Jago Kelana

New Picture (2)

Jago Kelana

Karya : Tjan ID

Ebook pdf oleh : Dewi KZ

 

Jilid1

Bab 1

BADAI salju bertiup dengan kencangnya membuat seluruh permukaan bumi hanya tampak sinar putih keperak2an yang menyilaukan mata, di tengah kesunyian yang mencekam hanya terdengar suara gonggongan anjing yang amat ramai diselingi suara mengayun nya cambuk

yang amat nyaring.

Seorang gadis muda dengan menunggang kereta yang

ditarik oleh tujuh-delapan ekor anjing dengan amat

cepatnya berlari mendatangi.

Di tengah permukaan salju yang amat sunyi dari kosong

melompong itu cuma kelihatan sebuah rumah gubuk yang

berdiri dengan kuatnya disamping seorang lelaki berewokan

yang baru saja meloncat keluar dari rumah tersebut sewaktu

mendengar suara yang amat ramai….

Didalam sekejap mata gadis muda itu sudah berlari

mendekati lelaki berewok itu, tampak usianya kurang lebih

baru tujuh-delapan belas tahunan dengan potongan wajah

yang amat cantik sekali, tetapi pada hawa seperti ini

kelihatan rada ke-pucat2an, gerak geriknya agak loyo

bahkan kedua belah pipinya jelas tampak bekas air mata

yang menapak, agaknya dia orang baru saja merasakan

kesedihan.

Sesampainya di hadapan lelaki berewok itu dengan suara

yang agak serak tanyanya:

“Apakah mereka ada ditempat ini ?”.

Sikap dari lelaki berewok itu ternyata amat hormat sekali

terhadap gadis itu.

“Mereka pasti ada disini” sahutnya sambil menjura.

“Ehmm!” mendadak pergelangan tangannya membalik

“Sreet !” sebuah cambuk panjang berwarna merah darah

mendadak diayunkan ke depan sehingga mengeluarkan

suara yang amat nyaring.

Cambuk itu besarnya ada satu jari tetapi panjangnya

cuma satu kaki lima, enam, setelah diayunkan keatas

kepala, ketujuh delapan ekor anjing itu segera dia tarik

kembali, gerakannya amat lincah dan cepat sekali.

Dengan diikuti suara bergeletarnya cambuk tersebut

beberapa ekor anjing itu segera berhenti bergonggong.

Suasana menjadi amat sunyi… sunyi tak terdengar sedikit

suarapun.

Dan pada saat yang bersamaan pula dari dalam rumah

gubuk itu terdengar suara yang bercuitan pintu rumah

dengan perlahan dibuka.

Baru saja pintu terbuka, ketujuh, delapan ekor anjing itu

segera siap menubruk kembali kedepan tetapi sang gadis

dengan cekatannya menahan gerakan tersebut membuat

beberapa ekor anjing yang amat ganas itu segera berdiam

diri dan merebahkan diri keatas permukaan salju.

Pintu rumah gubuk itu dengan perlahan terbuka disusul

munculnya sebuah payung yang terbuat dari kertas minyak

yang dipentangkan lebar2, jelas kelihaatan diatas payung itu

sudah ada tiga buah lubang yang cukup besar.

Tampak seorang kakek tua yang memakai kain kulit

yang terbuat dari bulu domba dengan langkah yang amat

perlahan berjalan keluar

Kakek yang masih mengantuk itu dengan menggunakan

payungnya menutupi badan lalu berjalan maju satu langkah

ke depan, terdengar dia sedang bergumam:

“Ouww… sungguh hebat hujan salju kali ini.”

Sembari berkata ia menongolkan kepalanya sekeliling

tempat itu, sewaktu dilihat hadirnya seorang lelaki berewok

disana mendadak dia berseru tertahan.

“Aaah kiranya Ong Cong-koan ! eeeh Ong Cong-koan

kau membawa sebegitu banyak orang apakah mau pergi

berburu malam ? kulit rase yang bagus apakah harus dicari

dengan berburu pada malam hari ? Ong Cong-koan

silahkan masuk, mari minum dulu secawan teh panas ! mari

… mari … biar Loo-han pergi masak air.”

Semenjak lelaki tua itu muncul sampai saat ini dia terus

menerus beribut tidak keruan tetapi tak seorangpun yang

memberikan langganannya.

Si lelaki berewok maupun gadis itu sewaktu melihat

lelaki tua itu berjalan keluar secara tiba2, pada air mukanya

segera memperlihatkan perubahan hebat, agaknya kejadian

ini berada di luar dugaan mereka, menanti setelah lelaki tua

itu selesai berbicara barulah lelaki berewok itu berseru:

“Tan Loo Tia . . .”

Begitu dia berseru, Tan Loo Tia lantas angkat kepalanya

kembali dan berteriak lagi:

“Aaah !! Bukankah gadis ini adalah Soat Ang Sio-cia dari

Benteng Thian te Poo?? Haa… haa sungguh mirip burung

hong yang melayang turun dari atas langit Soat Ang siocia

sewaktu Loohan melihatmu untuk pertama kakinya,

usiamu masih amat kecil sekali, pada hari kedua Loohan

sudah pergi menangkap tiga ekor rase yang amat besar

hehe… hee aku lihat kali ini belum tentu kau bisa berhasil

menangkap beberapa ekor…”

Baru saja dia berbicara sampai disini tampak gadis muda

itu sudah kerutkan alisnya rapat2.

“Aah ! Tan Loo Tia” Seru lelaki berewok itu dengan

gugup, “Kau banyak bicara lagi, kami sengaja datang untuk

mencari orang,

“Mencari orang. ooooh .. . kalian mau mencari Loo han

? ? ?” serunya melengak.

Kepalanya didongakkan tinggi2 sehingga tampaklah

pada wajah yang berwarna hitam seluruhnya ditutupi

dengan keriputan, agaknya usianya sudah lanjut sekali

sehingga dirinyapun tidak bisa mengatakan berapa besar

usianya tetapi Ong Cong Koan dari benteng Thian It Poo

ini sebaliknya tahu dengan amat jelas kalau kedua buah

rumah gubuk ini sudah ditinggali olehnya selama hampir

dua puluh tahun lamanya.

Ong Cong Koan sangat senang terhadap Tan Loo Tia

ini, karena sejak Tan Loo Tia berdiam di dalam dua buah

rumah gubuknya dua puluh li diluar benteng Thian It Poo

maka kedudukannya didalam Benteng Thian It Poo pun

sehari demi sehari meningkat sehingga akhirnya menduduki

sebagai Cong-koan.

Orang2 yang berlalu lalang didalam benteng Pek Kian

Poo semuanya pada merasa heran, keamanan serta

penjagaan dari Benteng Thian It Poo amat ketat sekali

bahkan pada dua puluh lima lie sebelum Benteng sudah

disebar pengawal serta mata2 yang pada menyebar disana,

dua puluh li sebelum Benteng semakin mendekat kearah

Benteng penjaganya semakin banyak, jika orang asing

hendak memasuki tempat itu tanpa ketahuan benar2 amat

sulit sekali, bagaikan terbang ke langit, tetapi kenapa pada

deretan penjaga pertama sudah ada orang yang tinggal

disana tanpa dicurigai, bukankah hal itu amat janggal

sekali?

Padahal sewaktu Tan Loo Tia untuk pertama kali pindah

kesana para jago dari Benteng Thian It Poo sudah menaruh

curiga terhadapnya bahkan melakukan pengawasan yang

ketat siang malam, tetapi lama kelamaan semua orang dari

Thian It Poo pada mengetahui kalau Tan Loo Tia adalah

seorang yang sedang melarikan dirinya dan tinggal dengan

sengsara seorang diri, Tan Loo Tia ini sama sekali tidak

mempunyai kepandaian lain selain bisa membuat arak yang

paling bagus.

Arak adalah barang yang paling mudah untuk

memperpendek jarak hubungan persaudaraan, lama

kelamaan orang2 dari Benteng Thian It Poo semuanya pada

tahu kalau Tan Loo Tia bukanlah seorang yang patut

dicurigai karenanya penjagaan nya pun menjadi semakin

kendor.

Sedangkan pada waktu itu Tan Loo Tia sudah amat tua,

selama dua puluh tahun ini hampir2 dia orang tidak bisa

berjalan lagi sudah tentu hal ini semakin membuat orang

lain tidak mencurigai dirinya lagi.

Kini melihat si kakek tua sudah salah menyangka kalau

mereka mau mencari dia orang tua tidak terasa lagi Ong

Cong-koan tertawa geli.

“Tuh… buat apa aku orang cari dirimu ?” ujarnya sambil

tertawa. “Kami sedang mengejar dua orang, satu laki satu

perempuan, yang laki tentunya kau sudah pernah bertemu,

dia adalah keponakan dari Toocu”.

“Ohh benar, benar, aku memang pernah bertemu”

Potong Tan Loo Tia dengan cepat. “Bukankah bocah itu

putih dan besar perawakannya bahkan pandai memanah”.

“Tidak salah !” sahut Ong Cong-koan mengangguk.

“Kami mau mencari dirinya, bukankah mereka ada didalam

rumahmu ?”

Tan Loo Tia segera menyipitkan matanya dan tertawa

terbahak2.

“Ong Cong-koan !” serunya, “Kau orang apa mau ajak

aku untuk bergurau ? bagaimana mungkin mereka ada

disini ?”

Mendengar perkataan tersebut Ong Cong-koan segera

palingkan kepalanya kearah gadis itu.

“Nona !” ujarnya dengan suara amat hormat. “Tan Loo

Toa bilang mereka tidak ada disini, lebih baik kita mengejar

terus kedepan saja, bilamana kita harus buang waktu

dengan percuma disini mereka tentu melarikan diri semakin

lama se makin menjauh”.

“Tetapi anjing2ku ini sudah berhenti mengejar

sesampainya ditempat ini !” ujar gadis itu dengan wajah

yang adem.

“Benar… benar ! penciuman anjing adalah paling tajam

diantara binatang2 lain, sekalipun berada beberapa li jauh

nya dia masih bisa mencium bau manusia yang sedang

dicari, kini ke tujuh-delapan ekor anjing itu sudah berhenti

mengejar sesampainya disini jika mau dikatakan orang yang

mereka kejar tidak berada disini sebenarnya merupakan

suatu urusan yang sukar dipercayai.”

Karenanya Ong Cong-koan segera berseru kembali: “Tan

Loo Tia, urusan ini kau jangan bicara secara guyon, mereka

benarkah tidak ada didalam rumahmu ?”

“Ong Toa-siok ! kau kenapa ?” teriak gadis itu mendadak

dengan amat gusarnya, “Manusia2 itu ada didalam rumah

atau tidak kenapa kau tidak memeriksanya sendiri ?”

Tubuhnya segera melayang menerjang kedalam rumah

itu, sewaktu tubuhnya mencapai ditengah udara cambuk

ditangannya dengan cepat menghajar kearah depan

memaksa ke tujuh-delapan ekor anjingnya ikut menerjang

masuk kedalam.

Menanti setelah tubuhnya melayang turun di depan

pintu rumah dan memukul rubuh pintu tersebut kedua ekor

anjing yang sudah ada dibelakang tubuhnya telah

menerjang kedalamsambil menggonggong tak hentinya.

“Cepat ambil api dan bawa kemari !” perintahnya sambil

berdiri tegak di depan pintu.

Suaranya amat serak sekali bahkan diucapkan keluar

sambil menggigit kencang bibirnya, sepertinya setelah ada

penerangan dia akan melihat sesuatu urusan yang amat

menggemaskan hatinya sehingga dia kepingin sekali

menghancurkannya.

Dia begitu berteriak segera tampak dua orang lelaki

meloncat masuk kedalam pekarangan dan memberikan

sebuah obor kepadanya.

Melihat kejadian tersebut Tan Loo Tia segera menutup

kembali payungnva, serunya sambil pentangkan tangannya

lebar2.

“Eeeeh.. Toa-siok sekalian sebenarnya kalian mau cari

apa ? eeh… Ong Cong-koan…. loo han… loo-han…”

“Kau orang tidak usah banyak bicara lagi” Potong Ong

Cong-koan dengan wajah keren, “Kami cuma mau mencari

orang saja, bilamana orang itu bisa kami temukan disini,

hemm ! hmm beberapa kerat tulang2 tuamu itu jangan

harap bisa tersisa !”

Berulang kali Tan Loo Toa mendepakkan kakinya keatas

tanah, wajahnya yang sudah penuh dengan keriput tampak

memperlihatkan wajah menyesalnya, sewaktu dia putar

badannya kembali tampaklah gadis tersebut mencekal obor

sudah berjalan memasuki rumah gubuk itu.

Kedua rumah gubuk itu amat kecil sekali, sewaktu

ketujuh-delapan anjing itu menerjang masuk sebentar saja

seluruh barang yang ada di sana sudah diobrak-abrik tidak

keruan, hanya sekali pandang saja gadis itu sudah bisa

melihat seluruh keadaan isinya.

Didalam rumah itu sudah tidak ada orangnya, tetapi

mendadak tampak ke tujuh-delapan ekor anjing itu

mengumpul menjadi satu dan menciumi tanah sambil

menggonggong terhadap permukaan tanah disekelilingnya.

Melihat itu si gadis tersebut segera tertawa dingin.

“Hmm! Ong Cong-koan” serunya dingin “Kau orang

sudah melihat belum, didalam rumah ini ada jalan rahasia,

Orang tua bangkotan ini pasti bukan manusia baik2, cepat

tangkap dia orang terlebih dulu !”

Tetapi Ong Cong koan sama sekali tidak turun tangan

terhadap diri Tan Loo-toa, sebaliknya dengan langkah

perlahan berjalan kebelakang tubuh gadis itu, ujarnya:

“Nona, tempat ini hanyalah sebuah gudang dibawah

tanah saja yang sudah diketahui oleh semua orang

dibenteng sebagai tempat untuk menyimpan arak wangi

yang dibuat Tan Loo-tia.”

“Bagaimana kau bisa tahu didalam gudang ini tidak ada

orang yang sedang bersembunyi ?” bentak gadis itu dengan

amat gusarnya.

Bibir Ong congkoan tampak sedikit bergoyang,

sebenarnya dia mau berkata “Kenapa Tan Loo Tia mau

menyembunyikan orang”, tetapi sewaktu dilihatnya wajah

gadis itu sudah diliputi oleh kegusaran dia tidak berani

meneruskannya kembali perkataan yang semula mau

diucapkan ditelan kembali mentah2. Dengan suara yang

amat berat bentak gadis itu kembali:

“Bongkar tempat ini, buka gudang tersebut !” Ong Cong

koan segera menyahut dan berjalan melalui dua ekor anjing

yang ada di sana lalu bungkukkan badannya

menyangkolkan jarinya pada satu lubang dan mengangkat

sebuah papan seluas lima depa keatas.Begitu papan itu

terbuka maka secara samar2 segera terbau harumnya arak

yang amat semerbak.

Gadis itu mengangkat obornya untuk menerangi gudang

dibawah tanah tersebut, tampaklah ruangan itu dalamnya

ada satu kaki dengan luas enam tujuh depa yang sudah

penuh diisi dengan gentong-gentong serta guci2 arak.

Dibawah sorotan api obor terlihatlah didalam gudang

dibawah tanah itu sama sekali tidak tampak adanya sesosok

manusiapun

Baru saja papan itu terbuka terlihatlah ketujuh, delapan

ekor anjing tersebut dengan kalapnya menyalak tak

hentinya lalu menubruk ke dalam semuanya.

Gadis itu dengan amat tenangnya berdiri disamping

pintu gudang dibawah tanah itu, tampak air mukanya

penuh diliputi oleh ke-ragu2an, mendadak tangannya

digetarkan cambuknya dengan amat dahsyatnya

menyambar kedalam gudang….

Seketika itu juga sebuah guci yang berisikan arak wangi

sudah tersambar hingga hancur lebur, arak wangi dengan

sendirinya mengalir keluar membasahi seluruh permukaan

membuat seluruh ruangan berbau wanginya arak.

Saat itu ketujuh delapan ekor anjing itu tidak ambil

diam, mereka mencium sana sini sambil menyalak tak

henti2nya.

Sebaliknya cambuk yang ada ditangan sang gadispun

bagaikan naga sakti ber-turut2 melancarkan beberapa kali

sambaran, membuat tujuh, delapan buah guci seketika itu

juga menjadi hancur lebur berhamburan diatas tanah,

orang2 yang mengerubungi tempat itu termasuk juga Ong

Cong-koan sendiri dalam hati diam2 merasa amat sayang

sekali.

Begitu ke tujuh-delapan buah guci arak itu terhajar

hancur maka seluruh ruangan gudang itu dapat dilihat

dengan amat jelasnya, ternyata disana sama sekali tidak

tampak adanya bayangan orang.

Waktu itu dengan jalan yang amat tegak Tan Loo Tia

sudah berjalan masuk kedalam ruangan sambil menghela

napas ujarnya dengan nada sayang:

“Nona kau sungguh2 sudah berbuat kesalahan besar, ke

tujuh-delapan buah guci arak itu sudah aku simpan selama

dua puluh tahun lamanya, aiii… coba lihat, bukankah

ditempatku sini tidak bersembunyi seseorang”

Dengan tidak henti2nya dia bergumam seorang diri,

tetapi tak seorangpun yang menggubris dirinya, tiba2 gadis

muda itu berteriak amat keras:

“Ong Cong-koan, coba kau lihat !!”

Sembari berteriak dia menuding kearah gudang dibawah

tanah itu, Ong Cong-koan yang mendengar seruan tersebut

terpaksa melongokkan kepalanya memandang kebawah,

tetapi sebentar kemudian dia sudah dibuat melengak.

Ke tujuh-delapan buah guci arak yang sudah terkena

pukulan cambuk hingga hancur seharusnya diatas tanah

ada genangan arak setinggi dua tiga coen tetapi saat ini

permukaan tanah cuma basah saja sedikitpun tidak tampak

adanya genangan arak.

Ong Cong-koan benar2 dibuat tertegun, serunya:

“Nona, ini….”

“Kau masih tidak paham juga ?” Potong gadis itu dengan

amat gusarnya ” Dibawah gudang ini pasti ada jalan rahasia

lainnya, kalau tidak arak tersebut tidak mungkin bisa

merembes ke-tempat lain !”

Ong Cong-koan menjadi sangat terperanjat sekali,

“Tan Lo, . .” serunya,

Belum sempat dia mengucapkan “Tia” hurup yang

terakhir seketika itu juga dia berdiri melengak untuk kedua

kalinya,

Tampak tubuh dari Tan Loo Tia didalam sekejap mata

itulah sudah mengembang menjadi sangat besar sekali,

tetapi kejadian yang sudah berlangsung hanya didalam

sekejap mata itu tidak memberi kesempatan buat Ong

Congkoan untuk melihat lebih jelas lagi dengan cara

bagaimana tubuh dari Tan Loo Tia bisa mengembang

sampai begitu besarnya.

Karena pada saat tubuh Tan Loo Tia mengembang besar

dan berkelebat dengan amat cepatnya itulah segera

terdengar suara jeritan ngeri dari ke tujuh-delapan anjing

yang berada disamping badannya disusul terpentalnya

bayangan2 kecil keatas udara, ke tujuh-delapan ekor anjing

itu sudah pada bergulingan diatas tanah dan binasa seketika

itu juga.

Baru saja suasana menjadi hening sebentar kembali

terdengar dua buah pukulan dahsyat berkelebat didalam

ruangan, dua orang terpukul mental kebelakang hingga

menubruk tembok lalu rubuh keatas tanah tidak berkutik

kembali, dari bagian dadanya darah segar mengucur keluar

dengan amat derasnya.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar2

membuat semua orang menjadi terperanjat, tetapi mereka

sama sekali tidak bisa berbuat apa2, setelah itu kembali

terdengar dua orang secara tiba2 menjerit aneh lalu

tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menuju keluar.

Gerakkan mereka amat cepat sekali, hanya didalam

sekejap saja kedua orang itu sudah berada disamping tubuh

kudanya masing2.

Pada saat yang bersamaan pula tampak sesosok

bayangan manusia kembali berkelebat menyusut kedepan.

Gerakan tubuh bayangan itu amat cepat sekali laksana

berkelebatnya bayangan setan.

Hanya didalam sekejap saja dia orang sudah berkelebat

melalui diantara kedua orang itu dan menghadang didepan

mereka sepasang tangannya berkelebat berbareng

menghajar bagian wajah dari kedua orang itu.

Jurus serangannya ini amat aneh sekali, belum sempat

orang yang ada didalam rumah melihat jelas gerakan yang

digunakan, sepasang tangan dari Tan Loo Tia sudah

ditekan ke depan sehingga tampaklah bayangan telapak

memenuhi seluruh angkasa membuat mereka tak dapat

menghindarkan diri kembali.

Dua buah jeritan ngeri segera memecahkan kesunyian

disusul mundurnya mereka berdua dengan sempoyongan.

Sebetulnya mereka sudah berhasil keluar dari rumah

sejauh dari sepuluh langkah tetapi saat ini badannya

mundur dengan sempoyongan hingga masuk kedalam

rumah kembali, setelah itu kakinya baru lemas dan rubuh

keatas tanah.

Wajahnya yang membalik keatas segera terlihatlah

sebuah bekas telapak darah yang masih segar bugar.

Telapak tangan itu amat jelas sekali, persis seperti baru

saja dicapkan keatas wajah mereka sehingga membekas

amat dalam sekali.

Ong Cong-koan serta gadis itu sewaktu melihat kejadian

ini pada berdiri melongo, apalagi Ong Congkoan, ketika

melihat bekas telapak berdarah yang membekas di wajah

mereka berdua seketika itu juga dalam hatinya sudah

teringat dengan seseorang, tak tertahan lagi seluruh

tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya seperti baru saja

direndamdidalam air dingin.

Dan pada detik2 itu pula Tan Loo Tia sudah berkelebat

kedalam rumah, tubuhnya dengan amat cepatnya kembali

berkelebat didalam ruangan tersebut membinasakan

keempat lelaki kasar lainnya yang masih tersisa.

Didalam sekejap mata empat orang itupun tubuh tanpa

mengeluarkan sedikit suarapun.

Suasana menjadi amat sunyi sekali… sunyi sehingga tak

terdengar suara gemerisik sedikit pun juga, tetapi sebentar

kemudian sudah dipecahkan dengan menggerusnya suara

yang keras kiranya saking takutnya seluruh tubuh dari Ong

Cong-koan sudah gemetar dengan amat kerasnya sehingga

giginya pada beradu dan mengeluarkan suara nyaring.

Sebaliknya wajah dari gadis muda itu walau pun amat

pucat pasi tetapi air mukanya masih tetap terlintas hawa

amarahnya yang bercampur rasa kaget, perubahan

wajahnya jauh berbeda dengan air muka Ong Congkoan

yang sudah berubah menjadi abu2 itu.

Tujuh-delapan ekor mayat anjing serta delapan sosok

mayat manusia menggeletak diatas tanah dengan amat

mengerikan, dibawah sorotan sinar obor kelihatan sangat

menyeramkan sekali.

Ketiga orang itu dengan berdiri pada arah yang

berlawanan berdiri tak bergerak sedikitpun juga, lama sekali

baru terdengar Ong Congkoan berkata dengan suara yang

ter putus2: “Tan Loo Tia, kau… kau…” Saking takutnya dia

tidak sanggup meneruskan kembali kata2 selanjutnya.

Tan Loo Tia yang ada dihadapan mereka sekarang ini

bukanlah Tan Loo Tia yang badannya bungkuk dengan

pandangan yang sayu.

Tampak tubuhnya berdiri tegak dengan angkernya,

sepertinya didalam sekejap mata itulah tubuhnya sudah

bertambah tinggi separuh kepala lebih, sedangkan sepasang

matanya memancarkan sinar yang amat dingin sekali

memandang tajam mereka berdua.

Terdengar dia tertawa dingin tak henti2nya membuat

seluruh tubuh Ong Cong-koan gemetar semakin keras,

mendadak dia jatuhkan diri berlutut sambil me-rengek2:

“Kau ampunilah diriku… kau… kau ampunilah jiwaku.”

“Tidak dapat!” sahut Tan Loo Tia dengan nyaring

bahkan amat singkat sekali.

Ong Cong-koan menjadi tertegun, dengan perlahan dia

angkat kepalanya.

Tetapi pada saat dia angkat kepalanya itulah tangan

kanan dari Tan Loo Tia mendadak sudah di ulur kedepan

menekan ke atas wajahnya !

Sewaktu telapak tangan Tan Loo Tia ditarik kebelakang

itulah terdengar gadis muda itu menjerit kaget dan

menghembuskan napas dingin. Tampak wajah dari Ong

Cong-koan sudah di seset hingga kulitnya hilang semua,

sedangkan sebuah bekas telapak tangan yang penuh dengan

darah sudah membekas diatasnya.

Tetapi nyawanya masih belum melayang, tampak

tubuhnya sedikit bergerak lalu bangkit berdiri, teriaknya

dengan suara serak:

“Nona, ce… cepat… cepat beritakan kepada Poocu,

Hiat…”

Baru sempat dia mengucapkan kata2 “Hiat” tubuhnya

mendadak rubuh keatas tanah tidak berkutik kembali!

Terdengar Tan Loo Tia memperdengarkan suara tertawa

dinginnya yang amat menyeramkan, kepalanya digelengkan

lalu berseru dengan nada yang amat mengerikan.

“Hee… heee… tidak akan ada orang yang bisa

memberitahukan urusan ini kepada Poocu…”

Mendadak dia angkat kepalanya lalu beralih keatas

wajah sang gadis muda itu.

Tanpa terasa lagi gadis itu mengundurkan diri satu

langkah kebelakang.

Tan Loo Tia segera memperlihatkan sebaris giginya yang

putih menyeramkan.

“Tidak akan ada orang yang bisa beritahukan urusan ini

kepada Pocu kalian” ujarnya kembali dengan seram,

“Nona… kaupun tidak bisa hidup lagi karena kau terlalu

cerdik, selama puluhan tahun ini cuma kau seorang saja

tahu kalau dibawah gudang tersebut masih ada jalan rahasia

yang lain !”

Sembari berkata tubuhnya dengan perlahan mendesak

maju kedepan.

Gadis itu sewaktu melihat Tan Loo Tia mendesak

dirinya terus menerus terpaksa mundur kembali kebelakang,

didalam sekejap saja tubuhnya sudah merapat dengan

tembok rumah.

“Heee… heee… sebelum mati aku bisa beritahukan satu

soal kepadamu” Ujar Tan Loo Tia kembali sambil

memperdengarkan suara tertawa anehnya yang amat

mengerikan “Jalan rahasia dibalik gudang tersebut sudah

membuang waktuku selama dua puluh tahun lamanya dan

merupakan jalan yang menembus sampai ditengah-tengah

Benteng Thian It Poo, semua orang dari Benteng mimpipun

tidak akan menyangka akan hal ini, sudah tentu akupun

tidak boleh meninggalkan kehidupan ditempat ini !”

Tubuh gadis itu mulai kelihaian gemetar, bibirnya yang

pucat pasi sedikit bergerak mengucapkan kata2 dengan ter

potong2:

“Kau… kau berani bunuh aku… orang2 dari Benteng

Thian It Poo tentu akan ada yang datang mencari aku !”

“Sudah tentu… sudah tentu!” sahut Tan Loo Tia sambil

tertawa seram. “sudah tentu mereka akan mencari dirimu,

karena kau adalah burung Hong yang turun dan kahyangan

putri kesayangan dari Poo-cu jika mereka tidak tampak kau

muncul kembali kenapa tidak pergi mencarinya ? haahaha .

. tetapi mereka tidak akan menemukan sesuatu dari tempat

sini, menanti mereka tiba disini apapun sudah tidak ada,

bahkan sampai jejak yang mencurigakan akan lenyap tak

berbekas!”

Sehabis berkata tangan dari Tai Loo Tia dengan perlahan

diangkat keatas lalu diayunkan ke depan.

Gadis itu segera memperdengarkan suara jeritan

kagetnya yang amat tajam dan melengking tinggi, cambuk

ditangannya mendadak dikebutkan menjadi setengah

lingkaran lalu dengan dahsyatnya dibabat keatas tubuh Tan

Loo Tia.

Bersamaan waktunya pula tubuhnya membungkuk

kebawah, punggungnya dengan sekuat tenaga menerjang

tembok yang ada dibelakangnya sehingga muncullah

sebuah lubang yang amat besar sekali.

Tubuhnya tanpa membuang tempo lagi sudah

menerobos keluar dan ber-guling2 diatas permukaan salju

untuk cepat2 kabur dari sana.

Gerakan gadis itu boleh dikata amat cepat sekali

bagaikan sambaran kilat, tetapi baru saja dia berhasil

meloncat bangun, tubuh Tai Loo Tia sudah muncul

kembali dihadapannya.

Tangan gadis itu dengan cepat digerakkan kembali,

cambuk panjangnya dengan menimbulkan suara sambaran

yang amat keras kembali membabat kedepan.

Tetapi sayang sekali walaupun serangannya amat

dahsyat tetapi lima jari dari Tan Loo Tia yang

mencengkeram pergelangan tangannya jauh lebih gesit dan

kuat lagi bahkan tenaga tarikannya bagaikan tarikan dua

puluh ekor kuda.

Sang gadis yang meiihat ujung cambuknya terkena

pegang oleh pihak lawan, menjadi sangat bingung sekali,

bila mana dengan cepat dia melepaskan cambuknya

kemungkinan sekali masih tidak mengapa, siapa tahu

justeru cambuk itu terbuat dari kulit seekor ular raksasa

yang amat kuat dan bagus sekali, apalagi benda itupun

sudah digembolnya sejak kecil, untuk mana dia merasa

amat sayang sekali untuk melepaskannya kembali.

Pada saat dia merasa ragu2 itulah tenaga tarikan dari

Tan Loo Tia yang amat dahsyat sudah menerjang datang

membuat tubuh gadis itu tertarik maju beberapa langkah

kedepan, dan jatuh tertelungkup keatas tanah.

Gadis tersebut segera merasakan keadaannya sangat

berbahaya, dengan cepat tangannya mengendor melepaskan

cekatan pada cambuknya dan mundur kebelakang tetapi

waktu sudah terlambat pundaknya terasa mengencang

tangan dari Tan Loo Tia sudah berhasil mencengkeram

dirinya.

Tan Loo Tia yang sudah berhasil mencengkeram pundak

dari gadis muda itu tangan yang sebelah tidak henti2nya digoyang2kan

didepan wajah sang gadis sambil

memperdengarkan suara tertawanya yang amat

menyeramkan.

Dengan cepat gadis muda itu angkat kepalanya keatas,

bunga salju selapis demi selapis jatuh berhamburan diatas

wajahnya yang pucat pasi bagaikan mayat, sepasang

matanya terbelalak lebar2-Walaupun air mukanya sudah

diliputi oleh perasaan ngeri serta ketakutan yang luar biasa

tetapi bibirnya tetap tertutup rapat2 tanpa mengucapkan

sepatah katapun.

Lima jari tangan kanan dari Tan Loo Tia yang

terpentang lebar2 sejengkal demi sejengkal semakin

mendekati wajah gadis itu, kelihatannya sebentar lagi diatas

wajah sang gadis yang amat cantik itu sudah akan

bertambah dengan sebuah cap telapak tangan berdarah yang

amat mengerikan.

Pada saat itulah gadis muda itu merasakan hidungnya

tercium bau amis darah yang amat memuakkan sekali,

telapak tangan dan Tan Loo Tia yang ada dihadapannya

kini sudah berobah memerah laksana darah, keadaannya

mirip dengan sebuah telapak tangan yang baru saja

direndam didalam darah segar, benar2 amat menyeramkan

sekali !

Walaupun sifat gadis itu ketus dan keras kepala tetapi

pada saat yang amat kritis dan menyangkut mati hidup

dirinya tidak urung hatinya dibuat ber debar2 juga,

napasnya ngos2an tidak teratur sedangkan sepasang

matanya dengan tajam memperhatikan telapak tangan yang

sudah ada kurang lebih tiga-empat coen dihadapannya.

Mendadak dengan menggunakan suara yang amat

gemetar ujarnya:

“Kau… kau… kau bukan Tan Loo Tia !”.

“Haaa… haaa… haaa… sudah tentu aku bukan Tan Loo

Tia ! haaa… haa…” seru Tan Loo Tia sambil

memperdengarkan suara tertawa panjangnya yang amat

aneh sekali.

“Kau… kau… kau adalah “Hiat Ciang” atau sitelapak

berdarah, Tong Hauw ln.” Teriak gadis itu kembali sambil

menelan ludah. “Kau!ah si iblis tukang pembunuh si telapak

berdarah, Tong Hauw!”

“Heee… heee… sungguh hebat, sungguh hebat!” Seru Tan

Loo Tia sambil memperdengarkan suara tertawanya yang

amat aneh, “Aku orang sudah ada dua puluh tahun

lamanya tidak pernah munculkan diri didalam dunia

persilatan orang yang berusia seperti kau ternyata

mengetahui juga namaku, sungguh hebat!”

Napas dari gadis itu semakin memburu, dadanya terasa

sesak. kepalanya terasa pening… tetapi dia orang tetap

berusaha untuk mempertahankan ketenangannya bahkan

tidak henti2nya memperdengarkan suara tertawa dingin

yang tidak kalah ketusnya.

“Hmm! bagaimana aku bisa mengetahui nama mu ? Di

dalam Benteng masih ada seorang yang sering mengungkit

dan menyebut namamu si telapak berdarah Tong Hauw,

aku tahu akan hal ini dari ayahku.”

Tan Loo Tia… si telapak berdarah, Tong Hauw segera

mendengus dengan amat dinginnya.

“Orang2 Benteng Thian It Poo sering menyebut

namaku?” Teriaknya keras, “Kecuali Sie Liong si bajingan

tua itu ada siapa lagi yang sering menyebut namaku ?”

“Kau berani memaki ayahku ?” bentak gadis itu dengan

amat gusarnya.

Tong Hauw segera tertawa terbahak2 dengan amat

kerasnya, agaknya dia merasa sangat gembira sekali, berturut2

teriaknya dengan keras:

“Sie Liong bajingan tua.. Sie Liong bajingan tua !”

Mendengar suara makian dari Tong Hauw ini sang gadis

muda itu demikian gusar lagi sehingga akhirnya mencapai

puncaknya, pundaknya kena cengkeram oleh Tong Hauw

membuat sepasang tangannya sama sekali tidak

mempunyai tenaga, sehingga tidak dapat lagi digunakan

untuk menghajar tubuh orang itu, tetapi sambil menggigit

kencang bibirnya mendadak dia orang melancarkan satu

tendangan kilat menghajar tubuh Tong Hauw.

Tong Hauw sama sekali tidak bisa menghindarkan

dirinya “Braak !” dengan disertai suara yang amat nyaring

tendangan kilat gadis itu dengan amat cepatnya berhasil

menghajar kaki dari Tong Hauw.

Tong Hauw segera tertawa panjang… sebaliknya gadis

itu segera merasakan kakinya amat sakit sekali !

Saking sakitnya tidak kuasa lagi gadis muda itu

meneteskan air matanya, tetapi dia orang tetap menggigit

kencang bibirnya sehingga tidak mengeluarkan sedikit suara

mengaduh atau rintihan pun.

Si telapak berdarah Tong Hauw segera tertawa keras.

“He he he tidak kusangka Sie Liong itu bajingan tua yang

tidak berguna seperti gentong nasi bisa mempunyai seorang

anak perempuan yang demikian keras kepalanya.”

“Kau!ah yang tidak berguna seperti gentong nasi” balas

teriak gadis itu dengan khekinya sehingga seluruh tubuhnya

gemetar amat keras “Jikalau kau orang berguna kenapa

harus menyembunyikan nama aslimu secara rahasia bahkan

berdiam disini selama dua puluh tahun lamanya ?”

Air muka si telapak berdarah, Tong Hauw didalam

sekejap mata itulah sudah berubah sangat hebat, untuk

beberapa saat lamanya dia tidak mengucapkan sepatah

katapun.

Pada saat yang bersamaan pula telapak tangan yang ada

didepan wajah gadis muda itu dengan tidak henti2nya

bergoyang sehingga tercium bau amis darah yang sangat

memuakkan.

Gadis itu merasa hatinya semakin ber-debar2 dengan

amat kerasnya hingga hampir2 melompat keluar dari

tubuhnya, tetapi selama ini dia tetap tutup mulutnya tidak

mengeluh.

Lama sekali baru terdengar telapak berdarah Tong Houw

tertawa dingin.

“Benar selama dua puluh tahun lamanya aku

menyembunyikan nama dan berdiam disini, tetapi Sie

Liong itu bajingan tua apakah pernah melangkah keluar

satu langkahpun dari Benteng Thian It Poonya selama dua

puluh tahun ini?” serunya amat dingin.

“Hmmm” dengus gadis itu sambil kerutkan alisnya

rapat2 “Ayahku sedang melatih ilmu silatnya didalam

Benteng, bagaimana dia orang tua bisa dibandingkan

dengan kau manusia yang tidak keruan, manusia pengecut

cucu kura2 !”

Si telapak berdarah Tong Hauw segera tertawa dingin tak

henti2nya, setiap kali dia memperdengarkan suara tertawa

dinginnya yang amat keras, tubuh gadis itupun tergetar

dengan hebat.

“Heee… heee jikalau orang yang setiap kali menyebut

namaku bukan itu bajingan tua Sie Liong lalu siapa lagi ?”

ujarnya kasar

“Kenapa aku harus memberitahukan kepadamu ?” balas

teriak gadis itu sambil tertawa dingin pula, agaknya secara

mendadak dia teringat akan sesuatu urusan.

Telapak tangan dari si telapak berdarah Tong Hauw

semakin mendekati wajahnya lagi sehingga tinggal beberapa

coen saja.

“Ayoh bilang, siapa ?” bentaknya.

“Hmmm ! justru aku tidak akan berbicara !” teriak gadis

itu ketus sambil pejamkan matanya rapat2.

Tong Hauw benar2 tidak bisa bersabar lebih lama lagi,

disertai dengan suara dengusan yang amat dingin telapak

tangannya ditekan keatas wajah gadis tersebut.

Mendadak…

Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara

ringkikan kuda yang amat panjang sekali.

Suara ringkikan kuda itu kedengarannya sudah tidak

jauh dari rumah gubuk tersebut, Tong Hauw menjadi

melengak dibuatnya, telapak tangannya yang sudah mau

ditekankan keatas wajah gadis itupun mendadak ditarik

kembali, jari tangannya dengan cepat menotok jalan darah

“Ciao Cing Hiat” pada tubuh sang gadis lalu menyeretnya

kembali kedalam rumah dan diletakkan diatas dipan kayu.

Cepat2 dia mengambil sebuah selimut dan menyelimuti

seluruh tubuh gadis itu rapat2 sedang kan dirinya duduk

disampingnya.

“Eeeei… kalian berdua jangan bergerak dahulu, ada

orang datang !” serunya kemudian ke arah gudang dibawah

tanah itu.

Tetapi dari dalam gudang dibawah tanah tersebut sama

sekali tidak terdengar sedikit suara pun.

Si telapak berdarah Tong Hauw segera mengerutkan

alisnya rapat2, ujarnya lagi:

“Heeei kalian dengar suaraku tidak ?” Kali ini suara

bentakannya amat keras sekali, tetapi dari dalam gudang

dibawah tanah itu sama sekali tidak terdengar suara

sahutan.

Tong Hauw tidak bisa menahan sabar lagi, tubuhnya

dengan cepat berkelebat melayang turun kedalam gudang

tersebut.

Tetapi pada saat yang bersamaan pula terdengar suara

ringkikan kuda yang amat keras di susul menyambarnya

desiran angin keras menggulung kedalam rumah itu, saking

dahsyatnya desiran angin itu membuat kedua buah rumah

gubuk itu hampir2 terangkat dari tempatnya.

Sitelapak berdarah Tong Hauw yang ada di dalam

gudang dibawah tanah untuk sesaat lamanya tidak

mengetahui siapa yang telah datang, dengan ter-buru2 dia

bungkukkan badannya lalu memperdengarkan suara

batukan yang keras.

Belum habis dia berbatuk terdengar dari tempat atas

bergema datang suara bentakan yang amat keras: “Siapa ?”

“Aaa… aku… aku siorang tua she Tan !” jawab Tong

Hauw dengan suara yang amat serak. sembari berkata

sepasang tangannya memegang kepalanya, tubuhnya

berjongkok dan gemetar dengan amat kerasnya

Suara langkah manusia segera bergema diatas nya dan

berhenti disamping gudang dibawah tanah itu.

“Tan Loo Tia, kau ? apa yang sudah terjadi di sini ?”

ujarnya.

Si telapak berdarah Tong Hauw diam2 melirik sekejap

keatas, terlihatlah seorang lelaki kasar berdiri di tepi mulut

gudang itu.

Didalam sekali pandang saja dia sudah mengenal

kembali kalau orang itu adalah murid pertama dari Thian It

Poocu, Sie Liong.

“Aaa … aku … aku juga tidak tahu” sahutnya dengan

suara gemetar, “Semula datang seorang lelaki dan seorang

perempuan lalu datang juga banyak orang-yang saling

serang menyerang aaa … aku … aku ketakutan dan terpaksa

bersem… bersembunyi disini, aku benar2 tidak tahu, Thio

Thay-ya… aku sama sekali tidak tahu !”

“Ehmm … kau naiklah !” perintah lelaki berusia

pertengahan itu. Dengan per-lahan2 Tong Hauw memanjat

naik keatas permukaan tanah, baru saja tubuhnya mencapai

separuh jalan mendadak tubuhnya berdiri tegak kembali

sedangkan telapak tangannya dengan kecepatan bagaikan

kilat mengirim satu pukulan dahsyat kedepan.

Pukulan telapak tersebut dengan amat cepatnya

menghajar lambung dari lelaki berusia pertengahan itu.

Pada wajah lelaki berusia pertengahan itu segera

memperlihatkan perasaannya yang amat terkejut, setelah

memandang kearah Tong Hauw selama beberapa saat

lamanya dia menghembuskan napas panjang dan rubuh

terlentang keatas tanah.

Si telapak berdarah Tong Hauw yang didalam satu kali

pukulan saja sudah berhasil membinasakan seseorang, tidak

terasa lagi dia orang memperdengarkan suara tertawa

dinginnya yang menyeramkan.

Tetapi pada saat dia tertawa dingin itulah mendadak dari

pintu luar berkumandang pula dua buah suara tertawa

dingin yang tidak kalah seramnya.

Suara tertawa dingin itu kedengaran amat aneh sekali. Si

telapak tangan berdarah Tong Hauw yang merupakan

seorang berkepandaian tinggi setelah mendengar suara itu

tidak terasa lagi sudah bersiul beberapa kali.

Dia orang sama sekali tidak menyangka orang yang baru

saja datang bukan cuma lelaki berusia pertengahan itu saja,

jikalau sejak tadi dia tahu kalau orang yang datang bukan

dia seorang saja sudah tentu dirinya tidak akan turun

tangan membinasakan dirinya.

Saat ini dengan cepat dia dongakkan kepalanya

terlihatlah didepan pintunya sudah berdiri seorang lelaki

dan seorang perempuan.

Yang lelaki mempunyai perawakan yang amat pendek

sekali sehingga kelihatan amat aneh, wajahnya beringas

kejam tetapi pakaian yang dikenakannya amat perlente

sekali, jubahnya yang berwarna putih tampak bersulamkan

beratus2 ekor kelabang dalam gaya yang sama sekali

berbeda dan mengeluarkan sinar yang amat menyilaukan

mata.

Sedangkan perempuan itu mempunyai perawakan yang

amat tinggi bahkan tinggi badan lelaki itu tidak lebih cuma

ada sepinggangnya saja.

Perempuan itu mempunyai wajah seperti kuda, pucat

pasi sedikitpun tidak kelihatan adanya darah sehingga

keadaannya amat menyeramkan sekali, ditengah sepasang

mata yang bulat besar memancar keluar sinar yang

membuat hati orang serasa bergidik, rambutnya awut2an

tidak keruan keadaannya didalam sepuluh bagian ada

sembilan bagian mirip dengan setan gentayangan atau

hantu liar !

Begitu melihat munculnya kedua orang itu tidak terasa

lagi sitelapak berdarah Toog Hauw menghembuskan napas

dingin, hatinya terasa berdesir…

“Hey lelaki busuk kau sudah melihat belum?” Seru

perempuan itu sedikit menggerakkan bibirnya, “lnilah yang

dinamakan Thian membantu manusia yang sedang

kesulitan !”

“Benar !” sahut lelaki itu dengan suara yang amat kasar

dan parau sekali, “Hey Nio cu ! Telapak darah dari Tong

Loo toa sudah mendapatkan kemajuan yang amat pesat

sekali jika dibandingkan sewaktu dia orang membinasakan

anak kita !”

“Eeei lelaki busuk perkataanmu sedikitpun tidak salah.”

ujar perempuan itu lagi. “jikalau anak kita tidak binasa

dibawah pukulan telapak berdarahnya, tahun ini mungkin

sudah kawin, kau pun seharusnya sudah membopong

cucu!”

“Heee… heee… heee… Nio-cu, perkataanmu sedikitpun

tidak salah !”

Sitelapak berdarah Tong Hauw yang mendengar mereka

tidak henti2nya berbicara, dalam hatinya merasakan sedikit

tidak sabaran, dia orang segera tertawa keras.

“Heee… hee heee… sungguh tidak kusangka ditempat

yang demikian dingin dan tandusnya ternyata bisa bertemu

dengan Li Sincun serta Loei Sian Hoo suami istri !”

Sekali lagi lelaki serta perempuan ini memperdengarkan

suara tertawa yang amat menyeramkan.

“Hey Tong Loo-toa !” ujar mereka berbareng, “lnilah

yang dinamakan Thian membantu orang yang berada

didalam kesulitan, kita sudah ada dua puluh tahun lamanya

mencari dirimu, selama dua puluh tahun ini tempat

manapun sudah kita kunjungi, pada tiga empat tahun

dekat2 ini aku dengar orang bilang katanya sejak dulu kau

orang sudah menyingkir keluar perbatasan karena kita terus

menerus berputar2 diluar perbatasan. Heee… heee… jikalau

bukannya pukulanmu tadi, hampir2 kitapun tidak berani

mengenal dirimu kembali”

“Baik… baik… bagus… bagus sekali !” seru Si telapak

berdarah Tong Hauw dengan suara yang berat. “Kalian kini

sudah mendapatkan aku orang, sudah tentu hutang2

lamapun hendak kalian tagih semua bukan ?”

“Sudah tentu !” sahut perempuan itu dengan suara keras.

Tong Hauw menarik napas panjang2,sebentar kemudian

dia baru berkata kembali:

“Tetapi aku ada satu permintaan yang tidak sesuai, harap

kalian mau meluluskan.”

“Hiii… hi… hiii… coba kau katakan, bagai manapun kita

sudah ada dua puluh tahun lamanya menantikan dirimu !”

Sahut perempuan itu sambil tertawa seram.

“Aku orang she Tong masih ada sedikit urusan ditempat

ini.” ujar si telapak berdarah Tong Hauw sepatah demi

sepatah. “Tetapi urusan ini sudah hampir mendekati

keberhasilan, dua bulan kemudian aku akan menyerahkan

diri di istana Teh Hoo Kong, kalian berdua kira

bagaimana?”

Si lelaki maupun perempuan yang mendengar perkataan

ini mendadak tertawa menjerit dengan sangat seramnya

sehingga membuat orang yang mendengar merasakan

seluruh bulu kuduknya pada berdiri.

“Istana Teh Hoo Kong apa masih ada ?”

“Apa arti dari perkataanmu ini ?” tanya Tong Hauw

tertegun.

Mereka berdua tertawa seram tak henti2nya, suara

tertawanya terasa amat mengerikan sekali ditengah malam

buta yang amat sepi,

Terdengar lelaki itu berteriak dengan suara yang amat

dingin:

“Istana Teh Hoo Kong sejak lama sudah tidak ada lagi,

istana Teh Hoo Kong yang amat mewah dan sangat

berharga bahkan menjagoi seluruh Bu-lim sudah terbakar

ludas oleh kami !”

Tidak tertahan lagi tubuh Tong Hauw mundur satu

langkah ke belakang.

“Kenapa ?” tanyanya terperanjat.

Suara dari lelaki itu semakin lama semakin meninggi

semakin lama semakin melengking.

“sewaktu api berkobar dengan hebatnya membakar

istana Teh Hoo Kong, kami suami isteri berdua di hadapan

api yang berkobar sudah mengangkat sumpah untuk

menangkap kembali musuh besar kami, setelah itu

menghancurkan badan serta tulang2nya untuk dicampur

dengan kapur sebagai bahan untuk mengapuri istana Teh

Hoo Kong di kemudian hari !”

Tong Hauw yang mendengar perkataan mereka semakin

lama merasakan hatinya semakin terperanjat, sang lelaki

serta perempuan dua orang ini merupakan jagoan lihay dari

kalangan Hek-to, diatas gunung Mong-san didaerah Biauw

Ciang mereka mempunyai sebuah istana Teh Hoo Kong

yang amat mewah dan mentereng sekali, semua orang Bu

lim menganggapnya merupakan sebuah istana yang paling

mewah, paling mentereng, jika mengangkat majikan dari

istana Teh Hoo Kong ini si Kiem Uh sincun atau malaikat

kelabang emas Li Siauw serta Hek Hong Sian Hoo atau

Bidadari angin hitamChan Si, siapapun mengenalnya.

Pada tempo hari si telapak berdarah Tong Hauw pernah

bertempur dengan seseorang didekat tembok besar, saat itu

ada seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh

tahunan tetapi sikapnya sangat congkak sedangkan

perkataannya atos dan kasar sekali, waktu itu Tong Hauw

tidak tahu siapakah dia orang sehingga terjadi pertempuran

yang amat sengit, kepandaian silat dari pemuda itu ternyata

biasa saja tidak sampai tiga juga jurus dia sudah menemui

ajalnya dibawah telapak berdarahnya.

Setelah Tong Hauw membinasakan pemuda itu dia baru

tahu kalau pemuda tersebut ternyata adalah satu2nya putra

dari majikan istana Teh Hoo Kong didaerah Biauw ciang,

itu si malaikat kelabang emas serta Bidadari angin hitam !

Bencana ini sudah tentu tidak kecil resikonya tetapi

dikarenakan bersamaan waktunya Tong Hauw menemui

pula suatu urusan pribadi yang jauh lebih penting memaksa

dia orang harus menyingkirkan diri jauh2 dari Tionggoan.

Diluar perbatasan itulah dia orang menyamar sebagai

“Tan Loo Tia” dan berdiam dengan tenangnya, oleh karena

itu terhadap urusan ini hampir2 dirinya sudah

melupakannya.

Tetapi… justru ditengah malam salju yang amat

merepotkan sepasang musuhnya munculkan diri disana

bahkan sewaktu mereka munculkan diri Tong Hauw pun

sedang melancarkan pukulan telapak berdarahnya

membinasakan seseorang membuat dia orang untuk

mungkirpun tidak sempat lagi.

Saat ini Tong Hauw benar2 merasakan hatinya amat

cemas sekali, jikalau dia diharuskan bergebrak dengan

kedua orang yang ada dihadapannya ini, kalau cuma satu

melawan satu kemungkinan sekali dengan paksakan diri

masih bisa seimbang tetapi bilamana dia orang diharuskan

satu melawan dua, kiranya sulit buat dirinya untuk

mmemperoleh kemenangan !!

Jika dilihat situasi yang ada dihadapinya saat ini sudah

tentu jalan yang paling selamat buat dirinya adalah merat

dari sana, asalkan dia berhasil melarikan diri kedalam

sebuah hutan lebat sepuluh li dari tempat ini mereka berdua

jangan harap bisa menemui dirinya lagi, tapi.. justeru

pekerjaan ini tidak mudah untuk dilakukan olehnya!

Tetapi selama dua puluh tahun lamanya ditempat ini dia

merahasiakan nama serta asal usulnya bahkan bersusah

payah berusaha, sudah kini pekerjaannya sudah hampir

mencapai hasil jikalau menyuruh dia orang pergi dari situ,

sebenarnya dia orang merasa sayang sekali dan tidak tega

untuk meninggalkan susah payahnya yang dilakukan

selama dua puluh tahun lamanya ini.

Oleh karena itu sambil memperlihatkan tertawa

seramnya didalam hati dia terus menerus memikirkan

langkah2 selanjutnya.

Terdengar si bidadari angin hitam, Chan Sie

memperdengarkan suara tertawanya jang amat tidak enak

didengar, tetapi dari suara tertawanya ini jelas sekali

menunjukkan kegirangan hatinya yang me-luap2, mereka

selama dua puluh tahun lamanya sudah mengunjungi

semua tempat untuk mencari pembunuh putranya, tidak

disangka secara tiba2 bisa menemui dirinya muncul

ditempat itu sudah tentu rasa girangnya saat itu sukar sekali

untuk dilukiskan.

Sembari tertawa keras, tangan kanannya dengan perlahan2

diayunkan keatas.

Dia orang yang mempunyai perawakan tinggi kurus

sepasang tangannyapun kurus sekali hingga mirip sekali

dengan cakar burung yang berwarna hitam pekat,

keadaannya sangat jelek dan mengerikan sekali.Melihat dia

orang sudah ber-siap2 untuk turun tangan, dengan cepat

Tong Hauw berteriak:

“Tahan dulu !”

“Heee… hee… kau orang ada perkataan apa lagi?” teriak

Chan Sie sambil tertawa seram.

Si telapak berdarah Tong Hauw tahu kalau urusan ini

tidak mungkin bisa dicegah lagi, tetapi dia pun tidak ingin

untuk bungkam terus.

“Ditempat ini aku ada satu urusan yang amat penting

sekali”, ujarnya dengan cepat. “Malam ini atau besok

kemungkinan sekali sudah bisa beres, bagaimana kalau

kalian berdua untuk sementara waktu meninggalkan tempat

ini terlebih dulu untuk kemudian bertemu kembali pada

esok malam di tempat ini juga ?”.

Chan Sie maupun Lie Siauw yang mendengar

perkataannya itu segera tertawa terbahak2, suara tertawa

mereka amat keras sekali ditambah pula tenaga dalam

mereka berdua sudah mencapai pada taraf kesempurnaan

membuat suara tertawa itu dengan dahsyatnya mengalun

sampai ditempat yang amat jauh sekali.

Walaupun suara tertawa mereka berdua amat keras

sekali sehingga serasa menusuk telinga, tetapi saat ini secara

samar2 bisa mendengar juga kalau dari pihak benteng Thian

It Poo pun berkumandang datang suara yang berisik.

Tong Hauw merasakan hatinya semakin berat, terdengar

Chan Sie sambil tertawa sudah berbicara kembali:

“Ooouw… kau orang masih ada urusan penting yang

belum diselesaikan ? hee… hee… kalau begitu sebelum

kematianmu dalam hati kau orang tentunya sangat

menderita bukan ?”

Air muka Tong Hauw segera berubah hebat, jelas sekali

perkataan dan Chan Sie sudah menusuk kedalam hatinya

membuat dia orang merasa sangat menderita dan sedih

sekali.

Baru saja perkataan Chan Sie selesai diucapkan Li Siauw

sudah melanjutkan kembali:

“Hee… hee… urusan itu benar2 sangat bagus sekali, aku

orang memang sangat mengharap demikian !”

Perkataannya begitu selesai diucapkan tubuhnya yang

pendek gemuk itu mendadak melancarkan satu pukulan

dahsyat kedepan disusul tubuhnya meloncat keatas

meluncur ke tengah ruangan, seketika itu juga seluruh

ruangan penuh diliputi oleh bau amis yang memuakkan.

Si telapak berdarah Tong Hauw yang melihat tubuh

pihak lawan sudah meloncat dan menubruk kearahnya,

dengan cepat badannya menyingkir kesamping.

“Sreeet !” Tubuhnya persis berada disamping lubang

dimana gadis tadi menerjang keluar, dengan cepat ia

mencelat kedepan.

Sedangkan Lie Siauw begitu tubuhnya menubruk masuk

kedalam ruangan sepasang telapak tangannya ber-turut2

melancarkan dua pukulan dahsyat menghajar kearahnya

Kekuatan dari kedua pukulan tersebut benar2 amat

dahsyat sekali, terasa dua gulung angin pukulan laksana

menggulungnya ombak besar ditengah samudra seketika itu

juga membuat seluruh tangan dipenuhi oleh hawa murni

yang membuat rumah gubuk itu tidak kuat untuk menahan

tekanan tersebut dan ambruk kebawah.

Sewaktu sepasang telapak dari Li Siauw melancarkan

serangan tadi, Chan Sie pun sudah maju satu langkah ke

depan melancarkan serangan dahsyat.

Saat itulah seluruh ruangan ambruk kebawah, baik atap

maupun tumpukan salju seketika itu juga menindihi badan

mereka berdua.

Tong Hauw ang baru saja menerobos keluar dari lubang

di samping rumah tersebut diwaktu mendengar dari

belakang tubuhnya bergema suara ambrukan yang amat

keras dengan cepat kepalanya di toleh ke belakang.

Ketika dilihatnya rumah itu ambruk tidak karuan hatinya

menjadi sangat girang sekali, dengan kecepatan yang luar

biasa tubuhnya berlari menuju keluar, hanya didalam

sekejap saja dia sudah ada di tempat sejauh dua tiga kaki

dari tempat semula.

Mendadak tubuhnya melayang tanpa menempel

permukaan tanah, sekali lagi tubuhnya berkelebat tujuh

enam kaki lebih, lalu merendah ke bawah.

Bila orang yang telah berdiam di tempat itu sangat lama

terhadap keadaan di sekeliling tempat itu sudah amat hapal

sekali, tubuhnya yang tiba2 merendah kebawah segera

bergelinding masuk kedalam sebuah liang kecil, seketika itu

juga tubuhnya berbaring didalam liang tersebut dengan

diatas badannya tertutup oleh salju yang amat tebal, orang

yang ada diatas permukaan jangan harap bisa melihat jelas

dirinya.

Pada saat itulah terdengar Li Siauw serta Chan Sie

masing2 memperdengarkan suara teriakan yang amat aneh,

tubuhnya dengan cepat muncul dari antara ambrukan

rumah gubuk dan meloncat kedepan.

Mereka berdua sesudah munculkan dirinya tidak terasa

lagi pada mengalihkan pandangannya kearah telapak kaki

yang ada diatas tanah lalu mengejarnya kedepan!

Tetapi baru saja mengejar sejauh tiga kaki mendadak

bekas telapak kaki yang membekas diatas permukaan tanah

telah lenyap tak berbekas, walaupun saat itu salju melayang

turun dengan lebatnya tetapi bilamana diatas tanah ada

bekas telapak kaki tentunya tidak sebegitu cepat tertutup

lenyap.

Sudah tentu dengan kepandaian silat yang dimiliki Tong

Hauw untuk berjalan diatas permukaan salju tanpa

meninggalkan bekas kaki bukanlah merupakan suatu

urusan yang sulit tetapi kenapa permulaannya ada bekas

kaki yang tertinggal…

Chan Sie tertegun sebentar kemudian sadar kembali,

teriaknya dengan keras:

“Heei lelaki busuk, dia sudah merat, cepat kita pergi

mengejar.”

Dengan cepat Li Siauw angkat kepalanya memandang

kedepan, salju turun semakin deras membuat pandangan

didepannya cuma kelihatan salju nan putih memenuhi

seluruh permukaan, benda yang ada didua, tiga kaki

jauhnya masih bisa terlihat dengan amat jelas sekali, cuma

saja bayangan Toog Hauwtidak kelihatan sama sekali.

Dia orang yang tidak tahu Tong Hauw merat dengan

mengambil arah sebelah mana dalam hati nya merasa

semakin gusar lagi, tidak terasa lagi dia sudah menjerit

aneh.

Pada saat itulah suara orang serta suara ringkikan kuda

dengan amat cepatnya sudah berkumandang datang…

Suara dari Chan Siepun semakin lama berubah semakin

tidak enak, didengar.

“Hey lelaki busuk ,” teriaknya keras. “Ada orang datang,

jangan sampai membuang waktu sehingga urusan

berantakan !”

“Orang yang baru datang tentunya orang2 dari Benteng

Thian It Poo,” jawab Li Siauw dengan suara yang amat

keras pula, “Lebih baik kita meminta bantuan mereka saja

untuk mencarikan bajingan she Tong itu, aku kira tentunya

mereka mau memberi bantuan kepada kita, jika jumlah

orang yang mencari bertambah banyak sudah tentu

pencariannya semakin mudah.”

“Ehmm… perkataanmu sedikitpun tidak salah !” sahut

dan Sie sambil mengangguk.

Tidak selang lama kemudian tampaklah dua ekor kuda

dengan amat cepatnya berlari mendatang, telapak kuda

menyepak tanah membuat bunga2 salju pada berterbangan

keempat penjuru, hal ini menyebabkan siapa yang duduk

diatas kuda tunggangan itu sukar untuk dilihat lebih jelas.

Tetapi suara teriakan yang digemborkan oleh orang yang

ada diatas kuda amat jelas sekali, suara itu amat berat dan

penuh disertai tenaga dalam yang kuat.

“Soat Ang… Soat Ang… kau ada dimana ?”

Tubuh Li Siauw dengan cepat berkelebat menyambut

datangnya kedua orang tersebut.

Tubuhnya yang menerjang kedepan melalui bunga salju

yang ber lapis2 memenuhi sekeliling kuda tunggangannya

itu membuat kedua orang yang ada diatas kuda tunggangan

tersebut menjadi sangat terkejut sekali, ditengah suara

teriakan yang amat terperanjat dengan cepat mereka

mencoba menahan tali les kudanya.

Dengan sentakan yang secara mendadak ini kedua ekor

kuda ini segera meringkik panjang lalu mengangkat kakinya

yang depan keatas, ke dua orang yang ada diatas

tunggangannya dengan cepat meloncat keatas

meninggalkan kudanya masing2, satu dari kiri yang lain

dari kanan dengan kecepatan yang luar biasa berkelebat

kesamping badan Li Siauw dan berdiri tidak bergerak.

“Kau orang siapa ??” Bentaknya dengan suara yang amat

gusar.

Ditengah suara bentakan mereka yang amat keras itulah

tubuh Chan Sie bagaikan segulung asap dengan amat

ringannya sudah berkelebat kesamping badan suaminya,

sedang ditempat yang lain segera terlihatlah berpuluh2

orang lelaki kasar dengan cepatnya sudah menyusul

mendatang.

Tadi dikarenakan Lie Siauw berdiri seorang diri maka

semua orang sama sekali tidak mengenal siapakah orang

itu, tetapi dengan munculnya si bidadari angin hitam Chan

Sie yang berdiri disamping suaminya sehingga kelihatan

satu tinggi satu pendek maka semua orang segera mengenal

kembali siapakah sepasang suami isteri ini, kedua orang itu

tidak terasa lagi sudah mundur setengah langkah

kebelakang.

“Aaah… majikan istana Teh Hoo Cong !!!” Seru mereka

berdua secara berbareng.

“Benar !!!” Sahut Lie Siauw sambil mengangguk. “Kalian

berdua tentunya orang dari Benteng Thian It Poo bukan ?”

“Benar kami saudara berdua she Tang..” sahut mereka

berdua dengan suara yang amat berat.

Tetapi Li Siauw mana merasa sabaran untuk mendengar

nama mereka berdua, dia orang segera memotong

perkataan yang belum selesai itu.

Perbuatannya ini sudah tentu sama sekali tidak menaruh

hormat kepada kedua orang itu, tetapi dia orang yang sudah

terbiasa bersikap sombong ditambah lagi saat ini hatinya

cinta memikirkan cara untuk menangkap kembali musuh

besarnya, karena takut musuhnya melarikan diri semakin

jauh sudah tentu tidak mau mendengarkan omongan

mereka lebih lanjut.

“Tidak usah banyak omong lagi” serunya dengan keras.

“Cepat kalian membantu aku menangkap seseorang !”

Air muka kedua orang itu segera berubah sangat hebat.

“Kita sedang menyebutkan nama kita apakah ini juga

sedang omong kosong!” teriaknya kurang senang.

“Siapa yang mau mengurusi kalian she Tang atau kuah

atau She Swee atau air asalkan kalian bisa mengejar dapat

seseorang tentu ada kegunaan yang amat besar buat kalian

!” sambung sibidadari angin hitam Chan Se dengan cepat.

Kedua orang itu segera tertawa panjang.

“Bilamana kalian berdua mengira kami orang2 Benteng

Thian It Poo bisa disuruh orang dengan seenaknya hal itu

sungguh terlalu lucu sekali ?? kami juga sedang mencari

orang, urusan ini amat penting sekali untuk dilaksanakan

lebih cepat. maaf selamat tinggal!”

Tubuh mereka berdua dengan cepat berkelebat siap naik

kembali keatas kuda tunggangannya masing2.

Tetapi baru saja tubuh mereka sedikit bergerak segera

terdengarlah Chan Sie memperdengarkan suara teriakannya

yang amat keras dan menyeramkan sekali.

Suara teriakan ini tidak perduli siapapun yang

mendengar tentu akan tertegun dibuatnya, mereka

berduapun seketika itu juga dibuat ter-mangu2. Segera

terdengarlah Chan Si memperdengarkan suara tertawanya

yang amat aneh sekali.

“Bilamana kalian menolak permintaanku lagi sehingga

menunda waktu kami untuk mengejar bajingan tersebut,

kami orang pasti akan meratakan Benteng Thian It Poo

dengan tanah !” ancamnya dengan suara yang amat dingin.

Mereka berdua yang mendengar perkataan tersebut

segera tertawa terbahak2.

“Bagus… bagus sekali, silahkan kalian berdua meratakan

Benteng Thian It Poo kami dengan tanah !” sahutnya

berbareng

Sekali lagi Chan Sie menjerit aneh, tangannya dengan

cepat diayunkan kedepan sehingga mengeluarkan suara

sambaran angin yang amat kencang sekali, lima buah

jarinya bagaikan kuku garuda dengan kecepatan yang luar

biasa sudah diayun kedepan mencengkeram dada dari salah

satu lelaki yang ada di sebelah kiri.

Kedua orang itu merupakan jagoan berkepandaian tinggi

yang sangat diandalkan didalam Benteng Thian It Poo dan

merupakan saudara2 angkat dari Sie Liong itu Poocu dari

Thian It Poo, dia orang sebenarnya merupakan orang dari

aliran Tiang Pek Pay yang mengandalkan sebuah golok

tunggal menjagoi seluruh Bu lim sehingga mendapatkan

julukan sebagai “Sin Hauw Siang To” atau sepasang golok

harimau sakti, Tang Hua Tha serta Tang Hua An dua

bersaudara.

Bilamana mereka bukannya mereka memiliki

kepandaian silat amat tinggi dan merupakan seorang jagoan

yang berkepandaian tinggi dari Benteng Thian It Poo,

setelah bertemu dengan Li Siauw serta Chao Sie

sikapnyapun tentu tidak seketus demikian

Diantara mereka berdua sifat Tang Hoa Tha yang paling

berangasan sedangkan Tang Hoa Au sikapnya pendiam

tetapi banyak akal.

Serangan dan Chan Sie tadi dengan cepatnya

mencengkeram kedepan dada Tang Hoa Tha, melihat

datangnya serangan tersebut Tang Hoa Tha menjadi amat

gusar sekali, makinya dengan keras:

“Maknya… kau orang mau ajak berkelahi yaa ?”

Sembari memaki matanya memandang kearah

datangnya serangan tersebut, hanya didalam sekali pandang

saja dia orang segera mengetahui kalau serangan dari pihak

lawannya ini sangat luar biasa, tubuhnya mendadak

mencelat keatas udara lalu berjumpalitan mengundurkan

diri kebelakang.

Mereka berdua bersaudara sejak dahulu sudah malang

melintang beberapa puluh tahun lamanya didaerah

Tionggoan sudah tentu mengetahui juga kelihayan dari

kedua orang dihadapannya didalam sekejap saja dia segera

teringat kembali tugasnya yang diperintahkan oleh Poocu

untuk keluar Benteng mencari dapat putri dari Poocu Sie

Soat Ang, dia tahu dengan munculnya dua orang itu disana

kemungkinan sekali urusan tidaklah begitu mudah.

Apalagi kepandaian silat dari kedua orang itu amat tinggi

dan bukanlah tandingan dari dirinya hal ini harus Poocu

datang sendiri baru bisa menghadapinya, karena itu

sewaktu Chan Sie melancarkan cengkeramannya

mengancam tubuh Tang Hoa Tha, tangannya dengan cepat

digetarkan ke atas melepaskan satu panah tanda bahaya.

Panah tanda bahaya itu begitu meluncur sampai

ditengah udara segera meledak dengan amat kerasnya

disusul melayangnya segumpalan warna biru yang amat

tebal sekali semakin lama melayang semakin keatas.

Ditengah curahnya hujan salju yang amat lebat ditambah

dengan meluncurkan asap berwarna biru yang amat tebal

membuat pemandangan kelihatan sangat menarik sekali.

Sebaliknya Tang Hoa Tha yang berdiri didepan kudanya,

saat ini untuk menghindarkan diri dari cengkeraman Chan

Sie ini tubuhnya mendadak melayang ketengah udara lalu

berjumpalitan dan meloncat kesamping kuda yang lain.

Serangan dari Chan Sie ini amat dahsyat dan dilancarkan

amat cepat sekali, begitu tubuh Tang Hoa Tha meloncat

kesamping tangannya dengan amat kerasnya berhasil

menghajar perut kuda tersebut.

Seketika itu juga tangannya dengan dahsyatnya

menembus kedalam perut kuda itu sampai separuhnya

membuat darah segar memancur keluar dengan amat

derasnya memenuhi seluruh permukaan salju nan putih.

Chan Sie yang melihat serangannya mencapai sasaran

kosong, dia orang menjadi teramat gusar sekali, tangannya

direntangkan kesamping, seketika itu juga seekor kuda yang

amat berat terangkat keatas dengan hebatnya, ditengah

ayunan tangannya yang amat cepat kuda tersebut dengan

dahsyatnya sudah melayang keatas tubuh Tang Hoa Tha.

Perut kuda itu sebenarnya memangnya sudah berlubang

terkena tusukan tangan Chan Sie tadi, kini tubuh tersebut

dilemparkan kearah Tang Hoa Tha membuat isi perut dari

kuda tersebut dengan amat mengerikan sekali pada

berhamburan diatas tanah, bau amis darah yang amat tidak

mengenakkan segera memenuhi seluruh angkasa diikuti

segulung angin sambaran yang amat kuat menggulung

kearah depan.

Tang Hoa Tha yang berhasil menghindarkan diri dari

cengkeraman itu dengan cepat mencabut keluar goloknya,

saat ini sebenarnya dia masih ada kesempatan untuk

mundur kebelakang tetapi dia orang tidak mau

melakukannya karena pertama, dia tidak ingin kuda

kebaikannya mendapatkan serangan kembali sehingga

menemui ajalnya.

Kedua: jikalau dia kembali mengundurkan diri hal ini

akan memperlihatkan kelemahan dirinya, oleh karena itu

sewaktu melihat dia orang melemparkan kudanya kearah

dirinya dengan cepat dia membentak keras, goloknya

dengan disertai tenaga yang amat besar dibabat kedepan.

Tenaga bacokan ini sangat dahsyat sekali, hanya didalam

sekejap saja desiran angin memenuhi seluruh angkasa

sedangkan sinar golok yang menyilaukan mata melindungi

seluruh angkasa sedangkan sinar golok yang menyilaukan

mata melindungi seluruh tubuhnya kuda yang dilemparkan

kearahnya itu segera terbabat putus menjadi dua bagian,

dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau tenaganya

amat besar sekali.

Dengan meminjam tenaga babatan yang amat dahsyat

tadi goloknya segera berputar arah dengan berganti jurus,

ber-turut2 dia melancarkan tiga bacokan menghajar tubuh

Chan Sie.

Mereka dua bersaudara mendapatkan julukan sebagai

sepasang golok harimau sakti sudah tentu ilmu goloknya

sangat hebat sekali, setelah sambaran golok yang amat

dahsyat tadi lewat, ber-turut2 dia melancarkan tiga

serangan lagi membuat keadaan semakin membahayakan,

ditengah berkelebatnya sinar golok ang amat menyilaukan

mata serta bayangan sambaran yang memenuhi seluruh

angkasa seketika itu juga membuat seluruh tubuh bidadari

angin hitam hampir terkurung di dalam bayangan golok itu.

Melihat keadaan ini dalam hati Thoa Tha merasa amat

girang sekali, pikirnya.

“Hmm ! jikalau kali ini aku bisa melukai si bidadari

angin hitam ini sehingga menggeletak di atas permukaan

salju, sudah tentu namakupun akan terkenal di seluruh

dunia kangouw !”

Baru saja dia merasa sangat girang dan mengerahkan

tenaga dalamnya semakin mengencangkan permainan

goloknya, siapa sangka pada saat itulah dari tengah

berkelebatnya bayangan golok mendadak terdengar suara

desiran angin yang amat tajam sekali.

“Criinng…. Criing… Criing….” ditengah suara

gemerincingan yang amat memekikkan telinga Tang Hoa

Tha merasakan dari tangannya ada segulung angin tekanan

yang maha aneh dan dahsyat balik menggetarkan tubuhnya.

Setelah suara gemerincingan itu barulah serangan golok

dari Tang Hoa Tha pun seketika itu juga tersentak berhenti,

tampak ditangan Chan Sie sudah bertambah lagi dengan

sebilah pedang sepanjang dua depa dengan gagang yang

berwarna hitam pekat. itulah pedang Hek Hong-Kiam salah

satu dari empat pedang aneh dari golongan Hek to yang

diandalkan oleh Chan Sie untuk mengangkat namanya

didalam Bu Lim.

Dalam hati Tang Hoa Tha tahu kalau pedang Hek Hong

kiam ini sangat tajam sehingga bisa digunakan untuk

memotong emas atau baja, saat ini diapun kembali

bentrokan goloknya tadi sebanyak tiga kali tentu ada

sebabnya, apakah goloknya masih tetap utuh seperti sedia

kala ? ? ?

Sembari menarik kembali goloknya dan mengundurkan

diri kebelakang, tenaga dalamnya dikerahkan kembali

untuk sekali lagi melancarkan serangan kedepan.

Tetapi mendadak dia menjadi sangat terperanjat sekali.

Kiranya golok yang amat tebal dan terbuat dari baja asli itu

sudah terdapat tiga bacokan yang amat besar.

Ketiga bacokan pedang itu amat panjang sekali sehingga

menembus kearah punggung golok dan meninggalkan

tempat sampingan yang amat tipis sekali, bilamana

bukannya dengan cepat dia segera sadar dan sekali lagi

melancarkan serangan tentu goloknya seketika itu juga akan

terputus menjadi empat bagian.

Coba bayangkan saja, jikalau sewaktu melancarkan

serangan mendadak senjata tajam yang digunakan putus

menjadi dua bagian, apa yang bakal diterima sebagai

akibatnya ?

Setelah tertegun beberapa saat lamanya dengan cepat

Tang Hoa Tha meloncat mundur tujuh delapan langkah

kebelakang, sewaktu mengundurkan dirinya itulah dia

segera teringat kembali akan ketiga bacokan yang

membekas diatas goloknya, hal ini membuktikan kalau

pihak lawan bisa mengerahkan tenaga dalamnya sesuai

dengan saat dan tempat yang ditujunya, sebaliknya

serangannya tadi dilancarkan dengan amat cepat sekali,

ternyata musuh didalam keadaan seperti itu bisa

menggunakan tenaga dengan amat cepatnya, jelas kalau

tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang sukar untuk

dilawan..

Sewaktu teringat akan hal ini dia benar2 tertegun

sehingga berdiri mematung tidak bergerak sedikitpun juga,

air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat ! dia

benar2 tidak menyangka kalau pihak lawan memiliki

kepandaian silat yang demikian tingginya.

Sedangkan Tang Hoa An yang berdiri disamping sama

sekali tidak tahu keadaan yang sesungguhnya

“Koko, kau kenapa ?” tanyanya dengan keras.

Tang Hoa Tha tertawa pahit, tangannya di getarkan

golok yang ada ditangannya segera dilemparkan kedepan,

sebelum gagang golok itu mencapai permukaan tanah golok

tersebut sudah terputus menjadi empat bagian.

“Titi, kita sudah dikalahkan orang !” sahutnya dengan

loyo.

Mendengar perkataan dari kakaknya itu Tang Hoa Au

menjadi sangat terperanjat sekali. Saat itulah Chan Si sudah

bertanya lagi dengan suara yang amat dingin:

“Bagaimana ?” kalian mau tidak pergi bantu aku mencari

orang itu ?”

Sepasang harimau she Tang ini segera saling

berpandangan lama sekali mereka tidak bisa mengucapkan

sepatah katapun.

Setelah ter-mangu2 beberapa saat lamanya terdengar

Tang Hoa An baru membuka mulutnya bertanya:

“Entah kalian berdua mau menyuruh kita pergi cari

siapa?”

“Makinya . . nenek sundal !” maki Chan Sie dengan amat

gusarnya, “Kalian sengaja mau meng-ulur2 waktu ya ?

bukankah sejak tadi aku sudah bilang suruh kalian mencari

si telapak berdarah TongHauw !”

Tong Hoa Aa sengaja bertanya demikian memang

bertujuan untuk meng-ulur2 waktu karena tanda bahaya

dari Benteng Thian It Poo sudah dilepaskan berarti pula

sebentar lagi Poocu mereka akan segera melihat dan tentu

mengejar kemari

Karena itu dia yang jadi orang amat tenang dan banyak

akal sekalipun di-maki oleh pihak lawan sama sekali tidak

menjadi gusar.

“Si telapak berdarah Tong Hauw ?” tanyanya keheranan.

“Orang ini sudah lama tidak munculkan dirinya didalam

Bulim, kalian suruh kita pergi kemana mencari dirinya ?”

“Kalian sungguh2 tidak tahu atau pura2 tidak tahu ?”

teriak Chan Sie semakin gusar. “Apakah kalian kira ada

yang palsu ? dia sekarang ada disini dan menyamar sebagai

seorang kakek tua!”

-oo0dw0oo-

Jilid 2

“AAAAAH . . . disini memang ada seorang kakek tua !”

seru Tang Hoa An kaget, “Dia orang bernama Tan Loo Tia

dan tinggal disini sudah ada dua puluh tahun lamanya, tapi

dia bukanlah sitelapak berdarah Tong Hauw, mungkin

kalian sudah salah melihat !”

Baru saja dia selesai berkata mendadak terdengar suara

bentakan yang amat keras bergema datang:

“Coba kalian lihat sendiri !”

“Sreeeet… Sreeet..!” dua sosok mayat dengan cepatnya

melayang datang dan terjatuh keatas permukaan salju tepat

dihadapannya, di atas wajah mayat tersebut ternyata

sedikitpun tidak salah, masing2 wajah mayat tersebut

dengan amat jelasnya tertera sebuah bekas telapak berdarah

yang amat jelas sekali.

Sepasang harimau she Tang ini segera merasakan

hatinya amat terkejut, tanda tersebut memang benar2

merupakan ilmu tunggal yang paling diandalkan oleh si

telapak berdarah Tong Hauw, walaupun sudah ada

beberapa puluh tahun lamanya Tong Hauw ini tidak pernah

munculkan dirinya didalam Bu-lim tetapi ilmu iblisnya

Telapak berdarah masih diingat oleh semua orang dengan

amat jelasnya.

Kedua orang itu merasakan hatinya ber-debar2 dengan

amat keras, mereka sama sekali tidak segera menyangka

untuk mencari jejak dari putri kesayangan poocu mereka

Sie Soat Ang sudah bertemu dengan Li Chan dua orang saja

bakal amat merepotkan apalagi ditambah dengan seorang

iblis ganas sitelapak berdarah Tong Houw yang sudah lama

tidak diketahui jejaknya itu ? bukankah urusan akan

semakin ruwet lagi ?

“Lalu apakah kalian berdua sudah bertemu dengan nona

Sie ?” tanya mereka berdua dengan cepat.

“Apa nona Sie nona Ang… kami tidak tahu !” bentak

Chan Sie dengan amat kasarnya, “Kalian punya orang

banyak cepatlah menyebar keempat penjuru dan mengejar

dirinya, siapa saja yang berhasil menangkap sitelapak

berdarah Tong Hauw aku segera akan menghadiahkan

sebutir pil sakti “Sin Uh Tan” kepadanya, perkataanku ini

tidak akan aku cabut kembali !”

Mendengar perkataan tersebut sepasang harimau she

Tang merasa hatinya agak ragu2 sebaliknya orang2 yang

ada dibelakangnya segera merasakan hatinya ber-debar2

amat kerasnya, “Pil Sin Uh Tan” merupakan sebuah obat

untuk menghindari racun yang paling dahsyat bahkan

diketahui oleh semua orang didalam Bu-lim, cuma disuruh

mencari seorang saja sudah bisa mendapatkan sebutir pil

itu, kesempatan yang demikian baiknya mau dicari kemana

lagi ?

“Tang-ya !” segera terdengar salah seorang di antara

orang2 itu berteriak keras: “Orang yang menemui ajalnya

disini kelihatannya memang mati dibawah serangan telapak

berdarah, aku kira setelah menemukan jejak dari orang she-

Tong itu maka jejak dari nona pun bisa diketahui pula,

bukankah hal ini dinamakan satu kali pukul mendapat dua

hasil ?”.

Sepasang harimau she-Tang itu segera saling bertukar

pandangan.

“Baiklah !” ujar Tang Hoa An kemudian, “Semua orang

yang ada disini kita bagi menjadi tiga kelompok, masing2

mengejar kedepan, ohh ya tolong tanya, si telapak berdarah

Tong Hauw apakah pergi dengan menunggang kuda ?”.

Lie Siauw serta Chan Sie yang mendengar orang-orang

itu sudah menyetujui untuk membantu diri nya, dalam hati

sangat girang sekali.

“Tidak !” sahut mereka berbareng

“Jikalau tidak menunggang kuda ditengah hujan salju

yang demikian derasnya dia orang tentu belum pergi jauh,

asalkan kita mencarinya disekeliling dua puluh li ditempat

ini sudah tentu dia orang bisa ditemukan kembali”.

Selesai berkata sepasang kakinya mengempit kencang

perut kudanya lalu dengan amat cepatnya menyusup

kedepan, disusul Tang Hoa Tha serta orang2 yang

dibawanya pada meninggalkan tempat tersebut.

Lie Siauw serta Chan Sie dua orang yang tidak

menunggang kuda dengan cepat berlari ber-sama2 menuju

kedepan.

Tampak sewaktu tubuh mereka berkelebat kedepan

diatas permukaan salju sama sekali tidak meninggalkan

bekas kaki, cuma terlihatlah empat garis panjang yang lurus

meluncur kedepan, kelihatannya kedua orang itu

menggunakan papan di atas kaki mereka untuk meluncur.

Didalam sekejap saja semua orang sudah lenyap dari

tempat itu, Lewat beberapa saat kemudian mendadak dari

atas liang yang tertutup oleh salju kelihatan sedikit bergerak

lalu tampaklah tubuh Tong Hauw merangkak keluar dari

tempat tersebut.

Dia tidak sempat untuk membersihkan bekas salju yang

mengotori bajunya, begitu merangkak keluar dari liang

tersebut tubuhnya dengan cepat meluncar keluar dan

berhenti didepan rumah gubuk nya yang sudah roboh,

tangannya dengan cepat bergerak memindahkan tiang kayu

yang menutupi tempat tersebut.

Tubuhnya dengan cepat melayang dan menerobos

kedalam bawah atap rumah, pertama2 dia meloncat naik

keatas pembaringan kayu untuk mencengkeram tangan dari

Sie Soat Ang kemudian baru menariknya turun dari

pembaringan dan menerobos masuk kedalam gudang

dibawah tanah itu.

Keadaan didalam gudang dibawah tanah itu amat gelap

gulita cuma ada sedikit sinar yang menerobos masuk dari

atas robohan rumah, tetapi Tong Hauw yang sudah ada dua

puluh tahun lamanya berada disana sekalipun pejamkan

mata diapun hapal dengan tepat sekeliling tempat itu.

Dia memindahkan dua buah gentong arak terlebih dulu

kemudian mengangkat sebuah papan ke atas, sedikit

tangannya digetarkan tubuh dari Sie Soat Ang sudah

dilemparkan kedalam.

Kemudian menyusul tubuhnyapun menyusup kedalam,

saat itulah suara ringkikkan kuda sudah berkumandang

kembali.

Kali ini jumlah orang yang datang tidak sedikit, dari

suara yang bergema datang saja sudah jelas menunjukkan

kalau kekuatan mereka sangat besar sekali.

Mendadak Tong Hauw tertawa ter-bahak2 dengan amat

kerasnya, pada air mukanya muncullah perasaan amat

bangga, tubuhnya menyusup semakin kedalam memasuki

jalan rahasia itu lalu menutup kembali papan yang berada

diatasnya.

Begitu papan itu menutup kembali ketempat asalnya

maka dari atas permukaan tanah sama sekali tidak kelihatan

tanda2 yang mencurigakan.

Apalagi rumah itupun sudah roboh tidak keruan, ada

siapa lagi yang mau memperhatikan keadaan dari gubuk

bobrok yang sudah hancur berantakan itu ?

Walaupun seluruh kejadian yang sudah terjadi hari ini

jauh berada di luar dugaannya bahkan rahasianya

sendiripun sudah diketahui oleh pihak musuh tetapi dengan

kejadian ini malah sebaliknya menguntungkan bagi

usahanya.

Sebetulnya jajan rahasia yang dia gali sudah berhasil

mencapai tengah2 dari Benteng Thian It Poo, pada ujung

jalan rahasia itu ada sebuah batu besar yang menutupi

tempat tersebut asalkan batu itu disingkirkan maka dia

orang segera sudah akan tiba didalam Benteng Thian It

Poo.

Tetapi selama ini dia tidak berani membuka batu besar

itu.

Ada kalanya dia berjongkok dibawah batu untuk

mendengarkan langkah kaki yang ada diatas permukaan

tanah serta memperdengarkan kata2 yang diucapkan oleh

mereka untuk mengetahui jelas keadaan dari Benteng Thian

It Poo demi berhasilnya gerakan selanjutnya, tetapi selama

satu bulan ini dia sama sekali tidak memperoleh hasil

apapun.

Tetapi selama ini pula dia orang sudah mendapatkan

satu keterangan dan kesimpulan yaitu tempat tersebut

tentunya merupakan sebuah tempat yang amat penting

sekali karena bukan saja orang yang berlalu lalang di sana

sangat sedikit sekali, bahkan setiap orang yang lewat

melangkah kakinya tentu amat ringan, suara

pembicaraannya boleh dikata perlahan sampai sukar

didengar sekalipun mereka sedang berbicara diapun tidak

tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka.

Tong Hauw sendiripun juga tidak tahu harus sampai saat

kapan dia baru mempunyai keberanian untuk membuka

batu diatas jalan rahasianya, demikianlah urusan tersebut

semakin hari semakin ber-larut2, setengah tahun, setahun,

dia belum pernah melakukan gerakan apapun juga.

Tetapi peristiwa yang sudah terjadi dihadapannya saat

ini memaksa dia orang mau tidak mau harus melakukan

usahanya tersebut.

Bahkan dengan adanya kejadian ini sudah memberikan

keuntungan buat dirinya, para jago dari Benteng Thian lt

Poo sudah pada keluar dari Benteng kemungkinan juga

sampai poocu benteng Thian It Poo, Sie Liongpun ikut

keluar, bukankah hal ini sangat menguntungkan sekali ?

Apa lagi saat ini dia sudah berhasil menawan Sie Soat

Ang !

Keberuntungannya ini sudah seharusnya dia

mengucapkan terima kasih kepada siorang lelaki serta

perempuan yang melarikan diri ke rumah gubuknya.

Dengan menyeret tubuh Sie Soat Ang, Tong Hauw

merangkak melalui jalan rahasia yang amat sempit dan berliku2

itu, sembari merangkak dalam hati dia berpikir terus,

mendadak teringat kembali akan sang pemuda serta pemudi

yang bersembunyi disana, dia menjadi sangat terkejut

sekali, kemanakah mereka berdua ? ?

Apakah mereka berdua sudah merangkak terus

mengikuti jalan rahasia ini ?

Berpikir sampai disitu hatinya tidak tertahan lagi sudah

ber-debar2 dengan amat kerasnya, jika hal ini benar2 terjadi

maka susah payahnya selama dua puluh tahun ini segera

akan hancur berantakan, bahkan dirinyapun pasti tidak bisa

lolos dalam keadaan hidup dari dalam jalan rahasia yang

digalinya selama dua puluh tahun lamanya.

Tetapi sebentar saja rasa terkejut itu sudah tersapu bersih

kembali dari dalam hatinya. Kiranya jalan rahasia ini sama

sekali tidak menembus langsung sampai pada ujungnya,

pada setiap jarak beberapa puluh kaki dia sudah pasang

sebuah batu untuk menutupinya, bahkan setiap batu itu

mirip sekali dengan batu yang ada pada ujung jalan rahasia

itu, sekalipun lelaki serta perempuan itu merangkak terus

kedepan mengikuti jalan rahasia itu tetapi sesampainya

pada batu tersebut merekapun tentu akan berhenti.

Tong Hauw setelah berhasil menenangkan pikirannya

segera tanyanya dengan suara yang amat berat:

“Heei kalian berdua apakah masih ada dijalan rahasia ini

?” suaranya halus tetapi keras dan bergema dengan tidak

henti2nya ke tempat yang amat jauh sekali.

Bahkan dari dalam jalan rahasia itu segera dia

mendengar suara dengusan yang amat berat, seperti

seseorang yang terjatuh ketanah.

Tong Hauw berteriak kembali untuk kedua kakinya,

tetapi tetap tidak terdengar suara jawaban, dia agak

melengak dibuatnya dan segera merasakan urusan sedikit

tidak beres, dia tidak berteriak memanggil lagi sebaliknya

menahan napas dan segera berbaring ketanah untuk

mendengar gerak-gerik disana dengan amat telitinya.

Ditengah suasana yang amat sunyi itu walaupun sedikit

suarapun segera bisa didengar olehnya dengan jelas.

Beberapa saat kemudian Tong Hauw sudah bisa mendengar

secara samar2 ada suara hembusan napas yang amat berat

sekali.

Sudah tentu suara hembusan napas itu berasal dan sang

lelaki yang terluka itu.

Kalau adanya sudah tentu mereka masih ada didalam

jalan rahasia ini ! bahkan jika didengar dari suara mereka

sedang berada dibalik batu halangan yang pertama, saat ini

seharusnya mereka mendengar suara teriakan yang amat

keras, tetapi kenapa tidak memberikan sahutannya ?

Per-lahan2 Tong Hauw terik napas panjang2, teringat

kembali bagaimana mengenaskannya keadaan kedua orang

itu sewaktu melarikan diri kedalam gubuknya, seumpama ia

tidak turun tangan menolong mereka berdua, niscaya

rahasia yang dipegang teguh selama dua puluh tahun ini tak

akan konangan, benarkah sedemikian cepatnya orang itu

melupakan budi terhadap dirinya, atau mungkin mereka

sudah tahu asal usulnya maka mulai saat itu menaruh sikap

permusuhan kepadanya ?

Sambil berpikir selangkah demi selangkah Tong Hauw

merangkak kedepan, tapi tingkah lakunya semakin ber-hati2

Ketika itu rangkakannya kedepan sangat lambat, bahkan

boleh dikata sedikit suarapun tak ada, justeru karena hal itu

maka dengusan napas yang bergema datang dari depan bisa

kedengaran amat jelas sekali.

Sampai akhirnya Tong Hauw berani yakin kalau

dengusan napas itu berada kurang lebih satu tombak

dihadapannya, ingin sekali ia menghardik sekali lagi, atau

secara tiba2 di hadapannya muncul suara teguran seorang

gadis yang mencerminkan betapa gelisah hatinya:

“EngkohHauw Sang, bagaimana perasaanmu ?”

Pertanyaan itu tidak peroleh jawaban, hanya rintihan

semakin kedengaran nyata.

Ditinjau dari rintihan itu, bisa ditarik kesimpulan apabila

orang itu sedang berusaha keras menahan rasa sakit dalam

tubuhnya, karena itu kendari suaranya lirih tetapi

kedengaran amat memilukan.

Terdengar suara gadis tadi kembali bergema datang:

“Ditinjau dari ucapan Tan Loo-ya … aah tidak, bukan

Tong Hauw, agaknya ia sedang memanggil kita, tapi

mengapa lama sekali tak kedengaran suaranya ? apakah ia

mengira kita tak ada dilorong bawah tanah, maka ia lantas

mengundurkan diri.”

Erangan serta rintihan tadi kembali terdengar, kemudian

meluncurlah jawaban dari seorang lelaki:

“Tiii… tidak mungkin”.

“Kaaa … kalau begitu bukankah kita habis sudah ?” Seru

gadis itu sambit menahan isak tangisnya.

“Bee … benar … kita … kita habis sudah, kau Adik Giok

Jien aa… apakah kau menyesal?”

Ditengah isak tangis yang sedih, gadis itu tertawa.

“Engkoh Hauw Seng, kalau aku menyesal tak akan

kuikuti dirimu melarikan diri dari dalam benteng”.

Lelaki itu menarik napas panjang2, rintihan kembali

berkumandang, Lama sekali baru kedengaran ia berteriak

lantang.

“TongHauw, kau… kau ada dimana?”

Dari pembicaraan mereka berdua, Tong Hauw sudah

tahu akan asal-usul mereka yang sebetulnya, terhadap

perkataan itu ia tidak kaget atau tercengang.

“Aku berada dihadapan kalian.” segera jawabnya berat.

Agaknya muda mudi itu tidak menyangka kalau Tong

Hauw berada dihadapannya, karena itu begitu sitelapak

berdarah buka suara, tanpa terasa kedua orang itu berseru

tertahan.

“Kau… kau… siap .. . siap apakah kami berdua ??” tanya

lelaki itu beberapa saat kemudian.

“Mengapa kalian begitu takut kepadaku ?” tegur Tong

Hauw samoil tertawa. ” Apakah namaku sudah pernah

kalian dengar ?”

Dalam pada itu dihati kecilnya ia merasa heran

bercampur girang, sebab sudah ada dua puluh tahun

lamanya ia tak berkelana dalam dunia persilatan, tak

disangka masih ada orang yang tahu akan namanya.

Disamping girang iapun keheranan, buat para jago

angkatan tua tentu saja tahu akan nama besarnya, tetapi

secara bagai mana seorang angkatan muda dari benteng

Thian It Poo pun tahu akan nama sitelapak berdarah Tong

Hauw ?

Terutama sekali benteng Thian It Poo letaknya terpencil,

peraturanpun sangat ketat, kecuali buat mereka yang

ditugaskan mencari bahan makanan setiap tahunnya, tidak

pernah ada orang yang keluar benteng, apalagi dari

angkatan mudanya.

Jikalau dikatakan poocu mereka Sie Liong yang

mengungkap hal ini semakin tak mungkin lagi, poocu

mereka Sie Liong… teringat akan Sie Liong Poocu dari

benteng Thian It Poo, sepasang gigi sitelapak berdarah

mulai berdetak ia menggertak bibirnya kencang2.

“Tentu… tentu saja… nama besarmu se… sering diungkap

oleh orang2 benteng Thian It Poo” jawab gadis gemetar.

“Hemm ! siapa yang sering mengungkap nama ku,

apakah Sie Liong keparat tua itu ?”

“Bukan, bukan Sie Poocu, sebaliknya Sie Poocu yang

melarang semua orang membicarakan tentang dirimu, suatu

kali ada dua orang membicarakan namamu dan kebetulan

didengar oleh Poocu, tanpa banyak bicara beliau segera

memerseni sebuah tamparan diatas pipi setiap orang. Ada

satu kali lagi, aku dengar siocia bertanya kepada Poocu,

siapakah manusia yang bernama si telapak berdarah Tong

Houw, Poocu yang dihari biasa menyayangi siocia kali ini

naik pitam dan memaki nona kami habis2an !!!”

Ketika gadis itu sedang bercerita, sang pemuda meronta

bangun sambil berseru:

“Adik Giok Jien, jangan mengungkat soal… soal siocia

lagi”.

“Engkoh Hauw Seng, kau boleh berlega hati” Buru2

gadis itu menghibur dengan suara yang lembut, “Siocia

tidak bakal berhasil menemukan kita sekarang !!!”

“Lalu siapa yang sering mengungkap namaku?” Karena

makin curiga, Tong Hauw mendesak lebih jauh.

Tiba2 suara gadis itu berubah lirih dan penuh nada

ketakutan, seakan2 ia pernah menjumpai sesuatu yang

mengerikan

“Bukan… bukan manusia, dia adalah…”

“Aaai Giok Jien, jangan bicara sembarangan !” sela

pemuda itu.

“Tidak, cepat katakan ?” hardik Tong Hauw.

“Baik, baik, akan kukatakan dia adalah se… seorang…

setan yang ada dalam benteng kami suaranya amat

mengerikan dia… dia berada dipuncak pagoda hitam dalam

benteng kita, tempat itu merupakan daerah terlarang bagi

siapapun, seringkali kami dengar suara yang tak sedap

didengar muncul dari balik pagoda, ia berteriak tiada

hentinya: “Tong Hauw ! Tong Hauw ! si telapak berdarah

Tong Hauw… karena itu setiap anggota benteng Thian It

Poo tahu semua aa… akan nama besarmu, jago2 yang

datang dari Tionggoanpun mengatakan… anda… anda

adalah seorang…”

“Seorang gembong iblis yang membunuh orang tak

berkedip? bukan begitu ?” sambung Tong Hauw sambil

tertawa kering.

“Benar.” jawab gadis itu semakin ketakutan “Tapi kau

telah menyelamatkan kami.”

Kembali Tong Hauwtertawa kering.

“Apakah tak seorang manusiapun dalam benteng Thian

It Poo yang mencurigai orang yang ada diatas pagoda

adalah manusia bukan setan ?”

“Tidak… tidak…” buru2 gadis itu membantah “Dia

benar2 adalah setan, beberapa kali aku melayani siocia yang

ada disisi poocu, setiap kali mendengar suara itu, sampai

Poocu sendiripun berubah air mukanya, coba bayangkan

ilmu silat yang dimiliki Poocu sangat lihay. hampir boleh

dikata tiada seorangpun yang bisa menandinginya, tetapi

sampai diapun ketakutan hal ini bisa ditarik kesimpulan

kalau dia… pasti… pasti setan”

Mendengar perkataan ini si telapak berdarah TongHauw

tarik napas panjang2, saat ini kecurigaannya makin nyata,

keinginannya untuk mengunjungi benteng Thian It Poo pun

semakin membara,

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, ia baru berkata:

“Kalian berdua mengatakan baru saja melarikan diri dari

benteng Thian It Poo bahkan salah seorang diantara

menderita luka parah ditangan Sie Soat Ang putri

kesayangan Poocu benteng Thian It Poo, sebenarnya

siapakah kalian? demi kalian berdua aku sudah

mengundang bencana besar buat diriku, kalian harus bicara

terus terang kepadaku?”

“Aku… aku bernama Giok Jien semua orang memanggil

aku demikian, sedang aku sendiri sama sekali tak tahu apa

kan she ku, tapi kebanyakan aku adalah seorang anak yatim

piatu, karena sejak kecil dipelihara dalam benteng maka

sering kali aku dibentak dan dimaki, semua orang

menganiaya diriku”.

Beberapa patah kata ini diutarakan dengan suara

mengenaskan sampai Tong Hauw gembong iblis pembunuh

tak berkedippun itu menghela napas panjang.

“Setelah aku menginjak dewasa…” sambung gadis itu

lebih jauh. “Aku melayani siocia, hitung2 aku hanya

seorang bawahan, seorang pelayan, seorang manusia yang

tiap hari kena dimaki, di aniaya”

Bicara sampai disitu tak tahan lagi ia menangis terisak.

Tapi dengan cepat ia berhenti menangis, jelas sudah

terbiasa baginya untuk menahan isak tangis disetiap

keadaan.

“Ditinjau dari gerakanmu melayang diatas salju sambil

membopong pemuda tersebut, dapat kuduga kalau ilmu

silatmu sempurna” kata Tong Hauw dengan nada berat.

“Dan siapa kau belajar ilmu silat kalau benar semua orang

menganiaya dirimu lalu siapa yang beri pelajaran ilmu silat

kepadamu?”

Dari suara penuh kesedihan, muncul nada terharu dan

berterima kasih.

“Dalam benteng Thian It Hauw hanya ada seorang yang

sangat baik kepadaku, dia adalah engkohHauw Seng !”

“Oooouw..! sekarang aku paham sudah, lalu siapakah

dia ?”

“EngkohHauw Seng adalah keponakan Poocu kami…”

“Hmmm ! jadi dia adalah putra dari Liem Teng si

makhluk tua itu ?” tukas Tong Hauw cepat.

Nyonya Sie Liong adalah adik perempuan dari Liem

Teng siansu aneh dari Ong Tie, soal ini sudah diketahui

oleh seantero jago Bu-lim, Sie Hujien sudah lama

meninggal, sedangkan Liem Teng yang berkepandaian

tinggi dikarenakan harus mempertahankan sebuah teratai

salju yang berbunga setiap lima ratus tahun akhirnya mati

di tangan para pendekar pedang dan partai Bu-tong, kini

putra diri Liem Teng dititipkan dalam benteng Thian It

Poo, kalau dibicarakan pada umumnya bukanlah suatu

peristiwa yang aneh.

Baru saja Tong Hauw bertanya, pemuda itu sudah

menjawab: “Perkataanmu tii. . . tidak salah.”

“Kau adalah putra Liem Loo-koay, tidak aneh kalau

ilmu silatnya lihay, tetapi secara bagaimana kau bisa terluka

sedemikian parah dibawah cambuk Sie Soat Ang ?”

Liem Hauw Seng menarik napas panjang, berhubung

lukanya parah maka helaan napas itupun kedengaran

terputus.

“Engkoh Hauw Seng orangnya baik ,” buru2 Giok Jien

berkata: “Ia bilang sejak masih orok sampai sekarang selalu

dibesarkan dalam benteng Thian It Poo, budi kebaikan ini

tak boleh dilupakan, maka dari itu dia… dia tidak mau

membalas.”

“Hmmm ! tolol…”

Lama sekali ia membungkam, setelah pikirannya

berputar ujarnya kembali:

“Kalian berdua sama2 dibesarkan dalam benteng Thian

It Poo, tentang keadaan dalam benteng tentu tahu jelas

bukan ?”

“Be… benar…”

“Aku punya ikatan dendam sedalam lautan dengan

keparat tua she Sie itu, terus terang saja kuberitahukan

kepadamu untuk membuat lorong rahasia ini aku sudah

mengorbankan waktu selama dua puluh tahun, ujung

sebelah sana tepat merupakan tanah dibawah benteng

Thian It Poo!”

“Aaah ! ! !” Baik Liem Hauw Seng maupun Giok Jien

sama2 berseru kaget.

“Sebenarnya rencanaku setelah lorong ini tembus sampai

disana, secara diam2 aku hendak memasuki benteng Thian

It Poo dan turun tangan membinasakan keparat tua itu, tapi

aku sadar ilmu silat keparat tua itu sangat lihay, aku takut

seranganku gagal dan kehilangan kesempatan baik, karena

itu sampai kini belum kulaksanakan”

Setelah merandek sejenak, tambahnya: “Dan kebetulan

sekali aku bertemu dengan kalian, urusanpun lebih

gampang lagi penyelesaiannya”.

Suasana hening beberapa saat lamanya, tiba2 Liem

Hauw Seng bertanya: “Apa maksudmu ber… berkata

demikian ?”

“Kalian berdua dibesarkan dalam benteng Thian It Poo,

tentu saja tahu dirumah manakah pada hari2 biasa keparat

tua she-Sie itu berdiam, aku hendak membawa kalian

memasuki benteng Thian It Poo kemudian mencari suatu

tempat yang baik untuk bersembunyi setelah itu cari

kesempatan untuk membinasakan keparat tua she-Sie guna

menuntut batas sakit hatiku selama banyak tahun ini !!”

Semua perkataan Tong Hauw lambat tapi lama

kelamaan keras, terutama ucapan terakhir.

“Setelah kubunuh keparat tua she-Sie, maka aku akan

angkat kaki jauh2″ ujar Tong Hauw lagi, “Dengan

sendirinya benteng Thian It Poo akan jadi milikmu.”

Tentu saja perkataan ini ditujukan kepada Liem Hauw

Seng.

Tetapi tak ada jawaban dari Liem Hauw Seng, saat

itulah Tong Hauw baru merasa keadaan tidak beres.

Lama sekali ia tertegun, kemudian baru berkata:

“Bagaimana ? apakah kau tidak ingin menduduki kursi

Poocu dari benteng Thian It Poo ?”

“Engkoh Hauw Seng, dia… dia sedang bertanya

kepadamu !”

“Giok Jien, menurut perkiraanmu dapatkah aku

menyanggupi permintaannya ?”.

“Aku tahu. kau tidak akan menerima permintaannya”,

“Giok Jien” Seru Liem Hauw Seng dengan nada

kegirangan “Tidak kecewa kita… bagus sekali, akhirnya kau

bisa menebak isi hatiku juga.”

Sebaliknya si telapak berdarah Tong Hauw jadi amat

gusar, teriaknya penuh kegusaran:

“Apa ? kau tidak menerima permintaanku ?”.

Ucapan ini kedengaran amat mengerikan terutama

ditengah kegelapan namun Liem Hauw Seng serta Giok

Jien sama sekali tidak dibikin ketakutan hampir bersamaan

waktunya mereka menjawab, suaranya tenang, seakan

sedang menjawab suatu pertanyaan yang sangat biasa.

“Benar !”

Si telapak berdarah Tong Hauw mendongak tertawa

terkekeh-kekeh.

“Kalau begitu aku tidak ingin memaksa kalian, tetapi

lorong bawah tanah ini merupakan rahasia yang paling

besar, aku tak dapat membiarkan kalian berdua tetap hidup

dikolong langit!”

Sambil tertawa dingin telapak tangannya perlahan

diayun keatas,

Ketika itu Tong Hauw berdiri empat-lima depa di

hadapan Giok Jien dan Liem Hauw Seng, tetapi berhubung

ruangan bawah tanah sangat gelap maka jarak mereka

sangat dekat namun tidak kelihatan.

Setelah telapak tangan Tong Hauw diayun ke atas,

seluruh lorong penuh dengan bau amis darah yang sangat

menusuk hidung.

Sementara Giok Jien dan Liem Hauw Seng ber sembunyi

diujung lorong, mereka merupakan sebuah pintu besi yang

menghadang jalan perginya, sedang didepan ada Tong Hau

yang siap mencabut nyawa mereka. suatu keadaan yang

amat kritis sekali.

“Apakah kalian sudah pikirkan masak ?” kembali Tong

Hauw menegur sambil ayunkan tangannya.

“Kau tak usah bertanya lagi, persoalan ini tak usah

kupikirkan lagi didalam hati, sejak kecil aku kehilangan

cinta kasih orang tua dan dibesarkan dalam benteng Thian

It Hoo, dipelihara oleh paman dan kini kau adalah musuh

besarnya, aku cuma bisa menyesal mengapa lukaku amat

parah sehingga tak bisa mewakili dirinya menyambut

kedatangan musuh tangguh, tidak sudi aku membantu kau

melakukan kejahatan !”

Setelah mengutarakan kata2 sebanyak itu, napasnya

mulai kempas kempis dan ter-engah2.

“He he he cuma kalian jangan lupa” jengek Tong Hauw

sambil tertawa dingin, “Siapakah yang menghantam kau

sampai terluka parah dan siapa pula yang hendak

membasmi kalian berdua ?”

“Aaaai !” orang lain boleh tak kenal budi dengan diriku,

namun aku tak ingin melupakan budi orang lain” jawab

Liem Hauw Seng sambil bersikap menghela napas panjang

“Bagaimanapun juga paman terhadap diriku sangat baik,

kalau kau mau membunuh silahkan bunuh, tak usah kita

banyak bicara lagi Giok Jien, kau tak usah takut, kita bisa

mati bersama, kejadian ini… sudah diluar dugaan.”

“Benar engkoh Hauw Seng, aku sangat gembira sekali

sebab akhirnya kita selalu bersama, bukankah begitu ?”

Kata Giok Jien sambil bersenggukan, “Akhirnya kita selalu

bersama, mati bersama jauh lebih baik dari pada berpisah,

aku tidak sedih.”

Sebenarnya telapak Tong Hauw sudah diangkat siap

melancarkan hantaman, namun sekarang telapaknya

berhenti ditengah udara, se akan2 ada suatu tenaga tak

berujud telah menahan gerakan selanjutnya.

Seandainya pada saat itu Liem Hauw Seng serta Giok

Jien dapat melihat keadaan Tong Hauw yang sebenarnya,

muda mudi ini bakal keheranan. Sebab dari sepasang mata

si telapak berdarah yang tersohor akan kekejiannya ini air

mata jatuh bercucuran, disisi telinga orang she Tong ketika

itu hanya berkumandang terus menerus kata2: “Mati

bersama jauh lebih baik daripada berpisah.”

Tong Hauw merasa pernah seorang perempuan lain

mengutarakan kata2 yang sama, namun orang itu bukan

Giok Jien, peristiwa ini sudah berlangsung lama sekali,

Tong Hauw tidak ingin teringat kembali, sebab setiap kali ia

mendengar, rasa sedih susah ditahan dan air mata jatuh

bercucuran.

Siapa nyana kali ini ucapan itu terdengar kembali,

bahkan bukan cuma sekali muncul dari bibir seorang

pemuda serta seorang pemudi yang berada dalam situasi

kritis, saat ini jiwa orang lain berada ditangannya, Suasana

jadi sunyi-senyap tak kedengaran sedikit suarapun, lama…

lama sekali, akhirnya Liem Hauw Seng berkata:

“Mengapa… mengapa kau tidak lanjutkan seranganmu ?”

“Begitu kukuh kalian menampik perintahku seandainya

aku memaksa dan karena peristiwa ini sampai mencabut

jiwamu, bukankah aku akan jadi seorang pengecut?” kali ini

suara Tong Hauw halus dan lembut. “sekalipun begitu, aku

harus menotok jalan darah kalian agar rahasia ini tidak

sampai bocor ke tangan orang lain”

Tangannya bergerak cepat, dari serangan telapak kini ia

melancarkan serangan totokan merobohkan kedua orang

itu, kemudian merandek ke depan, menekan tombol

rohasia, membuka pintu penghadang dan teruskan

rangkakannya kedepan.

Belum jauh ia pergi, tiba2 ia berpaling kembali, ujarnya:

“Lebih baik untuk sementara waktu kalian berdiam

dalam lorong rahasia ini, menanti aku sudah kembali, jalan

darah kalian berdua pasti akan kubebaskan !”

Demikianlah, sambil membopong Si Soat Ang, ia

merangkak dalam lorong rahasia tersebut.

Tidak lama kemudian tibalah kedua orang itu di depan

pintu penghalang kedua, ia meneruskan rangkakannya ke

depan sekalipun hati terasa semakin menegang.

“Dua jam lamanya ia merangkak dalam lorong tersebut,

akhirnya ia berhenti. mengatur napas dan mulai

menimbang waktu, dalam dugaannya saat itu sudah

kentongan keempat sedang tiga depa di hadapannva sudah

merupakan ujung dari lorong tersebut, dimana pada pintu

masuk gua tadi tertutup oleh selembar papan batu.

Asalkan papan tadi tersingkap, mereka akan berada

didalam benteng Thian It Poo.

Tong Hauw ragu2 sejenak, kemudian ia tarik napas

panjang2. telapak diputar dan papan batu lambat2

tersingkap.

Menanti papan tadi sudah terbuka tiga, empat coen

tingginya. ia baru berhenti dan mengintip ke luar, tampak

olehnya tempat itu berupa sebuah halaman kecil yang sunyi

dan terpencil.

Tong Hauw belum pernah mendatangi benteng Thian It

Poo, ia tak tahu tempat itu benarkah benteng yang dituju

atau bukan.

Sepasang telinganya dipentang lebar2, setelah di

dengarnya tak ada sesuatu gerakan apapun disekitar sana

papan penutup tadi didorong semakin ke atas hingga

akhirnya terbuka lebar.

Jantungnya berdetak makin keras, sambil membopong Si

Soat Ang ia meloncat keluar dari lorong rahasia dan

merangkak naik keatas permukaan. Suasana sepi, hening

dan tak kedengaran sedikit suarapun, empat penjuru

tertutup oleh tembok tinggi dengan beberapa buah ruangan

yang gelap gulita beberapa tombak dihadapannya.

Tong Hauw menutup kembali papan batu tadi,

kemudian sambil membopong Si Soat Ang langsung

menuju kerumah tadi.

Bangunan tersebut amat kotor, pintu tertutup rapat dan

dikunci dengan sebuah gembokan berkarat, mungkin waktu

yang sudah berlangsung lama membuat gembokan tadi

sudah lapuk, dalam sekali sentakan gembokan tersebut

patah jadi dua dan pintu segera terpentang lebar.

Setibanya didalam ruangan, ia baru menghembuskan

napas lega, sebab paling sedikit untuk sementara waktu

jejaknya belum konangan.

Ia cengkeram bahu Si Soat Ang sementara tangan lain

membebaskan gadis itu dari pengaruh totokan, bentaknya

berat.

“Tempat apakah ini ? ayoh cepat katakan!”

oooo dwoooo

BAB 2

SI SOAT ANG tidak menjawab, secara tiba2 ia menjerit

lengking dengan suara yang aneh sekali.

Waktu itu suasana disekitar sana sepi, hening dan tak

kedengaran sedikit suara pun.

Tong Hauw sendiripun tidak menyangka Si Soat Ang

bisa menjerit lengking begitu jalan darahnya bebas, karena

terperanjat cengkeramannya tanpa sadarpun rada

mengendor.

Ambil kesempatan itu Si Soat Ang meronta kemudian

menggelinding keluar dari pintu, meloncat bangun dan lari

kearah depan.

Melihat kejadian itu Tong Hauw sangat terperanjat,

ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan

meluncur kedepan, tangannya bergerak cepat

mencengkeram kembali urat nadi pada pergelangan gadis

itu.

Si Soat Ang meronta keras, namun gagal, ia lantas

menjerit lengking. Tong Hauw kaget tangannya bergerak

cepat menotok kembali beberapa buah jalan darah ditubuh

gadis itu.

Walaupun Tong Hauw berhasil menguasai keadaan,

tetapi rasa gugup dan takutnya pada saat ini sukar

dilukiskan dengan kata2, sebab jeritan gadis tersebut betul2

kedengaran mengerikan sekali ditengah malam buta, ia

takut para jago benteng Thian It Poo mendengar jeritan tadi

dan pada memburu datang.

Makin dipikir Tong Hauw semakin gelisah, ia berputar

beberapa kali didalam ruangan yang gelap, akhirnya ia

merasa kembali dulu kedalam lorong rahasianya sambil

menanti saat yang lebih tepat lagi untuk bekerja lagi.

Ia tarik tangan Si Soat Ang dan diajak lari ke depan,

namun pada saat yang bersamaan tidak jauh dari ruangan

tadi berkumandang suara jeritan aneh. Tong Hauw

terperanjat buru2 ia berkelebat ke ujung ruangan, saking

cemasnya sampai2 Si Soat at Ang pun sudah ketinggalan

didepan pintu.

Punggungnya menempel diatas dinding, telapak

disilangkan didepan dada. ketegangan yang meliputi

benaknya semakin memuncak. sebab pada saat itulah dari

balik dinding muncul sesosok bayangan manusia yang

tinggi dan lembut.

Waktu itu salju telah berhenti, awan hitam buyar dan

sinar rembulan kembali memancarkan cahayanya,

bayangan manusia itu semakin nyata dan bisa ditegaskan,

dia adalah seorang perempuan berambut panjang.

Tong Hauw tarik napas panjang2, ia berdiri menanti

disana dengan tenangnya.

Tidak lama kemudian terdengar suara gelak tertawa yang

aneh sekali berkumandang datang, gelak tertawa itu sangat

mengerikan membuat bulu kuduk siapapun pada bangun

berdiri.

Sementara Tong Hauw masih tegang, mendadak

perempuan itu berhenti tertawa, suasana kembali pulih

ditengah keheningan

Lambat2 Tong Hauw tarik napas panjang2. badannya

sedikit bergeser ingin melihat macam apakah perempuan

yang berada di hadapannya, tiba2..

“TongHauw, telapak berdarah Tong Hauw !”

Perempuan itu menyebut namanya, bahkan nama tadi

diucapkan sangat jelas sekali.

Tetapi Tong Hauw tetap tak berkutik, ia merasa dirinya

pun tak bisa melihat jelas gadis tersebut, tentu saja

perempuan itupun tidak seharusnya menemukan dirinya,

tetapi secara bagaimana perempuan itu dapat menyebutkan

namanya ?

Walaupun sudah setengah umur Tong Hauw berkelana

didalam dunia persilatan, dalam keadaan seperti ini tak

urung dibikin merinding juga, pikirnya:

“Namaku sudah diketahui oleh pihak lawan. percuma

saja aku tetap bersembunyi … untung Si Soat Ang gadis sial

ini masih berada ditanganku, sekalipun gagal aku masih

bisa mengundurkan diri dengan andalkan sandera ini.”

Karena berpikir demikian ia lantas mendongak tertawa

terbahak2.

“Haa… haa haa.. kiranya kedatangan aku orang she-

Tong sudah kalian ketahui !”

Sembari bicara ia melangkah keluar dari tempat

persembunyian, sebelah tangan mencengkeram tubuh gadis

itu sementara telapak lain ditempelkan di atas batok

kepalanya siap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu ia sudah berada di luar pintu,

pemandangan disekelilingnya dapat terlihat amat jelas

sekali, mendadak ia bergidik dan menyusut mundur

kembali beberapa langkah kebelakang.

Kiranya keadaan dari gadis berambut panjang itu

mengerikan sekali, separuh rambutnya sudah beruban, dan

wajahnya kurus kering sedikitpun tiada daging keadaannya

lebih mirip dengan sekerat tengkorak hidup yang baru

bangun dari liang kubur sepasang matanya jauh didalam

memancarkan cahaya tajam, se-olah2 sepasang biji mutiara

yang setiap saat kemungkinan bisa terlepas dari tempatnya.

“Tong Hauw ! telapak berdarah Tong-Hauw!” kembali

perempuan aneh itu berseru, badannya lambat2 berputar

dan melototi lelaki tersebut tak berkedip.

“Siapakah anda ?” tegur Tong Hauw setelah tertegun

beberapa saat Iamanya, selama hidup belum pernah ia

jumpai kejadian seperti ini hari

“TongHauw . . .”

“Apakah kau anggota benteng Thian Poo ?” tukas Tong

Hauw kemudian setelah tertegun beberapa saat, Kali ini

perempuan aneh itu tidak berteriak lagi, ia mendongak

tertawa aneh. Tong Hauw benar2 dibikin kebingungan oleh

peristiwa yang terbentang didepan mata, dengan sangat ber

hati2 ia maju dua langkah kedepan.

Mendadak. . dari tempat kejauhan berkumandang datang

suara hiruk pikuk yang ramai sekali, diikuti ada orang

berteriak:

“Aaaa disini . . ia datang kemari, tidak bakal salah lagi,

coba kalian lihat bekas te!lapak kaki yang ada diatas

permukaan salju !” Kehadiran orang2 itu sangat cepat

sekali, dalam sekejap mata mereka sudah berada diluar

dinding tembok yang tinggi.

Terdengar seseorang diantaranya berseru: “Dia pasti

sudah meloncat masuk kebalik dinding tembok yang tinggi

ini !”

“Lalu apa yang harus kita lakukan ?” tanya yang lain.

“Kita tunggu dulu disini, dinding ini kita kurung rapat2.

tunggu saja keputusan dari Poocu sendiri”

Suara seseorang yang tua serak menyambung “Aaaai

keadaan malam ini sungguh tidak menguntungkan benteng

Thian It Poo kita, satu persoalan belum terselesaikan

persoalan lain kembali terjadi ?”

“Aku lihat terpaksa kita kurung saja tempat ini, sebab

cara ini jauh lebih baik dari pada kita harus beramai2

menangkapnya kembali, kalau kita tidak berbuat demikian,

seandainya Poocu datang kita tak bisa menanggung

resikonya !”

“Hmm ! enak sekali kau ngomong, nyalimu sungguh

kecil sekali!”

Beberapa saat kemudian suasana jadi sunyi senyap

kecuali obor2 yang mulai berdatangan mengurung seluruh

dinding tembok itu rapat2, berapa orang yang telah datang

susah diramalkan hanya yang jelas tak seorangpun diantara

mereka berani meloncat masuk kebalik dinding.

Melihat kejadian itu, Tong Hauw jadi lega hati.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan kangouw

yang berpengalaman luas, walaupun belum diketahui apa

sebenarnya yang telah terjadi namun ia dapat memastikan

kalau orang2 benteng Thian It Poo sedang menghadapi

perempuan siluman tersebut.

Kembali Tong Hauw mundur kebelakang, telapak

tangannya masih tetap ditekan diatas batok kepala Si Soat

Ang. selangkah demi selangkah ia mundur kembali ke

dalam ruangan gelap tersebut

Suasana diluar tembok tinggi sunyi beberapa saat

lamanya, mendadak terdengar salah seorang berteriak:

“Sudah. . . bagus, bagus sekali Kan Jie ya telah datang I”

Ditengah teriakan tersebut, salah seorang diantaranya

berseru pula:

“Kan Jie-ya dalam persoalan ini terpaksa kita harus

minta bantuanmu !”

“Apa yang terjadi ?” suara seseorang yang nyaring dan

lantang menggema datang.

“Aku hanya datang seorang tamu, tidak seharusnya

banyak mencampuri urusan ini.”

“Kan Jieya, kau jangan terlalu merendah, kau adalah

sahabat karib dari Poocu kami, tentu saja terhitung seorang

pembantu setia, Seorang perempuan gila yang terkurung

dalam pagoda entah apa sebabnya telah lolos dari

kurungan, sembilan bagian ia pasti berada didalam tembok

tersebut”.

“Ooow, siapakah orang itu?”

“Kami sendiripun tidak tahu cuma ilmu silatnya… sangat

lihay”

“Baik, akan kuperiksa keadaan disana”

Mendengar perkataan itu Tong Hauw buru2 mundur

kebelakang dan bersembunyi dibalik ruangan.

Ketika itulah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan

dengan dandanan siucay melayang turun dari atas tembok

pekarangan.

Menjumpai orang itu, Tong Hauw segera berseru dalam

hatinya:

“Aaah kiranya Thian-Ti-Ceng-Ngo Auw atau seruling

Besi yang menggetarkan lima telaga Kan Tek Lim adanya.”

Walaupun selama dua puluh tahun lamanya Tong Hauw

mengasingkan diri didaerah luar perbatasan, namun

kebanyakan ia kenal dengan jago tersohor dalam dunia

persilatan, siseruling besi yang menggemparkan lima telaga

Kan Tek Lim merupakan Cay cu dari benteng ditepi telaga

Tong-Ting, wataknya jujur, jantan dan berjiwa besar.

Gerak gerik Kan Tek Lim sangat ber-hati2 sekali, setelah

melayang turun dari atas dinding, punggungnya segera

menempel diatas dinding, setelah merasakan suasana tetap

tenang saja dan melihat perempuan itu sama sekali tidak

menyadari akan kehadirannya ia mendekati perempuan itu

semakin dekat.

Tiba2 ..

“Tong Hauw !” sambil putar badan perempuan itu

menjerit lengking.

“Tong Hauw ?” seru Kan Tek Lim dengan alis berkerut.

“Yang kau maksudkan apakah Si-telapak berdarah Tong

Hauw yang tersohor disekitar Kanglam tempo dulu ? ? ?”

Perempuan itu tidak menjawab, sebaliknya malah

berteriak semakin keras:

“Telapak berdarah Tong Hauw ! telapak berdarah Tong

Hauw !”

Mendengar jeritan itu TongHauw semakin keheranan, ia

merasa seandainya dahulu perempuan ini pernah

menjumpainya muka sepanjang masa tak akan dilupakan,

tapi ia merasa belum pernah menjumpai orang ini, tetapi

bagaimana mungkin ia bisa mengucapkan kata2 tersebut?

mungkinkah ia ada sangkut paut atau hubungan dengan

dirinya ?

Pikiran Tong Hiuw segera bergerak, tak kuasa ia bersin

beberapa kali buru2 pikirnya:

“Tidak tidak, tidak mungkin, aku tidak boleh berpikir

sembarangan pasti tak mungkin demikian . .”

Sementara itu perempuan tadi sudah berhenti menjerit

selangkah demi selangkah ia mendekati Kan Tek Lim.

Para jago Thian It poo yang bersandar diatas dinding,

segera pada berdetak keras sewaktu dilihatnya perempuan

itu mendekati diri Kan Tek Lim.

“Kan Ji ya, hati2, ia akan turun tangan,” Belum selesai

peringatan itu diutarakan mendadak kelima jari perempuan

itu bagaikan jepitan telah meluncur kedepan. serangan

perempuan itu cepat, namun Kan Tek Lim pun menghindar

dua langkah ke samping.

Serangan tadi mengenai sasaran kosong dan langsung

menghajar tembok dinding yang ada di hadapannya.

“Braaak. . .” tembok tebal terbuat dari beton tersebut

seketika hancur ber-keping2 dan meninggalkan lima buah

bekas cengkeraman yang dalam sekali, ditinjau dari hal ini,

bisa membuktikan betapa sempurna tenaga Iweekang yang

dimiliki perempuan itu.

Ambil kesempatan bagus itu, Kan Tek Lin segera putar

badan balas melancarkan sebuah cengkeraman mengancam

pergelangan lawan.

Terhadap datangnya serangan ini perempuan tersebut

tidak menghindar, melihat peristiwa itu Kan Tek Lin girang

sekali, kelima jarinya dengan cepat mencengkeram

pergelangan lawan.

Siapa sangka ketika itulah ujung telapak tangan

perempuan itu bergetar, diantara sambaran ujung bajunya

segulung angin pukulan yang maha dahsyat mengancam

dada orang she-Kan tersebut.

Segulung tenaga lunak yang besar dan dahsyat bagaikan

gulungan ombak ditengah samudra meluncur tiada

hentinya menekan dada lelaki tersebut.

“Bruukk !” Kan Tek Lin tergetar keras, tak berdaya

badannya mundur selangkah kebelakang sementara

dadanya jadi sesak, kepala pusing tujuh keliling dan mata

ber-kunang2, rasa kaget yang dialami Kan Tek Lin saat ini

susah dilukiskan dengan kata2.

Lengannya segera bergetar cepat, sebatang seruling besi

yang hitam pekat sepanjang dua depa segera diambil keluar,

“Criit, criit, criit” beruntun tiga jurus serangan berantai telah

dilepaskan, serangan itu kelihatan cepat bagaikan kilat

namun dalam kenyataan merupakan jurus pertahanan yang

kuat, sembari melepaskan ketiga jurus tadi iapun mundur

tiga langkah kebelakang.

Menanti ia sudah lolos dari mara bahaya, para jago yang

berada disekeliling dindingpun menghembuskan napas lega,

terdengar diantara mereka ada yang berseru keras:

“Kan Jie hiap, aku lihat lebih baik tunggu saja kehadiran

Pocu kita !”

Tentu saja orang itu berkata demikian karena bermaksud

baik, tapi justru karena perkataan ini pula Kan Tek Lin

membatalkan maksudnya untuk mengundurkan diri, sebab

ia merasa seandainya dia mengundurkan diri maka nama

besarnya akan kecundang.

Ia mendengus dingin dan berseru:

“Hmm! ternyata ilmu silat perempuan ini benar2 sangat

lihay !”

“Benar.” jawab seseorang, “Bahkan Poocu sendiripun. .

.”

“Jangan bicara sembarang !” belum habis orang itu

berkata, salah seorang rekannya telah menukas.

Kan Tek Lim tertawa lebar, ujarnya kembali: “Karena

tak kusangka ia memiliki ilmu silat selihay itu, hampir2 saja

aku menderita kerugian besar agaknya ia tidak benar2 gila

!”

Sembari berkata selangkah demi selangkah ia berjalan

mendekat, hanya saja gerakannya kali ini semakin hati2, ia

berhenti kurang lebih tiga-empat depa dihadapan lawan.

Badannya mendadak merendah, serulingnya laksana

kilat meluncur kedepan menotok jalan darah lemas

dipinggang perempuan itu.

Serangan ini ganas, telengas dan cepatnya luar biasa,

pada hari2 biasa serangan ini akan bersarang ditubuh lawan

sebelum pihak musuh merasakan apa sebenarnya yang telah

terjadi.

Senjata seruling ditangan Kan Tek Lin dalam sekejap

mata telah tiba ditempat sasaran sebentar lagi serangan itu

pasti akan menemui sasarannya, tiba2 perempuan itu putar

badan menyambar ke arah seruling besi tersebut.

Sejak Kan Tek Lin berhasil merebut gelar seruling besi

yang menggemparkan lima telaga, entah sudah berapa

banyak jago yang roboh ditangannya namun belum pernah

ia jumpai kejadian seperti ini,

Buru2 serangannya dibuyarkan dan senjata seruling

besinya ditarik kembali kebelakang.

Ia cepat, perempuan itu jauh lebih cepat, sebelum dia

sempat menyelamatkan senjatanya, seruling besi itu sudah

kena dicengkeram oleh perempuan tadi.

Setelah berhasil mencekal senjata tersebut, kembali ia

berdiri termangu. disana, kejadian ini makin membuat Kan

Tek Lin malu, sudah beberapa kali ia coba menarik kembali

senjatanya, tetapi tiap kali maksudnya gagal total.

Kan Tek Lin tahu, bila ia tidak lepas tangan pada saat ini

maka kerugian besar akan diterimanya, sebaliknya kalau ia

lepas tangan berarti nama besarnya jatuh kecundang

ditangan orang lain.

Setelah ragu2 beberapa waktu, ia segera ambil keputusan

dengan menggunakan tenaga sembilan bagian ia menarik

serulingnya kuat2.

Tarikan ini tetap gagal merampas senjata tersebut,

namun cukup membuat perempuan itu bergoyang keras.

Terdengar perempuan itu menjerit, tangan kanannya

ditarik kebelakang keras2 membuat badan Kan Tek Lim tak

kuasa lagi terseret kedepan.

Rasa kaget yang dialami Kan Tek Lim bukan alang

kepalang, berada dalam keadaan seperti ini kalau ia tidak

lepas tangan maka keadaan semakin konyol, terpaksa ia

lepas senjata andalannya dan mundur kebelakang, akhirnya

berhenti didepan bangunan gelap.

Pada saat ini asalkan ia berpaling maka sitelapak

berdarah Tong Hauw serta Si Soat Ang yang bersembunyi

ditempat kegelapan bakal ketahuan jejaknya.

Tetapi saat ini jantungnya sedang berdetak keras, tak ada

waktu baginya untuk mengurusi persoalan lain, apalagi

Tong Hauw sudah tutup semua pernapasannya.

Sementara itu bukan saja Kan Tek Lin bungkam, bahkan

Tong Hauw serta semua anggota Thian It Poo pun tertegun

dibuatnya, Kan Tek Lin bukan jagoan sembarangan, siapa

nyana dalam satu jurus saja senjatanya berhasil dirampas

orang ini, betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang ini.

Setelah berhasil merampas senjata tersebut seruling tadi

dibolak balik berulang kali seakan tidak tahu benda apakah

itu, kemudian dibuangnya benda tersebut kesamping.

“Criing . . .” dengan diiringi desiran tajam seruling

tersebut meluncur kedepan dan menancap didalam tembok

sehingga lima coen dalamnya.

Begitu melihat senjatanya dibuang, Kan Tek Lio segera

meloncat kesisi tembok dan dicabut nya sekuat tenaga,

kemudian tanpa memperdulikan gengsinya lagi, ia meloncat

naik keatas tembok dinding.

“Poocu menerima tanda bahaya, saat ini sudah

meninggalkan benteng karena takut siocia menjumpai

peristiwa diluar dugaan.”

“Siapakah perempuan ini ? apakah diantara kalian tak

seorangpun yang tahu ?” kembali Kan Tek Lim bertanya.

Orang2 itu pada membungkam, mereka saling

berpandangan tanpa seorangpun yang bisa menjawab, lama

sekali . . seorang yang berusia rada lanjut baru buka suara

berkata:

“Jian Jie-ya, perempuan ini misterius sekali, hampir

boleh dikata semua anggota dalam benteng Thian It Poo

mengetahui akan perempuan gila ini, tapi tak tahu asal

usulnya, aku dengar aku dengar… sejak ia datang kemari.

Poocu lantas mengusir semua orang yang semula tinggal

dalam benteng Thian It Poo ini, peristiwa tersebut terjadi

setahun setelah Poocu berpesiar keselatan.”

Buat Kao Tek Lin yang mendengar kisah ini hanya

mangut2 belaka, tanpa ada perasaan lain.

Tetapi sitelapak berdarah Tong Hauw yang bersembunyi

ditempat kegelapan hampir2 saja berseru tertahan setelah

selesai mendengar kisah tersebut untung dia adalah seorang

jago kangouw kawakan, walaupun terperanjat ia tidak

sampai melampiaskan emosinya, per-lahan2 ia

menghembuskan napas panjang sementara sepasang

matanya dengan ber-kaca2 memperhatikan perempuan gila

yang lebih mirip siluman itu.

Kan Tek Lin setelah berada diatas tembok dengan wajah

ter-sipu2 tertawa kering lalu berkata:

“Ilmu silat yang ia miliki sangat lihay sekali, aku bukan

tandingannya, tetapi kedudukan serta asal usulnya amat

misterius, kemungkinan besar ia ada hubungan dengan

Poocu. . . aku lihat- -aku. . ” bicara sampai disitu ia tertawa

kering dan tambahnya:

“Aku lihat lebih baik kita bicarakan lagi setelah Poocu

kalian pulang !”

Sejak Kan Tek Lin menderita kekalahan total, para jago

Thian It Poo sudah pada ketakutan setengah mati, mereka

kepingin sekali mengundurkan diri dari sana. Kini

mendengar ajakan orang she Kan itu, tidak menanti

perkataan kedua diutarakan dalam sekejap mata sudah pada

mengundurkan diri semua.

Dalam pada itu suara dari Kan Tek Lin masih terdengar

berkumandang datang dari balik dinding tembok.

“Merepotkan kalian harus ber jaga2 disini, sekalipun ia

meloncat keluar dari dinding ini, kalianpun tak usah terlalu

gugup, aku lihat asalkan tak ada orang yang turun tangan

lebih dahulu, ia tak akan melukai orang !”

“Kalau begitu Kan Jie-hiap, kau . .”

“Aku akan panggil pulang poocu kalian, kalau ia

tinggalkan halaman ini kuntitlah terus dari belakangnya,

coba kalian lihat perempuan gila itu pergi kemana saja,

dengan demikian kalau Poocu pulang, dengan gampang

bisa ditemukan !”

Walaupun orang2 itu sangat takut namun terpaksa

disetujuinya perintah tersebut, suasana jadi tenang kembali

kecuali suara2 menggerutu dari beberapa orang. Menanti

suasana jadi tenang kembali Tong Hauw baru alihkan sinar

matanya kembali kearah perempuan itu.

Ia berusaha untuk menemukan tanda2 persamaan dari

orang yang dibayangkan dalam benaknya saat ini, namun ia

jelas mengerti hal ini tak mungkin terjadi, sebab orang yang

dibayangkan adalah seorang perempuan cantik sedang

perempuan yang berada dihadapannya jelek sekali.

Sekalipun begitu Tong Houw masih ragu2. . . .

Akhirnya ia lepaskan cekalannya pada Si Soat Ang dan

per lahan2 maju kedepan, selangkah demi selangkah tanpa

mengeluarkan sedikit suara pun mendekati perempuan itu,

pendengaran perempuan itu benar2 tajam mendadak ia

berpaling.

Tong Hauw tetap membungkam, ia maju terus kedepan,

semakin mendekati raut wajah perempuan tersebut yang

jelek seperti tengkorak, perasaan aneh semakin menebal,

bahkan seluruh tubuhnya mulai gemetar keras menahan

emosi.

Akhirnya dia berhenti dihadapan perempuan itu

sementara perempuan itupun melototi dirinya tak berkedip,

sepasang biji matanya tak bersinar, sayu dan mendatangkan

rasa ngeri bagi setiap orang.

Tong Hauw berhenti, mengatur napas dan

menghembuskan napas panjang, lalu tegurnya lambatlambat:

“Kau . . kau adalah CiangOh ?”

Suara itu rendah dan lirih, sebab ia takut suaranya

kedengaran para jago Thian It Poo yang ada diluar tembok

dinding.

Walaupun suara itu lirih, namun perempuan tersebut

memberi reaksi, tiba2 ia putar badan, dalam sekejap mata

raut wajahnya yang kurus seperti tengkorak menampilkan

suatu perasaan yang susah dilukiskan dengan kata2.

Diikuti terdengar ia menjerit lengking, suara nya tinggi

keras dan memekikkan telinga . . .

Jeritan ini membuat Tong Hauw terperanjat buru2 ia

mundur dua langkah kebelakang sementara suaranya diluar

dinding tembok jadi amat gaduh.

Setelah menjerit perempuan itu tertawa aneh.

Sambil tertawa bibirnya bergetar mengucapkan puluhan

patah kata, namun disebabkan gelak tertawanya amat

memekikkan telinga maka apa yang diucapkan sepatah

katapun tak bisa ditangkap jelas.

Buru2 Tong Hauw bergerak mundur kembali kedalam

bangunan kecil tersebut, pikirannya terasa makin kacau.

Apa sebabnya perempuan itu menjerit lengking

kemudian tertawa aneh setelah mendapat pertanyaan itu,

mungkinkah dia adalah Cang Ooh ? mungkinkah dia

adalah Ciang Ooh yang dianggap sudah mati sejak dua

puluh tahun berselang ?

Tidak mungkin ! hal ini tidak mungkin terjadi, Ciang

Ooh adalah wanita tercantik didaerah Biauw, waktu

pertama kali ia berjumpa dengan gadis tersebut tepat

merupakan malam bulan purnama, gadis itu bagaikan

bidadari yang turun dari kahyangan, kecantikan wajahnya

amat mempersonakan karena itulah ia memberi nama

Ciang Ooh kepadanya.

Sedang perempuan yang berada dihadapannya ? Jelek.

menakutkan, bahkan lebih seram dari siluman, mana

mungkin dia adalah CiangOoh?

Lagi pula Ciang Ooh hanya seorang gadis suku Biauw

biasa. ia tidak memiliki ilmu silat, sedangkan perempuan

gila yang ada dihadapannya memiliki ilmu silat yang sangat

lihay, tentu saja dia bukan Ciang Ooh yang di-idam2kan

dan dirindukan selama ini.

Kalau benar dia bukan Ciang Ooh, mengapa perempuan

ini menunjukkan sikap terperanjat sewaktu mendengar

nama tersebut ? dan mengapa pula ia selalu memanggil

namanya ?

Timbul suatu perasaan dalam benak Tong Hauw, ia

merasa sekalipun perempuan itu bukan Ciang Ooh tentu

punya hubungan yang sangat erat dengan gadis biauw

tersebut atau mungkin…dari nada ucapannya bisa ditarik

kesimpulan tempo dulu Ciang Ooh telah sangat

menderita..ia mati karena tersiksa.

Teringat sampai disitu Tong Hauw gertak gigi kerat2,

seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Seperminum teh lamanya perempuan itu menjerit,

kemudian suasana hening kembali kecuali bibirnya masih

bergerak seperti lagi mengucapkan sesuatu namun tak

kedengaran sedikitpun

Melihat suasana tenang kembali, Tong Hauw ingin sekali

berjalan keluar lagi, se-konyong2 . . suara bentakan keras

berkumandang dari tempat kejauhan makin lama semakin

mendekat dan cepatnya luar biasa.

Bentakan itu mula2 ditempat jauh tapi dalam sekejap

mata sudah berada didepan mata bahkan laksana be-ribu2

ekor kuda berlari berbareng seluruh kalangan tergetar keras.

Tong Hauw berdiri tertegun, ia tertegun bukan karena

kaget oleh bentakan tersebut melainkan ia dapat mendengar

suara itu dipancarkan oleh Si Liong. Poocu dari benteng

Thian It Poo yang didendam dan dibencinya selama dua

puluh tahun.

Sementara ia masih berdiri tertegun, Kan Tek Lim yang

ada diluar tembok sedang berkata:

“Toako, kau telah kembali ? apakah keponakan Soat An

tidak menemui kejadian apa2 ?”

“Hemm !” Si Liong mendengus dingin “Budak itu belum

kutemukan, namun aku telah menjumpai suatu peristiwa

diluar dugaan.”

Tong Hauw terkesiap sehabis mendengar ucapan itu, ia

tahu yang dimaksud “peristiwa diluar dugaan” oleh Si

Liong tentu menunjukkan dirinya.

Segera pikirnya didalam hati:

“Walaupun aku punya Si Soat Ang sebagai sandera,

namun tidak mempunyai keyakinan untuk menang, paling

sedikit aku harus cari kesempatan untuk mengundurkan diri

dari sini…”

Karena itu ia segera masuk kembali kedalam kamar

gelap itu dan mencengkeram Si Soat Ang kencang2.

Terdengar Si Liong yang ada diluar tembok bertanya

kembali:

“Apakah ia melarikan diri dari kurungan ?”.

“Benar.” seseorang menjawab, “Kan Jie-ya pergi

menghadapinya… namun… namun menderita kerugian.”

Kan Tek Lin menghela napas panjang.

“Aaaai…Toako. walaupun benteng Thian It Poo terletak

jauh diluar perbatasan, namun nama besarnya benar2

bukan nama kosong belaka didalam sejurus perempuan gila

itu berhasil merebut senjata seruling besiku !”.

“Jie-te jangan menggoda. bahkan aku sendiri . . . aku

sendiripun…” Si Liong cuma bicara sampai setengah jalan

untuk kemudian menghela napas beberapa kali dan

membungkam.

“Toako, siapakah perempuan itu ?”

“Kalau dibicarakan amat panjang sekali, persoalan ini

tentu akan kuberitahukan kepadamu, ia bisa melarikan diri

dari kurungan berarti jeriji besi setebal satu coen yang

mengurung dirinya berhasil dipatahkan atau dengan

perkataan lain ilmu silatnya memperoleh kemajuan pesat,

belum tentu aku bisa menangkap dia. Jie-te, mari bantu

diriku !”

“Baik !”

Dua sosok bayangan manusia laksana kilat meloncat

melewati tembok dan melayang turun keatas permukaan.

Tong Hauw yang bersembunyi ditempat kegelapan dapat

melihat jelas sekali, orang pertama bukan lain adalah si

seruling Besi yang menggetarkan lima telaga Kan Tek Lin,

sedang orang kedua punya perawakan tinggi besar,

bercambang warna emas serta wajah yang keren terutama

sekali sepasang matanya memancarkan cahaya.

Sudah dua puluh tahun lamanya Tong Hauw tidak

berjumpa dengan orang ini, dia bukan lain adalah Si Liong.

Tong Hauw harus mengerahkan segenap

kemampuannya untuk menahan diri, lambat2 ia tarik napas

dan mengerem langkah kakinya yang hendak melangkah

keluar sementara itu Si Liong telah melayang turun

kedalam halaman, ia menghela napas dan ulapkan

tangannya memberi tanda kepada Kan Tek Lin agar jangan

terlalu mendekati perempuan itu, sedang ia sendiri berhenti

kurang lebih lima enam depa dihadapan perempuan

tersebut.

Setelah itu kembali ia menghela napas panjang dengan

suara yang serius dan keren tegurnya:

“Kau . . . kembali kau melarikan diri, Aaai buat apa kau

menyusahkan diriku terus menerus ?”

Perempuan itu tetap berdiri tak berkutik ditempat

semula.

“Mari. ikut aku pulang kekamarmu !” seru Si Liong

kembali sambil angsurkan tangannya ke-depan.

Gerakannya lambat sekali, siapapun dapat melihat kalau

ia bertindak sangat hati2 dan tak berani gegabah.

Namun perempuan itu tetap berdiri tak berkutik.

Makin lama tangan si Liong semakin mendekati

pergelangannya, ketika itulah gerakan orang itu semakin

cepat, laksana kilat kelima jarinya mencengkeram

pergelangan perempuan itu.

Gerakan ini betul2 cepat laksana kilat, tahu2 kelima jari

tangannya berhasil mencengkeram urat nadi perempuan itu

erat2, wajahnya terlintas rasa girang bukan main.

“Kita . . .” serunya.

Mendadak situasi berubah diluar dugaan.

Laksana kilat perempuan itu putar badan memandang

sekejap kearah Si Liong, diikuti telapak tangannya diayun

menggaplok pipi lelaki tua itu.

Buru2 Si Liong berkelit, namun gerakannya terlambat

selangkah.

“Plaaak!” dengan telak serangan itu bersarang diatas pipi

Si Liong membuat lelaki tua ini mundur tiga langkah

kebelakang. cengkeramannyapun jadi mengendor.

Menanti ia dapat berdiri tegak, terdengar Kan Tek Lin

berseru tertahan: “Toako, pipimu . .”

Si Liong meraba pipinya, bukan saja terasa panas, linu

dan sakit bahkan bekas gaplokan lima jarinya dapat teraba

nyata.

Air muka Si Liong kontan berubah hebat, ia tarik napas

panjang2 kemudian ambil keluar suatu senjata tajam yang

aneh sekali bentuknya.

Senjata itu berupa cakar naga yang panjangnya tiga depa

dan terbuat dari baja murni, lima sisik cakar memancarkan

cahaya ke-emas2an yang berkilauan.

Setelah senjata ini dikeluarkan maka Kan Tek Lin makin

tegang, senjata serulingnya disiapkan mengarah jalan darah

penting di depan dada perempuan itu. Kali ini ia tak berani

bertindak gegabah.

Tong Hauw yang mengintip kejadian itu dari tempat

persembunyiannya jadi terkesiap, keringat dingin serasa

mengucur keluar dengan derasnya.

Waktu itu Si Liong telah mempersiapkan senjatanya,

selangkah demi selangkah ia mendesak kedepan, wajahnya

penuh diliputi ketegangan.. ia mendesak kedepan dari

sebelah kiri perempuan itu, sementara Kan Tek Lin dengan

senjata terhunus dan mengarah kebawah selangkah demi

selangkah maju kedepan.

Akhirnya Si Liong tiba di hadapan perempuan itu, ia

merandek sejenak dan menegur dengan suara berat:

“Kau jangan mengaco belo lagi, ayoh cepat ikut aku

pulang !”.

Tenaga lweekangnya amat sempurna. bentakan ini

bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong.

Seluruh tubuh perempuan itu tergetar keras, mendadak ia

jerit melengking dan tertawa ter-kekeh2.

“Apa yang kau tertawakan”!” bentak Si Liong teramat

gusar.

Sembari menegur, senjata cakar naganya dengan disertai

sekilas cahaya tajam dari atas kearah bawah menghantam

batok kepala perempuan itu, gerakannya cepat laksana

sambaran kilat.

Tong Hauw yang melihat kejadian itu dari tempat

persembunyian jadi tercelos hatinya, sebab dari jarak sejauh

tiga-empat tombak ia masih kedengaran desiran tajam dari

serangan itu.

“Kau ingin membinasakan diriku ?” mendadak

perempuan itu berteriak aneh.

Bersamaan teriakan itu badannya merendah ke bawah,

gerakan ini aneh dan tidak masuk dalam akal.

Sebab serangan Si Liong mengancam batok kepalanya,

sekalipun ia telah merendah kebawah paling banter hanya

memperlambat beberapa saat serangan tersebut, untuk

menghindar boleh dikata percuma.

Melihat hal tersebut diatas, Si Liong memperbesar tenaga

serangannya, senjata cakar naganya bergetar semakin cepat.

Terdengar perempuan itu menjerit aneh, mendadak

badannya makin merendah kebawa untuk kemudian melejit

keatas.

Serangan Si Liong yang menggunakan tenaga amat besar

ini tak sempat ditarik kembali lagi, begitu sasarannya lenyap

senjata cakar naganya tidak ampun menghantam

permukaan tanah keras.

Bunga2 salju beterbangan memenuhi angkasa diiringi

suara bentrokan keras permukaan salju yang tebal beberapa

coen itu hancur ber-keping2.

Perempuan itu setelah melejit ketengah udara sebenarnya

ia punya peluang baik untuk merebut kemenangan namun

perempuan gila itu tidak berbuat demikian ia melayang

turun ke atas permukaan dan berdiri mematung.

Si Liong segera mundur kebelakang, wajahnya berubah

hijau membesi dengan ter-sipu2 ia tertawa apa boleh buat.

“ilmu … ilmu silatmu benar2 tambah lihay.” serunya.

Perempuan itu gelak tertawa. suaranya tinggi

melengking.

Karena gagal menggunakan kekerasan, kali ini Si Liong

menggunakan kelunakan, dengan suara halus ujarnya:

“Kau. . . Aaaai . . padahal kalau tidak gila, akupun tidak

akan mengurung dirimu dalam pagoda tersebut seorang diri

!”

Perempuan tadi tetap membungkam se-olah2 terhadap

apa yang diucapkan Si Liong sama sekali tidak mendengar.

Lambat2 Si Liong berjalan makin mendekati lagi.

“Toako, hati2…” melihat tindakan tersebut Kan Tek Lim

segera berseru. Dengan cepat Si Liong goyangkan

tangannya mencegah ia bersuara lebih jauh. ia berjalan

sampai kesisi perempuan tadi kemudian dengan suara halus

sapanya: “Ciang Ooh. . .”

Tentu saja setelah menyebut namanya, ia masih

mengucapkan perkataan lain, hanya si telapak berdarah

Tong Hauw yang bersembunyi ditempat kegelapan tak

mendengar sedikitpun apa yang diucapkan.

Ketika Tong Hauw mendengar kata2 “Ciang Ooh”

tersebut benaknya seperti digodam dengan martil berat,

dalam sekejap pandangan jadi gelap dan telinga serasa

mendengung keras.

Tentu saja kejadian ini hanya berlangsung sedetik, diikuti

jeritan perempuan itu menyadarkan dirinya, ia mulai dapat

menguasai diri dan melihat kejadian didepan matanya

semakin nyata.

Tampak olehnya Si Liong sedang mundur ke belakang

dalam keadaan mengenaskan, sementara sepasang mata

perempuan itu melototi dirinya tak berkedip.

Sepasang biji mata perempuan itu yang benar bukan

mata manusia hidup, biji matanya hampir boleh dikata

berwarna abu2 semua itu kelihatan amat mengerikan sekali.

“Ciang Ooh ? benarkah perempuan seram ini adalah

Ciang Ooh ? tidak mungkin !”

Tapi bukankah dengan jelas sekali Si Liong memanggil

perempuan itu sebagai CiangOoh?

Ciang Ooh, adalah nama yang diberikan olehnya kepada

seorang gadis suku Biauw pada dua puluh lima tahun

berselang, sebetulnya gadis itu punya sebuah nama yang

jelek dan susah dibaca, beberapa kali Tong Hauw tidak bisa

menghapalnya, kemudian ia panggil gadis ini sebagai Ciang

Ooh.

Tong Hauw bukan seorang penyair atau pujangga

pandai, ia hanya tahu Ciang Ooh adalah bidadari paling

cantik dirembulan. sedang CiangOh nya adalah perempuan

yang paling cantik pula di kolong langit.

Sewaktu Tong Hauw berkenalan dengan gadis tersebut.

ia sudah berusia tiga puluh tahunan, nama besarnya sudah

tersohor didalam dunia persilatan.

Ilmu telapak berdarah yang ia yakini sebenarnya ilmu

beracun, dan iapun bukan seorang lelaki sejati, maka dari

itu namanya tidak sedap di dengar, setiap orang akan

membayangkan dia sebagai seorang manusia paling sadis,

paling menakutkan, semua orang tahu akan hal ini kecuali

seorang yakni CiangOoh yang ada di daerah Biauw.

Ciang Ooh hanya tahu ia bernama Tong Houw si telapak

berdarah Tong Hauw.

Dalam bayangan Ciang Ooh, lelaki yang bernama Tong

Hauw sama halnya malaikat dari langit, orang yang paling

dicintainya, paling dihormatinya sebab kalau bukan ada

Tong Hauw ia sudah mati ditelan harimau, dan dengan

mata kepala sendiri pula ia melihat bagaimana caranya

Tong Hauw membinasakan harimau tersebut dengan

mudah.

Bagi Tong Hauw sendiripun tidak pernah menyangka,

perjalanan yang bermaksud mencari kitab ilmu silat warisan

seorang tokoh silat dari aliran Thiam-cong pay berakhir

dengan perjumpaan tersebut.

Demikianlah mengikuti adat istiadat suku Biauw, ia

kawin dengan Ciang Ooh dan berdiam selama tiga tahun

disana.

Selama tiga tahun ini boleh dikata merupakan masa

paling bahagia baginya, kalau dibandingkan dengan dua

puluh tahun kemudian maka perbedaannya bagaikan

disurga dan dineraka.

Tiga tahun kemudian, tiba2 Tong Hauw teringat dengan

sahabat2 karibnya yang tinggal di Tionggoan, ia ingin

memboyong istrinya pulang negeri leluhur dan dipamerkan

di hadapan rekan2 nya, namun Ciang Ooh tidak mau

meninggalkan desa kelahirannya, karena itu Tong Hauw

lantas berjanji setahun kemudian dia akan kembali lagi ke

daerah Biauw dan sejak itu tidak akan pergi2 lagi.

Seumpamanya waktu itu Tong Hauw tidak

meninggalkan dirinya, mungkin keadaannya akan jauh

berbeda.

Tetapi Tong Hauw telah meninggalkan daerah Biauw, ia

bermaksud melakukan beberapa peristiwa yang

menggemparkan dunia persilatan.

Demikianlah setahun kemudian, dengan penuh

kegembiraan Tong Hauw kembali ke daerah Biauw tapi apa

yang ditemukan?

Pondokannya sudah rata dengan tanah, yang terlihat

hanya puing2 yang berserakan.. berapa jam lamanya ia

berteriak dan mencari namun gagal sehingga akhirnya

beberapa orang Biauw yang masih tersisa muncul dari

tempat persembunyian dan menceritakan apa sebetulnya

yang telah terjadi.

Kiranya tidak lama setelah ia pergi, ditempat itu muncul

serombongan orang2 Han yang memiliki ilmu silat tinggi,

katanya mereka sedang mencari kitab ilmu silat warisan

seorang tokoh sakti.

Namun sejak mereka berjumpa dengan Ciang Ooh, soal

kitab ilmu silat sudah terlupakan sama sekali. Demi

mendapatkan perempuan cantik ini beberapa orang bangsa

Han itu mulai gontok2an sendiri sehingga akhirnya

dimenangkan oleh seorang lelaki tinggi besar yang berhasil

memboyong pulang CiangOoh.

Sebelum gadis itu diboyong, beberapa orang suku Biauw

melihat dengan mata kepala sendiri betapa Ciang Ooh

mencabut sebilah pisau dan menusuk dada sendiri, banyak

orang menyangsikan mungkin ia sudah lama menemui

ajalnya.

Waktu itu Tong Hauw merasakan badannya seperti

kaku, ia berdiri mendelong beberapa saat lamanya sehingga

beberapa orang berteriak keras, barulah ia mendusin dan

menangis tersedu2.

Tangisannya ini betul2 luar biasa, tiga hari tiga malam

tidak berhenti, makan tidak minum tidak bahkan tidurpun

tidak, beberapa orang suku Biauw yang bersedia menolong

dirinya.

Beberapa hari kemudian ia berangkat meninggalkan

daerah Biauw.

Sejak ia kehilangan Ciang Ooh, dalam dunia

persilatanpun kehilangan seorang tokoh silat yang bernama

sitelapak berdarah TongHouw.

Untuk memperoleh bagaimanakah bentuk wajah bentuk

badan manusia yang merampas Ciang Oh tersebut, Tong

Hauw telah mengorbankan waktu setengah tahun lamanya,

ia menyusun lukisan itu berdasarkan gambaran beberapa

orang suku Biauw yang menyaksikan sendiri jalannya

peristiwa tadi.

Kemudian dengan membuang banyak tenaga dan pikiran

pula ia berkelana didalam dunia persilatan untuk mencari

orang yang dimaksud.

Setelah selidiki sana selidiki sini, ia ambil kesimpulan

kemungkinan besar Si Liong seorang pemimpin benteng

Thian It Poo lah merupakan manusia yang dicari.

Begitulah ia lantas berangkat keluar perbatasan dan

tanpa mengucapkan banyak kata2 ia bertarung melawan Si

Liong.

Waktu itu Tong Hauw tidak langsung melaporkan asalusulnya,

ia cuma bergebrak sebanyak tiga jurus dengan

orang itu, dari sana ia bisa menarik kesimpulan bahwasanya

ilmu silat yang ia miliki masih ketinggalan jauh, untuk

membalas dendam bukan suatu pekerjaan yang ringan.

Disamping itu iapun tahu, penjagaan didalam benteng

Thian It Poo amat ketat, jago lihay banyak terdapat disana,

untuk menyelonong kedalam bentengnya merupakan suatu

pekerjaan yang lebih sukar dari pada terbang kelangit.

Pelbagai kesulitan menimbulkan kebulatan tekadnya

untuk berjuang mati2an. ia lantas menyaru sebagai seorang

pelarian yang kemudian bersemayan diluar benteng Thian

It Poo, disana ia mendirikan sebuah rumah gubuk dan

melewatkan hidupnya dengan susah payah dan

mengenaskan.

Selama banyak tahun ini, orang2 benteng Thian It Poo

hanya tahu kakek tua itu bernama Tan Loo-ya, tak

seorangpun yang tahu asal-usul sebenarnya, selama dua

puluh tahun ini setiap ada kesempatan Tong Hauw segera

bekerja keras membuat terowongan dibawah tanah yang

akhirnya berhasil ia tembusi sampai kedalam benteng Thian

It Poo.

Kebulatan tekad serta kekukuhan hatinya ini timbul

karena ia hendak membalaskan dendam kematian Ciang

Ooh, sebab didalam pandangannya Ciang Ooh, istri

tercintanya sudah mati ditangan orang lain.

Namun sekarang apa yang terjadi ?

Dengan jelas sekali ia mendengar Si Liong menyebut

perempuan itu sebagai “CiangOoh” . . .

Mungkinkah perempuan jelek yang lebih mirip siluman

ini adalah Ciang Ooh ? ? istrinya yang tercinta ? seorang

gadis Biauw yang paling cantik dikolong langit. . .

Usia berlalu dengan amat cepatnya laksana sambaran

kilat, hanya sebentar saja dua puluh tahun sudah berlalu

didalam waktu yang sangat lama ini ia sendiri dari seorang

pemuda yang gagah dan tampan kini sudah berubah

menjadi seorang kakek yang kurus kering dan berkeriput,

apalagi diri Ciang Ooh ia berubah jadi begitu sebenarnya

sama sekali tidak mengherankan.

Tetapi . . . pada masa yang lalu Ciang Ooh adalah

seorang gadis cantik yang lemah lembut hanya terkena

tiupan angin saja sudah ber-goyang2, bagaimanapun

sesudah berpisah selama dua puluh tahun ia bisa berubah

setengah gila bahkan memiliki kepandaian silat yang

demikian tinggi nya ??

Pikiran si telapak berdarah Tong Hauw pada waktu ini

amat kacau sekali, berbagai persoalan yang menimbulkan

rasa curiga dihatinya mulai memenuhi seluruh benaknya

akhirnya saking bingungnya tak kuasa lagi tubuhnya rubah

beberapa langkah kesamping, menanti tangannya berhasil

memegang tembok tubuhnya baru bisa berdiri kembali.

Sepasang matanya dipentangkan lebar2 memandang

kearah luar, dimana pada waktu itu Si Liong sedang

mundur kebelakang dengan kecepatan bagaikan kilat.

Kiranya Si Liong kena didesak mundur terus kebelakang

oleh tudingan perempuan itu yang semakin lama semakin

mendekati kearah badannya.

“Kaukah yang memanggil aku ?” teriak perempuan itu

setengah menjerit.

Sesudah mendengar ucapan dari perempuan tersebut,

dalam hati Tong Hauw sudah berani memastikan kalau

perempuan jelek yang ada dihadapinya ini benar2 adalah

Ciang Ooh. . Karena ..kendati mereka sudah berpisah

selama dua-puluh tahun lamanya, sehingga nada suaranya

boleh dikata sama sekali berubah. . . berubah semakin

melengking, semakin mengerikan dan membuat bulu kuduk

setiap orang pada berdiri tapi nada keras dalam bahasa Han

yang masih di campuri dengan bahasa suku Biauwnya

belum hilang sama sekali.

-oooo0de-wi0oooo-

Jilid 3

“CIANG OOH ! memang aku yang memanggil dirimu”

sahut Si Liong keras. “Kau jangan mengacau lagi, ayoh ikut

aku pulang dan berpikirlah secara tenang seorang diri.”

“Siapa yang aku pikirkan ?” mendadak Ciang Ooh

berteriak sambil melototkan matanya kearah siorang tua itu,

“Heee. . . heeh…” Si Liong tertawa dingin tiada hentinya

“Sudah tentu memikirkan orang yang selama ini kau

pikirkan terus!”

Dari bagian tenggorokan Ciang Ooh mendadak

memperdengarkan suatu suara yang amat serak dan aneh

sekali.

“TongHauw… sitelapak berdarah TongHauw” teriaknya.

Tong Hauw yang ada didalam ruangan sewaktu melihat

dan mendengar apa yang diucapkan oleh perempuan

tersebut, bahkan menjerit dan menyebutkan namanya

dengan suara yang begitu menyeramkan, dalam hatinya

semakin mantap bila dia benar2 adalah Ciang Ooh yang

sudah berpisah selama dua puluh tahun lamanya dengan

dirinya.

Hatinya benar2 merasa tidak tahan lagi, ia merasakan

suara sesunggukan isak tangis mulai berbunyi dari

tenggorokannya, karena tertahan dengan paksa maka suara

tersebut pada saat ini kedengarannya jadi sangat aneh

sekali.

Pada waktu itu Si Liong sedang pusatkan seluruh

perhatiannya untuk menghadapi Ciang Ooh sehingga dia

orang sama sekali tidak mendengar adanya suara aneh yang

berkumandang keluar dari balik ruangan disampingnya.

Lain halnya dengan Kan Tek Lin yang berdiri disisinya,

sewaktu mendengar dari dalam ruangan bergema keluar

suara yang sangat aneh, ia jadi rada tertegun.

“Toako, siapa yang ada didalam ruangan itu?” serunya

tak tertahan, Si Liong jadi melengak, “Aaakh ! tidak ada

orang…” Tetapi belum habis ia mengucapkan kata2nya

pada waktu itu iapun bisa menangkap datangnya suara

aneh dari dalam ruangan tersebut.

Tubuhnya buru2 meloncat kesamping kemudian laksana

sambaran kilat berkelebat maju dua tiga langkah kedepan.

“Siapa ?” bentaknya sambil mengayunkan senjata cakar

naga saktinya kedepan.

Pada waktu itu, sekalipun Si Liong tidak membentak,

Tong Hauw dengan sendiripun akan ke luar dan tempat

persembunyiannya.

Menurut pikiran Tong Hauw, kepingin sekali ia

menerjang keluar dan langsung menerjang kehadapan

Ciang Ooh untuk menuturkan seluruh kisah sedihnya

selama perpisahan ini.

Tetapi…penghidupan selama dua puluh tahun yang

terasing membuat sifatnya jauh lebih tenang, ia tahu berada

dalam keadaan seperti ini bilamana ia bertindak secara

gegabah maka nyawanya kemungkinan sekali bakal

terancam bahaya.

Oleh karena itu sewaktu mendengar suara bentakan dari

Thian It Poocu, ini tangannya mencengkeram pergelangan

tangan Si Soat Ang jauh lebih mengencang lagi sedang

telapak kanannya ditempelkan rapat2 diatas batok kepala

gadis tersebut.

Setelah itu dengan langkah yang amat perlahan ia

munculkan dirinya dari balik ruangan ter sebut.

“Si Poocu ! aku adanya !”

Halaman tersebut sudah sangat lama dikosongkan, Si

Liong sebagai Thian It Poocu sudah tentu tidak mungkin

tidak tahu kalau tempat itu sebenarnya adalah kosong.

Sewaktu mendengar timbulnya suara aneh tadi dalam

hati ia merasa keheranan apalagi pada saat ini mendengar

suara jawaban rasa terperana dari Si Liong kali ini benar2

luar biasa sekali.

Selama satu malaman ber-turut2 sudah terjadi dua buah

peristiwa yang ada diluar dugaan.

Ditengah suasana yang sunyi dan curahan salju yang

lebat ber-turut2 Si Liong harus mendapatkan dua kali

pukulan keras, apalagi jejak dari putrinya tidak diketahui,

ditambah lagi pada saat ini didalam bentengnya secara

mendadak muncul seorang asing bagaimana mungkin hal

ini tidak membuat hatinya terasa sangat terperanjat ? ?

Haruslah diketahui, penjagaan disekeliling Benteng

Thian It Poo amat ketat sekali, jangan harap ada seorang

manusiapun bisa memasuki benteng tersebut tanpa

diketahui oleh para penjaga.

Tetapi kini, didalam Benteng Thian It Poo ternyata

sudah muncul seorang asing tanpa berhasil diketahui oleh

para penjaga, jelas hal ini menunjukkan kalau kepandaian

silat dari orang itu sangat luar biasa sekali.

Oleh karena itu dalam keadaan sangat terperanjat buru2

ia memberi tanda kepada Kan Tek Lin untuk bersiap siaga

sedang ia sendiri dengan pandangan yang tajam

memperhatikan orang itu.

Tong Hauw sesudah buka bicara, tubuhnyapun dengan

cepat munculkan dirinya dari balik pintu.

Per tama2 yang dapat dilihat oleh Si Liong adalah

munculnya Si Soat Ang dibawah cengkeraman Tong Hauw

. .

Sewaktu melihat putri kesayangannya secara tiba-tiba

munculkan dirinya disana, Si Liong jadi terkejut.

“Ang-jie!” teriaknya keras.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat menubruk kearah

depan !

Tetapi sebentar kemudian ia sudah melihat bila nyawa

putrinya pada saat itu sudah ada di tangan orang lain,

dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan memandang

tajam keatas wajah sitelapak berdarah yang ada dibelakang

putrinya itu.

sepasang mata dari Thian It Poocu yang sangat tajam

dengan tiada berkedip memandang wajah Tong Hauw terus

menerus, lama sekali mereka berdua tak mengucapkan

sepatah katapun.

“Toako ! siapakah dia orang?” akhirnya Kan Tek Lim

ada di sisinya tak bisa menahan sabar lagi dan bertanya.

“Aku rasa kawan ini tentunya bukan lain adalah si

telapak berdarah Tong Hauw yang sudah lama lenyap dari

kalangan Bulim. bukan begitu ?”

“Heee… heeee… sedikitpun tidak salah, aku orang

memang she Tong !” teriak Tong Hauw sambil

memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat

menyeramkan.

“Heee… haaaa… haaa… ternyata saudara bisa

menandingi benteng Thian It Poo seorang diri, peristiwa ini

benar2 sangat mustahil sekali!”

“Hmmm, dikolong langit tak ada urusan yang sukar, asal

dalam hati ada niat !”

Per-lahan2 Si Liong maju satu langkah kedepan.

“Tadi sewaktu aku keluar dari Benteng Thian It Poo dan

berbicara dengan para anggota Benteng serta Teh Hoo

Siang Sah, cayhe baru tahu bila kau sudah menyaru sebagai

seorang kakek tua yang sedang menyingkir dari bahaya dan

berdiam selama dua puluh tahun lamanya diluar benteng

Thian It Poo, agaknya tujuanmu hendak memasuki ke

dalam benteng kami !”

Dalam hati Tong Hauw benar2 merasa amat gusar,

tetapi bagaimanapun dia adalah seorang jagoan yang sudah

lama berkelana didalam dunia persilatan dia tahu setelah

dirinya berhasil mencengkeram Si Soat Ang maka keadaan

situasi sangat menguntungkan terhadap dirinya.

Tetapi sesudah dilihatnya sampai pada saat ini keadaan

masih tidak juga menguntungkan dirinya, dan memerlukan

waktu yang lebih lama lagi untuk bersabar maka dengan

paksakan diri menahan rasa gusar yang berkecamuk

dihatinya ia menjawab:

“Sedikitpun tidak salah !”

Si Liong dongakkan kepalanya tertawa terbahak2, suara

tertawanya ini sangat aneh sekali dan memanjang tiada

henti2nya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru berhenti

tertawa. teriaknya keras:

“Lalu apakah saudara ada ikatan dendam dengan aku

orang she Si ?”

“Benar ! dendam atas perbuatanmu merebut istriku ?”

Teriak Tong Hauw sambil menggertak giginya kencang2.

Didalam anggapan Sitelapak berdarah, setelah perkataan

tersebut diucapkan keluar maka diatas paras muka Si Liong

tentu akan memperlihatkan perubahan yang sangat hebat,

karenanya dengan penuh perhatian gerak gerik musuhnya

sambil diam2 mengambil persiapan untuk menghadapi

perubahan mendadak.

Siapa sangka, peristiwa yang telah terjadi jauh berada

diluar dugaannya, Si Liong hanya melengak saja sesudah

mendengar perkataan tersebut “Apa maksud dari perkataan

saudara ini?” tanyanya kebingungan.

“Apakah kau masih tidak paham ataunya memang pura2

berlagak pilon ?” Bentak Tong Hauw dengan murka, “Siapa

yang pernah kau rebut pulang dari daerah Biauw Ciang

pada dua puluh tahun yang lalu ?”

Air muka Si Liong mendadak berubah menghebat,

“Ciang Ooh ?” serunya tak tertahan.

Sembari berkata ia melangkah mundur satu langkah

kebelakang lalu memandang sekejap kearah Ciong Ooh dan

memandang pula kearah Tong Hauw, agaknya ia menjadi

paham kembali dan mengangguk perlahan.

“Ehmmm…! tidak aneh kalau dia menyebut kan nama

Tang Hauw terus menerus, kiranya dia adalah…”

Tidak menunggu Thian It Poocu menyelesaikan

perkataannya, dengan jantung hampir meledak saking tidak

kuatnya TongHauw menggembor keras:

“Benar! dia adalah istriku !”

Teriakannya kali ini benar2 sangat keras laksana

halilintar yang membela bumi, membuat semua orang

merasa sangat terperanjat !

Bersamaan dengan suara gemborannya itu mendadak

tampaklah telapak tangan kirinya mencengkeram kencang2

urat nadi Si Soat Ang sedang tangan kanannya yang semula

ditekan ke atas batok kepala gadis tersebut pada saat ini perlahan2

diayunkan keatas.

Telapaknya per-lahan2 berubah jadi memerah laksana

darah, sambil menarik tubuh Si Soat Ang maju kedepan

telapak tangannya langsung melancarkan satu pukulan

dahsyat menghantam dada Si Liong.

Datangnya serangan tersebut benar2 luar biasa cepatnya,

Si Liong yang melihat telapak tangannya sudah berubah

jadi merah padam laksana darah dan sangat menyeramkan

sekali, apabila angin pukulan yang menyambar datang

diselingi dengan bau darah yang amis buru2 meloncat

mundur kebelakang.

Senjata cengkeraman naga saktinya dengan gerakan dari

atas menuju kebawah menghajar pergelangan tangan kanan

Tong Hauw.

Tong Hauw begitu dapat melihat wajah Si Liong yang

ada dihadapannya, dalam benak pun segera teringat

kembali akan pahit getirnya yang diderita selama dua puluh

tahun ini.

Hawa amarah yang memuncak tak dapat di tahan lagi,

dengan penuh rasa dendam dan benci ia mengirim satu

pukulan yang maha dahsyat kearah musuhnya.

Tampak sepasang matanya berubah jadi merah ber-api2,

dari mulutnya memperdengarkan suara jeritan yang sangat

aneh. Melihat serangannya gagal mendadak ia menarik

kembali tangannya kebelakang kemudian tanpa berpikir

panjang lagi kembali ia mengirim satu hajaran keatas batok

kepala Si Soat Ang.

Urat nadi dari Si Soat Ang sudah kena dicengkeram hal

ini membuat dirinya pada saat ini boleh dikata tak memiliki

tenaga lagi untuk me lawan, ditambah pula datangnya

serangan tersebut cepat laksana kilat.

Kelihatannya sebentar lagi batok kepala dari Si Soat Ang

sang gadis tersebut akan hancur di bawah hajaran serangan

telapak berdarahnya itu !

Tetapi pada saat2 vang amat kritis itulah, situasi kembali

berubah.

Si Liong Hauw melihat putri kesayangannya bakal

menemui ajalnya ditangan Tong Hauw, saking

terperanjatnya ia jadi berdiri mematung dengan mata

terbelalak dan mulut melongo lebar2 kendari tak ada

maksud untuk berteriak tetapi tak sepatah katapun berhasil

meloncat keluar dari mulutnya.

Kan Tek Lin yang melihat putri kawan karibnya

terancam bahaya segera membentak keras, seruling besinya

dengan disertai suara desiran yang tajam membabat

kedepan memaksa Tong Hauw mau tak mau harus menarik

kembali serangannya kebelakang.

Ketika itu Tong Hauw sudah mengumbar rasa dendam

serta gusarnya yang terpendam selama dua puluh tahun

lamanya ini. bagaikan kalap ia menerjang dan menubruk

kesana kemari bermaksud hendak membinasakan

musuhnya.

Melihat Kan Tek Lim menggagalkan usahanya untuk

membinasakan gadis tersebut ia semakin gusar lagi, sambil

berteriak keras laksana kilat menyambar kembali dia orang

mengirim satu pukulan laksana ombak dahsyat ditengah

tengah samudra.

Kontan saja tubuh Kan Tek Lin kena terhantam sehingga

tak kuasa lagi kena terdesak mundur satu langkah lebar

kebelakang.

Tetapi justru karena ia mundur kebelakang tubuhnya jadi

terbentur dengan CiangOoh yang ada disana.

Kan Tek Lin pernah merasakan pahit getir-nya ditangan

Ciang Ooh, begitu ia merasakan tubuhnya menubruk

perempuan tersebut dalam hati lantas mengerti kalau

keadaan sangat tidak menguntungkan bagi dirinya.

Belum sempat ia meloloskan diri dari sana, Tiba2

terdengar Ciang Ooh menjerit aneh, pundaknya terasa sakit

tahu2 ia sudah kena dicengkeramoleh perempuan tersebut.

Kan Tek Lim jadi amat terperanjat, tetapi perubahan

situasi sudah berlangsung dengan cepatnya, belum sempat

ia menjerit kaget telapak tangan Ciang Ooh sudah

digetarkan.

Tanpa ampun lagi tubuhnya melempar keatas udara

kemudian melayang turun menekan ke-arah Tong Hauw.

Seluruh kejadian ini berlangsung dalam waktu yang amat

singkat, bahkan boleh dikata berlangsung dalam saat yang

bersamaan !

Telapak tangan Tong Hauw belum sampai mampir

diatas balok kepala Si Soat Ang, tubuh Kan Tek Lin yang

tinggi besar itu sudah jatuh menindih tubuhnya.

Terhadap Tong Hauw, peristiwa ini merupakan suatu

kejadian yang berlangsung diluar dugaannya, ia ingin

menghindarkan diri tetapi tidak sempat lagi.

Dalam keadaan gugup dan gelagapan buru2 hawa

murninya ditarik mengelilingi seluruh tubuh, pergelangan

tangannya mendadak membalikkan serangannya yang

semula ditujukan keatas batok kepala Si Soat Ang, kini

berbalik menghantam keatas pundak Kan Tek Lin.

“Braak…. aduuuh !” suara benturan serta jeritan

berkumandang ber-sama2 memenuhi angkasa.

Pukulan telapak berdarah dari Tong Hauw benar2 luar

biasa lihaynya sekalipun Kan Tek Lin adalah seorang

jagoan lihay yang memiliki kepandaian silat tinggi tak

urung tubuhnya kena terhajar pula sehingga kembali

terpental ketengah udara.

Diiringi suara jeritan ngeri yang menyeramkan tubuh

orang itu melayang ketengah udara bagaikan layang2 putus

dan terlempar jauh keluar dari kalangan.

Dan bersamaan waktu itu pula Si Liong berhasil

menenangkan pikirannya.

Bagaimanapun Si Liong adalah seorang jagoan Bu lim

yang mempunyai pengetahuan luas, pada saat itulah ia

dapat melihat telapak kanan Tong Hauw mengayun keatas

sedang tangan kirinya mencengkeram urat nadi Si Soat Ang

membuat bagian dadanya jadi terbuka, inilah suatu

kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan.

Tanpa ragu2 lagi, kakinya menginjak kedudukan “Tiong

Kiong” menuju kepintu “Cong Bun”, senjata cengkeraman

naga saktinya laksana serentetan cahaya pelangi langsung

menerjang kearah dada TongHauw.

Baru saja sitelapak berdarah berhasil memukul pantai

tubuh Kan Tek Lin, untuk membalikkan lengan menangkis

datangnya serangan tersebut tidak mungkin lagi . . . ia jadi

bingung setengah mati ! !

Didalam keadaan yang sangat kritis ia merasa jauh lebih

penting mempertahankan nyawanya, mendadak terdengar

Tong Hauw berteriak aneh, kelima jari tangan kirinya yang

mencengkeram Si Soat Ang dilepaskan, lalu melemparkan

tubuh gadis tersebut jauh2 dari tengah kalangan.

Tangan kirinya langsung menerjang kedepan menyambut

datangnya serangan senjata cengkeraman naga sakti

tersebut dengan gerakan menyambar.

Walaupun sambarannya ini dilakukan dalam keadaan

ter-gesa2, tetapi gerakannya sangat tepat dan ganas, tahu2

kelima jarinya sudah mengejang dan mencekal senjata

musuhnya erat2.

Mereka berdua ber-sama2 kerahkan tenaga untuk

menarik kearah belakang. Bila membicarakan soal tenaga

dalam maka hawa Iweekang yang dimiliki Si Liong jauh

lebih tinggi satu tingkat dari sitelapak berdarah, oleh karena

itu sewaktu mereka berdua ber-sama2 menarik senjata itu

sekuat tenaga. tubuh Tong Hauw tidak bisa berdiri tegak

lagi, tak kuasa tubuhnya tersentak maju setengah langkah

kedepan.

Ketika itu mereka berdua sama2 mencekal senjata

cengkeraman naga saktinya setiap orang satu ujung yang

berlawanan dengan jarak cuma tiga depa saja, justru

keadaan yang sangat dekat inilah membuat situasi semakin

menegangkan karena pertempuran jarak dekat lebih

mengerikan dari pada pertempuran biasa.

Suara tertawa terbahak2 dari Si Liong tadi sebenarnya

merupakan pertanda bagi jago2 lihay dari benteng Thian It

Poo, pada waktu ini mereka dengan membawa obor segera

berlarian mendatang dan mengurung halaman tersebut

rapat2.

BoIeh dikata hampir seluruh pekarangan sudah dipenuhi

dengan jago2 lihay, hanya saja Tong Hauw serta Si Liong

yang sedang melakukan pertempuran sengit tak ada waktu

lagi untuk memperhatikan hal2 tersebut.

Sebaliknya para jago yang keburu tiba disana ketika

melihat si seruling besi yang menggetarkan lima telaga Kan

Tek Lin kena terpukul pental oleh hantaman musuh dan

melihat pula Pocu mereka sedang melangsungkan

pertempuran jarak dekat dengan pihak musuh, saking

kagetnya mereka pada membelalakkan matanya dan mulut

melongo!

Tong Hauw segera melancarkan satu pukulan menghajar

tubuh Si Liong yang berada sangat dekat dengan dirinya

itu.

Dalam hati Si Liong mengerti bila tenaga dalam yang

dimilikinya jauh lebih tinggi dari tenaga lwekang pihak

musuh, kendari begitu ia pun mengetahui pula bila pukulan

telapak berdarah merupakan salah satu ilmu pukulan

beracun yang sangat lihay dari aliran sesat, bila ia berani

menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras,

malah tidak urung dirinya akan menderita kerugian juga !

Oleh karena itu sambil menunduk menghindarkan diri

dari datar gaya serangan tersebut, tiba2 ia melepaskan

senjata andalannya dan berputar secepat kilat diatas

permukaan salju langsung menubruk kebelakang punggung

Tong Hauw.

Terlihatlah bunga2 salju beterbangan memenuhi angkasa

dan tersebar keempat penjuru karena terkena gesekan

kakinya itu.

Pada waktu itu Tong Hauw lagi berdiri melengak, Si

Liong yang berhasil menerobos kebelakang punggung

musuhnya kontan mengayunkan sang telapak tangan

melancarkan satu pukulan bebat.

Tong Hauw yang melihat pihak musuhnya secara tiba2

melepaskan senjata andalannya, dalam hati sudah merasa

keadaan tidak beres, apalagi pada saat ini secara mendadak

ia merasakan datangnya angin pukulan dibelakang

punggung, dalam hati merasa semakin terperanjat lagi.

Ujung kakinya buru2 menutul keatas permukaan tanah

untuk menerjang maju kearah depan.

Sebenarnya keadaan dari Si Liong pada saat ini sangat

menguntungkan sekali, asalkan pukulannya dikirim

kedepan maka pihak musuh pasti akan terkena hajaran.

Siapa tahu . . pada saat itulah se-konyong2 terdengar Si

Soat Ang putri kesayangannya menjerit keras.

“Aaaaah, , . ayah ! cepat. . . . cepat tolong aku. . .ayah !”

Begitu mendengar suara teriakan itu, tanpa banyak

berbicara lagi Si Liong menarik kembali serangannya dan

buru2 menoleh kearah putrinya.

“Aaah. .” Begitu dapat melihat apa sudah terjadi, Thian

It Poocu segera merasakan hatinya bergidik, bulu roma

pada berdiri semua.

Terlihatlah Si Soat Ang, putri kesayangannya sudah

terjatuh ketangan Ciang Ooh siperempuan gila itu !

cengkeraman Ciang Ooh yang aneh seperti cakar elang

dengan kencangnya mencengkeram pundak sang gadis dan

mengangkat tubuhnya sehingga jauh meninggalkan

permukaan tanah.

Walau Si Soat Ang meronta sekuat tenaga tetapi tiada

berguna, bukannya terlepas dari cengkeraman perempuan

itu, ia malah merasakan pundaknya semakin sakit.

Yang membuat Si Liong lebih terkejut lagi adalah paras

muka Ciang Ooh yang berubah sangat aneh sekali pada

waktu itu.

Sebenarnya paras muka Ciang Ooh sudah amat kurus

sekali sehingga dagingpun sudah habis dan mirip dengan

seperangkat tengkorak, apa lagi pada saat ini bergetar amat

keras membuat setiap orang yang melihat wajahnya terasa

seperti melihat panca indranya sedang bergoyang dan

berpindah tempat tiada hentinya.

Terutama sekali sepasang matanya yang memancarkan

cahaya tajam itu !

Melihat peristiwa tersebut saking terperanjatnya Si Liong

hanya bisa berdiri mematung sambil goyangkan tangannya

berulang kali, apa yang ingin dibicarakan sukar untuk

dikeluarkan ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat

oleh sesuatu.

Didalam menghadapi situasi semacam ini sudah tentu

tak ada waktu lagi baginya untuk melanjutkan serangannya

kearah Tong Hauw.

Sedang Tong Hauw pun buru2 melayang sejauh

beberapa kaki kemudian memutar badannya, tetapi ketika

melihat kejadian ini diapun dibuat berdiri melengak.

“Eeeei . . . cepat lepaskan dirinya ! cepat lepaskan dirinya

. . . ” teriak Thian It Pocu dengan suara yang keras.

Tenaga dalam dari Thian It Poocu sudah berhasil dilatih

hingga mencapai pada taraf kesempurnaan apalagi Si Soat

Ang adalah putri kesayangannya.

Suara teriakannya kali ini benar-benar amat keras sekali

bahkan sangat menyeramkan !

Saking ngerinya membuat Tong Hau yang sudah bersiap2

melancarkan serangan kedepan jadi tertegun dan

membatalkan niatnya itu.

Walaupun jago2 lihay dari Benteng Thian lt Poo sangat

banyak, tetapi suatu melihat puteri kesayangan Poocu

mereka terjatuh ditangan siperempuan gila itu, mereka pun

tidak bisa berbuat apa2, dengan wajah pucat dan mata

mendelong mereka cuma bisa berdiam diri.

Suasana disekeilling tempat itu segera berubah jadi

sangat tenang sekali, tak kedengaran sedikit suarapun

bergema disana.

Si Soat Ang yang kena dicengkeram Ciang Ooh, dalam

hati benar2 merasa amat takut, dengan napas ter-engah2

dan berusaha meronta sekuat tenaga tiba2 teriaknya keras.

“Tia ! kenapa kau tidak turun tangan menolong aku?

kenapa kau tidak hajar perempuan gila yang terkutuk ini ?”

Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai mulai

mengucur keluar dengan derasnya, membasahi seluruh

tubuh Si Liong ber-turut2 ia maju dua langkah kedepan.

Pada waktu itulah mendadak

“Heee. . . heee, . kau jangan coba2 berjalan maju lagi. . .

kalau tidak, . . Hemm ! aku hajar mati dulu si bocah

perempuan ini !” ancam Ciang Ooh dengan nada suara

yang sangat dingin.

Agaknya pada waktu itu kesadarannya sudah rada jadi

tenang.

Sekalipun Si Liong mempunyai kepandaian silat yang

sangat lihaypun menghadapi keadaan seperti ini ia jadi mati

kutunya.

“Ciang Ooh ! kiranya kau sudah sadar kembali.” serunya

pura2 merasa gembira, “Kalau begitu bagus sekali ! mari

kita bicarakan persoalan kita secara per-lahan2 !”

“Hee . . hee, . . selama puluhan tahun ini aku selalu sadar

! kapan aku pernah kehilangan kesadaranku ?” Tegur Ciang

Ooh dingin, “Sejak kapan aku pernah melupakan

perbuatanmu yang seperti binatang terkutuk itu ?”

Beberapa patah perkataan itu diucapkan oleh perempuan

tersebut dengan amat jelas sekali, hal ini membuat keadaan

diri Si Liong lebih mengenaskan lagi, tetapi dia orang sama

sekali tidak mengumbar hawa amarahnya.

“Benar. . . benar sekali !” terpaksa jawabnya, “Tetapi

seharusnya kau lepaskan dulu bocah perempuan itu !”

walaupun perkataan dari Ciang Ooh kedengarannya sangat

jelas dan menunjukkan kalau pikirannya masih terang,

tetapi omongnya ternyata kadang2 rada kacau.

Terdengar ia tertawa dengan seramnya “Heee… heeee

kenapa ? aku… aku tidak gampang aku mencari dirinya,

sekarang sesudah kuketemu kan kenapa harus aku lepaskan

kembali ?”

“Ciang Ooh ! kau sudah salah menduga,” teriak Si Liong

sembari mengusap kering keringat yang mengucur keluar

“Kau kira orang yang kau cekal pada saat ini adalah siapa ?”

Sepasang mata dari perempuan gila itu mulai berputar2,

sedang dari tenggorokannya memperdengarkan suara yang

amat tinggi melengking.

“TongHauw. . . sitelapak berdarah Tong Hauw…”

Keadaan serta pemandangan yang berlangsung pada saat

ini benar2 membuat Tong Hauw merasa amat pedih dan

seperti di-iris2, saking terpukulnya seluruh tubuh tiada

hentinya gemetar sangat keras.

Kepingin sekali dia orang berbicara banyak dengan

perempuan itu tetapi, kecuali suara aneh yang tiada

hentinya bergema keluar dari bibirnya tak sepatah katapun

bisa diucapkan keluar

Si Liong yang mendengar jawaban dari perempuan gila

itu, per-lahan2 baru menghembuskan napas lega.

“Ciang Ooh ! kau sudah salah mencari orang2 yang kau

pegang pada saat ini bukanlah Tong Hauw !” serunya keras,

“Coba kau perhatikan lebih jelas lagi. dia cuma seorang

bocah perempuan yang masih kecil, seorang gadis sudah

tentu tidak mungkin adalah Tong Hauw-mu itu!”

Ciang Ooh jadi melengak, mendadak ia mengangkat

tubuh Si Soat Ang tinggi2 kemudian sambil pentangkan

matanya lebar2 ia memperhatikan gadis tersebut tajam2.

Pada saat itu ujung hidungnya hampir2 saja menempel

dengan hidung dari Si Soat Ang, sepasang matanya yang

sudah sayu dan boleh dikata mati memancarkan cahaya

tajam yang amat menakutkan.

Si Soat Ang jadi sangat ketakutan, ia pejamkan matanya

rapat2 sedang mulutnya menjerit2 terus.

Setelah memperhatikan si Soat Ang beberapa waktu

lamanya, terakhir Ciang Ooh gelengkan kepalanya berulang

kali

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah, dia… dia memang

bukan Tong Hauw ku !”

Sembari berkata ia benar2 mengendorkan cekalannya

sehingga membuat tubuh Si Soat Ang jadi jatuh terkulai

keatas tanah, tetapi sebelum tubuh gadis tersebut mencapai

permukaan tanah Si Liong sudah keburu merendahkan

badan sambil melancarkan serangan dengan mendorong

sepasang telapaknya sejajar dada.

“Branak . . !” segulung angin pukulan yang sangat keras

dengan cepat menggulung tubuh Si Soat Ang sehingga jatuh

terpental kearah luar kalangan.

“Jie-te !” teriak Si Liong dengan cepat sehabis

melancarkan serangan tersebut.

Kan Tek Lin menyahut, tubuhnya dengan gesit dan

sebatnya lantas mencelat kedepan mengejar tubuh Si Soat

Ang dan menerima badan gadis tersebut sebelum terjatuh

kembali ketanah.

Begitu gadis tersebut kena terpegang oleh Kan Tek Lin.

ia jadi lemas dan merintih tiada hentinya. Ternyata ia sudah

kehabisan tenaga saking takut dan tegangnya tadi.

“Jie-te !” teriak Thian It Poocu kembali.

“Tidak mengapa, tidak mengapa ia cuma jatuh tak

sadarkan diri karena saking takut dan terperanjatnya”.

Melihat putrinya selamat tanpa kekurangan sesuatu

apapun, Si Liong baru bisa menghembuskan napas lega,

tubuhnya dengan cepat mengundurkan diri kearah

belakang.

“Si Liong, kau jangan pergi !” mendadak Ciang Ooh

menjerit tajam.

Si Liong jadi melengak, telapak tangannya segera

disilangkan kedepan serta kebelakang ber jaga2 terhadap

serangan bokongan dari TongHauw.

“Ada apa kau memanggil aku lagi ?” tegurnya. “Selama

ini aku mengira kau sudah menjadi gila maka itu demi

kebaikanmu aku sudah kurung dirimu didalam pagoda

tersebut kini bilamana kau merasa pikiranmu sudah terang.

suka meninggalkan tempat ini pergilah sesukamu, aku tidak

akan menahan dirimu lagi !”

Untuk beberapa waktu lamanya tegak Ciang Ooh seperti

orang yang sedang kebingungan terhadap perkataan dari Si

Liong tadi. ia menengadah keatas dan terpekur diam.

“Aku.,.aku harus pergi kemana ?” tanyanya kemudian

semudah lewat beberapa saat lamanya.

Mendadak Si Liong berkelebat menyingkir sejauh-jauh,

delapan depa kesamping kalangan.

“Kau mau pergi kemana, bagaimana aku bisa tahu ?

lebih baik kau tanyakan saja kepada sitelapak berdarah

Tong Hauw !” jawabnya kemudian.

“Tong Hauw?” teriak Ciang Ooh sambil

memperdengarkan tertawa pahitnya yang sangat

menyedihkan, “Dia…dia ada dimana ?”

Sitelapak berdarah Tong Hauw sudah tidak bisa

menahan sabarnya lagi, mendadak ia menjerit aneh dan

berteriak keras:

“Aku…aku…aku ada.,.ada disini !”

Disebabkan golakan didalam hatinya yang sangat hebat

dicampur pula perasaan terharu yang mencengkram seluruh

benaknya, memulai perkataannya tadi jadi gemetar dan

terputus2.

Mendengar jeritan tadi, sekali lagi Ciang Ooh

mendongakkan kepalanya keatas.

Dengan badan gemetar Tong Hauw mulai melangkah

maju kedepan dan akhirnya berhenti di depan tubuh

siperempuan tersebut.

“Ciang Ooh !” sapanya, “Aku adalah Tong Hauw yang

kau pikirkan selama !”

Kali ini, agaknya Ciang Ooh bisa mendengar jelas

perkataan tersebut. sepasang matanya terbelalak lebar2

kemudian memandang tajam seluruh tubuh sitelapak

berdarah itu.

Tong Hauwpun membelalakkan matanya yang pada saat

ini sudah dibasahi dengan kucuran air mata, dalam hati ia

berpikir, Ciang Ooh tentu bisa mengenali dirinya kembali !

dia pasti kenal dirinya !”

ia mengira Ciang Ooh yang sedang memperhatikan

seluruh tubuhnya tentu akan membuat perempuan tersebut

mengenali kembali dirinya, hal ini sudah tentu menurut

pikiran serta perasaan dari Tong Hauw sendiri.

Padahal, jangan dikata Ciang Ooh adalah seorang

perempuan yang sudah gila, sekalipun seorang yang masih

segar bugar dan awaspun belum tentu dapat mengenali

dirinya yang tempo dulu merupakan seorang pemuda yang

tampan dan kini telah berubah menjadi seorang kakek tua

yang wajahnya telah dipenuhi dengan keriput dan matanya

memancarkan cahaya berapi2.

Selagi Tong Hauw hendak mengucapkan sesuatu,

mendadak Ciang Ooh siperempuan gila itu mengayunkan

tangannya memerseni sebuah gaplokan keras kearah wajah

Tong Hauw.

Pada ketika itu Tong Hauw sedang memandang wajah

Ciang Ooh dengan rasa terharu, semua pikiran didalam

benaknya sudah kosong melompong ditambah pula ia tidak

menyangka kalau perempuan tersebut bisa melancarkan

serangan kearahnya.

Tanpa ampun lagi: “Plaaak!” pipinya kena terhajar

sangat keras hingga membuat tubuh si telapak berdarah

terpental kesamping dan jatuh terjengkang keatas tanah.

Walaupun dengan sebatnya Tong Hauw berhasil

meloncat bangun kembali, tapi tak urung pipinya jadi

bengkak juga terkena gaplokan yang amat keras itu.

Napasnya masih ter-engah2, sedang matanya terbelalak

semakin lebar, untuk beberapa saat lamanya sitelapak

berdarah yang telah sangat terkenal didalam dunia

persilatan ini tak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Waktu itulah terdengar Ciang Ooh mulai memaki kalang

kabut

“Hmm ! kau manusia macam apa ? bagaimana mungkin

kau adalah TongHauw yang aku pikirkan !”

“Ciang Ooh ! aku adalah Tong Hauw, aku benar2 adalah

Tong Hauw… coba kau perhatikan lebih teliti, aku memang

banyak berobah tetapi bila kau perbaikan lebih seksama

maka kau pasti akan mengenali diriku kembali, coba ! kau

perhatikan diriku lagi” jerit sitelapak berdarah dengan keras.

Sinar mata yang tajam dari Ciang Ooh tiada hentinya

memperhatikan wajah Tong Hauw, tetapi tempo dulu

sewaktu ia memasuki benteng Thian It Poo ini dalam

keadaan gila, ia sendiri pun sama sekali tidak mengetahui

dirinya pada waktu itu sudah berubah jadi seperti apa

didalam benaknya ia cuma mengingat terus bahwa Tong

Hauw seorang pemuda yang sangat tampan.

Kini secara mendadak seorang kakek tua cela ka

mengakui dirinya sebagai Tong Hauw, hal ini sudah tentu

membuat hawa amarahnya jadi memuncak. Terdengar

perempuan itu tiba2 mem perdengarkan suara jeritan yang

tidak enak didengar.

“Kau berani mengaku lagi !” bentaknya gusar

Ketiga patah kata itu dijeritkan dengan sangat

mengerikan laksana enam batang anak panah yang

menembusi selaput telinga saja membuat paras muka setiap

orang terasa berubah hebat.

Kan Tek Lin serta Si Liong sekalipun buru2

menghindarkan diri beberapa langkah kebelakang, sedang

para jago yang bersembunyi disekeliling tembok pekarangan

tersebut ada beberapa orang yang hatinya tergetar keras

sehingga tak terhindar lagi pada jatuh terpelanting keatas

tanah.

Tong Hauw yang pertama2 menerjang kedepan, didalam

sekejap saja merasakan darah panas bergejolak dengan amat

kerasnya didalam dada, ia merasa mulutnya jadi manis,

sambil mundur kebelakang dengan sempoyongan dan

mulutnya memuntahkan darah segar.

Dimana tubuhnya mengundurkan diri tepat merupakan

dihadapan Si Liong berada.

Thian It Poocu yang melihat kesempatan baik ada

didepan mata, ia tidak mau me-nyia2kan lagi, kontan saja

telapak tangannya dikirim kedepan melancarkan satu

pukulan dahsyat menghajar pinggang dari sitelapak

berdarah itu.

Didalam jeritannya tadi sebenarnya Ciang Ooh tidak ada

maksud buat melukai orang, tetapi berhubung tenaga

dalamnya berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf yang

sangat tinggi maka jeritannya tadi tanpa terasa sudah

mempunyai daya kekuatan yang mirip dengan ilmu

“Auman singa emas” dari kalangan Buddha serta “Ilmu iblis

pembelot sukma” dari aliran sesat.

Jika dibicarakan dari tingkatan tenaga lwee-kang yang

berhasil dimiliki Tong Hauw pada waktu itu, asalkan

kerahkan tenaga murninya untuk melindungi seluruh

tubuhnya saja tidak bakal sampai terluka dibawah serangan

jeritan keras tadi.

Cuma sayang, sewaktu keadaan mencapai pada saat2

kritisnya, Si Liong sudah menggunakan kesempatan baik

itu untuk mengirim satu pukulan keatas punggungnya.

Tak kuasa lagi badan si telapak berdarah itu terpelanting

kearah depan dan muntahkan darah segar dengan amat

derasnya.

Tubuhnya yang rubuh keatas tanah segera melingkar jadi

satu, darah segar yang muncrat ke luar dari mulutnya

dengan cepat mengotori permukaan salju nan putih itu.

Si Liong yang melihat serangannya berhasil merubuhkan

Tong Hauw keatas tanah dalam hati serasa sangat girang,

tubuhnya dengan cepat maju selangkah kedepan siap2

mengirim kembali satu hantaman guna membereskan

nyawanya.

Pada saat itulah mendadak. . .

“Si Pocu! jangan turun tangan jahat” mendadak dari

balik tembok pekarangan berkumandang datang suara

seseorang. “Orang ini kami perlukan dalam keadaan

hidup2!”

Diiringi suara perkataannya, muncullah sesosok

bayangan manusia melayang turun kedalam kalangan.

Orang itu bukan lain adalah sibidadari angin hitam Chao

Sie adanya!

Di belakang tubuh sibidadari angin hitam Chan Sie

menyusul pula suaminya si malaikat kelabang emas Li

Siauw beserta beberapa orang jagoan lihay dari benteng

Thian It Poo seperti Sin To SiangHauw dan lain2nya.

Si Liong yang sedang siap2 melancarkan pukulan

menghajar mati Tong Hauw mendadak tindakannya ini

dicegah oleh Chan Sie, dengan cepat ia menurunkan

tangannya kembali.

“Ooouw…kiranya kaitan berdua sudah datang” ujarnya

perlahan “Apakah kalian berdua pun ada ganjalan sakit hati

sedalam lautan dengan sitelapak berdarah Tong Hauw?”

“Benar !” sahut Chan Sie membenarkan. “Kami sudah

ada dua puluh tahun lamanya mencari dirinya, ini hari

sesudah menemukan dirinya kembali sangat mengharapkan

Si Poocu suka menyerahkan kepada kami. Budi ini kami

berdua tidak bakal melupakan untuk selamanya”.

“Haaa…haaa…Chan Sian Ho terlalu sungkan… bila

orang ini benar merupakan musuh bebuyutan yang sedang

kalian cari, kami orang2 dari pihak benteng Thian It Poo

pasti tidak akan menghalangi perbuatan kalian ini”

“Kalau begitu kami ucapkan terima kasih dulu kepada Si

Poocu !” seru Chan Sie serta Li Siauw berbareng.

Gerakan mereka serempak, sembari berkata tubuhnya

sudah melangkah maju kedepan, masing-masing orang

sambil berjongkok dengan arah yang berlainan mendadak

mencengkeram urat nadi kedua tangan TongHauw.

Diantara getaran sepasang tangannya mendadak mereka

menarik tubuh si telapak berdarah itu dengan paksa dalam

arah yang berlawanan.

Wajah Tong Hauw pada waktu itu sangat menyeramkan

sekali, separuh pipinya sembab bengkak, ujung bibirnya

masih membekas darah segar yang pada waktu ini sudah

membeku saking dinginnya cuaca pada waktu itu.

Agaknya luka dalam yang dideritanya amat parah sekali,

walaupun tubuhnya pada saat ini sudah diangkat oleh Li

Siauw serta Chan Sie tetapi kepalanya masih tertunduk

dengan lemas.

“Ha ha ha hi hi hi Tong Hauw ! tidak di sangka kaupun

bisa jadi begini pada hari ini !” Teriak Chan sie serta Li

Siauw berbareng sambil memperdengarkan suara jeritannya

yang sangat menyeramkan.

Per-lahan2 simalaikat kelabang emas Li Siauw

mengangkat telapak tangannya keatas siap2 hendak

ditabokkan keatas batok kepala sitelapak berdarah itu.

Tetapi baru saja tangannya diayunkan keatas mendadak

Chan Sie, istrinya sudah melancarkan serangan menyentil

telapak tangannya itu.

“Hey, apa yang hendak kau lakukan ?” mendadak

bentaknya keras “Bila kau sekali tepuk menghajar mati

dirinya bukankah terlalu enak bagi dirinya ?”

Li Siau yang merasa berpengalaman tangannya kena

disentil, buru2 menarik kembali tangannya

“TongHauw !” teriak Chan Sie.

Tong Hauw tetap menundukkan kepalanya rendahrendah,

tak sepatah katapun yang diucapkan keluar

olehnya.

“TongHauw !” kembali Chan Sie membentak.

Suara bentakan keduanya ini tetap tidak memperoleh

suara jawaban dari Tong Hauw, sebaliknya menimbulkan

perhatian dari CiangOoh si-perempuan gila itu.

“Siapa kau ? apa kau kira nama Tong Hauw bisa kau

sebutkan seenaknya ?” tiba2 saja ia menegur dengan

suaranya yang sangat dingin.

Mendengar perkataan tersebut kontan sajaChan Sie serta

Li Siauw jadi tertegun, sibidadari angin hitam yang bersifat

lebih berangasan dalam hati segera merasa amat gusar.

Bilamana pada saat ini ia tidak berada didalam Benteng

Thian It Poo mungkin sejak semula dia sudah kepingin

mengumbar hawa amarahnya, tetapi dalam hati ia tahu,

dirinya tidak dapat bergerak secara gegabah bila tidak

menginginkan terjadinya bentrokan2 dengan orang2

Benteng Thian It Poo.

Mereka berdua baru saja datang kedalam Benteng Thian

It Poo dengan dipimpin oleh Sio To Siang Hauw, sudah

tentu tidak mengetahui pula siapakah CiangOoh ini.

Dengan dingin Chan Sie melirik sekejap kearah

perempuan gila itu lalu sambil menoleh kearah Thian It

Poocu tanyanya:

“Eeei, Si Poocu, siapakah orang ini ?”

Pikiran tajam dengan cepat berkelebat didalam benak

siorang tua ini, akhirnya ia tertawa tawar.

“Chan Sian Hoo! pertanyaanmu ini sungguh lucu sekali.

dia datang kedalam benteng Thian It Poo kami ber sama2

dengan Tong Hauw, bagaimana aku bisa tahu siapakah dia

orang ?”

Begitu beberapa patah kata itu meluncur ke luar dari

mulut sang Poocu dan benteng Thian It Poo, kontan saja

membuat Kan Tek Lin beserta Sio To Siang Hauw sekalian

beberapa orang jagoan lihay jadi melengak dan berdiri

melongo, karena mereka tahu bila apa yang sedang

dibicarakan oleh Poocunya sama sekali tidak benar !

Tetapi mereka adalah jago2 dunia persilatan yang

berpikiran cerdik, setelah tertegun beberapa saat lamanya

dengan cepat mereka menjadi paham kembali apakah

maksud yang sebenarnya dari Si Poocu mereka ini.

Karena itu tak seorangpun diantara mereka yang buka

suara, semua orang bungkam diri sambil melihat perubahan

situasi selanjutnya.

“He he he, kiranya begitu.” seru simalaikat angin hitam

sambil tertawa dingin, “Jadi kau lagi turun tangan untuk

menolong Tong Hauw ?”

“Tong Hauw ? Tong Hauw ada dimana ?” teriak Ciang

Ooh kebingungan.

Chan Sie serta Li Siauw diam2 saling bertukar

pandangan sekejap kendari mereka sudah sering berkelana

didalam dunia persilatan sehingga mereka memiliki

pengetahuan yang amat luas tetapi pada saat inipun tidak

berhasil menebak dari aliran manakah perempuan tersebut.

Sambil menahan hawa gusar yang semakin memuncak

didalam dadanya, Chan Sie tertawa dingin tiada hentinya.

“Tong Hauw ada dimana apakah kau tidak tahu ?” balik

tanyanya.

Ciang Ooh adalah seorang perempuan yang sudah gila,

sewaktu pikirannya tidak boleh di kata urusan apapun tidak

diketahui olehnya kecuali Tong Hauw seorang.

Oleh sebab itu ketika mendengar pertanyaan dari si

bidadari ang”n hitam ini ia jadi menangis tersedu2.

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu Tong Hauw ada

dimana…” teriaknya keras.

Melihat kejadian ini perasaan curiga didalam hati Chan

Sie serta Li Siauw semakin menebal.

“Hmm ! Tong Hauw sudah berhasil kami tawan apakah

kau tidak dapat melihat ?” bentak Chan Si lagi.

Sewaktu pikiran Ciang Ooh tidak sadar, biji matanya

memang berwarna abu2 dan sama sekali tak bersinar

sehingga keadaannya mirip sekali dengan seorang buta,

karena itu Chan Sie baru mengajukan pertanyaan tadi.

“Dimana?” terdengar Ciang Ooh siperempuan gila itu

menggembor keras, “Kalian sudah menawan dirinya ?

mengapa kalian menawan Tong Hauw ku ?”

Sembari menjerit keras tubuhnya segera menerjang maju

ke depan mendesak kearah mereka berdua.

Chan Sie yang melihat pihak lawan mendesak datang,

dengan cepat ia mengirim satu kerlingan mata kearah Li

Siauw.

Li Siauw mengiakan begitu dilihatnya tubuh Ciang Ooh

sudah ada dua tiga tengah dihadapan mereka buru2 ia

melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan si telapak

berdarah itu.

Begitu Li Siauw melepaskan tangannya, Can Sie segera

menyentak lengannya kebelakang dan melemparkan tubuh

Tong Hauw yang sama sekali tak bertenaga itu kearah

belakang.

Pada Waktu itulah Li Siauw sudah merangkap sepasang

telapaknya sejajar dengan dada kemudian langsung

mengirim satu pukulan menghantam dada CiangOoh.

Chan Sie agaknya merupakan seorang yang mempunyai

sifat teliti, karena dalam hatinya ia masih merasa takut

terhadap hubungan perempuan gila itu dengan pihak

benteng Thian It Poo, maka sewaktu Li Siauw melancarkan

serangan dahsyat kearah depan sinar matanya yang tajam

berputar tiada hentinya memandang disekeliling tempat itu.

Diam2 tangannya menggenggam satu genggaman senjata

rahasia. ia ber-siap2 bila orang2 dari Benteng Thian It Poo

memberikan sesuatu gerak gerik yang mencurigakan ia

segera akan menghadapinya dengan menggunakan senjata

rahasia.

Sekalipun ia sudah bersiap sedia dan memperhatikan

gerak gerik disekelilingnya tetapi orang2 dari benteng Thian

It Poo itu ternyata benar2 tidak ambil perduli terhadap

peristiwa tersebut, setiap jago pada berdiri ditempatnya

semula tanpa bergerak.

Melihat keadaan tersebut Chan Sie baru merasa berlega

hati, mendadak.

“Braak !” dengan menimbulkan suara yang sangat keras

sepasang telapak tangan dari Li Siauw yang melancarkan

serangan dahsyat tersebut berhasil menghantam dada dari

Ciang Ooh.

Bagaimana kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki

simalaikat kelabang emas pada saat ini sudah tentu Chan

Sie mengetahuinya dengan teramat jelas, sewaktu

dilihatnya serangan yang sangat gencar itu berhasil

mengenai sasaran, didalam anggapannya kendari seorang

jagoan lihaypun belum tentu kuat menahan serangan

tersebut tidak terkecuali Thian It Poocu sendiri Si Liong.

Maka dari itu ia rasa kemenangan sudah pasti berada

didalam pihaknya.

Saking gembiranya perempuan itu mulai tertawa seram

dengan amat kerasnya.

Mendadak terdengar Li Siauw mendengus berat disusul

tubuhnya mundur satu langkah kebelakang dalam keadaan

sempoyongan.

Chan Sie jadi amat terperanjat buru2 ia menoleh dan

memandang kearah-nya. Tampaklah air muka Simalaikat

kelabang emas yang semula merah padam pada saat ini

sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, jelas sekali

ia sudah menderita luka dalam yang sangat parah sekali.

Rasa terkejut dari si Bidadari angin hitam kali ini benar2

luar biasa hebatnya, tanpa memperdulikan lagi

bagaimanakah keadaan luka yang diderita oleh suaminya Li

Siauw, pergelangan tangannya mendadak digetarkan enam

batang senjata rahasia beracun dengan kecepatan laksana

kilat segera melesat ketengah udara.

Gerakan dari keenam batang senjata rahasia berkelebat

dengan amat cepatnya kearah depan.

“Plaaak. . . plaaak. . . !” dengan mengeluarkan suara

benturan yang nyaring, keenam senjata rahasia itu dengan

tepat berhasil menghajar diatas tubuh CiangOoh.

Siapa sangka mendadak perempuan gila tersebut

mengulapkan tangannya kedepan, senjata rahasia yang

semula menancap di seluruh tubuhnya pada saat ini sudah

jatuh berserakan diatas tanah kemudian dengan gerakan

yang sangat tenang ia melangkah maju kedepan.

“Tong Hauw ada dimana? apakah kau sudah menawan

Tong Hauwku ?” teriaknya berulang kali

Ketika itu darah segar mengucur keluar dengan derasnya

dari ujung bibir Li Siauw, sedang Chan Sie yang melihat

Ciang Ooh mulai mendesak ke arahnya pun jadi rada

ketakutan, tubuhnya buru2 mengundurkan diri sembari

menarik tangan Li Siauw.

Gerakan dari Ciang Ooh benar2 luar biasa cepatnya,

hanya dalam sekejap mata ia sudah berada di depan mereka

berdua.

“Kau tidak boleh menangkap Tong Hauwku!” kembali

teriaknya keras.

Dimana tubuh Ciang Ooh menyambar datang Chan Sie

hanya merasakan segulung hawa tekanan yang sangat keras

mengurung seluruh badannya, membuat napaspun terasa

mulai jadi sesak, apalagi pada saat ini suaminya menderita

luka dalam yang amat parah, boleh dikata daya kekuatan

untuk bertempur sama sekali sudah punah.

Sekalipun begitu mereka pun tidak ingin ter-buru2

meninggalkan tempat tersebut, sudah ada dua puluh tahun

lamanya mereka berkelana untuk mencari jejak Tong Hauw

guna membalas dendam atas kematian putranya, kini

mereka sudah menemukan jejak sitelapak berdarah

pembunuh putranya.

Sudah jelas Chan Sie berdua tidak ingin lepas tangan

dengan begitu saja.

Tetapi sewaktu melihat keadaan saat ini yang sama

sekali tidak menguntungkan terhadap dirinya ini, dalam

hati perempuan tersebut merasa sangat terkejut bercampur

gusar. Sembari menyalurkan hawa murninya mengelilingi

seluruh tubuh bentaknya keras:

“Nih. Tong Hauw mu ada disini !”

Begitu perkataan terakhir meluncur keluar dari bibirnya

sang telapak sudah diayunkan kedepan melemparkan tubuh

Tong Hauw kearah tubuh CiangOoh.

Sebenarnya Tong Hauw sudah menderita luka dalam

yang amat parah, kini Chan Sie mencengkeram urat

nadinya dengan mengerahkan tenaga besar, hal ini

membuat lukanya semakin parah lagi, sembari melayang

kearah tubuh Ciang Ooh kembali ia muntahkan darah

segar.

Chan Sie sesudah melemparkan tubuh Tong Hauw

kearah Ciang Ooh sambil menarik tangan Li Siauw, buru2

ia enjotkan badannya berkelebat melewati tembok

pekarangan.

“Si Poocu, berkat bantuanmu kali ini aku orang tidak

akan melupakan untuk selamanya.” teriaknya keras.

Haruslah diketahui pada waktu ini yang diinginkannya

telah lebih bisa mengundurkan diri dari tempat tersebut,

tanpa berani mencari gara2 lagi dengan orang2 benteng

Thian It Poo.

Sio To Siang Hauw sekalian ketika melihat kedua orang

itu berlalu buru2 melirik sekejap kearah Si Liong Poocu

mereka, Si Liong dengan cepat ulapkan tangannya memberi

tanda agar mereka tidak usah melakukan pengejaran.

Melihat Poocu mereka sudah memberi perintah, orang2

itupun lantas berdiri tegak ditempat semula sambil alihkan

pandangannya kearah CiangOoh.

Waktu itu siperempuan gila tersebut sedang

membimbing tubuh Tong Hauw yang sudah amat parah

keadaannya sambil mengucurkan airmata dengan sangat

derasnya.

“Toako! perempuan ini…” seru Kan Tek Lin dengan

suara yang amat lirih.

“Kita tidak nian banyak berbicara, secara diam2 mari

pada keluar dari tembok pekarangan ini ” potong Si Liong

sambil ulapkan tangannya.

“Tapi.. Poocu, tindakan ini bukan suatu cara yang benar”

sela Sin To SiangHauw dengan cepat

Si Liong tertawa pahit.

“Apakah tadi kalian tidak melihat sendiri bagaimanakah

kehebatan serta kesempurnaan dari tenaga Iweekang serta

ilmu silatnya ? Siapa diantara kita yang bisa menahan

serangannya ? Aku rasa perempuan itu pasti akan menangis

beberapa saat lamanya, sedang Tong Hauw pun

kebanyakan tak bisa hidup lebih lama lagi” katanya

kemudian.

“Mari kita mengundurkan diri dulu ke balik tembok

pekarangan dan memerintahkan orang yang lebih banyak

untuk ber-jaga2 disekelilingnya, bila ia memperlihatkan

sesuatu gerakan kembali, barulah kita mengambil langkah2

selanjutnya”.

Akhirnya semua orang mengangguk tanda setuju,

demikianlah satu persatu mereka mulai meloncat keluar

dari tembok pekarangan itu dan terakhir Si Liong serta Si

Soat Ang pun meloncat keluar dari sana.

Menanti mereka telah tiba dibalik tembok pekarangan, Si

Soat Ang mendadak menangis tersedu2.

“Ang-Jie! sekarang sudah tak ada urusan lagi buat apa

kau menangis ?” tegur Si Liong dengan cepat

“Tia !” sembiri menangis terisak, “Seorang

perempuanpun kau tidak berhasil menangkan, bila

dikemudian hari waktu berkelana didalam dunia persilatan

bukankah nama kita diluaran akan kurang baik ? bukankah

semua orang bakal mengejek aku sebagai seorang putri dari

Thian It Poocu yang tidak becus ?”

“Ang-jie ! kau jangan sembarangan berbicara lagi”

potong Si Liong dengan rasa amat jengah “Perempuan gila

ini.. sebenarnya aku tidak ingin bergebrak secara terang2an

melawan dirinya !”

“Hmm..!” dengus gadis itu, agaknya ia tidak suka

membicarakan soal itu lagi, sambil mengerutkan dahinya Si

Soat Ang melanjutkan kembali masalahnya dengan

persoalan yang lain.

“Tia ! lalu bagaimana dengan Liem Hauw Seng serta

Giok Jien kedua orang itu ? aku ingin membawa orang

untuk mengejar mereka berdua !”

“Heeei… Ang jie ! kau dengarkanlah perkataanku dan

jangan mengubris diri mereka lagi.” seru Thian It Poocu

sambil menghela napas panjang, “Kalau memangnya

mereka sudah meninggalkan benteng Thian It Poo biarlah

mereka pergi ! bila malam ini kau tidak melakukan

pengejaran terhadap mereka, rasanya tidak bakal pula

sampai menimbulkan banyak persoalan !”

Air muka Si Soat Ang segera berubah hebat sesudah

mendengar perkataan tersebut, wajahnya yang semula

cantik menarik dan mempesonakan pada saat ini sudah

berubah hijau membesi, sepasang matanya memancarkan

cahaya yang sangat buas sehingga membuat paras mukanya

itu kelihatan sangat menyeramkan sekali.

Begitu menanti ayahnya menyelesaikan kata2 nya, ia

menjerit keras dan mendepak-depakkan kakinya keatas

tanah.

“Tidak bisa ! Tidak bisa ! aku pasti akan mengejar

mereka kembali – aku pasti akan mengejar mereka pulang ! !

!”.

Si Liong sebenarnya adalah seorang jagoan Bu-lim yang

mempunyai kedudukan amat tinggi didalam dunia

persilatan, tetapi sejak kecil ia sudah terbiasa dimanjakan

putri kesayangannya ini, kini sama sekali tak kuasa baginya

untuk memperlihatkan sikap yang keren terhadap gadis

tersebut.

Setelah ter mangu2 beberapa saat lamanya terakhir

sambil mengerutkan alis rapat2 katanya:

“Benteng kita baru saja kacau balau, kitapun

membutuhkan orang untuk menjaga pekarangan tersebut,

lebih baik..”.

Tidak kendari Si Liong menyelesaikan kata2 nya Si Soat

Ang sudah mendepakkan kakinya ke atas tanah.

“Baik… baiklah ! tidak ada orang yang ikut aku pergi juga

biarlah, aku bisa pergi sendiri l”

Sembari berkata ia lantas melangkah menuju kearah luar

benteng !

“Ang-jie ! kau jangan cari gara2 lagi” teriak Si Liong

dengan sangat cemas, “Bilamana kau tidak cari gara2

bagaimana mungkin sitelapak berdarah Tong Hauw pun

bisa terpancing untuk memasuki benteng kita?”

“Hmm, kau yang lagi bermimpi disiang hari bolong!”

teriak Si Soat Ang dengan sangat gusar.

“Liem Hauw Seng serta Giok Jien bersembunyi didalam

jalan rahasia dibawah tanah yang digali oleh si telapak

berdarah Tong Hauw, sitelapak berdarah bisa masuk

kedalam benteng tentu mereka berdua yang sudah kasih

petunjuk.”

Melihat putrinya berani membentak dihadapannya air

muka Si Liong kontan berubah membesi.

“Soat Ang ! semakin lama kau semakin tidak pakai

aturan, kau tahu pada saat ini siapa yang lagi kau ajak

bicara ?” tegurnya.

“Hemmm, soal ini bagaimana bisa menyalahkan diriku

?” seru Si Soat Ang sambil mencibirkan bibirnya yang kecil

mungil dan menarik hati itu. “Siapa yang suruh kau tanpa

mengetahui sebabnya sudah menuduh orang lain dengan

kata2 yang bukan2 ?”

Terhadap putrinya ini Thian It Poocu benar2 kewalahan,

akhirnya ia cuma bisa menghela napas panjang saja.

“Heeeei, . . Ang-jie !” katanya perlahan, “Baik atau buruk

Hauw Seng adalah kakak misanmu.”

“Bukan ! aku tidak mempunyai saudara semacam

dirinya” tidak menunggu ayahnya menghabiskan perkataan

tersebut Si Soat Ang sudah menjerit keras.

“Macam apakah dia orang ? Hmm ! aku orang sama

sekali tiada hubungan dengan dirinya !”

Melihat kebandelan dan keketusan dari Si Soat Ang ini,

lama kelamaan Si Liong merasa gusar juga air mukanya

berubah semakin membesi.

“Baik ! sekarang aku mau bertanya kepadamu bilamana

kau berhasil mendapatkan mereka berdua untuk diseret

pulang, apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka?”

tanyanya.

“Aku . . aku akan . . akan menghajarnya.”

“Sudah! jangan banyak bicara lagi !” bentak Si Liong

kemudian dengan sangat keras.

Walaupun diluarnya ia membentak keras untuk

memotong pembicaraan putrinya, padahal dalam hati ia

merasa amat sedih dan ragu2.

Ibu Si Soat Ang sudah meninggal, untuk merawat putri

kesayangannya ini berpuluh tahun belum pernah dia orang

meninggalkan benteng Thian It Poo barang selangkahpun

Bagaimana sifat dari putrinya ini sudah tentu siorang tua

inipun mengetahui sangat jelas sekali, ia tahu setiap orang

yang sudah melanggar dan bertentangan dengan maksud

hatinya, ia pasti akan mencaci dirinya dan berusaha untuk

membalas dendamtersebut.

Dan kali ini Liem Hauw Siang serta Giok Jien telah

melarikan diri ber-sama2. Si Liong mengetahui, bila

didalam hati putrinya tentu menaruh rasa dendam terhadap

mereka berdua, sebenarnya ia tidak ingin mendengar

putrinya menceritakan dengan cara yang bagaimana dia

hendak menyiksa dan menganiaya kedua orang itu.

“Heeee. . . heeee, . . Tia ! harap kau suka berlega hati.”

seru Si Soat Ang sang gadis sambil memperdengarkan suara

tertawanya yang sangat menyeramkan, “Asalkan aku

berhasil menawan mereka, aku pasti mempunyai cara untuk

menyiksa mereka berdua !”

“Ang jie !” per-lahan2 Si Liong berjalan mendekati-putri

kesayangannya. “Bukankah sejak kecil kau sudah menyukai

Hauw Seng ? Bagaimana kalau kita ber-sama2 pergi

mencari mereka, lalu biarlah aku yang memberi nasehat,

kemungkinan sekali…”

Si Soat Ang menggigit bibirnya semakin kencang, paras

mukanya sudah berubah jadi pucat si bagaikan mayat, dari

kelopak matanya keluarlah titik2 air mata dengan sangat

derasnya, tetapi ia berusaha keras untuk menahan menetes

keluarnya sang air mata tersebut.

Lama sekali ia baru berteriak:

“Sungguh memalukan sekali! Tia ! kau jangan berbuat

tindakan yang memalukan lagi !”

Si Liong jadi melengak dibuatnya.

“Memalukan ? apa maksud dari perkataanmu itu? kapan

aku pernah berbuat tindakan yang memalukan ?” tanyanya.

Si Soat Ang sama sekali tidak menjawab, sebaliknya

putar badan dan berlalu dari situ.

Si Liong dengan cepat mengulur tangannya bermaksud

hendak menarik kembali badannya tetapi sewaktu teringat

bagaimana, kasarnya sifat dari putri kesayangannya ini.

sebelum tangannya berhasil menangkap tubuh sang gadis

tersebut, ia sudah menarik kembali cepat2.

“Bagaimana ?” tanyanya terpaksa.

“Aku…. aku sudah pernah membicarakan persoalan ini

dengan dirinya” ujar Si Soat Ang sambil menarik napas

panjang2.

Semula Si Liong rada melengak, tetapi sebentar

kemudian ia sudah tersadar kembali, bila putri

kesayangannya ini sebenarnya sudah pernah menyatakan

rasa cinta kepada Lie Hauw Seng.

Ia kembali jadi melengak.

“Lalu apa yang dikatakan oleh Hauw Seng, si bocah cilik

itu..?” tanyanya.

Suara dari Si Soat Ang lelah berubah jadi dingin dan

kaku seperti es, suara pembicaraannya amat tawar seperti

sedang membicarakan persoalan orang lain yang sama

sekali tiada hubungan dengan dirinya.

“Apa yang dia katakan ? dia bilang, ia tidak ingin hidup

didalam Benteng Thian It Poo lagi yang se gala2nya

menggantungkan pada orang lain, ia ingin berkelana dan

mengembara ditempat luaran, ia tidak ingin orang lain

menganggap dirinya hanya bisa hidup kalau

menggantungkan benteng Thian It Poo saja !”

Alis yang dikerutkan Thian It Poocu semakin lama

semakin mengencang, sewaktu mendengar kisah yang

dituturkan oleh putrinya ini dalam hati sudah tentu merasa

rada marah, tetapi bagaimana pun dia adalah seorang

jagoan Bu-lim yang sudah punya nama.

Setelah mendengar perkataan tersebut kendari dalam hati

merasa marah tetapi iapun merasa bangga pula.

“Ehmm ! bocah cilik itu ternyata punya semangat juga !”

pujinya.

“Benar ! dia memang bersemangat!” teriak Si Soat Ang

dengan suaranya yang melengking meninggi, “Hemm !

kalau ia berkata tidak ingin bersandar pada benteng Thian lt

Poo lagi hal ini sama saja ia sudah tidak maui aku lagi,

aku…aku lantas suruh dia menggelinding pergi dari sini,

aku tidak mengijinkan dia berdiam lagi didalam Benteng

Thian lt Poo.”

“Apa ? kau mengusir dia pergi ?” teriak Si Liong sangat

terperanjat.

“Kenapa ?” per-lahan2 Si Soat Ang putar badannya,

“Terang2an orang lain sudah mengatakan bila ia tidak ingin

bersandar pada benteng Thian It Poo lagi, apakah kita

orang perlu me mohon2 dirinya untuk tetap tinggal disini ?

apakah benteng Thian It Poo kita tergantung padanya ?”

“Maksudku bukannya begitu, bukankah selama ini kau

suka kepadanya, dengan perbuatan ini bukankah… heee !

bukanlah terlalu.”

“Hi hi hi, aku rasa inilah suatu tindakan yang paling

bagus!” teriak gadis itu sambil tertawa sombong

“Sebenarnya aku masih tidak tahu kalau dia adalah seorang

binatang yang tak berperasaan dan berhati licin, aku

mengira dia adalah seorang lelaki sejati yang patut di puji

dan dibanggakan sekarang… Hmm ! ia sudah menggaet

Giok Jien untuk diajak lari, dia sudah membawa lari

budakku ! Tia, coba kau bilang pantaskah aku melepaskan

dia begitu saja? ayoh kau katakan.”

Semakin berbicara suara dari gadis itu semakin tinggi

melengking, butiran air matapun mengucur keluar dengan

sangat derasnya, jelas dalam hati ia merasa kheki

bercampur mendongkol. keadaannya sangat mengenaskan.

oooOdwOooo

BAB 3

MELIHAT keadaannya itu Si Liong merasa hatinya

seperti di-iris2 dengan beribu-ribu bilah golok tajam.

“Benar ! bangsat cilik itu memang sangat kurang ajar

sekali !” teriaknya keras.

“Tia ! kalau memang begitu, tentunya kau sudah

mengijinkan aku membawa orang untuk menangkap

kembali kedua orang itu bukan ?” seru Si Soat Ang sambil

menghentikan isak tangisnya. “Aku tahu mereka masih

berada didalam jalan rahasia dibawah tanah, sekalipun

berhasil keluar dari tempat itu kedua orang bangsat itupun

tidak mungkin bisa pergi terlalu jauh, karena Lim Hauw

Seng sudah terluka ?”

“Benar, selama ini selalu mengira rahasia kepergiannya

sangat rapat dan tidak diketahui orang lain, padahal begitu

ia melarikan diri aku lantas tahu, maka aku melakukan

pengejaran ke luar dan bergebrak dengan dirinya.”

“Tetapi… tetapi sejak kapan kepandaian silatmu berhasil

melampaui dirinya ?”

Tanya Si Liong dengan pandangan mata penuh keragu2an.

“Dia…”

Mendadak ia merandek sejenak, setelah lewat beberapa

saat lamanya baru menyambung kembali:

“Sebetulnya ia bisa menangkan diri ku, tetapi selama itu

ia selalu melindungi Giok Jien siperempuan rendah itu,

maka dari itu ia baru berhasil aku desak sehingga berada

dibawah angin dan akhirnya kena kulukai. bilamana waktu

itu hujan salju tidak deras dan angin tidak kencang

ditambah pula ia memperoleh bantuan dari sitelapak

berdarah Tong Hauw, bangsat itu pasti tidak bakal berhasil

meloloskan diri !”

“Ooouw . . . kiranya begitu !” ujar Si Liong dengan rasa

setengah percaya setengah ragu2. “kalau begitu, bagaimana

kalau aku suruh paman Kan Jie siokmu saja yang

mengawani dirimu ?”

“Aaak…!” hal itu sangat kebetulan sekali. Paman Jie-siok

!” Teriak Si Soat Ang kegirangan.

Pada waktu itu Kan Tek Lin baru saja berjalan keluar

dan memutari sebuah ujung tembok mendengar suara

panggilan dari Si Soat Ang tersebut dengan cepat ia putar

badan.

“Soat Ang, ada urusan apa?”

“Paman Jie Siok. Tia suruh kau orang mengawani diriku

pergi keluar benteng kau suka bukan?” tanya gadis tersebut

sambil berlari mendekat.

Pada saat ini hatinya sangat penurut sekali, ia tahu kalau

Kan Tek Lin sebagai seorang jagoan Bu lim yang memiliki

kepandaian silat tinggi suka membantu dirinya maka usaha

ini tentu bakal menemui kesuksesan.

“Hal ini sudah tentu saja !” sahut Kan Tek Lin sambil

tertawa.

Si Soat Ang jadi kegirangan dengan cepat ia bersuit

panjang dengan amat kerasnya.

“Cepat berangkat dan persiapkan kereta salju!”

“Apakah kedua orang yang kau cari adalah Hauw Seng

serta gadis itu ?”

“Benar !” sahut Si Soat Ang mengangguk dan menggigit

kencang bibirnya.

Per-lahan2 Kan Tek Lin menghela napas panjang.

“Heeei…! Soat Ang, walaupun aku belum begitu lama

berada didalam benteng Thian It Poo, tetapi aku rasa Hauw

Seng bukanlah seorang penjahat. Soat Ang ! sekalipun kita

berhasil menemukan mereka, aku berharap agar kau jangan

bertindak keterlaluan terhadap dirinya !”

Dalam hati Si Soat Ang benar2 merasa amat gusar sekali

sewaktu mendengar perkataan tersebut, tetapi rasa

marahnya ini tidak sampai diperlihatkan diluaran

“Paman Jie Siok” katanya. “Kau orang bukan nya

membantu aku untuk mendapatkan kembali mereka

berdua, kini malah bantu mereka untuk ucapkan beberapa

patah kata ! hmmm !”

Kan Tek Lin tertawa, ia lantas putar kepalanya

kebelakang.

“Toako, perempuan yang ada didalam halaman

tersebut…” serunya.

“Heei., aku bisa menghadapi mereka dengan sangat berhati2.

Jie-te, kaupun harus ber-hati2 mengawasi Soat Ang !”

“Toako boleh berlega hati aku akan menganggap Soat

seperti putri kesayanganku sendiri” kata Kan Tek Lin

sambil tertawa.

Waktu itu terdengarlah suara gonggongan anjing

bergema memecahkan kesunyian disusul suara seseorang

yang berteriak sambil berlari mendekat.

“Kereta salju sudah dipersiapkan !”

Kan Tek Lin serta Si Soat Ang segera melangkah keluar

dari pintu benteng, tampaklah enam belas ekor anjing

dengan menarik sebuah kereta salju sudah menanti didepan

pintu.

Mereka berdua dengan cepat menaiki kereta kereta salju

itu. diantara ayunan cambuk dari Si Soat Ang yang amat

keras, keenam belas ekor anjing itu dengan menarik sang

kereta segera berlari sangat cepat menuju kearah depan.

Cuaca makin lama semakin terang benderang, pagi pun

sudah menjelang datang.

Sang surya per-Iahan2 muncul diufuk timur dan

menyinari empat penjuru diatas permukaan salju yang amat

luas tampaklah dua sosok bayangan hitam dengan sangat

perlahan bergerak maju kedepan.

Kedua orang itu bukan lain adalah sepasang muda mudi

yang masih muda.

Yang lelaki memakai sebuah mantel tebal yang terbuat

dari kulit kambing tetapi pada saat ini mantelnya sudah

tersayat robek bahkan diatasnya masih kelihatan bekas

darah yang sudah membeku.

Sedang yang perempuan mempunyai rambut yang amat

panjang terurai sepanjang pundak, disebabkan tubuh lelaki

tersebut hampir2 rubuh keatas badannya maka dengan amat

ngotot dan susah payah sambil membimbing tubuh sang

lelaki tersebut ia melanjutkan perjalanannya.

Kepalanya tertunduk rendah2, sedang rambutnya yang

panjang terurai menutupi seluruh wajahnya dengan

demikian tak dapat terlihat bagaimanakah sebenarnya

wajah dari perempuan tersebut.

Kedua orang itu dengan susah payah per-Iahan2

melanjutkan perjalanan diatas permukaan salju.

Akhirnya kakinya terasa lemas. sepasang muda mudi itu

tak kuasa untuk melanjutkan kembali perjalanannya dan

jatuh terduduk diatas permukaan salju.

Perempuan itu buru2 berdiri kembali dan menarik tubuh

lelaki tersebut.

Orang lelaki itu ternyata masih amat muda, usianya

kurang lebih dua puluh tiga, dua puluh empat tahunan,

tetapi badannya amat kurus paras mukanya pucat pasi

bagaikan mayat.

Ditinjau dari bibirnya yang terkancing rapat, jelas dia

sedang menahan suatu penderitaan sakit yang luar biasa.

Ternyata dia adalah seorang lelaki yang benar2 bersifat

jantan, sekalipun rasa sakit dibadan terasa amat menyiksa

dirinya tetapi sedikit pun tidak kedengaran ia merintih.

Sang gadis yang berulang kali tidak berhasil menarik

lelaki itu untuk bangun, akhirnya saking cemas tak tertahan

lagi menangis tersedu2.

Aaaakh . . . ! kiranya perempuan itu adalah seorang

gadis yang sangat cantik sekali, sekali pun sedang menangis

sama sekali tidak menutupi kemolekan paras mukanya itu.

Dia bukan ia ia adalah Giok Jien, budak dari Si Soat

Ang itu putri kesayangan dari Thian It Poocu, dan tidak

usah diterangkan lagi orang lelaki yang rubuh diatas

permukaan salju sudah tentu tidak bukan adalah Liem

Hauw Seng, keponakan dari Poocu Benteng Thian It Poo.

Mereka berdua sedang bersembunyi didalam jalan

rahasia dibawah tanah dari sitelapak berdarah.

Sewaktu menunggu lama sekali tidak juga melihat Tong

Hauw balik kesana, maka dalam hati sepasang muda mudi

ini merasa inilah suatu kesempatan yang paling baik bagi

mereka untuk melarikan diri.

Demikianlah, dibawah bimbingan Giok Jien, mereka

berdua mulai melarikan diri dari sana, tetapi berhubung

Liem Hauw Seng terluka parah maka perjalanan dilakukan

dengan sangat lambat sekali.

Kepandaian silat yang dimiliki Giok Jien kebanyakan

berhasil dipelajari dari Liem Hauw Seng bila ada waktu

senggang, sudah tentu apa yang berhasil dimilikipun tidak

seberapa.

Kedua orang itu tahu, mereka berdua tak dapat berdiam

terlalu lama disana, kendari Si Soat Ang tidak datang

mencari mereka lagi, mereka pun harus mati karena

kedinginan serta kelaparan, oleh sebab itu tempat tersebut

buru2 ditinggalkan.

Tampak Lim Hauw Seng yang rubuh keatas tanah per-

Iahan2 membuka matanya.

“Giok Jien. . . kau jangan menangis lagi !” serunya

dengan suara yang keren dan berat “Bukankah kau suka

mendengarkan semua perkataanku ? ayoh. . . jangan

menangis lagi.”

“Engkoh Hauw Seng, kita. . . kita bagaimana? apa yang

harus kita lakukan ?” tanya Giok Jien tetap menahan rasa

isak tangisnya.

Dengan sekuat tenaga Liem Hauw Seng

mempertahankan diri sehingga suara pembicaraannya tidak

sampai terputus2, katanya lagi: “Giok Jien ! kau jangan

menangis… asal kau suka mendengarkan perkataanku aku

tentu . . aku tentu punya akal !”

Per-lahan2 Giok Jien, si gadis itu berhenti menangis.

“Engkoh Hauw Seng, coba kau pikir kapan aku pernah

tidak mendengar perkataanmu lagi?” katanya.

“Kalau begitu, perkataanmu kali ini tentunya kaupun

suka menurut bukan ?” seru pemuda itu sambil mencekal

erat2 tangan Giok Jien sang gadis cantik yang putih halus

itu.

Giok Jien merasakan bila perkataan dari pemuda

tersebut sangat aneh sekali, menyuruh dia mendengar

perkataannya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, kenapa

ia menanyakan terus berulang kali ? karena itu kepalanya

lantas dianggukkan dengan perlahan.

000Ode-wiO000

Jilid 4

”KAU suruh aku berbuat apa? katakanlah !”

“Bila kau suka mendengarkan perkataanku… itu baa…

bagus,” Seru Liem Hauw Seng ter-engah2, “Giok Jien ! kau

pergilah seorang diri !”

Sebenarnya walaupun Giok Jien sudah berhenti

menangis, tapi ia masih terisak tiada hentinya, kini habis

mendengar ucapan dari Liem Hauw Seng, seluruh

tubuhnya terasa tertegun.

Lama… lama sekali baru terdengar Giok Jien berseru

dengan nada gemetar:

“Kau… apa kau kata ? Engkoh Hauw Seng apa kau kata

?”

Per-lahan2 Liem Hauw Seng menghela napas panjang, ia

melepaskan diri dari cekalan gadis tersebut.

“Tadi kau sudah pernah berkata suka mendengarkan

perkataanku, sekarang cepatlah kau pergi dari sini,

berangkatlah menuju ke selatan dan setelah tiba didaratan

Tionggoan jangan kembali lagi kesini, dengan begitu kau

bakal lolos dari cengkeraman mereka, tapi bila kau ingin

menyeret diriku pula maka… tindakanmu ini hanya akan

mencelakai dirimu sendiri.”

Dalam keadaan seperti ini Giok Jien tidak menangis lagi,

bukan saja tidak menangis bahkan gerak geriknya jauh lebih

tenang. sembari membereskan rambutnya kebelakang

tangannya mengusap kering air mata yang jatuh menetes.

“Engkoh Hauw Seng, maksudmu kita berdua pasti tak

akan berhasil lolos dari tangan mereka bukan begitu ?”

“Aku tidak pernah berkata demikian” Seru Lim Hauw

Seng amat cemas, “Maksudku, jika kau suka berangkat

dulu, maka aku bisa berusaha untuk mengikuti dari

belakang.”

Tiba2 Giok Jien tertawa sedih.

“Engkoh Hauw Seng, kau sedang membohongi diriku,

kau pernah berkata tak akan membohongi diriku lagi,

kenapa sekarang kau menipu aku ?”

Lim Hauw Seng meronta berusaha bangun berdiri, tapi

baru saja tubuhnya menegang kembali ia roboh terjengkang

kearah permukaan salju.

Lama sekali Giok Jien memandang pemuda itu tajam2,

akhirnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia berbaring

di sisinya.

“Giok Jien, kau sedang berbuat apa?” Teriak Lim Hauw

Seng dengan suara yang serak sewaktu melihat perbuatan

kekasihnya.

“Jika kita bisa melarikan diri, mari berangkat lah bersama2.

bila tak bisa lolos bukankah lebih baik kita bersama2

?”

“Aaaai…! soal ini…buat apa kau cari siksa sendiri ?”

“EngkohHauw Seng ! kau tidak tahu, sejak aku mengerti

urusan belum pernah ada orang yang bersikap demikian

baiknya kepadaku, setiap orang tentu bicara dengan nada

kasar membentak, memaki dan mencemooh diriku, setiap

pekerjaan yang kotor tentu diberikan kepadaku, setiap

orang boleh turun tangan memukuli aku, memaki aku.

Tentunya kau tidak pernah menyangka bukan sewaktu aku

berusia sepuluh tahun pernah satu ingatan ingin mati

memenuhi benakku ?”

Lim Hauw Seng tidak bicara, hanya kulit wajahnya

berkerut sehingga kelihatan amat menyeramkan.

“Malam itu, aku berdiri lama sekali disisi sumur”

sambung Giok Jien lebih lanjut. “Aku berpikir, jika

kuloncat masuk kedalam sumur itu apa jadinya ? sudah

tentu aku bisa mati, tapi setelah mati apa yang bisa

kulakukan ? akupun pernah menjumpai orang mati, setelah

orang mati maka ia tak akan dimaki orang, tak pernah

dipukul orang, ia hanya berbaring…berbaring terus hingga

akhir masa, aku berpikir keras, apa jeleknya jadi seorang

yang telah mati ?”

“Kau…kau jangan bicara lagi, Giok Jien kau …kau

jangan bicara lagi” potong Lim Hauw Seng terputus2.

“Tidak, aku harus bicara.” Seru Giok Jien sembari

menggeleng, “Karena kau ingin mengusir aku pergi, setelah

aku katakan kesemuanya ini, kau tak akan mengusir aku

lagi, kau bakal paham aku adalah seorang perempuan yang

tidak takut mati.”

“Krooook . . krooook . . !” dari tenggorokan Liem Hauw

Seng mendadak memperdengarkan suara yang sangat aneh,

mulutnya terpentang lebar-lebar tapi tak sepatah katapun

berhasil meluncur keluar, darah segar mengikuti pentangan

bibirnya, mengucur keluar membasahi seluruh tubuh,

permukaan salju dan akhirnya membeku.

Buru2 Giok Jien bangun berdiri dengan menggunakan

ujung bajunya ia membersihkan noda darah disekeliling

bibir Liem Hauw Seng, mukanya pucat pasi bagaikan

mayat, tapi sikapnya luar biasa tenangnya.

“Engkoh Hauw Seng.” bisiknya lirih, “Sewaktu aku

berada seorang diri, keinginanku untuk mati sangat besar,

dan sekarang setelah bersama sama dirimu, apa yang harus

kuinginkan lagi ?”

Dengan sekuat tenaga Liem Hauw Seng berusaha

meronta bangun, akhirnya ia berhasil juga mengutarakan

beberapa patah kata.

“Tapi . . . tapi usiamu masih sangat muda.”

“Kau sendiri apa sudah jadi kakek2 tua ?” seru Giok Jien

sembari tertawa sedih. “Engkoh Hauw Seng, sejak kau tiba

disana sekalipun hidupku makin tersiksa, hatiku tetap

terhibur, setiap kali kuingat dirimu dalam hati merasa

nikmat dan hangat, kau sungguh bersikap terlalu baik

terhadap diriku.”

Wajahnya berubah merah padam bagaikan kepiting

rebus, kepalanya per-lahan2 dijatuhkan kedalam pangkuan

kekasihnya Liem Hauw Seng dan pejamkan matanya

menikmati suasana di sekelilingnya.

Sewaktu berada dalam benteng Thian It Poo,

menggunakan kesempatan sewaktu orang tidak menduga

seringkali merekapun berbuat demikian.

Tapi waktu itu, ketika kepalanya disandarkan diatas

dada Liem Hauw Seag dan menempelkan telinganya

kedada pemuda itu. ia dapat menangkap suara detakan

jantung kekasihnya.

Tapi kini, walaupun ia sudah tempelkan telinganya

kedada pemuda tersebut, hampir boleh dikata detakan

jantungnya tak terdengar lagi.

Air mata mengucur keluar setetes demi setetes, dengan

payah Liem Hauw Seng keluarkan tangannya untuk

membelai pipi gadis tersebut.

Saat itulah, tiba2 suara gonggongan anjing

berkumandang datang dari tempat kejauhan…

Begitu gonggongan anjing tadi memancar datang tubuh

kedua orang muda mudi ini kelihatan tergetar sangat keras.

Tetapi mereka hanya sedikit tergetar belaka, setelah itu

membungkam dan tak berkutik lagi.

Gonggongan anjing makin jelas, dengan cepatnya suara

itu sudah berada sangat dekat.Makin lama Giok Jien mulai

dapat menangkap sebuah titik hitam bergerak mendekat

dengan cepatnya, Dalam sekejap mata titik hitam itu makin

lama makin besar dan akhirnya kecuali suara gonggongan

anjing kedengaran pula ayunan cambuk membelah bumi.

Sebuah kereta salju makin jelas tertera didepan mata,

Giok Jien pun dapat menangkap diatas kereta tadi berdiri

dua orang, salah satu diantaranya adalah Si Soat Ang nona

majikannya.

Menanti ia jelas melihat orang itu benar Si Soat Ang,

matanya dipejamkan kembali badanpun tak berani berkutik.

Salju beterbangan memenuhi angkasa terhempas oleh

hancuran kereta, bunga2 salju mulai melayang turun dan

menutupi kepala maupun wajah Giok Jien serta Liem

Hauw Seng, tapi mereka berdua tetap tak berkutik.

Tiga, empat tombak jauhnya kereta salju melewati kedua

orang itu, mendadak Si Soat Ang membentak keras seraya

menarik tali les, kereta segera berhenti berlari.

“Soat Ang ! kedua orang itu sudah mati” ujar Kan Tek

Lin seraya berpaling.

“He he he permainan setan kedua orang ini terlalu

banyak, bila cuma begini saja lantas suruh aku

mempercayai bahwa mereka sudah mati Hmm . . . sungguh

menggelikan sekali !”

Saat ini, setelah ia berhasil menemukan orang yang

sedang dicari, suatu senyuman yang menyeramkan,

menggidikkan hati menghiasi seluruh wajahnya.

Perubahan tersebut bukan saja membuat orang lain

merinding, kendari Kan Tek Lin yang berada disisinyapun

ikut terperanjat, ia tidak menyangkapun tidak paham

seorang gadis yang belum pernah berkelana dalam dunia

kangouw bisa tertanam rasa dendam, sakit hati yang

demikian mendalamnya.

Ia tidak tahu, Si Soat Ang yang sudah kebiasaan

memelihara rasa tinggi hati dan selalu dihormati oleh setiap

orang, setelah rasa harga dirinya tersinggung timbullah rasa

dendam, sakit hati yang susah dilukiskan lagi.

Setelah rasa terkejut lenyap dari hatinya, timbullah rasa

simpatik dan iba buat kedua orang yang berbaring diatas

permukaan salju itu.

Kedatangannya kebenteng Thian It Poo tidak lebih

hanya sebagai tamu, walaupun Liem Hauw Seng adalah

kemenakan dari Poocu tapi antara dia dengan pemuda

tersebut sama sekali tiada terikat sangkut paut apapun,

perjumpaannya dengan pemuda she-Liem inipun sangat

jarang sekali.

Sedang mengenai Giok Jien, dalam benteng Thian It Poo

dayang maupun pelayan banyak bagaikan mega diawan,

boleh dikata dayang yang bernama Giok Jien mempunyai

raut muka yang bagaimanapun ia sendiri tidak paham.

Dan kini rasa simpatik yang muncul pada dasar hatinya

terhadap Liem Hauw Seng serta Giok Jien bukan

disebabkan perubahan air muka Si Soat Ang sangat

menakutkan, dalam hati ia tahu dalam keadaan seperti ini

kedua orang muda-mudi itu jauh lebih baik mati dari pada

hidup.

Karena bila ditinjau keadaan. jikalau kedua orang itu

belum mati maka Si Soat Ang pasti akan menggunakan cara

apapun untuk menganiaya, menyiksa mereka berdua.

“Sobat Ang ! “ujarnya kemudian, “Berjalan di atas

permukaan salju susah sekali, biarlah aku yang pergi periksa

mereka sudah mati atau belum !”

Tapi ucapan dari Kan Tek Lin ini segera ditolak mentah2

oleh si gadis she-Si.”

“Tidak !” seru Si Soat Ang dengan nada berat. “Paman

Kan Jie-siok, setelah menemukan kedua bangsat ini disini,

apa yang harus kulakukan hanya untuk berjalan diatas

permukaan salju saja?” Sembari berkata ia meloncat turun

dari atas kereta.

Semalam salju turun dengan hebatnya, tumpukan bunga

salju diatas permukaan tanah saat ini mungkin mencapai

satu depa lebih.

Ketika Si Soat Ang meloncat turun, badannya segera

sempoyongan hampir saja jatuh, tapi dengan cepat ia

meloncat bangun dan melayang kesisi Liem Hauw Seng

serta Giok Jien berdua.

Melihat hal tersebut diam2 Kan Tek Lin menghela napas

panjang.

Waktu itu baik Liem Hauw Seng maupun Gok Jien

sama2 pejamkan matanya, Giok Jien sigadis cilik itu masih

bersandar diatas dada sang pemuda kekasihnya.

Napas mereka ter-engah2, oleh karenanya sewaktu Si

Soat Ang tiba di hadapan mereka, gadis tadi segera

mengetahui bila mereka berdua belum mati.

Si Soat Ang benar2 kegirangan setengah mati, sebetulnya

Liem Hauw Seng serta Giok Jien adalah manusia yang

paling ia benci dalam hatinya, tapi berhubung melihat

orang yang paling dibenci masih belum mati dan kini

berada di-hadapannya siap disiksa olehnya, sang hati jadi

kegirangan setengah mati sehingga susah dilukiskan lagi.

Mendadak gadis itu mendongak lalu perdengarkan suara

gelak tertawanya yang aneh dan menyeramkan.

Gelak tertawanya bergema melengking tinggi menjulang

ke angkasa, dalam suasana yang dingin sunyi ditengah

pegunungan yang sepi, suara gelak tertawanya ini benar2

mengerikan sekali.

Kan Tek Lin merasa amat terperanjat, buru2 tegurnya:

“Soat Ang, kenapa kau ?”

“Ha ha ha mereka belum mati” sahut Si Soat Ang

sembari masih tertawa tiada hentinya.

Sekali enjot badan Kan Tek Lin melayang ke sisi gadis

itu, serunya: “Oooow… mereka belum mati ? kalau begitu

mari kita bawa kembali kedalam Benteng, agar ayahmu bisa

jatuhi hukuman kepada mereka.”

“Tidak !” tolak Si Soat Ang tegas, giginya di gertakkan

kencang2. “Biar aku yang jatuhi hukuman kepada mereka !”

Sembari berkata cambuk ditangannya sekali getar

membentur gerakan satu lingkaran ditengah udara,

kemudian diiringi desiran tajam yang menggidikkan

menjilat leher Giok Jien.

Merasa akan datangnya desiran tajam Giok Jien

membuka matanya, tapi sinar mata si gadis ini sama sekali

tidak memperlihatkan cahaya ketakutan ataupun gugup, ia

hanya membentangkan tangannya melindungi wajahnya.

Siapa nyana baru saja tangannya diangkat ujung cambuk

Si Soat Ang dengan tajam telah berhasil menjirat

pergelangan tangannya, sekali disentak seluruh tubuhnya

terangkat ketengah udara dan terlempar dua-tiga tombak

jauhnya dari tempat semula.

Walaupun Giok Jien pandai bersilat, tapi ilmu silatnya

tidak lebih adalah ajaran Liem Hauw Seng sewaktu masih

berada didalam benteng Thiat It Poo apabila pemuda ini

ada waktu lowong, mana mungkin ilmu silatnya bisa

menandingi kepandaian silat Si Soat Ang ?

Apalagi pada saat ini keadaannya boleh diumpamakan

“Ada kemauan tak ada tenaga”, tenaga perlawanan dalam

tubuhnya sama sekali sudah punah.

Ketika ia terbanting sejauh dua, tiga tombak diatas

permukaan salju, dengan sekuat tenaga gadis itu meronta

lalu merangkak bangun.

“Nona…kau…kau jangan menyiksa engkoh Hauw Seng

lagi…” serunya terputus2. “Kau… kau bermurahlah hati

kepadanya, ia…ia…luka yang ia derita sudah terlalu

parah…”

Cambuk Si Soat Ang sudah diangkat siap mengirim

hajarannya yang kedua.

Sudah tentu hajarannya kali ini siap ditujukan kearah

Liem Hauw Seng pemuda tampan itu.

Tapi ketika mendengar ucapan Giok Jien tersebut,

tangan yang telah diayun mendadak menjadi lemas

kembali, dalam sekejap mata sikapnya yang galak dan buas

telah berubah jadi bimbang.

Tapi semuanya ini hanya berlangsung dalam sekejap

mata saja, senyum sinis kembali menghiasi wajahnya,

seraya berpaling ke arah Giok Jien serunya:

“Ooooouw… begitu ? kau berkata luka yang ia derita

sangat parah dan sebentar lagi bakal mati ?”

“Benar, kau jangan pukul dia lagi pukul… pukullah

diriku.” teriak Giok Jien berusaha merontak bangun.

“Heeeee… heee… cinta kasih kalian boleh dihitung sudah

mendalam bagaikan samudra luas!”

Giok Jien menunduk, air mukanya berubah pucat pasi

bagaikan mayat.

Sekali lagi Si Soat Ang menunduk, tiba2 bentak nya

kearah Liem Hauw Seng yang menggeletak diatas tanah

“Kau masih ingin menggeletak di atas tanah pura2 mati ?

kenapa tidak bangun berdiri saja ?”

Liem Hauw Seng gertak gigi sehingga menimbulkan

suara gemerutukan tubuhnya mulai coba meronta. Tapi

perduli secara bagaimana dia meronta akhirnya tiada

berdaya juga untuk bangkit berdiri, seluruh tubuhnya

hampir boleh dikata terpendam didalam salju, tapi diatas

jidat nya mengucur keluar keringat sebesar kacang.

Seraya memandang pemuda she-Liem ini Si Soat Ang

tertawa dingin tiada hentinya. Sedang Giok Jien dengan

napas ter-engah2 lari mendekati kemudian bimbing Liem

Hauw Seng untuk bangun. “Nona aku sudah ada beberapa

tahun melayani dirimu, kau kasihanilah diriku…lukanya

teramat parah, cepatlah kau hantar ia kembali ke

Benteng…un…untuk mengobati lukanya, kau suka aku

berbuat bagaimana. aku pasti akan mengabulkan… aku

mohon… aku mohon nona suka mengabulkan !”

Kata2 terakhir penuh bernadakan gemetar, sepasang

lutut menjadi lemah dan akhirnya jatuh berlutut diatas

tanah.

Perasaan Si Soat Ang pada saat ini benar2 amat puas,

tapi kesemuanya ini masih belum dapat melenyapkan rasa

benci yang telah merasup kedalam tulang sumsumnya.

Dengan dingin ia mendengus.

“Kau bimbing dulu bangsat itu keatas kereta salju !”

perintahnya keren.

Dengan susah payah Giok Jien merangkak bangun dari

atas tanah kemudian membimbing tubuh Liem Hauw Seng

dan bergerak kedepan.

Tapi baru saja berjalan dua langkah, mereka ber-sama2

menggelinding dan roboh keatas tanah.

Melihat kejadian itu Ken Tek Lin kerutkan alisnya,

sekali sambar ia telah menarik Liem Hauw Seng bangun

dari tanah.

Siapa nyana justru tindakannya inilah membuat Si Soat

Ang, sang gadis tersebut menjadi kurang puas.

“Paman Kan Jie-siok. apa yang kau lakukan ?”

“Apa yang aku lakukan ?” Balik seru Kan Tek Lin

dengan nada melengak.

Air muka Si Soat Ang berubah jadi sangat jelek sehingga

susah dipandang, sembari menuding Liem Hauw Seng

serunya:

“Mengapa kau bimbing ia bangun ?”

Kontan seketika itu juga dari dasar hati Kan Tek Lin

timbul rasa gusar yang susah dikendalikan, jikalau Si Soat

Ang yang ada dihadapannya saat ini bukan putri

kesayangan dari saudara angkatnya mungkin sejak semula

ia sudah umbar bawa amarah.

Air mukanya langsung berubah menghebat.

“Aku hendak bimbing ia naik keatas kereta salju agar

cepat2 bisa tiba dibenteng Thian It Poo.”

“Apa perlunya kembali kebenteng Thian It Poo ?”.

“Luka yang ia berita amat parah, jika tidak kembali ke

benteng Thian It Poo, bagaimana mungkin lukanya bisa

disembuhkan ?”

“Sungguh sayang aku tidak ingin kembali ke Benteng

Thian It Poo.”

Giok Jien yang ada disamping setelah melihat keadaan

tersebut, paling sedikit ia tahu Kan Tek Lin menaruh

simpatik kepada mereka berdua, oleh karena itu

menggunakan kesempatan yang sangat baik ini mohonnya:

“Kan Jien-ya ! Engkoh Hauw Seng terluka parah sehingga

sedikitpun tak dapat bergerak, bila tidak cepat2 dibawa

pulang ke Benteng Thian It Poo maka ia bakal mati

kedinginan. Kan Jie-ya, aku mohon sukalah kau beri belas

kasihan kepada kami, aku akan berlutut dan menganggukanggukkan

kepalaku di-hadapanmu !”

Seraya berkata Giok Jien siap jatuhkan diri dan berlutut.

Tapi tindakannya ini keburu dicegah oleh Kan Tek Lin.

“Tidak perlu tidak perlu, aku sudah punya rencana sendiri !”

“Paman Jie-siok, kau… kau sungguh ingin mencari gara2

dengan diriku ?” teriak Si Soat Ang dengan air muka

berubah hijau membesi.

“Hauw Seng adalah kakak misanmu, coba kau pikir

apakah ayahmu mengijinkan kau berbuat ngaco belo

macam begini ?”

“Aku tahu ia tak bakal mati, sudah tentu aku punya obat

pemunah yang mujarab untuk menyembuhkan lukanya,

tapi aku tidak ingin kembali ke benteng Thian It Poo”

Ucapan dari Si Soat Ang ini sangat tegas dan kuat,

bahkan sama sekali tidak sopan, agaknya ia ada maksud

mencari gara2 dengan Kan Tek Lin.

Rasa gusar yang muncul dihati Kan Tek Lin makin lama

makin memuncak, makin lama makin mendalam.

“Tidak bisa!” bentaknya keras2. “Maksudmu keluar dari

Benteng adalah mencari kedua orang ini sudah kita

temukan, sudah seharusnya kita bawa pulang kebenteng

untuk menantikan hukuman yang bakal dijatuhkan oleh

ayahmu sendiri !”

Sepasang kepalan Si Soat Ang dirapatkan kencang2

dengan suara yang tinggi melengking memecahkan

kesunyian yang mencekam teriaknya:

“Kau jangan mencari gara2 dengan diriku, terus terang

kuperingatkan janganlah kau orang mencari gara2 dengan

diriku !”

Sejak semula Kan Tek lin sudah dapat tahu Si Soat Ang

gadis cantik ini sudah terbiasa dimanja oleh ayahnya tetapi

ia tidak menyangka urusan bisa berlangsung jadi begini,

hatinya disamping kheki juga geli.

“Mengapa aku harus mencari gara2 dengan dirimu ?”

tanyanya cepat.

“Kalau begitu kau harus membiarkan aku berlalu dengan

membawa serta kedua orang ini, bahkan peristiwa apa yang

bakal terjadi dikemudian hari tak boleh kau ungkap

dihadapan ayahku.” seru Si Soat Ang sembari melangkah

maju.

Mendengar ucapan Si Soat Ang makin lama semakin

keterlaluan Kan Tek Lin tak dapat menahan rasa gusarnya

lagi. segera bentaknya: “Tidak dapat !”

“Sungguh tidak dapat ?” tanya gadis she Si itu setelah

lama sekali membungkam.

Mendadak telapak tangan Si Soat Ang diayunkan

kedepan, dimana tangannya bergerak serentetan cahaya

keemasan dengan membelah angkasa meluncur keluar

Saking cepatnya benda tersebut menyambar lewat, tak

seorangpun yang melihat sebenarnya benda apakah itu.

Bersamaan itu pula tiba2 pandangan mata jadi silau oleh

sorotan cahaya ke-emas2an, be-ratus2 batang jarum tajam

sepanjang lima Coen dengan memancarkan cahaya tajam

ber-sama2 mengurung seluruh tubuh Kan Tek Lin.

Bagi Kan Tek Lin sendiripun, mimpipun ia tidak pernah

menyangka Si Soat Ang keponakan angkatnya bisa turun

tangan keji terhadapnya.

Karena tidak lama setelah ia tiba di benteng Thian It

Poo, atas permintaan Si Liong mereka berdua telah saling

angkat saudara.

Menanti jarum2 tajam tadi telah menyambar dekat, Kan

Tek Lin baru tahu benda apakah yang tergenggam ditangan

Si Soat Ang, karena tempo dulu Si Liong pernah

memperlihatkan benda tersebut kepadanya.

Si Liong pernah bercerita benda itu adalah sebuah

tabung baja bercampur emas yang dibuat oleh seorang jago

lihay dari Se-ih, sekali pencet tombol rahasianya maka ada

sembilan puluh sembilan batang jarum tajam ber-sama2

menyebar keempat penjuru.

Bagi seorang jagoan lihay yang memiliki kepandaian silat

amat tinggipun susah untuk menghindarkan diri dari

serangan ini, apalagi Kan Tek Lin.

Kiranya Si Liong yang amat sayang terhadap putrinya

karena takut ia jatuh kecundang ditangan orang lain, maka

sengaja ia persenjatai dirinya dengan sebuah senjata aneh

yang bernama “Si Seng Ciam” atau alat pembidik jarum

bintang.

Dibawah penjelasan Si Liong tempo hari Kan Tek Lin

pun pernah mengagumi kelihayan alat tersebut, ia tidak

pernah menyangka pada suatu hari Si Soat Ang, putri

saudara angkatnya bisa menggunakan alat dahsyat tersebut

untuk menghadapi dirinya.

Diiringi bentakan murka sepasang bajunya di-kebut

kedepan kencang2, sedang badannya ikut bergerak

menubruk kearah gadis tersebut.

Reaksi yang dilakukan boleh dikata amat cepat, tapi

berhubung jaraknya dengan Si Soat Ang tidak terlalu dekat,

Kedua daya tembak alat rahasia Si Seng Ciam sangat kuat

dan sekali tembak sembilan puluh sembilan batang jarum

berbisa meluncur ber sama2 kendari gerakan menghindar

nya cukup cepat, tapi sewaktu badannya berada ditengah

udara bagian bawahnya sama sekali tak terjaga sepasang

kakinya tidak ampun lagi termakan hajaran senjata rahasia

tersebut, diikuti rasa sakit yang luar biasa menyerang

seluruh badan, paling sedikit ada tiga empat puluh batang

jarum telah bersarang ditubuhnya.

Hanya saja kepandaian silat yang dimiliki Kan Tek Lin

sangat lihay, sekalipun tubuhnya kena terhajar begitu

banyak jarum rahasia, tubuhnya sempat bersalto pula

ditengah udara dan melayang turun dua tiga tombak lebih

kedepan.

Setelah bangkit berdiri dari atas tanah, dengan penuh

kemurkaan bentaknya keras:

“Soat Ang, kau…”

Hanya ucapan itu yang dapat meluncur keluar karena

pada saat yang bersamaan sepasang kaki nya yang terhajar

oleh jarum mulai terasa gatal2 kaku dan linunya bukan

kepalang.

Rasa terkejut yang dialami Kan Tek Lin kali ini susah

dibayangkan lagi. ber-turut2 ia cabut beberapa batang jarum

rahasia yang bersarang ditubuhnya kemudian diperiksa

dengan cermat.

Begitu dipandang, sukma terasa melayang tinggi diawang2.

Pada-ujung jarum yang panjangnya hanya dua coen

kelihatan memancarkan cahaya ke-hijau2an yang berkilap,

sekali lihat setiap jago tentu mengerti kalau jarum2 itu

sudah dipolesi racun ganas.

Tanpa disadari lagi seluruh tubuh Kan Tek Lin gemetar

keras, suara pembicaraanpun dalam sekejap mata berubah

amat serak.

“Serahkan obat pemunahnya !”

Tapi dengan air muka hijau membesi Si Soat Ang tetap

berdiri tak berkutik hanya sahutnya dengan suara dingin:

“Aku suruh kau jangan mencari gara2 dengan diriku, kau

tidak suka menggubris ! sudah berapa kali kuperingatkan,

janganlah coba2 memusuhi diriku !”

“Serahkan obat pemunahnya !” sekali lagi Kan Tek Lin

berteriak seraya kertak gigi kencang2.

Sembari berteriak tubuhnya bergerak meloncat kemuka

dan siap menubruk gadis tersebut.

Sungguh sayang, akibat dari loncatannya ini bukan saja

tidak berhasil menubruk sasaran yang dituju, badannya

malah jatuh terpelanting diatas permukaan salju.

Jelas terbukti hanya dalam sekejap itulah sepasang

kakinya sudah menjadi kaku tak berasa sedikitpun juga

bahkan untuk disaluri tenaga murnipun tak sanggup lagi,

tidak aneh kalau badannya jatuh terpelanting dan roboh

diatas permukaan salju.

Begitu Kan Tek Lin roboh, mendadak tangannya

menekan permukaan salju dan berusaha sekuat tenaga

menggunakan tenaga tekanan ini meloncat bangun

sedangkan tangannya yang lain pada saat yang bersamaan

merogoh ke dalam saku mengambil keluar seruling besi

yang telah mengangkat namanya dalam Bu-lim.

Bila ia tidak bergerak mungkin masih tidak mengapa,

begitu badannya kerahkan tenaga kelewat batas darah

bergolak sangat kerasnya didalam rongga dada, daya

bekerja racun itupun makin cepat, rasa kaku kini sudah

merembet hingga kepinggang.

Sekalipun Kan Tek Lin sudah ada puluhan tahun

lamanya berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ia

temukan ataupun berjumpa dengan daya bekerja racun

ganas sedemikian dahsyat, sedemikian cepatnya.

Loncatannya barusan sekali lagi membanting badannya

roboh keatas permukaan salju.

Saat itulah tampak seseorang berlari kesisinya dan

berjongkok disamping tubuhnya seraya berseru penuh

kecemasan : “Kan Jie-ya, kenapa kau? kenapa kau ?”

“Kau kah yang bernama Giok Jien ?” seru Kan Tek Lin

dengan napas ter-engah2, “Kau harus ingat, asalkan kau

masih bisa bernapas berusahalah keras untuk

menyampaikan berita buruk ini kee… kee… kepada Poocu,

kaa . . katakan kepadanya a .. aku mati ditangan siapa.”

“Kan Jie ya ! kau tak akan mati” Teriak Giok Jien

dengan hati yang pedih. “Nona hanya bergurau saja dengan

dirimu, kadangkala nona pun pernah berkata hendak

membunuh diriku, tapi ia tak pernah turun tangan

sungguh2 biarlah kumohon obat pemunah buat dirimu.”

Bicara sampai disitu mendadak Giok Jien membungkam.

Karena walaupun napas Kan Tek Lin masih ter-engah2,

tapi dari sepasang kelopak matanya, dari hidung dan telinga

maupun dari mulut mulai mengucurkan darah beracun

yang hitam matang…

Giok Jien jadi terperanjat bercampur ketakutan, buru2 ia

merangkak mundur satu langkah kebelakang.

Waktu itu Kan Tek Lin masih coba meronta sekuat

tenaga.”

“Perrr… perkataanku yang kusampaikan tadi sudah kau i

. . . ingat baik ?”

Kecuali mengangguk tiada hentinya Giok Jien tak

sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak Kan Tek Lin memperdengarkan jeritan

lengkingnya yang menyeramkan dan membuat bulu roma

pada bangun berdiri.

Mengikuti jeritan lengking yang menyayatkan hati, darah

segar bagaikan sumber mata air muncrat keluar dari

mulutnya.

Semburan darah segarnya ini sama sekali tiada sangkut

paut dengan keracunan jarum rahasia tersebut, hanya saja

karena ia teringat dengan kegagahan serta kekosenan

dirinya tempo dulu dan kini ternyata harus berakhir disuatu

tempat yang sepi tanpa ada yang tahu, hatinya jadi pedih,

sedih dan kecewa, saking tak tertahan jantungnya jadi

pecah berantakan.

Darah segar muncrat membasahi permukaan salju nan

putih, tubuhnya tergetar sangat keras, mendadak ia

meloncat lagi kedepan tapi baru saja melayang sejauh dua

depa badannya terbanting keatas tanah dan tak berkutik

lagi.

Dengan mata terbelalak besar Giok Jien melototi tubuh

Kan Tek Lin yang mati dalam keadaan sangat mengerikan,

mulutnya terbuka lebar sedang badan gemetar keras, tak

sepatah kata pun bisa diutarakan keluar.

Lama.. lama sekali, akhirnya per-lahan2 ia mendongak

dan memperhatikan wajah Si Soat Ang.

Waktu itu adalah wajah Si Soat Ang berubah hijau

menyeramkan, iapun sedang melototi mayat Kan Tek Lin

yang mati dengan mengerikan tanpa berkutik sedikitpun

juga.

“Nona…nona.. kau…kau sudah membinasakan Kan Jieya

!” akhirnya Giok Jien berseru dengan napas ter-engah2.

Seluruh tubuh Si Soat Ang gemetar keras, ia mundur dua

langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Tadi, karena gusar tanpa memikirkan apa akibatnya, ia

sudah menghadiahkan lelaki itu dengan beberapa batang

jarum beracun dari alat “Si Seng Ciam” nya, tapi menanti

Kan Tek Lin benar2 menggeletak mati diatas permukaan

salju dalam keadaan mengerikan, hatinya baru merasa

terperanjat.

Apa lagi Giok Jien menegur dengan dingin, hatinya

semakin terpukul lagi sehingga tak kuasa badannya mundur

sempoyongan.

Ketika badannya mundur sempoyongan kebelakang,

sepasang tangannya menutupi mulut sendiri. “la… ia mati ?”

teriaknya tersentak kaget.

“Benar, Kan Jie-ya sudah mati, ia mati ditanganmu…”

Seru Giok Jien sedih.

Tapi belum habis sidayang cantik ini menyelesaikan

kata2nya mendadak Si Soat Ang berteriak melengking.

“Tidak… tidak peristiwa ini tiada sangkut pautnya

dengan diriku, aku tak ada hubungannya… sejak tadi sudah

kularang dia orang mencari gara2, ia tak mau tahu . . ia

sen… ia sendiri yang cari gara2.”

“Tapi sekarang, ia mati ditanganmu. kau telah

membinasakan dirinya.” sambung Giok Jien tegas, nada

ucapannya telah berubah tenang tapi keren dan penuh

wibawa.

Tiba2 Si Soat Ang meng-gerak2kan tangannya ke kanan

kekiri seperti orang gila, entah apa yang sedang dipikirkan

olehnya pada saat ini, juga tak tahu apa yang diucapkan

waktu itu.

Yang jelas, Si Soat Ang gadis cantik dan Benteng Thian

It Poo ini penuh diliputi rasa ketakutan.

Ia tahu dirinya sudah membinasakan Kan Tek Lin, bila

peristiwa ini sampai tersiar ditempat luaran maka ayahnya

tak akan berdiam diri. Orang yang paling menyayangi

dirinya bakal ikut tahu kejadian ini.

Sejak kecil hingga menginjak dewasa, entah sudah

beberapa kali Si Soat Ang buat keonaran dan menciptakan

bencana buat bentengnya, sekalipun begitu belum pernah ia

merasa takut.

Namun ini kali, kini ia betul2 ketakutan setengah mati.

Menggunakan saat meng-gerak2kan tangannya ke kanan

kekiri seperti orang gila ini ia bermaksud mencari alasan

yang kuat untuk melindungi diri dari segala tuduhan. tapi

akhirnya ia tak berhasil dengan usahanya, karena Kan Tek

Lin benar2 dan terbukti mati di tangannya.

Lama… lama sekali mendadak ia berhenti bergerak,

serasa memandang Giok Jien tanyanya dengan napas

terengah.

“Dia… dia mati ditanganku ?”

“Benar !” Dengan sangat berani Giok Jien bangun berdiri

lalu menjawab penuh ketegasan.

Tiba2 Si Soat Ang mendongak dan tertawa seram.

“Dia memang aku yang bunuh, tapi siapa yang tahu?

Siapa yang tahu?”

“Aku tahu! engkoh Hauw Seng juga tahu, hati kecilmu

sendiri juga tahu” kembali Giok Jien menjawab penuh

ketegasan.

Gelak tertawa Si Soat Ang makin lama kedengaran

makin lengking dan menyeramkan, sembari tertawa ia

menjengek dingin.

“Kau? dia? kalian anggap kamu berdua bisa hidup lebih

lama lagi? aku? Mungkinkah aku ceritakan peristiwa ini

kepada orang lain? hee hee hee dikolong langit tak akan ada

yang tahu, tak seorang manusiapun yang tahu dia mati di

tanganku, tak seorangpun yang tahu akulah

pembunuhnya!”

Sembari berteriak2 badannya menerjang terus kedepan

hingga tiba disisi mayat Kan Tek Lin, lalu berjongkok dan

mulai mencabut jarum yang bersarang dikaki mayat itu satu

demi satu.

Dengan ter-mangu2 Giok Jien berdiri mematung,

matanya memandang gadis itu dengan melongo.

Sudah tentu Giok Jien pun tahu apa yang hendak

dilakukan Si Soat Ang, tapi ia tak bertenaga untuk

menghalangi maksudnya, ia hanya bisa berdiri mematung

disana seraya memandang gadis tadi bekerja.

Pada saat itulah mendadak Giok Jien merasakan ada

seorang menggelinding kesisi kakinya.

Giok Jien yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya

untuk memperhatikan gerak gerik Si Soat Ang, tiba2 merasa

ada seseorang menggelinding ke sisinya, ia jadi terperanjat.

Buru2 ia menunduk, dilihatnya orang itu bukan lain

adalah Liem Hauw Seng.

Sepasang gigi pemuda she-Liem ini bergemerutukan

keras, jelas dengan menahan rasa sakit yang luar biasa ia

berusaha mendekati gadis Giok Jien ini.

Pemuda itu mendongak, tangannya gemetar keras tapi ia

sempat melakukan gerakan2 tangan seraya menuding kereta

salju yang tidak jauh terletak disisi tubuhnya.

Giok Jien mendongak, ia segera mengerti apa

maksudnya

Maksud Liem Hauw Seng, menggunakan kesempatan

sewaktu Si Soat Ang pusatkan perhatiannya untuk

menghilangkan jejak mayat Kan Tek Liu. mereka meloncat

naik dan melarikan diri.

Tindakan ini memang merupakan satu2nya jalan hidup

bagi mereka.

Asalkan mereka berhasil meloncat naik keatas kereta

salju itu, maka kendari ilmu meringankan tubuh yang

dimiliki Si Soat Ang lebih lihaypun jangan harap bisa

menyandak mereka.

Setelah Giok Jien dibuat paham dengan maksud

kekasihnya Liem Hauw Seng, jantung terasa berdebar

sangat keras.

Buru2 ia membongkok untuk bimbing Liem Hauw Seng

bangun, setelah itu per-lahan2 mundur kebelakang.

Ketika itu Si Soat Ang sama sekali tidak merasa

peristiwa apa yang telah terjadi dibelakang tubuhnya, ia

hanya pusatkan perhatiannya untuk mencabuti jarum

beracun yang bersarang ditubuh Kan Tek Lin sebatang

demi sebatang.

Giok Jien sembari memayang tubuh Liem Hauw Seng

selangkah demi selangkah mundur kebelakang, beberapa

kali mereka terjatuh ke permukaan salju tapi setelah

memperoleh harapan untuk hidup semangat yang berkobar

dalam rongga dada mereka berduapun semakin menyala.

Akhirnya setelah bersusah payah, sampai juga sepasang

muda mudi ini diisi kereta salju.

Dengan sekuat tenaga Giok Jien mendorong tubuh Liem

Hauw Seng naik keatas kereta salju sedang ia sendiri

berdiri.

Diiringi bentakan keras, tali les digentakkan kencang,

kesepuluh ekor anjing serigala itu menggonggong ramai

kemudian lari kencang kedepan.

Suara gonggongan anjing mengejutkan Si Soat Ang dari

perhatiannya, bagaikan tersambar ombak ia meloncat

bangun dan berpaling.

Tapi gerakannya ini sudah terlambat.

Sepuluh ekor anjing sembari menggonggong tiada

hentinya telah berlari kencang kemuka, kereta bersalju

dengan meninggalkan muncratan bunga2 salju memancar

delapan tombak jauhnya ke kedua belah samping.

Melihat kereta saljunya dibawa lari, Si Soat Ang

perdengarkan suatu jeritan aneh yang sangat tidak enak

didengar tubuhnya menerjang maju ke-muka.

Sayang, ketika badannya mencapai beberapa tombak

jauhnya, kereta salju itu sudah jauh mencapai dua puluh

tombak lebih meninggalkan gadis itu jauh dibelakang.

Si Soat Ang menjerit melengking tiada hentinya, suara

jeritan tersebut tinggi, dan tajam dan mendebarkan hati.

Walaupun Giok Jien yang berada diatas kereta salju telah

jauh meninggalkan dirinya tapi ia masih dapat menangkap

jeritan lengkingannya yang sangat mengejutkan hati itu.

Hampir2 saja jantung Giok Jien meloncat keluar dari

rongga dadanya, tiada henti ia getarkan tali les agar kereta

saljunya bisa berlari makin cepat.

Sekalipun kereta salju sudah berlari bagaikan terbang, ia

masih juga berseru-seru.

“Cepat dikit, cepat dikit ! kita hampir lolos dari

cengkeramannya, cepat dikit, . . ayoh cepat lagi sedikit !”

Bunga2 salju beterbangan menyambar diatas bibir,

hidung dan matanya, tulang terasa linu tersampuk angin

dingin bagaikan pisau tajam yang menyayat tubuhnya, tapi

ia tidak perduli semuanya demi kereta salju dilarikan

bagaikan terbang.

Kurang lebih setengah jam kemudian, daya lari ke

sepuluh ekor anjing-anjing penghela kereta makin lama

makin lambat dan akhirnya sangat perlahan. Dan Giok Jien

berpaling, dilihatnya seluruh penjuru hanya tampak

permukaan salju nan putih, tak terlihat sesosok bayangan

manusiapun yang melakukan pengejaran.

Ia menghembuskan napas panjang, membentak keras

dan menghentikan larinya sang kereta.

Dalam sekejap mata hampir2 ia tidak mempercayai lagi

akan keuntungannya, air mata tak tertahan meleleh keluar

membasahi seluruh wajah, air mata ini adalah air mata

kegirangan

Ia berpaling, dan berseru:

“EngkohHauw Seng, kita…”

Belum habis ucapan tersebut diutarakan keluar,

mulutnya terasa terkunci bungkam dalam seribu bahasa.

Di atas kereta salju tak ada manusia lain kecuali dia

seorang.

Tidak, seharusnya diatas kereta salju ini kecuali masih

ada orang lain.

Dia adalah engkoh Liem HauwSeng nya !.

Seluruh tubuhnya terasa jadi kaku, ia berdiri tertegun,

pukulan yang menghajar dadanya kali ini bukan saja

datangnya sangat mendadak bahkan peristiwa ini sungguh

telengas sekali, kejadian ini telah menghancurkan semua

pengharapan nya untuk hidup lebih lanjut

Ia berdiri mematung ditempat semula, setelah berapa

lamanya ia berteriak keras:

“EngkohHauw Seng !”

Tapi, sekarang ia jadi terkejut setelah mendengar

teriakannya ini. Suara tersebut amat kering, tidak enak

didengar dan kosong… kosong tak berisi, apakah ini suara

yang keluar dari kerongkongannya ? tapi itu bukan

suaranya, lalu suara siapa ? siapakah yang masih ingin

memanggil nama engkoh Hauw Seng dalam keadaan

seperti ini ? ? ?

Mulut Giok Jien terpentang lebar2, ia ingin berteriak dan

menangis tersedu2 tapi sedikit suara tak sanggup

diperdengarkan, ia hanya merasa badan sendiri sedang

melayang, melayang di angkasa sedang hatinya tertekan

terasa berat, berat bagaikan batu ribuan kati.

Ia melihat pemandangan salju di hadapannya seperti

telah berubah warna, cahaya ke-perak2an yang memantul

dari permukaan tanah makin lama berubah makin gelap

dan akhirnya gelap gulita.

Ketika itulah Giok Jien berteriak keras: “Engkoh Hauw

Seng !”

Sebenarnya, matanya sudah ber-kunang2 kepala terasa

pening, badannya hampir rubuh tidak sadarkan diri, tapi

teriakan terakhirnya berhasil menolong gadis ini.

Karena berteriak peredaran darahnya menjadi lancar

kembali, badannya hanya sedikit tergetar dan tetap berdiri

tegak, dan kerobohannya diatas tanah berhasil

dihindarkannya.

Giok Jien menarik napas panjang2, kemanakah perginya

Liem Hauw Seng ?

Sewaktu ia temukan diatas kereta salju tak kedapatan

Liem Hauw Seng ada disana, hatinya sangat kacau, ia tak

bisa berpikir lagi kemanakah perginya pemuda tersebut.

Tapi kini, ia sudah tahu kemanakah perginya Liem

Hauw Seng kekasih pujaan hatinya.

Tentu kereta salju berlari terlalu cepat sehingga tubuh

pemuda she Liem ini terpental dan jatuh menggelinding

diatas permukaan salju.

Sedangkan ketika mereka melarikan diri menggunakan

kereta salju, Si Soat Ang mengejar dari belakang, maka

jikalau Liem Hauw Seng terjatuh ditengah jalan, ada

kemungkinan besar ia sudah terjatuh ditangan gadis she Si

dari benteng Thian It Poo ini.

Teringat akan hal ini, Giok Jien merasakan seluruh

peredaran darah dalam tubuhnya seperti hampir membeku,

ia merasa seluruh badannya jadi kaku, sepasang kaki lemas

tak sanggup bangun berdiri lagi, ia roboh terjengkang diatas

permukaan salju.

Wajahnya dalam terkubur dibalik tumpukan salju, bunga

salju mencair menjadi air dingin membuat wajah yang

terpendam jadi peri, linu, seperti tertusuk beratus2 batang

jarum.

Ia menghembuskan napas berat didalam tumpuk kan

salju, setiap kali ia menghembuskan segumpal salju ikut

tertelan kedalam perutnya.

Entah lewat beberapa saat lamanya.. ia mulai berpikir

kembali, berpikir tentang nasib Liem Hauw Seng.

Ia menduga sekalipun pemuda kekasihnya ini telah jatuh

terpelanting diatas salju, tapi belum tentu berhasil

ditemukan oleh Si Soat Ang.

Jika ia tidak sampai diketahui oleh Si Soat Ang dan ia

sendiri berdiri tertegun disitu bukankah sama artinya ia

sudah memberikan kesempatan bagi malaikat elmaut untuk

mencabut nyawa kekasih nya ?

Teringat akan hal itu, semangat Giok Jien segera

berkobar kembali. ia meloncat bangun dari permukaan salju

dan menggelinding naik keatas keretanya lalu diiringi

bentakan keras serta gonggongan anjing, kereta kembali

bergerak dengan cepatnya.

Ketika itu salju sudah berhenti, Giok Jien yang

melarikan kereta saljunya dengan mengikuti bekas yang

ditinggalkan tadi. tidak sulitlah baginya untuk kembali

ketempat semula.

Selama kereta bergerak cepat, hati gadis ini bagaikan terkatung2

ditengah angkasa, dengan cermat diperhatikannya

terus suasana disekelilingnya.

Ia tahu asalkan Liem Hauw Seng terpental jatuh dari

kereta dengan membawa luka yang parah tak akan jauh ia

merangkak pergi.

Kurang lebih seperminum teh kemudian sedikitpun tidak

salah dari tempat kejauhan ia melihat ada seseorang

menggeletak diatas permukaan salju.

Saking girangnya Giok Jien jerit melengking, tidak

menunggu kereta tersebut berhenti lagi, ia meloncat turun

dan ber-lari2an menghampiri manusia yang dilihatnya

menggeletak diatas tanah.

Beberapa kali ia harus jatuh bangun sebelum sampai

dihadapan orang tadi, setelah susah payah sampai juga dia

disana.

Tubuh orang itu melingkar jadi satu, tapi Giok Jien

dapat melihat jelas dia bukan lain adalah-engkoh Hauw

Seng nya.

Napasnya memburu, sembari tertawa air mata tiada

hentinya jatuh berlinang.

“Coba kau lihat aku benar2 sangat tolol” teriaknya seraya

lari menghampiri. “Kau terjatuh dari atas kereta tapi aku

masih belum merasa, tapi sekarang baikan sudah, akhirnya

berhasil juga kutemukan dirimu.”

Setelah gadis ini menemukan kembali Liem Hauw Seng

masih ada disana, hatinya jadi lega, perkataanpun tak

sanggup diutarakan lagi.

Sekalipun begitu bukan saja Liem Hauw Seng tidak

memberi jawaban kepadanya, bahkan badan pun tak

berkutik.

Kontan Giok Jien membungkam dalam seribu bahasa,

jantungnya terasa berdebar sangat keras, sekuat tenaga ia

membalikkan badan kekasihnya.

“EngkohHauw Seng !” teriaknya keras.

Pada saat itulah Liem Hauw Seng baru bersuara,

terdengar ia menghela napas panjang.

“Aaai…! aaa…apa maksudmu datang mencari diriku lagi

?”

Giok Jien tertegun.

“Engkoh Hauw Seng, kenapa aku tak boleh datang

mencari dirimu ? sekarang aku berhasil temukan dirimu, ini

sangat bagus sekali. mari kita cepat pergi, sebelum nona

sempat menemukan kita. kita harus cepat2 pergi !”

Liem Hauw Seng pejamkan matanya rapat2, sekali lagi

ia perdengarkan suara helaan napas panjang.

Sekuat tenaga Giok lien memayang bangun tubuh

pemuda tersebut tapi sebelum mereka sempat berangkat

mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang

datang suara teguran yang sangat dingin.

“Sungguh sayang waktu tak mengijinkan lagi, aku telah

menemukan kalian kembali.”

Suara itu muncul diri bibir Si Soat Ang.

Waktu itu Giok Jien sudah siap melangkah pergi, tapi

begitu ucapan Si Soat Ang meluncur keluar memecahkan

kesunyian, ia jadi tertegun dan akhirnya berdiri kaku,

bahkan untuk berpaling sekejappun tidak sanggup.

Suara tertawa dingin dari Si Soat Ang berkumandang

tiada hentinya dari belakang tubuhnya, tertawa dingin itu

memberikan perasaan bagi Giok Jien bagaikan selangkah

demi selangkah mendekati liang kubur.

Beberapa saat kemudian, dengan suara yang serak lagi

kering ia berseru lirih:

“Nona kau berhasil menyandak kami ?”

Tubuhnya tetap tak bergerak, tapi ia merasa Si Soat Ang

makin lama semakin mendekati tubuhnya.

Akhirnya tangan Si Soat Ang berhasil menekan

pundaknya, suara gelak tertawa yang diperdengarkanpun

makin menggidikkan hati.

Kelima jarinya semakin mengencang dan terakhir

hampir2 telah menembusi pundak Giok Jien sehingga

menimbulkan rasa sakit yang bukan kepalang.

Seluruh tubuh gadis itu gemetar keras, air mata meleleh

keluar membasahi seluruh wajahnya, menanti seluruh

tubuhnya kena diangkat ke tengah udara oleh Si Soat Ang,

ia baru menjerit kaget.

Tapi dengan cepat putri kesayangan dari Poocu Benteng

Thian It Poo ini telah memerseni sebuah tempelengan keras

keatas wajahnya.

Tamparan yang menggunakan tenaga sangat besar ini

membuat tubuh Giok Jien mundur sempoyongan, tapi Si

Soat Ang tidak membiarkan badannya jatuh, sekali

cengkeram ia menyambar lagi dada gadis tersebut.

“Nona…” seru Giok Jien dengan nada gemetar. “Kau…

kau bunuhlah aku seorang tapi aku mohon janganlah kau

mencelakai engkoh Hauw Seng.”

Dalam pada itu Si Soat Ang telah mencengkeram Liem

Hauw Seng dikiri dan Giok Jien dikanan, rasa benci yang

terkumpul dalam dadanya selama ini sekarang disalurkan

semua, ia telah berubah hampir mendekati sinting, jeritan

lengkingnya bercampur baur dengan tertawa yang

meringkik.

“Hiiii… hiiii… membunuh dirimu? kau boleh berlega

hati, aku tak akan membinasakan dirimu, tak akan

kulakukan hal sebodoh itu.”

Sejak semula Giok Jien tidak memikirkan mati hidupnya

lagi, oleh karena itu mendengar ucapan Si Soat Ang

tersebut ia merasa terlalu gembira.

“Lalu bagaimana dengan engkoh Hauw Seng.” buru2

tanyanya cepat.

“Kau boleh berlega hati ,” teriak Si Soat Ang dengan

nada meIengking. “ia pun tak akan mati, aku masih ingin ia

hidup agar bisa melihat banyak persoalan.”

Tak kuasa lagi Giok Jien jatuhkan diri dan berlutut.

“Nona asalkan kau suka menolong engkoh Hauw Seng,

suruh aku berbuat apapun aku sanggup.”

Mendadak gadis she Si mendongak dan tertawa ter

bahak2.

“Oooouw benar begitu ? baik, kau boleh payang dia naik

keatas kereta bersalju dan kita segera berangkat !”

Walaupun dalam hati Giok Jien tahu urusan tak akan

beres segampang ini, ia merasa paling sedikit urusan yang

ada didepan mata dibereskan dulu, asalkan Liem Hauw

Seng bisa tertolong semua hal mudah diselesaikan, oleh

karena itu buru2 ia payang pemuda itu naik keatas kereta

salju.

Sembari memayang badannya, tiada hentinya ia

menghibur pemuda kekasihnya:

“EngkohHauw Seng, nona sudah setuju untuk menolong

dirimu, kau tidak usah gelisah, hatimu makin gelisah

lukamu makin sukar untuk sembuh.”

Beberapa kali Liem Hauw Seng membuka mulutnya

mau mengucapkan sesuatu, akhirnya tak sepatah katapun

yang diutarakan keluar.

Tidak selang beberapa saat, ketiga orang itu sudah naik

keatas kereta salju, dimana cambuk berayun kereta bergerak

dengan cepatnya kemuka.

Kurang lebih setengah jam kemudian mereka telah tiba

diatas sebuah bukit dengan tujuh, delapan buah bangunan

rumah tembok, Ketujuh delapan buah bangunan rumah

tembok itu melingkari sebuah halaman, ditengah halaman

berdiri sebuah loteng peronda yang tingginya tiga tombak.

Kiranya tempat itu bukan lain adalah sebuah pos

penjagaan dari benteng Thian It Poo.

Ketika kereta salju bergerak mendekat, tampaklah

beberapa orang munculkan diri menyambut kedatangan

mereka.

Si Soat Ang melarikan keretanya kehadapan beberapa

orang itu tampak lelaki2 kekar tersebut dengan wajah

kegirangan berteriak keras.

“Aaaah…! nona sungguh2 datang, peristiwa ini tidak

kami sangka sebelumnya.”

Si Soat Ang tidak menggubris ocehan2 itu, ia langsung

bertanya dengan nada yang ketus.

“Dimana Oen Su-ko? adakah ia disini?”

Pertanyaan itu baru saja diutarakan, seorang lelaki kurus

tinggi dengan memakai topi terbuat dari kulit binatang

berlari datang seraya menyahut tiada hentinya:

“Ada! ada!”

Lelaki yang bernama “Oen Su Ko” ini punya sedikit

nama besar disekitar daerah Utara, senjata andalannya

sangat luar biasa yaitu sebuah roda bulat yang panjangnya

beberapa depa dengan ujungnya bertaburkan duri2 tajam,

bila digetarkan maka akan menimbulkan suara dengungan

yang sangat aneh.

Ia she Oen dengan gelar Toh Ming Hwi Loen, atau

siroda terbang pencabut nyawa.

Pada saat itu dengan wajah penuh senyuman ia

menyambut kedatangan Si Soat Ang..

“Nona, secara bagaimana kau bisa sampai disini? apakah

Poocu tahu akan kedatanganmu disini?” sapanya ramah.

“Apakah kedatanganku harus diketahui Poocu dulu ?”

hardik Si Soat Ang kurang senang.

“Ooouw . . . tidak, tidak, sudah tentu tidak dengan

kepandaian silat yang nona miliki saat-ini jangan dikata

hanya berkeliling disekitar benteng Thian It Poo, sekalipun

berkelana di daerah Utara maupun selatan juga sudah

cukup.”

Si Soat Ang tertawa senang.

“Oen Su-ko selembar mulutmu betul2 sangat lihay, mari !

bantu aku sebentar disini ada seorang sedang menderita

luka, cepat payang dia masuk kedalam.”

Setelah mendengar perintah dari gadis she Si ini Oen Su

ko baru perhatikan bila diatas kereta salju masih ada

seorang yang sedang menderita luka sangat parah, ia jadi

tertegun dan buru2 maju menghampiri untuk payang orang

itu.

Setelah dekat, ia makin terperanjat lagi karena dalam

sekali pandangan manusia she Oen ini lantas mengenali

kembali bila orang itu adalah Liem Hauw Seng keponakan

Poocu mereka juga merupakan kakak misan dari Si Soat

Ang.

Luka yang diderita Liem Hauw Seng sangat parah, tapi

sikap Si Soat Ang amat hambar bahkan masih bisa bergurau

dan tertawa, Kendari Oen Su ko sudah ada setengah umur

berkelana dalamdunia persilatan juga susah untuk menebak

kejanggalan tersebut.

Setelah memayang tubuh Liem Hauw Seng, ia pelototi

terus wajah Si Soat Ang dengan ragu2 dan kebingungan.

“Cepat kami kirim dua orang kembali ke benteng untuk

mintakan obat luka pada ayahku, cepat pergi dan cepat

kembali.” perintah Si Soat Ang lebih lanjut “Beritahu juga

pada ayahku, katakan untuk sementara waktu aku tak akan

kembali ke benteng dan akan tetap berada disini untuk

merawat luka Piauw-ko.”

Mendengar perintah tersebutOen Su segera menyahut.

“Orang yang pergi mengambil obat harus cepat kembali,

dilarang banyak bicara, jikalau sampai merusak urusanku,

aku akan suruh kalian rasakan bahwa aku adalah manusia

yang tidak gampang diganggu.” teriak gadis she Si ini lebih

lanjut dengan wajah membesi.

Sekali lagi Oen Su menyahut, buru2 ia perintahkan dua

orang dengan menunggang kereta berlalu dari sana, sedang

sisanya segera masuk kedalam ruangan.

Setelah masuk kedalam ruangan hawa hangat

menyelimuti badan, Oen Su membaringkan Liem Hauw

Seng keatas pembaringan sedang Si Soat Ang mengeluarkan

sebutir pil, dengan bantuan arak ia paksa obat itu masuk

kedalam perut pemuda she-Liem.

Selama ini Giok Jien selalu berada disisi Liem Hauw

Seng, melihat Si Soat Ang agaknya sungguh2 hendak

menyembuhkan luka kekasihnya, rasa girang dalam hatinya

susah dilukiskan lagi.

Tidak selang beberapa saat kemudian Si Soat Ang

berkata kembali:

“Oen Su-ko, dalam pos perjagaan ini semuanya ada

berapa orang ?”

“Seluruhnya ada delapan belas orang”

“Kecuali dua orang yang pergi minta obat, sisanya

keenam belas orang segera suruh berkumpul aku mau

periksa satu persatu.”

Oen Su tidak mengerti apa maksud Si Soat Ang dengan

berbuat demikian, iapun tidak berani banyak bertanya,

terpaksa sahutnya:

“Terima perintah.” Ia singkap gorden dan berjalan

keluar.

Tidak selang beberapa waktu suara langkah kaki

bergema didepan pintu.

“Cukup… cukup… tak usah suruh mereka masuk, biar

aku yang keluar sendiri” buru2 gadis she Si membentak.

Sembari berkata mendadak ia tarik tangan Giok Jien dan

diajak keluar dari ruangan menuju ketempat luaran,

Tampak di tengah halaman berdiri puluhan lelaki kekar

tinggi pendek tak menentu, sebagian besar berwajah jelek2

dan buas.

Diantaranya ada seorang lelaki yang pendek gemuk,

wajahnya sangat jelek sekali, kepalanya besar bulat seperti

babi, badannya penuh berbulu hitam dan guyur2 lemas.

Giok Jien yang kena ditarik keluar oleh Si Soat Ang, ia

lantas merasakan kejadian tidak menguntungkan bagi

dirinya, tak kuasa lagi jantung terasa berdebar sangat keras.

Waktu itu Si Soat Ang menarik dia menuju kehadapan

lelaki jelek itu, Giok Jien makin curiga dan takut sehingga

badannya gemetar keras.

Dengan pandangan mata yang tajam putri kesayangan

dari Poocu benteng Thian It Poo ini perhatikan lelaki jelek

itu beberapa kejap. lalu tertawa.

“Wajahmu terasa amat asing, siapakah namamu?”

Agaknya lelaki jelek itu dibikin kaget setengah mati

sehingga untuk beberapa waktu hanya berdiri me-Iongo2

dengan mata terbelalak, tak sepatah katapun bisa

diutarakan keluar.

Oen Su yang ada disisinya segera mewakili untuk

memberi jawaban:

“Nona, dia adalah “Ci Bian Koei” atau setan berwajah

merah Ciauw Loo-chiet, kepandaian silatnya tidak jelek .

“Ooouw…kiranya Ciauw Cung-su !”

Sisetan berwajah merah Ciauw Chiet sebenarnya tidak

lebih hanya manusia rendah, sedang Si Soat Ang adalah

putri kesayangan poocu benteng Thian It Po, baginya cukup

memandang gadis ini dari tempat jauh saja jantungnya

sudah berdebar keras, apalagi saat ini gadis tersebut bukan

saja berdiri di hadapannya bahkan nadanya halus dan

begitu berbicara lantas memanggil dirinya dengan sebutan

“Ciauw Cung-su”, Ciauw Loo-chiet ini makin gelagapan

lagi.

Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya,

ia tidak tahu harus mengucapkan perkataan apa baiknya.

Kawan yang berdiri disisinya segera menjawil dia dan

memberi tanda agar ia jangan membisu terus.

Ciauw Loo chiet pentangkan mulutnya lebar2, lama

sekali ia baru menyahut: “Benar… hemm… aku adalah

pendekar Ciauw !”

Ucapannya ini langsung mendatangkan rasa geli dihati

semua orang, tidak terkecuali juga Si Soat Ang, ia tertawa

ter-kekeh2.

Hanya Giok Jien seorang yang tundukkan kepala,

badannya gemetar sangat keras.

Lama sekali gelak tertawa baru sirap, mewakili Ciauw

Loo chiet yang jadi jengah sehingga wajah nya berubah

merah padam seperti babi hangus ujar Si Soat Ang:

“Ciauw Cuang-su benar2 seorang lelaki sejati, kalian

jangan mentertawakan dirinya, pendekar Ciauw, aku ingin

menanyakan satu persoalan kepadamu.”

“Uuu . . uru. . . urusan apa ? ? ?”

Si Soat Ang melirik sekejap kearah Giok Jien, lalu

senyuman sinis yang menyeramkan berkelebat diatas

wajahnya.

“Pendekar Ciauw, kau sudah menikah belum?”

Ciauw Loo-chiet berdiri melengak, jelas ia tidak pernah

menyangka Si Soat Ang bisa mengajukan pertanyaan

macam itu kepadanya.

Sisanyapun ikut berdiri tertegun, untuk sesaat suara

manusia, gelak tertawa jadi serap.

Karena pertanyaan yang diajukan gadis she Si ini sangat

luar biasa dan tak seorang pun diantara mereka yang

mengerti maksudnya.

Ketika semua orang berdiri melengak, Ciauw Loo chiet

berdiri me longo2, mendadak Giok Jien menjerit

melengking. “Nona kau berbuatlah kebaikan.” sembari

berteriak ia jatuhkan diri berlutut dihadapan Si Soat Ang.

Bagaimanapun Giok Jien bukan hanya sehari dua hari

bergaul dengan majikannya ini, sudah tentu ia tahu

persoalan apakah yang sedang di pikirkan dalam hati Si

Soat Ang.

Semua orang melihat Giok Jien jatuhkan diri berlutut

makin melengak lagi dibuatnya, tapi Si Soat Ang sama

sekali tidak menggubris bekas budaknya ini, kembali ia

mengulangi pertanyaannya.

Dengan tangan digoyangkan berulang kali, Ciauw Loo

chiet menjawab juga akhirnya: “Belum… belum kawin.”

“Kalau begitu bagus sekali.” Si Soat Ang tertawa seram.

“Pendekar Ciauw, coba kau lihat bagaimana wajah

dayangku ini ?”

Ciauw Loo-chiet tertegun, buru2 ia alihkan sinar

matanya kearah Giok Jien yang masih berlutut diatas tanah.

Pada dasarnya Giok Jien memang seorang gadis cantik,

kini wajahnya pucat pasi badannya gemetar keras, semakin

membuat orang merasa kasihan.

Melihat wajahnya yang cantik sepasang mata Ciauw Loo

chiet kontan melotot bulat2, ia seperti berada dalam impian

dan hanya bisa tertawa bodoh belaka.

“Jika kau suka, biar aku yang jadi mak comblangnya,

malam ini juga kalian kawin !”

Ucapan ini menimbulkan kegemparan dikalangan para

jago yang hadir disana, ada beberapa orang lelaki segera

mengempit tangan dan kaki Ciauw Loo chiet lantas

diangkat dan di-lempar2 kan ke tengah udara.

Tubuh Ciauw Loo chiet gemuk besar, ia tidak mengerti

apa yang dinamakan ilmu meringankan tubuh, kena

dilemparkan ketengah udara langsung saja menjerit seperti

babi disembelih tangannya bergerak keras dan

menimbulkan suatu sikap yang sangat jelek.

“Sudah jangan ribut” seru Si Soat Ang kemudian sambil

tertawa. “Jangan sampai membuat sipengantin jadi

ketakutan, nanti sipengantin perempuan tak akan

mengampuni kalian.”

Beberapa orang itu segera turunkan kembali Ciauw Loo

chiet keatas tanah, Oen Su yang ada disisinya dengan cepat

dorong ia kedepan.

“Manusia yang tidak tahu diri” tegurnya keras. “Masih

tidak kau ucapkan terima kasih atas budi nona kepadamu ?”

Tidak usah disuruh kedua kali Ciauw Loo-chiet jatuhkan

diri berlutut dan meng-angguk2 kan kepalanya berulang kali

di hadapin Si Soat Ang.

Waktu itu Giok Jien masih berlutut diatas tanah, sedang

Si Soat Ang tertawa dingin tiada hentinya:

“Eeeii kenapa kalian begitu gelisah, mau memberi

hormat seharusnya menunggu lilin kawin dinyalakan lebih

dulu!”

Ucapan ini kembali mendatangkan gelak tertawa

dikalangan para jago yang ada disana.

Tubuh Giok Jien gemetar semakin keras, ia merangkak

maju beberapa langkah hingga tiba dihadapan Si Soat Ang

lalu seraya memeluk ke dua kaki bekas majikannya

teriaknya ber-kali2:

“Nona… nona..!”

Ditengah suara gelak tertawa yang keras, suara

jeritannya terdengar sangat lemah dan hampir sirap, tapi Si

Soat Ang masih bisa menangkap suaranya, per-lahan2 ia

ayunkan tangan keatas sehingga suasana jadi tenang

kembali.

Lalu dengan pandangan dingin Si Soat Ang mengalihkan

sinar matanya kebawah.

Waktu itu Giok Jien sedang mendongak dan merengek

memohon belas kasihannya, melihat wajah musuh cintanya

ini sangat mengenaskan dan sebentar lagi kesuciannya akan

musnah ditangan orang lain, dalam hati ia merasa sangat

girang dan sangat senang.

“Apa yang ingin kau katakan ?” serunya sepatah kata

demi sepatah kata.

Air mata Giok Jien mengucur keluar semakin deras.

“Nona, kau… kau boleh hajar diriku..! kau boleh bunuh

diriku, aku tak akan murung atau merasa kesal, tapi

sebelum menjatuhi hukuman macam ini kepadaku haruslah

kau ikut memikirkan buat diri engkoh Hauw Seng !”

“Iiih sungguh aneh sekali, aku rada sedikit tidak

mengerti, kau adalah dayangku aku mau kau kawin dengan

siapa, apa sangkut pautnya dengan Hauw Seng Piauw ko ?”

seru Si Soat Ang dengan alis melentik, Giok Jien masih

terus menerus memohon.

“Nona, aku mohon kepadamu jangan..! janganlah

bersikap demikian kepadaku, janganlah bersikap demikian

kepadaku.”

Makin gadis itu merengek dan memohon di-hadapannya

Si Soat Ang merasa makin kegirangan, sengaja dengan

perlambat ucapannya ia berseru:

“Oouw ! kalau begitu kau tidak ingin kawin dengan

Ciauw Ciang su ini ?”

“Nona, aku…” Giok Jien mulai terisak nangis.

“Baiklah, sekarang coba bicara sendiri sebenarnya kau

ingin kawin dengan siapa ?”

Sebenarnya seluruh tubuh Giok Jien sedang gemetar

sangat keras, tapi menanti ucapan terakhir dari Si Soat Ang

meluncur keluar tiba2 badannya tidak gemetar lagi,

bersamaan itu pula ia berhenti menangis.

Bukan begitu saja, setelah suara tangisannya berhenti

per-lahan2 ia merangkak dan bangkit berdiri

Dalam sekejap mata ia sudah mulai paham, sekalipun ia

merengek terus dihadapan Si Soat Ang, jangan dikata

hanya melelehkan air mata, kendari menangis sampai

kucurkan darah segar pun juga percuma.

Keadaan Si Soat Ang saat ini mirip seekor kucing yang

berhasil menangkap seekor tikus, ia permainkan dulu tikus

itu sehingga akhirnya sedikit demi sedikit menjadi mati.

Setelah Giok Jien bangun berdiri, ia menghela napas

panjang.

“Nona apabila kau ingin paksa aku mati, biarlah aku

mati sekarang juga !”

“He he he siapa yang ingin paksa kau mati ?” jengek Si

Soat Ang sembari tertawa dingin. “apalagi kau tak boleh

mati, jika kau mati maka rasa gemas, benci yang

terkandung dalam hatiku hendak ku lampiaskan kepada

siapa ?”

Sebetulnya dalam anggapan Giok Jien, asalkan ia adu

jiwa sampai mati, maka semua urusan akan selesai dendam,

benci yang tertanam dalam hati gadis she Si ini pun akan

musnah dengan sendirinya.

Tapi kini ia mulai mengerti urusan tak akan segampang

itu.

Bila ia menyetujui kawin dengan Ciauw loo chiet.

Kejadian ini sukar dibayangkan bagaimana akhirnya, maka

ia bakal menerima suatu penghinaan yang amat besar.

kehidupan selanjutnya tak tahu bagaimana jadinya, tapi ada

kemungkinan besar Si Soat Ang tak akan membenci tak

akan menyakiti Liem Hauw Seng lagi.

Bila ia memilih jalan mengadu jiwa, dalam keadaan

gusar Si Soat Ang bisa saja menggunakan cara yang paling

keji untuk menyiksa Liem Hauw Seng.

Berpikir akan akibat2 yang bisa terjadi Giok Jien

merasakan badannya merinding, bulu kuduk pada bangun

berdiri.

Ia tak mungkin bisa mati, ia tak boleh mati, jika ia mati

maka Liem Hauw Seng akan tinggal seorang diri dikolong

langit, pemuda itu akan tersiksa hatinnya selama hidup.

Tapi bila ia tak mati, bagaimana jadinya ? harus kawin

dengan seorang lelaki macam babi ?

Giok Jien tidak sanggup untuk berpikir lebih lanjut, ia

merasa badannya jadi kaku, bukan saja seluruh tubuhnya

bahkan hatipun ikut jadi kaku, ia berubah jadi goblok,

berubah jadi manusia tolol. apapun tak bisa dipikir lagi.

Giok Jien berdiri tertegun, sedangkan Si Soat Ang tiada

hentinya memperdengarkan gelak tertawanya yang aneh

dan menyeramkan.

Sembari tertawa. desaknya lebih lanjut: “Kau sudah

setuju bukan ? asalkan kau mengangguk maka malam ini

adalah malam pengantinmu, jika kau tidak setuju, Heeee…

heee… aku masih punya cara yang lain.”

Dengan pandangan sayu Giok Jien mendongak, sudah

tentu Si Soat Ang punya cara yang lain, dengan sangat

mudah sekali gadis she Si dapat menotok jalan darahnya

kemudian memberikan badannya yang tak bisa berkutik

untuk dikerjai oleh Ciauw Loo-chiet.

Tapi justru Si Soat Ang paksa dia untuk mengangguk!

paksa ia menyetujui sendiri. Sudah tentu Giok Jien tahu

maksud tujuan dari Si Soat Ang, gadis dari benteng Thian It

Poo ini sengaja berbuat demikian agar Liem Hauw Seng

yang ada didalam ruangan rumah bisa ikut mendengar

suara sahutan dari kekasihnya ini, agar Liem Hauw Seng

tahu bila Giok Jien adalah rela sendiri kawin dengan Ciauw

Loo-chiet.

Bila demikian adanya. maka Liem Hauw Seng akan

memandang rendah dirinya, melupakan dia dan tidak

merindukan dia lagi, ia akan menganggap dirinya sebagai

seorang perempuan rendah yang tidak tahu malu.

“Tidak boleh kusanggupi !” Teriak Giok Jien didalam

hatinya, “Bagaimanapun nasib menekan diriku, lebih baik

aku pasrah saja. aku tak boleh mengangguk, tak boleh

mengikuti paksaannya !”

Dengan kaku ia berdiri, disana, seluruh badannya seperti

membeku. sedikitpun tak berkutik lagi.

Si Soat Ang mengulangi kembali pertanyaan itu sampai

beberapa kali. -Tapi Giok Jien tetap tak bergerak.

Lama kelamaan suaranya makin meninggi,

kegusarannyapun makin membakar hatinya.

Oen Su yang berdiri disamping, karena takut Si Soat Ang

sulit turun panggung, dengan maksud mencari muka

ujarnya:

“Nona, ini hari malam semakin kelam, lebih baik kita

bicarakan besok saja.”

“Apa yang kau ketahui ? tidak usah banyak bicara !”

teriak Si Soat Ang penuh kegusaran.

Oen Su sama sekali tidak menduga ia bakal ketanggor

batunya, saking takutnya buru2 ia bongkokkan badannya

berulang kali.

“Baik ! Baik ! Baik !”

Badannya segera mengundurkan diri dari sana.

Melihat Si Soat Ang jadi naik pitam semua orang yang

hadir disana tak berani menghembuskan napas berat2 lagi,

masing2 orang mulai merasa heran dan bingung, mereka

tidak tahu kenapa Si Soat Ang paksa dayangnya yang

cantik untuk kawin dengan Ciauw Loo-chiet yang jelek

bagaikan babi.

Pada saat itulah mendadak dari belakang tubuh Si Soat

Ang berkumandang datang suara teriakan lirih dan lemah.

“Piauw moay, piauw moay !”

Mendengar panggilan itu, tubuh Si Soat Ang tergetar

keras, per-lahan2 ia berpaling.

Entah sejak kapan Liem Hauw Seng telah merangkak

turun dari atas pembaringan dan kini berdiri didepan pintu

dengan tangan mencekal tiang.

Walaupun sekuat tenaga ia berusaha berdiri tegak, tapi

kelihatan sekali setiap saat dapat roboh ketanah, wajahnya

pucat pasi bagaikan mayat.

Waktu itu, ditengah lapangan kosong telah di buat

seonggokan api unggun, cahaya api yang berwarna kuning

ke emas2an berkobar menjulang tinggi keangkasa, dibawah

sorotan cahaya api wajah Liem Hauw Seng yang pucat pasi

kelihatan sangat aneh sekali.

Setelah Liem Hauw Seng berteriak dua kali, ia tidak

bicara lagi.

Sedangkan Si Soat Ang sejak putar badan iapun

membungkam dalam seribu bahasa, beberapa saat

kemudian baru terdengar ia bertanya: “Kau sedang

memanggil diriku ?”

Diatas selembar wajah Liem Hauw Seng yang pucat

tersungging satu senyuman pahit.

“Benar aku sedang memanggil dirimu. Piauw moay aku

lihat kau sudah cukup mengacau hubungan kami”

“Hmm, yang ingin kau sampaikan kepadaku hanya ini

saja ?”

Tubuh Liem Hauw Seng menerjang maju lagi beberapa

langkah, bila bukan mencekal pinggiran dinding hampir2

saja badannya roboh terjengkang diatas tanah.

Seluruh tubuhnya mengeluarkan suara gemerutukan

yang keras, sahutnya tegas: “Benar, bila dalam hatimu

masih ada hal2 yang terasa kurang puas, kau boleh

laksanakan siksaan mu itu dibadanku, kau jangan

menyusahkan Giok Jien lagi.”

Setelah menyiksa Giok Jien tadi, rasa mangkel dan rasa

gusar yang berkobar dalam dada Si Soat Ang telah banyak

berkurang.

Melihat parahnya luka yang diderita Liem Hauw Seng,

hatinya mulai iba. Bagaimanapun juga ia pernah jatuh cinta

dengan pemuda ini karena pun dalam hatinya ingin cepat2

sembuhkan luka yang diderita pemuda tersebut.

Tapi, setelah mendengar ucapan yang terakhir dari lelaki

she Liem ini, rasa gusarnya kembali berkobar.

“Oooouw, , . cinta kalian berdua benar2 sangat

mendalam sekali,” sindirnya diiringi tertawa dingin yang

menyeramkan.

Liem Hauw Seng menghela napas panjang.

“Aaaai . . . kau jangan anggap Giok Jien adalah seorang

anak yatim piatu, aku lihat hatinya suci dan polos ia tentu

mempunyai asal-usul yang besar, aku lihat lebih baik kau

jangan keterlaluan, dan lepaskan dirinya !”

“Ha ha ha Liem Hauw Seng, kau anggap ucapanmu itu

bisa menakuti diriku ?” tiba2 Si Soat Ang mendongak dan

tertawa terbahak2 “Setelah kau keluar urusan jauh lebih

bagus lagi.”

“Oen Su ! tangkap mereka berdua !” perintah yang

diturunkan dengan wajah hijau membesi siapa yang berani

membangkang ? walaupun Oen Su tahu kedudukan dari

Liem Hauw Seng tapi bagaimanapun juga kedudukannya

tak akan setinggi kedudukan Poocu serta Si Soat Ang.

Oleh karena itu setelah ragu2 sejenak mereka maju juga

untuk memayang LiemHauw Seng dan diseret pergi.

Air muka Si Soat Ang pucat kehijau2an, dengan

tersungging suatu senyuman yang menyeramkan kembali

perintahnya:

“Ambil segentong air panas, jangan terlalu panas, hati2

jangan menyelomoti badan Liem sauw-ya!”

Dua orang berjalan keluar meninggalkan barisan, tidak

lama kemudian mereka kembali dengan membawa

segentong air panas yang masih mengepulkan asap.

Hingga detik ini tak seorang manusiapun paham apa

yang hendak dilakukan oleh Si Soat Ang setelah kedua

orang itu meletakkan gentong berisikan air panas itu keatas

tanah, gadis she-Si ini baru berkata kembali.

“Oen Su, masukkan dia kedalam gentong air panas itu!”

“Nona…” teriak Oen Su melengak.

Tapi tidak menanti ia menyelesaikan ucapannya, Si Soat

Ang sudah berseru kembali.

“Sudah dengar belum?”

Oen Su tidak berani banyak bicara lagu terpaksa ia

angkat badan Liem Hauw Seng dan dijebloskan kedalam

gentong air panas.

Air dengan cepatnya membasahi seluruh lutut Liem

Hauw Seng dan merendamnya hangat2.

Tapi cuaca ditempat luaran sangat dingin, sekalipun air

yang diangkut keluar masih panas dalam sekejap mata

panasnya telah berkurang.

Dengan perasaan bangga Si Soat Ang tertawa seram.

“Manusia rendah, sudah kelihatan belum ?” jengeknya

sinis, “Aku lihat paling banter satu jam lagi segentong air

panas ini akan berubah jadi segentong air dingin, waktu itu

sepasang kaki engkoh Hauw Seng mu yang ada dalam

tumpukan salju akan terasa hangat sedap sekali… haa…

haaaa… tentu kau bisa bayangkan bukan, bagaimana

rasanya waktu itu !”

Giok Jien jadi ketakutan.

“Nona, jangan… janganlah berbuat demikian!” teriaknya

gemetar.

“Haaaa… haaa sekalipun kau minta kepadaku juga

percuma saja.” Teriak Si Soat Ang agak histeris. “Kapan

saja kau menyanggupi untuk kawin dengan Ciauw Loochiet,

saat itu juga Oen Su akan mengangkat dia lepas dari

gentong air ?”

Ia lantas berpaling dan tambahnya: “Liem Hauw Seng,

bila kau tidak ingin sepasang kakimu jadi cacad akibat

kedinginan maka mohon lah bantuan kekasihmu asal suka

menolong jiwamu.”

Kembali ia tertawa dingin, kepada Oen Su serunya pula:

“Oen Su, sudah kau dengar belum ?”

Sebetulnya Oen Su pun seorang lelaki buas yang kasar

dan berhati telengas, tapi menyiksa orang dengan

menggunakan cara demikian kejinya baru untuk pertama

kali ini ia jumpai, suaranya berubah jadi serak tidak enak

didengar.

“Aaaa.. aku sudah dengar !”.

Si Soat Ang tertawa dingin, dengan membawa

kemangkelan ia melangkah masuk kedalam ruangan.

Oen Su yang memayang tubuh Liem Hauw seng tidak

berani berkutik. sedang Liem Hauw Seng sendiri

memejamkan matanya rapat2, nadanya mulai kedengaran

sangat lemah.

Menanti Si Soat Ang sudah berlalu Giok Jien segera

menubruk kesisi gentong air itu, teriaknya setengah

memohon:

“Toa-ya sekalian, kalian sudilah kiranya berbuat

kebaikan, dia adalah seorang yang sedang menderita luka

parah. dia… dia sudah tidak sanggup untuk menerima

siksaan lagi, kalian sudilah berbuat baik, Oen Su-ya ! kalian

sukalah berbuat kebaikan !”

Suaranya begitu mengenaskan, ditengah malam buta

yang dingin mendatangkan perasaan ngeri bagi yang

mendengar.

Lelaki liar yang hadir disana, bukannya tidak

berperikemanusiaan semua, namun Si Soat Ang berada

dalam ruangan, siapa yang berani banyak bertingkah ?

Terdengar Oen Su menghela napas dan coba menghibur:

“Nona. aku lihat Ciauw Loo-chiet pun lumayan juga..”

Tetapi ucapannya sudah terputus oleh isak tangis Giok

Jien, sembari bersedu sedan gadis memasukkan tangannya

kedalam gentong air, mendadak ia menjerit kaget dan

berteriak:

“Aaah…! airnya mulai mendingin, airnya mulai

mendingin !”

Barang siapapun dapat melihat kalau air dalam gentong

sudah mendingin, sebab sejak tadi sudah tak mengepulkan

asap lagi.

Sembari berteriak, gadis itu meloncat kesana kemari

dengan sekuat tenaga mendorong Oen Su.

Dari Liem Hauw Seng, seringkali ia memperoleh

petunjuk ilmu silat, lagi pula Oen Su tidak menyangka gadis

itu bermaksud mendorong dirinya, ditambah pula pada saat

ini ia sedang diliputi ketegangan, tenaga dorongan semakin

kuat diluar dugaan.

Dorongannya barusan kontan membuat tubuh Oen Su

terpental selangkah lebar kedepan.

Dalam pada itu Oen Su sedang berdiri sambil memayang

tubuh Liem Hauw Seng, secara tiba2 Oen Su terpental ke

depan membuat tubuh Liem Hauw Seng pun roboh

terjengkang keatas tanah.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 5

BAGAIKAN kalap Giok Jien menerjang ke depan,

memeluk tubuh kekasihnya dan ambil peluang tersebut

menggotong pemuda itu meninggalkan gentong air.

“Engkoh Hauw Seng… engkoh Hauw Seng…” Teriaknya

dengan suara amat memilukan.

Karena kaget dan cemas ketika itu Liem Hauw Seng

sudah jatuh tidak sadarkan diri, ia sama sekali tidak

mendengar lagi jeritan Giok Jien.

Ber-kali2 Giok Jien menjerit namun tidak mendengar

jawaban dari kekasihnya, ia lantas menganggap pemuda itu

sudah putus nyawanya, setelah tertegun beberapa saat ia

menjerit… jeritannya mengerikan dan sangat menyayatkan

hati.

Sembari memeluk tubuh Hauw Seng erat, ia putar

badan.

Sementara itu kebetulan Sie Soat Ang sedang melangkah

keluar dari dalam rumah, Giok Jien segera berteriak

lengking:

“Kau sudah… kau sudah membinasakan Kan Djie-ya,

sekarang kembali kau binasakan engkoh Hauw Seng! kau

pembunuh terkutuk!”

Mendengar Giok Jien mengungkap kembali peristiwa

kematian Kan Tek Lin, air muka Sie Soat Ang berubah

hebat, dengan cepat badannya meluncur kedepan menotok

jalan darah “Tjian-cing-hiat” pada bahu gadis hu..

Tubuh Giok Jien tergetar keras, kemudian ber sama2

Liem Hauw Seng roboh menggeletak ke-atas tanah.

Ketika itu Oen Su dengan penuh ketakutan masih berdiri

disisi kalangan, Sie Soat Ang segera membentak dingin:

“Disini sudah tak ada urusan kalian lagi, pada bubar

semua!”

Dalam sekejap mata para jago sudah bubarkan diri,

kecuali Tjiauw Loo tjhiet yang berjalan menghampiri

tuannya sembari berseru:

“Siotjia, aku , , soal perkawinan kami…”

Sie Soat Ang sedang mendongkol, mendengar ucapan itu

kontan ia naik pitam, sebuah tendangan kilat bersarang

ditubuh Tjiauw Loo tjhiet membuat lelaki ini mencelat ke

belakang dan jatuh bergelindingan, buru2 orang she Tjiauw

tadi merangkak bangun dan melarikan diri.

Perlahan2 Si Soat Ang putar badan dan menendang

tubuh Giok Jien dengan mata melotot, pelbagai cara keji

untuk menyiksa gadis ini bermunculan didalam hatinya,

tanpa sadar air muka nya berubah menyengir kejam.

Mendadak dari ujung tembok berkumandang datang

suara tertawa dingin yang sinis, dan mengerikan.

Tertawa dingin itu begitu menyeramkan membuat bulu

kuduk diseluruh tubuh Sie Soat Ang bangun berdiri, buru2

ia putar badan dan memandang dengan tajam

Secara lapat2 ia menemukan sesosok bayangan manusia

berdiri diujung tembok dengan sikap yang mengerikan.

Walaupun Sie Soat Ang sadar, tempat ini adalah salah

satu pos penjagaan bentengnya, asalkan ia berteriak maka

puluhan orang akan bermunculan untuk membantu dirinya,

namun entah apa sebabnya ia tidak berani berbuat

demikian, hatinya serasa tercekat.

Lama sekali ia tarik napas panjang2, lalu tegurnya

dengan suara gemetar: “Siii… siapa… siapa kau ?”

Orang itu tidak menjawab, ia masih saja

memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat

menyeramkan.

“Siapa ? siapa yang bersembunyi diujung tembok sana ?”

Kembali ia membentak keras.

Bentakan tersebut memancing kehadiran Oen Su disana,

tampak orang itu berjalan mendekat sembari bertanya:

“Siocia, apa yang telah terjadi?”

“Coba kemari, coba kau cepat kemari !”

Oen Su mengiakan, ia segera berjalan mendekati

tuannya.

Setelah ada orang lain yang berada disisinya, nyali Sie

Soat Ang makin besar, ia segera menuding kedepan dan

berkata:

“Coba kau pergi keujung tembok sana dan periksalah

teliti barusan aku lihat seperti ada orang tertawa dingin

ditempat itu.”

Ucapan gadis itu mendatangkan rasa ngeri dalam hati

Oen Su, bulu kuduknya pada bangun berdiri, buru2 selanya.

“Mungkin siocia sudah salah mendengar, bukankah

barusan siocia suruh kami masuk kedalam ruangan, siapa

berani tinggal ditempat luaran?”

“Oen Su!” Bentak Sie Soat Ang penuh kegusaran, “Aku

perintahkan kau segera melakukan pemeriksaan kesana,

kau berani membangkang atas perintahku?”

Walaupun dalam hati Oen Su merasa sangat ketakutan,

namun ia tak berani membangkang perintah siocia nya yang

sudah tersohor akan kekejiannya.

“Baik, baik – -” jawabnya kemudian. “Aku kau tidak

berkata tak mau kesana, aku hanya bilang tak mungkin ada

orang didepan sana.” sembari berkata, selangkah demi

selangkah ia berjalan kedepan.

Tertawa dingin yang muncul dari balik tembok tadi

dapat didengar oleh Sie Soat Ang dengan sangat jelas, ia

mengerti dibalik tembok tentu ada sesuatu yang tidak beres,

oleh karena itu ketika Oen Su berjalan kedepan, ia pusatkan

seluruh perhatiannya untuk mengawasi.

Tidak selang beberapa saat kemudian, Oen Su telah tiba

diujung tembok kemudian selangkah lagi tubuh lelaki tadi

sudah lenyap dibalik kegelapan sekalipun begitu secara

lapar2 masih kelihatan ia berdiri disitu.

“Ada orangkah disana ? Ada orangkah disana ?”

terdengar ia berseru keras.

Ia mengulangi kembali seruan itu sampai beberapa kali,

namun tak kedengaran suara jawaban, akhirnya ia

bergumam:

“Aaakh ! kiranya tak ada orang, tak ada.”

Belum sampai ucapan itu diutarakan mendadak tampak

tubuhnya mundur selangkah kebelakang, kemudian

mundur lagi selangkah dengan langkah berat, seakan2 ia

sedang merasa amat gusar.

Menjumpai keadaan tersebut Sie Soat Ang jadi marah

bercampur mendongkol sebelum ia bertindak sesuatu tubuh

Oen Su sudah mundur kehadapannya, ia segera

menghardik:

“Hay Oen Su, apa yang sedang kau lakukan ?”

Kena dibentak badan Oen Su berhenti kemudian

memperdengarkan jeritan yang aneh sekali.

Jeritan itu mirip sedang menangis tapi bukan suara

tangisan. mirip tertawa namun bukan gelak tertawa, atau

boleh dikata mirip jeritan kuntilanak ditengah malam buta.

Sementara Sie Soat Ang masih tertegun, tubuh Oen Su

mendadak jatuh terjengkang keatas tanah.

Walaupun Si Soat Ang dibikin terperanjat oleh jeritan

aneh Oen Su, ia tidak menyangka telah terjadi sesuatu.

Ketika melihat tubuh Oen Su jatuh terjengkang kearahnya,

ia menganggap lelaki itu mengandung maksud tidak

senonoh, ditengah bentakan keras jari tangannya laksana

kilat mencengkeram leher orang itu.

Setelah mencengkeram leher orang itu, lengannya

bergerak cepat membalikkan tubuh Oen Su sementara

tangan kirinya diayun kedepan mengirim sebuah gaplokan.

Tetapi sewaktu tangannya siap mengayun kedepan,

mendadak ia menjerit ngeri, cengkeramannya pada leher

Oen Su terlepas dan ia mundur empat lima langkah

kebelakang.

Ternyata ia sudah menemukan sesuatu yang

menyeramkan diatas wajah Oen Su sewaktu tangannya

hendak menggaplok pipi orang itu.

Wajah Oen Su sudah hancur berantakan, darah segar

mengucur keluar membasahi seluruh badannya, ketika itu

panca indranya sudah tak dapat dibedakan lagi, seakan2

dalam waktu sesingkat itu diatas wajahnya sudah ditancapi

dengan beratus2 batang paku.

Keadaan tersebut benar2 mengerikan sekali, tidak aneh

kalau Sie Soat Ang menjerit keras saking kagetnya.

Ketika ia mengendorkan cengkeramannya tadi, tubuh

Oen Su menggeletak keatas tanah dan tak berkutik lagi,

jelas sewaktu ia menjerit aneh tadi nyawanya sudah

melayang, Sie Soat Ang benar-benar ketakutan setengah

mati, ia tak berani berpaling lagi kearah ujung tembok

tersebut.

Makin ia tak ingin menengok kesana, sinar matanya

selalu beralih ketempat itu, dibalik kegelapan, seakan2

muncul seseorang ditempat itu, namun se-olah2 juga disitu

tak ada orang.

Makin dipikir gadis ini makin ketakutan, sehingga tak

tahan lagi ia menjerit-jerit.

“Hey kalian semua ada dimana ? Ayoh keluar semua,

ayoh keluar semua !”

Tiada hentinya ia berteriak walaupun hati terasa takut

tetapi teringat sebentar lagi bakal ada orang yang

bermunculan rasa takutnya sedikit banyak masih bisa

diatasi.

Siapa nyana kendari ia sudah berteriak berulang kali

namun tak kedengaran juga suara sahutan, kali ini rasa

takutnya memuncak.

Lambat2 ia mundur kebelakang, terus mundur sampai

kedepan pintu dan menghembuskan napas lega setelah jari

tangannya menempel diatas horden depan pintu,

“Hey, kalian semua sudah tuli? tidak mendengar

panggilanku?” makinya dengan penuh kegusaran.

Sembari berteriak ia membuka kain horden dan

berkelebat masuk kedalam ruangan, namun sekali lagi ia

menjerit lengking.

Dalam ruangan itu terdapat tiga orang. lampu masih

memancarkan cahayanya dengan terang benderang, justru

karena terangnya suasana maka hancurnya wajah ketiga

orang itu dapat terlihat amat jelas.

Kiranya ketiga orang itu sudah lama mati bahkan

keadaannya tiada berbeda dengan kematian Oen Su.

Sembari menjerit2 Sie Soat Ang mundur kebelakang,

ditengah ketakutan ia cabut keluar pedang pendeknya dan

membabat hancur kain horden kemudian menerjang keluar

dari ruangan tersebut memasuki ruangan lain.

Ruangan kedua ini berisi tujuh orang lelaki kekar.

Namun semakin banyak penghuninya keadaan mati

mereka semakin mengerikan membuat bulu kuduk pada

bangun berdiri

Berturut2 Sie Soat Ang memasuki empat bilik, enam

belas orang tak segelintir manusiapun hidup, semuanya

mati dalam keadaan yang tak berbeda.

Sie Soat Ang tidak berani berdiam diri dalam bilik terlalu

lama lagi, buru2 ia mengundurkan diri kedalam halaman,

Suasana disekeliling tempat itu amat sunyi, sehingga saking

sepinya gadis itu dapat menangkap hembusan napasnya

yang sangat menusuk telinga,

-ooo0dw0ooo-

BAB 4

HATINYA benar2 ketakutan, seluruh tubuh gemetar

keras, walaupun ia tahu ilmu silat kedelapan belas orang itu

hanya biasa2 saja, namun dalam sekejap mata, tanpa

menimbulkan sedikit suarapun mati berbareng, kejadian ini

betul2 sangat mengerikan sehingga susah dilukiskan dengan

kata2.

Sie Soat Ang maju beberapa langkah kedepan, pedang

pendek ditangannya diobat-abitkan kesana kemari kendari

disisinya sama sekali tak ada seorang manusiapun.

Akhirnya ia tiba disisi Liem Hauw Seng beserta Giok

Jien, sampai kakinya menyangkut di tubuh gadis tadi, ia

baru teringat. Paling sedikit masih ada seorang masih hidup

dikolong langit, dia adalah Giok Jien sekalipun orang ini

paling dibenci olehnya.

Buru2 ia tundukkan kepalanya, tampak Giok Jien

dengan sepasang mata melotot bulat2 sedang memandang

kearahnya, sinar mata gadis itu penuh mengandung rasa

benci dan mendendam!

Sekalipun sinar matanya mengerikan Soat Ang merasa

jauh lebih nyaman dari pada se orang diri menghadapi

kesunyian yang diliputi kengerian, delapan belas jiwa

lenyap dalam sekejap tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Karena itu ia membebaskan jalan darah dayangnya yang

tertotok dan menyapa dengan suara halus:

“Giok Jien…”

Sekali loncat, dayang itu sudah bangun berdiri, ia berdiri

tegak di hadapannya dengan wajah penuh rasa dendam.

Sie Soat Ang tertawa getir, segera tegurnya:

“Giok Jien, apakah kau… kau melihat sesuatu?”

Maksud Sie Soat Ang, adakah ia melihat sesuatu

makhluk aneh yang bisa membinasakan seluruh penjaga

pos tersebut dalam sekejap mata, tanpa meninggalkan

sedikit suarapun

Lambat2 Giok Jien angkat kepala dan menyahut. “Aku…

semua yang terjadi dapat kulihat dengan sangat jelas.”

Nada suaranya datar dan berat, namun membawa

keseraman yang menimbulkan rasa bergidik dihati orang.

Mendengar ucapan itu, Sie Soat Ang makin terperanjat.

“Apa yang kau temukan ? manusiakah dia ? siapakah

orang itu ?” serangkaian pertanyaan meluncur keluar secara

bertubi-tubi.

Karena tak dapat menahan rasa ngeri yang mencekam

hatinya, tanpa disadari ia sudah mendekati tubuh Giok

Jien, maksudnya dengan ambil kesempatan tersebut bisa

mengurangi rasa takut dalam hatinya.

Siapa sangka, ketika badannya berada didepan Giok

Jien, mendadak gadis itu melancarkan sebuah serangan

mencengkeram bahunya.

“Kau… kau… !” terdengar Giok Jien berteriak sambil

kertak giginya kencang-kencang.

“Kau sudah gila !” Bentak Se Soat Ang dengan rasa kejut

bercampur gusar, “Cepat lepaskan diriku, aku sedang

bertanya kepadamu, apakah kau menjumpai pembunuh

sadis tersebut !”

Sembari berkata ia meronta sekuat tenaga, namun

cengkeraman Giok Jien amat kencang, untuk sesaat sulit

baginya untuk melepaskan diri.

Sie Soat Ang semakin gelisah, tangannya laksana kilat

berkelebat mengirim beberapa kali gaplokan keatas pipinya.

Seluruh wajah Giok Jien sembab bengkak oleh tamparan

tersebut, namun ia masih dapat bicara serunya keras2:

“Kaulah orangnya, pembunuh sadis itu adalah kau

sendiri, kau membunuh Kan Jie-ya lebih dahulu kemudian

membunuh pula engkoh Hauw Seng !”.

Sie Soat Ang dibikin kehabisan akal, sepasang

telapaknya segera didorong ke depan menghantam dada

Giok Jien, Tenaga dorongan tersebut amat besar, seketika

membuat badan gadis tersebut mencelat beberapa tombak

kebelakang dan jatuh terjengkang.

Bantingan tersebut amat berat sekali, terbukti beberapa

kali Giok Jien gagal meronta bangun.

Sie Soat Ang menghembuskan napas panjang, makin

dipikir ia merasa makin ngeri. pikirnya:

“Aku tak boleh berdiam terlalu lama disini, lebih baik

cepat2 tinggalkan tempat ini, Giok Jien tak dapat kubawa

serta, lebih baik sekali hantam cabut selembar jiwanya.

Kemudian akan kulaporkan bahwa kematiannya, kematian

Kan Tek Lin serta kematian orang2 ini disebabkan seorang

manusia misterius Bukan saja aku bisa cuci tangan bersih2,

bahkan tak usah memikul resiko pula.”

Karena berpikir demikian, tubuhnya segera berkelebat

kedepan, sewaktu lewat disisi Liem Hauw Seng melirik

sekejappun ia tidak. sebab ia mengira pemuda tersebut pasti

sudah menemui ajalnya.

Ia tiba di depan Giok Jien dan tertawa dingin tiada

hentinya.

“Giok Jien !” jengeknya sinis, “Aku tak dapat

membiarkan kau tetap hidup dikolong langit, setelah sukma

mu berada diakhirat jangan salahkan diriku.”

Baru saja ia bicara sampai disitu mendadak pundaknya

terasa sangat berat seakan2 ada segulung tenaga yang

menekan tubuhnya, kemudian diiringi gelak tertawa seram

muncul dibelakang.

Suara tertawa dingin itu sangat mengerikan, jaraknya

begitu dekat sehingga seakan2 terasa hembusan napasnya.

“Sungguh aneh sekali” terdengar suara yang amat dingin

menggema datang dari arah belakang. “Setelah ia mati dan

tiba diakhirat, kalau bukan salahkan dirimu harus salahkan

siapa ?”

Orang itu pasti berada dibelakangnya, sebab Sie Soat

Ang dapat merasakan hembusan napasnya yang dingin

sewaktu orang itu berbicara, ia ingin sekali berpaling namun

tak ada tenaga barang sedikitpun untuk berbuat demikian,

jantung nya berdetak keras.

Entah lewat beberapa saat lamanya, ia baru bertanya

dengan suara gemetar.

“Si… sii… siapa kau ?”

Orang itu hanya tertawa dingin tiada hentinya, tak

terdengar suara jawaban.

Tubuh Sie Soat Ang gemetar keras, walaupun ia melihat

Giok Jien masih menggeletak diatas tanah, namun ketika

itu ia sedang angkat kepala dan memandang kearahnya,

sementara orang itu pun berada dibelakangnya, itu berarti ia

dapat melihat manusia misterius itu dengan sangat jelas.

“Giok Jien !” serunya dengan napas terengah-engah.

“Siii… siapa… yang berada dibelakangku ?”

“Dia… dia buu… bukan manusia !” jawab Giok Jien

sepatah demi sepatah.

Ucapan itu seakan2 segentong air dingin yang

membasahi seluruh tubuh Sie Soat Ang, giginya saling

beradu sehingga menimbulkan suara gemeretukan yang

nyaring.

“Dia… kaaa… kalau bukan manusia…… laaa… luu… lalu

siapa ?” serunya lirih.

Pucat pias seluruh wajah Giok Jien, namun raut

mukanya sama sekali tidak kelihatan rasa takut, sebab dia

berada dalam keadaan seperti ini, tak berharga baginya

untuk merasa takut.

“Akupun tak tahu macam apakah dia ?” jawabnya dingin

“Aku hanya tahu dia bukan manusia, mungkin hari naasmu

sudah tiba, Siocia. takutkah kau…”

Mendengar ucapan itu hati Sie Soat Ang merasa terkejut

bercampur gusar, rasa takutnya bisa teratasi beberapa

bagian, ia malah sedikit lebih tenang, ia tarik napas dalamdalam,

pikirnya:

“Yang berada dibelakangku tentu manusia, kalau bukan

manusia mana bisa berbicara ? Giok Jien berkata demikian

tentu sedang me-nakut2i diriku, Budak hina itu sungguh

menggemaskan !”

Jantungnya masih berdetak keras, namun suara

pembicaraannya tidak lagi terputus2 seperti semula.

“Kawan ! aku adalah putrinya Sie Poocu dari Benteng

Thian It Poo, siapa anda ?” dia bertanya.

Setelah mengucapkan kata2 hatinya semakin mantap

sebab dalam anggapannya tidak banyak manusia yang

berani melakukan kesalahan terhadap orang2 Thian It Poo

apalagi putri kesayangannya.

Manusia yang berada dibelakang tubuhnya segera

tertawa seram.

“Heee… heee… aku sudah tahu, kalau kau bukan putri

kesayangan dari Sie Loo-toa, mana bisa membinasakan

Kan Loo jie? heee… heee…”

Seluruh tubuh Sie Soat Ang kembali gemetar keras

setelah mendengar ucapan itu.

“Bukankah saat ini kau ingin cepat2 kembali kebenteng

Thian It Poo?” Terdengar orang itu kembali berkata sembari

tertawa dingin, “Baiklah kau boleh berangkat selangkah

lebih dahulu aku segera akan menyusul datang.”

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, segulung

tenaga yang amat besar meluncur keluar menghantam

tubuhnya, hal ini membuat Sie Soat Ang tak tahan lagi

maju tujuh-delapan langkah kedepan dengan sempoyongan.

Setelah berdiri tegak, ia putar badan dan memandang

tajam kearah orang itu. seandainya tidak melihat masih tak

mengapa, begitu menengok hampir2 saja ia jatuh tak

sadarkan diri.

Yang berdiri diatas salju benar2 bukan manusia tetapi

makhluk aneh yang berwarna putih dan penuh dengan

bulu.

Jikalau dikatakan orang itu mengenakan mantel bulu,

tidak mungkin kalau keadaannya begitu menakutkan.

Dengan hati kebat kebit selangkah demi selangkah Sie

Soat Ang mundur ke belakang, setelah bersusah payah ia

tiba juga diujung tembok, sembari menjerit tajam ia lari

kedepan.

Gadis ini tidak berani menunggang kuda lagi, dengan terbirit2

ia lari tiada tujuan.

Dalam sekejap mata enam, tujuh li sudah dilewati tanpa

terasa.

Selama ini ia sendiri tak tahu apa yang telah dilakukan,

menanti terdengar gonggongan anjing dari tempat

kejauhan, kesadaran Sie Soat Ang baru pulih kembali

seperti sedia kala, ia pun memperlambat larinya.

Dari arah depan muncul sebuah kereta salju., orang yang

ada diatas kereta salju bukan lain adalah lelaki yang dikirim

kembali ke benteng Thian It Poo untuk meminta obat.

Melihat ditempat itu muncul seseorang, Sie Soat Ang jadi

kegirangan, ia segera lari menyambut kedatangan kereta

tersebut.

Dalam sekejap mata kereta sudah berhenti dan dua orang

manusia meloncat turun dari atas kereta. mereka

menghampiri gadis tersebut. sembari memayang tanyanya

berulang kali:

“Apa yang telah terjadi? apa yang telah terjadi?”

Perlahan-lahan Sie Soat Ang dapat tenangkan kembali

pikirannya, ia mengenali kedua orang itu bukan lain adalah

Sia To Hwie Hauw. dua bersaudara she Tang.

Sin To Hwi Hauw atau Golok Sakti Harimau terbang

merupakan jago lihay dalam benteng Thian it Poo,

menjumpai mereka berdua bagi Sie Soat Ang sama halnya

telah minumobat penenang, buru2 serunya:

“Sungguh bagus sekali kedatangan kalian, Aaah…

sungguh mengerikan… sungguh mengerikan…”

Melihat wajah Sie Soat Ang begitu gugup, ketakutan dan

pucat, Sigolok sakti harimau terbang berduapun diam2

tercekat segera ujarnya berbareng: “Pocu merasa tidak lega

hati, biarkan kau keluar benteng seorang diri, beliau sengaja

kirim kami datang menjemput dirimu, apa sebenarnya yang

telah terjadi?”

“Sungguh mengerikan, sungguh mengejutkan!” Kata

gadis itu sambil menghembuskan napas berulang kali.

“Bayangan manusiapun tidak kelihatan, Oen Su sekalian

dua puluh orang yang berada dibenteng sebelah depan mati

terbunuh.”

Sewaktu melihat wajah Sie Soat Ang pucat, Sigolok sakti

Harimau terbang sudah tahu peristiwa yang menyeramkan.

“Aaaah ! sudah terjadi peristiwa semacam ini?”

Biji mata Sie Soat Ang berputar, ia mengerti inilah

kesempatan paling bagus baginya untuk melepaskan diri

dari pertanggungan jawab atas kematian Kan Tek Lin, oleh

karena itu segera ujarnya kembali: “Buat apa aku

membohongi kalian, bahkan paman Kan Jie siok pun

menemui ajalnya ditangan manusia misterius tersebut !”

Ketika Sie Soat Ang melaporkan Oen Su dua puluh

orang menemui ajalnya ditangan orang lain, walaupun si

Golok sakti Harimau Terbang merasa terkesiap namun

masih tidak seberapa.

Lain halnya setelah mendengar kabar bahwasanya Kan

Tek Lin pun ikut menemui ajalnya, Mereka berdua sadar

ilmu silat yang dimiliki masih kalah jauh dari Kan Tek Lin,

manusia selihay itupun menemui ajalnya, apa lagi mereka

berdua ?

Kontan dua bersaudara she Tang ini bungkam dalam

seribu bahasa.

Tentu saja Sie Soat Ang tahu apa sebabnya kedua orang

jago lihay ini ketakutan, sembari depakkan kaki keatas

tanah ia memaki dengan hati mendelu: “Konyol, berengsek,

nyali kalian sungguh kecil ! masa dengan akupun tidak

memadahi… berengsek !”

Sepasang mata Golok sakti Harimau Terbang berputar

kesana kemari memeriksa keadaan disekelilingnya, setelah

yakin disekitar sana tak ada orang mereka baru

menghembuskan napas lega.

“Siocia!” ujarnya berbareng, “Bahkan Kan Jie-ya pun

sudah kehilangan nyawanya, sekalipun kami kesanapun

percuma saja, kau anggap jiwa kami boleh dibuat

geguyonan?”

“Aaah benar, maka dari itu aku ketakutan sekali, untung

sekali telah berjumpa dengan kalian, aku… perlukah kita

menuju kesana untuk melihat apakah orang itu sudah pergi

atau belum?”

“Tidak perlu, tidak perlu.” buru2 Golok sakti harimau

terbang goyangkan tangannya berulang kali, “Dari luar

sudah kedatangan musuh tangguh, kita harus cepat2

kembali kebenteng dan laporkan peristiwa ini kepada Poocu

kita.”

Sie Soat Ang dapat melihat kalau mereka ber duapun

sudah dibikin ketakutan setengah mati, segera ujarnya

kembali: “Aaaai..! hanya sekali saja aku melihat manusia,

hampir2 saja jatuh tidak sadarkan diri, dia… boleh dikata

tidak mirip manusia, seluruh tubuhnya putih berbulu,

jenasah paman Kan Jiesiok masih berada disana, walaupun

kematiannya sangat mengerikan. seharusnya kita bawa

pulang jenasahnya dan di kubur dalam benteng Thia It-poo

secara kebesaran.”

Pada saat ini, seumpama golok Sakti Hari mau Terbang

suruh Sie Soat Ang kembali kesana sekali lagi, sekalipun

penggal leher gadis itu tak bakal sudi menuruti kemauan

mereka.

Namun gadis yang cantik dan licik ini sudah dapat

menembusi dahulu rahasia kedua orang itu, karenanya ia

berbicara lebih dahulu, Dengan demikian seumpama lain

hari jenasah Kan Tek Lin tidak dijumpai berada disana,

iapun bisa cuci tangan dari segala tanggung jawab.

Sedikitpun tidak salah, Golok Sakti Harimau Terbang

gelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak usah kesana. tidak usah kesana, lebih baik kita

kembali dulu kebenteng untuk melaporkan kejadian ini

kepada pocu.”

Tanpa banyak bicara lagi, kedua orang itu memayang Sie

Soat Ang keatas kereta dan menjalankan kereta tersebut

kembali kebenteng.

Semakin lama mereka meninggalkan tempat itu. hati Sie

Soat Ang semakin mantap akhirnya dari tempat kejauhan

dapat terlihat cahaya lampu yang memancar keluar dari

dalam benteng Thian It Poo, kemudian beberapa saat lagi

kereta mereka sudah berada didepan pintu.

“Siocia telah kembali cepat buka pintu.” Teriak GoIok

Sakti sepasang Harimau dengan suara keras.

Pintu benteng terbuka, kereta salju segera menerjang

masuk kedalam benteng dan langsung menuju keruang

tengah, Seakan2 baru saja selamat dari lubang jarum, Siu

To Siang Hauw berteriak-teriak keras: “Aduuuh poocu,

celaka, celaka, sudah terjadi peristiwa, sudah terjadi

peristiwa !”

Teriakan mereka berdua segera memancing perhatian

puluhan orang banyaknya, mereka pada berkumpul dan

bertanya apa yang sudah terjadi, suasana jadi sangat gaduh.

Tetap Sio To Siang Hiuw sendiripun tidak tahu peristiwa

apa yang sebenarnya telah terjadi, karena itu mereka hanya

berkata: “Kan Jie-ya mati terbunuh, Oen Su sekalian dua

puluh orang pun mati dibunuh orang !”

Suasana kontan jadi gempar, para jago terkesiap dan

suara gaduh memenuhi angkasa, mengikuti dibelakang Sin

To Siang Hauw serta Sie Soat Ang tiga orang, mereka bersama2

menuju ketempat kediaman Poocu.

Selama ini Sie Soat Ang berjalan ke dalam ruangan

dengan wajah hijau membesi, sepatah katapun tak

diutarakan menanti ayahnya Sie Liong munculkan diri ia

baru berseru dan menangis tersedu: “Tia !” Kontan ia

menubruk kedalam pelukan ayahnya.

Sebelum Sie Liong munculkan diri tadi, ia sudah

mendengar suara gaduh yang mengatakan Kan Jie-ya telah

menemui ajalnya, ia tahu Kan Tek Lin pergi ber sama2

putrinya, kini Kan Tek Lin menemui ajalnya, dan berarti

putrinya pun terancam mara bahaya.

Oleh sebab itulah sewaktu ia berjalan keluar, hatinya se

akan2 tergantung diatas awang2.

Menanti ia munculkan diri dan menjumpai putri nya Sie

Soat Ang berada dalam keadaan sehat walafiat ia baru

menghembuskan napas lega dan buru2 memayang putrinya

sembari bertanya: “Sebenarnya apa yang telah terjadi ? siapa

yang berani cari gara2 dengan benteng Thian It Poo kita ?”

“Aku sendiripun tidak tahu” jawab Soat Ang sambil

menangis tersedu2. “Aku serta paman Kan Jie-siok berhasil

menemukan kembali engkoh Hauw Seng terluka parah

karena teringat Oen Su ada disekitar sana maka aku

membawa dirinya kesana dan segera kirim orang untuk

mengambil obat.”

“Benar, soal ini aku sudah tahu.” Sie Liong mengangguk.

“Karena tidak berlega hati maka aku kirim dua bersaudara

she Thang untuk membawa obat tersebut.”

Sie Soat Ang menangis semakin menjadi, ujarnyakembali:

“Siapa sangka engkoh Hauw Seng telah bersekongkol

dengan seorang tokoh lihay dari aliran sesat, dalam sekejap

mata semua orang sudah terbunuh tinggal aku seorang diri.”

Walau pun Sie Long terkejut, namun bagaimanapun juga

dia adalah seorang tokoh kenamaan dalam dunia persilatan,

hatinya segera tertegun dibuatnya, “sebenarnya apa yang

telah terjadi? secara bagaimana semua orang bisa mati

dalam sekejap mata?” ia bertanya.

Sejak semula Sie Soat Ang sudah mempersiapkan

jawabannya, ia segera berkata “Ketika itu aku menemani

engkoh Hauw Seng berada dalam ruangan mendadak

terdengar paman Kan Jie-siok berteriak aneh diluar bilik,

aku tertegun kemudian buru2 lari keluar, tampak paman

Kan Jie-siok telah menggeletak mati ditanah sangat

mengerikan sekali.”

Sekalipun Sie Soat Ang sedang berbohong, namun ada

separuh bagian merupakan kisah nyata ketika mendengar

Sie Liong bertanya mengenai kematian orang itu, gadis she

Sie ini segera teringat kembali peristiwa yang baru saja

terjadi di depan mata.

Setelah bersin beberapa kali ia menjawab:

“Mereka mati dalam keadaan sadis… wajah mereka

hancur berantakan dan penuh berlepotan darah !”

Begitu ia menjelaskan bagaimanakah ngerinya kematian

orang2 itu, para jago yang hadir di-sana pada bergidik.

Air muka Sie poocu berubah hebat, rasa kagetnya bukan

alang kepalang, dengan cepat ia angkat kepala dan berseru:

“Yu heng !”

Dari antara para jago muncul seorang kakek yang kurus

kering, namun dengan cepat ia mundur kebelakang

berulang kali seraya menjura.

“Poocu, terima kasih atas perhatian serta pelayananmu

selama beberapa hari ini, aku orang she Yu ingin mohon

diri !”

Sudah banyak tahun kakek kurus kering ini berada dalam

benteng Thian It Poo, semua orang kenal dengan dirinya,

Berhubung Sie Poo cu sangat menghormati dirinya maka

semua orangpun amat sungkan terhadapnya.

Sebaliknya kakek kurus ini pada hari2 biasa tak suka

menyapa orang karena itu semua orang hanya tahu dia she

Yu dan seorang manusia aneh.

Tetapi pada saat ini, semua orang melihat Poo cu mereka

tidak menyapa orang lain justru hanya memanggil dia

seorang dan melihat ia segera mohon diri, semua orang jadi

tertegun dan tidak tahu apa sebabnya.

Mendengar kakek kurus kering itu hendak mohon diri,

Sie Poocu amat gelisah, sekali loncat ia hadang jalan

perginya.

“Yu-heng, kau pernah berkata, seandainya aku

menjumpai mara bahaya maka kau akan membantu diriku

dengan segenap tenaga, mengapa sekarang malah hendak

pergi?” serunya.

Dengan cepat sikakek kurus kering itu gelengkan

kepalanya berulang kali.

“Sie Poocu, aku memang pernah berkata demikian,

namun dalam menghadapi masalah ini aku tidak sanggup

mengatasinya, kalau tidak pergi apa yang hendak

kunantikan lagi ?”

“Yu heng. apakah kau benar2…”

“Banyak bicarapun tak berguna” Dengan cepat kakek

kurus itu menukas kata2nya “Lebih baik kau tak usah

mengungkap soal ini lagi !”

Selesai bicara ia putar badan dan berlalu dengan langkah

lebar.

Melihat kakek itu mau berlalu, seorang lelaki kasar yang

tinggi besar bagaikan pagoda munculkan diri menghadang

jalan perginya, sambil menuding wajah kakek tersebut

tegurnya:

“Hey sudah banyak tahun kau tinggal dalam benteng,

kini dalam benteng Thian It Poo terjadi peristiwa, bukannya

membantu kau malah melarikan diri, akan kuhajar kau

anjing busuk !”

Sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dikeluarkan

menghantam tubuh kakek itu.

“Sun Cuang-su, jangan !” buru2 Sie Liong berteriak

mencegah.

Namun serangan lelaki itu terlalu cepat, telapaknya

sudah diayunkan kedepan, pada saat itu pula mendadak

sikakek kurus mengeluarkan kelima jari tangannya yang

kurus mencengkeram lengan lelaki tersebut.

Kelihatan sekali.. kendati cengkeramannya mengenai

sasaran asalkan lelaki itu getarkan tangannya niscaya

cekalan tersebut akan terlepas.

Sementara itu para jago jadi puas dan kegirangan dengan

tindakan itu.

Siapa sangka lima jari kurus dari kakek itu benar2 luar

biasa melebihi jepitan besi, urat nadinya begitu terpegang,

lelaki itu mendadak menjerit aneh diikuti lengan kakek tadi

bergerak cepat “Kraak!”

Sebuah lengan lelaki itu putus jadi dua.

Perubahan tersebut boleh dikata terjadi sangat

mendadak, semua orang hanya bisa saling bertukar

pandangan dengan mulut melongo.

“Yu-heng, harap menaruh belas kasihan kepadanya !”

buru2 Sie Poocu berteriak.

Setelah Sie Poocu mohonkan ampun, kakek kurus itu

mengendorkan cekalannya dan memaki sambil menuding

lelaki kekar tersebut: “Seandai nya Poocu kalian tidak

mohonkan ampun, akan kutarik lenganmu sampai hancur

!”

“Cepat mundur kebelakang.” kembali Sie Poocu

membentak. “Siapa yang berani kurang ajar lagi terhadap

Yu-heng? bagi sahabat keluarga Sie kami boleh pergi atau

datang semaunya, siapapun dilarang menghalangi niat

tamu2 kami.”

Dalam pada itu setelah memaki lelaki tadi dengan

beberapa patah kata kakek Kurus itu putar badan kembali

dan buru2 berlalu.

Dengan cepat Sie Poocu maju mengejar sembari berseru:

“Yu-heng, harap tunggu sebentar.”

Kakek kurus itu tak menggubris, badannya berkelebat

cepat keluar, sembari melayang pergi teriaknya: “Bukankah

kau sudah berkata sendiri, bagi sahabat2 keluarga Sie boleh

pergi datang sesuka hati ?”

Dalam sekejap mata bayangan orang itu sudah lenyap

tak berbekas.

“Yu-heng !” teriak Sie Liong cemas. “Mau pergi silahkan

pergi, tetapi sepantasnya kalau kau memberi petunjuk dulu

kepadaku !”

Begitu ucapan ini diutarakan keluar, semua orang makin

tertegun dibuatnya. Dalam pandangan mereka poocu

benteng Thian It Poo adalah seorang jago lihay kelas satu

dalam Bu-lim seorang tokoh silat tanpa tandingan dikolong

langit dewasa ini.

Tetapi sekarang, setelah kakek kurus itu lenyap tak

berbekas, wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat,

dengan sikap gugup mohon bantuan orang lain, kemana

perginya kegagahan, keangkeran serta kewibawaan seorang

ketua Benteng?..

Beberapa jago tak dapat menahan diri. mereka segera

berseru: “Poocu, tentara datang kita hadapi dengan

panglima, air bah datang kita tahan dengan tanah kita…”

Belum selesai jago2 itu berbicara terdengar suara dari

kakek kurus itu berkumandang, datang dari tempat

kejauhan, begitu suara itu bergema Sie Liong segera

ulapkan tangannya sembari membentak:

“Tutup mulut, dengarkan apa yang diucapkan”

Bersamaan itu pula muncul harapan dalam wajah Sie

Liong, jelas ia ingin memperoleh petunjuk dari kakek kurus

itu. Terdengar suara dari kakek kurus tadi berkumandang

datang dari tempat kejauhan:

“Sie Poocu, setelah menerima pelayananmu selama

banyak tahun, aku tak bisa tidak harus memberi petunjuk

kepadamu, setelah kau mengajukan keinginan tersebut. Aku

nasehati dirimu lebih baik cepat2 benahi barang yang

penting kemudian bawa sanak keluargamu melarikan diri

dari sini, makin jauh kau pergi makin baik.”

Suara yang berkumandang datang itu makin lama

semasa lirih dan semakin rendah, jelas sembari mengirim

suara kakek itu meneruskan larinya kedepan, sehingga

ketika mengucapkan kata2 penghabisan suaranya amat lirih

sekali.

Air muka Sie Poocu yang pada mulanya penuh dengan

harapan kini berubah jadi sangat kecewa, badannya tanpa

terasa mundur beberapa langkah kebelakang sehingga

menempel diatas dinding, lama sekali ia baru angkat kepala

dan memandang sekejap kearah beberapa orang itu.

Para jago yang berada disekeliling Sie Poocu tak

mengeluarkan sedikit suarapun, menanti ia sudah angkat

kepala suasana baru gaduh.

Terdengar Sie Soat Ang mendengus dingin dan berkata.

“Siapa sih kakek tua yang barusan melarikan diri itu ? ia

hanya biasanya makan minum gratis ditempat kita, buat

apa kita dengarkan omongannya ? dalam benteng Thian It

Poo kita masih terdapat banyak jago. Seandainya melarikan

diri, Hmm ! bisa2 ditertawakan orang !”

Walaupun Sie Soat Ang dibikin ketakutan setengah mati

sewaktu menghadapi peristiwa tersebut, namun setelah ia

berada dalam Benteng Thian It Poo, nyalinya jadi makin

besar.

“Poocu !” ada orang berteriak, “Perduli siapa pun yang

sudah datang, masa dengan jumlah kita orang yang begitu

banyak tak sanggup menghadapinya..”

“Poocu !” ada pula yang berseru, “Kakek tua itu sengaja

memperkecil semangat kita, mungkin dia adalah mata2

yang sengaja dikirim kedalam benteng kita sebagai mata2 !”

“Stttt… jangan bicara sembarangan.” Tukas Sie Liong

dengan badan lemas. “Dia…”

“Aku lihat dia bukan seorang manusia baik !” Sambung

Sie Soat Ang dengan hati cemas.

“Aaaai… sewaktu ia datang kemari, sama sekali tidak

memperkenalkan diri, ia hanya mengaku she Yu, akupun

tidak tahu apa maksudnya mendatangi benteng Thian It

Poo kita, namun di tinjau dari keadaannya tidak mungkin

membawa maksud jahat oleh karena itu selama ini akupun

tidak pernah mengungkapkan soal asal usulnya.”

Berbicara sampai disini Sie Liong merandek sejenak dan

menyapu sekejap kearah para jago, kemudian lambat2

ujarnya lebih jauh:

“Namun. tidak lama setelah ia tiba aku sudah tahu kalau

dia bukan lain adalah salah seorang dari Tionggoan Su

Koay yang tersohor itu.”

Baru saja Sie Liong mengucapkan kata2 itu air muka

beberapa orang jago yang hadir disana sudah berubah

hebat, tanpa sadar mereka sama2 berseru.

“Si Koay Chiu atau Manusia Bertangan aneh Yu Put

Ming!”

Air muka Se Liong makin memberat, ia mengangguk

tiada hentinya.

“Benarlah, dia oranglah sebenarnya.”

Seketika timbul kegaduhan diantara para jago yang hadir

disana, tidak lama kemudian muncul empat lima orang

berkata sambil tertawa.

“Sie Poocu, Terima kasih atas sanjungan Poo-cu selama

ini sehingga kami memperoleh makan dan tempat tidur

dalam benteng Thian It Poo ini, namun… kini… kini,

sampai si manusia bertangan aneh Yu Put Ming yang

demikian lihaynya pun tidakHeee… heee… kami… kami…”

Kembali Sie Liong menghela napas panjang.

“Aaaai, kalian tak usah berbicara lebih lanjut aku sudah

tahu! barang siapa diantara kalian tidak ingin tinggal

didalam benteng Thian It Poo lagi, silahkan segera

meninggalkan tempat ini, aku tidak akan menghalangi niat

kalian?”

Bagaikan mendapat pertolongan saja, sinar kegirangan

terpancar keluar dari wajah mereka.

Pada mulanya ada beratus2, orang jago yang

berkerubung disekitar Sie Liong, sikap mereka se-olah2

begitu jantan dan tidak takut menghadapi musuh sebagai

tangguhpun.

Tetapi kini, setelah semua orang tahu sikakek kurus

kering yang baru saja melarikan diri bukan lain adalah

simanusia bertangan aneh Yu Pit Ming salah seorang dari

Tionggoan Su Koay yang amat tersohor itu, air muka

mereka baru berobah hebat.

Nama besar Yu Pit Ming sudah tersohor dimana2,

wataknya kukoay dan ilmu silatnya sangat lihay, bahkan

boleh dikata sulit menemui tandingan dikolong langit

dewasa ini. Namun kini setelah mendengar dalam benteng

Thian It Poo terjadi peristiwa, untuk melarikan diripun

orang she-Yu itu takut tidak dapat, hal ini bisa dibayangkan

betapa luar biasanya musuh tangguh yang menyerang.

Semua orang sadar, bahwa ilmu silat mereka tak dapat

menandingi ilmu silat Yu Pit Ming, apalagi orang she-Yu

itupun sudah jauh sebelumnya melarikan diri ter birit2.

Hanya saja untuk sementara waktu mereka tidak enak

untuk mohon diri, kendari pikiran untuk melarikan diri

sudah memenuhi benak mereka.

Lain halnya setelah Sie Liong mengucapkan kata2 itu,

suasana jadi gempar, kontan para jago membubarkan diri

dan melarikan diri ter-birit2, ada diantara berwajah baik,

masih mengucapkan terima kasih, tetapi sebagian besar

membungkam, seakan2 mengucapkan sepatah dua patah

kata hanya akan menghalangi jalan pergi mereka saja.

Melihat para jago membubarkan diri, Sie Soat Ang jadi

sangat mendongkol sampai badannya gemetar keras, sesaat

suasana dalam seluruh benteng Thian It Poo jadi gempar,

ringkik kuda gonggongan anjing bergema gegap gempita.

Namun suasana kacau seperti itu tidak berlangsung

lama, sebentar kemudian semuanya sudah berubah tenang

kembali.

Setelah semuanya berubah hening, Benteng Thian It Poo

jadi kelihatan lebih mengerikan, tak kedengaran sedikit

suarapun menggema kecuali hembusan angin yang

menambahkan keseraman suasana disekitar sana.

Sebenarnya Sie Soat Ang sedang gusar sampai badannya

gemetar, namun sekarang badannya masih gemetar hanya

badannya saat ini rasa takut jauh lebih banyak dari rasa

gusar.

Lambat2 Sie Soat Ang putar badan memandang kearah

ayahnya, tampak orang tua itu masih berdiri disana tak

berkutik, segera tegurnya sambil mendepakkan kakinya

keatas tanah.

“Ayah …!” seluruh tubuh Sie Liong gemetar keras,

dengan cepat ia berpaling.

“Soat Ang, mengapa kau masih juga berdiri disana?

mengapa kau tidak ikut berlalu?”

Belum pernah gadis she Sie ini melihat ayahnya

kebingungan seperti ini, haru hampir2 saja ia menangis

tersedu, namun dasar wataknya yang keras hati ia berusaha

menahan diri.

“Tia, bagaimana dengan kau? apakah kau tidak ikut

pergi?” balik tegurnya pula.

“Aaaah benar, akupun harus pergi.” Seru Sie Liong

dengan napas ter-engah2, bagaikan baru saja sadar dari

impian. “Kita… berangkat bersama, Soat Ang, Apakah

mereka… mereka semua sudah pergi?”

Hampir saja tangisannya meledak tetapi gadis ini masih

mempertahankan diri.

“Benar!” jawabnya lirih. “Mereka semua telah…”

Sebelum kata “Pergi” diutarakan, ia berdiri tertegun.

Sebab dugaannya meleset, tidak benar kalau dikatakan

semua orang telah melarikan diri.

Sebab diujung tembok masih tertinggal satu orang, dia

berjongkok ditanah dan kebetulan berada ditempat

kegelapan sehingga kalau tidak di perhatikan sukar untuk

menemukan orang itu.

“Tia, masih ada yang belum pergi, disini masih ada satu

orang yang tidak ikut melarikan diri.”

Sie Liong tertegun, jelas peristiwa ini berada diluar

dugaannya, dengan cepat ia berpaling ke arah mana yang

dituding oleh Sie Soat Ang.

Dalam pada itu orang yang berjongkok ditanah lambat2

bangun berdiri.

Gerakannya amat lambat dan kelihatan aneh sekali,

mendatangkan sesuatu perasaan ngeri buat yang melihat.

“Siapa ?” Tegur Sie Liong setelah menarik napas

panjang.

Orang itu mempunyai perawakan tinggi lagi kurus,

namun bayangannya serasa dikenal, bukan seorang asing,

melihat hal tersebut sedikit banyak Sie Poocu rada berlega

hati juga.

“Sie Poocu, aku !” jawab orang itu lirih.

Suara orang itu lemah tak bertenaga, namun terasa

sangat dikenal, hanya saja Sie Liong belum teringat kembali

siapakah dia.

Dalam pada itu Sie Poocu sudah putus asa, seandainya

orang yang masih tertinggal disana adalah seorang jago

lihay sebangsa si manusia bertangan aneh Yu Put Ming,

semangatnya tentu akan bangkit kembali, ia pasti akan

bulatkan tekad untuk mempertahankan benteng Thian It

Poo mati2an.

Lain halnya setelah ia mendengar suara, itu lemah tak

bertenaga, jelas seorang prajurit tanpa nama yang-tidak

berguna.

Ia lantas tertawa getir dan menghela napas panjang,

katanya:

“Sobat, bencana besar akan menimpa benteng Thian It

Poo, semua orang akan melarikan diri…”

Teringat jerih payahnya selama ini hancur berantakan,

rasa pedih memenuhi benak pocu dari benteng Thian It Poo

ini, setelah merandek sesaat ia baru bicara lebih jauh:

“Sahabat kau tidak pergi, apa yang kau nantikan lagi?”

Dengan tidak bertenaga orang itu tertawa, sambil tertawa

selangkah demi selangkah maju mendekat, menanti ia

sudah keluar dari tempat kegelapan wajahnyapun dapat

kelihatan amat jelas.

Orang itu berusia tiga puluh tahunan, wajahnya pucat

pias dan kurus, pakaiannya warna abu2 sudah tua sehingga

kelihatan begitu rudin beda dengan kementerengan para

jago lainnya.

Orang itu berhenti kurang lebih enam tujuh depa di

hadapan Sie Liong, karena tidak kenal dengan orang itu Sie

Liong lantas menjura.

“Harap saudara suka memberi maaf kalau cayhe tidak

kenal siapakah anda…”

“Nama kecilku tiada berharga diutarakan.” jawab orang

itu hambar.

Karena pikiran Sie Liong saat ini lagi kacau, mendengar

orang itu tak mau mengutarakan nama nya. ia pun tidak

mendesak lebih jauh, hanya ujarnya:

“Tiada berguna anda masih tetap tinggal dibenteng Thian

It Poo, semua orang telah pergi !”

Kembali orang itu tertawa hambar.

“Sie Poocu, orang lain pergi itu urusan orang lain. Poocu

telah melepaskan budi kepadaku, sekarang benteng Thian It

Poo sedang menghadapi mara bahaya, tidak sanggup

bagiku untuk melarikan diri dalam keadaan seperti ini.”

Walaupun suaranya lemah tak bersemangat namun apa

yang diucapkan sangat gagah, membuat Sie Soat Ang tak

kuasa berseru memuji:

“Kau benar2 seorang lelaki jantan !”

Agaknya orang itu sangat gembira, ia berpaling kearah

Sie Soat Ang dan mengangguk,

“Terima kasih atas pujian siocia, sepanjang hidup tak

akan kulupakan kata2 pujian itu !”

Ketika Sie Soat Ang berpaling tadi, kebetulan orang

itupun sedang berpaling pula kearah-nya, empat mata

bertemu jadi satu menimbulkan debaran keras dalam hati

gadis tersebut. Dalam pada itu Sie Liong dibikin

kebingungan setengah mati oleh ucapan orang itu, sambil

mengetuk kening sendiri ia bertanya.

“Saudara, apa yang kau ucapkan kenapa tak kuingat

kembali akan persoalan ini.”

“Sie Pocu, masih ingatkah pada setengah tahun berselang

ada serombongan pedagang kulit yang lewat disini dan

menitipkan seorang manusia yang hampir sekarat kepada

diri Pocu?”

“Aaah…!” Sie Pocu berseru tertahan, sekarang ia sudah

teringat kembali. Sedikitpun tidak salah, setengah tahun

berselang memang benar ada serombongan pedagang kulit

yang mampir dalam benteng mereka sewaktu hendak

masuk ke Tionggoan.

Bagi benteng Thian It Poo kejadian itu merupakan suatu

kejadian lumrah, sebab Sie Poocu mempunyai hubungan

yang erat dengan para pedagang itu.

Tetapi, suatu kali pedagang itu bukan saja memberi

beberapa hadiah kepadanya bahkan masih menitipkan pula

seorang lelaki yang hampir sekarat.

Menurut pedagang2 itu, mereka temukan orang ini

menggeletak ditengah jalan dengan badan berlepotan darah,

napasnya tinggal satu dan hanya tunggu ajalnya.

Mereka tahu kalau orang ini tiada harapan, namun

teringat bahwasanya menolong selembar jiwa menangkan

berbuat kebajikan apapun, lagi pula tidak jauh dari benteng

Thian It Poo maka mereka bawa serta orang itu kedalam

benteng.

Ketika itu Sie Poocu hanya memandang sekejap

kearahnya, melihat air muka sudah berubah pucat pasi

bagaikan mayat, napas sudah tinggal satu2nya, ia lantas

suruh seorang Tabib dalam benteng untuk mengurusinya,

bagian manakah yang menderita luka tak pernah diperiksa

sendiri.

Kemudian dalam anggapan Sie Liong orang itu sudah

mati, Tak disangka bukan manusia ia masih hidup bahkan

dia pula satu2nya manusia yang masih tetap tinggal dalam

Benteng disaat Thian It Poo menjumpai bencana.

Timbul perasaan terharu dan rasa terima kasih dalam

hati Sie Poocu, serunya: “Oooow..! kiranya anda bukan lain

adalah orang yang terluka pada setengah tahun berselang,

yang menyelamatkan anda bukan aku tapi rombongan

pedagang itu, seharusnya kau ucapkan terima kasih kepada

mereka.”

“Memang benar, kalau bukan ditolong rombongan

pedagang itu cayhe sudah menemui ajal-nya,” jawab orang

itu lambat2 “Namun setelah tiba dibenteng, kalau Poocu tak

sudi menerima diriku, bukankah selembar jiwaku tetap

akan melayang?”

“Hal ini tidak terhitung seberapa, sekarang tahukah anda

bahwa benteng Thian It Poo kita sudah kedatangan seorang

musuh tangguh?”

“Poocu, sekalipun terhitung aku benar2 tidak tahu,

melihat bagaimana Yu Thayhiap melarikan diri dengan

terbirit aku bisa menduganya separuh. Apalagi aku sudah

lama tahu hal ini.”

“Lalu, mengapa kau tidak pergi.” Tanya Sie Liong sambil

tertawa getir.

“Tentu saja aku tidak pergi apakah Yu Pit Ming sudah

pergi lantas akupun harus ikut pergi.”

Walaupun Sie Liong amat berterima kasih atas kesediaan

pemuda itu berkorban namun iapun merasa tidak sabaran,

sembari hela napas panjang katanya: “Aku orang she Sie

mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan anda

berkorban namun Thian It Poo.. Aai! aku sudah ambil

keputusan untuk menuruti nasehat dari Yu Put Ming dan

terbang jauh keangkasa, apa gunanya anda tetap tinggal

disini?”

Mendengar ayahnya mau melarikan diri. Sie Soat Ang

jadi kaget dan segera berteriak:

“Tia, benarkah kita hendak melarikan diri ?”

Lambat2 Sie Liong berpaling memandang benteng Thian

It Poo yang megah dan mentereng, kesemuanya ini

dibangun dengan jerih payahnya selama puluhan tahun,

kini kebanggaan tersebut harus dilepaskan begitu saja,

hatinya terasa amat pedih…

“Kita masih ada cara apa lagi ?” Tanyanya dengan suara

pedih.

“Tia, sebenarnya siapakah pembunuh sadis itu ?” tanya

Sie Soat Ang dengan nada tidak puas.

Air muka Sie Liong pucat pasi bagaikan mayat,

mulutnya tetap bungkam dalam seribu bahasa.

“Sie Poocu” ujar pemuda itu kembali, “Kau ingin

melarikan, tapi pernahkah kau berpikir, bisa berhasilkah

kau melarikan diri dari sini ? sekalipun kau bisa lari, tentu

tak punya muka untuk menghadapi orang lagi, kau harus

menghabiskan sisa hidupmu ditengah pegunungan yang

sunyi, walaupun nyawamu masih hidup namun

penderitaanmu lebih hebat daripada mati.”

Ucapan sang pemuda itu membuat tubuh Sie Liong

gemetar keras.

“Lalu bagaimana menurut pendapat anda ?” tanyanya.

Bukan saja pemuda itu berbadan kurus, bicara tak

bertenaga, bahkan ia datang kebenteng Thian It Poo dalam

keadaan setengah hidup setengah mati, selamanya Sie

Liong tak pernah memandang sebelah matapun terhadap

dirinya.

Tetapi sekarang, setelah pikirannya kabur, tanpa terasa ia

sudah mohon petunjuk dan pemuda tersebut.

“Tidak pergi, kita hadapi serangan musuh disini !” jawab

pemuda itu sepatah demi sepatah.

Sie Liong tertawa getir, ia tidak berbicara.

“Seandainya kita menang dalam pertarungan ini, maka

nama besar Thian It Poo akan tersohor di empat samudra”

ujar pemuda itu lebih jauh.

“Nama Thian It Poo sudah tersohor diempat penjuru !”

buru2 Sie Soat Ang menimbrung.

“Nona Sie !” pemuda itu segera tertawa dingin . “Ucapan

tersebut hanya bisa diucapkan dalam benteng Thian It Poo

sendiri, seumpama kau menganggap nama besar Thian It

Poo sudah tersohor diempat penjuru, nanti setelah kau

berada dalam Bu-lim akan kau rasakan betapa sulitnya

berkelana di dunia yang luas !”

Sama halnya Sie Liong, gadis She Sie inipun tidak

pandang sebelah matapun terhadap pemuda tersebut,

mendengar pemuda itu menasehati dirinya dengan kata2

itu, ia jadi naik pitam.

“Kau berani pandang rendah benteng Thian It Poo kami

?” teriaknya.

“Sekalipun aku ingin pandang tinggi Thian It Poo juga

tak bisa jadi” jawab sang pemuda sambil angkat bahu.

“Coba kau lihat begitu ada musuh tangguh hendak

menyerang datang, sebelum bayangan musuh muncul para

jago dalam benteng sudah pada melarikan diri, pada

dasarnya orang2 itu memang kejadian kecil yang tidak

becus, kita tak usah bicarakan soal mereka lagi tapi bahkan

Sie Poocu sendiripun hendak melarikan diri, coba suruh

aku secara bagaimana sudi memandang tinggi Benteng

Thian It Poo kalian.”

Ucapan ini membuat hawa amarah dalam hati Sie Soat

Ang makin berkobar, tetapi berhubung apa yang diucapkan

ini, suatu kenyataan, maka ia tak dapat membantah.

“Maksud anda sudah kupahami” Terdengar Sie Liong

angkat bicara, “Namun aku sadar bahwa aku bukan

tandingan orang itu !”

“Benar. tentu saja kau bukan tandingan dari orang !”

pemuda tersebut manggut2 membenarkan.

“Hemm ! apakah kau adalah tandingannya ?” jengek Sie

Soat Ang sambil mendengus. “Hmm ! sungguh tak tahu

malu, pintarnya cuma bicara kosong, siapa yang kesudian

ngomong dengan kau?”

Dengan sepasang mata yang tajam pemuda itu melototi

diri Sie Soat Ang, sementara gadis itu pun balas meloloti

sang pemuda dengan sinar mata ber-api2.

Lama sekali, pemuda itu baru berkata : “Aku ? tentu saja

akupun bukan tandingan orang itu, bahkan sekalipun aku

turun tangan ber sama2 Sie Poocu pun masih bukan

tandingannya namun jika kita bertiga turun tangan

berbareng mungkin masih bisa mengatasi masalah

tersebut!”

Mendengar ucapan itu Sie Soat Ang jadi kegirangan

karena dengan ucapan tadi bisa ditarik kesimpulan kalau

pemuda itu sangat memandang tinggi dirinya.

Siapa sangka, sewaktu ia masih tersenyum dengan penuh

kebanggaan pemuda tadi sudah berkata kembali:

“Nona Sie, aku lihat kau tentu sudah menaruh salah

paham, kau anggap yang dimaksudkan kami bertiga

termasuk juga dirimu ?”

“Tentu saja demikian” sahut Sie Soat Ang melengak.

“He he he tentu saja tidak, macam ilmu silat yang

dimiliki nona, walau ada delapan sampai sepuluh orangpun

percuma saja, bukan bisa membantu malah merepotkan

saja.”

Kontan-air muka Sie Soat Ang berubah hebat, segera

bentaknya dengan penuh kegusaran: “Tutup mulut. besar

benar nyalimu !”

Badannya dengan cepat bergerak maju untuk memerseni

beberapa tempelengan keatas wajah pemuda tersebut.

Sie Liongpun ikut kheki, ia tahu pemuda tersebut tentu

akan menderita kerugian besar.

Namun berada dalam keadaan seperti ini, ia tidak ingin

beribut dengan orang lain, karena itu buru2 tegurnya. “Soat

Ang, kita…”

Belum habis ia berbicara telapak tangan gadis itu sudah

diayun kedepan menyapu pipi pemuda tersebut.

Mungkin disebabkan ia sedang mendongkol maka tenaga

yang digunakan sangat keras sehingga angin pukulan menderu2,

asalkan terkena pukulan ini, pemuda tersebut

niscaya akan roboh menggeletak.

Diam2 Sie Liong menghela napas panjang, ia ada

maksud mencegah maksud putrinya, namun waktu sudah

terlambat.

Ketika telapak Sie Soat An hampir mengenai pipi kiri

pemuda itu, mendadak tampak pemuda tadi angkat tangan

kirinya, jari tangan dengan cepat mencapit pergelangan

lawannya.

“Kraaak…!” hanya tiga empat tjoen diatas pipi lelaki tadi,

serangan gadis tersebut tak dapat dilanjutkan kembali,

bukan berkutik sedikit pun tak sanggup.

“Nona Sie.” terdengar pemuda itu berkata sambil tertawa

hambar: “Kau sudah terbiasa di manja, hati2 lho kalau

tanganmu terluka.”

Sie Soat Ang kaget sebab tangannya tak bisa ditarik lagi,

seluruh badan jadi lemas dan hawa murni susah disalurkan

kembali, ingin sekali ia tarik kembali tangannya, namun tak

sanggup sebab dari telapak pemuda tadi seakan muncul

suatu tenaga hisapan yang kuat dan dahsyat.

Rasa kejut yang dialami Sie Soat Ang kali ini bukan

alang kepalang, teriaknya sembari meronta:

“Cepat lepas tangan, cepat lepas tangan?”

Tetapi pemuda itu menggeleng.

“Nona Sie, aku tidak mencengkeram tanganmu, coba

kau lihat.” dan Sie Soat Ang sangat cemas bercampur kaget,

pihak lawan cuma menggunakan satu jari tangan untuk

menempeli urat nadinya, tetapi ia tak sanggup melepaskan

diri, napasnya mulai ter-sengal2.

Sie Liong yang menjumpai peristiwa itu jadi tertegun,

disamping merasa kuatir bagi keselamatan putrinya, iapun

sangat gembira, sebab manusia macam inilah yang sangat

dibutuhkan olehnya pada saat ini untuk mempertahankan

keutuhan Thian It Poo.

Sebab dari cara pemuda itu mencekal urat nadi orang

lain hanya dengan satu jari sudah menunjukkan betapa

dahsyatnya ilmu silat yang ia miliki, sebab menurut apa

yang diketahui olehnya bisa menguasai urat nadi orang

dengan dua jari saja, sudah tanpa tandingan apa lagi hanya

satu jari.

Karena itu buru2 ia maju kedepan dan menjura kearah

pemuda tersebut, ujarnya: “Manusia sejati jarang mau

unjukkan diri, detik inilah cayhe baru tahu kalau anda

adalah seorang manusia lihay !”

Buru-buru pemuda itu memberi hormat.

“Sie Poocu, kau tak usah sungkan2, aku tidak kuat

menerimanya.”

Ketika pemuda itu sedang balas memberi hormat, Sie

Soat Ang merasakan segulung tenaga yang amat besar telah

mendorong badannya sementara itu ia menarik kembali jari

tangannya tak kuasa sang badan mundur beberapa langkah

kebelakang.

Dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga berdiri

tegak, rasa malu, kaget dan gusar bercampur aduk dalam

benaknya.

“Tia…” ia menjerit melengking.

“Soat Ang.” bukan dibela ayahnya malah menegur,

“Cepat kemari dan memberi hormat kepada tokoh lihay

itu.”

Sie Soat Ang tertegun, ia berdiri menjublek. “Soat Ang,

mengapa kau masih belum juga datang kemari?” bentak Sie

Liong sambil mendepakkan kakinya keatas tanah.

“Dapatkah benteng Thian It Poo dipertahankan, kita masih

butuhkan bantuan tokoh lihay ini, ayoh cepat ke mari.”

Pada saat ini Sie Soat Ang terkejut bercampur gusar, ia

lebih rela benteng Thian It Poo hancur lebur dari pada

harus tunduk dihadapan pemuda itu, karena itu bukan saja

ia tidak menghampiri ayahnya, malahan tertawa dingin.

“Soat Ang… kau?”

“Sie Poocu, kau tak usah menyebut aku sebagai tokoh

lihay” tukas pemuda itu dengan cepat, “Seumpama Poocu

tidak sudi menerima diriku, mungkin aku sudah lama

menemui ajalnya. Sekarang benteng Thian It Poo

menjumpai peristiwa, untuk membalas budi sudah

seharusnya aku memberi bantuan, harap Poocu suka

berlega hati !”

Setelah mendapat kesanggupan dari tokoh lihay ini, Sie

Liong bisa berlega hati, kembali ia ber tanya: “Siauw-hiap

kau mirip siapa ? ilmu silat mu begitu lihay, mengapa

tempo dulu bisa menderita luka separah itu ?”

Wajah yang sudah tak sedap dipandang, pada saat ini

berubah makin hebat.

“Sie Poocu, lebih baik tak usah kau tanyakan lagi

persoalan tersebut, mau bukan ?”

“Baik, baik !”

Sie Soat Ang makin mendongkol lagi melihat ayahnya

begitu menaruh hormat atas pemuda tadi, ia segera tertawa

dingin tiada hentinya. “Cis, apanya yang luar biasa,

seandainya kau tidak ditolong oleh pedagang2 itu kemudian

ayah ku tidak menerima dirimu merawat luka dalam

benteng, niscaya sejak semula nyawamu sudah melayang,

mayatmu sudah mengering !”

“Ucapan nona Sie sedikitpun tidak salah.” Melihat

pemuda itu tidak dibikin gusar oleh ucapannya, Sie Soat

Ang jadi tertegun.

“Memang tidak salah! Hmmm.!”

Tiba2 pemuda itu tertawa manis terhadap diri Sie Soat

Ang kemudian berpaling kearah Sie Liong dan berkata:

“Sie Poocu, putrimu boleh dikata…”

Mendadak ia tutup mulut dan tidak meneruskan kembali

kata2nya.

“Apa yang hendak kau ucapkan?” tegur Sie Soat Ang

sambil mendekati pemuda itu. “Mengapa hanya bicara

sampai separuh jalan dan tidak kau lanjutkan kembali.”

Dengan ter-mangu2 pemuda itu melototi Sie Soat Ang

yang segera membuat jantung gadis itu berdebar keras,

Lama sekali pemuda itu membungkam dan akhirnya ia

menghela napas panjang, helaan napas itu penuh dengan

kemurungan kekesalan dan kepedihan.

Mengikuti helaan napas tadi, pemuda itu putar badan

dan berkata:

“Sie Poocu, tadi aku pernah berkata, seumpama kita

bertiga bisa turun tangan berbareng maka musuh tangguh

itu bisa kita atasi.”

“Benar, benar. hanya belum kuketahui siapakah orang

ketiga yang siauw-hiap maksudkan ?”

“Dalam benteng Thian It Poo selamanya tersembunyi

seorang tokoh maha sakti. mengapa poocu sudah tahu

sekarang pura2 bertanya lagi ?”

“Apa ? maksudmu…dia…dia?” teriak Sie Liong sangat

terperanjat, ia ragu2 dan tak sanggup menyelesaikan kata2.

“Sedikitpun tidak salah” tukas sang pemuda tegas2. “Dia

bukan lain adalah perempuan yang selama ini kau sebut

sebagai CiangOh !”

Mendengar nama itu seluruh tubuh Sie Liong gemetar

sangat keras.

“Soal im…soal ini…aaa…aku lihat…tiii…tidak mungkin,

Ciang Oh…dia…dia…mana sudi membantu kita ?”

“Sie Poocu, apakah kau pernah mencelakai dirinya ?”

tegur pemuda itu sambil melototi Sie Liong tajam2.

Tanpa terasa Sie Liong mundur selangkah ke belakang,

kemudian mundur lagi kebelakang, keadaannya mirip sekali

seorang tukang copet yang ketangkap basah.

“Benar…aku…membawanya pulang dari daerah Biauw

Ciang…” jawabnya sambit tertawa getir. “Ketika itu aku

dengar didaerah Biauw Ciang ter.. terdengar sebuah kitab

ilmu silat yang maha sakti, karena itu aku berangkat kesana,

siapa sangka setibanya didaerah Biauw Ciang aku telah

berjumpa dengan dirinya, tanpa kusadari aku telah

membawanya pulang.”

“Heeeee… heeee… heee… ucapanmu sukar dipercayai.”

jengek sang pemuda sambil tertawa dingin “ilmu silatnya

sangat lihay bahkan ber-puluh2 kali lipat dari

kepandaianmu, secara bagaimana kau bisa membawanya

pulang kemari ?”

“Ketika itu ia tidak mengerti akan ilmu silat, dan benar2

tak bisa main silat barang sedikitpun juga, jauh2 menempuh

ribuan lie aku membawa nya pulang kedalam benteng

Thian It Poo, sebenarnya aku ingin mengawininya jadi

istriku ke-dua. namun ditengah jalan ia sudah jadi gila !”

Sie Liong menceritakan kisahnya dengan napas terengah2,

sementara putrinya Sie Soat Ang dengan sepasang

mata terbelalak memandangi ayah nya tak berkedip, ia

merasa seakan dirinya masih berada dalam impian.

Karena apa yang diceritakan oleh ayahnya tak pernah

diduga barang sedikitpun juga.

Sie Liong tertawa getir, kembali ujarnya:

“Setelah membawanya kembali ke dalam benteng Thian

It Poo, maka aku mengurung perempuan itu didalam

ruangan rahasia, entah bagaimana tiba2 ia mengerti ilmu

silat, bahkan tenaga dalam yang dimilikinya makin hari

makin lihay !”

Mendengar ucapan itu pemuda tersebut tertegun

beberapa saat lamanya, sesaat kemudian ia baru berkata:

“perduli bagaimanapun kau harus berusaha untuk

memohon bantuannya, kalau tidak dengan kekuatan kita

berdua jangan harap bisa menahan serangan orang itu !”

“la sudah gila, lagi pula sangat membenci diriku…” Kata

Sie Liong sambil tertawa getir.

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya:

“la baru akan sadar kembali jikalau aku mengucapkan

suatu peristiwa kepadanya !”

“Peristiwa apakah itu ?”

Sie Liong tertawa getir, setelah ragu2 sejenak ia berkata:

“Kalau kita membicarakan soal putrinya, maka ia akan

sadar kembali.”

“Putrinya ?” Seru sang pemuda setelah tertegun sejenak,

“Dia punya seorang putri ?”

Agaknya Sie Liong sangat tidak ingin membicarakan lagi

peristiwa tersebut, namun dikarenakan ia sendiri yang

mulai membicarakan hal itu maka tak mungkin berhenti

diseparuh jalan. Dalam pada itu Sie Soat Ang sudah

bertanya sampai ketiga kakinya:

“Tia, sebenarnya apa yang sedang kau ucapkan?

benarkah perempuan gila itu mempunyai seorang putri?”

“Benar, dia mempunyai seorang putri” dalam keadaan

terpaksa Sie Liong mengaku. “Sewaktu aku membawanya

pulang dari daerah Biauw Tjiang, ia sudah mengandung,

suaminya adalah sitelapak berdarah Tang Hauw yang

tersohor dalam kalangan kaum sesat tempo dulu.”

Agaknya Sie Soat Ang pun baru pertama kali ini

mendengar rahasia tersebut, ia berseru tertahan.

“Aaaah, tidak aneh kalau perempuan gila itu selalu

menyebut-nyebut nama sitelapak berdarah Tang Hauw.”

“Kiranya begitu” pemuda itupun menimbrung. “Tidak

aneh sitelapak berdarah Tang Hauw sudi menyaru sebagai

seorang kakek tua dan berdiam disekitar benteng Thian It

Poo sampai banyak tahun.”

“Apa? kau sudah tahu akan peristiwa ini jauh

sebelumnya?” seru Sie Liong sangat terperanjat.

“Benar, ketika aku melewati benteng Thian It Poo

setahun berselang aku sudah tahu akan persoalan ini, dan

tahu pula kalau ia membawa maksud2 tertentu, sewaktu

aku merawat luka dalam benteng Thian It Poo tempo dulu,

sudah beberapa kali aku ingin menjelaskan persoalan ini

kepada Pocu, namun poocu sangat repot dan aku hanya

seorang prajurit tanpa nama maka sulit bagiku untuk

menjumpai anda.”

Diam-diam Sie Liong amat kecewa: “Sudah hampir dua

puluh tahun lamanya si telapak berparah Tang Hauw

tinggal disekitar benteng Thian It Poo, aku sama sekali

tidak tahu, sebaliknya pemuda ini malah mengetahui lebih

dahulu, dapat kutinjau kalau dia pastilah seorang manusia

luar biasa!”

Karena berpikir demikian, buru2 ujarnya: “Ketika itu aku

kurang hormat padamu, harap anda jangan menaruh

dendam kepada kami.”

“Soal yang sudah lalu tak usah kita bicarakan lagi, coba

kau teruskan kisahmu.”

“Tidak lama setelah tiba dibenteng Thian It Poo, ia

melahirkan seorang anak putri, namun ketika itu

perempuan tadi sudah gila sekali, sudah tentu saja aku tidak

menyentuh dirinya lagi tetapi mengurungnya diatas pagoda.

Setelah melahirkan seorang putri ia sadar selama beberapa

hari dan ribut ingin berjumpa dengan diriku, aku pergi

menjumpai dirinya, dan waktu itu ia berkata asalkan aku

suka merawat putrinya maka ia tak akan mengungkap

kembali soal perbuatanku yang telah menceraikan

hubungan suami istri mereka berdua serta memaksa ia jadi

gila.”

Berbicara sampai disitu Sie Liong merandek.

Air muka pemuda itu pucat pasi bagaikan mayat, jelas ia

menganggap persoalan ini sebagai suatu masalah serius.

Sebaliknya Sie Soat Ang membelalakkan sepasang

matanya bulat2, ia merasa gembira karena bisa mengetahui

banyak perbuatan jahat yang pernah dilakukan ayahnya

pada masa lampau, ia merasa gembira sebab ayahnya

pernah berbuat jahat, apa bila ia pun melakukan perbuatan

jahat, ayah nya tak akan menegur dirinya.

Semula Sie Soat Ang masih merasa sangat kuatir apabila

ayahnya tahu akan perbuatannya membinasakan Kan Tek

Lin, memaksa Liem Hauw Seng serta Giok Jien sekalian.

tapi sekaranglah boleh berlega hati.

Sie Liong yang melihat wajah pemuda itu sangat serius,

ia jadi rada gugup, setelah tertegun beberapa saat lamanya

ia baru berkata kembali:

“Ketika itu ia sangat sadar. sedikitpun tidak gila seperti

keadaan seperti ini.”

“Kalau begitu anak perempuannya masih berada dalam

Benteng Thian It Poo ini?” tanya sang pemuda.

“Benar.”

“Tia, siapakah orang itu?” sela Sie Soat Ang.

“Aaaaai… dia, dia adalah Giok Jien.”

“Oooouw kiranya orang itu” Seru Sie Soat Ang dengan

badan tergetar keras, “Hmm! sejak semula sudah kuketahui

kalau ia tidak mempunyai asal usul yang lurus, perempuan

rendah semacam itu sudah seharusnya dibuang kegunung

sejak dulu2 biar disantap srigala.”

“Tutup mulutmu!” belum selesai ia berkata pemuda itu

sudah membentak keras:

Sie Soat Ang rada tertegun, diikuti iapun membentak

keras:

“Aku suka bicara akan bicara, tidak suka bicara akan

membungkam siapa yang berani mengurusi persoalanku.”

Sambil bertolak pinggang ia pelototi pemuda itu tak

berkedip. Wajahnya galak dan buas sedikitpun tak ada

tanda jeri.

Melihat putrinya cekcok dengan pemuda tersebut Sie

Liong merasa amat cemas, ia hentakkan kakinya berulang

kali ke atas tanah, sudah terlalu biasa ia memanjakan

putrinya, sekarang sekalipun mau diurus juga tak bisa.

Pada saat ia masih merasa gelisah pemuda tadi tanpa

putar badan secara tiba2 ayunkan telapak tangannya

menggaplok pipi Sie Soat Ang, tamparan ini datangnya

sangat cepat…

“Plok” Tahu2 gaplokan tersebut sudah bersarang dengan

telak.

Sie Soat Ang menjerit tertahan saking kerasnya gaplokan

itu, ia mundur sempoyongan dan jatuh terjengkang keatas

permukaan salju,

Sejak dilahirkan dari kandungan ibunya belum pernah

gadis ini dihina semacam ini, hari saking gusarnya hampir2

saja ia jadi gila, Sambil meloncat bangun dengan pipi yang

sembab bengkak jeritnya lengking.

“Keparat busuk, kau berani menghantam diriku?”

“Sreet…” tangannya dengan cepat digetarkan ke depan,

cambuk lemas yang semula terlibat dipinggangnya telah

diayun kedepan membabat tubuh pemuda tersebut.

Siapa sangka gerakan pemuda itu jauh lebih cepat,

sebelum ia sempat menghajar musuhnya, cambuk lemas

tadi sudah dicekal erat2 oleh pemuda itu. Dengan sekuat

tenaga Sie Soat Ang meronta, namun sama sekali tak

gemilang, bahkan sebaiknya ia malah kena ditarik sehingga

maju beberapa langkah kedepan dengan sempoyongan.

Bersamaan dengan badannya maju ke depan, kembali

pemuda itu melancarkan sebuah gaplokan menampar

pipinya yang kiri.

Gaplokan ini jauh lebih keras dari semula, kepalanya

kontan pusing tujuh keliling dan ber kunang2 dibuatnya,

tanpa terasa ia mengendor kan cekalan pada senjatanya dan

jatuh terguling diatas permukaan salju.

“Hmmm! suruh kau bungkam ikuti saja bungkam” tegur

pemuda itu dengan suara dingin, “Kalau kau tetap

membangkang, akan kutampar terus sampai kau tidak

bersuara lagi, dengar tidak?”

Sie Liong tahu bagaimana ketusnya watak putrinya, ia

tahu gadis tersebut tak akan sudi mendengarkan ucapan

dari pemuda itu. Dan tahu pula bahwasanya dia bukan

tandingannya, terpaksa dengan nada memohon ia berkata:

“Tjuang su harap sabar, tjuang-su harap sabar !”.

“Sie Poocu, putrimu terlalu tidak kenal adat, kini aku

beri pelajaran kepadanya justru karena memikirkan

nasibmu dimasa yang mendatang.” jawab pemuda itu

dengan nada mengejek.

Sie Soat Ang yang menggeletak diatas tanah, walaupun

dalam hati amat membenci pemuda tersebut dan ingin

menggigit dagingnya, namun ia tak ingin menerima

kerugian yang ada didepan mata, sedikitpun tidak salah, ia

seketika bungkam dalam seribu bahasa:

Melihat Sie Soat Ang membungkam, Sie Liong rada

tertegun dan merasa urusan ada diluar dugaannya, ia segera

maju menghampiri dengan maksud membangunkan

putrinya, namun baru saja ia maju selangkah pemuda itu

telah menegur: “Jangan gubris dirinya lagi, kita masih ada

banyak urusan penting yang harus diselesaikan Sie Poo cu,

cepat undang datang Giok Jien siocia cepat!”

“Soal ini… soal ini… aku rasa sulit untuk dilaksanakan”

jawab Sie Liong setelah tertegun sejenak.

“Mengapa ?”

“Selama ini Giok Jien selalu melayani siauw li, namun

pada dua hari berselang ia sudah melarikan diri ber sama2

keponakanku Liem Hauw Seng.”

Mendengar perkataan itu. dengan sinar mata yang

menggidikkan pemuda itu melirik sekejap ke arah Sie Soat

Ang membuat hati sang gadis tercekat.

“Apakah Poocu tidak kirim orang untuk mengejarnya

kembali ?” ia bertanya.

“Sudah kukirim orang untuk kejar kembali tetapi

sewaktu siauw-li menjumpai mereka…”

“Apa yang telah terjadi ?” Sie Liong hanya tahu putrinya

pergi mengejar Liem Hauw Seng serta Giok Jien, apa yang

telah ia lakukan terhadap kedua orang itu dia tidak

mengerti, karena itu lama sekali tak dapat menjawab.

Kena didesak oleh pemuda tersebut, terpaksa Sie Liong

tertawa getir, dan menjawab: “Soal ini kau harus bertanya

kepada… kepada siauwli !”

Pemuda itu segera berpaling dan membentak : “Ayoh

bicara, dimana Giok Jien siocia saat ini?”

Saking khekinya Sie Soat Ang gigit bibirnya keras2,

kemudian dengan suara tegas serunya:

“Siapa tahu dia berada dimana ? aku sendiripun ketika

itu sedang melarikan diri, siapa yang tahu dia berada

dimana ? buat apa kau bertanya kepadaku ?”

“Kau hanya tahu melarikan diri sendiri ? kau anggap bisa

lolos dari kematian ? kalau tak ada dia, maka selembar

jiwamu pun akan melayang ditempat itu.”

Sie Soat Ang benar2 amat gusar, saking tak kuat

menahan diri ia segera jerit melengking:

“Gelinding pergi, ayoh cepat gelinding, pergi dari sini

aku bisa lolos atau tidak itu urusanku pribadi. Ayoh kau

cepat gelinding pergi dari sini…”

Seandainya ia tidak merasakan kesakitan pada beberapa

saat berselang, pada saat ini ia tentu sudah menubruk

kedepan dengan ganas.

Tetapi pada saat ini ia tak berani turun tangan, sepasang

kepalannya hanya diremas sekencang-kencangnya sehingga

tulang berbunyi gemerutukan.

Dengan perasaan apa boleh buat pemuda itu angkat

bahu.

“Baiklah, kalau kau suruh aku pergi malah kebetulan

sekali bagiku” sahutnya dingin, “Kau jangan salahkan aku

lupa budi dan meninggalkan kalian disaat kalian menemui

bahaya, jikalau benar pihak benteng Thian It Poo kalian

tidak sudi menerima budiku. aku tak ada perkataan lain lagi

!”

Sembari bicara, ia putar badan, dengan bergendong

tangan lambat2 berlalu kedepan.

Melihat pemuda ini berlalu Sie Liong amat sedih, namun

ia tak berani menahan pemuda itu lebih jauh, sebab ia sadar

putrinya sangat benci terhadap orang itu.

Sementara Sie Liong sedang merasa serba susah,

mendadak dari tempat kegelapan muncul suara yang amat

aneh, suara itu mula2 muncul di tempat kejauhan dan lama

kelamaan makin mendekat:

Suara itu sangat kukoay, seakan2 seperti seseorang lagi

tertawa, namun didengar lebih teliti lagi mirip orang sedang

menangis, suaranya begitu sedih dan mengerikan, susah

dilukiskan dengan kata-kata.

Sie Liong maupun Sie Soat Ang yang mendengar suara

itu jadi tertegun, lama sekali tak sanggup mengucapkan

sepatah katapun sedangkan sang pemuda yang sedang

bergerak kedepan, pada saat itupun secara mendadak

berhenti tak berkutik.

Suara itu amat aneh dan dengan cepatnya menggema

makin mendekat, pemuda tadi tiba2 mendongak kemudian

tertawa terbahak2.

“Haaa… haaa… haaa… orang itu sudah datang !”

serunya.

“Kawan, kau cepatlah carikan sebuah akal buat kami…”

ujar Sie Liong dengan hati yang gelisah.

“Bukankah sejak tadi sudah kukatakan, dengan tenaga

gabungan kita bertiga mungkin dengan susah payah masih

bisa melayani kepandaiannya, namun kau tak mau mohon

bantuan perempuan gila itu, apa yang harus kita bicara kan

lagi pada saat ini.”

“Kau… tunggulah sebentar” suara Sie Liong semakin

gemetar “Akan kupergi coba2, mungkin masih ada

harapan.”

“Kalau begitu cepatlah pergi!”

Pada saat ini Sie Liong sudah kehilangan kewibawaan

seorang Poocu, kena dibentak oleh pemuda itu buru2 ia

manggut.

“Baik! baik.”

Dalam sekejap mata, bayangan tubuhnya sudah lenyap

dibalik kegelapan dan tidak kelihatan lagi.

Sepeninggalnya Sie Liong, tempat itu tinggal Sie Soat

Ang serta pemuda itu berdua belaka, dengan pandangan

dingin pemuda itu lantas melirik sekejap kearah sang gadis

dan berkata:

“Didalam benteng Thian It Poo apakah ada tempat

persembunyian yang baik? cepat kau pergi kesana dan

bersembunyilah untuk sementara waktu.”

“Urusanku, lebih baik kau tak usah ikut campur.” teriak

gadis she Sie itu dengan suara kegusaran.

“Heee… heee… kalau kau benar2 punya nyali, tidak

seharusnya melarikan diri dengan terbirit2, seharusnya kau

hadapi sendiri manusia tersebut.”

Sie Soat Ang kena ditegur pedas, karena apa boleh buat

terpaksa serunya dengan nada mendongkol.

“Aku suka melarikan diri akan melarikan diri, mau

bersembunyi bisa bersembunyi sendiri, kalau kau ingin

mengurusi diriku, lebih baik bercerminlah lebih dulu.”

Pemuda itu tertawa dingin, suaranya memecahkan

kesunyian yang mencekam seluruh benteng Thian It Poo.

sebab ketika itu suara aneh tadi sudah sirap, Sementara

masing2 pihak sedang dipenuhi dengan pikiran masing2,

mendadak dari tembok sebelah depan meluncur datang

segulung bayangan hitam.

Bayangan ini munculnya sangat mendadak, dalam

pandangan Sie Soat Ang boleh dikata jauh berada diluar

dugaannya, ia jadi amat tertegun.

Buru2 ia berpaling kearah pemuda tadi namun orang itu

tetap berdiri tenang2 saja ditempat semula. Dengan cepat

Sie Soat Ang alihkan kembali sinar matanya kearah benda

yang menggeletak diatas tanah, seketika tubuhnya jadi

gemetar keras, se akan2 baru saja dibangunkan dari air es.

Kiranya benda yang menggeletak diatas tanah pada Saat

ini bukan lain adalah sesosok mayat manusia.

Kebetulan sekali mayat itu menggeletak dengan kepala

menghadap keatas langit, walaupun ditengah kegelapan

masih dapat dilihat dengan jelas sekali.

Wajah orang itu sudah hancur berantakan, cara matinya

tak berbeda sama sekali dengan kematian yang dialami para

penjaga dibenteng ronda.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 6

YANG paling membuat Sie Soat Ang terperanjat adalah

orang itu sendiri, walaupun wajahnya sudah hancur

sehingga sukar dibedakan siapakah dia namun dari

dandanan serta bajunya Sie Soat Ang dapat dikenali sebagai

salah seorang dari sepasang harimau Sio To Siang Hauw.

Sio To Siang Hauw tadi melarikan diri ber-sama2 orang

lain, namun akhirnya ia tak berhasil melarikan diri. Ia mati

juga, bahkan mati dalam keadaan mengerikan.

Dalam hati kecil gadis she Sie ini benar2 tidak ingin

memandang orang itu lebih lanjut lagi, namun sinar

matanya tak mau juga beralih dari sosok mayat yang sudah

hancur itu.

Ketika itu kembali sesosok bayangan hitam terbanting

masuk kedalam halaman, mayat tadi tepat berbaring disisi

mayat pertama. dan mereka bukan lain adalah Sio To Siang

Hauw.

Melihat sepasang harimau sudah mati, bahkan

kematiannya sama dengan kematian dari orang2 lain, Sie

Soat Ang merasa amat terperanjat, tanpa terasa lagi ia

bergerak mendekati pemuda tadi.

Walaupun ia sangat membenci terhadap pemuda

tersebut, namun berada dalam keadaan seperti ini pemuda

itu adalah satu2nya orang yang bisa dimintai

perlindungannya.

Setelah ia bergeser dua langkah mendekati pemuda itu,

ia ingin sekali berteriak memanggil ayahnya, namun

berhubung ia sangat tegang maka kendari sudah pentang

mulutnya lebar2 ia masih juga belum bersuara.

“Hee hee…hee.. takut ?” jengek pemuda itu sambil

tertawa dingin.

“Kau tidak takut ?”

“Tentu saja aku tidak takut, sebab belum pernah aku

melakukan perbuatan terkutuk !”

Ucapan ini membual jantung Sie Soat Ang berdebar

sangat keras, perkataan dari pemuda itu se-olah2 jarum

yang menusuk ke dalam hatinya.

“Haa . haaa . . . bukankah kau merasa takut ?”

Sie Soat Ang merasa terkejut bercampur gusar, ia ingin

mengumbar hawa amarahnya namun melihat jenazah

sepasang harimau yang menggeletak diatas tanah dengan

berlumuran darah, ia jadi batalkan niatnya. Sebab hanya

pemuda tersebut satu2nya orang yang bisa dimintai

perlindungannya.

Terpaksa dia tertawa getir katanya: “Aku… hitung2 aku

benar2 takut, apakah kau merasa girang ?”

Ucapan ini diutarakan tanpa disadari, setelah berkata

demikian ia jadi melongo dengan sendirinya, hampir2 saja

ia tak percaya kalau barusan saja ia telah berkata demikian,

boleh dikata sepanjang hidupnya baru kali ini ia tunduk dan

menyerah kalah dihadapan seseorang.

“Nona Sie” Pemuda itu tertawa ringan. “Sudah cukup

asalkan kau suka mengaku salah kau sedang takut.”

“Apa sebabnya kau ingin tahu ?”

“Hal ini bisa memberi gambaran kepadamu kalau dalam

kenyataan sebenarnya kau bukan apa2, bahkan kau pun tak

punya sesuatu apapun yang bisa kau banggakan, kau hanya

seorang bocah cilik yang memiliki ilmu silat kucing kaki

tiga belaka.”

Perkataan dari pemuda itu boleh dikata sudah benar2

menyinggung perasaan serta kehormatan Sie Soat Ang hal

ini membuat ia amat gusar, napasnya mulai ter-sengkal2…

Namun sebelum ia berbuat sesuatu, dari luar tembok

kembali melayang datang dua sosok mayat.

Kedua sosok mayat itu menggeletak disisi jenasah

sepasang harimau, wajah merekapun hancur dan rusak

penuh berpelepotan darah.

Sie Soat Ang merasa hatinya tercekat, sekalipun ia

sangat membenci terhadap pemuda itu, bukannya menjauh

ia malah bertambah mendekati pemuda itu lebih dekat lagi.

“Aaaai… !” Seru pemuda itu sambil menghela napas.

“Agaknya manusia2 yang lari dari benteng Thian It Poo tak

seorangpun berhasil meloloskan diri kecuali Yu Put Ming

seorang.”

Baru saja ucapan tadi diutarakan, mendadak terdengar

jeritan aneh yang sangat mengerikan berkumandang dari

tempat kejauhan, mengikuti jeritan tadi muncul sesosok

bayangan manusia yang kecil mungil berkelebat mendekat.

Sie Soat Ang menjerit, saking takutnya menjatuhkan diri

kedalam pelukan pemuda tersebut.

“Jangan kaget… jangan kaget” hibur pemuda tersebut,

sementara tangannya memeluk pinggang gadis tadi semakin

erat. “Coba lihat siapa yang datang.”

Rasa kejut dalam hati Sie Soat Ang perlahan-lahan bisa

teratasi ketika ia menengok ke arah orang itu, maka

terteralah bahwa orang tadi bukan lain adalah Yu Put

Ming, salah seorang dari Tionggoan Su Koay.

Ketika itu air muka Yu Put Ming pucat bagai mayat.

tubuhnya gemetar keras sambil menuding kearah Sie Soat

Ang seakan-akan ia hendak mengucapkan sesuatu, namun

tak sepatah katapun bisa diutarakan keluar.

Yu Pit Ming ini adalah salah seorang dari anggota

Empat Manusia aneh dari Tionggoan yang sudah tersohor

akan ilmu silatnya namun pada saat ini keadaan manusia

she Yu itu mengenaskan sekali, ia tidak mencerminkan

barang sedikitpun sikap seorang jagoan lihay.

“Yu sianseng, bukankah kau sudah melarikan diri?

mengapa balik kembali?” tegur pemuda itu memecahkan

kesunyian.

“Tak bisa lari, tak mungkin lari.” jerit Yu Put Ming

dengan suara melengking “Anggota Thian It poo tak

seorangpun bisa melarikan diri dari sini.”

Mendadak dari arah sebelah Timur laut berkumandang

kembali jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Jeritan itu ada yang tinggi melengking, ada pula yang

rendah dan berat, namun kendari suaranya berbeda namun

nadanya sama yaitu mencerminkan keputus-asaan serta

ketakutan membuat bulu roma setiap orang yang

mendengar ikut bangun berdiri.

Jeritan ngeri itu saling susul menyusul tiada hentinya, Yu

Put Ming menjerit keras sambil berseru:

“Seorangpun tak akan berhasil lolos, seorang

manusiapun tak bakal lolos, semua anggota benteng Thian

It Poo bakal musnah !”

Sie Soat Ang sangat terperanjat, ingin sekali ia

membentak Yu Put Ming agar jangan buka suara, namun

tak sedikit suarapun bisa diutarakan keluar.

“Yu sianseng…” mendadak pemuda itu berseru.

Baru saja ia menyapa, mendadak dari sisi sebelah

samping berkumandang datang gelak tertawa aneh, suara

itu muncul dengan kecepatan laksana kilat dan jelas suara

seorang wanita.

“Siapa yang melarang aku meninggal benteng Thian It

Poo ?” seru orang itu.

Dalam sekejap mata sesosok bayangan manusia telah

muncul di depan mata, perempuan itu berwajah pucat,

rambutnya tidak keruan dan biji matanya melotot sayu.

Begitu tiba di tengah kalangan ia segera menuding

kearah Sie Soat Ang serta pemuda itu sambil berseru : “Kau

yang melarang aku pergi dari sini ?”

Mengikuti tudingan tadi, Sie Soat Ang merasakan

adanya segulungan angin serangan mendesir datang,

napasnya kontan jadi sesak.

“Bukan… bukan kami !” jawab pemuda itu cepat.

Perempuan gila itu segera berputar memandang kearah

Yu Pit Ming, kembali serunya sambil menuding kedepan:

“Tentu kau !”

Yu Put Ming tertegun lalu geleng kepala, dalam waktu

singkat tersebut wajahnya kelihatan begitu bodoh se akan2

baru saja bangun dari tidur. setelah menoleh keempat

penjuru ia perlihatkan wajah ketakutan kemudian putar

badan dan berlalu.

Gerakannya sangat cepat, begitu berkata hendak pergi

segera berlalu Namun walaupun gerakannya cepat

perempuan gila itu jauh lebih cepat.

Sementara ia sedang bergerak kedepan, perempuan gila

tadi sudah berkelebat dan menghadang dihadapannya.

“Mengapa kau melarang aku tinggalkan benteng Thian It

Poo ?”

Sewaktu berlari masuk tadi Yu Put Ming bingung dan seolah2

jadi gila karena mempunyai suatu peristiwa yang

sangat memukul perasaannya tetapi sekarang ia jauh lebih

sadar, terdengar jawabnya: “Sekarang, kau anggap aku

meninggalkan benteng Thian It Poo, bagaimana malah

menuduh aku yang melarang kau meninggalkan benteng

Thian It Poo ?”

Perempuan gila itu tertegun, sebelum ia sempat

berbicara, pemuda itu sudah mendahului: “Yu sianseng,

kalau kau sudah tahu tak bakal lolos dari sini, mengapa kita

tidak menggabungkan diri untuk ber-sama2 melawan

kedatangan musuh tangguh tersebut ?”

“Bekerja sama menghadapi musuh tangguh?” seakan2

mendengar cerita paling konyol dikolong langit, Yu Put

Ming mendongak tertawa terbahak2

“Haaa… haa… dikolong langit dewasa ini siapa yang

punya keberanian sebesar itu ? haaa… haaa… kerja sama

menghadapi musuh ?”

Dengan tangan kiri tetap memeluk pinggang Sie Soat

Ang, mendadak pemuda itu enjotkan badannya meloncat

kedepan. Telapak tangannya laksana kilat ditabokkan

keatas leher bagian belakang Yu Put Ming dengan suara

gerakan cepat.

Merasa dirinya diserang. Yu Put Ming tidak putar badan,

ia balas melancarkan cengkeraman menghajar dada

pemuda itu.

Walaupun serangan ini datangnya secara serampangan

namun kecepatannya tidak meleset tahu2 “Plaakk”

cengkeraman itu dengan telak telah bersarang didada

pemuda tadi.

Sie Soat Ang yang berada disisi pemuda itu jadi kaget tak

kuasa ia berseru tertahan.

Sementara gadis she-Sie ini berseru tertahan, Yu Put

Ming pun menjerit keras, buru2 ia lepas tangan dan putar

badan dengan kecepatan laksana kilat, dengan sepasang

mata melotot ia perhatikan pemuda itu tajam2, “Kau… kau

adalah Si Thay Sianseng?”

“Yu sianseng, ternyata kaupun bukan manusia

sembarangan” tukas Sang pemuda sambil tersenyum.

Yu Put Ming segera tertawa getir dan bungkam dalam

seribu bahasa. Sebaliknya Sie Soat Ang tertegun, tentu saja

ia tahu bahwasanya ilmu silat yang dimiliki pemuda itu

sangat lihay namun ia menyangka sang pemuda yang masih

begitu muda belia telah disapa orang lain sebagai Si Thay

sianseng.

Agaknya pemuda itu dapat menebak apa yang dipikirkan

sang gadis, sambil berpaling kearah-nya dan tersenyum ia

berkata:

“Si Thay sianseng adalah guruku, anda bisa menebak

asal usul perguruanku hanya dalam sekali coba saja, boleh

dikata kau sangat luar biasa sungguh kagum, sungguh

kagum!”

Per-lahan2 Yu Put Ming menghembuskan napas

panjang.

“Apakah gurumu Si Thay sianseng pun berada disekitar

sini?” ia bertanya.

“Suhuku bagaikan burung bangau yang terbang

dimanapun, berada dimanakah beliau pada saat ini, aku

sendiri pun tidak tahu.”

“Sejak kapan anda berada dibenteng Thian It Poo? dan

apa yang kau lakukan didalam benteng ini?”

“Apa yang kulakukan didalam benteng Thian It Poo ini

asalkan bertanya pada dirimu sendiri sudah cukup, apa pula

yang kau lakukan selama berada didalam benteng ini ?”

Dengan ter-sipu2 Yu Put Ming tertawa, terhadap

pertanyaan pemuda tersebut ia tidak menjawab.

“Siapa nama anda?” tanyanya kemudian setelah lewat

beberapa lamanya.

“Seorang prajurit tak bernama, namaku buat apa

dibicarakan ? lebih baik tak usah diucapkan.”

“Diantara anak murid Si Thay sianseng, tak ada manusia

tanpa nama, tetapi kami hanya kenal dengan murid tertua

dari Si Thay sianseng. sigolok baja Lok Thay yang tempo

dulu pernah melakukan pertarungan sengit melawan tujuh

puluh dua orang malaikat dipinggiran propinsi Su Tzuan

dengan propinsi In Lam, ketika membinasakan orang yang

keenam puluh sembilan ia kehabisan tenaga dan binasa.

sejak kematiannya aku belum pernah dengar Si Thay

sianseng terima murid lagi.”

“Yu sianseng.” dengan nada tidak senang pemuda itu

berseru, “Aku adalah anak murid siapa bukan kuakuinya

sendiri, melainkan kau sendiri yang menyerukan,

bagaimana pun perkataan itu bukan sengaja kuutarakan

untuk mengibuli orang lain bukan ?”

Merah padam selembar wajah Yu Pit Ming buru2

katanya:

“Berhubung anda tidak mau beritahu siapakah nama

anda, maka timbullah perasaan curiga dalam hatiku: harap

anda jangan salah sangka.”

Sebelum pemuda itu berkata kembali, terdengar Ciang

Oh telah berteriak aneh:

“Siapa yang tidak memperkenankan aku meninggalkan

benteng Thian It Poo ? siapa ?”

“Nona Sie…” sembari melepaskan pelukannya pemuda

itu berseru. “Ia sudah datang, mengapa ayahmu belum

datang juga, coba kau pergi ke sana dan periksalah sejenak

!”

Sie Soat Ang mundur selangkah kebelakang berpaling

kesamping, melihat tempat itu begitu gelap gulita se akan2

ditempat mana tersembunyi roh2 yang gentayangan, air

mukanya kontan berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat,

buru2 ia gelengkan kepalanya berulang kali.

“Aku… aku… seorang diri aku tak berani pergi kesana.”

“Hmm, bukankah kau tidak takut langit tidak takut bumi

? mengapa tidak berani pergi kesana ?”

Sekali demi sekali pemuda itu sudah menyinggung

kehormatan Sie Soat Ang, membuat gadis ini amat

membenci dirinya, namun pada saat ini ia tahu bahwa

orang tersebut adalah anak murid Si Thay Sianseng yang

merupakan jago tersohor dikolong langit dewasa ini, apalagi

situasi sangat tidak menguntungkan baginya, ia masih

membutuhkan tenaga orang ini untuk mengatasi persoalan.

Karena itu kendari hawa amarah sudah memuncak,

namun ia masih tetap bersabar diri.

“Aku sangat takut, aku tidak berani pergi ke sana seorang

diri.”

Seakan akan pemuda itu sangat gembira sebab

maksudnya menggoda Sie Soat Ang tercapai, ia tertawa

terbahak-bahak.

“Ha… ha… kalau begitu kami harus merepotkan Yu

sianseng suka pergi kesana sebentar untuk memeriksa

apakah Sie Poocu sudah mati ataukah masih hidup!”

Ucapan ini seolah-olah menandakan bahwa Sie Liong

sebagian besar sudah menjumpai peristiwa diluar dugaan,

seketika membuat tubuh Sie Soat Ang gemetar sangat keras.

“Soal ini… soal ini… lebih baik aku berdiam disini saja”

buru2 Yu Put Ming menolak seraya goyangkan tangannya

berulang kali.

Sepasang alis pemuda itu berkerut kencang, karena apa

boleh buat terpaksa ia berpaling ke arah Ciang Oh dan

bertanya.

“Bukankah kau dipanggil datang oleh Sie Pocu?

mengapa sampai sekarang orang itu belum juga munculkan

diri?”

Ciang Oh mendongak tertawa ter kekeh2, suaranya

sangat aneh, rambutnya yang panjang dan kacau bergoyang

tiada hentinya mengikuti gelak tertawa tersebut, sehingga

keadaannya mirip iblis ganas yang baru muncul dari neraka,

sungguh menyeramkan sekali.

“Kau bertanya tentang bangsat keparat Sie Liong ?”

teriaknya sambil tertawa tergelak “Dia ha ha haaa ia sudah

merampas diriku dari daerah Biauw… dia… ha ha…!”

sementara masih tertawa tergelak, mendadak ia

membungkam kemudian memperdengarkan jeritan

lengking yang sangat menusuk telinga:

“Telapak berdarah TongHouw !”

Suaranya begitu sadis, ngeri dan sukar dilukiskan dengan

kata2, membuat setiap orang yang mendengar ikut bergidik

dan tanpa terasa bulu kuduk pada bangun berdiri.

Ditengah jeritan lengking itu, mendadak dari balik ujung

tembok sebelah depan berkumandang datang pula bentakan

dingin yang tidak kalah ngerinya:

“Loei San keparat cilik, cepat keluar jangan menyeret

orang lain dalam masalah ini !”

Jeritan Ciang Ooh tinggi melengking membuat jantung

tiap orang berdetak keras, tubuh gemetar namun masih bisa

ditahan.

Sebaliknya suara yang muncul dari tempat kegelapan

dibalik tembok, walaupun tidak begitu keras namun dingin,

kaku dan menyeramkan membuat semua orang serasa

seluruh tubuhnya masuk kedalam gentong berisi air dingin,

sang hati jadi tercekam

Suara itu bukan saja membuat orang lain jadi terperanjat

bahkan Ciang Ooh yang sudah berubah ingatanpun segera

menghentikan jeritan ngerinya.

Dalam pada itu suara tadi masih tetap berseru:

“Loei Sam keparat cilik, kau sudah menyeret banyak

jiwa, apa saat ini masih juga ingin menyeret orang lagi ?”

Yu put Ming serta Sie Soat Ang saling berputar

pandangan sekejap, mereka pada heran siapakah

sebenarnya manusia yang bernama “Loei Sam keparat cilik”

itu.

Walaupun tak ada orang beritahu kepadanya, namun

meninjau dari sikap yang sangat aneh itu, Mereka berdua

segera paham “Loei Sam keparat cilik” itu pasti dia.

Dalam sekejap mata, rasa benci yang timbul dihati Sie

Soat Ang mencapai titik puncak dan sukar dilukiskan

dengan kata2

Suara seram ini sudah pernah berkumandang berulang

kali mengikuti melayang datangnya mayat2 jago benteng

Thian It Poo, jelas dia adalah tokoh tangguh yang datang

mencari gara2 itu. Selama ini baik Sie Soat Ang maupun

Sie Poo-cu berpendapat orang ini datang kebenteng Thian It

Poo, sengaja hendak cari gara2 dengan mereka.

Maka dari itu kendari gadis itu sangat membenci pemuda

itu, ia masih menaruh rasa terima kasih kepadanya,

berterima kasih karena ia mau tetap tinggal disana

membantu mereka.

Tapi sekarang, setelah mendengar dari ucapan orang itu,

ia baru tahu bencana yang menimpa benteng Thian It Poo

bukan lain karena gara2 keparat tersebut.

Teringat sampai soal ini. Sie Soat Ang tak kuasa

menahan diri lagi ia tertawa ter-kekeh, sambil menuding

kearah pemuda itu jengeknya:

“Ada orang sedang memanggil dirimu, apakah kau tidak

mendengar? mengapa tidak kau hampiri orang itu?”

Air muka pemuda tersebut seketika berubah hebat.

Hal ini membuktikan kalau dugaan Sie Soat Ang tidak

salah, kembali ia membentak:

“Kau takut? kau pun pernah mengenal rasa takut?”

Ia sama sekali tak tahu siapakah yang telah datang, dan

tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak munculkan diri

namun memerintahkan Loei Sam pergi kesana, yang dipikir

pada saat ini adalah balas mengejek orang itu, menuntut

balas atas penghinaan yang pernah diterima barusan.

“Tutup mulutmu!” akhirnya pemuda itu tak tahan dan

menghardik.

“Haa…haa…haa..,kenapa aku harus tutup mulut ?

bukankah kau merasa ketakutan ? kalau kau tidak takut

mengapa ada orang panggil kau kesana, kau tidak berani

kesana ?”

“Plook…!” sebuah tamparan keras dengan cepat

bersarang diatas pipi Sie Soat Ang, membuat gadis ini

mundur kebelakang dengan sempoyongan.

Ia tahu keadaan sangat genting, seandainya ia buka suara

lagi tidak bisa diramalkan tindakan apa yang bakal

dilakukan pemuda tersebut terhadap dirinya lagi.

Sebagai seorang perempuan cerdik ia tidak ingin

menerima kerugian yang ada diambang pintu, karena itu ia

segera mundur selangkah kebelakang dan membungkam.

“Loei Sam keparat cilik, kau masih mau unjuk kan

keganasannya ?” suara dingin menyeramkan yang muncul

dari tempat kegelapan kembali berkumandang keluar,

“Ayoh cepat kemari, apa yang kau takuti lagi ?”

Pemuda itu tidak menggubris terhadap ucapan yang

muncul dari tempat kegelapan itu, sebaliknya mendekati

Ciang Ooh dan secara mendadak mencengkeram

pergelangannya.

Ditinjau sepintas lalu, Ciang Ooh berdiri kaku bagaikan

patung. namun setiap kali mendapat serangan ia segera

menunjukkan reaksinya.

Baru saja jari tangan pemuda itu bergerak ke depan,

Ciang Oh sudah menunjukkan pula reaksinya, pergelangan

tangannya mendadak menekan kebawah, kemudian jari

tengahnya menyentil ke depan balas menghantam urat nadi

pemuda itu.

Merasakan datangnya serangan balasan, pemuda itu

sangat terperanjat, buru2 ia tarik kembali tangannya sambil

mundur kebelakang.

Melihat pemuda itu mundur, Ciang Oh pun melototkan

sepasang matanya bulat2 memperhatikan pemuda tersebut

tajam2 namun iapun tidak menyerang lebih jauh.

Per-lahan2 pemuda itu tarik napas panjang2, kemudian

ujarnya lirih: “Ciang Oh, dimana putri mu ?” Ciang Oh

tertegun, biji matanya seketika jadi berputar kembali.

“Aku. . . putriku ?” ia balik bertanya.

“Benar, setelah kau dirampas bangsat Sie Liong dan

dibawa kedalam benteng Thian It Poo, tidak lama

kemudian telah melahirkan seorang putri, dimana putrimu ?

Sekarang berada dimana ?”

Sepasang alis Ciang Oh berkerut kencang wajah yang

sudah menyeramkan ini kelihatan lebih seram.

“Putriku? ? ? putriku? ?” terdengar ia bergumam seorangdiri.

“Benar, putrimu !” sambung pemuda itu dengan cepat.

Mendadak Ciang Oh angkat kepalanya dan berkata dengan

suara parau:

“Putriku, putriku berada dimana ? ia berada dimana ?”

“Aku tahu putrimu saat ini berada dimana !”

Si Soat Ang yang berada disamping dalam anggapannya

pemuda itu benar2 hendak beritahu kepadanya dimanakah

Giok Jien pada saat ini berada, hatinya tercekat dan tanpa

terasa mundur kebelakang. Ketika ia mundur sampai empat

lima langkah jauhnya. mendadak terlihat olehnya Ciang Oh

telah mendekati pemuda tersebut, sembari menghardik:

“Dimanakah putriku ?”

Ditengah bentakan, jari tangannya bagaikan cakar

burung elang menghajar sepasang bahu pemuda tersebut.

Dengan sebat pemuda itu berkelit kesamping. kemudian

buru2 menuding ke arah mana berasalnya suara dingin tadi.

“Ha… ha… disana.” serunya sambil terbahak2 “Sejak

lahir putrimu disembunyikan oleh manusia yang

bersembunyi dibalik kegelapan itu, sekarang ia ingin

mencelakai putrimu kembali, apakah kau tidak ingin cari

dia untuk menuntut balas ?”

Belum selesai pemuda itu berkata, terdengar Ciang Ooh

menjerit ngeri dan menubruk kearah tempat kegelapan yang

ditunjukkan kepadanya.

Gerakan Ciang Ooh sangat cepat, menanti badannya

sudah lenyap dibalik kegelapan mendadak terdengar suara

bentrokan keras berkumandang datang, batu pasir

beterbangan jelas dalam gerakannya barusan tembok

dinding sudah jebol diterjang olehnya.

Pada saat inilah Se Soat Ang baru tahu maksud pemuda

tersebut ternyata bukan lain ingin menggunakan tenaga

Ciang Ooh untuk menghadapi musuh tangguh dibalik

kegelapan itu, untuk sementara persoalan ini tiada sangkut

pautnya dengan dia pribadi.

Teringat akan soal ini, ia menghembuskan napas lega.

Mendadak pada saat itulah pundaknya serasa ditekan oleh

sebuah tangan yang dingin kaku itu. la ingin menjerit,

namun mulutnya hanya bisa di pentangkan lebar2 tanpa

sedikit suarapun berhasil dipancarkan keluar, bulu kuduk

bangun berdiri dan ia dibikin berdiri mematung.

Makin lama Sie Soat Ang semakin ketakutan sehingga

akhirnya sepasang giginya mulai beradu dengan amat

kerasnya, saking takutnya maka ketika itu baik Loei Sam

maupun Yu Put Ming tak seorangpun yang memperhatikan

dirinya, semua perhatian telah dicurahkan ke mana Ciang

Oh melenyapkan diri.

“Braaak…!” kembali suara bentrokan keras

berkumandang memenuhi angkasa, batu pasir beterbangan,

laksana kilat Ciang Oh telah muncul kembali dengan

sepasang mata melotot besar.

“Kau berani membohongi aku, disana sama sekali tak

ada seorang manusiapun.”

“Aku tak akan membohongi dirimu” Buru2 Loei Sam

berseru “Kuberitahukan kepadamu, manusia yang

merampas putrimu ada tiga bagian mirip manusia tujuh

bagian mirip kera, badannya pendek kecil, kepalanya kurus

dan panjang, asal kau berjumpa tentu segera dapat

mengenalinya.”

“Sekarang ia berada dimana ?”

Dengan cepat Loei Sam putar badan, mendadak ia

berhenti, diatas wajahnya memperlihatkan rasa kaget yang

bukan alang kepalang, arah yang dilihatnya bukan lain

adalah arah dimana Sie Soat Ang berdiri.

Gadis ini sadar, yang dilihat pemuda tersebut bukan

dirinya melainkan manusia yang berada dibelakangnya.

Ia mengempos napas ingin berteriak, namun disebabkan

badannya makin lama semakin dingin suaranya tak

sanggup diutarakan keluar, terpaksa sepasang tangannya

bergerak cepat, apa yang telah digerakan bahkan ia

sendiripun tidak paham.

Dalam pada itu kesadaran Ciang Oh agaknya sudah jauh

lebih sadar, bahkan reaksinya amat cepat:

Ketika Loei Sam alihkan sinar matanya ia pun mengikuti

gerak Loei Sam memandang pula kearah depan

“Aaah… dia !” mendadak ia menjerit dan meloncat

kedepan.

Diam2 Sie Soat Ang mengeluh, ia tahu manusia yang

berada dibelakangnya tentu manusia monyet yang barusan

dimaksudkan, bahkan orang itu bukan lain adalah

pembunuh sadis yang membasmi seluruh isi benteng, pada

saat ini tangannya telah menekan diatas pundaknya.

Seluruh tubuh gadis itu gemetar keras, sebelum ia sempat

melakukan sesuatu terdengar Loei Sam telah jerit

melengking:

“Tidak salah, dialah manusianya, Yu sianseng dengan

kekuatan kita bertiga pasti kita berhasil menghadapi

dirinya.”

Siapa sangka Yu Put Ming dengan cepat telah

goyangkan tangannya berulang kali.

“Apa maksudmu berkata demikian, ia datang hendak

mencari dirimu, kau pernah melakukan kesalahan terhadap

dirinya, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan diriku?”

Loei Sam amat gusar, seraya tertawa dingin kembali

jengeknya.

“Yu sianseng, coba kau pikir kau berani cari gara2

dengan diriku? berani cari gara2 dengan guruku?

seandainya aku bergebrak melawan dirinya dan aku

mendapat cidera, apakah ia mau membocorkan berita ini

keluar ? agar suhupun tahu?”

Yu Put Ming tertegun, akhirnya sambil tertawa paksa

katanya:

“Aku pasti akan menjaga rahasia ini baik2. Sin Koen

pasti akan percaya kepadaku bahwa aku tak akan bicara

sembarangan!”

“Haaaa . . . haa . .. lebih baik sekarang ia sudah

mempercayai dirimu, agar setelah kejadian ini kau lebih

banyak menerima pahit getir, kalau kau tidak ingin turun

tangan yaa sudahlah, kau anggap aku sangat membutuhkan

tenagamu?”

Air muka Yu Put Ming berobah sangat hebat, terpaksa ia

mundur beberapa langkah kebelakang, ia tidak pergi

sebaliknya berdiri tegak disisi kalangan, sementara itu

selangkah demi selangkah Ciang Oh berjalan mendekati

manusia tersebut.

Sie Soat Ang yang masih ditekan pundaknya oleh

sepasang tangan manusia itu jadi umat gelisah, ia tahu

seandainya terjadi pertarungan sengit antara kedua orang

ini maka yang konyol lebih dahulu adalah dia sebab ia

berada ditengah.

Setelah berjalan beberapa langkah kedepan mendadak

Ciang Ooh mengeluarkan tangannya sembari berseru:

“Dimana putriku ? dia berada dimana ?”

“Putrimu ? haa..haa.. secara bagaimana kau tahu kalau

kau punya seorang putri ?” jengek orang itu dengan suara

yang dingin menyeramkan. “Bagaimana kau tahu kalau dia

masih sudi mengakui dirimu sebagai ibunya ?”

Ciang Oh menjerit keras badannya meloncat kedepan

melancarkan sebuah tubrukan maut.

Pada saat2 kritis. nendadak orang itu mengirim segulung

tenaga yang amat besar melemparkan badan Sie Soat Ang

kesamping, sehingga membuat gadis itu terpental dan jatuh

terjengkang keatas tanah.

Namun ketika itulah, ia dapat melihat jelas wajah

manusia aneh yang selama ini berdiri di belakang tubuhnya.

Wajah dan raut muka dari orang itu sungguh persis

seperti apa yang digambarkan Loei Sam barusan.

Tubuhnya pendek kecil dengan sepasang lengan yang

luar biasa panjangnya, yang paling aneh batok kepalanya

lancip lagi gepeng seakan2 waktu dilahirkan ke kolong

langit, batok kepalanya pernah terjepit diantara dua lembar

papan.

Walaupun pada saat itu cuaca telah gelap, namun Sie

Soat Ang dapat melihat jelas potong an orang itu dengan

sangat jelas.

Diatas wajah maupun tangannya memakai selapis bulu

berwarna coklat yang pendek, dengan raut mukanya

keadaan orang ini persis seperti yang dilukiskan Loei Sam

“Tiga bagian mirip manusia, tujuh bagian mirip monyet.”

Dalam pada itu, setelah orang itu mendorong Sie Soat

Ang kesamping, bagaikan kalap Ciang Oh telah menubruk

datang, kelima jari tangan nya bagaikan pancingan

mencengkeram batok kepala orang itu.

Merasakan datangnya serangan manusia monyet tersebut

sama sekali tidak menghindar, sebaliknya malah

memperhatikan jari tangan Ciang Oh dengan sikap

mengejek.

Gerakan Ciang Ooh teramat cepat.. “Sreet ! sreet !”

ditengah desiran tajam kelima jarinya sudah mencengkeram

dengan telak batok kepala orang itu.

Sebenarnya, bagi seseorang yang ingin mencengkeram

batok kepala orang lain merupakan suatu perbuatan yang

paling sulit. Namun disebabkan bentuk dari batok kepala itu

lancip lagipula gepeng, maka bagi Ciang Ooh dengan

sangat mudahnya berhasil menangkap dengan telak.

Kelima jari segera memperketat cengkeramannya,

“Pleetak… pleetak …” persendian jari tangan Ciang Ooh

bergemerutukan, jelas membuktikan kalau ia sudah

mengerahkan seluruh tenaganya.

Wajah orang itu sangat aneh, sepasang alisnya berkerut,

giginya berdetak keras, seakan2 ia sedang mencoba

kekerasan batok kepalanya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, barulah orang

itu memaki dengan suaranya yang aneh: “Neneknya

sungguh lihay !”

Mendadak sepasang telapaknya bergerak cepat

melancarkan sebuah serangan kilat kearah depan.

Keanehan serta kedahsyatan dari serangan ini boleh

dikatakan suatu serangan yang sulit dicarikan tandingannya

dikolong langit.

Ketika itu Ciang Oh sedang mencengkeram batok

kepalanya, jarak antara masing2 pihak tentu saja amat

dekat, bagi orang itu seharusnya serangan yang dilakukan

dengan mudah bisa bersarang di tubuh Ciang Oh dengan

telak. Namun tangannya amat panjang, bahkan sendirian

terlalu kaku, mendadak sepasang lengannya menyambar

lewat dari sisi tubuh Ciang Oh dan menghantam punggung

perempuan gila itu.

Merasakan desiran tajam mengancam punggungnya

Ciang Oh ayunkan tangannya kebelakang menyambut

datangnya serangan tersebut.

Namun gerakannya terlambat setindak . . .

“Plaakk, plaakkk.” dua serangan tadi dengan telak

bersarang dipunggungnya.

Sie Soat Ang yang ada disisi kalangan tak dapat

membayangkan seberapa besar tenaga pukulan tersebut,

tampak olehnya tubuh Ciang Oh mendadak maju selangkah

kedepan dan saling berbenturan dengan orang itu.

Jeritan aneh berkumandang memenuhi angkasa, kelima

jari tangan yang mencengkeram batok kepala orang itu

mendadak mengendor. Dalam sekejap mata telapak tangan

berayun memenuhi angkasa, ia balas melancarkan tujuhdelapan

belas buah serangan kearah orang itu.

Ketujuh delapan belas serangan tadi merupakan jurus2

serangan jarak dekat, kecepatannya melebihi kilat dan sukar

dibayangkan dengan kata-kata.

“Plaak, plook… plaaak… ploook” Tujuh-delapan buah

serangan ada separuhnya bersarang ditubuh orang itu.

“Aduuh… suatu ilmu pukulan Thay Yau Ciang yang

amat cepat !” teriak orang itu dengan suara lengking.

Sembari berteriak badannya bergerak ke depan mengitari

Ciang Oh dan berputar kencang.

Sementara itu Ciang Oh masih tetap melancarkan

serangan maut, serangannya makin lama semakin cepat

semakin lama semakin ganas.

Sie Soat Ang yang berdiri satu tombak dari kalangan pun

merasakan desiran angin pukulan menderu-deru, jurus

serangan apa saja yang telah digunakan Ciang Oh ia tak

dapat melihat jelas.

Mengikuti gerakan tubuh Ciang Oh yang makin

menyerang semakin cepat, tubuh orang itu-pun berputar

kencang, Tampak dua sosok bayangan satu tinggi satu

pendek sebentar kesana sebentar kesini bagaikan bayangan

setan belaka, bagi para jago yang hadir dikalangan hanya

melihat bayangan belaka yang bergerak kencang.

Sementara Sie Soat Ang masih ber-debar2 hatinya

melihat pertarungan itu, mendadak dari sisi nya terdengar

suara bisikan seseorang:

“Apanya yang bagus dilihat? ayoh cepat melarikan diri

ambil kesempatan baik ini!”

Buru2 Sie Soat Ang berpaling padahal sekali pun tak

usah berpalingpun ia tahu orang yang dibelakangnya bukan

lain adalah Loei Sam.

Saat ini gadis she Sie sudah amat jelas sekali kedatangan

orang itu mengacau benteng Thian It Poo adalah

disebabkan Loei San, dan sama sekali tak ada sangkut

pautnya dengan benteng Thian It Poo.

Nyalinya makin besar, mendengar bisikan dari Loei Sam

ini, ia segera mendengus dingin.

“Hmm! apa yang perlu aku takuti lagi ? kalau kau takut

boleh sana sipat kuping melarikan diri ambil kesempatan

ini.”

Loei Sam kerutkan alisnya, mendadak ia cengkeram

lengan Sie Soat Ang.

Gadis itu sangat gusar, ia balik tangan menempeleng pipi

Loei Sam namun dengan mudah sekali pemuda itu berhasil

mencengkeram urat nadinya dan dengan paksa menyeret

gadis itu berlalu dari sana.

Walaupun ia harus membawa seorang, namun badannya

masih juga mencelat setinggi dua, tiga tombak dan

melewati tembok pekarangan.

Ketika badannya melayang keluar dari halaman

terdengar orang itu berteriak kembali dengan jeritan

lengking.

“Loei Sam keparat cilik, sekalipun kau melarikan diri

kelangit aku kejar kelangit, kau menerobos kedalam tanah

aku kejar kau ketanah, dan kulihat lebih baik kau jangan

melarikan diri lagi.”

Tetapi Loei Sam pura2 tidak mendengar, ia enjot badan

dan didalam sekejap mata telah keluar dari benteng Thian It

Poo.

Sudah jauh ia keluar dari benteng Thian It Poo namun

suara jeritan itu masih juga berkumandang masuk kedalam

telinganya, bahkan amat nyaring, jelas orang itu sudah

terkurung oleh serangan Ciang Oh sehingga ia tak sanggup

mengejar diri Loei Sam.

Pemuda itu lari terus kearah utara, setelah lewati

puluhan li suara yang dingin menyeramkan itu tidak

kedengaran lagi, pada saat itulah baru berhenti berlari.

Ketika urat nadinya dicengkeram tadi, Sie Soat Ang

merasakan sekujur badannya kaku, bahkan tenaga untuk

berteriakpun tak ada. Menanti Loei Sam berhenti berlari

dan mendorong badannya kedepan, ia baru terguling keluar

seperti layang2 yang putus benang.

“Brukk…!” untung permukaan tanah sudah dilapisi oleh

salju yang saat tebal, sehingga badannya walaupun

terbanting keatas tanah sama sekali tidak menderita luka.

Dengan tangan menekan diatas tanah, ia merangkak

bangun namun ketika itulah Loei Sam sudah berada

dihadapannya.

Pada saat ini rasa bencinya sukar dibendung lagi,

mendadak ia cengkeram baju Loei Sam dengan tangan

kanan, kemudian kepalan kirinya meninju badan pemuda

itu keras2.

Kena digebuk, Loei Sam bukannya meringis kesakitan

bahkan malah mendongak tertawa ter bahak2

Lima, enam puluh tinjuan sudah bersarang di tubuh Loei

Sam, tetapi pemuda itu masih tenang saja, bahkan napas

gadis itu yang ter-engah2.

“Sungguh lihay.” seru sang pemuda berulang kali. “Coba

kau lihat, aku sudah kau pukuli sampai seperti ini, mana

ada istri yang berani pukuli suami sendiri… wah, memang

perempuan yang galak sekali!”

Ucapan tersebut membuat Sie Soat Ang amat

terperanjat, buru2 ia mundur selangkah kebelakang.

Sewaktu berada didalam Benteng Thian It Poo, Loei

Sam pernah memandang kearahnya dengan sinar mata

aneh, ketika itu ia masih belum merasa, namun sekarang

ucapan dari Loei Sam begitu blak2an, bulu kuduknya

segera pada bangun berdiri.

Ketika ia mundur selangkah kebelakang. Loei Sam

memandang kearahnya lebih berani lagi, bahkan tatapnya

lebih ganas.

“Kau., apa yang hendak kau lakukan ?” Seru Sie Soat

Ang dengan jantung berdebar keras.

“Nona Sie.” kata Loei Sam. sambil memperhatikan gadis

itu dengan sinar mata kurang ajar. “Gadis manis diluar

perbatasan amat banyak, namun hitung2 kaulah gadis yang

paling menarik hati !”

Kalau pada hari2 biasa ucapan tersebut tentu akan

membuat setiap gadis2 merasa girang hati, tetapi pada saat

ini bukan saja ucapan tersebut tidak mendatangkan rasa

senang dalam hatinya, bahkan malah membuat sang hati

jadi tercekat.

Buru2 ia mundur kembali selangkah kebelakang.

“Benarkah begitu ?” tanyanya sambil tertawa paksa.

Baru saja ia mundur selangkah kebelakang, dengan

sangat berani Loei Sam telah mendesak ke depan.

Sie Soat Ang makin terperanjat, buru2 ia mundur

kebelakang berulang kali.

“Mengapa kau mundur terus ? apakah takut melihat

aku?” seru Loei Sam sambil tertawa cabul.

“Apa yang perlu kutakuti ?” jawab Sie Soat Ang dengan

keraskan kepala.

“Benar. kenapa mesti takut padaku ? bukankah kau jadi

marah dan penasaran karena memikirkan orang lelaki ? aku

lihat engkohmu jauh lebih lemah kalau dibandingkan

dengan permainanku, coba kau lihat aku kan lebih bagus

daripadanya?”

Mendengar ucapan itu hampir2 saja Sie Soat Ang jatuh

tidak sadarkan diri, sepasang matanya jadi gelap.

“Engkoh misanku…dia…dia tak ada sangkut paut apapun

dengan diriku” jawabnya gugup.

Loei Sam tertawa seram.

“Kau anggap mataku picik ? setiap orang dalam benteng

Thian It Poo siapa yang tidak tahu kalau disebabkan Liem

Hauw Seng dicintai Giok Jien, membuat siocia kesayangan

dari benteng Thian It Poo jadi marah2 ? haa…haa…sungguh

tak disangka Giok Jien adalah putri kesayangan Ciang Oh,

permainan dibalik semuanya ini sungguh tidak sedikit,

sekarang kau sudah apakan mereka berdua? bagaimana

kalau kau ceritakan kembali?”

Sembari berkata, selangkah demi selangkah Loei Sam

berjalan kedepan, Setiap kali ia melangkah setindak

kedepan, Sie Soat Ang mundur pula selangkah kebelakang

sehingga akhirnya ia terdesak kebelakang sebuah pohon

Kok yang tua lagi kering.

Menanti punggung Sie Soat Ang sudah menempel diatas

pohon dan tidak dapat mundur lagi kebelakang, mendadak

sepasang lengan Loei Sam disodokan kedepan menekan

kearah batang pohon itu sementara tangannya dengan cepat

memeluk tubuh gadis itu.

“Haaa… haaa… nona Sie, kau tak bakal bisa melarikan

diri lagi bukan? coba kau melarikan diri lagi.”

Air muka Sie Soat Ang berubah pucat pasi bagaikan

mayat. dengan wajah penuh kecabulan Loei Sam makin

merapatkan mukanya keatas wajah gadis tersebut.

Sebenarnya Sie Soat Ang adalah seorang gadis yang

amat lincah dan tidak takut langit dan bumi, pekerjaan jelek

apapun pernah ia lakukan, tentu saja ia tahu apa yang

hendak dilakukan Loei Samterhadap dirinya.

Ia gigit bibirnya kencang2 badannya yang montok. Sie

Soat Ang baru tertawa paksa dia menegur: “Kau… kau

anggap cantikkah wajah ku ?”

“Benar, sudah lama aku tak pernah berjumpa dengan

nona secantik kau, wajahmu benar2 cantik jelita.”

“Sekalipun terhitung kau suka padaku, seharusnya kau

ajukan pinangan dihadapan ayahku” buru2 Sie Soat Ang

menambahi. “Kau adalah murid dari Si Thay sianseng,

ayahku sangat menghargai dirimu, ia pasti akan

mengabulkan permintaanmu itu ?”

Loei Sam segera tertawa gelak.

“Sayangku… siapa yang bilang aku ada niat meminang

dirimu dihadapan Sie Liong ?”

Sie Soat Ang makin terperanjat lagi.

“Kau… bu… bu… bukankah kau berkata suu… suka

kepadaku? mengatakan aku cantik?”

“Benar, memang kau cantik, namun dapatkah sepanjang

hidup kau cantik terus seperti ini?” seru Loei Sam sambil

tertawa, “Sekarang aku memang suka kepadamu, namun

beberapa hari lagi siapa yang tahu kalau aku masih suka

kepada mu atau tidak? kau ingin jadi suami istri sepanjang

hidup dengan diriku? siociaku yang terhormat, kau sedang

bermimpi disiang hari bolong.”

OOOoodwooOOO

BAB 5

HAMPIR2 saja Sie Soat Ang jatuh tidak sadarkan diri,

dengan sekuat tenaga ia menahan dada Loei Sam mencegah

pemuda itu lebih mendekati tubuhnya lagi.

Tapi tenaga Loei Sam amat besar dengan kekuatannya

mana ia sanggup mempertahankan diri? dalam sekejap

mata ia merasakan sepasang lengannya bagaikan ditekan

dengan tenaga beribu-ribu kati beratnya, kalau lengannya

tidak ditarik kembali niscaya akan putus jadi dua.

Mau tak mau terpaksa Sie Soat Ang tarik kembali

tangannya, badan Loei Sam mendekat makin kedepan, ia

tangkap pakaian Sie Soat Ang, menariknya kedepan dan

menciumi wajahnya. Gadis dari benteng Thian It Poo ini

hanya merasakan badannya jadi lemas tak bertenaga,

sepasang lututnya membengkok dan tanpa sadar badannya

meluncur kabawah, namun dengan cepat Loei Sam

memeluk kembali badannya.

“Ehmm, sungguh wangi sekali” seru Loei Sam sambil

menciumi seluruh lekukan tubuh gadis tersebut.

Sie Soat Ang merasa badannya makin lemas, namun

otaknya masih sadar, mimpipun ia tidak menyangka

akhirnya ia akan menjumpai peristiwa terkutuk semacam

ini.

Ia coba meronta dan pelukan Loei Sam makin kencang,

sementara badannya dibopong siap hendak dibawa lari

kedepan mendadak…

“Loei Sam, letakkan perempuan itu dan berpalinglah !”

suara bentakan dari dua manusia asing berkumandang dari

arah belakang.

Suara orang itu berkata dan membuat hati setiap orang

tergetar keras, buru2 Loei Sam berpaling namun ia tidak

melepaskan Sie Soat Ang sebaliknya menggunakan tubuh

gadis itu sebagai perisai.

Setelah itu badannya mundur selangkah kebelakang dan

punggungnya menempel diatas dahan pohon.

Dalam perkiraan Sie Soat Ang, ia tak akan lolos dari

perbuatan terkutuk tersebut. siapa sangka kembali peristiwa

berubah diluar dugaan, hal ini membuat ia tercengang.

Setelah tarik napas panjang2, sinar matanya segera

dialihkan kearah dua orang itu.

Kedua orang yang munculkan diri secara tiba2 ini

berusia tiga puluh tahunan dengan alis mata tebal, wajah

mereka berdua hampir mirip dan didalam sekilas pandang

dapat diketahui kalau mereka berdua adalah saudara

sekandung.

Dalam pada itu dengan sinar mata penuh kegusaran

mereka berdiri melototi Loei Sam tak berkedip.

Sie Soat Ang yang digunakan sebagai perisai oleh Loei

Sam tentu saja tak dapat melihat bagaimanakah perubahan

wajahnya, namun ia merasa badan Loei Sam gemetar keras

jelas pemuda itupun sedang ketakutan dibuatnya.

“Saudara berdua, cepat tolong aku !” karena muncul

harapan, gadis she Sie ini berteriak keras.

Begitu ia berseru, tubuh kedua orang itu kembali

bergerak, lima enam depa lebih kedepan.

Pada waktu itulah Sie Soat Ang merasakan sebuah

telapak tangan dari Loei Sam telah ditempelkan keatas

batok kepalanya.

“Kalau kalian berani maju selangkah lagi ke-depan, akan

kubunuh budak keparat ini !” Loei Sam-pun membentak

keras.

Kena diancam kedua orang itu segera berhenti dan

berkata hampir berbareng: “Loei Sam, cepat lepaskan gadis

itu, menyerahlah dan mandah kami belenggu, ikut kami

pulang gunung dan terima hukuman !”

“Heeee… heeee… heeee… suheng berdua kalau aku ikut

kalian pulang kegunung maka yang bakal kuterima hanya

suatu kematian belaka” seru Loei Sam sambil tertawa

dingin, “Bukankah kau tahu seekor semutpun masih

menyayangi jiwanya, apa lagi manusia ? kau anggap aku

suka menyerah dan mengorbankan jiwaku dengan percuma

? lebih baik kalian berdua tak usah banyak bicara !”

Mendengar ucapan itu kedua tertawa dingin.

“Loei Sam, kau anggap dirimu masih bisa melarikan diri

dari sini? sudah hampir dua tahun lamanya kami mengikuti

jejakmu, dengan susah payah akhirnya kujumpai juga

dirimu, kau hendak membangkang perintah kami dan tak

mau ikut kembali kegunung?”

“Hal ini masih tergantung bagaimanakah kepandaian

serta kelihaian kalian berdua.”

“Loei Sam.” kembali kedua orang itu berkata. “Kau

sudah melanggar pantangan terbesar dari perguruan,

dengan membawa dosa kau melarikan diri dari gunung,

bukannya menyesali perbuatan yang pernah kau lakukan

sebaliknya malah mencatut nama suhu melakukan

perbuatan jahat di mana2, bahkan pada sepuluh bulan

berselang kau telah memperkosa dan membinasakan putri

kesayangan Hiat Goan Sin Koen, benarkah telah terjadi hal

ini?”

“Haaa.. haa… yang memperkosa sih benar aku, tapi yang

membunuh bukan aku sendiri.” jawab Loei Sam begitu tak

tahu malu, sebaliknya malah tertawa terbahak2.

“Karena nona cilik itu tak bisa memecahkan persoalan

yang ia hadapi sendiri akhirnya bunuh diri apa sangkut

pautnya soal ini dengan diriku?”

Sie Soat Ang yang mendengar ucapan itu, hatinya

kontan terjelos, seluruh tubuh gemetar.

Yang membuat ia terperanjat. pertama, seandainya

kedua orang itu tidak datang tepat pada waktunya, mungkin

akibat yang ia terima sama halnya dengan kejadian yang

menimpa putri kesayangan Hiat Goan Sin Koen

Kedua, setelah mendengar nama “Hiat Goan Koen”

Atau Malaikat sakti Monyet berdarah, pikirannya seketika

jadi terang kembali ia ingat manusia aneh yang muncul di

benteng Thian It Poo dan melakukan pertarungan sengit

melawan Tjiang Oh itu bukan lain adalah Hiat Goan Sin

Koen, manusia paling lihay dikolong langit dewasa ini.

Terhadap putri kesayangan Hiat Goan Sin koen pun

Loei Sam berani turun tangan, apalagi terhadap dirinya?

Tentu saja ia tak akan sungkan2 untuk mengerjakannya.

Bahkan jika ditinjau dari nada ucapan kedua orang itu,

Loei Sam melarikan diri dari perguruan, berhubung telah

melakukan suatu perbuatan terkutuk, itu berarti dia adalah

seorang manusia yang paling jahat paling terkutuk dan

paling keji.

Dalam pada itu terdengar Loei Sam sudah berkata:

“Suheng berdua, kalau kalian bisa melepaskan diriku kali

ini, selama hidup aku Loei Sam tak akan melupakan budi

kalian berdua, Gunung nan hijau kesempatan berjumpa

dikemudian hari masih panjang, mengapa suheng berdua

harus mendesak diriku terus menerus?”

Air muka kedua orang itu makin lama berubah semakin

gusar. salah satu diantaranya tak dapat menahan diri lagi

dan menghardik:

“Loei Sam kau masih juga tidak sadarkan diri ? apakah

kau tidak sadar seandainya kau ikut kami pulang kegunung

Go bie kemungkinan hidup bagimu masih ada, sebaliknya

kalau kau tidak pulang maka tidak bakal bisa menandingi

kepandaianHiat Goan Sin Khoen!”

“Haaa… haaa… terima kasih atas perhatian yang telah

suheng berdua limpahkan kepada diriku, seandainya aku

pulang ke gunung Go-bie sekalipun masih memperoleh

kesempatan untuk hidup tetapi sepanjang masa harus

menyalahi sumoay seorang. Waa… sungguh membosankan

sangat menjemukan, jauh lebih baik berada ditempat luaran

sambil mencicipi disini merasakan disana.”

Air muka kedua orang itu seketika berubah hebat,

mereka berbareng mendengus keras:

“Kau…Kau benar2 sudah rusak dan tak bisa ketolongan

lagi ! kalau demikian adanya kamipun tak usah memikirkan

ikatan perguruan lagi !”

Sie Soat Ang yang ada disamping merasakan hatinya

makin terperanjat, sebab ia dapat merasakan apabila Loei

Sam telah melanggar pantangan memperkosa bahkan yang

jadi korban adalah sumoaynya sendiri.

Dan didengar nada ucapan kedua orang suhengnya

barusan, seakan2 kalau pemuda itu mau menikah dengan

sumoaynya maka hukuman mati bisa dihindari tetapi ia tak

mau, jelas Loei Sam adalah seorang manusia terkutuk yang

sudah tak ketolongan lagi.

Kembali Loei Sam tertawa.

“Terima kasih atas perhatian kalian berdua, hingga detik

ini juga kalian berdua masih mau memandang diriku

sesama saudara seperguruan tapi jikalau kalian berdua

masih juga hendak mendesak diriku semacam ini, bukankah

sama artinya kalian sudah memandang aku sebagai orang

luar ?”

“Loei Sute !” seru kedua orang itu setelah tertegun

sejenak. “Sewaktu kami turun gunung, suhu serta subo telah

memberi pesan wanti2 kepada kami berdua…”

“Apa yang suhu katakan?”

“Bagaimanakah tabiat suhu aku rasa tentu sudah kau

ketahui bukan? karena tempo dulu ia pernah angkat

sumpah maka dia orang tua tak bisa turun dari gunung Go

bie lagi, mereka telah berpesan kepada kami asalkan

bertemu dengan dirimu segera suruh turun tangan

membinasakan dirimu!”

Agaknya Loei Sam sama sekali tak gentar dengan

ancaman tadi, sambil angkat bahu katanya.

“Kesemuanya itu sudah berada didalam dugaanku, lalu

apa yang dikatakan Subo?”

Kedua orang itu merandek sejenak kemudian

meneruskan kembali kata2nya:

“Subo berkata, sumoay sudah menjadi milik-mu, ia

berharap setelah kami berjumpa dengan dirimu, maka kami

harus berusaha keras menasehati dirimu agar pulang

kegunung, ia pasti akan mohonkan ampun dihadapan suhu

dan tidak menjatuhkan hukuman mati.”

Diam2 Sie Soat Ang menghela napas panjang, Saat ini ia

baru tahu sumoay yang telah diperkosa Loei Sam bukan

lain adalah putri kesayangan dari Si Thay sianseng sendiri.

“Ehmm..! lalu bagaimana dengan pendapat kalian

berdua?” akhirnya Loei Sam bertanya.

“Seandainya kau tidak mau ikuti kami pulang kegunung,

maka terpaksa kami berdua harus melaksanakan tugas

sesuai dengan perintah suhu kami!”

Mendengar ucapan itu Loei Sam tertawa terbahak 2

“Haa… haa… suheng berdua benar2 seorang lelaki sejati,

aku tidak ingin mencelakai kalian berdua!”

“Apa maksudmu mengucapkan perkataan tersebut.”

tanya kedua orang itu rada melengak.

“Perjalanan dari sini hingga ke gunung Gobie ada

laksaan lie jauhnya, perjalananpun mungkin harus

ditempuh selama beberapa bulan, seandainya aku sanggupi

permintaan kalian dan ikut kalian pulang ke gunung,

maka… heee… heee kau harus tahu macam manusia apakah

diriku ini, pekerjaan keji macam apakah bisa aku lakukan,

apakah kalian tak bisa bayangkan sewaktu berada ditengah

jalan aku memperlihatkan sedikit permainan setan,

mencelakai jiwa kalian… apakah jadinya nanti.”

Air muka kedua orang itu berubah hebat, sang badanpun

tanpa terasa tergetar sangat keras.

“Maka dari itu…” sambung Loei Sam lebih jauh. “Aku

tidak suka berangkat ber-sama2 kalian, sebab aku masih

ingat bahwa kita adalah saudara seperguruan, aku merasa

tidak enak hati kalau sampai terpaksa harus mencelakai

jiwa kalian berdua.”

Kedua orang itu saling bertukar pandangan, sepatah

katapun tak dapat diutarakan keluar.

Mereka sadar, apa yang diucapkan Loei Sam sedikitpun

tidak salah, dalam melakukan perjalanan sejauh laksaan li

dan berjalan bersama2 dirinya, pelbagai mara bahaya

kemungkinan besar bisa terjadi, kendari mereka berjaga2

dengan penuh waspada, pada suatu saat bisa teledor juga,

dalam keadaan seperti itu kemungkinan besar jiwa mereka

berdua bisa dicelakai.

Melihat kedua orang suhengnya tidak bicara, dengan

sangat bangga Loei Sam berkata kembali: “Suheng berdua,

lebih baik diantara kita tak usah saling ikut campur dalam

urusan masing2, kalian pulanglah kegunung Gobie dan

laporkan saja tidak pernah berjumpa dengan diriku,

bukankah dengan berbuat demikian kalian bisa cuci tangan

disamping tak akan terancam jiwanya. Sumoay mempunyai

wajah yang cukup cantik. sedang kalian berdua pun cukup

tampan, diantara kalian berdua boleh saja salah satu

diantaranya meminang dia sebagai istri, bukankah urusan

segera bisa dibereskan?”

Semakin berbicara ia semakin bangga, pemuda itu tidak

memperhatikan orang yang ada di sebelah kiri air mukanya

makin lama berubah semakin menghebat, menanti ia

menyelesaikan ucapannya orang itu sudah membentak

keras:

“Tutup mulut, kau berani bicara ngaco belo?” Air muka

orang itu sudah berubah hijau membesi, sepasang matanya

memancarkan cahaya berapi wajahnya kelihatan begitu

mengerikan.

Se-akan2 menyadari akan sesuatu, Loei Sam berseru

tertahan.

“Aaaah! Siok Toako aku tahu mengapa kau begitu gusar

terhadap diriku?” katanya perlahan “Selama ini kau selalu

menghormati serta menyayangi Sumoay, tidak disangka

sumoay telah kena dipatil, kau jadi begitu gusar bukankah

begitu?”

Tubuh orang itu gemetar semakin keras, namun wajah

yang semula penuh diliputi kegusaran pada saat ini berubah

jadi amat sedih sekali.

“Kau… kau tak usah bicara lagi. lebih baik kau jangan

membicarakan soal ini lagi .”

“Siok Suheng !” ujar Loei Sam sambil tertawa “Watak

sumoay amat tinggi dan sombong, terhadap suheng2nya tak

seorangpun dipandang sebelah mata olehnya, kau tentu

tahu bukan akan hal ini ? justru karena aku mendongkol

maka kulakukan perbuatan tersebut, sekarang kau boleh

segera kembali kegunung dan pinanglah sumoay di

hadapan suhu, Sumoay dia orang pasti akan menerima

pinanganmu itu, bukankah dengan berbuat demikian aku

sudah menyempurnakan harapanmu ? seharusnya kau

berterima kasih kepada aku yang sudah menjadi mak

comblang mu !”

Orang yang berwajah sedih tadi membungkam dalam

seribu bahasa, sebaliknya yang berseru sepatah demi

sepatah kata:

“Loei Sam, kau masih mempunyai perasaan malu tidak

?”

Wajah Loei Sam benar2 sangat tebal, sambil tertawa ia

menjawab: “Terhadap manusia macam aku, tentu saja tidak

kenal apa itu yang di sebut perasaan malu.”

“Siok sute ! tak berguna banyak bicara dengan dirinya

mari kita bekerja sesuai dengan perintah suhu !” seru orang

itu dengan suara berat.

“Baik !”

Bersamaan dengan ucapan tadi, kedua orang itu bersama2

maju dua langkah kedepan.

“Tahan ! jangan turun tangan lebih dahulu !” Bentak

Loei Sam keras2, senyuman yang semula menghiasi

bibirnya saat ini telah lenyap tak berbekas.

Ketika itu sepasang telapak dari kedua orang itu sudah

diayun ketengah udara, mendengar beritakan dari Loei Sam

ini mereka segera menunda gerakannya dan berhenti

bergerak.

“Terus terang saja kuberitahukan kepada kalian berdua,

sebab setengah tahun berselang sesaat putri kesayangan dari

Hiat Goan Sin Koen menemui ajalnya, ia pernah adu jiwa

dengan diriku sehingga aku menderita luka parah dan

hampir2 saja menemui ajalnya hingga pada lukaku belum

sembuh, aku bukan tandingan kalian berdua lagi.”

“Kalau begitu, hari naasmu sudah tiba dan masamu

berbuat jahatpun telah berakhir !”

“Tidak salah. Namun sebelum aku menemui ajalnya

akan kuseret seseorang untuk menemani keberangkatanku

ini jikalau kalian berani ingin turun tangan terhadap diriku

maka nona Sie akan kubinasakan terlebih dahulu, dia

adalah putri kesayangan Sie Poocu dari benteng Thian It

Poo.”

“Kau… kau… apakah kau ada urusan sakit hati atau

dendam dengan dirinya ?” tanya kedua orang itu rada

tertegun.

“Sama sekali tak ada dendam maupun sakit hati, jikalau

aku binasakan dirinya maka sama arti dia sudah mati

ditangan kalian berdua !”

Kedua orang ini sekalipun merupakan saudara

seperguruan dengan Loei Sam keji, licik, banyak akal,

perbuatan apapun bisa ia lakukan, sebaliknya kedua orang

itu jujur dia berwelas asih.

Mendengar ucapan dari Loei Sam, mereka berdua

seketika tertegun dan berdiri menjublak.

Mereka berbareng mengalihkan sinar matanya kearah Sie

Soat Ang, tampak olehnya air muka gadis itu pucat pasi

bagaikan mayat, titik air mata jatuh berlinang membasahi

pipinya, pakaian yang dikenakan sudah robek separuh

sehingga kelihatan kulitnya yang putih bersih, keadaannya

amat mengenaskan sekali.

Mereka berdua tidak tahu kalau Sie Soat Ang pun bukan

seorang manusia baik2, melihat jiwanya terancam timbul

rasa kasihan kedua orang itu.

“Loei Sam! cepat lepaskan!” serunya hampir berbareng.

“Haaa… haaa… suheng anggap aku adalah seorang

bocah gampang dibohongi?” Loei Sam sambil bergelak

“Seandainya aku melepaskan kemudian kalian menyerang

diriku, aku bisa mati konyol? kalian sedang menjalankan

perintah suhu untuk mencabut jiwaku, hal ini sudah

sepantasnya kalau kalian laksanakan, tapi kalau dilakukan

pada saat ini, maka jiwa nona Sie pun akan ikut musnah!”

Mendengar jiwanya akan digunakan sebagai jaminan,

Sie Soat Ang jadi kaget bercampur gelisah, namun dalam

keadaan seperti ini ia tak dapat berbuat apa2, sebab tak

mungkin baginya untuk memohon kedua orang itu turun

tangan terhadap Loei Sam tanpa hiraukan jiwanya sendiri.

Ia tahu Loei Sam adalah seorang manusia berkeras

kepala, apa yang telah diucapkan dapat saja dilakukan..

Seandainya kedua orang suheng benar-benar turun tangan

terhadap dirinya, maka yang akan mati lebih dahulu adalah

ia.

Pertama2 yang akan mati lebih dahulu adalah ia sendiri.

Kedua orang itu saling bertukar pandangan dengan wajah

serba salah, lama sekali mereka tak memperlihatkan reaksi

apapun.

Air muka Loei Sam berubah memerah, kembali ia

membentak:

“Pada waktu2 yang lampau kalian tak mau turun tangan

terhadap diriku, buat apa kalian begitu bersikeras hendak

turun tangan pada saat ini sehingga harus mengorbankan

pula selembar jiwa nona Sie yang sama sekali tiada ikatan

dendam dengan diri kalian berdua?”

Walaupun terang2an kedua orang itu tahu ucapan

tersebut hanya gertak sambal belaka, namun justru yang

dikatakan adalah kematian Sie Soat Ang disebabkan

mereka berdua hal ini membikin kedua orang ini semakin

ragu2 lagi.

“Suheng berdua!” mendadak Loei Sam berteriak keras,

“Hiat Goan Sin Koen berada dibenteng Thian It Poo,

kemungkinan besar setiap waktu bisa tiba disini, aku tidak

akan banyak berbicara dengan dirimu lagi, akan kuhitung

sampai tiga, kalau kalian belum juga mau meninggalkan

tempat ini, maka nona Sie akan segera kubunuh, dan

kematiannya ini sama halnya disebabkan oleh kalian

berdua.”

Selesai bicara ia merandek sejenak kemudian mulai

menghitung.

“Satu!”

Sembari berseru telapak tangannya mulai disaluri tenaga

murni dan ditempelkan keatas batok kepala Sie Soat Ang.

Gadis itu kontan merasakan adanya segulung tenaga

murni yang maha dahsyat menerjang masuk melalui jalan

darah Pek-hwee hiatnya langsung menyebar keseluruh

tubuh mendatangkan rasa sakit yang luar biasa. tak tahan ia

mulai merintih kesakitan.

Rintihan tersebut membuat dua orang itu menghela

napas panjang dan bersama sama mundur kebelakang.

Loei Sam tertawa terbahak bahak. “Haaa… haa… kalian

harus mundur dua puluh tombak lagi!” perintahnya.

Kedua orang itu dibikin apa boleh buat, terpaksa mundur

kembali dua puluh tombak kebelakang.

“Didalam satu jam kalian dilarang berkutik.” Teriak Loei

Sam keras2 “Relakan aku pergi bersama2 nona Sie. Sudah

dengar belum?”

Kedua orang itu membungkam. kecuali menghela napas

panjang dengan perasaan apa boleh buat, Loei Sam tertawa

aneh, ia menyeret Sie Soat Ang dan berkelebat kedepan,

dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak

berbekas. Lama sekali kedua orang itu berdiri tertegun,

kemudian salah satu diantaranya baru berkata memecahkan

kesunyian.

“Su site, bagaimana dengan kita?”

“Jie suko, aku lihat… aku lihat… terpaksa satu jam lagi

kita baru mengejar keparat tersebut.”

“Sekalipun kita berhasil menyandak dirinya.” kata lelaki

yang disebut Adik seperguruan keempat sambil tertawa

getir, “la akan menggunakan sanderanya nona Sie untuk

menggertak kita. sama pula kita tak bisa turun tangan…

ba… bagaimana kita bisa memberi laporan kepada suhu?”

Orang itu menghela napas, mendadak selintas rasa

girang berkelebat lewat.

“Aaah, tidak menjadi soal, dia., dia tidak akan bertahan

lama terhadap seorang gadis, beberapa hari lagi ia pasti

akan meninggalkan nona Sie”.

“Sekalipun ia tinggalkan nona Sie, apakah tak bisa

mencari perempuan lain ? persoalan ini.. persoalan ini..”

Kedua orang itu sangat murung dan hati terasa sedih,

pada saat itulah mendadak terdengar jerit lengking seorang

gadis berkumandang datang dari tempat kejauhan.

“Jie suko !..su suko..”

Mendengar panggilan itu kedua orang lelaki tersebut

amat terperanjat.

“Aah, siauw sumoay !” serunya hampir berbareng.

Tapi dengan cepat pula mereka membantah sendiri:

“Aah tidak mungkin, mana mungkin siauw sumoay bisa

sampai disini ? suhu serta sunio mana mengijinkan dia pergi

?”

Dari balik hutan tampak sesosok bayangan merah

berkelebat mendekat, gerakannya cepat laksana kilat, dalam

sekejap mata bayangan tadi sudah tiba dihadapan mereka

berdua. dia bukan lain adalah seorang gadis bermantel

merah dengan potongan wajah yang cantik jelita.

Umurnya baru tujuh, delapan belas tahun, wajahnya

potongan kwaci dengan sepasang mata yang jeli dan

bening, mantelnya terbuat diri bulu rase hanya sayang gadis

ini kelihatan begitu murung dan kucel.

“Chen Sumoay ! “seru kedua orang pemuda itu dengan

gelagapan sewaktu dilihatnya gadis itu menghampiri

mereka. “Kaupun datang kemari ? apakah suhu tahu akan

kedatanganmu…”

Gadis ini bukan lain adalah adik seperguruan dari kedua

orang pemuda itu, atau merupakan putri tunggal dan Si

Thay sianseng manusia aneh dalam dunia persilatan

dewasa ini nama lengkapnya Si Chen. sementara ia

gelengkan kepalanya.

“Tia tidak tahu akan kepergianku!” jawabnya.

“Lalu sunio tahu bukan? seharusnya dia orang tua

diberitahu !” seru kedua orang itu dengan hati gelisah.

Kembali Si Chen menggelengkan kepala, butir air mata

jatuh berlinang membasahi wajahnya, namun ia tidak ingin

kedua orang kakak seperguruannya tahu, ia mendongak dan

menjawab:

“Ibupun tidak tahu !”

“Sumoay, hal ini mana boleh jadi ? kau berkelana

seorang diri dalam dunia persilatan.. Aaai dari gunung Go

bie sampai disini ada selaksa lie, kau berjalan seorang diri

mana boleh?”

“Suko berdua, apa yang harus kutakuti lagi ? coba kalian

jawab, apa yang harus kutakuti lagi?” air mata jatuh

berlinang makin deras.

“Chen sumoay !” Kedua orang pemuda itupun tak dapat

menahan diri dan ikut mencucurkan air mata.

Suasana jadi hening, tak kedengaran sedikit suarapun,

akhirnya Si Chen-lah buka suara lebih dulu, ujarnya: “Aku

lepaskan pakaianku ditepi dinding jurang, pura2 bunuh diri

dengan terjunkan diri kedalam jurang, kemudian secara

diam2 turun gunung.”

“Sumoay, kau berbuat demikiam apakah tidak takut suhu

serta sunio amat bersedih hati ?”

“Tentu saja aku berpikir sampai disitu” sahut Si Chen

sambil tertawa sedih. “Tapi aku pikir merekapun sudah

terlalu sedih, seandainya tahu aku telah mati, rasa sedih

mereka tidak akan lebih jauh, terutama sekali Tia, nama

besarnya sudah tersohor di mana2, setiap orang Bu lim

tentu menaruh rasa jeri kepadanya “

Mendadak ia membungkam dan tidak teruskan lagi

kata2nya. Kembali suasana jadi hening, kecuali hembusan

angin yang menderu.

Akhirnya Si Chen tertawa getir serunya:

“Sepanjang jalan aku mengejar kemari, suatu saat aku

berhasil temukan kabar beritanya, aku tahu ia berada

dibenteng Thian It Poo dan segera kukejar.”

Kedua orang pemuda itu tertegun mereka cuma bisa

mengangguk. “Akupun tahu si Hiat Goan Sinkoen sedang

mencari dia, bukankah begitu?”

Sekali lagi kedua orang pemuda tersebut mengangguk.

“Tetapi ketika aku tiba dibenteng Thian It Poo” lanjut Si

Chen “Benteng tersebut sudah kacau balau, Hiat Goan

Sinkoen-sedang bertarung mati2an melawan seorang

perempuan gila, Yu loo-koay lah yang beritahu kepadaku

bahwa dia berangkat keutara. Jie suko, Su Suko, apakah

kau berhasil menyusulnya?”

Kedua orang ini tukar pandangan dan membungkam,

merasa sulit untuk buka suaranya.

Melihat kejadian itu timbul rasa curiga dalam hati Si

Chen.

“Suko berdua, apakah kalian ada urusan yang sedang

mengelabui diriku?” tanyanya.

“Tidak ada… tidak ada?” buru2 kedua orang itu

goyangkan tangannya berulangkali, Si Chen menghela

napas-panjang.

“Aku tahu kalian tak akan berbuat demikian, bencana

yang kualami sudah cukup mengenaskan kalian… kalau

kalian masih mengelabuhi diriku tentang satu persoalan

maka . . . aai . . . kalian sedikit keterlaluan.”

Ucapan ini betul2 tajam, kedua orang itu semakin

kelabakan dibuatnya.

“Loei Sam dia . . . dia . . . barusan saja kami berjumpa

dengan dirinya” ujar kedua orang itu dengan gelagapan.

Seluruh tubuh Si Chen tergetar keras. “Lalu, mengapa

kalian tidak hadang jalan perginya ?” ia berseru.

“Tentu saja kami sudah menghalangi jalan perginya”

jawab salah seorang pemuda itu sambil tertawa getir,

“bahkan siap sedia menangkapnya pulang kegunung, cuma

dia menangkap nona Sie sebagai sanderanya, kalau kami

akan turun tangan menangkap dirinya, ia akan

membinasakan nona Sie lebih dahulu, oleh karena itu kami

. . . kami . . .”

“Karena itu kalian lepaskan dia pergi, bukan begitu ?”

sambung Si Chen sambil menghela napas panjang.

Dengan rasa jengah kedua orang itu mengangguk.

“Kalian terlalu berbelas kasihan, sedang dia terlalu jahat”

Kata gadis itu sambil tertawa getir. “Nona Sie itu…”

“Dia adalah putri kesayangan dari Thian It Poocu !”

“Mengapa kalian tidak kejar dirinya ? baik, aku akan

pergi mengejarnya, sekalipun tak bisa mengapa-apakan

dirinya, paling sedikit harus menolong nona Sie itu !”

Ucapan ini seketika menyadarkan kedua orang itu,

mereka terkesiap dan berseru berbareng: “Ucapan sumoay

sedikitpun tidak salah, mari kita kejar dirinya !”

Demikianlah ketiga orang itu segera mengejar kearah

mana Loei Sam melarikan diri tadi.

Menanti ketiga bayangan tubuh itu sudah lenyap dari

pandangan, mendadak terdengar gelak tertawa Loei Sam

berkumandang memecahkan kesunyian dari atas sebuah

pohon muncullah pemuda itu sambil membopong Sie Soat

Ang.

Setelah melayang keatas tanah, ia tertawa bergelak dan

berkata: “Nona Si, coba kau lihat bagaimanakah tipu

muslihat ku ? kau bisa berkenalan dengan manusia

sepertiku, hitung2 tidak rugi jadi manusia !”

Kiranya pemuda itu tidak berlalu, sebaliknya cuma

bersembunyi diatas sebuah pohon.

Karena jalan darahnya tadi tertotok, Si Soat Ang tak

dapat berteriak sekarang ia bebas dari pengaruh totokan

menjeritlah gadis ini se-jadi2nya.

Namun Loei Sam tertawa tergelak sambil menjengek.

“Nona manis, sekalipun kau berteriak sampai serakpun

percuma saja tak mungkin ada orang yang mendengarkan

jeritanmu itu!”

Sie Soat Ang berhenti berteriak, serunya:

“Kau… bukankah gadis tadi adalah sumoay mu? dia

begitu cantik, kalau kau bisa jadi suami istri dengan dirinya,

bukankah bagus sekali?”

“Hiii… hihi . . . cantik sih cantik, cuma kalau

dibandingkan dengan engkau, maka ia ketinggalan jauh

sekali”

Diam2 Sie Soat Ang mengeluh, ia tidak menyangka

perubahan yang terjadi semalaman bisa demikian besar.

Ingin sekali ia meronta namun tenaganya musnah sama

sekali, bahkan ketika itu bibir sang pemuda dengan paksa

mencium bibirnya.

Sekali lagi Sie Soat Ang menjerit kali ini ia menjerit

sekeras kerasnya namun baru dua kali ia berteriak bibirnya

sudah tersumbat kembali oleh bibir Loei Sam napasnya

mulai ter-sengkal2 dan keadaan amat kritis.

“Aduuh, sungguh romantis.” tiba2 terdengar orang

berseru.

Loei Sam terkesiap, dengan cepat ia berpaling.

Tampak olehnya, tidak jauh dibelakang tubuhnya diatas

permukaan salju yang tebal berdiri seseorang.

Orang itu berusia tiga puluh tahunan, berdandan siucay,

wajahnya kurus panjang dengan sebuah codet dikening

kirinya, hal ini membuat potongan mukanya kelihatan jauh

lebih panjang.

Melihat munculnya seseorang. Si Soat Ang segera

berteriak minta tolong.

“Ooouw enghiong tolonglah diriku!” sastrawan itu tetap

berdiri dibawah pohon, bajunya berwarna putih bagaikan

salju, keadaannya amat aneh sekali.

Mendengar Si Soat Ang berteriak, Loei Sam segera

menghardik.

“Kalau kau menjerit lagi akan kutotok jalan darah

gatalmu!”

Tentu saja Sie Soat Ang tahu, bila seseorang tertotok

jalan darah gatalnya maka seluruh tubuh akan terasa kaku

dan gatal, lebih sengsara dari pada mati, karena takut pada

ancamannya ia segera membungkam.

Ketika itulah sisastrawan berbaju putih itu berkata:

“Memandang keadaan anda mentereng dan terpelajar tak

disangka perbuatanmu ternyata begitu rendah dan terkutuk

!”

“Hmmm, apa sangkut pautnya dengan urusan mu ?”

jengek Loei Samsambil tertawa dingin.

“Eeeei ? bukankah anda adalah seorang ahli silat ?”

“Omong kosong, apakah aku tak dapat melihat sendiri ?”

“Nah, melihat ketidak adilan maka sebagai seorang

pendekar haruslah turun tangan menyelesaikan persoalan

itu secara bijaksana, kalau anda seorang ahli silat, kenapa

bertanya kepadaku apa sangkut pautnya dengan urusan

tersebut ?”

“Oooouw. . . kiranya kaupun seorang ahli silat, Hmm,

ingin sekali kulihat sampai dimana kehebatanmu itu !”

Sebelum ia bertindak sesuatu mendadak serasa segulung

angin berhembus lewat, bayangan tubuh sastrawan tadi

laksana kilat telah meluncur datang.

Loei Sam terkesiap. ia merasa kejadian ada di luar

dugaan, untung sebelumnya sudah bikin persiapan. telapak

kiri dibalik kemudian melancarkan sebuah hantaman

kedepan.

Angin pukulan men deru2, belum sampai sasarannya

terkena, bayangan tubuh orang itu kembali lenyap tak

berbekas diikuti pergelangan tangan nya tiba2 jadi kaku.

Ternyata tubuh sisastrawan yang menerjang ke depan

walaupun cepat laksana kilat namun secara tiba2 ia sudah

berputar ke sebelah kanan Loei Sam dan menyentuh urat

nadinya.

Serangan ini terkena telak, Loei Sam kontan merasakan

urat nadinya kaku dan tak kuasa lagi kelima jari tangannya

mengendor.

Perubahan jurus dari sastrawan itu amat cepat sekali,

baru saja Loei Sam kendorkan tangannya sisastrawan itu

sudah menyambar tangan Sie Soat Ang dan didorongnya ke

depan, dengan ringan dan mantap tubuh gadis itu meluncur

beberapa tombak jauhnya dan kalangan.

Melihat korbannya dirampas, Loei Sam amat gusar

sambil kesempatan waktu sisastrawan mendorong tubuh Si

Soat Ang keluar kalangan, jari tangannya bergerak cepat

menotok jalan darah “Hoa Kay Hiat” ditubuh lawan.

Jalan darah Hoa-kay hiat merupakan satu jalan darah

penting ditubuh manusia, tindakan dari Loei Sam ini

menunjukkan kalau ia ada maksud membinasakan lawan

dalam satu jurus serangan belaka.

Dengan cepat sastrawan itu menyusup tubuhnya

kebelakang, sepasang alis berkerut dan tegurnya:

“Kau adalah anak murid dari Si Thay sianseng ?”

Loei Sam melakukan pengacauan digunung Go-bie, ini

sama hal sudah diusir dari perguruan, namun nama Si Thay

sianseng sangat berpengaruh di dunia persilatan, oleh sebab

itu setiap orang yang mengatakan dia adalah muridnya Si

Thay sianseng, selamanya pemuda ini tak pernah menolak,

ia segera tertawa.

“Kalau sudah tahu asal usulku, kenapa kau tidak sipat

ekormu dan melarikan diri dari sini?”

“Benarkah kau anak murid dari Si Thay sianseng ?”

kembali sastrawan itu bertanya, sementara sepasang

matanya melototi pemuda itu tajam2. “Ditinjau dari jurus

serangan tersebut kau memang ahli waris dan Si Thay

Sianseng, tapi memandang dari tindak laku dirimu yang

rendah serta memalukan. tidak mungkin seorang pendekar

sejati punya murid macam kau.”

Terhadap makian ini Loei Sam tidak marah, yang

membuat ia naik pitam adalah tindakan Sie Soat Ang yang

melarikan diri ter-birit2 setelah di tolong oleh sastrawan

tadi, ia segera menghardik:

“Ayoh cepat minggir !”

“Criing…” dari balik ujung bajunya mendadak meluncur

keluar sebatang pedang pendek, senjata nya langsung

mengarah tenggorokan lawan.

“Aaai . . . ilmu silatmu tidak terhitung jelek” seru

sastrawan tersebut sambil menghela napas panjang, ia

mundur kebelakang meloloskan diri dari ancaman.

Melihat serangannya gagal Loei Sam makin gusar, sebab

waktu itu Si Soat Ang sudah jauh melarikan diri sehingga

sebuah titik hitam belaka.

“Tingkah lakumu amat mencurigakan sekali” Seru

sastrawan tadi setelah berhasil meloloskan diri dari

ancaman maut, “Aku lihat kebanyakan kau berhasil

mencuri dapat satu dua jurus ilmu silat dari Si Thay

sianseng, kemudian sengaja melakukan keonaran dalam Bulim

dengan maksud merusak nama baik Si Thay sianseng,

akan ku tangkap dirimu untuk kemudian diserahkan ke

pada Si thay sianseng.”

Mendengar ucapan itu Loei Sam teramat gusar

bercampur kaget, namun ia sadar ilmu silat lawan amat

lihay sekali, segera ujarnya dengan nada dingin:

“Bagus sekali, kulihat sampai dimanakah ilmu silatmu

sehingga bisa membawa aku pergi.”

Tubuh sisastrawan yang sudah mundur berulang kali

mendadak menerjang kembali kedepan dengan kecepatan

laksana sambaran kilat, kali ini Loei Sam pun sudah bersiap

sedia menghadapi segala kemungkinan.

Melihat terjangan sastrawan itu amat cepat, diam2 Loei

Sam kegirangan. pikirnya:

“Bagus…bagus…makin cepat kau datang semakin

bagus…” tubuhnya mendadak merandek, kemudian

pedangnya diayun kedepan mengirim sebuah tusukan

ganas.

Siapa nyana mendadak pandangan matanya jadi kabur,

bayangan lawan sudah lenyap tak berbekas diikuti segulung

angin tekanan yang amat keras menekan tubuhnya.

Loei Sam terperanjat jangan dikata setengah tahun

berselang ia pernah terluka parah, kendari ilmu silatnya

sudah pulih semuapun tak akan ia sanggup menghadapi

keadaan semacam ini.

Dalam keadaan gugup dan terdesak, ia tak sempat

berkelit lagi. terpaksa pedangnya berputar kencang

melancarkan sebuah tusukan kembali.

Tusukan ini amat cepat, serangannya dahsyat, namun

bagaimanapun juga terlambat satu langkah, mendadak

pergelangannya jadi kaku dan urat nadinya sudah dicekal

lawannya erat-erat.

“Trang. . !” pedang pendeknya terlepas dari cekalan

diikuti suara ejekan dari sastrawan berbaju putih itu

bergema datang: “Hemm ! kiranya pedangmu sudah

direndam racun keji, dari aliran lurus tak ada manusia

macam kau!”

Diatas pedang pendek milik Loei Sam memang sudah

dipolesi racun keji, bahkan suatu racun yang ganas dan

segera mencabut nyawa seseorang apabila berjumpa dengan

darah, tetapi tanda2 tersebut amat samar sekali, tak

mungkin bisa ketahuan oleh orang biasa.

Kini orang bisa menunjukkan bahwa pedang nya

beracun, hal ini bisa ditarik kesimpulan be tapa tajamnya

sepasang mata orang ini, kejadian tersebut membuat Loei

Sam semakin terperanjat.

Tapi urat nadinya sudah dicekal orang, tak sedikit

tenagapun masih tersisa, dalam keadaan keritis ia tidak jadi

bingung, sambil tertawa2 jengeknya: “Oooouw…

kepandaian anda tidak jelek juga. entah kau berasal dari

perguruan mana.”

“Guruku adalah sahabat dari Si Thay sian-seng, padahal

dari gerakanku barusan sudah sepantasnya kau tahu siapa

diriku !”

Pikiran Loei Sam jadi terang, ia semakin terperanjat

sebab teringat olehnya ia pernah mendengar dari suhunya

yang menyatakan diantara sahabat2 lamanya terdapat

seorang manusia jelek yang suka memakai baju warna

putih, sifatnya berangasan dan bongkok, orang2 Bu lim

menyebutnya sebagai Lieh Hwie Sin Tho atau si Bongkok

Sakti berangasan.

Sekalipun wajahnya jelek, ia punya seorang istri yang

kecantikan wajahnya sulit dicarikan tandingannya, karena

perbedaan yang menyolok inilah ia sering diejek orang.

Diantara tiga macam ilmu sakti yang dimiliki Si

Bongkok Sakti Berangasan ini terhadap suatu ilmu langkah

yang lihay disebut “Mie Tjong Sin Poh” atau ilmu langkah

sakti penghilang jejak, gerakan yang dipergunakan

sastrawan tersebut.

Teringat akan kepandaian itu Loei Sam kaget sampai air

mukanya berubah hebat, walaupun ia berusaha untuk

menenteramkan hatinya.

“Ooouw… sekarang aku paham sudah, bukankah Heng

thay adalah anak murid dari si Bongkok Sakti Berangasan?”

tegurnya sambil tertawa.

“Hmmm siapa yang kesudian menyebut saudara dengan

dirimu.” hardik sisastrawan.

“Hiii… hihi soal ini tak bisa salahkan diriku, anda punya

hubungan sama si Bongkok.berangasan, tentu saja kita

harus saling menyebut saudara, siapa suruh antara Si Thay

sianseng dengan si Bongkok Sakti Berangasan mengikat tali

persaudaraan ?”

Sastrawan berbaju putih ini bukan lain adalah putra

kesayangan si Bongkok Sakti Berangasan mendengar

ucapan itu dia lantas mendengus.

“Hmm ! tingkah lakumu hanya merusak dan menodai

nama baik gurumu saja !” serunya.

“Haa…haa…haa…kelihatannya nama besar si Bongkok

Sakti Berangasan bukan nama kosong belaka, aku lihat

Heng-thay pun sudah ketularan beberapa bagian watak

berangasannya. coba lihat. bekerja tanpa membedakan

mana putih mana merah !”

“Eeei., apa maksudmu berkata begini, bagian manakah

yang kau rasa tidak benar ?”

“Tahukah kau siapakah gadis yang barusan kau tolong

itu ?”

Pertanyaan ini membuat si sastrawan berbaju putih

seketika tertegun, waktu itu ia cuma melihat Loei Sam

menangkap Si Soat Ang dan gadis itu hendak diperkosa,

sedangkan siapakah Sie Soat Ang ia tidak tahu.

Karena itu mendapat pertanyaan tersebut ia jadi

tertegun, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.

“Aku tidak tahu siapakah dia, tapi tidak pantas kau

bersikap macam itu terhadap seorang nona?”

“Haaa… haaa… haaa…” Loei Sam segera mendongak

tertawa terbahak2 dengan kerasnya, “Apa itu nona atau

bukan nona, diakan istriku!”

“Apa kau katakan ?” sastrawan itu amat terperanjat.

“Dia adalah istriku, dia adalah nyonya ku !”

“Kaaa, , . kalau dia adalah hujienmu, lalu mengapa ia

menjerit ?” sastrawan tersebut dibikin gelagapan.

“Aku rasa Heng thay tentu belum menikah, bukankah

begitu ?”

“Benar, aku belum menikah.”

“Nah itulah dia, justru karena Heng thay belum menikah

maka tak akan tahu perbuatan apa saja yang sering

dilakukan antara suami dan istri, ia minta aku untuk

kerjakan suatu persoalan aku tidak setuju, karena itu

hatinya jadi dongkol dan tak mau bermesraan dengan diriku

kalau bukan perbuatanmu yang gegabah niscaya persoalan

sudah selesai !”

“Tidak benar, sewaktu aku berjumpa dengan kalian.

akupun mendengar dia. . . dia berkata agar kau mengawini

sumoaymu saja.”

“Benar, ia memang seorang yang cemburuan, rasa

dengkinya terlalu besar.”

“Tapi aku mendengar ia minta tolong apakah aku sudah

salah mendengar?”.

“Tentu saja kau tidak salah mendengar, wataknya

memang begitu suka mendatangkan kerepotan buat diriku

karena ia dongkol maka dipanggilnya dirimu untuk diadu

dengan aku.”

“Kalau Heng thay tidak percaya mari kita kejar dirinya.

Setelah kau bertanya sendiri urusan akan jadi jelas,

bagaimana ?”

Perkataan Loei Sam yang lihay ini membuat pikiran

sisastrawan goncang, setelah termenung sejenak ia

mengangguk.

“Baiklah !”

Sembari berkata ia kendorkan tangannya. Tujuan Loei

Sam banyak berbicarapun bukan lain agar sisastrawan suka

lepaskan tangannya.

-oo0dw0ooo-

Jilid 7

SEJAK semula Loei Sam sudah bikin persiapan ketika

sastrawan itu kendorkan tangannya, ia segera putar

badannya cepat2.

Dengan perputaran ini hampir2 saja ia saling

bertempelan muka dengan pihak lawan, ilmu silat

sastrawan itu tidak lemah, melihat gerakan tersebut ia

segera sadar bahaya, badannya buru2 mundur kebelakang.

Ketika itulah diiringi segulung angin pukulan Loei Sam

menghantam dada sastrawan tersebut, namun berhubungan

lawannya sudah keburu mundur maka kendari serangan

tadi bersarang telak namun tenaganya sudah jauh

berkurang, bokongan ini tidak sampai membuat lawannya

cedera.

Namun Loei Sam betul berhati keji, ia sudah menduga

serangannya pasti mengenai sasaran kosong, karena itu

dalam genggamannya sudah tersedia sebatang senjata

rahasia sewaktu serangannya gagal, senjata rahasia yang

tipis bagaikan kertas dan panjangnya beberapa coen itu

dengan disertai desiran tajam menyambar keiga sastrawan

tersebut.

Serangan tersebut bersarang telak, hanya dikarenakan

lempengan baja itu amat tipis maka dari mulut luka tidak

mengucurkan darah, Sastrawan itu hanya merasakan

iganya jadi dingin tersambar sesuatu.

Melihat serangan bersarang telak, Loei Sam bersuit

panjang, badannya berkelebat lari kedepan ia tahu

sastrawan itu pasti mengejar, tapi justru tujuannya adalah

memancing sastrawan itu agar mengejar.

Karena setelah terhajar senjata rahasia seperti itu, asal ia

tidak bergerak mulut lukanya akan rapat seperti sedia kala,

lain halnya kalau ia mengejar, darah akan bergerak cepat

membuat lempengan baja tadi bergeser sehingga

mengakibatkan mulut luka semakin besar.

Karena itu sambil melarikan diri, Loei Sam tertawa

mengejek tiada hentinya memancing pengejaran dari

sastrawan tersebut.

Melihat dirinya terbokong, sastrawan itu mendendam, ia

pun segera sadar apa yang diucapkan Loei Sam tadi hanya

kata2 bohong belaka, tentu saja ia mengejar kedepan.

Demikianlah, dua sosok bayangan manusia laksana

sambaran kilat meluncur kedepan dengan kecepatan

laksana kilat, dalam sekejap mata lima tujuh li sudah

dilewati sementara jarak antara mereka berduapun semakin

dekat.

Tiba2 sastrawan itu mengepos napas, badannya mencelat

kedepan mendekati Loei Sam hanya berapa depa

dibelakangnya.

Sayang seribu kali sayang, pada saat itulah iganya terasa

amat sakit, selembar lempengan besi menyembur keluar

menyambar lewat dari balok kepala Loei Sam.

Bersamaan dengan menyembur keluar lempengan besi

tadi, darah segarpun muncrat keluar dari mulut luka

bagaikan sumber mata air, sastrawan itu seketika

merasakan hawa murninya menyusut berbareng dengan

semburan darah dari tubuhnya.

Rasa kejut yang dirasakan sastrawan tersebut bukan

alang kepalang, buru2 ia berhenti mengejar. sepasang kaki

terasa jadi lemas dan akhirnya jatuh mendeprok diatas

tanah, hawa murninya sudah menyusut enam, tujuh bagian.

Menanti ia sudah menotok jalan darahnya untuk

menyetop penyemburan darah secara sia2, bayangan tubuh

Loei Sam telah lenyap tak berbekas, bahkan gelak

tertawanya pun sudah tak kedengaran lagi.

Sastrawan itu mulai merasakan kepalanya pusing tujuh

keliling, ia roboh keatas tanah sementara permukaan salju

yang putih telah berubah merah oleh ceceran darahnya, ia

menghembuskan napas panjang dengan sekuat tenaga

dicobanya angkat kepala.

Lama sekali ia berusaha, ketika itulah ia temukan dari

balik pohon siong dipinggir jalan muncul seorang gadis

wajahnya pucat pasi dan penuh rasa terperanjat dengan

sepasang mata terbelalak lebar2 sedang memandang

kearahnya, orang itu bukan lain Sie Soat Ang.

Si Soat Ang kelihatan ragu2 beberapa saat lamanya,

setelah yakin disekitar sana tak ada orang lain, ia baru

berjalan keluar dan menghampiri sastrawan tersebut,

serunya sambil memayang bangun orang itu.

“Kau . . . bagaimana kau bila menderita separah ini ?”

Sastrawan itu tertawa getir.

“Aku . . . karena kurang hati2, aku kena di bokong

olehnya !”

Sebetulnya watak Si Soat Ang tidak lebih baik daripada

perbuatan Loei Sam, hanya disebabkan berulang kali ia

mendapat bencana, bagaimanapun juga saat ini muncullah

serangkaian kata2 yang keluar dari liang-simnya:

“Kau . . kau . . kalau bukan demi menolong diriku,

kaupun tidak akan dicelakai olehnya !”

“Kau . . . bimbinglah aku bangun !”

Sekuat tenaga Si Soat Ang memayang bangun sastrawan

tersebut, namun karena goncangan tersebut darah segar

kembali menyembur keluar dengan derasnya dari mulut

luka membuat seluruh badan Si Soat Ang berlepotan darah.

Si Soat Ang terperanjat, ia menjerit keras dan buru2 lepas

tangan mengundurkan diri ke belakang.

Sekali lagi badan sastrawan tadi roboh keatas tanah,

darah segar mengucur keluar semakin deras lagi.

Ia tak tahu siapakah sastrawan berbaju putih ini, rasa

terima kasihnya orang ini pun tidak seberapa, apa yang

dipikirkan saat ini adalah cepat-cepat tinggalkan tempat itu.

Sebelum ia bertindak, tiba2 muncul sesosok bayangan

manusia dari tempat kejauhan, gerakan orang itu cepat

bagaikan sambaran kilat, dalam sekejap mata sudah hampir

dekat dengan tempat tersebut sementara sastrawan baju

putih itu jatuh tidak sadarkan diri.

Menanti Sie Soat Ang dapat melihat siapakah orang itu,

sepasang kakinya jadi lemas, tenaga untuk melarikan diri

seketika lenyap tak berbekas.

Orang yang munculkan diri saat ini bukan lain adalah

Hoat Goan Sinkoen yang punya wajah lima bagian mirip

manusia tujuh bagian mirip setan itu.

Hoat Goan Sinkoen menyapu sekejap wajah sastrawan

itu, mendadak ia melangkah setindak kedepan, sepasang

tangannya bergerak cepat menotok tujuh delapan tempat

jalan darah ditubuh sastrawan tersebut.

Setelah itu dengan sepasang mata yang tajam ia melototi

wajah Si Soat Ang, mulutnya menyeringai seram membuat

gadis itu ketakutan sampai jantungnya berdetik semakin

keras.

“Hmm! kembali kau yang turun tangan terhadap

dirinya!” hardik Hiat Goan Sinkoen.

“Bukan, bukan . . . perbuatanku! Loei Sam yang turun

tangan kepadanya peristiwa ini tak ada sangkut paut dengan

diriku,” buru2 goyangkan tangannya berulang kali.

Mendengar disebutnya nama Loei Sam, air muka Hiat

Goan Sinkoen berubah hebat, “Dimana sekarang ia

berada?” tegurnya.

“Ia melarikan diri kearah depan sana.”

Hiat Goan Sinkoen bersuit nyaring, tubuhnya laksana

sambaran kilat meluncur kearah mana yang ditunjuk oleh

Sie Soat Ang.

Baru saja gadis itu bisa berlega hati mendadak Hiat Goan

Sinkoen yang sudah berlalu balik lagi kehadapannya.

Begitu tiba disana, sepasang tangan Hiat Goan Sinkoen

bergerak cepat mencengkeram bahu Si Soat Ang membuat

gadis ini merasakan seluruh tubuhnya sakit bukan main.

“la betul2 lari ke sana . . . Loei Sam . . . Loei Sam

memang lari kearah situ!” serunya dengan gemetar.

“Kau tak usah urusi kemana Loei Sam pergi, orang ini

terluka parah, kau harus mengantar pulang kerumah

gurunya, aku hendak mengejar Loei Sam dan tak bisa urusi

dirinya, kau bisa lakukan pekerjaan ini ?”

“Aku tahu, kau bisa lakukan pekerjaan ini” buru2 gadis

itu menyahut, sementara hatipun biia lega.

“Hmm ! kau jangan anggap pekerjaan gampang, pertama

lukanya sangat parah setiap saat bisa mati, sepanjang jalan

kau harus hati2 merawat dirinya.”

Yang dipikirkan Si Soat Ang hanyalah bagai mana

meloloskan diri, oleh sebab itu buru2 ia menyahut : “Aku

tahu, aku bisa baik2 merawat dirinya.”

Mendadak Tiat Goan Siakoen menyeringai keji

ancamnya :

“Kalau kau bisa lakukan pekerjaan ini baik2 aku tidak

akan banyak bicara, kalau tidak . . . Hmm ! akan kubongkar

dan kusiarkan peristiwa pembunuhanmu atas diri Kan Loo

jie.”

Si Soat Ang tertegun dan jatuh mendeprok ke atas tanah

dengan badan lemas, sementara Hiat Goan Sinkoen tertawa

dingin, ia berputar kehadapan sastrawan berbaju putih itu

dan menjejalkan sesuatu kedalam mulutnya, setelah itu

laksana kilat badannya meluncur kembali kedepan, dalam

sekejap mata saja sudah lenyap tak berbekas.

Si Soat Ang yang mendeprok diatas tanah segera

meronta bangun setelah dirasakan Hiat Goan Sinkoen telah

pergi jauh, ia menghembuskan napas panjang, putar badan

dan angkat kaki melarikan diri dari sana.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya

membuat ia kaget dan berhenti, pikirnya.

“Aduh celaka, ilmu silat Hiat Goan Sinkoen sangat lihay

wataknya pun sangat kukuh bahkan tahu pula rahasiaku, ia

memerintahkan aku kirim orang ketempat gurunya kalau

aku membangkang sampai konangan, bukankah aku yang

bakal berabe.”

Tetapi pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya “Aku

tidak tahu dimanakah rumah guru nya, sedangkan Hiat

Goan Sinkoen pun tidak beri tahu kepadaku. aku harus

menghantarnya ke mana? Nah inilah kesempatan bagiku

untuk melarikan diri, sedangkan tanggung jawab lelaki ini

pun tidak akan terjatuh kepundakku.”

Ia segera putar badan dan enjotkan badan untuk angkat

kaki.

“Nona. jangan pergi dulu” tiba2 sastrawan berbaju putih

itu merintih dan berseru.

Si Soat Ang tertegun kemudian berhenti, terlihat olehnya

ketika itu si sastrawan sedang meronta bangun, ingin duduk

namun setiap kali gagal untuk memenuhi keinginannya.

Lama sekali gadis itu tertegun, akhirnya karena takut

Hiat Goan Sinkoen muncul kembali disana, ia maju dan

memayang pemuda itu duduk.

“Nona, terima kasih atas kesudianmu untuk menghantar

aku pulang kerumah guruku, budi ini tak akan kulupakan

sepanjang hidup” kata sastrawan berbaju putih itu dengan

napas ter-engah2.

Si Soat Ang kembali terkesiap, ia tidak menyangka apa

yang diucapkan dengan Hiat Goan Siokoen dapat didengar

semua olehnya.

Hatinya sangat mendongkol, namun tak berani diumbar

terpaksa ia tertawa.

“Aaah, kenapa kau bisa bicara begini.” serunya. “Demi

menolong aku, kau telah terluka parah apakah tidak pantas

kalau aku menghantar diri mu pulang ?”

“Aah, kalau begitu terima kasih atas kesediaan nona”

kata sastrawan itu penuh rasa terima kasih.

“Guruku adalah si Bongkok Sakti berangasan berdiam

dibukit sebelah timur gunung Lok Ban San, perjalanan dari

tempat ini sangat jauh sekali.”

Si Soat Ang adalah putri Thiat It Poocu-yang amat

tersohor diluar perbatasan, orang Bu-lim yang singgah

ditempat mereka amat banyak, tidak aneh kalau

pengetahuan gadis ini amat luas sekali.

Ketika mendengar disebutnya nama “Sibongkok

berangasan” air mukanya berubah hebat, ia merasa untung

tadi tidak ditinggal pergi, kalau tidak sekalipun Hiat Goan

sinkoen bisa dihindari, bilamana si Bongkok Sakti

Berangasanpun tahu persoalan ini, maka jalan kematian

yang bakal ia terima.

Setelah merandek sejenak, ia baru berkata : “Aaah,

kiranya Cuang su adalah keturunan Si bongkok Sakti

Berangasan, aku she Si bernama Soat Ang, ayahku bernama

Si Liong.”

“Jadi kau adalah putri kesayangan dari Si Poocu? kenapa

keparat tadi bilang. . .”

“Dia bilang apa ?”

“Dia bilang nona Si adalah istrinya !”

“Cis ! mukanya begitu tebal, berani mengaku seenak hati

sendiri Hmm, siapa yang sudi jadi istrinya !”

Sementara Si Soat Ang amat gusar, sastrawan berbaju

putih itu menghembuskan napas panjang seakan2 telah

melepaskan suatu tanggungan berat belaka.

Si Soat Ang tidak memperhatikan sampai disitu, ia

bertanya kembali:

“Cuang-su, kau bisa berjalan ?”

“Nona Si jangan panggil aku Cuang-su. aku she Tong

Poei bernama Pek.”

Si Soat Ang mengiakan. sedang otaknya berputar

kencang, ia merasa tugas menghantar sampai kegunung Lak

Ban San agaknya tak terhindar lagi, sekalipun begitu ia

harus pulang ke benteng Thian It Poo dahulu untuk

menjumpai ayahnya.

Dengan paksakan diri Tong Poei Pek merangkak

bangun, badannya serasa sangat berat sekali, baru saja ia

bangun berdiri badannya jadi lemas dan tak kuasa roboh

kearah mana gadis itu berdiri.

Buru2 Si Soat Ang memayangnya.

“Aah. tak kusangka aku bisa kena dikecudangi orang

sampai terluka demikian parah !” desis Tong Poei Pek

sambil tertawa getir.

“Kau…apakah kau kena dikecudangi oleh Loei Sam

sampai terluka macam begini ?”

“Apa? Loei Sam ? orang tadi bernama Loei Sam ?” seru

Tong Poei Pek dengan tubuh tergetar keras.

“Benar dia adalah anak murid Si Thay sian-seng, tetapi. .

.”

Bagaimanapun juga Si Soat Ang adalah seorang gadis, ia

merasa kurang enak untuk bercerita bagaimana Loei Sam

telah menodai sumoay nya, karena itu sembari

membungkam wajahnya berubah merah jengah.

“Aku sudah tahu.” Tong Poei Pek segera menyambung,

“Si Thay sianseng telah mengabarkan kepada semua orang

Bu-lim agar menangkapnya kembali kegunung Go bie,

Aaai! agaknya pembalasan dendam atas bokongannya ini

tak bisa kutuntut dengan tangan sendiri !”

Maksud ucapan tersebut amat jelas sekali pada akhirnya

Loei Sam tidak bakal lolos dari tangan Si Thay sianseng.

Si Soat Ang yang mendengar ucapan itupun merasa

berlega hati, sebab sepanjang hidupnya ia tak pernah takut

kepada orang lain kecuali seorang yaitu Loei Sam. .

Sambil gertak gigi serunya:

“Manusia macam ini sudah seharusnya mendapat

pembalasan yang setimpal. . .”

Tiba2 seluruh tubuhnya gemetar keras teringat akan

kata2 “Pembalasan yang setimpal” iapun teringat kembali

perbuatan terkutuk yang pernah ia lakukan, segera ujarnya:

“Lukamu sangat parah, bagaimana kalau kita beristirahat

dahulu didalam benteng Thian It Poo?”

“Nona Si, aku . . . aku ingin cepat2 kembali ketempat

kediaman guruku, kalau tidak aku pasti takkan kuat

menahan diri!” buru2 Tong Poei Pek berseru sambil tertawa

sedih.

“Tentu saja kita tak boleh lama2 dibenteng Thian It Poo,

bagaimana juga berangkat keselatan kita harus melalui

benteng Thian It Poo, disana kita persiapkan kereta serta

kuda bukankah perjalanan malah semakin cepat lagi?”

Karena ucapan ini sangat cengli, Tong Poei Pek pun

tidak membantah lagi, ia mengangguk.

“Terima kasih atas perhatian nona Si yang mau pikirkan

cara tersebut!”

Demikianlah dengan dipayang Si Soat Ang dan dibantu

oleh sebatang ranting kayu sebagai tongkat, selangkah demi

selangkah Tong Poei Pek bergerak ke depan, berhubung

lukanya amat parah mereka sangat lambat sekali untuk tiba

dibenteng Thian It Poo mereka membutuhkan beberapa jam

lamanya.

Benteng Thian It Poo yang pada hari2 biasa selalu ramai

dikunjungi orang, saat ini sunyi senyap tak kelihatan

sesosok manusiapun, pintu tebal yang besar kini tinggal

sebelah, sepi. . . hening kelihatan amat menyeramkan.

Melihat kesemuanya itu Si Soat Ang tertawa getir,

serunya keras2: “Tia ! Ayah ! kau ada di mana ?”

Suaranya menggema di seluruh benteng yang kosong,

namun tak ada jawaban, suasana tetap sepi, sunyi bagaikan

di kuburan.

Melihat tiada jawaban yang muncul, firasat jelek segera

berkecamuk dalam benak Sie Soat Ang, seluruh badannya

jadi merinding.

Dengan memayang Tong Poei Pek mereka masuk

kedalam benteng, beberapa saat kemudian tibalah didepan

ruang tengah, tangga batu sudah banyak yang hancur akibat

pertarungan sengit antara Ciang Oh melawan Hiat Goan

Sinkoen tadi.

Dalam ruangan semakin tidak keruan, semua barang

hancur berantakan dan tinggal puing2 yang berserakan.

Melihat kesemuanya ini, Tong Poei Pek terkesiap,

serunya tak tertahan:

“Nona Si, sebenarnya apa yang telah terjadi ?”

“Aai…kisahnya amat panjang, kau beristirahatlah

dahulu. aku hendak pergi mencari ayahku”

Dengan terpaksa Tong Poei Pek mengangguk, namun

ditambahi pula dengan beberapa patah kata:

“Nona Si. aku lihat ayahmu sudah tidak berada disini

lagi, lebih baik kita cepat2 tinggalkan tempat ini !”

Kontan Si Soat Ang naik pitam setelah mendengar

perkataan itu, pikirnya:

“Bangsat ! yang kau pikirkan cuma cepat2 sampai

digunung Lak Ban San dan menyelamatkan selembar jiwa

anjingmu, kau anggap jiwa ayahku bukan jiwa manusia ?”

Walaupun ia tak berani mengumbar hawa amarahnya,

namun ia depakkan kakinya juga keatas tanah sambil

berseru ketus:

“Tidak bisa jadi, sehari aku tidak temukan ayahku, satu

hari pula tak akan kutinggalkan benteng Thian It Poo ini !”

Melihat kekerasan hati gadis itu, Tong Poei Pek cuma

bisa menghela napas panjang. sementara Si Soat Ang telah

berkelebat keluar.

Gadis ini masih ingat, ayahnya tertarik oleh ucapan Loei

Sam dan pergi mencari Ciang Oh untuk selanjutnya tidak

pernah muncul kembali. Kemungkinan besar ia masih

berada disana.

Karena itu segera berkelebat kearah tembok pekarangan

yang tinggi itu, dari sana ia berteriak memanggil ayahnya.

Tapi ia tidak memperoleh jawaban, gadis itu mulai

mendengar se olah2 ada seorang sedang menghembuskan

napas, ia segera mundur dua langkah kebelakang kemudian

enjotkan badannya melayang kedalam.

Keadaan halaman dibalik tembok tinggi itu luar biasa,

seluruh permukaan salju telan berubah merah oleh darah,

dua orang manusia penuh berlepotan darah berguling2

diatas tanah.

Dalam sekilas pandang, siapapun akan tahu kalau

mereka berdua sudah kehabisan tenaga, karena itu gerak

gerik mereka sangat lambat, sambil berguling masing2

pihak berusaha untuk merobohkan lawannya, tetapi

serangan mereka sama sekali tak bertenaga, walaupun

bersarang telak di tubuh lawan, namun tidak mendatangkan

reaksi apa2 kecuali dengusan napas mereka makin keras.

Melihat peristiwa tersebut Sie Soat Ang terkesiap sebab

dalam sekilas pandang ia kenali salah satu diantara mereka

berdua bukan lain adalah ayahnya Thiat Poocu.

Si Soat Ang berteriak keras, ia meloncat turun dan

menginjak punggung orang itu keras2 kemudian sekali

sambar ia angkat badan orang tadi dan dilemparkan jauh2

dari kalangan.

Ternyata orang itu bukan lain adalah sitelapak berdarah

Tong Hauw adanya.

Segera tubuh ayahnya dipayang, namun badan Si Liong

sudah lemas tak bertenaga, seluruh wajahnya penuh dengan

darah beku.

Melihat keadaan dari ayahnya, Si Soat Ang tercelos

hatinya, ia merasa seluruh badannya gemetar keras,

mulutnya terbentang lebar namun tak sepatah katapun

dapat diutarakan.

“Soat Ang . . .” Akhirnya Si Lionglah yang buka suara

lebih dahulu, “Aku . . aku tak bisa . . tak bisa mengurusi

dirimu lagi, sungguh menggemaskan . . Liem Hauw Seng . .

keee . . . keparat licik itu . . .”

Berada dalam keadaan seperti ini ternyata ayahnya

masih mengingat Liem Hauw Seng, hal ini membuat Si

Soat Ang amat sedih, ia gertak giginya kencang2.

“Tia. kau tak bakal mati!” serunya.

Si Liong tertawa sedih.

“Aku sudah hampir mati, Ang-jie, ada suatu persoalan

ini tak pernah kuceritakan kepadamu kau . . . kau . . .”

Napasnya terengah-engah, sulit baginya untuk

meneruskan kembali kata2nya.

“Tia. bicaralah per-lahan2?” ujarnya kemudian setelah

tertegun beberapa saat.

“Tidak bisa, aku harus berbicara dulu lalu baru. . . baru

mati, Ang-jie, sewaktu tempo dulu aku . . aku pergi

kedaerah Biauw tujuan terutama bukan lain untuk mencari

kitab pusaka Sam Poo Cinkeng yang diberitakan orang

lenyap di daerah tersebut, banyak orang Bu lim berangkat

kedaerah Biauw untuk mengadu untung termasuk aku

sendiri, setibanya disana, aku gagal menemukan kitab

pusaka Sam Poo Cin-keng tetapi membawa pulang seorang

perempuan, dia adalah Ciang Ooh . . .”

“Tentang kisah itu aku sudah tahu.” tukas Sie Soat Ang

sambil memayang ayahnya kepinggir tembok, “Tia, kau tak

usah bercerita aku sudah mengerti.”

Si Liong mencekal sepasang tangan putrinya erat2 lalu

ujarnya.

“Tidak, ada satu persoalan yang belum aku ketahui

selama banyak tahun ini ilmu silat dari Ciang Ooh sehari

lebih lihay dari hari2 berikutnya tetapi ia jadi makin gila,

aku curiga . . . . curiga…”

“Tia, apakah kati curiga kitab pusaka Sam Poo Cin keng

tersebut sudah terjatuh ketangan Ciang Oh ?” seru Si Soat

Ang tersebut.

“Bukannya curiga, tapi suatu kenyataan” jawab Si Liong

sambil mengangguk. “Soat Ang, Ciang Oh adalah seorang

nenek gila, ia tidak tahu kehebatan dari kitab pusaka Sam

Poo Cin-keng tersebut, hanya menirukan lukisan yang

adapun sudah berhasil melatih dirinya selihai itu, apa lagi

mempelajarinya secara sungguh2 . . . Soat Ang, kau harus

berusaha untuk mendapatkan kitab pusaka Sam Poo Cin

keng tersebut. . .”

“Tia, saat ini Ciang Oh berada dimana ?” buru buru Si

Soat Ang bertanya dengan jantung dag dig dug.

Namun Si Liong tidak menggubris pertanyaan putrinya

ini, ia meneruskan kata2nya:

“Kitab pusaka Sim Poo Cin-keng tersebut memuat

rahasia ilmu hawa murni tingkat tinggi, seandainya kau bisa

mendapatkannya kemudian membuang waktu beberapa

tahun untuk mempelajarinya, niscaya kau jadi manusia

tanpa undangan dikolong langit, kaupun tak . . tak usah

dibawah orang. .”

Bicara sampai disitu mendadak seluruh tubuhnya

menjadi kejang. sepasang jari tangannya yang mencekal

diatas lengan kiri Si Soat Ang makin keras sehingga terasa

amat keras sehingga terasa amat sakit diikuti ia

menghembuskan napas panjang, sepuluh jarinya

mengendor badannya roboh keatas tanah dan tak berkutik

lagi.

Buru2 gadis itu memeriksa pernapasannya ternyata

orang tua she-Si itu sudah menghembuskan napas yang

terakhir.

Lambat2 Si Soat Ang bangun berdiri, dalam sedetik

waktu tersebut ia tak tahu harus menangiskan atau tidak…

Dua hari berselang dia masih seorang nona besar yang

dimanja dan dihormati setiap orang, dua hari kemudian

perubahan yang terjadi amat besar seakan2 dikolong langit

yang demikian luas nya ini hanya tertinggal dia seorang.

Lama sekali ia berdiri mematung sambil menangis hatin

entah berapa waktu sudah lewat ia sendiripun tak tahu

mendadak terdengar gelak tertawa aneh dari Ciang Ooh.

Pada mulanya gelak tertawa Ciang Ooh yang

menyeramkan itu membuat seluruh badannya gemetar

keras, diikuti teringat kembali olehnya akan pesan terakhir

Si Liong sesaat putus nyawa.

Ia tarik napas panjang, saat ini gadis tersebut sadar

persoalan paling penting yang harus segera ia kerjakan

adalah mendapatkan kitab pusaka “Sam Poo Cin-keng”

tersebut.

Setelah memandang sejenak jenasah ayahnya ia enjot

badan kemudian meluncur kearah mana berasalnya suara

tertawa itu.

Dalam benteng Thian li Poo banyak terdapat ruangan,

namun Sie Soat Ang sudah sangat hapal, dalam beberapa

belokkan saja suara gelak tertawa dari Ciang Oh sudah

kedengaran semakin nyata.

Menanti ia keluar dari balik tembok tinggi, tampaklah

Ciang Oh sedang berdiri ditengah halaman sambil tertawa

ter-gelak2.

Ia merandek sejenak, kemudian selangkah demi

selangkah mendekati perempuan itu sampai akhir ya

berhenti empat, lima depa dibelakangnya.

Tiba2 Ciang Oh putar badan, dengan sepasang mata

melotot ia awasi Sie Soat Ang, hingga membuat gadis itu

mengkirik rasanya. tetapi sewaktu teringat kembali akan

kitab pusaka “Sam Poo Cin-keng” rasa takutnya kontan

lenyap tak berbekas, sambil keraskan kepala ia tertawa dan

berkata.

“Kau . . . apakah kau ingin bertemu dengan putrimu?”

Ia tahu Ciang Ooh sangat kuatir terhadap keselamatan

putri kandungnya, karena itu dengan ucapan tersebut ia

coba memancing perempuan itu buka suara.

Sedikitpun tidak salah, Ciang Ooh segera tertawa

menyeringai sehingga kelihatan sebaris giginya yang putih.

“Dia berada dimana?” tanyanya.

“Aku dapat membawa kau untuk pergi menjumpai

dirinya, tetapi aku tak mau membantu dirimu dengan sia2

belaka.” buru2 Si Soat Ang menyahut.

Agaknya Ciang Ooh tidak tahu apa maksud gadis itu

berkata demikian lewat lama sekali ia berkata: “Kau . . .”

Si Soat Ang tertawa paksa.

Mendadak dari belakang tubuh Ciang Ooh

berkumandang datang gelak tertawa yang amat nyaring,

gelak tertawa tersebut membuat selembar nyawa Si Soat

Ang seraya melayang dari rongga badannya dan tak kuasa

ia mundur selangkah ke belakang, hampir2 saja gadis ini tak

sanggup angkat kepalanya.

Sebab dari suara tersebut, ia dapat tahu kalau Loei Sam

telah tiba disana, lama sekali ia baru berani angkat kepala.

Tampak Loei Sam sedang duduk diatas tiang penglari

sambil memandang kearahnya, wajah maupun sikapnya

tenang sekali.

Mungkin sejak semula Loei Sam sudah berada disana,

hanya saja berhubung perhatiannya ditujukan kepadaCiang

Ooh seorang, maka ia tidak menaruh perhatian.

Hatinya tercelos, sebab ia tahu saat ini Tong Poei Pik

terluka parah, tak mungkin ada orang yang bisa menolong

dirinya kecuali Ciang Ooh siperempuan gila tersebut

seorang.

Setelah berusaha untuk menenteramkan hati nya ia

berkata:

“Ciang Oooh, dengarkan perkataanku bukankah kau

hendak menjumpai putrimu ? nah! hajar dahulu orang yang

duduk diatas tiang penglari tersebut”

Perlahan-lahan Ciang Ooh berpaling, dan memandang

sekejap kearah Loei Sam, sementara pemuda itu sambil

tertawa hahahihi memandang kearah perempuan tersebut

tanpa menunjukkan sikap apapun.

Tiba2 Ciang Oh berpaling, dengan wajah penuh

kegusaran ia menghardik “Omong kosong!”

Mendengar secara tiba-2 Ciang Ooh menegur dirinya, Si

Soat Ang amat terperanjat buru2 serunya.

“Kau. . bukankah kau ingin menjumpai putrimu ?”

“Omong kosong !”

Si Soat Ang jadi amat cemas, pada saat itulah terdengar

Loei Sam tertawa ter bahak2. ia melayang turun dari atas

tiang penglari dan berseru:

“Nona Si, sungguh amat sayang rencana kejimu untuk

pinjam golok membunuh orang menemui kegagalan total!”

Melihat Loei Sim meloncat turun dan Ciang Ooh tak

mau mendengarkan perkataannya. Si Soat Ang semakin

terperanjat sehingga sukar di lukiskan dengan kata2, buru2

ia mundur ke belakang.

“Tangkap gadis itu !” mendadak Loei Sam berseru.

Terhadap ucapan Si Soat Ang, perempuan gila itu sama

sekali tidak menggubris sebaliknya begitu Loei Sam berkata.

Ciang Ooh segera bergerak kedepan dibarengi kelima jari

tangannya laksana cakar elang mencengkeram pundak

gadis itu.

Serangan ini bukan saja cepat laksana kilat bahkan

diiringi segulung angin serangan yang amat tajam membuat

Si Soat Ang tak dapat bernapas, sedikit ia merandak

pundaknya terasa sakit dan ia sudah kena dicengkeram oleh

Ciang 0h.

Cengkeraman tersebut makin lama semakin kencang, Si

Soat Ang merasakan tulang bahunya hampiri saja retak,

saking tak tahannya ia menjerit keras2.

Di tengah jeritan itulah selangkah demi selangkah Loei

Sam berjalan menghampiri ia tertawa menyeringai.

setibanya di hadapan gadis itu dengan tangan ia meraba

pipinya kemudian mengecup bibirnya yang kecil.

“Nona Si !” katanya, “Aku sudah tahu bahwa suatu

ketika kau pasti akan kembali kebenteng Thian It Poo, eeei.

ternyata dugaanku sedikitpun tidak meleset !”

Bahu Si Soat Ang kena dicengkeram tak sanggup ia

meronta, terpaksa buru2 gadis ini melengos.

Tetapi dengan paksa Loei Sam putar kembali kepala

gadis itu sehingga berhadap2an kembali dengan dirinya.

“Nona Si !” ia berkata “Rencanamu sungguh bagus

sekali, hendak meminjam tenaga untuk menghadapi diriku,

hanya sayang tindakanmu itu sungguh sangat terlambat

selangkah, ia sudah percaya hanya aku seorang yang bisa

temukan putrinya, bukan begitu ?”

Perempuan gila itu mengangguk tiada henti nya. “Tentu

saja cuma kau seorang !”

Sie Soat Ang serunya, ia tahu kali ini benar2 ia

mengantar diri kemulut macam.

Dengan bangga Loei Sam tertawa tergelak, tiba-tiba ia

mencengkeram pergelangan tangan Sie Soat Ang dan

serunya terhadap CiangOh:

“Lepas tangan !”

Ciang Oh sangat penurut, ia segera melepaskan jari

tangannya dan mengundurkan diri dari kalangan.

“Nona Si !” Seru Loei Sam kemudian sambil tertawa

cabul. “Kamar tidurmu berada dimana ? bawalah aku

kesana, bagaimana kalau kita guna kan kamar tidurmu

sebagai kamar pengantin kita?”

Mendengar ucapan itu Sie Soat Ang merasakan

pandangan matanya jadi gelap, hampir2 saja ia jatuh tidak

sadarkan diri.

“Heeeee… heee… nona Si, apakah kau merasa malu?

heee… semakin malu. kau kelihatan semakin cantik.”

Sambil berkata, ia cekal dahi gadis itu dan siap

diciumnya kembali

Mendadak…

“Loei… Sam…. !” seruan seseorang muncul memecahkan

kesunyian.

Suara itu lemah sama sekali tak bertenaga, walaupun

cuma dua patah kata namun diantara nya orang itu harus

merandek sejenak guna tukar napas.

Loei Sam berpaling tampak olehnya orang itu bukan lain

adalah Tong Poei Pek, air mukanya pucat pasi bagaikan

mayat, pakaiannya yang berwarna putih separuh bagian

sudah dilepoti darah. Waktu itu ia berdiri dengan bantuan

tongkat, seluruh badannya gemetar dan sempoyongan boleh

dikata setiap saat kemungkinan bisa roboh kembali keatas

tanah.

Melihat keadaan tersebut Loei Sam tertawa ter bahak2.

Sie Soat Ang pun tahu Tong Poet Pek sudah terluka parah

tak mungkin pemuda itu menolong dirinya namun ia masih

mempunyai harapan dengan napas ter-engah2 serunya:

“Loei Sam ! dia adalah putra si Bongkok Sakti

Berangasan, kau telah melukai dirinya dengan senjata

rahasia masih juga kau berani berada disini ? ayoh cepat

melarikan diri.”

Mendengar disebutnya nama “si Bongkok Sakti

Berangasan”, air muka Loei Sam berubah hebat.

Melihat hal tersebut, timbul harapan didalam hati Sie

Soat Ang.

Namun kejadian itu hanya berlangsung sekejap mata.

kembali Loei Sam mendongak sambil tertawa ter bahak2.

“Haaa… haaa… haaa… terima kasih atas peringatanmu,

dengan adanya ucapan tersebut maka akupun harus

membasmi rumput ke akar2 nya. kalau tidak besok

dikemudian hari hanya mendatangkan banyak kerepotan

saja buatku.”

“Loei Sam !” Seru Tong poei Pek dengan napas terengah2,

“Hiat Goan Sinkoen sudah berada disekitar sini .”

“Aku tahu, Hiat Goan Sinkoen sudah datang, namun ia

bisa dihadapi oleh CiangOh, apa yang perlu ditakuti?”

“Loei Sam lepaskanlah Sie Soat Ang, aku tidak akan

pikirkan soal luka ini didalam hati, dan… akupun tidak

akan mengungkapnya kepada orang lain.”

Loei Sam mendongak tertawa ter bahak2.

“Haa…haa…haa…suruh aku melepaskan dirinya? hal ini

tak bisa kulakukan, aku lebih suka kau pikirkan soal

terlukamu itu didalam hati.”

Selesai bicara ia ayun telapak tangannya melancarkan

sebuah babatan kedepan

Angin pukulan men-deru2 dan meluncur kearah mana

Tong Poei Pek sedang berdiri . walaupun pemuda itu masih

ada kesempatan untuk meloloskan diri namun berhubung

lukanya sangat parah tak sanggup ia berkelit

Tidak ampun lagi badannya tersapu oleh serangan

tersebut dan mencelat beberapa tombak jauhnya. kemudian

menggeletak tak berkutik lagi.

Sehabis menghajar Tong Poei Pek, Loei Sam berpaling

kembali sambil tertawa tengik godanya:

“Nona Si. sekalipun kau tak mau beritahu kepadaku

dimanakah letak kamar tidurmu, akupun bisa

menemukannya sendiri”

Sambil menyeret Si Soat Ang ia berjalan kedepan. belum

beberapa langkah ia berpaling kembali dan pesannya

kepada CiangOoh:

“Kau tunggu saja aku disini, jangan pergi !”

Ciang Oh mengangguk. Demikianlah Loei Sam segera

menyeret Si Soat Ang berjalan masuk ke dalam ruangan,

setiap menjumpai kamar ia memeriksanya dengan teliti

sampai terakhir sampailah mereka di sebuah kamar yang

indah dan menyiarkan bau parfum perempuan, sekilas

pandang siapapun tahu kamar ini adalah kamar tidur

seorang gadis.

“Ha ha ha ha bukankah berada disini ?” ujar Loei Sam

sambil tertawa terbahak2.

Si Soat Ang menjerit keras, ia berusaha untuk meronta,

namun usahanya gagal sebab seluruh tenaganya serasa

lenyap tak berbekas.

“Kalau kau tidak mau turuti kemauanku, aku bisa

menotok jalan darahmu. bahkan akupun masih punya cara

lain untuk membuat malu diri mu, ayoh kau berani menjerit

lagi tidak ?” ancamnya.

Seluruh tubuh gadis she Si itu gemetar keras,

“Kau. . . lepaskanlah diriku !”

“Tidak dapat, aku tidak akan melepaskan setiap gadis

yang sudah aku pilih, kau tak usah berpikir yang bukan2

lagi !”

“Kau… kau…”

Ia cuma bisa berkata “Kau” belaka. atau secara tiba2

Loei Sam mencengkeram badannya kemudian membanting

tubuhnya keatas pembaringan.

Ambil kesempatan itu ingin sekali Si Soat Ang meloncat

bangun, namun gerakan Loei Sam jauh lebih cepat

sepasang tangannya telah bergerak menekan bahunya

sambil menunjukan senyuman menyeringai.

Berada dalam keadaan seperti itu hampir2 saja Si Soat

Ang jatuh semaput, dengan sekuat tenaga ia coba meronta

namun gagal, teriaknya:

“Cepat lepaskan diriku, aku . . . aku akan beritahu

kepadamu berita tentang kitab pusaka Sam Poo Cin-keng!”

Perkataan ini sungguh manjur sekali, tiba2 Loci Sam

lepas tangan dan mengundurkan diri. Buru2 Si Soat Ang

bangun berdiri sambil membereskan rambutnya ia ter

engah2.

“Ooouw… kiranya kitab pusaka Sam Poo Cinkeng

berada dibenteng Thian It Poo…” Kata Loei Sam sambil

tertawa seram, “Bagus sekali, asalkan kau serahkan kitab

pusaka Sam Poo Cin keng tersebut kepadaku, kau akan

kulepaskan.”

Soat Ang bangun berdiri dan melangkah keluar, ujarnya:

“Kan lebih baik perkataanmu bisa dipercaya.”

“Haa.haa…haa…padahal kaupun seorang gadis perawan

yang suci dan patut disayang, berapa kali kau serahkan diri

buat Liem Hauw Seng dan minta pemuda itu menjamah

badanmu, namun Liem Hauw Seng tidak mau. kau kira aku

tidak tahu tentang persoalan ini ?”

Ucapan ini sangat menghina dan menusuk perasaan Sie

Soat Ang, sebab justru perkataan inilah tak ingin ia dengar

orang lain mengungkapnya.

Namun berada di bawah ancaman Loei Sam. sekalipun

hawa amarah sudah serasa mau meledak, gadis itu tidak

berani banyak berkutik ia bungkam dalam seribu bahasa.

“Baiklah” ujar Loei Sam kembali sambil tertawa.

“beritahu kepadaku dimana kitab pusaka itu berada, asalkan

Sam Poo Cin-keng berhasil kudapat, tak akan kuganggu

dirimu barang seujung rambutpun”

Si Soat Ang pun tabu siapa yang mendapatkan kitab

pusaka Sam Po Cin-keng tersebut, berarti dialah yang bisa

malang melintang dikolong langit tanpa tandingan,

seandainya Loei Sam berhasil mendapatkan kitab tersebut,

maka ia tak jeri terhadap Hiat Goan Sinkoen maupun Si

Thay sian seng, tetapi dalam keadaan seperti ini ia merasa

menolong diri sendiri jauh lebih penting, karena itu ujarnya

dengan cepat:

“Kau… kau harus mengangkat sumpah keji lebih dahulu,

kemudian akan kuberitahukan soal ini kepadamu!”

“Bocah bagus, kau janganlah tidak tahu diri kalau

membuat aku jadi mendongkol akan kunodai dahulu

badanmu, setelah kau jadi milikku, akupun tidak akan takut

kau tak suka beritahu kepadaku dimana kitab pusaka Sam

Poo Cin-keng tersebut disimpan.”

Mendengar ancaman itu Si Soat Ang sangat terperanjat

buru2 ia goyangkan tangannya berulang kali.

“Jaa… jangan… jangan… aku akan berbicara kitab

pusaka Sam Poo Cing keng tersebut berada didalam kamar

rahasia dipuncak pagoda yang biasanya digunakan untuk

mengurung Ciang Ooh, ayahkulah yang meletakkannya

disitu.”

Apa yang diucapkan Si Soat Ang bukan kata2

sejujurnya, namun berada dalam keadaan seperti ini,

terpaksa dengan keraskan kepala ia menambahkan:

“Aku tak akan membohongi dirimu”.

“Haah… haa… haaa… aku percaya kau tidak akan berani

berbohong, tetapi kau harus tahu watakku sangat kukoay

sekali. kalau suruh aku mempercayai perkataanku begitu

saja sih tidak begini mudah kau katakan kitab pusaka Sam

Poo Cin-keng berada dipuncak pagoda kalau begitu mari

kita bersama2 setelah kitab tersebut kudapatkan tentu saja

aku tidak akan menyusahkan dirimu.”

Mendengar perkataan itu Sie Soat Ang mengeluh, ia

hanya bermaksud membohongi Loei Sam agar ada

kesempatan baginya untuk melarikan diri, siapa sangka

pemuda itu minta ia pergi berbareng.

Namun gadis inipun cukup cerdik, ia bersikap masa

bodoh dan seakan2 tidak pernah terjadi sesuatu

peristiwapun.

“Baik, mari kita pergi ber -sama2 !” jawabnya.

Loei Sim adalah seorang manusia licik, sewaktu

mengutarakan beberapa patah kata tersebut dengan telitinya

ia memperhatikan perubahan wajah Sie Soat Ang, ia

temukan gadis tersebut sama sekali tidak kelihatan gugup,

se olah2 apa yang diucapkan adalah kenyataan, hatinya jadi

sangat kegirangan.

Sebab apabila kitab pusaka Sam Poo Cin-keng berhasil

didapatkan, maka ia ingin berbuat apa semuanya akan

berhasil

“Bocah-manis mari kita pergi cari bersama” serunya

sambil tertawa dan menarik tangan gadis tersebut. Berada

dalam keadaan seperti ini Sie Soat Ang pun tidak

membantah. ia segera berjalan keluar lebih dahulu.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka

dibawah pagoda, pintu pagoda tertutup rapat, namun

dengan sekali tendangan pintu tadi terbuka lebar. Suasana

dalam pagoda gelap gulita, bau apek segera tersiar keluar

begitu terbuka lebar.

“Mengapa kuncinya sudah putus ?” tanya Loei Sam

dengan nada curiga.

Si Soat Ang tertawa getir, ia tahu mulai sekarang ia

harus bertindak lebih hati2 lagi, sedikit saja ia bertindak

salah berarti mendatangkan bencana buat diri sendiri.

“Ruang rahasia ini sebenarnya merupakan tempat tinggal

Ciang Ooh.” ia menjawab perlahan “Se… sekarang ia sudah

pergi. tentu saja kuncinyapun putus !”

Loei Sam tidak banyak bicara lagi, ia menarik tangan Si

Soat Ang dibawanya masuk ke dalam pagoda.

Suasana dalam pagoda tersebut bukan saja berbau apek

dan lembab bahkan gelap gulita sehingga hampir tak

kelihatan apapun. Sie Soat Ang dan Loei Sam berdiri

dengan menempel di dinding, setelah lewat seperminum teh

kemudian mereka mulai dapat melihat secara lapar2,

ruangan tersebut dihubungkan dengan sebuah tangga yang

menghubungkan ketempat tadi dengan tingkat lebih atas.

Dari tingkat pertama menuju ketingkat kedua tingginya

ada tujuh, delapan tombak. dengan cermat Loei Sam

memeriksa keadaan disekitar sana, kemudian tanyanya.

“Apakah benda itu ada ditingkat paling atas?” sampai

saat inilah Si Soat Ang belum berhasil menemukan cara

untuk meloloskan diri.

Perasaannya sangat kalut, terpaksa ia mengangguk.

“Benar!”

“Baik, kalau begitu mari kita naik keatas ” ujar Loei Sam

sambil tertawa “Seandainya dalam ruang rahasia itu tidak

ada. Hmm… hmm apa yang bakal terjadi dalam ruangan

tersebut tentu kau paham bukan?”

Sembari berkata Loei Sam mencengkeram pergelangan

tangan Si Soat Ang erat2 kemudian menyentaknya sekuat

tenaga, seketika itu juga gadis tersebut merasakan seluruh

tubuhnya jadi kaku.

“Aku tahu aku tahu!” serunya berulang kali, ia ingin

sekali menangis tersedu-sedu, namun sekuat tenaga

ditahannya maksud tersebut.

Sambil menarik gadis Soat Ang, Loei sam berkelebat

naik keloteng dalam sekejap mata mereka sudah berada

diseparuh pagoda sementara Si Soat Ang belum berhasil

juga mendapat kesempatan untuk meloloskan diri hatinya

mulai kebat kebit.

Sebentar kemudian mereka sudah tiba dipuncak paling

atas, sambil berhenti didepan pintu tanya Loei Sam:

“Apakah ditempat ini?”

Dengan hati kebat kebit terpaksa Si Soat Ang

mengangguk.

“Benar, memang ada disitu namun kau tak boleh masuk

kedalam begitu saja, disana banyak dipasang alat rahasia.”

Mendengar perkataan itu Loei sam tertegun, namun

sebentar kemudian ia sudah tertawa.

“Nona Si. buat apa kau membobongi diriku? seandainya

dalam ruang rahasia ini, ada alat rahasianya pantai kalau

kau suruh aku masuk kedalam, mengapa kau malah suruh

aku berhati-hati?”

“Kalau kau tidak percaya ya sudahlah, silahkan dorong

pintu dan masuk sendiri kedalam.”

Ucapan ini diutarakan dalam keadaan apa boleh buat,

namun bagi Loei Sam perkataan itu malah menggerakkan

hatinya, mungkinkah dalam ruangan benar2 ada alat

rahasianya ?

Ia segera tertawa dingin.

“Bagus sekali, kalau begitu, kau masuklah lebih dahulu !”

Ia ayun tangannya mendorong tubuh Si Soat Ang

kedepan ruangan, gadis itu tidak menyangka sang pemuda

tersebut bisa melakukan hal ini, tak tahan lagi dengan

sempoyongan ia terjatuh kedalam ruang rahasia itu.

Si Soat Ang adalah seorang gadis cerdik, begitu terjatuh

kedalam pintu ia segera sadar inilah kesempatan baik

baginya untuk meloloskan diri.

Begitu badannya terjatuh kedalam ruangan, kaki kiri dan

kaki kanannya berputar cepat menutup pintu itu kemudian

sang badan berputar kencang menyantek pintu tersebut

rapat2.

Loei Sam yang ada diluar sadar dirinya tertipu sambil

meraung keras ia melancarkan sebuah pukulan dahsyat

keatas pintu, Betapa dahsyatnya tenaga pukulan itu, sampai

Si Soat Ang yang ada di balik pintupun terpental mundur

tiga, lima langkah dan jatuh terlentang diatas sebuah

pembaringan.

Berhubung besarnya tenaga pantulan itu, maka sewaktu

badannya terjatuh diatas pembaringan dengan

menimbulkan suara keras pembaringan tersebut patah jadi

dua, barang2 yang ada disekitarnya menindih badannya

semua.

Buru2 ia mengesampingkan barang2 yang menindihi

badannya kemudian meloncat bangun.

Ketika ia meloncat bangun, mendadak gadis ini

menemukan selembar kain sutera menggeletak diatas tanah,

diatas kain mantera tadi terlukislah pelbagai macam bentuk

manusia yang aneh, sekalipun lukisan itu amat sederhana

namun dapat dilihat semuanya berdandankan toosu!

Kain sutera adalah benda tipis seandainya di cekal

mungkin cuma segenggam. namun kalau dibentangkan

tentu panjang sekali, Hati Si Soat Ang rada bergerak, segera

ia ambil benda tadi lebih dekat, tampak beratus ratus tulisan

kecil tertera disana.

Jantung Si Soat Ang berdebar keras, tidak sempat dibaca

lebih jauh ia segera masukkan benda tadi kedalam saku dan

angkat kepala mencari jalan keluar.

Sementara itu Loei Sam sedang mengetuk pintu dengan

sekuat tenaga, dengan menimbulkan getaran keras

menggoncangkan pintu tiada henti.

Setiap saat ada kemungkinan terpukul jebol, Si Soat Ang

yang belum berhasil menemukan jalan keluar diam2

mengeluh.

Dalam ruang rahasia itu kecuali sebuah pintu hanya

terdapat sebuah jendela kecil. sedang diatas jendela

terpancang besi yang kuat dan kasar..

“Braak…” tiba2 pintu ruangan terpukul jebol sebuah

lubang, namun Loei Sam tidak langsung masuk kedalam,

sambil mengintip kedalam ia tertawa haha hihi.

“Hai nona Si. apakah kau baik2 saja ?”

Si Soat Ang tersudut, tak mungkin baginya untuk

meloloskan diri dari ruangan itu, segera di sambarnya

sebuah rak lilin kemudian sekuat tenaga disambit kedepan.

Loei Sam menyengir, tangannya bergerak cepat

menangkap rak lilin tadi kemudian berseru kembali:

“Nona Si, mengapa kau buang rak lilin ini ? nanti lilin

pengantin kita akan dipasang dimana?”

Si Soat Ang makin ketakutan, tiba2 teriaknya: “Kalau

kau berani masuk, aku…aku akan bunuh diri !”

“Haa…haa…haa…baik, baik kalau begitu aku tidak akan

masuk kedalam”

Sembari berkata pemuda itu benar2 menarik kembali

badannya.

Si Soat Ang tertawa getir, mungkinkah nasibnya begitu

baik ? sementara ia masih berpikir mendadak . . , Plak !

jalan darah lemas dipinggangnya jadi kaku, diikuti seluruh

badannya tak dapat berkutik

Kiranya sembari mengundurkan diri kebelakang tadi

Loei Sam telah mengambil sekeping kayu dan disambit

kedepan, seketika itu jalan darah Si Soat Ang tertotok dan

badannya tetap tersandar diujung tembok.

Melihat mangsanya tak berkutik lagi. Loei Sam kerahkan

tenaganya mendorong pintu ruangan itu dan menerobos

masuk kedalam.

Dengan langkah lebar ia berjalan mendekati Si Soat Ang.

tangan kirinya bekerja keras memeluk pinggang gadis itu

sementara tangan kanannya dengan berani menerobos

bajunya dan siap menggerayangi alat vital gadis iiu,

Sejak dipeluk oleh Loei Sam, Si Soat Ang merasa

kepalanya pusing tujuh keliling, hampir2 ia jatuh tidak

sadarkan diri, saat ini kena digerayangi alat vitalnya ia

semakin lemas.

Bagaimanapun dia masih seorang gadis perawan, selama

hidup belum pernah ada laki-laki yang pernah menjamah

badannya namun apa gunanya cemas atau gelisah dalam

keadaan seperti ini ? jalan darahnya telah tertotok.

Tangan Loei Sam yang telah berada didalam dada Sie

Soat Ang mendadak tersentuh dengan kain sutra tersebut,

pada mulanya pemuda itu tidak menaruh perhatian, sambil

tertawa gelak ujarnya: “Ooouw, banyak benar benda yang

ada didalam sakumu.”

Ia ambil keluar kain sutra tadi kemudian di buang,

namun pada saat itulah ia telah menemukan gambar

manusia diatas kain tersebut

Ia agak tertegun, buru2 Sie Soat Ang dilepaskan dan

memungut kembali kain sutra tadi, dengan cepat ia

membentang kain tadi, berhasil menemukan empat tulisan

kuno yang bertuliskan Sam Poo Cin Keng.

Loei Sam kegirangan setengah mati saking girangnya

sampai sukar dilukiskan dengan kata2.

Lama sekali ia tertegun, kurang lebih seperminuman teh

kemudian ia baru bisa tenangkan hati dan angkat kepala.

Tiba2 ia tersentak kaget, sebab entah sejak kapan

didepan pintu telah berdiri Ciang Oh dengan seramnya:

Terpaksa Loei Sam menunjukkan senyuman paksa,

namun sepasang mata Ciang Oh dengan tajam

memperhatikan terus diatas kain sutera itu.

“Lepaskan” serunya dengan suara dingin. “Barang itu

milikku !”

“Eeeei . . . apakah kau tidak ingin aku carikan kembali

putrimu ?”

Ciang Oh tertegun, tetapi dengan cepat kembali

membentak:

“Lepaskan, aku suruh kau letakkan kembali barang itu.

jangan kau ambil barang milikku itu !”

Pada saat ini Loei Sam betul serba salah, sekarang ia

telah mendapatkan kitab pusaka “Sam Poo Cin-keng” asal

dilatih beberapa tahun lagi kepandaian silatnya tentu

memperoleh kemajuan pesat. suruh ia lepas tangan tentu

saja tidak sanggup.

Otaknya berputar keras, mendadak ujarnya sambil

tertawa:

“Baiklah, letakkan kembali ya letakkan kembali, barang

ini memangnya bukan barang berharga.”

Sembari berkata ia letakkan kembali kitab pusaka Sam

Poo Cin-keng itu keatas meja, ia ada maksud sewaktu

Ciang Ooh tidak perhatikan nanti, kitab tersebut akan dicuri

kembali.

Siapa sangka baru saja ia letakkan kain tadi keatas meja,

laksana kilat Ciang Ooh telah merampasnya kembali.

“Kaupun bukan manusia baik” teriaknya dengan mata

melotot, “Terang2an benda ini adalah barang mustika,

kenapa kau katakan tidak berguna.”

Diam2 Loei Sam terperanjat, namun wajahnya tetap

tenang2 saja.

“Apa anehnya dengan barang semacam ini, apakah kau

suka karena sulamannya indah ? sulaman itu kalah jauh

dengan permadani.”

“Kau tahu barang apakah ini ?”

Loei Sam menduga Ciang Ooh hanya seorang gadis suku

Biauw yang tak tahu kalau benda itu adalah kitab Sam Poo

Cin-keng suatu mustika dalam belajar silat, karena itu ia

tertawa.

“Barang apakah itu? kan tidak lebih cuma kain siluman

belaka!” sahutnya.

“Haa , , haa , . kain siluman? terus terang kuberitahu

kepada-mu, benda ini adalah Sam Poo Cin-keng kalau kita

lakukan seperti gambar yang tertera diatas kain ini maka

bertemu dengan siapapun tidak akan takut.”

Loei Sam makin terperanjat ia tahu kesempatan untuk

mendapatkan kitab Sam Poo Cin-keng itu semakin tipis,

keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh

tubuhnya.

Namun ia masih tertawa paksa.

“Aaah, kau sedang bergurau. siapa yang bilang?” ia

berseru.

“Loo Liong-tauw yang bilang.”

“Siapakah Loo Liong tauw itu?”

“Loo Liong-tauw adalah seorang manusia aneh di karang

bunga bwee, katanya ia telah berusia seratus dua puluh

tahun, dia paling suka diriku karena itu benda ini

dihadiahkan kepadaku sedangkan dia dapatkan barang itu

dari seorang toosu tua yang hampir mati, waktu itu aku

baru berusia sepuluh tahun, ia pesan kepadaku agar jangan

bercerita kepada siapapun.”

“Lalu apa sebabnya sekarang kau berbicara padaku,”

Balik tanya Loei Sam sambil tertawa. Pada dasarnya Ciang

Ooh memang gila, kena ditanya Loei Sam ia tak dapat

menjawab akhirnya ia berkata:

“Tadi kau bilang hendak membawa aku mencari putriku,

sekarang putriku ada dimana cepat katakan?”

Suatu ingatan berkelebat dalam benak Loei Sam,

mendadak ia menuding keluar pintu.

“Coba kau lihat, bukankah dia adalah putri

kesayanganmu!”

“Dimana!”

Sambil berseru ia berpaling, pada saat itulah secepat kilat

Loei Sam mencabut keluar pisau belatinya kemudian

menubruk kedepan melancarkan sebuah tusukan.

Serangan bokongan ini datangnya laksana kilat. lagi pula

Ciang Ooh tidak bersiap sedia, tusukan pisau belati itu

dengan telak bersarang di punggungnya sementara pukulan

telapak kirinya pun mengenai sasarannya.

Tubuh Ciang Ooh terpental kedepan diikuti tubuh Loei

Sam berkelebat keluar terdengar, suara hiruk pikuk dianak

tangga, lama sekali suara itu baru sirap.

Walaupun Si Soat Ang tertotok jalan darahnya namun

semua peristiwa dapat dilihat dengan jelas, ia melihat pisau

belati itu bersarang di-punggung Ciang Ooh hingga

terbenam seluruh-nya. bahkan sebuah hantaman Loei Sam

bersarang pula ditubuhnya.

Ia menduga Ciang Ooh tak bakal bisa hidup, kitab Sam

Poo Cin keng pasti terjatuh ke tangan Loei Sam,

mungkinkah pemuda itu suka lepaskan dirinya setelah

mendapatkan kitab mustika?

Inilah kesempatan baik bagi dia untuk melarikan diri,

namun justru pada saat ini sedikit tenagapun tak sanggup

dikerahkan, hatinya jadi sangat gelisah.

Mungkinkah Loei Sam naik keloteng lagi ? maukah

pemuda itu melepaskan dirinya ? dua pertanyaan ini

berbolak balik tiada hentinya didalam hati.

Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun , ,

. begitu sepi se akan2 dunia sudah kiamat.

Dengan hati berdebat Sie Soat Ang salurkan hawa

murninya mengelilingi seluruh badan, beberapa saat

kemudian jalan darahnya telah bebas, ia segera meloncat

bangun dan melongok kebawah loteng.

Suasana tenang sunyi, tak kelihatan sesosok bayangan

manusiapun.

Sie Soat Ang berkelebat turun kebawah, sampai tingkat

terakhir, namun bukan saja Loei Sam tidak kelihatan,

jenasah CiangOh pun lenyap tak berbekas.

Suatu misteri menyelimuti benaknya, namun dalam

keadaan seperti ini tak ada waktu baginya untuk berpikir,

kembali ia berlari ke depan.

“Kemana aku harus pergi ?” ingatan tersebut berkelebat

dalam benaknya.

Benteng Thian It Poo sudah buyar, ayahnya sudah mati

dan tak mungkin ia berdiam disitu lagi, kemana ia harus

pergi ?

Tiba2 bayangan Tong Poei Pek berkelebat dalam

benaknya, suhu pemuda ini adalah si Bongkok Sakti

seorang jago yang tersohor dikolong langit, seumpama ia

dapat mengantar si pemuda itu sampai gunung Lak Ban

San, bukan dengan demikian si Bongkok sakti akan

berhutang budi kepadanya ?

Teringat akan hal ini dengan cepat ia lari kedepan

tembok dimana Tong Poei Pek menggeletak, ternyata

pemuda itu masih belum putus nyawanya, dengan cepat

gadis itu memayangnya bangun.

“Tong Poei Toako !” ia berseru keras.

Sie Soat Ang tidak sempat berpikir panjang lagi, buru2 ia

lari kedalam kamarnya untuk membereskan sedikit

buntalan obat2an, kemudian mencari sebuah kereta,

melayang Tong Poei Pek kedalam kereta, menjejalkan

obat2an kedalam mulut pemuda itu dan melarikan

keretanya meninggalkan benteng Thian It Poo.

Kereta dilarikan kearah selatan, sehari semalam berjalan

terus tiada hentinya sampai senja hari kedua sampailah

mereka disebuah kota kecil.

Sie Soat Ang langsung menjalankan keretanya kedepan

sebuah rumah penginapan, menanti ia loncat turun dari

kereta dan memeriksa keadaan Tong Poei Pek, pemuda itu

dalam keadaan keritis, napasnya sudah tinggal sedikit,

bahkan sebentar lagi nyawanya bakal melayang.

Ia segera berpaling kearah pemilik rumah penginapan itu

dan berkata:

“Temanku sedang sakit parah, apakah disini ada tabib

kenamaan ?”

“Ada, ada, silahkan beristirahat dahulu kedalam”

Dengan dipayang sang gadis, Tong Poei Pek dibawa masuk

kedalam rumah penginapan, walaupun kedai itu kecil

namun bersih dan nyaman,

Ketika itulah mendadak pemuda she-Tong Poei merintih

lirih.

Mendengar suara itu, Si Soat Ang kegirangan, buru2

teriaknya:

“Tong-poei Toako !”

Ia berteriak beberapa kali, namun tak kedengaran

jawaban. sepasang mata pemuda itu per-lahan2

membentang, wajahnya pucat pias dan kelihatan kurus

sekali, matanya cekung, sinar matanya pudar, lama sekali ia

memandang Si Soat Ang dengan terpesona namun

mulutnya tetap membungkam.

Beberapa saat kemudian ia pejamkan matanya kembali

dan mendesis lirih:

“Aku.. aku ada dimana ?”

“Kau berada dirumah penginapan aku sedang

menghantar kau pulang kegunung Lak Ban-san.”

Namun sayang apa yang dikatakan gadis itu tidak

terdengar. pemuda itu kembali bergumam seorang diri:

“Aku… aku ingin bertemu dengan seseorang aku…

sebelum mati aku ingin berjumpa sekali lagi dengan dia…”

Si Soat Ang tertegun, ia tak tahu apa yang dimaksudkan

dengan Tong-poei Pek… Terdengar pemuda itu

menghembuskan napas berulang kali, lalu ujarnya kembali.

“Suhu, aku… aku ingin bertemu dengan nona Si… Si

Soat Ang… nona Si!”

Merah padam selembar wajah dan itu dalam keadaan

seperti ini timbul suatu perasaan aneh pula dihati Si Soat

Ang buru2 dicekalnya tangan Tong-poei Pek yang dingin

bagaikan es itu.

“Tong poei toako, aku ada disini, aku berada disisimu.”

Perlahan-lahan Tong poei Pek buka matanya, biji

matanya berputar kesana kemari dengan payah, seakanakan

sedang mencari sesuatu namun ia tidak melihat bahwa

gadis yang dicari sebenarnya ada didepan mata.

Melihat kejadian itu Si Soat Ang amat bersedih hati.

“Tong poei toako, aku sudah berpesan kepada pemilik

rumah penginapan untuk mengundang tabib, baik2lah kau

beristirahat.”

Tong poei Pek menghembuskan napas panjang matanya

dipejamkan kembali sementara mulutnya tetap bergumam

memanggil nama Si Soat Ang.

Walaupun Soat Ang seorang gadis keji, namun ia tetap

seorang dara muda, sejak kehilangan Liem Houw Seng ia

selalu merana, merana seorang diri, sekarang tiba2 dalam

hatinya yang kosong terisi oleh pemuda lain, timbul suatu

perasaan aneh dalam benaknya perasaan itu makin lama

semakin menebal, tiap kali Tongpoei Pek menyebut

namanya, rasa aneh itu semakin menebal.

Kurang lebih setengah jam kemudian terdengar suara

langkah manusia berkumandang datang diikuti seorang

sang pemilik rumah penginapan:

“Nyonya cilik, tabib sudah datang.”

Sekali lagi merah padam selembar wajah Si Soat Ang,

hatinya mangkel dan ingin marah namun teringat bahwa

dia benda sekamar dengan Tong-poei Pek, tak bisa

disalahkan kalau pemilik rumah penginapan itu menyebut

demikian kepadanya.

Dalam pada itu si pemilik rumah penginapan dengan

membawa seorang kakek tua kurus berusia enam puluh

tahunan berjalan masuk kedalam kamar.

Kakek tua itu melirik sekejap ke arah Tong Poei Pek,

gelengkan kepalanya berulang kali.

“Orang ini sudah tak berguna lagi buat apa panggil aku?”

“Barusan saja dia masih bicara dengan diriku siapa yang

bilang sudah tak berguna ?” Kontan Si Soat Ang sangat

gusar.

Melihat dandanan Soat Ang mengerikan dimana bajunya

singsat dengan sebilah pedang menggembol

dipunggungnya, buru2 tabib itu mencekal urat nadi Tong

Poei Pek dan memeriksa denyutan jantungnya, namun

kembali ia menggeleng.

“Thayhu, bagaimana?” gadis itu bertanya.

“Sudah tidak ketolong lagi, paling banter tinggal satu

jam.”

“Thay hu coba carikan akal agar ia bisa hidup beberapa

hari lagi asalkan bisa hidup tujuh delapan hari lagi, aku bisa

menghantar dia kesuatu tempat yang pasti dapat

menyelamatkan jiwanya.”

Sekali lagi tabib itu menggeleng, “Raja akhirat sudah

tentukan mati pada kentongan ketiga, siapa yang dapat

menahan sampai kentongan kelima ? namun… namun…

seandainya kau bisa mendapatkan jinsom berusia seratus

tahun dan setiap hari menolongnya dengan cairan jin som

kental maka usianya mungkin bisa diperpanjang tujuh

delapan hari lagi.”

“Kalau begitu bagus sekali, apakah jinsom semacam itu

bisa dibeli dikedat obat ?”

“Nyonya cilik jinsom semacam itu adalah benda mustika

mana mungkin bisa dibeli pada kedai obat biasa?” tabib itu

tertawa, “Beruntung daerah ini adalah penghasil jinsom

yang paliag banyak, kalau kau ingin mencari mungkin

masih didapat…”

Bicara sampai disitu mendadak tabib itu membungkam.

Melihat tabib itu ragu, Si Soat Ang tidak sabaran segera

serunya:

“Hey, katakan saja jinsom itu terdapat dimana, kenapa

bicara tidak keruan begitu?”

Melihat alis gadis itu berkerut walaupun kelihatan cantik

namun galak. tabib itu ketakutan, buru2 sambungnya:

“Nyonya cilik, dengarkan dulu perkataanku sampai

selesai.”

“Baik, cepat katakan!” Seru Si Soat Ang mendongkol.

“Diujung jalan kota sebelah barat terdapat satu keluarga

she Ciang yang kaya raya dan khusus berdagang jinsom

kemungkinan besar dirumah mereka tersimpan jinsom

berusia seratus tahun, asalkan nyonya cilik punya uang

emas, tidak sulit untuk mendapatkan delapan, sembilan

batang . . . .”

Belum habis ia bicara Si Soat Ang sudah cabut keluar

pedangnya, kepada pemilik rumah penginapan itu pesannya

“Baik2 merawat dirinya aku sebentar lagi akan kembali!”

Laksana kilat ia meluncur keluar dari ruangan kemudian

dalam sekejap mata lenyap tak berbekas.

Sementara itu setelah ada diluar rumah penginapan,

dengan mengikuti jalan raya gadis itu lari terus ke sebelah

Barat, akhirnya sampailah didepan sebuah bangunan yang

megah dan kukuh, sepintas lalu kelihatan begitu

mengerikan.

Ketika dia tiba didepan pintu masuk, empat orang

pelayan segera maju menyambut kedatangannya sambil

mengamati gadis itu dari atas sampai kebawah.

Melihat sikap serta lagak yang tengik dari pelayan2 itu,

dalam hati Si Soat Ang sangat mendongkol namun teringat

kehadirannya untuk mohon bantuan, maka ia tahan rasa

dongkol tersebut.

“Apakah majikan kalian ada dirumah ?” ia bertanya.

“Hi…hii… hii… nona mencari majikanku ada urusan apa

?” Goda seorang pelayan sambil tertawa menyengir.

“Asalkan kau membawa aku berjumpa dengan

majikanmu sudah cukup !”

“Majikan kami sangat peramah, sedang nona berwajah

cantik…”

Ucapan tengik selanjutnya belum sempat diutarakan Si

Soat Ang sudah tak tahan lagi, tangannya membalik

langsung memerseni sebuah tempelengan keatas wajah

pelayan tadi.

“Plook!” pelayan itu menjerit kesakitan dan jatuh

terjengkang kebelakang, darah segar tetes demi tetes

mengucur keluar dari ujung bibirnya, tamparan tersebut

amat berat sekali.

Tiga orang pelayan lainnya melihat kejadian itu

bersama2 meraung dan menunjuk ke depan, Si Soat Ang

tidak kasih hati, pedangnya diloloskan dari sarung

bersamaan itu pula tangan kiri nya meraba cambuk

dipinggang, asalkan mereka bertiga meluruk berbareng, dia

akan menghajar orang itu habis2an.

Disaat tegang itulah mendadak dari dalam ruangan

muncul seseorang yang langsung menjura kearah Si Soat

Ang.

“Nona tunggu sebentar, ada perkataan kita rundingkan

per-lahan2″

Si Soat Ang melirik sekejap kearah orang itu dia adalah

seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, wajahnya

putih dan halus, sepintas lalu seakan2 seorang pelajar,

namun sepasang matanya bersinar tajam, siapapun akan

tahu kalau ia memiliki ilmu silat sangat lihay.

Gadis itu terkesiap, sewaktu datang pertama kali tadi,

dalam hatinya menganggap rumah itu adalah milik

pedagang biasa, siapa nyana pedagang tersebut bukan

pedagang biasa.

Dalam pada itu lelaki setengah baya itu sudah menjura

dan bertanya:

“Nona datang kemari entah ada maksud apa ?”

“Aku ingin berjumpa dengan majikan rumah ini, ada

sedikit permintaan yang ingin kuajukan” Sahut gadis itu

sambil balas menjura.

“Aaah, benar. Eeei pelayan, siapkan dua puluh tail perak

dan berikan kepada nona ini sebagai ongkos jalan.”

Merah padam selembar wajah Si Soat Ang, dengan agak

jengkel segera teriaknya:

“Hey. siapa yang bilang aku datang kemari untuk minta

ongkos jalan ? apa maksudmu yang sebenarnya ?”

Lelaki setengah baya itu tertegun, sebelum sempat

menjawab, terdengar dari dalam ruangan berkumandang

datang suara yang tidak sedap di dengar.

“Ciang Loo sam, kau sungguh keterlaluan sekali,

terhadap nona Si dari Benteng Thian It Poo masa kau cuma

kasih dua puluh tahil perak, bukankah hal ini keterlaluan

pandang enteng dirinya.”

Kata2 itu sangat menusuk perasaan namun terasa

dikenal, gadis itu berpaling, terlihatlah olehnya didepan

pintu telah muncul seorang manusia kate berbadan gemuk

dan berwajah buas, orang itu bukan lain adalah siMalaikat

Kelabang Emas Li Siauw.

Sementara Sie Soat Ang masih tertegun, lelaki setengah

baya itu sudah mendongak tertawa ter bahak-bahak.

“Haaa.. haaa… haaa… aku betul2 punya mata tak kenal

gunung Thay san, kiranya anda adalah Sie Soat Ang, nona

Si, kalau bukan ditegur Li Sin koen, mungkin aku

sendiripun tidak mengenali diri nona.”

Sie Soat Ang belum tahu pihak lawan berasal dari aliran

mana, namun ditinjau dari kehadiran si Malaikat Kelabang

Emas disana, ia tahu pihak lawan bukan manusia baik.

“Andakah tuan rumah bangunan ini ?” gadis itu bertanya

dengan nada berat.

“Ooouw bukan… bukan kalau masalah besar biasanya

diputuskan oleh toako, namun kalau cuma masalah tetek

bengek biasa. cayhe bisa memutuskan sendiri.”

“Baik, kalau begitu aku bicara terus terang saja, aku

dengar orang bilang kalian berdagang jinsom. Seorang

sahabatku terluka parah, atas petunjuk tabib ia

membutuhkan tujuh delapan batang jin som seratus tahun.

karena itu sengaja aku datang kemari untuk mohon dari

kalian.”

Air muka Ciang Loo sam berobah hebat haruslah

diketahui sejak kecil Si Soat Ang dibesarkan dalam

lingkungan kemewahan ia tidak tahu bagaimana susahnya

seseorang mendaki gunung untuk memetik jinsom, bahkan

kadang kala harus mengorbankan jiwa, sebatang jinsom

kalau dijual kedalam perbatasan mungkin harganya

mencapai selaksa tahil perak, tentu saja mereka jadi kaget

setelah gadis itu buka suara minta tujuh-delapan batang

sekaligus.

“Tentang soal ini., tentang soal ini…hee…hee… entah

sahabat anda telah menderita luka apa?” kata Ciang Loosam

tergagap, “Kemungkinan sekali kami mempunyai obat

lain yang bisa menyembuhkan lukanya. Jinsom seratus

tahun hanya bisa perpanjang usia, tak mungkin bisa

digunakan menyembuhkan luka.”

“Soal itu tidak mengapa. asalkan sahabatku bisa hidup

sepuluh hari saja sudah cukup, aku hendak menghantar

kerumah suhunya digunung Lak Ban-san. gurunya tentu

bisa turun tangan menyembuhkan lukanya.”

Kata2 “Lak Boan San” seketika membuat air maka Ciang

Loo-sam berubah hebat, namun Si Soat Ang sebagai

seorang jago yang tidak berpengalaman sama sekali tidak

memperhatikan hal tersebut.

“Apakah sahabatmu itu tinggal digunung Lak Boan san?

entah siapakah namanya?” tanya Ciang Loo sam setelah

menanti gadis itu selesai berbicara

“Dia adalah Tonghong Pek murid dari Si Bongkok Sakti

berangasan.”

“Apa dia?” Teriak Ciang Loo sam sambil mundur

selangkah kebelakang- “Sekarang dia ada dimana?”

Walaupun merasa urusan sedikit aneh, Si Soat Ang tidak

ambil perhatian.

“Dia berada dirumah penginapan Thay lay . .” sahutnya.

Baru saja perkataan itu diutarakan, dari balik pintu

muncul dua puluh orang bersenjata lengkap, diikuti Ciang

Loo sam berteriak keras:

“Tong poei Pek ada dirumah penginapan Thay lay, ia

terluka pula, namun kalian harus bekerja hati-2″

Seorang lelaki berbaju hitam dengan sebuah sulaman

tengkorak di depan dadanya munculkan diri pula dari balik

pintu, gerakannya cepat lagi gesit bagaikan bayangan setan,

tahu2 ia sudah berada disisi gadis itu.

“Loosam !” serunya, “Apakah Tong-poei Pek

menghantarkan diri ? dia ada dimana . . .”

“Jie-ko, dia berada dirumah penginapan Thay lay, kali

ini kita tak boleh dia loloskan diri dalam keadaan selamat.”

Lelaki itu menjerit aneh kemudian berkelebat lenyap.

Sewaktu menjumpai lelaki itu munculkan diri, hati Si

Soat Ang sudah kebat kebit, saat ini ia tak tahan diri lagi

serunya.

“Dia. . . dia bukan . . . bukan dia adalah Soat San Hwie

Mo ? si Tengkorak emas Ciang Ling im.”

“Ketajaman mata nona Si luar biasa, dia memang Jie-ko

ku,” sahut lelaki setengah baya di hadapannya.

Hati gadis itu tercekam.

“Lalu anda adalah, . . kau adalah .”

“Cayhe Ciang Huan, orang2 menyebut diriku Tengkorak

kumala.”

Si Soat Ang kaget, tak kuasa ia mundur dua langkah

kebelakang, namun bagaikan bayangan setan si Tengkorak

kumala telah mengikuti maju kedepan.

Ia tidak menyangka orang2 yang semula diduga

pedagang jinsom biasa ternyata adalah sarang iblis keji

bahkan orang yang dijumpai pertama kali bukan lain adalah

si tengkorak kumala yang paling memusingkan kepala.

Si Soat Ang sangat cemas, tiba2 teriaknya keras-keras:

“Li Sin koen!”

Si Malaikat kelabang emas pura2 berlagak pilon, ia

melengos dan tidak menggubris, hal ini membuat Si Soat

Ang makin cemas, keringat dingin mulai mengucur keluar

membasahi seluruh tubuhnya.

-ooo0dw0oo-

Jilid 8

SI TENGKORAK kumala Ciang Huan mendengus

dingin ujarnya :

“Nona Si. kau tak usah kaget. walaupun kami bertiga

sangat mengerikan, namun selalu bekerja pakai cengli. yang

kami cari cuma Tong-poei Pek seorang, kenapa nona harus

begitu cemas dan gelisah ?”

Mendengar ucapan itu, Si Soat Ang rada berlega hati,

namun ia berkata pula:

“Lalu…kalian…kalian hendak apakan Tong poei Pek ?”

“Heee. . . heee . . . mungkin kubeset kulitnya mungkin

dijebol oleh tarikan lima ekor kuda, mungkin pula “kubedah

isi perutnya pokoknya kami suka berbuat bagaimana akan

kami lakukan. nona Si. aku lihat kau adalah seorang gadis

cerdik lebih baik jangan campurkan diri dalam persoalan ini

sehingga mendatangkan kesialan buat dirimu.”

“Tetapi . . . tetapi ia menderita luka parah aku hendak

menghantar dirinya kegunung Lak Boan sao, rumah

kediaman si Bongkok sakti Berangasan gurunya.”

“Kalau begitu katakan kepada si Bongkok sak ti

berangasan katakan muridnya telah ditahan oleh kami tiga

bersaudara.” tukas Ciang Huan dengan nada keras.

Sembari berkata, ujung bajunya dikebas kedepan,

segulung tenaga dahsyat menggulung tubuh gadis itu

membuat Si Soat Ang tak tahan mundur tujuh, delapan

langkah kebelakang dengan sempoyongan.

“Cepat pergi,” kembali si tengkorak kumala menghardik.

Bentakan itu bagaikan guntur membelah bumi. Si Soat Ang

tercekat tanpa banyak bicara lagi ia putar badan dan

melarikan diri ter-birit2 dari situ.

Menanti ia sudah tiba diluar kota dan tidak melihat ada

yang mengejar barulah gadis itu berhenti berlari, ia tahu

Tong-poei Pek yang ada di rumah penginapan tentu

ditawan atau dibunuh oleh Soat-san Sam Mo. apa yang

harus ia lakukan sekarang ? memberi kabar kepada si

Bongkok sakti Berangasan digunung Lak boan-san ?

Lama sekali ia berdiri ragu2, akhirnya gadis itu menghela

napas panjang dan ambil keputusan untuk berangkat

kegunung Lak-boan-san.

Setelah ambil keputusan, malam itu juga ia kembali

kerumah penginapan, melepaskan kuda tunggangan sendiri

dan kaburkan binatang tunggangan itu cepat2.

Empat hari kemudian ia sudah keluar dari perbatasan,

sepanjang jalan gadis ini menjumpai banyak hal yang baru

dan belum pernah dilihat sepanjang hidupnya.

Hari itu, tepat satu bulan ia tinggalkan Tong-poei Pek.

sampailah ia digunung Lak Boan san, ia tahu sibongkok

sakti berangasan tinggal dibukit sebelah selatan, namun

tempatnya dimana ia kurang tahu.

Per-lahan2 Si Soat Ang maju kedepan, sampai tengah

malam tibanya ditepi telaga yang jernih, air telaga tidak

begitu dalam dan bening, sambil memandang riak

dipermukaan ia menghela napas panjang.

Pelbagai persoalan berkecamuk dalam benaknya, ia

teringat bagaimana hidup di benteng Thian It Poo dengan

riang gembira bagaimana Liem Hauw Seng melarikan diri

bersama Giok Djien, kemudian teringat Loei Sam dan

akhirnya Tong poei Pek.

Terbayang Tong-poei Pek, ia jadi memikirkan diri

sendiri, sejak melewati perbatasan boleh di kata dia tak

bersanak dan berkeluarga, apakah dikemudian hari ia harus

melewati sisa hidupnya sebatang kara ?

Teringat sampai disitu tak kuasa ia menghela napas

panjang, tiba 2 suara bentakan keras berkumandang dalang

dari tempat kejauhan, bentakan itu keras seperti guntur

yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat ia

begitu terkejut sampai lama sekali berdiri mendelong.

Menanti ia berhasil tenangkan hati, terdengar suara yang

keras tapi kembali berkumandang datang.

“Perempuan sialan mana yang datang mengacau kesini ?

hela napas panjang pendek disitu, hanya mengacau

ketenangan orang saja !”

Si Soat Ang kembali kaget, ia merasa telinganya

berdengung keras sehingga hampir2 saja ia tak sanggup

angkat kepala.

Dibawah sebatang pohon siong, tampaklah dua orang

sedang duduk saling berhadapan, diantara kedua orang itu

terletak sebuah papan persegi seperti papan catur, salah

seorang diantaranya sedang pusatkan perhatiannya keatas

catur sementara yang lain melotot bulat2 kearah Si Soat

Ang.

Jarak diantara kedua orang itu dengan sang gadis terpaut

empat lima tombak jauhnya, lagi pula waktu itu malam hari

telah tiba, suasana sangat gelap, wajah kedua orang itu tak

terlihat jelas, namun sepasang matanya kelihatan begitu

tajam bagaikan dua buah lampu lentera, hal ini

menunjukkan betapa sempurnanya tenaga lwekang yang ia

miIiki.

Si Soat Ang paksa diri untuk tenang, lalu ujar nya

tergagap:

“Aku sedang memikirkan banyak urusan, hatiku kesal,

dan tak tahu disini ada orang, seandainya mengganggu

harap kalian suka memberi maaf.”

“Hmmm. kalau kau berani berbicara sekali lagi coba lihat

saja bagaimana kurobek bibirmu itu.”

Dalam pada itu orang yang berada dihadapannya sambil

tertawa telah berkata:

“Eei bongkok, kau terlalu kasar dan cari menang sendiri.

kau anggap gunung Lak-Boan san milikmu seorang, orang

lain sedang menghela napas, apa salahnya terhadap dirimu

? kau kalah sepuluh kali atas diriku. kalau mau marah,

marah lah kepadaku, kenapa harus dilimpahkan kepada

orang lain ? perbuatan ini bukan perbuatan seorang laki2

sejati !”

“Emangnya aku bukan lelaki sejati, kau bicara demikian

kepadaku bukankah sama saja seperti lagi kentut ?” teriak

orang itu marah2.

Mendengar orang itu dipanggil “Si bongkok” hati Si Soat

Ang rada bergerak, buru2 serunya:

“Apakah anda adalah Si Bongkok Sakti Berangasan ?”

“Kalau sudah tahu diriku, lebih baik cepat enyah dari

sini, dari pada mendapat perlakuan kasar dariku.” teriak

orang itu dengan suara kasar.

Si Soat Ang terkejut bercampur girang, baru2 teriaknya:

“Si bongkok cianpwe aku memang datang ke mari untuk

mencari dirimu, aku datang dari luar perbatasan, dengan

ribuan li datang kemari…”

Belum habis ia bicara, terdengar si bongkok sakti

berangasan telah berteriak keras:

“Sudah..sudah, tidak main lagi, tidak main lagi. aku ada

urusan. anggap saja permainan catur kali ini aku yang kalah

!”

Diikuti bagaikan segulung angin puyuh ia meluncur

turun kebawah.

Gerakan tubuhnya amat cepat bagaikan sambaran kilat.

sebelum Si Soat Ang sadar apa yang telah terjadi,

dihadapannya telah bertambah dengan seorang lelaki

bercambang, berambut awut2an dan berwajah bengis,

sepasang matanya tajam bagaikan kilat, pokoknya

mengerikan sekali.

Si Soat Ang tarik napas panjang2, ia mundur selangkah

kebelakang, sebelum sempat mengucapkan sesuatu, si

Bongkok Sakti berangasan itu sudah membentak keras:

“Aku sama sekali tidak kenal dengan dirimu. apa

maksudmu datang mencari aku ?”

Si Soat Ang mengeluh, pikirnya:

“Kalau tahu sibongkok sakti begitu mengerikan, aku

tidak akan datang..”

Namun urusan sudah ada didepan mata, terpaksa

ujarnya dengan cepat:

“Aku adalah sahabat Tong-poei Pek, kami berkenalan

diluar perbatasan.”

Mendengar disebutnya nama Tong-poei Pek. sikap

sibongkok sakti rada lunak sedikit namun ia bertanya

kembali dengan nadi menekan.

“Kiranya kau adalah sahabat keparat cilik itu kalau dia

masih ingat diriku, masih berapa lama ia baru pulang?”

“Dia . . . dia . . .”

“Ayoh cepat jawab!” hardik si bongkok sakti berangasan

tidak sabaran lagi, “Kalau bicara dihadapanku lebih baik

berterus terang dan lancar, kalau mandek2 lagi, jangan

salahkan aku kalau kutampar pipimu!”

“Baik, baik,” jawab Si Soat Ang ketakutan. wajahnya

pucat menghijau, “Maksudku . . . Tong poei Pek tidak bakal

pulang lagi.”

“Hmm! tidak akan pulang lagi? kenapa? apakah dia

sudah angkat guru lain?”

“Bukan, dia sudah mati.” jawab sang gadis dengan hati

sedih.

“Apa?” teriak sibongkok sakti, badannya mencelat dua

tombak ketengah udara, kemudian se cepat kilat kelima

jarinya mencengkeram bahu gadis itu erat2.

Si Soat Ang merasakan kelima jari tangan si bongkok

sakti itu kuat bagaikan jepitan besi, saking sakitnya seluruh

badan gemetar keras, tak kuasa lagi ia menjerit keras.

Namun jeritannya sirap oleh teriakan aneh dari si

bongkok sakti yang keras bagaikan geledek itu.

“Apa yang kau katakan?” teriak si bongkok sakti, “Tong

poei Pek telah mati? bagaimana dia bisa mati?”

Sementara itu dari atas pohon siong kembali melayang

turun seseorang, sambil mencelat datang iapun berseru.

“Tongpoei Pek bagaimana bisa mati? eeeeeii bongkok,

lepaskan nona itu, biarlah dia berbicara per-lahan2.

Waktu itu saking sakitnya hampir2 Si Soat Ang jatuh

tidak sadarkan diri, untung orang itu datang tepat pada

waktunya.

Mendengar teguran tersebut, si bongkok sakti segera

lepaskan tangannya, dengan sempoyongan ia mundur

beberapa langkah kebelakang.

Ketika itulah ia dapat melihat orang yang berada disisi si

bongkok sakti adalah seorang kakek berusia lima puluh

tahunan yang punya perawakan tinggi kurus, bajunya

sederhana namun kelihatan sangat berwibawa.

“Nona, siapakah namamu ?” tanya orang itu halus.

“Aku bernama Si Soat Ang.”

“Ooouw . , . . nona Si, kau datang dari luar perbatasan

entah apa sangkut pautnya dengan Si Liong dari benteng

Thian It Poo ?”

Mengungkap soal ayahnya, gadis itu teramat sedih.

“Dia adalah ayahku almarhum !”

“Aaaah, kiranya Si Poocu sudah meninggal, kapan

terjadinya peristiwa itu ?”

Si Soat Ang amat sedih, isak tangisnya menjadi keras,

belum sempat ia menjawab, si bongkok sakti sudah tidak

sabaran lagi ia naik pitam, sambil menarik tubuh kakek tua

itu teriaknya:

“Eeeei Cioe Lo-jie, dari mana datangnya begitu banyak

omongan tak berguna ?”

Dasarnya Si Soat Ang cerdik, mendengar sebutan “Cioe

Loo-jie” itu, ia teringat akan seseorang buru2 serunya:

“Cianpwee, bukankah anda adalah Im Tiong Hok atau

burung Bangau ditengah Mega Tjioe Jie-hiap diantara

Tiong Tiauw Sam Yu ?”

“Benar, aku pernah berjumpa muka dengan ayahmu

beberapa tahun berselang ?”

Kini Si Soat Ang jadi gembira, sebab ia tahu ilmu silat

Tiong Tiauw Sam Yu amat lihay, lagi pula si elang ditengah

megah Tjioe Piao Thian adalah sahabat ayahnya,

kemungkinan besar ia dapat belajar silat darinya.

Karena ada rencana ini. buru2 ia jatuhkan diri berlutut.

“Menjumpai paman Tjioe Jie Siok.”

Sibongkok sakti makin tidak sabaran lagi, ia mencak2

kegusaran, teriaknya kalang kabut.

“Maknya, , . neneknya, . . kenapa sih kalian bicara

melulu, bagaimana dengan nasib Teng-poei Pek, kenapa

tidak disebutkan terus?”

“Hey bongkok, kenapa kau mencak2 terus .” tiba2 Tjioe

Pian Thian berpaling dan menegur gusar, “Tong-poei Pek

sudah mati, buat apa kau begitu gelisah ? dianggapnya

setelah berbuat begitu lantas dia bisa hidup lagi ?”

Si bongkok sakti amat mendongkol, ia gertak giginya

keras 2.

“Tong poei Pek bergebrak dulu melawan Loei Sam” tiba2

Si Soat Ang menimbrung,

“Neneknya, siapakah Loei Sam itu ?”

“Dia adalah murid dari Si Thay sianseng.”

“Apa . . . ” Si bongkok Sakti menjerit keras badannya

mencelat lima, enam tombak ketengah udara, telapak

tangan bergerak berbareng , . . , Kraaak sebuah batang

pohon yang amat besar tak ampun lagi kena terbabat putus

jadi dua bagian.

“Si Thay , , , Si Thay , , , kurang ajar. lihat saja nanti.

aku akan adu jiwa dengan dirimu” teriaknya keras 2.

Sementara itu Coe Pian Thian cuma menggeleng

berulang kali,

“Hian tit-li. Si Thay sianseng adalah tokoh sakti dari

aliran lurus” katanya “Mana mungkin muridnya bila

bergebrak melawan Tong-poei Pek ? mungkin kau salah

mendengar.”

“Tadi aku belum habis bicara.” Si Soat Ang tertawa getir,

“Loei sam memang anak murid Si Thay sianseng, namun ia

sudah memperkosa putri kesayangan Si Thay sianseng dan

kemudian melarikan diri, Si Thay sianseng sendiripun

sudah mengutus anak muridnya untuk menangkap ia

kembali.”

Setelah menghantam patah batang pohon tadi, tubuh si

bongkok sakti langsung meluncur keluar, ditinjau dari

sikapnya jelas ia hendak berangkat kegunung Go bie untuk

bikin perhitungan dengan Si Thay sianseng.

Namun, beberapa patah kata terakhir dari sang gadis

menahan badannya bergerak lebih jauh, sambil berpaling

teriaknya:

“Seberapa lihay ilmu silat yang dimiliki keparat cilik itu ?

kok begitu hebat bisa merobohkan Tong-poei Pek ?”

“Dia bukan tandingan Tong-pei Pek, toako terbokong

olehnya sehingga terluka parah. Si Hiat goan-sin koen lah

yang memerintahkan aku mengirim dia balik kegunung Lak

Boan san”

“Ehmm , . , si monyet tua ini rada baikan hati.” Si

bongkok sakti mengangguk. ”Akhirnya bagaimana ia bisa

mati ?”

“Setibanya di kaki gunung Soat San, napas Tong-poei

Pek tinggal senin kemis, aku dengar orang bilang hanya

dengan jinsom seratus tahun saja dapat menahan jiwanya

sampai sepuluh hari, aku lantas pergi cari jinsom, siapa

sangka salah memasuki sarang Soat-san Sam Mo, sedang

Tong poei Pek pun ada ikatan dendam dengan mereka…”

“Kalau begitu Tong poei Pek mati ditangan orang itu”

kembali si Bongkok sakti berteriak.

“Aku tidak tahu, aku hanya melihat si tengkorak emas

Ciang Ling membawa anak buahnya berangkat kerumah

penginapan untuk menangkap Tong poei Pek aku duga

Toog-poei Pek pasti sudah terjatuh ke tangan mereka aku…

aku tidak tahu bagaimana keadaannya yang pasti…”

“Setelah jatuh ke tangan mereka bertiga tentu saja mati,”

gembor sibongkok sakti marah2, “Neneknya. apa yang kau

lakukan? mengapa tidak kau selamatkan jiwanya? bukankah

kau mengatakan dirimu adalah sahabatnya?”

Si Soat Ang tidak menyangka Si bongkok sakti dapat

menegur dirinya, pucat pias selembar wajahnya, ia tunduk

rendah rendah.

“ilmu silatku rendah, aku sadar bukan tandingan mereka,

adu jiwapun percuma saja !”

“Sudahlah…” buru 2 Tjioe Pian Thian me nimbrung

“Kalau diapun ikut adu jiwa, siapa yang datang

mengabarkan kematian Tong poei Pek kepadamu, kalau

sampai diapun mati, kan Soat-san SamMo yang enakan?”

“Baik, kalau begitu aku akan berangkat kesana, akan

kubeset kulit kepala Soat-san SamMo.”

Sambil berteriak ia melotot kearah Tjioe Pian Tbian,

seakan-akan sedang berkata:

“Kali ini kau hendak mengucapkan apa lagi untuk

mencegah kepergianku.”

Tjioe Pian Thian tertawa.

“Eeeeei bongkok, bukan saja Soat san Sam Mo berani

mengganggu anak muridmu, berani pula melepaskan gadis

ini untuk memberi kabar kepadamu, aku lihat mereka tentu

mempunyai tulang punggung dibelakangnya.”

“Aaaah benar,” Si Soat Ang segera menambahi, “Aku

lihat si Malaikat kelabang emas Li-Siauw pun berada

disana.”

“Hmm. manusia macam apakah malaikat itu? mau apa

kalau kubeset sekalian kulit kepalanya”

“Bukannya aku tak suruh kau kesana, seandainya mau

berangkat sudah sepantasnya kalau beri kabar dulu pada

hujien sana.” ujar Tjioe Pian Thian, “Lagi pula persoalan ini

menyangkut murid murtad dari Si Thay sianseng, sudah

sepantasnya kalau kaupun kasi kabar pula kepada Si Thay

sianseng.”

Begitu Tjioe Pian Tbian mengungkap soal istrinya, sikap

sibongkok sakti ini seketika jadi luluh, bahkan nada

perkataanpun jauh lebih halus.

“Aaah benar ucapanmu sedikitpun tidak salah ” ia

membenarkan, “Namun apa yang harus kukatakan ? kalau

mengatakan Tong-poei Pek bocah keparat ini terjadi

peristiwa diluar dugaan ia tentu bersedih hati.”

“Ajukan saja alasan yang rasa2nya rada sesuai.”

“Baiklah, tentang Si Thay sianseng sana, terpaksa harus

merepotkan dirimu untuk memberi kabar.” kata si Bongkok

sakti sambil mengangguk. “Nona cilik, kemarilah kau

sangat berguna untukku.”

Si Soat Ang tidak mengerti apa maksud ucapan dari si

bongkok sakti, belum sempat ia bertanya tangannya sudah

ditarik untuk diajak pergi, gerakannya cepat seakan2 diajak

terbang di angkasa saja.

Angin men deru2. entah berapa jauh telah mereka lewati,

tahu2 si bongkok sakti itu berhenti disuatu lembah gunung

yang indah.

Sekeliling lembah tertutup oleh bukit yang menjulang

tinggi keangkasa, ia tak tahu si bongkok sakti itu masuk dari

mana ditengah lembah terdapat dua sumber air yang

menciptakan sebuah sungai kecil langsung menuju sebuah

telaga yang indah dan berair jernih, pohon siong merata di

seluruh bukit, puluhan ekor burung bangau ber-main2 ditepi

telaga, suatu pemandangan yang menawan hati.

Sebelah timur telaga terbentang sebuah tanah lapang

yang penuh dengan bunga aneka warna, maju tidak

seberapa jauh merupakan sebuah hutan bambu, ditengah

hutan bambu berdiri beberapa petak rumah bambu.

Sejak kecil Si Soat Ang dibesarkan diluar perbatasan

yang dingin dan gersang, walaupun sejak memasuki

perbatasan banyak pemandangan indah yang telah ia lihat,

namun pemandangan seindah dan sehebat ini belum pernah

dijumpai.

Yang membuat ia tercengang adalah bangunan rumah

sibongkok sakti itu, ditinjau dari wataknya yang begitu

berangasan dan kasar, tak nyana bisa memiliki tempat

kediaman begitu tenang, indah dan menawan hati.

Setelah berhenti berlari. si bongkok sakti berpesan:

“Heei, dengarkan baik2. berada dihadapan istri ku jangan

sekali2 kau sebut tentang kematian Tong poei Pek, kalau

tidak akan kukubur dirimu hidup2, bisa diingat ?”

Wajah sibongkok sakti yang sadis dan seram ditambah

ancaman yang begitu mengerikan, membuat seluruh tubuh

sang gadis gemetar keras.

“Aku tahu, aku tahu” buru2 sahutnya.

Demikianlah Si Bongkok Sakti lantas menarik tangan Si

Soat Ang untuk diajak memasuki hutan bambu.

“Toako. apakah kau sudah pulang ?” tiba2 terdengar

suara seorang nyonya yang lembut, halus dan merdu

berkumandang datang.

“Benar, Cioe Loo jie bukan tandinganku hanya dalam

sekejap mata aku berhasil menangkan tiga set permainan

akhirnya ia berlalu dengan kepala terlunglai”

Suatu hal membuat Si Soat Ang kaget bercampur

tercengang. sewaktu mengucapkan kata2nya barusan si

bongkok sakti menunjukkan sikap halus, ramah dan begitu

menarik. Jauh berbeda dengan sikapnya yang bengis sadis

dan kasar semacam tadi.

“Nah . . . nah . . . toako, kembali kau membohongi diriku

agar hatiku gembira.” terdengar perempuan itu tertawa

merdu “Aku tahu, dalam permainan catur melawan Tjioe

jie-ko yang kalah tentu kau, tidak mungkin kau bisa

menang.”

Merah padam selembar wajah si bongkok sakti, ia jadi

begitu jengah, se akan2 bocah cilik yang ketangkap basah

sedang melakukan perbuatan salah, keadaannya sangat

menggelikan sekali.

Setelah berdiri dengan beberapa saat lamanya si bongkok

sakti maju mendekat dan berkata:

“Adikku sayang, ada satu persoalan ingin kuberi tahukan

kepadamu “.

“Kau ada urusan apa ? katakan saja kepadaku didengar

dari suaramu, kembali kau hendak membohongi diriku,

toako, benar bukan ?”

Makin merah selembar wajah si bongkok sakti sehingga

hampir2 seperti babi panggang, buru2 ia goyangkan

tangannya berulang kali.

“Bukan, . . bukan ?”

Si Soat Ang yang selama ini berdiri disamping, hatinya

dibikin keheranan setengah mati, pikirnya:

“Persoalan aneh yang ada dikolong langit sungguh

banyak sekali macam si bongkok sakti yang tak takut langit,

tak takut bumi, ilmu silatnya begitu lihay dan sifatnya

begitu kasar dan berangasan, ternyata begitu penurut, halus

dan dibikin gelagapan didepan istrinya, Sungguh aneh.”

Dalam pada itu terdengar suara langkah kaki dari balik

hutan bambu, diikuti munculnya seorang perempuan

berbaju putih dengan membawa sebuah bambu, langkahnya

amal lambat sekali.

la memakai baju warna putih mulus dan tipis,

langkahnya lambat. ditengah hembusan angin gunung yang

sepoi2 keadaannya mirip bidadari turun dari kahyangan.

Perempuan itu berusia empat puluh tahunan, kulitnya

putih mulus, wajahnya cantik, sepasang matanya

memandang kedepan dengan mendelong, sedangkan biji

matanya sama sekali tidak bergerak, siapapun akan tahu dia

adalah seorang buta.

Ketika melihat istrinya munculkan diri, sibongkok sakti

makin gelisah dibuatnya, ia garuk sana garuk kemari

dengan hati tak tenteram.

Perempuan itu terus berjalan kedepan dan berhenti lima,

enam depa dihadapan sibongkok sakti, wajahnya halus,

tenang dan penuh senyuman, sama sekali berbeda dengan

keadaan suaminya.

Setelah berdiri tegak ia berkata:

“Baiklah, toako. kau hendak mengucapkan persoalan apa

? sekarang katakanlah kepadaku.”

Sibongkok sakti makin jengah buru2 sahutnya: “Adikku

sayang aku bukan sedang berbohong, kau tahu bukan kalau

disampingku ada orang lain ?”

“Aku tahu” perempuan itu mengangguk, “Didengar dari

hembusan napasnya, dia tentu seorang nona yang amat

cantik, lincah dan cerdik !”

Begitu ucapan tadi diutarakan, Si Soat Ang tersentak

kaget, buru2 ia maju kedepan sambil menjura:

“Menjumpai Loo-cianpwee !”

Sembari berkata dalam hati ia tercengang, terang2an ia

tahu perempuan itu adalah seorang buta, sedang ia berdiri

disana bukan saja tidak buka suara bahkan maju

selangkahpun tidak. bagaimana dia bisa tahu kalau dia

adalah seorang perempuan ? suatu kejadian yang

mencengangkan hati.

“Nona, aku rasa kaupun pernah belajar silat, bukankah

begitu ? tak usah banyak adat ,” ujar perempuan itu sambil

lantas menjura.

“Benar, aku pernah ikut ayah belajar ilmu silat.”

“Adikku sayang.” ujar si bongkok sakti sambil

kesempatan itu, “Ayahnya dibunuh mati oleh musuh

besarnya, ia datang mohon diri ku untuk balaskan dendam

tersebut mau tak mau aku harus pergi, karena itu paling

sedikit aku harus tinggalkan dirimu selama setengah bulan.”

Dengan tenang perempuan itu mendengar perkataannya

sampai selesai, setelah itu baru tersenyum.

“Toako, cerita bohongmu ini disusun kurang sempurna,

tak dapat membohongi diriku.”

“Bagaimana kurang sempurna susunannya ?” tanya si

bongkok sakti cemas.

Begitu ucapan ini diutarakan, bahkan Si Soat Ang pun

hampir2 tertawa dibuatnya, terang2an ia sudah mengaku

telah berbohong dalam ucapan barusan, sementara ia

sendiri masih belum merasa.

Tentu saja Si Soat Ang tak berani tertawa, dengan sekuat

tenaga ia menahan rasa geli itu dalam hatinya.

“Toako, kau jangan marah.” ujar perempuan itu sambil

tertawa “Coba kau pikir, seandainya ayah nona ini tidak

kau kenal, mana kau suka membalaskan dendamnya sedang

kalau kau kenal mengapa aku tidak tahu?”

Si bongkok sakti tersudut oleh ucapan itu, seketika itu

juga ia membungkam dalam seribu bahasa Kembali

perempuan itu tertawa.

“Toako sebenarnya apa sebabnya kau hendak

meninggalkan tempat ini? cepat katakan padaku.”

Si bongkok sakti amat malu, mendadak dari rasa malu ia

jadi gusar teriaknya keras2:

“Neneknya… mak nya… lebih baik kau jangan bertanya.”

“Aaaai…” perempuan itu menghela napas panjang.

“Toako, kau adalah suamiku, sedang aku adalah istrimu,

kau hendak meninggalkan diriku seumpama aku tidak

bertanya hal ini mana boleh jadi.”

Hati si bongkok sakti melunak kembali.

“Benar . , benar harus bertanya . . harus ditanya . .

memang patut ditanya . . patut ditanya . . .”

“Nah kalau begitu katakanlah sekarang.”

“Tentang soal ini. . . aaai adikku Tong-poei Pek telah

mengalami celaka diluar perbatasan!”

Sewaktu mengajak Si Soat Ang memasuki hutan bambu

tadi. ia berpesan wanti2 kepada gadis itu untuk jangan

mengungkap persoalan tentang Tong poei Pek, bahkan

mengancam hendak menguburnya hidup2.

Namun sekarang, setelah ia berbohong rahasia itu malah

ia sendiri yang mengaku terus terang dihadapan perempuan

itu.

Mendengar Tong poei Pek mengalami celaka. seluruh

tubuh perempuan itu gemetar keras, air mukanya berubah

pucat pias bagaikan mayat.

“Apa ? Pek Jie mengalami celaka ? dia. . . kenapa dengan

dia ? Aaai. . . peristiwa apa yang menimpa dirinya ?”

“Nona ini yang datang memberi kabar.”

Tiba2 perempuan itu maju kedepan dan menangkap

tangan Si Soat Ang, gerakannya lambat sekali namun

sangat tepat dan telak.

“Nona” ujarnya dengan suara gemetar. “Apa-apa . .

kejadian apa yang telah menimpa dirinya? cepat beritahu

kepadaku?”

Dalam keadaan seperti ini Si Soat Ang dibikin serba

salah, seumpama ia mengaku secara terus terang, si

bongkok sakti tentu naik pitam namun kalau tidak

diutarakan ia merasa salah, tak kuasa ia melirik sekejap

kearab sibongkok sakti berangasan.

Pada saat itu si bongkok sakti pun sedang mengerling

kearahnya memberi tanda.

Bagainanapun dasarnya Si Soat Ang adalah seorang

manusia cerdik, ia segera dapat menangkap makna lirikan

itu, tanpa ragu2 lagi sahutnya:

”Tong poei toako terluka !”

“Aaah. dia terluka? apakah sangat parah?”

“Tidak, tidak terlalu parah?”

“Lalu apa sebabnya tidak kau hantar pulang kerumah?

mengapa kau berangkat seorang diri”

“Walaupun lukanya tidak begitu parah, namun tak

sanggup melakukan perjalanan jauh sebab hal ini bisa

mendatangkan celaka baginya.”

“Dia. . . sekarang dia berada dimana ?” Kembali Si Soat

Ang melirik sekejap kearah si Bongkok Sakti Berangasan.

sementara dalam hati mengeluh.

“Dia . . . dia ada dikaki gunung Soat san” sahutnya

kemudian “Sekarang sedang merawat lukanya dirumah

seorang teman.”

Setelah mengetahui pemuda itu selamat perempuan itu

melepaskan sang gadis dan putar badan kepada si bongkok

sakti serunya:

“Toako, nah berangkatlah cepat ?. bawa dia pulang, lebih

baik merawat lukanya dirumah saja, toako, aku mohon

kepadamu !”

“Adikku, apa maksud ucapanmu ? tentu saja aku segera

berangkat, dan kemudian cepat2 kembali.”

Si Soat Ang kembali dibuat tercengang, ia tahu Tongpoei

Pek adalah murid Si bongkok Sakti Berangasan, dengan

demikian istri sibongkok sakti adalah Su-nio dari Tong poei

Pek.

Tapi apa sebabnya perempuan itu malah mohon bantuan

sibongkok sakti untuk menolong Tong poei Pek ?

mungkinkah diantara mereka bertiga pernah terdapat suatu

hubungan yang aneh sekali ?

Meskipun dalam hati menaruh curiga, gadis itu tak

berani banyak bertanya.

“Adikku, aku hendak berangkat !” kembali si bongkok

sakti berseru.

“Kau… kau sendiripun harus ber-hati2, seandainya aku

memiliki ilmu silat tentu akan kusertai kepergianmu ini.”

”Lebih baik kau menantikan kabar baikku disini saja,

aku akan tinggalkan nona Soat Ang untuk menemani

dirimu, asalkan Tiong-tiauw Sam Yu ada waktu, tentu

mereka datang menjenguk diri mu, Nah, aku pergi dahulu

!”

Sembari berkata dengan berat hati ia mundur selangkah

demi selangkah kebelakang, kemudian putar badan dan

laksana kilat berlalu dari sana, dalam sekejap mata lenyap

tak berbekas.

Setelah sibongkok sakti berlalu, dalam hutan bambu itu

tinggal Si Soat Ang serta perempuan itu dua orang.

Sambil mencekal tangan sang gadis, ujar perempuan itu:

“Kemarilah, ceritakan kisah tentang Tong poci Pek

kepadaku?”

Si Soat Ang amat bersedih hati, namun ia menjawab

juga:

“Baik cianpwee !”

“Ah tak usah menyebut diriku sebagai cianpwee

bagaimanapun aku tak kenal ilmu silat, sedang si

berangasan she Aow… nona Sie, coba ceritakan bagaimana

kau bisa kenal dengan Tong-poei Pek?”

“Bibi Hu. berhubung Tong-poei toako harus menolong

aku, maka ia mengikat dendam dengan seorang yang

bernama Loei Sam !”

“Aaaai…manusia yang bernama Loei Sam itu apakah

berkepandaian sangat lihay ?”

“Kepandaiannya sih tak bisa menandingi Tong poei

toako, namun siasat serta akal liciknya banyak sekali. Tongpoei

toako kena dibokong olehnya, karena itu ia terluka

parah.”

Sembari berkata kedua orang itu berbareng menerobosi

hutan bambu, beberapa kali Soat Ang ingin membimbing

perempuan itu namun setiap kali ditolaknya dengan halus.

Begitulah mereka berdua memasuki hutan bambu dan

tiba didepan beberapa pucuk rumah bambu yang sunyi dan

bersih itu.

Perempuan itu berhenti didepan rumahnya, kemudian

berkata:

“Nona Si beritahu kepadaku, sebenarnya bagaimana

keadaan Tong poei Pek?”

Mendapat pertanyaan seperti ini secara mendadak,

jantung Si Soat Ang berdebar keras ia jadi kelabakan

dibuatnya.

“Kan tadi sudah kukatakan dia… dadanya terluka

parah!”

“Nona Si apakah hubungan kalian berdua sangat erat?”

tanya perempuan itu lagi sambil mencekal tangan Si Soat

Ang.

“Be. . . benar!”

“Aaaai . . . engkoh berangasan memang sangat baik

terhadap diriku, namun… namun seandainya Tong poei Pek

tertimpa nasib malang maka aku , , . aku….”

Bicara sampai disitu ia menangis terisak, walaupun

ucapannya tidak diteruskan, namun Si Soat Ang pun

mengerti apa yang hendak di ucapkan lebih jauh.

Rasa curiga yang menyelimuti benak Si Soat Ang makin

tebal sejak semula ia dapat menemukan kalau adanya

hubungan istimewa antara perempuan ini dengan Tong

poei Pek, kini setelah melihat dia menangis, curiganya

makin menghebat.

Pastilah hubungan kedua orang itu bukan terbatas

sampai hubungan murid dengan ibu gurunya belaka.

Walaupun dalam hati keheranan, Si Soat Ang tidak enak

banyak bertanya, ia tetap membungkam dalam seribu

bahasa.

Setelah menangis beberapa saat lamanya, perempuan itu

baru melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruangan dan

duduk diatas sebuah kursi bambu.

Si Soat Ang rada kelabakan dibuatnya, terpaksa ia hanya

berdiri tegak dihadapannya dengan wajah mendelong.

Lewat beberapa saat kemudian terdengar perempuan itu

berkata kembali, “Nona Si, mungkin kau tidak tahu, Tong

Poei Pek adalah putraku!”

Si Soat Ang sangat terperanjat, untuk sesaat ia tak tahu

apa yang harus dilakukan, beberapa waktu kemudian ia

baru berkata.

“Kau, . . tadi bukankah kau beritahu kepada ku, kalau

Lie Hwiee cianpwee she Auw ?”

“Benar, namun Tong-poei Pek kulahirkan sebelum

menikah dengan toako bongkok !”

Si Soat Ang merasa amat jengah, bagaimana pun dia

masih gadis perawan bahkan barusan saja berkenalan

dengan perempuan ini namun perempuan itu sudah

mengajak dia untuk membicarakan banyak persoalan yang

seharusnya tidak pantas diceritakan kepada orang lain.

Si Soat Ang tak bila mengatakan ia ia kecuali berseru.

“Ooooow . . kiranya demikian.”

Kembali perempuan itu menghela napas panjang.

“Nona Si, perkataan semacam ini sebetulnya tidak pantas

bagiku untuk menceritakan kepada orang lain, namun

berhubung kau sangat baik terhadap Tong poei Pek maka

kuutarakan kepadamu.”

“Bibi, kau terlalu merasa kuatir, aku pikir. . setelah

cianpwee berangasan tiba diluar perbatasan, ia tentu bisa

membawanya pulang.”

“Nona Si seandainya kau berjumpa lagi dengan dirinya,

jangan sekali2 menceritakan apa yang kuutarakan

kepadamu barusan kepadanya, selama ini ia tak tahu kalau

aku adalah ibu kandungnya.”

“Bibi, mengapa kau mengelabuhi dirinya ?” tanya gadis

itu dengan nada tercengang.

Perempuan itu menghela napas panjang, ia

membungkam dalam seribu bahasa.

Mengetahui perempuan itu tentu mempunyai rahasia

yang tidak enak diceritakan kepada orang lain, Si Soat Ang

pun tidak bertanya lebih jauh.

Kedua orang itu duduk saling berhadapan dengan mulut

membungkam, suasana hening, sunyi . . . sepi…

Beberapa saat kemudian perempuan itu baru berkata

lagi:

“Berada bersama diriku, tak usah kau repot melayani

segala keperluanku, walaupun sepasang mataku buta.

namun sudah lama tinggal disini, ketajaman perasaanku

tidak kalah dengan pandangan mata orang lain, hanya

sayang aku tak bisa melihat dirimu.”

Bicara sampai disitu mendadak ia membungkam dan

pusatkan perhatiannya untuk mendengar.

“Eeei… sungguh aneh sekali, kenapa ada orang datang ?”

Pada saat ini Si Soat Ang tidak mendengar apapun juga,

ia jadi tertegun dibuatnya.

“Apa yang telah berhasil kau dengar ? apakah ada

sesuatu ?”

“Benar, ada dua orang datang mendekati rumah kita.”

“Mungkin Tiong tiauw Sam Yu datang menjenguk

dirimu ?”

“Tidak, tidak mungkin” buru2 perempuan itu

menggeleng. “seandainya orang yang sudah kenal, maka

sejak semula mereka sudah buka suara.

Si Soat Ang jadi sangat terperanjat.

“Apakah ditempat ini seringkali kedatangan orang yang

tidak dikenal ?” tanyanya.

“Tidak, selama sepuluh tahun aku berdiam di sini baru

untuk pertama kali ini tempat kediamanku kedatangan

orang luar. ditinjau dari langkah kakinya yang ringan dan

cepat, jelas orang itu adalah tokoh dunia persilatan, kau tak

usah gelisah biarlah aku yang menghadapi kedatangan

mereka.”

“Kau… bagaimana kau bisa tahu kalau hatiku sedang

gugup dan gelisah ?” tanya gadis itu sambil tertawa getir.

“Dari napasmu yang memburu, walaupun aku tak dapat

melihat bagaimanakah perubahan air mukamu pada saat

ini, namun aku dapat mendengar semua gerak gerikmu

dengan jelas, coba kau dengar, bukankah langkah kaki

kedua orang itu sudah semakin mendekati kediaman kita ?”

Dengan pusatkan perhatiannya Si Soat Ang

mendengarkan namun kecuali angin sepoi2 yang

berhembus lewat menimbulkan suara berisik dari bambu

yang bergoyang tiada suara lain bergema memecahkan

kesunyian.

Lama sekali ia memperhatikan namun tidak menangkap

sesuatupun.

“Tidak ada aku . . tidak ada…”

Belum selesai ia berbicara, mendadak ia mendengar

adanya suara langkah kaki manusia berkumandang datang,

langkah kaki itu datangnya sangat cepat dan gesit, dalam

sekejap mata mereka sudah makin dekat, diikuti dari luar

hutan bambu berkelebat lewat bayangan manusia.

“Mereka sudah datang !” bisik Si Soat Ang lirih.

“Apakah kau sudah menemukan mereka ?” tanya

perempuan itu dengan suara lirih pula.

“Tidak begitu jelas, sebab hutan bambu terlalu rapat,

namun aku sudah dapat melihat warna pakaian yang

mereka kenakan agaknya mereka memakai baju warna biru.

Aaaah, , . salah satu diantaranya mencekal sebilah golok

yang memancarkan cahaya tajam.”

Perempuan itu segera tertawa getir.

“Barusan saja engkoh bongkok berangkat, sudah ada

orang asing mendatangi tempat ini, sungguh aneh sekali !”

“Apakah perlu aku kejar kembali si cianpwee berangasan

yang barusan Berangkat ?”

“Tidak usah, kau takkan berhasil menyandak dirinya,

kita lihat saja apa yang hendak dilakukan kedua orang ini”

Kembali Si Soat Ang- menoleh kearah kedua orang itu,

tampak mereka berdua sedang menyingkap daun bambu

dan berjalan makin mendekat.

Tingkah laku mereka berdua sangat hati2 selangkah demi

selangkah mereka maju mendekat, sementara senjata tajam

disiapkan dalam cekalan.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampai lah mereka

didepan rumah, sementara Si Soat Ang dapat melihat jelas

raut wajah mereka berdua, ke dua orang itu adalah lelaki

setengah baya.

Perawakan kedua orang itu tidak begitu tinggi namun

kekar penuh berotot, mereka berhenti dua tombak didepan

rumah.

Setelah saling bertukar pandangan sekejap, salah satu

diantaranya berteriak lantang…

“Apakah sibongkok sakti berangasan ada dirumah ??”.

“Tentu saja tak ada dirumah” jawab nyonya sibongkok

dengan suara halus dan tenang. “Seandainya dia ada

dirumah, kalian berdua tak mungkin bisa mendekat tempat

ini bukankah begitu ??”,

Si Soat Ang yang bersembunyi disamping jendela dapat

melihat keadaan diluar dengan amat jelas, tampak air muka

kedua orang itu berubah hebat, salah satu diantaranya

kembali bertanya:

“Kalau begitu anda tentunya nyonya sibongkok sakti

bukan ?”.

“Sedikitpun tidak salah, entah siapakah kalian berdua ?”

Kedua orang itu sama2 tertawa kering, selangkah demi

selangkah kembali mendekati gubuk itu sampai lima enam

langkah.

“Hujien tak usah bertanya siapakah kami, ada seseorang

mengundang hujien untuk pergi menjumpainya.” kata

mereka berbareng.

“Sepasang mataku sudah buta, siapapun tak dapat

kulihat lagi, lebih baik kalian pergi saja dari sini.”

“Tidak bisa jadi, orang itu sudah berpesan kepada kami

seandainya hujien tak mau pergi maka terpaksa kami harus

mengundang dengan kekerasan, harap hujien jangan

menyalahkan kami.”

“Heee, heee, , . hee, walaupun Tuow cu toako tak ada

dirumah, namun ia bakal pulang juga, diantara kalian

berdua apakah merasa sanggup untuk menandingi dirinya

?” seru nyonya si bongkok sakti sambil tertawa dingin, “Aku

lihat lebih baik kalian berdua cepat2 berlalu, setelah ia

kembali aku akan menganggap tak pernah terjadi suatu

persoalan apapun, saat itu kalian berdua masih bisa

melewati hidup dengan aman tenteram .”

Air muka kedua orang itu berubah tiada hentinya, lewat

beberapa saat kemudian mereka baru menghela napas

panjang.

“Kamipun dipaksa orang untuk berbuat demikian.”

katanya.

“Keadaan kami serba salah entah bagaimana baiknya,

kami harap hujien suka pergi sejenak saja. kami tanggung

takkan terjadi peristiwa apapun.”

Sementara itu Si Soat Ang telah mempersiapkan cambuk

lemasnya ditangan, tempat mereka berdiri tepat dibelakang

pintu seandainya kedua orang itu bertindak nekat dan

menerjang masuk kedalam ia siap melancarkan serangan

bokongan. Oleh karena itu ia tahan napas agar jangan

kedengaran sedikit suarapun.

“Sudah kukatakan aku tidak ingin berjumpa dengan

siapapun, mengapa kalian banyak bicara ?” seru nyonya

sibongkok. Kedua orang itu saling tukar pandangan

kemudian berjalan kedepan.

“Seandainya hujien benar2 tak mau pergi, terpaksa kami

berdua harus membuat salah kepada sibongkok sakti dan

paksa hujien untuk pergi kesana.”

Mendengar ancaman itu nyonya sibongkok tertawa geli,

terhadap ketenangan yang diperlihatkan perempuan itu,

diam2 Si Soat Ang yang ada di samping merasa sangat

kagum.

Karena ia tahu kedatangan kedua orang itu membawa

maksud tidak baik, jelas suatu bencana kemungkinan besar

akan menimpa dirinya, namun nyonya sibongkok sakti ini

masih tertawa se akan2 tak pernah terjadi suatu apapun,

suatu ketenangan yang patut dipuji.

“Bagus sekali !” terdengar perempuan itu berseru,

“Tolong tanya siapakah nama besar kalian berdua ? Berani

benar menyalahi sibongkok sakti, aku pikir kalian tentu

manusia luar biasa !”.

Kedua orang itu tertawa sahutnya:

“Kami hanya prajurit2 tak bernama, lebih baik tak usah

kami sebutkan siapakah nama kami”.

Bicara sampai disitu salah seorang diantaranya telah

mendorong pintu ruangan tersebut setelah membuka pintu

ia tidak langsung masuk badannya berhenti diluar

sedangkan pedangnya segera didorong kedalam, ujung

pedang mengancam depan dada nyonya sibongkok sakti itu.

Pada waktu itu Si Soat Ang sedang berdiri di belakang

pintu, jaraknya dengan pedang tersebut cuma terpaut dua

depa belaka.

Ia bisa melihat pihak lawan, sebaiknya orang itu tak

dapat melihat dia yang bersembunyi di situ.

Setelah orang itu menempelkan ujung pedang nya

didepan dada perempuan tadi, kembali serunya:

“Nyonya sibongkok, terpaksa kami harus melakukan

kesalahan terhadap dirimu.”

Belum habis ia berbicara, mendadak Si Soat Ang putar

pergelangannya, cambuk lemas yang berada ditangannya

dengan disertai hembusan angin tajam menyambar kearah

lengan orang itu.

Kepandaian Si Soat Ang dalam permainan cambuk tidak

lemah. sewaktu berada dibenteng Thian It Poo seringkali ia

berlatih ilmu cambuk tersebut melawan puluhan ekor anjing

srigala, dengan telak serangan cambuk tadi bersarang diatas

pergelangan tangan orang itu.

“Trang . .” cekalannya jadi kendor, dan pedang itu jadi

terjatuh keatas tanah, sementara diatas pergelangannya

tertera bekas cambuk yang merah sebab membengkak

sakitnya luar biasa.

Saking tak tahannya orang itu menjerit keras dan

meloncat mundur kebelakang dengan sempoyongan.

“Cepat lari… cepat lari…” teriaknya keras-2. “Si bongkok

sakti ada didalam rumah !”

Namun rekannya masih tetap tenang terdengar ia

berseru:

“Eeeei… kenapa kau ? bukankah sibongkok sakti telah

berlalu, bukankah kita berdua melihatnya dengan mata

kepala sendiri ?”.

Tangan orang itu gemetar keras badannya sempoyongan

keringat dingin setetes demi setetes mengucur keluar

membasahi seluruh tubuhnya.

“Coba kau lihat” ia berseru, “Pergelangan tanganku jadi

begini, kemungkinan besar si bongkok sakti telah kembali

dengan melalui bukit sebelas belakang”.

“Jangan bicara sembarangan.” hardik rekannya

“Seumpamanya sibongkok sakti berada disini, niscaya ia

sudah tunjukkan diri dan me-robek2 kita jadi dua bagian,

apakah kau lupa akan gelarnya, dia disebut orang si

Bongkok sakti yang berangasan ? aku lihat mungkin ada

orang lain sedang main gertak terhadap kita.”

Bicara sampai disitu ia lantas pertinggi suaranya dan

berteriak:

“Sahabat dari aliran manakah yang berada didalam

ruangan ? persoalan ini tidak ada sangkut pautnya dengan

dirimu, aku harap kalian jangan campur tangan, kalau tidak

niscaya kami tak akan sungkan2 lagi terhadap dirimu !”.

Ingin sekali Si Soat Ang buka suara menjawab

pertanyaan itu, namun dengan cepat si-nyonya bongkok

sudah memberi tanda kepadanya agar jangan bersuara,

diikuti perempuan itu berkata:

“Kalian berdua sudah tahu lihay dia adalah seorang

sahabat karib dari toako bongkok, selama hidup orang ini

paling pantang berjumpa dengan manusia2 asing macam

kalian berdua oleh karena itu barusan memberi sedikit

peringatan kepada kalian, kalau kamu berdua masih nekad

juga… yaa apa boleh buat lagi.”

Diam2 Si Soat Ang kagum akan ucapan nyonya bongkok

ini, maka ia membungkam, keadaannya semakin misterius,

pihak lawanpun semakin was-was terhadap dirinya.

Terdengar kedua orang itu dengan wajah merengek

berseru:

“Nyonya bongkok kau pasti tahu bukan bagaimanakah

tabiat orang itu, seandainya kami gagal mengundang

kehadiranmu… mungkin baru saja tinggalkan tempat ini,

jiwa kami berdua sudah melayang.”

Air muka perempuan itu dalam sekejap mata berubah

pucat pias bagaikan mayat, tubuhnya gemetar keras sedang

keringat mulai mengucur keluar.

Melihat hal tersebut Si Soat Ang keheranan, ia tahu jelas

perempuan itu sama sekali tidak takut, namun apa sebabnya

secara tiba2 berubah jadi begini ? tentu dibalik ucapan

orang2 itu terselip suatu masalah yang tak ingin dia ketahui.

Namun apa yang diucapkan kedua orang itu ? mengapa

ia gagal untuk menemukan keistimewaan tersebut ?

Terdengar lelaki yang terluka pergelangan tangannya itu

berkata:

“Nyonya bongkok, hitung2 kau telah mengorbani jiwa

kami, bagaimanapun juga kau kan kenal dengan dirinya,

sedang sibongkok sakti pun tak ada dirumah, pergilah

jumpai sekejap dirinya…”

Belum habis ia berkata, nyonya bongkok yang duduk

diatas kursi mendadak jatuh tertelungkup keatas tanah,

ternyata ia jatuh tak sadarkan diri.

Si Soat Ang terkesiap, buru2 ia maju dan memayang

nyonya itu.

Namun, baru saja ia memayang bangun perempuan itu,

mendadak dari belakang punggung terasa angin tajam

menyambar datang, jelas ada orang sedang melancarkan

bokongan.

Si Soat Ang terkesiap cambuknya kontan dibalik balas

menyerang kebelakang diikuti badannya berputar kencang.

Tampak kedua orang lelaki itu sudah berada didalam

ruangan ketika menjumpai diri Si Soat Ang, tak kuasa

mereka berseru berbareng:

“Siapakah nona ?”

Si Soat Ang tidak ingin banyak bicara dengan orang2 itu,

pergelangannya berputar cepat. Sreet ! Sreet ! Sreet ! secara

beruntun ia mengirim tiga buah serangan berantai.

Angin serangan men-deru2 cahaya kilat menyambar kian

kemari, bayangan cambuk memenuhi angkasa, kedua orang

itu terdesak hebat, dan mundur ke belakang dengan

sempoyongan,

Pepatah kuno mengatakan: Sekali bergebrak akan

diketahui berisi atau tidak, tiga buah serangan berantai dari

Si Soat Ang walaupun gencar dan dahsyat, permainan

cambuknya boleh dikata sempurna, namun bukan termasuk

ilmu silat kelas satu.

Dalam sekilas pandang, kedua orang itu berhasil

menemukan banyak titik kelemahan diantara permainan

cambuknya.

Kedua orang itu saling bertukar pandangan, kemudian

salah satu diantaranya berkata:

“Nona, kami tiada bermaksud jahat terhadap diri nyonya

bongkok, harap kau berlega hati.”

“Kalian tak usah banyak bicara.” Teriak Si Soat Ang

dengan gusar. “Tadi nyonya bongkok sudah berkata tidak

akan berlalu mengikuti kalian, buat apa kalian ngaco belo

terus disini?”

Melihat gadis itu tak bisa ditundukkan dengan kata2,

orang itu segera mencabut keluar pedangnya dan maju

mendekat dengan langkah lebar.

Si Soat Ang semakin gusar, tiba2 teriaknya sambil

memainkan cambuk.

Cambuknya kembali menyapu ke depan disertai angin

tajam, namun gerakan tubuh musuhnya cukup lincah

berkelit ke samping diikuti pedangnya menusuk secara

beruntun mengirim dua tusukan ke arah belakang.

Mengambil kesempatan bagus itulah, orang tadi bergerak

kedepan, sekali sambar ia telah memayang tubuh nyonya

bongkok kemudian dibawa keluar dari dalam ruangan.

Gerakan orang itu cepat bagaikan kilat, menanti gadis itu

berhasil menegakkan tubuhnya, orang itu dengan

memayang nyonya si bongkok telah mengundurkan diri

keluar ruangan.

Si Soat Ang tidak menyangka ilmu silat kedua orang itu

sangat lihay, hatinya terperanjat dan buru2 mengejar keluar.

Baru saja badannya bergerak, lelaki yang berdiri didepan

pintu itu segera memapaki kedatangannya, Sreeet Sreeett

Beruntun tiga tusukan kilat dilancarkan kedepan, hawa

pedang memenuhi ruangan, jalan maju Si Soat Ang

seketika terbendung rapat.

Si Soat Ang makin terperanjat, saat itulah ia baru sadar

dia bukan tandingan dari kedua orang itu, namun nyonya si

bongkok kena ditangkap oleh mereka, bagaimana

pertanggungan jawabnya jika si bongkok sakti kembali ? dia

pasti akan celaka.

Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia teringat

untuk pergi dari sana.

Mendadak suara gelak tertawa berkumandang dari

tempat kejauhan, suara itu makin lama makin mendekat

dan cepatnya sukar dibayangkan dengan kata2, gelak

tertawa tersebut amat nyaring dan lantang membuat

siapapun merasa hatinya ber-debar2.

Buru2 Si Soat Ang mendongak ke-luar, tampak seorang

sastrawan berusia setengah baya tahu2 sudah muncul

didalam hutan bambu itu.

Walaupun usia si sastrawan setengah baya itu sudah

hampir mendekati lima puluh tahunan, namun wajahnya

masih kelihatan ganteng, gagah dan romantis, gerak

geriknya menimbulkan simpatik bagi siapapun.

Begitu tiba disana, sastrawan berusia setengah baya itu

tertawa tergelak, kemudian tegurnya.

“Gwat Hun, kau masih saja seperti dahulu, gemar akan

tanaman bambu!”

Mendadak ia berseru tertahan, kepalanya berpaling

memandang kearah kedua orang lelaki itu lalu tegurnya:

“Aku kan suruh kalian berdua mengundang perempuan

ini secara hormat dan ramah? siapa suruh kalian main seret

seperti itu?”

Sambil bicara tangannya menuding kearah lelaki

tersebut, seketika itu juga air muka mereka berubah jadi

pucat ke-abu2an, sepasang lutut jadi lemas hingga tak kuasa

lagi mereka jatuh berlutut diatas tanah:

“Dia… dia jatuh… jatuh pingsan, oleh karena itu aku…

aku memayangnya keluar”

Sepasang alis lelaki setengah baya itu berkerut selintas

hawa membunuh yang menggidikkan hati terlintas

terbayang diatas wajahnya.

Sekalipun hanya sekilas mata namun cukup membuat

siapapun bergidik dan ter kencing2.

Lelaki yang berlutut diatas tanah itu gemetar semakin

keras, dengan gigi saling beradu ia anggukkan kepalanya

berulang kali, serunya: “Ampun… ampun. . ampun…”

Jelas saking takutnya sampai tak sanggup mengucapkan

sepatah katapun, Waktu itu Si Soat Ang telah berada

didalam ruangan, namun ia tertegun setelah menjumpai

kejadian itu, ia tidak tahu siapakah kedua orang lelaki yang

datang mengundang nyonya si bongkok sakti itu, namun ia

mengerti ia sadar ilmu silat kedua orang ini sangat lihay dan

jauh berada diatasnya, atau paling sedikit ilmu silatnya

sejajar dengan kepandaian silat ayahnya almarhum, atau

dengan perkataan lain mereka adalah jago kelas wahid

dalam dunia persilatan.

Tapi apa sebabnya mereka begitu ketakutan sampai

menunjukkan keadaan macam begini ?

Berada dalam keadaan seperti ini, Si Soat Ang

sendiripun bingung, haruskah ia munculkan diri atau

bersembunyi terus ? jantung berdebar keras menahan

ketegangan yang mencekam.

Selintas hawa membunuh telah lenyap dari wajah

sastrawan setengah baya itu, dengan sepasang alis berkerut

ia berkata:

“Kaupun terhitung jago kelas wahid didalam dunia

persilatan kenapa begitu jeri macam gentong nasi ? baik…

baiklah mengingat kalian bersikap hormat kepadaku selama

ini akan ku beri jenasah yang utuh buat kalian !”

Ketika itu sambil anggukkan kepala, orang itu me

rengek2 minta ampun. namun setelah ucapan ini diutarakan

badannya jadi kaku, mata terbelalak mulut melongo

sementara keringat dingin mengucur makin deras.

Begitu selesai bicara, sastrawan setengah baya itu segera

mengebaskan ujung bajunya kedepan.

Kebutan ini tidak begitu kuat terdengar… “Sreeet !” angin

dingin menyambar lewat, ujung baju lelaki setengah baya

tadi tahu2 sudah berkelebat lewat melalui batok kepala

orang itu.

“Kraaak !” kebutan yang lemah lembut dan disangka

suatu gurauan oleh Si Soat Ang tadi bersarang diatas batok

kepala orang itu dengan telak sekali, tanpa banyak suara

lagi orang itu roboh keatas tanah, diatas batok kepalanya

muncul sebuah bekas luka yang dalamnya ada setengah

coen. seperti batok kepala itu terjepit oleh papan besi

belaka.

Demikianlah, tanpa mengeluarkan suara dan didalam

waktu singkat, selembar jiwa telah melayang.

Begitu rekannya mati, lelaki kedua jadi ketakutan

setengah mati, air mukanya berubah semakin hebat,

terdengar orang itu dengan suara serak merengek lirih:

“Kami tidak melakukan kesalahan, kau… mengapa kau

turun tangan begitu keji ?”

“Oouw… jadi kau tidak puas ?” jengek sisastrawan

setengah baya itu dengan suara dingin, lambat2 ia angkat

kepala.

Orang itu menjerit aneh, mendadak sepasang tangannya

bergerak berbareng, tujuh, delapan macam senjata rahasia

berkilauan memenuhi angkasa dengan dahsyat mengurung

tubuh orang itu, sementara pedangnyapun bergerak cepat

menusuk ke ulu hati sastrawan tadi.

Melihat datangnya serangan sastrawan setengah baya itu

tertawa dingin, ujung bajunya bergerak cepat.

Braak…braak…braak.. diiringi tujuh delapan kebasan,

ketujuh delapan macam senjata rahasia itu berbareng

menancap diatas ujung bajunya namun dengan cepat

memental dan rontok semua keatas tanah.

Se-akan2 senjata rahasia tadi telah menumbuk dinding

baja, tak sebatangpun berhasil menembusi tubuh lelaki

sastrawan itu.

Ketika itulah serangan pedang lelaki itu sudah meluncur

datang.

Ditinjau dari sikap serta air muka orang itu, tusukan

pedangnya ini jelas sudah menggunakan segenap tenaga

yang dimilikinya, “Breeet!” ujung baju sastrawan itu kena

tersambar dan robek jadi dua bagian! Tidak sampai disitu

saja, ujung pedang lelaki itu dengan penuh meneruskan

sasarannya menutuk kedada lelaki sastrawan itu.

Tiba2 sastrawan setengah baya itu menghela napas

panjang tangannya bergerak kedepan, dengan jari tengah

serta ibu jarinya ia menjepit ujung pedang orang itu.

Teriakan kesakitan bergema memecahkan kesunyian,

mendadak ia lepaskan pedangnya sambil meloncat mundur

kebelakang dari kelima jarinya darah segar mengucur keluar

dengan sangat deras sementara ia mundur kebelakang

sastrawan setengah baya itu menyentil pedang rampasan itu

kedepan.

“Criiit!” tidak ampun bagaikan anak panah terlepas dari

busurnya pedang tersebut membalik langsung meluncur

kearah orang itu menembusi dadanya dan terbenam hingga

tinggal gagangnya belaka.

Seluruh tubuh orang itu gemetar keras darah segar

muncrat keempat penjuru sambil mencekal pedang untuk

dicabut keluar dari dadanya.

Matanya melotot giginya saling gemerutukan, namun ia

gagal mencabut keluar pedang itu, akhirnya sambil menjerit

ngeri badannya mundur ke belakang dengan sempoyongan

kemudian roboh terjengkang keatas tanah.

Demikianlah. jiwanyapun berakhir di ujung pedang

sendiri.

Dalam sekejap mata sastrawan berusia pertengahan itu

membinasakan dua orang, air mukanya sama sekali tak

berubah dengan wajah penuh senyuman ia melanjutkan

langkahnya mendekati perempuan istri sibongkok sakti itu.

Sejak orang yang memayang perempuan itu berlutut,

nyonya sibongkok sakti ini menggeletak di atas tanah,

namun tidak selang beberapa saat kemudian ia sudah

siuman dan bangun berdiri sampai sekarang.

Sastrawan setengah baya itu dengan wajah penuh

senyuman berjalan kedepan nyonya sibongkok sakti,

kemudian dengan suara halus sapanya:

“Gwat Hun, Gwat Hun. apakah kau sudah lupa dengan

diriku ?”

Suara sastrawan itu lembut dan menarik hati, begitu

mempersonakan hingga sukar dilukiskan dengan kata2,

membuat siapapun yang ikut mendengar akan merasa

nyaman dan terpikat.

Si Soat Ang yang ada didalam rumah tentu saja tahu

sastrawan setengah baya itu sedang ber bicara dengan

nyonya sibongkok sakti, namun tanpa sebab jantungnya

ikut berdebar setelah mendengar ucapan itu.

Terdengar sisastrawan setengah baya itu berkata

kembali:

“Aku suruh kedua orang itu datang untuk mengundang

dirimu, tak nyana mereka begitu berani menyalahi dirimu

coba kau lihat, aku telah membinasakan mereka berdua.”

Perempuan itu berdiri kaku, ia tak berkutik sama sekali,

air mukanya pucat pias. titik2 air mata jatuh berlinang

membasahi pipinya.

“Gwat Hun kau menangis? kau tidak ingin menangis

bukan ?” rayu sastrawan itu kembali dengan suara halus,

“Ataukah mungkin karena bisa berjumpa kembali dengan

aku, hatimu kegirangan sehingga mengucurkan air mata ?”

Bibir nyonya sibongkok itu bergetar, pada mukanya tak

kedengaran sedikit suarapun, namun akhirnya meletup juga

suara yang begitu tenang, halus dan sama sekali berada

diluar dugaan.

“Aku sama sekali tidak dapat melihat dirimu” ia berkata.

“Gwat Hun, apa maksud perkataanmu ?” Seru

sisastrawan itu setelah melengak sejenak.

“Apakah kau tak mau memaafkan diriku ? Aaai , .

ataukah kau tak ingin berjumpa lagi dengan aku?”

Suara nyonya sibongkok semakin tenang, bahkan ia

tertawa dingin.

“Aku sama sekali tak dapat melihat dirimu, sepasang

mataku sudah menjadi buta.”

“Apa? sepasang matamu…” teriak sastrawan itu amat

terperanjat.

Sambil berseru ia maju kedepan, kemudian sambungnya

dengan nada cemas.

“Apakah bongkok sibangsat itu bersikap kurang ajar

kepadamu mencelakai dirimu jadi be-gini? bongkok bangsat

. . “

Belum selesai ia bicara, mendadak nyonya itu ayunkan

tangannya kedepan Ploook! sebuah tempelengan keras

dengan telak bersarang diatas pipi sastrawan setengah baya

itu.

Walaupun nyonya ini tak paham ilmu silat, namun

gaplokan ini cukup berat, ketika itu juga muncul lima buah

bekas telapak yang merah dan sembab bengkak diatas pipi

lelaki itu.

Walaupun hanya merah membengkak, cukup

membuktikan betapa kerasnya tempelengan nyonya itu

barusan.

Dengan mata kepala sendiri Si Soat Ang melihat betapa

sastrawan berusia pertengahan ini membunuh dua orang

jago lihay Bu-lim sekaligus, kini melihat ia digaplok keras

oleh nyonya si bongkok, diam2 ia ikut kuatirkan buat

keselamatan perempuan itu.

Terdengar nyonya itu dengan wajah pucat pias berseru

sepatah demi sepatah kata.

“Aku melarang kau maki toako bongkok dihadapanku,

siapapun kularang memaki dirinya di-hadapanku, dia hanya

seorang yang benar2 bersikap baik kepadaku.”

Sastrawan setengah baya itu tidak gusar, suaranya masih

tetap lemah lembut, halus, merdu dan memikat hati.

“Bagaimana dengan aku Gwat Hun ?” ia bertanya,

“Apakah aku kurang baik terhadap diri mu ?”

“Dimana pedangmu ?” seru nyonya si bongkok dengan

suara gemetar.

“Ada di punggungku !”

“Berikan kepadaku !”

“Baik !” buru2 ia singkap bajunya dan sreeet! Sebilah

pedang segera diloloskan dari sarungnya.

Begitu pedang tersebut dicabut keluar, jantung Soat Ang

berdetak makin keras ia lihat pedang itu luar biasa dan jauh

berbeda dengan pedang biasa, panjangnya hanya dua depa

namun memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan

mata, tajamnya pasti bukan main, jelas merupakan sebilah

pedang kelas satu.

Dengan amat tenang sastrawan setengah baya itu

membalik pedang itu, kemudian gagang pedang tadi

diserahkan ketangan nyonya sibongkok.

Setelah mencekal pedang ditangan, seluruh tubuh

nyonya sibongkok gemetar keras, ia cekal pedang itu erat2

kemudian menempelkan ujung pedang tadi keatas ulu hati

sisastrawan tadi.

Ia tarik napas panjang2, tangannya yang mencekal

pedang lambat2 didorong kedepan ujung pedang makin

lama semakin mendekati ulu hati sastrawan itu, dilihat

keadaannya seakan2 ia hendak membinasakan orang itu

dalam sekali tusukan.

Si Soat Ang yang melihat kejadian ini jadi melengak, tak

kuasa ia berdiri menjublak.

Orang Bu lim, siapapun tahu kalau nyonya si bongkok

sakti tak pandai bersilat, sedangkan ilmu silat sastrawan

berusia pertengahan itu sangat lihay dan dibuktikan sendiri

oleh Si Soat Ang dengan mata kepala sendiri.

Sewaktu ditampar tadi ia sudah tidak marah bahkan

menyerahkan pula pedangnya agar ditusuk oleh perempuan

itu. Apa sebabnya yang terjadi? mengapa sastrawan itu rela

dirinya ditusuk? sebenarnya apa hubungan nyonya dengan

sisastrawan?

Sementara Si Soat Ang disibukkan oleh pelbagai

pertanyaan yang mencurigakan, terdengar nyonya

sibongkok berkata dengan suara lamban.

“Sejak dahulu aku sudah ambil keputusan untuk

membinasakan dirimu, sekarang aku benar2 hendak

membunuh dirimu.”

“Kalau benar kau hendak binasakan diriku, mengapa aku

harus melarikan diri.” sastrawan itu tertawa hambar,

“Asalkan kau senang, sekalipun aku harus mati

ditanganmu, kenapa aku harus takut? Nah, silahkan turun

tangan.”

Tubuh nyonya itu gemetar semakin keras.

“Kau jangan anggap aku tak berani turun tangan.”

serunya. “Aku hendak membinasakan dirimu, dengan

tanganku sendiri!”

Ujung pedang yang dicekal ditangan makin mendekati

ulu hati si sastrawan itu

Namun sastrawan itu tetap tak berkelit, ia hanya

menyapa: “Aaai. . . Gwat Hun !”

Mendadak nyonya sibongkok itu mengerahkan tenaga

dan mendorong pedangnya menusuk ke-depan, disaat

pedang itu berkelebat datang, sastrawan setengah baya itu

miringkan badannya kesamping.

“Criiit !” tusukan ini kendali tidak mengenai dada

sastrawan itu namun menembusi iganya dengan telak.

Ujung pedang mencabut iganya sedalam tiga coen, darah

segar segera mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Si Soat Ang yang melihat kejadian itu jadi terkesiap.

Ilmu silat yang dimiliki sastrawan setengah baya ini

sangat lihay, namun apa sebabnya ia tak berkelit sama

sekali ketika ujung pedang nyonya si bongkok sakti itu

menusuk datang ?

Seluruh tubuh nyonya si bongkok itu gemetar keras

badannya mundur selangkah kebelakang, kelima jarinya

mengendor dan tidak ampun pedang tadi terjatuh keatas

tanah.

“. . . kau tertusuk ?” ia bertanya dengan nada gemetar.

“Benar, tusukanmu telah menembusi igaku… seumpama

kau ingin menusuk diriku sampai mati, nah pungut kembali

pedang mustika itu, tambahi satu kali tusukan.”

Tubuh nyonya itu gemetar semakin keras, terdengar

suaranya berubah makin melengking tajam dan tak sedap

didengar.

“Mengapa kau tidak menghindar?” teriaknya “Mengapa

kau tidak merampas pedang itu? mengapa kau tidak . . . “

“Kau ingin menusuk aku sampai mati?” tukas sastrawan

setengah baya itu dengan tenang “Aai . . . mati ditanganmu

memang bukan suatu pekerjaan yang enak, namun bisa

dirindukan dan diingat selalu olehmu jauh lebih baik

daripada aku tetap hidup namun kau selalu . . . selalu

membenci diriku.”

Belum habis sastrawan setengah baya itu bicara, dari

sepasang mata nyonya itu mengucurkan air mata dengan

derasnya tak tertahan ia maju kedepan sambil bertanya:

“Kau… kau berada dimana ?”

Sastrawan setengah baya itu merentangkan sepasang

tangannya selintas senyuman licik dan keji berkelebat diatas

wajahnya.

“Aku berada disini?” sahutnya.

Nyonya sibongkok menjerit keras, ia segera menubruk ke

dalam pelukannya dan menangis tersedu2, sedang

sastrawan setengah baya itu dengan wajah dihiasi

senyuman licik merentangkan tangannya memeluk nyonya

itu erat2.

Ketika itulah Si Soat Ang dapat melihat bahwa darah

sudah berhenti mengalir dari iga sastrawan setengah baya

itu, pakaian dibagian iganya robek, namun justru karena

berlubang gadis itu dapat melihat bahwa diantara iganya

tergantung sebuah kantongan kulit, dari kantongan itulah

darah mengalir keluar.

Dia sendiri, sebenarnya sama sekali tidak terluka, tidak

aneh kalau senyuman licik menghiasi wajahnya ternyata ia

berhasil menipu nyonya sibongkok itu untuk terpikat

kedalam pelukannya.

Sebelum terjadinya peristiwa, ia telah menggantungkan

kantongan kulit itu lebih dahulu.

Hal ini menunjukkan kalau ia sudah tahu bahwa nyonya

sibongkok telah buta, dan sengaja ia datang kemari untuk

menipu nyonya itu.

Tetapi, kalau ia sudah tahu bahwa perempuan itu telah

buta mengapa sewaktu nyonya itu mengatakan bahwa

matanya buta, sastrawan setengah baya ini masih

memperlihatkan sikap tercengang ? apa sebabnya ?

Jelas terbukti sekarang, dia memang ada maksud

membohongi nyonya sibongkok ! menipu dia agar terjebak

kedalam perangkapnya.

Berpikir sampai disitu, tak tahan Si Soat Ang merasakan

jantungnya dag dig dug, belum pernah ia menjumpai orang

yang menipu seseorang dengan cara licik, menipu seseorang

sampai dia begitu percaya.

Si Soat Ang tak tahu apa sebabnya sastrawan setengah

baya itu membohongi si nyonya bongkok, namun ia tahu

saat ini nyonya itu sudah tidak membenci diri sastrawan itu

lagi sedikitnya tidak salah, terdengar nyonya itu sambil

terisak nangis sedang berkata:

“Bagaimana lukamu? apa . . apakah serius?”

“Aaaah tidak mengapa, walaupun sedikit sakit, namun

siapa suruh tempo dulu aku terpikat perempuan siluman

itu, sekalipun lebih sakit juga sudah mestinya.”

“Dimana perempuan siluman, Kiem Lan Ho!”

“Setelah mereka ibu dan anak berlalu, aku baru sadar,

aku telah berbuat suatu kesalahan besar, segera kucari

kalian berdua diujung langit dasar lautan, sampai waktu

dekat inilah aku mendapat sedikit kabar tentang dirimu, aku

lantas berangkat kemari.

Gwat Hui, tak usah kita ungkap kembali kejadian masa

silam, sekarang sibongkok ada dimana? aku hendak

menjumpai dirinya, hendak kuberitahu kepadanya kalau

dirimu akan kubawa kembali, kalau ia tidak setuju maki

akan kuajak dia untuk berduel sampai salah satu diantara

kita mati.”

“Tempo dulu, kau mengusir kami ibu dan anak, hatiku

amat sedih, sambil gendong bocah aku siap terjunkan diri

kedalam sungai untuk bunuh diri namun ditolong oleh

toako bongkok.” seru nyonya sibongkok itu dengan

menahan isak tangis, “Selama banyak tahun, kami berdua

saling menyebut sebagai suami istri namun tak pernah

hidup sebagai suami istri sebenarnya, seumpama kau

hendak membawa aku pergi, dia tak akan menghalangi, ia

akan gembira sekali, hanya sayang saat ini dia tak berada

disini.”

“Aaaai… Gwat Hun, lalu dimanakah anak kita itu?”

Sembari berkata ia angkat kepala dan menengok keempat

penjuru, ia berpaling, Si Soat Ang menduga seandainya ia

ketahuan keadaan nya bakal runyam. Namun saat ini

hatinya sedang kaget bercampur takut untuk beberapa saat

tak sanggup gadis ini menguasai diri, sebelum ia sempat

bergerak jejaknya sudah ketahuan.

Pada mulanya sastrawan setengah baya itu berdiri,

kemudian sepasang matanya laksana pisau belati yang amat

tajam memperhatikan Si Soat Ang tak berkedip.

Hati Si Soat Ang tercekat, jantungnya dag dig dug,

badannya jadi kaku dan tak sanggup menguasai diri

keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh

tubuhnya.

Lama sekali suasana hening, kemudian barulah

terdengar sastrawan setengah baya itu berkata: “Gwat Hui,

sebenarnya apa yang telah terjadi ? bukankah anak kita

adalah seorang bocah pria?”

“Benar memang bocah pria, tentu saja seorang bocah

lelaki, tahun ini ia telah berusia dua puluh empat tahun.”

“Lalu siapakah bocah perempuan itu ?”

“Ooouw! Hampir saja lupa kuberitahukan kepadamu dia

adalah nona Si, sahabat karib Pek jie, berhubung Pekjie

terluka parah diluar perbatasan maka ia berangkat datang

kemari untuk memberi kabar, sekarang si bongkok toako

telah berangkat untuk menolong jiwanya.”

Sastrawan setengah baya itu mengangguk ia payang

tubuh nyonya sibongkok dan lambat-2 berjalan masuk

kedalam rumah.

Sambil berjalan ia bertanya:

“Gwat Hun. mengapa kau hanya memberi Pek saja

kepada bocah kita ?”

“Benar, aku memberi nama Tong-poei Pek kepadanya,

dengan harapan suatu hari kau bisa kembali, waktu itu

hatiku sudah berubah hebat maka aku berharap hari cepat

jadi terang, karenanya kuberi nama Pek kepadanya, kau

tabu akupun beri she Tong Poei juga kepadanya.

“Bagus, bagus sekali !”

Walaupun ia sedang berbicara dengan nyonya

sibongkok, namun sepasang matanya melototi diri Si Soat

Ang tak berkedip, hal ini membuat seluruh bulu kuduk

gadis itu pada bangun berdiri.

Ingin sekali dara itu mundur beberapa langkah

kebelakang, namun sepasang kakinya seakan2 terpantek

diatas lantai, sedikitpun tak dapat berkutik, suatu siksaan

hatin yang hebat sekali.

“Gwat Hun, coba kau lihat apakah masih ada barang

yang perlu dibereskan ?” akhirnya sastrawan setengah baya

itu berkata.

Berulang kali ia menyebut perempuan itu dengan

sebutan “Gwat Hun… mungkin itulah nama sebenarnya

dari nyonya sibongkok.

“Sekarang aku sudah mendapat kembali dirimu, barang

apa lagi yang perlu dibereskan!” terdengar ia menyahut.

“Hanya saja Pek jie dia… dia masih berada diluar

perbatasan.”

“Soal itu gampang sekali bagaimana kalau sekarang juga

kita berangkat keluar perbatasan untuk menyusul dirinya?”

Air mata nyonya bongkok bagaikan hujan gerimis

mengucur keluar tiada hentinya, namun kali ini ia

mengucurkan air mata bukan karena sedih melainkan

karena gembira kegirangan.

“Nona Si.” ujarnya sambil membesut air mata. “Aku

tahu kaupun ingin cepat2 bertemu dengan Tong-poei Pek,

namun aku ada satu persoalan ingin mohon kepadamu.”

Si Soat Ang ingin menjawab tetapi lidahnya terasa

seperti kaku tak sepatah katapun bisa di utarakan,

Lewat beberapa saat kemudian ia baru bertanya:

“U . . . uuuu . . , urusan apa.”

“Saat ini juga kami akan menyusul keluar perbatasan,

namun belum tentu bisa berjumpa dengan bongkok toako,

aku mohon agar kau suka menunggu disini seandainya

sibongkok toako kembali, katakan seluruh yang kau jumpai

kepada dirinya.”

“Semua… semua yang kulihat ?” tanya Si Soat Ang lagi

dengan nada gemetar.

Apa yang dilihat olehnya termasuk juga siasat licik

sastrawan setengah baya itu menipu dan menjebak nyonya

sibongkok, namun ia tahu yang dimaksudkan perempuan

itu bukan seperti apa yang dipikir karena itu tak tertahan ia

balik bertanya.

Nyonya bongkok itu sendiri tak mengerti apa yang

dimaksudkan, ia hanya berkata kembali: “persoalan masa

silam sudah diketahui semua oleh si toako bongkok, cukup

kau ceritakan apa yang kau lihat barusan, ia bakal menjadi

paham sendiri !”

Si Soat Ang menunduk, namun ia merasa sepasang mata

sang sastrawan yang tajam bagaikan pisau itu masih

menempel dibadannya tak berkedip dalam keadaan seperti

ini tak ada perkataan lain kecuali mengangguk.

“Baa . . . baik.”

“Nona Si, jangan lupa dengan ucapanku ini, sekalipun

toako bongkok tidak kembali, setelah Pek-jie berhasil kita

temukan, kami pasti akan kembali kesini. Nah selamat

tinggal.”

“Selamat tinggal.” pikiran Si Soat Ang sedang kalut, ia

hanya bisa mengucapkan kata2 itu belaka.

“Gwat Hun, mari aku bimbing kau keluar dari sini.”

sastrawan setengah baya itu segera berseru dengan nada

lembut. “Dahulu bukankah kau paling senang kalau aku

membawa kau melakukan perjalanan dengan mengerahkan

ilmu meringankan tubuh ? seringkali kau berkata, berlari

dengan ilmu meringankan tubuh se akan2 terbang ditengah

awan, bukankah begitu ?”

Sambil berkata ia bimbing tubuh nyonya itu dan berjalan

keluar langkah kakinya makin lama makin cepat, dalam

sekejap mata ia sudah menerobosi hutan bambu dan lenyap

tak berbekas.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 9

MENANTI sastrawan setengah baya dan nyonya

sibongkok itu sudah lenyap dari pandangan Si Soat Ang

menghembuskan napas panjang. otot2 diseluruh badannya

serasa jadi mengendor.

Secara tiba2 ia merasa tidak kerasan untuk tetap tinggal

disana, menanti kemblainya sibongkok sakti dari luar

perbatasan namun apa yang harus ia lakukan ?

Sekarang ia sudah tahu kiranya sastrawan setengah baya

itu adalah bekas suami nyonya sibongkok, bukan saja bekas

suami istri bahkan mereka telah berputra, Tong-poei Pek

adalah putra mereka.

Entah kemudian sastrawan itu terpikat oleh seorang

perempuan yang bernama Kiem Lian Hoa, ia lantas

mengusir Gwat Hun ibu dan anak, dalam keadaan putus

asa Gwat Hun hendak bunuh diri dengan terjunkan diri

kedalam sungai, kebetulan ia ditolong oleh sibongkok sakti.

sejak itulah mereka lantas mengikat diri jadi suami istri.

Kesemuanya ini dapat didengar oleh Si Soat Ang dari

pembicaraan sisastrawan setengah baya dengan nyonya itu.

Sekarang ia baru tahu apa sebabnya nyonya itu jauh

lebih gelisah dari pada sibongkok sakti setelah mengetahui

Tong poei Pek terluka parah, kiranya pemuda itu adalah

putra kandungnya.

Begitu tega sastrawan setengah baya itu mengusir Gwat

Hun ibu dan anak dari rumah, dari sini dapat ditarik

kesimpulan orang itu tentu kejam dan tidak berperasaan,

sekarangpun ia berhasil menipu nyonya itu, bahkan dengan

cara yang licik dan memalukan, apa sebenarnya maksud

tujuan yang terkandung dihati pria itu ?

Yang paling membuat Si Soat Ang bingung adalah

kelihayan ilmu silat yang dimiliki sastrawan setengah baya

itu, entah siapakah orang itu ? menurut kata2 perempuan

tadi, seharusnya sastrawan itu she Tong-poei…

Mendadak perasaan bergidik menyelimuti seluruh tubuh

gadis itu, bulu kuduk pada bangun berdiri, ia merasa ngeri

seram dan ketakutan, gigi mulai beradu dan seluruh badan

menjadi lemas.

Sekarang ia tahu sudah siapakah sebenarnya sisastrawan

setengah baya itu.

Walaupun selama ini ia berdiam terus didalam benteng

Thian It Poo yang jauh diluar perbatasan, namun

pengetahuannya sangat luas, setelah mengetahui kalau

orang itu she “Tong poei.” teringatlah olehnya akan seorang

gembong iblis yang paling ditakuti jago2 kangouw, orang

itu paling keji, paling ganas orang itu she Tong poei

bernama Pa-cu, dialah pemimpin dari perguruan Thian Bun

Kalau dari aliran lurus, jago paling lihay adalah Si Thay

sianseng, maka dari golongan sesat Tong-poei Pa-culah

yang paling jagoan, ia tak terkalahkan dan belum pernah

menjumpai tandingan.

Rasa takut makin menyelimuti seluruh benaknya, tiba2

gadis itu menjerit keras.

“Kenapa kau masih berada disini ? kalau tidak lari,

apakah aku harus menantikan kematian mu disini ?” Sambil

menjerit ia putar badan dan melarikan diri ter birit2 keluar

rumah.

Hatinya kacau, lelah dan ketakutan, sekuat tenaga ia lari

terus kedepan…saking cepatnya ia berlari akhirnya tak bisa

ditahan badannya terpeleset dan jatuh terguling keatas

tanah.

Buru2 ia merangkak bangun, coba berdiri untuk

melanjutkan larinya., mendadak sesosok bayangan manusia

berkelebat datang, tahu2 dihadapan matanya telah berdiri

seseorang.

Si Soat Ang merasa jantungnya se akan2 berhenti

berdetak, seluruh tubuhnya jadi kaku, sukma nya terasa

terbang dari raganya, ia benar2 ketakutan…ngeri dan

akhirnya terkencing2.

Pandangan matanya mulai kabur, kepala pusing tujuh

keliling, ingin sekali ia buka suara untuk mohon ampun,

namun tak sepatah katapun bisa diucapkan, ia jadi kaku,

seakan2 sebuah patung batu.

Pada saat itulah, orang yang berdiri dihadapannya buka

suara menegur:

“Eeei…bukankah kau adalah nona Si ? Nona Si !

sebenarnya apa yang telah terjadi ?”

Begitu orang itu buka suara, Si Soat Ang tak kuasa

menahan diri lagi, ia menjerit se-jadi2nya.

Semula ia mengira Tong-poei Pa-cu sigembong iblis

nomor wahid dikolong langit itu muncul disana dan siap

membasmi dirinya, tapi sekarang ia boleh berlega hati,

sebab orang itu bukan gembong iblis yang disangka, dia

adalah Tjioe Pian Thian, Tjioe Jie hiap.

Dengan susah payah ia merangkak dan coba berdiri,

namun badannya masih lemas, baru saja kakinya akan

berdiri, sekali lagi ia terbanting keatas tanah.

“Nona Si, apa yang telah terjadi? mengapa kau begitu

ketakutan?” tanya Tjioe Pian Thian dengan nada

tercengang.

Tadi Si Soat Ang sudah bersiap sedia untuk melarikan

diri lagi sekuat tenaga, namun sekarang Tjioe Pian Thiao

telah tiba, ia bisa menghembuskan napas lega, setelah

istirahat ia merangkak bangun dan duduk mendeprok diatas

tanah.

“Tjioe Jie-hiap, aduuh celaka… celaka tiga belas! telah

terjadi peristiwa diluar dugaan!”

Suaranya masih gemetar dan penuh diliputi ketakutan,

keseraman dan kengerian.

“Apa yang telah terjadi..” seru Tjioe Pian Thiao

terperanjat.

Namun belum sempat Si Soat Ang menjawab sinar

matanya telah terbentur dengan dua sosok mayat yang

menggeletak diatas tanah dengan cepat ia meloncat kedepan

mendekati mayat itu.

Tapi air mukanya segera berubah hebat. “Aaah,

bukankah mereka adalah sepasang Manusia gagah dari Yu

Tiong? bagaimana bisa mati disini?”

Mendadak suatu ingatan berkelebat dalam benaknya

kembali ia berseru: “Enso apakah kau merasa terkejut?”

“Nyonya sibongkok telah diculik orang.” ujar Soat Ang

lambat2 sambil bangun berdiri.

Tjioe Pian Thian semakin terperanjat sejak menemukan

mayat dari sepasang manusia gagah dari Yu tiong, ia sudah

merasa telah terjadi suatu peristiwa diluar dugaan, kematian

mereka berdua pasti menyangkut suatu masalah yang amat

besar.

Sekarang, setelah mengetahui nyonya si bongkok sakti

diculik orang lain, ia sadar suatu badai angin puyuh mulai

melanda mereka.

“Siapa?” Buru2 serunya dengan cepat, “Siapa yang

menculik nyonya sibongkok? apakah kau melihat dengan

mata kepala sendiri?”

“Dia… dia adalah see… seorang sastrawan setengah

baya, aku duga dia tentu adalah Tong poei Pa-cu.”

Begitu kata2 “Tong poei Pacu” meluncur keluar dari bibir

gadis tersebut, air muka Tjioe Pian Thiao berubah pucat

pias, sekalipun dia termasuk salah satu onggota dari Tiong

tiauw Sam Yu yang menjagoi Bu-lim, namun iapun sadar

ilmu silatnya masih bukan tandingan dari Tong poei pacu,

gembong iblis nomor wahid dari kolong langit itu.

“Dimanakah orang itu ?” ia bertanya dengan wajah pucat

bagaikan mayat, sepasang matanya melirik kesana kemari.

“Ia sudah pergi jauh, namun aku tahu dia pasti akan

datang lagi, sebab ia tidak ingin aku tetap hidup, ia tidak

ingin rahasianya yang tak boleh diketahui orang lain terlihat

olehku, ia pasti datang lagi kemari untuk mencabut

nyawaku!”

Membicarakan soal “Mencabut nyawa” seluruh tubuh

gadis itu gemetar keras.

“Kalau begitu kau cepat lari, . . cepat lari !” seru Tjoei

Pian Thiao, ia tarik tangan Si Soat Ang dan berkelebat kedepan,

dalam sekejap mata kedua orang itu sudah

menerobosi hutan bambu.

Ilmu silat Tjoei Pian Thiao tidak lemah, bagaikan anak

panah yang terlepas dari busurnya, tujuh li telah dilewati

dengan cepat,

Baru saja mereka berdua menghembuskan napas lega

dan berhenti berlari, mendadak.

“Aduuuh… aduuuh… Tjoei jiehiap, sungguh hebat ilmu

meringankan tubuhmu, aku benar benar kagum ” dari

belakang tubuh mereka berkumandang datang suara

teguran.

Sementara itu tubuh Tjoei piau Thian masih berada

ditengah udara, mendengar teguran itu badannya dengan

cepat ber-salto beberapa kali, tangannya menyentak dan ia

lempar badan Si Soat Ang kearah luar kalangan.

Tenaga sentakan itu amat besar, tidak tahan badan Si

Soat Ang terpental dan melayang jauh kedepan.

Sekalipun gerakan Tjoei Piao Thian dalam usahanya

menyelamatkan jiwa sigadis itu dilakukan sangat cepat

namun sayang seribu kali sayang ketika tubuh gadis itu

melayang ditengah udara, sebuah batu kecil dengan disertai

desiran tajam telah meluncur datang.

Plaaak ! tidak ampun jalan darah lemasnya terhajar

telak, tubuh Si Soat Ang segera terpental dan jatuh kebawah

tepat terjepit diantara dahan2 pohon dibawahnya. Semua

kejadian ini dapat diikuti Tjoai Piao Thian dengan jelas,

namun pada saat ini dia tak bisa menggubris gadis itu lagi

sebab waktu ia putar badan kebelakang, sinar matanya telah

bertemu dengan tubuh Tong Poei Pacu yang berdiri

dihadapannya sambil menyeringai seram.

Kalau Si Soat Ang ia masih menduga kemungkinan

besar sastrawan setengah baya itu adalah gembong iblis

nomor wahid Tong poei Pacu, tetapi bagi Tjioe Pian Thian,

sekilas pandang dia segera mengenalinya.

Dengan hati tercekat Tjioe Pian Thian mundur

selangkah kebelakang, tangannya bergerak cepat

melemparkan sebuah bom keangkasa.

ooOdwOoo

BAB 7

“TJIOE JIE HIAP!” jengek Tong poei Pacu sambil

tersenyum. “Setelah kau lepaskan tanda bom udara itu

harus membutuhkan berapa waktu saudara2mu Seng It hiap

serta Huang Sam hiap baru bisa tiba disini!”

Jantung Tjioe Pian Thian berdebar keras namun

bagaimanapun juga dia adalah jago kangouw kelas satu, air

mukanya masih tetap tenang seperti tak pernah terjadi

sesuatu apapun.

“Soal itu sih belum tentu” jawabnya berat. “Seandainya

mereka berada disekitar sini, tentu saja lebih cepat tiba

disini, seandainya tanda bom udara itu tidak mereka lihat,

maka mereka tak akan bisa kemari.”

“Ha..haa.. haa.,.aku jadi orang memang aneh sekali,

makin orang takut kepadaku aku masih tidak mengapa

sebenarnya bisa saja aku tunggu kehadiran saudara2mu itu

kemudian baru kulayani kalian bertiga, namun sayang

seribu kali sayang waktuku tidak banyak, masih ada orang

lain menunggu kedatanganku sedangkan kau harus mati ini

hari juga, maka dengan berat hati terpaksa aku harus turun

tangan sekarang juga !”

Air muka Cioe Pian Thian berubah hebat namun ia tetap

mempertahankan ketenangannya.

“Baiklah kalau begitu silahkan kau mulai turun tangan !”

ia menjawab.

Tong-poei Pa cu tidak sungkan lagi, ia segera menjura

kemudian ujung bajunya dikebas kedepan dengan gerakan

melintang, segulung angin tajam langsung menggulung

tubuh Cioe Pian Thian.

Manusia she Cioe inipun bukan manusia lemah, ia

jejakkan kakinya keatas tanah dan meloncat ke tengah

udara.

Gerakannya sangat indah dan cukup gesit, namun Tongpoei

Pa-cu tidak kasih hati.

Kebutan pertama gagal, ujung bajunya kembali menyapu

kebawah kemudian meloncat pula ketengah udara

memukul lawannya.

Melihat Tong poei Pacu menyusul ketengah udara, Tjioe

Pian Thian terperanjat, dalam keadaan gugup telapak

kirinya segera dibabat ke luar sementara tangan kanannya

siap meloloskan senjata tajam.

Tong poei Pacu sama sekali tidak berkelit melihat

datangnya serangan telapak itu, ia malah memapaki

datangnya serangan tadi.

“Ploook . , ” dengan telak serangan tersebut bersarang

diarah dada Toog poei Pacu.

Namun suatu kejadian aneh telah berlangsung bukan

Tong poei pacu yang menjerit kesakitan adalah Tjioe Pian

Thian sendiri yang menjerit ngeri, keringat sebesar kacang

kedelai mengucur keluar membasahi tubuhnya, telapak

tangan yang digunakan untuk menghantam dada lawannya

itu terasa sakit, se akan2 seluruh tulangnya telah hancur

berantakan.

Sebaliknya Tong poei Pacu tenang2 saja seperti tak

pernah terjadi apa2, dengan cepat ujung baju kanannya

ditebas kedepan menghantam batok kepala Tjioe Pian

Thian.

Tubuh orang she Tjioe masih ada ditengah udara, dalam

keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk berkelit lagi.

Pandangan matanya jadi gelap, tahu2 seluruh batok

kepalanya telah terbungkus kedalam ujung baju Tong poei

Pacu.

Selama berlangsungnya pertarungan seru antara Tong

poei Pacu melawan Tjioe Piau Thian, Si Soat Ang yang

badannya tersangkut diatas dahan pohon dapat mengikuti

dengan sangat jelas, setelah ia melihat batok kepala Tjioe

Pian Thian terbungkus ke dalam ujung baju Tong poei

Pacu, ia dengar orang she Tjioe itu mendengus berat, kaki

dan badannya jadi lemas dan harapannya jadi tipis sekali.

Ia melihat tubuh Tong poei Pacu melayang turun keatas

tanah bersama badan Tjioe Pian Thian, diikuti orang she

Tong poei itu kebaskan ujung bajunya, tubuh Tjioe Pian

Thian terpental dan jatuh direrumputan. Tjioe Pian Thian

jagoan kelas satu dalam Bu-lim, namun kalau dibandingkan

dengan Tong-poei Pacu ia masih terpaut jauh.

Karena itu selama bertarung melawan gembong iblis itu,

semua serangannya berhasil dipatahkan dengan gampang,

bahkan tidak sampai dua tiga jurus jiwanya telah melayang

ditangan iblis ini.

Sungguh kasihan Tjioe Pian Thian, tidak sempat

menjerit kesakitan jiwanya telah melayang dari raganya…

Setelah melemparkan tubuh Tjoei Pian Thian tadi, perlahan2

Tong-poei Pacu angkat kepala, Dalam pada itu jalan

darah Si Soat Ang tertotok, badannya tak dapat bergerak

sedikitpun, tentu saja tiada harapan baginya untuk

melarikan diri.

Ingin sekali gadis itu mengutarakan pelbagai alasan agar

jiwanya diampuni, namun justru tak sepatah katapun bisa

diucapkan.

Sambil tertawa ter bahak2 Tong-poei Pacu meloncat

kebawah pohon, telapak tangganya bergerak cepat

membabat dahan pohon yang menjepit tubuh gadis itu.

“Kraaak !” Dahan pohon terbabat patah, tubuh Si Soat

Ang pun terbanting jatuh keatas tanah. Walaupun

bantingan ini sangat berat namun jalan darahnya yang

tertotok tiba2 jadi bebas.

Dengan cepat ia merangkak bangun, serunya dengan hati

gelisah: “Kau . . kau jangan. . . jangan bunuh diriku…”

Waktu itu Tong-poei Pacu sudah mempersiapkan ujung

bajunya untuk di kebas kebawah, mendengar jeritan ini ia

tarik kembali serangannya.

“Mengapa ?”

Jantung Si Soat Ang berdetak makin keras, se akan2

hendak terlepas dari tubuhnya, dengan napas ter-sengkal2 ia

berseru:

“Kalau kau binasakan diriku, seumpama nyonya si

bongkok menanyakan diriku, apa yang hendak kau katakan

?”

“Mengapa ia tanyakan dirimu ?” tanya Tong-poei Pacu

rada tertegun.

Saking takutnya hampir2 Si Soat Ang menangis se-jadi2

nya, namun ia sadar dalam keadaan seperti ini ia tak boleh

menangis.

“Ia bisa tanyakan diriku…ia bisa tanyakan diriku !”

teriaknya dengan suara serak.

Tong poei Pa cu tidak menjawab, sepasang matanya

dengan sinar yang menggidikkan melototi terus wajahnya

tanpa berkedip.

Si Soat Ang meronta bangun, kembali teriaknya:

“Aku bersumpah tidak akan bicara soal apapun, aku

tidak akan bercerita kepada siapapun tentang kejadian yang

telah berlangsung. tidak ! aku tidak akan bicara !”

Tong poei Pacu hanya mendengus, senyuman

menyeringai menghiasi bibirnya.

Melihat orang itu membungkam, timbul harapan hidup

dalam hati gadis itu, kembali ia berseru.

“Aku pasti tak akan bicara, kau boleh berlega hati, aku

tidak akan bicara kepadanya pun kepada siapapun”

“Haa…haa…sungguh mengherankan apa yang tidak akan

kau ucapkan kepada orang lain ? coba katakan aku punya

rahasia apa yang tak boleh di ketahui orang lalu ?”

Mendapat pertanyaan itu Si Soat Ang tertegun: “Rahasia

apa ?” serunya gemetar.

“Bagus, terus terang kuberitahukan kepadamu, selama

hidup aku tak pernah percaya kepada siapapun, aku tidak

ingin diriku kalah, coba kau pikir bisakah aku mempercayai

dirimu ?”

Sepasang lutut Si Soat Ang jadi lemas, tidak kuasa lagi

badannya terjatuh keatas tanah, badannya serasa tak

bertenaga, untuk bangkitpun tak sanggup lagi, namun

hatinya berteriak:

“Ayoh cepat bangun, ayoh cepat melarikan diri, aduh

mak, kenapa dengan kakiku ? ayoh bangun, melarikan diri

.”

Tetapi badannya tetap mendeprok diatas tanah dengan

lemas, bahkan mulai gemetar sepatah katapun tak bisa

diucapkan, bergerak sedikitpun tak sanggup.

Menanti Tong Poei Pacu untuk kedua kakinya angkat

ujung bajunya ketengah udara, Si Soat Ang baru menjerit

keras, entah dari mana datangnya tenaga mendadak ia

menggelinding di-atas tanah, menggelinding sekuat tenaga

menerobosi semak belukar.

Tentu saja sekalipun ia menggelinding sampai didalam

semak sekalipun tak akan bisa meloloskan dari kejaran

Tong Poei Pacu, akhirnya ia bakal kecandak dan mati di

tangan si iblis.

Namun pada saat itulah mendadak terdengar gelak

tertawa yang sangat aneh berkumandang datang dari

tempat kejauhan, gelak tertawa itu bergerak cepat sekali,

dalam sekejap telah berada didekat mereka.

Diikuti sesosok bayangan manusia meloncat datang

dengan sebatnya.

Si Soat Ang yang berhasil menggelinding ke dalam

semak segera tentramkan hatinya dan menengok ke depan,

ia dapat melihat jelas orang yang barusan munculkan

dirinya bukan lain adalah musuh bebuyutan yang paling ia

benci, dia lah simanusia yang punya wajah mirip monyet

Hiat Goan Sin-koen adanya.

Kemunculan Hiat Goan Sin-koen sungguh berada diluar

dugaan Soat Ang, seandainya manusia monyet ini tidak

mengejar Loei Sam, dan kebetulan Loei Sam berada

dibenteng Thian It Poo, benteng miliknya akan tetap ramai

dan jaya, tentu saja jiwanya tidak akan terancam seperti ini

hari.

Hiat Goan Sin-koen berdiri membelakangi Soat Ang,

tampak ia mundur dua langkah kebelakang setelah tiba

disana, mungkin pada waktu itu simanusia monyet tersebut

sudah melihat jelas siapakah yang berada dihadapannya.

Haruslah diketahui walaupun Hiat Goan Sin-koen

termasuk sebagai jago yang amat lihay, namun

kedudukannya masih terpaut jauh kalau dibandingkan

dengan Tong poei Pa-cu.

Tidak aneh kalau manusia monyet itu sangat terperanjat

setelah diketahui olehnya gembong iblis nomor wahid yang

ditakuti semua jago sedang berdiri dihadapannya, setelah

mundur dua langkah kebelakang ia tertawa serak tegurnya:

“Eeeei… sungguh aneh sekali, ini hari tanggal berapa sih

? masa begitu banyak jago lihay yang berkumpul disini ?

mungkinkah ditempat ini akan diselenggarakan suatu

pertemuan puncak para jago Bu lim ?”

“Apa maksud Sin-koen berkata begini ?” jengek Tong

poei pacu sambil mengangkat bahu, “Apakah kaupun

merasa dirimu terhitung seorang jago lihay ?”

Seandainya perkataan ini diucapkan orang lain mungkin

simanusia monyet ini sudah mencak2 kegusaran, namun

lain halnya kalau perkataan ini meluncur keluar dari bibir

Tong poei Pacu walaupun dalam hati sangat mendongkol,

ia tak berani banyak berkutik.

“Haa… haa… haaa… tentu saja aku bukan jago lihay”

sahutnya diiringi tertawa paksa “Maksudku disini masih

ada jago2 lihay lain nya.”

“Haaa . . . haaa kecuali aku seorang, benarkah dikolong

langit masih ada jago yang lebih lihay dari pada diriku.”

Sungguh sombong orang ini, namun tak bisa disalahkan

kalau kita tinjau dari kedahsyatan ilmu silat yang

dimilikinya.

Hiat Goan Sin-koen tarik napas panjang, dengan sangat

hati2 ia menjawab.

“Mungkin, sebab aku lihat Si Thay sianseng dari gunung

Go bie pun berada disekitar sini!”

Mendengar nama orang itu, air muka Tong poei Pacu

berubah hebat.

Namun perubahan itu hanya berlangsung dalam sekejap

mata, diikuti air mukanya kembali seperti sedia kala.

“Ooouw , . jadi Si Thay sianseng pun berada disekitar

ini?” jengeknya dengan alis berkerut.

Ucapan ini diutarakan disertai tenaga lwee-kang yang

dahsyat suaranya nyaring dan lantang sukar dilukiskan

dengan kata2, entah sampai berapa jauh suara itu

berkumandang namun jelas dan diketahui oleh siapapun,

perkataan itu jelas sengaja ditujukan kepada Si Thay

sianseng. Seandainya Si Thay sianseng ada disekitar sana ia

tentu akan mendengar suaranya.

Sedikitpun tidak salah, belum lama suaranya sirap dari

tempat kejauhan berkumandang datang suara yang tidak

kalah lantangnya:

“Tong poei sianseng, bagaimana keadaanmu sejak

perpisahan ?”

Suara itu nyaring namun amat rendah, sewaktu

menembusi lubang telinga terasa nyaman dan enak.

Pada mulanya suara itu bergema dari tempat yang sangat

jauh, tapi dalam sekejap mata suara berada dekat sekali

diikuti terdengar ujung baju tersampuk angin, dari balik

hutan muncul sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.

Perawakan orang itu boleh dikata seimbang dengan

Tongpoei Pa-cu, sama2 tinggi besar dan penuh berotot,

hanya usianya telah mencapai enam puluh tahunan, ia

memakai baju warna abu2 dengan ditangannya mencekal

sebuah tongkat terbuat dari pualam putih.

Diatas wajahnya sudah penuh berkeriput namun masih

memancarkan cahaya yang tajam, setibanya dikalangan ia

segera menjura kearah Tongpoei Pacu.

“Si Thay sianseng, apakah bocah itu masih berada di

tangan mu ?” tegur Tong poei Pacu segera setelah balas

memberi hormat.

Si Thay sianseng tidak menjawab, ia menghela napas

panjang dan berpaling kearah Hiat Goan sin-koen.

Walaupun Hiat Goan Sinkoenpun mendengar dari

pembicaraan kedua orang tokoh Bu-lim itu seakan2

terselimut tabir rahasia, namun ia tak tahu apa maksudnya,

menanti Si Thay sianseng berpaling kearahnya, manusia

monyet ini baru sadar tentunya kedua orang tokoh silat ini

tidak ingin dia ikut serta mendengarkan pembicaraan itu.

Karenanya buru 2 ia berseru.

“Aku datang kemari untuk mencari si bongkok sakti yang

berangasan maaf tak bisa menemani lebih jauh selamat

tinggal.”

Sembari berkata selangkah demi selangkah dan mundur

kebelakang, baru mundur beberapa langkah ia sudah berada

ditengah semak dimana Si Soat Ang menyembunyikan diri.

Melihat manusia monyet itu mundur kearah nya, buru2

gadis itu merangkak kesamping dengan maksud

menghindar.

Namun sayang tindakannya terlambat satu langkah, Hiat

Goan Sin-koen telah menemukan adanya manusia ditengah

semak, dengan cepat ia berpaling sewaktu dilihatnya orang

itu adalah Si Soat Ang, ia rada tertegun kemudian tertawa

aneh.

“Aaah, kiranya kau!” Sambil berkata tangannya bergerak

cepat mencengkeram bahu gadis itu dan diangkatnya dari

dalam semak.

Air muka Si Soat Ang pucat pasi bagaikan mayat,

giginya saling beradu dengan kerasnya, ia sangat ketakutan:

“Aaah, sungguh sempit jalan didalam dunia ini,

dimanapun kita selalu berjumpa” jengek Manusia Monyet

itu sambil mendengus sinis, “Ada seorang sahabat karibmu

ingin berjumpa denganmu.”

“Siapakah . . kedua orang itu?”

Belum sempat Kiat Goan Sin-koen menjawab mendadak

si Thay sianseng menegur: “Hiat Goan heng, harap suka

melepaskan nona cilik itu.”

Simanusia monyet tertegun, kemudian dengan cepat

serunya:

“Tapi Si Thay sianseng, kau tidak tahu perempuan ini,

dia . .”

“Hiat Goan heng!” kembali Si Thay sianseng menukas

dengan sepasang alis berkerut. “Kau adalah seorang tokoh

Bu lim yang sudah kenamaan, mengapa sikapmu begitu

kasar terhadap seorang nona cilik? ayoh cepat lepaskan.”

Air muka Hiat Goan Sin koeo berubah beberapa kali,

akhirnya lepas tangan juga meskipun demikian dengan

gemas ia melotot sekejap ke arah Si Soat Ang.

“Ayoh jalan, kan harus ikuti diriku pergi dari sini”

teriaknya.

“Aku, kenapa harus pergi mengikuti dirimu” tanya gadis

itu dengan napas ter engah2

Setelah dibebaskan oleh Si Thay sianseng dari kesulitan,

nyali perempuan ini semakin berani, bahkan terhadap

simanusia monyet pun ia berani membangkang.

Kontan saja simanusia monyet Hiat Goan Sin koen

mencak2 kegusaran sambil tertawa dingin teriaknya:

“Engkoh misan mu Liem Hauw Seng berada tidak jauh

dari sini, apakah kau tak ingin ber jumpa dengan dirinya?

bukankah kau ingin bertemu dengan bekas kekasih mu itu?”

Nyali Si Soat Ang besar, ia ingin membantah namun

mendengar nama “Liem Hauw Seng” seluruh tubuhnya

gemetar.

Sejak ia melewati perbatasan tak diingat lagi sama Giok

Jien maupun Liem Hauw Seng, sebab menurut dugaannya

kedua orang itu mati ditengah badai salju. Namun sekarang

secara mendadak ia dapat kabar, bukan saja Liem Hauw

Seng belum mati bahkan berada disekitar sana, hatinya jadi

kaget. air mukanya berubah hebat dan tak sepatah katapun

bisa diucapkan.

Kembali terdengar Hiat Goan Sin-koen tertawa dingin.

“Kau tentu menganggap mereka berdoa sudah mati

bukan ? kau anggap nona Giok Jienpun sudah mati bukan ?

namun kenapa kau tak pernah berpikir, perduli kau sudah

menyiksa, menganiaya dan mencelakai mereka dengan cara

apapun, asalkan mereka berhasil menjumpai diri ku, maka

jiwanya bisa diselamatkan ?”

Si Soat Ang tertawa getir, pikirnya:

“Aaaah… sungguh sialan, kenapa aku tidak berpikir

sampai disitu.”

Karena tak bisa bicara, ia terpaksa membungkam.

“Hiat Goan, sungguh besar omongmu !” tiba2 Tong Poei

pacu mengejek dari samping. Air muka Hiat Goan Sin koeo

berubah hebat, ia sangat jengah, segera manusia monyet ini

mendengus dingin.

“Tong-poei sianseng” Si Thay sianseng-pun buka suara.

“Aku dengar orang bilang, kau munculkan diri disekitar sini

maka sengaja aku datang kemari untuk mencari dirimu,

bagaimana kalau kita menyingkir untuk membicarakan

sesuatu ?”

Sepasang alis Tong poei Pacu seketika berkerut.

“Kiranya Si Thay sianseng datang kemari untuk mencari

aku, apakah dikarenakan bocah itu…”

Belum habis ia berbicara, Si Thay sianseng telah ber

batuk2, tentu saja maksudnya jelas sekali ia minta agar

manusia she Tong-poei itu tidak meneruskan kata2nya.

“Benar, memang sudah terjadi satu peristiwa” sahut Si

Thay sianseng kemudian.

Tong poei Pacu mendengus dingin, ia berpaling dan

melotot sekejap kearah Si Soat Ang kemudian tertawa

dingin. setelah itu sastrawan itu baru putar badan dan

mengikuti Si Thay sianseng berlalu dari sana.

Ilmu meringankan tubuh kedua orang tokoh silat ini

amat lihay sekali, dalam sekejap mata mereka sudah lenyap

dari pandangan.

Menanti kedua orang tokoh itu sudah berlalu Hiat Goan

Sin-koen bisa bekerja lebih leluasa, sekali cengkeram

kembali ia tangkap bahu Si Soat Ang kemudian diangkat

keatas.

Sesaat Tong poei Pacu meninggalkan tempat itu, ia

melototi sekejap kearahnya, Si Soat Ang segera mengerti

iblis itu sudah memberi peringatan kepadanya agar jangan

bicara, kalau tidak niscaya jiwanya akan dicabut.

Namun, kendati Tong poei Pacu telah berlalu, kembali ia

ditangkap oleh Hiat Goan Sin-koen, posisinya sangat tidak

menguntungkan sekali.

Dengan sekuat tenaga ia meronta, namun jari2 tangan si

manusia monyet yang kurus dan panjang itu masih

mencekal diatas bahunya kencang-kencang, hal ini

membuat tulangnya serasa mau patah! keringat sebesar

kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.

“Kau suka ikut aku tidak ?” hardiknya keras.

Si Soat Ang terperanjat, sebelum ia sempat menjawab,

mendadak terdengar desiran angin tajam berkumandang

datang, didalam hutan itu kembali muncul dua sosok

bayangan manusia.

Ditengah rasa terkejut Si Soat Ang berpaling sekejap

kearah mereka berdua, ia temukan salah satu diantaranya

adalah seorang kakek kurus kering sedang yang lain adalah

lelaki tinggi kekar.

“Jie-ko !” tiba2 terdengar lelaki kekar itu meraung keras.

Sambil berteriak lelaki itu memandang kearah jenazah Tjoei

Pian Thian dengan mata mendelong, setelah itu ia meloncat

kedepan langsung menubruk kearah Hiat Goan Sio koen si

manusia monyet.

Tubrukan ini sangat dahsyat, angin serangan men deru2,

seakan2 ia ada maksud membinasakan musuhnya dalam

satu kali serangan.

Serangan itu langsung mengancam dada Hiat Goan Sinkoen,

melihat datangnya hantaman ini. ia segera berteriak:

“Hey Huang Loo Sam apa2an kau ini ?”

Tak usah Hiat Goan Sinkoen membentak. Si Soat Ang

pun sudah tahu kedua orang itu pastilah kedua anggota dari

Tiong tiauw Sam Yu si kakek pengail Seng Lok serta

sikepalan baja Huang Seng.

Dalam pada itu sambil membentak keras Hiat Goan Sin

koen tiba2 menyingkir kesamping.

Gerakan ini berhasil menyelamatkan dirinya dari jotosan

Huang Seng, namun jurus serangan orang itu aneh sekali,

tangan kanan tidak mengenai sasaran, kepalan kiri segera

berputar kencang dan meluncur kembali kedepan, dari arah

kiri menuju kekanan mengancam tubuh Hiat Goan Sinkoen

dari arah samping.

Hiat Goan Sia koen menjerit aneh, kelima jari-2 nya

mengendor, ia lepaskan dulu cengkeramannya pada Si Soat

Ang kemudian baru membalik telapaknya balas menabok

dada Huang Seng, gerakan ini memaksa si kepalan baja ini

terpaksa tarik serangan sambil meloncat mundur.

“Toako, kenapa kau belum jaga turun tangan” Teriaknya

keras2.

Sambil berkata kepalannya kembali melancarkan empat

buah serangan berantai.

“Sam-te, kita harus bertanya dulu sampai jelas kemudian

baru turun tangan !” sahut sikakek pengail Seng Lok.

“Apanya yang perlu ditanya lagi ?”

Sang badan menubruk kedepan “Bruuk…!” dengan telak

serangannya bersarang dibahu Hiat Goan Sin koen, jelas

simanusia monyet ini ada maksud membiarkan dirinya

terhantam.

Sebab Hiat Goan Sin koen sendiripun tahu Tiong Tiauw

Sam yu adalah manusia luar biasa sekalipun ia tidak takut

seumpama rekening atas matinya Tjioe Pian Thian tercatat

atas namanya. kerepotan dikemudian hari akan banyak

sekali.

Oleh sebab itu ia berharap bisa menguasai Huang Seng,

kemudian menjelaskan duduknya persoalan, siapa sangka

Huang Seng sudah kalap dalam keadaan seperti ini terpaksa

simanusia monyet itu harus menerima kerugian dan biarkan

bahunya dihantam sekali.

oooOdwOooo

BAB 8

MAKSUDNYA setelah kepalan Huang Seng bersarang

ditubuhnya ia pasti agak merandek, dengan ambil

kesempatan itu simanusia monyet ini akan memberi

penjelasan.

Siapa sangka Huang Seng bergelar si “Kepalan baja”.

didalam permainan kepalannya ia sangat hebat bahkan

memiliki kekuatan yang luar biasa.

Serangan yang bersarang dibahu Hiat Goan Sin koen itu,

meski tidak sampai mengakibatkan luka, cukup membuat ia

mundur beberapa langkah kebelakang dengan

sempoyongan.

Begitu ia mundur, Huang Seng kembali menjerit keras,

kepalannya yang gede dijotos kedepan dengan dahsyatnya,

angin pukulan kembali men-deru2. Bersamaan itu pula dari

tengah udara menyambar lewat serentetan suara yang aneh,

dalam keadaan repot Hiat Goan Sin-koen mendongak.

Tampakah seutas benang2 yang tipis bagaikan rambut

dengan membawa sebuah mata kail yang bersinar

keperak2an telah menyambar datang mengancam

wajahnya.

Hiat Goan Sin koen bukan manusia sembarangan,

sekilas pandang ia segera tahu itulah senjata paling aneh,

senjata kail emas yang digunakan sikakek pengail Seng Lok.

Ditinjau dari sikap mereka jelas kedua orang itu sudah

menganggap dirinya pembunuh dari elang ditengah mega

Tjioe Pian Thian.

Berada dalam keadaan seperti ini, sulit buat manusia

monyet ini, untuk membantah dengan cepat ia

memperendah badannya, lengan yang luar biasa panjang

segera menekan keatas permukaan tanah.

Dengan memperendah badannya, dua kepalan Huang

Seng berhasil dihindari diikuti tangannya menekan tanah.

Weees kaki kirinya mengirim sebuah tendangan memaksa

orang she Huang itu mundur selangkah kebelakang.

Ambil kesempatan itu, badannya segera mental ketengah

udara, dan bersalto beberapa kali.

Gerakan ini sangat indah dan cepat, “Sreeeeet”

pancingan emas dari Seng Lok tahu2 menyambar lewat

hanya beberapa depa didepannya.

Berada ditengah udara, Hiat Goan Sin-koen kembali

berteriak keras.

“Neneknya… maknya… Hey, kalian sudah salah

menuduh?”

Namun jenasah Tjioe Pian Thian jelas masih

menggeletak disana, berada dalam keadaan seperti ini sulit

buat Hiat Goan Sin koen untuk membantah, belum selesai

ia bicara terangan dari Seng Lok serta Huang Seng kembali

meluncur datang.

Si Soat Ang berdiri disisi kalangan, menonton jalannya

pertempuran dengan hati berdebar ia berdiri mematung

disana,

Menanti ketiga orang itu sudah bertarung beberapa saat,

ia baru teringat akan sesuatu, kalau tidak lari sekarang, mau

tunggu sampai kapan lagi ?

Buru2 ia putar badan dan menerobos kedalam semak,

tidak perduli bajunya terkait duri… ia menerobos dan

menerobos terus sehingga jauh dari kalangan pertarungan,

keadaannya saat itu mengenaskan sekali.

Ia tidak berhenti, lari beberapa li dengan cepat dilalui

sampai akhirnya ia kehabisan napas dan berhenti sendiri.

Sungai nan tenang terbentang didepan mata, ia tak kuat

menahan diri, segera gadis itu menerobos kedepan siap

terjunkan diri kedalam air.

Tiba2 . . , ia temukan disamping sungai duduk dua

orang.

Melihat ada manusia disana, Si Soat Ang segera

berhenti. buru2 ia bersembunyi dibelakang batu dan

mengintip kedepan.

Kedua orang itu duduk membelakangi dirinya mereka

duduk diatas sebuah batu besar ditepi sungai satu laki dan

satu perempuan yang gadis waktu itu sedang merebahkan

diri dalam pangkuan sang pemuda, sikapnya amat intim

sekali dan mesra, sekilas pandang Si Soat Ang merasakan

bayangan punggung muda mudi ini sangat dikenal olehnya,

sebelum ia ingat kembali siapa kah mereka terdengar gadis

itu telah buka suara dan berkata:

“Engkoh Hauw Seng, kau lihat si bongkok Pak li mau

menerima kita tidak?”

“Engkoh Hauw Seng ” tiga patah kata ini seketika

membuat Si Soat Ang tertegun kepalanya kontan terasa

pusing tujuh keliling dikala mendengar percakapan mereka.

Tidak aneh kalau ia merasa bayangan punggung kedua

orang ini sangat dikenal, ternyata sang pemuda adalah

engkoh misannya Liem HauwSeng.

Dalam detik itu juga, Si Soat Ang kaget, benci, iri dan

gusar sepasang kepelannya diremas2 pikirannya amat

kacau, terdengar Liem Hauw Seng berkata:

“Giok Jien, aku lihat ia pasti mengabulkan permintaan

kita, menurut Hiat Goan Sin koen, dia sangat cocok dengan

sibongkok itu, aku rasa harapan kita tentu bisa terpenuhi

kau boleh berlega hati.”

“Aaaa… aku sungguh tidak paham mengapa ia sendiri

tak mau terima kita sebagai murid?”

“Aku rasa dia berbuat demikian dengan maksud baik ia

tahu pamornya kurang baik dalam dunia persilatan dia

termasuk tokoh lihay dari aliran sesat. ia takut kita salah

ambil jalan, maka dari itu tak mau menerima kita sebagai

murid.”

“Dia adalah jago dari kalangan sesat, namun justru

dialah yang menolong kita, dia bukan seperti orang jahat!”

Agaknya Liem Hauw Seng dibuat bungkam oleh

perkataan itu, setelah lama sekali termangu-mangu ia baru

berkata kembali.

“Mungkin juga ia berbuat demikian karena dahulu

pernah mengikat tali persahabatan dengan ayahku,

berhubung dia adalah sahabat ayahku maka setelah

mengetahui siapakah aku, dia lantas turun tangan

membantu kalau tidak, mungkin ia hanya berpeluk tangan

belaka. Lagipula dia datang kebenteng Thian It Poo karena

mencari orang, sedangkan yang mencelakai kita adalah

putri kesayangan dari Thian It Poocu maka dari itu ia suka

menolong kita.”

Si Soat Ang bersembunyi dibelakang batu hanya

beberapa tombak dari mereka berdua, apa yang dibicarakan

Liem Hauw Seng dengan Giok Jien dapat didengar jelas

sekali oleh Si Soat Ang walaupun suara mereka tidak keras.

Sewaktu ia mendengar Liem Hauw Seng menyebut

dirinya sebagai putri Thian It Poocu, hatinya amat sakit

seakan2 ditusuk oleh seribu batang anak panah. Dia

memang tak salah putri kesayangan dari Thian It Poocu

namun Liem Hauw Seng adalah engkoh misannya, tidak

pantas kalau orang sendiripun menyebut demikian

kepadanya.

Atau dengan perkataan lain, ucapan itu membuktikan

kalau dalam hati pemuda itu sudah tidak menganggap dia

sebagai saudaranya lagi.

Sejak mengetahui sepasang muda mudi yang bermesraan

adalah Liem Hauw Seng dengan Giok Jien, gadis she Si

telah cemburu dan benci saat ini napsu benci dan irinya

semakin berkobar

Per-lahan2 ia tarik napas panjang, timbul niat untuk

unjukkan diri dan kasi pelajaran kepada kedua orang itu.

Sebelum maksudnya tercapai kembali terdengar Giok

Jien berkata: “Ayahmu bersahabat erat dengan Hiat Goan

Sio-koen, kalau begitu ayahmu juga termasuk tokoh silat

dari aliran sesat ?”

“Tentu saja bukan, seandainya ayahku adalah tokoh silat

dari aliran sesat, Hiat Goan Sin koen sudah menerima kita

sebagai muridnya sejak semula, justru ia tak mau menerima

kita berhubung separuhnya untuk menyelamatkan pamor

ayahku.”

Se akan2 tidak mengerti yang dimaksudkan, Giok Jien

bertanya: “Bukankah ayahmu sudah meninggal, buat apa

masih membicarakan soal pamor lagi ?”

“Aaaai ! menurut cengli perkataanmu memang tidak

salah namun orang-orang Bu lim tak seorangpun paham

akan persoalan ini, demi mendapat sedikit nama kosong,

bahkan tidak sayang mengorbankan jiwa sendiri Aai..”

Giok Jien tidak buka suara lagi, ia menyandarkan

tubuhnya makin rapat diatas badan Liem Hauw Seng,

sementara pemuda itu rentangkan tangannya dari belakang

punggung gadis itu dan memeluknya erat2.

Si Soat Ang menanti sejenak. tidak terdengar kedua

orang itu bicara lagi ia segera bangun berdiri dan tertawa

dingin.

Gelak tertawa dingin ini seketika menggetarkan tubuh

Liem Hauw Seng serta Giok Jien berdua mereka segera

berpaling.

Menanti kedua orang itu tahu kalau orang yang berdiri

dibelakang mereka adalah Si Soat Ang, rasa tercengang tak

kuasa menahan diri, pertama-tama Giok Jien mendengus

lebih dahulu diikuti Liem HauwSeng berseru tawar:

“0ouw.. kiranya kau !”

Si Soat Ang amat benci. namun ia cukup licik, rasa

bencinya tidak sampai diunjukkan pada wajahnya, sambit

tertawa segera tegurnya.

“Hey engkoh Hauw Seng, sungguh tak disangka kembali

kita bertemu disini !”

Jilid 9 Halaman 39/40 Hilang

Si Soat Ang segera menunjukkan wajah penuh senyum

manis.

“Aaaah… aku hanya ingin berbicara sebentar dengan

Giok Jien.” katanya halus “Aku ingin beritahu asal usulnya

kepada Giok Jien, kenapa sih kau ngambek macam itu ?”

Begitu ucapan tersebut diutarakan kontan jantung Giok

Jien dag dig dug.

“Siotjia, asal usulku, kau , , apakah kau tahu?” serunya.

“Giok Jien, jangan dengarkan omongannya.” buru2

Liem Hauw Seng berseru.

Si Soat Ang segera tertawa dingin, mendadak ia angkat

jarinya menuding kelangit dan angkat sumpah: “Seandainya

aku Si Soat Ang tidak tahu asal usul Giok Jien yang

sebenarnya, atau saat ini aku sedang bicara ngaco belo,

Thian akan mengutuk aku dan membinasakan diriku

dengan sambaran geledek !”

Secara tiba2 Si Soat Ang angkat sumpah yang begitu

berat, kontan Liem Hauw serta Giok Jien berdiri tertegun.

Menuding kelangit angkat sumpah, hal ini bukan suatu

permainan biasa, sekalipun Liem Hauw Seng sadar dibalik

ucapan liu pasti tersembunyi siasat lain, kali ini dibikin

kebingungan juga.

Giok Jien semakin percaya lagi dibuatnya, namun gadis

ini tidak berani maju kedepan, sambil memandang kearah

Liem Hauw Seng serunya:

“EngkohHauw Seng…”

Dengan cepat Liem Hauw Seng rentangkan tangannya

menghalangi gadis itu maju kedepan, serunya:

“Kalau kau tahu asal usul dari Giok Jien. Nah cepat

katakan !”

“Tahu atau tidak itu urusanku, dan mau bicara atau tidak

terserah kepadaku, kalau kau tidak biarkan Giok Jen datang

kemari. akupun tidak akan bicara” kata Si Soat Ang sambil

tertawa.

“Kurang ajar, jangan harap kau bisa mencelakai Giok

Jien” teriak Liem HauwSeng gusar.

Si Soat Ang tidak menggubris, per-lahan2 ia putar badan

dan berkata:

“Giok Jien lebih baik kau ambil keputusan sendiri asal

usulmu sangat luar biasa dan tak mungkin bisa kau

dapatkan dengan akal sehatmu. Seandainya sekarang tak

mau tahu, ya sudahlah, selama hidup jangan harap aku

suka beritahu kepadamu.”

“Siocia tunggu sebentar, aku.,.aku datang !”

“Kau…”

Namun pemuda she Liem ini tak sanggup meneruskan

kata2nya, sebab pada waktu itu Giok Jien sedang

memandang kearahnya penuh permohonan, titik2 air mata

membasahi wajahnya tambah mengenaskan hatinya yang

halus.

Liem Hauw Seng mencekal tangan gadis itu erat2,

ujarnya kembali:

“Giok Jien kau tak boleh kesana, sekalipun kau ingin

mengetahui asal usulmu, kenapa harus gelisah? akhirnya

kau bakal tahu sendiri”.

Giok Jien benar2 seorang gadis yang penurut mendengar

ucapan ini ia menghela napas.

“Aai… baiklah aku menuruti perkataanmu,” Melihat

siasatnya gagal Si Soat Ang teramat gusar, kontan ia

tertawa dingin.

“Giok Jien kau anggap aku masih ada maksud untuk

mencelakai dirimu, kalau kau memang sudah begitu baik

terhadap Hauw Seng baiklah selalu kepadanya, Hmm!

kiranya kau sudah anggap aku seperti barang sampah?”

“Hmm! perduli apapun yang hendak kau ucapkan, aku

tidak akan perkenankan Giok Jien mendekati dirimu.”

“Baik, bagus, kiranya kaupun sudah anggap aku seperti

kalajengking, seperti ular berbisa.”

Teriak Si Soat Ang marah2, air mukanya berubah hijau

membesi, “Haa . . haa . . sungguh sayang Giok Jien tak

tahu siapa ayah dan ibunya, kalian harus tahu, kedua orang

tuanya sangat membantu dirinya.”

“Aku tak percaya kau punya liang sim yang begitu baik !”

Setelah mendengar perkataan itu, sadarlah Si Soat Ang,

kendati ia banyak bicara pun percuma, sebab Liem Hauw

Sang sudah amat jelas memahami watak maupun akal licik

nya, ia lantas putar otak cari akal lain. tiba2 ia mendengus.

“Hmmm! baiklah, kalau kalian tak mau percaya,

sudahlah selamat tinggal” Tanpa banyak bicara lagi ia putar

badan dari kedua orang itu.

“Siocia, tunggu!” melihat Si Soat Ang berlalu, dengan

hati cemas Giok Jen berseru.

Si Soat Ang terus berkelebat ke depan, kurang lebih

sudah lewat beberapa tombak jauhnya ia baru berhenti dari

berpaling.

“Apa gunanya aku menanti lebih lama ? apakah tak takut

dicelakai olehku?”

“Siocia berbuatlah kebajikan dan beritahu kepadaku,

siapakah orang tuaku yang sebenarnya?” rengek Giok Jien.

“Lebih baik kau tanya sendiri pada Liem Hauw Seng”

sahut Si Soat Ang sambil menggeleng. “Bagaimanapun

kalian sudah anggap aku orang jahat selama hidup banyak

melakukan kejahatan, dan tak pernah berbuat baik, apa

gunanya kau merengek dan mohon kepadaku ?”

Muncul selintas perasaan sangat menderita di atas wajah

Giok Jien, perubahan ini membuat Liem Hauw Seng pun

ikut bersedih hati, Buru2 ia cekal tangan gadis itu sambil

menghibur:

“Giok Jien kau tak usah berduka, seandainya orang

tuamu adalah tokoh silat kenamaan maka cepat atau lambat

asal usulmu bakal kau ketahui juga”

“Aaai…semoga saja begitu !” Melihat Giok Jien begitu

menuruti perkataan Liem Hauw Seng, bahkan sampai2

gadis itu rela melepaskan niatnya untuk mengetahui asalusul

sendiri Si Soat Ang jadi jengkel, kembali rencananya

gagal total.

Sambil tertawa dingin dan menahan hawa gusar yang

ber-kobar2, ia enjot badannya dan berkelebat pergi.

Meskipun dalam keadaan seperti ini, ia lebih

mementingkan melarikan diri daripada ketangkap Tongpoei

Pacu atau Hiat Goan Sin koen.

Namun rasanya benci dalam hatinya melupakan

kesemua itu, ia lebih suka menemui bahaya dan pada

melepaskan Liem Hauw Seng Giok Jien ber-mesra2an

dengan damai.

Oleh karena itulah tidak jauh ia berlalu dengan cepat

badannya berkelebat menerobosi semak belukar dan

bersembunyi disitu setelah di tunggu sebentar dan tidak

kedengaran ada suara yang mencurigakan, dengan

mengendap2 dan gerakan sangat hati2 ia merangkak maju

mengitari hutan dan balik lagi ketepi sungai, kemudian

bersembunyi di belakang sebuah batu besar.

Liem Hauw Seng serta Giok Jien menganggap Si Soat

Ang telah pergi, mereka tetap duduk di tepi sungai dengan

hati lega, mereka tidak menyangka kalau Si Soat Ang justru

telah muncul dan bersembunyi dibelakang mereka.

Walaupun Si Soat Ang ada dibelakang mereka, namun ia

tahu pada saat ini Giok Jien tentu amat bersedih hati, gadis

tundukkan kepalanya dengan mulut membungkam

sementara Liem Hauw Seng menghibur dengan kata2 lirih.

Si Soat Ang sangat mendongkol per lahan2 ia merogoh

kedalam sakunya melepaskan sebilah pisau belati, setelah

dicekal erat2 sambil2 ia merangkak kedepan, dan melihat

berapa jaraknya saat ini tinggal beberapa tombak

dibelakang mereka berdua, asalkan pisau belati itu dilempar

kedepan dengan segenap tenaga niscaya salah satu diantara

mereka berdua akan mati terbunuh.

Tentu saja kalau dia ingin serangannya mengenai

sasaran, ia harus mengincar Giok Jien, sang gadis yang

ilmu silatnya rada rendah. Ke dua, saat inipun gadis itu lagi

melamun, dalam keadaan tidak bersiap siaga lebih mudah

dibokong.

Setelah mengambil keputusan Si Soat Ang gigit bibir, ia

cekal pisau belati itu kencang2 kemudian ayun tangannya

keatas.

Ia hendak menggunakan segenap tenaga yang

dimilikinya untuk melemparkan pisau belati ini, maka ia

ayun tangannya sampai dibelakang punggung.

Tetapi… baru saja tangannya siap diayun kedepan tiba2

pergelangan tangannya serasa jadi kencang sekali, seakan2

dijepit oleh jepitan besi dari arah belakang, tangannya yang

siap melemparkan pisau belati itu tak dapat berkutik. Si

Soat Ang amat terperanjat, tak tertahan lagi ia menjerit

keras.

Teriakan ini mengagetkan Liem Hauw Seng serta Giok

Jien yang sedang dibuat oleh lamunan, mereka segera

berpaling.

Dalam pada itu bukan saja pergelangan tangan Si Soat

Ang kena ditangkap orang, bahkan saat ini seluruh

badannya diangkat ketengah udara.

Kelima jari tangannya tak kuat mencekal pisau belati itu

lagi. “Traang .” tak kuasa senjata tajam itu terjatuh keatas

tanah.

Ingin sekali Si Soat Ang berpaling untuk melihat

siapakah yang mencekal dirinya, namun lehernya telah

ditangkap pula, dalam keadaan seperti ini tak sanggup bagi

gadis itu untuk putar kepala.

Namun, sekalipun tak usah berpaling iapun tahu

siapakah manusia yang menangkap dirinya saat ini, sebab

Lien Hauw Seng serta Giok Jien yang berpaling sedang

berseru hampir berbareng:

“Aaaah . . . Hiat Goan Cianpwee !”

Seluruh tubuh Soat Ang bergidik, untuk sesaat ia tak

tahu apa yang harus diucapkan ia mengerti nasibnya bakal

jelek, sebab untuk kesekian kakinya perbuatan kejinya

terbongkar oleh simanusia monyet itu.

Mendadak… dari tempat kejauhan berkumandang

datang suara aneh.

Suara aneh itu se akan2 muncul dari dalam sungai, suara

itu begitu aneh seakan2 teriakan manusia, namun mirip

pula suara binatang buas, mirip pula seperti jeritan ngeri

atau nyanyian merdu, pokoknya sangat aneh sehingga

mendatangkan rasa seram ngeri dihati semua orang.

Dengan cepat suara aneh itu bergema makin dekat,

diikuti permukaan air sungai bergolak keras, semprotan air

setinggi beberapa tombak menciptakan suatu pandangan

yang aneh.

Dalam sekejap mata muncullah seseorang dari dalam

sungai itu, gerakannya amat cepat sambil berlari orang itu

memperdengarkan jeritan aneh, sepasang tangannya

menghantam permukaan sungai keras2, untuk sesaat sulit

baginya setiap orang untuk mengenali siapakah sebenarnya

manusia yang ada didalam sungai itu.

Terhadap munculnya manusia aneh ini semua orang

berdiri tertegun, tak seorangpun buka suara, semuanya

memandang kearah sungai dengan mata terbelalak serta

mulut melongo, semua orang dibikin berdiri menjublek.

Akhirnya Hiat Goan Siu koen tak dapat menahan diri

lagi ia segera menghardik keras:

“Heh, siapa kau?”

Bentakan ini segera mendatangkan reaksi, orang itu

berhenti bergerak dan airpun tidak kelihatan lagi mencelat

keempat penjuru, diikuti muncullah seorang perempuan

dengan rambut awut2an, seluruh badan basah kuyup

wajahnya kurus bagaikan mayat, bermata melotot dan

mulut menyeringai sehingga kelihatan sebaris giginya yang

putih.

Dia bukan lain adalah Ciang oh simanusia tengkorak?

Hiat Goan Siu koen pernah bertarung melawan Ciang

Ooh sewaktu ada dibenteng Thian It Poo tempo dulu, maka

sewaktu bertemu dengan si manusia tengkorak ini, hatinya

langsung mencelos.

Dalam pada itu Ciang Oh telah bangun berdiri dengan

pandangan bodoh ia menatap berapa orang dihadapannya,

kemudian sambil bermain air ia mulai menyanyi.

Ciang Ooh adalah gadis Biauw, apa yang di nyanyikan

tak seorangpun yang paham tapi bisa diduga tentulah lagu

yang dinyanyikan gadis2 suku Biauw sewaktu bermain air.

Kalau lagu ini dibawakan oleh seorang gadis cantik

dengan suara merdu, pemandangan waktu itu pasti amat

mempesonakan tapi saat ini bukan saja wajah Ciang Ooh

amat seram bahkan suaranya serak lagi parau, membuat

orang jadi bergidik dan bulu roma pada bangun.

Tiba2 Ciang Ooh berhenti menyanyi.

Liem Hauw Seng segera berseru:

“Hiat Goan cianpwee, perempuan sinting ini patut

dikasihani jangan kita susahkan dirinya.”

“Kau anggap aku bisa menyusahkan dirinya ?” Seru Hiat

Goan Sin Koen sambil tertawa getir. “ilmu silatnya sangat

lihay, boleh terhitung luar biasa sukar dijajaki? jangan

dikata aku tak dapat menyusahkan dirinya, meski Si Thay

sianseng atau Toenghong Pocu pun belum tentu bisa

mengapa-apakan dirinya !”

Ucapan ini segera menggerakkan hati Si Soat Ang. buru2

serunya .

“Ciang Ooh !”

Teriakan ini memancing Ciang Ooh berpaling

kearahnya.

“Ciang Ooh, cepat tolong diriku !” Kembali Si Soat Ang

berseru.

Teriakan ini membuat Hiat Goan Sin Koen melengak,

sebelum ia sempat bertindak sesuatu, dengan gerakan yang

amat cepat CiangOoh telah mencelat keluar dari dalam air.

Sungguh dahsyat gerakan tubuhnya, bukan saja

membawa desiran angin tajam bahkan butiran air yang

terbawa oleh badannya segera menyebar keempat penjuru

dengan disertai desiran dahsyat.

Setelah tubuhnya hampir melayang turun di hadapan

Hiat Goan Sin Koen, simanusia monyet ini baru berteriak

keras, telapaknya langsung menghantam tubuh lawan

keras2.

Ilmu telapak Hiat Goan Ciang dari Sin koen boleh

terhitung ilmu telapak tingkat paling atas dalam aliran

hitam, namun Ciang Ooh tetap bersikap tenang bahkan

tidak menggubris dan tidak melirik sekejappun kearah

serangan tersebut.

“Ploook !” dengan telak serangan tersebut bersarang

diatas bahu CiangOoh.

Siapa sangka, ketika telapaknya bersarang di atas bahu

itulah tiba2 muncul segulung daya pental yang luar biasa

kuatnya, daya pental ini langsung menumbuk telapak Hiat

Goan Sin koen membuat manusia monyet ini merasa

telapaknya linu dan sakitnya luar biasa, tak kuasa ia tarik

kembali tangannya kebelakang.

Tapi semakin ia tarik tangannya, semakin kuat daya

tekanan tersebut menindih badannya, bahkan cepat tenaga

tekanan tadi mengalir kebahu nya memaksa sang tubuh

tiba2 miring kesamping.

Hiat Goan Sin-koen amat terperanjat, buru2 ia

kendorkan cekalannya pada diri Si Soat Ang dan mundur

selangkah kebelakang.

Dalam perkiraannya dengan mundur selangkah

kebelakang maka tenaga tekanan tersebut akan lenyap tak

berbekas.

Tapi, sungguh luar biasa sekali, tenaga tekanan masih

belum lenyap, daya dorong tersebut tetap mendesak

badannya membuat badan kembali berpusing tiga lingkaran

dengan cepatnya.

Menanti ia dapat berdiri tepak, manusia monyet ini baru

lolos dari pengaruh kekuatan lawan, ia kaget, bingung dan

tercekat, kembali tubuhnya mundur tiga langkah

kebelakang.

Sementara itu Si Soat Ang telah berdiri disamping Ciang

Ooh, kepada perempuan itu ujarnya:

“Ciang Ooh, cepat bawa aku tinggalkan tempat ini !”

“Siapa kau ?” tanya Ciang Ooh seraya berpaling. “Kau

bisa kenali diriku kenapa aku tidak kenal dirimu ?”

“Aku adalah…”

Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa dirinya adalah

Putri dari benteng Thian It Poo, namun sebagai seorang

gadis cerdik ia sadar, berada dalam keadaan seperti ini

Ciang Ooh tentu akan gusar apabila mendengar “Thian It

Poo” bahkan ada kemungkinan ia bisa mati ditangannya.

Maka ia membungkam, otaknya berputar dan akhirnya

berbisik disisi telinganya dengan suara lirih: “Aku. . . aku

adalah putrimu.”

Ucapan ini sangat lirih, kecuali mereka berdua tak

seorangpun yang ikut mendengar.

Seluruh tubuh Ciang Ooh tergetar keras, ia menjerit

tertahan lalu mencengkeram sepasang lengan Si Soat Ang

erat2:

Gadis she Si tak menyangka Ciang Ooh bisa mencekal

lengannya begitu keras, jari tangan yang kuat bagaikan baja

dengan kekuatan yang dahsyat hampir2 membuat lengan

gadis itu ter-cekal putus, saking sakitnya ia menjerit keras,

hampiri saja Soat Ang jatuh tidak sadarkan diri.

“Benarkah?” teriak Ciang Ooh dengan sinar mata

bercahaya meski bicara lengannya masih mencengkeram

lengan gadis itu erat2

“Be… benar… cepat kau lepas tangan.” teriak Si Soat Ang

dengan napas ter engah2.

Ciang Ooh lepas tangan, tapi sebelum gadis itu mundur

lengannya kembali bergerak memeluk tubuh gadis itu erat2,

dari mulutnya bergumam suara yang aneh, entah apa yang

diucapkan.

Si Soat Ang yang dirangkul, hampir2 susah bernapas, ia

mencium bau busuk dari tubuh perempuan itu, begitu

busuk, begitu memualkan sampai2 gadis itu kelenger dan

hampir jatuh semaput.

Untung pada saat itu Ciang Ooh lepas tangan sambil

bertanya tiada hentinya:

“Sungguhkah ? benarkah ?.,.aah ! sungguhkah? benarkah

?”

Masih banyak yang ia ucapkan, hanya Si Soat Ang ti tak

paham sebab ia berbicara dengan menggunakan bahasa

suku Biauw.

“Tentu saja sungguh!” jawab Si Soat Ang tegas. “Coba

kau pikir yang lain boleh bohong, masa soal inipun aku

ingin membohongi dirimu ?”

Ciang Ooh menjerit histeris, sepasang tangannya

mencekal bahu Si Soat Ang dan mengguncangkan badan

gadis itu keras2, setelah itu menjerit kembali dan akhirnya

memeluk putri Thian It Poocu ini kedalam rangkulannya.

Si Soat Ang benar2 kepingin muntah, tapi ia berusaha

keras untuk mempertahankan diri sebab ia tahu

kesemuanya ini mempengaruhi atas keselamatan jiwanya.

Lama kelamaan Ciang Ooh berhasil tenangkan diri, ia

mendongak dan menatap Hiat Goan Sin koen dengan sinar

mata permusuhan.

Hiat Goan sin koen tak tahu apa yang diucapkan oleh Si

Soat Ang kepadaCiang Ooh.

Tapi menyaksikan sinar mata yang penuh mengandung

permusuhan itu, ia sadar keadaan tidak menguntungkan

dirinya, ia mundur selangkah kebelakang dan siap

menghadapi segala kemungkinan.

Lama sekali Ciang Ooh melototi wajah Hiat Goan Sin

koen, mendadak ia mendengus dan serunya sambil menarik

tangan Soat Ang:

“Mari kita pergi dari sini !”

Tidak menanti jawaban dari gadis itu, ia tarik Soat Ang

berlalu dari sana, gerakan mereka berdua sangat cepat,

dalam sekejap mata bayangan mereka itu sudah lenyap dari

pandangan.

Menyaksikan Ciang Ooh berlalu dengan membawa Soat

Ang, simanusia monyet ini teramat gusar, tapi ia tahu

keadaan seperti ini jauh lebih baik daripada harus bergebrak

melawan perempuan tengkorak itu, lama sekali ia tertegun

untuk kemudian lambat2 putar badan.

“Sin koen, apakah kau telah berjumpa dengan sibongkok

sakti ?” buru2 Liem Hauw Seng bertanya.

“Sampai kini belum kutemukan.” jawab Hiat Goan Siu

koen dengan alis berkerut.” Lebih baik untuk sementara

waktu kita menyingkir dulu.”

“Kenapa ?” Liem Hauw Seng bertanya dengan nada

mengelak, Hiat Goan Sin-koen adalah seorang manusia

angkuh, boleh dikata ia tidak takut langit tak takut bumi

kecuali Tong-bong pacu seorang, dan kebetulan manusia

Tong hong berada disekitar sana, maka terpaksa ia harus

menyingkir.

Meski demikian ia tak mau mengaku, maka mendapat

pertanyaan ini sepasang matanya langsung melotot besar.

“Buat apa kau banyak bertanya ?”

Liem Hauw Seng kembali melengak, ia tak tahu apa

sebabnya simanusia monyet ini marah2 terus, tapi ia

bungkam dan menurut:

“Ayoh cepat kita berlalu…” Kembali Hiat Goan Sin koen

berseru.

“Haa . . haa, . . Sin koen, kau hendak pergi kemana ?”

tiba2 dari balik sebuah batu cadas berkumandang gelak

tertawa seseorang.

Hiat Goen Sin koen terkejut dan segera mendongak,

dengan cepat hatinya mencelos, sebab orang itu bukan lain

adalah Tong hong Pacu, manusia yang paling disegani.

Setelah munculkan diri, sinar mata Tong hong Pacu

menyapu sekejap keempat penjuru, tiba2 ia berseru

tertahan: “Eeei. . . agaknya kurang seorang !”

“Hiat Goan Sin koen tahu, yang dimaksudkan tentu Si

Soat Ang, setelah tarik napas segera tanyanya:

“Apakah anda menanyakan nona Si ?”

Tong-hong Pacu tersenyum, kembali ia menatap wajah

Liem Hauw Seng serta Giok Jien, terasa sepasang muda

mudi ini berbakat bagus dan amat mempersonakan,

sebaliknya kedua orang itu merasa ada serentetan listrik

bertegangan tinggi menyambar lewat diatas wajah mereka,

baik Liem Hauw Seng maupun Giok Jien sama2 dibikin

terperanjat.

“Siapakah orang ini ?” pikir mereka tanpa terasa.

Dalam pada itu Tong hong Pacu telah mengangguk.

“Tidak salah, dialah yang kumaksudkan”

“Aaah. sayang kedatangan anda terlambat setindak, ia

sudah dibawa pergi oleh seseorang”

“Haa…haa…haa…Sin-koen. kalau mau berbohong

janganlah dihadapanku, siapa yang berani serobot orang

dari tanganmu ?”

Hiat Goan Sin koen tertawa getir, ia tak tahu apa

hubungan gadis she Si itu dengan Tong hong Pacu, tapi ia

sadar kalau tidak memberi keterangan jelas, maka ia bakal

dibikin repot.

Buru-buru sahutnya:

“Nona Si dibawa lari oleh seorang perempuan sinting

dari benteng Thian It Poo yang pada hari2 biasa dipanggil

Ciang Ooh, ilmu silat yang dimiliki perempuan sinting ini

sangat lihay, kalau anda tak percaya silahkan ditanyakan

pada mereka berdua.

Tong hong Pacu berpaling untuk kedua kakinya ia

menatap Hauw Seng serta Giok Jien tajam2 membuat

sepasang muda mudi ini jadi bergidik.

“Ooouw . . , kiranya dalam dunia kangouw sudah

muncul seorang tokoh lihay lagi ” seru Tong-hong Pacu

sambil tersenyum “Waaah kalau begitu pengalamanku

sungguh cetek sekali. Eeeeei , , . Sin koen aku dengar putri

kesayanganmu telah ternoda, benarkah kabar berita ini? dan

nona ini. .”

Mengungkap tentang putri kesayangannya yang ternoda,

seluruh tubuh Hiat Goan Sin-koen gemetar keras, giginya

saling beradu dengan kerasnya, umpama Loei Sam ketika

itu hadir disana, kemungkinan ia akan menubruk kearah

pemuda itu, Tong hong pacu tertawa.

“Padahal, putrimu pun terhitung salah, pikirnya terlalu

cepat.” ujarnya.

“Sudahlah, jangan kita bicarakan persoalan ini aku ada

urusan hendak mencari sibongkok, hei tahukah kau si

bongkok telah pergi kemana?”

“Akupun sedang mencari dirinya ” sahut Hiat Goan Sinkoen,

per-lahan2 ia mulai tenang kembali “Aku ada maksud

membawa kedua orang masuk kedalam perguruannya tapi

sampai kini aku masih belum tahu ia sudah pergi kemana?”

“Menurut apa yang kuketahui mungkin ia sudah keluar

perbatasan untuk mencari Soat-san Sam-mo, aku ingin

sedikit merepotkan dirimu pergi untuk mencari dirinya,

katakan aku menanti kedatangannya digubuk tempat

kediaman nya, ada urusan penting hendak kubicarakan

dengan dirinya, kalau kau sudah bertemu dengan dirinya

maka datanglah bersama dia.”

“Tentang soal ini . . . tentang soal ini . . “

“Kenapa ?” tegur Tonghong Pacu dengan air muka

berubah:

“Sebenarnya persoalan anda sudah sepantasnya

kukerjakan tapi pada saat ini kedua orang muda ini masih

membutuhkan perawatanku.”

“Aaaah ini bukan persoalan berat setelah aku berangkat

serahkan saja mereka berdua padaku”

Hiat Goan Sin-koen tertawa getir, ia segera berpaling

kearah Liem Hauw Seng serta Giok Jien dan ujarnya:

“Saudara ini adalah Tonghong Pacu, kalian cepat datang

menghunjuk hormat kepadanya.”

Giok Jien si gadis muda tidak begitu kenal dengan situasi

Bu-lim, nama Tong hong Pacu tidak begitu mempengaruhi

dirinya, berbeda dengan Liem Hauw-seng, seluruh

tubuhnya kontan gemetar keras.

Ia bukan seorang penakut. tapi saat ini air mukanya

berubah pucat pias bagaikan mayat. tak sepatah katapun

sanggup diutarakan.

Sementara itu Tong hong Pacu telah membentak

kembali:

“Hey Sin-koen. kau masih belum berangkat ?. kalau

sampai urusanku kacau, awas ! akan kusuruh kau

pertanggung jawabkan persoalan ini.”

Setelah diancam, tentu saja Hia Goan Sin-koen tak

berani berayal lagi, buru2 serunya:

“Kalian berdua dengarkanlah perkataan Tong hong

sianseng, setelah bertemu dengan sibongkok sakti aku pasti

kembali”

Sembari bicara ia putar badan dan melesat pergi dari situ.

Menanti simanusia monyet sudah berlalu, Tong hong

Pacu baru berjalan menghampiri Liem Hauw Seng berdua

ujarnya sambil geleng kepala:

“Kalian anak murid siapa ? dengan kepandaian silat

seperti itu, buat apa berkeliaran dalam dunia persilatan ?

apakah kalian ingin antar nyawa dengan percuma ?”

“Ayahku adalah “Thian Tie It Kiai” dari gunung Tiang

Pek-san yang bernama Liem Teng.” ujar Liem Hauw Seng

setelah berhasil tenangkan hatinya, “Nona ini adalah nona

Giok Jien, belum pernah belajar ilmu silat.”

Ayah Liem Hauw Seng bukan manusia sembarangan

dalam dunia persilatan meski sudah mati dipaksa

musuhnya terjun kejurang, tapi Tonghong Pacu tak

mungkin tak pernah mendengar nama ini. Namun orang

she Tonghong cuma mengiakan hambar, lalu menatap Giok

Jien dan berseru:

“Oooouw . ia belum pernah belajar ilmu silat ? aku rasa

belajar mulai sekarangpun masih belum ketinggalan, belum

pernah kutemui manusia dengan bakat demikian bagusnya

!”

Sambil berkata sepasang matanya dengan tajam menatap

gadis itu tak berkedip, Giok Jien jadi jengah, jantungnya

terasa berdebar keras dan akhirnya tunduk kepala rendah2,

sepatah katapun tak bicara.

“Siapa namamu ?” kembali Tong-hong Pacu bertanya

“Giok Jien !”

“Apa she mu ?”

Giok Jien tertawa getir, “Aku adalah seorang anak yatim

piatu, sejak kecil dibesarkan dalam benteng Thian It Poo.

kecuali Si siocia siapapun tak tahu asalku, tapi ia tak mau

beritahu kepadaku.”

“Tentang soal ini kau boleh berlega hati, aku pasti dapat

membantu dirimu untuk mengetahui asal usul sebenarnya.”

Ucapan ini sangat mengharukan hati Giok Jien, buru2 ia

menjura.

“Aaaah… kuucapkan terima kasih dahulu atas bantuan

cianpwee”

Tong-hong pacu tertawa ter bahak2. “Kau tak usah

berterima kasih kepadaku, aku bernama Tong-hong Pacu,

ilmu silatku termasuk lumayan juga, dengan bakatmu yang

bagus bagaimana kalau kuangkat dirimu sebagai murid ku

?”

Sejak semula Liem Hauw Seng sudah merasa maksud

yang terkandung dalam hati manusia kosen ini, maka ia

tidak kaget, lain halnya dengan Giok Jien, gadis ini kontan

melengak dan berdiri melongo dengan mata terbelalak,

untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun dapat

diucapkan.

Lewat lama sekali ia baru berkata:

“Hiat Goan Sin koen telah berjanji akan membawa aku

serta engkoh Hauw Seng pergi bertemu dengan si bongkok

sakti berangasan dan mengangkat beliau sebagai guru.”

“Ha ha haaa . . . dengan bakatmu yang demikian bagus,

tidak pantas mengangkat sibongkok? Hmm! dengan

kepandaian secetek itu berani terima kau sebagai murid!”

“Kalau begitu kepandaian silatmu jauh lebih hebat dari

pada si bongkok sakti berangasan?” seru Giok Jien

terperanjat.

Tong-hong pacu mendongak tertawa terbahak-bahak, ia

menuding kearahHauw Seng dan berkata:

“Tak berguna kau tanyakan padaku, coba kau bertanya

pada dirinya.”

Buru2 Giok Jieo berpaling kearah Lim Hauw Seng.

Pemuda itu segera mengangguk.

“Giok Jien, boleh dibilang dia adalah tokoh silat nomor

wahid dikolong langit dewasa ini.”

Giok Jien tahu pemuda itu tidak bakal membohongi

dirinya, mendengar perkataan itu meledaklah

kegembiraannya.

“Engkoh Hauw Seng,” buru2 ia berseru: “Dia adalah

tokoh silat nomor wahid dikolong langit, sekarang sang

tokoh sakti mau terima diriku sebagai murid aku . . engkoh

Hauw Seng, bukankah hal ini bagus sekali ?”

Liem Hauw Seng bungkam dalam seribu bahasa, sulit

baginya untuk memberi komentar. Menyaksikan engkoh

Hauw Seng-nya bungkam, Giok Jien mengira pemuda itu

tidak senang hati, segera ujarnya kembali: “Engkoh Hauw

Seng, kau mohonlah kepadanya, kalau ia mau terima diri

mu sebagai murid bukankah sangat bagus sekali?”

“Aku tidak…”

Belum habis ia berkata, Tong hong Pacu sudah menukas.

“Giok Jien, kau anggap aku sudi menerima murid

seenaknya ? kedua putra kandungku pun tidak kuwarisi

ilmu silatku, hal ini disebabkan mereka tidak berbakat

untuk menerima ilmu silatku .”

Mendengar ucapan ini Giok Jien makin terkejut

bercampur girang, saking senangnya ia sampai melongo.

“Kalau begitu, kau suka angkat diriku sebagai guru

bukan ?” kembali Tong hong Pacu bertanya.

“Tentu saja aku suka ?” jawab gadis itu tanpa berpikir

panjang lagi.

“Bagus sekali, tapi ada beberapa soal hendak

kuterangkan dahulu, setelah kau angkat diriku sebagai guru

maka dalam tiga tahun akan ku didik dirimu jadi lihay,

karena itu selama tiga tahun ini kecuali diriku kau tak boleh

bertemu dengan siapapun !”

“Lalu… bagaimana dengan engkoh Hauw Seng ?” tanya

Giok Jien tertegun.

“Apakah kalian sudah jadi suami istri ?”

Merah padamselembar wajah Giok Jien.

“Belum !” ia menggeleng.

“Lalu apa salahnya berpisah selama tiga tahun apa yang

kau pusingkan lagi ?”

Kembali Giok Jien berpaling kearah Liem Hauw Seng

mohon pertimbangannya, pemuda itu segera maju kedepan

dan cekal tangannya erat2.

“Giok Jien, setelah Tong hong sianseng menerima

dirimu sebagai murid, dalam tiga tahun mendatang ilmu

silatmu akan memperoleh ke majuan pesat, hanya saja…

hanya saja…”

Sebenarnya pemuda ini akan menerangkan bahwa Tonghong

Pacu adalah tokoh sakti dan aliran sesat, menjadi

muridnya meski lihay tapi tingkah lakunya akan ikut2an

sesat, dan ia akan menyatakan ketidak setujuannya.

Tapi berada didepan Tong hong Pacu beranikah ia

ucapkan kata2 itu? Belum sampai ia bicara Giok Jien telah

meneruskan: “Hanya saja kita harus berpisah selama tiga

tahun, engkoh Hauw Seng, aku tak tahu bagaimana aku

harus hidup tanpa dirimu?”

Tiba2 Tong hong Pacu menghardik keras:

“Untuk belajar silat, pikiran harus dipusatkan jadi satu

tanpa terganggu oleh masalah lain, waktu tiga tahun akan

berlalu dalam sekejap, tiga tahun kemudian kau boleh

menunggu kedatangannya disebelah barat kota Siang yang.”

Bersamaan dengan ucapan itu, Tong hong Pacu

menyambar tangan gadis itu dan mencelat pergi dari sana.

“Giok Jien!” teriak Liem Hauw Seng dengan hati gelisah.

Tapi . . dalam sekejap mata bayangan Tong-hong Pacu serta

Giok Jien telah lenyap tak berbekas.

Kedatangan mereka berdua ke daratan Tiong-goan

adalah bertujuan angkat sibongkok sakti sebagai guru,

sungguh tak nyana dalam sekejap mata telah terjadi

perubahan besar, Giok Jien telah diterima sebagai murid

oleh Tong hong Pacu. sijago kosen aliran hitam.

Perpisahan mendatangkan kesedihan, lama sekali

pemuda Hauw Seng berdiri ter mangu2, ia tak tahu apa

yang harus dilakukan pada saat ini, akhirnya dalam

keadaan apa boleh buat ia berjalan kearah mana Hiat Goan

Sin-koen berlalu tadi.

Setengah jam lamanya ia berjalan diatas gunung,

keadaan medan makin lama semakin curam dan berbahaya,

tebing tinggi menjulang ke angkasa jurang yang dalam

memisahkan puncak yang satu dengan puncak yang lain,

makin berjalan pemuda itu makin tersesat hingga akhirnya

dari tempat kejauhan adanya gemuruh air sungai.

Mendengar ada suara air, semangat Hauw Seng berkobar

kembali, segera ia berlari menghampiri sungai itu dengan

maksud beristirahat, tapi ia tertegun. Apa yang terjadi?

ternyata sungai itu bukan lain adalah sungai dimana tadi ia

duduk bersandingan dengan Giok Jien, kiranya setengah

harian ia mendaki gunung akhirnya kembali lagi ketempat

semula.

Pemuda itu tertawa getir ia berjalan mendekati batu

besar dimana tadi ia duduk berduaan, atau mendadak

dijumpainya seseorang berdiri disamping batu tersebut.

Orang itu berdiri tak bergerak disana, bajunya abu2 dan

berusia enam puluh tahunan, perawakannya tinggi dengan

wajah agung, Namun ketika itu sepasang alisnya berkerut

kencang, se akan2 ada satu masalah besar sedang

memusingkan benaknya.

Lama sekali orang itu memandang aliran air dalam

sungai, akhirnya ia menghela napas panjang dan berpaling

kearah Liem Hauw Seng. “Kemarilah kau bocah !” ia

berkata. Nadanya sangat datar, membuat orang sulit untuk

menebak perasaannya ketika itu.

“Cianpwee kau ada urusan apa ?” pemuda itu segera

maju menjura.

Memandang aliran air dalam sungai lama sekali kakek

itu membungkam. lalu menghela napas panjang dan

bertanya:

“Dapatkah kau melakukan suatu pekerjaan buat diriku ?”

Dalam keadaan kesal, sebetulnya Liem Hauw Seng tidak

ingin mencari kerepotan tapi setelah dilihatnya kakek tua

itu makin dipandang makin berwibawa ia lantas menduga

orang ini tentu seorang tokoh silat lihay.

“Baiklah” sahutnya setelah tertegun sejenak, “Entah

cianpwee ada perintah apa ?”

“Dapatkah kau bantu aku pergi satu kali kelembah Coei-

Hong-Kok digunung Go-bie.”

Jantung Hauw Seng berdebar keras. siapa yang tak kenal

dengan lembah Coei Hong-Kok digunung Go bie ? asalkan

seorang akhli silat pasti akan kenal dengan lembah tersebut.

Lembah Coei Hong Kok adalah tempat tinggal Si Thay

sianseng, tokoh silat paling lihay dikolong langit dewasa ini

atau dengan perkataan lain sikakek tua yang berada

dihadapannya bukan lain adalah Si Thay sianseng sendiri.

“Aaaah. . . kiranya cianpwee adalah Si Thay sianseng !”

saking girangnya tak kuasa ia berteriak.

Si Thay sianseng tertawa kering.

“Kau berangkatlah kelembah Coei Hong Kok dan

beritahu seisi lembah, sebelum kutemukan murid durhaka

tersebut tak akan kembali kerumah, dan sebelum aku

kembali apa bila Tong hong Pacu datang, suruh mereka

layani se baik2 nya, jangan sampai bergebrak, suruh mereka

ingat, ingat selalu !”

“Pesan cianpwee pasti akan aku sampaikan tapi

boanpwee belum pernah datang kegunung Go bie, aku

takut orang disana tidak percaya kepadaku.”

“Tiiing !” dari balik sakunya Si Thay Sian-seng ambil

keluar sebuah cincin emas kecil, sambil menyerahkan benda

itu ia berkata: “Dengan membawa cincin ini mereka pasti

akan menerima dirimu dia mempercayai ucapanmu, kau

harus berhati2, gelang emas itu jangan sampai hilang !”

Dengan sangat hormat Liem Hauw Seng menerima

gelang emas itu lalu mundur selangkah kebelakang dan siap

berlalu.

Tiba2 ia teringat akan sesuatu segera ujarnya kembali:

“Si cianpwee, ada sebuah urusan ingin kumohon

petunjukmu ?”

“Katakanlah terus terang !”

“Aku… aku punya seorang sahabat sehidup semati

kurang lebih setengah jam berselang telah di bawa pergi

oleh Tong-hong Pacu, ia bilang bakatnya sangat bagus

maka hendak menerima dirinya sebagai murid.”

Air muka Si Thay sianseng berubah hebat setelah

mendengar ucapan itu.

“Ada kejadian semacam ini ?” serunya.

“Benar ! kejadian ini benar2 telah terjadi, dia… padahal

ia tak pernah belajar silat, dia adalah seorang gadis yatim

piatu yang sudah angkat sumpah setia dengan diriku, tapi

Tong hong Pacu bilang tiga tahun kemudian kami berdua

baru boleh berjumpa lagi, bisa dipercayakah ucapannya ini

?”

Dengan wajah serius Si Thay sianseng mendengarkan

semua penuturan pemuda itu, dari sikap tersebut Liem

Hauw Seng dapat menarik kesimpulan bahwa urusan amat

berbahaya dan serius.

Menanti pemuda itu menyelesaikan kata2nya, Si Thay

Sianseng baru berkata:

“Sepanjang hidup Tong-hong Pacu selain pegang teguh

ucapannya, ia bilang satu tetap satu berkata dua tetap dua,

setelah ia berjanji untuk pertemukan kembali kalian berdua

tiga tahun kemudian, aku rasa ia tak akan membohongi

dirimu, tapi . . . aku takut sampai waktunya.”

Berbicara sampai disitu, mendadak ia berhenti bicara.

“Sampai waktunya kenapa ?” tanya Liem Hauw Seng

penuh kecemasan.

Si Thay sianseng tidak menjawab pertanyaan itu, ia

cuma menghela napas panjang.

“Bagaimana keadaannya setelah tiga tahun kemudian,

bagaimana aku bisa menerkanya? aku kan bukan seorang

malaikat ! setelah berada di gunung Go bie. apabila kau

berniat tinggal di lembah Coei Hok Kok beberapa waktu,

silahkan !”

“Nah, sekarang kau boleh berangkat.”

-oo0dw0oo-

Jilid10

UJUNG bajunya segera dikibaskan kedepan, segulung

angin desiran yang lunak dan empuk seketika menggulung

tubuh Liem Hauw Seng sehingga mundur tiga lima tombak

jauhnya kebelakang.

Menanti pemuda itu berdiri tegak, maka bayangan Si

Thay sianseng pun sudah lenyap tak berbekas dari depan

matanya.

Beberapa patah kata dari tokoh sakti dunia persilatan ini

semakin membuat pikiran Liem Hauw Seng bertambah

kalut, dengan hati yang kacau ia lanjutkan perjalanannya

kedepan, menanti cuaca mulai gelap ia sudah keluar dari

daerah pegunungan Lak Ban San.

Ditengah hutan disebuah lapangan yang kecil ia

membuat api unggun dan duduk ter mangu2 di sana, lama

sekali pemuda itu ambil keluar gelang emas tadi dan

dipandangnya dengan sinar mata mendelong.

Gelang emas itu merupakan benda kepercayaan Si Thay

Sianseng, bentuknya tidak terlalu besar tapi indah dan

menawan hati.

Beberapa waktu kemudian Liem Hauw Seng menyimpan

kembali gelang emas tadi kedalam saku, mendadak

terdengar seseorang berseru tertahan.

“Eeei bukankah benda itu adalah gelang emas benda

kepercayaan Si Thay sianseng ? darimana anda dapatkan

benda tersebut ?”

Ucapan ini membuat Liem Hauw Seng sangat

terperanjat tapi dengan cepat hatinya jadi lega kembali,

sebab setelah orang itu mengenali gelang emas tersebut

berarti ia tahu akan asal usul benda itu, siapa yang berani

mencari gara2 dengan Si Thay sianseng ?

Setelah menyimpan gelang emas tadi, lambat2 Liem

Hauw Seng angkat kepala, kurang lebih dua tombak

dihadapannya, disisi sebuah pohon besar berdirilah

seseorang.

Usia orang itu masih sangat muda, kurang lebih dua

puluh lima, enam tahunan, badannya kurus kering,

wajahnya pucat pasi bagaikan mayat namun sepasang

matanya memancarkan cahaya berkilat, siapapun akan

segera ketahui kalau orang ini amat cerdik.

Sementara itu Liem Hauw Seng merasa wajah pemuda

itu sangat dikenali olehnya, hanya ia lupa siapakah orang

itu.

Pambaca budiman, dapatkah anda sekalian menerka

siapakah sianak muda itu ? dia bukan lain adalah Loei Sam.

Bagaimana Loei Sam bisa berada disitu? Kiranya pada

waktu itu setelah ia menggelinding jatuh dari atas pagoda

dibenteng Thian it Poo bersama Ciang Ooh, dengan hati

gembira Loei Sam mengira kitab pusaka “Sam Poo Cin

Keng” tersebut pasti akan terjatuh ketangannya.

Dalam perkiraan Loei Sam. setelah ia membokongCiang

Ooh kemudian perempuan itu menggelinding jatuh dari

atas pagoda, ia pasti jatuh tidak sadarkan diri, dan kitab

pusaka Sam Poo Cin Keng tadi dengan mudah akan

terjatuh ketangannya.

Siapa sangka peristiwa berlangsung diluar dugaan, ketika

tubuh Ciang Ooh menggelinding hingga sepuluh tingkat,

tiba2 perempuan itu melejit dan meloncat ketengah udara.

Perobahan ini membuat Loei Sam kaget, dengan

melejitnya Ciang Ooh maka Loei Sam merasakan ada

segulung tenaga besar mementalkan tubuhnya

meninggalkan anak tangga dan meluncur kebawah dengan

kecepatan penuh.

Loei Sam terkesiap, tubuhnya bagaikan anak panah

terlepas dari busur meluncur kebawah dengan cepatnya,

untung reaksinya cukup cepat, buru2 ia salurkan hawa

murninya mengelilingi seluruh badan, ketika sang tubuh

berada enam tujuh tombak dari permukaan sepasang

telapak nya berbareng didorong kebawah.

Pukulan ini mendatangkan tenaga pantulan yang kuat,

hal ini membuat gerakan daya luncur tubuhnya semakin

lambat dan berhasil hinggap diatas permukaan dengan

empuk.

Menanti ia bisa berdiri tegak, Ciang Ooh yang

menggelinding kebawah pun sudah keluar dari pagoda.

badannya menggelinding terus sejauh beberapa tombak

untuk kemudian sang tubuh melingkar jadi satu dan tak

berkutik lagi.

Menyaksikan kejadian itu, Loei Sam kegirangan

setengah mati, buru2 ia melangkah dua langkah kedepan,

sebagai lelaki cerdas yang banyak akal ia bertindak sangat

hati2 untuk menghindari dari sergapan sang perempuan

tengkorak yang mungkin berpura2 mati ketika berada lima,

enam depa didepan CiangOoh ia berhenti.

Kemudian memungut sepotong batu bata dan di sertai

tenaga lwekang ia sambit batu tadi keatas punggung Ciang

Ooh keras2

Maksud Loei Sam dengan timpukannya ini adalah untuk

menghindari sergapan perempuan itu seandainya ia pura2

jatuh pingsan, tapi ia lupa Ciang Ooh adalah seorang

perempuan gila tidak mungkin manusia yang otaknya

kurang waras bisa mengatur jebakan tersebut.

Kadangkala, orang cerdik pun berbuat bodoh setelah

jatuh dari atas tangga pada waktu itu Ciang Ooh benar2

jatuh tidak sadarkan diri, bilamana Loei Sam menggunakan

keadaannya ini maka tidak seharusnya ia timpuk punggung

perempuan tengkorak itu dengan batu bata.

Dalam pada itu, batu bata tadi dengan disertai desiran

tajam bersarang telak diatas punggung Ciang Ooh dimana

terletak jalan darah “Sin ciang-hiat.”

Dengan terbenturnya jalan darah tersebut, Ciang Ooh

yang pingsan seketika dibikin sadar kembali.

Perempuan itu buka matanya lebar2. lalu dengan cepat

meloncat bangun dari atas tanah dan lari meninggalkan

tempat itu.

Loei Sam tidak ingin kitab pusaka “Koei Thiao Pit Lip”

lenyap dari tangannya, melihat Ciang Ooh melarikan diri

dari sana ia mengejar dari belakangnya, tapi makin lari

perempuan itu bergerak semakin cepat sehingga akhirnya

pemuda itu tak dapat menahan diri dan membentak keras:

“Ciang Ooh, berhenti ! aku ada urusan hendak

dibicarakan dengan dirimu !” Bentakan ini mendatangkan

reaksi yang cepat, Ciang Ooh segera berhenti dan putar

badan, sepasang matanya yang hijau menyeramkan dengan

tajam menatap wajah pemuda itu tajam2.

“Siapa kau ? ada urusan apa kau memanggil-diriku ?”

tanya CiangOoh dengan nada dingin.

“Benarkah kau tidak tahu siapa aku ?” tegur Loei Sam

dengan nada menyelidiki sementara dalam hati ia berpikir:

“Bagus sekali, barusan saja aku bergebrak mati2an

melawan dirimu, sekarang kau sudah lupa siapa aku ?”

Ciang Ooh menggeleng, “Aku benar2 tidak tahu !”

jawabnya.

“Ada seseorang suruh aku datang kemari untuk meminta

sesuatu benda dari tanganmu .” kata pemuda itu lebih jauh.

Sembari berkata ia buat persiapan lalu selangkah demi

selangkah maju mendekati perempuan itu.

“Siapa yang suruh kau datang kemari ?” tanya Ciang

Ooh, sementara wajah tengkoraknya berkerut, “Benda apa

yang ia minta ?”

“Orang yang suruh aku datang kemari adalah sitelapak

berdarah Tong Hauw !” sambil menjawab pemuda itu

perhatikan perubahan sikap Ciang Ooh dengan seksama,

sebab reaksi dari perempuan itu mempunyai hubungan

yang erat dengan didapatkan atau tidaknya kitab pusaka

“Kioe Thian Pit Kip” tersebut.

“Sitelapak berdarah Tong Hauw” empat patah kata

membuat seluruh tubuh Ciang Oh tergetar keras, tulang

belulang yang kurus bergemerutukan keras, mulutnya

menganga lebar2.

“Si tee . . . telapak . . . berdarah . . . Tong . . . Hauw !”

“Kenalkah kau dengan orang ini ?” dengan cepat Loei

Sam menyambung, “Dialah yang suruh aku datang

kemari.”

“Kenalkah aku dengan orang ini ?” suara Ciang Ooh

amat lemah, seakan2 ucapan ini di utarakan dan tempat

yang sangat jauh “Aku kenal suara ini, tentu saja aku kenal

dengan orang ini !”

Ambil kesempatan itu Loei Sam melangkah beberapa

langkah lebih dekat dari hadapan perempuan tersebut.

“Kalau kau kenal dengan orang itu, bagus sekali, dialah

yang menitahkan aku untuk datang kemari minta semacam

benda darimu.”

“Lalu sekarang ia berada dimana?”

“Asalkan kau berikan benda miliknya kepada nya, maka

ia akan segera datang kemari untuk berjumpa denganmu,

paham?”

Dengan sangat berat Ciang Ooh mengangguk tanda

mengerti.

“Apa yang ia minta?” tanyanya kemudian.

Loei Sam merasakan jantungnya berdebar sangat keras,

ia berusaha menahan diri dan buru2 menyahut.

“la minta kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip.” Sekali lagi

seluruh tubuh Ciang Ooh gemetar keras, agaknya ia amat

bersedih hati.

“Kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip ? benda apakah itu!

aku tidak memiliki benda semacam itu, benarkah kalau aku

tak punya barang itu lantas tak dapat berjumpa lagi dengan

dirinya”

“Tidak. . . kau salib besar, benda itu kau punya, yang

kumaksudkan Kioe Thian Pit Lip adalah selembar

gulungan kain sutra yang penuh dengan lukisan bentuk

manusia, asalkan kau berikan benda itu kepadaku maka

Tong Hauw segera akan datang kemari menjumpai dirimu

!”

“Benda inikah yang kau maksudkan ?” Dari

tenggorokkan Ciang Ooh mulai terdengar suara

gemerutukan keras, ia perlihatkan gulungan kain sutra

diatas tangannya itu.

“Benda ini bukan Kioe Thian Pit Lip, banyak tahun

berselang seorang bangsa Han yang mati ditanah Biauw

kami serahkan benda tersebut kepada ku, menurut pesannya

benda ini tak boleh diperlihatkan ktpada orang lain.”

Menjumpai kitab pusaka “Kioe Thian Pit Lip” tersebut,

jantung Loei Sam berdebar semakin keras. Ketika itu ia

hanya berdiri empat lima depa dihadapan Ciang Ooh cukup

tangannya diulurkan kedepan benda tersebut akan segera

berada ditangannya.

Ia tarik napas panjang2 dan berkata: “Coba kau

dengarkan dahulu perkataanku.”

Tiba2 pergelangan tangan kirinya membalik, “Sreeet !”

dengan kecepatan bagaikan kilat ia melancarkan sebuah

serangan kedepan.

Merasakan datangnya serangan, Ciang Ooh miringkan

badannya kesamping, dengan gerakan ini serangan Loei

Sam yang semula mengancam dada segera bersarang

dengan telaknya diatas bahu, Loei Sam yang ada niat

merampas Kioe Thian Pit Lip tersebut sejak semula sudah

memperhitungkan segala gerak-geriknya, perduli serangan

pemuda itu bersarang dimanapun ia sudah persiapkan

gerakan selanjutnya.

Meminjam tenaga pantulan dari serangannya yang

bersarang dibahu CiangOoh, sang tubuh mencelat ketengah

udara kemudian berkelebat lewat dari atas kepala

perempuan itu.

Dikala sang badan menyambar lewat dari atas kepala

indah. telapak kiri dengan cepat menotok jalan darah ” Pik

Hwie Hiat” diatas batok kepala CiangOoh.

Meskipun perempuan tengkorak Ciang Ooh adalah

seorang manusia berotak sinting, namun reaksinya cukup

sebat terhadap datangnya setiap serangan, merasakan

adanya bokongan dari atas kepala ia segera miring

kesamping.

Loei Sam menduga perempuan itu pasti akan balas

menyerang dirinya dengan Kioe Thian Pit Lip sebagai

senjata, tapi Ciang Ooh tidak berbuat demikian ia tidak

melancarkan serangan balasan.

Sepasang kaki Loei Sam segera melancarkan tendangan

berantai menghajar dada Ciang Ooh, sementara tangan

kirinya menyambar Kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip

tersebut dan ditarik keluar.

Sejak Loei Sam bertindak, melancarkan serangan,

meloncat keatas, menotok, menendang dan merampas kitab

pusaka tersebut, semuanya dilakukan dalam sekejap mata,

tidak malu ia disebut anak murid Si Thay sianseng.

Setelah berhasil mencekal Kioe Thian Pit Lip tersebut,

Loei Sam kegirangan setengah mati, dalam perhitungannya

benda itu pasti akan menjadi miliknya sementara sepasang

kaki yang menempel diatas dada Ciang Ooh bisa digunakan

sebagai batu jejakan dalam usahanya melarikan diri.

Siapa sangka, meskipun perhitungannya sangat bagus,

tetapi Kioe Thian Pit Lip yang dirampas nya dari tangan

Ciang Ooh belum juga berhasil direbut lepas.

Dalam pada itu, sepasang kaki yang melancarkan

tendangan berantai telah bersarang telak di atas dadanya.

“Braak ! Braak l” bagaikan menghantam kayu saja Ciang

Ooh sama sekali tak merasakan adanya tendangan tersebut.

Loei Sam amat kaget, ia sadar apabila kitab pusaka itu

tidak dilepaskan maka dirinyalah yang bakal menerima rugi

besar.

Segera ia lepas tangan, berjumpalitan setengah lingkaran

ditengah udara dan meloncat mundur ke belakang.

Ketika itulah telapak kiri Ciang Ooh sudah di dorong

kedepan melancarkan sebuah serangan balasan.

Serangan itu datangnya tanpa menimbulkan suara, tapi

angin pukulan yang berhembus lewat teramat dahsyat,

laksana gulungan angin puyuh yang melanda jagad serta

amukan gulungan ombak di tengah samudra melanda

datang tiada hentinya.

Untung Loei Sam cukup sebat, meski begitu badannya

tak urung terdorong juga sampai terjungkal.

Berada ditengah udara ia berjumpalitan tujuh delapan

kali, seumpama badannya tidak melewati tembok dan ambil

kesempatan itu tangannya menutul permukaan tembok,

niscaya ia sudah terlempar jauh sekali dari kalangan.

Dalam pada itu Ciang Ooh telah berputar badan dan

berkelebat pergi dari tempat itu.

Loei Sam tak mau berdiam sampai disitu saja ia segera

enjot badan mengejar kembali dari belakang, makin lari

semakin cepat dalam sekejap mata mereka sudah tinggalkan

benteng Thian It Poo jauh2.

Kejar mengejar berlangsung dengan serunya, makin lari

Ciang Ooh semakin cepat sampai akhirnya ketika fajar

menyingsing Loei Sam telah kehilangan jejak perempuan

itu.

Bagaimanapun Loei Sam baru sembuh dari luka

parahnya setelah berlarian selama semalaman jantungnya

berdetak semakin keras. ia merasakan dadanya sakit

tenggorokan terasa amis dan hampir2 saja muntah darah

segar.

Buru2 ia berhenti untuk beristirahat dan memeriksa

keadaan sekeliling tempat itu, dari tengah hutan yang lebar

dibawah sorotan cahaya fajar tampak asap putih

membumbung tinggi ke angkasa, jelas didalam hutan ada

perkampungan.

Kemana Ciang Ooh telah pergi? mungkinkah ia berada

dikampung sebelah depan? Loei Sam tak tahu, tapi ia

mengerti setiap umat Bu-lim pada kesemsem dan ingin

mendapatkan kitab pusaka Kioe Thian Pu Lip tersebut,

hanya saja orang lain cuma tahu kitab itu berada didaerah

Biauw, sedang ia mengetahui jelas benda itu berada disaku

Ciang Ooh.

Dengan adanya rahasia ini, walaupun untuk sementara

kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip gagal dirampas,

dikemudian hari masih ada kesempatan mencari Ciang

Ooh.

Demikianlah ia duduk beristirahat disisi sebuah batu

besar sambil melemaskan otot2, kemudian mengatur

pernapasan menanti terang tanah.

Kurang lebih satu jam kemudian pemuda itu selesai

bersemedi, ia segera bangun berdiri dan melanjutkan

perjalanan kedepan.

Tidak selang beberapa saat lamanya ia sudah menerobosi

hutan dan dapat melihat perkampungan tersebut. Kampung

ini berdiri diatas sebuah tanah lapang yang luas

bangunannya angker dan kokoh.

Empat lima puluh ekor kuda berlari silih berganti diatas

tanah lapang tersebut, gerak-gerik penunggangnya gesit dan

sebat, sekali pandang dapat diduga mereka adalah orang Bu

lim.

Sewaktu Loei Sam berjalan lewat disisi mereka, tak

seorangpun yang menaruh perhatian kepadanya, pemuda

itu langsung berjalan kedepan dan akhirnya berhenti disisi

kalangan dibawah sebuah pohon besar.

Kegagalannya merampas kitab pusaka Kioe Thian Pit

Lip membuat hatinya murung dan kesal, dalam keadaan

mendongkol ini ingin sekali ia mencari gara2 dengan orang

itu, segera ia salurkan hawa murninya siap menghardik

orang itu.

Mendadak ia menemukan ada beberapa ekor kuda

kembali bergerak keluar meninggalkan pintu

perkampungan.

Beberapa ekor kuda itu menarik dua kereta salju,

gerakannya sangat cepat dalam sekejap sudah menyebrangi

tanah lapang tersebut.

Terdengar sikakek tua yang ada diatas kereta salju

berkata.

“Harap kalian bertiga suka menyampaikan salamku buat

Si Thay sianseng !”

Gerakan kereta salju itu amat cepat, semula Loei Sim

tidak begitu memperhatikan siapa 2 kah yang berada diatas

kereta tapi ucapan “Si Thay sianseng” empat patah kata ini

membuat ia jadi melengak.

Dengan cepat tubuhnya berkelebat kebelakang pohon

dan bersembunyi sementara kereta salju bergerak lebih

lambat diikuti siorang tua itu meloncat turun dari atas

kereta.

“Maaf Loohu tidak menghantar lebih jauh!” katanya.

Dan pada saat inilah Loei Sam dapat melihat siapakah

orang2 yang berada diatas kereta salju.

Kiranya diatas kereta pertama berdiri siauw sumoaynya,

sedang pada kereta berikutnya berdiri kedua orang

suhengnya.

Menjumpai ketiga orang itu, Loei Sam amat terperanjat,

jantungnya berdebar2 keras, tubuhnya ditempelkan pada

pohon semakin rapat dan tak berani berkutik lagi, ia tahu

seandainya jejaknya diketahui kedua orang suhengnya

maka sulitlah baginya untuk melarikan diri.

Lagi pula sepasang mata sikakek tua itu bercahaya tajam,

jelas dia adalah seorang tokoh lihay dari dunia persilatan,

apabila dirinya di kerubuti niscaya bakal konyol.

Sementara itu sikakek tua tadi telah menjura kearah

ketiga orang itu sambil berkata:

“Berada diluar perbatasan, kalian mengungkap nama

loohu, pasti ada orang yang melayani kebutuhan kalian !”

“Terima kasih atas bantuan Ong Cungcu, kami hendak

mohon diri !” jawab dua orang suheng dan Loei Sam.

Pemuda Loei Sam yang bersembunyi dibelakang pohon,

setelah mendengar tanya jawab itu segera berseru tertahan

pikirnya:

“Oouw kiranya sikakek tua ini adalah tokoh sakti

kenamaan dari luar perbatasan sitelapak pembelah batu

nisan Ong Mie, dengan hadirnya jago selihay ini aku tak

boleh munculkan diri secara gegabah !”

Berada dalam keadaan seperti ini, ia tak ada permintaan

lain kecuali mengharapkan kedua suhengnya bisa cepat2

membawa siauw sumoaynya berlalu dari sana, dengan

demikian iapun punya kesempatan untuk melarikan diri.

Siapa sangka Ong Mie, sebagai seorang yang lanjut usia

masih saja memberikan pesan ini tiada hentinya, hal ini

membuat Loei Sam makin gelisah.

Mendadak, ia mendengar suara langkah kaki yang ringan

muncul dibelakang tubuhnya.

Waktu itu Loei Sam sedang pusatkan seluruh

perhatiannya kedepan, maka ketika ia menangkap suara

langkah manusia, orang itu sudah berada sangat dekat

dengan dirinya, ia jadi terperanjat dan buru2 berpaling.

Kurang lebih enam tujuh depa dihadapannya berdirilah

seorang kakek kurus kering berbaju abu2 dengan wajah

sadis, dia bukan lain adalah si Manusia bertangan aneh Yu

Put Ming.

Loei Sam terjelos, untuk sesaat ia jadi ragu2 untuk turun

tangan atau tidak ia takut kalau turun tangan maka kedua

orang suhengnya akan mengetahui kalau ia bersembunyi

disitu.

Dalam pada itu Yu Put Ming menatap wajahnya dengan

sinar mata permusuhan, pemuda itu jadi bergidik ia makin

gelisah.

Ditatapnya wajah orang itu, Yu Put Ming balas menatap

dirinya tajam2 sehingga akhirnya terdengar simanusia

bertangan aneh menegur dengan suara yang berat:

“Bagus sekali tindakanmu! memang paling tepat bagimu

untuk bersembunyi dalam benteng Thian It Poo.”

Semula Loei Sam masih mengharapkan suatu keajaiban

yaitu Yu Put Ming tidak kenal dirinya, tapi sekarang orang

itu sudah menegur begitu, hal ini membuktikan kalau ia

sudah mengetahui asal-usulnya.

Loei Sam sadar setelah Yu Put Ming mengetahui asal

usulnya maka ia tak akan melepaskan dirinya begitu saja, ia

pasti akan berusaha menangkap dirinya, membawa dirinya

kegunung Go bie dan mencari pahala dihadapan Si Thay

sianseng.

Ia tidak ingin digusur kedepan suhunya, maka dari itu

belum selesai Yu Put Ming bicara, Loei Sam telah

membentak dan melancarkan serangan dahsyat ke depan.

Bersamaan dengan dilepaskannya serangan tadi

badannya melejit ketengah udara, kemudian melesat keluar

kalangan dan melarikan diri cepat2 dari tempat itu.

Kedua buah serangan itu dilancarkan dengan segenap

tenaga Iweekang yang dimiliki, dahsyat nya luar biasa

sampai2 Yu Pui Ming sang tokoh silat kenamaan dalam

dunia persilatanpun terdesak mundur dua langkah

kebelakang.

Suara hiruk pikuk ini memancing kedua orang suheng

dari Loei Sam, mereka berseru tertahan, dan berpaling,

pada waktu itulah Loei Sam sedang meloncat keluar dari

tempat persembunyiannya, dengan jelas wajah pemuda itu

tertangkap oleh mereka berdua.

“Aaah, Loei Sam !” teriak kedua orang itu hampir

berbareng

Loei Sam tidak menggubris, ia meloncat kembali

ketengah udara meminjam batang ranting dari pohon

diatasnya ia menekan kemudian mencelat kemuka dan

tepat melayang turun diatas kereta salju.

Tangannya bergerak cepat, urat nadi siauw sumoaynya

segera dicekal erat2 kemudian menyentak tali les dan

melarikan kereta salju itu kedepan.

Semua peristiwa berlangsung dalam sekejap mata saja

walaupun banyak tokoh sakti hadir dalam kalangan untuk

sesaat mereka dibikin kelabakan juga oleh perbuatan Loei

Sam ini.

Menanti semua orang menjerit kaget, Loei Sam dengan

membawa siauw sumoaynya telah berada puluhan tombak

jauhnya dari situ.

oooOdwOooo

BAB 9

ONG MIE sama sekali tak tahu siapakah orang itu, ia

membentak keras:

“Keparat cilik, ayoh berhenti dan kembali !”

Loei Sam tidak menggubris, ketika itu ia sudah berada

puluhan tombak jauhnya dari beberapa orang itu,

Yu Put Ming simanusia bertangan aneh menjerit keras,

sepasang telapaknya didorong kuat2 kemuka menghajar

gumpalan salju dihadapannya.

Sungguh dahsyat serangan ini, gulungan angin pukulan

yang keras menghancurkan gundukan salju tersebut,

pecahan salju disertai desiran tajam segera meluncur

kedepan dengan hebatnya.

“Yu cianpwee jangan sampul melukai siauw su moay

kami.” buru2 kedua orang murid Si Thay sianseng berseru.

Meski tindakan Yu Pu.Ming sangat cepat, ratusan pecahan

salju beterbangan keempat penjuru sayang gagal melukai

Loei Sam apa lagi Siauw sumoaynya.

Segera agak merandek, kereta salju itu meluncur puluhan

tombak lebih jauh lagi, berada dalam keadaan seperti ini

serangan tersebut semakin tak dapat mengenai sasarannya.

Dalam sekejap mata Loei Sam sudah berlalu semakin

jauh, menanti semua orang meloncat naik keatas kereta

salju dan melakukan pengejaran kereta salju yang

ditumpangi Loei Sam sudah tinggal sebuah titik kecil diatas

permukaan salju, diikuti kemudian lenyap tak berbekas.

Kehilangan jejak pemuda itu, semua orang cuma bisa

saling berpandangan dengan wajah kecut.

Sementara waktu kita tinggalkan beberapa orang itu dan

kembali pada Loei Sam yang melarikan diri sambil

mencengkeram urat nadi siauw sumoaynya.

Kereta salju bergerak dengan cepatnya kedepan,

sementara Si Chen sang gadis tersebut tiada hentinya

meronta, Loei Sam segera menotok jalan darahnya dan

kembali lakukan perjalanan sejauh tiga, lima puluh li,

menanti dilihatnya tak ada orang yang mengejar lagi baru

tertawa terbahak2 dan membebaskan kembali siauw

sumoay nya dari pengaruh totokan.

“Sumoay.” ia berseru, “aku sungguh amat rindu

kepadamu tak kusangka kau melakukan perjalanan laksaan

li untuk menemukan kembali sang suami, perbuatanmu ini

membuat hatiku terharu.”

Si Chen putri tunggal Si Thay sianseng adalah seorang

gadis berhati kuat, tapi pada saat ini air mukanya pucat pasi

bagaikan mayat, sepasang matanya merah berapi api, ketika

mendengar ucapan dari Loei Sam ini ia gigit bibirnya keras2

sehingga darah mengucur keluar tiada hentinya.

Tiba2 ia menjerit keras, cahaya tajam berkilat langsung

menubruk kearah Loei Sam.

Dalam sekejap mata pergelangannya berputar dan dalam

genggamannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati

yang sangat tajam, ia menubruk pemuda itu dengan

gerakan ganas.

Tapi Loei Sam bukan manusia lemah, hanya sekali

bergerak ia berhasil mencengkeram pergelangan kanan

gadis itu, dimana ujung pisaunya tinggal beberapa coen

didepan tubuh pemuda itu.

Kembali gadis itu menjerit keras. tangan kanannya

berputar menghantam dada Loei Sam.

Tapi kembali pemuda itu mencengkeram

pergelangannya, lalu sambil tertawa cengar-cengir godanya:

“Siauw sumoay, pepatah kuno mengatakan: “jadi suami

istri semalaman kalahkan hubungan mesra ratusan hari,

benarkah kau tega membinasakan diriku?”

“Cepat lepaskan aku !” teriak Si Chen dengan napas

terengah2. “Aku hendak membinasakan dirimu, cepat

lepaskan aku, akan kubunuh dirimu !”

Tiba2 Loei Sam menghela napas panjang.

“Siauw sumoay!” ia berkata “Coba pikirlah dengan akal

yang sehat, kita sama2 jatuh cinta kemudian kita lakukan

perbuatan itu dengan sama2 suka.

Kemudian suhu akan membunuh aku, dalam keadaan

seperti ini terpaksa aku harus melarikan diri !”

“Cepat lepaskan diriku !” jerit Si Coen.

“Baik, baiklah, aku lepas tangan, kalau kau ingin

membunuh aku, silahkan turun tangan !”

Ia benar2 lepas tangan, Si Chen segera mundur

selangkah kebelakang, napasnya ter-engah2, dadanya naik

turun menahan emosi, sedang pisau belatinya dicekal

kembali erat2 lalu selangkah demi selangkah berjalan

mendekati Loei Sam.

Sianak muda ini tidak menghindar ataupun berkelit

dengan sinar mata patut dikasihani ia tatap wajah Si Chen

tajam2.

Ujung pisau makin lama semakin mendekati dada Loei

Sam. tapi ketika ujung pisau itu be rada tiga empat coen

diatas dada lawan tiba2 ia berhenti, tubuhnya mulai

gemetar dengan kerasnya.

Menyaksikan keadaan itu Loei Sam geleng kepala

berulang kali

“Siauw sumoay !” katanya, “Kalau kau benar membenci

diriku cepatlah turun tangan!”

Tubuh Si Chen gemetar semakin keras, tiba2 kelima

jarinya mengendor, pisau belati itu tahu2 sudah terlepas

dari tangannya dan jatuh keatas tanah.

Ia menubruk kedalam pangkuan Loei Sam,

merangkulnya erat2 dan mulai menangis tersedu2.

“Sudahlah, jangan menangis” hibur Loei Sam sambil

merangkul gadis tersebut “Sumoay jangan menangis,

bukankah sekarang kita berkumpul kembali.”

“Kau . . kau menganiaya diriku. . . kemudian

meninggalkan gunung Go-bie. . . kau. . . dalam hati kecilmu

sama sekali tak ada diriku, kau adalah. . .”

Si Chen menangis makin menjadi, tapi ia tetap bersandar

diatas dada Loei Sam.

“Aaaai sumoay, sudah kukatakan aku benar2 cinta

padamu, aku ingin mengawini dirimu sebagai istri, tapi

siapa yang mau mempercayai perkataanku ?”

Si Chen tarik napas panjang2, ia mundur selangkah

kebelakang kemudian menatap wajah si anak muda itu

dengan matanya yang merah membengkak.

“Aku manusia pertama yang tidak percaya !” serunya.

“Benar, dikolong langit memang tak seorang pun yang

suka mempercayai diriku, sewaktu kuajukan persoalan ini

dihadapan suhu, dia orang tua langsung memerseni sebuah

tamparan kepada ku, aku. . . kenapa aku tidak pantas

mengawini dirimu ? ? mengapa ? ? . . . siauw sumoay.

dapatkah kau memberikan jawabannya ? ? ?”.

“Sebab kau. . . kau. . . kau adalah iblis pemain cinta . .

kau adalah pemerkosa anak gadis orang. . . manusia

terkutuk. .”

Makian ini dijawab Loei Sam dengan gelak tertawanya

yang parau dan berat.

“Semua perbuatan itu kulakukan setelah meninggalkan

gunung Go-bie” katanya sungguh2. “Setelah aku ditampar

suhu, aku sadar apabila kejadian ini diketahui suhu maka

jiwaku bakal terancam, maka malam itu juga aku melarikan

diri gunung Gobie”

“Kau . . . setelah meninggalkan gunung Go-bie, kau

kembali melakukan kejahatan ?”

“Kenapa aku tak boleh melakukan perbuatan jahat ?”

seru Loei Sam sambil tertawa seram, “Sumoay, mungkin

kau tidak tahu, mungkin juga kaupun tahu. Tahukah kau

apabila seseorang bisa melakukan perbuatan jahat, maka

timbullah kegembiraan yang bukan kepalang ?”

“Kau . . . kau . . .” tubuh Si Chen gemetar semakin keras.

“Sumoay, kau suka berhubungan gelap dengan diriku,

main cinta dengan diriku, apakah itu bukan perbuatan jahat

? kenapa kau suka melakukannya dengan diriku ?”

Si Chen mundur dengan sempoyongan, hampir-hampir

saja ia jatuh tak sadarkan diri.

Kembali Loei Sam tertawa getir, ujarnya:

“Tidak lama setelah aku turun gunung, suhu telah

menyiarkan kabar kepada seluruh umat Bu lim untuk

menangkap aku dan gusur aku pulang gunung, berada

dalam keadaan seperti ini boleh dikata aku adalah seorang

manusia yang setiap saat bisa mati. Sumoay! coba kau

bayangkan betapa pahit dan tersiksanya hidup dalam

keadaan seperti ini mungkin kau tak pernah berpikir sampai

disitu!”

Si Chen tidak menjawab, ia tetap membungkam dan

berdiri diatas permukaan salju dengan mata mendelong

Makin bicara Loei Sam semakin emosi ujarnya kembali

dengan suara keras.

“Tiada hentinya aku melarikan diri. setiap kali tidur aku

tak beristirahat dengan nyenyak, setiap kali mendengar

suara aku pasti bangun dengan hati kaget, memang aku

telah melakukan banyak kejahatan! sampai dalam impian

aku merasa ditangkap orang dan digusur kehadapan suhu,

aku merasa seakan2 telapak suhu menghajar batok

kepalaku, aku merasa diriku sudah mati, jiwaku melayang.”

Napasnya ter-sengkal2, setelah merandek sejenak

terusnya:

“Kenapa aku tak boleh melakukan kejahatan ? aku

adalah seorang manusia yang setiap saat bisa mati, apa

yang kutakuti lagi ? aku sendiri tak tahu sampai kapan aku

bisa hidup, mungkin besok aku akan mati, mungkin lusa

baru aku mati, aku ingin menggunakan setiap kesempatan

sebelum mati untuk ber-senang2 dan melewati hidup yang

gembira !”

Tiba2 Si Chen mendongak dan menatap wajah Loei Sam

tajam2. lama sekali ia baru berkata:

“Kau . . . apakah kau tak tahu apa yang di ucapkan ibu ?”

“Apa yang dikatakan Su-nio ? tanya Loei Sam tertegun.

“Ibu pernah berkata, asalkan kau bisa dicari kembali

maka ia akan muncul sebagai penengah dan

menyelenggarakan perkawinan kita.”

Sekali lagi Loei Sam tertegun, lalu secara tiba2

mendongak dan tertawa terbahak2.

“Sumoay, coba kau pikir, seandainya suhu akan

membunuh diriku, dapatkah aku meloloskan diri, dapatkah

Sunio menolong diriku?”

Si Chen membungkam, kepalanya tertunduk rendah2.

Kembali Loei Sam tertawa getir, terusnya:

“Sudah banyak perbuatan jahat yang telah kulakukan,

tapi sungguh aneh sekali, makin banyak perbuatan jahat

yang kulakukan semakin banyak orang yang takut

kepadaku sampai akhirnya. . aku . . . aku menculik putrinya

Hiat Goan Sin Koen, aku baru terluka parah dan hampir2

mati diatas permukaan salju, aku kira saat ajalku telah tiba

tapi aku tidak takut, sebab pada suatu hari manusia tentu

akan mati, tapi . . . justru pada saat itulah ada serombongan

saudagar datang menyelamatkan jiwaku.”

“Haaa . . . ! hanya benteng Thian It Poo lah yang

ketimpa sial, seluruh isi benteng diobrak abrik Hiat Goan

Sin Koen, tak seorang manusiapun lolos dari kematian dan

semuanya musnah, punah dan hancur berantakan.”

“Siauw sumoay, aku tidak pernah menyangka kau bisa

berangkat keluar perbatasan untuk mencari aku, menurut

kau apa yang harus kulakukan ?”

Si Chen tertegun dan membungkam apa yang harus

dilakukan Loei Sam ? membawanya kembali kegunung Go

bie dan mohon ibunya meminta kan ampun kepada ayah ?

tapi hal ini tak mungkin terjadi, ia sudah banyak melakukan

kejahatan, tak mungkin ayahnya suka mengampuni jiwa

nya begitu saja.

Lalu, apa yang harus dilakukan ?

Lama sekali Si Chen tertegun, kemudian ia baru berkata.

“Menurut perkataanmu kau bermain cinta dengan banyak

perempuan. hal ini di sebabkan setiap saat kau akan mati

maka kau berbuat demikian, dan sama sekali berbeda

sewaktu dengan diriku ?”

Loei Sam cekal tangan gadis itu erat2 dan mengangguk

tiada hentinya.

“Kalau kau bisa memahami hal ini, itulah bagus sekali.”

Si Chen merasa hatinya kecut, titik2 air mata jatuh

berlinang membasahi pipinya.

“Aku tidak tahu” serunya sambil menggeleng, “Mungkin

aku sudah paham, mungkin juga belum paham, tapi aku

tidak percaya kepadamu.”

“Siauw sumoay, kalau tidak percaya bersamalah selalu

dengan diriku, buktikan sendiri apakah aku masih

melakukan kejahatan atau tidak.”

“Kita ber sama2 ?” gumam Si Chen seperti mengigau.

“Benar, kita akan selalu bersama bagaikan sewaktu

berada digunung tempo dulu dimana kita hanya berdua, tak

ada orang lain.”

Si Chen tundukkan kepalanya rendah2, begitu rendah ia

menunduk untuk menutupi rasa jengahnya, Loei Sam

tertawa lirih, dengan ujung bajunya ia menyeka air mata

yang membasahi pipinya.

“Sumoay” ia berkata, “Kita tak usah masuk ke daratan

Tionggoan, luar perbatasan masih cukup luas buat kita

untuk berdiam, aku dengar diatas gunung Tiang Pek san

terdapat sebuah telaga yang amat besar. tempat itu sangat

indah se akan2 sorga. kita bersembunyi saja ditempat itu,

jangan biarkan orang lain berhasil menemui kita.”

“Tidak mungkin, pasti ada orang berhasil menemukan

kita berdua.” seru gadis itu dengan kepala menggeleng.

“Kalau sampai terjadi begitu kita melarikan diri lagi, kita

lari terus sampai tak ada orang yang menemukan kita. atau

biarkanlah aku melarikan diri. kau,.kau tak usah ikut, kau

tak usah melarikan diri ber-sama2 aku.”

“Kau…aku larang kau berkata demikian” jerit Si Chen.

Loei Sam menghela napas panjang, ia tak berbicara lagi.

Kedua orang itu saling berpandangan beberapa saat

lamanya. terakhir Si Chen buka suara lebih dahulu:

“Baiklah ! kalau begitu kita berangkat dulu ke tanah

sorga yang kau maksudkan itu, mari cepat kita berangkat,

jangan sampai mereka berhasil menyusul kita !”

Sekali lagi Loei Sam menghela napas panjang.

“Siauw sumoay, sejak semula tahu kau bersikap begini

baik kepadaku, aku takkan banyak melakukan perbuatan

jahat, sehingga membuat keadaanku pada saat ini…jadi

begini dan runyam”

“Akupun tak tahu dalam penjelmaan sebelumnya telah

melakukan dosa apa, sehingga pada penjelmaanku kali ini

bisa mencintai diri-mu.” seru Si Chen tertawa getir.

Loei Sam tertegun, lama sekali baru menghela napas

panjang.

“Sekarang . . sekarang . .”

Kata-kata selanjutnya tak sanggup ia teruskan, Loei Sam

bukan seorang lelaki jujur, wataknya terlalu halus, apa yang

dipikirkan tanpa pertimbangan yang masak akan dilakukan

bagaimana akibatnya dia tak ingin dipikirkan mulai

sekarang.

Demikianlah, sambil bercekalan tangan Loei Sam serta

Si Chen melanjutkan perjalanannya ke depan.

Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun,

permukaan salju nan luas tak nampak batasnya dalam

keadaan seperti ini Si Chen mendongak dan mengawasi

wajah Loei Sam, air mata jatuh berlinang membasahi

pipinya, sambil meraba wajah pemuda itu bisiknya:

“Kau . kau bertambah kurus.”

Loei Sam tertawa getir.

“Putri Hiat Goan Sin-koen…!”

Belum sempat ia meneruskan kata2nya, Si Chen telah

menutupi mulutnya sambil geleng kepala berulang kali.

“Aku larang kau membicarakan peristiwa yang terjadi

tempo dulu, selama aku berada disisimu, kau dilarang

melakukan perbuatan2 terkutuk itu lagi !”

“Tentu saja aku takkan melakukan perbuatan itu lagi,

tapi …sumoay, sekarang aku sudah jadi buronan orang2 Bulim,

setiap orang menganggap aku sebagai iblis keji yang

patut dibunuh, ada kala demi melindungi keselamatan

sendiri terpaksa aku harus menggunakan pelbagai siasat

untuk meloloskan diri.”

“Kita bisa jauh2 menyingkir, jauh2 menghindari semua

orang !”

Diam2 Loei Sam menghela napas panjang, ia tahu

ucapan dari Si Chen itu terlalu polos, terlalu bersikap ke

kanak2an. untuk menghindarkan diri dari semua orang

bukan suatu pekerjaan yang dapat dilakukan, tapi pada saat

ini ia tidak ingin membantah.

Setelah tertegun sejenak ia mengangguk.

“Benar lebih baik kita berbuat demikian saja”

“Aaaaa . – – apakah lukamu telah sembuh.”

“Sudah sembuh enam tujuh bagian, kau tak usah kuatir

sewaktu aku hampir menemui ajalnya diatas permukaan

salju tiba2 muncul orang yang menyelamatkan jiwaku,

setelah kupikir aku rasa meski ada mara bahaya tak

mungkin segawat tempo dulu waktu itu aku harus berbaring

setengah bulan lamanya, dalam benteng Thian It Poo,

selama itu badanku kaku tak berkutik.”

Memandang wajah Loei Sam, putri dari Si Thay

sianseng ini bergumam.

“Sudahlah sekarang semuanya telah berlalu di manakah

letak . . . telaga Thian Tie digunung Tiang Pek San yang

kau maksudkan! marilah kita berdiam ditempat itu.”

Begitulah mereka berdua melanjutkan perjalanan, entah

berapa saat kemudian sampailah mereka disebuah kota

kecil.

Tingkah laku Loei Sam sangat ber-hati2, agar jangan

sampai dikenali anak buah Ong Mie yang dikirim kesana,

mereka berusaha keras menghindari bentrokan pandangan

dengan setiap orang.

Hari kedua pagi2 kedua orang ini segera menggabungkan

diri dengan orang2 yang hendak berangkat kegunung Tiang

Pek san untuk mengumpulkan jinsom, sepanjang jalan

mereka berbuat se-olah2 sepasang suami istri yang tak

mengenal ilmu silat.

Beberapa hari mereka berkumpul penuh kemesrahan,

walaupun sepanjang perjalanan sering kali mereka bertemu

dengan orang2 dunia persilatan, namun tak seorangpun

diantara jago2 Bu-lim itu ada yang menyangka bahwa Loei

Sam telah bergabung dengan rombongan pencari jinsom.

Suatu senja mereka memasuki sebuah kota yang amat

besar, setelah masuk kedalam kota, pemimpin rombongan

itu berkata kepala Loei Sam:

“Engkoh cilik aku lihat usiamu masih muda dan tidak

mirip kuli2 pencari jinsom, aku rasa sudah sepantasnya kita

berpisah. sebab malam ini kita harus menyambangi Ciang

ya lebih dahulu kemudian akan masuk gunung.”

“Benar, memang kita harus berpisah” Loei Sam

mengangguk. “Terima kasih kuucapkan atas perhatian yang

dalam beberapa hari ini.”

“Engkoh cilik, tak terhitung seberapa yang bisa kuberikan

kepada kalian.” pemimpin rombongan itu tertawa lantang.

“Melihat hubungan yang begitu mesrah antara kalian

berdua. hampir2 membuat kami tidak kerasan dan ingin

cepat2 pulang kerumah dan memeluk bini sendiri erat2 !”

Loei Sim tertawa jengah, sedang Si Chen tunduk dengan

wajah merah jengah. karena takut gadis itu merasa amat

malu, buru2 sianak muda itu mengalihkan pokok

pembicaraan kesoal lain.

“Siapa sih Ciang ya yang hendak kalian sambangi ?”

“Oouw Ciang ya ? dia adalah seorang lelaki jantan

nomor wahid didaerah sekitar gunung Tiang Pek san”

jawab pemimpin itu sambil tunjukkan jempolnya.

Loei Sam adalah pemuda cerdik, tak usah bertanya lebih

jauh ia sudah tahu yang dimaksudkan “Ciang ya” tentulah

Tiang Pek sam Mo, sebab hanya mereka tiga bersaudara

memakai she Ciang dan menjagoi sekitar gunung Tiang Pek

san.

“Oow!” Loei Sim mengiakan hambar dan tidak bertanya

lebih jauh, sementara pemimpin tadi berkata lebih jauh:

“Engkoh cilik, kalau kau ingin tancap kaki ditempat ini

dan berjaga2 atas segala sesuatu yang tak diinginkan, tiada

halangan ikut serta diri kami untuk menyambangi Ciangya.”

“Tidak, aku tidak ingin pergi aku . . aku tak pernah

bergaul, takut bertemu dengan orang kenamaan.”

Ucapan dari pemuda ini seketika menimbulkan gelak

tertawa semua orang.

“Engkoh cilik, memang lebih baik kau jangan pergi,

sebab binimu terlalu cantik dan Ciang-ya paling gemar pipi

licin, kalau bertemu dengan diri nya aku takut…”

Bicara sampai disitu mendadak pemimpin rombongan

itu membungkam.

Rombongan ini terdiri dari dua puluh orang yang sama2

menunggang sebuah kereta besar, waktu itu kereta sudah

memasuki jalan raya, kebungkaman sang pemimpin

rombongan yang dilanjutkan dengan berubahnya air muka

segera diikuti orang lain.

Ditengah bentakan keras, kereta mereka mendadak

berhenti.

Loei Sam menyadari terjadinya sesuatu yang tak

diinginkan, ia segera berpaling dan tampak lah

serombongan kecil jago2 berbaju ringkas dengan mengiringi

seseorang berjalan mendekat.

Orang itu berjalan dipaling depan! pakaiannya perlente

dengan sikap yang angkuh, sepasang mata memandang

keatas dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun

terhadap semua orang.

Dalam pada itu ada dua orang lelaki telah berebut maju,

sambil menuding orang2 yang ada diatas kereta hardiknya:

“Mata kalian semua sudah buta ? sudah tahu Ciang sam ya

hendak lewati tempat ini, kenapa kereta kalian masih juga

menerjang kemari ? Eei, tarik dia turun dan hukum dengan

lima puluh cambukan !”

Sang kusir ketakutan setengah mati, hampir2 air

mukanya berubah pucat pasi, tubuhnya gemetar keras.

“Yaya sekalian berbuatlah mulia.” ia merengek “Memang

mata hamba sudah buta. tak tahu kalau Ciang Sam ya

sedang lewat, maaf yaya sekalian, berbuatlah mulia dan

ampunilah diriku “

“Ciang Sam ya, berbuatlah mulia.” sang pemimpin

rombonganpun mohonkan ampun, “Kami sedang berangkat

untuk menyambangi dirimu.”

Loei Sam serta Si Chen yang ikut dalam rombongan

bungkam dalam seribu bahasa, mereka berdua sama sekali

tak berkutik, sementara itu dalam hati kecilnya sianak muda

itu berpikir:

“Orang ini disebut Ciang Sam ya, mukanya pucat seperti

mayat, dia tentulah si Tengkorak kumala Ciang Huan dari

Tiang Pek Sam-mo!” Terdengar Ciang Huan mendengus

tertawa dingin, sepasang matanya yang sipit menyapu

sekejap wajah orang2 itu, tiba2 ia tertegun, sinar matanya

menatap wajah Si Chen tak berkedip.

“Liuw Loo toa!” ia segera menegur, “Kenapa kalian

masuk gunung menempuh bahaya dengan membawa

seorang nyonya manis?”

“Bukan . . bukan rombongan kami.” buru2 pemimpin

rombongan itu menerangkan “Sepasang suami istri ini

berangkat bersama2 kami, tapi sebentar lagi akan berpisah.”

“Kalau begitu bagus sekali, Liuw loo toa, tinggalkanlah

kedua orang itu disini, dan kalian segeralah berangkat untuk

mulai bekerja.”

Pemimpin rombongan itu adalah orang baik, ia tahu

apabila sepasang suami istri itu ditinggalkan disini maka

nona cilik itu akan dilalap oleh Ciang Huan, ia jadi serba

salah. “Tentang soal ini . . .”

Belum sempat ia menyelesaikan kata2nya. air muka

Ciang Huan telah berubah hebat, begitu menyeramkan

sampai membuat bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Pemimpin rombongan itu tak berani berkutik lagi,

dengan sinar mata apa boleh buat ia pandang wajah Loei

Sam, air mukanya menunjukkan rasa kasihan namun ia tak

dapat berbuat apa2.

Menyaksikan hal itu Loei Sam merasa geli bercampur

mendongkol, pikirnya:

“Maknya, aku adalah kakek moyangnya orang jahat, tak

disangka ditempat ini harus bertemu dengan cucu buyutnya

orang jahat,..kurang ajar ! kurang ajar !”

Dengan suara hambar ia lantas berkata:

“Liuw Loo toa. mungkin Ciang-ya ini hendak merawat

kami berdua, kau tak usah cemas, biarkanlah kami berdua

ikuti orang ini !”

Liuw Loo-toa menghela napas panjang, ingin sekali ia

memberi peringatan kepada sianak muda tapi berada dalam

keadaan seperti ini mana berani ia buka suara ?

Demikianlah, dengan dibimbing oleh Loei Sam putri dari

Si Thay sianseng segera meloncat turun dari atas kereta,

Dalam pada itu sepasang mata Ciang Huan yang sipit

tiada hentinya mengawasi seluruh tubuh Si Chen dari atas

sampai bawah, baru saja gadis itu turun dari kereta sambil

tertawa seram ia maju menghampiri dan menowel pipinya.

Dalam hati Si Chen amat gusar, ia berkelit ke samping

dan menghindarkan diri dari towelan tersebut.

Ciang Huan bukan manusia sembarangan, dari gerakan

ini ia dapat menerka gadis itu memiliki ilmu silat yang amat

lihay. ia tertegun, belum sempat melakukan sesuatu Loei

Sam telah turun tangan.

Ciang Huan hanya merasakan ada sesosok bayangan

manusia menghampiri dirinya, baru saja ia putar badan

tahu2 pinggangnya sudah jadi kaku.

Ketika itulah tubuhnya terasa amat lemas tak bertenaga,

tidak mungkin dalam keadaan seperti itu ia dapat

melancarkan serangan.

Setelah merobohkan lawannya, Loei Sam tidak berhenti

sampai disitu saja, ia segera cengkeram urat nadinya erat2,

setelah itu sambil tertawa terbahak2 ujarnya:

“Ciang sam-ya, kami suami istri berdua sedang lewat

kota ini, dan untuk sementara waktu ingin menginap

dirumah kalian, aku rasa kau tak akan menampik bukan !”

Waktu itu semua orang yang ada dalam kereta dengan

mata terbelalak sedang mengawasi Loei Sam. dalam

sangkaan mereka pemuda ini pasti akan mati dihajar oleh

Ciang Huan, siapa sangka orang itu malahan kena

dicengkeram.

Merasa dirinya dikecundangi, Ciang Huan merasa kaget

bercampur gusar, ia tahu siapakah orang itu tapi berada

dalam keadaan seperti ini terpaksa ia mengangguk.

“Baik . . baik . , tentu saja akan kami sambut dengan

senang hati!”

Ciang Huan mempunyai perhitungan sendiri, sekarang ia

menderita rugi tapi ia mengharapkan bantuan dari kedua

orang saudaranya setelah berada dirumah, maka iapun

mengharapkan Loei Sam bisa mampir dirumahnya.

Mendengar orang itu sudah setuju, Loei Sam lantas

berpaling kearah Si Chen dan sambil tersenyum ujarnya:

“Mari kita segera berangkat.”

Demikianlah dengan tangan sebelah ia cekal urat nadi

Ciang Huan dengan tangan lain menggandeng Si Chen,

mereka bertiga bersama2 maju kedepan, tentu saja kejadian

ini membuat anak buah sitengkorak kumala jadi ter mangu2

dan mengikuti dari belakang dengan pikiran bingung.

Tidak lama kemudian sampailah Loei Sam sekalian

didepan sebuah bangunan yang megah dan kokoh, mereka

langsung masuk kedalam ruangan itu dan berhenti disebuah

ruang tamu yang indah mewah dan megah.

Setelah berada ditempat itu, Loei Sam pun tidak

menutupi apabila ia mengerti ilmu silat, pemuda ini segera

tertawa dingin.

“Sudah lama kudengar ilmu silat Tiang pek Sam-mo

terutama Loo toa serta Loo Jie sangat dahsyat, kenapa tidak

suruh mereka berdua munculkan diri. .”

Sitengkorak kumala Ciang Huan mendengus, segera

teriaknya: “Jie-ko . . !”

Teriakkan ini amat lantang dan jauh menggema kedalam

ruangan, sebentar kemudian terdengarlah suara sahutan

dari dalam.

“Ada urusan apa?”

Bersamaan dengan ucapan itu dari balik ruangan muncul

seorang laki2 kurus berbaju hitam dengan sulaman

tengkorak emas didadanya, menyaksikan keadaan

saudaranya jadi tertegun.

“Samte siapakah orang ini?”

“Aku… akupun tidak tahu.” jawab Ciang Huan dengan

air muka sebentar pucat sebentar menghijau.

Sambil berkata matanya berkedip2 sedang mulutnya

mencibir kearah Si Chen maksudnya jelas sekali, ia minta

sitengkorak emas turun tangan diluar dugaan dan

mencengkeram Si Chen kemudian memaksa Loei Sam

lepas tangan.

Sudah lama Tiang Pek Sam-mo bekerja sama dan

melakukan kejahatan, kerdipan mata ini segera diketahui

oleh sitengkorak-emas, tubuhnya segera bergerak menubruk

kearah gadis tersebut.

Loei Sam bukan manusia bodoh begitu tengkorak emas

bergerak, sambil menarik tangan Ciang Huan iapun

bergeser kesamping, kaki kanan berputar menyerang tubuh

bagian bawah tengkorak emas itu dan memaksanya

mundur.

Sitengkorak emas merandek, jari tangannya meluncur

keluar bagaikan kilat menotok jalan darah Hoa Kay hiat

diatas dada Loei Sam, pemuda itu miring badan segera

berkelit kesamping.

Totokan dari si Tengkorak emas ini dilancarkan dengan

gerakan sangat cepat, kelihatan Loei Sam yang dilakukan

secara mendadak ini membuat serangan orang itu tak bisa

tertahan lagi, jari tangannya segera menerobosi ketiak

sianak muda itu dan meluncur kedepan.

Loei Sam segera menekan dan mengepit lengan kirinya,

pergelangan tangan si Tengkorak Emas segera terjepit

kencang2.

Ilmu silat si Tengkorak Emas buat daerah sekitar gunung

Tiang Pek san memang terhitung hebat, tapi kalau

dibandingkan dengan anak murid dari Si Thay sianseng ini

masih ketinggalan jauh.

Dibawah jepitan Loei Sam, tulang pergelangan

sitengkorak emas dengan disertai suara keras telah ditekuk

patah jadi dua bagian.

Loei Sam tetap tak lepas tangan, tulang pergelangan

yang sudah patah kembali disentak dan ditarik olehnya

dengan disertai tenaga Iweekang benturan yang keras

menimbulkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari

sitengkorak emas ini, keringat mengucur keluar bagaikan

hujan gerimis.

“Hoohan, ampun . . . jangan cabut jiwaku?”

Loei Sam mendongak tertawa terbahak2 ia angkat

lengannya memaksa sitengkorak emas Ciang Loo mundur

tiga langkah kebelakang tangan kiri mencekal pergelangan

kanan dan mulutnya berkaok2 terus menahan rasa sakit.

Sejak permulaan hingga akhir, Loei Sam bertindak tanpa

melepaskan cengkeramannya pada urat nadi Ciang Huan,

ketika itulah horden kembali tersingkap dan diikuti

kemunculan seseorang, Orang ini aneh wajahnya kukoay

dengan batok kepala gepeng seakan-akan balok yang

dibelah menjadi dua potong.

Panca indranya datar dan luar biasa, ketika ia berdiri

ditengah ruangan keadaannya mirip dengan manusia kayu.

Loei Sam maupun Si Chen yang menyaksikan orang itu

sama2 berdiri tertegun, mereka dibuat melongo oleh

keadaan yang aneh dari manusia tersebut.

Beberapa saat kemudian, sianak muda itu sudah dapat

menduga orang ini pastilah sang Loo toa dari Tiang Pek

samMo, sitengkorak sayu Ciang Yu adanya.

Belum sempat ia buka suara, sitengkorak kayu telah

berkata: “Sungguh hebat ilmu yang anda miliki, benarkah

kedatangan anda sengaja hendak mencari gara2 dengan

kami bertiga ?”

Loei Sam segera tertawa dingin. “Soal ini tak usah

ditanyakan padaku, tanyakan saja secara langsung dengan

saudaramu yang sampai sekarang masih kucengkeram ini,

dengan cepat kau akan tahu apa yang telah terjadi.”

“Toako !” teriak si Tengkorak kumala, “Keparat cilik ini.

. dia. . .”

“Tutup mulut !” bentak Si Tengkorak kayu sebelum

saudaranya selesai berbicara, “Kembali kau bikin onar

ditempat luar, bukankah sejak semula sudah kukatakan

diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada

manusia, meski kita bertiga turun tangan berbarengpun

jangan dikata saudara ini, cukup nona itupun tak akan

sanggup kita menangkan, ayoh cepat berlutut dan mohon

ampun kepada sahabat ini !”

Terhadap ucapan yang diutarakan saudaranya ini, si

Tengkorak kumala sangat menurut, segera ia jatuhkan diri

berlutut keatas tanah, namun gerakan ini tak dapat

dilanjutkan sebab Loei Sam masih mencengkeram

pergelangannya.

Pemuda itu tertawa dingin, ia segera lepas tangan.

Sebagai lelaki yang bernyali besar dan berilmu tinggi, ia

tidak takut si Tengkorak Kumala main setan dengan

dirinya.

Setelah urat nadinya terlepas, si Tengkorak kumala jatuh

berturut diatas tanah, waktu itulah kembali si Tengkorak

kayu menghardik:

“Ayoh cepat anggukkan kepalamu dan jalankan

penghormatan besar?”

Merah padam selembar wajah Ciang Huan, ia benar2

menurut dan tok, tok, tok, menganggukkan kepala tiga kali.

Menyaksikan kejadian ini Loei Sam amat kegirangan, ia

tertawa terbahak2.

“Sudah, sudahlah, cayhe akan segera mohon diri.”

Maksud dari perkataan ini jelas sekali, ia tidak akan

merecoki urusan dengan Tiang Pek Sam mo lagi, tapi

sewaktu ia putar badan Ciang Yu kembali berseru:

“Harap saudara sudah berdiam sejenak lagi, berilah

kesempatan bagi kami bertiga untuk menjamu anda dengan

tiga cawan arak sebagai tanda minta maaf dari kami

bertiga2.

“Soal ini sih tak perlu, kami ada urusan penting yang

harus segera diselesaikan, biarlah kami mengganggu

dikemudian hari.”

“Lalu dapatkah anda beritahu kepada kami, siapakah

nama besar anda?”

Mendengar pertanyaan itu buru2 Si Chen mengedipkan

matanya berulang kali kearah pemuda itu dan melarang ia

bicara, tapi Loei Sam adalah manusia yang suka cari

menang sendiri, sikap hormat dari orang lain membuat ia

kepala besar.

Saat ini ia ingin menggunakan kesempatan ini

mempopulerkan diri, maka dari itu segera jawabnya:

“Cayhe she Loei bernama Sam.”

Ucapan ini diiringi helaan napas panjang dari Si Chen, ia

merasa kecewa sebab pemuda itu tak mau menuruti

perkataannya.

Sebaliknya Tiang Pek Sam Mo bertiga jadi tertegun dan

berdiri melongo-longo setelah mendengar nama itu.

Haruslah diketahui dewasa itu nama Loei Sam sudah

amat tersohor dalam dunia persilatan setiap tokoh silat Bu

lim pada kenal nama ini, hal ini dikarenakan Si Thay

sianseng telah memerintahkan seluruh umat Bu lim untuk

menangkap dirinya.

Tiang Pek Sam mo memang manusia jahat, tapi kalau

dibandingkan dengan perbuatan2 Loei Sam, mereka masih

ketinggalan jauh.

Air muka ketiga orang itu segera berubah hebat, setelah

tertegun beberapa saat lamanya Ciang Yu baru berseru:

“Aaah,..kiranya…kiranya anda adalah Loei sauw hiap,

ini hari bisa berkenalan dengan sauw-hiap

sungguh…sungguh membuat kami merasa amat bangga.”

Loei Sam amat cerdik, dari perubahan air muka ketiga

orang itu setelah mendengar namanya ia bisa membade isi

hati mereka, dengan cepat ia tertawa dingin.

“Hmm ! benarkah kalian merasa bangga ? apakah kalian

tidak takut Si Thay sianseng serta Hiat Goan Sin koen cari

gara2 dengan kalian ?”

“Tentang soal ini tentu saja kami takut” sahut Ciang Yu

sambil tertawa getir. “Walaupun harus berkorban demi

menemani seorang Koencu kamipun anggap,

bagaimanapun juga ini hari kami bertiga ingin mengikat tali

persahabatan dengan anda”

“Ha ha ha kalian boleh berlega hati, aku tak akan

menyeret kalian, hanya saja aku berharap kalian jangan

mengungkap tentang dirinya kepada siapapun !”

“Tentu saja ! tentu saja !”

Sementara itu, tampak seorang lelaki kekar berjalan

masuk dengan ter buru2, setibanya di hadapan Ciang Yu

segera lapornya:

“Toa-ya orang itu sudah tidak tertolong lagi.”

“Jangan banyak ribut, ayoh cepat pergi !” hardik Ciang

Yu.

Lelaki kekar itu mundur selangkah kebelakang dan

berkata kembali:

“Lukanya terlalu parah, hamba betul2 tak sanggup

menyelamatkan jiwanya. untuk memperpanjang usianya

tiga, empat hari lagi pun amat susah. Jie-ya, Sam ya. kalau

kalian mau membalas dendam cepatlah turun tangan, kalau

tidak ia akan kedahuluan mati.”

Melihat tegurannya tidak digubris Ciang Yu semakin

gusar.

“Disini ada tamu terhormat, kenapa kau ribut terus2an?

ayoh cepat enyah dari sini, kau sudah bosan hidup?”

Orang itu amat terperanjat, ia tak berani banyak bicara

lagi dengan mulut terbungkam segera mengundurkan diri

“Eeee, sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Loei

Sam keheranan.

“Ooouw… seorang keparat cilik pernah mengikat tali

permusuhan dengan kami, beberapa hari berselang kami

berhasil temukan dirinya disebuah rumah penginapan,

kebetulan orang itu sedang menderita luka parah, maka

kami tawan dirinya, berada dalam keadaan tidak sadar

terlalu enak kalau kami bunuh begitu saja maka kami ada

maksud merawat lukanya sampai sembuh dahulu, setelah

itu baru kita siksa perlahan-lahan, siapa sangka rejekinya

agak bagus, ternyata jiwanya tak tertolong lagi!”

“Ooouw, kiranya begitu, kalau memang dia adalah

musuh besarmu, berikanlah suatu kematian buatnya, buat

apa kalian berbuat keterlaluan?”

“Ucapan Loei Siauw hiap tepat sekali.”

Ia segera berpaling dan berseru: “Gusur pergi Tong hong

Pek dan buang tubuhnya ditengah kuburan liar dekat bukit

sana.”

Nama “Tong hong Pek” membuat Loei Sam tertegun

buru2 serunya:

“Apa, orang itu Tong hong Pek ? maksudmu orang itu

bernama Tong hong Pek ?”

Tiang pek Sam mo pun tertegun, untuk sesaat air

mukanya berubah hebat! tentu saja mereka pun mengerti

Loei Sam pasti kenal dengan Tong hong Pek hanya tak tahu

apa hubungan antara mereka berdua.

Seandainya Loei Sam adalah sahabat karibnya Tong

hong Pek, bukankah mereka bertiga bakal konyol ?”

Sambil tertawa getir Ciang Yu mengangguk.

“Benar, . LoeiSiauw hiap . . apakah kau kenal dengan

Tong hong Pek ?”

“Bukan kenal saja, bukankah bagian dada Tong hong

Pek terluka ?”

“Tidak salah, darimana Loei siauhiap bisa tahu ?”

Loei Sam tak dapat menahan diri lagi, ia mendongak dan

tertawa terbahak.2.

“Kalau dibicarakan sungguh kebetulan sekali, justru ia

terluka ditanganku.”

Ucapan ini segera membuat Ciang Yu berlega hati, sebab

bilamana Tong-hong Pek memang terluka ditangan Loei

Sam apalagi terluka begitu parah, jelas mereka adalah

musuh.

Ambil kesempatan inilah, ia ingin cari muka ujarnya:

“Aaah kiranya bangsat itu ada ikatan permusuhan

dengan Loei sauw hiap, apakah Loei sauwhiap…”

“Hal ini sungguh aneh sekali” tukas Loei Sam sambil

ulapkan tangannya, “Bangsat itu terluka sangat parah,

secara bagaimana ia bisa hidup sampai ini hari ?”

Ciang Yu menyeringai seram.

“Terus terang saja, kami ingin menghidupkan dahulu

orang itu kemudian per-lahan2 menyiksanya, maka dari itu

setiap hari kami beri dirinya semangkok cairan jinsom

terbaik agar jiwanya selalu utuh sebab kami tidak ingin dia

mati begitu saja”

“Aah kiranya begitu !”

Kembali alisnya berkerut setelah mengucapkan kata2 itu.

agaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

Tiang Pek Sam-mo tidak tahu apa yang sedang

dipikirkan Loei Sam pada saat ini. merekapun tak berani

bicara dan menanti dengan mulut membungkam.

“Suko siapakah Tong hong Pek itu ?” tiba2 Si Chen

bertanya dengan suara lirih.

“Dia… menurut pengakuannya dia adalah anak murid

dari si Bongkok sakti LiehHwiee Sin-Tuo”

Si Chen adalah putri tunggal Si Thay sianseng tentu saja

ia tahu manusia macam apakah sibongkok sakti tersebut,

tidak heran kalau ia kaget setengah mati setelah mendengar

ucapan itu.

“Kau . . kembali kau lukai anak murid si-bongkok sakti,

hal ini . , hal ini , , ” serunya gelagapan.

Buru2 Loei Sam cekal tangan Si Chen erat2.

“Sumoay. kejadian ini berlangsung beberapa waktu

berselang ketika itu aku belum berjumpa dengan dirimu.”

“Sekarang kau harus berusaha untuk menyelamatkan

jiwanya, kalau ia mati aaai . . . kalau kalau sampai ia mati .

. .”

Menurut jalan pikiran Si Chen, apabila Tong hong Pek

binasa, dengan sipat si bongkok yang berangasan, tokoh

sakti itu pasti takkan melepaskan Loei Sam, ini berani

ruang gerak sianak muda itu akan semakin sempit. Makin

cemas gadis itu, sepasang alis Loei Sam berkerut semakin

kencang, katanya.

“Akupun punya pikiran demikian, hal ini bukan

disebabkan aku takut dengan sibongkok sakti tersebut, aku

hanya berpikir apa yang pernah kulakukan pada masa lalu,

yang masih bisa di tolong akan kutolong sekuat tenaga, dan

yang tak bisa ditolong lagi, yaa apa boleh buat.”

“Suko, ucapanmu tepat sekali !” dengan terharu Si Chen

membenarkan.

Selama ini Tiang Pek Sam mo mendengarkan tanya

jawab itu disisi kalangan, saat ini mereka dibuat tertegun

dan jengah sekali sehingga tukar dilukiskan dengan kata2.

“Tong hong Pek masih bisa ditolong ?” terdengar Loei

Sam bertanya kembali.

“Aku lihat… ia sudah tak tertolong lagi”

“Bagus, kalau begitu cepat bawa aku menengok

keadaannya !”

“Silahkan, silahkan !” buru-2 Tiang Pek Sam-mo

membawa jalan, mengiringi Loei Sam serta Si Chen

melewati serambi dan memasuki sebuah kamar yang gelap.

Kamar itu mirip gudang penyimpan kayu, bukan saja

lembab, lagi gelap dan kotornya luar biasa, ruangan tersebut

hanya diterangi sebuah pelita yang amat kecil.

Air muka Tiang Pek Sam mo kelihatan semakin jengah,

terdengar Ciang Yu bergumam memberi penjelasan.”

“Kami. . kami tidak tahu kalau Loei Sam ingin

menyelamatkan jiwanya, maka selama ini ia . . . ia disekap

ditempat ini.”

Loei Sam mendengus dingin, ia ambil pelita tadi dan

didekatkan pada altar batu dimana berbaring seseorang, air

muka orang itu pucat pasi melebihi mayat, tubuhnya tak

berkutik atau dengan perkataan lain lebih mirip sesosok

mayat yang sudah lama mati.

Menyaksikan keadaan orang itu, Si Chen segera menjerit

tertahan.

“Aaaah dia sudah mati.”

“Belum… ia belum mati hanya. . . jaraknya dengan

kematian memang sudah tak jauh lagi” kata Loei Sam

setelah memeriksa napasnya.

Ia segera berpaling dan berseru lebih jauh.

“Disini kalian punya obat bagus apa saja, cepat

keluarkan semua hitung2 aku hutang dengan kalian.”

“Aaaah, kenapa Loei tayhiap bicara begitu sungkan”

buru2 Tiang Pek SamMo berseru.

“Hanya permintaan itu saja terlalu sederhana, apakah

perlu memulihkan Tong hong . . Tong hong sauw hiap

ketempat lain?”

“Jangan dikata pindah tempat asalkan kalian

goncangkan sedikit saja tubuhnya mungkin napasnya segera

akan putus. Sumoay, coba kau tekan jalan darah Pek Hwie

Hiatnya lalu per lahan2 salurkan hawa murni kedalam

tubuhnya!”

Si Chen menurut ia segera duduk disisi Tong hong Pek

dan tekan telapaknya diatas batok kepala pemuda itu.

Tampak Loei Sam tertawa getir.

“Sungguh tak nyana beberapa hari berselang aku melukai

dirinya, sekarang aku harus menolong dirinya kembali.

Siauw sumoay, tahukah kau apa sebabnya aku berbuat

demikian?”

Merah padam selembar wajah Si Chen, hal ini

disebabkan ia merasa sangat girang dan gembira.

“Aku tahu, kau berbuat demikian karena diri ku, karena

kau dapat bersama-sama diriku kembali.”

Loei Sam cekal tangan Si Chen erat2. kedua orang itu

saling berpandangan dengan penuh kemesraan.

Tidak selang beberapa saat kemudian, Tiang Pek Sam

mo telah muncul kembali dengan membawa macam2 jenis

obat, Loei Sam memilih beberapa diantaranya lalu

ditumbuk jadi halus seperti bubuk dan dicampur dengan

jinsom diaduk sebagai kuah, kemudian mementangkan

mulut Tong hong Pek dan mencekoki cairan tersebut

kedalam perutnya.

Dalam pada itu tiada hentinya Si Chen salurkan hawa

murninya kedalam tubuh Tong hong Pek, beberapa saat

kemudian per-lahan2 pemuda itu telah membuka matanya

dan sadar.

Berbicara dari pihak Tong hong Pek, sejak terluka dan

jatuh tak sadarkan diri, baru kali ini ia sadar kembali.

Ketika sadar, pertama2 yang dirasakan olehnya adalah

segulung tenaga lunak yang meluncur masuk kedalam

tubuh tiada hentinya dari ubun2, aliran panas dan lunak ini

mendatangkan rasa yang nyaman buat seluruh tubuhnya.

Saat ini dia tidak merasa tersiksa lagi, bahkan merasa

dirinya seakan2 berbaring diatas awang2 dimana badannya

sama sekali tak bertenaga, lunak, lemas dan ringan.

Dengan membuang banyak tenaga ia membuka kelopak

matanya diikuti otakpun jadi jernih kembali, ia mulai bisa

berpikir, dimanah aku? sudahkah berada dirumah?

Saat ini sepasang matanya tak dapat di pentangkan

lebar2. pemuda itu cuma menangkap suara gadis yang

terasa amat asing baginya.

“Suko, coba kau lihat ia sudah sadar kembali.”

Tong hong Pek tertegun, orang yang barusan bicara tentu

saja Si Chen, tapi pemuda itu tidak kenal dengan dara

tersebut, setelah mendengar ucapan itu ia lantas berpikir

lebih jauh.

“Kalau begitu aku belum berada dirumah? tapi… kenapa

suara gadis yang masih asing baginya ?. Mungkinkah Si

Soat Ang sudah ke timpa kemalangan?”

Makin dipikir hatinya semakin cemas, kelopak matapun

terbentang semakin lebar.

Tapi tak sebuah bayanganpun berhasil ditangkap jelas,

semuanya kabur, buram dan tidak jelas, ingin sekali ia buka

suara namun tak sepotong suarapun berhasil dipancarkan

dari mulutnya.

“Baru saja kau sadar, jangan terlalu gelisah,

beristirahatlah sebentar baru bicara” ujar gadis asi