
engkau terlampau pintar.”
Habis ini segera ia berteriak, “Tunggu dulu,
nonaYap !”
Sekali lagiYap Man-jing berhenti, katanya tanpa
menoleh, “Ikut pergi atau tidak terserah kepada
keputusanmu, buat apa banyak bicara lagi.”
Liong Po-si berdehem, lalu berkata pula, “Selama
hidupYap Jiu-pek terkenal jujur, kuyakin anak
muridnya pasti juga bukan manusia pengecut.
Selama hidupku tidak pemah gentar terhadap apa
pun, andaikan disana terdapat sesuatu perangkap
juga bukan soal bagiku.”
Mendadak Yap Man-jing berpaling, meski tetap
dingin air mukanya, tapi tampak menampilkan
rasa kagum dan hormat.
“Hanya saja pedangku ini sudah mendampingiku
selama beberapa puluh tahun, meski bukan
senjata wasiat segala, namun juga pemah banyak
mengalahkan berbagai tokoh temama dunia
persilatan,” demikian Liong Po-si bicara lebih lanjut
dengan bangga dan juga setengah terharu. “Maka
bilamana hari ini aku tidak dapat pulang dengan
hidup, kuharap nona dapat menyerahkan kembali
pedangku ini kepada muridku Lamkiong Peng.”
Suaranya yang kereng kini telah berubah
menjadi rada duka dan sedih, suara duka
demikian belum pemah didengar oleh anak
muridnya, sampai si pemuda lembut, Lamkiong
Peng, juga tercengang.
“Dan bila aku yang tidak kembali dengan hidup,
kuharap juga kau serahkan pedangku Liong-gimsin-
im (ringkik naga suara malaikat) ini kepada
mereka,” tiba-tiba si nona cantikYap Man-jing juga
meninggalkan pesan sambil menunjuk keempat
perempuan berbaju hijau tadi.
“Baik,” sahut Liong Po-si.
Serentak Yap Man-jing melangkah kesana sambil
berkata, “Ayo berangkat!”
Sekilas ia lirik lagi Lamkiong Peng sekejap.
Tanpa ragu lagi Liong Po-si lantas ikut
berangkat. Tapi baru saja lewat di samping
Lamkiong Peng, mendadak ia menyurut mundur
lagi selangkah dan menepuk pundak anak muda
itu, seperti mau bicara, tapi urung. Ia cuma
tersenyum saja, lalu menghela napas perlahan,
ketika dia melangkah ke depan lagi, dalam sekejap
lantas menghilang di balik gumpalan awan.
Meski bayangan sang guru sudah menghilang,
Lamkiong Peng masih berdiri mematung sambil
memandangi awan yang mengambang di udara itu,
meski wajahnya kaku dingin, namun sorot
matanya memancarkan perasaan hangat.
Terdengar Kwe Giok-he yang berdiri di
belakangnya lagi bergumam, “Yap-siang-jiu-loh …
Liong-gim-sin-im ….” Tak tersangka antara Suhu
dan Tan-hongYap Jiu-pek memang terjalin ….”
Tiba-tiba Liong Hui berdehem, katanya, “Urusan
pribadi Suhu sebaiknya jangan kita bicarakan.”
Dia mendekati Lamkiong Peng dan berdiri diam
sejenak sambil mengelus janggut, lalu memutar
balik dan berduduk di atas batusana serta
mengelamun memandangi awan yang mengapung
di udara.
Kwe Giok-he juga memandang Lamkiong Peng
sejenak, mendadak ia menggapai dan memanggil,
“Kemari, Sumoay!”
Anak dara yang berdiri agak jauh itu mendekat
dengan menunduk, langkahnya kelihatan enteng
dan gesit, jelas tidak lemah Kungfunya, tapi gerakgeriknya
kelihatan malu-malu serupa gadis
pingitan, sama sekali tidak ada ciri khas sebagai
anak murid Ci-hau-san-ceng atau perkampungan
Ci-hau yang disegani.
Dengan tangan memainkan ujung baju seperti
anak gadis yang takut-takut ia menyapa, “Adaapa,
Toaso (kakak ipar)?”
Giok-he tersenyum dan berkata, “Gote datang
belakangan tapi menonjol paling atas sehingga
mewarisi pusaka Yap-siang-jiu-loh dari Suhu, kau
gembira atau tidak?”
Anak dara yang memang malu-malu itu tambah
likat, mukanya yang putih lantas bersemu merah,
kepala menunduk terlebih rendah.
Pemuda kurus yang sejak tadi diam saja
mendadak menimbrung, “Bukan saja Sumoay
merasa gembira, aku juga sangat senang!”
Dengan wajah berseri Kwe Giok-he memandang
mereka kian kemari, lalu berkata, “Kalian sungguh
dua sejoli yang setimpal, sampai kata hati
keduanya juga sama. Pantas orang Kangouw suka
merangkai Ciok Tim dan So-so menjadi satu dan
menyebut mereka sebagai Liong-bun-siang-kiam
(sepasang pedang keluarga Liong), cuma sayang
….”
Sampai di sini ia lantas berhenti dan cuma
berdehem perlahan saja sambil melirik Lamkiong
Peng.
Ciok Tim, pemuda kurus itu juga memandang ke
arah Lamkiong Peng, di antara mata alisnya
samar-samar kelihatan menampilkan rasa iri, tapi
dengan lantang ia lantas berseru, “Tapi selanjutnya
bila ditambah Gote, mungkin orang Kangouw akan
menyebut kami sebagai Liong-bun-sam-kiam (tiga
pedang keluarga Liong)!”
“Rupanya engkau belum tahu,” kata Giok-he
dengan tertawa, “meski belum lama Gote masuk
perguruan kita, tapi keluarga Lamkiong dari
daerah Kanglam sudah lama terkenal sebagai
keluarga hartawan, maka sudah lama juga orang
Bu-lim sama memberi suatu nama julukan kepada
Gote sebagai Hu-kui-sin-liong (si naga sakti kaya
dan jaya)!”
“Toaso memang berpengetahuan banyak dan
berpengalaman luas,” kata Ciok Tim dengan
tertawa ewa, “Siaute sendiri jarang berkelana di
dunia Kangouw, pengetahuanku kalau
dibandingkan Toaso sungguh selisih terlalu jauh.”
Tiba-tiba si berewok Liong Hui menimbrung,
“Memang pemah kudengar disebutnya nama Hukui-
sin-liong, tapi itu cuma sanjung puji dari
kalangan Piaukiok (perusahaan pengawalan) yang
ada hubungan erat dengan grup keluarga
Lamkiong, masa kau anggap sungguh-sungguh?”
“Baik, baik, kau lebih tahu dan aku tidak tahu,”
gerutu Giok-he sambil melotot.
Mestinya Liong Hui hendak omong lagi, tapi demi
melihat air muka sang istri yang kurang senang
itu, seketika ia urung bicara.
Semua orang menjadi bungkam, hanya angin
mendesir dan dedaunan gemersik, awan yang
mengambang di udara melayang kian kemari
serupa urusan dunia persilatan yang selalu
berubah dengan suka dukanya.
Sampai sekian lamanya keempat perempuan
berbaju hijau ringkas itu jaga tetap berdiri di
bawah pohon cemara, hanya terkadang mereka
melirik ke arah anak murid Ci-hau-san-ceng ini,
agaknya dapat mereka rasakan juga di antara anak
murid keluarga Liong ini terdapat pertentangan
dan saling curiga, sebab itulah di antara kerlingan
mereka terkadang juga menampilkan rasa
menghina dan mencemoohkan.
Sudah cukup lama juga, mendadak Liong Hui
berbangkit dan memandang cuaca, ucapnya
dengan suara tertahan, “Rasanya kepergian Suhu
sudah … sudah lebih setengah jam!”
Kwe Giok-he menjawab, “Engkau selalu tidak
sabaran, pantas Suhu tidak mau mewariskan Yapsiang-
jiu-loh kepadamu. Coba kau lihat, sedikit
pun Gote tidak kelihatan gelisah.”
Mau tak mau berubah juga air muka Liong Hui,
ucapnya dengan tergagap, “Toh sesama saudara
sendiri, diwariskan kepada … kepada siapakan
sama saja.”
“Hm, tentu saja sama,” jengek Giok-he.
Lamkiong Peng tampak adem ayem saja, ia
tersenyum dan mendekati Kwe Giok-he, katanya
dengan tersenyum, “Toaso, apakah kau tahu sebab
apa aku tidak gelisah?”
Meski dia bicara dengan tersenyum, namun
ucapannya tegas dan mantap.
Giok-he tersenyum dan menjawab, “O, dari …
dari mana kutahu?”
Mendadak Liong Hui menyela, “Masa kau tahu
hati Gote tidak gelisah? Sebelum jelas kalahmenang
Suhu, setiap orang pasti gelisah.”
“Setiap orang memang gelisah, cuma aku saja
tidak,” ujar Lamkiong Peng.
Seketika air muka Ciok Tim dan Liong Hui
berubah, Kwe Giok-he lantas mendengus,
sedangkan Ong So-so, si anak dara, juga
mengernyitkan dahi dan memandang anak muda
itu dengan heran.
Perlahan Lamkiong Peng menutur, “Sebabnya
aku tidak gelisah adalah karena aku lebih daripada
yakin bahwa Suhu pasti takkan kalah!”
Mendadak keempat perempuan berbaju hijau di
bawah pohon sama mendengus dan melengos
kesana .
Giok-he juga mendengus, Liong Hui lantas
bertanya, “Berdasarkan apa kau berani
memastikannya? Setelah tenaga dalam Suhu susut
sebanyak itu, sungguh hampir tidak ada
kesempatan menang bagi beliau, apalagi genduk
sheYap itu kelihatan sangat licin dan licik.”
“Sebenarnya dalam hal menganalisis sesuatu
urusan biasanya Gote sangat meyakinkan, tapi apa
yang kau katakan tadi rasanya sukar dipercaya
orang!” tukas Ciok Tim tiba-tiba, dia selalu bicara
dengan perlahan, setiap kalimat diucapkan secara
teratur scakan-akan khawatir salah omong.
Dengan tersenyum Lamkiong Peng menjawab,
“Pukulanku tadi selain berhasil menguji kebenaran
keterangan nona sheYap itu dan memang tidak
berdusta kepada Suhu, juga dapat kuketahui gerak
tubuh Suhu jauh lebih cepat daripada nona itu.”
Dia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan
perlahan, “Waktu itu kulancarkan serangan
sekaligus kepada mereka berdua, nona sheYap itu
berdiri di sebelah kananku, meski tangan
kanannya memegang pedang, tapi tanpa bergeser
dia dapat menangkis pukulanku dengan tangan
kiri ….”
Dengan telapak tangan kiri ia memberi contoh,
lalu menyambung, “Tapi waktu itu Suhu berdiri di
sebelah kiriku, tangan kanan beliau juga
memegang pedang, waktu kupukul dengan
sendirinya beliau tidak dapat menangkis dengan
pedang yang dipegangnya pada tangan kanan,
sebab itulah beliau baru berputar untuk
menangkis seranganku dengan telapak tangan
kiri.”
Dia bicara dengan teratur dan jelas sehingga
tanpa terasa keempat perempuan berbaju hijau itu
pun berpaling dan ikut mendengarkan dengan
cermat.
“Dalam keadaan begitu,” demikian Lamkiong
Peng menyambung, “gerak tangan Suhu jelas lebih
banyak satu kali dan pada waktu menangkis
pukulanku seharusnya juga lebih lambat sejenak
daripada nona she Yap itu, namun pada waktu
empat tangan beradu, suara yang timbul terjadi
berbareng tanpa ada perbedaan mana lebih dulu,
dari kejadian ini bukankah terbukti gerak tangan
Suhu memang lebih cepat daripada nona Yap itu.
Walaupun selisihnya tidak banyak, tapi
pertarungan di antara jago kelas tinggi, selisih
sedetik saja dapat menentukan kalah dan menang,
apalagi Suhu sudah berpengalaman beratus kali
tempur, maka kubilang beliau tidak mungkin
kalah.”
Uraian Lamkiong Peng ini membuat si anak dara
alias Ong So-so tersenyum cerah, Ciok Tim juga
mengangguk-angguk, Kwe Giok-he bertopang dagu
dan termenung. Malahan Liong Hui lantas
berkeplok tertawa, “Haha, betul, memang
ditimbang dari sudut mana pun, tidak nanti Suhu
bisa kalah.”
Dengan telapak tangannya yang lebar ia tepuk
pundak Lamkiong Peng dengan keras sambil
berseru, “Gote, engkau memang hebat, sekarang
Toako juga tidak perlu cemas lagi.”
Mendadak keempat perempuan berbaju hijau
ringkas itu sama mendengus, yang berdiri di ujung
kiri lantas bertanya kepada teman di sebelahnya,
“Leng-cu, apakah kau cemas?”
Leng-cu menggeleng kepala dan ganti bertanya
kepada kawan di sebelahnya lagi, “Apakah kau
cemas, Wat-cu?”
“Aku juga tidak cemas!” jawab Wat-cu.
“Jika begitu Ho-cu tentu juga tidak perlu cemas,”
ujar Leng-cu.
“Aku memang tidak cemas sedikit pun,” kata Hocu
dengan tertawa. “Barangkali An-cu yang lagi
cemas.”
“Aku pun tidak cemas,” kata An-cu yang berdiri
di ujung kanan, “Tapi apa sebabnya aku tidak
cemas tidak dapat kuberi tahukan kepada kalian.”
Keempat orang lantas saling pandang, lalu sama
mendekap mulut dan tertawa cekikak dan cekikik.
Dengan mendongkol mendadak Liong Hui
menjengek, “Hm, kalau tidak mengingat kalian ini
orang perempuan, tentu akan kuberi hajar adat!”
Serentak keempat perempuan itu berhenti
tertawa, kontan An-cu balas menjengek, “Hm,
kalau tidak mengingat kau ini orang lelaki, pasti
kuberi hajaran setimpal!”
Tidak kepalang gusar Liong Hui, sambil
membentak mendadak ia membalik dan
menghantam sepotong batu hijau di sebelahnya,
“blang”, batu hancur dan kerikil munerat. Batu
karang yang keras itu ternyata terpukul remuk.
“Hm, tenaga pukulan yang hebat!” jengek An-cu,
mendadak tangannya berputar, “creng”, pedang
dilolosnya.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang dia terus
melompat ke depan sepotong batu lain, sekali
menusuk, “bles”, tahu-tahu ujung pedangnya telah
amblas lebih satu kaki ke dalam batu serupa
bambu menancap di atas lumpur saja,
Selagi Liong Hui terkesiap, terdengar An-cu telah
berkata dengan tertawa, “Hah, rupanya batu di sini
sangat lunak!”
“Ilmu pedang hebat!” seru Kwe Giok-he tiba-tiba,
dengan tersenyum ia mendekati An-cu dan
berucap, “Taci, bolehkah aku pun mencobanya?”
An-cu tampak melengak, sebelum dia menjawab,
mendadak Kwe Giok-he turun tangan secepat kilat,
jari tangannya yang putih halus itu mengebas ke
iga lawan.
Karena terkejut An-cu menggeser ke samping,
meski dapat menghindarkan serangan lawan, tapi
pedang tidak sempat ditariknya kembali dan masih
tertancap di dalam batu.
Dengan suara halus Giok-he lantas berkata,
“Terima kasih atas kemurahan hatimu, setelah
kucoba segera kukembalikan!”
Perlahan ia lantas menarik pedang itu dari
jepitan batu, dipandangnya pedang itu dengan
cermat, tampaknya dia lagi mengamat-amati
pedang yang dipegangnya, tapi sebenarnya sedang
menyelami batu gunung itu.
Sejenak kemudian dia tersenyum manis lagi,
perlahan ia angkat pedang ke atas, sekali berputar
pedang lantas disurung ke depan, kembali
terdengar suara “bles” perlahan, batas pedang
amblas lagi ke dalam batu hampir separuh.
Selagi keempat perempuan berbaju hijau itu
terkesiap, dengan suara lembut Giok-he berkata
pula, “Benar juga batu di sini sangat lunak seperti
tahu!”
Lalu pedang ditariknya kembali, perlahan ia
mendekati An-cu dan mengembalikan pedang itu.
Air muka An-cu sebentar merah sebentar pucat,
jantung pun berdetak, tanpa bicara terima kembali
pedang itu dan melangkah ke tempat semula.
Dengan suara lembut Giok-he berkata pula,
“Kuharap engkau jangan kesal, meski tusukan
pedangku kelihatan jauh lebih dalam, padahal ilmu
pedang dan tenagaku selisih tidak terlalu banyak
daripadamu.”
Diam-diam ia bersyukur telah dapat mengelabui
lawan dengan cara yang licik.
Kiranya pedang yang ditusukkannya itu tadi
mengulangi lagi tempat yang ditusuk An-cu
semula, jadi sesungguhnya dia cuma menambah
dalam sebagian saja tusukannya itu, namun
kelihatannya menjadi amblas jauh lebih banyak
daripada tusukan An-cu.
Dengan sendirinya An-cu tidak memerhatikan
hal ini, dengan gemas ia kembali ke tempatnya
tadi, mendadak ia berpaling dan mendengus, “Hm,
mungkin betul Kungfumu lebih tinggi daripadaku,
tapi gurumu …. Hm, kukira kalian tidak perlu lagi
menunggunya.”
Serentak air muka Lamkiong Peng, Liong Hui,
Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Ong So-so sama
berubah.
“Apa katamu?” bentak Liong Hui sambil
melompat maju.
An-cu seperti mau bicara lagi, tapi dia keburu
ditarik mundur oleh ketiga orang kawannya.
Tiba–tiba Kwe Giok-he mendekati An-cu,
ucapnya dengan tersenyum, “Orang suka
sembarangan mengocehkan pantas diberi
hukuman, betul tidak?”
Tanpa menghiraukan lagi apa rcaksi lawan,
secepat kilat jarinya menutuk Koh-cing-hiat di
bahu An-cu.
Seketika An-cu melenggong, seperti menyesal
akan ucapannya tadi, maka tutukan Giok-he itu
seperti tidak dirasakannya. Untunglah Wat-cu yang
berada di sebelahnya lantas menangkis tutukan
Giok-he, berbareng ia balas mencengkeram
pergelangan tangan lawan.
“Hm, berani kalian melawan diriku?” ucap Giokhe
dengan tersenyum, ia tarik kembali tangannya,
menyusul ia menutuk lagi iga kanan Wat-cu.
Sembari mendorong ke samping An-cu yang
masih berdiri melenggong, Wat-cu juga menggeser,
menyusul terdengarlah suara “crang-creng” dua
kali, sekaligus ia lolos dua pedang terus balas
menusuk pinggang Giok-he.
Karena didorong, An-cu tersandar, mendadak ia
pun melolos pedang dan melancarkan serangan
gabungan.
“Berhenti! … Berhenti! ….” Liong Hui berteriakteriak.
Siapa tahu, bukannya berhenti, sebaliknya Lengcu
dan Ho-cu juga lantas ikut menerjang maju.
Liong Hui menjadi khawatir, serunya, “Selama
hidupku tidak pemah bergebrak dengan orang
perempuan, mengapa kalian tidak lekas membantu
Toaso?!”
Terpaksa Ong So-so melompat maju, kontan ia
hantam Wat-cu sehingga pertarungan bertambah
seru.
Perlahan Ciok Tim melangkah maju, ucapnya
dengan kening bekernyit, “Suhu melarang kita
membawa pedang ke atas gunung, agaknya beliau
tidak menghendaki kita main kekerasan, bilamana
nanti kita disalahkan beliau, lantas bagaimana?”
Liong Hui menjadi ragu, waktu ia pandang ke
sana, terlihat sinar pedang bertaburan, Giok-he
dan So-so berdua telah terkurung oleh barisan
pedang keempat perempuan berbaju hijau, meski
seketika tidak sampai kalah, tapi jelas sukar
memperoleh kemenangan.
“Bagaimana pendapatmu, Gote?” tanya Liong
Hui kepada Lamkiong Peng.
Anak muda itu memandang sarung pedang hijau
yang tergantung di pinggangnya dan menjawab,
“Terserah kepada keputusan Toako.”
Alis Liong Hui bekernyit rapat dan sukar
mengambil keputusan.
Lamkiong Peng lantas berkata pula, “Jika kuduk
kita terancam pedang orang, apakah kita pun tidak
boleh turun tangan?”
Mendadak Liong Hui berteriak, “Betul, ayo maju,
Samte dan Gote!”
Tapi belum lagi mereka bertindak, mendadak
terdengar seorang menjengek di belakang mereka,
“Empat lawan dua memang tidak pantas, jikalima
lawan empat, rasanya juga kurang adil!
Tampaknya anak murid Tan-hong (burung Hong
cantik) dan Sin-liong sama suka main kerubut?”
Cepat Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya di
samping peti mati sana entah sejak kapan telah
berdiri seorang Tojin (pendeta agama To atau Tao)
dengan rambut disanggul tinggi di atas kepala,
dahi lebar dan pipi kempot dengan sinar mata
setajam mata elang, tubuhnya yang tinggi dan
sangat kurus mengenakan jubah pertapaan
berwama hijau tua.
Meski jengekannya terdengar tidak keras, tapi
seketika membuat Kwe Giok-he di satu pihak dan
para perempuan berbaju hijau di lain pihak sama
berhenti bertempur.
“Siapa kau?” segera Liong Hui membentak.
“Siapa aku? Em, sampai aku saja tidak kau
kenal?” jengek Tojin sanggul tinggi itu sembari
mendekati peti mati dengan perlahan.
Kedua lelaki penggotong peti sejak tadi berdiri
diam saja, mendadak mereka membentak dan
mengadang di depan si Tojin. Dalam pada itu
terdengar kesiur angin lewat, Lamkiong Peng juga
memburu maju untuk menjaga peti.
Tojin itu mendengus dan berhenti melangkah, ia
mengamat-amati Lamkiong Peng beberapa kejap,
lalu menegur, “Kau mau apa?”
“Dan kau mau apa?” jengek Lamkiong Peng
dengan sama ketusnya.
“Haha, bagus, bagus!” mendadak Tojin itu
terkekeh dan berputar ke depan Liong Hui, lalu
bertanya, “Janji pertemuan gurumu danYap Jiupek
sepuluh tahun yang lalu apakah sudah
diselesaikannya?”
Liong Hui jadi melengak, jawabnya, “Dari … dari
mana kau tahu?”
“Hahaha, masakah urusan gurumu aku tidak
tahu?” seru si Tojin dengan gelak tertawa, lalu ia
menyapu pandang sekeliling situ dan bertanya
pula, “Ke mana perginya mereka berdua?”
“Peduli apa denganmu?” jawab Liong Hui dengan
kurang senang.
“Hehe, bagus, bagus!” Tojin itu terkekeh pula,
lalu berputar ke depan Ciok Tim dan bertanya,
“Siapa yang kalah dan siapa yang menang?”
“Tidak tahu!” jawab Ciok Tim perlahan.
Kembali si Tojin terkekeh dan menggeser ke
depan keempat perempuan berbaju hijau, lalu
bertanya, “Apakah akhirnyaYap Jiu-pek dapat
mengalahkan Put-si-sin-liong?”
Keempat perempuan itu saling pandang sekejap,
tapi Kwe Giok-he lantas mengikik tawa.
Serentak si Tojin membalik tubuh dan menegur,
“Apa yang kau tertawakan?”
“Kutertawa geli karena akhirnyaYap Jiu-pek
telah mendahului guruku lebih cepat satu
langkah!” sahut Giok-he dengan tersenyum.
“Mendahului apa?” tanya si Tojin.
“Akhirnya dia mati lebih dulu daripada guruku!”
jawab Giok-he.
Tergetar hati si Tojin, seketika ia melenggong,
sejenak kemudian barulah ia berucap dengan
lemas, “Jadi … jadiYap Jiu-pek sudah … sudah
mati?”
“Ya,” jawab Giok-he.
Mendadak si Tojin menghela napas panjang,
katanya kemudian, “Tak tersangka ucapan Thianah
Tojin sebelum ajalnya pada 20 tahun yang lalu
ternyata sangat tepat.”
“Ucapan apa?” tanya Liong Hui.”
“Sin-liong pasti menangkan Tan-hong ….” kata si
Tojin dengan menunduk.
Mendadak An-cu, salah seorang perempuan
berbaju hijau itu mendengus, “Hm, meski nonaYap
sudah meninggal, tapi Put-si-sin-liong juga tidak
pemah menang.”
Si tojin menengadah, semangatnya tampak
terbangkit, serunya, “Put-si-sin-liong tidak pemah
menang! …. Memangnya mereka telah gugur
bersama?!”
“Ken … omong kosong!” damprat Liong Hui.
Dengan tajam si Tojin menatap Liang Hui dan
bertanya sekata demi sekata, “Kau mau bilang ken
… apa?”
“Kentut!” teriak Liong Hui.
Mendadak si Tojin melolos pedang yang
tergantung di pinggangnya, tapi baru tercabut
setengah lantas dilepaskan kembali, ucapnya,
“Meski engkau kurang sopan, tidak boleh aku
meniru perbuatanmu.”
Lalu ia bergelak tertawa.
“Hm, memang ada sementara orang tidak sudi
bergebrak dengan kaum muda, akan tetapi … saat
ini Put-si-sin-liong justru sedang bertanding
dengan murid nonaYap ,” demikian jengek An-cu.
“Kau bilang Put-si-sin-liong bertanding dengan
kaum muda?” si Tojin menegas dengan heran.
“Betul,” jawab An-cu tegas.
Segera Liong Hui berteriak, “Biarpun guruku
bergebrak dengan murid Yap Jiu-pek, namun lebih
dulu beliau telah menutuk beberapa Hiat-to
tertentu sehingga tenaganya telah susut tujuh
bagian, tindakan beliau yang luhur budi dan jujur
ini mungkin jarang ada di dunia ini.”
Gemerdep sinar mata si Tojin, sambil mengelus
jenggotnya yang sudah kelabu ia tersenyum,
gumamnya. “Dia ternyata menyusutkan tenaga
sendiri untuk bergebrak dengan orang ….”
“Ya, walaupun begitu beliau tetap akan menang!”
seru Liong Hui.
“Apa betul?” ucap si Tojin perlahan.
“Tentu saja ….” teriak Liong Hui pula dan
mendadak suaranya berubah lemah, “… betul.”
Padahal dia tidak yakin akan ucapannya itu dan
sesungguhnya lagi berkhawatir.
Tojin itu memandangnya dua-tiga kejap, lalu
melirik Lamkiong Peng yang berdiri di samping peti
mati, katanya kemudian, “Sesungguhnya siapa di
antara kalian yang menjadi murid utama Put-sisin-
liong?”
“Peduli apa denganmu?!” jawab Liong Hui
dengan kurang senang.
“Ah, agaknya dirimu inilah!” kata si Tojin dengan
tersenyum.
“Memangnya mau apa jika betul?” jengek Liong
Hui.
Mendadak Tojin itu menuding sarung pedang
hijau di pinggang Lamkiong Peng dan bertanya,
“Jika benar engkau Ciangbun-tecu (murid pewaris
ketua) Ci-hau-san-ceng, mengapa pedang Yapsiang-
jiu-loh itu berada padanya?”
Pertanyaan si Tojin membuat Liong Hui
melenggong, ia pandang Lamkiong Peng sekejap
lalu berpaling kembali dan menjawab, “Tidak perlu
kau ikut campur!”
Tojin itu mendengus, “Hm, jika hari ini gurumu
kalah dan tidak kembali lagi, apakah kau tahu
siapa yang akan menjadi kepala Ci-hau-san-ceng
yang disegani dunia persilatan itu?”
Liong Hui berdiri tegak tanpa menjawab, sampai
sekian lama mendadak ia membentak, “Siapa
bilang Suhuku takkan kembali lagi? Siapa yang
mampu mengalahkan beliau? Put-si-sin-liong
selamanya tak termatikan!”
Suaranya yang kereng berkumandang jauh dan
menimbulkan gema yang sahut-menyahut dari
empat penjuru lembah gunung.
Mendadak terdengar seorang menjengek dengan
suara tajam, “Siapa bilang di dunia ini tidak ada
yang mampu mengalahkan Put-si-sin-liong? Siapa
bilang Put-si-sin-liong tak termatikan!”
Hati Lamkiong Peng, Liong Hui dan lain-lain
sama tergetar, cepat mereka berpaling ke sana,
tertampak dari balik kabut sana muncul sesosok
bayangan dan akhirnya terlihat jelas ialah Yap
Man-jing dengan bajunya yang berkibar tertiup
angin laksana dewi kahyangan yang turun dari
langit. Pada kedua tangannya jelas memegang dua
batang pedang bersinar gilap, sebatang di
antaranya bercahaya hijau kemilau, segera dikenali
mereka pedang hijau inilah Yap-siang-jiu-loh yang
selama berpuluh tahun tak pemah berpisah
dengan Put-si-sin-liong Liong Po-si itu.
Seketika Liong Hui melotot, rambut jenggotnya
scakan-akan menegak, dengan beringas ia
memburu ke depan Yap Man-jing dan membentak,
“Suhuku bagaimana? Di mana Suhuku?”
“Di mana gurumu saat ini tentu kau tahu
sendiri, masakah perlu tanya?” jawab Yap Man jing
ketus.
Tubuh Liong Hui terasa lemas dan hampir saja
tidak sanggup berdiri tegak.
Air muka Lamkiong Peng mendadak juga
berubah pucat lesi seperti mayat.
Ciok Tim juga merasa seperti dada mendadak
digodam orang, sekujur badan serasa kaku,
sampai Ong So-so yang berdiri di sampingnya
menjerit perlahan terus jatuh kelengar juga tidak
diketahuinya.
Kwe Giok-he juga terperanjat dan bergemetar.
Sedangkan keempat perempuan berbaju hijau tadi
terus berlari menyongsong kedatanganYap Manjing.
Sambil meraba pedangnya si Tojin tadi pun
bergumam, “Akhirnya Put-si-sin-long mati juga! ….
Ai, akhirnya dia mati juga!”
Suaranya, makin lama makin lemah, entah
menyesal atau bersyukur? Entah gembira atau
berduka?
Dengan sorot matanya yang tajamYap Man-jing
mengawasi mereka dengan tenang.
Mendadak Liong Hui berteriak, “Engkau yang
membunuh guruku, bayar jiwa guruku!”
Seperti kerbau gila ia terus menerjang ke depan.
Serentak Ciok Tim dan Kwe Giok-he juga
memburu maju. Sedangkan Lamkiong Peng baru
maju selangkah lantas menyurut mundur kembali
ke samping peti mati sambil memandang sekejap si
Tojin, tanpa terasa air matanya menitik.
Dalam pada itu Liong Hui sudah menerjang ke
depanYap Man-jing, sebelah tangannya
mencengkeram muka si nona, tangan yang lain
terus meraih pedang hijau yang dipegangnya.
Terdengar Yap Man-jing tertawa dingin, segera
Liong Hui pun merasakan pandangannya menjadi
silau oleh sinar pedang, tahu-tahu keempat
perempuan berbau hijau telah memutar pedang
masing-masing dan mengadang di depannya
dengan membentuk selapis dinding sinar pedang.
Yap Man-jing sendiri lantas menyurut mundur,
ia pindahkan pedang hijau pada tangan kanan,
mendadak ia membentak, “Kim-liong-cai-thian
(nama emas di atas langit)!”
Berbareng ia mengeluarkan sesuatu benda emas
dan diacungkan ke atas, kiranya sebilah belati
bertangkai ukiran naga terbuat dari emas.
Perlahan ia menurunkan belati naga emas itu
sebatas hidung, lalu membentak lagi, “Kawanan
naga hendaknya menerima perintah!”
Melihat belati emas itu air muka Liong Hui
berubah pucat lagi, ia berdiri terkesima, pikiran
menjadi kacau seperti merasa bingung oleh apa
yang terjadi ini.
Sinar mata si Tojin tadi tampak gemerdep,
kembali ia bergumam, “Kim-liong-bit-leng (perintah
rahasia naga emas) kembali muncul lagi di dunia
Kangouw …. Hehe!”
Mendadak terlihat Liong Hui melangkah mundur
dua-tiga tindak, lalu bertekuk lutut dan
menyembah, meski wajahnya menampilkan rasa
gusar dan gemas, suatu tanda menyembahnya itu
tidak sukarela melainkan terpaksa.
Yap Man-jing tertawa dingin pula, keempat
perempuan baju hijau lantas menarik kembali
pedangnya.
Lalu Yap Man-jing menggeser maju melewati
keempat perempuan berbaju hijau, setiap langkah
selalu diserta ketukan pedang yang dipegangnya
sehingga menerbitkan suara “tring” yang nyaring
memecah suasana yang mencekam ini
Kwe Giok-he lantas mendekati Liong Hui,
katanya dengan suara tertahan, “Meski Kim-liongbit-
leng berada padanya, tapi ….”
Pandangan Yap Man-jing beralih kepada Kwe
Giok-he, mendadak ia membalik belati emas itu ke
bawah dan mendengus, “Hm, apakah kau tidak
mau tunduk?”
Giok-he memandang belati yang dipegangnya,
jawabnya tenang, “Kalau tunduk bagaimana, bila
tidak tunduk bagaimana pula?”
Berubah lagi air muka Liong Hui yang masih
berlutut, ia menoleh memandang istrinya sekejap,
lalu berucap dengan rada gemetar, “Moaycu
(adikku), mana … mana boleh ….”
Mendadak alis Kwe Giok-he menegak, teriaknya,
“Dia telah membunuh guru kita dan mencuri
benda pusaka beliau, apakah kita masih harus
tunduk kepada perintahnya?”
Saat itu Ciok Tim baru saja mengangkat bangun
Ong So-so yang jatuh pingsan tadi, mendadak
terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu
Giok-he sudah berada di depannya dan bertanya,
“Samte dan Sumoay, bagaimana dengan kalian,
apakah kita harus tunduk kepada perintahnya?”
Ciok Tim melirik sekejap ke arah belati emas
yang dipegangYap Man-jing, lalu menunduk diam
tanpa menjawab.
Giok-he lantas mendekati Lamkiong Peng,
tanyanya dengan suara gemetar, “Gote, biasanya
engkau paling bisa berpikir, meski Kim-liong-bitleng
merupakan pusaka tanda kebesaran Ci-hausan-
ceng kita, tapi dalam keadaan demikian
apakah kita masih harus tunduk kepada
perintahnya?”
Dengan wajah dingin Lamkiong Peng
memandang sekejapYap Man-jing.
Sejak tadiYap Man-jing mengawasi Kwe Giok-he,
tiba-tiba ia mendengus, “Hm, Kim-liong-bit-leng
sudah muncul dan kalian berani membangkang
atas perintahnya, masakah Put-si-sin-liong baru
saja mati lantas kalian melupakan sumpah yang
pemah kalian ucapkan waktu mengangkat guru
padanya?”
Rambut Giok-he agak kusut, butiran keringat
juga menghiasi dahinya, biasanya dia banyak
akalnya dan seorang periang, menghadapi urusan
genting apa pun dapat diselesaikannya dalam
suasana senda gurau, tapi sekarang dia kelihatan
gugup dan bingung, agaknya dia telah menduga
perintah yang akan diucapkan Yap Man-jing pasti
sangat tidak menguntungkan dia.
Liong Hui memandang sekejap lagi kepada
istrinya, lalu menghela napas panjang dan berkata,
“Jika Kim-liong-bit-leng sudah berada di
tanganmu, apa pula yang dapat kukatakan.”
“Hm, mendingan engkau belum lupa kepada
ajaran gurumu!” jengek Man-jing.
“Hanya kenal pada Leng (tanda perintah) dan
tidak kenal orang (yang memegang tanda perintah)
….” ucap Liong Hui dengan lesu, mendadak ia
menengadah dan membentak, “Tapi telah kau
bunuh guruku, aku ….”
Sampai di sini suaranya menjadi tersendat dan
penuh emosi, sukar lagi meneruskan ucapannya.
Lamkiong Peng tetap tenang saja, katanya
kemudian, “Kutahu, biarpun Kim-liong-bit-leng
berada padamu, tapi di balik urusan ini pasti ada
persoalan yang belum diketahui. Kalau tidak,
tanda perintah ini pasti akan dimusnahkan oleh
Suhu dan tidak nanti dibiarkan jatuh ke
tanganmu. Apa pun juga, boleh coba uraikan dulu
apa pesan beliau yang akan kau sampaikan kepada
kami?”
Yap Man-jing menghela napas panjang, katanya,
“Nyata, hanya engkau saja yang dapat menyelami
jalan pikiran Put-si-sin-liong.”
Mendadak Kwe Giok-he membentak, “Tapi pesan
lisan tidak ada bukti, cara bagaimana kami dapat
membedakan benar dan tidaknya pesan yang akan
kau sebutkan? Samte, Sumoay, perempuan ini
telah membunuh Suhu, jika kita tidak menuntut
balas apa terhitung manusia?”
Seketika Ciok Tim mengangkat kepala dengan
mata melotot sambil mengepal erat kedua tinjunya.
Tiba-tiba Yap Man-jing menjengek, “Hm, kau
bilang pesan lisan tanpa bukti ….”
Ia terus menggigit belati emas dengan mulut,
lalu mengeluarkan lagi sehelai kertas yang terlipat
rajin, sekali jari menyelentik, kertas itu
disambitkan ke depan Liong Hui.
Segera Giok-he memburu maju sambil
membentak, “Coba kulihat.”
Selagi dia hendak menjemput kertassurat itu,
sekonyong-konyong bagian iga terasa kesemutan.
Rupanya Yap Man-jing jaga telah bertindak,
dengan ujung belati emas ia ancam iga Giok-he
dan membentak, “Kau mau apa?”
“Sebagai muridnya, masakah aku tidak dapat
membacasurat wasiat guru sendiri?” teriak Giokhe,
meski di mulut ia membantah, namun tubuh
tidak berani bergerak sama sekali.
“Mundur dulu kesana !” bentak Man-jing.
“Kau ini apa, berani memerintah diriku?!” jawab
Giok-he dengan gusar.
Tapi segera dirasakan setengah badan kaku
kesemutan, tanpa terasa ia menyurut mundur ke
belakang Liong Hui.
Karena perhatiannya terpusat kepadasurat
wasiat gurunya sehingga agak lengah dan dapat
diatasi olehYap Man-jing, sungguh tidak kepalang
rasa gusar dan dongkol Giok-he, bibir sampai
gemetar dari sukar bicara lagi.
Liong Hui sangat sayang kepada sang istri, cepat
ia berbangkit dan memegang tangannya yang
terasa sangat dingin itu, tanyanya dengan
khawatir, “Ba … bagaimana, Moaycu, engkau tidak
apa-apa bukan?”
Tersembul senyuman terhibur di ujung mulut
Kwe Giok-he, sahutnya, “Aku … aku tidak apaapa!”
Mendadak ia mengisiki Liong Hui dengan suara
tertahan, “Lekas kau bacasurat wasiat itu, bila
isinya tidak menguntungkan kita, sebaiknya
jangan kau baca dengan suara keras!”
Liong Hui melengak, dipandangnya sang istri
dengan bingung, agaknya baru sekarang ia dapat
memahami jalan pikiran istrinya itu.
Didengarnya Yap Man-jing lagi mengejek, “Hm,
pesan tinggalan guru tidak lekas dibaca, tapi buruburu
menghibur istri yang sok aksi, huh ….”
Muka Liong Hui menjadi merah, perlahan ia
membalik tubuh, segera ia hendak
menjemputsurat wasiat itu.
Siapa tahu pedang Yap Man-jing lantas
menyambar dari samping, dengan ujung pedang
hijau Yap-siang-jiu-loh ia cungkitsurat itu.
“Apa maksudmu ini?” damprat Liong Hui dengan
kurang senang.
“Kau kelihatan ogah membacasurat ini, biarkan
orang lain saja yang membacanya,” jengek Manjing.
Sorot matanya lantas berputar, setiap orang
dipandangnya sekejap secara bergiliran,
tampaknya sedang mencari calon untuk disuruh
membacasurat wasiat itu. Tiba-tiba ia mendekati
Ong So-so dan berkata, “Ambilsurat ini dan
bacalah dengan suara keras supaya didengar
semua orang!”
So-so baru saja siuman dari pingsannya,
mukanya masih pucat, ia coba melirik Giok-he
sekejap, lalu bertanya “Kenapa kau suruh kubaca
pesan tinggalan Suhu?”
Sembari bicara, tidak urung ia ambil jugasurat
yang tersunduk di ujung pedang orang itu, setelah
ragu sejenak lagi, dipandangnya Ciok Tim, lalu
memandang pula Lamkiong Peng, akhirnya dia
membentang kertassurat itu.
“Baca dengan suara keras, satu kata pun tidak
boleh ketinggalan, baca selengkapnya!” seruYap
Man-jing.
Giok-he saling pandang sekejap dengan Liong
Hui, dirasakan tangan sang istri sedingin es, ia
menghela napas dan menghiburnya, “Segala apa
terserah kepada takdir, buat apa engkau cemas.”
Giok-he memejamkan mata, dua titik air mata
lantas menetes.
Liong Hui menggenggam tangan istrinya dengan
erat. Didengarnya So-so telah mulai membaca.
“Janji pertarunganku dengan Yap Jiu-pek sudah
dilakukan sejak sepuluh tahun yang lalu, yang
menang tetap hidup, yang kalah harus mati, apa
pun yang terjadi takkan disesalkan pihak mana
pun, juga takkan benci dan dendam, jika aku
kalah dan mati, ini pun kulakukan dengan
sukarela, setiap anak muridku dilarang menuntut
balas terhadap anak murid Tan-hong, yang
melanggar pesan ini bukanlah muridku, pemegang
Kim-liong-bit-leng berhak memecatnya dari
perguruan.”
Mungkin karena tegang dan juga emosional,
meski sedapatnya ia menenangkan diri, tidak
urung suara So-so tetap agak bergemetar. Sampai
di sini ia berganti napas, setelah agak tenang
barulah ia membaca lebih lanjut.
“Di antara anak muridku, anak Hui yang
pertama masuk perguruan, ia juga terhitung
keponakanku sendiri, jujur dan lugas, sangat
kusayang, hanya pribadinya teramat lugu dan
kaku, mudah menerima kisikan, inilah cacatnya
sehingga sukar memegang pekerjaan besar dan
tidak dapat menghasilkan sesuatu.”
Sampai di sini So-so berhenti sejenak sambil
melirik Liong Hui sekejap.
Liong Hui tampak menunduk kikuk.
Segera So-so menyambung lagi, “Adapun pribadi
anak Tim cukup kuat, tegas dan bijaksana, So-so
halus budi dan lemah lembut ….”
Karena menyangkut diri sendiri, muka So-so
menjadi merah, ia membetulkan rambutnya yang
kusut, lalu menyambung, “Hanya anak Peng saja
berasal dari keluarga temama, sejak kecil
mendapat didikan ketat, tidak ada sifat dugal atau
nakal. Terlebih pembawaannya pendiam dan tidak
suka menonjol, malahan bakatnya sangat tinggi,
maka kuputuskan ….”
Sampai di sini mendadak terdengar Kwe Giok-he
menangis sedih.
Liong Hui menghela napas dan merangkulnya
perlahan.
Terdengar Giok-he berkeluh, “Oo … sudah
banyak yang kukerjakan bagi Ci-hau-san-ceng,
tapi … tapi beliau sama sekali tidak menyinggung
diriku di dalam pesannya ini.”
“Sabarlah, Moaycu, mengapa hari ini engkau
berubah menjadi begini?!” ucap Liong Hui dengan
kening bekernyit.
Giok-he mengangkat kepala, mukanya penuh air
mata, katanya. “Sungguh hatiku sangat sedih,
sudah … sudah sekian tahun kukerja keras bagi
Suhu, tapi … tapi apa yang kita peroleh? Apa yang
kita peroleh? ….”
Mendadak Yap Man-jing mendengus dan
melengos, seperti tidak sudi melihatnya. Namun
dia tetap berjaga di samping So-so.
Sesudah termangu sejenak, lalu So-so membaca
lagi, “Maka sudah kuputuskan menyerahkan Yapsiang-
jiu-loh yang sudah berpuluh tahun tidak
pemah berpisah denganku ini serta tugas menjaga
peti wasiat kepada anak Peng, tugas ini harus
dilaksanakan hingga tuntas, peti rusak orang pun
binasa.”
Bekernyit juga kening So-so, agaknya dia tidak
paham arti kalimat terakhir itu, ia termenung
sejenak dan mengulang lagi kalimat itu, “Peti rusak
orang pun binasa!”
Kemudian ia melanjutkan, “Selama hidupku ada
tiga cita-citaku yang belum terlaksana, semua ini
juga harus dilaksanakan oleh anak Peng. Ketiga
urusan ini sudah kuberi tahukan kepada nonaYap
Man-jing ….”
Kembali So-so berhenti, sinar mata Ciok Tim
tampak gemerdep.
So-so lantas melanjutkan, “Selama beberapa
puluh tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw,
tidak bisa terhindar dari lumuran darah kedua
tanganku, tapi bila kuraba hati dan bertanya pada
diri sendiri, rasanya aku tidak pemah berbuat
sesuatu yang melanggar keadilan dan
kemanusiaan. Selanjutnya aku tidak mampu
mengikuti kejadian duniawi lagi, Ci-hau-san-ceng
yang kudirikan ini seterusnya kuserahkan kepada
….”
Mendadak So-so berhenti pula sambil menarik
napas dalam-dalam, air mukanya kelihatan
terheran-heran.
“Serahkan kepada siapa, lanjutkan!” seruYap
Man-jing dengan tidak sabar.
Berputar bola mata Ong So-so, tanyanya lirih,
“Memangnyasurat ini belum kau baca?”
Alis Yap Man-jing menegak, katanya lantang,
“Memangnya kau kira anak murid Tan-hong adalah
manusia rendah begitu?”
So-so menghela napas hampa, katanya, “Oo,
tadinya kukirasurat ini sudah kau baca, karena
menguntungkanmu tentu saja kau serahkan
kepada kami, jika isinya tidak menguntungkanmu
tentu takkan kau serahkan kepada kami.”
Nadanya jelas penuh rasa kagum dan hormat
kepada orang, juga penuh rasa kasih sayang dan
lemah lembut. Setiap gerak-gerik So-so memang
timbul sewajarnya dan setulusnya sehingga siapa
pun tidak tega membikin susah dia.
Tangis Giok-he mulai reda, tiba-tiba ia
menengadah dan bertanya, “Apakah betulsurat itu
tulisan tangan Suhu?”
So-so mengangguk perlahan.
Giok-he mengusap air matanya dan berkata
pula, “Kau kenal tulisan pribadi Suhu?”
“Akhir-akhir ini Suhu sering berlatih menulis,”
tutur So-so dengan perlahan, “dan akulah yang
selalu meladeni beliau dengan mengasahkan tinta
bak baginya.”
Sampai di sini dua titik air mata lantas menetes,
rupanya dia terkenang kepada sang guru yang
berbudi itu. Ketika dia hendak menyeka air
matanya, tiba-tiba dirasakan pundak ditepuk
orang perlahan, ternyataYap Man-jing telah
menyodorkan saputangan kepadanya.
Giok-he terdiam sejenak, kemudian ia tanya,
“Lantas bagaimana, Suhu menyerahkan
pengurusan Ci-hau-san-ceng kepada siapa!”
So-so mengusap air matanya, lalu
mengembalikan saputangan kepada Yap Man-jing
dengan tersenyum terima kasih, dibetulkannya
kertassurat yang dipegangnya, lalu membaca lagi,
“Ci-hau-san-ceng seterusnya kuserahkan kepada
anak Hui dan Giok-he suami-istri!”
Serentak Giok-he berdiri tegak dan memandang
langit yang biru kelam itu, ia termangu-mangu
sekian lama, air mukanya tampak malu dan
menyesal.
Liong Hui berdehem perlahan, ucapnya lirih,
“Moaycu, betapa pun Suhu ternyata tidak
melupakan dirimu!”
“O, Suhu ….” mendadak Giok-he berseru dan
menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang suami
dan menangis pula.
Kembali Yap Man-jing mengejek hina lagi
padanya, “Hm, baru sekarang kau ingat kepada
Suhu dan baru berduka baginya?!”
Tangis Giok-he tambah keras, sedangkan Liong
Hui menunduk diam.
Terdengar So-so membaca lagi, “Ci-hau-san-ceng
adalah hasil usaha selama hidupku, tanpa orang
jujur dan lugas sebagai anak Hui tentu takkan
mampu mengerahkan para pahlawan sedunia,
tanpa kecerdasan dan kepintaran Giok-he untuk
membantu kekurangan anak Hui, tentu juga Cihau-
san-ceng sukar berdiri tegak abadi.”
Lamkiong Peng menghela napas, agaknya dia
sangat kagum dan bersyukur terhadap pembagian
tugas dan kewajiban dalam pesan sang guru itu.
Waktu ia memandang kesana , dilihatnya Ong
So-so lagi memandangsurat yang terpegang dengan
terkesima dan tidak membaca lebih lanjut.
Ciok Tim juga memandang kesana , mendadak
tertampil rasa girangnya, serunya, “Sumoay,
kenapa tidak kau lanjutkan membaca?!”
“Aku … aku ….” mendadak So-so menunduk
dengan muka merah, tapi air mata lantas
berlinang.
“Pesan Suhu masakah tidak kau baca lebih
lanjut?” ujar Ciok Tim, dia cuma
memerhatikansurat wasiat itu, sikap So-so yang
malu dan juga kecewa itu tidak dilihatnya.
Perlahan So-so mengusap air mata, lalu
membaca lagi, “Kim-liong-bit-leng adalah pusaka
tertinggi perguruan kita, selanjutnya kuserahkan
kepada anak Tim dan … dan So-so untuk dipegang
bersama. Dengan ketulusan anak Tim dan
kepolosan So-so, kuyakin mereka takkan
sembarangan menyalahgunakan benda pusaka ini.
Dengan Liong-bun-siang-kiam, gabungan kedua
pedang ini pasti takkan membikin nama perguruan
kehilangan wibawa. Segala urusan penting
perkampungan sudah teratur dengan baik, untuk
ini anak Peng tidak perlu resah, sesudah pulang
dan berbenah seperlunya, tiga bulan kemudian
boleh menemui nona Yap Man-jing di puncak Hoasan
untuk bersama-sama menyelesaikan tiga citacitaku
yang belum terlaksana itu, tapi juga jangan
jauh meninggalkan peti sakti tinggalanku. Ingat
dengan baik.”
So-so membaca semakin cepat, rasa kecewa
pada wajahnya juga tambah mencolok.
Sementara itu tangis Giok-he sudah reda, ia
menghela napas perlahan dan membisiki Liong
Hui, “Segala apa cukup diketahui oleh Suhu,
hanya perasaan Sumoay saja tidak diketahuinya.”
“Perasaan apa?” tanya Liong Hui dengan
melenggong.
“Sumoay lebih suka berkelana di dunia Kangouw
bersama Gote daripada bersama Samte memegang
Bit-leng tanda kekuasaan perguruan kita,” tutur
Giok-he.
“Oo, tampaknya engkau serbatahu,” ujar Liong
Hui.
Dalam pada itu So-so telah membaca lagi,
“Selama hidupku ke atas tidak bersalah kepada
Thian, ke bawah tidak malu terhadap sesamanya,
biarpun mati, di alam baka pun dapatlah kututup
mata dengan tertawa.”
Ketika mengakhiri isi surat wasiat ini, suara Soso
menjadi tersendat, perlahan ia melipat surat itu,
dilihatnya Yap Man-jing telah menyodorkan belati
naga emas kepadanya sambil berpesan, “Jagalah
dengan baik!”
“Terima kasih,” jawab So-so lirih.
Man-jing tersenyum.
Tiba-tiba So-so menambahkan dengan perlahan,
“Hendaknya selanjutnya kau pun dapat menjaga
dia dengan baik.”
Dengan mata merah basah So-so lantas
menyingkir.
Keruan Yap Man-jing melengak, sejenak ia
berdiri termenung, lalu ia mendekati Lamkiong
Peng, tanpa bicara ia tancapkan pedang Yap-siangjiu-
loh di depan anak muda itu dan berucap
dengan dingin, “Pada tangkai pedang terdapat lagi
sepucuk surat rahasia, boleh kau ambil dan dibaca
sendiri!”
Lalu dia membalik tubuh dan tinggal pergi.
Pada sebelum So-so selesai membacasurat
wasiat Put-si-sin-liong tadi, Lamkiong Peng
memang sudah tenggelam dalam lamunannya.
Setelah mendengar ucapanYap Man-jing, segera ia
cabut pedang dengan kening bekernyit dan tetap
merasa bimbang.
Ketika bayangan Yap Man-jing sudah hampir
menghilang baru mendadak ia berteriak, “Nanti
dulu, nonaYap !”
Segera pula ia melayang kesana .
Man-jing berpaling dan berkata dengan ketus,
“Adaapa? Memangnya hendak kau bunuh diriku
untuk membalas dendam bagi gurumu?”
Wajah Lamkiong Peng yang selalu tenang itu
menjadi agak emosi, ucapnya dengan suara berat,
“Betulkah guruku belum lagi meninggal? Di mana
sekarang beliau berada?”
Tubuh Yap Man-jing seperti rada tergetar, tapi
cepat ia bisa menenangkan diri dan menjawab,
“Jika Put-si-sin-liong belum mati mengapa dia
tidak pulang ke sini?”
“Untuk ini perlu ditanyakan padamu,” jengek
Lamkiong Peng.
“Kenapa tidak kau tanya dulu kepada dirimu
sendiri?” sahut Man-jing dengan lebih ketus. Tanpa
menoleh lagi ia memberi tanda kepada keempat
perempuan pengiringnya dan berkata, “Berangkat!”
Hanya sekejap sajalima sosok bayangan sudah
menghilang di bawahsana .
Liong Hui, Giok-he, Ciok Tim dan So-so lantas
mendekati Lamkiong Peng, berbareng mereka
bertanya, “Mengapa engkau bilang Suhu mungkin
belum meninggal?”
Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng
berkata, “Jika Suhu sudah meninggal, kenapa
beliau meninggalkan kata-kata seperti ‘bila kalah
dan mati’ dan ‘bilamana aku mati’ dan sebagainya.
Apalagi kalau Suhu benar gugur dalam
pertandingan tadi, dengan watak beliau yang
keras, mana mungkin ditinggalkannya pesan yang
ditulisnya sejelas dan selengkap ini?”
So-so segera menambahi, “Ya, tulisan beliau juga
sangat rajin dan teratur, serupa waktu beliau
berlatih menulis indah biasanya.”
“Nah, kan tambah jelas lagi,” ujar Lamkiong Peng
dengan mata mencorong, “Dalam keadaan begitu,
umpama Suhu tidak langsung dicederai lawan,
pasti juga tidak mungkin meninggalkan surat
wasiat serapi ini, kuyakin di balik urusan ini pasti
ada sesuatu yang tidak beres ….”
Ia berhenti sejenak, sorot matanya mendadak
berubah guram, katanya pula dengan menyesal,
“Akan tetapi, jika beliau belum meninggal,
mengapa beliau tidak kembali ke sini?”
Semua orang saling pandang dan tak bisa
memberi komentar. Kedua lelaki penggotong peti
tadi juga ikut mendengarkan dengan cermat.
Si Tojin yang sejak tadi cuma menonton saja di
samping rupanya tidak mendapat perhatian
mereka oleh karena suasana yang tegang tadi.
Kini Lamkiong Peng agak jauh meninggalkan peti
mati yang dijaganya dan asyik bicara dengan
saudara seperguruannya, mendadak Tojin itu
menggeser ke peti mati, secepat kilat ia menyergap
selagi kedua penggotong peti ikut mendengarkan
pembicaraan Lamkiong Peng, tahu-tahu bagian
belakang kepala mereka terpukul.
Tanpa sempat bersuara, “bluk-bluk”, kedua
orang lantas roboh kelengar.
Sama sekali si Tojin tidak menghiraukan
korbannya lagi, secepatnya ia angkat peti mati itu
terus dibawa lari ke bawah gunung.
Lamkiong Peng sendiri lagi memikirkan isi surat
wasiat yang mencurigakan itu, ketika itulah
terdengar suara “bluk” dua kali disusul dengan
jeritan kaget Ong So-so, “Hei, apa yang kau
lakukan?!”
Pembawaan So-so memang polos dan pemalu,
mimpi pun tak terduga olehnya ada orang akan
merampas peti mati kayu cendana itu, karena
kagetnya ia hanya berdiri kesima saja.
Tapi karena jeritannya, buyarlah lamunan
Lamkiong Peng, cepat ia membalik tubuh dan
sekilas pandang sempat melihat bayangan si Tojin
yang kabur ke bawah gunung dengan mengangkat
peti mati itu.
Sungguh tidak kepalang kejutnya, tanpa pikir ia
lantas mengejar, hanya beberapa kali loncatan saja
sudah jauh di bawahsana .
“Toako, Samko ….” seru So-so khawatir.
Liong Hui juga berteriak, “Lekas kejar!”
“Kejar apa?” kata Giok-he.
“Kejar perampok peti mati itu,” seru Liong Hui
dengan gusar.
“Hanya sebuah peti mati saja, biarpun terbuat
dari kayu cendana, memangnya berapa harganya?”
ujar Giok-he.
“Tapi apakah boleh kita membiarkan Gote
sendiri menyerempet bahaya?”
“Dan bagaimana dengan Suhu, apakah beliau
tidak kita urus lagi?” jengek Giok-he.
Serentak Liong Hui memutar balik dan menegas,
“Apa katamu?”
Giok-he menghela napas, ucapnya, “Kukira apa
yang dikatakan Gote tadi memang beralasan.
Pokoknya kita tidak peduli apakah Suhu benar
sudah meninggal atau belum, yang penting kita
harus memeriksa ke tempat yang didatangi beliau
tadi, apabila Suhu memang benar belum
meninggal,kan beruntung sekali kita!”
“Akan … akan tetapi bagaimana dengan Gote?”
ucap Liong Hui ragu.
“Tadi telah kau lihat gerakan ‘Kim-liong-coanhun’
(naga emas menembus awan) Gote itu,
bagaimana kalau dibandingkan kepandaianmu?”
tanya Giok-he.
Liong Hui jadi melenggong, “Ini ….”
“Ini menandakan kepandaian Gote
sesungguhnya di luar ukuran kita,” tukas Giok-he,
“Dengan Kungfu yang dikuasainya sekarang,
bukan soal lagi baginya untuk menghadapi jago
mana pun, untuk menjaga diri tentu saja terlebih
mudah.”
Liong Hui termenung, katanya kemudian, “Ya,
ini … ini juga betul.”
So-so tampak gelisah, selanya, “Akan tetapi
kalau Tojin itu berani main rampas peti mati, hal
ini menandakan di dalam peti itu pasti ada sesuatu
rahasia yang tidak kita ketahui ….”
Perlahan Giok-he menepuk pundak So-so dan
berkata dengan lembut, “Sumoay, apa pun usiamu
masih terlalu muda, ada sementara urusan yang
sukar kau pahami. Sebabnya Tojin itu
menyerempet bahaya merampas peti mati itu,
tujuannya tidak lebih hanya menggunakan
kejadian ini untuk membuat namanya terkenal
saja.”
“Namun … namun bila tiada sesuatu rahasia
dalam peti, untuk apa Suhu menyuruh …
menyuruh dia menjaga peti itu dengan baik?” kata
So-so.
Giok-he menjadi kurang senang, katanya pula,
“Sekalipun di dalam peti mati ada rahasia,
memangnya rahasia itu bisa lebih penting daripada
urusan mati-hidup Suhu?”
So-so meremas-remas kedua tangan sendiri
dengan bimbang, meski ia merasa ucapan sang
Suci kurang benar, tapi rasanya sukar
membantahnya.
Segera Liong Hui menyela dengan mengangguk,
“Sumoay, ucapan Toasomu memang cukup
beralasan. Kulihat kepandaian Tojin itu toh tidak
terlalu tinggi, Gote pasti tidak akan mengalami
kesukaran, lebih penting kita menyelidiki urusan
Suhu saja.”
Sejak tadi Ciok Tim hanya termenung saja, dia
seperti mau ikut bicara, tapi setelah memandang
So-so sekejap, lalu urung buka mulut.
Giok-he tertawa cerah, perlahan ia tepuk pundak
So-so lagi sekali, katanya, “Turutlah pada
perkataan Toaso, pasti tidak salah lagi. Bila terjadi
apa-apa atas diri Gote, boleh kau minta
pertanggungan jawab Toasomu ini, tidak perlu
khawatir.”
Ciok Tim tampak berpaling ke arah lain.
Giok-he lantas berkata pula, “Samte dan
Sumoay, mari kita pergi mencari Suhu!”
So-so mengangguk dan ikut melangkah kesana
bersama Giok-he, namun melirik sekejap juga ke
arah menghilangnya bayangan Lamkiong Peng
dengan perasaan berat.
“Jika Sumoay tidak mau ikut mencari Suhu,
dengan tenaga kita bertiga rasanya juga cukup,”
kata Ciok Tim tiba-tiba.
“Ah, kenapa Samte bicara demikian.” ujar Giokhe
dengan tertawa. “Biasanya Sumoay paling
berbakti kepada Suhu, selama ini Suhu juga paling
sayang pada Sumoay, mana bisa dia tidak mau
mencari Suhu?”
“Ya, betul,” tukas Liong Hui.
Pada saat itulah terlihat seekor burung terbang
tinggi menembus awan, mendadak berbunyi
panjang, suaranya bergema scakan-akan lagi
mengejek kebodohan Liong Hui, kecerdikan Kwe
Giok-he, kecemburuan Ciok Tim dan kelemahan
So-so, cuma sehabis berbunyi, mendadak burung
itu pun menumbuk dinding tebing di tengah kabut
tebal.
Liong Hui berjalan di depan dengan cepat,
memandangi bangkai burung yang terjerumus ke
bawah itu, katanya sambil menoleh, “Burung ini
sungguh amat bodoh!”
“Burung yang kehilangan pasangan tidak mau
hidup sendirian, maka sengaja membunuh diri
dengan menumbuk dinding tebing,” tutur Ciok
Tim.
“Jika aku menjadi burung itu, aku lebih suka
mati merana!” ucap So-so dengan hampa.
“Kalian keliru semua,” kata Giok-he dengan
tersenyum. “Burung itu tidaklah bodoh, juga tidak
kesepian, dia tertumbuk mati hanya lantaran
terbangnya terlalu tinggi dan karena lengahnya
sendiri.”
“Terbang terlalu tinggi bisa mati tabrakan,
terbang terlalu rendah bisa terbidik oleh pemburu,”
ujar Liong Hui dengan menyesal. “Ai, tak tersangka
menjadi manusia sulit, menjadi burung juga tidak
sederhana,”
Tengah bicara mereka berempat sudah bergerak
cukup jauh, tanah pegunungan yang kacau tadi
kini tertinggal pohon cemara tua yang tetap berdiri
tegak dengan desir angin kencang dan awan tebal.
Burung yang terjerumus ke jurang itu tertiup
angin melayang jatuh ke bawahsana ….
Saat itu Lamkiong Peng sedang mengejar si Tojin
secepat terbang, dia sudah melampaui tugu Hanbun-
kong, dengan gelisah ia mengejar sepenuh
tenaga.
Meski Tojin itu mengangkat sebuah peti mati,
tapi gerak tubuhnya tetap sangat gesit dan cepat,
Lamkiong Peng merasa bayangan di depan makin
jelas kelihatan, tapi seketika tetap tak tersusulkan.
Sungguh ia tidak tahu mengapa Tojin ini sengaja
menyerempet bahaya hanya untuk merampas
sebuah peti mati, juga tidak dimengertinya
mengapa gurunya menyuruhnya menjaga peti mati
dengan baik.
Tiba-tiba teringat olehnya macam-macam
dongeng kuno. Apakah mungkin di dalam peti mati
ini tersimpan sesuatu rahasia dan rahasia ini
menyangkut seperti harta karun yang sudah lama
diincar orang atau tersimpan semacam senjata
wasiat atau sejilid kitab pusaka ilmu silat
mahatinggi?
Pikiran demikian terkilas dalam benaknya
dengan cepat, dan pada detik itulah bayangan
Tojin di depan mendadak bergerak lamban. Ketika
ia menoleh, tiada tertampak seorang saudara
seperguruan yang menyusul kemari, ia menjadi
ragu apakah telah terjadi sesuatu disana .
Pada saat itu tidak sempat baginya untuk
memikirkan hal-hal yang demikian, mendadak ia
melompat terlebih cepat ke depan hanya beberapa
kali naik turun, jaraknya dengan si Tojin semakin
dekat.
Mendadak terasa setitik bayangan hitam
menyambar tiba, menghantam lengan kanannya,
terkesiap juga Lamkiong Peng oleh sambaran angin
keras ini, cepat ia membaliki tangan kanan dan
meraihnya, dengan tepat setitik bayangan ini kena
dipegangnya, tapi lantaran itu sarung pedang hijau
yang dipegangnya judi terlepas dan jatuh ke dalam
jurang.
Waktu bayangan hitam itu terpegang, segera
dirasakan dingin dan basah, sekilas lirik ternyata
yang terpegang itu adalah bangkai burung.
Ia tersenyum mengejek pada diri sendiri,
sungguh terlalu, dunia selebar ini, masakah seekor
burung mati bisa begitu kebetulan menimpanya.
Betapa pun hal ini dirasakan sebagai “ada jodoh”,
bangkai burung dimasukkan ke dalam bajunya.
Waktu ia memandang ke depan, sudah dekat
dengan ujung puncak gunung, jaraknya dengan si
Tojin juga tinggal beberapa meter saja.
Biarpun Tojin itu sangat kuat, tapi dengan
mengangkat sebuah peti mati dan berlari di tanah
pegunungan yang curam demikian, akhirnya ia
mulai lelah juga. Ketika larinya mulai kendur,
mendadak terdengar bentakan dari belakang,
“Berhenti!”
Ia sedikit melirik ke samping, tertampaklah
sebatang pedang hijau kemilau menyambar dari
belakang, jaraknya sudah cukup dekat, angin
tajamnya sudah dapat dirasakan.
Si Tojin masih terus berlari, cuma diam-diam ia
telah siap berputar. Ketika menurut
perhitungannya saatnya sudah tepat, mendadak ia
membentak sambil membalik, peti mati
diangkatnya terus dikeprukkan ke atas kepala
Lamkiong Peng.
Peti mati buatan kayu cendana itu sangat berat,
ditambah lagi si Tojin menghantam dengan sekuat
tenaga, bobot peti itu menjadi beribu kati beratnya.
Cepat Lamkiong Peng bermaksud menahan
langkahnya, akan tetapi sudah terlambat,
tertampak segumpal bayangan hitam dengan angin
dahsyat menindih dari atas. Berada di lereng
gunung yang terjal begini jelas sukar baginya
untuk menghindar.
Karena kepepet, Lamkiong Peng juga membentak
sambil putar pedangnya, dengan cepat ujung
pedang memapak peti mati yang menindih dari
atas itu.
Dalam sekejap saja ujung pedangnya menutul
beberapa kali, terdengar suara “tok-tek” berulangulang,
setiap tutulan pedangnya serentak
mengurangi daya tindih peti, inilah gerakan ringan
melawan berat kaum ahli, gerak tangkis demikian
memerlukan perhitungan yang jitu dan berani.
Dengan wajah kelam si Tojin berusaha menekan
peti mati itu sekuatnya, Lamkiong Peng juga
pasang kuda-kuda dengan kuat dan menegakkan
pedang untuk menyanggah daya tekan peti.
Dalam keadaan demikian, kedua orang sama
tidak berani ayal, sebab mereka tahu sedikit
meleng saja tentu akan terjerumus ke jurang yang
tak terbayangkan dalamnya.
Panjang peti itu lebih dua meter, sedang ujung
pedang cuma setitik saja. Peti menindih dari atas,
pedang harus menegak untuk menahan daya tekan
yang kuat itu, betapa berbahayanya tentu dapat
dibayangkan.
Lamkiong Peng merasakan daya tekan peti
semakin berat, batang pedang buatan baja itu
mulai melengkung.
Kain baju Lamkiong Peng mulai mengembung,
rambut dan jenggot si Tojin scakan-akan menegak,
kedua orang sama mengerahkan segenap tenaga
dan berdiri sekukuh tonggak, namun sedikit demi
sedikit kaki Lamkiong Peng mulai bergeser dengan
perlahan.
Jika dia tidak geser kaki akhirnya kaki akan
amblas, tapi geseran yang perlahan ini baginya
sekarang boleh dikatakan mahasulit. Yang lebih
sulit lagi adalah dia harus berjaga jangan sampai
ujung pedangnya menusuk masuk ke dalam peti.
Sebab kalau ujung pedang masuk peti, segera peti
akan menindih ke bawah dan ini berarti maut
baginya.
Angin gunung mendesir lewat di sisi telinganya,
Lamkiong Peng merasakan pedang yang
dipegangnya dari dingin mulai berubah menjadi
panas. Pandangannya mulai kabur, maklumlah
segenap tenaganya hampir terkuras habis.
Wajah si Tojin kelihatan tambah guram, sinar
matanya tambah beringas, dengan menyeringai
mendadak ia membentak, “Tidak turun ke
bawah!?”
“Belum tentu bisa!” jawab Lamkiong Peng sambil
membusungkan dada.
“Hm, usiamu masih muda belia, jika mati begini
saja tanpa ada yang mengurus mayatmu, sungguh
aku merasa kasihan bagimu,” jengek si Tojin.
“Huh, entah siapa yang akan mati!” kata
Lamkiong Peng, diam-diam ia merasa menyesal
kenapa tiada seorang pun saudara seperguruannya
menyusul kemari, apakah betul akan terjadi
mayatnya tak terurus?
“Mengapa mereka tidak menyusul kemari,
apakah ….” selagi dia membatin demikian,
sekonyong-konyong dirasakan daya tekan peti mati
tambah kuat, ia terkejut dan cepat menenangkan
diri dan bertahan lebih kuat. Ia sadar agaknya si
Tojin sengaja membuyarkan konsentrasinya
dengan ucapannya.
Tiba-tiba dilihatnya di bawah bayangan peti mati
dahi si Tojin berhias butiran keringat, tergerak
pikirannya, agaknya lawan sendiri juga sudah
payah, asalkan aku bertahan sebentar lagi tentu
akan dapat mengatasi lawan.
Segera ia balas mengejek, “Hm, memangnya kau
kira aku tidak tahu keadaanmu. Biarpun
Lwekangmu lebih tinggi daripadaku, tapi engkau
telah berlari sejauh ini dengan mengangkat benda
seberat ini, tenaga yang telah kau kuras jelas jauh
lebih banyak daripadaku, biarpun keadaanku
cukup payah, akan tetapi engkau justru serupa
pelita yang kehabisan minyak.”
Air muka si Tojin yang kelam itu kembali
berubah terlebih gelap, peti mati yang dipegangnya
terasa bergetar, kesempatan itu digunakan
Lamkiong Peng untuk menolak dengan pedangnya
sehingga terangkat lebih tinggi sedikit. Lengan si
Tojin yang putih itu mulai berubah merah dan
akhirnya menjadi kebiru-biruan.
Lamkiong Peng merasa lega, perlahan ia berkata
pula, “Jika kita terus bertahan seperti ini, meski
aku bisa celaka, tapi engkau pasti mampus.”
Dia sengaja mempertegas kata “mampus” dengan
suara keras, lalu menyambung pula, “Hm, hanya
karena sebuah peti mati kayu cendana saja kenapa
kau bela mati-matian, jika kau mau lepas tangan
sekarang juga, mengingat sesama kaum persilatan,
takkan kuusut lebih lanjut perbuatanmu ini dan
akan kulepaskan kau pergi.”
Uraiannya meski bermaksud mengacaukan
semangat tempur lawan, tapi ada sebagian kata
katanya juga timbul dari lubuk hatinya yang
mumi.
Tak terduga si Tojin lantas tertawa dingin dan
membentak, “Hm, masakah gampang kumati
begitu saja? Jika mati tentu juga bersamamu!”
Mendadak ia mengerahkan sisa tenaganya dan
menekan peti mati terlebih kuat. Selagi Lamkiong
Peng terkesiap, dilihatnya si Tojin mendak ke
bawah sedikit dan sebelah kakinya bahkan terus
menendang.
Tenaga si Tojin dikerahkan seluruhnya pada
kedua tangannya, maka tendangannya sebenarnya
tidak keras, tapi tempat yang di arah justru sangat
berbahaya, yaitu bagian selangkangan, bagian
lemah ini cukup fatal bila terdepak dengan tepat,
tidak perlu terlalu keras.
Dalam keadaan begini, jika Lamkiong Peng
menghindari tendangan ini, berarti kuda-kudanya
akan goyah dan peti mati akan jatuh dari atas,
sebaliknya kalau tidak mengelak, pasti juga akan
celaka.
Dalam gusarnya tanpa pikir ia mengayun
telapak tangan kiri ke bawah, ditabasnya
pergelangan kaki lawan. Baik waktu maupun
tempat yang di arah sungguh sangat tepat.
Tapi Tojin itu segera juga berganti gerakan,
kedua tangan tetap memegang peti mati, tubuh
terapung, kaki kanan ditarik kembali, kaki kiri
terus menendang pula secepat kilat.
Lamkiong Peng juga tidak kalah cepatnya,
tangan kiri berputar, kembali ia cengkeram kaki
lawan. Diam-diam ia pun terkesiap, cara si Tojin
ini jelas sudah kalap, kalau perlu ingin gugur
bersama dengan dia. Sebab dengan tubuh
bergantungan dan kedua kaki menendang secara
bergantian, bilamana Lamkiong Peng tertendang
dan jatuh ke dalam jurang, si Tojin sendiri juga
pasti akan ikut terjeblos ke jurang.
Dalam sekejap itu meski Lamkiong Peng dapat
menahan beberapa kali tendangan berantai si
Tojin, tapi tangan kanan yang memegang pedang
terasa linu pegal, peti mati terasa semakin
menekan ke bawah, tangan kiri juga mulai sukar
menahan tendangan kilat musuh.
Dalam keadaan kepepet kalau dia mau
melepaskan pedang dan melompat mundur, jelas
dia dapat menyelamatkan jiwa sendiri. Tapi dia
lantas teringat kepada pesan sang guru yang telah
menyerahkan pedang pusaka Yap-siang-jiu-loh
kepadanya dengan tugas membela peti sakti itu,
“peti rusak orang binasa”, demikian kata terakhir
amanat sang guru itu.
Diam-diam ia menghela napas, sukar
diselaminya sesungguhnya ada keistimewaan apa
pada peti mati ini sehingga perlu dibela matimatian,
tapi apa pun juga dia harus patuh kepada
amanat sang guru.
“Peti rusak orang binasa”, itulah amanat yang
tidak boleh dilupakan, mendadak ia berteriak,
“Baiklah, biar kita gugur bersama!”
Mendadak ujung pedang menolak sekuatnya ke
atas, tangan kiri terus mencengkeram ke depan,
dia tidak lagi menangkis tendangan si Tojin
melainkan mencengkeram dada orang. Ia menjadi
nekat dan tidak memikirkan akibatnya lagi, yang
penting amanat sang guru telah dilaksanakannya.
Berubah juga air muka si Tojin melihat
kekalapan anak muda itu, mendadak ia tertawa
keras, “Hahaha! Bagus, bagus, biarlah kita bertiga
gugur bersama!”
Tergetar hati Lamkiong Peng, “Bertiga?!” ucapnya
tanpa terasa. Mendadak ia tahan serangannya dan
kembali menegas dengan membentak, “Dari mana
datangnya orang ketiga?”
Meski timbul rasa curiganya dan ingin tahu
sesungguhnya apa yang dimaksudkan si Tojin, tapi
dalam keadaan begini, ibarat orang sudah berada
di punggung harimau, ingin turun pun tidak bisa
lagi.
Didengarnya si Tojin lantas membentak, “Di sini
juga ada tiga orang!”
Berbareng kedua kakinya menendang pula
secara berantai. Diam-diam Lamkiong Peng juga
sudah siap untuk gugur bemama orang gila ini
untuk menunaikan kewajibannya membela peti
mati itu sesuai amanat sang guru.
Siapa duga, pada detik terakhir yang
menentukan itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang
mendekati keajaiban. Dirasakan oleh Lamkiong
Peng pedang yang menolak peti mati itu mendadak
terasa ringan, peti mati yang semula menindih ke
bawah dengan sangat kuat itu telah berubah
seperti benda tak berbobot.
Begitu bobot peti mati berubah ringan, keadaan
segera berubah. Si Tojin mendadak merasakan
timbul semacam tenaga gaib dari dalam peti yang
menghilangkan tenaga mumi pada kedua
tangannya yang berpegangan pada peti itu
sehingga tubuh bagian bawah kehilangan daya
gerak. Baru saja kedua kakinya menendang,
seluruh tubuhnya lantas anjlok ke bawah.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini
sama sekali tidak memberi peluang baginya untuk
berpikir, dalam kagetnya cepat ia melejit di udara
sehingga hinggap ke permukaan tanah dengan
setengah berjongkok, lalu cepat melompat mundur.
Lamkiong Peng juga terkejut dan menarik
pedang dari peti terus melompat mundur.
Kedua orang sama melompat mundur dan tetap
berdiri berhadapan, si Tojin mengepal tinju dengan
muka kelam dan mata melotot memandangi peti
mati itu.
Lamkiong Peng juga memandang peti mati itu
dengan penuh rasa heran dan bingung.
Tertampak peti mati itu bisa berhenti sejenak di
atas udara meski sudah terlepas dari dukungan
kedua orang itu, habis itu baru menurun ke bawah
dengan perlahan scakan-akan di bagian bawah
ditopang oleh seorang yang tidak kelihatan,
malahan jatuhnya ke tanah begitu enteng tanpa
menimbulkan suara sama sekali.
Mau tidak mau ngeri juga Lamkiong Peng
menyaksikan kejadian luar biasa ini. Meski sudah
banyak dongeng seram yang pemah didengarnya,
tapi apa yang dilihatnya ini sungguh sukar untuk
dipercaya.
Si Tojin juga lagi menatap peti mati itu dengan
sorot mata yang kejut dan sangsi, malahan
bibirnya kelihatan rada gemetar, katanya
mendadak, “Ba … bagus sekali, ternyata benar
engkau tidak … tidak mati!”
Habis itu, serentak ia menubruk maju lagi ke
arah peti mati.
Kembali Lamkiong Peng terkejut, tanpa pikir ia
membentak, “Kau mau apa?”
Segera ia putar pedangnya dan menyongsong si
Tojin. Betapa pun dia lebih muda dan kuat,
tenaganya dapat pulih lebih cepat.
Saat itu si Tojin sudah menerjang sampai di
depan peti mati, tahu-tahu sinar hijau menyambar
tiba, kalau dia tidak segera menarik diri berarti
maut baginya.
“Mundur!” terdengar Lamkiong Peng membentak.
Benar juga, terpaksa Tojin melompat mundur
kembali ke tempat semula. Dengan pedang
melintang di depan dada, Lamkiong Peng lantas
mengadang di depan peti mati.
Mendadak si Tojin menghela napas, ucapnya,
“Ai, ada permusuhan apa antara dirimu denganku,
mengapa engkau berbuat begini padaku?!”
Ucapan orang ini membingungkan Lamkiong
Peng, sukar dirasakan ucapan menyesal mengomel
atau memohon?
Sesudah melenggong sejenak barulah ia
menjawab, “Selamanya kita tidak kenal, mana ada
permusuhan?”
Si Tojin seperti orang linglung dan masih
memandang peti mati dengan termenung, sejenak
kemudian, tiba-tiba ia berkata pula, “Asalkan kau
serahkan peti ini kepadaku, seterusnya engkau
adalah penolongku yang terbesar, selama hidupku
takkan melupakan budi kebaikanmu ini dan pasti
akan kuberi balas jasa sebesar-besarnya.”
Lamkiong Peng menatapnya dengan tajam, lalu
mendengus, “Hm, setelah tidak mampu merampas
dengan kekerasan, lalu hendak kau gunakan cara
memohon dengan halus?”
Mendadak si Tojin membusungkan dada dan
menjawab dengan angkuh, “Selama hidupku tidak
pemah memohon kepada orang.”
“Hm, apa pun juga selangkah saja tidak boleh
lagi kau dekati peti ini,” jengek Lamkiong Peng.
Sungguh si Tojin kecewa dan tak berdaya, sudah
digunakannya macam-macam jalan, main rampas,
main labrak dan memohon secara halus, semua itu
tetap tidak dapat melunakkan tekad anak muda itu
yang membela peti mati dengan teguh.
Karena kehabisan akal, akhirnya Tojin itu
berkata dengan sungguh-sungguh, “Apakah kau
tahu sebabnya gurumu menyuruhmu membela peti
mati ini!”
“Tidak tahu!” jawab Lamkiong Peng.
Sorot mata si Tojin menampilkan setitik sinar
harapan pula, ucapnya, “Jika tidak tahu sebabnya,
apakah berharga kau bela dengan jiwa ragamu?”
“Pokoknya itulah amanat perguruan, tiada
gunanya kau putar lidah dan berusaha
menghasut,” jengek Lamkiong Peng,
“Hehe, apakah kau kira aku benar-benar tak
dapat menundukkan dirimu? Bila sebentar
tenagaku pulih seluruhnya, memangnya kau
mampu melawan lebih lama?”
“Belum lagi dicoba, tidak perlu membual dulu.
Pokoknya mati-hidupku sudah kupertaruhkan atas
peti pusaka ini.”
Si Tojin memejamkan mata sejenak dan
termenung, waktu ia membuka mata lagi, ia
menghela napas panjang dan berucap perlahan,
“Ai, sungguh aku tidak habis mengerti mengapa
kau bela peti ini mati-matian tanpa sayang akan
jiwamu sendiri.”
“Hm, aku pun tidak habis mengerti untuk apa
peti ini hendak kau rampas dengan mati-matian,”
jawab Lamkiong Peng dengan ketus.
Si Tojin mengepal tinjunya erat-erat sambil
menggereget, mendadak ia mendesak maju
selangkah dan menatap Lamkiong Peng dengan
tajam, sampai sekian lamanya barulah ia berkata,
“Memangnya kau ingin kukatakan terus terang
seluk-beluk urusan ini baru akan kau serahkan
peti ini?”
“Biarpun kau beberkan seluk-beluk urusannya
juga takkan kulepaskan,” jawab anak muda itu.
Tojin itu menengadah memandang jauh ke langit
seperti tidak mendengar ucapan Lamkiong Peng
itu, perlahan ia berkata pula, “Ada sementara
orang selama hidupnya giat bekerja dan keras
berusaha, selalu berbuat baik, tidak berani
bertindak salah selangkah pun, tapi sekali dia
salah langkah, dalam pandangan umum lantas
berubah menjadi orang berdosa yang tak
terampunkan. Sebaliknya ada sementara orang lagi
yang selama hidupnya berbuat jahat melulu, tapi
pada suatu kesempatan secara kebetulan ia telah
berbuat sesuatu kebaikan sehingga orang pun
sama memaafkan segala dosanya yang telah
diperbuatnya ….”
Dia bicara dengan perlahan dan lirih, seperti
bergumam, seperti juga lagi berkeluh kesah
terhadap yang Mahakuasa.
Sampai di sini mendadak ia tertawa latah dan
berseru, “Coba katakan, apakah adil Thian
memperlakukan manusia sesamanya?”
Lamkiong Peng melongo bingung, ia heran Tojin
bersanggul tinggi yang misterius ini mengapa
dalam keadaan begini bisa bicara hal-hal yang
tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi.
Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya air
muka si Tojin yang menampilkan rasa sedih dan
kecewa tadi mendadak berubah menjadi gusar,
dengan tangannya yang kurus dan rada gemetar ia
tuding Lamkiong Peng dan membentak, “Kau bela
peti mati ini senekat ini, memangnya kau tahu
siapa orang yang membujur di dalam peti ini?”
Keajaiban yang timbul dari peti mati ini tadi
sebenarnya sudah dirasakan Lamkiong Peng, pasti
ada sesuatu misteri yang belum terungkap, lamatlamat
memang juga dirasakannya peti ini sangat
mungkin adalah satu orang.
Yang membuatnya tidak percaya adalah tindaktanduk
gurunya selama hidup terkenal gilanggemilang,
tidak ada sesuatu perbuatan sang guru
yang perlu dirahasiakan, tidak ada sesuatu
tindakannya yang merugikan orang.
Sebab itulah ia tetap tidak percaya kepada
ucapan si Tojin, jawabnya, “Memangnya peti ini
terisi seorang?”
Tojin itu tertawa dingin, katanya, “Di dunia
persilatan terkenal ‘pemberani nomor satu, Put-sisin-
liong, membawa peti mati untuk mencari kalah’
hal ini selama beberapa puluh tahun telah menjadi
buah bibir orang Kangouw, sekarang Put-si-sinliong
telah mati, apakah cerita ini akan dapat
turun-temurun di tengah khalayak ramai belum
lagi diketahui, namun ….”
Sampai di sini mendadak ia menengadah dan
tertawa keras, lalu melanjutkan, “Padahal duduk
perkara yang benar siapa yang tahu?”
Suara tertawanya itu penuh rasa ejek dan
menghina, hal ini membuat Lamkiong Peng kurang
senang, dengan lantang ia tanya, “Duduk perkara
apa?”
“Hm, memangnya kau kira Put-si-sin-liong selalu
membawa peti dalam perjalanan benar-benar cuma
bertujuan mencari lawan untuk bertanding, supaya
dia sekali tempo mengalami kekalahan dan ingin
mati? Huh, peti mati ini dibawanya kian kemari
tidak lain adalah karena di dalam peti mati ini
tersembunyi satu orang!”
“Orang apa?” tanya Lamkiong Peng dengan air
muka berubah.
“Orang apa? …. Hahahaha!” kembali si Tojin
bergelak tertawa keras. “Seorang perempuan! Ya,
seorang perempuan! Seorang perempuan
mahajahat, perempuan jalang, tapi juga secantik
bidadari!”
Seketika hati Lamkiong Peng tergetar, dadanya
serasa digodam orang dengan keras, dengan
mendelik ia membentak, “Apa katamu?”
“Apa kataku?” si Tojin menegas dengan tertawa
latah. “Kubilang gurumu Put-si-sin-liong Liong Posi
meski mendapat nama kehormatan sebagai jago
nomor satu yang membawa peti mati untuk
mencari kalah, yang benar perbuatannya itu hanya
karena membela seorang perempuan jalang!”
Suara tertawanya tambah keras, ucapannya juga
tambah lantang, seketika kumandang suara
bergema dari berbagai penjuru lembah gunung dan
bergemuruh kata “perempuan jalang … perempuan
jalang.”
Gema suara yang menusuk telinga itu serupa
sebilah belati tajam menikam hati Lamkiong Peng.
Maklum, hal ini menyangkut orang yang paling
dihormatinya.
Meski sedapatnya ia menahan perasaannya,
namun darah panas yang bergejolak sukar
ditahan, mukanya yang putih berubah menjadi
merah padam, mendadak ia berteriak, “Diam!
Berani kau singgung lagi kehormatan guruku
segera ku ….”
“Hahaha, kehormatan gurumu?” potong si Tojin
dengan menjengek. “Hm, apa yang kukatakan tadi
justru berdasarkan fakta, semuanya kejadian
nyata. Jika engkau tidak percaya, boleh coba kau
buka dan periksa peti itu, segera akan kau ketahui
sesungguhnya siapa yang tersembunyi di situ.”
“Memangnya siapa?” tanya Lamkiong Peng.
“Meski usiamu masih muda, tapi sebagai orang
persilatan tentu pemah kau dengar nama ….” si
Tojin merandek, lalu sekata demi sekata menyebut,
“Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat!”
Seketika Lamkiong Peng merinding dan tidak
bersuara.
Didengarnya si Tojin berucap pula seperti orang
berpantun, “Segala makhluk di dunia ini mana
yang paling berbisa, ialah Kong-jiok Huicuempedu
si merak ….”
Suaranya menjadi lemah dan terputus, air
mukanya juga pucat dan tampak berkerut-kerut
penuh derita.
Dengan suara berat Lamkiong Peng bertanya.
“Kong-jiok Huicu apakah sama orangnya dengan
Leng-hiat Huicu?”
Si Tojin mendengus, tanpa memandangnya ia
menyambung lagi ucapannya tadi, “Seratus burung
sama menyembah Tan-hong, cuma sang merak
sendiri tetap jaya ….”
Dengan mendongkol Lamkiong Peng memotong,
“Apakah tidak kau dengar pertanyaanku?”
Namun si Tojin tetap menengadah dan
berdendang pula, “Kong-jiok Huicu darahnya
sudah dingin (Leng-hiat), si cantik berdarah dingin
tidak diketahui orang, saking marah naga sakti
turun ke bumi, terjadilah pertempuran sengit di
Hoa-san, naga sakti terkenal tak termatikan,
seratus kali tempur seratus kali menang, betapa
pun sayap sang ratu merak tak terbentang lagi,
sejak itu hilanglah bisul dunia persilatan, naga
sakti semakin tangkas tak termatikan!”
Selesai mendengarkan dendang si Tojin,
Lamkiong Peng menegas, “Jika begitu, jadi Kongjiok
Huicu memang sama dengan Leng-hiat
Huicu?”
Dengan sorot mata tajam si Tojin menjawab
“Betul, Bwe Kim-soat memang sama dengan Bwe
Leng-hiat.”
Mendadak ia menengadah dan tertawa dingin
pula, katanya, “Hm, Kim-soat, Leng-hiat! Hehe,
indah benar namamu! Aku Kong … aku sungguh
penasaran.”
“Kong apa katamu?” tanya Lamkiong Peng.
“Untuk apa kau tanya, peduli apa denganmu?”
jawab si Tojin ketus.
“Hm, jika engkau sengaja main sembunyi kepala
unjuk ekor dan tidak mau memberitahukan
namamu yang sebenarnya, huh, aku pun tidak
sudi bertanya,” jengek Lamkiong Peng.
Kembali si Tojin cuma mendengus dan
memandang ke langit.
Dengan suara bengis Lamkiong Peng berteriak,
“Tadi kau bilang seorang disembunyikan di dalam
peti dan orang ini ialah Kong-jiok Huicu Bwe Kimsoat,
begitu bukan?”
“Ya, ada apa?” jengek si Tojin.
“Lalu kau dendangkan pantun yang dahulu
tersiar di dunia Kangouw, masakah engkau tidak
tahu kisah yang terkandung di dalam pantun itu?”
“Masa aku tidak tahu?”
“Jika tahu, kenapa kau hina guruku dengan
macam-macam perkataanmu tadi? Padahal dahulu
Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat malang-melintang di
dunia Kangouw, dengan Kungfunya yang tinggi dan
kecerdasan dan kecantikannya, entah betapa
banyak orang persilatan yang telah menjadi
korbannya sehingga orangnya mati dan keluarga
berantakan, akan tetapi toh tetap tidak sedikit
orang yang terpikat oleh kecantikannya dan
berlutut di bawah kakinya.”
“Hm, ternyata kau pun tahu kisahnya!” jengek si
Tojin.
Lamkiong Peng melototinya sekejap, lalu
menyambung, “Meski orang persilatan sama benci
padanya, tapi juga terpikat oleh kecantikannya dan
jeri terhadap Kungfunya sehingga tidak ada yang
berani bertindak padanya. Guruku menjadi gusar
dan tampil ke muka untuk menyelesaikan urusan
ini, di puncak Hoa-san terjadi pertempuran selama
tiga hari, akhirnya dengan ilmu pedang yang tidak
ada taranya guruku berhasil menumpasnya.
Tatkala mana tidak sedikit jago persilatan sama
menanti kabar di kaki gunung, ketika melihat
guruku turun sendirian tanpa cedera, semua orang
bersorak gembira, betapa senang mereka waktu itu
sampai belasan li jauhnya dapat mendengar suara
sorak-sorai mereka.”
Ia berhenti sejenak, wajahnya menampilkan rasa
kagum dan juga bangga, lalu menghela napas dan
berkata, “Cuma sayang waktu itu aku belum
masuk ke perguruan Suhu sehingga tidak dapat
ikut menyaksikan adegan berjaya itu. Namun
kejadian ini cukup diketahui setiap orang
persilatan, meski guruku tidak pemah bereerita,
dapat juga kudengar kisah ini dari orang lain. Tapi
sekarang engkau justru bilang Kong-jiok Huicu
Bwe Kim-soat belum mati, malahan mengatakan
dia bersembunyi di dalam peti mati ini,
sesungguhnya apa maksud tujuanmu? Hm, kalau
tidak kau jelaskan sekarang juga, jangan menyesal
bila terpaksa aku harus bertindak.”
Si Tojin mendengarkan dengan diam, wajahnya
menampilkan sikap menghina. Setelah Lamkiong
Peng selesai bicara barulah ia menanggapi dengan
gelak tertawa, “Hah, murid membual bagi sang
guru, wahai Liong Po-si, jika kau tahu di alam
baka tentu kau pun akan merasa malu.”
Alis Lamkiong Peng menegak, bentuknya, “Kau
bilang apa?”
Segera ia putar pedangnya dan siap menusuk.
Namun si Tojin tetap tenang saja tanpa gentar,
ucapnya, “Tampaknya engkau sedemikian kagum
dan hormat kepada gurumu, biarpun kuceritakan
lagi seratus kali juga tidak ada gunanya.”
“Ya, engkau memang tidak perlu lagi putar lidah
….”
“Tapi meski tidak kau percayai keteranganku,
mengapa tidak coba kau buka peti mati itu,
lihatlah apakah yang tersembunyi di situ bukan
Bwe Kim-soat, perempuan jalang yang diludahi
setiap orang persilatan itu,” teriak pula si Tojin
dengan gemas.
Mau tak mau hati Lamkiong Peng menjadi
goyah, ia pikir orang bicara secara begini, apakah
mungkin dia berdusta? Tapi lantas terpikir bila
orang tidak berdusta,kan hal itu berarti gurunya
memang benar telah menyembunyikan Kong-jiok
Huicu yang terkutuk itu di dalam peti mati untuk
mengelabui mata telinga orang persilatan. Padahal
tindak tanduk sang guru selama hidup selalu
gilang-gemilang, mana mungkin melakukan hal
tercela begini?
Begitulah mulai timbul pertentangan batin anak
muda itu. Didengarnya si Tojin berkata pula,
“Asalkan kau mau membuka tutup peti itu,
bilamana isinya bukan Leng-hiat Huicu, segera aku
akan membunuh diri, mati pun aku sukarela dan
takkan menyesali dirimu.”
Kening Lamkiong Peng bekernyit, ia menunduk
dan berpikir menahan pertentangan batin. Jika dia
membuka tutup peti berarti dia tidak lagi
memercayai sang guru yang biasanya sangat
dihormatinya itu. Tapi kalau peti tidak dibuka,
rasanya sukar menghilangkan rasa curiga sendiri.
Melihat air muka Lamkiong Peng yang tampak
serbasusah itu, si Tojin mendengus pula, “Jika
engkau tidak berani membuka peti itu, hal ini pun
menandakan engkau tidak percaya sepenuhnya
terhadap pribadi gurumu.”
“Tutup mulut!” bentak Lamkiong Peng dengan
gusar.
Si Tojin anggap tidak mendengar dan tetap
bicara, “Kalau peti itu kosong umpamanya,
gurumukan juga tidak pemah melarang engkau
membuka peti ini. Lantas apa sebabnya engkau
tidak berani membukanya?”
Diam-diam Lamkiong Peng merasa ragu, dengan
kereng ia berteriak pula, “Kalau di dalam peti tidak
tersembunyi orang, apakah betul engkau akan ….”
“Ya, seketika juga aku akan membunuh diri di
depanmu, pasti takkan kujilat ludahku sendiri,”
seru si Tojin tegas.
“Baik,” bentak Lamkiong Peng mendadak sambil
membalik kesana menghadapi peti mati yang
tergeletak di tanah itu.
Tojin itu lantas melompat maju ke samping peti,
ucapnya, “Engkau yang membukanya atau aku?”
Lamkiong Peng ragu dan berpikir, “Jika benar
peti ini terisi orang, tentu dia telah mendengar
percakapan kami, mana mungkin sejauh ini tidak
memperlihatkan sesuatu gerak-gerik.”
Karena pikiran ini, dia tambah yakin pada
pendirian sendiri, dengan lantang ia menjawab,
“Barang tinggalan guruku mana boleh dikotori oleh
tanganmu, dengan sendirinya harus aku yang
membukanya.”
“Jika begitu, tidak perlu banyak omong lagi,
lekas buka!” seru si Tojin sambil memandangi peti
itu tanpa berkedip, nadanya juga penuh yakin
pada apa yang dikatakannya, scakan-akan begitu
peti terbuka segera akan terlihat Leng-hiat Huicu
membujur di dalam peti dalam keadaan hidup,
padahal di dunia Kangouw perempuan jalang itu
disiarkan sudah lama mati.
Perlahan Lamkiong Peng mengangkat pedang
hijau untuk dimasukkan ke sarungnya, gemerdep
sinar pedang mengingatkan dia sarung pedang itu
telah dihilangkan olehnya, segera pula terlihat
olehnya pada pangkal pedang terikat sepotong kain
sutera kuning muda, maka teringat lagi olehnya
ucapan Yap Man-jing tentu inilah pesan tinggalan
sang guru yang khusus ditujukan kepadanya.
Maklumlah, bukan dia pelupa, soalnya kejadian
seharian ini benar-benar membuat pikirannya
kusut sehingga hal ini terlupakan seketika. Maka
buru-buru ia melepaskan kain kuning itu dan
disimpan di dalam baju
Selesai pedang dimasukkan ke dalam sarung,
perlahan Lamkiong Peng memegang ujung peti
mati dan diam-diam mengerahkan tenaga.
Dengan mata melotot si Tojin bergumam, “Wahai
Bwe Kim-soat, betapa pun kini dapat kulihat
dirimu pula ….”
Dilihatnya Lamkiong Peng telah mengangkat
tutup peti, ujung peti terangkat dua-tiga kaki ke
atas, tapi tutup tidak terbuka melainkan tetap
lengket dengan bagian bawah peti.
Lamkiong Peng melengak dan menaruh kembali
peti itu, ucapnya perlahan, “Peti ini sudah
dipantek, sukar terbuka!”
“Hm, ini suatu bukti lagi, jika peti kosong,
kenapa mesti dipantek” jengek si Tojin, lalu dia
mengitari peti itu dengan perlahan sambil
mengawasi dengan teliti.
Tiba-tiba ia mengangkat telapak tangan kanan
terus menabok pangkal peti mati.
“Tahan!” bentak Lamkiong Peng cepat, pedang
dilolos terus menebas ke kuduk si Tojin, jika orang
tidak menarik tangan dan menghindar, kepalanya
pasti akan terpenggal.
Terpaksa si Tojin mendak ke bawah sambil
menggeser ke samping, pedang menyambar lewat
hampir menebas sanggulnya. Dengan gusar ia
mendamprat, “Huh, menyerang dari belakang,
terhitung kesatria macam apa?”
“Peti pusaka guruku mana boleh sembarangan
dikotori oleh tanganmu!” jengek Lamkiong Peng.
Muka si Tojin sebentar merah sebentar pucat, ia
melototi Lamkiong Peng sekejap, mendadak ia
melengos dan mendengus, “Hm, kau tahu apa?
Kedua biji mata naga yang terukir di pangkal peti
itulah merupakan kunci untuk membuka peti!”
Walaupun tidak percaya, tidak urung Lamkiong
Peng mengamat-amati juga bagian peti yang
disebut itu, dilihatnya memang benar kedua biji
mata naga yang terukir di atas peti itu tampak
sangat mencolok, meski peti ini terbuat dari kaya
cendana yang sangat mahal tapi karena kehujanan
dan kepanasan sekian lama, peliturnya sudah
luntur sehingga peti kelihatan tua, hanya biji mata
naga ini masih mengilat, hal ini menandakan
bagian ini sering dipegang dan diraba.
Diam-diam Lamkiong merasa gegetun,
pengamatan sendiri memang kalah teliti
dibandingkan orang lain. Perlahan ia lantas
menjulurkan tangan untuk memegang biji mata
naga dan diputar.
Terdengarlah suara “kreekk”, nyata bagian
putaran sudah bekerja.
“Coba angkat lagi!” kata si Tojin.
Kedua orang saling pandang dengan tegang,
jantung mereka sama berdebar. Tangan Lamkiong
Peng agak gemetar, mendadak ia membentak,
“Naik! ….”
Dan ….
Begitu tutup peti mati terbuka, seketika kedua
orang berdiri melongo seperti patung.
Butiran keringat tampak berketes dari dahi si
Tojin, dengan muka pucat ia bergumam, “Ini … ini
… dia … dia ….”
Kiranya peti mati itu kosong melompong tiada
terisi sesuatu.
Muka Lamkiong Peng berubah pucat, mendadak
ia membentak, “Kau berani main gila ….”
Ia putar pedangnya terus menusuk si Tojin.
Saat itu si Tojin lagi memandangi peti kosong
dengan linglung, tusukan Lamkiong Peng seolaholah
tidak dilihatnya, tertampak bibirnya bergerak
seperti mau bicara, tapi hanya sempat terucapkan,
“Peti ini tentu ….” tahu-tahu dada kiri sudah
tertusuk oleh pedang Lamkiong Peng.
Dada kiri tepat di atas jantung, bagian yang
mematikan, keruan darah lansas munerat
membasahi jubah pertapaannya. Tojin itu tampak
melongo kaget, ia mengerang dan meraih batang
pedang, tubuh bergoyang, dengan sinar mata
buram ia pandang Lamkiong Peng, dengan suara
terputus-putus ia berucap, “Suatu … suatu hari
kelak kau pasti akan … akan menyesal ….”
Suaranya serak, pedih dan penuh rasa
penasaran, tapi lemah dan akhirnya roboh terkulai.
“Bluk”, tutup peti juga menutup kembali terlepas
dari pegangan Lamkiong Peng, ia pandang jenazah
yang menggeletak tak bergerak itu, lalu
memandang pedang yang dipegangnya dengan
terkesima, tetes darah terakhir pada ujung pedang
baru saja menitik.
Karena guncangan emosinya, hampir saja ia
lemparkan pedang itu ke jurang, ia berdiri
termenung dan bergumam, “Akhirnya aku … aku
membunuh orang ….”
Untuk pertama kalinya ia membunuh orang,
sungguh tidak enak perasaannya. Padahal Tojin ini
baru saja bertemu dengan dia, bahkan nama
masing-masing saja tidak tahu, namun jiwa orang
yang tak dikenalnya ini sekarang telah melayang di
bawah pedangnya.
Dengan bimbang ia angkat peti mati itu dan
melangkah ke arah datangnya tadi, kembali ke
puncak Jong-liong-nia, tiba-tiba teringat olehnya,
“Seyogianya kukubur mayat Tojin itu ….”
Cepat ia berlari lagi kesana . Tapi aneh, darah
masih kelihatan bereeceran di tanah, namun
jenazah si Tojin yangmalang itu sudah menghilang
entah ke mana.
Suasana sunyi senyap, angin meniup kencang,
gumpalan awan mengambang di udara, Lamkiong
Peng berdiri bingung di situ, ia memandang ke
jurang yang tak terkirakan dalamnya itu, ia
mengira mayat si Tojin mungkin tertiup angin ke
dalam jurang, diam-diam ia berdoa semoga roh si
Tojin mendapatkan tempat yang lapang di alam
baka.
Entah berapa lama lagi, akhirnya ia merasakan
hawa tambah dingin, ia angkat peti mati dan
menuruni puncak gunung itu, setiba di pinggang
gunung, angin dingin rada mereda, suasana lereng
pegunungan semakin sunyi.
Pikiran Lamkiong Peng juga tambah kusut,
selain rasa penyesalannya terhadap si Tojin yang
terbunuh olehnya itu, dalam hati juga penuh tanda
tanya yang belum terpecahkan.
Yang aneh dan membingungkannya adalah peti
mati kayu cendana yang dibawanya ini
sesungguhnya mengandung rahasia apa sehingga
mendiang sang guru perlu memberi tugas khusus
kepadanya untuk menjaga peti mati ini.
Ia mencari tempat sepi di bawah pohon yang
rindang, perlahan ia menaruh peti mati itu di atas
tanah rumput yang mulai layu. Ia coba
menyingkap lagi tutup peti, jelas kosong tanpa
sesuatu isi apa pun. Ia coba meneliti lagi, ia
merasakan dipandang dari luar peti ini cukup
besar, namun bagian dalam peti ternyata sangat
dangkal dan sempit. Pada papan peti yang
berwama gelap itu seperti ada beberapa titik noda
minyak, kalau tidak diperiksa dengan cermat sukar
mengetahuinya. Namun tetap tidak ditemukannya
sesuatu tanda mencurigakan pada peti mati itu.
Ia duduk di bawah pohon dan mengelamun
dengan bertopang dagu, sukar baginya
memecahkan tanda-tanda tanya ini, ia sampai lupa
mencari tahu sebab apa para saudara
seperguruannya sampai saat ini belum kelihatan
menyusulnya.
Ia coba mengeluarkan kain kuning tinggalan
sang guru, ikut terogoh keluar bangkai burung
yang mati menumbuk dinding tebing dan hampir
menimpanya itu.
Kain sutera kuning itu dibentangnya,
tertampaklah tulisan tangan yang sudah
dikenalnya dengan baik, yaitu tulisan sang guru, ia
coba membacanya.
“Selama hidupku memang tidak sedikit kubunuh
orang, namun orang yang kubunuh itu adalah
orang yang pantas dibunuh, sebab itulah hidupku
boleh dikatakan tidak ada yang perlu disesalkan
….”
Tulisan sang guru ini mengingatkan Lamkiong
Peng kepada si Tojin yang dibunuhnya itu,
pikirnya, “Apakah aku pun tidak perlu menyesal
setelah membunuh Tojin itu?”
Lalu teringat juga oleh uraian si Tojin tentang
pribadi gurunya, jika hidup sang guru tidak ada
sesuatu yang perlu disesalkan, apa yang dikatakan
si Tojin pasti tidak betul.
Maka dengan penuh keyakinan ia membaca lagi,
“Namun selama hidupku toh ada juga sesuatu
yang membuatku menyesal ….”
Terkesiap Lamkiong Peng, segera ia membaca
lebih lanjut, “Belasan tahun yang lalu, di dunia
persilatan tersiar berita tentang kelakuan buruk
seorang, sudah cukup lama kubenci kepadanya,
kebetulan seorang kawanku dicederai olehnya aku
lantas mencarinya dan kubinasakan dia di bawah
pedangku. Namun setelah kejadian ini barulah
kutahu kesalahan sebenarnya terletak pada diri
sahabatku, sebaliknya orang yang biasanya banyak
melakukan kejahatan itu justru tidak bersalah,
sebab itulah aku ….”
Tulisan selanjutnya mendadak sukar terbaca
karena tertutup oleh darah bangkai burung.
Dengan sendirinya Lamkiong Peng mendongkol
karena bagian yang penting itu tak terbaca, namun
darah burung sudah kering, umpama dicuci juga
tulisan itu tetap sukar dibacanya, ia coba
membaca bagian bawah yang tertulis, “Maka
kuserahkan orang ini kepadamu, hendaknya kau
jaga dia dengan baik ….”
Bekernyit kening Lamkiong Peng gumamnya
heran, “Dia? …. Dia siapa?”
Setelah termenung sejenak, ia membaca pula,
“Karena terburu-buru harus berangkat sehingga
tidak sempat kuberi tahukan urusan ini
kepadamu, namun pada suatu hari kelak pasti
dapat kau ketahui duduk perkara yang
sebenarnya. Selama ini tidak ada sesuatu
kebaikanku terhadapmu, hal ini pun membuatku
menyesal. Semoga selanjutnya engkau berusaha
maju dan menjadi manusia berguna sehingga tidak
mengecewakan harapanku atas dirimu.”
Lamkiong Peng membaca ulang beberapa baris
terakhir ini dengan terharu, air mata pun
berlinang-linang.
“Apakah … apakah benar Suhu sudah
meninggal? …. Pada suatu hari kelak pasti akan
tahu duduk perkara yang sebenarnya ….” selain
duka Lamkiong Peng jadi tambah curiga.
Dengan bimbang ia menggali sebuah lubang
kecil, lalu bangkai burung ditanamnya, gumamnya
pula, “Betapa pun antara kita ada jodoh juga.
Dunia seluas ini, mengapa engkau justru jatuh
menimpa diriku? Hendaknya kau pun dapat
istirahat dengan tenang di liang yang kecil ini ….”
Ia menghela napas menyesal ketika teringat pula
Tojin yang terbunuh olehnya mungkin mayatnya
takkan terkubur selamanya di dasar jurangsana .
Ia memejamkan mata, ia inginkan ketenangan,
kelelahan pun terasa menjalari sekujur badannya.
Karena harus menghadapi pertarungan pagi tadi,
setiap anak murid Ci-hau-san-ceng hampir
semalam suntuk tidak tidur, apalagi Lamkiong
Peng harus menempur lagi si Tojin sehingga
hampir seluruh tenaganya terkuras.
Kelelahan fisik membuat ketegangan batinnya
agak mengendur, lamat-lamat ia tenggelam dalam
kantuknya ….
Sisa cahaya senja menyinari pucuk pepohonan,
hari sudah hampir gelap. Mendadak di tengah
pepohonan rindang terdengar suara “krekk”, terjadi
sesuatu pada peti mati kayu cendana yang
misterius itu, tutup peti mati perlahan terbuka ke
atas.
Meski suara ini sangat lirih, namun di tengah
pegunungan yang sunyi cukup membuat jantung
Lamkiong Peng berdetak, mendadak ia membuka
matanya dan kebetulan dapat melihat adegan yang
mengejutkan itu. Tutup peti mati kosong itu
diangkat oleh sebuah tangan yang putih halus.
Lenyap seketika rasa kantuk Lamkiong Peng,
dilihatnya makin tinggi tutup peti mati itu
terangkat. Menyusul lantas tertampak sebuah
wajah yang putih pucat dengan rambut hitam
panjang terurai.
Betapa tabahnya Lamkiong Peng, mengirik juga
melihat kejadian luar biasa ini, dengan suara
gemetar ia menegur, “Sia … siapa kau?”
Saat itu si cantik telah mulai menegakkan
tubuhnya dari dalam peti mati, perawakan yang
menggiurkan itu terbungkus oleh jubah putih
bersih serupa wajahnya itu.
Perlahan si cantik melangkah keluar dari peti
mati dan mendekati Lamkiong Peng, air mukanya
tidak ada senyuman sedikit pun, juga tidak ada
wama darah, sampai bibirnya yang mungil juga
putih pucat. Melihat dia di pegunungan sunyi ini
secara mendadak, siapa pun akan menyangka dia
datang dari alam halus.
Lamkiong Peng mengepal tinjunya erat-erat,
tangan sendiri terasa dingin, ia coba membentak
lagi, “Siapa kau?”
Selagi Lamkiong Peng hendak melompat bangun,
sekonyong-konyong si cantik dari peti mati itu
tertawa dan berkata dengan lembut, “Kau takut
apa? Memangnya kau sangka aku ini ….”
mendadak ia tidak meneruskan kecuali cuma
tersenyum saja.
Suaranya begitu lembut serupa sepoi angin
musim semi, senyumnya begitu menggiurkan dan
dapat merontokkan perasaan seorang yang berhati
baja. Rasa seram yang dibawanya ketika keluar
dari peti mati itu seketika lenyap oleh suara
tertawa dan kelembutan ucapnya itu.
Lamkiong Peng melenggong, ia merasa senyum si
cantik dari peti mati ini terlebih menggiurkan
daripadaYap Man-jing, senyum yang lebih
mendebarkan bagi siapa pun yang melihatnya.
Segera Lamkiong Peng berbangkit dan berdiri
berhadapan dengan si cantik, dapat dilihatnya
dengan jelas wajah orang, pulih kembali rasa
percaya atas diri sendiri, kembali ia menegur,
“Siapa kau?”
Si cantik memandangnya dua kejap, mendadak
tertawa geli dan berucap, “Meski usiamu masih
muda belia, tapi ada bagian tertentu memang lain
daripada yang lain, pantas Liong-loyacu
menyerahkan diriku di bawah perlindunganmu
tanpa merasa khawatir.”
Lamkiong Peng lantas teringat kepada tulisan
pada kain sutera kuning yang antara berbunyi,
“Maka kuserahkan orang ini kepadamu,
hendaknya kau jaga dengan baik ….”
Sekarang dapat diketahuinya bahwa “si dia”
yang dimaksudkan itu tidak lain ialah si
mahacantik berwajah pucat dan berbaju putih
mulus yang berdiri di hadapannya ini.
Namun tanda tanya yang lain tetap belum
terjawab, diam-diam ia merasa menyesal mengapa
setiap urusan terkadang bisa begini kebetulan,
mengapa bagian yang penting dari tulisan gurunya
itu bisa kebetulan dikotori oleh darah burung
sehingga tidak terbaca.
Dilihatnya si cantik dari peti mati ini mengulet
kemalasan, lalu berduduk di sebelah Lamkiong
Peng dengan gaya yang memesona, lalu
menengadah memandang langit dan bergumam,
“Sang waktu sudah berlalu dengan cepat, malam
sudah hampir tiba pula, padahal hidup manusia
bukankah berlalu dengan cepat, sejak dahulu kala
hingga kini siapa yang dapat mencegah makin
meningkatnya usia.”
Nada ucapannya seperti menyesali kehidupan
sendiri, mestinya tidak pantas seorang perempuan
muda secantik bidadari bicara demikian melainkan
lebih mirip suara seorang janda atau perawan tua
yang menyesali nasibnya yang terlampaui secara
sia-sia.
Memandangi profil si cantik yang memesona itu,
tanpa terasa Lamkiong Peng bertanya, “Apakah
nona …. O, nyonya ….”
Tiba-tiba si cantik tertawa dan menukas,
“Masakah tak dapat kau bedakan diriku ini nona
atau nyonya? Sungguh aneh juga.”
Lamkiong Peng tergagap, “Tapi aku … aku tidak
kenal ….”
“Jika Liong-loyacu telah menyerahkan diriku di
bawah perlindunganmu, masa beliau tidak pemah
berbicara denganmu mengenai diriku?”
Kening Lamkiong Peng bekernyit pula, benaknya
terbayang kembali apa yang telah dibacanya, diamdiam
ia membatin, “Mungkinkah dia ini Leng-hiat
Huicu yang disebut-sebut si Tojin itu? Tapi Lenghiat
Huicu alias Kong-jiok Huicu itu konon sudah
terkenal pada belasan tahun yang lalu, jika begitu
usianya sekarang sedikitnyakan di atas 30,
mengapa dia ….”
Waktu ia berpaling, dilihatnya si cantik dari peti
mati ini lagi menatapnya dengan kerlingan mata
yang memikat, wajahnya putih halus, kalau
ditaksir usianya paling-paling juga baru 20-an
saja.
“Bagaimana, kenapa tidak kau jawab
pertanyaanku?” kata si cantik dengan tertawa
sambil membelai rambutnya yang hitam panjang
terurai sebatas pinggang itu. Lalu menambahkan.
“Ah, tentu ada yang sedang kau pikirkan mengenai
diriku, apalagi kau sangsi mengenai umurku?”
Muka Lamkiong Peng menjadi merah, ia
menunduk dan menjawab, “Ya, memang sedang
kupikirkan usiamu.”
“Tentang usiaku, lebih baik jangan kau terka
saja,” ujar si cantik dari peti mati sambil menghela
napas hampa.
Selagi Lamkiong Peng tercengang, terdengar si
cantik telah menyambung lagi, “Orang scusia
diriku sesungguhnya tidak ingin orang berbicara
lagi mengenai umurku.”
Lamkiong Peng tidak berani menatapnya lagi,
dalam hati ia heran mengapa nada ucapan si
cantik serupa seorang nenek saja. Tanpa terasa ia
berkata pula, “Tapi engkaukan masih muda belia,
mengapa ….”
Belum lanjut ucapannya, mendadak si cantik
berbangkit sambil meraba wajah sendiri dan
berucap dengan heran, “Kau bilang aku masih
muda belia?”
“Masa muda adalah masa bahagia orang hidup,
mengapa engkau tampak kesal dan tidak bergairah
hidup, jangan-jangan dalam hatimu menanggung
kesedihan sesuatu urusan yang sukar diatasi ….”
Lamkiong Peng berhenti sejenak, lalu berucap pula
dengan serius, “Jika guruku telah menugaskanku
untuk menjaga nona, maka sudilah nona
memberitahukan kesedihan hatimu kepadaku,
mungkin akan dapat kubekerja sesuatu bagimu.”
Hati Lamkiong Peng suci mumi, walaupun dia
tidak mengerti sebab apa gurunya menyerahkan
seorang nona muda jelita di bawah
perlindungannya, tapi sekali menerima amanat
sang guru yang demikian itu, biarpun dia disuruh
terjun ke lautan api juga takkan ditolaknya.
Tak tersangka, mendadak si cantik berucap pula
perlahan, “Apa betul begitu? ….” dan segera ia
membalik tubuh dan berlari pergi dengan cepat.
Keruan Lamkiong Peng terkesiap, teriaknya,
“Hei, mau ke mana kau?”
Tapi si cantik seperti tidak mendengar
seruannya, tanpa berpaling ia terus berlari ke
depan secepat terbang, dalam sekejap orangnya
sudah melayang jauh, sungguh luar biasa
Ginkangnya.
Meski heran dan sangsi, terpaksa Lamkiong
Peng tidak sempat memikirkannya lagi, sampai peti
mati itu pun tidak dihiraukan, segera ia ikut
berdiri kesana sambil berseru, “Suhu sudah
menyerahkan dirimu kepadaku, kalau ada urusan
….”
Namun cuma sekejap saja bayangan si cantik
sudah menghilang, ia coba mencari lagi lebih jauh
ke depan dan tetap tidak terlihat bayangan orang.
“Wah, kalau dia pergi begitu saja, lalu
bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap
pesan Suhu?” demikian ia membatin dengan
gegetun.
Pegunungan sunyi, malam sudah hampir tiba,
ke mana lagi akan dapat menemukan s nona
misterius tadi?
Terpaksa Lamkiong Peng cuma berlari melintasi
lereng gunung itu, nama orang saja tak
diketahuinya, tentu saja ia tidak dapat bersuara
memanggilnya.
Di tengah desir angin tiba-tiba didengarnya
gemercik air, dia memang merasa haus, segera ia
mencari dan menuju ke arah suara air,
Dilihatnya sebuah sungai kecil mengalir
darisana , di bawah remang cahaya bulan yang
baru menongol sungai itu serupa tali perak.
Setelah menyusuri hutan, sungai itu sudah
kelihatan membentang di depan. Cepat ia
memburu kesana , begitu tiba di tepi sungai,
segera ia meraup air untuk diminum.
Tapi baru saja ia minum dua teguk, tiba-tiba
didengarnya dari hulusana berkumandang suara
ngikik tawa orang perempuan.
Terbangkit semangat Lamkiong Peng, cepat ia
menyusul ke hulusana mengikuti tepi sungai, tidak
jauh terlihatlah sesosok bayangan putih sedang
berjongkok di tepi sungai, seperti lagi memandangi
air sungai, seperti juga sedang bereermin pada air
sungai.
Tanpa ragu Lamkiong Peng mendekatinya
dilihatnya si cantik tadi masih berjongkok tanpa
bergerak dengan tertawa, lalu bergumam, “Hah,
ternyata memang benar, ternyata memang betul!
….”
Meski Lamkiong Peng sudah berada di
sampingnya si cantik masih juga belum tahu,
masih tetap memandangi air sungai dengan
terkesima.
Sungguh tak terpikir oleh Lamkiong Peng bahwa
nona misterius ini berlari ke sini hanya untuk
mengelamun memandangi air sungai, ia jadi
melenggong juga, ia berdiri di samping si nona,
ketika ia pun melongok permukaan air sungai,
tertampaklah bayangan wajah seorang bidadari
yang mahacantik serupa lukisan saja.
Bayangan dalam air sungai dari seorang berubah
menjadi dua, hal ini tidak dirasakan oleh si cantik
dari peti mati itu, dalam pandangannya saat ini
kecuali bayangannya sendiri agaknya tidak ada
barang lain yang diperhatikan olehnya.
Berulang-ulang ia meraba raut wajah sendiri
dengan tangannya yang putih halus sambil
bergumam, “Ternyata sungguh, ternyata benar aku
masih semuda ini ….” lalu dia tertawa keras,
tertawa senang, serunya. “Hah, untung memang
sukar diraih danmalang sukar ditolak, siapa tahu
tanpa sengaja aku telah mendapatkan ilmu awet
muda yang sukar dicari dan diimpi-impikan setiap
orang perempuan di dunia ini.”
Mendadak ia berbangkit dan berputar-putar
sambil mengebaskan lengan bajunya sehingga
rambutnya yang panjang ikut bertebaran di udara,
rupanya saking gembiranya ia sampai menari-nari.
“Haha, sejak kini siapa lagi yang dapat
mengenali aku, siapa pula yang dapat menerka aku
inilah Kong-jiok Huicu ….”
Terkesiap Lamkiong Peng, tegurnya, “Hei, jadi
engkau benar Bwe Kim-soat?”
Si cantik yang sedang menari itu mendadak
menggeser dan berhenti di depan anak muda itu
dan menjawab, “Betul!”
Lamkiong Peng melenggong sejenak, katanya
kemudian dengan menyesal, “Ai, tak tersangka
keterangan Tojin itu ternyata benar, aku …
sungguh aku pantas mampus!”
Melihat anak muda itu merasa menyesal dan
sedih, Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat tersenyum,
perlahan ia pegang pundak Lamkiong Peng dan
bertanya dengan suara halus, “Jadi kau kenal
namaku?”
“Ya, kukenal namamu,” sahut Lamkiong Peng
dengan pikiran kusut.
“Jika begitu, apakah kau tahu orang macam
apakah aku ini?”
“Ya, kutahu,” Lamkiong Peng mengangguk.
“Suhu telah memberi pesan agar kujaga dirimu
baik-baik, dengan sendirinya akan kulaksanakan
perintah beliau. Siapa yang hendak
mengganggumu harus berhadapan dulu denganku.
Kupercaya penuh terhadap Suhu, apa yang
dikatakan dan diperbuat beliau pasti tidak salah.”
Bwe Kim-soat termenung sejenak, katanya
kemudian dengan menghela napas, “Ai, Liongloyacu
sungguh teramat baik kepadaku.”
Tangannya yang memegangi pundak Lamkiong
Peng itu dari putih tadi telah berubah agak
kehijauan dan kini kembali berubah putih lagi dan
ditarik kembali. Anak muda itu tidak menyadari
bahwa dalam waktu singkat itu sesungguhnya dia
telah lolos dari bahaya maut.
Ia pandang orang dengan bimbang dan tidak
tahu apa yang harus dibicarakan pula.
“Tampaknya engkau masih sangsi terhadap
diriku,” kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum.
“Apakah gurumu hanya menyerahkan peti cendana
kepadamu tanpa menceritakan hubungannya
denganku?”
“Tidak, hanya ini saja ….” Lamkiong Peng
mengeluarkan kain sutera kuning itu, “Boleh kau
baca sendiri.”
Dengan kuning bekernyit Bwe Kim-soat
menerima kain kuning itu dan dipandangnya
sekejap, tiba-tiba ia tanya, “Bekas darah siapakah
ini?”
“Darah burung mati!” tutur Lamkiong Peng.
“Burung mati apa?” melengak juga Bwe Kimsoat.
Lamkiong Peng menceritakan apa yang
dialaminya secara ringkas.
“O, kiranya begitu, semula kusangka darah
gurumu,” ujar si cantik dengan tertawa.
Dengan agak emosi Lamkiong Peng merampas
kembali kain sutera itu dan berucap dengan
mendongkol, “Aku pun ingin tanya padamu,
sampai ajalnya guruku tetap memikirkan
kepentingan dirimu, maka dia memberi pesan
padaku agar menjaga dirimu dengan baik.
Sebaliknya kau, setelah mengetahui nasibmalang
guruku engkau sama sekali tidak berdukacita bagi
beliau, sungguh terlalu ….”
Bwe Kim-soat memandangnya beberapa kejap
seperti melihat sesuatu yang lucu, mendadak ia
bergelak tertawa pula dan berkata, “Duka? Apa
artinya duka! Selama hidupku belum pemah
berduka bagi apa dan siapa pun, memangnya kau
minta aku berduka untuk menipu dirimu dan
diriku sendiri?”
Lalu dia tertawa terkial-kial lagi.
Mata Lamkiong Peng menjadi merah, tidak
kepalang rasa gemasnya, tapi segera teringat
olehnya akan julukan orang.
Leng-hiat Huicu, si putri berdarah dingin!
Akhirnya Lamkiong Peng menghela napas,
pikirnya, “Ya, pantas orang Kangouw menyebutnya
si putri darah dingin, kiranya dia tidak kenal apa
artinya berduka segala ….”
Teringat untuk selanjutnya entah berapa lama
dirinya masih harus mendampingi perempuan
cantik berdarah dingin ini, ia jadi sedih.
Tiba-tiba Bwe Kim-soat berkata pula, “Jangan
kau kira aku sengaja tidak menghiraukan
kematian gurumu, malahan seharusnya aku
gembira bagi kematiannya itu.”
Gusar sekali Lamkiong Peng oleh ucapan orang
yang keji itu, dampratnya, “Kalau saja guruku
tidak menyuruhku menjaga dirimu, bisa jadi akan
ku ….”
“Hm, apakah kau tahu sebab apa gurumu
menyuruhmu menjaga diriku?” jengek Bwe Kimsoat.
“Apa pun juga, yang jelas Suhu telah salah
menilai orang,” jawab Lamkiong Peng dengan
mendongkol, “jika beliau memiara seekor kucing
atau seekor anjing akan lebih baik ….”
“Hm, kau tahu apa?” jengek Bwe Kim-soat pula.
“Sebabnya gurumu berbuat demikian padaku
adalah karena dia ingin menebus dosa, ingin
membalas budi. Tapi biarpun begitu dia tetap
bersalah padaku, maka dia mengharuskan
muridnya ikut menebus dosanya yang belum lunas
itu, untuk membalas budi yang belum sempat
dilakukannya.”
Lamkiong Peng jadi tercengang, mendadak ia
balas mendengus, “Hm, menebus dosa dan
membalas budi apa segala? Memangnya guruku
bisa ….”
Tapi lantas teringat olehnya tulisan pada kain
kuning itu antara berbunyi “urusan ini memang
salahku ….”, seketika ia urung bicara lebih lanjut,
pikirnya, “Jangan-jangan Suhu memang berbuat
sesuatu kesalahan terhadap dia.”
“Hm, kenapa engkau tidak bicara lagi?” jengek
Bwe Kim-soat. “Agaknya kau pun dapat merasakan
dosa yang diperbuat gurumu, bukan?”
Lamkiong Peng menunduk, mendadak ia
mengangkat kepala pula dan berseru, “Barang
siapa bicara kasar terhadap guruku, tentu takkan
kuampuni ….”
“Huh, jangankan di depanmu, sekalipun di
depan Put-si-sin-liong juga aku berani bicara
demikian, sebab aku berhak!”
“Hak apa?” teriak Lamkiong Peng saking tak
tahan. “Meski guruku menyuruhku menjaga
dirimu, tapi engkau tidak berhak bicara sesukamu
di depanku.”
“Aku berhak bicara, sebab tanpa berdosa nama
baikku telah dicemarkan olehnya dan tubuhku
dilukainya. Aku berhak bicara, sebab Kungfu yang
kulatih dengan susah payah telah dipunahkan
olehnya dengan sekali pukul. Aku berhak bicara
karena kebodohan dan kebandelannya telah
mengorbankan masa remajaku, telah menyianyiakan
sepuluh tahun masa hidupku yang paling
indah, akibatnya setiap hari, siang dan malam,
senantiasa berbaring di dalam peti mati yang
terisolir dari dunia luar, hidup tersiksa melebihi
orang hukuman ….”
Makin bicara makin emosi, nadanya yang
semula dingin kini berubah menjadi teriakan
serak.
Tanpa terasa Lamkiong Peng jadi ngeri, tubuh
yang semula tegak menjadi agak lemas dan tidak
berani bersikap keras lagi.
Mendadak Bwe Kim-soat menarik tangan
Lamkiong Peng terus dibawa lari secepat terbang
kesana .
Ilmu silat Lamkiong Peng mestinya tidak lemah,
Ginkangnya juga sangat tinggi, tapi sekarang tanpa
berdaya tangannya seperti terisaps oleh semacam
tenaga mahakuat dan ikut lari terlebih cepat
daripada Ginkang sendiri.
Selagi ia bermaksud meronta untuk melepaskan
diri, dilihatnya lari orang sudah mulai mengendur,
tempat yang dituju ternyata hutan tadi, di situ peti
mati masih tertinggal.
Begitu tiba di depan peti mati, segera Bwe Kimsoat
membuka tutup peti dan berteriak, “Nah, di
dalam peti inilah kuhidup selama sepuluh tahun.
Kecuali pada malam hari gurumu mengangkatku
keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia yang perlu, boleh dikatakan tidak pemah
kukeluar dari sini.”
Dia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Nah,
boleh coba kau bayangkan, kehidupan macam
apakah selama sepuluh tahun ini, bagimu
mungkin sepuluh hari saja tidak tahan, apa lagi
sepuluh tahun ….”
Lamkiong Peng memandang ruang peti yang
sempit dan gelap itu, lalu bergumam seperti
mengigau, “Sepuluh … sepuluh tahun ….” Tanpa
terasa ia bergidik.
Cahaya bintang yang redup menyinari wajah
Bwe Kim-soat yang pucat, ia menarik napas
panjang, lalu berucap pula dengan hampa, “Yang
kuharap selama mengeram di dalam peti adalah
datangnya malam, saat kebebasanku yang tidak
panjang itu, walaupun cuma sebentar saja gurumu
membawaku ke ruang yang tidak berlampu,
namun bagiku saat itu serupa hidup di surga.”
Tergerak pikiran Lamkiong Peng, “Pantas kamar
tidur Suhu terletak pada pojok perkampungan
yang paling terpencil. Pantas juga pada malam hari
beliau tidak suka memasang lampu, kamarnya
juga tanpa jendela. Pantaslah setiap malam Suhu
membawa peti mati ini masuk kamarnya dan
ditaruh di samping tempat tidurnya ….”
Ia menghela napas panjang dan tidak berani
memikirnya lebih lanjut.
Sorot mata Bwe Kim-soat bergeser di antara
remang cahaya bintang dan kegelapan hutan itu
seperti lagi membayangkan penderitaannya
dahulu, lalu bertutur pula, “Untunglah setiap hari
datang harapanku serupa itu, kalau tidak, lebih
baik kumati daripada hidup tersiksa cara begini.
Dan harapan dan menanti itu sendiri pun
menimbulkan derita yang tak terhingga. Pemah
satu hari tanpa sengaja gurumu membuka pintu
kamar sehingga ada cahaya bulan menembus
masuk ke kamar, sungguh girangku tak
terkatakan. Tapi di bawah sinar bulan kulihat
keadaan gurumu yang semakin tua, aku menjadi
sedih, sang waktu terus berlalu, kupikir aku
sendiri tentu juga tambah tua ….”
Suaranya berubah menjadi lembut dan rawan,
tanpa terasa Lamkiong Peng juga ikut terharu
kepada sifatnya yang berdarah dingin dan mulai
menaruh simpati terhadap nasibnya yangmalang ,
ia menghela napas dan berkata, “Yang sudah lalu
biarlah lalu, jangan kau ….”
“Sudah lalu? …. mendadak Bwe Kim-soat
bergelak tertawa pula. “Put-si-sin-liong sudah mati,
secara ajaib aku tetap awet muda, aku tidak perlu
terkurung lagi di dalam peti mati. Malahan orang di
dunia tidak ada yang tahu asal-usulku yang
sebenarnya … kecuali kau!”
“Secara ajaib engkau telah bertahan awet muda,
secara ajaib pula telah pulih kehidupanmu yang
bebas, untuk itu seharusnya engkau bersyukur
dan berterima kasih dan bukan merasa dendam,
meski aku ….”
“Aku berterima kasih apa?” jengek Bwe Kim-soat.
“Berterima kasih kepada Thian yang maha
pengasih,” jawab Lamkiong Peng.
“Hmk!” dengus Bwe Kim-soat sambil
mengebaskan lengan baju dan melangkah kesana .
Seperti orang linglung Lamkiong Peng
memandangi bayangan punggung orang yang
ramping dengan gayanya yang memesona itu,
ketika bayangan orang hampir menghilang di
kegelapansana , cepat ia memburu maju dan
menegur, “Nona Bwe, engkau hendak ke mana?”
Mendadak Bwe Kim-soat berpaling dan berkata
kepadanya dengan dingin, “Kau tahu, orang bodoh
di dunia ini sangat banyak, tapi tidak ada yang
lebih bodoh daripadamu.”
Dengan bingung Lamkiong Peng menjawab
dengan gelagapan, “Iy … iya ….”
Sorot mata Bwe Kim-soat yang dingin itu tibatiba
timbul secercah cahaya kelembutan, namun di
mulut dia tetap bicara dengan ketus, “Jika engkau
bukan orang bodoh, tadi waktu kubilang ‘kecuali
kau’, seharusnya kau lari segera!”
“Tapi mana boleh kutinggalkan dirimu?” jawab
Lamkiong Peng tegas. “Suhu telah menyerahkan
dirimu di bawah penjagaanku, jika kutinggal pergi,
lalu cara bagaimana aku harus bertanggung jawab
terhadap beliau?”
“Tanggung jawab apa? Put-si-sin-liongkan sudah
mati?!” jengek Kim soat.
Lamkiong Peng menarik muka, jawabnya tegas,
“Tidak peduli beliau sudah meninggal atau tidak
tetap tidak dapat kulanggar amanat tinggalan
beliau.”
“Lantas cara bagaimana akan kau jaga diriku?”
tanya Bwe Kim-soat.
Bibir Lamkiong Peng bergerak, namun sukar
untuk menjawab.
Bwe Kim-soat membetulkan rambutnya yang
terurai di depan dadanya ke belakang punggung,
lalu mendengus, “Hm, jika engkau tidak mau pergi
dan tetap ingin ‘menjaga’ diriku, apakah
selanjutnya engkau akan selalu mengikuti aku?”
“Ya, memang begitulah perintah guruku,” jawab
Lamkiong Peng.
“Sungguh begitu?” Bwe Kim-soat menegas
dengan tertawa.
Lamkiong Peng tidak berani memandang tertawa
orang yang menggiurkan itu, dengan prihatin ia
menjawab, “Menurut pesan Suhu, aku diharuskan
menjaga peti mati dan tidak boleh
meninggalkannya, maksud beliau dengan
sendirinya aku diharuskan menjaga dirimu setiap
saat.”
Setelah bicara demikian, diam-diam timbul juga
rasa sangsinya, “Ilmu silatnyakan jauh lebih tinggi
daripadaku, mengapa Suhu menugaskanku
menjaga dia? Jika Kungfunya begitu tinggi, setiap
saat mestinya dia dapat membobol peti mati dan
pergi sesukanya, mengapa hal ini tidak
dilakukannya?”
Selagi dia merasa heran, terdengar Bwe Kim-soat
berkata pula dengan tertawa, “Jika demikian,
bolehlah kau ikut diriku, ke mana pun kupergi
boleh kau ikut.”
Habis berkata ia lantas melangkah ke depan.
Jantung Lamkiong Peng berdetak dan entah
bagaimana rasanya, pikirnya, “Apa benar harus
kuikut dia ke mana pun juga?”
Tapi tidak urung kakinya ikut melangkah ke
sana, katanya, “Demi melaksanakan amanat guru,
biarpun kau pergi ke ujung langit juga akan
kuikuti.”
“Ujung langit ….” perlahan Bwe Kim-soat
mengulang kata itu dengan tersenyum.
Tanpa terasa muka Lamkiong Peng menjadi
merah.
Perasaan kedua orang itu sungguh sukar diraba
oleh siapa pun juga, hubungan mereka yang aneh
juga sukar dilukiskan. Bwe Kim-soat berjalan di
depan dan Lamkiong Peng ikut di belakang,
berulang Bwe Kim-soat membelai rambutnya yang
panjang, agaknya dia juga banyak menanggung
pikiran.
Malam tambah larut, di suatu sudut yang paling
gelap di tengah hutan sana mendadak melayang
keluar sesosok bayangan orang berbaju hitam
tanpa suara, dia memondong seorang pula yang
agaknya terluka parah.
Dalam kegelapan wajah orang itu tidak terlihat
jelas, juga tidak jelas siapa orang terluka yang
dibawanya itu, hanya terdengar dia membisiki
telinga yang terluka, “Apakah engkau merasa agak
baikan?”
Yang luka itu menjawab lemah, “Ya, sudah
baikan, kalau bukan Anda ….”
“Sungguh aku tidak mampu membawamu turun
dari Hoa-san sini,” potong orang berbaju hitam itu,
“dalam keadaan terluka parah engkau juga tidak
dapat ditinggalkan di tengah pegunungan sunyi ini.
Terpaksa engkau harus menahan sakit dan jangan
bersuara, minumlah obat yang kutaruh di dalam
bajumu itu menurut waktunya, dalam beberapa
hari saja kesehatan tentu akan pulih, tatkala mana
engkau tentu sudah berada di bawah gunung dan
dapat mencari kesempatan untuk melarikan diri.”
Dengan mengertak gigi orang yang luka itu
merintih kesakitan, lalu berkata dengan lemah,
“Budi pertolonganmu pasti akan ….”
“Sudahlah, jangan banyak bicara lagi,” potong si
baju hitam. “Saat ini mereka pasti takkan
membuka lagi peti mati ini, Bwe Kim-soat juga
pasti tak mau masuk lagi ke dalam peti. Asalkan
dapat kau tahan rasa sakit pada saat tubuh
berguncang, tentu engkau dapat mencapai kaki
gunung dengan aman.”
Sembari bicara ia lantas membuka tutup peti
cendana itu, orang luka itu dimasukkannya
dengan perlahan, lalu berkata pula, “Obatku ini
selain dapat menyembuhkan luka, juga dapat
membuatmu tahan lapar, maka jangan khawatir!”
Si luka yang sudah berbaring di dalam peti
bertanya, “Bila tidak keberatan, sudilah
memberitahukan nama Anda ….”
“Namaku tentu akan kau ketahui kelak,” si baju
hitam memberi tanda supaya jangan bicara lagi,
perlahan tutup peti lantas dirapatkannya kembali.
Setelah menyapu pandang sekejap sekeliling situ
lalu membalik tubuh dan berlari cepat ke arah
Jong-liong-nia.
Saat itu Bwe Kim-soat dan Lamkiong Peng
sedang melangkah tanpa tujuan serupa orang
mimpi menjalan.
Setelah berjalan sekian lama, mendadak Bwe
Kim-soat berkata, “Engkau berasal dari keluarga
terhormat dan perguruan temama, jika engkau
berjalan bersamaku seperti ini, apakah tidak takut
menimbulkan desas-desus umum yang
mencemarkan namamu?”
Dia bicara tanpa berpaling sehingga tidak
diketahui bagaimana air mukanya.
Langkah Lamkiong Peng agak merandek,
jawabnya dengan tegas, “Asalkan hati kita tidak
merasa berdosa, pula semua ini atas amanat
guruku, hanya desas-desus orang iseng saja
takkan menjadi soal bagiku, apalagi ….”
Ia berdehem dan tidak melanjutkan.
“Apalagi usiaku sedikitnya belasan tahun lebih
tua daripadamu sehingga pada hakikatnya tidak
perlu khawatir dicurigai orang, begitu bukan
maksudmu?” tanya Bwe Kim-soat mendadak
sambil berpaling.
Lamkiong Peng melenggong sejenak, jawabnya
kemudian dengan menunduk, “Ya, begitulah.”
“Jika demikian, harus kau terima suatu
syaratku,” kata Kim-soat pula.
“Syarat? ….”
“Ya, yaitu tidak boleh kau katakan nama asliku
terhadap siapa pun.”
“Sebab apa?”
“Jika namaku diketahui orang bahwa aku masih
hidup segar bugar di dunia persilatan, sekalipun
gurumu sendiri tidak mampu melindungi diriku
apalagi engkau?”
“Oo,” melengak Lamkiong Peng. Pikirnya, “Dia
pasti banyak musuh di dunia persilatan, bilamana
musuhnya mengetahui dia belum mati pasti akan
mencari dia dan menuntut balas padanya.”
Seketika seperti terngiang pula di tepi telinganya
kata-kata si Tojin, “… Perempuan jalang,
perempuan jahat ….”
Mendadak timbul pertentangan batinnya,
masakah dirinya harus membela seorang
perempuan semacam ini? Tapi lantas teringat lagi,
“Jika Suhu sendiri membelanya, tugas ini lalu
diserahkan lagi kepadaku, kuyakin tindakan beliau
pasti benar, mana boleh kulanggar amanat guru?”
Selagi terjadi pergolakan pikirannya,
didengarnya Bwe Kim-soat bertanya pula, “Kau
terima syaratku?”
“Ya,” jawab Lamkiong Peng segera.
Bwe Kim-soat memandangnya sekejap sambil
tertawa lembut, katanya, “Meski di mulut kau
terima dengan baik, tapi di dalam hati enggan,
betul tidak?”
Waktu Lamkiong Peng mengangkat kepalanya, di
bawah malam tertampak wajah Bwe Kim-soat yang
cantik laksana bidadari itu, seketika hatinya
bergetar, pikirnya, “Perempuan secantik ini
mengapa bisa berbuat jahat dan jalang?”
“Betul tidak?” kembali Bwe Kim-soat menegas
sambil mendekati anak muda itu.
“Apa yang kuucapkan sama dengan apa yang
kupikirkan,” jawab Lamkiong Peng sambil
menunduk, terendus bau harum semerbak,
tahulah dia orang telah berada di sampingnya.
Didengarnya Bwe Kim-soat bicara pula dengan
lembut, “Kutahu sekali kau terima syaratku,
selamanya tentu akan kau pegang teguh. Akan
tetapi perlu kuberi tahukan pula bahwa
perangaiku sangat aneh, terkadang bisa
membikinmu tidak tahan, dalam keadaan begitu
lantas bagaimana tindakanmu?”
Kening Lamkiong Peng bekernyit, “Asalkan
engkau tidak berbuat sesuatu yang membikin
susah orang, urusan lain aku pasti tahan.”
Tiba-tiba dirasakannya bila dirinya terus
mendampinginya cara begini, kecuali
melaksanakan amanat sang guru dapat juga setiap
saat mencegahnya berbuat sesuatu yang tidak
baik. Jangan-jangan maksud tujuan amanat sang
guru yang menugaskan dia menjaganya justru
demikianlah adanya?
Berpikir sampai di sini, mendadak dadanya
terasa lapang, apa alangannya mengalami sedikit
hinaan asalkan dapat memperbaiki watak seorang
jahat menuju ke jalan yang benar?
Segera ia angkat kepala dan memandang orang
dengan ikhlas.
“Sudah malam, tentu kita tidak dapat tinggal di
sini,” kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum
lembut.
“Ya, kita turun saja ke bawah,” kata Lamkiong
Peng.
Tapi belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba
Lamkiong Peng berseru, “Nanti dulu, nona Bwe!”
“Ada apa?” tanya Bwe Kim-soat sambil berpaling.
“Harap nona menunggu sebentar, ada urusan
yang perlu ku ….”
“Ah, tentu mengenai peti mati itu, bukan?” tukas
Bwe Kim-soat.
“Ya, kecuali itu, beberapa saudara
seperguruanku juga masih ketinggalan di atas
gunung dan entah sudah pergi atau belum, betapa
pun harus kutunggu mereka.”
“Jika saudara seperguruanmu melihat dirimu
selalu mendampingiku, lantas apa yang akan
mereka katakan? Apalagi sudah sekian lamanya,
kukira mereka sudah lama meninggalkan gunung
ini,” ujar Kim-soat. “Mengenai peti mati itu, kukira
sekarang tidak ada gunanya lagi, buat apa mesti
kau bawa kian kemari pula. Lebih baik kita
mencari suatu tempat istirahat yang tenang, nanti
akan kuceritakan berbagai hal yang belum kau
ketahui.”
“Tapi … tapi peti itu adalah barang tinggalan
guruku, betapa pun harus kubawa pergi,” setelah
berhenti sejenak, dengan tegas ia menyambung
pula, “Dan mengenai saudara seperguruanku, apa
pun juga perlu kutunggu mereka dulu sekadar
memenuhi kewajibanku sebagai sesama saudara
seperguruan.”
“Ah, apa yang kukatakan tampaknya tidak kau
turut sama sekali,” omel Bwe Kim-soat sambil
memandangi anak muda itu dengan lembut seolaholah
dengan sorot matanya yang hangat itu ingin
mencairkan hati Lamkiong Peng yang keras.
Kedua orang kembali beradu pandang, sampai
lama sekali keduanya tidak berkedip dan tetap
bertahan, entah di antara mereka siapa yang lebih
kuat.
Kerlip bintang di langit bertambah terang,
sebaliknya malam bertambah larut.
Di bawah cahaya bintang dan suasana malam
yang sama, apa yang dihadapi Liong Hui saat itu
juga pandangan yang sama lembut dan sama
hangatnya.
Saat itu dia sedang berjalan di balik lereng Hoasan
sana, di antara batu padas yang terjal dan
pepohonan yang rimbun serta malam yang tambah
kelam.
Tangan Kwe Giok-he yang halus memegangi
lengan sang suami yang kekar, tubuh Giok-he yang
kecil mungil juga setengah menggelendot di bahu
sang suami, meski Ginkangnya terlebih tinggi
daripada suaminya, Kungfunya juga tidak lebih
lemah, tapi sikapnya yang manja itu scakan-akan
kalau tidak ada perlindungan sang suami akan
sukar bergerak di lereng gunung ini.
Yang ikut di belakang mereka adalah Ong So-so
yang cantik itu, dia malah tidak menghendaki
bantuan Ciok Tim meski wajahnya sudah dihiasi
butiran keringat.
Terpaksa Ciok Tim ikut berjalan di belakangnya
dengan hati-hati.
Mereka berempat sudah hampir menjelajahi
seluruh pegunungan ini, namun tidak menemukan
sesuatu bekas tinggalan sang guru.
Di tengah kesunyian perjalanan, akhirnya Kwe
Giok-he berucap, “Rupanya tiada sesuatu yang
dapat kita temukan.”
“Ya,” sahut Liong Hui sambil berpaling.
Ong So-so mengangguk perlahan, Ciok Tim juga
menghela napas dan berkata, “Ya, tidak
menemukan apa pun.”
“Ayolah kita pulang saja,” kata Giok-he pula
dengan menyesal.
“Ya, pulang saja,” kata Ciok Tim.
“Tapi … tapi mungkin dia sedang mencari atau
menunggu kita,” kata So-so tiba-tiba.
Air muka Ciok Tim agak berubah, sebab ia tahu
“si dia” yang dimaksudkan So-so, yaitu Lamkiong
Peng, Sute mereka yang termuda.
“Tanjakan di depan sana tampak lebih curam,
kita sudah mencari sampai di sini, marilah kita
coba periksa sana sekalian,” ajak Giok-he.
Tidak ada yang membantah, dengan menunduk
So-so ikut berjalan ke depan. Liong Hui agak
bingung melihat kelakuan anak dara itu.
Makin ke depan langkah mereka bertambah
lambat karena terjalnya tempat. Maklumlah,
puncak selatan Hoa-san ini juga disebut Lok-ganhong
atau puncak menjatuhkan burung belibis,
puncak tertinggi pegunungan Hoa, biasanya sangat
jarang didatangi manusia, burung saja sering
menubruk tebing yang tinggi ini, keadaan di sini
sangat sepi, apalagi di malam yang sunyi ini.
Kwe Giok-he menggelendot terlebih erat di bahu
Liong Hui, sebaliknya So-so semakin jauh jaraknya
dengan Ciok Tim.
Pembawaan seorang gadis yang lemah tentu saja
berharap akan dibantu dan dibela oleh seorang
yang gagah dan kuat, tapi hasrat ini hanya
disembunyikan di dalam batin saja oleh So-so.
Kecuali “dia”, rasanya tidak mau menerima cinta
orang lain lagi. Tapi di manakah si dia sekarang?
Makin dipikir makin sedih, tanpa terasa air mata
pun berlinang-linang. Tapi ia tidak berani
mengusapnya, sebab ia tidak mau Ciok Tim
melihat kesedihannya.
Sekonyong-konyong So-so berhenti melangkah
sambil menjerit.
Cepat Liong Hui dan Giok-he berpaling, Ciok Tim
juga lantas memburu maju sambil berseru, “Ada
apa?”
Di tengah remang malam terlihat wajah Ong Soso
yang terkejut dan air mata berlinang lagi
memandang permukaan tanah dengan tercengang.
Permukaan tanah yang kelam, tampaknya tiada
sesuatu yang mengherankan.
Ketika Giok-he dan lain-lain ikut memandang ke
tempat yang membuat So-so tercengang itu,
ternyata di atas batu di situ ada bekas kaki yang
mendekuk cukup dalam. Serentak mereka pun
berseru kaget.
Tanah berbatu di sini sangat keras, orang biasa
biarpun menggunakan senjata tajam juga sukar
membuat bekas kaki sedalam ini, akan tetapi
orang ini cuma menginjak begitu saja lantas
meninggalkan tapak kaki sedalam ini.
Bekas kaki itu tidak lurus, tapi miring ke kiri,
ujung kaki tepat mengarah sebuah jalan simpang
yang membelok ke kiri.
So-so memandangnya dengan tercengang, sekian
lama baru dia berkata dengan tergagap, “Bekas …
bekas kaki ini apakah mirip dengan kaki … kaki
Suhu? ….”
Kemudian Giok-he menjawab, “Bekas kaki ini
bukan kaki Suhu! Hanya tampaknya memang
mirip ….”
“Ya, bukan saja besar-kecilnya sama, sampai
bentuk sepatunya juga sama,” tukas So-so.
“Saat ini orang persilatan sudah jarang yang
memakai sepatu bersol tebal semacam sepatu
Suhu ini,” kata Ciok Tim.
Supaya diketahui, orang Kangouw umumnya
suka memakai sepatu tipis ringan untuk
memudahkan gerak-gerik mereka, jarang yang mau
menggunakan sepatu bersol tebal seperti yang
biasa dipakai kaum pembesar negeri. Apalagi kalau
digunakan menempuh perjalanan di tanah
pegunungan, jelas sepatu tebal ini tidak cocok.
Perlahan Giok-he mengangguk, katanya,
“Memang benar jarang ada orang Kangouw yang
mau memakai sepatu tebal begini. Tapi di dunia
Kangouw sekarang siapa pula yang memiliki tenaga
dalam sehebat ini ….”
“Betul juga, bekas kaki yang ditinggalkan beliau
pasti untuk menunjukkan ke arah mana beliau
pergi,” tukas Liong Hui.
“Ya, kukira begitu,” kata So-so berbareng dengan
Ciok Tim.
“Tapi kalian sama melupakan sesuatu,” jengek
Giok-he mendadak.
“Sesuatu apa?” tanya Ciok Tim heran.
“Meski bekas kaki ini mirip kaki Suhu,
dipandang dari dekukan sedalam ini juga cuma
Suhu saja yang mampu, akan tetapi bekas kaki ini
pasti bukan ditinggalkan oleh Suhu, sebab ….”
Giok-he sengaja merandek, lalu menyambung
sekata demi sekata, “Sebab saat ini Suhu tidak lagi
mempunyai tenaga dalam sekuat ini.”
Liong Hui, Ciok Tim dan So-so sama melengak,
tapi segera mereka pun sadar persoalannya dan
berseru serentak, “Ya, betul!”
Liong Hui lantas menambahkan, “Suhu sudah
melemahkan tenaga sendiri tujuh bagian untuk
memenuhi tuntutan gadis she Yap itu,
kekuatannya sekarang tidak lebih hanya sebanding
dengan kita, mana beliau sanggup meninggalkan
bekas kaki sedalam ini di atas batu.”
Ia pandang Giok-he dengan penuh rasa kagum,
lalu bergumam pula, “Hal ini sama diketahui kita,
tapi mengapa cuma engkau saja yang
mengingatnya.”
“Soalnya kalian sudah lelah, lapar dan juga
tegang, dalam keadaan demikian orang memang
sering melupakan sesuatu,” ujar Giok-he dengan
tersenyum.
Mendadak So-so mengangkat kepala dan berkata
pula, “Tapi kalau bekas kaki ini bukan bekas kaki
Suhu, lantas bekas kaki siapa? Di dunia Kangouw
zaman ini, kecuali Suhu siapa pula yang memakai
sepatu model begini dan berjalan di lereng
pegunungan yang curam dan sepi ini? Siapa pula
yang memiliki Lwekang setinggi ini?”
Seperti telah diceritakan, sejak pertemuan Hoasan
dahulu, hampir segenap inti kekuatan dunia
persilatan telah gugur bersama, selama ini belum
terdengar di dunia persilatan ada tokoh yang
berkuatan sebanding dengan Tan-hong dan Sinliong,
sebab itulah pertanyaan So-so ini benarbenar
sangat tepat.
Mereka saling pandang dengan bingung sampai
sekian lamanya, akhirnya Liong Hui bergumam,
“Jangan-jangan di dunia persilatan sekarang telah
muncul tokoh kelas tinggi baru.”
“Jangan-jangan Suhu ….” mendadak Ciok Tim
urung meneruskan ucapannya.
“Suhu kenapa?” tanya Liong Hui dengan gelisah.
Ciok Tim memandang kiri-kanan, dilihatnya
Giok-he dan So-so juga sedang memandangnya
seperti ingin tahu lanjutan ucapannya itu.
Akhirnya ia berdehem dan berkata pula, “Kukira
bisa jadi … bisa jadi bekas kaki itu di …
ditinggalkan Suhu waktu … waktu ….”
“Maksudmu mengkhawatirkan Suhu mengalami
luka parah setelah bertanding dengan orang dan
bekas kaki ini ditinggalkan beliau waktu buyarnya
Lwekang sebelum ajal?” tukas Giok-he tak sabar.
“Ya … ya, kukhawatir begitulah adanya,” sahut
Ciok Tim dengan menunduk.
“Hah, apakah benar Suhu … Suhu telah
meninggal?” teriak Liong Hui dengan cemas.
Hendaknya maklum, orang yang menguasai
Lwekang tinggi, pada sebelum ajalnya setiap jurus
yang dikeluarkannya dengan sepenuh tenaga pasti
lihai luar biasa. Begitu pula bila tenaga dalam itu
dibuyarkan pada waktu menghadapi ajal, setiap
gerakan kaki atau tangan tentu luar biasa kuatnya.
Sejak kecil Liong Hui telah belajar silat dengan
guru temama, dengan sendirinya ia cukup paham
dalil ini, maka dia pula yang paling berduka, tanpa
terasa air mata lantas berlinang.
“Mungkin itu cuma dugaanku saja, hendaknya
Toako jangan ….” ucap Ciok Tim dengan gelagapan.
“Betul, ucapanmu memang ngawur,” kata Giokhe
tiba-tiba.
“Masa ucapannya tidak berdasar?” tanya Liong
Hui sambil mengusap air mata.
“Kusangsikan bila betul ini bekas kaki Suhu,
mengapa di sekitar sini tidak ada sesuatu tanda
waktu dia bertempur dengan lawan?” ujar Giok-he.
“Selain itu pesan yang ditinggalkan Suhu apakah
mungkin ditulis di sini?”
“Betul, bila betul Suhu membuyarkan
Lwekangnya menghadapi ajalnya, mana beliau
dapat meninggalkan pesan sejelas itu?” seru Liong
Hui.
“Habis bekas kaki siapakah ini?” kata So-so
dengan gegetun.
Giok-he memandang anak dara itu dengan
tersenyum, mendadak ia berkata dengan suara
lantang, “Siapa yang meninggalkan bekas kaki ini
sekarang belum dapat diketahui, yang jelas orang
yang meninggalkan bekas kaki ini pasti ada
hubungannya dengan Suhu ….”
“Apa dasarnya?” tanya Liong Hui.
Giok-he memandang sang suami sekejap, lalu
menyambung malah, “Dan pasti juga
mengisyaratkan sesuatu rahasia.”
Liong Hui tambah bingung, “Kenapa kau bilang
bekas kaki ini ada sangkut pautnya dengan Suhu?”
“Sebab kalau bukan urusan yang menyangkut
Tan-hong dan Sin-liong, mana bisa ada tokoh Bulim
kelas tinggi berkeliaran di pegunungan Hoa
yang sunyi ini,” tutur Giok-he.
“Kau bilang bekas kaki ini mengisyaratkan
sesuatu rahasia, kalau begitu bolehlah kita tunggu
saja di sini, coba lihat sesungguhnya apa
persoalannya?” ujar Liong Hui.
Tiba-tiba Ciok Tim menanggapi, “Kukira Toaso
tidak bermaksud menghendaki kita tinggal di sini,
cuma aku pun tidak tahu apa yang harus kita
lakukan.”
“Jika begitu, lebih baik kita … kita pulang saja,”
tukas So-so.
“Tampaknya Sumoay telah merindukan rumah,”
Giok-he berseloroh. “padahal kita tentu juga ingin
cepat pulang. Cuma kebetulan dapat kita temukan
petunjuk yang menyangkut diri Suhu, mana boleh
kita tinggalkan begini saja. Saat ini memang belum
diketahui sesungguhnya apa arti bekas kaki ini
serta rahasia apa yang terkandung di dalamnya,
tapi dapat kupastikan satu hal, yakni arah yang
ditunjuk ujung kakinya ini pasti arah kepergian
Suhu.”
“Jika begitu, marilah kita mengikuti arah yang
ditunjuk,” kata Ciok Tim.
“Setuju!” seru Liong Hui.
Giok-he tersenyum, segera Liong Hui
mendahului membelok ke arah kiri.
Pegunungan Hoa memang sunyi dan kelam,
jalan setapak ini terlebih curam dan sukar dilalui,
jika mereka tidak menguasai Ginkang yang tinggi
tentu satu langkah saja sulit meneruskan
perjalanan.
“Alangkah baiknya jika membawa obor,” gumam
Ciok Tim.
Kening Ong So-so tetap bekernyit, ia berjalan
dengan lesu. Mendadak ia mengertak gigi terus
melompat maju dan malah mendahului di depan
Liong Hui.
“Sumoay memang tidak mau kalah, coba lihat
dia ….”
Belum lanjut ucapan Giok-he, tiba-tiba So-so
berseru terkejut lagi. Menyusul Giok-he bertiga
juga bersuara kaget.
Kiranya tidak jauh di depan So-so sana
mendadak ada cahaya api, di tengah pegunungan
sepi ini, nyala api ini jelas buatan manusia.
Dengan terkejut mereka coba mengawasi depan
sana, tertampak di depan sebuah tebing menegak
mengadang jalan mereka. Karena nyala api itu
dirasakan seperti timbul mendadak, maka dinding
tebing itu scakan-akan juga muncul secara ajaib.
Dinding tebing itu ternyata halus licin, sama
sekali tidak ada tumbuhan apa pun. Waktu mereka
melongok ke atas, karena tidak tercapai oleh
cahaya api, bagian atas tebing kelihatan gelap
gulita sehingga sukar diraba betapa tingginya.
Angin mendesir, sinar api bergoyang menambah
seramnya keadaan.
Setelah tertegun dan ragu sejenak akhirnya Soso
mendekati tempat obor itu diikuti oleh Liong Hui
bertiga.
Jarak obor yang tidak jauh ini dirasakan oleh
mereka makan waktu sekian lamanya baru dapat
dicapai. Sesudah dekat baru terlihat jelas obor itu
terbuat dari empat tangkai kayu cemara yang
terikat menjadi satu.
Terkesiap Ciok Tim, “Hah, obor, ternyata ada
obor!”
Tadi dia menggerundel alangkah baiknya jika
ada obor, sekarang obor yang disebutnya benarbenar
muncul.
Liong Hui saling pandang sekejap dengan Giokhe
dengan melenggong.
“Jangan-jangan gerak-gerik kita telah … telah
diawasi orang?!” kata Liong Hui.
Giok-he berpikir sejenak, katanya kemudian,
“Urusan ini memang aneh, memangnya siapakah
yang mampu mengikuti kita secara diam-diam
tanpa ketahuan. Sesungguhnya apa maksud
tujuannya, kawan atau lawan? ….”
Ucapannya terhenti ketika ia memandang ke
arah dinding tebing yang licin itu, sebab mendadak
ditemukan sebaris tulisan yang sangat
mengejutkan di dinding tebing itu.
Semua orang ikut memandang ke sana dan
sama terkejut. Ternyata tulisan itu berbunyi:
“Liong Po-si, bagus sekali kedatanganmu! Di
ketinggian tebing sana ada tulisan yang ingin kau
baca, apakah kau berani naik ke sana?”
Tulisan yang bemada menantang, gaya tulisan
yang kuat!
Memangnya siapa yang berani menantang
terhadap Put-si-sin-liong yang namanya
menggetarkan dunia persilatan itu? Siapa yang
memiliki Lwekang selihai ini sehingga sanggup
meninggalkan ukiran tulisan di dinding batu yang
keras ini?
Liong Hui menarik napas dingin, ia coba
melompat maju untuk mengamati ukiran tulisan
yang luar biasa itu.
Sedangkan pandangan Kwe Giok-he lagi tertarik
oleh bagian lain daripada dinding tebing, yaitu
suatu tempat bersih agak jauh di sebelah sana, ia
termangu-mangu sejenak, tiba-tiba bergumam
perlahan, “Ucapanmu memang betul, Gote, Suhu
… Suhu memang benar tidak meninggal!”
Nadanya ternyata lebih banyak mengandung
rasa kecewa daripada rasa gembira, memangnya
dia kecewa akan urusan apa? Karena iri terhadap
kecerdikan Lamkiong Peng atau urusan lain? Tapi
apa pun juga dalam keadaan dan di tempat begini
tentu saja tidak ada orang yang memerhatikan
maksud yang terkandung dalam ucapannya itu.
Serentak Liong Hui bertanya dengan gembira
dan bersemangat, “Hah, kau bilang ucapan Gote
benar dan Suhu tidak meninggal dunia?”
Giok-he mengangguk sambil menuding bagian
batu gunung yang agak bersih sana, katanya, “Ya,
Suhu tidak meninggal, setiba di sini beliau melihat
tulisan ini, segera beliau menggunakan Ginkang
dan naik ke atas.”
Dia bicara dengan mantap scakan-akan melihat
sendiri apa yang terjadi, katanya pula, “Jika tulisan
yang terukir ini ditujukan kepada Suhu, dengan
sendirinya orang yang meninggalkan tulisan ini
sudah memperhitungkan Suhu pasti akan datang
kemari, dan kalau dipandang pada bagian tebing
ini, orang yang naik ke atas pasti tidak
menggunakan Kungfu sebangsa ‘cecak merayap
dinding’ segala, sebab Kungfu ini harus dilakukan
dengan merayap ke atas dengan punggung
menempel dinding. Tapi dari bekas telapak tangan
yang terlihat di sini jelas orang naik ke atas dengan
muka menghadap dinding. Kalian sama tahu, di
kolong langit ini hanya Kungfu ‘Sui-hun-hu’
(mengapung mengikuti awan) dari Sin-liong-bun
kita yang merupakan Ginkang mahahebat untuk
merayap ke atas dengan muka menghadap dinding.
Berdasarkan semua ini, orang yang mendaki ke
atas siapa lagi kalau bukan Suhu?!”
Serentak Liong Hui bersorak gembira, “Ya, Suhu
tidak meninggal ….”
Ciok Tim juga bergirang.
“O, Suhu tidak …” saking girangnya So-so lantas
menangis malah.
Sebaliknya Giok-he lantas menghela napas
menyesal.
“Jika Suhu jelas tidak meninggal, apa yang kau
sesalkan?” tanya Liong Hui.
“Kau tahu apa?” sahut Giok-he sambil
memandang lagi tulisan tadi, “Setiba di sini Suhu
memang tidak mengalami sesuatu, tapi setelah
beliau naik ke atas berarti akan menghadapi
bahaya, masakah tidak kau lihat bahwa semua mi
pada hakikatnya cuma sebuah perangkap.”
“Perangkap?” Liong Hui menegas.
“Ya, perangkap,” kata Giok-he. “Lebih dulu orang
menjangkitkan emosi dengan kata-katanya yang
menantang, lalu menyusutkan Lwekang Suhu,
kemudian memancingnya ke sini. Ketiga hal ini
satu per satu telah diatur dengan sangat rapi ….”
ia menghela napas pula dan menyambung,
“Pantaslah Suhu lantas terjebak.”
Seketika rasa girang Liong Hui bertiga berubah
menjadi khawatir lagi.
Dengan prihatin Ciok Tim berkata, “Jika
demikian, jadi keterangan nona she Yap yang
mengatakan Tan-hong sudah mati mungkin juga
dusta belaka.”
“Ya, sangat mungkin,” ujar Giok-he sambil
mengangguk. “Dengan alasan ini dia minta Suhu
menyusutkan Lwekangnya, juga berdasarkan ini
melemahkan pengaruh Suhu sehingga beliau
terpencil sendirian lalu dipancing lagi ke sini. Ai,
setiba di sini, menuruti watak beliau yang keras,
biarpun di depan sana sudah menanti gunung
golok dan lautan minyak mendidih juga akan
diterjangnya. Maka … maka beliau pun terjebak!”
Belum habis ucapannya, mendadak So-so
melompat ke kaki dinding tebing terus merayap ke
atas dengan cepat. Dipandang dari bawah, bajunya
mengembung perlahan ke atas sehingga mirip
gumpalan awan yang mengapung.
“Sumoay, biarkan aku saja yang naik ke sana!”
seru Ciok Tim sambil menyusul ke sana.
Namun So-so sudah cukup tinggi merayap ke
atas.
Giok-he lantas mencegah Ciok Tim, katanya,
“Tempat belasan tombak tingginya mungkin tidak
menjadi soal bagi Sumoay, jangan khawatir.
Biarkan Sumoay melihat apa yang tertulis di atas!”
Ciok Tim tidak membantah lagi, ia mendongak
ke atas dengan rasa khawatir.
Semakin tinggi semakin gelap, gerak tubuh Soso
juga mulai lamban.
“Sudah kau lihat sesuatu, Sumoay?” seru Giokhe
sambil menengadah.
“Ya, dapat kulihat dengan jelas,” jawab So-so.
“Hati-hati, Sumoay!” seru Ciok Tim.
So-so tidak menjawab.
“Setelah membaca lekas turun kemari,” seru
Giok-he pula.
Belum lenyap suaranya, dilihatnya So-so malah
merayap perlahan ke atas lagi.
“Ha, Sumoay, untuk apa naik ke atas lagi” teriak
Liong Hui. Sampai di sini mendadak ia menjerit
khawatir, “Wah, celaka!”
Tertampaklah tubuh So-so baru merayap sedikit
ke atas lantas tidak tahan lagi dan segera merosot
ke bawah.
Dengan khawatir Ciok Tim berlari maju dan siap
di bawah.
Liong Hui dan Giok-he juga berteriak, “Awas,
Sumoay!”
Sementara itu tubuh So-so sudah jatuh ke
bawah, meski dia berusaha mengimbangi dengan
Ginkangnya, tapi terperosot dari tempat setinggi itu
tetap sangat berbahaya.
Dengan memasang kuda-kuda yang kuat,
sepenuh tenaga Ciok Tim menahan tubuh So-so
yang anjlok ke bawah itu, ia tergetar mundur
sempoyongan, akhirnya dapat berdiri tegak lagi.
Siapa tahu begitu kaki menyentuh tanah, So-so
lantas mendorongnya sehingga Ciok Tim tertolak
dua-tiga tindak lagi, keruan ia melenggong, di
bawah cahaya obor kelihatan mukanya sebentar
merah sebentar pucat, jelas sangat tidak enak
perasaannya.
So-so memandangnya sekejap, mendadak
menghela napas dan menunduk, ucapnya
perlahan, “Maaf, terima kasih atas pertolonganmu!”
Hatinya bajik dan tidak suka melukai perasaan
orang lain, apalagi tindakan Ciok Tim itu adalah
karena ingin menolongnya, dengan sendirinya ia
merasa tidak enak juga.
Giok-he memandang kedua muda-mudi itu,
sedangkan Liong Hui sama sekali tidak
memerhatikan persoalan pelik antara anak muda
itu, ia lantas bertanya, “Sumoay, apa yang tertulis
di atas, kan sudah kau lihat dengan jelas?”
“Ya, sudah kulihat dengan jelas,” jawab So-so
lirih sambil mengangkat kepala, tampaknya sangat
kesal.
“Apa yang tertulis di sana?” tanya Liong Hui tak
sabar.
Perlahan So-so lantas menguraikan apa yang
dibacanya tadi, “Liong Po-si, engkau jadi naik ke
sini? Jika demikian jelaslah Kungfumu tidak
telantar. Turunlah kembali lurus ke bawah, lalu
melangkah tujuh belas tindak ke kiri, di kaki
tebing ada tetumbuhan akar-akaran, singkap
tetumbuhan itu akan terlihat celah-celah yang
cukup diterobos tubuh seorang, langsung masuk
ke sana, setiba di ujung dapatlah kau lihat diriku!
….”
So-so berhenti sejenak, tapi Liong Hui lantas
melangkah ke sebelah kiri sana sambil berhitung,
“Satu, dua, tiga ….”
Cepat So-so memanggilnya, “Nanti dulu, Toako,
masih ada ….”
“Ada apa? Maksudmu belum-habis tulisan yang
kau baca itu?” tanya Liong Hui sambil menoleh.
So-so mengangguk, “Ya, masih ada satu baris
yang berbunyi: Dan bila engkau masih ada sisa
tenaga, naik lima tombak lagi ke atas, di situ juga
ada tulisan, apakah kau ingin tahu?”
“Menuruti watak Suhu, biarpun mengadu jiwa
juga pasti akan naik ke atas,” ujar Giok-he dengan
gegetun.
“Tapi … tapi aku tidak sanggup lagi naik ke
atas!” ucap So-so dengan menunduk, tampaknya
sangat kecewa.
Liong Hui tertegun, katanya kemudian, “Ginkang
Sumoay jauh lebih hebat daripadaku, jika dia tidak
mampu naik ke atas apalagi aku.”
“Biar kucoba,” seru Ciok Tim.
“Ginkang Toaso lebih bagus daripadamu,
biarkan dia saja yang naik ke atas,” ujar Liong Hui.
“Tidak perlu dicoba lagi,” sela So-so, “Toaso juga
takkan mampu naik ke atas. Setelah mencapai
ketinggian sana, untuk merayap sejengkal lagi
rasanya terlebih sulit daripada merayap setombak
dari bawah sini, kalau ingin mendaki lima tombak
yang disebutkan itu, biarpun kulatih sepuluh
tahun lagi juga tidak sanggup.”
“Ya, dapat kupahami keteranganmu ini,” kata
Giok-he sambil mengangguk.
Hendaknya diketahui, Ginkang sebagai “cecak
merayap” dan “awan mengapung” segala itu pada
dasarnya cuma dorongan tenaga yang dikerahkan
seketika. Bilamana sudah mencapai ketinggian dari
tenaga yang dikerahkan, untuk naik lebih tinggi
lagi jelas sangat sulit.
Dengan sendirinya Liong Hui dan Ciok Tim juga
dapat memahami dalil ini.
“Lantas bagaimana?” tanya Liong Hui kemudian.
“Jika tidak ada jalan lain, betapa pun harus
kucoba!” ujar Ciok Tim.
“Bila tidak ada jalan lain, biarpun kau coba juga
percuma,” kata Giok-he. “Lebih baik kita periksa
celah-celah di sebelah kiri yang disebutnya itu.”
“Betul, harus kita periksa sesungguhnya
siapakah yang meninggalkan tulisan itu,” seru
Liong Hui.
Giok-he tersenyum, “Tanpa melihatnya juga
kutahu siapa dia.”
“Oo, memangnya siapa?” tanya Liong Hui.
“Kecuali Tan-hong Yap Jiu-pek masakah ada
orang lain? Selain Yap Jiu-pek masakah ada orang
berani bicara seketus itu terhadap Suhu?”
“Tapi … bukankah Yap Jiu-pek sudah mati?”
Liong Hui merasa sangsi.
“Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa semua
ini cuma perangkap saja,” kata Giok-he. “Cuma di
mana letak ujung tali jeratan ini sejauh ini belum
kita ketahui, kecuali … kecuali dapat kulihat
sebenarnya apa yang tertulis di tempat paling atas
sana.”
Belum lenyap suaranya sekonyong-konyong dari
ketinggian tebing yang tak terlihat jelas itu terjulur
seutas tali panjang.
Keruan So-so berempat berteriak kaget mereka
memandangi tali yang terjulur di depan mereka ini
dengan melongo dan tak dapat bersuara sampai
sekian lamanya.
Keempat orang itu saling pandang dengan sangsi
dan ngeri. Ternyata di atas tebing yang tak terlihat
jelas itu terdapat jejak manusia.
Dengan suara tertahan akhirnya Ciok Tim
berkata, “Yang melemparkan tali ke bawah ini
entah apakah juga orang yang menyalakan obor
ini?”
Giok-he mengangguk, “Ya, kukira orang yang
sama.”
Kening Ciok Tim bekernyit rapat, katanya pula,
“Tapi orang ini sebenarnya kawan atau lawan,
sungguh sukar untuk diraba. Jika maksud orang
ini tidak jahat, dengan sendirinya boleh kita naik
ke atas dengan memanjat tali, kalau sebaliknya …
wah, keadaan kita saat ini sungguh sangat
berbahaya.”
Giok-he tersenyum dan menggeleng, “Jika
dipandang dari kelihaian orang ini, jika dia
bermaksud membikin susah kita, untuk apa
membuang tenaga percuma cara begini?”
“Jika begitu biarlah kucoba naik dulu ke atas,”
sela So-so.
“Biar kutemanimu naik ke atas, jika terjadi apaapa
jadi dapat saling membantu,” tukas Ciok Tim,
agaknya dia telah melupakan kemungkinan
bahaya.
“Bukankah kau bilang berbahaya?” kata So-so,
tiba-tiba ia menyesal karena ucapannya terlalu
menyinggung perasaan, maka cepat ia
menyambung, “Jika ada bahayakan lebih baik
dihadapi seorang saja.”
Ciok Tim menunduk kikuk.
Giok-he lantas menyambung, “Sumoay sudah
naik satu kali, sekali ini biar aku saja yang naik ke
atas.”
“Betul, sekali ini giliran kita,” tukas Liong Hui.
Mendadak Ciok Tim membusungkan dada dan
berseru, “Biar kutemani Toaso ke atas!”
Agar kelihatan gagah berani di depan orang yang
dirindukannya, biarpun sekarang di atas sana
terpasang perangkap maut juga tak terpikir lagi
olehnya.
“Boleh juga Site ikut bersamaku,” ucap Giok-he.
Segera ia melompat ke atas setinggi dua tiga
tombak, diraihnya tali itu dengan kuat lalu ia
berpaling ke bawah dan berseru, “Toako, bila aku
jatuh harus kau tangkap diriku dengan baik!”
“Jangan khawatir,” segera Liong Hui siap
memasang kuda-kuda di bawah.
Waktu Ciok Tim ikut melompat ke atas, akhirnya
So-so berucap juga, “Hati-hati!”
Mesti lirih suaranya, namun cukup jelas
didengar Ciok Tim, seketika ia berbesar hati dan
semangat terbangkit, serunya, “Jangan khawatir!”
Di tengah remang malam kelihatan bayangannya
semakin cepat naik ke atas, hanya sebentar saja
lantas menghilang dalam kegelapan.
Liong Hui mendongak sampai sekian lama,
mendadak ia berkata, “Apakah tidak ada sesuatu
bahaya di atas?”
“Bukankah Toaso sudah bilang, kepandaian
orang itu jauh di atas kita, jika dia mau membikin
susah kita buat apa dia bersusah payah menjebak
kita,” ujar So-so.
“Tapi sudah sekian lama mereka tidak
kelihatan,” kata Liong Hui, segera ia berteriak,
“Hei, adakah kalian menemukan sesuatu.”
Namun suasana sunyi senyap tiada sesuatu
suara jawaban.
Bekernyit kening Liong Hui, gumamnya, “Wah,
masakah mereka tidak mendengar suaraku?”
Sekali ini dia berteriak terlebih keras sehingga
anak telinga So-so yang berdiri di sampingnya ikut
mendengung. Namun puncak karang di atas tetap
sunyi tanpa sesuatu jawaban, hanya desir angin
yang mengumandangkan suara Liong Hui itu ke
empat penjuru.
So-so juga mulai gelisah, ia sangsi, biarpun
puncak tebing ini sangat tinggi dan menjulang ke
tengah awan, namun sekeliling tiada barang
pengalang lain, masakah suara teriakan mereka
tidak terdengar.
Diam-diam ia berkhawatir bagi mereka, tapi
tidak berani diutarakannya. Ia coba melirik Liong
Hui, di bawah cahaya obor yang redup air muka
Liong Hui kelihatan juga berubah.
“Coba, kau bilang Toaso berdua takkan
menemukan bahaya, tapi … tapi mengapa mereka
tidak menjawab suaraku?” kata Liong Hui
kemudian.
So-so tidak tahu cara bagaimana harus
menjawab, sampai sekian lama baru ia menghela
napas perlahan dan berucap, “Jika ada bahaya
seharusnya mereka juga bersuara
memberitahukan kepada kita, tapi sampai
sekarang tetap tiada sesuatu gerak-gerik apa pun
di atas, sungguh sangat aneh ….”
“Ya, sungguh aneh,” tukas Liong Hui sambil
memegang tali panjang yang terjulur itu,
mendadak ia melenggong, tangan pun agak
gemetar.
So-so menjadi heran, “He, Toako, ada apa?”
Liong Hui berpaling dengan wajah penuh rasa
kejut dan khawatir, “Coba kau lihat!”
Berbareng tangannya bergerak, tali yang terjulur
itu dapat diayunnya hingga jauh seperti tidak
dibebani sesuatu.
Cepat So-so ikut memegang tali itu dan
digoyangkan dua-tiga kali, betul juga, di atas tidak
terasa diganduli sesuatu, dengan gugup ia
menyurut mundur dan mendongak ke atas,
ucapnya dengan suara gemetar, “Ya, mengapa tali
ini bebas lepas, ke … ke manakah mereka?”
“Bukankah kau bilang tidak ada bahaya?!” seru
Liong Hui dengan air muka kelam.
So-so tertegun, mendadak ia mengertak gigi dan
meloncat ke atas, dengan cepat ia pun merambat
ke atas ….
Kiranya tadi Ciok Tim terus ikut Giok-he
merambat ke atas dengan cepat dan gesit, hatinya
terasa hangat ketika mendengar pesan So-so
kepadanya agar hati-hati, ia pikir, “Betapa pun dia
tetap memerhatikan diriku.”
Karena itulah caranya merambat pun bertambah
semangat dan juga tambah cepat, ketika mencapai
belasan tombak tingginya, tiba-tiba terdengar Kwe
Giok-he berkata di atas, “Tulisan inilah yang dilihat
Sumoay tadi. Ai, daya ingatnya sungguh sangat
kuat, dia dapat menghafalkan tanpa kurang satu
huruf pun.”
“Ya, daya ingatnya memang hebat,” sahut Ciok
Tim,
Sekilas ia baca tulisan yang dimaksud di dinding
tebing, lalu merambat lagi ke atas dan diam-diam
membatin pula, “Betapa pun Sumoay tetap
memerhatikan diriku. Mesti terkadang dia suka
bersikap kasar padaku, hal itu hanya karena
kcangkuhan seorang gadis saja. Apa pun juga
sudah lima tahunan kami tinggal bersama,
mustahil dia tidak menaruh sesuatu perasaan
padaku?”
Berpikir demikian, tersembul juga senyuman
pada ujung mulutnya.
Selagi dia tenggelam dalam perasaan bahagia,
mendadak dahinya menyentuh sesuatu, ia terkejut
dan mendongak, kiranya kaki Kwe Giok-he.
Kaki yang bersepatu kain sutera hijau bersulam
bunga ungu kecil, indah dan serasi membungkus
kakinya yang putih, ujung sepatu yang agak
mencuat ke atas itu dihiasi sebiji mutiara mengilat.
Sekarang kedua biji mutiara itu tepat berada di
depan mata Ciok Tim, semacam bau harum yang
sukar dilukiskan sayup-sayup terbawa angin
tercium oleh hidung Ciok Tim.
Lebih ke atas lagi adalah ujung kaki celana yang
juga bersulam bunga kecil menutupi permukaan
kaki.
Seketika sorot mata Ciok Tim terhenti di situ.
Baru sekarang ia tahu sebab apa sang Toaso yang
kecantikannya termasyhur di dunia Kangouw ini
tidak suka memakai sepatu bersol tipis yang
biasanya digunakan orang perempuan kalangan
Kangouw atau sejenis sepatu yang bagian
bawahnya tersembunyi senjata tajam. Hal ini
serupa kebiasaan guru mereka yang tetap suka
memaki sepatu sol tebal yang biasa dipakai kaum
pembesar negeri itu. Hal ini disebabkan sepatu sol
tinggi dapat melambangkan kebesaran dan
kewibawaannya dan jelas-jelas menggariskan
perbedaannya dengan orang persilatan umumnya.
Hanya sepatu bersol tipis yang ringan inilah
dapat menonjolkan kcindahan kaki seorang
perempuan.
Melihat sepatu bagus dengan kaki yang indah
ini, seketika Ciok Tim jadi terkesima.
Tiba-tiba terdengar Giok-he menegur dengan
tertawa, “Apa yang kau lihat?”
Muka Ciok Tim menjadi merah.
“Lekas naik kemari dan bacalah tulisan di sini,”
terdengar Giok-he berseru lagi sambil merambat ke
atas.
Waktu Ciok Tim menengadah, dilihatnya di
tengah keremangan wajah yang cantik itu sedang
tersenyum kepadanya, dengan kikuk ia berdehem
dan menjawab, “Apa … apa yang tertulis di situ?”
“Naiklah dan baca sendiri,” kata Giok-he sambil
merapatkan tubuhnya ke dinding tebing,
Dengan begitu ada tempat luang untuk Ciok Tim
naik ke situ.
Segera Ciok Tim ikut merambat ke atas, ia tidak
berani memandang langsung kepada Giok-he, tapi
lantas membaca tulisan yang terukir di dinding, di
situ tertulis: “Liong Po-si, akhirnya kau datang juga
ke sini. Bagus sekali. Kungfumu memang tidak
telantar, kini jika kau naik lagi sedikit dan berjalan
lima belas langkah ke kanan juga terdapat sebuah
celah-celah, jalan tembus ini terlebih dekat, cuma
lebih sulit dilalui, namun bila engkau mendaki
tujuh tombak lagi ke atas akan kau temukan
sebuah jalan yang terlebih dekat, cuma engkau
jangan memaksakan kemauanmu untuk
menempuh jalan yang sukar ditempuh, ambil saja
jalan yang mudah dilalui, akhirnya kan tetap dapat
berjumpa denganku.”
Meski keadaan cukup kelam namun dapatlah
Ciok Tim membaca jelas dan cepat tulisan di
dinding itu. Malahan berbareng dengan itu
dirasakan bau harum pun semakin menusuk
hidung.
Tanpa terasa terkenang olehnya kejadian masa
lampau. Waktu itu dia baru masuk perguruan Sinliong,
baru berumur sepuluh, usia Kwe Giok-he
lebih tua dua-tiga tahun. Pada masa emas anakanak
mereka itu, meski berada di bawah asuhan
guru yang keras, mereka pun pemah bermain-main
sebagaimana layaknya anak-anak umumnya.
Karena pergaulan dekat dan teman bermain
setiap hari itu, diam-diam ia mencintai kakak
seperguruan yang lebih pintar dan juga lebih tua
dua tahun daripadanya itu. Cuma cinta itu boleh
dikatakan cinta suci mumi anak-anak, cinta antara
kakak dan adik, suci bersih tanpa noda, sampai
dia sudah agak lebih besar rasa cinta itu tetap
disimpannya di dalam hati.
Pada waktu dia berumur 15 barulah Ong So-so
juga masuk perguruan. Itulah suatu hari yang
cerah, biarpun kejadian itu sudah lima tahun
berselang, namun Ciok Tim masih ingat betapa
cemerlang cahaya bintang pada malam itu.
Malam itu Put-si-sin-liong Liong Po-si
mengadakan beberapa meja pesta dan
mengumumkan dua peristiwa menggembirakan,
pertama ialah diterimanya seorang murid
perempuan baru, kedua sekaligus diumumkan
perjodohan murid utamanya, yaitu Liong Hui
dengan murid kedua, Kwe Giok-he.
Pada malam itu juga diam-diam Ciok Tim
mengucurkan air mata di kamarnya sendiri. Sejak
itu sedapatnya dia ingin melupakan cintanya yang
suci mumi itu, sebab si dia sudah dipersunting
oleh Toasuheng yang dihormat dan diseganinya itu,
selanjutnya si dia telah menjadi Toaso (kakak ipar)
dan bukan lagi Suci (kakak guru) kecilnya, dia
terpaksa harus melupakan perasaannya itu.
Maka sedapatnya ia berusaha menjauhi si dia
serta menghindari bicara dengan mereka, karena
itulah lambat-laun Ciok Tim berubah menjadi
pendiam dan suka menyendiri.
Pada suatu pagi hari ketika mereka bertemu di
lapangan latihan, kebetulan Ciok Tim bertemu
sendirian dengan Giok-he, ia ingin
menghindarinya, tapi Giok-he sempat
memanggilnya dan menegur, “Mengapa akhir-akhir
ini engkau selalu menghindari diriku, memangnya
aku bukan lagi Suci cilikmu?”
Ciok Tim hanya menggeleng saja tanpa bicara
dan orang lain pun keburu datang. Untuk
seterusnya mereka pun tidak pemah bertemu
berduaan lagi, sampai kini ….
Kini peristiwa lampau scakan-akan terbayang
kembali dalam benak Ciok Tim, rasanya Kwe Giokhe
seperti menggelendot di sampingnya dengan
baunya yang harum itu dan membuatnya lupa si
dia adalah “Toaso”-nya.
Ketika ia berpaling, kedua orang beradu
pandang, tanpa terasa ia menghela napas dan
memanggil perlahan, “Siausuci ….”
Panggilan ini sangat perlahan, namun serupa
sepotong batu raksasa dilempar ke tengah laut dan
menimbulkan gelombang dalam hati Kwe Giok-he
yang tenang itu.
Giok-he mengerling sayu wajah Ciok Tim dan
entah apa yang terpikir olehnya, ia cuma perlahan
meraba sekali muka Ciok Tim dan berkata,
“Engkau agak kurus!”
Bergolak juga hati Ciok Tim, namun di luarnya
sedapatnya ia berlagak tenang, katanya, “Suhu …
Suhu tentu naik ke atas!”
Ia tidak berani memandangnya lagi, tapi lantas
mendahului merambat tali ke atas.
Jarak yang tidak sampai sepuluh tombak itu
dengan cepat dapat dicapainya. Di atas memang
sudah sampai ujungnya, tanpa pikir ia melompat
ke atas, puncak tebing ini sungguh sangat aneh,
lapang, datar, serupa ditabas oleh senjata tajam.
Selagi Ciok Tim merasa heran, tiba-tiba dari
belakang sudah berjangkit bisikan Giok-he yang
perlahan, mana Ciok Tim berani menoleh, meski
timbul juga hasratnya, namun dia tetap
memandang lurus ke depan.
Angin meniup menerbangkan rambut di pelipis
Giok-he ke tepi telinga dan bawah dagu Ciok Tim,
terdengar keluhan Giok-he perlahan, “Kutahu sejak
kuikut Toakomu, senantiasa engkau lantas
menghindari diriku. Hari itu waktu kita bertemu di
tempat latihan, bahkan engkau tidak berani bicara
padaku, mengapa engkau tidak berani bicara
padaku, mengapa engkau tidak serupa dulu ….”
Pada saat itulah terdengar gema suara Liong Hui
dari bawah, “Adakah melihat sesuatu di atas?!”
Ciok Tim terkesiap dan berpaling, seketika
bibirnya menyentuh ujung mulut Giok-he yang
manis dan hangat.
Keduanya tidak bersuara, juga tidak bergerak
lagi, keduanya tidak ada yang menjawab suara
Liong Hui itu.
Giok-he mengembus napas panjang dan berbisik
pula, “Apakah masih ingat waktu di bawah pohon
mangga di belakang perkampungan dahulu ….”
Ciok Tim mengangguk, “Ya, waktu itu ku …
kupeluk dirimu dan minta engkau bermain
pengantin baru denganku ….”
“Kau minta aku menjadi mempelai perempuan
dan masuk kamar pengantin bersamamu, tapi aku
tidak mau ….”
“Ya kau bilang usiamu lebih tua daripadaku,
hanya dapat menjadi Ciciku dan tidak dapat
menjadi pengantinku ….”
“Dan lantas kau peluk diriku, kau paksa dan ….
dan aku ….”
Sekonyong-konyong terdengar lagi bentakan dari
bawah, “Hei, kalian mendengar suaraku tidak?”
Hati Ciok Tim terkesiap pula, mendadak
dirasakan bibir yang hangat menyentuh bibirnya
…. Lalu terdengar Giok-he berkata pula perlahan,
“Waktu itu serupa sekarang ini, engkau telah
mencium aku ….”
“Namun kemudian engkau menikah dengan
Toako dan menjadi Toaso ….” ia tidak bergerak,
sebab pergolakan darah panas anak muda
membuatnya hampir tidak tahan.
“Meski kunikah dengan Toakomu, tapi ….
masakah engkau tidak tahu hatiku?”
“Hati … hatimu ….”
“Dalam hal apa aku tidak membelamu?
Terkadang aku pun ikut bicara bagimu bila ucapan
Sumoay terlalu keras padamu, masakah engkau
tidak tahu sebab apa aku berbuat demikian?”
“Jika … jika begitu, mengapa engkau mau
menikah dengan Toako?” tanya Ciok Tim.
Giok-he mengerling sendu, ucapnya lirih,
“Usiaku lebih tua, juga Sucimu, sekalipun aku
mau menikah denganmu juga takkan diluluskan
oleh Suhu.”
“Semula kukira engkau ingin menjadi istri murid
pewaris Sin-liong-bun, karena ingin berkuasa
mewarisi Ci-hau-san-ceng kelak, maka engkau
menikah dengan Toako, sebab … sebab kutahu
benar watakmu sama sekali berbeda daripada
pribadi Toako yang keras itu.”
Air muka Giok-he tampak berubah, seperti isi
hatinya tepat kena diungkap orang, serupa juga
orang yang merasa penasaran, ia menghela napas
panjang dan bertanya, “Apa benar semula engkau
berpikir demikian.”
“Ya, tapi sekarang kutahu pikiranku itu keliru,”
jawab Ciok Tim sambil mengangguk.
Giok-he tersenyum, mendadak ia berbisik lagi,
“Meski kita tidak dapat menjadi suami-istri, tapi …
tapi selanjutnya kalau setiap saat kita masih dapat
ber … bertemu, kan sama saja.”
Terguncang juga perasaan Ciok Tim, ia pandang
orang dengan termangu, sampai sekian lama napas
pun scakan-akan terhenti.
Mendadak terdengar lagi kumandang suara di
bawah, “Sumoay, mungkin ada bahaya di atas,
biarlah aku naik dulu!”
Ciok Tim terkejut, cepat ia melompat mundur
dan berdiri di samping sepotong batu karang di
tepi puncak tebing itu.
Hampir pada saat yang sama bayangan Ong Soso
yang ramping pun melayang ke atas, menyusul
tubuh Liong Hui yang kekar juga melompat tiba.
Di bawah cahaya bintang sorot mata keempat
orang saling pandang sekejap, masing-masing
sama mengunjuk rasa tercengang. Dengan
sendirinya pada sorot mata Ciok Tim juga tertampil
rasa kikuk dan takut.
Liong Hui dan So-so sama bersuara heran,
“Kiranya kalian baik-baik saja di atas?!” ucap Liong
Hui.
Ketika dilihatnya Ciok Tim berdiri di sana
dengan sikap kikuk, betapa pun lugasnya Liong
Hui timbul juga rasa curiganya, “Ada apa kalian?”
Giok-he lantas menarik muka, “Aneh
pertanyaaanmu ini, memangnya kau kira ada
apa?”
“Seruanku dari … dari bawah tadi masa tidak
kalian dengar?” tanya Liong Hui dengan agak
tergagap.
“Tentu saja dengar,” jawab Giok-he.
“Jika dengar mengapa tidak menjawab, bikin
cemas orang saja,” keluh Liong Hui dengan
menyesal.
“Huh, kau linglung, masakah orang lain harus
ikut linglung?” jengek Giok-he.
“Aku linglung apa?” tanya Liong Hui dengan
melongo.
“Masa kau lupa betapa bahaya keadaan kita,
musuh di tempat gelap dan kita di tempat yang
terang, tapi engkau sengaja gembar-gembor,
memangnya kau khawatir musuh tidak tahu
tempat kita berada dan sengaja memberitahukan
padanya? Huh masih berani kau tegur, kami
segala?”
Liong Hui tercengang, akhirnya menunduk.
“Ai, memang pikiran Toaso jauh lebih cermat
daripada kita,” ucap So-so dengan gegetun.
Rasa gugup Ciok Tim tadi sudah mulai tenang
kembali, namun air mukanya lantas bertambah
kecut. Terhadap Giok-he selain kagum juga timbul
rasa takutnya. Sungguh tak terpikir olehnya
seorang sudah berbuat dosa malah berani
mengomeli orang lain.
Terhadap Liong Hui timbul juga rasa kasihan
dan juga malunya, dilihatnya Liong Hui menunduk
sejenak, mendadak mendekatinya dan tepuk-tepuk
bahunya sambil berucap, “Maafkan kesalahanku.”
Berdetak hati Ciok Tim, sahutnya dengan
gelagapan, “Meng … mengapa Toako minta maaf
padaku? ….”
“Tadi aku salah mengomelimu,” ujar Liong Hui
dengan menyesal. “Meski tidak kukatakan terus
terang, sebenarnya dalam hatiku agak curiga. Ai,
aku pantas mampus, masakah mencurigaimu.”
Ciok Tim terkesima, darah panas bergolak hebat
dalam rongga dadanya, menghadapi lelaki yang
tulus, jujur dan berjiwa terbuka ini, sungguh ia
merayakan dirinya sendiri sedemikian kecilnya,
sedemikian kotor, dengan gelagapan ia menjawab,
“O, Toako … aku … aku yang ….”
Belum lanjut ucapannya, mendadak Giok-he
melompat maju dan berseru, “Di antara saudara
sendiri, jika terjadi salah paham, asal sudah jelas
persoalannya, apa pula yang perlu dikatakan lagi.”
“Betul aku takkan banyak omong lagi,” kata
Liong Hui sambil memegang pundak Ciok Tim, tapi
mendadak ia berteriak pula sambil memandang ke
belakang Ciok Tim dengan tercengang, “Hei, apa
ini?”
Dengan kaget Ciok Tim berpaling, maka
terlihatlah pada batu karang di belakangnya itu
terukir gambar seorang perempuan berdandan
sebagai pendeta To, rambutnya disanggul tinggi di
atas kepala dan pakai tusuk kundai hitam, berdiri
tegak dengan tangan kiri lurus ke bawah dan jari
tengah dan telunjuk agak menjengkat ke atas.
Sedangkan tangan kanan memegang pedang
dengan ujung pedang agak serong ke bawah,
mukanya jelas serupa hidup, pakaiannya
dilukiskan berkibar serupa sedang menari.
Dipandang di tengah remang malam seperti
perempuan hidup berdiri di depanmu.
Di samping gambar terdapat pula beberapa baris
tulisan, waktu diamati, tulisan itu berbunyi: “Liong
Po-si, Kungfumu bertambah maju lagi. Akan tetapi
dapatkah kau patahkan juru seranganku ini?
Kalau dapat, maju lebih lanjut, jika tidak mampu,
segera kembali?”
Liong Hui mengawasi gambar itu sekian lama,
mendadak ia mendengus, “Huh, aku saja mampu
mematahkan jurus serangan ini, apalagi Suhu?”
“Nada tulisan ini sedemikian angkuh, tapi jurus
yang diperlihatkan ini tampaknya tiada sesuatu
yang luar biasa, jangan-jangan ada keajaiban di
balik tulisan ini,” ujar Ciok Tim.
Tiba-tiba So-so menukas, “Jurus serangan yang
kelihatan biasa ini pasti mengandung keajaiban
yang tidak dipahami kita.”
“Ya, setiap jurus serangan yang kelihatan biasa
saja sesungguhnya semakin lihai dan sukar
diduga,” kata Giok-he, ia merandek sejenak lalu
menyambung dengan tersenyum, “Sudah sekian
lama kalian memandangnya, adakah kalian
melihat sesuatu keistimewaan pada gambar ini?”
Liong Hui memandang lagi beberapa kejap,
katanya, “Pedang terhunus dan siap menyerang,
seharusnya kaki pasang kuda-kuda yang tepat,
tapi kedua kaki Tokoh (pendeta perempuan agama
To) ini berdiri dengan ujung kaki menatap di
depan, sungguh janggal kuda-kudanya ini.”
“Betul, inilah salah satu keistimewaannya,” kata
Giok-he.
Dada Liong Hui membusung terlebih tinggi,
wajah pun berseri-seri, sambungnya lagi, “Dia
berdandan sebagai Tokoh, tapi sepatu yang
dipakainya serupa sepatu orang lelaki, ini pun
sangat janggal.”
“Dandanan tidak ada sangkut pautnya dengan
ilmu pedang, ini tidak masuk hitungan,” ujar Giokhe
dengan tertawa.
“Mengapa tidak masuk hitungan, dandanan yang
tidak benar menandakan jiwanya tidak baik, ilmu
pedangnya juga pasti tidak mumi, ilmu pedang
yang tidak bersih mana dapat memperlihatkan
keampuhan dan mengalahkan musuh,” kata Liong
Hui dengan serius.
“Baik, baik, boleh juga dihitung ….”
“Dengan sendirinya harus dihitung,” kata Liong
Hui dengan mantap. So-so juga mengangguk, “Ya,
ilmu pedang yang tidak bersih, biarpun dapat
menjagoi dunia seketika juga tidak tercatat dalam
sejarah. Ucapan Toako memang beralasan.”
“Memang betul,” sambung Ciok Tim. “sejak dulu
hingga kini sudah banyak juga contohnya. Lihat
saja ilmu pedang perguruan Siau-lim dan Bu-tong
yang turun-temurun entah sudah berapa angkatan
dan sampai sekarang masih tetap dipuji.
Sebaliknya berbagai macam ilmu pedang yang
pemah menjagoi dunia persilatan karena kekejian
dan keganasannya, sampai sekarang hanya
namanya saja masih dikenal, namun bekasnya
sudah menghilang, ucapan Sumoay sungguh ….”
“Sudah cukup bicaramu?” mendadak Giok-he
memotong dengan kurang senang. Ciok Tim
melengak.
Maka Giok-he menyambung lagi, “Sungguh aku
tidak mengerti dalam keadaan demikian dan di
tempat begini kalian bisa mengobrol iseng, kalau
mau mengobrol selanjutnya kan masih banyak
waktu, kenapa kalian mesti terburu-buru.”
Muka So-so menjadi merah juga dan tanpa
terasa menunduk.
Dengan tersenyum lalu Giok-he berkata lagi,
“Kecuali kedua segi yang disebutkan Toako tadi ….”
“Tiga segi,” sela Liong Hui.
“Baik, kecuali ketiga segi ini, apa lagi yang kalian
lihat?” tukas Giok-he dengan tertawa.
Ciok Tim mengangkat kepala, meski memandang
ke arah gambar, padahal pandangannya kabur
tidak melihat sesuatu.
Perlahan So-so bicara, “Kulihat titik yang paling
aneh terletak pada matanya, mata perempuan ini
terukir terpejam, padahal mana bisa jadi
memejamkan mata pada waktu bertempur dengan
orang?”
Dia bicara tanpa mengangkat kepala, mungkin
karena hal ini sudah dilihatinya sejak tadi, hanya
sejauh ini belum dikemukakannya.
“Betapa pun memang Sumoay lebih cermat,” ujar
Liong Hui dengan gegetun.
“Betul juga.” kata Giok-he. “Semula aku pun
menganggap hal ini sangat aneh, tapi setelah
kupikirkan lagi, kurasa sebabnya dia memejamkan
mata sangat beralasan, bahkan merupakan titik
paling lihai daripada jurus serangannya ini.”
“Mengapa begitu?” tanya Liong Hui dan Ciok Tim
berbareng.
“Jurus serangannya ini mengutamakan
ketenangan, sebaliknya setiap orang persilatan
tahu Thian-liong-cap-jit-sik (tujuh belas gerakan
naga langit) perguruan kita mengutamakan
kedahsyatan serangan, terutama empat jurus
terakhir, banyak gerak perubahannya sehingga
lawan sukar menahannya. Tapi gambar orang
perempuan ini hanya meluruskan pedangnya ….”
“Karena pedangnya cuma bergerak lurus
sehingga lawan pun sukar mengetahui bagaimana
gerak lanjutannya,” tukas So-so. “Sama halnya
orang menulis, jika pensilnya cuma menggores
satu garis, siapa pun tidak tahu apa yang akan
ditulisnya, tapi bila dia menggores melingkar atau
sesuatu awalan huruf, orang lantas tahu huruf apa
yang akan ditulisnya.”
“Haha, meski sejak mula kutahu dalil ini, tapi
sukar untuk kujelaskan, setelah diuraikan
Sumoay, semuanya menjadi jelas, perumpamaan
Sumoay dengan menulis memang sangat tepat,”
kata Liong Hui dengan tertawa.
“Ya, Sumoay memang lebih pintar daripada
kalian,” ujar Giok-he.
“Ah, Toaso ….” So-so menunduk malu.
“Tapi ingin kutanya padamu, adakah kau lihat
bagaimana gerak lanjutan dari pada pedangnya
ini?” tanya Giok-he.
So-so berpikir sejenak, jawabnya kemudian,
“Meski tidak banyak pengetahuanku, tapi menurut
hematku, gerak pedangnya ini dapat menimbulkan
tujuh gerak perubahan.”
“Ketujuh gerak perubahan apa?” tanya Giok-he.
Ciok Tim dari Liong Hui juga sama pasang telinga.
“Jurus serangannya ini tak jelas berasal dari
ilmu pedang aliran mana,” kata So-so, “Tapi jelas
dapat berubah menjadi jurus Gan-loh-peng-sah
(burung belibis hinggap di rawa) dari ilmu pedang
Bu-tong-pay.”
“Betul, asal ujung pedangnya berputar ke kiri
akan jadilah jurus Gan-loh-pang-sah,” tukas Giokhe.
Kening Liong Hui bekernyit rapat, dan
mengangguk.
Lalu So-so menyambung lagi, “Dan bila ujung
pedangnya menyontek ke atas, akan jadi jurus Liuji-
ging-hong (ranting pohon menyongsong angin)
dari Tiam-jong-pay. Kalau pergelangan tangannya
berputar ke bawah, jadilah jurus Kong-jiok-kaypeng
(burung merak membentang sayap) dari Gobi-
pay.”
Bertutur sampai di sini, nadanya mulai
emosional.
Giok-he tersenyum dan berkata, “Bicaralah
perlahan, tidak perlu tergesa.”
So-so menarik napas, lalu menyambung,
“Kecuali itu, dapat juga berubah menjadi …
menjadi jurus ….”
Di bawah cahaya bintang yang suram kelihatan
wajah Ong So-so berkerut-kerut, meringis
kesakitan.
“He, Sumoay, ken … kenapa?” tanya Ciok Tim
kaget.
Dada So-so tampak berjumbul naik-turun,
setelah menarik napas, air mukanya mulai tenang
kembali, katanya, “O, tidak … tidak apa-apa, cuma
… cuma dada agak sakit, sekarang sudah baik.”
“Dan apa keempat gerak perubahan yang lain?”
tanya Giok-he dengan tersenyum.
“Jurus perubahan lain adalah Koay-hun-loanmoa
(memotong tali kusut dengan cepat) dari
Thian-san-pay, Giok-tiang-hun-po (pentung kemala
menembus ombak) dari Kun-lun-pay, Lip-coan-imyang
(memutar balik gelap menjadi terang) dari
Siau-lim-pay dan jurus Tho-li-ceng-jun (dua
saudara berebut rezeki) dari Sam-hoa-kiam-hoat
tinggalan pendekar pedang Sam-hoa-kiam-khek
dahulu.”
Air mukanya sudah tenang kembali, namun
sorot matanya masih menampilkan rasa sakit,
seperti enggan bertutur pula, tapi terpaksa
melanjutkan.
Liong Hui menghela napas, katanya, “Sumoay,
sungguh tidak nyana pengetahuan ilmu silatmu
seluas ini, mungkin sebelum masuk perguruan kita
engkau sudah banyak belajar Kungfu perguruan
lain?”
“Ah, mana … tidak ….” sahut So-so dengan
gelagapan.
“Mara tidak, aku tidak percaya,” ujar Liong Hui.
Ia memandang sang istri dan berkata pula, “Aku
justru tidak melihat ada gerak perubahan-begitu,
apakah kau lihat?”
“Aku juga tidak,” sahut Giok-he sambil
menggeleng, “aku cuma tahu kemungkinan akan
berubah menjadi jurus Gan-loh-peng-sah dari Butong-
pay dan Lip-coan-im-yang dari Siau-lim-pay,
selebihnya aku tidak dapat melihatnya.
Maklumlah, aku sendiri tidak pemah lihat Samhoa-
kiam-hoat dan juga ilmu pedang dari Thiansan-
pay dan Tiam-jong-pay, dengan sendirinya
tidak tahu kemungkinan akan berubah pada jurus
serangan ilmu pedang tersebut.”
Liong Hui menarik muka, dengan sorot mata
tajam ia tanya So-so, “Dari mana kau belajar ilmu
pedang sebanyak itu?”
“Ya, aku pun rada heran,” sambung Giok-he.
Ciok Tim juga memandang So-so dengan penuh
tanda tanya. Wajah So-so kelihatan rada pucat
dengan sinar mata gemerdep seperti
menyembunyikan sesuatu rahasia.
Maka Giok-he berkata pula, “Pada waktu
Sumoay mengangkat guru aku sudah merasa
heran. Coba Toako, apakah ingat siapa yang
memasukkan Sumoay ke perguruan kita?”
“Ya, kutahu, yang memasukkan dia ialah Suma
Tiong-thian, pemimpin umum Ang-ki-piaukiok
(perusahaan mengawal panji merah) yang terkenal
dengan tombak besi dan panji merah menggetar
Tiongeiu (negeri tengah) itu,” jawab Liong Hui.
“Betul,” kata Giok-he. “Namun Sumacongpiauthau
juga tidak menjelaskan asal-usulnya,
Suhu hanya diberi tahu bahwa Sumoay adalah
putri seorang sahabatnya. Suhu adalah orang jujur
dan percaya penuh kepada sahabat sendiri, maka
tidak pemah bertanya tentang asal-usul Sumoay”
Meski senyuman tetap menghias wajahnya,
namun senyuman yang tidak bermaksud baik,
sorot matanya juga terkadang melirik Ciok Tim dan
lain saat melirik So-so.
Air muka So-so kelihatan pucat, jari tangan pun
rada gemetar.
Dengan tersenyum Giok-he bicara pula, “Sekian
tahun kita berkumpul, hubungan kita laksana
saudara sekandung, akan tetapi terhadap keadaan
Sumoay sekarang mau tak mau aku ….”
“Meski aku tidak dapat menikah denganmu,
asalkan selanjutnya kita dapat bertemu setiap saat
kan sama saja,” mendadak So-so menukasnya
seperti bergumam.
Serentak berubah air muka Giok-he dan Ciok
Tim, tanpa terasa Ciok Tim menyurut mundur
selangkah.
“Apa katamu, Sumoay?” tanya Liong Hui dengan
bingung,
“Oo, tidak … aku omong tanpa sengaja ….” jawab
So-so dengan tergagap.
“Dia tidak omong apa-apa,” sambung Giok-he
dengan tertawa sambil melangkah maju. Segera
So-so menyurut mundur.
Tentu saja Liong Hui sangat heran, “Sebenarnya
ada apa?”
Mendadak Giok-he berkata dengan tertawa, “Ai,
kita memang terlalu, pekerjaan penting tidak kita
urus, sebaliknya mengobrol iseng di sini. Tentang
asal-usul Sumoay, kalau Suhu tidak tanya dan
tidak khawatir, kenapa kita mesti merisaukannya.
Kan banyak murid Sin-liong-bun yang belajar
dengan membekal kepandaian, Kungfu apa yang
pemah dilatih Sumoay sebelum masuk perguruan
kan tidak menjadi soal?”
“Aku kan tidak bilang ada soal, cuma ….” Liong
Hui tambah bingung.
“Ai, untuk apa kau bicara lagi,” omel Giok-he.
“Jika asal-usul Sumoay kurang beres, berdasarkan
kehormatan pribadi Suma-congpiauthau pun jauh
lebih dari cukup untuk dipercayai.”
“Namun ….”
“Namun apalagi? Ayolah kita mencari Suhu!”
seru Giok-he sambil menarik tangan So-so dan
diajak menuju ke balik batu karang sana.
Diam-diam Ciok Tim kebat-kebit, tidak kepalang
kusut pikirannya. Sekarang diketahuinya bahwa
apa yang dibicarakannya dengan Kwe Giok-he tadi
telah didengar oleh So-so. Keruan pikirannya
tertekan dan memandangi bayangan punggung si
nona yang baru menghilang di balik batu karang
sana.
Hanya Liong Hui saja yang berwatak jujur dan
serba terbuka, sama sekali ia tidak melihat
perbuatan jahat di dalam urusan ini. Ia cuma
melenggong saja dan coba bertanya, “Samte,
sesungguhnya ada apa?”
“Aku pun tidak tahu,” Ciok Tim menunduk,
sungguh ia merasa malu bertatap muka dengan
sang Suheng yang jujur dan suka terus terang ini.
Setelah tercengang sejenak, mendadak Liong Hui
bergelak tertawa, “Haha, urusan anak perempuan
sungguh sangat membingungkan. Sudahlah, aku
pun tidak mau pusing mengurusnya.”
Lalu berpaling kepada Ciok Tim dan berkata
pula, “Samte, ingin kukatakan padamu, betapa
pun memang lebih tenteram dan bebas hidup
bujangan. Sekali engkau tersangkut urusan orang
perempuan, bisa pusing kepalamu.”
Kagum, hormat dan juga malu Ciok Tim
terhadap Suheng yang polos ini, ia tahu biarpun
ada rasa curiga dalam benak lelaki yang lugu ini
sekarang pun sudah lenyap terbawa oleh gelak
tertawanya itu.
Meski hati merasa lega, namun diam-diam Ciok
Tim tampak malu diri.
Saat itu Giok-he dan So-so telah membelok ke
balik batu besar sana, mendadak Giok-he berhenti.
“Ai, ada apa, Toaso?” tanya So-so.
“Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu
permainanmu,” jengek Giok-he.
“Apa yang Toaso maksudkan, sungguh aku tidak
tahu?” jawab So-so dengan agak keder juga
terhadap sang Toaso yang berwibawa ini.
Bola mata Giok-he berputar, ucapnya, “Sesudah
turun nanti, bila mereka sudah tidur aku akan
bicara denganmu.”
“Boleh,” sahut So-so.
Tiba-tiba terlihat Liong Hui dan Ciok Tim
menyusul tiba.
Sesudah dekat, Liong Hui bersuara heran, “He,
apa yang kalian lakukan di sini?”
“Memangnya kau kira kami datang ke sini untuk
mencari angin?” ujar Giok-he dengan tersenyum.
Belum habis ucapannya tiba-tiba Liong Hui
berseru pula, “Hah, kiranya di sini juga ada
tulisan.”
Kiranya di situ tertulis: “Liong Po-si, jika cuma
tujuh gerak perubahan ini yang dapat kau lihat,
lebih baik lekas kau pulang saja.”
Setelah membaca tulisan itu, Liong Hui jadi
melenggong. Kiranya perubahan jurus ini tidak
cuma tujuh macam saja.
Dalam pada itu Ciok Tim juga sudah mendekat,
katanya sambil menatap tulisan di dinding itu,
“Gan-loh-peng-sah, Lip-coan-im-yang …. Hah,
ketujuh gerak perubahan yang disebut Sumoay
tadi ternyata cocok dengan tulisan di sini.”
“Sungguh sukar dipercaya hanya sejurus yang
sederhana ini bisa membawa gerak perubahan
lebih dari tujuh macam,” gerutu Liong Hui.
Tiba-tiba terlihat di samping tulisan ini masih
ada beberapa huruf lagi, cuma ukiran ini lebih
cetek, juga kurang teratur, bila tidak diperhatikan
sukar menemukannya.
“He, bukankah ini tulisan tangan Suhu?” seru
Giok-he.
“Betul,” tukas So-so.
Serentak keempat orang berkerumun lebih
dekat, tertampak di situ tertulis, “Dengan pedang
sebagai senjata utama, dibantu dengan kaki, ilmu
pedang sakti, tendangan negeri asing, untuk
mematahkan jurus serangan ini, cara yang tepat
adalah lain daripada cara biasa.”
Kecuali tulisan tersebut, ada lagi tulisan lain
yang lebih kasar lagi dan berbunyi, “Kebagusan
jurus seranganmu ini terletak pada lengan kirimu
yang merapat pada tubuhmu serta sepatu aneh
yang kau pakai ini, memangnya kau kira aku tidak
tahu. Hahaha ….”
“Haha, coba lihat, kehebatan jurus serangan ini
justru terletak pada sepatunya yang aneh, tadi kau
bilang dandanannya tidak ada sangkut pautnya
dengan ilmu pedang,” Liong Hui juga tertawa
senang.
Kening Ciok Tim bekernyit, gumamnya, “Untuk
mematahkan jurus ini harus memakai cara lain
daripada cara biasa …. Apa artinya kata-kata ini?”
Giok-he melirik Liong Hui sekejap, lalu
memandang Ciok Tim pula, katanya, “Letak
kehebatan ilmu padang ini rasanya sukar
dipecahkan biarpun kita peras otak tiga hari tiga
malam lagi.”
“Tapi aku ….” kata Liong Hui.
“Biarpun secara kebetulan dapat kau terka
sebagian, tapi dapatkah kau ketahui di mana letak
keajaiban sepatunya ini?” potong Giok-he.
Liong Hui jadi melenggong.
“Masih ada sesuatu yang mencurigakan, tapi
tidak kalian lihat,” kata Giok-he.
“Hal apa?” tanya Liong Hui.
“Dapatkah kalian menerka cara bagaimana
huruf ini ditulis di sini?”
“Seperti dengan tenaga jari,” ujar Ciok Tim
setelah mengamati lagi.
“Ini kan tidak perlu diherankan, tenaga jari
Suhu memang mahakuat,” kata Liong Hui.
“Hm, bagaimana dengan kau?” jengek Giok-he.
“Aku mana sanggup,” sahut Liong Hui.
“Setelah Suhu menyusutkan tenaganya tujuan
bagian, kekuatannya bukankah sebanding
denganmu?”
“Ah, betul,” seru Liong Hui sambil menepuk dahi
sendiri. “Jika begitu, pada waktu menulis ini
kekuatan Suhu tentu sudah pulih. Sungguh aneh
dan sukar dimengerti? Dalam keadaan begini dan
di tempat seperti ini siapakah yang membuka Hiatto
Suhu yang tertutuk itu?”
Giok-he menghela napas, lalu bertutur, “Urusan
bertanding Kungfu sebenarnya adalah kejadian
biasa, sebelum mendaki Hoa-san kukira urusan ini
pasti tidak ada sesuatu keajaiban meski ada
bahayanya juga. Tapi setelah naik ke atas gunung,
setiap kejadian yang kita lihat ternyata melampaui
kewajaran umum, dari zaman dulu hingga
sekarang rasanya tidak ada urusan pertandingan
yang lebih aneh daripada apa yang kita alami ini.”
Ia berhenti sejenak dan memandang
sekelilingnya, lalu menyambung, “Perempuan she
Yap itu menggunakan berbagai jalan agar Suhu
mau menyusutkan tenaga dalam sendiri dan Suhu
ternyata menyanggupi, begitu saja, inilah kejadian
aneh yang belum pemah terdengar di dunia
persilatan. Lalu si Tojin berjubah hijau yang
berusaha rebut sebuah peti mati kosong juga tidak
kurang anehnya. Semua ini sudah membuat
hatiku tidak enak, siapa tahu kemudian timbul lagi
hal-hal aneh yang lebih banyak lagi. Jika
kupikirkan sekarang, di balik pertandingan di Hoasan
ini pasti terkandung macam-macam lika-liku
dan rahasia, bisa jadi ada sementara orang telah
mengatur rencana sekian lama dan memasang
sesuatu perangkap untuk menjebak Suhu, tapi
Tan-hong Yap Jiu-pek yang ditonjolkan sebagai
pelakunya. Coba kalian pikirkan ….”
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong
Liong Hui berlari ke depan sana.
“He, ada apa?” seru Giok-he.
Liong Hui menjawab sambil menoleh, “Kita
sudah berada di sini, biarpun bicara tiga hari lagi
juga tidak ada gunanya, yang penting lekas kita
mencari dan membantu Suhu. Pantaslah Suhu
suka bilang engkau memang pintar, cuma terlalu
banyak bicara dan sedikit berbuat.”
Air muka Giok-he berubah kecut.
“Tunggu, Toako?” seru So-so dan segera ikut
berlari ke sana.
Ciok Tim ragu sejenak dan memandang Giok-he
sekejap, lalu menyusul juga ke sana.
Giok-he mencibir memandangi bayangan
punggung mereka, cepat ia pun menyusulnya,
Siapa tahu, mendadak Liong Hui berhenti lagi.
Kiranya beberapa tombak jauhnya di depan situ
terdapat lagi sepotong batu karang dan juga terukir
gambar seorang Tokoh, hanya gayanya agak
berbeda. Jika gambar yang pertama tadi bergaya
bertahan, gambar yang ini bergaya menyerang.
Juga gambar yang pertama berdiri kukuh, gambar
yang ini mengapung di udara dengan pedang
menebas, lalu di samping gambar ada tulisan:
“Liong Po-si, jika jurus bertahan tadi dapat kau
patahkan, dapatkah kau hindarkan jurus serangan
ini?”
Liong Hui hanya membaca sekadarnya dan
segera memutar lagi ke sana, benar juga, di
belakang batu ada tulisan lagi.
“Huh, lagu lama!” jengek Ciok Tim yang
menyusul tiba.
“Untuk apa membacanya?” Liong Hui pun
mengejek dan segera mendahului melangkah lagi
ke depan.
Sementara itu Giok-he telah menyusul sampai di
sebelah sang suami. Liong Hui memandangnya
sekejap sambil menghela napas, katanya, “Tadi aku
telanjur omong, jangan kau marah padaku.”
Giok-he seperti mau bicara, tapi segera terlihat
ada gambar lagi di batu karang di depan sana,
cuma gambarnya sudah dirusak orang, batu kerikil
bertebaran di sekitar situ.
Liong Hui saling pandang sekejap dengan Giokhe,
waktu ia memutar lagi ke balik batu, tulisan di
belakang juga telah dirusak dan tak terbaca lagi.
Kening Liong Hui bekernyit, “Suhu ….”
“Ya, selain Suhu siapa pun tidak memiliki
Lwekang sehebat ini,” kata Giok-he.
“Mengapa beliau berbuat demikian, mungkinkah
beliau tidak … tidak mampu mematahkan jurus
serangan ini?” ucap Liong Hui setengah bergumam.
Giok-he hanya menggeleng tanpa bicara, mereka
coba menuju ke depan lagi, tanah batu mulai
curam, beberapa tombak lagi jauhnya kembali
sepotong batu karang mengadang di depan, di atas
batu ada tulisan besar: “Kakek usia 61 Liong Po-si
berdendang sampai di sini!”
Tulisan ini jelas terukir dengan tenaga jari, di
bawahnya terdapat lagi empat huruf yang
mengejutkan, bunyinya: “Tidak pulang untuk
selamanya!”
Goresan keempat huruf ini tidak sama dengan
tulisan di atas, goresannya lebih halus, tenaganya
lebih tajam, jelas diukir dengan senjata sebangsa
pedang atau golok.
Dengan beringas mendadak Liong Hui
menghantam, “blang”, batu kerikil munerat, Liong
Hui juga tergetar mundur dan jatuh terduduk.
Meski dia terkenal Sebagai “Si kepalan besi”, apa
pun juga tubuhnya terdiri dari darah dan daging.
“Ai, kenapa kau marah terhadap sepotong batu,
simpan tenaga saja untuk menghadapi musuh
nanti,” kata Giok-he sambil menarik bangun sang
suami.
“Hm, kau ….” karena mendongkol Liong Hui jadi
tidak sanggup bicara.
Segera Giok-he mendahului menuju ke depan
sana.
“Toako sangat baik terhadap siapa pun,
terutama terhadap Toaso,” kata So-so sambil
melirik Ciok Tim sekejap.
Muka Ciok Tim menjadi merah dan menunduk.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara
seruan Giok-he di balik batu sana, cepat mereka
memburu maju.
Di balik batu karang ini adalah tepi jurang,
justru di tepi tebing yang curam ini dibangun
sebuah gubuk bambu secara gaib. Wama bambu
sudah berubah kuning kering, waktu angin meniup
bambu lantas menerbitkan suara keriat-keriut dan
bergoyang seperti mau runtuh.
Di depan pintu gubuk tidak ada sesuatu tanda
apa pun, di kanan kiri juga tidak ada sesuatu
hiasan, gubuk ini berdiri menyendiri di puncak
tebing yang terjal.
Liong Hui berhenti di samping Giok-he dengan
melenggong, mendadak ia berteriak, “Suhu!”
Secepat kilat ia menerjang maju dan mendorong
pintu gubuk.
“Toako! ….” seru Ciok Tim khawatir dan segera
bermaksud menyusulnya.
Tapi Giok-he lantas menarik baju Ciok Tim dan
berkata, “Tunggu dulu!”
“Tunggu apa?” jengek So-so. “Jika Toako
menghadapi bahaya apakah kita juga mesti
menunggu?”
Dia bicara dengan tajam, nona yang lembut ini
mendadak bisa bicara ketus begini, hal ini
membikin Giok-he jadi terkesiap. Tanpa
menghiraukan orang lagi segera So-so memburu
maju.
Dilihatnya Liong Hui berdiri di ambang pintu
dengan termangu, di dalam rumah gubuk tiada
terlihat seorang pun, yang aneh adalah di tengah
rumah gubuk yang luang ini terlihat ada lima biji
mutiara, gubuk ini ada empat pintu, tiga comot
noda darah, dua bekas kaki dan sebuah kasur
bundar yang biasa digunakan orang berduduk
semadi.
Kelima biji mutiara terbingkai di atap rumah
yang dianyam dengan bambu hijau, keempat buah
pintu tidak sama besarnya, pintu tempat Liong Hui
masuk itu paling kecil dan sukar dimasuki dua
orang berjajar.
Di kanan kiri gubuk juga ada pintu yang lebih
besar, sedangkan pintu yang terbesar berada di
seberang Liong Hui berdiri, dan kasur bundar yang
sudah butut itu terletak di depan pintu.
Yang paling tidak sepadan dengan kelima butir
mutiara mestika itu adalah kasur butut ini, kasur
bundar ini sudah pipih saking lamanya dipakai, di
samping kasur tua inilah terdapat tiga comot darah
segar, secomot darah segar itu terletak di samping
bekas telapak kaki sana.
Bekas darah lain terletak di sebelah kiri bekas
kaki dan ada lagi bekas darah di belakang kasur
butut, dari situ ada lagi tetesan darah yang menuju
ke pintu paling besar itu. Sedangkan daun pintu
semuanya tertutup rapat sehingga orang yang
semula berada di dalam gubuk ini seolah-olah
menerobos keluar begitu saja melalui celah bambu.
Ketika angin meniup masuk melalui celah
bambu, tanpa terasa Liong Hui menggigil, di bawah
cahaya mutiara yang kontras suasana demikian
terasa cukup seram, semuanya serba misterius,
terutama tiga comot darah itu semakin menambah
seramnya keadaan rumah gubuk ini.
Setelah melenggong sejenak, mendadak Liong
Hui melompat ke pintu sebelah kiri, pintu
ditariknya terbuka, tertampaklah sebuah jalan
berliku menuju ke bawah tebing.
So-so juga coba membuka pintu sebelah kanan,
di luar juga terdapat sebuah jalan berliku menuju
ke bawah. Lebar jalan berliku ini sama sempitnya,
hanya berbeda derajat kelandaiannya.
Tiba-tiba terpikir oleh Liong Hui, “Kedua jalan ini
mungkin adalah jalan yang dimaksudkan pada
tulisan di dinding tebing tadi. Tempat tujuan cuma
satu, tapi jalan untuk mencapainya ada tiga,
tentulah penghuni rumah gubuk ini sengaja
menggunakan cara ini untuk menjajaki Kungfu
Suhu, begitu beliau masuk rumah gubuk ini, tanpa
bergebrak pun penghuni di sini sudah dapat
mengukur sampai di mana kelihaian Kungfu
Suhu.”
Hendaklah maklum, watak Liong Hui cuma jujur
dan lugu, tapi bukan bodoh, meski ceroboh, tapi
tidak kasar. Dalam hal-hal tertentu bukannya dia
tidak mengerti melainkan cuma tidak mau
menggunakan pikiran saja.
Kini setelah dipikirnya berulang, mau tak mau ia
menjadi prihatin, pikirnya pula, “Jika penghuni
gubuk ini ialah Yap Jiu-pek, mengingat
hubungannya dengan Suhu serta kedudukannya di
dunia persilatan, tentu dia takkan menjebak Suhu
dengan cara licik dan keji. Lantas apa maksud
tujuannya berbuat demikian? Bila penghuni gubuk
ini bukan Yap Jiu-pek, lalu siapa lagi? Melihat
kasur butut ini, dia pasti sudah lama tinggal di
sini, bangunan gubuk bambu ini juga sangat
kasar, bahkan hujan angin pun tidak tahan ….”
Begitulah dia terus berpikir kian kemari dan
tetap tidak menemukan kesimpulan. Dilihatnya Soso
telah mendekati pintu yang paling besar itu,
segera ia hendak membuka pintu.
Sambil memandang bayangan punggung So-so,
Giok-he menjengek dengan suara tertahan, “Hm,
apa yang diketahui genduk ini sudah terlalu
banyak ….”
“Jika Toaso tahu ….” suara Ciok Tim menjadi
gemetar dan tidak sanggup meneruskan.
“Orang yang tahu terlalu banyak terkadang suka
mengalami bencana tiba-tiba,” gumam Giok-he.
Sekilas lirik Ciok Tim melihat sorot mata Giok-he
penuh nafsu membunuh, tanpa terasa ia berseru,
“Toaso ….”
Giok-he menoleh, ucapnya, “Aku masih tetap
Toasomu?”
“Aku … aku takut ….” Ciok Tim menunduk dan
bergemetar.
Mendadak Giok-he tertawa cerah, ucapnya
dengan lembut, “Takut apa? Tidak perlu takut,
biarpun banyak yang diketahuinya pasti tak berani
disiarkannya sepatah kata pun.”
“Tapi ….” Ciok Tim tampak ragu.
“Jangan khawatir, ia sendiri pun ada rahasia
yang tidak ingin diketahui orang lain, asalkan
kugunakan sedikit akal lagi …. Hmk!” jengek Giokhe
dengan menyeringai.
Ciok Tim termangu memandangi wajahnya yang
cantik itu, entah bingung dan entah takut.
Sekonyong-konyong terdengar jeritan So-so di
dalam rumah gubuk itu.
“Lekas!” seru Giok-he sambil mendahului
menerobos ke dalam gubuk.
Dilihatnya So-so berdiri di samping Liong Hui
menghadapi sebuah pintu yang besar dan sama
menunduk ke bawah. Di ambang pintu situ ada
sebuah telapak tangan kurus kering berwama
hitam.
Dari celah kaki Liong Hui dan So-so dapatlah
Giok-he dan Ciok Tim melihat tangan yang kurus
kering itu mencengkeram erat ambang pintu
terbuat dari bambu, kuku jari sama amblas ke
dalam bambu, kuku yang putih kelabu terembes
darah.
Cepat Giok-he memburu maju dan menyelinap
ke tengah Liong Hui dan So-so, serunya, “He, sia …
siapakah dia?”
Di luar sana adalah tebing yang terjal dengan
gumpalan awan membelit di pinggang tebing,
sesosok tubuh yang kurus kering tampak
bergelantungan di luar pintu, bilamana tangannya
tidak meraih ambang pintu, mungkin sudah
terjerumus ke jurang yang tak terkirakan
dalamnya.
Orang ini mendongak ke atas, matanya melotot,
kulit daging pada wajahnya berkerut dan beringas,
penuh rasa dendam dan juga memohon, rasa
dendam dan memohon sebelum ajalnya ini lantas
terukir pada wajahnya lantaran membekunya
darah dan otot daging, serupa juga telapak
tangannya yang masih tetap mencengkeram
ambang pintu sebelum dia mati.
Liong Hui berempat memandangi wajah yang
beringas ini dengan tercengang, sampai sekian
lama barulah Liong Hui bersuara, “Dia sudah
mati!”
Lalu ia berjongkok untuk menarik mayat ini ke
atas setelah lebih dulu jari orang yang
mencengkeram ambang pintu itu dilepaskan,
mayat itu lantas diletakkan di lantai.
Tertampaklah tubuhnya yang kurus kering itu
memakai baju hitam ringkas, meski wajah
beringas, namun jelas usianya belum lanjut,
paling-paling baru 30-an tahun saja.
Perlahan Liong Hui meraba kelopak mata orang
yang tak terpejam sampai mati itu, ucapnya
dengan menyesal, “Entah siapa orang ini, mestinya
dari dia dapat diketahui ….”
“Coba geledah bajunya, mungkin ada barang
tinggalannya,” tukas, Giok-he.
“Jangan,” seru Liong Hui sambil berdiri, “kita
tidak kenal dia, juga tidak ada permusuhan apa
pun, sekalipun dia musuh kita juga tidak boleh
mengganggu jenazahnya setelah, dia mati. Selama
hidup Suhu bertindak luhur dan tetap
mempertahankan kehormatannya, mana boleh kita
mengingkari beliau dan bertindak kurang
bijaksana begini?”
Sekali ini dia bicara dengan tegas dan mantap
tak terbantahkan.
Terpaksa Giok-he mengalah, “Baiklah menurut
padamu!”
Ciok Tim berdehem, lalu berkata, “Menurut
tanda-tanda yang terlihat sepanjang jalan, jelas
Suhu sudah datang ke sini. Cukup dilihat dari
tapak kaki ini saja kan jelas bekas kaki beliau ….
Jika tenaga Suhu sudah pulih, maka bekas kaki
yang kita lihat di bawah sana pasti juga tinggalan
beliau. Namun, lantas ke mana perginya Suhu
sekarang?”
Dia seperti bergumam dan juga lagi bertanya
akan pendapat orang. Tapi tidak seorang pun yang
menjawabnya. Seketika ia jadi termangu sendiri.
Di tengah kesunyian kemudian Ciok Tim
bergumam pula, “Di sini ada tiga comot genangan
darah, dapat dibayangkan yang terluka di sini
tidak cuma satu orang saja, sebaliknya pada mayat
ini tidak terlihat luka, lantas siapakah yang terluka
dan siapa pula yang melukainya? ….”
“Toako,” So-so ikut bicara. “Untuk mencari jejak
Suhu, kalau kita tidak memeriksa orang ini ….”
“Tidak, justru demi kebesaran Suhu, kita tidak
boleh berbuat sesuatu yang memalukan beliau.”
ucap Liong Hui dengan tegas. “Sumoay, kutahu,
biarpun banyak urusan yang dapat diperbuat
seorang tanpa diketahui orang lain, tapi hati
nurani sendiri tetap tercela, bahkan menanggung
sesal selama hidup. Misalnya menemukan harta
karun atas kehilangan orang lain, menemui
perempuan cantik di ruang tersendiri, melihat
musuh terancam bahaya, semua ini adalah batu
ujian bagi hati nurani setiap orang. Sebabnya
orang jahat zaman ini sedemikian banyak adalah
karena pada waktu orang melakukan kejahatan
selalu berusaha di luar tahu orang lain dan tidak
mau tahu apakah tidak malu terhadap hati nurani
sendiri. Sumoay, kita adalah anak murid pendekar
luhur budi, mana boleh berbuat sesuatu yang
melanggar hati nurani?!”
Dia bicara dengan perlahan, mantap dan tegas,
meski bicara terhadap So-so, tapi juga seperti lagi
memperingatkan yang lain.
Tangan Ciok Tim terasa gemetar, darah bergolak
dalam rongga dadanya, mendadak ia berseru,
“Toako, aku … aku ingin bicara padamu ….
Sungguh aku ….”
Ia tidak sanggup bicara lebih lanjut, air mata
berlinang dan menyurut mundur dengan
menunduk. Sesal dan malu hatinya membuatnya
tidak berani mengangkat kepala sehingga tidak
diketahuinya wajah Ong So-so yang jauh lebih
menderita daripadanya itu.
Hati So-so seperti terlebih menanggung malu
daripada Ciok Tim, bahkan air matanya lantas
menitik.
Keruan Liong Hui tercengang, “Hei, kenapa
menangis, Sumoay?”
So-so mendekap mukanya dan meratap, “Toako,
aku … aku bersalah padamu, berdosa terhadap
Suhu ….” mendadak ia menuding mayat yang
kurus kering itu dan berkata, “Sebenarnya kukenal
orang ini, aku pun kenal banyak orang lain lagi,
juga banyak urusan kuketahui ….”
Karena rangsangan emosi sehingga ucapannya
menjadi agak kacau.
“Bicaralah perlahan, Sumoay, ada urusan apa
boleh kau katakan saja kepada Toako,” ucap Liong
Hui.
Ciok Tim terbelalak melihat perubahan sikap Soso
itu, sinar mata Giok-he juga gemerdep, tampak
agak gugup.
Perlahan So-so lantas menyambung, “Toako, kau
tahu sesungguhnya segenap anggota keluargaku
adalah musuh bebuyutan Suhu, semuanya
dendam dan ingin membunuh Suhu. Sebabnya
kumasuk ke perguruan Sin-liong juga karena
bermaksud menuntut balas terhadap Put-si-sinliong
atas kematian anggota keluargaku.”
Ia berganti napas, lalu melanjutkan, “Aku tidak
she Ong, juga tidak bemama So-so, yang benar aku
bemama Koh Ih-hong, keturunan Coat-ceng-kiam
Koh Siau-thian yang tewas di bawah pedang Put-sisin-
liong.”
Belum habis ucapannya tubuhnya lantas
terhuyung-huyung dan begitu berhenti bicara
segera ia jatuh terduduk di atas kasur buntut dan
dekil itu. Dalam sekejap itu dia telah kehilangan
beribu kati tekanan batin yang ditahannya selama
ini, perubahan besar ini sukar ditahan oleh lahirbatinnya
sehingga ia jatuh terkulai di tanah,
sampai sekian lama …. lalu ia menangis lagi.
Namun tekanan batin itu dengan keras kini telah
memukul hati Ciok Tim dan Kwe Giok-he.
Sungguh tak terpikir oleh Ciok Tim bahwa
Sisumoay yang biasanya lemah lembut itu
sesungguhnya adalah agen rahasia musuh yang
mengemban tugas sedemikian besar, lebih-lebih
tak terpikir olehnya bahwa Sisumoaynya yang
paling disayang dan berhubungan paling rapat
dengan sang guru sebenarnya adalah putri musuh
yang menanggung dendam kesumat terhadap
gurunya itu.
Seketika ia terbelalak dan menyurut mundur ke
sudut sana sambil memandang So-so dengan
melongo.
Meski sebelumnya Giok-he juga sudah dapat
menduga asal-usul So-so pasti ada sesuatu rahasia
yang belum terungkap, tapi tak terduga olehnya
gadis yang kelihatan lemah ini mempunyai
keberanian untuk membeberkan rahasia
pribadinya.
Mestinya Giok-he bermaksud menggunakan
rahasia orang untuk memerasnya, tapi sekarang
terasa timbul rasa ngeri dalam hatinya, sebab
modal yang diandalkannya sekarang telah berubah
tidak berguna sama sekali. Jika So-so berani
membeberkan rahasia pribadi sendiri, mustahil dia
tidak berani membongkar rahasia hubunganku
dengan Ciok Tim?
Rasa ngeri yang timbul dari lubuk hatinya ini
membuat Kwe Giok-he yang biasanya cerdas dan
cekatan itu menjadi bingung dan berubah menjadi
lemah, mukanya menjadi pusat dan sampai sekian
lama tidak sanggup bicara.
Hanya Liong Hui saja, sekarang ia berbalik jauh
lebih tenang daripada biasanya, perlahan ia
mendekati Ong So-so alias Koh Ih-hong, ia
menghela napas dan membelai rambutnya
perlahan, tidak sedih juga tidak marah, ia
memanggil lirih, “Sumoay ….”
Namun panggilan yang lirih ini membuat hati
Koh Ih-hong bertambah pedih dan haru. Dengan
menangis ia bertutur pula, “Empat puluh tahun
yang lalu, kakek pulang dengan terluka parah dan
akhirnya meninggal dunia. Kasihan ayahku yang
tidak tahan oleh pukulan berat ini, beliau sangat
berduka dan akhirnya kurang waras pikirannya,
sepanjang hari dia cuma berduduk mengelamun di
bawah pohon di depan rumah, apa pun tidak
dikerjakan dan juga tidak bicara, berulang-ulang
ayah cuma bergumam apa yang diucapkan kakek
sebelum mengembuskan napas penghabisan, yaitu
kata, ‘Apabila jurus seranganku Thian-ce-keng-hun
(mengejutkan arwah di ujung langit) lebih keras
sedikit ….’ Kata-kata inilah berulang-ulang
disebutnya. Sejak aku mulai tahu urusan aku
selalu mendengar gumaman ayah itu sampai
meninggalnya ayah. Hatiku sangat sedih setiap kali
mendengar ayah mengulangi kata-kata itu.”
Suaranya semakin lemah dan agak gemetar,
Liong Hui mengikuti ceritanya itu dengan cermat.
Mendadak Giok-he seperti mau bicara, tapi segera
dicegah oleh Liong Hui.
Terdengar Koh Ih-hong menyambung lagi,
“Dendam kesumat selama 40 tahun ini, membuat
hati setiap anggota keluarga kami tak pemah lupa
untuk menuntut balas, setiap saat mereka
berusaha memperdalam kepandaian, sebab mereka
pun tahu Kungfu Put-si-sin-liong kini sudah tidak
ada tandingannya di dunia ini.”
Ia memandang kegelapan malam di luar dan
berucap pula, “Sang waktu terus berlalu dengan
cepat dan kami tetap tidak tahu cara bagaimana
harus menuntut balas. Sebab itulah dendam
kesumat ini pun kian hari kian tambah mendalam.
Ayah-bundaku loksun (sakit tebece) karena
menanggung dendam tak terbalas ini dan tersia-sia
hidupnya, selama hidup mereka merana dan tidak
pemah gembira.”
Air matanya bercucuran dan tak diusapnya.
Darah Liong Hui bergolak, sungguh sukar
dibayangkan seorang yang hidup tanpa senyum
gembira, tanpa kebahagiaan keluarga, yang ada
cuma dendam dan menuntut balas, betapa pedih
dan menakutkan kehidupan demikian?
Dengan tersendat Koh Ih-hong menyambung lagi
ceritanya, “Waktu ayah-bundaku meninggal usiaku
masih kecil, famili yang dapat kuandalkan cuma
kakak saja, tapi setengah tahun kemudian kakak
juga pergi secara mendadak, maka setiap hari aku
pun duduk melamun di bawah pohon yang biasa
diduduki ayah itu untuk menunggu pulangnya
kakak dan merenung sakit hati ayah, hidupnya
tidak pemah mendapatkan cinta kasih, tapi telah
belajar cara bagaimana mendendam dan menuntut
balas ….”
Hati Liong Hui tergetar, dapat dibayangkan
betapa merana anak yang dibesarkan di tengah
keluarga yang penuh dendam itu. Kehidupan anak
itu sendiri sudah cukup dibuat berduka.
Namun So-so alias Ih-hong menyambung lagi,
“Setahun kemudian kakak pun pulang, dia
membawa pulang sekian banyak sahabatnya,
meski rata-rata usia mereka masih muda, tapi
bentuk rupa dan dandanan mereka sangat berbeda
satu sama lain, logat bicara mereka juga jelas
bukan datang dari suatu tempat yang sama.
Namun mereka sama mahir ilmu silat, meski tinggi
rendah Kungfu mereka juga tidak sama, namun
selisihnya tidak jauh. Kakak pun tidak
memperkenalkan mereka kepadaku dan langsung
membawa mereka ke sebuah ruangan rahasia,
selama tiga hari mereka tidak keluar, selama tiga
hari itu entah apa yang mereka bicarakan dan
entah berapa banyak arak yang telah mereka
minum ….”
Tangisnya mulai reda, suaranya juga mulai jelas,
cuma sorot matanya tetap buram serupa orang
yang tenggelam dalam lamunan masa lalu, masa
lalu yang memilukan.
“Tiga hari kemudian,” sambungnya, “aku
menjadi tidak tahan. Kucoba mencuri dengar di
luar pintu ruang rahasia itu, siapa tahu
kelakuanku telah diketahui orang di dalam dan
pintu mendadak terbuka. Aku terkejut, kulihat
seorang tinggi kurus berdiri di depan pintu, begitu
tinggi perawakannya sehingga kepalanya hampir
menyundul kosen pintu, mukanya juga pucat pasi.
Aku ketakutan dan ingin lari, siapa tahu baru saja
aku bergerak segera terpegang olehnya, gerak
tangannya sungguh secepat kilat.”
Liong Hui berkerut kening, pikirnya, “Janganjangan
kakaknya mencari bala bantuan untuk
menuntut balas?”
Terdengar Koh Ih-hong menyambung lagi,
“Waktu itu kurasakan tangannya sekuat tanggam
menjepit tanganku, untung kakak lantas keluar
dan memberitahukan dia siapa diriku. Kemudian
baru kutahu dia adalah Boh-hun-jiu (si tangan
pembelah langit) yang disegani di dunia persilatan.
Ayahnya juga dikalahkan Put-si-sin-liong dan
hidup merana. Kecuali dia, semua orang yang
berkumpul di ruang rahasia situ juga keturunan
musuh Put-si-sin-liong, semula mereka tersebar di
berbagai tempat dari tidak saling kenal, tapi kakak
telah menghubungi mereka satu per satu dan
dikumpulkan.”
Kening Liong Hui bekernyit lagi, pikirnya, “Jika
demikian, tentu kakaknya juga tokoh yang lihai,
mengapa tidak terkenal di dunia persilatan?”
“Begitulah mereka telah berunding secara
rahasia selama tiga hari dan memutuskan
beberapa hal penting, pertama, akan berusaha
mengirim diriku ke dalam perguruan Sin-liong-bun
untuk mengawasi gerak-gerik Put-si-sin-liong serta
belajar Kungfunya, jika ada kesempatan juga ….”
“Jika ada kesempatan Suhu akan kau bunuh,
begitu bukan?” tanya Giok-he.
Dengan perasaan tertekan Ciok Tim menatap
Koh Ih-hong dan dilihatnya nona itu mengangguk
dan berkata, “Ya, memang betul.”
Alis Giok-he menegak, bentaknya. “Dosa
berkhianat terhadap perguruan tidak
terampunkan, untuk apa orang semacam ini
dibiarkan hidup?!”
Segera ia menubruk maju dan bermaksud
menghantam batok kepala Koh Ih-hong, dia sudah
bertekad akan membunuhnya untuk menjaga
segala kemungkinan, maka pukulannya ini tidak
kenal ampun sedikit pun.
Siapa tahu mendadak Liong Hui lantas
menangkisnya sambil membentak, “Nanti dulu!”
Giok-he tercengang dan tergetar mundur,
dengan gusar ia menegur, “Toako, kenapa kau ….”
“Toaso,” kata Koh Ih-hong dengan tenang, “jika
hari ini kubeberkan seluk-beluk urusan ini,
sebelumnya aku memang sudah siap untuk mati
bila perlu, maka hendaknya Toaso jangan tergesagesa
bertindak.”
Tangisnya sudah berhenti malah dan berkata
dengan sangat tenang, sambungnya, “Jika aku
tidak dapat berbakti kepada ayah-bunda, juga
tidak setia terhadap perguruan, bagiku memang
tiada pilihan lain lagi kecuali mati. Selama
beberapa tahun ini boleh dikatakan Suhu sangat
baik padaku, tapi semakin beliau baik padaku,
semakin sedih hatiku. Tidak cuma satu kali saja
ingin kubeberkan persoalan ini kepada beliau
secara terus terang, namun ….”
Ia menghela napas panjang, lalu menyambung,
“Namun aku juga tidak dapat melupakan wajah
ayah sebelum mengembuskan napasnya yang
terakhir.”
“Selama ini apakah engkau tidak pemah berbuat
sesuatu yang mengkhianati perguruan?” tanya
Giok-he dengan tajam.
Koh Ih-hong menjawab dengan menunduk,
“Selama beberapa tahun ini aku memang sering
berbuat hal-hal yang berkhianat, tidak cuma satu
kali saja kuberi tahukan kepada kakak atau orang
suruhannya rahasia ilmu silat yang kubelajar dari
Suhu.”
“Hm, masa cuma itu saja?” jengek Giok-he.
“Juga pada pertandingan di Hoa-san ini aku pun
tahu komplotan kakak telah merancang perangkap
di sini.”
“Tapi hal ini sama sekali tidak kau katakan
kepada Suhu!” jengek Giok-he.
“Tidak kukatakan sebab antara budi dan
dendam mempunyai bobot yang sama di dalam
hatiku,” kata Koh Ih-hong. Mendadak ia
mendongak dan bertanya kepada Liong Hui,
“Toako, jika engkau menjadi diriku, apa yang akan
kau lakukan?”
Kening Liong Hui berkerut, air mula kelam dan
tidak menjawab.
Koh Ih-hong menuding mayat yang menggeletak
di lantai itu dan berkata pula, “Orang ini adalah
keturunan keluarga Peng yang juga menjadi
korban pedang Suhu. Dia, kakak, ada lagi Bohhun-
jiu dari Kun-lun-pay dan murid Tiam-jong-pay
serta keturunan keluarga Liu, merekalah yang
merencanakan perangkap di Hoa-san ini, untuk itu
entah berapa banyak tenaga dan pikiran yang telah
mereka peras.”
“Dan sekarang terkabul juga cita-cita kalian,
Suhu … Suhu benar telah ….” sampai di sini Giokhe
tidak sanggup meneruskan lagi, ia mendekap
muka sendiri dan menangis.
Kembali Ih-hong menunduk, air mata pun
bercucuran pula, ratapnya, “O, Tuhan, mengapa
aku dilahirkan menjadi keturunan Coat-ceng-kiam,
lalu membuatku utang budi terhadap Put-si-sinliong
…. O, Thian, betapa pedih rasa hatiku setiap
kali setelah aku berbuat khianat terhadap Suhu,
tapi … tapi jika hal itu tidak kulakukan,
bagaimana pula aku harus berbakti terhadap
kakek, terhadap ayah ….”
Karena terharu, Ciok Tim juga menitikkan air
mata.
Mendadak Giok-he mengusap air mata dan
membentak, “Jika kau tahu sukar lagi berbakti
terhadap orang tua dan tidak setia terhadap
perguruan, untuk apa lagi hidup di dunia ini?”
“Untuk apa lagi hidup di dunia ini,” Ih-hong
mengulang kata-kata itu dengan pedih, kembali ia
menengadah, memandang kegelapan malam di luar
dengan nanar, serupa lagi memandang kejap
terakhir atas kehidupan yang terasa berat
ditinggalkan ini.
Habis itu mendadak ia meraba bajunya, belati
naga emas dilolosnya dan secepat kilat menikam ke
ulu hati sendiri sembari meratap pula, “Suhu,
Toako, maafkan dosaku ….”
Syukurlah pada detik terakhir itu mendadak
Liong Hui membentak dan tangan keburu
mengetuk pergelangan tangan Koh Ih-hong yang
memegang belati itu, “trang” belati tergetar jatuh.
“Apa maksudmu ini?” bentak Giok-he dengan
beringas. “Apakah sengaja hendak kau bela murid
durhaka ini?”
Hendaknya maklum, menurut hukum
persilatan, dosa yang paling besar adalah
berdurhaka terhadap perguruan. Murid yang
khianat dianggap tak terampunkan dan setiap
orang Kangouw boleh membunuhnya, sekalipun
sanak famili juga tidak berani membelanya.
Dengan sendirinya sekarang Kwe Giok-he
beralasan untuk menyalahkan sikap Liong Hui
yang lunak terhadap Koh Ih-hong.
Liong Hui kelihatan prihatin, dipegangnya
tangan Koh Ih-hong, tanpa memandang Giok-he
lagi ia berkata, “Sumoay, janganlah terburu nafsu,
dengarkan dulu ….”
“Apa yang ingin kau omong lagi? ….” potong
Giok-he, karena merasa bersalah, ia berharap
orang yang mengetahui rahasia perbuatannya ini
lekas mati saja.
Tak terduga mendadak Liong Hui berpaling dan
membentaknya, “Diam!”
Bentakan keras ini membuat Giok-he
melenggong, mukanya berubah pucat. Sejak
menikah hingga sekarang belum pemah Liong Hui
bersikap keras padanya, selalu menurut dan
memanjakan dia. Tapi sekarang sang suami
membentaknya sebengis ini, tentu saja hatinya
kebat-kebit, disangkanya mungkin Liong Hui telah
mengetahui perbuatannya yang tercela itu.
Koh Ih-hong tampak menggigit bibir, air mata
bercucuran, ratapnya sedih, “Toako, aku memang
pantas mampus, perkataan Toaso memang benar,
selama ini aku telah menipu Suhu meski beliau
sangat baik padaku ….”
Liong Hui menarik napas panjang, katanya
kemudian, “Tidak, engkau tidak menipu beliau.”
Giok-he, Ciok Tim dan Koh Ih-hong sama
melengak dan bingung.
Dengan menyesal Liong Hui berkata pula, “Tiga
hari setelah kau masuk perguruan Suhu lantas
mengetahui asal-usulmu.”
“Hahh?” Koh Ih-hong menjerit kaget.
Giok-he dan Ciok Tim juga melenggong.
Dengan tenang Liong Hui menengadah, air
mukanya menampilkan rasa hormat dan kagum,
seperti lagi mengenangkan kebesaran pribadi sang
guru, katanya kemudian dengan perlahan, “Kau
tahu biasanya Suhu sangat ketat dalam hal
memilih murid. Aku dan Toasomu adalah anak
yatim piatu, bahkan sejak kecil aku sudah
diangkat anak oleh Suhu. Samsute adalah cucu
seorang sahabat karib Suhu, hubungan keluarga
Gote dan Suhu juga sangat erat ….”
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Maka
bilamana Suhu mau, menerima dirimu tanpa
mengusut asal-usulmu adalah karena beliau
sebelumnya sudah mengetahui seluk-beluk dirimu.
Waktu Suma-lopiauthau membawamu kepada
Suhu ….”
“Suma-lopiauthau sendiri tidak tahu kepalsuan
diriku,” sela Koh Ih-hong, “tapi kakak dan
sahabatnya yang merencanakan tipu muslihat ini
agar Suma-lopiauthau mengira diriku adalah putri
yatim piatu yang telantar dan rebah kelaparan di
depan rumah Suma-lopiauthau. Karena kasihan
padaku, Suma-lopiauthau lantas membawaku ke
Ci-hau-san-ceng.”
Air muka Liong Hui yang kereng tiba-tiba
menampilkan secercah senyuman, katanya, “Di
dunia ini tidak ada sesuatu urusan yang dapat
dirahasiakan selamanya, juga tidak ada seorang
pun yang dapat mendustai orang lain sekalipun
orang lain itu agak lebih bodoh daripadanya.”
Tergetar hati Giok-he, diam-diam sebenarnya ia
merogoh saku dan tiga batang jarum siap
dihamburkan ke punggung Koh Ih-hong, demi
mendengar ucapan Liong Hui ini, tangannya rada
gemetar dan jarum jatuh kembali ke dalam saku.
Perlahan Liong Hui berkata pula, “Jangan kau
kira Suma-lopiauthau telah kalian tipu, yang
benar, sebabnya beliau mau membawamu ke Cihau-
san-ceng adalah karena dia melihat ada
sesuatu yang janggal pada keteranganmu. Coba
kau pikir, seorang anak yatim piatu mengaku ingin
belajar ilmu silat, mengapa yang dituju adalah Cihau-
san-ceng? Padahal Suma-lopiauthau sendiri
juga termasyhur kelihaiannya, bila ingin belajar
kenapa tidak kau angkat guru saja padanya, tapi
engkau minta beliau membawamu ke Ci-hau-sanceng?”
Koh Ih-hong jadi melenggong.
Maka Liong Hui menyambung lagi, “Dari dahulu
hingga sekarang memang sering ada orang pintar
berbuat keblinger. Kakakmu mengira dirinya
teramat pintar, tapi tak terpikir olehnya akan
kejanggalan ini.”
Kepala Koh Ih-hong tertunduk terlebih rendah.
Hati Giok-he juga tergetar pula, pikirnya. “Dia
sengaja bicara demikian, apakah ada maksud lain
dan sengaja diperdengarkan padaku?”
Didengarnya Liong Hui menghela napas dan
bertutur pula, “Setelah engkau dibawa datang oleh
Suma-lopiauthau, beliau lantas mengadakan
pembicaraan rahasia dengan Suhu, akhirnya Suhu
menarik kesimpulan engkau pasti putri musuh.
Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab,
apalagi Suma-piauthau memang seorang yang
berwatak keras dan tegas, saat itu juga beliau
menyatakan, ‘Bila sudah jelas asal-usulnya, bila
perlu babat rumput sampai akar-akarnya’.”
Tergetar tubuh Koh Ih-hong.
Liong Hui menggeleng dan menyambung lagi,
“Tapi waktu itu Suhu hanya tersenyum saja dan
menyatakan penyesalannya karena selama hidup
beliau telah banyak mengikat permusuhan dan
dengan sendirinya akan banyak menimbulkan
sakit hati orang lain, maka beliau menegaskan
takkan menyesal andaikan pada suatu hari ada
keturunan musuhnya akan mencari balas padanya
dan bahkan membunuhnya. Ia anggap balas
membalas, utang harus bayar, hal ini sangat
lumrah dan adil.”
Setelah berhenti sejenak mengenang kebesaran
jiwa sang guru, kemudian Liong Hui menyambung
lagi, “Walaupun kuharap janganlah kumati secara
tidak wajar di kemudian hari, tapi aku pun tidak
mau bertindak membabat rumput sampai akarakarnya,
membunuh keturunan musuh habishabisan.
Kuharap permusuhan dapat diakhiri,
maka tidak peduli anak perempuan ini putri
musuhku yang mana, betapa pun dia adalah anak
yang punya cita-cita tinggi, bakatnya juga tidak
jelek, dengan susah payah ia berusaha masuk ke
perguruanku, mana boleh kubikin dia kecewa.
Umpama kelak setelah dia berhasil menguasai ilmu
silat ajaranku dan berbalik aku dibunuhnya, tetap
aku takkan menyesal, bahkan kalau dengan
demikian akan dapat mengakhiri dendamnya
padaku sehingga permusuhan ini dapat dihapus,
kan semuanya jadi baik?”
Mendengar sampai di sini, tangis Koh Ih-hong
yang tak bersuara mendadak pecah lagi menjadi
tangis keras.
Liong Hui berkata pula dengan menyesal,
“Waktu itu kuladeni Suhu di samping, maka
semua percakapan mereka dapat kudengar dan
kuingat benar. Malam itu juga Suhu menerimamu
sebagai murid dan pada malam itu juga beliau ….”
Tanpa terasa ia memandang Giok-he sekejap,
lalu menyambung, “Malam itu juga beliau
mengumumkan pemikahanku dengan Toasomu.”
Ia termenung pula sejenak seperti lagi
mengenangkan kebahagiaan pada malam itu,
kemudian lanjutnya, “Apakah engkau masih ingat
pada esok pagi berikutnya Suhu lantas berangkat
pergi, pada malam ketiga Suhu baru pulang dan
mengatakan padaku bahwa dirimu adalah
keturunan Koh Siau-thian Koh-locianpwe, aku
disuruh menjaga rahasia ini dan menyuruhku
harus memperlakukan dirimu dengan baik.”
Tambah sedih tangis Koh Ih-hong, banyak isi
hatinya yang ingin diungkapkannya, tapi sepatah
kata saja tidak sanggup berucap.
Dalam pada itu pikiran Kwe Giok-he tambah
kusut dan gelisah, maklum, ia merasa bersalah,
perempuan yang tidak setia terhadap sang suami
betapa pun tetap menanggung tekanan batin.
Demikian pula dengan Ciok Tim, ia pun
menyadari betapa kotor dan rendah perilakunya
itu, terutama hal ini menyangkut istri Suheng yang
dihormatinya. Cuma hati nuraninya sering
terpengaruh oleh bujuk rayu yang memabukkan
dan membuatnya lupa daratan.
Liang Hui tidak menghiraukan mereka, perlahan
ia bertutur lagi, “Pada suatu hari, malam sudah
larut kulihat engkau menyelinap keluar taman
belakang perkampungan, kutahu Ginkangku tidak
mampu mengimbangi dirimu, maka aku cuma
mengintai dari kejauhan, kulihat engkau
mengadakan pembicaraan rahasia di dalam hutan
dengan seorang lelaki jangkung. Sekarang dapat
kuterka orang itu tentulah kakakmu.”
Koh Ih-hong mengangguk perlahan.
“Semua itu sudah kuketahui sejak dulu, cuma
ada sesuatu yang sukar kupahami, entah …. Ai,
sudahlah, kutahu keadaanmu yang serbasusah,
sesuai pesan Suhu, tidak perlu kudesak ….”
Mendadak Ih-hong mengusap air mata dan
berucap tegas, “Urusan apa pun pasti akan
kukatakan dan akan kuanggap Toako yang
memaksaku bicara.”
“Kukira tidak perlu, engkau ….”
“Aku memang tidak pemah melupakan sakit hati
orang tua,” tukas Ih-hong. “Tapi … tapi Suhu …
kini Suhu sudah ….”
“Suhu pasti takkan mati,” tukas Liong Hui
dengan penuh keyakinan.
“Apa pun juga kini sudah tiba saatnya harus
kubalas budi kebaikan Suhu,” kata Ih-hong.
“Tapi bila akibat tindakanmu ini akan membikin
susah kakakniu sendiri? ….”
“Sedapatnya akan kuusahakan menghapuskan
permusuhan ini, bukankah Suhu sudah
menyatakan permusuhan lebih baik dihapus dan
jangan diperdalam.”
“Dan kalau tidak dapat dihapus, lantas
bagaimana?”
“Jika tidak kuselesaikan, biarlah kumati di
depan kakak, biarlah kugunakan darahku untuk
mencuci permusuhan kedua pihak,” kata Ih-hong
dengan tegas.
Mendadak Liong Hui menengadah dan terbahak,
“Haha, bagus, bagus! Tidak percuma Suhu
menerimamu sebagai murid. Bakti dan setia
memang sukar terlaksana sekaligus, budi dan
benci juga sulit terselesaikan bersama. Menghadapi
perkara serbasulit begini, bagi seorang lelaki sejati
hanya mati saja yang dapat menyelesaikan tugas
ini.”
Mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung
sambil menatap Koh Ih-hong, “Jika aku menjadi
dirimu, tentu demikian pula tindakanku.”
Kedua orang lantas saling pandang dengan
penuh saling pengertian.
Melihat itu, hati Giok-he tambah tidak enak,
bilamana di antara mereka tambah akrab, bukan
mustahil pada suatu hari rahasianya pasti akan
dibeberkan oleh Koh Ih-hong. Ia menjadi serba
susah. Ia coba memandang Ciok Tim, anak muda
itu kelihatan menunduk, tampaknya juga tertekan
batinnya.
Pada saat itulah sekonyong-konyong di atas
rumah ada suara orang bergelak tertawa nyaring,
“Hahaha! Sungguh lelaki yang gagah dan
perempuan yang bijaksana!”
Semua orang sama kaget.
“Siapa?” bentak Liong Hui.
Waktu ia berpaling, tahu-tahu sesosok bayangan
kelabu melayang tiba.
Agaknya orang ini sudah sekian lama berada di
atas rumah bambu ini, namun tiada seorang pun
yang mengetahuinya, gerak tubuhnya yang ringan
waktu melayang turun juga sedemikian gesitnya,
tentu saja semua orang tambah terkejut.
Waktu Liong Hui berempat mengamatinya,
terlihat orang yang melayang tiba ini masih muda,
berdahi lebar bersinar mata tajam, meski wajahnya
tidak terlalu cakap, tapi cukup cerah dan menarik.
Perawakannya juga tidak terlalu tinggi, kelihatan
agak gemuk, namun gerak-geriknya tangkas dan
cekatan. Wajahnya yang agak kehitaman selalu
mengulum senyum dan membuat setiap orang
yang baru bertemu tidak merasa jemu padanya.
Sekali pandang saja Liong Hui lantas berkesan
baik juga terhadap orang ini.
Pemuda cerah ini pun langsung mendekati Liong
Hui dan memberi hormat, katanya, “Selamat,
Toako!”
Nada dan sikapnya scakan-akan sudah kenal
baik kepada Liong Hui.
Tentu saja Giok-he dan Ciok Tim merasa heran,
mereka sama memandang Liong Hui.
Waktu Koh Ih-hong mengenali pendatang ini, air
mukanya juga berubah.
Meski sangsi, Liong Hui adalah seorang yang
simpatik, cepat ia balas hormat orang dan
menjawab, “Selamat, sama-sama selamat!”
Dengan tertawa cerah pemuda itu berucap pula,
“Kutahu Toako tidak kenal diriku, tapi aku justru
kenal Toako, dan ….” mendadak ia berpaling dan
menatap Koh Ih-hong dengan tajam, lalu
menyambung, “…. juga adik cilik ini.”
“Kau … kau ….” Ih-hong tampak gugup, tanpa
terasa menyurut mundur.
“Siapa kau sebenarnya?!” bentak Ciok Tim.
“Siapa aku, rasanya sulit untuk kujawab,” kata
pemuda cerah itu. “Tadi adik Koh ini mengatakan
kakaknya telah menghimpun serombongan
keturunan musuh Liong-loyacu, aku termasuk
satu di antaranya, aku pun ikut bersama mereka
merencanakan cara bagaimana menuntut balas.”
“Jika sahabat ini ternyata lawan dan bukan
kawan, harap bicara terus terang apa maksud
kedatanganmu ini,” kata Liong Hui segera sambil
membusungkan dada. “Anak murid Ci-hau-sanceng
sudah siap menghadapi segala sesuatu.”
“Haha, lawan dan bukan kawan,” pemuda cerah
itu mengulangi ucapan Liong Hui. “Bilamana aku
lawan, mana mungkin kupanggil Toako padamu.
Jika lawan, mana kusediakan obor dan memasang
tali panjang bagimu.”
Mendadak sikapnya berubah kereng dan
menyambung pula, “Meski aku ikut serta dalam
muslihat mereka, tapi aku tidak pemah ikut bicara,
tidak mengajukan sesuatu usul …. Haha, makanya
mereka menganggap diriku ini sebagai orang tolol,
orang linglung yang tidak berguna lagi.”
“Obor, tali, semua itu ….” Liong Hui berkerut
kening, ia coba berpaling ke arah Koh Ih-hong,
kelihatan nona itu mengangguk perlahan.
Pemuda cerah tadi bergelak tertawa dan berkata
pula, “Namun bagiku justru mereka itulah
kawanan orang tolol, mereka tidak mau berpikir
bahwa tokoh yang pemah menggetarkan dunia
Kangouw Kiu-ih-hui-eng (elang terbang bersayap
sembilan) Tik Bong-peng masakah bisa mempunyai
seorang anak yang goblok.”
“O, kiranya Tik-kongeu,” cepat Liong Hui
memberi hormat. “Sering kudengar cerita guruku
bahwa di antara lawannya dahulu, tokoh yang
paling dihormati dan disegani beliau adalah Tiklocianpwe?”
Wajah pemuda cerah itu tampak prihatin ia
membalas hormat dan berucap, “Mendiang ayahku
….”
“O, apakah Tik-locianpwe sudah wafat? Mengapa
tidak terdengar berita ini di dunia Kangouw?” kata
Liong Hui.
Pemuda itu tersenyum murung, jawabnya,
“Belasan tahun ayah mengasingkan diri di Thiansan
yang jauh sana, dengan sendirinya tidak ada
kabar berita mengenai beliau di dunia Kangouw.”
Liong Hui tahu sejak Kiu-ih-sin-eng Tik Bongpeng
dikalahkan oleh gurunya, nama
kebesarannya lantas runtuh dan sejak itu
menghilang dari dunia Kangouw.
Dilihatnya pemuda cerah itu bicara pula dengan
bersemangat, “Sebelum meninggal, ayah juga
sering bicara tentang kegagahan Put-si-sin-liong,
beliau tidak pemah menyesal karena kalah di
bawah pedang si naga tak termatikan.”
“Tapi guruku juga sering mengatakan
seharusnya Tik-locianpwe menang dalam
pertarungan itu, sebab lebih dulu guruku telah
tertusuk oleh pedang Tik-locianpwe,” kata Liong
Hui.
“Salah, bukan begitu halnya,” ujar si pemuda
cerah. “Ayah telah menceritakan semua kejadian
pada waktu itu. Waktu itu Liong-loyacu
berkunjung ke Thian-san di bawah hujan salju dan
angin badai, beliau menunggu lagi sehari semalam
di puncak Thian-san. Padahal Liong-loyacu datang
dari daerah Kanglam yang beriklim hangat, mana
tahan akan dingin salju dan angin di puncak
Thian-san, karena itulah kaki dan tangan beliau
tentu saja kaku kedinginan, dengan begitu barulah
ayahku bisa menarik kcuntungan. Tapi ketika
ujung pedang ayah menyentuh badan Liongloyacu,
pedang Liong-loyacu juga sudah
mengancam di dada ayah. Apabila Liong-loyacu
tidak bermurah hati, tentu …. Ai!”
Diam-diam Koh Ih-hong menghela napas,
terpikir olehnya betapa sempit jalan pikiran kakek
sendiri dibandingkan kebesaran jiwa Kiau-ih-sineng
Tik Bong-peng.
Didengarnya pemuda she Tik itu bertutur pula,
“Sebelum ayah meninggal, berulang beliau
memberi pesan padaku bahwa Liong-loyacu
sesungguhnya berbudi kepada beliau, maka kelak
aku harus membalas budi dan bukannya
membalas dendam. Pesan ini setiap saat selalu
kuingat dengan baik. Setelah ayah wafat, aku
lantas meninggalkan Thian-san dan datang ke
Tionggoan sini, waktu itu aku gemar minum ….” ia
tersenyum, lalu menyambung, “Sampai saat ini
aku tetap suka minum arak hingga lupa daratan.”
Liong Hui tersenyum, ia tertarik kepada pemuda
yang suka terus terang ini.
Terdengar pemuda she Tik menyambung lagi,
“Suatu hari aku mampir minum arak di sebuah
rumah minum kecil di luar kota Tai-beng-hu,
sekaligus kuhabiskan dua guci Tik-yap-jing
simpanan pemilik rumah minum itu. Tik-yap-jing
memang arak yang sedap, waktu diminum tidak
terasa keras, sesudah masak perut, bekerjanya
justru sangat lama. Aku sudah terbiasa minum
arak keras daerah Kwan-gwa, maka sekali ini aku
terperangkap, tidak jauh meninggalkan rumah
minum itu aku lantas mabuk dan mengaco-belo
tak keruan ….”
Sampai di sini, ia tertawa kikuk, lalu
melanjutkan, “Kemudian baru kuketahui, dalam
keadaan mabuk aku telah membual tentang ilmu
pedangku yang tidak ada tandingan, kubilang Putsi-
sin-liong juga bukan tandinganku, kukatakan
pula Thian-san-kim-hoat tidak ada tandingannya
di dunia, ilmu pedang daerah Tionggoan sama
sekali tidak ada artinya bagiku.”
Liong Hui tersenyum, ia tambah senang
terhadap anak muda yang suka bicara blak-blakan
ini.
“Esok harinya ketika aku sadar, kulihat di
sampingku seorang pemuda ganteng sibuk
melayani diriku,” tutur lagi pemuda she Tik. “Dia
itulah kakak adik Koh ini, Koh Kang. Selama tiga
hari kami pesiar bersama dan menghabiskan lagi
beberapa guci Tik-yap-jing. Akhirrya Koh Kang
membeberkan rencananya kepadaku, katanya dia
telah mengumpulkan, segenap keturunan musuh
Put-si-sin-liong dan bermaksud menagih utang
berdarah kepada jago nomor satu itu.”
Malam tambah larut, cahaya mutiara semakin
terang, semua orang scakan-akan lupa lapar dan
lelah dan asyik mendengarkan ceritanya.
“Waktu itu aku terkejut, sebab dari
keterangannya kutahu orang-orang yang telah
dikumpulkannya adalah keturunan jago-jago
terkemuka belasan tahun yang lalu, betapa tinggi
kepandaian Put-si-sin-liong pasti juga akan repot
menghadapi jago muda yang dihimpunnya ini.”
Ia terdiam sejenak, lalu menyambung, “Mau tak
mau mengiang lagi pesan ayahku bahwa aku harus
membalas budi kepada Liong-loyacu, maka ajakan
Koh Kang kuterima. Adapun apa yang terjadi
selanjutnya tentu sudah dituturkan oleh adik Koh
tadi yang tidak diketahui oleh Toako mungkin
adalah mengapa orang-orang ini bisa berkaitan
dengan pertandingan antara Tan-hong dan Sinliong
di Hoa-san ini dan cara bagaimana disiapkan
perangkap ini?”
“Ya, memang urusan ini membuatku bingung
….” kata Liong Hui. “Tapi sebelum kau bicara lagi,
maukah kau beri tahukan lebih dulu namamu?”
“Tik Yang!” kata si pemuda cerah sambil
memberi gerakan melayang-layang di udara.
“Namaku Yang, yang melayang. Nama ini tidak
menonjol di dunia Kangouw sebab beberapa tahun
ini aku selalu berlagak bodoh dan pura-pura
dungu.”
Liong Hui tersenyum, juga Koh Ih-hong merasa
geli. Hanya Ciok Tim saja yang bungkam dengan
muka cemberut.
Giok-he memandangnya beberapa kejap,
katanya kemudian, “Tik Yang, sungguh nama
bagus!”
“Terima kasih, Toaso,” Tik Yang memberi
hormat.
Pemuda ini ternyata pandai bergaul dengan
siapa pun, dalam suasana bagaimana pun dia
dapat menempatkan dirinya secara riang dan
penuh humor.
Diam-diam Ciok Tim mendongkol, ia melengos
ke sana dan tidak mau memandangnya lagi.
Sebenarnya watak Ciok Tim tidaklah jelek,
hanya dalam hal urusan perempuan telah
membuatnya kehilangan pribadinya. Sikap Tik
Yang terhadap Koh Ih-hong tadi telah membuatnya
mendongkol, sekarang Giok-he bersikap manis lagi
kepada Tik Yang, tentu saja dia tambah cemburu,
tapi tidak dapat berbuat sesuatu.
Terdengar Tik Yang bicara lagi, “Meski ada
maksudku hendak bekerja bagi Liong-loyacu, tapi
mengingat ada persekutuanku dengan Koh Kang
dan lain-lain, terpaksa aku tidak dapat tampil
melainkan cuma berusaha secara diam-diam saja.”
“Sudah banyak bantuanmu dengan obor, tali
dan sebagainya,” kata Liong Hui. “Semula kami
tidak tahu orang kosen dari mana yang diam-diam
memberi bantuan, tak tersangka adalah jasa baik
Tik-hiante. Sungguh kami sangat gembira dapat
bertemu denganmu.”
Tik Yang menghela napas, “Sejak berkelana di
daerah Tionggoan lantas kudengar cerita di dunia
Kangouw bahwa murid utama Sin-liong-bun, si
lelaki baja Liong Hui adalah kesatria yang jujur
dan berbudi luhur, hari ini dapat bertemu sendiri
dengan Toako, ternyata memang tidak bemama
kosong.”
“Ah, Tik-hiante terlalu memuji,” kata Liong Hui.
Dengan serius Tik Yang berucap pula, “Bilamana
tadi aku tidak menyaksikan sendiri tindak tanduk
Toako, tentu aku takkan menemui Toako di sini.”
Ia berpaling dan memandang sekejap mayat
menggeletak di lantai itu, lalu berkata pula dengan
menyesal, “Meski orang ini tidak ada hubungan
erat denganku, tapi jelek-jelek kami sudah
berkawan. Walau dia sudah mati Toako tetap
menghormatinya tanpa memperlakukan kasar
padanya. Kupikir bilamana terhadap orang mati
saja Toako bersikap demikian, apalagi terhadap
yang hidup. Kalau dapat bersahabat dengan
kesatria semacam ini sungguh tidak sia-sia
kunjunganku ke Tionggoan ini. Sebab itulah aku
lantas melompat turun kemari ….”
“Kiranya sejak mula Tik-hiante sudah
bersembunyi di atas rumah, sungguh tidak becus
kami ini, ternyata tidak ada seorang pun yang
mengetahui jejakmu,” kata Liong Hui dengan
tersenyum.
“Memangnya siapa yang tidak pemah mendengar
Sam-hun-sin-kiam dan Jit-kim-sin-hoat dari
Thian-san-pay, setelah melihat Ginkang Tik-hiante
tadi nyata Kungfu Thian-san yang termasyhur itu
memang tidak omong kosong,” kata Giok-he
dengan tersenyum, agaknya ganjalan hati tadi
sudah terlupakan.
“Ah, Sam-hun-kiam-hoat dan Jit-kim-sin-hoat
hanya kupelajari serba sedikit saja, kalau ada
sedikit kemajuanku, paling-paling lantaran setiap
hari berlarian di tanah pegunungan bersalju
sehingga tubuhku lebih ringan dan kakiku lebih
kuat, mana pantas dipuji oleh Toaso. Apalagi kalau
dibandingkan Sin-liong-kiam-hoat, sungguh aku
merasa malu sendiri.”
“Sin-liong-kiam-hoat memang cukup
membanggakan, namun sayang di antara anak
muridnya seperti kami ini tidak ada seorang pun
mampu mewarisi kepandaian Suhu,” kata Liong
Hui dengan gegetun. “Hanya Gote saja yang
berbakat dan punya dasar yang kuat, cuma sayang
dia belum lama belajar dengan Suhu dan belum
kelihatan sesuatu yang menonjol. Sebaliknya
diriku yang paling lama ikut Suhu justru teramat
bodoh.”
“Gote yang disebut Toako itu apakah keturunan
keluarga Lamkiong yang kaya raya dan belum lama
masuk perguruan Sin-liong itu” tanya Tik Yang.
Liong Hui membenarkan.
“Pemah juga kudengar pemimpin grup hartawan
Lamkiong cuma mempunyai seorang putra tunggal
yang sejak kecil gemar belajar silat dan entah
berapa banyak mengangkat guru serta membuang
biaya, cuma sayang yang didapatkan semuanya
bukan tokoh yang tepat. Baru akhir-akhir ini ia
diterima ke dalam perguruan Sin-liong. Heran juga
putra keluarga hartawan yang biasanya cuma suka
foya-foya ternyata mau tekun belajar silat segala.”
“Hubungan keluarga Lamkiong dengan
perguruan kami memang sangat erat dan cukup
panjang untuk diceritakan,” tutur Liong Hui. Lalu
ia mengacungkan ibu jari dan berkata pula, “Meski
Gote kami ini putra keluarga hartawan temama,
tapi dia bukan pemuda keluarga kaya umumnya.
Selain bakatnya tinggi dan otaknya cerdas, dia juga
berbakti kepada orang tua, setia terhadap guru dan
berbudi terhadap kawan. Tidak bingung
menghadapi perempuan cantik, tidak gugup
menghadapi bahaya. Ia pun serba pandai dan giat
belajar. Kuyakin hanya dia saja yang dapat
mengembangkan nama baik Sin-liong-bun kelak.”
Biasanya Liong Hui tidak pandai bicara, tapi apa
yang diuraikan ini adalah sesuatu yang menjadi
kebanggaannya, maka nadanya lantang dan wajah
berseri.
Ciok Tim tetap berdiri menghadap ke sana.
Sedangkan Giok-he ikut mendengarkan dengan
tersenyum simpul.
Koh Ih-hong lagi memandang langit-langit
rumah, entah asyik mendengarkan atau sedang
melamun.
“Dan berada di manakah Lamkiong-toako itu
sekarang?” demikian Tik Yang bertanya.
“Gote saat ini seharusnya juga berada di sini,
tapi ….” segera Liong Hui menceritakan apa yang
terjadi dan yang telah dilakukan Lamkiong Peng.
Tik Yang tampak tertarik, katanya, “Wah, bila
mendengar cerita Toako ini, sungguh rasanya aku
ingin segera menyusul ke bawah gunung untuk
menemui Lamkiong-heng yang hebat itu ….”
“Bukan cuma engkau saja, kami juga ingin
segera bertemu lagi dengan Gote,” kata Liong Hui.
“Tapi urusan di sini tentu saja lebih penting,
apalagi kalau Tik-hiante tidak menjelaskan lebih
lanjut persoalan ini, ke mana lagi akan kami cari
jejak guru kami?”
“Ya, betul juga.” ucap Tik Yang dengan tertawa.
“Kita asyik bicara urusan lain sehingga melupakan
urusan penting.”
Ia menengadah dan memandang kelima biji
mutiara yang terbingkai di belandar rumah bambu
itu, lalu berkata pula, “Toako, engkau sudah lama
berkelana di dunia Kangouw, apakah kau tahu
asal-usul kelima biji mutiara ini?
Liong Hui tertegun, jawabnya, “Tidak.”
“Dahulu, setelah pertemuan Wi-san, nama Tanhong
Yap Jiu-pek sangat termasyhur, tatkala mana
beliau belum pindah ke Hoa san sini melainkan
tinggal di kaki gunung Wi itu dengan
perkampungan yang bemama Sip-tiok-san-ceng
….”
“Ya, ini kutahu,” kata Liong Hui.
“Dan Toako pasti juga tahu peristiwa besar yang
terjadi di Sip-tiok-san-ceng pada sepuluh tahun
yang lalu?”
“Apakah yang kau maksudkan itu adalah
pertemuan besar orang persilatan yang disebut
‘Pek-niau-tiau-hong’ (beratus burung menghadap
Hong) itu?”
“Betul,” kembali Tik Yang tertawa cerah. “Waktu
itu aku masih kecil, meski jauh tinggal di daerah
perbatasan sana, tapi kudengar juga keramaian
pada pertemuan besar itu. Konon senjata setiap
tamu harus ditanggalkan, arak yang disuguhkan
kalau dituang ke Thay-oh akan menambah air
danau itu naik pasang tiga senti ….”
“Aku sendiri hadir dalam pertemuan itu, meski
sangat ramai, tapi juga tidak terlalu luar biasa,”
ujar Liong Hui dengan tersenyum.
“Betul juga ucapan Liong-toako mengingat jauh
30 tahun sebelumnya pertemuan besar yang
diadakan Liong-loyacu di Sian-he-nia ketika
meresmikan nama gelar beliau.”
Tersembul senyuman bangga pada ujung mulut
Liong Hui, katanya “Dalam pertemuan itu, Suhu
tidak menyediakan pondokan, juga tidak ada
perjamuan, setiap tamu yang hadir sama
membawa arak dan makanan sendiri dan
diperbolehkan membawa senjata ….”
“Haha, hadir dengan membawa arak dan
santapan sendiri, juga tidak dilarang membawa
senjata, pertemuan bebas begini sungguh tidak
pemah terjadi dalam sejarah dunia persilatan.
Orang yang mengusulkan pertemuan cara ini pasti
seorang kesatria perkasa, sayang usiaku terlalu
muda dan tidak dilahirkan pada zaman itu,” seru
Tik Yang dengan tertawa.
“Peristiwa itu disponsori oleh 13 jago tua dari ke-
13 propinsi, tapi yang memimpin pertemuan itu
adalah Thian-ah Tojin yang paling disegani waktu
itu.”
“Thian-ah Tojin?” Tik Yang menegas. “Hah,
sungguh luar biasa.”
“Pertemuan yang disebut Ho-ho-tai-tian (pesta
pengukuhan) itu berlangsung sehari semalam,
sampai fajar keesokannya, beribu hadirin sama
mengacungkan pedang sambil bersorak Put-si-sinliong,
naga sakti tak termatikan. Betapa semarak
pertemuan itu jelas tidak dapat disamakan dengan
Pek-niau-tiau-hong, apalagi sifat dan nilainya juga
tidak sama.”
“Oo?!” Tik Yang jadi ingin tahu.
“Ho-ho-tai-tian ini diadakan oleh orang
persilatan demi menghormati jasa guruku, jadi
guruku termasuk orang undangan, sebelumnya
tidak mengetahui akan urusan ini. Sedangkan Pekniau-
tiau-hong diselenggarakan sendiri oleh Yap
Jiu-pek, setiap tokoh dunia persilatan yang
terkenal, baik lelaki maupun perempuan, semua
diundang hadir ke Sip-tiok-san-ceng. Di antara
hadirin ini tentu juga ada yang enggan datang, tapi
karena jeri terhadap Yap Jiu-pek sehingga terpaksa
hadir. Pertemuan demikian mana dapat
dipersamakan dengan Ho-ho-tai-tian bagi guruku
itu?”
Tik Yang tersenyum, ia tahu antara Tan-hong
dan Sin-liong sudah retak, makanya Liong Hui
dapat bicara seperti ini.
Tiba-tiba Kwe Giok-he menyela dengan tertawa,
“Eh, sesungguhnya apa yang kalian perbincangkan
tadi, kenapa melantur hingga urusan Ho-ho taitian
segala?”
“Haha, betul juga, maaf Toaso,” seru Tik Yang
dengan tertawa. “Tentang asal-usul kelima biji
mutiara ini, yaitu merupakan kado yang dibawa
lima saudara perempuan Hing-san-pay ketika ikut
hadir di Sip-tiok-san-ceng.”
“Hah, kiranya begitu, jadi rumah bambu ini
memang tempat kediaman Yap Jiu-pek?” seru
Liong Hui.
“Betul,” kata Tik Yang.
“Aneh juga,” ujar Giok-he dengan kening
bekernyit. “Asalnya Yap Jiu-pek juga putri keluarga
kaya, mengapa dia sudi tinggal di tempat seburuk
ini?”
“Memang sangat sedikit orang Bu-lim yang
mengetahui urusan ini,” tutur Tik Yang dengan
gegetun. “Bahwa Yap Jiu-pek dan Liong-loyacu
dahulu sebenarnya, adalah pasangan pendekar
yang dikagumi di dunia Kangouw zaman itu ….”
“Antara guru kami dan Yap Jiu-pek memang
sudah kenal sejak kecil, cuma keduanya tidak
pemah terikat menjadi suami-istri, malahan karena
sesuatu urusan sepuluh tahun yang lalu kedua
orang lantas bersengketa dan tidak pemah bertemu
lagi,” tukas Giok-he. “Karena sengketa itu,
terjadilah janji bertanding pedang sepuluh tahun
kemudian, hal ini cukup diketahui oleh setiap
orang persilatan.”
“Betul, karena janji pertandingan itu, Yap Jiupek
berkeras ingin mengalahkan Liong-loyacu,
maka dia giat berlatih, untuk itu dia sedang
meyakinkan semacam Lwekang dari negeri Thiantiok
(Hindu), konon tanpa sengaja ia menemukan
sejilid kitab pelajaran Lwekang, karena hasratnya
ingin menang, tanpa bimbingan ia berlatih sendiri
secara cepat, siapa tahu akibatnya setelah berlatih
dua tahun dia mengalami kelumpuhan ….”
“Hah, rupanya setelah Yap Jiu-pek
menghabiskan harta bendanya di Sip-tiok-san-ceng
dan menyerahkan tempat kediamannya itu kepada
sahabatnya si Nikoh sakti Ji-bong Taysu, lalu dia
mengasingkan diri di sini, tak tersangka lantaran
dia mengalami kesesatan dalam latihan ilmunya.”
“Ya, dengan wataknya yang angkuh, terutama
bila teringat kepada janji pertandingan dengan
Liong-loyacu, dengan sendirinya sukar dilukiskan
betapa penderitaan batinnya setelah mengalami
kelumpuhan itu,” tutur Tik Yang. “Kebetulan waktu
itu Ji-bong Taysu berkunjung padanya, melihat
sahabat tersiksa, anak murid yang meladeni juga
selalu mendapat omelan, perangainya menjadi
pemarah, maka Ji-bong lantas membujuknya
berpindah ke suatu tempat tirakat yang terpencil
untuk istirahat, bukan mustahil sebelum sepuluh
tahun kesehatannya akan pulih dan mungkin juga
sekaligus akan berhasil meyakinkan semacam
Lwekang yang mahasakti.”
“Ternyata selama sepuluh tahun dia tinggal di
gubuk buruk ini di bawah tiupan angin dingin dan
hujan salju, tujuannya tidak lebih hanya ingin
mengungguli guruku saja,” kata Liong Hui dengan
gegetun.
Malam hampir berakhir, hawa tambah dingin,
semua orang sama membayangkan betapa siksa
derita yang dialami Yap Jiu-pek selama hampir
sepuluh tahun tinggal di gubuk reyot.
Terdengar Tik Yang menyambung ceritanya lagi,
“Yap Jiu-pek menerima nasihat Ji-bong Taysu,
dibawanya murid kecil yang baru diterimanya serta
empat pelayan pribadi ke Hoa-san sini dan hidup
terpencil di rumah gubuk ini, kasur inilah tempat
ia duduk bersemadi, setiap hari cuma muridnya itu
datang mengawani dia selama beberapa jam,
mengantarkan makanan dan juga belajar ilmu
silat.”
“O, jadi perangkap ini memang dipasang oleh
Yap Jiu-pek sendiri.” kata Liong Hui.
Tik Yang menggeleng dan bertutur pula, “Dengan
susah payah Koh Kang berusaha menuntut balas,
setelah dia menyelundupkan adik perempuannya
ke Ci-hau-san-ceng, lalu bersama kami mendatangi
Sip-tiok-san-ceng yang kini telah menjadi tempat
kediaman Ji-bong Taysu itu untuk minta bantuan
….”
Kening Liong Hui bekernyit terlebih erat, dengan
heran ia menyela pula, “Masakah Ji-bong Taysu
juga ada permusuhan dengan guruku?”
Kembali Tik Yang menggeleng, katanya, “Meski
Ji-bong Taysu tidak ada permusuhan dengan
Liong-loyacu, tapi dia ada hubungan erat dengan
murid Kun-lun-pay, Boh-hun-jiu Tok Put-hoan.
Mungkin Liong-toako juga tidak tahu seluk-beluk
hubungan mereka?”
“Ya, tidak tahu,” kata Liong Hui.
“Pemahkah Toako mendengar seorang murid
Kun-lun-pay pada beberapa puluh tahun yang lalu,
seorang pendekar pedang perempuan bemama Li
Ping.”
Dengan tersenyum Giok-he menimbrung,
“Memang pemah kami dengar nama ini, menurut
cerita Suhu, tingkah-laku Li Ping ini terlebih kejam
daripada Leng-hiat Huicu yang terkenal pada 30
tahun yang lalu itu, cuma setelah membikin geger
dunia Kangouw, kemudian orang ini lantas lenyap
secara mendadak.”
“Ya, orang Kangouw tak ada yang menyangka Li
Ping yang cantik dan berhati kejam itu dapat
mencukur rambut dan menjadi Nikoh, bahkan
terkenal sebagai Ji-bong Taysu yang saleh.
Rupanya Li-locianpwe itu sengaja menghindari
pencarian musuh dan mengasingkan diri. Ia
merasa segala perbuatan masa lampau serupa
orang mimpi, maka setelah menjadi Nikoh ia
memakai gelar Ji-bong, artinya serupa mimpi.”
“O, jadi Ji-bong Taysu dan Boh-hun-jiu Tok Puthoan
berasal dari perguruan Kun-lun,” kata Giokhe.
“Ya, makanya Ji-bong Taysu telah menyarankan
kepada Tok Put-hoan agar bersama kami datang
saja ke Hoa-san sini untuk mencari Yap Jiu-pek,”
tutur Tik Yang. “Waktu itu Yap Jiu-pek sedang
tersiksa dan penuh rasa benci tak terlampiaskan,
setelah mendengar maksud kedatangan kami,
tanpa bicara ia terus melancarkan pukulan
terhadap Koh Kang dan Tok Put-hoan. Meski tokoh
kosen ini dalam keadaan lumpuh tapi tenaga
pukulannya tetap sangat dahsyat, meski aku
berdiri jauh di belakang juga merasakan angin
pukulannya yang keras.”
Ia menghela napas, lalu menyambung, “Ketika
angin pukulan dahsyat itu menyambar tiba, segera
Koh Kang menghindar, sebaliknya Tok Put-hoan
tetap berdiri di tempatnya dan menerima pukulan
itu. Kulihat Tok Put-hoan tetap berdiri tegak,
kusangka Lwekangnya mampu melawan pukulan
Yap Jiu-pek yang lihai itu, tak terduga dia lantas
jatuh terduduk di lantai.”
“Rupanya meski Tok Put-hoan sanggup
menahan pukulan Yap Jiu-pek itu, tapi juga telah
menguras seluruh tenaganya sehingga tidak
sanggup berdiri lagi. Ia lantas mencaci maki Yap
Jiu-pek yang kejam itu, bilamana tidak mau
membantu juga tidak layak menyerang kaum muda
yang jelas bukan tandingannya.”
“Diam-diam kami siap siaga kalau-kalau Yap
Jiu-pek menyerang lagi oleh karena caci maki Tok
Put-hoan itu. Tak terduga Yap Jiu-pek tidak
meladeni makian orang, ia cuma menghela napas
dan berucap, ‘Hanya mengandalkan kepandaian
kalian ini mana mungkin dapat menuntut batas
kepada Liong Po-si.'”
“Lalu ia memberi tanda agar kami pergi saja
sambil memejamkan mata dan tidak menggubris
kami lagi. Tapi Koh Kang lantas menjelaskan
tujuan kami yang cuma ingin menuntut batas
kepada Put-si-sin-liong dan bukan untuk
bertanding dengan dia, maka kami akan
menggunakan segala macam cara asalkan tujuan
tercapai. Ia beberkan pula rencana yang telah kami
atur, terutama agen yang sudah diatur di Ci-hausan-
ceng, jadi setiap gerak-gerik Liong Po-si dapat
diketahui dengan jelas, terutama bila ada Kungfu
baru yang berhasil diciptakannya.”
“Bagaimana ilmu silat Koh-toako kita ini tidak
kuketahui, yang jelas dalam hal putar lidah
memang dia nomor satu. Rupanya Yap Jiu-pek jadi
tertarik, perlahan ia membuka mata dan
memancarkan sinar mata yang aneh. Semua itu
dapat kulihat dari samping, tahulah aku urusan
pasti beres.”
Liong Hui menghela napas, katanya, “Watak Yap
Jiu-pek angkuh dan suka menang, tak tersangka
dia juga mau menggunakan cara yang tak jujur
untuk mencapai maksud tujuannya.”
“Maklumlah, sudah sekian tahun Yap Jiu-pek
duduk bersemadi dan setiap hari tersiksa oleh
hawa dingin yang merasuk tulang, sedangkan
jangka waktu bertanding dengan Liong Po-si
sepuluh tahun kemudian sesuai perjanjian sudah
semakin dekat, sebaliknya kesehatannya tidak
tampak ada harapan akan pulih, dengan
sendirinya pikirannya waktu itu menjadi agak
kurang normal, maka dia telah terima gagasan
yang diajukan Koh Kang.”
“Apa gagasannya?” tanya Liong Hui.
“Selama lima tahun kami berdiam di Hoa-san,
selama itu kami bergiliran turun gunung untuk
mencari berita keadaan dan kemajuan Kungfu
Liong-loyacu, di samping itu kami juga giat berlatih
di atas gunung. Ai, tak kusangka dendam kesumat
Koh Kang terhadap Liong-loyacu ternyata
sedemikian mendalam, hidupnya seolah-olah
hanya untuk menuntut balas saja. Padahal dia
masih muda, tapi dia rela hidup terasing di
pegunungan sunyi. Nama, kedudukan, kekayaan,
segala kenikmatan hidup scakan-akan telah
dilupakan olehnya. Dan begitulah kehidupan
selama lima tahun yang kesepian itu telah kami
lalui dengan susah payah. Akhirnya mereka
mengatur suatu rencana yang rapi, rencana yang
mutlak harus berhasil dan tidak boleh gagal.”
Akhirnya dia bereerita mengenai titik pokoknya,
semua orang sama mendengarkan dengan cermat.
“Rencana ini secara terperinci berdasarkan enam
titik,” tutur Tik Yang perlahan. “Pertama,
menggunakan berita kematian Yap Jiu-pek untuk
membikin kacau pikiran Liong-loyacu, untuk
melemahkan kewaspadaannya. Semua orang tahu
kisah masa lalu antara Liong-loyacu dengan Yap
Jiu-pek, bila mendadak Liong-loyacu menerima
berita duka itu, dengan sendirinya hatinya akan
sedih dan menyesal sehingga melengahkan segala
kemungkinan lain.”
“Kedua, murid Yap Jiu-pek diminta
menggunakan kata-kata tajam dan sikap angkuh
untuk memancing kemarahan Liong-loyacu,
dengan watak Liong-loyacu yang tidak sudi
dipandang rendah, dengan sendirinya akan
terpancing oleh usul Yap Man-jing yang minta
Liong-loyacu menyusutkan tenaga sendiri. Dan bila
usul ini diterima Liong-loyacu berarti rencana kami
sudah tercapai separuh.”
Giok-he menunduk dan menghela napas, “Waktu
itu memang sudah kurasakan keadaan tidak
menguntungkan, maka kubujuk Suhu agar jangan
mau terjebak, siapa tahu Gote ….”
“Bilamana Gote tidak melakukannya waktu itu,
tentu akulah yang akan melakukannya,” teriak
Liong Hui tegas. “Seorang lelaki sejati mana boleh
takut ini dan khawatir itu serupa orang
perempuan. Terkadang sekalipun tahu akan ditipu
orang juga tetap akan kuterjang daripada terhina.
Apalagi biarpun dibodohi orang satu kali apakah
mungkin akan tertipu lagi untuk kedua kalinya.”
Tik Yang mengangguk tanda memuji akan
kegagahan orang, Giok-he menunduk pula dan
berucap, “Dan yang ketiga?”
“Ketiga, bila Lwekang Liong-loyacu sudah susut,
selanjutnya harus melemahkan kekuatannya,
dalam hal ini diusahakan agar beliau terpencar
dengan kalian ….”
Liong Hui memandang sekejap kepada sang istri,
ia pikir dugaannya ternyata juga tidak salah.
Maka terdengar Tik Yang menyambung lagi,
“Apabila ketiga titik pokok ini sudah berhasil, tiga
titik rencana selanjutnya jelas akan berjalan
dengan baik, keadaan Liong-loyacu berarti lebih
banyak celaka daripada selamatnya. Semula aku
berjaga di tengah jalan, ku lihat Yap Man-jing itu
benar telah berhasil membawa Liong-loyacu
sendirian ke atas gunung. Diam-diam aku merasa
ngeri, kupikir sekarang inilah saatnya kubalas budi
kebaikan Liong-loyacu. Segera kusiap
membereskan Yap Man-jing dan menuturkan
duduk perkara yang sebenarnya kepada Liongloyacu.”
“Atas maksud baik Tik-hiante ini kami harus
berterima kasih padamu,” kata Liong Hui.
“Ah, Liong-toako jangan tergesa mengucapkan
terima kasih padaku, yang harus menerima
penghormatanmu ini justru ialah nona Yap Manjing
itu,” kata Tik Yang.
“O, mengapa begitu?” Liong Hui merasa bingung.
“Sebab pada waktu timbul maksudku akan
menyerang nona Yap itu, siapa tahu begitu
berhadapan denganku tanpa bicara nona Yap itu
lantas mendahului menusukku dengan cara tanpa
kenal ampun, tentu saja aku kaget, untung sempat
kuhindari serangannya. Aku menjadi sangsi
jangan-jangan nona Yap itu dapat mengetahui
maksudku dan mendahului hendak
membinasakanku?”
“Nona Yap melancarkan serangan lagi terusmenerus,
setiap tusukan selalu mengincar tempat
mematikan, kukhawatir kawan yang lain keburu
datang, maka sembari mengelak kubeberkan tipu
muslihat mereka kepada Liong-loyacu dan minta
beliau lekas bertindak. Siapa tahu, setelah
kubongkar rahasia ini, nona Yap berbalik berhenti
menyerang.”
Liong Hui menghela napas, “Jangan-jangan nona
Yap itu juga bermaksud membantu guruku?”
“Memang betul,” tutur Tik Yang. “Kiranya orang
tua nona Yap ini dahulu juga pemah mendapat
pertolongan Liong-loyacu, dia juga tidak
menyetujui tipu muslihat keji mereka, mestinya dia
belum mengambil sesuatu keputusan, tapi setelah
berhadapan dengan kalian dan mengetahui pribadi
Liong-loyacu, ia bertekad akan membantu Liongloyacu
melepaskan diri dari perangkap ini
sekalipun dia akan dituduh berkhianat kepada
gurunya.”
“Ai, sungguh tidak kuduga nona Yap itu adalah
gadis berbudi luhur,” ucap Liong Hui.
Tik Yang tersenyum, “Ya, dan yang paling
terkejut ialah Liong-loyacu sendiri. Beliau seorang
jujur dan berhati lapang, mana diketahuinya orang
akan bertindak keji dan curang padanya. Begitulah
kami lantas mengajak beliau ke tempat kediaman
kami sehari-hari di pinggang gunung, di situ kami
ceritakan seluk-beluk urusan ini.”
“Siapa tahu, setelah mendengarkan keterangan
kami, segera Liong-loyacu minta alat tulis kepada
kami, beliau menulis sepucuk surat wasiat dan
diserahkan kepada Yap Man-jing dengan pesan
agar diserahkan kepada kalian, kemudian Liongloyacu
minta kubawa beliau ke atas gunung lagi.”
“Tentu saja aku dan nona Yap melenggong,
melihat keraguan kami, Liong-loyacu bergelak
tertawa dan berkata, ‘Biarpun di atas sana ada
sarang harimau atau kubangan naga tetap juga
akan kuterjang. Hidup setua ini, mati bagiku
sudah bukan soal lagi. Justru persoalan budi dan
benci yang belum terselesaikan ini harus
kubereskan dengan tuntas, aku tidak ingin
membawa urusan yang belum selesai ini ke
akhirat.'”
“Berbareng dengan ucapan beliau itu, mendadak
kudengar ruas tulang Liong-loyacu sama berkeriatkeriut,
perawakan beliau yang memang kekar itu
mendadak scakan-akan bertambah lebih tinggi
besar. Aku tidak berani menatap wajahnya, aku
tertunduk, tapi sudah kulihat di tengah gelak
tertawanya dia telah membuka Hiat-to sendiri yang
tertutuk sehingga pulih seluruh Lwekangnya.
Sungguh tidak kepalang rasa kagumku terhadap
kegagahan dan kehebatan Kungfu beliau.”
Setiap anak murid Liong Po-si yang mendengar
ucapan Tik Yang ini sama ikut merasa bangga,
rumah gubuk yang sunyi dan dingin ini seketika
seperti berubah menjadi hangat.
Sambil membusungkan dada Tik Yang
menyambung lagi, “Melihat kegagahan Liongloyacu
itu, aku dan nona Yap tidak berani
mencegahnya lagi. Ketika nona Yap mau pergi,
Liong-loyacu menyerahkan pula pedangnya agar
diserahkan kepada kalian. Nona Yap tampak
tertegun, aku sendiri juga tidak sanggup bicara apa
pun.”
“Nona Yap itu ternyata seorang yang simpati,
semula kusangka dia berhati dingin,” ucap Liong
Hui.
“Kami terharu menyaksikan keperkasaan Liongloyacu,
sungguh kami tidak ingin Liong-loyacu
menghadapi bahaya, meski Kungfu beliau tidak
ada tandingan, tapi di atas gunung sedang menanti
berbagai jeratan yang licik yang khusus dirancang
sesuai dengan watak Liong-loyacu yang luhur itu,
sampai lama akhirnya nona Yap membalik tubuh
dan melangkah pergi, memandangi bayangan
punggung nona Yap, tertampil juga perasaan haru
dan duka Liong-loyacu yang sukar ditutupi ….”
“Termangu kupandang orang tua itu, kulihat
Liong-loyacu juga sedang menatap tajam padaku,
sampai sekian lama mendadak beliau berkata
dengan tegas, ‘Seorang lelaki sejati, hidup dan
bekerja bagi sesamanya, asalkan meraba perasaan
sendiri tidak bersalah, andaikan mati juga tidak
perlu disesalkan. Ayahmu juga seorang tokoh
besar, engkau dilahirkan di keluarga kaum
kesatria, seharusnya kau pun tahu apa artinya
menepati janji bagi seorang kesatria.'”
“Habis berucap, beliau mengentak kaki perlahan,
lalu perawakannya yang tinggi besar itu melayang
ke atas gunung dan akhirnya lenyap dalam
kegelapan. Ketika aku menunduk, kulihat sebuah
bekas kaki tercetak dengan jelas di atas batu,
kupandang bekas kaki ini dan mengingat lagi
ucapan Liong-loyacu sebelum pergi, sampai lama
kurasakan suara beliau masih mengiang di tepi
telingaku ….”
“Ya, bekas kaki itu pun sudah kami lihat,” ucap
Liong Hui dengan nada berat.
“Tapi sejauh ini kami tidak tahu mengapa Suhu
meninggalkan bekas kaki seperti itu,” tukas Giokhe.
“Banyak urusan di dunia ini sukar dimengerti
sekalipun oleh orang yang pandai,” ujar Tik Yang
dengan pandangan hampa. “Misalnya saja,
sekarang juga aku tidak tahu apa yang terjadi
setelah Liong-loyacu naik ke atas gunung dan di
mana beliau berada saat ini.”
“Hah, engkau pun tidak tahu?” seru Liong Hui
terkesiap.
“Ya, aku pun tidak tahu,” Tik Yang menggeleng.
“Setelah beliau pergi, sampai lama aku
menimbang, akhirnya kuputuskan turun ke bawah
untuk mencari kalian. Tapi waktu itu kalian sudah
mendaki ke atas malah, maka diam-diam kukuntit
perjalanan kalian dan banyak mendengar macammacam
percakapan kalian. Ketika kudengar kalian
bicara tentang obor, segera kukembali ke tempat
tinggal kami untuk mengambil obor dan tali,
kuputar ke depan dan menyalakan obor, kunaik
lagi ke atas tebing dari jalan lingkar yang lain dan
menjulurkan tali ke bawah. Adapun mengenai apa
yang terjadi di rumah gubuk ini, seperti juga
kalian, aku pun tidak tahu sama sekali.”
Suasana menjadi sunyi, semua orang saling
pandang dengan termenung. Namun apa yang
dipikirkan mereka tidak sama.
Liong Hui dan Koh Ih-hong berpikir
sesungguhnya apa yang terjadi di sini? Ke mana
perginya Suhu? Selamat atau celaka?
Sedangkan yang dipikirkan Ciok Tim dan Giokhe
justru mengenai urusan pribadi mereka, timbul
keraguan mereka jangan-jangan apa yang
dilakukan mereka tadi telah dilihat juga oleh Tik
Yang.
Malahan Ciok Tim berpendapat sebabnya Tik
Yang bersikap ketus padanya jelas lantaran orang
telah melihat perbuatannya tadi.
Tiba-tiba Giok-he bertanya, “Tik-siauhiap, apa
yang terjadi di rumah gubuk ini tentu kau lihat
juga, mengapa engkau bilang tidak tahu?”
Mendadak Tik Yang menengadah dan tertawa,
“Haha, bagus, bagus, maksud baikku agaknya
telah menimbulkan salah sangka kalian.”
“Tik-siauhiap, jangan engkau menyesal bila
kusalah omong,” kata Giok-he pula dengan
tersenyum. “Cuma engkau jelas sudah datang ke
sini lebih dulu, kami ketinggalan lantaran cukup
lama menyelidiki ukiran pada ketiga potong batu
karang itu. Apalagi waktu engkau masuk kemari
tiada kelihatan rasa kaget atau heran sedikit pun,
memangnya apa sebabnya?”
Ciok Tim berdehem dan juga menatap Tik Yang
dengan tajam. Agaknya Liong Hui juga mempunyai
pikiran yang sama.
Namun Tik Yang cuma tersenyum saja.
Perlahan Giok-he menyambung, “Ketiga langkah
yang kalian rancang sudah kau jelaskan tadi. Lalu
ketiga perangkap selanjutnya belum kau katakan,
namun tanpa kau jelaskan juga kutahu. Pertama
kalian sengaja mengukir tulisan di dinding tebing
untuk memancing guruku naik kemari, supaya
tenaga guru kami terkuras habis sebelum
bertanding. Malahan bukan mustahil ada pikiran
kalian semoga beliau tidak sanggup mendaki ke
atas dan jatuh tergelincir, dengan begitu kalian
menjadi tidak perlu turun tangan lagi.”
Tik Yang tetap diam saja, bahkan lantas
memejamkan mata.
Maka Giok-he bicara lagi, “Kedua, selama
beberapa tahun ini kalian sudah menerima info
dari Sumoay kami ini dan cukup mengetahui
kehebatan Kungfu guru kami, sebab itulah kalian
sengaja menciptakan tiga jurus istimewa dan
diukir pada batu karang. Agaknya cuma teori saja
ketiga jurus ciptaan kalian ini dapat diterima, tapi
bila digunakan dalam praktik belum tentu dapat
dimainkan dengan baik. Dengan demikian tujuan
kalian hanya untuk menguji Suhu, supaya
sebelum berhadapan dengan Yap Jiu-pek beliau
sudah patah semangat lebih dulu.”
la berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Kukatakan ketiga jurus ciptaan kalian itu pada
hakikatnya cuma teori belaka dan sukar
dipraktikkan, sebagai seorang tokoh kelas top
tentu saja Suhu dapat menyelaminya, sebab itulah
dengan gusar beliau telah menghantam remuk
batu karang itu.”
“Dan ketigam” sambung Giok-he, “tiga jalan
tembus dan empat daun pintu, inilah cara kalian
menjajaki betapa tinggi Kungfu guru kami. Ada lagi
satu hal yang jelas sangat aneh bahwa Yap Jiu-pek
diketahui sudah lumpuh, lantas ke mana perginya
dia sekarang?”
Liong Hui juga menatap Tik Yang dengan sangsi.
Dilihatnya Tik Yang membuka mata perlahan
lalu berkata, “Liong-toaso, engkau memang sangat
pintar, ketiga hal ini ternyata dapat kau terka
dengan tepat.”
Dia bicara dengan dingin, sikapnya juga kaku,
sambungnya, “Memang, ketiga jurus yang terukir
di batu karang itu memang cuma bicara secara
teori saja, praktiknya memang sukar dimainkan.”
Tiba-tiba tersembul senyumannya yang
mengejek, “Apa yang kalian bicarakan di depan
ketiga potong batu karang itu dapat kudengar
dengan jelas. Cuma sayang waktu itu terlalu
banyak urusan yang dipikirkan Toaso sehingga
tidak tahu di atas batu ada orang bersembunyi.”
Hati Giok-he terkesiap.
Liong Hui lantas berkata dengan menyesal,
“Karena berbagai kejadian yang membikin bingung
kami ini, bilamana Toaso salah omong mengenai
dirimu hendaknya engkau jangan marah.”
“Aku mengerti, jika aku jadi Toaso tentu juga
akan merasa sangsi,” ujar Tik Yang dengan
tertawa. “Kedatanganku ke rumah gubuk ini
memang lebih dini daripada kalian, tapi apa yang
terjadi di sini sudah lalu, apa yang disangsikan
Toaso serupa juga apa yang sangsikan. Jejak
Liong-loyacu dan juga Yap Jiu-pek, Koh Kang, Tok
Put-hoan dan lain-lain saat ini telah menjadi tekateki
….”
Pandangannya perlahan beralih ke lantai,
katanya sambil membalik mayat yang menggeletak
itu, “Di sini ada bekas darah, tapi pada satusatunya
mayat ini tidak ada sesuatu tanda luka
cara bagaimana kematiannya ….”
Waktu semua orang mengawasi lagi mayat itu,
tertampak kulit daging pada wajah mayat itu
berkerut serupa mati ngeri dan kaget, juga serupa
mati oleh karena semacam Lwekang yang lihai
yang menggetar putus urat nadinya.
“Ya, semua ini memang teka-teki, kuharap Tiklaute
sudi bekerja sama dengan kami untuk
menyingkap tabir teka-teki ini,” kata Liong Hui.
Tik Yang tersenyum, ia angkat mayat itu dan
berkata, “Teka-teki ini pada suatu hari pasti akan
terjawab, tatkala mana tentu semua orang baru
akan percaya bahwa apa yang kuceritakan
memang betul.”
Ia pandang Liong Hui sekejap, tiba-tiba ia
berseru, “Toako, sampai berjumpa pula.”
Habis berkata ia terus melayang keluar.
“Nanti dulu, Tik-laute ….” teriak Liong Hui
sambil memburu keluar, namun bayangan jago
muda ahli waris Thian-san-pay ini sudah
menghilang dalam sekejap, meski mengangkat
sesosok mayat, namun Ginkangnya sungguh luar
biasa cepatnya.
Liong Hui berdiri termangu sambil memandang
jauh ke sana, gumamnya, “Sungguh pemuda yang
suka terus terang ….”
“Tapi menurut pandanganku, tampaknya ada
sesuatu yang tidak beres ….”
Belum lanjut ucapan Giok-he, mendadak Liong
Hui berpaling dan membentak, “Tutup mulut!”
Selagi Giok-he melenggong, didengarnya Liong
Hui berucap pula dengan bengis, “Semuanya garagaramu,
jika bukan karena cara bicaramu yang
menyinggung perasaannya, mana bisa dia pergi
begitu saja. Tampaknya kehormatan Ci-hau-sanceng
selanjutnya bisa tamat di tanganmu.”
Biasanya Liong Hui jarang sekali marah, kini dia
kelihatan marah benar, Ciok Tim dan Koh Ih-hong
sama sekali tidak berani ikut bicara.
Giok-he tercengang sejenak, mendadak ia
menjerit sambil mendekap mukanya terus berlari
keluar.
“Toaso!” seru Ciok Tim dan Ih-hong bersama.
Melongo juga Liong Hui melihat istri tercinta lari
pergi dengan marah, betapa pun timbul juga rasa
menyesalnya.
“Lekas kau susul Toaso dan membujuknya,
Toako,” kata Ih-hong.
Liong Hui menunduk, “Memang perkataanku
tadi agak keras!” ia berpaling dan berkata kepada
Ciok Tim, “Kukira Samte saja yang menyusul dan
membujuknya.”
Tanpa disuruh lagi segera Ciok Tim melompat
keluar.
Sampai lama Liong Hui termenung, lalu
menghela napas dan berkata pula, “Ya,
perkataanku memang terlalu keras. Padahal
maksudnya juga demi kebaikan orang banyak ….”
Dia tidak menyalahkan orang lain, tapi mencela
diri sendiri lebih dulu.
Memandangi wajah Liong Hui yang lesu, tibatiba
timbul rasa kasihan Koh Ih-hong padanya.
Lantaran inilah, mestinya dia merasa malu lagi
tinggal dalam perguruan Sin-liong, tapi entah
mengapa sekarang sukar untuk menyatakan
niatnya untuk pergi.
Akhirnya ia bersuara perlahan, “Toako, apakah
kita akan tetap tinggal di sini atau turun gunung
saja?”
“Ya, pergi saja,” jawab Liong Hui sesudah
berpikir sejenak, “Kukira Toaso toh pasti akan
pulang ke Ci-hau-san-ceng, pula … saat ini Gote
mungkin sedang menunggu kita di kaki gunung.
Ai, kejadian hari ini memang serba aneh, untuk
apakah Tojin itu membawa lari peti mati itu?
Sungguh hal ini pun sukar untuk dimengerti atau
… atau akulah yang terlalu bodoh ….”
Koh Ih-hong diam saja tanpa menanggapi.
“Tapi semua teka-teki ini akhirnya pasti akan
tersingkap ….” demikian Liong Hui teringat kepada
ucapan Tik Yang tadi.
Ufuk timur sudah remang-remang, fajar hampir
tiba, kabut tipis mengelilingi lereng gunung,
perlahan mereka meninggalkan puncak Hoa-san
yang sunyi ini ….
*****
Di kaki gunung sana Lamkiong Peng dan Bwe
Kim-soat lagi saling tatap, sudah sekian lamanya
kedua sama-sama tidak bergerak.
Akhirnya Bwe Kim-soat menjulurkan tangan
untuk membetulkan rambut yang kusut pada
pelipisnya, katanya, “Apakah engkau harus
menunggu mereka?”
Lamkiong Peng mengiakan tanpa sangsi.
Ia tidak tahu bilamana orang perempuan meraba
rambut sendiri, biasanya pikiran tentu lagi resah.
“Baik, kuturut padamu,” kata Bwe Kim-soat
kemudian, segera ia melayang ke peti mati sana,
lalu berpaling pula dan menambahkan, “Cuma
sekali ini saja!”
Di bawah kerlip bintang peti mati tidak terlihat
sesuatu perubahan, Bwe Kim-soat duduk
bersandar pohon. Sedangkan Lamkiong Peng
berdiri tegak di sana, lalu berjalan mondar-mandir,
jelas pikirannya juga kusut.
Mendadak ia berhenti di depan Bwe Kim-soat
dan berkata, “Ingin kutanya padamu ….”
“Urusan apa?” berputar bola mata Bwe Kim-soat.
“Tadi … waktu kubuka peti mati itu, mengapa
kulihat kosong?”
Bwe Kim-soat tertawa, “Di dasar peti ada satu
lapisan rahasia, masa tidak dapat kau lihat?”
“Oo!?” Lamkiong Peng melenggong.
“Kukira yang hendak kau tanya bukanlah
urusan ini,” kata Kim-soat pula.
Kembali Lamkiong Peng melenggong, katanya
kemudian, “Betul, tapi … tapi sekarang kutidak
ingin tanya lagi.”
Ia lantas menyingkir lagi ke sana.
Tampak Bwe Kim-soot juga termenung, lalu
berucap dengan sayu. “Tadi kalau aku tidak
bereermin di air sungai, pasti kukira diriku sudah
tua.”
Dilihatnya Lamkiong Peng berpaling, tapi tidak
memandang ke arahnya, maka ia bergumam pula,
“Pada usia 14 aku sudah berkelana di dunia
Kangouw, setiap orang yang bertemu denganku
tidak pemah ada seorang yang tak acuh padaku
seperti dirimu sekarang ….”
Lamkiong Peng mendengus sambil meraba tutup
peti mati kayu cendana yang berukir indah itu,
bilamana saat ini tutup peti itu dibukanya, maka
dunia persilatan pasti takkan terjadi macammacam
persoalan lagi. Tapi ia cuma meraba tutup
peti dengan perlahan, sama sekali tiada maksud
hendak membukanya.
“Sudah banyak kulihat anak muda yang sok
anggap dirinya lain daripada yang lain,” kata Kimsoat
pula sambil membelai rambut sendiri. “Aku
pun banyak melihat jago, dan tokoh temama yang
anggap dirinya luar biasa. Sampai sekarang aku
masih ingat dengan jelas sorot mata mereka yang
memandang padaku, sungguh aku merasa geli dan
juga kasihan kepada mereka ….”
“Blang”, mendadak Lamkiong Peng menghantam
tutup peti dengan keras, jengeknya, “Kisah masa
lampau yang membuatmu bangga ini kenapa tidak
kau simpan saja dalam hatimu?”
Karena hantamannya itu, peti mati itu
berguncang cukup keras, di dalam peti ada suara
keluhan yang sangat lirih, karena anak muda itu
lagi kesal dan gelisah sehingga suara keluhan itu
tak didengarnya.
“Jika engkau tidak suka mendengarkan, boleh
menyingkir agak jauh ke sana,” ujar Bwe Kim-soat
dengan tersenyum dan tetap menyambung
ucapannya. “Di mana-mana orang selalu
menyanjung puji diriku, di mana-mana selalu
kulihat wajah dari sorot mata yang menggelikan
dan pantas dikasihani. Hampir sepuluh tahun aku
berkelana, banyak juga lelaki iseng yang tergila-gila
padaku, banyak pula yang mengalirkan darah dan
duel lantaran diriku hanya disebabkan karena
kupemah melirik dan tersenyum kepadanya.
Akibatnya mulailah orang persilatan sama mencaci
maki diriku, katanya aku ini gadis berdarah dingin
dan pembuat onar. Padahal bukan salahku,
kawanan lelaki itu yang mau berbuat begitu,
kenapa aku yang disalahkan? Coba, betul tidak?”
Lamkiong Peng hanya mendengus saja tanpa
menjawab.
Bwe Kim-soat tertawa, semakin mendongkol
Lamkiong Peng, semakin senang dia.
“Sepuluh tahun yang lalu, akhirnya dapat
kutemukan seorang yang sangat istimewa,” tutur
pula Kim-soat. “Jika lelaki lain, suka
memandangku seperti orang linglung, dia tidak.
Bila orang lain suka mengintil di belakangku, dia
tidak. Kebanyakan orang kalau bukan menyanjung
puji padaku tentu mencaci maki padaku, namun
dia hanya bicara denganku sewajarnya, bahkan
cukup memahami pribadiku. Ia sendiri gagah dan
ganteng, ilmu silatnya tinggi, perguruannya
terhormat, ditambah lagi serba pintar dalam
berbagai bidang, baik kesusastraan, seni lukis,
seni catur, seni musik dari lain-lain juga dia
seorang penyair. Namanya di dunia Kangouw juga
cukup gemilang, suka melarai perselisihan orang
lain dan berbuat sesuatu yang luhur dan menolong
sesamanya. Maka, lambat-laun aku mengikat
persahabatan dengan dia.”
Dia bereerita dan penuh pujian terhadap orang
itu sehingga mau tak mau Lamkiong Peng juga
tertarik, pikirnya. “Tokoh hebat seperti itu, bila
bertemu denganku pasti juga aku akan bersahabat
dengan dia.”
Karena pikiran itu, tanpa terasa ia bertanya.
“Siapa dia? Apakah sekarang dia masih berkelana
di dunia Kangouw?”
“Kau kenal orang ini,” jawab Bwe Kim-soat
dengan tersenyum manis. “Cuma sayang, untuk
selamanya dia takkan muncul lagi di dunia ini ….”
Lamkiong Peng ikut menghela napas menyesal.
Dilihatnya senyum Bwe Kim-soat hilang
mendadak, sebaliknya menyambung ucapannya
dengan dingin, “Sebab orang ini telah mati di
bawah pedangmu!”
Lamkiong Peng terkesiap, dadanya serupa
dihantam orang satu kali. “Ap … apa katamu?” ia
menegas dengan tergagap.
Bwe Kim-soat seperti tidak mendengar
pertanyaannya dan menyambung ucapan sendiri,
“Meski lahiriah orang ini kelihatan orang baik,
padahal, hmk! Pada satu hari ketika hujan salju
lebat, aku bersama dia dan seorang sahabatnya
yang juga cukup terkenal di dunia persilatan asyik
minum arak di rumah orang, setelah dua-tiga
cawan arak kuminum bara kurasakan ada yang
tidak beres di dalam arak, kulihat gerak-gerak
mereka juga tidak baik, Maka aku lantas berlagak
mabuk, kudengar sahabatnya berkeplok tertawa,
‘Aha, roboh, robohlah dia! Sebentar bila berhasil
kau tunggangi kuda binal ini, jangan kau lupakan
jasaku.’ Kudengar dengan jelas ucapannya, maka
aku sengaja berlagak tidak sadar, ingin kulihat apa
yang akan dilakukan mereka atas diriku.”
Jelas kisah ini cukup menarik perhatian
Lamkiong Peng, ia tidak menyela lagi melainkan
cuma mendengarkan.
Terdengar Bwe Kim-soat bereerita lagi, “Keparat
berwajah manusia dan berhati binatang ini tertawa
senang, aku diangkatnya ke tempat tidur, baru
saja dia mau membuka pakaianku, aku tidak
tahan lagi, begitu melompat bangun segera
kuhantam mukanya. Namun orang yang berjiwa
kotor ini memiliki ilmu silat yang tinggi, pukulanku
tidak mampu mengenai sasaran, dia sempat
membuka jendela dan kabur.
“Waktu itu sebenarnya aku sudah minum arak
bius dua-tiga cawan, sekujur badan kehilangan
tenaga, maka pukulanku tidak mampu melukai dia
dan dengan sendirinya juga tidak dapat
mengejarnya,” ia pandang tangan sendiri lalu
menyambung dengan penuh rasa benci, “Dengan
Lwekangku dapatlah kudesak keluar racun dalam
arak yang kuminum itu, sungguh tidak kepalang
gemas hatiku, kulari keluar, kubinasakan
kawannya yang kotor itu, kutikam tujuh-delapan
kali tubuhnya dengan pedangku pada bagianbagian
yang mematikan!”
“Keji amat!” ucap Lamkiong Peng.
“Keji?” jengek Bwe Kim-soat. “Hm, bilamana aku
kurang berpengalaman dan tubuhku jadi dinodai
oleh mereka, lalu orang Kangouw siapa yang akan
percaya kepada keteranganku? Semua orang tentu
akan menganggap aku yang memikat mereka. Lalu
siapa yang akan dikatakan keji?”
Lamkiong Peng tercengang, tanpa bersuara ia
menunduk dan merasa menyesal.
Maka Bwe Kim-soat bicara lagi, “Esoknya aku
lantas menyiarkan berita bahwa bila orang itu
kulihat lagi, lebih dulu akan kucungkil matanya
dan memotong daun telinganya, lalu mencencang
tubuhnya. Dan karena orang Kangouw tidak tahu
sebab musababnya, seketika timbul macammacam
desas-desus, dengan sendirinya desasdesus
itu sama merugikan nama baikku.”
Mendengar sampai di sini, kembali Lamkiong
Peng merasa penasaran, serunya, “Sebenarnya
siapakah orang ini?”
“Dengan sendirinya orang ini cukup temama di
dunia Kangouw,” jengek Kim-soat. “Dia terkenal
sebagai ‘Kongeu-kiam-khek’ atau ‘Kiam-khekkongeu’
(pemuda jago pedang atau jago pedang
muda) ….”
Lamkiong Peng terkesiap, “Hah, bukankah dia
….”
“Ya, dia saudara sepupu Tan-hongYap Jiu-pek
yang terkenal itu,” jengek Kim-soat pula. “Aku
tidak menghadiri pertemuan yang diprakarsai Yap
Jiu-pek sendiri secara tidak tahu malu itu sudah
dipandang sebagai kesalahan yang tak
terampunkan, apalagi sekarang aku hendak
membunuh saudara sepupuYap Jiu-pek, orang lain
masih mendingan, orang pertama yang tidak dapat
menerima ialah Put-si-sin-liong Liong Po-si.”
“Di dunia Kangouw kebanyakan adalah manusia
yang lebih suka menjilat yang tinggi dan memuja
yang besar, siapa yang mau tahu pihak mana yang
benar, dengan sendirinya mereka lebih percaya
kepada Kongeu-kiam-khek yang jujur dan berbudi
itu, siapa yang mau percaya kepada ‘iblis
perempuan’ macam diriku ini? Apalagi satusatunya
saksi hidup juga telah kubunuh, tentu
lebih sulit lagi bagiku untuk membuktikan
kebersihanku. Maka Put-si-sin-liong lantas
mengeluarkan Sin-liong-tiap (kartu naga sakti) dan
mengundang kedatanganku ke Kiu-hoa-san untuk
menyerahkan nyawa kepadanya.”
Makin emosional suaranya, sedangkan kepala
Lamkiong Peng tertunduk lebih rendah.
Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi,
“Tentu saja kupenuhi undangannya. Waktu itu
usiaku baru 20-an, tinggi hati dan bersikap
angkuh, kuyakin Kungfuku tidak ada
tandingannya, biarpun jago nomor satu Put-si-sinliong
juga tidak terpandang olehku. Maka setiba di
Kiu-hoa-san serentak kuajukan empat macam cara
bertanding. Tanpa pikir dia lantas terima
tantanganku. Kau tahu, waktu itu ilmu silatku
belum pemah menemukan tandingan, bahkan jago
pedang temama seperti Kongeu-kiam-khek itu juga
kabur menghadapiku, tentu saja aku sangat
senang tantanganku itu diterima begitu saja oleh
Put-si-sin-liong.”
Ia menghela napas, lalu menyambung, “Siapa
tahu, pertandingan pada babak pertama aku lantas
kalah, bahkan kalah secara mengenaskan. Dalam
babak kedua, kuminta bertanding kekuatan lunak,
kupikir dia tinggi besar, tentu tak bisa bergerak
lunak, siapa tahu kembali aku kalah lagi.”
“Babak ketiga kutantang, bertanding Am-gi
(senjata rahasia), karena gelisah lantaran sudah
kalah dua babak, pada babak ketiga ini aku
berbuat curang, selagi dia tidak berjaga,
kuhamburkan Am-gi dulu. Siapa tahu sekujur
badan Put-si-sin-liong seolah-olah penuh tumbuh
mata, meski kusergap tetap tiada gunanya.”
Pujian yang datang dari mulut lawan dengan
sendirinya adalah pujian yang paling berharga.
Diam-diam Lamkiong Peng merasa bangga,
pikirnya, “Nyata gelaran Suhu sebagai jago nomor
satu yang tak termatikan memang tidak bemama
kosong.”
Didengarnya Bwe Kim-soat bertutur lebih lanjut,
“Ketika babak keempat dimulai lagi, jelas Put-sisin-
liong menjadi gusar dam menyatakan tidak
memberi ampun lagi padaku, sebab aku telah main
sergap, hal ini lebih membuktikan desas-desus
yang tersiar tentang tindakanku terhadap Kongeukiam-
khek itu pasti tidak salah lagi dan aku
dipandangnya sebagai perempuan kotor, rendah,
hina dina dan jahat.”
Mendadak Lamkiong Peng tergerak, teringat
olehnya makian si Tojin berjubah hijau kepada
Bwe Kim-soat, juga teringat akan ….”
Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi,
“Walaupun begitu dia tetap mengalah lagi tiga
jurus padaku, aku tetap diberinya kesempatan
untuk menyerang lebih dulu, habis itu barulah dia
balas menyerang, melulu tujuh jurus, ya, cuma
tujuh jurus saja pedangku lantas tergetar lepas,
aku terdesak di batang pohon, pedangnya lantas
menusuk ke mukaku, kulihat sinar pedang
menyambar tiba, karena tidak berdaya,
kupejamkan mata ….”
Perlahan ia benar-benar memejamkan mata
seperti terbayang pada kejadian dahulu, bulu
matanya yang panjang menghiasi kelopak
matanya, ia menghela napas perlahan dan berucap
lagi, “Siapa tahu, sampai sekian lama kutunggu,
hanya kurasakan angin tajam menyambar lewat di
sisi telingaku, lalu tidak terjadi apa-apa lagi. Waktu
kupentang mataku, kulihat pedang Put-si-sin-liong
menancap pada batang pohon di belakangku.
Pedang itu hampir amblas seluruhnya serupa
menusuk pada benda yang lunak sehingga tidak
menerbitkan sesuatu suara.”
Ia membuka mata, bola matanya berputar, lalu
menyambung, “Waktu itu aku tercengang,
kudengar Put-si-sin-liong berkata padaku,
‘Kukalahkan dirimu dengan pedangku tentu orang
Kangouw akan bilang lumrah, rasanya kau pun
takkan rela mengalami kekalahan ini,’, mendadak
ia menyimpan pedangnya dan melompat mundur,
ia tepuk tangan dan berkata pula, ‘Nah, jika
dengan pedangmu dapat kau kalahkan kedua
tanganku ini akan kubiarkan kau pergi dari sini.’.”
“Karena sudah terdesak, tanpa pikir lagi aku
menerjang maju, kulancarkan serangan maut,
kutahu akan kelihaiannya, yang kuharapkan
adalah luka bersama dan tidak menaruh ilusi akan
mengalahkan dia.”
“Siapa tahu, belum ada 20 jurus, tenagaku
sudah lemah. Pada saat itulah tangannya sedang
meraih ke mukaku dengan jurus ‘In-liong-tam-jiau’
(naga menjulurkan cakar dari balik awan), kulihat
iga kirinya tak terjaga, dengan girang segera
kugeser langkah dan melancarkan tusukan ke
iganya.”
“Padahal tusukanku ini adalah salah satu jurus
serangan Kong-jiok-kiam (ilmu pedang merak) yang
disebut Kong-jiok-tian-ih (merak pentang sayap),
serangan keji tanpa kenal ampun. Serangan tanpa
menghiraukan keselamatan sendiri asalkan dapat
melukai musuh, masih ada lagi jurus ikutan lain
bila perlu akan gugur bersama musuh.”
“Siapa duga, baru saja pedangku menutuk,
mendadak kedua telapak tangannya digunakan
menjepit batang pedangku, berbareng itu ia terus
menggeser maju dan menyodok pinggangku dengan
sikunya. Kurasakan semacam hawa hangat timbul
dari bagian pinggang, dalam sekejap lantas tersalur
ke seluruh badan, menyusul lantas terasa enak
sekali, badan enteng scakan-akan terbang, dan
akhirnya aku lantas roboh terkulai dengan lemas.”
Terkesiap juga Lamkiong Peng, pikirnya, “Waktu
itu Suhu sangat membenci padanya, maka
menggunakan Sin-liong-kang (tenaga naga sakti)
untuk membuyarkan seluruh kekuatannya.”
Terdengar Bwe Kim-soat menghela napas, lalu
bertutur pula, “Betapa hebat dan di mana letak
keistimewaan gerak serangannya itu, meski sudah
kurenungkan selama sepuluh tahun di dalam peti
mati tetap tidak dapat kupahami. Sejak kecil aku
giat berlatih, dengan susah payah akhirnya
berhasil kukuasai Kungfu setaraf itu, tapi dalam
sekejap saja telah dihancurkan olehnya, tatkala
mana hatiku tidak kepalang sedihnya di samping
kejut, gusar, takut dan berduka.”
“Sungguh kekalahanku itu jauh lebih
menyakitkan hati daripada aku dibunuhnya saja,
aku lantas mencaci maki, dengan sedih
kubeberkan pula apa yang terjadi sebenarnya dan
perbuatan kotor Kongeu-kiam-khek itu, kutanya
apakah itu salahku? Dengan hak apa dia bertindak
padaku? Berdasarkan apa dia membela bajingan
yang rendah dan kotor itu untuk menganiaya
seorang perempuan macam diriku?”
Sikapnya memperlihatkan rasa dendam dan
benci yang tak terhingga, kejadian yang
membuatnya berduka dan murka itu scakan-akan
terbayang lagi di depan matanya.
Semakin banyak yang didengar Lamkiong Peng,
semakin besar rasa simpatiknya terhadap orang.
Bwe Kim-soat menyambung lagi, “Setelah
mendengar ucapanku, muka Put-si-sin-liong
menjadi pucat, sampai sekian lama baru dia
berucap dengan agak gemetar, ‘Mengapa tidak kau
katakan sejak tadi?’ Kulihat dia sangat menyesal,
ia mengeluarkan obat luka dan suruh kuminum,
tapi kutolak. Apa gunanya kuminum obat lukanya,
andaikan sementara takkan mati, tapi selama ini
musuhku sudah sekian banyak, bilamana mereka
tahu tenagaku sudah buyar, ilmu silatku sudah
punah, mustahil mereka takkan mencari balas
kepadaku?”
“Tapi Put-si-sin-liong memang seorang pendekar
yang berhati mulia, ia lantas memohon dengan
sangat kepadaku agar mau minum obatnya, ia
bilang bila aku mati, tentu dia akan menyesal
selama hidup, ia ingin menebus dosa, ingin
memperbaiki kesalahannya, akan melindungi
diriku selama hidup, juga akan mencari Kongeukiam-
khek yang rendah itu untuk membalaskan
dendam bagiku.”
“Aku masih juga menolak, maka dia mencekoki
aku dengan obatnya, lalu dengan Lwekangnya
berusaha menyembuhkan lukaku. Sebab itulah
meski cuma sehari saja dia bertanding denganku,
tapi tiga hari kemudian baru turun gunung. Orang
Bu-lim yang menunggu di bawah gunung melihat
kemunculannya dalam keadaan lelah dan lesu
sehingga mengira dia bertempur denganku selama
tiga hari tiga malam, semua orang bersorak bagi
kemenangannya …. Ai, padahal siapa yang tahu
akan kejadian yang sebenarnya?”
Diam-diam Lamkiong Peng berpikir, “Wah ketika
mendengar sorakan orang banyak waktu itu, entah
betapa pedih perasaan Suhu.”
Didengarnya Bwe Kim-soat menyambung lagi,
“Sebelum turun gunung dia telah menutuk Hiattoku
dan disembunyikan di dalam sebuah gua
rahasia. Malam kedua, dia datang lagi dengan dua
lelaki kekar yang membawa sebuah peti mati, aku
dimasukkan ke dalam peti mati, maksudnya jelas
untuk menghindari mata-telinga orang, terutama
mata telinga Yap Jiu-pek tentunya.”
“Sebab apa?” tanya Lamkiong Peng.
“Masa engkau tidak tahu,” Bwe Kim-soat
tertawa. “Yap Jiu-pek cantik dan tinggi ilmu
silatnya, dia memang awet muda, maski waktu itu
usianya sudah 50-an, tapi tampaknya serupa
berumur 30-an, sebab itulah orang Kangouw
menyebutnya sebagai Put-lo-tan-hong (si burung
hong yang tidak pemah tua), dengan tepat
merupakan satu pasangan dengan Put-si-sin-liong.
Sebenarnya dia serbabaik, hanya satu hal, yaitu
dia terlalu cemburu.”
“Berada di suatu ruang yang sempit dan gelap,
dari tuturan Put-si-sin-liong dapat kuketahui
banyak urusan yang menyangkut diri Yap Jiu-pek,”
Kim-soat meneruskan ceritanya. “Coba kau pikir,
apabila bukan lantaran perangai Yap Jiu-pek
kelewat aneh, kan seharusnya dia menikah dengan
Put-si-sin-liong. Yang seorang adalah ‘jago nomor
satu’, yang lain adalah ‘perempuan paling cantik’,
betapa mengagumkan pasangan ini. Akan tetapi
mereka tidak berbuat demikian, hidup mereka
justru berlalu dalam kesepian ….”
Mendadak ia menunduk terharu sehingga
wajahnya tertutup oleh rambutnya yang ikut
terurai.
Lamkiong Peng termangu-mangu sejenak, timbul
juga perasaan bimbang yang sukar diuraikan.
“Kesepian”, sekejap ini mendadak ia mengerti
kesepian yang dialami orang banyak. Perempuan
yang terkenal sebagai “Leng-hiat Huicu” atau si
putri berdarah dingin ini mengalami kesepian. Yap
Jiu-pek yang mahacantik itu juga mengalami
kesepian, pendekar nomor satu yang dipujanya
selama hidup, gurunya yang berbudi, Put-si-sinliong
juga menderita kesepian.
Perjalanan orang hidup memang berliku-liku dan
panjang, semakin tinggi menanjak ke atas,
semakin besar pula rasa kesepiannya. Bilamana
dia sudah menanjak sampai puncaknya, mungkin
baru akan diketahuinya apa yang terdapat di
puncak selain keemasan nama dan kejayaan atas
kesuksesannya, hanya kesepian yang serbakelabu
belaka.
Hati Lamkiong Peng terkesiap, mendadak dapat
dipahaminya mengapa wajah sang guru yang
berbudi luhur itu selalu membawa semacam sikap
yang kereng dan jarang memperlihatkan senyum
gembira.
“Sejak hari itu,” demikian Bwe Kim-soat
menyambung lagi, “aku tidak mendarat
kesempatan untuk melihat cahaya matahari lagi.
Sepuluh tahun …. selama sepuluh tahun Put-sisin-
liong ternyata tidak melaksanakan janjinya, dia
tidak membersihkan tuduhan orang padaku, tidak
menuntut belas bagiku, dengan sendirinya kutahu
apa sebabnya ….”
Mendadak ia berhenti bertutur dan menengadah
memandang langit. Kesunyian yang mendadak ini
serupa sebuah godam menghantam hati Lamkiong
Peng, sebab ia tahu di balik kesunyian ini betapa
mengandung rasa dendam dan kecewa orang.
Demi Yap Jiu-pek, lantaran Kongeu-kiam-khek
itu adalah saudara Yap Jiu-pek, gurunya, tidak
dapat membekuknya dan tidak sanggup mencuci
bersih fitnahan orang terhadap Bwe Kim-soat.
Sebaliknya si putri berdarah dingin ini juga tidak
memaksa gurunya melaksanakan janjinya, dengan
sendirinya hal ini disebabkan antara mereka juga
telah timbul jalinan perasaan yang mendalam.
Bwe Kim-soat memandangi cahaya bintang di
langit, termenung sampai sekian lamanya,
mendadak ia menatap Lamkiong Peng dengan
tersenyum, semacam senyuman yang sukar
dimengerti maknanya.
“Tapi apakah … apakah kau tahu … apakah kau
tahu? ….” dengan tersenyum berapa kali ia
mengulangi perkataannya.
Dengan bingung Lamkiong Peng menegas, “Tahu
apa?”
Bwe Kim-soat menatapnya lekat-lekat, katanya
perlahan, “Apa yang tidak dilaksanakan gurumu
bagiku itu kini telah kau lakukan, dengan
telingaku sendiri kudengar percakapanmu dengan
dia, juga kudengar sendiri jeritannya ketika dia
terluka oleh pedangmu.”
“Hah, jadi … jadi Tojin itulah Kongeu-kiamkhek?”
seketika Lamkiong Peng menjadi gelagapan.
“Tojin? ….” jengek Bwe Kim-soat dengan penuh
benci. “Dia sudah menjadi Tojin? Huh, meski aku
tidak tahu saat ini dia telah berubah bagaimana
bentuknya, tapi suaranya, sampai mati pun aku
tidak lupa pada suaranya.”
Meski biasanya Lamkiong Peng dapat bersikap
tenang, tidak urung sekarang ia pun kelihatan
terkejut, sungguh tak tersangka bahwa pendekar
pedang yang termasyhur pada angkatan yang lalu
bisa mati di bawah pedangnya. Namun apa pun
juga rasa malu dan menyesal atas kematian Tojin
itu kini menjadi tersapu bersih.
Didengarnya Bwe Kim-soat berkata pula, “Inilah
suka-duka antara gurumu dan diriku, juga apa
yang ingin kau ketahui tapi tidak berani kau
tanyakan tadi. Engkau telah membalaskan sakit
hatiku, maka perlu kuberi tahukan padamu bahwa
kematian orang itu adalah setimpal. Selama sekian
tahun aku tersekap di dalam peti mati, tidak ada
harapanku yang lain kecuali selekasnya pulih
sedikit tenagaku dan dapat menuntut balas
padanya. Sebab itulah ketika kudengar suara
jeritannya, meski merasa senang, tapi juga rada
kecewa dan benci juga, malahan terpikir olehku
bila dapat kulompat keluar, lebih dulu akan
kubinasakan orang yang membunuh dia itu.”
Terkesiap hati Lamkiong Peng, dilihatnya pada
ujung mulut Bwe Kim-soat tersembul secercah
senyuman.
“Tapi, entah mengapa ….” dengan tersenyum
Kim-soat meneruskan, “bisa jadi keadaan sekian
tahun telah membuat hatiku banyak berubah, aku
tidak ingin lagi membunuhmu, malah berterima
kasih padamu, sebab engkau telah mengurangi
kesempatan bagiku untuk berlepotan darah lagi.
Bilamana tangan seorang tidak banyak berlepotan
darah kan jadi lebih baik.”
Lamkiong Peng tercengang, tak terduga olehnya
perempuan yang disebut orang sebagai “berdarah
dingin” ini sekarang dapat bicara demikian.
Ia terdiam sejenak, kemudian berkata di bawah
sadar, “Setelah tenagamu buyar, kenapa sekarang
mendadak bisa pulih kembali, sungguh kejadian
aneh.”
Bwe Kim-soat tersenyum misterius, ucapnya,
“Engkau merasa heran? ….”
Ia tidak meneruskan, Lamkiong Peng juga tidak
dapat menerka makna ucapannya itu. Tiba-tiba
teringat olehnya ucapan Bwe Kim-soat tadi, “Tanpa
menghiraukan apa pun berusaha memulihkan
tenaga ….”
Jangan-jangan caranya memulihkan tenaga ini
telah menggunakan sesuatu jalan yang tidak wajar.
Selagi dia hendak bertanya, tiba-tiba terdengar
Bwe Kim-soat menghela napas dan berucap pula,
“Sungguh aneh juga, meski saat ini Kungfuku
sudah pulih kembali, tapi kurasakan tidak ada
gunanya sama sekali. Sekarang aku tidak
mempunyai sesuatu hubungan budi dan benci lagi.
Ai, sungguh hal ini jauh lebih baik daripada hati
penuh diliputi dendam dan benci.”
Dia sebentar gemas, sebentar sedih, lain saat
bersemangat, lalu murung lagi, sekarang dia lantas
bersandar di pohon dengan tenang, sembari
membelai rambutnya yang panjang bahkan ia
lantas bernyanyi kecil dengan senyum yang
lembut.
Melihat keadaannya yang adem ayem itu,
agaknya dia sedang mengenang masa lampau,
masa remaja yang bahagia.
Karena kelelahan terpengaruh pula oleh suara
nyanyi orang yang merdu, Lamkiong Peng merasa
mengantuk ….
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar
orang mendengus, Lamkiong Peng tersentak sadar,
waktu ia memandang ke sana, dari luar hutan
mendadak muncul sesosok bayangan orang.
Serentak Bwe Kim-soat juga berhenti bernyanyi.
“Siapa?” bentak Lamkiong Peng.
Sekali berkelebat, dalam sekejap saja seorang
pemuda berbaju kelabu sudah berada di depan
mereka.
Pemuda yang gagah tapi tampak bersikap
angkuh dan lagi tertawa dingin dan memandang
hina terhadap Lamkiong Peng.
Tentu saja Lamkiong Peng mendongkol, tegurnya
pula, “Siapa kau? Mau apa datang kemari?”
Dengan sorot mata tajam kembali pemuda baju
kelabu mengamat-amati Lamkiong Peng, lalu
menjengek, “Hm, bagus sekali! Murid kesayangan
sang Suhu, Sute yang selalu menjadi pujian
Suhengnya ternyata orang begini, selagi nasib
mati-hidup sang guru belum diketahui, bisa juga
iseng mendengarkan perempuan bernyanyi di sini,
sungguh hebat!”
“Memangnya ada sangkut paut apa denganmu?”
jawab Lamkiong Peng ketus.
Pemuda berbaju kelabu itu terbahak-bahak,
“Haha, engkau masih berani bersikap keras, masa
engkau tidak mengaku salah?”
“Hm, memangnya siapa kau dan apa maksud
kedatanganmu?” jengek Lamkiong Peng.
Pemuda baju kelabu melirik sekejap Bwe Kimsoat
yang masih bersandar pohon itu, mendadak ia
tertawa pula daun berkata, “Kau ingin tahu siapa
aku dan apa maksud kedatanganku? …. Hahaha,
untuk itu harus kutahu dulu apakah kau mau
mengaku salah atau tidak?!”
“Hm,” jengek Lamkiong Peng. “Jika
kedatanganmu ini ingin mencari perkara, ayolah
lolos senjatamu dan tidak perlu banyak omong
lagi.”
Bwe Kim-soat tampak tersenyum, agaknya dia
dapat membenarkan sikap tegas Lamkiong Peng
ini.
Suara tertawa pemuda baju kelabu serentak
berhenti, dengusnya, “Hm, memang kedatanganku
adalah untuk mencari perkara!”
Sekali ia berputar, waktu berhadapan lagi
tangannya sudah memegang sebatang tombak
bertangkai lemas.
Pedang Lamkiong Peng terselip pada tali
pinggangnya, sarung pedang sudah hilang jatuh ke
jurang, maka pedang pemberian gurunya ini selalu
dijaganya dengan baik.
Ia tersenyum dan menjawab, “Jika engkau
memang sengaja mau mencari perkara, terpaksa
kulayani beberapa gebrakan.”
Perlahan ia lantas melolos pedangnya, dia tetap
bersikap tenang, tapi mantap, emosinya tidak
mudah terpancing, ia angkat pedang sebatas dada
dan siap tempur.
“Silakan!” katanya. Agaknya sekarang dapat
dilihatnya pemuda baju kelabu itu sebenarnya
tidak bermaksud jahat melainkan cuma terdorong
oleh rasa dongkol dan sengaja merecokinya, maka
dalam tutur kata dan tindakan dilayaninya dengan
agak sungkan.
Segera pemuda baju kelabu memutar tombaknya
sehingga menimbulkan sejalur cahaya perak.
Diam-diam Lamkiong Peng memuji kecepatan
tombak lawan. Segera pedangnya juga berputar.
Sekonyong-konyong pemuda baju kelabu bersuit
terus mengapung ke udara. Cahaya perak ikut
mengambang ke atas.
Cepat Lamkiong Peng menyurut mundur
setindak, ujung pedang menyungkit ke atas.
Tubuh si pemuda baju kelabu menikung di
udara, tombak perak menusuk ke bawah secepat
kilat serupa bangau kelabu menerkam mangsa di
daratan.
Hati Lamkiong Peng tergerak, “Thian-san-jit-kimsin-
hoat!”
Cepat ia menggeser ke samping, berbareng
pedang lantas menebas ke atas. Sinar hijau
menahan cahaya perak tombak lawan, tapi ujung
tombak pemuda baju kelabu lantas menutul
perlahan pada ujung pedang, “tring”, dengan daya
pental itu ia melayang lagi ke udara.
Lamkiong Peng menatap tajam lawannya dan
tidak memburunya melainkan menunggu orang
melayang turun ke bawah.
Padahal kalau dia mau melancarkan serangan
susulan tentu lebih untung daripada lawan yang
terapung di udara. Namun dia tidak berbuat
demikian melainkan berdiri tegak saja.
Ketika pemuda baju kelabu melayang turun,
perawakannya yang kekar berdiri tegak tanpa
bergerak, hanya tombak perak yang dipegangnya
tampak bergetar.
Pemuda baju kelabu ini tak lain tak bukan ialah
Tik Yang, sesudah mengubur mayat di rumah
gubuk itu, ia lantas memburu ke bawah gunung, ia
ingin tahu tokoh macam apakah “Gote” yang
menjadi sanjungan Liong Hui itu.
Dia berwatak lugu dan terbuka, tidak menaruh
perhatian atas curiga orang lain kepadanya. Tapi
setiap pemuda umumnya tentu mempunyai sifat
kcangkuhan sendiri, maka begitu berhadapan
dengan Lamkiong Peng lantas timbul hasratnya
untuk menguji kepandaiannya. Selain itu ia pun
rada heran mengapa orang bisa iseng
mendengarkan nyanyian seorang perempuan
cantik di sini.
Setelah berhadapan dengan Lamkiong Peng
sekarang, timbul juga rasa sukanya, keduanya
berdiri berhadapan dan saling pandang.
Mendadak terdengar Bwe Kim-soat bersuara,
“Eh, kenapa kalian berhenti?!”
Tanpa terasa pandangan kedua pemuda itu
beralih ke arahnya.
Perlahan Bwe Kim-soat lagi berbangkit dengan
gaya yang memikat. Dengan langkah gemulai ia
mendekati Tik Yang, lalu menegur, “Apakah
engkau ini keturunan mendiang Kiu-ih-sin-eng Tiklocianpwe
dari Thian-san?”
Baru sekarang Tik Yang memerhatikan
kecantikan orang yang luar biasa itu, ia merasa
silau sehingga seketika tidak mampu bersuara
melainkan cuma mengangguk perlahan saja.
Bee Kim-soat tertawa, katanya pula, “Tadi tentu
engkau telah bertemu dengan Suhengnya?”
Kembali Tik Yang melengak dan mengangguk
lagi.
Tentu saja Lamkiong Peng sangat heran dari
mana orang mengetahui hal ini.
Siapa tahu Bwe Kim-soat lantas berkata pula
dengan tersenyum, “Tentu disebabkan Suhengnya
memuji dia di hadapanmu, karena penasaran,
maka kau susul kemari untuk mengujinya, betul
tidak?”
Terbelalak mata Tik Yang, dengan heran ia
mengangguk lagi.
Berturut ia tanya tiga kali dan setiap kali selalu
tepat, hal ini membuat Tik Yang selain terkesima
atas kecantikannya, juga tercengang oleh
kecerdasannya.
“Betul,” akhirnya ia menjawab juga, “Memang
betul tadi aku bertemu dengan Suhengnya. Saat ini
dia masih di atas sana.”
“Anda ini ….”
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, dengan
tertawa Tik Yang berseru pula, “Cayhe Tik Yang,
sungguh sangat menyenangkan dapat bertemu
denganmu. Maaf atas tindakanku yang kasar tadi,
kumohon diri sekarang, sampai berjumpa lagi
kelak.”
Begitu kata terakhir itu terucapkan, serentak ia
pun sudah melayang pergi.
“Cepat amat!” gumam Lamkiong Peng
memandangi bayangan orang yang cuma sekejap
saja lantas menghilang di luar hutan sana.
Tiba-tiba Bwe Kim-soat tertawa dan berkata,
“Apakah kau tahu sebab apa dia pergi dengan
tergesa-gesa?”
Belum lagi Lamkiong Peng menjawab segera ia
menyambung lagi, “Sebab dia tidak berani
memandang lagi padaku.”
Mendadak Lamkiong Peng membantah, “Engkau
selalu memandang buruk sifat orang lain.
Sebaiknya kau ikut bersamaku untuk menemui
Suhengku, nanti baru engkau tahu di dunia ini
masih ada lelaki sejati yang tidak mudah
terpengaruh oleh kecantikanmu.”
Habis berkata Lamkiong Peng lantas
mengangkat peti mati dan mendahului melangkah
ke sana.
Sejenak Bwe Kim-soat tertegun, tanpa terasa ia
ikut melangkah ke sana dan berseru, “Hei ….”
“Ada apa?” tanya Lamkiong Peng tanpa menoleh,
juga tanpa berhenti.
“Kan gurumu menyuruhmu mengikut dan
membela diriku, kenapa sekarang kau tinggalkan
aku dan pergi sendiri?”
Terpaksa Lamkiong Peng berhenti dan menoleh,
“Bukankah kau pun ikut kemari, kenapa bilang
kupergi sendiri?”
“Aku … aku ….” mendadak Bwe Kim-soat
mengentak kaki dan berteriak, “Tidak, aku tidak
mau ikut ke atas lagi.”
“Jika engkau tidak mau ikut, harap tunggu
sementara di sini, peti ini juga kutaruh dulu di
sini,” kata Lamkiong Peng dengan tersenyum.
“Siapa bilang akan kutunggumu di sini?” jengek
Kim-soat.
“Wah, jika begitu, lantas … lantas bagaimana
baiknya?”
“Kau yang ikut aku turun ke bawah gunung ….”
“Tentu saja aku akan ikut turun, cuma
hendaknya engkau ikut ke atas dulu.”
Bwe Kim-soat tampak mendongkol, katanya
dengan gusar, “Kau ….”
Tapi Lamkiong Peng lantas memotong, “Sudah
sekian ribu hari engkau tersekap di dalam peti
mati ini, sekarang engkau harus menghirup udara
segar. Lihatlah, cuaca cerah, pemandangan indah,
betapa menyenangkan bila dapat pesiar ke puncak
Hoa-san yang termasyhur ini?”
Bwe Kim-soat termenung sejenak, mendadak ia
melayang lewat ke sana dan hinggap di depan
Lamkiong Peng, serunya, “Baik, ikut padaku!”
Akhirnya ia naik juga ke atas gunung.
Memandangi rambut orang yang panjang terurai
dan kelakuannya yang kekanak-kanakan itu,
hampir saja Lamkiong Peng tertawa geli.
Siapa tahu lantas terdengar Bwe Kim-soat
mengikik tawa di depan, katanya, “Sekali tempo
menurut perkataan orang terasa menarik juga,
cuma ….” mendadak ia menoleh dan menegaskan,
“Cuma satu kali saja.”
“Baik cuma satu kali saja,” kata Lamkiong Peng
sambil menahan rasa gelinya.
Sang surya baru saja terbit, puncak Hoa-san
gilang-gemilang oleh sinar matahari pagi itu,
sampai rumah gubuk itu pun kelihatan kemilauan
tersorot oleh sinar sang surya.
Karena ingin lekas mengetahui keadaan di atas,
langsung Lamkiong Peng menuju ke rumah gubuk
ini, namun di sini tiada terdapat seorang pun.
“Mereka sudah pergi semua ….” ucapnya dengan
kecewa.
“Nah, kan sia-sia kedatanganmu ini,” ujar Bwe
Kim-soat.
“Juga belum tentu,” seru Lamkiong Peng,
mendadak ia menyodorkan peti mati kepada Bwe
Kim-soat, tanpa sempat berpikir Kim-soat
menerima peti itu, segera pula Lamkiong Peng
melompat ke sana, disingkapnya kasuran tua itu.
Bwe Kim-soat tidak melihat sehelai kertas
kuning yang terselip di bawah kasuran, sambil
mengangkat peti ia menjengek, “Hm, memangnya
di bawah kasur itu ada pusakanya?”
“Memang betul,” kata Lamkiong Peng sambil
membalik tubuh perlahan, di tangannya tampak
memegang sehelai kertas kuning, dengan cermat ia
membacanya, perlahan air mukanya menampilkan
rasa lega, tapi juga mengandung rasa heran. Lalu
kertas surat itu disimpan dalam baju.
Dengan sendirinya Bwe Kim-soat tidak dapat
melihatnya, ia berseru, “Hai!”
“Ada apa?” Lamkiong Peng berlagak bsingung.
Kim-soat mendengus, peti mati disodorkan
kembali kepada Lamkiong Peng, setelah diterima
anak muda itu, serentak ia melompat keluar
rumah gubuk. Karena mendongkol, ia tidak
menggubris Lamkiong Peng, tapi belum seberapa
jauh tanpa terasa ia menoleh.
Dilihatnya anak muda itu mengikut kemari
setelah memandang lukisan yang terukir di batu
karang sana.
Sesudah agak dekat, dengan gemas Bwe Kimsoat
berkata, “Kau mau bicara atau tidak?”
“Bicara apa?” tanya Lamkiong Peng.
“Apa yang tertulis pada kertas kuning itu?”
teriak Kim-soat.
“O, kiranya kau pun ingin membaca surat ini,
kenapa tidak kau katakan sejak tadi, tanpa bicara
mana kutahu?” ujar Lamkiong Peng dengan
tersenyum.
Dengan tangan kanan mengangkat peti, tangan
kiri mengeluarkan surat tadi dan disodorkan
padanya.
Segera Bwe Kim-soat mengambil surat itu dan
dibaca, ternyata isi surat hanya terdiri dari delapan
huruf yang berbunyi: “Pesan dari Thian-te, Sinliong
sehat walafiat!”
“Sin-liong sehat walafiat?!” Kim-soat berseru
heran, “Masa Put-si-sin-liong belum mati?”
“Tak mungkin mati,” ujar Lamkiong Peng dengan
tersenyum.
Bwe Kim-soat memandang anak muda itu
sekejap, katanya kemudian setelah berpikir,
“Lantas apa artinya istilah Thian-te ini?”
“Tentu nama seorang Bu-lim-cianpwe (tokoh
angkatan tua dunia persilatan), kecuali ini tidak
mungkin ….”
“Memangnya siapa?” Pemah kau dengar ada
tokoh Bu-lim yang disebut Thian-te? Bisa jadi ….”
mestinya Kim-soat hendak bilang Thian-te (Tuhan
Allah) tentu sinonim dengan “Surgaloka”, jadi cuma
istilah olok-olok pihak musuh, atau mungkin juga
untuk menipu mereka.
Ia urung meneruskan ketika melihat Lamkiong
Peng agak cemas, akhirnya ia menambahkan,
“Thian-te … kenapa sebelum ini tidak pemah
kudengar nama ini?”
Lamkiong Peng diam saja tanpa bicara.
Setelah berjalan lagi sebentar, tiba-tiba Kim-soat
berkata, “Marilah kita menyusuri jalan kecil saja.”
“Kenapa?” tanya Lamkiong Peng.
“Begini dandananku kan malu dilihat orang,”
ujar Kim-soat sambil membetulkan rambutnya.
Lamkiong Peng meliriknya dua kejap, kelihaian
rambutnya yang panjang indah, mukanya putih
bersih dengan baju yang putih mulus, sungguh
luar biasa cantiknya, masa malu dilihat orang,
sungguh aneh.
Tapi ia pun tidak membantah dan mengikuti
kemauannya, menjelang senja, sampailah mereka
di Limcong, sebuah kota besar temama di daerah
barat laut.
Limcong memang kota yang ramai, dekat magrib,
cahaya lampu sudah menyala di seluruh pelosok
kota.
Seorang pemuda gagah cakap membawa sebuah
peti mati diiringi seorang perempuan mahacantik
dengan dandanan yang khas berjalan berendeng di
tengah kota yang ramai ini, kecuali orang yang
berlalu-lalang ini orang buta semua, kalau tidak
mustahil mereka tidak menarik perhatian khalayak
ramai.
Dengan sendirinya Lamkiong Peng serbakikuk,
ia menunduk dan menggerundel, “Coba kalau kita
melalui jalan besar, mungkin di tengah jalan sudah
dapat menyewa kereta.”
Namun Bwe Kim-soat tetap tenang saja,
katanya, “Jika kau takut dipandang orang,
bolehlah kita mencari tempat berhenti ….”
“Betul juga,” kata Lamkiong Peng sambil
memandang ke kanan dan ke kiri, dilihatnya di
samping sana ada sebuah restoran paling besar,
papan mereknya tertulis lima huruf besar dan
berbunyi “Peng-ki-koai-cip-lau”, artinya restoran
makan gembira.
Restoran ini memang mentereng dan berbeda
daripada restoran ini, tapi langsung ia menuju ke
situ.
Namun sebelum tiba di depan pintu, seorang
pelayan tinggi kurus keburu memapak kedatangan
mereka, bukan menyatakan selamat datang
melainkan merintangi jalan mereka.
“Ada apa?” tanya Lamkiong Peng dengan
melenggong.
“Kau mau apa?” pelayan itu balas bertanya
dengan sikap sombong.
“Sudah barang tentu ingin makan minum,”
jawab Lamkiong Peng. “Memangnya restoran kalian
ini tidak terbuka untuk umum?”
Pelayan jangkung itu mendengus, “Dengan
sendirinya terbuka untuk umum, cuma tamu yang
berkunjung kemari dengan membawa peti mati,
jelas tidak kami terima.”
Baru sekarang Lamkiong Peng tahu duduknya
perkara, ia tertawa dan berkata, “Tapi, peti ini
kosong, kalau tidak percaya biar kubuka ….”
Selagi ia hendak menaruh petinya, siapa tahu
pelayan itu lantas mendorongnya sambil
membentak, “Kosong juga tidak kami terima.”
Meski kurus badannya, ternyata cukup
bertenaga juga, jelas pelayan ini bukan
sembarangan pelayan.
Karena ramai-ramai itu banyak orang lantas
berkerumun.
Sedapatnya Lamkiong Peng menahan rasa
dongkolnya, ia coba menjelaskan, “Kukenal kuasa
kalian, bolehkah memberi bantuan, biarlah
kutaruh peti ini di luar ….”
“Kenal kuasa kami juga tidak boleh, lekas pergi,
lekas ….” seru si pelayan dengan gusar. Agaknya
Bwe Kim soat juga dapat melihat Lamkiong Peng
tidak mau menimbulkan perkara, maka ia menarik
lengan bajunya dan berkata, “Di sini tidak terima,
biarlah kita cari yang lain saja.”
Tanpa rewel Lamkiong Peng meninggalkan
pelayan jangkung itu, didengarnya pelayan itu
masih mengomel, “Huh, tidak tanya-tanya dulu
tempat apa ini dan siapa yang membuka restoran
ini? Memangnya kau tahu siapa Kongeuya kami?
Kalau berani bikin onar, mustahil tidak patahkan
kakimu ….”
Kim-soat melirik sekejap, dilihatnya Lamkiong
Peng tetap tenang saja tanpa keki sedikit pun,
diam-diam ia merasa heran.
Siapa tahu, restoran berikutnya juga menolak
tamu yang tidak diterima oleh Koai-cip-lau,
berturut-turut tiga restoran lain bersikap sama.
Tentu saja Lamkiong Peng rada mendongkol,
terutama suara ejekan orang yang membuntutinya
untuk melihat keramaian.
Namun dia tetap tenang saja. Sesudah sampai di
suatu gang dan mendapatkan sebuah rumah
makan kecil yang mau menerima mereka, pemilik
rumah makan itu sudah tua, tanpa tenaga
pembantu, ia menyiapkan mangkuk piring sendiri
bagi tamunya sambil berkata, “Mestinya kami juga
tidak berani menerima tamu yang ditolak Koai-ciplau,
tapi, mengingat tuan tamu masih muda dan
membawa keluarga …. Ai, konon pemilik Koai-ciplau
mempunyai seorang Kongeuya yang berbudi
luhur dan suka menolong sesamanya, di segala
pelosok terdapat sahabatnya. Bisa jadi yang tuan
temui tadi ialah Yu-jiya yang kabarnya memang
lebih galak daripada kuasanya.”
Begitulah sembari bicara, sebentar saja ia telah
menyiapkan santapan sekadarnya, tanpa banyak
omong Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat makan
minum secukupnya.
Kemudian Lamkiong Peng minta pinjam alat
tulis, ia tulis sepucuk surat ringkas dan dilipat
dengan baik, lalu menyuruh seorang anak penjual
kacang di tepi jalan, setelah diberi persen dan
pesan seperlunya, anak penjual kacang itu lantas
berlalu.
Bwe Kim-soat hanya tersenyum saja dan
memandangnya, ia tidak tanya apa yang
dilakukannya itu, seperti sudah menduga apa yang
bakal terjadi.
Mereka melanjutkan bersantap dengan tenang.
Tidak lama kemudian, mendadak dari luar berlari
masuk seorang berbaju perlente, seorang lelaki
setengah umur dengan muka putih, begitu masuk
segera menjura kepada Lamkiong Peng.
Belum lagi orang ini sempat bicara, kembali dari
luar berlari masuk seorang lagi dan langsung
berlutut di depan Lamkiong Peng dan
menyembahnya tanpa berhenti. Nyata orang ini
“Yu-jiya”, si pelayan jangkung Koai-cip-lau.
“Eh, ada apakah kalian ini?” ucap Lamkiong
Peng dengan tersenyum.
Keadaan “Yu-jiya” itu sekarang sungguh harus
dikasihani, berulang menyembah dan minta
ampun.
Lelaki perlente setengah umur itu pun tampak
gugup, katanya, “Ampun, tak tersangka Kongeuya
bisa … bisa berkunjung ke daerah barat laut sini.”
Si kakek pemilik warung makan jadi melongo
juga, ia hampir tidak percaya kepada apa yang
terjadi.
Maklumlah, keluarga hartawan Lamkiong turuntemurun
terkenal kaya raya, di mana-mana hampir
terdapat perusahaan mereka, pegawainya tidak
kurang dari puluhan ribu orang. Tapi tidak banyak
yang kenal majikan muda mereka, Lamkiong Peng.
Sekarang Lamkiong Peng hanya menulis secarik
kertas dan dibubuhi tanda tangan, lalu kuasa
Koai-cip-lau dan Yu-jiya tadi telah dibikin
kelabakan setengah mati dan tidak tahu apa yang
harus dikemukakan terhadap majikan muda dan
tidak tahu pula cara bagaimana harus minta
ampun.
“Wah, tampaknya kita harus ganti tempat untuk
makan lebih enak,” kata Bwe Kim-soat dengan
tersenyum
Lamkiong Peng juga tersenyum, ucapnya,
“Bagaimana Yu-jiya, bolehkah kami membawa peti
ini ke sana.”
Dengan sendirinya anak buahnya takkan
membiarkan sang majikan muda mengangkat peti
mati sendiri, segera kuasa Koai-cip-lau menyela,
“Silakan Kongeu pindah dulu ke tempat sendiri,
sebentar hamba akan menyuruh orang
mengangkat peti ke sana.”
Diam-diam ia pun heran untuk apakah majikan
muda membawa sebuah peti mati kian kemari.
Dengan sendirinya ia tidak berani bertanya.
Lamkiong Peng tersenyum, ia mengeluarkan
sebuah kantung sutera kecil dan dilemparkan ke
atas meja, katanya kepada orang tua pemilik
warung, “Inilah uang makan kami …. Satu-dua
hari lagi tentu akan kuatur pekerjaan baik bagimu,
di bawah pimpinanmu, kuyakin Koai-cip-lau akan
melayani setiap pengunjungnya dengan lebih
ramah tamah.”
Tanpa menunggu terima kasih si orang tua,
segera ia melangkah pergi bersama Bwe Kim-soat.
Dengan sendirinya orang yang berkerumun juga
lantas bubar.
Orang tua ini berdiri melenggong di dekat pintu,
rasanya seperti habis mimpi saja.
Ia duduk di tepi meja dan membuka kantung
kecil itu, seketika cahaya gemerdep serupa sinar
matahari menyilaukan matanya. Isi kantung
adalah empat biji mutiara hampir sebesar jari.
Rezeki nomplok ini sungguh datangnya terlalu
mendadak, seketika ia terkesima.
Sekonyong-konyong terdengar suara keriatkeriut
yang perlahan, waktu ia menoleh, seketika
ia melongo, darah serasa membeku. Tanpa terasa
kantung sutera kecil itu tersampar jatuh ke lantai,
keempat biji mutiara pun menggelinding keluar
dan berhenti di samping peti mati yang tertaruh di
pojok sana.
Suara keriat-keriut itu rupanya suara
terbukanya tutup peti mati, dilihatnya seorang
Tojin berjubah hijau dan berlumuran darah
merangkak keluar dari dalam peti.
Di bawah cahaya lampu yang guram muka si
Tojin kelihatan beringas menakutkan. Saking
ngerinya si kakek berdiri seperti patung dengan
kaki gemetar.
Belum lagi dia sempat menjerit, tahu-tahu Tojin
berdarah itu menubruk tiba, jarinya yang kuat
serupa kaitan mencekik leher si kakek.
Hanya sempat terjadi rontakan sedikit, lalu
semuanya kembali sunyi lagi. Si kakek roboh
terkulai.
Tojin itu celingukan kian kemari, untung di situ
tiada orang lain lagi, semuanya sudah ikut pergi
menyaksikan kegantengan Lamkiong-kongeu yang
termasyhur itu.
Ia menghela napas lega dan buru-buru naik ke
atas loteng, ia tukar pakaian milik si kakek, lalu
dengan langkah agak sempoyongan ia menyelinap
keluar warung makan itu meninggalkan si kakek
yang rebah di samping peti mati bersama empat
biji mutiara ….
*****
“Putra pewaris keluarga Lamkiong datang ke
Limcong,” berita ini telah menggemparkan segenap
lapisan masyarakat kota ini.
Di Koai-cip-lau diadakan pesta penyambutan
yang meriah, banyak tokoh dari berbagai golongan
sama mohon bertemu.
Tapi di tengah keramaian itu, diam-diam
pemuda itu mengeluyur keluar dari Koai-cip-lau
dan mendatangi lagi warung makan di gang kecil
itu.
Ia menjadi heran juga setiba di gang itu, di situ
juga penuh berkerumun orang banyak. Cepat ia
memburu ke situ dan menyelinap di tengah
berjubel orang banyak untuk melongok apa yang
terjadi, dengan sendirinya terlihat olehnya adegan
yang mengenaskan itu.
Jika seekor burung mati saja dipendam dengan
baik oleh Lamkiong Peng, apalagi jenazah seorang
tua yang kematiannya dapat diduga karena
perbuatannya.
Maka esoknya berlangsunglah upacara
penguburan yang ramai, iringan pelayat panjang
serupa barisan. Sudah barang tentu semua itu
berkat kehormatan Lamkiong-kongeu belaka,
kereta jenazah menuju ke tempat pemakaman di
Se-an, sebuah kota kuno di sebelah barat Limcong.
Tidak jauh iringan kereta jenazah keluar
Limcong, tiba-tiba dari depan berlari datang
seorang lelaki kekar dengan pakaian berkabung,
sesudah dekat dan melihat Lamkiong Peng berada
di samping kereta jenazah, langsung ia berlutut
dan menyembah.
Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, lelaki
berbaju putih itu sudah bertutur, “Hamba Gui
Sing-in, berkat bimbingan Kongeu, saat ini
memimpin perusahaan di Se-an ….”
“Baiklah, bicara saja nanti, saat ini bukan
waktunya untuk bicara urusan perusahaan,” kata
Lamkiong Peng.
Dengan gugup Gui Sing-in menyambung lagi,
“Tapi … tapi hamba ingin melaporkan tentang
sesuatu peristiwa yang bersangkutan dengan
pemakaman ini ….”
Baru sekarang Lamkiong Peng tertarik, cepat ia
tanya, “Memangnya terjadi peristiwa apa?”
Maka Gui Sing-in melapor lagi, “Ketika hamba
kemarin mendapat kabar maksud Kongeu akan
mengadakan pemakaman ini, serentak hamba
menyiapkan sesajian yang diperlukan untuk
mengadakan sembahyangan di tengah jalan. Siapa
tahu secara kebetulan di Se-an juga ada peristiwa
pemakaman secara besar-besaran sehingga hampir
seluruh barang sembahyang sebangsa hiosoa, lilin,
kertas bakar dan sebagainya terborong habis,
untung dengan harga lipat barulah hamba
mendapatkan sedikit untuk keperluan
sekadarnya.”
“Sekadarnya pun sudah cukup, bikin susah saja
kepada kalian,” ujar Lamkiong Peng.
“Terima kasih atas kebijaksanaan Kongeu,” kata
Gui Sing-in. “Karena khawatir kereta jenazah akan
lewat lebih dulu, maka semalam juga hamba sudah
siap di sini dengan meja sembahyang, menjelang
subuh tadi, mendadak debu mengepul di kejauhan,
hamba mengira kereta jenazah telah tiba, siapa
tahu yang muncul adalah beberapa penunggang
kuda yang semuanya memakai seragam hitam, ikat
kepala hitam, bahkan segala sesuatu yang mereka
bawa juga serbahitam. Kulihat pada pelana kuda
mereka membawa sebuah panji merah kecil,
semuanya kelihatan habis menempuh perjalanan
jauh, sikap mereka tampak gelisah dan tidak sabar
lagi.”
Lamkiong Peng terkesiap, pikirnya, “Mungkinkah
para penunggang kuda itu adalah anak buah Suma
Tiong-thian dari Ang-ki-piaukiok (perusahaan
pengawalan panji merah)?”
Didengarnya Gui Sing-in menyambung lagi
penuturannya, “Begitu hamba melihat dandanan
kawanan penunggang kuda itu, segera hamba tahu
mereka bukan orang baik-baik, maka sedapatnya
kami menghindarinya.”
Diam-diam Lamkiong Peng merasa kurang
senang oleh komentar Gui Sing-in itu, jika benar
mereka orang dari Ang-ki-piaukiok, kenapa
disangka bukan orang baik-baik?
“Tak terduga,” demikian Gui Sing-in
menyambung lagi, “begitu melihat rombongan
hamba, kawanan penunggang kuda itu lantas
melompat turun dan sama berlutut sambil berseru,
‘Maaf, Loyacu, kami datang terlambat,’ Malahan
ada di antaranya lantas menangis sedih.”
Lamkiong Peng melenggong, ia heran apakah
dugaannya juga keliru?
Terdengar Gui Sing-in menutur pula, “Selagi
hamba terheran-heran dan ingin tanya mereka
datang melayat bagi siapa, tak tahunya kawanan
penunggang kuda itu pun sudah sempat melihat
tulisan pada meja sembahyang, mereka menjadi
gusar dan berbangkit, kontan mereka mencaci
maki.”
“Dengan sendirinya hamba tidak rela, kukatakan
kalian yang salah lihat, kenapa menyalahkan orang
lain. Rupanya mereka menjadi kalap, tanpa bicara
lantas menyerang, hamba sekalian tidak mampu
melawan mereka, sebagian saudara terhajar hingga
babak belur dan sudah dibawa pulang untuk
dirawat. Kawanan penunggang itu lantas pergi dan
beginilah, mohon Kongeu memaafkan.”
Lamkiong Peng memandang sekejap ke meja
sembahyang yang berada di tepi jalan, beberapa
lelaki yang berlutut itu tampak benjut dan mata
biru, meski tidak parah, tapi cukup mengenaskan.
Lamkiong Peng tetap tenang saja, ia suruh Gui
Sing-in dan kawannya berbangkit dan sembahyang
penyambutan dilakukan dengan sederhana, lalu
iringan kereta jenazah meneruskan perjalanan.
Mendadak timbul pikiran Lamkiong Peng, “Angki-
piaukiok itu adalah perusahaan tua dan cukup
terkenal di dunia persilatan, Thi-cian-ang-ki
(tombak baja panji merah) Suma Tiong-thian juga
terkenal luhur budi, setiap anak buahnya tidak
mungkin berbuat kasar begitu, mungkin telah
terjadi salah paham. Bukan mustahil pula
beberapa pegawaiku ini yang kurang sopan
sehingga membikin marah orang lain.”
Dia memang pemuda bijaksana, segala sesuatu
selalu ditinjau secara adil, sebelum mencela orang
lain, periksa dulu kesalahan pihak sendiri.
Kota kuno Se-an semakin dekat, tiba-tiba timbul
lagi pikirannya, “Kawanan penunggang kuda
berpanji merah itu datang melayat secara terburuburu,
entah kaum Cianpwe siapa di daerah ini
yang wafat. Ai, akhir-akhir ini berturut-turut
beberapa jago tua telah meninggal dunia, dunia
persilatan semakin sedikit tokoh yang bijaksana,
bulan mustahil akan timbul lagi kekacauan di
dunia Kangouw.”
Perasaannya menjadi tertekan dan masygul.
Selagi melamun, tiba-tiba terdengar suara
bentakan orang di depan sana, hanya sekejap saja
beberapa orang muncul dan berdiri sejajar
merintangi jalan kereta.
Seorang yang menjadi pemimpinnya berbaju
merah, tapi bermuka pucat, mata bersinar, ia tatap
Lamkiong Peng dan menegur, “Hendaknya saudara
berhenti dulu!”
Terpaksa iring-iringan kereta berhenti, hanya
suara musik yang sendu memilukan tetap
bergema.
Lamkiong Peng memandang orang-orang itu
sekejap dan menjawab, “Ada petunjuk apa?”
Orang berbaju merah itu memandang sekejap
iringan kereta jenazah di belakang Lamkiong Peng,
lalu berkata pula, “Agaknya Anda inilah
penanggung jawab pada iringan ini?”
Lamkiong Peng mengiakan.
“Jika begitu, ingin kumohon sesuatu ….”
“Silakan bicara!”
“Yakni mengenai iringan kereta jenazah kalian
ini dapatlah memutar ke pintu gerbang barat saja?”
Lamkiong Peg terdiam sejenak, lalu berkata,
“Bukankah gerbang timur sudah dekat di depan?”
“Betul di depan adalah gerbang timur,” jawab
orang itu, ujung mulutnya menampilkan senyuman
yang angkuh. “Tapi di gerbang timur sana saat ini
banyak kawan Kangouw sedang mengadakan
sembahyangan untuk menghormati seorang Bulim-
cianpwe, apabila saudara tidak berputar ke
gerbang barat, tentu tidak leluasa.”
Kening Lamkiong Peng bekernyit, “Jika kuganti
arah jalan tentu juga akan kurang leluasa. Jalan
raya cukup lebar dan dapat dilalui siapa pun,
hendaknya maafkan tak dapat kuturut
permintaanmu.”
Orang berbaju merah itu tampak kurang senang,
ia pandang Lamkiong Peng sekejap, lalu berucap
pula, “Aku sih tidak menjadi soal bila saudara
tidak mau berganti arah, tapi para sahabat yang di
sana itu rasanya sukar untuk diajak bicara ….”
Ia merandek sambil menengadah, tanpa
menunggu tanggapan Lamkiong Peng, ia
menyambung lagi, “Hendaknya kau pikir sendiri,
apabila yang meninggal itu bukan tokoh Kangouw
terkemuka, mustahil sahabat Kangouw mau
mengadakan upacara penghormatan terakhir
baginya di sini. Dan upacara besar-besar ini masa
boleh diganggu oleh iringan kereta jenazah lain.
Maka, kuharap sebaiknya saudara mengambil
jalan putar saja.”
Diam-diam Lamkiong Peng kurang senang,
katanya, “Dunia persilatan mengutamakan
keluhuran budi dan setia kawan, apalagi membela
yang besar dan menindas yang kecil, tentu takkan
dibenarkan oleh mendiang tokoh besar yang kalian
puja itu. Apalagi, kalau bicara tentang nama dan
kedudukan, melulu peti mati di atas kereta kami
ini pun tidak perlu harus mengalah dan mengambil
jalan lain.”
Orang berbaju merah itu menatap Lamkiong
Peng sejenak, mendadak ia tersenyum, katanya,
“Baiklah, jika Anda tidak mau terima nasihatku,
terpaksa aku tidak ikut campur lagi.”
Segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.
Tak terduga seorang lelaki kekar di sampingnya
mendadak berteriak, “Yim-toako tidak mau ikut
campur, biarlah aku Sih Po-gi yang ikut campur.
Kubilang, wahai sahabat, putarlah ke arah lain!”
Berbareng itu sebelah tangannya terus
mendorong pundak Lamkiong Peng.
Air muka Lamkiong Peng berubah, dengan gesit
ia hindarkan tolakan orang, bentaknya,
“Selamanya kita tidak ada permusuhan, mengapa
kau main kekerasan?”
“Hahaha,” lelaki itu terbahak. “Kubilang
sebaiknya kau putar ke jalan lain, sahabat cilik,
tentu paman Sih takkan membikin susah
padamu.”
Sembari bicara kembali dia mendesak maju,
tangannya meraih pula hendak memegang bahu
Lamkiong Peng.
Namun anak muda itu mendadak mengegos,
secepat kilat sebelah tangannya balas meraih
pergelangan tangan lawan, sekali sengkelit kontan
Sih Po-gi terbanting roboh.
Tentu saja beberapa kawannya terkejut,
beramai-ramai mereka lantas menerjang maju.
Syukurlah pada saat itu juga si baju merah yang
disebut “Yim-toako” tadi muncul kembali bersama
dua orang tua berbaju hitam dan menyerukan agar
pertarungan dihentikan.
“Hm, main kerubut, apakah tidak kenal
peraturan Bu-lim lagi?” jengek Lamkiong Peng
terhadap si baju merah.
“Hebat juga kepandaian saudara cilik ini,
rupanya juga orang golongan kita.” kata si baju
merah. “Jika begitu urusan menjadi mudah
dibicarakan. Kuperkenalkan lebih dulu kedua
tokoh kita ini ….”
Lalu ia tuding kakek baju hitam sebelah kiri
yang bertubuh lebih tinggi dan berkata pula,
“Inilah salah seorang dari Bin-san-ji-yu (dua
sahabat dari gunung Bin) yang dulu terkenal
sebagai Thi-ciang-kim-kiam (telapak besi pedang
emas sakti) Tiangsun Tan, Tiangsun-toasiansing.”
Kakek baju hitam yang disebut itu berdiri diam
saja.
Maka si baju merah menunjuk lagi kakek yang
lain, katanya, “Dan ini dengan sendirinya ialah
Keng-hun-siang-kiam (si pedang penggetar sukma)
Tiangsun Kong, Tiangsun-jisiansing.”
Lamkiong Peng memberi hormat dan merasa
heran mengapa kedua pendekar pedang yang
terkenal berwatak nyentrik ini juga bisa muncul di
sini, untuk apa pula si baju merah menonjolkan
mereka kepadanya?
Didengarnya si baju merah berucap pula dengan
tersenyum, “Diriku memang kaum keroco yang
tidak bemama, tapi bila kedua Tiangsun-locianpwe
ini pun jauh-jauh datang melayat ke sini,
memangnya berapa orang Kangouw yang
mempunyai kehormatan sebesar ini, masakah
saudara cilik ini tidak dapat menerkanya?”
Pada saat itu juga sebuah kereta kuda putih
dengan tabir terurai telah melampaui iringan
pelayat dan berada tidak jauh di belakang
Lamkiong Peng, tapi anak muda itu belum lagi
mengetahui, ia sedang berpikir, “Ya, siapakah
tokoh besar yang mati ini, sampai Bin-san-ji-yu
juga datang melawat?”
Tanpa terasa ia tersenyum getir, lalu menjawab,
“Agaknya pengalamanku terlalu cetek sehingga
tidak dapat menerkanya, mohon Anda sudi
memberi penjelasan.”
Mendadak air muka si baju merah berubah
serius dan khidmat, ucapnya dengan menyesal,
“Kematian tokoh ini bagi orang Kangouw serupa
meninggalnya orang tua mereka, setiap orang
merasa kehilangan sandaran. Beliau tak lain tak
bukan adalah jago yang terkenal dengan pedang
Yap-siang-jiu-loh, Put-si-sin-liong Liong-loyacu ….
Nah, sebagai sesama orang dunia persilatan,
sekarang tentu saudara takkan keberatan untuk
memutar ke jalan lain, bukan?”
Seketika Lamkiong Peng berdiri mematung dan
tidak sanggup bersuara.
Si baju merah merasa heran juga melihat sikap
Lamkiong Peng yang serupa orang linglung itu,
tegurnya, “Eh, apakah saudara juga kenal Liongloyacu
ini ….”
Mendadak Lamkiong Peng menjura padanya,
habis ini mendadak ia berlari ke arah Se-an
secepat terbang.
Tentu saja Bin-san-ji-yu melengak, serentak
mereka pun hendak bergerak. Tapi si baju merah
lantas mencegahnya, “Tidak perlu mengejarnya.
Tampaknya perguruan anak muda ini pasti ada
sangkut pautnya dengan Put-si-sin-Liong,
kepergiannya tentu tidak bermaksud jahat, bisa
jadi akan ikut bersembahyang.”
Dalam pada itu Lamkiong Peng sedang berlari ke
depan, hanya sekejap saja bayangan benteng kuno
sudah tertampak di sana, di kaki tembok benteng
tampak penuh berdiri orang berseragam hitam,
semuanya memegang dupa dan antre memberi
penghormatan terakhir pada meja sembahyang.
Seorang kakek tinggi besar tampak berdiri di
tengah orang banyak dengan sikap khidmat,
mendadak ia berteriak, “Selama hidup Put-si-sinliong
terkenal gagah perkasa, untuk
keperwiraannya, marilah kita bersorak lagi
baginya!”
Dan serentak terdengar orang bersorak gemuruh
seperti suara yang didengar Lamkiong Peng dalam
perjalanan tadi.
Dada Lamkiong Peng terasa bergejolak, entah
duka atau gembira, tapi ia masih terus berlari
menuju ke depan.
Belasan orang merasa kaget ketika mendadak
seorang pemuda menyelinap lewat di antara
mereka, serentak mereka membentak dan ada yang
berusaha merintangi.
Namun segesit belut Lamkiong Peng terus
menyelinap maju.
“Kurang ajar!” gerutu si kakek tinggi besar tadi
demi melihat anak muda ini berani main terobos
begitu saja di tengah suasana khidmat ini.
Selagi dia hendak memerintahkan orang
membekuk Lamkiong Peng, tiba-tiba dua orang di
sampingnya memberi kisikan, seketika lenyaplah
rasa gusarnya.
Dalam pada itu Lamkiong Peng sudah menerjang
sampai di depannya dan memberi hormat kepada
si kakek.
Gemerdep sinar mata si kakek, tanyanya,
“Apakah kau ini murid kelima Put-si-sin-liong,
Lamkiong Peng?”
Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat
didengar orang banyak. Tentu saja semua orang
melengak heran.
Maklumlah, selama Lamkiong Peng masuk ke
perguruan Put-si-sin-liong memang belum pemah
berkecimpung di dunia Kangouw, dengan
sendirinya para kesatria tidak mengenalnya. Meski
ada di antaranya yang mengetahui dia adalah
murid ahli waris Put-si-sin-liong.
Lamkiong Peng sendiri juga terheran-heran, dari
manakah kakek ini dapat mengenalnya, namun
lantas dijawabnya dengan hormat, “Wanpwe
memang Lamkiong Peng adanya!”
Alis si kakek menegak, katanya dengan bengis,
“Jika benar kau anak murid Sin-liong, masakah
tidak tahu kami sedang mengadakan upacara
sembahyang bagi arwah gurumu? Mengapa
sembarangan bertingkah di sini dan mengganggu
kekhidmatan suasana.”
Dengan prihatin Lamkiong Peng memberi hormat
lagi, lalu berseru lantang, “Atas penghormatan para
Cianpwe terhadap guruku, sungguh Wanpwe
sangat berterima kasih dan takkan melupakan
budi kebaikan ini. Namun ….”
Mendadak ia menyapu pandang para hadirin,
lalu berteriak terlebih lantang, “Ketahuilah bahwa
sesungguhnya guruku belum meninggal ….”
Belum habis ucapannya terdengarlah pekik
orang banyak.
Dengan melotot si kakek tinggi besar juga
melengak, katanya, “Put-si-sin-liong belum mati
katamu?” mendadak ia membalik tubuh dan
berteriak, “Li Sing, Ong Pun, kemari sini!”
Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana,
tertampaklah dari belakang si kakek muncul dua
orang berbaju hitam dengan perawakan kekar,
ternyata kedua orang ini adalah penggotong peti
mati dari Ci-hau-san-ceng itu.
Rupanya sejak Lamkiong Peng meninggalkan
mereka untuk mengikuti jejak si Tojin, Liong Hui,
Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Koh Ih-hong juga naik
lagi ke puncak Hoa-san untuk mencari sang guru,
karena menunggu sekian lama tidak ada sesuatu
kabar berita, kedua orang ini lantas turun sendiri
ke bawah gunung.
Karena mengambil jalan besar, ketika sampai di
kaki gunung, tertampaklah berbagai jago silat
sama menunggu di situ. Rupanya berita tentang
pertandingan antara Put-si-sin-liong dan Put-lotan-
hong di puncak Hoa-san telah tersiar sehingga
menarik perhatian kawanan jago silat itu untuk
menyusul kemari dan ingin mengetahui hasil
pertandingan itu. Cuma mereka pun kenal watak
Put-si-sin-liong maka tidak ada seorang pun berani
sembarangan naik ke atas.
Karena itulah berita yang dibawa kedua orang
penggotong peti mati itu sangat menggemparkan
kawanan jago Bu-lim itu,
Berita itu adalah Tan-hong sudah mati, Put-sisin-
liong juga terjebak oleh tipu muslihat murid
Tan-hong dan meninggalkan surat wasiat. Kini
anak murid Sin-liong juga sudah tercerai-berai.
Meski berita tidak benar dan juga agak dilebihlebihkan,
namun dengan cepat lantas tersiar dan
menggemparkan dunia persilatan, terutama
beberapa propinsi di sekitar tempat kejadian.
Di daerah barat laut ini ada seorang gembong
persilatan dan juga kaya raya, namanya Wi Ki
berjuluk Hui-goan atau si gelang terbang, karena
pengaruhnya yang besar di wilayah ini, dia juga
terkenal sebagai Sai-pak-sin-liong atau si naga
sakti daerah barat laut. Orang Kangouw yang jail
ada juga yang menyindirnya sebagai “naga
gadungan”, tapi Wi Ki tidak ambil pusing, ia sendiri
sangat kagum dan hormat terhadap Put-si-sinliong.
Maka berita kemalangan Liong Po-si itu juga
sangat mengejutkan dia. Segera ia mengumpulkan
para ago silat untuk mengadakan sembahyang bagi
arwah Put-si-sin-liong di kota kuno Se-an ini.
Setiap jago silat yang mendengar berita itu
serentak juga ikut menyusul ke sini. Yang
menambah semarak upacara ini adalah hadirnya
tokoh-tokoh yang biasanya cuma terdengar tapi
jarang kelihatan, yaitu Ban-li-liu-hiang Yim Hongpeng
bersama Bin-san-ji-yu, ketiganya juga ikut
hadir.
Begitulah demi melihat kedua penggotong peti
mati dari Ci-hau-san-ceng barulah Lamkiong Peng
tahu duduk perkara, rupanya memang telah terjadi
salah paham, pikirnya, “Pantas berita kematian
Suhu diketahuinya, pantas juga dia tahu namaku,
kiranya atas keterangan kedua orang ini.”
Dalam pada itu dengan gusar Wi Ki lagi
membentak terhadap Li Sing dan Ong Pun, “Berita
tentang meninggalnya Put-si-sin-liong berasal dari
kalian, bukan?
Li Sing dan Ong Pun mengiakan sambil
menunduk.
“Tapi mengapa Go-kongeu kalian menyatakan
Sin-liong belum lagi meninggal?” teriak Wi Ki.
Li Sing saling pandang sekejap dengan Ong Pun
dan tidak dapat menjawab.
“Apakah kalian menyaksikan sendiri Sin-liong
sudah mati?” desak Wi Ki.
Kepala kedua orang itu tertunduk lebih rendah,
dengan takut dan gelagapan Li Sing menjawab,
“Hamba … hamba … tidak ….”
“Budak kurang ajar!” bentak Wi Ki dengan gusar.
“Kalau tidak melihat sendiri, kenapa berani
sembarangan omong sehingga membikin malu
padaku seperti sekarang ini?”
Saking gusarnya, sebelah tangannya menyapu
sehingga macam-macam barang sembahyang
tersampar jatuh.
Li Sing dan Ong Pun tetap menunduk dengan
muka pucat.
“Locianpwe jangan marah dulu,” seru Lamkiong
Peng, “hal ini juga tidak dapat menyalahkan
mereka ….”
“Bukan mereka yang disalahkan, memangnya
salahku?” kata Wi Ki dengan gusar. “Bila Put-sisin-
liong datang nanti, bukankah aku yang akan
dituduh sengaja mengutuki dia supaya lekas
mati?!”
Meski kakek ini sudah lanjut usia, tapi wataknya
masih keras dan pemberang, baru sekarang
Lamkiong Peng tahu kiranya orang tua inilah si
gelang terbang Wi Ki, tampaknya memang rada
mirip gurunya, pantas orang Kangouw memberi
julukan sebagai si naga sakti dari barat laut, hanya
saja perangainya tidak sehalus sang guru.
Maka ia berkata pula, “Peristiwa ini agak
panjang untuk diceritakan, sama sekali tidak ada
maksud Wanpwe akan menyesali tindakan
Locianpwe ini, sebaliknya Wanpwe merasa
berterima kasih atas maksud baik Locianpwe.”
Wi Ki mengelus jenggotnya, dipandangnya
Lamkiong Peng sejenak, lalu ia berpaling kepada
Ong Pun berdua, serunya sambil memberi tanda,
“Baiklah, boleh kalian pergi!”
Cepat kedua orang itu memberi hormat, lalu
mengundurkan diri.
Selagi Lamkiong Peng hendak bicara pula,
sekonyong-konyong dari belakang sana bergema
suara orang tertawa, “Haha, kiranya saudara ini
adalah murid kesayangan Sin-liong, sungguh
beruntung sekali begitu menginjak daerah
Tionggoan segera dapat bertemu dengan kesatria
muda perkasa seperti ini ….”
Lamkion Peng terkejut dan berpaling, terlihatlah
si baju merah tadi telah muncul pula dengan
memegang sebuah kipas lempit, yang datang
bersamanya bukan lagi Bin-san-ji-yu melainkan
dua orang muda-mudi, ternyata Toaso dan
Samsuheng sendiri, yaitu Kwe Giok-he dan Ciok
Tim.
Sambil menggoyangkan kipasnya si baju merah
berkata pula dengan tertawa, “Yang lebih
menggembirakan orang she Yim ternyata secara
tidak sengaja dapat kutemui pula kedua murid
kesayangan Sin-liong yang lain. Nah, inilah, siapa
mereka berdua, ini tentu kalian sudah tahu!”
Munculnya Kwe Giok-he dan Ciok Tim dengan
sendirinya menimbulkan kegemparan pula.
Wi Ki lantas menyapa juga, “Aha, tak tersangka
Yim-tayhiap membawa datang lagi dua orang
murid kesayangan Sin-liong …. Ah, kalian tentulah
Ci-hau-siang-kiam yang akhir-akhir ini sangat
terkenal di dunia persilatan.”
Ciok Tim tampak kikuk, sedangkan Giok-he
lantas memberi hormat dan menjawab, “Terima
kasih atas pujian Locianpwe ….”
Dalam pada itu Lamkiong Peng lantas ikut
bicara, “Inilah Toaso kami dan yang itu
Samsuheng, Ciok-suheng.”
“O, rupanya inilah nyonya si lelaki baja yang
termasyhur itu,” seru Wi Ki dengan tertawa. “Nyata
setiap anak murid Sin-liong memang lain daripada
yang lain.”
“Ah, betapa pun kami tidak dapat membandingi
Lamkiong-sute,” ujar Giok-he dengan tersenyum..
Lamkiong Peng lagi heran mengapa hanya Giokhe
dan Ciok Tim saja yang muncul di sini, lalu ke
mana perginya Liong Hui dan So-so?
Belum sempat dia mengajukan pertanyaan Wi Ki
berkata pula dengan terbahak, “Baiklah sekarang
ingin kutanya kepada kalian, jika Sin-liong belum
meninggal, ke mana perginya beliau sekarang?”
Lamkiong Peng termenung dan berusaha
mencari alasan untuk menjawab, tiba-tiba Kwe
Giok-he mendahului bicara, “Suhu memang sangat
mungkin masih hidup dengan baik, cuma di mana
jejak beliau sekarang kami pun tidak tahu.”
Wi Ki terbelalak heran.
Didengarnya Giok-he berkata pula, “Semalam
kami sibuk mencari jejak Suhu di atas gunung,
kami juga mengkhawatirkan keselamatan Gosute
….”
“O, jadi dia tidak berada bersama kalian?” tanya
Wi Ki dengan kening bekernyit.
Giok-he mengiakan dengan menghela napas
perlahan.
Wi Ki tampak kurang senang, tegurnya kepada
Lamkiong Peng, “Jika jejak gurumu belum lagi
diketahui, bukannya kau cari tahu
keselamatannya, sebaliknya kau sibuk mengurusi
orang mati di sini, hm, murid macam apakah kau
ini?”
Lamkiong Peng melenggong, seketika memang
sukar baginya untuk memberi penjelasan,
terutama hal-hal yang menyangkut nama baik
sang guru, mana dapat diuraikan begitu saja.
Tapi Giok-he lantas berkata, “Usia Gosute masih
muda, pula ….” ia menghela napas seperti merasa
dapat memaklumi apa yang dilakukan sang Sute.
Wi Ki mendengus dan tidak memandang
Lamkiong Peng lagi, katanya pula, “Si lelaki baja
Liong Hui pun sudah lama kudengar namanya,
mengapa tidak kelihatan juga?”
Karena merasa tidak bersalah, maka dada
Lamkiong Peng cukup lapang, ia tidak
menghiraukan sikap Wi Ki dan ucapan Kwe Giokhe
yang bersifat negatif itu, ia pikir, “Memang ingin
kutanya keadaan Liong-toako, kebetulan sekarang
orang tua ini telah mendahului bertanya bagiku.”
Melihat kecanggungan di antara anak murid Putsi-
sin-liong itu, diam-diam tokoh kosen dari luar
perbatasan, Ban-li-liu-hiang (meninggalkan nama
harum beribu li) Yim Hong-peng, menaruh
perhatian, ia pikir apakah di antara anak murid
Sin-liong ini terjadi pertentangan atau persaingan,
mengapa ketiganya tidak ada kesatuan ucapan dan
perbuatan?
Dalam pada itu Giok-he telah menjawab dengan
menghela napas, “Toako bersama Sumoay berjalan
di belakang, kukira sebentar … sebentar dapat
menyusul kemari.”
Sudah tentu apa yang dikatakan Giok-he ini
hampir tidak pemah terjadi sebelum ini, dengan
sendirinya Lamkiong Peng merasa heran dan
sangsi.
Dengan kening bekernyit Wi Ki hendak bertanya
lagi, pada saat itulah sebuah kereta kuda kecil
bertabir kain putih tampak muncul di tengah
kerumunan orang banyak.
Penumpang kereta tidak kelihatan, hanya
sebuah tangan putih halus terjulur keluar dari
balik tabir memegangi tali kendali.
Air muka Lamkiong Peng agak berubah.
Giok-he memandangnya sekejap, lalu berucap
dengan tersenyum, “Eh, adik keluarga manakah
penumpang kereta ini, apakah Gote kenal dia?”
Belum habis ucapannya, tabir kereta mendadak
tersingkap, tertampaklah seorang perempuan
mahacantik berduduk di dalam kereta, ia menyapu
pandang sekejap semua orang, lalu menatap
Lamkiong Peng dan bertanya, “Hei, sudah selesai
belum percakapan kalian?”
Tentu saja semua silau oleh kecantikan
perempuan penumpang kereta ini, seketika beratus
pasang nyata sama terpusat ke arahnya.
“Ah, tadi kukira Gote pergi ke mana, kiranya ….”
Giok-he tersenyum, lalu menyambung lagi, “Wah,
alangkah cantiknya adik ini. Sungguh engkau
sangat hebat, Gote, baru satu hari saja sudah
berkenalan dengan seorang nona secantik bidadari,
tampaknya kalian sudah sedemikian mesranya.”
Tiba-tiba Wi Ki mendengus, “Yim-tayhiap, Cioksiauhiap,
hendaknya nanti kalian sudi mampir ke
kediamanku untuk sekadar berbincang-bincang
lagi, sementara ini kumohon diri lebih dulu.”
Lalu ia pun memberi hormat kepada para
hadirin dan berseru lantang, “Atas kesudian para
hadirin berkunjung kemari dari jauh, marilah suka
mampir juga ke dalam kota untuk minum beberapa
cawan sekadar pelepas lelah.”
Habis bicara ia lantas melangkah pergi di tengah
berjubelnya orang banyak.
Para hadirin juga lantas ikut bubar dan beramairamai
masuk ke kota Se-an.
Menghadapi sikap dingin orang, hati Lamkiong
Peng rada penasaran, cuma sukar untuk memberi
penjelasan.
Giok-he tersenyum senang, setelah Wi Ki pergi
jauh, perlahan ia mendekati kereta, sapanya,
“Siapakah nama adik yang terhormat ini? Ada
keperluan apa kiranya engkau mencari Gote
kami?”
Bwe Kim-soat duduk diam saja di tempatnya dan
memandangnya dengan tak acuh, sama sekali
tidak menghiraukan pertanyaannya.
Cepat Lamkiong Peng mendekati dan
memperkenalkan mereka, “Inilah Toaso kami dan
nona Bwe ini ….” dengan sendirinya ia tidak dapat
menjelaskan asal-usul Bwe Kim-soat.
“O, kiranya nona Bwe, sungguh kami ikat
bergembira Gote dapat berkenalan dengan nona
Bwe,” kata Giok-he dengan tersenyum.
Tiba-tiba Kim-soat mendengus, “Hm, si kakek
pergi begitu saja, tentu kau sangat senang?”
Giok-he jadi melengak.
Betapa pun Lamkiong Peng tetap menghormati
sang Toaso, ia pun tahu watak Bwe Kim-soat,
maka ia menjadi serbasalah melihat di antara
keduanya tidak ada kecocokan, cepat ia menyela
dengan urusan lain, tanyanya “Toaso, di mana
Toako?”
Mendadak Giok-he melengos dan menjawab
ketus, “Tanyakan saja kepada Sumoay.”
Lamkiong Peng jadi melenggong, ia heran
mengapa orang menjawab cara begitu.
Pada saat itu juga mendadak dua sosok
bayangan orang melayang tiba dan berhenti di
depan kereta, kiranya kedua jago pedang Kongtong-
pay, Bin-san-ji-yu.
Dengan sorot mata tajam mereka mengawasi
Bwe Kim-soat, sampai sekian lama barulah
Tiangsun Kong berucap, “Sudah belasan tahun, tak
tersangka sekarang dapat melihat lagi seraut wajah
ini.”
Tiangsun Tan lantas bertanya, “Apakah nona she
Bwe?”
Terkesiap Lamkiong Peng, ia heran mengapa
orang dapat mengenal Bwe Kim-soat. Dan ternyata
Kim-soat lantas mengangguk.
Air muka kedua saudara Tiangsun berubah
masam, dengan jari agak gemetar Tiangsun Kong
menuding dan membentak, “Bwe … Bwe Kim-soat
…. Turun sini!”
Giok-he terkejut, ia berpaling memandang
Lamkiong Peng dan bertanya, “Masa dia Leng-hiat
Huicu Bwe Kim-soat?
Dengan sendirinya Lamkiong Peng menjadi
gugup, belum lagi dia bersuara, dilihatnya Bwe
Kim-soat telah menjawab dengan santai, “Siapa
Bwe Kim-soat dan Bwe Kim-soat itu siapa?”
Kedua Tiangsun bersaudara saling pandang
sekejap, timbul rasa ragu mereka. Belasan tahun
yang lalu mereka berdua pemah dihina dan
dipermainkan Leng-hiat Huicu Bwe Kim-soat,
dendam itu sampai kini belum lagi lenyap. Tapi
setelah belasan tahun, mustahil wajah Bwe Kimsoat
sama sekali berubah?
Tiba-tiba Yim Hong-peng menyela dengan
tersenyum, “Kong-jiok Huicu sudah termasyhur
sejak belasan tahun yang lalu, sedangkan nona ini
paling banyak baru berusia 20-an, apakah kedua
Tiangsun-heng tidak salah mengenalnya?”
Bekernyit juga kening kedua Tiangsun
bersaudara, kata Tiangsun Kong dengan tergagap,
“Ya, kami pun mendengar Bwe Kim-soat sudah
mati di bawah pedang Put-si-sin-liong, soalnya
orang ini … orang ini mengaku she Bwe, wajahnya
juga mirip ….”
Tiangsun Tan lantas menegas lagi, “Kau pun she
Bwe, apakah tidak ada hubungan dengan Bwe
Kim-soat?”
“Di dunia ini ada berjuta orang she Bwe, apakah
semua orang she Bwe pasti ada sangkut pautnya
dengan dia?” jawab Kim-soat dengan tak acuh.
Melihat kedua Tiangsun bersaudara dalam
keadaan salah, cepat Yim Hong-peng menimbrung
lagi, “Di dunia ini memang banyak orang yang she
sama dan juga bermuka mirip, pantas juga bila
kedua Tiangsun-heng salah mengenal nona, harap
nona jangan marah.”
“Ah, mana kuberani marah kepada kaum
kesatria besar, pendekar pedang temama seperti
kalian ini?” jawab Kim-soat ketus.
Yim Hong-peng jadi melongo kikuk. Dalam pada
itu Bwe Kim-soat telah menurunkan tabir kereta.
Diam-diam Giok-he merasa sirik melihat
kecantikan Bwe Kim-soat dan ketajaman
mulutnya, mendadak ia tanya Lamkiong Peng,
“Gote, apakah sekarang engkau akan pulang ke Cihau-
san-ceng?”
“Tentu saja, bila urusan di sini sudah beres ….”
tiba-tiba Lamkiong Peng teringat pada janji tiga
bulan lagi masih harus bertemu dengan Yap Manjing
di Hoa-san untuk menunaikan tugas yang
belum selesai bagi Suhu, juga segera teringat
kepada Bwe Kim-soat yang perlu “perlindungan”,
seketika ia menjadi ragu.
“Toako belum kelihatan menyusul tiba, akan
lebih baik bila kau ikut dalam perjalanan kita,”
ujar Giok-he.
“Tapi … tapi tiga bulan lagi ….”
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tiba-tiba
suara Bwe Kim-soat yang ketus menegurnya, “He,
lekas kau selesaikan urusan pemakaman orang tua
itu, aku masih harus pesiar ke Kanglam ….”
Giok-he mendengus, “Kau mau pergi ke Kanglam
boleh silakan ….”
“Tapi mungkin aku pun perlu pergi ke sana,”
tukas Lamkiong Peng.
“Apa katamu? Masakah tidak kau turut kataku,
Toako tidak di sini, akulah Toasomu,” omel Giok-he
dengan kurang senang.
Dia sirik terhadap kecantikan dan kecerdasan
Bwe Kim-soat, sungguh ia khawatir Lamkiong Peng
didampingi oleh seorang perempuan begini, sebab
hal ini tentu akan memengaruhi rencananya,
bahkan akan ketahuan rahasia pribadinya, maka
sedapatnya ia hendak menahan anak muda itu
supaya berada bersamanya.
Lamkiong Peng menjadi serbasusah, “Kehendak
Toaso seharusnya kuturut, cuma ….”
Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam
berlari tiba dan minta petunjuk, “Kongeu, apakah
kereta jenazah langsung menuju ke makam?”
Lamkiong Peng mengiakan, kesempatan ini
lantas digunakannya sebagai alasan, katanya
kepada Giok-he, “Siaute perlu mengurus pelayatan
lebih dulu, biarlah nanti kita berunding lagi.”
Lalu ia memberi hormat dan mohon diri kepada
Yim Hong-peng dan segera berlari pergi bersama si
baju hitam.
Yim Hong-peng dan Bin-san-ji-yu juga lantas
menuju ke Se-an. Sedangkan kereta kecil yang
ditumpangi Bwe Kim-soat lantas mengikut ke arah
Lamkiong Peng.
“Toaso, marilah kita mencari … mencari Toaso
dulu,” kata Ciok Tim mendadak.
“Hah, barangkali kau rindu kepada Sumoay?”
jengek Giok-he, “Anak baik, turutlah padaku,
Sekarang kita mampir dulu ke tempat Wi-jitya tadi,
kukira Gote nanti juga akan pergi ke sana.”
“Tapi ….” Ciok Tim tergagap, tapi akhirnya
mereka pun menuju ke Se-an.
Dalam pada itu cuaca telah mendung, hujan
gerimis mulai turun.
Sayup-sayup terdengar suara musik yang sendu
di kejauhan ….
*****
Se-an, kota kuno yang sekelilingnya cuma gurun
tandus belaka memang jarang kejatuhan hujan.
Tapi di bawah hujan kota kuno ini pun tidak
tampak kesuraman, sebaliknya menimbulkan
gairah hidup.
Bekas kota raja memang sudah tinggal bekasbekasnya
saja, terutama bangunan megahnya
sudah banyak yang berubah tumpukan puing,
hanya kedua menara yang disebut Tai-gan dari
Siau-gan (menara belibis besar dan kecil) masih
berdiri tegak di bagian barat kota seolah-olah tetap
memamerkan kejayaan masa lampaunya.
Tidak jauh dari Tai-gan terdapat perkampungan
yang menghijau permai, itulah tempat kediaman
Sai-pak-sin-liong Wi-jitya, Wi Ki. Selewatnya
perkampungan ini, tidak sampai satu li akan
sampailah di jalan raya berbatu yang menembus ke
gerbang timur kota.
Di bawah hujan rintik-rintik, tiba-tiba dari luar
kota berlari datang sebuah kereta dan lima
penunggang kuda. Tabir kereta tertutup.
Penunggang kudanya adalah kawanan Tojin (imam
agama To) yang rambut disanggul di atas kepala
dan diberi tusuk kundai hitam, berjubah kelabu
dengan lengan jubah yang longgar.
Keempat penunggang kuda yang mengawal di
samping kereta adalah Tojin setengah umur
bermuka pucat meski mata bersinar tajam, pedang
tergantung di pinggang, kawanan Tojin ini
mungkin jarang bertemu dengan sinar matahari, di
antara mata alisnya menampilkan rasa
keprihatinan.
Seorang lagi yang di depan kereta berwajah
kurus kering, rambut ubanan, tidak membawa
senjata, baju longgar, tangan yang memegang tali
kendali justru putih bersih serupa tangan orang
perempuan.
Begitu masuk kota, kelima penunggang kuda
dan keretanya langsung lantas menuju ke Bo-liongceng,
perkampungan naga sakti tempat kediaman
Wi Ki. Melihat gelagatnya rombongan orang ini
seperti ada keperluan mendesak.
Sementara itu suasana Bo-liong-ceng yang
dikelilingi pepohonan itu tampak sangat ramai. Di
halaman depan yang biasanya digunakan sebagai
lapangan latihan penuh berderet ratusan meja,
hampir setiap meja sudah siap beberapa macam
santapan lezat sebangsa babi panggang, kambing
guling, angsa bakar, itik dan ayam panggang,
sudah barang tentu tidak ketinggalan berpuluh
guci arak tersedia.
Di atas meja berserakan ratusan pisau belati
yang gemilapan di samping mangkuk piring.
Sedangkan tetamu sama bergerombol di sana sini
asyik mengobrol.
Sai-pak-sin-liong Wi-jitya muncul dari ruangan
tengah, ia berdiri di atas undak-undakan dan
berseru lantang, “Banyak terima kasih atas
kesudian para hadirin mengunjungi tempatku yang
bobrok ini, orang she Wi tidak dapat melayani satu
per satu, terpaksa sekadar menghidangkan apa
yang terdapat di sini, hendaknya hadirin makan
minum dengan bebas dan santai, tidak perlu
sungkan, anggap saja seperti di rumah saudara
sendiri. Ayolah silakan!”
Di tengah sorak gemuruh orang banyak Wi Ki
mendahului menghampiri meja, disambarnya
sebilah belati mengilat, segera ia merobek paha
kambing guling dan diiris sepotong dan ditadah
dengan sebuah piring.
Serentak tamu yang lain antre menirukan cara
bersantap secara bebas dan santai ini.
Di antara tetamu tampak Ban-li-liu-hiang Yim
Hong-peng tetap dengan kipas lempitnya, di
depannya berdiri Kwe Giok-he dan Ciok Tim.
Dengan membawa guci arak Wi Ki mendekati
Yim Hong-peng, sapanya dengan tertawa, “Yimtayhiap,
agaknya tamu dari jauh yang langka
sebagai dirimu ini harus minum sampai mabuk
denganku.”
Yim Hong-peng mengucapkan terima kasih,
jawabnya sambil mengernyitkan dahi, “Nanti dulu!
Tamu dari jauh yang langka kukira bukan cuma
diriku saja, agaknya kita harus menunggu sebentar
lagi.”
“Memangnya ….” selagi Wi Ki menyatakan
keheranannya, mendadak Yim Hong Peng
menyurut mundur beberapa tindak.
Pada saat itulah dari luar pagar halaman tibatiba
melayang turun sesosok bayangan kelabu,
muncul seorang Tojin berambut putih dan
berwajah kurus, berjubah kelabu longgar.
Serentak Wi Ki berseru kaget, “He, Sisuheng
(kakak seperguruan keempat), mengapa engkau
datang juga?!”
Dengan sorot matanya yang tajam Tojin ubanan
itu menatap Yim Hong-peng, ucapnya “Lihai benar
mata-telinga sahabat ini!”
“Haha, bagus sekali atas kedatangan Sisuheng
ini, suasana pasti akan tambah meriah,” kata Wi Ki
dengan tertawa. “Agaknya Sisuheng belum kenal
pendekar dari luar perbatasan kita Ban-li-liu-hiang
Yim Hong-peng.”
“O, kiranya Yim-tayhiap,” ucap si Tojin dengan
dingin,
Hati Giok-he tergetar juga, ia tahu Tojin ini
adalah pejabat ketua Cong-lam-pay.
Dengan tertawa Yim Hong-peng lantas menjura,
sapanya, “Ah sungguh beruntung sekali hari ini
dapat bertemu dengan Cong-lam-kiam-khek Lulocianpwe.”
Tojin ini memang betul ketua Cong-lam-pay,
namanya Lu Thian-an.
Sejak Cong-lam-sam-gan (ketiga belibis dari
Cong-lam-san) gugur dalam pertandingan di Wisan,
murid keempat angkatan ketujuh Cong-lampay
ini lantas diangkat sebagai pejabat ketua. Wi Ki
sendiri adalah murid ketujuh, sebab itulah orang
Kangouw suka menyebutnya sebagai Wi-jitya atau
tuan ketujuh.
Sudah sekian tahun Thian-an Totiang tidak
meninggalkan Cong-lam-san, sekarang dapat
berjumpa, tentu saja Wi Ki sangat senang, serunya.
“Sisuheng, sungguh sangat kebetulan
kedatanganmu ini, di sini saat ini hadir sekian
banyak kesatria, inilah dua pendekar muda, nona
Kwe dan Ciok-siauhiap, keduanya adalah murid
kesayangan Put-si-sin-liong.”
Giok-he dan Ciok Tim memberi hormat,
sebaliknya Giok-jiu-sun-yang Thian-an Totiang
hanya memberi salam dengan mengangkat sebelah
tangannya.
Melihat tangan orang yang putih seperti pualam
itu, diam-diam Giok-he membatin, “Pantas dia
berjuluk Giok-jiu-sun-yang (si imam sakti
bertangan kemala).”
Sedangkan Ciok Tim juga berpikir Tojin ini
bersikap terlalu angkuh.
Selagi Giok-he hendak menyapa pula, mendadak
Thian-an Tojin membalik ke sana dan menarik
tangan Wi Ki yang hendak melangkah keluar, “He,
kau mau ke mana?”
“Hendak kupermaklumkan kepada hadirin yang
lain bahwa Ciangbun Suheng hadir juga di sini.”
“Nanti dulu,” ujar Thian-an.
“Memangnya ada apa?” tanya Wi Ki heran.
“Apakah kau tahu sebab apa mendadak
kutinggalkan Cong-lam-san dan buru-buru menuju
ke sini, tanpa memberi tahu pula lantas masuk ke
sini dengan melintas tembok belakang?”
Tergerak hati Wi Ki oleh ucapan Thian-an ini,
“Ya, karena bergembira atas kedatangan Suheng
sehingga tidak kupikirkan hal-hal ini.”
“Ai, usiamu makin tambah tua, tapi sifatmu
yang ceroboh tampaknya belum lagi berubah,” ujar
Thian-san dengan menghela napas. Mendadak
nada bicaranya berubah prihatin, “Apakah kau
tahu bahwa saat ini diketahui Leng-hiat Huicu
masih hidup di dunia ini dan kini mungkin sudah
berada di kota Se-an.”
Terkesiap hati Wi Ki, air mukanya berubah, guci
arak yang dipegangnya terlepas dan pecah
berantakan dengan arak munerat mengotori
jubahnya.
Hati Ciok Tim dan Giok-he juga terperanjat.
Meski Yim Hong-peng kelihatan tenang saja, tidak
urung sorot matanya menampilkan rasa kejut juga.
“Dari mana Suheng memperoleh berita ini?
Apakah kabar ini dapat dipercaya?” tanya Wi Ki.
Thian-an Tojin berpaling dan tanpa bicara ia
menuding ke sana. Waktu semua orang ikut
memandang ke arah sana, tertampaklah empat
Tojin berjubah kelabu memapah seorang lelaki
yang berwajah pucat serupa orang yang habis sakit
parah, dibantu oleh dua centeng sedang masuk
dengan pelarian.
“Siapa orang ini?” tanya Wi Ki dengan kening
bekernyit.
Giok-he dan Ciok Tim sama terkejut melihat
orang ini, diam-diam keduanya saling lirik sekejap.
Kiranya orang yang kelihatan sakit parah ini
adalah si Tojin misterius yang merampas peti mati
kayu cendana di puncak Hoa-san itu.
“Siapa orang ini, masa tidak kau kenal lagi?”
kata Thian-an yang aslinya she Lu.
Wi Ki coba mengamati lebih jelas, sesudah dekat,
mendadak ia menjerit, “Hei, Yap …Yap Liu-ko! ….”
Memang benar Tojin jubah hijau alias Kiamkhek-
kongeu ini asalnya bemama Yap Liu-ko,
saudara sepupu Yap Jiu-pek. Dengan langkah
terhuyung, ia berlari dan menubruk ke dalam
rangkulan Wi Ki sambil berseru, “O, Jitko, sungguh
seperti … seperti dalam mimpi saja Siaute dapat
bertemu pula denganmu.”
Baru berucap sampai di sini, langsung ia jatuh
pingsan.
Seketika para hadirin sama melenggong.
Dengan mata melotot Wi Ki berseru, “Se …
sesungguhnya apa yang terjadi? Liu-ko, kenapa
kau berubah begini, hampir tidak kukenal lagi.”
Lu Thian-an menghela napas, “Memang sudah
ada sepuluh tahun kita tidak bertemu dengan dia.
Sampai lohor kemarin, mendadak ia lari ke atas
gunung dengan berlumuran darah, dari ceritanya
baru kutahu Leng-hiat Huicu belum mati, bahkan
dia ….”
Ia melirik Ciok Tim dan Giok-he sekejap, lalu
menyambung, “Dia tertusuk oleh pedang murid
Put-si-sin-liong, untung diberi pertolongan oleh
orang kosen, kalau tidak saat ini mungkin
mayatnya sudah membusuk di puncak Hoa-san
dan rahasia dunia persilatan ini pun tak diketahui
lagi oleh orang,”
Wi Ki tampak bingung, tanyanya sambil
memandang tajam ke arah Giok-he, “Mengapa dia
dilukai murid Put-si-sin-liong?”
Giok-he berlagak berpikir dengan heran, sejenak
kemudian baru ia bergumam, “Apakah mungkin
perbuatan Gote? Sungguh tak tersangka dia dapat
berbuat seceroboh ini.”
“Gote siapa, sekarang dia berada di mana?”
tanya Lu Thian-an.
“Ya, pasti dia, Lamkiong Peng,” ucap Wi Ki
dengan gemas. “Ai, tak tersangka murid
kesayangan Put-si-sin-liong bisa bertindak
demikian.”
“Kami pun tidak tahu seluk-beluknya, cuma
kami tahu Gote berada bersama seorang
perempuan she Bwe, juga Bin-san-siang-hiap telah
….”
Belum lanjut ucapan Giok-he, segera Wi Ki
memotong, “Jadi perempuan di dalam kereta itulah
maksudmu? Ah, kenapa tidak sempat kulihat jelas
dia ….”
“Menurut pendapatku, mungkin dia memang
menguasai ilmu awet muda,” ujar Giok-he.
“Wah, tentu juga Kungfunya telah maju lebih
pesat,” tergetar juga hati Wi Ki. Mendadak ia
berseru, “Eh, di mana kedua Tiangsun bersaudara?
Yim-tayhiap, ke mana Tiangsun-siang-hiap?”
Yim Hong-peng sedang termenung, ia angkat
kepala dan menjawab dengan bimbang, “Tadi
masih di sini, entah ke mana sekarang?”
Tampaknya dia juga menyembunyikan sesuatu
perasaan, dengan sendirinya orang lain sukar
mengetahuinya.
Wi Ki menghela napas menyesal, ucapan,
“Sungguh sayang, baru saja Sin-liong menghilang,
dunia Kangouw lantas kacau lagi.”
“Semoga Sin-liong belum mati ….” seru Lu
Thian-an mendadak dengan nada sinis.
Wi Ki tidak merasakan nada sinis ucapan sang
Suheng, ia membangunkan Yap Liu-ko dan diajak
berdiri di depan hadirin yang sudah berkerumun
itu, diumumkannya tentang muncul kembalinya
iblis perempuan Leng-hiat Huicu serta murid
murtad Put-si-sin-liong yang membantu kejahatan
iblis perempuan berdarah dingin itu.
Serentak orang banyak bersorak mendukung
usaha penumpasan yang diprakarsai Wi Ki itu.
Kening Yim Hong-peng bekernyit melihat
gerakan yang dikobarkan Wi Ki itu. Diam-diam ia
pun merancang tindakan apa yang harus
dilakukannya, ia pikir kesempatan baik ini akan
dipergunakannya untuk mencari pengaruh.
*****
Saat itu Bin-san-ji-yu diam-diam sedang
menguntit jejak Lamkiong Peng, dilihatnya sesudah
anak muda itu menyelesaikan pemakaman, lalu
bersama kereta kuda kecil itu masuk ke kota Se-an
dan langsung masuk ke sebuah toko hasil bumi
yang besar.
Tiangsun Kong berdua berdiri jauh di bawah
emper rumah seberang, diam-diam mereka saling
bertanya, “Jika perempuan ini bukan Bwe Kimsoat,
untuk apa dia menyuruh, kita berdua
menguntitnya?”
Begitulah dengan bimbang mereka menunggu
sekian lama di situ, tiba-tiba dari seberang datang
seorang membawakan secarik surat dan
diangsurkan kepada Tiangsun Tan dengan hormat,
lalu tinggal pergi lagi.
Bin-san-ji-yu sama melengak, mereka membuka
surat itu dan dibaca, ternyata surat dari Lamkiong
Peng yang minta Bin-san-ji-yu suka mampir untuk
mengobrol.
Rupanya penguntitan mereka telah diketahui
dengan baik oleh Lamkiong Peng. Mereka saling
pandang sekejap, waktu memandang lagi ke
seberang, Lamkiong Peng terlihat berdiri ke depan
pintu sana dan sedang memberi salam dari
kejauhan.
Meski kedua orang ini sudah cukup
berpengalaman, bingung juga menghadapi adegan
demikian, dengan kikuk mereka berseru dari jauh,
“Terima kasih atas maksud baikmu, sampai
berjumpa lain kali saja!”
Habis itu cepat mereka melangkah pergi dan
tidak berani menoleh lagi.
Lamkiong Peng menyaksikan kepergian mereka,
senyum yang menghiasi wajahnya mendadak
lenyap, ia menghela napas dan masuk ke dalam.
Nyata anak muda ini sedang dirundung
kemurungan, meski Kungfunya tinggi dan
keluarganya kaya, tapi ada juga urusan yang
menekan perasaannya tanpa bisa diselesaikannya.
Saat itu Bwe Kim-soat lagi duduk memandangi
lampu, di atas meja tersedia macam-macam buah
segar sebangsa anggur, apel, jeruk dan lain-lain,
tapi tiada satu pun yang menarik perhatiannya, dia
tetap termenung memandang lampu, entah apa
yang sedang dipikirnya.
Langkah kaki Lamkiang Peng yang berat
ternyata tidak mengganggu lamunannya, bahkan
dia tidak memandangnya sekejap pun, wajahnya
yang agak putih mulus kelihatan serupa batu
kemala.
Sampai lama sekali, akhirnya Bwe Kim-soat
menghela napas perlahan dan bertanya, “Mereka
sudah pergi?”
“Sudah,” jawab Lamkiong Peng, “Entah untuk
apa mereka menguntit kemari? Memangnya
mereka benar telah mengenali dirimu?”
“Apakah kau khawatir?” tanya Kim-soat.
“Khawatir apa?”
“Mungkin kau pikir bila diriku dikenal orang,
tentu akan tidak menguntungkanmu dan bisa jadi
engkau takkan … takkan mengurus diriku lagi,
sebab aku kan seorang iblis yang dikutuk orang
persilatan, jika kau bantu diriku, tentu engkau
juga akan dituduh sebagai sampah masyarakat
persilatan. Apalagi engkau adalah anak murid guru
temama, murid Put-si-sin-liong mana boleh
membantu iblis perempuan yang jahat ini.”
Lamkiong Peng diam saja tanpa memberi
komentar.
“Padahal moral dunia persilatan hanya hak
khusus bagi beberapa orang tertentu saja,
bilamana ada sepuluh orang tokoh Bu-lim
menganggap engkau adalah orang jahat, maka
engkau sudah dipastikan akan menjadi orang
mahajahat, sebab setiap perbuatanmu tetap akan
dianggap salah, bahkan anak murid Sin-liong yang
terhormat pun tidak berani bicara keadilan, sebab
orang lain pun belum tentu mau percaya biarpun
kau katakan apa yang kau ketahui sebenarnya.”
Gemerdep sinar mata Lamkiong Peng, tapi tetap
diam saja.
Mendadak Bwe Kim-soat tertawa, katanya pula,
“Tapi engkau jangan khawatir, di dunia persilatan
sekarang, kecuali kita berdua tiada orang ketiga
yang berani memastikan aku ….”
Sampai di sini, mendadak ucapannya terputus,
sebab di luar telah bergema gelak tertawa seorang
dan berkata, “Sekali ini engkau keliru, Kong-jiok
Huicu!”
Air muka Lamkiong Peng berubah, bentaknya,
“Siapa?”
Segera ia memburu ke depan jendela.
Ketika daun jendela terbuka, dengar enteng
melayang masuk seorang, lebih dulu ia menjura,
lalu berkata dengan tersenyum “Karena keadaan
luar biasa, demi menghindarkan mata-telinga
orang, terpaksa masuk dengan menerobos jendela,
mohon maaf.”
Suaranya lantang, sikapnya gagah, orang ini
ternyata pendekar di luar perbatasan Ban-li-liuhiang
Yim Hong-peng.
Tercengang Lamkiong Peng, muka Bwe Kim-soat
yang putih pucat menampilkan semacam perasaan
aneh. Dengan gemulai ia berbangkit, katanya, “Kau
bilang apa?”
Tapi Yim Hong-peng lantas mengalihkan
pembicaraannya terhadap Lamkiong Peng,
“Keluarga Lamkiong memang kaya raya merajai
kolong langit ini, tak tersangka jauh di kota Se-an
ini Lamkiong-heng juga mempunyai tempat tinggal
semewah ini.”
Lamkiong Peng cuma tersenyum dan balas
menghormat.
“Kau dengar tidak ucapanku?” kembali Bwe Kimsoat
menegur.
Yim Hong-peng tertawa, katanya, “Nama Kongjiok
Huicu mengguncangkan dunia Kangouw, mana
berani kulewatkan setiap kata nona ….”
“Hm, mungkin agak terlalu banyak apa yang kau
dengar ….” mendadak Bwe Kim-soat menarik muka
sambil meluncur maju, sebelah tangannya segera
terjulur ke depan.
Namun Yim Hong-peng tetap diam saja, dengan
tersenyum ditatapnya telapak tangan Bwe Kimsoat,
padahal sekali tersentuh oleh tangan putih
mulus itu seketika jiwa bisa melayang.
Selagi Lamkiong Peng memburu maju dilihatnya
tangan Bwe Kim-soat sudah diturunkan.
Mendadak Yim Hong-peng bergelak tertawa,
katanya, “Haha, sungguh hebat, sungguh kagum,
Kong jiok Huicu memang benar burung hong di
tengah manusia …. Tapi bilamana pukulan nona
Bwe tadi dilanjutkan, predikat ini pun tidak tepat
kau terima lagi.”
“Sebelum kau bicara lebih jelas, dengan
sendirinya tak dapat kubinasakan kau ….”
“O, jadi kala, selesai kubicara, segera nona akan
membunuhku?”
“Orang yang tahu terlalu banyak, setiap saat
pasti ada kemungkinan tertimpa maut.”
“Ah, jadi aku mengetahui terlalu banyak?!” Yim
Hong-peng menegas.
“Betul,” kata Bwe Kim-soat, pandangannya tidak
pemah meninggalkan wajah Yim Hong-peng. Ia
tidak berani lagi meremehkan orang. Bilamana
seorang tidak menghiraukan sebuah tangan yang
setiap saat mungkin dapat merenggut nyawanya,
maka orang ini jelas lain daripada yang lain.
Tiba-tiba Yim Hong-peng berhenti tertawa dan
berkata dengan serius, “Apabila yang kuketahui
terlalu sedikit, maka orang yang tahu terlalu
banyak di kota Se-an saat ini sedikitnya ada seribu
orang.”
Kim-soat melengak, “Apa arti ucapanmu ini?”
Perlahan Yim Hong-peng menggeser ke depan
jendela, lalu berkata, “Nona Bwe memang awet
muda dan pandai merawat diri, di dunia ini
mestinya tiada lagi yang tahu nona Bwe yang
kelihatan berusia 20-an ini adalah mendiang Kongjiok
Huicu dahulu. Namun … siapa duga ada
arwah gentayangan yang lolos dari bawah pedang
Lamkiong-heng justru muncul di tempat Wi Ki ….”
“Arwah gentayangan yang lolos dari pedangku?
….” gumam Lamkiong Peng dengan bingung.
Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Bwe Kim-soat
berkata, “Jangan-jangan si Yap … Yap Liu-ko itu
belum mati?”
Yim Hong-peng mengangguk, “Ya, dia terluka
parah, tapi belum mati.”
“Ah, kiranya dia tidak mati,” tukas Lamkiong
Peng dengan melenggong, meski nadanya terkejut,
tapi juga membawa rasa bersyukur.
Dengan keheranan Yim Hong-peng
memandangnya sekejap dan merasa tidak mengerti
akan jalan pikiran anak muda itu.
“Meski Yap Liu-ko cuma terluka parah dan
belum mati, sekarang Lu Thian-an telah
meninggalkan Cong-lam-san dan berkumpul di
tempat Jitsutenya, yaitu Wi Ki. Segenap kekuatan
yang berada di Se-an sekarang sedang dikerahkan
untuk mencari kalian berdua,” demikian tutur Yim
Hong-peng. “Aku merasa tidak mampu memberi
bantuan apa-apa, tapi juga tidak tega duduk
berpeluk tangan tanpa ikut campur, maka sengaja
kususul kemari …. Lamkiong-kongeu, apa pun
kalian cuma berdua, dua tangan sukar melawan
empat kepalan. Apalagi Suheng dan Susomu juga
berada di sana, tampaknya mereka pun tidak
dapat membenarkan tindakanmu, maka menurut
pendapatku ….”
Ia merandek, dilihatnya Bwe Kim-soat sedang
menatapnya dengan tajam.
“Maksudmu agar sementara ini kami menyingkir
dulu?” tanya Lamkiong Peng.
Belum lagi Yim Hong-peng menjawab, mendadak
Bwe Kim-soat menyela, “Tidak, salah!”
“Sebenarnya memang begitulah maksudku,
kenapa nona bilang salah?” tanya Yim Hong-peng.
“Jika aku menjadi dirimu, tentu akan kubujuk
dia agar tidak mencari gara-gara,” kata Kim-soat.
“Sebab mestinya dia tahu, barang siapa memusuhi
Bwe Kim-soat, akibatnya dapat dibayangkan
sendiri.”
Mendadak ia berpaling ke arah Lamkiong Peng
dan berkata pula, “Dan bila kujadi dirimu, segera
aku akan pergi jauh, atau segera kudatangi Wi Ki
dan memberitahukan padanya bahwa antara
dirimu dan Bwe Kim-soat sama sekali tidak ada
sangkut paut apa pun ….”
Sampai di sini mendadak ia tertawa latah sambil
berteriak, “Wahai Bwe Kim-soat … engkau sungguh
orang yang malang dan juga bodoh. Sudah jelas
kau tahu orang persilatan takkan melepaskan
dirimu, sebab engkau ini bukan golongan
pendekar, bukan orang berbudi luhur, sebab kau
jahat …. Tapi semua itu pun cukup dibuat bangga
olehmu, hanya untuk menghadapi seorang
perempuan seperti dirimu, kawanan manusia yang
menamakan dirinya kaum pendekar itu telah
mengerahkan segenap tenaga sekota.”
Lamkiong Peng diam saja tanpa memberi
komentar.
Yim Hong-peng menjadi heran, pikirnya, “Kedua
muda-mudi ini tidak serupa kekasih, juga tidak
mirip sahabat, entah ada hubungan apa antara
mereka berdua?”
Ia memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu
bertanya, “Urusan cukup gawat, hendaknya
Lamkiong-heng menentukan langkah.”
“Terima kasih atas maksud baik Yim-tayhiap,
cuma ….”
“Jumlah lawan terlalu banyak, menghindar
untuk sementara adalah cara paling baik,” kata
Yim Hong-peng pula.
“Jumlah lawan terlalu banyak …. Tapi Cong-lampay
terkenal sebagai suatu aliran terpuji, tentunya
takkan menuduh orang secara tidak semena dan
tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk
memberi penjelasan.”
Diam-diam Yim Hong-peng merasa gegetun, ia
pikir nama busuk Leng-hiat Huicu diketahui siapa
pun, masa perlu penjelasan apa segala.
Belum lagi dia bicara, tiba-tiba Bwe Kim-soat
menjengek, “Hm, tampaknya kau ini pemuda
pintar, kenyataannya engkau sedemikian bodoh.
Bagi orang-orang yang menamakan dirinya
pendekar budiman dan penegak keadilan itu,
sudah lama aku dibenci hingga merasuk tulang,
masa aku akan diberi kesempatan untuk memberi
penjelasan segala?”
Yim Hong-peng pikir perempuan berdarah dingin
ini ternyata cukup tahu diri juga, dilihatnya
Lamkiong Peng tetap tenang saja meski diolok-olok,
diam-diam ia pun heran mengapa pemuda yang
kelihatan halus di luar dan keras di dalam ini bisa
bersabar terhadapnya.
Pada saat itulah tiba-tiba ada orang berdehem di
luar, Gui Seng-in tampak muncul. Agaknya ia
merasa heran ketika diketahui di dalam rumah
mendadak bertambah satu orang. Tapi sebagai
orang yang sudah cukup makan asam-garam, rasa
heran itu sekilas saja lantas lenyap dari wajahnya.
Dengan tersenyum hormat ia berkata, “Mestinya
hamba tidak berani mengganggu Kongeu, soalnya
… para saudagar di Se-an mendengar kedatangan
Kongeu ini, mereka sama ingin bercengkerama
dengan Kongeu serta akan mengadakan perjamuan
sekadarnya di Thian-tiang-lau untuk menyambut
kedatangan Kongeu dan nona ini, entah bagaimana
pendapat Kongeu, apakah sudi hadir tidak?”
Lamkiong Peng berpikir sejenak, dipandangnya
Bwe Kim-soat sekejap.
Alis Kim-soat tampak bergerak, tapi tidak bicara.
Agaknya tanpa bicara pun sudah jelas maksudnya.
Tak terduga Lamkiong Peng lantas berkata,
“Apakah sekarang?”
“Jika Kongeu ada waktu ….”
“Baik, berangkat!” kata Lamkiong Peng.
Tentu saja Gui Seng-in kegirangan, cepat ia
mengucapkan terima kasih dan mendahului
melangkah keluar sebagai penunjuk jalan.
Yim Hong-peng melenggong atas tindakan anak
muda itu, saat ini seluruh kota sedang gempar,
para kesatria yang berkumpul di Se-an sibuk
mencari mereka berdua, sungguh sukar dimengerti
Lamkiong Peng malah menerima undangan
perjamuan itu dan sengaja memperlihatkan diri di
depan umum.
Agaknya Lamkiong Peng dapat meraba jalan
pikiran orang, dengan tersenyum ia berkata,
“Apakah Yim-tayhiap juga akan ikut hadir untuk
minum secawan?”
“Terima kasih,” jawab Yim Hong-peng sambil
memberi hormat. “Sungguh aku tidak mengerti ….”
“Soalnya cukup sederhana,” potong Lamkiong
Peng, “Urusan sudah telanjur begini, daripada
menghindar akan lebih baik disongsong sekalian.
Anak murid Sin-liong selamanya tidak kenal istilah
lari.”
Yim Hong-peng mengangguk, katanya, “Murid
Sin-liong memang gagah perkasa dan pantas
dipuji.”
“Sekali lagi terima kasih atas maksud baik Yimtayhiap,
bila berjumpa pula kelak kita harus bicara
lagi lebih asyik,” ujar Lamkiong Peng.
“Sejak kumasuk daerah Tionggoan, hanya
Lamkiong-heng saja yang kupandang sebagai
pendekar muda yang akan mengembangkan
kejayaan dunia persilatan umumnya, sayang kita
belum sempat berkumpul lebih lama, sampai
berjumpa lagi.”
Habis berkata Yim Hong-peng melayang pergi
melalui jendela.
“Lugas juga tampaknya orang ini!” gumam
Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang
menghilang di luar.
“Hm, apa betul?” jengek Bwe Kim-soat. Lalu ia
tanya pula, “Eh, apakah benar kau terima
undangan perjamuannya ….”
“Bila engkau tidak ingin ikut ….”
“Jika kau mau pergi, masa aku takut?” sela Bwe
Kim-soat, segera ia berbangkit dan ikut melangkah
keluar.
*****
Hujan gerimis baru berhenti.
Pasar malam kota Se-an cukup ramai. Akan
tetapi malam ini lebih banyak orang berkelompokkelompok,
kebanyakan orang itu pun bersenjata,
semuanya orang persilatan dengan wajah prihatin
dan sikap tegang.
Ketika mendadak tampak muncul dua mudamudi,
yang pemuda gagah dan cakap, yang
perempuan cantik luar biasa, seketika berjangkit
suara desas-desis di sana-sini.
“Ssst, itu dia Lamkiong Peng!”
“Ssst, itu dia Leng-hiat Huicu!”
Seketika terjadi kegemparan, tapi segera pula
suasana berubah menjadi sunyi. Semuanya tidak
bersuara, sama terpukau oleh kegagahan dan
kecantikan kedua muda-mudi ini.
Sejenak kemudian, ada yang meraba senjata dan
bermaksud turun tangan, tapi ketika terlihat
senyuman Bwe Kim-soat yang manis dan lirikan
menggiurkan, tanpa terasa tangan yang meraba
senjata menjadi lemas.
Dan begitulah berpuluh pasang mata
menyaksikan kedua muda-mudi itu berlalu di
depan mereka, sesudah lewat agak jauh baru
gerombolan orang itu mengikuti mereka dari jauh.
Thian-tiang-lau tergolong restoran terbesar di
kota ini, dengan sendirinya segala sesuatunya
sudah disiapkan secara semarak, terutama wajah
pemilik restoran itu juga bercahaya semarak, sebab
hari ini dia mendapat kehormatan dapat menerima
kunjungan “tuan muda” keluarga Lamkiong yang
mahakaya raya itu.
Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat masak ke
restoran Thian-tiang-lau!
Dengan sendirinya berita ini dengan cepat tersiar
dan dalam sekejap saja laporan sudah diterima
Thian-an Tojin dan Wi Ki.
“Kabarnya Lamkiong Peng ini ahli waris keluarga
Lamkiong yang kaya raya dari daerah Kanglam
itu?” di tengah jalan Thian-an mencari keterangan
kepada Wi Ki.
“Ya, dia masih muda, selain ahli waris keluarga
mahakaya itu, dia juga terkenal sebagai murid
kesayangan Put-si-sin-liong, tak tersangka dia
terbujuk oleh Leng-hiat Huicu sehingga tersesat,”
ujar Wi Ki.
“Hm, anak muda yang tidak menuju ke jalan
yang benar, biarpun saudara seperguruan sendiri
juga malu untuk membelanya,” jengek Lu Thianan.
“Tapi apa pun juga tindakan kita ini menjadikan
Leng-hiat Huicu sebagai sasaran, mengenai
Lamkiong Peng, sedikit banyak harus kita ingat
akan kehormatan Put-si-sin-liong.”
“Itu bergantung bagaimana hubungannya
dengan Bwe Kim-soat,” kata Thian-an.
Hanya sebentar saja rombongan raksasa itu
sudah berada di luar Thian-tiang-lau, restoran itu
segera terkepung dengan rapat. Dengan sendirinya
kejadian ini mengguncangkan segenap penduduk
kota, disangkanya terjadi kerusuhan apa. Tapi
setelah mengetahui persoalan bunuh-membunuh
orang Kangouw, kebanyakan penduduk cepat
menutup pintu dan tidak berani keluar.
Menghadapi persoalan orang Kangouw seperti
ini, biasanya petugas keamanan pemerintah
setempat juga tidak dapat berbuat banyak, yang
mereka jaga hanya urusan tidak sampai menjalar
menjadi gangguan umum.
Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa
kconaran yang timbul ini tak lain tak bukan hanya
gara-gara munculnya seorang perempuan cantik,
yaitu Leng-hiat Huicu.
Akan tetapi di dalam restoran, di bawah cahaya
lampu yang terang benderang, Bwe Kin-soat
tampak duduk tenang dan anggun.
Sudah barang tentu geger di luar restoran juga
membikin panik para saudagar besar yang
berkumpul di atas restoran itu. Mereka sama
bertanya-tanya ada kejadian apa dan apa yang
akan terjadi? Namun di hadapan Lamkiong-kongeu
yang terhormat, betapa pun mereka tidak berani
sembarangan bergerak, sampai sekarang tiada
seorang pun berani melongok ke luar jendela.
Sekonyong-konyong di bawah terdengar suara
bentakan, suara menyuruh memberi jalan.
Lamkiong Peng tahu apa artinya itu, perlahan ia
berbangkit, ia menuju ke ujung tangga, serupa
seorang tuan rumah yang siap menyambut
kedatangan tetamunya.
Akhirnya berdetaklah suara tangga, terlihat Lu
Thian-an dan Wi Ki berturut-turut, naik ke atas
loteng dengan wajah kelam.
Dengan tersenyum Lamkiong Peng menghormat,
sapanya, “Terima kasih atas kunjungan kedua
Cianpwe, maaf jika tidak kusambut jauh di
bawah.”
Lu Thian-an hanya mengangguk perlahan saja,
langsung ia mendekati Bwe Kim-soat, ia duduk di
depannya, tanpa bicara ia angkat secawan arak
dan dikecupnya seceguk.
Sejak awal ia tetap tidak memandang Bwe Kimsoat,
hanya menatap tangan sendiri yang putih
mulus, lalu berucap, “Malam sudah larut,
bilamana hadirin merasa sudah cukup makan
minum, sudah saatnya untuk pulang saja
sekarang.
Segera terjadi kesibukan, para saudagar itu
dapat melihat gelagat tidak enak, beramai-ramai
mereka berebut meninggalkan restoran ini, mereka
tidak ingat lagi akan sopan santun terhadap
Lamkiong-kongeu segala.
Ruang restoran yang semula ramai dan agak
berjubel sekarang berubah menjadi lengang.
Mendadak Wi Ki melangkah ke samping Lu
Thian-an, ia pun berduduk di situ, diraihnya poci
arak terbuat dari timbel, langsung ia menuangkan
arak dari corong poci ke mulut dan minum
beberapa ceguk.
“Sepuluh tahun tidak bertemu, tampaknya
kekuatanmu minum arak telah tambah maju,”
ucap Bwe Kim-soat dengan tersenyum.
Mendadak Wi Ki membanting poci itu ke atas
meja.
Dengan muka kelam Lu Thian-an berkata,
“Nona, sudah hampir 30 tahun engkau malangmelintang
di dunia Kangouw dan entah berapa
banyak orang telah menjadi korbanmu, kukira saat
ini pun sudah lebih dari cukup hidupmu.”
“Totiang sendiri sudah ubanan, tentu lebih-lebih
cukup hidup, bila hidup lebih lama lagi, bisa jadi
orang akan menyebutmu tua bangka,” jawab Kimsoat
dengan tajam. “Hm, tampaknya kedatangan
kalian sengaja hendak mencari perkara padaku.”
“Ah, masa perlu dijelaskan lagi, kami hanya
berharap nona mau membereskan diri sendiri
saja,” jengek Thian-an.
“Membereskan diri sendiri? Kau suruh aku
membunuh diri? Haha, memangnya kenapa?”
“Kukira tidak perlu banyak omong, supaya aku
tidak perlu melanggar pantangan membunuh.”
“Wah, jika begitu, lekas kau turun tangan saja
sebelum kubicara lebih banyak dan mungkin akan
membongkar rahasiamu!” kata Kim-soat dengan
tersenyum.
Air muka Thian-an Tojin yang kelam itu seketika
berubah.
“Kan sudah kukatakan tidak perlu banyak
bicara dengan dia,” ujar Wi Ki, “creng”, segera ia
mengeluarkan senjata andalannya, Liong-hongsiang-
goan, sepasang gelang baja.
“Nanti dulu!” mendadak Lamkiong Peng
melompat maju.
“Apakah kau pun ingin mengiringi
kematiannya?” jengek Wi Ki sambil
mendomplangkan meja. Keruan mangkuk piring
berhamburan.
Lamkiong Peng mengebaskan lengan bajunya
sehingga meja itu tertahan dan meluncur ke
sebelahnya dan menumbuk dinding.
“Tanpa alasan kalian datang kemari dan hendak
membunuh orang, berdasarkan apa kalian
bertindak demikian?” tanya Lamkiong Peng dengan
tidak senang. “Segala urusan harus diselesaikan
menurut keadilan, sekarang kalian menghendaki
nyawa kami berdua, sedikitnya kalian harus
memberi keterangan kepada setiap orang
persilatan yang hadir di sini, apa dasarnya?”
Kawanan orang persilatan sebagian sudah ikut
menerjang ke atas restoran dari siap bertindak,
demi mendengar uraian Lamkiong Peng yang tegas
dan jujur ini, diam-diam banyak di antaranya
mengangguk dan bersimpati kepadanya.
Lu Thian-an memandang sekejap kepada orang
banyak, air mukanya tampak rada berubah.
“Hah, tentunya sekarang engkau merasa
menyesal telah banyak bicara denganku, mestinya
begitu datang segera kalian membunuhku, begitu
bukan?” kata Bwe Kim-soat dengan tertawa merdu.
Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat
didengar oleh orang yang berkerumun di luar.
“Apakah ucapanmu sengaja diperdengarkan
kepada kawan Bu-lim di sekeliling sini?” jengek
Thian-an Tojin.
“Betul, kecuali dunia persilatan sudah tidak ada
keadilan lagi, kalau tidak, biarpun engkau adalah
Bu-lim-bengeu (ketua persekutuan orang
persilatan) juga tidak boleh meremehkan nyawa
orang lain.”
Gemerdep sinar mata Wi Ki, mendadak ia
tergelak, serunya, “Jika orang lain, ucapanmu ini
tentu akan menimbulkan rasa curiga orang banyak
terhadap tindakan kami ini. Tapi kau, perempuan
yang berdarah dingin, biarpun kau omong seribu
kali lagi, meski engkau mengoceh panjang lebar,
aku Wi Ki tetap akan menumpaskan bencana bagi
dunia persilatan.”
Lalu ia memandang Lamkiong Peng dan
bertanya, “Jika kau tahu dia ini Leng-hiat Huicu,
mengapa kau bela dia? Melulu kesalahanmu ini
saja pantas dihukum mati. Tapi mengingat
gurumu, lekas kau pergi saja, lekas!”
“Sedemikian keras kau bela dia, memangnya di
antara kalian ada hubungan sesuatu yang tidak
boleh diketahui orang?” ejek Lu Thian-an.
Mau tak mau Lamkiong Peng menjadi gusar,
semula ia percaya ketua Cong-lam-pay dan Wi Ki
ini adalah kaum pendekar yang berbudi luhur,
siapa tahu tindak dan kata mereka sedemikian
kasar, tiba-tiba terpikir olehnya di balik urusan ini
pasti ada sesuatu yang janggal.
Kawanan jago persilatan dapat menerima
pendirian Wi Ki itu, nama Leng-hiat Huicu sudah
terkenal busuk sejak belasan tahun yang lalu,
sekarang pemuda ini membelanya mati-matian,
tentu anak muda ini juga bukan orang baik-baik.
Padahal tiada seorang pun antara jago persilatan
ini yang pemah melihat Bwe Kim-soat sebelum ini,
mereka kebanyakan cuma membeo belaka. Tadi
mereka menaruh simpati kepada Lamkiong Peng,
sekarang berubah pikiran lagi. Memang
demikianlah sifat manusia pada umumnya.
Diam-diam Lamkiong Peng menghela napas, ia
tahu urusan hari ini tidak mungkin diselesaikan
begitu saja, ia coba melirik Bwe Kim-soat,
dilihatnya orang tetap tersenyum dengan tenang.
Dalam pada itu orang banyak lantas berteriakteriak,
“Buat apa banyak bicara, bekuk dulu
keduanya.”
“Nah, kau minta keadilan dunia persilatan,
sekarang bolehlah kita selesaikan mendasarkan
pendapat umum,” jengek Lu Thian-an.
Wi Ki juga tidak sabar lagi, segera ia putar kedua
gelang baja sambil membentak, “Minggir!”
Bwe Kim-soat tetap tenang saja, ucapnya, “Kau
maju sendirian?”
Terkesiap juga Wi Ki, tiba-tiba teringat olehnya
Kungfu Leng-hiat Huicu yang menakutkan itu,
seketika ia tertegun dan tidak berani bergerak lagi.
“Haha, kiranya orang Kangouw kebanyakan
adalah manusia yang suka mengekor belaka ….”
belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, serentak
terdengar suara caci maki di sana sini.
Nyata ucapannya telah menimbulkan kegusaran
orang banyak.
“Ikut terjang keluar bersamaku?” bisik Bwe Kimsoat
kepada Lamkiong Peng. Diam-diam ia siap
bertindak. Meski pihak lawan berjumlah banyak,
tapi ia yakin pasti mampu menerjang keluar.
Siapa tahu Lamkiong Peng tetap diam saja di
tempatnya dengan pongahnya, mendadak ia
membentak, “Diam!”
Bentakan yang menggelegar ini memekakkan
anak telinga, seketika semua orang tergetar diam.
Dengan tajam Lamkiong Peng menatap Lu
Thian-an, teriaknya, “Segala urusan tentu tidak
terlepas dari keadilan dan kebenaran, justru
kepada seorang Cianpwe serupa dirimu ingin
kuminta keadilan. Sesungguhnya apa dosa Bwe
Kim-soat, apa kesalahannya, bilakah dia berbuat
kejahatan sehingga memerlukan tindakanmu ini.”
Lu Thian-an jadi melengak, tak tersangka
olehnya anak muda ini dapat bertanya demikian.
Dengan kereng Lamkiong Peng berteriak pula,
“Jika engkau tidak dapat menjawab, berdasarkan
apa pula engkau bertindak atas nama dunia
persilatan? Berdasarkan apa pula bicara tentang
keadilan dunia persilatan! Bila soalnya cuma
mengenai permusuhan pribadimu dengan dia,
mengingat kedudukanmu sebagai seorang
pemimpin suatu perguruan terkemuka, tentu juga
harus kau bereskan urusan ini langsung dengan
dia sendiri, andaikan dapat kau cencang dia juga
aku takkan ikut campur. Tapi bila engkau
mengatasnamakan umum bagi kepentingan pribadi
dan membual tentang keadilan, betapa pun aku
Lamkiong Peng tidak dapat menerima dan akulah
yang pertama-tama ingin minta pengajaran dulu
padamu.”
Dia bicara tegas dan berani, mau tak mau
semua orang sama melenggong.
Air muka Wi Ki berubah, Lu Thian-an juga tidak
tahan, jengeknya, “Rupanya kau menantang, anak
muda!”
“Apa boleh buat,” ujar Lamkiong Peng lantang.
Seorang pemuda hijau pelonco berani
menantang seorang guru besar dari suatu aliran
pedang terkemuka, sungguh hal ini cukup
menggemparkan, keruan semua orang sama heran
dan juga terkejut.
“Hm, tampaknya sombong benar kau, anak
muda, terpaksa aku mesti memberi hajaran
padamu,” jengek Lu Thian-an.
Lamkiong Peng hanya mendengus dan tetap
berdiri tegak.
Perlahan Lu Thian-an berbangkit, sedangkan Wi
Ki menyurut mundur ke samping.
“Aha, menarik, rasanya tempat ini kurang luas,
biarlah kusingkirkan lagi meja kursi yang
memenuhi tempat ini,” ucap Bwe Kim-soat seperti
apa yang akan terjadi ini sama sekali tidak ada
sangkut pautnya dengan dia.
Lamkiong Peng tahu wataknya memang begitu,
maka tidak heran. Sebaliknya orang lain sama
terkesiap, diam-diam ada yang menggerutu,
“Perempuan ini memang benar berdarah dingin.”
Setelah ruangan dikosongkan, kini Lu Thian-an
berdiri berhadapan dengan Lamkiong Peng,
katanya, “Silakan mulai!”
Nyata ia menjaga gengsi sebagai orang lebih tua
dan memberi kesempatan menyerang lebih dulu.
Namun Lamkiong Peng justru tetap diam saja,
jawabnya, “Silakan Locianpwe dulu!”
Wi Ki menjadi gusar, “Siko, untuk apa bicara
tentang peraturan dengan sampah masyarakat
persilatan seperti ini!”
“Benar!” kata Thian-an, berbareng ia melompat
maju dan menghantam batok kepala lawan tanpa
kenal ampun.
Melihat serangan Lu Thian-an itu, ada juga di
antara penonton yang merasa penasaran, sebagai
seorang tokoh terkemuka, menyerang lebih dulu,
tapi sekeji ini serangannya.
Namun Lamkiong Peng bukan lawan empuk
baginya, sedikit dia menggeser ke samping,
berbareng itu sebelah tangannya balas menyodok
ke perut Thian-an.
Terkejut juga Lu Thian-an oleh kecepatan lawan,
sembari mengelak, tangan lantas memotong ke
bawah, tangannya tampak putih mulus seperti
tangan orang perempuan, tapi membawa tenaga
dalam yang dahsyat ….
Begitulah serang-menyerang terus berlangsung,
diam-diam para penonton sama memuji anak
murid Put-si-sin-liong memang tidak boleh
dipandang enteng.
Namun apa pun juga Lu Thian-an memang lebih
ulet, setelah belasan jurus, lambat-laun ia berada
lagi di atas angin. Padahal kelihatannya Lamkiong
Peng agak terdesak, sebenarnya dia belum
mengeluarkan segenap tenaganya.
Saat itu kedua tangan Lu Thian-an bekerja
sekaligus dan menghantam, mendadak Lamkiong
Peng bersuit panjang sambil melompat ke atas.
Terkejut Lu Thian-an, dirasakan angin keras
membura dari atas, ke mana pun dia mengelak
rasanya tetap akan terserang. Bila dia tetap diam
di tempat, sedangkan lawan telah menubruk dari
atas, ini berarti dia akan tetap berada di pihak
terserang belaka.
Semua orang sama kaget, Wi Ki juga berseru,
“Thian-liong-cap-jit-sik!”
Rupanya inilah Thian-liong-cap-jit-sik atau 17
jurus serangan naga terbang, Kungfu andalan Putsi-
sin-liong. Serangan ini dilancarkan pada waktu
tubuh terapung, setiap jurus serangan pasti
memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih
dulu, atau membuntu jalan mundur musuh,
serangan berantai susul-menyusul, sebab itulah
Thian-liong-cap-jit-sik tak dapat dibandingi oleh
ilmu pukulan dari aliran lain.
Sekarang yang dilancarkan Lamkiong Peng
adalah jurus pertama yang disebut “Tit-siang-kiusiau”
atau langsung menjulang ke langit, selagi
tubuh mengapung, tangan dan kaki terus
menyerang untuk mengurung segenap jalan
mundur Lu Thian-an
Habis itu sambil meluncur turun, kesepuluh jari
berubah menjadi cakar untuk mencengkeram
muka lawan.
Dia sudah siap serang sejak tadi, sekali turun
tangan harus berhasil. Tentu saja semua orang
menjerit kaget melihat Lu Thian-an terancam
bahaya.
Siapa tahu sebagai seorang ketua suatu aliran
terkemuka, dengan sendirinya Giok-jiu-sun-yang
juga bukan lawan empuk, dia kelihatan diam saja,
tapi ketika serangan Lamkiong Peng sudah dekat
mendadak kedua tangannya membalik dan
menangkis ke atas.
Terdengar suara “plak” yang keras serupa
menghantam kulit kering keempat tangan beradu,
kedua puluh jari saling meremas dengan erat.
Adu pukulan ini membikin para penonton sama
melongo. Tertampak Lamkiong Peng menjungkir di
udara dengan tangan berpegangan tangan lawan,
tubuhnya menurun perlahan, namun empat
tangan tetap melengket menjadi satu.
Dan begitu kaki Lamkiong Peng menyentuh
tanah, segera pula Lu Thian-an menyurut mundur
dua langkah, lalu keduanya sama berdiri seperti
terpantek di tanah dan saling melotot.
Nyata telah terjadi adu tenaga dalam dengan
antara keduanya, ini berarti pertaruhan dengan
nyawa masing-masing.
Seketika suasana sunyi senyap, semua orang
sama ikut tegang, sama menahan napas. Bukan
cuma yang berkerumun di atas loteng sama tegang,
yang berada di bawah loteng juga sama tegangnya
dan bertanya-tanya apa yang terjadi karena tidak
terdengar sesuatu suara.
Di tengah kesunyian tiba-tiba terdengar suara
keriat-keriut papan loteng, dahi kedua orang
tampak berhias butiran keringat, Betapa hebat
jurus serangan Lamkiong Peng tetap tidak dapat
membandingi keuletan latihan Lu Thian-an selama
berpuluh. Lambat-laun anak muda itu kelihatan
tidak tahan lagi.
Diam-diam Wi Ki bergirang, sebaliknya air muka
Bwe Kim-soat tampak prihatin.
Selagi suasana semakin mencekam, sekonyongkonyong
di bawah loteng berjangkit jeritan kaget, di
tengah malam kelam tiba-tiba timbul gelombang
hawa panas yang menyengat, bukan saja yang
bertempur itu berkeringat, para penonton juga
berkeringat kegerahan.
Sejenak kemudian lantas terdengar bunyi bende
bertalu-talu, menyusul suara melengking orang
menjerit, “Api … api …. Kebakaran … kebakaran!”
Keruan suasana menjadi kacau, orang-orang
yang berkerumun di jalan raya pun panik, lidah api
tampak menjilat-jilat dan mendadak menyambar
ke atas loteng restoran.
Para jago silat itu tidak sempat lagi memikirkan
pertarungan maut itu, beramai-ramai sama
mencari selamat sendiri, ada yang melompat turun
melalui tangga dengan desak-mendesak, ada yang
terjun begitu saja.
Meski ada juga orang berusaha memadamkan
api, tapi kobaran api ini tampaknya sangat aneh,
lidah api yang ganas itu dalam sekejap saja sudah
menelan seluruh ciu lau atas restoran itu.
Para penonton sudah kabur mencari selamat, di
atas loteng tertinggal Lamkiong Peng yang tetap
beradu tenaga dengan Lu Thian-an dan ditunggui
oleh Wi Ki dan Bwe Kim-soat.
Api berkobar terlebih hebat, tampaknya sebentar
lagi mereka pasti akan terkubur di tengah api.
Napas mereka sudah sesak oleh asap, keringat
memenuhi kepala Wi Ki, matanya membara.
Mendadak ia angkat gelang bajanya dan segera
bermaksud melompat keluar. Tak terduga
mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu
Bwe Kim-soat sudah mengadang di depannya.
Saking cemas dan gugupnya, tanpa pikir ia
membentak, gelang naga sebelah kanan segera
menghantam muka Bwe Kim-soat, sedangkan
gelang hong sebelah kiri terus dilemparkan dengan
membawa angin tajam mengancam iga Lamkiong
Peng.
Saat itu Lamkiong Peng pun dalam keadaan
payah, jangankan diserang oleh gelang baja yang
dahsyat ini, sekalipun pukulan orang biasa cukup
membuatnya roboh binasa.
Terdengar Bwe Kim-soat mendengus, mendadak
ia mendoyongkan kepala ke belakang, berbareng
itu sebelah tangan meraih ke depan, dengan tepat
gelang baja lawan terpegang olehnya, sekali betot
terus dilemparkan ke arah Lu Thian-an.
Selagi Lamkiong Peng terkejut karena sambaran
gelang baja musuh yang sukar dielakkan itu,
mendadak dilihatnya Lu Thian-an juga terkesiap
oleh ancaman yang sama, Lamkiong Peng
bergirang, sepenuh sisa tenaga ia mendesak lebih
kuat.
Kim-soat tersenyum dan berolok, “Hah, ini
namanya senjata makan ….”
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong
gelang yang menyambar Lamkiong Peng itu
memutar balik dan membentur gelang yang
mengancam Lu Thian-an, menyusul bahkan terus
menghantam belakang punggung Bwe Kim-soat.
“Bagus, kiranya gelangmu berantai,” seru Kimsoat
sambil memutar sebelah tangannya, kontan
gelang berantai itu dipegangnya.
Maklumlah, selama sepuluh tahun dia berbaring
di dalam peti mati, kesempatan itu digunakannya
untuk merenungkan intisari ilmu silat yang paling
tinggi, maka ketajaman mata telinganya sekarang
hampir tidak ada bandingannya, sekalipun sebiji
pasir menyambar dari belakang pun dapat
dirasakannya dan juga dapat ditangkapnya.
Tentu saja Wi Ki terkejut, cepat ia mendoyong ke
belakang untuk membetot gelangnya agar tidak
sampai dirampas musuh.
Rupanya pada gelang bajanya terikat seutas
rantai emas hitam yang lembut, namun cukup ulet
dan kuat, golok atau pedang biasa pun sukar
memotongnya.
Tak tersangka mendadak Bwe Kim-soat menebas
dengan telapak tangannya, kontan rantai emas
terpotong putus. Karena kehilangan imbangan
badan, kontan Wi Ki terhuyung-huyung dan
hampir saja jatuh terjengkang.
Sementara itu api sudah membakar kosen
jendela sekeliling loteng dan menimbulkan suara
gemertak yang riuh, hawa panas membuat
Lamkiong Peng, Lu Thian-an dan Wi Ki merasa
seperti terpanggang, baju basah kuyup oleh air
keringat, tidak terkecuali pula Bwe Kim-soat.
Mendadak daun jendela sebelah selatan terlepas
dan jatuh ke atas meja di dekatnya, segera meja
kursi di situ ikut terjilat api.
Lambat-laun atap rumah juga mulai terbakar,
tiba-tiba sepotong kayu hangus jatuh di samping
Bwe Kim-soat, saat itu dia sedang menggeser
menghindari tendangan Wi Ki, segera sebelah
kakinya menyungkit kayu hangus itu dan
meluncur ke arah Wi Ki.
Sambil meraung tangan kiri Wi Ki menyampuk
sehingga kayu hangus itu terpental keluar jendela,
tapi ia lupa tangannya masih memegangi rantai
gelang yang putus tadi, karena sampukan itu,
rantai membalik menghantam kuduk sendiri.
Biarpun kecil, rantai emas hitam sangat keras,
tambah lagi tenaga sampukan sendiri, keruan ia
meringis kesakitan dan kuduknya berdarah.
Dengan meraung murka Wi Ki membuang sisa
rantai itu.
“Haha, serangan bagus, itu namanya jurus ‘Kaubwe-
cu-piau’ (ekor anjing menyabat tubuh
sendiri)!” ejek Bwe Kim-soat dengan tertawa.
Sembari berolok-olok, segera pula ia menggeser
ke samping Lu Thian-an. Saat itu Lamkiong Peng
masih saling tolak bersama Lu Thian-an, hatinya
terhibur ketika dilihatnya Bwe Kim-soat masih
berada di situ. Tapi ketika dilihatnya sebelah
tangan Kim-soat menghantam punggung Lu Thianan
cepat ia bersuara mencegah sambil menarik ke
samping. Karena tarikan ini, ia dan Lu Thian-an
sama jatuh terguling.
Kim-soat berteriak khawatir dan melompat ke
samping Lamkiong Peng, cepat Wi Ki jaga
memburu tiba untuk menjaga Lu Thian-an. Waktu
diperhatikan, ternyata napas kedua orang itu sama
terengah, agaknya sama-sama kehabisan tenaga,
namun jelas tidak terluka dalam, keduanya sedang
saling pandang dengan tercengang.
Rupanya setelah saling mengadu tenaga dalam,
keadaan mereka sudah payah, walaupun keempat
tangan masih saling genggam, tapi sebenarnya
sudah kehabisan tenaga. Dasar Lamkiong Peng
memang berjiwa luhur, ia tidak ingin lawan
disergap Bwe Kim-soat selagi orang mengadu
tenaga dengannya, lekas ia menarik orang ke
samping. Tak diduganya keduanya sebenarnya
sama payahnya, maka begitu terseret segera
keduanya jatuh terguling bersama. Lantaran itulah
mereka saling pandang dengan melenggong.
Pada saat itulah tiba-tiba di bawah loteng ada
orang berteriak, “Wi-jitya, Lu-totiang ….”
Ada semprotan air dari sebelah selatan,
menyusul sinar pedang berkelebat, empat sosok
bayangan kelabu menerjang masuk. Kiranya
keempat Tojin anak buah Lu Thian-an.
Bwe Kim-soat terkesiap melihat pihak lawan
kedatangan bala bantuan, serunya dengar suara
tertahan kepada Lamkiong Peng, “Ayo pergi!”
Semangat Lu Thian-an berbangkit karena
kedatangan anak buahnya, melihat Bwe Kim-soat
bermaksud mengajak lari Lamkiong Peng cepat ia
membentak, “Lamkiong Peng, kalah menang belum
jelas, bukan lelaki bila lari!”
Tentu saja Lamkiong Peng sangat gusar, ia
melompat bangun.
Sementara itu Lu Thian-an sudah menubruk
tiba, tanpa bicara lagi ia hantam dada anak muda
itu. Cepat Lamkiong Peng mengegos, berbareng
telapak tangan menebas iga lawan.
Tiba-tiba beberapa potong kayu hangus jatuh
lagi dari atas. Terpaksa mereka harus melompat
kian kemari untuk menghindari api.
Dalam pada itu keempat Tojin berjubah kelabu
lantas menerjang maju, mereka adalah murid
utama ketua Cong-lam-pay, dengan sendirinya
ilmu pedangnya tidak lemah, serentak mereka
melancarkan serangan kilat.
“Tinggalkan yang lelaki, tangkap dulu yang
perempuan,” seru Wi Ki.
Segera sinar pedang berputar dan memburu ke
arah Bwe Kim-soat.
Bwe Kim-soat tetap tenang saja, ia hanya melirik
sekejap terhadap keempat Tojin itu.
Keempat Tojin ini sejak kecil sudah bertirakat di
pegunungan sunyi, mana mereka pemah melihat
perempuan secantik ini, mana pemah melihat
senyuman semanis ini, keruan gerakan mereka
menjadi agak lambat.
Namun dengan gemulai Bwe Kim-soat juga telah
mengangkat tangannya, terdengar suara
gemerantang nyaring, dalam sekejap tiga pedang
Tojin itu telah dipatahkan oleh gelang baja
rampasannya dari Wi Ki tadi.
Selagi Tojin keempat melongo kaget, tahu-tahu
pandangannya menjadi silau, pergelangan tangan
pun kesemutan, pedangnya telah dirampas oleh
Bwe Kim-soat.
Menyusul Kim-soat menyambitkan gelang baja
ke arah Wi Ki yang sedang menubruk Lamkiong
Peng itu, lalu pedang rampasan menebas ke depan,
Tojin pertama belum lagi sempat melompat
mundur dan tahu-tahu dahi tergores luka dan
mencucurkan darah.
Tojin kedua sempat menyurut mundur, tapi
rambut yang tersanggul di atas kepala juga
tertabas oleh pedang.
Tentu saja Tojin ketiga ketakutan, selagi
melenggong, pedang Bwe Kim-soat yang
menyambar tiba mendadak berhenti dan mengetuk
pedang patah yang masih dipegangnya. “Trang”,
pedang patah jatuh ke lantai, cepat ia melompat
mundur sambil memegangi pergelangan tangan
yang kesakitan.
Hanya dalam sekejap saja ketiga Suhengnya
sudah dibikin keok, Tojin keempat tidak berani lagi
bertempur, segera ia hendak lari.
“Eh, jangan terburu-buru!” jengek Bwe Kim-soat,
baru saja Tojin itu melangkah dua tindak, iga
kanan-kiri sudah terkena pedang.
Saat itu Wi Ki telah menubruk ke depan
Lamkiong Peng, tapi dari belakang gelang yang
dilemparkan Bwe Kim-soat juga menyambar tiba.
Dari deru anginnya nyata terlebih kuat daripada
lemparannya tadi.
Ia tidak berani gegabah, cepat ia menggeser ke
samping sambil membalik tubuh, gelang baja yang
masih dipegangnya menangkis ke depan dengan
daya melengket, pikirnya bila gelang itu tertahan,
segera akan ditangkapnya kembali.
Siapa tahu ketika kedua gelang kebentur, gelang
yang dilemparkan Bwe Kim-soat mendadak dapat
berputar, serupa bersayap saja tahu-tahu terbang
lagi ke belakang Wi Ki.
Pada saat yang sama sepotong kayu terbakar
mendadak jatuh dari atas. Dalam keadaan
tergencet, sebisanya Wiki meloncat ke samping.
“Trang” gelang baja menghantam lantai, kayu
hangus tadi juga jatuh menerbitkan lelatu.
Ketika Wiki dapat menenangkan diri, dilihatnya
Bwe kiam-soat telah berdiri diidepannya dengan
tersenyum.
Sementara itu kobaran api tambah besar,
bangunan restoran Thian-tiang-lau yang kukuh itu
sampai berguncang dan hampir runtuh.
Lamkiong Peng dan Lu thian-an masih
berhadapan dan bertempur dengan sengit.
Padahal keduanya sebenarnya dalam keadaan
sama-sama payah, sampai akhirnya setiap
pukulan dan setiap tendangan hampir serupa
permainan anak kecil saja. Namun air muka
mereka justru jauh lebih prihatin.
Mendadak Lamkiong peng melancarkan pukulan
dengan jurus Thian-liong-ie-dian atau naga meluku
di sawah, dengan langkah lamban Lu thian-an
mundur mengelak.
Pada saat itulah terdengar suara gemuruh,
papan loteng telah runtuh sebagian, lidah api pun
menyambar dari bawah ke atas, kebetulan langkah
mundur Lu thian-an itu tepat menginjak papan
loteng yang runtuh.
Ia menjerit kaget, syukur jarinya masih sempat
meraih tepian papan loteng, tapi papan loteng itu
lambat laun juga ambrol ke bawah. Tampaknya dia
akan ditelan oleh lautan api. Dengan tenaganya
sekarang mana dia mampu melompat lagi ke atas.
Tanpa pikir Lamkiong peng memburu maju dan
menarik tangan Lu thian-an. Padahal ia sendiri
pun kehabisan tenaga, dengan sendirinya tidak
mampu menarik naik Lu thian-an.
Kembali terdengar suara “krek” tempat berpijak
Lamkiong peng juga akan ambrol, bilamana dia
mau melompat mundur, terpakas Lu thian-an
harus dilepaskan dan akan terjeblos ke dalam
lautan api, tapi kalau dia tidak melompat mundur,
ia sendiri pun akan ikut terkubur di tengah
amukan api.
Sekujur badan Lu thian-an tampak gemetar,
rambut jenggotnya sudah penuh lelatu api,
tampaknya mulai terbakar.
Memandangi lawan yang telah bergebrak matimatian
dengan dirinya ini, mendadak timbul rasa
kasihannya, pegangannya dipererat dan tak
terlepaskan.
Mendadak sepotong kayu hangus jatuh dari
atas, untuk menghindar jelas tidak mungkin,
terpaksa Lamkiong peng hanya miringkan
kepalanya saja sehingga kayu hangus
menyerempet jidat dan mengenai pundaknya.
Hanya selisih beberapa senti saja mungkin jiwa
Lamkiong peng bisa melayang bilamana tepat
mengenai kepalanya.
Sungguh tak terkatakan terharu hati Lu thianan
oleh keluhuran budi anak muda ini, dengan
suara gemetar ia berteriak, “Lari…. lekas
lari…..jangan urus diriku!”…….”
Namun Lamkiong peng tetap memegangi
sekuatnya, darah dari kening bercampur dengan
air keringat bercucuran menetesi tubuh Lu thianan.
Di sebelah sana Wiki sedang menubruk ke arah
Bwe kiam soat dengan murka, “Hari ini biarlah
kuadu jiwa dengan mu”
Gelang di tangan kanan segera mengepruk
kepalan kiri juga menghantam.
“Hm memangnya kejadian sepuluh tahun yang
lalau itu salahku?” jengek Bwe kiam-soat, dengan
lincah ia hindarkan serangan Wiki itu, menyusul ia
balas menabas pinggang lawan dengan pedangnya.
Dengan beringas Wiki berteriak, “tidak peduli
siapa yang salah, yang jelas engkau lah pangkal
bencananya, tanpa dirimu tentu takkan terjadi halhal
begitu.”
Rada merandek juga daya serangan Bwe kiamsoat,
gumamnya, “Tanpa aku takkan terjadi hal
begitu…..Memangnyya salahku? Tapi apa
kesalahanku?”
Wiki menerjang pula dcangan kalap. Teriaknya,
“Pokoknya perempuan adalah air bencana, biarlah
hari ini kau mampus di tanganku1”
Dalam pada itu keempat tojin berjubah kelabu
menubruk maju. Namun sekali pedang Kiam-soat
berputar kontan mereka didesak mundur lagi.
Tiba-tiba Kiam-soat berteriak kuatir dan melompat
ke sebelah sana.
Tercengang juga Wiki ketika berpaling dan
melihat keadaan bahaya Lamkiong peng dan Lu
thian-an itu. Tiada jalan lain, cepat gelang baja
tangan kanan disambitkan ke sana, gelang baja
meluncur dengan cepat, tapi setiba di depan
Lamkiong peng segera berhenti.
Latihan Wiki selama berpuluh tahun memang
tidak percuma, gelang baja berantai itu dapat
dilempar dan ditarik sekehendak hatinya.
Ketika mendadak Lamkiong peng melihat gelang
baja itu meluncur tiba segera dipegangnya dengan
tangan kiri.
Serentak Wiki membentak dan menarik
sekuatnya, segera tubuh Lamkiong peng terseret
mundur, dan dengan sendirinya Lu thian-an ikut
tertarik keatas.
Cepat Bwe kiam soat menambahi tenaga tolakan
dengan kebasan lengan bajunya sehingga mereka
terlempar ke tempat yang aman.
Segera keempat tojin berjubah kelabu akan
menrjang maju lagi, tapi Lu thian-an lantas
berteriak menghentikan mereka. Ia memandang
Lamkiong peng dengan termangu, akhirnya ia
menghela nafas dan menunduk.
“Apakah perlu melanjutkan pertarungan kita?!”
kata Lamkiong peng dengan nafas masih terengah.
“Ti……tidak, aku……aku sudah kalah!” jawab Lu
thian-an.
Beberapa kata ini seolah-olah diucapkan dengan
sepenuuhnya tenaganya. Tentu saja Lamkiong
peng melenggak, tak tersangka olehnya tojin ini
bisa mengaku kalah begitu saja. Dilihatnya wajah
orang pucat pasi dan berdiri dengan lesu, dalam
sekejap itu seorang guru besar suatu aliran
terkemuka mendadak telah berubah menjadi
seorang kakek yang patah semangat.
Memandangi bayangan belakang sang suheng,
Wiki juga menggeleng kepala , ucapnya pelahan,
“Sisuheng…….”
Tanpa berpaling Lu thian-an menjawab dengan
lesu,” Marilah kita pergi!”
Baru habis berkata, mendadak ia roboh terkulai,
nyata luka pada badannya tidak lebih parah
daripada luka hatinya
Wiki berteriak kuatir, cepat ia mengangkat sang
suheng dan dibawa lari menerobos lidah api dan
melompat ke bawah loteng. Segera keempat tojin
berjubah kelabu juga ikut melompat turun.
Terdengarlah suara gemuruh, loteng restoran itu
kembali runtuh sebagian.
Lamkiong peng terkesima, medadak ia menghela
nafas dan bergumam, “Giok-jiu-sun-yang
betapapun tetap seorang ksatria!”
“Dan kau?” tanya Bwe kiam-soat dengan
tertawa.
Kedua orang saling pandang tanpa bicara dan
lupa lidah api hampir menjilat baju mereka.
**************
Akhirnya terdengar juga suara ramai pasukan
pemerintah. Suara derap kaki kuda bercampur
dengan suara teriakan orang banyak, suara orang
berusaha memadamkan api, suara gemuruh
rubuhnya bangunan dan jerit tangis orang……..
Di tengah kepanikan dua sosok bayangan diamdiam
meninggalkan kota kuno itu.
***********
Di suatu tanah berumput Lamkiong peng lagi
berbaring dengan santai, bintang bertaburan di
langit yang biru kelam, angin meniup dengan
sejuk.
Bwe kiam-soat memandangi wajah anak muda
yang cakap, terutama bulu matanya yang panjang
menaungi kedua matanya yang besar terpejam itu.
“Tentunya tak kaupikir tugas yang diberikan
oleh gurumu untuk membela diriku akan
sedemikian beratnya bukan?” Katanya tiba-tiba.
Lamkiong peng melenggak dan memandang
orang dengan termenung.
Dengan dingin Bwe kiam-soat berkata pula,
“Apakah saat ini engkau menyesal karena membela
diriku sehingga hampir saja kau sendiri menjadi
korban kerubutan orang banyak tadi?”
Akhirnya Lamkiong Peng menjawab, “Sudahlah,
jangan kau bicara seprti ini lagi. Bagiku, asalkan
hatiku merasa tidak berdosa, tidak berbuat
sesuatu yang memalukan, kenapa aku mesti
menghiraukan tuduhan orang. Demi kebenaran
dan keadilan dunia kangouw, apa artinya
pengorbananku ini?”
Bwe Kiam soat memandangnya dengan sorot
mata lembut dan aneh, perempuan yang berjuluk
“berdarah dingin” ini ternyata tiada ubahnya
seperti gadis biasa yang juga bereprasaan.
Seketika mereka saling pandang dengan
terkesima melupakan keadaan sekelilingnya.
Pada saat itu juga tidak jauh disebelah sana
sesosok bayangan sedang memperhatikan kedua
muda-mudi yang tenggelam dalam lamunan ini.
Sorot matanya menampilkan rasa kagum dan juga
rada cemburu. Tanpa terasa ia menghela nafas
pelahan.
Tergetar hati Lamkiong peng dan Bwe kiam-soat,
serentak mereka melompat bangun dan
membentak, “Siapa?”
Bayangan tadi tertawa panjang sambil melompat
maju, hanya dua-tiga kali naik turun ia sudah
bediri di depan mereka.
“Eh kiranya kau”, kata Lamkiong peng dengan
heran.
“Hm anak murid Thian-san mengapa main-main
sembunyi-sembunyi sperti ini jengek Kiam-soat.
Pendatang ini Tik Yang adanya, ia tertawa keras
dan menjawab, “Haha, apakah kedatanganku ini
kauanggap main sembunyi-sembunyi? Bwe Kimsoat,
kaukira untuk apa kudatang kemari?”
“Mungkin kedatanganmu….” Lamkiong Peng
merasa ragu.
Dengan serius Tik Yang memotong, “Walaupun
kita baru saja kenal, tapi kupercaya penuh atas
tindak-tandukmu pasti tidak merugikan kebenaran
dunia persilatan, maka kedatanganku ini justru
hendak memberi jasa baikku.”
Lamkiong Peng melenggong dan kurang mengerti
akan maksud orang.
Dengan tertawa Tik Yang berkata pula, “Apakah
saudara tahu bagaimana terjadinya kebakaran
tadi?”
Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari duduk
perkarara, rupanya kebakaran tadi tidak terjadi
secara kebetulan, dengan sendirinya ia tidak tahu
siapa yang melakukannya, maka ia menggeleng
kepala.
“Setelah meninggalkan Hoa-san,” sambung Tik
Yang dengan tertawa, “selanjutnya aku pun datang
ke Se-an hanya kedatanganku agak terlambat,
waktu itu keributan sudah etrjadi.
Dari tempat ktinggian kulihat engkau sedang
melabrak ketua Cong-lam-pai itu. Melihat keadaan
tempatnya, kutahu sukar untuk melarai, juga
sukar membantu. Terpaksa………haha, terpaksa
kugunakan bantuan api.”
Lamkiong peng melirik Bwe Kiam soat sekejap.
“Rupanya kita salah menyesali dia tadi,” ucap
Kiam soat.
“Ah, sedikit salah mengerti apalah artinya.” Ujar
Tik Yang dengan tertawa. “Bangunan Thian-tianglau
itu sungguh sangat megah, tapi ternyata tidak
tahan dibakar. Kusaksikan kalian meninggalkan
kota dengan selamat, diam-diam aku pun
menyusul kemari.”
“Tamapaknya Tik-siauhiap seorang sahabat yang
simpatik, agaknya aku salah sangka…….”
Belum lanjut ucapan Bwe kiam-soat, mendadak
seorang mendengus dari kejauahan, “Hm, simpatik
apa, main bakar secara diam-diam masakah
perbuatan simpatik segala?”
Lamkiong peng bertiga terkejut, serentak mereka
berpaling.
Tertampaknya dalam kegelapan sana muncul
sesosok bayangan orang berkipas putih. Tanpa
bicara Tik Yang mendahului menubruk kesana.
“Cepat amat!” ucap bayangan orang itu sambil
mengebaskan lengan bajunya dan bergeser ke
samping, habis itu segera melompat ke depan
Lamkiong peng.
Sambil membentak Tik Yang lantas menubruk
ke sini lagi, tapi segera terdengar Lamkiong peng
berseru, “O, kiranya Yim tai-hiap!”
Tergerak hati Tik Yang, ia tahu orang adalah
kawan bukan lawan, seketika ia urungkan
serangannya.
Pendatang ini memang Ban-li-liu-hiang Yim
Hong peng adanya, serunya dengan tertawa,
“Haha, tak tersangka yang main bakar itu adalah
anak murid Thian san!”
Lamkiong peng juga tidak menyangka orang ini
dapat menyusul ke sini, segera ia
memperkenalkannya kepada Tik Yang.
Yim hong-peng tertawa dan berkata, “Tik siauhiap,
sesungguhnya Thian-tiang-lau dibangun
dengan sangat kukuh, cuma telah kutambahi juga
sedikit bahan bakar sehingga dapat terjilat api
dengan lebih cepat.”
Baru sekarang Tik Yang tahu, Yim hong-peng
juga mengambil bagian dalam pembakaran
restoran megah itu. Ia tertawa dan berseru, “Orang
bilang Ban-li-liu-hiang adalah pendekar kosen dari
perbatasan, setelah bertemu hari ini baru
kupercaya Yim tai-hiap memang seorang ksatria
yang suka blak-blakan.”
Yim hong-peng memandang Lamkiong peng dan
Bwe kiam soat sekejap, lalu berkata, “Setelah
peristiwa ini nona Bwe dan Lamkiong-heng tentu
tidak leluasa bergerak lagi di dunia kang-ouw,
entah bagaimana rencana perjalanan kalian
selanjutnya?”
Dia bicara dengan serius, tapi sorot matanya
tampak gemerdep menampilkan cahaya yang sukar
diraba apa maksudnya.
Lamkiong peng menghela nafas panjang,
katanya, “Siaute juga tahu unttuk selanjutnya
akan banyak mengalami kesukaran di dunia
kangouw, tapi yang penting asalkan kuraba hati
sendiri merasa tidak bersalah, tindakanku
selanjutnya juga tidak akan berubah, mungkin aku
akan pulang dulu ke Ji-hau-san-ceng, lalu pulang
ke rumah menjenguk orang tua…..”
“Tempat lain masih mendingan, kedua temapta
itu justru tidak boleh kau pergi ke sana,” potong
Yim Hong-peng.
Air muka Lamkiong peng berubah.
Tapi Yim hong peng lantas menyambung, “Maaf
jika kubicara terus terang, bahwasanya nona Bwe
pemah malang melintang di dunia kangouw
dahulu, tentu tidak sedikit telah mengikat
permusuhan. Apa yang terjadi di Se-an ini, tidak
lama tentu juga akan tersiar, tatkala mana bila
musuh nona Bwe ingin mencari kalian, tentu
mereka akan menunggu dulu di kedua tempat itu.
Dalam keadaan demikian, tentu kalian akan serba
repot, terutama anggota keluarga Lamkiongheng………”
Sampai di sinis ia mengehela nafas ketika
dilihatnya Lamkiong peng menunduk termenung.
Tapi Bwe kiam-soat lantas menjengek, “Habis
lantas bagaimana kalau menurut pendapat Yim taihiap?”
Yim hong-peng tampak berpikir, ia tahu di depan
perempuan cerdik ini tidak boleh salah omong
sedikitpun.
Dengan tersenyum kemudian ia berkata,
“Pendapatku mungkin terlalu dangkal, tapi
mungkin berguna untuk dipertimbangkan kalian.
Pada waktu nona Bwe malang melintang dahulu,
meski sampai sekarang musuhmu itu tetap sama
orangnya, tapi keadaan sduah berubah, oarangorang
itu tersebar dimana-mana dan satu sama
lain tahu mampunyai musuh bersama, yaitu nona
Bwe. Pula menurut keadaaan masa itu, tentu tidak
ada yang mau mengaku sebagai musuh nona Bwe.
Tapi keadaan sekarang sudah berubah, bilamana
orang-orang itu tahu nona Bwe masih hidup, tentu
mereka akan bangkit dan bersatu untuk menuntut
balas padamu.”
Tiba-tiba tersembul senyuman aneh pada wajah
Bwe kiam-soat, katanya pelahan,”Apakah benar
mereka hanya ingin menuntut balas padaku?
Mungkin…..” ia pandang Lamkiong peng sekejap,
lalu tidak melanjutkan.
“Apapun juga, menurut pendapatku, hanya
dengan kekuatan kalian berdua tentu akan banyak
menghadapi kesulitan……….”
“Lantas kalau menurut pendapat Yim tai-hiap,
apakah kami…..kami harus minta perlindungan
orang?” seru Lamkiong peng, nadanya kurang
senang.
Yim hong peng tersenyum, “Ah dengan
kedudukan kalian yang terhormat, mana berani
kubilang soal minta perlindungan orang segala.”
Mendadak Bwe kiam-soat menjengek, “Yim taihiap,
ada urusan apa kukira lebih baik kaukatakan
terus terang saja daripada berliku-liku.”
Di depan orang pintar, kukira memang tidak
perlu banyak omong,” ujar Yim hong-peng, “Yang
jelas persoalan kalian ini memang perlu sahabat,
kalau tidak, sungguh sukar lagi untuk
berkecimpung di dunia kang-ouw, padahal hari
depan kalian masih cerah, bila mesti putus
harapan begini saja, kan sayang.”
“Apa pun juga, mempunyai dua orang sahabat
seprti kalian ini sedikitnya hatiku sudah terhibur.”
Ujar Lamkiong peng.
“Ah diriku ini terhitung apa, kata Tik Yang
dengan tertawa, “Tapi Yim-heng tentu saja lain,
beliau kan pendekar kosen dari perbatasan utara
sana.”
“Terima kasih atas pujianmu, “kata Yim hong
peng. “Betapa tinggi kepandaianku mana dapat
dibandingkan kalian berdua yang masih muda
perkasa.”
Ia merandek sambil menyapu pandang ketiga
orang itu, lalu menyambung, “Namun ada juga
seorang kenalanku, orang ini sungguh berbakat
besar, berbudiluhur, serba pintar baik ilmu falak
maupun ilmu bumi, baik seni budaya maupaun
seni bela diri, lwekangnya bahkan sudah mencapai
puncaknya, sehelai daun saja dapat digunakannya
untuk melukai orang. Yang paling hebat, kecuali
mempunyai kepandaian yang mengejutkan, orang
ini juga mempunya cita-cita setinggi langit, bahkan
pergaulannya sangat luas, orangnya simpatik.”
Diam-diam Bwe Kiam-soat menjengek,
sedangkan Lamkiong peng dan Tik Yang meras
tertarik.
Bila orang lain yang bicara demikian mungkin
akan diremehkan mereka, tapi semua ini keluar
dari mulut Ban-li-liu-hiang Yim hong peng,
bobotnya tentu saja lain. Tanpa terasa mereka
tanya berbareng, “Siapakah gerangan tokoh yang
kau maksudkan itu?”
Yim hong peng tersenyum, tuturnya,”Orang ini
sudah lama mengasingkan diri di luar perbatasan
utaran sana, namanya sanagt sedikit diketahui
orang. Tapi kuyakin nama Swe thian Bang dalam
waktu singkat pasti akan tersiar ke segenap
pelosok dunia.”
“Swe thian Bang? Sungguh nama yang indah!”
kata Tik Yang.
“Jika benar ada seorang tokoh semacam itu,
setiba di tionggoan tentu kami ingin berkenalan,
Cuma sayang saat ini sukar untuk mememuinya, “
ujar Lamkiong peng.
Tiba-tiba Bwe kiam soat menyela “ APakah
maksud Yim tai-hiap , apabila kami dapat
mengikat sahabat dengan tokoh kosen semacam
ini, lalu segala urusan akan beres?”
Dia tetap bicara dengan nada dingin dan ketus.
Yim hong peng, seprti tidak menghiraukannnya,
katanya, “Lamkiong-heng, suasana dunia
persilatan skerang boleh dikatakan tercerai berai
dan kacau balau. Kun lun pai sudah lama merajai
wilayah barat, Siau lim-pai menjagoi daerah
tionggoan, Butong pai menguasai daerah Kanglam,
selain itu di selatan masih ada Tiam-jong-pai, di
timur ada Wi-san-pai, di barat ada Cong-lam-pai.
Masing-masing aliran menguasai kungfu andalan
sendiri dan menguasai satu wilayah tertentu,
meski semuanya juga berhasrat memimpin dunia
persilatan dan setiap saat dapat menimbulkan
kekacauan dunia persilatan, tapi lantaran
pertarungan di Wi-san dahulu kebanyakan aliaran
itu sudah mengalami kelumpuhan, ditambah lagi
dunia kangouw sudah dipimpin oleh Sin-liong dan
Tanhong, maka suasana sepuluh tahun terakhir ini
masih dapat dikendalikan.”
Dia berbicara panjang lebar, meski agak berteletele,
namun tidak dirasakan jemu oleh Tik Yang
dan Lamkiong peng.
Maka ia menyambung pula, “Tapi sekarang jago
muda dari berbagai perguruan itu sama
bermunculan, kekuatan sudah pulih, saking
kesepian jadi ingin bergerak lagi. Ditambah lagi
Sin-liong telah menghilang, perimbangan kekuatan
jadi buyar juga. Kini tiada seorang di dunia
persilatan yang mampu mengatasi semua orang,
tidak terlalu lama di dunia kangouw pasti akan
berbangkit huru-hara, kekuatan muda tersebut
tentu juga akan membanjir timbul untuk berebut
pengaruh, lantas bagaimana akibatnya tentu dapat
dibayangkan.
Nadanya mulai meninggi, ceritanya mulai
tenang. Lamkiong peng dan Tik Yang juga
terbangkit semangatnya. Tapi demi teringat kepada
keadaan sendiri sekarang, tanpa terasa Lamkiong
peng merasa gegetun dan dingin lagi hatinya
serupa diguyur air.
Sekilas Yim hong-peng dapat melihat perubahan
air muka Lamkiong peng, diam-diam ia merasa
senga, sambungnya pula, “Sesudah lama tercerai
akhirnya tentu akan bergabung lagi, bila terlampau
sepi akhirnya pasti ribut lagi. Ini adalah kejadian
logis. Tapi dalam keributan ini bila tidak diimbangi
oleh suatu kekuatan besar untuk menegakkan
keadilan dan kebenaran, maka pastilah akan
terjadi kesewenang-wenangan, yang kuat makan
yang lemah, salah benar sukar dibedakan, tentu
akan banyak terjadi kerusuhan pula. Dan
bilamana susana kacau tak terkendalikan,
akibatnya tentu tambah runyam.”
“Ya memang pandangan Yim tai-hiap sungguh
sangat tepat,” puji Lamkiong peng.
“Ah, apalah artinya diriku ini, justru Swe thianbang
itulah jeniusnya manusia manusia jaman
kini,” ujar Yim hong-peng dengan tersenyum.
“Meski kakinya belum pemah melangkah masuk
Giok-bun-koan, tapi caranya menganalisa keadaan
dunia persilatan dan apa yang akan terjadi
sungguh seperti telah terjadi sungguhan. Terus
terang kukatakan kedatanganku kepedalaman sini
justru mengemban tugasnya, aku diminta mencari
beberapa tokoh muda berbakat untuk bersamasama
melaksanakan tugas suci menegakkan
keadilan dunia persilatan.”
Alis Tik Yang menegak, tukasnya,”Menegakkan
keadilan, sungguh semboyan menarik. Sayang
disini tidak arak, kalau tidak sungguh aku ingin
menyuguhmu tiga cawan.”
Lamkiong peng tambah resah bila teringat
kepada urusan sendiri.
Sedangkan Bwe Kiam-soat lantas mendengus,
pikirnya, “Kiranya Yim hong-peng ini tidak lebih
cuma seorang pembujuk saja. Dia datang lebih
dulu untuk mencari pendukung bagi Swe thian
bang. Hm, besar amat ambisi orang She Swe ini,
rupanya dia bemiat merajai dunia kangouw.”
Setelah berpikir lagi diam-diam ia terkesiap juga,
“Lahiriah orang she Yim ini menarik, ilmu silatnya
juga tinggi, tutur katanya juga memikat hati orang,
jelas orang ini pun seorang tokoh luar biasa.
Sampai tokoh seperti Bin-san-ji-yu pun dapat
diperalat olehnya, tapi dia toh cuma menjadi
seorang pembujuk bagi Swe thian bang,
tampaknya kepandaian orang she Swe ini terlebih
sukar dijajaki.”
Agaknya Yim hong peng juga sedang mengamati
rcaksi orang, maka kemudain ia menyambung lagi,
“Lamkiong-heng dengan kepandaianmu ditambah
lagi kekayaan keluargamu, selanjutnya dunia
persilatan mestinya berada dalam genggamanmu.
Tapi engkau justru lagi menghadapai persoalan
yang tak dapat dimaafkan oleh sesama omag
kangouw bahkan saudara seperguruan sendiri pun
tidak dapat memaklumi maksud baikmu, dalam
keadaan tejepit, sungguh Lamkiong-heng serba
susah. Tapi bila engkau mau bekerja sama dengan
Swe thian bang, ditambah lagi tokoh muda serupa
Tik-siauhiap ini, urusan apa pula yang tidak dapat
diselesaikan”
“Kupikir, bila bekerjasama ini terlaksana, selain
dunia persilatan dapat diamankan, juga Lamkiongheng
dapat menggunakan kekuatan ini umtuk
mengindang sesama orang Bulim untuk menjelas
duduk perkara. Tatkala mana kekuatanmu sudah
lain, ucapanmu berbobot, siapa lagi yang tidak
percaya kepadamu. Jadinya bahaya yang
mengancam Lamkiong-heng akan lenyap, namamu
bahkan akan termashur, Ji-hau-san-ceng
selanjutnya akan semakin disegani.”
Dengan tersenyum tiba-tiba Bwe Kiam-soat
berkata, “Wah, menurut cerita Yim-tai-hiap ini,
bukanlah dalam waktu singkat tokoh Swe thian
bang yang luar biasa akan dapat merajai dunia
persilatan dan menjadi Bulim-bengeu?
“Ya bilamana dibantu oleh tokoh muda seperti
kalian ini, tidak sampai beberapa tahun dunia
persilatan pasti dapat dikuasai oleh kita,” ujar Yim
hong-peng dengan tertawa.
Dia sangat senang disangkanya kedua anak
muda ini sudah terpikat oleh ocehannya.
Bola mata Bwe kiam-soat berputar, katanya pula
dengan tertawa, “Maksud baik Yim tai-hiap ini
sungguh sangat membesarkan hati kami,
cuma…….saat ini kami sedang terdesak bahaya
mengancam di depan mata, sebaliknya rencana
Yim tai-hiap masih jauh daripada tercapai, bahkan
jejak Swe thian-bang itu belum lagi menginjak
daerah Tionggoan…….”
Mendadak Ban-li-liu-hiang Yim hong peng
tertawa dan memotong, “Jika kalian sudah mau
menerima ajakanku, dengan sendirinya aku pun
tidak perlu merahasiakan urusan ini. Terus terang,
meski jejakku baru mulai muncul sebulan terakhir,
padahal sudah hampir lima tahun kujelajahi
Tionggoan. Selama lima tahun ini sedikit banyak
sudah kupupuk juga kekuatan tertentu, hanya
karena waktunya belum tiba, maka sejauh ini
belum diketahui kawanan Bulim.”
“Wah melulu cara Yim tai-hiap menyembunyikan
pekerjaan ini saja sudah lain daripada orang lain,
sungguh hebat,” kata Kiam soat.
Yim hong peng tertawa bangga, “Namun caraku
memilih orang sangat cermat, tidak sedikit kawan
kalangan bawah dan menengah yang telah
menggabungkan diri, tapi saudara dari lapisan atas
justru masih sangat sedikit, sebab itulah kuminta
bantuan kalian bertiga, sebab Swe siansing itu
dalam jangka waktu singkat mungkin juga akan
masuk ke daerah Tionggoan.”
Meski dia sok pintar, tanpa terasa ia pun lupa
daratan oleh senyum manis dan lirikan Bwee kiamsoat
yang memabukkan itu dan pelahan tersingkap
juga rahasia maksudnya.
Air muka Lamkiong peng dan Tik Yang rada
berubah, sebaliknya dengan berseri-seri Yim hongpeng
berkata pula, “tidak jauh dari sini terdapat
tempat persingghanku, meski sangat sederhana,
tapi jauh lebih tenang daripada disini, cuma
sayang masih ada sedikit urusanku di Se-an yang
harus kuselesaikan, saat ini tidak dapat kuantar
sendiri ke sana.”
Bwe Kiam soat sengaja menghela nafas
menyesal, “Wah lantas bagaimana?”
“Tidak menjadi soal,” kata Yim hong-peng, meski
tidak dapat kuantar sendiri, sepanjang jalan sudah
ada orang siap menyambut kedatangan kalian…….”
“Selain itu, “ sambungnya asmbil merogoh saku,
“Supaya kalian percaya kepada keteranganku,
boleh lihat………”
Ketika tangan terangkat, terlihatlah oleh Kiam
saot bertiga tiga kantung sutera berwama wami
terpegang pada tangan Yim hong-peng.
“Bagus sekali, barang apakah ini?” tanya Kiamsoat.
“Sampai saat ini, boleh dikatakan sangat langka
orang dunia persilatan yang pemah melihat benda
ini,” tutur Yim hong-peng dengan prihatin sambil
membuka salah sebuah kantung sutera itu.
Seketika semua orang mencium bau harum ane
menusuk hidung.
Yim hong-peng lantas mengeluarkan sepotong
kayu kecil persegi berwama lembayung dari dalam
kantung dan diserahkan kepada Bwe kiam-soat.
Waktu Kiam-soat mengamati, potongan kayu
kecil yang tidak menarik ini terbuat secara indah,
bagian atas ada ukiran pemandangan alam yang
permai, terlukis seorang berdiri di bawah cahaya
senja sedang memandang puncak gunung di
kejauhan, orang ini terlukis samar-samar, tapi bila
diteliti kelihatan gagah dengan sikap yang hidup,
Cuma sayang garis mukanya hanya terukir dari
sisi belakang.
Di balik kepingan kayu ini terukir dua bait syair,
sangat kecil hurufnya namun gaya tulisnnya indah
kuat, jelas tulisan seniman temama.
Kepingan kayu ini keras dan berat serta berbau
harum.
Setelah mengamati sejenak, kemudian Bwe
kiam-soat bertanya, “Apakah orang yang terukir di
sini adalah orang yang disebut Swe thian-bang
itu?”
Yim hong-peng mengangguk, “Ya, benda ini
tanda pengenal Swe thian-bang itu.”
Lalu ia memberikan pula kedua kantung sutera
kepada Lamkiong Peng dan Tik Yang, katanya pula
dengan tertawa, “Untuk mendapat kepercayaan
kalian bertiga, sengaja kulanggar prosedur biasa
dan kuberikan benda ini…….”
“Prosedur biasa apa?” ujar Bwe kiam-soat sambil
memainkan keping kayu dan kantung sutera yang
dipegangnya.
“Setiba kalian di tempatku dengan sendirinya
akan tahu,” kata Yim hong-peng.
Mendadak ia bertepuk tangan, baru berjangkit
suara keplokannya, dari kejauhan lantas muncul
sesosok bayangan secepat terbang.
Hanya sekejap saja orang ini sudah mendekat,
ternyata dia adalah Tiangsun Tang, salah seorang
jago dari Bin-san-ji-yu.
Ia berdiri dengan sikap hormat di depan Yim
hong-peng sambil melirik sekejap ke arah Bwe
Kiam soat, ketika diketahui benda yang berada di
tangan orang, seketika wajahnya menampilakan
rasa heran dan kejut.
“Agaknya antara Tiangsun-heng dan nona Bwe
terdapat suatu perselisihan, tapi selanjtnya kita
adalah orang sendiri, rasanya Tiangsun-heng perlu
melupakan uusan masa lampau,” kata Yim hongpeng
dengan tersenyum.
Sejenak Tiangsun Tang melenggong, lalu berkata
dingin, “Saat ini juga sudah kulupakan.”
“Cepat benar lupanya,” ujar Bwe kiam-soat
dengan tertawa genit.
“Haha, memang harus begitu,” ujar Yim hongpeng.
Sekarang harap Tiangsun-heng membawa
mereka bertiga ke Liu-hiang-ceng kita, setelah
kuselesaikan sedikit urusan di Se-an segera
kupulang untuk menemui kalian disana.”
“Dan…….pedang…….”tergagap Tiangsun Tang.
“Oya, pedang Lamkiong-heng yang tertinggal di Sean
itu sudah kusuruh bawa kemari,” Yim hongpeng
Selagi Lamkiong Peng melenggong, Tiangsun Tan
telah menyodorkan pedang yang dibawanya sambil
berkata, “Sarungnya baru saja dibuat, mungkin
tidak begitu cocok.”
Yim hong-peng mengambil pedang itu dan
dikembalikan kepada Lamkiong Peng, katanya,
“Tadi tanpa permisi kumasuk ke kamar Lamkiongheng,
kulihat pedang pusaka ini tertinggal disana,
maka secara sembrono kubawakan untuk
Lamkiong-heng.”
Sebelum Lamkiong Peng bersuara,
pandangannya beralih kepada Tik Yang, katany
pula, “Tik-heng, apakh kauthau dimana letak
kcanehan keping kayu ini?”
Alis Tik Yang menegak, jengeknya, “Betapa
anehnya barang ini, jika orang she Tik disuruh
menjadi antek seorang yang bemafsu besar ingin
menguasai dunia persilatan, hmk……”
Mendadak ia mendongak memandang langit
sambil melemparkan kantung sutera yang
dipegangnya ke tanah.
Kerua Yim hong-peng terkesiap, air mukanya
berubah seketika, katanya, “Tik-heng aku…..”
Tiba-tiba Lamkiong Peng juga berkata,
”Terimakasih atas maksud baik Yim tai-hiap,
sesungguhnya kamu pun sangat ingin dapat
bekerja sama dengan tokog besar semacam Swe
tai-hiap itu, cuma……..” ia menghela nafas, lalu
mengembalikan kantung sutera kepada Yim hongpeng
dan berkata pula, “Siaute orang bodoh, juga
sudah terbiasa hidup tidak beraturan, mungkin
sukar ikut serta dalam pekerjaan besar yang
dirancang Yim tai-hiap. Namun ………apa pun juga
budi pertolongan Yim tai-hiap takkan kulupakan.”
Pada dasarnya Lamkiong Peng berwatak jujur, ia
dapat meraba maksud tujuan Yim hong-peng,
maka tidak sudi di diperalat orang. Tapi ia pun
merasa utang budi, maka ia menolak ajakan orang
dengan menyesal.
Air muka Yim hong-peng berubah kelam,
kantung sutera itu diremasnya dengan
mendongkol, pandangannya pelahan beralih
kepada Bwe kiam-soat.
“Aku sih tidak menjadi soal,” kata Kiam-soat
dengan tertawa, kepingan kayu dimasukkan lagi
kedalam kantung.
Lamkiong Peng tercengang, sebaliknya sinar
mata Yim hong-peng mencorong terang.
Dengan tertawa Kiam-soat menyambung lagi,
“Tapi aku pun tidak mempunyai ambisi sebesar
itu, sebab itulah terpaksa aku pun menerima
ajakan Yim tai-hiap dengan ucapan terima kasih,
hanya…..” pelahan ia masukkan kantung sutera
itu ke dalam bajunya, lalu melanjutkan, kantung
sutera dan kepingan kayu ini tampaknya sangat
menyenangkan, maka berat untuk kukembalikan
kepadamu, jika secara sukarela Yim tai-hiap sudah
memberikannya kepadaku, kukira engkau pasti
takkan memintanya kembali dariku, bukan?”
Seketika air muka Yim hong-peng berubah pucat
dan melenggong dengan bingung, pelahan ia lantas
menjemput kantung sutera yang dilemparkan Tik
Yang tadi.
Lamkiong Peng merasa tidak enak hati, ucapnya,
“Maafkan, selanjutnya asalkan Yim tai-hiap
ada…..”
Mendadak Yim hong-peng bergelak tertawa pula,
“Haha, agaknya orang she Yim bermata lamur,
kiranya kalian sengaja hendak mempermainkan
diriku……..”
Sampai di sini tiba-tiba sorot matanya berubah
mencorong, sambungnya sekata demi sekata, “Hm,
setelah kalian mengetahui rahasiaku, memangnya
kalian ingin pergi dengan hidup. Hah, apakah
kalian sangka orang she Yim seorang tolol?”
Serentak ia melompat mundur sambil berkeplok,
segera dari tempat gelap di sekitarnya muncul
berpuluh sosok bayangan orang.
Lamkiong Peng bertiga terkesiap.
Pelahan Tiangsun Tang melolos pedang dan siap
tempur.
“Hm, bila orang she Yim tidak yakin dapat
membuat kalian tutup mulut selamanya mana
kumau memberitahukan rahasiaku sendiri kepada
kalian?” jengek Yim hong-peng pula, waktu ia
angkat tangannya, serentak bayangan orang itu
mendesak maju dari sekelilingnya.
Lamkiong Peng menyapu pandang sekejap,
jengeknya, “Mesti ada rasa terimakasihku kepada
Yim-heng, tapi dengan tindakanmu ini rasa
terimakasih jadi hanyut seluruhnya. Jika beratus
orang di Se-an saja tidak mampu mengusik
scujung rambutku, sekarang cuma berpuluh orang
ini dapatkah mengatasi kami bertiga”
Segera Tik Yang juga berteriak, “Siapa yang
berani, boleh silakan dia rasakan dulu Thian-sansin-
kiam.”
“Boleh kaubelajar kenal dulu dengan usaha
orang she Yim, jawab Yim hong-peng sembari
menggeser mundur.
Serentak Tiangsun Tan juga melompat kesana
dan berdiri berjajar bersama Yim hong-peng di
antara lingkaran orang-orang berbaju hitam.
Dengan sendirinya Lamkiong peng dan Tik Yang
juga berdiri berjajar dengan Bwe kiam-soat,
barisan musuh kelihatan mendesak maju dengan
pelahan.
“Tenang, kata Bwe Kaim soat, “Jangan
sembarangan bergerak. Bila keadaan tidak
menguntungkan, segera kita terjang keluar saja.”
Tiba-tiba terdengar suara gemerantang nyaring,
suara rantai besi, menyusul Yim hong-peng lantas
membentak, “Thian (langit)!”
Serentak berpuluh bayangan orang itu
mengangkat tangan ke atas, berpuluh jalur cahaya
dingin segera terbang tinggi ke langit dari tangan
orang-orang berbaju hitam itu.
Terdengar Yim hong-peng membentak pula,
“Te(bumi)!”
Sekaligus berpuluh cahaya dingin melayang pula
dari gerombolan orang banyak itu dan menyambar
ke arah Lamkiong Peng bertiga.
Keruan mereka terkejut, Lamkiong peng
membentak sambil melolos pedang, dengan cepat
ia memutar pedangnya. Bwe kiam-soat juga lantas
mengebaskan lengan bajunya, Tik Yang pun
menghantamkan kedua tangannya ke depan
sehingga cahaya dingin itu sama rontok sebelum
tiba di tempat tujuan.
Tak terduga kembali terdengar suara bentakan,
“Hong (angin)!”
Terdengar suara menderu, segulung cahaya
perak melesat tinggi ke udara, habis itu secepat
kilat gulungan cahaya menyilaukan mata dengan
suara menderu keras, ditambah lagi suara nyaring
rantai ketika bergerak, tampaknya tidak kepalang
lihainya.
Tik Yang bersuit panjang dan melompat ke atas,
Bwe kiam soat juga berteriak kaget, “Celaka!”
Belum lenyap suaranya, cahaya perak yang
berhamburan itu dalam sekejap saja telah
membenam seluruh tubuh Tik Yang.
Lamkong Peng terkesiap, cepat ia putar
pedangnya melindungi sekujur badan, ia pun
melompat ke atas.
Pada waktu tubuh Tik Yang baru bergerak ke
atas, mendadak dirasakan berpuluh buah Liu-singtui
(bola berantai) menyambar kepalanya. Cepat ia
menggeliat sehingga tubuhnya membelok ke
samping, siapa tahu cahaya perak kembali
menyambar tiba dan membungkus tubuhnya.
Dalam keadaan demikian ia tidak dapat berpikir
panjang lagi, sekali meraih, sebuah bola perak
ditangkapnya, lalu mengikuti daya tarikan,
langsung ia menubruk ke bawah.
Tapi segera dirasakan tangan kesakitan
tertusuk, pinggang kiri dan paha kanan juga
kesakitan, terdengar suara gedebuk, tahu-tahu ia
menumbuk tubuh seorang berbaju hitam,
keduanya sama menjerit kaget dan jatuh terguling.
Dalam pada Itu Lamkong Peng sedang melayang
ke atas dengan berputar untuk melindungi tubuh
sendiri, di tengah gelombang cahaya tampak
sedikit kacau, kesempatan itu segera
digunakannya untuk menerjang, pedang pusaka
Yap-siang-kiu-loh memperlihatkan kesaktiannya,
terdengar suara gemerincing nyaring, bola berantai
yang merupakan senjata khas kawanan lelaki
berbaju hitam itu sama tertabas putus oleh
pedangnya. Kemudian terlihat olehnya Tik Yang
lagi menjerit kaget dan jatuh terguling.
Terkesiap juga Bwe kiam soat melihat senjata
andalan musuh yang khas itu, ia pikir pantas Yim
hong peng begitu garang, mentang-mentang
mempunyai barisan tempur yang lihai.
Hendaknya diketahui, senjata sebangsa Lui-singtui
(bola berantai), Lian-cu-jiang (tombak berantai)
dan senjata lemas lainnya bukanlah senjata yang
langka, namun sangat sukar melatihnya dengan
baik. Terlebih di tengah orang banyak, bila
latihannya tidak sempuma, bisa jadi akan melukai
lawan atau diri sendiri malah. Tapi bila senjata
yang lemas itu dapat dikuasai dengan baik, maka
daya tempurnya akan berlipat ganda.
Bahwa berpuluh lelaki berseragam hitam ini
dapat serentak menggunakan senjata lemas begini,
jelas mereka sudah terlatih dengan baik dan dapat
bekerja sama dengan rapih sehingga tidak sampai
melukai sendiri dan mencederai lawan.
Pengalaman tempur Bwe kiam soat sudah
banyak, ia tahu barisan tempur ini sangat lihai dan
sulit dihadapi. Tapi saat itu Lamkiong Peng sudah
menerjang ke tengah musuh, cepat ia pun ikut
melayang maju, sekali lengan bajunya mengebas
dengan kuat, kontan ia bikin rontok tujuh-delapan
Lui-sing-tui yang lagi menghantam Lamkiong Peng.
Dalam pada itu Lamkiong Peng lantas memburu
ke tempat roboh Tik Yang.
Tentu saja Bwe kiam soat berkerut kening
melihat kelakuan anak muda itu, ia tahu bila lusing-
tui musuh menyerang lagi pasti sukar
menghindar bagi Lamkiong Peng.
Namun pada saat itu cahaya perak juga sudah
kacau, terdengar Yim-hong –peng membentak pula,
“Siang (es)”
Segera Bwe kiam soat berputar ke sana dan ikut
menubruk maju bersama Lamkiong Peng.
Sekonyong-konyong terdengar angin menderu
lagi, berpuluh Lu-sing-tui serentak telah ditarik
kembali, berpuluh lelaki berseragam hitam juga
melompat mundur.
Rupanya Yim-hong-peng juga terperanjat ketika
melihat barisan bola berantai anak buahnya terjadi
kekacauan karena diterjang oleh Tik Yang dan
Lamkiong Peng. Padahal barisan bola berantai
khusus dilatihnya dengan mengumpulkan berbagai
jago silat pilihan, barisan ini memakai perhitungan
Pat-kua dan berdasarkan perubahan thian (langit),
te (bumi), hong (angin), uh (hujan), jit (matahari),
goat (bulan), in(mega), soat (salju), dan siang(es).
Dengan sendirinya sangat ruwet perubahan
sembilan macam unsur itu, namun bantu
membantu satu sama lain, apalagi setiap bola
berantai itu berduri pula, dengan sendirinya daya
tempurnya luar biasa hebatnya.
Kini dilihatnya Tik yang hanya terluka ringan
saja, Yim hong-peng kuatir barisan ciptaannya
akan dibobol musuh, maka cepat ia undurkan diri
dulu barisannya untuk merapikannya lebih dulu.
Waktu itu Lamkiong Peng sedang memeriksa
keadaan Tik Yang, dilihatnya darah mengucur dari
pinggang kiri dan paha kanan, namun tangan Tik
Yang sekuatnya lagi mencekik leher seorang lelaki
berbaju hitam dan ditindihnya dari bawah, dari
celah jari juga merembes darah segar.
Pada telapak tangan kiri lelaki berbaju hitam itu
memakai sarung tangan kulit dan terikat seutas
rantai perak mengkilat, bola perak pada ujung
rantai terpegang oleh Tik Yang, mendadak Tik Yang
menggeram dan cahaya perak berkelebat, darah
pun berhamburan, kiranya sekali hantam dengan
bola yang dipegangnya Tik Yang telah menghantam
remuk kepala lawan.
Cepat Lamkiong Peng membengunkan Tik Yang,
dilihatnya kedua mata orang merah membara,
dada penuh berlepotan darah, untuk pertama
kalinya anak muda ini terluka, juga untuk pertama
kalinya selama hidup anak muda ini membunuh
orang. Melihat darah yang bereeceran, ia menjadi
terkesima memandangi bola perak yang masih
terpegang olehnya.
“Hm, ternyata Thian-san-sin-kiam juga Cuma
begini saja,” tiba-tiba terdengar Yim hong-peng
mengejek dari samping.
“Hanya begini apa? Sedikitnya juga telah
mengacaukan barisanmu, untung kauhentikan
gerakan barisanmu, kalau tidak, hmk!…….ejek
Bwe kiam-soat.
“Huh jangan temberang dulu, “jawab Yim hongpeng.
“kedatanganku ke darcah Tionggoan sekali
ini sebenarnya juga tidak bermaksud mengikat
permusuhan, sebab itulah barisan bola perak ini
belum kugunakan secara tuntas. Apabila kalian
bisa melihat gelagat, hendaknya turut nasihatku,
kalau tidak, terpaksa kalian harus menyaksikan
kesaktian barisan bola perak yang sesungguhnya.”
Habis berkata, segera Yim-hong-peng bermaksud
melompat mundur ke tengah barisannya.
“Nanti dulu!” bentak Kiam soat mendadak, sekali
bergerak, tahu-tahu ia sudah hinggap di depan
Yim-hong-peng.
“Hah, memangnya dapat kautahan diriku,”
jengek Yim-hong-peng, mendadak ia meloncat lagi.
“Boleh kau coba!” jengek Bwe kiam soat dengan
tertawa, tangan kiri terangkat dan lengan baju
berkibar, serupa ular saja tahu-tahu hendak
membelit betis Yim-hong-peng.
Tergetar juga hati Yim-hong-peng, cepat kedua
tangannya menebas ke bawah, kaki kanan pun
mendepak.
Namun sedikit Bwe kiam soat menarik lengan
bajunya, katanya dengan tertawa, “Lebih baik
kauturun saja!”
Belum lenyap suaranya, benar juga Yim-hongpeng
sudah jatuh kembali ke tempat semula dan
menatap Bwe kiam soat dengan tercengang.
Baru saja Bwe kiam soat telah mengeluarkan
gerakan “Liu-in-hui-siu” atau awan mengambang
dan lengan baju menyambar, tampaknya tidak ada
suatu yang istimewa, tapi ternyata membawa
tenaga betotan yang maha kuat, juga ketepatan
waktu dan bagian yang di arah terjadi secara tepat
dan jitu.
Diam-diam Lamkiong Peng juga terkejut, baru
sekarang ia menyaksikan kepandaian asli Bwe
Kiam-soat. Di samping terkejut ia pun kagum.
Padahal selama sepuluh tahun ini perempuan ini
selalu berbaring di dalam sebuah peti mati yang
sempit, tersiksa dan bisa membuat gila.
Namun perempuan ini tidak saja tetap tawakal,
bahwa lwekangnya yang sudah punah dapat pulih
kembali, sungguh suatu pekerjaan yang tidak
mudah. Terutama ilmu awet muda yang berhasil
juga dikuasainya bahkan kungfunya seperti lebih
maju daripada dulu. Sungguh sukar dimengerti
resep apa yang membuatnya mencapai mukjizat
seperti ini.
Dalam pada itu pelahan Tik Yang telah duduk
tegak.
“Hm, sudah saatnya kalian memilih apakah
ingin menyerah atau tetap bertempur, apalagi
kalian perlu juga bersiap membereskan urusan
orang she Tik ini setelah dia mampus,” jengek Yim
Hong-peng.
“Apa katamu?” bentak Lamkiong Peng terkesiap.
“Hehe,” Yim Hong-peng tertawa ejek, “pada bola
perak berduri itu dilumuri racun, bila masuk
darah, sukar lagi tertolong. Maka bila kau ingin
menolong jiwa kawanmu, hendaknya kau lekas
ambil keputusan.”
Rupanya dia rada keder akan kesaktian Bwe
Kim-soat, maka sengaja menggertak dengan racun
yang mengenai Tik Yang itu.
Air muka Lamkiong Peng berubah hebat, waktu
ia berpaling ke sana, dilihatnya wajah Tik Yang
berubah kaku dan mata buram.
“Hm, biarpun kaubicara menakutkan juga
takkan mampu menggertak diriku,” jengek Kimsoat.
“Tapi kuyakin dalam hatimu harus mengakui
aku tidak main gertak belaka,” ejek Yim Hong Peng.
“Kau sendiri sudah terkenal sebagai perempuan
berdarah dingin, dengan sendirinya mati hidup
kawan tidak perlu kau pikirkan. Tapi kau
Lamkiong Peng, apakah kaupun manusia yang
berbudi rendah begitu?”
Tegetar juga hati Lamkiong peng, dirasakan
tangan Tik Yang dipegangnya panas membara,
sinar matanya juga berubah buram.
“Bila kebekuk dirimu, masakah takkan kau
serahkan obat penawarnya? Jengek Bwe kiam soat
pula.
“Obat penawarnya memang ada, tapi tidak ku
bawa, apalagi…..hehe, apakah kau yakin mampu
membekuk diriku?”
Alis kiam-soat menegak, medadak ia terbahakbahak,
“Hahaha, sungguh mengegelikan kusangka
Ban-li-liu-hiang Yim Hong Peng itu tokoh lihai
macam apa, tak tahunya Cuma begini saja.”
Yim Hong Peng meraba janggutnya berlagak
tidak mendengar.
Kiamsoat mendengus lagi, “Huh, dengan cara
licik ini utnuk menjirat orang masuk ke dalam
komplotanmu, apakah tindakan ini tidak teramat
bodoh? Umpama berhasil kaubujuk orang dalam
komplotanmu, apakh kemudian dapat kaujamin
kesetiannya, apakah dia takkan menjual
rahasiamu dan berkhianat? Hah, bisa jadi engkau
akan menyesal dikemudian hari.”
“Hahahahaha! “Yim Hong Peng terbahak, “Untuk
ini nona tidak perlu kuatir bagiku, jika orang she
Yim tidak yakin mampu menaklukan harimau,
tidak nanti ku berani naik ke gunung.”
Diam-diam Bwe kiam-soat merancang tindakan
apa yang akan diambilnya, lahirnya ia berlagak
tertawa, ia pikir harus sekali serang merobohkan
Yim Hong Peng, bila gagal serentak mereka bertiga
lantas menerjang keluar kepungan musuh sebelum
barisan bola maut itu bergerak.
Selagi ia termenung, di tengah malam sunyi
mendaak ia mendengar suara burung gagak
berkaok satu kali, segulung bayangan hitam
terbang tiba dengan cepat sekali, dari kecepatan
terbangnya lebih menyerupai seekor elang daripada
dikatakan seekor gagak.
Selagi Kiam soat terkesiap dilihatnya burung
gagak yang aneh ini mendadak menubruk ke muka
Yim Hong Peng , tampaknya hendak mematuk biji
matanya.
Tentu Yim Hong Peng terkejut, cepat ia
menggeser mundur, berbareng sebelah tangannya
lantas menghantam.
Pukulan ini sangat kuat, gagak itu juga sedang
menyambar ke depan, sepantasnya sukar
menghindarkan pukulan dasyat ini.
Siapa duga, kembali terdengar suara gaok yang
panjang, secepat kilat gagak itu terbang membalik,
kecepatannya terlebih mengejutkan daripada
menyambar tiba tadi, hanya sekejap saja lantas
menghilang dalam kegelapan.
Yim Hong Peng sendiri jadi melongo, tangan yang
hampir menghantam tadi hampir tak dapat
diturunkan lagi. Di dunia ini memang banyak
hewan yang cerdik, tapi seekor burung gagak dapat
terbang mundur, sungguh hal ini tidak pemah
terdengar, benar-benar peristiwa yang ajaib.
Selagi merasa bingung, tiba-tiba terdengar suara
bentakan aneh dari jauh mendekat,
“Minggir!”………minggir!”
Menyusul terjadi kegaduhan diantara kawanan
lelaki berseragam hitam dan bersenjata bola
berantai, barisan mereka pun menjadi kacau dan
sama menyingkir untuk memberi jalan lalu.
Kening Yim Hong Peng berkerut, bentaknya,”
Tenang, tetap ditempat, apakah kalian sudah lupa
pada disiplin yang diajarkan, sebelum bertempur
barisan kacau dulu, dosa ini tak terampunkan!”
Belum habis ucapannya, mendadak seorang
tojin kurus kering berjubah biru dan berambut
putih melangkah tiba dari balik barisan sana
sembari membentak, “Minggir! Minggir !”
Rambut dan jenggot tojin ini sudah putih
seluruhnya, panjang jubah birunya Cuma sebatas
dengkul, mukanya kurus, tapi sikapnya gagah
berwibawa, telapak tangan kiri terangkat di depan
dada dan diatas telapak tangan hinggap seekor
burung gagak.
Waktu Yim Hong Peng mengamati lebih teliti,
kiranya suara teriakan serak aneh tadi justru
keluar dari mulut burung gagak itu.
Tentu saja ia melenggong. Bahwa burung gagak
dapat terbang mundur sudah merupakan kejadian
ajaib. Gagak ini ternyata dapat bicara pula, dengan
sendirinya hal ini terlebih mengejutkan, bairpun
Yim Hong Peng sudah kenyang makan asam garam
dunia kangouw dan luas pengetahuannya juga
terheran-heran.
Bwe kiam-soat juga tercengang, dilihatnya si
tojin kurus tersenyum simpul, mendadak burung
gagak itu berteriak lagi, “Bulan tidak gelap, angin
tidak kencang, mengapa kota Se-an yang aman
tentram ini tejadi kekabaran dan pembunuhan,
apakah kalian sengaja bikin rusuh!”
Meski serak suaranya, tapi lafalnya cukup jelas,
hal ini membuat Bwe kiam soat tambah melongo.
Hanya sinar mata Lamkiong Peng tetap
gemerdep dan tidak mengunjuk rasa terkejut, tapi
setelah melihat si tojin berambut putih itu, tibatiba
teringat seorang olehnya, baru saja dia
berseru, “Kau……..”
Mendadak sorot mata si tojin menyapu pandang
ke arahnya dan mengedipinya. Seketika Lamkiongpeng
urung bicara dan memandang orang dengan
bingung.
Ban-li-liu-hiang berusaha mengatasi rasa
bimbangnya, ia memberi hormat dan menyapa,
“Totiang tentu orang kosen dari dunia luar, entah
ada keperluan dan petunjuk apa datang ke sini?”
Tojin berambut putih itu terbahak, si gagak
berteriak lagi, “Mengapa engkau Cuma
menghormat padanya, masa tidak melihat
kehadiranku disini?”
Yim Hong Peng melenggak dan serba susah,
masakah dirinya juga harus memberi hormat
kepada seekor burung gagak, sungguh mustahil.
Si tojin tertawa katanya, “Kawanku meski seekor
burung namun wataknya angkuh, tingkatannya
memang juga sangat tinggi, bila kauberi hormat
padanya kan tidak menjadi soal?”
Yim Hong Peng melenggong sejenak, dengan hati
tidak rela ia merangkap kepalan di depan dada
sebagi tanda hormat. Betapapun dia telah
terpengaruh oleh sikap tojin yang berwibawa dan
juga keajaiban burung gagak itu sehingga menurut
saja apa yang dikatakan si tojin.
Sorot mata Lamkiong Peng menampilkan
senyuman geli terhadap apa yang dilihtanya ini.
Diam-diam Bwe kiam-soat juga merasa heran, ia
tahu pribadi Lamkiong peng yang lugas, tidak nanti
ia tinggal diam menghadapi suatu urusan yang
ganjil. Maka ia menjadi curiga, namun kecerdasan
burung gagak itu memang terbukti nyata,
betapapun pintarnya juga tidak paham mengapa
bisa begini.
Dilihatnya si tojin sedang mengangguk dan
berkata, “Baik anak muda yang sopan, tidak
percuma kedatanganku ini.”
Setelah merandek sejenak, lalu ia berkata lagi
dengan kereng terhadap Yim Hong Peng, “Tanpa
sengaja aku berlalu di sini, kulihat disini hawa
pembunuh berkobar, aku tidak sampai hati
menyaksikan kawanan ksatria sama tertimpa
malapetaka, maka sengaja mengitar ke sini.”
Dengan bingung Yim Hong Peng menjawab
“Ucapan Cianpwe sungguh sukar di
mengerti………..”
“Jelas dirundung kemalangan, apabila kau
berani main senjata, pasti celakalah kau, maka
kuanjurkan lebih baik kau loloskan diri sebelum
terlambat,“ Kata si tojin pula dengan gegetun.
Sama sekali ia tidak memandang Lamkiong peng
dan Bwe kiam soat, seperti kedua orang itu
membuatnya jemu, lalu dengan nada kereng ia
menyambung, “Jika ada orang merintangimu,
mengingat sopan santunmu ini, biarlah nanti
kutahan mereka.”
“Tapi…..” Yim Hong Peng tambah bingung.
“Tapi apa? Masa kau tidak percaya kepadaku?”
bentak si tojin dengan bengis.
Serentak burung gagak itu menyambung,
“Kemalangan akan menimpa dan belum lagi
kausadari, kasihan!”
Yim Hong Peng berdiri termangu dengan air
muka pucat, ia pandang Lamkiong peng bertiga
dan memandang pula si tojin dan burung
gagaknya, katanya kemudian dengan tergagap,
“Bukan Wanpwe tidak percaya kepada ucapan
Cianpwe, soalnya urusanku ini tidak dapat
diselesaikan dengan sekata dua patah saja,
pula……..”
“Pula apa yang kukatakan sukar untuk
dipercaya, begitu bukan maksudmu?” potong si
tojin.
Yim hong-peng diam saja, biasanya diam berarti
membenarkan.
Mendadak si tojin bergelak tertawa, “Haha apa
yang kukatakan selama ini hampir tidak pemah
disangsikan orang, juga tidak pemah salah
menafsirkan suatu peristiwa, ternyata sekarang
keteranganku tidak kaupercayai, agaknya kau ini
memang ingin mampus.”
Burung gagak itu juga tertawa terkekeh aneh
dan berkata, “Hehe, jika benar kauingin mati, itu
kan gampang………..”
Bola mata Yim Hong Peng berputar, tiba-tiba
teringat seseorang olehnya, serunya, “Hei janganjangan
Ciapwe ini adalah tokoh serba tahu yang
termashur pada beberapa puluh tahun yang lalu,
Thian-ah Totiang adanya?”
SI tojin berambut putih tergelak, “Haha, bagus!
Ternyata namaku juga kaukenal. Ya, memang
betul, aku inilah Thian-ah tojin Cuma
memberitahukan kemalangan dan tidak
melaporkan kemujuran itu.”
“Tapi…..tapi menurut berita yang tersiar di dunia
kangouw, konon….konon sudah lama cianpwe
wafat……..”
“Wafat apa? Potong si tojin alias Thian-ah totiang
dengan tertawa, “Soalnya beberapa puluh tahun
yang lalu aku merasa bosan berkelana lagi di dunia
ramai ini, maka sengaja pura-pura mati dan
mengasingkan diri. Tak tersangka berita ini
dianggap benar oleh orang persilatan.”
Mau tak mau Bwe kiam soat juga terperanjat.
Namun tokoh aneh dunia persilatan masa lampau
ini sudah lama telah didengarnya, diketahuinya
orang ini terkenal sebagi peramal ulung, hampir
tidak pemah meleset bilamana dia meramalkan
malapetaka seseorang. Asalkan dia memberi
peringatan kepada seorang, orang tersebut tentu
tertimpa bahaya.
Sebab itulah orang dunia persilatan
menyebutnya sebagi Thian-ah tojin, kata “ah” atau
gagak biasanya tidak mengenakan pendengaran,
namun setiap orang persilatan tidak ada yang
berani bersikap kurang hormat kepadanya.
Lalu dengan serius Thian-ah tojin berkata
kepada Bwe kiam soat, “nah apa yang telah
kukatakan tentu sudah kalian dengar dengan
jelas.”
Tergerak hati Bwe kiam soat, dipandangnya
Lamkiong peng sekejap, lalu mengngguk pelahan.
“Dan tentunya kalian tidak berlain pendapat bila
hendak kulepaskan dia dari malapetaka yang akan
menimpanya, bukan?” kata Thian-ah tojin pula.
Bwe kiam soat cukup cerdik, ia tahu meski
resminya si tojin menyatakan menolong Yim
Hong Peng terlepas dari malapetaka, tapi
sebenarnya pihak sendirilah yang dibantunya.
Maka cepat ia menjawab, “Jika Cianpwe
berpendapat demikian, tentu tidak ada persoalan
bagi kami.”
“Jika begitu boleh lekas kau pergi saja, kata
Thian-ah tojin sambil memberi tanda kepada
Yim Hong Peng .
Agaknya Yim Hong Peng masih sangsi juga,
segera si tojin menambahkan, “Lekas pergi, jika
terlambat mungkin akan terjadi perubahan.”
Walaupun dalam hati masih penasaran terpaksa
Yim Hong Peng menjawab dengan hormat, “Atas
budi kebaikan Cianpwe kelak pasti akan kubalas
dengan setimpal.”
Habis itu ia memberi tanda dan membentak,
“Pergi!”
Begitulah pihaknya sebenrnya berada dalam
posisi yang menguntungkan tapi sekarang dia
berbalik seperti dilepaskan pergi atas kemurahan
hati orang, malahan seperti utang budi terhadap si
tojin.
Melihat sikap si tojin ynag berwibawa dengan
burung gagaknya yang ajaib, kawanan lelaki
berbaju hitam tadi sudah sama kebat-kebit,
sekarang mereka diperintahkan pergi, tentu saja
serupa mendapat pengampunan besar,
berbondong-bondong mereka lantas melangkah
pergi dengan cepat.
Yim Hong Peng melototi Bwe kiam-soat sekejap,
seperti mau bicara, akhirnya mengentak kaki dan
membalik tubuh, hanya dengan beberapa kali
lompatan saja sudah menghilang dalam kegelapan.
Sejak tadi Lamkiong peng tidak memberi
komentar, sesudah Yim Hong Peng pergi jauh,
mendadak ia menghela nafas dan menggerundel,
“Ai, kembali kau tipu orang lagi, kalau tidak ada
Tik-heng, aku……..” dia seperti sangat
menyesalkan diri sendiri.
Tentu saja Bwe kiam-soat merasa heran.
Sedangkan si tojin berambut putih mendadak
tertawa dengan keras, katanya, “Ini namanya
dengan gigi membayar gigi, terhadap kawanan licik
dan jahat itu, apa salahnya menipu beberapa kali.”
“Ai tipu menipu betapapun bukan perbuatan
yang baik………”Lamkiong peng menghela nafas
menyesal .
Bwe kiam-soat merasa bingung, ia coba
bertanya, “Tipu menipu apa?”
Meski dia sangat cerdas, tetap tidak tahu ada
tipu menipu apa dalam hal ini.
Si tojin seperti sudah kenal watak Lamkiong
peng, ia tidak menghiraukan omelan anak muda
itu, pelahan ia mengelus bulu burung gagak,
katanya dengan tertawa, “Sahabat burung, hari ini
besar bantuanmu padaku.”
Dengan tangan kanan ia seperti memutuskan
sesuatu pada kaki gagak, habis itu ia angkat
tangan kiri dan berkata,”Nah pergilah!”
Mendadak burng gagak itu berbunyi satu kali
terus terbang dan menghilang dalam kegelapan
malam.
Bwe kiam soat tercengang dan juga merasa
sayang melihat si tojin melepaskan begitu saja
burung gagak ajaib itu serunya, “Ai……..apakah dia
akan terbang kembali kepadamu?”
Tojin itu bergelak tertawa, ”Haha nona tidak
perlu merasa sayang, gagak semacam ini, bila mau
dapat kutangkap sepuluh ekor sekaligus setiap
saat.”
Dengan bingung Bwe kiam soat memandang
Lamkiong peng sekejap, lalu berkata dengan
gegetun,”Ai, sesungguhnya bagaimna urusannya,
sungguh aku tidak mengerti.”
“Hahahaha!” Kembali si tojin terbahak.
“Bila bertemu musuh tangguh, yang utama
serang batinnya. Tak tersangka jurus seranganku
ini bukan saja dapat mengelabui Ban-li-liu-hian
Yim hong peng itu, bahkan Kong-jiok- Huicu yang
termashur juga dapat kukelabui.”
Dengan gegetun Lamkiong peng berucap, “Tujuh
tahun yang lalu berpisah, tak tersangka sekarang
dapat bertemu pula denganmu di sini, juga tak
terduga, engkau akan membebaskan kesukaranku,
terlebih tidak nyana watakmu ternyata tidak
berubah sedikitpun……….”
Tojin itu berhenti tertawa, katanya dengan
tergagap, “Terus terang permainanku yang unik ini
sudah sekian tahun tidak pemah kugunakan baru
sekarang lantaran melihat kongeu terancam
bahaya maka sekadar kukeluarkan……..”
“Tentu saja kuterimakasih atas pertolonganmu,
cuma permainan semacam ini tetap bukan
tindakan lelaki sejati, selama hidupmu
bekecimpung di dunia kangouw, masakah engkau
tidak ingin berbuat secara gilang gemilang agar
namamu selalu diingat.”
Dia bicara dengan suara halus, tapi
mengandung semacam wibawa yang tidak dapat
dibantah.
Air muka si tojin rada berubah, akhirnya
menunduk dan tidak bersuara lagi.
Pelahan Lamkiong peng mendekatinya, katanya
sambil menepuk pelahan pundaknya, “Jika katakataku
terlalu kasar, hendaknya engkau jangan
marah. Maklumlah, bila aku tidak merasa bangga
karena mempunyai sahabat serupa dirimu, tentu
aku takkan bicara terus terang padamu. Apalagi
engkau telah membantuku, sungguh aku sangat
berterimakasih kepadamu.”
SI tojin mengangkat kepalanya dan tersenyum,
sorot matanya penuh rasa persahabatan, kedua
orang saling pandang sekejap, mendadak ia
genggam tangan Lamkiong peng dengan erat,
katanya, “Selama ini apakah……..apakah engkau
baik-baik saja?”
“Aku sangat baik, hendaknya engkau demikian
pula,” jawab Lamkiong peng.
Bwe kiam soat ternyata sedang termenung,
mendadak ia berkeplok dan berseru, “Aha, tahulah
aku!”
Habis itu tahu-tahu ia melompat ke samping si
tojin berambut putih dan memegang tangannya.
Tentu saja Lamkiong peng kaget, “Hei ada apa?”
Dengan tertawa Kiam soat berkata, “Coba lihat,
pada tangnnnya ternyata benar tersembunyi
segulung benang hitam. Haha, burung gagak
terbang mundur, hal ini ternyata permainan sulap
belaka. Rupanya pada kaki gagak terikat benang,
lalu ditarik mundur olehnya.”
“Nona ternyata sangat pintar, segala apa sukar
mengelabui mata telingamu,” ucap si tojin dengan
tertawa.
Lamkiong peng memandang Bwe kiam soat
dengan tertawa senang, pikirnya, “lahiriah dia
kelihatan dingin dan sukar didekati, yang benar
dia juga punya hati yang hangat.
Cuma sayang, orang persilatan hanya kenal
sikapnya yang dingin dan tidak ada yang tahu
hatinya yang baik.”
Tiba-tiba didengarnya Bwe kiam-soat bergumam
dengan alis berkerut, “Hanya mengenai…..mengapa
burung gagak itu dapat bicara seperti manusia, hal
inilah yang masih membuatku bingung,”
Tojin itu bergelak, mendadak ia berseru dengan
suara yang serak aneh tadi, “Nona sudah lama
berkecimpung di dunia kangouw, masakah engkau
tidak pemah dengar bahwa diantara kaum
pengelana itu ada semacam permainan sulap yang
ajaib…….”
Suaranya bukan saja aneh, waktu Kiam-soat
mengamati, ia tambah tercengang, sebab bibir si
tojin tidak bergerak, tapi jelas suara tersiar dari
mulutnya.
Kiam soat coba mengamati lebih teliti lagi, suara
yang memang timbul dari perut si tojin itu
kedengaran mirip bunyi perut yang keruyukan
pada waktu perut lapar.
“Sulap apa?” tanyanya kemudian dengan
tercengang. Meski sudah lama ia berkecimpung di
dunia kangouw, tapi pergaulannya hanya dengan
tokoh kalangan atas, dengan sendirinya ia tidak
tahu permainan kaum orang kecil ini.
“Kungfu ini disebut “bicara dengan perut” tukas
Lamkiong peng, “yaitu menggunakan tenaga otot
dalam perut untuk menimbulkan suara, bagi
tukang ngamen dunia kangouw, permainan ini
tergolong kungfu khas dan sangat sukar
dilatih……”
Sampai disini mendadak si tojin memegang
perutnya dan berseru dengan tertawa, “Haha
hanya permainan rendahan saja, buat apa
dibangga-banggakan.”
Dengan serius Lamkiong peng berucap “Setiap
ilmu kepandaian pasti tidak mudah dilatih, setiap
kepandaian mana boleh diremehkan. Yang penting
hanya menggunakan ilmunya itu tepat atau tidak.”
“Tak tersangka di kalangan kangouw terdapat
aneka ragam ilmu mujuzat begini, kau bilang ilmu
golongan rendah, bagiku justru sangat ajaib, malah
sebelum ini belum pemah kudengar, apalagi
melihatnya,” ujar Bwe kiam soat.
“Ya dunia seluas ini masih banyak kcanehan
alam yang belum diketahui, betapa cerdik pandai
seorang terkadang juga tercengang menyaksikan
hal-hal yang sukar dipecahkan dengan akal sehat,”
kata Lamkiong peng.
“Jika demikian jadi totiang ini bukanlah Thianah
tojin, lantas siapakah engkau sebenarnya?”
tanay kiam soat dengan heran.
Wajah Lamkiong peng yang serius tadi
mendadak timbul secercah senyuman, agaknya
bila teringat kepada nama tojin berambut putih ini,
dia lantas merasa geli.
Si tojin berdehem, lalu berucap, “Namaku yang
asli ialah Ban Tat, dahulu aku sering ngendon di
rumah Lamkiong-kongeu numpang makan dan
nunut tidur disana.”
Mendadak ia bergelak tertawa, lalu
menyambung, “tapi kawan dunia persilatan justru
menganggap aku bu-kong-put-jip (setiap lubang
dimasuki) dan Ban-su-tong (segala urusan apa pun
tahu), karena itulah lama-lama nama asliku lantas
dilupakan orang, dan terpaksa aku hanya dikenal
dengan nama Ban-su-tong, begitulah adanya.”
Ia bergelak tertawa, waktu memandang ke arah
Bwe kiam soat, dilihatnya orang bersikap prihatin
tanpa senyum sedikitpun. Dengan heran ia coba
tanya, “Apakah nona merasa namaku ini tidak
cocok bagiku?”
Kiam soat menghela nafas, ucapnya dengan
sungguh-sungguh, “Jika bukan seorang maha
besar, kalau tidak ada hasrat besar untuk mencari
pengetahuan, bila tidak berpengalaman luas, mana
mungkin seorang disebut serba tahu? Sebab itulah
nama ini bagiku hanya menimbulkan rasa
kagumku dan tidak ada sedikitpun yang
menggelikan.”
Si tojin alias Ban Tat atau Ban-su tong jadi
tercengang malah, sungguh ia tidak menyangka
orang justru menaruh hormat kepada
kepandaiannya itu.
“Ya, kalau bukan seorang yang maha cerdik,
mana mungkin berbicara lain daripada orang lain
semacam ini,” tukas Lamkiong peng dengan
gegetun.
Ban-su-tong lantas berkata, “Sejak kongeu
masuk perguruan Sin-liong, kebanyakan orang
yang dulu ngendon di temapat kongeu itu lantas
bubar juga, aku sendiri terluntang lantung di
dunia kangouw tanpa menghasilkan sesuatu.
Kedatanganku ke daerah barat laut sini
sebenarnya juga lantaran mendengar berita
pertandingan antara Sin-liong dan Tan hong, ingin
kusaksikan pertarungan yang jarang terjadi ini,
sekaligus juga ingin tahu keadaan kongeu akhirakhir
ini, ternyata kedatanganku sudah terlambat,
setiba di Se-an lantas kudengar berita muncul
kembalinya Kong-jiok Huicu, juga mendengar
kabar pertempuran Kongeu dengan pejabat ketua
Cong-lam pai di restoran Thian-tiang-lau. Sungguh
sangat senang hatiku mengetahui kemajuan pesat
kungfu Kongeu, tapi juga kuatir atas
keselamatanmu, maka cepat kususul keluarkota ,
dan………”
“Dan kebetulan telah kaugertak lari Yim hongpeng,
kalau tidak mungkin sukar bagi kami untuk
lolos dari kepungan musuh, mengingat di antara
kami sudah ada yang terluka……”
“Celaka!” seru Lamkiong peng sebelum ucapan
Bwe Kiam soat selesai, cepat ia memburu ke
samping Tik Yang dan memeriksa keadaannya.
Di bawah cahaya bintang yang remang terlihat
Tik Yang tak sadarkan diri, mukany kelihatan
bersemu hitam.
Nyata ucapan Yim hong-peng bahwa di atas bola
berantai beracun bukanlah gertakan belaka.
Tentu saja Lamkiong peng merasa ngeri melihat
keadaan Tik Yang itu, cepat ia tanya dengan kuatir,
“bagaimana perasaanmu, Tik-heng?”
Namun kedua mata Tik Yang terpejam rapat
seperti tidak mendengarnya.
Ban Tat ikut memeriksa keadaan Tik Yang,
tampak ia pun mengerutkan kening.
“Bagaimana, dapatkah tertolong?” tanya
Lamkiong Peng.
Sejenak Ban Tat termenung, katanya kemudian,
“Racun yang mengenainya jelas bukan racun yang
kita kenal di daerah Tionggoan, bahakan sekarang
racun sudah menjalar,
mungkin……..mungkin………”
“Masa tak tertolong lagi?” tukas Lamkiong Peng.
“Kecuali obat penawar buatan Yim hong-peng
sendiri dan obat racikan mendiang “Seng ih” (tabib
sakti) yang mustajab, rasanya tidak ada keajaiban
lain yang mampu menawarkan racun ini, sekalipun
Kiu-beng-long-tiong (si tabib penyelamat jiwa) Pohleng-
sian datanh sendiri juga tidak berdaya
mencegah racun yang segera akan menyerang
jantung ini. Cuma……”
Belum habis ucapan Ban Tat, mendadak
Lmkiong peng melompat bangun. Tapi Bwe kiam
soat keburu mengadang di depannya dan menegur,
“Kau mau apa?”
“Tik-heng terluka lantaran membela diriku,
mana boleh kutinggal diam tanpa menolong
menyaksikan ajalnya?” jawab Lamkiong peng.
“Jika maksudmu hendak mencari Yim hongpeng
untuk minta obat penawar padanya, tindakan
mu ini tiada ubahnya serupa minta kulit kepada
sang harimau, “ujar Bwe Kiam soat.
“Biarpun minta kulit pada sang harimau juga
harus kuusahakn,” kata Lamkiong Peng.
Kiam soat menghela nafas, katany kemudian,
“Baiklah, biar kuikut pergi bersamamu.”
“Saat ini engkau lagi diincar oleh setiap orang
persilatan, mana boleh engkau ikut menyerempet
bahaya?” ujar Lamkiong Peng.
“Segala hal selalu kau pikirkan orang lain,
mengapa tidak kau pikirkan dirimu sendiri juga?”
“ Bila setiap urusan selalu berpikir bagi diri
sendiri, hidup ini akan berubah menjadi hina
tanpa berharga, “kata Lamkiong Peng dengan
gegetun melihat “putri berdarah dingin” ini
tertnyata penuh menaruh perhatian kepdanya.
Segera ia menambahkan lagi, “Hendaknya
kautunggu sebentar di sini bersama Ban-heng,
apakah urusan akan berhasil atau tidak, tentu
selekasnya kukembali ke sini.”
Kiamsoat tersenyum pedih, katanya, “Jika
urusan gagal, apakah engkau dapat kembali lagi?”
“Pasti kembali!” jawab Lamkiong Peng tegas.
“Jika engkau berjanji sekali pukul gagal segera
akan mundur kembali ke sini, bolehlah aku tidak
ikut serta,” ujar Kiamsoat dengan rawan.
Sangat terharu hati Lamkiong Peng, tanpa
tetahan ia pun membuka isi hatinya,” Biarpun
merangkak pun aku akan merangkak kembali ke
sini. Cuma kalian juga harus hati-hati.”
“Jangan kuatir, engakau sendiri yang perlu hatihati,
akan ku tunggu disini sampai kapanpun.”
Ucap Kiam soat tegas.
Ban Tat memandangi kedua orang itu mendadak
ia menghela nafas, katanya”Apakah nona ini benar
Kong-jiok Huicu?”
“Masakah perlu disangsikan?” ujar Lamkiong
Peng.
“Sungguh sukar dipercaya Kong-jiok Huicu
bisa……..” mendadak Ban Tat tidak melanjutkan
ucapannya. Tak diduganya bahwa Kong-jiok-Huicu
yang terkenal berdarah dingin itu bisa menaruh
perhatian terhadap orang lain.
Lamkiong Peng berdiri termenung sejenak, ia
pandang Kimsoat sekejap, lalu berucap dengan
rasa berat, “Kupergi saja!”
Segera ia berlari pergi dengan cepat.
DI tengah malam remang hanya sekejap saja
bayangnnnya lantas menghilang.
Kiam soat menghela nafas, gumamnya, “Ai
bilamana engkau benar Thian-ah tojin tentu dapat
kaukatakan padaku baik-buruk akibat
kepergiannya ini.”
Seorang maha pintar dan maha cerdik, bilamana
menghadapi sesuatu yang merisaukan, biasanya
tanpa terasa juga akan mengharapkan bantuan
kepada nasib.
Selama hidup Kong-jiok Huicu yang berdarah
dingin ini suka meremehkan orang hidup,
mentertawakan orang lain, segala apa yang
dipercaya orang tidak ada yang dipercayanya,
sebeb dia tidak memeprhatikan urusan apa pun, di
tidak berperasaan, karena tidak berperasaan
menjadi tidak punya rasa takut, karena tidak takut
menjadi tidak percaya kepada nasib dan tidak
peduli kehidupan ini.
Tapi sekarang justru timbul rasa perhatiannya
yang mendalam dan rasa takut, jiwa si dia
(Lamkiong Peng) seolah-olah jauh lebih penting
daripada kehidupan sendiri. Perasan ini datangnya
teramat mendaadak, serupa sekaleng pewama yang
tumpah dan mendadak membikin merah
kehidupannya yang putih pucat.
Ban Tat menghela nafas, katanya, “Kesujudan
pasti mendatangkan keselamatan, kejahatan tak
nanti dapat melawan kebaikan, dalam hal ini
kukira nona dapat berbesar hati.”
Dlihatnya Bwe kiam soat sedang menengadah
dan seprti tidak mendengar ucapannya, agaknya
saat itu orang sedang beranya bagaimana nasib si
dia kepada Thian yang maha kuasa…..
***************
Malam berlalu, fajar mulai menyingsing.
Lamkiong Peng, menarik nafas dalam-dalam,
menghirup hawa pagi yang sejuk, dengan gagah ia
masuk ke kota Se-an.
Meski disadarinya maha sulit usahanya akan
mendapat obat penawar dari tangan Yim hongpeng,
tapi tekadanya sudah bulat, betapapun
pendiriannya takkan berubah.
Keberaniannya yang pantang mundur ini
membuatnya sama sekali tidak menghiraukan mati
hidup.
Pasar pagi baru mulai, orang berlalu lalang
berjubel memenuhi jalan. Melihat Kegagahan
Lamkiong Peng, orang lain sama menyingkir
memberi jalan padanya, sebab sikap pemuda ini
dirasakan membawa semacam kcangkeran yang
membuat orang tunduk padanya.
Boh-liong-san-ceng, perkampungan tempat
bersemayam Wiki masih sepi, tapi di tangah
kesunyian itu membawa kesiap siagaan yang luar
biasa. Delapan lelaki tegap berbaju ringkas dan
bergolok tampak mondar mandir meronda di depan
perkampungan. Sorot mata mereka serupa anjing
pemburu yang mencari mangsanya, selalu
mengintai ke balik kabutt pagi scakan-akan ingin
menemukan Leng hiat Huicu yanng telah
membikin panik kota tua Se-an itu.
DI tengah kesunyian itu mendadak terdengar
suara detak langkah orang, serentak kedelapan
penjaga itu berhenti bergerak dan serentak
berpaling ke arah datangnya suara.
Tertampaklah seorang pemuda berbaju hijau
dengan wajah putih kepucatan dan mata besar
bagai bintang kejora muncul dari balik kabut
dengan langkah lebar, sorot matanya yang
mencorong tajam memandang sekejap
sekelilingnya, lalu menegur dengan suara berat,
“Adakah Wi-cengeu di rumah?”
Kawanan penjaga berseragam hitam itu saling
pandang dengan sangsi, mereka seperti juga
terpengaruh oleh sikap pemuda yang berwibawa
ini, meski enggan menjawab, tidak urung seorang
diantaranya bersuara juga, “Hari masih pagi,
dengan sendirinya beliau berada di rumah.”
Hendaknya lekas dipanggil keluar, ada urusan
penting yang ingin kutanyai dia,” kata si pemuda
dengan suara agak parau.
Kawanan lelaki berseragam hitam itu semua
melenggak, seorang diantaranya yang bermuka
burik mendadak vbergelak tertawa dan berseru,
“Haha, kau ingin kami panggil cencu untuk
menemuimu? Hehe, fajar baru menyingsing,
cengeu belum tentu bangun, tapi kauminta beliau
keluar untuk menemuimu, hahaha, sungguh
lucu…….”
Seorang lagi yang behidung besar menjengek,
“Memangnya kau ini siapa? Berani minta bertemu
dengan cengeu segala? Mendingan jika kau Liong
thi-han yang sudah lama termashur itu atau
Lamkiong Peng yang menggemparkan baru-baru
ini……….”
Mendadak pemuda yang bersikap kereng ini
menjawab,” Aku sendirilah Lamkiong Peng
adanya!”
Nama Lamkiong Peng sungguh lebih
mengguncang daripada bunyi guntur, Kawanan
lelaki berseragam hitam itu sama melenggong
memandangi Lamkiong Peng. Habis itu segera
mereka berlari ke dalam kampung sambil
berteriak, “Lamkiong Peng……… Lamkiong Peng
datang……….”
Mimpi pun meeka tidak menyangka Lamkiong
Peng yang kemarin menempur Giok-jiu-sun-yang
dengan gagah berani itu pagi ini datang sendirian
ke Boh-liong-san-ceng sini.
Dalam sekejap perkampungan yang semula
sunyi sneyap itu menjadi gempar, berita datangnya
Lamkiong Peng tersiar dengan cepat, banyak orang
datang ingin melihat bagaimana bentuk pemuda
yang perkasa ini, ada juga yang mengintip dari
balik pintu dan celah jendela.
Lamkiong Peng sendiri tetap berdiri menanti di
situ dengan tenang.
Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar gema
suara orang membentak dari dalam
perkampungan, “DI mana Lamkiong Peng?”
Suaranya berat dan pelahan, tapi menggema
hingga jauh, tergetar juga hati Lamkiong Peng,
pikirnya, “Siapakah yang memiliki lwekang sehebat
ini?”
Hendaklah maklum bahwa baik Wiki maupun
suhengnya, Giok-jiu-sun-yang, keduanya mesi
sama tokoh kelas satu, tapi tenaga dalam orang
yang bersuara ini ternyata sangat mengejutkan dan
jelas bukan suara Wiki berdua.
Namun Lamkiong Peng tetap tenang saja waktu
ia memandang kedepan, tertampak sesosok
bayangann muncul dari balik kabut pagi setelah
berdehem, lalu berkata lantang, “Dimana Lamkiong
Peng?”
Lamkiong Peng tambah sangsi, bayangan orang
ini tinggi besar dan berambut putih, dia inilah
Wiki, kepala Boh-liong-san-ceng, tapi suara ini
jelas tidak sama dengan suara pertama tadi, ia
menjadi heran apakah mungkin di dalam sana ada
tokoh Bulim kelas tinggi yang lain?
Sembari mengelus jenggotnya, Wiki menatap
Lamkiong Peng dengan tajam, jengeknya, “Untuk
apa kau datanh kemari, Lamkiong Peng?
Memangnya benar engkau tidak takut mati?”
Mendadak dengan suara bengis ia
membentak,”Bwe leng-hiat! Dimana Bwe leng-hiat?
Apakah kaupun ikut datang?”
Suaranya lantang juga, tapi kalau dibandingkan
suara pertama tadi, jelas bedanya seperti bunyi
keleningan dengan suara genta.
Lamkiong Peng menatap sekilas ke belakang
Wiki, tertampak di belakangnya penuh bayangan
orang, suara tadi entah diucapkan oleh siapa.
Dengan kaku kemudian Lamkiong Peng balas
bertanya,”Dimana Yim hong peng?”
Wiki melengak, tapi segera ia berteriak pula,”
Mau apa kaucari Yim hong-peng?”
Belum lagi Lamkiong Peng bersuara pula
mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu
Yim hong-peng sudah berada di depannya, serunya
dengan tertawa, “Haha, kau datang kemari,
Lamkiong Peng, bagus, bagus sekali………….”
Segera Wiki sebagai tuan rumah buka suara
pula, “Baiklah, jika kalian sudah berhadapan,
marilah silakan bicara di dalam sana.”
Di dalam perkampungan kabut tampak lebih
tebal disertai bau harum yang aneh, entah siapa
gerangan tokoh kosen macam apa yang tak
kelihatan itu bersembunyi di balik kabut dan bau
harum ini.
Namun dengan gagah Lamkiong Peng melangkah
masuk di tengan bayangn orang banyak. Orangorang
yang berkerumun itu sama menyingkir
memberi jalan.
Kening Wiki bekernyit, seperti mau bicara lagi
tapi setelah memandang sekejap ke balik kabut
sorot matanya menampilkan rasa jeri sehingga
orang urung buka mulut, dengan menunduk ia
lantas mengikut di belakang Yim hong-peng dan
Lamkiong Peng.
Boh-liong-san-ceng yang megah ini mendadak
berubah sunyi senyap pula, yang terdengar hanya
suara langkah orang banyak melintasi halaman
dan menuju ke ruangan pendopo.
DI ruangan pendopo terpasang beberapa lentera
tembaga, tapi di tengah kabut tebal yang tampak
aneh ini, tampak serupa api setan (api pospor)
yang berkelip di tanah perkuburan sunyi.
Lamkiong Peng menaiki undak-undakan dan
menuju ke pintu pendopo, sekonyong-konyong ia
membalik tubuh dan memandang sekeliling,
perkampungan yang megah ini seperti terbenam di
dalam kabut melulu hingga terasa lebih seram dan
misterius.
Seketika hati Lamkiong Peng juga timbul
semacam perasaan aneh, pada saat itulah tiba-tiba
dekat belandar pendopo bergema pula suara aneh
tadi, “Lamkiong Peng, apakah kedatanganmu ini
hendak mencari Yim hong-peng untuk meminta
obat penawar racun?”
Hati Lamkiong Peng tergetar pula, ia berpaling
ke atas, di tengah pendopo yang remang itu suara
orang tadi masih mendengung. Karena rasa ingin
tahunya mendorongnya tanpa pikir terus langsung
melompat ke atas belandar sana.
Belandar tengah pendopo sangat tinggi, tapi
jarak tiga tombak ini tidak menjadi soal bagi
Lamkiong Peng.
Siapa tahu, baru saja tubuhnya meninggalkan
permukaan tanah, mendadak terasa tenaga tidak
cukup, ia terkejut, sebisanya tangannya meraih
keatas dan keburu memegang belandar.
Waktu ia pandang keadaan setempat, debu
memenuhi belandar itu, mana ada bayangan orang
segala.
Tentu saja ia terkesiap, segera ia melayang turun
lagi ke bawah. Dilihatnya Yim hong-peng sedang
memandangnya dengan tersenyum, Cuma
senyuman yang mengandung rasa misterius.
Air muka Wiki tampak guram, pelahan ia
mendekati meja dan mengambil sebatang jarum
baja panjang utnuk mengungkit sumbu lampu
sehingga cahaya lampu tambah terang namun
tetap sukar menembus kabut yang tebal dan
mengurangi keseraman suasana.
Lamkiong Peng sendiri lagi menyesali diri sendiri
mengapa tenaganya bisa terasa habis setelah lelah
semalaman, namu ia tetap tidak gentar, mendadak
ia mendongak dan berseru dengan lantang,
“Sahabat ini siapa? Kenapa mesti main sembunyi
dalam kegelapan? Apakah tidak punya keberanian
untuk menemuiku?
“Haha” terdengar Yimhong peng tergelak, “Jika
engkau sudah datang kemari, tujuanmu tentulah
ingin minta obat penawar padaku. Akan tetapi saat
ini tenaga mumimu sudah lemah, biarpun
kaumain kekerasan juga takkan terkabul maksud
tujuanmu.”
Tiba-tiba Lamkiong Peng merasakan telapak
tangan sendiri yang berlepotan debu kotoran
belandar itu terasa kaku kejang, seperti dikuasai
oleh semacam tenaga yang menggerakkan otot
dagingnya.
Pelahan ia menjawab, “Jika kutukar dengan
sesuatu, apakah kau dapat berikan obat
penawarnya?”
“Itu harus diketahui dahulu barang apa yang
hendak kautukarkan?” jengek Yim Hong-peng,
“Supaya kautahu biarpun diriku seorang kasar,
tapi kalo Cuma benda mestika biasa atau batu
permata bisa saja tidak kupandang sebelah mata.”
Dengan tenang Lamkiong Peng menjawab,
“barang yang hendak kugunakan untuk
menukarkan obat penawarmu adalh jiwa orang she
Lamkiong ini”
Tergetar hati Wiki.
Yim hong-peng juga melenggak, “Apa katamu?
Coba jelaskan lagi?”
Dengan lantang Lamkiong Peng berkata,
“Asalkan kauberikan obat penawarmu, besok
kupasti kembli lagi kesini…….”
“Meski ingin kupercaya kepada janjimu,
tapi……..”
“Kutahu janjiku tentu takkan dipercaya olehmu,“
potong Lamkiong Peng ,“Supaya kalian tidak
sangsi, boleh kauberi minum padaku racun yang
bekerja sehari kemudian, lalu serahkan obat
penawarmu.”
Yim Hong-peng terbahak-bahak, “Haha, bagus,
bagus! Tapi ingin kutanya dulu padamu,
sesungguhnya apa alasanmu sehingga kau
pandang jiwa orang lain terlebih penting daripada
nyawa sendiri?”
Tanpa pikir Lamkiong Peng menjawab, “Bila
orang lain berbudi luhur bersedia mati bagiku,
kenapa aku tidak boleh mati bagi orang lain, kan
lebih baik kumati bagi orang, mati cara demikian
pun akan mendatangkan ketentraman hati.”
“Haha, betul juga, orang hidup akhirnya pasti
mati,” seru Yim Hong-peng dengan tergelak. “Tapi
usiamu masih muda belia, di rumah ada ayahbunda,
ada pula sahabat dan kekasih, jika
sekarang harus mati begitu saja, apakah engkau
tidak merasa menyesal?”
Terkesiap juga Lamkiong Peng, mendadak
teringat akan pesan tinggalan sang guru dan rindu
ayah-bundanya, hubungan baik sahabat dan cinta
kekasih, tapi ia pun tidak dapat melupakan budi
kebaikan Tik Yang yang sekarang sedang sekarat
itu.
Dengan senyum mengejek Yim Hong-peng
memandang anak muda itu, disangkanya
perkataannya telah menggoyahkan tekad gugur
demi persahabatan anak muda itu.
Tak teduga mendadak Lamkiong Peng
menegadah dan berucap tegas, “Mana obat
racunnya?”
Air muka Yim hong peng berubah, juga Wiki dan
lai-lain sama terkesiap.
Tiba-tiba dari pojok ruang pendopo yang kelam
sana bergema pula suara aneh itu, “Racun berada
di sini!”
Serentak Lamkiong Peng berpaling ke sana, dari
tempat yang kelam sana mendadak melayang tiba
sebuah talam. Cara bergerak talam ini sanat aneh,
serupa dipegang oleh sebuah tangan yang tidak
kelihatan dan disodorkan pelahan ke depan
Lamkiong Peng.
Sekali meraih Lamkiong Peng pegang talam itu,
diatas talam ada sebuah kotak kemala kecil, tanpa
curiga Lamkiong Peng ambil kotak kecil itu, sekali
toalk ia dorong talam kembali ke sana. “Barak”,
talam kayu membentur dinding dan ternyata tidak
di sambut orang.
Sang surya sudah mulai terbit di ufuk timur,
namun cahaya matahari pagi tetap tidak dapat
membelah kabut tebal yang aneh ini, kembali
tercium bau harum sayup-sayup terbawa angin.
Dengan sorot mata acuh tak acuh Yim hongpeng
memandang Lamkiong Peng, terlihat anak
muda itu sedang mendongak dan menuangkan isi
kotak kemala yang berupa bubuk putih kedalam
mulutnya.
Begitu kukuh dan tegas sikap Lamkiong Peng
seolah-olah yang diminum itu bukan racun segala.
Ia angkat secangkir teh yang tersedia di atas meja
dan dibuat kumur. Dirasakan telapak tangan
berkejang pula, memegang cangkir teh saja
rasanya tidak kuat lagi. Ia menjadi sangsi masakah
racun dapat bekerja secepat ini?
Setelah menaruh kotak kemala dan cangkir teh
di atas meja, dengan suara berat ia berkata,
“Sekarang serahkan obat penawarnya.”
“Obat penawar apa?” tanya Yim hong peng.
Seketika Lamkiong Peng menarik muka,
bentaknya, “kau…..jadi kau…….”
“Racun yang kauminum kan bukan
pemberianku,” jengek Yim hong-peng, habis
berkata, lengan bajunya mengebas dan segera
ditinggal pergi.
Seketika hati Lamkiong Peng panas seperti
dibakar. Ia tidak tahan lagi, segera ia menubruk ke
arah Yim hong-peng.
Namun Yim hong peng tetap melangkah ke
depan dengan tenang, tampaknya Lamkiong Peng
segera akan menerrjang tuubuhnya, siapa tahu
mendadak serangkum angin keras meyambar tiba
dari balik kabut tebal sana, meski tidak bersuara,
tapi kekuatannya sukar untuk ditahan.
Seketika Lamkiong Peng merasa seperti
didiorong oleh kekuatan dasyat, tanpa kuasa ia
terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk di
atas kursi.
Menyaksikan itu, Wiki menghela nafas panjang,
mendadak ia bertindak keluar dengan langkah
lebar. Sedangkan Yim hong peng lantas membalik
tubuh dengan pelahan.
Setelah menenangkan diri, dengan gusar
Lamkiong Peng membentak,”Bangsat yang tidak
pegang janji, kau………”
Dari balik kabut ada orang yang menjengek,
“Hm, memangnya siapa yang pemah berjanji akan
memberi obat penawarnya kepadamu?”
Saking gemasnya hingga Lamkiong Peng tidak
sanggup bicara lagi.
Terdengar suara aneh di balik kabut berkata
pula, “Sekali kau masuk perkampungan ini berarti
jiwamu sudah tergenggam di dalam tanganku,
masakah ada hak bagimu untuk bicara tentang
tukar menukar obat penawar segala?”
Ucapan ini sangat menyakitkan hati Lamkiong
Peng, hatinya serasa terkoyak-koyak, rasa murka
dan sedih setelah tertipu, rasa cemas dan putus
asa membangkitkan sisa tenaganya yang terakhir,
mendadak ia menubruk kesana, diterjangnya
bayangan di balik kabut yang tebal itu.
Akan tetapi baru saja tubuhnya melompat ke
atas, kontan ia tidak tahan dan jatuh menggeletak
lagi ke tanah, sayup-sayup didengarnya suara
jengekan orang, remang-remang sesosok bayangan
orang seperti mendekatinya dari balik kegelapan
sana.
Akan tetapi kelopak matanya terasa sedemikian
berat sehingga sukar terbuka lagi, samar-samar
hanya terlihat sepasang sepatu yang mengkilat
pelahan bergeser mendekat………..
**********************
Suara langkah kaki yang berat dari jauh
mendekat dari pelahan bertambah keras……..
Sinar sang surya yang baru terbit menembus
celah-celah tirai dan menyinari kelambu barsulam
bunga, tempat tidur yang menyiarkan bau harum
semerbak.
Bersama dengan mendekatnya suara langkah
orang, mendadak kelambu tersingka, seorang
pemuda cakap segera berbangkit dan duduk ke
tepi ranjang, mukanya kelihatan pucat, sinar
matanya gemerdep takut seperti orang yang
merasa berbuat dosa.
Cahaya sang surya yang menyilaukan itu
membuatnya mengalingi mukanya dengan sebelah
tangan, ia tidak berani menatap sinar marahari,
sebab ia kuatir sinar sang surya akan menerangi
kejahatan yang tersembunyi dalam lubuk hatinya.
Suara langkah kaki tadi mendadak berhenti di
depan pintu. Muka pemuda itu bertambah pucat,
segera ia hendak berdiri, tak terduga dari balik
kelambu di belakangnya lantas berjangkit suara
tertawa genit, sebuah tangan putih mulus telah
memegang pergelangan tangannya sambil
menegur, ‘He kaumau apa?”
Dengan rasa gugup pemuda itu memandang ke
arah pintu.
Kembali suara tertawa di belakang kelambu
bertanya lagi, “boleh kau tanya siapa yang
diluar?………Tanyalah, kanapa takut?”
Pemuda itu berdehem terlebih dahulu, lalu
bertanya dengna suara berat, “Siapa itu?!”
Meski Cuma satu kata yang sedehana, tyapi
baginya serasa telah banyak memakan tenaga.
Di luar lantas bergema juga orang berdehem.
Dengan gugup pemuda pucat itu duduk kembali ke
tempat tidur. Terdengar suara seorang menjawab
dengan rasa takut-takut, “Apakah Tuan tamu ingin
meminta sesuatu?”
Pemuda pucat ini mengusap keringat dingin
yang membasahi dahinya, sambil menghela nagas
lega, lalu berteriak, “Tidak!”
Segera bergema pula suara tertawa nyaring di
balik kelambu.
Pemuda pucat itu menghela nafas, katanya, “Ai
kukira………kukira Toako yang berada diluar.
Semalam aku……….bermimpi buruk sebentar
mimpi suhu merangket diriku, lain saat mimpi
toako lagi mendamprat diriku dan…………..”
Pemuda pucat itu menunduk, mandadak tangan
putih mulus itu menariknya sehingga pemuda itu
jatuh kedalam rangkulan yang hangat dan harun
sehingga tidak sanggup lagi melepaskan diri lagi
serupa seekor kelinci jatuh ke dalam perangkap si
pemburu.
Pelahan kelambu tertutup lagi, sejenak
kemudian sebelah kaki yang putih bersih pun
terjulur ke tepi ranjang yang berguncang
pelahan…….
“Adik Tim,” terdengar suara lembut bergema
pula di balik kelambu, “andaikan benar Toako
datang, lantas bagaimana?”
“Aku….aku……..” Agaknya pemuda itu tidak
sanggup menjawab.
Kaki putih tadi tampak terjulur lemas, lalu
sampai lama tiada suara lagi di balik kelambu.
Kemudian sbeleh kaki yang lain juga menjulur
kebawah, lalu seorang perempuan cantik dengan
rambut kusut pelahan berdiri, bajunya yang tipis
melambai ke bawah sehingga menutupi kakinya
yang indah.
IA membetulkan rambutnya sambil mengehela
nafas gegetun, katanya, “Adik Tim, kutahu engkau
benar masih suka padaku.”
Pemuda pucat itu pun muncul dari balik
kelambu dan memandang perempuan menggiurkan
itu dengan melenggong, katanya kemudian,
“Aku…..aku memang suka padamu, namun toako
setiap saat dapat………dapat datang, sungguh aku
sangat………sangat takut.”
Perempuan cantik menggiurkan yang habis main
pat gulipat dengan pemuda pucat ini ialah Kwe
giok-he, mandadak ia berpaling ke sana dan
menatap pemuda itu dengan tajam, katanya, “Jika
selamanya toako takkan kembali lagi, lantas
bagaimana?”
Pemuda bermuka pucat itu bukan lain ialah
Ciok Tim, ia melenggak sejenak lalu berucap
dengan heran. “Toako takkan kembali lagi?”
Giok he mendengus pelahan ia melangkah ke
sana dan duduk di kursi, katanya, ‘Jika dia tidak
mati kan seharusnya sudah lama di datang ke Sean?”
Air muka Ciok Tim tambah pucat, katanya
dengan tergagap, “Mak…..maksudmu…….”
Mendadak Giok he memotong, ‘Tempo hari
ketika di puncak Hoa san sudah kulihat jurang
diluar rumah gubuk itu, setiap saat dapat terjadi
malapetaka, bisa jadi di sana tersembunyi sesutau
kejahatan yang belum terbongkar. Tentu kaulihat
juga wajah mayat itu penuh rasa kejut dan takut,
padahal tubuh mayat itu tidak terdapat tanda luka
senjata atau pukulan jelas dia mati karena
ketakutan.’
‘Mati ketakutan?’ Ciok Tim menegas dengan
melongo.
Giok he mengangguk, katanya pula, ‘kemudian
ketika kau susul tiba, bukankah kaulihat tiba-tiba
aku bersenyum?’
‘Kukira engkau tersenyum
kepada…….kepadaku,’ kata Ciok Tim.
‘Biarpun kusenang karena melihatmu, namun
senyumanku itu adalah karena kudengar, suara
jeritan ngeri di bawah jurang itu.’
‘Jeritan ngeri? Kenapa aku tidak mendengar?”
‘Waktu itu engkau lagi asyik memperhatikan
diriku, dengan sendirinya tidak mendengar, namun
dapat kudengar dengan jelas jeritan yang keras
dan cemas itulah suara Toakomu. Coba kaupikir,
menuruti watak Toakomu yang keras, bilamana dia
tidak mengalami sesuatu musibah, mana bisa dia
mengeluarkan jeritan ngeri tiu.”
Ciok tim terkesima bingung, entah merasa
senang, bersyukur, gelisah atau sedih.
Sembari menggulung rambutnya, Giok he
berkata pula dengan pelahan, “Semula aku belum
berani memastikannya, tapi setelah sekian hari
tiada kelihatan bayangan Toakomu, bila dia tidak
mati, mustahil sampai sekarang tidak muncul lagi
di sini. Dengan nama dan bentuknya, begitu
masuk kota Se-an pasti akan dikenal orang dan
segera tersiar.”
Bola mata Giok he mengerling dan tersembul
senyuman puas yang sukar diraba, lalu berkata
pula, “Setelah bertemu dengan perempuan iblis itu,
sekalipun semalam Lo-ngo (kelima, maksudnya
Lamkiong Peng) dapat menyelamatkan diri, tentu
selanjutnya juga tidak berani lagi emnongol di
dunia kangouw, bahkan pulang ke rumah saja
mungkin juga tidak berani…….”
Ia sengaja menghela nafas, namun senyumnya
bertambah cerah, sambungnya lagi, “Tak tersangka
Anak murid Ji-hau-san-ceng akhirnya tersisa kita
berdua saja, betapa besar perusahaan yang
ditinggalkan suhu itu terpaksa harus kuurus
sendiri. Ai, selanjutnya engaku harus membentuku
adik Tim.”
Ciok Tim tidak menoleh, bahkan melengos ke
arah lain, sebab saat itu air matanya berlinang
memenuhi kelopak matanya, entah air mata
terharu, meyesal atau sedih.
***********************
Menjelang lohor, Giok he dan Ciok Tim tamapak
keluar dari hotel. Langkah Ciok Tim diperlamabat
sehingga bertahan suatu jarak tertentu di belakang
Kwe giok-he. Jarak yang layak seorang sute
mengiringi sang suci. Namun sinar matanya tanpa
terasa selalu jatuh ke arah pinggang Giok he yang
ramping.
Jalan raya di tengah kota Se-an jelas berbeda
daripada biasanya, hal ini disebabkan kegemparan
yang terjadi semalam, sampai saat ini perasaan
penduduk masih belum tentram kembali. Juga
lantaran toko-toko yang memasang panji “grup
Lamkiong” hari ini sama tutup, jelas disebabkan
mengalami suatu kejadian yang luar biasa.
Dengan tenang Giok he melangkah ke arah Bohliong-
ceng, namun segala sesuatu di sekelilingnya
tidak terlepas dari pengematannya.
Sebab itulah dia tidak menumpang melainkan
lebih suka berjalan.
Jalan raya yang kelihatannya tentram tapi jelas
ada kelainan itu akhirnya bergema suara derap
kaki kuda dari kejauhan sana. Waktu Giok-he
menoleh, dilihatnya tiga ekor kuda tinggi besar
dengan pelana yang mengkilat muncul dari
belakang.
Kuda belang yang di depan ditunggangi seorang
pemuda gagah berbaju satin dan muka cakap,
pedang bergantung di pinggangnya, tubuhnya yang
jangkung duduk tegak di atas pelana, sorot
matanya yang menampilkan sinar kepongahan
mengerling kian kemari seperti tiada seorang pun
di dunia ini terpandang olehnya.
Tapi ketika melihat lirikan mata Kwe giok-he,
mendadak pemuda itu menahan kudanya, “tring”,
sarung pedang bersepuh emas menyentuh pelana
kuda dan menimbulkan suara nyaring, tanpa
menghiraukan sopan santun ia memandang Giokhe
dari atas ke bawah dan sebaliknya dengan
cengar-cengir.
Air muka Ciok Tim berubah masam, sedapatnya
ia manahan rasa gusarnya dan tidak
menghiraukan sikap orang yang kurang ajar itu.
Sebaliknya sikap Giok-he meski kelihatan
prihatin, tapi lirikannya serupa sengaja dan tak
sengaja justru mengerling lagi dua kejap ke arah
orang, lalu menunduk.
Karena itu pemuda penunggang kuda itu
tambah berani, pelahan ia terus mengintai di
belakang Giok-he, sorot matanya tidak pemah
meninggalkan pinggang Giok he yang ramping
menggiurkan itu.
Kedua penunggang kuda lain yang mengikut
dibelakangnya adalah dua kacung yang juga
berdandan perlente, keempat mata mereka yang
besar juga sedang memandang Giok he dengan
penuh minat.
Dandanan kedua anak ini serupa, bahkan wajah
dan perawakan juga sama, namun sikap dan
gerak-geriknya agak berbeda, kalau yang satu
tampak pintar dan lincah, yang lain kalihatan
pendiam dan prihatin serupa orang dewasa.
Ciok Tim tidak tahan lagi akan rasa gusarnya, ia
menyusul ke dekat Kwe giok-he.
Si pemuda berbaju perlente memandang sekejap,
mendadak ia tertawa, lalu ia melrikan kudanya
cepat ke depan.
“Hm kurang ajar benar orang ini! jengek Ciok
Tim
Kacung sebelah kanan mendadak menahan
kudanya dan menegur dengan mata melotot, “Apa
katamu?”
Sedangkan kacung yang lain lantas mencambuk
pantat kuda kawannya dan mengomel,”sudahlah,
lekas berangkat, cari gara-gara apa lagi?”
Setelah kedua kacung itu pun melarikan
kudanya ke depan, dengan tersenyum Kwe giok-he
tanya Ciok Tim, “Kau kira orang macam apakah
pemuda tadi?”
“Hm, besar kemungkinan anak kemarin sore
yang baru tamat belajar, mungkin anak keluarga
hartawan yang biasa berbuat tidak semena-mena,
“jengek Ciok Tim.
Giok-he memandangi bayangan punggung ketiga
orang di depan sana, katanya, ”Tampaknya tidak
rendah ilmu silat mereka, tentu dari perguruan
temama.”
Diantara kerlingan dan kerut keningnya agaknya
timbul lagi sesuatu pikirannya, hanya hal ini tidak
dilihat oleh Ciok Tim.
Setelah melintasi lagi dua simpang jalan
tertampaklah gedung megah dengan halaman luas,
itulah Boh-liong-ceng, tempat kediaman Wiki.
Baru saja mereka sampai di depan gerbang
perkampungan itu, terdengarlah derap kaki kuda
yang ramai, ketiga pemuda penunggang kuda tadi
telah menyusul tiba. Seketika air muka Ciok Tim
berubah, gumamnya, “Hm, tampaknya mereka
sengaja menguntit kita.”
“Jangan cari perkara,” ujar Giok he dengan
tersenyum.
Tiba-tiba si pemuda perlente penunggang kuda
tadi melompat turun dari kudanya dan tepat
berdiri di samping Giok-he.
Dengan mendongkol Ciok Tim lantas memburu
maju dan melototi orang dengan sikap
bermusuhan.
Selagi pemuda perlente itu hendak menyapa,
sekonyong-konyong pintu gerbang perkampungan
megah itu terkuak, menyusul terdengarlah gelak
tertawa lantang, tertampak Wiki dan Yim-hong
peng muncul dari dalam, sembari berseru, “Aha,
rupanya ada tamu dari jauh, maaf jika tidak
kusambut selayaknya!”
Dengan wajah berseri si pemuda perlente lantas
berpaling ke sana dan memberi salam hormat.
Diam-diam Ciok Tim berkerut kening, ia heran
orang macam apakah pemuda ini sehingga Wiki
merasa perlu menyambut keluar.
Di luar dugaan, Wiki hanya menyapa,
sekedarnya saja kepada pemuda perlente itu, lalu
langsung menghampiri Kwe giok-he dan berucap,
“Liong hujin sungkan bermalam di tempatku ini,
tentu semalam telah beristirahat dengan tenang.”
“Terimakasih atas perhatian Wi-locianpwe,” kata
giok he, sambil memberi hormat.
Baru sekarang Ciok Tim tahu bahwa yang
hendak di sambut oleh Wiki ternyata mereka
berdua bukan pemuda perlente tadi.
Sebaliknya pemuda perlente tadi merasa kikuk
karena yang disambut tuan rumah ternyata bukan
dirinya, dengan tercengang ia pandang Wiki dan
Giok he.
Ketika dilihatnya Ciok Tim sedang meliriknya
dengan sikap mengejek, seketika dia mendelik,
dengan suara dongkol, ia menjengek, “Apakah
tempat ini memeng betul Boh-liong-ceng?”
Dengan sinar mata gemerdep Yim hong-peng
menanggapi, “Betul, apakah saudara ini bukan
serombongan dengan Liong-hujin?”
Pemuda itu menjengek, “Kudatang dari Tongthian-
kiong di puncak Kun-lun-san, siapa Lionghujin
belum pemah kukenal.”
Seketika hati Giok he, ciok Tim, Wiki dan Yim
hong-peng sama tergetar.
“Aha, kiranya anda ini murid Kun-lun pai,
silakan masuk, kebetulan meja perjamuan sudah
siap, marilah kita minum bersama barang satudua
cawan, seru Wiki.
Hendaknya dimaklumi anak murid Kun-lun pai
sangat jarang muncul di dunia kangouw. Biasanya
orang kangouw juga sedikit sekali yang berkunjung
ke Kun-lun-san, sejak dahulu Put-si-sin-liong
mengalahkan Ji-yan Tojin, ketua Kun-lun-pai
dipuncak pegunungan itu, berita mengenai murid
utama Ji-yan Tojin yaitu Boh-in-jiu Tok put-hoan,
sangat menonjol di dunia kengouw dan merupakan
salah seorang jago pedang yang disegani.
Bahwa pemuda perlente ini adalah murid Kunlun-
pai, mau tak mau Wiki harus melayaninya
dengan cara lain. Ban-li-liu-hiang Yim hong-peng
lantas ikut menyambut juga dengan hormat
scakan-akan dia adalah tuan rumahnya.
Sikap pemuda perlente itu tampak tambah
congkak, tanpa sungkan ia lantas mendahului
masuk ke dalam Boh-liong-ceng.
Diam-diam Ciok Tim mendongkol, dengan suara
tertahan ia membisiki Kwe giok-he, “Jika orang ini
saudara seperguruan Boh-in-jiu itu, artinya dia
juga musuh Ji-hau-san-ceng kita, rasanya aku
ingin menjajalnya, ingin kutahu betapa lihainya
anak murid Kun-lun-pai.”
“Berbuatlah menurut gelagat, jangan
sembarangan bertindak,” desis Giok-he sambil
menarik ujung bajunya.
Sementara itu sang surya sudah memancarkan
cahayanya yang gilang gemilang, kabut tebal tadi
sudah tersapu lenyap, suasana misterius yang
meliputi ruang pendopo tadi pun lenyap.
Di tengah ruangan memang benar sudah siap
meja perjamuan, dengan tertawa Wiki lantas
berseru, “Liong-hujin………..”
Belum sempat ia menyilakan duduk orang,
sekonyong-konyong si pemuda perlente tanpa
sungkan lantas menduduki tempat utama scakanakan
tempat itu memang disediakan untuk dia.
Selaku tuan rumah, tentu saja Wiki berkerut
kening dan kurang senang, ia pikir biarpun anak
murid Kun-lun-pai seyogyanya juga tidak boleh
sesombong ini.
Ciok Tim juga lantas mendengus menyatakan
rasa tidak senangnya. Namun pemuda perlente itu
sengaja menengadah dan tidak menghiraukan
cemooh orang lain.
Giok-he hanya tersenyum saja dan duduk di
tempat scadanya, Ciok Tim juga tidak enak untuk
bicara, terpaksa ia menahan perasaannya dan
duduk di samping Giok-he.
Dengan sendirinya Wiki tidak dapat
memperlihatkan rasa marahnya, ia hanya
berdehem dan coba menyebutkan nama Kwe giokhe,
Ciok-Tim dan Yim hong-peng, maksudnya agar
pemuda perlente itu terkejut dan dapat lebih tahu
diri.
Siapa tahu nama ketiga orang ternyata tidak
membuatnya gentar, ia hanya menyapa pandang
mereka sekejap, lalu ia menyebut nama sendiri
dengan nama dingin, “Dan namaku Cian Tong-lai.”
Lalu tidak bicara lebih banyak lagi, juga tidak
bergerak dari tempat dudukhya, hanya
dipandangnya wajah Giok he yang cantik itu dua
tiga kejap, entah dia sengaja berlagak angkuh atau
memang masih hijau sehingga tidak kenal nama
tokoh dunia persilatan yang menonjol ini.
Wiki juga mendongkol melihat sikap orang yang
sombong itu, ia pikir biarpun Tok put-hoan juga
tidak berani bersikap scangkuh ini.
Setelah menyilakan tetamunya minum, dengan
tertawa Wiki berkata, “Agaknya Cian-heng belum
lama terjun ke dunia kangouw, tapi kalau
dibicarakan sesungguhnya kita pun bukan orang
luar. Beberapa tahun yang lalu ketika suhengmu
Toh-siauhiap baru turun dari Kun-lun-san, dia
juga mampir ke tempatku sini dan saling sebut
sebagai saudara denganku haha…..”
Mendadak si pemuda perlente yang mengaku
bemama Cian Tong-lai itu memotong, “Toh puthoan
adalah sutitku.”
Tentu saja semua orang melenggak, sungguh
sukar dipercaya Toh put-hoan yang lebih tua itu
ternyata murid keponakan pemuda she Cian ini.
Sambil tertawa Cian Tong-lai menenggak
secawan arak lagi, lalu menuding kedua kacung
yang berdiri di pojok ruangan itu dan berkata,
“Kedua bocah itulah baru terhitung satu angkatan
dengan Toh put-hoan.”
Baru sekarang Yim hong-peng dan Wiki terkejut.
Cepat Wiki berkata dengan menyengir, “O, maaf,
jika begitu lekas kedua saudara cilik silakan duduk
juga untuk minum bersama.”
Anak yang bersikap prihatin itu berucap,
“Susiok hadir disini, kami tidak berani ikut
duduk.”
Kacung yang lain menambahkan dengan
tertawa, “Asalkan lain kali bila kami berkunjung
lagi ke sini jangan Wi-cengeu menyuruh kami
berdiri di sini.”
Muka Wiki berubah merah, didengarnya kacung
tadi berseru pula dengan tertawa, “Wah, tak
tersangka nama Toh-suheng sedemikian tersohor
di dunia kangouw, bila tahu tentu Toasupek akan
sangat senang.”
Cian Tong-lai menyapu pandang sekejap lalu
menyambung dengan ketus, “Kedatanganku ini
adalah karena nama WI ceng-cu yang termashur
bermurah hati dan gemar mengumpulkan orang
pandai dan bijaksana……..”
Dengan sorot mata tajam ia memandang Wiki
sekejap, seketika air muka Wiki bertambah merah.
Maka Cian Tong-lai menyambung lagi. “Selain itu,
ingin juga kucari kabar tentang Toa sutitku itu.”
Berubah juga air muka Ciok Tim sambil
memandang Giok he sekejap.
Pelahan Cian Tong-lai berkata lagi, “ Sejak
meninggalkan Kun-lun-san, hanya beberapa tahun
pertama saja masih ada kabar beritanya, tapi
akhir-akhir ini tidak terdengar lagi sesuatu
beritanya……..”
Sampai di sini sinar matanya berkelebat ke arah
Ciok Tim, lalu menyambung dengan nada
bertanya, “Jangan-jangan sahabat she Ciok ini
mengetahui akan jejak Toasutitku itu?”
Tergetar hati Ciok Tim sehingga arak tercecer
dari cawan yang dipegangnya.
Lekas Giok he menyela, “Nama Boh-in-jiu
memang sudah lama kami dengar, Cuma sayang
tidak pemah bertemu, cara bagaimana kami tahu
jejaknya?”
Apa betul begitu?” jengek Cian Tong-lai.
Senyum Giok he tambah menggiurkan, katanya,
“Ucapan murid Sin-liong-bun kukira tidak perlu
disangsikan.”
Mendadak sebelah tangannya menekan, cawan
arak mendadak amblas ke dalam meja, ketika
tangannya terangkat, cawan arak ikut mumbul
juga, gerakannya cepat dan gesit, apa yang terjadi
itu cuma sekejap saja.
Air muka Cian Tong-lai sedikit berubah, ia
pandang wajah Giok he yang cantik itu, mendadak
ia bergelak tertawa, katanya, “Scumpama Hujin
bukan anak murid Sin-liong-bun juga kupercaya
penuh kepada keteranganmu.”
Mendadak Ciok Tim mendengus.
Yim hong-peng tertawa, katanya, “Arak dan
hidangan sudah dingin, ayolah jangan
mengecewakan maksud baik tuan rumah………..”
Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar
deru angin keras dari udara, suasana menjadi
gelap, berbareng itu terdengar pula suara burung,
beberapa ekor elang terbang lewat di depan
pendopo, habis itu lantas terbang mengitar di
halaman, seluruhnya ada tujuh ekor burung elang.
Berubah air muka Wiki, serentak ia bangkit
berdiri.
Si kacung yang lincah lantas berseru dengan
tertawa, “Hihi, tak terduga di sini juga ada elang
sebesar ini, sungguh menarik.”
Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong ia
melompat miring ke atas, kedua tangannya
terpentang terus menubruk ke tengah kawanan
elang yang terbang mengitar itu.
Kacung itu bergerak dengan santai, tapi
meluncur secepat kilat, bajunya yang perlente itu
berkelebat, tahu-tahu sebelah tangannya sudah
berhasil menangkap sayap salah seekor elang itu.
“Bagus!” seru Giok he sambil berkeplok tertawa.
Elang itu bersuara kaget, kcenam ekor elang
yang lain serentak terbang balik, sekaligus mereka
hendak mematuk si kacung.
Tiba-tiba dari kejauhan ada suara jepretan
busur dan bentakan orang, “Pukul!”
Berbareng itu selarik sinar hitam menyambar
tiba.
Semua itu hanya terjadi dalam sekejap, belum
lagi tubuh si kacung turun ke bawah, tahu-tahu
cahaya hitam itu sudah menyambar, paruh
kcenam ekor elang yang tajam itu pun akan
mengenai tubuhnya.
Baru saja Giok-he berseru “bagus”, seketika ia
menjerit pula, “Celaka!”
Yim hong-peng, Wiki, Cian Tong-lai juga berseru
kuatir, si kacung mengendurkan cengkramannya,
kedua kaki di tekuk, ia berjumpalitan sekali di
udara, lalu turun ke bawah dengan enteng,
walaupun begitu ujung bajunya juga telah
tertembus oleh cahaya hitam tadi.
Kacung yang lain tidak tinggal diam, ia pun
membentak, “Lihat serangan!”
Sekaligus tujuh titik perak terpancar ke depan
menyerang ketujuh ekor elang.
Kcenam ekor elang berbunyi kaget dan terbang
ke udara, seekor sempat tersambit oleh senjata
rahasia si kacung dan jatuh ke tanah bersama si
kacung pertama tadi.
Cahaya hitam tadi masih menyambar ke depan
dengan kencang dan “crat”, menancap di dinding,
nyata tenaga pemanah itu sangat kuat.
Dengan muka kelam Cian Tong-lai berbangkit
dan berkata, “Wi cengeu, apa cara demikian Bohliong-
ceng meladeni tamunya?”
Belum lenyap suaranya segera terdengar pula
orang berteriak lantang di luar, “Tujuh elang
menjulang ke udara, gemilang usaha kami malang
melintang.
Air muka Wiki berubah seketika, gumamnya,
“Jit-eng-tong (Klik tujuh elang)!”
Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam
muncul dengan membawa sehelai kartu merah
besar dan dihaturkan kepada Wiki. Waktu Wiki
membuka dan membacanya, ternyata kartu merah
itu tidak terdapat tulisan apa pun melainkan Cuma
terlukis tujuh ekor burung elang yang berwama
berbeda dengan gaya yang berlainan dan kelihatan
seperti elang hidup.
“Tamu agung silahkan masuk!” segera Wiki
berseru sambil memburu keluar.
Kening Yim hong-peng bekernyit sambil
bergumam, “Jit-eng-tong………..Jit-eng-tong!”
Lalu ia pun melangkah keluar.
Cian Tong-lai memandang bayangan punggung
kedua orang itu, sinar matanya menampilkan
nafsu membunuh, ia coba tanya si kacung yang
jatuh tadi, Giok-ji, apakah kau terluka?”
Giok-ji menggeleng pelahan, namun mukanya
kelihatan pucat, sikapnya yang lincah dan periang
tadi kini tak tertampak lagi.
“Boleh juga anak ini, tampaknya dia Cuma
terkejut oleh sambaran anak panah dan tidak
menjadi alangan,” ujar Giok-he.
“Hm, anak murid Kun-lun mana boleh………”
Belum lanjut jengekan Cian Tong-lai, sekonyongkonyong
berkumandang suara orang ramai dari
halaman sana. Tiba-tiba elang yang terluka tadi
pentang sayap hendak terbang ke udara, tapi
sekali tangan Cian Tong-lai menuding ”crit”,
kontang elang yang baru melayang setinggi
manusia itu jatuh lagi ke lantai.
“Khikang yang hebat!” seru Giok-he memuji
sambil melirik Ciok Tim, tertampak air mukanya
berubah. Sungguh tak tersangka anak muda yang
congkak itu memiliki kungfu selihai ini, agaknya
lebih hebat dari pada ketua Kun-lun-pai sendiri.
Pada saat itulah dari balik gunung-gunungan
halaman sana bergema bentakan seorang,
menyusul sesosok bayangan tinggi besar melayang
tiba, ia berjongkok dan menjemput bangkai elang
tadi, di bawah sinar sang surya kelihatan
rambutnya yang putih dan sorot matanya yang
guram, orang tua yang tinggi besar dengan baju
perlente ini kelihatan sedih sehingga tangan yang
memegang bangkai elang rada gemetar.
Ia berdiri termangu sejenak, lalu bergumam
seperti mau menangis, “O, siauang……..
kau…….kau mati!……”
Dari balik gunung-gunungan sana lantas
muncul pula enam kakek berjenggot dan rambut
ubanan, semua dengan baju perlente, namun dari
gerak geriknya tidak terlihat ketuaan mereka.
Muka kcenam kakek ini tidak sama, dandanan
mereka serupa, hanya pinggang masing-masing
terikat tali sutera berlainan wama.
Seorang diantaranya berwajah putih bermata
tajam dan selalu tersenyum, tali pinggangnyya
berwama putih, muncul diapit oleh Wiki dan Yim
hong-peng. Ketika melihat si kakek bertali
pinggang merah lagi berduka memegangi bangakai
elang, segera kakek muka putih bertanya, “Ada
pada, Jit-te? Apakah siau-ang terluka?”
“Mati…….bahkan sudah mati……”gumam si
kakek tali merah, mendaak ia berteriak murka,
“Siapa yang membunuhnya…..siapa………”
Suaranya keras mendengung memekak telinga.
Tanpa terasa si kacung yang bemama Giok-ji
tergetar mundur setindak.
Mendadak si kakek bertali merah berpaling,
sorot matanya terpancar tajam, sambil memegang
bangkai elang ia terus menubruk maju, sebelah
tangannya segera meraih pundak si kacung.
Giok-ji seperti tertegun oleh keberingasan orang,
ingin mengelak, tapi tidak keburu lagi, pundak
terasa kencang dicengkram tangan si kakek.
“Siau-ang terbunuh olehmu bukan?” bentak si
kakek.
Kacung itu terkesiap, tapi tangan kanan
mendadak bekerja, hiat-to bagian iga si kakek
hendak ditutuknya.
Terkejut juga si kakek oleh serangan ini, sedikit
menggeliat dapatlah ia menghindar, tak tersangka
kaki kiri si kacung juga lantas melayang ke depan,
mengarah selakangan si kakek.
Dalam keadaan demikian bila si kakek tidak
lepas tangan, seketika dia bisa menggeletak binasa.
Terpaksa si kakek menyelamatkan diri lebih
dulu, ia melompat mundur.
Tak terduga pundak segera terasa kesemutan,
tahu-tahu dicengkram orang, suara orang yang
ketus bergema di samping telinganya, “Akulah yang
membunuh binatang piaraanmu itu.”
Kejadian ini berlangsung dengan cepat dan
membuat semua orang melenggong. Dengan kuatir
cepat Wiki berseru, “He, Cian siau-hiap……..Ang
jitya, ada urusan apa marilah bicara secara baikbaik!”
Serentak kcenam kakek berbaju perlente juga
memencarkan diri dan mengepung Cian Tong-lai
dan kedua kacungnya di tengah.
Namun Cian Tong-lai menghadapi mereka
dengan santai saja, ia tetap mencengkram pundak
si kakek bertali merah, dengan tak acuh ia
pandang kcenam kakek itu satu persatu, sama
sekali tidak gentar terhadap ketujuh kakek yang
terkenal sebagai Thian-hong-jit-eng (tuju elang
menembus langit) Ketujuh piaokiok (perusahaan
pengawalan) yang termashur sejak 30 tahun yang
lampau.
Si kakek bertali merah tidak dapat berkutik,
hanya mata mendelik dan jenggot scakan-akan
menegak, bahkan juga tidak berani bersuara.
Sebab dirasakan ada arus tenaga kuat tersalur dari
Koh-cing-hiat di bagian pundak menembus ke
dalam tubuh, bilamana tubuh sendiri sedikit
meronta, bukan mustahil tenaga tidak kelihatan
itu akan bekerja keras dan menggetar putus urat
nadi jantungnya.
Kcenam kakek berbaju perlente dari Thian-hongjit-
eng itu sangat gusar, tapi tidak berani
sembarang bertindak mengingat kawan sendiri
berada dalam cengkraman musuh.
Giok-he mengerling sekejap, dilihatnya wajah
Wiki menampilkan rasa cemas dan kuatir,
sedangkan Yim hong peng tetap tenang saja. Kedua
kacung tadi sedang mengawasi kcenam kakek
dengan was-was, kcenam ekor elang tadi kembali
terbang mengitar di udara tepat di atas kepala Cian
Tong-lai scakan-akan mengetahui bahaya yang
sedang mengancam si kakek bertali merah.
Sekonyong-konyong kcenam ekor elang sama
berbunyi dan menubruk ke bawah, sekaligus
mematuk kepala Cian Tong-lai. Berbareng itu
kcenam kakek juga membentak dan serentak
menerjang maju.
Alis Cian Tong-lai menegak mendadak, sebelah
tangannya menampar ke atas, kontan kcenam ekor
elang terdampar oleh angin pukulan dasyat
sehingga tertahan dan tidak mampu menembus
angin pukulan.
Kesempatan itu segera digunakan si kakek
bertali merah untuk mendak ke bawah terus
hendak memberosot ke samping.
“Hm, ingin lari!” jengek Cian Tong-lai.
Saat itu juga seorang kakek bertali pinggang
wama putih sempat melompat tiba lebih dulu,
segera ia menarik kakek bertali pingggang merah
dan tak sempat menyerang Cian Tong-lai.
Kedua kacung tadi tidak tinggal diam, mereka
songsong si kakek bertali ungu dan kuning,
walaupun usai kedua kacung ini masih muda
belia, tapi mereka tidak gentar menghadapi lawan
tangguh.
Si kakek bertali ungu dan kuning saling
pandang sekejap, lengan baju mereka mengebas
dan keduanya sama menyurut mundur, betapapun
tokoh Jit-eng-tong yang termashur tidak sudi
bergebrak dengan dua anak ingusan.
Dan karena daya tubrukan kawanan elang tadi
tertahan oleh angin pukulan Cian Tong-lai, setelah
merandek, segera menubruk lagi ke bawah, Saat
itu juga Cian Tong-lai sudah terkepung oleh ketiga
kakek yang bertali pinggang berwama hijau, hitam,
biru, sekali bergerak, kembali ia desak mundur
ketiga kakek itu, lalu mnejengek, “huh, main
kerubut, dibantu pula kawanan hewan, kiranya
beginilah jago silat daerah Tionggoan.”
Muka si kakek bertali hitam tampak dingin.
Mendadak si kakek bertali biru bersuit pelahan
sambil menggeser ke samping kawannya, kawanan
elang yang sedang menubruk ke bawah mendadak
terbang lagi ke atas.
Si kakek bertali hijau berseru, “Lakte, mundur
dulu, biar kubelajar kenal dengan orang angkuh
ini!”
Segera ia melancarkan beberapa pukulan dasyat,
meski perawakannya paling kecil, tapi
kekuatannya sangat mengejutkan.
Si kakek bertali putih sempat menarik kakek
bertali merah ke pinggir kalangan dan kebetulan di
samping Giok-he berdiri. Dengan simpatik Giok he
bertanya, “Tampaknya tidak ringan luka Locianpwe
ini, kubawa obat luka dalam jika sekiranya perlu
pakai.
Si kakek bertali putih tersenyum, katanya,
“Terima kasih, cuma saudaraku ini hanya tertutuk
Hiat-to kelumpuhannya saja, sebentar lagi dapat
bergerak lagi dengan bebas.”
Dalam pada itu si kakek bertali hijau sudah
bergebrak beberapa jurus dengan Cian Tong-lai,
keduanya sama bergerak dengan cepat, namun
tenaga pukulan si kakek bertali hijau ternyata
tidak tahan lama, sudah mulai lelah.
Si kakek bertali kuning bergeser ke sisi Giok-he
dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah
anak muda ini sekomplotan denganmu?”
“Jika kami sekomplotan, tentu dia takkan
berbuat sekasar itu kepada para Locianpwe” jawab
Giok he dengan menyesal.
Sementara itu si kakek bertali putih sedang
menguruti tubuh si kakek bertali merah, tanpa
menoleh ia menukas, “Pemuda itu adalah anak
murid Kun-lun-san, ilmu silatnya tidak rendah,
hendaknya Lak-te disuruh jangan gegabah.”
Si kakek bertali kuning termenung sejenak lalu
ia mendekati Wiki.
Saai itu Wiki juga merasa serba susah dan tidak
tahu cara bagaimana harus melarai.
Tiba-tiba si kake bertali kuning menghampiri
Wiki dan mendengus,”Hm, tak terduga orang Conglam-
pai bisa ada hubungan dengan murid Kunlun-
pai.”
Selagi Wiki melenggak dan belum sempat
menjawab, si kakek bertali kuning berkata pula,
“Sebenarnya kedatangan kami tidak bemiat jahat
melainkan ingin mencari murid seorang sahabat
lama dan minta WI cengeu suka membnatu, siapa
tahu cara demikianlah sambutan disini………”
Si kakek bertali kuning ini sudah tua, tapi
wataknya tetap sangat keras, habis bicara segera
melancarkan pukulan.
Di sebelah sana si kakek bertali ungu bemama
Tong-jit-thian dan si biru bemama Na Lok-thian
sekaligus lantas menerjang juga ke arah Cian
Tong-lai.
Kakek bertali hijau yang sedang menempur Cian
Tong-lai itu bemama Leng Cin-thian, dahulu di
terkenal dengan Tai-li-kim-kong-jiu, pukulan
bertenaga raksasa, tapi sekarang dia ternyata
bukan tandingan pemuda she Cian yang sombong
ini.
Diam-diam Giok he dan Ciok Tim terkesiap
menyaksikan ketangkasan Cian Tong-lai.
Begitu pula Yim hong-peng juga menampilkan
rasa kagum serupa pertama kalinya melihat
Lamkiong Peng dahulu.
Kedua kacung segera bergerak juga hendak
mengadang Tong-jit-thian dan Na Lok-thian, tapi
mendadak bayangan hitam berkelebat, seorang
kakek kurus tinggi dengan muka kaku dingin
berdiri di depan mereka, sorot matanya tajam
menimbulkan rasa ngeri orang.
Pelahan si kakek bertali hitam mengangkat
tangannya, kedua kacung itu terkesiap dan tanpa
terasa menyurut mundur setindak, sorot mata
mereka sama menatap tangan si kakek kurus
kering dan hitam ini.
Tak terduga tangan si kakek hanya terangkat
saja dan tidak bergerak lagi. Wajahnya juga tetap
kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan,
hanya sorot matanya yang mencorong tajam tetap
menatap kedua kacung itu. Sorot matanya seperti
membawa semacam daya gaib yang sukar
dilukiskan sekalipun Yim hong-peng juga terkesiap
demi beradu pandang dengan sorot mata aneh itu,
diam-diam ia heran, “Aneh apakah sorot matanya
itu pun mengandung semacam kungfu mujizat?”
Tiba-tiba teringat olehnya ada semacam kungfu
istimewa sudah lama menjadi dongeng di dunia
kangouw, tanpa terasa ia memendang ke sana,
dilihatnya muka kedua kacung itu pucat pasi,
keempat biji matanya yang besar terbelalak lebar,
tapi kaku tak bergerak melainkan Cuma menatap
telapak tangan si kakek yang hitam itu. Setiap kali
si kakek melangkah maju setindak, seperti kena
sihir, setiap kali pula kedua kacung itu pun
menyurut mundur setindak.
Berulang si kakek mendesak maju tiga tindak
dan kacung itu pun mundur tiga tindak, dengan
suara aneh si kakek berkata pelahan, “Berdiri saja
di sini dan jangan bergerak.”
Benar juga, kedua kacung itu lantas berdiri
termenung tanpa bergerak, hanya mata melotot
dan muka bertambah pucat.
“Hari sudah hampir gelap, tidurlah!” ucap pula si
kakek.
Serentak kedua kacung itu berbaring di tanah
dan memejamkan mata, seperti tidur benar-benar.
Lalu si kakek bertali hitam membalik tubuh,
sorot matanya mendadak tertuju ke muka Yim
hong-peng.
Yim hong-peng cukup cerdik, cepat ia menunduk
dan berucap, “Lihai benar kungfu Locianpwe.”
“Ah, kan kedua anak kecil ini memang penurut,
terhitung kungfu apa?” ujar si kakek ketus. Kedua
matanya meram melek dan tidak kelihatan hendak
bertindak sesuatu.
Diam-diam Yim hong-peng membatin, “Sudah
lama tersiar di dunia kangouw tentang kawanan
elang ini, katanya elang hitam dingin, elang hijau
sombong, elang biru bicara lembut, elang merah
pemarah, elang kuning dan ungu latah dan
nyentrik, bila melihat elang putih kawanan elang
sama tertawa. Tampaknya elang hitam ini memang
betul dingin luar biasa sesuai namanya Leng Yathian
(malam sedingin)
Dalam pada itu tiba-tiba terlihat asap putih tipis
merembes keluar dari permukaan bumi dan
melingkar di sekitar kaki semua orang, lambat laun
asap putih ini buyar ke berbagai penjuru. Seketika
terbeliak matanya, tersembul semacam senyuman
aneh pada ujung mulutnya. Waktu ia memandang
ke sana, pertarungan di halaman sana telah
bertambah sengit.
Kelihatan elang kuning Wi leng-thian bergerak
kian kemari dnegan ilmu pukulan yang kuat
sehingga si gelang terbang Wiki tampak
kewalahan..
Meski ilmu silat Wiki tergolong jago kelas satu
dunia kangouw, tapi sekarang dia harus
memikirkan akibat lebih lanjut dari pertarungan
ini, sebab itulah dia tidak berani menyerang
sepenuh tenaga sehingga dia lebih banyak
bertahan daripada menyerang.
Dalam sekejap saja belasan jurus sudah
berlangsung pula, dia mulai kepayahan, ia
membentak, “Sesungguhnya ada urusan apa Bohliong-
ceng dan Jit-eng-tong kalian, kenapa kalian
mendesak orang secara keterlaluan?”
Elang kuning mendengus, “Hm, Jit-te kami
terluka di tempatmu, Lamkiong Peng diuber-uber
kalian, apakah semua ini bukan permusuhan?”
Air muka Wiki berubah, cepat ia berputar
menghindarkan sekali pukulan, lalu ia balas
menghantam untuk mendesak mundur lawan
sambil membentak, “Kau bilang Lamkiong
peng?……..Jadi kedatangan kawanan elang ke
wilayah berat sekali ini adalah karena Lamkiong
Peng?”
“Betul,” jengek elang kuning sambil mengelak,
mendadak sebelah kakinya menendang ke perut
lawan.
Namun telapak tangan Wiki lantas memotong ke
bawah untuk menabas pergelangan kaki musuh,
meski dia enggan bermusuhan dengan kawanan
elang dari Jit-eng-tong, tapi timbullnya juga rasa
gemasnya setelah berulang di desak, gerak
serangannya sekarang pun tidak kenal ampun lagi.
Namun elang kuning segera berputar lagi ke
samping, telapak tangan lantas menabas iganya.
Serangan ini sangat cepat dan tampaknya sukar
dihindari, Wiki menjadi nekat, berbareng ia pun
menghantam perut elang kuning, pukulan dasyat
dan sama cepatnya, tampaknya kedua orang akan
sama-sama roboh.
Melihat itu elang hitam Leng Ya-thian terkesiap,
cepat ia memburu maju, tapi Yim hong-peng sudah
mendahuluinya melompat maju, kedua tangannya
bekerja sekaligus sehingga kedua orang tertolak
mundur.
Berbareng elang kuning Wi leng-thian dan si
gelang terbang Wiki tergetar mundur beberapa
langkah. Cara melerai Yim hong-peng ternyata
tidak pilih kasih.
Elang hitam Leng Ya-thian melenggong dan tidak
jadi turun tangan. Mestinya ia siap menghantam
punggung Yim hong-peng, sebab disangkanya cara
orang memisah pasti tidak adil. Tapi dia ternyata
salah duga, untung di sempat mengurungkan
serangannya.
Dilihatnya Yim hong-peng lagi melirik padanya
dan berkata, “Cayhe juga Cuma menjadi tamu Bohliong-
ceng saja.”
“Oo!?………Leng ya-thian melenggak, meski air
mukanya tetap kaku dingin, namun sikapnya
sudah lain.
Sementara itu pertarungan elang kuning dan
Wiki tetap berlangsung dengan sengitnya. Kcenam
ekor elang yang mengitar di udara tadi kini sudah
hinggap di pendopo dengan sayap terpentang dan
kelihatan gagah sekali.
Giok he berdiri dekat serambi, ia coba melirik
elang putih Pek Kui-thian yang asyik mengurut si
elang merah, katanya dengan gegetun, “Ai, Ban-liliu-
hiang Yim tai-hiap ini memang seorang tokoh
cerdik, dia selalu nongkrong di atas pagar dan
mengikuti arah angin, selamanya tidak mau rugi.”
Maski tidak keras suaranya, tapi cukup jelas
didengar Pek Kui-thian.
Tiba-tiba Ciok Tim ikut bicara, “Tak tersangka
orang she Cian ini memiliki ilmu silat setinggi ini,
padahal usianya juga baru 20-an……..Ai, tak
terduga di dunia persilatan memang ada jalan
cepat untuk mencapai tingkatan yang sempuma.”
Giok he tersenyum, ia melirik lagi ke arah Cian
Tong-lai, dilihatnya pemuda yang datang dari
puncak tertinggi Kun-lun-san itu sedang berputar
di sekitar elang biru Na Lok-thian dan elang ungu
Tong jit-thian serta elang hitam Leng Cin-thian,
sampai sekarang belum nampak dia akan kalah
meski satu melawan tiga.”
Padahal nama Jit-eng-tong menggetarkan dunia
kangouw dan disegani baik kalangan pek-to
maupun golongan hek-to, kawanan elang sudah
tentu mempunyai kungfu andalan yang lain
daripada yang lain.
Meski sejak tujuh tahun yang lalu kawanan
elang itu sudah cuci tangan dan mengasingkan
diri, segenap cabang perusahaan pengawalan yang
tersebar di berbagai propinsi itu serentak dikukut
kembali ke kantor pusat Jit-eng-tong di
Kanglenghu, sejak itu tidak pemah lagi kelihatan
kawanan elang itu berkecimpung di dunia
kangouw.
Tapi sekarang ketujuh bersaudara elang ini
mendadak muncul di sini, kepandaian mereka
ternyata belum lapuh mengikuti usia mereka yang
tambah lanjut. Bahkan watak berangasan sebagian
elang itu pun tidak berubah.
Begitulah Cian Tong-lai sendirian melawan
ketiga ekor elang dan tetap tidak kelihatan bakal
kecundang, bayang pukulannya menyambar kian
kemari, sekilas pandang seolah-olah mempunyai
berpuluh tangan. Tampaknya dia menghantam
elang biru,tahu-tahu pukulannya berbalik menuju
si elang hijau. Dan selagi elang biru merasa
longgar, tahu-tahu angin pukulan yang dasyat
menyambar ke arahnya lgi.
Meski ilmu pukulan sakti Kun-lun-pai sudah
lama termashur di dunia persilatan, tapi jurus
pukulan yang digunakan Cian Tong-lai sekarang
jelas bukan ilmu pukulan Kun-lun-pai biarpun
yang hadir sekarang rata-rata adalah tokoh Bulim
terkemuka, namun tiada seorang pun kenal asal
usul ilmu pukulannya.
Tiba-tiba Giok he bersuara terkejut pelahan
dengan alis bekernyit. Waktu elang putih Pek Kuithian
meliriknya dan melihat air muka orang yang
terkejut itu, seketika timbul rasa curiganya.
Sementara itu diantara pepohonan di dalam
halaman entah mulai kapan telah timbul lagi kabut
remang putih sehingga cahaya matahari scakanakan
menjadi guram.
Si elang kuning Wi Leng thian dan Wiki entah
mulai kapan sudah mengendur gerakannya,
agaknya terasa tenaga dalam sendiri sudah
kewalahan.
Di tengah kabut tebal wajah Leng Ya-thian
tampak kelam dan dingin, kedua kacung masih
menggeletak diam di tanah, hanya Yim hong-peng
saja yang kelihatan tenang, seperti sudah
mempunyai pendirian terhadap segala kejadian ini.
Sebagai kepala Thian-hong-jit-eng, Pek-kui-thian
membawa elang merah Ang-hau-thian ke dekat
Kwe giok-he dan minta dijaga untuk sementara,
lalu ia menuju ke tengah kalangan untuk
mengemati-amati gerak langkah Cian Tong-lai yang
aneh itu.
Dilihatnya elang biru, elang ungu dan elang
hijau bertiga terdesak kacau hingga tidak sanggup
balas menyerang lagi. Hanya karena pengalaman
mereka dan tenaga dalam yang kuat sehingga
masih bertahan sebisanya.
Dengan kening bekernyit elang putih Pek-kuithian
berkata kepada elang hitam, “Lakte, apakah
dapat kaulihat ciri gerak langkah pemuda ini?”
“Langkah anak muda ini memang sangat ajaib,
tapi sukar kupecahkan di mana letak ciri
langkahnya yang hebat ini,” jawab elang hitam
Leng Ya-thian.
Mendadak Pek kui-thian berseru, “Berhenti, Longo!”
Elang kuning terkejut, ia menghantam sekali
terus melompat mundur ke samping Pek-kui-thian
dengan nafas terengah.
Wiki juga kelihatan tersengal-sengal.
“Wi-heng,” kata Yim hong-peng,”tampaknya
tidak sedikit kerepotan yang akan kauhadapi
nanti.”
“Ai, ada apa semua ini, sungguh aku tidak
mengerti……..” Wiki menghela nafas.
Yim hong-peng mendengus, “Kawanan elang ini
datang ke daerah barat sini, tujuan mereka ialah
Lamkiong Peng, apabila Lamkiong Peng
menghilang, betapapun Wi-heng sukar memberi
penjelasan dan mungkin Boh-liong-ceng yang
harus menanggung akibatnya.”
Air muka Wiki agak berubah, ia termenung
memandang kabut yang mengambang di udara.
Dalam pada itu terdengar si elang putih Pek-kuithian
lagi berkata, “Tampaknya Lo-ji berdua tidak
sanggup bertahan lagi, agaknya aku perlu turun
tangan sendiri.”
Segera ia melangkah maju, kedua tangan
bergerak, serentak ia menghantam dengan dasyat.
Elang putih kelihatan lemah lembut, tapi sekali
bergebrak ternyata sangat tangkas.
Dengan sendirinya elang kuning dan elang hitam
tidak tinggal diam, segera mereka pun ikut
menerjang musuh.
Tapi mendadak Pek-kui-thian memberi tanda
sambil membentak, “Pencarkan diri!”
Segera kelima elang lain sama menyingkir, tapi
cepat menubruk meju ke arah Cian Tong-lai secara
serentak. Dengan kerubutan lima orang, hanya
beberapa jurus saja kelihatan mulai kewalahan.
Dengan sinis Yim hong-peng berolok-olok pula,
“Thian-hong-jit-eng memang hebat, tampaknya
beberapa gebrakan lagi murid Kun-lun-pai ini
akan……..”
Mendadak Wiki menghela nafas, ucapnya
dengan menunduk, “Sekalipun kumasuk
kcanggotaan Pang kalian juga tiada gunanya,
kenapa kau mendesak orang sedemikan rupa?”
“Siapa yang mendesakmu?” ucap Yim hong-peng
dengan menarik muka.
“Apa pun yang akan terjadi, jiwa dan harta
bendaku jelas sukar diselamatkan lagi, ai aku…….”
Selagi Wiki berkeluh kesah di sebelah sana Giok
he juga sedang bicara dengan Ciok Tim, katanya,
“Adik Tim, coba lihat wajah Wiki yang muram durja
itu dan sikap Yim hong-peng yang senang itu,
dapatkah kau terka apa yang terjadi di antara
mereka?”
“Apa yang terjadi di Boh-liong-ceng ini, siapa
pun yang akan menang, bagi Wiki tetap sukar
terlepas dari tanggung jawab,” ujar Ciok Tim.
“Lantas apa lagi?”
“Ada apa lagi?” Sahut Ciok Tim bingung.
“Keruwetan hari ini ternyata tidak dapat
kaulihat,” kata Giok he. “Tadi waktu ita masuk
Boh-liong-ceng, sikap Wiki terhadap Yim Hongpeng
kelihatan kikuk, tingkah laku Yim hong-peng
juga tidak mirip seorang tamu. Kedatangan orang
ini ke daerah pedalaman sekali ini pasti membawa
intrik yang tersembunyi, dia bahkan memaksa Wiki
masuk kedalam kompoltan mereka, padahal usia
Wiki sudah lanjut, berkeluarga pula, semangatnya
sudah luntur, jelas ia tidak suka kepada kehendak
Yim hong-peng itu. Tapi dia juga jeri untuk
menolaknya, hanya seluk beluk urusan ini pun
tidak jelas kuketahui.”
Ia tersenyum, lalu menyambung, “Cian-Tong-lai
ini menguasai kepandaian tinggi, dia baru
berkecimpung di dunia kangouw, kecuali ingin
mencari Boh-in-jiu, dengan sendirinya juga ingin
menggunakan kesempatan ini untuk mencari
nama, sebab itulah dia sengaja berlagak congkak
dan mencari perkara kepada Thian-hong-jit-eng.
Dia memang memandang rendah kaum piasu,
apalagi kawanan elang itu pun sudah tua. Siapa
tahu apa yang terjadi justru jauh di luar
dugaannya, bukan saja ia gagal menonjolkan diri,
bahkan bikin serba susah kepada Wiki sebagai
tuan rumah, sebaliknya Yim hong-peng yang
menarik kcuntungan dari kanan-kiri, tentu saja dia
sangat senang.”
Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong
terdengar di belakang ada orang tertawa pelahan
dan berkata, “Cara nyonya memandang orang dan
menilai persoalan ternyata sangat jitu, sungguh
sangat mengagumkan .”
Suaranya jelas, serupa timbul di tepi telinganya.
Keruan Giokhe terkejut, cepat ia menoleh,
dilihatnya asap masih mengembang memenuhi
ruangan, si elang merah Ang-hau-thian masih
duduk di tempatnya, selain dia tiasda bayangan
orang lain lagi.
Tentu saja Giok-he terkesiap, tanpa terasa ia
bertanya, “Siapa?”
Dengan bingung Ciok Tim berpaling, “Ada apa?”
“Suara tadi, masa tidak kau dengar?” ujar Giokhe.
“Suara apa?” Ciok Tim tambah bingung.
Berdebar hati Giok he, ia menggeleng dan
berpaliang, “jangan-jangan ilmu Toan-im-jip-bit
(ilmu mengirimkan gelombang suara) yang
digunakan orang tidak kelihatan itu?”
Ia coba melirik sekeliling orang yang hadir, ia
heran siapakah diantaranya yang menguasai ilmu
gaib itu.
Tiba-tiba suara tadi mendengung pula di
telinganya, “Sejak kumasuk ke pedalaman, apa
yang kudengar dan kulihat, etrnyata Cuma nyonya
saja yang terhitung ksatria sejati, bilaman nyonya
mau bekerjasama denganku, tentu segala urusan
besar dapat disukseskan. Jika nyonya setuju
bekerja sama denganku, harap nyonya
mengangguk pelahan tiga kali.”
Saat itu Ciok Tim legi memandang Giok-he
menunnduk dengan mata terpejam, seperti lagi
mendengarkan sesuatu, lalu manggut-manggut
dan tersenyum, kemudai membuka mata dan
memancarkan cahaya cemerlang.
Saking herannya Ciok Tim coba bertanya,
“Ada……..ada apa, Toaso?”
“Oo, tidak ada apa-apa,” sahut Giok-he dengan
tersenyum sambil menuding ke dapan.
Waktu Ciok Tim memandang ke sana , dilihatnya
gerak langkah Cian-tong-lai semakin kuat, bahkan
kelihatan semakin lesu dan loyo, serupa orang
kurang tidur atau terlalu letih.
Kabut semakin tebal, tiba-tiba Ciok Tim
merasakan kabut putih itu sangat aneh datangnya,
lambat laun sukar membedakan lagi keadaan
ruangan, wajah orang yang hadir disitu pun mulai
sukar dibedakan.
Segera timbul rasa letih dan mengantuk, Ciok
Tim merasa nafasnya juga tambah sesak, kelopak
mata melambai, bayangan orang mulai kabur dan
akhirnya………
Begitu cepat datangnya rasa letih dan kantuk,
sekuatnya ia coba memandang Giok-he yang
berdiri di sampingnya dirasakan sperti mendadak
berjarak sangat jauh, ia berteriak,
“Toaso……..toaso……….”
Sekonyong-konyong dirasakan nafs sendiri juga
sedemikian jauh, ia membusungkan dada dan
bermaksud lari keluar tapi kabut putih itu serasa
menindihnya dengan berat sehingga sukar
melangkah, baru saja satu-dua tindak segera ia
jatuh tertunduk.
Samar-samar dirasakan bayangan orang dan
pepohonan di taman di telan seluruhnya oleh
kabut tebal, semua orang tidak terlihat lagi.
Tiba-tiba di dengarnya suara olrang melangkah
keluar ruang pendopo itu, ia coba menoleh, tahutahu
suara langkah itu sudah sampai
disampingnya, hanya dapat dilihatnya sepasang
sepatu yang mengkilat bergeser pelahan di tengah
kabut.
Lalu terdengar suara tertawa mengejek bergema
di tepi telinganya, “Huh, thian-hong-jit-eng apa
segala, setiba disini juga patah sayapnya. Hm anak
murid Kun-lun apa, kedatangannya juga rontok
sama sekali……..”
Habis itu lantas bergema suara tertawa senang,
rasanya seperti suara Yim hong-peng.
Lalu segalanya kembli menjadi sunyi.
Di tengah kesunyian itulah Ciok Tim terpulas
dan ditelan kegelapan.
*********
Kegelapan yang tak berujung, kesunyian yang
tak berpangkal.
Pelahan Lamkiong Peng siuman kembali, waktu
ia membuka mata, tidak terdengar sesuatu suara,
juga tidak terlihat apa-apa, ia menghela nafas dan
membatin, “Apakah aku sudah mati?”
Mati ternyata tidak menakutkan sebagai mana
dibayangkan, namun jauh lebih kesepian daripada
perkiraannya. Ia coba mengucek mata, tapi tidak
terlihat telapak tangan sendiri, apa pun tidak
terlihat.
Dalam sekejap itu segala kejadian selama
hidupnya seolah-olah terbayang kembali, setelah
dipikirnya dan ditimbang, ia merasa selama
hidupnya begitu-begitu saja, tidak penah timbul
pikiran membikin susah orang lain, baik terhadap
ayah bunda, guru maupun sahabat, selalu
dihadapinya secara jujur tulus, tidak pemah
terpikir olehnya perbuatan yang licik dan munafik.
Ia tersenyum sendiri, ia pikir bilamana cerita
tentang surga dan neraka benar ada, sesudah mati
mungkin dirinya tidak perlu diputus masuk
neraka.
Dalam kesepian, sekonyong-konyong di
dengarnya sayup-sayup, suara musik
berkumandang dari kegelapan sana, lagunya
begitu sedih mengharukan, serupa tangisan
kawanan setan.
Di tengah suara musik yang sayup-sayup itu
mendadak bergema teriakan,
“Lam……..kiong……..peng……Hahaha, kau sudah
datang?”
Lalu terdengar serentetan suara tertawa tajam
mengerikan.
Lamkiong Peng mengusap dahinya yang
berkeringat dan membentak, “Siapa kau? Manusia
atau setan? Hm, biarpun setan juga aku tidak
takut! Tidak perlu kaumain sembunyi!”
“Hahaha,” suara tertawa yang seram itu berubah
menjadi tertawa latah yang lantang, “Aku Cuma
menghendaki kaurasakan bagaimana orang mati,
agar kautahu mati bukan tindakan yang enak,
supaya kaukenal berharganya kehidupan.”
Dengan geram Lamkiong Peng menghantam ke
arah suara itu, diam-diam ia bersyukur tenaga
sendiri belum lenyap. Siapa tahu pukulannya yang
keras itu seperti batu tenggelam dalam lautan,
menghilang dalam kegelapan.
Suara tertawa latah itu bergema pula, “Haha,
meski tempat ini bukan neraka, tapi jaraknya tidak
jauh lagi, meski kau tidak jadi mati, bila mau
sudah belasan kali dapat kumampuskan
kau……….”
“Kenapa tidak kau bunuh diriku? Apakah kau
ingin memeras diriku, supaya kutunduk padamu?”
Sela Lamkiong Peng sambil tertawa.
“Ya, memang begitulah maksudku,” kata suara
itu dalam kegelapan.
“Haha, jika aku sudah pemah mati sekali, apa
alangannya mati sekali lagi,” seru Lamkiong Peng
dengan terbahak, “Bila kau ingin kutunduk
kepadamu, huh, jangan mimpi!”
Lalu ia duduk bersila dan mengheningkan cipta,
tiba-tiba pikiran terang dan lapang dada.
Dalam kegelapan, sang waktu dirasakan lalu
dengan sanagt lambat, tapi rasa lapar justru
datang dengan sangat cepat.
Lamkiong Peng duduk bersila, perut mulai lapar
sekali dan sukar ditahan. Segera timbul pula
macam-macam pikiran. Ia berdiri dan coba meraba
sekitarnya, baru sekarang diketahuinya dirinya
berada di dalm sebuah gua yangs eram serupa
neraka dan tiada terdapat sesuatu benda apa pun.
Walaupun kelaparan, kesepian dan kegelapan
yang mencekam, namun semua itu tak dapat
menggoyahkan pendiriannya.
Entah berselang berapa lama lagi, tiba-tiba
Lamkiong Peng mencium bau sedap daging dan
arak, ia menelan air liur, biji lehernya naik turun,
rasa laparnya tambah sukar ditahan.
Sejak kecil baru sekarang untuk pertama kalinya
ia rasakan betapa susahnya orang kelaparan.
Ia memejamkan mata dan menggerutu, “Sialan,
aku hendak dipancingnya dengan makanan!”
Bau sedap semakin keras, mau tak mau ia harus
mengakui pancingan ini mempunyai daya tarik
yang amat kuat.
Selagi ia berusaha memancarkan perhatiannya
atas bau sedap makanan itu, tiba-tiba terdengar
suara orang mendengus di atas, “Hm, lamkiongkongeu
tentu tidak enak bukan kelaparan?”
Dengan gusar Lamkiong Peng menjawab,
“Tekadku sudah bulat, betapapun kau imingi
diriku juga tiada gunanya, tidak perlu banyak
omong.”
“Sekarang juga sudah kukerek dua ekor ayam
panggang lezat tepat di depnmu, boleh coba kau
cicipi.” Kata suara itu.
Meski teguh pendirian Lamkiong Peng, tapi
kebutuhan biologis membuatnya tidak tahan,
waktu ia mengendusnya, abu sedap itu tambah
merangsang.
Dalam kegelapan suara itu bergema pula, “Di
antara kedua ekor ayam panggang ini, seekor di
antaranya dilumuri dengan obat bius, bilaman kau
makan, akan hilang kesadaranmu yang asli dan
seluruhnya engkau akan tunduk kepada
perintahku. Sebaliknya seekor ayam panggang
yang lain tidak diberi racun apapun, bila
kauberani, boleh silakan bertaruh dengan
nasibmu!”
Tanpa terasa Lamkiong Peng menjulurkan
tangan, betul juga, ujung jarinya lantas menyentuh
sesuatu yang kenyal. Sungguh hatinya tergelitik.
Akan tetapi segera ia memejamkan mata dan
menarik kembali tangannya sambil membentak,
“Tidak, mana boleh untuk sekadar makan ini aku
harus bertaruh dengan nasibku sendiri.”
Terdengar suara terloroh dalam kegelapan
sejenak kemudian mendadak ia menghela nafas
dan berucap, “Ai, tokoh semacam anda sungguh
sayang tidak suka bekerja sama denganku.
Betapapun kuhormati engkau sebagi seorang
jantan sejati, aku tidak tega membunuhmu, juga
tidak tega membiusmu dan menganiayamu,
makanya kuberi hidup sampai sekarang. Tapi bila
kubebaskan dirimu, jadinya tiada ubahnya seperti
melepaskan harimau kembali ke gunung, pada
suatu hari kelak biasa jadi usaha yang telah
kupupuk selama bertahun-tahun akan hancur di
tanganmu.”
Ia menghela nafas, lalu menyambung, “Kutahan
dirimu di sini sesungguhnya karena terpaksa,
hendaknya jangan kau sesalkan diriku bila kau
mati, aku berjanji akan menguburmu dengan baikbaik.”
Dalam kegelapan ada cahaya mengkilat
berkelbat, terdengar suara ‘trang’ jatuh di samping
Lamkiong Peng, lalu suara itu berucap lagi,
“Sekaranag kulemparkan sebilah belati itu untuk
membunuh diri. Apabila pikiranmu berubah cukup
kau berteriak dan segera ku datang
membebaskanmu.
“Supaya kautahu, tinggi gua ini lebih dari enam
tombak, dinding sekeliingnya terbuat dari baja,
hanya bagian atas saja dapat keluar masuk, boleh
juga kaucoba, jika kurang tenaga, silahkan makan
kedua ekor ayam panggang itu, tidak ada yang
diberi racun, jangan kuatir mungkin akan
menambah tenagamu.”
Dia bicara dengan tulus, serupa sahabatb yang
memberi nasehat.
Pada saat itulah sayup-sayup terdengar suara
omag yang ebrucap dengan lirih, suara halus
merdu, “Eh cara bicara serupa dua sahabat yang
akan berpisah, kau tahu…….” sampai disini tidak
terdengar lagi apa yang diucapkannya.
Suara itu bagi Lamkiong Peng sudah sangat
dikenal, hatinya tergetar, ia heran siapakah itu?
Didengarnya suara tadi berkata pula,”Bila kita
bertemu sepuluh tahun yang lalu, kuyakin kita
pasti dapat terikat menjadi sahabat karib, sayang
sekarang aajalmu sudah dekat…… sebelum kau
mati, jika ada sesuatu permintaanmu, tentu akan
kulakukan bagimu.”
Lamkiong Pengsedang memikirkan suara merdu
tadi, tanpa pikir ia menjawab, “Siapakah suara
orang perempuan tadi? Boleh kau perlihatkan dia
kepadaku sekejap saja.”
Suara itu terdiam, sejenak kemudian baru
berkata pula, “Hanya ini permintaanmu?”
Lamkiong Peng mengiakan.
“Masa tidak ada pesan akan kau tinggalkan bagi
orangtua atau sahabatmu?” tanya suara itu. “Masa
sama sekali tidak ada urusanmu yang perlu
kuselesaikan bagimu? Tidakkah perlu kaulihat
sesungguhnya siapa yang mengakibatkan
kematianmu ini?”
Lamkiong Peng melenggong, tiba-tiba timbul
rasa duka yang tak terkatakan, kalau dipikir,
sesungguhnya teramat banyak urusannya yang
belum lagi selesai.
Seketika ia merasa putus asa, ia menunduk dan
tidak bicara lagi.
“Bagaimana dengan orang yang ingin
kaulihat………”
“Tidak perlu kulihat lagi.” Kata Lamkiong Peng.
“Tapi sudah kusanggupi padamu, maka boleh
coba kaupandang ke atas,” kata suara itu.
Mata Lamkiong Peng lantas terbeliak, ia tahu
tutup lubang gua itu telah dibuka. Namun di tetap
duduk termenung, meski diragukannya perempuan
itu pasti seoarang yang ada hubungan erat dengan
dirinya, namun dia tidak ingin memandangnya
lagi, ia tidak mau meninggalkan rasa penyesalan
sesudah mati.
Keadan sunyi sejenak, ‘brak’, tutup lubang
dirapatkan lagi. Dalam kegelapan lantas bergema
suara musik yang memilukan, suara yang
misterius tadi lagi berdendang dan mengucapkan
selamat tinggal.
Suara musik itu memepengaruhi juga rasa duka
Lamkiong Peng, tanpa terasa air matanya meleleh.
Dalam dukanya tiba-tiba timbul semacam
keberanian untuk mencari hidup, ia coba meraba
belati yang dimaksudkan orang tadi, pelahan ia
mendekati dinding, sekuatnya ia tusuk dengan
belati itu.
Seketika tangan tergetar kesakitan, dinding
sekeliling memang benar terbuat dari baja, ia
menghela nafas duka dan bersandar di ujung
dinding, ia merasa segalanya sudah tamat, sama
seklai tidak ada harapan lagi.
Namun titik akhir kehidupan tetap sangat
panjang, ia tidak ingin merusak tubuh pemberian
orang tuaaa, tapi juga tidak tahan oleh derita batin
selama menunggu ajal ini.
Entah berselang lama lagi, mendadak dirasakan
dinding tempatnya bersandar bisa bergerak, ketika
cahaya membuat matanya terasa silau, berbareng
tubuhnya lantas roboh terjengkang.
Ia terkejut dan cepat melompat bangun.
Waktu ia memandang ke depan, dilihatnya
seorang tua telah berdiri di situ dengna wajah
prihatin, tangan memegang obor. Ketika si kakek
mendorong lagi dengan sebelah tangan, pintu
rahasia gua itu lantas menutup kembali.
Lamkiong Peng tercengang, baru sekarang
dirasakan dirinya telah terbebas dari bayangan
maut. Sungguh tidak kepalang rasa girangnya,
seketika ia berdiri melongo dan tidak tahu apa
yang mesti diperbuatnya.
Orang tua yang membawa obor ini ternyata
bukan lain daripada si gelang terbang Wiki ,
pemilik Boh-liong-ceng.
Kening si kakek tampak terkerut rapat, jelas
menanggung tekanan batin. Ia memberi tanda
kepada Lamkiong Peng , lalu mendahului
melangkah keluar ke sana.
DI bawah cahaya obor kelihatan lorong di bawah
tanah ini penuh sarang laba-laba atau galgasi,
setiap langkah selalu menimbulkan debu, jelas
jalan ini sangat jarang dilalui orang. Namun lorong
itu berliku-liku, bangunannya juga ajaib dan
mengagumkan.
Memandangi bayangan orang yang tinggi besar,
hatinya penuh rasa terimakasih. Selama hidupnya
belum pemah dirangsang perasaan semacam
ini,maklumlah, soalnya dia baru saja menghadapi
‘kematian’ yang membuatnya derita batin dan
putus asa.
Ia berdehem, tenggorokan serasa tersumbat, ia
coba bertanya, “Locianpwe…….”
“Ssst, diam!” desis Wiki tanpa menoleh.
Setelah membelok satu tikungan, mendadak
Wiki menekan pada ujung dindidng, terdengar
suara ‘kriaat’, dinding di situ lantas menyurut
mundur dua-tiga kaki lebarnya.
Cepat Wiki menyelinap masuk ke situ sambil
bergumam, “O, jit-eng , jangan menyesal jika tidak
dapat kuselamatkan kalian, aku telah berusaha
sepenuh tenaga………….”
Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, terlihat
Wiki sudah melompat keluar lagi dengan
mengempit seorang pemuda berbaju perlente
dalam keadaan pengsan.
“Gendong dia!” kata Wiki dengan suara tertahan.
Lamkiong Peng menurut, diangkatnya pemuda
itu dengan tidak mengerti apa maksud Wiki.
Setelah merepatkan pintu dinding. Wiki
mendahului berjalan lagi ke depan dengan langkah
berat dan kening bekernyit.
“Loc……..” Lamkiong Peng ingin tanya pula.
Tapi Wiki lantas memotong, “Tidak perlu
kauterimakasih padaku.”
“Tapi………. sebenarnya………”
“Dunia persilatan segera akan timbul peristiwa
besar, kawanan perusuh dari Kwan gwa sudah
masuk ke daerah Tionggoan, aku berada di bawah
ancaman mereka, harta bendaku yang kudapatkan
dari jerih payahku selama berpuluh tahun
tampaknya akan hanyut ludes.”
Tentu saja Lamkiong Peng tidak paham.
Selagi ia hendak tanya, Wiki telah menyambung
pula, “Pemuda yang kau gendong ini memiliki
kepandaian mengejutkan, dia adalh murid Kunlun-
pai, namanya Cian-tong-lai. Dia terkena
semacam kabut bius yang istimewa dan tidak
dapat kutolong, harus selang sekian lama baru dia
akan siuman dengan sendirinya. Kalian berdua
sama pemuda gagah, hari depan kalian tak
terbatas, semoga kalian dapat lari meninggalkan
temapat ini dan mencari kesempatan untuk
bertindak di kemudian hari, janganlah gembong
iblis itu berhasil merajai dunia.”
Dia bicara dengan sedih dan penasaran.
Dengan alis menegak Lamkiong Peng bertanya,
“Siapa yang kaumaksudkan? Masa dia………”
“Kepandaian orang ini sukar dijajaki, potong
Wiki pula. “Dia mahir menggunakan berbagai
senjata rahasia yang aneh dan dupa bius yang
mujizat, bahkan banyak anak buahnya yang serba
pandai sehingga makin menambah kejahatan yang
diperbuatnya. Ada anak buahnya yang berjuluk
Toat-beng-jiang (tombak pencabut nyawa) dan Tuihun-
kiam (pedang sambar nyawa), kungfu kedua
orang ini sungguh sangat mengejutkan, kita sama
sekali bukan tandingannya.”
Tergerak pikiran Lamkiong Peng, katanya,
“Apakah gembong iblis yang kaumaksudkan itu
ialah Swe thiam-beng?”
Melenggak juga Wiki, seperti heran mengapa
Lamkiong Peng juga kenal nama itu, sambil
menekan lagi pojok dinding ia menjawab, “Ya, Swe
thian-beng.”
Baru lenyap ucapannya, tertampaklah cahaya
udara. Ternyata mereka sudah berada di pintu
keluar lorong.
Terdengar Wiki lagi bergumam dengan pedih, “Di
Boh liong-ceng kami sekarang entah terkurung
berapa orang, dengan kekuatanku hanya dapat
kuselamatkan kalian berdua, hendaklah lekas
kalian pergi slekasnya, ingatlah selalu pesanku,
ilmu silat orang ini sukar dijajaki, janganlah kalian
sembarangan bertindak.
“Locianpwe…….”
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tahu-tahu
Wiki mendorongnya keluar sambil bergumam,
“Naga melahirkan sembilan anak, setiap anak
berbeda-beda, biarpun sesama saudara
seperguruan, terdapat juga serigala dan harimau
diantaranya………”
Terdengar suara keriat-keriut, pintu lorong
rahasia itu telah rapat kembali.
Lamkiong Peng berdiri termenung dengan
terharu.
Waktu ia menengadah, cuaca remang-remang,
malam sudah larut, ketika ia periksa keadaan Cian
Tong-lai, muka anak muda itu pucat pasi, namun
tidak mengurangi wajahnya yang cakap.
Ia coba membedakan arah, lalu membawa Cian
Tong-lai berlari ke arah barat daya, teringatnya
Bwe kiamsoat yang berjanji menunggu kembalinya
itu, seketika bergejolak perasaannya yang tertekan
itu. Tapi bila teringat Tik Yang yang sekarat,
seketika ia menghentikan langkahnya.
Terjadi lagi pertentangan batin. Jika dia kembali
dengan tangan hampa, maka segala langkah
usahanya akan berubah juga tdiak ada artinya
sama sekali, mana boleh ia menyaksikan Tik Yang
yang telah membantunya itu mati keracunan
begitu saja?
Selagi bingung dan serba salah, menddak
dirasakannya sebuah tangan pelahan menekan
Leng-thai-hiat pada punggungnya, Ling-thai-hiat
adalah salah satu hiat-to penting yang
berhubungan erat dengan jantung, bilamana
tergetar dengan keras, seketika binasa.
Akan tetapi Lamkiong Peng hanya terkejut
sekejap saja, habis itu lantas tenang malah, ia pikir
dalam keadaan serba susah, bila mati akan
merupakan pelepasan malah baginya, lepas dari
segala siksa derita.
Karena itulah ia tetap berdiri diam saja dan
tidak memberi rcaksi apa pun, dengan tenang ia
menantikan ajal.
Siapa tahu, sampai sekian lamanya tangan itu
tetap tidak bergerak lagi.
Bekernyit kening Lamkiong Peng dengusnya,
“Kenapa sahabat tidak lekas turun tangan?”
Di bawah kerlip bintang bayangan orang
dibelakangnya tampak bergerak mendoyong ke
depan, agaknya orang merasa heran terhadap
sikap Lamkiong Peng yang tak gentar itu.
Segera terdengarlah suara tertawa ngikik nyaring
di belakang, katanya, “Lo-ngo, apakah engkau
benar-benar tidak takut mati?”
Suara ini hampir serupa dengan suara yang
didengarnya di tempat tahanan yang gelap itu,
suara yang sudah dikenalnya.
Tergetar hati Lamkiong Peng, serentak ia
membalik tubuh dan berseru, “He, toaso!”
Di tengah remang malam Giok-he kelihatan lagi
tersenyum riang.
“Kenapa Toaso juga datang ke sini?” tanya
Lamkiong Peng
Giok he tidak menjawab, sebaliknya ia membuka
sebelah tangannya dan berseru, “Coba lihat, apa
yang kupegang ini?”
Tergerak hati Lamkiong Peng, tanpa terasa ia
berseru, “He, obat penawar? Apakah obat
penawar?”
“Kau memang cerdik, yang kupegang itu
memang obat penawar,” ujar Giok he sambil
membuka lebar telapak tangannya sehingga
kelihatan sebiji pil merah. “Ku tahu demi untuk
mendapatkan obat penawar ini, kau tidak sayang
menyerempet bahaya dengan taruhan nyawa
sendiri. Tapi obat ini tetap tidak kauperoleh, begitu
bukan?”
Lamkiong Peng menghela nafas menyesal sambil
menunduk, seperti mau bicara, tapi urung.
“Setiba di Boh-liong-ceng,” demikian Giok he
bicara pula, “Hatiku ikut sedih demi mendengar
urusanmu. Betapapun kau adalah suteku dan
harus kubela.”
Dia bicara dengan tulus penuh perhatian, tapi
sinar matanya gemerdep dengan maksud yang
sukar diraba, dengan semdirinya hal ini tidak
dilihat oleh Lamkiong Peng.
“Sebab itulah aku berusaha memperdayai Yim
hongpeng yang munafik itu, akhirnya dapat kutipu
obat penawar ini dari dia, “ demikian Giok he
bertutur pula.”Tapi ketika kupancing dia
membawaku ke tempat tahananmu dan ingin
menolongmu keluar, siapa tahu engkau sudah
berhasil kabur lebih dulu. Sungguh aku bergirang
bagimu dan juga sedih. Tanpa obat penawar,
menuruti watakmu yang keras, tidak nanti kau
mau pulang ke sana, sebab itulah tanpa
menghiraukan bahaya segera kususulmu ke sini.”
Terharu Lamkiong Peng dan juga merasa malu
diri, ia pikir betapapun Toaso tetap baik padaku,
hampir saja aku salah menilainya.
Ia mengadah, dilihatnya Giok-he sedang
memandangnya, tiba-tiba Lamkiong Peng merasa
Liong-hui sesungguhnya adalah lelaki yang
beruntung.
Dengan tersenyum Giok-he berkata pula, “toako
dan Sumoay mendampingiku, tapi dia seorang
yang kaku dan pendiam, seharian paling bicara
dua tiga kata denganku. Entah bagaimana dengan
toakomu, ai, sungguh kukuatir………”
“Toaso, kukira Toako sudah pulang ke Ji-hausan-
ceng, bila……..bila urusan disini selesai segera
kita pun dapat pulang, “ kata Lamkiong Peng.
Kata Giokhe dengan hampa, “Betapapun aku
hanya seorang perempuan. Losam selalu acuh tak
acuh, alangkah baiknya jika dapat berada
bersamamu, tentu aku tidak perlu repot…..”
“Meski siaute tidak dapat menjaga Toaso
sepanjang jalan, tapi………” tiba-tiba ia
mengeluarkan sepotong kemala putih dan
diberikan kepada Giok he, sambungnya, “dengan,
membawa kemala ini, kemana pun dapat Toaso
memperoleh bantuan pada setiap cabang
perusahaan setempat usaha keluarga kami.”
Ia tidak memandang langsung kepada Giok he
sehingga tidak diketahui betapa senang hati
nyonya muda itu, hanya dirasakan sebuah tangan
halus memegang tangannya, hatinya tergetar dan
menyurut mundur setindak, pil merah oleh Giokhe
telah ditaruh pada tangannya sambil berkata,
“Gote, selesai urusanmu di sini hendaknya segera
kaupulang, bila bertemu dengan toako juga
membujuknya supaya lekas pulang.”
Dia bicara agak tersendat sehingga Lamkiong
Peng tambah rikuh untuk memandangnya, ia cuma
mengangguk saja sambil menunduk.
“Toaso telah banyak membelamu, entah kaupun
sudi bekerja sesuatu bagiku atau tidak?” kata giokhe
pula.
“Orang yang dalam gendonganmu ini adalah
murid Kun-lun dan merupakan musuh kita,
kungfunya sangat tinggi, mungkin kita bukan
tandingannya, demi menghilangkan bahaya di
kemudian hari, hendaknya kau tutuk Hiat-to cacat
bagian punggungnya.”
Lamkiong Peng mendongak dengan tercengang,
jawabnya kemudian, “Apabila orang ini berbuat
sesuatu kesalahan kepada Toaso, setelah dia
siuman nanti pasti akan kulabrak dia mati-matian.
Tapi sekarang di dalam keadaan pingsan, orang
menyerahkan dia dalam tanggung jawabku pula,
apaun juga tidak dapat kuganggu dia dalam
keadaan demikian.”
Giok he tampak kurang senang, jengeknya,
“Baru saja kauterima obat penawar dariku dan
segera kaubangkang kehendakku, apapula yang
dapat kuharapkan darimu kelak?”
“Tapi aku…….aku……….”mendadak Lamkiong
Peng mengembalikan pil merah itu kepada Giok he
dan menambahkan, “Lebih baik kukembalikan
obat ini daripada berbuat pengecut yang melanggar
hati nuraniku.”
Selagi ia hendak berpaling dan tiingal pergi,
sekonyong-konyong Giok-he mengikik tawa,
katanya, “Ah, aku Cuma menguji kejujuranmu saja
apakah engkau masih ingat kepada ajaran suhu
atau tidak, mengapa kau jadi serius terhadap
Toaso?”
Sembari berkata ia serahkan pula pil merah itu
kepada Lamkiong Peng .
Hati Lamkiong Peng menjadi lunak lagi,
ucapnya, “Asalkan bukan tindakan seperti ini,
terjun ke lautan api sekalipun akan kulakukan
bagi toaso dan toako.”
“Apa tidak ada perbedaan antara toako dan
toaso dalam pandanganmu?” tanya Giok-he.
Kembali Lamkiong Peng melenggong bingung.
Didengarnya Giok he berucap pula, “Asalkan
pandanganmu terhadap toako dan toaso tidak ada
perbedaan, maka senanglah hatiku.”
Tiba-tiba ia menjulurkan sebelah tangannya dan
berkata pula, “Untuk memastikan apa yang
kaukatakan barusan ini, sudilah kaujabat tangan
toaso.”
Sekilas pandang Lamkiong Peng merasa tangan
orang yang putih bersh itu emnimbulkan rasa waswas
yang sukar diceritakan.
“Kenapa, apakah tangan Toaso kotor?” kata Giok
he melihat anak muda itu ragu-ragu.
Pelahan Lamkiong Peng mengangsurkan
tangannya untuk menjabat tangan Giokhe, baru
saja ia hendak menarik kembali tangannya,
mendadak genggaman Giok-he mengerat, hawa
hangat harum tersalur dari telapak tangan ke
lubuk hatinya.
“Gote,” terdengar Giok-he berucap dengan
lembut, “hendaknya jangan melupakan malam
ini………….”
Tergetar hati Lamkiong Peng, sebelum selesai
ucapan orang segera ia menarik tangan dan berlari
pergi.
Gemerdep sinar mata Giokhe memandang
bayangan anak muda yang menghilang dalam
kegelapan itu, tersembul senyuman aneh pada
ujung bibirnya.
Tiba-tiba dari kegelapan muncul lagi sesosok
bayangan dan melayang capat ke arah Giokhe serta
memegang tangannya, “Jangan melupakan malam
ini apa?”
Setelah merandek, segera ia membentak pula,
“Barang apa yang kaupegang ini?”
Suaranya mengandung rasa gusar dan cemburu,
tidak perlu ditanya lagi jelas orang ini ialah Ciok
Tim.
Dengan ketus Giokhe mengipatkan tangannya
dan mendengus, “Hm, kau ini apaku? Kau ingin
memerintahku?”
Berubah juga air muka Ciok Tim,
Kau…..kau……….Ai, terhadap
Toako……….aku……….”
Sambil mendengus Giok membuka telapak
tangannya dan berkata, “Kemala ini pemberian
Gote padaku, dengan kepingan kemala ini, dalam
sehari saja bila perlu dapat kutarik berpuluh laksa
tahil perak, apakah kaupun dapat menyediakan?”
Ciok Tim tercenagang, rasa gusar membuat air
mukanya berubah menjadi malu, ia meremas
tangan sendiri dengan pedih, mendadak ia
membentak dan mencengkram pundak Giok-he
dengan keras scakan-akan ingin merobek
tubuhnya yang bemas itu, seolah-olah ingin
mengorek hatinya yang dingin itu.
Berubah juga air muka Giok-he, jari tangan
kanan terjulur dan bermaksud menutuk iga anak
muda itu, tapi baru menyentuh bajunya, nafsu
membunuhnya mendadak berubah lunak, tiba-tiba
ia tertawa menggiurkan, “Eh, ada apa kau?
Lepaskan, aku kesakitan!”
Suaranya menggetarkan kalbu membuat tangan
Ciok Tim agak gemetar, akhirnya ia menghela
nafas panjang, melepaskan tangan dan menunduk.
Pelahan Giok he memijat pundak sendiri dan
berkata, “Oo, sakit sekali cengkraman mu, lekas
urut bagiku.”
Tanpa terasa Ciok Tim menjulurkan tangannya
dan meraba bagian yang dimaksud. Giok he
memejamkan mata seperti menikmati, rabaan anak
muda itu.
Jari Ciok Tim tambah beraksi dengan cepat dan
mulai menurun ke bawah…….sorot matanya
memancarkan cahaya kerakusan seperti binatang
liar yang kelaparan………
Pelahan tubuh Giok he menggeliat, ia berucap
seperti orang mengigau, “Sungguh bodoh kau,
memang kaukira aku ada berbuat apa terhadap Longo?
Hm, aku kan Cuma……..Cuma ingin
memperalat dia saja…….Oo, kau mau apa?”
Mendadak ia berteriak sambil memberosot lepas
dari pegangan Ciok Tim.
Keruan anak muda itu melenggong, serupa
kucing liar yang sedang berahi mendadak disiram
air dingin.
Giok he memandangnya dengan senang, ia tahu
anak muda ini seluruhnya telah jatuh dalam
cengkramannya, sudah masuk dalam perangkap
yang diaturnya, telah menjadi budaknya.
Dengan lembut ia lantas berkata, “Adik Tim,
etntunya kau tahu betapa hatiku terhadapmu
asalkan kauturut apa yang telah kuatur, segala
hasil usahaku kelak adalah milikmu. Cuma
kaupun perlu tahu, meski kusuka padamu, namun
banyak urusan yang tdiak adapat kutinggalkan
hanya lantaran dirimu. Banyak persoalan dunia
persilatan yang tidak kaupahami, demi hari depan
kita, mau tidak mau harus kukerjakan hal-hal
yang sukar kaubayangkan, untuk ini hendaknya
kaumaklum.”
Dengan bimbang Ciok Tim mengangguk.
Maka Giok he menyambung lagi, “Maka apapun
tindakanku selanjutnya jangan kau ganggu. Jika
kau terima permintaanku ini selamanya tentu
kaudapat berada bersamaku, kalau tidak…….”
sampai disini ia tidak meneruskan lagi melainkan
terus membalik tubuh dan melangkah ke sana.
Ciok Tim berdiri melongo di tempatnya,, ia
merasa pedih dan juga mendongkol, sungguh ia
tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Pada saat itulah Giok-he berpaling dan berseru,
“He, untuk apa berdiri di situ? Ayolah kemari……..”
Tanpa terasa Ciok Tim ikut melangkah ke sana,
dalam kegelapan terdengar pula suara tertawa
yang menggiurkan……..
Kegelapan memang telah banyak
menyembunyikan berbagai rahasia dan dosa
manusia sehingga dunia ini kelihatan terlebih
indah.
Dalam pandangan Lamkiong Peng saat itu,
dunia ini menag kelihatan indah dan penuh
harapan.
Ia merasa dunia ini ada orang jahat, tapi orang
baik terlebih banyak lagi. Hasratnya ingin lekas
menolong sahabatnya memebutanya lupa letih dan
lapar. Dengan penuh semangat ia berlari dalam
kegelapan malam.
Dengan hati-hati ia telah menyimpan pil merah
itu dalam sebuah kantung sutera kecil, kantung
yang serupa dompet itu adalah pintalan sang ibu
sebelum dia meninggalkan rumah. Pada waktu
kesepian ia suka meraba kantung sutera itu. Dia
seorang kastria muda, dia tidak pemah melupakan
kasih ibunda.
Ia berlari dengan cepat, tidak lama ia sudah
berada di luar kota Se-an, suasana sunyi senyap,
ia coba memeriksa keadaan sekeliling, akan tetapi
tidak terlihat bayangan Bwe kiam soat.
IA menjadi kuatir, “Apakah dia sudah pergi?”
Ia coba memanggil, “Nona Bwe……nona Bwe …”
Namun suasana tetap sunyi senyap, dimanapun
Bwe kiam soat berbunyi seharusnya mendengar
suaranya.
Nafas Lamkiong Peng terasa sesak, pikirnya,
“Kenapa tidak menunggu disini? Kenapa dia ingkar
janji? Tik Yang keracunan, apakah juga dibawanya
pergi, kan obat penawar yang kubawa ini menjadi
sia-sia………”
Ia menghela nafas dan tidak ingin berpikir lagi,
ia melangkah ke sana dengan limbung. Awan
tersimak, cahaya bulan menembus langsung
menyinari sesosok bayangan manusia di balik
semak sana, terlihat mukanya, siapa lagi dia kalau
bukan Bwe kiam soat.
Dengan girang Lamkiong Peng berseru, “Hei
nona Bwe, kiranya engkau berada disini!”
Selagi dia hendak memburu kesana, dilihatnya
muka Bwe kiam soat yang pucat itu kaku dingin,
melenggong seperti orang linglung, sorot matanya
buram, air mukanya kaku tanpa memperlihatkan
sesuatu perasaan, serupa orang yang hiat-tonya
tertutuk, seperti juga orang yang tersihir.
Tergetar hati Lamkiong Peng , ia tahu pasti
terjadi sesuatu. Cepat ia memburu maju sambil
menegur dengan suara gemetar, “Kenapa…….”
Belum lanjut ucapannya, dilihatnya mata Bwe
kiam soat melirik ke samping depan sana tanpa
bersuara.
Tanpa terasa Lamkiong Peng ikut memandang ke
sana, di bawah pohon duduk sesosok bayangan
orang lagi, duduk kaku tanpa bergerak seperti
patung, hanya sinar matanya kelihatan gemerdep
dalam kegelapan.
Waktu diperhatikan, kembali hati Lamkiong
Peng berdebar, tanpa terasa ia berseru, “Hei, nona
Yap, kenapa engkau pun berada disini?!”
Sungguh tak terpikir olehnya bahwa bayangan
yang duduk di bawah pohon itu adalah murid Tanhong
Yap jiu-pek, Yap man-jing yang cantik dan
juga pongah itu.
Siapa tahu, meski mendengar seruannya,
namun Yap manjing tetap diam saja, seperti tidak
mendengar dan juga tidak melihat, ia msih duduk
di tempatnya.
Tentu saja Lamkiong Peng terheran-heran, ia
menaruh Cin tong-lai di tanah, lalu dihampirinya
nona yang jelita dan seperti linglung itu.
“Nona Yap,” tegurnya sesudah dekat, “Apakah
terjadi sesuatu disini?”
Terlihat senyuman Yap manjing yang hambar,
namun tetap duduk saja tanpa menjawab.
Mengamat-amati lebih teliti, dilihatnya si nona
tetap memakai baju hijau, mata alisnya tetap
menampilkan sikap angkuh, sama sekali tidak ada
tanda hit-to tertutuk dan sebagainya.
Lamkiong Peng tambah heran, ia coba mendekati
Bwe kiam soat, dilihatnya Kiam soat melototinya
sekejap, seperti tidak senang dia memperhatikan
orang lain
“Sesungguhnya apa yang terjadi?” tanya
Lamkiong Peng dengan gelisah.
Namun Bwe kiam soat juga tidak bergerak dan
juga tidak menjawab, seperti orang bisu dan tuli.
“Bagaimana dengan Tik Yang ? Dimana dia!”
serunya pula kuatir sambil memandang kian
kemari.
Bwe kiam soat Cuma memandang Yap man-jing
tanpa berkedip, sebaliknya Yap manjing juga
menatap Bwe kiam soat, kedua nona itu sama
sekali tidak memandang lagi kepada Lamkiong
Peng, seperti dia tidak hadir di situ.
Seketika Lamkiong Peng celingukan kian kemari
dengan bingung.
Sekilas pandang mendadak dilihatnya di semak
rumput sana merayap keluar seekor ular hijau
sepanjang satu kaki, dengan cepat ular itu
merayap ke samping dengkul Yap manjing.
Meski sorot mata Yap manjing menampilkan
rasa ngeri, namun tubuhnya tetap tidak bergerak
sama sekali.
Biasanya di tengah semak rumput memang
banyak ular berbisa.
Tentu saja Lamkiong Peng kuatir, cepat ia
melompat maju, sekali raih ekor ular itu segera
dipegangnya.
Ular itu lantas melingkar ke atas, lidah ular yang
merah terjulur, secepat kilat hendak memagut urat
nadi Lamkiong Peng.
Meski mahir ilmu silat, namun Lamkiong Peng
sama sekali asing terhadap ular. Ia terkejut dan
membuang ulat itu kebelakang, tapi ketika ia
berpaling mengikuti temapt jatuhnya ular, kembali
ia terkejut, sebab ular itu dengan tepat terlempar
ke atas tubuh Bwe kiam soat.
Lekas Lamkiong Peng memburu lagi ke sana.
Ular itu pun seperti terkejut, hanya sejenak
berhenti di atas tubuh Bwe kiam soat, lalu
merayap ke bagian lehernya.
Air muka Bwe kiam soat tampak pucat
ketakutan, kulit dagingnya merinding dan
berkerut-kerut, dengan cemas ia memandang lidah
ular yang sebentar-bentar terjulur itu, butiran
keringat dingin merembes keluar di dahinya,
namun tubuhnya tetap tidak bergeming.
Orang perempuan pada umumnya takut kepada
tikus dan ular, betapa tabah hati seorang
perempuan juga akan menjerit kelabakan bila
melihat mahluk melata tersebut, apalgi sekarang
tubuh Bwe kiam soat dirayapi ular, betapa
cemasnya sukar dilukiskan.
Ketika Lamkiong Peng memburu tiba, segera ia
hendak mencengkram kepala ular. Karena
pengalaman tadi, ia pikir sekali pencet akan
membinasakan binatang melatah ini.
Tak terduga belum lagi tangannya bergerak,
tiba-tiba seorang membentak di belakangnya,
“Jangan!”
Dengan terkejut Lamkiong Peng menoleh,
dilihatnya Ban tat berlari datang dari kejauhan
sana, dengan nafas tersengal ia menatap ular hijau
itu dengan was-was, berbareng ia menarik
Lamkiong Peng mundur ke belakangnya.
Dengan heran Lamkiong Peng bertanya,
“Apa………..”
Pelahan Ban tat memberi tanda supaya jangan
bicara, lalu ia melangkah maju dengan prihatin
serupa seorang jago dunia persilatan menghadapi
lawan yang paling tangguh.
Melihat ketegangan orang tua ini, Lamkiong Peng
tahu ular hiaju ini pasti bukan sembarangan ular
berbisa bilamana cengkramannya tadi tidak
berhasil sekali pegang, buka mustahil jiwa Bwe
kiam soat melayang.
Suasana berubah sunyi mencekam, jantung
sama berdebar.
Tubuh ular hijau yang jelek dan bersisik itu
sudah mulai merayapi pundak Bwe kiam soat
dengan lidahnya yang mersah menjulur dan
hampir menjilat wajah Bwe kiam soat yang pucat.
Sampai Yap manjing yang duduk di seberangnya
juga menampilkan rasa kuatir dan ngeri.
Langkah Bantat sangat pelahan dan sangat hatihati.
Lamkiong Peng mengepal tinju dengan
menahan nafas, butiran keringat mengucur dari
dahinya.
Mendadak terlihat lidah ular berkelebat lagi.
Secepat kilat Ban Tat turun tangan dengan tiga jari
ia cengkeram leher ular, beberapa senti dibawah
kepala, menyusul dibantingnya dengan keras ke
tanah, kontan ular itu mati kaku dan tidak
berkutik lagi.
Gerak tangannya cepat lagi jitu, baru sekarang
Lamkiong menghela napas lega. Selagi dia hendak
mengucapkan terima kasih, dilihatnya Ban Tat
masih prihatin, mendadak ia melolos sebilah belati
tajam, sekali injak dengan kaki kiri, kontan tubuh
ular itu dipotongnya.
“Gret” menyusul belati itu lantas ditancapnya
diatas kepala ular, darah segar pun munerat
menyebabkan menyebarkan bau anyir busuk.
Sampai disini baru Ban Tat menarik napas lega,
tampa terasa juga Lamikiong Peng mengusap
keringatnya. Namun Bwe Kim Soat dan Yap Manjing
masih tetap duduk kaku di tempatnya.
Kejadian yang mendebarkan tadi scakan – akan
terjadi atas diri mereka.
“Sungguh berbahaya….” guman Ban Tat.
Sebenarnya apa yang terjadi ini? tanya Lamkiong
Peng. “Ular ini tidak terdapat di daerah Tionggoan,
tapi jenis ular paling berbisa yang cuma terdapat di
daerah gurun. Bisa ular ini sangat jahat, sekali
tergigit dalam sekejap korbannya akan mati sesak
napas. Sungguh tak terduga ular semacam ini bisa
muncul disini.”
Diam – diam Lamkiong Peng bersyukur terhindar
dari maut, untung kedatangan penolong yang ahli,
kalau tidak urusan ini bisa runyam. “Yang
kutanyakan bukan Cuma sola ular, tapi mereka….
sesungguhnya apa yang terjadi?” Katanya pula
menunding Bwe dan Yap berdua. “Kenapa mereka
begitu? Dan kemana perginya Tik-heng?”
Ban Tat mengeluarkan sepotong kain putih,
dengan hati – hati ia membungkus tangkai belati
lalu menggali sebuah liang disamping bangkai ular,
katanya dengan gegetun. “Aku dan nona Bwe
menunggumu disini, lambat laun fajarpun
menyingsing, sedangkan kedaan sahabat She Tik
itu semakin parah dan menguatirkan, berulang dia
mengigau, tubuh pun mengejang. Mestinya nona
Bwe hendak menutuk hiat – to untuk mengurangi
penderitaannya, tapi kuatir racun sudah masuk
darahnya, bila hiat-to ditutuk bisa jadi racun akan
mengumpul dan tidak dapat mengalir, hal ini tentu
akan tambah bahaya.”
Ia berhenti sejenak sambil melirik Bwe Kim-soat
sekejap, lalu bertutur pula, “Waktu itu mestinya
ingin kucari suatu tempat yang sejuk untuk
bersembunyi dan menunggu kepulanganmu, tapi
nona Bwe menolak, ia bilang sudah berjanji
menunggumu disini, biarpun langit ambruk dan
bumi ambles juga tetap akan menunggumu disini.”
Terharu sekali hati Lamkiong Peng, tampa terasa
ia memandang Bwe Kim-soat sekejap, kebetulan
Kim-soat juga lagi melirik ke arahnya. Bentrokan
pandangan ini membuat jantung anak muda itu
berdebur.
“Kemudian lantas bagaimana? “ tanyanya
kepada Ban-tat.
Menjelang magrib, kupergi mencari makanan
dan air minum, siapa tahu sedikitpun nona Bwe
tidak mau makan, dia Cuma minum dua ceguk air
dingin sambil memandang ke arah kepergianmu
dengan cemas. Meski dia tidak omong juga dapat
kuselami betapa rasa kuatirnya bagimu. Setelah
hari gelap ingin kucari lagi kayu bakar untuk
membuat api unggun…..”
Kembali ia merandek sambil memandang Ke
arah Yap manjing, sambungnya, “pada saat itulah
nona Yap ini mendengar suara igauan Tik yang dan
mencari ke arah suara sini…” mendadak ia
memandang kian kemari sambil menahan
suaranya, “kedatangan nona Yap ini seprti juga
lantaran dirimu, sekali dia melihat nona Bwe,
seketika air mukanya berubah dan bertanya,
“Apakah Lamkiong Peng juga
terluka?………Agaknya dia dapat menerka siapa
nona Bwe, juga orang yang berada bersama nona
Bwe pasti dirimu.”
Diam-diam Lamkiong Peng menghela nafas,
entah merasa hangat atau bingung, sedapatnya ia
menahan kcinginannya memandang Yap manjing,
akan tetapi toh tidak tahan dan akhirnya melirik
juga sekejap, kembali keduanya beradu pandang.
Jantung Lamkiong Peng berdebur lagi, cepat ia
tanya Ban Tat, “Dan kemudian bagaimana?”
“Kemudian…….” Bantat berdehem dulu, lalu
menyambung, “Kemudian nona Bwe menjengek
dan menegur siapakah nona Yap? Dan…dan
keduanya lantas terlibat dalam pertengkaran……..”
Agaknya ia sungkan menceritakan pertengkaran
kedua nona yang berpangkal atas diri Lamkiong
Peng itu, ia cuma berkata, “pembicaraan kedua
nona itu tentu saja tidak dapat ku ikut campur,
namun akhirnya kudengar…..kudengar nona Bwe
berkata, “Ya usiaku sudah 40-an, dengna
sendirinya memenuhi syarat untuk menjadi
angkatan yang lebih tua, maka sekarang hendak
kuberi hajaran kepada kaum muda yang tidak
sopan seperti kau ini.”
Kening Lamkiong Peng bekernyit, pikirnya,” Jika
demikian, jelas Yap Manjing telah menyebut nona
Bwe sebagai Locianpwe, mengapa dia menganggap
nona Yap tidak sopan?”
Betapa pintarnya Lamkiong Peng tetap tidak
dapt memahami perasaaan anak perempuan. Ia
tidak tahu bahwa Yap manjing sengaja menyebut
usia Bwe kiam soat untuk mengingatkan dia hanya
sesuai menjadi ‘Locianpwe’, atau kaum tua
Lamkiong Peng, artinya tidak cocok untuk menjadi
pacarnya. Dengan sendirinya hal ini membuat Bwe
kiam soat menjadi marah.
Didengarnya Ban tat berkata pula, “maka nona
Yap lantas marah jugga, pada waktu itu Tik Yang
lagi meronta-ronta, kudekati dia untuk
merawatnya. Ketika keadaannya agak baikan,
kudengar kedua nona ribut mulut lagi, akhirnya
nona Yap menjengek, “Hm, orang kangouw sama
menyebut dirimu sebagi Leng hiat-huicu, tentu
karena tabiatmu yang dingin dan tenang. Maka
sekarang juga boleh kita beradu kesabaran
berduduk semedi, tidak peduli menghadapi
kejadian apapun dilarang bergerak, barangsiapa
bergerak lebih dulu dianggap kalah.”
Etrgerak hati Lamkiong Peng , pikirnya nona Yap
ini sungguh pintar, dia hidup bersama Yap jiu-pek
di puncak Hoa-san yang dingin dan sepi itu selama
berpuluh tahun, dalam hal duduk menyepi dengan
sabar, tentu jauh lebih tahan daripada orang lain.”
Berpikir demikan, tanpa terasa ia memandang
Bwe kiam soat sekejap, lalu bertanya pelahan,
“Dan dia menerima tantangan itu?”
“Masa dia menolak?” ujar Ban tat.
Tapi segera teringat oleh Lamkiong Peng , Bwe
kiam soat pemah tersekap belasan tahuan di dalam
peti mati yang sempit dan gelap itu, penderitaaan
selama itu memerlukan kesabaran yang tak
terhingga untuk mengatasinya, jika urusan duduk
diam saja pasti tidak menajdi soal baginya.
Berpikir demikian, tanpa terasa ia menyapu
pandang sekejap kepada Bwe kiam saot dan Yap
manjing berdua, ia pikir, pengalaman dan watak
kedua orang perempuan ini memang lain daripada
yang lain, tampaknya dalam waktu singkat mereka
pasti sanggup bertahan untuk tidak bergerak sama
sekali.
Melihat perubahan air muka Lamkiong Peng
yangs sebentar kuatir dan sebentar girang, lain
saat kagum, segera merasa sedih lagi, tentu saja
Ban tat juga terheran-heran.
“Pertandingan mereka ini entah akan berakhir
kapan,” gumam Lamkiong Peng dengan gegetun.
Mendadak ia bertanya, “Dan kemana perginya Tikheng?”
“Racun yang digunakan Yim hong-peng memang
sangat lihai, selain bisa membunuh, juga dapat
membuat pikiran sehat orang terbius. Sahabat she
Tik itu selama seharian tampak seperti orang
sinting, pada waktu malam bahkan kumat gilanya,
aku harus mengawasi keadaan nona Bwe, juga
perlu menjaga dia, memangnya kau susah
kerepotan, kedatangn nona Yap segera pula
menantang bertanding lagi kepada nona Bwe,
selagi aku agak meleng, sahabat she Tik itu terus
melepaskan peganganku dan berlari secepat
terbang ke tempat gelap.
“Dan tidak kalian susul?” tanya Lamkiong Peng
kuatir.
“Nona Bwe dan nona Yap waktu sudah mulai
bertanding berduduk dan tidak dapat bergerak lagi,
dengan sendirinya tak dapat menyusulnya, “ tutur
Ban tat.
“Dan kau sendiri?” tanya Lamkiong Peng .
“Aku sendiri segera mengejarnya, ujar Ban Tat
dengan gegetun, “Siapa tahu, meski sahabat Tik itu
keracunan, tapi ginkangnya tetap sangat
mengejutkan, meski sudah kusul dengan sekuat
tenaga, namu tidak seberapa lama aku kehilangan
jejaknya dalam kegelapan.”
“Dan karena tidak dapat kau susul dia, lantas
kembali lagi kesini?” tanay Lamkiong Peng dengan
mendongkol.
“Ya, aku memang tidak berdaya, setiba
kembaliku kesini, kebetulan kulihat ular hijau
tadi,” tutur Ban Tat dengan menyesal.
“Dia lari ke arah mana?”
Ban Tat menuding ke arah barat.
“Coba bawaku kesana,” seru Lamkiong Peng
sambil menarik tangan Ban Tat dan diajak berlari
pergi.
Tanpa kuasa Ban Tat terseret lari secepat
terbang, diam-diam ia mebtin, “Berpisah belum ada
setahun, tak tersangka kungfunya sudah maju
secepat ini……….”
**********
Malam semakin sunyi, Bwe kiam soat dan
Yapmanjing hanya sempat melirik ke arah
menghilangnya bayangan Lamkiong Peng di
kegelapan sana, segera mereka memusatkan
perhatian dan saling tatap pula.
Meski diluar kedua orang kelihatan tenang, tapi
dalam hati sama bergejolak.
Angin meniup dingin, tanah kosong di tengah
kedua orang yang duduk saling pandang itu
menggeletak Cian Tong-lai yang sejak tadi tak
sadarkan diri. Mendadak anak muda ini mulai
bergeliat dan membalik tubuh miring ke samping.
Bwe kiam soat dan Yap manjing sama tidak tahu
siapakah pemuda berbaju perlente ini. Apakah
orang ini sakit atau terluka. Apakah musuh
Lamkiong Peng atau sahabatnya.
Tertampak anak muda itu membalik dua tiga
kali, mendadak melompat bangun serupa seekor
kelinci yang terkejut terkena panah, dengan
tercengang ia kucek-kucek matanya, lalu
memandang Bwe kiam soat dan Yap Manjing
dengan terbelalak.
“He, tempat apakah ini? Kenapa aku berada di
sini?” tanyanya bingung.
Bahwa setelah siuman, mendadak diketahui
dirinya berada di tempat sepi dan disampingnya
berduduk dua peermpuan maha cantik tanpa
bergerak, betapa tabahnya tidak urung juga rada
sangsi dan ngeri.
Setelah tercengang sejenak, mendadak ia
berpaling, “Giok-ji…..Tanji……..”
Lalu ia mneghadapi lagi ke arah Bwe dan Yap
berdua, bentaknya, “Sesungguhnya tempat apakah
ini? Mengapa aku sampai di sini?”
Namun kedua perempuan maha cantik ini tetap
tidak bergerak sedikitpun, bahkan meliriknya pun
tidak.
Timbul juga rasa ngeri Cian tong-lai, pikirnya,
“Jangan-jangan aku ketemukan setan? Kalau
tidak, mengapa tanpa sebab dari Boh-liong-ceng
aku bisa berada di sini?”
Mendadak ia melayang pergi secepat terbang.
Hati Bwe kiam soat dan Yap berdua sama
tergetar, diam-diam mereka memuji kehebatan
ginkang anak muda itu. Mereka pun geli teringat
kepada kelakuan Cian Tong-lai yang bingung tadi.
Siapa tahu, sejenak kemudian, mendadak
terdengar suara orang berdehem, pemuda berbaju
perlente muncul kembali, dengan langkah santai ia
mendekati kedua peermpuan cantik itu, lebih dulu
ia mengamat-amati Bwe kiam soat beberapa kejap,
lalu mengawasi Yap Manjing dengan cermat,
kemudian menuju ke samping Kim soat serta
mendekatkan kepalanya ke muka orang dan
menegur, “He, he, kau dengar ucapanku tidak?”
Tapi Bwe kiam soat tetap diam saja, tidak
bergerak, juga tidak berkedip.
Cian Tong-lai menggeleng kepala, ia coba
mendekati Yap manjing dan berjongkok di
sampingnya serta menegur, “He…..he…..”
Namun Yap manjing
Juga diam saja tanpa bergeming, malahan sorot
mata mereka tampak menampilkan rasa gusar atas
tingkah lakunya yang kasar itu.
Mendadak Cian tong-lai membentak, “Hai…”
Bentakan ini keras luar biasa scakan-akan genta
yang dibunyikan di tepi telinga, hati Bwe dan Yap
tergetar, betapapun tenangnya mereka tidak urung
berkedip juga.
“Haha, kiranya kalian bukan orang tuli,” seru
Cian tong-lai dengan tertawa. “Semula kusangka
kalian orang bisu tuli, eh kiranya kalian juga
dengar suaraku. Padahal kalian masih muda jelita,
jika benar bisu-tuli kan sayang!”
Mendadak ia berhenti tertawa dan menarik
muka, jengeknya, “Hm, jika kalian buka orang
bisu-tuli, kenapa kalian tidak menggubris
pertanyaanku tadi? Apakah kalian menghina
diriku?
Bwe dan Yap merasa selain kungfu anak muda
ini sangat tinggi, orangnya juga cakap, Cuma tutur
katannya yang kelewat congkak dan menjemukan,
namun meski hati mendongkol mereka tetap tidak
bergerak.
Cian tong-lai bersimpuh tangan dan berjalan
mondar-mandir, dipandangnya Bwe kiam soat, lalu
memandang Yap manjing lagi, sejenak kemudian
kembali ia menengadah dan bergelak tertawa,
“Hahaha, bagus, tahulah aku! Mungkin thian
kasihan padaku karan kesepian, maka sengaja
memberikan dua teman jelita kepadaku.”
“Betul tidak?” demikian ia pandang Kiam soat
dan bertanya, lalu berpaling dan tanya Yap
manjing pula, “Betul tidak?”
Lalu ia terbahak-bahak dan menambahkan pula,
“Aha, rasanya memang betul begitu, bukankah
kalian telah mengaku secara diam-diam?!”
Sedapatnya Bwe kiam soat emnahan rasa gusar,
dia berharap Yap manjing tidak tahan oelh godaan
anak muda itu dan mendahului bergerak, dengan
begitu di akan segera melompat bangun untuk
memberi hajaran setimpal kepada pemuda
sombong dan bangor ini.
Sebaliknya Yap manjing juga tetap diam saja, ia
pun berharap Bwe kiam soat bergeral lebih dahulu.
Jadinya kedua orang tetap saling pandang, dada
serasa mau meledak saking gemasnya, namun
tetap tidak ada yang bergerak lebih dulu.
Mendadak Cian tong-lai menepuk dahi sendiri
dan berhenti tertawa,a lisnya bekernyit, ucapnya
dengan masgul, “O, thian, meski engkau
memperlakukanku dengan amat baik, tapi rasanya
juga keterlaluan. Kedua anak perempuan ini sama
cantiknya, lantas cara bagaimana harus kuambil
keputusan? Padahal aku cuma ada satu tubuh,
terpaksa mereka harus kujadikan istri tua dan istri
muda. Lantas siapakah di anatar mereka yang
berhak menjadi istri tua dan yang mana istri
muda?”
Dia sengaja berlagak seperti seorang yang
kebingungan, ia mendekati Yap manjing dan
meraba pipinya yang halus itu, katanya dengan
menyesal, “Ai, muda jelita seperti ini mana sampai
hati kujadikan dirimu sebagai istri muda?”
Lalu dengan lagak kasihan ia pun mendekati
Bwe kiam soat dan mencolek dagunya serta
berkata, “Dan ini kan juga tidak kalah cantiknya,
sungguh sayang bila disuruh antri dari belakang.”
Mata Bwe dan Yap serasa mau menyemburkan
api saking gusarnya. Tapi tiada seorang pun
memandang Cian tong-lai, keduanya tetap saling
pandang dengan melotot dengan harapan semoga
pihak lawan mau bergerak lebih dulu.
*************
Kembali tadi, Lamkiong peng yang cemas dan
gemas serta kuatir itu sedang berlari menyeret Ban
Tat, gerundelnya, “Kenapa dia begitu ceroboh dan
membiarkan Tik-heng pergi begitu saja. Padahal
dia tahu jelas Tik-heng keracunan parah dan
kupergi mencari obat penawar dengan
menyerempet bahaya. Ai jika………jika Tik heng
tidak dapat kutemukan, bukankah……..bukankah
berarti jiwanya melayang akibat perbuatan
mereka?”
Dia berlari semakin cepat dan gelisah.
“Lamkiong-kongeu,” kata Ban Tat. “Kedua nona
itu berduduk diam di sana, bukan………bukan
mustahil akan timbul bahaya.”
Lari Lamkiong-peng agak diperlambat ucapnya
dengan mendongkol, “Lantas bagaimana dengan
jiwa Tik-heng?”
“Ai, alangkah bahagianya setiap orang yang
dapat bersahabat denganmu,” ucap Ban Tat
dengan gegetun.
“Tik-heng keracunan lantaran membela diriku,
tapi sekarang…….ai, sungguh aku……..”
Lamkiong Peng tidak sanggup melanjutkan
karena sejauh itu bayangan Tik Yang tetap tidak
kelihatan.
Segera ia berteriak, “Tik-heng, Tik
yang…….dapatlah kaudengar suaraku?”
“Dia dalam keadaan tidak sadar, biarpun kau
panggil di telinganya juga tidak dipahaminya,” ujar
Ban Tat. “Apalagi dalam keadaan gelap begitu,
kemana akan kaucari dia? Meski dia keracunan
parah, tapi sudah kusalurkan tenaga mumiku
untuk memperkuat jantungnya, kukira dalam
sehari atau setengah hari saja takkan beralangan
bagi jiwanya. Akan lebih baik sekarang kita
kembali ke sana untuk membujuk kedua nonna itu
agar berhenti bertanding. Mereka Sebenarnya tidak
bermusuhan, bujukanmu mungkin akan diturut
mereka. Besok pagi setelah terang tanah barulah
kita berempat mencari sahabat she Tik itu.
Lamkiong Peng menjadi ragu dan mengendurkan
langkahnya, “Tapi………tapi……..”
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong
jauh dari belakang sana berkumandang suara
bentakan orang yang tersiar terbawa angin. Jelas
orang yang membentak itu memiliki tenaga dalam
yang kuat.
“Siapa itu?” Lamkiong Peng melengak dan saling
pandang dengan Ban tat.
Tanpa pikir lagi segera kedua orang berlari
kembali ke arah datangnya tadi. Tidak jauh mereka
berlari, kembali terdengar suara gelak tertawa
orang terbawa angin.
“Ternyata tidak salah dugaanmu, mereka
mengalami sesuatu,” kata Lamkiong Peng.
“Kedua nona itu sama menguasai kepandaian
tinggi, bila menghadapi kejadian di luar dugaan,
mustahil mereka tetap duduk diam saja hanya
untuk berebut kemanangan yang tidak ada artinya
itu?” ujar Ban Tat.
“Tapi watak kedua orang itu terkadang memang
sukar dimengerti………..”
Belum habis ucapan Lamkiong Peng,sekonyongkonyong
berkumandang lagi suara tertawa keras
orang.
“Biar kupergi dulu!” seru Lamkiong Peng
sambilmendahului berlari secepat terbang.
Hanya sekejap saja ia sudah lari sampai di
tempat duduk Bwe dan Yap berdua, dilihatnya
pemuda perlente Cian Tong-lai yang dibawanya
dari Boh-liong-ceng itu sekarang sudah berdiri di
depan Bwe kiam soat dan sedang membelai
rambutnya dengan tertawa dan berkata, “Ehm,
halus dan lemas benar rambutmu, selicin sutera
rasanya, sungguh beruntung aku………”
“Dari jauh segera Lamkiong Peng
membentak,”Berhenti, cian tong lai!”
Saat itu Cian tong-lai lagi tergiur, dirasakan
sorot mata kedua nona yang gusar itu semakin
menambah daya pikat mereka. Ia pikir bilamana
mereka benar benci kepadanya, mengapa mereka
tidak segera melabraknya, tapi tetap duduk diam
saja tanpa peduli mereka dicolek dan diraba.
Bentakan Lamkiong Peng membuatnya terkejut,
cepat ia berpaling, dilihatnya seorang pemuda tak
dikenal sedang memburu tiba dengan cepat. Ia
heran dan juga mendongkol, segera ia balas
membentak, “Siapa kau?” Dari mana kau kenal
namaku?”
Lamkiong Peng berhenti di depannya, dengan
sorot mata tajam ia menjawab, “Aku yang
membawamu ke sini dari Boh-liong-ceng, dengan
sendirinya kutahu namamu.”
Tentu saja Cian Tong-lai melenggak, “Engkau
yang memebawaku ke sini?………
“Ya, kau tidak sadar karena terbius, jika tidak
ditolong oleh Wiki, saat ini nasibmu pun sukar
diramalkan,” tutur Lamkiong Peng.
“Aku tak sadar……..terbius?………..Wiki yang
menolongku?…….” demikian Cian tong-lai
bergumam dengan terheran-heran.
“Ya, baru saja kau bebas dari bahaya, kenapa
lantas berlaku tidak senonoh terhadap kaum
wanita?” damprat Lamkiong Peng.
“E-eh, nanti dulu!” ujar Cian tong-lai sambil
menggoyangkan tangannya. “Urusan ini rada
membingungkan. Tampaknya kedua nona itu
seperti kenalanmu?”
“Memang betul,” jawab Lamkiong Peng.
“Haha, pantas kau kelihatan cemas begini,” ujar
Cian tong-lai dengan tertawa. “Cuma, jangan kau
kuatir. Biasanya aku pun tahu baik dan jelek. Kau
bilang telah membantuku, kau pun mengatakan
mereka adalah sahabatmu, maka bolehlah kita
bagi rata saja seorang dapat satu, urusan lain
boleh kita bicarakan nanti.”
Mendongkol hati Lamkiong Peng oleh ucapan
orang yang tidak pantas itu, dengan menggereget ia
mendamprat, “Kurang ajar! Sungguh tak tersangka
kau dapat bicara seperti ini. Tampaknya perlu
kuberi hajar adat padamu.”
Cian tong-lai mendelik, jengeknya,”Hajar adat
padaku? Haha, bagus…….”
“Bagus apa?” bentak Lamkiong Peng sambil
menampar muka orang.
Tamparannya ini tidak pakai jurus serangan
melainkan serupa orang tua menghajar anak nakal
saja.
Namun Cian Tong-lai menghadapinya dengan
tertawa, sikapnya pongah, tamparan orang
dianggapnya sepele, sekenanya ia hendak mengkis
sambil mengejek, “Hm, hanya begini saja…….”
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong
dirasakan tenaga tamparan orang sangat kuat,
tangan sendiri yang menagkis terasa kaku
kesemutan, tanpa kuasa ia tergetar mundur
beberapa tindak.
Sesuai dengan pesan si gelang terbang Wiki,
mestinya Lamkiong Peng tidak bermaksud melukai
Cian tong-lai, tapi sikap orang yang congkak dan
ucapannya yang menghina memnuatnya tidak
tahan. Sambil membentak segera ia menubruk
maju, sekaligus ia menghantam dua-tiga kali,
selalu mengincar beberapa hiat-to penting di
bagian iga lawan.
Meski lengan Cian tong-lai masih terasa kemeng,
namun gerakannya tidak kurang gesitnya, dengan
cepat ia mengindar dan balas menyerang beberapa
kali.
Keduannya sama terkesiap oleh ketangkasan
lawan dan tidak berani lagi saling meremehkan.
Dalam pada itu Ban Tat telahmemburu tiba, ia
pun terkejut melihat pertarunagn sengit kedua
orang itu. Apalagi dilihatnya air muka Bwe kiam
soat danYap manjing juga menunjuk rasa cemas,
mau-tak mau ia ikut prihatin.
Mendadak terdengar suitan Lamkiong Peng,
kedua tangan menghantam susul menyusul
dengan jurus ‘Ciam-liong-sing-thian’ atau naga
sembunyi melambung ke langit.
Diam-diam Ban Tat bergirang, ia pikir sekali
anak muda itu mengeluarkan jurus serangan
andalan perguruannya, kemenangan tentu tidak
perlu diragukan lagi.
Tak tersangka Bwe kiam soat dan Yap manjing
justru sama menjerit kuatir, berbareng mereka pun
menubruk maju.
Kiranya selama beberapa hari ini Lamkiong Peng
sudah terlampau letih, ia sudah kehabisan tenaga
sehingga gerak-geriknya mulai lamban, jurus
Ciam-liong-sing-thian itu dilancarkannya dengan
terpaksa, tujuannya hanya untuk gugur bersama
musuh.
Namun Bwe kiam soat dan Yap manjing yang
menyaksikan di samping jauh lebih jelas, mereka
tahu tenaga mumi Lamkiong Peng sudah habis,
dengan melancarkan serangan maut itu keadaan
anak muda itu justru lebih celaka daripada
selamatnya. Maka mereka terus menubruk maju
untuk membantu.
Cian tonng-lai mendengus sembari menggeser ke
samping, ketika Lamkiong Peng yang melambung
keatas itu mulai turun, segera ia pun bersuit dan
bermaksud melompat untuk menyongsong lawan.
Pada saat itulah tiba-tiba dari kanan-kiri
menubruk tiba dua sosok bayangn orang dengan
angin pukulan dasyat. Ia terkejut, cepat ia
berputar melepaskan diri dari gencetan itu.
Sementara Lamkiong Peng sudah melayang
turun, karen sasarannya keburu menggeser, cepat
gunakan gerakan ‘Sin-liong-hi-in’ atau naga sakti
memainkan awan, dengan berjumpalitan ia
tancapkan kakinya di tanah dengan enteng.
Sempat dilihatnya Bwe kiam soat dan yap
manjing sama meliriknya sekejap, habis itu mereka
terus menerjang lagi ke arah Cian tong-lai, dari
lirikan mereka itu jelas kelihatan perhatian mereka
terhadap keselamatan Lamkiong Peng.
Tergetar hati Lamkiong Peng. Ban Tat juga
gegetun dan diam-diam ikut merasa bahagia bagi
anak muda itu. Akan tetapi sebagai orang tua yang
sudah kenyang asam garam kehidupan, rasanya di
balik kebahagiaan itu seperti ada sesuatu yang
mengkuatirkan.
“Haha, tampaknya kedua nona benar-benar
ingin belajar kenal dengan kepandaianku, baiklah
kuperlihatkan sejurus dua jurus istimewa, supaya
kalian tahu siapa tahu diriku,” seru Cian tong-lai
dengan tertawa, akan tetapi ketika selesai
ucapannya, dia tidak sanggup tertawa lagi.
Mendadak Bwe kiam soat menutuk empat kali
ke beberapa hiat-to mematikan di tubuh Cian
Tong-lai, meski keempat hiat-to itu tersebar di
bagian yang berbeda, namun gerak serangan Bwe
kiam soat itu scakan-akan dilancarkan secara
serentak.
Terpaksa Cian tong-lai melompat mundur dan
tergencang oleh serangan maut lawan itu.
Tiba – tiba Bwe kim–soat tersenyum kepadaYap
man–jing dan berkata, “yap moaymoay, boleh kau
mundur saja, biar kulayani dia sendiri”
Akan tetapi alis Yap Man-jing seolah-olah
menegak tanpa bersuara ia pun menubruk maju
dan melancarkan beberapa kali serangan kilat
sehingga terpaksa Cian tong-lai melayani dengan
sama cepatnya.
“Haha, serngan bagus, kungfu lihai!” seru Bwe
kiam soat dengan tertawa, “Adik yang baik, bukan
maksudku bilang kepandaian mu renadah, Cuma,
untuk mengalahkan kungfu Tiau-thian-kiong dari
Kun-lun-san ini bagimu masih belum ukurannya,
maka lebih baik kauturut kepada ucapanku dan
mundur saja.”
Akan tetapi Yap manjing tetap tidak menjawab
melainkan melancarkan serangan terlebih cepat.
Diam-diam Cian tong-lai juga terkesiap oleh
serangan si nona di samping heran asal usulnya
dapat dikenali Bwe kiam soat.
“Adik yang baik, jika tidak mau kauturt
perkataanku, biarlah cici saja yang menyingkir?”
kata Kiam soat pula sembari menyurut mundur.
“He, apa maksudmu ini?” tanya Lamkiong Peng
dengan bingung.
“Dua mengeroyok satu kan tidak pantas, biarlah
dia mencoba sendiri, masa kau kuatir?” sahut
Kiam soat.
Air muka Lamkiong Peng tampak masam dan
tidak menghirukannya lagi, ia coba mengikuti
gerakan Cian Tong-lai yang aneh itu. Dilihatnya
Yap manjing sekarang berbalik telah terkurung di
bawah pukulannya yang lihai.
Namun Yap manjing masih dapat balas
menyerang dengan sama gesitnya, meski agak
terdesak dibawah angin, tapi belum ada tanda
akan kalah.
Dengan tertawa Bwe Kiam soat berolok pula,
“Wah rupanya Yap jiu pek memang mengajarkan
sejurus kungfu sakti kepada murid
kesayanagnnya, Cuma tak diduganya kungfu ini
tidak digunakannya untuk menghadapi murid Sinliong,
tapi murid Kun-lun-pai yang justru
dilabraknya.”
Lamkiong Peng mendengus saja. Sedang Ban Tat
lantas mendekatinya dan berkata, “Tampaknya
nona Yap tidak………”
“Meski dua mengerubut satu, terpaksa harus
kubantu dia,” kata Lamkiong Peng.
Tiba-tiba terdengar Bwe kiam soat berucap
dengan hampa, “Jangan kau kuatir, biar ku………”
Serentak ia melompat maju dan melancarkan
pukulan dasyat.
Terpaksa Cian tong-lai menarik serangannya
terhadap Yap manjing untuk melayani Bwe kiam
soat, dengan demikian Yap manjing jadi bebas
tekanan. IA menghela nafas dan menyingkir ke
pinggir kalangan.
Ban Tat merasa lega, ucapnya, “Pantas nama
Kongjiok Huicu termashur, ternyata benar…..”
Jelas dia sangat kagum terhadap kelihaian
kungfu Bwe kiam soat.
Setelah termenung sejenak memandang
bayangan Cian Tong-lai, Yap manjing menghela
nafas, lalu menunduk dan pelahan membalik
tubuh dan melangkah pergi.
“He nona Yap………..” seru Lamkiong Peng
sambil melompat ke samping gadis itu, “Masa
engkau hendak pergi?”
Manjing tetap menunduk, jawabnya pelahan,
“Ya, kupergi………”
“Tapi guruku……….”
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, mendaak
terdengar bentakan Bwe kiam soat, “Berhenti
dulu!”
Lamkiong Peng dan Yap manjing sama berpaling,
dilihatnya Cian tong-lai sedang menyerang, karena
bentakan Bwe kiam soat itu ia lantas menahan
serangan dan menegur, “Ada apa?”
Dengan lagak menggiurkan Bwe kiam soat
berucap dengan tersenyum,”Selamanya kita tidak
ada permusuhan apapun, untuk apa kita saling
labrak mati-matian?”
Cian tong-lai memandangnya dengan
tercengang, sahutnya kemudian dengan ragu, “Ya,
memangnya tiada permusuhan apa pun antara
kita, buat apa kita mengadu jiwa?”
“Malahan sebenarnya kita dapat saling tukar
kepandaian sejurus dua, dengan begitu siapa pula
tokoh kangouw jaman ini yang mampu menandingi
kita?” kata Kiam soat pula.
Cian tong-lai tertawa senang, “Benar, bilamana
kita saling mengajar sejurus dua, haha bagus
sekali……..”
“Tutup mulut!” bentak Lamkiong Peng
mendadak.
“Kau mau apa?” jengek Kiam soat dengan muka
dingin.
“Aku………….” Lamkiong Peng gelagapan.
“Jangan urus dia,” ucap Kiam soat kepada Cian
Tong-lai. Lalu ia pandang Lamkiong Peng dengan
tajam dan berkata pula, “Aku bukan sanak
kandungmu, urusanku tidak perlu kau turut
campur. Soal pesan tinggalan Liong po si juga tidak
ada sangkut pautnya denganku, boleh silahkan
kau bawa nona Yap itu untuk melaksanakan pesan
tinggalan gurumu.”
Seketika Lamkiong Peng berdiri terkesima.
Bwe kiam soat tersenyum kepada Cian tong-lai,
katanya, “mArilah kita pergi dan mencari tempat
bersantap, perutku lapar.”
Dengan tersenyum Cian tong-lai mengangguk,
serentak keduanya melayang kesana.
Cian tong lai sempatmenoleh dan berteriak
kepada Lamkiong Peng,”jika kau ingin bertanding
denganku, silahkan pulang berlatih lagi tiga tahun
dan boleh coba mencariku lagi.”
Habis berucap bayangannyya pun sudahh jauh,
hanya suara tertawa pongahnya berkumandang
dalam kegelapan.
Lamkiong Peng berdiri terpaku, suara tertawa
orang terasa menusuk perasaan, sambil mengepal
erat tinjunya, ia membatin, “Bwe Kiam soat, Bwe
leng hiat, sungguh memnag berdarah dingin….”
Menyaksikan kepregian Bwe kiam soatmendaak
Yap manjing mendengus, “Kenapa tidak kau susul
dia?”
Lamkiong Peng menghela nafas, jawabnya,
“Kenapa harus kususul dia?”
“Hm, dasar tidak punya perasaan,” jengek
manjing sambil melengos.
Tentu saja Lamkiong Peng melenggong pikirnya,
“Masa aku tidak berperasaan, dia bersikap begitu
padaku, masa aku yang tidak berperasaan?…….”
Tiba-tiba Manjing berpaling dan berkata
padanya, “Dia sangat baik padamu, masa engkau
tidak tahu dan tidak menghiraukannya?”
Lamkiong Peng tambah melenggak,
“Masa……….masa dia bermaksud baik padaku?”
“Jika dia tidak baik padamu, mana bisa dia
menaruh perhatian terhadap keselamatanmu.”
“Tapi….tapi dia………telah pergi bersama……….”
“Dia berbuat begitu justru lantaran cemburunya
ketika ada anak perempuan lain mencarimu, maka
dia……….” tiba-tiba Manjing menambahkan dengan
serius, “Ia tidak tahu maksudku mencarimu adalah
untuk memenuhi janjiku terhadap gurumu.”
Bingung juga Lamkiong Peng memikirkan
perasaan anak perempuan yang sukar dimengerti
itu. Katanya kemudian, “Meski nnona Bwe telah
pergi, hal itu disebabkan rasa gusar yang timbul
seketika, nantii dia pasti akan….” sampai disini,
mendadak dia teringat sesuatu, teriaknya,” Hei,
dimana Yap-siang-jiu-loh?”
“Yap-siang-jiu-loh apa?” tanya Ban Tat dengan
bingung.
“Yaitu pedang pusaka tinggalan guruku, senjata
itu tadi kutaruh di samping Tik Yang,” seru
Lamkiong Peng.
Ban Tat melenggong, “Tapi pada waktu Tik Yang
berlari pergi, tampaknya dia tidak membawa
sesuatu.”
“Ayo aku harus……..”
“Kau mau kemana?” tanya Manjing, “Apakah
engaku tidakingin membaca dulu surat wasiat
tinggalan gurumu?”
“O. Apakah surat wasiat guruku berada pada
nona? Tanya Lamkiong Peng.
Pelahan Manjing mengeluarkana sepucuk surat
sambil melirik sekejap, lalu surat disodorkannya.
Lamkiong Peng menerima surat itu dan
berkayta, “Tapi menurut perintah suhu, tiga hari
kemudian……….”
“Jika engkau tidak pulang ke ji-hau-san-ceng,
apa alangannya bila kau baca saja surat ini. Kalau
tiga urusan yang ditentukan oleh gurumu
memerlukan bantuanku, maka birlah kita lekas
menyelesaikannya, dengan begitu selekasnya aku
pun cepat melepaskan dari persoalanmu.”
Pelahan Lamkiong Peng membuka sampul surat,
tulisan tangan yang cukup dikenalnya segra
terpajang di depan mata.
Isi surat itu berbunyi :
Anak Peng,
Aku sudah tua dan mendahului pergi, Ji-hausan-
ceng buknlah tempat kediamanmu yang abadi,
perusahaan orang tuamu juga perlu pimpinan mu.
Kau lahir dari keluarga temama, bakatmu pun
tidak terbatas, hari depanmu sungguh gilang
gemilang dan tak terbatas.
Seorang lelaki sejati memerlukan pembantu
rumah tangga yang bijaksana, untuk ini perlu kau
dapatkan istri yang baik.
Nona Yap Manjing pintar lagi cerdas, dia gadis
pilihan yang cocok untuk mendampingi hidupmu,
inilah pesanku yang pertama.
Sayang sekali Liong-hui tidak punya keturunan,
karena itulah kuharap bila anakmu lebih dari satu,
hendaknya seorang kauberikan she Liong untuk
menyambung keturunan keluarga Liong.
Inilah pesanku yang kedua……..”
Membaca sampai disini, muka Lamkiong Peng
menjadi merah. Sungguh tak terduga olehnya
pesan tinggalan sang guru justru menyangkut
perjodohan dengan Yap manjing.
Ia membaca lagi”
Selain itu selama ini di dunia persilatan tersiar
berita misterius bahwa tempat suci dunia
persilatan bukanlah Siong-san Siau-lim-si juga
bukan Kun-lun atau Bu-tong-san melainkan
terletak di suatu istana dan suatu pulau. Pulau itu
bemama ‘Cu-sin’ (para dewa). Diaman letak
tempatnya sukar ditemukan. Konon Kun-Mo-To
adalah pulau kediaman manusia jahat dan keji di
dunia ini, sedangkan istana para dewata dihuni
oleh manusia bajik dan bijak. Akan tetapi jika tidak
menguasai ilmu silat maha tinggi, siapa pun sukar
memasuki istana dan pulau itu selangkah pun.
Tergetar juga hati Lamkiong Peng membaca
samapi disini, ia merasa urusan ini benar-benar
misterius dan penuh teka-teki.
Ia coba membaca lagi :
Pada waktu masih muda sudah kudengar ceruta
tentang istana dan pulau misterius ini. Akan tetapi
orang yang bereerita selalu memperingatkan
padaku agar selama hidup hanya boleh
meneruskan kisah ini satu kali dan kepada seorang
saja.
Selama hidupku telah berkelana menjelajahui
dunia, namun kedua tempat itu tetap tidak dapat
kutemukan. Sekarang ku pergi dan cerita ini
kusampaikan kepadamu dan Manjing, tentu saja
kalian tidak boleh sembarangan diceritakan lagi
kepada orang lain, hal ini perlu diperhatikan. Jika
kalian ada jodoh, mungkin sekali kalian akan
mampu menemukan kedua tempat misterius itu
untuk menyelesaikan cita-citaku yang belum
terlakasana.”
Sekaligus Lamkiong Peng membaca habis surat
ini, lalu ia memejamkan mata dalam benaknya
terbayang dua lukisan, yang satu istana megah
serupa kediaman malaikat dewata.
Tempat yang lain adalah sebuah pulau dengan
gunung di kejauhan diliputi kabut tebal, suasana
seram dan mengerikan dengan binatang buas dan
mahluk berbisa.
Melihat anak muda itu termangu-mangu dengan
air muka berubah tidak menetu, Yap Manjing pun
merasa heran, tegurnya, “Sudah selesai kau baca?”
Terkejut Lamkiong Peng dan tersadar dari
lamunannya, jawabnya sambil menyembunyikan
surat itu di punggung, “O, sudah habis kubaca.”
“Hm, memangnya kaukira aku ingin tahu isi
surat gurumu?” jengek Manjing. “Aku Cuma ingin
tanya, apakah ketiga pesan gurumu itu ada
sangkut pautnya dengan diriku?”
Lamkiong Peng berdehem pelahan, jawabnya
dengan tergagap, “O, Tentang ini…….ini………”
Dengan sendirinyua ia rikuh untuk menjelaskan
bahwa buka Cuma ada sangkut pautnya tapi
justru sangat berkepentingan.
Alis Manjing menegak, katanya pula, “Baiklah,
jika tidak ada sangkut pautnya denagn ku, biarlah
ku pergi saja.”
“Nona Yap…….”
“Ada apa lagi?”
“Ini….ini……….” Lamkiong Peng menjadi
bingung, meski sang guru memberi pesan, tapi
urusan ini mana bisa dilakukannya.
Dalam pada itu Yap manjiing telah melangkah
lewat disampingnya dan mendadak merampas
surat itu sambil mengomel, “Gurumu menyuruh
kau baca surat ini bersamaku, kenapa engkau
Cuma membaca sendiri, sebaiknya kulaksanakan
pesan beliau………”
Sembari bicara ia terus membaca isi surat itu,
seketika mukanya yang dingin itu berubah merah
sambil mendekap mulut dengan suara agak
gemetar, O, kau…….”
Lamkiong Peng juga serba salah dan tidak tahu
apa yang harus dilakukannya.
Tiba-tiba Manjing menjerit terus berlari ke
depan.
Tapi baru beberapa langkah, sekonyong-konyong
di tengah malam yang sunyi timbul suara yang
aneh, suara gemeresak serupa hutan bambu
tertiup angin, dari jauh mendekat.
Baik Lamkiong Peng maupun Yap manjing sama
terkejut, serentak si nona melompat kembali ke
samping Lamkiong Peng sambil bertanya,
“Ap……..apakah ini?”
Suara gemeresak itu sungguh sangat
mengerikan, Lamkiong Peng juga bingung dan coba
memandang ke arah Ban Tat. Orang tua itu
kelihatan pucat juga dan sedang menatap ke depan
denagn kedua tangan merogoh saku seperti hendak
mengambil sesuatu, jarang jago tua ini
memperlihatkan rasa prihatin seperti ini.
Lamkiong Peng sendiri juga terkesiap, namun ia
coba menghibur Manjing, “Tak apa-apa, jangan
kuatir…..”
Belum habis ucapannya, dai depan sudah
muncul sesosok bayangan orang yang berjalan
mundur ke belakang, agaknya didepannya terjadi
sesuatu yang mengerikan sehingga membuatnya
tidak berani membalik tubuh dan lari.
Suara gemersak itu semakin keras, sebaliknya
langkah mundur orang ini tambah lambat agaknya
kaki menjadi lemas saking ketakutan.
“Sahabat………” baru saja Lamkiong Peng
hendak menegur, sekonyong-konyong orang ini
menjerit kaget sambil membalik tubuh.
Maka tertampaklah wajahnya yang kurus
dengan sinar mata buram, kepala botak,
pakaiannya juga sangat aneh, serupa sebuah
karung dimasukkan pada tubuhnya begitu saja.
Lamkiong Peng melenggong, ia coba menegur
lagi, “Sahabat ini……….”
Mendadak orang berteriak pula terus
bersembuyi di belakangnya, mungkin saking
ngerinya sehingga tidak sanggup bersuara.
Waktu manjing memandang ke sana,
tertampaklah dari kegelapan membanjir keluar
berpuluh ular hijau berbisa. Kiranya suara
gemersak tadi berasal dari kawanan ular ini.
Tanpa terasa ia menjerit kaget dan menubruk ke
dalam rangkulan Lamkiong Peng.
Mendadak Ban Tat membentak, kedua tangan
bergerak, segera selapis kabut kuning bertebaran
dan jatuh lima enam kaki di depan mereka.
Suara gemersik tadi mulai mereda, tertampak di
belakang kawanan ular itu mengikut pula
serombongan pengemis denagn baju compang
camping dan rambut semerawut. Perawakan
kawanan pengemis ini juga tidak sama dengan
bemtuk yang aneh, namun wajah mereka sama
kelihatan kelam seram dan tahu-tahu muncul dari
kegelapan sana seperti sekawanan setan yang
membanjir keluar dari neraka.
Yap manjing merangkul Lamkiong Peng dengan
erat. Mendadak dirasakan tubuh anak muda itu
bergemetar. Tentu saja ia heran, sekilas lirik baru
diketahuinya orang botak aneh itu juga telah
merangkul pinggang Lamkiong Peng dari belakang,
karena dia gemetar ketakutan sehingga tubuh
Lamkiong Peng ketularan dan ikut berguncang.
Ular hijau yang berbentuk jelek dengan sinar
mata gemerdep itu sedang merayap di tanah becek
sana, tampaknya lambat, sebenarnya sangat cepat,
hanya seekejap saja kawanan ular sudah merayap
sampai di depan garis kuning yang ditebarkan oleh
Ban tat tadi.
Dengan was-was Ban Tat memandangi
kawanana ular yang merayap-rayap itu, ada yang
melingkar dan ada yang mendesis dengan
menjulurkan lidahnya yang merah, namun tiada
seekor pun yang berani mendekati garis kuning.
Sekilas pandang saja Lamkiong Peng dapat
menghitung kawanan pengemis ini terdiri dari
tujuh belas orang, semuanya berwajah
bengis,namun di mulut mereka justru sedang
memohon, “Kasihan Tuan, sudilah memberi sedikit
sedekah dari isi saku tuan.”
Suara minta-minta itu terus diulang, seorang
disusul yang lain dan terus menerus oleh ketujuh
belas mulut.
Tentu saja Lamkiong Peng heran dan bingung, ia
coba memandang si orang aneh botak tadi,
dilihatnya pakaiannya juga compang-camping,
jelas tidak membawa sesuatu benda berharga,
namun sebuah karung goni justru dirangkulnya
dengan erat, tampaknya karung itu pun kosong
tanpa sesuatu isi yang berharga untuk di minta.
Lamkiong Peng tidak mengerti apa yang terjadi
ini, tapi jiwa ksatria yang mengharuskan dia
membela keadilan dan membantu kaum lemah
membuatnya menaruh simapatik terhadap orang
tua yang rudin di belakangnya ini.
Sekonyong-konyong dilihatnya Ban Tat
menggeser kesana, agaknya hendak
menyembunyikan ekor ular yang dibunuhnya tadi
supaya tidak dilihat oleh kawanan pengemis aneh
itu.
Suara mendengus tadi sudah berhenti,
sebaliknya suara mohon kasihan bertambah ramai.
Jika tidak melihat wajah kawanan pengemis itu,
suara minta-minta mereka sungguh menimbulkan
rasa iba orang. Tapi wajah mereka yang seram
penuh nafsu membunuh itu membuat suara
minta-minta mereka terasa seram.
Mendadak Ban Tat membentak, “Apakah kawankawan
ini datang dari ‘nerakanya neraka’ di kawan
gwa?”
Suara minta-minta tadi serentak berhenti,
ketujuh belas pasang mata sama menatap Ban Tat.
Seorang pemgemis bertubuh jangkung dan
kurus kering, tapi mata bersinar tajam dengan
wajah pucat pasi pelahan melangkah maju,
langakhnya enteng mengambang, seperti setiap
saat bisa kabur tertiup angin. Baju compangcamping
yang dipakainya sangat longgar sehingga
menggembung tertiup angin.
Serupa badan halus saja ia melayang lewat garis
kuning itu, ia tersenyum seram terhadap Ban Tat,
lalu berucap, “Kau kenal padaku?”
Biarpun Ban tat sudah berpengalam luas,
menghadapi pengemis aneh ini timbul juga rasa
seramnya, jawabnya denagn suara agak gemetar,
“Apakah sahabat ini adalah Yu-leng-kun-kai
(kawanan pengemis badan halus) yang tersiar di
dunia kangouw itu?”
Pengemis aneh yang serupa badan halus ini
mendengus, “Betul, nerakanya neraka, pengemis
badan halus, setan jahat, arwah miskin, minta
sedekah denagn paksa…..Hehe, tampaknya belum
pemah kau masuk neraka, dari mana kau kenal
kawanan setan jahat seperti kami ini?”
Dia bicara seperti bertembang, lalu disusul
suara kawanan pengemis aneh yang menirukkan
tembangnya sehingga di dengar di tengah malam
gelap scakan- akan jeritan setan.
Tanpa terasa Ban Tat mnyurut mundur, katanya
pula, “Yu-leng-kun-kai, biasanya tidak mau minta
emas di bawah sribu tail atau perak kurang dari
selaksa tail, padahal kami tidak membawa sesuatu
benda berharga, jangan-jangan sahabat salah
alamat minta sedekah pada kami?”
Tergerak juga hati Lamkiong Peng, segera ia
teringat kepada asal usul kawanan pengemis aneh
ini, pikirnya, “Biasanya kawanan pengemis setan
kelaparan ini tidak pemah masuk ke pedalaman
sini, apakah mungkin kedatangan mereka ini
hanya karena menyusul seorang tua aneh yang
serupa pengemis ini?”
Terdengar pengemis jangkung tadi mendengus,
“Yang hendak kami cari tentu saja bukan dirimu,
memangnya sengaja kau cari gara-gara kepada
kawanan setan?”
Mendadak ia melompat ke depan Lamkiong Peng
dan menjengek pula,”Anak muda terlebih jangan
cari perkara kepada setan, juga jangan merintangi
jalan lalu setan, tentu kau tahu.”
“Anda ini Ih pangeu atau Song pangeu Song
cing?” jawab Lamkiong Peng denagn lantang dan
tenang, tidak kejut juga tidakjeri.
Gemerdep sinar mata pengemis jangkung ini, ia
tertawa ngekek, katanya, “Meski setan ganas Song
cing tidak hadir, kedatanganku Ih Hong si arwah
rudin tetap sanggup mengakhiri riwayat sesorang.
Jika kau tahu asal usul kawanan setan di sini,
apakh minta dilalap oleh kawanan setan?”
Serentak kawanan pengemis bersorak, “Lalap
saja, lalap saja!”
Sementara itu Yap manjing sudah menenangkan
diri, jengeknya, “Huh,main setan-setanan untuk
menkuti orang, sungguh konyol!”
Ih Hong menyeringai, “Hehe, nona manis 18-19
tahun berangkulan denagn pemuda di depan
umum dan berani pula usil mulut di neraka sana
juga tidak mau menerima setan perempuan yang
tidak tahu malu serupa dirimu.”
Muka Manjing menjadi merah, segera ia
membentak, “Keparat!”
Selagi ia hendak melancarkan pukulan,
mendadak Lamkiong Peng menrik lengan bajunya
dan mendesis, “SSt, tahan dulu!”
“Kawanan jembel ini berlagak setan segala dan
minta secara paksa, untuk apa banyak bicara
dengan mereka?” ujar Manjing dengan
mendongkol.
Tapi Lamkiong Peng bicara dengan serius,
“Sebagai pengemis, adalah jamak mereka mintaminta.
Orang kangouw umumnya suka pakai nama
atau julukan yang aneh, bahwa mereka menamai
diri sendiri sebagai setan juga bukan sesuatu
kejahatan. Orang tidak bermaksud jahat kepada
kita melainkan Cuma minta kita memberi jalan
padanya, mana boleh kita sembarangan
menyerangnya?”
Si arwah rudin Ih Hong mestinya akan
mendamprat demi mendengar komentar Lamkiong
Peng itu, ia tercengang. Baru sekarang sejak tampil
di dunia kangouw ada orang memberi penilaian
demikian padanya?”
Yap manjing juga tercengang dan tidak jadi
bertindak. Entah mengapa, anak perempuan yang
dingin dan angkuh ini sekarang berubah lembut.
Sedangkan si kakek botak aneh tadi lantas
berseru kuatir,”He, masa…..masa akan kaubiarkan
kawanan setan kelaparan ini merampas barang
seorang kakek rudin seperti diriku ini?”
Lamkiong Peng tersenyum, serunya, “Sudah
lama kudengar kawanan pengemis badan halus
suka berkeliaran di dunia ramai, bilamana mintaminta
juga tidak melampaui separoh milik orang.
Malahan juga sering merampas yang kaya untuk
menolong yang miskin, hal ini sudah lama
kukagumi. Tapi sekarang rombongan kalian justru
mengejar dan mendesak terhadap seorang tua
lemah begini, sungguh membuatku sangat heran.”
Dia bicara dengan lugas dan terus terang,
sedikitpun tidak berlagak.
Ih Hong tertawa, “Haha, tak tersangka annak
muda belia seperti kau ini jjuga tahu sejelas ini
mengenai kawanan setan lapar kami.”
Tertawanya sekarang seperti timbul dari lubuk
hati yang bersih sehingga sama sekali tidak berbau
setan lagi.
Diam-diam Ban Tat membatin”Sudah lama
kuberitahukan kepadanya tentang kawawan setan
lapar ini, tak terduga dia masih ingat sejelas ini.”
Terdengar Ih Hong berhenti tertawa dan
berkata,”Dan bila kau tahu sejelas ini mengenai
kami, tentu kaupun tahu kawanan setan sekali
sudah keluar tentu takkan pulang denagn tangan
hampa. Maka sebaiknya engkau jangan ikut
campur urusan ini.”
Sekali berkelebat mendadak ia melompat ke
belakang Lamkiong Peng.
“tolooong!” cepat si kakek botak berteriak.
Tapi Lamkiong Peng lantas mengadang di depan
Ih Hong, ucapnya, “Apabila anda bertindak
terhadap seorang kakek rudin seperti ini dan
mendesaknya, sungguh aku harus menyatakan
rasa kecewa kepada nama baik kalian.”
Ih Hong berhenti di tempatnya, jengeknya
mendadak, “Kakek rudin? Hm, kaubilang dia kakek
rudin? Jika di tidak kaya raya melebihimu dan
tidak berbudi, masa kawanan setan samapai turun
tangan padanya?”
Lamkiong Peng melenggong bingung.
Si kakek botak lantas berteriak, “Jangan kau
percaya kepada ocehannya, mana bisa aku
kaya……..”
“orang she Ih,” sela Manjing mendadak, “Kau
bilang dia kaya raya?”
“Ya,”jawab Ih Hong ketus.
“Apa buktinya? Jika salah, lantas bagaimana?
Tanya Manjing.
“Kawanan pengemis setan bermata setajam sinar
kilat dan tidak pemah salah lihat, apabila salah
lihhat, kami rela kelaparan sepuluh tahun dan
segera pulang kandang……….”
“Betul?” Manjing menegas.
“Anak perempuan ingusan kau tahu apa?”
jengek Ih Hong. “Meski Lo-lo-si itu tampaknya
rudin, padahal dia kaya raya, yang kami minta
sekarang tidak lebih hanya separoh barang yang
berada dalam karungnya itu, yang kami minta kan
cukup pantas. Kawanan pengemis setan biasanya
tidak suka mengganggu orang miskin, kalau tidak,
mana bisa budak ingusan seperti dirimu dibiarkan
ikut bicara.”
“Hm, kau tahu siapa dia?” jengek Manjing sambil
memandang Lamkiong Peng.
Ih Hong juga memandang anak muda itu dari
kaki ke kepala, lalu ia putar ke kanan dan balik
lagi ke kiri.
Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng ikut
berputar ke sana-sini dan tetap mengadang di
depannya.
“hm, tampaknya serupa putra keluarga
hartawan,” jengek Ih hOng kemudian. Cuma
sayang, dalam sakumu jugatidak banyak isinya.”
“Memangnya pada baju orang tua ini banyak
isinya?” tanya Manjing.
“Yang kontan memang tidak ada, tapi Gin bio
(sejenis cek) tidak sedikit yang dibawanya, namun
yang kuminta juga bukan ginbio melainkan……..”
Belum habis ucapan Ih Hong, mendadak si
akkae botak membalik tubuh terus berlari.
“Memangnya dapat kau lari?!” jengek Ih Hong.
Ucapannya sangat manjur, emndadak si kakek
botak alias Lo-Lo-si berhenti berlari dan menyurut
mundur dengan takut. Kiranya di depannya
kembali mengadang beberapa ekor ular hijau.
“Nah, nona cilik, tidak perlu banyak omong lagi,
kecuali putra keluarga hartawan Lamkiong di
daerah Kanglam, di dunia kangouw tidak ada
orang lain yang lebih kaya daripada Lo-lo-si ini,
kenapa kalian berdua suka ikut campur urusan?
Untung aku yang kalian hadapi, jika ketemu setan
ganas Song Cing, bisa celaka kalian.”
“Cayhe sendiri ialah Lamkiong Peng,” tiba-tiba
Lamkiong Peng memperkenalkan diri.
Keruan Ih Hong melengak, mendadak ia
melangkah maju, sebelah tangannya terus
menghantam dada Lamkiong Peng.
Serangan ini di luar dugaaan siapa pun, juga
dilakukan secepat kilat, terlihat lengan bajuanya
yang longgar itu berkibar, tahu-tahu telapak
tangannya sudah dekat dada sasarannya.
Lamkiong Peng membentak pelahan, telapak
tangan berjaga di depan dada, jari tangan kanan
balas menutuk Kik-ti-hiat bagian iga lawan.
Serangan ini sekaligus juga berjaga diri, inilah
salah satu jurus andalan pergruannya yang
disebut Ciam-liong-su-ciau (empat jurus naga
bersembunyi) yang biasanya jarang diperlihatkan
jika tidak kepepet.
Tak tersangka belum lagi saling beradu tangan,
serentak I hong melompat mundur, katanya
dengan gegetun, ternyata benar murid Sin-liong
dan putra Lamkiong. Bagus Lo-lo-si, kcenakan
bagimu hari ini.”
Sekali ia memberi tanda, segera bergema pula
suara sempritan, lalu ramailah suara mendesis,
kawan ular hijau yang berputar-putar di depan
garis kuning itu serentak melejit ke dalam lengan
baju kawanan pengemis
“Nanti dulu, Ih Pangeu,” seru Lamkiong Peng.
“Setelah kalah bertarung dengan sendirinya
harus angkat kaki,” kata Ih Hong, “meski kawanan
setan kelaparan biasanya suka minta-minta secara
paksa, tapi selamanya juga pegang janji. Bahkan
ular hijau yang dibunuh tua bangka itu juga tidak
perlu kutuntut ganti rugi lagi.”
Gerak-gerik Kawanan pengemis badan halus ini
benar-benar serupa setan, hanya sekejap saja
mereka sudah menghilang.
Yap manjing tertawa, katanya, ‘Meski kawanan
pengemis ini suka berlagak setan dan main gertak,
tapi kelakuan mereka pun tidak terlalu jahat.”
Lamkiong Peng sendiri sedang berpikir,
“Kawanan pengemis ini pasti ada hubungan erat
dengan suhu, kalu tidak masakah hanya bergebrak
satu kali saja lantas ,mengenali asal-usul
perguruanku?” “Meski Go-kui-pang (gerombolan
setan lapar) ini tidak menentu baik jahatnya, tapi
sasaran yang mereka incar biasanya pasti manusia
kaya yang tidak berhati baik, “ujar Ban Tat sambil
menatap kakek botak tadi.
Kakek itu ternyata sedang memandang
Lamkiong Peng dengan terkesima, tampaknya
kagum dan juga iri, mendadak ia menjura kepada
anak muda itu.
Cepat Lamkiong Peng memeblas hormat,
katanya kemdian. “Ah, hanya urusan kecil begini,
buat apa Lotiang (bapak) memberi hormat sebesar
ini?”
“Ya memang urusan kecil, mestinya aku tidak
perlu banyak adat, penghormatan sekedar saja
sudah cukup, “kata kakek botak itu, “Tapi yang
kau selamatkan adalah harta bendaku dan bukan
menolong jiwaku, sebab itulah penghormatanku
harus kuberikan dengann sepenuhnya.”
Yap manjing dan Lamkiong Peng saling pandang
dengan bingung.
Si botak lantas menyambung, “Keluarga
Lamkiong kaya raya menjagoi dunia, jika engkau
benar Lamkiong kongeu, pasti engkau terlebih kaya
dari padaku, sebab itulah penghormatanku ini juga
harus kulakukan dengan sebesar-besarnya.”
“O, apakah penghormatanmu ini ditujukan
kepada uangnya?” ujar Manjing.
“Memang betul, malahan penghormatanku ini
juga ditujukan kepada ayahnya yang kaya itu,”
ujar si kakek botak.
Lamkiong Peng melongo oleh uraian orang yang
luar biasa ini.
“Jadi yang kau hormati adalah kekayaan
seorang, bagimu uang di atas segalanya, begitu
bukan?” tanya Manjing.
Dengan serius si kakek botak menjawab, “Benda
apa pun di dunia ini tidak ada yang lebih penting
daripada uang. Di dunia ini tidak ada yang
berharga selain sepotong uang perak, dengan
sendirinya dua potong uang perak akan lebih
berharga lagi, dan yang lebih berharga daripada
dua potong uang perak adalah tiga….”
“Tiga potong uang perak, begitu bukan?…..”
tukas Mnjing, mendadak ia mendekap di pundak
Lamkiong Peng dan tertawa geli.
“Jika begitu, tentu engkau ini sangat kaya,
rupanya Yu-leng-kun-kai itu memang tidak salah
lihat,” kata Ban Tat dengan tertawa.
Air muka si kakek botak berubah seketika,
sahutnya sambil merangkul erat karung goni yang
dibawanya, “O, tidak, tidak! Mana aku punya
duit………”
Karena gugupnya, tanpa terasa ia bicara dengan
logat kampungnya.
Lamkiong Peng menaha rasa gelinya dan
berkata, “Lotiang ternyat tahu cara sayang
terhadap duit, sungguh aku sangat kagum…….”
“Saat ini orang yang minta duit padamu sudah
pergi, tentu kaupun boleh pergi saja,” sela Manjing.
Tiba-tiba teringat kepada urusan sendiri, pelahan
ia berkata pula, “Dan aku pun akan pergi.”
Ban Tat berdehem, “Setelah bertemu dengan
kongeu dan ternyata tidak berkurang suatu apa
pun, sungguh aku sangat gembira. Segera aku
akan menuju ke Kwangwa, entah kongeu akan
pergi kemana?”
“Aku…….” tiba-tiba timbul rasa kesepian dalam
hati Lamkiong Peng, “Aku ingin pulang rumah
dulu, kemudian…..” ia memandang jauh ke depan
dengan hampa.
“Jika begitu….” sela Manjing tidak melanjutkan
ucapannya, dia masih memegang surat tinggalan
Put-si-si-liong, sesungguhnya di sangat berharap
sepatah kata Lamkiong Peng saja dan dia rela
mendampingi anak muda itu selamanya.
Akan tetapi hati Lamkiong Peng terasa pedih dan
tidak sanggup berucap.
Diam-diam Ban Tat menghela nafas, katanya,
“Jika nona Yap tidak ada urusan, apa alangannya
berangkat ke Kanglam bersama Lamkiong kongeu,
semoga kalian menjaga diri dengan baik, kumohon
diri dulu.”
Ia memberi hormat terus melangkah pergi.
“Tik Yang keracunan dan menjadi gila, kemana
perginya juga tidak jelas, apakah engkau tidak
mau ikut mencarinya bersamaku?” tanya Lamkiong
Peng.
Seketika Ban Tat berhenti dan berpaling
kembali.
Tiba-tiba si kakek botak berkata, “Tik Yang yang
keumaksudkan itu apakah seorang pemuda
berpedang dan keracunan parah itu?”
“Betul,” jawab Ban Tat dengan girang.
“Dia sudah ditolong Yan-pek (arwah cantik) Ih Lo
dari kawanan setan lapar itu serta dikirim ke Kwan
Gwa,” tutur Kakek botak itu.
“Untung mendadak ia muncul mengganggu,
kalau tidak mana bisa kulari sampai di sini.
Tampaknya Ih-jinio itu rada menaksir padanya dan
tentu takkan membikin susah dia, kukira kalian
tidak perlu kuatir baginya.”
Lamkiong Peng menghela nafas lega, tanyanya,
“Dan entah perempuan macam apakah Ih-jinio
yang berjuluk arwah cantik itu?”
“Orang baik tentu akan selamat, setiba di
kwangwa nanti tentu akan kucari jejak Tik
Kongeu,” kata Ban Tat, “Menurut pandanganku,
Ih-jinio pasti bukan orang jahat, apalagi dia
menaksir Tik kongeu, kalau tidak mustahil dia
mau pulang ke kwan gwa secepat itu. Setiba disana
tentu dia akan berdaya sebisanya untuk menolong
Tik Kongeu. Kalian tahu, ketulusan hati dan
kemumian cinta terkadang menimbulkan kekuatan
yang sukar dibayangkan.”
“Kemumian cinta terkadang menimbulkan yang
sukar dibayangkan,” ucapan ini terus menyelimuti
benak Yap manjing. Waktu ia mengangkat kepala,
dilihatnya Ban Tat sudah pergi jauh.
Sekian lama Yap manjing berdiri terkesima,
dilihatnya muka Lamkiong Peng rada pucat dan
diam saja. Mendadak si nona menggentak kaki dan
melengos. Ditunggunya sekian lama dan Lamkiong
Peng tetap tidak bicara apa pun padanya, akhirnya
gadis yang berhati keras ini pun melangkah pergi.
Dengan terkesima Lamkiong Peng memandangi
bayangan si nona, ucapan Ban Tat tadi pun
berkecamuk dalam benaknya, samar-samar
muncul berbagai bayangan orang, tiba-tiba di
rasakan sebagai bayangan Bwe Kiam soat, tapi
dirasakan pula seperti bayangan sebagai bayangan
Bwe Kiam soat, tapi dirasakan pula seperti
bayangan Yap manjing.
Kelelahan dan kelaparan selama beberapa hari,
pertentangan batin dan kusut memikirkan cinta,
semua itu memeras tenaga dan
pikiran……….mendadak dirasakan tangan dan kaki
lemas, seperti menginjak tempat kosong, terus
roboh.
Si kakek botak menjerit kaget.
Yap manjing sedang melangkah ke sana,
melangkah lambat, demi mendengar suara jeritan
itu, tanpa terasa ia berpaling. Ketika diketahuinya
Lamkiong Peng menggeletak di tanah, secepat
terbang ia berlari kembali, kekuatan apap pun di
dunia ini tidak dapat mencegahnya untuk tidak
menghiraukan anak muda itu…..
**********
Di ufuk timur sudah mulai remang-remang
terang, hawa sejuk.
Sebuah kereta berkabin tampak dilarikan
menuju ke Sun yang dari kota Se-an. Kakek aneh
yang berdandan aneh dan botak kelimis itu
setengah berebah di depan kabin sambil tetap
merangkul erat karung goni yang dibawanya.
Dari dalam kereta terkadang ada suara rintihan
dan keluhan sedih dua orang.
Tiba-tiba si kakek botak mengetuk dinding kabin
dan berseru, “Hei nona cilik apakah kaubawa uang
perak!?”
“Bawa,” jawab suara orang perempuan dengan
marah dari dalam kereta.
Dengan sungguh-sungguh si kakek berkata
pula, “Kemana pun pergi, duit tidak boleh
kekurangan.”
Ia tersenyum puas, lalu memejamkan mata dan
mengantuk.
Setiba di Sunyang, hari sudah gelap, lampu
sudah dinyalakan sana-sini.
Mendadak si kakek membuka mata dan
mengetok dinding kabin lagi sembari bertanya, “Hei
nona cilik, banyak tidak uang yang kau bawa?”
“Cukup banyak,” jengek suara di dalam kereta.
Si kakek melirik kusir kereta sekejap dan
berpesan,”Carilah sebuah hotel paling besar,
sebaiknya hotel merangkap restoran.”
Pasar malam di kota Sunyang sangat ramai.
Setiba di hotel, dengan lagak tuan besar si kakek
memerintahkan kusir dibantu pelayan hotel
menggotong Lamkiong Peng ke dalam kamar,
Manjing turun dari kereta dengan lesu.
“Nona cilik, berikan lima tail perak dulu untuk
sewa kereta,” kata kakek botak.
Kusir kereta sangat senang, ia pikir sekali ini tip
yang akan diterimanya cukup untuk minum arak
sepuasnya.
Siapa tahu setelah si kakek menerima sepotong
perak lima tail dari Yap manjing, baru saja
disodorkan kepada si kusir, mendadak ditarik
kembali lagi sembari berkata,”Berikan kembalinya
dua tail dahulu.”
Tentu saja si kusir melenggong, terpaksa ia
memberi uang kembalian, lalu tinggal pergi dengan
menggerutu.
Dengan berseri-seri si kakek botak masuk ke
hotel, dua tail perak uang kembalian tadi diberikan
kepada pelayan dan berkata, “Siapkan semeja
makan seharga sepuluh tail perak harus
disuguhkan sekaligus!”.
Tidak kepalang gembira si pelayan, ia pikir
biarpun pakaian tamunya serupa pengemis, tapi
persennya ternyata tidak sedikit. Dengan ucapan
terimakasih pelayan lantas mengiakan.
Dengan lagak tuan besar si botak masuk ke
ruangan restoran, dengan karung goni tetap
dirangkulnya ia pilih sebuah meja besar dan duduk
di situ.
Pelayan sibuk mengantarkan teh panas dan
memberi handuk wangi, tidak lama kemudian
santapann semeja penuh pun selesai di siapkan
dengan tertawa yang dibuat-buat si pelayan
menyapa,” Apakah tuan ingin minum arak?”
Si kakek menarik muka, ucapnya ketus, “Minum
arak bisa membikin runyam urusan, kalau mabuk,
biarpun badan digeryangi orang juga tidak tahu,
kan rugi. Padahal kau tahu, mencari uang tidaklah
mudah.”
Si pelayan melenggongg, terpaksa mengiakan.
“Eh dimana uang pemberianku tadi?” tanya si
kakek mendadak.
“Masih ada,” cepat si pelayan menjawab.
“Tukarkan mata uang tembaga seluruhnya dan
lekas bawa kemari.”
Keruan si pelyan melongo. Dua tail perak itu
disangkanya tip, tak tahunya Cuma titipan untuk
menukarkan mata uang. Sambil menggerutu
terpaksa ia melangkah pergi.
SI kakek memandang santapan lezat yang
tersedia di depannya dengan menggosok-gosok
tangan serupa orang putus lotre, berbareng ia
berseru, “He nona cilik, jika kau perlu menjaga
orang sakit, biarlah kumakan sendiri!”
Terdengar suara jawaban Manjing tak acuh di
kamar pojok sana.
“Hm, bilamana keluarga Lamkiong bukan orang
kaya, biarpun kau pikat dengan segala macam
bujuk rayu juga aku tidak mau menempuh
perjalanan bersamamu,” demikian si kakek botak
bergumam sendiri, lalu ia taruh karung goni di
pangkuannya dan menyikat hidangan yang
tersedia.
Caranya makan sungguh rakus dan juga besar
takarannya, semeja penuh hidangan itu disapu
bersih tanpa sisa.
Pada saat itulah pelayan baru kembali dari
menukar mata uang. Si kakek menghitung dengan
teliti mata uang itu, akhirnya ia comot tiga buah
mata uang.
IA ragu sejenak, akhirnya jari mengendur dan
dua buah mata uang dijatuhkan kembali, hanya
sisa sebuah mata uang saja ditaruh di atas meja
dan berkata dengan rasa berat, “ini untukmu!”
Si pelayan melongo, katanya kemudain dengan
mendongkol, “Kukira boleh tuan simpan simpan
untuk dipakai sendiri saja.”
Si kakek tertawa senang, “Haha, betul juga, biar
kupakai sendiri!”
Sebiji mata uang tembaga itu benar-benar
diambilnya kembali, lalu angkat karung goninya
dan masuk sebuah kamar dan menutup pintu
rapat.
Dengan gemas si pelayan menuju ke halaman
dan mengomel panjang pendek.
*********
Di dalam kamar Manjing lagi memegangi
semangkuk air obat yang baru diseduhnya dan
disuapkan ke mulut Lamkiong Peng dengan tangan
agak gemetar.
Meski perkenalannya dengan anak muda itu
belum lama terjadi, namun aneh, rasanya sudah
timbul semacam perasaan yang sukar dilupakan
terhadap pemuda yang berjiwa luhur dan berdarah
panas ini.
“Persahabatan harus dipupuk dengan pelahan,
cinta justru timbul dalam sekejap,” ia jadi teringat
kepada ucapan seorang pemikir, pemah dia
mencemoohkan filsafah ini, tapi sekarang baru
dirasakan kebenaran ucapan tersebut.
Ia teringat kepada Koh-ih-hong, Tik Yang dan
juga pendekar muda congkak “Boh-in-jiu” itu, dia
pemah berkumpul dengan mereka di puncak
Hoasan yang tinggi dan sepi itu, ia kenal watak dan
ketahanan mereka.
Tapi terhadap Lamkiong Peng, pada pertemuan
pertama itu juga lantas timbul rasa sukanya, tapi
kemudian terpaksa ia meninggalkan Hoasan
dengan kenangan indah terhadap anak muda itu.
Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah gubuk di
puncak Hoasan itu, serupa halnya ia tidak dapat
meraba sebenarnya bagaimana perasaan Lamkiong
Peng terhadap dia.
Sudah tiga hari dia melayani anak muda yang
sakit dan tak sadar itu. Dia enggan bicara dan
berdekatan dengan oarng tua itu, tapi ia pun tidak
dapat mencegahnya tinggal bersama di sebuah
hotel.
Di dengarnya di kamar sebelah kakek botak itu
asyik menghitung mata uang tembaga, sudah larut
malam dia masih sibuk dengan duit, sungguh
kakek yang mata duitan.
Esok paginya, sakit Lamkiong Peng sudah agak
sembuh, petangnya dia sudah dapat turun dari
pembaringan. Memandangi Manjing yang agak letih
dan kurus itu, perasaan Lamkiong Peng menjadi
tidak enak, ucapnya dengan menyesal, “Aku sakit,
engkau yang repot.”
“Asalkan kau sembuh, apapun kukerjakan
dengan senang hati,” ujar si nona.
Terharu hati Lamkiong Peng, tak terduga
olehnya selama tiga hari ini telah sebanyak ini
perubahan sikap nona itu terhadapnya. Tanpa
terasa ia memandangnya lagi sekejap dengan
penuh rasa terimakasih.
Ketika melihat Lamkiong Peng muncul dalam
kamarnya, segera si kakek botak yang sedang
menghitung uang itu menegur dengan tertawa,
“Aha, agaknya sakit mu sudah sembuh?!”
“Terimakasih atas perhatian Lotiang,” jawab
Lamkiong Peng dengan tersenyum.
“Bila aku menjadi dirimu, aku tentu ingin sakit
lebih lama lagi,” kata si kakek dengan tertawa.
Lamkiong Peng melenggong.
Si botak lantas menyambung, “jika bukan
lantaran sakitmu, mana anak dara ini mau
mentraktirku makan minum di sini, bila bukan
karena kau sakit, mana nona ini mau
memperlihatkan perhatiannya kepdamu. Maka
kalau engkau sakit lebih lama lagi beberapa hari,
tentu aku dapat makan enak lebih lama dan
kaupun akan mendapat pelyanan lembut, kita jadi
sama-sama gembira, kenapa tidak mau?”
Dia mencerocos terus hingga ludahnya
berhamburan, namun setiap katanya memang
tepat.
Manjing menunduk malu, meski seperti orang
sinting, namun ucapan kakek itu memang kena di
hatinya.
Dengan tersenyum Lamkiong Peng berkata, “Jika
Lotiang ingin makan minum. Setelah kusehat nanti
tentu akan kutraktir.”
“Haha, bagus,” seru si kakek. Tapi dengan serius
ia menambahkan, “Tapi biarpun kalian telah
traktir makan padaku, tidak perlu kuterima kasih
padamu. Kutahu, sebabnya kalian
memperbolehkan aku berada bersama kalian
adalah demi kcuntungan kalian, tapi aku…..haha,
boleh juga kugunakan kesempatan baik ini untuk
makan minum sepuasnya.”
Kata-kata ini kembali kena di hati Lamkiong
Peng dan Yap manjing.
“Tapi kalau Lotiang ada keperluan lain, dapat
juga kubantu………”
“Hah, memangnya kaukira aku suka menerima
sedekah orang?” jawab si kakek dengan kereng.
“Umpama pakaian Lotiang, dapat kubelikan
beberapa potong baju………”
“Eh selamanya kita tidak bermusuhan, kenapa
sengaja kau bikin sudah padaku?” cepat si kakek
menjawab.
Lamkiong Peng jadi melenggong, “Bikin susah
padamu?”
“Coba kau lihat,” si kakek berdiri dan menuding
bajunya yang serupa karung itu, “betapa enak
bajuku ini, sama sekali tidak perlu kurisaukan
kemungkinan akan robek………”
Lalu ia menuding kepala sendiri yang botak,
“Dan ini kau tahu, demi untuk membuat botak
kepalaku ini betapa jerih payahku selama ini.
Sekarang aku tidak perlu sibuk merawat rambut,
juga tidak perlu keluarkan duit untuk memotong,
inilah cara yang paling baik untuk hidup hemat.
Tapi sekarang kau mau memberi pakaian baru
kepadaku, jika kukenakan baju pemberianmu,
tentu setiap saat kuperlu memikirkan baju baru,
itu berarti membuang waktu dan mengurangi
kesempatan untuk mencari duit. Bukankah semua
itu hanya membikin susah padaku?”
Lamkiong Peng dan Yap manjing saling pandang
sekejap, logika si kakek botak ini sungguh luar
biasa, tapi juga membuat mereka sukar
membantah.
Si kakek lantas mendengus dan duduk kembali,
sembari makan ia menggerutu pula, “Maka bila
kalian ingin kuiringi kalian, selanjutnya jangan
bicara lagi tentang hal-hal ini. Hm, jika tidak
mengingat kcuntungan yang akan kuraih, bisa jadi
sudah sejak tadi kutinggal pergi.”
Yap manjing mendengus dan melengos ke arah
lain. Sedangkan Lamkiong Peng hanya menghela
nafas menyesal, katanya, “Masa urusan duit bagi
lotiang sedemikian pentingnya?”
Kakek botak juga menghela nafas, “Ai, rasanya
sukar bagiku untuk menjelaskan kepada putra
hartawan seperti dirimu ini akan betapa
pentingnya duit. Tapi bilamana engkau sekali
tempo menghadapi kesulitan, tanpa penjelasanku
baru kau tahu pentingnya duit.”
Tiba-tiba timbul juga perasaan hampa dalam
hati Lamkiong Peng, pikirnya, “Semoga aku juga
dapat mencicipi rasanya miskin, tapi alangkah
sulitnya untuk membuat aku miskin.”
Ia tertawa ejek terhadap diri sendiri.
“Setiap kataku cukup beralasan, memangnya
apa yang kau tertawakan?” oemel si kakaek.
“Yang kutertawai adalah karena sejauh ini belum
lagi kuketahui nama Lotiang,” jawab Lamkiong
Peng.
“Ah, apa artinya nama?” ujar si kakek. “Cukup
kausebut diriku Ci TI saja.”
“Ci Ti (gila uang)?” Lamkiong Peng menegas
dengan heran, “Tapi yang kutertawai bukan soal
ini, lotiang…….”
“Siapa pun tidak berhak mengurus jalan pikiran
orang lain,” kata si kakek, “Apa yang kau pikirkan
tentu juga tidak ada sangkut paut dengan ku.
Bagiku, asalkan tingkah laku dan tutur kata orang
cuckup baik terhadapku, biarpun dalam hati dia
benci kepadaku juga masa bodoh. Apabila setiap
hari selalu kupikirkan apa yang dipiikir orang lain
terhadapku, bisa jadi aku akan berubah linglung
atau sinting.”
Ucapan ini serupa cambuk yang memecut lubuk
hati Lamkiong Peng. Ia tertunduk dan melamun
hingga lama.
Dalam pada itu si kakek botak alias Ci Ti sudah
kenyang makan, ia mengulet kemalasan dan
memandang Yap manjing sekejap, lalu berucap
hambar, “Nona cilik, kuberi nasehat padamu,
janganlah suka mengusut pikiran orang lain,
dengan begitu tentu engkau akan jauh dari
kekesalan.”
Manjing juga sedang termenung, ketika ia
angkat kepala, dilihatnya si kakek telah melangkah
ke halaman dalam.
Tiba-tiba dari luar masuk belasan lelaki berbaju
ringkas dan bersenjata golok, seorang lelaki kekar
lain dengan punggung menyandang sehelai panji
wama merah, memanggul sebuah peti kayu masuk
ke halaman sana.
Langkah beberapa orang itu tampak gesit dan
cekatan, sorot mata orang terakhir itu pun
bercahaya tajam, ia melirik sekejap kepada si
kakek botak, masuk ke pintu bulat yang
membatasi halaman itu.
Sinar mata si kakek mendadak mencorong
terang, dengan tersenyum ia bergumam, “Angkipiaukok
(perusahaan pengawalan panji
merah)……..” lalu ia menguap dan berkata pula,
“Ai, makan banyak, suka kantuk, lebih baik tidur
saja.”
Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Setelah termenung sekian lama, akhirnya
Lamkiong Peng juga berbangkit dan masuk ke
kamar.
Manjiing merasa kesepian, dipandangnya pintu
kamar Lamkiong Peng dan memandang pintu
kamar si kakek, ia menghela nafas, lalu ia
melangkah pelahan ke halaman.
Suasana sunyi, cahaya lampu sudah padam.
Entah berapa lama Manjing berdiri di halaman,
dari kejauhan terdengar suara kentongan
menandakan sudah lewat tengah malam.
Selagi perasaannya diliputi rasa kekosongan,
tiba-tiba dari balik wuwungan rumah ada orang
tertawa pelahan, seorang mendesis, “Untuk apa
berdiri termenung di tengah malam?”
Manjing terkejut, “Siapa?!” bentaknya dengan
suara tertahan sambil melompat ke atas rumah.
Dilihatnya sesosok bayangan secepat terbang
melayang ke kegelapan sana, sungguh sangat
mengejutkan kecepatan orang.
“Berhenti!” bentak pula Manjing sembari
memburu ke sana.
Akan tetapi meski ginkangnya juga sangat tinggi,
ternyata tetap tidak dapat menyusul orang, ia terus
memburu dan mencari di sekitar situ, namun
bayangan orang sudah menghilang.
Lamkiong Peng lagi duduk terpekur di atas
tempat tidur, ia berusaha menenangkan pikiran,
tapi rasanya kusut dan sukar diatasi. Ia tidak tahu
Yap manjing melamun di halaman dan juga tidak
tahu nona itu melompat keluar untuk memburu
seorang.
Entah sudah berapa lama, ketika pikiran
Lamkiong Peng melayang-layang tak menentu,
tiba-tiba di dengarnya suara seperti daun jatuh
diluar jendela, cepat ia melompat bangun dan
membuka daun jendela.
Di tengah keremangan malam dilihatnya Yap
manjing berdiri di luar dengan rambut kusut.
“Engkau belum tidur?” tanya Manjing dengan
pandangan sayu.
Lamkiong Peng menggeleng, tanyanya, “Apakah
nona Yap melihat sesuatu?”
“Baru saja kulihat seorang Ya-heng-jin (orang
pejalan malam), telah kususul dia tapi tidak dapat
menemukannya,” tutur si nona.
“Sungguh hebat orang itu, dengan ginkang nona
saja tidak sanggup menyusulnya,” kata Lamkiong
Peng dengan terkesiap.
Muka Manjing menjadi merah, ucapnya, “ya, tak
terduga di tempat ini juga terdapat tokoh selihai
ini. Anehnya kedatangan orang seperti tidak
bermaksud baik, tapi juga tidak bemiat jahat.
Sungguh sukar dimengerti dia kawan atau lawan
dan apa maksud kedatangannya?”
“Mungkin dia memang tidak bermaksud jahat,
kalau tidak, kenapa dia tidak berbuat sesuatu?”
ujar Lamkiong Peng.
Walaupun di mulut dia bicara demikian, tapi
dalam hati ia menyesal juga. Ia tahu banyak orang
kangouw sekarang memusuhinya. Hanya karena
membela Bwe kiam soat sehingga mendatangkan
banyak persoalan ruwet ini. Ia sendiri tidak
sanggup memberikan penjelasan mengapa dia
bertindak demikian.
“Fajar hampir tiba, silahkan nona masuk saja ke
dalam,” kata Lamkiong Peng kemudian.
Mereka tidak tidur lagi melainkan menuju ke
ruangan tengah, keduanya duduk berhadapan,
seketika tidak tahu apa yang perlu dibicarakan.
Terdegar suara ayam berkokok di kejauhan,
ufuk timur sudah mulai remang-remang dan
membangkitkan berbagai berisik di dunia ini.
Mandadak si kakek botak alias Ci Ti yang gila
uang itu melongok keluar pintu kamar, dengan
matanya yang masih sepat ia menegur, “Eh, kalian
sungguh iseng, ternyata mengobrol sepanjang
malam, haha, dasar orang muda!”
Tiba-tiba seorang muncul pula dari balik pintu
sana dengan mata yang masih belekan, kiranya si
pelayan, dengan tertawa ia menyapa, “Selamat
pagi!”
Buru-buru ia mengambilkan air teh, lalu
berkata,” Maaf rekening tuan tamu……..”
Mendengar urusan rekening hotel, si kakek
botak segera menghilang lagi di balik pintu
kamarnya.
Lamkiong Peng tersenyum, katanya, “Tidak
menjadi soal, boleh hitung saja seluruhnya.”
Dengan tertawa cerah si pelayan menjawab,
“Sebenarnya juga tidak banyak, Cuma tuan besar
itu makan minum terlalu banyak, maka
seluruhnya menjadi 93 tail lebih……..”
Jumlah ini sebenarnya tidak sedikit, tapi bagi
pandangan Lamkiong Peng tentu saja tidak berarti.
Tapi segera teringat olehnya di atas tubuh sendiri
sekarang tidak membawa sepeser pun, cara
bagaimana akan mampu membayar rekening hotel
dan makan minum sebanyak itu.
Terpaksa ia berpaling dan berkata dengan
tertawa kepada Manjing, “Dapatkah nona Yap
membayarkan dahulu?”
Tapi Yap manjing lantas tersenyum, jawabnya,
“Selamanya aku jarang membawa uang.”
Baru sekarang Lamkiong Peng melenggong,
dilihatnya mata si pelayan menatapnya dengan
rasa sangsi.
Terpkir pula oleh Lamkiong Peng bahwa dirinya
sekarang sudah tidak membawa lagi sesuatu benda
berharga, terpaksa ia berkata kepda pelayan, “Coba
ambilkan alat tulis, biar kubikin secarik surat dan
segera dapat kau pergi ambil uang.”
Meski dengan ogah-ogahan, terpaksa si pelayan
,mengiakan.
Selagi dia hendak melangkah pergi. Sekonyongkonyong
pintu si kakek botak terbuka lagi,
kelihatan dia melongok keluar sambil berkata,
“Jangan kuatir, pelayan, memangnya kau tahu
siapa kongeuya ini? Jangankan Cuma sekian
puluh tail perak, biarpun sekian ribu laksa tail,
cukup dengan secarik bon saja, kongeuya ini dapat
menarik dengan kontan.”
Dengan sendirinya si pelayan kurang percaya, ia
melirik Lamkiong Peng dengan sangsi.
Si kakek botak alias Ci ti atau gila uang itu
terbahak, serunya, “Supaya kau tahu, biar
kujelaskan, dia tak lain tak bukan ialah Lamkiong
kongeu keluarga hartawan Lamkiong dari
kanglam!”
Seketika air muka si pelayan berubah.
Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala,
pkirnya, “Ai, dasar manusia rendah, asal
mendengar nama…….”
Tak terduga, mendadak si pelayan bergelak
tertawa, habis itu ia lantas menarik muka dan
menjengek, “Hm, meski banyak juga kulihat orang
yang menipu makan minum, tapi tidak pemah
kulihat perbuatan sebusuk dan sebodoh seperti ini,
masa…..”
“kau bilang apa?” bentak Manjing dengan
mendelik.
Si pelayan menyurut mundur setindak, tapi
lantas menjengek pula, “hm, masa tidak kalian
ketahui bahwa berpuluh kota di sekitar daerah ini,
dimana terdapat cabang perusahaan keluarga
Lamkiong, hanya dalam waktu beberapa hari
terakhir ini seluruhnya telah dipindah tangankan
kepada orang lain. Segenap bekas pegawai
perusahaan Lamkiong itu sudah dibubarkan dan
telah mencari jalan hidup sendiri-sendiri, tapi
ternyata ada orang berani lagi mengaku sebagai
Lamkiong kongeu yang maha kaya raya itu, hmk,
hmk……….”
Begitulah pelayan itu mengakhiri ucapannya
sambil mendengus berulang dengan tangan
bertolak pingggang dan mata mendelik.
Dengan sendirinya keterangann ini membuat
Lamkiong Peng melenggak, Yap manjing juga
merasa bingung.
Perubahan yang mengejutkan ini sungguh luar
biasa, sukar untuk dipercaya hal ini bisa terjadi
mendadak begitu, masakah keluarga Lamkiong
yang maha kaya raya itu, sampai menjualkan
berpuluh cabang perusahaannya dengan tergesagesa
begitu dan mengapa bisa terjadi pula dalam
waktu sesingkat itu?
Sungguuh sukar diduga mengapa sungai yang
membeku itu dapat cair dalam sekejap?
Uacapan si pelayan tadi juga di dengar oleh si
kakek botak yang berdiri di samping pintu, ia pun
melongo heran.
Mungkin baru pertama kali ini selama hidup
Lamkiong Peng mengalamai kekikukkan seperti
sekarang. Selagi merasa bingung cara bagaimana
menghadapi sikap si pelayan yang tidak sungkan
itu, sekonyong-konyong dari halaman dalam
berkumandang suara ribut-ribut.
“Wah….celaka!……..celaka!………” demikian
terdengar teriakan ramai orang banyak.
Pelayan tadi terkejut, cepat ia berlari ke sana
dan lupa mengurus Lamkiong Peng lagi.
Mendadak Lamkiong Peng teringat kepada
keluhan singkat yang didengarnya serta bayangan
yang dikejar Yap manjing itu.
“Jangan-jangan terjadi sesuatu pembunuhan di
halaman sebelah semalam? Demikian timbul rasa
curiganya.
Karena ingatan itu, serentak ia pun, melangkah
ke halaman sana disusul oleh Yap manjing. Dalam
demikian mereka tidak memperlihatkan lagi
terhadap gerak-gerik si kakek botak.
Di halaman sebelah sudah berkerumun orang
banyak, ada orang berteriak kaget dan berlari
masuk keluar.
“Sungguh aneh, mengapa semalam tidak
terdengar sesuatu suara apapun?” demikian ada
orang berkata.
Segera ada yang menanggapi, “Anehnya hal ini
bisa terjadi atas orang Angki-piaukiok yang
termashur, entah orang lihai macam apa sehingga
berani merecoki panji merah yang disegani itu?”
Suara ribut dan komentar oarng yang yang kaget
itu membuat hati Lamkiong Peng tidak tentram
karena belum tahu duduknya perkara.
Sesudah dekat, dilihatnya di pintu bulat yang
membatasi halaman ini terpancang panji merah
yang berkibar tertiup angin.
Semula disangkanya panji ini adalah panji
pengenal Angki-piaukiok, tapi setelah di
perhatikan, kiranya merah panji ini karena
lumuran darah, di tengah wama merah darah itu
bersemu biru-hitam, sehingga membuat orang
merasa ngeri.
Ia masuk ke halaman situ, suasana dalam
hiruk-pikuk, tapi ruangan kamar sana sunyi
senyap.
Seorang lelaki berbaju panjang, tampaknya
seperti kasir atau kuasa hotel berdiri di luar pintu
kamar yang tertutup rapat.
Waktu Lamkiong Peng mendekat, segera lelaki
itu mengadangnya dengan membentangkan tangan
dan berucap, “Tempat ini dilarang…”
Belum lanjut ucapannya, sekali dorong
Lamkiong Peng membuatnya sempoyongan dan
hampir jatuh terjengkang.
Meski Lamkiong Peng baru smebuh dari
sakitnya, namun tenaganya tentu lain dari pada
orang bisa, apalgi dalam keadaan mendongkol,
tentu saja cukup kuat untuk membuta orang itu
jatuh.
Waktu ia menolak daun pintu, begitu terbuka,
seketika detak jantungnya hampir berhenti demi
mengetahui apa yang terjadi dalam kamar.
Cahaya sang surya pagi menembus masuk
melalui celah jendela yang tertutup rapat sehingga
remang-remang di lanati kamar kelihatan
bergelimpangan belasan mayat. Segera dikenali
Lamkiong Peng sebagai kawanan lelaki berbaju
hitam yang berdandan ringkas kekar itu, sekarang
semuanya sudah menggeletak tak bernyawa.
Kematin kawanan ellaki kekar ini ternyata tidak
serrupa. Seorang yang brewok dengan mata
melotot mencengkram kusen jendela sehingga jari
pun amblas ke dalam kayu, ia mati dengan
setengah bersandar di dinding.
Pada dadanya yang bidang tertancap miring
sehelai panji merah, tangkai panji yang terbuat
dari besi itu hampir ambles seluruhnya ke dalam
dada, darah pun membasahi bajuanya yang hitam.
Seorang lagi yang beralis tebal dan bermulut
besar rebah terlentang dengan wajah beringas
penuh rasa ngeri, tangannya menggenggam cawan
arak yang sudah pecah, daanya juga tertancap
panji merah.
Dan begitulah beberapa kawannya yang lain, ada
yang mati duduk di kursi, ada yang binasa
bersandar di kaki meja, ada yang bajunya tidak
rapi, bahkan ada yang telanjang kaki, tampaknya
ia ngin lari, tapi belum sempat keluar sudah roboh
binasa.
Cara kematian orang-orang iu tidak sama. Tapi
yang membuat mati mereka ternyata sama yaitu
dada tertancap oleh panji merah pengenal yang
mereka bawa sendiri, sekali serang membuat
mereka binasa.
Dari sikap orang-orang yang mati ini agaknya
belum lagi sempat mereka melolos senjata dan
balas menyerang, tahu-tahu mereka sudah
terbunuh.
Pelahan Lamkiong Peng memandangi mayat itu
satu-persatu, aliran darah sendiri serasa mau
beku.
Lamkiong Peng Mengenali kawanan lelaki
barbaju hitam ini adalah anak buah Suma Tiongthian
dari Angki-piaukiok. Padahal para jago
pengawal dari panji merah ini biasanya terkenal
berkungfu tinggi dan disegani, namun sekarang
belasan jago pengawal ini sama tergeletak menjadi
mayat di hotel kecil ini, kematiannya juga tampak
mengerikan, sungguh kejadian yang sukar
dibayangkan.
Siapakah yang berani merecoki Angki-piaukiok
pimpinan Suma Tiong-thian yang terkenal dengan
julukan “Ang-ki-thi-cian-cin-tiongeu” (panji merah
dan tombak baja menggetarkan daratan tengah)
itu? Siapa pula yang mempunyai kependaian
setinggi ini, tanpa bergebrak dapat membinasakan
jago sebanyak ini?
Setelah menenangkan diri, Lamkiong Peng Coba
masuk ke dalam kamar, dilihatnya di belakang
kelambu juga menggeletak sesosok mayat, agaknya
orang ini ingin lari atau bersembunyi, tapi
akhirnya terpantek mati juga.
Orang ini juga mati terpantek oleh gagang
bendera pada dadanya.
Lamkiong Peng berjongkok dan mengangkat
mayat itu, mendadak hatinya tergetar,
dirasakannya tubuh orang masih hangat, ia coba
mengurut hiat-to orang, ternyata hiat-tonya tidak
tertutuk, juga tidak ada tanda keracunan, sungguh
sukar dimengerti mengapa orang ini mandah
terbunuh begitu saja tanpa balas menyerang,
apakah lawannya begitu lihai sehingga satu gebrak
pun tidak mampu menangkis?
Selagi Lamkiong Peng merasa sangsi dan ngeri,
tiba-tiba mayat yang dipegangnya bergetar sedikit,
tentu saja Lamkiong Peng sangat girang, pelahan ia
bertanya,”Kuatkan dirimu, kawan!”
Orang itu membuka matanya sedikit, ucapnya
dengan lemah,”Sia……siapa kau?”
“Aku Lamkiong Peng, sahabat perusahaan
piaukiok kalian, siapa yang mencelakai kalian,
harap katakan………”
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng segera
muka orang itu berkerut dan bergumam lemah,”
Lamkiong
Peng…….Lamkiong……..habis…….ha……..”
“Habis apa maksudmu?” seru Lamkiong Peng
terkejut, dilihatnya pandangan orang menatap
ujung rumah dengan kaku, belum sempat “bis”
terucpakan, kepala lantas miring ke samping dan
tak dapat bicara lagi untuk selamanya.
Lamkiong Peng menghela nafas, ia coba menoleh
ke arah sana, dilihatnya ujung rumah sana kosong
tanpa sesuatu benda, waktu ia mengawasi lebih
lanjut baru dirasakan tempat itu sebelumnya
pemah dibuat menaruh barang sebangsa peti dan
sebagainya, tapi sekarang sudah hilang.
“Perampokan!” demikian kesimpulan yang dapat
ditarik Lamkiong Peng bila melihat keadaan ini,
namun peristiwa ini cukup misterius dan
mengerikan.
Lamkiong Peng tidak tahu ucapan orang tadi,
apakah mungkin urusan ini ada hubungannya
dengan keluarga Lamkiong?
Waktu ia berpaling, dilihatnya Yap manjing juga
sudah berdiri di belakangnya dan tampak sedang
termenung.
“Lamkiong……….. habis……….” demikian
Manjing bergumam, mendadak ia tanya Lamkiong
Peng. “Apakah Angki piaukiok sering mengantar
harta benda lagi keluargamu?”
“ya,” jawab Lamkiong Peng sambil mengangguk.
“Jika begitu, barang kawalan mereka sekali ini
mungkin juga harta milik keluarga Lamkiong
kalian, sebab itulah tadi dia menyebut nama
keluargamu dan merasa malu untuk
menjelaskannya.”
Lamkiong Peng berpikir sejenak, akhirnya
menghela nafas panjang.
“Apa yang kau sesalkan?” tanya Manjing. “Meski
sedikit harta benda keluarga Lamkiong Peng kalian
dirampok, jumlah sekian tentu juga tidak artinya
bagi kekayaan keluargamu.”
“Mana aku menyesal?” ujar Lamkiong Peng, “Aku
hanya merasa bodoh karena memikirkan urusan
yang yang cukup jelas ini dengan ruwet.”
Pada saat itulah mendadak di luar bergema
suara anjing yang menyalak, suaranya galak dan
berbeda denagn anjing biasa.
Menuyusul cahaya emas berkelebat, seekor
anjing berbulu kuning emas mulus dengan tubuh
panjang serupa busur, mata mencorong terang,
kuping kecil, kuping kecil dan moncong panjang,
sekilas pandang serupa seekor kuda kecil, dengan
langkah cepat anjing emas itu lari ke dalam kamar.
Anjing galak ini bukan Cuma suara
menyalaknya saja, gerak-geriknya juga tidak sama
dengan anjing umumnya.
Pada lehernya penuh dihiasi mutiara dan rantai
emas, hidungnya mengendus-endus ke sana –sini,
sikapnya buas.
Seorang berbaju hitam dengan mata elang dan
hidung betet, tangan memegang rantai emas yang
mengalung di leher anjing kuning itu ikut masuk
ke dalam kamar, mungkin orang itu adalah pawang
anjing kuning emas itu.
Diluar terdengar suara ribut orang banyak, ada
yang sedang bicara, “Tak tersangka detektif ulung
dari saiho ‘Kim-sian-loh’ (budak si dewa emas) hari
ini bisa berada di Sunyang.
Dengan kehadirannya, peristiwa perampokan
yang terjadi ini pasti akan terbongkar dengan
segera.”
Dalam pada itu si baju hitam alias Kim sian-loh
memandang Lamkiong Peng dan Yap Manjing
sekejap dengan kening bekerut lalu ia menoleh dan
bertanya,”Juragan Lim, sebelum kutiba, kenapa
kauperbolehkan sembarangan orang masuk ke
sini?”
Juragan hotel yang berdiri di luar tampak gugup,
jawabnya takut,”O, ini….ini………”
Kim sian-loh mendengus kurang senang.
Melihat anjing kuning emas itu sangat menarik,
sungguh Yap manjing ingin mengelusnya, siapa
tahu belum lagi tangannya menyentuh, mendadak
anjing itu menggerang dengan bulu emas menegak.
“Lekas mundur, anak perempuan, apakah kau
ingin mampus?!” seru si baju hitam alias Kim sianloh.
Alis Manjing menegak, segera ia hendak
mengumbar rasa gemasnya, tapi Lamkiong Peng
lantas menarik lengan bajunya sehingga makian
yang hampir dilontarkan ditelannya kembali.
Dilihatnya Kim sian-loh lagi berjongkok dan
mengelus punggung anjingnya sambil
berkata,”Jangan marah, mereka tidak berani
menyentuhmu lagi!”
Sikapnya itu serupa budak terhadap tuannya.
Segera orang itu berdiri dan membentak, “Siapa
kalian? Untuk apa lagi berdiri di sini?”
“Aku mau berdiri di sini, peduli apa dengan
kau?” jawab Manjing dengan ketus
“Hm, sungguh anak perempuan yang tidak tahu
diri,” jenegk Kim sian-loh. “Apakah kau tahu siapa
aku? Berani kau ganggu tugasku?”
“Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu siapa
dirimu? Paling-paling kau Cuma budak seekor
anjing saja,” ejek Manjing.
Ia bicara lantang tanpa tedeng aling-aling, setiap
orang yang berada diluar kamar sama mendengar,
keruan semua orang sama berkuatir baginya.
Kiranya anjing bebrbulu kuning emas itu diberi
nama ‘kim-sian’ atau dewa emas, seekor anjing
yang sangat cekatan dan juga sangat galak, jago
persilatan umumnya sukar menahan tubrukannya
yang kuat. Yang paling hebat adalah daya ciumnya,
segala perkara pembunuhan asalkan anjing ini
dibawa ke tempat kejadian tepat pada waktunya,
dengan sedikit bau yang tertinggal di situ anjing ini
sanggup mengusut dan mengejar ke mana larinya
atau tempat sembunyi penjahat.
Sudah sekian tahun entah banyak perkara yang
telah dibongkar berkat ketajaman indra penciuman
aning berbulu emas ini. Pemilik anjing yang
berbaju hitam itu juga ikut terkenal karena
anjingnya sehingga diberi julukan kim sian loh
atau budak dewa dan jadilah dia detektif terkenal
di beberapa propinsi daerah utara.
Meski dia jaya berkat anjingnya, bahkan
mengaku kim sian loh, tapi dia justru pantang
orang menyinggung hal ini. Sekarang tanpa tedeng
aling-aling Yap manjing mengejek boroknya itu,
seketika ia naik darah, segera ia berteriak, “Mana
orangnya, tangkap perempuan kurang ajar ini.”
Manjing mendengus, “Hm, seharusnya anjing
budak manusia, tapi ada manusia justru mau
menjadi budak anjing………Hmk!”
Dengan sikap menentang ia tatap empat petugas
yang membawa borgol yang menerjang masuk itu
sambil membentak,”Jika kalian berani maju lagi
selangkah, segera akan kubinasakan!”
Kim sian loh menjadi gusar, diam-diam ia
mengendurkan rantai yang dipegangnya dan
mendengus, “Apa betul begitu lihai kau?”
Cepat Lamkiong Peng mengadang di depan
manjing dan berkata, “Nanti dulu!”
Melihat pemuda yang mengadang di depan ini
meski bermuka agak kurus, namun sikapnya
gagah dan anggun, tanpa terasa Kim sian loh
menyurut mundur.
Semula dia bermaksud melepaskan anjingnya,
tapi sekarang dia tidak berani semabrang
bertindak lagi, bentaknya, “Siapa kau? Apakah kau
pun………”
Lamkiong Peng tersenyum dan memotong,
“Sudah lama kudengar anda seorang detektif
ulung, masa orang baik atau jahat juga tidak dapat
kau bedakan?”
“Kalian sembarangan berada di tempat
pembunuhan dan pencurian, dapatkah kalian
terhindar dari prasangka?” ujar kim sian loh.
“Jika begitu, jadi Kim pohtau menganggap kami
ikut tersangkut dalam perkara ini? Memangnya
kami berdiam di sini untuk menunggu ditangkap
oleh Kim pohtau?” jawab Lamkiong Peng.
Kim sian loh mendengus, “Saat ini belum dapat
dipastikan, tapi sebentar lagi segala suatunya
tentu akan ketahuan dengan jelas.”
Segera ia mengendurkan pegangannya dan
menepuk anjingnya, katanya “Kim-loji bikin repot
padamu lagi.”
Begitu rantai dilepaskan, segera anjing si dewa
emas melompat ke depan, hanya sekejap saja dia
telah mengitari empat ruangan, lalu menyalak tiga
kali dan melompat lagi kebawah kaki Lamkiong
Peng dan Yap manjing sambil mengendus beberapa
kali, habis itu mendadak melompat pergi lagi
Kembali ia mengitari beberapa kali ruangan itu
dengan cepat, kemudian berlari menyusur kaki
dinding, makin lari makin lambat.
Semula Kim sian loh merasa bangga dan penuh
keyakinan akan kemampuan anjingnya tapi ketika
anjingnya mengitari ruangan untuk kedua kalinya,
tertampaklah rasa gelisah dan herannya.
Setiap kali anjing itu mengitar lagi satu kali, rasa
heran dan cemasnya juga bertambah, sampai
butiran keringat pun menghiasi dahinya. Tanpa
terasa ia pun ikut mengitari rumah sambil
bergumam,”He, masa belum kautemukan sesuatu,
Loji…….masa tidak………….”
Manjing tertawa dingin dengan sikap mengejek.
Mendadak terlihat anjing malangkah keluar,
serentak perhatian semua orang yang berdiri di
luar pintu terpusat kepada anjing dan memberi
jalan padanya.
Kim sian loh menghela nafas lega, ia yakin
anjingnya telah menemukan petunjuk baru, ia
melirik Lamkiong Peng dan Yap manjing, katanya,
“Awasi mereka berdua, jangan sampai kabur.”
Lalu ia mengikuti anjing itu keluar.
“Jika benar dia dsapat menemukan
pembunuhnya, aku justru sangat berterima kasih
padanya,” ucap Lamkiong Peng pelahan.
“Mari kita ikut ke sana,” ajak Manjing.
“Mau kemana?” bentak empat opas yang
memegang rantai sambil mengadang dengan
borgolnya.
Tapi sekali tangan Manjing bekerja, terdengarlah
suara gemerantang yang nyaring, borgol dan
pentungan yang dipegang keempat opas itu sama
jatuh ke lantai.
Keruan beberapa opas itu terperanjat, belum
pemah mereka melihat kungfu selihai ini, mereka
sama melenggong dan menyaksikan Manjing
berdua melangkah keluar dan tidak mencegahnya
lagi.
Sementara itu anjing emas kim sian sudah
sampai di halaman, sesuda mengitar sebentar
mendadak ia melompat melintasi pagar tembok,
tanpa ayal Kim sian loh ikut melintasi pagar
tembok itu, dilihatnya anjingnya sedang menyalak
ke kamar yang terletak di halaman itu.
Sikap Kim sian loh menjadi tegang, segera ia
membentak, “Siapa yang tinggal di sini?”
Orang banyak pun sudah membanjir ke dalam
halaman, mendengar bentakannya, semua orang
sama memandang ke belakang, tertampak
Lamkiong Peng dan Manjing sedang mendatangi
menyongsong tatapan berpuluh pasang mata.
“Jadi kalian berdua yang tinggal disini? ?”
bentak kim sian loh pula.
“Mau apa jika kami tinggal di sini ?” Jawab
Manjing ketus.
“Jika begitu, jadi kalian ini penjahat yang
merampok dan juga pembunuhnya,” teriak kim
sian loh.
Suasana menjadi panik seketika, pemilik hotel
lantas menyingkir dengan ketakutan, semua orang
sama menjauhi Manjing berdua.
“ Kau harus bertanggung jawab atas ucapanmu,”
jengek Lamkiong Peng.
“Selama belasan tahun entah berapa banyak
yang telah kuringkus dan tidak ada satu pun yang
keliru tangkap, maka lebih baik kalian menyerah
saja.”
Lamkiong Peng melirik sekejap anjing yang
sedang menggonggong itu, tiba-tiba teringat
olehnya si kakek yang gila uang yang misterius dan
tamak harta itu, tanpa terasa berubah air
mukanya, ia memburu maju dan mendorong pintu
kamar, ternyata kamar sudah kosong, mana ada
bayangan si kakek.
Kim sian loh terbahak-bahak,”Haha, meski
begundalmu sudah minggat, asal kubekuk kalian
mustahil jejak begundalmu takkan ketahuan.”
Segera ia mengeluarkan senjata tombak berantai
yang melilit di pinggangnya, sekali menyendal,
tombak berantai menegeluarkan suara
gemerincing, pelahan ia mendekati Lamkiong Peng
berdua dan membentak,”Ayolah, lekas kalian
menyerah saja untuk dibekuk.”
Para penonton sama menyingkir ketakutan, si
pemilih hotel bahkan sudah kabur. Dengan kening
berkerut Lamkiong Peng berkata, “Sebelum terang
duduk perkaranya masakah kau……….”
“Dengan hidung Kim sian, mustahil urusan bisa
salah?” kata kim sian loh.
Begitu tombak berantai bergerak, kontan ia
sabet kepala Lamkiong Peng.
Kuatir anak muda yang baru sembuh dari
sakitnya itu belum kuat, cepat Manjing memburu
maju dengan membentak.
Tak terduga dari belakang lantas terdengar angin
menyambar tiba, rupanya si anjing bulu emas yang
sejak tadi hanya menyalak saja kini telah
menubruk ke arahnya dengan buas.
Anjing ini memang bertubuh tinggi besar, setelah
berdiri menegak dengan taring menyeringai, segera
leher Manjing hendak digigit.
Keruan semua omang menjerit kuatir,
tampaknya dalam sekejap anak perempuan yang
cantik molek ini akan menjadi mangsa anjing buas.
Namun Manjing semapat mengegos, dengan gesit
ia menggeser ke samping. Tak terduga anjing itu
memang sangat tangkas, sekali luput menubruk,
segera ia membalik dan menerkam pula.
Manjing terkejut, diam-diam ia mengakui
kelihaian anjing yang tidak kalah dibandingkan
jago silat biasa ini.
Dia memenag tidak ingin melukai anjing itu,
sekarang ia tambah sayang kepada binatang cerdik
ini. Hanya sebelah tangannya menabas dan tepat
mengenai kuduk anjing itu sambil berseru kepada
Lamkiong Peng,”Lekas kau mundur saja!”
Dilihatnya Lamkiong Peng cukup tangkas
menghadapi tombak berantai Kim sian loh meski
kesehatannya belum puilih seluruhnya. Dengan
gerakan yang lincah ia menghindar kian kemari
sehingga tombak lawan sukar menyentuhnya.
Semua orang tercengang melihat ketangkasan
kedua muda mudi ini, tampaknya mereka memang
benar penjahat yang merampok dan membunuh
ini, kalau tidak masakah menguasai kungfu
setinggi ini.
Tapi ketika untuk kedua kalinya Kiam sian
hendak menerkam Yap manjing lagi, tanpa terasa
mereka menjerit kuatir pula.
“binatang!” bentak Manjing sambil menabas,
namun anjing itu tidak kurang gesitmya, ia sempat
menghindar dan mendekam di tanah dan siap
menubruk maju lagi.
Pada saat itulah terdengar suara gemuruh dari
luar berlari masuk lagi berpuluh petugas
bersenjata.
Bekernyit kening Lamkiong Peng,
dihindarkannya sekali serangan Kim sian loh, lalu
bentaknya, “jika engkau tidak segera berhenti bikin
jelas dulu persoalannya, jangan menyesal bila
aku………”
Belum habis ucapannya mendadak seorang
membentak, “Berhenti semua!”
Menggelegar suara bentakannya, menyusul
angin tajam lantas menyambar dari uadara,
sebatang tombak dengan ujung terikat sehelai
panji merah meluncur tiba dan ‘crat’, tombak
menancap di halaman.
Kim sian loh tekejut dan melompat mundur dari
kalangan.
Terdengarlah suara seorang tua sedang menegur
dari jauh, “Kim-pohtau, apakah penjahatnya sudah
kau temukan?”
Begitu lenyap suaranya, muncul juga seorang
kakek berambut ubanan dan berpakaian perlente,
dahi lebar dan mulut besar.
“Hah, suma-lopiauthau datang, urusan menjadi
mudah diselesaikan, “ seru kim sian loh girang.
Berbareng ia menuding Lamkiong Peng berdua,
‘Penjahatnya berada di sini.”
“Kau bilang dia penjahatnya?” tanya si kakek
dengan dahi bekernyit, jelas dia kurang senang.
“Betul, selain keduua muda mudi ini adalagi
begundalnya……..”
“Tutup mulut!” bentak si kakek sebelum Kim
sian loh berucap lebih lanjut.
Kim sian loh tercengang dan menyurut mundur.
Sebaliknya si kakek lantas menyongsong ke
depan Lamkiong Peng, sapanya dengan menyesal,
“Ku datang terlambat sehingga Hiantit (keponakan
baik) mendapat perlakuan tidak pantas, harap
dimaafkan.”
Lamkiong Peng tertawa sambil memberi hormat,
jawabnya, “Tak tersangka hari ini paman pun
datang kemari.”
Si kakek alias suma tiong-thian menarik tangan
Lamkiong Peng dan berkata kepada Kim sian loh,
“Kim pohtau coba kemari.”
Dengan bingung kim sian loh mendekati mereka.
“Kau bilang dia ini penjahatnya? Tanya si kakek.
Detektif yang biasanyan sangat angkuh ini
sekarang menjadi melenggong oleh sikap kakek
yang kereng ini, seketika ia tidak dapat menjawab.
“Sungguh aku merasa kuatir caramu
memecahkan setiap perkara, bila begini cara
kerjamu.” Kata Suma tiong thian.
Kim sian loh memandang anjing kesayangannya
sekejap, sekarang anjing ini juga tampak jinak
setelah berhaapan dengan si kakek perlente.
“Wanpe sebenarnya juga tidak percaya,
kenyataannya………”
“Hm, kenyataan apa?” jengek si kakek, sebelum
lanjut jawaban kim sian loh, “Memangnya kau
tahu siapa dia?”
Ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan
pandangan tajam, “Dia tak lain tak bukan adalah
putra kesayangan keluarga Lamkiong yang
termashur, murid sanjungan Put-si-sin-liong,
namanya Lamkiong Peng.”
Keterangan ini membuat muka Kin sian loh
berubah pucat dan memandang Lamkiong Peng
dengan melongo.
Lamkiong Peng tersenyum, katanya,
“Sebenarnya urusan ini…….”
Belum lanjut ucapnya, sekonyong-konyong
selarik sinar hitam menyambart tiba dari
kerumunan orang banyak.
Cepat Lamkiong Peng mengegos, si kakek pun
membentak dan menghantam, sinar hitam
terpental ke samping, berbareng ia terus memburu
kesana.
Manjing tidak bersuara, segera ia pun melayang
ke tengah kerumunan orang banyak, tempat
menyambarnya senajta rahasia. Hampir bersama
saatnya dia dan Suma Tiong-thian tiba di situ.
Anjing si dewa emas juga menguntit di belakang
si kakek. Namun tiada seorang pun yang pantas
dicurigai, agaknya penyergap itu sudah menyelinap
pergi.
“Apakah Locianpwe ini Thi-cian-ang-ki Suma-
Locianpwe?” sapa Manjing dengan tersenyum.
“Betul,” jawab Suma tiong thian sambil
memandang si nona, “dan nona inikah Khong-jiok
Huicu yang termashur itu?”
Manjing hanya menggeleng sambil tersenyum.
Pada saat itulah terdengar seorang lelaki berbaju
panjang menuding keluar sambil berseru, “Itu dia
sudah pergi!………sudah pergi!….sudah
pergi!……..Ai, sungguh keji caranya
menyerang……….”
Belum habis ucapannya segera Suma tiong-
Thian dan Yap manjing memeburu ke arah yang
ditunjuk.
Gemerdep sinar mata lelaki berbaju panjang ini
dengan semyuman licik, diam-diam ia hendak
menyusup pergi dari kerumunan orang banyak.
Tak terduga mendadak Lamkiong Peng sudah
mengadang di depannya sambil menegur, “Hm,
apakah sahabat mau pergi begitu saja?”
Terkejut juga orang itu.
“Selamanya kita tidak kenal dan juga tidak
bermusuhan, mengapa kau serang diriku dengan
senjata rahasia?” tanya pula Lamkiong Peng,
pelahan ia memperlihatkan saputangan yang
dipegangnya, pada saputangan itu ada sebatang
senjata rahasia berbentuk aneh, seperti jarum,
tajam kedua ujungnya, dan bercahaya hitam gilap.
“Am-gi (snejata rahasia) sekeji ini, kalau bukan
terhadap musuh besar mana boleh
digunakannya?” kata Lamkiong Peng pula.
“Kau ………kau bilang apa? Aku sama….. sama
sekali tidak paham? Ujar orang itu dengan muka
pucat.
Berbareng itu kedua tangannya terus menyodok
ke dada Lamkiong Peng.
“Hm,” Lamkiong Peng mendengus sambil
berkelit.
Orang itu mengannggap lawan cuma seorang
pemuda lemah, segera ia mendesak maju dan
menghantam lagi.
Tak terduga, belum lagi hantamannya
dilontarkan, tahu-tahu kuduk bajunya dicengkram
orang dari belakang.
Keruan ia terkejut, sekilas melirik dilihatnya
Suma tiong-thian berdiri dibelakangnya dengan
muka kereng dan membentak, “Kaum tikus
celurut, berani main gila di depanku!”
Sekali angkat kontan orang itu dilemparkan jauh
kesana.
Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala,
pikirnya, “Sudah lanjut usia orang ini mengapa
perangainya masih keras begini.” Bilamana orang
ini terbanting mati, kepada siapa lagi akan dikorek
keterangan pembunuhan di sini?”
Pada saat itulah mendadak bayangan orang
berkelabat lagi, orang yang dilemparkan Suma
tiong-thian itu telah dilempar kembali ke sini.
Cepat Suma tiong-thian menangkapnya kembali,
waktu ia mengawasi, ternyata Yap manjing telah
berdiri di depannya dengan tersenyum.
“Hebat amat ginkang nona. Jangan-jangan
murid Tan hong siancu? Kata si kakek.
Manjing tersenyum, “Sungguh tajam pandangan
Locianpwe, wanpwe memang murid Tan hong
adanya.”
“Hahaha, memang sudah kuduga, kecuali anak
murid Tan hong siancu, siapa pula yang dapat
mendidik murid dengan ginkang setinggi ini,” seru
Suma tiong-thian dengan tertawa.
“Haha, sungguh menyenangkan, anak muda
memang selalu melampaui angkatan tua, inilah
kemajuan zaman.”
Pelahan ia lemparkan tawanannya ke tanah,
dilihatnya muka orang sudah pucat pasi.
Lamkiong Peng memburu maju dan menegur,
“Sesungguhnya sebab apa sahabat menyerangku?
Siapa yang menyuruhmu? Asalkan mengaku terus
terang, tentub takkan kubikin susah padamu.”
Orang itu menghela nafas, dipandangnya
sekeliling, mendadak sinar matanya menampilkan
rasa takut, lalu tutup mulut tanpa berucap
sepatah pun.
Dengan kikuk Kim sian loh melangkah maju,
katanya, “hamba mempunyai cara untuk membikin
dia mengaku terus terang, entah bolehkah
kucoba?”
Suma tiong-thian mendengus, “orang ini pasti
tidak ada sangkut paut dengan perkara
perampokan ini, hal ini tidak perlu kau ributkan.
Betapa bodohnya kaum penjahat di dunia tentu
juga tidak mau berdiam di sini setelah berbuat
kejahatan. Mengenai urusan lain, hm, kukira tidak
perlu Kim pohtau ikut campur, aku sendiri
mempunyai cara untuk mengorek keterangannya.”
Kim sia loh mengiakan dan mengundurkan diri
dengan kikuk.
Suma tiong-thian menjengek, mendadak
mencengkram tulang lemas pundak orang itu, lalu
bertanya dengan suara tertahan, “Atas suruhan
siapa, lekas mengaku!”
Kontan butiran keringat merembes di dahi orang
itu, namun dia tetap tutup mulut tanpa bersuara
apa pun.
Waktu suma Tiong-thian memperkeras
remasannya, tak tertahan lagi orang itu merintih
kesakitan, namu tetap tidak mau bicara.
“Aku tidak terluka, jika dia tidak mau mengaku,
biarkan saja,” ujar Lamkiong Peng.
“Hiantit tidak tahu, keluarga Lamkiong kalian
saat ini sedang menghadapi ujian berat bahwa
orang ini sengaja menyerang dirimu secara
menggelap, jelas pasti ada dalangnya di belakang
layar, mana boleh disudahi begini saja?”
“Ujian berat apa?” tanya Lamkiong Peng.
Suma tiong-thian menghela nafas sedih,
tuturnya, “Urusan ini agak panjang untuk
diceritakan, untung Hiantit sudah akan pulang ke
rumah……..Ai, tiba saatnya tentu engkau akan
tahu sendiri.”
Lamkiong Peng tambah bingung dan entah
terjadi apa dengan keluarganya. Ia menunduk dan
termenung, mendadak dilihatnya kabut tipis
mengambang dari permukaan bumi, hanya sekejap
saja sudah menyelubungi telapak kaki orang
banyak.
Tergerak hatinya, waktu ia menengadah, sang
surya terang benderang di langit, cepat ia
membentak, “Lekas mundur, kabut berbisa!”
Segera ia mendahului menyurut keluar.
Suma tiong-thian melenggong bingung,
tanyanya, “Ada apa?”
Tanpa terasa remasannya mengendur,
kesempatan itu segera digunakan orang itu untuk
meronta sekuatnya, lalu berguling ke sana dan
menghilang di balik kabut.
Seketika terjadi kekacauan, segera Suma tiongthian
mengejar sambil membentak, “Hendak lari
kemana?!”
Cepat Lamkiong Peng berseru pula, “Lekas pergi
dari sini!”
Tanpa pikir Yap manjing menahan pundak
Lamkiong Peng terus melompat ke atas wuwungan,
waktu memandang ke sana, orang tadi agaknya
sudah mencampurkan diri di tengah kerumunan
orang banyak.
Janggut panjang Suma Tiong-thian berkibar, ia
pun menyelinap kian kemari di tengah orang
banyak untuk mencari.
Kim sian loh lantas menarik rantai emas namun
anjing yang terantai itu seperti tidak mau tunduk
lagi pada perintahnya melainkan terus mengikut di
belakang Suma tiong-thian sambil menggonggong
pelahan.
“Kau tinggal disini, biar kubantu Suma
lociacpwee membekuk kembali orang tadi” pesan
Manjing kepada Lamkiong Peng.
“tidak perlu lagi,” ujar anak muda itu.
“Tentang asal-usul orang itu sudah kuketahui.
Yang tak tersangka adalah dalam waktu sehari dua
hari saja orang-orang ini sudah dapat memupuk
kekuatan seluas ini.”
“Orang siapa maksudmu?” tanya Manjing
dengan bingung.
Dilihatnya air muka Lamkiong Peng mendadak
berubah dan berseru, “Wah, celaka!” Segera ia
membalik tubuh dan berlari kesana , karena badan
masih lemah, hampir saja ia jatuh keserimpet.
Cepat Manjing memburu maju untuk
memegangnya sambil bertanya, “Hendak ke mana
kau? Ai, ada sementara urusan mengapa tidak
kaukatakan terus terang padaku?”
“Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu sampai di
mana perkembangan urusan ini…….Ai, saat ini
sungguh kuharap bisa tumbuh sayap untuk
terbang pulang ke rumah,” demikian ucap
Lamkiong Peng dengan sedih.
Tiba-tiba timbul semacam firasat yang tidak
enak, seperti berbagai macam malapetaka akan
menimpa keluarga Lamkiong, terutama bila
teringat kepada gerombolan ‘hong-uh-biau-hiang’
(dupa mengambang di tengah hujan angin) yang
begitu luas pengaruhnya, sungguh tambah besar
rasa kuatirnya.
“Apakah engkau mau pulang?” tanya Manjing
dengan hampa.
“Ya dan engkau…..” jawab Lamkiong Peng ragu.
“Apakah perlu kutemanimu?” Mencorong sinar
mata si nona.
Lamkiong Peng mengangguk dengan pikiran
kusut, selain sedih terhadap urusan yang dihadapi
keluarganya, kini bertambah lagi dengan
keruwetan benang cinta.
“Jika begitu marilah kita lekas berangkat,” seru
Manjing girang. Segera ia menarik anak muda itu
dan diajak berlari pergi.
Asalkan berada bersama Lamkiong Peng, urusan
lain sama sekali tidak terpikir lagi olehnya.
Kabut makin tebal, orang banyak menjadi kacau
dan akhirnya bubar.
Dengan muka masam dan mengepal tinjunya
Suma Tiong-thian mengentak kaki dengan geram.
Selama hidupnya malang melintang di dunia
kangouw, tak terduga sesudah tua berbalik banyak
mengalami macam-macam gangguan, sekarang
seorang kroco malahan dapat kabur di bawah
tangannya. Tentu saja ia dongkol dan juga heran.
Waktu ia berpaling, dilihatnya Kim-sian-loh
masih berdiri di belakang dan sedang
memandangnya dengan bingung. Anjing berbulu
emas si dewa emas jugga mendekam di samping
kakinya dengan jinak.
IA menghela nafas pelahan dan mengelus kepala
anjing itu, katanya, “Dunia kangouw memang
banyak gelombang badai, apakah engkau tidak
ingin pensiun saja, Kim pohtau.”
Kim-sian-loh menunduk dan menjawab dengan
tergagap,”Wanpwee………”
“Kukira anjing ini pun sudah waktunya
kaupulangkan,” kata Suma Tiong-thian pula.
“Tapi sudah belasan tahun Kim-sian ikut
padaku, sungguh aku…….aku tidak…….”
“Di dunia ini tidak ada perjamuan yang tidak
bubar,” ujar suma Tiong thian dengan gegetun.”
Apalagi, tentunya kau tahu majikannya saat ini
jauh lebih memerlukan dia daripadamu.”
Kim-sian-loh berdiri termangu dengan
termenung.
Tiba-tiba dari balik kabut sana muncul lima
sosok bayangan, seorang lantas menegur dengan
suara lembut, “Suma-cianpwee, apakah engkau
masih kenal padaku?”
Waktu Suma tiong-thian memandang ke sana,
tertampaklah seorang nyonya cantik baju merah
dan bermata jeli sedang melangkah tiba dengan
lemah gemulai, dengan girang ia menjawab, “Hah,
biarpun tua mataku belum lagi rabun, masakah
tidak kenal lagi padamu? Wah, bagus sekali.
Ternyata Ciok-heng juga datang. Eh dimana Liong
hui, mengapa dia malah tidak ikut kemari?”
Kiranya nyonya cantik itu ialah Kwee Giok he,
dengan menyesal ia berkata pula, “Ai, aku pun
sedang mencarinya kian kemari, tapi tidak………ai,
salahku juga, mungkin aku berbuat sesuatu yang
membikin marah dia, kalau tidak, entah mengapa
dia………”
Mendadak senyumnya lenyap dan berubah
menjadi sangat sedih.
Kening Suma Tiong-thian bekernyit, katanya,
“Dan dimanakah So-so? Mungkinkah dia ikut
bersama Liong hui?”
Giok he mengangguk pelahan.
“Ah, anak ini………” gumam Suma tiong thian.
Yang berdiri di samping Ciok Tim yang ebrwajah
kaku itu terdapat pula Yim hong peng yang tampak
bersikap santai, ia berdehem lalu berucap, “Anda
ini mungkin ialah Thi-cian-ang-ki yang termashur
itu? Cayhe Yim hong peng.”
“Yim hong peng?……….Ah bagus sekali, tak
tersangka dapat bertemu dengan Yim taihiap
disini?” kata Suma tiong-thian.
Sekilas dilihatnya jauh di belakang mereka
berdiri lagi dua orang serupa kaum budak ikut
dibelakang majikannya, jelas dikenalnya kedua
orang ini adalah kedua elang hijau dan kuning dari
Jit-eng-tong, gembong perusahaan pengawalan
yang termashur dahulu.
Dengan girang Suma tiong thian mendekati
mereka sambil menyapa, “Wi-heng dan Leng-heng,
masa kalian sudah pangling padaku?”
Siapa tahu si elang kuning Wi leng thian dan
elang hijau Leng Gin thian hanya saling pandang
sekejap seperti samasekali tidak mengenalnya,
mereka tetap berdiri diam dan kaku.
Suma tiong thian jadi melenggong sendiri,
katanya pula dengan mendongkol, “Hah, meski
ang-ki-piaukiok dan Jit-eng-tong perusahaan
sejenis, namun jalan yang ditempuh memang tidak
sama. Tak tersangka begini sempit jalan pikiran
kalian.”
Leng Gin thian dan Wi leng thian tetap diam saja
seperti tidak mendengar.
Yim hong peng dan Kwe giok he saling pandang
sekejap dengan sorot mata mengandung senyuman
puas, sedangkan Ciok Tim kelihatan merasa
kasihan kepada kedua jago pengawal tua itu.
Pelahan Giok he lantas menarik ujung baju
Suma tiong thian dan berbisik kepadanya, “Suma
cianpwee, ada sementara orang takkan menjadi
soal dijadikan kawan atau tidak………Eh, betapa
gagah anjing ini, tentu inilah Kin sian yang
termashur itu?”
Kim sian loh memberi hormat dan menjawab,
“Betul, dan cayhe Kim sian loh, apabila nyonya ada
keperluan………..”
“Oya, hampir lupa kuberitahukan padamu,” seru
Suma tiong thian mendadak, “Peng-ji juga berada
disini!”
“Gote Lamkiong peng maksud Cian pwee?” tanya
Giok-he.
“Netul,” jawab Suma tiong thian, waktu ia
berpaling, kabut tadi sudah mulai menipis, namun
di halaman sana kosong sepi tiada seorang pun.
“Peng-ji! Peng-ji!” cepat Suma tiong thian
berteriak.
“Mungkin dia sudah pergi,” ujar Giok he dengan
tersenyum.
“Pergi?” heran juga Suma tiong thian.
“Akhir-akhir ini entah mengapa, bila melihat
diriku dan samte dia lantas menyingkir jauh,
padahal…..ai, umpama dia berbuat sesuatu
kesalahn, antra sesama saudara seperguruan tentu
juga akan kami maafkan.” Giok he merandek
sejenak, lalu menyambung lagi dengan menyesal,
“Anak ini……..pintar lagi cekatan, semuanya baik.
Kuharap kelak dia dapat melakukan sesuatu
pekerjaan besar, siapa tahu……….Ai!”
“Memangnya dia kenapa?” tanya Suma tiong
thian melenggak.
“Betapapun dia masih muda belia, hanya
lantaran seorang perempuan bejat dia tidak sayang
bermusuhan dengan orang banyak, “tutur Giok he.
“Demi membela Bwe-leng-hiat dia telah membunuh
Hui-goan Wi loenghing.”
“Hah apa betul?” teriak Suma tiong thian terkeju
dan gusar.
Giok he tidak menjawab melainkan menunduk
dan menghela nafas.
Yim hong peng juga menggeleng, ucapnya,
“Maklum anak muda!”
Dengan geram Suma tiong thian bergumam,
“Keluarga Lamkiong sendiri sedang gawat dan dia
masih bebruat demikian……….” mendadak ia
berpaling dan bertanya, “Apakah kautahu
perempuan she Bwe itu telah memperalat kemala
tanda pengenal Peng-ji untuk menarik harta benda
dari berbagai cabang perusahaan Lamkiong di
sekitar Se-an?”
Giok he melirik Yim hong peng sekejap, lalu
berucap dengan lagak terkejut, “Apa betul?”
“Berpuluh laksa tail perak memangnya bukan
urusan besar bagi keluarga Lamkiong, tapi
sekarang……..” ia memandang ke depan dan
menghela nafas panjang.
Gemerdep sinar mata Giok he, katanya, “Apakah
keluarga Lamkiong mengalami sesuatu?”
“ya sesuatu yang luar biasa, bisa..bisa
bangkrut……..” gumam si kakek.
Mendadak terlihat seorang lelaki berbaju hitam
berlari masuk dengan membawa sehelai panji
merah, rambut semerawut, nafas ngos-ngosan,
begitu masuk segera ia berlutut dan menyembah
sambil melapor, “Wah celaka
Ciongpiauthau!”………..”
“Ada apa?” tanya Suma tiong thian dengan
bengis.
Orang itu melapor pula, “Beberapa cabang
perusahaan keluarga Lamkiong di Buwi, Tioya,
Kolong, Engting dan Lanciu, semuanya telah
dilelang, manjadi seratus lima puluh tail perak,
semuanya diringkas menjadi batu permata, selagi
diangkut sampai di Thayan
lantas……..lantas………..”
“Lantas bagaimana?” bentak Suma tiong thian.
“Lantas dirampok orang tanpa meninggalkan
bekas, sambung orang itu, “kecuali hamba yang
merintis jalan di depan, saudara yang lain
seluruhnya……….seluruhnya telah terbunuh oleh
panji merahnya sendiri, melihat gelagatnya, tiada
seorang pun diantaranya sempat membela diri.”
Belum habis ucapannya, tahu-tahu Suma tiong
thian berteriak terus roboh terkulai, jatuh pingsan.
Wajah Giok he dan Yim hong peng tampak
menampilkan rasa kejut juga, seperti sama sekali
tidak tahu menahu atas urusan perampokan ini.
**********
Dari Sunyang lewat Pekho sampai di Ansia,
sepanjang jalan hanya ladang luas, jarang
kampung dan sedikit penduduk.
Waktu senja, di sebuah dusun kecil di luar kota
Ansia yang tenang, asap dapur mengepul sana-sini,
nyata sudah dekat orang makan malam.
Beberapa orang lelaki dengan baju robek dan
telanjang kaki tampak berdiri di depan satusatunya
penjaja makanan di dusun ini sedang
membeli kacang goreng dengan satu duit, atau
membeli siopia dengan dua duit sebiji, tiga duit
dapat memebeli secawan arak putih, empat duit
dapat dapat setahil daging rebus. Lalu
menongkrong di atas bangku panjang dan
menikmati makanan itu sambil minum arak serta
mengobrol ke timur dan ke barat.
Mendadak salah seoarang itu melenggong dan
mendesis sambil memandang ke depan sana,
“Lihat alangkah cakapnya sepasang muda mudi
ini. Wah juragan, tampakanya daganganmu akan
laris!”
Penjaja makanan itu menoleh, terlihat dari ujung
jalan sana melangkah tiba sepasang muda mudi,
meski kelihatan letih akibat perjalanan jauh,
namun sikapnya tetap gagah dan anggun.
Penjual makanan yang sudah ompong itu
tertawa dan berkata, “Ah, mana orang sudi jajan di
tempat seperti ini……..”
Tak terduga, tahu-tahu kedua muda mudi itu
langsung menuju ke tempatnya, si gadis berbaju
hijau yang cantik itu lantas mengeluarkan empat
duit dan berkata, “Beli siopia dua biji.”
Dengan gugup kakek penjual makanan itu
membungkuskan dua siopia.
Sambil menerima bungkusan siopia, si nona
bertanya, “Sudah dekat Ansia bukan?”
Serentak beberapa orang menjawab, “Ya, sudah
dekat di depan!”
Gadis jelita itu memngucapkan teriamkasih dan
melanjutkan perjalanan bersama si pemuda.
Sambil berjalan si nona membagi siopia kepada
pemuda itu, katanya, “Lekas dimakan, biarpun
penganan udik juga perlu untuk menambah
tenagamu agar dapat menempuh perjalanan lebih
jauh, setiba di Ansi dapatlah kita mengambil dua
ekor kuda di cabang perusahaanmu, juga perlu
tambah sangu.”
“Beberapa hari ini syukur bersamamu,
kalau……..kalau tidak……….”gumam si pemuda
dengan gegetun.
Si nona menatapnya dengan sinar mata
mencorong terang serupa kerlip lampu di
kejauhan.
Tidak lama kemudian mereka sudah memasuki
kota Ansia yang telah bermandikan cahya. Mereka
coba mencari cabang perusahaan keluarga
Lamkiong. Akan tetapi seorang di tepi jalan yang
ditanya memperlihatkan rasa heran.
“Kalian mencari toko milik keluarga Lamkiong?”
jawab orang itu. “Di kota ini sebenarnya ada
sebuah toko hasil bumi milik keluarga Lamkiong
yang terkenal, tapi ebberapa hari yang lalu toko itu
telah dioperkan kepada orang lain, semua
pegawainya juga telah dibubarkan. Kejadian ini
memang sangat mengherankan penduduk di sini.”
Bagi Lamkiong Peng, bukan Cuma heran saja,
tapi juga gelisah dan cemas karena tidak tahu apa
yang telah terjadi.
Si nona berbaju hijau, Yap manjing, juga
melenggong, tapi segera ia tertawa dan berkata,
“Ah, untuk apa diherankan, bisa jadi Tunan besar
Lamkiong kita mendadak tidak mau berdagang lagi
dan ingin pensiun saja di rumah.”
Tanpa pikir ia ajak Lamkiong Peng meneruskan
perjalanan keluar kota.
Hati Lamkiong Peng penuh diliputi tanda tanya,
“Sesungguhnya apa yang telah terjadi?”
Ia tidak dapat menerka, juga sukar mendapat
penjelasan.
Hawa malam mulai dingin, waktu ia
menengadah, tertampak bayangan lereng gunung
memanjang di depan.
Itulah lereng gunung Butong, disana pula
terletak pusat ilmu silat perguruan temama, Bu
tong Pai yang termashur.
Sementara itu mereka sudah berada di kaki
gunung dengan pepohonan yang rimbun.
“Tentu engkau sudah lelah, biarlah kita mengaso
saja disini.” Kata Manjing.
Mereka lantas mencari suatu tempat teduh dan
berduduk, untuk sejenak suasana terasa sunyi
senyap, tiba-tiba terdengar perut Lamkiong Peng
berkeruyukan.
Manjing tertawa, “Hah, kau lapar lagi!”
Segera ia merogoh saku dan mengeluarkan sisa
sepotong siopia, katanya pula, “ini, makanlah!”
Lamkiong Peng terharu, katanya dengan
kerongkongan serasa tersumbat, “Engkau
sendiri………..”
“Baiklah, kutahu engaku takkan mau makan
sendiri,” ucap manjing dengan tersenyum sambil
merobek siopia itu menjadi dua dan separoh
diberikan kepada Lamkiong Peng.
Sambil makan siopia, Lamkiong Peng merasa
panganan ini jauh lebih lezat daripada makanan
apapun. Jika bukan dalam keadaan begini dan
penganan pemberian kekasih, mana dapat
dirasakan nikmatnya siopia itu.
Dcangan tersenyum Manjing berucap, “Pantas
kakek botak itu kemaruk harta, kiranya uang
memang pegang peranan sedemikian penting
dalam kehidupan manusia………Eh, menurut
pendapatmu, apakah perampokan itu dilakukan
olehnya?”
“Haya tenaga satu orang saja mana dapat
membunuh kawanan jago pengawal Ang-kipiaukiok
itu?” ujar Lamkiong Peng.
“Jika begitu, mengapa mendadak ia kabur tanpa
sebab?”
“Ya, akupun tidak mengerti,” jawab si anak
muda.
Selagi manjing mau bicara lagi, mendadak
Lamkiong Peng menarik tangannya dan mendesis,
“Ssst, jangan bersuara!”
Terdengarlah suara orang tertawa
berkumandang dari atas lereng sana, seorang
tertawa sambil berkata, “Jika tidak ada urusan
penting, mana berani sembarangan kuganggu
ketenangan keempat totiang?”
Berubah air muka Maniing, bisiknya, “Coba
dengarkan, suara siapa ini?”
Tanpa pikir Lamkiong Peng menjawab, “ siapa
lagi, jelas si tua gila uang itu!”
Logat kampung aslinya dari propinsi Soasai
memang sukar dilupakan oleh orang yang pemah
mendengar suaranya.
“Mengapa ia pun berada di sini………”
“Sssst!” desis Lamkiong Peng.
Rupanya beberapa orang itu sudah makin dekat,
terdengar suara seorang berucap dengan nada
berat, “Ada urusan, harap lekas bicara.”
“Sepanjang jalan kukuntit di belakang Totiang
selama dua hari, tujuanku justru ingin mencari
suatu tempat bicara yang terahasia.” Kata Ci Ti
alias gila uang.
Agaknya lawan bicaranya melenggak, lalu
berkata, “Bagaimana kalau kita bicara di atas
tebing sana?”
“Bagus sekali.” Seru Ci Ti.
Terkesiap Lamkiong Peng berdua segera
terdengar suara angin mendesir, beberapa orang
itu telah melompat ke atas.
Ternyata keempat orang tepat berdiri di suatu
tebing yang mencuat di depan tempat sembunyi
Lamkiong Peng dan Yap manjing, Cuma mereka
berada di bawah pohon dan teraling oleh akar
tertumbuhan yang rimbun, maka mereka dapat
melihat pihak lawan dan lawan tak dapat melihat
mereka.
Tertampak jelas empat tojin berjubah hijau dan
berkaos kaki putih, rambut disanggul tinggi dia
atas kepala, pedang tergantung di pinggang, di
punggung masing–masing menggendong sebuah
bungkusan kuning. Usia mereka rata-rata sudah
lebih 50an, sikapnya kereng berwibawa, jelas
mereka bukan orang sembarangan.
Seorang di antaranya berwajah kelam dan
berjenggot sehingga sikapnya terlebih gagah,
dengan berkerut kening ia lantas berkata, “Nah,
apa yang ingin Sicu bicarakan sekarang dapatlah
kaukatakan saja.”
“Silahkan duduk, silahkan duduk dulu,” ujar si
kakek botak alias Ci Ti, lali ia mendahului duduk
bersila.
“Selama ini kami tidak suka bergurau dengan
siapa pun, “ ujar Tojin bermuka kelam itu.
Mnedadak si botak juga bicara dengan serius,
“Tempo sama dengan uang, aku pun tidak pemah
membuang-buang waktu untuk bergurau.”
Keempat tojin saling pandang sekejap, lalu ikut
duduk bersila.
Seorang tojin lain yang berwajah dingin meraba
tangkai pedang dan berucap, “Sesungguhnya apa
yang hendak dibicarakan Sicu?”
Ci Ti memandang cuaca sekejap, lalu berkata,
“Saat ini seperti sudah tengah malam, bukan?”
Selagi tojin bermuka kelam mendengus dongkol,
segera Ci Ti menyambung, “Tengah malam
kemarin………”
Baru selesai bicara demikian, serentak air muka
keemapt tojin itu berubah hebat, teriaknya, “Apa
katamu?” berbareng mereka pun meraba pedang
masing-masing.
Selagi Lamkiong Peng terkesiap, terdengar Ci TI
terbahak dan berkata pula, “Tengah malam
kemarin, ketika keempat totiang memperlihatkan
ketangkasan kalian, mungkin tak pemah tersangka
ada orang menonton permainan kalian di
samping.”
Ia merandek sejenak, tanpa menunggu jawaban
ia meneruskan, “Tapi sebelumnya juga tidak kudga
bahwa kawanan permapok berkedok yang turun
tangan keji itu tak lain tak bukan adalah jago Bu
tong pai yang terkenal dan dipandang sebagai
pimpinan dunia persilatan, bahkan tidak ada yang
menyangka hal itu bisa dilakukan oleh Bu tong su
bok (empat pohon dari Butong) yang merupakan
para tertua andalan Bu tong pai.”
Mendengar ini, jantung Manjing hampie
melompat keluar dari rongga dadanya, Dirasakan
Tangan Lamkiong Peng yang memegangnya juga
bergemetar. Bahwa kawanan tojin Bu tong pai bisa
menjadi perampok, sungguh berita yang amat
mengejutkan.
Baru slesai Ci Ti berucap, serentak terdengar
suara bentakan, bayangan orang berkelebat, sinar
pedang pun menyambar, dalam sekejap Bu tong su
bok telah mengepung Ci Ti di tengah, ujung pedang
mereka pun mengancam di depan leher kakek
botak itu.
Namun kakek botak yang aneh alias si mata
duitan itu tetap duduk bersila di tempatnya tanpa
bergerak, sikapnya tetap tenang, katanya, “Lebih
baik kalian tetap duduk saja, memangnya kalian
sangka urusan ini dapat diselesaikan dengan main
senjata?”
Si tojin bermuka kelam membentak, “Omong
kososng, sembarangan memfitnah orang! Masa
kaukira Butong su bok tidak mampu
membinasakan kakek sialan macam dirimu ini?”
Ci Ti mendengus, “Memfitnah? Hm, numpang
tanya bungkusan apa yang kalian panggul itu?”
Ujung pedang yang mengancam leher si kakek
tampak bergetar, air muka Bu tong su bok juga
berubah hebat.
“Hah, keempat totiang adalah orang cerdik dan
pintar, coba pikir saja, hanya aku saja sendirian,
kalau tidak ada bala bantuan yang telah kuatur,
masa kuberani sembarangan merecoki Bu tong su
bok yang termashur ini?” ejek si kakek botak.
Pendek kata, apabila malam ini kalian mencederai
diriku, maka dalam waktu lima hari saja setiap
orang Bulim pasti akan athu bahwa keempat tokoh
Bu-tong-pai yang temama dan disegani
sesungguhnya tidak lain adalah perampok belaka.”
“Meski tersiar juga tidak ada orang mau percaya,
pada hakikatnya di sini tidak ada orang lain lagi,”
jengek si tojin muka kelam.
Kalau tidak ada api, dari mana datangnya asap,
sesuatu kejadian tentu ada sebabnya, apakah ada
orang lain yang tahu atau tidak, perlu kukatakan
lagi bahwa sebelum kudatang kemari sudah kuatur
segala kemungkinannya. Maka menurut
pendapatku, akan lebih baik jika kalian
meletakkan senjata saja dan coba bicara lagi.”
Benar juga, pelahan keempat pedang yang
mengancam itu lantas diturunkan.
“Nah silahkan duduk, segala apa kan dapat
dirundingkan secara baik, aku si gila uang juga
bukan manusia tak tahu malu,” ucap si kakek.
Tidak ada pilihan lain, perlahan Bu tong su bok
duduk kembali dengan air muka agak merah.
Nyata biarpun kungfu mereka cukup mengejutkan,
namun pengalaman kangouw mereka terlalu
dangkal.
Segera si kakek mata duitan berkata pula,
“Sudah lama kudengar orang bilang Bu tong su
bok adalah tokoh saleh dan tinggi agamanya, kalau
tidak menyaksikan sendriri sungguh aku pun tidak
percaya kalian dapat berbuat demikian. Agknya
kalian baru pertama klai ini berbuat sehingga
sangat tegang, kalau tidak dengan ketajaman mata
telinga kalian tentu dapat mengetahui penonton
yang tak diundang serupa diriku ini.”
Bu tyong su bok tertegun dan tidak dapat
menjawab.
Ci Ti tersenyum, katanya pula, “Kerena kalian
baru pertama kali berbuat sungguh aku tidak mau
merusak nama baik yang kalian pupuk dengna
susah payah selama ini, asal saja kalian menerima
dua syaratku, selamanya akan kurahasiakan
kejadian ini.”
Si tojin bermuka kelam adalah kepala Bu tong
su bok, namanya Ci pek tojin, si cemara ungu,
dengan kening bekernyit ia berkata, “Apa
syaratmu?”
“Urusan ini sebenarnya tidak sulit,
asalkan………”
Belum si kakek botak selesaikan ucapannya,
mendadak Ci pek tojin memotong, “Urusan apa
pun, asal sanggup kulakukan pasti akan kami
terima. Tapi entah cara bagaimana akan kau jamin
bahwa seterusnya kau pasti akan menutupi rapat
urusan ini dan takkan disiarkan!”
Ci Ti berpikir sejenak, katanya kemudian,
“Tentang ini……….” mendadak ia berbangkit,
telapak tangan kiri melindungi dada, telapak
tangan kanan terangkat ke depan, jari besar dan
jari telunjuk membuat lingkaran dan sisa ketiga
jari lain terjulur miring ke depan, sedikit ia
menarik nafas, serentak tubuhnya memanjang
lebih setengah kaki, lalu berucap, “Nah, apa yang
kukatakan tentunya dapat kalian percaya bukan?”
Lamkiong Peng dan Yap manjing sama terkesiap,
hampir berteriak. Sungguh mereka tidak menduga
si kakek botak yang semula kelihatan loyo dan
mata duitan itu mendadak bisa berubah gagah
perkasa..
Bu tong su bok juga kaget, Ci pek tojin lantas
bertanya, “Apakah Cian pwe ini salah seorang
tokoh ajaib yang termashur di dunia kangouw pada
30 tahun yang lalu dan konon sudah lama
mengasingkan diri, Hong tun sam yu adanya?”
Ci Ti alias si mata duitan hanya tersenyum saja,
dalam sekejap ia sudah keliahatn lagi keadaannya
yang konyol tadi.
Ci pek tojin menghela nafas, katanya, “Jika
benar Cianpwe adalah tokoh Hong tun sam yu
yang dahulu pemah menumpas kawanan iblis, apa
pula yang perlu kukatakan, cianpwee ingin
memberi petunjuk apa., terpaksa kami hanya
menurut saja.”
Nyata keempat tojin andalan Bu tong pai yang
namanya disegani serupa ketuanya, Komg tiok
Tojin, kini ternyata juga jeri terhadap Hong tun
sam yu yang biasanya jarang muncul di dunia
persilatan itu. Maka dapat dibayangkan betapa
jayanya ketiga Hong tun sam yu ketika masih aktif
dulu.
Manjing saling pandang sekejap dengan
Lamkiong Peng dengan heran.
Terdengar Ci Ti berkata pelahan, “Nah,
dengarkan pertama, hendaknya kalian serahkan
bungkusan yang kalian panggul itu kepadaku.”
Bu tong su bok
Melenggak dan saling pandang dengan serba
susah. Akhirnya Ci pek tojin menghela nafas,
pedang dimasukkan kembali ke sarungnya,
bungkusan yang dipanggulnya ditanggalkan,
dengan hormat ketiga kawanannya, jing tiong,
tokgo, dan koh tong tojin juga menirukan
perbuatan Ci-pek.
“Keempat bungkusan itu diikat menjadi satu”,
kata Ci Ti.
Segera Bu tong su bok membuka bungkusan
mereka, tertampaklah cahaya mengkilat
menyilaukan mata, ternyata isi keempat
bungkusan itu adalah batu permata yang tak
temilai jumlahnya. Sejenak kemudian isi keempat
bungkusan itu telah diringkas menjadi satu.
Ci Ti menerima satu kantungan besar itu lalu
berkata, “Harta benda ini adalah milik keluarga
Lamkiong yang diserahkan dalam pengawalan Angki-
piaukiok bukan?”
Bergetar tangan Lamkiong Peng.
Dilihatnya mata Ci Ti menampilkan cahya yang
aneh, lalu berkata pula, “dan urusan kedua, ingin
kutanya, sesungguhnya lantaran apa kalian
berempat rela mengorbankan nama baik untuk
merampas harta benda ini?”
Air muka Bu tong su bok berubah hebat, cipek
tojin menyapu pandang sekitarnya, suasana
malam sunyi, hanya angin mendesir dingin.
“Selain aku kukira tiada orang lain lagi,” kata Ci
Ti.
Lamkiong Peng menggenggam tangan Manjing,
tangan kedua orang terasa sedingin es.
Terdengar Ci pek tojin menghela nafas dan
berkata, “Apakah Cianpwe pemah mendengar
nama Kun mo to (pulau kawanan iblis)?”
“Kun mo to?” Ci Ti menegas dengan melenggak,
suaranya juga mengandung nada terkejut.
“Ya, entah sudah beberapa puluh tahun yang
lalu cerita tentang Kun mo to telah tersiar luas di
dunia kangouw,” tutur Ci Pek pula. “Entah mulai
kapan dan entah bagaimana duduk perkaranya,
diam-diam Kun mo to telah mengadakan perjanjian
rahasia dengan ketujuh perguruan besar dunia
persilatan, yaitu pihak Kun mo to berjanji takkan
ikut campur urusan ketujuh pergruruan besar,
juga takkan mengganggu anak muridnya.
Sebaliknya Jit-toa-mui-pai (ketujuh perguruan
besar) harus berjanji akan mengerjakan sesuatu
rusan bagi Kun mo to, kapan dan apa pun.”
Ia menghela nafas, lalu menyambung lagi,
“Perjanjian rahasia ini turun temurun diketahui
oleh para ketua dan beberapa tokoh terkemuka Jittoa-
mui-pai kami, yakni siau-lim, kun-lun, kongtong,
Tiam-jong, Gobi, Hoa-san dan Bu-tong pai
kami. Sudah lama perjanjian rahasia ini
berlangsung turun temurun, tapi sejauh ini Kun
mo to tidak pemah melaksanakan haknya, baru
akhir-akhir ini……….”
Ia menghela nafas lagi sambungnya, “Kira-kira
lebih sebulan yang lalu, medadak datamh kurir
pihak Kun mo to, kami diminta bilamana
mengetahui ada harta benda keluarga Lamkiong
yang dikirim lewat jarak ratusan li, di sekitar Bu
tong san, maka orang Bu tong pai kami
diharusakan merampasnya, juga wajib membunuh
setiap orang yang mengawal harta benda itu
dengan tanda pengenal merak sendiri, adapun
harta bendanya boleh terserah kepada kami untuk
diatur bagaimana baiknya.”
Gemerdep sinar mata Ci Ti, katanya, “meski
perusahaan keluarga Lamkiong sudah bersejarah
ratusan tahun, tapi selian ada hubungan denga
perusahaan pengawalan umumnya tidak pemah
terdengar ada hubungan lain dengan orang
persilatan, mengapa keluarga Lamkiong bisa
bermusuhan dengan pihak Kun mo to?”
“Kami juga merasa heran,” ucap Ci pek.
“mengingat perjanjian rahasia pihak Kun mo to
dengan Jit-toa-mui-pai kami sudah berlangsung
sekian lama dan sejauh ini tidak pemah
menggunakan hakknya, dapat diduga karena
mereka memandang hal ini sangat penting dan
tidak mau sembarangan menggunakan haknya.
Siapa tahu sekarang mereka justru menggunakan
hak ini untuk bertindak terhadap keluarga
Lamkiong yang tidak ada sangkut pautnya dengan
dunia persilatan. . Cuma lantaran pejabat ketua
kami juga harus patuh kepada perjanjian leluhur,
juga tidak ingin bermusuhan dengan Kun mo to,
dalam keadaan terpaksa kami lantas di tugaskan
melakukan tindakan yang tak terpuji ini.”
Jing siong tojin lantas menymabung, “Bukan
Cuma Bi tong pai kami saja yang bertindak,
kuyakin Gobi, Kunlun, Kongtong dan pergururan
lain pasti juga berbuat yang sama. Sungguh harus
disesalkan, entah ada permusuhan apa antara Kun
mo to dengan keluarga Lamkiong, biarpun keluraga
lmakiong kaya raya, tapi mana tahan bermusuhan
dengan Jit-toa-mui-pai?”
C Ti duduk termenung tanpa memberi
tanggapan, suasana menjadi sunyi.
Mendadak terdengar di bawah pohon yang
rimbun sana ada seruan orang tertahan, “Hei,
kau………”
Tahu-tahu muncul seorang pemuda cakap
dengan muka pucat dan mendekati Bu tong su
bok.
Serentak Bu tong su bok berbangkit,. Ci Ti juga
berseru, “lamkiong Peng!”
“hah, Lamkiong Peng?!” Ci pek tojin bersuara
kaget.
Langsung Lankiong Peng mendekati Ci pek tojin,
mendadak ia membentak dan melancarkan
pukulan.
Ci-pek berkelit, lengan bajunya mengebas.
Karena dia menyesali perbuatannya, maka
kebasan lengan bajunya hanya digunakan untuk
menagkis saja, tak terduga Lamkiong Peng ternyata
tidak tahan oleh tenaga kebasannya, kontan ia
roboh terejngkal.
Sekonyong-konyonh bayangan orang berkelebat,
seorang gadis jelita melayang tiba dan menubruk di
atas tubuh Lamkiong Peng sambil menjerit, “Hei
kau………” segera ia mendongak dan memaki,
“Sebenarnya ada permusuhan apa antara keluarga
Lamkiong dengan Bu tong pai kalian? Kenapa
kalian bertindak sekeji ini?”
Bu tong su bok saling pandang dengan gugup
dan tak dapat menjawab.
Ci Ti memnadang Lamkiong Peng sekejap,
katanya, “jangan kuatir, dia tidak parah, hanya
karena tubuhnya masih lemah dan dirangsang
rasa murka, ditambah lagi rasa cemas, gusar dan
lelah, maka mendadak ia jatuh pingsan dan bukan
terluka dalam, asal mengaso dua hari dan makan
sedikit obat tentu akan sembuh.”
Pelahan Manjing mengangkat tubuh Lamkiong
Peng, ucapnya dengan gemas, “Hm, baru sekarang
kutahu wajah asli Bu tong pai, ternyata semuanya
Cuma manusia rendah dan tidak tahu malu
belaka. Tunggulah pembalasanku.”
Habis berkata ia lantas melangkah pergi.
Tapi bayangan orang lantas berkelebat, Bu tong
su bok telah mengadang di depannya, “Nanti dulu
nona !”
“Kau mau apa lagi?” bentak Manjing.
Ci pek menghela nafas, “Kami bertindak
demikian sesungguhnya juga terpakasa, mohon
nona dapat memahami kesulitan kami.”
“Hm, kesulitan apa?” jengek manjing.
“Demi kepentingan pihak sendiri lantas
mengadakan perjanjian rahasia dengan kaum iblis
dan sembarangan berbuat tanpa menghiraukan
kepentingan orang kangouw, sungguh rendah dan
memalukan.”
Bu tong su bok melongo oleh maikan si nona.
Ci Ti berdehem dan coba menyela, “Nona….”
“Peduli apa denganmu?” damprat Manjing
dengan melotot, “Bagimu, asal ada duit, habis
perkara, apa yang perlu kaukatakan?”
Ci Ti melenggong juga.
“Nah, kalau kalian mau, boleh silahkan cincang
saja diriku di sini, kalau tidak hendaknya lekas
menyingkir dan memberi jalan.” Bentak Manjing.
“Maaf nona, kami tidak ingin membikin susah
nona, juga tidak dapat membiarkan nona pergi dari
sini, terpaksa mesti minta nona suka tinggal
sementara di suatu tempat, nanti kalau……………’
“Nanti apa?” bentak Manjing sebelum lanjut
ucapan Koh tong tojin, “Barangkali kalian sedang
mimpi, kalian kira nonamu dapat kalian
perlakukan sesukanya? Biarpun Bu tong su bok
terkenal di dunia kangouw juga aku Yap manjing
tidak jeri.”
Pada saat itulah mendadak seorang tertawa
nyaring dan mendengus, “Hm, empat orang tua
mengerubut seorang nona cilik, terhitung orang
gagah macam apa?”
“Siapa?!” bentak Bu tong su bok dengan kaget.
Segera suara orang itu tertawa pula, “Hihi
jangan takut, adik cilik, Tacimu datang
membantumu!”
Belum lenyap suaranya sesosok bayangan orang
lantas malayang tiba dari bawah tebing.
Diam-diam Bu tong su bok terkesiap oleh
ginkang orang yang hebat.
Ternyata kedua pendatang seorang lelaki dan
seorang perempuan, yang lelaki gagah tampan,
Cuma sikapnya rada angkuh, yang perempuan
cantik molek mempesona.
“Bwe kiam soat!” seru Manjing. Kedua pendatang
ini memang Bwe kiam soat dan Cian tong lai
adanya.
Bu tong su bok terkejut.
Dengan tertawa genit Kiam soat berucap, “Adik
cilik, coba beritahukan padaku, apakah beberapa
tosu brengsek ini hendak mengerubut dirimu? Biar
kuhajar adat kepada mereka.”
Manjing menarik muka dan mendengus,
“Urusanku tidak perlu kau ikut campur.”
“Ahh, masih juga kau bicara segalak ini?” uajr
Kiam soat dengan tertawa. “Kau pondong seorang
lelaki sebesar ini, mana bisa kau lawan keempat
tosu ini. Kalau aku tidak kebetulan pergoki
kejadian ini, bukan mustahil nona jelita seperti
dirimu ini akan dikerjai orang.”
Sembari bicara ia pun tertawa terkial-kial serupa
tangkai bunga bergoyang tertiup angin.
Muka Ci pek tojin yang kelam itu tambah gelap,
katanya , “Nama kebesaran nona Bwe sudah lama
kami kenal, namun caramu bicara itu hendaknya
tahu aturan sedikit di hadapan kami.”
“Eh tong-lai, coba kaudengar, cara bicara tosu
tua ini bukanlah terlampau latah?” tanya Kiam
soat kepada pemuda yang berdiri di sebelahnya.
“Hehe, memang, kukira memang agak terlalu
latah,” Cian tong lai mengangguk seperti orang
linglung.
“Bukan urusan kalian, lekas kalian pergi………..”
jengek Manjing.
“Urusan kami atau bukan, yang pasti akan
kuikut campur, kukira akan lebih baik jika kau
pergi saja membawa dia lebih dulu,” ujar Kiam soat
dengan tertawa.
“Baik, biar ku pergi,” kata Manjing dan segera
hendak melangkah.
“Nanti dulu!” bentak Koh-tong Tojin.
“Eh, apa macamnya seorang tosu tua main
adang seorang nona cara begini?” segera Bwe kiam
soat mengejek.
Waktu Bu tong su bok berpaling, ternyata si
kakek botak alias Ci Ti entah sudah menghilang ke
mana.
Koh tong tojin berkata pula, “Sudah lama kami
dengar ilmu silat nona meliputi intisari berbagai
aliran temama dan sukar diukur dalamnya.
Sekarang nona bersikap segarang ini terhadap
kami, agaknya engkau sengaja hendak pamer
kepandaian di sini?”
Serentak Jing siong dan Tok go tojin berputar
dan siap di belakang Bwe kiam soat, hanya Ci pek
saja dengan muka kelam tetap berdiri di depan
lawan.
Kiam soat tersenyum tak acuh, katanya sambil
melirik kawannya, Tong-lai, coba ada orang berani
bicara kasar padaku, masa engkau tidak memberi
hajar adat kepada mereka?”
Alis Cian tong-lai tampak menegak, serunya,
”Orang beragama bersikap sekasar ini, memang
pantas diberi hajar adat!”
“Huh, anak ingusan juga berani bicara tentang
hajar adat terhadap Bu tong su bok?” jengek Koh
tong tojin dengan gusar.
“Bu tong su bok?” melenggak juga Cian tong-lai.
“Ya, itulah kami berempat!” sahut Koh tong
sambil melolos pedang.
“Hm, memangnya mau apa jika Bu tong su bok?”
bentak Cian tong-lai mendadak, sekali melangkah
maju, segera telapak tangannya menabas iga Koh
tong.
Sebenarnya antara Bu-tong pai dan Kun-lun pai
perguruan Cian tong-lai ada hubungan erat, tapi
pemuda yang angkuh dan biasanya suka bertindak
menuruti watak sendiri ini sekarang tidak
menghiraukan hubungan baik segala demi
membela si cantik.
“Kurang ajar!” bentak Koh tong tojin sambil
menggeser ke samping, berbareng pedangnya balas
menabas pergelangan tangan Cian tong-lai.
Gerak menghindar yang cepat dan serang
balasan yang lihai.
Tak terduga Cian tong-lai lantas mendesak maju
malah sambil menghantam lagi, dengan tangan
yang lain ia tolak tangan lawan yang berpedang.
Koh tong terkejut, cepat ia melompat mundur
dan membentak, “Apakah kau murid Kun-lun pai?”
“Kalau murid Kun-lun pai lantas mau apa?”
jawab Cian tong-lai sambil melancarkan pukulan
tiga kali di tengah berkelebat sinar pedang lawan.
“bagus serangan hebat!” seru Kiam soat memuji,
“apabila ditambah lagi jurus Sam kun ce hoat (tiga
pasukan menyerang bersama), tosu brengsek ini
pasti akan kelabakan.”
Kiranya dalam waktu beberapa hari yang singkat
ini, demi merebut hati si cantik, tanpa pikir Cian
tong-lai telah memberitahukan padanya segenap
intisari kungfu kun lun pai.
“Hm, boleh coba!” jengek Koh-tong Tojin sambil
berputar, secepat kilat pedangnya juga menusuk
tiga kali, tapi saking cepatnya scakan-akan hanya
satu jurus saja.
“Bu tong kiam hoat yang hebat!” puji Kiam soat.
“tapi coba rasakan jurus Sam kun ce hoat orang !”
DI tengah tertawa nyaringnya, dilihatnya Cian
tong-lai melompat ke atas, sebelah kaki
menendang pergelangan tangan lawan yang
memegang pedang.
Ketika Koh-tong tojin menarik peadngnya tahutahu
tangan Cian tong-lai menerobos masuk di
bawah cahaya pedang dan menusuk hiat-to maut
pada pelipisnya.
Mendadak Koh-tong tojin tarik pedang ke
samping, segera Cian tong-lai menerobos maju dan
menutuk Ki-bun dan Ciang-tai-hiat di dadanya.
Cepat Koh-tong putar pedangnya untuk
menabas, tapi Cian tong-lai lantas melompat ke
samping dan menghantam iga lawan.
Dengan terkejut Koh-tong mengelak, menyusul
pedang menusuk lagi. Tak terduga kedua tangan
Cian tong-lai lantas mengatup dan tepat menjepit
batang pedangnya dengan kuat.
Dalam kaget dan gusarnya koh-tong menarik
sekuatnya. Akan tetapi pedang serasa melengket di
tangan lawan dan sukar terlepas.
“Hehe, bagaimana, aku tidak berdusta, bukan?”
terdengar Bwe kiam soat berucap dengan tertawa.
Cian tong-lai tampak senang, bentaknya
mendadak, “Lepas!”
Tahu-tahu pedang Koh tong tojin tergetar
mencelat, cepat Koh tong melompat juga ke atas
untuk meraih kembali pedangnya.
Pada saat yang sama, Jing-siong Tojin telah
memburu maju, kontan pedang menabas
pergelangan tangan Cian tong-lai. Tok-go Tojin juga
tidak tinggal diam, berbareng ia pun menusuk iga
kiri musuh.
“Hm, tidak tahu malu………..” jengek Bwe kiam
soat.
Mendadak dirasakan angin tajam menyambar
tiba, pedang Koh tong tojin telah menabasnya
dengan cepat.
Tapi Bwe kiam soat tidak berkelit atau
mengegos, tentu saja Koh-tong bergirang. Tak
terduga mendadak Bwe kiam soat menyurut
mundur, pedang Koh-tong menyambar lewat dan
mengenai dinding karang ‘trang’, lelatu api
munerat dan membuat tangan Koh tong
kesemutan sendiri.
Di antara Bu-tong-su-bok meski masing-masing
mempunyai kungfu andalan, tapi bicara tentang
ginkang dan kiam hoat tiada yang dapat
menandingi Koh-tong.
Sekarang dia ternyata tidak sanggup melawan
Cian tong-lai, juga tidak mampu, mengalahkan
Bwe kiam soat, tentu saja ia malu dan gusar,
sedikit bergeser,, sebelah kakinya menendang dada
Kiam soat.
“Hm, apakah ini pun jurus serangan seorang
tojin?” jengek Kiam soat sambil menghindar ke
samping.
Di sebelah sana Jing-siong dan Tok-go berdua
telah mengurung Cian tong-lai di tengah sinar
pedang mereka, ilmu pedang mereka Liang-gikiam-
hoat dapat bekerja sama dengan sangat
rapat, meski sangat lihai kungfu Cian tong-lai juga
rada kerepotan.
Sementara itu Ci-pek Tojin berdiri menghadapi
Yap manjing, ia juga ghengsi, asal Manjing tidak
bergerak, ia pun tidak mau turun tangan.
“Apa benar kau larang aku pergi?” tanya
Manjing.
“Urusan menyangkut nama baik perguruan
kami, terpaksa aku bertindak demikian,” jawab Cipek.
Manjing menunduk memandang Lamkiong Peng
sekejap, muka anak muda itu kelihatan pucat dan
mata terpejam, nafas sangat lemah.
Ia kuatir dan mendongkol pula, tapi juga tak
berdaya, terpaksa ia berkata, “Bila aku bersumpah
takkan menyiarkan kejadian yang kulihat ini, tentu
aku boleh pergi bukan?”
Ci-pek tojin berpikir sejenak, tiba-tiba dilihatnya
sisutenya sudah diatasi Bwe kiam soat, pikirannya
berubah, katanya segera, “Nona berasal dari
perguruan temama, tentu saja dapat kupercayai
janjimu.”
Mendadak ia mnyingkir ke samping dan
memberi tanda, “Silahkan!”
Manjing jadi melenggak karena urusan berakhir
semudah ini, tapi mengingat keselamatan
Lamkiong Peng, tanpa bicara lagi segera ia angkat
kaki.
Dalam pada itu dengan mengancam Hiat-to
maut punggung Koh-tong tojin segera Bwe kiam
soat berseru, “nah, ketiga totiang dapat berhenti,
barang siapa sembarangan bergeral lagi, terpaksa
ku………….”
Sampai di sini sekilas dilihatnya Yap manjing
sedang melangkah pergi dan melompat terjun ke
bawah tebing. Tapi lantaran keadaannya juga
sangat lemah, mendadak terdengar jeritan Manjing
yang jatuh di bawah.
Tanpa pikir Kiam soat mendorong Koh-tong dan
ikut melayang turun ke bawah.
Cepat Ci-pek bertiga membangunkan Koh-tong
yang terluka itu. Sedangkan Cian tong-lai segera
menyusul Bwe kiam soat ke bawah tebing,
serunya, “Nona Bwe, kita pun dapat pergi saja.”
Rupanya berhubungan selama beberapa hari ini
di antara mereka sudah tambah akrab, Cian tonglai
jadi semakin terpikat.
Dilihatnya Bwe kiam soat sudah berada di
samping Yap manjing dan ingin menariknya
bangun, tapi Manjing sedang mendengus, “Tidak
perlu, aku dapat berdiri sendiri.”
Cian tong-lai memburu maju, jengeknya, “Hm,
sungguh orang yang tidak tahu budi, baru saja kita
membebaskan dia dari kesukaran, sekarang dia
tidak tahu terimakasih lagi.”
Meski jatuh terduduk karena lompat dari
ketinggian, namun Lamkiong Peng masih tetap
dalam rangkulannya, sekarang Manjing lantas
melompat bangun dan menjawab, “Hm,
memangnya kalian yang membebaskanku dari
kepungan musuh?”
“Ya, kau sendiri yang tinggal pergi,” ujar Kiam
soat dengan tertawa, “Eh, adik cilik, kau mau
kemana?”
“Ku pergi kemana, apa sangkut pautnya
denganmu?” jengek Manjing.
“Siapa yang peduli,” sela Cian tong-lai dengan
gemas sambil menarik lengan baju Bwe kiam soat,
“Jika dia tidak tahu diri, marilah kita pergi saja.”
Tapi Bwe kiam soat tidak menghiraukannya,
katanya pula kepada Manjing, “Adik cilik, kau
gendong seorang sakit, tenagamu lemah di sekitar
sini juga sukar mencari tempat pondokan, hanya
seorang diri ke mana kau mau pergi?”
Manjing menjadi ragu juga, tubuh sendiri
memang lemah, tidak membawa biaya pula, apalagi
tidak kelihatan rumah penduduk di sekitar situ.
Jika tidak mendapat pertolongan sungguh keadaan
Lamkiong Peng memang menguatirkan.
Sejenak kemudian barulah ia menjawab, “Habis
bagaimana?”
“Marilah kita meneruskan perjalanan bersama
dan menyembuhkian penyakitnya dahulu,” kata
Kiam soat.
“Kau mau pergi bersama mereka?” seru Cian
tong-lai, “Bukankah kita akan pergi bersama.”
“Berdasarkan apa kau ikut campur urusanku?
Jengek Kiam soat mendadak.
“Bukankah …….segala apa sudah kuberitahukan
padamu, mengapa kau………..”
“Semua itu kau lakukan dengan sukarela,
apakah pemah kujanjikan sesuatu kepadamu?”
jawab Kiam soat dengan ketus.
Cia tong-lai melenggong, mendadak ia berteriak,
“Tapi……….tapi engkau tak dapat pergi……..jangan
tingggalkan aku………….”
Segera ia menubruk maju dan bermaksud
merangkul Bwe kiam soat.
Sambil bekernyit kening Kiam soat membentak,
“Lelaki hina!”
Kontan sebelah tangannya menghantam. Sama
sekali Cian tong-lai tidak mengelak dan
menghindar, ‘plak’, pukulan itu tepat jatuh
mengenai dadanya dan mencelat jauh ke sana,
roboh dan pingsan seketika.
Kiam soat mencibir, katanya kepada Manjing,
“Marilah kita pergi!”
Manjing hanya menoleh sekejap, akhirnya ikut
pergi tanpa bicara.
Diam-diam Manjing membatin, “Pantas setiap
orang bilang dia berdarah dingin, tingkah lakunya
memang keji dan dingin. Tapi……..terhadap
Lamkiong Peng tampaknya dia tidak dingin.”
Dalam pada itu terdengar Bwe kiam soat lagi
berkata, “Ada sementara lelaki di dunia ini
memnag menggemaskan, asalkan kau beri sedikit
kebaikan, dia lantas ingin menarik kcuntungan
darimu. Untung sekarang, bilamana terjadi belasan
tahu lalu, hm, jiwa orang she Cian itu tentu sudah
melayang.”
***************
Lamkiong Peng berbaring di tempat tidur dan
tampak bergulang-guling dengan keringat
memenuhi dahinya. Ia sednag bermimpi buruk,
seperti beratus senjata lagi menghunjam
kepalanya, seperti api hendak membakarnya,
serupa setan iblis yang tak terhitung jumlahnya
hendak mengerubutnya.
Mendadak ia berteriak dan bangun, waktu ia
membuka mata, mana ada api, senjata dan setan
segala. DI bawah cahya lampu hanya kelihatan dua
raut wajah cantik molek yang sedang
memandangnya dengan cemas.
Setelah menenangkan diri, ia pandang Bwe kiam
soat dengan tercengang, katanya, “Engkau
………engkau berada di sini?”
Kiam soat tersenyum manis, sebaliknya Manjing
menunduk sedih, pelahan ia meninggalkan kamar
Lamkiong Peng kembali ke kamar sendiri.
Sungguh kusut pikirannya, sampai jauh malam
ia tidak dapat tidur, pikirnya, “Yang dicintainya
ialah Bwe kiam soat, untuk apa ku bikin susah
sendiri dengan menyelipkan diri di tengah
mereka?”
Setelah dipkir lagi pulang pergi, akhirnya ia
menghela nafas, ia membuka daun jendela dan
bergumam, “Ku pergi saja, semoga kalian hidup
bahagia selamanya dan aku pun……..” tak tertahan
menitiklah air matanya.
Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama Bwe
kiam soat juga sedang termenung-menung di
kamarnya, ia pun sedag memikirkan nasibnya dan
berkeluh kesah, “Wahai Bwe kiam soat mengepa
engkau menjadi lupa daratan seperti ini, masa kau
lupa pada usiamu yang sudah tidak muda lagi,
dirimu pun berlumuran dosa, mana setimpal
dirimu baginya. Dia sudah sembuh, dia juga sudah
didampingi seorang gadis jelita yang pantas
baginya, untuk apa lagi kau tinggal di sini?”
Ia menghela nafas dan berbangkit, gumamnya, “
Biarlah ku pergi saja, kalau aku tidak pergi
sekarang, bisa jadi sebentar lagi aku tidak sanggup
pergi.”
Dengan sedih ia membuka daun jendela, dengan
perasaan berat ia memandang ke arah kamar
Lamkiong Peng, gumamnya pelahan “Ku pergi saja,
jangan kau sesalkan diriku, semua ini demi
kebaikanmu, padahal……..masa aku tidak ingin
mendampingimu selamanya?……….”
Tanpa terasa air matanya berderai, dengan
mengeraskan hati akhirnya ia melompat keluar
jendela dan meninggalkan kamar hotel.
Tidak ada yang tahu hampir pada saat yang
sama, di kamarnya Lamkiong Peng juga sedang
bingung memikirkan kedua nona itu, selama dua
tiga hari ini ia berbaring sakit di tempat tidur, ia
sedih akan malapetaka yang menimpa
keluarganya, juga murung bagi persoalan diri
sendiri yang terlibat di tengah cinta kasih dua nona
itu.
Ia pikir keluarganya sedang menghadapi ujian
berat, hari depannya sukar diramalkan, betapapun
ia tidak dapat membikin susah kedua nona itu.
Akhirnya ia pun mengambil keputusan akan
tinggal pergi saja demi kebahagiaan kedua nona
itu. Ia ingin pulang dulu ke Kanglam untuk
menjenguk orang tua dan mencari tahu
sesungguhnya apa yang terjadi.
***********
Beberapa hari kemudian, di suatu malam yang
pekat dengan hujan angin, sebuah pintu gapura
megah berdiri tegak dalam kegelapan malam.
Dibalik gapura itu adalah jalan yang panjang
berliku diapit oleh pepohonan yang bergoyang
tertiup angin.
Guntur menggelegar, cahaya kilat berkelebat,
sesosok bayangan orang tampak merandek dan
agak ragu untuk meneruskan langkahnya. Sekujur
badannya basah kuyup, bajunya tak teratur,
rambutnya semerawut dan mencucurkan air, entah
air hujan atau air keringat.
Kening orang itu bekernyit, ia menyapu pandang
sekelilingnya dengan sinar matanya yang tajam.
Nyata dia inilah Lamkiong Peng, malam ini juga
dia sudah pulang sampai di rumah disambut oleh
hujan angin yang keras. Kepulangannya membawa
tanda tanya yang belum terjawab, yang
membuatnya gelisah dan cemas.
Sepanjang jalan dari utara sampai ke selatan,
segenap cabang perusahaan keluarga Lamkiong
ternyata sudah ditutup seluruhnya, hal ini
membuatnya bingung dan juga kapiran sepanjang
perjalanan.
Maklumlah, selama ini ke mana pun dia pergi
tidak pemah kekuarangan sesuatu. Tapi sekarang
dia tidak punya segalanya, dia tidak pemah
membawa sangu, untuk makan saja harus menjual
baju.
Syukurlah sekarang dia sudah tiba di rumah
sendiri. Ia membusungkan dada dan mengusap air
yang membasahi mukanya , ia melangkah lagi ke
depan.
Mendadak dari balik pohon di tepi jalan itu ada
orang yang membentak, “Berhenti!”
Di bawah sinar kilat dua sosok bayangan
melompat keluar dari kanan kiri jalan. Lamkiong
Peng berhenti dengan melenggak.
Dilihatnya dua lelaki berbaju hitam dan
memakai kedok, yang seorang bersenjata pedang
dan yangn lain memakai sepasang senjata potlot
baja, keduanya mengadang di depan dan menegur,
“Sahabat berani menerobos ke dalam Lamkiong
san ceng di tengah malam buta begini, apakah
engkau sudah tidak sayang lagi pada nyawamu?”
Segera orang yang berpedang itu menusuk leher
Lamkiong Peng. Serangannya cepat, jurusnya lihai,
sekali serang segera hendak merenggut nyawa
orang.
Lamkiong Peng melenggong, cepat ia berkelit
sambil membentak, “Berhenti dulu! Apakah kalian
tidak kenal siapa diriku?……….”
Orang yang bersenjata potlot baja segera
menutuk dua hiat- to di dada V sambil
membentak, “Tidak peduli siapa pun, selama 30
hari ini dilarang masuk kes ini.”
Lamkiong Peng melompat mundur dan berseru
pula, “Berhenti dulu, aku inilah Lamkiong Peng!”
Orang itu merandek sejenak, mendadak ia
tertawa keras dan berakata, “Haha, Lamkiong
Peng, dari mana datangnya Lamkiong Peng
sebanyak ini, termasuk kau sudah ada empat
orang memalsukan nama Lamkiong Peng untuk
masuk ke sini.”
Sembari bicara pedangnya menyerang pula tiga
kali sekaligus.
Mau tak mau gusar juga Lamkiong Peng,
teriaknya, “Jika kalian tidak percaya, terpaksa
harus kuterobos secara paksa.”
Sekali menghantam ia desak mundur orang
berpedang itu.
“Saat ini Lamkiong san ceng sudah berada di
bawah lindungan 17 tokoh terkemuka, biarpun
setinggi langit kepandaianmu juga jangan harap
akan memasuki perkampungan ini!” teriak orang
bersenjata potlot.
Berbareng potlot bajanya lantas menutuk.
Serangan orang ini sangat lihai, setiap tempat
yang di arah selalu bagian yang mematikan.
Tentu saja hati Lamkiong Peng penuh diliputi
tanda tanya, sungguh kalau bisa ia ingin terbang
masuk untuk menemui ayahnya. Tapi apa daya,
kedua orang ini ngotot merintanginya dan sukar
memberi penjelasan. Menghadapi kerubutan
mereka, seketika Lamkiong Peng tidak mampu
melepaskan diri.
Terdengar angin berkesiur, kembali tiga sosok
bayangan melayang tiba.
Sekilas lirik lelaki berpedang lantas berseru,
“Ciok-loji, kedatangan musuh lain lagi lekas kau
papaki mereka!”
Lelaki berpotlot yang disebut Ciok-loji itu
berkerut kening, katanya, “Ketiga pendatang ini
tampaknya tidak lemah, lekas kau lepaskan isyarat
tanda bahaya saja.”
“Hm, jika malam ini kita tidak mampu
mempertahankan pos penjagaan kita ini,
selanjutnya apakah kita ada muka utnuk menemui
orang?” Jengek lelaki berpedang.
Mendadak tangannya bergerak, tiga larik sinar
perak langsung menyambar ketiga sosok bayangan
yang melayang tiba di bawah hujan itu. Ciok-loji
tertegun sejenak, segera ia pun menubruk ke sana.
Dilihatnya seorang di antaranya mengayun
tangannya, kontan ketiga larik sinar perak tergetar
balik. Cepat Ciok-loji memukul, angin pukulan
menyambar, ketiga senjata rahasia itu dapat
dipukulnya jatuh.
“Siapa sahabat yang menerobos Lamkiong san
ceng di tengah malam buta ini, lekas mundur
kembali!” bentaknya.
Dilihatnya ketiga sosok bayangan itu berseragam
sama, baju hitam dan pakai kedok, kedua orang
kanan kiri bersenjata golok, yang di tengah
bertangan kosong, di bawah kain kedoknya
kelihatan jenggotnya yang putih. Ketiga orang itu
mendengus, serentak mereka mengerubut maju.
Kedua potlot baja Ciok-loji bekerja cepat,
serentak ia tutuk dada ketiga penyatron.
Si kakek berjenggot memberi tanda berhenti
kepada kawannya, lalu berseru, “Apakah sahabat
yang mengadang ini kedua saudara keluarga Ciok
dari Tiam-jong-pai?”
“Kalau betul mau apa?” jawab Ciok-loji bengis.
“lekas mundur, kalau tidak, jangan menyesal jika
kami tidak sungkan lagi.”
“Hm, aku justru ingin coba-coba kepandaian
jago Tiam-jong, jengek Si kakek.
Kedua orang berkedok dan bergolook itu segera
menyurut mundur dan si kakek oun perang
tanding dengan ciok-loji.
Senjata si kakek berkedok ini adalah cambuk
panjang berwama hitam, hanya sekali dua
serangan saja Ciok-loji sudah terkurung di tengah
bayangan cambuk yang dasyat.
“Yim ong-hong!” seru Ciok-loji terkesiap.
“Betul,” kata si kakek berkedok dengan tertawa.
“Haha, tak tersangka setelah mengasingkan diri 20
tahun masih ada kawan Bulim yang kenal diriku.”
Lelaki berpedang itu juga terperanjat, ia sudah
kerepotan melawan Lamkiong-peng, kini diketahui
pula si kakek berkedok ini adalah bandit
termashur pada 20 tahun yang lalu, tentu saja ia
tambah kuatir. Segera ia merogoh saku dan
dilemparkan ke udara, selarik cahaya meluncur
dan meletus di atas, seketika tersebarkan bunga
api sebagai hujan.
Lamkiong Peng juga curiga karena kedua orang
itu merintanginya mati-matian, apabila benra
mereka melindungi perkampungannya, mengapa
jejak mereka dirahasiakan dan main sembunyi,
jelas karena asal usul mereka tidak boleh diketahui
orang lain. Jika Yim ong-hong yang sudah
menhilang 20 tahun ini, apa maksud tujuan
kedatangannya ini?
Dalam pada itu terdengar Ciok-lojj lagi berseru,
“Yim ong-hong, kau berani melanggar sumpahmu
sendiri, dan kini mengaduk lagi di dunia kangouw,
apakah kau tidak takut Hong-tun-sam-yu akan
mencarimu?”
“Hahaha, sudah belasan tahun jejak Hong-tunsam-
yu tidak kelihatan di dunia kangouw,
mungkin ketiga tua bangka itu sudah mampus
semua, maka sumpahku dengan sendirinya juga
batal,” jawab Yim ong-hong dengan tertawa. “Barubaru
ini kudengar di sini ada berjuta tahil perak,
tanpa terasa hatiku tergelitik. Anehnya Tiam-jongsiang-
kiat yang termashur mengapa sudi menjadi
penjaga rumah orang, apakah barang kali kalian
juga mengincar harta berjuta tahil ini?”
“Hm, jika kaupun mengincar harta benda yang
berada disini, sama halnya kau lagi mimpi,” jengek
Ciok-loji.
Ia terus berjaga dengan rapat, meski cambuk
Yim ong-hong menyerang dengan gencar belum
juga mampu merobohkan lawan.
“Menyingkir!” bentak Lamkiong Peng mendadak,
sekali hantam ia desak mundur pengadangnya.
Tentu saja kedua ciok bersaudara, tercengang.
Juga Yim ong-hong melenggak, teriaknya, “He,
anak muda, apa maksudmu ini? jika
perkampungan ini berhasil diserbu, tentu engkau
akan mendapat bagian yang menarik, lekas
bereskan Ciok-lotoa dulu!”
Sesudah menyebarkan bunga api tadi dan
sejauh ini belum kelihatan datang bala bantuan,
diam-diam Ciok-lotoa yang berepdang itu menjadi
gelisah, cepat ia menanggapi ucapan Yim onghong,”
jangan percaya ocehannya sahabat muda,
orang ini adalah bandit yang terkenal kejam,
caranya merampok terkenal main sapu bersih
tanpa kenal ampun, mana mungkin dia membagi
bagian rezeeki padamu. Jika kau bantu kami
menggempurnya mundur, mungkin engkau akan
mendapat ongkos yang layak.”
Diam-diam Lamkiong Peng mendongkol, sudah
dirinya disangka sebagai penjahat, sekarang harta
benda keluarganya menjadi incaran pula. Meski dia
meragukan tingkah laku kedua Ciok bersaudara,
tapi orang memang mempertahankan keselamatan
perkampungannya, jelas kawan dan bukan lawan,
sebaliknya komplotan Yim ong-hong ini jelas
adalah penyatron yang mengincar harta
keluarganya.
Segera ia melancarkan pukulan dasyat sehingga
cambuk Yim ong-hong sama sekali tidak berdaya
menembus pertahanannya.
Tentu saja Yim ong-hong terkejut oleh
ketangkasan anak muda itu, hanya dengan
bertangan kosong ternyata mampu melawan
cambuknya yang lihai ini.
Smentara itu kedua Ciok bersaudara sempat
mengalihkan perhatian untuk melayanikedua
orang berkedok yang bergolok itu.
“Hm, rupanya kedua saudara Li dari Thay-hingsan,”
jengek Ciok-loji.
Salah seorang berbaju hitam dan berkedok itu
balsa mendengus. “Hm, tajam amat mata Ciokloji!”.
Mendadak ia menarik kedoknya dan bergelak,
“Haha, baiklah biar kuperlihatkan wajah asli tuan
besar Li!”
Kakak kedua Li bersaudara ini bemama Li Thihai
berjuluk Hoa-to atau golok kembangan,
adkinya soat-to Li Hui-hai, si golok salju juga
membuang kain kedoknya sambil berteriak, “Nah,
setelah kalian melihat dengan jelas wajah kami,
bolehlah kalian mengadu kepada raja akhirat!”
Kedua Li bersaudara ini sama berkepala besar
dan bermata melotot, bercambang dengan
perawakan tinggi besa. Namun golok mereka
adalah senjata ringan dan gesit.
Keempat golok segera bekerja sama dengan
rapat, cahaya perak berhamburan serupa salju,
serentak Ciok-loji berdua terserang dengan gencar.
Tanpa bicara kedua Ciok bersaudara melayani
lawan dengan sama tangkasnya.
Diam-diam Lamkiong Peng membatin, “Sekaligus
tokoh Bulim kelas tinggi ini membanjiri Lamkiong
san ceng, jangan-jangan ayah telah mengumpulkan
harta benda hasil penjualan berbagai cabang
perusahaan ke sini, entah apa maksuda tujuan
ayah dengan tindakannya ini?”
Angin meniup semakin kencang, hujan pu
tambah lebat, di kegelapan hutan sana mendadak
meluncur pula tiga larik cahaya terang, lalu bunga
api berteberan di udara.
Menyusul di sekeliling bergema suara teriakan
dan bentakan diseling suara nyaring beradunya
senjata.
Seketika air muka semua orang sama berubah.
Tampaknya sebelah sana kedatangan penyatron
lagi,” desis Ciok-loji kepada saudaranya.
“Antara Yim ong-hong dan Cin Luan-ih biasanya
ada satu tentu ada dua, selama ini keduanya
hampir tidak pemah berpisah, jika sekarang Yim
ong-hong berada disini,. Dengan sendirinya Cian
Luan-ih juga sudah ikut datang,” kata Ciok-lotoa.
Yim ong-hong terbahak-bahak, katanya, “Biar
kukatakan terus terang, segenap kawan, kalangan
hitam dari ke-13 propinsi sudah datang semua ke
lamkiong san ceng ini, apa kalian mesti jual nyawa
percuma bagi Lamkiong Sian-ju?”
Habis bicara cambuknya bekerja terlebih
kencang, ia menyabat kian kemari sehingga kedua
Ciok bersaudara agak kerepotan.
Lamkiong Peng tambah gelisah, ia pikir ayah
tidak mahir ilmu silat, jika kawanan penyatron ini
sampai berhasil menyerbu ke dalam rumah, entah
bagaimana akibatnya nanti.”
Karena cemasnya, mendadak ia bersuit dan
melompat tinggi ke atas, kedua tangannya meraik,
secepat klat ujung cambuk Yim ong-hong
terpegang olehnya.
Dengan sendirinya Yim ong-hong menahan
cambuknya dengan kuat sambil berseru kaget,
“gaya Si-liong, murid Ci-hau!”
Kedua Ciok bersaudara saling pandang sekejap
sambil berucap, “Ternyata benar Lamkiong Peng
adanya!”
Dalam pada itu Lamkiong Peng juga telah
melayang turun ke tanah dan menarik sekuatnya
sehingga cambuk Yim ong-hong terbetot lurus.
Kedua orang saling tarik dengan kuat, keempat
kaki mereka sampai amblas ke dalam tanah.
DI tengah hujan angin yang lebat, suara suitan
semakin ramai dan juga tambah dekat di udara
muncul bunga api berhamburan.
Pada saat itulah sekonmyong-konyong sesosok
bayangan orang mucul dari dalam hutan, dengan
dua tiga kali lompatan, langsung bayangan ini
menerjang ke sini.
“Aha, bagus!” seru Ciok-lotoa dengan girang.
“Tiam-jong-yan juga datang?!” seru Yim onghong
kaget sehingga tenaganya mengendur.
Pada saat yang sama Lamkiong Peng terus
membentak sambil memebetot sekuatnya sehingga
cambuk lawan kena dirampasnya.
Bayangan yang menerjang tiba itu, Tiam Jong
Yan, si walet dari Tiam-jong, mendengus, “Hm, Yim
ong-hong ternyata benar berada di sini. Dan
siapakah sahabat ini?”
“Dia inilah Lamkiong Peng,” kata Ciok-loji.
“Apa betul?” Tim jong yan menegas.
“Gaya Sin-liong, tidak mungkin salah,” ujar
Ciok-loji.
Diam-diam Lamkiong Peng merasa lega keran
akhirnya identitas dirinya dapat dikenali mereka.
Ia memberi hormat dan berkata, “Atas kebaikan
hadirin yang sudi membela Lamkiong san ceng, di
sini Lamkiong Peng mengucapkan terimakasih.
Harap kalian bertahan sementara di sini, biar
kujenguk dulu ayahku.”
Selagi dia hendak tinggal pergi, siapa tahu
bayangan orang lantas berkelebat, tahu-tahu Tiam
Jong Yan mengadang lagi di depannya.
Lamkiong Peng tercengang, “apakah anda belum
percaya bahwa aku inilah Lamkiong peng?”
Dengan dingin Tiam Jong Yan menjawab,”justru
lantaran anda Lamkiong Peng, maka terlebih tidak
boleh masuk ke sana.”
“Meng………mengapa begitu?” tanya Lamkiong
Peng dengan tercengang.
“Tiada gunanya banyak bertanya, lekas mundur
ke sana!” seru Tiam jong yan, sebelah tangannya
lantas menilak ke depan.
Tentu saja lamkiong peng bertambah curiga,
sambil mengelak, mendadak tangan terasa
mengencang, kiranya ujung cambuk sebelah sana
kena di pegang lagi oleh Yim ong-hong, sekali
bentak segera ia menarik cambuk sekuatnya,
menyusul lantas diputar dan menyabat kepada
Lamkiong Peng. Malahan Tiam Jong Yan juga
melancarkan pukulan maut ke dada anak muda
itu.
Kedua orang ini terhitung tokoh kelas tinggi,
serangannya sangat lihai, cepat Lamkiong Peng
mengelak.
Yim ong-hong tergelak, “haha, kukira Tim jong
pai kalian juga tidak bermaksud baik…….”
Belu lenyap suaranya, kedua telapak tangan
Tiam jonbg pai menghantam sekaligus, yang kiri
memukul Lamkiong Peng, yang kanan
menghantam Yim ong-hong sekuatnya.
Terpaksa Yim ong-hong menarik kembali
serangnnya kepada Lamkiong Peng, cambuknya
berganti arah di tengah jalan dan menyabat iga
Tiam Jong Yan.
Kesempatan itu digunakan Oelh Lamkiong peng
menarik diri, dengan cepat ia hendak melompat ke
arah perkampungan. Tak terduga Yim ong-hong
dan Tiam Jong Yan kembali merintanginya.
“Tiam Jong Yan” bentak Lamkiong Peng,
“percuma engkau dikenal sebagai tokoh perguruan
temama, apakah sekarang kaupun menjadi bandit
yang tamak harta?”
“Hm, siapa yang menghendaki hartamu?” jengek
Tiam Jong Yan.
“Jika begitu mengapa kau ganggu rezeki kami?”
tukas Yim ong hong.
“dan mengapa kau pun merintangi jalanku?”
bentak lamkiong Peng murka.
Muka Tiam Jong Yan tampak masam, ia tidak
menjawab, tapi serangannya tambah dasyat.
Di sebelah sana kedua Ciok bersaudara yang
menandingi kedua Li bersaudara tampak sudah
muali unggul, sedangkan suara suitan dan
bentakan di tengah hutan sana semkin mendekat,
malahan sering diselingi suara jeritan ngeri, jelas
ada orang terluka dan binasa.
Hanya di perkampungan yang terletak di
kedalaman hutan sana tetap kelam tanpa
terdengar scuatu suara.
Sekonyong-konyong terdengar orang menjerit di
samping. Permainan golok Li hui-hai menjadi
kacau, pedang Ciok-loji telah menusuk bahu
kirinya, darah munerat membasahi baju Ciok-loji.
Li thi-hai terkejut, serunya, “He, jite, apakah
parah lukamu?”
Li hui-hai menggertak gigi, ia menerjang maju
lagi, serangannya tambah kalap, mendadak
kakinya menendang sehingga sebuah potlot baja
ciok-lotoa terlepas dari pegangan.
Li Thi-hai meraung sambil menabas sehingga
lengan kiri terluka panjang, pedang Ciok-loji juga
membalik dan melukai lengan kanan Li thi-hai.
Dalam sekejap keempat orang sama terluka dan
berlumuran darah, namun semuanya pantang
mundur, tetap bertempur dengan sengit.
“Hm, jika kalian bertiga bukan tamak terhadap
harta untuk apa kalian mengadu jiwa bagi
Lamkiong siang-ju?” bentak Yim ong-hong.
“Dan bila kalian benar membela lamkiong-sanceng
kami, mengapa kalian merintangiku ke sana?”
lamkiong Peng juga berteriak.
Namun Tiam Jong Yan dan kedua ciok
bersaudara tetap bertempur tanpa bicara. Air
hujan mengguyur air darah dan menggenangi jalan
yang becek.
Mendadak terdengar suara bentakan dan jeritan,
sesosok bayangan terguling keluar dari kegelapan
hutan sana dengan luka di dada.
Sekilas pandang segera Tiam Jong Yan
menendang sehingga orang itu terpental.
“Wah, celaka, si harimau gila Tio Kang
terjungkal,” teriak Li thi-hai.
“Hm, jika tidak lekas mundur, tiada satupun
diantara kalian dapat pergi dengan hidup,” jengek
Ciok-loji.
Belum lenyap suaranya kembali seorang
bayangan menerjang keluar dari kegelapan hutan
sambil menjerit, langsung ia menerjang ke depan Li
thi-hai, pedang yang dipegangnya lantas menabas,
tapi ia sendiri keburu menyemburkan darah segar,
mata mendelik dan segera roboh terjungkal.
Agaknya orang ini binasa terkena pukualan kuat.
“Celaka, Go sute terbunuh,” teriak Ciok-lotoa,
selagi ia hendak memeriksa kawannya mendadak
dua kali tabasan golok Li Hui-hai membuatnya
melompat mundur.
“Hm, sahabat Hek-to ke 13 propinsi sudah
berkumpul di sini, Tiam jong pai kalian hari ini
mungkin akan tertumpas seluruhnya di sini,”
jengek Li thi-hai.
“Kentut busuk!” bentak Ciok-loji murka
sekaligus ia melancarkanlima kali tusukan.
Tergerak hatiLamkiong Peng,ia tidak mau
terlibat lebih lama lagi dalam pertempuran yang
tak keruan juntrungannya ini. Mendadak ia
mendesak mundur Tiam Jong Yan, kebetulan
waktu itu cambuk Yim ong-hong juga menyabat,
selagi Tiam Jong Yan kerepotan menghindari
serangan dua jurusan, kesempatan ini segera
digunakan Lamkiong Peng untuk melompat ke
arah perkampungan.
Baru saja tubuh Lamkiong Peng meluncur ke
depan, Ciok-lotoa membentak, sebelah potlot
bajanya disambitkan.
Ketika mendengar desing angin tajam
menyambar dari belakang, tanpa menoleh
Lamkiong Peng melompat sekuatnya ke depan
sambil mengebaskan sebelah tangan ke belakang,
potlot baja lawan jadi ketinggalan dan jatuh di
tanah.
Li hui-hai menjadi kalap, selagi Ciok-loji
menabas dengan pedangnya, ia tidak menghindar,
sebaliknya golok langsung menabas pundak Cioklotoa
hingga darah munerat.
Sambil meraung kesakitan, ciok-lotoa,
menubruk maju, kontan kedua golok Li hui-hai
menikam sehingga menembus perut Ciok-lotoa,
tapi kedua tangan Ciok-lotoa yang kuat juga
mencekik leher Li hui-hai, sebelum Li hui-hai
sempat meronta tahu-tahu mata mendelik dan
tulang kerongkongan tercekik patah, darah pun
mengucur dari mulutnya dan binasa seketika.
Kejut dan gusar Ciok loji sambil meraung kalap
pedangnya juga menusuk iga Li hui-hai hingga
menembus ke iga sebelahnya.
Tentu saja Li Thi-hai tidak tinggal diam,
goloknya juga membacok sehingga lengan kanan
Ciok-loji terpenggal, teriaknya parau, “Serahkan
nyawamu!”
Belum lenyap suaranya, pukulan Ciok-loji juga
tepat mengenai dada Li Thi-hai. Kontan Li thi-hai
tumpah darah dan golok jatuh ke tanah. Lengan
kanan Ciok-loji pun buntung sebatas pangkal
pundak, namun dia tidak merasakan sakit, seperti
lengan kutung itu bukan miliknya, menyusul
kakinya menendang pula ke selangkangan Li thihai.
Terdengarlah jeritan Li thi-hai, tubuhnya
mencelat dan jatuh ke dalam hutan, jelas nyawa
pun amblas. Kedua tokoh kalangan hitam
semuanya binasa dalam sekejap.
Ciok-loji sempoyongan, tersembul senyuman
pedih pada ujung mulutnya, gumamnya, “Lotoa,
sudah kubalaskan sakit hatimu……….”
Belum lanjut ucapannya ia pun jatuh kelenger.
Karena tersabat oleh cambuk Yim Ong Hong,
Tiam Jong yan juga kesakitan, sekilas pandang
dilihatnya kedua Ciok bersaudara telah sama
menggeletak, tentu saja ia terkesiap, diam-diam ia
berkeluh, “Ai, habislah semuanya!”
Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya Yim
ong hong lagi berjongkok kesakitan kena
tendangannya tadi. Bentaknya,” Kau bilang
sahabat kalangan hitam ke 13 propinsi hampir
semuanya berkumpul di sini, apakah benar tujuan
kalian adalah harta benda keluarga Lamkiong ini?”
Meski kesakitan, Yim ong hong tetap tenang,
jawabnya, “Habis untuk apa para kawan
berkumpul di sini jika bukan lantaran ada rezeki?”
Tiba-tiba timbul akal keji Tiam jong yan katanya,
“Setelah mendapatkan bagian rezeki itu, apakah
kalian segera angkat kaki dari sinji?”
“Sesudah berhasil, tentu saja kami akan pergi,
untuk apa berdiam di sini? Hah, orang pintar
sebagai Tiam jong yan mengapa mengajukan
ppertanyaan begini?” sahut Yim ong-hong tertawa.
Mendadak Tiam-jong-yan alias Kongsun Yan
meluncurkan tiga larik sinar lagi ke udara,
terdengar letusan disertai bunga api yang
bertebaran memenuhi angkasa.
Tergerak hati Yim Ong-hong, ia tahu orang
sedang memanggil kawannya, segera ia pun bersuit
memberi tanda.
Dalam sekejap terdengarlah suara teriakan di
dalam hutan yang menyerukan berhenti
bertempur.
Segera sesosok bayangan tingggi besar melompat
keluar dari kegelapan hutan sana sambil berseru,
“Bagaimana, Yim-lotoa?”
Orang ini berambut ubanan semua, suaranya
lantang, namun keadaannya kelihatan runyam,
baju tak teratur berlepotan air darah dan air
hujan, ia pun bersenjata cambuk. Dia inilah Cin
Luan-ih, salah seorang dari Hong-ih-siang-pian,
kedua cambuk angin dan hujan, dua tokoh bandit
yang pemah mengguncangkan dunia kangouw.
“Tiam-jong-yan lopas tangan! “ jawab Yim Onghong.
Cin Luan-ih tertawa puas, tapi kelika melihat
mayat kedua Li bersaudara. ia pun terkejut.
Sementara itu bayangan orang berbondongbondong
melayang keluar pula dari dalam hutan,
sebagian besar melompat ke belakang Hong-ihsiang-
pian, sebagian kecil, empat orang tojin dan
tiga pemuda berpedang, mendekati Kongsun Yan.
Terkesiap juga Kongsun Yan melihat sisa
kawannya itu, tidak terkecuali kawannya juga
kaget melihat keadaan medan tempur, salah
seorang tojin berjenggot berseru, “Hah, Ciok toako
dan Ciok-jiko . . . . “
Kiranya di antara ke-17 jago Tiam-jong-pai yang
datang ini, ada sembilan orang yang terbunuh.
”Sudahlah . . . . “ ucap Kongsun Yan dengan
menghela napas.
“Sudahlah bagaimana? Apa maksudmu?’ tanya
si tojin jonggot hitam yang bergelar Thian-go Tojin.
“Biarkan mereka lewat ke sana, “ ucap Kongsun
Yan pelahan.
“Jiko, mana boleh . . . . “
Belum lagi Thian-go bicara lebih lanjut,
mendadak Kongsun Yan memberi tanda, “Jangan
banyak bicara, biarkan mereka lewat! “
Thian-go Tojin mengepal erat kedua tinju nya,
suatu tanda tidak rela atas kebijaksanaan sang
Suheng. Serentak belasan orang sama me-layang
ke arah perkampungan sana.
Kongsun Yan lantas mendesis, “Agaknya Samte
tidak tahu maksudku. Hari ini kawanan penyatron
yang datang tidaklah sedikit, untuk menghemat
tenaga, apa salahnya kita biarkan mereka langsung
menuju ke sana, tentu mereka akan disambut
golongan lain yang sudah menunggu di sana. Kita
boleh tunggu saja di sini, apakah mungkin kita
akan membiarkan harta benda diboyong mereka
begitu saja?”
Thian-go melenggong, ia simpan kembaili
pedangnya dan mengangguk, katanya, “Ya,
perhitungan Jiko memang harus dipuji.”
Kongsun Yan memandang para anak mu-rid
Tiam-jong yang hadir, ucapnya pula dengan
menyesal, “Kalian tahu, demi memenuhi janji
dengan kaum iblis pada berpuluh tahun yang lalu
oleh leluhur kita, bilamana sekarang kita dapat
membendung musuh dan mempertahankan diri
sudahlah lumayan. Yang kuharap asalkan harta
benda itu tidak sampai diangkut pergi, untuk itu
biarpun jiwaku barus melayang juga kurela.
Ciangbun Suheng sudah …. Ai, selanjutnya hanya
Samsute saja yang harus memikul tugas
mengembangkan Tiam-jong-pai kita. “
Thian-go To-jin nununduk terharu, anak murid
Tiam-jong-pai yang lain pun sama prihatin
menghadapi tugas selanjutnya yang berat
Angin mendesir, hujan masih turun dengan
lebatnya membuyarkan darah yang memenuhi
tanah di situ.
Malam tambah larut, di bawah hujan Lamkiong
Peng terus berlari dengan cepat. Ha-nya sebentar
saja bayangan rumah megah di depan sudah
kelihatan.
Terbangkit semangat Lamkiong Peng, ber-bagai
tanda tanya dalarn benaknya sejenak lagi akan
menjadi jelas. Namun hatinya tetap diliputi
ketegangan.
Secepat terbang Lamkiong Peng melompati
undak undakan rumah yang panjangnya lebih 20
tingkat itu. Tempat ini sudah dikenalnya dengan
baik sejak kecil, begitu kaki menyentuh undakan
batu yang dingin itu, timbul juga perasaan hangat
dalam lubuk hatinya.
Tak terduga pada saat itu juga mendadak dari
dalam rumah bergema suara bentakan pe-lahan,
“Kembali!”
Tiga bintik perak serentak menyambar tiba, dua
titik perak di depan, satu titik di belakang. Akan
tetapi ketika hampir mendekati sasaran, titik perak
terakhir itu mendadak meluncur terlebih cepat dan
mendahului yang lain.
Keruan Lamkiong Peng terkejut, cepat ia
mengegos, terdengar suara desing tajam me –
nyambar lewat di samping telinga, berbareng itu ia
melompat ke atas sehingga kedua titik senjata
rahasia yang lain pun Iuput mengenainya.
Waktu ia hinggap kembali di lantai, suasana
dalam rumah lantas sunyi senyap seperti tidak
pemah terjadi sesuaiu.
Cemas hati Lamkiong Peng memikirkan kedua
orang tua, segera ia berteriak, ”Siapa yang berada
di dalam, ini Lamkiong Pmg sudah pulang! “
Belum Ienyap suaranya terdengarlah orang
berseru di dalam, “Ah, kiranya anak Peng adanya! “
Sesosok bayangan secepat terbang me-layang
keluar. Belum lagi Larnkicng Peng sem-pat
menghindar, tahu-tahu bayangan orang sudah
memegang pundaknya, Sekuatnya Lamkiong Peng
meronta, tapi sukar terlepas.
Sekilas pandang dilihatnya rambut orang
semrawut, namun kedua matanya terang dan
bersinar welas asih, siapa lagi kalau bukan sang
ibu.
Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa
sang ibu mempunyai kungfu setinggi itu.
Selagi ia melenggong, sang ibu telah merangkulnya
dengan erat sumbil berseru. ‘ O,
anakku, engkau sudah pulang, sungguh sangat
kebetulan! “
Kasih sayang ibunda sungguh menghibur hati
Lamkiong Peng yang cemas, lapar, lelah dan
curiga.
Di tengah ruangan besar yang guram itu hanya
diterangi sebuah lentera kecil hampir padam
tertiup angin ketika pintu mendadak terbuka.
Waktu Larnkiong Peng masuk ke dalam
tertampaklah berpuluh peti besar tertimbun di
tengah ruangan, di atas peti penuh menancap
berbagai senjata rahasia.
Pada deretan kursi di sekitar sana duduk
bersandar beberapa lelaki kekar yang kelihatan
lesu, malahan ada yang kelihatan berlepot-an
darah, ada yang napasnya terengah dan sebagian
memejamkan mata setengah mengantuk, jelas
mereka habis mengalami pertempuran sengit dan
terluka.
Di tengah ruangan yang agak runyam ini berdiri
pula dengan tenang seorang tua berbaju perlente,
jenggotnya kelihatan bergoyang tertiup angin,
namun sikapnya tetap tenang dan sinar matanya
mencorong.
“Ayah! “ seru Lamkiong Peng sambil mem-buru
maju dan berlutut di depan orang tua ini.
Dia memang ayah Lamkiong Peng, Lamkiong
Siang-ju.
Orang tua ini menghela napas pelahan dan
membelai kepala anak kesayangannya, sampai
sekian lama tidak sanggup berucap apa pun.
Dengan penuh kasih sayang Lamkiong hujin
(nyonya Lamkiong) menggunakan saputangan-nya
untuk mengusap air hujan dan air keringat di
kepala Lamkiong Peng, ucapnya dengan lembut,
“Nak selama ini tentu telah bikin su-sah padamu,
selanjutnya mungkin engkau akan tambah
sengsara lagi. “
Lamkiong Siangju hanya tersenyum getir saja
tanpa bersuara.
Melihat wajah sang ayah yang rawan dan muka
ibunda yang pucat kurus, keadaan di dalam rumah
juga tampak runyam. Lamkiong Peng tahu tentu
telah terjadi hal-hal yang luar biasa, capat ia tanya,
“Ayah, sebenarnya apa yang terjadi” Kenapa
berbagai cabang per-usahaan kita telah kaututup?
Tiam-jong-pai yang selamanya tidak ada sangkutpaut
apa pun dengan kita mengapa sekarang ikut
mengepung perkampungan kita, seperti menjaga,
tapi juga kelihatan tidak bermaksud baik terhadap
kita. Kecuali itu, Kun-mo-to yang sering tcidengar
di dunia kangouw tapi tidak pemah terlihat
orangnya, mengapa juga memusuhi kita? Ayah,
mohon jelaskan semua itu, sungguh anak teramat
cemas dan gelisah. “
“Sabar dulu, nak, kenapa kaujadi segopoh ini? “
ujar Lamkiong-hujin. “Sebentar ayahmu tentu
akan menjelaskan duduknya perkara. “
Dengan wajah prihatin Lamkiong Siang-ju
naelangkah ke luar pintu, setelah memandang
sejenak, mendadak ia membalik tubuh dan
memberi hormat sambil berkata, “Maaf, jika
terpaksa kuperlakukan kalian secara kurang
hormat! “
Selagi semua orang yang duduk lesu itu merasa
heran, ada yang berdiri dan bertanya, “Ada . . ada
apa . . . . “
Tahu-tahu bayangan Lamkiong Siang-ju
berkelebat dan memenuhi seluruh ruangan, semua
orang yang baru berdiri itu sama roboh terduduk
lagi di kursi masing-masing serta tak sadarkan
diri, hanya sebentar saja lantas men-dengkur dan
tertidur dengan nyenyak.
Melihat ketangkasan sang ayah yang hanya
dalam sekejap saja telah menutuk hiat-to tidur
semua orang, keruan kejut dan heran sekali
Lamkiong Peng, serunya, “Hah, kiranya ayah
menguasai kungfu sehebat ini?! “
Kiranya di kolong langit ini tidak ada seorang
pun yang tahu bahwa bos keluarga Lamkiong yang
kaya raya dan termashur ini ternyata teorang ahli
silat maha tinggi yang jarang ada bandingannya,
sampai putra kesayangan sandiri juga baru
sekarang tahu hal ini.
Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju telah berdiri
menghadapi dinding dan berucap dengan suara
berat, “Anak Peng, sejak kecil kauhidup tidak
kekurangan apa pun, hanya kau saja permata hati
ayah-bunda, apa pun ke-salahanmu ayah-bunda
tidak pemah marah padamu, apakah kautahu
sebab apa semua ini? “
Lamkiong Peng tidak dapat melihat wajah sang
ayah, tapi dari pundaknya yang bergetar jelas hati
orang tua itu sangat dirangsang emosi, tentu saja
ia gugup, sahutnya, “Anak . . . anak tidak tahu,
mungkinkah anak berbuat sesuatu kesalahan? “
“Apa yang kukatakan itu adalah karena
menyangkut nasibmu selanjutnya. “ ucap
Lamkiong Sian ju pula. “Soalnya, untuk seterusnya
tak dapat lagi kauhidup cnak soperti sebelum ini,
mungkin malah akan hidup menderita dan harus
berani menghadapi ujian berat. “
Lamkiong Peng merasa bingung, tanyanya
dengan suara gemetar, “Bilamana anak harus
menderita bagi ayah-bunda kan pantas juga, hanya
. . . hanya mengapa ayah bicara, demi-kian,
sesungguhnya ada . . . ada urusan apakah? “
“Keluarga Lamkiong, maha kaya raya, apakah
kautahu dari mana datangnya kekayaan sebesar
ini? “ ucap Lamkiong Siang-ju dengan prihatin.
Lamkiong Peng melongo bingung.
“Kakek-moyangmu berasa! dan keluarga miskin,
“ demikian tutur Lamkiong Siang-ju. “Sepnti juga
orang meskin umumnya, kakek-moyang kita
kenyang menjalami penderitaan hidup sengsara.
Akhirnya beliau bersumpah ingin menjadi orang
kaya, dengan hemat beliau mengumpulkan sedikit
sangu dan ikut berlayar dengan serombongan
pelaut.
“Tak terduga, di tengah jalan kapal yang di
tumpangi mengalami angin badai dan kapal
tarbalik, kakek-moyang kita beruntung mendapatkan
sepotong kayu dan terhanyut meng-ikuti
arus, untunglah beliau tidak meninggal dan
terdampar ke sebuah pulau yang tak diketahui
namanya.
“Dalam keadaan begitu, cita-cita beliau ingin
menjadi kaya kembali buyar serupa mimpi belaka,
saking sedihnya dia menangis tergerung-gerung.
Tak terduga, pulau karang itu ternyata bukan
pulau kosong tanpa peng-huni. pada saat kakek
moyang merasa putus asa, tiba tiba diketahuinya
di tengah pulau terdapat banyak orang tua yang
berpakaian model kuno. Kiranya pulau karang itu
adalah pulau misterius yang dalam dongeng dunia
persilatan di sebut Cu-sia-ci-tian (istananya para
dewa). “
Kembali Lamkiong Peng melenggong.
Didengarnya sang ayah menyambung lagi,
“Setelah menemukan kakek moyang, kawanan
orang tua itu tanya tentang asal-usul dan
pengalamannya. Beliau diamat-amati dengan teliti,
akbirnya kakek moyang- diperbolehkan tinggal di
situ.
“Dengan cepat sekali tiga tahun sudah lewat,
selama tiga tahun itu kakek moyang banyak
mengalami kesukaran, beliau harus be-kerja giat
siang malam tanpa kenal lelah, setelah msngalami
gemblengan tiga tahun, mendadak kawanan kakek
itu membawa kakek-moyang ke tepi laut. .
Ternyata di situ sudah berlabuh sebuah kapal
besar, dalam kapal ter-timbun harta benda yang
tak terhitung jumlah-nya.
“Tentu saja kakek moyang terbelalak heran dan
bingung, sama sekali tak tersangka olehnya bahwa
kavvanan kakek aneh itu dapat memberi hadiah
kapal besar dengan isinya. Hanya saja syaratnya
kakek moyang diharus-kan bersumpah takkan
menyiarkan rahasia ke-kayaan Cu-sin-tian. Selain
itu kakek moyang diwajibkan mencicil utang yang
dibawanya sekapal penuh itu.
“Rupanya isi kapal itu hanya sebagai modal
pinjaman kepada kakek moyang ber-hubung
keterangannya yang bersumpah ingin menjadi
orang kaya itu. Kawanan kakek ajaib di pulau itu
sengaja membantu memenuhi cita-citanya, cuma
untuk itu kakek moyang di-haruskan turun
temurun keluarga Lamkiong mesti menugaskan
putra sulungnya membawa sejumlah harta
kekayaannya ke pulau Cu-sin-tian. Setiap turunan
jumlah antaran itu harus bertambah sekali lipat,
kecuali keluarga Lam-kiong tidak punya keturunan
lagi, kalau tidak betapapun janji bayar utang itu
tidak boleh diingkari.
“Sampai pada angkatan kakekmu, jumlah utang
yang berlipat itu telah berjumlah sukar dihitung
dan mendadak datang pula utusan Cu-sin-tian
mendesak antaran upeti yang harus dipenuhi itu.
Terpaksa kakekmu harus me-ngumpulkan harta
kekayaan yang tersebar di berbagai tempat dan
menugaskan pamanmu mengantarnya ke Cu-sintian.
Waktu itu, aku sendiri belum menikah
sedangkan pamanmu sudah mempunyai seorang
anak bayi . . . . “
Baru sekarang Larnkiong Peng mengetahui
sejarah keluarganya yang diliputi kcanehan itu
dengan suara rada gemetar ia tanya, “Dan di . . . .
di manakah paman sekarang? Di mana pula
saudara sepupuku itu? “
Lamkiong Siang-ju mengeleng, jawabnya, “Sehari
sebelum pamanmu berangkat, dengan nekat dia
membunuh istri dan anak kesayangannya yang
masih bayi itu. Rupanya dia sudah
menghitung,satu angkatan lagi, biarpun keluarga
Lemkiong menjual semua harta benda
kekayaannya juga sukar memenuhi utang kepada
Cu-sin-tian.
“Rupanya pamanmu tidak sampai hati anak
keturunannya akan menderita, juga tidak ingin
aku kawin dan beranak yang akibatnya juga cuma
akan tertimpa sengsara, maka pamanmu
meninggalkan pesan sepucuk surat, lalu berangkat
dengan membawa harta benda itu dan berlayar ke
lautan, sejak itu pun tidak ada kabar beritanya lagi
. . . . “
Bertutur sampai di sini, ia menjadi ber-duka dan
tersendat-sendat.
Pada umumnya orang luar hanya tahu keluarga
Lamkiong kaya-raya tiada bandingannya, siapa
pula yang tahu keluarga kaya ini ternyata penuh
dengan darah dan air mata.
“Tidak lama sesudah pamanmu berangkat,
kakek juga lantas wafat. “ tutur Lamkiong Siang-ju
lebih lanjut. “Setelah berkabung selama ti-ga
tahun, aku lantai keluar mencari kabar jejak
pamanmu. Biasanya setiap kali anggota keluarga
kita mengirim upeti, sebelumnya pihak Cu sin tian
selalu mengirim utusan dengan membawa surat
dan memberi petunjuk ke pelabuhan mana harus
dituju. Jadi anggota keluarga kita tidak ada yang
tahu di mana letak pulau Cu-sin-tian yang
sebenarnya, meski sudah sekian tahun aku
berkelana tetap tidak mendapatkan sesuatu
petunjuk. Akhirnya aku pun putus asa, tak
tersangka pada waktu itulah aku bertemu dengan
ibumu. “
Mendadak Lamkiong-hujin mengusap air mata
dan memegang tangan sang suami, lalu berucap
pelahan, ‘ “Biarlah kuteruskan ceritamu Sesudah
bertemu dengan ayahmu, kami lantas saling jatuh
cinta. Cuma ayahmu senantiasa berusaha
menghindariku. Sudah tentu aku heran dan sedih.
Dalam gusarku segera kuputuskan juga akan
menikah dengan seorang lain.
“Orang itu juga sahabat ayahmu, siapa sangka
pada suatu hari ayahmu . . . ayahmu kena
disergap orang dan keracunan hebat, dalam
keadaan sakit parah ayahmu menceritakan sejarah
keluarganya kepadaku, maka aku baru tahu
sebabnya dia selalu menghindari diriku. rupunya
dia mempunyai alasannya, yaitu dia menyadari
keluarga Lamkiong yang termashur ini akhirnya
akan runtuh, akan bangkrut, ayahmu tidak tega
membuatku sengsara di kemu-dian hari, juga tidak
tega melahirkan anak yang nasibnya akan
menderita, begitu dewasa wajib membayar utang
bagi leluhurnya
“Tapi ibumu ternyata tidak gentar meng-hadapi
semua itu, “ tiba-tiba Lamkiong Siang-ju
menyambung, ‘dia juga tidak takut kepada
kehidupan miskin. Dalam semalam dia menggendongku
ke Thian-san untuk mencari obat
penawar. Maka sejak itu kami tidak pemah berpisah
lagi, “ tukas Lamkiong-hujin sambil menggelendot
di tubuh sang suami. ‘Kemudian, se-telah
kaulahir, kami bertekad akan membuat bahagia
hidupmu, tidak ingin kau belajar ilmu silat, maka
kami tidak pemah mengajarkan kungfu padamu.
Siapa tahu watak pembawaanmu justru gemar
ilmu silat, kami tidak tega pula melawan
kehendakmu, maka kami me-ngirim dirimu kepada
Liong Po-si . . . .O, nak, sungguh kami telah
membikin susah padamu karena selama ini selalu
kami rahasiakan se-mua ini. “
Habis bertutur, menangislah nyonya Lam-kiong
tersedu.
Sambil membelai rambut putranya, Lamkiong
Siang-ju bertutur lagi “Sebenarnya ku-harapkan
utusan Cu-sin-tian takkan datang se-cepat ini,
sebab itulah kami pun tidak meng-hendaki
pemikahanmu. Siapa tahu sekali ini, agaknya
mereka sudah memperhitungkan keka-yaan
keluarga Lamkiong takkan terdapat sisa lagi, maka
tanpa menunggu kau kawin dan melahirkan anak
segera menyampaikan pesan agar selekasnya
menyelesaikan pengiriman harta benda kita, untuk
itu dirimu ditunjuk yang ha-rus melaksanakan
tugas.
“Nak, kautahu semua ini untuk memenuhi
sumpah kakek moyangmu, meski . . . meski ayahbunda
sangat sayang padamu, tapi . . . tapi apa
yang dapat kami lakukan lagi . . . “ sampai di sini.
berderailah air matanya.
Mendadak Lamkiong Peng membusungkan dada
dan berseru tegas, “Ayah dan ibu, urus-an utang
keluarga Lamkiong kita dengan sen-dirinya harus
kita tuntaskan . . . . “
“Tapi kau, nak . . . . “ Lamkiong-hujin tidak
sanggup meneruskan lagi.
“Anak pasti akan pulang kembali, “ seru
Lamkiong Peng tegas. “betapa misteriusnya Cu-sinthian
itu, anak bersumpah akan pulang ke sini
untuk mendampingi ayah dan ibu. Biarpun di sana
ada dinding tembaga dan tembok baja juga takkan
mampu mengurung anak. Apalagi jika para
penghuni di sana berjuluk Para Dewa, masa
mereka memaksa orang berbuat tidak bakti kepada
orang tua?’
“Tapi . . . tapi sekali ini lain daripada biasanya, “
ujar Lamkiong Siang-ju dengan se-dih. “Akhirakhir
ini orang dari Kun-mo-to justru muncul lagi
di dunia kangouw, bahkan mereka bertekad
merintangi kita mengirim harta ke Cu-sin-tian. “
Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari
duduknya perkara, “Pantas dengan janji rahasia
mereka memaksa berbagai golongan orang Bu-lim
untuk bersama-sama merampas harta kirim-an
keluarga Lamkiong. “
Lamkiong Siang-ju menghela napas, “Se-karang
anak murid Tiam-jong yang datang itu masih
berkumpul di luar perkampungan sana, sebab
mereka gagal merampas harta benda yang tidak
sedikit ini. Kelihatan mereka seperti berjaga,
sebenarnya mereka mengawasi supaya kita tidak
dapat mengirim keluar harta benda yang tidak
sedikit ini. Selain itu ada lagi ka-wanan bandit
besar dunia kangouw yang juga mengincar rejeki
nomplok ini.
“Selama beberapa hari ini entah berapa kali
telah terjadi pertempuran sengit di perkampungan
kita ini dan banyak mengalirkan darah. Ai, harta,
selain membawa sengsara bagi keluarga Lamkiong
kita, apa pula yang kita dapatkan? Anakku. jika
engkau dilahirkan di keluarga miskin, tentu takkan
kaurasakan pen-deritaan seperti sekarang ini. “
Di luar hujan nusih turun dengan lebatnya.
Mendadak di luar jendela ada orang meng- hela
napas panjang, “Ai, aku salah! “
Lamkiong Peng terkejut, bentaknya, “Siapa itu? “
Segera Lamkiong Siang-ju pun melompat ke
depan jendela dan membuka daun jendela.
Tapi sebelum orang tua itu bertindak lebih
lanjut, suara orang tadi telah menegur, “Lotoa, apa
sudah pangling padaku?’
“Hah, Loh Ih-sian! “ seru Lamkiong-hujin sambil
memburu maju.
Lamkiong Siangju juga berseru kaget, “He, Jite,
kiranya engkau? “
Waktu Lamkiong Peng mengawasi, ter-tampak di
luar jendela berdiri seorang tua ber-kepala botak,
segera dikenalinya si kakek aneh bemama Ci Ti
alias mata duitan itu.
Sungguh tak tersangka olehnya bahwa kakek
yang mata duitan ini adalah “Jite “ atau saudara
kedua sang ayah. Seketika ia jadi melongo.
Dilihatnya kakek botak itu telak melompat
masuk dan berhadapan dengan sang ayah.
“Jite, “ ucap Lamkiong Siang-ju sambil
memegangi pundak Ci Ti, “Sekian lama tidak
bertemu, mengapa…mengapa engkau ber-ubah
begini? “
Ci Ti termenung-menung seperti orang linglung,
tiba-tiba ia bergumam, “Aku salah, aku salah! “
“Ah, urusan yang sudah lalu, untuk apa
kaupikirkan lag!, “ ucap Lamkiong-hujin dengan
sedih. “Aku dan Toako tidak menyalahkanmu,
sebaliknya malah merasa . . . merasa bersalah
padamu. “
“Tidak, aku salah, “ seru Ci Ti mendadak sambil
berlutut di depan Lamkiong Siang-ju dan
mencucurkan air mata. “Toako, kuminta maaf . . . .

Lekas, bangun, Jite, “ kata Lamkiong Siang-ju
sambi! menarik si kakek botak.
“Tidak, Selama urusannya tidak kukatakan, mati
pun aku tidak mau berdiri lagi, “ kata Ci Ti. “Soal
ini sudah 20 tahun menekan hatiku. Pada waktu
itu, kusangka Samoay (adik ketiga) silau kepada
kekayaan keluarga Lamkiong, maka aku
ditinggalkan untuk menikah dengan-mu. Aku tidak
tahu bahwa sebelum berkenal-an denganku dia
sudah mencintaimu. Tidak kuduga bahwa dia
menikah denganmu, bukan lantaran kemaruk
kepada kekayaanmu, dia justru rela ikut sengsara
bersamamu, sebaliknya aku . . . aku malah tinggal
pergi tanpa pamit, bahkan kudatangkan
serombongan mu-suh untuk merecoki kalian . . . .

“Ai, Jite, aku dan Samoay kan tidak ber-alangan
apa pun, untuk apa mengangkat lagi urusan
lampau dan buat apa engkau menista diri sendiri, “
ujar Lamkiong Siang-ju dengan menyesal.
Tidak boleh tidak harus kukutuk diriku sendiri,
dengan begitu barulah hatiku bisa agak tentram, “
kata Ci Ti. “Selama puluhan tahun ini siang dan
malam kukutuki kalian, seperti orang gila aku
mencari harta benda, kecuali merampok dan
mencuri. hampir dengan segala jalan aku berusaha
mengumpulkan harta ben-da, aku pun
mengasingkan diri, hidup hemat dan melarat,
orang sama menganggap aku orang gila, tidak ada
yang tahu bahwa aku sengaja bersumpah akan
mengumpulkan harta benda yang lebih banyak
daripada kekayaan keluarga Lamkiong, akan tetapi
. . . . “
Mendadak ia melemparkan karung yang
dibawanya dan berteriak pula, “Ini, biarpun
kukumpulkan harta benda berjuta-juta tahil, lalu
apa gunanya? Baru sekarang kutahu be-ta pa
besarnya harta benda tetap tidak dapat membeli
cinta yang mumi, biarpun kekayaan berlimpah
tetap takdapat mengurangi derita se-orang. Baru
sekarang kusadar, Toako aku . . . aku salah
padamu, harap engkau sudi mem-beri ampun. “
“Sudah kaudengar ceritaku tadi?” tanya
Lamkiong Siang-ju dengan rawan.
Ci Ti mengangguk.
Cepat Lamkiong Siang-ju membangunkan-nya
dan berkata, “Apa pun juga hari ini kita bertiga
telah berkumpul kembali di sini, sung-guh
menggembirakan dan bahagia. “
Ia tertawa cerah, lalu berpaling dan berkata
pula, “Anak Peng, lekas memberi hormat kepada
paman. Inilah Loh lh-sian, paman Loh yang dahulu
terkenal sebagai Sin-heng-bu-eng-tang-kun-thiciang
(si pelari cepat tanpa bayangan, kepala
tembaga dan pukulan besi). “
Lekas Lamkiong Peng melangkah maju dan
memberi hormat.
Loh Ih-sian mengusap air matanya, kata-nya
dengan tertawa, “Nak, tentu tak kausangka kakek
yang mata duitan ini adalah pamanmu. “
Lamkiong-hujin juga terharu, ucapnya dengan
tersendat, “Sungguh tak terduga akhirnya kita
berkumpul lagi, tak nyana sekarang engkau suka
berdandan secara begini. Ai, masa . . . masa
engkau begitu miskin sehingga baju pun tidak
mampu beli. “
“Aku bukan miskin, tapi terlampau kikir, “ ujar
Loh Ih-sian dengan tertawa. “Meski da-lam
karungku terisi berjuta tahil perak, tapi satu tahil
pun kusayang menggunakannya. “
“Kutahu apa yang kaulakukan ini adalah
lantaran dia (maksudnya sang istri), “ kata Larokiong
Siang-ju dengan gegetun. “Ai, engkau
memang . . . .
“Cis. sudah sama tua, untuk apa bicara kejadian
dulu di depan anak, “ omel Lamkiong-hujin
dengan agak jengah.
Meski hati ketiga orang tua ini diliputi rasa sedih
dan haru, tapi juga merasa gembira karena dapat
berkumpul kembali. Sesaat itu mereka scakanakan
berada pada 20 tahun yang lalu. tatkala
mereka masih muda dan malang melintang di
dunia kangouw bersama.
Pada saat itulah mendadak terdengar orang
membentak di luar serentak tiga batang pa-nah
bersuara menyambar masuk lewat jendela dan
“cret “, sama menancap di atas peti yang
bertumpak di tengah ruangan itu.
“Haha, bagus, tak tersangka ada kawanan
bandit berani menyatroni rumah Toako se-karang.
“ kata Loh Ih-slan dengan tergelak.
“Tenaga pemanah ini tampaknya tidak lemah,
entah orang gagah dari mana? “ kata Lamkiong
Siang-ju dengan tertawa.
Segera terdengar seorang berteriak di luar, “’Yim
Ong-hong dan Cin Lun-ih bersama para orang
gagah dari ke-18 gunung datang untuk meminta
sedikit biaya kepada Lamkiong-cengeu, harap
Lamkiong cengeu memberi ke-bijaksanaan akan
menerima dengan hormat atau menolak secara
tegas? “
“Kenapa Hong-ih-siang-pian muncul kem-beli? “
ucap Lamkiong Siang-ju dengan kening bekernyit.
“Tampaknya Hong-ih-siang-pian belum ta-hu
siapa yang tinggal di sini, “ ujar Loh Ih-sian sambil
membusungkan dada. seketika perawakannya
scakan-akan tumbuh lebih tegap. Lalu
sambungnya, “Siaute belum Iagi tua, ba-gaimana
dengan Toako?’
“Masa kaukira Toako sudah tua? “ sahut
Lamkiong Siang-ju.
“Haha, bagus! “ Loh Ih-sian bergelak ter-tawa
sambil menepuk pinggang sehingga terdengar
bunyi genta, “Sekarang juga? “
“Ya, tunggu kapan lagi? “ jawab Siang-ju.
Lamkiong-hujin tertawa, “Bagus, Hau-hoa-leng
(genta pembela bunga) kalian masih leng-kap,
sebaliknya bunga macam diriku ini sudah layu! “
Tiba-tiba orang di luar menbentak pula, “Lekas
beri jawaban, bila kami menghitung ti-ga kali tidak
ada keputusan, segera kami me-nyerbu masuk! “
Loh Ih-sian menanggapi ucapan Lamkiong-hujin
tadi, “Ah, kami bersaudara belum Iagi tua, masa
engkau mengaku sudah layu? Eh, Lo-toa, perintis
jalan kan tetap diriku? “
“Baik, “ kata Siang-ju.
Baru saja kata itu terucapkan, mendadak Loh
Ih-sian melompat dan hinggap di atas ke-dua
tangan Lamkiong Siang-ju yang diangkat ke atas.
Begitu Siang-ju membentak, “Pergi! “
Sekali tolak, kontan tub ah Loh Ih-sian terlempar
ke luar secepat terbang.
Terdengarlah Suara “blang “, daun pintu
terpentang, menyusul terdengar gemerinting,
seutas benang emas terbang masuk dari luar,
berbareng ada benang emas lain menyambar
keluar dari tangan Lamkiong Siang-ju.
Kembali terdengar bunyi genta, kedua benang
emas terlibat menjadi satu, menyusul Siang-ju
membentak pula, “Masuk! “
Seketika di luar ada orang menjerit dan
terdengar suara menderu, tubuh Loh Ih-iian
melayang masuk kembali, tangan kiri terbelit oleh
benang emas, tangan kanan mencengkeram
seorang kakek bertubuh tinggi besar.
Segera Loh Ih-sian membanting tawanan-nya ke
lantai. Ternyata yang dibekuknya ada-lah satu di
antara Hong-ih-siang-pian, yaitu Yim Ong-hong.
Lamkiong Peng terkesima, entah kejut atau
kagum. Waktu ia mengamati lebih lanjut baru
diketahuinya bahwa pada ujung kedua utas
benang emas itu sama terikat sebuah gen-ta kecil
wama emas. ketika Loh Ih-sian melayang keluar
atas tenaga lemparan Lamkiong Siang-ju, segera ia
melemparkan genta emas ke dalam, berbareng itu
genta emas Lamkiong Siang-ju juga dilemparkan
keluar, kedua utas benang emas saling belit
dengan kuat, waktu Siang-ju menarik Iagi dengan
kuat, sementara itu Loh Ih-sian sempat menerkam
ke bawah dan Yim Ong-hong tercengkeram dan
diangkat.
Berkat tenaga tarikan Lamkiong Siang itu Loh
Ih-sian dapat melayang keluar secepat terbang dan
melayang masuk kembali dengan sama cepatnya.
Biar pun Yim Ong-hong juga bukan jago lemah,
tapi dalam keadaan terkejut ia menjadi kelabakan
dan tak tempat mengelak.
Dalam pada itu di luar telah terjadi kekacauan,
ada suara orang tua berteriak, “Yang di dalam
apakah Hong-tun sam-yu adanya?’
Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian sali pandang
dengan tertawa.
Waktu itu Yim Ong-hong sudah merangkak
bangun, dengan muka pucat dan ketakutan
berseru, “Hah, ternyata bsnar Hong-tun-sam yu
adanya! “
“Sudah sekian tahun tidak bertemu, syukur
engkau masih kenal kami bersaudara, “ ucap Loh
Ih-sian.
Yim Ong-hong menghela napas menyesal
ucapnya dengan menunduk, “Sekalipun Caihe
tidak kenal Iagi kepada kalian bertiga, tapigaya
‘genta emas pencabut nyawa’ tadi tidak mungkin
kulupakan. “
“Haha, genta pencabut nyawa … . .. Sungguh
tidak terduga permainan yang kami cipta-kan
untuk bersenda gurau telah dipandang orang
persilatan sebagai ilmu sakti, “ ujar, Loh Ih-sian
dengan tertawa. Mendadak ia membentak’ dengan
wajah kereng, “Jika kauingat juga kepada kami
bersaudara, apakah sudah kaulupakan sumpah
yang pemah kalian ucapkan di depan kami? “
Yim Ong-hong menjawab dengan takut,
“Bilamana kutahu Lamkiong-cengeu tak-lain-takbukan
adalah Leng-bin-jing-ih-khek (si ba-ju biru
berwajah dingin) dari Hong-tun-sam-yu dahulu,
betapa besar nyaliku juga tidak berani melanggar
Lamkiong-san-ceng satu langkah pun
“Dan bagaimana setelah kau tahu sekarang?”
jengek Loh Ih-sian.
Di luar sana masih gaduh, segera Yim ong hong
beretriak, “Cin-loji, lekas membawa para saudara
kita mengundurkan diri keluar perkamoungan,
Hong-tun-sam-yu berada disini!”
Belum lenyap suaranya Cin Luan-ih telah
melompat ke depan pintu, serunya kaget, “Ah,
kiranya betul ketiga Taihiap berada disini, tak
terduga kungfu yang kami latih selama berpuluh
tahun ini tetap tidak mampu menahan sekali
terkam dari udara oleh Loh tai-hiap.”
DI bawah hujan lebat sana mendadak ada orang
berteriak, “Huh, Hong-tun sam-yu apa segala?
Jauh-jauh kita sudah datang kemari, masa selalu
satu patah kata ini saja kita lantas mundur dengan
tangan hampa.”
Pada saat yang sama serentak belasan bayangan
orang lantas menerjang maju.
Mendadak Cin Luan-ih membalik tubuh dan
membentak, “Siapa itu yang bicara?”
Segera seorang leleki pendek kecil dengan sinar
mata tajam tampil ke muka, seorang di sebelah kiri
juga menjengek, “Hm, menyuruh kawan sendiri
pergi, sedikitnya kau perlu di beri sedikit sangu?
Betul tidak, kawan-kawan?”
Belasan orang sama mengiakan.
“Ah, kiranya kedua Pek cecu,” ucap Yim ong
hong dengan tertawa sambil mendekati kedua
orang itu. “Katakan saja terus terang,
sesungguhnya apa yang kalian minta?”
Orang yang di sebelah kiri menjawab, “Dari jauh
kami datang kemari, adalah layak bilamana kami
minta bagian, sebagai orang tua tentu juga harus
memikirkan nasib para saudara kami yang sudah
lelah ini.”
“Baik, terimalah ini?” seru Yim ong hong sambil
tertawa, berbareng kedua tangannya menyodok ke
depan.
Terdengarlah suara “blang-blang” dua kali,
kontan kedua Pek bersaudara menjerit dan
tumpah darah serta terguling ke bawah undakan
sana.
“Nah, siapa lagi yang minta bagian rezeki?”
jengek Yim ong hong kemudian.
Seketika kawanan bandit sana bungkam, hanya
suara hujan saja yang terdengar, belasan orang itu
sama berdiri diam, bemafas saja tidak berani
terlampau keras.
“Enyah!” bentak Yim ong hong.
Buru-buru belasan orang itu ngacir keluar.
Hong-ih-siang-pian lantas memberi hormat dan
mohon diri.
“Sudah lama kita berkenalan, kalian ternyata
belum lagi melupakan kami, meski sekarang kami
sedang menghadapi urusan gawat, tapi bilamana
kalian perlu bantuan sedikit banyak masih dapat
kuberikan,” kata Lamkiong siang ju.
“Ah, cengeu tidak menghukum kami saja sudah
membuat kami berterimakasih, mana kami berani
mengharapkan urusan lain,” jawab Yim ong hong.
“Jika demikian, karena kami masih ada urusan,
biarlah kita sudahi sampai di sini,” kata siang-ju
sambil memberi tanda mengantar tamu.
Yim ong hong dan Cin luan-ih memberi hormat.
Selagi mereka hendak melangkah pergi, mendadak
Loh-ih-sian berkata, “nanti dulu, Ingin kutanya
sedikit, ketika kalian datang tadi, tentu kalian
telah bertemu dengan anak murid Tiam-jong di
depan sana?”
“ya, Anak murid Tiam-jong sudah terluka lebih
separuh, kecuali Tiam jong yan dan Thian-go
berdua, yang masih sanggup bertempur tidak
seberapa orang lagi.”
Habis menutur, kedua orang itu lantas mohon
diri dan angkat kaki.
Setelah berada di tengah ruangan, Loh-ih-sian
berkata, “Jika kepungan kawanan penyatron
sudah menipis, kenapa kesempatan ini tidak
digunakan Toako untuk mengangkat peti-peti ini
keluar?”
Lamkiong siang-ju tersenyum pedih,”Para
utusan Cu-sin-to sudah datang satu kali, tapi
mereka tidak menjelaskan tempat penyerahan
harta benda ini, umpama peti ini kita angkut
keluar, lalu harus diantar kemana?”
Loh-ih-sian tercengang, mendadak ia
menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, dimana
dan kapanpun, betapa banyak penyatron di sana,
memangnya dengan gabungan kita takut takkan
mampu menerobosnya?”
Sembari bicara, serentak ia guncangkan genta
emas yang dipegangnya, suara genta yang nyaring
berkumandang jauh di tengah hujan lebat.
Melihat Lamkiong Peng memandangi gentanya
dengan terkesima, Loh-ih-sian bertanya, “Nak,
apakah dapat kau dengar di mana letak
keajaibannya bunyi genta ini?”
Lamkiong peng menggeleng dengan tersenyum.
“Genta emas ini sebenarnya adalah benda
pusaka keluarga lamkiong kita,” tukas Lamkiong
hujin, “genta ini seluruhnya ada tiga pasang, satu
hal aneh mengenai genta emas ini adalah bila salah
satu pasang diantaranya berguncang, kedua
pasang yang lain juga akan ikut berbunyi. Gejala
ini serupa paduan suara alat musik saja.”
Segera ia mengeluarkan sepasang genta emas
dan diberikan kepada Lamkiong Peng, sesudah
genta itu dipegang, mendadak Loh-ih-sian
mengguncangkan gentanya, seketika genta di
tangan Lamkiong peng juga ikut berbunyi.
Tentu saja Lanikiong Peng terheran heran dunia
ini memang penuh keajaiban, banyak urusan yang
sukar dijelaskan dengan akal.
‘ “Ketika kami bertiga masih malang melintang di
dunia kangouw dahulu, hanya kung fu ibumu yang
paling lemah. “ tutur Lamkiong Siang-ju. “Kami
kuatir suatu tempo ibumu akan menghadapi
bahaya, maka kubagikan genta emas ini kepada
mereka masing-masing satu pasang, bila ibumu
mengalami bahaya, sekali genta berbunyi, segera
kedua pasang genta yang kami pegang ini juga
akan me-ngeluarkan suara dan segera pula kami
dapat menyusul ke tempatnya untuk memberi
bantuan . . . . “
Makanya ayahmu telah memberikan nama yang
aneh dan juga enak didengar kepada genta yang
serupa ini, yaitu Hou hou-leng. “ sambung Loh Ihsian
dengan tertawa.
“Ah, kisah berpuluh tahun yang lalu buat apa
mengungkapnya Iagi. “ ujar Lamkiong- hujin
“Anak Peng, apabila kaumau, biarlah sepasang
gentaku ini boleh kuberikan padamu, selanjutnya
bila berkelana di dunia kangouw
Mendadak teringat olehnya putra ke-sayangan
sebentar Iagi akan menuju ke tempat jauh yang
tidak diketahui di mana letaknya, seketika
wajahnya yang berseri berubah muram durja.
Lamkiong Siang-ju menghela napas pelahan,
“Ya, nak, bolehlah kau simpan saja sepasang genta
ini, ayah-ibu tidak dapat memberi benda berharga
lain, hendaknya kedua pasang genta ini dapat
kausimpan dengan baik, kelak …. “
Bicara urusan kelak, tanpa terasa ia menjadi
sedih dan tidak sanggup meneruskan.
Di luar hujan masih lebat, suasana gelap gulita.
Memegangi keempat buah genta emas, Lamkiorig
Peng juga menunduk diam.
Tiba-tiba Loh Ih-sian berkata dan tertawa
lantang, “Haha, jika ayah-bundamu sudah
menghadiahkau gentanya kepadamu, bila kusimpan
gentaku sendiri, bisa jadi akan kaupandang
pamanmu ini memang orang kikir. Nak,
ambil saja, biar kuberikan sekalian gentaku ini dm
simpanlah baik-baik, kelak bila ketemukan gadis
setimapal, boiehlah kaubagi dia sepasang genta ini.

Dengan hormat Lamkiong Peng menerima
pemberian itu.
“Apa pun juga, hari ini kita dapat ber-kumpul
kembali, hal ini harus kita rayakan, “ kata
Lamkiong hujin. “Biarlah kuolah dua-tiga macam
hidangan untuk teman minum arak kalian. Dengan
hadirnya Loh-loji dan anak Peng di sini, paling
tidak perasaanku akan lebih longgar. “
“Ah, masa mesti bikin repot Samoay sendiri, “
ujar Loh Ih-sian.
“Apa boleh buat, kan semua kaum hamba di sini
sudah dilepas, “ kata Lamkiong-hujin.
Lalu Lamkiong Siang-ju membuka hiat-to para
lelaki yang terluka karena membela perkampungannya
tadi disertai permintaan maaf,
kemudian mereka disilakan istirahat di be-lakang.
Selesai mengatur, makanan sederhana pun
sudah dihidangkan.
Tapi belum lagi tiga cawan arak habis terminum,
mendadak Loh Ih-sian berdiri dan membentak, “
Siapa itu di luar? “
Di tengah kegelapan malam di luar masih hujan
lebat, terdengar suara gemersak ramai di undakundakan.
Sekali Lamkiong Sian-ju tolak dari jauh,
terpentanglah daun pintu, tapi di luar tidak
kelihatan sesuatu.
Air muka Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-lian
sama berubah, tiba-tiba angin meniup membawa
semacam bau amis yang aneh.
Kebetulan Lamkiong-hujin datang mem-bawakan
sepiring Ang-sio-bak, sekilas pandang terlihat
dalam kegelapan di luar ada dua titik cahaya,
tanpa terasa ia menjerit, “Hah, ular! “
“Prang! “ piring yang dipegangnya jatuh dan
pecah berantakan.
Terlihat. kedua titik cahaya hijau itu bergoyanggoyang
dan semakin dekat. Selagi Lamkiong Peng
hendak bertindak, mendadak Loh Ih-sian
mencegahnya sambil mendesis, “Nanti dulu ! “
Sekali ia monyembur, seutas benang perak
terpancar ke arah kedua titik cahaya hijau.
Di tengah desir angin yang berbau amis ter-cium
pula bau arak, kiranya Loh Ih-sian telah
menggunakan tenaga dalam untuk menekan arak
yang diminumnya sehingga terpancur keluar,
serupa panah arak, sungguh hebat sekali
semprotan panah arak itu, seketika kedua titik
cahaya hijau itu padam.
Dengan kening bekernyit Lamkiong Siang-ju
berucap, “Sejak Ban-siu-san-ceng (perkam- pungan
seribu binatang) terbakar, di dunia persilatan
sudah langka ahli yang mahir me-ngendalikan ular
dan binatang liar, kedatangan ular ini sungguh
rada aneh. “
Belum habis terpikir, tiba-tiba bergema suara
musik di kejauhan, segera kedua titik cahaya hijau
muncul lagi, bergoyang-goyang mengikuti irama
musik dan meninggi ke atas. Berubah air muka
Lamkiong Siang-ju, di-raihnya poci arak di atas
meja dan disiramkan ke sana, seutas air mancur
lantas tersebar sampai di depan pintu, segera. ia
jemput pula lentera tembaga dan berjongkok untuk
me-nyulut, “buss “, api lantas menyala dan berkobar
mengikuti jalur arak.
Di bawah cahaya api tampaknya di atas undakundakan
luar sana seckor ular hijau se-besar
lengan lagi menegak leher dengan lidah-nya yang
terjulur sembari menyurut mundur.
Loh Ih-sian berteriak kaget dan menyingkir ke
pojok.
“Hah, Loh-loji juga takut alar? “ ujar Lam-kionghujin
dengan tersenyum-
Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebab-nya
kakek botak ini ketakutan terhadapan ka-wanan
setan dari Kwan-gwa dulu, rupanya bu-kan
orangnya yang ditakuti melainkan ular pia-raan
mereka.
Dengan cepat api yang menyala dari alkohol itu
telah paham, suara musik tadi tambah melengking.
Cepat Lamkiong-hujin juga turun tangan, dua
titik cahaya perak menyambar ke depan, cahaya
hijau seketika padam, ular pun ter-guling ke
bawah undak-undakan. Mendadak suara musik
berubah keras, menyusul lantas terdengar suara
harimau meraung, seekor ma-can kumbang
melompat ke atas,
”Binatang! “ bentak Lamkiong Peng sambil
memapak ke depan.
Harimau itu sedang menubruk dari atas, sekali
berkelit Lamkiong Peng mengelak ke samping,
menyusul sebelah tangannya lantas menghantam
kepala binatang itu. “Prak “, tanpa ampun kepala
macan hancur, darah munerat, kepala binatang
buas itu luluh dan binasa.
Sekalian kaki Lamkiong Peng mendepak,
bangkai karimau diu-ndangnya ke bawah undak
undakan sana.
“Sungguh hebat, itulah murid Sin-long maha
sakti! “ puji Loh Ih-sian sambil berkeplok tertawa.
Mendadak suara musik berganti nada lagi, suara
musik ringan hilang, sebagai gantinya adalah
suara alat musik berat, yaitu tambur dan
gembreng ditabuh bertalu-talu. Di tengah hujan
angin empat sosok bayangan tinggi besar tampak
muncul dari kegelapan dan serentak melompat ke
atas undak-undakan. Ternynta ke-empatnya
adalah kingkong yang bertenaga raksasa.
Di bawah cahaya remang bulu keempat ekor
kingkong yang berwama kuning emas itu
membentangkan kedua lengan dengan mulut
ternganga serta mengeluarkan suara garang di
selingi suara gemuruh menepuk dada, buas dan
mengerikan.
“Lekas kembali, anak Peng, “ seru Lamkiong
Siang-ju.
Namun Lamkiong Peng tetap berdiri menghadapi
keempat ekor kingkong itu.
Tiba-tiba bergema suara orang di dalam
kegelapan hutau, “Lamkiong Siang ju, untuk apa
kaubertahan di situ, jika tidak lekas ang-kat kaki,
sebentar lagi bila binatang sakti membanjir tiba,
kematian kalian pun takkan terkubur. “
Suaranya kecil melengking, berkumandang jelas
di tengah suara genderang yang ramai,”Omong
kosong! “ bentak Lamkiong Peng, berbareng kedua
tangannya lantas memukul langsung kepada
kedua ekor kingkong yang tengah.
Sambil meraung aneh, kedua ekor kingkong itu
terguling ke bawah undak-undakan. tapi segera
mereka melompat bangun dan menerjang maju lagi
sambil menyeringai sehingga kelihatan barisan
giginya yang menakutkan.
Dalam pada itu kedua ekor kingkong yang lain
segera menubruk maju dari kanan-kiri. Namun
secara gesit Lamkiong Peng melompat ke samping.
Kedua ekor kingkong yang terguling tadi sudah
menerjang tiba dan mengerubuti Lamkiong Peng.
Mangkin gencar suara tambur di-tabuh, makin
kalap keempat ekor kingkong itu menerjang
musuh.
Melihat putranya kewalahan dikerubut keempat
ekor kingkong itu, Lamkiong Siang-ju tidak tinggal
diam, dari samping ia pun meng- hantam. kontan
salah seekor “ kingkong itu ter-pukul jatuh. Tapi
dengan cepat merangkak bangun dan menerjang
maju lagi.
Mendadak Loh Ih-sian mendekap bibir dan
bersuit sekerasnya, begilu keras suara suitan-nya
sehingga irama tambur menjadi kacau, se-ketika
cara bertempur kecmpat ekor kingkong itu pun
tidak teratur lagi.
Kesempatan itu digunakan Lamkiong Siang-ju
untuk menghartam lagi, ‘ “blang “. dada salah
seekor kingkong iiu tertonjok. Sungguh dahsyat
pukulan ini, kontan kingkong tumpah darah dan
terguling ke bawah undak undakan.
Loh Ih-sian masih terus bersuit. Mendadak
iapun menghantam dua tangan sekaligus, salah
seekor kingkong itu mendoyong ke belakang, tapi
segera kaki Loh Ih-sian mengait dan “bluk “
kingkong ttu jatuh terjengkang.
Tanpa ayal Loh Ih-sian memegang kedua kaki
kingkong sambil menggertak, sekali angkat tubuh
kingkong sebesar manusia itu terus di-putar duatiga
kali, lalu dliemparkan hingga jatuh jauh di
hutan sana.
Semangat Lamkiong Peng tambah terbang-kit,
kembali ia menghantam dan menendang sehingga
seekor kingkong mencelat.
Sekarang suara tambur itu bergema lagi, namun
sisa seekor kingkong itu rupanya tahu gelagat dan
tidak berani bertempur lagi, segera ngacir pergi.
Loh Ih-sian bergelak tertawa puas dan memuji, ‘
“Sungguh kungfu hebaf, murid Sin-liong memang
lain daripada yang lain. “
Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju sedang
berseru lantang ke sana, “Dengarkan para ka-wan,
harta benda di Lamkiong-san ceng saat ini berada
di sini, apabila kalian mengincarnya, silakan
mengambilnya menurut kemampuan kalian,
kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan
hutan dan menyuruh kawanan binatang yang tak
berarti ini untuk membikin malu kalian sendiri? “
Suara tambur mulai mereda, sebagai gan-tinya
suara musik halus tadi kembali bergema, lembut
dan ulem.
Waktu angin meniup lagi, bau amis tadi sudah
hilang, sebalikuya malah mengandung bau harum
sayup sayup aneh membuat perasaan tergelitik
dan membangkitkan nafsu.
Mendadak di tengah hutan yang gelap me nyala
empat cahaya lampu yang menyilaukan mata,
pekarangan di depan uudak-urdakan batu, seluas
dua-tiga tombak itu tiba-tiba muncul enam orang
gadis berbaju sutera putih tipis dan berkerudung
topi bunga serta mulai me-nari mengikuti irama
musik.
Hujan masih turun, hanya sekejap saja baju
tipis kcenam gadis jelita itu sudah basah kuyup
sehingga hampu tembus pandang garis tubuh
mereka yang menggiurkan.
Makin lama makin asyik bunyi musiknya dan
makin panas tariannya, kening Lamkiong Peng
bekernyit, ia melengos ke arah lain.
Alis Lamkiong Siang-ju juga menegak, kata-nya,
“Jite, apakah kauingat cara mempengaruhi lawan
dengan kemaksiatan dan menggertak dengan
kekerasan seperti ini biasanya digunakaa tokoh
kangouw dari mana? “
“Apakah maksud Toako hendak mengatakan
kebiasaan majikan perempuan dari Ban-siu sanceng,
yaitu Tek-ih-huicu (si nyonya senang)?”
jawab Loh Ih-sian.
“Sesudah kebakaran yang menimpa Ban-siusan-
ceng, sudah lama Tek-ih-huicu meng-hilang
dan tiada kabar beritanya, “ kata Lam-kiong Siangju.
“Bahwa sekarang dia muncul kembali, nyata
caranya sudah tidak selihai dulu lagi, namun
gayanya masih tidak berubah. “
“Ya, memang sudah berpuluh tahun tidak ada
kabar tentang Tek-ih-huicu, apakah mung-kin iblis
perempuan yang menyendiri ini dahulu juga
pemah mendidik murid? “
Tengah bicara, suara musik tadi tambah gencar,
gaya menari kcenam gadis berbaju sutera itu pun
semakin menghanyutkan, di antara gerak-geriknya
seperti sengaja dan seperti tidak sengaja selalu
menonjolkan bagian tubuh yang seharusnya
dirahasiakan, lirikan matanya juga memikat.
Cahaya lampu juga tambah remang, dari
kegelapan hutan sana lantas muncul empat gadis
lagi dengan menggotong sobuah joli ke-cil beratap.
Waktujoli berhenti dan tabir tersingkap, kedua
gadis jelita di depan lantas membentang dua buah
payung, maka turunlah dari joli se-orang nona
berbaju wama lembayung dengan potongan tubuh
yang ramping, cantik sekali nona ini tampaknya
tapi mukanya justru di-alingi sebuah kipas bambu.
“Joli kecil dan baju ungu, semua ini adalah ciri
pengenal Tek-ih-huicu dahulu. jangan-jangan
memang betul Tek-ih-huicu telah mun-cul lagi di
dunia kangouw? “ gumam Lamkiong Siang-ju.
Loh Ih-sian tidak menanggapi, dia kelihatanprihatin,
mendadak ia membentak, “Siapa itu? “
Waktu ia berpaling, di bawah cahaya lampu yang
remang, di atas tumpukan peti ternyata sudah
bertambah beberapa sosok bayangan orang.
Pada saat itu juga gadis berbaju ungu juga mulai
melangkah ke atas undak-undakan mengikuti
irama musik, gayanya jauh lebih monggiurkan
daripada gadis yang lain.
Serentak belasan gadis jelita tadi mengikut di
belakangnya, sambil menaiki undakan batu para
gadis itu melepaskan baunya yang tipis sepotong
demi sepotong sehingga akhirnya telanjang bulat
tanpa sehelai benang pun.
Sementara itu di tengah ruangan pendopo
bayangan orang banyak serentak berputar
mengitari tumpukan peti, seorang yang mengepalainya
tampak berperawakan kekar, alis tebal
mata cekung, seorang lagi bertubuh jang- kung
dan berwajah kurus. Kiranya mereka ini adalah
tokoh Tiam-jong-pai, yaitu Kongsua Yan dan
Thian-go Tojin.
“Hm, kukira Tiam-joNg-pai adalah golongan
temama dan aliran lurus rupanya juga biasa
berbuat secara sembunyi-sembunyi, tengah malam
buta menyusup ke rumah orang, barangkali
memang beginilah ajaran Tiam-jong-pai? “ segera
Loh Ih-sian mengejek.
Thian-go Tojin meniadi gusar. Sedangkan
Kongsun Yan tidak menghiraukan ejekan itu,
ucapnya ketus, “Kami hanya minta birara de-ngan
Lamkiong-cengeu. “
“Melihat perbuatan para Totiaug, rasanya tidak
ada yang perlu kubicarakan lagi, “ ujar Lamkiong
Siang-ju dengan dingin.
“Creng “, segera Thian-go Tojin melolos pedang.
Kongsun Yan tetap tenang saja, katanya,
“Apabila Cengeu mau mendengar nasihatku
sebaiknya harta bendamu ini kautitipkan dalam
penga-wasan kami selama tiga tahun, se-sudah
tiga tahun akan kami kembalikan dalam keadaan
utuh tanpa kurang sesuatu . . . . “
“Hehe, anjing kelaparan ingin pinjam bak- pau,
sungguh menggelikan, “ ejek Loh Ih-sian.
Kongsun Yan berlagak tidak mendengar, katanya
pula, “Atas kehormatan Tiam-jong-pay kuberani
memberi jaminan takkan mengganggu sedikit pun
harta bendamu ini. “
“Hehe, kehormatan Tiam-jong-pai? Memangnya
berapa harganya sekati? “’ jengek pula Loh Ih-sian.
Thian-go membentak murta, segera pedang
bergerak dan hendak menyerang.
Namun Kongsun Yan keburu mencegahnya,
katanya, “Nanti dulu Samte, dengarkan dulu
jawaban Lamkiong-cengeu.’ “
“Kukira Toako juga tidak ada jawaban, kami
justru ingin tahu apa yang dapat diper-buat orang
Tiam-jong-pai Kalian? “ jengek Loh Ih-sian.
Belum lenyap suaranya segera pedang Thian-go
Tojin menusuk, cepat Loh Ih-sian berkelit dari
keduanya lantas saling labrak.
Di luarr sana suara musik masih berkumandang,
belasan gadis jelita itu sudah ber-ada
di ujung undak-undakan, semuanya telanjang
bulat dengan tubuh yang mulus menggiurkan.
Gadis jelita berbaju ungu menggoyang goyang
kipasnya setengah menutupi wajahnya, meski dia
tidak memanggalkan bajunya. Tapi terkadang
mengeluarkan suara tertawa genit yang memikat.
“Turun? “ bentak Lamkiong Peng.
Namun kawanan gadis itu tetap menari seperti
tidak mendengar, Kerlingan mereka terpusat ke
arah Lamkiong Peng scakan-akan ingin menelan
bulat-bulat anak muda itu.
Melihat goyang pinggul dan gerakan memikat
yang terpampang di depan mata itu, tentu saja
Lamkioug Pong serba susah, mana dia sampai hati
turun tangan terhadap gadis telanjaug begilu.
Dalam pada itu Thian-go Tojin dan Loh Ih-sian
sedang bertempur dengan sengit. Pedang Thian-go
berputar cepat dengan tipu serangan yang ganas,
ilmu pedang Tiam-jong-pai memang cepat dan
lincah, namun Loh Ih-sian iuga tidak kurang
lihainya Dia bergerak ter-lebih cepat daripada
sambaran pedang lawan. Sedikit pun senjata lawan
tidak mampu meyentuh ujung bajunya, malahan
dia seperti sengaja hendak mempermainkan orang
dan tidak balas menyerang, serupa kucing
mempermainkan tikus.
Dengan gemas mendadak pedang Thian-go tojin
menusuk dari arah yang tak terduga akan tetapi
mendadak tersengar suara ‘trang’ kiranya Loh ihsian
sempat meraih sebuah piring sebagi tameng
sehingga tertusuk berantakan oleh pedang Thian
go tojin, hidangan dalam piring berhamburan
mengotori bajunya.
Tentu saja Thian go tojin bertambah murka,
seklai depak ia bikin meja terbalik, mangkuk piring
pecah berserakan, lampu perunggu di atas meja
juga ikut terguling dan padam seketika.
Tapi pada saat itu cahaya lampu dari dalam
hutan sana telah menyorot tiba, kawanan penari
telanjang juga sudah berada di depan ruangan.
Lamkiong siang ju berkerut kening, ucapnya,
“Jite, jangan bergurau lagi, sudah waktunya turun
tangan sunguh-sungguh!”
“Baik,” seru Loh-ih sian, segera jurus
serangannya berubah, sekaligus ia melancarkan
dua tiga kali pukulan sehingga Thian go tojin
terdesak ke pojok ruangan.
Siang ju berseru kepada sang istri, “hujin boleh
kaulayani yang di luar dan yang di dalam serahkan
saja kepadaku.”
Dengan sendirinya lmakiong hujin sudah
melihat datangnya kawanan penari telanjang itu,
Cuma seketika ia pun bingung menghadapi adegan
luar biasa itu.
Nona berbaju ungu tadi tampaknya melangkah
maju dengan gaya gemulai, tahu-tahu ia sudah
bergeser ke depan Lamkiong Peng, seketika anal
muda itu pun mencium bau harum yang
memabukkan, pikirannya serasa melayang.
“Mundur!” cepat ia membentak sembari ayun
sebelah tangannya ke depan untuk menghantam
Koh-cing-hiat di pundak orang.
Tak tersangka nona cantik itu sama sekali tidak
menghindar, sebaliknya sambil tertawa genit ia
malah menyongsong maju, dengan dadanya yang
montok ia sambut pukulan Lamkiong Peng itu.
Cepat Lamkiong Peng menarik kembali
pukulannya, betapapun ia tdiak dapat menyerang
seorang gadis yang tidak melawan.
“Menyingkir Peng-ji!” seru lamkiong hujin.
Tapi baru saja dia bergerak, tahu-tahu empat
penari telanjang sudah mengadang di depannya.
Empat penari telgnjarg Iain lantas mengepung
Lamkiong Peng dengan goyang ping-gul dan
guncang dada secara merangsang.
Saat itu Lamkiong Peng berdiri di depan pintu,
bila dia menyingkir berarti memberi kesempatan
kepada kawanan penari telanjang itu untuk
menyerbuke dalam, tapi kalau tidak menghindar.
tentu dia akan terkurung di tengah gadis telanjang,
betapapun teguh imannya jika dibuai oleh irama
musik yang masyuk dan tarian yang merangsang,
tentu tidak tahan akhirnya.
Dalam pada itu keempat penari telanj ng itu
sudah semakin mendekat, gaya mereka yang cabul
sungguh bisa membuat setiap lelaki lupa daratan

.
Di sebelah dalam pertarungan Thian-go dan Loh
Ih-sian juga tambah seru, jsgo pedang Tiam-jongpai
yang lain sudah memegang pedang dan siap
tempur juga,
Tiba-tiba Kongsun Yan melolos pedang dan
berkata, “Hari Ini bukan pertandingan biasa,
umpama main kerubut juga bukan soal lagi “
Ia memberi tanda dan segera msnyerang disusu
oleh begundalnya.
Mendadak Loh Ih-sian merasa angin tajam
menyambar dari belakang, tiga pedang serentak
menabasnya.
Thian-go Tojin juga tidak tinggal diam ,
berbareng ia pun menyerang
‘ “Hm, biasanya Tiam jong- pai tidalah jahat,
mestinya aku tidak suka membikin susah orang.
tapi perbuatan kalian sungguh ke-terlaluan,
terpaksa aku harus bertindak. “ kata Lamkiong
Siang-ju.
Mendadak ja menghantam ke belakang, angin
pukulannya mendampar kecmpat penari telanjang
yang mengepung di depan Lamkiong Peng, meski
dia menyerang tanpa berpaling, namun
pukulannya cukup telak, mana kawanan gadis
telanjang itu tahan angin pukulannya, terdengar
jeritan kaget, dua di antaranya ter-getar jatuh ke
bawah undakan batu.
“Harap ayah menghadapi mereka di sini, biar
anak melayani orang Tiam-jong-pai, “ seru
Lamkiong peng.
Belum lanjut ucapannya, kembali Lamkiong
Siang-ju menghantam lagi satu kali, si nona
berbaju ungu tergetar mundur, cepat Lamkiong
Peng mendesak maju dan menutuk pundak lavvan.
Namun kipas si nona mendadak menabas
pergelangun tangan Lamkiong Peng, sekilas
tertampaklah wajahnya di bawah cahaya remang.
Seketika hati Lamkiong Peng tergetar, seru-nya,
“Hei, kau . . . kau . . . . “
Sungguh tak fersangka dan tak terduga nona
berbaju ungu ini adalah Suci atau kakak
seperguruannya, yaitu Koh-ih-hong alias Ong Soso.
Dengan tersenyum manis dan kerlingan genit
kembali Koh Ih-hong memotong lagi de-ngan
kipasnya menurut irama musik.
“He, Sisuci, ken .. kenapa engkau menyerangku?’
seru Lamkiong Peng. “Masa eng-kau
tidak . . . tidak kenal lagi padaku? Di mana Toako
sekarang? “
Koh Ih-hong terkekek, “Hehe, siapa kenal
padamu? Siapa Toakomu? “
Dalam pada itu kawanan penari telanjang lantas
menerjang maju pula,
Dengan tercengang Lamkiong Peng me-nyurut
mundur ke dalam ruangan.
Kening Lamkiong Sian-ju bekernyit, seru-nya,
“Gadis ini mungkin sudah terpengaruh oleh obat
bius. boleh kau menyingkir dulu…. “
Belum lenyap suaranya. mendadak cahaya
pedang berkelebat. Kongsun Yan telah menusuk
dari samping.
Lamkiong Peng msmbentak, segera ia menendang
pergelangan tangan lawan yang memegang
senjata.
Di sebelah. sana Lamkiong hujin tampak-nya
juiga serba susah menghadapi keampat penari
telanjang tadi, meski ia sendiri iuga orang
perempuan, tidak urung mukanya menjadi me-rah
melihat gerak cabul mereka.
“Awas obat bius mereka, Hujin, “ seru Lamkiong
Siang-ju mendadak.
Terkesiap Lamkiong-hujin. benar juga, baru saja
ia menahan napas, serentak keempat penari
telacjaug itu menaburkan kabut tipis.
Dengan gusar Lamkiong-hujin mengebaskan
lengan bajunya sehingga bubuk putih buyar,
sekaligus ia kebut hiat-to tangan lawan.
Di sebelah sana Loh ih sian satu lawan empat
dan sedang melancarkan pukulan dasyat, “blang
blang “, mendadak ia menyikut ke belakang
sehingga dua orang lawan menjerit kaget dan
pedang terlepas, kedua tojin itu pun tumpah
darah.
Dalam pada itu Lamkiong Peng telah menandingi
Kongsun Yan dan dua pemudi berdandan ringkas.
Ia terkejut, kuatir dan sangsi pula, ia kuatir
mengenai keadaan sang Toako, yaitu Liong hui,
juga sangsi mengapa Koh ih hong bisa berubah
menjadi begitu.
“Jangan melukai dia ayah!” seru Lamkiong Peng
mendadak.
Kiranya pada saat itu Koh Ih-hong kena ditutuk
oleh lamkiong sian ju dan sempoyongan terjatuh ke
bawah undakan batu.
Pada saat itulah itulah tiba-tiba dari kegelpan
hutan sana muncul sesosok bayangan
sambil membentak terus menerjang tiba, sekali
raih dapatlah dia merangkul tubuh Koh Ih hong
yang hampir roboh itu.
Pendatang ini bertubuh tinggi besar dan berbaju
mentereng muka penuh berewok pendek kaku
serupa dari landak. Nyata dia inilah Liong hui.
“He, toako………..” seru lamkiong Peng setelah
mengenali orang.
“Apakah orang ini Liong Hui? “ tanya Lamkiong
Siang ju dengan melenggak.
‘ “Betul, “jawab Lamkiong Peng, segera ia
bereseru pula, “Toako, siaute Lamkiong Peng
berada di sini!”
Siapa tahu air muka Lioug Hui tidak mem
perlihatkan sesuatu perasaan serupa orang ling
lung saja, sambil merangkul Koh Ih-hong segera ia
pentang kelima jarinya mencakar muka Lamkiong
Sian ju.
Baru saja Lmakiong siang ju mendak ke bawah,
segera Liong hui menendang lagi.
Meski ganas serangannya, tapi sebenarnya
banyak lubang kelemahannya. Namun Lamkiong
siang ju tidak ingin melukainya, ia melompat
mundur untuk menghindari tendangan lawan.
Tak terduga mendadak Laiong hui menaruh Koh
ih hong, lalu membentak, “Biarlah aku mengadu
jiwa dengan kawanan bangsat kalian ini?”
Sekali tendang ia bikin seorang penari telanjang
hingga terjungkal, menyusul sebelah tangannya
menghantam lamkiong siang ju dengan dasyat.
“he, Toako, ken………kenapa kau?………….” jerit
Lamkiong Peng keget, tiba-tiba pundak terasa
dingin, kiranya telah terserempet oleh pedang
Kongsun Yan sehingga tergores luka.
“Layani saja lawanmu dengan tekun, biar
kuselesaikan urusan Suhengmu ini, “ kata Lam
kiong Siang-ju.
Tanpa menghiraukan luka sendiri, Lam kiong
Peng berseru kuatir, “Ayah, apakah Toaka
terpengaruh juga oleh obat? “
“tampakuya memang begitu, “ kata Lamkiong
Siang-ju.
“Sungguh rendah Tiam-jong-pai, pakai obat bius
segala?! “ teriak Lemkiong Peng dengan murka,
mendadak ia jepit batang pedang Kong-sun Yan
yang menyambar tiba, sekali tekuk pedang lawan
lantas patah, sebelah kaki menendang seorang jago
pedang Tiam-jong-pai. Menyusul pedang patah
membalik dan diguna-kan untuk menusuk lawan.
Jago pedang menjerit dan jatuh terguling dengan
tangan memegang dada ia bergulingan di lantai
yang penuh pecahan mangkuk piring” sehingga
sekujur badan berlumuran darah, akibatnya tak
sadarkan diri.
“Keji amat! “ geram Kongsun Yan.
Selagi dia hendak menyerang pula dengan
pedang patah, tak tersangka Lamkiong-hujin telah
berhasil mengebas hiat-to keempat penari
telanjang dan saat. itu sedang melompat tiba,
sekali tepuk pelahan Ciang-tai-hiat di pung-gung
Kongsun Yan tertutuk.
Pada saat itu juga pedang patah yang di-rampas
Lamkiong Peng juga ditusukkan ke ba-hu Kongsun
Yan, terdengar jeritan, darah pun mengucur.
“Jisuheng . . . . “seru Thian-go kuatir.
Dengan tumpah darah Kongsun Yan berseru,
“Samte, le . . . lekas pergi! “
Habis berkata ia pun jatuh terguling.
Tiba-tiba dalam kegelapansana berkumandang
suara kuda lari, cepat seorang berteriak dari
kejauhan. “Lamkiong-cengeu, Lam-kiong-heng,
saudaramu Suma Tiong-thian datang terlambat! “
Hanya sekejap saja seckor kuda sudah
mendekat, Thi cian ang-ki Suma Tiong-thian, si
jago tua bertombak besi dan panji merah, memutar
tombaknya di bawah hujan, langsung ia larikan
kudanya ke atas undak- undakan sambil berteriak
pula “Jangan kuatir, Lam kiong heng, inilah Suma
Tiong-thian! “
Begitu tombak bergerak, secepat kilat ia tusuk
Liong Hui.
Sekilas pandang Lamkiong Peng melihat kuda
jago tua itu akan menginjak tubuh Koh Ih-hong
yang menggeletak di undakan batu itu. ia berteriak
kuatir dan melompat maju sambil mendorong
dengan kuat sehingga Iari kuda tertolak ke
samping.
Tentu saja kuda itu meringkik kaget dan
tusukan tombak Suma Tiong-thian juga meleset.
Liong Hui membentak gusar, sekali raih ujung
tombak kena dipegangnya.
Baru sekarang Suma Tiong-thian dapat melihat
jelas siapa orang yang diserangnya tadi, serunya,
“Hei, Liong. . . Liong-taihiap . . . . “
Pada saat itu tiba-tiba dari hutanSana
berkumandang suara orang tertawa seram, keempat
jalur cahaya api serentak padam, suara musik
juga lantas lenyap.
Angin dan hujan kembali menderu lebat, bumi
raya gelap gulita dan hampir tidak ke-lihatan jari
sendiri.
Pada saat itulah terdengar Lamkiong-hujin
menjerit kaget dan bentakan Liong Hui, men dadak
Liong Hui menarik sekuatnya sehingga Suma
Tiong-thian terseret jatuh ke bawah kuda,
berbareng itu Liong Hui juga berguling dan
mengangkat Koh Ih-hong terus dibawa lari ke
tengah kegelapan sana.
Lamkiong Peng tercengang. sedang Thian-go
Tojin melancarkan dua-tiga kali tusukan untuk
mendesak mundur Loh Ih-sian, lalu ia mendobrak
daun jendela dan melompat pergi.
Kuatir di luar musuh akan menyergapnya Loh
Ih-sian tidak mengejar.
Suma Tiong-thian ternyata sangat tangkas meski
sudah berusia lanjut, sekali lompat ia berusaha
menahan kudanya yang menjadi liar dan
membedal ke dalam ruangan, terdengar suara
gemuruh, tumpukan peti diterjang roboh. Isi peti
berserakan, semuanya berupa batu permata yang
kemilauan dalam kegelapan.
Selagi Suma Tiong-thiau hendak mengatasi
kudanya, sekonyong-konyong sinar tajam
menyambar dari luar, seorang jago pedang Tiam
jong-pai menyambitkan pedangnya, cepat
jago tua itu mengelak, pedang menyambar
lewat dan menancap di perut kuda.
Keruan kuda itu kesakitan dan tambah liar terus
membedal keluar seperti kesetanan.
Jago pedang Tiam-jong-pai tadi tertendang jatuh
dan belum sempat merangkak bangun, kontan dia
terinjak mampus oleh lari kuda yang kesetanan
itu.
Habis menginjak orang, kuda itu pun keserimpat
dan jatuh terjungkal ke bawah undak –
ondakan sambil meringkik, lalu tidak bergerak lagi.
Suma Tiong-thian terkesima kehilangan kuda
kesayangan.
Lamkiong Peng berteriak, “Toako . . . “ Akan
tetapi Lamkiong Siang-ju lantas membujuknya,
“Tenang, anak Peng, tampak-nya kedua orang itu
kehilangan kesadarannya dan saat ini entah sudah
lari ke mana, bukan mustahil . . . . “
Meski tldak lanjut ucapannya, namun da-pat
diduga dia pasti akan mengatakan keselamatan
Liong Hui dan Koh Ih-hong sukar diramalkan.
Lamkiong Peng tertegun sejenak, mendadak ia
menjadi beringas, diseretnya bangun Kong-sun
Yan, bentaknya, “Coba katakan, dengan obat bius
apa Tiam-jong-pai kalian mengerjai Toako kami
sehingga dia lupa daratan?’
Selain sang guru, orang yang paling di-kasih dan
dihormatinya ialah Liong Hui, dengan sendirinya
hatinya sekarang sangat sedih dan gusar.
Ujung mulut Kong-sun Yan berlumuran darah,
setengah potorng pedang masih me-nancap di
bahunya, keadaannya payah, ucap-nya lemah,
“Orang Tiam-jong-pai tidak per-nah menggunakan
obat bius. “
‘Omong kosong, jika bukan perbuatan Tiamjong-
pai kalian, habis siapa? “ teriak Lamkiong
Peng,
Kongsun Yan memejamkau mata dan tidak
menanggapi.
“Sabar anak Peng, “ ucap Lamkiong Siang-ju,
“Kuyakin Tiam-jong-pai memang bukan orang yang
suka menggunakan obat bius, apa yang
diperbuatnya ini tentu karena terpaksa, juga pakai
perempuan cantik untuk memikat musuh, cara ini
pun pasti tidak sudi dilakukan Tiam-jong-pai,
seharusnya kaukatakan terus terang apa yang
terjadi. Kalau tidak, peristiwa hari ini telah
disaksikan orang banyak. betapa pun kalian
menyangkal juga sukar membuat orang percaya. “
Tiam-jong-yan Kongsun Yan tersenyum sedih,
ucapnya, ‘Di mana Samsuteku Thian-go? “
Loh Ih-sian menjawab, ‘Meski Tiam-jong-pai
kalian memusuhi kami, tapi kami tidak bertindak
kejam, Thio-go sudah. kami lepaskan.
Kongsun Yan terdiam sejenak, akhirnya ia
menghela napas dan bertutur, “Bilamana kalian
ingin ke luar dari perkampungan ini dengan
selamat, kukira teramat sulit. “
“Apa maksudmu?’ tanya Lamkiong Siang-ju.
“Kalau kalian ingin hidup, hendaknya kauserahkan
harta bendamu ini kepada mereka, kalau
tidak . . . . “
“Memangnya kaum iblis Kun-mo-to sudah tiba? “
tanya Lamkiong Siang-ju.
“Betul, “ Kongsun Yan mengangguk, “ “agak-nya
Kun-mo-to terlalu meremehkan Lamkiong-sanceng
kalian, mereka tidak mengirim ja-go kelas tinggi
melainkan cuma seorang pelayan rendahan saja
dengan kawanan gadis dan binatang buas itu,
katanya hendak membantu Tiam jong pai kami
menduduki perkampungan ini siapa tahu
Lamkiong-cengeu suami-istri yang selama ini
dikenal sebagai orang awam ternyata menguasai
kungfu setinggi ini. Sekarang pihak mereka untuk
sementara menghentikan serang-an, tentu sedang
menyiapkan langkah selanjut-nya yang lebih lihai.

Bicara sampai di sini napasnya tampak tersengal
dan seperti tidak tahan lagi.
Lamkiong Siang-ju tampak sedih, ucapnya,
“Terima kasih atas keterusterangan Totiang,
bilamana tidak menolak, padaku tersedia obat
luka.”
“Tiada gunanya. “ ucap Kongsun Yan dengan
tersenyum pedih, ”Urat nadiku sudah ter,-getar
putus oleh pukulan nyonya, ditambah lagi tusukan
pedang Lamkiong-kongeu tadi …. Namun semua
itu tidaklah menjadikan aku den-dam kepada
kalian, aku hanya memohon bi lamana mungkin,
kelak semoga kalian dapat membantu Suteku
membangun kembali Tiam-jong-pai kami ….’ “
Sampai di sini, suaranya hampir tak terdengar
lagi, napas pun semakin lemah.
Tiba-tiba hati Lamkiong Peng tergerak, serunya,
“Jika benar kawanan iblis dari Kun mo-to tadi
harus menyusun kekuatan untuk menyerang lagi,
saat ini kepungan tentu agak longgar, kesempatan
ini dapat kita gunakan untuk menerjang keluar
daripada menunggu ajal di sini. “
“BetuI, “ tnkas Loh Ih-sian, “Setelah menerjang
keluar dapat kita berusaha mengadakan kontak
dengan utusan dari Cu-sin-tian . … “
“Usul yang baik, “ kata Suma Tiong thian. ”Saat
ini di !uar ada belasan orang kawanku dan … “
“Belasan Piauthau kawan Suma-cianpwe
sekarang juga lagi istirahat di ruangan be-lakang,
biar kupanggil keluar mereka, “ kata Lamki’ong
Peng tiba-tiba sambil lari ke be-lakang.
“Apakah Toako dan Toaso masih ingin berbenah
sesuatu lagi? “ tanya Loh Ih-sian.
“Selanjutnya kami takkan punya kediaman tetap
lagi, mau bebenah apa pula? “ ujarLam-kiong-hujin
sambil menghela napas.
Selagi Loh Ih-sian hendak bicara pula,
mendadak terdengar suara kaget Lamkiong Peng
yang berlari keluar.
“Ada apa? “ tanya Lamkiong Siang-ju.-
‘ “Semua . . . mati semua . . . . ucap Lamkiong
Peng dengan gugup.
Semua orang sama melenggong.
“Semuanya mati dengan urat nadi tergetar
putus, “ tutur Lamkiong Peng. “Dada mereka
terasa masih hangat, jelas mati belum lama,
tapi sudah kuperiksa dan tiada nampak
bayangan seorang pun. “
Semua orang saling pandang dengan ter
cengang, Bahwa di ruangan depan berkumpul
tokoh kelas tinggi sebanyak ini dan tiada se-orang
pun mendengar sesuatu, tahu-tahu orang di
belakang sama terbunuh, sungguh kejadian yang
mengerikan.
Pelahan Kongsun Yan membuka matanya dan
berucap dengan lemah, “Sudah . . . sudah
terlambat, kawanan . . . kawanan iblis sudah
dataug …. “
Mendadak matanya mendelik, napas ter-sumbat
dan meninggal dunia.
Angin masih menderu, hujan tetap lebat.
Di tengah suara tegang itu. perasaan semua
orang sama tertekan.
Lamkiong-hujin menggunakan saputangan-nya
untuk membalut luka lengan Lamkiong Peng,
katanya pelahan, ”Coba angkat tangan-mu, nak,
apakah melukai uratmu tidak? “
Lamkiong Peng menggerakan tangannya dan
menjawab, “Tidak apa-apa. “
Dalam pada itu terdengar pula derap kaki kuda
yang ramai dalam kegelapan, kedengarannya
tidak cuma satu-dua penunggang kuda saja.
“Suma-heng, “ tanya Lamkiong Siang-ju, “yang
datang itu mungkin anak buahmu? “
Suma Tiong-thian berlari ke depan, dilihatnya
empat ekor kuda berlari datang dengan cepat di
bawah hujan lebat. Waktu diamati, ternyata tiada
seorang penunggang pun, hanya kuda yang
terakhir terikat miring sebuah panji merah dan
berkibar tertiup angin, mendadak panji itu tertiup
jatuh ke tanah dan terinjak kuda sehingga sukar
dikenali lagi.
Tergetar hati Suma Tiong-thian dan me-nyurut
mundur, gumamnya, “Wah, habis . . . habis sudah
…. “
Apakah para saudaramu di luar perkampungan
sana juga mengalami sesuatu?’ tanya Lamkiong
Siang-ju.
“Ada kuda tanpa penunggangnya. dengan
sendirinya lebih banyak celaka dari pada
selamatnya, “ ucap Suma Tiong-thian. Mendadak ia
berteriak lantang, “Wahai kawanan tikus Kun-moto!
Jika berani ayolah keluar untuk menentukan
siapa yang lebih unggul, kenapa main sembunyi
dan sergap, terhitung orang gagah macam apa? “
Sambil berteriak ia jemput tombaknya yang
terlempar ke undakan batu tadi terus berlari
dengan tombak terhunus.
Mendadak dari kegelapan hutan sana me-layang
keluar tiga gulung bayangan hitam. Cepat tombak
Suma Tiong-thian menyampuk dan menusuk,
kedua guling bayang hitam terpukul jatuh,
bayangan ketiga tertusuk oleh ujung tombak.
Lamkiong Siang-ju memburu maju dan berseru,
“Sabar dulu, Suma-heng, jangan ter-buru nafsu
dan terpancing muslihat musuh! “
Tanpa terasa Suma Tiong-thian diseret kembali
ke dalam ruangan, waktu ia meme-riksa ujung
tombaknya. ternyata yang tersunduk di situ adalah
sebuah kepala manusia dan se-gera dikenali
sebagai anak buah sendiri.
Keruan air muka Suma Tiong-thian ber-ubah
hebat. tangan pun terasa lemas dan tombak
terjatuh ke lantai.
“Sungguh keji kawanan iblis Kun-mo-to. “ geram
Loh Ih-sian. “Toako, dengan kemampu-an kita,
memangnya kita tidak dapat mener-jang keluar . . .
. “
“Jite, “ kata Lamkiong Siang-ju, “musuh dalam
keadaan gelap dan kita di pihak terang, betapapun
kita sudah berada dalam posisi yang lemah. Jika
kita tidak sabar dan meng-hadapi persoalan
dengan tenang, bisa jadi urusan akan runyam. “’
Tapi . , . tapi kalau mesti menunggu dan
menunggu lagi, sampai kapan baru akan berakhir?

Dengan beringas Suma Tiong-thian berseru,
“Aku Icbih suka menerjang ke kegelapan sana dan
bertempur mati-matian daripada menunggu
dengan tersiksa cara begini? “
Lamkiong Peng juga memandang sang ayah
dengan semangat menyala, anak muda ini pun
ingin bertempur saja daripada menunggu se-cara
tidak menentu.
Pelahan Lamkiong Siang-ju menghela na-pas,
“Soal mati atau hidup adalah urusan kecil, tapi
menepati janji adalah soal lebih besar. Sejak dulu
hingga kini keluarga Lamkiong ti dak pemah
berbuat sesuatu yang melanggar janji, meski
sekarang keluarga Lamkiong kita menghadapi
kerutuhan juga tetap tidak boleh melanggar janji.
Apapun juga kita harus menunggu kedatangan
utusan Cu-sin-tian dan me -nyerah-terimakan
harta benda ini, kalau tidak mati pun aku tidak
tentram. “
Pada saat itulah tiba-tiba di bawah hujan
terdengar suara gemersik, suara orang berjalan
yang semakin mendekat. Seketika hati semua
orang menjadi tegang.
Sekali lompat I.oh Th-sian menuju ke de-pan
pintu.
Di atas undak-undakan akhirnya muncul tiga
sosok bayangan orang, selangkah demi selangkah
naik ke atas, kedatangannya seperti tidak
bermaksud jahat.
“Siapa itu? “ bentak Loh Ih-sian.
Tiba-tiba orang yang di tengah berdehem
pelahan, dalam kegelapan kelihatan kepalanya
yang gundul kelimis, seperti seorang hwesio. Sekali
mengangkat kaki. tahu-tahu sudah di depan Loh
Ih-sian.
Keruan Ih-sian terkejut.
Terdengar pendatang itu berkata, “Paderi tua
tidak sering berkecipung di dunia kangouw,
umpama kuberitahukan namaku juga Sicu tak-kan
kenal. “
Waktu Loh Ih-tian memandang ke sana,
dilihatnya sekujur badan orang basah kuyup,
jenggot dan alisnya sama putih, sikapnya ke-reng
berwibawa, tanpa terasa timbul rasa hormat dan
segan Koh Ih-iian.
Kedua orang lain juga menyusul naik ke atas
undakan, seorang memakai tudung sebang-sa
caping dan memakai mantel ijuk, tangan
memegang sebuah karung goni yang basah.
Ka-rena tudungnya yang lebar sehingga
wajahnya tidak terlihat jelas. Orang ketiga
berjubah bi-ru, ternyata seorang tojin.
Meski dandanan ketiga orang ini, tidak sama,
tapi semuanya sudah berusia lanjut.
Dalam keadaan tidak biasa ini. entah ada
keperluan apa kunjungan kalian bertiga? “ tegur
Loh Ih-sian.
Hwesio pertama memberi salam dengan
tersenyum, jawabnya, “Kedatangan kami justru
menyangkut kejadian di Lamkiong-san-ceng ini.
Apabila Sicu tidak keberatan, biarlah
kututurkan setelah berada di dalam. “
Loh Ih-sian agak ragu, tapi ketiga orang itu
lantas melangkah ke dalam ruangan.
Tergerak hati Larnkiong Peng, pikirnya, ‘
“Kepungan di luar perkampungan cukup ke-tat,
entah cara bagaimana ketiga orang ini da -pat
masuk ke sini dengan leluasa? “
Waktu ia melirik sang ayah, orang tua itu
kelihatan tetap tenang taja. maka ia pun tidak
kuatir lagi.
Begitu masuk ke dalam dan melihat mayat yang
bergelimpangan itu, si hwesio lantas berkata” “Ai,
hanya persoalan sedikit harta benda dan harus
jatuh korban jiwa sebanyak ini, apakah para Sicu
tidak merasa berdosa? “
“Kejadian ini bukanlah kehendak kami dan
terjadi karena terpaksa, biarlah kelak akan kami
mengadakan selamatan bagi arwah para korban
ini, “ kata Lamkiong Siang-ju
“Jika benar Sicu mempunyai nazar begini, hal ini
menandakan Sicu masih mempunyai nurani yang
baik, “ kata si hwesio. “Tapi akan Icbih baik lagi
bilamana Sicu sudi menderma-kan barang-barang
yang mengakibatkan ben cana ini untuk amal bagi
anak-cucumu. “
Air muka samua orang sama berubah, baru
sekarang kelihatan belangnya maksud tujuan
kedatangan ketiga orang mi. ‘
Derngan tenang Lamkiong Siang-ju men-jawab,
“Meski Caihe ada maksud demikian, cuina sayang,
harta benda ini sudah bukan miiikku lagi. “
“Ah, masa Harta benda ini masih ber-ada di
tempat Sicu, kenapa bukan lagi milikmu? “ kata si
hwesio dengan tersenyum.
Mendadak Suma Tiong-thian membentak, ‘
Umpama benar miliknya, jika tidak diderma-kan
padamu, memangnya akan kaupaksa? “
Si hwesio tua tetap tersenyum tanpa gusar.
jawabnya sambi! tergelak. “Haha, bila para Sicu
tidak sudi beramal, maka urusan di sini pun tidak
ada sangkut-pautnyaa dengan kami. “
Memangnya apa sangkut-pautnya urusan ini
dengan kalian? “ bentak Suma Tiong-thian dengan
gusar. “Lekas kalian cnyah dan sini! “
‘Eeh, Sicu ini ternyata seorang pemberang? “
seru si tojin berjubah biru dengan tertawa.
“Wah, air muka Sicu kelihatan gelap, ini tanda
tidak baik, hendaknya jangan suka marah, kalau
tidak, pesti akan mengalami malapetaka. Ingat dan
camkan! “
Saking gusarnya sampai Suma Tiong-thian tidak
sanggup bersuara, hanya dadanya yang tampak
naik turun.
Si kakek bermantel ljuk lantas mendekati Suma
Tiong-thian, mendadak is menyingkap tudungnya
dan mendengus, “Hm, apakah kau tidak percaya
ucapannya? “
“Memang tidak … “ belum lanjut per-kataan
Suma Tiong-thian, mendadak dilihatnya wajah
orang yang luar biasa.
Ternyata muka orang tua ini sangat menyeramkan,
bagian di atas hidung penuh gores-an
bekas luka serupa sebuah semangka yang diiris
kian kemari, rambut dan alisnya juga ter-kerik
licin, kedua matanya bersinar galak, wajahnya
sangat menakutkan.
Semua orang juga terkesiap menyaksikan wajah
yang seram ini.
Si kakek tertawa, ‘Haha, jangan takut, biar
mukaku jelek, tapi hatiku sangat baik, seorang
pedagang sejati. Jika mereka datang dengan
bertangan kosong untuk menderma, kedatanganku
justru membawa bavang dagangan dan ingin
juaal beli secara adil. “
“Memangnya barang dagangan apa yang
kaubawa, bolehkah diperlihatkan kepada ha-dirin
di sini? “ ujar Lamkiong Siang-ju dengan
tersenyum.
“Wah, tampaknya Lamkiong-cengeu juga seorang
pedagang, “ kata kakek itu sembari me-nuang
semua isi karungnya. Ternyata isinya adalah buah
kepala manusia yang sudah ter-guyur air hujan
sehingga putih pucat.
“Semua barangku ini masih segar dan ba-ru,
sebuah kepala bertukar dengan sebuah pe-ti, jualbeli
ini tentu cukup adil bukan? “
“Satu kepala tukar sebuah peti, hm, jual-beli ini
memang pantaa, cuma kukira barang daganganmu
sudah tidak segar lagi, “ jengek Siang-ju.
“Oo, apakah kauminta barang yang lebih segar?’
tanya si kakek.
Mendadak Lamkiong Siang-ju melompat ke sana
dan mengangkat sebuah peti, serunya, “Jika
sekarang juga kupotong kepalamu sendiri, maka
peti ini akan kutukar. “
“Eh, jadi atau tidak bisnis kita, kenapa Cengeu
mesti mrngincar jiwaku? “ sahut si kakek dengan
tertawa sambil melangkah maju.
Selagi semua orang melenggong, mendadak
sebelah kaki si kakek menyampar sebuah kepala
manusia yang dituangnya dari karung ta-di,
langsung kepala itu menyambar ke muka Suma
Tiong-thian. Berbareng itu sebelah ta-ngan si
kakek terus meraih peti yang dipegang Lamkiong
Siang-ju, tangan lain juga memotong pundak
Lamkiong-hujin, sedangkan kaki kanan terus
menyampar pula sehingga sebuah kepala kembali
mencelat menuju ke muka Loh Ih-sian dengan
keras.
Beberapa gerakan itu scakan-akan dilakukannya.
secara bersamaan. Keruan semua orang
melengak.
Dalam pada itu Suma Tiong-thian juga ka-get
ketika mendadak sebuah kepala manusia
nienyambar kearahnya, seketika ia tidak sem-pat
mengelak, cepat ia mengebas dengan tangan shingga
kepala itu mencelat jauh ke luar ruangan.
Habis itu baru mendadak teringat olehnya wajah
kepala tadi seperti sudah dikenalnya, yaitu salah
seorang anak buahnya sendiri. Keruan hati
terkesiap, rasanya mual, isi perut hampir
tertumpah keluar seluruhnya. Ia mem bentak dan
menghantam pula dengan dahsyat.
Dalam pada itu Loh Ih-sian menggeser ke
samping sehingga kepala manusia tadi menyambar
Icwat di tampingnya dan ‘ “bluk “,
membentur dinding.
Sedang Lamkiong Siang-ju berusaha mempertahankan
petinya, tiba-tiba dirasakan tenaga
dahsyat menyodok tiba, sekuatnya ia ber-tahan.
Pads saat hampir sama Lamkiong-hujin lantas
menabas, ia balas memotong pergelangan tangan si
kakek.
”Sambil bergelak kakek itu meluncur ke
samping, peti Lamkiong Siang-ju ikut tertolak ke
depan karena kehilangan imbangan, saat itu juga
Suma Tiong-thian lagi menghantam dan tepat
mengenai peti, “brak “, seketika peti jatuh terbuka
dan isinya berhamburan.
Diam-diam Lamkiong Peng terkejut, sekaligus
kakek itu menggunakan tangan dan kaki-nya
untuk menyerang cmpat orang dengan cara yang
berbeda, kungfunya sungguh sangat lihai,
mengapa selama ini tidak terdengar asal-usul
seorang tokoh kosen seperti-ini? “
Si hwesio tua tadi tersenyum dan berkata
“Tenaga dalam Lamkiong-sicu sungguh hebat,
pukulan Lamkiong-hujin juga sangat gesit, bi-cara
sejujurnya kalian sudah terhitung lumayan.
Mengenai Sicu yang ini …. “
la melirik Suma Tiong-tian sekejap, lalu
menyambung, “Dia tidak lebih serupa anak yang
baru masuk sekolah dasar, bila ingin maju masih
harus belajar lebih giat lagi. “
“Dan bagaimana dengan diriku? “ tanya Loh Ihsian
sambil melompat maju dan menyerang si
hwesio.
‘Akulah pengujinya, jangan salah sasaran! “ seru
si kakek kelimis tadi sambil mengadang di depan
Loh Ih-sian, tangan terangkat, kon-tan ia colok
kedua mata Loh Ih-sian.
Dalam keadaan demikian, Loh Ih-sian tidak
sempat menarik kembali pukulannya untuk
menangkis, tak terduga mendadak ia men-dongak
sedikit, ia pentang mulut terus hendak menggigit
jari lawan.
Keruan kakek kelimis itu terkesiap dan cepat
tarik kembali tangannya.
“Haha, boleh juga, dengan cara menggigit ini
sudah terhitung lulusan kelas menengah, “ seru si
hwesio.
“Huh, terhitung jurus serangan macam apa ini? “
jengek si kakek kelimis
“Oo, belum pemah kaulihat? Hehe, tam-paknya
engkau perlu banyak menambah pe-ngalaman. “
ejek Loh Ih sian.
Sembari bicara kedua orang sudah saling gebrak
lagi, hanya sekejap saja belasan jurus sudah lalu.
Meski cara bertempur Loh Ih-sian tampak
serabutan. tapi serangannya justru sangat berbahaya,
sama sekali si kakek kelimis tidak mampu
mengatasinya. Suma Tiong-thian sampai melongo
menyaksiikan pertarungan mereka.
“Tak tersangka di dunia persilatan se-karang
masih ada beberapa jago lumayan se-perti ini,
bilamana harus kubinasakan mereka sungguh
rasanya tidak tega, “ ucap ti tojin ber-jubah biru
tadi.
Mendadak Lamkiong Peng mendengus, “Hm, jika
setiap penghuni Kun-mo-to cuma punya
kepandaian seperti mereka ini, maka ke-takutan
orang kangouw terhadap kawanan iblis dari pulau
hantu itu sebenarnya agak ber-lebihan. “
“Eh, kautahu kami datang dari Kun-mo-to anak
muda? “ tanya si tojin dengan mata me-lotot.
“Lahiriah bajik, hati ternyata kejam dan keji,
ucapan licin. kungfu tidak lemah, usia pun ratarata
sudah mendekati waktunya ma-suk peti mati,
orang begini jika tidak datang dari Kun-mo-to
masakah mungkin datang dari tempat lain? “
jengek Lamkiong Peng.
“Hahaha, bagus! “ seru tojin berjubah biru
dengan terbahak, anak muda memang lebih cepat
berpikir . . . . “
Belum lanjut ucapannya Lamkiong Peng telah
jemput sebatang pedang di lantai terus menusuk.
Tojin itu tidak mengelak melainkan cuma
mengebaskan lengan jubahnya. kontan pedang
terbelit oleh lengan jubah yang longgar itu.
Tak terduga pedang Lamkiong Peng yang
kelihatan keras itu, sebenarnya cuma serangan
pancingan belaka, mendadak ujung pedang
bergetar terus menyambar ke samping, Ialu secepat
kilat menusuk lagi dari arah lain.
Lengan jubah si tojin membelit tempat kosong,
tahu-tahu ujung pedang lawan me-nyambar lagi ke
tenggorokannya, sungguh tak terpikir olehnya anak
muda belia ini mengua-sai ilmu pedang sehebat ini.
Cepat ia menyurut mundur dua-tiga selangkah.
Si hwesio tua berkerut kening, nyata dia
terkesiap ucapnya, “Aha, Sicu cilik ini sungguh
anak berbakat. Apabila kaumau ikut kami ke
lautan sana, tanggung dalam waktu sepuluh tahun
pasti akan menonjol dan menjagoi dunia kangouw.

“Huh, Lamkiong Peng adalah seorang le-laki
sejati mati pun tidak sudi berkomplot dengan
kawanan iblis, “ seru Lamkiong Peng.
“Lamkiong Peng?! “ si hwesio menegas, “Jadi
dirimu inilah putra sulung lamkiong san-ceng
sekarang ini? “
“Betul! “ teriak Lamkiong Peng, berbareng
Pedang menyabat sambil menggeser ke sam-Ping.
Si hwesio tua mengelak dengan ringan, katanya.
“Lamkiong-sicu, rasanya paderi tua men-jadi
terpikat oleh bakat putramu ini dan ingin
memboyong segenap anggota keluarga Lamkiong ke
pulau sana untuk menikmati hidup bahagia
bersama. Tapi bila Sicu sendiri berkeras pada
pendirianmu, kami juga tidak boleh membiarkan
harta benda ini digunakan sebagai dana kejahatan
kawanan tua bangka di Cu-sin-to sana, apalagi
kalau putramu yang berbakat ini sampai diperalat
oleh mereka, tentu urasan akan tambah runyam.
Maka ter-paksa hari ini kami mesti melanggar
pantangan membunuh. “
Tiba-tiba pikiran Lamkiong Siang-ju ter-gerak,
serunya cepat, “Jite dan anak Peng, ber-henti dulu
semuanya! “
Lamkiong Peng segera melompat mundur.
Sedangkan Loh Ih-sian molancarkan pukulan
dahsyat untuk memaksa mundur si kskek ke-limis,
habis itu ia pun melompat ke samping Lamkiong
Sian-ju sambil berkata, “Toako, jangan kaupercaya
kepada ocehan hwesio ini.
Penghuni Kun-mo-to kebanyakan adalah
manusia jahat dan orang buangan, sebaliknya
peng-huni Cu-sin-to adalah kaum kesatria dunia
per-silatan yang mengasingkan diri. tidak perlu
bicara urusan lain, melulu nama Kun-mo dan Casin
saja sudah merupakan pembedaan yang
menyolok, urusan sekarang sudah telanjur be-gini,
biarlah kita hadapi kawanan iblis ini sekuatnya. “
Segera Suma Tiong-thian menyatakaa setuju,
“Betul, gempur saja! “
Segera Lamkiong Siang-ju berkata pula, “Antara
keluarga Lamkiong sudah ada perjanjian dengau
Cu sin-to yang telah berlangsung selama ratusan
tahun, tentang siapa baik dan siapa jahat bukan
urusan kita, yang jelas tidak mungkin kurusak
perjanjian leluhur yang sudah ada. Urusan hari ini
biarlah kuselesaikan lang-sung dengan Taysu saja.

“Jika begitu, jadi Sicu bermaksud me-nantang
bertarung denganku satu lawan satu? “ tanya si
hwesio dengan sinar mata gemerdep.
“Begitulah maksudku, “ jawab Siang-ju.
“Dan bagaimana pula jika hasil pertandingan
kita sudah jelas? “ tanya si hwesio tua.
“Bila kukalah, maka segala urusan keluarga
Lamkiong kuserahkan kepada semua
Kehendakmu, “ jawab Siang-ju dengan tegas dan
mantap.
Loh Ih-sian dan lain-lain yakin ilmu silat hwesio
tua ini pasti sangat tinggi dan su-kar diukur, tapi
mereka pun tahu watak Lamkiong Siang-ju yang
pendiam dan cermat, tidak nanti berbuat sesuatu
yang tidak yakin berhasil, sebab itulah meski
merasa ragu, namun tidak ada yang bersuara.
Si hwesio tua tersenyum, katanya sambil
mengerling ke arah kedua kawanya, “ “Sebenar-nya
aku tidak keberatan atas tantangan Lam-kiongsicu
ini, cuma sayang, kedua kawanku ini jelas
tidak dapat meluluskan. “
Serentak si jubah biru dan si kakek ke-limis
berseru, “Ya, tidak! “
Loh lh-sian dan Iain-lain menjadi heran, jelas
pertarungan ini menguntungkan pihak mereka,
mengapa kedua orang ini menolak dengan tegas.
Lamkiong Siang-ju tertawa, “Haha, rupa-nya
tidak meleset dugaanku . . . . “
“Dugaan apa? “ tanya si hwesio.
Tertawa Lamkiong Siang-ju terhenti, ucapnya
pelahan, “Orang bilang Teh-ih Hujin ma-hir ilmu
rias yang tidak ada bandingannya di dunia ini,
setelah bertemu sekarang memang harus kupuji
ternyata tidak bemama kosong. Cuma sayang,
betapa cermat tindakanmu tetap melupakan
sesuatu. “
Hati semua orang sama tergetar, sama heran
atas ucapan Siang-ju ini.
Pelahan si hwesio menjawab, “Melupakan apa? “
“Meski Hujin bicara dengan alim serupa seorang
paderi saleh, tapi engkau lupa bahwa seorang
hwesio harus menjalani penbabtisan dengan
kepala diselomoti api dupa. Engkau tidak
membawa tasbih pula, meski memakai kasa (jubah
kaum hwesio), tapi kaki memakai sandal orang
awam. Yang lebih kentara lagi adalah wajah Hujin
yang dibuat kereng, na-mun kerlingan matamu
tidak berubah, mam mungkin seorang paderi saleh
selalu main mata. “
Hwesio tua itu terdiam sejenak, mendadak ia
tertawa ngekek, katanya, “Ah, rupanya aku terlalu
menilai rendah kecerdasan kalian, sebab itulah
aku telah bertindak ceroboh. Sung-guh hebat juga
dapat kaulihat samaranku. Tadi aku pun tidak
seharusnya menggunakan “gema irama iblis dan
tari pembetot sukma” sehingga dapat kauterka
Tek-ih Hujin pasti berada di sekitar sini. Yang lebih
tidak pantas Iagi adalah aku menyamar sebagai
hwesio, padahal di dunia ini mana ada hwesio yang
punya mata jeli serupa diriku? “
Waktu semua orang memandangnya, meski
wajahnya kelihatan kereng, namun kerlingan
matanya memang jalang. Mau-tak-mau semua
orang sama gegetun. di samping memuji kemahiran
penyamaran Tek-ih Hujin yang luar biasa
berbareng juga mengagumi ketajaman mata
Lamkiong Siang-ju, orang lain tidak tahu
Samarannya, tapi dia ternyata dapat mengetahui
hwesio tua ini adalah samaran Tek-ih hujin.
Di tengah tertawa merdunya, pelahan tangan si
“hwesio “ mengusap dan menarik mu-ka sendiri,
ketika ia membuka tangan, tahu-ta-hu hwesio tua
yang saleh telah berubah menjadi seorang
perempuan setengah baya dan masih sangat cantik
mempesona.
“Setelah jejak Hujin ketahuan, kenapa tidak
lekas pergi saja, memangnya perlu mengalirkan
darah di sini? “ kata Siang-ju.
Tek-ih Hujin mengerling genit, ucapnya, ‘Kami
bertiga melawan kalian berlima memang terasa
kalah kuat, cuma sayang, betapa-pun cerdik
Lamkiong-cengeu tetap melupakan sesuatu. “
Nyata, suaranya sekarang telah berubah menjadi
halus merdu.
“Melupakan apa? “ tanya Siang-ju.
Tek-ih Hujin tertawa ngikik, “Kaulupa bahwa
selain mahir merias dan mengubah suara, Tek-ih
Hujin masih menguasai sejenis kepandaian yang
tidak ada bandingannya di dunia….. “
Tergerak hati Lamkiong Siang-ju, serunya
mendadak, “Hah menggunakan racun maksudmu?
. … “
“Betul, kembali dapat kauterka dengan jitu, “
ajar Tek-ih Hujin. “Cuma sayang kini sudah
terlambat. “
Serentak Lamkiong Siang-ju menyurut mundur
sambil membentak “Lekas tahan napas! “
“Sudah kukatakan terlambat, masa engkau tak
percaya? “ ujar Tek-ih Hujin dengan tertawa. “Saat
ini kalian sudah mengisap hawa racun yang tak
berwujud dan tak berbau, dalam setengah jam
kalian akan mati dengan tubuh membusuk, apa
gunanya sekarang kalian mau menahan napas?
Selama hidupku senantiasa ‘tek-ih’ (senang), jika
lebih sering tidak senang tak mungkin orang
kangouw memberi nama julukan Tek-ih Hujin
padaku? “
Ia meraba rambut pada pelipisnya, lalu berucap
pula dengan tersenyum manis, “Jika saat ini kalian
mengaku salah dan mau me nurut kepada
perkataanku, bisa jadi akan ku-beri ampun kepada
kalian dan menawarkan racun yang kalian isap.
Kalau tidak, selang setengah jam Iagi, biarpun
tabib sakti Hoa To lahir kembali juga tidak mampu
menyelamat-kan kalian. “
Muka Lamkiong Siang-ju tampak pucat,
damperatnya, “Huh, ngaco-belo, betapapun
kauputar lidah tetap takkan kupercaya. “
Tek-ih Hujin tertawa senang, “Hihi, meski
mulutmu keras, padahal dalam hatimu sudah
percaya. betul tidak? Soalnya engkau tentu sudah
pemah mendengar cerita orang kangouw bahwa
kabut wangi pencabut nyawa Tek-ih Hujin tidak
berbau dan tidak berwujud, kalau tidak segera
minum obat penawar, dalam jarak seluas tiga
tombak baik manusia maupun hewan, asalkan
keciprat setitik saja kabut be-racun itu. tidak ada
yang dapat hidup lebih dari satu jam.
“Cuma sayang kabut ini tak dapat men-capai
jauh, dengan susah payah aku menyaru sebagai
hwesio tua dan menuju ke sini di bawah hujan,
tujuanku adalah membuat kalian tidak berjagajaga,
dengan begitulah baru dapat kumasuk ke
ruangan ini dengan leluasa dan dapat meracun
mati kalian dengan mudah.”
Dia bicara dengan berlenggak-lenggok dan main
mata dengan genit.
Tiba-tiba pikiran Lamkiong Peng melayanglayang,
tanpa terasa teringat olehnya akan diri Kwe
giok ge, diam-diam ia membatin,” menagapa
perempuan yang berhati keji dan jahat sama
berbentuk cantik molek?”
Pada saat itulah terdengar Loh-ih-sian
membentak,”perempuan keji, biar aku mengadu
jiwa denganmu!”
Serentak Suma Tiong-thian juga jemput kembali
tombaknya.
Tapi si kakek kelimis dan tojin jubah biru lantas
mengadang di depan mereka.
Tek-ili Hujin juga lantas mendmgus, “Hm, kalian
tidak lekas minta ampun padaku, memangnya
kalian tidak ingin hidup lagi?”
Seketika Suma Tiong-thian merandek, sebab
mendadak leringat olehnya akan anak-istri dan
keluarganya.
“Aku memang sudah bosan hidup! “ teriak Loh
Ih-sian, berbareng ia menghantam dengan kalap.
“Kausendiri bosan hidup, apakah orang lain juga
bosan hidup?” ucap Tek-ih Hujin.
Seketika Loh Ih-.sian melengak dan ber-henti
meyeraing, waktu ia memandang ke sana, Suma
Tiong-thian kalihatan lesu, sedangkan Lamkiong
Siang-ju tampak sedih. Lamkiong-hujin
memandang putra kesayangannya dengan cemas.
Loh Ih-sian terharu. pikirnya, “Aku sendiri
sebatangkara, dengan sendirinya mati hidup tidak
menjadi soal bagiku. Tapi orang lain berumah
tangga dan anak istri Iengkap bahagia, mana
mereka bisa meniru dirimu dan menyuruh mereka
mati begitu saja? “
Maklumlah, lantaran wataknya yang mudah
tersinggung, makanya dia putus asa dan
mengasingkan diri Selama 20 tahun, dengan segala
daya upaya berusaha mengumpulkan duit,
sebaliknya pribadinya sama sekaili tidak terawat.
Sekarang hatinya menjadi dingin dan berdiri
termangu tanpa bicara.
Tiba-tiba Lamkiong Peng berseru, “Cara
bagaimana kaubikin susah Toako kami, ke mana
perginya sekarang? “
Tek-ih Hujin tersenyum, “Asalkan kauturut
perkataanku, urusan Toakomu tentu akan
kuberitahukan padamu, Sekarang hari sudah
hampir pagi racun yang kalian minum sudah
hampir bekerja. kalian tidak berani bertempur dan
juga tidak mau menyerah, apakah memang ingin
menanti ajal saja di sini? “
“Hm, jangan kau gembira dalu, segala macam
racun di dunia ini pasti ada obat penawarnya “
Jengek Lamkiong Siang-ju mendadak
“Ah. tidak perlu kaubicara lagi kutahu
maksudmu hanya ingin memancing supaya ku-beri
tahu seluk-beluk racun ini, “ kata Tek-ih Hujin
dengan tertawa, “Terus terang kukatakan, racunku
ini di dunia hanya dipunyai dua keluarga saja,
atau dengan lain perkataan juga cuma dua tempat
ini saja yang mempunyai obat penawar, salah satu
tempat itu justru jauh terletak di luar perbatasan
utara sana. biarpun sekarang engkau dapat
terbang ke sana juga tidak keburu lagi “
Hati Lamkiong Peng tergerak, didengar-nya sang
ibu sedang berkata, “Habis cara ba-gaimana baru
dapat kauberi . . . . “
Belum lanjut ucapannya, “kekk “, menda-dak
seekor burung beo menerobos masuk me-lalui
jendela dan hinggap di atas sebuah peti lalu
mengguncangkan sayap untuk merontokkan air
hujan yang membasahi bulunya, kemudian
bersuara panjang pula satu kali. Meski kecil
burungnya, tapi tampak gagah.
“Aha. sudah Jatang! “ Mendadak Lamkiong
Siang-ju berseru girang.
Beruang beo itu melayang dan hinggap di
pundak Siang-ju ser