Mestika Burung Hong Kemala – Kisah si Pedang Terbang (Seri 2)

New Picture (1)

 Mestika Burung Hong Kemala 

Kisah si Pedang Terbang

(Seri 2) 

Karya : Asmaraman S Kho Ping hoo

Ebook by Teppai & Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

Jilid I

Sungainya bagaikan pita sutera biru,

Gunungnya laksana tusuk sanggul kemala!”

Demi kianlah pujian yang ditulis dalam dua baris atau sebait sajak oleh Han Ji (768 824), seorang di, antara para pujangga besar di jaman Dinasti Tang (618 907) itu. Sebait sajak yang sederhana, namun jelas menggambar kan keindahan alam dari lembah Sungai Li yang dilihat dari puncak Gunung Teratai Biru.

Terbentang luas di sekitar Kuilin, Propinsi Juangsi itu. Dan Sungai Li merupakan penunjang kuat untuk segala keindahan ini, kesuburan tanahnya, kemakmuran rakyatnya. Sungai Li ini dikenal pula dengan sebutan Sungai Kui atau Sungai Haijang, sebagai sungai yang bermata air dari Gunung Haijang. Gunung Haijang berdiri tegak menjulang di antara dua propinsi, yaitu di perbatasan Propinsi Kuangsi dan Propinsi Hunan. Dari gunung ini mengalir dua batang sungai, yaitu Sungai Li yang mengalir masuk ke daerah Propinsi Kuangsi, sedangkan yang mengalir ke daerah Hunan adalah Sungai Siang.

Dari daerah Kuilin sampai ke da erah Yangsuo terbentang keindahan alam yang tiada habishabisnya, yang sa tu lebih menarik dan lebih indah dari pada yang lain. Namun, seperti banyak ditulis para penyair dan dilukis oleh para pelukis, yang terindah di antara semuanya adalah pemandangan alam di Yangsuo.

Di daerah ini, Gunung Teratai Biru mencakar langit, seringkali puncaknya terselimut kabut tipis, nampak seperti wajah jelita seorang puteri mengintai dari balik tirai putih yang tipis. Indah bukan main! Dari jauh, gunung ini nampak seperti bentuk sekuntum bunga teratai yang menguncup, segar dan indah kebiruan. Di kaki gunung ini terdapat dusundusun yang tenang tenteram, dihuni para petani merangkap nelayan yang hidupnya tak pernah kekurangan karena tanah di situ subur dan Sungai Li mengandung banyak ikan. Dan di lereng gunung itu, terpencil sunyi namun penuh kedamaian, berdiri sebuah kuil tua yang indah. Itulah Kuil Cian yang seolah menjadi lambang ketenteraman, mengamati kehidupan rakyat pedusunan yang berada di bawah. Dari kuil ini kita dapat menikmati tamasya alam yang berubahubah keindahannya dari pagi sampai senja. Bahkan di waktu malam, kalau bulan muncul bersih tidak terhalang awan, pemandangan di situ amat mempesonakan. 3

Kota Yangsuo seolah menjadi pusat dari semua keindahan itu, bagaikan sekuntum bunga teratai biru, dikitari berlapisIapis pegunungan yang hijau zamrud, seperti setangkai bunga yang terllndung dalam pelukan daundaun bunga .

Di daerah itu, kedua tepi Sungai Li terjaga pegunungan, dari Gunung Teratai Biru, kalau kita menyusur ke hilir sungai, akan nampaklah Gunung Pela yan Pelajar. Gunung ini memperoleh namanya dari bentuknya yang seperti seorang pelayan pelajar, tenang, diam dan patuh, duduk tegak lurus membantu sang pelajar mendeklamasikan sajak buatan majikannya. Dari sisi lain, dia nampak seperti sedang membungkuk, siap menerima tugas dari sang pelajar, Di antara puncakpuncak pegunungan itu, yang terkenal adalah Puncak Singa’ Kembar di Gunung Besi. Memang puncak itu mirip sekali sepasang singa yang duduk dengan tenangnya nampak gagah dan jinak, tidak membayangkan keganasan.

Air Sungai Li itu sendiri amat jernih karena belum melalui kotakota besar di mana penduduknya tak segansegan mengotorinya. Airnya jernih tembus pandang sampai ke dasarnya yang terben tuk dari batubatu cadas. Di kanan kiri sungai nampak pegunungan, jurang dan pa lungpalung buatan alam. Ada dongeng rakyat setempat bahwa di sana pernah terjadi peristiwa hebat, yaitu ketika Sembilan Naga Berlumba Menyeberangi Sungai! Dongeng ini timbul karena adanya garisgaris timbul yang berliku di dasar sungai, sehingga nampak seolah ada sembilan ekor naga berlumba melintasi sungai.

Tak jauh di sebelah .depan lagi nampak di kejauhan dua pegunungan yang berhadapan dan nampak seperti dua pasukan saling berhadapan dengan seragam putih dan merah. Itulah Pegunungan Tebing Putih, dan Pegunungan Tebing Merah. Pemandangan pegunungan yang kehijauan bertahtakan tebingtebing putih dan merah ! 4

Maju sedikit Iag i, di daerah Singping di tepi Sungai Li, terdapat Pegunungan Lima Puncak, dan Gunung Lukisan. Keindahan di daerah ini menggerakkan hati banyak penyair untuk datang berkunjung dan menuliskan pujian hati mereka melalui sajaksajak indah, juga tiada habisnya para pelukis kenamaan mencoba untuk menggoreskan suara hati mereka mengutip semua keindahan i tu .

Terdapat dongeng rekyat pula di daerah itu bahwa demikian indahnya pemandangnya alam di situ sehingga seorang dewapun tergerak hatinya, dan pada suatu hari, sang dewa itu duduk di atas sepetak rumput menikmati keindahan sambil minum arak dan bersajaklah sang dewa itu. Hal ini sudah terjadi ribuan tahun yang lalu (sajak dari abad ke duabelas sebelum Masehi).

Senja menjelang tiba

embun mulai mengelimuti rumput

penuhilah lagi cawan cakrawala

sebelum malam menghapus semua keindahan ini!

Sepanjang malam kabut menutupi

semua keindahan menakjubkan ini

namun itupun takkan lama

kabut akan mengering malam akan berakhir!

Hampir semua penyair di jaman itu, yaitu dalam dinasti Tang (618-907) pernah berkunjung dan mengagumi keindahan pemandangan alam di sepanjang Sungai Li, terutama di daerah Kuangsi ini. Di antara mereka adalah pa ra penyair besar seperti Han Ji, Liu Cung Yuen, Huang Ting Ciang, Ji Fu, Fan Ceng Ta, Wang Wei dan terutama sekali Li Tai Po, Tu Fu dan masih banyak lagi. Kabarnya, Li Tai Po sendiri pernah naik perahu seorang diri di’ Sungai Li, minum arak dan pada malam terang bulan purnama, penyair besar ini 5

mengenang pengalamannya dengan bersajak. Sajaknya itu amat terkenal, terutama di daerah yang dialiri Sungai Li. Seperti kebanyakan sajaknya, penyair ini lebih suka menulis tentang perasaan dan kehi dupan manusia melalui dirinya sendiri dari pada sekedar memuji keindahan alam.

Dengan cawan anggur di tangan

dikelilingi bunga, aku minum sendiri tanpa

seorangpun menemaniku.

Kuangkat cawan anggurku kepada bulan

kuminta bulan mendatangkan bayanganku

dan membuat kami menjadi bertiga.

Namun, bulan tidak dapat minum

dan bayanganku tertinggal. hampa;

betapapun mereka adalah kawanka

wanku menamaniku sepanjang musim

semi……………

Aku bernyanyi. Bulan tersenyum padaku.

Aku berjoget. Bayanganku mendampingiku.

Kutahu, kami adalah sahabatsahabat baik,

ketika aku mabok, kami saling kehilangan.

Dapatkah kemauan baik bertahan?

Kutatap jalan panjang Sungai Bintangbintang!

Di kaki Bukit Ayam Emas yang ter masuk daerah Yuangsuo, terdapat bebe¬rapa buah dusun yang bertebaran di sekeliling bukit itu. Di antaranya ada¬lah dusun Libun yang terletak di tepi sungaj Li. Dusun ini hanya berpenduduk sekitar limapuluh keluarga saja, agak jauh dari dusun lain, paling dekat sepuluh li dari dusun lain dan nampak te nang dan tenteram. Para 6

penghuninya be kerja sebagai petani dan juga nelayan dan di tepi sungai nampak banyak perahu dan rakit dari bambu fertambat. Me¬reka yang keadaannya agak mampu memiliki sebuah perahu, yang lebih sederha na cukup dengan rakit yang mereka buat sendiri dari bambu.

Pada umumnya, penghuni dusun Libun merasa cukup. Memang sesungguhnya, kaya atau miskin tak dapat diukur dari isi saku atau harta milik. Betapapun besar dan banyak harta milik yang dipunyai seseorang, kalau dia masih mera sa kurang atau belum cukup, sama saja artinya dengan seorang yang miskin dan dia tidak akan dapat menikmati apa yang telah dimilikinya. Sebaliknya, biarpun seseorang hidup sederhana, namun kalau dia sudah merasa cukup, sama saja halnya dengan seorang kaya raya dan dia dapat menikmati apa yang telah dimilikinya. Jadi letak ukurannya bukan di saku atau di gudang harta, melainkan di dalam hatinya. Seperti para penduduk dusun Libun. Karena mereka tinggal di dusun sederhana, maka kebutuhan hidup merekapun tidak banyak, sekedar sandang, pangan dan papan yang sederhana cukuplah. Tidak terdapat banyak godaan terhadap mereka, seperti dalam kota di mana terdapat toko-toko yang men jual barang-barang mewah dan indah, rumah-rumah makan dengan masakan yang mahal, dan rumahrumah indah, juga tontonantontonan yang kesemuanya itu membutuhkan uang banyak sehingga tentu saja kehidupan di kota mendatangkan banyak keinginan dan kebutuhan.

Berbahagialah manusia yang dap menikmati apa yang ada, menikmati apa yang dimilikinya. Namun, selama kita masih dicengkeram nafsu, kita takkan pernah dapat menikmati apa yang kita miliki karena kita selalu menjangkau yang belum kita miliki, yang kita anggap akan lebih indah dari pada apa yang telah kita miliki. Sifat nafsu adalah selalu mencari yang lebih dan hanya sejenak saja menikmati apa yang kita dapatkan lalu terganti kebosanan karena kita sudah mengejar yang kita anggap lebih menyenangkan lagi. Dan untuk dapat 7

menjadi manusia berbahagia seperti itu, satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih Kalau kita menyerahkan diri kepada Tuhan, kita tidak akan mengeluh dan selalu akan bersukur kepa da Tuhan, dalam keadaan apapun kita berada. Kalau segala peristiwa kita sambut sebagai sesuatu yang telah dikehendaki Tuhan, kita tidak akan mengeluh lagi, karena kita yakin bahwa semua kehendak Tuhan pasti terjadi, dan apapun yang ditimpakan kepada kita pasti memillki hikmah karena Tuhan mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Kewajiban kita dalam hidup ini hanyalah mempergunakan atau memanfaatkan semua anggauta tubuh ini termasuk hati akal pikiran kita untuk kesejahteraan hidup ini, dari diri pribadi sampai lingkungan yang makin meluas, keluarga masyarakat, bangsa, dan seluruh manusia. Semua usaha itu didasari penyerahan dan keyakinan bahwa semua hasil usaha kita, baik yang bagi kita menyenangkan maupun menyusahkan, terjadi atas kehen dak dan bimbingan Tuhan. Karena itu, hanya puji syukurlah yang keluar dari hati dan mulut kita kepada Tuhan Maha Pengasih.

Pagi itu amat cerah. Sinar matahari pagi seolah menggugah semua yang terlelap di malam yang baru lewat, dan memberi kehidupan kepada setiap tumbuh tumbuhan, besar maupun kecil, memberi kehidupan kepada semua mahluk, merupakan satu di antara berkah Tuhan yang berlimpahan kepada ciptaanNya, alam beserta seluruh isinya. Permukaan Sungai Li amat tenang dan jernihnya. Kecuali apa bila hujan turun yang membawa banyak tanah dan daun kering mengotori air sungai, air itu selalu jernih dan pagi hari yang cerah Itu, air sungai nampak jernih seperti kaca dan matahari pagi membuat garis-garis perak dipermukaannya.

Sebuah rakit kecil yang hanya terbuat dari beberapa batang bambu, meluncur perlahan menyeberang sungai. Rakit itu membawa seorang anak laki-laki yang dengan gerakan kuat karena sudah terbiasa, mendorong rakit meluncur dengan sebatang dayung. Setelah tiba di seberang, anak laki-laki itu 8

menempelkan rakitnya di tepi sungai, lalu meloncat ke darat dan mengikatkan tali rakitnya pada sebatang pohon bambu yang besar. Tepi sungai dimana dia mendarat itu memang merupakan sebuah kebun bambu yang lebat, di mana terdapat banyak sekali rumpun bambu yang bermacammacam bentuknya. Diapun meninggalkan rakitnya, memasuki hutan bambu membawa sebuah golok dalam sarunq kulit yang dia selipkan di pinggangnya.

Anak itu berpakaian sederhana, seperti pakaian anak-anak dusun di daerah itu, bercelana panjang sampai ke bawah lutut, sepatunya dari kulit kasar, bajunya berlengan pendek, berwarna hitam seperti yang biasa dipakai semua anak di situ karena warna hitam ini awet tidak lekas kotor. Biarpun pakaiannya tidak berbeda dengan pakaian anak-anak lain di. dusun itu, sederhana namum wajahnya memiliki sesuatu yang tidak biasa didapatkan pada wajah anak anak di situ. Wajahnya amat tampan, dengan kulit yang bersih dan segar kemerahan. Wajah itu berbentuk keras, memperl ihatkan kejantanan pada rahang dan dagunya, namun matanya lebar dan bersinar tajam, hidungnya dan mulutnya mengandung wibawa dan membuat dia nampak anggun, rambut yang hitam dan subur itu dipotong pendek. Tubuhnya tinggi tegap, me]ebih bentuk tubuh anak-anak yang berusia tujuh tahun, namun wajah dan tubuh yang membayangkan kegagahan itu di.perlembut oleh senyumnya yang se lalu menghias mulut dan matanya.

Tidaklah terlalu mengherankan melihat anak laki-laki yang demlkian tampan dan gagah walapun berpakaian seperti anak dusun kalau orang mengetahui latar belakang yang amat mengejutkan dari anak laki-laki itu. Ibu kandungnya adalah puteri seorang Menteri Utama Kerajaan Tang, dan ayah kandungnya bahkan pernah menjadi kaisar, walaupun hanya untuk waktu selama sembilan tahun! Ibunya bernama Yang Kui Bi, puteri mendiang .Yang Kok Tiong, menteri utama kerajaan Tang ketika dipimpin Kaisar Hsuan Tsung (Beng Ong, 9

712 – 755) Adapun ayah kandungnya adalah Sia Su Beng, seorang panglima dari pasukan yang dipimpin pemberontak An Lu Shan. Seperti dapat diketahui dalam catatan sejarah, An Lu Shan memberontak dalam tahun 755 dan berhasil merebut tahta kerajaan dari tangan Kaisar Hsuan Tsung yang melarikan diri ke barat. An Lu Shan yang mengangkat diri menjadi kaisar, saling berebut kekuasa an dengan puteranya sendiri yang berna ma An Kong dan An Lu Shan dibunuh oleh puteranya sendiri. Dalam keadaan yang kacau itu, Sia Su Beng, dibantu oleh kekasihnya, yaitu Yang Kui Bi, berhasil menyingkirkan An Kong dan Sia Su Beng mengangkat diri menjadi kaisar Kerajaan Tang! Akan tetapi , Kaisar Hsuan Tsung yang lari ke barat, menghimpun kekuatan, kemudian dilanjutkan oleh penggantinya, yaitu puteranya yang kemudian menjadi Kaisar Su Tsung, dan pasukan gabungan dari barat itu menyerbu untuk merebut tahta kerajaan yang kini telah berada di tangan Sia Su Beng. Perang itu berjalan selama sembilan tahun dan sementara itu, Sia Su Beng yang telah menjadi kaisar menikah dengan kekasihnya, Yang Kui Bi dan mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sia Han Lin.

Akhirnya, ketika Sia Han Lin berusia lima tahun, pasukan Tang yang menyerbu dari barat itu berhasil merebut Tianoan, kota raja dan dalam pertempuran yang hebat, Sia Su Beng dan isterinya, Yang Kui Bi, bertempur sampai tewas. Akan tetapi sebelum mereka maju bertempur, mereka lebih dahulu menyerahkan putera mereka kepada seorang pengasuh, seorang wanita setengah baya yang setia dan yang mengasuh Sia Han Lin sejak bayi, dan minta kepada wanita itu untuk membawa lari Sia Han Lin, mengungsi keluar dari kota raja bersama rakyat.

Demikianlah, bocah berusia tujuh tahun itu adalah Sia Han Lin, putera dari suami isteri mendiang Sia Su Beng dan Yang Kui Bi, suami isteri yang berdarah bangsawan dan tewas gugur dalam perang dalam usia muda. Mereka itu adalah 10

suami isteri yang memiliki ilmu silat tinggi dan gagah perkasa. Sayang bahwa ambisi yang berlebihan, pengejaran kekuasaan, membuat mereka tewas dalam pertempuran.

Liu Ma, yaitu janda yang menjadi pelayan pengasuh keluarga Sia Su Beng, adalah seorang janda yang telah menjadi pelayan pengasuh sejak Han Lin dilahi rkan. la amat setia dan amat sayang kepada Han Lin, karena janda ini sendiri tidak mempunyai anak. la kini berusia empatpuluh tujuh tahun. Dua tahun yang lalu, ketika ia menerima tugas yang berat, ia segera membawa Han Lin yang ketika itu berusia lima tahun, melarikan diri mengungsi ke luar kota raja. Tak seorangpun mengira bahwa anak laki-laki yang mengenakan pakaian biasa dan ditariktarik tangannya oleh Liu Ma, berbaur dengan para pengungsi itu adalah putera Sia Su Beng yang menjadi kaisar!

Liu Ma harus pandaipandai membu juk karena Han Lin selalu rewel dan ta dinya berkeras tidak mau meninggalkan ayah ibunya. Namun, dia sudah cukup besar untuk mengerti bahwa kota raja diserbu musuh dan dia terancam bahaya maut kalau tidak mau diajak melarikan diri.

“Akan tetapi, ayah dan ibu tidak pergi!” Dia membantah ketika dia ditariktarik Liu Ma keluar dari kota raja.

“Ayah ibumu tidak takut karena mereka berjuang, mereka melawan musuh,” kata Liu Ma yang terpaksa harus menggunakan kalimat biasa, tidak seperti biasanya ia bersikap sebagai seorang pelayan terhadap seorang pangeran! Mulai saat itu, ia harus memperla kukan Han Lin seperti anak biasa, dan mengakuinya sebagai anaknya. Itulah jalan satusatunya untuk menyelamatkan anak yang dikasihinya itu.

“Akupun tidak takut!” kata Han Lin, berusaha melepaskan pegangantangan Liu Ma pada pergelangan tangannya. “Akupun ingin membantu ayah dan ibu melawan musuh!”

“Stt…..!” Liu Ma memondong anak itu dan mendekap 11

mulutnya, lalu berbisik dekat telinganya, “Pangeran, lupakah paduka akan pesan Sribaginda dan Permaisuri? Paduka harus patuh kepada hamba dan jangan menehtang, ini semua merupakan perintah beliau yang tidak boleh kita bantah. Ingatkah paduka?”

Mendengar ini, Han Lin menangis di atas pundak Liu Ma. Memang sejak kecil dia dekat dengan pengasuh ini dan sekarang, diingatkan perintah dan pesan terakhir ayah ibunya, diapun merasa sedih dan menangis.

“Liu Ma, kenapa ayah dan ibu me nyuruh aku pergi….” Kenapa aku harus berpisah dari mereka….?” isaknya.

“Stttt…., pesan mereka sudah jelas, bukan? Mulai saat ini, kita harus merahasiakan bahwa paduka adalah pangeran. Paduka muiai sekarang harus mengaku sebagai anak hamba, dan maafkan, hamba tidak akan lagi bersikap dan berbicara seperti biasa. Dan maafkan kalau mulai sekarang hamba akan menyebut paduka dengan nama paduka saja karena ingat, paduka adalah anak hamba.”

Han Lin mengangguk dan diapun tidak meronta lagi ketika diturunkan dan tangannya digandeng Liu Ma. Demikianlah, Liu Ma mengajak Sia Han Lin mengungsi ke daerah selatan, kembali ke dusun yang menjadi tempat kelahirannya Ketika masih kecil Liu Ma lahir dan tinggal di dusun Libun, termasuk wilayah Kweilin propinsi Kuangsi. Karena ketika pergi meninggalkan istana ia dibekali emas permata yang cukup banyak, maka ia dapat membeli rumah sederhana dan sawah ladang, juga ternak dan ia hidup tidak kekurangan dengan Han Lin yang semua orang menerimanya sebagai putera Liu Ma.

Liu Ma menaati pesan Sia Su Beng dan Yang Kui Bi. Dengan uangnya, ia membayar seorang penduduk yang cukup berpendidikan untuk mengajarkan ilmu membaca dan menulis kepada Han Lin. Ternyata anak itu cerdas sekali dan selama dua tahun kurang mempelajari sastra, ia kini sudah pandai 12

membaca dan menulis, membuat para anak di dusun itu merasa kagum karena sebagian besar anak-anak dusun itu buta huruf.

Han Lin memang tidak pernah bertanya kepada Liu Ma tentang ayah bunda nya lagi sejak dia mendengar dari Liu Ma bahwa menurut berita yang sampai di dusun itu, Sia Su Beng dan Yang Kui Bi telah tewas, gugur dalam pertempuran. Semalam suntuk Han Lin tidak tidur, merenung dan menangis, akan tetapi sejak hari itu, dia tidak pernah lagi bertanya tentang mereka kepada Liu Ma, membuat bekas pelayan yang kini menjadi ibunya merasa lega hatinya. Akan tetapi, janda ini sama sekali tidak tahu bahwa Han Lin tidak pernah melupakan ayah ibunya, tidak pernah lupa bahwa ayah dan ibunya tewas sebagai orang-orang gagah, gugur dalam pertempuran. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah melupakan kenyataan itu!

Seperti anak-anak lain di dusun Libun, Han Lin juga bekerja membantu ibunya yang menggunakan dua orang tenaga kerja. Dia membantu bertani, menggembala ternak, juga mencari ikan sehingga dalam usia tujuh tahun itu, dia sudah pandai sekali menjala atau mengail ikan. Juga karena hidup dekat sungai, bersama anak-anak lain dia suka mandi di sungai sehingga dia pandai berenang dan gagah pula mendayung perahu a tau rakit.

Pada hari yang cerah itu, seorang diri Han Lin pergi berakit mencari bambu yang terbaik untuk dibuat menjadi joran pancingnya. Joran pancing yang baik adalah yang panjang, tidak berat, lentur dan tidak mudah patah, juga sekecil mungkin. Tidak mudah men cari bambu yang baik untuk itu, dan ka lau hendak mencari bambu, ke mana lagi kalau bukan ke hutan bambu di seberang sungai itu?

Han Lin berjalan perlahan, memandang ke kanan kiri mencari bambu yang dibutuhkannya. la mengenal hutan ini karena sering dia bersama temanteman atau seorang diri berkeliaran di sini, juga dia mengenal banyak macam bambu 13

yang tumbuh di.hutan itu. Guru sastra nya adalah seorang yang ahli perbambuan, mengenal namanama dan sifat banyak bambu sehingga diapun mengenal banyak bambu yang beraneka bentuk dan tumbuh disitu.

Ada bambu yang disebut Bambu Dawai Kecapi, batangnya lurus dan ruasnya agak berjauhan, tidak. bermiang dan warna dasarnya kuning dengan garis-garis lurus berwarna kehijauan. Bambu ini yang biasa disebut pula Bambu Kuning. Akan tetapi jenis ini ada yang dasarnya berwarna hijau muda dengan garis-garis hijau tua kehitaman.

Ada pula bambu yang disebut Bambu Berbintik, juga ada yang menamakannya Bambu Selir Siang! Tentang nama yang yang ke dua ini ada dongengnya. Di jaman purba terdapat seorang kaisar yang meninggal dunia karena sakit keti ka dia sedang melakukan perjalanan ke selatan. Selirnya yang terkasih demikian sedihnya dan putus asa karena kematian kaisar ini dan selir itupun terjun ke dalam sungai dan kabarnya menjelma menjadi dewi sungai. Batang bambu itu menjadi berbintikbintik terkena air mata selir itu. Karena sungai di mana selir membunuh diri itulah ada lah Sungai Siang, maka bambu itu dinamakan Bambu Selir Siang. Pada ruasnya seringkali tumbuh cabang berkelompok, dasar warnanya abuabu kuning dan bintikbintiknya yang tidak rata dan lebih tebal di dekat ruas itu berwarna coklat.

Ada pula bambu yang disebut bambu Muka Manusia karena bentuk ruasnya yang mirip muka manusia, ada juga bambu Tak Berlubang yang batangnya hanya sebesar jari. Bambu Persegi adalah bambu yang aneh, tidak bundar dan kuIit batangnya keras sekali. Ada lagi Bambu Manis yang daunnya amat lebar, menjadi kebalikan dari Bambu Cina yang daunnya kecilkecil sehingga perbandingan daun antara kedua jenis bambu ini sama dengan limapuluh berbanding satu! Ada bambu yang dapat berbunga semerbak harum, di antaranya adalah Bambu Pahit dan Bambu Hitam Berduri. 14

Bambu yang terakhir ini tidak terlalu hitam, akan tetapi pada bukubukunya antara ruas terdapat duriduri hitam mengeliliinginya, seolah bukubuku itu dipasangi roda bergigi. Ada pula Bambu Bermiang, ketika mudanya penuh dengan miang yang dapat membuat kulit manusia gatalgatal. Di antara semua bambu itu, Han Lin paling suka mengagumi bamboo yang dinamakan Bambu Sisik Naga! Memang bambu ini luar biasa sekali. Batangnya bundar dan gemuk, kokoh dan berlikuli ku seperti tubuh naga, dan ruasnya juga aneh sekali, berselangseling dengan bukubuku menyerong seperti sisik ular atau sisik naga.

Han Lin menghampiri bambu yang dicarinya, yaitu Bambu Tak berlubang. Bambu jenis inilah yang peling cocok untuk dijadikan joran pancingnya. Hanya sebesar ibu jari, tidak berlubang dan lentur sekali. Dengan menggunakan goloknya, Han Lin menebang lima batang yang dipilihnya, tidak terlalu tua agar tidak kaku dan cukup lentur, dan tidak terlalu muda agar tidak getas. Dia membersihkan cabang dan daun lima batang bambu itu, kemudian membawa lima batangnya keluar dari dalam hutan bambu. Seperti biasa kalau bermain di tempat itu, dia duduk di luar hutan, di tepi sungai di mana rakitnya ditambatkan, dan dia menikmati pemandangan yang amat disenanginya. Memang luar bi asa sekali suasana di tempat yang sunyi itu. Seluruh panca indera kita seperti dibelai dan dimanjakan kalau ki ta berada situ. Hidung mencium keharuman yang khas dari tanah, daun dan bunga. Telinga menikmati gemersik daun daun bambu dihembus angin semilir, bagaikan musik dan nyanyian sorga, dan mata yang. paling banyak mendapat limpahan keindahan. Tidak mengherankan kalau para penyair memujimuji “keindahan daundaun bambu yang selalu menarinari, dengan pucuk batangnya yang meli ukliuk, juga para pelukis tak pernah bosan melukis daundaun bambu yang nampak kacau namun indah serasi itu. Kacau namun serasi, itulah keadaan daundaun bambu. Andaikata diatur tangan manusia dan tidak 15

kacau mencuat ke sana sini, bahkan menjadi tidak serasi dan tidak indah.

Seperti biasa, kalau berada seorang diri di situ, mendengar dendang merdu gemercik air di tepi sungai dan gemersik daundaun bambu, disentuh kelembutan semilir angin, Han Lin tenggelam dalam lamunan. Seperti terbayang semua peristiwa yang .telah lalu, mengingatkan dia bahwa dia pernah hidup sebagai seorang pangeran! Hidup di dalam istana yang megah di mana setiap orang menghormati dan memuliakannya, dibelai kasih sayang ayah ibunya. Dan sekarang? Semua itu telah musna. Dia menjadi seorang anak yatim piatu yang terpaksa mengakui Liu Ma sebagai ibunya. Dla telah mendengar bahwa ayah ibunya gugur di dalam pertempuran. Dia telah kehilangan segalagalanya.

Akan tetapi tidak! Dia membantah renungannya sendiri. Dia tidak kehilangan segalanya. Dia masih memiliki dirinya! Kalimat ini seperti telah men jadi dasar untuk menghidupkan gairah dan semangatnya. Ibunya menyertakan seheLai surat untuknya dan surat itu selalu disimpan baikbaik oleh Liu Ma. Setelah dia pandai membaca, beberapa bulan yang lalu surat itu diberikan Liu Ma kepadanya. Dan kalimat pertama dalam surat ibunya kepada berbunyi: “Jangan putus asa, Han Lin puteraku. Engkau masih memiliki dirimu!”

Kalimat itulah yang selama ini menjadi pegangannya dan selalu berdengung di telinganya setiap kali dia termenung dan kedukaan mulai menyelinap di hatinya. Kemudian, di dalam surat itu ibunya memesan kepadanya agar kelak dia mencari anggauta keluarga ibunya, yaitu kakak ibunya yang bernama Yang Cin Han, dan enci ibunya bernama Yang Kui Lan. Ibunya tidak tahu mereka berada di mana, dan dia sendiri belum pernah bertemu mereka. Akan tetapi kedua nama itu telah terukir dalam hatlnya dan dia berjanji kepada diri sendi ri bahwa sekali waktu, dia pasti akan pergi mencari mereka, paman dan bibinya itu. 16

Sampai lama Han Lin melamun di situ, tidak .tahu bahwa sebuah perahu meluncur ke tepi sungai, dekat rakitnya dan dua orang yang tadi duduk di dalam perahu, melompat ke darat, kemudian sekali tarik, perahu itu telah terseret ke daratan pula. Agaknya dua orang itu kini mulai bercekcok dan barulah Han Lin sadar dari lamunannya ke tika mendengar mereka berdua bicara degan suara nyaring karena marah. Dia cepat menoleh dan dia terbelalak memandang kepada dua orang yang sedang ribut mulut itu. Yang seorang bertubuh pendek gendut, mukanya hitam arang, matanya besar lebar dan mulutnya selalu tersenyum mengarah tawa. Bajunya terbuka di bagian dada, memperl ihatkan dadanya yang penuh gajih. Adapun orang ke dua tidak kalah anehnya, bahkan agaknya merupakan kebalikan dari orang pertama karena orang ke dua ini bertubuh tinggi kurus, mukanya pucat seperti kapur, matanya sipit hampir terpejam dan mulutnya selalu mewek seperti orang menangis. Usia kedua orang aneh ini sekitar limapuluh tahun dan kini mereka bertengkar, didengarkan oleh Han Lin yang merasa terheranheran.

“Hek Bin (Muka hitam), jangan sombong kau! Mentangmentang sudah belasan tahun bertapa di kutub utara, kaukira kini ilmu kepandaianmu tidak ada yang dapat menandingi? Apa kaukira selama belasan tahun ini aku tinggal menganggur saja? Hemm, kautahu, akupun memperdalam ilmuku dan aku yakin engkau tidak akan mampu menandingiku!” kata si muka putih.

Si gendut bermuka hitam itu tertawa bergelak, mengangkat muka ke atas dan ketika tertawa. perut gendutnya bergerakgerak seperti bergelombang. Hahahaha, Pek Bin (Muka Putih), engkau yang tekebur! Engkau selama belasan tahun bertapa di kutub Selatan? Hehehheh, kita dahulu memang setingkat, akan tetapi sekarang, jangan harap engkau akan mampu menandingiku. Lebih baik engkau mengangkat aku menjadi guru dan saudara tua agar aku dapat membimbingmu, hahaha!” 17

“Wah, gendut muka hitam sombong. kita uji, tidak perlu banyak bica Kita buktikan siapa di antara kita yang lebih kuat dan lebih pantas menja saudara tua! kata si tinggi kurus muka putih.

“Baik, majulah! Mereka berdua lalu berkelahi! Han Lin masih terlalu kecil dan asing dengan ilmu silat untuk dapat menqetahui bahwa dua orang itu bukan hanya berkelahi biasa saja, melainkan bertanding dengan menggunakan ilmuilmu yang dahsyat sekali! Gerakan kaki tangan mereka mendatangkan angin bersiutan, debu mengepul dan nampak batu batu beterbangan terlanda angin tendangan kaki mereka, dan rumpun bambu terdekat seperti dilanda angin besar! Mereka itu kadang bergerak sedemikian cepatnya sehingga tidak nampak bentuk tubuh mereka, hanya nampak dua bayangan saja yang seperti bergu]at menjadi satu, dan kadang nampak gerakan mereka per lahanlahan seperti orang bermainmain. Namun, sesungguhnya ketika bertanding dengan gerakan perlahan itu mereka amat berbahaya karena keduanya mengandalkan sinkang yang amat kuat.

Han Lin merasa khawatir sekali melihat dua orang itu bertanding seperti itu. Kenapa orangorang tua itu demi kian pandir, tanpa hujan tanpa angin hanya untuk pamer kepandaian dan tidak mau kalah, saling hantam seperti itu? Dia khawatir kalaukalau seorang di antara mereka akan terluka atau tewas, maka dia lalu bangkit dan lain menghampiri, untuk melerai.

Pada saat itu, dua orang aneh yang merasa penasaran karena belum dapat mendesak lawan, dalam benturan kedua tangan, keduanya meloncat ke belakang dan kini keduanya mengerahkan seluruh tenaga melalui kedua tangan yang didorongkan ke depan, saling serang dengan pukulan jarak jauh.

“Tahan….! Harap kedua paman berhenti berkelahi!” Han Lin berlari di antara kedua orang itu. Dia tidak tahu bahwa dia

berada di antara dua pukulan jarak jauh yang saling menghantam! Kedua orang itupun terkejut, akan tetapi agaknya mereka tidak perduli dengan munculnya seorang anak laki-laki di antara mereka dan mereka melanjutkan dorongan mereka.

Han Lin yang sedang berlari itu tibatiba tertahan larinya dan dia terbelalak. Dia berdiri presis di antara kedua orang itu, menghadap ke arah si pendek gendut muka hitam. Dia merasa betapa dadanya diterpa hawa dingin seperti es yang membuat tubuhnya seperti kaku membeku, akan tetapi pada saat yang bersamaan, punggungnya dihantam hawa yang amat panas seperti api. Han Lin dihimpit dua tenaga dahsyat, bukan saja tenaga sinkang kedua orang itu kuat bukan main, akan tetapi

Han Lin dihimpit dua tenagadahsyat, bukan saja tenagasinkang kedua orang itu kuatbukan main, akan tetapi jugakeduanya mengandung hawa

18 19

juga keduanya mengandung hawa beracun yang mematikan! Hawa racun dingin dari si muka hitam itu dapat membuat darah menja di beku, sedangkan hawa racun panas dari si muka putih dapat membuat seluruh isi tubuh menjadi hangus terbakar!

Seorang ahli silat yang tangguh sekalipun tidak akan kuat menerima hantaman dari kedua pihak dengan tenaga sinkang beracun seperti itu, apa lgi tubuh Han Lin, anak berusia tujuh tahun yang belum pernah belajar ilmu silat sama sekali. Tubuhnya berkelojotan dan matanya melotot, kaki tangannya terpetang seperti disambar halilintar , rambutnya berdiri semua, jarijari tangannya terpentang.

Agaknya kedua orang aneh itu tidak memperdulikannya, bahkan merasa jengkel dan menganggap anak itu menjadi pengganggu saja, maka sekali keduanya menggerakkan lengan, tubuh Han Lin terlempar ke dalam hutan bambu dan jatuh ke dalam rumpun bambu. Dua orang aneh itu tidak memperdulikan lagi kepadanya karena mereka berdua merasa yakin bahwa anak itu tentu sudah mati. Biar seorang ahli silat tangguh sekali pun, sukar untuk dapat bertahan hidup terkena pukulan seorang saja dari mereka, apa lagi anak kecil i tu menerima pukulan dari mereka berdua! Mereka melanjutkan adu tenaga dan ternyata keduanya seimbang sampai akhirnya mereka berdua samasama lemas dan mengakhiri adu tenaga itu dan cepat duduk bersila untuk menghimpun tenaga. Kemudian mereka bangkit lagi .

“Hekbin yang gendut, engkau ternyata hebat!” kata si muka putih.

“Engkaupun hebat, Pekbin. Ternyata kita masih juga seimbang sekarang, maka biarlah kita menjadi seperti dahulu, tidak ada yang lebih tua tidak ada yang lebih muda, tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah.” Si gendut tertawa bergelak.

“Bagus, kalau begitu, mari kita bersama mencari rejeki!” kata si muka putih. Mereka berdua lalu berkelebat dan 20

tahutahu mereka sudah berada di atas perahu lagi yang diluncurkan cepat ke tengah sungai. Mereka sudah lupa lagi kepada anak yang menjadi korban adu tenaga mereka tadi. Dua orang itu memang bukan orang sembarangan. Belasan” tahun yang lalu mereka sudah terkenal sebagai Hek Pek Moong (Raja Hitam dan Putih) sepasang datuk yang berilmu tinggi akan tetapi sesat. Akhirnya, para pendekar bangkit dan mereka itu terusir dari dunia kangouw. Keduanya lalu merantau, seorang ke selatan seorang ke utara dan selama belasan tahun mereka bersembunyi sambil memperda lam ilmu mereka. Kini mereka telah turun kembali ke dunia ramai sebagai dua orang tokoh yang’ ilmu kepandaiannya he bat sekali. Yang gendut muka hi tam ber juluk Hekbin Moong (Raja Iblis Muka Hitam), sedangkan yang kurus kering mu ka putih berjuluk Pekbin Moong (Raja Iblis Muka Putih). Dunia persilatan pasti akan menjadi gempar dengan turunnya dua orang datuk sesat ini dari tempat persembunyian mereka.

Tubuh Han Lin bergerakgerak, berkelojotan dalam sekarat_. Anak berusia tujuh tahun itu telah diserang pukulan ampuh dari depan dan belakang, dengan hawa beracun dingin dari depan dan hawa beracun panas dari beiakang. Kalau saja dia terkena satu saja dari dua pukulan itu, tentu dia telah tewas seketika. Kalau terkena pukulan dingin saja, tentu semua darah di tubuhnya sudan membeku, atau kalau terkena pukulan panas saja, tubuhnya sudah hangus. Akan tetapi justeru karena pukulan itu datang dari depan dan belakang, tubuhnya seperti terhimpit dua pukulan yang saling menolak. Hal ini membuat dia tidak sampai tewas seketika. Namun, hawa beracun panas dan dingin itu telah menyusup ke dalam tubuhnya, membuat tubuh itu berkelojotan dalam sekarat, mati tidak hiduppun enggan.

Sejak lahir sampai mati, kita tidak dapat mengatur atau menguasai kehidupan kita sendiri. Kita dilahirkan begitu saja di luar kehendak kita, kemudian selama hidup kitapun tidak tahu apa akan terjadi dengan hidup 21

kita, kemudian kematian datang tanpa dapat kita tolak atau minta. Mati atau hidup sepenuhnya berada di tangan Tuhan, dalam kekuasaanNya. Kalau Tuhan menghendaki kita mati, tidak ada tempat persembunyian bagi kita untuk menghindarkan diri. Biar kita bersembunyi ke lubang semut, maut tetap akan datang men jemput. Sebaliknya, apa bila Tuhan belum menghendaki kita mati, biarpun dihujani seribu batang anak panah, kita akan terhindar dari pada maut.

Betapa banyaknya manusia, yang diakuinya maupun tidak, merasa takut akan kematian. Pada lahirnya boleh membual dan berlagak tidak takut mati, namun jauh di sebelah dalam, lubuk hatinya, dia merasa ngeri dan takut! Mengapa takut akan sesuatu sudah pasti terjadi, akan sesuatu yang tidak mungkin terelakkan lagi, sesuatu yang akan menimpa setiap orang di dunia ini, tidak perduli tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, pandai atau bodoh? Kenapa takut menghadap sesuatu yang tidak dapat kita ketahui keadaannya, sesuatu yang tidak kita kenal? Sesungguhnya, kita tidak mungkin takut kepada suatu keadaan yang tidak kita ketahui. Yang kita takuti adalah suatu keadaan yang kita ketahui melalui kepercayaan, dongeng dan penuturan tentang keadaan sesudah mati. Yang kita takuti adalah kenyataan bahwa kalau kita mati, kita meninggalkan semua yang kita sukai dan cintai. Meninggalkan harta benda, meninggalkan keluarga meninggalkan segala macam kesenangan hidup di dunia ini.

Berbahagialah orang yang menyerah kepada Tuhan secara menyeluruh, lahir batin, pasrah dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan. Baginya, kematian bukanlah suatu akhiran, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan di dunia ini. Dan, baik hidup di dunia ataupun kelanjutannya yang dinamakan mati, selama kita menyerah kepada Tuhan, Sang Maha Pencipta yang menguasai dan memiliki seluruh alam beserta isinya, berarti yang memiliki dan menguasai diri kita, maka tidak ada rasa takut terhadap kehidupan maupun kematian . 22

Menyerah kepada Tuhan sama sekali bukan berarti acuh, pasip, ataupun mandeg. Sama sekali bukan! Itu bukan pasrah namanya kalau kita hanya menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa mau berusaha sesuatu! Tuhan telah melahirkan kita dengan alat yang paling sempuma dan lengkap, tangan kaki, hati akal pikiran, semua itu tentu untuk dimanfaatkan, dikerjakan sekuat kemampuan masingmasing, demi kesejahteraan hidup di dunia ini, demi kelangsungan hidup dan penjagaan diri. Bekerja! Itu lah hidup, karena hidup berarti gerak, dan gerakan kita berarti bekerja. Namun semua pekerjaan, usaha dan ikhtiar kita itu dilandasi kepasrahan mutlak kepada Tuhan, karena hanya Tuhan yang dapat menentukan, apa yang akan kita alami dalam kehidupan ini maupun dalam kelanjutannya setelah kita meninggalkan dunia. Kalau sudah begitu, apa lagi yang perlu ditakuti? Adakah yang lebih membahagiakan bagi setetes air dari pada kembali ke samudera tempat dia berasal?

Demikianlah pula dengan Han Lin yang tubuhnya nyangkut di antara rebung bambu di rumpun itu. Tubuhnya ber kelojotan, kaki tangannya bergerak-gerak. Tanpa disadarinya, kaki kanannya menendang seekor ular yang sedang melingkar di rumpun bambu itu. Ular itu adalah seekor ular senduk kepala putih yang amat berbisa. Karena tertendang kaki yang berkelojotan, ular itu menjadi marah dan lehernya mekar, mulutnya mendesis, lalu leher itu terangkat tinggi, matanya mencorong mengikuti gerakan kaki yang masih menendangnendang. Mungkin dia mengira bahwa kaki itu sengaja hendak menyerangnya, maka tibatiba saja kepalanya bergerak . dan pada detik lain, moncongnya telah meng gigit betis Han Lin yang kiri.

“Capp!” Gigigigi kecil runcing terhunjam di dalam daging betis itu dan liur beracun memasuki jalan darah di betis Han Lin. Akan tetapi ular itu menggeliatgeliat, tidak dapat melepas kan lagi moncongnya dan hanya sebentar dia mengeliat lalu tak bergerak, mati dengan gigi masih menancap ke dalam 23

betis Han Lin. Kini terjadi perubahan pada tubuh Han Lin. Kaki tangannya tidak berkelojotan lagi, melainkan terdiam dan diapun rebah di antara rebung bambu, menggeletak miring dan sama sekali tidak bergerakgerak Iagi . Matikah dia seperti ular senduk itu?

“Omitohud !” Suara pujian ini keluar dari mulut seorang hwesio yang berdiri di dekat rumpun bambu, memandang kearah tubuh Han Lin yang tidak bergerak. Hwesio ini berusia lanjut, sedikitnya tentu sudah tujuhpuluh tahun, tubuhnya gendut seperti patung Jilaihud, namun wajahnya yang gemuk itu seperti wajah seorang anak kecil, segar kemerahan dan sinar matanya begitu terang. Jubahnya kuning sederhana, sepatunya dari kulit kayu dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu ular kuning, semacam bambu kuning yang bentuknya seperti ular, seperti’ Bambu Sisik Naga yang terdapat di hutan itu akan tetapi lebih kecil.

Hwesio itu kini berjongkok, memeriksa keadaan Han Lin, menyentuh nadinya dan melihat ular senduk yang masih menggigit betis anak itu. lalu diatertegun, menggelenqgeleng kepalanya dan menarik napas panjang, merangkap kedua tangan depan dada, lalu berseru penuh ketakjuban. “Omitohud, suatu mujijat telah terjadi pada diri anak ini “

Dengan teliti dia membuka baju Han Lin, memeriksa dada, leher, dan kembali ‘memeriksa denyut nadinya . dan memeriksa bekas gigitan ular pada betis setelah dia melepaskan gigitan ular itu dan memeriksa pula tubuh ular yang wamanya berubah kehitaman.

“Omitohud !” berulangulang dia berseru, mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul, lalu tersenyum lebar, “Bukan main, belum pemah aku melihat hal yang begini kebetulan! Mujijat-mujijat….! Dalam tubuh anak ini terdapat hawa beracun, dingin dan hawa beracun panas, akan tetapi ke dua hawa beracun itu kehilangan kekuatannya oleh racun ular senduk kepala putih! Justeru perpaduan antara racun dingin 24

dan racun panas itu, ketika bertemu racun ular, menjadi jinak dan tidak merenggut nyawa anak ini. Sungguh, nya wa anak ini tadi hanya bergantung kepada sehelai rambut yang halus sekali. Bukan main!”

Akan tetapi, hwesio tua itu lalu memandang ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan.. “Orang yang dapat memukul dengan hawa beracun dingin atau panas seperti itu, sungguh merupakan orang yang amat berbahaya dan lihai.” katanya kepada diri sendiri. Hatinya lega setelah melihat bahwa di situ tidak terdapat orang lain dan kembali perhatiannya tertuju kepada Han’ Lin. Anak itu mengeluarkan suara keluhan lirih dan tubuhnya mulai bergerak. Ketika dia membuka mata, yang per tama kali dilihatnya adalah dua buah rebung Bambu Persegi. Rebung ini enak sekali kalau dibuat sayur, rasanya gurih dan seringkali dia mengambil rebung Bambu Persegi ini untuk dimasak ibunya. Han Lin sekarang sudah hampir lupa bahwa Liu Ma bukan ibunya, saking terbiasa menyebut ibu kepada wanita yang amat mengasihinya itu.

“Sukurlah engkau tidak apa-apa,nak.”

Han Lin terkejut mendengar suara itu dan ketika dia menoieh melihat seorang hwesio tua bersila di dekat situ, dia cepat merangkak bangun, akan tetapi dia mengeluh dan memejamkan matanya karena tibatiba dia merasa pening dan ingin muntah. Dia merasa sebuah tangan yang lebar dan hangat menempel di punggungnya dan suara lembut tadi berkata lagi, “Anak baik, duduklah bersila dan pejamkan matamu, tenangkan hatimu. Engkau telah terlepas dari bahaya maut. Biarkan hawa hangat dari tangan pinceng memasuki tubuhmu dan membantumu membersihkan sisa hawa beracun yang menyerangmu.”

Han Lin tidak mengerti apa arti semua katakata itu, akan tetapi dia teringat akan peristiwa yang dialaminya tadi dan dia dapat menduga bahwa hwesio tua ini tentu bermaksud menolongnya, maka diapun menaati. Dia menahan 25

kepeningan kepalanya, lalu bersila dan dia membiarkan hawa hangat yang te rasa memasuki punggungnya itu menjalar masuk ke seluruh tubuhnya. Tak lama ke mudian, pening kepalanya hilang, juga rasa mual hendak muntah. Dia tidak melihat betapa dari kepalanya mengepul uap tipis hi tam ! ,

“Omitohud…. sungguh ajaib, ini namanya bahaya maut berubah menjadi berkah yang amat besar! Bukan saja engkau terbebas dari maut akan tetapi kini tubuhmu akan kebal terhadap serangan racun. Bukan main!”

Han Lin belum mengerti benar kecuali hanya bahwa hwesio tua itu telah menyelamatkannya, maka diapun berlutut di depan hwesio itu.

“Losuhu, terima kasih atas perto longan losuhu kepada saya,” katanya.

“Omitohud….!” Hwesio tua itu kembali memandang heran. Anak ini memang berpakaian seperti anak dusun, akan tetapi wajahnya jelas bukan anak biasa, dan begitu mengerti tata susila, juga ucapannya teratur seperti seorang anak yang terpelajar. “Anak baik, apakah yang telah terjadi denganmu tadi? Pinceng menemukan engkau tergigit seekor ular dan tubuhmu penuh dengan hawa beracun.”

“Ular? Saya saya tidak tahu, losuhu,” kata Han Lin dan melihat bangkai ular tak jauh dari kakinya, bangkai ular yang kering seperti terbakar kehitaman, diapun memandang heran. “Tadi saya melihat dua orang kakek berkelahi, saya bermaksud untuk melerai dan mencegah mereka berkelahi. Tibatiba saja saya merasa dada saya amat dingin dan punggung saya amat panas dan tubuh saya terlempar ke sini, lalu saya tidak ingat apaapa lagi.”

“Omitohud…, engkau tentu bertemu dengan dua orang sakti yang sedang mengadu tenaga sinkang! Mereka itu lihai bukan main. Seperti apakah mereka itu?”

“Yang seorang bertubuh gemuk pendek dengan muka 26

hitam, orang ke dua tinggi kurus bermuka putih seperti kapur. Yang muka hitam arang itu disebut oleh kawannya Hekbin oleh kawannya dan yang muka putih kapur disebut Pekbin.”

“Hemmm, berapa usia mereka?” “Kirakira limapuluh tahun, losuhu .”

“Hemm…. mungkinkah mereka…?” Setelah belasan tahun menghilang, mungkinkah mereka kini muncul kembali?”

“Siapakah mereka, losuhu?”

“Kelak engkau akan mengetahui, sekarang yang penting, siapakah engkau, di mana rumahmu dan siapa pula orang tuamu?” .

“Losuhu, nama saya Sia Han Lin, rumah saya di seberang sungai, dusun Libun, dan orang tua saya, hanya ibu saya yang berada di rumah. Saya tidak mempunyai ayah lagi.”

“Omitohud, engkau yang sekecil ini telah kehilangan ayah. Han Lin, pinceng melihat engkau bukan seperti anak dusun biasa. Ingin pinceng berkenalan dan bicara dengan ibumu. Bolehkah pinceng mengantarmu pulang agar pinceng dapat bicara dengan ibumu?”

“Tentu saja boleh, losuhu!” ka’ca Han Lin gembira. “Ibu tentu akan merasa gembira dan berterima kasih sekali karena losuhu telah menolong saya.”

“Omitohud. bukan pinceng yang menolongmu, Han Lin. Engkau tertolong oleh suatu kebetulan, suatu keadaan yang amat aneh. Pada saat bersamaan, engkau terkena pukulanpukulan yang me matikan, agaknya ketika engkau melerai dua orang yang sedang betanding tadi. Karena dua macam pukulan mengandung daya yang saling bertentangan, maka engkau tidak jadi tewas, padahal setiap pukulan itu sudah cukup untuk menewaskan seorang dewasa yang tangguh sekali pun. Namun, karena dua hawa pukulan beracun itu saling meluruhkan. Biarpun begitu, tubuhmu

dipenuhi dua macam hawa beracun dan pada saat itu, sungguh menakjubkan sekali, muncul ular senduk kepala putih menggigit betismu. Pada hal, gigitan ular itu akan mematikan seorang yang tangguh sekalipun! Dan racun gigitan ular itulah yang membebaskanmu dari kematian karena pengaruh dua hawa beracun itu. Engkau selamat, bukan oleh pinceng, bukan pula oleh ular, melainkan oleh Pemberi Kehidupan yang agaknya be!um menghendaki engkau mati. Nah, mari antar aku berkunjung ke rumah ibumu, Han Lin.”

Mereka lalu menggunakan rakit me nyeberangi sungai. Hwesio tua itu agak nya sengaja membiarkan Han Lin yang mendayung rakit menyeberangi sungai dan diamdiam dia

Liu Ma menyambut pulangnya Han Ldengan terheranheran karena anak itu bergandeng tangan dengan seorang hwesio tua yang, bertubuh gendut dan berwajahsepertianakkecilng dengan wajah ramah 27 memanda dan hati kagum karena 28 an Lin dengan ter tanya jan khawatir. Putera nyonya ba ersenyum juga wajahnya berubah kemerahan ka Lin dengan hati tegang karena mendapat ke

anak itu sedikitpun tidak lagi nampak menderita, dan biarpun rakit yang ditumpangi dua orang itu cukup berat, namun Han Lin mendayung dengan penuh semangat. Anak ini jelas memiliki semangat yang amat tinggi, pantang menyerah, tabah dan juga sama sekali tidak cengeng! Liu Ma menyambut pulangnya H

heranheran karena anak itu bergandeng tangan dengan seorang hwesio tua yang bertubuh gendut dan berwajah seperti anak kecil, kulitnya putih kemerahan dan segar. “Han Lin, apa yang terjadi dan siapakah losuhu ini?”

da itu dengan pandang mata khawatir. Apapun yang terjadi kepada anak itu, selalu mendatangkan perasaan khawatir di hati nya. la selalu gelisah nemikirkan nasib anak itu, takut kalaukalau ada yang tahu bahwa Han Li” adalah putera Sia Su Beng yang pernah menjadi kaisar ! ‘Omitohud, harap nyonya tidak

ikbaik saja dan karena pinceng tertarik sekali melihat pribadinya, maka pinceng ingin sekali bertemu dengan nyonya yang demi kian pandainya mendidik puteranya. Sungguh pinceng merasa kagum dan hormat kepada nyonya karena nyonya telah mendidik seorang putera dengan demikian baiknya.” Liu Ha t

rena tentu saja ia merasa bangga menerimapujian dari seorang hwesio tua. Siapa tahu, arwah ayah ibu kandung Han Lin akan dapat mendengarkan suara seorang pendetatua ini bahwa ia telah benarbenar setia dan patuh me laksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu merawat dan mendidik Han Lin dengan penuh kasih sayang dan kesungguhan hati. “Ibu,” kata Han

sempatan menceritakan peristiwa aneh tadi, “Tadi aku bertemu dua orang manusia aneh dan aku hampir mati karena pertemuan itu. Juga kakiku digigit ular senduk kepala putih 29 enjadi pucat, matanya ter n Lin telah ter enar, ibu. Aku tidak apaapa, ibu jangan khawatir.” suhu,” da , Liu Ma bangkit berdiri lalu dengan sik

yang sangat beracun. akan tetapi aku tidak mati. Losuhu ini yang telah menyelamatkan nyawaku Wajah wanita itu seketika m

belalak dan dengan menahan jeritnya, ia merangkul Han Lin. “Han Lin apa yang terjadi, nak? Bagaimana perasaanmu sekaranq? Apanya yang terasa sakit?” Dengan penuh kasih sayang wanita itu memeriksa tubuh anaknya dan tampak gugup ketika melihat bekas gigitan ular pada betis anak itu. “Kau…. kau harus cepat kuperiksakan pada tabib” “Omitohud…, harap nyonya tidak khawatir. Ha

hindar dari bahaya maut, bukan karena pinceng, melainkan karena memang dia belum waktunya meninggalkan dunia ini.” “B

“Ah, kalau begitu, kami berhutahg budi kepada lo

n wanita itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio tua itu. Hwesio itu tergopoh menyuruhnya bangkit dan diamdiam dia semakin heran. Wanita inipun bukan seperti wanita dusun, melainkan seorang yang lemah lembut dan mengerti tata susila seperti orangorang berpendidikan. Dia tidak tahu bahwa tentu sa ja Liu Ma mengerti tatasusila karena ia pemah menjadi seorang hamba di dalam istana, melayani keluarga kaisar! Setelah disuruh bangun

ap hormat sekali ia mempersil akan hwesio itu untuk duduk di ruangan dalam. la segera sibuk menyuruh pembantunya untuk mempersiapkan makanan yang tidak mengandung daging, juga membuatkan minuman dari sari buah untuk menjamu hwesio itu makan minum. Hwesio tua itu memperkenalkan diri sebagai Kong Hwi Hosiang kepada Liu Ma dan dia tidak menolak jamuan makan yang diadakan oleh Liu Ma untuk menghormatInya. Dan hidangan makan minum itu menambah rasa kagumnya kepada wanita itu karena temyata nyonya rumah itu menjaga benar agar tidak ada 30 h seorang hwesio berilmu tinggi ya jalan hidup Han Lin. Bukan sa Ma dan ditemani

daging dalam semua hidangan. Seorang wanita yang pandai membawa diri dan cermat. Pantas saja memiliki seorang putera seperti Han Lin. Dan diapun semakin tertarik kepada Han Lin dan semakin kuat keinginannya untuk mengambil anak itu menjadi muridnya. Kong Hwi Hosiang adala

ng sejak muda mempunyai kesukaan merantau, tidak menetap di dalam sebuah kuil. Dia merantau sambil mengajarkan agama Buddha, di samping itu, karena dia seorang ahli silat yang tangguh, diapun bertindak sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan. Namanya dikenal di dunia persilatan, dan selama puluhan tahun merantau dia memperdalam ilmuilmunya sehingga menjadi seorang yang sakti. Karera dia suka merantau, maka selama hidupnya, dia hanya mempunyai dua orang saja murid wanita dan muridmuridnya itu bukan lain adalah ibu kandunq Han Lin sendiri yang bemama Yang Kui Bi dan encinya, yaitu Yang Kui Lan! Memang sungguh aneh sekali

ja dia secara aneh dan kebetulan terhindar dari maut terpukul dua orang datuk sesat lalu digigit ular beracun, bahkan dia lalu mendapatkan kekebalan dalam tubuhnya terhadap racun. juga secara aneh dan tidak disengaja, guru mendiang ibunya sendiri yang lewat di tempat itu dan menolongnya! Kong Hosiang sendiri tidak pemah menduga bahwa anak yang dikaguminya dar membuat dia ingin sekali mengambilnya sebagai murid itu bukan lain adalah putera seorang di antara kedua orang muridnya! Semenjak enci adik itu selesai belajar dan berpisah darinya, Kong Hwi Hosiang sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan mereka, juga tidak tahu bagaimana keadaan kedua orang muridnya itu. Hwesio tua ini sudah mencapai suatu tingkat kehidupan di mana dia tidak terikat lagi dengan apapun. Setelah makan, dilayani sendiri oleh Liu 31 pu Setelah duduk berdua saja, berhadapan dengan nyonya rum leg dan tersenyum lebar se imana su embawa anak saya

la oleh Han Lin, Kong Hwi Hosiang minta kepada nyonya rumah untuk dapat bicara empat mata dengannya. Liu Ma memandang heran, akan tetapi ia segera menyuruh Han Lin untuk meninggalkan ruangan tamu agar ia dan tamunya dapat bicara berdua saja. Dengan patuh Han Lin mengundurkan diri .

ah, Kong Hwi Ho hwesio berkata dengan suaranya yang lembut, “Sebelumnya pinceng mengharapkan maaf apa bila apa yang hendak pinceng utarakan ini tidak berkenan di hati nyonya. Secara tidak disengaja, nasib telah mempertemukan pinceng dengan putera nyonya, dan begitu melihatnya, pinceng merasa tertarik sekali. Putera nyonya itu mempunyai darah dan tulang yang baik, berbakat sekali untuk mempe lajari ilmuilmu yang tinggi, juga kiranya akan baik kalau dia memperdalam ilmu sastera dan keagamaan untuk bekal hidupnya kelak. Pinceng tertarik sekali dan kalau nyonya merelakan dan tidak berkeberatan, pinceng akan merasa bersukur sekali untuk mengambilnya sebagai murid pinceng.” Mendengar ucapan ini , wajah Liu Ma berseri sehingga

alah hati hwesio itu. “Saya akan berterima kasih dan merasa girang sekali kalau losuhu suka mendidik Han Lin sebagai murid suhu. Akan tetapi, di manakah suhu tinggal, di kelenteng mana, dan jauhkah dari sini ?” Kong Hwi Hwesio menggeleng kepala

hingga nampak mulutnya yang ompong tanpa gigi lagi sehingga wajahnya makin mirip wajah bayi yang belum bergigi! “Omitohud pinceng tidak pernah mempunyai kelenteng, tidak pernah tinggal di suatu tempat yang tetap. Pinceng adalah seorang hwesio pengembara, nyonya.” Wanita itu mengerutkan alisnya. “Akan tetapi, baga

hu hendak mengambil anak saya sebagai murid kalau losuhu tidak mempunyai tempat tinggal? Apakah ….. apakah suhu hendak m32 pe gera me ya lau diatur se n dada . “O Hwesio tidak me

rgi mengembara pula, tidak tentu tempat tinggalnya?” Ketika hwesio tua itu mengangguk, Liu Ma se

nyatakan keberatannya. “Harap losuhu sudi mengampuni saya. Saya akan berterima kasih sekali kalau anak saya dapat menjadi murid lo suhu, akan tetapi sebaliknya, saya tidak akan dapat hidup dijauhkan darinya. Hendaknya losuhu ketahui bahwa hidup saya hanyalah untuk Han Lin seorang, bagaimana mungkin sekarang dia akan losuhu bawa pergi mengembara? Saya hanya mempunyai dia seorang, losuhu.” “Omitohud…., pinceng juga tidak ingin membuat nyonya

ng baik hati berduka. Akan tetapi, pinceng adalah seorang hwesio yang miskin dan tidak mempunyai harta secuilpun, tentu tidak dapat mengadakan tempat tinggal…..” “Ah, saya teringat, losuhu! Bagaimana ka

hingga kebutuhan kita berdua terpenuhi dan kita sama sama merasa enak dan senang? Maksud saya, losuhu tetap dapat menjadi guru anak saya, sedangkan saya dapat tetap tidak kehilangan Han Lin, tidak berjauhan darinya?” Hwesio tua itu merangkap kedua tangan depa

mitohud…..pinceng yakin bahwa hati nyonya bersih, dan maksud hati nyonya baik sekali. Akan tetapi, demi menjaga nama baik nyonya, tidak mungkin pinceng tinggal di sini. Biarpun pinceng sudah tua renta, akan tetapi nyonya adalah seorang wanita janda, maka tidak baik sekali….” Liu Ma tersenyum geli, membuat Kong Hwi

lanjutkan ucapannya dan memandang heran. “Losuhu salah paham, bukan maksud saya minta kepada losuhu untuk tinggal di sini. Akan tetapi di dekat puncak Bukit Ayam Emas di sana itu’terdapat sebuah kuil tua yang kosong dan tidak dipergunakan lagi. Kabarnya, puluhan tahun yang lalu kuil itu menjadi tempat tinggal seorang tosu, dan pertapa itu kemudian meninggal dunia di kuil dan dimakamkan di pekarangan kuil. Dan seiak itu, kuil itu tidak ada penghuninya dan rusak karena tidak terawat. Bagaimana kalau saya minta 33 Jilid II wesio itu berseri. ‘Omitohud semua. agaknya tel Ucapan hwesio tua itu bukan sekedar untuk menyenangkan ha a pendapatnya, Han Lin menyambut dengan ge

ijin kepada kepala dusun, memperbaiki kuil tu dan losuhu ting-gal di sana, mendirikan sebuah kelenteng dan dengan demikian, losuhu dapat mendidik Han Lin dan setiap saat saya dapat menjenguknya?”

Wajah h

ah digariskan dengan lurus dan tepat! Pinceng akan merasa senang sekali, nyonya, dan sebelumnya, pinceng mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaikan nyonya .”

ti Liu Ma. Ketika dia melakukan perantauan dan tiba di daerah itu, hatinya sudah merasa tertarik sekali akan keindahan alam di situ. Dia merasa dirinya sudah terlalu tua untuk mengembara Iagi, dan timbul keinginannya tinggal di daerah yang amat indah itu, untuk menghabiskan sisa hidupnya. Selain itu, juga dia ingin sekali meninggalkan ilmu-ilmunya kepada seorang murid yang berbakat, di samping apa yang telah dia ajarkan kepada Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi. Maka, dapat dibayangkan betapa senang rasa hatinya bahwa semua keinginan hatinya itu ternyata terkabul sedemikian mudahnya. Tanpa disengaja, ketika dia menikmati keindahan alam di dekat hutan bambu, dia bertemu dengan Han Lin yang segera dipilihnya sebagai calonmuridnya. Kemudian dia bertemu ibu anak itu yang dengan senang. hati hendak memperbaiki kuil tua untuk menjadi tempat tinggalnya! Semua begitu kebetulan, begitu tepat memenuhi kebutuhannya. Ketika ditany

mbira sekali ke inginan Kong Hwi Hosiang yang hendak mengangkat dia sebagai muridnya. Segera dia menjatuhkan diri berlutut didepan kaki hwesio itu dan menyebut suhu” 34 g yang kokoh. Ha mua! Pergi ja-ngan mengganggu tempatku! Ak

berkali-kali, Hwesio tua itu tertawa bergelak, dan Liu Ma juga tertawa senang karena ia percaya bahwa dibawah bimbingan seorang hwesio tua yang demikian ramah dan baik, tentu Han Lin kelak akan menjadi seorang yang berguna. Dengan demikian, tentuia akan merasa berbahagia dan puas bahwa ia telah dapat memenuhi kewajiban dengan baik. Kuil tua itu ternyata masih memiliki dindin

nya lantai dan atapnya saja yang membutuhkan perbaikan. Liu Ma menjual beberapa buah perhiasan yang ia terima dari orang tua Han Lin, dijualnya ke kota dan iapun memperbaiki kuil itu sehingga menjadi perhatian yang menggembirakan bagi para penduduk Li-bun Akan tetapi ketika perbaikan atap mulai dilakukan, terjadilah hai-hal yang mendatangkan perasaan ngeri dan takut kepada para pekerja yang terdiri dari penghuni dusun Li-bun sendiri. Memang hal-hal yang amat aneh terjadi. Begitu atap di pugar, dua orang pekerja jatuh dari atas atap dan keduanya menceritakan pengalamannya yang sama, yaitu bahwa mereka didorong oleh seorang berpakaian tosu dari atas atap. Untung mereka hanya menderita patah tulang kaki saja, tidak sampai tewas. Mula-mula, peristiwa itu masih dianggap sebagai hal yang terjadi karena kekurang hati-hatian dua orang pekerja itu, Akan tetapi ketika mereka hendak memasang atap baru, seorang pekerja tiba-tiba saja terkulai dan berkelojotan seperti orang sedang sekarat. Ketika teman-temannya datang menolong, orang itu menjadi beringas, matanya melotot, mututnya berbuih dan diapun berteriak-teriak kacau, dan suaranya terdengar parau. “Pergi kalian se

an kucekik kalian semua!” demikian orang itu berteriak-teriak dan meronta-ronta karena kaki tangannya dipegangi banyak orang. Para penduduk dusun yang masih mudah sekali dipengaruhi tahyul itu menjadi ketakutan dan segera Kong Hwi Hosiang diundang. Hwesio itu datang diikuti oleh Liu Ma dan juga Han Lin. 35 i Hosiang memasuki kuil itu dan melihat se lian, harap lepaskan saja dia,” ka ng itu dilepaskan, dia pun meloncat bangkit, ma an dada da r itu

Ketika Kong Hw

orang pekerja rebah di atas lantai, kaki tangannya dipegangi banyak orang dan semua pekerja berhenti bekerja dan merubung orang itu yang berteriak-teriak mengusir mereka, dia lalu mendekati, diikuti oleh Liu Ma yang takut-takut dan Han Lin yang terheran-heran. “Omitohud…., saudara seka

tanya dengan lembut. Para pekerja melepaskan orang itu dan cepat mundur ketakutan, khawatir kalau orang yang mereka tahu kesurupan (kemasukan roh jahat) itu akan mengamuk. Ketika ora

tanya melotot liar, mulutnya berbuih, dan dia memandang kepada Kong Hwi Hosiang lalu bertolak pinggang, sikapnya menantang! “Huh, kiranya ini biang keladinya. Hwe sio gendut tua bangka, engkau menggunduli kepala dan mengenakan jubah kuning, akan tetapi masih bertindak seme namena, mengganggu dan hendak meram-pas tempatku, ya?” Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan dep

n berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran, “Omitohud, tuduhaninu itu menjadi keba-likan dari kenyataannya. Tidak ada seorangpun manusia yang mengganggumu, dan bangunan ini sama sekali bukan menjadi tempat tinggalmu. Bangunan ini tempat tinggal manusia yang masih mempunyai badan jasmani. Engkaulah yang salah memilih tempat. Sebaiknya engkau mencari tempat yang jauh dari manusia, dan mohon ampunlah kepada Yang Maha Kasih agar engkau dapat memperoleh kebebasan kesempurnaan.” Akan tetapi, pekerja yang masih muda dan tubuhnya keka

kelihatan semakin marah. Dia mengeluarkan suara yang serak dan tidak begitu jelas, akan tetapi dia membuat gerakan seolah hendak mencekik Kong Hwi Hosiang. Melihat ini, Liu Ma yang berada di belakang hwesio itu menjadi gemetar keta-kutan, dan Han Lin memegang tangannya. 36 pi dia tidak takut, pe ap te nang, memandang wa oh, dia bangkit duduk dan me melihat bahwa pekerja i-tu sudah biasa lagi me

Anak ini juga merasa ngeri, akan teta

rcaya bahwa guru nya tentu akan mampu mengalahkan iblis yang memasuki tubuh pekerja itu. Kong Hwi Hosiang dengan sik

jah pekerja itu. Sua ranya masih lembut, namun menggetar penuh kewibawaan ketika dia berkata, “Roh penasaran! Perbuatanmu ini akan menambah dosamu dan memberatkan penderitaanmu. Pergilah engkau!” Kong Hwi Hosiang lalu membaca mantram dan menggerakkan kedua tangannya seperti mendorong dan pekerja itu mengeluarkan teriakan nyaring, lalu terkulai roboh. Akan tetapi begitu rob

mandang ke kanan kiri dengan keheranan. “Aih, apa yang telah terjadi? Kenapa aku? Dan kalian mengapa berhenti bekerja?” Setelah

nunjukkan bahwa roh penasaran yang tadi menyusup ke da lam dirinya telah pergi, teman-temannya berani menghampiri dan ada yang memberinya minum sebelum menceritakan

•••• Kong Hwi Hosiang lalu membaca mantram dan menggerakkan kedua tangannya seper ti mendorong dan pekerja itu mengeluar kan teriakan nyaring, lalu terkulai ro boh.

bahwa dia tadi kesurupan. Pekerja kuil itu bergidik, lalu meninggal kan pekerjaannya itu, palang dan tidak berani kembali lagi, dan perbuatannya ini dan beberapa orang yang merasa ketakutan

Biarkan mereka pulang kata Kong Hwi Hosiang-kepada Li Ma yang hendak menegur mereka Kalau mereka memang takut, lebih baik tidak usah’ ikut membantu dan kita mencari saja orang yang tidak takut

Demikianlah, perbaikan kuiI itu dalanjutkan dan yang bekeria adalah orang-orang yang tidak gentar terhadap gangguan roh jahat. Dan anehnya, sejak peristiwa itu, tidak ada lagi gangguan sampai pembangunan itu selesai.

Berdirilah sebuah kelenteng baru di dekat puncak itu. Dan

37 38

mulailah Kong Hwi Hosiang menyebarkan keagamaan dan kelenteng itu mulai dikunjungi orang, untuk mempelajari agama, juga untuk bersembahyang. Han Lin tinggal di ke-lenteng itu sebagai murid Kong Hwi Hosiang, dan anak yang ingin mengetahui

Han Lin pada suatu hari bertanya tentang peristiwa kesurupan yang membuat banyak orang ketakutan

Suhu, apa sih artinya peristiwa itu? Benarkah roh halus itu bias memasuki tubuh manusia

Kong Hwi Hosiang tersenyum, girang bahwa muridnya, biarpun masih kanak.-kanak, tidak takut dan tidak dicengkeram tahyul, hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang memiliki dasar watak yang kuat. “Engkau telah melihat sendiri, Han Lin. Orang itu jelas tidak berpura-pura, dan tidak pula sakit. Dia memang telah dirasuki roh penasaran yang tidak ingin kuil itu diperbaiki karena kuil itu telah menjadi tempat tinggalnya.”

“Suhu, apakah setiap orang manusia dapat dimasuki roh seperti itu?”

Kong Hwi Hosiang menggeleng kepala. “Omitohud, tidak begitu mudah bagi roh jahat untuk memasuki diri seorang manusia, Han Lin. Hanya manusia yang lemah batinnya, manusia yang percaya dan tunduk kepada kekuasaan setan, dan manusia yang berada pada saat-saat lemah batinnya seperti kalau dia sedang dikuasai nafsu, sedang marah, sedang bersedih, pendeknya dicengkeram nafsu, dialah yang seolah-olah terbuka bagi roh jahat unttk memasukinya. Sebaliknya dia yang kuat batinnya, yang tidak sedikitpun mau menyerah terhadap kekua saan nafsu, tidak tunduk terhadap pengaruh roh jahat, dia yang menyadari bahwa kedudukan manusia lebih tinggi dari pada roh-roh jahat, dia yang me-nyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kasih, tidak mungkin dapat dimasuki roh jahat.” 39

“Suhu, apakah mantram-mantram itu dapat mengusir roh jahat?” tanya pu la Han Lin.

“Mantram adalah doa keyakinan manusia terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa, namun bukan mantramnya itu yang ampuh, melainkan batin manusianya. Segala kekuatan datang dari kekuasaan Yang Maha Kuasa, kalau kita menyerah dengan penuh kepasrahan, kita akan terlindung oleh Kekuasaan itu, dan tidak ada kekuasaan gelap manapun yang akan mampu mengganggu kita .”

Dengan penuh kasih sayang , Kong Hwi Hosiang mulai mengajarkan iImu kepada Han Lin yang baru berusia tujuh tahun. Dia digembleng dengan dasar ilmu silat tinggi, dilatih cara menghimpun tenaga sinkang tanpa paksaan agar tidak menghambat pertumbuhan tubuhnya, juga dia disuruh membaca banyak kitab kuno dan kebiasaan membaca ini dengan sendirinya memperdalam pengetahuannya tentang sastra. Dan seperti yang dapat nampak oleh hwesio tua itu pada pertemuan pertama, benar saja bahwa Han Lin memiliki bakat yang amat baik dalam ilmu silat. Dia memiliki keluwesan gerakan, kelincahan dan mudah menangkap inti suatu gerakan.

Biarpun Han Lin tinggal di kelenteng, namun Liu Ma tidak merasa kehilangan. Ia dapat bertemu dengan anak itu kapan saja ia kehendaki dan sering ia datang berkunjung, bahkan Han Lin selalu mendapat perkenan suhunya setiap kali dia hendak turun bukit menengok ibunya.

Tiga tahun kemudian, pada suatu pagi, Kong Hwi Hosiang sudah keluar dari kelenteng dan berjalan-jalan ke puncak. Usianya sudah tujuhpuluh tiga tahun lebih, dan biarpun dia masih nampak segar, namun harus diakuinya bahwa usia telah menggerogoti kekuatan tubuhnya. SegaIa sesuatu di permukaan bumi ini akhirnya akan menyerah kalah terhadap waktu, pikIirnya sambil tersenyum ketika dia melangkah mendaki puncak bukit. Akan tetapi dia tidak pernah mau 40

menyerah terhadap waktu, karena dia mengenal waktu. Baginya yang ada hanyalah saat ini, sekarang, tidak mau dipengaruhi waktu lalu ataupun waktu mendatang. Waktu lalu hanya mendatangkan kenangan, waktu mendatang hanya menimbulkan bayangan. Waktu lalu sudah mati dan waktu mendatang hanya mimpi, Saat ini yang penting, saat ini yang menentukan.

Ketika akhirnya tiba di puncak, dia melihat muridnya sudah berada dipuncak pula, dan agaknya telah mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar. Akan tetapi muridnya itu sedang menggunakan sebatang ranting dan menggerak-gerakkan ranting itu seperti orang bersilat. Bukan gerakan silat dasar seperti yang dia ajarkan, melainkan gerakan silat yang membuat hwesio tua itu terbelalak. Tentu saja dia mengenal gerakan itu, karena itu adalah satu di antara ilmu silatnya sendiri yang dia andalkan. Kong-in Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan)! ltulah gerakan yang dilakukan Han Lin, walaupun hanya sepotong-sepotong dan tidak sempurna! Bagaimana mungkin anak itu dapat melakukan gerakan itu? Pada hal , dia ingat benar bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu tongkat itu, walaupun sedikit, dan dia tidak percaya di daerah itu ada yang mampu memainkan ilmu silat-tongkat itu.

Ketika Han Lin kebetulan membalikkan tubuhnya dan melihat gurunya, segera dia melepaskan ranting itu dan berlari menghampiri kakek itu. “Suhu”…,! Sepagi ini suhu sudah mendaki ke puncak?”

Kong Hwi Hosiang menghapus peluh dari dahinya dengan ujung lengan bajunya yang lebar, tersenyum, Omi tohud.. ..kalau usia sudah tua mendaki sebegini saja sudah berkeringat, Han Lin apakah engkau sudah cukup mengumpulkan kayu bakar?”,

“Sudah, suhu. Itu sudah teecu (murid) ikat semua. Dia menuding ke arah ranting-ranting kering seikat besar. 41

Bagus, dan pinceng tadi melihat engkau bersilat dengan ranting kayu. Dari mana engkau mempelajarinya? Tanya hwesio itu sambil lalu, seolah tidak menaruh perhatian. Wajah anak itu berubah kernerahan dan dia tersenyum.

”Aih, suhu, teecu hanya main-main sembarangan saja……”

“Han Lin, gerakanmu tadi bukan main-main, melainkan semacam ilmu tongkat. Nah, katakan saja sejujurnya, dari siapa engkau mempelajari ilmu tongkat itu? Atau kalau engkau meniru gerakan .orang lain, siapa yang kaulihat memainkan ilmu tongkat itu?”

Han lin nampak salah tingkah dan diam-diam hwesio tua itu merasa heran. Belum pernah selama tiga tahun ini dia melihat muridnya bersikap seperti itu, penuh keraguan, penuh kepanikan.

“Teecu…… ah, teecu “

“Han Lin, engkau tentu masih ingat bahwa di antara kita tidak pernah ada rahasia, dan bahwa amat tidak baik untuk berbohong, apa lagi terhadap pinceng , bukan?”

Kini Han Lin mengambil sikap tegas. Dengan berani dia menentang lagi sinar mata suhunya. “Teecu ingat, dan teecu tidak akan pernah melanggarnya, suhu. Akan tetapi teecu juga ingat bahwa seorang laki-laki haruslah selalu memegang teguh janjinya. Mengingkari janji merupakan perbuatan yang pengecut, dan teecu yakin bahwa suhu tidak ingin melihat teecu melanggar janji.

Hwesio itu mengangguk-angguk. Anak ini memang hebat, pikirnya. Dan kepada siapa lagi anak ini berjanji, kalau bukan kepada dia sendiri atau kepa da ibunya? Hanya mereka berdua sajalah yang agaknya patut menerima janji Han Lin. Dan agaknya memang terdapat suatu rahasia antara Han Lin dan ibunya itu. Kini dia mulai melihat betapa pandang mata nyonya janda itu terhadap puteranya, selain pandang penuh kasih sayang, juga pandang yang mengandung 42

penghormatan! Pasti ada suatu rahasia di antara mereka, dan rahasia itu pula yang menyangkut gerakan ilmu tongkat tadi !

“Sudahlah, Han Lin, kalau engkau tidak.dapat menceritakan kepada pinceng, tidak mengapa, Memang seorang laki-laki harus memegang teguh janjinya, karena itu mengenai kehormatan. Nah, mari kita kembali ke kelenteng.”

Kong Hwi Hosiang yang bijaksana tidak pernah bertanya lagi kepada muridnya tentang ilmu tongkat itu, akan tetapi ketika dia mendapat. kesempatan bertemu dengan Liu Ma dan-bicara empat mata, diapun mengajukan pertanyaan kepada Liu Ma.

Dengan pertanyaan pinceng ini. Beberapa pekan yang lalu, pinceng memergoki Han Lin bermain silat tongkat di puncak bukit dan pinceng heran sekali mengenal ilmu tongkat itu. Ketika pinceng bertanya dari mana dia mempelajari ilmu silat tongkat itu, dia tidak berani mengaku, mengatakan bahwa dia tidak boleh melanggar janjinya. Nah, sekarang pinceng mohon kepadamu, nyonya, agar suka berterus terang kepada pinceng. Pinceng tahu bahwa nyonya amat menyayangnya, juga pinceng menyayangnya. Akan tetapi, sungguh tidak baik kalau terdapat rahasia di antara kita, seolah ada jurang yang memisahkan. Pula, pinceng yakin bahwa nyonya tentu percaya kepada pinceng

Liu Ma menundukkan mukanya, Terjadi perang di dalam hatinya. Tentu saja ia percaya sepenuhnya kepada Kong Hwi Hosiang. Pendeta ini selama tiga tahun ini telah menunjukkan bahwa dia seorang yang berhati baik, bijaksana dan penuh belas kasihan kepada manusia lain.

Sudah banyak sekali orang sakit yang diobatinya, dan dia tidak pernah mau menerima imbalan apapun. Juga menurut pengakuan Han Lin, hwesio itu amat sayang kepada Han Lin, dan anak itupun memperoleh banyak ilmu darinya. Ia tidak akan khawatir lagi tentang pendidikan.anak itu! Akan tetapi, haruskah ia membuka rahasia anak itu kepada hwesio ini? Ia 43

masih bimbang ragu.

“Memang terdapat rahasia besar dalam diri Han Lin, losuhu. Akan tetapi perlukah losuhu mengetahuinya? Rahasia itu selama ini terpendam di dalam lubuk hati kami berdua dan sudah kami anggap terkubur. Apa gunanya kalau saya ceritakan kepada losuhu? Dan apa perlunya pula losuhu mengetahui rahasia pribadi Han Lin? Bukankah selama ini dia menjadi murid yang baik dan patuh?

‘Omitohud, pinceng bukanlah orang yang suka usil dan mencampuri urusan orang lain, bukan pula orang yang suka mengetahui urusan pribadi orang lain. Akan tetapi dalam urusan yang menyangkut pribadi Han Lin terdapat sesuatu yang pinceng yakin ada hubungannya dengan pinceng. Sebaiknya kalau pinceng katakan terus terang menga pa tiba-tiba pinceng ingin mengetahui latar belakang kehidupan atau rahasia Han Lin, nyonya Liu. Ketahuilah bahwa selama hidupku, pinceng hanya mempunyai dua orang murid dan hanya kepada mereka berdua itu saja pinceng mengajarkan ilmu tongkat pinceng. Dan nyonya tentu merasa heran sekali melihat betapa pinceng melihat Han Lin memainkan ilmu tongkat itu, walaupun tidak sempurna. Nah, pinceng yakin bahwa anak itu mempunyai hubungan, atau setidaknya pernah melihat, seorang di antara kedua orang murid pinceng itu.”

Liu Ma memandang heran. Usia wanita ini sekitar limapuluh tahun, namun ia nampak lebih tua karena selama ini ia mengalami hal-hal yang menyedih kan dan menegangkan. “Losuhu, bolehkah saya mengetahui nama kedua orang murid losuhu itu?”

“Tentu saja boleh. Mereka adalah dua orang bersaudara, enci dan adik, puteri mendiang Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri Utama Kaisar Ben’g Ong yang melarikan di kebarat. Mereka bernama Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi dan eh, nyonya, ada apakah?” Kong Hwi Hosiang memandang penuh 44

perhatian melihat betapa wanita itu memandang ke padanya dengan mata terbelalak lebar dan mukanya menjadi pucat

“Nyonya Liu, tenanglah. Ada apakah?”

Akan tetapi wanita itu kini menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan ia terisak-isak. Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan depan dada dan berkemak-kemik, membiarkan wanita itu menangis dulu sepuasnya untuk mencairkan sesuatu yang membeku dan mengganjal dihatinya.

Setelah hatinya terasa ringan karena tangisnya akhirnya Liu Ma dapat menghapus air matanya dan dengan mata kemerahan ia memandang kepada hwesio itu. “Losuhu, ternyata memang benar dugaan losuhu. Ketahuilah, losuhu, bahwa sebenarnya Han Lin adalah Pangeran Sia Han Lin yang Jolos dari istana ketika “istana diserbu musuh. Ayahnya adalah mendiang Sia Su Beng dan ibunya adalah mendiang Permaisuri Yang Ku i Bi…!!!

“Omitohud !” Kong Hwi Hosiang berseru keheranan, bukan hanya heran mendengar bahwa Han Lin ternyata putera kandung muridnya sendiri, Yang Kui Bi, akan tetapi juga heran mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi isteri pemherontak Sia Su Beng yang telah mengangkat diri menjadi kaisar akan tetapi kemudian kekuasaannya dirobohkan dan dia tewas da lam pertempuran. “Jadi kalau begitu, Han Lin adalah putera murid pinceng sendiri . . ? Akan tetapi, dia telah ikut denganmu, bagaimana dapat memainkan ilmu tongkat i-tu?

Kami melarikan diri dari istana ketika Han Lin berusia lima tahun, losuhu. Agaknya dia masih ingat kepada ibunya kalau ibunya berlatih silat dan sekarang, setelah dia belajar silat ke pada losuhu, dia mencoba untuk memainkan ilmu silat yang pernah dilihatnya dimainkan ibunya itu.”

“Omitohud…… tidak salah lagi, benar seperti yang nyonya katakana itu” Dia termenung dan semakin kagum. 45

Tentu Han Lin sudah mengetahui bahwa dia adalah bekas seorang pangeran! Akan tetapi anak itu begitu panda i membawa diri, bahkan sikapnya demi kian hormat dan sayang kepada Liu Ma, memegang janji dan sama sekali tidak nampak congkak.

“Sebelum ayah ibunya maju perang, mereka menitipkan Han Lin kepada saya, losuhu. Saya adalah pelayan pengasuh keluarga itu dan saya yang mengasuh Han Lin sejak kecil . Saya menga jak Han Lin melarikan diri mengungsi dan tinggal di dusun Li-bun ini, dusun yang menjadi kampung halaman saya. Dengan jelas Liu Ma lalu menceritakan semua yang telah dialaminya semenjak ia membawa Han Lin melarikan diri dari kota raja Tiang-an dan mengungsi ke dusun itu.

Hwesio itu menghela napas panjang, “Betapa aneh jalan hidup anak itu .. Tanpa disengaja seolah dia dipertemukan dengan pinceng. Engkau telah melaksanakan tugas dengan baik, nyonya. Sebaiknya, kita biarkan saja keadaan seperti sekarang, tidak perlu memberitahu kepada Han Lin bahwa pinceng telah mengetahui riwayatnya.

Demikianlah, mulai hari itu, dengan tekun Kong Hwi Hosiang mengajarkan ilmu silat tongkat Hong-in Sin-pang kepada Han Lin. Anak ini tentu saja girang bukan main mengenaI ilmu tongkat seperti yang dahulu sering dia lihat dimainkan ibunya, akan tetapi tentu saja ilmu ini lebih lengkap dan lebih dahsyat. Disamping menggembleng muridnya dengan ilmu silat, juga Kong Hwi Hosiang lebih tekun mengajarkan sastra dan terutama tentang inti pelajaran agama. Dengan dongeng, perumpaan dan contoh-contoh kehidupan para bijaksana jaman dahulu, Kong Hwi Hosiang berusaha untuk menghapus dendam dari hati muridnya itu .

“Ingat baik-baik, Han Lin. Musuh utama bagi seorang pendekar adalah perasaan dendam. Dan perasaan ini memang amat sukar untuk dikalahkan, karena dendam timbul dari berkembangnya rasa ciri. Begitu rasa diri disinggung dan 46

Terasa dirugikan, disakiti, dihina atau dibikin sedih karena kehilangan, maka dendam akan timbul meracuni hati dan pikiran. Dan kalau dendam sudah mencengkeram hati dan piki ran, maka tindakanmu tidak mungkin lurus melalui jalan yang harus dilalui seorang pendekar lagi . Dendam akan menyeretmu ke arah perbuatan yang semata-mata didorong kebencian dan sakit hati, dan kalau sudah begitu, sama sekali sudah tidak adil dan tidak benarlagi . “

Mendengar ucapan gurunya itu, Han Lin teringat akan kematian ayah bundanya. Seringkali, kalau dia terkenang akan kematian mereka, timbul dendamnya kepada Kaisar, bahkan kepada Kerajaan Kini, mendengar ucapan gurunya dia mengerutkan alisnya. “Akan tetapi, suhu, kalau kita tidak membenci penjahat, bagaimana kita akan membasmi mereka yang jahat? Bukankah menurut dongeng sejak jaman dahulu, orang bijaksana dan para pendekar selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan? Kalau kita tidak boleh mendendam dan membenci penjahat, bagai mana kita dapat bertindak terhadap mereka?”

“Omitohud….! Kalau hati sudah diracuni dendam, bagaimana mungkin kita membela keadilan? Dendam dan kebencian menghapus keadilan, karena perbuatan yang didasari kebencian, bagaimana mungkin dapat adil lagi? Kebencian melenyapkan pertimbangan dan satu-satu nya keinginan hanyalah melampiaskan dendam kebencian.”

“Kalau begitu, kita tidak boleh memusuhi siapapun, suhu?”

“Omitohud, pertanyaan itu tepat sekali. Kita memang tidak boleh memusuhi siapapun! Yang ditentang seorang pendekar bukanlah manusianya, melainkan kejahatannya. Perbuatan jahat sewenang-wenang yang mengganggu orang lain patut kita tentang, akan tetapi dasarnya bukan kebencian terhadap siapapun. Mengertikah engkau?”

Melihat anak berusia belasan tahun itu masih juga belum mengerti betul, perlahan-lahan Kong Hwi Hosiang lalu 47

memberi penjelasan tentang dendam kembencian.

Dendam kebencian memang membuat orang kehilangan pertimbangan lagi. Dendam kebencian merupakan nafsu yang selalu hanya ingin mendapat kepuasan, dan kepuasan dari nafsu dendam hanyalah membalas dan mencelakai orang yang dibenci dan didendamnya. Dendam timbul karena adanya aku yang merasa dirugikan. Aku dipukul balas memukul, aku di benci balas membenci, bahkan biasanya, pembalasan harus lebih berat, lebih hebat dari pada penyebab dendam. Maka tImbullah dendam mendendam, balas membalas yang tiada berkesudahan, kebencian yang mendarah-daging dan terjadilah perang, pembunuhan, pembantaian dan segala macam kekejaman yang tidak layak dilakukan oleh manusia, mahluk yang katanya paling sempurna dan tinggi derajatnya itu. Mata kita selalu ditujukan kepada orang lain, menilai perbuatan orang lain sehingga segala kesalahan orang lain, betapapun kecil pun, akan nampak oleh kita . Kalau saja kita suka membalikkan pandangan kita, mengamati diri sendiri, akan nampak bahwa kita ini tidaklah lebih baik dari pada orang lain yang kita anggap jahat atau buruk itu. Pengamatan ini akan menyadarkan kita bahwa kitapun bukan manusia sempurna, bahwa kitapun tidak lepas dari pada dosa. Kalau ki ta sudah merasa kotor, maka melihat orang lain kotor, tentu kita tidak akan memandang jijik. Kalau kita sudah melihat jelas bahwa kita sendiri penuh dosa , maka melihat orang lain berdosa, tentu akan mudah sekali bagi kita untuk memaafkan orang lain. Kita tidaklah lebih baik dari orang lain, dan dunia ini menjadi kacau balau bukan hanya karena ulah orang lain, melainkan karena ulah kita bersama! Kita sendiri , masing-masing dari kita ikut bertanggung jawab. Hanya orang yang suka mengamati diri sendiri, hanya orang yang tahu bahwa diri nya kotor timbul usaha dalam dirinya untuk membersihkan diri dari kekotoran itu. Sebaliknya, orang yang hanya melihat kekotoran pada diri orang lain dan merasa diri nya sendiri bersih, orang seperti ini tidak akan pernah mau mela kukan 48

usaha membersihkan dirinya dari kekotoran dan diluar kesadarannya, dia terus menumpuk kekotoran dalam dirinya sendiri.

Kalau ada orang memukul kita lalu kita membalas dan memukulnya, lalu apa bedanya antara kita dan orang itu? Kalau ada orang membunuh, lalu kita balas membunuh, berarti kita semua sama-sama menjadi pembunuh Kalau orang menipu kita dan kita balas menipu, kita sama-sama menipu. Dendam membuat kita lupa diri, kehilangan pertimbangan, kehilangan keseimbangan dan tidak tahu membedakan lagi mana benar dan mana tidak benar.

Waktu bergerak seperti siput. Kalau kita perhatikan, merangkak lambat sekali, akan tetapi kalau tidak kita perhatikan, tahu-tahu sudah jauh! Kalau kita tidak memperhatikan, bertahun tahun lewat seperti beberapa hari saja rasanya, sebaliknya kalau kita menanti sesuatu dan selalu memperhati kan waktu, beberapa jam rasanya seperti beberapa tahun.

Lima tahun lewat bagaikan terbang saja semenjak Kong Hwi Hosiang mendengar tentang riwayat Han Lin dari Liu Ma. Dia menggembleng muridnya itu dengan penuh kesungguhan, dan Han Lin juga belajar dengan tekunnya sehingga kini, Han Lin telah menjadi seorang remaja berusia limabelas tahun yang gagah tegap dan memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Berkat pertemuan hawa beracun dingin dan panas, lalu ditambah racun ular senduk kepala putih, di dalam tubuhnya terkandung kekuatan yang aneh, dan tubuhnyapun kebal terhadap racun. Semua ini dimanfaatkan oleh Kong Hwi Hosiang yang mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya, termasuk Hong-in Sin pang, ilmu silat tangan kosong Pat-kwa kun, dan juga ilmu menghimpun tenaga sakti Im-yang Sin-kang. Tentu saja karena dia masih amat muda, biarpun dia sudah menguasai semua ilmu itu dengan baik sekali, namun latihannya masih belum matang, apa lagi dia masih belum 49

mempunyai pengalaman bertanding dengan orang lain.

Kalau Han Lin tumbuh semakin besar dan semakin kuat, sebaliknya Kong Hwi Hosiang menjadi semakin tua dan semakin lemah. Proses ketuaan ini melanda seluruh umat manusia di dunia ini. Tidak ada seorangpun manusia, betapapun kuatnva, yang akhirnya tidak tunduk kepada ketuaan dan kelemahan. Demikian pula Kong Hwi Hosiang. Dalam usia yang hampir delapanpuluh tahun, dia mulai lemah walaupun semangatnya tidak pernah nampak merosot. Wajahnya masih nampak segar, senyumnya masih selalu membuat wajahnya berseri. Namun, di waktu dia mengajak Han Lin berlatih silat, muridnya itu melihat betapa gerakan gurunya kini semakin lambat dan tenaganyapun berkurang, terutama tenaga otot.

Pada suatu pagi yang cerah! Seperti biasa, Han Lin sudah sejak subuh bangun dari tidurnya. Gurunya mengajar kanbahwa mengawali hari sebaiknya dimulai dengan bangun yang pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, pada waktu ayam Jantan berkokok. Sejak pagi tadi, Han Lin telah bangun tidur, berlatih si]at lalu mandi dan kini dia sudah sibuk membantu dua orang hwesio lain yang sibuk di dapur. Sudah dua tahun ini, di kelenteng itu terdapat dua orang hwesio lain, pendatang dari lain tempat yang menetap di situ menjadi pembantu Kong Hwi Hosiang. Cun Hwesio dan Kun Hwesio adalah dua orang hwesio berusia limapuluhan tahun yang rajin. Dari dua orang hwesio ini, Han Lin juga mendapatkan dua macam iImu yang amat berguna baginya. Biarpun kedua orang hwesio itu tidak memiliki ilmu silat yang terlalu tinggi, namun Cun Hwe sio adalah seorang ahli gin-kang sehingga dalam hal ilmu berlari cepat dan berlonca tinggi , dia masih lebih lihai di banding kan Kong Hwi Hosiang sekalipun. Dan Kun Hwesio adalah seorang hwesio yang memiliki keahlian dalam hal ilmu menolak dan mengusir setan juga pandai mempergunakan kekuatan sihir. Dari kedua orang hwesio ini, yang merasa sayang pula kepada Han Lin, pemuda ini 50

menerima gemblengan.

Melihat persediaan kayu bakar menipis, tanpa diperintah lagi Han Lin lari keluar dari dapur dan menuruni puncak menuju ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dia tidak tahu betapa tak lama setelah dia meninggalkan kuil, muncul tiga orang laki-laki berusia antara limapuluh sampai enampuluh tahun di’ pekarangan kelenteng itu.

Seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek gendut seperti katak, mukanya kuning seperti dicat, yang tertua di antara mereka, berseru dan suaranya parau lantang seolah menggetarkan atap kelenteng itu.

‘Hei ! , para hwesio penghuni kelenteng! Keluarlah kalian, kami ingin .bicara!” Sikap dan kata-katanya sungguh kasar memerintah, tidak memakai tata susila. Adapun dua orang temannya yang juga berdiri di situ, hanya menunggu dengan sikap congkak. Seorang di antara mereka juga gendut pendek bermuka hitarn, adapaun orang ke dua tinggi kurus bermuka putih dan usia mereka limapuluh lebih, agak lebih muda dibandingkan si gendut muka kuning.

Mendengar teriakan itu, Cun Hwesio dan Kun Hwesio bergegas keluar dan mereka berdua terheran-heran melihat tiga orang asing yang berdiri di pekarangan kelenteng itu. Akan tetapi sebagai pendeta-pendeta yang sopan dan lembut, mereka cepat mengangkat kedua tangan depan -dada member! normat, dan Cun Hwesio menyambut dengan kata-kata halus.

“Omitohud…., siapakah sam-si (anda bertiga) dan ada keperluan apa kiranya berkunjung ke kelenteng kami yang buruk?

Si gendut muka kuning menyeringai. “Hemm, kami ingin bicara dengan ketua kelenteng. Siapa di antara kalian yang menjadi ketua kelenteng ini?”

“Ketua kami sedang bersembahyang dan bersamadhi,” 51

jawab Cun Hwesio.

“Ha-ha-ha, para hwesio gundul ini memang orang-orang pemalas. Selalu menggunakan doa dan samadhi sebagai alasan, pada hal itu tidur mendengkur, ha-ha-ha!” Dua orang iainnya juga ikut tertawa. Cun Hwesio saling pandang dengan Kun Hwesio akan tetapi mereka masih bersabar.

“Om i tohud, pinceng tidak tidur, sudah bangun sejak pagi tadi,” tiba-tiba terdengar suara ketua mereka, membuat kedua orang hwesio pembantu itu bernapas lega. Tiga orang itu kini berhadapan dengan Kong Hwi Hosiang yang ber topang pada tongkat bambu ular kuningnya. Karena yang berdiri paling dekat dengannya adalah laki-laki gendut bermuka hitam arang, Kong Hwi Hosiang bertanya sambil memandang kepadanya. “Siapakah sam-wi dan kepentingan apakah yang membuat sam-wi datang berkunjung ?’

Si gendut muka hitam arang itu segera memperkenalkan diri dengan sikap angkuh, “Aku disebut orang Hek-bin Mo-ong!”

“Omi tohud !” Kong Hwi Hosiang berseru heran dan memandang kepada mereka bertiga bergantian. “Kalaubegitu, pinceng berhadapan dengan Sam Mo-ong (Tiga Raja IbIis)? Akan tetapi, pinceng pernah berjumpa dengan Hek-bin.

Mo-ong dan seingat pinceng, Hek-bin Mo-ong adalah seorang yang bertubuh tinggi besar tidak seperti engkau yang bertubuh pendek.

‘Hwesio sombong! Kaukira tubuhmu itu tinggi ramping? Engkau pun tidak banyak bedanya dengan aku, pendek dan gendut!” Hek-bin Mo-ong berkata marah.

“Omi tohud !” Kong Hwi Hosiang yang memang biasanya selalu tersenyum, kini tertawa gembira. “Bagaimanapun juga, pinceng pernah bertemu dengan Sam Mo-ong dan jelas mereka itu bukan sam-wi.” 52

“Hwesio, ketahuilah bahwa memang kami bukan Sam Mo-ong. Akan tetapi Sam Mo-ong adalah guru-guru kami bertiga. Aku disebut orang Kwi-jiauw Lo-mo (iblis Tua Cakar Setan) , dan aku murid mendiang suhu Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa).”

“Dan aku disebut Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih), guruku adalah mendiang Siauw-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Tertawa),” kata orang yang tinggi kurus muka putih kapur dengan mulut mewek-mewek seperti hendak menangis. Sungguh aneh orang yang mukanya seperti selalu menangis ini menjadi murid Raja Iblis Muka Tertawa, yang selalu tertawa itu.

“Mendiang guruku adalah Hek-bin, Mo-ong, dan untuk menghormati beliau, akupun menggunakan nama Julukan guruku itu!” kata yang gendut muka hitam arang.

“Omitohud, sekarang pinceng mengerti. Kirahya sam-wi adalah murid-murid Sam Mo-ong, diam-diam Kong Hwi Ho-siang merasa terkejut dan heran. Kalau dia tidak salah ingat akan cerita muridnya, dua orang aneh yang pernah menyerang muridn yaitu agaknya Hek-bin Mo-ong dan Pek-bi-n Mo-ong, dua orang di antara mereka bertiga itu. Dan mereka semua mengaku murid-murid Sam Mo-ong . Akan tetapi, kenapa ilmu kepandaian mereka demikian hebat, me lebihi tingkat Sam Mo-ong yang pernah dikenal kepandaiannya?!

“Hwesio tua , siapakah engkau dan apakah engkau ketua kelenteng ini?” tanya Kwi-jiauw Lo-mo.

Kong Hwi Hosiang tidak mau memperkenalkan namanya karena bagaimanapun, namanya sudah dikenal didunia persilatan dan dia tidak ingin dikenal tiga orang ini . “Pinceng memang pengurus kelenteng ini bersama dua orang saudara pinceng ini. Kami bertiga pengurus kelenteng ini. Akan tetapi, ada kepentingan apakah sam-wi datang berkunjung?” 53

“Hwesio tua, kami bertiga membutuhkan kelenteng ini, maka kami ha rap kalian bertiga suka pergi meninggalkan kelenteng ini. Kami memerlukan tempat dan kelenteng ini memenuhi syarat,” kata Kwi-jiauw Lo-mo tanpa sungkan-sungkan lagi.

Cun Hwesio dan Kun Hwesio mengerutkan alisnya, akan tetapi Kong Hwi Hosiang bersikap tenang dan tetap sabar. “Tiga orang sahabat yang baik, kalau kalian bertiga hendak tinggal di kelenteng ini sebagai tamu kami, silakan . Dibagian belakang masih terdapat kamar-kamar yang boleh samwi tempati. Kami selalu menerima tamu dengan hati dan tangan terbuka ,”

“Hemm, kami tidak ingin menjadi tamu, melainkan ingin mengambil kelenteng ini sebagai tempat tinggal kami. Kalian bertiga harus pergi dari sini, sekarang juga !”

“Omi tohud , kenapa sam-wi’ bersikap begini? Kelenteng ini bukan milik kami, melainkan milik penduduk dusun Li – bun, kami bertiga hanya sekedar menjadi pengurus kelenteng “

“Hwesio tua, karena melihat kalian adalah hwesio-hwesio, maka kami masih berlaku ramah dan lembut dan dengan baik-baik meminta kalian pergi. Apakah kalian menghendaki kami bersikap keras dan melempar kalian bertiga keluar dari tempat InI? bentak Pek-bin Mo-ong yang selalu berwajah muram.

“Omi tohud, kiranya kalian ini bukan hanya manusia-manusia yang menggunakan nama julukan iblis, melainkan iblis sendiri yang menyamar manusia . Jahat sekali ! bentak Cun Hwesio yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi sambil menudingkan telunjuknya kearah muka Pek-bin Mo-ong. Sementara itu, Kun Hwesio yang juga sudah merasa penasaran sekali, diam-diam mengerahkan kekuatan sihirnya dan melangkah maju

“Hei !, kalian bertiga murid Sam Mo-ong! teriakan Kun Hwesio ini melengking penuh wibawa, membuat tiga orang itu 54

mau tidak mau terpaksa menengok dan memandang kepadanya. Kun .Hwesio menggerakkan kedua tangannya ke atas lalu dihadapkan kepada mereka sambil berseru lagi, kini suaranya menggetar kuat, “Kalian bertiga berlututlah!”

Terjadi keanehan. Tiga orang yang.tadinya bersikap bengis dan galak itu, tiba-tiba saja menekuk kedua lutut kaki mereka dan mereka berlutut menghadap Kun Hwesio! Biarpun mereka bertiga kelihatan terkejut dan heran, terbelalak, namun mereka tetap saja berlutut dengan sikap hormat. Kalau saja Kong Hwi Hosiang dan kedua orang pembantunya merupakan orang-orang yang mencari kemenangan, ketika tiga orang itu sedang berlutut, tentu akan mudah sekali menyerang dan merobohkan. mereka. Akan tetapi, Kong Hwi Hosiang dan dua orang pembantunya adalah tiga orang pendeta yang menaati hukum agama mereka. Mereka memang tidak meninggalkan kewajiban membela diri, namun mereka sama sekali tidak berani melanggar pantangan membunuh. Membunuh hewanpun mereka pantang, apa lagi membunuh manusia . Selain hukum agama, juga mereka tidak mau melanggar hukum tak tertulis dari para pendekar yang pantang menyerang lawan yang tidak dapat melawan. Melihat betapa tiga orang itu berada di bawah pengaruh kekuatan sihir dari Kun Hwesio, Kong Hw i Hosiang laIu berkata lembut.

“Nah, ha rap kalian pergi dan jangan mengganggu kami lagi.”

Akan tetapi, tiga orang datuk itu telah memiliki tingkat kepandaian tinggi dan merekapun memiliki sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat. Kalau tadi mereka dapat dipengaruhi kekuatan sihir Kun Hwesio, hal itu adalah karena mereka sama sekali tidak menyangka dan mereka tidak bersikap menyambut serangan kekuatan sihir itu. Hanya sebentar mereka terpengaruh dan ucapan lembut Kong Hwi Hosiang telah menyadarkan mereka kembali. Hek-bin Mo-ong yang gendut bermuka hi tam masih berlutut, akan tetapi matanya terangkat 55

ke atas dan dia melirik ke arah Kun Hwe¬sio yang tadi membentak agar mereka berlutut. Dia tahu bahwa hwesio itu yang menyerang dengan sihir, maka tiba tiba saja, kedua tangannya yang pendek besar itu didorongkan ke arah Kun Hwe¬sio dan dia mengeluarkan bentakan nyaring.

“Hyaaaaahhhh … ‘.!”

Pada detik berikutnya, Kwi-jiauw Lo-mo telah meloncat dan menyerang Kong Hwi Hosiang dengan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sepasang cakar setan yang telah disambungkan dengan kedua tangannya, dan Pek-bin Mo-ong juga sudah menyerang Cun Hwesio. Tentu saja kedua orang hwesio itu tidak sempat nenolong Kun Hwesio yang diserang oleh si muka hitam.

“Desss….! ! Tubuh Kun Hwesio terlempar ke belakang ketika terkena hantaman kedua telapak tangan Hek-bin Mo-ong. Memang dalam.hal iImu silat, dua orang hwesio pembantu itu kalah jauh di bandingkan para penyerang itu yang kesemuanya adalah datuk-datuk sesat yang tentu saja amat lihai. Begitu terkena hantaman kedua tangan Hek-bin Mo-ong, tubuh Kun Hwesio terbanting ke ras dan tubuh itu kin? menggigil kedinginan, lalu tubuh itu menjadi kaku dan diapun tewas seketika karena darah di tubuhnya menjadi beku!

Tidak seperti Kun Hwesio, Cun Hwesio yang ahli gin-kang tidak mudah dirobohkan Pek-bin Mo-ong. Biarpun si kurus muka putih kapur itu menghujankan serangan, namun dengan lincah sekali Cun Hwesio dapat berloncatan keSana sini dan selalu dapat menghindarkan diri dari semua serangan itu! Tubuhnya bagaikan seekor burung walet saja, gerakannya ringan dan cepat berkelebatan mengejutkan Pek-bin Mo-ong yang mengira bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang amat tinggi. Melihat ginkang nya, tentu hwesio ini jauh lebih lihai darinya, Akan tetapi, ketika diserang bertubi-tubi itu Cun Hwesio hanya mengelak saja tak pernah menangkis apa lagi 56

balas menyerang, Pek-bin Mo-ong dapat menduga bahwa hwesio ini hanya ahli gin-kang saja akan tetapi bukan ahli silat tinggi. Maka diapun menyerang terus dengan gencar.

Yang mampu mengimbangi serangan lawan hanyalah Kong Hwi Hosiang. Dengan tongkat bambunya, hwesio tua renta ini ternyata masih tangguh bukan main. Ilmu tongkatnya. Hong-in Sin-pang membuat sepasang cakar setan di tangan Kwi -jiauw Lo-mo tak pernah berhasil me ngenai sasaran, bahkan hwesio tua itu membalas tak kalah dahsyatnya, membuat Kwi-jiauw Lo-mo harus berhati-hati. Tak disangkanya bahwa hwesio tua itu demikian lihainya. Kalau saja dia tahu bahwa yang dilawannya adalah Kong Hwi Hosiang, tentu dia tidak akan merasa heran dan tidak berani memandang rendah.

Hek-bin Mo-ong tertawa melihat lawannya yang pandai sihir tadi telah tewas sedemikian. mudahnya di tangannya. Dia melihat betapa lawan Pek-bin Mo-ong memiliki ginkang istimewa, akan tetapi diapun tidak bodoh. Melihat hwesio itu hanya berloncatan ke sana sini tanpa membalas, diapun dapat menduga bahwa hwesio itu hanya pandai gin-kang saja namun tidak memiliki ilmu silat yang akan membahayakan rekannya. Sebaliknya, dia melihat Kwi-jiauw Lo-mo agak repot menghadapi Kong HwiHosiang, maka diapun meloncat ke depan membantu rekan ini mengeroyok Kong Hwi Hosiang..

Tentu saja Kong Hwi Hosiang semakin repot. Melawan Kwi-jiauw Lo-mo saja, dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengimbanginya, apa lagi dike royok oleh Hek-bin Mo-ong yang memiliki kepandaian setingkat dengan datuk pertama itu. Dia sudah tua, tenaganya sudah banyak berkurang, dan napasnya juga sudah tidak setahan dahulu. Namun, hwesio tua ini memang hebat. Karena ilmu kepandaiannya sudah matang, sudah mendarah daging, biar dikeroyok dua orang datuk yang demikian tangguhnya, dia masih mampu membela diri dan tongkatnya yang berbentuk ular kuning dari bambu yang khas itu selalu dapat menangkis 57

sepasang cakar setan Kwi-jiauw Lo-mo dan pukulan tangan dingin Hek-bin Mo-ong.

Sampai belasan jurus, Cun Hwesio masih mampu menghindarkan diri dari serangan Pek-bin Mo-ong yang bertubi-tubi. Karena serangannya selalu luput,

Pek-bin Mo-ong merasa penasaran sekali dan memperhebat serangan pukulan yang berhawa panas itu. Akan tetapi , ketika melihat betapa Kun Hwes io tewas sedang kan Kong Hwi Hos i ang d i keroyok dua dan keadaannya juga terdesak, dia merasa khawatir sekali dan kegelisahannya, di tambah lagi kini dia memecah perhatian untuk melihat ke arah Kong Hwi Hos i-ang, Cun Hwes io kurang waspada dan lambungnya terkena sambaran pukulan Pek-bin Mo-ong.

Plakk!” Sekali saja terkena pukulan ampuh i tu pada lambungnya, Cun Hwes io terpelanting dan roboh berkelojotan sebentar lalu tewas dengan tubuh kehitaman seperti terbakar!

Pek-bin Mo-ong tidak lagi memperdulikan lawan yang dia yakin tentu telah tewas. Dia menoleh ke arah rekan-rekannya dan mendengus marah melihat betapa dua rekan yang mengeroyok hwe¬sio itu masih juga belum mampu merobohkannya. Diapun meloncat dan dengan bentakan nyaring, diapun terjun kedalam perkelahian, ikut mengeroyok Kong Hwi Hosiang!

Kong Hwi Hosiang mencoba untuk melawan sekuatnya, namun dia sudah tua dan tingkat kepandaian tiga orang itu tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya, maka dikeroyok tiga, tentu saja dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sebuah tamparan tangan beracun dingin dari Hek-bin Mo-ong mengenai punggungnya . Dia terhuyung dan menggigil kedinginan, lalu datang pukulan Pek-bin Mo-ong yang berhawa panas. Selagi Kong Hwi Hosiang terhuyung, cakaran tangan kiri Kwi-j iauw Lo-mi mengenai dadanya dan hwesio tua itupun roboh dan tidak bergerak lagi, mukanya hitam 58

keracunan dan diapun tewas seketika.

Tiga orang datuk i tu memeriksa ketiga hwe io dan setelah merasa yakin bahwa mereka itu tewas semua, mereka lalu menyerbu kedalam kelenteng mencari kalau-kalau masih terdapat penghuni kelenteng yang lain. Akan tetapi ternyata tidak ada orang lain lagi di dalam kelenteng.

“Hemmm, di mana Seng Gun?” tiba- tiba Kwi-jiauw lo-mo bertanya kepada kedua orang rekannya.

“Bukankah tadi dia naik ke pun-cak?!l kata Pek-bin Mo-ong.

Pemandangan alam disini amat indahnya, tentu dia pergi berjalan-jalan. Biar aku mencarinya!” kata Hek-bin Mo-ong. Ketlka Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk, Hek-bih Mo-ong tertawa lalu tubuhnya yang gendut bundar itu seperti menggelinding pergi dengan cepat sekali.

Dewa maut berpesta pora d! pekarangan kelenteng itu dan mengambil korban nyawa.tiga orang hweslo yang selama ini hidup tenteram penuh damai dan pekerjaan mereka hanyalah berdoa dan menolong para penduduk dusun-dusun di sekitar daerah Itu. Akan tetapi mengapa mereka bertiga mengalami nasib sedemikian buruknya?

Sejak jaman dahulu, orang selalu bertanya-tanya tentang kenyataan ini, yaitu bahwa betapa banyaknya manusia yang semasa hidupnya nampak begitu balk hati, dermawan, suka menolong sesamanya, juga beribadat, namun kenyataan nya tertimpa malapetaka, bahkan banyak juga yang tewas secara menyedihkan, baik melalui kecalakaan mengerikan, bencana alam, atau juga dibunuh orang. Banyak orang yang hidupnya nampak baik dan saleh, semua orang menganggap dia seorang budiman, namun hidupnya miskin, berpenyakitan, dan tertimpa malapetaka pula sehingga mengalami kematian yang menyedihkan, Sebaliknya, banyak pula orang yang pada umumnya dianggap jahat, kejam, kikir, tidak pernah suka menolong sesamanya, bahkan mengingkari Tuhan, namun 59

hidupnya nampak bergelimang kekayaan, selalu nampak senang dan bahkan berumur panjang!

Kenyataan ini merupakan satu di antara rahasia-rahasia kehidupan yang tidak dapat dimengerti manusia, Banyak yang mencoba untuk mengungkap rahasia ini dengan berbagai teori dan dalih.

Ada yang menganggap ‘bahwa hal itu merupakan hukum karma atau hukum sebab akibat atau hukum menanggung akibat perbuatan sendiri, memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri. Tanaman pohon ini mungkin dilakukan dalam kehidupan masa lalu, atau ditanam oleh orang tua, nenek moyang dan seianjutnya, Ada pula yang berpendapat bahwa semua keadaan yang tidak menyenangkan itu adalah perbuatan setan yang selalu berusaha untuk menyengsarakan manusia. Namun, semua itu hanyalah anggapan dan perkiraan belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Hati akal pikiran manusia terlalu terbatas untuk dapat mengungkap pekerjaan Tuhan yang maha besar dan maha rumit.

Ada orang berpendapat bahwa segala yang menyengsarakan manusia, termasuk pekerjaan setan yang selalu ingin menyengsarakan manusia. Benarkah ini? Ada pula yang beranggapan bahwa hal ini tidak mungkin karena bukankah penyakit disebabkan kuman-kuman, dan kuman adalah mahluk hidup yang berarti ciptaan Tuhan pula? Kalau Tuhan Maha Pencipta, berarti bahwa semua kuman dan apa saja yang dapat menyebabkan manusia sakit, baik itu hewan maupun tanaman, adalah ciptaan Tuhan. Berarti bahwa semua yang menimpa manusia dapat terjadi kalau sudah dikehendaki Tuhan. Benarkah ini? Tidak ada yang akan dapat menjawab, karena semua jawabanpun, seperti semua perkiraan tadi, hanya merupakan pendapat belaka, hanya perkiraan dan tidak akan dapat dibuktikan. Pengertian manusia amat terbatas, terbatas untuk melayani dan mencukup kebutuhan manusia hidup di dunia saja, karena itu, 60

alat berupa hati akal pikiran tidak dapat kita pergunakan untuk menguak dan menjenguk rahasia yang lebih dari pada kebutuhan kita.

Pendapat kita, betapapun indah mengemukakannya, betapa kuat alasan-alasannya, tetap saja hanya berupa pendapat. Dan pendapat itu sudah pasti dilandasi. perhitungan untung rugi, Kita pernah mengutuk binatang ular, terutama yang berbisa, sebagai mahluk yang paling jahat, bahkan alat setan, kita kutuk dan kita menasihati anak cucu kita untuk memusuhinya/ membunuhnya setiap kali melihatnya. Akan tetapi, setelah kini diketahui kegunaan bisa ular, untuk menqobatan, bahkan mungkin dapat menyelamatkan nyawa manusia, setelah kini daging ular dimasak dan dimakan, kulit ular dibuat dompet, tas dan sebagainya, masihkah kita mengumpat dan mengutuk binatang itu? Semua pendapat memang tak lepas dari pada perhitungan untung rugi bagi kita. Hujanpun dianggap baik alau menguntungkan dan buruk kalau merugikan., demikin pula panasnya matahari dan segala saja yang berhubungan dengan kehidupan kita .

Pembantaian yang di lakukan tiga orang datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu tidak diketahui oleh Han Lin yang sedang mengumpulkan kayu bakar dihutan. Dia sudah mengumpulkan dengan cukup dan mengikatnya. Ketika dia sudah bersiap untuk kembali ke kelehteng, tiba tiba terdengar suara suling ditiup orang. Suara suling itu demikian indah, merdu dan melengking-lengking, tanda bahwa peniupnya ahli. Datangnya suara suling itu dan puncak bukit. Han Lin tertarik dan segera dia mendaki puncak untuk melihat siapa gerangan yang meniup suling seindah itu, Setahunya, di sekitar situ tidak ada orang yang pandai meniup suling seperti itu.

Setelah tiba di puncak, Han Lin tertegun. Dia melihat seorang anak la-ki-laki remaja, sebaya dengannya, berpakaian sutera putih-putih dengan pita rambut merah dan ikat pinggang sutera biru, nampak anggun dan tampan sekali, 61

seperti seorang putera bangsawan atau hartawan, Pemuda remaja itu berwajah bundar, dengan hidung mancung besar, matanya lebar dan dia sedang meniup sebatang suling perak yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Pantas saja suara suling itu demikian nyaring melengking, tidak lembut seperti suara suling bambu, pikir Han Lin. Dia sendiri suka meniup suling, dan dia sudah mahir pula, akan tetapi biasanya dia meniup sebatang suling bambu. Melihatpun baru sekarang sebatang suling perak seperti yang sedang ditiup pemuda remaja itu. Karena tertarik, diapun mendekat. akan tetapi tidak menegurnya karena pemuda itu masih asyik meniup suling.

Setelah lagu yang dimainkan pemuda itu selesai dan dia menghentikan tiupan sulingnya , barulah Han Lin bertepuk tangan memuji. Pemuda itu, yang tadinya duduk di atas batu, bangkit berdiri dan memandang Han Lin. Pemuda itu bertubuh tinggi tegap, wajahnya yang tampan itu dihias senyum dingin dan pandang matanya membayangkan ketinggian hati.

“Bagus sekali sobat, kata Han Lin kagum tiupan sulingmu sungguh bagus dan merdu sekali!”

Sepasang mata yang lebar dan tajam itu mengamati Han Lin dari kepala sampai ke kakinya yang mengenakan sepatu kasar, alisnya berkerut, matanya yang lebar tajam itu nampak tak senang.

“Tidak pantas engkau menyebut a-

(Maaf ada halaman yang hilang)

menyerang orang. Kalau yang diserangnya benar-benar pemuda dusun yang tidak mempunyai kepandaian silat, tentu

. — «<–

Namun Han lin juga memperlihatkan kema hirannya. Dengan mudah dia dapat menge lak dan totokan ketiga ditangkisnya dengan tangan miring dari samping.

62 63

kepalanya hancur dan akan tewas seketika.

ahhh…! Dia berseru dan cepat dia mengelak kebelakang sehingga sambaran suling itu lewat di depannya. Akan tetapi elakan Han Lin itu membuat pemuda itu menjadi penasaran dan semakin marah. Dia menyerang lagi, kini sulingnya menotok ke arah leher, lalu menurun ke dada dan perut! Sungguh merupakan jurus serangan maut yang amat dahsyat. Namun, Han Lin juga memperlihatkan kemahirannya . Dengan mudah dia dapat mengelak dan totokan ketiga ditangkisnya dengan tangan miring dari samping.

Jilid III

Keduanya terkejut karena masing-masing merasa betapa tangan mereka tergetar

”Aha, kiranya engkau bukan bocah dusun petani busuk biasa ! Engkau pandai iImu siIat, keparat!” bentak pemuda itu.

‘Dan engkau seorang pemuda sombong dan kejam!” kata Han Lin yang sudah mulai marah.

“Mampuslah!” Pemuda itu membentak dan kembali dia menyerang dengan sulingnya, sekarang dia menyerang dengan pengerahan tenaga dan menggunakan jurus maut yang berbahaya karena dia tahu bahwa yang diserangnya bukan bocah dusun sembarangan.

“Engkau patut dihajar!” kata Han Lin dan diapun mengelak, lalu membalas dengan jurus pukulan dari ilmu silat Pat-kwa-kun (Silat Segi Delapan). Namun, pemuda itupun dapat mengelak dan dengan marah sekali dia menggerakkan sulingnya sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia bukan memegang sebatang, melainkan belasan batang suling yang menyerang Han Lin bertubi-tubi. Biarpun dengan langkah-64

langkah dalam Pat-kwa-kun Han Lin mampu menghindarkan semua serangan, namun dia kewalahan dan tiba-tiba dia menjatuhkan diri bergulingan, di kejar oleh lawannya.

Ketika Han Lin meloncat berdiri lagi, tangannya sudah memegang sebatang ranting kayu dan inilah senjatanya yang istimewa. Dia memang ketika dilatih Hong-in Sin-pang oleh gurunya, dibiasakan untuk menggunakan segala macam ranting kayu untuk pengganti tongkat. Ranting atau cabang kayu yang bagaimanapun menjadi senjata ampuh di tangan Han Lin yang sudah menguasai Hong-in Sin-pang cukup baik.

Segera terdengar suara nyaring berulang kali ketika suling bertemu ranting dan sekali ini, pemuda itu yang terkejut bukan main. Ranting kayu ditangan bocah dusun itu lihai bukan main, membuat permainan sulingnya menjadi kacau.

”Sing-singg…. !!” Beberapa kali pemuda itu meniup dan dari suling peraknya meluncur banyak jarum halus yang menyambar ke arah seluruh tubuh Han Lin. Namun, Han Lin yang sudah waspada, memutar tongkatnya sambil melompat ke atas dan jarum-jarum itupun run tuh ke atas tanah. Dari atas, tubuh Han Lin menukik turun dan rantingnya bergerak cepat, berhasil menotok pundak pemuda itu yang mengeluarkan seruan kaget dan terpelanting, Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali dengan muka berubah pucat karena kini dia tahu bahwa lawannya si bocah dusun itu benar-benar lihai bukan main.

Pada saat itu, selagi Han Lin menyambut serangan suling yang semakin ganas dengan rantingnya, ada angin dahsyat menyambar. Han Lin meloncat untuk mengelak dari serangan gelap yang dilakukan orang dari arah belakangnya itu, namun terlambat. Serangan itu dahsyat bukan main dan cepat sehingga punggung nya terkena sambaran hawa yang dingin sekali. Han Lin roboh dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya sudah ditotok orang dan diapun tidak mampu bergerak lagi! 65

Pemuda yang memegang suling itu ketika melihat Han Lin tidak mampu bergerak lagi, menggerakkan sulingnya menghantam kearah kepala Han Lin. Pemuda ini tidak mampu bergerak, maka diapun hanya dapat memandang dengan melotot, siap menghadapi kematian. Dia sudah digembleng matang oleh Kong Hwi Hosiang sehingga tidak gentar menghadapi kematian yang dengan penuh keyakinan dikatakan gurunya itu bahwa kematian bukanlah suatu akhiran, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan didunia ini.

“PIakk!ll Suling itu terpenpal dan hampir terlepas dari tangan pemuda itu ketika tertangkis ujung lengan baju Hek-bin Mo-ong. Kiranya Hek-bin Mo-ong yang tadi datang dan merobohkan Han Lih dan kakek gendut muka hitam arang ini yang mencegah si pemuda membunuh Han Lin.

“Susiok Hek-bin (Paman Guru Muka Hitam), kenapa engkau mencegah aku membunuh jahanam dusun ini?” Pemuda itu bertanya penuh penasaran.

“Seng Gun, bagaimanapun juga, golongan kita pantang membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti pemuda dusun ini. Pula, dia masih kita perlukan Kaukira siapa yang akan menjadi pelayan kita untuk menjamu para tamu nanti ? Siapa pula yang akan mencari kan tenaga pelayan dan mencarikan semua keperluan kita?”

“Hek-bin Susiok, apakah kita telah mendapatkan tempat yang baik untuk…..”

“Sudah, mari kita pergi, ayahmu dan Pek-bin Susiok telah menanti disana,” kata pula Hek-bin Mo-ong. Kemudian Hek-bin Mo-ong memandang kepada Han Lin. Pemuda ini sejak tadi telah mengenalnya. Seorang di antara dua orang aneh yang pernah memukulnya tujuh

delapan tahun yang lalu, pikirnya. Dan orang itu tadi menyebut-nyebut nama Pek-bin susiok untuk pemuda itu, 66

tentu yang di maksudkan orang bermuka putih kapur itu. Dan pemuda ini adalah murid keponakannya.

“Susiok, pemuda ini cukup Iihai, dia akan membahayakan kita kalau tidak dibunuh.” kata Seng Gun. Pemuda ini memang cerdik sekali• Namanya Tong Seng Gun dan dia adalah putera dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui, datuk tertua diantara tiga datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu .

“Tentu saja dia memiliki sedikit kepandaian karena dia tentulah murid hwesio pengurus kelenteng di bawah puncak itu. Bukankah benar begitu, orang muda?”

Di dalam hatinya, Han Lin marah sekali kepada mereka ini dan tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang yang jahat sekali. Akan tetapi dia teringat akan semua nasihat gurunya. Dia harus mengetahui keadaan dan bertindak sesuai dengan keadaan itu, demikian antara lain nasihat gurunya. Seorang pendekar haruslah tabah dan berani, akan tetapi bukan berani dengan nekat, melainkan berani dengan perhitungan. Nekat melawan secara membuta dan mati konyol bukanlah keberanian namanya, melainkan kebodohan. Dan sekarang dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tidak akan mampu dia kalahkan. Berusaha menyelamatkan diri dalam keadaan seperti sekarang ini bukanlah suatu sifat pengecut, melainkan suatu kecerdikan dan tahu diri.

“Benar, locianpwe. Kong Hwi Ho siang adalah guruku,” jawabnya, wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, juga tidak membayangkan kemarahan. Akan tetapi dia merasa heran juga melihat betapa orang gendut muka hitam arang itu menjadi terkejut mendengar jawabannya.

“Kong Hwi Hosiang, katamu? Aha, jadi dia adalah Kong Hwi Hosiang yang amat terkenal itu? Pantas dia lihai, sayang sudah tua renta, ha-ha-ha! Siapa namamu?”

“Namaku Han Lin,” kata Han Lin sejujurnya, dan hatinya berdebar. tegang mendengar ucapan si muka hitam ini 67

tentang gurunya.

”Nah, Han Lin, engkau belum bosan hidup, bukan? MuIai sekarang engkau harus menaati perintah kami dan tidak melawan, dan kami tidak akan membunuhmu. Bangunlah,” tangan Hek-bin Mo-ong menyambar ke arah pundaknya dan Han Lin mengeluarkan seruan tertahan. Rasa nyeri yang amat sangat menusuk pundaknya. Dia kini mampu bergerak, akan tetapi perasaan nyeri di pundaknya itu seperti menembus ke jantungnya. Dia memejamkan matanya dan seperti dalam mimpi mendengar suara Hek-bin Mo-ong.

“Ha-ha-ha-ha, Han Lin. Pukulanku tadi adalah pukulan yang memasukan hawa beracun ke dalam tubuhmu. Engkau sudah keracunan dan dalam waktu sebulan, kalau tidak kuberi obat, engkau akan mati! Nah, kalau engkau bersikap baik, menaati semua perintahku, sebelum sebulan tentu engkau akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau engkau melarikan diri atau membangkang, engkau akan kubunuh, atau kalau engkau dapat lolos sekalipun, engkau akan mati karena selain aku, tidak akan ada orang yang mampu mengobatimu sampai sembuh.H

Akan tetapi, dari bawah pusar di perut Han Lin muncul hawa yang hangat dan sebentar saja rasa nyeri di pundaknya itu lenyap. Han Lin adalah seorang yang cerdik sekali . Dia tahu bahwa menurut keterangan gurunya, tubuhnya kebal terhadap racun, maka hawa beracun itupun hanya sebentar saja mempengaruhinya. Namun, dia pura-pura masih kesakitan, masih menyeringai kesakitan,

“Aku…. aku akan taat,” katanya lirih, Bagi dia, bahaya yang mengancam bukan datang dari hawa beracun di tubuhnya itu, melainkan dari orang-orang jahat ini. Sekali dia dapat meloloskan diri, dia tentu akan selamat. Yang penting, dia harus memperlihatkan ketaatan agar dipercaya, karena diapun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan orang-orang jahat yang aneh ini. 68

HHan Lin, hayo kau ikut kami ke kelenteng, kata Hek-bin Mo-ong, dan Han Lin mengangguk, lalu mengikuti mereka kembali ke kelenteng dengan hati merasa tidak enak dan berdebar tegang. Apa yang telah terjadi dengan suhunya?

Ketika mereka tiba di depan kelenteng dan memasuki pekarangan, Han Lin terbelalak melihat Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio sudah menggeletak menjadi mayat, berserakan di pekarangan itu.

“Suhu !n Dia lari menubruk jenazah suhunya.

“Suhu…., Cun Suhu….. Kun Suhu !” Dia meratap dan menangis.

“Heh-heh-heh, Han Lin, hentikan tangismu seperti anak perempuan yang cengeng saja. Dan kalau engkau tidak menaati kami , engkaupun akan segera menyusul mereka!” kata Seng Gun. Han Lin mengepal tinju dan harus menekan gerahamnya agar tidak sampai didorong menjadi nekad oleh kemarahan dan dendam. Tidak, pikirnya. Sekarang bukan saatnya untuk melawan mereka. Dia akan kalah. Amukannya tidak akan ada gunanya, sama dengan bunuh diri. Tiga orang hwesio itu telah dibunuh mereka, hal ini saja membuktikan mereka adalah lawan yang amat tangguh, Dia bukan takut melawan mereka, bukan takut mati, hanya tidak ingin mati konyol dan sia-sia. Dia harus memperkuat dirinya untuk kelak menentang kejahatan yang luar biasa kejamnya ini.

“Cukup, Han Lin. Tidak perlu banyak menangis lagi. Sekarang, angkat ketiga jenazah itu dan bawa ke kebun belakang. Kita kubur mereka di sana,” kata Hek-bin Mo-ong dan pada saat itu, muncullah Pek-bin Mo-ong yang segera dikenal oleh Han Lin. Orang yang kurus tinggi bermuka putih kapur itu adalah orang kedua orang yang dahulu pernah menyerangnya bersama Hek-bin Mo-ong. Yang seorang lagi, lebih tua dan juga tubuhnya pendek gendut seperti katak, tidak dikenalnya, akan tetapi melihat sikapnya, agaknya dia menjadi pimpinan mereka berempat. Diapun dapat menduga 69

bahwa Seng Gun tentulah putera dari si katak gendut itu.

”Hemm, siapa bocah itu dan mengapa engkau bawa dia ke sini, .Hek-bin sute?” tanya Kwi jauw Lo-mo sambil mengerutkan alisnya. Mereka mempunyaI tugas rahasia yang penting, maka sungguh bodoh kalau sutenya itu membawa seorang pemuda asing ke situ.

“Ayah, tadi aku hendak membunuh saja bocah ini, akan tetapi Hek-bin Susiok melarangku, kata Seng Gun kepada ayahnya dan sikap ini saja menunjukkan bahwa dla seorang anak yang manja dan mengandalkan ayahnya sehingga dia tidak menghormati susioknya.

“Twa-suheng (Kakak seperguruan tertua), kata Hek-bin Mo-ong sambil tersenyum menyeringai. “Dia adalah murid hwesio tua itu dan tahukah twasuheng siapa hwesio tua yang baru saja tewas ditangan kita ini ? Dia adalah Kong Hwi Hosiang !”

”Ahhh ?” Kwi-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong mengeluarkan seruan kaget. “Kalau begitu, lebih perlu lagi anak itu harus segera dibunuh!” kata Kwi-iauw Lo-mo yang merasa jerih juga mendengar bahwa korban mereka adalah Kong Hwi Hosiang yang memiliki hubungan luas dan nama besar didunia persilatan. Dia khawatir kalau banyak pendekar akan membela kematian tokoh itu.

Hek-bin Mo-ong tertawa. ”Ha-ha-ha jangan khawatir. Dia sudah kupukul dengan pukulan beracun. Kalau dia membangkang dan melawan, dia akan mati keracunan. Kita dapat mempergunakan dia untuk keperluan kita disini, twa-suheng”.

Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk-angguk. ”Baiklah, akan tetapi engkau bertanggungjawab mengawasi dia, Hek-bin sute.” .

Han Lin tidak memperdulikan mereka lagi, tidak memperdulikan apa-apa kecuali mengurus jenazah tiga orang hwesio itu . Mula-mula dia memondong jenazah Kong 70

Hwi Hosiang dan sambil terisak-isak dia membawa jenazah itu ke dalam kelenteng, terus menuju ke kebun belakang seperti yang diperintahkan Hek-bin Mo-ong .

Tanpa banyak cakap diapun menggali tiga buah lubang, ditonton dan dijaga oleh Hek-bin Mo-ong dan Tong Seng Gun yang tidak mau membantunya sama sekali. Akan tetapi Han Lin merasa lebih” senang tidak di.bantu mereka. Sebaiknya dia sendiri, dengan kedua tangannya sendiri menggali lubang kuburan untuk tiga orang hwesio itu, tidak, dikotori tangan orang-orang jahat itu. Tanpa mengenal lelah, dia menggali lubang dan dia kadang-kadang dengan sengaja merintih seperti menahan sakit agar tidak menimbulkan kecurigaan kedua. orang itu yang menyangka bahwa dia masih dipengaruhi hawa beracun pukulan Hek-bin Mo-ong tadi. Kemudian dia mengubur tiga buah jenazah itu dan setelah menguruk lubang-lubang itu dengan tanah, dia lalu berlutut sampai lama di depan kuburan gurunya.

“Sudah, cukup! Hayo ikut dengan kami ke kelenteng. Engkau harus membuatkan makanan untuk kami berempat,” kata Hek-bin Mo-ong. “Setelah itu, kauca rikan tenaga bantuan dari dusun di bawah sana sebanyak lima sampai sepuluh orang. Kami akan menerima beberapa orang tamu penting malam ini di kelenteng

Han Lin tidak menjawab, akan tetapi diapun menurut saja, memberi hormat untuk yang penghabisan kepada makam gurunya lalu dia bangkit dan mengikuti dua orang itu kembali ke kelenteng

Ketika mereka memasuki kelenteng dari pintu belakang, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Han Lin mendengar. suara gaduh di ruangan depan, dan terdengar pula suara Liu Ma! Sebelum melihat mereka, Han Lin dapat menduga bahwa tentu ibunya itu bersama beberapa penduduk dusun Li-bun, datang kekelenteng untuk bersembahyang seperti yang kadang mereka lakukan pada hari hari tertentu. 71

Diapun bergegas menuju ke ruangan depan dan di situ memang sedang terjadi keributan.

“Kalian ini siapakah? terdengar suara Ibunya berkata dan agaknya sembilan orang penghuni dusun itu tadi bercekcok dengan Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo. “Kelenteng Ini adalah milik kami penduduk dusun, dan kami hendak bersembahyang, kenapa kalian melarang dan menghalangi? Biarkan kami bertemu dengan losuhu, kami hendak bicara dengan dia !”

Ucapan ini dibenarkan oleh yang lain sehingga kembali suasana menjadi gaduh. Melihat.’betapa di antara para pendatang itu terdapat seorang wanita muda yang cukup manis, Hek-bin Mo-ong lalu cepat menghampiri mereka dan dengan mukanya yang selalu tertawa lebar itu dia bertanya, MHeii, ada apa sih ribut-ribut ini?” Dia menoleh kepada kedua orang rekannya dan berkata. “Sungguh kebetulan sekali. Kita membutuhkan bantuan tenaga dan mereka ini datang secara suka rela! Dan nonamanis ini dapat menemaniku minum arak heh-heh-heh !” Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tangan kirinya, tubuh wanita itu seperti terbetot dan tahu-tahu telah terhuyung ke arah Hek-bin Mo-ong dan dirangkulnya !

Wanita muda itu menjerit-jerit dan meronta hendak melepaskan diri, menggunakan kedua tangan untuk memukul dan mencakar ketika sambil terkekeh hek-bin Mo-ong mendekatkan mukanya hendak menciuminya begitu saja di depan-banyak orang! Melihat ini, Liu Ma menjadi marah sekali dan iapun sudah mendekati si gendut bundar muka hitam itu

“Engkau ini laki-laki biadab dan jahat! Lepaskan wanita ini! Ia sudah mempunyai suami, lepaskan!” Liu Ma hendak menarik lepas wanita muda itu, dan teman-temannya yang tadinya gentar menjadi berani. Merekapun mendekati Hek-bin Mo-ong untuk memaksanya melepaskan wanita muda yang dirangkulnya itu. 72

Melihat kenekatan ibunya, Han lin terbelalak dengan wajah pucat karena dia tahu bahwa ibunya terancam bahaya maut berani menentang Hek-bin Mo-ong seperti itu. Maka, diapun cepat melompat, mendekati ibunya.

“Ibu, jangan, . .. !,Dan dia menyambar tubuh ibunya dan dipondongnya tubuh Liu Ma dan dibawanya keluar dari kelenteng itu. Dia harus menyelamatkan ibunya, harus membawanya lari jauh-jauh dari manusia-manusia berwatak iblis itu.

Peristiwa itu terjadi demikian cepatnya sehingga semua orang tertegun. Tiga orang datuk itu sendiri tidak menyangka bahwa Han Lin akan berani melarikan wanita Itu.

“Hek-bin, mereka itu tanggung-jawabmu! kata Kwi-jiauw Lo-mo marah. Mendengar ini, Hek-bin Mo-ong melepaskan wanita muda yang di rangkulnya tadi dan diapun melakukan pengejaran keluar kelenteng, diikuti pula oleh Seng Gun yang juga merasa penasaran melihat perbuatan Han Lin tadi.

Han Lin maklum bahwa ibunya terancam bahaya maut, hanya itu saja yang dia perhatikan maka dia harus dapat mengajak ibunya melarikan diri. Setelah tiba di luar kelenteng, dia menurunkan ibunya yang berkeras minta diturunkan.

“Han Lin, apa-apaan engkau ini ? Kenapa engkau? “

“Nanti saja, ibu, penje]asannya, Sekarang kita harus melarikan diri. “Hayo cepat, bahaya maut mengancam kita” katanya dan dia menggandeng tangan ibunya, diajak lari sekuatnya, melalui kebun dan memasuki hutan yang berada di dekat situ, Dia sudah hafal dengan keadaan di situ dan dia tidak mengambil jalan umum, melainkan menerobos semak dan hutan sehingga Liu Ma beberapa kali mengaduh dan mengeluh karena kakinya tertusuk duri semak belukar.

“Han Lin, berhenti kau, keparat!” terdengar teriakan di belakang mereka itu adalah suara Seng Gun yang sudah dekat di belakang, dan disusul suara tawa Hek-bin Mo-ong. 73

“Ha-ha-ha, bocah tolol, engkau hendak lari ke mana?”

Mendengar suara mereka, Liu Ma berbisik kepada anaknya, “Han Lin, mereka siapa dan mau apa. … . . .”

“Sstt, ibu, orang-orang jahat itu telah membunuh ketiga suhu.”

Liu Ma terbelalak dan mukanya pucat sekali dan ketakutan hebat membuat wanita ini seperti mendapatkan tenaga baru untuk berlari cepat. Han Lin yang menggandeng tangan ibunya menariknya dan mereka mengambil jalan dekat jurang yang tertutup oleh alang tinggi

Akan tetapi, dua orang pengejarnya itu sudah cepat dapat menyusul dan kini berada di belakangnya. Han Lin maklum bahwa tidak mungkin ibunya dapat meloloskan diri, maka diapun berkata, “Ibu, cepat ibu menyusup terus, melarikan diri dan bersembunyi, biar aku yang menahan mereka.” Pemuda itu melepaskan tangan ibunya dan membalik, memasang kuda-kuda dan nekat untuk menyerang agar ibunya dapat lolos.

“Han Lin” ibunya berbisik.

“Pergilah, ibu. Dan cepat….!”

Pada saat itu, Hek-bin Moong telah datang dekat dan di belakangnya nampak Seng Gun yang tersenyum mengejek. Han Lin tidak banyak cakap iagi, lalu maju menerjang dan menyerang Hek-bin Mo-ong, menggunakan,sebatang ranting yang tadi dipungutnya dalam pelarian untuk dipakai sebagai senjata. Ilmu tongkat Hong-in Sin-pang yang dikuasai Han Lin memang hebat dan tadi telah membuat Seng Gun kewalahan, akan tetapi menghadapi seorang datuk seperti Hek-bin Mo-ong, kepandaiannya itu belum ada artinya. Serangan tongkat Han Lin itu disambut tangan kiri Hek-bin Mo-ong yang tertawa-tawa.

“Krakkk!” Ranting itu patah-patah dan sebelum Han Lin dapat menghindar, si gendut muka hitam itu menggerakkan tangan kanan dan hawa dingin yang amat dahsyat menyambar ke arah. Han Lin. Pemuda ini, tidak mampu bertahan lagi dan diapun terlempar dan terjungkal ke dalam jurang!

Pada saat itu, Liu Ma yang tidak mau pergi meninggalkan anaknya begitu saja dan mengintai dari balik ilalang, ketika melihat Han Lin terjungkal ke dalam jurang, segera berlari keluar dan menuju tepi jurang.

“Han Liiiinnn.. anakkuuu…!”

Dan wanita itupun melompat ke dalam jurang menyusul pemuda yang amat dikasihinya dan telah dianggap sebagai anaknya sendiri itu.

Lengkingan teriakan Liu Ma terdengar panjang dan bergema, lalu terdiam dan disusul kesunyian yang mencekam. pek-bin Mo-ong dan Seng Gun menjenguk ke

74 75

bawah jurang dan mereka tertawa. Mereka yakin bahwa dua orang itu sudah pasti telah tewas dengan tubuh remuk karena jurang itu amat dalam dan curam. Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke kelenteng.

Jauh di bawah, di lereng jurang yang curam, Han Lin bergantung kepada sebatang pohon. Dia menggigit bibir memejamkan matanya ketika Liu Ma meloncat ke dalam jurang. Air matanya bercucuran melalui kedua pipinya akan tapi dia menahan diri agar tidak mengeluarkan suara tangis. Setelah menanti agak lama, barulah dia menuruni lereng jurang yang curam itu, berpegang kepada batu-batu dan akar-akar yang me nonjol keluar dan akhirnya dia tiba di dasar jurang. Dia menubruk tubuh Liu Ma yang telah menjadi mayat di dasar jurang itu dan menangis. Kadang-kadang dia mengepal tinju dan mengeluarkan suara geraman penuh kedukaan, kemarahan, sakit hati dan dendam. Tiga orang hwesio itu telah dibunuh, dan sekarang wanita yang telah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya, dibunuh pula. Biarpun dia tahu bahwa ibunya mati membunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, namun penyebab kematiannya adalah manusia-manusia iblis itu.

Akan tetapi dalam keadaan amarahnya berkobar seperti api itu, terngianglah di telinganya nasihat-nasihat Kong Hwi Hosiang bahwa dendam kebencian dan kemarahan adalah racun bagi diri sendiri. Dendam kebencian dan kemarahan adalah nafsu yang mendorong orang melakukan perbuatan kejam demi membalas dendam, dan perbuatan yang kejam, yang didasari kebencian, adalah perbuatan jahat. Perbuatan jahat bagian bibit pohon beracun yang kelak buahnya akan dimakan sendiri oleh si pembuat!

“Tidak, aku tidak boleh mendendam.. ah, ibu…. ibuuuu….” dia meratap-ratap, lalu dia memaksa diri menggunakan batu yang runcing untuk menggali lubang di dasar jurang itu. Dia menguburkan jenazah Liu Ma dengan sederhana namun 76

penuh khidmat, dengan curan air mata, kemudian dia berlutut di depan makam yang hanya merupakan segundukan tanah berbatu-batu.

“Liu Ma yang setia, engkau telah menjadi ibu bagiku ibu yang penuh kasih sayang, penuh kesetiaan, semoga engkau mendapatkan tempat yang layak disana “

Seteiah penguburan selesai, barulah dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit, lengan kanannya nyeri bukan main kalau dia gerakkan. Agaknya lengan itu terkilir. Ketika tadi tubuhnya melayang ke bawah jurang, entah bagaimana, kebetulan sekali tangannya mencengkeram ke sanasini dan tangan kanannya berhasil mencengkeram batang pohon yang tumbuh di lereng tebing jurang sehingga tertahan dan dia selamat Kini, baru terasa betapa lengan kanannya itu agak membengkak dan nyeri sekali, terutama di bagian sambungan lengan di pundak. Juga, pukulan Hek-bin Mo-ong tadi masih terasa, membuat dadanya terasa sesak dan dingin..

Semua itu ditambah Lagi pengerahan tenaganya ketika menggali tanah berbatu di dasar jurang untuk membuat lubang kuburan. Kini, dia kehabisan tenaga dan mengeluh panjang, lalu terkulai pingsan di depan gundukan tanah kuburan Liu Ma.

Sepuluh tahun yang lalu, dalam tahun 766, kekuasaan Kerajaan Tang dapat berdiri kembaLi di kota raja Tiang an, setelah selama sepuluh atau sebelas tahun (755 – 766) kerajaan itu dikuasai para pemberontak, dimulai dengan pemberontakan An Lu Shan, kemudian puteranya, An Kong, dan terakhir di kuasai oleh Sia Su Beng. Kaisar Hsuan Tsung (712 – 755) melarikan diri mengungsi ketika dalam tahun 755 An Lu

Shan, seorang panglima yang dipercayanya dan yang bertugas menjaga perbatasan utara, melakukan pemberontakan dan menduduki ibu kota atau kota raja Tiang-an. Kaisar Hsuan Tsung mengungsi ke barat, dan setahun 77

kemudian menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya, pangeran mahkota yang kemudian menjadi penggantinya, yaitu Kaisar Su Tsung.

Dengan adanya panglima besar Kok Cu It yang setia dan pandai, maka Kerajaan Tang itu tidak pernah patah semangat. Panglima Kok Cu It menyusun kekuatan di barat, dan dengan bantuan banyak suku bangsa barat dan utara, di antaranya bangsa Tibet, Turki dan banyak Lagi suku bangsa kecil-kecil, akhirnya dalam tahun 766, Kaisar Su Tsung berhasil menguasai kembali kota raja Tiangan dan pemberontakan dapat dipadamkan. Tentu saja semua ini adalah jasa Panglima Kok Cu It.

Namun, berhasiLnya Kerajaan Tang bangkit kembaLi ini tidak disambut dengan gembira oleh rakyat. Banyak penyair menuliskan syair yang menggambarkan keadaan Kerajaan Tang sebagai “mengusir harimau dengan bantuan segerombolan srigala!” Gambaran ini memang tidak terlalu berlebihan. Ketika Kerajaan Tang dijatuhkan oleh para pemberontak, maka yang berkuasa adalah pemberontak yang bagaimanapun masih merupakan gabungan bangsa Han dan bangsa Khitan. Setidaknya, yang berkuasa adalah bangsa sendiri. Kemudian, Kerajaan Tang berkuasa kembali dengan bantuan orang orang asing dan setelah kota raja berhasil diduduki dan pemberontak dapat dibasmi, orang-orang asing ini tidak mau lagi meninggalkan daerah pedalaman yang subur, dengan kota-kotanya yang indah, dengan adanya segala macam kesenangan yang tidak dapat mereka temukan di tempat tinggal mereka yang tandus dan terbelakang! Bagi rakyat, keadaan kehidupan mereka jauh lebih baik ketika dikuasai pemberontak An Lu Shan sampai Sia Su Beng dibandingkan sekarang karena mereka dirongrong oleh orang-orang Tibet, Gurkha, Turki, Biauw, dan masih banyak lagi Ada pula orang-orang Mongol dan Mancu. Dan mereka ini seperti seriga-serigaLa kelaparan yang memasuki kandang domba. TerjadiLah kekerasan di mana-mana, perampokan, 78

penganiayaan, perkosaan sehingga rakyat amat menderita.

Panglima Kok Cu-It sendiri kewalahan menghadapi keadaan seperti itu. Kalau ditindak dengan keras, tentu tidak enak sekali mengingat bahwa orang-orang asing itu telah berjasa nembantu Kerajaan Tang memperoleh kembali kekuasaannya. Kalau dibiarkan, rakyat yang menderita. Akhirnya, perLahan-Lahan sehingga berlarut-larut sampai sepuluh tahun lebih lamanya, baru Kerajaan Tang berhasil membujuk para pimpinan suku-suku asing itu untuk ? meninggalkan wiiayah Kerajaan Tang?’ tentu saja setelah mereka itu di berikan yang banyak berupa barang-barang berharga, bahkan gadis-gadis cantik. Kerajaan Tang sampai menguras habis kekayaannya untuk diberikan kepada mereka sebagai bekal !

Biarpun geromboLan-geromboLan suku asing itu telah pergi, dan kota raja Tiang-an tidak dipenuhi lagi orang-orang asing yang berkeliaran, namun Kerajaan itu masih tidak lepas dari rongrongan para suku bangsa asing itu di sebelah barat dan utara. Terutama sekali dari bangsa Tibet dan Mongol. Juga, kelemahan kerajaan ini membuat para pejabat tinggi daerah banyak yang bertindak sewenang-wenang, hidup sebagai raja kecil dan ada kecenderungan untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat di Tiang-an.

Kelemahan pemerintah mendatangkan kekacauan pula di dunia kangouw, juga di dunia persilatan, para pendekar seolah saling bersaing dan hal ini didukung pula oleh perkumpulan-perkumpulan agama yang kini bangkit kembali secara liar setelah dahulu pernah ditertibkan oleh Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong. Kini semua aliran agama bermunculan seperti cendawan di musim hujan, di antaranya, perkumpulan atau aliran agama yang terbesar, tidak termasuk puluhan macam yang kecil-kecil, adalah seperti berikut :

Aliran agama Ru, dengan nabi atau guru pertamanya Khong-cu (Confucius, 551 – 479 sebelum Masehi), Aliran ini mengutamakan Li (upacara, aturan), menganjurkan tata-79

masyarakat feodal, menggolong-golongkan manusia dengan kedudukannya dan tugasnya di tempat masing-masing. Ada atasan dan ada pula bawahan, ada pihak tua dan pihak muda dengan sikap menurut cara yang ditentu kan oleh Li. Bahkan rajapun mempunyai atasan yaitu langit sebagai pengganti kekuasaan Tuhan. Dan rajapun mendapat sebutan Putera Langit. Di samping Li, juga Khong-cu menganjurkan Jin (Kemanu siaan) dan Gi (Keadilan). Terutama sekali raja diharuskan memiliki semua ini karena raja merupakan panutan rakyat. Biarpun aliran Ru ini bukan merupakan agama dengan upacara tertentu, tidak mempersoaLkan keadaan sesudah mati, tidak pula menyinggung tentang Ketuhanan melainkan lebih condong kepada Kemanusiaan, namun karena kebudayaan yang dibawanya telah meresap ke dalam kalangan atas, dari raja sampai kepada para bangsawan tinggi, maka tetap berpengaruh.

Aliran agama Mo menganggap Mo Ti (49O – 403 sebelum Masehi) sebagai guru besarnya. Pada dasarnya aliran Mo Ti ini mengutamakan cinta kasih sesama, mencari kebahagiaan batin bukan karena duniawi, oleh karena itu menganjurkan agar kita menjauhi kemewahan. Bahkan mereka menentang upacara-upacara yang memboroskan, menentang musik, juga menentang perang antara manusia. Mereka lebih condong untuk mengejar dan memperdalam ilmu pengetahuan. Pada umumnya, anggauta aliran ini amat setia dan taat kepada pimpinan mereka, bahkan siap mengorbankan nyawa apa bila hal itu dikehendaki sang pemimpin. Justeru karena berlumba dan bersaing dalam ilmu, termasuk ilmu silat, banyak di antara para anggautanya bahkan terperosok ke dalam pertentangan dan permusuhan dengan kelompok lain, karena tidak mau kalah.

Aliran agama To, mereka menganggap Lo-cu (diperkirakan sejaman dengan Khong-cu) sebagai nabi mereka. Agama ini menganjurkan persatuan dengan alam, dan tunduk terhadap hukum alam. Aliran ini, sebaliknya dari aliran Ru yang 80

mengikuti ajaran Khong-cu, mengesampingkan urusan kehidupan di dunia, melainkan lebih menerawang tentang kekuasaan yang mereka hanya namakan To yang sesungguhnya tidak bernama. Mereka menamakan To sebagai yang terahasia, yang mencakup segalanya, mengatur segalanya dan hidup di dunia ini seyogianya membiarkan To bekerja. Karena To dapat diartikan mirip dengan yang kita namakan Kekuasaan Tuhan, maka agama To ini lebih condong kepada Ketuhanan. Namun, karena banyak rahasia terkandung di dalamnya, maka dengan sendirinya berkembanglah suatu cara untuk memperoleb kekuatan yang ajaib, dan aliran ini membentuk banyak manusia aneh yang memiliki ilmu kepandaian yang aneh-aneh pula. Mereka juga mempelajarj perbintangan, dan banyak di antara mereka yang menjadi peramal, ahli sihir dan sebagainya.

Aliran agama Beng (Beng kauw) berasal dari Persia (Iran) dan pendiri nya yang dianggap guru besar mereka adalah seorang putera bangsawan Persia bernama Mani. Oleh karena itu, Bengkauw (Agama Terang) juga disebut Manichaeism. Agama ini masuk di Cina Barat setelah abad kedua Masehi. Di dalam agama ini, seperti juga keadaan pendirinya, terdapat pengaruh agama Kristen Mithraism, dan juga Magism dari Persia. Mani sendiri menamakan dirinya Duta Terang, dan menurut ajarannya, dalam alam semesta terdapat dua kekuasaan, Terang dan Gelap yang bertentangan. Setan terlahir di Kekuasaan Gelap. Dalam aliran ini juga berkembang aturan-aturan aneh yang bagi orang biasa terasa amat ganjil. Apa lagi kalimat yang biasa mereka ucapkan, sungguh membuat orang menjadi bingung. Memang kata-kata mereka terkadang membuat orang yang mendengar menjadi kacau . pikirannya. Mereka suka mempergunakan kalimat dengan arti yang berlawanan seperti “kuda putih bukan kuda”, anjing hitam adalah putih” dan sebagainya. Namun, para penganutnya, terutama para pimpinannya, banyak yang memiliki ilmu kepandaian silat yang aneh dan tinggi, maka 81

Bengkauw ini cukup disegani, dan oleh banyak kalangan dianggap sebagai golongan sesat karena keanehan mereka..

Aliran Im Yang (positip dan negatip) menganggap alam terbentuk. atas ngo-heng (lima unsur) yang menjadikan im-yang (positip dan negatip). Dua kekuatan ini yang membuat segala sesuatu berputar dan bergerak, yang menimbulkan kekuatan. Di antara semua aliran, aliran inilah yang melahirkan banyak sekali ahli nujum dan peramal yang kenamaan, karena aliran ini paling tekun dan mendalam mempelajari tentang peredaran matahari, bulan, bintang, musim dan gejala aneh termasuk bencana alam. Juga ilmu silat mereka dipengaruhi pelajaran ini.

Aliran Fa, juga berkembang sekitar abad ke empat sebelum Masehi, merupakan aliran yang sesuai dengan namanya, yaitu Fa (Hukum). Menurut aliran ini, seluruh alam maya pada dapat bergerak dan berjalan secara teratur dan lancar berkat adanya Hukum. Oleh karena itu, sebuah kerajaan haruslah” menegakkan hukum, karena hanya hukum yang akan mampu mengatur pemerintahan sehingga berjalan dengan lancar dan baik. Dengan adanya hukum, maka kedudukan raja akan menjadi kokoh kuat, berwibawa, dan rakyat jelata hidup makmur karena semua orang menaati hukum yang berlaku. Aliran Fa ini banyak dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan yang lalu, di antaranya Kerajaan Cin yang dikuasai oleh Tsin Shih Huang-ti (221 – 210 sebelum Masehi). Shih Huang-ti ini mempergunakan aliran Fa, dengan segala kekerasan menjalankan hukum sehingga akhirnya dia berhasil menundukkan seluruh negeri dan berhasil menggalang persatuan melalui kekerasan. Justeru disini letak kekuatan aliran Fa, jaitu menegakkan hukum dengan kekerasan.

Demikianlah beberapa di antara aliran-aliran yang besar dan berpengaruh. Masih terdapat banyak aliran yang merupakan perpecahan dari aliran-aliran besar. Tentu saja selain beberapa aliran itu, masih terdapat agama Buddha yang 82

amat besar pengaruhnya, juga agama Kristen yang mengalami perkembangan yang bercampur dengan filsafat tradisionil. Karena Kerajaan Tang dalam keadaan lemah, dan banyak gerombolan pengacau mempergunakan kesempatan mengail di air keruh, maka aliran-aliran itupun mendapat angin. Banyak pula di antara mereka yang dimasuki gerombolan dari suku-suku dari barat dan utara, berlumba untuk mengeduk keuntungan dan kekuasaan.

Tiga orang datuk murid Sam-mo-ong juga tidak lepas dari pada pengaruh kelompok orang Mongol yang berhasil menarik mereka menjadi kaki tangan kepala suku Mongol. Karena maklum hanya mempergunakan kekuatan anak buah saja mereka tidak akan dapat menguasai pedalaman, maka orang-orang Mongol itu lalu mengutus tiga orang datuk untuk mengadakan hubungan dengan para pemimpin aliran Fa atau Hoat, mengharapkan bahwa aliran itu akan dapat membantu mereka menguasai daerah perbatasan di utara, untuk kemudian, kalau keadaan memungkinkan, mengembangkan dan memperluas daerah kekuasaan mereka jauh ke selatan.

Demikianiah, kemunculan Kwi-jiauw Lo-mo, Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong di Bukit Ayam Emas itu ada hubungannya dengan tugas mereka mengadakan hubungan dengan para pimpinan Hoatkauw yang berpusat di propinsi Kuang-si. Mereka mencari tempat yang aman dan cukup sepi, dan tempat itu mereka merasa cocok, jauh dari pasukan keamanan pemerintah, juga di situ mereka dapat melakukan pertemuan dengan aman, tidak diketahui oleh golongan lain. Selain itu, juga orang-orang dusun itu mudah mereka paksa untuk membantu mereka menjamu para pimpinan Hoat-kauw.

Orang-orang yang datang bersem bahyang melihat betapa Liu Ma dan Han Lin lenyap, dan mereka ketakutan sekali, terutama setelah wanita muda yang tadi dirangkul Hek-bin Mo-ong, setelah dilepaskan, saking takutnya wanita itu lalu lari 83

menubruk dinding, sengaja membenturkan kepalanya pada dinding dan iapun roboh dan tewas dengan kepala retak berlumuran darah.

Kwi-jiauw Lo-mo mengerutkan alisnya, tak senang dengan adanya gangguan itu yang semua disebabkan ulah Hek-bin Mo-ong yang mata keranjang. “Kalian semua harus menaati kami, kalau tidak, kalian semua akan kami siksa seorang demi seorang sampai mati!”

Mendengar ini, tujuh orang pengunjung kelenteng itu, dua orang wanita setengah tua dan lima orang pria, menjadi ketakutan dan mereka menjatuhkan diri berlutut.

“Kami…, kami tidak berani

kami akan taat….” kata seorang diantara mereka, yang laki-laki dan yang masih mampu mengeluarkan suara.

“Bagus begitu!” kata Kwi-jiauw Lo-mo. “Sekarang, kalian lima orang laki-laki cepat bawa mayat ini ke kebun belakang dan kubur di sana, dan kalian dua orang wanita, cepat pergi ke dusun dan carikan kami daging ayam dan babi, juga sayur-sayuran, beras dan minuman arak. Nih uangnya dan cepat kalian kembali ke sini, minta bantuan orang dusun untuk membawakan semua itu. Beli sebanyak yang cukup untuk menjamu sepuluh orang dan awas, jangan macam-macam. Kalau kalian tidak menaati perintah kami, kepala kalian akan menjadi seperti ini!” Kwi-jiauw Lo-mo menepuk singa-singaan batu dengan tangan kirinya dan kepala singa-singaan batu itu hancur berkeping-keping. Tentu saja tujuh orang itu menjadi pucat dan semakin ketakutan. “Dan kalau kalian mengajak penduduk dusun untuk menentang kami, dusun Li-bun akan kami bakar dan semua penghuninya kami lemparkan ke dalam api!”

Dua orang wanita itu hanya mengangguk-angguk, tidak berani mengeluarkan suara saking takutnya. Mereka menerima beberapa potong perak dari Kwi-jiauw Lomo lalu 84

pergi meninggalkan kelenteng, sedangkan lima orang pria itu segera mengangkat jenazah wanita yang membunuh diri dan membawanya ke kebun belakang untuk dikubur.

Dusun Li-bun menjadi geger ketika dua orang wanita itu pulang sambil menangis dan menceritakan semua peristiwa yang terjadi di kelenteng, betapa Liu Ma dan Han Lin dikejar kakek gendut muka hitam dan lenyap, betapa wanita muda itu dihina olehnya dan membunuh diri dengan membenturkan kepala kedinding, dan lima orang pria ditahan di sana dan disuruh mengubur jenazah wanita yang membunuh diri. Suami wanita itu menangis dan hendak nekat pergi ke kelenteng, membalaskan kematian isterinya. Akan tetapi dua orang wanita itu memegangi tangannya sambil menangis, melarangnya pergi karena tiga orang kakek dan seorang pemuda yang kini menguasai kelenteng nampaknya bukan orang biasa.

“Kakek yang gendut seperti katak itu tadi menampar kepala singa-singaan batu dan kepala singa itu hancur berantakan. Kami takut sekali dan kalau engkau nekat kesana, berarti hanya mengantar nyawa.”!

Kepala dusun itu segera datang dan dan mendengar laporan dua orang wanita itu, dia mengerutkan alisnya.

“Dan di mana adanya tiga orang losuhu yang mengurus kelenteng?” tanyanya.

“Kami tidak tahu , mereka tidak nampak. Akan tetapi menurut pendengaran kami dari percakapan manusia-manusia iblis itu, agaknya tiga orang losuhu juga sudah mereka bunuh. Dan kamipun khawatir sekali akan nasib Liu Ma. Ia dilarikan anaknya ketika itu, kemudian dikejar oleh si gendut muka hitam dan kami mendengar teriakan mengerikan dari Liu Ma yang memanggil anaknya, kemudian tidak terdengar apa-apa lagi.” Dua orang wanita itu lalu menceritakan betapa mereka berdua diberi perak dan disuruh berbelanja untuk membuat masakan, untuk menjamu sepuluh orang di kelenteng itu. 85

“Aku harus membalas kematian isteriku!” Suami yang kehilangan isterinya itu berseru dan teman-temannya juga mendukung nya. Kepala dusun ya.ig sudah setengah tua itu mengangkat kedua tangan minta agar warganya .tenang .

“Memang kita tidak ,dapat. membiarkan saja orang jahat menguasai kelenteng kita itu. Akan tetapi menurut keterangan dua orang ini, mereka adalah orang-orang yang tangguh dan lihai oleh karena itu, kita tidak boleh gegabah dan menyerang begitu saja. Kita harus menghimpun tenaga yang ada, karena hanya dengan jumlah yang banyak saja kita akan mampu menandingi dan mengusir mereka dari sini .”

Semua orang menyatakan setuju dan setelah semua laki-laki di dusun Li-bun dikumpulkan, jumlah mereka ada tigapuluh orang lebih, dari yang berusia duapuluh sampai empatpuluh tahun. Yang usianya kurang dari duapuluh dan lewat empatpuluh, dilarang ikut pergi oleh kepala dusun. Kemudian, berbondong-bondong mereka mendaki bukit itu menuju kelenteng, dipimpin sendiri oleh kepala dusun Can. Kepala dusun Can adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan usianya sekitar empatpuluh lima tahun, namun dia seorang pemberani dan dibandingkan para penghuni dusun lainnya, dia merupakan seorang terpelajar karena pernah lama tinggal di kota dan juga pernah mempelajari. sastera sampai cukup. Lurah ini pula yang oleh Liu Ma diminta untuk mendidik Han Lin dalam iImu sastera.

Hari telah menjelang senja ketika rombongan penghuni dusun Li-bun tiba di luar pekarangan kelenteng yang nampak sunyi itu. Akan tetapi sebetulnya tempat orang yang kini menguasai kelenteng itu memandang kepada rombongan orang itu dengan senyum mengejek, sedangkan Iima orang penduduk dusun yang tadi mengubur jenazah wanita muda yang membunuh diri, terbelalak dan khawatir sekali melihat para rekan sedusun berbondong-bondong naik ke situ. Karena ngeri membayangkan ancaman para datuk sesat itu bahwa 86

kalau orang dusun Li-bun berani menentang mereka, dusun Li-bun akan dibakar dan semua penghuni nya akan dibunuh, lima orang itu lalu berlari ke pekarangan dan mengangkat ke dua tangan tingi-tinggi ke atas untuk mencegah mereka melakukan penyerbuan .

“Can chung-cu (Lurah Can), perlahan dulu ….!” teriak lima orang itu.

Lurah Can segera maju menghadapi mereka. “Kenapa kalian menahan kami? Kalau kelenteng kami dirampas orang, dan ada penduduk dusun yang tewas, kami tidak mungkin dapat berdiam diri saja. Sepatutnya kalian berlima juga membantu kami !”

“Tidak, Jangan” lalu lima orang itu berbisik-bisik, memberitahu bahwa tiga orang hwesio pengurus kelenteng juga sudah tewas terbunuh dan jenazah mereka sudah dikubur di kebun kelenteng di belakang. Juga bahwa empat orang itu bukan orang-orang sembarangan, namun memiliki ilmu kepandaian seperti iblis .

Sementara itu, Seng Gun tidak sabar melihat rombongan orang dusun berkerumun di luar pekarangan kelenteng itu. “Ayah, monyet-monyet dusun itu sudah bosan hidup, biar aku yang membasmi mereka semua!”

Akan tetapi Kwi-jiauw Lo-mo meng geleng kepala. “Mereka itu tidak ada harganya dibunuh semua, hanya orang-orang dusun dan kalau dibunuh semua hanya akan merepotkan saja, Kesempatan ini baik sekali untuk menguji kepandaianmu, Seng Gun. Aku menghendaki engkau membunuh dua tiga orang pimpinan mereka saja, dan mengalahkan mereka akan tetapi tidak membunuh agar mereka semua selanjutnya patuh dan tidak berani lagi mengganggu kita.”

“Baik, ayah!” kata Seng Gun gembira dan pemuda ini lalu meloncat keluar dan menyambut tigapuluh orang lebih itu di pekarangan kelenteng yang luas. 87

Sementara itu, para penghuni dusun ketika mendengar keterangan lima orang rekan mereka bahwa tiga orang hwesio kelenteng itu telah dibunuh oleh para penjahat yang menguasai kelenteng, menjadi semakin penasaran dan marah. Kepala dusun Can juga tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Dia melangkah maju bersama dua orang pembantunya yang di dusun itu terkenal sebagai orang-orang yang tangguh dan bantuan mereka itulah yang membuat kepala dusun Can dapat memimpin dusunnya dengan adil. Kepala dusun agak ragu melihat bahwa yang muncul menyambut mereka ada lah seorang pemuda remaja berusia belasan tahun yang berpakaian sastrawan serba putih dan lagaknya anggun dan angkuh. Pemuda itu berdiri di pekarangan sambil bertolak pinggang dan wajahnya yang tampan tersenyum mengejek. Karena pemuda remaja itu nampak tampan dan seperti bangsawan, sama sekali bukan seperti penjahat, kepala dusun Can bersikap hati-hati .

“Orang muda, siapakah engkau dan kami ingin bicara dengan mereka yang telah membunuh hwesio dan beberapa orang penduduk dusun kami.”

Seng Gun tersenyum akan tetapi pandang matanya yang tajam, itu memandang dingin. “Anggap saja aku yang telah membunuhi mereka karena mereka menentang kami. Nah, kalau kalian tidak ingin mengalami nasib seperti mereka, pergilah dan jangan menentang kami !”

Tentu saja kepala dusun Can terbelalak mendengar ucapan itu. Bocah begini tampan dan nampak terpelajar, kenapa dapat bersikap begini sombong dan kejam? Dia mendengar laporan dari dua orang wanita tadi bahwa iblis-iblis itu adalah tiga orang kakek lihai, dan pemuda tampan ini tentulah murid mereka. Tiba-tiba dia mendapat pikiran yang dianggapnya amat baik. Kalau mereka menawan pemuda ini, tentu tanpa kekerasan mereka dapat menjadikan” pemuda ini sebagai sandera dan minta kepada tiga orang kakek itu untuk 88

menyerahkan diri untuk diseret ke pengadilan!

“Kita tangkap pemuda ini!’ katanya kepada dua orang pembantunya. Dua orang pembantu itu boleh diandalkan. Mereka berdua memiliki tenaga besar dan juga pandai silat. Pendeknya, untuk dusun Li-bun dan sekitarnya, dua orang pembantu kepala dusun Can ini merupakan orang-orang yang tangguh.

Sambil membeniak nyaring, dua orang itu menubruk dari kanan kiri untuk menangkap Seng Gun, dan kepala dusun Can juga menerjang ke depan untuk membantu mereka menangkap pemuda itu untuk dijadikan sandera. Akan tetapi, pemuda yang mereka tubruk itu tiba-tiba saja lenyap dari depan mereka karena sudah meloncat ke atas dengan gerakan yang ringan sekali. Mereka terkejut dan cepat memandang ke atas. Tubuh Seng Gun yang tadinya meloncat ke atas, kini menukik ke bawah dan sebatang suling perak telah berada di tangannya dan ujung suling itu menempel di mulutnya.

“Srr !!” Tiupan itu amat kuat dan nampak sinar hitam menyambar kebawah, ke arah kepala desa Can dan dua orang pembantunya. Serangan itu demikian mendadak dan tidak terduga-duga. Apa lagi kepala desa Can, sedangkan dua orang pembantunya saja tidak menduga sama sekali dan sinar hitam itu menyambar dari jarak dekat, dari atas dan dengan kecepatan kilat, maka merekapun tidak sempat menghindarkan diri. Tiga orang itu tiba-tiba saja terpelanting dan berkelojotan, lalu terdiam dan tewas dalam keadaan mengerikan karena muka mereka berubah kehitaman. Kereka telah menjadi korban jarum-jarum beracun yang ditiupkan melalui suling dan mengenai muka dan leher mereka.

Melihat betapa kepala dusun Can bersama dua orang pembantunya tewas, para penduduk dusun Li-bun terkejut dan marah bukan main. Karena merasa bersedih merekapun menjadi nekat dan sambil berteriak-teriak mereka mau mengeroyok Seng Gun dengan segala macam senjata yang 89

mereka bawa dari rumah, yaitu alat-alat bertani dan berkebun seperti cangkul, parang, linggis, kapak dan sebagainya. Dan Seng Gun lalu mengamuk. Pemuda ini merasa gembira sekali mendapatkan kesempatan untuk menguji kepandaiannya. Dia menaati pesan ayahnya dan tidak melakukan pembunuhan Dengan suling peraknya di tangan, dia mengamuk, menyambut terjangan puluhan orang itu dan dia menangkis dengan pengerahan tenaga, membuat banyak senjata para pengeroyok terpental dan terlempar, dan dia merobohkan mereka satu demi satu dengan tendangan. tamparan tangan kiri, juga totokan sulingnya tanpa pengerahan tenaga yang terlalu kuat sehingga tidak ada di antara mereka yang sampai tewas. Dalam waktu singkat saja, kurang lebih tigapuluh orang itu sudah roboh semua dan biarpun tidak ada yang menderita luka parah, namun mereka menjadi jerih dan tidak berani lagi melanjutkan pengeroyokan.

Kini, tiga orang kakek itu keluar dan Kwi-jiauw Lo-mo tertawa senang melihat kemajuan puteranya. “Bagus, Seng Gun.” Pemuda itu berdtri dengan mulut tersenyum dan wajah berseri. Hek bin Mo-ong lalu berseru dengan suara nyaring kepada semua orang yang. masih nampak terkejut, jerih dan juga gelisah itu.

“Kalian masih diampuni, akan tetapi kalau kami melihat penduduk Li-bun masih berani menentang kami, dusun itu akan kami bakar dan kalian semua beserta seluruh keluarga kalian akan kami bunuh! Nah, bawa pergi mayat-mayat ini dan jangan sekali-kali berani ke sini kalau tidak kami panggil!”

Para penduduk dusun itu tidak berani banyak cakap lagi. Mereka menggotong mayat tiga orang itu dan menuruni bukit dengan wajah muram. Lima orang warga dusun yang pertama tidak berani pergi karena mereka telah diberi tugas untuk bekerja melayani para datuk itu, dan dua orang wanita yang menerima tugas memasak dan menyediakan bahan masakan, sudah datang dan dibantu oleh beberapa orang 90

menggotong semua bahan masakan yang mereka beli.

Pada malam hari, setelah matahari tenggelam di kaki langit barat dan hari berubah menjadi gelap, muncullah tamu-tamu yang dinanti oleh tiga orang datuk sesat itu. Dan kemunculan lima orang tamu inipun seperti setan saja. ‘Tahu-tahu mereka telah muncul di pekarangan kelenteng itu. Seng Gun yang oleh ayahnya ditugaskan berjaga di ruangan depan kelenteng, terkejut dan kagum. Lima orang tamu itu benar-benar hebat, tanpa mengeluarkan suara, juga tidak nampak bayangan mereka datang, tahu-tahu sudah berdiri disitu, berjajar bagaikan patung, tidak mengeluarkan suara, namun mereka berdiri tegak dengan sikap berwibawa. Inilah lima orang yang oleh ayahnya dan dua orang susioknya disebut sebagai Bu-tek Ngo Sin-liong (Lima Naga Sakti Tanpa Tanding)! Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari perkumpulan atau aliran Hoat-kauw dan kabarnya mereka memiliki tingkat ilmu kepandaian yang hebat, bahkan menurut ayahnya, tingkat mereka sudah sebanding tingkat ayahnya dan dua orang susioknya! Bukan main! Padahal, selama ini dia selalu beranggapan bahwa di dunia. persilatan, ayahnya dan dua orang susioknya merupakan datuk-datuk tanpa tanding! Apa lagi setelah melihat perwujutan mereka, hatinya meragu. Dia sudah mendapat keterangan jelas dari ayahnya mengenai lima orang tokoh ini dan setelah kini mereka berada di pekarangan, wajah mereka disinari lampu-lampu gantung di depan kelenteng, dia dapat mengenal mereka satu demi satu .

Orang pertama dari Lima Naga Sakti itu adalah Ang-sin-liong (Naga Sakti Merah) Yu Kiat, seorang laki-laki berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan, sikapnya tinggi hati dan pakaiannya serba merah. Di pinggangnya terselip sebatang goiok yang punggungnya seperti gergaji .

Orang ke dua bernama Tiat-sin-liong (Naga Sakti Besi) Lai Cin, yang berusia sekitar empatpuluh tahun, tubuhnya tinggi 91

kurus dengan muka pucat. Nanpaknya saja orang ini berpenyakitan dan Iemah, akan tetapi sesuai dengan julukannya, dia adalah seorang manusia besi alias kebal tubuhnya, keras seperti besi. Dia memegang sebatang konce (tombak cagak) yang beronce biru.

Orang ketiga seurang wanita bernama Hwi-sin-liong (Naga Sakti Terbang) Mo Hwa, berusia tigapuluh tahun, cantik dan anggun, dengan sikap yang angkuh galak, pandang matanya dingin, tubuhnya ramping dan di punggungnya nampak siang-kiam (sepasang pedang). Sesuai dengan julukannya, wanita ini memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sehingga ia dijuluki Naga Sakti Terbang.

Orang ke empat bernama Lam-hai Sin-liong Kwa Him, berusia duapuluh tujuh tahun, tubuhnya tinggi besar dan mukanya merah, gagah sekali. Sesuai dengan julukannya Lam-hai Sin-liong (Naga Sakti Laut Seiatan) dia memang memiliki keahlian dalam air seperti seekor naga laut, dan di samping keahlian dalam air, juga Kwa Kim ini terkenal memiliki tenaga gajah.

Orang ke lima adalah adik dari Kwa Him ini, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang bernama Bi-sin-liong (Naga Sakti Cantik) Kwa Lian. Wajahnya cantik manis, terutama sekali mata dan mulutnya yang nampak menantang dan genit, tubuhnya ramping sekali dengan pinggang yang kecil dan pinggul besar. Sebatang pedang nampak di punggungnya, dengan ronce merah.

Akan tetapi melihat mereka, apa lagi orang ke tiga, ke empat dan ke lima, Seng Gun mengerutkan alisnya. Orang-orang seperti itu dikatakan amat lihai oleh ayahnya? Dia tidak percaya! Terutama sekali orang termuda, Bi-sin-liong Kwa Lian. Gadis cantik yang nampak lembut itu bagaimana mungkin dapat memiliki ilmu kepandaian tinggi? Timbul keinginan hatinya untuk menguji Dia lalu turun dari ruangan depan, ke pekarangan menghampiri lima orang yang berdiri 92

bagaikan patung itu.

Seng Gun mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat. Pemuda remaja yang berpakaian sutera putih ini memang tampan dan pandai membawa diri sehingga sikapnya yang menghormat itu menyenangkan. Akan tetapi lima orang itu tidak bergerak.

“Kalau boleh saya mengetahui, si apakah ngo-wi (anda berlima) dan ada keperluan apakah datang ke kelenteng ini?” tanya Seng Gun dengan sikap menjajagi.

Bin-sin-liong Kwa Li an adalah seorang gadis cantik yang memiliki satu kelemahan, yaitu dia mudah terpikat oleh pria yang halus dan tampan. Kini, melihat Seng Gun, biarpun pemuda itu masih remaja, paling banyak enambelas tahun usianya, seketika ia terpikat. Pemuda itu memang tampan menarik. Mendengar pertanyaan Seng Gun, Kwa Lian lalu melangkah maju, mewakili empat orang rekannya tanpa minta persetujuan lagi dan ia memandang kepada Seng Gun sambil tersenyum manis dan pandang matanya mengerling tajam.

“Kami Bu-tek Ngo Sin-liong, memenuhi undangan Kwi-jiauw Lo-mo. Siapakah engkau, adik tampan? Kalau Kwi-jiauw Lo-mo berada di kelenteng, tolong panggil dia keluar menemui kami. Dan engkau sendiri siapakah?”

“Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui adalah ayahku dan namaku Tong Seng Gun. Aku memang ditugaskan ayah untuk menyambut Bu-tek Ngo Sin-liong akan tetapi melihat ngo-wi, aku menjadi ragu apakah benar aku berhadapan dengan Bu-tek Ngo

Sin-liong. Apa lagi melihat engkau, enci, yang masih begini muda, cantik dan kelihatan lemah. Pada hal, menurut yang kudengar, Lima Naga Sakti adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian hebat.”

Kalau empat orang yang lain mengerutkan alis mereka memandang kepada Seng Gun dengan tak senang, sebaliknya 93

Bi-sin-liong Kwa Lian terkekeh genit.

“Hi-hi-hik, katakan saja engkau menguji kami, adik tampan! Baiklah, sebagai putera Kwi-jiauw Lo-mo, tentu engkaupun bukan anak sembarangan. Nah, untuk meyakinkan hatimu bahwa nama kami bukan hanya nama kosong belaka, majulah dan kalau daIam sepuluh jurus sulingmu dapat menyentuhku dan aku masih belum dapat menundukkanmu, biar aku berganti julukan saja, hi-hik!”

Kini Seng Gun yang merasa mukanya panas karena penasaran. Memang dia pernah terdesak oleh murid mendiang Kong Hwi Hosiang, akan tetapi dengan seorang diri saja dia mampu merobohkan tigapuluhan orang! Bagaimana mungkin hanya sepuluh-jurus saja dia akan kalah oleh gadis yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu? “Baik, enci Kalau dalam sepuluh jurus engkau dapat menundukkan aku, nanti di dalam aku akan memberi hormat dan menyuguhkan tiga cawan arak kepadamu. Akan tetapi bagaimana kalau aku mampu bertahan sampai sepuluh jurus?”

Kembali wanita itu terkekeh dan kini senyumnya yang melebar membuat deretan giginya yang terpelihara rapi dan putih bersih nampak manis sekali. “Kalau engkau mampu bertahan sampai sepuluh jurus, aku mengaku kalah dan aku akan memberi ciuman tiga kali padamu!”

Wajah Seng Gun berubah kemerahan akan tetapi hatinya girang bukan main. Dicium wanita biasa, betapapun cantiknya ia, masih belum ada artinya, akan tetapi dicium Bi-sin-liong Kwa Lian? Sungguh merupakan kebanggaan tersendiri ! ‘

“Baik, aku akan mulai, enci!” katanya sambil mencabut suling perak dari sabuknya.

“Bagus, aku sudah siap!” kata pu la Kwa Lian gembira. Seng Gun yang tentu saja ingin mendapatkan kemenangan segera menyerang dengan sulingnya. Suling itu menjadi sinar 94

putih kemilauan yang menyambar diiringi suara ngaung yang nyaring, dan sudah meluncur ke arah leher wa Lian untuk menotok jalan darah.

“Bagus!” kata Kwa Lian, dan dengan gerakan ringan sekali, ia mengelak. Seng Gun tidak melanjutkan serangannya. Dia teringat bahwa taruhannya adalah bahwa dia harus mampu bertahan sampai sepuluh jurus, maka sikap paling menguntungkan baginya adalah sikap berjaga d’iri dan mencurahkan seluruh daya untuk mencegah agar dia tidak sampai dikalahkan dalam sepuluh jurus. Satu jurus telah lewat dan dia tidak mau menyia-nyiakan jurus-jurus selebihnya untuk menyerang karena dengan menyerang, penjagaan dirinya tentu kurang kuat. Setiap kali menyerang, tentu ada bagian tubuhnya yang terbuka dan pertahanannya lemah. Maka, kini dia hanya memutar suling menjadi gulungan sinar perak dan dia/tidak melakukan serangan!

Melihat ini, Kwa Lian tertawa. “Heh-heh-heh, engkau adik yang tampan dan cerdik. Lihat, encimu mulai menyerang!” Mulailah wanita itu menyerang, dengan cengkeram dan totokan, sambil menghitung jurus-jurusnya. Gerakannya aneh namun indah, dan bau harum yang keluar dari kedua tangannya kalau ia menyerang, membuat Seng Gun merasa agak pening. Dia terkejut dan mengerahkan sinkang karena maklum bahwa bau harum itu bukan sembarang bau, melainkan racun atau hawa beracun! Diapun mengelak dan menggerakkan suling untuk menangkis kelebatan tangan yang mencengkeram atau menotok. Sampai hitungan ke delapan, dia mampu bertahan dan hatinya sudah merasa qirang bukan main. Dia akan mendapal hadiah tiga kali ciuman, dan ada rasa bangga bahwa dia telah dapat membuat orang ke lima dari Bu-tek Ngo Sin-liong kalah bertaruh! 95

Jilid IV

Awas, jurus, ke sembilan! terdengar suara Kwa Lian dan kedua tangannya melakukan totokan dari kanan kiri! Melihat ini, Seng Gun menggerakkan sulingnya untuk menyambut tangan kiri gadis itu dengan totokan pada telapak tangan, sedangkan tangan kirinya siap menangkis totokan lawan dengan tangan kanan. Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara terkekeh, kepalanya bergerak dan tiba-tiba nampak sinar hitam menyambar dari atas kepalanya. Itulah rambutnya yang hitam dan panjang, yang merupakan senjata ampuh wanita itu di samping pedangnya. Rambut itu, sekali ia meng-gerakkan’ kepala dengan sentakan tertentu, telah terlepas dari sanggulnya dan rambut yang hitam panjang itu kini menyambar ke arah Senq Gun, terpecah menjadi dua gumpal dan tahu-tahu dua gumpal rambut itu telah melibat kedua pergelangan tangan Seng Gun! Demikian kuat libatannya sehingga pemuda remaja itu merasa kedua lengannya lumpuh.

“Nan, dalam sembilan jurus aku telah mengalahkanmu, adik tampan!” ka-ta Kwa Lian. Seng Gun mengerahkan tenaga, berusaha melepaskan kedua tangannya yang terlibat rambut, namun gagal. Muka wanita itu demikian dekat dengan muka mereka sehingga dia dapat merasakan hembusan napas dari hidung wanita itu ke mukanya, akan tetapi dia sudah gagal untuk mendapatkan ciuman kemenangan. Dia menghela napas kecewa.

“Baiklah, aku mengaku kalah dan aku akan memberi hormat kepadamu dengan cawan arak,” katanya lemas.

“Hi-hik, engkau tampan dan cerdik, sudah sepatutnya kuberi hadiah ciuman, biarpun hanya satu kali,” kata Kwa Lian dan tanpa melepaskan libatan rambutnya. ia menggunakan kedua tangan merangkul leher pemuda itu, menariknya dan di lain saat, mulutnya telah mencium mulut Seng Gun. Pemuda ini, hampir pingsan rasanya ketika merasakan betapa bibir 96

yang lunak dan lembut, hangat dan penuh gairah itu menghisap bibirnya. Setelah Kwa Lian melepaskan ciumannya, Seng Gun terengah dan mukanya menjadi merah sekali.

Bi-sin-liong Kwa Lian melepaskan libatan rambutnya sambil tertawa. Sementara itu, Ang-sin-liong Yu Kiat, orang “tertua yang menjadi pemimpin Bu-tek Ngo-sin- liong , segera berseru dengan suara berwibawa ke arah kelenteng.

“Kwi-jiauw Lo-mo, apakah engkau tidak cepat keluar menyambut kami?”

Dari dalam kelenteng segera terdengar suara tawa dan jawaban Kwi-ji-auw Lo-mo segera terdengar. “Aha, maaf kan kami, Bu-tek Ngo-sin-liong! Kami sudah menyuruh puteraku menyambut, agaknya dia yang masih muda suka bermain-main. Maafkan kami!” Tiga orang datuk itu berjalan keluar dengan kedua tangan terangkap di depan dada, menyambut dengan gembira.

“Hi-hik, Lo-mo! .Puteramu ini menyenangkan juga!” kata Kwa Lian kepada Kwi-jiauw Lo-mo.

Datuk yang gendut seperti katak itu tertawa. “Ha-ha-ha-ha, tentu saja. Anak siapa? Akan tetapi usianya baru enam belas tahun. Nona Kwa, maka . kuharap engkau jangan menyeret dia!” Kedua nya tertawa, dan Kwa Lian menjawab dengan suara mengejek.

“Hemm, aku bukan wanita yang suka memperkosa seperti engkau! Dan kalau saja puteramu ini seperti engkau, seperti seekor katak, aku tidak akan mengatakan dia menyenangkan,” kembali mereka tertawa-tawa. Melihat sikap orang-orang itu, diam-diam Seng Gun merasa heran. Kiranya lima orang tamu itu tidak banyak bedanya dalam hal sikap dibandingkan ayahnya dan kedua orang susioknya. Pada hal, bukankah mereka itu tokoh-tokoh besar dari Hoat-kauw? Dan sepanjang pengetahuannya, Hoat-kauw adalah suatu aliran yang menjaga keras peraturan! Menjaga keras tegaknya hukum dan 97

keadilan! Tadinya dia sudah khawatir mendengar ayahnya dan dua orang susioknya yang menjadi kepercayaan dan utusan orang-orang Mongol, hendak mengadakan hubungan dan kerjasama dengan Hoat-kauw. Dia khawatir kalau-kalau ayahnya tidak akan cocok dengan orang-orang yang kabarnya menegakkan hukum dan keadilan dengan kekerasan. Siapa kira, sikap mereka itu ugal-ugalan dan tidak mengenal peraturan seperti juga sikap ayahnya, susioknya dan segolongan mereka.

Tentu saja seorang pemuda berusia enambelas tahun seperti Seng Gun, apa lagi yang sejak kecil hidup di tengah lingkungan orang-orang sesat, tidak dapat menangkap keadaan yang nampaknya bertentangan itu. Dia tahu bahwa seperti juga semua aliran dan ajaran kebatinan, bahkan ajaran agama, merupakan ajaran yang baik, menjadi penuntun bagi manusia agar hidup bermanfaat bagi kemanusiaan, bagi dunia, agar hidup sebagai orang yang selalu membela kebenaran, keadilan dan menumbuhkan cinta kasih di antara manusia. Tidak ada ajaran agama atau aliran kebatinan yang mengajarkan orang untuk berbuat jahat dan kejam. Namun, ajaran tetap merupakan ajaran, sesuatu yang mati . Yang hidup dan yang menentukan adalah manusianya, penganut ajaran itu. Baik dan buruknya bukan terletak di da lam ajaran itu, melainkan di dalam pelaksanaannya dalam kehidupan, di dalam langkah hidup dan perbuatannya. Betapa pun suci teorinya, kalau prakteknya kotor, maka perbuatan atau praktek itu hanya akan menodai dan mengotori teorinya. Betapa banyaknya terjadi pertentangan agama, pertentangan aliran. Sesungguhnya, bukan ajaran-ajaran itu yang bertentangan, karena tidak ada ajaran yang menganjurkan manusia saling bertentangan, melainkan ulah si manusia sendirilah yang mempertentangkannya. Ajaran aliran dan keagamaan diada kan untuk manusia di dunia tanpa pilih bulu. Kalau ajaran itu sudah dimonopoli, menjadi milikku, milik golongan atau kelompokku, milik bangsaku, maka timbullah 98

pertentangan antara milikku dan milikmu , agamaku dan agamamu . Apapun diperebutkan oleh kita manusia ini. Kebenaran diperebutkan, bahkan Tuhan diperebutkan!

Aliran Hoat-kauw mempunyai ajaran agar manusia menaati hukum dan keadilan. Akan tetapi, bagaimana kenyataannya? Manusia tetap manusia dengan segala macam nafsu daya rendah yang menguasai dirinya. Kenyataannya, seperti yang dilihat Seng Gun, hukum itu hanya berlaku bagi mereka yang kalah, mereka yang berada di bawah. Mereka itulah yang harus menaati hukum. Bagi yang menang dan yang berkuasa? Merekalah hukum! Merekalah pembuataan penggaris hukum! Merekalah yang benar dan apapun yang mereka lakukan adalah adil dan benar. Mereka adalah penegak hukum, yaitu menegakkan hukum agar ditaati bawahan. Merekalah lambang hukum, kebenaran dan keadilan. Yang salah adalah orang lain, terutama orang bawahan. Sesungguhnya, kalau kita mau melihat keadaan sebagaimana adanya, hukum rimbalah yang berlaku di mana-mana. Yang kuat dia menang, yang menang dia berkuasa, yang berkuasa dia benar dan baik! Tentu saja hukum rimba ini diselubungi berbagai macam peraturan yang nampaknya beradab dan baik sehingga tidak nampak lagi. Karena yang kuasa selalu benar, maka di dunia ini manusia saling berlumba memperebutkan kekuasaan. Dalam keluarga, di antara teman, dalam masyarakat, dalam perkumpulan, dalam pemerintahan. Di mana saja orang memperebutkan kekuasaan karena kekuasaan sumber kesenangan.’ kekuasaan memungkinkan orang memperoleh apapun yang dikehendaki nya.

Kini empat ‘orang pihak tuan rumah dan l ima orang tamu mereka i tu duduk menghadapi meja dan menikmati jamuan makan yang dibuat oleh orang-orang dusun yang dipaksa menjadi pembantu di kelenteng itu.

Kwi-jiauw Lo-mo menyatakan keinginan kepala suku Mongol untuk mengajak Hoat-kauw bersekutu agar mereka da 99

pat bersama-sama menguasai seluruh negara.

“Menurut Ku-ma-khan, kepala suku Mongol, sekaranglah waktunya yang tepat untuk menguasai Kerajaan Tang yang semakin lemah. Orang-orang Mongol sudah menghimpun kekuatan dan siap untuk melakukan penyerbuan ketimur dan selatan. Dan melihat bahwa Hoat-kauw merupakan perkumpulan yang besar dan mempunyai banyak orang pandai, maka Ku-ma khan mengulurkan tangan mengajak bekerja sama. Kalau kelak berhasil, maka Ho at-kauw yang akan menjadi satu-satu aliran agama yang harus dipejuk oleh seluruh rakyat.”

Ang-sin-liong Yu Kiat minum arak dari cawannya dan tersenyum lebar. “Ha ha agaknya kepala suku Mongol seorang yang bijaksana dan pandai. Mungkin beliau teringat betapa ratusan tahun yang lalu, aliran Hoat-kauw kami yang berhasil memperkuat Kerajaan Cin dan menguasai seluruh wllayah negeri. Memang, hanya dengan memegang teguh ajaran aliran kamilah maka suatu pemerintahan akan berhasil!” Ucapan terakhir ini bernada sombong.

Kwi-jiauw Lo-mo tidak mau kalah. “Akan tetapi , sobat. Hanya mengandal-kan peraturan ketat saja, tanpa adanya kekuatan pasukan, juga tidak akan mampu menghasilkan kekuasaan. Oleh karena itulah, kepala suku kami mengajak Hoat ka uw bergabung, agar dengan kekuatan pasukan Mongol, ditambah lagi penyebaran aliran Hoat-kauw, maka perjuangan akan berhasil.

Ang-sin-liong mengangguk-angguk. “Pendapatmu memang benar, Lo-mo. Akan tetapi, untuk mencapai hasil yang baik, merupakan jalan panjang dan tidak mudah. Kami mendengar bahwa bukan hanya bangsa Mongol yang melakukan gerakan untuk merampas kekuasaan, akan tetapi juga banyak suku bangsa lain, terutama sekali suku bangsa Tibet dengan para Lama Jubah Merah. Dan kami kira, kita harus membagi tugas kalau hendak bekerja sama. Kami akan mencoba untuk 100

mengalahkan aliran-aliran yang ada, sedangkan pihak Mongol berusaha untuk menalukkan suku-suku bangsa yang melakukan gerakan. Kalau kita kedua pihak su dah dapat menguasai suku-suku bangsa yang memberontak, menghimpun pula aliran-aliran di bawah satu bendera, yaitu bendera Hoat-kauw, barulah kita mempunyai kekuatan untuk bertindak.”

“Tepat sekaii,” kata Hek-bin Mo-ong sambil tersenyum lebar. “Kita memang harus membagi tugas. “Akan tetapi, menghadapi orang-orang Tibet kita harus ‘bersatu padu karena mereka itu merupakan gerakan gabungan antara pasukan Tibet yang dipimpin pula oleh para pendeta Lama yang hendak menyebar agama mereka.”

“Memang sebaiknya demikian. Bangsa Tibet cukup kuat. Bukan saja mereka mempunyai banyak pendeta Lama yang sakti, akan tetapi juga suku bangsa Yi an Miao termasuk suku yang tunduk kepada mereka dan menjadi sekutu mereka.”

“Hemm, untuk menghadapi pasukan mereka, kami tidak akan gentar,” kata Kwi-jiauw Lo-mo. “Bangsa Mongol juga mempunyai banyak kawan dari suku-suku bangsa yang berada di utara, seperti suku Mancu, Hui dan peranakan Han dengan kedua suku itu. Seperti juga kami bertiga ini. “Aku sendiri peranakan Mongol, Hek-bin Mo-ong peranakan Mancu, dan Pek-bin Mo-ong peranakan Hui.”

Demikianlah, delapan orang itu bercakap-cakap dan membagi siasat dan memutuskan bahwa kelenteng di Bukit Ayam Emas itu mereka jadikan tempat pertemuan. Ketika Kwi-jiauw Lo-mo mengusulkan agar Hoat-kauw mengambil alih kelenteng itu dan membuka cabang di situ agar tempat itu terjaga, Bu-tek Ngo sin-liong setuju. Memang tempat itu in dah sekali, juga cukup sepi dan jauh dari kota besar.

“Baik, kami akan mengirim anak buah ke sini dan sementara menjaga tempat ini agar tidak lagi dikunjungi orang dusun,” kata Ang-sin-liong Yu Ki-at. 101

Ketika perundingan itu berlangsung, Seng Gun hanya mendengarkan saja, tidak pernah mencampuri. Akan tetapi ada suatu rahasia yang hanya diketahui dia dan tiga orang datuk besar itu saja, rahasia besar tentang dirinya dan tentang cita-cita Kwi-jiauw Lo mo. Sepuluh tahun yang lalu, atau lebih sedikit, dia berusia enam tahun dia dilarikan dari istana kerajaan di Tiang-an ketika di istana terjadi perebutan kekuasaan secara besar-besaran dengan terbunuhnya Kaisar An Lu Shan karena keracunan. Seng Gun sebetulnya bermarga An, karena dia adalah putera An Lu Shan, dan ibunya adalah puteri Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Melihat betapa puteri dan cucunya terancam oleh perebutan kekuasaan, Kwi-jiauw Lo-mo menggunakan kepandaiannya untuk menyelamatkan mereka keluar dari istana. Akan tetapi, puterinya tidak mau, bahkan saking sedihnya karena kematian suaminya, sebagai seorang selir tercinta yang sebagai peranakan Mongol dahulu banyak membantu pemberontakan An Lu Shan sehingga berhasil, puterinya itu, Tong Kiauw Ni., membunuh diri Terpaksa Kwi-jiauw Lo-mo hanya melarikan cucunya saja, dan semenjak itu, untuk menjaga agar tidak ada yang mengenal Seng Gun sebagai putera Kaisar An Lu Shan, dia mengakui Seng Gun sebagai puteranya sendiri dan mengganti marga An di depan nama Seng Gun menjadi marganya sendiri, yaitu Tong. Biarpun ketika itu usianya baru enam tahun, Seng Gun mengerti akan semua peristiwa yang ter jadi dan menyadari bahwa demi keselamatan dirinya, dia harus mengakui kakek luarnya itu sebagai ayahnya.

Perundingan yang dilakukan tiga orang datuk dengan para pimpinan atau tokoh Hoat-kauw itu diikuti dengan penuh perhatian oleh Seng Gun, akan tetapi dia tidak mencampurinya sama sekali, hanya menjadi pendengar saja. Akan tetapi dia tahu benar bahwa kakeknya yang kini diakuinya sebagai ayahnya itu sedang mengatur suatu rencana untuk dirinya! Ya, dia tahu benar bahwa Kwi-jiauw Lo-mo berusaha keras untuk mengembalikan dia ke 102

tempatnya semula, yaitu di istana kota raja, kalau mungkin sebagai kaisar baru! Sebagai penerus kekuasaan An Lu Shan yang telah hancur dan diambil alih oleh Sia Su Beng.

Han Lin merasa seperti melayang di angkasa! Awan berarak di sekeliling nya seperti asap putih yang tebal. Tubuhnya terasa ringan sekali dan setiap ada angin berhembus, tubuhnya hanyut dalam aliran angin itu . Dan dia mendengar percakapan antara dua suara yang tidak nampak orangnya, suara yang kecil dan suara yang parau besar. Begitu jauh bedanya antara kedua suara itu sehingga tanpa melihat si pembicara sekalipun. Han Lin dapat membayangkan bahwa sepantasnya pemilik suara kecil itu seorang yang kurus dan pemilik suara besar seorang yang tinggi gemuk.

Suara kecil bertanya, “Tahukah engkau dengan sesungguhnya bahwa segala sesuatu adalah sama saja?”

Suara besar menjawab dengan pertanyaan pula, “Bagaimana saya bisa tahu?”

“Tahukah engkau apa yang engkau tidak tahu?”

“Bagaimana saya bisa tahu?”

“Kalau begitu tidak ada seorangpun tahu?”

“Bagaimana saya bisa tahu?” terdengar pula suara besar, lalu suara Itu melanjutkan, “Bagaimana juga, akan saya coba menerangkan padamu. Bagaimana dapat diketahui bahwa yang saya katakan tahu itu sesungguhnya tidak tahu, dan apa yang saya katakan tidak tahu itu sebetulnya tahu? Mungkin yang dikatakan salah itu benar dan yang dikatakan benar itu salah. Seorang manusia yang tidur di tempat basah akan jatuh sakit dan mati. Akan tetapi bagaimana dengan seekor belut? Dan hidup di atas puncak pohon adalah berbahaya dan menegangkan syaraf. Akan tetapi bagaimana dengan seekor monyet? Di antara manusia, belut dan monyet itu, tempat tinggal siapakah yang lebih benar dan tepat? Manusia makan daging , rusa makan rumput, burung makan ulat, kucing 103

makan tikus. Dari mereka semua itu, selera manakah yang lebih benar dan tepat? Monyet jantan bergaul dengan monyet betina, rusa jantan dengan rusa betina, belut dengan ikan, sedangkan manusia pria mengagumi ,Dewi Mo Clang dan Dewi Li Ci, pada hal melihat kedua wanita ini, ikan-ikan bersembunyi menyelam dan burung-burung ketakutan terbang, kijang lari ketakutan pula. Lalu siapakah dapat mengatakan yang manakah ukuran kecantikan” itu? Saya kira, pelajaran tentang kemanusiaan dan keadilan dan lorong-lorong dari benar dan salah demikian kacau balau sehingga tidak mungkin diselami dan diketahui.”

“Kalau begitu, Manusia Sempurna tidak tahu akan baik dan buruk?”

“Manusia Sempurna adalah mahluk suci. Bahkan andaikata lautan mendidih, dia tidak akan merasa kepanasan. Apa bila sungai-sungai membeku, dia tidak akan merasa kedinginan. Apa bila gunung-gunung dibelah halilintar, dan lautan-lautan diamuk badai, dia tidak akan gemetar ketakutan. Maka, dia seolah mendaki awan-awan di langit, menggembala matahari dan bulan di depannya, dan melewati batas-batas dari keberadaan duniawi. Mati’ dan hidup tidak lagi menguasai dia. Sama sekali dia ti dak lagi memperdulikan untung atau rugi.”

Mendengar percakapan antara dua suara kecil dan besar itu, Han Lin tersenyum dan diapun berkata, “Percakapan antara Yeh Cia dan Wang Yi, pelajaran bagi Mahaguru Juang-ce!”

Sebagai jawaban ucapannya itu, terdengar suara tawa yang aneh.

“Heh-heh-heh-ha-ha-hihihik!! ” Seolah yang tertawa ada beberapa orang. Suara tawa itu seperti menyentakkan Han Lin ke dalam kesadaran. Seperti orang baru bangun tidur, dia menggosok kedua mata, membuka mata dan bangkit duduk. Dia masih berada di depar gundukan makam Liu Ma, cuaca gelap dan hanya remang-remang diterangi bintang di langit. 104

Han Lin segera teringat segalanya dan diapun memutar tubuh dan nampak gundukan tanah kuburan ibu angkatnya, Liu Ma. Dan teringatlah dia akan peristiwa di kelenteng, betapa tiga orang hwesio telah terbunuh, dan ibu angkatnya juga tewas membunuh diri ke dalam jurang ini karena melihat dia terjerumus ke dalam jurang.

Teringat akan ini, Han Lin men-jatuhkan diri tiarap di depan gundukan tanah itu dan menangis lagi, menangisi” kematian. Liu Ma yang telah mengorbankan nyawanya karena amat menyayangnya. Kini terkenang semua kebaikan hati Liu Ma yang menyayangnya seperti anak sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara tawa aneh tadi, disusul kata-kata yang lembut. “Betapa indahnya sangkar emas penuh makanan, burung akan tetap berusaha meloloskan diri. Setelah burung terbang bebas, lepas dari sangkarnya, pantaskah ditangisi?”

Han Lin menghentikan tangisnya, merangkak bangun dan membalikkan tubuh Dia tadi tidak mimpi ! Suara kecil berlawanan dengan suara besar, suara tawa aneh itu, tanya-jawab seperti dua orang memainkan ajaran Juang-ce, semua itu bukan mimpi! Dan dia meiihat seorang kakek berdiri di depannya! Cuaca memang remang-remang, akan tetapi entah bagaimana, dia dapat melihat wajah itu dengan jelas sekal i. Apakah wajah itu mengandung cahaya sehingga demikian jelas? Dia tidak tahu. Wajah seorang kakek yang tubuhnya sedang tingginya namun agak kurus. Wajah itu nampak putih kemerahan, matanya seperti sepasang bintang, rambutnya, kumis dan

jenggotnya, seperti benang sutera putih. Pakaiannya dari kain kasar berwar na putih kekuningan, namun bersih. Sepatunya dari kulit kayu, merupakan pelindung telapak kaki saja. Sukar menaksir usianya, bisa saja sudah tua sekali lebih dari seratus tahun, akan tetapi wajah dan terutama matanya seperti masih amat muda. Ketuaannya itu diperkuat dengan 105

adanya sebatang tongkat

bambu yang dipegangnya, seolah menjadi penopang tubuhnya.

“Heh-heh-heh, engkau mengenal ajaran Mahaguru Juang-ce, bagus memang, akan tetapi alangkah lebih bagusnya ka lau engkau tidak hafal akan semua ajaran mahaguru yang manapun juga.”

Tentu saja ucapan yang berlawanan ini membuat Han Lin mengerutkan alisnya. Dia sudah duduk bersila menghadap gurunya, seperti kalau dia menghadap mendiang Kong Hwi Hosiang di kelenteng.

“Maafkan saya, lo-cian-pwe. Saya kira pendapat lo-cian-pwe tadi membingungkan dan berlawanan. Lo-cian-pwe mengatakan bagus bahwa saya mengenal ajaran Juang-ce, lalu menambahkan akan lebih bagus kalau’ saya tidak mengenal semua ajaran.”

Kembali kakek itu tertawa, kini suara tawanya lembut sekali. “Memang sebaiknya kalau mengenal semua ajaran para bijaksana itu dengan membaca kitabnya, namun hanya sekedar mengenal saja untuk menambah pengertian. Namun, semua ujar-ujar dan nasihat yang ribuan banyaknya itu tidak ada manfaatnya kalau hahya dihafal saja.”

“Maaf, lo-cian-pwe. Bukankah ajaran-ajaran itu baik sekali untuk pedoman kita hidup di dunia ini? Ajaran-ajaran itu dapat menuntun kita melalui jalan kebenaran dalam hidup, membuat kita mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah.”

“Ha-ha-ha, di situlah letak kesalahannya, anak yang baik. Kalau orang menjalani hidup ini disesuaikan dengan ajaran-ajaran itu, melakukan perbuatan yang sesuai dengan petunjuk ajaran, maka kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran bahwa itu adalah kebaikan bukanlah kebaikan lagi namanya! Perbuatan seperti itu palsu, anakku, karena perbuatan seperti 106

itu hanya merupakan suatu cara untuk mencapai sesuatu, bukan merupakan suatu keadaan yang wajar, yang dengan sendirinya sudah merupakan suatu keadaan tanpa membutuhkan cara untuk mencapainya lagi.”

Han Lin menjadi pening tujuh keliling ! “Wah, saya tidak mengerti, locianpwe. Apa artinya semua itu? Mohon penjelasan.”

“Sudah jelas, anak baik. Perbuat an baik yang dilakukan dengan pamrih meraih sesuatu hasil dari perbuatan itu, adalah perbuatan palsu, hanya merupakan suatu cara mendapatkan sesuatu. Perbuatan apapun itu, dinilai baik ataupun buruk, kalau dilakukan karena digerakkan pamrih memperoleh hasil sesuatu, adalah palsu! Munafik, topeng kebaikan untuk mendapatkan keuntungan, sama seperti harimau bertopeng domba, tidak lebih baik dari pada harimau tanpa topeng. Dan ajaran-ajaran kebaikan itu seringkali menjadi topeng domba bagi harimau-harimau yang berkeliaran.”

“Wah, saya menjadi semakin bingung. Kalau perbuatan baik menurut ajaran dianggap palsu, lalu yang baik itu bagaimana, locianpwe?” Han Lin mengejar dengan hati penasaran. Alangkah bedanya pendapat kakek aneh ini di bandingkan ajaran yang dia terima dari Kong Hwi Hosiang yang selalu mengajarkan bahwa hidup haruslah melalui jalan kebenaran, memupuk kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat. Dan kakek ini mengatakan bahwa perbuatan baik menurut ajaran adalah palsu dan sama saja dengan perbuatan jahat. Bagaimana ini?

“Kebaikan dan kejahatan itu sama saja, hanya penilaian, seperti siang dan malam, kanan dan kiri, benar dan tidak benar dan selanjutnya, dan selama kita dikuasai oleh im-yang (positif negatif) ini, maka biduk kehidupan tak kan pernah merasakan ketenangan, dipermainkan ombak kanan kiri.”

“Tapi, apa yang narus kita laku ke dalam kehidupan ini, locianpwe?” 107

“Lakukan apa saja yang harus kau lakukanl Yang dinamakan kebenaran, kebajikan dan sebagainya, sesungguhnya merupakan suatu keadaan batin, tidak dinilai dari kata dan perbuatannya. Selama batin masih dicengkeram nafsu, maka daya-daya rendah yang menjadi dasar setiap kata dan perbuatan, karenanya palsu . “

“Lalu sikap apa yanq harus kita ambil dalam hidup?”

“Lihatlah bulan, bintang, matahari, awan dan seluruh alam ini. Mereka semua bergerak, mereka semua bekerja, dan memang demikianlah keharusan dan keadaan mereka. Tidak baik tidak buruk, tidak benar tidak salah, dan itu adalah karena mereka itu wajar. Bunga mawar berduri dan harum, itulah kewajaran. Bunga anggrek indah dan tidak harum, itulah kewajaran. Wajar itulah indah, wajar itulah kenyataan, wajar itulah To (Jalan, atau Kekuasaan Mutlak). Seyogianya kita menjadi manusia wajar.”

“Akan tetapi, dari mana timbulnya rangsangan kejahatan yang membuat manusia melakukan perbuatan kejam dan jahat?”

“Nafsu daya rendah yang mendorong manusia melakukan perbuatan merugikan sesamanya. Nafsu selalu mendorong, ingin ini, ingin itu, berpamrih demi pemuasan diri, demi kesenangan, karena itu, perbuatan yang didorongnya selalu berpamrih. Dan pamrih tetap pamrih, bisa berpakaian bersih dan indah atau berpakaian butut kotor, tetap pamrih dan selama ada pamrih, setiap perbuatan adalah palsu. Sudahlah, Han Lin, kelak engkau akan mengerti sendiri kalau engkau mulai saat ini suka menjadi temanku.”

Han Lin terbelalak. “Bagaimana lo-cian-pwe dapat mengetahui nama saya?”

“Ha-ha, apa artinya nama? Karena engkau bernama, maka aku mengetahu-nya.”

“Maksud lo-cian-pwe, mulai sekarang saya menjadi murid 108

lo-cian-pwe?”

“Bukan murid, melainkan teman, sahabat. Tidak ada guru manusia lain dalam kehidupan ini, mengenai soal kehidupan karena kita sendiri masing-masing adalah gurunya, juga muridnya. Bimbingan utama datang dari dalam diri sendiri, To (Kekuasaan Tuhan) telah berada dalam diri setiap orang manusia dan Dialah yang menjadi Pembimbing. Tentu saja kalau engkau ingin mempelajari ilmu jasmaniah yang dikuasai, engkau dapat belajar dariku.”

Mendengar ini, langsung saja Han Lin menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu. “Suhu yang mulia, mulai malam ini, teecu (murid) Han Lin akan menaati semua petunjuk suhu!”

Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih halus dan tertawa gembira.

“Ha-ha-ha,: bukan kehendakku engkau menjadi muridku, Han Lin, bukan kehendakku, melainkan sudah digariskan dari semula!” Kakek itu menengadah memandang langit, seolah hendak mencari rahasia kejadian itu di antara bintang di langit. .

“Suhu, kalau boleh teecu mengeta hui, suhu siapakah?”

“Heh-heh, tidak tahukah engkau? Aku juga seorang manusia seperti engkau, hanya bedanya, aku lebih lama berada di dunia ini dibandingkan engkau.”

Han Lin tertegun. Jawaban itu memang tentu saja benar, namun begitu sederhana, seperti percakapan antara kanak-kanak saja. “Maksud teecu, suhu. Siapakah nama suhu yang mulia?”

“Hemm, apakah artinya nama? Nama tidak sama dengan yang dinamakan. Sebutan bulan bukanlah bendanya, sebutan Han Lin bukanlah orangnya.”

Han Lin sudah banyak membaca. kitab-kitab kuno, maka 109

ucapan ini tidak membuatnya heran. “Teecu mengerti, suhu. Akan tetapi, tanpa adanya nama atau sebutan, tentu tidak ada percakapan, tidak ada hubungan antar manusia. Maksud teecu, .sebutan teecu dengan kata “suhu” juga merupakan nama, bukan? Nah, maksud teecu, nama suhu, bukan sebutannya, siapakah?”

“Ha-ha, kalau hendak menyebutku, sebut saja Lo-jin (Orang tua), karena memang aku seorang yang sudah tua!” Diapun tertawa-tawa seperti merasa geli mendengar ucapannya sendiri.

“Ingat suhu. Nama Lo-jin itupun dapat menjadi nama, dan Lo-jin bukanlah orangnya!”

Kini guru dan murid itu tertawa-tawa geli dan sungguh aneh sekali kalau ada orang lain melihatnya. Seorang pemuda remaja dan seorang kakek, di tengah malam penuh bintang didasar jurang depan gundukan tanah kuburan baru, tertawa-tawa seperti digelitik perutnya!

“Sudahlah, hayo ikut aku. Pegang ujung tongkatku,” kata kakek itu sambil menyodorkan tongkat bambunya. Han Lin memegang ujung tongkat bambu itu dan kakek itu lalu bergerak melangkah. Dan terjadilah sesuatu yang “membuat Han Lin terbelalak dan tengkuknya terasa dingin. Dia merasa seperti dalam mimpi ketika dia setengah tertarik ketika memegangi ujung tongkat, mengikuti kakek itu mendaki jurang yang amat curam, tebing yang berlawanan dengan tebing di mana dia terjatuh. Menurut nalar, agaknya tidak mungkin mendaki tebing secara itu, apa lagi dalam malam yang remang-remang. Akan tetapi Han Lin merasa seperti seekor cecak saja, atau lebih tepat lagi dia terbetot dan terseret naik oleh tongkat bambu itu. Dia merasa ngeri dan memejamkan kedua matanya, menurut saja diseret ke atas, kedua kakinyapun asal melangkah saja, akan tetapi dia memegangi ujung tongkat dengan pengerahan seluruh tenaganya karena sekali tongkat itu terlepas dari tangannya, 110

tentu dia akan meluncur ke bawah dan tidak akan ada yang mampu menyelamatkannya. Akhirnya mereka tiba di atas tebing. akan tetapi kakek itu masih terus saja monariknya. Demikian kuatnya tenaga yang tersalur melalui tongkat bambu itu sehing ga Han Lin merasa seolah-olah tubuhnya diterbangkan. Cuaca kadang gelap, kadang terang, namun mereka meiuncur terus. Han Lin merasa seperti dalam mimpi dan kembali dia memejamkan mata, menyerah saja penuh keyakinan bahwa kakek itu bukan manusia biasa, bahkan mungkin pula bukan manusia! Ataukah ka kek itu petugas menjemputnya meninggalkan dunia ini? Apakah dia sudah mati?

Langit di ufuk timur mulai terbakar oleh cahaya kemerahan. Sinar cerah sang matahari mulai mengusir kegelapan walaupun mataharinya sendiri beium nampak. Seluruh permukaan bumi agaknya menyambut kemunculan Sang Surya ini dengan penuh kegembiraan. Bayang-bayang hitam kegelapan mulai memudar, terganti cahaya yang.mulai menghidupkan segala sesuatu. Pohon-pohon dan semua tumbuh-tumbuhan sampai rumput, seolah baru bangkit dari tidur lelap diselimuti kegelapan malam. Burung-burung berkicau riang, ayam hutan berkokok bangga. Kabut pagi mulai menyingkir perlahan dihembus semilir angin, dihalau cahaya matahari pagi. Embun bergantungan pada pucuk daun dan rumput, di bibir bunga-bunga, nampak tak rela melepaskan pegangan terakhir sebelum akhirnya terle pas dan terhempas ke tanah pula. Segala sesuatu nampak segar gemilang.

Han Lin duduk bersila. Baru saja kakek itu menghentikan gerakannya dan melihat kakek itu duduk bersila di atas batu datar halus diapun ikut duduk di atas rumput kering. Mereka kini berada di puncak sebuah bukit yang sepi sekali, di tengah perbukitan yang amat luas. Dia tidak berani mengganggu karena kakek itu duduk bersila dengan ke dua mata terpejam dan pernapasannya seperti orang yang sedang tidur. Melihat 111

kakek itu beristirahat, Han Lin tidak berani mengganggu dan diapun memperhatikan kakek aneh itu. Melihat wajah kakek itu, dia teringat kepada mendiang Kong Hwi Hosiang yang mempunyai wajah seperti wajah anak kecil. Wajah kakek inipun segar kemerahan dan tidak terhias keriput walaupun tubuhnya tidak gemuk seperti Kong Hwi Hosiang. Tubuh kakek ini tegap dan kurus. Rambut, kumis dan jenggotnya putih seperti benang sutera putih.

Karena baru saja dia nyaris tewas, juga telah terpukul, kemudian semalam suntuk mengikuti kakek itu melakukan perjalanan seperti terbang, Han Lin merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan lelah sekali, maka diapun mencontoh kakek di depannya dan memejamkan mata, beristirahat.

Ketukan tongkat pada batu membangunkan Han Lin dan ternyata hari telah menjelang siang. Matahari telah naik tinggi dan kakek itu memandang kepadanya dengan senyum aneh. Senyum itu seperti sinar matahari pagi yang menghidupkan, hangat dan menimbulkan gairah hidup, penuh kepasrahan, kesabaran, kewajaran.

“Suhu !” kata Han Lin dan diapun mengubah kedudukan kakinya yang tadi bersila kini berlutut.

. “Han Lin, duduklah bersila seperti tadi dan sekarang ceritakan segalanya tentang dirimu,” terdengar kakek yang hanya dikenalnya dengan’ sebutan Lo-jin (Orang tua) itu berkata dengan lembut. Snaranya bagaikan desir angin bermain-main di antara daun pohon dan ujung rumput.

Han Lin menaati perintah gurunya dan kembali duduk bersila, lalu berkata, “Teecu kira suhu sudah pasti telah mengetahui hal mengenai diri teecu. Perlukah lagi teecu menceritakannya sendiri ?”

Suara tawa kakek itu mempunyai daya tular yang kuat sehingga Han Lin juga ikut tertawa. Tawa maupun tangis merupakan suara aseli dari semua manusia di dunia ini. 112

Biarpun bahasa antara bangsa berbeda, namun tawa dan tangis semua bangsa tidak ada bedanya ka rena suara tawa dan tangis itu mengandung seluruh perasaan, maka mudah sekali menular kepada orang lain. Demikian pula tawa kakek itu yang wajar, tidak di buat-buat, tidak pula mengandung sesuatu yang lain, seperti tawa seorang bayi yang mendatangkan rasa gembira da lam hati setiap orang.yang mendengarnya, maka Han Lin tidak dapat menahan diri untuk. tidak ikut tersenyum lebar.

“Ha-ha-ha-heh-heh, Han Lin. orang yang mengaku tahu adalah orang yang tidak tahu! Ceritakanlah semuanya sejak engkau kecil sampai sekarang ini .”

Tiba-tiba Han Lin menyadari. Kakek ini jelas bukan manusia biasa. Kalau tanpa diberitahu kakek ini sudah mengetahui namanya, tentu telah mengetahu segala tentang dirinya. Kenapa masih bertanya dan menginginkan dia bercerita? Tentu untuk mengujinya, menguji kejujurannya! Maka, tanpa ragu-ragu lagi diapun bercerita tentang dirinya, semenjak dia hidup sebagai seorang “pangeran” kecil, putera Sia Su Beng dan Yang Kui Bi sampai terjadinya penyerbuan pasukan Tang yang memasuki kota raja dan kedua orang tuanya ikut bertempur. Betapa dia diungsikan oleh Liu Ma yang kemudian dianggap sebagai ibunya. Betapa dia menjadi murid Kong Hwi Hosiang di kelenteng dekat puncak Bukit Ayam Emas itu dan tentang munculnya tiga orang datuk sesat bersama seorang pemuda, dan betapa Kong Hwi Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio terbunuh oleh para datuk sesat itu. Kemudian tentang ibunya yang melempar diri ke dalam jurang menyusul dirinya yang terpukul dan terjungkal ke dalam jurang itu .

“Agaknya Tuhan belum menghendaki mati, suhu, maka teecu berhasil menangkap cabang pohon dan tidak terbantingke dasar jurang. Akan tetapi ibu Liu Ma ia tewas dan teecu kubur jenazahnya di dasar jurang itu.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Belum kauceritakan 113

tentang keadaan tubuh mu. Pukulan yang membuatmu terjungkal ke jurang itu adalah pukulan yang mengandung hawa beracun, akan tetapi engkau tidak keracunan. Nah, bagaimana hal itu dapat terjadi?”

“Ah, maafkan teecu, suhu. Teecu sampai lupa,” kata Han Lin, pada hal dia sengaja melewatkan bagian itu untuk melihat apakah kakek itu mengetahui akan keadaan tubuhnya yang telah menjadi kebal terhadap racun itu. Dengan tersipu karena ternyata kakek itu mengetahui segalanya,.diapun menceritakan dengan jelas akan peristiwa pertemuannya dengan Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong yang pertama kalinya, ketika dia terkena pukulan dari depan dan belakang oleh kedua orang datuk itu, ditambah lagi gigitan ular senduk kepala putih yang membuat tubuhnya dimasuki tiga macam racun sekaligus.

“Menurut keterangan mendiang suhu Kong hwi Hosiang, akibat tiga racun itu, tubuh teecu menjadi kebal terhadap racun.” Demikian dia mengakhiri ceritanya dan kakek itupun mengangguk-angguk senang.

Demikianlah, mulai hari itu, Han Lin menjadi murid kakek yang hanya dikenal sebagai Lo-jin. Dan ternyata kemudian oleh pemuda remaja ini bahwa kakek itu adalah seorang manusia yang amat sederhana, juga aneh sekali. Kadang hanya cukup hidup sehari dengan beberapa helai daun dan seteguk air saja, kadang tidak ada entah ke mana sampai beberapa hari, lalu muncul kembali. Akan tetapi dia menganggap. semua itu wajar karena memang demikianlah ke adaan Lo-jin. Dan dia mulai menerima gemblengan dari kakek aneh itu. Namun, Lo-jin mengatakan bahwa semua ilmu yang diajarkannya itu adalah ilmu untuk mempertahankan keselamatan jasmani, dan ilmu-ilmu itu adalah ilmu untuk dipergunakan selagi hidup di dunia ini dan kelak ilmu-ilmu itu akan musna bersama raga. Karena itu. dia tidak boleh terikat kepada ilmu-ilmu itu, dan untuk dapat membebaskan diri dari 114

segala sesuatu, dia harus memiliki dasar yang satu, yaitu kewajaran yang berarti penyerahan! Menyerah sebagai dasar semua ikhtiar hidup, menyerah secara mutlak kepada Sang Maha Pencipta, seperti halnya bumi, matahari, bulan, bintang dan segala mahluk di alam ini yang tidak dikuasai nafsu daya rendah dan hidup selaras dengan To (Kekuasaan Tuhan) .

Dara itu berusia delapanbelas tahun. Cantik jelita bagaikan setangkai bunga mawar rimba. Mukanya berbentuk bulat telur dan kulit mukanya halus putih kemerahan. Wajah yang bentuknya indah itu dihias rambut bagaikan mahkotanya, rambut yang halus lebat dan hitam mengkilat, digelung ke atas, di ikat dengan,pita sutera kuning dan dihias tusuk sanggul dari batu kemala. Sepasang matanya lebar dan sinarnya tajam. Hidungnya mancung dengan cuping hidung tipis yang dapat berkembang kempis dengan lucunya. Mulutnya penuh gairah hidup dan selalu tersenyum bersama matanya, senyum yang amat manis, apa lagi kalau lesung pipit di kedua pipinya nampak. Tubuhnya padat dan ramping, dan di balik kelembutannya sebagai seorang dara remaja, terkandung suatu kekuatan yang hebat, yang dapat nampak pada lekukan di dagu dan tubuh yang tegak dan dada yang membusung. Gerak geriknya lincah, matanya memandang penuh gairah dan kejenakaan.

la berdiri di bawah sebatang pohon, pungggungnya hanya terpisah seperempat meter saja dari batang pohon dan ia berdiri tegak, dengan mata dan mulut tersenyum ke arah wanita yang berdiri dalam jarak sekitar limapuluh kaki. Dan di atas ubun-ubun kepalanya, di depan sanggulnya, terletak sebutir buah apel merah.

Mei Li! kaulepas saja sanggulmu yang tinggi itu agar jangan sampai ada yang terbabat Hui-kiam (pedang terbang)!” kata wanita yang berada di depannya dalam jarak limapuluh kaki itu. Wanita itu berusia kurang lebih tigapuluh sembilan tahun walaupun nampak jauh lebih muda, pakaiannya sutera serba 115

hitam, wajahnya juga cantik dan mirip sekali dengan wajah gadis itu, tubuhnya masih padat ramping dengan pinggang kecil dan pinggul besar. Wanita cantik ini nampak gagah perkasa dan di balik kecantikannya dan kelembutannya sebagai seorang wanita tersembunyi sifat gagah yang mudah dilihat dari sinar matanya yang tajam mencorong. Ia memang bukan wanita sambarangan. Ia adalah seorang pendekar wanita yang pernah menggegerkan dunia persilatan karena sepak terjangnya yang menggiriskan lawan mengagumkan kawan. Namanya Can Kim Hong dan ia ibu kandung gadis jelita itu yang bernama Yang Mei Li. Can Kim Hong ini isteri Yang Cin Han, putera bangsawan tinggi yang pernah menjadi perdana menteri, yaitu mendiang Yang Kok Tiong, Seperti isterinya, Yang Cin Han juga seorang pendekar yang tangguh karena dia adalah murid dari Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), seorang datuk dunia persilatan yang terkenal. Namun, isterinya, Can Kim Hong, lebih hebat lagi karena isterinya ini murid Hek-liong (Naga Hitam) Kwan Bhok Cu seorang pendekar sakti yang aneh, yang telah merangkai ilmu pedang yang amat hebat, yaitu ilmu pedang Hek-liong Hui-kiam (Pedang Terbang Naga Hitam). Dapat dibayangkan betapa bahagianya Yang Mei Li, gadis berusia delapanbelas tahun yang suka belajar ilmu silat itu karena ia langsung dibimbing oleh ayah ibu nya yang keduanya memiliki ilmu kepardaian silat yang tinggi. Dan pada sore hari itu, mereka melakukan latihan ilmu silat dan ibunya memberi petunjuk dan contoh cara menggunakan ilmu hui-kiam (pedang terbang).

Mendengar ucapan ibunya, Mei Li lalu melepas sanggulnya membiarkan rambutnya yang hitam lebat itu terurai lepas, panjang sampai ke pinggulnya. Kini buah apel itu terletak di atas rambut yang padat menutup ubun-ubun kepalanya.

“Jangan bergoyang!” terdengar nyonya cantik itu berseru dan ia menggerakkan tangan kanannya. Sebatang pedang kecil yang berada di tangannya meluncur bagaikan anak 116

panah cepatnya, berubah bentuknya menjadi sinar kilat menyambar ke atas kepala Mei Li.

“Singgg…. cappp…!!” Pedang kecil itu meluncur dan tepat sekali membabat putus buah itu pada tengah-tengah dan pedangnya menancap di batang pohon. Apel terpotong menjadi dua, bagian atasnya terlempar jatuh dan bagian bawahnya masih berada di atas kepala Mei Li !

Mei Li menggerakkan kepala sehingga potongan apel itu terlempar jatuh pula dari atas kepalanya dan iapun bertepuk tangan memuji. “Hebat, ibu memang hebat!” serunya gembira.

Can Kim Hong tersenyum dan kedua pipinya kemerahan. “Aih, anak nakal, engkau hendak menggoda ibumu? Apa sih hebatnya memotong buah apel itu dengan hui-kiam (pedang terbang)? Aku yakin engkaupun akan mampu melakukannya. Aku tadi hanya memberi contoh bagaimana untuk bersikap agar tanganmu mantap dan tidak ragu sedikitpun.”

“Aih, ibu! Mana aku berani menggoda ibu? biarpun mungkin saja aku dapat melakukan seperti yang ibu lakukan tadi, akan tetapi dipaksa bagaimanapun juga, aku tidak akan berani menyambit apel dengan hui-kiam kalau apel itu di taruh di atas kepala ibu. Hih, meleset sedikit saja ke bawah ” Dara itu memejamkan kedua matanya dan menggerak gerakkan kedua pundaknya seperti orang yang merasa kengerian.

“Hemm, karena itulah maka aku sengaja memberi contoh padamu tadi, Mei Li. Ilmu mempergunakan hui-kiam bukan hanya tergantung kepada kemahiran tangan saja, melainkan terutama sekali keteguhan hati. Kalau hatimu seteguh baja, bidikanmu takkan meleset serambutpun dan jari-jari tanganmu akan mantap dan tidak tergetar sedikitpun juga.”

Gadis manis itu menjulurkan lidah, ujung lidah yang merah itu mengintai dari sepasang bibirnya dan iapun menjawab, 117

“Aku tahu, ibu memiliki ketabahan hati seteguh baja! Ayah juga sering menceritakan kepadaku dan memuji-muji ibu. Mungkin aku yang telah berlatih dengan tekun memiliki kemahiran itu, akan tetapi keteguhan hati tak dapat dilatih, ibu. Betapapun keras hati ku, bagaimana mungkin aku berani membidik apel di atas kepala ibu? Sekarang tolong ibu lemparkan sebuah apel ke atas, aku akan mencoba denqan jurus Siang-liong-jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mestika) dengan sepasang pedangku.”

Can Kim Hong tersenyum, lalu mengambil sebuah apel dari dalam keranjang yang memang dipersiapkan untuk latihan, kemudian ia melempar buah itu ke atas.

Mei Li dengan gerakan cepat sekali sudah mencabut keluar sepasang pedang yang bentuknya indah dan merupakan sepasang pedang pendek yang berkilauan saking tajamnya, dan pedang-pedang itu diberi tali sutera merah yang cukup panjang dan digulung dan dibelitkan di ujung gagang pedang. Sekali gadis itu mengeluarkan bentakan halus dan menggerakkan sepasang pedangnya, maka nampak dua sinar menyambar ke atas menyerang apel tadi dan meluncur dengan menyilang membabat buah apel.

Buah apel itu terpotong menjadi empat oleh sepasang pedang, dan potongannya berjatuhan di atas tanah sedangkan sepasang pedang itu meluncur kembali ke arah kedua tangan Mei Li ketika ia menarik tali sutera itu. Dan cepat sekali, begitu sepasang pedang telah berada di kedua tangannya, sukar diikuti pandang mata saking cepatnya sepasang pedang itu telah kembali ke dalam sarungnya, hampir berbareng saatnya dengan jatuhnya empat potong apel itu.

“Cukup bagus!” puji ibunya, ‘Sekarang coba perl ihatkan siang-hui-kiam sut (Ilmu Sepasang Pedang Terbang) yang telah digabung dengan Sian-li Ki-am-sut (Ilmu Pedang Dewi). Berlatihlah yang sungguh-sungguh, karena aku akan menyerangmu dengan apel-apel ini, dan aku akan menyerang 118

dengan sungguh-sungguh!”

Mei Li segera mencabut sepasang pedangnya dan kini ia bersilat dengan sepasang pedang. Gerakannya indah seperti seorang dewi menari-nari dan itulah Sian-li Kiam-sut yang ia pelajari dari ayahnya, akan tetapi kadang-kadang pedangnya menyambar lepas dari tangan untuk cepat berputar dan terbang kembali ke tangannya. itulah Siang-hui Kiam-sut. Dengan bantuan ayah dan ibunya, Mei Li berhasil menggabungkan kedua ilmu pedang yang ia pelajari dari ayah ibunya.

Can Kim Hong mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring dan ibu ini menyerang puterinva dengan lemparan apel-apel dari dalam keranjang. Sambitan Can Kim Hong bukan sambitan biasa, melainkan sambitan seorang ahli silat tingkat tinggi yang memiliki tenaga sinkang kuat, maka tentu saja buah-buah apel itu menyambar-nyambar seperti peluru meriam! Namun, sepasang pedang yang digerakkan dengan indahnya itu kini bergerak cepat sehingga lenyaplah bentuk sepasang pedang itu, berubah menjadi dua sinar yang bergulung-gulung membentuk perisai sinar dan semua buah apel yang menyambar tentu runtuh terbelah oleh sinar pedang yang amat tajam! Dalam waktu beberapa menit saja, puluhan buah apel itu habis terpotong-potong dan berserakan di atas tanah.

Can Kim Hong mengeluarkan suara melengking dan ibu inipun kini menerjang maju dengan sepasang pedangnya sendiri, menyerang Mei Li dengan gerakan cepat. Dan terjadilah latihan pertandingan yang amat seru dan kalau ada orang lain kebetulan menjadi penonton, tentu dia akan merasa tegang dan mengira bahwa kedua orang wanita itu benar-benar sedang berkelahi mati-matian! Me mang ibu dan anak itu berlatih dengan sungguh-sungguh, mengerahkan tenaga dan kecepatan. Hal ini berani mereka lakukan karena keduanya sudah menguasai benar ilmu sepasang pedang 119

terbang itu.

“Awas pedang!” tiba-tiba Mei Li berseru dan pedangnya yang kiri meluncur cepat dan ke arah leher ibunya, bagaikan anak panah terlepas dari. busurnya. Can Kim Hong berusaha keras. untuk mengalahkan puterinya dalam latihan ini, maka iapun menggunakan sepasang pedangnya untuk menggunting atau menjepit pedang yang terbang menyerang nya itu dengan kedua pedangnya yang bergerak cepat..Akan tetapi, begitu pedang kiri itu terjepit di antara sepasang pedang ibunya, Mei Li sudah membentak lagi dan pedang kanannya kini meluncur ke arah kaki ibunya.

Can Kim Hong mengeluarkan seruan kagum dan tubuhnya mencelat ke atas, dan dengan sendirinya jepitan kedua pedangnya terlepas dan sekali tarik, pedang kiri itu sudah melayang kembali kepada pemiliknya. Can Kim Hcng melayang turun dan menyimpan kembali sepasang pedangnya sambil tersenyum.

“Thian-te-siang-liong (Sepasang Naga Langit Bumi) yang cukup bagus dalam penyeranganmu tadi, Mei Li. Akan tetapi, pedang ke dua itu agak terlambat, kalau kaulepaskan pedang kanan itu sedetik lebih cepat, sebelum pedang kirimu terjepit, tentu akan membuat aku lebih repot.”

Dara berusia delapanbelas tahun itu memang telah menguasai sepasang pedang terbang dengan amat baiknya. Memang ia memiliki bakat besar dan ditambah ketekunannya dan kecerdikannya, maka dalam usia delapanbelas tahun ia bahkan lebih mahir dibandingkan ibunya! Hal ini tidaklah terlalu aneh karena selain ayah ibunya yang menggemblengnya sejak ia masih kecil, juga Mei Li selama dua tahun terakhir ini menerima penggemblengan dari kakek gurunya, yaitu Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru ibunya.

Yang Mei Li merupakan anak tunggal dari suami isteri Yang Cin Han dan Can Kim Hong. Ayah dari Yang Cin Han, yaitu mendiang perdana menteri Yang Kok Tiong, kakak dari 120

mendiang selir Yang Kui Hui yang amat terkenal, terlibat langsung ketika terjadi pemberontakan dalam Kerajaan Tang yang dilakukan oleh An Lu Shan. Dalam keributan pemberontakan itu, yang membuat Kaisar Hsuan Tsung terpaksa melarikan diri dan diiringkan pula oleh Perdana Menteri Yang Kok Tiong, perdana menteri ini tewas. Juga isterinya tewas membunuh diri ketika kota raja diserbu pemberontak. Perdana menteri ini meninggalkan tiga orang anak, yaitu Yang Cin Han sebagai anak tertua, kemudian masih ada dua orang adiknya, keduanya wanita, yaitu Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi. Yang Kui Bi menikah dengan Sia Su Beng pemberontak lain yang berhasil membunuh An Lu Shan dan puteranya, kemudian Yang Kui Bi, yaitu ibu kandung Sia Han Lin, gugur ketika pasukan pemerintah Tang merebut kembali kota raja. Sedangkan Yang Kui Lan yang menjadi isteri pendekar Go-bipai yang bernama Souw Hui San tinggal di Wu-han di pantai Yang-ce-kiang. Biarpun tiga orang ini merupakan putera puteri mendiang Menteri Yang Kok Tiong, namun yang terlibat langsung dalam perang perebutan mahkota Kerajaan hanyalah Yang Kui Bi yang menjadi isteri Sia Su Beng yang telah mengangkat diri sendiri sebagai kaisar baru menggantikan An Lu Shan. Yang Cin Han dan adiknya, Yang Kui Lan, tidak mau melibatkan diri dan ketika pasukan

Tang akhirnya berhasil merebut kembali tahta kerajaan dari tangan Sia Su Beng dalam tahun 766, kakak beradik ini tidak mencampuri.

Ketika mendengar bahwa kota raja telah jatuh kembali ke tangan pasukan Tang yang dipimpin oleh Pang lima Kok Cu It yang setia dan gagah perkasa, dan mendengar pula akan gugurnya Sia Su Beng dan adiknya, Yang Kui Bi, Yang Cin Han mencoba untuk mencari berita tentang adiknya itu di kota raja yang telah diduduki kembali oleh Kaisar Su Tsung. Dia mendengar bahwa adiknya itu benar telah gugur, demikian pula suami adiknya. Akan tetapi dia tidak dapat menemukan keponakannya, Sia Han Lin yang baru berusia lima tahun. 121

Anak itu lenyap tak tentu rimbanya dan dia tidak berhasil menemukan jejaknya.

Demikianlah sedikit riwayat Yang Cin Han, ayah Yang Mei Li. Kini, Kerajaan Tang telah pulih kembali, telah berdiri kembali dengan tegaknya berkat kegagahan Panglima Kok Cu It. Akan tetapi, semenjak Kaisar Su Tsung yang menggantikan Kaisar Hsuan Tsung merebut kembali kota raja dalam tahun 766, sudah beberapa kali terjadi penggantian kaisar. Kaisar Su Tsung hanya memerintah sampai tahun 768 saja sejak dinobatkan menggantikan ayahnya dalam tahun 755. Kemudian penggantinya, Kaisar Kui Tsung, adiknya sendiri, memerintah sebagai kaisar dari tahun 768 sampai 773- Kemudian, baru saja beberapa bulan yang lalu Kaisar Kui Tsung meninggal dunia dan tahta kerajaan diserahkan kepada .puteranya, yaitu Kaisar Thai Tsung. Ketika kisah ini terjadi, kaisarnya adalah Kaisar Thai Tsung.

Karena pasukan Tang merampas kembali tahta kerajaan dengan bantuan banyak suku asing dari barat dan utara, maka setelah kerajaan Tang dapat dibangun kembali, suku-suku bangsa yang tadinya membantu itu menuntut balas jasa. Banyak di antara mereka yang tidak mau kembali ke kampung halaman, keenakan tinggal di daerah pedalaman Kerajaan Tang. Berbagai bangsa tinggal bertebaran di wilayah Tang, di antara mereka adalah bangsa Arab yang tadinya merupakan pasukan Arab yang dikirim oleh Kalif Abu Jafar al Mansur dalam tahun 756 untuk pembantu Kerajaan Tang menghadapi pemberontakan yang telah menduduki kota raja Tiang-an, ada pula bangsa Nepal, Turki dan banyak suku bangsa lagi. Banyak di antara mereka telah menikah dengan wanita Han dan tinggal menetap di pedalaman.

Namun, yang merupakan gangguan terbesar bagi Kerajaan Tang yang baru saja menguasai kembali kota raja Tiang-an adalah gerakan dari bangsa Tibet di barat dan disusul gerakan Kerajaan Nan Chao yang berkedudukan di Yunnan, sebelah 122

selatan. Gangguan dari barat dan selatan inilah yang merong-rong Kerajaan Tang sepanjang tahun-tahun mendatang.

Yang Cin Han dan keluarganya tinggal di Lok-yang, kota besar yang merupakan ibukota ke dua setelah Tiang-an. Dia menjadi saudagar rempa-rempa yang “berhasil sehingga keadaan keluarganya cukup kaya. Dan biarpun dia sendiri seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, demikian pula isterinya, namun suami isteri ini selalu menjaga agar mereka jangan sampai terlibat dalam urusan dunia kangouw. Juga Mei Li mereka pesan agar jangan mencari permusuhan. Gadis ini bukan saja digembleng ilmu silat tinggi, akan tetapi juga sastra dan kesenian lain.

Mei Li memang cantik, kecantikan yang amat menarik seperti biasa kecantikan wanita yang berdarah campuran. Ibunya, Can Kim Hong, adalah seorang peranakan Khitan, ayahnya orang Han dan ibunya orang Khitan. Dan Mei Li ju ga mewarisi kecantikan campuran dari ibunya. Seperti juga Cin Han, Kim Hong juga sudah yatim piatu. Ayahnya, seorang perwira bernama Can Bu, belum lama ini meninggal dunia karena terluka dalam pertempuran kemudian menderita sakit sampai berbulan-bulan.

Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru Can Kim Hong, pernah berkunjung ke rumah muridnya sekitar tiga tahun yang lalu. Atas permohonan muridnya, juga Yang tapi “

(Maaf Ada Halaman Yang Hilang)

“Sudahlah, jangan merisaukan yang bukan-bukan,” kata Yang Cin Han dan dia merangkul isterinya dengan penuh perasaan sayang. Suasana menjadi sunyi dalam kamar itu.

Di kota Wu-han, Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, berdagang kain dan mempunyai sebuah toko yang cukup besar. Mereka hidup serba kecukupan dan tenang, tidak pernah suami isteri pendekar ini menonjolkan diri sebagai jagoan. Biarpun demikian, diam-diam mereka berdua 123

menggembleng anak tunggal mereka, yaitu Souw Kian Bu yang telah berusia sembilanbelas tahun.

Souw Hui San telah berusia empat puluh lima tahun. Dia seorang Murid Go bi-pai yang terpandai, seorang yang sejak muda sudah yatim piatu dan bertualang di dunia persilatan sebagai seorang pendekar yang lincah jenaka dan gembira, namun cerdik dan lihai sekali. Wajahnya cukup tampan dengan bentuk yang bulat,…,matanya membayangkan kecerdikan dan. mulutnya membayangkan keramahan dengan senyum yang agaknya penuh pengertian. Tubuhnya sedang dan kekar. Sebagai seorang ayah, dia menurunkan semua ilmu silatnya kepada Souw Kian Bu, di samping mengharuskan puteranya itu mempelajari kesusasteraan dari seorang guru sastra yang sengaja dia bayar untuk mendidik puteranya.

Jilid V

Isterinya, Yang Kui Lan, juga mengajarkan ilmu-ilmunya yang ia dapat dari Kong Hwi Hosiang. Yang Kui Lan berusia tigapuluh sembilan tahun akan tetapi nampak jauh lebih muda. Wanita ini memang cantik jelita, kecantikan yang lembut dan agung, ia mirip sekali dengan bibinya yang terkenal, mendiang selir kaisar yang bernama Yang Kui Hui. Setitik tahi lalat di dagu kiri nya menambah kemanisan wanita yang sudah separuh baya ini. la merupakan isteri yang cocok sekali bagi Souw Hui San. Kalau suaminya seorang yang lincah jenaka suka bergurau, sang isteri pendiam dan agung sehingga keduanya dapat saling mengisi dan melengkapi.

Seperti juga kakaknya, Yang Cin Han, Kui Lan bersama suaminya juga merasa gelisah ketika mendengar tentang gugurnya adiknya, Yang Kui Bi. lapun berusaha mencari keponakannya, putera adiknya itu yang bernama Sia Han Lin, namun tidak berhasil menemukan jejak anak yang hilang dalam keributan ketika kota raja diserbu pasukan Tang. 124

Atas persetujuan kedua pihak, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengikat tali perjodohan putera mereka dengan puteri kakaknya. Ketika dua pasang suami Isteri ini mengikat tali perjodohan anak mereka, Kian Bu berusia dua tahun dan Mei Li berusia satu tahun. Sedikitnya setahun sekali, kedua keluarga itu saling datang berkunjung sehingga Kian Bu dan Mei Li mulai berkenalan dan bersahabat karena setiap kali datang berkunjung, tentu keluarga yang berkunjung itu bermalam sampai semingg’ lamanya. Ketika mereka berusia lima enam tahunan, mereka diperkenalkan sebagai saudara misan. Baru setelah mereka mencapai usia belasan tahun, orang tua mereka memberitahu bahwa mereka sudah saling dijodohkan.

Di luar pengetahuan kedua orang tua masing-masing, ketika tiga tahun yang lalu Kian Bu bersama orang tuanya datang berkunjung, diam-diam Kian Bu dan Mei Li mengadakan pertemuan empat mata dan sambil berbisik-bisik mereka berdua menyatakan ketidakpuasan hati mereka bahwa mereka itu sejak kecil saling dijodohkan. Keduanya memiliki perasaan yang sama, yaitu bahwa mereka saling menyayang sebagai kakak dan adik misan, dan merekapun keduanya merasa tidak bebas dan terikat oleh perjodohan yang dipaksakan di luar kehendak mereka itu. Dan sejak tiga tahun yang lalu itu, keduanya selalu menolak kalau diajak berkunjung. Baik orang tua Kian Bu maupun orang tua Mei Li tidak memaksa dan mengira bahwa keduanya sudah mulai dewasa dan agaknya mulai merasa malu untuk berkunjung ke rumah tunangan mereka!

Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, sudah mendengar bahwa Mei Li telah mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silatnya berkat bimbingan langsung dari kakek gurunya, yaitu Si Naga Hitam. Oleh karena itu, suami isteri ini berusaha keras untuk menggembleng putera mereka agar dapat mengimbangi tingkat kepandaian Mei Li, karena sebagai seorang calon suami, sebaiknya kalau tingkat kepandaiannya 125

tidak tertinggal jauh oleh calon isterinya. Maka, selama tiga tahun ini mereka mewariskan semua ilmu mereka kepada Kian Bu, bahkan menggabungkan iImu silat Gobi-pai dengan ilmu silat yang dikuasai Yang Kui Lan yang bersumber dari aliran Siauw-limpai.

Pada hari itu, pagi-pagi sekali, setelah mereka mengamati putera mereka berlatih silat pedang, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengajak Kian Bu untuk bicara di dalam. Toko mereka belum dibuka karena selain hari masih terlalu pagi, juga dua orang pembantu penjaga toko mereka belum datang.

“Kian Bu, bersiap-siaplah engkau seminggu lagi kita bertiga akan pergi berkunjung ke Lok-yang,” kata Souw Hui San.

Souw Kian Bu. mengangkat muke memandang ayahnya, lalu ibunya. Akan tetapi wajah ayah dan ibunya itu tidak berbeda, keduanya memandang dengan sinar mata tajam dan sikap mereka meyakinkan, tanda bahwa mereka berdua serius. Kian Bu berpura-pura dan bersikap tenang dan biasa.

“Kalau ayah dan ibu merasa rindu kepada keluarga pek-hu (uwa) Yang Cin Han, silakan ayah dan ibu yang pergi berkunjung ke Lok-yang. Aku akan tinggal di rumah saja, mengurus toko.”

“Tidak bisa, Kian Bu,” kata Yang Kui Lan dengan lembut. “Sekali ini engkau harus ikut karena ada urusan yang amat penting.”

Pemuda itu memandang ibunya. “Urusan amat penting apakah, ibu?”

“Kita harus memenuhi janji, Kian Bu,” kata pula ibunya.

“Janji? Aku tidak merasa berjanji kepada siapapun, ibu.”

“Kian Bu, seminggu lagi, Yang Mei Li tepat berusia delapanbelas tahun dan tibalah saatnya bagi kita untuk memenuhi janji, yaitu membicarakan dan menentukan hari pernikahanmu dengan Mei Li. Karena yang akan dibicarakan 126

mengenai pernikahanmu, maka tentu saja engkau harus ikut,” kata ayahnya.

Sejenak Kian Bu mengangkat muka memandang ayahnya. Dua pasang mata yang sama tajamnya beradu pandang, akan tetapi Kian Bu segera menundukkan muka, tidak ingin ayahnya meiihat perlawanan dalam sinar matanya. Agaknya Yang Kui Lan dapat merasakan isi hati puteranya, maka ia berkata dengan suara menghibur dan penuh kesayangan.

“Kian Bu, ingatlah bahwa sejak engkau berusia dua tahun, engkau telah kami. tunangkan dengan Mei Li yang ketika itu berusia satu tahun. Sekarang, ia telah berusia delapan belas tahun dan engkau sembilanbelas tahun, sudah tiba saatnya memenuhi janji kita kepada pekhumu. Dan engkau sendiri melihat bahwa pilihan kami tidak keliru. Mei Li seorang dara yang cantik jelita dan gagah perkasa. sungguh cocok sekali menjadi isterimu. Kiranya akan sulit ditemukan seorang gadis yang lebih sepadan untuk menjadi jodohmu, Kian Bu!”

Kian Bu menghela napas panjang, lalu dia memandang kepada ayah dan ibunya, bergantian, kemudian dia memberanikan diri bertanya, “Ayah dan ibu, dahulu, tentu ayah dan ibu pernah juga muda seperti aku, bukan?”

Ayah dan ibunya menjawab berbareng. “Tentu saja!”.dan ayahnya menambahkan sambil tertawa. “Bukan hanya pernah muda seusiamu, Kian Bu, juga aku pernah menjadi bayi, ha-ha-ha!”

“Bukan begitu maksudku, ayah. Akan tetapi apakah ayah dan ibu dahulu juga eh, sudah dijodohkan sejak masih kecil?”

Suami isteri itu terkeju.t dan saling pandang, tidak menyangka putera mereka akan bertanya demikian. Keduanya menggeleng tanpa menjawab.

“Atau apakah dahulu ibu adalah pilihan kakek dan nenek Yang, dan ayah adalah pilihan kakek dan nenek Souw?” pemuda itu mengejar dan sekarang. mengertilah ayah dan ibu 127

itu ke mana arah pertanyaan Kian Bu.

“Kian Bu, kami mengerti apa yang kaupikirkan dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu,” kata Souw Hui San, kini wajahnya yang biasanya periang itu nampak serius. “Akan tetapi, keadaanku dan keadaanmu sungguh jauh berbeda. Ibumu dan aku memang berjodoh karena pilihan sendiri, akan tetapi ketika kami saling berjumpa dan saling jatuh cinta, kami berdua adalah yatim piatu.”

“Kian Bu, kami dan pek-humu Yang Cin Han bersama isterinya menjodohkan engkau dan Mei Li dengan niat yang baik sekali. Kami tidak memaksamu, akan tetapi, bukankah pilihan kami itu, amat tepat? Apakah apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau telah jatuh cinta kepada seorang gadis lain?”

Kini.pandang mata suami isteri itu menatap.wajah putera mereka penuh selidik.

“Tidak, ibu. Hanya aku merasa… eh, ganjil dan lucu kalau memikirkan bahwa aku harus berjodoh dengan adik Mei Li. Aku selalu merasa bahwa ia seperti adikku sendiri sehingga janggallah membayangkan ia menjadi jodohku.”

Pada saat itu, pembantu toko datang dan melaporkan bahwa di luar ada seorang tamu ingin bertemu dengan tuan rumah dan katanya bahwa tamu itu datang dari Lok-yang. Mendengar ini, Souw Hui San segera keluar, diikuti isterinya yang ingin sekali tahu berita apa yang dibawa utusan dari Lok-yang itu, karena sudah pasti berita itu datang dari kakaknya.

Dugaannya benar. Orang itu adalah utusan Yang Cin Han yang mengantar kan surat. Setelah member! upah tambahan kepada utusan itu, Souw Hui San dan isterinya membawa surat itu ke dalam. Utusan tadi mengatakan bahwa pengirim surat tidak minta balasan, maka dia la lu pergi lagi, tidak menanti jawaban. Dan setelah mereka membaca isi surat, memang tidak diperlukan balasan. Surat itu menyatakan 128

bahwa dengan minta maaf keluarga di Lok-yang, itu minta agar ketentuan hari pernikahan diundur antara satu sampai dua tahun! Alasan yang dikemukakan Yang Cin Han mengenai pengunduran itu adalah karena Mei Li berkeras ingin pergi merantau mencari pengalaman sebelum menikah dan bahwa mereka tidak dapat menahan keinginan hati puteri mereka itu.

Suami isteri itu saling pandang dan mereka berdua dapat memaklumi. Mei Li adalah puteri suami isteri pendekar, maka kalau timbul hasrat ingin merantau dan mencari pengalaman, maka hal itu wajar saja. Ketika Kian Bu diberitahu akan pengunduran itu, wajahnya berseri dan dia tidak menyembunyikan kegembiraannya.

“Ha-ha-ha, sudah kuduga Li-moi akan melakukan hal itu!” katanya gembira.

“Ehhh? Bagaimana engkau dapat menduga?” tanya ibunya.

“Kian Bu, apa yang terjadi dengan . kalian?” tanya pula ayahnya.

Kian Bu masih tersenyum. “Tidak apa-apa, ayah. Hanya aku dapat menduga bahwa iapun tentu tidak suka dengan ikatan jodoh yang sudah ditentukan sejak kecil itu. Kukira perasaan kami tidak jauh berbeda, dan akupun ingin pergi mencari pengalaman.”

“Apa? Hendak ke mana engkau?” tanya ayahnya.

Kian Bu tersenyum memandang ayahnya. “Dari ayah dan dari ibu aku seringkali mendengar betapa ketika muda dahulu, baik ayah maupun ibu banyak me lakukan petualangan di dunia kangouw. Apakah sekarang ayah dan ibu merasa heran kalau akupun ingin mencari pengalaman dan meluaskan pandangan dengan merantau barang setahun dua tahun? Aku ingin sekali mencari jejak kakak Sia Han Lin, puteri Kui Bi yang hilang tanpa meninggalkan jejak itu. Juga aku ingin mencari dan bertemu dengan sukong (kakek guru) Kong Hwi Hosiang, dan berkunjung ke Gobi-pai, bertemu dengan para suhu di 129

Gobi-pai.”

Souw Hui San dan Yang Kui Lan tidak mampu mencegah putera mereka yang hendak pergi merantau. Mereka hanya dapat memberi banyak nasihat kepada putera mereka agar berhati-hati dan tidak menanam bibit permusuhan di dunia kangouw.

Dua hari kemudian, berangkatlah pemuda yang kini nampak bergembira itu, meninggalkan Wu-han dan membawa buntalan pakaian yang digendongnya di punggung, membawa sebatang pedang dan dengan wajah berseri-seri dia pergi menuju ke Tiang-an, kota raja di mana dia ingin mencari jejak kakak misannya, yaitu Sia Han Lin, putera mendiang bibinya, Yang Kui Bi.

Apa yang terjadi dengan Mei Li dan mengapa pula gadis itu tiba-tiba saja pergi merantau seperti yang diceritakan Yang Cin Han dalam suratnya ke pada Souw Hui San dan Yang Kui Lan?

Seperti juga yang terjadi dengan Kian’Bu, ketika Mei Li mendengar dari ayah ibunya bahwa waktu yanq dijanjikan oleh dua keluarga itu tiba, yaitu untuk menentukan hari pernikahan, Mei Li mengerutkan alisnya dan membantah dengan keras.

“Tidak, ayah dan ibu. Aku belum ingin menikah!” katanya memrotes.

“Akan tetapi, urusan ini telah ditentukan dan telah dijanjikan Dalam waktu sebulan ini, keluarga Souw akan datang dan kita semua akan membicarakan penentuan hari pernikahan,” kata ibunya.

“Benar, Mei Li, janji haruslah ditepati, kalau tidak, bagaimana kita akan dapat menghadapi keluarga bibimu itu?” sambung ayahnya.

“Tidak, ayah. Batalkan saja. ..!” Mei Li hampir menangis, 130

akan tetapi di tahannya karena anak ini sejak kecil memang digembleng agar menjadi seorang pendekar wanita yang tidak cengeng.

“Batalkan? Sepihak? Tidak mungkin “

“Kalau begitu tangguhkan’ saja, setahun dua tahun. Aku ingin pergi merantau, ayah, aku belum ingin menikah.”

“Mei Li, jangan engkau membuat kacau urusan dan menyusahkan ayah ibumu!” Can Kim Hong menegur puterinya.

“Ibu, apakah ibu dahulu juga dipaksa menikah dengan ayah?” Mei Li bertanya dengan suara lantang. “Ayah dan ibu bersusah payah mengajarkan ilmu silat kepadaku dan sejak kecil aku rajin berlatih setiap hari. Bahkan sukong juga sudah ikut bersusah-payah mengajarku selama dua tahun. Dan semua itu tidak boleh kupergunakan, semua itu akan lenyap terbakar api dapur di mana aku harus melayani suami? Tidak, ibu, urusan perjodohan itu harus ditangguhkan barang setahun dua tahun. Aku ingin merantau, ingin berkunjung ke Tiang-an, aku ingin mencari sukong!”

Demikianlah, terpaksa Yang Cin Han dan Can Kim Hong mengalah dan memberi ijin kepada puteri mereka untuk mencari pengalaman di dunia kangouw. Bagaimanapun juga, puterinya itu tidak perlu dikhawatirkan lagi karena telah memiliki tingkat kepandaian yang bahkan lebih lihai dibandingkan mereka.

Dan mereka lalu mengirim surat kepada keluarga Souw Hui San untuk minta agar urusan pernikahan itu ditangguhkan satu atau dua tahun.

Mei Li berangkat meninggalkan Lok-yang menunggang seekor kuda putih yang baik. Kuda pilihan yang tinggi dan kuat, tentu saja berharga mahal. Akan tetapi ayah ibunya berkeras agar puterinya melakukan perjalanan dengan berkuda dan memang sejak kecil Mei Li sudah berlatih 131

menunggang kuda sehingga ia kuat berkuda sampai berjam-jam lamanya.

Demikianlah, pada suatu pagi yang cerah, setelah berpamit dan mohon doa restu ayah ibunya, dara itu menunggang kuda putihnya keluar dari pintu gerbang barat kota Lok-yang. Sebuah buntalan kain kuning berada di punggungnya dan di bawah buntalan itu nampak tergantung sepasang pedangnya yang gagangnya diberi tali sutera panjang. Di pinggangnya kanan kiri masih tergantung pula dua batang pedang pendek. Tidak lupa ia membawa bekal uang perak dan emas dalam buntalan pakaiannya, untuk bekal dalam perjalanan. Tujuan pertama dari perjalanannya itu adalah ke kota raja Tiang-an. Ia belum pernah ,pergi ke kota raja itu. Ketika ayahnya pergi ke kota raja untuk mencari putera bibinya yang tewas dalam pertempuran, ia baru berusia tiga tahun dan ditinggal di rumah bersama ibunya. la memang banyak mendengar cerita ayah ibunya tentang kota raja Tiang-an dan tentang pergolakan selama ini dan ia tahu pula bahwa kakak misannya, putera bibinya Yang Ku i Bi telah lenyap dari kota raja ketika terjadi perang. Nama kakak .misannya itu Sia Han Lin, akan tetapi belum pernah ia bertemu dengannya.

Wajah dara perkasa itu nampak berseri. Rambutnya yang hitam halus panjang, yang disanggul tinggi dan dihias tusuk sanggul dari perak dan hiasan merak dari batu kemala, nampak agak kusut karena hembusan angin yang bermain-main dengan rambut hitam halus itu. Matanya yang lebar, yang jelas membayangkan bahwa ia seorang gadis peranakan yang masih ada darah Khitan mengalir dalam tubuhnya, mata yang indah dan jeli itu kini berbinar-binar, penuh kegembiraan ketika memandang ke depan dan kanan kiri di sepanjang jalan. Mulutnya yang mungil itupun selalu terhias senyum. Hati Mei Li memang mengalami kebahagiaan yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan. Ada ketegangan yang menggairahkan, ada semangat baru dalam kehidupannya, merasa bebas merdeka seperti seekor burung rajawali 132

melayang-layang di angkasa.

Perasaan seperti yang dialami Mei Li itu akan terasa oleh siapa saja yang dalam kehidupan sehari-harinya se lalu disibukkan oleh pekerjaan, keramaian, kebisingan dan segala macam masalah kehidupan dalam masyarakat yang tinggal di kota besar. Kehidupan dalam kota selalu berkisar kepada soal-soal duniawi, mengejar uang, harga diri, ke hormatan dan kesenangan jasmani, mencari jalan pemuasan nafsu, persaingan dalam segala bidang. Semua itu ditambah oleh banyaknya manusia yang berdesakan di kota besar, segala macam kotoran sampah, udara yang tidak murni lagi, membuat dada rasanya tidak longgar untuk bernapas, pikiranpun tiada hentinya mengalami guncangan dan tantangan, dan kesehatanpun mengalami kemunduran dan gangguan. Oleh karena itu, apa bila terdapat kesempatan penghuni kota yang selalu sibuk itu dapat berada di luar kota, di tempat terbuka yang jauh dari perumahan, jauh dari keramaian manusia, dia akan dapat merasakan seperti yang dialami Mei Li pa da saat ia menjalankan kudanya perlahan-lahan itu. Kebesaran, keagungan dan keindahan alam hanya dapat dirasakan dan dinikmati apa bila kita berada di daerah pegunungan, hutan-hutan atau di pantai lautan yang sepi dari manusia dan belum dikotori oleh ulah manusia yang hanya mendatangkan kerusakan dan noda pada lingkungan. Kalau kita berada seorang diri di dataran tinggi yang jauh dari manusia lain, jauh dari pemukiman manusia, menghirup udara segar yang mengalir melimpah ke dalam dada kita, terasa sesuatu yang sukar digambarkan. Dalam keadaan seperti itu, untuk beberapa saat lamanya sadarlah kita bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang rindu akan segala ini, yang bukan dari dunia ramai, bukan kesenangan jasmani, bukan pemuasan nafsu, bukan pengejaran cita-cita. Kita rindu dan haus akan kedamaian alami, rindu kepada Sumber Segala sumber, dari mana kita datang dan kemana kita kelak pergi. Manusia dan Alam, tak terpisahkan karena tercipta oleh 133

Tangan Yang Satu, terbimbing oleh Tanqan Yang Satu, namun sungguh sayang kita lebih terseret oleh kesenangan duniawi, pemuasan nafsu badani yang kita perebutkan, kalau perlu dengan saling hantam, pada hal yang kita dapatkan hanyalah kesenangan hampa yang hanya sementara, lewat begitu saja seperti angin lalu untuk memberi giliran kepada saudara kembarnya, yaitu kesusahan, kedukaan dan kekecewaan.

Mei Li sadar dari lamunannya ketika kudanya meringkik. Kudanya memang kuda yang terlatih dan baik dan kalau kuda itu meringkik, itu tandanya bahwa kudanya merasakan, melihat atau mendengar sesuatu yang asing dan tidak wajar. Apakah ada binatang buas? Harimau? Mei Li tidak merasa gentar dan ia pun kini sudah siap siaga kalau-kalau di tempat itu muncul bahaya.

Ternyata yang muncul dari dalam hutan di depan adalah serombongan orang. Ada limabelas orang pria yang keadaannya amat menyedihkan. Mereka menggotong tiga buah mayat, dan lima orang yang agaknya terluka parah. Lima belas orang itu sendiri keadaannya juga tidak utuh, banyak di antara mereka yang terluka walaupun tidak seberat luka lima orang itu.

Melihat bahwa belasan orang pria itu kelihatan kuat, bahkan mereka itu membawa senjata pedang atau golok yang tergantung di pinggang, akan tetapi kini nampak ketakutan, tentu saja Mei Li merasa heran sekali. la sudah meloncat turun dari atas kudanya dan menghadang di tengah jalan.

Sementara itu, ketika rombongan itu melihat seorang gadis muda cantik jelita menuntun seekor kuda putih besar kini menghadang di tengah jalan, mereka narnpak kaget dan seorang di anta mereka, seorang laki-laki tinggi besar berusia kurang lebih empatpuluh lima tahun, mendahului rombongan itu nenghampiri Mei Li.

“Apakah nona hendak melakukan perjalanan melalui’ hutan itu?” tanyanya sambil memandang Mei Li penuh perhatian. 134

Sebetulnya, Mei Li yang tertarik melihat keadaan mereka dan ingin mengetahui apa yang telah terjadi, akan tetapi karena didahului orang, iapun mengangguk.

“Benar, paman.”

“Jangan, nona! Sebaiknya nona cepat menunggang kuda nona itu dan cepat meninggalkan tempat ini, kembali ke sana!” Dia menuding ke arah dari mana Mei Li datang.

“Kenapa, paman? Dan kenapa pula paman serombongan seperti orang yang habis kalah perang? Ada pula yang te was dan luka-luka? Apa yang telah terjadi?” kini Mei Li bertanya dan rombongan itu telah berada di depannya.

“Sudahlah, harap jangan banyak bertanya, nona. Selagi masih ada kesempatan, pergilah cepat. Kalau melihat nona membawa kuda sebagus ini, tentu mereka tidak akan mau melepaskanmu, apa lagi nona masih muda dan cantik jelita. Percayalah kepadaku, nona cepat pergilah!.” orang tinggi besar itu mendesak.

Sikap orang tinggi besar ini saja sudah membuat Mei Li makin tertarik. Bagaimanapun juga, orang yang belum dikenalnya ini telah bersikap dan berniat baik kepadanya, memperingatkanya akan adanya bahaya dan orang itu tidak ingin melihat ia tertimpa bencana. Sikap ini membuat ia semakin penasaran. Orang-orang ini jelas bukan penjahat, bahkan agaknya sebaliknya, menjadi korban kejahatan, karena itu harus ditolongnya!

“Terima kasih atas peringatan dan nasihatmu, paman. Akan tetapi, aku tidak akan melarikan diri, bahkan aku ingin sekali mengetahui, apa yang telah terjadi dengan rombongan paman. Kalau terdapat bahaya di depan sana, aku tidak takut!” katanya gagah.

Orang tinggi besar itu mengerutkan alisnya. “Nona, engkau masih amat muda, mungkin pernah belajar sedikit ilmu silat, akan tetapi tidak baik kalau tekebur. Di hutan itu terdapat 135

gerombolan iblis yang amat jahat dan lihai !”

Akan tetapi, dara jelita itu tetap tenang, bahkan tersenyum.

“Maksud paman tenlu gerombolan perampok? Hemm, aku tidak takut, bahl¬kan aku harus membasmi mereka kalau mereka itu menjadi pengganggu rakyat yang berlalu lalang di daerah ini.”

Mendengar ucapan lantang itu, si tinggi besar dan beberapa orang kawannya tersenyum getir, agaknya merasa geli, seperti mendengar seekor ayam betina muda berkuruyuk seperti lagak seekor jago!

“Hemm, ketahuilah, nona muda yang bernyali naga ! Aku dikenal sebagai Si Golok Setan, kepala Pek-houw-piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Harimau Putih) yang sudah terkenal di seluruh daerah Lok-yang! Engkau lihat sendiri, kami para pengawal Pek-houw-pia-uw-kiok sebanyak duapuluh tiga orang, mengawal sepasang pengantin hartawan melewati hutan itu dan kami dihadang gerombolan itu. Kau lihat sendiri akibatnya. Tiga orang kawan kami tewas, lima orang terluka berat, sepasang mempelai itu ditawan dan semua barang berharga dirampas! Nah, apakah engkau akan begitu gila untuk melanjutkan perjalanan melewati hutan itu? Gerombolan itu agaknya baru saja mendiami hutan itu karena biasanya di sana aman, Pergilah, nona, dan bersukurlah bahwa nona telah bertemu dengan kami sehingga tidak menjadi korban.”

Mei Li memperlebar senyumnya sehingga wajahnya nampak cantik manis bukan main, membuat rombongan pria itu tertegun dan tenpesona.

“Kalian yang sepatutnya bersukur, paman, karena bertemu dengan aku. Aku yang akan membantu kalian mendapatkan kembali barang-barang yang mereka rampok, dan menolong sepasang mempelai itu. Ceritakan bagaimana keadaan kawanan perampok itu dan di mana mereka.” 136

“Tapi tapi kami merasa ngeri, tidak ingin melihat nona yang begini muda dan jelita terjatuh ke tangan mereka….” si tinggi besar berkata ragu, juga teman-temannya agak nya tidak setuju. Mereka itu tentu sudah merasa takut bukan main terhadap gerombolan perampok itu, pikir Mei Li. Perlu dibangkitkan semangat mereka. Ia memandang ke kiri di mana terdapat sebuah pohon setinggi hampir tiga meter dengan daun yang lebat.

“Agaknya kalian belum percaya ke padaku, ya? Nah, lihatlah baik-baik !” Mei Li menggerakkan kedua tangan ke arah punggungnya dan begitu cepat gerakannya mencabut sepasang pedangnya sehingga para anggauta piauw-kiok itu tidak melihat ia mencabut pedang dan tiba-tiba saja pandang mata mereka menjadi silau ketika nampak dua sinar terang bergulung-gulung dan terbang mengitari pohon itu bagaikan dua ekor naga yang sedang berkejaran. Dan yang membuat mereka menahan napas adalah ketika melihat daun-daun dan ranting potion jatuh berhamburan, terbabat kedua gulungan sinar dan ketika dua sinar itu membalik ke arah Mei Li dan gadis itu sudah menangkap kembali sepasang pedangnya dan memasukkan ke dalam sarung pedang, semua orang melihat betapa pohon itu telah menjadi rata bagian atasnya, seperti kepala seorang anak-anak yang tadi ditumbuhi banyak rambut dan sekarang dicukur hampir gundul di sekitar pohon nampak daun dan ranting berserakan.

“Pedang terbang?” Si tinggi besar dan para kawannya berseru heran, takjub dan kagum. Belum pernah mereka menyaksikan kepandaian sehebat itu. Kalau orang bersilat pedang, tentu saja mereka sudah sering melihatnya, bahkan mereka sendiri ahli bersilat pedang atau golok. Akan tetapi tadi mereka melihat Mei Li tetap berdiri di dekat kudanya, hanya menggerak-gerakkan kedua tangan ke arah pohon dan sepasang pedang itu berubah menjadi dua sinar bergulung-gulung yang seolah bergerak sendiri, beterbangan menggunduli pohon itu. 137

Setelah hening sejenak karena mereka tertegun, lalu meledaklah kekaguman dan kegembiraan mereka. Terdengar mereka bertepuk tangan memuji dan si tinggi besar lalu melangkah maju menghadapi Mei Li dan memberi hormat dengan membungkuk dalam.

.”Mohon maaf kepada lihiap (Pendekar wanita) bahwa kami seperti buta, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Li-hiap, saya Couw Sam menyatakan taluk dan mengharapkan bantuan lihiap agar kami dapat menyelamatkan sepasang pengantin itu berikut barang-barang mereka yang kami kawal.”

Mei Li tersenyum. “Ceritakan dulu keadaan mereka dan apa yang telah terjadi,” katanya tenang.

“Kami Pek-houw-piauw-kiok mengawal sepasang mempelai berikut barang-barang mereka dari Lok-yang menuju ke Kwi-yang di barat, ketika kami melewati hutan di lereng depan itu, kami dihadang oleh duabelas orang yang berpakaian serba hitam. Mereka mengaku sebagai gerombolan Hek-i-kwi-pang, (Perkumpulan Iblis Pakaian Hitam) dan mereka hendak merampok semua barang dan menyandera sepasang mempelai. Tentu saja kami melawan karena jumlah kami duapuluh tiga orang, dan biasanya di daerah ini tidak ada penjahat yang berani mengganggu perusahaan pengawal kami. Akan tetapi, ternyata pimpinan gerombolan itu luar biasa lihainya. Pertempuran yang terjadi ternyata berat sebelah dan kami dihajar habis-habisan dan terpaksa melarikan diri, tidak dapat melindungi sepasang mempelai itu yang ditawan dan semua barang terpaksa kami tinggalkan. Kami harus mencari bala bantuan yang lebih kuat lagi, akan tetapi kami bertemu dengan lihiap yang sakti seperti dewi . Motion bantuan lihiap”

“Hemm, kalau begitu, siapa di antara kalian yang memiliki keberanian, mari ikut denganku. Aku akan membasmi gerombolan iblis itu!” 138

Limabelas orang itu, dipimpin oleh Si Golok Setan Couw Sam, dengan gembira mengangkat tangan menyatakan siap untuk ikut dengan dara perkasa itu.

“Kami semua siap untuk ikut menyerbu Hek I Kwi-pang kalau dipimpin oleh Hui-kiam S ian-li” kata Couw Sam dengan gembira dan penuh semangat.

“Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang)?” tanya Mei Li “Siapa itu?”

“Maaf, mulai sekarang kami meny but nona dengan julukan Hui-kiam Sian-li!” kata Couw Sam dan semua anak buah nya mengangguk setuju. Wajah Mei Li menjadi kemerahan.

“Ihh! Jangan terlalu pagi memuji orang. Belum apa-apa kalian sudah meng angkat aku terlalu tinggi. Lihat saja nanti hasilnya. Mari kita berangkat!”

Mei Li meloncat ke atas punggung kudanya dan menjalankan kudanya, tidak terlalu cepat karena limabelas orang itu mengikutinya dari belakang. Lima orang yang terluka ditinggalkan di situ, bersama tiga jenazah, dengan janji nanti akan dijemput kalau mereka sudah selesai menyerbu gerombolan penjahat di dalam hutan.

Limabelas orang itu, termasuk Couw Sam, nampak gelisah. Jantung mereka berdebar tegang, mulut terasa kering sampai ke kerongkongan karena sebetulnya mereka merasa gentar harus berhadapan lagi dengan gerombolan berpakaian hitam itu. Anak buah gerombolan itu masih dapat mereka lawan, akan tetapi kalau mereka membayangkan kehebatan pemimpinnya, sungguh membuat mereka bergidik ngeri. Akan tetapi Mei Li yang melihat betapa para piauwsu (pengawal barang) itu diam dan gelisah, duduk di atas punggung kudanya dengan sikap tenang sekali, bahkan ia lalu bersenandung lirih. Suaranya memang merdu dan ia pandai bernyanyi, akan tetapi hanya ia sendiri yang mengetahui bahwa senandung itu disuarakannya untuk menutupi degup 139

jantungnya yang tegang. Sikap limabelas orang itulah yang mendatangkan ketegangan di hatinya. Biarpun ia puteri suami isteri pendekar sakti, juga telah menguasai ilmu silat yang tinggi, namun selamanya ia belum pernah bertanding sungguh-sungguh melawan musuh. Ia hanya bertanding melawan ayahnya atau ibunya dalam latihan saja. Dan sekarang, tiba-tiba saja ia dihadapkan gerombolan perampok yang agaknya amat kejam, jahat dan lihai sehingga rombongan piauwsu itupun menjadi ketakutan!

Kini rombongan itu tiba di tepi hutan. Melihat wajah Couw Sam dan anak buahnya kini loyo dan pucat, yang tentu saja mempengaruhi hatinya, Mei Li mengerutkan alisnya, menghentikan kudanya dan menoleh kepada mereka. “Kalau kalian merasa takut, sebaiknya tidak usah ikut denganku!” Ucapannya bernada keras karena hatinya memang mengkal me lihat para piauwsu yang dianggapnya pengecut itu, Mendengar teguran itu, Couw Sam cepat mendekati nya.

“Harap nona memaafkankami. Kami siap membantu karena sebenarnya ini adalah tugas kami. Harap nona berhati-hati.”

Mei Li mengangguk dan memasuki hutan menurut petunjuk Couw Sam yang berjalan di dekat kudanya. Dan di tengah hutan itu nampak beberapa buah pondok yang nampaknya masih baru. Couw Sam menunjuk ke arah pondok-pondok itu dan membisikkan bahwa agaknya itulah sarang gerombolan iblis itu.

Mei Li menjalankan kudanya menghampiri tempat itu. Ternyata merupakan tempat terbuka dan banyak pohon di situ ditebang sehingga terdapat lapangan terbuka yang cukup luas, di mana didirikan empat buah pondok kayu.

“Tantang mereka keluar!” kata Mei Li kepada Couw Sam. Karena melihat sikap Mei Li yang demikian tenang dan gagah, Couw Sam menjadi berani.

“Haiili, gerombolan iblis Hek I Kwi-pang! Keluarlah kalian 140

untuk menerima hukuman!!”

Teriakan lantang itu segera mendapat sambutan dari dalam empat buah pondok. Nampak bayangan hitam berkelebatan keluar dari dalam pondok. Mereka semua berjumlah duabelas orang, dan yang berada di depan adalah seorang pria yang amat menyeramkan. Mei Li sendiri merasa ngeri. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang laki-laki seperti kepala gerombolan itu. Usianya tentu ada empatpuluhan tahun, akan tetapi bentuk tubuhnya sungguh menyeramkan. Couw Sam yang tinggi besar itu akan nampak kecil jika berdiri di sebelahnya! Sungguh seorang raksasa yang kulitnya hitam seperti hangus, matanya besar-besar, hidungnya, mulutnya, semuanva nampak besar pada rakasa itu. Kulitnya sedemikian hitamnya sehingga kalau dia berada di tempat gelap, tentu hanya putih matanya dan giginya saja yang akan nampak. Sudah kulitnya hitam hangus, pakaiannya juga berwarna hitam. Di pinggangnya terselip sebatang golok yang punggungnya berbentuk gergaji, bergigi runcing tajam!

Ketika raksasa hitam itu melihat Mei Li yang meloncat turun dari kuda putihnya dan menambatkan kuda itu di pangkal batang pohon yang bekas ditebang dan masih menonjol di permukaan tanah, dia terbelalak.

“Ha-ha-ha-ha, kalian kembali untuk menebus pengantin? Bagus sekali! Kalau tidak kalian tebus cepat-cepat, pengantin perempuan itu menjadi milikku. Akan tetapi ini wah, betapa cantik jelitanya! Kalian boleh bawa se pasang pengantin sialan itu kalau si jelita ini bersama kudanya ditinggal di sini!” Mendengar ucapan raksasa hitam itu, anak buahnya yang sebelas orang juga menyeringai dan mereka semua memandang kepada Mei Li dengan mata buas, membuat gadis itu diam-diam bergidik. Akan tetapi, Couw Sam yang kini sudah bersemangat kembali, menjadi marah.

“Gerombolan Hek I Kwi-pang, jangan bicara sembarangan! Kami datang untuk mengambil kembali semua barang dan 141

sepasang pengantin yang kalian rampas !”

Raksasa hitam itu memandang ke sekeliling dan melihat bahwa Couw Sam hanya datang bersama empatbelas orang anak buahnya yang sudah luka-luka. sisa dari mereka yang roboh tewas dan luka berat, bersama si gadis jelita, dia tertawa bergelak. “Apakah engkau gila dan mengantar nyawa untuk menemui kawan-kawanmu yang sudah mampus tadi? Ha-ha-ha, kalau begitu lebih bagus lagi. Si jelita ini bersama kudanya, juga pengantin perempuan itu untuk aku dan kalian semua akan mati di sini dan bangkai kalian menjadi pupuk hutan, ha-ha-ha!”

“Raksasa hitam, jangan sombong dulu engkau! Kami datang kembali ke si ni untuk menantangmu. Jagoan kami adalah Hu i-ka im, Sian-li ini!” kata Couw Sam dengan suara lantang.

Si raksasa hitam itu berjuluk Tiat-ciang Hek-mo (Iblis Hitam Tangan Besi). Sejenak dia mengerutkan alis memandang kepada Mei Li, kemudian dia tertawa bergelak. “Nona jelita ini? Ha-ha-ha, jangan bergurau!”

Mei Li kini berkata dengan suaranya.yang merdu halus namun mengandung kelincahan, “Engkaukah kepala gerombolan Hek I Kwi-pang ini, dan siapakah na mamu?”

Si raksasa hitam masih menyeringai, “Engkau ingin mengenalku, nona manis? Aku disebut orang Tiat-ciang Hek-mo dan akulah pemimpin Hek I Kwi-pang .”

“Bagus, engkau tadi mengatakan a kan membebaskan sepasang pengantin itu kalau aku dan kudaku menjadi pengantinya, Nah, aku terima usulmu itu. Bebas kan sepasang pengantin itu dan aku akan menemanimu di sini.”

Tentu saja Couw Sam dan anak buahnya terkejut mendengar ucapan Mei Li ini. Tak mereka sangka bahwa gadis jelita yang lihai itu kini mau saja ditukar dengan sepasang pengantin untuk menjadi permainan si raksasa hitam. 142

“Ha-ha-ha, boleh-boleh sekali!” kata Tiat-ciang Hek-mo sambil memberi isyarat kepada seorang pembantunya. “Keluarkan mereka dan bawa ke sini !”

Anak buahnya itu sambil tersenyum menyeringai, memasuki sebuah di antara pondok-pondok itu dan tak lama kemudian diapun keluar lagi mendorong sepasang orang muda yang masih berpakaian pengantin. Pengantin pria dan pengantin wanita itu diikat kedua tangan mereka ke belakang, dan baju pengantin wanita itu robek di bagian dada. Untung, pikir Couw Sam. Kedatangan mereka belum terlambat, dan pengantin wanita itu agaknya hanya baru mengalami gangguan kecil saja, belum ternoda oleh kebuasan iblis-iblis itu.

“Paman Couw, sambut dan bebaskan mereka,” kata Mei Li. Couw Sam yang tadinya meragu dan bingung, menaati perintah itu. Dia menerima sepasang pengantin itu dan segera membuka ikatan tangan mereka. Pengantin wanita itu menangis di dada suaminya. Mereka masih nampak ketakutan.

“Ha-ha-ha-ha!” Hek-mo tertawa bergelak. “Mulai detik ini, engkau menjadi milikku, nona jelita, Kesinilah!” Dia mengernbangkan kedua lengannya ke arah Mei Li dan memerintahkan seorang anak buahnya untuk menuntun ku danputih itu .

“Nanti dulu, Hek-mo! Engkau ini iblis hitam sudah biasa mengambil sesuatu dengan menggunakan kekerasan. Karena itu, untuk memiliki diriku, engkau harus menggunakan kekerasan pula. Kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, bagaimana mungkin aku sudi menaatimu?”

Mendengar ucapan yang biarpun lembut bernada menantang itu, Hek-mo tertawa bergelak. Bajunya yang terbuka kancingnya memperlihatkan perut besar yang bergelombang ketika dia tertawa.

“Ha-ha-ha-ha, aku bertanding denganmu? Wah, sayang 143

kalau sampai kulit mu yang halus mulus itu lecet, manis. Kalau engkau masih meragukan kekuatanku, nah, engkau boleh memukulku dan aku tidak akan mengelak atau menangkis.

Pukul bagian mana sesukamu, akan tetapi hati-hati, jangan terlalu keras karena tanganmu dapat terluka dan kalau hal itu terjadi wah, sungguh sayang sekali…. ha-ha-ha!” Raksasa hi¬tam itu tertawa dan anak buahnya ikut pula tertawa ha-ha-he-he. Mereka semua maklum bahwa akhirnya, pengantin wani¬ta itu tidak akan dilepas begitu saja oleh kepala gerombolan itu, dan mereka lah yang beruntung karena setelah mendapatkan pengganti yang jauh lebih car. tik, tentu pengantin wanita itu akan diberikan kepada mereka!

Mei Li menghampiri raksasa hitam itu yang kini sudah melepas bajunya sehingga tubuhnya bagian atas telanjang. Nampaklah dada yang bidang dan penuh bulu hitam, di bawah kulit hitam itu nampak tonjolan otot-otot besar, dan perutnya vang gendut itupun nampak keras dan tebal kulitnya. Kemudian, da ‘ra itu tersenyum dan memandang ke seke liling, kepada anak buah Hek I Kwi-pang dan anak buah Pek-houw Piauw-kiok dan berkata lantano. “Kalian semua men dengar sendiri bahwa Hek-mo menantang aku untuk memukulnya tanpa dia mengelak atau menangkis. Kalian menjadi sak si, kalau satu kalau pukulanku membuat dia mampus, arwahnya tidak boleh menya lahkan aku!”

Ucapan itu dianggap main-main oleh Tiat-ciang Hek-mo dan anak buahnya, juga Couw Sam dan anak buahnya me rasa khawatir karena mereka tidak percaya kalau da ra itu akan marnpu meroboh kan Hek-mo yang kebal dan kuat itu de¬ngan sekali pukul. Mungkin saja gadis itu pandai bermain pedang, akan tetapi pukulan tangan kosong dari tangan yang kecil lembut itu, mana marnpu membuat roboh raksasa hitam itu?

“Ha-ha-ha, pukul lah pukullah mungkin setiap malam 144

engkau harus memukuli tubuhku karena pukulanmu tentu akan terasa hangat dan nyaman seperti dipijati, heh-heh!” kata Hek-mo dan kembali semua anak buah tertawa .

Mei Li meiangkah maju lagi dan diam-diam ia mengerahkan sinkang pada tangan kirinya dan berseru, “Hek-mo, terimalah pijatan ini!” Tangan kirinya menyambar dengan jari tangan terbuka ke arah dada. Raksasa hitam itu menerima dengan dada di.busungkan dan mulut menyeringai, diam-diam dia mengerahkan tenaganya untuk membuat dadanya kebal. Akan tetapi, ternyata jari-jari tangan tidak menghantam atau menampar dada, melainkan mencuat ke atas dan dua buah jari tangan yang kecil mungil, yaitu telunjuk dan jari tengah kiri Mei Li telah menotok tenggorokannya.

“Tukkk….!!” Semua orang melihat betapa wajah Hek-mo tertawa lebar, akan tetapi mulut yang terbuka lebar itu tidak menutup kembali bahkan dilengkapi kedua matanya yang juga terbelalak lebar menyaingi mulutnya dan dari mulut itu tidak keluar suara tawa melainkan suara seperti orang tercekik.

“Kek… kek…. kekkkk.. aughh.. ..” Dia memegangi leher dengan kedua tangan, matanya mendelik dan diapun roboh bergulingan seperti ayam disembelih, berkelojotan dengan mata mendelik! Dia tidak dapat bernapas! Semua anak buahnya terkejut bukan main, sedangkan Couw Sam dan kawan-kawannya me mandang dengan terheran-heran, belum sempat bergembira karena belum tahu benar apa yang telah terjadi dengan Hek-mo yang mereka takuti itu.

Mei Li adalah puteri suami isteri pendekar besar yang telah menanamkan watak pendekar kepada dara itu, maka iapun tidak ingin melihat lawannya tewas dan ia mengambil keuntungan karena diperbolehkan memukul tanpa ditangkis atau dielakkan. Maka, setelah totokannya pada kerongkongan itu berhasil menyumbat jalan pernapasan Hek-mo iapun melangkah maju dan kaki kanannya meluncur cepat menendang ke arah kanan kiri kerongkongan itu. 145

“Dukk! Dukkk!” Dua kali terkena sambaran ujung sepatu dara itu. Hek-mo dapat bernapas lagi. Wajahnya berubah semakin hitam, matanya melotot dan dia pun meloncat berdiri dengan kemarahan memuncak ke ubun-ubun kepalanya. Tahu lah dia bahwa dia telah bersikap ceroboh, terlalu memandang rendah dara itu yang ternyata benar-benar memiliki kepandaian tinggi. Pantas saja para piauwsu mengajukan dara ini sebagai jagoan mereka!

Biarpun kerongkongannya masih terasa agak nyeri, akan tetapi pernapasannya telah lancar kembali dan Hek-mo memandang kepada dara itu dengan mata mencorong marah. “Keparat, kiranya engkau memiliki ilmu totok yang cukup kuat. Aku akan membalasmu, dan sebelum aku hancurkan semua tulang di tubuhmu, katakan dulu siapa namamu, murid dari perguruan mana agar engkau tidak mati penasaran!” Kini lenyaplah nada mengejek dan memandang rendah sehingga anak buah Hek-mo sendiri merasa heran dan menjadi tegang karena sikap pimpinan mereka menunjukkan bahwa dara jelita yang masih muda itu merupakan musuh yang tidak boleh dipandang ringan.

Mei Li teringat akan julukan yang diberikan Couw Sam kepadanya dan iapun tersenyum. Mengapa tidak? Julukan itu, tanpa diketahui oleh Couw Sai dan kawan-kawannya, merupakan julukan yang amat tepat. Oleh ayah ibunya ia dibantu untuk menggabungkan ilmu pedang Siang-hui-kiamsut (Ilmu Sepasang Pedang Terbang); dan Sian-li Kiamsut (Ilmu Pedang Dewi). la telah menguasai ilmu-ilmu pedang gabungan itu, maka kalau ia dijuluki Hui-kiam Sian-li, julukan itu tepat sekali sebagai gabungan Hui-kiam (Pedang Terbang) dan Sian-li (Dewi) !.

“Hek-mo, sudah tulikah telingamu? Tadi Couw-piauwsu sudah memperkenalkan namaku kepadamu. Aku adalah Hui kiam Sian-li dan sekali ini Dewi akan membasmi Iblis Hitam, sudah wajar sekali !” Mendengar ini, dan kini mengerti bahwa 146

jagoan mereka tadi telah membuat Hek-mo terkapar, para piauwsu tersenyum, bahkan ada yang menertawakan Hek mo.

“Bocah sombong! Kaukira dengan sedikit ilmu totok itu engkau sudah merasa menang? Engkau memakai julukan Pedang Terbang! Nah, ingin kulihat bagaimana pedangmu terbang kecuali diterbangkan oleh golokku ini!”

“Srattt !l” Nampak sinar berkilat ketika raksasa hitam itu mencabut goloknya. Golok besar dan berat itu juga mengerikan seperti pemegangnya. Selain lebar, panjang dan berkilauan saking tajamnya, juga punggung golok yang berbentuk gergaji itu dapat membuat lawan belum apa-apa sudah menjadi gentar. Agaknya raksasa hitam ini diam-diam merasa jerih juga terhadap ilmu totok atau ilmu tangan kosong dara itu, maka dia sengaja menantang untuk bertanding dengan senjata. Dianggapnya julukan Si Pedang Terbang itu kosong belaka. Mana ada pedang dapat terbang, kecuali dalam dongeng kuno?

Sementara itu, Mei Li merasa mendapat hati. Tak disangkanya bahwa hanya dengan totokannya saja tadi ia sudah dapat membuat raksasa hitam itu roboh. Timbullah kepercayaan besar kepada dirinya sendiri. Dan ia merasa bersukur bahwa ayah ibunya telah menggemblengnya secara keras dan tekun, juga kakek gurunya telah memberi bimbingan selama dua tahun dengan keras. Kini timbul keyakinan dalam hatinya bahwa semua ilmu yang dipelajarinya benar-benar dapat dipraktekkan dan dimanfaat kan. Ayah dan ibunya selalu menasihatinya bahwa ia pantang untuk membiarkan perasaan benci mcnguasai hatinya. Kalaupun ia harus menentang kejahatan, maka perbuatannyalah yang harus ditentang, bukan karena kebencian terhadap orangnya.

“Jangan sekali-kali mempergunakan ilmu kepandaian untuk menguasai orang lain, untuk memaksakan kehendak, untuk melampiaskan dendam kebencian. Kalau engkau terpaksa 147

harus membunuh orang, maka lakukanlah itu seperti engkau membasmi ular berbisa atau binatang buas lain yang mengancam keselamatan manusia, tanpa perasaan benci sehingga erigkau tidak akan melakukannya dengan cara yang kejam Dan berpantang lah selalu menghadapi lawan dengan cara yang curang dan licik karena perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan seorang pendekar.” Demikianlah ucapan ayah ibunya yang tak pernah dapat ia lupakan. Karena itu maka tadi melihat raksasa hitam itu menjadi korban totokan jari tangannya dan terancam mati lemas karena tidak dapat bernapas, ia sudah membebaskan totokannya dengan tendangan kaki.

Melihat Tiat-ciang Hek-mo sudah mencabut golok besar gergajinya, Mei Li yang sudah merasa berbesar hati dan yakin akan kemampuannya sendiri, segera mencabut sepasang pedang yang berada di punggungnya. Dan dengan pasangan kuda-kuda Dewi-pedang-menari, ia berdiri dengan kedua kaki bersilang, lutut agak ditekuk, pedang kiri diangkat ke atas kepala dan melintang, sedangkan pedang kanan melintang di depan dada, mulutnya tersenyum manis dan matanya memandang tajam ke arah lawan. Karena Couw Sam dan anak buah ingin sekali melihat bagaimana Dewi Pedang Terbang melawan raksasa hitam itu, juga anak buah Hek-mo ingin menyaksikan pemimpin mereka menundukkan gadis jelita itu, maka kedua pihak hanya menjadi penonton karena memang tidak ada yang memberi aba-aba kepada mereka untuk saling serang.

Tiat-ciang Hek-mo mengeluarkan gerengan seperti auman harimau dan goloknya menyambar dahsyat. Golok berat itu digerakkan tenaga otot yang kuat maka golok itu menyambar dengan cepat, mengeluarkan suara mengaung dan nampak sinar golok menyambar ke arah kepala Mei Li ketika Hek-mo menyerang dengan bacokan.

“Wuuuuttt…!” Namun, dengan mudah saja Mei Li mengelak 148

ke samping karena bagi penglihatannya, sambaran golok itu lamban dan mudah baginya untuk menghindarkan diri dengan elakan. Sambil mengelak, iapun membalas dan pedang kanannya sudah menusuk ke arah lambung lawan.

“Trangg……!!” Bunga api berpijar ketika golok itu cepat membalik dan menangkis tusukan itu. Mei Li ter kejut karena tenaga otot lawan sedemikian kuatnya sehingga pedang kanan yang terkena tangkisan golok itu terpental, namun tidak sampai lepas dari genggamannya. Tahulah ia bahwa ia tidak boleh mengadu tenaga dengan raksasa ini dan iapun memainkan sepasang pedangnya dengan cepat dan menghindarkan benturan senjata. Setiap kali lawan hendak mengadu senjata dengan tangkisan yang kuat, ia menarik kembali pedang yang menyerang itu dan disusul se rangan dengan pedang lain. Kekuatan melawan kecepatan dan tentu saja Tiat-ciang Hek-mo menjadi repot sekali. Kecepatan gerakan gadis itu sungguh di luar dugaan dan tahu-tahu saja ujung sebatang pedang sudah mengancamnya. Terpaksa dia memutar goloknya untuk membentuk perisai sinar golok, akan tetapi kalau hal ini dia lakukan terus menerus, berarti dia hanya melindungi diri dan tidak sempat membalas serangan. Bagaimana mungkin dia akan dapat menang kalau tak dapat membalas dan hanya melindungi diri saja!

Mei Li yang biarpun kurang pengalaman namun memiliki kecerdikan itu segera dapat menemukan kelebihan dan kekurangan lawan. Harus ia akui bahwa lawannya itu memiliki tenaga gajah yang kuat sekali, akan tetapi sebagai imbangannya, lawannya itu baginya termasuk lamban. Karena itu, ia pun mempergunakan kelebihannya dalam hal kecepatan untuk mendesak lawan. Sepasang pedangnya bergerak cepat sekali, membentuk dua gulungan sinar pedang yang makin lama semakin melebar. Dari dua gulungan sinar pedang ini kadang mencuat sinar seperti kilat menyambar-nyambar ke arah tubuh Hek-mo yang dilindung i perisai sinar golok yang diputar cepat ke sekitar tubuhnya. 149

Tiat-ciang Hek-mo terkejut bukan main dan berulang-ulang dia mengeluarkan suara gerengan marah dan memaki-maki. Tak disangkanya hari ini dia akan bertemu dan bertanding melawan seorang dara yang demikian lihainya. Gerakan dara itu sedemikian cepatnya sehingga sukar baginya untuk mengimbangi, bahkan untuk mengikuti gerakan sepasang pedang itu saja dia sudah merasa pening, maka satu-satunya hal yang dapat dia lakukan hanyalah melindungi tubuhnya tanpa sempat membalas satu kali pun!

Kecepatan gerakan pedang Mei Li tidak mengherankan kalau orang mengerti bahwa ia adalah puteri Can Kim Hong murid Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu. Datuk besar ini adalah seorang yang gagu, dan dia mengadakan hubungan dengan orang lain melalui tulisan yang dibuatnya dengan tongkat, dicorat-coret di atas tanah dan bagi Can Kim Hong, ia sudah biasa melihat gerakan coretan tongkat gurunya itu dan setiap gerakan langsung dikenalnya sebagai suatu huruf tertentu. Karena kebiasaan menulis di udara ini, maka Si Naga Hitam memiliki kecepatan gerakan tangan yang diwariskan kepada muridnya itu, dan selanjutnya, Can Kim Hong juga mengajarkan kepada puterinya. Bahkan kemudian selama dua tahun, ilmu kepandaian dara ini diperdalam oleh gemblengan Si Naga Hitam sendiri.

Kini gulungan dua sinar pedang itu sudah mengurung ketat dan membuat ruangan gerak golok di tangan Hek-mo makin menyempit. Ketika Mei Li mengeluarkan suara melengking nyaring, pedang kirinya sengaja dibiarkan tertangkis golok, akan tetapi dara ini mengerahkan sinkangnya sehingga pedang kirinya menempel golok. Pedang kanannya menusuk dada lawan. Hek-mo yang melihat keadaan berbahaya ini segera mengerahkan seluruh tenaga menarik goloknya dan membuang diri ke belakang. Dia berhasil lolos,

akan tetapi gerakan cepat Mei Li membuat dara ini sudah dapat mengejar dan sebuah tendangan kaki mengenai 150

perutnya.

“Dukk!” Memang perut yang penuh lemak itu keras dan kebal, namun ten¬dangan Mei Li juga mengandung tenaga sakti sehingga tubuh Hek-mo terjengkang!

Anak buahnya yang melihat ini se gera berteriak-teriak dan dengan senjata di tangan mereka maju hendak mengeroyok Mei Li, akan tetapi gerakan mereka itu seperti aba-aba saja bagi Couw Sam dan kawan-kawannya untuk menerjang maju. Terjadilah pertempuran antara sebelas orang anak buah Hek-mo melawan limabelas orang anggauta piauw-kok. yang dipimpin Couw Sam.

hek-mo sendiri menjadi semakin marah. Dia adalah seorang tokoh sesat yang jarang bertemu tanding dan dia sudah amat percaya kepada diri sendiri, mengagungkan diri sebagai jagoan tak terkalahkan. Dia sudah terbiasa menang, maka kini menghadapi seorang dara yang mampu membuatnya roboh sampai dua kali, kemarahannya memuncak. Crang seperti dia tak pernah dapat atau mau mengakui kekurangan dan kelemahannya sendiri. Begitu bangkit kembali karena nemang tendangan tadi hanya membuat dia terjengkang dan tidak melukainya, dia menjadi semakin geram.

“Bunuh mereka semua! Bunuh….!” teriaknya kepada anak buahnya yang sudah mulai bertempur melawan para piauwsu dan dia sendiri lalu menerjang Mei Li dengan goloknya. Akan tetapi kini Mei Li yang melihat beta pa para piawsu sudah bertempur melawan anak buah Hek I Kui-pang, merasa khawatir kalau-kalau para piauwsu tidak akan marpu menandingi mereka, maka dara ini mengambil keputusan untuk dapat secepatnya merobohkan Hek-mo agar ia dapat membantu para piauwsu.

“Haii i ittt….!!” Mei Li mengeluarkan teriakan melengking dan ketika tangan kirinya bergerak, pedang di tangan kirinya meluncur seperti anak panah menyambar ke arah kepala Hek-mo. Hek-mo mengira bahwa dara itu menyambitnya dengan 151

pedang, maka dia menggerakkan goloknya untuk memukul pedang yang terbang ke arahnya itu. Akan tetapi tiba-tiba saja pedang itu melengkung dan membalik ke arah pemiliknya dan pedang ke dua datang menyambar, lebih cepat lagi. Hek-mo terkejut, tidak mengerti bagaimana pedang itu dapat terbang dan kembali kepada pemiliknya seolah hidup, dan ketika pedang ke dua menyambar, dia mengelak dengan loncatan ke samping dan seperti pedang pertama, ketika pedang ke dua ini luput mengenai dirinya, pedang itu meliuk dan terbang kembali kepada dara itu.

Benar-benar sepasang Hui-kiam (pedang terbang), pikir Hek-mo dengan gentar dan kini sepasang pedang itu sudah menyambar-nyambar bagaikan dua ekor burung garuda memperebutkan korban. Betapapun Hek-mo mengelak dan berusaha memukul pedang terbang dengan golok, tetap saja tidak berhasil dan pundak kirinya terluka oleh sebatang pedang, merobek kulit pundak sehingga berdarah. Raksasa hitam itu mulai panik.Dia tidak tahu bahwa kalau Mei Li menghendaki, kalau dara ini memilki hati kejam dan ganas, tentu sejak tadi dia sudah roboh! Mei Li masih sangsi dan merasa ngeri sendiri membayangkan bahwa ia harus membunuh orang. Ia hanya ingin menyelamatkan sepasang pengantin dan merampas kembali harta benda mereka yang dirampok. Kalau sudah berhasil melakukan itu dan sekedar menghajar para perampok, cukuplah sudah baginya.

Kini Hek-mo benar-benar terkejut dan gentar. Tahulah dia bahwa dara itu benar-benar amat lihai, dan julukan Hui-kiam Sian-li bukaniah kosong belaka. Belum pernah dia bertanding dengan lawan selihai ini. Hek-mo mulai panik. Biarpun anak buahnya masih bertempur seru dan ramai menghadapi Iimabelas orang piauw-su itu, namun hatinya sudah merasa gentar sekali dan diapun melompat jauh ke belakang dengan maksud mengajak anak buah melarikan diri saja.

“Heii, monyet hitam, engkau hendak lari ke mana?” Tiba-152

tiba saja terdengar ‘bentakan orang dan tahu-tahu di depan Tiat-ciang hek-mo telah berdiri seorang pemuda. Mei Li memandang dan melihat seorang pemuda berpakaian sasterawan yang serba putih, dari sutera putih yanq halus berdiri dengan sikap lembut dan santai di depan raksasa hitam itu. Pakaian dari sutera putih ini nampak bersih sekali, dan sepatunya dari kulit hitam juga mengkilap bersih dan baru. Pemuda itu tampan dengan muka putih bundar, hidungnya mancung besar dan matanya lebar, mulutnya selalu tersenyum condong mengejek, rambutnya tersisir rapi dan mengkilap pula karena diminyaki. Seorang pemuda sastrawan yang tampan dan pesolek. Tangan kanannya memegang sebatang suling dari perak.

Melihat ada seorang pemuda yang nampaknya lemah berani menghalangnya, bahkan memakinya monyet hitam, tentu saja Tiat-ciang Hek-mo menjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi dia menubruk ke depan menggerakkan goloknya untuk membunuh pemuda lancang itu. Mei Li sudah merasa terkejut dan khawatir sekali. Jaraknya terlalu jauh baginya untuk melindungi pemuda itu, maka ia hanya menyambit dengan pedang pendek yang ia cabut dari pinggangnya, dituju kan ke arah pundak kanan Hek-mo.

Hek-mo memacokkan goloknya ke arah kepala pemuda berpakaian putih itu. Pemuda itu dengan senyum dingin menggeser kaki ke kiri sehingga bacokan itu luput dan sulingnya bergerak ke depan, ke arah pundak kanan Hek-mo, bukan untuk menyerang pundak Hek-mo, melainkan untuk menangkis pedang yang di lontarkan Mei Li tadi untuk menolongnya.

“Cringgg !” Pedang pendek itu tertangkis dan terpental kembali ke pada Mei Li! Dara itu terkejut. Pedang pendeknya itu merupakan pedang terbang yang tidak untuk kembali, maka tidak dipasangi tali, diperuntukkan sasaran yang jaraknya jauh dan tidak terjangkau oleh sepasang pedang 153

terbangnya yang diikat tali sutera. Akan tetapi pedang itu tertangkis suling dan kembali kepadanya. Ia menerima pedangnya dan menyimpannya kembali, sambil menonton pertandingan yang terjadi antara Hek-mo dan pemuda bersenjatakan suling perak itu. Dan iapun kagum. Pemuda itu ternyata lihai bukan main. Suling perak di tangannya menyambar-nyambar cepat dan berubah menjadi gulungan. sinar perak yang menyilaukan mata dan mengeluarkan suara, melengking-lengking seolah suling itu ditiup dan dimainkan orang.

Tiat-ciang Hek-mo diam-diam mengeluh. Kenapa dia menjadi. amat sial hari ini? Tadi bertanding dengan dara jelita yang luar biasa lihainya sehingga dia selalu terdesak bahkan beberapa kali roboh, juga pundaknya terluka pedang terbang, dan sekarang, kembali dia harus bertanding melawan seorang pemuda yang juga amat lihai. Apa lagi pundaknya telah terluka dan terasa perih, juga nyalinya sudah menyempit karena dia merasa tidak mampu menandingi Hui-kiam Sian-li. Kini, pemuda sastrawan bersuling perak itu ternyata juga memiliki gerakan yang amat cepat.

Pemuda itu ternyata memang hebat. Berbeda dengan Mei Li yang tadi hanya bermaksud memberi hajaran kepada Hek-mo, kini pemuda itu membalas dengan serangan yang mematikan. Setiap kali sulingnya bergerak, maka serangan itu merupakan cengkeraman maut. Kembali Hek-mo harus melindungi dirinya dengan putaran goloknya yang membentuk benteng sinar golok dan kenekatannya untuk menyelamatkan diri ini membuat suling pemuda itu berkali-kali tertangkis. Karena maklum bahwa kalau dara jelita dengan pedang terbangnya itu membantu si pemuda dia tentu akan celaka, Hek-mo mencari kesempatan dan ketika tangkisan goloknya yang dilakukan sekuat tenaga membuat suling perak itu terpental, diapun meloncat ke belakang untuk melarikan diri. 154

Jilid VI

“Monyet hitam mampuslah ! ” pemuda itu berseru dan dia seperti hendak” memainkan sulingnya, menempelkan suling di bibirnya. Begitu suling itu menempel di bibirnya dan dia meniup, terdengar suara melengking dan tubuh Hek-mo roboh terjungkal. Dia berkelojotan sebentar lalu tewaslah raksasa hitam itu. Orang lain tentu akan merasa heran mengapa begitu pemuda itu meniup sulingnya Hek-mo terjungkal dan tewas. Akan tetapi Mei Li dapat melihat sinar hitam yang menyambar keluar dari ujung suling perak dan menyambar kearah tengkuk Hek-mo, dan mengertilah ia bahwa pemuda itu telah mempergunakan senjata rahasia lembut, mungkin jarum halus hitam yang beracun untuk membunuh Hek-mo.

Jarum beracun yang mengenai tengkuk tentu saja dapat membunuh dengan cepat karena racunnya langsung masuk ke dalam kepala! Ia mengerutkan alisnya, dan makin tak senang melihat betapa kini pemuda bersuling perak itu mengamuk dengan sulingnya, membantu para piauwsu yang memang telah, mendesak anak buah Hek I Kui-pang. Pemuda itu mengamuk hebat dan dalam waktu tidak terlalu lama, sebelas orang berpakaian hitam itupun roboh dan tewas, tak seorangpun sempat melarikan diri. Tewaslah seluruh gerombolan Hek I Kui-pang yang duabelas orang itu, sebagian besar tewas di tangan pemuda bersuling perak.

Kalau para piauwsu merasa gembira sekali dan kagum kepada pemuda bersuling perak yang kini mengebut-ngebut kan pakaian sutera putihnya yang terkena debu lalu menyelipkan suling peraknya di ikat pinggangnya dari sutera me rah, Mei Li menghampirinya dan dengan alis berkerut dan pandang mata marah ia menegur,

“Kenapa engkau membunuh mereka?” 155

Pemuda itu memandang, dua pasang mata bertemu pandang dan pemuda itu tersenyum sehingga nampak deretan gigi nya yang rapi dan putih, dagunya berlekuk ketika dia tersenyum, menambah ketampanannya. “Nona, bukankah mereka itu gerombolan jahat dan engkau juga membantu para piauwsu ini untuk membasmi mereka? Nona, aku Tong Seng Gun merasa kagum bukan main melihat ilmu kepandaian nona. Bolehkah aku mengetahui nama nona yang mulia?” Sikapnya sopan dan maris, hanya pandang mata itu yang membuat Mei Li.merasa salah tingkah. Pandang mata itu seperti menembus dan menanggalkan pakaian!

“Aku hanya orang yang kebetulan lewat, tidak perlu dikenal siapa namaku,” katanya dan iapun memutar tubuh, menghampiri kuda putihnya yang masih tertambat di pohon.

“Taihiap, lihiap itu adalah Hui-kiam Sian-Li” kata beberapa orang piauwsu ketika melihat dara itu sudah meloncat ke atas punggung kuda putihnya dan melarikan kuda itu dengan cepat meninggalkan hutan itu,

Pemuda itu adalah Tong Seng Gun, pemuda berusia duapuluh satu tahun, cucu Kwi-jiauw Lo-mo yang diangkat anak oleh datuk itu untuk merahasiakan bahwa sesungguhnya Seng Gun bermarga An karena dia adalah putera mendiang pemberontak An Lu Shan dan mendiang puterinya yang bernama Tong Kiauw Ni. Kalau pemerintah kerajaan Tang mengetahui bahwa pemuda itu putera mendiang An Lu Shan, besar bahayanya dia akan dikejar-kejar, ditangkap dan dihukum sebagai putera seorang pemberontak yang amat dibenci Kerajaan Tang. Seperti telah kita ketahui, telah terjalin persekutuan kerjasama antara Kwi-jiuauw Lo-mo Tong Lui dan dua orang sutenya, yaitu Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong, bersama Butek Ngo Sin-liong, para tokoh Hoat-kauw. Tiga orang datuk dan Hoat-kauw membagi tugas. Kalau tiga orang datuk itu sebagai pembantu Ku Ma Khan kepala suku Mongol akan nenentang suku-suku bangsa lain yang menjadi 156

saingan mereka memperbesar kekuasaan di pedalaman, Hoat-kauw bertugas untuk menundukkan aliran-aliran lain dan berusaha agar menguasai dunia kangouw. Dan untuk dapat mengawasi hasil gerakan Hoat-kauw, oleh tiga orang datuk itu Seng Gun diperbantukan kepada Hoat-kauw.

Demikianlah,’ pada hari itu, kebetulan Seng Gun lewat di hutan itu dan menyaksikan Mei Li dan para piauwsu bertempur melawan Tiat-ciang Hek-mo dan Hek I Kui-pang yang sebelas orang banyaknya itu, dia segera berpihak kepada Mei Li. Bukan hanya karena menjadi tugasnya untuk membuat nama besar di dunia kangouw sebagai usaha mereka menguasai dunia kangouw, akan tetapi terutama sekali melihat Mei Li yang demikian cantik jelita dan gagah perkasa sehingga otomatis dia berpihak kepada dara itu, tidak perduli siapa yang menjadi lawan gadis itu.

Karena kini gadis jelita yang telah menyelamatkan mereka itu telah pergi tanpa pamit, sepasang pengantin yang sejak tadi hanya saling rangkul dengan ketakutan melihat pertempuran, kini menghampiri Seng Gun dan mereka berdua segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu. Mereka tadi sudah mendengar pemuda itu menyebutkan namanya kepada Hui-kiam Sian-li, maka pengantin pria itu segera berkata dengan suara lantang dan gembira.

“Kami berdua menghaturkan terima kasih kepada Tong-taihiap. Kalau tidak ada taihiap yang menolong, tentu kami berdua telah menjadi korban kebuasan gerombolan iblis itu.”

“Terima kasih, taihiap…” pengantin wanita juga memberi hormat sambil berlutut dan mengucapkan terima kasihnya.

Seng Gun memandang dan dia tersenyum. Sungguh lucu melihat sepasang pengantin yang masih mengenakan pakaian pengantin itu berlutut memberi hormat kepadanya. Akan tetapi, pengantin wanita itu cantik juga. Usianya paling banyak tujuhbelas tahun, wajahnya manis dan matanya jeli, bajunya bagian atas terkoyak sehingga nampak sedikit kulit dadanya 157

yang putih mulus. Tidak sejelita Hui-kiam Sian-li memang, akan tetapi cukup lumayan.

“Bangkitlah kalian. Sudah menjadi tugasku untuk menolong siapa saja yang terancam bahaya. Bagaimana kalian sepasang pengantin baru dapat menjadi korban gerombolan itu?” tanya Seng Gun dengan sikap dan suara yang lembutdan gagah.

Pengantin pria itu dengan singkat menceritakan bahwa setelah selesai upacara pernikahan di Lok-yang, mereka sedang menuju ke Kwi-yang, tempat tinggal pengantin pria di mana mereka akan mengadakan pesta besar di rumah pengantin pria yang kaya raya. Mereka membawa barang-barang hadiah dan berkereta, dikawal.oleh Pek-houw Piauw-kiok akan tetapi setelah tiba di hutan itu mereka diserbu gerombolan itu dan mereka berdua ditangkap, barang-barang di rampas dan banyak piauwsu yang roboh tewas. Kemudian, para piauwsu datang lagi bersama Hui-kiam Sian-li dan muncul pula Seng Gun .

Seng Gun lalu menganjurkan agar para piauwsu merawat teman-teman mereka yang terluka dan mengurus semua jenazah yang berserakan di tempat itu.

“Biar aku sendiri yang akan mengawal pengantin ini dalam kereta mereka,” kata Seng Gun. Mendengar ini tentu saja para piauwsu merasa girang. Memang mereka harus merawat yang luka dan mengubur yang mati, dan selain itu, kalau mereka diharuskan mengawal kereta pengantin melanjutkan perjalanan ke Kwi-yang, mereka khawatir kalau-kalau ada kawan-kawan gerombolan itu yang akan membalas dendam dan mengganggu. maka, mereka lalu mengambil kereta yang terisi barang-barang itu, memasang lagi dua ekor kuda penariknya dan tak lama kemudian, sepasang pengantin telah berada di dalam kereta itu yang dikusiri oleh Seng Gun.

Para piauwsu mengikuti kereta itu sambil melambaikan tangan dengan penuh kagum dan gembira. Pemuda perkasa itu telah menyelamatkan sepasang mempelai berikut harta 158

mereka, berarti mencegah nama baik perusahaan mereka dari kehancuran.

Tak seorangpun di antara mereka pernah menduga bahwa sepasang mempelai itu seolah baru saja terlepas dari gerombolan srigala dan terjatuh ke cengkeraman seekor harimau yang jauh lebih ganas dari pada gerombolan srigala itu!

Seng Gun membalapkan. kereta itu dan dia tersenyum-senyum, beberapa kali melirik ke arah pengantin wanita yang duduk di dalam kereta bersama suaminya. Mereka berdua bersukur bahwa bukan saja nyawa dan kehormatan mereka diselamatkan, bahkan kereta dan barang barang berharga merekapun mereka dapat kan kembali! Mereka tidak menyadari bahwa kereta itu bukan menuju ke Kwi-yang, melainkan berbelok menuju keutara dan memasuki daerah berhutan lebat yang sunyi.

Baru setelah kereta tiba-tiba berhenti mereka memandang ke luar dan menyingkap tirai kereta. Bukan main kaget rasa hati mereka ketika nampak serombongan orang menghampiri kereta itu. Mereka terdiri dari belasan orang. Menyangka bahwa orang-orang itu adalah gerombolan penjahat, pengantin wanita merangkul suaminya dengan wajah pucat. Pengantin pria itupun ketakutan. Akan tetapi perasaan takut mereka mereda ketika mereka mendengar orang-orang itu menyapa Tong Seng Gun dengan sikap gembira .

“Aih, dari mana engkau mendapatkan kereta yang bagus ini, kongcu?” tanya mereka. Mendengar ini, sepasang pengantin itu menjadi lega. Kiranya orang-orang itu mengenal si pendekar yang telah menyelamatkan mereka.

“Tong-taihiap, kenapa kita berhenti di sini?” tanya pengantin pria kepada penolongnya itu ketika dia memandang keluar dan baru melihat bahwa mereka berada dalam hutan yang tidak dikenalnya . 159

Seng Gun tersenyum. “Kita berhenti sebentar, beristirahat. Kalian keluarlah,”

Mendengar ucapan Seng Gun yang nadanya ramah dan lembut itu, sepasang pengantin baru merasa lega dan tidak lagi curiga, dan merekapun melangkah keluar dari kereta, yang pria menggandeng dan membantu yang wanita turun. Pakaian pengantin wanita yang bentuknya seperti gaun itu tersingkap ketika ia melangkah turun dari kereta yang agak tinggi sehingga sekilas, betis dan belakang pahanya nampak oleh Seng Gun. Mereka memandang ke sekeliling dan merasa heran. Mereka berada di sebuah hutan yang sepi, dan di situ nampak beberapa belasan orang yang muncul itu biarpun mengenakan pakaian pribumi, jelas mereka adalah orang-orang Mongol !

Belasan orang itu adalah anak buah Seng Gun, orang-orang Mongol pilihan di antara jagoan-jagoan, dan mereka harus membantu Seng Gun yang ditugaskan membantu dan mengamati pekerjaan Hoat-kauw yang akan menundukkan aliran aliran lain di dunia kangouw.

Seng Gun berkata kepada anak buahnya dalam bahasa Mongol yang tidak dimengerti sepasang mempelai itu. Dua orang anak buahnya menghampiri pengantin pria dan berkata dalam bahasa Han yang tidak kaku karena mereka semua sudah terlatih sebelum diikutkan Seng Gun, “Mari, tuan pengantin, beristirahatlah bersama kami,” kata dua orang itu dan mereka sudah menggandeng kedua tangan pengantin pria.

“Dan engkau beristirahat dengan aku nona pengantin,” kata pula Seng Gun dan diapun menggandeng tangan pengantin wanita itu. Tentu saja nona pengantin. itu menjadi terkejut, matanya yang jeli terbelelak dan ia meronta hendak melepaskan tangannya yang digandeng sambil menoleh kepada suaminya yang sudah ditarik oleh kedua orang itu terpisah darinya. 160

“Aku mau ikut suamiku ah, taihiap…. mohon lepaskan, aku ingin ikut suamiku….” Nona pengantin itu meronta dan berseru memohon.

Melihat dirinya ditarik oleh dua orang itu ke arah lain sedangkan isterinya meronta-ronta dalam gandengan pendekar yang telah menolong mereka tadi, si pengantin pria menjadi terkejut dan curiga. “Lepaskan aku„ aku ingin bersama isteriku! Kami akan beristirahat bersama, kami tidak ingin dipisahkan.” Dia meronta dan hendak meiepaskan diri dari pegangan kedua orang Mongol itu.

“Plak! Plakk!” Dua kali tamparan membuat pengantin pria itu berteriak kaget dan kesakitan, bibirnya pecah berdarah dan diapun kini diseret oleh kedua orang itu.

Melihat apa yang dilakukan dua orang itu kepada suaminya, pengantin wanita itu menjerit dan meronta semakin keras, akan tetapi sambil tersenyum Seng Gun memondongnya dan membiar kan ia meronta-ronta, membawanya ke arah sebuah pondok, diikuti suara tawa dari belasan orang Mongol itu.

Di tepi sebuah jurang, pengantin pria itu ditendang dan tubuhnya terlempar masuk ke dalam jurang. Hanya terdengar teriakan memanjang lalu sunyi. Belasan orang itu lalu membongkar isi peti-peti dalam kereta dan merekapun sibuk bermain-main dengan banyak barang berharga yang dibawa sepasang pengantin itu. Mereka tertawa-tawa, ” seolah tidak mendengar jerit tangis si pengantin wanita yang dipermainkan sesuka hatinya oleh Seng Gun.

Semua orang yang masih mempunyai sisa kemanusiaan di dalam hatinya pasti akan mengutuk perbuatan yang dilakukan seorang pemuda ahli silat dan sastra seperti Seng Gun itu. Kita semua lupa bahwa menilai dan menghakimi perbuatan orang lain memang mudah saja, karena kita tidak terlibat di dalamnya. Semua perbuatan yang tidak benar selalu merupakan ulah nafsu daya rendah yang menguasai diri. Orang yang terlibat di dalamnya, yaitu orang yang 161

dicengkeram nafsu daya rendah, didorong untuk melakukan perbuatan yang pada dasarnya hanya untuk memenuhi kehendak nafsu daya rendah, yaitu untuk memuaskan dan menyenangkan nafsu. Nafsu selalu menggoda kita dengan bayangan-bayangan kesenangan dalam bentuk apapun juga, Dan tidak perduli kita ini seorang kaya ataupun miskin, tua ataupun muda, pria ataupun wanita, terpelajar atau buta huruf, pandai dan bodoh, semua dipermainkan nafsu daya rendah. Kalau kita melihat orang lain yang melakukan, dengan mudah kita dapat menilai dan dapat melihat kesalahan yang dilakukan orang lain. Akan tetapi, kalau kita sendiri yang terlibat, kalau kita sendiri yang dicengkeram nafsu, tidak mungkin kita dapat menerapkan penilaian seperti kalau kita melihat orang lain. Pengertian dalam pertimbangan akal pikiran kita dapat dtpergunakan untuk orang lain, akan tetapi. bagaimana kalau kita sendiri yang terlibat? Bagaimana kalau kita yang didorong nafsu melakukan suatu perbuatan yang pada dasarnya hanya mengejar kesenangan, mengejar cita-cita menghalalkan segala cara? Dapatkan pengertian kita, ilmu pengetahuan kita, kepandaian dan kebijaksanaan kita, mencegah dan menundukkan nafsu kita yang mendorong-dorong kita melakukan kesalahan itu?

Sukar sekali! Banyak contohnya. Kita tahu dan mengerti benar bahwa nafsu yang mendorong kita untuk marah-marah, memukul atau memaki. adalah tidak benar. Kita mengerti benar. Akan tetapi mampukah pengertian kita itu mengendalikan kemarahan kita? Semua pencuri di dunia ini tentu tahu dan mengerti benar bahwa mencuri adalah perbuatan yang tidak baik, berdosa, akan tetapi kalau nafsu sudah menguasai diri, mampukah pengertian itu mencegahnya untuk mencuri? Buktinya, mereka semua itu tetap saja mencuri walaupun mereka semua mengerti bahwa mencuri itu berdosa. Demikian pula dengan korupsi, dengan Segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan orang di dunia ini. Mereka semua bukan orang bodoh, mereka semua TAHU dan 162

MENGERTI bahwa perbuatan jahat itu berdosa, namun pengetahuan dan pengertian itu tidak menolong, karena nafsu telah mencengkeram diri. Bahkan nafsu daya rendah sudah meresap sampai ke tulang sumsum, bampai ke dalam hati akal pikiran sehingga hati akal pikiran yang tahu dan mengerti bahwa perbuatan itu salah, bahkan menjadi pembela dari pada perbuatan itu sendiri. Hati akal pikiran membisikkan kepada seorang koruptor misalnya bahwa semua orang juga melakukan korupsi, bahwa upahnya tidak cukup, bahwa dia membutuhkan uang itu untuk keluarganya, bahwa korupsinya hanya kecil dibandingkan para koruptor lainnya dan sebagainya. Pikiran yang bergelimang nafsu ini tidak mungkin mengendalikan nafsu sendiri, kalau membela memang pandai! .

Banyak sudah diusahakan manusia untuk menguasai nafsu, untuk mengendalikan nafsu. Banyak sekali pelajaran-pelajaran dalam semua agama yang menjanjikan pahala bagi yang berkelakuan baik dan mengancamkan hukuman bagi yang berkelakuan jahat. Namun mengapa kejahatan cenderung meningkat? Karena jahat itu berarti mengejar kesenangan, dan nafsu dalam diri manusia memang selalu menjanjikan kesenangan bagi manusia.

Semua perbuatan yang mengandung pamrih kesenangan, baik kesenangan itu berupa harta, kedudukan, nama baik, pujian, janji-janji muluk, adalah ulah yang didorong nafsu daya rendah, nafsu yang telah menguasai kita lahir batin. Lahirnya menguasai pancaindera, batin nya menguasai hati akal pikiran. Pelajaran-pelajaran itu mungkin menolong, akan tetapi hanya untuk sementara saja, hanya seperti tambalan saja, menutup untuk sementara. Hanya seperti sekam yang ditaburkan pada api. Nampaknya apinya padam, namun sesungguhnya masih membara di sebelah dalam dan sewaktu-waktu kalau mendapat angin akan bernyala lagi, bahkan mungkin lebih besar nyalanya dari pada sebelum ditutup sekam. Walaupun mungkin ada yang berhasil namun hanya 163

jarang sekali.

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Membuang atau membunuh nafsu? Tidak mungkin, karena justeru nafsu daya rendah ini yang menghidupkan manusia. Nafsu adalah alat hidup, peserta hidup dan pelengkap kita. Tanpa adanya nafsu, pancaindera kita tidak akan dapat merasakan apa itu indah dan buruk, lezat dan tidak lezat, enak dan tidak enak, merdu atau tidak, harum atau tidak, dan sebagainya. Tanpa adanya nafsu, pikiranpun akan terhenti, tidak akan ada kemajuan lahiriah dalam kehidupan ini, bahkan tanpa adanya nafsu berahi, perkembangbiakan manusiapun akan terhenti. Nafsu mutlak perlu bagi kita, akan tetapi nafsupun mutlak membahayakan dan menyeret kita ke dalam perbuatan-perbuatan yang hanya akan mengacaukan kehidupan di antara manusia, perbuatan yang merusak dan pada umumnya kita namakan jahat. Nafsu adalah peserta, adalah hamba kita yang amat kita perlukan, akan tetapi kalau hamba ini sudah menjadi majikan kita, celakalah kita. Kita akan diseret dan di permainkan!

Mencari uang atau nafkah merupakan keharusan dalam kehidupan di dunia ini, akan tetapi kalau nafsu menjadi majikan, maka kita tidak segan-segan untuk menipu, merampok, mencuri, korupsi bahkan membunuh memperebutkan harta, Gairah berahi merupakan kebutuhan dalam hidup karena nafsu inilah yang membuat kita mau melakukan hubungan antara lawan kelamin, akan tetapi kalau nafsu yang menjadi majikan, kita tidak segan-segan untuk berjina, melacur, bahkan memperkosa! Seperti yang dilaku kan Seng Gun, bukan dia tidak mengerti atau tidak tahu bahwa perbuatannya itu jahat dan keji. Dia tahu! Akan tetapi, dorongan nafsunya tidak akan hilang atau terhenti karena pengetahuannya itu.

Nafsu mutlak perlu, akan tetapi nafsu juga mutlak berbahaya. Lalu bagaimana? Hanya dengan 164

mengembalikannya kepada Sang Maha Pencipta, yang Mencipta kita, Mencipta nafsu-nafsu kita, Mencipta segala sesuatu yang nampak dan tidak nampak oleh mata kita, yang Mengadakan segala sesuatu yang ada, mengembalikan dengan arti menyerah dengan segala kepasrahan, keikhlasan, ke tawakalan. Hanya dengan pasrah sebulat bulatnya inilah, di mana kehendak si aku atau nafsu melalui akal pikiran tidak bekerja giat lagi, maka Kekuasaan Tuhan akan bekerja! Hanya Kekuasaan Tuhan jualah yang akan dapat mengembalikan nafsu pada fungsi aselinya, yaitu menjadi peserta kita, menjadi pelayan kita demi kepentingan hidup berjasmani d i dalam dunia ini.

Seng Gun adalah seorang manusia yang sepenuhnya dikuasai nafsu daya rendah. Budi kesusilaan memang ada pula di dalam hatinya, menjadi peserta, namun budi kesusilaan itu tertutup oleh nafsunya sehingga seolah menjadi hamba nafsu.

Sukar dibayangkan.kekejian apa yang terjadi di dalam pondok itu, akan tetapi tiga hari kemudian, di dalam jurang yang dalam itu menggeletak mayat sepasang pengantin baru itu. Pengantin pria tewas di dalam jurang karena ditendang dan dilempar oleh orang-orang Mongol anak buah Seng Gun. sedangkan pengantin wanita sengaja membunuh diri dan meloncat ke dalam jurang untuk mengakhiri hidupnya yang penuh aib.

Perahu kecil itu meluncur dengan perlahan di tengah telaga itu. Penumpangnya hanya seorang saja, seorang pemuda yang kepalanya dilindungi sebuah caping lebar yang biasa dipakai oleh nelayan. Caping itu melindungi pemakainya dari terik matahari, juga dapat melindungi badan kalau turun hujan. Akan tetapi pemuda itu jelas bukan seorang nelayan. Dia tidak membawa pancing, juga tidak membawa Jala. Selain itu, pakaiannya juga bukan seperti nelayan, melainkan seperti seorang pemuda pelajar. Wajahnya tampan sekali dan dia mendayung perahunya perlahan-1ahan ke tengah telaga. 165

Agaknya dia ingin menghindari keramaian, menjauhi para nelayan dalam perahu mereka yang berseliweran bercampur dengan para pelancong yang menikmati keindahan alam dan kesejukan hawa udara di telaga.

Setelah tiba di tengah telaga yang sunyi, jauh dari perahu lain, pemuda itu tidak mendayung lagi, membiar kan perahunya berhenti di tengah telaga, dan diapun duduk di perahu, memandang ke permukaan air telaga yang tenang dan jernih sambil melamun. Pemuda itu adalah Souw Kian Bu. Seperti kita ketahui, Souw Kian Bu pergi meninggalkan rumah orang tuanya di kota Wu-han untuk pergi merantau mencari pengalaman. Kepada mereka dia mengatakan bahwa selain mencari pengalaman di dunia kang-ouw (sungai telaga, dunia persilatan), diapun ingin berkunjung ke Go-bi-pai di pegunungan Gobi.

Ketika perjalanannya tiba di telaga itu, melihat keindahan telaga, Kian Bu tertarik sekali dan pada pagi hari itu dia menyewa sebuah perahu dan berperahu di telaga. Kini dia duduk di atas perahunya, melamun.

Sebuah perahu yang agak besar meluncur perlahan mendekati perahunya, bahkan hampir membentur perahunya. Kian Bu sadar dari lamunan dan merasa agak marah akan kesembronoan orang yang mengemudikan perahu besar itu. Kalau sampai perahunya yang kecil tadi terbentur, bukan tidak mungkin perahunya akan terguling. Akan tetapi perahu besar itupun berhenti, agaknya tidak didayung lagi. Dari atas perahunya, dia melihat ada orang di atas perahu besar, mungkin penumpangnya berada di da lam bilik perahu yang berada di tengah perahu, hanya berupa papan di kanan kiri dan belakang sedangkan pintu di depan tertutup tirai. Akan tetapi ketika perahu itu terbawa gerakan air agak melintang, dia melihat seorang laki-laki yang agaknya tukang perahu berada di ujung perahu dan tukang perahu inilah agaknya yang merupakan pengemudi dan pendayung perahu. Dia tidak 166

tahu apakah di dalam bilik perahu ada orangnya .

Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara yang-kim (kecapi) dimainkan orang. Suara yang-kim itu cukup nyaring dan dari paduan suaranya dapat di ketahui bahwa pemainnya amat mahir memainkan alat musik itu. Kian Bu yang juga pernah mempelajari permainan kecapi, mendengarkan penuh perhatian dan diapun tersenyum. Lagu asmara! Dia mengenal lagui “Menanti Kasih” itu yang menceritakan tentang Ci Lan, puteri raja yang cantik jelita menanti munculnya kekasihnya, seorang penggembala yang sebetulnya sudah dibunuh oleh raja yang tidak setuju puterinya saling mencinta dengan pemuda penggembala. Namun, arwah penggembala itu agaknya menjadi penasaran dan dia masih seringkali muncul dan mengadakan pertemuan dengan sang puteri, walaupun mereka tidak dapat saling bicara atau saling bersentuhan Dan sang puteri masih tetap mencintanya, merindukannya dan terjadilah lagu asmara itu!

Setelah permainan yang-kim itu nengakhiri lagu asmara tadi dan berhenti, Kian Bu tidak dapat menahan kekagumannya dan diapun berkata dengan suara bersungguh-sungguh, “Lagu yang indah, yang-kim yang merdu!”

Tukang perahu yang bertubuh tinggi kurus itu menoleh kepadanya, akan tetapi acuh saja seolah ucapan Kian Bu itu tidak ada artinya sama sekali baginya. Akan tetapi, tiba-tiba dari dalam bilik perahu yang pintunya tertutup tirai sutera biru itu terdengar suara wanita yang merdu dan seperti bersajak.

“Lagu yang indah bukan lagu,

yang-kim yang merdu bukan yang-kim!”

Mendengar suara ini, Kian Bu tertegun. Dia merasa heran sekali dan juga penasaran, maka diapun memandang ke arah bilik perahu besar itu dan bertanya, “Maafkan kelancanganku, akan tetapi kalau lagu yang indah bukan lagu, lalu apakah lagu itu! Kalau yang-kim yang merdu bukan yang-kim, lalu apa 167

yang merupakan yang-kim sebenarnya? Mo hon petunjuk.”

Hening sejenak, seolah wanita yang mengeluarkan suara tadi diam berpikir. Kemudian terdengar lagi suaranya, suara yang merdu, juga jelas pengucapan setiap kata, dan disuarakan seperti orang membaca sajak, setengah bernyanyi.

“Dengan matahari timbullah terang,

tanpa matahari jadilah gelap,

terang dan gelap tiada bedanya

yang satu mengandung yang lain

yang lain ada karena yang satu!”

Kian Bu menjadi semakin kagum.. Dia bangkit berdiri di atas perahunya, mengangkat kedua tangan ke depan dada dan memberi hormat ke arah bilik di tengah perahu besar:

“Aku, Souw Kian Bu, merasa kagum sekali atas permainan yang-kim dan kata-kata indah yang diucapkan. Kalau aku tidak dipandang terlalu rendah, aku mengharapkan untuk dapat. berbincang-bincang mengenai gelap dan terang!”

Hening sejenak dan Kian Bu masih menanti dengan kedua tangan terangkap di depan dada. Kemudian terdenqar suara wanita yang merdu tadi, “Sobat, silakan naik ke atas perahu kami. Pandangan rendah maupun tinggi sama saja, sama-sama menjerumuskan!”

Dia berada di perahu kecil dan dipersilakan naik ke perahu besar itu, pada hal di situ tidak ada tali atau tangga, hal ini jelas menunjukkan bahwa wanita yang mengundangnya hendak mengujinya, atau memang sudah dapat menduga bahwa dia memiliki kepandaian. Oleh karena itu, Kian Bu juga tidak merasa perlu menyembunyikan kemampuannya.

“Maafkan kalau aku mengganggu !” Tubuhnya lalu meloncat naik ke atas perahu besar sambil membawa tali perahunya. Tanpa guncangan sedikitpun kedua kakinya 168

menginjak papan perahu besar. Dia tidak perduli betapa tukang perahu di perahu besar itu melirik dengan pan dang mata jalang, lalu mengikatkan ujung tali perahunya ke perahu besar.

“Bagus, gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang bagus!” terdengar suara wanita itu berseru kagum. Kian Bu memutar tubuh dan menghadapi pintu bilik yang tertutup tirai dan pada saat itu, sebuah tangan yang jari-jarinya kecil panjang dan putih mulus menyingkap tirai, lalu muncullah seorang wanita dari dalam bilik. Kian Bu yang sudah siap untuk menqangkat kedua tangan memberi hormat, terpesona dan lupa mengangkat tangannya, hanya berdiri bengong seperti patung, matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, tidak mampu melakukan sesuatu seperti tiba-tiba saja kehilangan akalnya! Selama hidupnya, belum pernah dia dapat membayangkan seorang wanita sejelita ini, seperti bidadari dari kahyangan! Apa lagi bertemu, mimpipun belum pernah. Sebelum ini, tentu dia tidak akan percaya bahwa di dunia ini terdapat seorang wanita yang memiliki kecantikan seperti ini!

Dara itu berpakaian serba putih, dari sutera putih. Demikian putih bersih sehingga ia nampak semakin anggun seperti dewi! Dan kecantikannya dalam pandang mata Kian Bu nampak sempurna, dengan daya tarik sedemikian kuatnya membuat dia seperti berubah menjadi patung. Mata itu! Rambut itu! Hidung dan terutama bibir itu! Wah, tidak mungkin dia dapat menggambarkan. Kalah manis madu seguci . Kalah harum bunga setaman Dan ketika bibir itu merekah, tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih bersih dan rapi, membayangkan kemerahan rongga mulut dan ujung lidah, Kian

Bu menjadi pusing tujuh keliling dan agaknya dia akan dapat jatuh pingsan kalau saja dia tidak cepat menahan napas mengerahkan tenaga. 169

“Souw-kongcu (tuan muda Souw), engkau kenapakah, memandangku seperti itu?” Mulut yang bibirnya berbentuk gendewa terpentang, merah membasah tanpa gincu itu bertanya lembut, masih membayangkan senyum geli.

Mendengar pertanyaan itu, barulah Kian Bu merasa seperti diseret turun kembali dari dunia lamunan, dunia awang-awang dan mukanya berubah kemerahan, dia menjadi salah tingkah.

“Eh, aku saya eh, maafkan aku apakah apakah nona yang tadi bermain yang-kim dan bersajak?” Dia menjenguk ke dalam bilik dari tirai yang setengah terbuka, untuk melihat apakah ada wanita lain di dalam bilik itu.

Dara itu membuka tirai pintu bilik sehingga Kian Bu dapat melihat bahwa bilik kecil itu kosong, tidak ada orang lain di dalamnya. Yang ada hanyalah sebuah meja pendek tanpa bangku dan tentu dara itu tadi duduk bersila di atas tikar pada papan perahu. Sebuah yang-kim kecil terletak di atas meja, juga alat tulis yang disusun rapi. Peralatan ini saja menunjukkan bahwa dara itu adalah seorang ahli sastra yang tentu pandai menulis indah dan membuat sajak.

“Kenapa engkau merasa heran, kongcu? Apakah engkau tadi mengira bahwa yang memainkan yang-kim seorang pria?” Dara itu menahan tawanya, dan dari susunan kata-katanya mudah diketahui bahwa dara itu seorang yang terpelajar. Biarpun segala keindahan pada diri gadis itu masih mempesona, namun Kian Bu telah mampu menguasai perasaan nya dan dia menjadi lebih tenang .

“Tidak, nona. Suaranya menunjukkan bahwa yang bersajak adalah seorang

wanita, akan tetapi tidak kusangka sama sekali masih semuda nona “

Senyum itu tidak meninggalkan bibir yang mungilitu.. “Kenapa engkau mengira yang bicara seorang wanita tua, 170

Souw-kongcu ?’

“Karena ucapannya tadi mengandung soal-soal kehidupan yang rumit dan mendalam artinya sehingga aku menjadi tertarik untuk mengajak berbincang-bincang, akan tetapi tidak tahunya….”

Dara itu tersenyum makin lebar dan sepasang matanya berbinar-binar seperti bintang kembar. “Kongcu, apakah engkau sudah tua sekali? Kulihat engkau bukan kakek-kakek, dan tidak jauh lebih tua dibandingkan aku. Nah, mari kita duduk di dalam bilik kalau memang engkau masih ingin mengajak aku berbincang-bincang. Matahari mulai naik tinggi dan duduk di luar bilik akan membuat kulitku menjadi hangus. Engkau masih terlindung caping lebar, akan tetapi aku”

“Ah, maaf, aku telah mengganggumu, nona.”

“Tidak sama sekali, mari silakan.” Dara itu.memberi isarat dengan tangannya mempersilakan Kian Bu memasuki bilik. Ia sendiri membuka sama sekali tirai pintu bilik itu sehingga kini bilik itu terbuka. Melihat ini, Kian Bu merasa lapang dadanya. ‘Sungguh akan mendatangkan perasaan tidak enak sekali kalau dia harus berada berdua saja dengan dara itu di dalam bilik perahu yang tertutup pintunya! Dia mengangguk dan memasuki bilik diikuti dara itu dan tak lama kemudian mereka berdua telah duduk bersila terhalang meja. Kian Bu telah melepaskan caping cari atas kepalanya dan menaruh caping itu miring berdiri di sudut bilik. Kini mereka duduk berhadapan dan saling pandang. Akan tetapi Kian Bu tidak berani terlalu lama menatap wajah itu, merasa seolah silau kalau memandang terlalu 1ama.

“Nah, sebelum kita berbincang-bincang, sebaiknya kalau aku memperkenalkan diri lebih dahulu, karena engkau tadi sudah memperkenalkan dirimu, kongcu. Namaku Ji Kiang Bwe. Nah, sekarang apa yang ingin kauperbincangkan denganku, Souw-kongcu?” 171

Tadi, sebelum-melihat orangnya, mendengar suaranya dan permainan yang-kim, hati Kian Bu tertarik sekali dan ingin dia berbincang tentang lagu, tentang musik, tentang sajak, dan terutama tentang makna kehidupan sepet ti disinggung suara itu dalam sajaknya. Akan tetapi setelah kini melihat orangnya, dia kehilangan akal dan agaknya sukar sekali dia mengeluarkan kata-kata pendahuluan.

“Aku ehh, aku hanya eh, ingin bertanya mengenai sajakmu tadi, nona,” akhirnya dia dapat mengambil keputusan untuk bertanya tentang sajak yang diucapkan gadis itu tadi, karena bertanya merupakan kegiatan yang paling mudah dalam suatu perbincangan atau percakapan.

“Tanyalah, Souw-kongcu. Orang bertanya tidak usah membayar,” Gadis itu tersenyum dan Kian Bu juga tersenyum. Kiranya gadis ahli sastra inipun pandai berkelakar, pikirnya dengan hati gembira .

“Aku hanya ingin mengulang pertanyaanku tadi, Ji-siocia. Engkau mengatakan bahwa lagu yang indah bukan lagu. dan yang-kim yang merdu bukan yang-kim. Lalu apa?”

“Souw-kongcu, lagu hanyalah lagu yang-kim hanyalah yang-kim, kalau ditambah yang indah dan merdu, maka lagu dan yang-kim itu sudah bukan aselinya lagi, melainkan menjadi bayangan sesuai dengan selera yang menyebutnya. Sebutan indah dan buruk keduanya tidak menerangkan sifat sesungguhnya dari yang disebut, karena indah dan buruk hanyalah penilaian, dan setiap penilaian tentu didasari perasaan suka dan tidak suka pribadi, dan suka atau tidak suka inipun didasari menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kalau menyenangkan, mendatangkan rasa suka, dan kalau suka, sudah tentu akan nampak indah dan baik. Karena itulah, maka lagu yang indah bukan lagu, yangkim yang merdu bukan yangkim, melainkan gambaran dari si penilai !”

Kian Bu tertegun. “Ji-siocia, akah engkau dari aliran Beng-172

kauw (Aliran Terang)?” tanyanya sambil menatap tajam. Orang-orang dari alirang Beng-kauw banyak yang pandai, akan tetapi berwatak aneh sehingga oleh para pendekar mereka digolongkan sebagai golongan sesat.

Dara itu tersenyum lagi. “Souw-kongcu, apakah kalau aku dari golongan atau aliran Beng-kauw lalu engkau tidak sudi lagi bercakap-cakap denganku?” Dara itu dengan gaya yang lincah dan cerdik balas bertanya. “Dan mengapa pula engkau mengira aku dari Beng-kauw?”

“Aku pernah membaca tentang alir an Beng-kauw, dan sajakmu tadi mirip dengan filsafat aliran Beng-kauw.”

Dara itu menggeleng kepalanya.”Aku tidak terikat dengan aliran manapun. Aku hanya suka menyelami kenyataan-kenyataan hidup, tidak perduli dari ajaran aliran manapun. Kehidupan ini sendiri menjadi suatu aliran, suatu pelajaran yang tiada putusnya, juga menjadi guru kita. Apa lagi kalau dalam kehidupan ini kita mengalami banyak penderitaan, banyak kesengsaraan dan kedukaan, maka dengan sendirinya soal kehidupan amat menarik untuk direnungkan dan dimengerti.”

Kian Bu memandang kagum. “Ah..tidak pernah aku dapat membayangkan kata kata seperti itu keluar dari mulut seorang nona semuda engkau, nona. Agaknya, maafkan aku, agaknya nona yang semuda ini sudah banyak mengalami hal-hal yang mendukakan Benarkah itu?”

Tiba-tiba perahu besar itu terguncang keras. Kian Bu terkejut karena maklum bahwa perahu itu tentu ditabrak sesuatu, dan dia sudah cepat meloncat keluar dari dalam bilik perahu. Terdengar suara ribut orang berkelahi di ujung perahu dan ketika dia menghampiri, ternyata tukang perahu yang tinggi kurus tadi sedang berkelahi dikeroyok oleh tiga orang. Baru sekarang Kian-Bu mengetahui bahwa tukang perahu yang tinggi kurus dan bersikap dingin itu ternyata memiliki ilmu silat yang tangguh. Dayung besinya menjadi 173

senjatanya dan dia mengamuk dikepung tiga Orang yang bersenjatakan pedang dan ternyata tiga orang pengeroyok itupun lihai bukan main! Seorang saja di antara mereka pasti akan merupakan lawan setanding dari tukang perahu itu. Akan tetapi kini mereka maju bertiga, tentu saja tukang perahu menjadi kewalahan dan dia lebih banyak hanya dapat menangkis saja dan memutar dayungnya melindungi diri, tidak mendapat banyak kesempatan untuk membalas. Tiga gulungan sinar pedang sudah menghimpitnya dan sebentar lagi tentu dia akan terkena pedang dan roboh.

Kian Bu tidak tahu mengapa mereka berkelahi dan siapa tiga orang pengeroyok itu. Karena tidak tahu urusannya, maka diapun tidak berani turun tangan. Bagaimanapun juga, tukang perahu itu adala.h pembantu Ji Kiang Bwe dan dia harus mencegah tukang perahu itu j terbunuh .

“Hentikan perkelahian!” teriak Kian Bu dan sekali bergerak, tubuhnya sudah melayang ke arah mereka yang sedang bertanding dan gulungan sinar pedangnya bergerak menangkis empat buah senjata itu, tiga batang pedang dan se batang dayung.

Terdengar suara berdencing berturut-turut. Tukang perahu itu terkejut, juga tiga orang pengeroyoknya berloncatan ke belakang karena mereka berempat tadi merasa betapa tangan mereka tergetar hebat dan nyaris senjata mereka terlepas dari pegangan.

“Souw-kongcu, harap mundur. Ini merupakan urusan kami pribadi,” terdengar suara merdu itu di belakangnya. Kian Bu menoleh dan melihat Kiang Bwe telah berdiri di situ, tetap cantik je1ita dan agung seperti tadi, hanya bedanya, kalau tadi wajahnya berseri pe-nuh senyum dan ramah, kini wajah itu nampak dingin dan sinar matanya mencorong .

“Paman Gu, apa yang terjadi?” tanya dara itu dengan sikapnya yang tenang sekali kepada si tukang perahu. Diam-diam Kian Bu memperhatikan dengan heran dan ingin tahu. 174

Siapakah sebetulnya dara ahli sastra ini yang dapat bersikap sedemikian tenangnya menghadapi serbuan tiga orang lihai itu? Dan sikap tukang perahu itu lebih mengherankan hatinya lagi. Orang yang wajahnya nampak dingin itu kini bersikap hormat sekali dan dia merangkap kedua tangan depan dada ketika menjawab pertanyaan Kiang Bwe.

“Pang-cu (Ketua Perkumpulan), mereka adalah orang-orang Hoatkauw yang sengaja hendak membunuhku.”

Sepasa.ng mata yang indah itu kini mencorong penuh kemarahan. Bukan hanya Kian Bu yang terkejut dan heran mendengar tukang perahu itu menyebut pangcu kepada si nona, akan tetapi juga tiga orang tokoh Hoat-kauw itu terkejut dan heran sekali.

“Orang she Gu!” kata seorang di antara mereka kepada si tukang perahu. “Ketua kalian, Ji-pangcu, telah tewas, tidak perlu lagi kalian menipu kami dan menyebut nona ini sebagai pangcu kalian!”

“Orang-orarig Hoat-kauw yang sombong, kalian bertiga mempunyai mata akan tetapi seperti buta. Ji-pangcu memang telah tewas oleh kekejaman kalian, akan tetapi nona ini adalah ketua baru kami, puteri mendiang Ji-pangcu!”

Tiga orang itu saling pandang, kemudian mereka menatap wajah Ji Kiang Bwe. Mereka tadi melihat sepak terjang pemuda yang lihai itu dan mereka agak gentar kepadanya, akan tetapi tentu saja tidak gentar menghadapi dara muda yang diaku oleh si tukang perahu sebagai ketua yang baru.

“Bagus! Kalau begitu, biar kami mengrrimnya mengikuti jejak ayahnya!” bentak mereka dan tiga orang itu mempersiapkan pedang mereka untuk menerjang

“Pangcu, hati-hati ….! teriak si tukang perahu yan.g sudah melintangkan dayungnya untuk membantu, Juga Kian Bu tidak mau tinggal diam. 175

“Ji-siocia, perkenankan aku membantumu!” Biarpun dia belum tahu mengapa orang-orang Hoat-kauw memusuhi nona itu, akan tetapi mudah saja baginya untuk mengambil keputusan, pihak mana yang patut dibantunya.

“Paman Gu, mundurlah dan kemudikan saja perahu kita, engkau bukan lawan mereka. Souw-kongcu, sudah kukatakan bahwa ini adalah urusan pribadi, harap engkau menonton saja dan tidak mencampuri. Aku tidak ingin mencontoh mereka yang pengecut dan mengandalkan pengeroyokan ini !

Tukang perahu itu mundur dan memegang kemudi perahu, memandang dengan khawatir, sedangkan Kian Bu juga mundur dan memandang dengan heran dan kagum. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa gadis yang pandai sastra, nampak lemah lembut, pandai main yang-kim dan membuat sajak itu, ternyata begitu tenangnya dan berani menghadapi pengeroyokan tiga orang Hoat-kauw yang lihai itu! Namun, diam-diam dia masih bersiap siaga untuk menjaga kalau-kalau gadis itu membutuhkan bantuannya. Dia tidak ingin melihat gadis itu celaka di tangan tiga orang lawan yang lihai itu.

Mendengar pemuda yang lihai itu menawarkan bantuannya kepada gadis yang mengaku sebagai ketua baru dari Kim-kok-pang, tiga orang Hoat-kauw itu diam-diam merasa semakin gentar. Seorang di antara mereka, yang berjenggot lebat dan berusia limapuluhan tahun, menahan gerakan pedangnya dan dia pun berkata dengan suara membujuk.

“Nona, kalau engkau benar menjadi pangcu dari Kim-kok-pang yang baru, kami anjurkan agar engkau membawa Kim-kok-pang untuk bekerja sama dan bersahabat dengan Hoat-kauw, tentu Kim-kok pang akan menjadi semakin kuat dan kelak akan menjadi sebuah perkumpulan yang besar dan berpengaruh, bahkan para pimpinannya akan mendapat kesempatan banyak untuk mendapatkan kekuasaan. Nah, 176

sebelum terlanjur, kami sungguh mengharapkan nona akan suka membawa semua pimpinan dan datang berkunjung kepada pimpinan kami untuk membicarakan kerja sama itu.”

Dengan alis berkerut Ji Kiang Bwe memandang kepada mereka lalu bertanya, “Kalian bertiga ini merupakan tokoh tingkat berapakah dari Hoat-kauw?”

“Kami bertiga adalah para pembantu ketua cabang. Ketua cabang merupakan tokoh tingkat ke empat dan kami berada di bawah mereka.” kata si jenggot lebat dengan suara yang kurang senang ditanya tentang tingkat mereka.

“Hemm, tingkat lima atau empat? Tidak cukup berharga untuk membicarakan persoalan dengan aku. Kalau tokoh tingkat pertama atau setidaknya kedua dari Hoat-kauw yang datang, tentu aku akan suka bicara.” Sikap nona itu sungguh keren dan meiihat sikap itu saja, tiga orang ini menjadi gentar. Hanya orang yang percaya akan kemampuan sendiri saja yang dapat bersikap seperti itu.

“Baiklah, kalau begitu, kami hendak kembali untuk melapor kepada atasan kami,” kata si jenggot lebat dan dia memberi isyarat kepada dua orang kawannya untuk meninggalkan perahu itu, kembali ke perahu mereka yang bercat hitam dan yang menempel pada perahu besar itu.

“Nanti dulu!” bentakan nona itu nyaring berwibawa, suaranya melengking dan menusuk, membuat tiga orang itu terkejut dan membalikkan tubuh menghadapinya. “Kalian telah menabrak perahuku. Kalian teiah menyerang pembantuku. Kemudian kalian bersikap sombong tidak menghormatiku. Kesalahan ini sebetulnya harus ditebus dengan nyawa. Akan tetapi, karena hari ini aku sedang menerima tamu terhormat, biarlah memandang muka tamuku, aku tidak akan membunuh kalian. Hayo cepat kalian menggunakan pedang memotong lengan kiri kalian masing-masing sebatas siku!”

Tiga orang itu terbelalak. Muka mereka menjadi pucat lalu 177

berubah merah karena penasaran dan marah. Mereka adalah orang-orang penting dari Hoat-kauw dan tadinya, meiihat si tinggi kurus Gu Lok yang dikenal sebagai Si Dayung Baja, tokoh Kim-kok-pang yang juga menentang Hoat-kauw, mereka hendak membunuhnya. Hanya karena muncul dara yang mengaku sebagai ketua baru Kim-kok-pang, mereka tidak jadi membunuhnya. Akan tetapi, sekarang mereka dihina , diharuskan membuntungi lengan kiri sendiri, tentu saja mereka tidak sudi .

“Nona, engkau keterlaluan, ” kata si jenggot lebat. “Kami sudah mengampuni nyawa Si Dayung Baja, dan sekarang nona bahkan berani menghina kami?”

“Cepat kalian lakukan, kalau tidak tentu pangcu yang akan membuntungi lengan kalian, mungkin leher kalian!” kata Si Dayung Baja Gu Lok dengan lantang.

“Srat-srat-srat. !” Tiga orang itu mencabut lagi pedang masing-masing yang tadi telah disimpan dan si jenggot lebat berkata marah. “Kami dari Hoat-kauw bukanlah orang-orang yang mau menerima” penghinaan begitu saja! Kim-kok-pangcu , tadi engkau mengatakan hendak menandingi kami bertiga seorang diri saja, menyuruh Si Dayung Baja mundur dan menolak pula bantuan pemuda itu. Apakah kata-katamu itu masih dapat d i percaya?”

“Singgg.!” Nampak sinar yang menyilaukan mata berkelebat dan tangan kanan Ji Kiang Bwe telah memegang sebatang rantai dari baja putih yang tadi ia pakai sebagai ikat pinggang. Rantai itu indah dan berkilauan, namun ternyata mempunyai gagang dan panjangnya tidak kurang dari satu meter. Begitu dilolos dan digerakkan, rantai itu menjadi tegang seperti sebatang pedang, bahkan mengeluarkan suara berdesing seperti senjata tajam, kemudian menjadi lentur seperti rantai biasa dan berputar lalu rantai itu melibat-libat lengan kanan Kiang Bwe. Gerakan ini indah dan cepat. Kian Bu pernah .mempelajari delapanbelas macam senjata dari ayah 178

ibunya, akan tetapi belum pernah melihat seuntai rantai baja putih indah yang dijadikan ikat pinggang itu kini dipergunakan sebagai senjata. Ketika dia mengamati penuh perhatian, dia meiihat betapa bagian ujung rantai itu, mata rantainya tidak bundar, melainkan tipis dan tajam! Senjata seperti itu dapat menyambar seperti golok membabat, dapat menusuk seperti pedang karena digerakkan dengan sinkang sehingga menjadi tegang, dapat pula untuk menotok jalan darah dan dapat melibat senjata tajam lawan. Sungguh merupakan sebuah senjata yang ampuh, kalau saja pemegangnya mahir mempergunakannya karena penggunaannya juga sukar dan berbahaya bagi diri sendiri kalau kurang mahir.

“Tiga ekor tikus dari Hoat-kauw, majulah untuk kubuntungi lengan kiri kalian!” kata Kiang Bwe, suaranya lembut dan sikapnya tenang, ‘ seolah ia sama sekali tidak merasa tegang, juga t dak siap untuk bertanding, apa lagi menghadapi pengeroyokan tiga orang lawan yang lihai .

Tiga orang Hoat-kauw itu, yang masih gentar kalau-kalau Si Dayung Baja dan Kian Bu akan membantu nona itu, cepat menggerakkan pedang masing-masing, membentuk kurungan segitiga dan mereka menyerang dengan gerakan cepat dan kuat dari kanan kiri dan depan! Kian Bu sendiri menahan napas meiihat kedahsyatan serangan tiga orang itu, akan tetapi Si Dayung Baja nampaknya tenang-tenang saja.

Begitu dara itu bergerak, tahulah Kian Bu mengapa tukang perahu itu nampak tenang saja. Kiranya dia sudah yakin akan kehebatan nona yang menjadi ketua perkumpulannya itu. Begitu Kiang Bwe menggerakkan senjata di tangannya, nampak kilat menyambar ke sekelilingnya dan terdengar bunyi berdencingan disusul bunga api berpijar ketika tiga batang pedang para pengeroyok itu tertangkis rantai dan tiga orang itu berloncatan ke belakang karena tangan mereka terasa panas seperti disentuh api membara.

“Heiiiittt,….!!” Dara itu me-ngeluarkan suara melengking-179

1engking dan senjata di tangannya menyambar-nyambar dengan ganasnya, membuat tiga orang itu makin terkejut dan mereka harus memutar pedang untuk melindungi diri mereka. Memang aneh kalau .dilihat, tiga orang berpedang kini terdesak oleh dara yang mereka keroyok. Hal ini membuktikan betapa cepatnya gerakan dara itu, jauh lebih cepat dari pada gerakan tiga orang lawannya sehingga ia mampu menghujankan sambaran rantainya kepada mereka, membuat mereka menjadi repot sekali. Apa lagi setiap kali senjata mereka berternu dengan rantai, mereka merasa betapa gagang pedang mereka seolah berubah menjadi bara api yang membakar telapak tangan.

Diam-diam Kian Bu memperhatikan gerakan dara itu dan diapun terpesona. ‘Tadi saja dia sudah terpesona oleh kecantikan dan kepandaian gadis itu berma i n yang-kim dan mengutip sajak, dan kini ditambah lagi kekagumannya melihat gerakan senjata rantai itu. Dan tiba-tiba mukanya berubah kemerahan. Pantas saja gadis itu tadi memuji ginkangnya ketika dia meloncat dari perahunya ke atas perahu besar. Kiranya gadis itu sendiri ahli meringankan tubuh yang hebat sehingga gerakannya demikian cepat dan lincahnya!

Kembali terdengar dara itu mengeluarkan lengkingan suara memanjang tiga kali dan sinar rantainya menyambar-nyambar, disusul muncratnya darah, buntungnya lengan kiri ke tiga orang itu dan begitu Kiang Bwe menggerakkan kaki nya tiga kali, tubuh tiga orang pengeroyok itu terlempar keluar dari perahu dan berjatuhan ke air telaga!

Kian Bu terbelalak, juga bergidik. Dara yang demikian jelita, dan halus lembut gerak gerik dan tutur katanya, ternyata kini dapat melakukan perbuatan yang baginya nampak sadis sekali ! Dia memang putera suami isteri pendekar, akan tetapi selama ini dia hanya berlatih silat dengan ayah ibunya, dan tidak pernah bertanding dengan orang luar, apa lagi melihat lengan tiga orang dibuntungi begitu saja dan tubuh mereka 180

yang sudah kehilangan lengan kiri ditendang ke air telaga.

“Ji-siocia, apa artinya semua i-ni?” tanya Kian Bu dan kini wajahnya tidaklah seramah tadi. Sakit hatinya meiihat dara jelita itu dapat melaku-an kekejaman seperti itu.

“Paman Gu, jalankan perahu menepi,” kata Kiang Bwe, lalu kepada Kian Bu ia berkata, “Souw-kongcu, panjang ceritanya untuk menjawab pertanyaanmu ini dan pertanyaanmu yang tadi. Maukah engkau menjadi tamu kami dan mendengar kan keteranganku untuk menjawabmu? . Atau kalau engkau masih merasa tidak suka dan tidak mau memenuhi undanganku, terserah,. tentu saja kami tidak dapat memaksamu.”

Melihat pandang mata itu nampak sayu dan berduka, redalah kemarahan Kian Bu. Dia memang ingin sekali mengetahui riwayat dara ini dan mengapa terdapat permusuhan antara perkumpulan yang agaknya dipimpin dara itu dengan Hoat-kauw, suatu aliran yang cukup besar dan berpengaruh.

“Baiklah, aku ingin mendengarkan penjelasanmu agar hatiku tidak menjadi penasaran, walaupun tentu saja urusan itu tidak menyangkut diriku.” Dia teringat kepada perahu keci1nya yang masih tertambat kepada perahu besar itu. “Akan tetapi aku harus mengembalikan dulu perahu yang kusewa.”

“Jangan khawatir, urusan itu akan dikerjakan orang-orangku di tepi telaga,” kata Ji Kiang Bwe.

Mereka mendarat dan lima orang menyambut dara itu dengan sikap hormat. Bahkan atas permintaan Kiang Bwe, dua ekor kuda segera dipersiapkan dan ia mengajak Kian.Bu untuk menunggang kuda menuju ke tempat tinggalnya.’ Kian Bu meiihat betapa dalam hal menunggang kuda, dara itupun mahir sekali. Mereka membalapkan kuda menuju sebuah bukit yang dari jauh nampak berwarna kuning emas berkilauan. Itu adalah karena di bukit itu terdapat batu-batu cadas yang 181

berwarna kekuning-kuningan sehingga kalau tertimpa matahari dan nampak dari jauh seperti emas. Karena itu pula, maka lembah bukit di mana terdapat warna seperti emas itu di sebut Lembah Bukit Emas.

Mereka membalapkan kuda mendaki bukit itu dan setelah tiba di lereng, di lembah itu, nampak dari situ Sungai Yang-ce seperti seekor naga biru meliuk-liuk di bawah sana. Di lembah bukit itu terdapat sebuah perkampungan dan di depan pintu gerbangnya, baru Kian Bu mengetahui bahwa itu bukan sebuah dusun biasa, melainkan perkampungan yang menjadi pusat dari Kim-kok-pang (Perkumpulan Lembah Bukit Emas), seperti yang tertulis pada papan besar di pintu gerbang.

Puluhan orang menyambut nona itu dengan sikap gembira dan normat ketika Kiang Bwe dan Kian Bu memasuki pintu gerbang perkampungan itu. Terdapat perumahan seperti di sebuah dusun kecil, dan Kiang Bwe mengajak Kian Bu ke sebuah bangunan terbesar yang berada di tengah perkampungan. Mereka meloncat turun dari kuda dan dua orang anggauta Kim-kok-pang segera mengurus dua ekor kuda itu .

“Mari silakan masuk, Souw-kong cu.” Ji Kiang Bwe mempersilakan. Mereka memasuki rumah yang cukup besar dengan prabot rumah yang lengkap dan baik, lalu nona rumah itu mengajak Kian Bu duduk di sebuah ruangan tamu yang luas, yang mempunyai banyak jendela me nembus ke sebuah taman. Mereka duduk berhadapan terhalang meja besar dan seorang wanita setengah tua muncul membawakan minuman dan menghidangkan minuman dengan sikap hormat,”lalu mengundur kan diri lagi. Setelah menuangkan minuman dan mempersilakan tamunya minum, Ji Kiang Bwe memandang tamunya. Mereka saling pandang, dan dara itu menghela napas panjang.

“Sebetulnya aku sendiri merasa heran mengapa aku ingin menceritakan riwayat dan keadaanku kepadamu, kongcu. 182

Pada hal kita baru saja berkenalan dan hanya secara kebetulan bertemu di telaga. Mungkin karena sikapmu yang ramah, karena kesediaanmu membantuku tadi menghadapi orang-orang Hoat-kauw.”

“Maafkan aku, Ji-siocia. Akupun biasanya tidak berani lancang ingin mengetahui persoalan orang lain. Akan tetapi peristiwa yang terjadi di perahu tadi amat menarik hatiku. Kalau nona tidak mau menceritakan sebabnya, tentu hatiku akan selalu merasa penasaran bagaimana seorang seperti nona dapat melakukan hajaran yang demikian kerasnya terhadap tiga orang tadi.”

“Akan kuceritakan semua karena akupun ingin menerangkan kepadamu, Kongcu. Akan tetapi sebelum itu, sudah sepantasnya kalau aku mengetahui lebih banyak tentang dirimu, orang yang kupercaya mendengarkan riwayatku.”

Kian Bu tersenyum .”Aku mengerti, nona, dan memang sudah sepantasnya begitu. Akan tetapi tidak ada apa-apanya yang menarik tentang diriku. Aku ting-gal di Wu-han bersama orang tuaku, dan ayahku seorang pedagang kain. Aku adalah anak tunggal, dan sejak kecil aku tinggal di Wu-han. Baru sekali ini aku pergi merantau seorang diri untuk mencari pengalaman dan kebetulan saja ketika, aku sedang berperahu di telaga itu aku mendengar permainan yang-kimmu. Nah, tidak ada apa-apanya yang menarik, bukan?”

“Akan tetapi engkau pandai ilmu silat, setidaknya, engkau memiliki ginkang yang hebat. Siapakah gurumu, kong cu?”

“Aku belajar sedikit ilmu silat dari ayah ibuku sendiri,” jawab Kian bu sederhana.

Dara itu membelalakkan matanya dan Kian Bu merasa seolah jantung dalam dadanya jungkir balik. Begitu indahnya mata itu ketika dibuka lebar. “Aih, kalau begitu, ayah ibumu adalah orang-orang sakti!” Kata dara itu kagum. 183

Wajah Kian Bu menjadi kemerahan. “Ah, sama sekali bukan, nona. Ayahku seorang pedagang kain dan ibuku seorang ibu rumah tangga yang baik. Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu dan semua yang terjadi tadi, nona.”

Wajah yang jelita itu nampak muram, akan tetapi hanya sebentar, seolah awan tipis berlalu. lalu bercerita. Ayahnya bernama Ji Kun Ek, seorang pendulang emas yang tadinya seorang pemburu. Dia berhasil menemukan emas di bukit itu, dan mendengar dia berhasil menemukan emas, banyak pemburu yang tadinya merupakan rekan-rekannya ikut pula mencari emas. Dan terbentuklah sekelompok pendulang emas yang makin lama menjadi semakin banyak, sampai lebih dari seratus orang banyaknya . Dan untuk mencegah agar tidak ada orang luar ikut-ikutan, apa lagi karena seringnya ada orang jahat merampok hasil pendulangan beberapa orang di antara mereka. Ji Kun Ek membentuk kelompok itu sebagai anggauta perkumpulan Kim-kok-pang yang menetap di Lembah Bukit Emas itu. Mereka semua mengangkat Ji Kun Ek sebagai ketua Kim-kok-pang, bukan hanya karena dia merupakan orang pertama yang mendulang emas, melainkan juga karena diamemiliki ilmu silat yang paling kuat di antara mereka.

Hasil pendulangan emas membuat Kim-kok-pang cukup kuat dan kehidupan para anggautanya cukup makmur. Ji Kun Ek bahkan mengirim anak tunggalnya, ya itu Ji Kiang Bwe, ke kota besar dan memanggil guru-guru sastra dan seni untuk mendidik puterinya. Setelah dia sendiri menghabiskan semua ilmu silatnya diajarkan kepada puterinya, dia bahkan menganjurkan puterinya untuk memperdalam ilmu silatnya dan secara kebetulan sekali, ketika berkunjung ke sebuah kuil wanita untuk bersembahyang, Ji Kiang Bwe bertemu dengan seorang pendeta wanita yang kebetulan juga menjadi tamu para nikouw di situ. Pendeta wanita ini berjuluk Pek Mau S an-kouw, julukan Pek-mau (Rambut Putih) ini karena seluruh rambut kepalanya sudah putih semua seperti benang-benang 184

sutera putih, sungguhpun usianya baru sekitar limapuluh tahun. Tidak ada seorangpun yang akan menduga bahwa pendeta wanita ini sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sejak muda sekali Pek Mau Sian-kouw ini merantau ke negeri barat, bertahun-tahun tinggal di India, kemudian juga lama berada di Tibet sehingga namanya lebih terkenal di daerah Tibet dari pada di Tiongkok. Pek Mau Sian-kouw selain ahli ilmu silat tinggi, juga telah mempelajari ilmu perbintangan dan ramalan, dan begitu melihat Ji Kiang Bwe yang ketika itu berusia tigabelas tahun dan sudah pandai ilmu silat karena gemblengan ayahnya, ia tahu bahwa ia telah bertemu dengan murid yang berjodoh dengannya. Demikianlah, selama lima tahun Pek Mau Sian-kouw mengajarkan ilmu ilmunya kepada Ji Kiang Bwe sehingga setelah berusia delapanbelas tahun, Ji Kiang Bwe telah menguasai ilmu-ilmu andalan pertapa wanita itu.

“Aku mengikuti subo ke tempat pertapaannya selama dua tahun tera-hir, dan ketika subo mengijinkan aku turun gunung dan pulang ke sini, ternyata telah terjadi malapetaka hebat mehimpa diri ayahku sebagai ketua Kim-kok-pang,” kata dara itu dan wajahnya kembali muram .

“Apa yang telah terjadi dengan ayahmu dan ibumu, nona?”

“Ibuku sudah meninggal dunia sejak aku masih keci1, Souw-kongcu. Karena itu, seluruh kasih sayangku terhadap orang tua kucurahkan kepada ayahku. Akan tetapi, ketika tiga bulan yang lalu aku pulang, aku mendengar bahwa ayahku telah meninggal dunia kurang lebih sebulan sebelum aku pulang.”

“Hemm terkena sakit?”

“Tidak, dia terbunuh oleh pimpin an Hoat-kauw! Menurut cerita para pembantu ayah, sudah lama Hoat-kauw membujuk ayah agar Kim-kok-pang suka bekerja sama dengan Hoat-kauw dan mengakui Hoat-kauw sebagai aliran tunggal yang harus dianut oleh semua anggauta Kim-kok-pang. Ayah 185

menolak bujukan itu sehingga akhirnya terjadi bentrokan antara ayah dan pimpinan Hoat-kauw. Dalam suatu pertandingan satu lawan satu ayah roboh dan tewas.”

Kian Bu diam saja tidak memberi komentar. Kalau pertandingan itu, apa-un alasan pertandingan, dilakukan satu lawan satu, maka hal itu merupakan suatu kehormatan bagi seorang ahl i silat, dan kalah menang merupakan soal ke dua. Sukar mencampuri kekalahan orang yang bertanding satu lawan satu.

Ji Kiang Bwe melanjutkan ceritanya. Ketika ia pulang dan semua pembantu ayahnya mengetahui bahwa dara ini pulang membawa ilmu kepandaian yang jauh lebih tangguh dibandingkan mendiang ayahnya, mereka lalu serta merta mengangkatnya menjadi ketua Kim-kok-pang yang baru.

“Aku tidak dapat menolak pengangkatan itu demi ayahku, dan selama tiga bulan ini, aku hanya dapat berduka karena kematian ayah. Aku menjadi yatim piatu, dan biarpun aku berduka, apa yang dapat kulakukan? Hoat-kauw adalah sebuah aliran kepercayaan yang besar dan berpengaruh. Aku hanya dapat menanti sampai ada orang Hoat-kauw berani datang hendak memaksakan kehendak.

Jilid VII

Kalau hal itu terjadi, aku akan melawan mereka, bukan hanya untuk membalaskan kematian ayahku, juga untuk menentang kejahatan mereka memaksakan kehendak kepada perkumpulan lain. Dan pada hari ini, untuk menghibur hati, aku berpesiar di telaga, hanya mengajak Paman Gu Lok untuk mengemudikan perahu. Dan hal yang kunanti-nanti selama tiga bulan inipun tiba, yaitu hendak membunuh Gu Lok karena paman ini merupakan pembantu utama mendiang ayah. Nah, engkau tahu mengapa aku bersikap keras kepada tiga orang itu.” 186

Lega rasa hati Kian Bu. Andaikata malapetaka ini menimpa dirinya, andaikata ayahnya yang terbunuh oleh orang Hoat-kauw karena menolak bujukan mereka, mungkin dia akan bersikap lebih keras lagi terhadap tiga orang Ho-at-kauw tadi. Mungkin mereka akan dibunuhnya!

“Ahh, nasibmu sungguh menyedihkan, Ji-siocia, akan tetapi percayalah, orang yang benar akan mendapatkan kemenangan terakhir. Dan engkau berada di pihak benar, pangcu eh, siocia.”

Dara itu tersenyum. “Kenapa engkau menyebutku ketua atau nona? Namaku Ji Kiang Bwe dan setelah kita berkenalan dan bercakap-cakap, bukankah kita telah bersahabat?”

Kian Bu juga tersenyum. “Akan tetapi engkau juga menyebutku Kongcu (tuan muda)! Bagaimana kalau kita hapuskan saja sebutan yang kaku itu dan kita saling menyebut seperti kakak dan adik?”

Kiang Bwe melebarkan senyumnya dan kemuraman wajahnya lenyap bagaikan awan tipis tersapu angin. “Aku akan senang sekali, akan tetapi bagaimana kalau aku yang lebih tua?”

“Tidak mungkin! Engkau masih nampak remaja bagiku, sedangkan aku sudah sembilanbelas tahun lebih.”

“Aih, engkau bersikap kakek-kakek saja, Bu-koko (kakak Bu). Usiaku sendiri sudah delapanbelas tahun.”

“Kalau begitu aku lebih tua setahun, Bwe-moi (adik Bwe)!” Keduanya saling pandang dan tertawa, sehingga suasana menjadi gembira.

Tiba-tiba daun pintu ruangan itu diketuk orang dari luar walaupun daun pintu itu terbuka. Mereka menoleh dan nampak Si Dayung Baja Gu Lok sudah ber diri di luar pintu dan anehnya, biarpun kini dia berada di dalam rumah, bukan di dalam perahu lagi, dia masih membawa-bawa dayung 187

bajanya yang dipakai sebagai tongkat! Kiranya benda itu lebih banyak dipergunakan sebagai senjata dari pada sebagai dayung.

“Ah, paman Gu, masuklah. Oya, sudahkah engkau kembalikan perahu kecil yang disewa Souw-kongcu tadi?” tanya Kiang Bwe.

Gu Lok masuk dan mengangguk. “Sudah, pangcu. Bahkan dari. tukang perahu itu saya menerima titipan sesampul surat untuk pangcu.” Dia menyodorkan sebuah sampul surat.

Kiang Bwe menerima surat itu dan memandang heran. “Dari manakah tukang perahu itu menerima surat untukku ini?”

“Katanya dari seorang wanita cantik yang memberinya upah royal untuk mengantarkan surat ini kepada ketua Kim-kok-pang. Saya minta surat itu dan saya serahkan sendiri kepada pangcu.”

“Duduklah, Paman Gu Lok dan perkenalkan ini toako Souw Kian Bu yang tadi telah membantu kita di perahu.” Kiang Bwe membuka surat itu sedangkan Gu Lok saling memberi hormat dengan Kian Bu dan duduk dengan punggung lurus dan tegak.

Setelah membaca isi surat, Kiang Bwe mengangkat muka memandang kepada Gu Lok dan Kian Bu. “Hoat-kauw mengirim undangan kepada pimpinan Kim-kok-pang! Bagus, ini merupakan kesempatan baik bagi kita untuk datang berkunjung memenuhi undangan dan menyelesaikan urusan di antara mereka dan kita.”

“Pangcu hendak memenuhi undangan mereka?” tanya Gu Lok, wajahnya membayangkan keraguan dan kekhawatiran .

“Tentu saja! Mereka merayakan ulang tahun dan menurut undangan mereka, sengaja mereka menggunakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan para undangan yang terdiri dari perkumpulan-perkumpulan dan semua aliran di dunia 188

kangouw. Disaksikan oleh para tokoh kangouw, aku akan dapat menuntut dari Hoat-kauw mengapa mereka membunuh ayahku dan hendak memaksa Kim-kok-pang bekerja sama dengan mereka. Mereka tentu tidak akan berani berbuat seenaknya di depan para tokoh kangouw.”

“Kalau begitu, saya akan menemani pangcu,” kata Gu Lok.

“Lebih baik jangan, paman. Selama aku pergi, engkau mewakili aku mengatur anak buah dan menjaga keamanan di sini,” kata dara itu dengan suara tegas.

“Baiklah, pangcu. Saya mohon diri,” kata Gu Lok yang tahu diri, melihat bahwa kemunculannya mungkin mengganggu pangcunya yang sedang bicara dengan tamunya.

Setelah Gu Lok keluar, Kian Bu berkata, “Bwe-moi, biarlah aku yang menemanimu. Aku akan membantumu kalau sampai ada pihak yang memusuhimu.

Sikap dara itu lebih manis, akan tetapi tetap saja tegas.

“Terima kasih atas tawaran bantuanmu, Bu-ko, akan tetapi sekali lagi, kami tidak dapat menerima bantuan dari luar. Tentu engkau mengetahui bahwa urusan ini merupakan urusan yang menyangkut kehormatan Kim-kok-pang, oleh kareha itu, harus dihadapi secara terhormat pula. Tidak, kami tidak mungkin dapat menarik bantuan dari luar kalangan Kim-kok-pang.”

Melihat ketegasan ketua Kim-kok-pang itu, tentu saja Kian Bu tidak dapat membantah karena diapun maklum akan kebenaran pendapat itu. “Baiklah kalau begitu, hanya aku minta engkau suka memberitahu kepadaku, kapan dan di mana diadakannya perayaan ulang tahun Hoat-kauw itu?”

“Menurut surat undangannya, perayaan diadakan di Bukit Harimau, di luar kota An-king pada permulaan bulan depan.”

“Terima kasih, Bwe-mo’. Nah, sekarang aku mohon diri untuk melanjutkan perjalanan, karena aku tahu bahwa engkau 189

tentu akan sibuk menghadapi urusan perkumpulanmu. Selamat tinggal dan selamat berpisah, Bwe-moi.”

Sebetulnya Kiang Bwe ingin sekali menahan pemuda yang sejak pertama kali bertemu sudah menarik hatinya itu. Akan tetapi sebagai seorang wanita, tentu saja ia merasa malu untuk menyatakan perasaannya, dan selain itu, iapun harus melakukan persiapan menghadapi undangan dari Hoat-kauw. Maka, iapun hanya dapat mengucapkan terima kasih atas bantuan Kian Bu dan ia mengikuti bayangan pemuda itu ketika meninggalkan lereng Lembah Bukit Emas.

Pemuda itu berlatih silat yang aneh. Gerakan-gerakannya lambat dan seolah gerakan memukul atau menendang dari kaki tangannya hanya main-main saja, tidak mengandung tenaga, tidak nampak cepat maupun kuat. Akan tetapi anehnya, pohon besar yang berada dalam jarak tiga meter di depannya, bergoyang-goyang cabangnya yang sebesar tubuh manusia, cabang ranting dan daun-daunnya yang lebat bergoyang-goyang seperti dilanda angin besar sehingga banyak daun pohon yang sudah kuning dan setengah kuning rontok, gugur berhamburan!

Setelah berlatih selama setengah jam, bersilat tangan kosong lalu pemuda itu menyambar sebuah tongkat bambu di bawah pohon dan kini dia bersilat menggunakan tongkat bambu yang panjangnya sekitar satu setengah meter. Kalau tadi ketika bersilat tangan kosong gerakannya nampak lamban dan lemah, kini setelah bersilat tongkat, gerakannya cepat bukan main sehingga lenyaplah bayangan pemuda itu, dibungkus gulungan sinar tongkat dan terdengar bunyi mengaung saking cepat dan kuatnya tongkat bambu itu bergerak. Dan tiba-tiba, gulungan sinar itu melayang ke atas pohon, seperti seekor burung mengelilingi pohon dan nampak daun-daun pohon jatuh berhamburan, bukan hanya yang kuning, melainkan juga yang hijau dan juga ranting-rantingnya. Tak lama kemudian, ketika pemuda itu melayang 190

turun pohon itu telah berubah seperti kepala seorang berambut lebat yang kini dicukur pendek dengan bentuk bulat! Ternya ta tongkat yang sama sekali tidak tajam karena terbuat dari bambu itu mampu membabat ranting dan daun pohon sehingga menjadi gundul!

Setelah selesai bersilat tongkat yang aneh dan juga menggiriskan itu, dia duduk beristirahat di atas sebongkah batu di bawah pohon, memandangi daun-daun yang berserakan dan melamun, membiarkan peluh membasahi lehernya. Daun-daun gugur, Manusia mati. Dan teringatlah dia akan semua orang yang dikasihinya dan yang telah meninggalkan dirinya karena mati seorang demi seorang. Ayah dan ibunya mati. Kemudian orang yang mengasuhnya sejak dia kecil, kemudian menjadi pengganti ayah ibunya, juga mati ! Demikian pula gurunya yang pertama kali, guru yang dikasihinya, di hormatinya mati pula terbunuh orang!

Sia Han Lin termenung, tenggelam dalam kenangan duka. Teringat dia akan keadaan dirinya yang kini hidup sebatangkara di dunia ini. Sejak berusia lima tahun dia terpaksa berpisah dari ayah ibunya yang berperang melawan serbuan musuh, dia dilarikan mengungsi oleh Liu Ma, pengasuhnya. Kemudian ternyata ayah ibunya itu tewas dalam perang dan selanjutnya dia diasuh sebagai putera Liu Ma. Cinta kasihnya kepada ayah ibunya berpindah kepada Liu Ma, dan ketika dia menjadi murid ong Hwi Hosiang, dia menemukan lagi seorang yang dihormati dan disayangnya, yaitu gurunya itu. Akan tetapi, malapetaka datang menimpa. Liu Ma dan Kong Hwi Hosiang tewas di tangan tiga orang

Raja Iblis yang kejam. Bahkan dia sendiri tentu sudah tewas kalau tidak ditolong oleh gurunya yang sekarang, yaitu kakek yang hanya dia kenal sebagai Lo-jin (Orang Tua). Akan tetapi, gurunya ini seorang manusia yang aneh dan agaknya tidak mungkin mempunyai perasaan kasih sayang kepada manusia aneh ini seperti yang dirasakan terhadap mendiang 191

Kong Hwi Hosiang dan Liu Ma. Lo-jin seolah tidak terikat oleh apapun juga, tidak membutuhkan kasih sayang, juga tidak pernah memperlihatkan kasih sayang, namun setiap gerak geriknya tak pernah menyusahkan apa dan siapapun. Ilmu-ilmu yang diajarkan kepadanya selama lima tahun inipun ilmu yang aneh, namun karena yakin bahwa Lo-jin adalah seorang manusia seperti dewa, Han Lin menaati semua petunjuknya dan selama lima tahun ini berlatih dengan amat tekunnya.

Teringat akan semua keadaan dirinya, timbul perasaan iba diri dan terbenamlah Han Lin ke dalam duka. Hatinya seperti diremas-remas. Dia adalah utera seorang yang pernah menjadi raja, hidup bergelimang kemuliaan dan ke hormatan, lalu tiba-tiba saja dia menjadi yatim piatu, bahkan sekarang dia tidak memiliki apa-apa lagi kecuali dirinya sendiri! Dan gurunya, satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya, yaitu Lo-jin, jarang berada di puncak itu, membiarkan dia seorang diri saja. Bahkan kini, sudah dua minggu gurunya itu pergi entah ke mana. Pergi tidak pernah pamit, datang tidak pernah memberitahu, seperti angin saja. Ketika Han Lin duduk termenung bertopang dagu, murung dan perasaannya tertekan, dia tidak merasakan bahwa ada angin lembut bertiup dan bayangan seorang kakek yang rambutnya seperti benang sutera putih telah berdiri di belakangnya. Andaikata Han Lin tidak sedang tenggelam dalam lamunan, tentu pendengarannya yang terlatih dan tajam itu dapat menangkap gerakan seringan daun kering itu. Akan tetapi dia sedang tenggelam dalam kedukaan, maka dia sama sekali tidak tahu bahwa gurunya, Lojin, telah berdiri di belakangnya Kakek yang bertubuh tinggi agak kurus dengan wajah putih kemerahan, ma tanya berbinar-binar seperti bintang, kumis, jenggot dan rambutnya sudah putih semua itu kini berdiri dan mengelus jenggotnya, tersenyum dan mengangguk-angguk. Tongkat bambu di tangannya lalu digerakkan melintang di depan dadanya dan terdengar suara mengaung.

Mendengar suara ini, barulah Han Lin sadar dari 192

lamunannya dan sebelum membalikkan tubuh, dia sudah tahu siapa yang datang. Dia segera menjatuhkan diri berlutut dan membalik, memberi hormat kepada gurunya.

“Suhu,” suaranya masih mengandung duka, walaupun dia berusaha menekannya.

“Han Lin, apakah jurus-jurus terakhir dari Khong-khi-ciang (Tangan Udara Kosong) dan Pek-lui-tai-hong-tung (Tongkat Petir Badai) telah dapat kau kuasai dengan baik?”

“Sudah, suhu. Apakah suhu menghendaki agar teecu memainkannya?”

“Tidak, aku sudah percaya bahwa engkau telah menguasainya dengan baik. Akan tetapi kenapa engkau berduka?”

Han Lin maklum bahwa dia tidak mungkin dapat membohongi gurunya, maka diapun berkata, “Suhu, teecu tadi teringat akan kematian orang-orang yang teecu sayang, dan teecu merasa berduka sekali Maaf, suhu Teecu mengerti benar bahwa duka adalah sia-sia dan timbul dari iba diri, bahwa sesungguhnya amat tidak baik dan tidak sehat membiarkan diri tenggelam dalam duka. Akan tetapi pengertian teecu itu tidak banyak menolong, suhu. Teecu tetap berduka. Beruntung sekali bahwa suhu kembali pada saat teecu dilanda duka nestapa yang amat menekan hati, maka teecu mohon petunjuk, suhu. Suhu, mohon diberi petunjuk bagaimana teecu akan dapat menguasai hati dan mengendalikan nafsu agar teecu tidak dicengkeram duka.”

Kakek itu tersenyum dan senyumnya mendatangkan kelembutan yang mengharukan karena wajah itu presis wajah seorang bayi yang suka tertawa-tawa sendiri secara wajar. Kemudian dia ber kata dengan suara halus.

“Han Lin, segala macam jalan atau cara untuk mengendalikah nafsu adalah ulah nafsu itu sendiri juga, karena cara didorong oleh suatu keinginan mencapai sesuatu 193

dan ini hanyalah ulah nafsu yang pandai mengubah bentuk dan ragam. Usaha untuk melenyapkan duka tidak ada bedanya dengan duka itu sendiri, keduanya bersumber kepada si-aku yang menjadi duka karena terkenang akan sesuatu dan si-aku pula yang menginginkan agar tidak berduka. Karena itu, usaha apapun yang bersumber dari aku, tidak akan dapat berhasil dengan sempurna.”

“Kalau -begitu, apa yang dapat teecu lakukan, suhu? Teecu tahu benar menurut ajaran kitab-kitab agama , juga menurut petuah-petuah yang teecu dapat kan dari mendiang suhu Kong Hwi Hosiang dan dari suhu, akan tetapi pengetahuan teecu itu tidak menolong melenyapkan duka dari hati teecu. Suhu,

teecu menjadi bingung, mohon petun-juk.”

Kakek itu menghela napas panjang bukan karena sedih, bukan karena kecewa. “Apapun yang engkau lakukan atau tidak lakukan, kalau itu bersumber dari si-aku, akan sama saja palsunya dan sia-sianya. Bersikaplah wajar-wajar saja, Han Lin dan jangan menentang segala yang kaulakukan sendiri. Kalau engkau dilanda duka, bedukalah, kenapa mesti dipersoalkan lagi? Selama manusia masih hidup di dalam jasmani ini, manusia tidak akan terlepas dari segala macam perasaan susah senang puas kecewa dan sebagainya lagi. Akan tetapi, yang penting adalah menyadari akan semua itu, mengamati setiap gejolak nafsu yang menguasai hati akal pikiran dan yang mengemudikan semua gerak gerik kita. Menyadari sepenuhnya bahwa semua itu adalah ulah si-aku, yaitu nafsu yang mengaku-aku. Yang berduka itu adalah hati dan pikiranmu. Seperti juga yang marah, yang kecewa, yang iri, yang diserang penyakit, semua itu hanyalah alat-alat atau anggauta tubuh mu. Kesadaran yang sepenuhnya ini akan membuat kita yakin bahwa. semua itu hanyalah permainan nafsu belaka. Bahkan kalau kematian tiba, yang mati adalah 194

tubuh jasmani belaka. Selama nafsu daya rendah menguasai hati akal pikiran, maka di dalam kehidupan ini kita akan selalu menjadi permainannya, dan semua yang kita lakukan dikemudikan oleh nafsu daya rendah. Bahkan usaha kita untuk mengendalikan atau menguasai nafsu juga datang dari nafsu daya rendah, karenanya, biarpun kita mengerti akan suatu perbuatan yang tidak benar, kita tetap saja tidak mampu menghentikan perbuatan itu.”

“Suhu, kalau begitu alangkah celakanya hidup ini, kita dibiarkan menjadi korban, dicengkeram dan diperhamba nafsu tanpa kita mampu membebaskan diri !”

“Tidak, Han Lin. Di samping nafsu daya rendah yang diikutsertakan dalam kehidupan kita, masih terdapat sesuatu yang berkat Kasih Sang Maha Pencipta, disertakan pula kepada kita. Sesuatu yang biarpun nampak tipis dan hampir tak nampak, namun selalu ada dan tidak pernah meninggalkan manusia, sesuatu yang menjadi bukti dan saksi betapa Tuhan Maha Kasih dan Maha Pengampun. Sesuatu ini yang menjadi tali yang tak pernah terputuskan, yang menghubungkan manusia kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Tinggal terserah kepada manusia sendiri apakah akan mengabaikanNya dan menyerah kepada nafsu, atau memperkuat ikatan yang akan menghubungkan manusia dengan kekuasaan Tuhan yang selalu bersemayam di dalam dan luar diri setiap orang manusia itu.”

“Lalu bagaimana caranya agar ikatan itu dapat diperkuat, suhu?”

“Usaha manusia tidak akan membawa hasil. Hanya Kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu mengaturnya, dan kalau Kekuasaan Tuhan sudah bekerja, maka dengan sendirinya nafsu daya rendah akan kembali ke tempat mereka semula, menjadi hamba yang baik, bukan menjadi majikan yang kejam. Dan agar Kekuasaan Tuhan dapat bekerja, maka semua daya kerja hati akal pikiran haruslah berhenti. Kalau 195

kita hidup selaras dengan To, maka To yang akan bekerja mengatur segalanyadan apapun yang diatur oleh To sudah pasti sempurna. Kekuasaan Tuhan bekerja dengan sempurna, Maha Murah’, Maha Kasih, Maha Adil , Maha Pengampun dan.Maha Kuasa Satu-satu nya yang dapat kita kerjakan hanyalah menyerah, dengan penuh keikhlasan, penuh kepasrahan, penuh ketawakalan.”

“Akan tetapi , suhu. Bukankah menyerah inipun merupakan suatu usaha. dari hati akal pikiran?”

“Bukan, Han Lin. Usaha selalu mengandung pamrih uncuk mendapatkan sesuatu. Akan tetapi menyerah dengan kepasrahan tidak mengandung usaha apapun, dan tidak menginginkan apapun , karena kalau ada keinginan mendapatkan sesuatu, itu bukan pasrah namanya. Pasrah dalam arti kata yang sesungguhnya sama dengan mati, seperti orang yang dalam tidur, apapun yang akan tiba menimpa dirinya, terserah kepada Tuhan. Andai kata pada saat itu Tuhan hendak mencabut nyawanya, diapun akan menyerah tanpa membantah, ikhlas, pasrah, tawakal .”

“Kalau begitu, bukankah kita lalu menjadi malas dan hanya menyerahkan segalanya kepada Tuhan saja, suhu?”

“Sama sekali tidak, Han. Lin. Itu namanya bukan menyerah dengan kepasrahan, keikhlasan dan ketawakalan, melain kan ingin mempersekutu Tuhan, bahkan ingin enaknya sendiri saja. Tuhan telah menciptakan kita lengkap dengan segala alat yang ada pada diri kita, dan semua itu diciptakan bukan percuma, melainkan diciptakan untuk dipergunakan, untuk dimanfaatkan. Kalau tidak kita pergunakan, tidak kita manfaatkan, itu berdosa namanya, dan penggunaannya, pemanfaatannya haruslah untuk kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, selaras dengan To, berarti membantu pekerjaan Kekuasaan Tuhan. Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan di alam maya pada ini bekerja, bergerak yang berarti bekerja. Bahkan bintang matahari dan bulanpun 196

bekerja bergerak tiada hentinya. Kita yang dlberi perlengkapan yang sempurna, tentu saja harus bekerja, berusaha demi memenuhi semua keperluan dan kebutuhan hidup di dunia. Kita harus makan agar tidak mati kelaparan, kita membutuhkan pakaian agar tidak mati kedinginan, kita membutuhkan tempat tinggal untuk berlindung dari binatang buas, angin dan panas atau hujan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, tentu saja kita harus mencari, harus berusaha dan bekerja! Namun, semua pekerjaan itu barulah benar kalau didasari kepasrahan, didasari penyerahan kepada Tuhan sehingga apapun yang kita lakukan, akan sejalan dengan To.”

Han Lin mengangguk-angguk , dia mengerti benar apa yang dimaksudkan gurunya. “Mudah-mudahan teecu tidak terlalu dipermainkan nafsu daya rendah dan mudah-mudahan teecu akan mendapat pengampunan dan bimbingan Tuhan dengan iman dan penyerahan, suhu.”

“Semoga Tuhan memberi jalan kepa damu, Han Lin. Akan tetapi sekarang aku ingin memberitahu kepadamu bahwa sudah tiba saatnya bagi kita untuk berpisah. Aku akan melanjutkan perjalananku dan engkaupun harus melanjutkan jalan hidupmu sendiri. Sekali lagi ingat, dengan ilmu yang kaupelajari, berarti engkau menjadi abdi keadilan dan kebenaran, akan tetapi bukan keadilan dan kebenaran bagi pribadimu. Semua perasaan pribadi harus disingkirkan , kalau tidak engkau tidak akan mungkin dapat bertindak adil. Cari dan mintalah petunjuk dari Tuhan, dan engkau pasti akan menerima petunjukNya.”

“Suhu” Han Lin terkejut dan tentu saja merasa terpukul. Baru saja dia menyusahkan kematian orang-orang yang dikasihinya dan kini gurunya, orang terakhir yang terdekat dengannya, menyatakan bahwa mereka harus berpisah.

“Han Lin, lupakah engkau bahwa keterikatan itulah justeru yang menjadi penyebab terutama dari duka? Mempunyai namun tidak memiliki, itulah seyogianya. Secara lahiriah kita 197

boleh mempunyai apapun juga, namun secara batiniah kita tidak memiliki apa-apa. Nah, cukup sudah, tongkatku ini boleh kaumiliki, benda ini sudah puluhan tahun tak pernah lepas dari tanganku.” Nampak bayangan berkelebat dan yang tinggal di depan Han Lin hanyalah sebatang tongkat bambu yang menancap di atas tanah. Lojin telah lenyap seperti di telan bumi .

Han Lin memberi hormat ke arah berdirinya gurunya tadi sambil berlutut sampai delapan kali, kemudian dia bangkit, mencabut tongkat bambu yang biasa dipegang gurunya, mencium gagang tongkat itu dan berbisik. “Suhu, terima kasih!”

Setelah itu, Han Lin menuruni puncak, menggendong buntalan pakaiannya di punggung dan membawa sebatang tongkat bambu yang selama ini tak pernah terpisah dari tangan Lojin. Lima tahun lamanya dia menerima gemblengan kakek sakti yang luar biasa itu, dan kini dia sudah dewasa, sudah berusia duapuluh tahun! Ke mana dia harus pergi? Teringat akan ini, setibanya di puncak sebuah lereng, dia berhenti dan memandang ke sekeliling Alam di bawah sana seolah menanti, menggapaikan tangan kepadanya. Akan tetapi, ke arah mana dia harus pergi dan apa atau siapa yang menantinya di sana? Dia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Liu Ma telah tewas, juga Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio para pembantu Kong Hwi Hosiang.

Mengunjungi kubupan mereka? Tidak ada artinya. Pernah Lojin bicara dengan lembut mengenai hal itu. Mengunjungi kuburan orang tua hanya merupakan kewajiban untuk menjaga agar kuburan mereka itu bersih dan terawat, bukan sebagai bukti. kebaktian. Kebaktian terhadap orang tua yang sesungguhnya bukan terletak kepada pemeliharaan kuburan, melainkan dalam sepak terjang kita sehari-hari, dalam kelakuan kita, Kelakuan yang baik akan mengangkat nama 198

baik orang tua, sebaliknya kelakuan buruk akan menodai nama orang tua, walaupun orang tua sudah meninggal,”

Teringat akan kata-kata gurunya itu, Han Lin tidak lagi ingin berkunjung ke kuburan orang-orang yang dahulu disayangnya itu. Akan tetapi ada hal lain yang mendorongnya untuk pergi ke dusun Li-bun. Dia harus melihat apa yang terjadi dengan penduduk dusun itu semenjak lima tahun yang lalu Sam Mo-ong mengganas di sana. Sudah menjadi kewajibannya untuk turun tangan menolong, kalau penduduk dusun itu tertindas oleh perbuatan sewenang-wenang tiga orang datuk iblis itu.

Ya, dia akan pergi ke dusun Li-bun, Setelah itu, baru dia akan melanjutkan perjalanannya, mencari keluarga ibunya! Kenapa dia merasa tidak mempunyai keluarga dan hidup sebatang kara? Di sana.masih ada dua orang kakak mendiang ibunya. Kakak perempuan ibunya bernama Yang Kui Lan dengan suaminya bernama Souw Hui San dan kakak laki-laki ibunya bernama Yang Cin Han dengan isterinya Can Kim Hong. Dia mengenai nama-nama itu dari mendiang ibunya dan tak pernah dia melupakan nama-nama itu. Juga tempat tinggal mereka Menurut ibunya, pamannya Yang Cin Han tinggal di Lok-yang, dan bibinya Yang Kui Lan tinggal di Wu-han. Kelak dia akan mengunjungi mereka. Tak dapat dia membayangkan bagaimana paman dan bibinya itu akan menerimanya, dan membayangkan segala kemungkinan dalam penyambutan itu mendatangkan ketegangan dan kegembiraan dalam hatinya.

Dengan jantung berdebar karena tegang , Han Lin memasuki, dusun Li-bun, Betapa dekat dusun ini dengan hatinya, baru sekarang dia merasakannya. Semua benda yang terdapat di situ, pohon-pohon, rumah-rumah dusun, batu-batu besar, selokan-selokan, semua itu begitu ramah menyambutnya dengan kenangan manis, membuat dia merasa bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Hal ini 199

tidaklah aneh karena selama sepuluh tahun dia tinggal di dusun itu. Akan tetapi, agaknya tidak ada seorang penduduk dusun itu yang mengenalnya. Ketika dia pergi, kepergiannya dianggap sebagai kematian oleh para penduduk yang mendengar bahwa dia telah terlempar ke dalam jurang bersama ibunya, yaitu Liu Ma, dan ketika itu lima tahun yang lalu, dia adalah seorang pemuda remaja, sedangkan sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa. Akan tetapi dia dapat mengenal wajah-wajah tua yang tidak mengalami perubahan, hanya wajah-wajah itu nampak muram, tidak seperti dahulu. Dia tidak mengenal wajah-wajah muda penduduk Li-bun, karena seperti juga dia, orang-orang muda itu dahulu masih kanak-kanak atau remaja ketika dia pergi. Agaknya tidak ada seorangpun di antara penduduk dusun itu yang menaruh perhatian terhadap Han Lin. Dia hanya seorang pemuda berpakaian sederhana, menggendong buntalan pakaian, membawa tongkat bambu. Siapa yang akan menaruh perhatian kepada seorang pemuda sesederhana ini? Satu hal yang agak menghibur hati Han Lin adalah melihat betapa para penghuni dusun Li-bun itu, tua muda, nampak rajin bekerja. Mereka berlalu-lalang dengan langkah tergesa gesa, membawa alat pertanian atau alat alat penangkap ikan. Hal ini berarti bahwa penghuni dusun Li-bun masih memiliki penghasilan yang cukup baik. Hanya saja, mengapa wajah-wajah itu muram?

Han Lin menuju ke rumah di mana dahulu dia tinggal bersama Liu Ma. Dan hatinya terharu juga melihat rumah itu masih seperti dulu, terpelihara baik-baik, pekarangannya disapu bersih dan semua pohon yang tumbuh di pekarangan masih seperti dulu, hanya agak lebih besar tumbuhnya. Jantungnya berdebar Seolah dia akan melihat ibunya muncul dari pintu depan menyambutnya. Dia merasa seperti dahulu kalau pulang ke rumah itu Masih biasakah sebetulnya keadaannya dan apakah semua yang dialami lima tahun ini hanya mimpi belaka? Dia bahkan merasa betapa hatinya 200

mengharap kan Liu Ma benar-benar muncul menyambutnya dengan senyum dan pandang matanya yang khas, yang penuh kasih sayang kepadanya! Ketika dia naik ke beranda depan, hampir saja mulutnya memanggil Liu Ma seperti dahulu, dengan sebutan ibu.

Dia menahan suaranya karena pada saat itu dari. pintu depan muncul seorang laki-laki. yang usianya sekitar limapuluh tahun. Pria ini nampak tua dan lemah, namun Han Lin segera mengenalnya.

“Paman Akui!” serunya gembira. orang ini lima tahun yang lalu merupakan seorang pembantu rumah tangga, terutama mengurus kebon dan dipercaya ibunya karena memang jujur dan setia walaupun buta huruf.

Akui memandang pemuda itu dengan alis berkerut. “Siapakah engkau……?” katanya meragu. “Dan ada keperluan apa berkunjung ke sini?” Pandang matanya jelas membayangkan keheranan bahwa pemuda yang tidak dikenalnya itu mengetahui namanya Dia merasa pernah mengenal pemuda Ini, akan tetapi lupa lagi entah di mana.

“Paman, apakah paman sudah lupa kepadaku? Aku Han Lin, paman.”

Sepasang mata itu terbelalak, la lu nampak ketakutan dan orang itu terhuyung kebelakang seperti telah didorong. “Tidak tidak….” dia menggeleng kepala dan mengangkat kedua tangan seperti hendak melindungi dirinya. “Setan kau…. roh penasaran

Han Lin merasa kasihan, akan tetapi juga geli. Dia tersenyum dan berkata lembut. “Paman Akui, apakah aku kelihatan seperti setan? Lihat baik-baik, aku adalah Han Lin yang lima tahun lalu tinggal bersama mendiang ibu di sini. Aku telah pulang, paman. Aku masih hidup, belum mati dan bukan roh pe nasaran..”

Akui dapat menenangkan hatinya dan dia memandang 201

penuh perhatian, agaknya mulai percaya bahwa yang berdiri di depannya bukan setan, bukan roh penasaran, melainkan seorang pemuda dari darah daging dan kini dia mulai mengenai wajah itu! “Tapi tapi…. bukankah engkau sudah mati lima tahun yang lalu, terlempar ke dalam jurang dan tewas bersama ibumu? Lihat di dalam itu, ada meja sembahyang untuk menyembahyangi arwah ibumu dan arwahmu x

‘Tidak, Paman. Ibu memang tewas terjatuh ke dalam jurang, akan tetapi aku tidak mati. Tuhan masih melindungi dan menghendaki aku masih hidup.”

“Tapi kalau begitu, kenapa sampai lima tahun baru engkau pulang?

Selama lima tahun ini, engkau dimana saja….?” Agaknya Akui belum yakin benar bahwa pemuda yang berdiri di depannya adalah Han-Lin.

“Panjang ceritanya, paman mari kita bicara di dalam. Selain banyak yang kuceritakan, juga banyak yang akan kutanyakan kepadamu. Jangan ragu, paman Akui, aku benar-benar Han Lin yang ketika berusia enam tahun, jatuh dari atas pohon di pekarangan depan itu dan untung ada paman di bawah pohon sehingga tubuhku menimpa paman dan tidak cedera.”

Mendengar ini, barulah Akui yakin Bagaimana mungkin pemuda ini dapat mengetahui,apa yang terjadi belasan tahun yang lalu itu kalau pemuda ini bukan Han Lin yang aseli? Pula, kini dia melihat bahwa wajah Han Lin tidak berubah dari wajahnya lima tahun yang lalu, walaupun kini dia lebih tinggi dan tegap.

“Kongcu, benar-benar engkaukah ini ?” Suaranya menjadi serak dan kedua matanya basah ketika Akui memegang tangan Han Lin. “Aih, kongcu betapa malapetaka telah menimpa kita bersama, seluruh warga dusun kita menderita sengsara ” 202

Han Lin tidak ingin orang lain mendengar ucapan ini, maka dia lalu menggandeng tangan Akui dan diajaknya orang tua itu masuk rumah, lalu duduk di ruangan dalam. Ternyata prabot rumah itupun masih seperti dulu, tidak diubah sama sekali dan agaknya yang mengurus rumah itu hanya Akui seorang karena tidak terdapat orang lain di situ. Setelah duduk, agar meyakinkan hati Akui bahwa dia benar Han Lin, pemuda itu lalu secara singkat menceritakan pengalamannya.

“Memang benar bahwa lima tahun yang lalu itu, orang-orang jahat membuat aku terjungkal ke dalam jurang, paman. Akan tetapi aku dapat berpegang kepada pohon yang tumbuh di dinding jurang sehingga nyawaku selamat. Ibu tewas di dasar jurang dan sudah kukubur jenazahnya. Biarpun aku terluka, akan tetapi aku diselamatkan seorang kakek yang kemudian menjadi guruku dan aku dibawa pergi untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Setelah lewat lima tahun, barulah aku diperkenankan untuk pulang ke sini. Akui menyusut air matanya karena sedih dan terharu. “Ah, ternyata Tuhan telah melindungi orang yang tidak berdosa. Tidak sia-sialah selama lima tahun ini aku merawat rumah ini, menjaga dan membersihkannya walaupun semua orang menertawakan aku dan mengatakan bahwa engkau dan ibunya telah tewas. Aku mengambil keputusan untuk merawat terus rumah ini sampai aku mati ternyata, kini tiba-tiba engkau pulang, kongcu, seperti seorang bangkit kembali dari kuburan.”

“Aku berterima kasih sekali kepadamu, paman Akui. Akan tetapi sekarang aku ingin mendengar, a.pa yang terjadi di dusun ini sejak aku pergi. Dan bagaimana pula dengan kuil di bukit itu!” . .

“Kongcu, tiga orang losuhu di kuil itu telah terbunuh pula “

“Aku tahu, paman. Aku sempat menguburkan jenazah mereka. Yang ingin kuketahui, apa yang terjadi selanjutnya setelah ketiga orang suhu itu tewas?” 203

“Yang terjadi adalah bencana bagi dusun kita, bahkan juga dirasakan dusun-dusun lain di sekitar sini, kong cu. Kuil itu menjadi sarang mereka…. dan sampai sekarang, kehidupan para penghuni dusun ini seperti dicekam ketakutan, dan tersiksa. Banyak yang diam-diam melarikan diri mengungsi. Yang tetap tinggal terpaksa harus tahan menderita penghinaan dan pehindasan. Mereka itu menganggap seluruh penghuni dusun sebagai pelayan. Semua kebutuhan makan mereka harus kita sediakan, bahkan banyak pula gadis dusun ini mereka tawan. Juga gadis-gadis dari dusun lain. Banyak pula yang mereka pukuli, mereka rampas hartanya, ada pula yang mereka bunuh karena berani melawan Dan semua peninggalan ibumu yang disimpan dalam kamar ibumu ah, semua telah dirampas tanpa aku dapat mencegahnya , kongcu “

“Tidak mengapa, paman. Barang yang hilang sudahlah, jangan dipikirkan lagi,” kata Han Lin akan tetapi hatinya terasa nyeri dan panas, bukan ka rena barang-barang peninggalan Liu Ma dirampas orang, melainkan karena mendengar akan berbuatan sewenang-wenang dan kejam dari gerombolan penjahat itu. Seingatnya, yang muncul dan mengacau kuil di puncak Bukit Ayam.Emas hanyalah tiga orang Sam Mo-ong dan seorang pemuda bersuling yang kejam dan licik, yang dia lupa lagi siapa namanya .

“Paman, apakah sampai sekarang mereka itu masih tinggal di kuil di puncak Bukit Ayam Emas, dan kalau masih, berapa banyaknya mereka yang bersarang di sana?”

“Banyak, banyak sekali, kongcu, dan lima orang pemimpin mereka menurut desas-desus para penduduk berjuluk Bu-tek Ngo-sin-liong . Anak buah mereka banyak sekali, antara duapuluh sampai tigapuluh orang dan aku mendengar mereka itu adalah para anggauta Hoat-kauw, kongcu. Entah aliran apa itu, yang jelas, mereka semua suka mempergunakan kekerasan memaksakan kehendak mereka. Mereka 204

membangun pondok-pondok di sekitar kuil, menjadi tempat tinggal para anggauta. Dan para anggauta itulah yang suka membikin kacau, merampok, menculik wanita, menyiksa dan membunuh!”

Han Lin mengepal tinju. Tak mungkin dia mendiamkan saja kejahatan itu melanda daerah yang demikian indah. Hatinya sudah terbakar mendengar betapa gerombolan itu tidak pantang melakukan kejahatan bagaimanapun, bukan hanya menculik gadis-gadis dusun, bahkan isteri orangpun mereka rampas.

“Paman Kui, terima kasih atas ke baikanmu selama lima tahun merawat rumah ini, dan mulai sekarang engkau boleh tinggal di sini selama hidupmu dan anggap saja rumah ini milikmu sendiri.. Dan sekarang aku mohon kepadamu, rahasiakan kedatanganku. Jangan ceritakan kepada siapapun juga bahwa aku masih hidup dan datang kembali ke rumah ini. Aku hanya akan tjnggal beberapa hari saja di sini, paman, kemudian aku akan pergi lagi sehingga tidak perlu menggegerkan penduduk dusun Li-bun.”

Akui mengangguk-angguk maklum, lalu berbisik, “Aku tahu, kongcu. Bukan hanya kongcu yang takut, akupun takut kalau sampai mereka mengenal kongcu. Memang sebaiknya kalau kongcu bersembunyi dan cepat meninggalkan tempat yang tidak aman ini. Aku akan menjaga rumah ini sampai kelak keadaan kembali aman dan kongcu pulang ke sini.”

Tentu saja Han Lin menyuruh pelayan itu merahasiakan kehadirannya bukan karena dia takut. Dia akan menentang gerombolan itu dan hal ini harus dia lakukan sendiri tanpa setahu penduduk dusun Li-bun sehingga kelak tidak akan ada akibat yang buruk bagi para penduduk karena dia seorang yang bertanggung-jawab. Akan tetapi biarlah Akui mengira dia takut, hal itu lebih baik lagi agar Akui benar-benar merahasiakan bahwa dia masih hidup dan kembali kesitu .

“Memang benar, paman, aku takut kalau mereka 205

mengetahui aku berada di sini. Akan tetapi, selama lima tahun ini, apakah kepala dusun Li-bun ini mendiamkan saja semua kejahatan itu terjadi? Bukankah dahulu, Lurah Can dari dusun ini terkenal memiliki keberanian dan berwatak adil?”

“Aihh, kongcu. Lurah Can memang mengumpulkan para muda dan menyerbu ke sana, akan tetapi akibatnya, lurah Can dan beberapa orang tewas dan sejak itu, tidak ada lagi yang berani. melawan untuk mati konyol. Dan setelah Lurah Can tewas, mereka mengangkat seseorang di antara mereka menggantikan kedudukan kepala dusun, dan kami semua semakin tidak berdaya.”

“Hemm, siapa lurah baru itu?”

“Dia Lurah Ouw yang tinggal di rumah lurah lama bersama keluarganya.”

“Baiklah, paman. Sekarang paman boleh melanjutkan pekerjaan sehari-hari seperti biasa. Aku akan beristirahat. Apakah kamarku masih terpelihara?”

Wajah Akui berseri. “Masih, kong cu. Biarpun tadinya aku sudah yakin bahwa kongcu dan nyonya telah meninggal dunia, namun kedua kamar itu setiap hari kubersihkan dan pintunya selalu kututup dan kukunci. Tidak ada seorangpun boleh mengganggu kedua kamar itu. Bahkan pakaian kongcu juga masih dalam almari. Yang tidak ada hanyalah barang-barang berharga yang telah diambil oleh mereka, kongcu.”

Han Lin memasuki kamarnya dan dia benar-benar merasa terharu. Kamar itu mengingatkan dia akan masa lalu, semua masih seperti dahulu. Ketika dia membuka almari, pakaiannya juga masih lengkap, akan tetapi tentu saja pakaian itu tidak dapat dipakainya sekarang, terlampau kecil. Hari ini sampai malam dia berdiam saja di dalam rumahnya seperti orang bersembunyi, dilayani oleh Akui yang kini nampak berseri wajahnya, seperti tanaman yang hampir mengering mendapatkan siraman air hujan. 206

Setelah malam tiba Han Lin mengatakan kepada Akui bahwa malam itu dia tidak ingin diganggu, lalu dia menutupkan pintu kamarnya dan mengunci dari dalam. Tanpa diketahui siapapun, dia lalu keluar dari kamarnya melalui jendela. Gerakan Han Lin sudah cepat bukan main, ringan dan cepat seperti seekor burung walet. Kini ditambah kegelapan malam, tidak ada orang akan mampu melihat gerakannya ketika dia berlari dalam kegelapan menuju ke rumah kepal a dusun, yaitu Lurah Ouw seperti yang dia dengar dari Akui tadi . Menurut Akui, lurah itu tinggal di rumah besar bekas rumah keluarga Lurah Can, bersama keluarganya, yaitu tiga orang isteri dan lima orang anak.

Semua anggauta keluarga di rumah Lurah Ouw telah tidur nyenyak. Rumah itu telah sepi ketika bayangan hitam itu berkelebat cepat ke atas wuwungan rumah, lalu melayang turun ke dalam. Tidak lama Han Lin mencari-cari di mana kiranya sang lurah berada, dia mendengar suara dua orang peronda yang agaknya bertugas jaga di rumah kepala dusun itu. Dia segera menyelinap di balik sudu t tembok.

“Wah, yang paling senang adalah Ouw-toako,ya? Menjadi lurah, isterinya banyak, mendapat kehormatan “

“Ssttt, hati-hati kau bicara. Kalau terdengar olehnya, engkau tentu akan dihajar.”

“Dia tidak akan mendengar. Dia sedang terlelap dalam pelukan isterinya yang terbaru, isteri yang ke empat dan kamarnya di ujung belakang. Tidak akan dapat mendengar suara kita.”

“Sudahlah, jangan mengiri. Kalau engkau ingin mendapatkan tempat yang enak, bekerjalah lebih keras, membuat jasa sebesarnya dan tentu Pemimpin kita akan memberimu kenaikan pangkat.”

Han Lin membiarkan mereka lewat dan setelah mereka jauh, baru dia keluar dari tempat sembunyinya dan cepat 207

menuju ke kamar di ujung belakang. Dari cahaya Iampu keci l yang remang-remang, dia melihat dalam intaiannya seorang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh lima tahun tidur mendengkur di samping seorang wanita muda yang cantik, dan wanita itu nampak menangis lirih, hampir tanpa suara. Han Lin dapat menduga bahwa wanita muda itulah selir ke empat dan agaknya diselir oleh sang lurah secara paksa, mungkin direnggut secara paksa dari tunangannya, atau bahkan suaminya, atau orang tuanya .

Tanpa mengeluarkan suara, dia membuka jendela, melompat masuk dan sebelum wanita itu tahu apa yang terjadi, tangan Han Lin menyambar dan wanita itupun terdiam, pingsan tanpa melihat apapun sebelumnya. Agaknya gerakannya itu menimbulkan sedikit goncangan dan sang lurah yang sedang mendengkur itu, menghentikan dengkurnya. Akan tetapi, diapun tidak sempat membuka mata karena begitu tangan Han Lin bergerak, dia sudah tidak tahu apa-apa lagi dan pingsan. Han Lin menyambar pakaian sang lurah yang berserakan, membungkus tubuh lurah yang pendek gendut itu sejadinya, kemudian diapun sudah meninggalkan kamar itu, kini memanggul tubuh sang lurah dan tak seorangpun penjaga tahu bahwa lurah mereka telah meninggalkan rumah di atas pundak seorang yang bergerak cepat dan ringan seperti seekor burung walet.

Pagi-pagi sekali, Han Lin membebaskan totokannya dari tubuh lurah yang sebetulnya adalah seorang tokoh Hoat-kauw bernama Ouw Tit dan yang oleh para pimpinan Hoat-kauw ditugaskan untuk menjadi lurah di dusun Li-bun. Mereka berada di sebuah lereng dan dekat sebuah pondok bambu. Sejak ditotok pingsan, Ouw Tit tidak tahu apa yang terjadi, dan kini, begitu totokannya bebas, dia terkejut, membuka mata dan melihat dirinya berada di dekat pondok, di lereng bukit yang sunyi dan hari masih pagi sekali, matahari baru mengirim cahayanya sebagai tanda bahwa fajar telah menyingsing. Dia merasa tubuhnya yang semalam tidak dapat 208

bergerak itu kaku-kaku dan melihat dirinya setengah telanjang, dengan pakaiannya hanya dibungkuskan di tubuhnya dia terkejut dan cepat dia mengenakan pakaiannya sehingga kini nampak patut, lalu dia memandang kepada pemuda itu dan nampaklah sikapnya yang jagoan dan sudah biasa memerintah.

“Heiii, apa yang terjadi? Di mana aku dan bagaimana dapat berada di siini? Siapa pula engkau? Hayo mengaku sejujurnya !

Melihat sikap ini, di dalam hatinya Han Lin merasa muak sekali. Sungguh merupakan seorang yang berwatak amat buruk dan jelas orang macam ini tentu jahat dan kejam. “Orang she Ouw, akulah yang membawamu ke sini, mengambilmu dari tempat tidur di kamarmu,” katanya tenang.

Orang pendek gendut itu melotot dan mukanya menjadi merah karena marah. “Apa….? Berani kau! Sudah ingin mampus, ya?” Dan diapun sudah menerjang maju dan kedua tangannya bergerak cepat melakukan serangan. “Bagaima-napun juga, dia adalah seorang anggau-ta Hoat-kauw yang sudah ada tingkat, maka tentu saja dia pandai ilmu silat. Serangannya dengan kedua tangan bertubi-tubi itu juga mengandung tenaga besar dan cepat.

“Plakkk! Dukk !!” penyerang itu mengaduh-aduh dan mengguncang-guncang kedua lengannya yang terasa seperti patah-patah tulangnya ketika bertemu dengan lengan Han Lin. Akan tetapi dasar orang tak tahu diri, setelah rasa nyeri agak berkurang, dia menyerang lagi semakin ganas, bahkan kini menyusuli pukulannya dengan tendangan kaki-nya yang pendek dan besar.

Han Lin tidak sabar lagi . Dia me nangkap kakikanan yang menendang, mendorong kaki itu ke atas sehingga tubuh Ouw Tit terlempar ke atas. 209

“Bukk !!” Pantat yang gemuk itu terbanting keras, membuat pemiliknya menyeringai kesakitan. Dia bangkit lagi, menyerang lagi hanya untuk roboh lagi karena terkena tamparan tangan ki ri Han Lin. Pemuda ini hendak menaklukkan dan menundukkan bukan hendak membunuh maka tenaga pukulannya juga terkendali , tidak terlalu keras namun cukup membuat lawan terpelanting keras. .

Dasar orang bandel yang sudah memperoleh kedudukan sehingga merasa paling menang, Ouw Tit bangkit lagi dan mengeluarkan suara gererrgan seperti binatang buas. Karena ketika dibawa ke situ dia tidak bersenjata, maka melihat sebuah dahan kering di bawah pohon, dia lalu menyambar dahan kering itu dan mempergunakannya sebagai senjata, menyerang lagi denganmembabi-buta. Akan tetapi, begitu dia menghantamkan dahan kering itu, Han Lin mendahuluinya, tongkat bambunya menyambar dan menotok pundak, membuat Ouw Tit terpelanting lagi dan tidak mampu bangkit kembali, hanya melotot marah.

Han Lin maklum bahwa dia menghadapi seorang yang kasar dan bandel, maka dia lalu mempergunakan ujung tongkatnya menotok beberapa kali ke arah tubuh si pendek gendut dan kini tubuh itu bergulingan di atas tanah berteriak mengaduh-aduh, berkelojotan dan dalam kesakitan yang hebat.

“Aduhh mati aku aduhhh aughh… ampun, ampunkan aku

Akhirnya dia menangis dan minta minta ampun. Karena memang bukan niat Han Lin untuk menyiksa orang, maka begitu orang itu minta ampun, hal yang diharapkan dengan menotok mendatangkan kenyerian itu, dia lalu membebaskan totokannya. Ouw Tit tidak menderita nyeri lagi, hanya tubuhnya masih lemas dan panas dingin karena kini dia mengerti bahwa dia menghadapi seorang yang amat lihai.

.”Nan, sekarang apakah engkau masih hendak melawan? Kalau engkau masih membandel , bukan saja aku akan 210

membuat engkau tersiksa seperti tadi, hidup tidak matipun tidak, aku akan menyiksa pula empat orang isterimu dan semua anak-anakmu. Bagaimana?” “Ampun, taihiap, aku menyerah kalah…. aku minta ampun akan tetapi, rasanya aku tidak pernah mengenal taihiap dan tidak ada urusan di antara kita, kenapa taihiap memperlakukan aku seperti ini?”

“Aku tahu, engkau lurah Ouw dari dusun Li-bun dan engkau adalah anggau-ta Hoat-kauw.”

.”Benar, benar sekali, taihiap. Aku adalah Lurah Ouw dari dusun Li-bun, dan aku adalah seorang anggauta Hoat-kauw. Karena itu, dengan melihat Hoat-kauw, tentu taihiap tidak akan membunuhku “

“Hemm, justeru karena engkau o-ang Hoat-kauw, aku ingin sekali menyiksamu, menyiksa seluruh keluargamu!” Han Lin membentak dan si pendek gendut itu menjadi pucat.

“Ampun, taihiap…. ampunkan aku, anakku masih kecil-kecil”

dia meratap.

“Baik, aku akan mengampuni dan mengampuni semua anak isterimu asalkan engkau suka menurut semua kehendakku. Nah, sekarang ceritakan tentang Hoat-kauw yang telah menduduki kuil di Bukit Ayam Emas. Apa hubungan Hoat-kauw dengan Sam Mo-ong, ceritakan semua dengan sejujurnya!”

Karena sudah tidak berdaya sama sekali dan takut kalau-kalau dia dan seluruh keluarganya dibasmi oleh pemuda yang luar biasa lihainya itu, Ouw Tit membuat pengakuan. Andaikata dia belum pernah dijadikan kepala dusun, belum pernah mengenyam kesenangan dan kemuliaan sebagai kepala dusun dengan banyak isteri dan anak, mungkin dia akan berkeras tidak mau mengaku, bahkan mungkin memilih mati seperti banyak di lakukan para anggauta Hoat-kauw 211

yang fanatik. Akan tetapi, kesenangan duniawi telah mengikatnya erat-erat dan karena ingin selamat sekeluarga, diapun membuat pengakuan dengan suara tersendat-sendat. Dari mulut Ouw Tit, Han Lin mendengar semuanya. Kiranya Sam Mo ong adalah kaki tangan bangsa Mongol

yang ingin menguasai Kerajaan Tang, dan Sam Mo-ong mengajak Hoat-kauw bersekutu untuk bersama-sama mengguling-an Kerajaan Tang! Dan kuil di Bukit Ayam Emas itu dijadikan semacam sarang oleh Hoat-kauw untuk mengadakan hubungan dengan para utusan Mongol. Kalau Hoat-kauw membuat gerakan dari pusat atau cabang, tentu akan terlalu menyolok dan diketahui pemerintah, maka tempat di Bukit Ayam Emas itu menjadi semacam sarang rahasia.

Han Lin mengangguk-angguk. Kiranya mereka itu bukan memusuhi penduduk dusun Li-bun atau membunuhi para hwe-sio di kuil karena permusuhan pribadi, melainkan karena gerakan yang lebih besar lagi, yaitu untuk memberontak terhadap kerajaan. Ini sungguh berbahaya sekali, terutama bagi penduduk dusun Li-bun, karena mungkin saja pemerintah akan menganggap bahwa seluruh penduduk dusun Li-bun menjadi anggauta pemberontak.

“Sekarang ceritakan siapa saja yang tinggal di puncak Bukit Ayam Emas, berapa orang dan siapa pemimpinnya!” kata pula Han Lin dan suaranya tetap tegas dan penuh wibawa karena diam-diam dia mengerahkan kekuatan batin seperti pernah dia pelajari dari mendiang Kun Hwesio yang ahli sihir. Pengaruh sikap dan suara Han Lin itu sungguh kuat dan pada saat itu, Ouw Tit melihat Han Lin sebagai seorang yang amat menyeramkan dan menakutkan. Karena itu, diapun dengan terus terang menceritakan bahwa anak buah Hoat-kauw yang tinggal di puncak Bukit Ayam Emas ada kurang lebih limapuluh orang dan yang memimpin mereka adalah Bu-tek Ngo Sin-liong, lima orang tokoh besar Hoat kauw.

“Akan tetapi, saat ini Bu-tek Ngo Sin-liong tidak berada di 212

sana, karena mereka pergi ke Bukit Harimau, di luar kota An-king untuk menghadiri ulang tahun Hoat-kauw yang akan dirayakan besar-besaran dan mengundang semua partai persilatan’dan aliran.” Han Lin tertarik. “Kapan akan di adakan perayaan itu?”

“Bulan depan.”

“Nan, sekarang engkau harus ikut denganku ke kota Nam-san. Di sana, di depan kepala daerah, engkau harus membuat pengakuan seperti yang kauceritakan kepadaku.”

Ouw Tit terbelalak, mukanya pucat. “Tapi tapi, taihiap ;

aku tentu akan ditangkap dan dihukum!”

“Hemm, engkau memilih kusiksa dengan seluruh keluargamu, mati perlahan lahan? Begitukah?” Han Lin mengangkat tongkat bambunya mengancam.

“Ampun….! Tidak, tidak, tai hiap.”

“Kalau begitu, engkau harus membuat pengakuan di depan kepala daerah dan mungkin keluargamu akan terhindar dari hukum. Hayo!” Han Lin menarik tangan orang itu dan dibawanya berlari cepat menuju ke kota Nam-sam yang merupakan kota kabupaten yang membawahi Li bun.

Para penjaga di kantor Bupati Cu segera membawa Han Lin dan Ouw Tit menghadap pembesar itu. Cu-taijin (pern besar Cu) memandang kepada mereka dengan heran, lalu menegur, sambil menudingkan telunjuknya kepada Ouw Tit. “Bukankah engkau Ouw Tit, lurah dusun Li-bun yang menggantikan Lurah Can yang tewas oleh gerombolan penjahat itu?”

“Ampun, taijin, kata Han Lin lantang, “saya ingin melaporkan keadaan di Li-bun. Dahulu, lima tahun yang lalu, Lurah Can tewas di tangan gerombolan penjahat, dan Ouw Tit ini adalah orangnya gerombolan itu yang sengaja diselundupkan dan dengan memaksa penduduk, dia dipilih 213

menjadi lurah baru. Seluruh dusun dan wilayah Li-bun kini telah dikuasai gerombolan yang amat berbahaya karena mereka berniat melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Tang, taijin.”

Tentu saja Bupati Cu terkejut bu kan main. “Siapakah engkau, orang muda?”

“Nama saya Sia Han Lin, penduduk dusun Li-bun, taljin.” Kemudian Han Lin menghardik Ouw Tit. “Hayo engkau cepat membuat pengakuan di depan Tai-jin!”

Bupati Cu memberi isyarat dan lima orang perajurit pengawal segera datang ke ruangan itu dengan golok di tangan untuk menjaga segala kemungkinan karena tentu saja hati bupati itu merasa khawatir bahwa lurah dusun Li-bun itu dikatakan sebagai anggauta gerombolan penjahat yang mempunyai niat memberontak.

“Ceritakan semuanya dengan sejujurnya!” bentaknya kepada Ouw Tit.

Ouw Tit merasa terjepit. Menghadapi Han Lin saja dia sudah tidak berdaya dan dia lebih ngeri menghadapi ancaman pemuda tampan yang nampaknya lemah lembut itu dari pada lima orang pe rajurit pengawal yang memegang golok. Dia tahu bahwa kalau dia menghendaki , dia akan mampu mengalahkan lima orang perajurit itu. Akan tetapi dia sama sekali tidak berdaya menghadapi Han Lin yang lihai. Dia hanya mengharapkan pemuda itu tidak akan mengganggu keluarganya seperti dijanjikan tadi, maka diapun mengulang ceritanya yang tadi dia ceritakan kepada Han Lin.

Mendengar bahwa Li-bun, tepatnya di puncak Bukit Ayam .Emas terdapat sarang gerombolan pemberontak, Cu-taijin terkejut bukan main. Li-bun termasuk wilayahnya, maka kalau sampai terdapat gerombolan pemberontak di sana, itu merupakan tanggung-jawabnya. Dialah yang akan ditegur oleh atasannya kalau gerombolan pemberontak itu makin 214

mengganas dan semakin kuat.

“Jebloskah dia dalam tahanan dan hubungi Un-ciangkun (perwira Un) cepat cepat!” kata bupati kepada pengawalnya .

“Taijin, harap hati-hati menghadapi penjahat ini, dia cukup lihai, sebaiknya kalau dibelenggu saja!” Berka-ta demikian, Han Lin menggerakkan tangannya menorok pundak Ouw Tit yang se gera terkulai lumpuh. “Sebaiknya memang kalau Taijin cepat memerintahkan pasukan untuk menyerbu dan menangkapi gerombolan itu. Mereka telah menguasai Li-bun dan menekan penduduk, menyengsarakan mereka. Saya mohon diri dan terserah kepada taiiin.”

“Tunggu dulu, Han Lin!” kata bupati itu. “Kalau gerakan kami berhasil menumpas gerombolan pemberontak, engkau telah berjasa dan kami tidak akan melupakan jasamu . Di mana engkau tinggal?”

“Saya tidak mengharapkan imbalan, taijin, saya lakukan ini untuk membela penduduk Li-bun di mana saya tinggal. Selamat tinggal, taijin!” karena tidak ingin diganggu lagi, Han Lin mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat lenyap dari depan pembesar itu yang tercengang. Akan tetapi menyadari gawatnya urusan, Bupati Cu segera memerintahkan petugas untuk membelenggu kaki tangan Ouw Tit yang sudah tertotok lumpuh itu dan menyeretnya ke dalam tahanan dengan pesan agar dijaga ketat. Kemudian dia mengadakan hubungan dengan komandan pasukan di benteng terdekat dan tak lama kemudian, sepasukan perajurit yang terdiri dari duaratus orang bergerak menuju ke dusun Li-bun, dipimpin oleh beberapa orang perwira.

siapapun juga di dusun itu.

(MAAF ADA HALAMAN YANG HILANG)

Demikianlah, selagi mereka kebingungan dan sudah 215

mengambil keputusan bahwa kalau sampai sore hari Lurah Ouw belum juga pulang mereka akan melapor kekuil di puncak Bukit Ayam Emas, maka mereka mel ihat seorang pemuda memasuki pekarangan dan dari luar berdatangan pula sepuluh orang pemuda dusun di luar pekarangan.

“Haiii , kalian mau apa? Dan siapa engkau, orang muda? Apa perlumu masuk ke pekarangan ini?” bentak seorang. di antara sepuluh orang jagoan pembantu Lurah Ouw itu dengan sikapnya yang galak. Teman-temannya juga sudah maju mengepung Han Lin dengan setengah lingkaran.

Han Lin yang memegang tongkatnya, bersikap tenang saja ketika sepuluh orang jagoan itu memperlihatkan sikap mengancam, dan diapun maju menyambut mereka dengan bentakan nyaring “Kami adalah penghuni dusun- Libun yang sudah muak melihat kekejaman kalian dan tidak ingin lagi melihat kalian mengacau di dusun kami!”

Mendengar ucapan ini, tentu saja sepuluh orang anggauta Hoat-kauw itu menjadi terkejut, terheran, marah dan juga geli. “Bocah gila, engkau sudah bosan hidup!” bentak seorang di antara mereka yang segera menggerakkan goloknya membacok leher Han Lin, sedangkan yang lain hanya menonton saja karena mereka mengira bahwa seorang teman mereka saja sudah cukup untuk membunuh pemuda yang lancang itu.

Jilid VIII

Akan tetapi mereka terbelalak ketika melihat teman mereka yang menyerang itu tiba-tiba saja terjengkang, goloknya terlepas dan dia tidak mampu bangkit kembali. Tahulah mereka bahwa pemuda dusun ini tidak seperti yang lain, memiliki kepandaian maka berani bersikap menantang seperti itu. Sambil berteriak-teriak ganas, sembilan orang menyerang Han Lin dengan golok mereka. Serangan mereka ganas dan 216

semua golok menyambar bagaikan tangan maut. Namun, mereka terkejut ketika pemuda yang mereka serang itu lenyap dan yang nampak hanya bayangannya berkelebat. Tahu-tahu, ada tongkat menyambar-nyambar dari arah belakang mereka. Mereka membalik dan menggerakkan golok untuk menangkis, namun terlambat. Ujung tohgkat bambu yang gerakannya seperti kilat menyambar-nyambar itu menotok mereka satu demi satu dan robohlah mereka bagai kan rumput dibabat pedang.

Sepuluh orang dusun itu kini telah menjadi lebih dari tigapuluh orang Mereka berdatangan dan menjadi penonton saja di luar pekarangan karena mereka semua merasa gentar terhadap sepuluh orang tukang pukul Lurah Ouw itu, Akan tetapi, ketika melihat betapa dalam beberapa menit saja Han Lin sudah merobohkan sepuluh orang yang di takuti, itu, orang-orang dusun bersorak dan mereka menyerbu ke dalam pekarangan, mengangkat senjata di tangan mereka yang bermacam-macam bentuknya, ada kapak, arit, cangkul , garu, palu dan berbagai, macam perkakas lagi,

Han Lin maklum bahwa orang yang mendendam dapat menjadi amat kejam, juga bahwa orang yang merasa menang dapat mabok kemenangan dan dapat melakukan apa saja yang dirasakan menjadi haknya karena menang., Maka cepat dia menghadang dan mengangkat kedua tangan ke atas.

“Berhenti dan tahan senjata!” Bentakannya mengandung wibawa kuat dan tigapuluh orang lebih itu berhenti dan memandang kepada Han Lin dengan heran. Mereka hendak “membantu” pemuda itu membantai sepuluh orang jagoan dan menyerbu rumah Lurah Ouw yang selama ini menjadi seperti, raja lalim di dusun itu, kenapa Han Lin menahan mereka?

“Bi.arkan kami, bunuh mereka semua!” terdengar beberapa orang berteriak.

“Tidak!” Han Lin membentak,. “kita tidak suka melihat 217

kekejaman mereka, berarti kita bukan orang-orang kejam seperti mereka! Mari, kita buktikan bahwa kita tidak seperti mereka, Kajau kita sekarang bertindak kejam, lalu apa bedanya antara mereka dan kita?” Dia teringat akan kenyataan yang pernah dipaparkan Lojin bahwa di dalam diri setiap orang manusia terdapat nafsu yang sama. Kalau seseorang mencela orang lain berbuat sewenang-wenang, adalah karena di pencela itu tidak mempunyai kesempatan melakukan hal yang sama. Sekali dia mendapatkan kesempatan, mungkin dia akan lebih jahat dari pada yang dicela! Hanya orang yang tidak diperbudak nafsu-nafsunya saja yang akan dapat selalu ingat dan waspada, tidak menuruti bisikan atau perintah nafsu-nafsunya sendiri.

“Akan tetapi mereka selama ini bertindak kejam terhadap kita!” terdengar bantahan.

“Lalu kalian ingin membalas dendam dan bertindak kejam pula terhadap mereka? Kalau begitu, kalian berubah menjadi orang-orang kejam dan aku tidak sudi membantu orang-orang kejam dan pengecut! Kenapa tidak dari dulu kalian melawan tindakan mereka yang kejam? Kenapa baru sekarang, melihat mereka tak berdaya, lalu kalian hendak membantai mereka? Dengar, kalau kalian tidak menurut kepadaku, aku akan pergi dan biar kalian sendiri menghadapi gerombolan yang berada di kuil puncak bukit Ayam Emas!”

Mendengar ucapan pemuda ini, semua orang menjadi pucat wajahnya dan semangat mereka yang menggebu-gebu didorong dendam itupun mengempis dan mereka seperti sekelompok anak-anak yang ketakutan. Kasihan juga rasa hati Han Lin menyaksikan sikap mereka itu. Mereka memang seperti anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan pengawasan.

“Aku ingin melihat kalian menggunakan semangat kalian untuk membela diri, bukan untuk bertindak sewenang-wenang dan kejam. Melihat pihak musuh sudah tidak berdaya lalu 218

hendak membantai mereka, itu perbuatan kejam sewenang-wenang. Juga kalian tidak boleh menyerang keluarga Lurah Ouw yang tidak bersalah apa-apa. Ketahuilah bahwa Lurah Ouw kini telah kutawan dan kuserahkan kepada yang berwajib. Tak lama lagi pasukan akan menyerbu sarang gerombolan di puncak Bukit Ayam Emas, dan kita harus menjaga agar jangan sampai ada orang dari rumah ini lolos dan memberi kabar kepada gerombolan di Sana. Mengertikah kalian? Kalian hanya bertugas menjaga di sini, mengepung rumah ini agar tidak ada yang dapat keluar, akan tetapi kalian tidak boleh membunuh orang yang tidak menyerang kalian. Mengerti?”

Mendengar ini, semua orang bersorak gembira. Dusun mereka akan terbebas dari . cengkeraman gerombolan penjahat Setelah lima tahun!

“Kami mengerti, kongcu!” Tiba-tiba Akui berseru dan menghadap ke arah orang banyak. “Kita harus menaati perintah Sia-kongcu kalau ingin dusun kita diselamatkan! Orang-orang menyambutnya dengan sorakan setuju.

Han Lin mengangkat tangan dan semua orang terdiam, mendengar. “Saya senang sekali melihat sikap kalian. Sekarang, dengar baik-baik. Sepuluh orang ini harus dibelenggu kaki tangannya dan dibawa ke dalam rumah, aku akan mengumpulkan semua penghuni rumah ini. Hayo sepuluh orang pemuda yang pertama datang ke sini ikut, akan tetapi ingat, jangan membunuh orang. Aku hanya ingin agar semua keluarga Ouw Tit dikumpulkan di ruangan dan diawasi agar jangan seorangpun di antara mereka dapat mengirim berita ke sarang gerombolan. Kalau ada yang berbuat kejam dan jahat, akan kuhajar sendiri!”

Sepuluh orang pemuda itu dengan semangat besar dan sikap seperti jagoan segera mendekati Han Lin dan mengikuti pemuda ini memasuki rumah lurah Ouw. Sedangkan yang lain-lain segera menyerbu pekarangan dan sebentar saja 219

sepuluh orang itu sudah ditelikung dan diikat seperti ayam-ayam yang hendak dipanggang! Saking benci dan dendamnya biarpun tidak ada di antara mereka yang berani menyiksa apa lagi membunuh, tidak urung sepuluh orang tukang pukul yang sudah tidak berdaya itu menjadi “korban caci-maki, diludahi dan di olok-olok yang bagi mereka jauh lebih menyakitkan dari pada kalau digebuki. Biasanya mereka seperti penguasa-penguasa di dusun itu, tidak ada seorangpun berani memandang kepada mereka, apa lagi bicara kasar. Dan kini, orang-orang dusun itu meludahi mereka, mencaci maki mereka!

Han Lin dan sepuluh orang pemuda dusun menyerbu memasuki rumah. Ternyata tidak ada tukang pukul lain kecuali hanya empat orang isteri sang lurah dan anak-anak mereka, juga ada beberapa orang pelayan wanita. Mereka semua sudah ketakutan dan berkumpul di sebuah ruangan terbesar di rumah itu, maka mudahlah bagi Han Lin dan kawan-kawannya. Mereka semua dikumpulkan di dalam ruangan, dilarang meninggalkan ruangan itu, dan dijaga di pintu oleh sepuluh orang pemuda dusun. Kemudian Han Lin meninggalkan rumah setelah berpesan ke pada Akui agar mengawasi orang-orang dusun itu agar mereka jangan melakukan hal-hal yang jahat seperti menyiksa, membunuh, apa lagi merampok.

Sejak lima tahun yang lalu, kuil di puncak Bukit Ayam Emas telah dijadikan sarang oleh Hoat-kauw yang bertugas mengadakan hubungan dengan pihak Mongol yang diwakili oleh utusan mereka, yaitu Sam Mo-ong, tiga orang datuk besar yang sakti. Dan selama lima tahun ini, mereka telah melakukan banyak hal yang bagi mereka merupakan kemajuan dalam kerja sama mereka. Pihak Sam mo-ong membantu orang-orang Mongol menundukkan saingan-saingan mereka, yaitu suku-suku bangsa lain yang juga ingin meluaskah kekuasaannya di wilayah Kerajaan Tang dan memaksa suku-suku bangsa yang lebih kecil untuk 220

bergabung dan membantu orang Mongol. Adapun pihak Hoat-kauw yang diwakili oleh Bu-tek Ngo Sin-liong, lima orang tokoh Hoat-kauw, bergerak menalukkan partai-partai persilatan dan aliran-aliran lain untuk menguasai dunia kangouw. Kalau kerjasama ini berhasil, maka Kerajaan Tang akan menghadapi pasukan Mongol yang dibantu oleh suku-suku bangsa lain dan dunia kangouw! Untuk hubungan kerja sama di antara mereka, pihak Sam Mo-ong mewakilkan kepada An seng Gun, putera mendiang An Lu Shan yang diaku anak oleh kakeknya sendiri, yaitu Kwi-jiauw Lo-mo, seorang di antara Sam Mo-ong. Seng Gun ini juga diperuntukan kepada pihak Hoat-kauw agar hubungan dengan pihak Mongol dapat selalu terjalin, juga Seng Gun seolah menjadi pengamat yang mengikuti perkembangan gerakan Hoat-kauw.

Ketika Han Lin kembali ke Li-bun, kebetulan sekali sarang Hoat-kauw di puncak Bukit Ayam Emas itu ditinggalkan para pemimpin besarnya. Lima orang Bu-tek Ngo Sin-liong tidak berada di sana karena mereka sedang sibuk membantu pihak pimpinan Hoat-kauw yang hendak mengadakan perayaan ulang tahun mengundang semua partai dan aliran, perayaan yang akan diadakan di Bukit Harimau, di luar kota An-king, yang merupakan pusat cabang terbesar dari Hoat-kauw saat itu. Seng Gun sendiri sejak dua tahun ini tidak pernah nampak di kuil itu karena dia melaksanakan sebuah tugas rahasia yang diberikan kepadanya oleh Sam Mo-ong.

Han Lin menyelinap di luar perkampungan gerombolan di puncak Bukit Ayam Emas itu. Kuil yang dahulu menjadi tempat di mana dia belajar ilmu silat dari Kong Hwi Hosiang kini telah menjadi perkampungan gerombolan dan di pagari, dan di sekitar kuil dalam perkampungan itu dibangun beberapa buah rumah tempat tinggal anggauta gerombolan.

Karena agaknya mereka semua merasa yakin tidak akan ada seorangpun berani mengusik mereka, maka 221

perkampungan gerombolan itu tidak terjaga ketat. Dengan mudah saja Han Lin melompati pagar bambu memasuki perkampungan tanpa terlihat siapapun dan dia menyelinap antara pondok-pondok itu. Ketika mendengar isak tangis wanita dari sebuah pondok, diapun mendekati dan mengintai . Pondok-pondok darurat itu terbuat dari

kayu dan bambu maka mudah sekali bagi Han Lin untuk mengintai.

Seorang wanita muda, usianya tidak akan lebih dari enambelas tahun, menangis terisak-isak di atas pembaringan. Seorang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh tahun, bertubuh tinggi besar bermuka hitam, duduk di atas kursi dekat pembaringan dan nampaknya marah-marah.

“Sudahlah, jangan menangis saja, menyebalkan kau!” bentak laki-laki itu sambil melotot kepada wanita muda yang menangis. Apa sih maumu?”

“Pulangkan aku” tangis wanita itu, “Kembalikan aku ke rumah orang tuaku, aku ingin kembali kepada mereka”

“Sialan! Engkau sudah menjadi isteriku, sudah limabelas hari di sini, dan setiap hari hanya menangis minta pulang !”

“Aku bukan isterimu! Engkau engkau menculik dan memaksaku hu-hu-huuhhh, pulangkan aku…. pulangkan aku”

“Engkau menjemukan!” bentak laki laki bermuka hitam itu dan dia lalu bangkit berdiri, tangannya menampar.

“Plakk.. . .!!” Keras sekali tamparan itu dan wanita itu menjerit dan terjengkang ke atas pembaringan, pipinya yang kiri membengkak biru dan ia menangis semakin sedih.

Melihat ini, Han Lin tidak dapat menahan lagi kesabarannya. Kalau saja mereka itu suami isteri, tentu dia tidak berhak mencampuri urusan mereka Akan tetapi dari tangis wanita tadi dia tahu bahwa wanita yang masih remaja itu diculik dan dipaksa menjadi isteri orang itu, jelas ia adalah 222

seorang di antara banyak korban, yaitu wanita-wanita di Li-bun dan sekitarnya yang diculik oleh para anggauta gerombolan itu dan dipaksa menjadi isteri mereka dari wanita inilah dia akan mendapat keterangan banyak dan penting, dan semua keterangannya tentu akan dapat dipercaya. Melihat wanita itu ditampar, dia lalu menerobos masuk nelalui pintu depan yang tidak dikunci. Tanpa mengeluarkan suara berisik, Ia sudah berada dalam pondok dan langsung memasuki kamar.

Laki-laki tinggi besar muka hitam itu terkejut ketika tiba-tiba saja ada seorang pemuda memasuki kamarnya dia sedang kesal dan marah kepada wanita yang dipaksanya menjadi isterinya. Sudah limabelas hari wanita itu dikeram dalam pondoknya, dan setiap hari hanya menangis dan merengek minta dipulangkan saja. Kini, melihat ada pemuda memasuki kamarnya, kemarahannya memuncak.

.”Jahanam! Siapa kau berani memasuki pondokku!” teriaknya, dengan kedua tangan dikepal siap untuk memukul sedangkan wanita muda itu terbelalak ketakutan pipinya masih lebam.

“Engkau yang jahanam, laki-laki kejam tak berprikemanusiaan!” Han Lin balas menegur.

“Kau bosan hidup!” bentak laki-laki itu dan diapun sudah menerjang dengan kedua kepalan tangan menyambar-nyambar dalam serangan bertubi . Namun, sekali Han Lin menggerakkan tangan setelah menghindar dengan langkah mundur, dia berhasil menangkap kedua pergelangan tangan si tinggi besar itu. Si tinggi besar muka hitam itu mengerahkan tenaganya untuk melepaskan kedua tangannya yang tertangkap, namun betapapun dia mengerahkan tenaga, sia-sia belaka karena kedua lengan itu seperti terjepit besi dan sama sekali dia tidak mampu menggerakkan kedua lengannya. Tiba-tiba Han Lin menggerakkan tangan kiri si tinggi besar yang dipegangnya dan tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi 223

besar itu menampar mukanya sendiri, disusul tangan ke dua sampai berkali-kali .

“Plak-plak-plak-plak !!” . Kedua pipinya bengkak dan bibirnya pecah pecah berdarah. Kemudian, Han Lin menotoknya dan si tinggi besarpun roboh tak berkutik lagi.

Han Lin menoleh kepada wanita muda yang masih menangis di atas pembaringan dan yang kini memandang kepadanya dengan sinar mata ketakutan

“Jangan takut, nona. Aku datang uk menolongmu dan menolong semua wanita yang diculik dan dipaksa ditempat ini. Untuk itu aku membutuhkan keterangan dan petunjukmu, maka marilah ikut denganku meninggalkan neraka ini.”

Mendengar bahwa pemuda yang lihai itu hendak membebaskannya, tentu saja gadis itu segera mengangguk-angguk dan cepat ia mengenakan baju rangkap dan sepatunya karena selama dikeram di pondok. itu ia tidak pernah diperbolehkan mengenakan sepatu untuk menjaga agar ia tidak melarikan diri.

Han Lin mengajaknya keluar lalu memondong tubuhnya dan berloncatan, menyelinap di antara pondok-pondok dan akhirnya dia berhasil meloncati pagar bambu tanpa ada yang dapat melihatnya. Dia mengajak gadis itu ke sebuah hutan di lereng bukit, lalu minta keterangan tentang sarang gerombolan itu. Dengan girang dia mendapat keterangan bahwa saat itu, semua pimpinan Hoat-kauw tidak berada di. sana, karena semua pergi entah ke mana gadis itu tidak mengetahuinya.

“Yang berada di sana kurang lebih limapuluh orang anggauta gerombolan. Lima orang yang biasanya menjadi. pimpinan disana, yaitu Bu-tek Ngo Siong, telah pergi sejak beberapa hari yang lalu.

“Dan berapa banyaknya wanita yang seperti. engkau, diculik dan dipaksa tinggal di sana?” 224

“Banyak sekali” Hampir semua anggauta gerombolan menculik wanita dan memaksanya menjadi, isterinya. Bahkan ada pula yang telah mempunyai. anak. Ada pula belasan orang gadis muda yang diculik. dan disekap dalam sebuah pondok yang dijadikan tempat tahanan para gadis itu, Ahh, sungguh buruk sekali nasib kami wanita-wanita dusun yang lemah dan bodoh Kami bagaikan sekawanan domba yang berada di tengah-tengah gerombolan srigala .. . ” gadis itu meratap sambil menangis.

“Sudahlah, nona, jangan menangis. Mari, kuantar engkau ke dusun Li-bun dan untuk sementara tinggallah dulu di sana. Kelak engkau dan para wanita itu akan diantar pulang,”

Han Lin lalu mengantar wanita itu ke dusun Li-bun dan Akui menerimanya dengan ramah.. Setelah. menceritakan tentang wanita itu kepada Akui. dan menyuruh Akui, menyediakan kamar untuknya, membiarkannya untuk sementara tinggal disitu, Han Lin lalu pergi menemui penduduk. Li-bun. Dia menceritakan segalanya kepada mereka dan mengajak mereka untuk. bersiap ikut menyerbu sarang gerombolan.

Pada keesokan harinya, sekitar duaratus orang pasukan dari Nam-san pagi-pagi sekali sudah tiba di Li-bun. Han Lin atas nama penduduk Li-bun menemui komandannya dan memberitahu bahwa penduduk akan membantu gerakan pasukan dan bahwa wani a-wanita yang berada di sarang gerombolan adalah penduduk dusun yang diculik karena itu mereka tidak berdosa Dia mengharap agar pasukan tidak mencelakai. mereka dan penduduk dusun akan membebaskan mereka. Komandan pasukan mengerti dan menyetujui permintaan itu.

Demikianlah, malam tadi berlalu tanpa ada persangkaan buruk dari para anggauta Hoat-kauw, maka tentu saja mereka menjadi panik ketika pagi-pagi sekali, pasukan yang besar jumlahnya datang menyerbu.

Han Lin memimpin penduduk Li-bun menyerbu melalui. 225

bagian belakang dengan membobol pagar, dan mereka membebaskan para wanita dan anak-anak. Akan tetapi tidak semua wanita mau dibebaskan. Bahkan ada di antara mereka yang membantu suami mereka melakukan perlawanan dan ikut gugur! Mereka adalah para wanita yang sudah jatuh cinta kepada penculik mereka.

Akan tetapi sebagian besar para wanita dengan gembira ikut membebaskan diri. Puluhan orang wanita dan kanak-kanak melarikan diri. Sementara itu para anggauta Hoat-kauw melakukan perlawanan mati-matian, akan tetapi karena pihak pasukan jauh lebih besar jumlahnya, dan mereka diserbu dengan mendadak sehingga tidak siap sedia akhirnya mereka berantakan. Sebagian besar dari mereka terbunuh dan hanya sedikit saja yang berhasil lolos dari maut, pada hal mereka adalah anggauta-anggauta Hoat-kauw yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan. Pasukan lalu membakar sarang gerombolan itu sampai rata dengan tanah.

Penduduk Li-bun lalu mengatur pemulangan para wanita itu ke rumah keluarga masing-masing, Han Lin menyerahkan pekerjaan ini kepada penduduk Li-bun karena dia sendiri segera berangkat ke Bukit Harimau untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw.

Kita kembali tiga tahun yang lalu Perkumpulan Nam-kiang-pang (Perkumpulan Selatan Sungai) merupakan perkumpulan silat yang terbesar di sebelah selatan Sungai Yang-ce-kiang. Nam-kiang-pang mempunyai sumber yang kuat dari Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai, maka para pimpinannya mempunyai kepandaian tinggi. Hal ini adalah karena pendirinya dahulu memang murid Bu-tong-pai yang kemudian menjadi murid Siauw lim-pai. Sampai sekarang hubungannya dengan kedua partai besar itu dekat.

Ketua Nam-kiang-pang bernama Tio Kui Po yang terkenal dengan julukan Thian-te Sin-to (Golok Sakti Bumi Langit). Dia berusia limapuluh tahun gagah perkasa dengan tubuh tinggi 226

tegap Ilmu silatnya hebat apa lagi ilmu goloknya.

Namun Tio-pangcu (ketua Tio) ini seringkali termenung dengan hati penasaran. Dia mempunyai banyak murid akan tetapi di antara sekian banyaknya murid, hanya ada seorang saja yang memiliki bakat yang baik. Nama murid ini Ciu Kang Hin seorang pemuda berusia duapuluh tahun. Pada hal yang dia harapkan dan sayang adalah seorang pemuda yang bernama Tio Ki Bhok, keponakannya sendiri. Namun pemuda yang usianya duapuluh tahun ini bahkan ketolol-tololan dan biarpun sudah digemblengnya istimewa namun hasilnya tidak memuaskan hatinya, bahkan mengecewakan Seringkali Tio-pangcu melamun dan bersedih.

Pada suatu sore, Tio-pangcu berjalan-jalan seorang diri di tepi sungai Bagian tepi sungai di situ sunyi sekali, Selagi Tio-pangcu berjalan sambil termenung, bermaksud pulang karena kepergiannya sudah cukup jauh dan dia tidak ingin kemalaman dijalan tiba-tiba dari balik semak belukar di tepi sungai nampak ada belasan orang berpakaian serba hitam dan mereka semua mengenakan topeng seperti yang biasa dipakai oleh orang-orang Beng-kauw,

Tigabelas orang itu mengepungnya dan sikap mereka mengancam. Tio-pangcu dengan tenangnya menghadapi mereka. Dia mengangkat kedua tangan depan dada dan berkata, “Cuwi. (anda sekalian) siapakah? Dan ada keperluan apakah menghadangku? Aku Tio Hui Po rasanya tidak pernah bermusuhan dengan cuwi .”

“Tio-pangcu, Nam-kiang-pang selalu memandang rendah kepada Beng-kauw kami, kini. kami, mendapat kesempatan untuk membuktikan sampai, dimana kepandaian ketua Nam-kiang-pang maka demikian sombongnya kepada kami.”

Tio-pangcu tepsenyum dan mengangguk-angguk. “Hemm, jadi kalian ini orang-orang Beng-kauw? Ketahuilah kita dipandang orang karena ulah kita sendiri dipandang tinggi atau rendah merupakan penggambaran dari perbuatan kita. 227

Siapa yang tidak tahu bahwa Beng-kauw adalah golongan sesat yang tidak pantang berbuat jahat? Tentu saja kalian dipandang rendah. Seperti yang kalian lakukan sekarang ini adalah perbuatan yang rendah.”

Belasan orang itu menjadi; marah. “Tio Hui Po manusia sombong rasakan pembalasan kami Mereka lalu menggerakkan senjata masing-masing mengeroyok Tio-pangcu. Orang-orang Beng-kauw itu menggunakan bermacam senjata yang aneh-aneh, dan Tio Hui Po segera mencabut goloknya.

Sinar golok yang dimainkan Tio-pangcu bergulung-gulung menyilaukan mata sehingga sukar bagi para pengeroyoknya untuk dapat menembus perisai sinar golok itu dengan senjata mereka. Pada saat itu muncul seorang pemuda yang dengan gagahnya menghardik, “Belasan Orang mengeroyok seorang saja. Pengecut!” Pemuda itu menggunakan pedang membantu Tio-pangcu dan ternyata gerakannya cukup hebat.

Tio Hui Po sebetulnya tidak perlu dibantu karena goloknya cukup kuat untuk melawan tigabelas orang itu. Malah dia merasa khawatir kalau-kalau” pemuda itu akan celaka di tangan orang-orang Beng-kauw yang lihai, maka dia memutar goloknya dengan cepat sambil mendekati pemuda itu untuk melindunginya. Akan tetapi terlambat. Apa yang dikhawatirkan terjadi. Tiba-tiba pemuda itu mengeluh dan pundaknya berdarah. Melihat ini Tio-pangcu menggerakkan goloknya lebih cepat lagi dan dua orang pengeroyok roboh. Akan tetapi pada saat itu seorang di antara para pengeroyok melepas benda peledak di atas tanah. Terdengar suara ledakan dan asap mengepul tebal. Tio-pangcu yang khawatir kalau asap itu beracun, cepat melompat dan menarik tangan pemuda itu, dibawa meloncat menjauhi asap, dan ketika mereka memandang, ternyata belasan orang itu sudah melarikan diri di balik asap.

Tio-pangcu membawa pemuda itu menjauh, dan tiba-tiba 228

pemuda itu mengeluh dan terkulai pingsan. Cepat Tio Hui Po merangkulnya dan memeriksa lukanya. Luka di pundak, untung tidak merusak tulang, hanya mengeluarkan banyak darah dan agaknya luka mengandung racun sehingga pemuda itu tak sadarkan diri. Cepat dia menotok beberapa jalan darah agar racun tidak menjalar makin jauh dan menggunakan obat menghisap racun, sambil membantu dengan penyaluran dengan tenaga sakti.

Akhirnya pemuda itu mengeluh, sadar dan bangkit. Seuntai kalung keluar dari batik baju di dadanya Melihat kalung itu, Tio-pangcu terkejut dan terheran-heran. Kalung itu sama benar dengan kalung yang selama ini disimpan dan dipakainya. Akan tetapi dia menahan gejolak hatinya dan diam saja. Ketika pemuda yang usianya sekitar delapanbelas tahun dan berwajah tampan itu membuka matanya, dia segera bangkit duduk dan memberi hormat kepada Tio-pangcu.

“Terima kasih atas pertolongan lo-cian-pwe Saya harus malu, saya yang mau membantu lo-cian-pwe malah di tolong.”

“Siapakah engkau, orang muda ilmu pedangmu cukup baik, akan tetapi agaknya engkau tidak tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang Beng-kauw yang berbahaya.

“Saya bernama Tong Seng Gun, locian-pwe. Kebetulan sekali saya berada di sini ketika melihat lo-cian-pwe dikeroyok banyak orang. Saya sedang mencari seseorang.”

“Siapa yang kaucari? Mungkin aku mengenalnya dan mengetahui di mana dia berada.”

“Dia adalah ketua perkumpulan Nam-kiang-pang, bernama Tio Hui Po. Apakah lo-cian-pwe mengenalnya?”

Tio-pangcu memandang tajam ketika menjawab, “Akulah yang bernama Tio Hui Po ketua Nam-kiang-pang. Orang muda, mau apakah engkau mencari aku?”

Orang muda itu terbelalak, nampak kaget sekali dan 229

memandang kepada Tio-pangcu, kemudian dia menjatuhkan dirinya sambil menangis.

Tio-pangcu menyentuh pundaknya mengangkatnya bangun dan tidak berlutut. “Tenanglah dan ceritakan kepadaku mengapa engkau mencari aku.”

.”Ah, lo-cian-pwe, beruntung sekali saya dapat bertemu dengan lo-cian-pwe setelah lama saya cari. Ketahuilah bahwa saya adalah keponakan dari mendiang Si-ang-cu Sianli ketua Ang-lian-pang (Perkumpulan Teratai Merah) di Hang-kouw

“Apa?” Tio-pangcu terkejut. “Si-ang-cu Sianli telah mati? Apa yang terjadi?”

“Tiga bulan yang lalu Ang-Han pang diserbu oleh Beng-kauw dan bibi tewas di tangan mereka”

“Ahhh Tio-pangcu mengepal tinju, memejamkan matanya dan membayangkan peristiwa yang terjadi duapuluh tahun yang lalu. Dia masih muda ketika itu dan belum menjadi ketua Nam kiang-pang. Dia bertemu dengan Siang-cu Sianli , keduanya masih muda dan Siang-cu Sianli juga baru menjadi calon ketua Ang-lian-pang. Keduanya saling jatuh cinta, akan tetapi sebagai calon ketua keduanya tentu saja tidak boleh menikah. Hubungan mereka akrab sekali, keakraban yang mendalam dan akhirnya karena tidak-dapat menahan diri, mereka melakukan hubungan badan. Ketika Siang-cu Sianli pergi menyembunyikan diri dengan dalih memperdalam ilmunya dan setelah ia melahirkan seorang anak laki-laki, ia membawa anak itu kepada Tio Hui Po dan menyerahkan anak itu kepada ayahnya. Hal ini terpaksa dilakukan karena la harus melakukan upacara pengangkatan sebagai ketua Ang-lian-pang. Hui Po menjadi pusing tujuh keliling ketika menerima anak laki-laki yang masih bayi itu. Dia sendiri adalah calon ketua Nam-kiang-pang Terpaksa dia menemui Tio Sun Po, adiknya yang sudah berkeluarga membawa anak itu dan mengatakan bahwa terpaksa membawa anak laki-laki itu karena ibunya tewas oleh penjahat dan anak itu tidak 230

mempunyai keluarga lagi Tio Sun Po menerima dan memelihara anak itu yang diberi nama Tio Ki Bhok, diaku anak oleh Tio Sun Po. Setelah anak itu berusia belasan tahun, Tio Hui Po yang sudah menjadi ketua Nam-kiang-pang mengambil nya dan melatih.”keponakannya” ini dengan ilmu silat. Demikianlah hal-hal yang teringat oleh Tio Hui Po pada saat itu. Kini bekas kekasihnya atau ibu Tio Ki Bok, Siang-cu Sian-li tewas oleh orang-orang Beng-kauw. Bahkan dia sendiri tadipun diserang orang-orang Beng-kauw!

“Akan tetapi, kenapa engkau mencari aku?” akhirnya dia bertanya.

“Maaf, lo-cian-pwe, sebelum meninggal dunia karena luka-lukanya, bibi Siang-cu menyerahkan kalung ini kepada saya dan minta agar saya mencari lo-cian-pwe dengan pesan agar lo-cian-pwe sudi menerima saya menjadi murid, agar kelak saya dapat membalaskan sakit hati ini kepada Beng-kauw.”‘

Tio-pangcu menerima kalung itu, mengamatinya sejenak dan dia yakin bahwa itu adalah kalung yang diberikannya kepada kekasihnya dahulu. Dia termenung dengan hati sedih membayangkan kekasihnya itu terbunuh oleh orang Beng-kauw. Dan dia teringat bahwa di antara muridnya tidak ada yang berbakat kecuali hanya seorang, maka tidak ada jelek nya memenuhi permintaan terakhir dari Siang-cu Sian-li. Apa lagi dia tadi sudah melihat bahwa pemuda ini memiliki gerakan yang cukup tangkas.

“Baiklah, Seng Gun. Demi Siang-cu Sian-li aku menerima engkau menjadi muridku.” katanya. Mendengar ini, dengan girang Seng Gun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tio-pangcu. Demikinlah, mulai saat itu, Seng Gun menjadi murid Tio-pangcu.

Sama sekali Tio Hui Po tidak pernah menduga bahwa dia telah memelihara anak harimau yang buas dan kelak akan membahayakan dirinya. Seperti kita ketahui, Seng Gun adalah cucu yang diangkat putera oleh Kwi-jiauw Lomo seorang di 231

antara Sam Mo-ong yang menjadi utusan orang Mongol Dan Seng Gun menerima tugas khusus dari Sam Mo-ong untuk” membantu gerakan Hoat-kauw. Para penyelidik Hoat-kauw menyelidiki partai-partai persilatan dan aliran yang tidak mau di ajak kerjasama dan melakukan siasat adu domba di antara mereka. Musuh utamanya yang terkuat adalah Beng-kauw karena Beng-kauw memiliki banyak orang pandai. Karena itu mereka berusaha untuk membuat Beng-kauw dimusuhi semua aliran dengan melakukan perbuatan fitnah yang dijatuhkan kepada Beng-kauw. Perkumpulan Ang-sin-liong yang diketuai oleh Siong-cu Sian-li diserbu dengan menyamar sebagai orang-orang Beng-kauw, dan mereka berhasil membunuh Siang-cu Sian-li. Mereka sudah menyelidiki dan mengetahui rahasia Tio pangcu, maka Seng Gun mendapat tugas rahasia untuk menyusup dalam Nam-kiang pang sebagai keponakan Siang-cu Sian-li. Hal ini adalah karena pihak Hoat-kauw maklum betapa lihainya Thian-te Sin-to Tio Hui Po, dan nama besar Nam-kiang-pang amat berpengaruh sehingga kalau mereka dapat menguasai Nam-kiang pang, maka akan mudah sekali untuk menggerakkan perkumpulan lain untuk me musuhi Beng-kauw.

Hampir dua tahun Seng Gun menerima gemblengan dari Tio-pangcu. Dia menyembunyikan kepandaiannya sendiri sehingga baik suheng-suhengnya maupun suhunya sendiri tidak tahu bahwa dia telah memiliki kepandaian tinggi, ketika dia membantu Tio-pangcu dua tahun yang lalu, menghadapi pengeroyokan orang-orang Beng-kauw yang sebetulnya adalah anak buah Hoat-kauw yang menyamar, dia tidak memperlihatkan ilmunya maka Tio-pangcu yang lihaipun dapat dia kelabui .

Selama dua tahun dia sudah mempelajari banyak, dan mungkin hanya sedikit di bawah suhengnya Ciu Kang Hin. Diam-diam Tio-pangcu girang mendapat kenyataan bahwa Seng Gun amat berbakat, tidak kalah dibandingkan dengan Kang Hin sehingga kini dia mempunyai dua orang murid yang 232

boleh diandalkan.

Biarpun sudah menerima gemblengan yang sungguh-sungguh dari Tio-pangcu, Seng Gun yang haus akan ilmu itu masih merasa penasaran sekali karena gurunya belum juga mengajarkan Thiante-to-hoat (Ilmu Golok Bumi Langit).

Gurunya selalu mengatakan belum waktunya namun menjanjikan kepada Kang Hin dan Seng Gun, karena hanya dua murid inilah yang tingkatnya sudah cukup untuk mewarisi ilmu golok yang telah mengangkat nama besarnya itu, Seng Gun merasa penasaran. Kerap kali diam-diam dia menyelidiki dan mencari-cari dalam ruang perpustakaan Nam-kiang-pai, pada hal kalau tidak mendapat ijin khusus dari Tio-pangcu, siapapun dilarang mengaduk kitab-kitab di ruangan itu.

Pada suatu malam, ketika dia sedang mencari kitab dan membuka-buka kitab lama di perpustakaan itu, berkelebat empat bayangan orang dan Seng Gun terkejut melihat dua orang susiok (paman/guru) dan dua orang suheng telah berada disitu dengan pedang di tangan.

“Susiok suheng ada apakah?” tanyanya khawatir karena empat orang itu memandangnya dengan penuh ke curigaan.

“Tong-sute, apa yang kau lakukan di sini?” tanya So Liong, seorang diantara kedua suhengnya sambil memandang penuh kecurigaan.

“Aku tidak melakukan apa-apa, suheng, hanya membersihkan debu dari kitab-kitab ini.” jawab Seng Gun dengan sikap wajar.

“Seng Gun, engkau tentu sudah tahu bahwa dilarang keras kepada siapapun juga untuk membaca kitab di sini tanpa ijin khusus dari Pangcu!” kata Cang Hok, seorang susioknya. Seng Gun memang sudah lama mengetahui bahwa dua orang susioknya dan dua orang suhengnya ini tidak suka kepadanya, mungkin karena iri hati melihat dia disayang Tio-pangcu dan dilatih ilmu-ilmu simpanan. Akan tetapi dia tetap tenang dan 233

menjawab. dengan wajar.

“Susiok, saya tidak membaca kitab, hanya melihat-lihat saja sambil membersihkan. Kalau saya dianggap bersalah, saya siap dilaporkan kepada suhu dan menerima hukuman.” Dalam ucapan itu terkandung pengakuan salah, akan tetapi juga ancaman untuk melaporkan kepada ketua. Dia maklum bahwa suhunya yang sayang kepadanya tidak akan memarahinya hanya karena urusan sekecil itu .

Empat orang itupun menyadari akan hal ini. Mereka memang merasa tidak suka kepada Seng Gun dan merasa curiga kepada pemuda yang pandai membawa diri itu Ingin sekali mereka membuktikan Seng Gun melakukan suatu kesalahan besar, maka mereka seringkali melakukan pengintaian. Bahkan pernah mereka melakukan penggeledahan dalam kamar pemuda itu secara diam-diam Seng Gun sudah mengetahui akan hal ini.

“Kami belum melihat engkau melakukan kesalahan besar,” kata Cang Hok. “Akan tetapi engkau sudah melakukan pelanggaran. Kita semua harus menjaga tempat ini, jangan sampai dimasuki musuh yang akan mencuri kitab-kitab Nam-kiang-pang.”

“Saya mengaku bersalah, lain kali tidak akan berani lagi” kata Seng Gun menundukkan mukanya yang. berubah merah karena diam-diam merasa mendongkol sekali.

Mulai saat itu, dia bersikap hati-hati sekali dan diam-diam mencari akal untuk melenyapkan empat orang yang dapat membahayakan dirinya itu.

Pada suatu senja, seperti biasa dia berjalan seorang diri di luar perkampungan Nam-kiang-pang. Sudah sering dia melakukan hal ini, sebagai umpan untuk memancing kecurigaan. keempat orang itu dan sekali ini dia berhasil baik. Empat orang itu, diam-diam telah membayanginya! Hal ini mudah diketahuinya karena memang tingkat kepandaiannya, 234

tanpa disadari oleh mereka jauh lebih tinggi dari pada tingkat mereka. Pernah dia memancing kecurigaan. dua tiga orang di antara mereka, akan tetapi belum pernah keempat-empatnya . Akan tetapi hari ini benar-benar dia berhasil. Empat orang itu terpancing dan membayanginya.

Seng Gun sengaja melakukan gerak gerik mencurigakan. Beberapa kali dia menoleh ke kanan kiri dan kebelakang, kemudian menyelinap di antara pohon-pohon sambil mengintai ke sekeliling, kemudian dia lari dengan cepat menuju ketepi sungai, menyusuri sungai menuju ke barat. Diam-diam dia memperhatikan dan merasa girang melihat berkelebatnya empat bayangan susiok dan suhengnya yang masih tetap membayanginya. Setelah tiba ditempat yang dikehendaki, dia meniup sempritan yang mengeluarkan suara melengking panjang.

Dari sebuah perahu kecil yang memang sudah siap di situ, berlompatan lima orang yang mengenakan kedok hitam dan mereka ini segera menerjang empat orang anggauta Nam-kiang-pang yang mengintai Seng Gun! Mereka diserang secara mendadak. Tentu saja kakak beradik Cang Hok dan Cang Sui , bersama dua orang murid keponakan mereka, terpaksa muncul dari persembunyian mereka dan melawan mati-matian.

Akan tetapi ternyata kelima orang itu lihai bukan main. Dari cara mereka berpakaian dan dari kedok yang menyembunyikan muka mereka dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang Beng-kauw. Melihat mereka sudah bertempur, Seng Gun berlari menghampiri menggerakkan goloknya dan dia ikut menyerang murid-murid Nam-kiang-

pang !

“Pengkhianat!” Cang Hok berseru marah dan dia menyerang Seng Gun dengan goloknya. Akan tetapi ketika Seng Gun menangkis, dia terkejut bukan main. Goloknya hampir terlepas dari pegangan, dan ketika pemuda itu 235

menyerangnya, dia semakin kaget karena ilmu golok yang dimainkan Seng Gun amat hebatnya. Juga tiga orang kawannya menghadapi lawan berat. Coa An Hok dan So Liong telah lebih dulu roboh oleh senjata lawan. Adiknya Cang Sui, yang juga membela diri mati-matian, melawan seorang lawan yang agaknya seorang wanita, karena lawan itu mengeluarkan suara tawa merdu dan menggerakkan pedangnya secara istimewa sekali.

Ternyata Cang Sui juga tidak dapat bertahan lama. Sebuah tusukan menembus dadanya dan dia roboh tanpa bersuara lagi. Pada saat itu terdengar teriakan, “Hentikan perkelahian!” Seng Gun mengenal suara Cu Kang Hin, maka cepat dia berbisik kepada wanita yang memimpin serangan itu “Cepat, robohkan yang seorang ini dan serang aku!”

Dia sendiri lalu berbalik menyerang mereka yang berkedok sedangkan wanita berkedok yang baru saja merbbohkan Cang Sui, sudah menyerang Cang Hok dengan gerakan yang dahsyat. Seperti juga adiknya, Cang Hok tidak mampu menghindarkan diri dariserangan maut ini dan diapun roboh dengan leher hampir putus!

Ciu Kang Hin melihat dari jauh ketika rekan-rekannya bertanding melawan lima orang berkedok yang lihai sekali. Dia terkejut dan marah melihat dua orang susiok dan dua orang sutenya roboh, dan hanya tinggal sutenya Seng Gun saja yang nampaknya masih dapat bertahan. Segera dia terjun. Akan tetapi pada saat itu dia melihat Seng Gun

roboh dan berteriak, “Tolong suheng !”

Dia melihat lima orang berpakaian dan berkedok hitam itu berloncatan ke dalam sebuah perahu kecil yang segera didayung ke tengah sungai , Terpaksa dia tidak dapat mengejar dan segera menghampiri Seng gun yang merintih.

Tadi Kang Hin merasa curiga melihat Seng Gun seorang yang masih bertahan sedangkan dua orang susiok dan dua 236

orang sute yang lain telah roboh. Akan tetapi ketika dia melihat bahwa paha kanan Seng Gun terluka, kecurigaannya lenyap. Luka itu mengeluarkan banyak darah, akan tetapi tidak berbahaya. Ketika dia memeriksa yang lain, Kang Hin terkejut karena keempat orang rekan itu telah tewas. Juga Seng Gun menangis ketika melihat dua orang susiok dan dua orang suheng tewas dalam keadaan menyedihkan. “Suatu saat akan kubasmi orang-orang Beng-kauw!” Berulang-ulang dia berseru sambil mengepal tinju.

“Sute, apakah yang telah terjadi di sini? Kenapa kalian dapat bentrok dengan orang-orang Beng-kauw?”

“Aku juga tidak tahu mengapa, suheng.” kata Seng Gun sementara suhengnya memeriksa dan mengobati lukanya.

“Ketika aku berjalan-jalan dan tiba di sini, kulihat Coa suheng, So suheng dan kedua orang susiok sedang dikeroyok lima orang tadi dan ternyata mereka lihai bukan main. Tentu saja aku lalu membantu, akan tetapi terlambat, bahkan aku sendiri terluka. Untung engkau datang, suheng, kalau tidak, akupun tentu sudah tidak berada di dunia lagi. Mereka begitu ganas dan kejam, orang-orang Beng-kauw terkutuk!”

“Hemm, sute, bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka itu orang-orang Beng kauw!” tanya Kang Hin dengan tenang sambil membalut paha Seng Gun,

Seng Gun terbelalak memandang ke pada Kang Hin. “Siapa lagi kalau bukan mereka, suheng? Lihat saja cara mereka berpakaian berkedok dan mereka sudah sejak dahulu memusuhi kita. Suhu sendiri pernah di serang

“Aku tidak yakin, sute Justeru kedok-kedok itu yang memungkinkan sia-pa saja menyamar sebagai orang Beng-kauw dan kita menerimanya dengan mudah seolah Beng-kauw pelaku segala bentuk kejahatan.”

“Tapi, suheng. Aku yakin mereka itu orang-orang Beng-kauw.” 237

“Apa alasanmu, sute? Apa bukti-nya? Apakah mereka mempergunakan ilmu khas Beng-kauw?”

Seng Gun termenung. “Aahh, aku mendengar tadi seorang di antara mereka mengatakan begini, Baru kau tahu Beng-kauw tidak boleh dibuat sembarangan. Nah, mereka jelas orang Beng-kauw, suheng.”

Kang Hin mengerutkan alisnya. “Kalau benar seorang di antara mereka berkata begitu, boleh jadi mereka itu orang Beng-kauw. Sayang aku datang terlambat untuk dapat membuktikan sendiri .”

“Hei, suheng! Apakah engkau sudah tidak percaya kepadaku? Apakah kau kira aku berbohong?”

“Bukan begitu, sute.. Aku hanya ingin yakin. Bayangkan saja kalau kemudian ternyata bahwa kita salah duga, bahwa mereka itu bukan Beng-kauw, dan kita sudah terlanjur memusuhinya.”

“Aku berani sumpah dan yakin benar mereka itu Beng-kauw, suheng. Bahkan suhu juga sudah yakin mereka itu Beng-kauw itu, sengaja mencari permusuhan dengan kami. Siapa yang tidak tahu orang macam apa Beng-kauw itu? Ang-lian-pang dibasmi habis, bibiku tewas di tangan mereka, apakah itu bukan bukti yang paling Jelas? Suhu sendiri pernah diserang dan dikeroyok, apakah itu masih meragukan?”

“Sudahlah, sute. Aku tidak meragukanmu, hanya ingin cermat. Mari kita laporkan musibah ini kepada suhu.”‘

Dengan terpincang-pincang Seng Gun mengikuti suhengnya kembali ke perkampungan Nam-kiang-pang dan tentu saja para angauta perkumpulan itu menjadi gempar ketika mendengar bahwa empat orang rekan mereka tewas terbunuh di tepi sungai itu. Tio-pangcu sendiri dengan pakaian berkabung berjalan mondar mandir di depan empat buah peti mati itu sambil berulahg kali menghela nafas panjang dan dengan alis berkerut. 238

Setelah upara perkabungan dan pemakaman empat orang tokoh Nam-kiang-pang selesai, Tio-pangcu memanggiI semua sutenya dan muridnya dan di depan mereka dia menyatakan bahwa dia memilih Ciu Kang Hin dan Tong Seng Gun sebagai ahli waris yang akan mewarisi ilmu Thian-te To-hoat. Hal ini berarti pula bahwa dia telah mengangkat dua orang muda itu sebagai calon pimpinan Nam-kiang-pang. Sudah menjadi peraturan Nam-kiang-pang bahwa ketuanya dan pimpinan tertingginya harus orang yang menguasai Thian-te To-hoat dan ilmu ini hanya dapat diperoleh secara turun temurun.

Setelah itu Tio-pangcu mengajak kedua orang murid utama ini keruangan sembahyang dan di depan meja sembahyang para guru besar Nam-kiang-pang ke dua orang murid ini disuruh berlutut dan mengucapkan sumpah setia. Demikian lah, sejak hari itu keduanya digembleng ilmu golok yang dahsyat itu. Tentu saja diam-diam Seng Gun merasa gembira sekali karena hal ini merupakan satu di antara tujuannya menyusup kedalam Nam-kiang-pang. Dia harus dapat menguasai Nam-kiang-pang dan menghasut partai-partai besar untuk memusuhi Beng-kauw, kemudian saling bermusuhan sehingga melemahkan mereka dan Hoat-kauw akan dapat menguasai dunia kangouw. Kalau sudah begitu, bangsa Mongol akan dengan mudahnya menyerbu keselatan di setiap tempat tentu akan dibantu orang-orang kangouw yang sudah takluk kepada Hoat-kauw!

Seng Gun seakan berlomba dengan Kang Hin untuk menguasai ilmu golok itu. Hal ini menyenangkan hati Tio Hui Po karena kedua orang murid itu benar-benar memperoleh kemajuan pesat sekali, sehingga dalam waktu setengah tahun, saja, keduanya sudah menguasai ilmu golok Thian-te To-hoat dengan baik.

Hari itu Tio-pangcu mengumpulkan lagi semua muridnya dan menyatakan perang dengan Beng-kauw.””Kita harus membasmi Beng-kauw dan melenyapkan mereka dari muka 239

bumi. Bunuh semua anggauta Beng-kauw, berikut seluruh keluarga mereka!”” kata Tio Hui Po.

“Maaf, suhu. Teecu khawatir kalau keliru menangkap pesan suhu. Suhu memerintahkan untuk membasmi seluruh anggauta Beng-kauw berikut keluarganya?”

Sepasang mata Tio Hui Po mencorong dan para anggauta Nam-kiang-pang memandang kepada Ciu Kang Hin dengan heran. “Bagaimana bisa keliru menangkap, Kang Hin? Engkaulah yang akan menggantikan aku menjadi ketua, engkau juga yang akan memimpin Nam-kiang-pang membasmi Beng-kauw!”

“Maaf, suhu. Kalau teecu meragukan perintah itu, adalah karena perintah itu tidak sesuai dengan sikap suhu selama ini, suhu selalu bersikap bijaksana, dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar.”

“Kang Hin!” gurunya membentak. “Apa kaukira Beng-kauw ada yang benar? Mereka membasmi Ang-lian-pang , membunuh para pemimpinnya. Mereka telah menyerangku tanpa sebab, bahkan kemudian membunuh Cang Hok, Cang Hui, Coa An Hok, dan So Liong tanpa sebab-pula. Apakah itu belum cukup membuktikan kejahatan mereka? Kalau mereka tidak dibasmi, tentu mereka akan merajalela. Membasmi rumput liar harus ke akar-akarnya.”

“Suhu, teecu akan berdiri di barisan paling depan untuk membasmi Beng kauw!” Seng Gun berkata kepada gurunya yang sedang marah. “Teecu akan memberi contoh dan semangat kepada suheng.”

“Bagus, memang seharusnya Kang Hin dapat merasakan apa yang kau rasakan. Selain itu, Kang Hin bersiaplah engkau karena setelah saatnya tiba aku akan menyerahkan kedudukan ketua kepadamu tentu saja kalau kuanggap engkau sudah cukup dewasa untuk mernimpin Nam-kiang-pang sesuai dengan cita-cita ku.” 240

Kang Hin memberi hormat, tidak berani lagi membantah walaupun didalam hatinya dia tidak suka menjadi ketua kalau diharuskan membasmi Beng-kauw Sebetulnya bukan sekali-kali dia memihak Beng-kauw, hanya dia tidak dapat menerima kalau Beng-kauw harus dibasmi seluruhnya. Bagi dia, setiap golongan tidak dapat disebut semuanya baik atau semuanya buruk. Pasti ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang jahat tentu pula ada yang tidak jahat. Kalau semua harus dibunuh tanpa pilih bulu, lalu yang tidak jahat ikut pula terbunuh, sungguh suatu hal yang tidak patut dilakukan seorang gagah! Dia sendiri mendapat pengertian ini dari gurunya, maka kalau sekarang suhunya bersikap seperti itu hal ini adalah karena suhunya sudah mabok dendam dan sakit hati sehingga tidak mampu lagi membedakan antara yang benar dan yang salah.

Tio-pangcu lalu mengirim undangan kepada semua partai persilatan, terutama sekali Siauwlimpai dan Butong pai, dan setelah semua wakil hadir dia menceritakan tentang apa yang diperbuat Beng-kauw kepada Nam-kiang-pang. Betapa Beng-kauw menyerangnya tiga tahun yang lalu, kemudian tanpa sebab menyerang dan membunuh dua orang , sutenya dan dua orang muridnya.

“Oleh karena itu, demi menjaga keamanan di dunia kangouw, dan demi menegakkan kebenaran dan keadilan, kami memohon pengertian para sahabat di dunia kangouw dan mengajak para sahabat untuk bersama-sama memusuhi dan membasmi gerombolan Beng-kauw.” kata Tio Hui Po.

“Wah, itu lebih mudah diucapkan dari pada dilaksakan!” kata Yu-pangcu ketua Kong-thong-pai yang kebetulan dapat hadir sendiri karena pusat perkumpulan itu tidak terlalu jauh dari Nam-kiang-pang. Dia seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang tinggi kurus dan berjenggot panjang. “Siapa yang tidak tahu akan kelihaian para pimpinan Beng-kauw? Selain memiliki ilmu yang aneh-aneh, juga dua macam ilmu Matahari 241

Merah dan Salju Putih kiranya sukar dicari tandinganya!”

Banyak wakil perkumpulan yang hadir menganggukkan kepala menyetujui pendapat ini.

“Maaf, Yu-pangcu. Kalau hendak membasmi penjahat yang masuk hitungan adalah kejahatannya, bukan kepandaiannya. Betapapun lihainya, kalau dia ja-hat dan membahayakan masyarakat, harus kita basmi. Karena mereka itu lihai , maka kami mengundang cuwi untuk bekerjasama, Betapapun lihainya musuh kalau kita bekerja sama, masa tidak dapat ditumpas? IImu Matahari Merah dan Salju Putih boleh jadi hebat, akan tetapi Thian-te To-hoat kami kiranya akan mampu menghadapinya! Apalagi ilmu-ilmu dari Siauwlimpai, Butongpai , Kun-lunpai dan Gobipai, tidak kalah dibandingkan dengan.ilmu yang manapun juga.

Kembali banyak orang menyatakan setuju dan mereka kembali bersemangat. Tio-pangcu ingin sekali mendengar pendapat dua partai besar yang juga menja di sumber dari partainya, yaitu Siauw-limpai dan Butongpai. Karena dua partai besar ini tidak dihadiri oleh ketuanya hanya oleh wakilnya, maka dia bertanya kepada mereka.

“Kami mohon pendapat suhu dari Siauwlimpai dan totiang dari Butongpai.” Mendengar ini, hwesio Siauwlimpai dan tosu Butongpai saling pandang dan tersenyum.

“Omitohud, kalau mencegah terjadinya kejahatan, itu memang menjadi tugas kami, akan tetapi memusuhi aliran tertentu, hal itu harus ada perintah dari pimpinan kami. Pinceng hanya akan melaporkan pertemuan hari ini kepada pimpinan kami, tidak berani pinceng mengambil keputusan sendiri.”

“Siancai ….. ucapan sobat dari Siauwlimpai itu memang cocok sekali. Pinto hanya dapat mengatakan bahwa Bu-tong-pai menentang semua perbuatan jahat, menentang orang yang melakukan perbuatan jahat yang sudah terbukti. Baik dia 242

orang Beng-kauw atau orang Bu tong-pai sendiri, kalau perbuatannya jahat, pasti kami tentang. Oleh karena itu, memusuhi dan membasmi semua orang Beng-kauw, tidak perduli dia sudah melakukan kejahatan atau belum, pinto tidak berani memberi keputusan, haruslah melalui keputusan rapat para pimpinan. Pinto akan melaporkan hasil pertemuan saat ini .”

Demikianlah, rapat itu selesai dan yang mendukung usul Tio-pangcu adalah perkumpulan-perkumpulan kecil, terutama yang memang sudah mempunyai permusuhan dengan Beng-kauw. Sedangkan perkumpulan lain seperti Siauwlimpai dan Butongpai akan melaporkan dulu kepada pimpinan mereka.

Dan mulai hari itu, orang -orang Beng-kauw dikejar-kejar oleh banyak perkumpulan. Terutama sekali oleh Nam-kiang-pang yang dipimpin oleh Seng Gun dan Kang Hin.

Seng Gun maklum bahwa kalau d.ia tidak dapat melempar fitnah meyakinkan kepada Kang Hin, pasti gurunya akan memilih Kang Hin sebagai calon ketua. Dia sendiri masih ragu untuk menyerang Kang Hin, karena dia tahu bahwa dalam ilmu golok, dia masih tidak mampu menandingi pemuda perkasa itu. Akan tetapi Kang Hin lembut hati dan kalau dia dapat membuat pemuda itu tersudut, tentu dia dapat menguasainya. Juga dalam pembasmian orang-orang Beng-kauw, jelas Kang Hin memperlihatkan sikap tidak tega kalau yang dibunuh itu tidak jelas kesalahannya. Ketika mereka menyerbu rumah seorang anggauta Bengkauw di dusun sebelah barat bukit. Dia dan anak buahnya menyerbu rumah itu. Anggauta Beng-kauw yang sudah lama keluar dari Beng-kauw itu tidak melakukan perlawanan yang berarti dan segera dapat dibunuhnya dengan mudah. Isterinya yang masih muda 243

dan dua orang anaknya minta-minta ampun, dan Kang Hin hendak melepas mereka, akan tetapi Seng Gun berkeras membunuhnya. Kang Hin membuang muka ketika peristiwa itu terjadi dan ketika pulang dia mengomeli sutenya. Kelemahan inilah yang akan dipergunakan oleh Seng Gun yang diam-diam menghubungi sekutunya. Seperti biasanya, Bi-sin-liong Kwa Lian, wanita cantik tokoh Hoat-kauw yang selain sekutunya juga menjadi kekasihnya itu, segera mengulurkan tangan membantunya. Dahulu, ketika hendak menyusup masuk ke Nam-kiang-pang, wanita itu bersama anak buahnya juga telah menyamar sebagai orang-orang Beng-kauw dan menyerang Tio Hui Po. Kini, mendengar laporan Seng Gun bahwa yang akan diangkat sebagai ketua Nam-kiang-pang adalah Ciu Kang Hin, Bi-sin-l iong Kwa Lian se gera menyatakan siap untuk membantu.

Demikianlah, pada suatu -malam Seng Gun mendatangi kamar Kang Hin dan dengan suara berbisik dia berkata, “Suheng, aku bertemu dengan seorang Beng-kauw.”

Kang Hing terkejut. “Eh, di mana, sute? Dan bagaimana engkau tahu dia seorang Bengkauw?”

“Ia seorang wanita, suheng, dan ia memakai kedok aneh Ia tak berada jauh dari sini, tentu ia seorang Beng-kauw. Mari kita selidiki suheng, dan kalau perlu kita tangkap ia. Mari sebelum ia pergi!”

Karena Seng Gun tidak banyak bicara lagi dan sudah pergi, terpaksa Kang Hin mengikutinya. Dua orang pemuda perkasa itu menyusup-nyusup keluar dari perkampungan Nam-kiang-pang dan Seng Gun yang menjadi penunjuk jalan berlari didepan, diikuti oleh Kang Hin yang berjalan dengan hati-hati.

Di tepi sungai Yang-ce-kiang Seng Gun berhenti, mendekam dibalik semak semak dan suhengnya berlutut disebelahnya. “Lihat perahu itu, suheng. Ia tadi berada di situ.” 244

“Sute, kita harus berhati-hati, jangan sembarangan menuduh bagaimana kalau kita menuduh orang yang tidak berdosa?”

“Ah, bagaimana aku bisa keliru, suheng? Biar engkau menjadi penonton saja, aku akan menangkapnya. Kalau dia terlalu lihai bagiku, .baru kau turun tangan membantuku.”

“Baiklah, sute, akan tetapi jangan salah membunuh orang.” Seng Gun mengangguk lalu dia meloncat keluar mendekati perahu dan mencabut goloknya .

“Keparat dari Beng-kauw, keluarlah untuk menerima kematian!” Hening sesaat, akan tetapi kemudian dari dalam bilik perahu muncul sesosok bayangan hitam yang gesit sekali.

Mudah dilihat dibawah sinar bulan hampir purnama bahwa bayangan itu adalah seorang wanita yang bertubuh ramping karena pakaiannya ketat. Akan tetapi wajahnya tidak dapat dilihat karena megenakan kedok yang aneh, dan sebagian besar anggauta Beng-kauw yang sudah tinggi tingkatnya suka menyembunyikan mukanya dibalik kedok agar tidak dikenal orang.

Seorang laki-laki tukang perahu yang pakaiannya sederhana, juga keluar dari perahunya dengan tubuh menggigil. Dia tadi dipaksa untuk mendayung perahunya oleh si kedok hitam.

“Saya bukan orang Beng-kauw …” dia meratap ketakutan. Akan tetapi Seng Gun tanpa banyak cakap lagi meng-ayun goloknya. Darah tersembur keluar dari leher yang terpancung itu. Si wanita berkedok juga berkata, “Aku bukan orang Beng-kauw.” Sambil mencabut pedangnya, ia berusaha untuk melompat menjauh. Akan tetapi Seng Gun sudah bergerak mengejarnya dan menyerang dengan goloknya.

“Tranggg ….!” Bunga api berpi-jar ketika wanita berkedok itu menangkis dengan pedangnya. Ia lalu membalas serangan Seng Gun dan terjadilah perkelahian yang seru. 245

Melihat betapa sutenya menyerang dengan mati-matian, apa lagi telah membunuh tukang perahu dengan kejam, Kang Hin berulang-ulang berseru kepada sutenya..”Sute, jangan bunuh orang….!”

Akan tetapi Seng Gun tidak memperdulikan seruan suhengnya dan dia mendesak terus sampai akhirnya goloknya dapat memukul pedang lawan sehingga terlepas dan sebuah tendangan darinya membuat wanita itu terpelanting.

“Mampus kau, iblis Beng-kauw!” Bentaknya dan goloknya menusuk’.

“Trang !” Goloknya tertangkis oleh golok di tangan Kang Hin.

Seng Gun memandang kaget dan heran. “Suheng, kau membantu Beng-kauw?” teriaknya heran.

“Jangan bodoh, sute. Aku tidak membantu siapa-siapa. Aku hanya mencegah engkau membunuhi orang yang belum tentu bersalah. Kau menuduh semua orang sebagai Beng-kauw tanpa dibuktikan dulu, dan kau membunuh orang begitu mudahnya.”

“Akan tetapi, suheng Ia ini jelas sekali orang Beng-kauw, dan suhu sudah berpesan agar kita membunuh semua orang Bengkauw,” bantah Seng Gun dan dia hendak menggerakkan golok lagi menyerang wanita itu Akan tetapi Kang Hin menangkis dengan goloknya.

“Tahan dulu, sute. Aku tidak menghendaki engkau membunuh orang yang tidak bersalah. Heii, sobat, apakah benar engkau orang Beng-kauw?” tanyanya kepada wanita itu.

“Aku bukan orang Bengkauw,”‘wanita itu berkata sambil bangkit berdiri.

“Bohong! Orang Beng-kauw mana ada yang mau mengaku? Ke mana-mana pakai kedok!” kata Seng Gun. 246

“Kalau kau bukan orang Bengkauw, buka kedokmu,” kata Kang Hin.

Wanita itu lalu membuka kedoknya dan seraut wajah yang cantik nampak di bawah sinar bulan. Seorang wanita muda yang cantik sekali, dengan senyumnya yang manis dan kerlingnya yang tajam.

“Siapa engkau?” Kang Hin bertanya .

‘Namaku Bi Hwa, aku aku lari dari suamiku dan memakai kedok agar tidak dikenal suamiku. Aku tidak mau kembali lagi kepadanya, dia kasar dan tidak cinta lagi padanya. Lepaskan aku “

“Hemm, alasan yang dicari-cari! Aku tetap menyangka ia ini orang Bengkauw yang patut dibunuh, suheng.”

“Tidak boleh, sute. Bagaimana kalau dibuktikan kemudian bahwa ia bukan orang Bengkauw dan sudah terlanjur dibunuh?”

“Hemm, apakah kita harus melepas kan ia begitu saja karena ia seorang wanita cantik?” Seng Gun bertanya dengan nada mengejek.

“Sute….!” Kang Hin berseru marah dan pandang matanya mencorong, alisnya berkerut.

“Maaf, suheng Aku hanya berkelakar Lalu mau diapakan perempuan ini?” Dilepas begitu saja?’

“Kita boleh menawannya untuk besok dihadapkan suhu. Kalau kemudian dia tidak bersalah, terpaksa harus kita lepaskan. Kita tawan ia dan kira selidiki kebenaran omongannya. Nona, di mana rumah suamimu itu?” tanya Kang hin.

“Di balik bukit itu, akan tetapi aku tidak mau kembali kepadanya.”

.”Engkau tidak harus kembali kepadanya. Kami hanya ingin 247

menyatakan kebenaran omonganmu. Siapa namanya?”

, “Namanya Tan Seng, tinggal di dusun Kam-cui di balik bukit.”

Kang Hin menggerakkan tangan menotok pundak wanita itu yang segera terkulai lumpuh. “Aku harus membelenggunya,” kata Seng Gun yang menyambar tubuh yang akan jatuh itu. Kemudian dia mengikat kaki tangan wanita itu dengan kain ikat pinggangnya, dan memanggul tubuh yang sudah tidak mampu berkutik itu. “Ke mana kita harus membawa nya, suheng?” tanyanya.

Kita masukkan dalam tahanan di perkampungan kita. Tidak perlu mengagetkan suhu dengan urusan kecil ini. Besok saja kalau kita sudah mendapat keterangan jelas, kita membuat laporan,”

“Baik, suheng,” kata Seng Gun yang memondong tubuh itu dan dia lalu menendang mayat si tukang perahu berikut kepalanya ke dalam air. Melihat ini, Kang Hin diam saja akan tetapi dia mengerutkan alisnya, menganggap sutenya itu terlalu kejam terhadap musuh. Padahal tukang perahu itu belum tentu orang Bengkauw.

Dua orang pemuda itu kembali ke perkampungan. Kepada beberapa orang anggauta Nam-kiang-pang yang melakukan perondaan mereka mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki wanita yang dianggap mencurigakan ini, dan minta kepada mereka agar melakukan penjagaan dan jangan mengganggu wanita yang dijebloskan ke dalam kamar tahanan itu.

Seng Gun menurunkan tubuh yang masih lemas tertotok dan yang kaki tangannya terbelenggu kuat itu ke atas lantai ke mudian setelah menutupkan pintunya, dia pergi lagi bersama Kang Hin.

Seperti terbang saja, kedua suheng dan sute itu mempergunakan ilmunya, berlari cepat di tengah malam 248

mendaki bukit dan pergi ke dusun Kam-cui. Dusun itu sunyi senyap karena penghuninya sudah tidur semua.

Jilid IX

Kang Hin mengetuk daun pintu sebuah rumah dan ketika seorang kakek membukakan pintu, dengan sikap halus dan sopan dia bertanya di mana rumah orang yang bernama Tan Seng.

“Tan Seng? Tan Seng si pemburu binatang hutan itu? Itu di ujung jalan ini, yang di depan rumahnya digantungi bermacam kulit binatang hutan.”

Dua orang kakak beradik itu mengucapkan terima kasih dan menuju ke jurusan yang ditunjuk. Benar saja, di ujung jalan itu terdapat tempat tinggal yang dimaksudkan kakek tadi . Mudah dikenal memang, karena ada beberapa lembar kulit binatang dijemur di luar. Mereka memasuki pekarangan dan mengetuk pintu rumah.

Seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh tahun yang tubuhnya tinggi besar bermuka hitam membukakan pintu dengan mata masih mengantuk. “Malam ini sudah tidak ada persediaan dendeng lagi, kalau kulit kijang masih ada’beberapa lembar” Dia menghentikan kata-katanya ketika mendapat kenyataan bahwa dua orang pemuda itu sama sekali tidak dikenalnya, dan jelas bukan penduduk dusun itu.

“Apakah engkau yang bernama Tan Seng?” tanya Seng Gun.

“Benar, aku bernama Tan Seng. Kalian siapa?”

“Apakah ada orang lain bernama Tan Seng di dusun ini?” tanya Kang Hin karena orang muka hitam yang kasar ini tak mungkin menjadi suami wanita cantik tadi.

“Ehh? Tidak ada lagi. Tan Seng hanya satu, ya aku ini!” 249

“Tan Seng, apakah engkau mempunyai isteri yang namanya Bi Hwa?” tanya Kang Hin yang terpaksa menghentikan pertanyaannya karena ucapannya terpotong oleh suara tawa Tan Seng.

.”Ha-ha-ha-ha! Kalau saja aku punya seorang Bi Hwa, atau Bi Eng atau Bi Nio, tentu malam ini aku tidak tidur sendiri kedinginan. Eh, sobat, kalau kau hendak main gila dan menggodaku, lebih baik enyah dari sini sebelum kepalanku yang keras membuat kalian babak belur!”

Setelah berkata begitu, dia melangkah maju dan mengacungkan kepalan tangannya depan hidung Kang Hin. Melihat ini Seng Gun menjadi marah sekali. Dia menangkap lengan itu, memuntirnya sehingga Tan Seng mengaduh dan tubuhnya ikut terpuntir.. Ketika Seng Gun menyapu kakinya, diapun tidak dapat bertahan lagi dan jatuh. Seng Gun menginjak dadanya dan berkata”Jangan berlagak Hayo jawab yang benar, kau mempunyai isteri bernama Bi Hwa atau tidak. Kalau berbohong, kuinjak pecah dadamu!”

Tan Seng terkejut sekali. Lengannya bagaikan tidak bertenaga dan dadanya seperti tertimpa benda berat sekali. Tahulah dia bahwa pemuda itu tidak boleh dibuat main-main.

.”Aduh, ampunkan taihiap….aku tidak mempunyai isteri…. aku orang miskin ini bagaimana mampu mempunyai isteri! Ampunkan aku “

Seng Gun berkata kepada suhengnya, “Sebaiknya suheng geledah isi rumahnya.”

Kang Hin mengangguk dan cepat dia melakukan pemeriksaan. Tidak ada sedikitpun petunjuk bahwa rumah itu di diami seorang wanita maka dia kembali lagi dan menggeleng kepalanya.

“Engkau tidak berbohong?” Sekali lagi Seng Gun menghardik. 250

“Aku berani sumpah, taihiap.”

Seng Gun melepaskan injakannya dan sekali berkelebat, dua orang pemuda itu lenyap dari depan Tan Seng, yang juga segera menutup pintunya dengan tubuh gemetar.

Dalam perjalanan pulang., Seng Gun mengomel “Nah, bagaimana sekarang, suheng? Aku sudah menduga keras bahwa wanita itu orang Beng-kauw akan tetapi engkau tidak percaya.”

Kang Hin menghela napas panjang. “Mungkin engkau benar sute. Akan tetapi, ia masih berada di sana. Kita akan dapat memaksanya mengaku mengapa ia menipu kita dan apakah benar ia anggauta Beng-kauw.”

“Aku yakin akan hal itu, suheng. Aku akan memenggal lehernya, sungguh menggemaskan perempuan itu telah membohongi kita.”

“Sabarlah, sute.”

“Itu bukan sabar namanya, suheng, melainkan kelemahan. Kalau bukan” karena kesabaranmu itu, tentu kita tidak tertipu.”

Akhirnya mereka tiba di perkampungan Nam-kiang-pang, akan tetapi suatu kejutan besar menyambut mereka. Tawanan itu telah lolos, empat orang penjaganya tewas dan tempat tahanan itu dibakar sampai habis! Suasana menjadi geger dan dua orang pemuda ini disambut oleh Tio-pangcu yang berdiri dengan alis berkerut dan bertolak pinggang.

Seng Gun melihat bahwa gurunya marah sekali. Diapun mengenal betul wa tak Ciu Kang Hin yang gagah dan bertanggung jawab. Maka dengan cepat dia lalu lari menubruk kaki gurunya dan berkata, “Suhu, teecu mengaku bersalah, harap hukum teecu'” Dan diapun menangis di depan kaki gurunya. 251

Melihat sikap sutenya itu, Kang Hin terkejut Jelas dia yang bersalah, kenapa sutenya mengaku kesalahannya, Diapun menjatuhkan diri berlutut. “Tee cu yang bersalah, suhu.”

“Huh!” Tio-pangcu membalikkan tubuhnya. Dia merasa marah dan kecewa sekali mendengar bahwa yang membawa tawanan itu adalah dua.orang murid terkasih ini, dan ternyata tawanan itu dapat membebaskan diri, membunuh empat orang penjaga dan membakar tempat tahanan.

“Apa artinya ini? Hayo ceritakan yang sebenarnya!” dia membentak lalu duduk di atas kursi,

“Teecu mengaku bersalah, suhu. Teecu yang menangkap wanita itu karena menyangka ia orang Bengkauw, akan tetapi ia mengaku orang Kam-cui isteri seorang bernama Tan Seng. Teecu. meninggalkan ia di. sini dalam tahanan untuk pergi menyelidiki ke dusun Kam-cui. Ternyata ia berbohong dan ketika teecu kembali ke sini, sudah terlambat.”

‘hemm, benarkah cerita Seng Gun itu, Kang Hin?” tanya Tio-pangcu kepada Kang Hin dengan suara masih mengandung kemarahan.

“Tidak benar, suhu!” kata Kang Hin dengan suara tegas sehingga mengejutkan semua orang. “Sama sekali bukan sute yang bersalah dalam hal ini, melainkan teecu.”

Tio Hui Po mengerutkan alisnya. “Apa artinya semua ini? Hayo ceritakan yang betul!”

“Malam tadi sute memberitahu kepada teecu bahwa dia mencurigai seorang wanita di perahu dan mengajak tee cu untuk memeriksa dan menyelidikinya. Sampai di perahu, wanita berkedok itu hendak melarikan diri, demikian tukang perahunya. Sute membunuh tukang perahu itu, dan berhasil merobohkan wanita itu. Sute hendak langsung membunuhnya,

akan tetapi teecu berkeras melarangnya dengan alasan bahwa belum tentu ia itu 252

orang Bengkauw. Kemudian, wanita itu mengaku bernama Bi Hwa isteri Tan Seng

dari dusun Kam-cui. Teecu yang mengusulkan kepada sute untuk menahan wanita ini, dan kami pergi menyelidiki kebenaran keterangannya. Ternyata, wanita itu berbohong, dan cepat kami kembali ke sini dan ternyata wanita itu Sudah lolos “

“Bodoh!” Tio-pangcu menggebrak tangan kursinya. “Apakah ia tidak dibuat tidak berdaya dulu sehingga mampu membunuh para penjaga?”

Seng Gun segera berkata. “Suheng telah menotoknya, suhu. Teecu melihat sendiri. Dan teecu sudah menggunakan sabuk untuk mengikat kaki tangannya.

Suheng bermaksud baik, suhu harap jangan persalahkan suheng “

“Hemm, engkau sungguh teledor, Kang Hin. Ingat, engkau seorang calon ketua, tidak pantas melakukan keteledoran yang menunjukkan kelemahanmu Engkau patut dihukum!”

“Teecu menerima salah suhu dan teecu siap untuk menerima hukuman,” kata Kang Hin pasrah.

“Kau memang pantas dihukum!” bentak Tio-pangcu.

Pada saat i tu Seng Gun menjatuhkan diri lagi mencium lantai dan berkata dengan suara memohon. “Suhu, biarlah teecu saja yang menjalani hukuman. Suheng adalah calon ketua, tidak sepantasnya kalau suheng yang menjalani hukuman.

“Sute, jangan begitu!”

Tio-pangcu menghela napas pan-jang. “Aahh, ternyata Seng Gun lebih memiliki kesetiaan dari pada engkau. Sepatutnya engkau mencontoh sutemu ini.”

“Suhu, maafkanlah suheng. Teecu yakin bahwa suheng 253

tidak sengaja bersikap lunak kalau dia mengetahui bahwa wanita itu orang Bengkauw, teecu percaya bahwa suheng mau bersumpah untuk setia kepada Nam-kiang-pang dan untuk membasmi Bengkauw.”

“Tio-pangcu mengangguk-angguk. “Pikiran yang bagus. Nah, aku tidak akan menghukum kalian, akan tetapi kalian harus mengulangi sumpah setia kepada Nam-kiang-pang dan membasmi Beng¬kauw!”

Dua orang muda itu lalu digiring masuk ke dalam ruangan sembahyang dan di depan meja sembahayng Seng Gun mengucapkan sumpah dengan lantang dan di ikuti oleh suhengnya.

‘”Demi arwah para sesepuh Nam-ki-ang-pang, disaksikan bumi dan langit, saya bersumpah akan membela Nam-kiang-pang dengan setia dan dengan taruhan nyawa, dan akan membasmi orang-orang Beng-kauw!”

Akan tetapi Ciu Kang Hin mengakhiri sumpah dengan kata-kata “orang-orang Beng-kauw yang jahat”, menambahkan kata-kata.”yang jahat” di belakang nya. Dengan demikian maka dia hanya akan membasmi orang-orang Bengkauw yang jahat, bukan sembarang orang Bengkauw!

Semenjak saat itu diam-diam Seng Gun menyebar cerita yang condong menimbulkan kecurigaan kepada Kang Hin. Dia menerangkan kepada para murid betapa Kang Hin nampaknya menaruh kasihan kepada wanita Bengkauw itu. Bahwa Kang Hin dengan keras melarang dia membunuhnya, dan agaknya Kang Hin tergila-gila oleh kecantikan wanita tawanan itu. Berita buruk tentang seseorang lebih dipercaya oleh umum maka dengan sendirinya orang-orang mulai berprasangka buruk terhadap Kang Hin.

Dan makin bersemangatlah Seng Gun memimpin anak buahnya untuk melakukan pengejaran dan pembantaian kepada anggauta-anggauta Beng-kauw sehingga gegerlah 254

perkumpulan itu. Memang sejak dahulu Beng-kauw dicurigai dan dimusuhi orang-orang kangouw, akan tetapi baru sekaranglah orang-orang Nam-kiang pang secara berterang melakukan perburuan dan membunuhi orang-orang Bengkauw tanpa sebab lagi. Dan setiap kali melakukan pembunuhan Seng Gun selalu menonjolkan nama Ciu Kang Hin sebagai calon ketua Nam-kiang-pang dan sebagai pemimpin regu pembunuh, sehingga sebentar saja di kalangan orang-orang Beng-kauw, bahkan di dunia kangouw nama Ciu Kang Hin dianggap sebagai pembunuh dan pembasmi Bengkauw nomor satu. Pada hal Ciu Kang Hin sendiri jarang membunuh orang Bengkauw. Kalau dia sampai membunuh, maka yang dibunuhnya itu, orang Bengkauw atau bukan,. pasti orang yang telah melakukan kejahatan besar Tukang memperkosa wanita atau tukang membunuh orang tak bersalah.

Yang Mei Li menjalankan kudanya perlahan sambil menikmati pemandangan alam di pegunungan itu Bukit seribu guha amat terkenal karena keindahannya. Selain terdapat banyak sekali guha ciptaan alam di situ, juga terdapat banyak batu besar yang berwarna kekuningan dan dari jauh nampak seperti emas. Maka Bukit Seribu Guha itu juga dikenal dengan Bukit Emas.

Akan tetapi kekagumannya itu segera sirna terganti kemuraman wajahnya ketika dari jauh dia melihat tubuh orang malang melintang di sepanjang jalan .

“Ah, tidak lagi….!” ia berseru lirih dan menghentikan kudanya. Kuda itu dapat menjadi panik kalau terlalu dekat dengan mayat-mayat itu. Dia melepaskan kendali kuda itu dan berloncatan mendekat tempat itu. Ada sebelas orang yang dibantai di tempat itu. Yang “membuat hatinya sedih dan marah adalah bahwa di antara mayat-mayat itu terdapat tiga orang wanita muda dan dua orang anak laki-laki yang usianya sekitar lima enam tahun. Dalam perjalanannya ia sudah mendengar akan pembantaian dan serangan yang dilakukan 255

oleh para pendekar terhadap orang-orang Beng-kauw Ia memang sudah mendengar bahwa Beng-kauw merupakan perkumpulan sesat yang mempunyai banyak orang jahat, akan tetapi kenyataan bahwa orang-orang bengkauw yang dibunuh terdapat pula wanita dan anak-anak, hatinya mulai penasaran dan curiga. Mungkin saja Beng-kauw mempunyai anggauta yang jahat, akan tetapi apakah anak-anak dan isteri

orang Beng-kauw juga jahat? Apakah kehadiran anak-anak sebagai keluarga

Beng-kauw itu membuat mereka jahat pula, seperti orang yang ketularan penyakit?

Sudah sejak tiga hari yang lalu ia sering menemukan adanya mayat berserakan di sepanjang perjalanan. Ketika ditanyakan hal itu kepada penduduk dusun di sekitar tempat kejadian, ia mendapat keterangan bahwa yang dibunuh itu adalah orang-orang jahat dari Bengkauw, dan yang membunuhnya adalah para pendekar dari berbagai perkumpulan silat, akan tetapi yang terbesar adalah dari perkumpulan Nam-kiang-pang. Sering ia mendengar disebutnya nama pendekar Ciu Kang Hin, pendekar calon ketua Nam-kiang-pang yang kabarnya amat lihai dengan goloknya, tampan dan gagah menjadi idaman para gadis! Akan tetapi melihat cara orang-orang Beng-kauw dibunuh, nama Ciu Kang Hin itu tidak menimbulkan kagum di hatinya, bahkan rasa penasaran dan ingin menyelidiki pembantaian itu. Sejak tiga hari yang lalu, kalau bertemu mayat-mayat yang terbunuh di sepanjang jalan, ia menggunakan uangnya untuk menyuruh orang-orang dusun menguburkan mayat-mayat itu. Orang-orang dusun tadinya merasa takut, akan tetapi Mei Li dengan gagah mengatakan bahwa ia yang bertanggungjawab dan pula kalau mayat-mayat itu tidak dikubur, mereka sendiri yang akan merugi, mungkin mayat-mayat itu akan mendatangkan penyakit. Selain itu, Mei Li juga memberi uang untuk membeli peti mati. 256

Kini, ada lagi belasan buah mayat! Mei Li lalu menghampiri kudanya, menuruni bukit menuju ke perkampungan yang sudah nampak dari situ dan seperti yang sudah-sudah, ia membujuk penduduk untuk membeli peti mati dan menguburkan mayat-mayat itu. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan sambil mengikuti jejak banyak kaki manusia yang menuju ke timur.

Menjelang senja kudanya tiba dikaki bukit dan dari jauh dia sudah melihat ribut-ribut orang banyak sedang berkelahi. Juga terdengar jerit tangis para wanita dan kanak-kanak. Dapat ia menduga bahwa jejak kaki itu adalah jejak kaki rombongan orang yang agaknya tergesa-gesa sedang melarikan” diri, ka rena jejaknya bercampur dengan jejak kaki anak-anak dan wanita. Melihat di depan terjadi pertempuran, cepat ia membalapkan kudanya dan ia melihat tigapuluh lebih orang yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak, yang berkelompok, dilindungi belasan orang laki-laki sedang dikepung dan diserang oleh belasan orang yang menunggang kuda!

Biarpun mereka yang dilindungi sekelompok wanita dan anak-anak itu juga bukan orang lemah dan mereka melawan mati-matian menggunakan pedang dan golok mereka, namun Mei Li dapat melihat dengan jelas bahwa mereka bukanlah lawan yang seimbang dari para penyerang itu. Kini para penyerang sudah berlompatan turun dari atas kuda mereka dan gerakan mereka amatlah tangkasnya. Dalam waktu beberapa belas jurus saja sudah ada tiga orang yang membela rombongan itu roboh mandi darah.

Mei Li mempercepat larinya seperti terbang Ia sudah melompat turun dari punggung kudanya dan mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke tempat itu sehingga kudanya tertinggal di belakang. Akan tetapi terjadi sesuatu yang membuat lega hatinya. Entah dari mana datangnya, seorang laki-laki muda telah terjun ke dalam pertempuran membela 257

rombongan itu. Sepak terjang pemuda ini gagah luar biasa dua orang pengeroyok yang memegang golok terjungkal ketika menyambutnya dengan bacokan golok. Seorang yang tinggi kurus dari pihak pengeroyok menjadi, marah dan mendorong dengan tombak cagaknya. Akan te tapi pemuda itu mendorong dengan kedua tangannya dan si tombak cagak itu terdorong ke belakang sambil berteriak kesakitan.

“Matahari merah teriaknya”

dan semua orang -pengeroyok terkejut mendengar seruan ini, Juga Mei Li yang sudah tiba di situ menjadi kagum dan terkejut. Tentu saja dia sudah mendengar akan ilmu Matahari Merah, suatu dari ilmu pasangan Matahari Merah dan Salju Putih, ilmu yang dianggap sukar dicari bandingnya di saat itu. Dan ilmu ini merupakan ilmu rahasia yang telah dikuasai oleh pimpinan tertinggi Bengkauw! Kalau begitu, pemuda itu tentu orang Bengkauw, dan bukan anggauta biasa pula. Akan tetapi dia tidak perduli yang diserang untuk dibantai adalah wanita dan anak-anak pula, tidak perduli itu wanita atau anak-anak Beng kauw atau bukan, ia harus membelanya

Juga ia melihat bahwa pemuda yang pandai menggunakan ilmu Matahari Merah tadi nampak tidak tegak pasangan kuda-kudanya, agak terhuyung tanda bahwa dia terluka. Hal ini juga dapat dilihat musuh-musuhnya, maka seorang di antara musuh-musuhnya berseru, “Serang terus, dia sudah terluka!'”

Mei Li sudah tiba di situ. Tanpa membuang waktu lagi ia sudah melemparkan sepasang pedang terbangnya. “Trang trangggg ” Dua batang golok terpental dan terlempar. Semua orang terkejut karena yang nampak hanya kilatan pedang sedangkan orangnya tidak nampak. Setelah sepasang pedang itu terbang kembali kepada pemiliknya, barulah mereka menyadari bahwa hui-kiam (pedang terbang) itu gagangnya memakai tali sehingga bisa terbang kembali kepada pemiliknya.

“Tahan dulu” seorang pengeooyok berteriak dan ternyata 258

ia seorang wanita. Wanita berusia kurang lebih duapuluh delapan tahun yang cantik jelita dan genit, memegang pedang ronce merah, rambutnya panjang terurai, dan pakaiannya mewah. “Siapa engkau, nona? Kami lihat engkau bukan orang Bengkauw!”

Mei Li tersenyum dan begitu ia tersenyum, kecantikan wanita di depannya itu bagaikan bulan kesiangan, memudar oleh cahaya matahari.

“Dan engkau siapa? Aku lihat engkaupun pasti bukan orang Beng-kauw!” tanyanya dan cara ia memandang orang Itu seperti seorang dewasa memandang anak kecil. Memang Mei Li belum taliu siapa wanita itu maka ia berani memandang rendah.

Wanita itu menjadi berang. Mukanya merah sekali. la adalah seorang termuda dari Bu-tek Ngo Sin-liong (Lima Naga Sakti Tanpa Tanding) dan gadis ingusan ini berani memandang rendah ke padanya?

Kini pertempuran telah berhenti oleh seruan Bi-sin-liong Kwa Lian. Empat orang dari golongan yang diserang telah roboh dan dua orang penyerang yang tadi diterjang pemuda perkasa itu pun roboh. Pemuda itu sendiri berdiri memandang, mukanya agak pucat namun sikapnya penuh kemarahan dan keberanian.

Bi-sin-liong menudingkan pedang nya ke muka Mei Li dan membentak dengan suara lantang.,”Bocah ingusan bosan hidup! Ketahuilah bahwa yang kauhadapi ini adalah Bin-sin-liong Kwa Lian, seorang di antara Bu-tek Ngo Sin-liong, tokoh Hoat-kauw! Nah, siapakah engkau bocah ingusan berani memandang rendah kepadaku! Gurumu agaknya kurang memberi pelajaran kepadamu!'” Pemuda Bengkauw itu sendiri agaknya terkejut mendengar disebutnya nama Bu-tek Ngo Sin-liong itu.

Orang tinggi kurus berusia empat puluh lima tahun yang 259

mukanya pucat, yang memegang sebatang tombak cagak dan yang tadi terkejut melihat gerakan pemuda itu dan yang mengenal ilmu Matahari Merah, menyambung, “Dan aku adalah Tiat-sin-liong Lai Cin, lebih baik kalian mengenalku sebelum mati.”

Kalau semua orang terkejut dan gentar mendengar nama dua orang tokoh Hoat-kauw ini, Mei li sendiri nampak biasa saja, tersenyum mengejek. Hal ini bukan karena dara ini sombong, meilainkan karena ia memang tidak pernan mengenal nama itu,

“Wah, kiranya nenek Kwa Lian dan kakek Lai Cin yang berlagak di sini Kalian sudah tua tidak tahu diri! Kalian mau tahu siapa aku? Bukalah telinga mu baik-baik, dan jewer sampai lebar, bersiaplah agar jangan jatuh karena terkejut. Aku adalah. hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang)!” Lalu disambung nya dengan lantang, “Awas, pedangku memenggal lehermu!”‘

Ucapan itu ditutup dengan gerakan kedua tangannya dan sepasang pedangnya menyambar bagaikan dua ekor burung garuda ke arah leher Bi-sin-liong Kwa Lian dan Tiat-sin-liong Lai Cin! Dua orang ini segera menangkis dengan pedang dan tombak mereka, akan tetapi pada saat itu, pemuda yang pandai ilmu Matahari Merah sudah menyerang lagi dengan pukulannya yang ampuh ke arah Ti-at-sin-liong (Naga Sakti Besi). Tentu saja tokoh Hoat-kauw ini yang sudah mengenal pukulan sakti Matahari Merah, cepat mengelak karena dia tidak berani menangkis secara langsung. Sementara itu Bi-sin-liong juga mengeluarkan teriakan kaget ketika pedangnya yang menangkis pedang terbang itu tergetar hebat. Tiat-sin-liong juga tidak berani memandang rendah pedang terbang itu, maka dia menghindar dengan loncatan jauh ke belakang .

Sepasang pedang terbang itu ketika tidak dapat mengenai sasaran, bagaikan dua ekor ular naga melayang-layang “mencari mangsa, akhirnya merobohkan dua orang 260

pengeroyok yang lancang berani menangkisnya, sedangkan pemuda itu pun merobohkan seorang lawan lagi dengan dorongan tangannya.

Melihat kehebatan dua orang muda itu, Bi-sin-liong Kwa Lian lalu mengeluarkan teriakan, mengajak suhengnya untuk meiarikan diri. Tiat-sin-liong memberi aba-aba kepada anak buahnya dan mereka lalu berloncatan pergi sambil membawa tubuh teman mereka yang terluka atau tewas.

Yang Mei Li tidak mengejar karena ia melihat pemuda itu terhuyung dan jatuh berlutut sambil terengah engah. Mereka yang tadi melindungi kelompok itu, kini menjatuhkan diri berlutut di depan Mei Li dan memberi homat. “Kami menghaturkan terima kasih atas pertolongan lihiap.”

“Paman,” tanya Yang Mei Li kepada seorang di antara mereka. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian diserang mereka? Apakah benar kalian orang-orang Beng-kauw?”

Kami adalah penghuni dusun Sin-yang yang termasuk perkampungan wilayah Bengkauw. Memang banyak pemuda kita yang menjadi anggauta Bengkauw, akan tetapi kami tidak tahu menahu tentang Beng-kauw. Selama beberapa bulan ini, Bengkauw dikejar-kejar dan dibunuhi dan kamipun ikut pula dikejar-kejar. Sudah banyak diantara kami yang terbunuh. Kami sedang hendak pergi mengungsi ketika dikejar oleh rombongan orang Hoat-kauw tadi. Untung lihiap keburu datang menolong.”

“Dan siapa pemuda itu?” tanya Mei Li menunjuk pemuda yang masih berlutut dan mengumpulkan tenaga itu.

Pemuda itu membuka mata , bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Mei Li. “Nona, namaku Sie Kwan Lee, dan aku…. aku… Pemuda itu terkulai dan jatuh pingsan.

Mei Li terkejut dan memeriksa nadi tangan pemuda Itu. Detik jantungnya tidak tetap dan tubuhnya terasa panas sekali. Jelas bahwa pemuda itu menderita keracunan. 261

“Kalian sekarang mau ke mana? Dan siapakah pemuda ini?” ia bertanya kepada orang tadi .

“Ketahuilah, lihiap Dia ini adalah Sie Kongcu (tuan muda Sie), putera dari ketua Beng-kauw yang selalu menolong kami.”

“Hemm, dia sakit berat, keracunan,” kata Mei Li.

“Kami akan melanjutkan perjalanan kami lari mengungsi, lihiap, dan kami harus membawa Sie Kongcu. Dia adalah tuan penolong kami.”

Melihat betapa pemuda itu sakit dan kini rombongan itu tidak ada lagi yang menjaga, maka Mei Li segera meng-ambil keputusan. “Biarlah, aku akan menemani kalian sebelum pemuda itu sembuh dan dapat melindungi kalian.”

“Ah, terima kasih, lihiap. Terima kasih.” Orang itu berlutut dan diikuti oleh semua orang sehingga Mei Li tersipu. Belum pernah ia dinormati orang seperti itu.

“Sudahlah, kalian membuat aku merasa sungkan saja. Sudah sewajarnya kalau orang saling menolong.”

Rombongan itu segera bergerak lagi melanjutkan perjalanan mereka mengungsi, diikuti oleh Mei Li yang menunggang kudanya perlahan-lahan. Orang yang tadi mewakili kawan-kawannya bicara, berjalan didekat kudanya.

“Sungguh, nona telah menanam budi yang luar biasa besarnya kepada kami,” katanya.

“Sudahlah, jangan bicara tentang budi. Akupun sedang merantau, maka melakukan perjalan bersama kalian Ini tidak menggangguku sama sekali.”

“Akan tetapi, lihiap di antara seratus orang pendekar, belum tentu ada satu yang sudi menolong kami.”

“Ehh? Kalau dia tidak mau menolong kalian yang terancam bahaya, maka ia tidak pantas disebut pendekar.” 262

“Ah, agaknya engkau belum mengetahui, lihiap. Semua pendekar di dunia ini memusuhi kami, semua orang menganggap bahwa Bengkauw merupakan orang-orang jahat yang harus dibasmi. Memang kami tidak dapat menutup kenyataan bahwa orang Bengkauw hidup penuh kekerasan, suka berkelahi, dan banyak pula di antara mereka yang amat jahat. Akan tetapi tidak semua, seperti kami yang hidup mengandalkan kerja keras, dan tidak mempunyai apa-apa untuk diandalkan berbuat jahat. Anak-anak dan isteri kami pun bukan orang jahat, kenapa diikut sertakan dalam pembasmian?”

“Apakah semua pemimpin Bengkauw jahat dan kejam?”

“Terus terang saja, lihiap Banyak di antara mereka yang kejam. Bahkan pangcu sendiri adalah seorang yang tidak pernah mau mematuhi hukum negara atau hukum masyarakat. Suka bertindak ingin menang sendiri. Akan tetapi bukankah orang-orang dunia persilatan selalu begitu? Biarpun demikian, kami semua tidak dapat mengatakan bahwa Sie Kong-cu itu jahat! Dia malah sering bertentangan dengan para pimpinan, dengan ayahnya sendiri. Ah, sudahlah lihiap, kalau terlalu banyak bicara tidak ada yang dapat menjamin kepala ini tetap melekat di “leherku.”

Karena orang itu tidak berani banyak cakap lagi, Mei Li juga diam saja dan di jalankannya kudanya dekat dengan kereta dorong di mana tubuh Sie Kwan Lee rebah telentang. Diamati wajah pemuda yang masih pingsan itu. Tadi ia sudah menyuruh orang meminumkan obat kepada pemuda itu, obat penawar racun. Sekarang dia masih pingsan, atau tidur pulas sekali, wajah pemuda itu nampak tenang. Wajah yang kecoklatan, terbakar panasnya matahari. Tampan dan ganteng Wajah yang jantan.

Sie Kwan Lee adalah putera tunggal dari Sie-pangcu (ketua Sie) yang nama lengkapnya adalah Sie Wan Cu, ketua Beng-kauw yang terkenal sekali karena dia merupakan seorang di 263

antara tokoh-tokoh sakti. Dengan mewarisi ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, kiranya tidak akan ada tokoh dunia persilatan yang mampu menandinginya dalam hal ilmu tangan kosong, Sie Wan Cu sudah berusia enampuluh tahun. Satu di antara kesukaannya adalah mengumpulkan banyak isteri yang cantik dan muda. Untuk ini dia tidak perlu menggunakan kekerasan, dan pula dia tidak mau kehilangan martabatnya kalau memaksa wanita. Dengan wajahnya yang tampan gagah, biarpun usianya sudah enampuluh tahun, dan dengan tubuhnya yang kuat dan hartanya yang cukup, wanita mana yang tidak akan girang menjadi isterinya! Dia mempunyai. belasan orang isteri, akan tetapi dari sekian banyaknya isterinya, hanya isteri pertama saja yang mempunyai keturunan, yaitu seorang pemuda dan seorang gadis. Pemuda itu ada lah Sie Kwan Lee, kini berusia duapuluh lima tahun sedangkan adiknya berna ma Sie Kwan Eng, berusia sembilanbelas tahun dan cantik sekali.

Akan tetapi Sie-pangcu tidak puas dengan puteranya. Memang puteranya itu memiliki bakat yang baik sekali dalam ilmu silat, namun puteranya dianggapnya terlalu lemah hati. Terlalu mirip ibunya dan tidak mau melakukan perbuatan yang dianggapnya tidak benar dan jahat! Anak perempuannya lebih tegas dibanding Kwan Lee, maka diapun menurunkan ilmu-ilmunya kepada keduanya.

Baru semenjak Bengkaw dikejar-kejar dan dimusuhi, banyak anggautanya dibunuh, Sie-pangcu menurunkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu Matahari Merah diajarkannya kepada Kwan Lee, sedangkan ilmu Salju Putih diajarkan kepada Kwan Eng.

Kwan Lee baru melatih diri dengan ilmu itu, baru tigaperempatnya dia kuasai. Dalam kaadaan seperti itu, dia sama sekali tidak boleh menggunakan sin-kang karena dia dapat terluka oleh tenaga mujijat dari ilmu itu sendiri. Namun, ketika dia mendengar bahwa penduduk dusun yang 264

berdekatan diserang para pendekar, dia tidak dapat menahan hatinya dan dia lalu meninggalkan tempat latihan. Pada hal, hal ini amat berbahaya dan merupakan pantangan. Tidak ada yang berani mencegah karena ayahnya kebetulan tidak berada di situ, dan akibat perlawanannya membela para pengungsi, dia terluka dan keracunan oleh tenaganya sendiri.

Kwan Lee membuka ma tanya dan bergerak. Sejenak dia heran melihat dirinya berada dalam kereta dorong Dia bangkit duduk dan memerintahkan mereka yang mendorong kereta itu untuk berhenti. Lalu dia turun dari kereta dorong dan mengangkat mukanya ketika ada kuda mendekatinya.

Ketika melihat.Mei Li di atas kudanya, dia teringat lagi akan peristiwa tadi, maka cepat dia memberi hormat, “Nona, aku Sie Kwan Lee mengucapkan terima kasih atas bantuan nona kepada orang-orang ini.”

“Tidak perlu sungkan, twako,” kata Mei Li. “Orang-orang Hoat-kauw tadi memang sombong dan pantas dihajar!”

“Nona, “engkau yang masih begini muda, berani melawan bahkan mampu menandingi dua orang dari Bu-tek Ngo Sin liong, kalau boleh aku bertanya, siapakah namamu, dan dari golongan manakah?”

“Aku tidak mewakili golongan manapun, dan namaku adalah Yang Mei Li. “Aku sedang merantau dan kebetulan saja lewat di sini, twako. Di sepanjang jalan aku melihat banyak orang Bengkauw menjadi korban pembunuhan, maka ketika di sini melihat orang-orang ini dikejar-kejar-dan hendak dibunuh, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam. Sukur di sini ada engkau yang lihai, akan tetapi engkau sedang terluka keracunan. Bagaimana ada hawa beracun mengamuk di tubuhmu, twako?”

Kwan Lee tersenyum sedih. “Panjang sekali ceritanya, nona. Kalau nona suka singgah di tempat kami, akan kuceritakan semua.” 265

“Maaf, setelah engkau sembuh, aku harus melanjutkan perjalananku, twa ko.”‘

“Nanti. dulu, nona Yang Kurasa saat ini di antara para pendekar, hanya engkau seorang yang tidak memusuhi kami orang-orang Beng-kauw. Oleh karena itu, ingin aku menceritakan segalanya tentang kami, agar engkau meluaskan keterangan itu dan membuka mata orang-orang kangouw bahwa Bengkauw bukanlah perkumpulan penjahat yang amat kejam dan harus dibasmi, Maukah engkau mem bantu kami, nona? Bantuanmu itu akan lebih berharga dari pada kalau nona membela nyawa semua orang ini.”

Mei Li mengerutkan alisnya. Ayah dan ibunya berpesan bahwa dia tentu saja boleh bertindak sebagai pendekar, membela kebenaran dan keadilan, memba tu yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang. Akan tetapi dia diperingatkan agar jangan melibatkan diri dalam permusuhan antara perkumpulan-perkumpulan di dunia kangouw.

“Aku suka membantu siapa saja yang mengalami penasaran, akan tetapi tidak mau terlibat dengan permusuhan pribadi perkumpulan.”

‘Kami tidak ingin engkau terlibat dalam urusan kami, nona. Kami hanya menghendaki keadilan dan membersih kan diri kami dari fitnah. Tentu saja kalau nona sudi menolong, kalau tidak, kamipun tidak dapat memaksa dan menyerahkan diri kepada nasib saja.” Suara itu terdengar demikian penuh duka sehingga Mei Li merasa tidak tega untuk menolaknya. Pula pemuda itu hanya ingin ia menjadi pendengar saja, mau disebarluaskan atau tidak, terserah sepenuhnya kepadanya.

“Baiklah, akan kudengarkan. Pula, keadaanmu belum kuat benar, dan mereka ini membutuhkan perlindungan.”

Wajah Kwan Lee menjadi berseri. “Terima kasih, nona!” Biarpun dia masih ‘lemah, dia minta -disediaka’n seekor kuda 266

dan kini dia melanjutkan perjalanan menunggang seekor kuda di samping Mei Li. Di sepanjang perjalanan ini, Mei Li lebih banyak mengenal sifat dari pemuda itu. Seorang pemuda yang sederhana, biarpun putera ketua namun sikapnya terhadap anak buah ramah dan sederhana. Juga selalu sopan terhadap dirinya sehingga dia mulai merasa suka kepadanya. Orangnya agak pendiam, selalu terbuka dan jujur, ramah dan lembut. Juga tidak pantas kalau dikatakan putera seorang ketua yang kasar dan liar karena ternyata pemuda ini cukup terpelajar, mengenal sajak-sajak indah dan tokoh-tokoh besar dalam sejarah.

Pada malam ke dua rombongan terpaksa berhenti di sebuah lereng bukit. Sebetulnya pusat perkampungan Bengkauw sudah dekat, akan tetapi karena hari sudah malam dan rombongan yang terdiri dari wanita dan anak-anak sudah lelah, terpaksa mereka berhenti. Malam itu bulan purnama dan malam di lereng gunung itu indah sekali ,

Kwan Lee sudah sehat kembali. dan dia duduk diatas batu besar bersama Mei Li. Mereka telah akrab karena merasa cocok. Dalam kesempatan ini, Mei Li ingin mengetahui. lebih banyak tentang pemuda itu dan tentang Bengkauw.

“Nah., sekarang engkau tentu sudah cukup mengenalku sehingga percaya untuk bercerita sedikit mengenai Bengkauw dan mengapa para pendekar memusuhinya, twako.”

“Perkumpulan Bengkauw memang berasal dari aliran agama. Terang (Beng-kauw), nona. Akan tetapi sekarang di antara “para pengikutnya sudah jarang yang mengerti, tentang agama Terang itu. Agama itu sendiri berdasarkan im Yang atau Terang dan Gelap. Yang terang adalah baik sebaliknya yang gelap adalah jahat. Pengetahuan tentang agama ini berarti pengetahuan tentang alam dan kekuasaannya yang terbagi antara gelap dan terang, Penyelamatan adalah proses membebaskan unsur terang dari kegelapan. Yang berasal dari Tuhan itu adalah Terang 267

sebaliknya iblis mendatangkan kegelapan untuk menggoda manusia, karena itu kita harus penuh dengan roh-roh. untuk membebaskan diri dari pengaruh kegelapan. Pimpinan Bengkauw sendiri adalah Duta-duta Terang yang menerangi kegelapan.”

“Hemm, kalau begitu apa bedanya dengan agama lain? Semua agama juga berpihak kepada yang terang dan memerangi yang gelap atau jahat.”‘

‘Memang pada hakekatnya tidak ada bedanya, nona. Akan tetapi, tanpa disadari para pemeluknya sudah diperalat oleh kekuasaan Iblis sehingga mereka saling menyalahkannya, menganggap diri sendiri benar. Karena itu, tindakan para pemimpinnya selalu bahkan bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri, Hukum agama yang diterapkan, bukan lagi hukum agama berdasarkan keadilan, melainkan dipilih mana yang menguntung kan bagi si pimpinan. dari situlah timbulnya kepalsuan-kepalsuan dan kejahatan yang berkedok keagamaan, nona.” “Bagaimana dengan Bengkauw sendiri?”

“Tidak ada bedanya dengan agama-agama atau aliran lain Selama orang-orang yang memimpinnya merasa keberadaan dan kekuasaannya terancam, mereka akan bergerak, menggunakan segala dalih dalam agama mereka untuk menghantam lawan. Tentu saja dengan dalih melakukan pembersihan atau menghukum,”

“Semua pimpinan. agama begitu?”

“Tentu saja tidak, dan ada kecualinya,.; Ada yang benar-benar menaati perintah agama tanpa menonjolkan kehendak pribadi, dan orang-orang seperti itulah yang benar-benar menjadi orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menuntun manusia lain ke jalan kebenaran.

“Sekarang ceritakan keadaan Beng kauw mengapa sampai dimusuhi semua pendekar, toako, dan tentang keluarga ketua Bengkauw, ayahmu.” 268

Pemuda itu menghela napas. “Sebagian besar adalah karena kesalahan para pimpinan Beng-kauw juga. Mereka terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tidak memperdulikan peraturan umum, suka melanggar kebiasaan dunia kangouw sehingga dengan sendirinya mempunyai banyak musuh. Apa lagi kebiasaan para tokoh Bengkauw suka menggunakan kedok kalau sedang berkelahi, hal ini amat buruk dan mudah saja bagi yang tidak suka untuk melempar fitnah kepada Beng kauw. Orang yang melakukan kejahatan, asal diamemakai kedok, lalu mudah saja di-cap sebagai orang Bengkauw. Akhir akhir ini yang sangat bersemangat memusuhi kami adalah orang Nam-kiang-pang. Alasan mereka adalah bahwa Bengkauw sudah banyak membunuh anggauta mereka.” “Benarkah itu?”

“Siapa tahu benar atau tidak?

Mungkin benar dan mungkin tidak, karena mereka tidak dapat membuktikannya , hanya mengatakan bahwa pembunuhnya memakai kedok Bengkauw. Mereka mengejar-ngejar orang kita dan membunuhi tanpa pandang bulu. Kanak-kanak, wanita, siapa saja yang berbau Bengkauw dibunuh. Terutama sekali calon ketua mereka yang bernama Ciu Kang Hin, kabarnya amat lihai dan amat kejam membunuhi orang-orang Bengkauw.”

“Ah, hal itu harus dicegah !”‘kata Mei Li. “Dan apa yang dilakukan ketua Bengkauw menghadapi hal ini?”

Pemuda itu menarik napas panjang. “Ayahku kurang bijaksana. Dia menerimanya sebagai tantangan. Tanpa berusaha untuk mencairkan, dia mengambil sikap bermusuhan dan memerintahkan anak buah untuk balas membunuh. Ah, aku menyesal sekali.” Pemuda itu lalu menceritakan tentang keluarganya. Ayahnya adalah ketua Bengkauw bernama Sie Wan Cu, sakti dan ditakuti. Ayahnya mempu nyai dua orang anak, dia dan adiknya, Sie Kwan Eng yang berusia sembilanbelas tahun. Setelah terjadi pembantaian terhadap 269

orang-orang Bengkauw, ayahnya lalu mengajarkan ilmu simpanan keluarganya, yaitu ilmu Matahari Merah kepadanya, dan ilmu Salju Putih kepada adiknya .

“Ah, kalau beg i tu engkau. dan adikmu telah mewarisi dua ilmu yang paling hebat,” kata Mei Li kagum.

“Sebetulnya, baik aku maupun adikku belum menguasai benar ilmu-ilmu itu. Aku bahkan baru menguasai sebanyak tigaperempat saja. Menurut aturan, selagi berlatih ilmu Matahari Merah, aku tidak boleh terganggu, tidak boleh mengeluarkan tenaga sin-kang. Akan tetapi ketika mendengar betapa orang-orang ini dikejar-kejar, aku tidak dapat menahan diri dan aku nekat keluar untuk membela mereka sehingga tadi aku menjadi keracunan oleh tenaga ku sendiri.”

“Hemm, kalau begitu, besok pagi-pagi aku tidak akan ikut denganmu, aku harus melanjutkan perjalananku, karena kalian sudah tiba di luar perkampungan mu.”

“Nona, kuharap dengan sangat, sudilah nona singgah sebentar di rumah kami. Adikku tentu senang sekali berkenalan denganmu.”

“Aku tidak ingin bertemu dengan ayahmu.”‘

“Aku tahu, nona. Aku sendiri akan merasa tidak enak kalau nona harus bertemu dengan ayahku Dia berhenti tiba-tiba.

“Kenapa?”

Tentu saja Kwan Lee tidak mau mengatakan bahwa ayahnya memiliki kelemahan, yaitu tidak kuat melihat wanita cantik! “Ah, tidak apa-apa, nona. Hanya ayah mempunyai watak yang aneh dan kadang tidak memperdulikan peraturan, akan tetapi saat ini ayah tidak berada di rumah. Marilah, nona, aku ingin memperlihatkan kepadamu bahwa orang Bengkauw tidak semuanya jahat.”

Karena didesak, dan sikap pemuda ini memang ramah sekali, Mei Li merasa tidak enak kalau menolak terus. “Baiklah, 270

aku akan singgah untuk sehari dua hari,” katanya dan pemuda ini memperlihatkan wajah gembira.

Rombongan pengungsi kemudian memasuki perkampungan Bengkauw itu dengan hati lega. Mei Li dan Kwan Lee duduk di atas kudanya, di pintu gerbang melihat rombongan itu berbondong-bondong masuk. Setelah mereka semua masuk, baru saja mereka hendak menjalankan kuda, tiba-tiba terdengar suara wanita, “Lee-koko!”

Kwan Lee menoleh kepada seorang wanita yang baru muncul. Gadis itu sebaya dengannya, berpakaian serba merah muda , rambutnya dikuncir tunggal, tebal dan panjang, diikat pita kuning. Di punggungnya tergantung pedang dengan ronce merah. Wajah dara itu cantik jelita dengan mulut cemberut congkak dan pandang matanya keras. Itulah Sie Kwan Eng, adik Kwan Lee.

“Eng-moi, kau juga sudah keluar dari tempat latihan? Sudah berhasilkah engkau?”

“Belum, Lee-ko. Akupun baru menyelesaikan tiga perempatnya, akan tetapi yang tiga perempat itu sudah lewat tinggal latihan terakhir di guha inti salju! Kabarnya engkau keluar sebelum yang tigaperempat kauselesaikan,

koko? Ayah tentu akan marah eh, siapakah ia ini, koko?” Kwan Eng memandang Mei Li dengan alis berkerut dan mata mencorong penuh selidik.

“Eng-moi, ini adalah Hui-kiam Sian-li Yang Mei Li, seorang pendekar wanita yang lihai sekali dan kalau tidak oleh pertolongannya, kami semua tentu sudah celaka di tangan orang-orang Hoat-kauw itu.”

Kwan Eng cemberut. “Aku benci pendekar sombong!” katanya.

Mei Li tersenyum. “Akupun benci pendekar sombong!”

Kwan Eng tidak tersenyum akan tetapi memandang dengan 271

mata tertarik. “Aku tidak mudah percaya akan kemampuan orang tanpa membuktikannya sendiri!”

“Aku juga begitu, kita sama!” kata Mei Li.

“Bagus, kalau begitu mari kita buktikan, apakah benar engkau Ini seorang pendekar!

Wajah Mei Li berubah merah karena marah. Sungguh terlalu sekali gadis ini, pikirnya. Apakah memangnya di dunia ini tidak ada wanita lain kecuali dirinya yang memiliki kepandaian? Melihat gadis itu sudah mencabut pedangnya diam-diam iapun melolos sepasang pedangnya dan bersiap-siap.

“Boleh-boleh, aku memang bukan pendekar, akan tetapi pantang bagiku untuk menolak tantangan siapapun juga.”

Pada saat itu Kwan Lee melangkah maju. “Eng-moi, engkau keterlaluan. Begitukah engkau menyambut seorang sahabat? Nona Mei Li adalah seorang sahabat baikku. Tentu saja boleh kalau engkau hendak mengujinya, akan tetapi menguji teman tidak sama dengan menempur musuh, karena itu biarlah kalian menggunakan ranting ini saja.” Kwan Lee me ngambil sebuah ranting pohon, mematahkan menjadi dua dengan ukuran panjang seperti pedang dan memberikan kepada dua orang gadis itu.

Mei Li menerimanya dengan senyum, karena biarpun ia mendongkol melihat kekasaran Kwan Eng, tentu saja ia tidak ingin melukai adik dari Kwan Lee itu.

Kwan Eng juga menerima ranting itu dari kakaknya dan berkata dengan nada suara mengejek. “Koko, sebatang pedang tajam di tangan orang yang tidak becus bukan merupakan bahaya, akan tetapi sebatang ranting kayu dapat mematikan kalau dipergunakan orang yang pandai ilmu silat. Apakah kau lupa itu?”

“Tentu saja aku tahu, adikku yang manis. Akan tetapi, 272

kalau menggunakan kayu ranting di tangan, setidaknya berkurang banyak keganasanmu dan engkau akan ingat bahwa engkau sedang main-main, bukan berkelahi sungguh-sungguh.”

Kwan Eng tersenyum manis..”Baiklah, koko, dan jangan khawatir aku tidak akan melukai dengan parah!”

Diam-diam-Mei Li gemas kepada dara ini. Begitu sombongnya dan begitu yakin akan kemenangannya. “Marilah adik yang baik, aku sudah siap untuk kaulukai.”

Tempat itu sudah sepi, kecuali ada beberapa orang penjaga, yaitu anggauta Beng-kauw yang berjaga di pintu gerbang, tidak lebih dari sepuluh orang banyaknya. Mereka kini sudah mengepung tempat itu dan nampak gembira. Memang para anggauta Beng-kauw tidak begitu memakai peraturan terhadap putera puteri ketua mereka, dan mereka menonton seperti kalau kawan-kawan mereka bermain-main. Kwan Eng juga agaknya tidak keberatan, bahkan ia memperlihatkan senyumnya karena ia lebih senang kalau ditonton kemenangannya Tidak mengherankan kalau Sie.Kwan Eng yakin akan keluar sebagai pemenang. Karena untuk daerah itu, bahkan di dunia kang ouw sekalipun, sukar ditemukan wanita yang akan mampu menandinginya, apa lagi kini ia telah mewarisi ilmu Salju Putih, walaupun belum sempurna benar.

Perlu diketahui bahwa aliran Bengkauw mempunyai ilmu silat yang aneh dan tidak mempunyai sumber tertentu. Hal ini adalah karena nenek moyang nya memang orang yang suka mengumpulkan ilmu silat tidak perduli dari golongan bersih ataupun golongan sesat, dan memetik bagian-bagian yang paling ampuh, lalu dikombihasikan. Sekarang orang sudah tidak tahu lagi dari mana sumber ilmu silat itu. Seperti ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, tidak ada yang tahu asal usul ilmu itu, akan tetapi selain pimpinan tertinggi Beng-kauw tidak ada orang lain yang mengenalnya. 273

Begitu menyerang, Kwan Eng mengeluarkan suara melengking nyaring dan ranting di tangannya meluncur seperti kilat cepatnya. Begitu Mei Li mengelak, ranting itu meluncur balik dan sudah menyerang dengan lebih dahsyat.

Melihat serangan yang dahsyat dan berbahaya itu, Mei Li juga cepat mengerahkan tenaga sin-kangnya dan digerakkan tongkatnya dengan ilmu tongkat Tai-hong-pang (Tongkat Angin Ribut). Terdengar suara bercuitan dan angin besar mendesir-desir dari tongkat yang dimainkan Mei Li.

.”bagus!” Berkali-kali Kwan Lee memuji ketika menyaksikan ilmu tongkat yang hebat dari Mei Li itu. Tentu saja ilmu tongkat itu hebat karena Mei Li menerima ilmu ini dari ayahnya yang mewarisinya dari Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), satu di antara ilmu tongkat terhebat di waktu itu. Kwan Eng sendiri sampal menjadi bingung karena merasa seolah dirinya berada di tengah badai! Karena dia tahu bahwa kalau diteruskan pertandingan tongkat itu ia akan kalah, maka tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan aneh, tubuhnya berjongkok lalu tangannya mendorong dari bawah ke arah lawan!

Mei Li maklum akan pukulan ampuh, apa lagi ketika ia merasakan hawa dingin menerpa dirinya. Ia dapat menduga bahwa tentu itulah yang dinamakan pukulan Salju Putih. Maka iapun mengelak dan sekali ia mengeluarkan bentakan nyaring dua sinar kilat menyambar dari kanan kiri, “menggunting”ke arah tangan yang berubah menjadi putih dan mengeluarkan hawa dingin itu.

“Ihh ……. ! Kwan Eng berseru

dan cepat menarik kembali lengannya dengan muka berubah pucat. Sepasang pedang itu tadi terbang bagaikan dua ekor ular dan kini sudah melayang kemba like tangan Mei Li. Melihat ini Kwan Eng mencabut pedangnya dan menyerang dengan ganas. Namun, sekali ini, sepasang pedang itu menyambar-nyambar beterbangan di sekeliling kepalanya, 274

membuatnya bingung karena pedang-pedang itu seperti hidup dan gerakannya lincah bukan main. Sebentar saja Kwan Eng terdesak hebat dan sepasang pedang itu mengaung-ngaung seperti ada puluhan ekor nyamuk menyambari telinganya.

Melihat ini, sesaat lamanya Kwan Lee menonton penuh perhatian dan dia menjadi semakin kagum. Jelas nampak olehnya bahwa gadis jelita yang berjuluk Dewi Pedang Terbang itu benar-benar .lihai bukan main, dan juga dia melihat betapa Mei Li mengalah terhadap adiknya, tidak benar-benar menggunakan pedang terbangnya untuk mendesak dan mencelakainya Maka diapun meloncat ke depan dan berseru. “Nona Yang Mei Li, maafkan adikku!”

Dua orang gadis itu meloncat mundur dan wajah Kwan Eng nampak kemerahan, akan tetapi kini senyum membayang pada wajahnya yang cantik..”Sungguh mati! Nama julukanmu bukan kosong belaka, enci Mei Li. Tenaga sin-kangmu kuat, ilmu meringankan tubuh hebat, dan pedang terbangmu mengerikan!”

.”Hemm, jangan memuji, adik Sie Kwan Eng. Engkau sendiri memiliki ilmu yang hebat. Kalau Salju Putih itu telah kaukuasai dengan baik, aku tentu menyerah kepadamu. Semuda ini sudah me miliki ilmu hebat, sungguh mengagumkan!”

“Hi-hik, enci yang tua renta. Berapasih usiamu maka engkau menganggap aku masih seperti anak kecil?l”

“Usiaku sudah delapanbelas, hampir sembilanbelas tahun!”

“Wah, kalau begitu jangan menyebut aku adik, karena aku malah lebih tua beberapa bulan darimu. Aku sudah sembilanbelas tahun lebih. Engkau sungguh hebat, Mei Li, dan aku senang sekali berkenalan denganmu.”

“Ih, engkau terlampau merendah, Kwan Eng. Akulah yang merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan. engkau dan dengan kakakmu.” 275

“Eh, Eng-moi, engkau ini bagaimana sih? Ada tamu agung datang malah diajak bertanding silat dan sekarang diajak bicara di sini dan sama sekali tidak dipersilakan masuk. Mari, nona Mel Li, mari kita masuk dan bicara di dalam!”

“Eh, iya! Mari , Mei Li!” Kini tanpa sungkan lagi Kwan Eng melingkarkan lengannya di pinggang tamunya dan mengajak Mei Li masuk ke perkampungan itu.

Perkampungan Bengkauw itu cukup besar, terdiri dari seratus keluarga lebih. Rumah-rumahnya dari kayu yang cukup kokoh dan di tengah-tengah berdiri bangunan tempat tinggal Sie Wan Cu atau Sie Pangcu, ketua Bengkauw. Nampak pula beberapa orang yang membawa-bawa senjata dan ada pula yang pandang matanya mencorong jahat ditujukan kepa da Mei Li . Ada yang tertawa-tawa kurang ajar akan tetapi orang itu segera mengkeret ketakutan ketika Kwan Eng melotot kepadanya.

Ternyata dalam rumah keluarga Sie itu cukup lengkap prabotannya dan rumah itupun besar sekali. Hal ini tidak mengherankan karena sang ketua memiliki banyak isteri. Akan tetapi karena yang membawa tamu adalah Kwan Lee dan Kwan Eng, maka yang menemui mereka hanya isteri pertama, ibu kedua orang anak itu, seorang wanita berusia empat puluh lima tahun yang masih nampak cantik.

“Wah, kau cantik sekali, nona Yang,” kata ibu kedua orang anak itu. “aduh, kami akan senang sekali kalau engkau dapat menjadi keluarga kami. Benar tidak, Kwan Eng?”

“Benar sekali, ibu! Wah, pikiran yang bagus sekali itu, bukankah begitu

Lee-koko? Kau tentu setuju, bukan?”

Menghadapi sikap yang demikian terbuka dan terus terang tanpa tedeng aling-aling , kedua pipi Mei Li menjadi merah. Bahkan Kwan Lee juga tersipu dan dia membentak, “Eng-moi, apa-apaan kau ini? Jangan kurang ajar terhadap tamu!” 276

“Apa? Jangan munafik, koko Kata kan, apakah engkau tidak suka kalau menjadi suami Mei Li?”

“Setan kau! Tidak semudah kau menggoyang idahmu!” bentak kakaknya.

Mei Li tertawa. Dara ini mulai senang dengan sikap keluarga ini. Tidak ada pura-pura walaupun kelihatan kasar. “Kwan Eng, kakakmu benar. Urusan perjodohan tidak dapat diatur sedemikian mudahnya. Dan aku sedikitpun belum mempunyai pikiran untuk urusan itu. Karena itu harap kau jangan sebut-sebut lagi urusan perjodohan.”

“Sayang sekali, nona. Kalau sudah tiba waktunya engkau memikirkan soal perjodohan, jangan lupa kepada anak ku Kwan Lee, nona.”

“Sudahlah, ibu. Aku khawatir kalian akan menyebalkan hati nona Mei Li. Mari kita bicara urusan lain. Di mana ayah, ibu? Apakah ayah belum pulang?”

Wanita itu mengerutkan alisnya dan wajahnya yang cantik menjadi muram. “Aku mengkhawatirkan ayahmu. Dia sudah terlalu marah dan kini dia menyerang Pek-houw-pang dan Ang-kin-kai-pang. Aku khawatir sekali kita dibawa masuk ke jurang permusuhan yang lebih dalam dan payah*”

“Ayah benar, ibu!” kata Kwan Eng. “Sayang aku harus melatih Salju Putih sehingga tidak dapat membantu ayah. Pek-houw-pang (Perkumpulan Harimau Putih) dan Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan pengemis Sabuk Merah) yang lebih dulu mencari gara-gara, ikut pula memusuhi kami dan membunuh beberapa orang anggauta kami .”

“Eng-moi!” bentak kakaknya. “Semua yang terjadi pada kita adalah kesalahpahaman, fitnah keji yang harus diselesaikan dengan penjelasan dan musyawarah. Kalau kekejaman mereka dibalas pula dengan kekejaman, permusuhan akan menjadi-jadi. Mengapa ayah tidak menyadari hal ini dan tidak mau bertindak sabar?” 277

“Sabar? Tolol, orang kita habis terbasmi kalau kita sabar!” Tiba-tiba terdengar jawaban yang lantang dan di ruangan itu nampak bayangan berkelebat.

“Ayah !” Seru Kwan Lee dan Kwan Eng hampir berbareng.

Mei Li mengangkat muka memandang dan gadis ini meiihat seorang laki-laki sudah berdiri di situ. Seorang laki laki sejati, seorang jantan kalau melihat wajah dan perawakannya. Tubuhnya tinggi dan kokoh bagaikan batu karang, tidak gendut dengan pinggang ramping dan dada bidang walaupun usianya sudah enampuluh tahun namun dia seperti orang berusia empatpuluh tahun saja. Rambutnya sudah bercampur uban, akan tetapi malah menambah kedewasaan dan kejantanannya. Belum ada keriput di wajahnya walaupun kulit muka yang terbakar matahari itu nampak dihias guratan guratan perasaan. Matanya lebar mencorong bagaikan mata naga, bentuk wajahnya segi empat dan keras, gerak-gerik dan langkahnya seperti seekor harimau yang bermalas-malasan. Pria seperti ini memiliki daya tarik yang kuat dan besar bagi kaum wanita. Mei Li merasa seperti kalau ia memandang seekor kuda jantan yang kuat dan bagus. Pantas saja putera dan puterinya demikian gagah dan cantik. Kiranya ketua Beng-kauw itu seorang yang tampan dan ganteng sedangkan isterinya demikian cantiknya.

“Aku baru saja memberi hajaran kepada Pek-houw-pang dan Ang-kin Kai-pang, membunuh ketuanya karena mereka kukuh menganggap Beng-kauw telah membunuhi anggauta mereka. Ha-ha-ha , baru mereka tahu bahwa Beng-kauw tidak boleh dipandang ringan dan diperlakukan sembarangan saja ahhh “

Dan tiba-tiba orang itu terbatuk-batuk dan menekan dadanya. Dia muntahkan darah segar!

“Ayah !” Kwan Lee dan Kwan Eng menjerit dan isteri ketua itu ce 278

(Maaf ada halaman yang hilang)

kan minuman arak, buah-buahan, pendeknya mereka itu berlumba untuk melayani sehingga Mei Li yang me’nyaks ikan merasa sungkan sendiri, mulailah Kwan Lee bercerita tentang pertemuannya dengan Mei Li.

Setelah puteranya selesai becerita, ketua itu memandang kepada MeinLi dengan penuh perhatian. “Nona Yang, engkau beruntung sekali, masih begini muda, memiliki kecantikan yang sempurna, masih menguasai ilmu silat yang tinggi pula. Pedangmu yang memakai tali dan dapat terbang itu mengingatkan aku akan seorang sakti yang pernah menggegerkan dunia persilatan, yaitu Hek-Liong Kwan Bhok Cu”‘

“Beliau adalah Kakek guruku, pangcu”

“Wah, wah, wah! Pantas saja kalau begitu. Ha-ha, Kwan Lee, Kwan Eng kalian beruntung sekali mempunyai sahabat seperti ini, dan akan lebih baik lagi kalau dapat menjadi isterimu, Kwan Lee Bagi kita sama saja menjadi isteriku atau isterimu, pokoknya Bengkauw dapat menariknya menjadi keluarga.

Mei Li sudah mulai terbiasa oleh ucapan yang blak-blakan itu sehingga ia tidak begitu.terkejut lagi. Orang-orang ini memang tidak mau terikat oleh segala sopan santun yang hanya menjadi kedok tipis dari isi hati orang.

Jilid X

Ia tersenyum. “Pangcu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan tentang perjodohan, harap engkau tidak bicara tentang itu. Dan aku selalu mau bersahabat dengan siapa saja asal orang itu tidak jahat.”

“Bagus,” dan kini sikap main-main itu lenyap, sang ketua nampak serius. “Kumpulkan semua pembantu utama kita di 279

ruangan rapat agar mereka mendengarkan pembicaraan kita. “

Kwan Lee lalu melaksanakan perintah ini dan tak lama kemudian mereka semua sudah berkumpul di ruangan besar. Ayah dan dua orang anak itu duduk semeja dengan Mei Li, para isteri tidak nampak lagi dan sebaliknya ada dua puluh orang lebih pimpinan Bengkauw yang hadir sebagai pendengar.

“Sekarang dengarkan baik-baik hasil penyelidikanku. Mereka semua, orang-orang kangouw yang menganggap diri pendekar, sudah siap untuk menghancurkan kita. Terutama sekali Nam-kian-pang yang dipimpin oleh Ciu Kang Hin. Kita harus dapat menangkap dan menghukumnya. Entah sudah berapa banyak orang kita tewas di tangan pemuda setan itu. Nam-kiang-pang bahkan telah minta bantuan partai-partai lain seperti Si-auw-lim-pai dan Butong-pai. Akan tetapi kita tidak perlu takut!”

“Benar, ayah. Kita adalah bangsa harimau yang memilih mati dengan seribu luka dari pada menjadi babi yang menguik-nguik menanti ajal!” kata Kwan Eng dengan gagah.

“Ayah, maafkan aku. Apakah tidak ada jalan lain?” ‘

Orang gagah itu melotot. “Jalan lain apa maksudmu? Benar seperti apa yang diucapkan adikmu Kalau harimau sudah tersudut, apa lagi yang harus di lakukan selain melawan mati-matian? Hanya pihak musuh atau kita yang akan hancur binasa.”

“Tentu saja aku tidak menganjurkan untuk melarikan diri ketakutan, ayah. Akan tetapi kita dapat mencoba un tuk menyadarkan mereka, menerangkan salah sangka ini dan mengakhiri permusuhan.”

“Aaah, kita akan dicap pengecut, koko!” bantah adiknya.

“Kau hanya mengandalkan kekerasan,” cela 280

kakaknya..”Kekerasan tanpa perhitungan bukanlah kegagahan namanya, melainkan kebodohan. Mati yang nekat adalah mati konyol, bukan mati gajah!”

“Cukup!” bentak ayah mereka. “Tidak perlu kita bercekcok. Di sini ada nona Yang Mei Li yang gagah perkasa. Coba kauutarakan pendapatmu, nona. Barangkali ada gunanya bagi kami .”

“Sebetulriya saya tidak ingin mencampuri urusan dalam perkumpulan kalian, pangcu. Akan tetapi karena diminta, saya akan berterus terang saja. Pendapat toako Sie Kwan Lee dan pendapat Sie Kwan Eng keduanya benarndan alangkah baiknya kalau keduanya dipergunakan. Pertama-tama, diusahakan untuk memberi penerangan untuk membantah fitnah yang dijatuhkan kepada Bengkauw, untuk membersihkan nama Bengkauw. Tentu saja kalau memang ada anggauta Beng kauw yang bersalah, tidak ragu lagi untuk menjatuhkan hukuman setelah itu, kalau pihak sana masih terus menekan dan menyerang, apa boleh buat, haruslah dihadapi secara jantan “

Ayah dan anak itu mengangguk-angguk setuju. “Kalau begitu, mulai sekarang kalian harus menyelesaikan latihan kalian. Agar latihan dapat dilakukan berbareng sehingga mudah menjaganya, kita pergunakan guha inti salju di puncak Tanduk Rusa. Puncak ini berada di pegunungan Thaisan yang seringkali tertutup salju.

“Akan tetapi aku membutuhkan tempat yang terpanas untuk menyempurnakan latihanku, ayah,”!kata Kwan lee.

“Tentu saja! Akan tetapi tempat paling panas dapat dibuat dengan api, sedangkan tempat paling dingin haruslah buatan alam. Kita nanti memperguna kan guha batu di sana, kita panaskan dengan api menjadi tempat latihan baik untukmu .”

Mei li tertarik sekali.. Ia memang seorang yang suka sekali akan ilmu silat Maka mendengar cara berlatih dua macam ilmu 281

yang dianggap unggul di dunia persilatan Itu, ingin ia menyaksikannya.

Seolah dapat membaca suara hati Mei Li Kwan Eng lalu menghampiri Mei Li dan menggunakan lengan melingkari pinggang dara itu dan berkata, “Mei Li, marilah kau temani, kami. Aku masih ingin mempererat persahabatan kita.”

“Kalau kau suka aku akan senang sekali, nona. Pula, pemandangan alam di sana amat indahnya, kalau nona sedang merantau maka datang ke puncak Thai-san akan menyenangkan hati nona,'” kata pula Kwan Lee.

“Ha-ha, sebetulnya dilarang keras bagi orang luar untuk menyaksikan latihan yang penuh rahasia ini, akan tetapi nona Yang Mei Li sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Tentu saja merupakan kebanggaan besar kalau nona suka menyaksikannya,” kata pula Sie Wan Cu.

Mei Li memang tertarik sekali ke pada keluarga Bengkauw ini. Apalagi melihat kenyataan bahwa keluarga ini dimusuhi semua orang, membuat hatinya merasa penasaran. Dia tidak melihat sesuatu yang dapat dijadikan alasan cukup untuk membenci dan memusuhi keluarga ini .

“Baik, kalau kalian tidak merasa terganggu dengan kehadiranku, ingin aku menyaksikan” katanya dan ucapan ini disambut dengan seruan girang oleh Kwan Eng.

Pada hari itu juga, berangkatlah Sie Wan Cu dan dua orang anaknya, menunggang kuda di.temani oleh Mei Li dan diikuti pula oleh limabelas orang tokoh Bengkauw. Rombongan ini melakukan perjalanan dengan kuda dan cepat mereka menuju ke pegunungan Thai-san.

Tidak sukar bagi rombongan itu menemukan Guha Inti Salju di puncak yang tertutup salju itu. Guha ini besar dan dalam, dan karena selamanya mengandung salju, dindingnya juga berkilauan karena membeku dan agaknya ada sesuatu di dalam guha itu yang menimbulkan keadaan seperti itu 282

sehingga di sebut guha inti salju, dibagian dalamnya teramat dingin, Ketika Mei Li ikut menasuki, ia harus mengerahkan tenaga sin-kang untuk melawan hawa dingin itu. Kwan Eng lalu ditinggal seorang diri dan dara ini duduk bersila di atas permukaan es yang membatu untuk melatih bagian terakhir dari ilmu Salju Putih.

Para pembantu lalu mempersiapkan guha untuk Kwan Lee berlatih. Memang terdapat guha-guha batu di tempat itu dan mereka mengumpulkan kayu, ditumpuk di sekeliling guha, menyiraminya dengan minyak lalu membakar tumpukan kayu itu. Terdengarlah bunyi berkeratak yang aneh dan nyaring ketika kayu basah itu terbakar karena sudah mengandung minyak. Mereka terus mengumpulkan kayu dan menambah kayu setiap kali kayu menipis sehingga guha itu selalu di kelilingi api yang besar. Tentu saja di dalamnya segera menjadi panas bukan main. Kwan Lee lalu memasuki guha ini dan mulailah dia melatih bagian terakhir dari ilmu Matahari Merah.

Limabelas orang itu secara bergiliran menjaga siang malam di depan guha. Setelah lewat lima hari Mei Li merasa bosan juga. Mula-mula ia memang merasa senang karena seperti yang dika takan Kwan Lee, pegunungan itu memiliki pemandangan yang indah sekali. Akan tetapi setelah lima hari ia merasa kesepian, juga merasa tidak enak karena sikap Sie Wan Cu amat manis kepadanya, bahkan kini mulai merayu yang bagi umum tentu akan dianggap kurang ajar. Ia menghindar dengan halus dan harus diakui bahwa bagi wanita yang kurang kuat menjaga harga diri, tentu akan jatuh oleh rayuan maut laki-laki yang ganteng dan jantan ini.

Pada suatu pagi ketika Mei Li keluar dari guha yang ia pilih untuk ternpat melewatkan malam, Sie Wan Cu sudah menunggu di luar guha dan pria ini nampak segar dan wajahnya berseri. Ketika Mei Li muncul, dia segera bangkit dari tempat duduknya dan memandang dengan mata 283

bagaikan orang terpesona.

“Nona Mei Li, engkau sungguh cantik jelita pagi ini! Kalau orang bertemu denganmu dan belum mengenalmu, tentu akan mengira engkau ini dewi penjaga gunung! Ah, semua pria akan suka berlutut memuja kecantikanmu.”

Biarpun jantungnya merasa berdebar karena girang mendengar , pujian yang berlebihan ini, namun Mei Li sengaja melempar senyum mengejek. “Sie-pangcu, sudahlah, simpan semua pujian dan rayuanmu itu. Aku tidak membutuhkan itu!” Ia menggosok-gosok tangannya untuk mengusir dingin, semua tubuhnya tertutup kain hangat dan hanya sebagian mukanya saja terbuka. Pagi itu hawanya memang bukan main dinginnya dan semalam juga turun hujan salju yang cukup tebal. “Lima hari sudah lewat, berapa lama lagikah Lee-twako dan Kwan Eng keluar dari dalam guha?” Ia menoleh ke arah dua buah guha yang nampak dari situ. Lebih menyenangkan menjaga guha api, karena dekat dengan guha itu akan terasa hangat.

“Bersabarlah, nona. Dua hari lagi, kalau tidak ada halangan, mereka akan menyelesaikan latihan mereka.”

“Dan mereka akan menguasai iImu-ilmu yang hebat, menjadi orang sakti?”

Sie Wan Cu tertawa. “Ha-ha, mereka akan menjadi orang tanpa tanding, atau setidaknya akan sama lihai dengan ayahnya!” Ketua itu tertawa-tawa dan kalau dia tertawa seperti itu, wajahnya seperti orang berusia tigapuluh tahun saja. Sombongnya, pikir Mei Li. Akan tetapi ia tertarik sekali Ingin ia menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana hebatnya kedua ilmu itu sehingga dipuji-puji oleh dunia kangouw. Kenapa ia tidak mengajak ketua ini untuk mencoba-coba dan menguji ilmu itu? Setidaknya dapat mengalihkan percakapan dan perhatiannya yang selalu memuji muji dan merayu. 284

“Pangcu, aku pernah mendengar tentang kehebatan Matahari Merah dan Salju Putih, akan tetapi hanya mendengar beritanya saja. Dan aku meragukan, karena biasanya berita itu dilebih-lebihkan dari kenyataannya.”

Pria itu memangdang dengan alis berkerut. “Kau tidak percaya?”

“Aku bukan orang yang tahyul, pangcu. Aku hanya percaya kepada apa yang sudah kubuktikan sendiri, bukan hanya dari. kata-kata orang lain.”

“Apa katamu, nona? Kalau begitu engkau tidak akan percaya kepada kemampuan Matahari Merah dan Salju Putih kalau tidak membuktikan dan mengujinya sendiri ?”

“Begitulah, pangcu.”

“Beranikah engkau mengujinya? Ilmu itu sakti dan berbahaya sekali!”

“Kurasa tidak akan lebih berbahaya dari pada hui-kiam (pedang terbang) milikku,”

“Begitukah? Berani engkau mencobanya?”

“Kenapa tidak, pangcu? Apa lagi kalau mencoba denganmu, tentu engkau tidak akan sungguh-sungguh mencelakai aku.”

“Bagus, mari kita saling menguji, nona. Kebetulan hawa udara begini dingin, satu-satunya cara terbaik untuk melawan dingin hanyalah dengan bermesraan atau latihan silat, ha-ha-ha!”‘

Mei Li tidak marah. Kin? ia sudah terbiasa dengan ucapan yang ugal-ugalan dan tanpa disembunyikan, dan apa yang diucapkan ketua itu sama sekali tidak mengandung kemesuman, melainkan memang kenyataannya demikian. Apa yang lebih menghangatkan dari pada bermesraan di waktu hawa sedingin itu? Walaupun ucapan itu terlalu kasar, akan 285

tetapi karena sejujurnya, ia dapat menerimanya tanpa tersipu atau marah.

“Sing !” Nampak dua sinar berkelebat dan tahu-tahu ia sudah memegang sepasang pedangnya. Sepasang pedang itu menyilang depan dada dengan gaya yang indah gagah.

Kembali ketua Bengkauw mengeluar kan suara tawa yang lantang sehingga limabelas orang tokoh Bengkauw memandang penuh perhatian dan merekapun merasa gembira karena maklum bahwa ketua mereka saling menguji ilmu kepandaian silat dengan nona yang berjuluk Hui-kiam Sian-li itu. Tanpa diperintah lagi mereka semua kini menjadi penonton yang tegang karena kalau ketua mereka yang bertanding, walaupun hanya sekedar latihan atau ujian, tehtu akan ramai sekali.

Sie Wan Cu memutar-mutar tangan kanannya dan per lahan-lahan tangan itu berubah menjadi merah sampai sebatas pergelangan tangan. “Nona, engkau boleh berkenalan dengan Matahari Merah!” katanya. “Awas, sambutlah!”

Nampak sinar menyambar ke arah Hei Li Gadis itu maklum betapa hebatnya sinar pukulan Matahari Merah itu, maka dengan gerakan ringan iapun mengelak dengan loncatan ke samping dan dari situ ia melepaskan pedang kirinya sambil berseru nyaring.

“Lihat hui-kiam!”

Pedang itu meluncur dengan cepat. “Bagus!” seru Sie Wan Cu dan dia mengelak sambil mengulur tangan untuk menangkap. Akan tetapi dia terlalu memandang rendah kalau mengira dapat menangkap pedang terbang yang dilepas Mei Li. Dengan kedutan tangannya pedang itu dapat “mengelak” dari tangkapan lalu menukik dan kini masuk ke arah leher!

“Ah, lihai !” Sie Wan Cu melompat ke samping dan mencoba untuk menendang pedang itu. Kembali pedang itu mengelak dan kini pedang ke dua menyambar dengan 286

ganasnya.

Ketua Bengkauw itu gembira sekali Dengan gerakan yang lincah dia menghindar, kemudian mengirim pukulan lagi dengan tangannya yang seperti membara itu. Hawa panas keluar dari kepalan tangan yang terbuka, menyambar ke arah Mei Li Gadis ini juga tidak berani menerima pukulan itu dengan langsung, hanya menangkis dari samping, itupun dengan pengerahan sin-kang sehingga dia tidak terpukul langsung oleh tenaga Matahari Merah. Kalau dara itu membalas dilain fihak Sie Wan Cu juga tidak berani sembarangan menangkis pedang terbang, hanya menyampok atau mencoba untuk menangkap saja.

Kalau tadinya Sie-pangcu masih tertawa-tawa, dan bersikap seperti main-main, kini suara tawanya lenyap, terganti dengan seruan-seruan kaget! Kalau tadi ketika rnendengar laporan puteranya yang mengatakan bahwa kedua anaknya tidak mampu menandingi Mei Li masih dia anggap sebagai sikap rendah hati puteranya, kini dia tertegun. Dia mendapat kenyataan bahwa gadis ini benar-benar lihai bukan main! Bukan hanya mampu menghindarkan diri dari setiap serangannya, bahkan serangan balasan dari sepasang pedang itu benar-benar amat berbahaya! Dan andaikata mereka berkelahi benar-benar, dia kini meragukan apakah dia akan mampu menundukkan gadis ini dalam waktu cepat. Sungguh merupakan kenyataan yang mengejutkan hatinya dan amat pahit rasanya. Dia selalu merasa bahwa dia adalah tokoh yang terpandai, maka dia berani malang melintang. Jarang ada orang mampu menghadapi ilmunya Matahari Merah dan Salju Putih. Siapa kira, gadis yang usianya sebaya dengan puterinya ini mampu mengimbanginya, kenyataan ini sedikit banyak menyinggung harga dirinya dan ketua Beng-kauw ini mulai merasa penasaran.

“Auggghhh !'”Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan memutar tangan kirinya. Seketika tangan kirinya berubah 287

warnanya menjadi pucat dan terasa hawa dingin sekali keluar dari tangan itu.

Mei Li cukup waspada. Sebelum tangan itu menampar, ia sudah dapat menduga bahwa tentu inilah ilmu Salju Putih, oleh karena itu cepat ia menghindar dan memutar pedang terbangnya melindungi tubuhnya, sementara pedang ke dua sudah terbang ke atas dan menukik, menyerang ke arah kepala!

Sie-pangcu yang sudah merasa penasaran sekali, menggerakkan kedua tangannya dan kini dua tangan yang mengandung dua kekuatan dahsyat menyambar-nyambar ganas! Mei Li terkejut karena ia dapat merasakan betapa ketua Bengkauw itu menyerang dengan sungguh-sungguh, bukan main-main lagi. Ini dapat membahayakan jiwanya! Oleh karena itu iapun mengerahkan seluruh tenaganya, membuat sepasang pedangnya beterbangan dengan hebat, kalau perlu mencabut nyawa lawan bukan, karena kebencian atau marah melainkan untuk menyelamatkan nyawa sendiri. Dua macam ilmu yang dashyat, dimainkan oleh dua orang ahli bertemu di udara dan pilihannya hanya dua, dibunuh atau lebih dulu membunuh!

Berulangkali keduanya nyaris menjadi korban serangan maut lawan, hanya selisih serambut saja. Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring dan terjadi pertempuran besar di mana limabelas orang tokoh Bengkauw harus menghadapi serangan tujuh orang yang begitu tiba di situ langsung saja mengamuk. dari gerakan mereka mudah diketahui bahwa tujuh orang ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali!

“Pangcu, tahan!” Seru Mei Li sambil meloncat dengan cepat sekali ke belakang.

Sie Pangcu mengangkat muka memandang dan tiba-tiba wajahnya berubah. “Tahan senjata, aku ingin bicara!” Teriakannya lantang sekali dan tujuh orang itu berhenti 288

menyerang, menghadapinya dengan senyum simpul. Mei Li berdiri dipinggir menonton.. Dara ini heran meiihat bahwa mereka itu kelihatan bukan orang jahat, bahkan ada seorang hwesio tinggi besar, dua orang tosu dan dua orang pula berpakaian mewah, sedangkan dua orang lagi adalah pemuda pemuda tampan dan gagah. la menduga-duga siapa gerangan tujuh orang itu.

“Sie-pangcu, sekali ini engkau takkan dapat lari dari kami, menyerahlah saja untuk kami bawa ke sidang pengadilan orang-orang kangouw!”‘kata se orang di antara mereka, yaitu hwesio yang tinggi besar.

“Hemm kulihat kalian ini bukan pengecut-pengecut rendah, akan tetapi kalian bersikap seperti penjahat-penjahat kecil, menyerang tanpa memperkenal kan nama! Aku Sie Wan Cu tidak sudi membunuh orang tanpa nama!”

“Omitohud, membunuh ular jahat memang tidak sepatutnya memakai banyak aturan, dan engkau lebih jahat dari pada ular berbisa, Sie Wan Cu. Ketahuilah bahwa pinceng adalah Hi Jin Hwe sio dari Siauw-lim-pai!”

“Pinto Pek Kong Sengjin dari kho-thong-pai Tosu kedua memperkenalkan diri, dia pendek gendut dengan muka kuning, usianya limapuluhan tahun.

“Aku Ang-sin-liong Yu Kiat dari poat-kauw!” kata laki-laki limapuluh tahun yang tinggi tegap, tampan dan pakaiannya serba rnerah itu, sambil mengamangkan golok gergajinya yang menyeramkan.

“Tiat-sin-liong Lai Cin dari hoat kauw!”kata orang kedua yang usianya empatpuluh lima tahun, tinggi kurus muka pucat, sambil memegang tombak cagak ronce biru. Diam-diam Sie-pangcu dari Bengkauw terkejut mendengar nama dua orang dari Bu-tek Ngo Sin-liong yang dia tahu amat tangguh ini.

“Sie Pangcu dari Bengkauw, kau ingin mengetahui 289

namaku?” kata seorang pemuda yang tampan, halus berpakaian sastrawan serba putih yang memegang golok. “Namaku Tong Seng Gun, murid Nam-kiang-pang dan ini adalah suhengku, juga pemimpin besar kami . orang-orang yang anti Bengkauw, bernama Ciu Kang Hin!” Dia memperkenalkan pemuda lain yang tampan dan gagah, namun yang wajahnya muram dan sejak tadi tidak banyak bicara.

Kalau Sie Wan Cu terkejut mendengar nama-nama itu, terutama nama Ciu Kang Hin yang amat dibencinya karena kabarnya pemuda inilah yang paling gigih membasmi Bengkauw, Mei Li sebaliknya menjadi terheran-heran. Dari ayah ibunya ia banyak mendengar tentang orang-orang kangouw yang.gagah, pendekar-pendekar perkasa, akan tetapi mengapa sikap tujuh orang ini begitu congkak? Dan diam-diam ia memperhatikan Ciu Kang Hin, karena ia sudah mendengar bahwa pemuda ini pembasmi Beng-kauw nomor satu. Akan tetapi pemuda itu tidak nampak ganas dan kejam, bahkan pendiam dan mukanya muram seperti orang berduka dan menimbulkan perasaan pribadi hatinya.

Melihat bahwa tujuh orang itu semua adalah musuh besar yang selalu mengejar-ngejar dan membasmi orang Beng-kauw Sie Pangcu maklum bahwa pertempuran mati-matian tak dapat dielakkan Yang dia khawatirkan adalah putera dan puterinya. Mereka belum selesai latihan, dan kalau mereka diganggu, bisa menimbulkan malapetaka bagi mereka.

dia memberi isarat kepada anak buahnya dan berseru. “Serbu! Bunuh manusia sombong ini!” Limabelas orang tokoh Bengkauw itu sudah menggerakkan senjata masing-masing, menyerang tujuh orang itu. Tang Seng Gun yang sesungguhnya memegang peran penting, bahkan dia yang se sungguhnya memimpin dalam rombongan itu, berseru kepada Ciu Kang Hin. “Su-heng, serbu dua buah guha itu!”-

Dia sendiri bersama Ciu Kang Hin lalu menggerakkan 290

goloknya, menerjang para tokoh Bengkauw yang menjaga di depan dua buah guha. Tong Seng Gun menyerbu para penjaga di depan guha inti salju sedangkan Ciu Kang Hin menerjang mereka yang berjaga di depan guha yang dikurung api unggun yang besar dan panas.

Sementara itu, lima orang tokoh Siauw-lim-pai, Butong-pai, Kong-thong pai dan Hoat-kauw sudah menggerakkan senjata mereka mengeroyok Sie-pangcu. Mei Li sendiri hanya berdiri terbelalak.karena kagum dan bingung harus berbuat apa. Kalau ia membantu Bengkauw, berarti ia mencampuri urusan perkumpulan lain dan ayahnya tentu akan marah sekali kalau mendengar ini, dan berarti ia menanam bibit permusuhan dengan partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai Butong-pai dan lain-lain. Kalau diam saja, iapun merasa tidak enak dan kasihan kepada Sie-pangcu yang dikeroyok lima orang lihai.

Apa lagi ketika ia mei ihat Tong seng Gun. Biarpun ia merasa heran melihat pemuda itu, akan tetapi ia masih mengenalnya dengan baik. Tidak mudah melupakan pemuda yang mendatangkan kesan mendalam di benaknya itu. la merasa heran meilihat pemuda itu kini menggunakan sebatang golok yang lihai bukan main, tidak seperti dulu ketika ia pertama kali bertemu dengannya. Ketika itu pemuda berpakaian serba putih itu mengunakan senjata suling! Yang jelas biarpun kejam, pemuda itu adalah seorang pendekar,yang menentang kejahatan yang tanpa mengenal ampun telah membantai Tiat-ciang Hek-mo, raksasa kepala Hek I Kwi-pang perampok lembah Huangho itu, berikut belasan anak buahnya. Pemuda itu telah menyelamatkan sepasang pengantin baru! tentu saja ia tidak tahu bahkan tidak pernah mimpi bahwa pengantin wanita telah diperkosa oleh Seng Gun dan pengantin pria telah dilempar ke dalam jurang dan pengantin wanita kemudian membunuh diri ke dalam jurang pula!

Tidak enak kalau sekarang ia harus membantu Bengkauw 291

menentang pemuda pendekar itu. Dengan bingung Mei Li me lihat betapa Seng Gun dan Kang Hin membabati para anggauta Beng-kauw itu seperti membabat rumput saja! Padahal belasan orang itu adalah tokoh-tokoh tingkat dua dari Bengkauw, rata-rata telah memiliki tingkat kepandaian tinggi

Sementara itu, Sie Wan Cu yang dikeroyok lima orang itupun mengamuk bagaikan harimau terluka. Tangan kanan nya berubah merah dan mengeluarkan sinar seperti api kalau melancarkan pukulan, sedangkan tangan kirinya putih seperti salju. Karena mempelajari dua macam ilmu yang mengandung tenaga sin-kang yang berlawanan ini., Sie Wan Cu tidak memiliki tenaga yang sepenuhnya, tidak dapat menguasai ilmu itu secara sempurna. Itulah sebabnya dia menyuruh Kwan Lee melatih Matahari Merah saja dan Kwan Eng melatih Salju Putih. saja. Dengan melatih salah satu saja, ke dua orang anaknya akan dapat menguasai ilmu itu sepenuhnya.

Akan tetapi, biarpun penguasaannya tidak sempurna, tetap saja kedua ilmu yang ampuh itu ternyata dahsyat sekali. Tangan kanannya mengeluarkan uap dan nampak kemerahan seperti api membara, dan hawa yang amat panas terasa oleh lawan-lawannya. Sedangkan tangan kirinya yang berwarna putih itu seperti es.beku, mengeluarkan uap dingin yang terasa mengerikan kalau menyentuh lengan para pengeroyok.

“Omitohud, jahat…. jahat….!” hwesio tinggi besar dari Siauw-lim-pai dan kalau tadi dia hanya mengandalkan ujung lengan bajunya yang panjang lebar untuk menyerang Sie Wan Cu, dia mengeluarkan sebuah tongkat kuningan. Ketika tadi menggunakan ujung lengan baju, hwesio itu sempat menangkis sambaran tangan kanan Sie Wan Cu dan ujung lengan baju itu menjadi gosong terbakar, maka dia terkejut sekali dan melompat ke belakang, mencabut tongkat yang tadinya dia tancapkan di atas tanah. Dengan tongkat kuningannya, hwesio tinggi besar itu bagai.kan harimau 292

tumbuh sayap. Ho Jin Hwesio adalah seorang hwesio tingkat dua dari perguruan Siauw-lim-pai , maka tentu saja ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi. Tongkatnya mengeluarkan suara mendengung-dengung ketika dia gerakkan merupakan serangan bertubi-tubi, menusuk, mengemplang, menyerampang dan setiap serangan itu mengandung tenaga dahsyat.

Sie Wan Cu mengamuk dan melihat hwesio itu memukul dengan pengerahan tenaga, dia memapaki dengan tangan kanannya. “Krakk….!” hebat bukan main pertemuan tenaga itu. Tangan yang menangkis itu membuat gerakan memutar dan ujung tongkat itupun patah! Ho Jin Hwesio terkejut dan dia melompat ke be lakang. Untung baginya bahwa para pe-ngeroyok lain sudah mendesak Sie Wan Cu sehingga ketua Beng-kauw ini tidak dapat menyusulkan serangan kepadanya. Ho Jin Hwesio merasa penasaran sekali dan diapun nekat maju lagi menggunakan tongkatnya yang sudah buntung. Sekali ini, selagi ada kesempatan pengeroyok dengan beberapa orang tokoh lihai, dia harus berhasil membalaskan dendam suhengnya. Suhengnya seorang tokoh Siauw lim-pai yang lain, pernah bentrok dengan ketua Beng-kauw “itu dan dalam per kelahian itu, suhengnya merasakan penghinaan besar. Suhengnya tidak saja kalah, akan tetapi ketua Beng-kauw, itu tidak mau membunuhnya, hanya mematahkan tulang kakinya sehingga hwesio itu menjadi tapadaksa, jalannya terpincang pincang. Hal ini membuat suhengnya merasa terhina dan tersiksa sekali sehingga ingatannya mulai berubah dan kini hanya tinggal saja bertapa, tak pernah mau mencampuri urusan dunia dan juga sikapnya berubah menjadi tidak waras! Kalau sekarang Ho Jin Hwesio dengan penuh semangat menerima ajakan Nam-kiang-pang untuk menyerbu Bengkauw, yang mereka lakukan bersama, hal itu semata untuk membalaskan sakit hati suhengnya, di samping untuk membasmi perkumpulan yang dianggap amat jahat dan sesat itu. 293

Kiang Cu Tojin, tosu tinggi kurus dari Butong-pai -itu juga mengandung sakit hati yang mendalam kepada Sie Wan Cu. Seorang murid wanitanya, yang masih gadis, pernah bertemu dengan ketua Bengkauw itu, merasa tertarik sekali karena Sie Wan Cu memang memiliki daya tarik yang amat kuat bagi wanita. Ketika itu usia Sie Wan Cu empat puluh tahun dan murid Butong-pai itu tergila-gila kepadanya. Dan ketua Bengkauw inipun tidak menolak. Mana mungkin bagi Sie Wan Cu untuk menolak rindu dendam seorang wanita? Dia melayani, merayu dan bermain cinta dengan gadis itu. Akan tetapi ketika wanita itu minta agar ia dinikah, menjadi isteri yang ke sekian, Sie Wan Cu tidak mau. Bukan dia tidak sayang kepada wanita itu, melainkan karena wanita itu murid Butong-pai yang dilarang untuk menikah. Dia tidak ingin membuat Butong-pai sakit hati kepadanya. Dia menolak dan gadis itu menjadi patah hati lalu membunuh diri! Akhirnya, Kiang Cu

Tojin guru wanita itu mengetahu? persoalannya maka dia bersumpah untuk membunuh Sie Wan Cu dan begitu Nam-kiang-pang mengajak dia bekerja sama membasmi Bengkauw, sertamerta dia menyanggupi. Kini dengan pedangnya di tangan, dia mencari kesempatan untuk dapat memenggal pria yang dibencinya itu.

Ang-sin-Tiong Yu Kiat lebih sakit hati lagi kepada ketua Bengkau ini karena mendiang isterinya dahulu pernah dibikin tergila-gila oleh Sie Wan Cu. Pendeknya diantara lima orang tidak ada seorangpun .yang suka kepadanya, maka mereka mengeroyok dengan tekad keras untuk membunuhnya.

Namun ternyata Sie Wan Cu bukan orang yang mudah ditundukkan. Lima orang pengeroyok itu rata-rata merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan dan mereka semua berusaha mati-matian untuk membunuh. Namun ketua Bengkauw itu dapat melakukan perlawanan dengan gigih sekali. Setelah lewat pertempuran yang makan waktu lebih dari limapuluh jurus, barulah tongkat buntung Ho Jin Hwesio 294

mampu menggebuk punggungnya dengan amat kuatnya sehingga terdengar tulang patah. Memang ada tulang iga Ketua Bengkauw yang patah, akan tetapi Sie Wan Cu malah mengeluarkan suara tawa dan dia menyerang dengan amat cepatnya kepada hwesio itu. Terdengar teriakan mengerikan dan hwesio tinggi besar itu roboh terkapar dan menggelepar dengan muka berubah hangus.

Melihat ini, empat orang tokoh yang lain menjadi marah dan mereka menggerakkan senjata lebih ganas lagi. Namun, Sie Wan.Cu yang maklum bahwa dia tidak akan dapat mengalahkan para pengeroyoknya yang tingkat kepandaian masing-masing tidak berselisih jauh dengannya, kini menubruk ke arah Kiang Cu Tojin. Tosu Butong-pai itu dengan penuh kebencian menyambut dengan tusukan pedangnya, namun Sie Wan Cu yang sudah nekat itu tertawa, menerima pedang dengan dadanya dan tangannya berhasil dapat mencengkeram pundak tosu itu. Ki ang Cu Tojin menggigil, mukanya berubah pucat sekali dan diapun roboh ter-kena cengkeraman ilmu Salju Putih dan tewas seketika.

Sie Wan Cu yang dadanya. sudah di tembusi pedang masih dapat rnembalik dan mengirim pukulan Matahari Merah ke arah Ang-sin-l iong Yu Kiat namun dari samping Pek Kong Seng-jin dari Kong-thong-pa i sudah menggerakkan ruyungnya menghantam tengkuk Sie-Wan Cu.

“Prakk….!”‘Ruyung itu hancur berkeping-keping dan tubuh ketua Beng-kauw itu terpelanting.

Dia bergulingan dan dari bawah kedua tangannya bergerak. Sinar kehitaman menyambar ke arah Pek Kong Seng-jin, Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin, namun tiga orang ini cepat menghindar dengan loncatan-loncatan ke samping sehingga jarum-jarum lembut itu tidak mengenai sasaran.

Sungguh mengagumkan sekali. Biarpun dadanya sudah tertembus pedang Kiang Cu Tojin, tulang iganya patah oleh 295

hantaman tongkat Ho Jin Hwesio dan tengkuknya membuat ruyung Pek Kong Sengjin hancur berkeping, namun ketua Bengkauw itu masih sempat membunuh Ho Jin Hwesio dan Kiang Cu Tojin, kemudian menyerang tiga orang lawan lain dengan dahsyat, yaitu jarum-jarum yang biarpun amat halus namun mengandung racun maut dan hampir saja mencelakai tiga orang datuk itu. Dan kini dia masih sanggup untuk melompat bangun biarpun d ia terhuyung lagi .

“Ha-ha-ha…. majulah… kalian orang-orang pengecut yang menganggap diri sendiri gagah perkasa dan pendekar besar! Hayo maju !”

“Iblis jahanam!” bentak Pek Kong Sengjin.

Setan tua, kuantar kau ke neraka!” Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin. Dua orang Bu-tek Ngo Sin-liong ini maju dengan cepat dan mengirim pukulan jarak jauh yang dahsyat ke arah ketua Beng-kauw yang sudah terluka parah itu. Sementara itu, Pek Kong Sengjin hanya menonton ka rena dia yakin bahwa ketua Bengkauw itu tidak akan mampu menyelamatkan diri lagi .

Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan dua kali dengan kerasnya dan dua buah guha itu jebol, dua sosok tubuh manusia menyambar keluar dan melayang seperti terbang. Itu adalah tubuh Sie Kwan Lee dan Sie Kwan Eng yang keluar dari tempat pertapaan atau latihan- mereka. Yang mengerikan, wajah Kwan Lee nampak seperti bara api, merah sekali sampai ke rambut-rambutnya, sedangkan wajah Kwan Eng nampak putih pucat seperti mayat, juga sampai ke rambut-rambutnya. Dan dua orang ini melayang ke arah ayah mereka yang saat itu sedang terancam pukulan maut dari Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin.

Tentu saja dua orang dari Bu-tek Ngo Sin-liong kaget bukan main ketika ada bayangan menerkam ke arah mereka dibarengi angin dahsyat mendatangkan hawa yang satu panas 296

seperti api yang lain dingin seperti es. Karena tidak tahu benda atau mahluk apa yang menerkam ke arah mereka, pukulan mereka terhadap Sie Wan Cu mereka urungkan dan mereka mengarahkan pukulan kepada penyerang itu. Ang-sin-liong Yu Kiat menyerang ke arah mahluk bermuka merah sedangkan sutenya menyerang ke arah mahluk bermuka putih.

“Dess !” Kedua orang datuk ini mengeluarkan teriak kaget dan roboh terjengkang. Biarpun mereka tadi sudah mengerahkan sinkang’ sekuatnya dan melindungi seluruh tubuh mereka, tetap saja mereka roboh pingsan!

“Ayah …!”.Kwan Lee dan Kwan Eng segera berlutut dekat ayah mereka yang tadi terkulai lagi. Orang tua itu tersenyum lebar.

“Ha-ha-ha, Kwan Lee dan Kwan Eng. Kalian berhasil! Matipun aku tidak penasaran karena Bengkauw ada yang melanjutkan. Bangun…. bangun kembali Bengkauw…. dan kalian bantu nona itu ….” Dia menuding dan kedua orang anaknya menoleh.

Mereka meiihat Yang Mei Li memainkan sepasang pedangnya menghadapi pengeroyokan dua orang muda yang lihai bukan main. Ternyata tadi Mei Li tidak dapat menahan dirinya lagi ? melihat Seng Gun menggunakan tangan besi membunuhi anggauta Beng-kauw. Hampir semua orang yang tadinya berjaga di depan dua guha itu sudah roboh dan dilihatnya pemuda yang seorang lagi tetap tidak pernah membunuh pengeroyoknya. Yang bertangan maut adalah Seng Gun, dan hal ini membuat ia merasa makin tidak suka kepada pemuda yang dalam pertemuannya yang pertama kali juga sudah bertindak kejam sekali terhadap gerombolan penjahat. Ia segera meloncat dan menggunakan sepasang pedangnya untuk menahan gerakan Seng Gun dan Kang Hin, sekaligus menangkis golok kedua orang pemuda itu.

“Eh, Hui-kiam Sian-li….! Nah, kita berjumpa kembali, nona. 297

Akan tetapi sekali ini engkau salah kira. Yang kaubantu ini adalah orang-orang Bengkauw, orang-orang jahat sekali!”

“Yang kusaksikan tadi, engkaulah yang jahat dan kejam, bukan orang lain,” kata Mei Li dengan sikap tenang dan mata menantang.

Pada saat itu, orang-orang Beng-kauw sebanyak limabelas tinggal enam orang saja lagi dan mereka ini menghentikan serangan karena memang maklum bahwa mereka tidak akan menang melawan dua orang pemuda Nam-kiang-pang itu. Dan ketika Mei Li memandang, kebetulan sekali Kang Hin juga memandang kepadanya. Sinar mata penuh kemarahan bagaikan sepasang bintang berapi itu membuat pemuda itu menundukkan pandang mata nya ke bawah, seperti orang yang merasa bersalah. Namun, Seng Gun sebaliknya mengerutkan alisnya mendengar ucapan itu.

“Hemm, kiranya engkau juga’ seorang gadis sesat! Kalau begitu, baik kuantar kau sekalian bersama mereka ke neraka!”

Mei Li tersenyum. “Agaknya, engkau sudah berlangganan dengan neraka, maka engkau tahu jalannya dan menjadi petunjuk jalan. Bagus, engkau sendiri sudah mengakui bahwa engkau langganan neraka “

Mei Li melihat betapa sinar mata pemuda yang pendiam tadi kini bersinar menyembunyikan kegelian hatinya, akan tetapi Seng Gun sudah marah sekali.’Sambil mengeluarkan seruan nyaring, Seng Gun menyerang dengan goloknya.

Mei Li.menangkis dan pada saat itu juga pedang ke dua sudah menyambar ke arah leher Seng Gun. Tentu saja Seng Gun terkejut sekali dan diapun segera memainkan ilmu yang baru saja dia latih dengan sempurna, yaitu Thian-te To-hoat yang ampuh. Seluruh anggauta Nam-kiang-pang hanya ada tiga orang sa ja yang menguasai ilmu ini, yaitu Tio-pangcu, Ciu Kang Hin, dan dia sendiri.

Akan tetapi sekali ini Seng Gun kecelik. Dia menemukan 298

tanding yang tidak kalah hebatnya. Sepasang pedang yang beterbangan bagaikan dua ekor naga sakti itu benar-benar membuat dia menjadi bingung. Dia sudah mengerahkan tenaganya, namun ternyata tangan yang menggerakkan pedang terbang itupun kuat luar biasa, bahkan dalam hal kecepatan dia harus mengakui keunggulan lawan.

Sementara itu, tiga orang penyerbu, yaitu Ang-sin-liong Yu Kiat, Tiat-sin-liong Lai Cin, dan Pek-kong Sengjin dari Kong-thong-pai, juga terdesak hebat oleh kakak beradik Sie yang sudah menguasai Matahari Merah dan Salju Putih, bahkan makin lama gerakan kakak beradik itu semakin dahsyat karena mereka sudah mulai terbiasa dan tidak kaku lagi. Juga warna yang merah pada mu ka Kwan Lee dan warna putih pucat pada muka Kwan Eng sudah mulai menjadi normal kembali .

Melihat ini, Ciu Kang Hin mengambil keputusan tetap. Dia bersedih meilihat betapa Nam-kiang-pang kini menjadi gerombolan kejam, bahkan tokoh-tokoh pendekar dari berbagai partai persilat an kini ikut-ikutan hendak membasmi Beng-kauw. Dia merasa sedih kalau harus terlibat. Biarpun dia tahu pahwa Beng-kauw adalah aliran sesat dan di antara anggautanya mungkin banyak yang jahat, namun dia tidak percaya bahwa mereka semua itu jahat dan harus dibasmi habis, berikut anak-anak dan isteri mereka. Seperti sekarang ini, dua orang putera dan puteri ketua Beng-kauw sedang melakukan tapa atau latihan ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, dan dalam keadaan seperti itu, para pendekar menyerbu dan hendak membunuh mereka semua yang sedang tidak berdaya karena sedang latihan!

“Sute, cuwi enghiong, larilah! Biar aku yang menahan mereka!”‘ Dia sudah melihat robohnya dua orang, yaitu tokoh Siauw-lim-pai dan Butong-pai. Kalau dilanjutkan, setelah pemuda dan pemudi yang telah memiliki ilmu Matahari Merah dan Salju Putih itu muncul, tentu sutenya dan tiga orang tokoh lainnya akan tewas pula. Dari pada mereka yang tewas, 299

biarlah dia yang akan mengorbankan diri dari pada hidup dalam keadaan tersiksa batinnya. Apa lagi kalau dia nanti menjadi ketua Nam-kiang-pang yang harus memimpin para anggauta membasmi Beng-kauw!

Dia lalu memutar otaknya dengan hebat, menahan sepasang pedang terbang. Dia kagum bukan main melihat munculnya gadis ini dan dia sama sekali tidak percaya bahwa gadis ini seorang jahat! Apa lagi mendengar pembicaraan antara sutenya dan gadis itu. Sutenya agaknya sudah mengenalnya dan gadis yang berjuluk Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang) itu sama sekali tidak menunjukkan watak jahat, walaupun ia pemberani bukan main.

Seng Gun terkejut dan girang melihat kenekatan suhengnya. Inilah kesempatan yang baik baginya. Biarlah Kang Hin sendiri menghadapi lawan tangguh dan tewas, sedangkan dia dapat meloloskan diri. Maka dia berseru, “Cukup, kita pergi sekarang, biar suheng menahan mereka!”setelah berkata demi-kian dia meloncat meninggalkan Kang Hin dan membantu tiga orang yang sedang menahan Kwan Lee dan Kwan Eng. Tiga orang ini tentu saja merasa lega. Bagaimanapun juga, mereka sudah merasa bahwa mereka tidak akan mampu menandingi dua orang pemuda dan gadis yang memiliki ilmu aneh itu, maka ketika mendengar ucapan Seng Gun, mereka memutar senjata dengan dahsyat, memaksa Kwan Lee dan Kwan Eng mundur, kemudian mereka meloncat ke belakang dan bersama Seng Gun mereka melarikan diri Kwan Lee dan Kwan Eng tidak mengejar karena mereka sudah menghampiri ayah mereka yang terluka parah dan kini sudah bangkit duduk bersila untuk mengerahkan tenaga terakhir melawan maut yang hendak merenggut nyawanya.

“Ayah !” mereka berlutut didekat ayah mereka dan keduanya ingin membantu ayah mereka dengan menempel-kan telapak tangan di punggung. Namun, Sie Wan Cu 300

tersenyum mencegah mereka.

“Jangan , tidak ada gunanya lagi aku akan mati…. akan tetapi aku puas, aku puas…. ha-ha-ha, kalian sudah berhasil. Dan gadis itu, ia ia baik sekali ah, Dewi Pedang Terbang kalian bantu ia, lawannya juga amat liha i ……”

Kwan Lee dan Kwan Eng menengok. Mereka melihat Mei Li sedang bertanding melawan seorang pemuda yang bersenjatakan sebatang golok dan mereka benar-benar merasa kagum sekali. Pemuda itu tegap dan tampan, dan ilmu goloknya amat aneh. Golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung bagaikan tirai sinar yang menyelubungi seluruh tubuhnya dan biarpun sepasang pedang Mei Li beterbangan menyambar selalu dapat tertahan oleh gulungan sinar golok. Dua pedang itu bagaikan dua ekor burung walet emas yang menyambar-nyambar akan tetapi tidak dapat menembus tirai sinar. Sungguh merupakan pertandingan yang hebat sekali karena golok itupun tidak mampu melewati dua batang pedang. “Ilmu golok yang hebat” seru Kwan Lee.

“Itulah Thian-te To-hoat yang terkenal,” kata ayah mereka. “Dan pemuda itu ahh, agaknya . . . dialah yang bernama Ciu Kang Hin….”

“Keparat….!!” mendengar nama itu, Kwan Lee segera meloncat dan ikut menyerang pemuda bergolok itu Kwan Lee bertanya kepada ayahnya, “Ayah menghendaki agar kita bunuh pemuda itu?”

Sie Wan Cu masih memandang pemuda itu dengan sinar mata tertarik lalu

berkata lirih, “Jangan jangan bunuh…. sayang kalau ilmu golok itu dibawa mati…. tangkap saja, Kwan Lee tangkap dia hidup-hidup untukku…”

Biarpun merasa heran dan tidak mengerti mengapa ayahnya memerintahkan begitu , Kwan Lee segera meloncat dan diapun ikut pula mengeroyok Kang Hin yang sudah 301

terdesak hebat ketika Kwan Lee melancarkan pukulan Salju Putih itu .

Sebetulnya hati Mei Li sudah tidak senang dengan adanya Kwan Eng yang melakukan pengeroyokan. Biarpun ia tidak dapat dibilang menguasai pertempuran dan keadaannya masih berimbang dengan golok pemuda perkasa itu, namun ia tidak kalah dan tidak membutuhkan bantuan. Apa lagi ia tadi melihat sendiri betapa lawannya itu hanya ingin menghalangi mereka mengejar teman-temannya. Pemuda itu mengorbankan diri untuk kawan-kawannya. Bahkan ketika melawannya, pemuda itu tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya lebih banyak menangkis dan menutup diri dengan sinar golok.

Kang Hin sendiri kagum bukan main melihat sepasang pedang terbang itu, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang amat lihai. Dan selagi dia mencari kesempatan untuk melarikan diri, ada angin dingin menyambar dari kiri. Dia terkejut dan cepat membuang diri ke belakang. Kiranya yang menyerangnya adalah seorang gadis cantik yang wajahnya agak kepucat-pucatan dan tangannya juga putih sekali. Dia teringat akan percakapan sutenya dan rekan-rekannya tadi bahwa puteri ketua Bengkauw sedang berlatih ilmu Salju Putih, maka dia dapat menduga bahwa inilah agaknya puteri Bengkauw itu. Dia pun memutar goloknya lebih cepat untuk melindungi diri nya.

Namun ilmu yang baru saja disempurnakan Kwan Eng memang hebat sekali. Kini pertempuran itu menjadi pertempur an yang amat hebat, karena tiga macam ilmu yang pada waktu itu dapat dibilang merupakan tiga di antara ilmu-ilmu tertinggi di dunia persilatan, saling bertemu. Narnun, karena Kang Hin dikeroyok, apa lagi karena dia memang tidak bermaksud untuk membunuh seorang di antara dua gadis cantik itu, mulai terdesak hebat dan pada saat Kwan Lee datang melompat ke situ, sebuah pukulan jarak jauh dengan 302

tenaga Salju Putih sepenuhnya, dilancarkan oleh Kwan Eng dari belakang, membuat Kang Hin terhuyung dan kesempatan ini diperguna kan untuk menendang kakinya oleh Mei Li. Tanpa dapat dicegah lagi tubuh Kang Hin terpelanting dan tusukan pedang terbang pada pergelangan tangannya membuat goloknya terlepas dan pada saat itu, Kwan Eng sudah meloncat dekat dan menggerakkan tangan untuk mengirim pukulan maut.

“Jangan bunuh….!” Mei Li berse ru namun agaknya seruannya itu terlambat karena Kwan Eng sudah mengayun tangannya .

“Dukk !” Kwan Eng meloncat ke belakang dengan mata terbelalak mel ihat bahwa yang menangkis pukulan mautnya itu bukan lain adalah Kwan Lee.

“Koko, kenapa kau melarangku? Gi lakah kau?”

“Hush, moi-moi, ayah melarang kita.”

Kwan Eng menjadi semakin heran. Sementara itu, Kang Hin bangkit duduk, pergelangan tangannya terluka sedikit oleh ujung pedang Mei Li. “Aku sudah kalah, bunuhlah aku!” katanya dengan suara datar.

Entah mengapa , suara itu begitu mengharukan hati Mei Li sehingga ia cepat maju dan menggerakkan tangannya. Sekali totok saja tubuh itu terkulai karena memang Kang Hin tidak bermaksud untuk mengelak atau menangkis. Dia sudah pasrah.

Kwan Lee lalu mengeluarkan sabuk sutera yang kuat dan mengikat kedua tangan pemuda itu ke belakang, kemudian membebaskan totokan Mei Li.

“Kenapa engkau menangkap aku? Ke napa tidak kaubunuh saja aku?” tanya Kang Hin kepada Kwan Lee.

“Tidak perlu banyak bertanya. Engkau sudah menjadi tawanan kami dan hanya ayah yang akan memutuskan apa 303

yang akan kami lakukan terhadap dirimu “

Dengan kasar Kwan Lee menyeret tubuh Kang Hin, dibawa menghadap ayah-nya. Ketua Bengkauw memandang dengan penuh perhatian kepada Kang Hin, dari kepala sampai ke kaki. “Heii, orang muda, apakah engkau yang bernama Ciu Kang Hin?”

“Benar, pangcu dan setelah sekarang saya tertawan, cepat bunuh saja aku,” kata Kang Hin dengan suara dan sikap tenang. Dia memang tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Kematian tidak berarti meninggalkan sesuatu yang berharga baginya. Dan kedudukan ketua di Nam-kiang-pang sama sekali tidak dianggapnya sebagai suatu yang membahagiakan atau membanggakan, bahkan menjadi beban yang amat berat.

“Engkau yang dijuluki pembasmi Bengkauw nomor satu?” tanya pula ketua Bengkauw dengan suara lirih karena keadaannya sudah payah. “Benar sekali .”

“Ayah, biar kuhancurkan kepalanya dengan tanganku!” Kwan Eng berseru marah..

“Kenapa?” Sie Wan Cu mendesak, memaksa diri, “kenapa engkau begitu membenci kami ?”

“Aku tidak membenci Bengkauw, hanya menentang semua perbuatan jahat, dilakukan oleh siapapun.”

“Tapi engkau membunuh orang Bengkauw, bahkan wanita dan anak-anak.”

“Aku tidak pernah membunuh wanita dan anak-anak. Aku hanya mengalahkan orang yang bertanding denganku. Aku bukan pembunuh.”

“Bohong!” Bentak Kwan Eng. “Ayah, dia bohong, dia pengecut, tidak berani bertanggung jawab, tidak.berani mengakui perbuatahnya sendiri!” 304

Sie Wan Cu menyeringai menahan sakit dan dia menguatkan dirinya, karena agaknya dia tertarik sekali. “Tapi orang menganggap dirimu sebagi pembunuh nomor satu, pembasmi Bengkauw, engkau calon ketua Nam-kiang-pang.”

“Itu fitnah, bohong. Kalau aku membunuh orang, tentu tidak akan kusangkal. Aku memang oleh suhu ditunjuk sebagai calon ketua Nam-kiang-pang dan memang suhu dan semua suheng sute bertekad membasmi Bengkauw. Akan tetapi aku tidak setuju.. Terserah kalian percaya atau tidak, mau bunuh boleh bunuh, akan tetapi aku tidak mengingkari perbuatanku.”

“Jahanam !” Kwan Eng sudah mengayun tangannya, akan tetapi ayahnya membentaknya sehingga gadis itu dengan merengut membatalkan niatnya.

“Ciu Kang Hin, apa hubunganmu dengan Ouw-sin houw (Harimau Sakti Hitam) Ciu Teng?” tiba-tiba ketua Beng-kauw itu bertanya, sambil memandang tajam.

Pemuda itu nampak terkejut sekali, dan diapun mengangkat muka memandang kepada si penanya. “Mengapa pangcu bertanya demikian? Sebaiknya pangcu lekas berobat dan beristirahat, keadaan pangcu berbahaya sekali….” Kang Hin melihat betapa ketua itu menahan rasa sakit dan mukanya sudah mulai pucat, keringatnya membasahi muka dan leher.

“Jawab, apa hubunganmu dengan Ciu Teng?” ketua Bengkauw mengulang dan Kwan Lee mendesak, “Lebih baik kau cepat menjawab, Ciu Kang King.”

Pemuda itu menundukkan mukanya. “Mendiang Ouw-sin-houw Ciu Teng adalah ayah kandungku,” katanya dengan suara sedih.

Sie Wan Cu terkejut, matanya terbelalak, mulutnya ternganga, lalu dia tertawa, keras sekali tawanya. “Ha-ha-ha-ha, sudah kuduga, wajahmu mirip sekali. Ciu Kang Hin, tahukah engkau dengan siapa kau berhadapan? Aku Sie Wan Cu, adalah pamanmu, paman angkat. Ayah mu adalah kakak 305

angkatku, apakah dia tidak pernah bercerita kepadamu?”

Pemuda itu memandang heran. “Pa-man? Ayah meninggal sejak aku masih kecil sekali, berusia tiga empat tahun Ibu sudah meninggal lebih dulu, ketika melahirkan aku dan sejak kecil aku sebatang kara.”

Mei Li menekan perasaannya yang merasa kasihan sekali kepada pemuda sederhana itu. Ketua Bengkauw itu memaksa diri berkata, “Ketika ayahmu muda, persis seperti engkau, kami bersumpah mengangkat saudara. Kami saling berpisah dan tidak pernah bertemu lagi karena ayahmu tidak setuju aku menjadi ketua Bengkauw. Jadi sejak kecil engkau menjadi murid di Nam-kiang-pang? Dan engkau memusuhi Bengkauw?”

“Pangcu”

“Panggil aku paman agar arwah ayahmu tidak menjadi penasaran.”

“Paman, terus terang sejak kecil aku menjadi murid Nam-kiang-pang dan perkumpulan itu selalu membela kebenaran dan keadilan dan aku bahkan di tunjuk oleh suhu untuk kelak menggantikan suhu. Akan tetapi, kemudian muncul peristiwa yang membuat Nam-kiang-pang berhadapan sebagai musuh Beng-kauw. Banyak anggauta kami terbunuh oleh Bengkauw sehingga timbul dendam sakit hati mendalam di Nam-kiang-pang. Kemudian aku ditunjuk oleh suhu untuk memimpin para anggauta memusuhi Bengkauw. Paman apa yang dapat kulakukan dalam ha l ini? Aku sendiri, demi Tuhan, tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah dan tidak berdaya, akan tetapi karena aku yang memimpin permusuhan itu, tentu saja aku yang dituding sebagai pembunuh nomor satu dari Beng-kauw.”

“Bohong! Ayah, dia tentu bohong. Mana ada pencuri mengaku mencuri, pembunuh mengaku pembunuh? Tadi saja entah berapa banyak anggauta kita yang terbunuh olehnya. 306

Itu, mayat mereka masih berserakan!” kata Kwan Eng.

“Tidak, dia tidak berbohong!” tiba-tiba Mei Li berkata penuh keyakinan.

“Mei Li! Apa yang kaukatakan ini? Baru saja engkau bertanding mati-matian melawan dia dan kini engkau malah membela dia? Apa artinya ini?”

“Artinya, Kwan Eng, bahwa aku bicara sejujurnya. Tadi, ketika terjadi pertempuran, aku cukup lama menjadi penonton. Kulihat dia ini bersama pemuda yang lain itu menyerang orang-orang Bengkauw di depan guha. Yang menyebar maut adalah pemuda yang melarikan diri itu, pemuda berpakaian sastrawan berwarna putih. Adapun dia ini, biarpun merobohkan pula banyak lawan, tidak melakukan pembunuhan satu kalipun. Bahkan ketika melawan aku tadi, dia lebih banyak melindungi diri saja.”

“Aughh”

“Ayah !” Kwan Lee dan Kwan Eng cepat menubruk ayahnya. Agaknya terlalu lama ketua Bengkauw ini menahan diri dan kini dia sudah hampir tidak kuat bertahan lagi.

“Kwan Lee, Kwan Eng, penuhilah pesanku terakhir ini” Dia menuding ke arah Kang Hin dengan telunjuk gemetar. “aku pernah berhutang nyawa kepada ayahnya. Karena itu kalian harus…. membebaskan dia “

“Ayah !” Kwan Eng mulai menangis.

“Dan kau Dewi Pedang Terbang” dia mencoba tersenyum dan Mei Li berlutut mendekatinya. Hati gadis inipun seperti ditusuk rasanya karena dia telah merasa suka sekali kepada ketua Bengkauw yang jujur dan bicara secara terbuka itu.

“Ya pangcu,” katanya lirih.

Sie Wan Cu tertawa, “Heh-heh, a-ku… ah, aku masih mau menikah dengan mu…. ha-ha, sayang aku hampir putus 307

nyawaku . .. . . tapi, Mei Li, maukah kau berjanji akan tetap bersahabat dengan Bengkauw?”

Mei Li menundukkan kepalanya dan dua titik air mata jatuh. la mengangguk. “Aku berjanji, pangcu.”

“Ha-ha-ha, bagus sekali. Eh Kwan Lee, kalau kelak engkau tidak dapat menikah dengan seorang seperti Mei Li ini, engkau adalah seorang pria yang bodoh sekali. Dan kau Kwan Eng, Kang Hin ini adalah seorang yang sungguh patut menjadi suamimu “

“Ayah !” Anak-anaknya , menubruk karena tiba-tiba saja ketua Bengkauw itu terkulai dan ketika mereka memeriksa, ternyata dia sudah meninggal.

Kwan Eng menjerit-jerit menangis sehingga Mei Li terbawa keharuan dan menangis pula, lalu ia merangkul dan menghibur Kwan Eng.

Mei Li dan Kang Hin merasa terpaksa ikut berkabung ke rumah ketua Bengkauw. Dan malam itu terjadi peristiwa yang sungguh menusuk perasaan Mei Li. Ketika keluarga sedang bersembahyang sambil menangis., tiba-tiba saja sepuluh orang wanita cantik yang menja di isteri ketua Bengkauw itu, mencabut pedang dan menggorok leher sendiri di depan peti jenazah suami mereka! Mereka melakukan bunuh diri bersama, hal yang agaknya telah mereka sepakati bersama. Mereka semua amat mencinta suami mereka dan agaknya tidak sanggup hidup ditinggal mati suami itu.

Setelah pemakaman jenazah yang kini menjadi sebelas buah banyaknya itu selesai, Ciu Kang Hin berpamit dan pergi meninggalkan tempat itu dengan hanya meninggalkan kata-kata kepada Kwan Lee dan Kwan Eng, “Aku berjanji akan membantu kalian membikin terang perkara ini, dan akan membersihkan kembali nama Bengkauw yang terkena fitnah.” Dan dia memberi hormat pula kepa da Mei Li, kemudian pergi dengan meninggalkan kesan mendalam di hati dua orang 308

gadis tanpa diketahui orang lain. Terutama sekali Kwan Eng. Tadinya ia memang amat membenci Ciu Kang Hin. Akan tetapi setelah bertemu orangnya dan mendengar pesan ayahnya, rasa benci itu hilang dan sebagai gantinya, kata-kata ayahnya selalu terngiang di hatinya. Ayahnya menghendaki ia menjadi jodoh Ciu Kang Hin! Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi, berulang kali ia membantah suara hati sendiri.

Adapun Mei Li diam-diam juga merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda yang pendiam itu. Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi suheng dari Seng Gun yang demikian keras hati dan kejam? Akan tetapi karena Kang Hin seorang pendiam dan agak murung, iapun di

(ADA HALAMAN YANG HILANG)

“Dukk !” dan dia hanya mampu melengking panjang ketika tubuhnya melayang ke bawah. Seng Gun tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, mampus kamu pendeta tolol!”

Ang-sin-liong Yu Kiat menghampiri rekannya itu. “Aku tidak melihat perlu dan untungnya kau meiakukan hal itu, Tong-taihiap.”

“Ha-ha-ha-ha, engkau tidak melihatnya, paman? Aneh sekali, pada hal alasannya demikian jelas. Kaulihat tadi dia membela suheng? Dia memuji-muji suheng, dan hal itu amat tidak menguntungkan kita! Pula-, dua yang lain sudah tewas, tinggal dia. Kalau dibiarkan hidup, bagaimana kita dapat melempar fitnah kepada suheng? Tentu dia akan membela nama baik suheng mati-matian. Akan tetapi sekarang, “kalau kita katakan bahwa kematian orang Siauw-lim pai, Butong-pai dan Kong-thong-pai ini karena perbuatan suheng yang tidak bersungguh-sungguh melawan Bengkauw, tentu tidak akan ada yang menyangkal.”

“Akan tetapi bagaimana kalau dia tidak mati?” bantah Tiat-sin-l iong Lai Cin. 309

‘”Tidak mati? Siapa yang dapat bertahan hidup kalau terjungkal di jura ng ini? Ha-ha, Jangan takut, paman Lai Cin. Apa lagi, andaikata dia tidak mati, aku dapat mengatakan bahwa aku tidak sengaja mendorong dia ke dalam jurang. Kalian berdua menjadi saksi-nya, bukan? Keterangan dia melawan keterangan kalian berdua, apa artinya?”

Jilid XI

Demikianlah , dengan hati gembira mereka bertiga lalu meninggalkan tempat itu setelah Seng Gun berkata, “Kalau suheng mampus, itu baik sekali. Andaikata dia dapat lolos, lebih baik lagi. Kita dapat menyebar fitnah bahwa dia memang tidak bersungguh-sungguh memusuhi Bengkauw, buktinya dia dapat meloloskan diri, berarti orang Bengkauw sengaja melepaskannya !

Merekapun pergi dengan hati gembira, tidak tahu bahwa percakapan mereka itu ada yang mendengarkannya!

Ketika tubuh Pek Kong Sengjin melayang jatuh ke dalam jurang, dan nyaris menimpa batu-batu di dasar jurang, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan dua buah lengan menyambar tubuh itu sehingga tidak sampai terbanting. Pek Kong Sengjin terbelalak ketika melihat tubuhnya selamat dalam pondongan seorang, pemuda. Pemuda Itu tersenyum kepadanya dan berbisik. “Harap totiang tunggu sebentar, ingin aku melihat apa yang terjadi di sana!”

Bagaikan seekor kera saja pemuda itu lalu memanjat tebing jurang dan tidak lama kemudian dia sudah mengintai di tepi jurang, dari baiik sebuah batu sehingga dia dapat mendengarkan percakapan yang terjadi antara Seng Gun, Yu Kiat dan Lai Cin. Setelah tiga orang itu pergi, barulah dia merayap turun-kembali dengan cepat sekali. 310

Setelah tiba di bawah, dia melihat Pek Kong Sengjin sudah duduk bersila dan mengumpulkan tenaga sakti untuk mengobati lukanya. Tanpa diminta pemuda itu lalu duduk bersila di belakangnya dan menempelkan tangan kanannya di punggung Pek Kong Sengjin. Hawa yang panas mengalir dari telapak tangan itu dan sebentar saja kesehatan pendeta itu sudah pulih kembali.

Pek Kong Sengjin lalu bangkit berdiri dan memberi hormat. “Engkau telah menyelamatkan aku untuk kedua kali ya dalam waktu singkat, sobat muda. Entah bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu.”

Pemuda itu tersenyum dan Pek Kong Sengjin kagum. Pemuda itu masih muda, paling banyak duapuluh satu tahun usianya. Tubuhnya tinggi tegap wajahnya tampan dan jantan, dengan rahang dan dagu yang membayangkan kekerasan. Rambutnya hitam lebat, matanya tajam seperti mata naga dan mulut itu selalu tersenyum, pakaiannya amat sederhana.

“Totiang, kenapa harus berterima kasih? Kita sama-sama memberi bantuan, aku membantumu mencegah terbanting dan engkau membantu memberi kesempatkan ke padaku untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Nah, kita sudah sama-sama memberikan sesuatu, bukan?”

‘Siancai . . .. , engkau pemuda aneh. Bolehkah aku mengetahui namamu, taihiap (pendekar besar)?”

“Aduh, harap jangan memanggil taihiap kepadaku, totiang. Cukup kalau totiang memanggil namaku, yaitu Han Lin.” Pemuda itu memang Han Lin dan kini dia sudah tidak ragu lagi menggunakan nama keluarga aselinya, yaitu Sia “Dan paman tentulah Pek Kong Sengjin, aku telah mendengar dari percakapan mereka di atas sana.”

“Benar, Han Lin,” kata pendeta itu dan diapun kini menyebut nama pemuda itu dengan akrab sekali. “Pinto sendiri tidak mengira bahwa orang itu akan”berbuat seaneh 311

dan sejahat itu .” Dia lalu menceritakan tentang semua yang terjadi. Sejak penyerbuan mereka terhadap Bengkauw dan sampai mereka terpaksa melarikan diri dari sana. Hati Han Lin tertarik sekali.

“Sudah banyak aku mendengar betapa Bengkauw dimusuhi orang, totiang. Sebaiknya sekarang totiang segera pulang, aku ingin melihat bagaimana nasib pemuda bernama Ciu Kang Hin yang tertinggal seorang diri menghadapi orang-orang Bengkauw yang lihai itu.”

Pemuda itu berkelebat dan lenyap. “Heii, nanti dulu! Siapa gurumu, Han Lin?”

Dari atas terdengar suara yang jelas. “Guruku langit dan bumi!” Ini adalah kata-kata pesanan Lojin kepadanya. Lojin berpesan agar kalau ada yang menanyakan siapa gurunya, dijawab bahwa gurunya adalah langit dan bumi.

“Jawaban ini bukan ‘ngawur,” demi kian kata gurunya. “Segala macam ilmu kepandaian didapat dari anugerah Tuhan melalui pengalaman, dan pengalaman manusia baru terjadi setelah manusia berada di antara Langit dan Bumi. Jadi, guru kita adalah Langit dan Bumi, yang memberi kita.segala macam pengalaman hidup.”

Pek Kong Sengjin tertegun dan akhirnya dia menarik napas panjang, mengukir nama Sia Han Lin di dalam lubuk hatinya. Dia dapat menduga bahwa dia telah bertemu dengan seorang pemuda murid orang sakti dan mengharapkan dapat bertemu kembali. Juga dia harus berhati-hati, karena sikap Tong Seng Gun amat mencurigakan. Dia belum dapat menduga apa yang menyebabkan pemuda itu berbuat seperti itu kepadanya. Dan dia harus segera melapor kepada para pimpinan Kong-thong-pai tentang pengalamannya itu. Dengan hati-hati dia lalu mencari jalan keluar dari dasar jurang itu.

Ciu Kang Hin berjalan menuruni puncak Tanduk Rusa dengan merenung dan muka ditundukkan. Dia merasa gelisah 312

sekali teringat akan ucapan terakhir ketua Bengkauw. Di antara ketua Beng-kauw dan mendiang ayahnya terdapat hubungan yang amat dekat Ketua Bengkauw itu adalah adik angkat ayahnya, jadi masih pamannya sendiri! Dan dia mendapat tugas dari gurunya untuk membasmi Bengkauw, bahkan tadi dia melihat sendiri betapa.ketua Bengkauw tinggal menanti saat ajal datang menjemput sampai saat ketua itu tewas dalam keadaan yang menyedihkan. Dan ketua itu memesan untuk menjodohkan puterinya dengannya! Lalu apa yang akan dikatakan kepada gurunya nanti? Mampukah dia melanjutkan tugas membasmi orang Bengkauw? Agaknya tidak mungkin lagi! Apa yang disaksikan di puncak bukit Tanduk Rusa itu sudah mencapai puncaknya. Ini keliru, pikirnya. Nam-kiang-pang. sedang menyusuri jalan yang keliru Menentang kejahatan, darimanapun datangnya dan oleh siapapun dilakukannya, adalah tugas murid Nam-kiang-pang. Akan tetapi membasmi sekelompok orang tanpa pandang bulu, tanpa alasan, sungguh merupakan penyelewengan ke jalan sesat.

Tiba-tiba telinganya yang tajam nendengar suara orang dan ketika dia mengangkat mukanya, dia menjadi lega Kiranya Seng Gun, Ang-sin-liong Yu Ki-at dan Tiat-sin-liong Lai Cin yang muncul dan menghadang di depannya.

“Ah, sute! katanya girang. “Engkau dapat meloloskan diri, sukurlah! Tapi, di mana Pek Kong Sengjin?”

“Suheng, tidak perlu lagi engkau berpura-pura!” Mendengar ucapan sutenya itu, Kang Hin memandang dan alangkah kagetnya melihat wajah tiga orang itu berbeda dari pada biasanya. Wajah itu keruh, murung dan jelas kelihatan marah.

“Sute, apa maksud kata-katamu itu?” tanyanya,

“Hemm, ternyata selama ini engkau pandai bersandiwara, berpura-pura. Pantas saja hanya lahirnya engkau disebut pembasmi nomor satu bagi Bengkauw, padahal sesungguhnya, engkau tidak dapat memusuhi mereka, bahkan 313

engkau menyayang mereka.”

Kang Hin terkejut. Apakah sutenya sudah tahu akan peristiwa tadi?

“Sute, aku akui bahwa aku tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah, baik dia orang Bengkauw ataupun bukan. Dan bukan aku yang mengaku sebagai pembasmi Bengkauw nomor satu. Akan tetapi, apa hubungannya itu dengan sikapmu ini? Mana Pek Kong Sengjin?”

“Engkau tentu sudah mengetahuinya. Ketika kami lari dan engkau berpura-pura menahan mereka, ternyata mereka masih dapat mengejar kami dan kami melawan mati-matian, akan tetapi Pek Kok Sengjin terbunuh, terlempar ke dalam jurang.”

“Ahhh !”

. “Tidak perlu berpura-pura, engkau malah yang mengatur agar mereka dapat mengejar kami!”

“Sute, omongan apa itu? Aku bertempur melawan mereka dan tertawan!”

Seng Gun tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, engkau boleh menjual omongan itu kepada anak kecil. Kalau engkau sampai tertawan oleh mereka, bagaimana mungkin engkau dapat meloloskan diri dan tidak terbunuh? Kecuali kalau memang engkau diam-diam bersekongkol dengan mereka!”

Kang Hin menghela napas panjang. Dia maklum bahwa kalau dia menceritakan yang sesungguhnya, sutenya dan dua orang Hoat-kauw itu tentu tidak akan percaya, bahkan semakin mencurigainya.

“Terserah kepadamu, sute. Percaya atau tidak, akan tetapi aku benar-benar telah bertempur dengan mereka dan tertawan, akan tetapi dilepaskan kembali. Biarlah aku akan melapor kepada suhu dan terserah kepada suhu, kalau hendak menghukum aku, terserah kepada suhu.” 314

“Enak saja! Kau kira akan dapai mengelabui kami lagi, pura-pura hendak melapor kepada suhu, akan tetapi diam-diam bersekongkol dengan Beng-kauw!”

“Sute, tutup mulutmu! Kaukira boleh sembarangan engkau menuduh aku?” kini Kang Hin hilang kesabarannya.

“Hemm, Ciu Kang Hin, kita sama-sama murid Nam-kiang-pang, hanya bedanya aku seorang murid yang setia, sebaliknya engkau murid berkhianat. Engkau belum menjadi ketua, tidak perlu kuhormati murid yang mengkhianati Nam-kiang pang. Hayo kita tangkap pengkhianat ini!” Dia mengamangkan goloknya. Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin tentu saja sudah maklum mengapa Seng Gun bersikap seperti itu. Yu Kiat segera menggerakkan golok gergajinya, sedangkan Lai Cin memainkan tombak cagaknya. Seng Gun sendiri sudah menerjang maju menyerang dengan goloknya dengan ilmu golok Thian-te To-hoat

“Trang-trang-trangg’g !!” Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika Kang Hin menangkis tiga senjata lawan itu dengan goloknya, dan diapun membalas. Terjadi pertempuran yang seru. Akan tetapi tentu saja Kang Hin terdesak karena ilmu kepandaiannya hampir setingkat dengan tingkat Seng Gun, bahkan mungkin Seng Gun lebih unggul karena Seng Gun menguasai pula ilmu, yang dipelajarinya dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Apa lagi di situ ada dua orang tokoh utama dari Bu-tek Ngo Sin-liong, dengan sendirinya dia merasa si buk harus menghadapi permainan senjata mereka. Namun, berkat tubuhnya yang kuat karena hidupnya bersih, maka dia masih dapat melindungi dirinya dengan baik sehingga tidak mudah bagi tiga orang itu untuk merobohkannya.

Seng Gun menjadi penasaran. Dia harus mengakui bahwa dalam hal ilmu golok Thian-te To-hoat, dia masih kalah sedikit dibandingkan suhengnya itu. ini adalah karena Kang Hin menjadi murid Nam-kiang-pang sejak kecil, sedangkan dia 315

baru empat tahun ini. Maka karena dia ingin membunuh saingannya ini, dia mengeluarkan senjata andalannya sebelum dia menjadi murid Nam-kiang-pang, yaitu suling peraknya yang gandung racun! Suling itu dipegang-dengan tangan kiri dan begitu suing menyambar, terdengar suara melengking yang mengejutkan hati Kang Hin. Pemuda ini mengelak dan melihat bahwa sutenya yang menggunakan senjata suling itu dengan amat mahirnya, dia terkejut dan heran.

Akan tetapi dia tidak sempat menegur atau bertanya karena Seng Gun sudah menggerakkan golok dan sulingnya, dan dua orang rekannya juga dengan gencar mengeroyok.

Ketika Kang Hin menangkis suling Seng Gun dengan pengerahan tenaga untuk mematahkan suling itu, dari dalam suling itu menyambar jarum-jarum hitam. Kang Hin yang sedang sibuk menghadapi senjata para pengeroyoknya, tidak sempat mengelak lagi dan dua batang jarum mengenai dahinya! Dia terhuyung dan terguling roboh.

Tiga orang lawannya dengan gembira menubruk untuk menghabisinya, namun tiba-tiba datang angin bertiup, bagaikan ada badai, dan ketika tiga orang itu terkejut melihat pohon-pohon meliuk keras, ada bayangan berkelebat menyambar tubuh Kang Hin.

Ketika tiga orang itu melihat, ternyata Kang Hin sudah lenyap dari situ. “Celaka, dia melarikan diri. Kejar!” teriak Ang-sin-liong Yu Kiat.

“Ha-ha-ha,” Seng Gun tertawa dengan sombongnya. “Apa sih yang perlu dikhawatirkan? Paman sendiri tadi melihat bahwa dahinya telah terkena jarum sulingku. Dan akibatnya hebat, paman. Racun jarumku akan membuat dia mati atau gila. Ingat, yang terkena adalah dahinya!” Pemuda itu tertawa-tawa dan dua orang rekannya menjadi lega.

“Akan tetapi, apakah yang terjadi? Kenapa dia bisa melarikan diri dan angin topan tadi . . apakah artinya itu?” 316

tanya Lai Cin.

“Paman, mengapa khawatir? Orang bengkauw memang memiliki ilmu sihir maka tidak aneh kalau tadi mereka dapat melarikan Kang Hin. Akan tetapi jangan harap kalau mereka mampu menyelamatkan Kang Hin dari racun jarumku!”

Akan tetapi bagaimanapun juga, peristiwa lenyapnya tubuh Kang Hin tadi mendatangkan perasaan tidak nyaman dihati mereka, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu meninggalkan tempat itu. Mereka saling berpisah, kedua ang tokoh Hoat-kauw kembali (ke pusat hoat-kauw yang akan mengadakan perayaan di Bukit Harimau sedangkan Seng Gun akan melapor dulu ke Nam-kiang-pang.

Dengan dilengkapi segala macam bumbu dan minyak, Seng Gun menghidangkan ceritanya tentang “pengkhianatan ” Kang Hin sehingga semua tokoh Nam-kiang-pang menjadi marah bukan main.

“Anak tak tahu diuntung! Tak mengenal budi!” kata beberapa orang tokoh tua. “Sejak kecil ketua telah memelihara dan mendidiknya, begitukah balasnya?”

Akan tetapi Tio Hui Po sendiri berdiam diri, dan sepasang alisnya bekerut. Dia lebih merasa terpukul dan kecewa dari pada marah, juga merasa amat heran. Sukar dia dapat percaya bahwa muridnya itu, yang sejak kecil merupakan anak yang patuh sekali, kini dapat bersekutu dengan Bengkauw!

“Seng Gun, yakin benarkah engkauj bahwa suhengmu bersekorigkol dengan Bengkauw dan mengkhianati kita?”

“Suhu, tidak ada yang lebih penasaran dari pada teecu. Teecu paling sayang dan paling hormat kepada suheng, akan tetapi tak dinyana sama sekali suheng tega sekali, sampai hati dia berkhianat. Hampir saja teecu menjadi korban dari pengkhianatannya. Untung teecu bersama dua orang rekan dari Ho-at-kauw sempat melarikan diri. Akan tetapi 317

Ho Jin Hwesio, Pek Kok Sengjin, dan Kiang Cu Tojin…. Ahh….. “

“Mengapa mereka? Hayo ceritakan, ang terjadi dengan tokoh-tokoh siauw-lim-pai, Butong-pai, dan Kong-thong-pai itu?”

“Mereka telah tewas oleh Ciu Kang Hin dan orang-orang Bengkauw….”

“Jahanam!!” Kini Tio Hui Po marah sekali .

“Akan tetapi harap suhu tenangkan diri. Pengkhianat itu telah terluka oleh senjata rahasia beracun dari tokoh Hoat-kauw jarum beracun telah memasuki dahinya, pasti dia akan tewas atau gila!”

“Mati atau hidup, kita harus dapat yakin agar kalau ada aliran yang menuntut kita dapat memperlihatkan bukti kematiannya,” kata Tio Hui Po.

Agaknya Tio Hui Po menjadi patah semangatnya mendengar akan pengkhianat Ciu Kang Hin itu. Dia lalu mengumpulkan semua tokoh Nam-kiang-pang, dan mengadakan rapat besar.

“Perkumpulan kita menghadapi hal-hal penting dan besar. Permusuhan Bengkauw dengan kita belum selesai kini muncul pengkhianatan murid yang tadinya kuangkat menjadi calon ketua. Dan aku sudah lelah, agaknya aku sudah terlalu tua untuk memimpin kalian. Oleh karena itu, hari ini aku mengumpulkan kalian di sini untuk menjadi saksi. Aku menetapkan Tong Seng Gun menjadi ketua Nam-kiang-pang !

Di antara para tokoh Nam-k iang-pang, jarang yang tidak setuju, karena mereka maklurn bahwa pemuda yang pandai membawa diri ini memang merupakan orang kedua yang telah menguasai Thian-te To-hoat

Akan tetapi serta merta Seng Gun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya sambil menangis. Tentu saja gurunya 318

terkejut dan bertanya, “Seng Gun kenapa engkau menangis?”

Setelah menyusut air matanya, Seng Gun menjawab, “Suhu, teecu menangis karena haru atas budi kebaikan suhu kepada teecu, dan mengingatkan teecu kepada bibi teecu. Akan tetapi suhu, di Nam-kiang-pang ini terdapat banyak murid yang lebih tua dan lebih pandai dari teecu, kenapa suhu memilih teecu? Tugas itu terlalu berat bagi teecu yang bodoh.

“Seng Gun, jangan berkata begitu, Semua anggauta Nam-kiang-pang juga sudah tahu bahwa engkau adalah calon kedua. Karena itu aku mengajarkan Thian-te To-hoat kepada engkau dan suhengmu yang keparat itu. Tidak perlu ditunda-tunda lagi, aku akan mengundang semua wakil partai dunia persilatan untuk menjadi saksi dan untuk merayakan pengangkatanmu.

Seng Gun kelihatan terharu dan sama sekali tidak nampak bergembira, pada hal di dalam hatinya dia bersorak karena tujuannya telah tercapai dengan baik. Sesuai dengan rencana yang diatur oleh Sam Mo-ong yang dipimpin oleh kakeknya atau ayahnya, dia berhasil menyusup Nam-kiang-pang dan berhasil pula menguasai partai itu. Juga dia berhasil menghasut semua partai persilatan untuk memusuhi Bengkauw. Di samping

semua hasil itu, dia berhasil pula mewarisi ilmu golok Thian-te To-hoat yang merupakan satu di antara ilmu langka di waktu itu.

Mulailah para anggauta Nam-kiang pang sibuk. Ada yang membersihkan bangunan-bangunan dan halaman untuk menyambut pesta, dan ada yang mengantar undangan ke segala penjuru. Hari sudah ditetapkan dan semua orang sudah siap menerima datangnya para tamu di pagi hari itu. 319

Setelah matahari naik tinggi, mulai berdatanganlah para tamu. Tidak kurang dari duaratus orang hadir dan pestapun dimulai. Pertama-tama upacara pengangkatan ketua dilakukan. Dari dalam, seperti pengantin saja, keluar ketua Nam-kiang-pang yang tua, yaitu Tio Hui Po, dengan baju kebesarannya, diiringkan tujuh tokoh tua Nam-kiang pang, dan kemudian muncul calon ketua, Tong Seng Gun dan di belakangnya berjalan sutenya, Tio Ki Bhok putera Tio Hui Po yang diaku keponakannya. Para tamu bangkit berdiri untuk menghormati ronbongan ketua ini dan musik dimain-perlahan-lahan. Mereka menghampiri meja sembahyang yang sudah dipersiapkan di tengah ruangan.

Ketika rombongan lewat di depan butek Ngo Sin-liong yang juga hadir, terdengar suara cekikikan dari Bi-sin-liong Kwa-lian yang pernah menjadi kekasih Seng Gun, dibalas dengan senyum oleh pemuda itu. Akan tetapi Tio ki Bhok yang ketololan, mengira bahwa wanita cantik itu tertawa kepadanya, maka diapun mengangguk sambil menyerigai lebar. Hal ini dilihat banyak tamu yang segera tertawa geli, dan melihat keadaan ini, wajah Seng Gun berubah merah. Akan tetapi Tio Hui Po tidak melihatnya.

Upacara sembahyang dilakukan dan Seng Gun disuruh bersumpah di depan meja sembahyang para leluhur pimpinan Nam-kiang-pang bahwa dia mulai hari itu akan memimpin Nam-kiang-pang dengan kesungguhan hati, dengan setia dan akan mengangkat nama perkumpulan itu.

Setelah upacara selesai, Tio Hui Po lalu melepas sabuk emas yang menjadi. lambang ketua, mengenakan sabuk emas itu ke pinggang Seng Gun dan sabuk emas itu mempunyai sebatang golok yang gagangnya terukir indah. Setelah begitu, Tio Hui Po memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.

“Pangcu, mulai hari ini kita semua anggauta Nam-kiang-pang menaati semua perintahmu.” 320

Dengan tersipu Seng Gun lalu menjatuhkan dirinya berlutut. “Suhu, harap suhu tidak berkata demikian.”

.”Hushh, ini merupakan upacara yang tidak boleh dilanggar,” dan setelah itu, satu demi satu para tokoh Nam kiang-pang memberi hormat kepada ketua muda itu. Setelah semua orang memberi hormat, barulah tiba giliran para tamu, seorang demi. seorang maju memberi ucapan selamat.

Seorang hwesio.Siauw-lim-pai maju bersama dua orang tosu, yaitu seorang tosu dari Butong-pai dan seorang lagi dari Kong-thong-pai. Hwesio Siauw lim-pai itu agaknya menjadi juru bicara kedua orang rekannya, “Omitohud, pinceng bersama dua orang totiang ini juga ingin mengucapkan selamat kepada ketua Baru Nam-kiang-pang, Semoga dengan pangcu yang duduk memimpin Nam-kiang-pang, hubungan dan kerja sama antara kita menjadi semakin baik. dan kami yakin pangcu akan bersikap jujur terhadap kami se-bagai kawan.”

Seng Gun cepat membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tagan depan dada. “Terima kasih, suhu, dan ji-wi totiang. Tentu saja kami akan meningkatkan kerja sama di antara kita. Dan bukankah selama ini kami bersikap jujur terhadap sam-wi?”

“Omitohud, pinceng mendengar berita buruk sekali. Bukankah dahulu yang menjadi calon ketua Nam-kiang-pang adalah Ciu Kang Hin! Di mana dia sekarang? Kenapa tidak ikut hadir? Saudara-saudara, hendaknya diketahui bahwa Ciu Kang Hin yang pernah dicalonkan menjadi ketua Nam-kiang-pang itu telah bersekutu dengan Beng-kauw dan dia telah membunuh seorang tokoh Siauw-lim-pai, seorang tosu Butong-pai dan seorang tokoh Kong-thong-pai !”

Segera berita ini disambut dengan suara berisik dari para tamu karena hal itu memang merupakan berita yang mengejutkan sekali. Mereka semua sudah mengetahui siapa Ciu Kang Hin yang tadinya disohorkan sebagai pembasmi 321

Beng-kauw nomor satu.

Mendengar ucapan ini dan melihat semua orang ribut-ribut, dengan tenang Seng Gun mengangkat kedua tangan ke atas sehingga keributan itu mereda. Dengan suara lantang dia bertanya kepada hwesio itu.

“Maaf, losuhu. Berita itu memang benar dan baru saja kami hendak mengumumkannya. Akan tetapi dari siapakah losuhu mendengarnya! Kami tidak ingin ada berita yang simpang siur.”

“Kami mendengar dari saksi mata yang hidup, yaitu dua orang tokoh dari Bu-tek Ngo Sin-liong!”

Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin melangkah maju dengan gagah dan keduanya mengangkat tangan, “Benar, kami melihatnya sendiri, rena kami juga melawan Bengkauw bersama sama Tong-pangcu.”

“Saudara-saudara sekalian, harap tenang dan dengarkan penjelasanku , ” kata

Seng Gun dengan sikap berwibawa seperti dikatakan dua orang lo-cian-pwe dari Bu-tek Ngo Sin-liong tadi, memang” benar kami bertujuh menyerang Beng-kauw di Bukit Tanduk Rusa. Kita bertujuh adalah aku sendiri, suheng Ciu Kang Hin, kedua lo-cian-pwe dari -tek Ngo Sin-liong, Ho Jin Hwesio dari Siauw-lim-pai, Kiang Cu Tojin dari Butong-pai dan Pek Kong Sengjin dari kong-thong-pai . Ketika kami sedang bertanding, dikeroyok banyak orang Bengkaw, dan kami sudah merobohkan banyak lawan, tiba-tiba suheng Ciu Kang Hin, sekarang bukan suhengku lagi, membalik membantu Beng-kauw menyerang kami cara mendadak sehingga tiga orang tokoh yang disebutkan tadi tewas! Kami bertiga nyaris celaka, akan tetapi beruntung dapat meloloskan diri, akan tetapi dua orang lo-cian-pwe dari Bu-tek Ngo Sin-liong ini berhasil melukai Ciu Kang Hin sehingga kami kira dia tidak akan dapat hidup lagi.” 322

“Omitohud! Kami juga mendengar akan hal itu, akan tetapi kami tidak puas hanya mendengar Ciu Kang Hin terluka saja. Kami menuntut kepada Nam-kiang-pang untuk menghadapkan Ciu Kang Hin kepada kami, hidup atau mati, agar arwah saudara kami yang tewas tidak menjadi penasaran!”

Terdengar teriakan di sana sini tanda setuju.

Kembali Seng Gun mengangkat kedua tangannya. “Baik, baik, kami berjanji dalam waktu satu bulan kami akan menghadapkan Ciu Kang Hin, hidup atau mati kepada cuwi untuk diadili. Nah, marilah kita mulai dengan perayaan ini untuk menghormati cuwi yang terhormat.”

Pesta dimulai dan para tamu rata rata merasa senang dan puas dengan sikap ketua baru yang tegas. Pesta itu bubaran setelah senja hari dan banyak tamu yang pulang dalam keadaan puas dan mabok. Hanya ada beberapa orang tamu dekat yang tinggal untuk bermalam semalam, di antara mereka tentu saja Bu-tek Ngo Sin-liong!

Seng Gun sendiri sudah setengah mabok dan dalam keadaan seperti itu dia tidak begitu ingat lagi dan berani bercanda dengan Bi-sin-liong Kwan Lian main tebak jari dengan taruhan minum sehingga kedua orang ini menjadi mabok dan tertawa cekikikan, ditonton oleh Bu-tek Ngo Sin-liong yang lain.

Melihat ulah muridnya yang kini menjadi ketua baru itu, Nam-kiang-pang cu yang lama, Tio Hui Po, mengerutkan alisnya dan pergi ke dalam kamarnya. Dia merasa kecewa sekali dan di dalam kamarnya dia termenung dan mulai meragukan kebijaksanaannya. Murid utamanya telah hilang, bahkan menjadi pengkhianat, puteranya sendiri tidak becus dan yang diangkatnya sebagai ketua sekarang sesungguhnya seorang yang baru dia,kenal empat lima tahun yang lalu. Timbul perasaan sedih dan khawatir di hatinya. Terbayang sikap Ciu Kang Hin yang lembut dan taat, yang sopan dan pandang matanya yang jujur, kemudian terbayanglah dia 323

betapa Seng Gun secara tidak tahu malu bercanda dengan si cantik Bi-sin-liong Kwa Lian di depan banyak orang.

Sementara itu, para tamu telah memasuki kamar mereka masing-masing yang dipersiapkan untuk mereka. Jumlah para tamu yang menginap hanya ada belasan orang. Seng Gun dengan sempoyongan juga memasuki kamarnya, akan tetapi tidak sendirian, melainkan berama Kwa Lian. Dia tidak menyadari bahwa Tio Ki Bhok dengan bersungut-sungut mengikutinya dan pemuda ini mengintai dari jendela kamarnya ketika mendengar suara cekikikan dari dalam kamar itu. Ternyata pemuda tolol itu jatuh cinta kepada Kwa Lian!

Ketika Tio Ki Bhok mengintai ke dalam dan melihat betapa Seng Gun bermesraan dengan Kwa Lian, dia terbelalak dan mukanya menjadi merah. Tanpa pikir panjang lagi ditolaknya daun jendela dan dia melompat masuk. Tentu saja Seng Gun dan Kwa Lian terkejut sekali dan Seng Gun segera melompat turun dari pembaringan dan membentak, “Sute, mau apa engkau memasuki kamarku seperti ini?”‘

“Suheng, nona ini adalah kekasih ku , aku cinta padanya, aku akan minta ayah melamarnya.”

“Sute, pergi dan jangan ganggu aku!”

“Ahh, suheng, engkau sudah banyak mempunyai kekasih. Kalau engkau tidak memberikan kepadaku, akan kulaporkan kepada ayah!”

“Bocah tolol! Mau lapor apa kau !”

“Akan kulaporkan bahwa dulu kau pernah menangkap enci ini, dijadikan tawanan akan tetapi kaubebaskan diwaktu malam hari. Malah topengnya kau lempar di luar kamar Ciu Suheng. Hayo…. aku melihat sendiri, kalian tidak dapat menyangkal. Nona ini melepaskan topeng dan melepaskan penyamarannya, aku mengenalnya benar!”

Seng Gun dan Kwa Lian terbelalak, dan muka Seng Gun 324

berubah pucat. Akan tetapi Kwa Lian yang mempunyai banyak pengalaman, tidak membuang waktu. la melihat adanya bahaya terbukanya rahasia mereka, maka secepat kilat, wanita cantik jelita ini sudah menggerakkan kepalanya. Rambutnya tadi memang terlepas dan terurai panjang ketika ia bermesraan dengan Seng Gun. Kini, rambut panjang itu meluncur ke arah tubuh Tio Ki Bhok. Kasihan sekali pemuda tolol ini. Dia memang memiliki ilmu silat yang dapat dikatakan amat tangguh bagi orang awam, akan tetapi menghadapi seorang datuk sesat seperti Bi-sin-liong (Naga Sakti Cantik) Kwa Lian, dia bukan apa-apa. Dia bingung melihat lembaran rambut halus itu menyambar dan bagaikan ular saja, rambut harum itu telah membelit lehernya! Dia berusaha untuk melepaskan, akan tetapi tidak mungkin lagi. Rambut itu seperti menembus kulitnya dan membuat dia tidak dapat bernapas. Akhirnya dia berke lojotan dan pingsan.

“Jangan bunuh dia!” kata Seng Gun. Kwa Lian melepaskan rambutnya, dan menyanggulnya. Manisnya bukan main gerakan Kwa Lian ketika menyanggul rambutnya. Entah mengapa, gerakan wanita yang menyanggul rambutnya selalu menda tangkan gairah tersendiri dalam hati pria !

Kwa Lian memandang kekasihnya. “Kenapa, Seng Gun? Orang ini berbahaya sekali, kalau dia bicara dan orang lain mendengarkan omongannya, bisa celaka semua rencana kita.”

“Justeru itu tidak boleh dibunuh. Akan tetapi kalau dia dibuat tidak mampu bicara dan tidak mampu mendengar, tidak mampu melihat, tidak akan ada yang percaya kepadanya.”

“Maksudmu ?” Kwa Lian memandang, lalu maklum dan iapun menubruk

dan merangkul, lalu mencium pemuda itu dengan girang. “Ah, engkau memang cerdik bukan main!”

Seng Gun hanya tertawa ha-ha-he-he, lalu menghampiri 325

Tio Ki Bhok. Pemuda tolol ini agaknya dapat menduga bahaya apa yang mengancam dirinya karena ketika itu dia sudah siuman kembali. Dia menjadi pucat, terbelalak dan meng geleng-geleng kepala. Akan tetapi sekali tangan Seng Gun bergerak, jari-jari tangannya sudah menusuk ke arah teng-gorokan. Hanya terdengar bunyi “krok” dan tulang tenggorokan menjadi remuk, membuat pemuda itu tidak dapat mengelu arkan suara lagi. Dia membuka mulut lebar-lebar untuk menjerit, akan tetapi tidak mengeluarkan suara. Seng Gun mengelebatkan golok sambil menangkap lidah Tio Ki Bhok dan l idah itupun putus! Dua kali lagi tangannya bergerak, sekali ke arah mata dan sekali lagi ke arah bawah telinga dan pemuda itu sudah menjadi seorang tapadaksa yang paling tidak berguna di dunia. Dia tidak mampu lagi bicara, tidak dapat mendengarkan dan tidak dapat melihat. Darah membasahi mulut, mata yang berlubang, dan telinga, dan diapun pingsan.

Pada saat itu, hati Tio Hui Po merasa tidak enak. Tadi dia teringat akan puteranya. Satu-satunya orang di dunia ini yang dekat dengannya, biarpun bodoh. Dia lalu keluar dari kamarnya dan memanggil-manggil. Ketika tiba di dekat kamar Seng Gun, pintu kamar itu terbuka dan Seng Gun muncul. Cepat dia memberi hormat kepada gurunya.

“Suhu, suhu mencari siapakah?”

“Pangcu, kau melihat Tio Ki Bhok?”

“Sute? Ada teecu melihatnya, suhu. Mari teecu antar, kalau tidak salah dia berada di bangunan bawah tanah.”

“Kenapa berada di sana?!”

“Entahlah, suhu. Akhir-akhir ini dia sering termenung di ruang tahanan kosong di bawah tanah itu.”

“Aneh….” kata Tio Hui Po akan tetapi dia mengikuti Seng Gun menuju ke bangunan bawah tanah. Bangunan ini berada di belakang, dan biasanya dipergunakan untuk mengeram 326

tawanan yang berbahaya, Akan tetapi sudah lama tidak ada tawanan yang dikeram di tempat itu .

Mereka menuruni lorong yang menurun ke bawah tanah. Tempat itu menyeramkan, diterangi dengan obor-obor” yang dipasang di dinding, dan dinding batu itu lembab dan dingin. Setelah tiba di ruangan paling dalam, Seng Gun berjalan di belakang membiarkan gurunya berjalan di depan.

Tio Hui Po melihat puteranya ber ada di ruangan tahanan, bersandar pada dinding dan keadaannya amat menyedihkan. Mukanya penuh darah yang keluar dari hidung mulut mata dan telinga! Dan puteranya itu agaknya pingsan.

“Ki Bhok!” Tio Hui Po masuk ke ruangan itu dan menghampiri puteranya .

“Klikk !” Daun pintu besi ruangan yang luas itu tertutup. Tio Hui Po menengok dan melihat Seng Gun sudah berdiri di dalam bersama seorang wanita yang dikenalnya sebagai Bi-sin-li-ong Kwa Lian, orang termuda dari Bu-tek Ngo Sin-liong, Mereka berdiri sam-bil tersenyum mengeje’k.

“Seng Gun, apa artinya ini! Kena pa Ki Bhok menjadi luka begini?”‘

“Tanyakan saja kepadanya sendiri!” kata Seng Gun dengan suara mengejek.

Tio Hui Po mengguncang pundak puteranya. “Ki Bhok, kau kenapa? Siapa yang melukaimu?”

Pemuda itu menggerakkan tubuhnya, matanya sudah buta, mulutnya tak dapat bicara dan telinganya tuli. Dia hanya bisa menggerakkan telunjuknya, menuding ke arah Seng Gun-.

Tio Hui Po memeriksa keadaan puteranya dan ia mengeluarkan jerit ngeri ketika melihat keadaan puteranya yang sebenarnya. Puteranya lebih baik mati dari pada hidup! Dia meloncat ganas dan memandang kepada Seng Gun dengan mata memancarkan api kemarahan. “Seng Gun, apa 327

yang terjadi dengan keponakanku?

“Ha-ha-ha, keponakan? Tio Hui Po Ki Bhok itu bukan keponakanmu, melain-kan anak gelapmu dengan Ang-lian-pang-cu yang bernama Siang-cu Sian-li….”

“Tapi ia bibimu?”

“Bibi kakiku! la mati karena kami yang membunuhnya dan kami sudah mengetahui rahasia busukmu dengannya.”

Tio Hui Po terbelalak, marahnya sudah sampai ke ubun-ubun, akan tetap’ diapun penasaran dan ingin tahu. “Tapi tapi…. kau menyusup ke Nam-kiang-pang, malah engkau menerima warisan Thian-te To-hoat dan engkau

ah, kalau begitu, Ciu Kang Hin juga hanya menjadi korban fitnahmu!”

“Ha-ha-ha, engkau pintar, akan tetapi terlambat, Tio Hui Po. Sekarang aku yang menjadi ketua Nam-kiang-pang, dan kau boleh tinggal di sini selamanya dengan anakmu , ha-ha!”

“Tapi… tapi… kenapa? Siapakah sebenarnya engkau?”

“Ha-ha, sekarang tidak ada persoalan kalau engkau mengenalku, Tio Hui Po. Aku adalah putera An Lu Shan, nama ku An Seng Gun. Aku cucu Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui . Aku ingin mendirikan kembali kejayaan ayahku yang sudah runtuh Dan karena aku membutuhkan nama Nam-kiang-pang maka aku ingin menguasainya Ang-lian-pang kami basmi karena tidak mau tunduk kepada kami. Hoat-kauw adalah sekutu kami. Juga kami akan mempergunakan Nam-kiang-pang untuk membasmi Beng-kauw dan mengadu-domba semua perkumpulan yang tidak mau bekerja sama dengan kami !”

“Jahanam keparat….! Kau iblis”

Tio Hui Po mencabut goloknya dan menyerang bekas murid itu dengan jurus dari Thian-te To-hoat.

Akan tetapi Seng Gun yang baru saja menamatkan ilmu 328

golok itu, tentu saja mampu menangkis, apa lagi di tangannya terdapat golok pusaka yang turun temurun dimiliki para ketua Nam-kiang-pang. Biarpun demikian, andaikata Seng Gun tidak sudah mempelajari ilmu dari kakeknya, dan di situ tidak terdapat Kwa Lian, belum tentu dia akan berani menandingi gurunya yang sudah banyak pengalaman dan terkenal sebagai seorang gagah di dunia kangouw.

Tio Hui Po mengamuk dengan golok nya, kini dikeroyok dua oleh Seng Gun dan Bi-sin-liong Kwa Lian. Baru ting-kat kepandaian Kwa Lian saja sudah sebanding dengan tingkatnya, apa lagi di situ ada Seng Gun yang mengenal semua jurus gerakan goloknya, maka setelah mengamuk selama tigapuluh jurus, akhirnya Tio Hui Po terkena sabetan pe dang beronce merah dari Bi-sin-liong Kwa Lian. Sabetan pedang itu tepat mengenal pergelangan tangan kanannya, membuat lengan itu buntung dan goloknya terlepas! Serangan susulan dari suling dan golok di tangan Seng Gun membuat bekas ketua Nam-kiang-pang ini terjungkal dengan luka di pundak oleh bacokan golok dan tusukan suling perak pada lambungnya. Dia tidak mampu bangkit lagi .

Seng Gun tertawa. “Ha-ha-ha, tinggallah kau di sini menemani putera mu, Tio Hui Po. Jangan khawatir, setiap hari akan kusuruh orang mengantar makanan untukmu!” Setelah berkata demi kian dia menggandeng Kwa Lian keluar dari ruangan itu dan menguncikan pintu nya dari luar.

Dapat dibayangkan hebatnya penderitaan Tio Hui Po, derita yang dialami itu amat berat, bukan hanya derita lahir melainkan derita batin. Nyeri badan dapat ditanggung oleh” laki-laki yang gagah perkasa ini, akan tetapi nyeri di hatinya membuat dia hampir putus asa. Akan tetapi dia mempunyai semangat besar. Dia menggunakan tangan kirinya untuk mengobati luka-lukanya, kemudian melihat keadaan puteranya, dia tahu bahwa jalan satu-satunya bagi puteranya hanyalah kematian. Dia menyambar goloknya dengan tangan 329

kiri dan memejamkan mata ketika goloknya me nyambar ke depan dan menembus jantung puteranya. Setelah puteranya roboh tak bernyawa lagi, barulah dia berlutut dan menangis sambil menciumi muka yang masih berlumuran darah itu.

Dia duduk bersila. Terbayang olehnya semua sikapnya yang keliru selama ini terhadap Ciu Kang Hin. Ah, betapa buta dia! Percaya sepenuhnya kepada Seng Gun dan sebaliknya malah mencurigai Kang Hin! Dia merasa menyesal bukan main. Penyesalan yang selalu kasep datangnya. Penyesalan menyusul setiap kali perbuatan mendatangkan akibat yang buruk. Kalau tidak berakibat buruk, betapapun jeleknya perbuatan itu tidak akan mendatangkan penyesalan. asal tidak ada gunanya, karena sesal hanya menunjukkan kekecewaan dari tidak tercapainya keinginan. Penyesalan tidak mendidik dan tidak menyadarkan. Apakah artinya kesadaran setelah perbuatan dilakukan? Perbuatan itu akan terulang kembali dan penyesalannyapun akan terulang kembali. Akan tetapi bagi orang yang waspada akan tindakannya sendiri setiap saat, bagi orang yang selalu bersandar kepada kekuasaan Tuhan, kesadaran akan datang” sebelum dia berbuat, sehingga tidak menimbulkan penyesalan yang sudah terlambat.

Dan semenjak hari itu, Seng Gun sepenuhnya berkuasa atas Nam-kiang-pang. Dia bahkan membasmi orang-orang yang tidak mau tunduk dan yang masih terus menanyakan tentang Tio Hui -po sehingga akhirnya Nam-kiang-pang tinggal orang-orang yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan Seng Gun. Dan tentu saja hubungan dengan Hoat-kauw menjadi semakin erat, bahkan Hoat-kauw yang tadinya berpusat di Bukit Ayam dekat dusun Li-bun, yang sudah diobrak-abrik pasukan, kini dipindahkan ke Nam-kiang-pang !

Ciu Kang Hin merasa bagaikan dalam mimpi. Kepalanya berdenyut-denyut nyeri dan panas dan tadi ketika dia roboh, tiba-tiba saja tubuhnya terangkat tanpa dia berdaya untuk melawan, dan tubuh itu diterbangkan orang tanpa dia dapat 330

melihat jelas bagaimana caranya dan siapa orang itu. Dia sudah pingsan dalam pondongan dan tidak tahu bahwa dia di bawa pergi jauh sekali dari tempat itu dan baru orang yang memondongnya berhenti ketika mereka tiba di atas sebuah bukit bambu yang sunyi. Pemondongnya menurunkan tubuhnya di. atas petak rumput yang bersih tebal dan memeriksa dirinya.

Ketika mendapat kenyataan bahwa ada dua bintik kecil berwarna hitam di dahi pemuda itu, si penolong lalu membungkuk, menggunakan mulutnya untuk mengecup bintik di dahi, menggunakan kekuatan saktinya untuk menyedot. Setelah beberapa lamanya, berhasil juga dia menyedot keluar dua batang jarum hitam halus. Dia masih terus menyedot sampai darah yang keluar dari dahi itu berwarna merah. Lalu dia menggunakan dua telapak tangannya, ditempelkan di dada Kang Hin dan menggunakan sin-kang disalurkan ke dalam dada untuk membantu pemuda itu membersihkan diri nya dari hawa beracun.

Matahari telah mulai tenggelam ketika akhirnya Kang Hin tersadar. Dia mendapatkan dirinya tergantung di pohon bambu besar, tergantung pada kedua kakinya dengan kepala di bawah! Kang Hin terkejut, masih. nanar sehingga belum ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya. Kepalanya masih pening. Perlahan-lahan dia membuka kedua matanya. Tak salah lagi. Dia di.gantung orang di pohon itu dengan kedua kaki. di atas dan kedua tangannya diikat! Ketika dia melihat ke bawah, dia melihat seorang pemuda duduk dekat api unggun dan sedang makan paha ayam hutan bakar! Lezatnya baunya ayam panggang itu. Biarpun tubuhnya terasa sakit-sakit, mengilar juga Kang Hin mencium bau kesedapan itu.

Kang Hin seorang pemuda yang cerdik. Biarpun dia masih pening, dia mampu mempergunakan otaknya mempertimbang kan keadaan dan mengambil kesimpulan. Pemuda itu tidak drkenalnya, bukan seorang di antara para pengeroyoknya tadi, 331

pakaian sederhana dan bersih, Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya jantan, rahang dan dagunya keras akan tetapi matanya lembut dan kocak, mulutnya selalu terhias senyum. Bukan wajah seorang jahat. Dan dia tadi mestinya mati, karena sudah terluka oleh senjata rahasia, dan kenyataan bahwa dia berada di sini, biarpun tergantung tapi belum mati membuktikan bahwa dia tentu sudah ditolong orang. Siapa lagi orangnya kalau bukan pemuda itu? Kalau pemuda itu orang jahat yang memusuhinya, perlu apa bersusah payah lagi? Membunuh dia akan mudah sekali. Tidak, dia bukan orang jahat dan tidak bermaksud membunuhnya. Kang Hin yakin akan hal ini.

“Sobat, ayammu gurih sekali baunya. Boleh aku minta sedikit?”

Pemuda itu nampak terkejut.

“Hen ? Hah ? Apa… “apa kaukata ?” Dia menoleh ke kanan kiri seperti orang bingung.

Kini pemuda itu menengadah, lalu bangkit berdiri. Ternyata tubuhnya tegap sekali, dadanya bidang dan matanya mencorong. Pemuda itu adalah Sia Han Lin. Dia sedang menuju ke Bukit Hari-mau untuk menyelidiki Hoat-kauw yang mengadakan pertemuan dan pesta ketika dia lewat di tempat itu dan secara kebetulan sekali melihat Kang Hin terancam maut di tangan tiga orang yang lihai bukan main’. Biarpun dia belum mengenal Kang Hin, namun tidak mungkin dia dapat membiarkan saja orang dikeroyok dan dibunuh apa lagi orang yang memiliki kepandaian hebat seperti pemuda itu. Dia menggunakan ilmu sihirnya mendatangkan angin, lalu menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menyambar dan melarikan tubuh Kang Hin yang setengah pingsan.

Han Lin memang terkejut bukan main. Tak disangkanya pemuda yang ditolongnya itu akan menegur minta ayam panggang! Betapa lucunya. Dan diapun tertawa. Tadi, setelah menyedot keluar dua batang jarum beracun, dia melihat 332

betapa kuatnya racun itu dan kalau dibiarkan akan dapat mengganggu kewarasan otak pemuda itu. Maka, dia lalu menggantung Kang Hin dengan kepala di bawah untuk memberi kesempatan kepada darah di tubuh Kang Hin mengalir seba-nyaknya ke kepala dan darah itu akar dengan sendirinya melawan pengaruh racun yang dapat merusak jaringan otak. Siapa kira, pemuda itu siuman dan minta bagian daging ayam karena lapar! Sesungguhnya seorang pemuda yang menyenangkan, pikir Han Lin, dan jelas bukan orang jahat.

“Sobat, sayang sekali. Engkau terpaksa berpuasa semalam ini. Tahukah kau, kalau aku memberimu paha ayam ini sama saja aku membunuhmu? Engkau keracunan hebat, dan bergantung terbalik itulah satu-satunya jalan untuk menyembuhkanmu. Engkau tidak boleh banyak bergerak, apa lagi makan. Besok pagi setelah matahari terbit baru engkau boleh turun dan engkau akan sama sekali sembuh. Aku akan membuatkan sarapan yang lezat untukmu. Nah, sekarang kau boleh tidur!”

Kang Hin tertegun. Ah, jadi Ini kah cara pengobatan itu. “Kawan, siapa namamu?”

“Heii, untuk banyak bicarapun kau dilarang. Tentang nama, besok pagi kita berkenalan juga belum terlambat, bukan? Nah, istirahatlah, bungkus pikiranmu dalam keheningan malam.”

Kang Hin dapat merasakan kesungguhan di balik kata-kata yang seperti kelakar itu, dan diapun mematuhinya. Dia segera menenteramkan hatinya, membenamkan diri dalam keheningan.

Keruyuk ayam jago membangunkan Kang Hin dari tidurnya. Kepalanya berdenyut-denyut akan tetapi tidak nyeri lagi dan begitu dia sadar hidungnya mencium bau yang amat sedap sehingga dia membuka matanya. Matahari telah mulai nampak cahayanya dan dia melihat pemuda tadi sedang memanggang seekor rusa kecil yang ditusuk dari mulut ke ekornya. 333

Panggang rusa itulah agaknya yang mengeluarkan bau sedap tadi, yang membangunkannya bersama keruyuk ayam jantan .

Han Lin mendongak dan memandang, lalu tertawa. “Ha-ha, kiranya engkau sudah bangun. Alangkah tajam ciuman hidungmu!.”

“Dan kau! Alangkah kejamnya hatimu. Orang yang sejahat-jahatnya engkau!” terdengar bentak nyaring dan lembut. Dan bagaikan seekor garuda menyambar, seorang wanita telah menerjang dan menempiling kepala Han Lin.

“Wan….! ‘Han Lin menjatuhkan diri dan bergulingan di atas rumput, menghindarkan diri dari serangan itu. “Jangan galak-galak, nona.”

Akan tetapi gadis itu yang ternyata seorang gadis cantik jelita, berusia tidak lebih dari sembilanbelas tahun, menjadi penasaran ketika tamparannya tadi luput. la membalik dan kini menyerang lagi dengan tendangan kaki. Han Lin dapat merasakan betapa tendangan itu mengandung tenaga sinkang yang amat dahsyat. Maka, diapun mengerahkan tenaga dalamnya dan menangkis.

“Dukk….!” Akibatnya, keduanya terdorong ke belakang dan merasa tubuh mereka tergetar hebat. Keduanya tertegun dan baru maklum bahwa lawan adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi .

Maka, gadis itu yang bukan lain adalah Yang Mei Li, menjadi penasaran dan mencabut sepasang pedang terbangnya. “Eh, nanti dulu, aku tidak ingin berkelahi!” kata Han Lin sambil duduk kembali ke depan panggang rusanya Akan tetapi hal ini dianggap sebagai sikap memandang rendah oleh Mei Li, maka ia mengelebatkan pedangnya. “Hayo bangkit dan lawanlah, atau aku akan menggunduli kepalamu!”

Mendengar ini, Han Lin terbelalak. Suasananya saat itu setelah gadis tadi mengeluarkan ancaman, terasa begitu lucu oleh Han Lin sehingga dia tertawa. Mana ada lawan 334

mengancam musuh dengan penggundulan rambut? “Ha-ha, engkau hendak menggunduli rambut-ku? Berapa biayanya? Apakah engkau tu-kang cukur?”

Sejenak Mei Li terbelalak, lalu mukanya menjadi merah. la menganggap pemuda itu mempermainkannya, maka ia menggerakkan pedangnya yang kiri. Pedang menyambar, Han Lin mengelak, pedang mengejar dan benar-benar mengancam kepalanya. Terpaksa dia berloncatan. “Eh! Oh! Nanti dulu, rusa panggang ku ah, wah celaka, bisa hangus..”

Akan tetapi kini Mei Li sudah marah dan terus mendesak. Karena Mei Li bukan ahli silat biasa, betapapun lihainya tentu saja Han Lin tidak bisa hanya main mengelak saja. Terpaksa dia menyambar tongkat yang tadinya dia letakkan di atas tanah. Akan tetapi dia tidak ingin memamerkan iImu tongkat Lui-tai-hong-tung yang dia pelajari dari Lojin. IImu tongkat itu terlalu dahsyat Maka dia lalu menggerakkan tongkatnya memainkan ilmu Hong-in Sing-pang untuk menangkis sepasang pedang yang mengaung-ngaung dan menyambar-nyambar seperti dua ekor burung garuda itu. Namun, semua gerakan tongkatnya itu seperti terkepung dan terdesak oleh sepasang pedang, maka diapun mengubah lagi permainan tongkatnya. Biarpun tahu bahwa lawan amat hebat, dia masih belum mau mengeluarkan Lui-tai-hong-tung, melainkan kini memainkan tongkatnya seperti memainkan pedang saja, dengan ilmu pedang Sian-li Kiam-sut.

Setelah dia main beberapa jurus, Mei Li meloncat ke belakang dan berseru, “Tahan…,..!

Mei Li memandang heran, akan tetapi Han Lin tidak perduli. Dia segera membuang tongkatnya dan lari menghampiri panggang rusa, memutarnya agar tidak hangus dan tersenyum puas.

“Dari mana engkau mempelajari Sian-li Kiam sut?” bentak Mei Li sambil memandang tajam. 335

Han Lin tersenyum dan menjawab, “Nona, apakah nona ini seorang puteri kaisar, atau puteri raja di hutan ini?”

“Eh! Kenapa?”

“Nona bersikap seperti puteri yang memerintah, menuntut dan.memeriksa pesakitan. Nona puteri dari mana?” tanya Han Lin sambil tetap melanjutkan pekerjaannya memutar-mutar daging rusa sehingga dapat terpanggang rata. Karena perhatian Han Lin sepenuhnya tertuju kepada. panggang rusa, nau tidak mau Mei Li juga memandang kepada panggung rusa itu dan ia menalan ludah. Sungguh pemandangan yang menimbulkan selera! Daging itu meneteskan minyak lemak, dan baunya membuat perutnya mendadak terasa lapar sekali. la merasa betapa sayangnya kalau panggang rusa itu sampai hangus, maka ia menahan diri dan membiarkan pemuda itu menyelesaikan pekerjaannya.

“Ditanya belum menjawab balas bertanya. Engkau selain kejam juga cerewet, dan pengecut!”

Han Lin membelalakkan matanya dan tersenyum kepada panggang rusa di depannya. “Eh, rusa yang baik, apakah memang wanita cantik itu selalu galak? Nona, kau datang-datang memaki aku sebagai orang yang sekejam-kejamnya, apa sih kesalahanku kepadamu sehingga nona menganggap aku kejam? Apakah karena aku menyembelih dan memanggang rusa ini?”

“Kau masih pura-pura bertanya ?” Mei Li menoleh dan memandang kepada Kang Hin yang masih tergantung di pohon dengan kepala di bawah. “Kau menyiksa orang seperti itu dan masih bertanya mengapa kau kumaki kejam?”

Han Lin menoleh dan merasa geli. Kiranya itu yang menyebabkan gadis ini marah-marah dan menyerangnya kalang kabut. Hal ini mendatangkan kesan baik di hatinya. Seorang gadis yang memiliki watak gagah dan suka membela orang yang tertindas, pikirnya. Karena mendapatkan kesan 336

baik, maka timbul ke inginan hatinya untuk menguji kepandaian gadis itu. Kebetulan panggang rusanya juga sudah matang, tinggal makan dan tunggu agak mendingin saja.

Dia menaruh panggang rusa itu di atas tonggak kayu, kemudian dia mengha dapi Mei Li, memandang penuh perhatian dan mendapat kenyataan bahwa gadis itu memang cantik jelita luar biasa, dan bertanya dengan nada suara menantang.

“Wahai paduka puteri yang mulia, apakah gerangan dosa hamba maka paduka semarah ini? Datang-datang menyerang hamba, hendak menggunduli kepala hamba. Kalau hamba menggantung orang ini, apa sangkut pautnya dengan paduka?”

“Kurang ajar! Engkau jahat, engkau perlu dihajar!” Dan sekali ini Mei Li marah bukan main dan mencabut sepasang pedang terbangnya. Nampak kilat menyambar ketika dara ini mencabut senjatanya.

“Hemm, hendak kulihat, aku atau engkau yang perlu dihajar,” kata Han Lin, sengaja untuk membuat gadis itu semakin marah. Dan memang usahanya berhasil. Mei Li menjadi merah mukanya dan berseru melengking nyaring, sambil menggerakkan pedang kirinya.

“Sambut pedangku!”

Han Lin tidak berani main-main. Diapun menyambar tongkat wasiatnya yang dia peroleh dari gurunya, menangkis dan balas menyerang. Namun, karena dia tidak bermaksud buruk, dia masih belum mau memainkan Liu-tai-hong-tung melainkan memainkan Sian-li Kiam-sut yang pernah dia pelajari ketika dia masih kecil, dari mendiang ibunya.

Biarpun Mei Li menjadi semakin heran dan penasaran bagaimana pemuda ini dapat memainkan Sian-li Kiam-sut, ilmu pedang dari ayahnya, namun ia tidak mau bertanya lagi. Ia harus mengalahkan dulu pemuda jahat ini dan nanti belum 337

terlambat untuk memaksanya mengaku dari mana dia mempelajari ilmu pedang itu.

Akan tetapi, ternyata pemuda itu lihai sekali dan ia bahkan menduga bahwa ayahnya sendiri tidak akan mampu memainkan Sian-li Kiam-sut dengan sebatang tongkat sebaik pemuda itu! Maka, iapun mendesak dan mengerahkan tenaganya untuk meraih kemenangan.

Sementara itu, sejak tadi Kang Hin hanya menjadi penonton. Girang sekali hatinya melihat gadis perkasa itu membelanya mati-matian, akan tetapi diapun khawatir melihat mereka berkelahi amat seru, makin lama semakin hebat. Seorang di antara mereka dapat saja terluka parah dalam perkelahian seperti itu.

“Nona, hentikan seranganmu. Dia bukan orang yang jahat, dia malah menolongku!” teriaknya. Setelah dua tiga kali berteriak, barulah Mei Li. menghentikan serangannya dan meloncat ke belakang. Tadi ia sudah mulai mempergunakan ilmu pedang terbangnya sehingga se pasang pedangnya itu bagaikan sepasang garuda menyambar-nyambar membuat Han Lin terkejut dan kagum sekali. Kini, melihat gadis itu melompat mundur, dia pun memuji.

(Maaf ada halaman hilang)

benar dengan wajah” ibuku’ Kiranya engkau anak bibi Can Kim Hong dan paman Yang Cin Han? Kata orang wajah ibuku sama benar dengan wajah ayahmu!”

Mei Li terbelalak, mukanya juga

berubah pucat, lalu me rah dan seperti didorong oleh sesuatu, entah siapa yang lebih dahulu bergerak, kedua orang muda itu lalu saling tubruk dan saling rangkul. Dan Mei Li menangis saking terharu dan girang. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa ia akan bertemu dengan kakak misannya! 338

“Sia Han Lin! Engkau tentu kakak Sia Han Lin! Ah, Lin-koko betapa kami semua memikirkan dan mehgkhawa t i rkan dirimu !”

Han Lin dapat’ menguasai perasaan hatinya dan dengan lembut dia melepaskan rangkulannya, memegang kedua pundak gadis itu dan mendorongnya ke depan untuk dilihat lebih jelas. Kedua matanya sendiri menjadi basah, akan tetapi mulutnya tersenyum.

“Terima kasih, adikku Mei Li, terima kasih. Tak kusangka bahwa paman sekeluarga mengkhawatirkan dan memikirkan diriku, dan dipikirkari seorang gadis sehebat engkau sungguh amat menyenangkan hati. Akan tetapi, kebetulan sekali, mari kita bertiga makan bersama. Rusa ini sudah masak benar, masih muda, tentu dagingnya lunak dan gurih.”

“Koko, engkau hebat. Perutku memang lapar sekali.”

“Ha-ha, jadi agaknya engkau membuat ulah dan ribut-ribut tadi untuk merampas daging rusaku, ya?” Han Lin mengamangkan telunjuknya sambil tertawa .

Jilid XII

Mei Li yang memang wataknya lincah jenaka, kini tertawa juga mendengar itu. “Habis, dari jauh saja panggang rusamu sudah tercium olehku! Cuma aku tadi kaget bukan main dan mengira engkau orang jahat karena engkau membuat saudara Kang Hin tergantung seperti orang disiksa.”

“Saudara Kang Hin! Ah, aku hampir lupa kepadamu. Maafkan, jadi namamu Ciu Kang Hin? Aku pernah mendengar nama itu. Bukankah engkau tokoh besar dari Nam-kiang-pang? Kenapa tadi dikeroyok orang-orang Hoat-kauw?.”

Kang Hin menghela napas panjang. Dia tadi ikut tertegun 339

menyaksikan pertemuan antara kakak dan adik itu, dan ikut merasa terharu karena dia sendiri seorang yatim piatu yang tidak mempunyai keluarga lagi. “Ah, saudara Sia Han Lin, panjang ceritanya….” Katanya sambil duduk dekat api unggun seperti kedua orang kakak beradik itu.

“Ya, Lin-ko, ceritanya panjang dan memang nasib yang menimpa diri Ciu koko ini buruk sekali,” kata Mei Li.

“Agaknya kalian sudah saling mengenal dengan baik,” kata Han Lin.

“Tidak, koko. Kami baru saja berkenalan, bahkan sebelum berkenalan, kami sudah sempat saling serang dengan hebat. Aku tidak tahu akan keadaan yang sesungguhnya, maka aku menyerangnya dan berusaha untuk membunuhnya.”

“Memang nasibku yang buruk, dan semua ini karena perbuatan Seng Gun yang licik dan melawan nona Yang, bagaimana mungkin aku dapat menang?”

“Ah, engkau merendahkan diri, twako. Lin-ko, ketahuilah bahwa toako Ciu Kang Hin ini adalah pewaris il-mu Thian-te Sin-to yang terkenal. Dia lihai sekali dan aku bukanlah lawannya.

“Bagus, kalian berdua saling merendahkan diri, itu menunjukkan watak yang baik. Sekarang marilah kita makan dulu, saudara Kang Hin perlu makan untuk memperkuat tubuhnya yang lemah. Nanti saja kita saling menceritakan pengalaman masing-masing,” kata Han Lin. Dua orang itu tidak membantah dan mereka bertiga segera mulai makan daging rusa yang amat sedap dan gurih, pada hal bumbunya hanya garam dan bawang putih saja.

Daging itu lunak dan panas, dan Mei Li memuji kepandaian kakaknya memanggang daging rusa. Mereka makan sampai kenyang dan seekor rusa muda itu hampir habis dimakan oleh mereka bertiga. Setelah kenyang dan mereka minum anggur yang disediakan pula oleh Han Lin, mereka lalu pindah duduk 340

ke tempat yang bersih dan bercakap-cakap.

Mula-mula Kang Hin menceritakan riwayatnya, sebagai seorang yatim piatu menjadi murid Tio Hui Po, ketua Nam kiang-pang yang amat baik kepadanya. Dia menjadi murid kesayangan, murid kepala yang dipercaya dan mewarisi ilmu simpanan Thian-te Sin-to-hoat. Akan tetapi, kemudian datang pula Tong Seng Gun yang dapat pula menarik perhatian dan rasa sayang di hati ketua Nam-kiang-pang sehingga Tong Seng Gun menjadi murid ke dua setelah dia yang menerima warisan ilmu Thian-te To-hoat itu. Diceritakan pula tentang sepak terjang Tong Seng Gun yang ternyata palsu, bahkan pemuda itu ternyata adalah tokoh Hoat-kauw yang menyusup ke Nam-kiang-pang. Kini jelas baginya bahwa Seng Gun sengaja hendak mengadu domba antara Nam-kiang-pang dan Beng-kauw juga dengan perkumpulan-perkumpulan persilatan lain.

“Tidak ada yang mengira bahwa dia adalah seorang palsu yang amat jahat, tentu keadaan Nam-kiang-pang berbahaya sekali. Aku harus memberi ingat kepada suhu!” kata Kang Hin.

“Jangan tergesa-gesa, Ciu-toako Seng Gun amat licik dan tanpa bukti, mana Sie-pangcu akan percaya kepadamu? Tentu dia lebih percaya kepada Seng Gun.”

“Benar sekali. Orang yang bernama Seng Gun itu berbahaya sekali. Bukan saja dia tokoh Hoat-kauw, akan tetapi agaknya dia bekerja sama dengan orang Mongol untuk membikin kacau dan lemah dunia kangouw agar mereka dapat menguasainya. Aku melihat sendiri betapa dia dan kawan-kawannya hampir saja membunuh Pek Kong Seng-jin dari Kong-thong-pai.

“Ah, benarkah itu?” Kang Hin berseru Kaget sekali

“Lin-koko, sekarang tiba giliran mu, ceritakanlah riwayatmu sejak engkau lenyap dari kota raja itu. Ke mana saja engkau pergi? Ayahku khawatir bukan main kalau bicara tentang 341

dirimu. Ceritakan sampai engkau melihat Seng un hendak membunuh Pek Kong Sengjin.”

Han Lin melirik kepada Kang Hin an berkata “Li-moi, akan kuceritakan entang Seng Gun itu, akan tetapi mengenai riwayatku merupakan cerita panjang yang akan kuceritakan kepadamu lain waktu saja.”

Kang Hin maklum bahwa mengena riwayat pribadi pemuda aneh yang menolongnya itu tentu ada rahasia yang hanya boleh diketahui keluarga sendiri maka dia cepat berkata, “Saudara Han Lin, tentang riwayatmu, tidak perlu diceritakan. Aku hanya ingin sekali tahu tentang Seng Gun karena dia adalah adik seperguruanku yang ternyata merupakan musuh yang menyusup ke Nam-kiang-pang .”

Han Lin lalu bercerita tentang pengalamannya Betapa secara kebetulan sekali dia melihat Seng Gun dan dua orang sekutunya menyerang Pek Kong Seng-jin tokoh Kong-thong-pai itu dan mendengar percakapan mereka.

“Seng Gun secara curang telah memukul dan mendorong Pek Kong Seng-jin ke dalam jurang untung secara kebetulan aku berada di sana sehingga berhasil menyelamatkan nyawa tokoh Kong-thong-pai itu. Kemudian aku sempat pula mendengarkan percakapan antara Seng Gun dan dua orang tokoh Hoat-kauw. Ternyata dari percakapan itu bahwa mereka memang sengaja hendak menguasai Nam-kiang-pang dan menggunakan perkumpulan itu untuk mengadu domba antara Beng-kauw dan perkumpulan lain. Agaknya mereka hendak menghancurkan aliran dan perkumpulan lain agar Hoat-kauw menjadi penguasa, dan dalam memusuhi Beng-kauw mereka mempergunakan namamu untuk mengacaukan, saudara Kang Hin.”

Kang Hin mengangguk-angguk, agaknya memang sudah diduganya hal itu, dan tiba-tiba dia mengepal tinju dan bangkit 342

berdiri.

“Celaka, suhu tentu terancam bahaya. Mereka tentu mengandung niat busuk terhadap suhu, aku harus menolong suhu!”

“Ciu-toako, aku akan membantumu dan menjadi saksi akan kejahatan Seng Gun!” kata Mei Li. “Kalau kau pulang sendiri, tentu gurumu tidak akan percaya karena dia sudah dipengaruhi Seng Gun.”

“Akan tetapi mereka telah melihat engkau membela Beng-kauw, nona, tentu suhu akan lebih marah kepadaku dan kepadamu.”

“Aku tidak perduli, aku tidak takut! Kalau suhumu tidak percaya, dia bodoh!”

Kang Hin mengerutkan alisnya Baginya, suhunya adalah satu-satunya orang yang ditaati dan dihormatinya, dan biarpun suhunya sudah bersikap tidak adil kepadanya, namun dia yakin bahwa hal.itu dilakukan suhunya karena suhunya sudah dipengaruhi oleh kelicikan Seng Gun. “Nona, suhu tidak bodoh, akan tetapi Seng Gun yang terlalu licik dan jahat seperti iblis.”

Melihat Kang Hin tersinggung, Han Lin lalu berkata, “Sebetulnya aku hendak pergi ke Bukit Harimau menyelidiki tentang Hoat-kauw yang hendak mengadakan pesta ulang tahun dan mengumpulkan semua aliran dan perkumpulan besar, akan tetapi melihat gawatnya persoalan yang melanda Nam-kiang-pang, juga masih ada waktu untuk kelak pergi ke Bukit Harimau, biarlah aku menemani kalian ke sana.

Girang bukan main hati Kang Hin mendengar ini karena dia yakin bahwa kalau dua orang muda sakti seperti Mei dan Han Lin membantunya, kiranya gurunya dan Nam-kiang-pang akan dapat diselamatkan dari tangan orang-orang Hoat-kauw.

“Terima kasih terima kasih” hanya itu yang dapat 343

diucapkan berulang kali sambil mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat sehingga mengharukan hati Han Lin dan Mei Li.

“Aihhhh, Ciu-toako, di antara kita sendiri, kenapa harus bersikap sungkan! Mari kita berangkat!” Tiga orang muda itu lalu menggunakan ilmu berlari cepat, melesat di antara pohon-pohon dalam hutan dan Kang Hin menjadi penunjuk jalan.

Nam-kiang-pang telah dikuasai se penuhnya oleh Seng Gun setelah dia mengeram Tio Hui Po di tempat tahanan bawah tanah. Dia menyingkirkan dan membunuh banyak orang Nam-kiang-pang yang setia kepada ketua Tio, dan hanya anak buah Nam-kiang-pang yang bersedia taat kepadanya saja yang masih dibiarkan hidup. Sebagian besar dari mereka mengaku taat dan taluk karena takut, walau-pun diam-diam di dalam hati mereka menentang ketua baru yang berkhianat itu.

Para anak buah Nam-kiang-pang yang terpaksa tunduk kepada Seng Gun ada seratus orang banyaknya, sedangkan kini Seng Gun mendatangkan limpaluh orang anggota Hoat-kauw ini, para angauta Nam-kiang-pang semakin tidak berdaya lagi karena tingkat kepandaian orang-orang Hoat-kauw itu rata-rata lebih tinggi dari tingkat kepandaian mereka sehingga andaikata mereka akan melawanpun tidak ada gunanya karena mereka pasti akan kalah. Dan limapuluh orang Hoat-kauw itu bersikap sebagai pimpinan dan memperlakukan orang-orang Nam-kiang-pang sebagai pelayan.

Hari itu suasana di Nam-kiang-pang sunyi sekali, pada hal semua angauta dikumpulkan di lapangan. Seng Gun dan para tokoh Hoat-kauw kemarin pergi meninggalkan perkampungan itu karena mereka akan pergi ke Bukit Harimau menghadiri perayaan pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw. Nam-kiang-pang kini oleh Seng Gun diserahkan penjagaan dan kekuasaannya kepada limapuluh orang anak buah Hoat-kauw dan seorang tokoh Hoat-kauw bernama Kauw Lo diangkat 344

sebagai pimpinan. Kauw Lo ini murid dari Ang-sin-liong Yu Kiat, berusia tigapuluh tahun, tinggi besar dan galak bukan main, mukanya hitam karena penyakit kulit maka dia nampak makin menyeramkan. Akan tetapi dia memang lihai, sebagai murid utama Ang-sin-liong dia pandai mempergunakan sebatang golok besar.

Pagi itu dia mengumpulkan seratus orang anggauta Nam-kiang-pang dan limapuluh orang anggauta Hoat-kauw di lapangan dan dia sendiri berdiri di atas panggung tinggi yang dibuat khusus untuk keperluan memberi perintah dan komando kepada para anak buah.

“Orang-orang Nam-kiang-pang, dengar baik-baik perintahku ini. Kalian semua sudah tahu bahwa penjahat besar Ciu Kang Hin masih berkeliaran dan belum mampus. Selama dia masih berkeliaran, kita tidak akan aman. Pengkhianat itu harus dicari dan dapat ditangkap, mati atau hidup. Oleh karena itu, hari ini kita akan mencari dengan berpencar dan berkelompok kecil. Kalian berpencar menjadi sepuluh kelompok, masing-masing sepuluh orang dan ditemani oleh lima orang Hoat-kauw dan sepuluh kelompok dari limabelas orang itu mencari ke semua penjuru Mengertikah?”

Seperti sekawanan burung orang-orang itu menjawab. “Kalau nanti di antara kalian ada yang melihat penjahat Ciu Kang Hin harus berseru dan memanggil kawan-kawan.”

Pada saat itu, nampak tiga sosok bayangan berloncatan naik ke atas panggung dan terdengar suara nyaring, terdengar oleh semua orang yang berada di bawah panggung. “Ciu Kang Hin berada di sini !”

Semua orang yang berada di bawah panggung terkejut. Orang yang menjadi bahan pembicaraan itu kini telah berada di situ, di atas panggung. Kekagetan membuat mereka hanya melongo saja, tidak tahu harus berbuat apa. Juga Kauw-Lo terkejut dan melihat dengan mata terbelalak. Tiga orang yang 345

muncul didepanya itu sama sekali tidak menakutkan apa lagi Mei Li yang cantik jelita, Han Lin yang tersenyum-senyum. Akan tetapi Kang Hin nampak marah dan menyeramkan, matanya seperti mengeluarkan bara api.

“Ciu-twako serahkan si muka hitam ini kepadaku!” kata Mei Li sambil tersenyum mengejek.

Kang Hin setuju Orang muka hitam itu tidak penting Yang penting adalah seratus orang bekas anak buahnya yang berada di bawah, yang harus disadarkan.

“Saudara-saudara anggauta Nam-kiang-pang! Perkumpulan kita telah dikuasai orang-orang Hoat-kauw! Tong Seng Gun adalah seorang penyelundup, dia musuh besar Nam-kiang-pang. Hayo kita serang orang-orang Hoat-kauw, jangan takut, ada aku di sini!”

Mendengar ucapan itu, orang-orang Nam-kiang-pang bangkit semangatnya. Sejak semula mereka memang tidak percaya kalau Kang Hin jahat. Dan melihat sikap orang-orang Nam-kiang-pang, orang-orang Hoat-kauw menghardik. “Apa kah kalian berani melawan kami?”

Kang Hin meloncat turun dari atas dan berseru. “Serbuuuu….?” maka bergeraklah seratus orang Nam-kiang-pang itu, menggerakkan senjata . masing-maing menyerang Hoat-kauw sehingga terjadilah pertempuran yang seru. Kang Hin mengamuk dan bagaikan orang membabat rumput saja dia merobohkan orang-orang Hoat-kauw.

Kauw Lo marah sekali. Ketika dia hendak meloncat turun, dia dihadang oleh Mei Li. Melihat seorang gadis cantik berani menghadangnya, Kauw Lo memandang rendah dan membentak, “Engkau anak perempuan kecil, apakah sudah bosan hidup?”

Mei Li sudah berusia hampir sembilanbelas tahun, sudah merasa dewasa sepenuhnya. Kini dimaki anak perempuan, tentu saja menganggap makian itu sebagai penghinaan dan 346

mukanya menjadi merah. Akan tetapi karena ia memang lincah jenaka, maka ia tidak memperlihatkan kemarahannya melainkan menjawab dengan nada suara mengejek. “Eh, munyuk monyet muka hitam, engkaulah yang sudah bosan hidup dan nonamu yang akan menghabisi riwayatmu yang hitam!”

Kauw Lo dalam keadaan biasa tentu akan mencoba untuk menguasai dan mendapatkan gadis itu karena diapun terhitung orang yang mata keranjang. Akan tetapi keadaan sekarang amat gawat dengan munculnya Kang Hin yang sudah dia dengar kelihaiannya, maka dia ingin menghalau penghalang itu walaupun merupakan seorang gadis yang amat cantik jelita. “Mampuslah!” Bentaknya dan golok besarnya mengeluarkan sinar berkilauan ketika menyambar ke arah leher Mei Li. Namun, mudah saja bagi Mei Li untuk menghindarkan diri dengan menundukkan kepala dan sinar pedang di tangan kirinya sudah mencuat ke arah perut penyerangnya yang menjadi terkejut setengah mati. Dengan gugup Kauw Lo melompat ke belakang akan tetapi pedang kanan Mei Li menyambar. Terpaksa Ia menggerakkan goloknya menangkis dan murid utama Ang-sing-liong ini segera dihujani sambaran pedang sehingga tidak mampu membalas sama sekali.

Melihat bahwa lawan Mei Li tidak berbahaya, bahkan anak buah Nam-kiang-pang yang melawan mati-matian terhadap serangan orang-orang Hoat-kauw yang rata-rata lebih tangguh itu, Han Lin segera melayang turun untuk membantu mereka. Dia melihat betapa Kang Hin mengamuk, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak mau membunuh orang, hanya merobohkan saja orang-orang Hoat-kauw itu sehingga dia merasa semakin suka kepada Kang Hin yang dianggapnya berjiwa pendekar dan bukan pembunuh kejam. Oleh karena itu, diapun bergerak cepat merobohkan para anggauta Hoat-kauw untuk mencegah mereka membunuhi anak buah Nam-kiang-pang . 347

Pertandingan antara Mei Li dan Kauw Lo tidak terjadi lama. Tingkat kepandaian dara perkasa itu sudah setara degan tingkat kepandaian guru Kauw Lo, yaitu Ang-sing-liong Yu Kiat orang pertama dari Bu-tek Ngo Sin-liong Maka tentu saja Kauw Lo merasa repot berat sekali menandingi dara itu. Apa lagi karena Mei Li tidak mau memberi hati sedikitpun juga dan terus menerus mendesak dengan sepasang pedang terbangnya. Belum sampai duapuluh jurus, pedang ditangan kiri Mei Li yang meluncur dengan cepat seperti kilat itu telah menyambar leher Kouw Lo yang roboh bermandikan darah dari lehernya yang seperti digorok!

Mei Li tidak memperdulikan lagi tubuh yang berkelojotan sekarat itu iapun melayang ke bawah panggung ikut mengamuk. Para anggauta Hoat-kauw sudah kacau balau dan bercerai-berai menghadapi amukan Kang Hin dan Han Lin, kini ditambah dengan sepasang pedang terbang yang menyambar-nyambar, nyali mereka menjadi kecil dan mereka yang belum roboh segera menggerakkan kaki untuk melarikan diri. ‘Hanya belasan orang saja yang mampu meloloskan diri, selebihnya roboh terluka atau tewas. Dan sebelum ada yang sempat mencegah mereka, para anggauta Nam-kiang-pang telah menghantami mereka yang luka sehingga tewaslah semua orang Hoat-kauw itu.

“Di mana suhu?” tanya Kang Hin ke pada seorang anggauta tua.

“Pangcu ditahan di bawah tanah…

Mendengar keterangan ini, Kang Hin segera lari diikuti Han Lin dan Mei Li. Dua orang Hoat-kauw yang bertugas jaga dan masih berada dr pintu lorong bawah tanah, menyambut dengan serangan golok. mereka, akan tetapi sekali menggerakkan kaki tangannya Kang Hin membuat mereka terjungkal dan tak dapat bangun kembali. Kang Hin berlari terus sampai tiba di kamar tahanan.

“Suhu !!” Dia berseru sambil mematahkan rantai pintu 348

dan berlari, menubruk suhunya yang duduk sandarkan dinding kamar tahanan. Tio Hui Po nampak lemah sekali dan ketika dia melihat Kang Hin, dia menangis tersedu-sedu, menggunakan tangannya untuk menggosok kedua matanya seperti anak kecil menangis.

“Kang Hin …. Kang Hin hu-hu-huuuhh ….” Dia mengguguk.

Suhu, suhu, apakah yang terjadi Ah, suhu, apa yang telah dilakukanan iblis itu kepadamu?” Kang Hin bertanya, memandang ke arah tangan kanan gurunya yang buntung. Dia lalu teringat Tio Ki Bhok, keponakan gurunya yang amat disayang gurunya. “Dan di mana sute Tio Ki Bhok, suhu?”

Tio Hui Po dengan masih menangis meneogok ke kiri, di mana dahulu mayat telah disingkirkan oleh anak buah Hoat-kauw, dan mendengar pertanyaan itu dia menangis semakin sedih. “Kang Hin …. iihhh, maafkan aku, maafkan gurumu yang tolol ini … ah, semua salahku sendiri, Kang Hin. Iblis itu telah menipuku, dia telah menyiksa Ki Bhok dan terpaksa aku membunuhnya untuk menghenti kan penderitaannya. Ya Tuhan….., aku telah membunuhnya …membunuh …. puteraku sendiri …” “Suhu ….!” Kang Hin terkejut dan khawatir, mengira suhunya sudah berubah ingatan .

“Tak perlu lagi aku menyembunyikan aib itu. Tio Ki Bhok puteraku, ibunya adalah Siang-cu Sian-li ketua Ang-Kiang-Pang yang juga sudah tewas oleh Seng Gun iblis busuk itu. Ahh, aku benar bodoh tertipu oleh iblis yang ternyata orang yang bersekutu dengan Hoat kaw untuk menguasai Nam-kiang-pang.” Dan aku telah mengajarkan Thian-te Sin to kepadanya, dan aku telah mencurigai engkau! Dia menyiksa Ki Bhok, menjebak aku ke sini dan membuntungi tanganku.. … ah, Kang Hin, aku layak begini,salahku

sendiri …..” Orang tua itu nampak sedih sekali dan makin lemah keadaan nya.

“Suhu, tidak ada yang menyalahkan suhu, biar teecu 349

mengobat! suhu, kemudian teecu yang akan menghajar murid murtad itu!”

“Tidak ada gunanya lagi, Kang Hin Aku memang hanya menahan kematian untuk menunggumu. Sekarang aku mohon kepadamu, aku mohon …. bangunlah kembali Nam-kiang-pang …. dan bersih kan namanya” Tio Hui Po terkulai dan cepat Kang Hin memondong gurunya keluar dari tempat itu.

Setibanya di luar, puluhan orang anak buah menyambut dengan terharu. Tio Hui Po minta diturunkan, lalu ddia bangkit berdiri dengan susah payah, di papah oleh Kang Hin dan diikuti oleh Mei Lin dan Han Lin. Dia lalu mengerah kan tenaganya, bicara dengan suara lantang “Semua anggauta Nam-kiang-pang, dengarlah baik-baik. Aku, Tio Hui Po, ketua dan pemimpin kalian, saat ini menyatakan bahwa aku mengangkat Ciu Kang Hin menjadi ketua Nam-kiang-pang yang baru!”

Hampir seratus orang itu menyambut dengan sorakan setuju.

“Dan kedudukan Tong Seng Gun seba gai ketua telah kubatalkan!”

“Bunuh si jahat Tong Seng Gun!” anak buah itu berteriak-teriak.

Akan tetapi mereka berhenti bersorak ketika melihat betapa tiba-tiba Tio Hui Po roboh terkulai dan dipapah oleh Kang Hin, melihat betapa pemuda itu menangis dan memangil-manggil gurunya. Kiranya, Tio Hui Po telah mengerahkan tenaga terakhir untuk bicara tadi .

Hanya sebentar saja Kang Hin menangis karena terdengar suara Mei Li, “Ciu-toako, tidak ada gunanya lagi kematian Tio-pang-cu kautangisi ” Ucapan itu berpengaruh besar sekali kepada Kang Hin dan diapun bangkit berdiri sambil mengusap air matanya. 350

“Aku memang lemah dan tidak sepatutnya menangis seperti orang cengeng. Akan tetapi, nona. Suhu satu-satunya manusia di dunia ini yang berbuat segala kebaikan kepadaku, pengganti orang tuaku .

Untuk menghibur hati Kang Hin, Han Lin dan Mei Li tinggal di Nam-kiang-pang sampai jenazah ketua Tio di makamkan. Kang Hin sendiri lalu membenahi perkumpulan itu, mulai menggembleng semua anak buahnya, meningkatkan kepandaian mereka agar Nam-kiang-pang menjadi perkumpulan yang kuat dan tidak mudah dipengaruhi atau dikuasai orang jahat.

Sudah dua minggu Mei Li tinggal di Nam-kiang-pang. Besok pagi Han Lin akan mengajaknya pergi ke Bukit Harimau, melihat pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw. Selama dua minggu ini ia bergaul dengan akrab sekali dengan Kang Hin yang kini ia yakin memang seorang pria yang hebat, sopan dan gagah perkasa, Hatinya tertarik dan ia bimbang .

Sore itu ia duduk di taman belakang rumah induk perkumpulan itu ia mengenang dua orang pria, yaitu Sie Kwan Lee yang kini menjadi ketua Beng-kauw menggantikan ayahnya, dan Ciu Kang Hin yang juga menjadi ketua Nam-kiang-pang menggantikan gurunya. Hatinya tertarik oleh kedua orang pemuda itu. Keduanya mengagumkan hatinya dan mendatangkan kesan mendalam. Sie Kwan Lee biarpun putera seorang tokoh Beng-kauw yang aneh, bahkan tidak mengenal aturan dan pandangan hidupnya berbeda dengan manusia pada umumnya, namun Kwan Lee membuktikan bahwa dia seorang pria berjiwa pendekar yang gagah perkasa. Kulit mukanya yang coklat itu tampan dan jantan, juga memiliki kejujuran walaupun bicaranya lembut, tidak seperti mendiang ayahnya yang kasar namun juga jujur dan terbuka sekali. Dan Ciu Kang Hin? Pemuda tampan gagah inipun mengagumkan hatinya. Penyabar dan pendiam, tenang seperti air telaga. Dan sikap kedua pemuda itu kepadanya sungguh 351

mendebarkan hatinya, Nalurinya sebagai wanita membisikkan kepadanya bahwa kedua pemuda yang menarik hatinya itu jelas jatuh hati kepadanya!

Tiba-tiba saja ia mengerutkan alisnya ketika sebuah wajah menyelinap di antara dua wajah pemuda itu. Wajah Sia Han Lin, kakak misannya! Dan ia tersenyum, dan kedua wajah pemuda itu menghilang. ia merasa berbahagia sekali bertemu dengan Sia Han Lin, kakak misannya itu dan dia juga kagum bukan main karena tahu bahwa kakak misannya itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Akan tetapi dia kakak misannya! Dia adalah keluarga sendiri. Entah mengapa, begitu ingat kepada Han Lin, gadis ini merasa gembira sekali. Kakaknya itu memang periang, jenaka, dan lincah, sungguh menggembirakan.

“Nona Yang !”

Mei Li terkejut. Karena melamun dan pikirannya me layang-layang, ia sam pai tidak tahu bahwa ada orang mengham pirinya dari belakang. la memutar tubuhnya dan ternyata Kang Hin sudah berdiri di depannya.

“Ah, Ciu-pangcu…. silakan duduk,” katanya sambil tersenyum gembira.

Wajah Kang Hin menjadi kernerahan. “Nona, harap jangan sebut aku pangcu. Buikankah engkau biasa menyebut aku twa ko?”

“Eh, baiklah, Ciu-toako. Memangnya engkau kini pangcu dari Nam-kiang-pang, apa salahnya menyebutmu pangcu ? Nah, apakah engkau mencari aku?”

Kang Hin duduk di atas bangku berhadapan dengan gadis itu. Beberapa kali, dia menghela napas panjang dan agaknya sukar sekali untuk mengeluarkan isi hatinya melalui kata-kata.

“Eh, toako. Engkau hendak bicara apakah? Kenapa hanya menarik napas panjang saja dari tadi?” 352

“Aku teringat suhu,” kata Kang Hin. “Mendiang suhu menderita karena peraturan di Nam-kiang-pang yang dia buat sendiri.”

“Aturan apakah itu, toako?”

“Aturan bahwa seorang ketua Nam-kiang-pang tidak boleh menikah. Peraturan itu menjegalnya sendiri ketika dia jatuh cinta dan berhubungan dengan ketua Ang-liang-pang. Rahasia itulah yang menjatuhkannya, karena Seng Gun mengaku sebagai keponakan ketua Ang-liang-pang sehingga memperoleh kepercayaan suhu. Kalau saja peraturah itu tidak ada dan suhu menikah dengan ketua Ang-liang-pang, tentu tidak akan begini nasib suhu . “

Mei Li menarik napas panjang, lalu memandang kepada Kang Hin, “Ciu toa ko, bagaimana dengan pendapatmu sendiri tentang peraturan itu? Apakah engkau setuju?”

Dengan langsung pemuda itu menggeleng kepala dan menjawab, “Tentu saja aku tidak setuju sama sekali!”

“Kenapa, toako? Apakah karena eng Kau ingin menikah?”

Wajah Kang Hin berubah merah. Baru dia teringat bahwa dialah ketua

Nam-kiang-pang dan dia seoranglah yang terkena peraturan itu. “Aku seorang manusia biasa, nona. Tadinya tidak terpikirkan olehku tentang perjodohan sedikitpun juga, akan tetapi setelah…” Dan dia berhenti bicara. Matanya tajam menatap wajah Mei Li .

“Kenapa, toako? Kenapa tidak kaulanjutkan? Akan tetapi setelah apa?” tanya Mei Li, pura-pura tidak tahu pada hal dari pandang mata pemuda itu dia sudah menduga isi hatinya. Kini ia merasa jantungnya berdebar. Beginikah pemuda ini mengakui isi hatinya?

“Setelah..,. setelah aku bertemu denganmu, nona Yang.” 353

Mau tidak mau Mei Li menjadi tersipu. Akan tetapi gadis yang lincah dan tabah ini mendesak terus. Ehh? Setelah bertemu denganku pikiranmu lalu berubah, toako? Kenapa?”

“Karena…. karena…. demi Tuhan kalau engkau ingin tahu, nona. Karena aku cinta padamu dan mengharapkan engkau menjadi isteriku!”

Biarpun ia sudah menduga akan isi hati pemuda itu, mendengar pernyataan yang demikian jujur, Mei Li terkejut juga.

“Ah !” “Maafkan aku, nona. Tidak sepatutnya aku mengatakan demikian, karena aku tentu saja tidak pantas untuk menjadi jodohmu”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan dan jangan terlalu merendahkan diri, Ciu-toako. Aku hanya terkejut karena tidak mengira engkau akan menyatakan perasaan hatimu itu. Akan tetapi, terus terang saja, kita belum lama berkenalan, dan aku…. sedikitpun aku belum berpikir tentang perjodohan. karena itu, tidak mungkin aku dapat memberi tanggapan atau jawaban.”

“Akan tetapi, engkau tidak menolak dan tidak marah, nona?”

Mei Li tersenyum dan Kang Hin merasa hatinya hanvut dalam senyuman yang luar biasa manisnya itu. “Aku tidak marah dan bagaimana mungkin menolak cinta kasih orang? Hanya aku tidak dapat menjawabnya sekarang dan kuharap engkau tidak menyinggung-nyinggung tentang hal itu lagi, toako.”

Kang Hin merasa girang sekali. Gadis itu memang belum menerima cintanya, namun ia tidak marah dan tidak menolak. Hal ini berarti memberi harapan kepadanya! “Terima kasih, nona. Engkau tidak marah, hal itu sudah menyenangkan sekali. Sekarang perkenankan aku mengundurkan diri dan tidak mengganggumu lagi .” 354

Dia mengangkat tangan memberi hormat lalu pergi dari taman itu. Akan te tapi kegirangannya mendadak saja berubah menjadi kegelisahan ketika dia teringat akan peraturan gurunya bahwa seorang ketua tidak boleh menikah itu. Bagaimana mungkin dia dapat melanggar peraturan dari gurunya yang amat dipatuhi dan dihormatinya?

Kang Hin masih termenung duduk di ruangan depan ketika Han Lin memasuki ruangan itu. Tadi, secara tidak disengaja Han Lin melihat Mei Li dan Kang Hin bercakap-cakap di taman. Hatinya tergetar melihat kedua orang muda itu bicara dengan begitu akrabnya. Dia tidak mencuri dengar maka segera meninggalkan tempat itu dan mencatat dalam hati bahwa mungkin sekali adik misannya itu saling jatuh cinta dengan Ciu Kang Hin. Seorang pemuda yang baik sekali, demikian pikirnya, tanpa memperdulikan perasaan hatinya yang merasakan suatu kegetiran aneh.

Ketika dia lewat di ruangan depan dan melihat Kang Hin termenung dengan wajah murung, diam-diam dia merasa khawatir. Apakah Mei Li telah menolak cintanya? Rasanya tidak, karena mereka tadi bercakap-cakap dengan akrab.

Kang Hin mengangkat muka dan segera dia bangkit berdiri ketika mengenal siapa yang datang. “Ah, Sia-ingkong (tuan penolong Sia), silakan duduk.”

Mendengar sebutan in-kong itu, Han Lin tersenyum. “Ah, Ciu-twako, harap jangan menyebut aku inkong. Kita sama-sama mengetahui bahwa membantu orang yang benar dan terancam malapetaka adalah merupakan kewajiban kita. Engkau sendiripun tentu akan berbuat seperti aku. Karena itu, adalah wajar saja dan jangan terlalu dilebihkan. Engkau lebih tua setahun dariku, sebut saja aku adik.”

Mendengar ucapan itu, Kang Hin menjadi berseri wajahnya. “Sia-siauwte (adik Sia), engkau sungguh seorang budiman sejati. Baiklah, aku merasa bangga sekali dapat menyebut siauwte kepadamu. Silakan duduk .” 355

Mereka duduk berhadapan dan Han Lin langsung saja bertanya, “Twako, aku melihat engkau termenung dan muram, ada urusan apakah gerangan yang mengganggu hatimu, kalau aku boleh mengetahuinya ?”

“Aku teringat kepada suhu.”

“Ah, tidak baik mengingat yang sudah mati dengan kesedihan. Tidak akan memberi jalan terang kepada yang mati, twako.

“Aku tidak teringat akan kematian suhu, melainkan akan peraturan yang ditinggalkannya.”

“Peraturan apa yang kaupikiran itu, twako? Bukankah mendiang Tio-pang-cu meninggalkan peraturan-peraturan sebagai layaknya ditrapkan pada perkumpulan yang gagah perkasa?”

“Engkau tahu, siauwte. Suhu menderita kesengsaraan adalah akibat dia melanggar peraturan, yaitu peraturan tidak boleh menikah. Karena peraturan itu, maka suhu mengadakan hubungan gelap dengan ketua Ang-liang-pang dan hal ini dijadikan modal oleh Seng Gun untuk menyusup ke Nam-kiang-pang.”

“Tapi, toako. Peraturan itu tidak ada hubungannya dengan dirimu, kenapa disusahkan? Atau…. apakah berangkali Ciu-toako juga mempunyai niat akan menikah?”

“Aku hanyalah seorang laki-laki biasa, siauwte, yang dapat saja jatuh cinta kepada seorang wanita dan menikah. Akan tetapi, dengan adanya peraturan itu, aku merasa dibelenggu.”

Han Lin merasa isi dadanya seperti ditusuk, kini tahulah dia bahwa Kang Hin dan Mei Li sudah saling mencinta akan tetapi hal ini malah menyusahkan hati Kang Hin karena mereka tidak bisa menikah oleh adanya peraturan itu. Akan tetapi dia tersenyum cerah dan tidak memperlihatkan perasaan hati nya. Bahkan dia merasa iba kepada Kang Hin. 356

“Apa susahnya, toako? Siapa yang membuat peraturan itu? Tentu ketua Nam-kiang-pang yang dahulu, bukan.Nah, kini ketuanya adalah engkau, maka engkau berhak mengubah dan mengadakan peraturan baru. Engkau dapat membatalkan larangan itu dan membolehkan ketua Nam kiang-pang berumah tangga dan berkeluarga .”

“Tapi…. tapi…. apakah hal itu bukan suatu pelanggaran dan memalukan sekali?”

“Eh, kenapa melanggar? Kalau peraturan itu mengenai sepakterjang yang menunjukkan kegagahan seorang anggauta Nam-kiang-pang, tentu akan buruk sekali, misalnya engkau membolehkan seorang anggauta untuk melakukan kejahatan. Akan tetapi, pernikahan bagi seorang ketua perkumpulan adalah wajar, apa lagi perkumpulanmu bukanlah perkumpulan para pendeta. Kalau engkau kumpulkan semua anggauta dan kau ambil ke putusan, mengumumkan dicabutnya peraturan itu, maka tentu saja sudah sah dan tak seorangpun dari luar perkumpulan boleh mencampuri.”

Wajah Kang Hin kini berseri. “Ah, begitukah, siauwte? Sungguh, ucapanmu ini melegakan hatiku. Terimakasih banyak, Sia-siauwte.

Han Lin tersenyum. “Kupujikan saja engkau akan berhasil menyunting bunga idamanmu itu, toako. Aku hanya mengharapkan kartu undangannya saja.”

Wajah Kang Hin berubah merah. “Aih, siauwte, biarpun aku berterima kasih atas pujianmu itu, namun aku belum mendapat kepastian tentang hal itu.”

Jawaban ini saja membuat Han Lin mengerti bahwa di antara adik misannya dan pemuda ini belum terdapat pertalian cinta kasih. Dan sungguh aneh, ada semacam kelegaan menyusupi hatinya. Han Lin diam-diam terkejut melihat kenyataan dalam dirinya ini. Berarti bahwa dia mencinta piauw-moinya itu. Mencinta Mei Li yang adik misannya sendiri? 357

Pada keesokan harinya, Han Lin dan Mei Li berpamit dari Kang Hin dan ketika berpamitan ini, diam-diam Han Lin memperhatikan sikap Mei Li. Biasa-biasa saja, tidak nampak kesedihan se pasang kekasih yang berpisah. Namun jelas bahwa Kang Hin nampak lesu seperti kehilangan semangatnya sehingga dia merasa kasihan kepada pemuda itu. Cinta Sepihak? Entahlah, akan tetapi mudah-mudahan begitu dan dia terkejut sendiri dengan harapan hatinya ini. Karena waktu diadakannya pesta oleh Hoat-kauw tinggal seminggu lagi, maka Han Lin dan Mei Li tidak menolak ketika Kang Hin memberi dua ekor kuda yang baik ke pada mereka. Mereka melakukan perjalanan berkuda dengan secepatnya menuju ke arah Bukit Harimau.

Setelah Han Lin dan Mei Li pergi, Kang Hin cepat mengumpulkan anak buahnya. “Kita harus pergi ke sana, ke Bukit Harimau. Kita harus membuat pembalasan dan membantu mereka yang menentang Hoat-kauw yang bersekutu dengan orang Mongol untuk mengacaukan keadaan Dan aku akan melapor ke benteng pasukan pemerintah.”

Demikianlah, kalau tadinya Kang Hin tidak menyatakan niatnya itu kepada. Mei Li dan Han Lin, adalah karena dia tidak ingin gerakan besar-besaran itu diketahui orang lain dan mungkin kedua orang itu akan mencegahnya. Setelah memberitahu anak buahnya, dia sendiri pergi ke benteng pasukan Kerajaan Tang yang berada sekitar limapuluh li jauhnya dari Nam-kiang-pang.

Nam-kiang-pang sudah dikenal baik oleh para komandan pasukan. Bahkan Tio-pangcu pernah berjasa dengan ikut pasukan membasmi gerombolan pemberontak sekitar sepuluh tahun yang lalu. Pasukan mengenal Nam-kiang-pang sebagai perkumpulan orang gagah. Oleh karena itu ketika terdengar berita ada keributan di Nam-kiang-pang, para komandan merasa segan untuk mencampurinya. Kini, seorang gagah 358

yang mengaku sebagai ketua Nam-kiang-pang datang mohon menghadap komandan, tentu saja dia segera. di terima dengan baik dan oleh penjaga dia dikawal menuju ke ruangan tamu dan komandan pasukan itu, Bu-ciang-kun yang nama lengkapnya Bu Kim Thouw, setelah diberi laporan, segera pula menyambutnya.

Setelah memberi hormat dan dibalas oleh komandan Bu, Kang Hin memperkenalkan diri sebagai ketua Nam-kiang-pang yang berkunjung untuk melaporkan hal yang amat penting.

“Nanti dulu, Ciu-pangcu. Yang kami ketahui, Nam-kiang-pang diketuai oleh Tio-pangcu

“Benar sekali, ciangkun. Akan tetapi Tio-pangcu meninggal dunia dan saya adalah muridnya yang diangkat untuk menggantikan kedudukannya .”

“Ahhh….! Kapan dan bagaimana meninggalnya? Kenapa kami tidak diberitahu?”

“Belum lama terjadinya dan karena ini menyangkut urusan dalam, maka tidak disiarkan keluar. Suhu tewas di tangan persekutuan jahat dan persekutuan itu bertujuan menggulingkan pemerintah, karena itulah saya sengaja datang menemui ciangkun untuk membuat laporan

Mendengar ada persekutuan hendak menjatuhkan pemerintah, tentu saja Bu-ciangkun segera menaruh perhatian dan mendengarkan dengan tertarik. Kang Hin tidak menyembunyikan sesuatu. Dimulai dengan menyelundupnya Tong Seng Gun ke dalam Nam kiang-pang, kemudian betapa Seng Gun dan rekan-rekannya berusaha mengadu domba antara partai aliran dan perkumpulan untuk melemahkan dunia persilatan, kemudian betapa Seng Gun yang ternyata adalah antek Mongol itu bekerja sama dengan Hoat-kauw.

Mendergar laporan itu, Bu-siang-kun mengerutkan alisnya. Hal itu merupakan berita penting dan gawat. “Sudah yakin benarkah engkau bahwa Hoat kauw bersekutu dengan orang 359

Mongol Ciu-pangcu?”

“Sudah ada buktinya, ciangkun. Bahkan saya sudah melakukan penyelidikan diantara para anggauta kami yang dahulunya dipaksa menjadi anak buah Tong Seng Gun bahwa dia sebetulnya adalah murid dari Sam Mo-ong yang menjadi antek orang Mongol. Kabarnya Sam Mo-ong ini adalah kaki tangan Ku Ma Khan, kepala suku Mongol yang berpengaruh itu.”

“Ah, kita harus bergerak! Di mana sarang mereka, pangcu?”

“Mereka suka berpindah-pindah, memang cerdik orang-orang Mongol itu. Akan tetapi beberapa hari lagi Hoatkauw mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang para tokoh kangouw. Tentu untuk dipengaruhi atau dipaksa mendukung gerakan mereka dan saya kira tokoh-tokoh Mongol itu akan hadir pula. Saya sendiri akan membawa anak buah saya untuk menyerbu ke sana. Kalau ciangkun percaya kepada saya dan suka bekerja sama, saya mohon bantuan pasukan….”

, . “Tentu saja, pangcu. Bahkan aku sendiri yang akan memimpin limaratus orang pasukan!”

Tentu saja Kang Hin merasa girang dan berterima kasih sekali. Mereka berangkat hari itu juga, seratus orang anak buah Nam-kiang-pang dan limaratus orang pasukan yang dipimpin sendiri oleh Bu-ciangkun.

Bukit Harimau mendapat kunjungan banyak orang sehingga suasananya ramai dan meriah. Puncak bukit itu memang merupakan lapangan yang luas sekali dan di sana dibangun pondok-pondok darurat yang mengelilingi sebuah panggung yang luas dan di situ disediakan tempat duduk yang banyak sekali.

Dalam peristiwa yang amat penting bagi Hoat-kauw itu, karena saat itu bukan saja merupakan pesta ulang tahun, akan tetapi juga merupakan penentuan keberhasilan usaha 360

mereka bekerja sama dengan pihak Mongol, yaitu meharik semua golongan untuk membantu Mongol dan tunduk kepada Hoat-kauw sebagai pimpinan, maka Bu-tek Ngo Sin-liong yang merupakan tokoh-tokoh Hoat-kauw, juga hadir pula ketua Hoat-kauw, yaitu Hoat Lan Siansu, paman guru dari Bu-tek Ngo Sin-liong yang sudah berusia tujuhpuluh tahun. Kakek ini merupakan datuk besar dunia persilatan yang tingkat. kepandaiannya sejajar dengan pera ketua perkumpulan besar seperti ketua Beng-kauw, ketua Im-yang-kauw dan lain-lain. Dan tentu saja wakil dari orang Mongol, yaitu Sam Mo-ong hadir pula di sana bersama Tong Seng Gun yang sudah dianggap berjasa besar menundukkan Nam kiang-pang dan menanam permusuhan di antara para tokoh dan perkumpulan dunia persilatan, bersama orang-orang Hoat-kauw. Sedangkan Sam Mo-ong sendiri dengan pasukan khusus Mongol telah menundukkan banyak suku bangsa di utara yang dipaksa untuk membantu gerakan Mongol kalau saatnya sudah tiba .

Bukan saja para tokoh besar yang lihai itu berada di situ, akan tetapi diam-diam merekapun mengerahkan anak buah mereka. Hoat-kauw sendiri menaruh orang sebanyak duaratus lebih di situ, juga pasukan khusus Mongol yang terdi-ri dari seratus orang memasang barisan pendam atau barisan yang tersembunyi , siap menjaga keselamatan para pimpinan mereka !

Biarpun pesta baru akan diadakan besok, akan tetapi hari itu sudah banyak orang datang. Dan di antara mereka itu terdapat seorang gadis cantik jelita yang tentu saja menarik perhatian banyak orang. Gadis berusia delapan belas tahun lebih itu memang cantik je

lita dan menarik perhatian. Nampak begitu lembut dan lemah gemulai. Langkahnya saja seperti seorang penari ketika ia meloncat turun dari atas sela kudanya dan menundukkan mukanya sambil menuntun kuda. Apa lagi ia tidak memegang sepotongpun senjata tajam sehingga hanya kelihatan sebagai 361

seorang puteri hartawan atau bangsawan terpelajar yang lemah. Akan tetapi kalau orang mengetahui siapa ia, tentu orang itu akan tertagun dan kaget. Gadis ini bukan lain adalah Ji Kiang Bwe, yang biarpun usianya baru delapanbelas tahun namun telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dan tinggi dari Pek Mau Sinkouw, seorang datuk yang mengasingkan diri. Dan ia adalah ketua dari Kim-kok

pang namun tidak ada orang mengenalnya, karena baru beberapa pekan saja ia menjadi ketua, menggantikan ayahnya yang terbunuh dalam pertandingannya melawan orang Hoat-kauw.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ji Kiang Bwe bertemu dan berkenalan dengan Souw Kian Bu yang menjadi tamunya. Kemudian Ji Kiang Bwe menerima surat undangan dari Hoat-kauw untuk.datang kepesta ulang tahun di Bukit Harimau. Ia menolak ketika Kian Bu hendak menemaninya, dan pemuda itu lalu meninggalkan Kim-kok-pang. Hari ini , Kiang Bwe tiba dari perjalanannya berkuda menuju bukit itu.

Para tokoh Hoat-kauw sudah mengatur sedemikian rupa sehingga kedatangan setiap orang telah diketahuinya dari kaki bukit mula. Maka, kedatangan gadis inipun sudah diketahui. Semua orang merasa heran .karena tidak ada yang mengenalnya. Ketika Bi-sin-liong Kwa Lian, si cantik dari Bu-tek Ngo Sin-liong mengirim surat undangan, ia hanya menyerahkan kepada seorang anggauta Kim-kok-pang untuk disampaikan kepada pimpinannya, tidak tahu bahwa kini yang menjadi ketua Kim-kok-pang adalah seorang gadis muda, puteri dari ketua yang telah tewas dalam perkelahiannya melawan Ang-sin-liong Yu Kiat. Biarpun tidak mengenalnya, akan tetapi karena ia. cantik jelita dan kedatangan nya seorang diri dan penuh rahasia, menunggang seekor kuda yang baik dan pakaiannyapun seperti seorang puteri bangsawan dan indah rapi , maka Lam-hai Sin-liong Kwa Him, orang ke empat dari Bu-tek Ngo-Sin-liong yang memiliki watak 362

mata keranjang, segera mewakili Hoat-kauw menyambutnya.

Kiang Bwe melihat seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun lebih bermuka merah bertubuh tinggi besar, di pinggangnya terdapat sepasang golok, maju menghadang dan menyambutnya dengan senyum. Laki-laki itu member! hormat. Kiang Bwe menahan kakinya dan mem balas penghormatan itu sambil memandang penuh perhatian.

“Selamat datang, nona. Kami merasa mendapat kehormatan besar dengan kunjungan nona. Nona dari golongan dan partai apakah? Kami perlu mengetahui untuk mengatur tempat penginapan bagi nona.

“Tidak perlu repot-repot. Aku dapat melewatkan malam di bawah pohon. Namaku Ji Kiang Bwe dan aku adalah ketua baru Kim-kok-pang . “

Kwa Him tertegun. Dia tahu bahwa Ji-pangcu, ketua Kim-kok-pang, beberapa bulan yang lalu tewas di tangan twa suhengnya, dan sumoinya, Kwa Lian, telah mengirim surat undangan kepada pimpinan Kim-kok-pang. Siapa kira ketuanya yang sekarang gadis yang begini cantik! Kim-kok-pang amat penting untuk ditundukkan, karena perkumpulan itu dapat menjadi sumber keuangan yang kuat, maka diapun segera memberi hormat lagi .

“Aih, kiranya nona adalah Pangcu dari Kim-kok-pang. Mari, nona silakan, tempat untuk istarahat nona sudah dipersiapkan.” Dia lalu menuntun kuda itu dari tangan Kiang Bwe yang menyerahkan kendali kudanya, dan mengajak gadis itu menuju ke sebuah pondok yang kecil mungil. Kwa Him menambatkan kuda itu di depan rumah dan berkata, “Silakan, nona, dan anggaplah pondok ini sebagai rumahmu sendiri.”

“Terima kasih,” jawab gadis itu sederhana, tanpa ingin tahu siapa orang yang mewakili .Hoat-kauw menyambutnya itu. Namun, hal ini membuatnya waspada, karena sekarang orang Hoat-kauw sudah tahu bahwa ia adalah ketua Kim-kok-pang 363

dan tentu saja mereka dapat menduga bahwa kedatangannya bukan hanya karena undangan, melainkan ada hubungannya dengan kematian ayahnya. Ia lalu membuka daun pintu pondok yang tidak terkunci dan ternyata pondok kecil itu bersih dan.cukup menyenangkan. Ia lalu membuka sepatunya dan bersila di atas dipan kayu untuk bersamadhi.

Kiang Bwe tidak menyadari bahwa sejak dari kaki bukit tadi, diam-diam ada orang yang membayanginya dari jauh. Orang ini adalah seorang pemuda tampan bercaping lebar dan membawa pedang di punggungnya. Dia adalah Souw Kian Bu. Seperti telah diceritakan terdahulu, ketika Kiang Bwe menolak dia temani ke Bukit Harimau, dia bertanya kepada gadis itu di mana dan kapan pesta Hoat-kauw diadakan. Berdasarkan keterangan gadis itu, dia dapat mencari tempat itu dan bahkan mendahului Kiang Bwe sehingga dia dapat membayangi gadis itu. Dia tidak mau memperlihatkan diri, khawatir kalau-kalau Kiang Bwe menjadi tidak senang. Akan tetapi diam diam dia mengambil keputusan untuk melindungi gadis yang ternyata telah mencuri hatinya itu.

Cinta memang sesuatu yang rahasia dan ajaib. Dari manakah asalnya dan apa penyebabnya? Cinta jelas bukan sex, karena binatang agaknya tidak mengenal cinta, kecuali induk kepada anaknya, namun binatang mengenal sex. Dari manakah datangnya? Memang, pertama kali orang jatuh cinta setelah melihat lawan jenisnya. Akan tetapi, inipun belum benar, karena bukankah orang buta juga dapat jatuh cinta?

Tentu saja pengenalan pertama melalui pancaindranya, ini berarti bahwa cinta ada hubungannya dengan jasmani, cinta timbul dari daya tarik alami antara lawan jenis, kemudian diperkuat oleh nafsu berahi. Sukar membayangkan kita dapat mencinta kekasih kita yang sekarang kalau andaikata hidungnya mendadak lenyap atau cacat lain yang membuat wajahnya menjadi mengerikan. Itu menandakan bahwa dalam cinta terkandung nafsu yang tertarik oleh keindahan tubuh. 364

Sukar pula membayangkan kita dapat mencinta seseorang yang tidak lagi dapat berhubungan badan sebagai suami isteri! Inipun menandakan bahwa di dalam cinta terkandung nafsu berahi. Semua ini sudah wajar karena memang sudah kita bawa serta ketika lahir. Namun, di antara banyak wanita cantik, di antara banyak pria tampan, mengapa ada seorang yang tertentu yang kita cinta? Kenapa kita tidak mencinta semua wanita cantik atau semua pria tampan? Di sini menunjukkan bahwa di dalam cinta ada pengaruh batiniah, bukan sekadar badaniah, yang mungkin sekali berujut dengan persamaan selera, persamaan watak, prilaku dan sebagainya lagi. Maka, tidak mengherankan kalau ada pria tampan jatuh cinta kepada wanita yang tidak cantik, sebaliknya banyak wanita cantik jatuh hati kepada pria yang tidak tampan. Demikian banyak lika-liku cinta sehingga tiada bosan-bosannya kita membicarakannya.

Bagaimanapun juga, bukankah hidup ini cinta juga? Entah itu cinta kepada kekasih kepada sahabat, kepada sanak keluarga, kepada tanaman, benda atau hewan atau lingkungan, bahkan cinta ke pada diri sendiri atau makanan! Cinta menimbulkan gairah untuk hidup, untuk melanjutkan hidup. Kalau orang tidak mempunyai perasaan cinta lagi kepada apapun juga, maka sama halnya orang itu sudah mati !

Selain Kang Bwe yang muncul di situ dan Kian Bu yang datang secara gelap, sembunyi-sembunyi berbaur dengan para tamu sehingga tentu saja dia disangka seorang anggauta rombongan tamu, muncul pula Han Lin yang datang bersama Mei Li. Kedatangan gadis inipun menarik perhatian banyak orang, karena walaupun ada pula tokoh-tokoh wanita dunia kangouw yang datang, namun tidak ada yang secantik Mei Li atau Kiang Bwe. Dua orang kakak beradik misan inipun disambut oleh seorang di antara Bu-tek Ngo Sin-liong, yaitu Ti-at-sin-liong Lai Cin yang tinggi kurus bermuka pucat. Ketika ditanya dari mana mereka datang, dan dari golongan apa, Han 365

Lin menjawab bahwa mereka adalah kakak beradik yang baru melakukan perantauan dan tidak termasuk golongan manapun.

“Dalam perjalanan, kami mendengar tentang pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw, maka kami tertarik.dan datang. Kalau tidak dilarang, kami ingin menyaksikan keramaian dan meluaskan pemandangan.”

Kalau saja di situ tidak ada Mei Li, mungkin Han Lin akan diusir oleh Tiat-sin-liong Lai Cin. Akan tetapi wajah cantik molek memang besar sekali pengaruhnya. Lai Cin hanya mengangguk dan mempersilakan mereka menempati sebuah pondok. Mei Li hendak membantah akan tetapi Han Lin memberi isarat dan setelah berada berdua saja di pondok itu dia berbisik. “Kalau membantah akan menimbulkan kecurigaan, Li-moi. Biarlah kita tinggal sepondok, engkau tidur di dalam dan aku akan tinggal di luar.”

“Mana bisa begitu, koko? Aku tidak mungkin dapat tidur membiarkan engkau kedinginan dan masuk angin di luar pondok. Aku akan tidur di pembaringan dan engkau tidur di bawah, dan tilam pembaringan boleh kaupakai. Bagaimanapun juga, kita berdua adalah saudara misan, kakak dan adik, bukan?”

Han Lin tersenyum, akan tetapi sungguh aneh, dia merasa betapa hatinya tidak enak sekali mendengar ucapan Mei Li itu, yang mengingatkan bahwa mereka adalah kakak beradik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali muncul dua orang muda yang kembali menjadi pusat perhatian. Bahkan orang-orang Hoat-kauw terkejut dan heran sekali karena yang muncul itu bukan lain adalah Sie Kwan Lee dan Sie Kwan Eng, kakak beradik dari Bengkauw! Pada hal mereka tidak mengundang Bengkauw, bahkan merencanakan untuk menghasut agar semua partai memusuhi Beng-kauw. Sekarang, dua orang muda putera ketua Beng-kauw bahkan datang sendiri. Ular mencari penggebuk namanya. Tetapi 366

mereka menyambut juga dan mempersilakan dua orang muda itu menduduki deretan bangku yang disediakan untuk para ketua partai dan tokoh besar.

Han Lin dan Mei Li hanya mendapatkan bangku tempat para tamu yang lebih rendah tingkatnya. Sebaiiknya, Yu Kiang Bwe mendapatkan tempat kehormatan karena dia adalah ketua Kim-kok-pang. Di situ duduk pula wakil-wakil dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kong-thong pai , Gobi-pai dan lain-lain. Juga wakil dari aliran-aliran agama dan kepercayaan hadir. Pesta itu sungguh sukses dan mendatangkan banyak tamu karena keadaan pada waktu itu membuat para tokoh ingin sekali mendengar apa yang hendak dibicarakan dalam pesta itu.

Seng Gun juga duduk di kursi kehormatan sebagai ketua Nam-kiang-pang. Dan di kursi utama duduklah empat orang laki-laki tua yang mengesankan ngan sikap mereka yang angker dan angkuh. Mereka ini bukan lain adalah Hoat Lan Sian-su, ketua Hoat-kauw sendiri yang rambutnya sudah putih semua, jenggotnya panjang putih dan di punggungnya terdapat sebatang pedang beronce kuning. Pakaiannya longgar dan serba kuning seperti jubah pendeta. Dan di samping kirinya duduk pula tiga orang yang angker. Mereka bukan lain adalah Sam Mo-ong, utusan orang Mongol yang bersekutu dengan Hoat-kauw.

Kedudukan Hoat-kauw dan sekutunya saat itu kuat sekali. Bukan saja di situ hadir ketua Hoat-kauw, lima orang Bu-tek Ngo Sin-liong, ada pula Seng Gun dan masih banyak tokoh Hoat-kauw yang lain, juga Sam Mo-ong yang tidak dikenal banyak orang, akan tetapi merupakan kekuatan inti dari persekutuan itu. Dan selain ini, seratus orang anak buah Mongol dan duaratus orang ang gauta Hoat-kauw siap untuk menentang siapa saja yang memusuhi Hoat-kauw.

Jumlah tamu yang datang ada kurang lebih seratus orang. Sebelum pertemuan dibuka, nampak Bu-tek Ngo Sin-liong 367

bicara berbisik-bisik dengan Ho-at Lan Sian-su dan Sam Mo-ong, juga Seng Gun ikut bicara. Agaknya mereka mengatur siasat.

Hal ini tidak luput dari penglihatan Han Lin dan Mei Li, juga Kiang Bwe melirik dan tersenyum. Kwan Lee dan Kwan Eng juga melihatnya akan tetapi kakak beradik ini bersikap tenang dan santai saja.

Tibalah saatnya bagi Hoat Lan Sian-su ketua Hoat-kauw untuk bicara. Dia bangkit berdiri dan tubuhnya masih tinggi tegap walaupun usianya sudah tujuhpuluh tahun. Dengan gagah dia melangkah ke depan sampai ke tengah panggung dan setelah memberi hormat ke seluruh penjuru, dia berkata dengan nyaring. “Kami ketua Hoat-kauw menghaturkan terima kasih atas kedatangan saudara sekalian dan atas semua bingkisan yang diberikan kepada kami. Semoga ini akan dapat mempererat hubungan di antara kita dan mudah-mudahan lain waktu kami akan dapat membalas semua kebaikan saudara. Karena kami sudah tua, maka selanjutnya untuk membicarakan persoalan kami serahkan kepada murid keponakan kami, Ang Sin-liong Yu Kiat!”

Terdengarlah orang bertepuk tangan dan yang lain ikut menyusul dan terdengarlah tepuk tangan gemuruh mengiring ketua itu mundur dan menyambut munculnya Ang-sin-liong Yu Kiat.

Tokoh ini sudah banyak dikenal orang karena sebagai orang pertama dari Bu-tek Ngo Sin-liong, tentu saja dia terkenal sekali. Dia seorang yang tinggi tegap dan tampan, pakaiannya berwarna merah dan sikapnya sombong. Tidak mengherankan kalau orang-orang Bu-tek Ngo Sin-liong bersikap sombong. Baru julukan mereka saja sudah menunjukkan kesombongan mereka. Mereka menggunakan julukan Bu-tek (Tanpa Tanding), seolah mereka mau membual bahwa merekalah jagoan-jagoan tanpa tanding, tidak ada yang mampu melawan! 368

Dengan sikap tangkas Yu Kiat yang berusia limapuluh tahun itu memberi hormat ke seluruh penjuru, lalu terdengar suaranya yang menggeledek, “Saudara sekalian, semestinya dalam pesta ulang tahun ini kami bergembira, apa lagi saudara sekalian sudah datang menghadirinya. Akan tetapi mengingat suasana sekarang di dunia persilatan sedang kacau, maka kami mohon agar sebelum melanjutkan pesta, saudara sekalian mengambil keputusan atas sikap yang akan kami lakukan. Saudara sekalian pasti telah mendengar berita tentang keganasan Beng-kauw, tentang sepak terjang Beng-kauw yang telah membunuhi banyak orang. Juga saudara sekalian tentu sudah mendengar tentang pengkhianatan se orang muda bernama Ciu Kang Hin dari Nam-kiang-pang yang kemudian ternyata membantu orang Beng-kauw. Oleh karena itu, karena di sini kami melihat hadir pula dua orang tokoh Beng-kauw, maka bagaimana pendapat saudara kalau kami mengusir mereka?”

Sejenak sunyi menyambut ucapan itu. Akan tetapi lalu terdengar suara setuju di sana-sini, dan para tokoh kang-oauw yang termasuk golongan bersih seperti Siauw-lim-pai , Butong-pai dan lain-lain tidak mau memberi suara. Mereka memang tidak pernah suka kepada Beng-kauw, akan tetapi mereka tidak mempunyai alasan untuk memusuh? Beng-kauw. Bahkan mereka lebih condong memusuhi Ciu Kang Hin yang dikabarkan telah membunuh seorang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang tokoh Butong-pai.

Sementara itu, kakak beradik putera ketua Beng-kauw saling pandang.

Kwan Eng mengangguk dan dara jelita ini yang lebih dahulu menggerakkan tubuhnya melayang ke atas panggung, diikuti oleh Kwan Lee, kakaknya. Dua orang muda itu sudah berdiri di depan Yu Kiat, lalu berbalik dan menghadapi para tamu.

“Kami kakak beradik memang putera puteri ketua Beng-369

kauw, dan kami sengaja datang untuk membela diri, mempertahankan kebenaran Beng-kauw yang tidak bersalah. Hendaknya cuwi semua ketahui bahwa selama ini , anggauta-anggauta ka mi yang dibunuhi, bahkan wanita dan kanak-kanak juga dibunuh tanpa alasan yang jelas. Kami dikabarkan membunuhi banyak tokoh dunia kangouw, akan tetapi semua itu fitnah belaka. Kami tidak menyangkal bahwa mungkin ada di antara anggauta kami yang membunuh dalam perkelahian, akan tetapi hal itu adalah wajar, karena kalau anggauta kami yang kalah kuat, maka dialah yang tewas atau terluka. Apa anehnya terluka atau tewas dalam perkelahian di dunia persilatan? .Akan tetapi kalau anggauta kami diburu seperti binatang buas, dibunuh tanpa alasan seperti orang membunuhi ayam, sungguh membuat kami penasaran dan kami minta keadilan di sini, janganlah para locian-pwe mudali saja percaya ucapan orang-orang yang melakukan fitnah kepada kami!”

Jilid XIII Tamat

”Bocah-bocah lancang!” Ang-sin-liong Yu Kiat membentak marah. ”Kalian hendak menuduh Hoat-Kauw melakukan fitnah kepada kalian? Sudah jelas bahwa Beng-kauw sejak dahulu merupakan perkumpulan sesat yang ditentang para pendekar dan semua orang tahu bahwa Ciu Kang Hin dari Nam-kiang-pang berkhianat dan membela orang-orang Beng-kauw!”

“Ciu Kang Hin tidak membela Beng-kauw, melainkan dia menjadi korban dari pengkhianatan seorang sutenya yang palsu!” bentak pula Sie Kwan Eng dengan berani dan sikap menantang.

Seng Gun bangkit berdiri. “Nanti dulu!” katanya lantang. “Yang dimaksud sute dari Ciu Kang Hin adalah aku, dan aku yang membela Nam-kiang-pang mati-matian sehingga diangkat menjadi ketua. Ciu Kang Hin memang pengkhianat dan dia membela Beng-kauw, mungkin karena jatuh cinta 370

kepada puteri ketua Beng-kauw ini !”

“Tong Seng Gun binatang berkaki dua” Kwan Eng memaki. “Tidak usah banyak cakap, di sini aku menantangmu untuk bertanding, membuktikan siapa di antara kita yang benar!”

Sebelum Seng Gun menjawab, Ang-sin-liong Yu Kiat yang sudah mendengar bahwa puteri ketua Beng-kauw itu telah berhasil menguasai ilmu pukulan Salju Putih, segera berkata, “Tidak perlu banyak berbantahan. Sekarang kita dengar saja pendapat para orang gagah yang hadir di sini. Apakah ada di antara para lo-cian-pwe dan para saudara yang gagah mendukung pendapat puteri ketua Beng-kauw itu? Ataukah semua menyangkal kebenarannya dan bahwa Hoat-kauw sama sekali tidak melempar fitnah?”

Tiba-tiba Ji Kiang Bwe bangkit berdiri dan mengangkat tangan ke atas sambil berseru, “Kami mempunyai penilaian sendiri tentang Hoat-kauw! Kami dari Kim-kok-pang menuntut kepada Hoat kauw yang telah membunuh ayah kami, ketua Kim-kok-pang! Biarpun pertandingan itu satu lawan satu, akan tetapi terjadi karena Hoat-kauw hendak memaksa Kim kok-pang menjadi sekutunya dan ditolak oleh Kim-kok-pang. Aku sebagai puterinya menghendaki agar pembunuh ayah itu maju ke depan untuk menandingi aku!”

Mendengar ini, Ang-sin-liong Yu Kiat sebagai orang yang telah membunuh Yu-pangcu dari Kim-kok-pang, menjawab lantang, “Yu-pangcu dari Kim-kok-pang berselisih paham dengan kami dan tewas dalam pertandingan satu lawan satu. Kalau nona hendak membalas dendam, itu wajar dan nanti tentu nona akan dihadapkan dengan orang yang telah menewas kan ayahmu dalam pertandingan. Harap nona menunggu sampai urusan dengan Beng-kauw selesai.”

Sebetulnya, Ang-sin-liong Yu Kiat mendatangi ketua Kim-kok-pang untuk membujuk agar Kim-kok-pang mau bersekutu dengan Hoat-kauw, apa lagi mengingat bahwa ketua Kim-kok-pang itu ma-sih satu marga dengan dia. Akan tetapi Yu-371

pangcu berkeras menolak sehingga terjadi percekcokan yang dilanjutkan dengan pertandingan, sehingga mengakibatkan tewasnya ketua Kim-kok-pang itu .

Kiang Bwe duduk kembali akan tetapi ia sudah mengambilkeputusan untuk membantu orang Beng-kauw karena ia yakin bahwa orang-orang Hoat-kauw bukanlah orang-orang yang baik dan boleh di percaya. Sebaliknya iapun tahu bahwa biarpun Beng-kauw terkenal sebagai perkumpulan aneh dan sesat, akan tetapi tidak pernah menanam permusuhan dengan perkumpulan lain.

“Kami ulangi, apakah di antara para tamu yang mendukung Beng-kauw?” Ang sin-liong Yu Kiat mengulang pertanyaan nya dengan lantang dengan keyakinan bahwa tentu tidak akan ada orang yang mau membela atau mendukung Beng-kauw, perkumpulan sesat itu.

Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring seorang wanita yang bangkit berdiri dan mengangkat ta ngan ke atas, “Kami berdua mendukung kebenaran Beng-kauw karena kami yakin benar bahwa Beng-kauw telah di.fitnah!” Semua orang terkejut dan memandang pern bicara itu yang bukan lain adalah Mei Li, dan Han Lin terpaksa ikut bangkit di samping adik misannya yang sudah me nyatakan sikapnya itu. Sebetulnya dia tidak ingin bicara dulu, akan tetapi karena Mei Li yang sudah tidak sabar lagi itu sudah mendahului, terpaksa diapun bangkit berdiri untuk mendukung pernyataan gadis itu.

Seng Gun yang mengenal Mei Li segera berbisik kepada Hoat Lan Sian-su yang mengangguk-angguk. Dia memperkenalkan gadis itu sebagai Hui-kiam Sianli (Dewi Pedang Terbang) yang lihai sekali ilmu pedangnya. Dan diapun memandang kepada Han Lin dengan alis berkerut. Rasanya pernah dia bertemu dengan pemuda itu, akan tetapi dia lupa lagi entah di mana. Tiba-tiba Kwi-jiauw Lo-mo ayahnya atau sesungguhnya kakeknya, orang pertama dari Sam Mo-ong, berkata, “Ah, bukankah itu pemuda yang dari Li-372

bun, murid mendiang Kong Hwi Hosiang?”

Barulah Seng Gun teringat dan dia terheran-heran. Bocah itu sudah terjungkal kedalam jurang! Kiranya belum tewas dan kini muncul dan berani membela Beng-kauw.

“Apa buktinya bahwa Beng-kauw hanya difitnah?” Ang-sin-liong menantang karena dia yakin gadis itu tidak tahu rahasia di balik semua peristiwa itu.

“Aku tahu bahwa yang melakukan fitnah adalah Hoat-kauw sendiri, yang menyelundupkan orangnya, yaitu Tong Seng Gun sehingga pengkhianat itu berhasil menguasai Nam-kiang-pang, Dan melalui Nam-kiang-pang, mereka melakukan fitnah kepada Beng-kauw. Semua pembunuhan itu sebetulnya dilakukan oleh mereka yang menyelundup ke dalam Nam-kiang-pang!”

Semua orang terbelalak tidak percaya dan Yu Kiat tertawa bergelak. “Ha ha-ha, saudara sekalian dengarlah baik baik. Ini jelas akal busuk Beng-kauw memutar balikkan fakta . Jelas yang memimpin Nam-kiang-pang adalah Tio Hui Po dan muridnya, Ciu Kang Hin, yang memusuhi Beng-kauw karena Beng-kauw melakukan banyak kejahatan dan pembunuhan. Bahkan kemudian Beng-kauw berhasil membujuk Ciu Kang Hin sehingga murid Nam-kiang-pang itu menjadi pengkhianat. Kalau kita dapat menangkap Ciu Kang Hin, tentu dia menjadi saksi utama tentang kejahatan Beng-kauw

“Semua itu bohong, omong kosong!” terdengar bentakan nyaring dan semua orang makin terkejut lagi melihat munculnya Ciu Kang Hin yang sudah meloncat ke atas panggung itu!

Melihat pemuda itu berani muncul, Ang-sin-liong Yu Kiat terkejut akan tetapi juga girang. “Ini dia penjahat besar itu datang, kita tangkap dia!” Dia sudah siap untuk menyerang, akan tetapi Yang Mei Li dan Han Lin meloncat ke atas panggung dan Han Lin berseru keras dengan suara 373

berpengaruh karena dia menggunakan kekuatan sihirnya.

“Jangan bergerak!” Seketika Ang-sin-liong merasa kaki tangannya kaku dan tidak mampu bergerak. Biarpun hanya sesaat, peristiwa itu mengejutkan hatinya. “Biarkan Ciu Kang Hin memberi penjelasan agar didengar semua orang, baru mengambil keputusan. Apakah cuwi yang terhormat menganggap hal ini adil?”

Karena urusan itu ternyata amat berliku dan amat menarik, maka semua orang menyatakan setuju. Ang-sin-liong Yu Kiat menjadi bingung dan diapun kembali kerombongannya, sedangkan Han Lin mengajak Mei Li kembali ke tempat duduknya. Sengaja kedua orang muda ini melayang bagaikan dua ekor burung saja dan tahu-tahu telah berada di kursi mereka, melampaui kepala banyak orang. Tentu saja demonstrasi ginkang yang tinggi ini mengagumkan semua orang. Kini tinggal Ciu Kang Hin seorang diri yang berdiri di panggung.

Seng Gun berbisik-bisik dengan Sam Mo-ong dan ketua Hoat-kauw dan mereka diam-diam menyuruh para pembantu mempersiapkan pasukan mereka menjaga segala kemungkinan. Sedangkan Souw Kian Bu yang berada diantara para tamu, diam-diam kagum kepada adik misannya, juga tunangannya, Yang Mei Li, yang begitu berani membela Beng-kauw, Akan tetapi yang dijaganya tetap saja Ji Ki-ang Bwe!

Kini Ciu Kang Hin dengan sikap gagah berdiri menghadapi semua orang dan setelah mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat, dia berkata, “Saya tidak tahu apakah semua ucapan saya akan ada gunanya, karena saya tahu bahwa para lo-cian-pwe dan saudara yang gagah perkasa telah dipengaruhi oleh Tong Seng Gun. Dia adalah seorang penyelundup dan yang berhasil menipu suhu. Dialah yang mengatur segalanya sehingga semua pembunuhan seolah dilakukan orang Beng-kauw. Saya sendiri dapat dikelabui dan selama ini saya menentang Beng-kauw sebagai perkumpulan 374

jahat. Akan tetapi saya belum pernah membunuh orang Beng-kauw yang tidak bersalah. Seng Gun yang meniupkan berita seolah saya pembunuh nomor satu dari Beng-kauw sehingga saya dimusuhi Beng-kauw. Akan tetapi semua itu akhirnya terungkap dia sendiri dan kaki tangannya yang membunuh para tokoh kang-ouw yang tidak menurut. Dia dan sekutunya yang membunuh Ho Jin Hwesio, Kiang Cu To-jin, dan Pek Kong Seng-jin. Dia ber sekutu dengan Hoat-kauw, dengan orang-orang yang menjadi antek Mongol untuk menjatuhkan pemerintah kerajaan Tang.

“Bohong! Pemutar-balikkan kenyataan! Mana buktinya bahwa aku membunuh para tokoh itu? Engkaulah yang membunuhnya dan banyak saksinya. Puluhan orang anggauta Nam-kiang-pang menjadi saksi”

Tiba-tiba terdengar suara orang, “Siancai semua itu tidak bohong!” Dan Seng Gun menjadi pucat meilhat Pek Kong Seng-jin sudah berada dipanggung, di dekat Ciu Kang Hin. “Yang mencoba untuk membunuh pinto adalah Tong Seng Gun, dilakukan secara curang, memukul pinto dari belakang ketika pinto berada di tepi jurang. Untung

ada yang menolong pinto”

Wajah Seng Gun berubah pucat, akan tetapi pada saat itu, Bu-tek Ngo Sin-liong sudah berlompatan ke atas panggung, seolah hendak menangkap Kang Hin. Melihat ini Pek Kong Seng-jin la-lu meninggalkan panggung dan melompat ke bangku di antara para tamu. Pada saat yang sama, Mei Li dan Han Lin sudah melompat ke atas panggung, demikian pula Yu Kiang Bwe yang berseru nyaring, “Sudah jelas sekarang kelicikan dan ke curangan Hoat-kauw!”

Kakak beradik Beng-kauw, Sie Kwan Lee dan Sie Kwan Eng yang tadi sudah mengundurkan diri juga berlompatan ke atas panggung sehingga kini Bu-tek Ngo Sin-liong berhadapan dengan enam orang muda mudi yang gagah perkasa! 375

Suasana menjadi gaduh. dan ribut karena semua tamu tidak tahu harus berbuat apa. Di atas segala kegaduhan itu, tiba-tiba terdengar suara ketua Hoat-kauw, yaitu Hoat Lan Sian-su, “Cu wi, ha rap tenang . Kami akan mengatasi orang-orang Beng-kauw dengan semua anteknya ini. Harap cuwi jangan ada yang membela mereka, bahkan sepatutnya cuwi membantu kami untuk menangkap dan menghukum mereka!”

Di antara para tamu memang banyak yang merasa sakit hati kepada Beng-kauw, maka ada belasan orang yang sudah bangkit berdiri dan berteriak, Basmi Beng-kauw !!”

“.Orang-orang Hoat-kauw pengecut, hayo suruh keluar orang yang telah membunuh ayahku!” tantang Yu Kiang Bwe dan dara perkasa ini sudah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu sabuk rantai baja putih yang panjangnya satu meter dan ujungnya tajam dan runcing, Sabuk itu mengeluarkan cahaya berkilauan ketika ia menggerakkannya dengan sikap menantang.

“Ha-ha-ha, akulah yang membunuh Yu-pangcu. Dan kalau engkau hendak menyusul ayahmu, majulah!” kata Ang-sin-liong Yu Kiat sambil meloloskan golok gergajinya yang menyeramkan.

Pertempuran sudah hampir terjadi ketika ketua Hoat-kauw kembali berseru. “Harap semua tamu duduk tenang dan menjadi penonton saja. Siapa yang bergerak membantu Beng-kauw, terpaksa kami anggap musuh!” Dan tiba-tiba muncullah kini pasukan Hoat-kauw dan orang-orang Mongol, yang jumlah seluruhnya tidak kurang dari tigaratus orang, mengepung tempat itu!

Han Lin dan kawan-kawannya terkejut. “Curang sekali!” kata Yu Kiang Bwe. “Aku sebagai ketua Kim-kok-pang, seorang diri saja datang tanpa anak buah seorangpun, dan kalian sudah mempersiapkan pasukan besar untuk mengeroyok!” 376

“Ha-ha-ha,” ketua Hoat-kauw itu berseru. “Sebaiknya kalau kalian orang orang muda tahu diri, menyerah dan mau bekerja sama dengan kami. Kalau tidak, kalian akan dicincang hancur!”

“Omitohud, Hoat Lan Sian-su, pang cu dari Hoat-kauw, apa artinya semua ini? Kenapa banyak bermunculan orang Mongol di sini? Benarkah bahwa Hoat-kauw bersekutu dengan orang Mongol?” seorang hwesio wakil Siauw-lim-pai yang hadir di situ bertanya.

“Orang luar tidak perlu mencampuri urusan kami!” jawab Hoat Lan Sian su dengan tegas. “Yang penting, kami mengajak Siauw-lim-pai dan semua aliran untuk bekerja sama memakmurkan rakyat jelata. Siapa yang menentang, terpaksa kami anggap sebagai musuh.”

Mendengar ini, semua orang menjadi terkejut sekali, akan tetapi mereka merasa tidak berdaya karena dikepung ratusan orang anak buah Hoat-kauw.

“Hayo tangkap orang-orang Beng-kauw dan pendukungnya itu!” Hoat Lan Sian-su memerintah.

Tiba-tiba terdengar bunyi tambur dan terompet. Semua orang terkejut dan memutar tubuh, dan muncullah ratusan orang anggauta Nam-kiang-pang dan pasukan pemerintah.

Seorang panglima yang menunggang kuda, yaitu Bu-ciangkun, membentak. “Semua orang Hoat-kauw dan orang Mongol menyerah atau akan kami basmi. Para tamu yang tidak terlibat harap mundur dan jangan ikut campur!”

Kini keadaan menjadi berbalik. orang-orang Hoat-kauw menjadi pucat karena pasukan yang mengepung itu bersen jata lengkap dan jumlahnya banyak sekali !

Akan tetapi Hoat Lan Sian-su yang melihat betapa pihaknya terancam lawan yang banyak jumlahnya, segera tertawa. “Ha-ha-ha-ha, orang muda jaman sekarang ternyata curang dan 377

sama sekali tidak gagah, lagi pengecut. Beraninya mengerahkan pasukan pemerintah!”

Sementara itu Seng Gun yang melihat anak buah Nam-kiang-pang ikut mengepung, segera menghardik mereka. “Kalian anak buah Nam-kiang-pang, siapa suruh kalian mengepung tempat ini. Kembalilah!”

Akan tetapi banyak orang Nam-kian ang-pang berseru, “Bunuh Tong Seng Gun!!” Mendengar ini, Tong Seng Gun menjadi pucat dan maklumlah dia bahwa Nam-kiang-pang telah dikuasai kembali oleh Kang Hin.

Akan tetapi Han Lin yang merasa tidak enak mendengar ejekan Hoat Lan Sian-su tadi, segera berbisik kepada Kang Hin karena dia dapat menduga bahwa tentu Kang Hin yang minta bantuan pasukan karena anak buah Nam-kiang-pang datang bersama pasukan itu. “Ciu twako, minta kepada komandan itu agar menunda gerakannya agar kita dapat melawan mereka satu lawan satu secara jantan.

Kang Hin mengangguk lalu dia berseru kepada Bu-ciangkun, “Bu-ciangkun , karena ini adalah urusan orang-orang dunia persilatan, maka selama mereka tidak melakukan pengeroyokan, biarkan kami melawan mereka dalam pertandingan satu lawan §atu.”

Bu Kim Thouw, panglima itu sendiri adalah seorang ahli silat yang cukup tangguh, maka mendengar ini, dia dapat mengerti. Apa lagi diapun ingin menonton pertandingan silat dari orang orang tingkat tinggi. Maka dia mengangguk dan memberi aba-aba kepada semua pasukan untuk siap berjaga-jaga saja menanti perintah selanjutnya namun agar tidak membiarkan siapa saja keluar dari kepungan.

Setelah itu, Han Lin berkata kepa da Hoat Lan Sian-su, “Nah, pangcu dari Hoat-kauw, kini kami telah siap. Kita boleh bertanding satu lawan satu untuk menentukan siapa lebih 378

gagah di antara kita. Ingat, kalau kalian bertindak curang, pasukan sudah siap untuk menghancurkan kalian!”

Hoat Lan Sian-su masih mempunyai harapan. Kalau orang-orang muda ini sudah dapat dibasmi, tentu mereka tidak akan mengalami kesulitan menggempur pasukan itu, walaupun jumlah mereka lebih banyak.

“Baik!” dan dia menoleh kepada murid-murid keponakannya. “Kalian atur saja siapa yang akan maju melawan musuh.” ,

Ang-sin-liong Yu Kiat memandang rendah mereka yang muda-muda itu, maka dia lalu berkata kepada Bin-sin-liong Kwa Lian. “Sumoi, engkau majulah dulu.”

Bi-sin-liong Kwa Lian yang berusia duapuluh delapan tahun dan cantik jelita dan genit itu, tersenyum Iapun tidak takut menghadapi lawan yang terdiri dari orang-orang muda itu. Setelah semua orang yang berada di atas panggung mengundurkan diri, ia mencabut pedang beronce merah dan memasang aksi yang menarik dan gagah. “Nan, siapa yang akan mengantarkan nyawa ke sini?”

Mei Li yang sejak tadi sudah gatal-gatal tangannya, tidak ingin didahului orang. Tubuhnya sudah melayang ke atas panggung dan ia telah berdiri di depan Kwa Lian. Berhadapan dengan Mei Li, kecantikan Kwa Lian memudar bagaikan bulan disaingi munculnya matahari. Mei. Li nampak jauh lebih jelita, lebih segar dan lebih lincah.

“Hemm, katakan dulu siapa engkau karena dahulu ketika kita saling bertemu, aku mengenalmu sebagai orang Hoat-kauw yang hendak membunuhi orang-orang Beng-kauw yang tidak bersalah,” tanya Mei Li, suaranya mengandung ejekan.

Kwan Lian terkejut mengenal ‘ Mei Li. “Hemm, kiranya Hui-kiam Sian-li yang sejak dahulu sudah membantu Beng-kauw? Bagus, ketahuilah, aku adalah orang termuda dari Bu-tek Ngo Sin-liong namaku Bi-sin-liong Kwa Lian. Kalau dulu aku belum 379

sempat merobohkanmu, seka rang bersiaplah menerima kematianmu!”

Wanita mata keranjang dan cabul itu sudah menggerakkan pedangnya. Sinar pedang berkelebat dan Mei Li menggunakan pedang kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

“Trangg .,..!!” Nampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan kedua wanita perkasa yang cantik itu sudah saling terjang lagi. Bi-sin-liong Kwa Lian tidak percuma menjadi orang termuda dari Bu-tek Ngo- Si-liong karena ilmu pedangnya tangguh sekali, tenaganya kuat dan gerakannya cepat. Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding, bahkan seorang lawan yang jauh lebih lincah dan lebih kuat dibandingkan dengannya. Sepasang pedang yang beterbangan menyambar-nyambar bagaikan dua ekor burung hidup itu, membuat ia berkeringat dan repot harus mengelak dan menangkis. Ia merasa seolah-olah dikeroyok banyak orang, Setelah pertandingan lewat tigapuluh jurus, tahulah Bi-sin-liong bahwa julukan lawannya bukan kosong belaka, Dewi Pedang Terbang itu memang benar-benar memiliki ilmu pedang terbang yang belum pernah ditemuinya selama ia malang melintang di dunia persilatan sehingga ia berani menjadi orang ke lima dari mereka yang menyebut diri Lima Naga Sakti Tanpa Tanding !

“Haiiiiittt !” Mei Li berseru nyaring dan pedang kanannya menyambar dengan dahsyatnya, kali ini menukik dan menyambar ke arah perut lawan.

“Cringggg….!” Pedang di tangan Kwa Lian menangkis, akan tetapi pada saat itu, ujung pedang yang satu lagi. dari Mei Li sudah datang menusuk dada. Kwa Lian membuang tubuh. ke kanan, dan pedang itu masih sempat menyambar dan melukai pundaknya. Biarpun hanya merobek baju dan kulit pundak, namun cukup perih dan mengejutkan, Naga Sakti Cantik (Bi-sin-liong) mengeluarkan rintihan lirih dan melihat sepasang 380

pedang itu masih terbang menyambar, ia lalu melempar tubuh ke atas tanah dan bergulingan menjauh. Terpaksa Mei Li menarik tali pedangnya dan memegang kembali sepasang pedang. Pada saat itu, Kwa Lian melompat turun.

“Hyaaaatt,…!” Kwa Lian menggerakkan tangan kirinya dan serangkum sinar hijau menyambar. Itulah jarum-jarum beracun yang dilemparkan Kwa Lian untuk menyerang lawannya. Mei Li tidak menjadi gugup Pedang kirinya berkelebat dan jarum-jarum halus itupun runtuh ke atas papan panggung. Kwa Lian agaknya sudah nekat Karena kini jarak di antara mereka sudah dekat, ia lalu menggerakkan kepalanya dan rambut yang disanggul itu terlepas dan gumpalan rambut yang hitam dan panjang menyambar bagaikan ular ke depan, menyerang ke arah leher Mei Li!

Mei Li terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa lawannya dapat menggunakan rambut panjangnya sebagai senjata. Karena itu, tahu-tahu rambut itu sudah melibat lehernya dan untung bahwa ia tidak menjadi gugup. Pedang kanannya menyambar dan…. “brett” rambut itu putus terbabat pedang.

“Ihhh !” Kwa Lian menjerit!

Biasanya, dengan kekuatan sinkangnya, rambutnya menjadi ulet dan kuat seperti tali sutera, siapa kira kini dapat dibabat buntung oleh pedang Mei Li. Kaget dan marah membuat ia kurang was-pada dan ketika pedang kiri Mei Li menyambar, ia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis. Begitu cepatnya pedang menyambar, bagaikan kilat saja dan orang tidak melihat tubuhnya tertusuk pedang, akan tetapi ia mengeluh, terkulai dan roboh dengan dada kiri bercucuran darah yang membasahi pakaiannya. Ia mendekap dada kiri yang sempat dimasuki pedang Mei Li yang melompat kebelakang dengan sikap tenang, lalu roboh, pedangnya terlepas dari tangannya .

Melihat kekasihnya roboh, Seng Gun marah sekali. Dia 381

melompat ke atas panggung dan cepat berlutut memeriksa keadaan Kwa Lian. Terlambat, wanita cantik itu telah tewas. Seng Gun menahan geramnya dan memberi isarat kepada anak buahnya. Dua orang melompat ke atas panggung dan membawa tubuh yang masih hangat itu turun dari panggung dan Seng Gun sudah menghadapi Mei Li dengan muka merah saking marahnya.

“Hui-kiam Sian-li, engkau ternyata antek Beng-kauw yang jahat. Mari, akulah lawanmu!” tantangnya dan kini Seng Gun mencabut golok dengan tangan kanan dan suling perak dengan tangan kiri. Dia telah mahir menggunakan Thi-an-te To-hoat, satu di antara ilmu-ilmu ampuh di dunia persilatan yang dia pelajari dari Tio Hui Po, akan tetapi diapun hendak memanfaatkan ilmu sulingnya yang dia pelajari dari kakeknya sendiri, yaitu Kwi-jiauw Lo-mo.

Mei Li tersenyum dan sebelum ia menjawab, tiba-tiba Kang Hin meloncat ke atas panggung. “Manusia pengecut !” Dan dia menjura kepada Mei Li sambil berkata, “Siauw-moi, harap kau istirahat, biar akulah yang akan melayani jahanam busuk ini.”

Mei Li mengerti bahwa Kang Hin adalah orang yang paling mendendam atas kejahatan Seng Gun, maka biarpun ia sendiri sebetulnya ingin turun tangan membunuhnya, ia harus mengalah. Sambil tersenyum ia mengangguk. “Hati-hati twako Ular ini banyak akalnya dan waspadalah terhadap suling peraknya itu.”

Kini dua orang lawan yang dahulunya menjadi suheng dan sute itu saling berhadapan, saling pandang dan mata mencorong penuh kebencian, akan tetapi mulut Seng Gun menyeringai penuh ejekan karena dia merasa yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan bekas suhengnya itu. Ilmu golok sakti sudah mereka kuasai dan dalam hal ilmu golok itu dia tidak akan kalah dibandingkan Kang Hin, sedangkan dia telah memiliki ilmu ilmu hebat dari Sam Mo-ong. Bahkan Tio Hui Po 382

sendiri yang menjadi guru dapat dibunuhnya tanpa banyak kesukaran, apa lagi muridnya!

Kang Hin juga maklum bahwa Seng Gun lihai sekali, maka dia bersikap hati-hati, akan tetapi bukan berarti dia takut Sama sekali tidak bahkan dia bertekad bulat untuk dapat membalaskan dendam sakit hatinya atas kematian suhunya. Dia sudah memalangkan goloknya di depan dada lalu mulai bergerak melakukan serangan. Seng Gun memperlebar seringainya karena tentu saja dia sudah hafal akan gerakan dari ilmu silat Thian-te To-hoat itu. Cepat dia menghindar dan membalas dengan serangan kilat suling peraknya .

Terjadilah pertandingan yang seru dan hebat. Golok di tangan Kang Hin membentuk sinar yang lebar dan mengeluarkan suara mengaung-ngaung, akan tetapi karena Seng Gun sudah mengenal baik ilmu golok itu, dengan mudahnya dia menghindar sambil membalas dengan jurus serangan yang tidak dikenal Kang Hin. Oleh karena itu, perlahan-lahan mulailah Kang Hin terdesak hebat setelah lewat tigapuluh jurus.

Namun, Kang Hin menggigit bibirnya, mengerahkan seluruh tenaganya dan memutar goloknya sedemikian rupa sehingga tidaklah mudah bagi Seng Gun untuk dapat mengenai tubuh lawan. Dia mulai penasaran dan ketika terdapat kesempatan baik, dia memukul punggung golok itu dari pinggir sehingga tubuh Kang Hin terhuyung karena memang arah goloknya telah diketahui lawan. Dan selagi dia terhuyung, Seng Gun meniupsulingnya, menyerang dengan jarum-jarum beracun!

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Sie Kwan Eng, bagaikan seekor burung rajawali, telah meloncat ke atas dan sekali tangannya bergerak, terasa ada hawa dingin menyambar dan semua jarum itu runtuh ke atas tanah. Itulah pukulan jarak jauh dengan Ilmu Pukulan Salju Putih yang telah menyelamatkan nyawa Kang Hin walaupun ada sebatang jarum yang tetap melesat dan me nancap di puncak pemuda 383

Nam-kiang-pang itu. Biarpun hanya sebatang, akan tetapi karena jarum itu mengandung racun yang ampuh, Kang Hin terhuyung dan tentu akan roboh kalau saja Sie Kwan Eng tidak cepat memapahnya. Kang Hin sudah pernah terkena racun dari jarum-jarum suling Seng Gun, dan ini adalah yang kedua kalinya dia terkena racun jarum hitam itu.

Melihat bahwa yang menyelamatkan Kang Hin adalah gadis Beng-kauw itu, Seng Gun tertawa dan berkata lantang, ‘Cuwi lihat sendiri betapa Kang Hin saling bantu dengan puteri ketua Beng-kauw. Kiranya ada hubungan di antara mereka !

“Jahanam, tunggu, aku yang akan nenghadapimu! kata Sie Kwan Eng yang masih memapah tubuh Kang Hin. Akan tetapi tahu-tahu Si Pedang Terbang Yang Mei Li sudah berada di sampingnya.

“Kau urus Ciu-twako yang terluka, biar aku yang menghadapi anjing licik dan curang ini !”

Melihat yang maju adalah Hui-kiam Sian-li, Kwan Eng lalu mundur dan memapah tubuh Kang Hin untuk dirawat dan diobati. Sebagai puteri ketua Beng-kauw yang tidak asing dengan bermacam racun, tentu saja ia memiliki obat pemunah yang manjur.

Kini Seng Gun berhadapan dengan Mei Li dan diam-diam pemuda ini merasa agak gentar karena dia sudah mengenal kelihaian si pedang terbang yang baru saja mengalahkan dan menewaskan kekasihnya, orang ke lima dari Bu-tek Ngo Sin-liong. Dia memegang goloknya dengan erat dan menyilangkan golok itu dengan suling peraknya, siap untuk melawan mati-matian.

Akan tetapi, sebelum kedua orang ini bergerak saling serang, kembali ada tubuh melayang naik ke atas panggung, dan ternyata sekarang yang berada di situ adalah Sie Kwan Lee. Pemuda ini berkata kepada Mei Li, “Li-moi harap suka mundur dan biarkan aku menghadapi orang ini. Kami memiliki 384

dendam yang bertumpuk-tumpuk terhadap orang ini karena dialah yang mendalangi semua pembunuhan atas diri ratusan orang Beng-kauw dan keluarga mereka yang tidak berdosa.”

Sebetulnya bukan hanya karena itu Sie Kwan Lee naik ke panggung, melainkan karena khawatir akan keselamatan gadis yang dicintanya itu. Dia tadi sudah melihat kelihaian Seng Gun yang hampir membunuh Kang Hin, maka melihat Mei Li hendak melawan pemuda yang curang itu, dia merasa khawatir. Apa lagi tadi Mei Li sudah memenangkan sebuah pertandingan sehingga tidak adil kalau gadis itu maju melawan musuh untuk yang ke dua kalinya sedangkan dia masih belum maju.

Melihat munculnya pemuda itu, Mei Li tentu saja tidak dapat membantah karena alasan Kwan Lee kuat sekali. Memang, ia sendiri sebetulnya tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Seng Gun dan pemuda Beng-kauw ini yang lebih tepat untuk membalas dendamnya yang teramat besar. Beng-kauw difitnah oleh Seng Gun yang mengakibatkan kematian ratusan orang anggauta Beng-kauw dan keluarganya, bahkan ayahnya tewas pula .

“Baiklah, toako, akan tetapi hati hati menghadapi ular berbisa ini,” katanya sambil mengundurkan diri. la kembali ke tempat kakaknya yang kini membantu Kwan Eng mengobati luka di pundak Kang Hin. Untung luka itu tidak berbahaya dan Kwan Eng mempunyai obat penawar racun yang amat manjur sehingga keadaan Kang Hin sudah pulih kembali dalam waktu singkat. Tergetar juga hati Kang Hin ketika merasakan jari-jari tangan yang lembut hangat dan sedikit gemetar dari Sie Kwan Eng menyentuh pundaknya ketika gadis itu merawat lukanya.

Sementara itu, melihat pemuda Beng-kauw yang maju menghadapinya, menjadi nekat. Dia tahu-benar betapa lihainya pemuda ini yang sudah menguasai ilmu pukulan Matahari Merah. Maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan goloknya, menggunakan jurus Thian-te 385

To-hoat yang ampuh.

“Sing….!” Kwan Lee meloncat ke belakang sehingga sambaran golok itu luput dan ketika tubuhnya turun, dia sudah memegang sebatang cambuk dari kulit yang amat ulet. Begitu dia menggerakkan cambuknya terdengar suara “tar-tar-tarr!” nyaring sekali. Perlu diketahui bahwa putera ketua Beng-kauw ini bukan saja menguasai ilmu pukulan ampuh Matahari Merah, akan tetapi diapun mahir memainkan delapanbelas macam senjata dan yang menjadi kesukaannya adalah ilmu cambuk itu.

Seng Gun menyerang dengan ganas Golok dan sulingnya bergantian menyerang dengan tusukan dan totokan amat berbahaya bagi lawan, namun Kwan Lee selalu dapat menghindar dengan gerakannya yang gesit, tubuhnya yang ringan seperti beterbangan kian kemari, sedangkan cambuknya juga tidak tinggal diam, membalas setiap ada kesempatan. Cambuk itu melecut, mencambuk dan kadang dapat menjadi kaku untuk menotok jalan darah, atau menjadi lentur untuk meiilit tubuh lawan.

Han Lin dengan seksama mengamati jalannya pertandingan hebat ini dan semua tamu juga menonton sambil menahan napas karena pertandingan itu jauh lebih ramai ketimbang pertandingan pertama dan kedua tadi. Han Lin melihat bahwa Seng Gun menyimpan serangannya yang paling berbahaya, yaitu tiupan sulingnya yang mengeluarkan jarum beracun hitam. Kalau sampai dia sempat mempergunakannya dan Kwan Lee agak lengah, maka serangan itu dapat membahayakan Kwan Lee. Suling itu perlu dilumpuhkan dulu, agar bahaya jarum tidak mengancam.

“Libat sulingnya!” Ia berkata dengan pengerahan khikang yang hanya tendengar jelas oleh Kwan Lee. Ilmu mengirim suara ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah memiliki sinkang yang amat kuat.

Kwan Lee yang mendengar ini berpikir apa sebabnya ada 386

yang memberi nasihat kepadanya agar melibat suling musuhnya. Kemudian dia teringat bahwa suling itu dapat dipergunakan untuk melakukan penyerangan gelap, memuntahkan jarum-jarum hitam beracun. Maka, ketika untuk kesekian kalinya suling itu menyambar ke arah kepalanya, dia melompat ke belakang, menggerakkan cambuknya ke arah suling.

“Tarr !” Cambuk menangkis suling, akan tetapi bukan sekedar menangkis, melainkan menempel dan melibat Seng Gun terkejut sekali ketika sulingnya dilibat cambuk. Dia menggerakkan goloknya untuk membabat putus cambuk itu. Akan tetapi pada saat itu Kwan Lee menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan ilmu pukulan ampuh Matahari Merah! Hawa yang amat panas terasa di sekeliling tempat itu dan golok di tangan Seng Gun terpental ke belakang, bahkan sulingnya juga dapat dirampas dan ditarik lepasdari tangan kirinya. Seng Gun terkejut setengah mati dan menjadi semakin nekat. Karena kini hanya golok yang masih berada di tangannya, dia lalu memainkan goloknya dengan ilmu golok Thian-te To-hoat yang ampuh.’

Meskipun dia sudah dapat merampas suling perak yang kini dia lontarkan ke arah adiknya, namun Kwan Lee masih harus bersilat dengan hati-hati sekali. Lawannya telah menguasai Thian-te To-hoat yang ampuh, yang seolah pada saat itu menjadi ilmu golok yang sukar dicari tandingannya. Untung baginya bahwa dia memilih cambuk sebagai senjatanya. Cambuk ini dapat menghalau semua serangan golok karena lebih panjang.

Setelah lewat limapuluh jurus dan keduanya belum dapat saling merobohkan, Kwan Lee kembali teringat pengalamannya yang tadi. Kenapa dia tidak mencoba untuk merampas golok itu Libatan cambuknya pada golok memang memungkinkan cambuknya terpotong, akan tetapi setidaknya memberi kesempatan baginya untuk melakukan pukulan 387

Matahari Merah.

“Singgg…. wuuuuttt plakk!”

Golok itu terlibat cambuk dan agaknya ini yang dinanti-nanti pula oleh Seng Gun. Dia mengerahkan tenaga pada golok nya dan dengan menggunakan gerakan memutar dan menarik dia berusaha membikin putus cambuk yang melibat dengan goloknya yang tajam. Cambuk itu tidak dapat bertahan dan putus! Akan tetapi pada saat cambuk putus, Kwan Lee sudah mengerahkan tenaga Matahari Merah dan memukul ke arah kepala Seng Gun.

“Desss….!!” Biarpun sudah mengangkat tangan kiri untuk menangkis, tetap saja Seng Gun terdorong sampai terjengkang oleh pukulan itu. Dia berusaha merangkak bangkit, akan tetapi pukulan Matahari Merah kedua tiba dan diapun terkulai dengan tubuh hangus! Seng Gun tewas seketika. Terdengar sorak sorai dari anak buah Nam-kiang-pang ketika melihat Seng Gun yang mereka benci itu roboh dan tewas.

Melihat cucunya tewas, Kwi Jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Setan) Tong Lui mengeluarkan suara teriakan panjang yang parau dan menyeramkan, tubuhnya melayang ke atas panggung dan begitu tiba di atas panggung, tubuhnya yang pendek gendut seperti katak itu menggelinding seperti bola ke arah Kwan Lee dan dia mengirim pukulan dengan kedua tangannya ke arah pemuda itu. Kwan Lee terkejut dan dengan tenaga Matahari Merah dia menangkis, namun tetap saja dia terdorong ke belakang walaupun tidak sampai terluka. Kwi-jiauw Lo-mo tidak mengejarnya, melainkan menghampiri mayat cucunya dan mengangkatnya, dipondongnya dan dibawa meloncat turun dari atas panggung dengan wajah diliputi kedukaan.

Hoat Lan Sian-su marah sekali dan dia yang kini maju melompat ke atas panggung. Dia tahu bahwa nama baik Hoat-kauw berada di ambang kehancuran, maka dia bertekad untuk 388

mempertahankan kehormatannya.

“Aku Hoat Lan Sian-su ketua Hoat-kauw siap menyambut lawan yang hendak memburukkan Hoat-kauw. Hayo, siapa berani melawanku?”

Orang-orang merasa segan karena maklum bahwa kakek berusia tujuhpuluh tahun ini lihai bukan main. Baru murid keponakannya saja, Bu-tek Ngo Sin-liong sudah amat lihai, apalagi dia sebagai paman gurunya. Akan tetapi ternyata ada yang berani menyambut dan orang itu adalah Han Lin. Pemuda ini maklum bahwa kakek itu terlalu berbahaya bagi teman-temannya dan dia tahu bahwa orang-orang seperti Mei Li, Kang Hin, Kwan Lee, Kwan Eng dan banyak lagi, walaupun tahu akan kelihaian kakek itu, tentu tidak akan mundur- untuk menghadapinya. Maka sebelum seorang di antara mereka maju, dia yang mendahului maju.

Hoat Lan Sian-su memandang Han Lin dengan mata dipincingkan. “Siapa kau? Benarkah engkau berani melawan pinto?”

“Sian-su, engkau adalah seorang lo-cian-pwe, aku tentu tidak akan berani melawanmu kalau saja Hoat-kauw tidak melakukan penyelewengan dan bersekutu dengan orang Mongol.”

“Hemm, bocah sombong. Siapakah na mamu dan siapa pula gurumu? Lebih baik gurumu saja yang maju melawanku, bukan engkau bocah ingusan.”

Han Lin tetap tersenyum cerah Dia sudah digembleng oleh Lo-jin, tidak mungkin hatinya mudah dipengaruhi kemarahan, satu di antara nafsu perasaan yang amat merugikan, apalagi bagi orang yang sedang menghadapi lawan tangguh. Kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan .

“Sudahlah, lo-cian-pwe, aku sudah maju untuk melayanimu, apakah lo-cian-pwe berani ?” 389

Sepasang alis putih itu bergerak-gerak, “Bocah sombong, agaknya engkau memang sudah bosan hidup!” Katanya dan kakek itu menudingkan telunjuknya ke arah muka Han Lin sambil membentak dengan suara berwibawa, “Orang muda, aku adalah orang yang lebih tua dan kedudukanku jauh lebih tinggi, kau harus menghormatiku. Hayo cepat berlutut! Berlutut, kataku!”

Han Lin merasa betapa lututnya gemetar dan dia maklum bahwa kakek itu berusaha untuk memaksanya berlutut dengan kekuatan sihir yang diperkuat dengan tenaga sin-kang. Dia tersenyum dan mengerahkan kekuatan sihirnya, memandang tajam dan menjawab dengan nyaring. “Hoat Lan’Sian-su, kita berhadapan sebagai lawan. Kalau aku berlutut, engkaupun harus berlutut, mari berlutut sama-sama!” Dan diapun menjatuhkan diri berlutut. Aneh, sekali, seperti otomatis saja, kakek itupun menekuk lututnya dan berlutut. Sungguh merupakan suatu pemandangan yang lucu dan ganjil. Dua orang yang seharusnya saling serang dalam suatu pertandingan, kini keduanya saling berlutut seperti seorang murid menghormati gurunya !

Yang paling kaget adalah Hoat Lan Sian-su. Cepat dia bangkit berdiri, berbareng dengan Han Lin yang juga sudah berdiri dan sejenak kakek itu seperti bingung, tidak mengerti mengapa dia juga ikut berlutut, dan akhirnya dia dapat menduga bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan dan sudah mengimbangi kekuatan sihirnya.

“Orang muda, siapa namamu?”

“Saya Sia Han Lin, Lo-cian-pwe.”

Mendengar disebutnya nama ini, Souw Kian Bu yang sejak tadi berdiri menonton, berseru girang, “Ah, kakak Sia Han Lin. Kiranya engkau berada di sini!” Dan pemuda inipun bangkit berdiri menghampiri panggung.

Han Lin menoleh dan melihat pemuda di bawah panggung 390

itu, dia bertanya “Saudara siapakah?”

“Lin-koko, aku Souw Kian Bu, adik misanmu!”

Han Lin girang sekali “Ah, Souw Kian Bu! Bu-te, kau tunggu dulu, biar aku menyelesaikan urusanku dengan kakek ini, baru nanti kita bicara.”

“Baik, Lin-ko, kau berhati-hatilah.”

Kini Souw Kian Bu tidak bersembunyi-sembunyi lagi lalu menghampiri Yang Mei Li’ yang duduk berdekatan dengan Kang Hin, Kwan Lee dan Kwan Eng. Bahkan kini Yu Kiang Bwe juga sudah duduk dekat mereka. Dengan sendirinya orang-orang muda ini berkelompok.

“Li-moi!” kata Kian Bu kepada Mei Li yang menyambutnya dengan gembira pula. Pemuda ini adalah tunangannya, akan tetapi ia tidak pernah menganggap sebagai tunangan, melainkan sebagai kakak misannya.

“Bu-ko, engkau juga berada di sini?” ia balas menegur.

Kian Bu memandang kepada Yu Kiang “Bwe yang juga memandang kepadanya. Sepasang mata bertemu pandang dan Kian Bu berkata, “Bwe-moi akhirnya kita saling berjumpa juga di sini.”

“Bu-twako, tak kusangka engkau juga hadir disini.”

Akan tetapi percakapan mereka terbatas karena mereka semua kini memusat kan perhatian ke arah panggung di mana Hoat Lan Sian-su ketua Hoat-kauw itu sudah mencabut pedang dari punggungnya. Dan begitu pedang dicabut semua orang terkejut. Pedang .beronce kuning itu mengeluarkan cahaya kemerahan yang mengerikan, seolah pedang itu membayangkan akan tumpahnya darah! Dan Hoat !Lan Sian-su sebetulnya jarang sekali mencabut pedangnya. Dengan tangan kosong saja dia mampu mengalahkan lawan yang tangguh, akan tetapi sekali ini dia tidak berani memandang rendah kepada lawannya. Biarpun lawannya pantas menjadi 391

cucunya, akan tetapi tadi lawannya itu telah berhasil mengimbangi kekuatan sihirnya! Pula, pertandingan sekali ini bukan main-main melainkan nyawa taruhannya karena Hoat-kauw sudah terkepung dan ketahuan rahasianya sehingga pasukan kerajaan pasti akan membasminya. Dia harus mempertahankan nama dan kehormatan dan kelangsungan Hoat-kauw dengan taruhan nyawa, dan dia siap membunuh siapa saja yang mengancam dia dan Hoat-kauw.

Melihat kakek itu mengeluarkan pedang yang berkilauan dan nampaknya ampuh menggiriskan itu, Mei Li segera berseru dari bawah panggung, “Lin-ko, mari kau pergunakan siang-kiamku !

“Golokku boleh kaupakai, siauw-te!” teriak pula Kang Hin.

“Lin-ko, pedangku ini juga cukup baik!” teriak Souw Kian Bu tak mau kalah.

Melihat mereka semua menawarkan senjata, Han Lin tersenyum kepada Mei Li, “Li-moi, tolong ambllkan saja tongkatku itu!”

Mei Li mengerutkan alisnya. Memang Han Lin membawa tongkat butut yang ditinggalkan di bangkunya. Akan tetapi ia tahu bahwa kakaknya itu memiliki ilmu kepandaian hebat dan mungkin tongkat butut itu bertuah. Maka ia memungut tongkat itu dan ternyata cukup berat, maju mendekati panggung dan melontarkan tongkat kepada Han Lin yang menyambutnya dengan girang. Memang Mei Li tidak keliru. Tongkat itu tentu saja tongkat bertuah karena tongkat itu pemberian Lo-jin kepada muridnya itu.

Akan tetapi, melihat lawannya yang muda akan menghadapi pedangnya dengan sebatang tongkat butut, wajah kakek ketua Hoat-kauw menjadi merah saking marahnya. Tentu saja dia merasa di pandang rendah sekali, karena pedang nya adalah pedang pusaka. Sedangkan pedang yang tajam sekalipun takkan mampu bertahan terhadap 392

keampuhan pedangnya, apalagi hanya tongkat butut!

“Orang muda, jangan main-main dengan nyawamu. Pilihlah senjata yang baik dan tajam,” katanya kepada Han Lin.

Akan tetapi Han Lin tersenyum dan melintangkan tongkatnya di depan dadanya. “Lo-cian-pwe, tidak ada senjata yang lebih baik dari pada ini. Ketahui lah, tongkat ini adalah tongkat yang biasanya untuk mengusir setan dan hantu yang mengganggu manusia, jadi cocok sekali kalau sekarang kupakai menghadapimu.” Secara tidak langsung Han Lin telah memaki kakek itu sebagai setan dan hantu pengganggu manusia!

“Baik, engkau mencari mampus sendiri, jangan salahkan aku orang tua yang dianggap menghina yang muda,” katanya dan diapun sudah memutar sebatang pedang yang beronce kuning itu. Nampak sinar kemerahan bergulung-gulung dan terdengar suara berdesing-desing seperti gasing ketika gulungan sinar kemerahan itu menerjang ke arah Han Lin.

Semua orang yang berpihak kepada Han Lin tentu saja memandang dengan khawatir dan hati tegang. Hampir mereka ini tidak berani berkedip, karena tidak ingin melewatkan semua gerakan yang menegangkan itu. Mereka melihat Han Lin bersikap tenang sekali, akan tetapi ketika sinar merah bergulung-gulung itu menerjang ke arahnya, diapun menggerakkan tongkat bututnya menangkis berkali-kali. Terdengarlah suara nyaring berdenting berulang kali ketika pedang Itu tertangkis dan semua orang yang memandang kagum karena tongkat butut itu ternyata tidak menjadi patah bertemu dengan pedang yang tajam itu. Dan Han Lin juga tidak mau membuang waktu lagi, segera dia memainkan ilmu tongkat Lui Tai-hong-tung (Tongkat halilintar dan angin badai), dan semua orang terbelalak. Kalau tadi yang nampak jelas hanyalah gulungan sinar pedang kemerahan yang seolah gelombang menerjang Han Lin, kini nampaklah sinar kehitaman yang lebih besar dari gulungannya, dan terdengar 393

suara deru angin menyambar-nyambar yang terasa sampai di bawah panggung. Pakaian semua orang berkibar, bahkan rambut mere kapun berkibar tertiup angin dan kini-barulah Hoat Lan Sian-su maklum. Kiranya pemuda itu memang hebat bukan main dan menghadapi tongkat itu, dia benar-benar tidak berdaya. Bukan saja pedang nya selalu terpental bertemu dengan gulungan sinar tongkat, akan tetapi juga dia merasa limbung diterpa angin badai yang dahsyat itu. Ada semacam kekuatan mujijat tersembunyi di dalam gulungan sinar hitam itu.

Belum juga limapuluh jurus kakek itu tiba-tiba mengeluarkan teriakan panjang dan tubuhnya terlempar sampai dua meter ke belakang, jatuh berdebuk di atas papan panggung, sedangkan pedangnya masih dipegangnya.

Melihat ketua mereka kalah, para anggauta Hoat-kauw seolah tidak dapat percaya dan merekapun maklum bahwa harapan mereka sudah lenyap maka mereka menjadi nekat. Tiba-tiba saja mereka menyerbu ke panggung, bersama orang-orang Mongol yang diam-diam menerima pe rintah Sam Mo-ong untuk bergerak.

Akan tetapi melihat ini, pasukan kerajaan dan anak buah Nam-kiang-pang menyerbu masuk sehingga orang-orang Hoat-kauw dan Mongol itu terpaksa membalik dan terjadilah pertempuran hebat di tempat itu. Han Lin masih bertanding dengan Hoat Lan Sian-su yang bangkit lagi dan mengamuk. Juga Bu-tek Ngo Sin-liong yang kini tinggal empat orang itu, mengamuk dengan senjata mereka, dihadapi orang-orang muda yang gagah perkasa itu.

Lam-hai Sin-liong Kwa Him dilawan oleh Yu Kiang Bwe, akan tetapi Souw Kian Bu yang mengkhawatirkan gadis itu lalu membantunya sehingga Lam-hai Sin-liong (Naga Sakti Laut Selatan) Kwa Him, orang ke empat dari Bu-tek Ngo Sin-liong terpaksa menghadapi pengeroyokan Kian Bu dan Kiang Bwe. Hwi Sin-liong Mo Hwa dilawan oleh Sie Kwan Eng dan orang 394

ke tiga Bu-tek Ngo Sin-liong yang cantik sadis dan galak ini segera repot menggerakkan siang-kiamnya dari desakan Puteri Beng-kauw yang sudah menguasai ilmu Pukulan Salju Putih itu. Tiat-sin-liong Lai Cin, orang kedua Bu-tek Ngo Sin-liong bertanding melawan Kang Hin yang telah pulih kembali kesehatannya, dan orang pertama Ngo Sin-liong, yaitu Ang-sin-liong Yu Kiat ditandingi oleh Sie Kwan Lee.

Kalau saja Sam Mo-ong terjun dalam arena pertandingan, tentu pihak para muda itu akan kalah kuat. Akan teta pi Sam Mo-ong ini rupanya orang-orang yang amat licik dan cerdik. Mereka sudah memperhitungkan bahwa kalau mereka bertanding akhirnya mereka akan celaka menghadapi pengeroyokan begitu banyaknya lawan. Maka, menggunakan kesempatan selagi para pemuda yang lihai itu bertanding dengan lawan masing-masing, mereka bertiga lalu berlompatan menerjang para perajurit dan mencari jalan keluar. Tentu saja para perajurit itu tidak dapat bertahan terhadap amukan orang-orang seperti Hek-bin Mo-ong, Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo i-tu. Mereka jatuh bergelimpangan dan akhirnya tiga orang kakek itu dapat meloloskan diri dan lari pergi tanpa memperdulikan nasib anak buah mereka lagi. Alangkah banyaknya watak orang-orang yang merasa diri menjadi pemimpin kelompok seperti mereka bertiga ini. Di waktu mereka itu mengejar kedudukan dan membutuhkan bantuan dan dukungan anak buah, mereka mengharapkan kesetiaan dan ketaatan mereka. Juga mereka memperlihatkan bahwa mereka itu memperhatikan kesejanteraan anak buah mereka. Akan tetapi, sekali mereka itu tersudut dan terancam bahaya, merekapun akan melarikan diri tanpa memperdulikan lagi nasib para anak buahnya.

Berbeda dengan sikap tiga orang iblis tua itu, empat-orang dari Bu-tek Ngo Sin-liong membela nama Hoat-kauw. Mereka adalah tokoh-tokoh Hoat-kauw. Kini Hoat-kauw terancam bahaya dan ketua mereka, juga paman guru mereka, kakek yang tua itu telah maju sendiri bertanding melawan Han Lin. 395

Merekapun maklum bahwa pasukan tentu tidak akan membiarkan mereka lolos. Oleh karena itu mereka menjadi nekat dan mereka menggerakkan senjata masing-masing untuk mengamuk.

Pertandingan antara Lam-hai Sin-liong Kwa Him melawan Yu Kiang Bwe yang dibantu oleh Souw Kian Bu, berlangsung berat sebelah. Kwa Him yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata siang-to (sepasang golok) itu mengamuk dengan tenaganya yang besar. Kalau dua orang pengeroyoknya maju satu demi satu, akan sukar dapat mengalahkannya. Tenaga orang ini seperti tenaga gajah dan goloknya yang menyambar itu mempunyai kekuatan dahsyat yang akan dapat merusak atau melepaskan senjata di tangan lawan. Akan tetapi Yu Kiang Bwe yang bersenjata sabuk rantai baja putih itu cukup cerdik, tidak mau mengadu senjatanya dengan senjata lawan,. melainkan menggunakan kelincahan tubuh nya untuk mengelak dan membalas dengan serangan rantai baja putihnya. Demikian pula Souw Kian Bu. Pemuda ini memainkan pedangnya dengan ilmu pedang Si-an-li Kiam-sut dan tidak mau mengadu pedangnya dengan golok lawan. Inilah yang membuat Kwa Him kerepotan. Dua orang pengeroyoknya tidak pernah menangkis goloknya dan tiap kali mereka menyerang diapun tidak pernah dapat memukul senjata mereka. Juga, biarpun tenaganya besar, namun dia tidak begitu lincah, gerakannya agak lamban sehingga dalam waktu tigapuluh jurus saja, sudah dua kali pundak dan pahanya keserempet pedang lawan sehingga kulit-nya robek dan mengucurkan darah yang membuat dia semakin marah seperti harimau terluka.

Hwi-sin-liong (Naga Sakti Terbang) Mo Hwa yang bertanding melawan Sie Kwan Eng masih mending, karena ia dapat mengimbangi permainan pedang gadis Beng-kauw itu, bahkan dengan siang kiamnya, ia dapat lebih banyak melakukan serangan dibandingkan lawannya yang hanya berpedang tunggal. Akan tetapi, Sie Kwan Eng memiliki ilmu 396

pukulan Salju Putih yang ampuhnya menggiriskan. Sudah dua kali Sie Kwan Eng menggerakkan tangan kirinya memukul, dan selalu Mo Hwa terhuyung dan menggigil walaupun pukulan itu dapat ia elakkan. Hal ini membuat ia jerih dan sepasang pedangnya tidak begitu mengurung lagi, karena ia agak menjauhkan diri, khawatir secara tiba-tiba diserang pukulan Salju Putih yang ampuh itu.

Tiat-sin-liong (Naga Sakti besi) Lai Cin didesak hebat oleh Kang Hin. Dengan permainan goloknya dalam ilmu Thian-te Sin-to, Kang Hin mendesak Lai Cin yang bersenjata tombak cagak ronce biru. Biarpun Lai Cin memiliki kekebalan, tubuhnya laksana besi, namun menghadapi ilmu golok Thian-te Sin-to, dia tidak berani mengandalkan kekebalannya. Diapun terdesak hebat oleh ketua Nam-kiang-pang yang baru ini.

Seperti juga tiga saudaranya yang lain, orang pertama dari Ngo Sin-liong yaitu Ang-sin-liong (Naga sakti merah) Yu Kiat yang dihadapi Sie Kwan Lee, terdesak hebat. Ang-sin-liong Yu Kiat bersenjata golok gergaji, akan tetapi betapapun hebatnya permainan goloknya, menghadapi pedang Kwan Lee yang diseling pukulan tangan kiri dengan ilmu Matahari Merah, dia kewalahan. Pukulan itu yang seringkali membuat dia terhuyung dan merasa seluruh tubuhnya panas, padahal pukulan itu tidak mengenainya dan dapat dielakkannya.

Hoat Lan Sian-su akhirnya tidak kuat menahan ilmu Lui-tai-hong-tung dari tongkat butut Han Lin dan akhirnya dia roboh ketika perutnya tertotok tongkat. Han Lin memang tidak berniat membunuhnya, hanya merobohkan untuk menangkap ketua Hoat-kauw itu. Akan tetapi, kakek itu tidak mau ditangkap. Dalam keadaan tertotok dan setengah lumpuh itu, dia menggunakan sisa tenaganya, membenamkan pedangnya di dalam dadanya sendiri menembus jantung dan dia tewas seketika. 397

Empat orang dari Bu-tek Ngo Sin-liong melihat tewasnya ketua atau paman guru mereka, menjadi semakln gentar dan satu demi satu merekapun roboh di tangan para pendekar muda itu. Pertempuran berakhir setelah terjadi selama dua jam. Hanya sedikit saja orang-orang Mongol dan anak-buah Hoat-kauw yang berhasil meloloskan diri dari kematian. Sebagian besar terbantai, mati atau terluka-parah. Di pihak pasukan pemerintah dan orang-orang Nam-kiang-pang juga terdapat korban yang berjatuhan, namun jumlahnya tidaklah sebanyak pihak musuh.

Setelah mengumpulkan ” perajuritnya, Bu-ciangkun lalu memerintahkan mereka untuk menggali lubang dan menguburkan semua orang yang menjadi korban dalam pertempuran. Setelah itu dia membawa pasukannya untuk pulang ke benteng dan membuat laporan kepada Kaisar.

Mereka bertujuh duduk di bawah pohon, jauh dari tempat pertempuran tadi. Pedang merah milik Hoat Lan Sian-su tadi disimpan oleh Han Lin. “Pedang ini merupakan pusaka yang baik. Sayang kalau dibiarkan di sana dan kelak terjatuh ke tangan orang jahat. Kelak, kalau Hoat-kauw sudah kembali ke jalan benar, dipimpin oleh ketua yang baik, aku sendiri yang akan mengembalikan pedang ini kepadanya,” demikian katanya kepada yang lain. Ketika diperiksa dengan teliti, pedang itu diukir dengan tiga huruf yang berbunyi “Ang-in-kiam” (Pedang Awan Merah). Sebuah nama yang indah dan tepat “karena sinar merah yang dikeluarkan pedang itu adalah merahnya awan yang terbakar matahari di waktu senja.

Entah disengaja atau tidak ketika tujuh orang itu duduk di bawah pohon bercakap-cakap, Sie Kwan Lee mendekati Yang Mei Li. Sie Kwan Eng mendekati Ciu Kang Hin. Adapun Souw Kian Bu dengan sendirinya mendekati Yu Kiang Bwe yang dicintanya. Semua ini tak dapat lepas dari perhatian Han Lin. Diam-diam dia merasa girang melihat Souw Kian Bu demikian 398

akrab dengan Yu Kiang Bwe karena dia dapat melihat bahwa gadis ketua Kim-kok-pang ini memang cukup pantas untuk menjadi jodoh adik misannya itu. Juga dia melihat bahwa Kang Hin bertukar pandang dengan Sie Kwan Eng, atau setidaknya Sie Kwan Eng memandang kepada pemuda ketua Nam-kiang-pang itu dengan sinar mata berseri-seri yang mengandung perasaan kagum dan sayang.

Akan tetapi satu ha l dirasakan seolah menusuk perasaannya, yaitu sikap Mei Li terhadap Sie Kwan Lee. Diantara kedua orang muda inipun jelas terdapat hubungan batin yang mesra. Dia cepat menekan perasaannya dan mengusir perasaan cemburu dan tidak senang yang menyesak di dada. Bodoh kau doa menegur diri sendiri. Gadis itu adalah adik misannya, bukan orang lain, jadi jangan mengharapkan yang bukan-bukan!

Tujuh orang muda itu saling menceritakan pengalaman masing-masing dan ketika tiba giliran Han Lin, dia hanya bercerita bahwa dia menjadi murid mendiang Kong Hwi Hosiang, kemudian memperdalam ilmu-ilmunya di dalam perantauannya. Sesuai dengan pesan Lo-jin, dia tidak berani bercerita tentang gurunya yang terakhir itu.

Ketika dengan alasan untuk membicarakan sesuatu, tiga pasang orang muda itu menjauhi tempat itu, meninggal kan Han Lin seorang diri, pemuda ini duduk melamun dan menghela napas panjang, di dalam batinnya dia memanjatkan doa agar dua orang saudara misannya itu tidak akan salah memilih calon jodoh mereka masing-masing.

Souw Kian Bu yang berjalan berdua Yu Kiang Bwe, berhenti di tempat sunyi dan Kian Bu berkata, “Bwe-moi “

Kiang Bwe berhenti dan menoleh. “Ada apakah, Bu-ko? Apa yang hendak kaubicarakan denganku maka engkau me-ngajak aku memisahkan diri dari yang lain?” 399

“Bwe moi, terus terang saja, aku hendak membicarakan urusan kita berdua. Bagaimana pendapatmu kalau pada suatu hari aku minta ayah bundaku untuk datang ke tempat tinggalmu dan mengajukan pinangan terhadap dirimu kepa da keluargamu, wakil dari ayahmu dan juga kepada ibumu!”

Kiang Bwe tidak menjadi terkejut karena iapun sudah menduga bahwa pemuda itu jatuh cinta kepadanya, hal yang diterimanya dengan bangga dan bahagia karena ia sendiripun amat tertarik kepada pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sopan itu. Akan tetapi naluri kewanitaannya memaksa dia bermerah pipi mendengar ucapan yang terus terang itu .

“Sudahkah kau pikir baik-baik niatmu itu, Bu-koko? Dan apakah ayah ibumu akan menyetujuinya?”

“Sudan menjadi keputusan bulat hatiku, Bwe-moi. Tentang ayah ibuku….” tiba-tiba dia mengerutkan alisnya dan nampak gelisah, “akan kubujuk mereka agar menyetujui. Mereka harus menyetujui!”

Mendengar ucapan ini yang nadanya keras, Kiang Bwe niemandang kekasihnya.

“Ada apakah, Bu-koko? Agaknya apakah engkau sangsi akan persetujuan orang tuamu?”

Kian Bu menghela napas beberapa kali sebelum menjawab. “Bwe-moi, aku tidak akan menyembunyikan apapun juga darimu. Aku akan berterus terang saja. Sebetulnya, ayah dan ibu telah menentukan jodohku sejak aku masih kanak-kanak. Tentu saja aku tidak setuju, bahkan gadis yang ditunangkan dengan aku pun tidak setuju karena sesungguhnya di antara kami masih ada hubungan keluarga dekat. Engkau tentu sudah dapat menduga siapa orangnya.”

Kiang Bwe terbelalak. “Kau maksud kan…. Dewi Pedang Terbang ‘Yang Mei Li?”

“Benar.” 400

“Ahhh tapi ia . . .. ia gadis yang hebat, cantik jelita dan lihai sekali!!”

“Bwe-moi, ingat, kami adalah saudara misan. Ayahnya adalah kakak dari ibuku. Sejak kami masih kecil kalau kami saling jumpa dan bicara, kami berdua sudah tidak setuju dengan ikatan pedjodohan itu. Dan engkau melihat sendiri, adik Mei Li nampak begitu akrab dengan Sie Kwan Lee, pemuda Beng-kauw itu! Bagaimana, moi-moi, kalau orang tuaku meminangmu, engkau tidak akan menolak, bukan?”

Sambil tersenyum dan tersipu Kiang Bwe memandang kekasihnya dan menggeleng kepala. “Aku hanya sangsi apakah orang tuamu akan setuju, koko.”

“Terimakasih, moi-moi. Tentang orang tuaku, jangan khawatir, aku dan adik Mei Li akan berusaha keras meyakinkan mereka bahwa kami tidak berjodoh dan kami telah memiliki pilihan hati masing-masing.”

Di lain bagian dari tempat itu, terpisah, Yang Mei Li juga bercakap-cakap dengan Sie Kwan Lee. Pemuda yang kulit mukanya gelap wajahnya tampan ganteng dan penuh kejantanan itu, berkata seperti biasanya, tegas dan jujur namun lembut, “Li-moi, kesempatan ini akan kupergunakan untuk menyatakan perasaan hatiku kepadamu Li-moi, kalau engkau berkenan menerimaku, aku cinta padamu dan aku ingin agar engkau menjadi isteri ku!”

Mei Li tersenyum. Satu di antara hal-hal yang menarik hatinya dari pemu da ini adalah keterbukaan dan kejujurannya. Seperti juga mendiang ayahnya, hanya kalau mendiang Sie Wan Cu keterbukaannya itu kasar sehingga berkesan kurang ajar, sebaliknya pemuda ini jujur dengan teratur dan membatasi diri sehingga menjaga kesopanan.

“Aih, hal itu keputusannya tergantung kepada ayah ibuku, twako.”

“Tentu saja, Li-moi. Akan tetapi sebelum mereka 401

memutuskan, aku ingin lebih dahulu mendengar pendapatmu. Apakah engkau mau dan dapat menerima cintaku dan tidak keberatan kalau aku kelak meminangmu?”

“Aku…. aku tidak keberatan dan akan merasa berbahagia sekali twako.”

Bukan main gembiranya Sie Kwan Lee mendengar ini, Dengan lembut dia memegang kedua tangan gadis itu, membawa tangan itu ke atas dan diciumnya dengan khidmat dan penuh perasaan. “Terima kasih, Li-moi. Ah, engkau tidak tahu betapa besar kebahagiaan yang kurasakan saat ini !

Mei Li terharu. Pemuda itu tetap menghargainya dan bersikap sopan . “Twa ko, kalau tadi aku mengatakan tergantung dari ayah ibuku, hal itu adalah sebenarnya. Ketahuilah, sejak aku masih keci l sekali, aku telah ditunangkan dengan pemuda lain “

Me? Li melihat betapa wajah itu pucat, tangannya dilepas dan pemuda itu mundur tiga langkah. “Ah, maafkan aku,… maafkan kelancanganku”

“Jangan salah mengerti, twako. Biarpun kami sudah ditunangkan, akan tetapi kami tidak saling mencinta. Kami masih ada hubungan keluarga, dan sejak dahulu kami berdua sudah mengambil keputusan untuk menolak kehendak orang tua dan membatalkan perjodohan. Engkau tentu dapat menduga siapa orangnya.Ya, dia adalah kakak Souw Kian Bu.”

Wajah itu menjadi merah lagi. “Akan tetapi, kenapa kalian tidak setuju Li-moi? Bukankah dia seorang pemuda yang hebat dan engkau seorang gadis yang hebat pula?”

“Twako, kami masih saudara misan dan sejak kecil kami sudah menganggap seperti saudara sendiri. Kasih di antara kami adalah kasih sayang antara kakak dan adik, bagaimana mungkin kita berjodoh?”

“Kalau begitu engkau engkau menerima’ cintaku?” 402

Kini barulah wajah Mei Li menjadi kemerahan dan ia mengangguk. Lalu dia menundukkan mukanya karena tersipu malu.

“Dan bagaimana dengar orang tuamu, Li-moi?”

“Akan kunyatakan terus terang bahwa aku tidak ingin berjodoh dengan Bu-koko, bahwa aku telah memiliki pilihan hati “

“Akulah orangnya?”

Mei Li mengangkat mukanya dan mengangguk.

Han Lin masih duduk melamun ketika dua pasang orang muda itu muncul, Han Lin tersenyum akan tetapi pura-pura tidak tahu saja, walaupun dari wajah empat orang muda itu yang berseri dan sinar mata mereka yang penuh kasih dia tahu apa yang telah terjadi di antara mereka. Tentu mereka telah menyatakan isi hati masing-masing.

“Lin-ko, kami datang untuk minta pertolonganmu!” kata Souw Kian Bu.

“Benar, Lin-koko. Hanya engkaulah yang akan dapat menolong kami,” kata Mei Li. Gadis ini tadi sudah mengadakan pembicaraan serius dengan Souw Kian Bu, disaksikan oleh kekasih masing-masing, dan mereka mengambil keputusan untuk minta pertolongan Han Lin.

Han Lin mengangkat alisnya dan tersenyum. “Aih, ada urusan apakah? Pertolongan apakah yang akan dapat kuberikan kepada kalian?”

Mei Li saling pandang dengan Kian Bu dan akhirnya Mei Li yang menjadi juru bicara. “Lin-koko, maafkan kami. Baru saja bertemu denganmu, kami sudah membikin repot dan minta bantuanmu. Ketahuilah, koko, sejak kecil aku dan koko Kian Bu telah dijodohkan oleh orang tua kita.” 403

Biarpun dia tahu bahwa di sini timbul keruwetan karena masing-masing agaknya telah memilih pasangan, Han Lin mengangguk-angguk tersenyum. “Wah, itu baik sekali !”

“Apanya yang baik!” kata Mei Li

Sama sekali tidak baik, ko cemberut. ko.”

“Lho? Kenapa?” tanya Han Lin sambil menoleh, memandang kepada Kian Bu. Pemuda ini juga menggeleng kepala sambil menghela napas.

“Memang tidak baik, Lin-ko,” katanya.

“Ehh? Kalian ini bagaimana sih? Dijodohkan orang tua, kenapa bilang tidak baik? Apakah Bu-te kurang tampan dan gagah? Apakah Li-moi kurang cantik jelita dan perkasa?”

“Bukan begitu, Lin-koko. Engkau tahu sendiri bahwa kami adalah kakak beradik misan. Sejak kecil kami memang sudah tidak setuju karena kami berdua saling sayang sebagai kakak dan adik. Bagaimana mungkin kami menjadi suami isteri” kata Mei Li.

Han Lin mengangguk-angguk. “Aahh, begitukah? Nah, kenapa kalian minta pertolongan dariku Apa yang dapat kulakukan untuk kalian dalam hal itu?”

Mei Li memandang Kian Bu. “Bu-koko engkau saja yang menjelaskan kepada Lin-ko.”

Kian Bu berkata kepada Han Lin, “Begini, Lin-ko. Kami tidak dapat menerima perjodohan itu, dan terus terang saja, sekarang kami masing-masing telah menemukan pilihan hati. Aku dan adik Yu Kiang Bwe telah bersepakat untuk membina rumah tangga, sedangkan Li moi, dan saudara Kwan Lee juga sudah saling mencinta untuk kemudian berjodoh.”

Han Lin mengangguk-angguk. Dia ti dak merasa heran karena memang sudah menduga demikian. “Kalau begitu, apa yang dapat kulakukah untuk kalian?” 404

“Begini, koko,” kata Mei Li. “Kami tentu akan mendapat tantangan dan kesulitan dari orang tua kami. Oleh ka rena itu, kami mohon agar engkau suka menjadi pembicara membela dan membantu kami di depan orang tua kami, membujuk mereka agar menyetujui pilihan hati kami masing-masing dan tidak memaksa aku dan Bu-ko saling berjodoh.”

“Wah, aku kalian angkat menjadi comblang?” tanya Han Lin sambil tertawa, lalu disambungnya dengan sungguh-sungguh. “Baiklah, aku akan membantu, dan mudah-mudahan saja bantuanku ada gunanya.”

“Terima kasih, Lin-ko.” “Terima kasih, Lin-koko.” “Akan tetapi kurasa hal ini tidak mudah. Apa lagi bagi adik Mei Li. Terus terang saja, kalau Bu-te hendak berjodoh dengan nona Yu Kiang Bwe sebagai ketua Kim-kok-pang, hal itu tidak akan ada masalahnya bagi orang tuanya, akan tetapi engkau, Li-moi. Maaf-kan aku, saudara Sie Kwan Lee. Akan tetapi kalau orang tuamu mendengar bahwa engkau akan berjodoh dengan putera ketua Beng-kauw, aku sangsi apakah mereka akan menyetujuinya.”

“Tidak apa, Sia-taihiap. Aku menyadari keadaanku. Memang Beng-kauw telah mempunyai nama yang tidak begitu baik bagi para pendekar, akan tetapi aku berani menghadapi kenyataan, bahkan andaikata aku ditampik sekalipun. Bagaimanapun, kalau sudah dicoba, aku tidak akan menjadi penasaran.”

“Jangan khawatir, Lee-ko, ayah ibu bukanlah orang yang kukuh. Aku ya-kin Lin-koko pasti akan mampu mencairkan hati mereka, dan aku sendiri juga tidak mau dipaksa menikah dengan orang lain.”

“Begitulah seharusnya sikap orang muda. Jangan lebih dahulu menyerah sebelum diusahakan. Karena dalam hal ini, pendapat Bu-te juga amat diperlukan untuk memperkuat bujukan terhadap Paman Yang Cin Han, maka aku mengusulkan agar kalian berempat bersama aku pergi 405

menghadap beliau dan bibi. Sesudah berhasil barulah pergi menghadap bibi Yang Kui Lan dan suaminya. Bagaimana pendapat kalian?”

Mei Li dan Kian Bu tentu saja menyetujui. Dan pada saat itu muncullah Kang Hin dan Kwan Eng. Wajah kedua orang ini kemerahan ketika lima orang pemuda itu memandang kepada mereka. Kang Hin telah melihat keakraban aritara Mei li dan Kwan Lee, maka dia maklum bahwa harapannya untuk berjodoh dengan Mei Li sia-sia belaka. Maka, ketika melihat Kwan Eng bersikap mesra kepadanya, dia menyambutnya karena dia pun tertarik sekali kepada puteri Beng kauw yang cantik manis itu.

Han Lin mendahului yang lain. “Saudara Ciu Kang Hin, dan juga nona Kwan Eng, aku mengucapkan selamat!”

Dua orang itu terbelalak, dan kedua pipi mereka menjadi semakin merah. “Eh, saudara Sia Han Lin, mengapa engkau mengucapkan selamat kepada kami berdua?”

Han Lin tidak menjawab melainkan tertawa, dan empat orang yang lain ikut pula tertawa. Melihat lima orang muda itu tertawa-tawa gembira, Kang Hin dan Kwan Eng saling pandang dan tersipu. Lalu Kang Hin bicara dengan sejujurnya.

“Baiklah, terimakasih atas ucapan selamat itu. Memang, aku dan nona Sie Kwan Eng telah bersepakat untuk menjadi suami isteri.” Dia memandang kepada Mei Li dan gadis ini kelihatan paling gembira mendengar ucapan itu.

“Bagus dan selamat, Ciu-twako! Kalian memang merupakan jodoh yang cocok sekali!”

Kwan Lee yang memang tidak pernah menyimpan rahasia itu, lalu berkata ke pada adiknya, “Adik Eng, engkau pulang lah dulu dan beritahukan kepada ibu bahwa aku akan pergi dulu kepada orang tua nona Yang Mei Li untuk membicarakan urusan perjodohan kami., bersama de ngan saudara Sia Han Lin, saudara Souw Kian Bu dan nona Yu Kiang Bwe.” 406

Kini Kang Hin yang menjadi gembira sekali. Tadinya dia merasa agak sungkan kepada Mei Li karena belum begitu lama dia mengaku cinta kepada gadis itu dan sekarang dia telah menyata kan hendak berjodoh dengan gadis lain!

“Ah, pilihan yang tepat sekali! Kiong-hi (selamat), kionghi!” katanya berulang-ulang. Melihat mereka saling memberi selamat Han Lin tertawa.

“Kalian lupa untuk memberi selamat kepada pasangan ketiga antara saudara Souw Kian Bu dan nona Yu Kiang Bwe .”

Demikianlah, tiga pasang orang muda itu saling memberi selamat dalam suasana yang gembira dan tersipu malah. Dan selagi mereka berenam itu bergembira tertawa, Han Lin diam-diam merasa betapa sepinya hati ini.

Mereka lalu berangkat meninggalkan tempat itu. Yu Kiang Bwe bersama Souw Kian Bu, Mei Li bersama Kwan Lee, pergi bersama Han Lin. Sedangkan Ciu Kang Hin dan Sie Kwan Eng pergi berdua, menuju ke pusat Beng-kauw untuk menghadap ibu Kwan Eng, minta doa restu atas pilihan hatinya. Bagi Sie Kwan Eng tidak ada halangan sesuatu karena sudah menjadi kebiasaan keluarganya di Beng-kauw untuk menentukan dan memilih sendiri calon jodohnya.

Dengan bantuan Han Lin yang diterima oleh suami.isteri Yang Cin Han dan Can Kim Hong dengan gembira,”akhirnya suami isteri itu dapat menerima pilihan hati puteri mereka. Memang tadinya mereka merasa tidak enak sekali kepada Souw Kian Bu. Akan tetapi setelah terdapat kenyataan bahwa Kian Bu juga mendapat pilihan hatinya sendiri, mereka tak dapat berkata apa-apa lagi . Kenyataan bahwa puteri mereka memilih putera Beng-kauw menjadi calon suami sempat membuat suami isteri itu mengerutkan alis, akan tetapi kesaksian dan pembelaan Han Lin akan kebaikan calon mantu itu membuat mereka akhirnya menyetujui pula.

Setelah orang tua Mei Li setuju, Han Lin mengantar mereka 407

berlima menghadap Souw Hui San dan Yang Kui Lan. Juga di sini Han Lin memegang peran besar sebagai pembela dan pembujuk dan akhirnya suami isteri inipun menyetujui .

Demikianlah, dua pasang kekasih itu, seperti juga halnya pasangan Ciu Kang Hin dan Sie Kwan Eng, akhirnya menikah dengan penuh kebahagiaan. Pernikahan mereka, tiga pasangan itu, dihadiri oleh Sia Han Lin dan setelah selesai menghadiri undangan, Sia Han Lin lalu pergi seorang diri.

Sore itu dia tiba di puncak sebuah bukit yang amat indah pemandangannya. Senja hari yang cerah. Matahari senja menciptakan pemandangan menakjub kan di langit barat. Han Lin berdiri termenung. Hatinya terasa sunyi, sepi, menyendiri dan seolah hidup ini kosong tidak ada artinya sama sekali baginya. Akan tetapi, ketika tangannya. meraba pinggang, tangan itu bertemu dengan pedang yang tergantung di pinggang. Dia sadar dan mencabut pedangnya. Nampak sinar yang menyamai warna langit di barat. Han Lin memandang pedangnya, lalu menancapkan tongkat bututnya di atas tanah. Digerakkan pedang itu dan di lain saat dia telah bersilat pedang. Nampak sinar merah bergulung-gulung, terdengar suara angin menderu dan daun daun kering rontok seolah ditiup badai .

Han Lin terus bersilat memainkan pedangnya dan perlahan-lahan, sinar merah di barat makin layu dan kegelapan makin menyelimut! bumi sampai Han Lin yang bermain pedang ditelan kegelapan malam. Sampai di sini berakhirlah sudah kisah Si Pedang Terbang ini yang melibatkan beberapa orang tokoh dunia persilatan, dengan harapan pengarang kisah ini dapat menghibur hari para pembacanya. Sampai jumpa di lain kisah .

T A M A T

Lereng Lawu, medio Juli l986.

Iklan

2 thoughts on “Mestika Burung Hong Kemala – Kisah si Pedang Terbang (Seri 2)

  1. Ping-balik: KEPEMIMPINAN BUGIS MAKASSAR | Dewie Yasin Limpo

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s