Pendekar Binal – Bahagia Binal (Seri 3) Tamat

New Picture

Pendekar Binal – Bahagia Binal (Seri ke 3)Tamat

Karya : Khu Lung

Saduran : Gan KL

Gui Moa-ih pikir diri sendiri memang tidak mungkin tahan seperti Siau-hi-ji, tapi ia menjadi gusar dan mendamprat, “Kau sudah terpikat oleh bocah ini, dengan sendirinya segalanya kau puji.” “Dia memang hebat dan harus dipuji, kalau tidak …kalau tidak masa aku sampai terpikat olehnya?!” 

Gui Moa-ih jadi melengak dan kikuk sendiri,

katanya, “Ucapan begini pun dapat tercetus dari

mulutmu?”

“Mengapa aku tidak berani mengucapkan isi hatiku

sendiri? Ini kan bukan sesuatu yang memalukan?

Jika main sembunyi-sembunyi, diam-diam makan

dalam menyukai seorang, tapi tidak berani mengutarakannya, cara beginilah

baru memalukan dan menggelikan …. Betul tidak?”

Wajah Gui Moa-ih yang pucat kekuning-kuningan itu jadi merah jengah juga,

segera ia menjengek pula, “Tapi meski kau menyukai dia, rasanya belum tentu

dia suka padamu.”

“Yang penting aku suka padanya, apakah dia juga suka padaku atau tidak

bukan soal, kau tidak perlu ikut khawatir,” kata So Ing.

“Hm, kau ….” Gui Moa-ih bermaksud mencemoohkannya, tapi tidak tahu apa

yang harus diucapkannya.

Dengan tertawa So Ing menyambung, “Apalagi seumpama sekarang dia tidak

suka padaku, nanti juga aku ada akal untuk membuatnya suka padaku.”

Sampai di sini, tak tahan lagi Siau-hi-ji, ia bergelak tertawa, katanya, “Tepat,

tepat sekali. Rasanya sekarang juga aku sudah mulai menyukai kau.”

Air muka Gui Moa-ih sebentar putih sebentar hijau saking menahan geramnya.

Teriaknya kemudian dengan bengis, “Jika demikian, bila dia mati tentu kau

sangat berduka, bukan?”

So Ing tersenyum, jawabnya, “Sejak mula sudah kuketahui kau pasti akan

memperalat dia untuk memeras diriku. sesungguhnya apa kehendakmu? Masa

kau tidak enak untuk bicara terus terang?”

Melihat kerlingan mata si nona yang menggetar sukma, melihat dadanya yang

berombak perlahan di bawah bajunya yang tipis itu, hati Gui Moa-ih menjadi

berdebar dan bibir pun terasa kering, serunya, “Aku … aku ingin kau ….”

mendadak ia menggerung dan berputar cepat sambil memukuli dada sendiri

beberapa kali, ia tidak berani menatap si nona pula, teriaknya, “Aku ingin kau

ceritakan rahasia yang kau dengar kemarin.”

“O, kau sudah bertemu dengan Pek San-kun?”

“Hmk,” dengus Gui Moa-ih.

Tiba-tiba So Ing tertawa dan berkata, “Sebenarnya, sekalipun yang kau

inginkan adalah diriku pasti juga akan kuserahkan padamu, cuma sayang kau

sendiri tiada punya keberanian sehingga kesempatan baik ini tersia-sia.”

Gui Moa-ih meraung gusar, mendadak ia membalik tubuh dan mencengkeram

pundak si nona, teriaknya dengan suara parau, “Kau … kau budak busuk,

perempuan hina, kau … kau ….”

Tapi So Ing tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum genit,

“Kutahu sekarang kau menyesal mengapa tadi tidak berani mengutarakan isi

hatimu. Tapi itu urusanmu sendiri, mengapa aku yang menjadi sasaran

kedongkolanmu?”

“Persetan!” bentak Gui Moa-ih murka. “Siapa menghendaki perempuan busuk

macam kau, kau ….” karena tak tahu apa yang dikatakan, mendadak sebelah

tangannya menampar muka So Ing.

Namun si nona tidak berkelit, sebaliknya mukanya yang molek itu seolah-olah

sengaja disodorkan malah, katanya, “Jika ingin memukul aku, silakan pukul

saja. Tapi apakah kau sampai hati memukulku?”

Di bawah cahaya bintang yang berkelip-kelip itu wajah So Ing kelihatan

kemerah-merahan laksana bunga mawar yang baru mekar dengan

pandangannya yang sayu. Tangan Gui Moa-ih jadi terhenti di udara dan tidak

jadi memukul.

So Ing malahan terus mendekatkan tubuhnya ke sana, katanya sambil

memejamkan mata, “Pukul, ayolah pukul! Mengapa tidak jadi pukul!”

Tubuh Gui Moa-ih seperti mulai gemetar, hatinya menggereget. Kalau bisa dia

ingin memeluk si nona sekarang juga, tapi dia justru sangsi dan tidak berani.

Wajahnya yang pucat kuning tampak berkeringat.

Dongkol dan geli pula Siau-hi-ji menyaksikan semua itu. Tiba-tiba dilihatnya

salah satu jari So Ing yang lentik itu entah sejak kapan telah memakai sebuah

cincin yang mengkilap.

Karena dia tergantung menjungkir, matanya tepat berada di depan cincin itu. Di

bawah sinar bintang yang remang-remang dapat dilihatnya di atas cincin itu

ada sebuah jarum yang lembut dan runcing.

Dengan gaya yang menggiurkan serta suara yang samar-samar, perlahan So

Ing mengangkat tangannya yang bercincin itu dan merangkul leher Gui Moa-ih.

Dalam keadaan begitu bila kulit leher Gui Moa-ih tergores sedikit saja oleh

jarum perak itu, maka jiwanya pasti akan melayang. Padahal saat ini Gui Moaih

dalam keadaan kesengsem, hati berdebar-debar, mata terbelalak bingung,

pikiran melayang entah ke mana, dengan sendirinya tak terpikir olehnya maut

sedang mengintai jiwanya.

Pada saat itulah, mendadak Siau-hi-ji berteriak, “Awas tangannya! Tangannya

berjarum berbisa!”

Gui Moa-ih meraung kaget, berbareng sebelah tangannya terus mengebas

sehingga So Ing terdorong mundur beberapa kaki.

Tubuh So Ing terbentur pohon, dengan terbelalak ia pandang Siau-hi-ji,

serunya, “Kau … apakah sudah gila?”

“Siapa bilang aku gila? Otakku cukup waras!” jawab Siau-hi-ji sambil tertawa.

“Lalu mengapa … mengapa kau ….”

“Kau heran mengapa aku malah menolong dia, begitu bukan?”

So Ing menggigit bibir dan tidak berucap lagi.

Gui Moa-ih terkejut dan gusar pula, ia pun tak mengerti mengapa Siau-hi-ji

berbalik menolongnya malah. Sebab itulah dia hanya mendelik dan juga tidak

bersuara.

Maka terdengar Siau-hi-ji berkata dengan tertawa, “Sebabnya kutolong dia,

karena aku pun ingin tahu rahasia apa yang dimaksudkannya itu.”

“Ap … apa katamu?” tanya So Ing.

“Cinta saudara padamu ini sudah merasuk tulang sumsum, tapi pada

kesempatan baik untuk melaksanakan idam-idamannya ini dia justru

menyampingkan urusan cinta dan cuma minta kau menjelaskan sesuatu

rahasia, ini suatu tanda bahwa rahasia yang dimaksudkannya terlebih penting

daripada dirimu yang dicintainya.”

“Hmk,” Gui Moa-ih hanya mendengus dan tidak menanggapi komentar Siau-hiji

itu.

Segera Siau-hi-ji menyambung pula, “Sebaliknya kau rela menyerahkan

tubuhmu padanya daripada menceritakan rahasia yang dia minta, ini pun suatu

tanda bahwa kau memandang rahasia itu jauh lebih penting daripada tubuhmu

sendiri.”

So Ing menggigit bibir, katanya kemudian sambil membanting-banting kaki,

“Tolol kau, masa … masa kau tidak tahu maksudku?”

“Sudah tentu kutahu maksudmu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi bila

dia mengetahui dirinya keracunan, apakah dia dapat mengampunimu?”

“Dia tidak berani membunuhku,” ujar So Ing, “Sebab kalau aku dibunuhnya

maka selanjutnya jangan harap akan dapat mengetahui rahasia itu.”

“Itulah dia, kan cocok dugaanku!” seru Siau-hi-ji dengan tergelak-gelak. “Jadi

apa pun juga dia tetap ingin mengetahui rahasia ini. Dari sini dapat diketahui

bahwa rahasia yang dimaksud pasti sangat hebat, maka aku jadi ingin tahu

juga.”

“Tapi kalau kau ….”

“Agar kau mau membeberkan rahasia yang dimaksud, jalan satu-satunya ialah

biarkan kau dipaksa oleh dia,” sela Siau-hi-ji sebelum So Ing bicara lebih lanjut.

“Sebab kalau kau sampai terbunuh, jelas rahasia ini takkan kau ceritakan dan

aku pun tidak dapat mendengarnya.”

So Ing membanting-banting kaki dengan mendongkol, katanya, “Tapi kan aku

mau menolongmu, mengenai rahasia ini kelak kan dapat kuberitahukan

padamu?”

“Belum tentu,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kalau melihat aku akan mati, kau

khawatir, lalu rahasia itu akan kau beberkan. Tapi bila aku tertolong, kau

khawatir pula aku akan kabur, untuk ini kau pasti akan ceritakan rahasia ini

untuk mengikat diriku, bukan mustahil aku harus menunggu dan menunggu

terus, entah sampai kapan barulah kau mau memberitahukan rahasia ini. Nah,

mana aku sanggup bersabar menunggu selama itu?”

Setelah terbahak-bahak, lalu dia menyambung lagi, “Bicara sejujurnya, setelah

kau tolong aku, bisa jadi akan terus kutinggal pergi. Jika begitu, kan selamanya

aku tak dapat mendengar rahasia ini, dan selama itu pula pikiranku akan

merana.”

Uraian Siau-hi-ji yang aneh, seperti betul dan juga seperti tidak betul ini,

membuat Gui Moa-ih rada-rada bingung dan serba salah. Apalagi So Ing,

hampir meledak perutnya saking gemasnya.

Dengan suara gemas So Ing lantas berkata, “Jika rahasia ini sedemikian

pentingnya, kalau kau ikut mendengarnya, apakah dia mau mengampunimu?

Kau suka anggap dirimu ini orang pintar nomor satu di dunia, mengapa segi ini

tidak kau pikirkan?”

Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Pagi bisa mendengar, mati petang tanpa

menyesal. Asalkan aku dapat mendengar rahasia sebagus ini, biarpun mati

juga bukan soal.”

So Ing melengak, sampai sekian lama barulah ia berucap pula dengan

tersenyum getir, “Di dunia ini ternyata ada manusia seperti kau, jika tidak

kusaksikan sendiri, biarpun kepalaku dipotong juga aku tidak percaya.”

“Kan sudah kukatakan sejak mula kau bertemu dengan aku, anggaplah kau

yang sial,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Nah, sekarang lekaslah kau

ceritakan rahasia itu, kalau tidak, segera dia akan membunuhku.”

Sungguh ganjil bin janggal. Dia berbalik membantu orang lain, seakan-akan

khawatir orang lain tidak jadi membunuhnya, makanya dia harus lekas-lekas

mengingatkannya.

Benar juga, dengan suara bengis Gui Moa-ih lantas membentak, “Betul, jika

kau ingin main gila lagi, segera kubinasakan dia!”

So Ing memandang Siau-hi-ji, lalu memandang Gui Moa-ih, mendadak ia

tertawa terkikik-kikik, tertawa geli, geli sekali. Katanya kemudian, “Sungguh

lucu, sungguh aneh! Di dunia ini ternyata ada manusia begini. Untuk persoalan

ini, sebenarnya tidak nanti kubeberkan rahasia ini bagi siapa pun, akan tetapi

bagimu ….”

“Bagiku, tentu kau mau membeberkan bukan?” tukas Siau-hi-ji.

“Sesungguhnya dunia ini sudah membosankan bagiku,” kata So Ing dengan

tertawa. “Jika sekarang kubiarkan kau mati, hidupku kan tambah kosong?”

“Betul, betul,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa, “Orang macamku ini sekali-kali

tidak boleh mati. Nah, lekaslah kau beberkan.”

So Ing lantas berpaling ke arah Gui Moa-ih sambil menarik muka, katanya

kemudian dengan tenang, “Padahal biarpun kuceritakan rahasia Ih-hoa-ciapgiok

ini juga tiada gunanya bagimu. Untuk belajar jelas kau tidak becus,

hendak mematahkannya juga kau tidak mampu ….”

Belum lagi Gui Moa-ih menjawab, seketika air muka Siau-hi-ji berubah,

serunya, “Apa katamu? Rahasia Ih-hoa-ciap-giok?”

“Betul, rahasia Ih-hoa-ciap-giok, rahasia terbesar dalam ilmu silat,” kata So Ing.

“Karena rahasia inilah selama dua puluh tahun ini mereka guru dan murid tidak

enak makan dan tidak enak tidur.”

“Jadi kau … kau tahu rahasia Ih-hoa-ciap-giok?” tanya Siau-hi-ji dengan

terbelalak.

“Ya, selain orang-orang Ih-hoa-kiong sendiri, yang mengetahui rahasia ini

mungkin cuma aku saja di seluruh dunia ini,” ucap So Ing dengan tertawa.

Gui Moa-ih tampak tidak sabar lagi, teriaknya dengan suara serak, “Sudahlah,

yang penting kau ceritakan rahasia itu padaku, dapat mempelajarinya atau

tidak adalah urusanku.”

“Baik,” jawab So Ing, “Dengarkan ….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Siau-hi-ji berteriak-teriak dan tertawa

sekeras-kerasnya, suaranya melengking memekak telinga sehingga apa yang

diucapkan So Ing tak terdengar oleh Gui Moa-ih.

Tentu saja Gui Moa-ih menjadi gusar, ia melompat ke sana dan meraung

murka, “Apa kau sudah gila, keparat!”

Siau-hi-ji mencibir padanya, jawabnya dengan tertawa, “Tidak, aku tidak gila,

soalnya aku tidak ingin lagi mendengarkan rahasia ini.”

Ucapan ini membuat So Ing melengak pula.

Sedang Gui Moa-ih tambah murka, teriaknya gemas, “Tadi mati pun kau ingin

tahu rahasia ini, bila dapat mendengar rahasia Ih-hoa-ciap-giok, mati pun tidak

penasaran, mengapa sekarang malah tidak mau mendengarkan lagi?”

“Rahasia lain memang menarik bagiku, tapi rahasia Ih-hoa-ciap-giok ini …

hehe, sejak umur tiga tahun aku sudah tahu, untuk apa kudengarkan pula?”

jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Gui Moa-ih tercengang, tanyanya, “Masa kau … kau pun tahu?”

“Bukan saja tahu, bahkan apa yang kuketahui terlebih banyak dan lebih jelas

daripada yang diketahui So Ing, apakah kau ingin mendengarnya dariku?”

Girang dan kejut Gui Moa-ih, tapi dia sengaja menarik muka dan menjawab,

“Jika benar kau dapat menguraikannya, tentu aku ….”

“Aku tidak memerlukan terima kasihmu, asal saja kau bebaskan aku,” tukas

Siau-hi-ji.

“Baik, baik,” seru Gui Moa-ih cepat.

“Nah, dengarkan. Kunci utama latihan Ih-hoa-ciap-giok dimulai dari berdiri

dengan menjungkir, tangan digunakan sebagai kaki, kedua kaki menegak ke

atas, kepala terangkat, lalu kaki dibentangkan disertai menahan napas dan ….”

“Kungfu macam apa ini?” teriak Gui Moa-ih sambil berkerut kening.

“Kau mesti tahu bahwa kegaiban ilmu Ih-hoa-ciap-giok terletak pada cara

latihannya yang berlawanan dari semua kebiasaan, dengan sendirinya gaya

latihannya juga harus begitu,” tutur Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

“Tapi … tapi ….”

“Tapi apa? Sudahlah, jika kau tidak ingin belajar juga tak apalah,” omel Siau-hiji.

Meski sangsi, tapi Gui Moa-ih benar-benar keranjingan ilmu Ih-hoa-ciap-giok

yang sakti itu, asalkan dapat mempelajari ilmu itu, dia bersedia mengorbankan

apa pun juga. Asalkan ada kesempatan untuk itu, biarpun cuma setitik harapan

saja pasti takkan dilewatkannya.

So Ing hanya menyaksikan saja dengan sebelah tangan menutup mulut dan

tidak bersuara.

Dilihatnya Gui Moa-ih telah menuruti kehendak Siau-hi-ji, dia terus berjungkir

seperti pemain akrobat, dengan kedua tangan menahan tanah, kedua kaki

menegak ke atas dengan sedikit terpentang, kepala diangkat tinggi-tinggi.

Macamnya itu mengingatkan orang pada katak buduk.

Tapi Siau-hi-ji memandanginya dengan dingin, sedikit pun tiada mengunjuk

senyum, katanya, “Tekuk lagi sedikit dengkulmu dan angkat lebih tinggi

kepalamu.”

Gui Moa-ih benar-benar penurut, ia lakukan semua petunjuk itu, tanyanya,

“Sudah cukup begini?”

“Ya, kacek sedikit, bolehlah!” kata Siau-hi-ji, tapi habis ucapan ini, lalu diam

tanpa bersambung.

Selang sekian lama, Gui Moa-ih menjadi tidak sabar, tanyanya pula, “Lalu

bagaimana lagi?”

Dengan nada kurang senang Siau-hi-ji menjawab, “Jika ingin berilmu sakti

harus tekun berlatih. Kalau kesabaran sedikit saja tidak ada, lalu kepandaian

apa yang dapat dihasilkan?”

Sekonyong-konyong Gui Moa-ih melompat bangun, katanya sambil mendelik,

“Jika kau menipu aku, akan ku ….”

“Menipu kau? Untuk apa kutipu kau?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Coba

pikir, apabila aku tidak tahu rahasia ilmu sakti ini, masa aku sengaja

membuang kesempatan baik untuk mengetahui rahasia ilmu yang diidamidamkan

setiap orang persilatan ini?”

Untuk sekian lama Gui Moa-ih melotot dengan sangsi, tapi akhirnya ia pun

menurut, kembali ia berjungkir pula seperti tadi dan tidak bersuara lagi. Namun

setelah lewat sejenak Siau-hi-ji tetap diam saja, tetap tidak bersambung.

Biarpun tenaga dalam Gui Moa-ih sangat kuat, tapi gaya berjungkir itu benarbenar

sangat melelahkan. Betapa pun tinggi ilmu silat seseorang kalau disuruh

berdiri menjungkir begitu juga pasti merasa payah.

Setelah seminuman teh pula, dahi Gui Moa-ih sudah mulai berkeringat,

kembali ia tanya, “Harus menunggu berapa lama lagi?”

“Baiklah, hawa murni dalam tubuhmu rasanya sudah terhimpun sampai di

dada, langkah dasar pertama ini boleh dikatakan sudah cukup,” ujar Siau-hi-ji.

“Sekarang langkah kedua, sebelum dimulai, kentut dulu satu kali.”

“Apa, kau suruh aku kentut?” tanya Gui Moa-ih dengan gusar.

“Betul, kau harus kentut,” kata Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

“Kukira mulutmu yang lagi kentut!” teriak Gui Moa-ih dengan gusar. Meski

gelisah dan gusar, tapi dia belum berani melompat bangun karena khawatir

hasil latihannya tadi terbuang percuma.

Dengan tenang Siau-hi-ji lantas berkata, “Kau tahu, kentut adalah angin busuk

dalam tubuh manusia, sebabnya kusuruhmu mengentut ialah supaya angin

busuk dalam tubuhmu dihalau keluar, habis itu barulah mulai berlatih ilmu

sakti.”

Gui Moa-ih pikir alasan Siau-hi-ji itu pun masuk di akal, terpaksa ia benarbenar

mengentut satu kali. Orang yang punya Lwekang tinggi memang dapat

mengendalikan setiap anggota badannya dan juga pernapasannya, maka

untuk mengentut bukan sesuatu yang sukar.

Dengan sendirinya So Ing merasa geli, tapi sedapatnya ia menahan

perasaannya sambil mendekap hidung dan melengos ke sana.

Namun Siau-hi-ji tetap bersikap sungguh-sungguh, katanya, “Kentutmu ini tidak

masuk hitungan.”

“Kenapa tidak masuk hitungan?” tanya Gui Moa-ih.

“Caramu kentut harus buka celana,” kata Siau-hi-ji.

“Bu … buka celana ….” Gui Moa-ih tergagap, mukanya menjadi merah padam.

“Ya, langkah ini disebut ‘buka celana dan kentut’,” ujar Siau-hi-ji.

Gui Moa-ih meraung murka sambil melompat bangun. Dia bukan orang tolol,

bahkan licin dan licik, bukan manusia yang mudah diakali. Soalnya dia

keranjingan belajar Ih-hoa-ciap-giok sehingga rada keblinger, sebab itulah ia

kena dikibuli Siau-hi-ji.

Sekarang didengarnya ucapan Siau-hi-ji semakin tidak masuk akal, segera ia

melompat bangun dan membentak, “Sesungguhnya ilmu … ilmu apakah ini?”

“Ini namanya ‘ilmu sakti si tolol kentut’, jauh lebih lihai daripada Ih-hoa-ciapgiok,”

jawab Siau-hi-ji, tetap dengan air muka serius.

Saking geregetan Gui Moa-ih mengepal dengan kencang, sekujur badan

serasa gemetar semua, sungguh kheki setengah mati. Akhirnya So Ing

terpingkal-pingkal.

Baru sekarang Siau-hi-ji terbahak-bahak, ucapnya, “Goblok kau! Coba pikir

apabila benar aku mahir Ih-hoa-ciap-giok, apakah mungkin aku bisa kau

gantung di atas pohon? Kau telah menipu aku, jika sekarang tidak kubalas

menipu kau, kan tidak adil?”

So Ing terkikik-kikik geli, katanya, “Tapi caramu … caramu ini rada-rada

kebangetan.”

“Orang yang berani mengakali aku harus terima ganjarannya lebih banyak,”

ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau menipu aku, hendak kucabut nyawamu!” teriak Gui Moa-ih sambil

menubruk maju.

Tapi mendadak So Ing berseru, “Inilah kunci dasar latihan Ih-hoa-ciap-giok ….”

Agaknya daya tarik ucapan So Ing lebih kuat daripada apa pun, pukulan Gui

Moa-ih sudah hampir dilontarkan, tapi dia tahan mentah-mentah demi

mendengar ucapan So Ing itu. Tanyanya dengan parau, “Bagaimana? Lekas

katakan!”

“Sudah tentu akan kujelaskan,” ujar So Ing dengan tak acuh. “Tapi kau ….”

“Aku harus bikin keparat ini tutup mulut dulu,” Gui Moa-ih menyeringai setelah

mendeliki Siau-hi-ji.

Tapi mendadak Siau-hi-ji berteriak-teriak pula, “Wahai malaikat langit dan

setan akhirat, ayolah lekas keluar menolong tuanmu, jika tidak segera akan

kucaci maki kalian.”

“Huh, orang macam kau ini, setan pun tidak sudi menolongmu,” ejek Gui Moaih,

berbareng jarinya lantas menutuk Hiat-to bisu anak muda itu.

Tapi pada saat itu juga, tiba-tiba dari tempat gelap seseorang bersuara seram.

“Kau bukan setan, dari mana kau tahu setan tidak sudi menolong dia?”

Suara itu samar-samar dan mengambang seperti diucapkan seorang yang

sedang sekarat, waktu suara terdengar rasanya seperti di sebelah timur, tapi

pada akhir ucapannya kedengarannya sudah di sebelah barat.

Di tengah malam buta dan di tengah hutan sunyi mendadak terdengar suara

seram begini, sungguh membikin berdiri bulu roma orang.

Bahkan Gui Moa-ih juga merinding tanpa terasa, segera ia membentak, “Siapa

itu? Manusia atau setan?”

“Memangnva aku bukan manusia!” suara tadi menjawab dengan tertawa

seram.

Gui Moa-ih berputar dan mengincar ke tempat datangnya suara itu, secepat

panah dia menubruk ke sana.

Tak terduga di tempat gelap sana berkumandang lagi suara seram itu, “Aku

berada di sini!”

Waktu Gui Moa-ih memutar tubuh dan menubruk ke sana, tahu-tahu suara itu

sudah berada di pucuk pohon dan sedang berkata, “Coba memandang ke

atas!”

Gui Moa-ih mendongak, dilihatnya di pucuk pohon samar-samar memang ada

sesosok bayangan kelabu dengan bajunya yang longgar berkibaran, kelihatan

wajah seram dan lebih mirip setan daripada manusia.

Betapa pun Gui Moa-ih bukan sembarangan orang, setelah melihat bayangan

lawan, ia menjadi lebih sabar, selangkah demi selangkah ia mendekat ke sana

sambil menjengek, “Jika kau ingin menjadi setan, baiklah akan kukabulkan

keinginanmu!” Berbareng itu secomot sinar perak terus berhamburan ke arah

pucuk pohon.

Bayangan di atas pohon itu menjerit kaget, dengan enteng seperti daun jatuh ia

terus melayang turun.

“Hm,” jengek Gui Moa-ih, “Ingin kulihat apakah kau berani main gila lagi atau

tidak ….”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seseorang menanggapi dengan terkekekkekek,

“Hehe, mati satu kali jadi setan, mati dua kali juga jadi setan. Coba kau

pandang lagi ke sini!”

Gui Moa-ih terkejut dan cepat menoleh, ternyata bayangan kelabu tadi tahutahu

sudah berada di pucuk pohon yang lain lagi, sorot matanya yang tajam

sedang menatap Gui Moa-ih dengan terkekeh-kekeh.

Biarpun tinggi kepandaiannya dan besar nyalinya, tidak urung kaki dan tangan

Gui Moa-ih menjadi rada gemetar.

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang terbahak-bahak di belakangnya

sambil berseru, “Hahaha! Orang gede begini juga kena digertak oleh setan?”

Cepat Gui Moa-ih membalik tubuh, dilihatnya seorang Hwesio bermuka gemuk

bundar dengan berseri-seri sedang mendekatinya.

Diam-diam Gui Moa-ih menghimpun tenaga, bentaknya, “Apakah kau pun

setan?”

“Tidak, Hwesio bukan setan, tapi Hwesio justru ahli menangkap setan, haha!”

jawab Hwesio itu sambil tertawa.

“Hwesio penangkap setan?” Gui Moa-ih menegas.

“Betul …. Hahaha, Hwesio tidak suka menangkap manusia melainkan lebih

suka menangkap setan,” kata Hwesio itu tanpa melupakan tertawanya

“Jika begitu, silakan kau tangkap setan itu, Hwesio,” jengek Gui Moa-ih.

“Haha, Hwesio tidak menangkap manusia … Hwesio dapat membedakan mana

manusia dan mana setan, hahaha!”

“Dia itu bukan setan?” tanya Gui Moa-ih.

“Sudah tentu bukan, hahaha, setan tidak berada di sana.”

“Habis setan berada di mana?” tanya Gui Moa-ih.

Mendadak si Hwesio menuding ke hutan yang gelap sana.

Tanpa terasa Gui Moa-ih memandang ke arah yang ditunjuk itu, maka

tertampaklah di kegelapan sana entah sejak kapan sudah duduk sesosok

bayangan orang, tangan memegang sesuatu benda entah panganan apa yang

sedang dimakan dengan lahapnya.

Dengan gelak tertawa Gui Moa-ih berkata, “Hahaha, orang itu memang radarada

mirip setan, sedangkan orang tadi sama sekali tidak berbau setan.”

Si Hwesio terbahak-bahak, katanya, “Setan tidak memper setan, yang mirip

setan paling-paling cuma setengah manusia setengah setan dan sekali-kali

bukan setan tulen.”

Diam-diam Gui Moa-ih memandang cara bagaimana harus menghadapi musuh

yang berjumlah tidak sedikit ini, ia pikir harus sekali hantam merobohkan

semua lawan itu, tapi di mulut ia sengaja menjawab dengan tertawa, “Ah, masa

setan juga begitu rakus dan suka makan?”

“Hahaha, setan tidak makan barang lain, setan cuma gemar makan manusia,

haha!” kata Hwesio tadi.

“Makan manusia?” Gui Moa-ih menegas dengan tertawa. “Hah, masa yang

dimakannya itu manusia?”

“Haha, dia tidak percaya, kenapa tidak kau perlihatkan padanya,” ucap si

Hwesio, sudah tentu kata-kata ini ditujukan kepada orang yang sedang makan

sesuatu di hutan sana.

Terdengar orang itu mengekek tawa, makanan yang dipegangnya mendadak

dilemparkan kepada Gui Moa-ih dan tanpa sadar terus ditangkap oleh Gui

Moa-ih.

Begitu barang itu terpegang, Gui Moa-ih merasakan sesuatu yang lunak dan

masih hangat-hangat. Waktu diawasinya, kiranya benar-benar sepotong lengan

manusia yang habis direbus.

Baru sekarang Gui Moa-ih benar-benar terkejut, badan terasa lemas dan

hampir jatuh kelengar. Cepat ia lemparkan kembali potongan lengan manusia

itu.

Dengan cekatan orang di hutan sana menangkap kembali makanannya itu,

katanya sambil terkekeh-kekeh, “Manusia di sekitar sini sama berbau tikus dan

tidak enak dimakan, dengan susah payah kudapatkan orang yang masih mulus

dan kumakan dengan hemat selama tiga hari, kini hanya tersisa sepotong

lengan ini, jika kau buang begini saja kan sayang.”

Habis berkata, dengan lahap kembali ia menggerogoti pula lengan manusia itu.

Saking tak tahan hampir saja Gui Moa-ih tumpah-tumpah, tanpa terasa ia

menyurut mundur.

Si Hwesio lantas tertawa, katanya, “Hahaha, jangan khawatir, badanmu juga

berbau tikus, dia pasti tidak doyan dagingmu.”

“Se … sebenarnya siapakah kalian? Apa kehendak kalian?” tanya Gui Moa-ih

dengan parau.

“Di sini cuma aku inilah manusia satu-satunya, ada urusan apa boleh

dibicarakan dengan aku,” kembali seorang lagi menanggapi. Lalu muncul

seorang jangkung dengan baju putih, wajah pun pucat dingin, nampaknya lebih

seram daripada setan.

“Baik, jika kau manusia, akan kubikin kau menjadi setan juga,” bentak Gui

Moa-ih dengan bengis. Berbareng itu dia lantas menghantam.

Cepat si baju putih mengebas lengan bajunya yang panjang dan menjulurkan

tangan untuk menangkis.

“Kau cari mampus!” bentak Gui Moa-ih. Gerakannya cepat, perubahan

serangannya juga cepat, baru setengah jalan pukulannya telah berubah

menjadi mencengkeram, ia incar baik-baik pergelangan tangan lawan yang

terselubung lengan baju itu dan segera hendak memegangnya.

Cengkeraman ini sangat kuat, bila kena, biarpun besi atau batu juga akan

hancur. Tampaknya si baju putih tidak sempat ganti serangan dan juga tidak

keburu menghindar, dengan tepat tangannya telah kena dicengkeram oleh Gui

Moa-ih.

Akan tetapi mendadak Gui Moa-ih merasakan yang kena terpegang itu bukan

tangan manusia melainkan suatu benda keras dan dingin. Dalam kagetnya

lantas terdengar si baju putih membentak dengan menyeringai, “Lepas

tangan!”

“Bret”, tahu-tahu lengan baju panjang itu robek menjadi dua, “tangan” orang itu

telah menggores pada telapak tangan Gui Moa-ih, darah segar mengucur.

Kini Gua Moa-ih dapat melihat jelas “tangan” lawan ternyata bukan tangan

biasa melainkan sebuah kaitan baja dengan ujung yang runcing.

“Haha, tentunya kau tahu sekarang bahwa manusia terkadang lebih sukar

direcoki daripada setan!” demikian Hwesio tadi berseru sambil berkeplok

tertawa.

Meski luka di tangan Gui Moa-ih tidak parah, tapi khawatir kaitan orang

berbisa, ia tidak berani terlibat pertempuran lebih lama lagi, sekali melompat

mundur segera ia hendak menerjang pergi.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang pula membentak dengan gusar,

“Anak murid Bu-geh mana boleh kabur di medan tempur? Peduli mereka itu

setan atau manusia, apa yang kau takuti?”

Menyusul suara itu, seorang lantas melompat keluar dari belakang si Hwesio,

berbareng sebelah tangannya terus menghantam ke belakang, kontan Hwesio

gemuk terpukul mencelat jauh ke hutan yang gelap sana.

Tertampak pendatang baru ini berperawakan kurus kecil seperti kanak-kanak,

muka jelek memualkan tapi berjenggot yang terpelihara dengan indah, panjang

terurai hampir menyentuh tanah. Kepalanya berkopiah emas, jubahnya

mengeluarkan sinar hijau kemilau, tampaknya lucu tapi juga menakutkan.

Si setan pemakan manusia di hutan tadi mendadak berteriak, “Wah, Gui Bugeh

datang! Setan saja takut padanya, lekas angkat kaki!”

Gui Moa-ih tampak terkejut juga, katanya dengan tergagap, “Eng … engkau

orang tua ….”

“Hm, walaupun kau tidak anggap aku sebagai gurumu, tapi kutetap pandang

kau sebagai murid dan tak dapat kusaksikan kau dikerjai orang,” jengek si

kerdil alias Gui Bu-geh.

Dalam pada itu kawanan setan dan manusia tadi sudah kabur bersih, hanya

Siau-hi-ji saja yang masih tergantung di pohon, entah sejak kapan So Ing juga

sudah menghilang.

Dengan menghela napas menyesal Gui Moa-ih berkata, “Baru sekarang Tecu

tahu, apa pun juga Tecu memang tak dapat dibandingkan dengan Suhu.”

“Hm, asal kau tahu saja,” jengek Gui Bu-geh. Setelah mengibaskan lengan

bajunya, lalu berkata pula, “Di mana lukamu? Apakah berbisa?”

“Mungkin berbisa,” jawab Gui Moa-ih.

Perlahan Gui Bu-geh melangkah maju, katanva, “Ulurkan tanganmu, coba

kulihat.”

Dengan perlahan Gui Moa-ih menjulurkan tangannya, tapi mendadak terus

menghantam ke dada Gui Bu-geh.

Serangan ini sangat cepat dan di luar dugaan. Namun Gui Bu-geh agaknya

sudah memperhitungkan kemungkinan ini, mendadak ia mengegos dan

menggeser mundur, lalu membentak gusar, “Murid jahanam, kau berani

terhadap guru?”

Gui Moa-ih tergelak-gelak, ucapnya, “Meski kepandaian menyamar cukup lihai,

tapi jika ingin menyaru sebagai Gui Bu-geh, tampaknya kau belum mampu.”

“Gui Bu-geh” itu pun tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Bagus, ternyata kau

dapat membongkar penyamaranku. Tapi coba jelaskan, bagian mana

penyamaranku ini yang tidak betul?”

“Kau pernah melihat Gui Bu-geh?” tanya Gui Moa-ih.

“Jika belum pernah melihat dia, cara bagaimana aku dapat menyamarnya”

jawab orang itu.

“Dan pernah kau lihat Gui Bu-geh berjalan?” tanya Gui Moa-ih pula.

“Memangnya Gui Bu-geh tidak pernah berjalan?” orang itu menegas dengan

melengak.

“Masa kau tidak tahu bahwa pembawaannya memang cacat, kedua kakinya

kecil seperti anak bayi, cara berjalannya lebih mirip anak merangkak,” tutur Gui

Moa-ih dengan tertawa. “Lantaran khawatir dilihat orang, maka dia tidak pernah

berjalan sendiri ….”

Pada saat itulah terdengar suara “hahaha” orang tertawa, si Hwesio tadi

melompat keluar dari kegelapan sambil berseru, “Haha, sekali ini Kiau genit

benar-benar jatuh habis-habisan.”

Setan pemakan manusia tadi juga tiba-tiba muncul pula, katanya sambil

tertawa, “Orang aneh dan jelek seperti Gui Bu-geh rasanya sukar dicari

bandingannya di dunia ini, maka tidak heran siapa pun sukar menyamar seperti

dia. Sudah sejak mula kutahu usahamu ini pasti akan sia-sia belaka.”

Mendadak si kerdil menggeliat sehingga tubuhnya mulur dua kaki lebih

panjang, ucapnya dengan tertawa terkikik-kikik, “Yang kupikirkan sekarang

ialah dengan cara bagaimana akan kubikin Gui Bu-geh berjalan.”

Sekonyong-konyong Gui Moa-ih membalik tubuh dan secepat kilat melayang

ke samping Siau-hi-ji, dengan belatinya dia ancam tenggorokan anak muda itu

sambil membentak, “Apakah kedatangan kalian hendak menolong dia ini?”

“Kalau betul mau apa?” jawab si Hwesio dengan terbahak.

“Jika kalian tidak lekas enyah dari sini, segera kubunuh dia lebih dulu.” bentak

Gui Moa-ih.

“Hahaha, kukira kepandaianmu setinggi langit, tak tahunya, hahaha, palingpaling

cuma begini saja?” si Hwesio bergelak tertawa pula.

Si setan pemakan manusia juga menimbrung dengan tertawa, “Kau

mengancam hendak membunuh dia, apakah kau mampu membunuhnya?”

Di tengah gelak tertawa ramai itu, Siau-hi-ji yang tergantung jungkir di pohon

dan tak bisa berkutik itu mendadak bisa bergerak. Bukan saja bisa bergerak,

bahkan gerakannya secepat kilat. Sekali tangannya bergerak, serentak

beberapa Hiat-to penting di tubuh Gui Moa-ih ditutuknya.

Tentu saja Gui Moa-ih kaget, belum lagi sempat menghindar, tahu-tahu tubuh

merasa kaku.

Siau-hi-ji terus merampas belatinya dan balas mengancam tenggorokan orang,

serunya sambil terbahak-bahak, “Haha, kembali kau kutipu lagi.”

Gui Moa-ih hanya mendelik belaka sambil menggereget. Dalam keadaan

begini apa yang dapat dikatakannya lagi.

Siau-hi-ji memandangnya dengan tertawa gembira, katanya, “Sekarang

tentunya kau tahu bahwa tidaklah enak hendak menarik keuntungan atas

diriku, cepat atau lambat pasti kutagih kembali pokok bersama rentenya

sekaligus.”

Setan pemakan manusia itu mendekati Gui Moa-ih dan mengendus-endus

kuduknya, tiba-tiba ia mengunjuk rasa girang, serunya sambil berkeplok, “Wah,

bagus, bagus sekali. Tubuh orang ini sudah tidak bau tikus lagi, jika kutambahi

sedikit bumbu dan diberi kecap nomor satu untuk dimasak Ang-sio, kukira

rasanya pasti tidak mengecewakan.”

“Apa … apa? Kau berani ….” seru Gui Moa-ih dengan gelagapan.

Setan pemakan manusia itu meraba-raba mukanya, katanya dengan tertawa,

“Kau marah apa? Kulitmu yang budukan ini bisa menjadi isi perutku kan untung

bagimu? Orang yang pernah kumakan semuanya lebih empuk dan lebih harum

daripadamu, jika tidak mengingat sedikit namamu di dunia Kangouw, tulang

igamu ini tidak nanti menarik seleraku.”

Sorot mata Gui Moa-ih menampilkan rasa kejut dan takut, dengan terbelalak ia

menegas, “Kau … jangan-jangan engkau ini ‘tidak makan kepala manusia’ Li

Toa-jui?”

Setan pemakan manusia itu menengadah dan tertawa, jawabnya, “Sudah dua

puluh tahun aku tidak bergerak di dunia Kangouw, tak tersangka masih ada

yang ingat pada namaku.”

Sekujur badan Gui Moa-ih serasa lemas lunglai. Jika orang lain bilang mau

makan dia, tentu dia takkan percaya. Tapi kalau Li Toa-jui mengatakan hendak

makan dia, maka hal ini pasti bukan berseloroh belaka.

Bilamana seorang mengetahui dirinya sebentar lagi akan menjadi isi perut

orang, maka perasaannya jelas tidak enak, betapa pun besar nyali orang itu

juga pasti akan gelisah.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata, “Untuk apa kau menakut-nakuti dia

lagi, jika pecah nyalinya karena ketakutan, kan dagingnya menjadi pahit dan

tidak enak dimakan?”

“Betul-betul anak didikku dan harus dipuji,” seru Li Toa-jui dengan tertawa,

“Syukur kau mengingatkan aku, setelah kurebus dia, dagingnya yang paling

empuk di bagian pantat pasti akan kuberikan padamu.”

“Ah, aku tidak mau, cukup kau sisihkan satu jarinya saja untukku agar dapat

kugerogoti seperti makan wortel di waktu iseng,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Boleh juga, kukira tangannya yang seperti cakar ini pasti lebih gurih daripada

kaki bebek,” kata Li Toa-jui.

Mendadak seorang melompat turun dari atas pohon, pakaiannya yang putih

kelabu itu berkibar tertiup angin, dia hinggap di depan Gui Moa-ih, tanyanya

sambil menyeringai, “Apakah kau cuma kenal Li Toa-jui saja dan tidak kenal

aku?”

Orang ini yang tadi terpaksa melompat turun karena sambitan senjata rahasia

Gui Moa-ih, pada kopiahnya yang besar itu masih tampak menancap beberapa

biji jarum mengkilap, agaknya dia benar-benar kaget dan jatuh ke bawah

walaupun jarum itu tidak tepat mengenai tubuhnya.

Gui Moa-ih memandangnya sekejap, lalu memejamkan mata dan berkata

dengan gegetun, “Yang main sembunyi-sembunyi dan berlagak sebagai setan

seharusnya sudah kuduga pasti kau si setengah setan setengah manusia Im

Kiu-yu ini.”

Tapi orang itu lantas menggunakan ranting pohon untuk menyingkap kelopak

mata Gui Moa-ih dan berkata, “Coba pentang matamu yang lebar, Im Kiu-yu

masih berada di sana.”

Terpaksa Gui Moa-ih membuka mata dan memandang ke sana. Benar juga, di

sana masih berdiri sesosok bayangan orang yang berdandan dan

berperawakan persis seperti orang di depannya sekarang.

Rupanya orang yang menyaru sebagai setan tadi terdiri dari dua orang, pantas

sebentar berada di sini dan lain saat terlihat di sana.

Gui Moa-ih menghela napas panjang, tanyanya kemudian, “Cap-toa-ok-jin

sekarang datang berapa orang?”

“Tidak banyak dan juga tidak sedikit, hanya enam saja,” jawab orang itu. “Dan

aku inilah ‘bikin rugi orang lain tidak menguntungkan diri sendiri’ Pek Khay-sim

adanya. Apakah kau keparat ini pernah mendengar nama kebesaranku?”

“Sudah lama kudengar bahwa di antara Cap-toa-ok-jin Pek Khay-sim terhitung

yang paling tidak becus, orang Kangouw hanya menggunakan dia untuk

mengisi jumlah Cap-toa-ok-jin saja,” jawab Gui Moa-ih tak acuh.

Tentu saja Pek Khay-sim menjadi gusar, tapi segera ia tertawa, “Haha, tidak

perlu kau memecah belah kami, usiaku tahun ini sudah empat puluh delapan,

tidak nanti kuterjebak oleh muslihatmu.”

“Haha, Pek Khay-sim benar-benar sudah lebih dewasa sekarang,” seru Hwesio

tadi sambil berkeplok. “Tapi umurmu jelas sudah lima puluh dua, mengapa kau

bilang empat puluh delapan, kau bukan orang perempuan, untuk apa

merahasiakan umurmu?”

“Aku kan masih jejaka, belum punya bini, jika tidak mengaku lebih muda

sedikit, siapa yang mau kujadikan istri?” jawab Pek Khay-sim dengan mendelik.

“Jika benar tiada perawan yang sudi menjadi istrimu, maka seadanya ambil

saja To Kiau-kiau,” ujar Li Toa-jui dengan tertawa. “Kan pernah kau dengar

bahwa lebih baik setengah perempuan daripada tidak ada perempuan sama

sekali.”

Yang menyamar sebagai si kerdil Gui Bu-geh tadi jelas bukan lain daripada To

Kiau-kiau.

Dia tertawa, katanya kepada Li Toa jui, “Jangan khawatir, akan lebih baik

kujadi istrinya daripada diperistri olehmu, betapa pun buruk dia memperlakukan

istrinya, paling tidak pasti takkan makan istrinya sendiri.”

Peristiwa Li Toa-jui makan istrinya sendiri sebenarnya sudah tak terpikir lagi

olehnya, dahulu dia sendiri terkadang malah suka mengungkatnya untuk

menakuti orang lain. Tapi sekarang usianya makin lanjut, di tengah malam

sunyi, dalam keadaan sendirian, terkadang ia tak dapat tidur dan teringat

kepada kejadian masa lampau, maka hatinya menjadi sedih juga, bila

terkenang pada istrinya yang berbudi halus dan dapat melayani dia dengan

baik, teringat kepada tubuh sang istri yang montok dan putih … dan hatinya

lantas pedih seperti ditusuk jarum.

Pada umumnya, kalau sudah memasuki masa tua barulah seorang akan

merasakan betapa sedihnya orang kesepian, betapa berharganya cinta kasih,

betapa hangatnya keluarga. Cuma sayang, ketika Li Toa-jui merasakan semua

ini, sementara itu sang waktu sudah lalu, menyesal pun sudah terlambat.

To Kiau-kiau hidup berkumpul dengan Li Toa-jui dan lain-lain selama dua puluh

tahun, dengan sendirinya dia tahu jalan pikiran kawan-kawannya itu. Maka apa

yang diucapkannya tadi benar-benar menusuk perasaan Li Toa-jui.

Begitulah Li Toa-jui menjadi marah, bentaknya, “To Kiau-kiau, bilamana kau

menyinggung lagi hal ini, segera kubunuh kau.”

“Apa gunanya kau bunuh aku? Dagingku kan tidak selezat daging istrimu?”

jawab Kiau-kiau dengan tertawa.

Li Toa-jui meraung murka terus menerjang maju.

“Hm, apa kau ingin berkelahi benar-benar?” jengek To Kiau-kiau. “Ayolah maju,

memang sudah lama juga ingin kuhajar adat padamu.”

Nyata kedua orang benar-benar hendak bergebrak. Syukur si Hwesio lantas

mengadang di tengah mereka, serunya dengan tertawa, “Hahaha, kalian sudah

tergolong orang tua, mengapa masih seperti anak kecil saja, berkelakar tetap

berkelakar, kenapa jadi sungguhan? Apa tidak khawatir ditertawakan orang?”

“Hm, kau yang bikin gara-gara, sekarang berlagak sebagai wasit?” jengek Pek

Khay-sim. Dia tepuk-tepuk pundak Gui Moa-ih, lalu berkata pula, “Nah ingat

baik-baik di balik tertawa Hwesio ini tersembunyi belati, dia bisa tertawa sambil

menikam, kau harus waspada kelak.”

“Ya, kutahu dia ini Ha-ha-ji si tertawa sambil menikam,” kata Gui Moa-ih

dengan gegetun. Tiba-tiba pandangannya beralih ke arah si baju putih

bermuka pucat itu dan bertanya, “Dan kau ….?”

Si baju putih mengebas lengan bajunya sehingga kelihatan tangan kanannya

yang buntung, sebagai gantinya, lengannya bersambung sebuah kaitan baja

yang mengkilat, sedangkan tangan kiri tampak merah membara.

“Hah, si tangan … tangan berdarah! Toh Sat!” seru Gui Moa-ih.

Toh Sat hanya mendengus saja.

“Bagus, bagus, kiranya Cap-toa-ok-jin benar-benar telah datang enam, apa

yang dapat kukatakan pula bila aku sudah jatuh dalam cengkeraman kalian,”

ucap Gui Moa-ih dengan menyengir pedih.

“Benar, hanya ada mati bagimu” jengek Toh Sat sambil melangkah maju, sinar

mengkilap berkelebat, kaitannya terus menggantol ke leher Gui Moa-ih.

“Nanti dulu!” cepat Li Toa-jui menarik tangan Toh Sat.

“Apa maksudmu?” tanya Toh Sat dengan bengis.

“Wah, jangan-jangan penyakit gemar membunuh Toh-lotoa kumat lagi?” ujar Li

Toa-jui.

“Kalau sudah tahu, mengapa kau merintangi aku?” kata Toh Sat.

“Mana berani kurintangi kehendak Toh-lotoa,” cepat Li Toa-jui menjelaskan

dengan tertawa. “Soalnya daging di tubuh orang ini tidak banyak, jika dia

dibunuh dulu baru nanti kurebus dia, tentu darahnya akan banyak keluar dan

dagingnya menjadi tidak ada rasanya.”

“Masa kau hendak merebusnya hidup-hidup?” tanya Toh Sat.

“Ya, sudah lama aku tidak makan enak, sudilah Toh-lotoa memberi bantuan,”

ucap Li Toa-jui.

“Lain kali ….”

“Lain kali pasti juga akan kubantu memuaskan selera Toh-lotoa,” tukas Li Toajui.

“Hmk,” kembali Toh Sat cuma mendengus saja sambil menarik kembali

tangannya.

Gui Moa-ih lantas berteriak dengan gemetar, “Li Toa-jui, betapa pun kita

adalah sama-sama orang persilatan, jika kau bunuh aku, mati pun aku tidak

menyesal, tapi mana boleh … mana boleh kau ….” tiba-tiba ia merasa mual

sehingga isi perutnya tertumpah keluar.

“Bagus, tumpahlah, paling baik tumpah sebersih-bersihnya agar bisa lebih

cepat kurebus,” ucap Li Toa-jui dengan tertawa. “Kalau tidak, sedikitnya aku

harus menunggu tiga hari sampai perutmu menjadi kosong ….”

Dengan berlepotan kotoran yang ditumpahkannya, dengan suara serak Gui

Moa-ih berteriak, “Jika kau berani … berani … jadi setan pun takkan

kuampunimu.”

“Hihi, nyali paman Li biasanya besar, dia tidak pernah takut pada setan,

sebaliknya setan yang takut padanya,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Masa … masa kau tidak jaga etika orang Kangouw lagi?” seru Gui Moa-ih

dengan parau.

“Paman Li tidak kenal sanak keluarga, apalagi moral orang Kangouw segala,

dia tidak peduli,” ujar Siau-hi-ji.

“Betul, yang kuketahui cuma makan enak, cara bagaimana harus kuolah

dagingmu ….” dengan tertawa Li Toa-jui lantas mencubit daging pipi Gui Moaih,

lalu bergumam sendiri, “Wah, orang segede ini sedikitnya perlu pakai dua

kati kecap nomor satu, satu kati arak Siauhin, dua tahil bawang brambang dan

… dan setengah tahil bubuk Ngohiang.”

Sekujur badan Gui Moa-ih serasa lemas semua, ia tidak dapat marah lagi,

dengan suara gemetar ia berkata, Mohon … mohon … jangan … jangan ….”

orang seperti dia juga mengucapkan kata “mohon”, maka dapat dibayangkan

betapa ketakutannya.

Tapi Siau-hi-ji lantas menanggapi dengan tertawa, “Hati paman Li sangat

keras, sia-sia belaka meskipun kau mohon ampun seribu kali padanya.”

Sekali angkat Li Toa-jui lantas jinjing tubuh Gui Moa-ih, katanya dengan

tertawa, “Nah, para saudara, perutku sudah lapar, kupergi lebih dulu ….”

Belum habis ucapannya Gui Moa-ih telah meraung keras-keras satu kali, lalu

tidak sadarkan diri.

“Haha, semaput, dia semaput ketakutan!” seru Ha-ha-ji sambil berkeplok

tertawa. “Li Toa-jui memang bisa saja. Haha!”

“Sekarang tentu kalian tahu, betapa pun buasnya seorang juga merasa takut

akan dimakan orang,” ujar Li Toa-jui dengan tertawa.

To Kiau-kiau lantas berseru sambil mendongak ke atas, “Nah, Im Kiu-yu, kau

dengar tidak, orang sekarang tidak lagi takut pada setan melainkan cuma takut

pada Li Toa-jui, maka makhluk setengah setan dan setengah manusia seperti

kau tiada gunanya lagi.”

Im Kiu-yu melompat turun dari pucuk pohon, katanya dengan tertawa seram,

“Apakah kau ingin aku berkelahi dengan Li Toa-jui?”

“Kukira kau tidak berani,” ujar To Kiau-kiau tertawa.

“Jika kubinasakan Li Toa-jui, nanti kalau kau mati kan aku yang harus membeli

peti mati untuk menguburmu,” ujar Im Kiu-yu.

“Betul, orang macam kau ini andaikan mati juga mayatmu akan dihancurkan

orang,” sambung Li Toa-jui dengan tertawa. “Jalan paling selamat kukira harus

kumakan kau ke dalam perutku.”

“Tapi aku bukan Gui Moa-ih, aku takkan semaput oleh gertakmu,” kata To

Kiau-kiau dengan terkikik-kikik.

Pek Khay-sim meraba-raba kepala Gui Moa-ih, ucapnya, “Setelah siuman, si

keparat ini pasti akan tunduk kepada setiap perintah kita. Jika kita ingin

membongkar liang tikus Gui Bu-geh, bantuan keparat ini sangat dibutuhkan.”

“Memang begitulah, kalau tidak, untuk apa kita menggertaknya dengan susah

payah,” ujar Ha-ha-ji.

“Tapi aku yang celaka, aku tergantung lebih lama di atas pohon,” seru Siau-hi-ji

dengan tertawa sambil menggeliat untuk mengendurkan urat pinggang.

To Kiau-kiau memandang anak muda itu sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Ada

beberapa persoalan ingin kami tanya padamu.”

“O, urusan apa?” jawab Siau-hi-ji.

“Tadi budak So Ing sudah hampir menceritakan rahasia Ih-hoa-ciap-giok,

mengapa kau malah mencegahnya?” tanya To Kiau-kiau.

“Ya, betul, mengapa kau mencegahnya,” timbrung Pek Khay-sim. “Padahal kau

kan hendak perang tanding dengan Hoa Bu-koat? Jika kau dapat menyelami

rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok kan menguntungkan.”

Siau-hi-ji tertawa kemalas-malasan, jawabnya, “Bila sudah kuketahui rahasia

ilmu silatnya, lalu apa artinya kalau nanti aku berkelahi dengan dia?”

“Jika dia dapat kau bunuh apakah juga tiada artinya?” kata Pek Khay-sim.

“Membunuh orang juga perlu memakai tenaga, dengan demikian baru ada

artinya, kalau membunuh orang terjadi seperti menyembelih ayam atau anjing,

lantas apanya yang menarik?” ujar Siau-hi-ji.

Untuk sejenak Pek Khay-sim melotot padanya, tiba-tiba ia menghela napas

panjang dan berkata, “Ah, kiranya kau ini orang baik.” Mendadak ia tertawa

pula sambil berkeplok, “Hah, sungguh janggal dan sukar untuk dipercaya

bahwa anak yang dibesarkan oleh Ha-ha-ji, Li Toa-jui, Toh-lotoa, To Kiau-kiau

dan Im Kiu-yu ternyata seorang yang baik ….” dia pandang kelima orang

kawannya itu sejenak, lalu berseru pula, “Haha, seorang serigala bisa

melahirkan anjing gembala, apakah kalian tidak merasa malu?”

Air muka Im Kiu-yu dan Toh Sat tampak berubah, tapi Li Toa-jui lantas

menanggapi dengan bergelak tertawa, “Hah, tampaknya kau pun hendak

meniru To Kiau-kiau, kau ingin mengadu domba kami?”

To Kiau-kiau mengikik tawa, ucapnya, “Dia telah dikerjai habis-habisan oleh

Siau-hi-ji, sudah tentu hatinya masih panas.”

“Panas hati bisa apa?” tukas Ha-ha-ji, “Haha, biarpun sepuluh Pek Khay-sim

juga tidak dapat menandingi seorang Siau-hi-ji. Jika kau bermaksud menuntut

balas, kukira sebaiknya batalkan saja niatmu ini.”

Pek Khay-sim tidak marah, ia berkata pula dengan tertawa, “Mana aku panas

hati segala? Bilamana kelak sarang serigala dicaplok oleh anjing gembala,

nah, baru tahu rasa.”

Ucapan ini membuat air muka Li Toa-jui merah padam.

Akan tetapi Siau-hi-ji pura-pura tidak tahu, serunya sambil tertawa, “Dasar bikin

rugi orang lain tidak menguntungkan diri sendiri, kalau memang begitu

wataknya, mati pun takkan berubah.”

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara nyaring merdu,

“Cap-toa-ok-jin memang tidak bernama kosong, baru sekarang aku benarbenar

kagum.”

Tiba-tiba batang pohon yang besar sana merekah dan berujud sebuah pintu,

batang pohon itu ternyata geronggang bagian dalamnya dan persis dapat

dibuat sembunyi satu orang, kalau sudah sembunyi di situ, jelas sukar lagi

ditemukan.

Dari rongga batang pohon itulah So Ing lantas melangkah keluar, ia memberi

hormat dengan lembut, ucapnya pula dengan tersenyum, “Cap-toa-ok-jin yang

termasyhur sudi berkunjung kemari, maafkan aku tidak melakukan

penyambutan yang layak.”

“Hahaha, nona jangan sungkan-sungkan,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa,

“Orang-orang macam kami pada dasarnya memang bertulang rendah, bila

diperlakukan sungkan-sungkan malah kami akan takut dikibuli olehmu.”

“Di depan tokoh-tokoh Cap-toa-ok-jin masa ada orang berani berbuat jahat, itu

kan seperti pemeo yang berujar, ‘main kapak di depan tukang kayu’, hanya cari

penyakit sendiri,” kata So Ing.

Sampai di sini, sekonyong-konyong Li Toa-jui melompat pergi sambil berteriakteriak,

“Pergi, ayo pergi, lekas pergi!”

“Eh, secawan arak saja belum kusuguhkan pada kalian, mengapa kalian

terburu-buru hendak pergi?” ujar So Ing.

“Jika tidak lekas pergi, rasanya aku tidak tahan lagi,” kata Li Toa-jui sambil

menoleh.

“Kenapa engkau tidak tahan?” tanya Kiau-kiau.

“Melihat tubuh budak yang putih mulus ini, sungguh air liurku bisa menetes,”

ucap Li Toa-jui. “Padahal kutahu Siau-hi-ji pasti tidak mengizinkan kumakan

dia. Nah, kan bisa gila aku jika tidak lekas tinggal pergi saja.”

Habis bicara, segera ia panggul Gui Moa-ih terus dibawa lari pergi secepat

terbang.

Segera Pek Khay-sim juga berteriak, “Betul, aku pun mau pergi saja. Melihat

nona cantik begini, betapa pun hati jejaka seperti diriku ini pun rada-rada

guncang, maka lebih baik kupergi saja daripada nanti bertengkar dengan Siauhi-

ji memperebutkan si cantik.” Di tengah ucapannya, sekali melayang, hanya

sekejap saja ia pun menghilang.

Menyusul Ha-ha-ji juga lari pergi sambil berseru, “Haha, memang betul, kalau

tidak lekas pergi mungkin juga Hwesio bisa melanggar pantangan.”

“Untung aku ini setengah perempuan, kalau tidak … hihihi!” To Kiau-kiau

tertawa nyekikik, ia lirik Siau-hi-ji sekejap, lalu melayang ke atas pohon terus

lenyap.

Im Kiu-yu tertawa seram, katanya, “Jika nona merasa bosan menjadi manusia,

silakan cari padaku untuk menjadi setan, menjadi setan terkadang lebih

menarik daripada menjadi manusia. Malahan jaman sekarang setan

perempuan sangat laris, permintaan banyak, persediaan kurang.”

“Terima kasih atas perhatianmu, cuma sekarang hidupku terasa cukup

menyenangkan,” jawab So Ing sambil tertawa.

Sambil menuding Siau-hi-ji, Im Kiu-yu menambahkan pula, “Jika kau mencintai

bocah ini, tidak terlalu lama tentu kau akan merasa bosan hidup ….” bicara

sampai di sini, tahu-tahu suaranya sudah berada di kejauhan.

Toh Sat menatap Siau-hi-ji tajam-tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa,

“Masih berapa lama kau tinggal di sini?”

“Mungkin tidak terlalu lama lagi,” jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Kau tahu di mana akan dapat menemukan kami?” tanya Toh Sat pula.

“Tahu,” sahut Siau-hi-ji.

“Bagus!” ucap Toh Sat, tahu-tahu dia sudah melayang jauh ke sana, mendadak

ia berpaling pula dan memberi pesan, “Awas, bilamana perempuan cantik juga

makan manusia, biasanya berikut kepalanya juga akan dimakan mentahmentah.”

“Jangan khawatir, Cianpwe,” sela So Ing dengan tertawa. “Nafsuku makan

biasanya kurang baik, maka selamanya aku cuma makan barang tak berjiwa.”

Begitulah, dalam waktu singkat suasana hutan menjadi sunyi senyap.

Dengan tersenyum So Ing memandang Siau-hi-ji, tanyanya, “Waktu kau

digantung di sini oleh Gui Moa-ih tadi, kawanan Cap-toa-ok-jin ini sudah tiba?”

“Ya, kedatangan mereka sangat kebetulan,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

“Maka kau lantas minta mereka membuka Hiat-tomu?”

“Cukup keras cara menutuk keparat she Gui itu, dengan tenaga mereka

berenam perlu berkutetan sekian lama baru dapat membuka Hiat-toku.”

“Tapi kau tetap pura-pura tidak bisa bergerak untuk menipu aku?”

“Sebenarnya bukan tujuanku hendak menipumu, soalnya Gui Moa-ih telah

menipu aku satu kali, mana boleh kubiarkan dia pergi sebelum kubalas

mengerjai dia agar ia tahu kelihaianku.”

“Meski tujuanmu bukan menipu aku, tapi kemudian aku yang tertipu,” ucap So

Ing.

“Jika begitu pikirmu, ya terserah,” ujar Siau-hi-ji sambil angkat pundak.

“Kau tahu aku sangat baik padamu, kau lantas menggunakan kelemahan ini

untuk menipu aku agar aku khawatir dan cemas bagimu. Tanpa menghiraukan

apa pun aku berusaha menyelamatkanmu, tapi kau menggunakannya untuk

memeras aku agar menguraikan rahasiaku.”

Tanpa berkedip ia menatap Siau-hi-ji, sorot matanya kelam seperti kemilau air

laut di dalam gelap.

Siau-hi-ji melengos ke sana, mendadak ia berpaling pula dan berkata, “Kan

sudah kukatakan sejak mula bahwa aku ini bukan orang baik. Apabila ada

orang berlaku baik padaku, maka dia sendiri yang bakal apes.”

So Ing menghela napas gegetun, ucapnya perlahan, “Kebanyakan orang di

dunia ini sama khawatir dirinya akan berubah menjadi busuk, tapi kau

kebalikannya, kau seakan-akan khawatir dirimu akan berubah terlalu baik,

maka kau selalu ingin berbuat sesuatu untuk membuktikan bahwa kau ini

bukan orang baik-baik …. Sesungguhnya apa sebabnya kau berbuat demikian?

Kukira kau sendiri pun tidak tahu, betul tidak?”

“Ya, bisa jadi lantaran pembawaanku memang berbibit jahat,” ujar Siau-hi-ji

dengan tertawa.

So Ing memandangnya sejenak, tiba-tiba ia pun tertawa dan berkata, “Tapi

apakah kau tahu bahwa dirimu tidaklah sejahat sebagaimana kau bayangkan.”

“O? Orang macam apakah diriku ini, masa kau terlebih jelas daripada diriku

sendiri?”

“Ehm, aku tahu,” jawab So Ing.

“Coba, coba katakan?!” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Pangkal soalnya adalah karena sejak kecil kau telah berkumpul dan

dibesarkan oleh orang-orang jahat itu, maka di dalam hatimu selalu merasa

dirimu tak dapat berubah menjadi orang yang baik.”

“Oya, masa begitu?”

“Pula, kau pun menganggap bila dirimu berubah terlalu baik, rasanya menjadi

seperti mengkhianati orang-orang yang telah membesarkanmu itu, makanya

terkadang kau harus berbuat sesuatu kebusukan untuk membuktikan dirimu

….”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji terbahak-bahak dan memotong ucapan si nona,

“Hahaha, kan belum berapa hari kau kenal aku, masa kau anggap telah cukup

memahami diriku?”

“Tadinya aku pun tidak terlalu paham, tapi setelah melihat orang-orang tadi aku

jadi jelas.”

“Oya?!”

“Orang-orang tadi sungguh boleh dikatakan jeniusnya orang jahat, kejahatan

mereka boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya sempurna, mereka dapat

berbuat sesuatu yang kotor dan rendah, melakukan sesuatu yang keji dan

kejam, tapi malah membuat orang merasa tertarik.”

“Kau tidak perlu mengolok-olok mereka, kan mereka tidak bersalah padamu?”

ujar Siau-hi-ji.

“Betul, aku malah harus berterima kasih kepada mereka,” kata So Ing dengan

tertawa.

“Berterima kasih apa?” tanya Siau-hi-ji heran.

“Jika tiada mereka, mana aku dapat kenal kau,” ujar So Ing dengan tersenyum.

“Ucapanmu makin membingungkan aku,” kata Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Kau tidak paham sungguh-sungguh?”

“Ehm,” Siau-hi-ji mengangguk.

Dengan sekata demi sekata So Ing lantas menjelaskan, “Masa sampai

sekarang belum lagi kau sadari bahwa mereka itulah yang memancingmu ke …

ke liang tikus itu.”

Kembali Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Lucu, sungguh lelucon besar.

Memangnya untuk apa mereka menipu aku?”

“Bisa jadi lantaran mereka telah mengetahui bahwa kau sesungguhnya bukan

manusia jahat seperti mereka, bisa jadi akhirnya engkau juga akan

mengkhianati mereka, maka mereka sengaja membuat tanda-tanda rahasia itu

untuk memancingmu masuk ke liang tikus sana, dengan meminjam tangan Gui

Bu-geh mereka hendak melenyapkan kau ….”

“Hahaha, jika begitu, jadi kau anggap mereka sengaja hendak membinasakan

aku?” Siau-hi-ji menegas dengan tertawa.

“Ehm, begitulah,” jawab So Ing.

Mendadak Siau-hi-ji berhenti tertawa dan berteriak, “Sekarang ingin kutanya,

jika mereka ingin membinasakan aku, mengapa tadi mereka menyelamatkan

aku pula.”

“Bisa jadi tiba-tiba mereka merasa kau masih berguna bagi mereka dan sayang

kalau terbunuh begitu saja, mungkin pula mereka ….”

“Kentut, kentut busuk!” mendadak Siau-hi-ji berjingkrak gusar. “Apa yang kau

katakan sama sekali tak dapat kupercaya.”

So Ing menatapnya lekat-lekat, katanya kemudian dengan tenang. “Kukira

engkau bukan tidak percaya sungguh-sungguh, cuma tidak suka percaya saja,

betul tidak?”

“Betul kentut!” omel Siau-hi-ji pula. “Kau bukan cacing pita dalam perutku, dari

mana kau tahu isi hatiku?”

“Bukan maksudku mengharuskan kau percaya, cukup kau lebih waspada dan

berjaga-jaga, begitu saja,” ucap So Ing sambil menghela napas.

“Haha, kau suruh aku berjaga-jaga. Kukira kau sendiri yang perlu lebih berhatihati.”

So Ing melengak heran, tanyanya dengan tertawa, “Aku? Aku harus hati-hati

urusan apa?”

“Memangnya kau kira tempatmu ini sudah cukup aman?”

“Tempatku ini selama ini memang aman tenteram.”

“Tapi sekarang belum tentu aman lagi,” jengek Siau-hi-ji.

“Oya?!”

“Orang-orang yang datang ke sini memang hendak mencari perkara kepada

Gui Bu-geh, maka mereka tentu tidak perlu lagi sungkan-sungkan padamu

lantaran jeri terhadap Gui Bu-geh.”

So Ing menghela napas menyesal, ucapnya, “Memang betul ucapanmu,

selanjutnya tempat ini mungkin benar-benar akan berubah menjadi arena

pertempuran, rasanya aku pun tidak dapat berdiam lebih lama lagi di sini. Tadi

… apakah engkau telah melihat sesuatu?”

“Orang yang tergantung di atas pohon, yang dilihatnya tentu jauh lebih banyak

dan lebih luas daripada orang lain,” jawab Siau-hi-ji dengan tenang.

“O, sesungguhnya apa yang telah kau lihat?”

“Kulihat dua orang.”

So Ing mengikik tawa, katanya, “Seumpama melihat dua puluh orang juga

bukan urusan yang mengherankan.”

“Tapi kedua orang ini justru sangat mengherankan,” ujar Siau-hi-ji.

“Oya?….”

“Sudah sejak tadi kedua orang ini bersembunyi di balik batu sana, mereka

sudah berada di sana waktu kawan-kawanku datang menolong diriku, tapi

mereka seperti tidak ingin ikut campur urusan yang terjadi di sini, setelah kau

dan Gui Moa-ih datang ke hutan ini, segera mereka menyusup ke rumah sana

secepat terbang, Ginkang mereka ternyata tergolong kelas satu ….”

So Ing tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa, katanya, “Jadi lantaran urusan

inilah maka kau masih tinggal di sini?”

“Ehm,” jawab Siau-hi-ji singkat.

Makin manis tertawa So Ing, makin hangat dan lembut ucapannya, “Kiranya

engkau tetap memperhatikan diriku.”

“Hm, masa bodoh jika kau suka menghibur diri sendiri, hanya saja saat ini

bukan waktunya kau memuaskan dirimu sendiri, sebab kedua orang itu ….”

“Kau tidak perlu khawatir bagiku,” kembali So Ing memotong. “Kutahu siapa

kedua orang itu.

“Memangnya siapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Mereka adalah pasangan suami istri yang lucu, mereka sering kali berbuat

sesuatu yang mereka anggap pintar. Mendingan yang lelaki, yang perempuan

bahkan selalu menganggap dirinya jauh lebih pintar daripada orang lain,

padahal dia sebenarnya orang sinting.”

“Orang yang suka menganggap diri sendiri lebih pintar daripada orang lain

memang kebanyakan punya penyakit, kecuali aku tentunya, sebab aku

memang jauh lebih pintar daripada siapa pun juga,” ucap Siau-hi-ji dengan

sungguh-sungguh.

So Ing tertawa terpingkal-pingkal, katanya kemudian, “Rasanya aku harus

memperkenalkan pasangan suami istri itu padamu ….”

“Tapi sayang sekarang sudah terlambat,” tukas Siau-hi-ji.

“Ma … masa mereka sudah pergi?”

“Ya, bukan saja mereka sudah pergi, bahkan membawa serta dua bungkusan

besar.”

So Ing melengak, katanya cepat, “Kapan mereka pergi?”

“Tadi, waktu kau sedang tertawa gembira.”

“Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?”

“Sebenarnya hendak kukatakan, tapi tertawamu tampak sangat gembira

sehingga tiada peluang bagiku untuk bicara,” Siau-hi-ji sengaja menghela

napas menyesal, lalu menyambung pula, “Dan sekarang, mungkin kau tidak

dapat tertawa lagi.”

Tak tahunya, setelah bola matanya berputar, kembali So Ing tertawa, katanya,

“Yang mereka gondol itu bukan dua bungkus barang, melainkan dua orang.”

Sekali ini yang melengak ialah Siau-hi-ji, serunya cepat, “Apa? Dua orang?

Orang hidup?”

“Tak dapat dikatakan orang hidup, tapi juga bukan orang mati, ya anggaplah

dua orang yang setengah hidup dan setengah mati.”

“Dengan susah payah kedua orang suami istri itu hanya mencuri dua orang

yang setengah hidup setengah mati begitu?” tanya Siau-hi-ji.

“Ehm,” jawab So Ing.

“Untuk apa mereka mencuri dua orang setengah hidup setengah mati?”

“Jika ada gunanya tentu takkan kubiarkan dicuri mereka.”

Siau-hi-ji menghela napas lega, katanya, “Tampaknya suami istri itu memang

rada-rada sinting ….”

“Tapi tindakan mereka itu sama dengan telah membantumu,” tiba-tiba So Ing

tertawa pula.

Kembali Siau-hi-ji melengak, “Membantu aku apa maksudmu?”

“Sebab satu di antara kedua orang yang mereka gondol itu adalah musuhmu

yang akan duel dengantmu.”

Siau-hi-ji tambah heran, “Musuhku? Siapa maksudmu?”

“Coba ingat-ingat, adakah musuhmu yang akan mengadu jiwa denganmu

akhir-akhir ini?”

Hati Siau-hi-ji serasa mencelus, serunya parau, “Mak … maksudmu Hoa Bukoat?”

“Betul,” jawab So Ing dengan tertawa.

Seperti kucing yang terinjak ekornya, Siau-hi-ji berjingkat kaget dan berteriak,

“Jadi maksudmu Hoa Bu-koat digondol orang?”

Melihat sikap Siau-hi-ji itu, So Ing jadi terkejut, jawabnya dengan ragu-ragu,

“Be … betul!”

“Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?” Siau-hi-ji meraung.

“Dari mana kutahu dia dibawa lari orang? Kau sendiri yang tidak mau bilang

sejak tadi-tadi,” jawab So Ing sambil tersenyum getir.

Mendadak Siau-hi-ji menampar pipi sendiri beberapa kali, serunya, “Ya, betul,

mengapa tidak sejak tadi kukatakan padamu? Mengapa aku tidak berusaha

merintangi perbuatan mereka ….” sambil berteriak, seperti orang gila dia terus

lari pergi.

Maksud So Ing ingin mencegahnya, namun bayangan Siau-hi-ji sudah

menghilang di kejauhan, di dalam hutan hanya tinggal dia sendirian. Ia

termangu-mangu sekian lama, gumamnya, “So Ing … O, So Ing, masa kau

biarkan dia pergi begitu saja?”

Tiba-tiba dia seperti bertekad mengambil sesuatu keputusan, cepat ia lari

kembali ke rumah sana sambil bergumam pula, “Siau-hi-ji, wahai Siau-hi-ji,

takkan kubiarkan kau pergi begitu saja, sebab kutahu takkan kutemukan lagi

orang seperti engkau. Tak peduli ke mana kau pergi pasti akan kudapatkan

engkau.”

Baru saja bayangan si nona lenyap ke rumah di kejauhan sana, mendadak

sepotong batu yang terletak di bawah salah satu pohon di hutan ini bergerak

dan bergeser. Di bawah batu lantas tertampak sebuah gua.

Dari dalam gua lantas menongol keluar seorang.

Lubang gua ini tidak besar, tampaknya seekor anjing saja sukar bersembunyi

di situ, tapi orang ini jelas-jelas menerobos keluar dari lubang gua itu.

Tubuh orang itu begitu lemas, seperti kertas, bisa dilipat juga seperti secomot

lempung, dapat digulung. Akan tetapi matanya bersinar tajam seperti mata

pisau.

Menyaksikan lenyapnya bayangan So Ing, tersembul senyuman jahat pada

ujung mulut orang ini, gumamnya, “Kau tidak perlu khawatir, tak peduli bocah

itu kabur ke mana, pasti akan kutemukan dia bagimu.”

*****

Di balik kaki bukit yang rindang sana tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda,

rupanya sebuah kereta kuda bersembunyi di sana, pengendara kereta ialah Thi

Peng-koh.

Di atas kereta penuh dialing-alingi dedaunan, Thi Peng-koh siap memegang

tali kendali dan cambuk, tampaknya setiap saat siap untuk melarikan kereta itu.

Dengan alis berkerut Thi Peng-koh tampak muram durja, agaknya bukan

karena gelisah menunggu, tapi lantaran hatinya memang kusut dan dirundung

banyak persoalan.

Sekonyong-konyong terdengar suara keresekan, dedaunan di atas kereta

bergoyang. Cepat Thi Peng-koh menegur dengan suara tertahan, “Apakah

Cianpwe telah kembali?”

“Ya, kami,” terdengar suara Pek San-kun.

Peng-koh menggigit bibir, namun tetap tak dapat menahan perasaannya dan

akhirnya bertanya, “Apakah Cianpwe berhasil?”

“Jangan khawatir,” demikian terdengar suara Pek-hujin. “Giok-long yang kau

rindukan ini sekarang sudah berbaring di dalam kereta.”

Segera Peng-koh menarik tali kendali, kereta kuda itu terus membedal cepat

ke sana.

Setelah membelok beberapa kali, kereta itu bukannya keluar daerah

perbukitan, sebaliknya makin jauh menuju ke pedalaman perbukitan itu.

Sementara itu di dalam kereta berkumandang suara keluhan Kang Giok-long.

Tubuh Giok-long meringkuk menjadi ringkas, tiba-tiba ia merintih dengan suara

gemetar, “Wah, dingin … dingin sekali!”

Tapi tidak seberapa lama, tahu-tahu dahinya penuh berkeringat, lalu berteriakteriak

pula, “Wah, panas, bisa mati kepanasan aku!”

Sepanjang jalan ini, Kang Giok-long sebentar mengeluh kedinginan dan lain

saat sambat kepanasan dan begitu seterusnya entah berulang sampai berapa

kali.

Pek-hujin cuma geleng-geleng kepala saja, katanya, “Entah dengan racun apa

budak itu telah menyiksa anak ini sedemikian rupa.”

Pek San-kun memandang sekejap pada istrinya, ucapnya, “Jika kau susah,

kenapa tidak kau carikan akal untuk menolong dia?”

“Racun apa yang digunakan budak itu sama sekali tak diketahui, cara

bagaimana aku dapat menolongnya?” kata Pek-hujin dengan gegetun,

“Tampaknya bocah ini selanjutnya mungkin … mungkin ….”

“Hm, bocah ini bukan sanak bukan kadang kita, dia datang ke sini untuk minta

pertolongan kita, untuk apa kau merasa susah baginya?” jengek Pek San-kun

tiba-tiba.

“Eh, kau cemburu?” kata Pek-hujin sambil tersenyum genit.

“Hmk,” Pek San-kun mendengus.

Pek-hujin mencolek pipi sang suami, katanya dengan tertawa, “Ai, tua tolol,

masa kau kira aku bersusah baginya? Aku cuma merasa cara budak itu terlalu

lihai, coba kau lihat Hoa-kongcu kita ini ….”

“Ya, keadaan Hoa-kongcu inilah yang membuat kita khawatir,” akhirnya Pek

San-kun juga menghela napas gegetun.

Keadaan Hoa Bu-koat memang menyedihkan, seperti orang kehilangan

ingatan, duduk termenung, tidak bersuara dan tidak bergerak, sorot matanya

tampak kabur, seakan-akan seluruh tubuh sudah kaku tanpa cita rasa apa pun.

Bila ada yang sedih dan kasihan melihat keadaan Buyung Kiu, maka melihat

keadaan Hoa Bu-koat sekarang pasti orang akan menangis. Meski linglung

keadaan Buyung Kiu, sedikitnya dia masih bisa bersuara dan dapat tertawa.

Tapi sekarang Hoa Bu-koat benar-benar tiada ubahnya seperti orang mati,

bedanya cuma dia dapat bernapas, apa pun yang ditanyakan orang padanya

seolah-olah tak didengarnya sama sekali.

Di pedalaman perbukitan itu suasana sunyi senyap, kabut remang-remang

meliputi bumi.

Di tengah hutan ada sebuah rumah batu kecil, rumah yang mirip tempat

bersemadi kaum pertapa.

Tapi kini rumah demikian telah digunakan Pek San-kun sebagai tempat

bersembunyi.

Dalam rumah batu kecil ini ada beberapa buah meja dan bangku batu yang

sederhana, mungkin karena sering diguyur oleh air hujan, maka di dalam

rumah tidak terlalu banyak menumpuk debu kotoran.

Ke rumah batu inilah Hoa Bu-koat dibawa masuk. Rupanya bukan saja dia

tidak dapat mendengar pembicaraan orang, bahkan berjalan saja tidak dapat.

Pek-hujin berkerut kening sambil memandangi Hoa Bu-koat, ucapnya, “Kau

kira dia benar-benar berubah menjadi begini atau cuma pura-pura saja?”

“Hal ini sukar dikatakan!” jawab Pek San-kun.

“Jika benar, mungkin ia sendiri pun tidak ingat lagi rahasia Ih-hoa-ciap-giok apa

segala,” ujar Pek-hujin dengan menyesal. “Lantas dengan cara bagaimana kita

dapat memaksa dia membeberkan rahasia itu.”

Pek San-kun tidak menjawabnya, tiba-tiba ia berpaling keluar rumah.

Sejak tadi Thi Peng-koh merangkul Kang Giok-long dan duduk di bawah pohon

di luar sana, nyata dia tetap tidak berani berhadapan dengan Hoa Bu-koat,

maka tidak berani ikut masuk.

Mendadak sinar mata Pek San-kun berkilau, tiba-tiba ia lari keluar dan

bertanya, “Sekarang dia kedinginan atau kepanasan?”

Peng-koh menghela napas, jawabnya, “Sekarang dia merasa sekujur badan

sakit semua, entah ….”

Sekonyong-konyong kedua pundaknya terasa kaku kesemutan, tahu-tahu Kohcing-

hiat bagian pundak telah kena ditutuk oleh Pek San-kun.

Keruan Peng-koh terkejut dan gusar pula, teriaknya, “He, apa-apaan tindakan

Cianpwe ini?”

“Kabarnya kau pun pelarian dari Ih-hoa-kiong bukan?” tanya Pek San-kun.

“Jika … jika sudah tahu, untuk apa kau tanyakan pula?” jawab Peng-koh

dengan gemas.

“Kalau begitu, akan kupinjam tubuhmu sebentar,” kata Pek San-kun

menyeringai. Mendadak ia jambak rambut Thi Peng-koh terus diangkat.

Dengan sendirinya Kang Giok-long yang berada dalam pangkuan Thi Pengkoh

lantas jatuh ke tanah dan mengeluarkan suara keluhan. Tapi dengan suara

terputus-putus ia malah berkata, “Ya, bol … boleh, si … silakan Cianpwe pakai

saja.”

Orang ini benar-benar berhati keji dan juga kejam, dalam keadaan bagaimana

pun cara bicaranya selalu disesuaikan dengan keadaan. Karena sekarang dia

tahu merintih kesakitan juga tiada gunanya, sebab tiada seorang pun yang

mau menggubrisnya, maka ia pun tidak sambat lagi.

Cuma sayang, apa pun yang dia ucapkan pada hakikatnya Pek San-kun tidak

ambil pusing lagi. Dia menyeret Thi Peng-koh ke dalam rumah dan dibawa ke

depan Hoa Bu-koat, lalu berteriak dengan suara bengis, “Kau kenal tidak

perempuan ini?”

Namun Hoa Bu-koat cuma memandang Peng-koh dengan sorot mata hambar,

tidak menggeleng juga tidak mengangguk.

“Perempuan ini pun anak murid Ih-hoa-kiong, masa kau tidak kenal dia?”

bentak Pek San-kun pula.

Hoa Bu-koat tetap diam saja, tidak bersuara dan tidak bergerak.

“Hehe, ingin kulihat apakah kau benar-benar tidak kenal dia atau cuma purapura

saja,” ucap Pek San-kun sambil menyeringai.

“Bret”, mendadak ia robek baju dada Thi Peng-koh sehingga tertampaklah

buah dadanya yang montok dan halus.

Sedapatnya Thi Peng-koh menggereget menahan perasaannya, ia tidak minta

ampun dan juga tidak menjerit takut. Setelah berpengalaman selama ini, ia

tahu menjerit minta ampun juga tiada gunanya.

Hoa Bu-koat masih tetap duduk di tempatnya, air mukanya tetap dingin-dingin

saja tanpa emosi, mata terpentang lebar memandang Thi Peng-koh seolaholah

tidak tahu apa yang terjadi.

Pek San-kun tambah kheki, bentaknya dengan bengis, “Kau tetap tidak kenal

dia? Baik, supaya kau dapat melihatnya lebih jelas!”

“Bret-bret”, badan Thi Peng-koh yang ramping dan mulus itu segera

terpampang jelas di depan Hoa Bu-koat.

Kedua paha Thi Peng-koh yang panjang polos itu berimpit kencang, seperti

dadanya yang juga sudah terbuka itu tampak rada gemetar terembus oleh

angin pegunungan yang sejuk.

Air mata tampak meleleh di pipi Thi Peng-koh, air mata malu dan merasa

terhina, tapi juga dengan pancaran rasa benci dan dendam ia pelototi Pek Sankun.

Namun Pek San-kun hanya memandang Hoa Bu-koat dengan terbelalak.

Apabila Hoa Bu-koat tidak berani memandang tubuh Thi Peng-koh yang bugil

memesona itu, jika tidak tega melihat sikap malu dan terhinanya itu, maka ini

berarti Hoa Bu-koat masih mempunyai daya ingatan, masih berperasaan. Dan

lagak linglungnya itu jelas cuma pura-pura belaka.

Tapi kini pandangan Hoa Bu-koat sama sekali tidak menghiraukan keadaan Thi

Peng-koh yang polos itu, ia masih terbelalak linglung memandangi Thi Pengkoh

dengan dadanya yang montok, perutnya yang lapang licin, pahanya yang

panjang berimpit dan …. Semua ini bagi Hoa Bu-koat seakan-akan cuma batu

belaka.

“Menyaksikan saudara seperguruanmu dalam keadaan begini dan kau tetap

tidak mau tahu, apakah kau tidak takut membikin malu habis-habisan segenap

penghuni Ih-hoa-kiong kalian?,” teriak Pek San-kun dengan gusar.

Meski dia meraung-raung dengan murka, namun Hoa Bu-koat tetap tidak ambil

pusing.

“Baik, karena kau tidak takut kehilangan muka, biar kubikin kau lebih malu

lagi!” seru Pek San-kun sambil menyeringai.

Segera ia pegang tubuh Thi Peng-koh yang telanjang bulat itu lalu hendak di

….

Sejak tadi Pek-hujin hanya menonton saja dengan tersenyum, baru sekarang

ia mendekati sang suami, ia tepuk-tepuk pundaknya dan menegur, “Wah,

kukira sudah cukup. Masa dari pura-pura menjadi sungguhan, jangan

menggagap ikan di air keruh. Jika sandiwara ini diteruskan, bisa cemburu aku.”

Terpaksa Pek San-kun melepaskan Thi Peng-koh sambil menyengir, katanya

kemudian dengan menggeleng, “Kukira bocah ini memang sudah kehilangan

ingatan.”

“Ya, kalau tidak, mustahil dia diam saja menyaksikan anak murid perempuan

seperguruannya dihina orang,” ujar Pek-hujin. Lalu ia tepuk-tepuk punggung

Thi Peng-koh, katanya dengan tertawa, “Kau jangan marah ya, ini cuma mainmain

saja.”

Thi Peng-koh memejamkan mata, air mata pun bercucuran.

“Lihatlah, kau tua bangka mau mampus ini, nona kecil orang kau bikin kheki

begini?” omel Pek-hujin kepada sang suami.

Pek San-kun bergelak tertawa, katanya, “Jika dia kheki, boleh dia buka

pakaianku hingga bugil.”

Pek-hujin lantas menanggalkan baju luar sendiri untuk membungkus tubuh Thi

Peng-koh, ucapnya dengan suara halus, “Sudahlah, jangan menangis, sudah

biasa bila melihat perempuan cantik, lelaki mana pun ingin mencaploknya

kalau bisa.”

“Biar kubawa dia keluar saja,” kata Pek San-kun dengan tertawa.

“Hm, kau hendak main gila apalagi?” omel Pek-hujin. “Sekarang kau tidak

diperlukan lagi.”

Lalu ia membawa Thi Peng-koh keluar dan dibaringkan di samping Kang Gioklong,

katanya, “Biar kalian berdua muda-mudi ini bermesra-mesraan, ya!”

Kang Giok-long masih kesakitan setengah mati, ia berlagak tertawa dan

sengaja berseloroh, “Ah, dasar anak kecil, orang cuma bergurau saja lantas

menangis.”

Sungguh gemas hati Thi Peng-koh, dampratnya, “Kau … kau ini manusia atau

bukan?”

Kang Giok-long melirik dan melihat Pek San-kun suami istri sudah berada di

dalam rumah sana, ia menghela napas lega, dengan suara tertahan isi

mendesis, “Menyaksikan kau dihina orang cara begitu, memangnya kau kira

hatiku tidak pedih?”

“Jika … jika pedih, mengapa begitu caramu bicara?” omel Thi Peng-koh

dengan mendongkol.

“Berada di emper rumah orang yang rendah, mau tak mau kita harus

menunduk,” ujar Giok-long dengan menyesal. “Keadaan kita sendiri begini, jika

main kekerasan, apakah kita bisa hidup lebih lama lagi?”

“Aku tidak takut mati, bagiku lebih baik mati daripada dihina orang seperti

hewan,” kata Peng-koh dengan menggereget.

“Hanya orang tolol yang tidak takut mati,” ujar Kang Giok-long.

“O, jadi … jadi kau sangat takut mati? Aku benar-benar salah menilai dirimu,”

omel Thi Peng-koh dengan mendelik.

Giok-long tertawa, katanya, “Masa kau tidak tahu pemeo yang bilang ‘hidup

kotor lebih baik daripada mati konyol’.”

“Hm, pemeo begini hanya berlaku bagi kaum pengecut yang tidak tahu malu,

aku tidak sudi mendengarnya,” omel Peng-koh dengan gemas.

“Tapi kau ingin menuntut balas atau tidak?”

“Sudah tentu,” jawab Peng-koh.

“Nah, jika begitu kau harus tahu bahwa orang mati tidak mungkin dapat

menuntut balas!”

Dalam pada itu Pek San-kun suami istri sedang duduk pandang-memandang di

dalam rumah, mereka tampak lesu. Maklum, dengan susah payah dan

memeras otak baru berhasil menculik Hoa Bu-koat dari tempat So Ing, tujuan

mereka dengan sendirinya ialah ingin memeras rahasia Ih-hoa-ciap-giok dari

mulut Hoa Bu-koat.

Tapi sekarang jerih payah mereka sia-sia belaka.

Pek-hujin menghela napas panjang, lalu berbangkit dan berjalan keluar.

Karena lesu, Pek San-kun menjadi kurang hasrat menanyai sang istri hendak

ke mana, dia hanya melototi Hoa Bu-koat saja dengan menyeringai.

Selang sejenak, tiba-tiba terdengar Pek-hujin berteriak kaget di luar, “He, lekas

keluar, lihatlah apa ini?”

Secepat anak panah Pek San-kun meleset ke luar, dilihatnya Kang Giok-long

dan Thi Peng-koh masih berjajar di sana seperti tertidur nyenyak. Sedang

istrinya berdiri terkesima di bawah pohon.

Di bawah pohon tiada terdapat apa pun, cuma ada seonggok daun rontok saja.

Akan tetapi air muka Pek-hujin tampak terkejut dan terheran-heran dan juga

bersemangat, serunya, “Coba lihat, apakah ini?”

“Apa, kan cuma seonggok daun rontok,” jawab Pek San-kun dengan mendelik.

“Coba lihat lagi yang jelas,” kata Pek-hujin.

Kiranya di tengah onggokan daun rontok itu ada sebuah liang kecil, seperti

lubang sarang terwelu dan mirip liang musang.

“Ya, sudah kulihat,” kata Pek San-kun. “Itu kan cuma sebuah lubang biasa

saja, masa tidak pernah melihat lubang begituan?”

Mendadak Pek-hujin mendekatkan mukanya ke depan sang suami dan

memandangnya dengan terbelalak seakan-akan di wajah Pek San-kun

mendadak tumbuh sebuah bisul aneh.

Pek San-kun tertawa, katanya, “Masa kau sudah pangling padaku?”

Pek-hujin menghela napas, ucapnya, “Tampaknya kau sudah semakin tua,

matamu sudah mulai lamur dan….”

“Hahaha,” Pek San-kun bergelak tertawa, “Meski usiaku sudah tambah lanjut,

tapi tenagaku masih penuh, dalam hal ini kau sendiri tentu lebih jelas daripada

siapa pun juga, memangnya sudah lupa bilamana kau kelesetan dan minta

ampun padaku.”

Bisa merah juga muka Pek-hujin, omelnya, “Cis, dasar! Kubicara yang benar

denganmu, tapi kau nyeleweng pada soal ….”

Mendadak Pek San-kun merangkulnya dan membisikkan sesuatu dengan

tertawa, “Di bawah pohon juga nyaman, biarlah ….”

“Huh, sepanjang hari yang kau pikirkan selalu urusan beginian saja, pantas

matamu menjadi mulai kabur dan otakmu pun puntul,” omel Pek-hujin sambil

mendorong si suami.

“Kenapa kau bilang otak puntul segala?”

“Coba kau perhatikan liang ini,” ucap Pek-hujin.

“Liang apa? Memangnya apanya yang menarik, kalau liang anu … haha, aku

mau melihatnya!” Pek San-kun bergelak tertawa.

“Plak”, mendadak Pek-hujin memberinya suatu tamparan keras sambil

mengomel, “Tua bangka, tidak tahu malu.”

Lalu ia berjongkok dan membersihkan onggokan daun kering, terlihat sekeliling

liang itu rata dan licin, bahkan tiada jalan keluarnya lagi di bawah liang.

Adalah biasa bilamana liang itu sarang terwelu atau sebangsa musang,

umumnya tentu ada lubang yang bercabang sebagai jalan tembus keluar di

tempat lain. Tapi liang itu ternyata tiada lubang tembusan apa pun.

“Nah, sekarang kau paham tidak?” kata Pek-hujin.

“Ya, tahulah aku, liang ini buatan manusia,” kota Pek San-kun.

“Betul,” ucap Pek-hujin. “Coba pikir lagi, untuk apa orang menggali sebuah

liang di bawah pohon Ini?”

“Sebab dia ingin sembunyi di sini untuk mengintai gerak-gerik orang.”

“Tepat, tapi liang sekecil ini, siapa lagi yang mampu sembunyi di sini?”

Sekonyong-konyong Pek San-kun bersemangat, katanya, “Jangan-jangan …

jangan-jangan kau maksudkan dia … dia juga datang ke sini?”

“Selain dia, memangnya siapa lagi?”

“Tapi sudah dua puluh tahun dia tidak pernah muncul di depan umum, konon

dia sudah mati.”

“Coba kau pikirkan lagi, orang seperti dia apakah bisa mati begitu saja?

Memangnya siapa yang dapat membunuhnya?”

Pek San-kun menghela napas, katanya, “Betul juga, orang baik tidak panjang

umur, orang busuk justru awet hidup.”

“Hihi, kau masih cemburu padanya?” tanya Pek-hujin dengan mengikik.

“Hm, seumpama benar kekasihmu yang dulu akan muncul kan juga tidak perlu

tertawa seriang ini di depanku?!” omel Pek San-kun.

Mendadak Pek-hujin merangkul pundak sang suami, ucapnya dengan tertawa

genit, “Tua pikun, jika kusuka padanya, masa kukawin denganmu?…. Ayo …

kita sekarang ….”

“Tidak … tidak mau!” seru Pek San-kun sambil mendorong pergi sang istri.

“Kenapa tidak mau? Bukankah tadi kau mengajak?” ujar Pek-hujin dengan

senyuman menggiurkan.

“Tapi sekarang hasratku telah hilang,” jawab Pek San-kun. Dia menyepak

onggokan daun kering itu dengan gemas, lalu menyambung, “Bila teringat

pada bocah itu yang mungkin berada di sekitar sini, betapa pun hasratku jadi

hilang sama sekali.”

“Jika begitu … marilah kita masuk ke dalam saja,” ajak Pek-hujin.

“Tidak, aku mau tinggal di sini saja,” jawab Pek San-kun.

“Untuk apa?” tanya Pek-hujin.

Mendadak Pek San-kun bergelak tertawa, katanya, “Masa kau lupa pada

peribahasa yang berbunyi ‘menjaga pohon menunggu kelinci’?!”

Di sebelah sana sudah tentu Kang Giok-long tidak tidur sungguh-sungguh, dia

sedang kesakitan, tidak mungkin bisa pulas, dia hanya pura-pura tidur saja.

Maka ia menjadi heran ketika mendengar Pek-hujin berteriak memanggil si

suami dan keduanya lantas ribut urusan sebuah liang. Ia menjadi geli pula

ketika mendengar suami istri itu hendak main di bawah pohon. Ketika

didengarnya kedua orang itu bicara tentang liang itu dapat dibuat sembunyi

orang, hampir saja dia bersuara menyangkal pendapatnya, sebab liang sekecil

itu tidak mungkin dapat dibuat sembunyi seorang manusia normal terkecuali

bila orang itu seorang kerdil.

Terakhir dia mendengar Pek San-kun bilang hendak “menjaga pohon

menunggu kelinci”. Seketika terkilas suatu pikiran dalam benak Kang Gioklong,

“Apakah orang yang hendak ditungguinya itu adalah si ‘kelinci’ dari Capji-

she-shio?”

Seperti diketahui, Cap-ji-she-shio atau kedua belas bintang lambang kelahiran

menurut perhitungan Imlek itu adalah tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga,

ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing dan babi.

Sebagian besar anggota Cap-ji-she-shio itu sudah tewas belasan tahun yang

lalu, ada yang terbunuh oleh Ih-hoa-kiongcu dan ada yang binasa di bawah

pedang Yan Lam-thian, ada juga yang gugur di bawah jurang tempat Siau Mimi,

lalu si ular dan si kambing telah mati keracunan ketika mereka hendak

mengganggu Siau-hi-ji. Sebab itulah di antara anggota Cap-ji-she-shio

sekarang hanya tertinggal si tikus, kuda, harimau dan si kelinci saja.

Si kelinci itu she Oh bernama Yok-su, akan tetapi hampir tidak diketahui kelinci

ini jantan atau betina, sebabnya, ia memang jarang muncul di dunia Kangouw,

maka tiada orang yang tahu bagaimana bentuknya yang sesungguhnya.

Begitulah Pek San-kun benar-benar lantas duduk di bawah pohon untuk

“menjaga pohon dan menunggu kelinci”.

Dengan tenang Pek-hujin memandang sang suami sejenak, tiba-tiba ia tertawa

dan bertanya, “Apakah kau tahu dongeng tentang peribahasa menjaga pohon

dan menunggu kelinci itu?”

“Meski tidak banyak aku belajar membaca, tapi aku tahu benar tentang

dongeng ini,” kata Pek San-kun.

Pek-hujin lantas duduk, katanya dengan tertawa, “Jika begitu, coba ceritakan.”

“Dongeng ini berawal di jaman Ciankok, konon dahulu ada seorang petani

miskin, suatu hari dia mendadak melihat seekor kelinci berlari-lari terlalu cepat

sehingga mati menumbuk pohon.”

“Nah, itulah suatu contoh bahwa baik manusia maupun kelinci, betapa pun

jangan suka terburu-buru nafsu.”

Pek San-kun mendengus, ia melanjutkan ceritanya pula, “Bangkai kelinci itu

lantas diambil oleh petani miskin itu dan dijual di pasar sehingga mendapat

sejumlah uang. Maka timbul pikiran pada petani miskin itu, jika dengan

memungut bangkai kelinci saja bisa mendapatkan jumlah uang sebanyak itu,

lalu untuk apa bersusah payah bercocok tanam segala? Maka setiap hari dia

lantas duduk di bawah pohon, menantikan kelinci lain yang akan mati

menumbuk pohon, ia menjadi malas untuk meluku sawah lagi.”

“Kita sudah menjadi suami istri selama ini, tak terduga olehku bahwa engkau

mempunyai pengetahuan seluas ini,” Pek-hujin tersenyum genit.

Tapi Pek San-kun menjawab dingin, “Pengetahuan luas apa? Soalnya kau

sangat berminat terhadap ‘kelinci’, sebab itulah segala persoalan mengenai

kelinci menjadi lebih jelas kupelajari.”

“Jika begitu, apakah kau tahu petani miskin itu akhirnya berhasil mendapatkan

kelinci lagi?”

“Sudah tentu tidak. Di dunia ini memang banyak manusia yang berwatak

ceroboh, tapi kelinci yang ceroboh tidak terlalu banyak.”

“Ya, bukan saja ceroboh, mungkin mata kelinci itu pun rada lamur, makanya

bisa mati menabrak pohon.”

“Setelah menunggu lama dan lama sekali, sama sekali petani miskin itu tidak

melihat kelinci lagi, sedang sawahnya telantar tiada yang garap. Sejak inilah

petani itu menjadi buah tutur dan tertawaan orang.”

“Kalau sudah tahu begitu, mengapa kau menirukan orang tolol itu?” ujar Pekhujin.

“Jika kau menunggu tanpa mendapatkan kelincinya, bukankah kau pun

akan ditertawakan orang?”

“Tidak, kuyakin dia pasti akan datang,” jengek Pek San-kun.

“O? Kau yakin?” Pek-hujin menegas.

“Jika dia pernah datang ke sini, tentu dia tahu kau akan kembali lagi ke sini.

Jika kau berada di sini, mustahil dia takkan datang? Hehe, bukan mustahil

diam-diam dia sudah menguntit jejak kita dan mencari kesempatan untuk

bertemu denganmu.”

“Hihi, aku kan sudah nenek-nenek, memangnya masih menarik?” kata Pekhujin

dengan mengikik.

“Di mata kekasih timbul si cantik, demikian kata peribahasa. Bagi orang lain

mungkin kau dianggap nenek-nenek, tapi bagi pandangannya bisa jadi kau ini

masih cantik serupa bidadari.”

“Dan dalam pandanganmu, seperti apa pula aku ini?” tanya Pek-hujin sambil

mengerling genit.

Tiba-tiba Pek San-kun tertawa, katanya, “Sudah tentu dalam pandanganku kau

pun seperti bidadari.”

Sampai di sini, diam-diam Kang Giok-long merasa geli, sungguh tak tersangka

olehnya pasangan suami istri yang sudah tua bangka ini masih berguyon

seperti anak muda saja. Dari ini pun dapat diketahui bahwa Pek-hujin ini

memang mempunyai resep yang cespleng sehingga sang suami masih dapat

digenggamnya dengan erat sampai sekarang.

Pada saat itulah Pek San-kun tiba-tiba mendesis, “Ssst, itu dia datang.”

Tanpa terasa Kang Giok-long membuka matanya dan melirik ke sana.

Dilihatnya sebongkah kayu kering sebesar kepala manusia dan panjang tiga

kaki tampak sedang menggelinding kemari dari kejauhan.

Bonggolan kayu ini bukan saja dapat menggelinding di tanah, bahkan seperti

bermata, bila mana ketemu rintangan batu dan sebagainya, bonggolan kayu itu

ternyata bisa memutar dan membelok.

Melihat peristiwa aneh di pegunungan sunyi begini, bila dalam keadaan biasa

mungkin Kang Giok-long akan kaget setengah mati. Tapi sekarang dia tahu

bonggol kayu ini pasti ada hubungannya dengan Oh Yok-su yang dimaksudkan

Pek San-kun, ia menduga bisa jadi Oh Yok-su itu bersembunyi di bawah

bonggol kayu ini, sebab itulah ia pun tidak merasa ngeri lagi, ia cuma heran

saja apakah mungkin di dalam bonggol kayu ini bersembunyi orang, padahal

besar bonggol kayu hanya sedikit lebih besar daripada sebuah bantal saja.

Apakah mungkin tokoh Bu-lim yang terkenal iru benar-benar seorang kerdil

seperti anak kecil? Jika benar dia seorang kerdil, masa dia dapat bergendakan

dengan Pek-hujin yang cantik molek itu? Ia yakin perempuan cantik macam

Pek-hujin itu tidak mungkin puas dan menyukai seorang kerdil.

Dalam pada itu Pek San-kun terus mengawasi bonggolan kayu itu dengan tak

berkedip, bahkan matanya seakan-akan membara, kedua tangan juga

mengepal seperti orang geregetan.

Perlahan Pek-hujin memegang tangan suami, katanya dengan tertawa, “Sudah

lama tidak bertemu dengan sahabat lama, janganlah seperti dulu lagi, bila

bertemu lantas berkelahi.”

“Jika sahabat lama, mengapa mesti main sembunyi-sembunyi dan tidak mau

dilihat orang?” jengek Pek San-kun.

Bonggol kayu yang sudah mendekat itu mendadak terbahak-bahak dan

berkata, “Haha, sudah sekian tahun tidak bertemu, tidak tersangka kalian

suami istri masih tetap cinta-mencintai seperti sedia kala, selamat, selamat!

“Dari mana kau tahu kami suami istri masih tetap cinta-mencintai? Apakah

senantiasa kau mengintai kami secara diam-diam,” teriak Pek San-kun.

“Jika tidak tetap saling mencintai, mana mungkin cemburu sebesar itu, ini kan

kelihatan dan tidak perlu dijelaskan lagi bukan?” jawab bonggol kayu itu. Di

tengah suara tertawanya bonggol kayu itu pun sudah menggelinding sampai di

bawah pohon dan mendadak dari dalam bonggol itu terjulur keluar sebuah

kepala.

Meski sudah tahu di dalam bonggol kayu itu ada orangnya, tapi mendadak

kepala itu tersembul keluar, ini membuat Kang Giok-long terkejut juga.

Tertampak kepala itu berambut ubanan, tapi jenggot di dagunya hanya

beberapa helai saja, sepasang matanya bundar lagi terang, begitu bundar dan

besar sehingga mirip dua butir mutiara raksasa.

Mata manusia pada umumnya pasti bulat panjang, tapi mata orang ini benarbenar

bundar, pada hakikatnya bukan mata manusia, tapi lebih mirip mata

kelinci. Yang paling aneh, kepala ini buka saja tidak kecil, bahkan lebih besar

daripada orang biasa, andai kata bonggol kayu itu geronggang bagian

dalamnya juga akan terasa sesak bila dimasuki kepala sebesar ini.

Bukan cuma kepalanya saja yang besar, telinganya juga besar lagi lancip, jadi

menyerupai kuping terwelu.

Sungguh sukar dimengerti, seorang kerdil begini masa mempunyai kepala dan

telinga sebesar itu?

Tentu saja Kang Giok-long bertambah terkejut, meski masih ingin pura-pura

tidur, tapi berat rasanya untuk memejamkan mata, sebab itu berarti tak dapat

lagi mengikuti kejadian selanjutnya. Waktu ia lirik Thi Peng-koh di sampingnya,

nyata mata nona itu pun terpentang lebar-lebar.

Dengan terkikik-kikik Pek-hujin menyapa, “Hihihi, belasan tahun tidak bertemu,

tak tersangka kau tetap senakal ini.”

“Hahaha, ini namanya negara mudah berganti, watak sukar berubah,” kata

bonggol kayu dengan terbahak-bahak.

“Jika kau kira perempuan selalu suka pada lelaki yang nakal, maka salah besar

kau,” jengek Pek San-kun.

“O, apakah suasana sekarang sudah berubah?” jawab orang itu dengan

tertawa. “Kuingat dulu lelaki yang nakal paling mendapat pasaran.”

“Lelaki yang nakal sudah tentu masih punya pasaran, tapi kakek yang nakal ….

Hehe, siapa yang mau, bahkan memualkan,” jengek Pek San-kun pula.

Sudah tentu yang senang adalah Pek-hujin karena sampai sekarang dirinya

masih dijadikan sasaran cemburu antara dua lelaki.

“Tampaknya aku kan belum tua bukan?” demikian kata Pek-hujin kemudian,

tapi dia berlagak kurang senang dan mengomel, “Apabila kalian berdua masih

tetap bertengkar, maka aku takkan menggubris kalian lagi.”

Mendadak Pek San-kun meraung gusar, “Kau jangan lupa, aku adalah lakimu,

masa kau tidak mau menggubris aku?”

“Nah, lihat, belum lagi aku benar-benar berbuat begitu dan kau sudah tegang

dan marah,” ujar Pek-hujin dengan tertawa genit. Tertampak matanya

mencorong terang, mukanya juga kemerah-merahan, seakan-akan mendadak

lebih muda belasan tahun.

Memang, bilamana ada lelaki yang cemburu bagi seorang perempuan, maka si

perempuan kadang-kadang akan segera berubah menjadi lebih muda. Hanya

cinta lelaki di dunia adalah barang perhiasan yang paling berharga, yang dapat

membuat perempuan selalu awet muda. Sebab itu pula perawan tua selalu

lebih cepat layu.

Begitulah orang tadi lantas menghela napas, katanya dengan tertawa, “Peklauko,

tampaknya kau ini tua-tua tambah rezeki, agaknya setelah kau masuk

peti mati juga Pek-toaso kita akan tetap awet muda seperti seorang nona.”

Kembali Pek San-kun meraung, “Apa, kau mengutuki aku lekas mati? Hm,

seandainya aku mati juga kau takkan mendapat bagian.”

“O, habis bagian siapa?” tanya orang itu dengan tertawa.

Pek San-kun berjingkrak murka, teriaknya, “Kau tidak perlu tanya, yang pasti

kutanggung kau akan mati lebih dulu daripadaku, kau percaya tidak?” di tengah

raungannya itu ia segera menjotos.

“Blang”, bonggol kayu itu tergetar hancur oleh angin pukulan Pek San-kun,

sesosok tubuh manusia mendadak terpental keluar dari dalam bonggol kayu

dan “siut”, tahu-tahu melesat ke puncak pohon.

Sampai bentuk tubuh orang saja tak terlihat jelas oleh Kang Giok-long, jadi dia

tetap tidak tahu apakah orang itu benar-benar kerdil atau tidak, diam-diam ia

terkejut dan kagum akan kecepatan gerak tubuh orang.

Segera kepala orang yang besar itu menongol keluar dari balik dedaunan

sambil menyengir, katanya, “Wah, manusia tiada maksud membunuh harimau,

tapi harimau bermaksud mencaplok manusia …. Eh, Pek-lauko, kedatanganku

ini sekali-kali bukan untuk berkelahi denganmu.”

“Habis untuk apa kau datang kemari?” teriak Pek San-kun murka. “Meski aku si

harimau ini tidak makan manusia, tapi mengganyang seekor kelinci kiranya

tidak menjadi soal.”

Orang itu menjawab dengan tenang, “Jika kau mencelakai aku, mungkin

selama hidup ini takkan tahu lagi rahasia Ih-hoa-ciap-giok.”

Pek San-kun melengak sejenak, segera air mukanya berubah senang, dengan

tertawa ia berkata, “Oh-laute, masa kau kira aku benar-benar marah padamu?”

“Memangnya kau tidak marah? Aku menjadi bingung bagaimana bentuknya

jika kau dalam keadaan marah?” ujar orang itu.

“Kau kan sahabat lama biniku, masa kau lupa pada wataknya?” kata Pek Sankun

dengan tertawa.

“Bagaimana sih wataknya?” tanya orang itu.

“Dia paling suka orang cemburui dia, aku kan lakinya, dengan sendirinya aku

sering-sering mencari akal untuk membuat dia senang, padahal ….”

“Plak”, belum habis ucapan Pek San-kun, tahu-tahu pipinya telah digampar

orang satu kali. Dengan mendelik Pek-hujin menegasnya, “Padahal apa?”

“Padahal aku suka benar-benar padamu,” jawab Pek San-kun dengan cengarcengir.

“Tapi aku juga sangat suka pada rahasia Ih-hoa-ciap-giok.”

Sorot mata Pek-hujin tampak berkilau, ia pun tertawa dan mengomel, “Tua

bangka, memangnya siapa pingin disukai olehmu? Bilakah nyonyamu ini

pernah penujui kau?” Lalu ia pun melotot ke atas pohon dan mengomel dengan

tertawa, “Kelinci mampus, kenapa kau tidak lekas turun kemari?”

“Baik, nyonya tua, segera kuturun!” seru orang itu dengan tertawa, menyusul

sesosok tubuh lantas melayang turun. Mana dia ini kerdil, sebaliknya dapat

dikatakan dia seorang lelaki yang gagah. Bahkan lebih tinggi sedikit daripada

Pek San-kun.

Terbelalak lebar Kau Giok-long memandang ke sana, sungguh tak terbayang

olehnya bahwa seorang kekar besar begitu dapat sembunyi di dalam sepotong

bonggol kayu kering sekecil itu.

Pada saat itulah mendadak Pek San-kun mendekatinya dan menegur, “Eh,

kiranya kau sudah mendusin.”

Walaupun seperti maling tertangkap basah karena diketahui sedang mengintip,

namun muka Kang Giok-long tidak menjadi merah, jawabnya dengan tertawa,

“Ah, Tecu hanya tidur-tidur ayam saja.”

“Dari bonggol kayu bisa mendadak muncul seorang besar, kau merasa heran

bukan?” tanya Pek San-kun.

“Ya, Tecu memang rada heran,” jawab Giok-long dengan mengiring tawa.

“Kuberitahu, inilah Oh Yok-su yang termasyhur di dunia Kangouw, siapa yang

tidak tahu ilmu sakti ‘Soh-cu-siok-kut-kang’ Oh Yok-su yang tiada

bandingannya di seluruh dunia ini?”

“Soh-cu-siok-kut-kang (ilmu menyurutkan tulang)?” Kang Giok-long menegas.

“Apakah ilmu yang mahasakti andalan Bu-kut Tojin dahulu itu?”

“Memangnya ilmu sakti mana lagi?” jawab Pek San-kun. “Jelek-jelek

tampaknya kau juga berpengetahuan cukup luas. Nah, sekarang tentunya kau

sudah jelas.”

“Ya, Tecu sudah jelas,” jawab Giok-long.

Mendadak Pek San-kun mendelik dan berkata, “Jika sudah jelas, kenapa tidak

lekas menyingkir sejauhnya, memangnya kau pun ingin mendengarkan rahasia

itu?”

“Ya, ya, Tecu mohon diri,” sahut Giok-long masuk ke rumah batu itu.

Ketika angin meniup dan gaun Thi Peng-koh tersingkap sebagian sehingga

kakinya yang putih mulus itu kelihatan. Seketika mata Oh Yok-su melotot,

katanya dengan tertawa, “Betis anak ini tampaknya boleh juga.”

“Bukan cuma betisnya saja,” Pek San-kun mendekati orang itu sambil

setengah berbisik, “Bahkan bagian … bagian lain juga …. Hehe!”

Oh Yok-su menelan air liur, jakun naik turun, katanya dengan tertawa, “Kau

telah melihatnya semua?”

“Aku selalu diawasi harimau betina, terpaksa hanya melihat saja dan tak dapat

memegang,” tutur Pek San-kun. “Tapi kalau Oh-laute menaksirnya, kujamin

pasti ….” belum habis ucapannya, mendadak kupingnya dijewer orang.

“Tua bangka,” demikian terdengar omelan Pek-hujin dengan setengah tertawa.

“Melihat kelakuanmu yang tidak beres ini, pasti di luaran sering ada main, betul

tidak? Ayo lekas mengaku!”

Sambil menjerit kesakitan Pek San-kun minta ampun, “Tidak, benar-benar tidak

pernah. O, istriku tercinta, lepaskan lekas!”

“Tidak, jika tidak mengaku sejujurnya, biar kupingmu ini kujewer hingga putus,”

omel Pek-hujin.

“Setahuku, selamanya Pek-lauko cukup setia dan jujur padamu,” ujar Oh Yoksu

dengan tertawa.

Pek-hujin lantas mendelik padanya, ucapnya, “Tidak perlu kau mintakan

ampun baginya, kau sendiri pun bukan orang baik.”

“Wah, aku jadi ikut-ikut keserempet!” grundel Oh Yok-su dengan menyengir.

“Huh, dasar lelaki!” omel Pek-hujin sambil tertawa serta melepaskan

jewerannya. “Sembilan di antara sepuluh lelaki pasti menyeleweng.”

Pek San-kun meraba-raba telinganya yang masih sakit, katanya dengan

tertawa, “Sudahlah, kita kembali pada pokok persoalannya. Eh, Oh-laute, apa

benar-benar kau tahu rahasia Ih-hoa-ciap-giok?”

Oh Yok-su tidak lantas menjawab, sebaliknya ia malah bertanya, “Sudah tentu

kau tahu sebelum ini aku sudah pernah datang kemari.”

“Tapi … tapi waktu itu kami benar-benar tidak tahu sama sekali, tampaknya

cara Oh-laute mengelabui mata orang sudah jauh lebih maju daripada belasan

tahun yang lalu,” sanjung Pek San-kun.

Oh Yok-su bergelak tertawa, katanya, “Aku menyaksikan kalian menyeret

murid tertua Gui-lotoa, yaitu Gui Moa-ih ke sini, setelah berunding sekian lama

tampaknya kalian menyuruh dia pergi mencari seorang perempuan she So.”

“Namanya So Ing, yaitu kesayangan si tua she Gui, masa kau tidak tahu?”

tukas Pek-hujin.

“Dengan sendirinya sekarang aku tahu,” jawab Oh Yok-su. “Cuma waktu itu

aku merasa heran, kalian sendiri punya jalannya, mengapa suruh orang lain

pergi ke sana. Tapi kemudian kulihat diam-diam kalian juga menguntit di

belakangnya.”

“Haha, dengan sendirinya Oh-laute juga menguntit pula di belakang kami,”

tukas Pek San-kun dengan terbahak.

“Ya, tampaknya kebiasaanku ini memang sukar diubah,” ujar Oh Yok-su

dengan gegetun. “Kalau ada tontonan yang menarik, betapa pun aku ingin

melihatnya. Setiba di sana barulah kutahu bahwa di tempat yang tampaknya

seperti surga dunia itu sesungguhnya di mana-mana terpasang alat

perangkap.”

“Budak itu tak mau belajar silat, tapi kemahiran si tua she Gui mengenai ilmu

pesawat agaknya telah diturunkan semua padanya, bahkan boleh dikatakan

yang hijau melebihi yang biru, budak itu jauh lebih lihai daripada Gui-lothau.”

“Ya, tampaknya budak itu memang pintar,” ujar Oh Yok-su.

“Bukan cuma pintar saja, bahkan wajahnya juga boleh,” tukas Pek San-kun.

Segera Pek-hujin mengomel, “Nah, mulai berpikir serong lagi!”

“Perempuan cantik kebanyakan juga pintar, contohnya Pek-toaso kita ini,”

umpak Oh Yok-su dengan tertawa.

Tapi Pek-hujin menarik muka, omelnya, “Huh, belasan tahun tidak bertemu,

tampaknya mulutmu tambah manis.”

Walaupun berlagak kurang senang, tapi toh tertawa. Dan memang begitulah

penyakit perempuan, walaupun tahu jelas si lelaki sengaja menyanjungnya,

tapi dia lebih suka mempercayai apa yang diucapkannya itu. Sebab itulah

meski seorang perempuan terkadang dapat menahan berbagai macam

pancingan kaum lelaki, tapi tetap tak dapat melawan bujuk rayu mulut

manisnya.

Oh Yok-su lantas bergelak tertawa, katanya pula, “Terhadap ilmu pesawat

rahasia tidak pernah berhasil kupelajari, sebab itulah aku pun tidak berani

menyentuhnya. Aku lantas mencari tempat sembunyi. Selang tak lama

kemudian kulihat Gui Moa-ih berhasil memancing seorang anak muda ke hutan

tempatku sembunyi sana, bahkan anak muda itu ditutuk Hiat-tonya terus

digantung di atas pohon.”

“O, pantas kami mendengar suara orang mencaci maki, mungkin bocah itu

yang sedang memaki Gui Moa-ih,” ujar Pek San-kun.

“Betul,” kata Oh Yok-su. “Selagi aku hendak mendekati bocah itu untuk

menanyai siapa dia, tak terduga pada saat itu pula ada tamu lain berkunjung

lagi ke hutan sana, satu di antaranya kukenal dengan baik.”

“Siapa dia?” tanya Pek San-kun.

“Yaitu orang yang telah makan istrinya sendiri, Li Toa-jui!” tutur Oh Yok-su.

“Hah, orang ini muncul lagi?” Pek San-kun menegas dengan terkejut.

“Apakah Li Toa-jui kenal anak muda itu?” tanya Pek-hujin

“Ya, kenal,” jawab Oh Yok-su.

“Bagaimana macamnya anak muda itu?” tanya Pek-hujin sambil berkerut

kening.

“Usianya belum ada dua puluh, perawakannya serupa aku, mukanya penuh

codet bekas luka, seharusnya jelek dan tidak menarik, tapi entah mengapa,

tampaknya sedikit pun tidak menjemukan, bahkan sangat menyenangkan

orang,” Oh Yok-su merandek sejenak, “Apakah kau kenal dia?”

“Meski aku tidak kenal dia, tapi sudah dapat kuterka siapa dia,” ujar Pek-hujin

setelah berpikir sejenak.

“O, siapa dia?” tanya Oh Yok-su.

“Kabarnya akhir-akhir ini di dunia Kangouw muncul seorang bintang kecil pakai

nama Hi segala, kalau tidak salah seperti Siau-hi apa … ilmu silatnya meski

tidak terlalu tinggi, tapi orangnya cerdik dan licik, setiap orang yang merecoki

dia pasti dikerjai olehnya, sampai-sampai orang macam Kang Piat-ho juga

kepala pusing menghadapi dia.”

Oh Yok-su terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum, “Ya, betul,

anak muda itulah, dia benar-benar setan cerdik, Gui Moa-ih kan juga tokoh

yang lihai, tapi kemudian entah dengan cara bagaimana dia juga kena dikerjai

oleh bocah ini sehingga kelabakan ….”

“Dan apa hubungannya bocah itu dengan rahasia Ih-hoa-ciap-giok?” tanya Pek

San-kun.

“Coba jawab dulu, saat ini ada berapa orang di dunia ini yang tahu rahasia Ihhoa-

ciap-giok?” tanya Oh Yok-su.

“Kukira yang tahu ada beberapa orang, tapi yang mau menyiarkannya jelas

seorang saja tidak ada,” ujar Pek-hujin.

“Itulah,” kata Oh Yok-su dengan tertawa, “Makanya sekarang aku ada akal

yang dapat membuat seorang di antaranya mau memberitahukan pada kita.”

“Siapa yang kau maksudkan,” tanya Pek-hujin.

“So Ing!” jawab Oh Yok-su.

Pek-hujin menghela napas, katanya, “Bilamana kau dapat membuat budak itu

buka mulut, maka aku pun dapat membikin botol berbicara.”

“Kau tidak percaya?” Oh Yok-su menegas dengan tersenyum.

Tiba-tiba Pek San-kun menyela, “Apabila Oh-laute bilang ada akalnya, dengan

sendirinya akalnya pasti sangat bagus.”

Pek-hujin menghela napas pula, katanya, “Baiklah, apa akalmu, coba

ceritakan.”

“Akalku ini terletak pada ‘ikan kecil’ (Siau-hi) itu,” ucap Oh Yok-su.

“Akal macam apa ini? Sungguh aku tidak paham,” Pek-hujin berkerut kening.

“Kalian tahu, budak she So itu telah kesengsem pada ikan kecil itu, sekarang

kalau kita dapat menangkap ikan itu, apa pun yang kita minta masakah budak

she So itu berani menolak?” tutur Oh Yok-su.

“Cara ini kukira kurang kuat,” ujar Pek-hujin. “Setahu kami, budak itu lebih

keras daripada batu, pada hakikatnya tiada seorang lelaki mana pun yang

terpandang di mata budak itu.”

“Betapa pun kerasnya hati seorang perempuan, pada suatu ketika juga hatinya

pernah goyang,” ujar Oh Yok-su berseloroh. Kedua orang lantas main mata

seakan-akan hubungan mesra di masa lalu akan dikobarkan lagi.

Cepat Pek San-kun berdehem beberapa kali dan menyela, “Tak peduli akal

Oh-laute ini berhasil atau tidak, paling perlu kita mencobanya dahulu.”

“Pasti dapat dijalankan,” ujar Oh Yok-su, “Dengan mataku sendiri kusaksikan

jalan itu dapat ditembus.”

“Akan tetapi rasanya tidak mudah jika kita ingin menjaring ikan kecil itu,” kata

Pek-hujin dengan ragu-ragu.

“Untuk menjaringnya tentunya diperlukan peranan Pek-toaso,” ujar Oh Yok-su

sambil terbahak-bahak.

Pek-hujin tersenyum genit sambil melirik, katanya, “Jangan khawatir, semakin

nakal lelaki itu semakin mahir aku menundukkannya.”

*****

Di ruangan sana Hoa Bu-koat masih duduk termenung-menung seperti patung.

Waktu Kang Giok-long dan Thi Peng-koh masuk ke situ, di luar sana Oh Yoksu

dan Pek San-kun sedang asyik memperbincangkan betis Thi Peng-koh

yang indah. Mendengar ocehan mereka yang rendah itu, hampir saja Peng-koh

meneteskan air mata.

Dengan tertawa Kang Giok-long menghiburnya, “Sebenarnya yang paling

menyedihkan kau wanita ialah bilamana kaum lelaki tidak tertarik padanya.

Sekarang beberapa orang itu sama kesengsem padamu, seharusnya kau

merasa bangga dan bergembira, kenapa kau malah sedih?”

“Apakah kau tidak … tidak bisa bicara sebagai manusia yang layak?” damprat

Thi Peng-koh pedih.

“Maksudku hanya untuk menghiburmu saja, bilamana mengalirkan air mata toh

tiada gunanya, maka sebaiknya jangan mengeluarkan air mata,” ujar Kang

Giok-long dengan gegetun. Nyata ia benar-benar mengucapkan kata-kata

manusia yang layak.

Mendadak Thi Peng-koh memegang tangan Giok-long dengan erat, serunya

dengan parau, “Mengapa kesempatan ini tidak kita gunakan untuk lari?”

“Kau kira aku dapat lari?” Giok-long menyengir.

“Akan kugendong kau,” kata Peng-koh.

“Jika kau sendiri mungkin dapat lari beberapa li jauhnya, tapi toh pasti akan

tertawan kembali. Jika lari dengan menggendong diriku, paling jauh kau hanya

dapat mencapai setengah li saja.”

“Betapa pun kita kan dapat mencobanya,” kata Thi Peng-koh.

“Sesuatu yang jelas-jelas tiada manfaatnya selamanya takkan kucoba,” jawab

Giok-long dengan perlahan.

“Habis, apa ke … kehendakmu?” tanya Peng-koh.

“Tunggu, tunggu kesempatan. Bersabar, bersabar, sedapatnya ….” tiba-tiba

Giok-long tertawa dan menyambung. “Tahukah kau, kepandaian bersabar

demikian, mungkin di seluruh dunia ini tiada seorang pun yang dapat

menandingiku.”

Ucapannya ini memang bukan bualan, ia memang benar-benar bisa tahan

segala siksa derita, sanggup bersabar dan bila perlu juga kejam dan keji, kalau

tidak tentu sejak dulu-dulu dia mati di istana bawah tanah milik Siau Mi-mi.

Peng-koh menunduk dan tidak bersuara pula.

Sekonyong-konyong Giok-long tertawa kepada Hoa Bu-koat, katanya, “Meski

dahulu kita pernah bermusuhan, tapi sekarang kita menghadapi musuh

bersama, jadi senasib. Apalagi sejak mula sebenarnya kita adalah sahabat

baik.”

Hoa Bu-koat hanya mendelik saja, hakikatnya ia tidak tahu apa yang dikatakan

Kang Giok-long.

Dengan tertawa Kang Giok-long berkata pula “Di depanku mengapa kau

berlagak pilon segala. Kutahu kau cuma pura-pura saja, meski kau dapat

mengelabui orang lain, tapi tidak dapat mengelabui diriku.”

Namun Bu-koat tetap diam saja dan tidak menggubris.

“Tak tersangka kau adalah orang sepintar ini,” ujar Giok-long dengan tertawa.

“Jika kau tidak pura-pura dungu begini, mereka pasti akan berdaya upaya

untuk memaksamu menuturkan rahasia Ih-hoa-ciap-giok dan tentu kau yang

akan susah.”

Akan tetapi Hoa Bu-koat tetap bungkam seribu bahasa, bahkan berkedip saja

tidak.

“Mungkin kau menyesali dirimu sendiri karena telah menceritakan rahasia itu

kepada budak she So, kau menyesal telah usil mulut pula hingga sekarang!’

Tapi wajah Bu-koat masih tetap kaku seperti patung, sedikit pun tiada

perubahan.

Tiba-tiba Giok-long berkata kepada Thi Peng-koh, “Coba kau memeriksanya,

apakah harimau betina itu telah menutuk Hiat-tonya?”

Thi Peng-koh mendekati Hoa Bu-koat, kemudian berkata, “Hok-toh-hiat dan

Thay-hong-hiat di kaki dan tangannya tertutuk.”

Bilamana kedua tempat Hiat-to tersebut tertutuk, maka sekujur badan orang

akan lumpuh total.

“Nah, kau dengar tidak? Nyata Pek San-kun suami istri masih khawatir atas

dirimu, makanya Hiat-tomu ditutuk,” kata Giok-long. “Apabila kau benar-benar

tidak waras, tentu mereka takkan menutuk Hiat-tomu.”

“Jika dia tidak paham apa yang kau katakan, untuk apa kau bicara terusmenerus?”

omel Peng-koh.

“Peduli dia paham atau tidak, tetap aku akan bicara padanya,” ujar Giok-long.

Lalu ia menyambung pula, “Asalkan kau mau memberitahukan padaku satu

dua bagian ilmu Ih-hoa-ciap-giok, segera akan kubuka Hiat-tomu agar kau

dapat melarikan diri.”

“Kau ini memang aneh, seumpama dia paham perkataanmu, apakah dia mau

memberitahukan rahasia ilmu sakti itu padamu?” ucap Peng-koh.

“Bila kuminta seluruh rahasia ilmu itu tentu dia tidak mau, tapi aku cuma minta

satu dua bagian saja untuk menukar jiwanya, kan setimpal?”

“Tapi … tapi seumpama dia cuma pura-pura linglung, mungkin tenaga untuk lari

juga tidak ada lagi.”

“Dengan ilmu silatnya yang tinggi, biarpun sebagian besar tenaganya sudah

terbuang juga masih kuat untuk melarikan diri. Apalagi aku pun dapat

merintangi Pek San-kun suami istri baginya.”

Sembari bicara Kang Giok-long terus-menerus melirik wajah Hoa Bu-koat.

Namun anak muda itu tetap kaku saja seperti patung, seperti orang tuli yang

tidak mendengar sama sekali.

Giok-long menghela napas panjang, ucapnya, “Baiklah, jika kau tidak percaya

padaku, nanti kalau kesempatanku sudah tiba, tentu kau pun akan jatuh di

tanganku, tatkala mana ….” belum habis ucapannya, mendadak ia mengerang

kesakitan.

Kiranya pada saat itu Pek San-kun suami istri dan Oh Yok-su telah muncul.

Pek-hujin langsung mendekati Kang Giok-long dan bertanya dengan

tersenyum genit. “Sampai sekarang kau masa kesakitan?”

“Ya, sakit … sakit sekali,” jawab Giok-long sambil meringis.

Perlahan Pek-hujin memijat-mijat kedua pundak Giok-long, ucapnya dengan

lembut, “Begini apakah masih sakit?”

“Sa … sakit, masih sakit, cuma … cuma rasanya sudah … sudah mendingan

….” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong ia menjerit seperti babi

hendak disembelih.

Rupanya kedua tangan Pek-hujin yang memijat Kang Giok-long itu mendadak

mengerahkan tenaga murni yang kuat.

Padahal rasa sakit Kang Giok-long itu sebagian cuma pura-pura saja dan

sebagian memang sungguh-sungguh, yaitu akibat dikerjai So Ing. Kini tenaga

murni Pek-hujin disalurkan sekuatnya melalui Hiat-to di kedua pundaknya,

seketika Kang Giok-long merasa sekujur badan seperti ditusuk jarum, ruas

tulang serasa rontok semua.

Tapi Pek-hujin tetap tersenyum simpul dan bertanya pula dengan lembut,

“Bagaimana, apakah sudah enakan sekarang?”

“O, moh … mohon jangan ….” demikian Giok-long merintih kesakitan.

Thi Peng-koh lantas menerjang maju, tapi sekali raih Pek San-kun berhasil

memegang tangannya terus ditelikung, katanya sambil menyeringai, “Nona

baik, apakah kau cemburu juga?”

Dengan suara serak Thi Peng-koh berteriak, “Dia kan tidak bersalah padamu,

meng … mengapa kau menyiksanya cara begini?”

“O, kau ikut merasa sakit?” tanya Pek-hujin.

“Jika kalian perlakukan begini padanya, silakan kalian bunuh dulu diriku,” teriak

Thi Peng-koh.

“Aku kan cuma memijat dia, begitu saja kau merasa sakit hati, kalau kubunuh

dia, bukankah kau bisa gila?” kata Pek-hujin dengan tertawa.

Padahal sekarang pun Peng-koh sudah hampir gila, dengan histeris dia

berteriak, “Kalian tidak … tidak boleh ….”

“Apakah kau ingin kami lepaskan dia?” tanya Pek-hujin.

Dengan cepat Peng-koh mengangguk.

“Baik, asalkan kau berjanji akan bantu berbuat sesuatu bagi kami, segera akan

kubebaskan dia,” ucap Pek-hujin dengan perlahan.

Tanpa pikir Thi Peng-koh lantas menjawab, “Baik, kuterima, kuterima ….”

“Apa pun yang harus kau lakukan pasti akan kau laksanakan?” tanya Pekhujin.

“Ya, asalkan kalian melepaskan dia, apa pun akan kulakukan bagimu,” jawab

Peng-koh.

Pek-hujin menghela napas, gumamnya, “Sungguh tidak tersangka bahwa cinta

antara laki-laki dan perempuan mempunyai kekuatan sebesar ini.”

Akhirnya dia melepaskan tangannya, perlahan ia mencolek pipi Kang Giok-long

dan berkata pula dengan tertawa, “Anak muda, tampaknya kau memang boleh,

dapat membuat seorang perempuan mati-matian setia padamu, kepandaianmu

ini sungguh tidak kecil.”

Tiba-tiba Oh Yok-su tertawa dan berkata, “So Ing jauh lebih tergila-gila pada

ikan kecil itu daripada anak dara ini.”

“Jika begitu, jalan yang kita tempuh ini pasti dapat dilaksanakan,” ujar Pek Sankun.

“Ya, begitulah,” kata Oh Yok-su.

Pek-hujin melototi sang suami, ucapnya, “Masa akal yang kuatur bisa gagal?”

“Betul, betul, akal bagus Hujin selamanya tidak pernah gagal,” sanjung Pek

San-kun dengan tertawa.

“Sekarang kau tinggal saja di sini, kedua bocah ini kuserahkan padamu,” kata

Pek-hujin.

“Baik, jangan khawatir,” jawab Pek San-kun.

Thi Peng-koh masih menangis sambil mendekap di punggung Kang Giok-long,

Pek-hujin menariknya bangun dan berkata, “Ayolah ikut pergi bersamaku ….

Tapi ingat, jika kau tidak turut perintah dan menggagalkan urusan kami, maka

berarti kekasihmu akan mati akibat perbuatanmu sendiri.”

*****

Di tempat lain Siau-hi-ji sedang kelabakan seperti kebakaran jenggot lantaran

khawatir bagi keselamatan Hoa Bu-koat. Akan tetapi ia tidak berjalan dengan

cepat. Ia tahu berjalan cepat juga tiada gunanya, kalau berjalan terlalu cepat

mungkin malah akan melalaikan hal yang seharusnya perlu diperhatikan.

Padahal sekarang dia harus mencari setiap petunjuk, setiap tanda, betapa pun

kecilnya petunjuk itu.

Malam sudah lalu, fajar telah menyingsing, tapi kabut masih meliputi lembah

pegunungan ini, pandangan masih sukar mencapai jauh, dedaunan pohon di

kejauhan seakan-akan mengambang di tengah gumpalan awan dan kabut

tanpa kelihatan dahan pohon.

Tanda-tanda rahasia yang kemungkinan ditinggalkan Ha-ha-ji, Li Toa-jui dan

lain-lain kini sukar lagi ditemukan. Tentunya terlebih sulit lagi bilamana ingin

mencari jejak yang ditinggalkan tokoh persilatan kelas tinggi.

Tapi semakin sulit persoalan yang dihadapi Siau-hi-ji, semakin tekun dan

semakin sabar dia.

Lebih dulu ia mendapatkan sebuah sungai kecil, dengan air sungai yang jernih

itu ia cuci muka sambil menenangkan pikirannya, ia mengatur pernapasan

sejenak untuk mengetahui luka sendiri apakah sudah sembuh.

Perlu diketahui bahwa lukanya sebenarnya tidak terlalu parah, yang lihai

adalah racun yang dideritanya. Tapi setelah mengatur pernapasan dan

bergerak badan sejenak, ia merasa kesehatannya tiada ubahnya seperti

sebelum terluka, hanya terlalu lama tergantung sehingga langkahnya rada

enteng rasanya.

Diam-diam ia tersenyum dan bergumam sendiri, “Budak itu melukiskan lukaku

sedemikian berat, kutahu dia cuma menakuti aku supaya aku tidak

meninggalkan dia …. Ai, perempuan, dasar perempuan. Barang siapa suka

percaya kepada ucapan perempuan, maka selama hidupnya pasti akan

diperbudak kaum perempuan.”

Tapi bila teringat kepada kelembutan So Ing dan cinta kasihnya, mau tak mau

hatinya terasa manis juga. Betapa pun, kalau seseorang telah dicintai orang

lain, maka hal ini baginya adalah sesuatu yang menggembirakan.

“Liang tikus” kediaman Gui Bu-geh terletak di suatu gua yang sangat

tersembunyi di sebelah barat sana. Walaupun Siau-hi-ji tidak pernah kenal apa

artinya takut, tapi dia baru saja terjungkal di tangan gembong Cap-ji-she-shio

itu, rasanya masih ngeri, maka dia belum berani menuju lagi ke jurusan barat.

Ia duduk di atas batu besar di tepi sungai dengan termangu-mangu, ia tidak

tahu ke mana dirinya harus menuju untuk mencari Hoa Bu-koat.

Pada saat itulah tiba-tiba dilihatnya dari hulu sungai sana ada sesuatu benda

merah mengalir tiba terbawa arus.

Kalau Siau-hi-ji tidak melalaikan setiap petunjuk yang dicari, kini dengan

sendirinya ia pun tidak mau membiarkan benda merah itu lalu begitu saja.

Segera ia ambil sepotong tangkai kayu, ia melompat ke atas batu di depan

sana, benda merah itu digaetnya ke atas.

Kiranya benda merah ini adalah sebuah gaun orang perempuan, gaun merah

bersulam bunga yang indah, tampaknya milik wanita keluarga berada. Cuma

bagian pinggang gaun itu sudah terobek seperti ditarik dengan paksa.

Siau-hi-ji berkerut kening, pikirnya, “Di pegunungan sunyi begini, mengapa ada

perempuan yang memakai gaun sebagus ini? Apakah perempuan ini kepergok

orang jahat?”

Tadinya ia menyangka pasti perbuatan anak murid Gui Bu-geh. Tapi tempat

Gui Bu-geh terletak di sebelah barat, sedangkan hulu sungai di arah timur-laut,

jadi tidak cocok jurusannya.

Pada saat itu kembali di atas arus sungai mengambang pula sesuatu benda,

juga berwarna merah. Sesudah dekat, rupanya sebuah sepatu bersulam kaum

wanita.

Dengan tertawa Siau-hi-ji mengomel, “Keparat, sudah menanggalkan gaun

orang, sepatu orang juga dicopotnya? Memangnya ingin mencium kakinya

yang berbau busuk itu?”

Kini Siau-hi-ji dapat memastikan bahwa urusan ini tiada sangkut-pautnya

dengan Hoa Bu-koat, sebab Bu-koat tidak bergaun merah juga tak mungkin

melepaskan sepatu orang lain. Namun Siau-hi-ji sendiri jadi ingin tahu, juga

rasa keadilannya tergugah, ia merasa si penjahat atau si pemerkosa itu terlalu

kurang ajar, betapa pun harus dihajar adat supaya kapok.

Di tepi sungai banyak berserakan batu-batu besar, di atas batu penuh lumut

hijau dan sangat licin, tapi dengan Ginkang Siau-hi-ji tentunya dia tidak perlu

takut akan tergelincir jatuh. Dia terus melompat dari satu batu ke batu yang

lain. Setelah beberapa tombak jauhnya, dari air sungai dijemputnya pula

sebuah beha atau baju kutang orang perempuan berwarna merah bersulaman

bunga pula, cuma kutang ini pun sudah terobek.

“Bangsat,” Siau-hi-ji memaki dalam hati, “Sungguh kelewatan perbuatanmu ini?

Meski sebagian besar perempuan bukan barang baik, tapi lelaki yang

mengganggu perempuan terlebih bukan barang yang baik.”

Ia terus maju lagi ke depan, kembali arus sungai membawa tiba pula sebuah

kutang lagi, cuma warna kutang itu hijau muda, juga terobek hancur.

“Hah, kiranya tidak cuma satu, tapi ada dua perempuan,” seru Siau-hi-ji tanpa

terasa.

Tapi dia lantas berhenti di situ malah.

Kalau ada seorang perempuan diganggu segera ia hendak menolongnya, tapi

kalau dua orang perempuan diganggu, mengapa ia berbalik berhenti di situ?

Sebabnya mendadak ia merasakan hal ini rada janggal. Di pegunungan

terpencil ini tidak mungkin ada dua perempuan yang bergaun sebagus ini, di

kota saja sukar ditemukan perempuan bergaun mewah begini.

Pada saat itulah dari hulu sungai sana tiba-tiba berkumandang suara jeritan

orang ketakutan. Suara nyaring melengking, jelas memang suara perempuan.

Sambil berdiri di atas batu Siau-hi-ji melenggong lagi sejenak. Tersembul

senyuman aneh pada ujung mulutnya, gumamnya, “Perempuan, O, perempuan

… mengapa ke mana pun kupergi selalu bertemu dengan perempuan yang

aneh-aneh?”

Di ujung hulu sana menjulang sebuah puncak bukit, air terjun tampak menuang

ke bawah dengan derasnya dan di bawahnya tepat ada sepotong batu raksasa

yang menahan gerujukan air terjun itu.

Air terjun menimpa batu raksasa itu sehingga muncrat tinggi dan jatuh ke

dalam sungai.

Dipandang dari jauh, baik pagi maupun siang atau petang, tentu saja sekitar

sini kelihatan diliputi kabut dengan air yang berhamburan dan menjadikan

pemandangan yang indah. Inilah pemandangan indah ciptaan alam dan tidak

mungkin dibuat oleh tangan manusia.

Tapi pada saat itu juga, di atas batu raksasa itu terdapat dua perempuan

dengan tubuh yang hampir telanjang bulat. Hamburan air terjun itu

menggerujuki badan mereka, tenaga jatuhnya air itu jelas sangat keras.

Tampaknya kaki mereka yang panjang putih itu telah mengejang karena

siraman air terjun itu, rambut mereka pun kusut masai.

Sampai di sini Siau-hi-ji jadi melenggong. Pemandangan yang mengerikan ini

penuh daya tarik yang kotor pula dan cukup membuat wajah setiap lelaki yang

memandangnya akan merah, hati pun berdebar-debar dan sukar menguasai

perasaannya.

“Perbuatan siapakah ini? Sungguh gila orang “ini!” demikian Siau-hi-ji

bergumam sendiri.

Didengarnya kedua perempuan itu sedang berkeluh kesah, agaknya mereka

pun tahu ada orang datang, segera mereka menjerit dengan suara gemetar,

“To … tolong ….”

“Apakah kalian tak dapat bergerak?” seru Siau-hi-ji dari kejauhan.

“Tolong … tolonglah kami ….” demikian perempuan itu memohon pula.

“Siapa yang memperlakukan kalian cara begini? Di mana dia?” tanya Siau-hi-ji.

Perempuan itu seperti sedang bicara, tapi suaranya sangat lemah, sama sekali

tak terdengar oleh Siau-hi-ji. Maklum, batu di mana Siau-hi-ji berdiri masih

berjarak dua tiga tombak jauhnya dari mereka.

Jarak dua tiga tombak sebenarnya bukan soal bagi Siau-hi-ji, cukup sekali

lompat saja dapat dicapainya.

Setiap lelaki yang memiliki Kungfu seperti Siau-hi-ji pasti akan melayang ke

sana bila menyaksikan keadaan kedua perempuan itu. Tak peduli lelaki ini

orang baik atau jahat pasti takkan tinggal diam. Bilamana lelaki ini orang baik

tentu tanpa pikirkan risiko sendiri akan melompat ke sana untuk menolong

kedua perempuan itu. Apabila lelaki ini orang jahat, tentu ia pun tidak tahan

oleh pemandangan yang menarik itu, tentu dia akan melompat ke sana untuk

mencari keuntungan atas diri kedua perempuan itu.

Andaikan lelaki ini adalah seorang yang cuma mementingkan diri sendiri, atau

lelaki ini sudah kakek-kakek yang loyo dan sama sekali tidak punya hasrat lagi

terhadap perempuan, paling-paling ia pun akan tinggal pergi saja.

Tapi sekarang Siau-hi-ji justru tidak mau menolong orang dan juga tidak mau

tinggal pergi. Ia malahan terus duduk di atas batu dan memandang ke sana

dengan terbelalak.

Perbuatannya ini benar-benar luar biasa dan di luar akal sehat, selain dia

mungkin di dunia ini tiada orang kedua lagi yang dapat bersikap demikian.

Kedua perempuan bugil yang berada di atas batu raksasa itu dengan

sendirinya ialah Pek-hujin dan Thi Peng-koh.

Melihat tindakan Siau-hi-ji itu, Pek-hujin jadi tercengang juga.

Padahal setiap muslihat dan perangkap yang telah diaturnya boleh dikatakan

sangat rapi, aneh, lain daripada yang lain, sampai-sampai sukar untuk

dibayangkan. Apa yang telah dirancangnya selalu membawa daya pikat dan

sukar untuk dilawan. Sesungguhnya setiap tipu akalnya selama ini belum

pernah gagal.

Sekali ini, bahkan ia telah mengatur tipu muslihatnya dengan lebih rapi karena

dia tahu yang akan dijebaknya adalah manusia yang sangat pintar dan cerdik.

Ia yakin siapa pun juga bilamana habis tergantung di pohon sekian lamanya

tentu sudah kehausan dan pasti ingin minum yang banyak, sebab setiap orang

pintar pasti akan membuat tenang dulu pikirannya sebelum mengerjakan

sesuatu.

Sedangkan di pegunungan sunyi ini, tempat yang ada air minum hanya di

sungai kecil ini.

Menurut perhitungan Pek-hujin, asalkan lelaki, apabila melihat sesuatu benda

milik orang perempuan yang hanyut terbawa arus, tentu lelaki itu akan

membayangkan di hulu sedang terjadi perkosaan dan pasti akan cepat

memburu ke tempat kejadian.

Maka di hulu sungai itulah Pek-hujin menunggu, di situlah dia memperagakan

tubuhnya yang masih menggiurkan. Ia yakin tiada seorang lelaki pun di dunia

ini yang takkan mendekatinya apabila melihat pemandangan yang menarik ini.

Tapi ia pun rada khawatir kalau-kalau daya pikat tubuh sendiri yang sudah

mulai menginjak ketuaan itu kurang menarik, maka dia sengaja

mengikutsertakan Thi Peng-koh.

Dia kenal nama “Siau-hi-ji” dari mulut Kang Giok-long, dengan sendirinya ia

pun tahu Thi Peng-koh pernah menyelamatkan jiwa anak muda itu. Maklum,

waktu Kang Giok-long datang minta perlindungan kepada mereka suami istri,

lebih dulu ia lelah menanyai asal usul Giok-long, lebih-lebih keterangan

mengenai anak perempuan yang dibawa Giok-long itu. Pada dasarnya dia

memang tidak percaya pada siapa pun juga.

Untuk memperoleh kepercayaan Pek-hujin terpaksa Kang Giok-long

menceritakan seluk beluk mengenai diri Thi Peng-koh, sudah barang tentu,

Kang Giok-long tidak perlu menyimpan rahasia diri orang lain.

Sebab itulah sekarang Pek-hujin yakin Siau-hi-ji pasti akan mendekati mereka.

Di luar dugaan anak muda itu hanya duduk termenung saja di kejauhan.

Tetesan air yang terus-menerus dapat melubangi batu, apalagi tenaga air

terjun yang deras. Dengan sendirinya batu raksasa itu telah terguyur menjadi

licin dan bulat, hanya bagian tengah atas batu itu saja yang mendekuk,

sekeliling batu halus licin dan sukar untuk berdiri di situ.

Pek-hujin dan Thi Peng-koh justru berbaring di bagian batu yang dekuk itu,

asalkan Siau-hi-ji melompat ke atas batu untuk menolongnya, sekali

mendorong perlahan Siau-hi-ji pasti akan tergelincir ke dalam sungai. Padahal

saat itu Oh Yok-su sudah menyelam dan menunggu di dasar sungai, ia

bernapas dengan menggunakan setangkai gelagah. Apabila Siau-hi-ji jatuh ke

sungai, maka itu berarti “ikan masuk jaring”.

Maklum, seorang yang jatuh ke dalam air tentu akan kelabakan dan sekujur

badan tidak terjaga, kesempatan itu tentu dapat digunakan Oh Yok-su yang

telah siap siaga untuk menyergapnya.

Bahwa Pek-hujin sengaja mengatur dirinya d tempat berbahaya ini justru

menurut perhitungannya hasilnya pasti akan “tok-cer”. Siapa tahu Siau-hi-ji

justru tidak mudah dijebak, anak muda itu hanya duduk saja di kejauhan,

bahkan memandangnya seperti orang yang sedang menonton sandiwara

menarik.

Padahal tenaga gerujukan air terjun itu sangat keras, betapa pun kuat tenaga

dalam Pek-hujin lama-lama juga tidak tahan.

Dia lihat Siau-hi-ji justru sedang enak-enak duduk di sana, bahkan anak muda

itu lantas mencopot sepatu dan mencuci kaki di air sungai, wajahnya tampak

berseri gembira seperti orang lagi berpiknik. Malahan tidak lama lagi anak

muda itu lantas bernyanyi-nyanyi kecil dengan suara yang tidak tergolong

merdu.

Sudah hampir meledak perut Pek-hujin saking dongkolnya. Saking tidak tahan

ia memaki, “Keparat, bocah ini benar-benar bukan manusia …. Apakah dia

telah mengetahui rencanaku?”

Kalimat yang terakhir itu dengan sendirinya ditujukan kepada Thi Peng-koh. Di

tengah suara gemuruh air terjun itu, andaikan suara bicaranya lebih keras

sedikit juga cuma didengar oleh Thi Peng-koh saja.

Peng-koh sendiri sebenarnya merasa malu dan gemas juga karena dipaksa

ikut telanjang bulat dan dijadikan umpan “ikan”. Kini melihat rencana Pek-hujin

tidak berhasil, diam-diam ia pun merasa senang dan geli, maka dia sengaja

menjawab, “Ya, kukira dia sudah tahu tipu akalmu.”

“Rencanaku ini boleh dikatakan sangat rapi, dari mana dia bisa tahu,” kata

Pek-hujin.

“Banyak orang bilang dia adalah orang pintar nomor satu di dunia, tampaknya

kabar itu memang tidak salah,” ujar Thi Peng-koh.

Sebenarnya tenaga dalam Peng-koh jauh lebih lemah daripada Pek-hujin,

hampir-hampir saja bernapas pun sukar karena diguyur air terjun sekian

lamanya, tapi kini lantaran hatinya lagi senang, bukan saja ia dapat bicara

dengan lancar, bahkan suaranya juga cukup nyaring.

“Kenapa kau bicara sekeras itu? Apakah kau ingin didengar olehnya?” jengek

Pek-hujin. “Hendaklah jangan lupa, kekasihmu masih tergenggam di tanganku,

bilamana perangkapku ini gagal, maka kau adalah calon janda sebelum nikah.”

Disebutnya Kang Giok-long membuat hati Thi Peng-koh tertekan pula, meski

dia tidak ingin Siau-hi-ji terjebak, tapi ia pun tidak tega membiarkan Kang Gioklong

mati.

Maklum, sekarang biarpun dia jelas-jelas tahu Kang Giok-long adalah telur

paling busuk di dunia ini juga tak berdaya lagi, sebab hatinya sudah bukan

miliknya lagi, melainkan sudah tertawan oleh Kang Giok-long.

Seorang lelaki kalau dapat menundukkan tubuh seorang perempuan dengan

pengaruh uang atau kekerasan, maka tidak nanti dapat menundukkan hatinya.

Tapi kalau senjata yang digunakannya adalah bujuk rayu dan kata-kata manis,

maka dia pasti akan berhasil menipunya bersama hatinya sekaligus.

Begitulah maka Thi Peng-koh tidak berani buka suara lagi.

Selang sejenak, Pek-hujin bertanya pula, “Kutahu kau pernah menyelamatkan

jiwa anak muda itu, bukan?”

“Ehm,” sahut Peng-koh perlahan.

“Sekarang kenapa dia tidak balas menolong kau?”

“Mungkin … mungkin dia pangling padaku.”

Pek-hujin berpikir sejenak, katanya kemudian, “Betul juga … lelaki kalau

melihat perempuan cantik telanjang bulat, yang dipandang cuma bagian

tubuhnya saja dan jarang-jarang memandang wajahnya.”

Muka Thi Peng-koh serasa merah membara, tiba-tiba ia merasa mata Siau-hi-ji

sedang melotot padanya, sungguh kalau bisa ia ingin menutupi dadanya,

menutupi perutnya, menutup …. Tapi demi Kang Giok-long, terpaksa ia tidak

berani bergerak.

Pek-hujin mendengus pula, “Sekarang cepat berpaling ke sana dan berteriak

minta tolong …. Teriakanmu jangan terlalu keras, tapi juga jangan terlalu lirih,

harus berlagak seperti kehabisan tenaga dan suaramu dibikin serak. Nah,

lekas lakukan!”

Terpaksa Thi Peng-koh melaksanakan perintah Pek-hujin, dengan suara parau

ia menjerit, “Tol … tolong … tolong ….”

Dia cuma sedikit menoleh, segera dilihatnya Siau-hi-ji sudah selesai mencuci

kaki, dengan tangan bertopang dagu dan setengah berbaring di atas batu,

anak muda itu seperti sudah tertidur.

Dengan sendirinya Pek-hujin juga sudah melihat tingkah Siau-hi-ji, dengan

geregetan ia berkata, “Bangsat cilik, licin benar! Sebenarnya apa yang sedang

dipikirkannya?”

Tiba-tiba seorang bicara di bawah batu sana, “Betul tidak apa yang kukatakan

padamu? Ikan ini sangat sukar dijaring bukan?”

Rupanya Oh Yok-su juga tidak tahan direndam air sekian lamanya, ia telah

menongolkan kepalanya ke permukaan air.

“Lekas menyelam, jangan sampai dilihatnya,” seru Pek-hujin.

“Biarpun kepandaiannya setinggi langit juga tidak mungkin pandangannya

dapat menikung ke belakang batu sini,” ucap Oh Yok-su dengan tertawa.

Pek-hujin menghela napas, ucapnya, “Menurut pendapatmu, apakah rencana

kita ini telah diketahuinya?

“Kau kira demikian?” Oh Yok-su balas tanya.

“Padahal rencana kita ini sangat rapi, mana dapat diketahuinya?” jengek Pekhujin.

“Habis mengapa dia tidak mau datang kemari?”

“Bisa jadi pembawaan bocah ini memang suka curiga, segala apa pun

dicurigainya, makanya dia tidak mau segera kemari dan ingin tahu bagaimana

reaksi kita.”

“Tapi yang jelas kita tersiksa di sini, kalau keadaan begini berlangsung lebih

lama kan kita sendiri yang celaka.”

“Dia justru ingin tahu apakah kita sanggup bertahan tidak, asalkan kita tidak

tahan, maka rencana ini pun gagal total. Kalau usaha kita ini gagal, apakah

tidak merasa sayang?”

“Sayang sih sayang, tapi tersiksa begini juga bukan cara yang baik,” ujar Oh

Yok-su dengan gegetun.

“Habis mau apalagi?” ujar Pek-hujin. “Bocah ini memang benar-benar lebih licin

daripada ikan, jika usaha kita ini diketahuinya, lain kali jangan harap lagi dapat

menjaringnya.”

“Dengan kekuatan kita bertiga melawan dia seorang, masa kita tidak berani

main kekerasan?”

“Kukira jangan,” ujar Pek-hujin. “Konon ilmu silat bocah ini sangat tinggi meski

usianya masih muda belia, bahkan juga sangat licik dan licin, bila gelagat jelek,

segera dia kabur. Sampai-sampai Ih-hoa-kiongcu kabarnya juga mati kutu

menghadapi dia, lalu kita dapat berbuat apa?”

Oh Yok-su menghela napas panjang, ucapnya, “Jika demikian, tampaknya

tiada jalan lain kecuali harus bertahan, tapi kita dapat tahan berapa lama lagi?”

Pek-hujin terdiam sejenak, katanya kemudian sambil menyengir, “Urusan

sudah kadung begini, terpaksa mengikuti keadaan saja.”

Di luar dugaan pada saat itulah mendadak Siau-hi-ji berdiri.

Kejut dan girang Pek-hujin, cepat ia mendesis, “Ssst, lekas selam, mungkin

ikannya akan segera akan masuk jaring.”

Tanpa disuruh lagi cepat Oh Yok-su menyelam pula, batang gelagah yang

bagian tengahnya geronggang seperti pipa itu kembali menongol di permukaan

air, dengan pipa rumput gelagah inilah Oh Yok-su bernapas.

Terdengar Siau-hi-ji bergumam di sana, “Rasanya mereka bukan pura-pura,

kalau tidak tentu mereka tidak tahan sekian lama.” Lalu ia menghela napas

gegetun dan berucap pula, “Jika tidak pura-pura, maka aku harus segera

menolong mereka.”

Sembari bicara ia pun memakai sepatunya, lalu menjulurkan kakinya ke dalam

air. Nyata dia khawatir batu yang berlumut ini terlalu licin, maka sepatunya

dibasahi dulu.

Pek-hujin tahu anak muda itu segera akan datang, girang hatinya sungguh

sukar dilukiskan. Sebaliknya Thi Peng-koh hampir saja menangis.

Kini dia hampir melupakan Kang Giok-long dan hampir berteriak menyuruh

Siau-hi-ji jangan mau tertipu. Pikiran ini bukan lantaran dia lebih berat pada

Siau-hi-ji daripada Kang Giok-long, tapi pikiran ini timbul dari hati nurani

manusia yang murni, yang timbul hanya pada detik antara mati dan hidup,

dalam keadaan itu terkadang hati nurani bisa mengalahkan pikiran kerakusan

pribadi.

Cuma sayang, tampaknya Pek-hujin juga cukup memahami perasaannya,

dengan tandas ia memperingatkan, “Awas, jangan melupakan kekasihmu itu.”

Hati Peng-koh seperti ditusuk satu kali, sekuatnya ia menggigit bibir sendiri

hingga kesakitan, meski teriakannya urung disuarakan, namun air mata lantas

bercucuran.

Dalam pada itu terdengar Siau-hi-ji lagi berseru, “Jangan khawatir para nona,

akan kutolong kalian!” Di tengah teriakannya itu segera tubuhnya melompat ke

arah batu raksasa ini.

Melihat gaya lompatan Siau-hi-ji itu tanpa terasa Pek-hujin menjadi rada

kecewa.

Kalau melihat cara Siau-hi-ji bersiap-siap hendak melompat Pek-hujin mengira

gayanya pasti sangat indah dan gerakan gesit, siapa tahu cara anak muda itu

melompat sama sekali tidak indah gayanya, juga gerakannya tidak gesit.

Padahal dengan susah payah ia memasang jaring besar dengan harapan akan

dapat menangkap seekor ikan besar, ikan kakap, siapa tahu “ikan” yang

menjadi sasarannya ini hanya seekor ikan teri.

Begitulah diam-diam Pek-hujin gegetun, pikirnya, “Orang pintar kebanyakan

memang kurang giat berlatih, bilamana tahu Kungfunya cuma begini saja, kuat

apa aku bersusah payah membuang tenaga percuma.”

Baru terkilas pikirannya itu, “plung”, air muncrat ke mana-mana. Lompatan

Siau-hi-ji ternyata tidak dapat mencapai batu ini, tetapi jatuh ke dalam sungai.

Terlihat ia mencak-mencak dan kelabakan di dalam air, dengan mati-matian

bermaksud memanjat ke atas batu raksasa ini, tapi batu ini terlalu licin, baru

saja tangannya meraih, kembali terpeleset jatuh ke bawah lagi.

Menyusul lantas terdengar suara “kruk-kruk beberapa kali, suara orang megapmegap

karena kemasukan air, bahkan lantas terdengar teriakannya, “O, mati

aku, tolong … tolong ….”

Sungguh lucu, orang yang mau menolong, sekarang malah berteriak minta

tolong.

Pek-hujin menjadi dongkol dan juga geli, tak terpikir olehnya bahwa ilmu silat

bocah ini sedemikian rendahnya, juga tidak bisa berenang. Cuma sayang Siauhi-

ji jatuh di sebelah sini, kalau tidak Oh Yok-su pasti sudah melemparkan

“ikan” ini ke atas batu.

Kini suara teriakan minta tolong tak terdengar lagi, hanya tampak gelembung

air bermunculan ke permukaan air, tampaknya “ikan kecil” ini akan mati

tenggelam.

Diam-diam Pek-hujin memaki, “Keparat, jika bukannya aku masih memerlukan

kau, mustahil kalau tidak kubiarkan kau mampus kelelep.”

Kini Pek-hujin tidak mengkhawatirkan apa pun, selagi dia hendak berbangkit,

tapi tekanan air terjun dari atas terlalu keras, padahal tenaganya sudah hampir

terkuras habis karena bertahan sekian lama, baru saja ia bangkit duduk,

mendadak ia terguyur roboh lagi oleh gerujukan air terjun.

Sementara itu pipa gelagah tadi telah bergeser dari balik batu sana ke sebelah

sini. Melihat Oh Yok-su akan menangkap “ikan”, maka Pek-hujin bolehlah

menghemat tenaga.

Air sungai sangat jernih, Oh Yok-su dapat membuka mata dalam air, dilihatnya

“ikan kecil” itu kini sudah berubah menjadi seekor ayam yang kecemplung ke

kolam, tampaknya sekali pegang saja pasti dapat membekuknya.

Di luar dugaan, entah bagaimana, tahu-tahu Siau-hi-ji meronta sekali, seperti

ikan mengeliat, tahu-tahu ia menongol lagi ke permukaan air. Jarinya seperti

menyelentik perlahan, satu biji benda kecil dengan tepat masuk ke dalam pipa

gelagah.

Padahal saat itu Oh Yok-su sedang menyedot hawa segar, mendadak ia

merasakan sesuatu benda kecil tersedot masuk melalui pipa gelagah, ketika

mengetahui ada yang tidak beres dan ingin memuntahkannya, namun sudah

terlambat, lantaran dia harus bernapas dan menyedot hawa segar, tahu-tahu

benda kecil itu pun sudah tersedot masuk perutnya.

Malah. secepat kilat Siau-hi-ji juga lantas menarik gelagah yang tergigit di

mulut Oh Yok-su itu. Seketika air pun masuk mulut Oh Yok-su. Ia cuma sempat

melihat kedua kaki Siau-hi-ji yang terbenam di dalam air dan tidak tahu

keadaan di permukaan air. Maka ia tidak tahu sesungguhnya benda apakah

yang telah diminumnya itu.

Yang jelas ia merasa benda kecil itu ya asin, ya busuk, ya manis, ya bacin

seperti ikan asin. Sungguh ingin muntah rasanya. Tapi apa daya, benda itu

sudah masuk perut dan ditambah minum air dua ceguk. Andaikan yang tertelan

itu tai anjing juga jangan harap akan dapat dimuntahkannya kembali.

Apa yang dirasakan oleh Oh Yok-su di dalam air sudah tentu tak terlihat oleh

Pek-hujin. Dia cuma mendengar suara “krak-kruk” bunyi air, belum lagi dia

mengetahui apa yang terjadi, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah mencabut pipa

gelagah dari mulut Oh Yok-su, menyusul Yong-coan-hiat di telapak kaki Pekhujin

yang terletak di tepi batu juga tertutuk.

Waktu Oh Yok-su melompat keluar dari dalam sungai laksana seekor kodok

yang diuber ular, sementara itu Pek-hujin sudah roboh seperti kuda mampus,

rebah tak bisa bergerak di atas batu, seperti mimpi saja, sama sekali ia tidak

tahu apa yang telah terjadi.

Setelah melompat ke atas batu, Oh Yok-su terus batuk-batuk, dengan jari

mengorek mulut sendiri agar memuntahkan sesuatu, tapi sampai air mata dan

ingus ikut bercucuran tetap tak dapat menumpahkan apa pun.

Waktu ia menoleh ke sana, entah sejak kapan Siau-hi-ji sudah berada di atas

batu tadi dan sedang memandangnya dengan tertawa seakan-akan tidak

pernah terjadi apa pun.

Baru sekarang Pek-hujin menyadari bahwa pengail ikan telah berbalik kena

dikail ikan. Keruan ia terkejut dan murka pula, dengan suara serak ia berteriak,

“Le … lekas buka Hiat-toku!”

Sambil kecek-kucek matanya dan terbatuk-batuk Oh Yok-su menjawab, “Hiat

… Hiat-to apa?”

“Yong-coan-hiat,” jawab Pek-hujin.

Baru saja Oh Yok-su hendak berjongkok, tiba-tiba Siau-hi-ji berseru di sebelah

sana, “Bilamana aku menjadi kau pasti takkan kutolong dia.”

Seketika Oh Yok-su menarik kembali tangannya dan bertanya dengan serak,

“Sebab apa?”

“Sekarang masa kau sempat menolong orang lain, mestinya lebih dulu harus

berdaya upaya untuk menolong dirimu sendiri,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Seketika wajah Oh Yok-su berubah pucat, tanyanya dengan tergagap, “Barang

… barang apakah tadi itu?”

“Masa kau tak dapat menerkanya?”

“Ap … apakah racun?”

“Kalau bukan racun, memangnya obat kuat?”

Sekujur badan Oh Yok-su serasa lemah lunglai.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata pula, “Jika kau menginginkan

pertolonganku, paling baik kau berdiam saja di situ dan jangan bergerak

“Jangan percaya dia,” tiba-tiba Pek-hujin berseru dengan suara gemetar.

“Paling benar kau buka dulu Hiat-toku, nanti akan kucarikan akal untuk

menolongmu.”

“Kau akan menolong dia? Haha, memangnya kau tahu racun apa?” tanya Siauhi-

ji dengan bergelak tertawa.

“Racun apa pun pasti dapat kutawarkan,” ujar Pek-hujin.

“Haha, ucapanmu ini biarpun digunakan menipu anak umur tiga juga takkan

dipercaya,” ejek Siau-hi-ji.

“Apa pun juga, yang penting buka dulu Hiat-toku, nanti kita paksa dia

menyerahkan obat penawarnya,” kata Pek-hujin kepada Oh Yok-su.

“Hah, cuma kalian berdua saja biarpun kentutku juga tak dapat kalian

keluarkan!” Siau-hi-ji berolok-olok.

Begitulah Siau-hi-ji perang lidah dengan Pek-hujin, sedangkan Oh Yok-su

cuma melenggong saja dengan bingung, entah harus menuruti kehendak Pekhujin

atau tunduk kepada perintah Siau-hi-ji.

Thi Peng-koh juga terkesiap dan bergirang menyaksikan kejadian itu, setelah

tercengang sekian lama baru tiba-tiba teringat olehnya, “Tunggu kapan lagi

kalau sekarang tidak angkat kaki?” segera ia memberosot ke dalam sungai.

Di sebelah sana Pek-hujin sedang mendesak Oh Yok-su, “Ayo, mengapa tidak

… tidak lekas kau kerjakan?”

Oh Yok-su menghela napas, katanya sambil menyengir, “Meski ingin kutolong

kau, namun apa pun juga jiwaku lebih penting.”

“Dahulu kau pernah bersumpah di depanku bahwa kau tidak sayang mati

bagiku, kenapa sekarang kau lupa?” omel Pek-hujin dengan suara gemetar.

“Lain dulu lain sekarang,” jawab Oh Yok-su dengan menyesal. “Bilamana

seorang lelaki sedang memburu seorang perempuan, siapakah yang tidak

pernah main sumpah segala. Apabila sumpah demikian dapat dipercaya, maka

lelaki di seluruh dunia ini mungkin sudah mampus semua.”

Saking gemasnya Pek-hujin hanya mendelik dan tak sanggup bersuara lagi.

Sebaliknya Siau-hi-ji lantas berkeplok tertawa serunya, “Bagus, bagus! Ucapan

ini benar-benar kata-kata mutiara, kata-kata emas, harus dicatat dengan tinta

biru, perempuan di seluruh dunia ini harus mendengarkan ucapanmu ini.”

Sementara itu Thi Peng-koh telah berenang k arah Siau-hi-ji, baru saja ia

lompat ke atas, tiba-tiba teringat tubuhnya dalam keadaan bugil tanpa busana,

mana boleh tubuh mulus begitu diperlihatkan kepada orang lain.

Tapi Siau-hi-ji justru melirik ke arahnya, bahkan tersenyum dan memicingkan

sebelah mata.

Tentu saja Thi Peng-koh malu dan ingin membenamkan kepala ke dalam air.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata kepalanya, “Dalam hatimu sekarang tentu

mencaci aku ini bukan seorang Kuncu, sebab mata seorang Kuncu sejati tidak

nanti memandang secara melirik, begitu bukan?”

Wajah Thi Peng-koh merah, katanya, “Kau … kau ….”

“Maksudmu supaya aku berpaling ke sana?” tanya Siau-hi-ji.

Cepat Peng-koh mengiakan.

“Baiklah, aku akan berpaling ke sana,” kata Siau-hi-ji. “Tapi ingin kutanya dulu

padamu, tadi waktu kau berbaring di sana kan tidak merasa malu, mengapa

sekarang tiba-tiba merasa malu?”

“Aku … aku hanya ….” Thi Peng-koh menjadi gelagapan.

“Ya, kutahu tadi kau hanya ingin menjebak diriku saja, betul tidak? Cuma

sayang, yang terjebak justru bukan diriku melainkan orang lain.”

Ucapan ini laksana cambuk yang menyakitkan, muka Thi Peng-koh dari merah

menjadi pucat, ucapnya dengan suara gemetar, “Ken … kenapa kau memfitnah

aku?”

“Hm, kufitnah kau?” jengek Siau-hi-ji. “Haha, coba jelaskan. Tadi tubuhmu bisa

bergerak, mulutmu dapat bicara, kenapa kau tidak berteriak memperingatkan

aku agar jangan sampai masuk perangkap.”

“Sebab … sebab aku … aku ….” Thi Peng-koh tidak mampu bicara lagi, sebab

ia merasa memang tidak punya alasan yang kuat. Tanpa terasa air matanya

bercucuran pula.

“Kau tidak perlu menangis, aku bukan Hoa Bu-koat, hatiku tidak selemah dia,

sekalipun air matamu mengalir seperti air sungai ini juga aku tidak pusing,”

setelah menghela napas, lalu Siau-hi-ji bergumam lagi, “Sungguh aku tidak

paham, mengapa ada sementara orang selalu menganggap setiap lelaki yang

berbuat salah adalah bangsat bajingan, tapi kalau perempuan berbuat

kesalahan yang sama harus diberi maaf.”

Sekujur badan Thi Peng-koh tampak menggigil, teriaknya parau, “Tapi aku

tidak … tidak minta maaf padamu, aku … aku pun takkan memohon padamu

….”

“Bagus, aku pun berharap jangan mohon padaku,” ujar Siau-hi-ji dengan

tertawa. “Apabila orang lain mengkhianati aku, tak peduli orang itu lelaki atau

perempuan, yang jelas aku pasti takkan minta orang lain memaafkan aku.”

Sekonyong-konyong ia melotot dan berteriak, “Dan aku masih ingin tanya

padamu, mengapa kau mengkhianati aku? Mengapa? Ya, mengapa? ….”

Mendadak Thi Peng-koh meraung-raung, teriaknya dengan parau, “Sebab kau

sombong, angkuh, banyak tingkah, hanya memikirkan kepentingan sendiri, kau

telur paling busuk di dunia ini. Aku justru berharap dapat menyaksikan kau

mampus di tangan orang lain.”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, tapi ia lantas tertawa dan berkata, “Ah, semakin

keras ucapan seorang perempuan, apa yang dikatakan semakin tak dapat

dipercaya. Karena kau bicara cara demikian, aku malah menganggap kau tidak

sengaja mencelakai aku. Kau pasti mempunyai kesulitan yang sukar

diutarakan, bisa jadi aku benar-benar akan memaafkanmu.”

Thi Peng-koh jadi melenggong bingung, ia merasa ucapan dan tingkah laku

anak muda ini benar-benar sukar dipegang ekornya. Betapa pun sulit menerka

apa sebenarnya kehendaknya. Bilamana dia dianggap orang paling busuk di

dunia ini, maka mendadak dia akan berubah menjadi sangat menarik.

Begitulah dengan perlahan Siau-hi-ji menyambung pula, “Mungkin sekali

lantaran seorang yang sangat akrab denganmu terjatuh di tangan mereka,

demi menyelamatkan jiwa orang itu, terpaksa kau mengkhianati diriku.” Dia

menghela napas gegetun, lalu melanjutkan, “Jika betul demikian, betapa pun

tak dapat kusalahkanmu, sebab kutahu, demi orang yang dicintainya, seorang

perempuan tidak sayang menjual dirinya sendiri.”

Kata-kata Siau-hi-ji ini benar-benar kena betul di lubuk hati Thi Peng-koh,

tanpa terasa air matanya bercucuran pula. Tak terduga olehnya bahwa Siau-hiji

yang menjengkelkan ini ternyata dapat menyelami isi hati orang sedemikian

mendalam, sungguh ia ingin menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu dan

menangis sepuasnya untuk mengeluarkan segenap isi hatinya.

Dengan suara halus Siau-hi-ji berkata pula, “Tapi siapakah gerangannya?

Apakah dia berharga mendapatkan pengorbananmu ini?”

Peng-koh menjawab dengan menangis, “Kau … kau pun kenal dia, tapi tak

dapat kusebut namanya.”

Meski tak dapat disebut, tapi ucapan Peng-koh itu sama dengan mengatakan

segalanya. Bilamana ingin tahu rahasia seorang perempuan, maka teramat

mudah diperoleh apabila dia sedang berduka.

Air muka Siau-hi-ji berubah, tapi ia tetap berucap dengan suara lembut, “Yang

kau maksudkan apakah Kang Giok-long?”

Sekali ini Thi Peng-koh hanya diam saja. Tapi bungkam sama saja dengan

membenarkan secara diam-diam.

Mendadak Siau-hi-ji melonjak gusar, teriaknya, “Bagus, bagus, kiranya kau

mengkhianati aku demi anak jadah Kang Giok-long itu. Apakah kau tidak tahu

betapa busuknya anak jadah itu, sekalipun kepalanya dipenggal orang seratus

kali juga belum cukup untuk melunasi dosanya.”

Kembali Thi Peng-koh terkesiap bingung.

“Jika demi orang lain tentu dapat kumaafkan,” Siau-hi-ji meraung gusar pula,

“Tapi kau berbuat baginya ….”

Mendadak Thi Peng-koh juga berteriak, “Siap yang minta kau memaafkan

diriku? Seumpama dia bukan orang baik-baik, memangnya kau sendiri ini

barang baik macam apa?”

Siau-hi-ji melotot sejenak, tiba-tiba ia berkata sambil menghela napas gegetun,

“Ya, sebenarnya tidak dapat menyalahkan kau, mulut anak keparat itu memang

manis, jangankan dirimu, sekalipun anak perempuan yang sepuluh kali lebih

pintar daripadamu juga akan tertipu olehnya.”

Peng-koh berdiri bingung di dalam air dan serba susah.

Tertampak Siau-hi-ji berubah menjadi ramah tamah, dengan tertawa ia

berbangkit dan berkata kepada Oh Yok-su, “Bagus, kau memang pintar, sejak

tadi tidak sembarangan bergerak, cuma lelaki pintar seperti kau ini justru punya

bini yang suka bugil, betapa pun rasanya kurang pantas.”

“Dia bukan biniku,” kata Oh Yok-su.

“O,” Siau-hi-ji melenggong, segera ia tertawa dan berkata, “Ah, bagus, bagus,

jika demikian, tampaknya kau terlebih pintar daripada perkiraanku semula.

Cuma perempuan seperti dia bila tidak punya lelaki mustahil kalau tidak

menjadi gila. Di manakah lakinya?” Biji matanya berputar, segera ia

menyambung pula dengan tertawa, “Aha, tahulah aku, lakinya tentu sedang

mengawasi Kang Giok-long, betul tidak?”

“Ya, memang begitu,” terpaksa Oh Yok-su membenarkan.

Mendadak Siau-hi-ji melompat ke batu raksasa itu, sekali ini dia hanya

melayang enteng saja lantas hinggap di atas batu dengan tegaknya, tidak

mungkin kecemplung lagi ke sungai.

Tentu saja Pek-hujin sangat mendongkol, ia menggigit bibir dengan geregetan

sehingga bibir pun berdarah.

Siau-hi-ji memandangnya dengan tertawa, katanya, “Nenek semacam kau

ternyata lumayan juga. Tapi katanya kau sudah punya laki dan mustahil tiada

punya gendak pula, lalu untuk apa lagi kau mengincar diriku?”

“Engkau kan orang paling pintar, masa tak dapat menerkanya?” ucap Pekhujin.

Tanpa pikir Siau-hi-ji lantas menjawab, “Ya, sudah tentu lantaran usaha kalian

telah mengalami kegagalan. Kalian telah menculik Hoa Bu-koat, tapi dia tidak

mau menceritakan rahasia Ih-hoa-ciap-giok, maka sasaran lantas terarah

kepadaku. Sebab di antara kalian bertiga pasti ada yang mengintip ketika So

Ing kebingungan melayani diriku. Maka kalian ingin memperalat diriku untuk

memeras So Ing agar dia menguraikan apa yang tidak dapat kalian peroleh

dari Hoa Bu-koat itu.”

Belum habis ucapannya, Pek-hujin lantas melenggong. Meski tadi ia suruh

anak muda itu menerkanya, tapi sama sekali tak terduga olehnya bahwa Siauhi-

ji yang sialan ini benar-benar dapat menerkanya dengan jitu.

“Nah, sekarang kau mengaku kalah tidak?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa.

“sekarang kau harus tahu, barang siapa berani memusuhi aku, maka dia pasti

akan telan pil pahit.”

Pek-hujin benar-benar mati kutu dan tidak dapat bersuara lagi.

“Sebenarnya,” demikian Siau-hi-ji menyambung pula, “Seumpama kau hendak

menjebak aku, mestinya juga tidak perlu telanjang bulat begini untuk menyiksa

dirinya sendiri. Kukira kau memang punya penyakit jiwa dan suka orang lain

menonton tubuhmu yang bugil ini. Seperti halnya ada sementara lelaki gila

yang punya hobi suka kencing di hadapan perempuan. Mungkin penyakit

mereka itu serupa dengan penyakitmu yang suka bugil ini. Penyakit ini

namanya ‘penyakit suka pamer’.”

Sampai gemetar bibir Pek-hujin saking gemasnya, ia tak tahan lagi, ia lantas

mencaci maki, semua kata-kata kotor di dunia ini hampir seluruhnya

dilontarkan ke alamat Siau-hi-ji.

Akan tetapi Siau-hi-ji anggap saja seperti tidak mendengar, bahkan tidak

memandangnya barang sekejap.

Di sebelah sana Thi Peng-koh masih berendam di dalam air, ia tidak berani

keluar dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, padahal air sungai sangat

dingin, mukanya sudah pucat dan bibir pun gemetar, ia menjadi gemas,

dongkol, ia bermaksud menumbukkan kepalanya pada batu karang untuk

membunuh diri saja.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Siau-hi-ji berteriak kepada Oh Yok-su, “He,

tahukah kau nona Thi itu ada sangkut-pautnya apa denganku?”

“Ti … tidak tahu,” jawab Oh Yok-su.

“Dia adalah penolong jiwaku, juga sahabatku yang baik, tapi sekarang dia

terendam di dalam air dan tidak berani keluar. Coba bayangkan, hatiku serba

susah tidak?”

Bahwasanya anak muda itu tiba-tiba berucap demikian, Thi Peng-koh menjadi

bingung, girang dan heran pula.

Dengan tergagap-gagap Oh Yok-su menjawab. “Kukira … kukira Tuan tentu

merasa susah.”

“Keparat!” damprat Siau-hi-ji dengan gusar. “Jika kau tahu hatiku susah,

mengapa tidak lekas tanggalkan bajumu dan diberikan padanya.”

Dengan menyengir Oh Yok-su berucap, “Lantas … lantas bagaimana dengan

diriku?”

“Jika kau sudah mampus apakah perlu pikirkan baju segala?” damprat Siau-hiji

dengan melotot. “Orang hidup dengan telanjang kan lebih mendingan

daripada mayat yang berpakaian, betul tidak?”

Oh Yok-su tidak membantah lagi, terpaksa ia membuka baju luarnya dan

dilemparkan kepada Thi Peng-koh.

Setelah menerima baju itu, Thi Peng-koh menjadi bingung lagi, entah harus

dipakainya segera atau tidak memakainya?

Terdengar Siau-hi-ji sedang berseru pula, “Bilamana nona sedang berpakaian,

jika kau berani mengintipnya, akan kucungkil biji matamu, tahu?”

Dongkol dan geli pula Oh Yok-su, katanya di dalam hati, “Memangnya tadi

belum kenyang kulihat tubuhnya? Sekarang biarpun kau suruh aku

memandangnya lagi juga hasratku sudah lenyap.”

Didengarnya Siau-hi-ji berseru pula dengan tertawa, “Ya, memang aku pun

tahu kau takkan mengintipnya, apabila di dalam perut seorang sudah terisi satu

biji racun, biarpun seratus perempuan cantik buka baju serentak di depannya

juga tiada hasratnya buat menikmatinya lagi.”

Akhirnya Thi Peng-koh memakai baju itu, katanya kepada dirinya sendiri,

“Seumpama harus mati juga perlu berpakaian rapi.”

Tapi setelah berpakaian, tiba-tiba teringat olehnya akan Kang Giok-long,

terkenang banyak kejadian yang telah lalu, tiba-tiba ia merasa dirinya tidak

perlu mesti mati.

Sorot mata Siau-hi-ji memancarkan rasa senang, ia mafhum betapa bedanya

perasaan seorang dalam keadaan bugil dan setelah berpakaian. Dengan

mengulum senyum ia bergumam, “Entahlah dia sudah selesai berpakaian atau

belum?”

Tanpa terasa Oh Yok-su menanggapi, “Sudah selesai!”

Mendadak Siau-hi-ji mendamprat dengan gusar, “Kurang ajar! Nyatanya kau

tetap mengintipnya!”

“O, ti … tidak,” cepat Oh Yok-su menyangkal.

“Jika tidak mengintip, mengapa kau tahu dia sudah selesai berpakaian?”

“Aku … Cayhe ….” Oh Yok-su gelagapan.

Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Sebenarnya sejak tadi apa pun sudah

kenyang kau lihat, biarpun sekarang kau mengintipnya sekejap juga bukan soal

lagi. Kau tidak perlu takut.”

Oh Yok-su memandang Siau-hi-ji dengan terbelalak, dengan penuh rasa pahit

dan getir.

Ilmu silatnya tidak rendah, otaknya juga tidak bebal, malahan dia suka anggap

dirinya sangat pintar, ia yakin tidak banyak orang Bu-lim yang mampu

menandingi kecerdasannya, siapa tahu sekarang dia benar-benar mati kutu

dipermainkan seorang anak remaja, sungguh ia sangat mendongkol dan

geregetan, ingin dia mengadu jiwa saja dengan Siau-hi-ji

Berkilau sorot mata Siau-hi-ji, tiba-tiba ia tepuk-tepuk pundak Oh Yok-su dan

berkata pula dengan tertawa, “Kau jangan sedih, hanya orang tolol yang tidak

sayang pada jiwa sendiri. Agar aku mau menyelamatkan jiwamu kau rela

tunduk padaku, di sinilah letak kecerdikanmu, orang lain pasti takkan

menertawakan kau, bahkan aku kagum padamu. Seorang lelaki sejati harus

dapat melihat gelagat dan membedakan arah angin, dengan demikian barulah

jiwanya bisa selamat dan hidup panjang umur.”

Oh Yok-su menghela napas, perlahan-lahan ia merasakan pula segi

kehebatannya sendiri, ia pikir dirinya mampu mengikuti keadaan untuk mencari

selamat, justru inilah yang sukar ditiru orang lain, apanya yang memalukan?

Karena pikiran ini, niatnya hendak mengadu jiwa dengan Siau-hi-ji tadi lantas

terbang entah ke mana.

Siau-hi-ji tampak tertawa gembira, katanya pula, “Sekarang, asalkan kau

berbuat sesuatu pula bagiku, segera akan kuberikan obat penawarnya.”

“Sekalipun Cayhe tidak percaya obat penawarnya akan kau berikan semudah

ini, betapa pun urusan ini kan harus kukerjakan juga, begitu bukan?” kata Oh

Yok-su dengan menyengir.

“Ya, kau benar-benar pintar,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jika begitu, ingin kutahu apa kehendakmu?” jawab Oh Yok-su.

“Bawa aku pergi mencari lakinya,” kata Siau-hi-ji sambil melirik Pek-hujin.

Teringat pada Hoa Bu-koat yang masih berada dalam cengkeraman Pek Sankun,

dengan alat pemeras itu bukan mustahil Siau-hi-ji akan dapat dipaksa

menyerahkan obat penawarnya. Berpikir demikian, seketika sorot matanya

menjadi terang, cepat ia menjawab, “Baiklah, kuturut, kuturut perintahmu.”

“Bagus, ayo berangkat sekarang,” kata Siau-hi-ji.

Oh Yok-su memandang Pek-hujin sekejap, ucapnya, “Dan dia, bagaimana?”

“Dia suka mandi dengan telanjang bulat, maka biarkan saja dia mandi sepuaspuasnya

di sini,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tidak lama kemudian, rumah batu itu sudah kelihatan dari kejauhan. Angin

mendesir, tapi di dalam rumah itu sunyi senyap, tiada terdengar suara apa pun.

Mendadak Siau-hi-ji bertindak, ia telikung tangan Oh Yok-su dan bertanya

dengan suara tertahan, “Apakah mereka berada di dalam rumah?”

Oh Yok-su mengiakan.

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya, “Tiga orang hidup di dalam rumah,

mengapa tiada suara sedikit pun.”

“Biar kumasuk dulu memeriksanya,” seru Peng-koh.

Tapi cepat tangan Siau-hi-ji yang lain telah menarik nona itu, katanya dengan

mendongkol, “Sudah sampai di sini, untuk apa kau terburu-buru.”

Peng-koh menoleh dan berkata dengan terputus-putus, “Jika … jika engkau

mengingat kebaikanku pada … padamu, kumohon engkau jangan membunuh

dia.”

Siau-hi-ji melotot dan menjawab, “Tidak membunuh dia? Memangnya supaya

dia mencelakai orang lebih banyak lagi?”

Peng-koh menunduk, air matanya lantas bercucuran.

Siau-hi-ji menghela napas, katanya sambil menggeleng, “Tahukah bahwa

semakin cepat bocah itu mampus akan semakin baik bagimu, kalau tidak

tamatlah hidupmu ini.”

Dengan menangis Thi Peng-koh menjawab, “Hidupku ini memang sudah lama

tamat. Bilamana dia kau bunuh, lebih-lebih aku tidak sanggup hidup lagi.”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan gemas, “Tampaknya kau

sudah terlalu mendalam tertipu olehnya. Tapi sudah sejak mula kukatakan

padamu bahwa diriku ini bukan seorang Kuncu segala, apabila kau

mengharapkan balas budi dariku, maka salahlah perhitunganmu.”

Dengan rawan Peng-koh berkata, “Meski kau bicara dengan garang, tapi

kutahu hatimu tidaklah demikian, engkau … engkau takkan membunuh dia,

bukan?”

Siau-hi-ji tambah mendongkol, mendadak ia mengentakkan tubuh Oh Yok-su

dan membentak bengis, “Suruh mereka keluar, tahu tidak?”

Oh Yok-su berdehem dulu, lalu berteriak, “Pek-toako, Siaute sudah kembali,

keluarlah engkau,”

Namun cuma gema suara yang berkumandang di kejauhan, rumah itu sunyi

tiada sesuatu jawaban.

“Apakah si jahanam she Pek itu orang tuli?” omel Siau-hi-ji. Setelah berpikir, ia

pun berteriak, “Orang she Pek, binimu yang molek itu sudah jatuh dalam

tanganku, jika kau tidak lekas keluar, biarlah kujual saja binimu itu.”

Tetap sunyi keadaan rumah itu tanpa jawaban.

Semakin rapat kening Siau-hi-ji berkerut, ucapnya, “Apa barangkali keparat ini

menyadari bininya sudah terlalu sering menyeleweng, maka kini dia tidak mau

lagi bininya yang sialan itu.”

Gemerdep sinar mata Oh Yok-su, tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana kalau

Cayhe melihatnya ke dalam sana?”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu menjawab, “Baik, jalanlah di muka, jangan

terlalu cepat, kalau berani sembarangan bergerak, segera kupuntir putus

tanganmu.”

Oh Yok-su menghela napas, lalu melangkah maju perlahan, setiba di depan

pintu, tertampaklah Kang Giok-long meringkuk sendirian di pojok sana dan

sedang menggigil sekujur badannya. Sedangkan Pek San-kun dan Hoa Bukoat

tidak kelihatan lagi.

Kejut dan heran Oh Yok-su serta Thi Peng-koh. Tapi Siau-hi-ji lantas naik

pitam demi nampak Kang Giok-long, urusan lain tak sempat terpikir lagi.

Dengan sendirinya Kang Giok-long melihat kedatangan mereka ini, cepat ia

menyapa, “Aha kiranya Engkoh Hi yang datang, sudah lama kita tak bersua ….”

Tapi Siau-hi-ji lantas mendamprat, “Siapa mengakui kau binatang cilik ini

sebagai saudara?”

“Ah, janganlah Hi-heng lupa, jelek-jelek Siaute kan pernah sehidup semati

bersamamu dalam perantauan yang banyak suka dukanya itu.”

“Ya, cuma sayang waktu itu kau tidak mati kelelep dalam jamban, kalau tidak

masakah Yan-tayhiap bisa tewas di tanganmu?” damprat Siau-hi-ji gusar.

Habis bicara ia terus menubruk maju, kepalan lantas menghujani tubuh Gioklong.

Kang Giok-long tiada tenaga sedikit pun buat melawan, saking kesakitan ia

berteriak-teriak, “Ampun Hi-heng, ampun! Siaute sedang sakit parah, tidak

tahan pukul lagi!”

“Jika takut dipukul, mengapa tidak mengurangi perbuatanmu yang terkutuk

itu?” bentak Siau-hi-ji murka sambil menjotos lebih keras.

Thi Peng-koh hanya meneteskan air mata saja dan tidak berani melerai.

Terdengar Kang Giok-long berteriak dengan parau, “Jika berani bolehlah kau

tunggu setelah sakitku sembuh baru kita mengadakan pertarungan

menentukan, sekarang kau menyatroni seorang sakit, memangnya Enghiong

(ksatria) macam apa kau ini?”

“Siapa bilang aku ini Enghiong?” jengek Siau-hi-ji, “Jika aku ini Enghiong,

mungkin sudah lama kumati dikerjai olehmu.”

Meski pukulan Siau-hi-ji itu tidak menggunakan tenaga murni, tapi sudah cukup

membuat Kang Giok-long babak belur, hidung matang biru dan mata bengkak,

namun jotosannya masih terus menghujaninya.

Thi Peng-koh melengos ke sana karena tidak tega menyaksikan kekasihnya

dihajar sedemikian rupa, tapi ia pun tahu tiada maksud Siau-hi-ji untuk

membunuh Kang Giok-long, kalau tidak, cukup sekali dua pukulan saja sudah

pasti akan membinasakan Giok-long. Karena itu, meski rasa pedih

perasaannya, tapi diam-diam juga rada bergirang.

Terdengar Giok-long berteriak, “Peng-ji, kenapa, tidak kau lerai dia? Kau

pernah menyelamatkan jiwanya, dia pasti akan menurut padamu, masa …

masa kau tega menyaksikan aku dipukul mati cara begini?”

Peng-koh menjadi serba susah, pikirnya, “Bukannya aku tidak mau

menolongmu, yang kuharap setelah pelajaran ini dapatlah kau perbaiki

kelakuanmu, asalkan kau mau sadar, biarpun aku harus mati bagimu juga aku

rela.”

Tapi mendadak Kang Giok-long bergelak tertawa latah malah, teriaknya,

“Baiklah, jika memang jantan kau, ayo pukul mati aku, bilamana aku berkerut

kening bukanlah seorang laki-laki.”

“Huh, kau masih sok laki-laki segala? Baik biar kupukul lebih keras,” seru Siauhi-

ji.

Tapi Kang Giok-long lantas bergelak tertawa, katanya, “Cuma, kalau betul kau

memukul mati aku, maka selama hidupmu ini pun jangan harap akan dapat

bertemu pula dengan Hoa Bu-koat.”

Seketika kepalan Siau-hi-ji berhenti di udara baru sekarang teringat olehnya

bahwa Pek San-kun dan Hoa Bu-koat yang dicarinya itu seharusnya juga

berada di rumah ini.

Keadaan Kang Giok-long sudah kempas-kempis, tapi dia masih tertawa dan

berteriak, “Ayolah pukul … kenapa tidak pukul lagi?”

Tapi Siau-hi-ji lantas menyeretnya bangun dan membentak bengis, “Di mana

Hoa Bu-koat?”

“Kau ingin melihatnya?” jawab Kang Giok-long.

“Kau mau mengaku tidak?” Siau-hi-ji meraung.

“Jika kau ingin melihatnya, sepantasnya kau bersikap hormat dan memohon

padaku ….”

Kontan Siau-hi-ji menjotos pula dan mendamprat, “Anak jadah, mohon apa

katamu?”

“Baik, pukul saja,” jengek Giok-long. “Yang pasti kepalan takkan mendapatkan

keterangan apa pun. Umpama kau jadi aku, memangnya kau mau mengaku

hanya karena dijotos begini? Bilamana sudah kukatakan, mustahil kau tidak

akan memukulku lebih kejam lagi.”

Berputar bola mata Siau-hi-ji, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Kupukul kau?

…. Ah, bilakah pernah kupukul kau?” Lalu dia malah memayang bangun Kang

Giok-long dan mengebutkan debu kotoran bajunya. Katanya pula dengan

tertawa, “Selamat bertemu pula, Kang-heng. Baik-baikkah selama ini?”

Giok-long tertawa terkekeh-kekeh, jawabnya, “Baik, cukup baik, cuma tadi

seekor anjing gila telah menggigitku beberapa kali.”

Siau-hi-ji juga bergelak tertawa, katanya, “Anjing gila hanya menggigit anjing

gila, kalau Kang-heng tidak gila, juga bukan anjing, dari mana ada anjing gila

yang menggigit kau?”

“O, jika begitu mungkin aku yang salah lihat,” ujar Giok-long dengan terbahak.

“Mungkin Kang-heng teramat merindukan diriku, kau menangis hingga matamu

bengkak, makanya pandanganmu rada kabur.”

“Betul, senantiasa kupikirkan keadaan Hi-heng, sering khawatir jangan-jangan

kakak Hi terhinggap penyakit ayan atau mengidap sakit ambein, sungguh

hatiku sedih apabila terkenang padamu.”

“Siaute malah mengira Kang-heng yang sehat walafiat ini pasti takkan

terhinggap penyakit apa pun, tapi tadi kulihat Kang-heng berkulai di pojok sana

dalam keadaan kelojotan, apakah bukan Kang-heng yang mengidap penyakit

ayan?”

Gayung bersambut, kata berjawab. Begitulah kedua orang saling berolok-olok

dengan tajam seakan-akan sedang melawak.

Menyaksikan perang lidah itu, Oh Yok-su merasa geli dan juga gegetun,

pikirnya, “Pemeo yang mengatakan gelombang laut dari belakang mendorong

ke depan tampaknya memang tepat. Di kalangan Kangouw dahulu meski juga

banyak tokoh-tokoh lihai yang licik dan licin, tapi kalau dibandingkan kedua

anak muda ini sungguh masih selisih jauh.”

Diam-diam ia pun heran entah ke mana perginya Pek San-kun dan Hoa Bukoat.

Apabila Pek San-kun membawa pergi Hoa Bu-koat, mengapa Kang Gioklong

ditinggalkan sendirian di sini?

Didengarnya Siau-hi-ji sedang berkata pula, “Kang-heng duduk sendirian di

pegunungan sunyi ini, apakah tidak takut kedatangan setan pencabut nyawa

yang akan menagih janji padamu?”

Dengan tertawa Giok-long menjawab, “Untuk ini kiranya Hi-heng tidak perlu

ikut risau, beberapa hari terakhir ini saku Siaute sedang seret, bilamana ada

arwah gentayangan berani merecoki diriku, kebetulan akan dapat kujual dia

untuk membeli arak …. Apalagi, sebenarnya tadi Siaute juga tidak sendirian.”

Kalimatnya yang terakhir ini barulah mulai memasuki pokok persoalannya. Tapi

Siau-hi-ji sengaja berlagak tidak paham dan bertanya, “O, memangnya

siapakah yang menemanimu di sini?

Dengan terkekeh Giok-long menjawab, “Seorang di antaranya seperti she Hoa,

rasanya Hi-heng kenal dia.”

“O, Hoa Bu-koat maksudmu?”

“Ya, betul dia,” seru Giok-long tertawa.

“Kebetulan memang hendak kucari dia untuk suatu urusan, entah berada di

mana dia sekarang?”

“Kutahu, dia dan kakak Hi ada sedikit persoalan, khawatir dia akan mencari

perkara lagi padamu, maka ada niatku hendak membantu Hi-heng untuk

membinasakan dia.”

“Haha, bilamana Kang-heng benar-benar membunuh dia, Siaute jadi hemat

tenaga juga ….” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Betapa pun membunuhnya

kan lebih mudah daripada menanyai keterangannya, betul tidak?”

Giok-long juga tertawa, katanya, “Tapi kemudian Siaute berpikir pula, jangan

jangan Hi-heng ingin membunuhnya dengan tangan sendiri, lalu bantuanku

bukankah salah alamat? Sebab itulah hanya kuberinya minum sedikit obat bius

saja.”

“Apakah … apakah Pek San-kun juga terkena obat biusmu?” saking ingin tahu

Oh Yok-su menimbrung.

Giok-long tidak langsung menjawab, hanya bergumam dengan tertawa, “Yang

diminumnya juga tidak terlalu banyak, kira-kira tiga atau lima hari lagi tentu

akan siuman.”

Seorang kalau benar-benar terbius selama tiga sampai lima hari, andai kata

siuman nanti mungkin juga akan berubah menjadi linglung.

Mata Siau-hi-ji mengerling, tiba-tiba ia bergelak tertawa, segera Kang Gioklong

ikut tertawa, keduanya sama-sama tertawa keras, terpingkal-pingkal

sehingga air mata pun meleleh.

Thi Peng-koh dan Oh Yok-su saling pandang dengan bingung karena tidak

tahu apa yang ditertawakan kedua orang itu.

“Lucu, sungguh lucu, hampir pecah perutku saking gelinya!” kata Siau-hi-ji

sambil memegangi perutnya yang mulas dan masih terbahak-bahak.

Dengan bergelak tertawa Kang Giok-long juga berkata, “Hahaha, Pek San-kun

yang gagah perkasa dan Hoa-kongcu yang lihai itu dapat kubius dengan sedikit

bubuk warna putih, kejadian ini sungguh amat menggelikan.”

“Yang kutertawakan bukan hal ini,” ujar Siau-hi-ji sambil menggeleng.

“Habis apa yang menggelikan Hi-heng?” tanya Giok-long.

Mendadak Siau-hi-ji tidak tertawa lagi, ia melototi Kang Giok-long dan berkata,

“Keadaan Kang-heng tampaknya sangat payah, andaikan belum mati

sekarang, rasanya juga tak tahan lama lagi, tapi kau mampu memanggul

seorang lelaki kekar dan menyembunyikannya, bukankah ini lelucon yang

paling mustahil di dunia ini?”

Tergerak hati Oh Yok-su, pikirnya, “Ya, betul juga, tentu di balik ini pasti ada

muslihat tertentu. Agaknya bukan urusan mudah apabila orang ingin menipu

‘ikan kecil’ ini.”

Namun sikap Kang Giok-long tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan

perlahan, “Apabila mereka tidak terbius olehku, lalu ke mana perginya mereka?

Memangnya Pek San-kun akan mengajak Hoa-kongcu pergi pesiar? Apakah

ini bukan lelucon yang lebih besar?”

“Betul, seumpama mereka hendak pesiar juga pasti akan membawa serta kau,”

jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Orang yang menyenangkan seperti dirimu ini

mana tega ditinggal pergi begini saja.”

“Ya, memang begitulah,” kata Giok-long dengan tertawa tanpa kikuk sedikit

pun.

Kembali Siau-hi-ji melototi Kang Giok-long dan berkata, “Tapi kalau mendadak

Hoa-kongcu tinggal pergi, bukankah orang she Pek itu akan mengejarnya?”

“Sudah tentu akan mengejarnya,” jawab Giok-long.

“Nah, umpama dia merasa berat meninggalkan kau, tapi demi mengejar Hoa

Bu-koat terpaksa juga ia kesampingkan dirimu,” kata Siau-hi-ji.

“Hahahaha!” tiba-tiba Kang Giok-long tertawa. “Daya khayal Hi-heng sungguh

sangat hebat, cuma sayang Hoa-kongcu itu ….”

“Hoa-kongcu kenapa?” sela Siau-hi-ji, ia benar benar rada cemas.

“Kenapa Hi-heng tidak tanya saja pada Oh-siansing ini,” ujar Giok-long dengan

acuh. “Coba tanyakan apakah Hoa-kongcu masih dapat berjalan atau tidak?”

Segera sorot mata Siau-hi-ji menatap ke arah Oh Yok-su, katanya, “Baik, coba

katakan.”

Oh Yok-su menghela napas, tuturnya, “Ya, bukan saja Hiat-to Hoa-kongcu

tertutuk, bahkan dia seperti mengalami guncangan jiwa sehingga kehilangan

ingatan, mungkin … mungkin dia tidak sanggup jalan sendiri.”

Siau-hi-ji termenung, dengan jari ia ketuk-ketuk dahi sendiri, setelah berpuluh

kali mengetuk dahi, kemudian tersembul pula senyumannya dan berkata,

“Wah, jika demikian, jadi mereka benar-benar terbius olehmu?”

“Mungkin memang betul,” kata Giok-long dengan terkekeh-kekeh.

“Dan setelah mereka roboh, lalu kau memanggul mereka keluar?” tanya Siauhi-

ji sambil berkedip-kedip.

“Penyakitku ini terkadang sembuh dan terkadang kumat lagi, bilamana kumat,

jangankan memanggul orang, dipanggul orang pun rasanya tidak tahan. Tapi

kalau tidak kumat, untuk memanggul seorang saja bukan soal bagiku.”

Siau-hi-ji lantas melirik ke arah Oh Yok-su, dilihatnya Oh Yok-su menganggukangguk.

“Nah, apa yang kukatakan tidak dusta bukan?” ucap Kang Giok-long.

“Ya, tidak dusta, memang tidak dusta,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi

setelah kau memanggul pergi kedua orang itu, mengapa kau kembali lagi ke

sini? Apakah badanmu terasa gatal sehingga perlu menunggu di sini agar

dipukuli orang?”

Kang Giok-long tetap tenang-tenang saja dan juga tidak marah, katanya

dengan tertawa, “Peng-ji kan masih berada di tangan mereka, mana boleh

kutinggal pergi? Seumpama kutahu Hi-heng akan datang dan bakal

mencincang tubuhku juga tetap akan kutunggu di sini untuk bertemu sekali lagi

dengan Peng-ji.”

Siau-hi-ji mencibir, ucapnya dengan tertawa, “Wah, sejak kapan Kang Gioklong

telah berubah menjadi orang yang penuh kasih sayang, lucu sungguh lucu

….”

Thi Peng-koh menjadi terharu dan tidak tahan lagi, ia menubruk ke bawah kaki

Kang Giok-long dan menangis tersedu-sedan.

Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, “Budak bodoh, apabila bocah ini bilang

kentutnya harum, apakah kau pun percaya padanya?”

Betapa pun Siau-hi-ji adalah lelaki yang tidak memahami perasaan seorang

perempuan, apalagi gadis remaja seperti Thi Peng-koh. Apabila seorang gadis

sudah terpikat oleh lelaki, sekalipun dia tahu lelaki itu telah menipunya juga

tetap akan percaya padanya.

Terdengar Thi Peng-koh berkata dan menangis, “Apakah parah penyakitmu?

Sakit tidak?”

Perlahan Giok-long membelai rambut Peng-koh, ucapnya dengan suara

lembut, “Sekalipun sakit, apabila melihatmu lantas tidak terasa sakit lagi.”

“Akan tetapi aku … aku ….”

“Kutahu kau pasti tidak sengaja menyaksikan aku dipukuli orang, kau tentu

mempunyai kesulitannya sendiri, sama sekali aku tidak menyalahkanmu, maka

kau tidak perlu sedih.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji berteriak, “Sudah, sudahlah, aku jadi merinding

mendengarkan rayuanmu yang berbau gombal ini, sudah tamat belum

sandiwara permainanmu ini?”

“Memangnya Hi-heng ada pesan apa?” ucap Giok-long.

Siau-hi-ji menghela napas, katanya sambil menyengir, “Sekarang kau yang

pegang barangnya, kau juragannya, maka silakan kau yang buka harga.”

Dengan kalem Giok-long berkata, “Apakah Hi-heng tahu penyakitku ini berasal

dari mana?”

Berputar mata bola Siau-hi-ji, katanya, “Jangan-jangan So Ing ….”

“Betul,” tukas Giok-long. “Penyakitku ini memang berkat hadiah nona So ….

Bukankah Hi-heng mempunyai hubungan baik dengan nona So Ing itu?”

“Jika aku tidak kenal dia, mana bisa timbul kesulitan sebanyak ini,” ucap Siauhi-

ji dengan gegetun.

“Ini pun bukan kesulitan,” kata Giok-long. “Asalkan Hi-heng mencari nona So

agar menyembuhkan penyakitku ini, maka Siaute akan segera juga

mengundang Hoa-kongcu kemari untuk mengobati penyakitnya.”

“Tapi kalau So Ing tidak mau, lalu bagaimana?”

“Perempuan mana di dunia ini yang sanggup menolak permintaan Hi-heng?”

Siau-hi-ji menghela napas panjang, gumamnya, “Perempuan, o, perempuan ….

Apabila tiada seorang perempuan yang kukenal, maka hidupku pasti bahagia

seperti di surga.”

“Jadi Hi-heng sudah terima?” tanya Giok-long dengan tersenyum.

“Baik, ayolah berangkat,” jawab Siau-hi-ji.

“Siaute juga mesti ikut pergi?” tanya Giok-long.

“Ya, soalnya aku pun merasa berat meninggalkanmu sendirian di sini.”

“Kukira kepergian ini tidak diperlukan lagi,” tiba-tiba Oh Yok-su menyela.

“Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab nona So itu segera akan datang kemari,” tutur Oh Yok-su perlahan.

Giok-long juga melengak, tanyanya, “Dari mana kau tahu dia akan datang ke

sini?”

“Seperti halnya nona Thi ini denganmu, nona So juga … juga sangat mendalam

cintanya kepada Hi … Hi-kongcu,” tutur Oh Yok-su dengan tertawa. “Ketika

Siau-hi-kongcu meninggalkan tempatnya, segera pula dia ikut keluar.”

“Haha, daya tarik Hi-heng sungguh luar biasa,” seru Giok-long sambil

berkeplok tertawa. Lalu dia berkerut kening pula dan berkata, “Tapi sekalipun

nona So ikut keluar mencari Hi-heng, belum tentu dia akan mencari ke sini.”

“Untuk ini kau tidak perlu khawatir, dia pasti akan mencari kemari,” kata Oh

Yok-su dengan tersenyum.

Giok-long berpikir sejenak, katanya kemudian, “Betul juga, karena kalian

berniat menggunakan Hi-heng untuk memerasnya, maka sepanjang jalan

kalian sengaja meninggalkan jejak agar dia dapat menyusul ke sini.”

“Jika begitu, bolehlah kita menunggunya di sini,” ucap Siau-hi-ji dengan

menghela napas.

Giok-long memandang cuaca di luar, katanya kemudian, “Semoga di tengah

jalan dia tidak kepergok siapa-siapa ….”

*****

Dalam pada itu Pek-hujin yang ditinggalkan berendam di sungai itu sedang

berusaha melepaskan Hiat-to yang tertutuk, sedikit demi sedikit ia bergeser ke

bawah air terjun, setelah berusaha sekian lamanya, berkat daya gerujuk air

terjun yang tepat mengenai Hiat-to di telapak kaki, akhirnya terbukalah Yongcoan-

hiat yang tertutuk itu.

Namun sekarang dia sudah hampir kehabisan tenaga, untuk melompat dari

batu sini ke batu yang lain pun terasa susah.

Apabila memberosot lagi ke dalam air dan berenang ke sana, jangan-jangan

akan terhanyut oleh arus air yang cukup deras dan akibatnya pasti akan mati

kelelap.

Sekuatnya ia menegakkan badannya dengan bingung, selagi celingukan kian

kemari mencari akal, tiba-tiba diketahuinya di balik semak-semak sana

sepasang mata sedang mengintip bagian dadanya.

Muka orang itu penuh lumpur, entah sudah berapa lama tidak pernah cuci

muka, namun sepasang matanya tampak besar lagi terang, seperti sangat

tertarik oleh tubuh Pek-hujin yang bugil ini.

Mendadak Pek-hujin sengaja bergaya malah dan membusungkan dadanya

sehingga semakin menonjol. Ucapnya dengan tertawa genit, “Anak muda,

memangnya kau tak pernah melihat perempuan mandi?”

Orang ini seperti terkesima, dengan bingung ia menggeleng.

Dengan tertawa Pek-hujin lantas mengomel, “Asalkan kau tidak takut matamu

bakal timbilan silakan keluar saja dan menonton dengan blak-blakan. Ai,

kasihan, sudah sebesar ini, masa perempuan mandi saja tidak pernah lihat,

kan sia-sia saja hidupmu ini.”

Sekonyong-konyong orang itu tertawa, “Tidak perlu takut engkau, aku … aku

pun perempuan.” Sembari bicara orangnya lantas berdiri dari balik semaksemak.

Terlihat pakaiannya sangat kotor lagi koyak-koyak, akan tetapi tidak

mengurangi garis tubuhnya yang memesona.

Pek-hujin jadi melengak malah, bahkan dia seperti rada-rada kecewa.

“Aku benar-benar seorang perempuan, masa kau tak dapat membedakannya?”

kata pula orang itu.

Pek-hujin menghela napas, ia tatap pinggang orang yang ramping dengan

dadanya yang montok serta kedua kakinya yang jenjang. Ucapnya dengan

gegetun, “Ya, dengan sendirinya kau adalah perempuan … sekalipun orang

buta juga pasti tahu.”

Muka gadis itu menjadi merah malah, merah yang menggiurkan. Nyata gadis

ini sekali-kali tidak jelek, bahkan tampaknya sangat cantik.

Pek-hujin masih terus menatapnya lekat-lekat, dengan tersenyum ia coba

memancingnya, “Melihat keadaan nona, jangan-jangan baru saja menempuh

perjalanan jauh?”

“Ehm,” gadis itu bersuara singkat sambil menunduk.

“Pegunungan ini tiada sesuatu pun yang menarik, untuk apakah jauh-jauh nona

datang ke sini?”

Tiba-tiba wajah si gadis menampilkan perasaan sedih, setelah termangumangu,

lalu menjawab dengan muram, “Aku … aku mencari orang.”

Tergerak hati Pek-hujin, tanyanya, “Penduduk di lereng sini hampir seluruhnya

kukenal, entah siapakah yang dicari nona?”

Gadis itu menunduk, katanya dengan menghela napas, “Kau pasti tidak kenal

dia, ia pun tidak pasti berada di sini.”

Apa pun juga, seorang gadis berani mencari orang ke pegunungan yang

terpencil dan sunyi begini jelas bukan kejadian yang biasa, di balik urusan ini

tentu ada sesuatu yang menarik.

Bila dalam keadaan biasa pasti Pek-hujin akan bertanya sejelasnya, tapi

sekarang ia harus memikirkan keadaannya sendiri, mana dia sempat menanyai

rahasia orang lain. Sedangkan gadis itu tampaknya sudah mau pergi. Cepat

Pek-hujin berkata pula dengan tertawa, “Eh, siapakah nama nona? Bolehkah

diberitahukan padaku?”

Gadis itu ragu-ragu dan tidak bersuara.

Pek-hujin lantas menyambung, “Kaum lelaki yang biasa berkelana di rantau

memang mudah mengikat persahabatan dengan orang yang dikenalnya,

mengapa kaum wanita seperti kita tidak boleh bersahabat juga. Ya, mungkin

kaum wanita seperti kita memang harus lebih hati-hati menghadapi sesuatu.”

Dengan muka merah gadis itu berucap dengan tersenyum, “Namaku Thi Simlan.”

Akhirnya Thi Sim-lan duduk di tepi sungai. Ia merasa perempuan ini agak

terlalu berani karena berani mandi telanjang bulat di sungai, namun perempuan

ini sedemikian cantik, sedemikian simpati.

Selama beberapa hari dia selalu berada dalam keadaan berduka dan tersiksa

lahir batin, datangnya ke sini dengan sendirinya ingin mencari Siau-hi-ji dan

Hoa Bu-koat. Tapi bilamana benar-benar mereka sudah diketemukan, lalu mau

apa dia sungguh ia sendiri pun sukar menjawabnya.

Kini cahaya sang surya yang baru menyingsing menyinari bumi raya ini, segala

sesuatu di jagat raya ini terasa sedemikian menyenangkan, senyuman wanita

ini pun terasa sangat simpati. Untuk pertama kalinya perasaan Thi Sim-lan

terasa longgar, tanpa terasa dilepaskannya sepatunya yang sudah butut,

kakinya yang putih halus direndamkan di air sungai.

Kaki yang sudah pegal dan rada kencang itu mendadak berendam dalam air

sungai yang segar, rasanya yang nikmat membuat pikirannya melayang-layang

dan tanpa terasa mengeluh perlahan lalu memejamkan mata.

Sejak awal Pek-hujin terus-menerus mengawasi gerak-gerik Thi Sim-lan,

dengan suara halus ia berkata, “Kenapa kau tidak meniru aku, mandilah

sepuas-puasnya di sini.”

“Mandi di sini?” Sim-lan menegas dengan muka merah.

Pek-hujin menatapnya lekat-lekat, katanya kemudian, “Masa kau tidak berani?”

Tertarik juga hati Thi Sim-lan memandangi air sungai yang jernih dan nyaman

itu, ucapnya dengan terkikik-kikik, “Tapi … tapi di sini ….”

“Jangan khawatir,” ujar Pek-hujin. “Setiap hari aku selalu mandi satu kali di sini,

selain dirimu, belum pernah kepergok orang lain.”

“Apa … apakah benar jarang orang datang ke sini?”

“Jika sering didatangi orang, masa aku berani mandi di sini?”

Tambah tertarik hati Thi Sim-lan, ia melirik Pek-hujin sekejap, dengan muka

merah ia berkata pula, “Tapi … tapi biarlah aku cuci kaki saja.”

“Masa kau khawatir aku mengintipmu?” ucap Pek-hujin dengan tertawa genit.

“Bukankah aku pun seorang perempuan?”

“Ya, masa aku tak tahu,” jawab Sim-lan tertawa.

“Nah, apa pula yang kau khawatirkan?” bujuk Pek-hujin pula. “Jika kau

khawatir terlihat olehku, biarlah aku memejamkan mata, setelah kau buka

pakaian cepat menyusup ke dalam air dan aku pun takkan melihatmu lagi.”

Namun Thi Sim-lan masih tetap ragu.

Pek-hujin lantas memejamkan matanya dan berkata dengan tertawa, “Nah,

lekas, takut apalagi? Setelah mandi tentu akan kau rasakan enaknya.”

Thi Sim-lan memandangnya sekejap, dipandangnya pula air yang bening

kehijau-hijauan itu, sesungguhnya tubuhnya memang sangat kotor dan terasa

gatal, betapa pun ia tak tahan akan pancingan mandi bebas itu.

“Nah, sudah belum?” dengan tertawa Pek-hujin bertanya.

Lekas Sim-lan menjawab, “Be … belum, jangan … jangan membuka mata

sekarang, se … sebentar lagi.”

Cepat ia menyelinap ke balik semak-semak dan membuka baju secara kilat,

meski tiada orang yang mengintip, namun cahaya sang surya sudah menyinari

dadanya yang montok itu.

Sekujur badan serasa merinding semua, jantung juga berdebar seakan-akan

melompat dari rongga dadanya, secepat terbang ia terjun ke dalam air, air

yang segar dan rada hangat itu segera melingkupi seluruh tubuhnya. Baru

sekarang dia menghela napas lega dan berseru, “Baiklah, sudah!”

Pek-hujin membuka mata dan memandangnya, katanya dengan tertawa,

“Segar bukan?”

“Ehm,” Thi Sim-lan mengangguk.

“Baiklah, sekarang aku pun akan turun, harap bantu memegangi aku,” kata

Pek-hujin, baru sekarang ia benar-benar merasa lega, perlahan ia merosot ke

dalam air.

Arus sungai memang cukup deras, kedua kaki Pek-hujin terasa lemas, untung

Thi Sim-lan bantu memayangnya, kalau tidak pasti sukar untuk berenang ke

tepi sungai, andaikan tidak mati tenggelam juga pasti akan hanyut terbawa

arus.

Melihat Pek-hujin hampir tidak kuat berdiri di dalam air, cepat Thi Sim-lan

memegangnya dan bertanya, “Ken … kenapa kau hendak pergi?”

“Aku cuma naik ke tepi sana untuk pasang mata bagimu kalau-kalau ada orang

datang, supaya kau dapat mandi dengan tenteram,” ujar Pek-hujin dengan

tertawa.

Sim-lan merasa lega, jawabnya, “Tapi jangan sekali-kali kau pergi terlalu jauh.”

Pek-hujin terkikik-kikik, katanya, “Ada si cantik sedang mandi di kali, masa aku

tega pergi terlalu jauh.”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah, sampai tangan pun tak berani dijulurkan

keluar air. Tiba-tiba ia merasakan mata kaum wanita terkadang juga sama

ngerinya seperti mata lelaki.

Sementara itu Pek-hujin telah dapat menepi berkat bantuan Thi Sim-lan tadi,

katanya, “Baiklah, aku akan berpakaian, kau juga tidak boleh mengintip lho!”

Padahal Thi Sim-lan sudah mendahului memejamkan mata, sekejap saja dia

tidak berani memandangnya. Bila melihat tubuh yang putih mulus itu, hati Thi

Sim-lan lantas berdebar-debar keras. Kembali dia menemukan suatu hal, yakni

perempuan yang telanjang bulat tidak saja penuh daya tarik bagi lelaki,

terkadang juga sama besar daya tariknya bagi sesama perempuan.

Dalam pada itu Pek-hujin sudah selesai memakai baju yang ditinggalkan Thi

Sim-lan. Meski pakaian itu sangat kotor lagi rombeng, tapi jauh lebih baik

daripada sama sekali tidak berbaju. Biarpun kulit muka Pek-hujin setebal kulit

badak juga tak berani keluyuran kian-kemari dalam keadaan bugil.

Thi Sim-lan masih memejamkan mata, setelah menunggu sejenak,

didengarnya Pek-hujin lagi berkata, “Bahan pakaian ini ternyata lumayan juga,

cuma sayang agak kotor.”

Tanpa tertahan Thi Sim-lan membuka matanya, mukanya menjadi pucat

karena terkejut, cepat ia berseru, “He, mengapa kau pakai bajuku?”

“Tidak pakai bajumu, habis pakai baju siapa lagi?” jawab Pek-hujin dengan

terkikik-kikik.

Jawaban Pek-hujin ini sungguh lucu dan tepat pula, seolah-olah dia memakai

baju orang lain adalah sesuatu yang adil dan pantas.

Thi Sim-lan jadi melengak malah, tanyanya dengan tergagap, “Dan baju …

bajumu sendiri?”

“Justru lantaran aku tidak punya baju, maka dengan segenap daya upayaku

memancingmu mandi, kalau tidak, sekalipun tubuhmu berbau seperti kakus

juga aku tidak pusing.”

“Jika bajuku kau pakai, lalu aku bagaimana?” seru Sim-lan dengan suara rada

gemetar.

“Silakan mandi lebih lama sedikit di sini,” kata Pek-hujin dengan tertawa.

“Orang yang berlalu lalang di sini kan tidak sedikit, meski hampir semuanya

lelaki, tetapi lelaki juga ada yang baik hati, bisa jadi salah seorang di antaranya

mau menolongmu dengan membuka celananya untukmu ….”

Uraian Pek-hujin ini membikin Thi Sim-lan bertambah cemas, hampir-hampir

saja ia menangis. Sebaliknya Pek-hujin tertawa terpingkal-pingkal, lalu berkata

pula, “Kukira kau belum pernah memakai celana kaum lelaki bukan? Ya, meski

agak lebih besaran, tapi rasanya longgar dan tembus angin, jauh lebih enak

daripada celana belah selangkang yang pernah kau pakai waktu kecil.”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah, bentaknya dengan suara parau, “Kau orang

gila, kau perempuan jahat, lekas kembalikan pakaianku!”

Saking geregetan, Thi Sim-lan hampir-hampir menerjang keluar dari sungai.

Tapi Pek-hujin lantas bertepuk tangan dan berteriak-teriak, “Haha, ada

tontonan menarik! Ayo kemarilah, lihat di sini ada perempuan telanjang bulat!”

Baru saja setengah badan Thi Sim-lan menongol di permukaan air, saking

takutnya cepat dia membenamkan diri pula sebatas leher, teriaknya dengan

suara gemetar, “Paling … paling tidak kau tinggalkan sepotong bagiku ….”

Namun Pek-hujin tidak menggubrisnya lagi, dengan tertawa ngikik ia terus

tinggal pergi.

Saking gusarnya Thi Sim-lan lantas mencaci maki, “Kau … kau bukan manusia,

kau binatang, kau anjing betina ….”

Tanpa menoleh Pek-hujin menyahut dari kejauhan, “Makilah sesukamu! Cukup

sebentar lagi tentu setiap lelaki yang tinggal di sekitar sini akan terpancing

kemari!”

Thi Sim-lan menjadi takut dan tidak berani bersuara pula.

Sambil meringkuk di dalam air, tanpa terasa air mata lantas bercucuran.

Sebenarnya ia tidak percaya bahwa seorang dewasa dapat menangis

kehabisan akal seperti anak kecil, baru sekarang ia tahu bahwa segala apa

pun mungkin terjadi di dunia ini. Berpikir demikian, segera timbul harapannya

bukan tidak mungkin ada seorang lelaki yang kebetulan lewat dan mau

meminjamkan celana baginya.

Di sebelah kiri sungai sana adalah sebuah hutan, setelah menyusuri hutan itu,

Pek-hujin melanjutkan perjalanan dengan cepat. Diam-diam ia pun kebat-kebit

entah Siau-hi-ji yang sialan itu telah mengapakan suami dan gendaknya?

Tiba-tiba ia lihat ada beberapa potong pakaian semampir di ranting pohon di

depan sana, bajunya berwarna dasar merah bersulam bunga mawar yang

indah memesona.

Sekalipun emas intan, ratna mutu manikam, dengan keadaan Pek-hujin

sekarang mungkin takkan dipandangnya barang sekejap, tapi seperangkat

pakaian perempuan yang indah, daya tariknya benar-benar teramat besar bagi

Pek-hujin, betapa pun ia tidak ingin memakai baju yang rombeng dan kotor

begini untuk menemui sang suami.

Dia terus mengincar pakaian itu, langkahnya mulai diperlambat, cuma hati

masih ragu-ragu, dan tidak berani meraih pakaian itu.

Pakaian seindah ini tidak mungkin tumbuh dari pohon itu. Jika demikian, dari

mana datangnya pakaian ini? Mengapa bisa semampir di pohon?

Diam-diam ia waswas, ia coba memperingatkan dirinya sendiri, “Awas, bisa

jadi ini cuma suatu perangkap, jangan mencari gara-gara lagi.” Berpikir

demikian, hakikatnya ia tidak mau memandang lagi ke sana.

Akan tetapi pakaian itu sesungguhnya teramat indah. Lebih-lebih bunga

sulamannya, bahannya juga dari sutera yang halus, warnanya yang serasi,

semua ini sangat memikat.

Kalau menyuruh perempuan jangan memandang pakaian yang indah, rasanya

terlebih sulit daripada menyuruh lelaki jangan memandang perempuan cantik.

Akhirnya Pek-hujin mengambil keputusan, “Paling-paling hanya sepotong

pakaian saja, memangnya pakaian bisa bergigi dan menggigit orang?”

Memang betul, hanya sepotong pakaian saja yang menggapai-gapai, tiada

cacat dan tiada tanda-tanda mencurigakan, setiap orang dapat mengambilnya

tanpa mendatangkan kesulitan apa-apa.

Tampaknya Pek-hujin terlalu banyak curiga, semula ia mengira di bawah

pohon ada lubang jebakan sehingga siapa yang hendak meraih pakaian itu

akan kejeblos. Atau mungkin juga di atas pohon terpasang sesuatu perangkap.

Sebab itulah waktu dia menjulurkan tangan untuk mengambil baju itu, ia benarbenar

siap tempur seperti menghadapi musuh tangguh.

Akan tetapi nyatanya dengan sangat mudah baju itu sudah dapat diambilnya,

pakaian ini seperti mendadak jatuh dari langit atau tumbuh dari pohon itu dan

sedang menanti di sini untuk dipakai olehnya.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Pek-hujin lantas membuang pakaiannya yang

kotor dan rombeng itu, dengan gerakan yang paling cepat ia ganti pakaian

baru, sutera yang halus itu menyentuh tubuh mulus yang habis tercuci bersih

laksana belaian tangan sang kekasih.

Tapi tangan sang kekasih ini rasanya tidak beres, mula-mula seperti membelai

punggung, tapi dengan cepat menjalar ke bagian dada, terus ke pantat, ke

paha dan sekujur badan rasanya menjadi gatal-gatal geli. Semula seperti

seekor ulat kecil yang merambat dari kuduknya menurun ke bawah sampai

akhirnya ulat ini seakan-akan berubah menjadi beratus dan beribu banyaknya

dan merambat kian kemari di setiap pelosok tubuhnya.

Sungguh luar biasa gatalnya, hampir-hampir gila rasa gatalnya, sampai-sampai

berjalan saja tidak sanggup lagi, kedua tangan Pek-hujin terus menggarukgaruk

dan mencakar-cakar kian kemari, tapi semakin menggaruk semakin gatal

rasanya, bukan cuma tubuh merasa gatal, hati pun ikut gatal.

Rasanya sungguh sukar dilukiskan, ya enak, ya geli, ya sakit, ingin menangis,

ya ingin tertawa … sampai akhirnya ia terus mengesot di tanah sambil terkikikkikik

seperti orang gila.

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berkata dengan suara nyaring

merdu, “Enak bukan baju yang kau pakai itu?”

Rupanya pada baju itulah timbulnya penyakit. Keruan Pek-hujin terkejut dan

membentak, “Siapa itu?”

“Masa suaraku saja tidak kau kenal lagi?” ucap orang itu dengan tertawa. Lalu

muncul seorang dari kejauhan dengan langkahnya yang gemulai, pakaiannya

berwarna kuning gading, orangnya cantik, gayanya memesona. Orang ini

ternyata So Ing adanya.

Terkesiap Pek-hujin, serunya, “Kau? Baju ini kepunyaanmu?”

“Baju itu baru kubikin, belum pernah kupakai, indah bukan?” ucap So Ing

dengan tersenyum.

Saking gatalnya Pek-hujin hampir tidak dapat bicara lagi, tubuhnya digosokgosokkan

pada sebatang pohon, dengan suara gemetar ia tanya, “Bajumu ini

ditaruhi apa?”

“Ah, tidak ada apa-apanya, hanya kuberi sedikit obat gatal,” tutur So Ing.

“Selang beberapa hari obat itu akan hilang dengan sendirinya.”

Pek-hujin masih kelabakan menggosok tubuhnya di batang pohon, hampir gila

dia karena tidak tahan rasa gatalnya, kalau bisa ingin dia dicambuki orang

sekuatnya, sedetik saja tidak dapat menunggu, apalagi selang beberapa hari

lagi, sungguh ia rela mati saja.

Dengan tertawa So Ing berkata pula, “Baju baru ini akan kupakai untuk

bertemu dengan kekasihku, jika kau rusak harus kau ganti nanti.”

Seperti orang kalap Pek-hujin lantas tarik baju itu hingga robek, teriaknya

parau, “Aku tidak memusuhimu, mengapa kau mencelakai aku?”

“Coba renungkan dulu, pernahkah kau berbuat sesuatu terhadapku?” jengek

So Ing.

Meski sekarang Pek-hujin menanggalkan pakaian itu, tapi rasa gatalnya tetap

tidak kepalang, ia merangkak di tanah dan tergeliat-geliat, dengan air mata

meleleh ia memohon, “O, nona yang baik, adik terhormat, aku mengaku salah,

ampunilah diriku.”

“Apakah begitu hebat rasa gatalnya?” tanya So Ing dengan tenang.

“Ya, baru sekarang kutahu di dunia ini tiada sesuatu yang lebih menderita

daripada rasa gatal,” kata Pek-hujin.

“Jika begitu, coba jawab, kau yang menculik Hoa Bu-koat bukan?” tanya So

Ing.

Dalam keadaan demikian mana Pek-hujin berani menyangkal, cepat ia

mengangguk dan berkata, “Ya, ya, aku yang menculiknya, sungguh pantas

mampus aku.”

“Di mana kau sembunyikan dia?” tanya So Ing dengan gusar.

“Di belakang bukit sana, di lembah sana ada sebuah rumah kecil ….”

“Apakah rumah batu itu?

“Ya, ya, engkau pun sudah tahu.”

“Apakah benar-benar kau sembunyikan dia di sana?” So Ing menegas setelah

berpikir sejenak.

“Betul, masa aku berani mendustai nona?” jawab Pek-hujin sambil meringis.

Air muka So Ing seperti berubah sedikit, ucapnya sambil menggeleng, “Di

pegunungan sunyi begini bisa terdapat rumah batu sekukuh itu, apakah kalian

tidak merasa heran?”

Setelah berpikir, tiba-tiba Pek-hujin juga merasa heran, tanyanya kemudian,

“Ya, apakah rumah batu itu ada sesuatu yang aneh?”

So Ing menggeleng dan tidak menjawab.

Sudah tentu Pek-hujin tidak sempat bertanya lebih lanjut urusan ini, betapa pun

dia sedang kelabakan oleh rasa gatalnya yang tak tertahan, dengan cepat ia

memohon, “Sudah kukatakan semuanya, kumohon engkau mengampuni diriku

sekarang.”

So Ing tertawa, tanyanya, “Barusan kau datang dari mana?”

Setelah melenggong sejenak, akhirnya Pek-hujin menjawab, “Dari sungai

sana.”

“Jika begitu boleh kau kembali lagi ke sana!” ucap So Ing.

*****

Dalam pada itu Thi Sim-lan sedang kedinginan karena berendam sekian

lamanya dalam sungai, kaki dan tangan serasa hampir beku. Namun dia harus

memandang kian kemari, ia khawatir kalau-kalau mendadak ada lelaki nakal

muncul di situ. Untung juga keadaan tetap sunyi senyap tiada bayangan

seorang pun.

Sebenarnya ia pun pernah berpikir hendak meninggalkan sungai ini, tapi

seorang nona yang telanjang bulat bisa berbuat apa dan mau ke mana?

Apabila mendadak kepergok lelaki kan bisa …. Begitulah, pada hakikatnya ia

tidak berani membayangkan bagaimana akibatnya.

Tengah bingung, sekonyong-konyong dilihatnya dari depan sana kembali ada

seorang perempuan bugil sedang berlari-lari mendatangi, “plung”, langsung

perempuan telanjang itu terjun ke dalam air dengan napas terengah-engah.

Thi Sim-lan terkejut di samping merasa heran dan geli pula, mestinya dia tidak

ingin memandangnya, tapi sekilas melirik, diketahuinya perempuan ini bukan

lain daripada perempuan sialan yang kabur dengan menipu pakaiannya tadi.

Sungguh aneh, mengapa dia lari kembali ke sini lagi dalam keadaan telanjang

bogel?

Dengan terbelalak heran, Thi Sim-lan jadi tidak sanggup bersuara.

Setelah terjun ke dalam air, rasa gatal Pek-hujin lantas berhenti seketika.

Melihat Thi Sim-lan sedang memandangnya, ia balas menyengir dan berkata,

“Hihi, aku kembali lagi, kau heran bukan?”

“Ehm,” Sim-lan mendengus.

“Hihihi, soalnya aku tiada hobi lain kecuali mandi,” ujar Pek-hujin dengan

tertawa.

Mendadak Thi Sim-lan menubruk ke sana dan menjambak rambut Pek-hujin

sambil membentak, “Mana bajuku? Kembalikan!

“Inilah bajumu!” tiba-tiba seorang menukas dengan tersenyum.

Waktu Thi Sim-lan menoleh segera dilihatnya So Ing berdiri di tepi sungai

laksana sekuntum bunga teratai yang baru mekar. Ia merasa selama hidup ini

belum pernah melihat nona secantik ini, meski dia sendiri juga perempuan,

tidak urung ia memandangnya dengan terkesima.

So Ing tertawa dan bertanya pula, “Betulkah ini bajumu?”

Sim-lan menunduk dengan muka merah, jawabnya lirih, “Ya, bajuku.”

“Jika kau tidak ingin mandi lagi, silakan naik dan pakai bajumu,” kata So Ing.

Meski malu, mau tak mau Thi Sim-lan keluar dari sungai, secepat terbang ia

terima baju itu terus lari ke balik semak-semak sana.

“Aku pun ingin keluar,” kata Pek-hujin dengan menyengir.

“Mau keluar boleh keluar, kan tiada yang merintangimu” ujar So Ing acuh.

Segera Pek-hujin memanjat ke atas batu, tak terduga, seketika rasa gatal itu

kambuh lagi, gatalnya sungguh tidak kepalang. Cepat ia memberosot ke dalam

air pula.

“Kenapa kau tidak jadi naik?” tanya So Ing dengan tertawa.

Pek-hujin hanya meringis saja. Katanya kemudian, “Tapi … tapi aku kan tak

dapat berendam terus-menerus begini?”

“Asalkan tidak merasa gatal lagi, setiap saat kau boleh naik,” kata So Ing.

“Harus … harus menunggu sampai kapan?”

“Bisa jadi setengah hari, dua hari atau empat hari …. Katanya hobimu adalah

mandi, nah, silakan mandi sepuas-puasmu!”

Pek-hujin melenggong dan tak dapat bersuara pula, hampir ia jatuh pingsan

saking gemasnya.

Sementara Thi Sim-lan sudah selesai berpakaian, ia mendekati So Ing dan

memberi hormat, katanya, “Terima kasih atas pertolongan nona.”

Baju yang dipakainya itu kotor lagi rombeng, namun betapa pun tidak dapat

menutupi gadis cantik yang habis mandi dengan wajahnya yang kemerahmerahan

seperti buah apel.

Tanpa terasa So Ing menarik tangan Thi Sim-lan, katanya dengan tertawa,

“Nona secantik ini, sungguh aku pun kesengsem, kaum lelaki seharusnya antri

dan berlutut memohon di depanmu, mengapa malah kau yang bersusah payah

mencari mereka?”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah, jawabnya dengan tergagap, “Aku … aku ….”

“Memangnya yang hendak kau cari bukan lelaki?”

Sim-lan menunduk dan terpaksa mengiakan.

“Lelaki manakah yang punya rezeki sebesar itu?” kata So Ing dengan tertawa.

“Dia … dia ….”

“Tidak perlu kau katakan, toh aku tidak kenal dia,” ujar So Ing sambil berjalan.

Thi Sim-lan ikut berjalan sejenak, ucapnya kemudian sambil menghela napas

perlahan, “Memang paling baik apabila engkau tidak pernah kenal dia.”

“Kenapa?” tanya So Ing dengan tertawa geli, “Masa orang yang kenal dia akan

tertimpa sial?”

Di luar dugaan Thi Sim-lan lantas manggut-manggut dan menjawab, “Ehm.”

So Ing berpaling dan memandangnya dengan terbelalak, “Siapa namanya?”

tanyanya.

Thi Sim-lan tidak memperhatikan perubahan sikap So Ing itu, dengan gegetun

ia menjawab, “Dia she Kang, orang memanggilnya Siau-hi-ji.”

Siau-hi-ji, nama ini membuat hati So Ing berdetak keras, akhirnya diketahui

juga bahwa gadis yang berada di sebelahnya ini ternyata adalah saingannya,

saingan cinta.

Dipandangnya wajah Thi Sim-lan secantik bunga, kecut rasa hatinya, pikirnya,

“Wahai Siau-hi-ji, tampaknya tidak keliru pilihanmu ini.”

Dilihatnya mendadak Thi Sim-lan tertawa dan berucap, “Siau-hi-ji, masa

namanya disebut Siau-hi-ji, engkau merasa lucu tidak?”

So Ing tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa, “Ya, sangat lucu.”

“Tapi tingkah lakunya justru sangat menjengkelkan, terkadang kau bisa dibikin

mati gemas olehnya,” ucap Sim-lan dengan rawan.

So Ing berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Apakah kau benci padanya?”

Sim-lan menunduk, jawabnya, “Terkadang aku memang gemas dan benci

padanya, tapi terkadang ….”

“Terkadang kau suka juga padanya,” tukas So Ing dengan tertawa.

“Memangnya kau sangat suka padanya, begitu bukan?”

Thi Sim-lan hanya menggigit bibir sambil mengikik.

Melenggong sejenak So Ing, mendadak ia berseru, “Tapi dia kan juga belum

pasti suka padamu, betul tidak?”

Thi Sim-lan termangu-mangu sejenak, sorot matanya berubah menjadi halus,

tersembul juga senyuman manis pada ujung mulutnya, dengan menunduk ia

menjawab perlahan, “Meski kadang-kadang ia tidak baik padaku, tapi lebih

sering dia … dia sangat baik padaku.”

Melihat kerlingan mata dan senyuman manis Thi Sim-lan yang penuh arti itu,

So Ing tahu orang lagi mengenangkan Siau-hi-ji, seketika hati So Ing seperti

ditusuk-tusuk jarum, sungguh kalau bisa ia pun ingin merogoh keluar hati Thi

Sim-lan dan ditusuk-tusuknya berpuluh kali agar selanjutnya nona itu tidak

berani memikirkan Siau-hi-ji lagi.

Sama sekali Thi Sim-lan tidak melihat perubahan sikap So Ing itu, dengan

termangu-mangu ia memandang gumpalan awan di atas langit, gumpalan

awan itu seakan-akan telah berubah menjadi wajah Siau-hi-ji yang selalu

berseri-seri itu.

Dengan suara lembut kemudian ia menyambung pula, “Sudah beberapa tahun

kukenal dia, selama ini meski banyak membawa penderitaan hagiku, tapi juga

lebih banyak memberikan kebahagiaan padaku. Sesungguhnya aku … aku

harus merasa puas.”

So Ing berpaling ke sana dan sengaja berteriak, “Seumpama dia terkadang

sangat baik padamu, ini pun bukan bukti bahwa dia benar-benar suka padamu.

Bisa jadi, memang begitulah sikapnya terhadap setiap anak perempuan, atau

mungkin juga dia jauh lebih baik kepada orang lain daripadamu.”

“Asalkan dia baik padaku, bagaimana dia perlakukan pada orang lain tak

kupusingkan,” ujar Sim-lan dengan lirih.

“Kau tidak cemburu?” tanya So Ing.

“Ada sementara lelaki yang pada dasarnya tidak dapat dimiliki hanya oleh

seorang perempuan,” ujar Sim-lan dengan tertawa, “Justru orang demikianlah

Siau-hi-ji, jika aku cukup memahami pribadinya, maka aku pun tidak perlu

cemburu padanya.”

So Ing tercengang sejenak, jengeknya kemudian, “Hm, tak tersangka kau

dapat berlapang dada.”

Sebenarnya ia ingin menusuk perasaan Thi Sim-lan, tak tersangka sang seteru

justru tidak marah sedikit pun, malahan ia sendiri berbalik kheki setengah mati.

Selang sejenak ia berkata pula, “Bisa jadi lelaki yang kau kenal cuma dia

seorang saja, makanya kau setia mati-matian padanya. Apabila lelaki yang kau

kenal tambah banyak, tentu akan kau temukan masih banyak lelaki lain yang

jauh lebih baik daripadanya.”

Tiba-tiba berubah juga air muka Thi Sim-lan, makin menunduk kepalanya.

“Kau setuju tidak dengan perkataanku?” tanya So Ing.

“Aku … aku ….” Sim-lan tergagap, suaranya terasa gemetar.

Baru sekarang So Ing mengetahui perubahan sikap Thi Sim-lan itu, seketika

terbeliak matanya katanya pula, “O, kukira lelaki yang kau kenal memang tidak

cuma dia saja, betul tidak?”

“Ehm,” Thi Sim-lan bersuara singkat dan menunduk pula.

So Ing menatapnya lekat-lekat, katanya pula “Selain dia, dalam hatimu masa

ada lagi seorang?”

Muka Sim-lan menjadi merah dan tidak menjawab.

So Ing tertawa, katanya, “Dugaanku pasti tidak keliru, pantaslah kau tidak

cemburu padanya.” Dia berkedip-kedip, lalu menarik tangan Sim-lan pula,

katanya dengan tertawa, “Siapakah yang seorang lagi itu? Apakah jauh lebih

baik daripadanya?”

Wajah Sim-lan bertambah merah dan sama sekali tidak mau menjawab.

So Ing tertawa nyaring dan tidak tanya pula, hanya dikatakannya, “Seorang

perempuan bilamana hatinya sudah terisi dua lelaki, walaupun sangat

memusingkan, tapi juga sangat menarik ….”

Thi Sim-lan memainkan ujung bajunya, selang sejenak, tiba-tiba ia berkata,

“Sekarang kau pasti menganggap aku ini perempuan busuk, bukan?”

“Mana bisa kuberpikir begitu,” jawab So Ing tertawa. “Apabila kau perempuan

busuk begitu, tentu akan kau anggap main cinta sama seperti makan kacang

goreng, tapi sekarang kau mencintai dua lelaki sekaligus, makanya kau serba

susah.”

“Sebenarnya hidupku ini sudah kuputuskan akan kuserahkan kepada Siau-hi-ji,

tak peduli dia baik atau busuk padaku tetap takkan mengubah pendirianku,

siapa tahu ….”

Mata So Ing mengerling, ucapnya dengan tertawa, “Siapa tahu ada lagi

seorang yang benar-benar teramat baik padamu dan membikin kau sukar

menolaknya, begitu bukan?”

Tiba-tiba Sim-lan mencucurkan air mata, jawabnya dengan terguguk, “Ya, tapi

kebaikannya padaku bukan lantaran ingin memiliki diriku ….”

“Semakin dia bersikap begitu, semakin tak enak hatimu padanya, begitu

bukan?” tukas So Ing.

“Ehm,” Sim-lan mengangguk.

“Hah, tingkah lelaki demikian ini sudah lama kuketahui dengan jelas,” kata So

Ing dengan tertawa.

“Kau … kau anggap dia sengaja bersikap demikian padaku?”

“Ya, aku mengakui caranya ini memang sangat pintar, terhadap perempuan

harus memakai jinak-jinak merpati, seperti didekati, tapi lantas menjauhi,

seperti hendak menangkapnya, tapi sengaja dilepaskan, bilamana terlalu

kencang kamu mengubernya, dia berbalik akan kabur malah.” Lalu dengan

tertawa So Ing menambahkan, “Aku juga perempuan, jiwa kaum perempuan

masa aku tidak paham?”

“Ini lantaran … lantaran kamu tidak tahu sebenarnya lelaki macam apakah dia

itu?” ujar Thi Sim-lan.

“Kutahu, dia pasti serupa Siau-hi-ji, ya pintar, ya ganteng, ya menyenangkan,

tapi terkadang pun rada menjengkelkan, hanya rada-rada menjengkelkan saja.”

“Salah kau,” ucap Sim-lan.

“O?” So Ing melongo heran.

“Dia justru adalah lelaki yang berbeda sama sekali daripada Siau-hi-ji, pada

hakikatnya tiada setitik pun yang sama, terhadap anak perempuan dia selalu

sopan santun dan simpati, bergurau sepatah kata saja tidak pernah.”

“Wah, lelaki model anjing penjaga rumah begitu sama sekali takkan kusukai,”

kata So Ing.

“Tapi … tapi ….”

“Tapi ada juga yang sangat menyukainya, begitu bukan?” tukas So Ing tertawa.

Muka Thi Sim-lan kembali merah, ucapnya, “Aku bukannya men … menyukai

dia, soalnya dia pernah menyelamatkan jiwaku, bahkan sangat … sangat ….”

suaranya lirih seperti bunyi nyamuk, pula tergagap-gagap dan terputus-putus

seperti orang keselak.

Dengan tertawa So Ing menukasnya, “… bahkan dia juga sangat baik padamu,

dia sangat memperhatikan dirimu dalam segala hal, andaikan kau tidak suka

padanya, mau tak mau juga mesti berterima kasih padanya, begitu bukan?”

“Ehm,” Sim-lan mengangguk.

“Tapi kau harus tahu, antara terima kasih dan suka terkadang sukar dipisahpisahkan,”

kata So Ing.

Sim-lan menggigit bibir dan termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata pula,

“Seumpama aku menyukai dia juga dia takkan menyukai aku.”

“Jika dia tidak suka padamu, untuk apa dia berbuat sebaik itu padamu? Dia

kan tidak sinting?”

“Dia memperhatikan diriku, bisa jadi demi Siau-hi-ji,” ucap Thi Sim-lan dengan

menunduk.

Sekali ini So Ing benar-benar seperti terkejut, serunya, “Dia baik padamu demi

Siau-hi-ji? Ini sungguh aku tidak paham.”

“Dia bilang semoga aku dan Siau-hi-ji bisa … bisa berada bersama,” tutur Simlan

dengan rawan.

“Memangnya dia juga sahabat Siau-hi-ji,” tanya So Ing.

Thi Sim-lan berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Terkadang mereka memang

dapat dianggap sebagai sahabat karib, bilamana salah seorang menghadapi

bahaya, yang lain pasti akan membantunya tanpa menghiraukan dirinya

sendiri. Tapi sering pula mereka bertengkar dan saling labrak mati-matian.”

Tiba-tiba So Ing tahu siapakah gerangan orang yang dimaksudkan Thi Sim-lan

ini, dia melenggong sejenak, gumamnya kemudian, “Peristiwa ini sungguh

sangat aneh dan sangat bagus, sungguh sangat menarik.”

“Setelah kuceritakan isi hatiku sebanyak ini, apakah engkau akan

menertawakan diriku?” tanya Sim-lan dengan kikuk.

Dengan suara lembut So Ing menjawab, “Masa kutertawaimu? Apabila seorang

mempunyai isi hati, adalah biasa bila perasaan yang tertekan itu dikemukakan

kepada seorang teman, kalau tidak kan bisa mati kesal.”

“Tapi … tapi kita baru saja kenal ….”

“Meski kita baru saja kenal, tapi selanjutnya lambat laun kita bisa menjadi

sahabat karib.”

Sim-lan tersenyum pedih, ucapnya, “Selanjutnya? …. Siapa pula yang tahu apa

yang akan terjadi selanjutnya?”

Berkilau sorot mata So Ing, tiba-tiba ia menarik tangan Thi Sim-lan pula dan

berkata dengan lembut, “Begitu melihat dirimu, seketika aku merasa cocok.

Jika kau tidak jemu padaku, maukah kau mengakui aku sebagai adikmu?”

Permohonan yang diajukan dengan kata-kata halus dan terucap dari mulut

anak perempuan secantik ini, siapa pula yang sanggup menolaknya?

Dengan begitu Thi Sim-lan lantas menjadi kakak angkat So Ing.

Gemilang cahaya sang surya menyinari pegunungan yang hijau permai, kicau

burung mengiringi arus sungai yang mengalir selalu, di tengah semilir angin

lalu sayup-sayup membawa harum bunga yang memabukkan.

Selamanya Thi Sim-lan tidak pernah membayangkan akan hidup segembira

sekarang. Selama ini hidupnya selalu merana, perasaannya tertekan, hampir

saja ia putus asa. Sungguh tak terduga akan dijumpainya So Ing.

“Sekarang kau sudah menjadi Ciciku, maka takkan kubiarkan kau pergi lagi

mencari Siau-hi-ji,” ucap So Ing dengan tertawa sambil menarik tangan Thi

Sim-lan.

“Sebab apa?” tanya Sim-lan.

“Kebanyakan lelaki memang sok jual mahal walaupun sebenarnya bernilai

rendah,” kata So Ing. Semakin kau ingin mencarinya, semakin dia merasa

bangga. Tapi kalau kau tidak menggubris dia, luka dia yang akan mencari kau

walaupun dengan mengesot.”

Thi Sim-lan tertawa, katanya, “Habis apa … apa yang harus kulakukan?”

“Kau tidak perlu berbuat apa-apa, tunggu saja tenang-tenang, dengan

sendirinya ada akalku akan membuat dia datang mencari kau,” tutur So Ing.

Sim-lan menunduk, ucapnya, “Tapi engkau kenal saja tidak ….”

So Ing menggeleng, katanya pula dengan tertawa, “Meski aku tidak kenal dia,

tapi pernah kulihat dia.”

“Oo?” Sim-lan rada heran.

“Ya, sekarang aku jadi ingat. Bukankah dia seorang anak muda yang bermata

besar, mukanya banyak codet, tapi tampaknya tidak menjemukan, sepanjang

hari hanya tertawa melulu, bila berjalan lenggangnya seakan dunia ini dia

punya.”

“Mungkin kau tidak tahu, dia malah mengaku sebagai orang paling pintar

nomor satu di dunia ini,” tukas Thi Sim-lan geli.

Teringat kepada Siau-hi-ji, hati So Ing terasa manis juga, ucapnya dengan

tertawa, “Jika dia mengaku sebagai orang yang paling tebal kulit mukanya

kukira lebih dapat dipercaya.”

“Bilakah kau lihat dia?” tanya Sim-lan.

“Belum lama, baru satu dua hari yang lalu.”

Thi Sim-lan menghela napas gegetun, ucapnya, “Orang ini sedetik saja tidak

dapat berdiam, baru satu dua hari kau lihat dia, tapi sekarang dia entah sudah

berada di mana lagi?”

“Jangan khawatir, asalkan dia berada di pegunungan ini, pasti ada akalku

untuk menemui dia.”

“Kau punya akal apa?” tanya Sim-lan.

“Kau tahu, di pegunungan inilah aku dibesarkan, hampir setiap orang

penduduk di sini pasti kukenal, kalau aku ingin mencari seseorang yang

istimewa begitu, bukankah sangat mudah?”

“Jika … jika begitu, apakah aku mesti menunggu di sini?”

“Wah, kukira kurang aman bila kau menunggu di sini, apabila pakaianmu ditipu

orang lagi, lalu bagaimana?” ucap So Ing dengan tertawa. Sebelum Thi Simlan

menjawab, segera ia menyambung pula, “Demi keselamatanmu, sekarang

juga akan kubawa kau ke suatu tempat.”

“Tempat apa?” tanya Sim-lan.

“Pemilik tempat ini adalah ayah angkatku, meski tampangnya kelihatan bengis,

tapi hatinya sangat baik, lebih-lebih terhadap diriku, sungguh tidak kepalang

baiknya.”

“Aku percaya,” ucap Thi Sim-lan dengan tertawa, “Kakak angkat seperti aku

saja bisa-bisa akan kukorek hatiku untukmu, apalagi sang ayah angkat.”

So Ing mencibir, katanya, “Hatimu hendak kau korek untukku? Bukankah

hatimu sudah kau berikan kepada Siau-hi-ji?” Melihat muka Thi Sim-lan

berubah merah, cepat ia menyambung pula dengan tertawa, “Ayah angkatku

itu she Gui, jika dia mengetahui engkau adalah kakak angkatku, beliau pasti

akan membelamu dengan baik. Cuma kau jangan lupa, bentuknya memang

kelihatan menakutkan.”

“Jika kelihatannya menakutkan tentu takkan sering kupandang dia,” kata Simlan.

“Bagus, cara ini memang sangat bagus,” seru So Ing sambil berkeplok.

Segera dia menarik Thi Sim-lan menyusuri hutan, pegunungan sunyi senyap,

dunia ini seakan-akan penuh rasa aman dan damai sehingga membuat orang

merasa hidup ini bahagia. Tiba-tiba Thi Sim-lan juga penuh harapan terhadap

masa yang akan datang.

Setelah berjalan sejenak, mendadak So Ing berhenti dan berkata, “Ai, hampir

saja kulupa, aku masih harus memenuhi suatu janji pertemuan.”

“Janji pertemuan?” Sim-lan menegas.

“Ya, aku sudah berjanji akan bertemu dengan seorang di belakang gunung

sana, sekarang waktunya sudah hampir tiba. Wah, bagaimana baiknya?”

“Melihat kegelisahanmu ini, jangan-jangan hendak bertemu dengan jantung

hatimu?”

Muka So Ing ternyata tidak merah, jawabnya sambil menggeleng, “Bukan.”

“Jika kau tidak mau terus terang, biarlah aku ikut mengacau ke sana.”

“Memangnya kenapa kalau jantung hatiku? Masa kau saja yang boleh punya

kekasih dan aku tidak boleh?”

“Jangan cemas, aku takkan ikut ke sana.”

So Ing mengerling, katanya, “Dari sini langsung menuju ke atas bukit sana,

tidak lama kemudian akan kau lihat sebidang pepohonan, di sanalah tempat

tinggal ayah angkatku.”

“Masa … masa aku disuruh ke sana sendirian?”

“Sendirian juga tidak apa-apa, asalkan setiba di sana tentu ada orang akan

memapak kau?”

“Tapi mereka kan tidak kenal diriku?”

So Ing berpikir sejenak, diambilnya tusuk kundainya dan diberikan kepada Thi

Sim-lan, katanya, “Perlihatkan saja tusuk kundai ini, katakan aku yang

menyuruhmu ke sana, tentu mereka akan menyambut kedatanganmu dengan

hormat dan mengatur segala keperluan.”

Walaupun merasa enggan, tapi mau tak mau Thi Sim-lan harus pergi ke sana.

Sekarang ia mirip segumpal awan yang mengambang di udara tanpa arah

tujuan, ia pun tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

So Ing memandangi kepergian Thi Sim-lan itu, baru saja ia menghela napas

lega, sekonyong-konyong terdengar seorang berkata dengan gegetun,

“Kasihan budak itu, sudah dijual oleh orang masih belum tahu.”

“Haha, nona So ini tidak menjualnya padamu, makanya kau berlagak kasihan

padanya?” demikian terdengar seorang lagi menanggapi dengan tertawa.

“Semula kuanggap budak she Thi itu tidaklah jelek, tapi kalau dibandingkan

nona So ini, hakikatnya budak Thi mirip sepotong kayu belaka,” demikian orang

ketiga berkata dengan terkekeh-kekeh.

“Ya, makanya Siau-hi-ji kita tidak boleh punya bini seperti bonggol kayu,” ujar

orang keempat dengan tertawa.

Di tengah suara gelak tertawa itu, dari balik batu sana mendadak muncul

empat orang. Bentuk keempat orang ini yang satu lebih aneh daripada yang

lain. Heran, entah cara bagaimana keempat orang aneh ini bisa berkumpul

menjadi satu.

Terlihat orang pertama berwajah kotor dengan rambut semrawut, pakaiannya

sudah dekil lagi compang-camping sehingga mirip pengemis. Tapi tangannya

justru memegang sebuah pipa tembakau bertatah jamrud yang tak ternilai

harganya.

Orang kedua bermuka bundar, perutnya buncit, usianya jelas tidak muda lagi,

tapi lagaknya seperti anak kecil, tiada hentinya bergelak tertawa sehingga mirip

Mi-lik-hud, itu Budha tertawa yang terkenal.

Orang ketiga berkundai licin dengan hiasan batu permata, pupur di mukanya

setebal hampir setengah senti sehingga mirip orang bertopeng, maka sukar

diketahui sebenarnya wajahnya bagus atau jelek, sudah tua atau masih muda?

Yang jelas cara bersoleknya adalah perempuan, tapi yang dipakainya adalah

baju lelaki, sedangkan kakinya memakai sepatu perempuan yang bersulam

sutera merah dan bermutiara.

Orang keempat adalah lelaki kekar tegap, sorot matanya tajam, cuma mulutnya

sangat lebar, seperti mulut singa, kepalan tangan mungkin bisa masuk.

Meski So Ing tidak tahu keempat orang ini adalah tokoh-tokoh Cap-toa-ok-jin

yang termasyhur, yaitu Pek Khay-sim, Ha-ha-ji, To Kiau-kiau dan Li Toa-jui,

tapi dia sudah pernah melihat mereka, telah disaksikannya cara bagaimana

keempat orang itu mengerjai Gui Moa-ih. Sekarang keempat orang ini muncul

pula dan mengepungnya di tengah. Biasanya dia tidak mudah memperlihatkan

perasaannya, kini tidak urung air mukanya rada pucat juga.

“Jangan takut, nona So,” kata Li Toa-jui dengan tertawa. “Sudah dua hari ini

aku kurang nafsu makan, umpama akan kumakan kau, sedikitnya perlu

menunggu lagi beberapa hari.”

“Hihihi, anak perempuan secantik manis ini, sekalipun kau tega memakannya

juga takkan kululuskan,” ucapTo Kiau-kiau dengan terkikik-kikik.

“Tapi, menurut pendapatku, lebih baik biarkan dia dimakan oleh Li Toa-jui,” ujar

Pek Khay-sim.

“Hahaha, kau benar-benar cocok dengan julukanmu yang merugikan orang lain

tanpa menguntungkan diri sendiri,” seru Ha-ha-ji dengan terbahak. “Umpama Li

Toa-jui memakannya, apa pula faedahnya bagimu?”

“Sedikitnya aku tidak perlu khawatir kalau-kalau dijual olehnya,” kata Pek Khaysim.

“Haha, memangnya berapa harganya satu kati tulangmu yang bau busuk ini,

untuk apa dia menjual dirimu?” kata Ha-ha-ji.

“Hm, kakaknya saja sudah dijualnya, apalagi diriku?” jengek Pek Khay-sim.

So Ing mengerling, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Apakah kedatangan kalian

ini hendak membela keadilan bagi Thi Sim-lan?”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya, “Kalau dibicarakan, budak Thi Sim-lan

ini sesungguhnya memang harus dikasihani.”

“Jika kalian merasa aku telah menipu dia, mengapa tadi kalian tidak mencegah

kepergiannya?” ujar So Ing dengan tertawa.

“Dia bukan anakku juga bukan biniku, dia tertipu atau tidak, apa sangkutpautnya

denganku? Untuk apa aku meski ikut campur?” demikian ucap Pek

Khay-sim dengan menarik muka.

“Apalagi,” sambung Ha-ha-ji, “Kan tiada salahnya biarkan dia pergi ke tempat

Gui Bu-geh, nah, barulah nanti akan banyak tontonan yang menarik.”

“Demi berebut seorang lelaki, memangnya apa pun dapat dilakukan oleh

seorang perempuan,” sambung To Kiau-kiau dengan tertawa. “Apalagi demi

mendapatkan pemuda seperti Siau-hi-ji, sekalipun kau membunuh orang juga

takkan kusalahkan kau.”

“Jika demikian, untuk keperluan apakah kalian datang kemari?” tanya So Ing.

“Kami sengaja mencari kau untuk merundingkan suatu perdagangan,” jawab Li

Toa-jui.

“Perdagangan? Perdagangan apa?” tanya So Ing.

“Haha, sudah tentu perdagangan yang saling menguntungkan,” tukas Ha-hajai,

“Cuma kami tidak tahu apakah kau setuju atau tidak?”

“Jika ada bisnis yang saling menguntungkan, masa aku tidak setuju?” jawab So

Ing tertawa.

“Baik, sekarang kutanya padamu, kau ingin menjadi istri Siau-hi-ji bukan?”

tanya To Kiau-kiau.

So Ing tertawa, jawabnya tanpa pikir, “Tidak cuma begitu saja, malahan aku

sudah bertekad menjadi istrinya.”

“Haha, tampaknya tekadmu sangat besar,” tukas Ha-ha-ji. “Tapi kau harus

tahu, bukan urusan mudah jika ingin diperistri oleh Siau-hi-ji.”

“Bilamana urusannya sedemikian mudah, bisa jadi aku malah tidak ingin

menjadi istrinya,” jawab So Ing dengan tertawa.

“Tapi apakah kau yakin dan mempunyai pegangan akan dapat menjadi

istrinya?” tanya To Kiau-kiau.

“Urusan yang tiada pegangannya dan semakin sulit, tentunya akan semakin

menarik untuk dilaksanakan bukan?” jawab So Ing.

“Tapi kalau gagal, kan jadi tidak menarik, bukan?” kata To Kiau-kiau.

So Ing menghela napas, katanya, “Ya, jika begitu memang sangat tidak

menarik.”

“Nah, untuk itu, kami dapat membantu terlaksananya cita-citamu, tapi kau juga

harus berjanji melakukan sesuatu bagi kami,” kata To Kiau-kiau.

So Ing mengerling manis, katanya dengan tertawa, “Kalian benar-benar yakin

dia sudi menikahiku?”

“Sudah tentu kami yakin,” jawab To Kiau-kiau. “Jangan lupa, kami inilah yang

membesarkan Siau-hi-ji, masa kami tidak kenal tabiatnya?”

“Jika begitu urusan apa yang harus kukerjakan bagi kalian?” tanya So Ing.

“Kau harus membawanya hidup-hidup ke liang Gui Bu-geh itu, kemudian

membawanya keluar pula hidup-hidup,” tutur To Kiau-kiau.

“Sebab apa kalian menghendaki demikian” tanya So Ing.

“Sebab kami ingin menyuruhnya mengambil sesuatu barang,” jawab Kiau-kiau.

So Ing berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Tapi kalau dia tidak mau ke sana,

lalu bagaimana?”

“Semula mungkin dia tidak mau, tapi sekarang mau tak mau dia harus pergi ke

sana,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Sebab barusan kau telah membantu

mengerjakan sesuatu bagi kami, yaitu, kau telah mengirim Thi Sim-lan ke

tempat Gui Bu-geh.”

“Dan kalau aku tidak setuju permintaan kalian?” tanya So Ing dengan tenangtenang.

“Jika kau tidak mau, nafsu makanku akan segera timbul,” ucap Li Toa-jui

dengan terkekeh-kekeh.

“Mungkin kalian tidak tahu bahwa pada waktu kecil aku pernah jatuh dari atas

pohon sehingga tubuhku banyak bekas lukanya, maka sulit dagingku menjadi

rada kasap,” tutur So Ing dengan tenang. Ia tersenyum, lalu menyambung pula,

“Walaupun begitu, kupercaya, diolah dengan cara apa pun juga dagingku tetap

sangat lezat. Cuma perlu kuberi nasihat, jangan sekali-kali kau masak dengan

direbus, daging yang empuk begini harus digoreng, dengan demikian

dagingnya akan terasa tetap segar dan gurih.”

Cara bicaranya ramah tamah seperti halnya sedang bertukar pikiran dengan

kawan kursus mengenai resep makanan.

Tentu saja Li Toa-jui dan lain-lain jadi saling pandang dengan melongo.

Setelah berdehem Li Toa-jui berkata pula, “Ah, kau telah mengingatkan aku

kelezatan daging manusia goreng kering, rasanya memang benar tiada

bandingannya. Ehm, sudah lama juga aku tidak merasakannya.”

“Tapi apakah kau tahu cara makan daging manusia goreng itu pun ada

rahasianya,” kata So Ing.

“Oya? Bagaimana?” tanya Li Toa-jui.

“Yakni, sebaiknya kau mengiris dagingku selagi aku masih hidup, pula

bumbunya jangan diberi cuka, sebab daging manusia umumnya memang rada

masam,” kata So Ing.

“Hehe, terima kasih atas petunjukmu, sudah banyak manusia yang kumakan,

tak tersangka kau lebih ahli daripadaku,” kata Li Toa-jui.

Dengan tenang So Ing lantas duduk dan berkata Kula, “Nah, santapan enak

sudah tersedia, apalagi yang kau tunggu?”

“Ya, aku memang tidak sabar lagi,” kata Li Toa-jui.

“Jika tidak sabar lagi, mengapa engkau tidak lekas turun tangan?”

“Dengan sendirinya aku akan turun tangan,” kata Li Toa-jui. Dia melangkah

dua tiga tindak, dilihatnya So Ing masih tetap duduk tenang-tenang saja, sedikit

pun tidak mengunjuk rasa khawatir akan dijadikan santapan orang, malahan

lebih mirip orang sedang menunggu antaran makanan.

“Li Toa-jui,” tiba-tiba To Kiau-kiau berseru, “Coba kemari, ingin kubicara

denganmu.”

Lalu ia menarik Li Toa-jui ke samping sana dan membisikinya, “Apakah benarbenar

kau hendak memakannya?”

“Urusan sudah kadung begini, memangnya dapat kulepaskan dia?” jawab Li

Toa-jui dengan terbelalak. “Setelah dia menjadi isi perutku, toh selamanya

takkan diketahui Siau-hi-ji.”

“Tapi apakah pernah kau makan orang semacam dia” tanya Kiau-kiau.

Li Toa-jui melirik sekejap So Ing yang masih duduk tenang-tenang di sana, lalu

dia mengomel dengan suara tertahan, “Keparat, tampaknya budak ini seakanakan

senang menjadi isi perutku, entah muslihat apa yang telah diaturnya?”

“Coba pikir, jika dia tidak mempunyai sesuatu pegangan, mana dia dapat

bersikap setenang ini, ia bahkan khawatir matinya terlalu enak dan

menyarankan kau menyayat dagingnya hidup-hidup. Coba pikirkan, masa di

dunia ini ada manusia demikian?”

“Betul, budak ini banyak tipu akalnya, jangan-jangan sudah diaturnya

perangkap untuk menjebak diriku,” kata Li Toa-jui sambil berkerut kening.

“Asal kau tahu saja,” kata To Kiau-kiau.

Semakin rapat terkerut kening Li Toa-jui, ucapnya, “Tapi cara bagaimana dia

akan menjebak diriku? Apakah tubuhnya dilumuri racun agar aku keracunan

bilamana kumakan dia, tapi apa pun juga jadinya nanti kan dia sudah menjadi

isi perutku?”

“Kau pikir dia akan menggunakan cara segoblok itu?” tanya Kiau-kiau.

“Selain itu, anak perempuan selemah dia masa punya akal lain?” ujar Li Toajui.

“Jika akal muslihatnya dapat kau terka semudah itu, tentu orang lain tidak perlu

takut padanya,” ujar To Kiau-kiau. “Apalagi, dari mana kau tahu dia lemah?

Jelek-jelek dia kesayangan Gui Bu-geh, mustahil tidak diajarkan sejurus dua

kepadanya.”

Li Toa-jui termenung sejenak, katanya kemudian, “Apakah maksudmu ….”

“Menurut pendapatku, sudahlah, batalkan niatmu saja,” kata To Kiau-kiau, “Kita

dapat hidup sampai sekarang bukanlah hal yang mudah, jangan sampai kapal

terbalik di selokan, kalau terjungkal di tangan budak cilik begini kan

penasaran?”

“Ya, betul juga ….” Li Toa-jui jadi ragu-ragu.

“He, kenapa tidak lekas kenari,” demikian So Ing sedang menggapai dengan

tertawa. “Jika menunggu lebih lama lagi, sebentar dagingku bisa basi.”

“Sudahlah, dagingmu terlampau kecut, aku tidak doyan,” kata Li Toa-jui

dengan tertawa.

“Belum lagi kau makan, dari mana kau tahu dagingku kecut?” ucap So Ing.

“Pengalamanku cukup luas, tanpa makan, sekali pandang pun kutahu,” kata Li

Toa-jui dengan tertawa.

“Wah, tak tersangka dagingku bisa kecut, jangan-jangan karena sehari-hari aku

terlalu banyak minum cuka,” ujar So Ing dengan menghela napas gegetun.

Perlahan dia berdiri, lalu memberi hormat dan berkata, “Jika Tuan tidak sudi

lagi kepadaku, terpaksa kumohon diri saja.”

“Nanti dulu!” mendadak Pek Khay-sim membentak.

“Eh, apa nafsu makan Tuan ini jauh lebih besar daripada Li-siansing ini

sehingga tidak takut rasa kecut segala?” tanya So Ing.

Pek Khay-sim tertawa, katanya, “Aku tidak sama dengan dia. Dia gemar makan

enak, aku gemar main perempuan. Umumnya orang yang cuma gemar makan

bernyali lebih kecil, sebaliknya nyali orang yang gemar main perempuan jauh

berbeda ….” sambil bicara, selangkah demi selangkah ia mendekati So Ing,

dan menyambung pula dengan tertawa, “Kata orang, besar nyali penggemar

perempuan meliputi jagat. Nah, apakah pernah kau dengar peribahasa

demikian ini?”

Tanpa terasa So Ing menyurut mundur selangkah, tapi tetap tersenyum simpul,

katanya, “Jika Tuan merasa bosan hidup membujang, sekarang juga aku dapat

menjadi perantara bagimu.”

“Kau mau menjadi perantara bagiku?” Pek Khay-sim menegas.

“Ya, di sungai sana ada perempuan cantik yang sedang mandi, bukan saja

molek menggiurkan dan jauh lebih cantik daripadaku, bahkan genit

memesona.”

“Hehe, aku cuma penujui dirimu, orang lain aku tidak mau,” kata Pek Khay-sim

sambil terkekeh-kekeh, berbareng ia terus menubruk maju dan menarik So Ing.

Dalam keadaan demikian, biarpun dalam perut So Ing penuh berisi tipu akal

juga tak dapat digunakannya, perempuan ketemu gerayak, sungguh mati kutu

dan tak berdaya.

Li Toa-jui melotot pada To Kiau-kiau, katanya dengan menyesal, “Wah,

mestinya aku tidak perlu menuruti kau, sepotong daging jadinya jatuh ke mulut

anjing.”

“Barang yang dia sudah pakai kan masih dapat dimakan?” ucap To Kiau-kiau

dengan tertawa.

“Hm, barang yang sudah dipakai bocah busuk ini, anjing saja tidak mau

mengendusnya lagi, siapa yang mau memakannya?” jengek Li Toa-jui.

“Bret”, sementara itu baju SoIng sudah terobek sebagian oleh jambretan Pek

Khay-sim tadi.

Syukurlah pada saat itu juga mendadak terdengar seorang berucap dengan

tenang, “Seorang lelaki besar mana boleh menganiaya perempuan lemah?”

Suara orang ini terdengar lemah dan perlahan, tapi datangnya orang ini

sungguh secepat kilat, tahu-tahu Pek Khay-sim melihat sesosok bayangan

melayang tiba dari udara, ia terkejut, tanpa pikir sebelah datangnya terus

menghantam.

Sudah jelas pukulannya itu tepat menuju ke bagian hulu hati pendatang, boleh

dikatakan pukulan maut yang cukup lihai. Siapa tahu, baru sampai di tengah

jalan pukulannya tahu-tahu berputar balik untuk menampar muka sendiri,

menyusul mana rambutnya lantas terasa mengencang, tahu-tahu telah

dijambak orang terus dilemparkan ke atas.

Li Toa-jui dan lain-lain hanya melihat berkelebatnya bayangan serta

mendengar suara “plak” satu kali, tahu-tahu Pek Khay-sim mencelat ke atas

dan tepat tercantol di ranting pohon.

Waktu memandang lagi ke arah So Ing, di sisi nona itu sudah bertambah

seorang pemuda cakap, seorang pemuda gagah dan ganteng, meski

pakaiannya rada kumal, namun tidak dapat menutupi sikapnya yang agung.

Meski pemuda ini telah berhasil menyelamatkan So Ing, tapi So Ing sendiri

lantas pucat demi mengenalnya, serunya terkejut, “He, Hoa Bu-koat!”

Pemuda ini memang betul Hoa Bu-koat adanya. Ia tersenyum hambar, sorot

matanya lantas menyapu Li, Toa-jui berempat, katanya perlahan, “Adakah di

antara kalian yang ingin turun tangan pula?”

Li Toa-jui dan lain-lain sama melongo kaget. Meski Hoa Bu-koat tidak kenal

mereka, tapi mereka kenal Hoa Bu-koat. Mereka pernah menyaksikan Hoa Bukoat

membawa nona Buyung Kiu melayang pergi dengan Ginkangnya yang

mahatinggi, kini sekali gebrak saja Pek Khay-sim telah terlempar dan

menyangkut di atas pohon. Mereka cukup cerdik, sudah tentu mereka tidak

ingin cari penyakit.

Dengan tertawa Li Toa-jui lantas berkata, “Memangnya kami mendongkol

terhadap setan ini, kini Kongcu telah memberi hajaran padanya, sungguh kami

merasa berterima kasih.”

“Ya, cuma sayang hajaran Kongcu tadi masih terlalu enteng,” dengan tertawa

To Kiau-kiau lantas menyambung.

“Haha, apabila Kongcu melemparnya lebih jauh, tentu kami akan lebih

bergembira lagi,” seru Ha-ha-ji.

Dalam pada itu Pek Khay-sim lagi meronta-ronta bermaksud melompat turun

sambil berteriak-teriak, “Padahal aku cuma merabanya perlahan saja,

sebaliknya si mulut besar she Li itu tadi hampir makan dagingnya.”

Muka Li Toa-jui menjadi pucat, cepat ia menyangkal, “Ah, dia lagi kentut,

jangan Kongcu percaya padanya.”

“Kau sendiri yang kentut busuk!” teriak Pek Khay-sim. “Bukan saja kau hendak

makan dagingnya, bahkan tadi kau merencanakan hendak menggoreng

dagingnya, akan mengiris dagingnya selagi si nona masih hidup. Ayo, coba

menyangkal lagi!”

Muka Li Toa-jui jadi merah, jawabnya, “Itu … itu kan diucapkan sendiri oleh si

nona ini.”

“Coba dengarkan Kongcu, siapa kiranya yang ngaco-belo?” kata Pek Khay-sim

dengan tertawa. “Memangnya nona ini sudah gila, masa menyuruh orang lain

mengiris hidup-hidup dagingnya sendiri?”

“Keparat, kau yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri

sendiri!” teriak Li Toa-jui dengan murka.

Pek Khay-sim juga balas mendamprat, “Kau serigala mulut besar yang makan

orang tanpa menumpahkan tulang!”

Mereka tidak bersatu menghadapi musuh dari luar, tapi malah cakar-cakaran

sendiri, sungguh Hoa Bu-koat tidak pernah melihat manusia demikian, tanpa

terasa ia menghela napas dan berkata, “Ai, mengapa kalian jadi bertengkar

antarkawan sendiri ….”

Belum habis ucapannya Li Toa-jui telah meraung sambil menubruk ke arah

Pek Khay-sim, tampaknya Pek Khay-sim tidak sempat mengelak sehingga

kena digenjot oleh Li Toa-jui hingga mencelat beberapa tombak jauhnya sambil

mencaci maki, “Kau bangsat keparat, serigala mulut besar, kau berani

memukul orang?!”

“Sudah 20 tahun ingin kupukul mampus kau jahanam ini!” Li Toa-jui meraung

pula sambil mengejar ke sana.

Tak terduga sebelah kaki Pek Khay-sim mendadak menjegal sehingga Li Toajui

jatuh tersungkur, kedua orang terus saling gumul dan menggelinding ke

sana, terdengar suara “blak-bluk” beberapa kali, suara saling tonjok disertai

caci-maki yang kotor, cara berkelahi mereka pun tiada harganya untuk

ditonton.

Semula Hoa Bu-koat mengira mereka ini adalah jago silat kelas tinggi, kini ia

menilai cara berkelahi itu tidak lebih seperti kaum gelandangan yang saling

jotos berebut sisa makanan di tepi jalan.

Dalam pada itu Ha-ha-ji malah bersorak dan berteriak, “Bagus, perkelahian

ramai. Haha, jamak rambutnya, lekas! Nah, begitu! Pukul lagi, tonjok

hidungnya! Nah, bagus!”

To Kiau-kiau juga berseru, “Wah, jangan dibiarkan mereka berkelahi lagi, jika

terus berlangsung, salah satu mungkin bisa mati dan kita yang harus

membelikan peti mati baginya, kan rugi kita? Lekas kita melerai mereka saja.”

Sementara itu Li Toa-jui dan Pek Khay-sim yang bergumul itu sudah

menggelinding ke balik pohon sana, keduanya tampak sudah terengah-engah

dan babak belur, tapi masih saling jotos.

Cepat To Kiau-kiau dan Ha-ha-ji memburu ke sana sambil berteriak, “He,

sudahlah berhenti, jangan berkelahi lagi …. Nanti bisa mati salah satu, kan

runyam!” Maka kedua orang itu pun menghilang ke balik pohon seperti hendak

memisah perkelahian kawan mereka itu.

Hoa Bu-koat cuma menggeleng kepala sambil tersenyum getir, terhadap orang

tak kenal malu begitu dia benar-benar tak berdaya kecuali geleng-geleng

kepala belaka.

Tiba-tiba So Ing berkata dengan tersenyum, “Hoa-kongcu, engkau telah tertipu

oleh mereka.”

“Tertipu bagaimana?” tanya Bu-koat.

“Apakah kau kira mereka berkelahi benar-benar?”

Bu-koat melengak, katanya, “Memangnya mereka cuma ….”

“Mereka hanya cari alasan untuk kabur,” kata So Ing dengan tertawa. “Meski

ilmu silat kedua orang itu tidak tinggi, tapi kalau benar-benar mau berkelahi

mati-matian dalam 300 jurus juga sukar menentukan kalah atau menang.”

Cepat Hoa Bu-koat memburu ke sana, betul juga, di balik pohon sana sudah

tidak nampak bayangan seorang pun.

Setelah melenggong sejenak, Bu-koat menyengir sendiri dan berucap, “Benar

juga aku tertipu, sungguh memalukan.”

“Tipu daya keempat orang ini sungguh jarang terlihat,” kata So Ing dengan

tertawa, “Adalah aneh kalau orang jujur seperti Hoa-kongcu tidak tertipu oleh

mereka.”

“Orang jujur?” Bu-koat mengulang kata-kata itu dengan tertawa, “Kukira belum

tentu … sebab baru saja ada beberapa orang telah tertipu olehku.”

“Oya? Siapa?” tanya So Ing. Tapi segera ia pun tahu siapa yang dimaksud,

ucapnya dengan tertawa. “Ya, betul, yang tertipu olehmu pasti Pek San-kun

dan istrinya, betul tidak?”

Bu-koat mengangguk dengan tertawa, jawabnya, “Betul, memang mereka.”

So Ing mengerling, ucapnya, “Meski telah kukuasai dirimu dengan kekuatan

obat, tapi obat itu tidak berbahaya bagi manusia, asalkan tertiup angin, dalam

waktu tidak lama kekuatan obat itu akan lenyap. Cuma waktu itu mereka telah

menutuk pula Hiat-tomu sehingga engkau tidak mampu lolos.” Dia tersenyum,

lalu menyambung pula, “Tentunya engkau pura-pura sangat payah keracunan

agar mereka tidak berjaga-jaga terhadapmu, tapi diam-diam menggunakan

tenaga dalam Ih-hoa-ciap-giok untuk menjebol Hiat-to yang tertutuk dan

dapatlah meloloskan diri.”

“Kepintaran dan kecerdasan nona sungguh jarang ada bandingannya,” ucap

Bu-koat dengan tertawa.

Berkilat sorot mata So Ing, katanya dengan perlahan, “Menurut pendapatmu

aku ini terhitung orang pintar nomor satu di dunia bukan?”

Mendadak lenyap senyum Hoa Bu-koat yang selalu menghiasi wajahnya itu,

jawabnya dengan gegetun, “Meski nona memang sangat cerdas dan pintar,

tapi masih ada pula seorang kenalanku … apabila nona bertemu dengan dia,

mungkin nona pun akan diakali olehnya.”

So Ing menunduk, ia pun menghela napas, ucapnya dengan rawan,

“Perkataanmu memang betul, kutahu siapa yang kau maksudkan, malahan aku

sudah pernah diakali olehnya.”

Tanpa terasa wajah Hoa Bu-koat menampilkan rasa heran dan tidak percaya,

selagi dia hendak tanya lebih jelas, tiba-tiba So Ing berkata pula dengan

tertawa, “Sungguh tidak nyana Hoa-kongcu yang ramah tamah sekarang juga

dapat menipu orang dengan akal licik, mungkin caramu ini pun dapat belajar

dari orang itu, betul tidak?”

Bu-koat tertawa, katanya, “Ya, rasanya aku memang telah ketularan.”

“Tapi Kuncu kan tetap Kuncu, makanya meski kuperlakukan cara begitu,

engkau tidak membalas dendam padaku, sebaliknya malah menyelamatkan

aku.”

Mendadak Hoa Bu-koat menarik muka, katanya, “Tapi apakah kau tahu sebab

apa kutolong kau?”

Terkejut So Ing melihat perubahan air muka Hoa Bu-koat itu, jawabnya dengan

tertawa, “Sudah kukatakan, justru karena engkau adalah seorang Kuncu.”

“Kuncu terkadang juga bisa membunuh orang,” kata Bu-koat.

“Jika engkau bermaksud membunuh tentu tidak perlu menolongku, betul

tidak?”

“Tapi harus kuberitahukan tiga hal padamu,” ucap Bu-koat dengan menarik

muka, “Pertama, rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok sekali-kali tidak boleh diketahui

orang luar, siapa yang mendapat tahu hanya ada satu jalan baginya, yaitu

kematian. Inilah hukum Ih-hoa-kiong, siapa pun tiada terkecuali.”

Meski So Ing masih tetap tertawa, namun suara tertawanya sudah tidak

senyaring tadi lagi.

“Kedua,” sambung Bu-koat, “Apa pun yang akan dilakukan anak murid Ih-hoakiong

harus dikerjakan sendiri, orang lain tidak boleh ikut campur dan juga

tidak boleh diwakilkan pada orang lain.”

“Dan yang ke … ketiga?

“Ketiga, aku pun anak murid Ih-hoa-kiong, betapa pun juga aku tidak boleh

melanggar peraturan Ih-hoa-kiong.”

So Ing menghela napas, katanya, “Jika demikian, sebabnya engkau menolong

aku hanya lantaran kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, begitu?”

Bu-koat berpaling ke sana dan menjawab dengan tegas, “Meski terpaksa, mau

tak mau harus kulaksanakan.”

“Jika demikian aku pun ingin … ingin memberitahukan tiga hal padamu,” kata

So Ing. Tanpa menunggu Bu-koat bertanya segera ia menyambung pula,

“Pertama, jangan kau lupa bahwa sebenarnya banyak kesempatanku dapat

membunuhmu, tapi hal itu tidak kulakukan, jika sekarang kau membunuhku

bukankah itu berarti tidak tahu budi?”

Meski tidak menanggapi, tapi Bu-koat menghela napas juga.

So Ing lantas melanjutkan, “Kedua, meski kutahu rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok,

tapi aku pasti takkan meyakinkan ilmu ini, juga takkan kukatakan kepada siapa

pun juga, jika engkau tetap membunuhku, itu berarti tidak bijaksana.”

Mulai terketuk hati nurani Hoa Bu-koat, namun dia tetap tidak bersuara.

“Ketiga, kau pun jangan lupa bahwa aku adalah perempuan yang lemah,

seorang lelaki besar menganiaya seorang perempuan lemah, ini namanya

tidak sopan, kurang ajar, bahkan boleh dikatakan tidak tahu malu.”

Tanpa terasa Hoa Bu-koat menunduk.

Melihat perubahan sikap orang, berkilat mata So Ing, namun mulutnya tetap

menjengek, “Hm, jika kau tetap ingin melaksanakan tindakan-tindakan yang

tidak berbudi, tidak bijaksana dan tidak sopan serta tidak tahu malu, ya, apa

boleh buat. Cuma kalau hal ini diketahui Thi Sim-lan, kuyakin dia pasti akan

sangat kecewa terhadapmu.”

“Apa katamu? Thi Sim-lan?” mendadak Bu-koat menengadah dan menegas.

Dengan perlahan So Ing menjawab, “Betul, Thi Sim-lan …. Dia senantiasa

bilang padaku bahwa engkau adalah lelaki yang paling lemah lembut, paling

sopan. Tadinya aku percaya penuh, tapi sekarang ….” dia sengaja menghela

napas dan tidak melanjutkan.

Jari Hoa Bu-koat rada gemetar, ia menegas pula, “Kau … kau kenal Thi Simlan?”

“Hubungan kami juga tidak terlalu karib, hanya baru saja kami mengikat

sebagai kakak beradik,” jawab So Ing dengan acuh tak acuh.

Mendadak Bu-koat seperti kena dicambuk satu kali, ia melenggong sejenak,

lalu berkata sambil menggeleng, “Tidak mungkin … sekali-kali tidak mungkin.”

“Jika tidak percaya, mengapa kau tidak langsung menanyai dia?” jengek So

Ing.

Mendadak Bu-koat mengepal tangannya dan bertanya, “Di mana dia?”

“Seumpama kukatakan sekarang dia berada di mana, kukira kau pun tidak

berani mencarinya ke sana.”

Sinar mata Bu-koat berkilat tajam, bentaknya, “Gui Bu-geh, maksudmu telah

kau jerumuskan dia ke tempat Gui Bu-geh?”

“Hah, kiranya kau pun seorang pintar,” ucap So Ing dengan tertawa.

“Mengapa kau mencelakai dia?” bentak Bu-koat dengan gusar.

“Mencelakai dia? Dia adalah kakak angkatku, masa kucelakai dia?”

“Tapi … tapi Gui Bu-geh ….”

“Meski Gui Bu-geh terkenal ganas terhadap orang lain, tapi terhadap kami

kakak beradik cukup baik.”

Bu-koat membanting-banting kaki, sekonyong-konyong ia membalik tubuh dan

berkata dengan parau, “Rahasia Ih-hoa-ciap-giok sekali-kali tidak boleh kau

katakan kepada orang lain.”

“Jika diketahui oleh orang kedua, tatkala mana belum terlambat bila aku kau

bunuh.”

“Walaupun tatkala mana sudah terlambat, tapi … tapi aku tetap percaya

padamu,” mendadak Bu-koat melayang pergi secepat terbang.

“He, nanti dulu, ingin kutanya sesuatu pula padamu,” cepat So Ing berseru.

Ketika dilihatnya Bu-koat menghentikan langkah, segera ia menyambung pula,

“Orang yang disekap bersamamu itu bernama Kang Giok-long, kau kenal dia

atau tidak?”

Tanpa terasa Bu-koat menghela napas menyesal, ucapnya, “Kuharap lebih

baik aku tidak kenal dia.”

“Kau pun muak padanya?” tanya So Ing, sorot matanya berkilau.

“Hm, tidak cuma muak saja,” jawab Bu-koat gemas.

“Telah kau bunuh dia?” tanya So Ing pula.

“Tidak,” jawab Bu-koat.

“Mengapa tidak kau bunuh dia?” ujar So Ing gegetun. “Orang ini dibiarkan

hidup di dunia ini, hanya akan banyak mendatangkan bencana melulu.”

“Saat ini dia sedang sakit dan terluka, mana bisa kukerjai dia?” kata Bu-koat.

“Ya, memang inilah penyakit kaum Kuncu,” kata So Ing. “Tapi jika kau tidak

punya ciri ini, mungkin juga ….” dilihatnya tubuh Bu-koat telah mulai bergerak

pula, segera ia berseru, “Tunggu dulu, masih ingin kukatakan sesuatu

padamu.”

Untuk kedua kalinya terpaksa Bu-koat berhenti, tanyanya, “Kata-kata apa?”

So Ing tertawa, ucapnya, “Thi Sim-lan tidak salah menilai dirimu, memang

benar engkau lelaki yang lembut dan menyenangkan, kau pun benar sangat

baik padanya.”

*****

Di rumah batu sana Siau-hi-ji sudah tidak sabar menunggu lagi. Semua tahu,

watak Siau-hi-ji tidak sabaran, maka dia terus mondar-mandir seperti semut di

dalam wajan panas, berulang-ulang ia tanya Oh Yok-su, “Apakah kau tahu So

Ing pasti akan datang kemari?”

Semula Oh Yok-su merasa pasti dan mengiakan. Tapi lama-lama ia sendiri

menjadi cemas, sebab So Ing sebegitu jauh belum nampak bayangannya.

Apalagi ia sendiri pun gelisah karena racun yang mengeram di tubuhnya, ia

coba bertanya, “Racun yang kuderita ini mungkin … mungkin sudah hampir

bekerja bukan?”

Siau-hi-ji melotot dan menjawab, “Apa kau minta kupunahkan racunmu

sekarang juga?”

“Setiap perintah Kongcu pasti kuturuti, asalkan Kongcu ….”

Mendadak Siau-hi-ji berjingkrak gusar, bentaknya, “Persetan kau! Dengarkan

yang jelas, apabila So Ing tidak datang kemari, selama itu pula takkan

kutawarkan racunmu, tahu?”

“Tapi … tapi nona So akan datang atau tidak kan tidak ada sangkut-pautnya

denganku, apabila … apabila racun mulai bekerja ….”

“Jika racun sudah mulai bekerja, anggap saja kau yang sial,” teriak Siau-hi-ji.

“Kau mati pun pantas, habis siapa suruh kau bilang So Ing pasti akan datang

kemari?”

Siau-hi-ji benar-benar tidak mau bicara tentang aturan lagi, sebab saking

gelisahnya dia sudah hampir-hampir gila.

Sudah tentu Oh Yok-su jauh lebih kelabakan daripada Siau-hi-ji, baju yang

baru saja kering kini kembali basah kuyup oleh air keringat.

Hanya Kang Giok-long saja tampaknya tidak gelisah sedikit pun, dengan

cengar-cengir dia duduk tenang di sana, So Ing akan datang tidak seolah-olah

tiada sangkut-pautnya dengan dia. Maklum, sebab dia merasakan obat yang

membuatnya sakit dan lemas kini sudah mulai buyar, badannya kini sudah

mulai terasa sehat, perlahan-lahan sudah bertenaga.

Sungguh tidak kepalang gelisah Siau-hi-ji dan bayangan So Ing tetap tidak

tertampak, akhirnya dia tidak tahan, serunya, “Berangkat, ayo berangkat.

Peduli dia datang atau tidak, biarlah kita pergi mencarinya saja.”

Kang Giok-long menghela napas panjang, katanya, “Kini baru mau pergi

mencarinya, kukira sudah agak terlambat.”

Mata Siau-hi-ji melotot sebesar telur ayam, bentaknya bengis, “Terlambat?

Terlambat apa maksudmu?”

“Jika sekarang pergi mencari nona So lebih dulu baru kemudian balik lagi

menolong Hoa-kongcu, kukira Hoa-kongcu mungkin sudah ….” Giok-long

sengaja menghentikan ucapannya.

Benar juga, Siau-hi-ji lantas berjingkrak gusar dan membentak, “Mungkin

sudah apa? Katakan lekas!”

Kang Giok-long sengaja berlagak tergegap-gegap, jawabnya, “Ter … terus

terang, tempat yang kugunakan menyimpan Hoa Bu-koat itu tidak … tidak

terlalu enak, malahan kurang tembus hawa, jika … jika terlalu lama, bukan

mustahil dia akan mati sesak napas di sana.”

Segera Siau-hi-ji hendak menubruk maju untuk menghajarnya, tapi baru satu

langkah mendadak ia berhenti, air mukanya yang marah lantas berubah

tertawa, katanya, “Haha, Kang-heng adalah orang antar, tentunya kau tahu

apabila Hoa Bu-koat mati kan juga tiada faedahnya bagimu.”

Kang Giok-long menghela napas, ucapnya, “Tentang ini dengan sendirinya

Siaute cukup maklum, cuma ….” dia tatap Siau-hi-ji, lalu menyambung dengan

perlahan, “… jika sekarang Siaute menolongnya keluar, lalu apa pula

faedahnya bagiku?

Cepat Siau-hi-ji menjawab, “Jika kau menolong dia keluar, kujamin akan minta

obat penawar dari So Ing untukmu.”

“Siaute sekarang sudah sadar, kurasa kehidupan ini hanya khayalan belaka,

mati atau hidup hanya impian saja, apakah nanti Siaute akan mendapatkan

obat penawar atau tidak sudah tak terpikir lagi olehku.”

Bahwa Kang Giok-long mendadak mengucapkan kata-kata yang berbau filsafat

orang hidup, ini benar-benar lebih mengejutkan seperti mendadak mendengar

Hwesio bicara tentang bacaan porno. Keruan Siau-hi-ji melenggong dan

memandangnya dengan terbelalak.

“Kau … kau ini Kang Giok-long tulen atau bukan?” tanya Siau-hi-ji kemudian.

“Tulen atau palsu, betul atau tidak, satu sama lain tiada bedanya,” ucap Gioklong

pula seperti seorang pendeta.

“Hahaha, bagus, bagus!” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Kiranya Kang-heng ini

reinkarnasi seorang Hwesio tua,” mendadak ia berhenti tertawa dan berkata

pula dengan serius, “Baiklah, jika Kang-heng sudah dapat menyadari artinya

orang hidup, maka sekarang kita boleh pergi menolong Hoa Bu-koat.”

Kembali Giok-long menghela napas, ucapnya, “Meski Siaute sudah tidak

memikirkan lagi tubuh yang busuk ini, akan tetapi ….” dia berpaling dan

memandang Thi Peng-koh sekejap, lalu menyambung dengan muram, “Akan

tetapi dia … cintanya padaku membuat aku tak dapat meninggalkan dia.”

Termangu-mangu Thi Peng-koh memandangi Kang Giok-tong dengan air mata

berlinang-linang, entah gembira, entah terkejut, entah percaya atau tidak?

Siau-hi-ji lantas menukas, “Memang betul, persoalan cinta, biarpun nabi atau

dewa sekalipun juga sukar menghindarinya, tapi entah maksud Kang-heng

apakah ….”

“Setelah mengalami peristiwa ini, Siaute tiada hasrat buat berlomba lagi di

dunia Kangouw dengan para saudara, yang kuharap budi dan dendam dapat

dibereskan sekaligus, bersama dia, kami akan mengasingkan diri ke tempat

yang terpencil, kami akan hidup tenteram dan sejahtera untuk selanjutnya,

namun ….” dia menyengir dan menyambung pula, “… namun sesungguhnya

sudah terlalu banyak kesalahan yang pernah kulakukan, kutahu Hi-heng pasti

juga takkan membiarkan kupergi begini saja, betul tidak?”

Dengan sungguh-sungguh Siau-hi-ji menjawab, “Peribahasa berbunyi ‘taruh

golok jagal, seketika menjadi Budha’. Tindakan Kang-heng ini sungguh sangat

kukagumi, mana bisa kucari perkara lagi padamu?”

“Tapi … bukanlah Siaute tidak mempercayai Hi-heng, soalnya ….”

“Soalnya setiap orang tahu Kang Siau-hi bukanlah seorang Kuncu,” tukas Siauhi-

ji dengan tertawa, “Makanya seumpama kau tidak percaya padaku juga

takkan kusalahkan kau. Tapi dengan cara bagaimana kiranya barulah kau

dapat percaya padaku?”

Giok-long termenung sejenak, katanya kemudian, “Hi-heng berpengalaman

banyak dan berpengetahuan luas, tentunya tahu dalam tetumbuhan jamur ada

sejenis yang disebut Li-ji-hong (merah anak perempuan).”

Berubah juga air muka Siau-hi-ji mendengar nama tumbuhan ini, tapi cepat ia

menjawab dengan tertawa, “Ah, mana berani kuterima sebutan pengalaman

banyak dan pengetahuan luas segala, cuma aku memang dibesarkan di

pegunungan, maka secara kebetulan pernah juga mendengar nama Li-ji-hong

begitu.”

“Barang apakah Li-ji-hong itu?” tiba-tiba Thi Peng-koh ikut menimbrung.

“Li-ji-hong ini adalah sejenis jamur yang tumbuh di tempat yang lembap,” tutur

Siau-hi-ji. “Konon barang siapa memakannya tidak sampai lima hari pasti akan

menderita semacam penyakit aneh.”

“O, penyakit aneh apa?” tanya Peng-koh pula.

“Konon penyakit ini pada awalnya tidak memperlihatkan tanda apa-apa, hanya

si penderita merasa pening kepala dan ingin tidur melulu. Semangat lesu dan

seperti orang sakit rindu,” demikian tutur Siau-hi-ji. “Untuk menyembuhkan

penyakit aneh ini, setiap beberapa bulan sekali si penderita harus makan

sejenis rumput yang disebut Ok-po-cau, (rumput nenek jahat), dimakan

bersama akarnya, kalau tidak, penyakit rindu itu akan bertambah berat dan

tidak lebih dari setahun akan tamatlah riwayatnya.”

Siau-hi-ji tertawa, lalu menambahkan pula, “Hanya dengan Ok-po-cau saja

dapat mengatasi Li-ji-hong, menarik bukan nama-nama ini? Anehnya, dalam

keadaan sekarang tiba-tiba Kang-heng menyinggung jamur Li-ji-hong, apa

barangkali Kang-heng ingin membikin diriku sakit rindu?”

Sekali ini Kang Giok-long ternyata tidak berbelit-belit lagi, tapi langsung

menjawab dengan terus terang, “Ya, betul.”

Hampir saja Oh Yok-su menyangka Kang Giok-long menjadi gila mendadak

sehingga mengemukakan permintaan yang mustahil itu, apabila Siau-hi-ji

setuju dan benar-benar makan jamur Li-ji-hong itu, bukankah dia juga sudah

sinting?

Namun Siau-hi-ji lantas tertawa, katanya, “Tapi benda yang sukar dicari itu,

dalam waktu singkat begini ke mana akan kau dapatkan untukku?”

“Jika kucari ke tempat lain, mungkin setengah tahun juga takkan

menemukannya,” ujar Giok-long. “Tapi sungguh kebetulan, di sekitar sini justru

ada sebuah Li-ji-hong, asalkan Hi-heng sudah setuju, segera akan kupergi

memetiknya untukmu.”

Thi Peng-koh juga tidak tahan akhirnya, serunya, “Apakah kau sudah gila?

Masa kau bicara begitu, mana … mana dia mau terima permintaan ini?”

Tapi Giok-long tidak menggubrisnya, dengan perlahan ia berkata pula,

“Tentunya Hi-heng tahu, seperti juga Li-ji-hong, Ok-po-cau pun sangat sukar

dicari, akan tetapi rumput ini dapat ditanam dan dirawat oleh tenaga manusia,

kebetulan Siaute juga tahu cara menanamnya.”

Bola mata Siau-hi-ji tampak berputar-putar, tapi tidak bicara.

Maka Kang Giok-long lantas menyambung lagi, “Apabila urusan di sini sudah

selesai, segera akan kucari sesuatu tempat terpencil untuk mengasingkan diri

dan mencurahkan perhatian penuh untuk menanam Ok-po-cau bagi Hi-heng.

Jika Hi-heng ingin badan tetap sehat, dengan sendirinya engkau akan

melindungi keselamatanmu.”

Baru sekarang Oh Yok-su tahu maksud tujuan Kang Giok-long, rupanya dia

telah memakai perhitungan yang rapi dan persoalan ini hendak digunakan

sebagai alat pemeras terhadap Siau-hi-ji agar selanjutnya Siau-hi-ji tidak berani

lagi mencari perkara padanya.

Tapi jalan pikiran ini bukankah terlalu kekanak-kanakan, memangnya Siau-hi-ji

mau terima begitu saja? Sungguh lucu, hampir-hampir saja Oh Yok-su

bergelak tertawa.

Dilihatnya Siau-hi-ji berpikir sejenak, kemudian berkata dengan tertawa,

“Bahwa kau tidak percaya padaku, sebaliknya cara bagaimana aku dapat

percaya padamu? Dari mana pula kutahu kau benar-benar akan menanamkan

Ok-po-cau bagiku? Pula cara bagaimana kutahu Ok-po-cau itu pasti dapat

kumakan kelak?”

“Jika Hi-heng benar-benar mau mencariku, biarpun Siaute mabur ke langit atau

ambles ke bumi juga sukar menyembunyikan diri.”

Orang pintar seperti Siau-hi-ji ternyata dapat mengajukan pertanyaan sebodoh

itu, jawaban Kang Giok-long juga lucu, tanya jawab mereka sama saja seperti

nol besar.

Tapi sekarang Siau-hi-ji justru seperti mau percaya, ia malah tanya lagi,

“Setelah kumakan Li jihong segera akan kau tolong Hoa Bu-koat?”

“Ya, apabila Siaute ingkar janji, setiap saat Hi-heng boleh mencabut nyawaku,”

jawab Giok-long.

Siau-hi-ji menghela napas, akhirnya dia berkata, “Baik, aku setuju!”

*****

Benar-benar Siau-hi-ji telah menerima syarat Kang Giok-long itu, urusan yang

tidak mungkin diterima oleh siapa pun juga, dia justru setuju dan menerimanya.

Urusan yang menurut perhitungan orang lain pasti akan dilakukannya justru

tidak dilakukannya, tapi urusan yang menurut perhitungan orang lain pasti tidak

mungkin dilakukannya justru disetujui dan akan dilakukannya.

Sungguh aneh, sungguh lucu, sungguh tidak masuk akal. Kecuali Siau-hi-ji

mungkin di dunia ini tiada orang kedua yang dapat melakukan hal-hal yang

mustahil ini.

Oh Yok-su memandang Siau-hi-ji dengan terkesima, pikirnya, “Gila, benarbenar

orang gila. Kiranya orang ini tidak waras, konon orang yang kelewat

pintar terkadang bisa berubah menjadi gila, tampaknya cerita ini memang tidak

salah.”

Thi Peng-koh juga melongo heran dan terkejut sehingga tidak sanggup

bersuara.

Kemudian Kang Giok-long benar-benar berhasil menggali Li-ji-hong yang

tampaknya sangat menarik dan Siau-hi-ji juga benar-benar memakannya

dengan tertawa.

Setelah mengusap mulut, Siau-hi-ji berkata, “Hebat, sungguh hebat. Tak

tersangka Li-ji-hong ini adalah makanan selezat ini, selama hidupku ini belum

pernah menikmati barang seenak ini.”

Sampai di sini girang Kang Giok-long benar-benar sukar dilukiskan, dia

berlagak menyesal, katanya, “Wanita cantik kebanyakan bibit bencana bagi

keruntuhan seorang penguasa atau suatu negara, racun yang mematikan

sering kali adalah makanan yang terasa paling enak, hanya obat mujarab saja

rasanya pasti pahit.”

“Dan kata-kata yang muluk-muluk kebanyakan hanya dusta belaka,” sambung

Siau-hi-ji sambil menarik tangan Kang Giok-long, “Nah, ayolah Kang-heng

lekas pergi menolong Hoa Bu-koat!”

*****

Letak rumah batu itu memang sangat terpencil, sekarang Kang Giok-long

membawa Siau-hi-ji lebih maju lagi ke tempat yang semakin sepi, jalanan juga

semakin menanjak dan curam.

Celakanya penyakit Kang Giok-long seperti kumat lagi, belum berapa jauh dia

sudah megap-megap, berapa langkah pula dia lantas jatuh, kedua kakinya

gemetar seperti orang sakit malaria.

Siau-hi-ji sangat gelisah dan tidak sabar lagi, segera dia pondong Kang Gioklong,

katanya, “Di mana tempat yang kau maksudkan, coba katakan, akan

kubawa kau ke sana.”

“Wah, bikin capai Hi-heng, rasanya tidak enak,” ujar Giok-long.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Tidak jadi soal, tulangmu sangat enteng seperti

anak kecil, tidak memerlukan tenaga untuk membopong kau.”

“Apakah tulang Hi-heng sangat besar? Wah, kelak Siaute kan tidak sanggup

memondong engkau?” jawab Giok-long dengan tertawa.

Dengan mendongkol Thi Peng-koh lantas menyela, “Sudahlah, maukah kalian

berhenti bertengkar mulut?”

“Ah, mana kuberani bertengkar mulut dengan Hi-heng,” ucap Giok-long.

“Soalnya ….” sampai di sini mendadak ia menuding ke atas sana dan berseru,

“Itu dia, apakah Hi-heng melihat gua di atas sana.”

Siau-hi-ji mengikuti arah aneh yang ditunjuk itu, dilihatnya dinding tebing yang

curam dan penuh berlumut itu memang betul ada sebuah lubang gua yang

gelap gulita. Di mulut gua menonjol sepotong batu sehingga mirip balkon pada

gedung bersusun.

“Apakah kau sembunyikan Hoa Bu-koat di gua itu?” tanya Siau-hi-ji.

“Lumayan bukan tempat ini?” ucap Giok-long.

“Mengapa tidak kau sumbat lubang gua itu dengan batu?” tanya Siau-hi-ji pula.

“Selangkah saja Hoa-kongcu tidak mampu berjalan, masa aku khawatir dia

akan melarikan diri?” jawab Giok-long.

Mendadak Siau-hi-ji mendelik, bentaknya, “Jika gua itu tidak tertutup, mengapa

kau bilang dia bisa mati sesak napas.”

Kang Giok-long tenang-tenang saja, jawabnya acuh, “Mungkin dia takkan mati

sesak napas, tapi gua yang terletak di pegunungan begini bukan mustahil ada

binatang buas atau ular berbisa ….” Belum habis ucapannya, Siau-hi-ji sudah

meloncat ke atas.

“Lebih baik Hi-heng menurunkan diriku agar lebih jelas keadaan tempat ini,”

kata Giok-long.

Batu yang mirip balkon itu pun penuh berlumut dan sangat licin, setelah Siauhi-

ji menurunkan Kang Giok-long, tampaknya berdiri saja dia tidak berani,

khawatir terpeleset. Dia merangkak ke mulut gua dan melongok ke dalam,

mendadak ia berteriak, “Hoa-kongcu, kami datang menolongmu, apakah kau

dengar?”

Suara yang berkumandang balik terdengar mendengung-dengung, tapi tiada

terdengar jawaban Hoa Bu-koat.

Giok-long berkerut kening, serunya pula, “Hoa-kongcu, bag … bagaimana

engkau? Meng … mengapa ….”

Siau-hi-ji menjadi tidak sabar, ia tarik mundur Kang Giok-long, ia sendiri lantas

mendekam di mulut gua dan melongok ke dalam, tapi keadaan di dalam gua

gelap gulita, apa pun tidak kelihatan.

“Adakah kau lihat Hoa-kongcu, Hi-heng?” tanya Giok-long.

Dengan gusar Siau-hi-ji menjawab, “Keparat, sebenarnya kau main gila apa

….” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong tungkak kakinya didorong

oleh tenaga mahakuat, belum sempat Siau-hi-ji menjerit kaget, tahu-tahu

tubuhnya sudah terjerumus ke dalam gua.

Kang Giok-long yang tadinya tidak sanggup berjalan itu kini mendadak berubah

menjadi gagah perkasa, cepat ia melompat bangun dan berseru ke dalam gua,

“Hi-heng … Siau-hi-ji ….”

Namun tiada jawaban Siau-hi-ji, selang sejenak baru terdengar suara “plung”,

nyata gua itu sangat dalam.

Sambil menengadah Kang Giok-long tertawa ngakak, katanya, “Siau-hi-ji,

wahai Siau-hi-ji, baru sekarang kau tahu kelihaian Kang Giok-long, akhirnya

kau tertipu dan kena kukerjai juga.”

Thi Peng-koh memandang dari bawah ke atas, apa yang terjadi di atas itu tak

jelas baginya. Kini mendengar suara tertawa senang Kang Giok-long itulah

baru dia terkejut, cepat ia bertanya, “He, engkau telah apakan Siau-hi-ji?”

“Kau lebih memperhatikan dia atau cuma memperhatikan aku?” tanya Gioklong

dengan tertawa.

“Tapi … tapi engkau kan tidak boleh ….”

“Tidak boleh apa?” tanya Giok-long dengan tertawa.

“Kau membunuhnya?” seru Peng-koh parau.

“Tidak kubunuh dia, memangnya harus kutunggu dibunuh olehnya?” kata Gioklong

dengan terbahak.

Kejut dan gusar Thi Peng-koh, teriaknya dengan parau, “Bukankah kau ingin

hidup tenteram bersamaku, mengapa sekarang engkau ….”

Sambil bicara segera ia bermaksud meloncat ke atas, tapi baru saja dia

hendak bergerak, mendadak teringat olehnya bahwa baju yang dipakai olehnya

sekarang adalah baju panjang milik Oh Yok-su, bagian dalam kosong

melompong tiada memakai apa pun, jika lompat ke atas, yang pasti untung

adalah Oh Yok-su yang berdiri di bawah dan akan menikmati tontonan menarik

dan gratis. Karena itulah dia urungkan niatnya sambil mengepit bajunya lebih

rapat.

Oh Yok-su juga terkejut dan melenggong, sejenak kemudian barulah dia

bersuara, “Jika benar Siau-hi-ji telah kena racun Li-ji-hong, selanjutnya kan

dapat kau peralat dia agar tunduk kepada segala perintahmu, kalau sekarang

juga kau celakai jiwanya, kan sayang?”

“Tak tersangka olehmu bukan?” tanya Giok-long.

“Ya, aku memang rada-rada tidak mengerti?” ujar Oh Yok-su.

“Apa yang tidak dimengerti olehmu juga tak dimengerti oleh Siau-hi-ji, makanya

dia tertipu olehku,” ucap Giok-long dengan tertawa. “Li-ji-hong tadi tidak lebih

hanya sebagai kail saja. Nah, sekarang kau paham tidak?”

Kembali Oh Yok-su melengak, ia merasa betapa licin tipu akal Kang Giok-long

ini dan kejinya sungguh sukar dibayangkan orang.

Lalu Giok-long berkata pula, “Dia selalu sok pintar, selalu menganggap orang

lain tidak dapat menipu dia, justru di sinilah letak kelemahannya. Apabila

seseorang menganggap dirinya sendiri teramat pintar, terkadang dia akan

tertipu juga secara amat bodoh,” ia terbahak-bahak, lalu menyambung, “Siauhi-

ji, wahai Siau-hi-ji, kau senantiasa menganggap dirimu adalah orang pintar

nomor satu di dunia, sekarang tentunya kau tahu, orang pintar nomor satu di

dunia ini sesungguhnya siapa?”

“Dan Hoa Bu-koat bagaimana? Apakah dia juga sudah dicelakai olehmu?” tibatiba

Oh Yok-su bertanya.

“Sudah sejak tadi Hoa Bu-koat kabur,” jawab Giok Long.

“Kabur? Dia sudah kabur?” Oh Yok-su menegas dengan terkesiap.

“Memangnya kau kira Hoa Bu-koat orang tolol dan linglung?” tutur Giok-long

dengan tertawa. “Supaya kau tahu, dia juga bisa menipu orang. Dia sengaja

berlagak linglung agar kalian tidak berjaga-jaga padanya, kesempatan baik itu

lantas digunakan untuk kabur.”

Oh Yok-su tertegun sejenak, katanya kemudian sambil menyengir, “Lalu di

mana Pek San-kun?”

“Waktu itu penyakitku lagi kumat, dalam keadaan samar-samar aku pun tidak

memperhatikannya, rasanya dia seperti pergi mengejar Hoa Bu-koat,” kata

Giok-long.

Oh Yok-su menatapnya lekat-lekat dan bertanya, “Dan sekarang penyakitmu

….”

“Ada sementara obat yang sangat lihai, tapi punahnya juga sangat cepat ….”

Mendadak Oh Yok-su melompat ke atas dan berteriak khawatir, “Wah, celaka,

racun yang kuminum belum lagi punah, aku masih harus minta obat penawar

padanya.”

“Bagus, silakan mencarinya ke bawah!” jengek Giok-long tiba-tiba. Mendadak

sebelah tangannya menghantam.

Padahal Oh Yok-su baru saja melayang ke atas dan belum lagi berdiri tegak,

kalau melompat balik ke bawah memang dapat menghindarkan serangan itu,

tapi ganti napas saja belum sempat, bila melompat turun ke bawah, andaikan

tidak jatuh terluka juga pasti tak dapat berdiri tegak. Bukan mustahil

kesempatan itu akan digunakan Kang Giok-long untuk menubruk ke bawah

dan menyerangnya lagi, maka pasti sukar untuk mengelak.

Hendaklah diketahui bahwa setiap tokoh “Cap-ji-she-shio” adalah jagoan yang

sudah berpengalaman, Oh Yok-su bahkan tergolong salah satu di antaranya

paling menonjol, sebab itulah bilamana bergebrak dengan orang selalu

digunakan perhitungan yang matang, baik sebelum maupun sesudahnya.

Batu di mulut gua itu sangat licin, menurut perhitungan Oh Yok-su, bagian kaki

Kang Giok-long pasti tidak cukup kukuh berdirinya, kalau bagian kaki kurang

kuat, daya pukulannya juga pasti tidak keras.

Karena itu pukulan Giok-long itu tidak dihindarkan lagi oleh Oh Yok-su, ia

sengaja menerima pukulan itu, tapi kakinya mendadak juga menyapu ke

bagian bawah Kang Giok-long.

Serangan ini memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu, benarbenar

satu tipu serangan yang bagus, kalau bukan jago kawakan yang

berpengalaman pasti tidak dapat melancarkan serangan berbahaya dan jitu ini.

Tapi Kang Giok-long hanya tertawa terkekeh kekeh saja, katanya, “Boleh juga

juragan kelinci kita ini!” Mendadak ia melompat ke atas, berbareng kedua

kakinya menendang secara berantai dalam keadaan tubuh terapung.

Sama sekali tak terduga oleh Oh Yok-su bahwa di tempat begini Kang Gioklong

berani menggunakan serangan demikian, keruan ia terkejut, hendak

berkelit pun tidak keburu lagi. Maklum, ia sendiri baru saja menendangkan

sebelah kakinya dan belum sempat ditarik kembali, tentu saja bagian bawah

menjadi goyah, sedangkan ujung kaki Kang Giok-long sudah menendang ke

tenggorokannya.

Dalam keadaan kepepet terpaksa dia menyambut tendangan Giok-long itu

dengan tangan. Sudah tentu tenaga tangan tidak sekuat tenaga kaki,

seumpama tendangan itu dapat ditangkis oleh tangannya juga orangnya pasti

akan terdepak ke bawah. Sebaliknya kalau kaki Kang Giok-long sampai

terpegang olehnya, tentu pula akan ikut terseret jatuh ke bawah, meski cara

demikian lebih mirip perkelahian antara kaum gelandangan, tapi dalam

keadaan kepepet, hal-hal demikian tak terpikir lagi olehnya.

Di luar dugaan, dalam keadaan tubuh terapung Kang Giok-long masih ada sisa

tenaga untuk mengubah gerak serangannya. Mendadak kedua kakinya

menendang beberapa kali dalam waktu sekejap saja, jangankan hendak

menangkap kakinya, bahkan arah datangnya kaki saja tak jelas bagi Oh Yoksu.

Baru sekarang Oh Yok-su tahu bahwa Kang Giok-long ini bukan cuma licin, keji

dan kejam, bahkan tinggi ilmu silatnya juga jauh di luar dugaannya. Ia tahu

dirinya tidak mampu melawannya, ia menghela napas dan mendadak

menjatuhkan diri ke atas batu yang berlumut itu, menyusul terus menggelinding

dan terjun ke dalam gua yang gelap gulita itu.

Tinggal Thi Peng-koh saja yang masih berdiri termangu-mangu di bawah tanpa

bergerak, Kang Giok-long sengaja pamer, ia berjumpalitan satu kali di udara

lalu dengan enteng seperti seekor kupu-kupu raksasa turun di samping Pengkoh.

Namun si nona masih tetap anggap tidak melihatnya.

“Beberapa kali tendangan tadi sudah kau lihat bukan?” dengan cengar-cengir

Giok-long bertanya.

Tanpa memandangnya Peng-koh menjawab dengan hambar, “Ya.”

“Itulah kombinasi tendangan dari Bu-tong-pay, Kun-lun-pay, Siau-lim-pay, dan

Go-bi-pay yang telah kugabungkan dan diubah di sana sini sehingga jadilah

ilmu tendangan seperti tadi, untuk itu kuberi nama ‘tendang mati orang tidak

ganti nyawa’. Coba, bagus tidak nama ini?”

“Bagus,” jawab Peng-koh dengan dingin.

“Nah, kau mempunyai suami yang berkepandaian setinggi ini, masa tidak

gembira?” tanya Giok-long dengan tertawa.

Mendadak Thi Peng-koh melengos terus lari ke sana.

Cepat Giok-long memburu maju dan mengadang di depannya, ucapnya

dengan tertawa, “Eh, apa-apaan kau ini? Kan sudah lama kita tidak berkumpul,

sekarang penyakitku sudah sembuh, inilah kesempatan pertama bagi kita

untuk bermesraan, kenapa kau malah tidak gubris padaku?”

“Silakan kau cari dan bermesraan dengan orang lain saja,” jengek Peng-koh,

“Orang pintar seperti kamu, ksatria yang berkepandaian tinggi pula, mana

kuberani menaksir dirimu.”

“Mencari orang lain? Mencari siapa? Yang kusukai hanya dikau!” rayu Gioklong,

berbareng Peng-koh terus dirangkul dan diciumnya.

Karena tak dapat melepaskan diri, Peng-koh hanya meronta-ronta saja sambil

berseru, “Kau … kau … lepaskan!”

“Tidak, tidak akan kulepaskan, biarpun kau bunuh aku juga takkan

kulepaskan,” kata Giok-long dengan memicingkan sebelah mata, tangannya

juga mulai menggerayang ke dalam baju Peng-koh yang longgar itu.

Peng-koh masih meronta-ronta, akhirnya ia pun kehabisan tenaga, tanpa

terasa ia mencucurkan air mata, ucapnya dengan suara gemetar, “Lepaskan

dulu diriku, ingin … ingin kutanya sesuatu padamu.”

“Tanyalah, kan mulutmu tidak kusumbat?!” jawab Giok-long dengan cengarcengir,

sudah tentu tangannya tidak pernah berhenti “main”.

“Coba jawab, setelah kau celakai Siau-hi-ji, memangnya kau belum puas dan

mengapa masih membinasakan Oh Yok-su pula?”

“Masa kau tidak tahu apa sebabnya?”

“Tidak,” jawab Peng-koh.

“Sudah sejak mula kulihat kelinci keparat itu memandangmu dengan matanya

yang serupa mata maling, rasa gemasku sudah tak terlukiskan, kalau bisa

seketika itu pun akan kubunuh dia, masa perlu kau tanya lagi?”

“Kau … kau bunuh dia, masa … masa demi diriku?”

“Bukan demi dirimu, memangnya demi siapa lagi?” ujar Giok-long dengan

tertawa. “Entah mengapa, asalkan orang lain memandang sekejap padamu,

rasa hatiku lantas panas. Apalagi kelinci keparat itu berniat jahat kepadamu.

Hm, kecuali aku sendiri, barang siapa berani menyentuh satu jarimu, mustahil

tidak kubinasakan dia.”

Sambil bicara, kerja tangannya juga bertambah aktif sehingga Thi Peng-koh

sampai geliang-geliut.

“Sungguh tak tersangka sebesar ini cemburumu,” ucap Peng-koh dengan

gegetun.

“Jika aku tidak suka padamu, mana bisa cemburu?” kata Giok-long.

Rasa marah Peng-koh sudah lenyap sejak tadi, kini pipinya malah bersemu

merah, bukan saja suaranya rada gemetar, bahkan tubuhnya juga mulai

gemetar.

Giok-long menempelkan mulutnya ke tepi telinga si nona dan membisiki duatiga

kata.

Seketika muka Thi Peng-koh menjadi merah dan meronta, serunya, “Tidak,

tidak boleh di sini ….”

“Mengapa tidak boleh?” ucap Giok-long tertawa.

“Bila … bila dilihat orang ….”

“Setan saja tidak kelihatan di sini, mana ada orang segala?” kata Giok-long.

“Ayolah ….”

Belum lanjut ucapnya, entah mengapa, tahu-tahu Thi Peng-koh memberosot

lepas dari rangkulannya, terus “terbang” ke atas sambil menjerit kaget.

Tentu saja Kang Giok-long juga berjingkat, tanpa terasa ia memandang ke

arah Peng-koh, dilihatnya kedua paha si nona yang putih mulus itu sedang

terayun-ayun di udara, tubuhnya mengapung lurus ke atas seperti roket yang

baru lepas landas, sekaligus mengapung setinggi beberapa tombak dan

anehnya dengan tepat hinggap di atas pohon.

Pohon itu tumbuh mencuat keluar dari celah tebing, baju Thi Peng-koh yang

longgar itu persis menyangkut pada ranting pohon, seketika badannya

telanjang bulat bergelantungan di udara, persis Swike atau kodok hijau yang

habis dibelejeti kulitnya oleh si penjual di pasar.

Sungguh tak terbayangkan oleh Kang Giok-long cara bagaimana Thi Peng-koh

bisa bergelantungan begitu di udara, tanpa pikir ia berteriak-teriak, “Lekas

lompat turun, lekas! Akan kupegang kau!”

Thi Peng-koh seperti melenggong kaget, bergerak saja tidak bisa lagi,

mukanya juga pucat lesi, rasa takutnya yang tak terhingga tertampak dari sorot

matanya yang guram itu. Tapi sorot matanya itu tidak memandang ke arah

Kang Giok-long.

Dengan sendirinya Giok-long lantas berpaling mengikuti arah pandang si nona,

baru sekarang dilihatnya seorang berbaju putih dengan rambut panjang terurai

di pundak entah sejak kapan telah berdiri di depannya.

Baju putih orang ini berkibar tertiup angin, tubuhnya kaku seperti patung tanpa

bergerak, mukanya juga memakai sebuah topeng ukiran kayu, kelihatannya

seperti badan halus yang baru muncul dari bawah tanah.

Jelas sekarang bagi Kang Giok-long, mengapungnya Thi Peng-koh ke atas itu

adalah karena dilemparkan oleh orang ini. Hanya sekali lempar saja Thi Pengkoh

telah mencelat setinggi beberapa tombak dan menyangkut di ranting

pohon, kepandaian ini sungguh sukar untuk dibayangkan.

Sebenarnya Kang Giok-long sangat licik dan licin, pintar melihat gelagat, mahir

membedakan arah angin. Kalau kebentur orang yang berkepandaian jauh di

atasnya, andaikan dia disuruh makan tahi seketika juga dia tak berani

membantah.

Tapi bayangkan, seorang lelaki yang hasratnya sedang menyala-nyala,

mendadak kehendaknya itu digagalkan orang, maka betapa rasa murkanya itu

sungguh tak terkatakan.

Tentu saja Kang Giok-long menjadi gusar dan lupa segalanya, segera ia

membentak, “Apakah kau ini gila? Tanpa hujan tiada angin, mengapa kau cari

perkara padaku?”

Si baju putih bertopeng kayu itu tetap berdiri tegak, tidak bergerak juga tidak

bersuara.

Kang Giok-long tambah murka, segera ia menubruk maju terus menghantam.

Si baju putih tetap diam saja, hanya lengan bajunya mengebas perlahan,

kontan pukulan Kang Giok-long itu entah cara bagaimana mendadak berputar

balik dan “plak”, dengan tepat muka sendiri yang terpukul.

Seketika muka Kang Giok-long merah bengap karena pukulan itu, tapi otaknya

juga lantas sadar oleh pukulan itu, seketika kakinya terasa lemas, dengan

suara gemetar ia tanya, “Apakah … apakah engkau ini Ih-hoa-kiongcu?”

“Orang macam kau juga berani sembarangan menyebut Ih-hoa-kiongcu?”

jengek si baju putih.

Seketika Kang Giok-long menjatuhkan diri dan menyembah, ucapnya dengan

suara parau, “Ya, ya, hamba memang tidak sesuai untuk menyebut nama yang

keramat itu, hamba pantas dipukul.”

Dia memang pintar, tanpa menunggu si baju putih memukulnya segera ia

memukul dirinya sendiri, bahkan cukup keras caranya memukul.

Si baju putih hanya memandangnya dengan dingin tanpa bersuara.

Karena orang tidak bersuara, tangan Kang Giok-long juga tidak berani

berhenti, ia terus memukul muka sendiri, mukanya yang putih cakap itu

seketika merah bengap seperti ginjal babi yang baru disembelih, darah pun

meleleh dari ujung mulutnya.

Remuk redam perasaan Thi Peng-koh menyaksikan cara Kang Giok-long

menghajar mukanya sendiri, tanpa terasa ia memohon, “Kiongcu, sudilah

engkau mengampuni dia.”

Baru sekarang si Baju putih menengadah, katanya, “Kau mintakan ampun

baginya, lalu siapa pula yang akan mintakan ampun bagimu?”

Dengan suara gemetar Peng-koh menjawab, “Hamba tahu dosa hamba

teramat besar, sesungguhnya memang tidak berani meminta ampun kepada

Kiongcu.”

“Bagus, jika begitu coba jawab ke mana kau bawa Siau-hi-ji?”

“Siau-hi-ji .…” tiba-tiba Peng-koh tidak berani meneruskan, teringat apabila dia

bicara terus terang bahwa Siau-hi-ji telah dicelakai Kang Giok-long, bukan

mustahil seketika Kang Giok-long akan dicincang hingga hancur lebur oleh Ihhoa-

kiongcu.

“Siau-hi-ji bagaimana? Mengapa tidak kau lanjutkan?” tanya si baju putih.

“Dia … dia juga berada di sini,” jawab Peng-koh dengan tergagap-gagap,

“Mungkin dia berada di … di sebelah sana.”

“Baik,” kata si baju putih, “Sekarang juga akan kucari ke sana, asal saja

keteranganmu ini benar.”

Dalam pada itu Kang Giok-long berkelesetan di tanah karena dihajar oleh

dirinya sendiri, namun begitu dia belum lagi berani berhenti.

“Sudah, cukup!” bentak si baju putih mendadak.

Seperti baru bebas dari neraka, Kang Giok-long merangkak bangun sambil

menyembah, katanya, “Te … terima kasih Kiongcu.”

“Sekarang kau harus menjaganya di sini, jika dia dicelakai orang lain, segera

kucabut nyawamu, bila dia dilarikan orang, jiwamu juga akan kubetot. Nah,

tahu tidak?” kata si baju putih.

“Hamba tahu,” jawab Giok-long takut-takut.

“Sedikitnya kau harus tahu, apabila jiwa seseorang sudah kuincar, biarpun dia

lari ke ujung langit juga pasti dapat kutemukan dia,” jengek pula si baju putih.

Kembali Giok-long mengiakan sambil munduk-munduk. Waktu dia angkat

kepalanya, tahu-tahu si baju putih sudah menghilang seperti badan halus.

Ia menghela napas dan berucap dengan meringis, “Inilah Ih-hoa-kiongcu,

kiranya beginilah Ih-hoa-kiongcu, tak tersangka hari ini aku dapat melihatnya,

mungkin nasibku lagi mujur.”

“Masa kau anggap mujur?” seru Peng-koh dengan parau.

“Berapa orang Kangouw yang dapat melihat Ih-hoa-kiongcu, apa namanya jika

bukan mujur.”

“Untung yang datang ini Kiongcu muda, jika Kiongcu besar yang datang, saat

ini jiwa kita mungkin sudah amblas.”

Namun Kang Giok-long sedang memandang jauh ke sana dengan termangumangu,

entah apa yang lagi dipikirkan.

Dengan kesal Thi Peng-koh berkata pula, “Nanti kalau dia sudah datang lagi,

kita tetap tak dapat hidup lebih lama. Kau telah mencelakai Siau-hi-ji, tidak

mungkin dia mengampunimu.”

“Sebab apa? Bukankah dia mengharuskan Hoa Bu-koat membunuh Siau-hi-ji?”

“Betul, tapi dia cuma menginginkan Hoa Bu-koat membunuh Siau-hi-ji dengan

tangan sendiri, orang lain dilarang mengganggu satu jari pun Siau-hi-ji, bahkan

dia sendiri juga pasti tidak akan mencelakai Siau-hi-ji.”

“Aneh, apa sebabnya?” ucap Giok-long dengan heran, “Sungguh aneh, benarbenar

aneh?!”

“Aku pun tidak tahu apa sebabnya,” tutur Peng-koh. “Mereka kakak beradik

memang manusia aneh. Betapa pun juga sekarang lekas kau tolong aku turun,

badanku terasa kesemutan, Hiat-toku tertutuk olehnya.”

“Mana bisa kutolong kau?” kata Giok-long dengan menyengir.

“Habis siapa … siapa yang akan menolongku jika bukan engkau?” seru Thi

Peng-koh.

“Sekalipun kutolong kau juga kita tetap tak dapat lolos dari cengkeramannya,”

ucap Giok-long dengan kesal.

“Tapi apa pun kan harus kita coba,” ujar Peng-koh. “Paling-paling hanya mati

saja. Jika sekarang juga kita kabur dan bersembunyi, sedikitnya kita masih

dapat hidup beberapa hari lagi dengan bahagia.”

Setelah berhenti sejenak, dengan tersenyum pedih kemudian Peng-koh

menyambung, “Ya, asalkan aku dapat hidup bersamamu dengan tenteram dan

bahagia, biarpun mati juga kurela.”

Kang Giok-long menunduk, tiba-tiba ia menengadah dan berkata, “Tapi kalau

tidak kau beritahu bahwa aku yang membunuh Siau-hi-ji, tentu dia takkan

membunuhku, betul tidak?”

Thi Peng-koh melengak, jawabnya dengan ragu-ragu, “Ya, mung … mungkin

….”

“Jika tadi telah kau dustai dia, kenapa tidak berdusta lagi,” ujar Giok-long.

“Tapi … tapi aku … aku ….”

“Jika akhirnya kau toh akan mati, untuk apa mesti menghendaki aku mati

bersamamu? Bila kau benar-benar cinta padaku, kau harus berani

mengorbankan dirimu untuk menolong aku, untuk itu pasti selamanya takkan

kulupakan.”

Thi Peng-koh benar-benar melenggong, sungguh tak pernah terpikir olehnya

bahwa Kang Giok-long bisa bicara demikian?

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menanggapi dengan tertawa terkekehkekeh,

“Bagus, bagus sekali! Sudah lama tak kudengar kata-kata mutiara

begini.”

Seorang lagi menambahkan dengan tertawa, “Jika saudara ini perempuan,

Siau Mi-mi pasti akan mengaku kalah bila menyaksikan kejadian ini.”

“Hahaha, dua Siau Mi-mi mungkin juga tak dapat menandingi dia seorang,”

sambung lagi orang ketiga.

Segera suara orang keempat bergelak tertawa, katanya, “Sejak kedua Auyang

bersaudara itu mati, kalian selalu khawatir sukar mencari gantinya, sekarang

sudah tersedia seorang calon di sini.”

Di tengah gelak tertawa ramai itulah dari balik lereng sana muncul empat

orang. Bentuk keempat orang ini sangat istimewa, yang satu bermulut lebar

luar biasa, seorang lagi lelaki bukan perempuan tidak, orang ketiga selalu

tersenyum simpul dan orang keempat mirip pengemis dengan memanggul

sebuah karung goni.

Karung yang dipanggulnya itu kelihatan bergerak-gerak, malahan terdengar

suara keluhan dari dalam karung, suara keluhan itu pun sangat aneh, seperti

orang sakit, tapi juga mirip keluhan orang kepuasan dan mengkilik-kilik

perasaan orang lain yang mendengarnya.

Sebelah tangan orang yang mirip pengemis itu memegang sepotong kayu dan

sebentar-bentar disabetkan ke atas karung goni. Setiap kali dia menyabet,

setiap kali pula suara keluhan itu bertambah kenikmatan, malahan terdengar

ucapannya yang samar-samar seperti lagi memohon, “Sabetlah yang keras …

kumohon, sabetlah lebih keras lagi ….”

Tapi orang yang mirip pengemis itu justru menurunkan karungnya dan tidak

memukul lagi, ia malah berkata pada Kang Giok-long dengan tertawa, “Coba,

di dunia ini ada orang yang suka dipukuli, pernah kau lihat atau tidak?”

Kang Giok-long memang benar-benar tak pernah melihat orang sinting

demikian, pada hakikatnya mendengar saja tidak pernah. Walaupun biasanya

dia pintar putar lidah, kini dia jadi kesima juga.

Dalam pada itu Thi Peng-koh yang masih terkatung-katung di atas pohon itu ya

malu ya cemas, akhirnya ia pingsan sendiri.

Keempat pendatang ini jelas bukan lain daripada Li Toa-jui, To Kiau-kiau, Pek

Khay-sim dan Ha-ha-ji. Namun siapakah pula yang berada di dalam karung

goni dan gemar dipukul itu?

Li Toa-ju mendekati Kang Giok-long, dengan tertawa lebar ia menegur,

“Sahabat cilik, siapakah namamu?”

Meski tidak tahu asal usul orang aneh ini, tapi melihat bentuk mereka yang luar

biasa, betapa pun Kang Giok-long tidak berani cari gara-gara, lalu menjawab,

“Cayhe Ciang Peng, entah tuan-tuan ini siapa pula?”

“Usia saudara masih muda belia, tapi nama Cap-toa-ok-jin kiranya juga pernah

kau dengar bukan?” jawab Li Toa-jui dengan tertawa.

Seketika berubah air muka Kang Giok-long, ucapnya, “Cap-toa-ok-jin? Janganjangan

… jangan-jangan Tuan ini ….”

“Haha, melihat mulutnya tentunya kau pun tahu siapa dia” seru Ha-ha-ji.

Giok-long mengerling mereka sekejap, tanpa terasa tangannya berkeringat

dingin.

To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Jangan khawatir, saudara cilik,

kedatangan kami ini tidak bermaksud jahat padamu.”

Tiba-tiba Giok-long tertawa, jawabnya, “Kalian adalah kaum Cianpwe dunia

persilatan, sudah tentu takkan mencari perkara kepada Wanpwe yang tiada

terkenal ini, hati Cayhe sungguh sangat lega, bahkan merasa gembira karena

dapat melihat wajah asli para Cianpwe.”

“Hihihi, coba lihat, betapa pintar cara bicara anak ini, seperti bermadu saja

mulutnya,” ucap To Kiau-kiau dengan mengikik.

“Haha, orang begini, Hwesio seperti diriku juga suka padanya,” tukas Ha-ha ji,

“Pantaslah nona di atas pohon itu pun tidak sayang berbuat apa pun baginya.”

Tiba-tiba Giok-long berkata serius, “Nona di atas pohon ini meski kenalan

Cayhe, tapi hubungan kami hanya berdasarkan persahabatan saja tanpa ada

persoalan asmara, janganlah Cianpwe salah mengerti.”

“Jika benar ada persahabatan, kini orang tergantung di atas pohon dalam

keadaan bugil, kenapa kau tidak menolongnya?” tanya To Kiau-kiau.

Giok-long menghela napas, jawabnya, “Meski ada maksudku untuk

menolongnya, tapi … tapi ada pembatasan antara lelaki dan perempuan,

sekarang dia dihina dan dianiaya orang cara begitu, rasanya tidak bebas

bagiku untuk menolongnya.”

“Wah, jika demikian, kau ini seorang lelaki sejati, seorang ksatria tulen,” To

Kiau-kiau berseloroh.

“Meski Cayhe sudah menjelajah Kangouw, tapi tidak berani melupakan

kesopanan dan keluhuran budi,” kata Giok-long.

Mendadak To Kiau-kiau tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya sambil menuding

hidung Kang Giok-long, “Coba lihat kalian, bukankah dia ini memang punya

sejurus dua simpanan. Jangankan Siau Mi-mi, sekalipun kedua Auyang

bersaudara juga mesti mengangkat guru padanya.”

“Haha, memang benar,” sambung Ha-ha-ji, “Cara bicara kedua Auyang

bersaudara yang dapat dipercaya kira-kira hanya satu kalimat di antara tiga

kalimat, tapi bocah ini seluruhnya cuma bicara empat kalimat dan ternyata

tiada satu pun yang dapat dipercaya.”

“Ah, kembali Cianpwe berkelakar, di depan para Cianpwe masa Wanpwe

berani berdusta?” ucap Giok-long.

“Kau tidak berani berdusta? Haha, kembali kau berdusta lagi!” seru Ha-ha ji

sambil ngakak.

Giok-long menghela napas, katanya, “Yang kukatakan semuanya adalah

sejujurnya, kalau Cianpwe toh tidak percaya, sungguh Cayhe ….”

“Kau bicara sejujurnya?” potong To Kiau-kiau dengan tertawa genit. “Jika

begitu ingin kutanya padamu. Kau mengaku bernama Ciang Peng, lalu si telur

busuk kecil yang bernama Kang Giok-long itu siapa pula dia?”

Di dunia ini memang banyak pendusta, tapi di antara sepuluh ribu pendusta

mungkin cuma satu-dua orang saja yang air mukanya tidak berubah bilamana

kebohongannya terbongkar di depan umum. Dan Kang Giok-long inilah benarbenar

pilihan di antara satu-dua orang pendusta itu. Mukanya tidak merah,

sikapnya tidak kikuk, sebaliknya malah tertawa.

To Kiau-kiau memandangnya lekat-lekat seakan-akan makin lama makin

tertarik, dengan tertawa ia tanya, “Apa yang kau tertawakan?”

“Sebab mendadak Cayhe merasa geli terhadap diriku sendiri,” jawab Kang

Giok-long.

“Oo,” To Kiau-kiau jadi melongo.

“Soalnya Wanpwe menyadari kalau berdusta di depan para Cianpwe,

hakikatnya seperti main kapak di depan tukang kayu, sungguh tidak tahu diri,

kan lucu?”

“Haha, bagus, tepat!” Ha-ha ji berkeplok tertawa. “Caramu menjilat pantat

sungguh menyenangkan dan kena, aku menjadi suka padamu.”

“Sebelum para Cianpwe bicara denganku, bisa jadi seluk-beluk mengenai

diriku sudah kalian selidiki dengan jelas,” kata Giok-long.

“Betul, kami tahu kau ini bernama Kang Giok-long, putra kesayangan Kanglam-

tayhiap segala, kami juga tahu nona cilik ini adalah anak murid Ih-hoakiong,”

tutur Kiau-kiau.

“Sungguh tidak nyana Cayhe bisa mendapatkan perhatian para Cianpwe,

terima kasih.”

“Apakah kau tahu sebab apa kami menaruh perhatian padamu?” tanya To

Kiau-kiau.

Giok-long tersenyum, tanyanya, “Barangkali Cianpwe hendak menjadi

comblang bagiku?”

“Buset!” Kiau-kiau tertawa. “Andaikan aku punya anak perempuan, lebih baik

kuberikan pada Li Toa-jui daripada diberikan padamu. Sedikitnya Li Toa jui

takkan makan kepalanya, tapi kau, haha, mungkin akan kau lalap seluruhnya

bersama tulang-tulangnya.”

“Ah, Cianpwe terlalu memuji, masa Cayhe dapat dibandingkan dengan Lilocianpwe,”

ujar Giok-long dengan tertawa.

“Ah, tidak perlu rendah hati kau,” ucap Li Toa jui. “Caraku makan orang palingpaling

cuma satu-satu, tapi caramu makan justru main lalap sebaris demi

sebaris. Bukankah orang-orang dari Siang-say-piaukiok itu telah kau telan

seluruhnya hanya dalam semalam saja?”

Kang Giok-long tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa,

“Sebenarnya apa sebabnya para Cianpwe menyelidiki diriku sejelas ini?”

“Mungkin kau tidak tahu bahwa setelah kedua saudara Auyang bersaudara

mati, kini Cap-toa-ok-jin hanya tersisa sembilan orang saja,” ucap To Kiau-kiau.

“Aneh, sepuluh dikurangi dua kan seharusnya tersisa delapan?” tanya Gioklong.

“Haha, caramu berhitung sungguh cermat,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa, “Jika

aku membuka pabrik, pasti kupakai tenagamu sebagai pemegang buku.”

“Tapi kau tidak tahu bahwa kedua Auyang Ting Tong itu terlalu suka cari

untung kecil, orang yang cuma suka cari untung kecil tidak dapat dianggap

Toa-ok-jin (penjahat besar) melainkan cuma telur busuk kecil saja. Sebab

itulah gabungan mereka berdua baru sekadarnya dapat dianggap seorang Okjin.”

“Jika demikian, untuk menjadi Toa-ok-jin harus mengesampingkan soal

keuntungan kecil … ya, kata-kata emas ini pasti akan kuingat selalu,” ucap

Giok-long dengan tertawa.

“Selain kedua Auyang bersaudara sudah mati, akhir-akhir ini, Ok-tu-kui kayakkayaknya

juga mau kembali ke jalan yang baik, sedangkan penyakit Ong-say

Thi Cian juga semakin pasrah, bilamana tiada orang yang bisa diajak berkelahi,

terkadang dia suka menghajar dirinya sendiri. Sedangkan Siau Mi-mi si ahli

pikat itu entah sembunyi di gua mana, maka munculnya kami sekali ini tiba-tiba

terasakan nama Cap-toa-ok-jin sudah tidak begitu tenar lagi di dunia

Kangouw.”

Dengan sendirinya Kang Giok-long tahu di mana beradanya Siau Mi-mi.

Sebagaimana diketahui Siau Mi-mi telah terkurung di istana bawah tanah oleh

Kang Giok-long dan Siau-hi-ji dahulu, mungkin selama hidupnya takkan muncul

lagi.

Namun Giok-long hanya tersenyum tak acuh, katanya, “Jangan-jangan maksud

para Cianpwe ingin mencari seorang pengganti Auyang bersaudara.”

“Betul, jika kami ingin membangkitkan nama kebesaran Cap-toa-ok-jin, maka

kami harus mencari tenaga baru,” kata To Kiau-kiau.

Berkilau sinar mata Kang Giok-long, katanya dengan tertawa, “Tapi orang

demikian memang sangat sukar dicari, setahuku, tokoh Kangouw yang dapat

disejajarkan dengan para Cianpwe mungkin dapat dihitung dengan jari.”

“Jauh di ujung langit, dekat di depan mata, sekarang juga sudah tersedia satu

orang di sini,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa sambil menatap Kang Gioklong.

“Ah, mana Cayhe sanggup,” cepat Giok-long menjawab.

“Hahaha, kau tidak perlu sungkan,” ujar Ha-ha-ji, “Usiamu memang muda belia,

tapi hasil karyamu sukar dinilai. Lewat dua tahun lagi mungkin kami pun tidak

dapat menandingimu.”

“Tidak perlu dua tahun lagi, sekarang pun kita sudah tak dapat melebihi dia,”

ucap To Kiau-kiau dengan tertawa.

Kang Giok-long seperti rada-rada kikuk, katanya, “Ah, mana kuberani,

sedemikian tinggi para Cianpwe menghargai diriku, sungguh Cayhe tidak tahu

cara bagaimana harus membalas kebaikan ini.”

“Hah, menarik, caramu bicara ini sungguh menarik, tidak percuma aku

memujimu, “seru Li Toa-jui dengan tertawa.

Mendadak Pek Khay-sim menyela, “Tapi, anak muda, jangan kau tertipu oleh

mereka. Bahwa mereka menarik kau masuk komplotan, tujuan mereka cuma

ingin menyuruhmu bekerja sesuatu bagi mereka.”

Dasar “merugikan orang lain tidak perlu menguntungkan diri sendiri”, sejak tadi

Pek Khay-sim diam saja, sekali buka mulut dia lantas mengacau.

Dengan tertawa Ti Kiau-kiau mengomel, “Anjing memang tidak lupa makan

najis, mana bisa mulut anjing tumbuh gading. Jangan kau percaya pada

ocehannya.”

“Justru yang kukatakan adalah sejujurnya,” seru Pek Khay-sim dengan

mendelik, “Jika kau tidak turut nasihatku, maka kau sendiri pasti bakal celaka.”

“Maksud baik Cianpwe sudah tentu kuterima,” ujar Giok-long dengan

tersenyum. “Tapi jika Cayhe ada kesempatan bekerja bagi para Cianpwe, ini

kan suatu penghargaan bagiku. Nah, ada petunjuk apakah, silakan para

Cianpwe katakan saja.”

Dengan tersenyum To Kiau-kiau lantas berkata, “Ada seorang tokoh persilatan

yang maha lihai, namanya Gui Bu-geh, di pegunungan inilah tempat

tinggalnya, kukira kau pun tahu hal ini. Tapi apakah kau tahu di liang tikusnya

itu sekarang telah kedatangan seorang tamu agung?”

Seketika lenyap air muka Kang Giok-long yang tersenyum-senyum tadi demi

mendengar yang dipersoalkan adalah Gui Bu-geh. Ia berdehem-dehem

beberapa kali, lalu menjawab, “Jika di dunia ini ada orang yang tidak ingin

kukenal, maka orang itu ialah Gui Bu-geh. Biarpun manusia di dunia sudah

mampus seluruhnya juga Cayhe tidak mau bergaul dengan dia. Apakah

liangnya sekarang kedatangan tamu agung atau tidak, sama sekali aku tidak

mau tahu dan juga tidak ingin tahu.”

“Cuma sayang, tamu agungnya itu justru kau kenal,” tukas Kiau-kiau.

Melengak juga Kang Giok-long, ia menegas, “Kukenal? Mana bisa kukenal

dia?”

“Selama hidup Gui Bu-geh tidak mempunyai kawan, sekalipun sesama

anggota Cap-ji-she-shio mereka juga sama takut padanya, asal melihat dia

tentu lekas-lekas menghindarinya,” tutur Kiau-kiau.

“Ya, kan ada pemeo yang mengatakan, ‘tikus lalu di jalan, setiap orang ingin

memukulnya’. Pernah juga Cayhe melihat orang yang suka bergaul dengan

kawanan ular atau binatang buas, tapi orang yang suka berkawan dengan tikus

mungkin tiada seorang pun,” kata Giok-long dengan tertawa.

“Kau salah,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa, “Orang yang berkawan dengan

tikus juga ada satu.”

“Oya?!” Giok-long melenggong.

“Sebenarnya tidak mengherankan kalau orang itu suka berkawan dengan Gui

Bu-geh, yang aneh adalah dia dapat membikin Gui Bu-geh berkawan dengan

dia.”

“Ya, malahan dia berhasil membujuk Gui Bu-geh sehingga mau menuruti

segala kehendaknya, padahal selama hidup Gui Bu-geh tidak pernah sebaik ini

terhadap orang lain,” sambung Li Toa-jui.

“Wah, jika demikian, kepandaian saudara ini sungguh luar biasa,” ujar Gioklong

dengan tertawa.

“Apakah kau tahu siapa gerangan orang itu?” tanya To Kiau-kiau.

Berputar biji mata Kang Giok-long, jawabnya, “Memangnya orang itu ada

sangkut-pautnya dengan diriku?”

“Bukan saja ada sangkut-pautnya, bahkan sangat erat hubunganmu dengan

dia,” tukas Kiau-kiau.

Akhirnya tertampil juga rasa kejut dan heran pada wajah Kang Giok-long,

katanya, “Sungguh Cayhe tidak ingat bilakah punya sahabat yang

berkepandaian sehebat itu.”

“Hihi, siapa bilang dia itu sahabatmu?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Kau

memang tidak mempunyai sahabat yang berkepandaian tinggi, tapi kau

mempunyai bapak yang berkepandaian mahasakti, masa kau lupa?”

Baru sekarang Kang Giok-long benar-benar melengak, ia menegas, “Jadi kau

maksudkan ayahku?”

“Betul,” jawab Kiau-kiau, “Tamu agung Gui Bu-geh itu ialah Kang-lam-tayhiap

Kang Piat-ho.”

Giok-long melenggong sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Sungguh

tak tersangka ayahku bisa bersahabat dengan Gui Bu-geh.” Meski dia berucap

dengan rasa menyesal tapi sorot matanya jelas menampilkan rasa senang.

“Memangnya apa jeleknya kalau bersahabat dengan Gui Bu-geh?” kata To

Kiau-kiau, “Mempunyai sandaran sekuat Gui Bu-geh, sekali pun Ih-hoa-kiongcu

hendak mencari perkara padanya juga tidak perlu takut lagi.”

Saking senangnya hampir saja Giok-long tertawa, ia coba bertanya pula, “Jika

demikian, lalu para Cianpwe bermaksud menyuruh Cayhe mengerjakan apa?”

“Karena ayahmu adalah tamu agung Gui Bu-geh, jika kau pun hadir ke sana,

dengan sendirinya kau pun akan dilayani sebagai tamu terhormat,” tutur Kiaukiau.

“Sebab itulah, kami ingin kepergianmu ke liang tikus itu untuk melakukan

sesuatu bagi kami.”

“Asalkan tenaga Cayhe sanggup menyelesaikannya, silakan saja Cianpwe

memberi petunjuk,” kata Giok-long tanpa pikir.

“Begini,” ucap Li Toa-jui setelah saling pandang sekejap dengan To Kiau-kiau,

“Jika kau telah menjadi tamu terhormat di tempat Gui Bu-geh, dengan

sendirinya kau boleh bebas bergerak di liangnya sana ….”

“O, apakah Cianpwe menghendaki kucari tahu sesuatu urusan?” sela Gioklong.

“Betul,” kata Li Toa-jui sambil berkeplok tertawa. “Bicara dengan orang-orang

yang berotak encer seperti kau ini sungguh sangat menyenangkan.”

“Lantas urusan apakah itu?” tanya Giok-long.

Kembali Li Toa-jui saling pandang sekejap dengan To Kiau-kiau, lalu To Kiaukiau

menyambung, “Sebenarnya juga bukan sesuatu urusan yang penting,

soalnya kami mempunyai beberapa buah peti yang konon jatuh di tangan Gui

Bu-geh, maka kami ingin kau memeriksa tempatnya itu apakah peti kami betul

berada di sana atau tidak? Jika memang betul di sana, disimpan di mana?

Kemudian kami akan berusaha mengeluarkan peti-peti itu.”

Sinar mata Kang Giok-long tampak berkilat-kilat, nyata dia sangat tertarik oleh

urusan ini, namun wajahnya berlagak tidak begitu mengacuhkan persoalan ini,

katanya dengan hambar, “Bagaimanakah bentuk beberapa buah peti itu? Apa

isinya?”

“Haha, hanya beberapa buah peti rongsokan saja,” tukas Ha-ha-ji, “Warnanya

hitam, tampaknya besar dan berat, namun peti yang besar dan berat begitu

pasti tidak dimiliki orang lain. Sebab itulah sekali pandang segera kau akan

mengenalnya.”

“Apakah kosong peti-peti itu?” tanya Giok-long.

“Semula peti-peti itu berisi benda berharga. Tapi bisa jadi isinya sudah lama

diambil oleh Gui Bu-geh,” tutur Kiau-kiau.

“Jika peti sudah kosong, untuk apa para Cianpwe mencarinya lagi dengan

susah payah?”

Kiau-kiau menghela napas menyesal, ucapnya, “Bagi orang lain mungkin cuma

beberapa buah peti rongsokan saja, tapi bagi kami peti-peti itu adalah mestika

yang sukar dinilai.”

Semakin mencorong sinar mata Kang Giok-long, ia menegas, “Mestika yang

sukar dinilai?”

“Haha, namun mestika yang sukar dinilai ini justru sukar dijual biarpun diobral,”

sambung Ha-ha-ji dengan tertawa. “Soalnya semua peti itu ada kelainan pada

catnya, makanya bagi penilaian kami menjadi mestika yang sukar dicari.”

“Catnya ada kelainan? Memangnya di mana letak keistimewaannya yang sukar

dinilai harganya?” tanya Giok-long.

“Apakah kau tahu cat peti-peti itu dibuat dari apa?” tanya Kiau-kiau, sebelum

Giok-long menjawab segera ia menyambung pula, “Yaitu campuran dari darah

manusia, cat peti-peti itu dicampur dengan darah musuh kami. Cap-toa-ok-jin

kini sudah cukup tua sehingga semangat jantan di masa lampau sudah mulai

luntur, hanya beberapa buah peti itu saja masih dapat mengingatkan kami

kepada masa jaya di waktu yang lalu. Sebab itulah, apa pun juga peti-peti itu

tidak boleh jatuh di tangan orang lain.”

“Ya, bilamana kami ingin menegakkan kembali nama Cap-toa-ok-jin, maka

beberapa peti itu harus kami temukan kembali,” seru Li Toa-jui dengan kereng.

Kang Giok-long seperti terkesima dan tidak bersuara.

“Apabila cuma benda mestika biasa, betapa pun banyaknya tentu takkan kami

pikirkan, apalagi sudah jatuh di tangan Gui Bu-geh,” ujar To Kiau-kiau. “Untuk

apa kami mesti mengganggu si tikus, umpama perlu uang, apa susahnya jika

kami mau merampok?”

“Namun bila peti-peti itu hilang, maka tamat pula riwayat Cap-toa-ok-jin,” seru

Li Toa-jui dengan bersemangat. “Makanya, saudara cilik, apa pun juga kau

harus membantu kami, jasamu pasti takkan kami lupakan.”

Giok-long menunduk tanpa bicara, ia memandang tangan sendiri seakan-akan

selama hidup tak pernah melihat tangannya ini.

“Adik cilik, masa kau tidak percaya keterangan kami ini?” tanya Li Toa jui.

Baru sekarang Kang Giok-long tertawa, jawabnya, “Ucapan Cianpwe

sedemikian sungguh-sungguh, Cayhe sangat terharu, masa tidak percaya,

hanya saja ….”

“Hanya apa?” tanya Li Toa-jui.

“Jika beberapa peti itu toh tidak bernilai bagi orang lain, tentu juga Gui Bu-geh

tidak menghiraukannya, kalau harta bendanya sudah diambilnya, bisa jadi petipeti

itu sudah dibuang olehnya.”

“Kami pun pernah memikirkan hal ini,” ucap To Kiau-kiau. “Makanya, apabila

betul Gui Bu-geh telah membuang peti-peti itu maka hendaklah adik cilik

menyelidikinya ke mana peti-peti itu telah dibuangnya.” Ia tertawa, lalu

menyambung pula, “Sekarang kita sudah orang sendiri, tentunya kami takkan

membikin adik cilik berjerih payah percuma, asalkan usahamu berhasil, kami

pasti akan memberi hadiah berlaksa tahil emas serta beberapa perempuan

cantik bagimu, bahkan kami tanggung akan menjaga rahasia bagimu.”

Air muka Giok-long tampak sangat senang, katanya, “Apakah Cianpwe

menghendaki sekarang juga kupergi?”

“Sudah tentu, makin cepat makin baik,” kata Kiau-kiau dengan tertawa.

“Lalu dia ….” Kang Giok-long melirik ke atas pohon.

“Apakah kau sangat cinta padanya?” tanya Kiau-kiau dengan tertawa.

“Tentunya Cianpwe tahu, Cayhe bukanlah seorang yang mudah jatuh cinta,

soalnya dia ….”

“Dia murid Ih-hoa-kiong, makanya kau merasa bangga karena dapat

berpacaran dengan dia, bisa jadi kelak kau akan dapat memperalat dia untuk

mengadakan hubungan baik dengan Ih-hoa-kiong, begitu bukan?” setelah

tertawa genit, lalu To Kiau-kiau menyambung lagi, “Lantaran inilah, maka kau

merasa berat untuk meninggalkan dia?”

“Kalau Cianpwe sudah berkata demikian, tiada gunanya lagi sekalipun Cayhe

menyangkalnya,” kata Giok-long dengan tertawa.

“Tapi sekarang tentunya kau tahu berada bersama dia hanya akan

mendatangkan kesukaran saja dan tiada faedahnya.”

Giok-long menghela napas, katanya, “Seumpama ada faedahnya juga tidak

sebanyak kesukarannya.”

“Ya, asal tahu saja,” ucap Kiau-kiau tertawa. “Apalagi, biarpun dia cukup cantik

dan menggiurkan, tapi setelah usahamu berhasil, kujamin akan mencarikan

bagimu sepuluh gadis yang jauh lebih memikat daripada dia.”

Lalu dia berbisik-bisik di tepi telinga Kang Giok-long dengan tertawa ngikik,

“Malahan sebelumnya akan kuajari mereka beberapa resep cara bagaimana

akan membikin senang padamu di tempat tidur.”

Tak terkatakan gembira Kang Giok-long, katanya dengan tertawa, “Jika

demikian, baiklah sekarang juga Cayhe lantas berangkat. Cuma, setelah

urusan berhasil, cara bagaimana akan kuadakan kontak dengan para

Cianpwe?”

“Pokoknya, berhasil atau tidak usahamu, tiga hari lagi boleh kau perlihatkan

dirimu di mulut gua, dengan sendirinya kami akan mencari akal untuk bicara

denganmu,” kata Kiau-kiau.

“Baiklah, kita putuskan demikian, sampai berjumpa,” habis berkata, secepat

terbang Kang Giok-long lantas lari pergi tanpa memandang lagi kepada Thi

Peng-koh.

Setelah anak muda itu pergi jauh, dengan berkerut kening Li Toa-jui berkata,

“Begitu cepat cara pergi bocah itu, kukira rada-rada tidak beres.”

“Haha, dia kan takut kalau Ih-hoa-kiongcu datang lagi membikin perhitungan

dengan dia, makanya cepat-cepat hendak bersembunyi ke liang tikus sana,”

kata Ha-ha-ji.

“Hm, mimpilah kalian jika kalian mengira dia percaya penuh pada apa yang kita

katakan dan dia benar-benar mau berusaha menemukan peti-peti kosong itu,”

jengek Pek Khay-sim.

“Apa yang kukatakan kan masuk di akal dan beralasan, masa dia tidak

percaya,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa. Apalagi bocah itu selain tamak harta

juga kemaruk perempuan, berlaksa tahil emas dan sepuluh gadis cantik masa

tidak dapat menggoyahkan pikirannya?”

“Seumpama dia berhasil menemukan peti itu juga belum tentu mau

menyerahkannya kepada kalian,” ucap Khay-sim.

“Tidak diserahkan pada kita, apa gunanya peti-peti kosong itu baginya?” ujar

Kiau-kiau dengan tertawa.

“Betul, haha,” sambung Ha-ha-ji, “Bocah ini cukup pintar, peti kosong ditukar

dengan emas dan gadis cantik, masa dia tidak mau?”

Tertawa juga akhirnya Pek Khay-sim, katanya, “Tapi setelah tukar-menukar,

pasti akan kukatakan padanya apa gunanya peti-peti kosong itu, akan kulihat

bagaimana air mukanya waktu itu.”

“Hahaha, waktu itu air mukanya pasti akan lebih buruk daripada pantatmu,”

tukas Ha-ha-ji.

Menyinggung pantat, segera pandangan Pek Khay-sim beralih ke atas pohon,

katanya sambil tertawa, “Hei, nona cilik, angin di atas sana cukup kencang,

apakah kau tidak takut masuk angin?”

Namun Thi Peng-koh belum lagi siuman, maka dia tidak menjawab.

Li Toa-jui berkerut kening dan berkata, “Di punggungmu sekarang terpanggul

satu, memangnya kau mengincar lagi yang lain?”

“Nona cilik ini sebatang kara, sial lagi ketemu kekasih yang berbudi rendah,

sungguh kasihan, siapa lagi yang akan menghiburnya jika bukan aku?” kata

Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Bagus, boleh lekas kau menghiburnya,” tukas To Kiau-kiau. “Tapi bila Ih-hoakiongcu

datang jangan kau salahkan kami tidak mau membantumu.”

Pek Khay-sim berdehem, ucapnya kemudian, “Bicara terus terang, gadis

menderita seperti dia sukar juga bagiku untuk menghiburnya. Apalagi di karung

goni yang kupanggul ini sudah ada satu, meski usianya agak lanjut, tapi jahe

kan selalu lebih pedas yang tua dan juga lebih keras.”

“Hihi, rupanya baru sekarang kau paham seluk-beluk lelaki dan perempuan,”

kata Kiau-kiau dengan tertawa genit, “Cuma sayang, lelaki justru harus lebih

baik yang muda dan kuat, kalau tidak ….”

“Untung usiaku sudah agak lanjut, kalau tidak bila sampai dipenujui kau, wah,

bisa repot,” tukas Pek Khay-sim dengan tergelak.

“Repot apa?” To Kiau-kiau menegas dengan mendelik.

“Kerepotan lain sih tidak ada, cuma sukar membedakan dalam hari-hari apa

kau adalah lelaki dan hari apa kau jadi perempuan, jika salah waktu kan

berbahaya,” jawab Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Bagus, bagus, tak tersangka orang bodoh macam kau juga dapat

mengutarakan pikiran sebagus ini,” seru Li Toa-jui sambil berkeplok tertawa.

“Apa mungkin akhir-akhir ini kau telah terpengaruh oleh ajaranku?”

“Ya, mungkin akhir-akhir ini Siaute selalu berkumpul bersama Li-heng, kata

peribahasa, dekat dengan gincu bisa ketularan merah. Mungkin karena itulah

cara berpikirku lantas meniru gaya Li-heng,” kata Pek Khay-sim dengan

tertawa.

Padahal antara Pek Khay-sim dan Li Toa-jui adalah musuh bebuyutan, meski

keduanya sama-sama terhitung anggota Cap-toa-ok-jin, tapi jarang mereka

bertemu, jika bertemu kalau tidak ribut mulut tentu juga berkelahi.

Musuh Pek Khay-sim di dunia Kangouw juga cukup banyak, lantaran Li Toa-jui,

dia lebih suka kian kemari seperti anjing geladak daripada menyingkir ke Okjin-

kok. Kini dia bicara demikian, Li Toa-jui jadi melengak malah.

Dengan tertawa Pek Khay-sim berkata pula, “Akhir-akhir ini, bukan saja cara

bicaraku telah kena terpengaruhnya Li-heng, bahkan nafsu makanku juga

mulai berubah, ikan daging bagiku terasa tidak dapat memuaskan, Hi-sit (sirip

ikan) dan Yan-oh (sarang burung) juga terasa hambar, sedikit pun tidak dapat

memuaskan seleraku. Sebab itulah Siaute jadi kepingin mencicipi daging

manusia.”

“Tampaknya kau tidak cuma paham seluk beluk antara lelaki dan perempuan,

malahan soal makan juga sudah mulai paham, ujar Li Toa-jui.

“Tapi Siaute juga tahu cara makan daging manusia tidak sederhana seperti

makan daging babi, banyak cara dan ragamnya, kalau tidak, lebih baik tidak

memakannya, betul tidak?”

Menyinggung urusan makan daging manusia, seketika semangat Li Toa-jui

terbangkit, serunya, “Betul, memang banyak ragamnya cara makan daging

manusia. Pertama orang yang akan kau makan juga harus orang yang gemar

makan enak, dengan demikian baru dagingnya terasa lezat. Kedua, lebih baik

lagi kalau dia juga berlatih ilmu silat, sebab orang yang berlatih silat dagingnya

lebih keras dan gurih, ketiga ….” Tiba-tiba ia menghela napas, lalu

menyambung dengan menggeleng, “Sebenarnya tidak perlu lagi kuuraikan

yang ketiga, perubahan jaman sekarang sudah semakin jauh, untuk mencari

orang yang dapat memenuhi kedua, syarat tadi rasanya sudah tidak banyak

lagi.”

“Tapi di atas kan tersedia satu, bagaimana pendapat Li-heng?” ucap Pek Khaysim

dengan tertawa.

Li Toa-jui memandang ke atas dua-tiga kejap, tanpa terasa ia menelan air liur,

katanya dengan tertawa, “Tidak perlu lain, melulu kedua pahanya saja,

sedikitnya sudah beberapa tahun tak pernah kurasakan paha sebagus ini.”

“Maukah kita berdua membawanya ke suatu tempat yang baik, kita iris daging

pahanya yang padat ini dan digoreng, jika dia sudah kita makan ke dalam

perut, biarpun Ih-hoa-kiongcu mempunyai ilmu kepandaian setinggi langit juga

tak dapat menemukannya lagi, betul tidak?” kata Pek Khay-sim.

“Ya, pikiran baik, usul bagus!” jawab Li Toa jui dengan tertawa. Di tengah

bergelaknya itu mendadak “plok”, Pek Khay-sim kena ditempelengnya.

Keruan Pek Khay-sim berjingkrak kaget, teriaknya murka, “Keparat, bicara

baik-baik, mengapa kau memukul orang?”

“Kau ini bicara dengan baik-baik?” ujar Li Toa-jui dengan tertawa. “Sudah

kuketahui, bila caramu bicara enak didengar, hatimu tentu timbul pikiran busuk.

Kau ingin menipu aku, tak begitu mudah.”

“Kau keparat, siapa yang ingin menipumu?” Pek Khay-sim meraung pula.

“Bukankah kau hendak menipuku?” kata Li Toa-jui. “Coba, setelah kumakan

anak murid Ih-hoa-kiong, selanjutnya apakah aku bisa hidup tenteram?

Sekalipun air liurku mengalir memenuhi tanah juga takkan kuganggu dia

biarpun cuma satu jari saja.”

“Setelah kau makan ke dalam perut, lenyaplah segala buktinya, dari mana Ihhoa-

kiongcu bisa tahu?” kata Pek Khay-sim.

“Ada sebuah mulut busuk yang suka merugikan orang lain macam kau ini

mustahil dia takkan tahu?” jengek Li Toa-jui.

Pek Khay-sim melengak sejenak, ia menghela napas dan berkata dengan

menyengir, “Ah, tampaknya aku tak dapat menipumu, kau memang jauh lebih

kuat daripada aku.” Sambil bicara mendadak sebelah tangannya lantas

membalik, “plak” ia pun menampar Li Toa-jui satu kali.

Saat itu Li Toa-jui sedang tertawa senang, tentu saja ia tidak sempat berkelit,

dengan gusar ia berteriak, “Keparat, kau berani memukul aku, nanti kucabut

nyawamu!”

Tapi kedua orang lantas saling melotot saja, tiada seorang pun yang mulai

menyerang lagi.

Maklum, mereka sudah cukup berpengalaman, entah sudah berapa kali

mereka berkelahi dan masing-masing maklum tak bisa mengalahkan lawan,

kecuali salah satu pihak tidak berjaga-jaga, kalau tidak jelas tidak mampu

memukulnya dengan telak.

To Kiau-kiau tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Kalian berdua bangsat ini

sudah cukup ribut belum? Kalau sudah cukup, ayolah lekas kembali ke sana.”

“Betul, Toh-lotoa mungkin sudah tak sabar menunggu lagi,” sambung Ha-ha-ji.

“Haha, kalian tentunya tahu, tidak boleh dibuat mainan apabila Toh-lotoa

marah.”

Lekas-lekas Pek Khay-sim menuruti arah angin, cepat ia menjawab, “Baiklah,

mengingat Toh-lotoa, biarlah kuampuni kau serigala bermulut besar ini.”

“Hm, jika tidak khawatir Toh-lotoa menunggu terlalu lama, mustahil kalau tidak

kubunuh kau keparat ini,” sambut Li Toa-jui dengan gusar.

Meski keduanya masih saling mencaci maki, tapi kesempatan ini lantas

digunakan mereka untuk “gencatan senjata”.

Tiba-tiba To Kiau-kiau berkata pula, “Padahal kalian masih boleh juga berkelahi

lagi, yang ditunggu Toh-lotoa kan bukan kalian.”

Pek Khay-sim anggap tidak paham ucapan adu domba To Kiau-kiau itu, ia

menghela napas dan berkata, “Sungguh tak tersangka Toh-lotoa yang selalu

bersikap dingin itu bisa sebaik ini terhadap Siau-hi-ji, dia khawatir tak dapat

menemukan Siau-hi-ji, maka dia berkeras tinggal di sana untuk menunggunya.

Jika ia tahu Siau-hi-ji takkan datang lagi untuk selamanya, dia pasti akan

sangat berduka. Marilah kita lekas kembali ke sana untuk menghiburnya.”

“Kau kira Siau-hi-ji benar-benar telah mati dikerjai Kang Giok-long itu?” kata Li

Toa-jui dengan tertawa.

“Memangnya kau tidak mendengar tadi?” jawab Pek Khay-sim dengan

mendelik.

“Jangan khawatir, jika Kang Giok-long benar-benar bisa membunuh Siau-hi-ji,

maka dia bukan lagi telur busuk kecil melainkan malaikat dewata hidup,” ujar Li

Toa-jui.

“Haha, mungkin malaikat dewata juga tidak mampu mencelakai Siau-hi-ji.

Hahaha, aku orang pertama yang percaya penuh kepada kemampuan anak

muda itu,” kata Ha-ha-ji.

“Bila betul Siau-hi-ji sudah mati, sedikitnya aku pun akan meneteskan

beberapa titik air mata, masa aku segembira ini? ujar To Kiau-kiau.

“Kau akan meneteskan air mata baginya?” Pek Khay-sim menegas.

“Mengapa tidak, anak yang menyenangkan begitu kalau mati, siapa yang tidak

berduka?” jawab Kiau-kiau. “Apalagi, sejak kecil kita inilah yang membesarkan

dia, waktu kecilnya dia sering mengompol dalam pangkuan kita.”

“Jika demikian, mengapa kalian juga hendak mencelakai dia?” tanya Pek Khaysim.”

Kalian sengaja meninggalkan tanda-tanda penunjuk jalan dan menipunya

ke liang tikus itu, bukankah kalian berniat menjadikan dia mangsa si tikus besar

itu?”

“Soalnya menurut perhitungan kami, sekalipun tikus besar itu pun tak mampu

mematikan dia,” jawab Kiau-kiau dengan tertawa.

“Huh, kukira hatimu tidak sebaik ini,” jengek Pek Khay-sim. “Kau cuma khawatir

dia akan bersekongkol dengan Yan Lam-thian dan membikin susah kalian,

makanya kalian sengaja menjerumuskan dia ke liang tikus sana, meminjam

golok untuk membunuh orang.”

“Mulut anjingmu ini kenapa tidak dapat mengucapkan kata-kata manusia?”

damprat Li Toa-jui gusar.

“Memangnya kau berani menyangkal apa yang kukatakan?” jawab Pek Khaysim

dengan murka.

“Sudahlah, sekalipun kita mengakui kebenaran ucapanmu juga bukan soal,”

ujar To Kiau-kiau dengan mengikik. “Tapi ingin kukatakan padamu, seumpama

kita yang mengakibatkan kematiannya, aku tetap akan mencucurkan air mata

baginya ….”

Pada saat itu juga benar-benar ada air mata menetes dari atas pohon,

syukurlah gembong-gembong Cap-toa-ok-jin sudah pergi meninggalkan hutan

sehingga tiada yang memperhatikan.

Thi Peng-koh tidak pingsan sungguh, maklumlah, dalam keadaan pedih seperti

dia sekarang ini, kecuali pura-pura pingsan saja kiranya tiada cara lain yang

lebih baik.

Jadi semua percakapan gembong-gembong Cap-toa-ok-jin itu telah dapat

didengarnya. Tak tersangka olehnya bahwa cinta Kang Giok-long padanya

ternyata pura-pura belaka, lebih-lebih tak terduga Kang Giok-long akan

meninggalkannya dengan begitu saja.

Remuk redam hati Thi Peng-koh setelah semua orang sudah pergi, saking tak

tahan lagi ia menangis tergerung-gerung, sungguh kalau bisa ia ingin mati

sekarang juga. Namun apa dayanya, dalam keadaan sekarang, ingin mati pun

tidak dapat.

Tiada seorang anak perempuan di dunia ini yang dapat menahan malu seperti

keadaannya sekarang, tergantung telanjang bulat di atas pohon. Sungguh ia

benci pada mata lelaki, butalah mata semua lelaki di dunia ini.

Waktu di Ih-hoa-kiong ia mendambakan kebebasan, ia ingin melarikan diri dan

berharap akan menemukan lelaki idamannya. Memang inilah angan-angan

setiap anak gadis umumnya, tapi pengalamannya benar-benar malang, lelaki

yang ditemukannya ini ternyata bukan manusia, bahkan lebih kejam daripada

binatang, lebih keji daripada ular berbisa.

Ia sendiri pun tidak tahu mengapa dirinya bisa mencintai binatang kecil

demikian? Mungkin dia sudah terlalu lama terkekang di Ih-hoa-kiong, sudah

terlalu lama kesepian, perasaan yang tertekan terlalu lama apabila sekali

tempo meledak tentu sukar dikendalikan lagi.

Tadinya ia tak tahu bagaimana rasanya orang menangis, tapi sekarang air

matanya terus bercucuran tiada hentinya.

Entah lewat berapa lama lagi, tiba-tiba ia mengetahui ada sepasang mata

sedang memandangnya tanpa berkedip, tapi sorot mata ini tidak rakus dan

membencikan seperti mata gembong-gembong Cap-toa-ok-jin tadi.

Sepasang mata ini bahkan sangat elok dan terang seperti gemilapnya bintang

di langit dan membuat setiap orang yang melihatnya merasa tunduk dan ingin

menyembah padanya. Selamanya Thi Peng-koh tidak pernah melihat mata

yang menggiurkan demikian.

Sekarang pemilik mata yang elok itu sedang tertawa. Meski kini bukan musim

semi, tapi tertawanya itu seperti angin sejuk mengembus bumi di musim semi.

“Siapakah namamu, nona?” demikian si cantik menyapa.

“Aku she Thi,” jawab Peng-koh.

“She Thi?” nona itu tertawa. “Sungguh sangat kebetulan, ada seorang kakakku

juga she Thi, tampaknya memang aku ada jodoh dengan orang she Thi, entah

engkau sudi berkawan denganku atau tidak.”

Melihat gaya si nona yang lain daripada yang lain, melihat dandanannya yang

indah dan anggun, Peng-koh lantas teringat kepada keadaannya sendiri yang

mengenaskan, tanpa terasa ia memejamkan mata dan meneteskan air mata

pula.

“Kutahu, engkau pasti tidak ingin menemuiku dalam keadaan begini,” ucap

pula si nona cantik dengan lembut, “Tapi kau pun jangan berduka, orang jahat

di dunia ini memang teramat banyak, anak perempuan seperti kita ini tak

terhindar akan dianiaya oleh mereka. Asalkan kau tahu bahwa orang yang

bernasib malang di dunia ini masih sangat banyak, bahkan jauh lebih

menderita daripadamu, maka engkau pasti akan terhibur dan tidak terlalu

berduka lagi.”

“Masa … masa di dunia ini masih ada orang yang lebih malang daripadaku?”

Peng-koh menegas.

“Mengapa tidak ada, bahkan banyak sekali,” jawab si nona. “Di mana-mana, di

setiap pelosok dunia ini, tentu ada anak perempuan yang perlu dikasihani,

mereka sedang tersiksa dan dirusak oleh orang yang tak mereka kenal,

bahkan orang-orang yang mereka benci, namun mereka tidak dapat menangis

seperti engkau, sebaliknya mereka harus memperlihatkan senyuman untuk

minta belas kasihan orang-orang yang menyiksa mereka itu.”

Betapa pun malangnya seseorang, apabila diketahuinya ada orang lain yang

lebih malang lagi daripadanya, maka akan terasa lebih ringan perasaannya

yang tertekan. Hal ini sama saja seperti seorang penjudi, betapa pun banyak

kekalahannya, apabila ia lihat ada orang lain yang lebih banyak kalahnya

daripada dia, maka terhiburlah hatinya.

Lebih-lebih anak perempuan, jika kau ingin menghibur seorang anak

perempuan, paling baik ialah ceritakan bahwa di dunia ini masih ada orang lain

yang jauh lebih menderita daripadanya, dengan demikian dia akan melupakan

penderitaan sendiri dan malahan akan menghibur orang lain.

Thi Peng-koh tidak menangis lagi, selang sejenak, berkatalah dia, “Dapatkah

engkau menolong aku turun dari sini? Aku … aku pasti sangat berterima kasih

padamu.”

Nona itu menghela napas, jawabnya, “Kau tidak perlu berterima kasih padaku,

aku sendiri sangat ingin menolongmu, cuma sayang, naik tangga ke atas saja

aku tidak sanggup, pohon setinggi ini, pada hakikatnya membuat kepalaku

pusing.”

“Masa … masa engkau tidak mahir ilmu silat?” tanya Peng-koh.

“Kau sangat heran, bukan?” ucap si nona dengan tertawa. “Padahal orang

yang tidak paham ilmu silat di dunia ini jauh lebih banyak daripada orang mahir

ilmu silat, kebanyakan orang yang normal tidak belajar ilmu silat.”

Thi Peng-koh menghela napas menyesal, katanya dengan muram, “Jika … jika

demikian, lekas pergi saja kau.”

“Tapi paling tidak kan dapat kukerjakan sesuatu bagimu? Kau dingin tidak,

maukah kubuatkan api unggun di bawah sini?”

Karena merasa malu, berduka dan juga takut, maka Peng-koh melupakan rasa

dingin, baru sekarang ia merasa sekujur badannya menggigil kedinginan, angin

pegunungan yang mengusap tubuhnya terasa seperti sayatan pisau saja.

Dilihatnya si nona tadi benar-benar mengumpulkan seonggok kayu kering terus

mengeluarkan sebuah ketikan api yang indah, onggokan kayu kering itu lantas

dibakarnya.

“Engkau sungguh orang yang berhati mulia,” ucap Peng-koh dengan

tersenyum pedih.

“Meski kau memuji hatiku mulia, tapi lebih banyak orang yang bilang hatiku

sekeji ular,” ucap nona itu dengan tertawa.

“Sia … siapakah namamu? Sudikah engkau memberitahukan padaku agar

dapat kuingat padamu selalu,” kata Peng-koh.

Si nona tertawa, jawabnya, “Namaku So Ing.”

“So Ing? Jadi kau inilah So Ing?” Peng-koh terkejut dan berseru tanpa terasa.

“Kau pun tahu namaku?” ucap So Ing tertawa.

Peng-koh terdiam sejenak, katanya pula dengan parau, “Kedatanganmu ini

apakah ingin … ingin mencari seseorang?”

Tampaknya So Ing juga terkejut, jawabnya, “Dari mana kau tahu? Masa …

masa kau pun kenal orang yang kucari itu?”

“Betul, kukenal dia,” jawab Peng-koh rawan.

So Ing menghela napas, katanya sambil tersenyum getir, “Setiap anak

perempuan cantik di dunia ini seolah-olah semuanya kenal dia, aneh! Agaknya

sainganku kini tambah satu orang lagi.”

“Aku takkan bersaing denganmu, bahkan selanjutnya mungkin tiada orang

akan bersaing lagi denganmu,” ucap Thi Peng-koh, baru habis bicara kembali

air matanya berderai pula.

Berubah pucat air muka So Ing, serunya, “Apa … apa artinya ucapanmu ini?”

“Dia … dia sudah mati dicelakai orang!” jawab Peng-koh dengan tergagap.

Seketika aliran darah di seluruh tubuh So Ing serasa membeku. Ia melenggong

sejenak, katanya kemudian, “Yang kau maksudkan itu mungkin … mungkin

bukan Siau-hi-ji, kuyakin pasti bukan dia.”

“Tapi yang kumaksudkan memang Siau-hi-ji adanya,” kata Peng-koh.

Tiba-tiba So Ing tertawa pula, tertawa keras, katanya, “Hahaha, kau pasti salah

lihat. Mana bisa Siau-hi-ji mati dikerjai orang? Siapakah di dunia ini yang

mampu membunuhnya? Kalau dia tidak mengerjai orang lain sudah untung.”

“Semula aku pun yakin di dunia ini tiada orang lain yang sanggup mengerjai

dia, tapi sekali ini mau tak mau aku harus percaya, sebab dengan mata

kepalaku sendiri kusaksikan kejadian ini,” tutur Peng-koh dengan sedih.

Gemetar seluruh tubuh So Ing, tanyanya dengan suara terputus “Kau … kau

menyaksikan sendiri? Siapa … siapa yang membunuhnya?”

“Orang itu bernama Kang Giok-long, dia telah mendorong Siau-hi-ji ke dalam

dinding tebing itu, gua itu dalamnya tak terkira, apa lagi Siau-hi-ji dalam

keadaan keracunan ….”

Belum habis ucapan Thi Peng-koh, tahu-tahu So Ing berlari ke tebing sana.

Dinding tebing itu berdiri tegak beratus kaki tingginya dan sangat curam, gua

itu pun berada belasan tombak tingginya, di antaranya memang ada tempat

yang dapat digunakan memanjat, tapi orang yang memiliki Ginkang rendah

saja jangan harap akan dapat naik ke atas sana, apalagi So Ing yang sama

sekali tidak paham ilmu silat.

Air mata So Ing bercucuran, ucapnya sambil membanting kaki gegetun,

“Kenapa tidak sejak dulu-dulu kubelajar silat? Nyatanya ilmu silat juga banyak

gunanya ….”

“Nona So,” terdengar Thi Peng-koh berseru di sana, “Kau jangan berduka,

seumpama kau dapat naik ke sana juga tiada gunanya, Siau-hi-ji pasti … pasti

takkan hidup sampai saat ini.” Dia seperti sudah melupakan penderitaan dan

kemalangan sendiri, sekarang dia malah menghibur So Ing.

“Seumpama dia sudah mati juga aku harus melihatnya sekali lagi, apalagi,

bukan mustahil dia masih hidup dengan segar bugar!” sahut So Ing dengan

suara serak.

“Tapi apakah kau sanggup naik ke atas?”

“Betapa pun juga akan kucari akal untuk naik ke sana, aku pasti ada akal!”

nada So Ing penuh rasa yakin, habis berkata ia lantas mengusap air mata dan

tidak menangis lagi.

Andaikan dia masih mau menangis juga akan menunggu lagi kelak, sebab ia

tahu air mata tidak dapat membantunya menyelesaikan persoalan.

Thi Peng-koh dapat melihat perubahan sikap So Ing itu dan dapat pula melihat

tekadnya yang bulat itu, diam-diam ia menghela napas gegetun. Pikirnya, “Tak

tersangka anak perempuan yang lemah lembut ini mempunyai tekad sebesar

ini dan penuh kepercayaan pada diri sendiri. Sedangkan aku? ….” Mendadak ia

menyadari apabila seseorang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, maka

nilainya jauh lebih berharga daripada ilmu silatnya yang tiada tandingannya

atau kekayaan benda mestika yang sukar ditakar.

Ada cendikia yang bilang, “Hidup perempuan bukan untuk dipahami, tapi untuk

dicintai!” Ucapan ini memang sangat bagus, tapi juga tidak terlalu tepat.

Hakikatnya tidak cuma perempuan saja yang demikian, ada sementara lelaki

juga begitu. Mereka dilahirkan bukan untuk dipahami orang melainkan untuk

dibenci dan disukai orang.

Dan tidak perlu disangsikan lagi, Siau-hi-ji adalah salah satu lelaki begitu.

Tidaklah sedikit manusia di dunia ini yang suka pada Siau-hi-ji, tapi yang

membencinya bahkan lebih banyak. Namun orang yang mutlak benar-benar

memahami Siau-hi-ji justru satu pun tidak ada.

Cuma saja ada beberapa orang yang taraf memahami Siau-hi-ji jauh lebih

banyak daripada yang lain, beberapa orang ini jelas ialah To Kiau-kiau, Li Toajui,

Ha-ha-ji dan Toh Sat. Sedikitnya merek tahu Siau-hi-ji bukanlah orang yang

mudah dicelakai orang. Anak muda ini sering kali dapat lolos dari lubang jarum

pada detik yang paling berbahaya.

Barang tentu, semua ini bukan seluruhnya karena kecerdasan Siau-hi-ji,

terkadang juga memerlukan kemujuran atau nasib baik, atau istilah yang

populer, hok-khi. Barang siapa kalau meremehkan “hok-khi”, sering kali dia

sendiri akan mengalami nasib sial.

Contohnya, dua orang hampir bersamaan waktunya jatuh dari suatu tempat

yang sangat tinggi, yang seorang jatuh di tanah dan mengakibatkan patah

tulang leher, tapi yang seorang lagi jatuh ke dalam air dan tidak cedera apa

pun.

Nah, apa namanya kejadian demikian kalau bukan kemujuran atau nasib baik

atau hok-khi?

Yang mengalami nasib baik di antaranya adalah Oh Yok-su.

Dia didorong terjerumus ke dalam gua oleh Kang Giok-long, gua itu sangat

dalam melebihi apa yang pernah dibayangkannya. Di bagian luar tinggi gua itu

paling-paling cuma belasan tombak, tapi di bagian dalam ternyata tidak kurang

lima kali lipat lebih dalam.

Bayangkan, kalau seorang terjatuh dari ketinggian lima puluhan tombak,

sekalipun Ginkang orang ini tiada bandingnya di dunia juga sukar terhindar dari

nasib hancur lebur terbanting.

Oh Yok-su sendiri pun mengira dirinya pasti akan mampus. Belum lagi sempat

dia berpikir lain, tahu-tahu terdengar suara “blung” yang keras, tubuhnya jatuh

ke dalam air, dasar gua yang dalam itu kiranya adalah sebuah kolam berair.

Kalau orang biasa terjatuh dari tempat setinggi itu, sekali pun jatuh ke dalam

air, sukar juga terhindar dari jatuh pingsan. Tapi Ginkang Oh Yok-su memang

tidak rendah, ia cuma merasakan badannya bergetar keras, seperti kena

hantaman keras, mata pun terasa berkunang-kunang, habis itu lantas

didengarnya suara tertawa ngikik seseorang.

Semula Oh Yok-su terkejut, tapi rasa kejut itu segera berubah menjadi girang.

Kalau dia tidak terbanting mati, dengan sendirinya Siau-hi-ji lebih-lebih tidak

bisa mati.

Ia ingin melompat keluar dari dalam air, tapi kolam itu ternyata tidak cetek,

karena daya jatuhnya itu sangat keras, dia terus terjungkal ke dalam air dan

sempat minum dua ceguk air yang asin lagi bau busuk, ia menjadi gelagapan

dan hampir-hampir semaput. Syukur segera ia dapat mengapungkan diri ke

permukaan kolam.

Terdengar Siau-hi-ji lagi berkata dengan tertawa, “Memangnya aku lagi

kesepian, sekarang ada teman jatuh dari langit, sungguh sangat

menggembirakan. Cuma sayang di sini tidak ada arak, terpaksa kusuguh kau

dua ceguk air busuk.”

Walaupun sangat gelap di dasar gua ini, tapi ada sedikit cahaya remangremang

yang tembus dari atas sana.

Setelah kucek-kucek matanya, akhirnya Oh Yok-su dapat melihat Siau-hi-ji.

Terlihat anak muda itu nongkrong di atas batu padas sana, meski perutnya

sudah terisi Li-ji-hong yang tiada obat penawarnya serta didorong orang ke

dalam gua yang jelas tiada jalan keluarnya, namun air muka anak muda itu

tetap berseri-seri, sedikit pun tidak sedih, bahkan tampaknya sangat gembira

malah.

Oh Yok-su lantas merangkak naik ke atas batu itu, ia coba bertanya, “Apakah

engkau menemukan jalan keluarnya?”

“Kau lihat, gua ini mirip sebuah guci raksasa, perutnya sangat besar, bagian

mulut sangat sempit, sekali pun cecak juga sukar merambat ke atas, dari mana

ada jalan keluar?”

Oh Yok-su melengak, katanya pula, “Jika demikian, mengapa engkau

bergembira?”

“Memangnya aku harus bersedih?”

“Kau … kau tidak sedih?”

“Apakah sedih dapat membantuku keluar dari sini? Jika dapat tentu sejak taditadi

aku bersedih.”

Oh Yok-su terdiam sejenak, tanyanya kemudian dengan ragu-ragu, “Obat

penawar itu tentu sudah terendam basah, apa masih dapat digunakan?”

“Jangan khawatir, obat penawar kusimpan dengan baik, air tak dapat

menembusnya,” jawab Siau-hi-ji.

Oh Yok-su berdehem dua kali, katanya pula dengan menyengir, “Kini Cayhe

dan Hi-heng adalah senasib, kita sama-sama dirundung malang, mestinya

sekarang Hi-heng dapat memberikan obat penawar itu.”

“Tidak boleh,” jawab Siau-hi-ji.

“Se … sebab apa?” tanya Oh Yok-su.

“Selama obat penawarnya belum kuberikan padamu, tentu kau akan tunduk

kepada perintahku, andaikan anakku sendiri mungkin takkan penurut seperti

kau sekarang. Nah, kan menyenangkan bila selalu didampingi seorang yang

penurut, untuk apa kuberikan obat penawarnya padamu?”

“Tapi … tapi Cayhe ….”

“Jangan khawatir, untuk sementara ini racun yang mengeram di tubuhmu

takkan bekerja.”

Sudah barang tentu suara percakapan mereka sangat lirih, sebab suara di

dalam gua yang geronggang begini mudah berkumandang keluar, apa lagi di

dalam gua itu ada airnya, suara yang agak keras akan segera didengar orang

yang berada di luar sana.

Tapi mereka pun tidak menyangka bahwa suara percakapan orang yang

berada di luar sana dapat didengar dengan jelas di dalam gua. Gua ini

memang mirip sebuah kotak kosong, setitik suara yang menyalur ke sini

segera akan menimbulkan kumandang suara yang keras. Sudah tentu teori

demikian belum dipahami orang di jaman dahulu.

Orang yang berada di atas sana karena mengira sekelilingnya tiada bayangan

seorang pun, dengan sendirinya cara bicara mereka pun tidak pantang

didengar orang, sama sekali tak terduga bahwa di balik dinding masih ada

telinga.

Maka ketika mendengar Kang Giok-long membujuk rayu Thi Peng-koh dengan

kata-kata manis, Siau-hi-ji hanya menggeleng kepala saja sambil menghela

napas. Beberapa kali Oh Yok-su ingin bicara selalu distop olehnya.

“Ada sesuatu yang meragukan diriku dan tidak kupahami, ingin kuminta

petunjuk padamu,” demikian Oh Yok-su berbisik.

Tapi Siau-hi-ji lantas mencegahnya bicara lebih lanjut, “Ssst, masih banyak

waktu bagi kita untuk bicara, ada urusan apa boleh dirundingkan nanti saja.

Sekarang coba kau dengarkan, betapa busuk keparat Kang Giok-long itu, nona

Thi benar-benar sial sebel punya pacar begitu.”

Lalu mendadak terdengar suara jerit kaget Thi Peng-koh, selagi Siau-hi-ji heran

apa yang terjadi atas nona itu, menyusul lantas terdengar pula seruan terkejut

Kang Giok-long. Habis itu didengarnya percakapan antara Ih-hoa-kiongcu dan

Kang Giok-long.

Oh Yok-su tidak tahu apa yang menyebabkan Siau-hi-ji melenggong, tapi ia

pun tidak berani bertanya.

Selang sejenak, Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Kiranya Thi Peng-koh adalah

murid Ih-hoa-kiong, pantas tempo hari ketika bertemu dengan Hoa Bu-koat

diam-diam ia lantas mengeluyur pergi. Kalau ia murid Ih-hoa-kiong, maka

‘Tong-siansing’ dan ‘Bok-hujin’ itu pastilah samaran Ih-hoa-kiongcu, pantas

juga Ih-hoa-kiongcu menyuruh Hoa Bu-koat harus tunduk kepada apa yang

dikehendaki Tong-siansing dan Bok-hujin. Tapi Ih-hoa-kiongcu yang cukup

disegani itu mengapa perlu menyamar sebagai orang lain?”

Sungguh teka-teki ini sukar dipecahkan olehnya. Ia coba mengingat-ingat

kembali semua kejadian dari awal hingga akhir, sampai kepala pusing tetap

sukar dimengerti, malah semakin ruwet.

Teringat olehnya Ih-hoa-kiongcu yang ditakuti orang itu kena diperdayainya

hingga kelabakan, bahkan rela menunggui dia berak, saking geli ia jadi tertawa

sendiri.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Oh Yok-su berkata dengan tertawa, “Bagus

sekali, baru saja Ih-hoa-kiongcu pergi, kini datang pula beberapa gembong

anggota Cap-toa-ok-jin, tampaknya keparat Kang Giok-long itu pun tak bisa

hidup tenteram lagi selanjutnya.”

Karena itu barulah Siau-hi-ji sadar dari lamunannya, ia pasang kuping sejenak,

lalu berkata, “Yang datang itu memang Put-lam-put-li (bukan lelaki tidak

perempuan) To Kiau-kiau, Put-sip-jin-thau (tidak makan kepala manusia) Li

Toa-jui, Siau-li-cong-to (di balik tertawanya tersembunyi belati) Ha-ha-ji dan

Sun-jin-put-li-ki (merugikan orang lain tidak menguntungkan diri sendiri) Pek

Khay-sim.”

“Tampaknya kau kenal baik mereka?”

“Memang, mungkin di dunia ini tiada orang lain yang lebih akrab dengan

mereka kecuali aku.”

Semangat Oh Yok-su terbangkit seketika, katanya, “Jika demikian mengapa

tidak lekas kau minta pertolongan mereka?”

“Tunggu dulu,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Aku ingin mendengarkan

permainan apa yang akan mereka lakukan.”

Kemudian Siau-hi-ji kembali terkejut demi mendengar mereka menyebut Kang

Piat-ho sebagai tamu agung Gui Bu-geh. Baru diketahuinya sekarang tamu

yang berkunjung ke tempat Gui Bu-geh tatkala dia terluka di sana itu ialah

Kang Piat-ho. Andai kata Kang Piat-ho tidak datang, mungkin So Ing belum

dapat membantunya melarikan diri. Teringat hal ini, tanpa terasa Siau-hi-ji

tertawa pula.

Didengarnya Oh Yok-su lagi berkata, “Sungguh aneh, untuk apakah mereka

sedemikian mementingkan beberapa peti itu?”

“Tidak perlu heran, orang muda pantang berkelahi, orang tua pantang tamak,

soalnya seorang kalau sudah berusia lanjut, sering-sering terlalu memandang

berat soal harta benda, seakan-akan sudah lupa bahwa orang mati toh tidak

dapat membawa uang sepeser pun.”

“Tapi yang mereka persoalkan adalah peti kosong,” kata Oh Yok-su.

Siau-hi-ji hanya tertawa dan tidak berkata pula, namun sorot matanya

mencorong terang. Selang tak lama lantas terdengar To Kiau-kiau dan lain-lain

membicarakan dia.

Baru diketahuinya bahwa tanda-tanda petunjuk jalan yang ditinggalkan mereka

itu memang betul-betul adalah perangkap yang sengaja dipasang untuk

menjerumuskan dia, mau tak mau air muka Siau-hi-ji berubah juga.

Setelah termenung sejenak, kemudian ia berkata sambil menggeleng, “Tak

tersangka dugaan So Ing ternyata tepat, sampai-sampai kalian juga

menghendaki jiwaku. Tapi apakah kalian tahu bahwa sudah lama kutahu

rahasianya Yan-tayhiap dan aku pun tidak berniat mencelakai kalian.” Dia

menghela napas, tiba-tiba ia bergembira pula, ucapnya, “Seorang kalau

meninggal dan bisa membikin To Kiau-kiau meneteskan air mata, maka tidak

percumalah kematiannya.”

Kepandaian Siau-hi-ji yang terbesar adalah dalam keadaan betapa buruknya

dia tetap dapat membuat dirinya bergembira.

Sudah tentu Oh Yok-su tidak mempunyai kepandaian begitu, sekarang ia pun

sudah tahu Siau-hi-ji tidak nanti mau berseru minta tolong kepada To Kiau-kiau

dan lain-lain.

Maklum, apabila gembong-gembong Cap-toa-ok-jin itu tahu Siau-hi-ji berada di

dalam sumur ini, bukannya mereka menolongnya, bisa jadi malah akan

menimpakan beberapa potong batu besar. Dengan sendirinya Siau-hi-ji tidak

mau mengambil risiko ini.

Oh Yok-su jadi melengak muram dan tidak bersemangat lagi. Sebaliknya Siauhi-

ji lantas tepuk-tepuk bahunya, katanya sambil tertawa, “Jangan khawatir,

biarpun mereka tidak menolong kita, nanti juga ada orang lain yang akan

menolongku.”

“Siapa?” tanya Oh Yok-su.

“Rahasia alam tidak boleh dibocorkan, kalau sudah tiba waktunya tentu kau

akan tahu sendiri,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa dan berfilsafat.

Oh Yok-su ingin tanya pula, tapi pada waktu itu juga di luar sana telah

berkumandang suara So Ing.

Setelah mengikuti percakapan antara So Ing dengan Thi Peng-koh, mau tak

mau Oh Yok-su menghela napas gegetun, katanya, “Nona So benar-benar

sangat mendalam cintanya kepada Hi-heng, sungguh amat besar rezeki Hiheng

mendapatkan pacar secantik itu.”

Siau-hi-ji juga menghela napas, jawabnya, “Jika kau merasakan hal ini adalah

rezeki, maka bolehlah kuoperkan dia padamu saja.”

Oh Yok-su hanya tertawa, selang sejenak baru ia berkata pula, “Kau kira nona

So dapat memanjat ke atas tidak?”

“Jika dia bilang ada akal, tentu dia sanggup memanjat ke atas,” kata Siau-hi-ji.

“Tapi Cayhe tidak dapat membayangkan akal apa yang dipunyai olehnya,” ujar

Oh Yok-su.

“Jika kau bisa membayangkan akalnya, tentu kau takkan tertimpa malang

seperti sekarang ini,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thi Peng-koh sedang berteriak, “He, nona

So, dinding tebing itu sangat licin, engkau takkan sanggup merambat ke atas

sana.”

Benar juga menyusul lantas terdengar jeritan kaget So Ing, mungkin dia baru

saja merambat ke atas dan segera terperosot ke bawah lagi.

Selang sejenak, terdengar Thi Peng-koh berkata pula, “Nona So, buat apa

engkau nekat begitu? Batu di atas sana setajam pisau, bila engkau telanjang

kaki tentu akan lebih mudah terluka lagi.”

Dari nadanya tampaknya dia sangat khawatir bagi So Ing, suatu tanda pula

bahwa cara merambat So Ing tentu sangat payah.

Tanpa terasa Siau-hi-ji juga gegetun, ucapnya, “Ya, kakinya pasti putih dan

halus, jika sampai terluka kan sayang.”

Oh Yok-su juga gegetun, katanya, “Melihat bentuknya sih lemah lembut, tak

tersangka dia mempunyai tekad sebesar itu.”

“Tapi nona pintar seperti dia ternyata memakai cara sebodoh ini, sungguh

sangat mengecewakan aku,” kata Siau-hi-ji

“Semakin bodoh cara yang dipakainya, semakin jelas pula cintanya padamu,”

ujar Oh Yok-su. “Hi-heng, mestinya engkau berseru memanggilnya untuk

memberi semangat padanya.”

“Untuk apa mesti kuberi semangat padanya? Kan dia sendiri yang susah,” kata

Siau-hi-ji dengan melotot. “Anak perempuan yang nekat seperti dia ini hanya

membikin pusing kepalaku saja. Apalagi, seumpama dia dapat merambat ke

atas kan juga tidak mampu menolong kita.”

Oh Yok-su terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Jadi Hi-heng

sengaja bersikap demikian lantaran tidak ingin membikin susah nona So?”

“Hehe, rasanya kau terlalu tinggi menilai hati nuraniku,” ucap Siau-hi-ji sambil

tertawa.

“Ah, meski kasar cara bicara Hi-heng, yang benar kutahu hatimu sangat baik,”

ujar Oh Yok-su.

Dalam pada itu sama sekali tidak terdengar lagi suara So Ing di luar sana,

hanya Thi Peng-koh yang terkadang mengeluarkan jeritan khawatir, suatu

tanda So Ing berulang-ulang mengalami rintangan dan mungkin setiap saat

terperosot ke bawah.

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya, “Dia dan aku kan juga tiada hubungan yang

erat, pula tidak pernah ada sumpah setia apa segala, mengapa dia harus

bersusah payah ingin mencariku?”

Oh Yok-su tersenyum, ucapnya, “Seorang perempuan bila sudah mencintai

seorang lelaki, hakikatnya dia tidak memerlukan alasan. Pula, alasan

perempuan pada hakikatnya juga takkan dipahami lelaki.”

“Betul, asalkan kebentur perempuan, terpaksa kuanggap diriku lagi sial,” kata

Siau-hi-ji dengan menyesal.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara sorak gembira Thi Peng-koh.

Lalu terdengar seruan So Ing, “Siau-hi-ji, inilah aku datang mencarimu, apakah

kau dengar suaraku?”

Suara itu tersiar dari mulut gua di atas, karena kumandang suara di gua yang

geronggang itu, bukan saja Siau-hi-ji dapat mendengarnya dengan jelas,

bahkan anak telinganya hampir pekak karena getaran suara yang mendengung

itu.

Nyata, So Ing benar-benar telah berhasil memanjat ke atas.

Karena Siau-hi-ji hanya diam saja, segera Oh Yok-su bermaksud bersuara, tapi

cepat Siau-hi-ji mendekap mulutnya sambil berbisik, “Jangan sekali-kali

menjawabnya, kalau tidak, bisa jadi dia akan terjun kemari.”

Rupanya Siau-hi-ji telah kenal watak So Ing yang keras, apabila nona itu sudah

bertekad akan berbuat sesuatu, biarpun dia harus terjun ke lautan api juga dia

pantang mundur.

Terlihat wajah So Ing sudah menongol di mulut gua, cuma gua sumur terlalu

dalam, cahaya remang-remang di bagian atas tidak cukup menerangi bagian

bawah, sebab itulah Siau-hi-ji dapat melihat So Ing dengan cukup jelas,

sebaliknya So Ing tidak dapat melihat anak muda itu.

Samar-samar malahan Siau-hi-ji sudah dapat melihat wajah So Ing yang basah

dan lecet, entah air keringat entah air mata.

“Siau-hi-ji,” terdengar suara So Ing yang setengah meratap, “Mengapa engkau

tidak menjawab? Apakah engkau benar-benar telah meninggal? Masa kau …

sedemikian tak becus, sampai-sampai binatang kecil semacam Kang Giok-long

juga bisa membunuhmu? Sungguh memalukan dan membikin penasaran.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji membisiki Oh Yok-su, “Dia sengaja memancing agar

aku bersuara, tapi aku justru tidak mau tertipu olehnya.”

Terdengar So Ing lagi berseru pula, “Siau-hi-ji, dengan susah payah telah

kuselamatkan kau, tapi kau justru mati konyol di sini, kau sungguh

mengecewakan harapanku.”

Namun Siau-hi-ji tetap diam saja.

Sekali ini So Ing tidak bicara lagi, tapi mendadak menangis keras-keras.

Sungguh tak tersangka oleh Oh Yok-su bahwa nona yang biasanya lemah

lembut dan anggun, menghadapi persoalan apa pun selalu tenang, kini

mendadak bisa menangis tergerung-gerung seperti anak kecil begitu.

Terdengar Thi Peng-koh lagi berseru, “Nona So, orang mati kan tidak dapat

hidup kembali, untuk apa nona menangis sedemikian sedihnya?”

Dia seakan-akan lupa bahwa dia sendiri tadi juga menangis. Selang sejenak

kembali ia berkata, “Tadi kau sendiri bilang padaku bahwa di dunia ini masih

banyak orang yang bernasib jauh lebih malang daripada kita, sekarang aku

tidak menangis lagi, mengapa kau malah menangis sendiri?”

“Jangan khawatir, aku cuma menangis satu kali saja dan selanjutnya takkan

menangis lagi,” jawab So Ing sambil tersedu-sedu. “Sebab itulah sekali ini aku

harus menangis sepuas-puasnya dan hendaklah jangan kau cegah tangisku

ini.”

“Hm, kau dengar tidak, dia cuma mau menangis satu kali saja … hehe, hanya

menangis satu kali saja,” demikian jengek Siau-hi-ji dengan suara tertahan.

“Tapi kalau ada seorang nona cilik begitu mau menangis satu kali bagiku,

maka puaslah hidupku ini,” ujar Oh Yok-su dengan gegetun.

Entah selang berapa lama, tangis So Ing bukan saja tidak berhenti, bahkan

semakin berduka cara menangisnya seakan-akan air matanya hendak dikuras

keluar semua.

Dengan suara serak Thi Peng-koh berseru pula, “Kumohon dengan sangat,

janganlah menangis lagi. Jika … jika kau menangis terus, aku … aku pun ….”

Belum habis ucapannya, benar juga, ia sendiri lantas ikut menangis.

Tapi mendadak So Ing berhenti menangis, ucapnya, “Aku pun ingin memohon

sesuatu padamu.”

“Urusan … urusan apa?” tanya Peng-koh.

“Kita berkenalan secara kebetulan, tapi ternyata cukup cocok, maka kuharap

engkau suka berdaya menyumbat gua ini dengan batu agar kami tidak

diganggu orang lain lagi.”

“Mengganggu kalian? Memangnya kau pun akan … akan ….” Peng-koh

bersuara khawatir dan tergegap.

“Ya,” sahut So Ing singkat.

“Mana … mana boleh kau mati? Setahuku, kau dan Siau-hi-ji kan tiada sumpah

setia segala, mengapa kau mau mati baginya?”

“Aku tidak merasakan mati baginya, aku cuma merasa hidup ini tiada artinya

lagi.”

“Nah, kau dengar tidak, Hi-heng?” demikian bisik Oh Yok-su di dasar sumur.

“Sampai begini, masa engkau tidak mau bersuara?”

“Apakah kau kira dia benar-benar akan mati? Dia cuma menakut-nakuti orang

saja,” ujar Siau-hi-ji. “Masa kau tidak tahu senjata rahasia simpanan kaum

perempuan, yakni menangis, mogok makan dan bunuh diri?”

“Tapi dia … dia ….”

“Dia kenapa? Jika dia benar-benar membunuh diri biar aku ….”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak terdengar jeritan Thi Peng-koh.

Waktu mereka mendongak, So Ing benar-benar terjun ke bawah.

Baru sekarang Siau-hi-ji benar-benar terkejut. Cepat ia bertindak, sekuat

tenaga ia lompat ke atas, selagi masih terapung di udara sempat ia rangkul

tubuh So Ing.

Namun daya anjlok So Ing teramat keras, sekalipun ilmu silat Siau-hi-ji

sekarang sudah lain daripada dulu, namun tetap tidak mampu menahannya,

terdengarlah suara “plung” yang keras, kedua orang sama-sama tercebur ke

dalam kolam.

Air kolam bergolak, selang sejenak barulah terlihat Siau-hi-ji menongol ke

permukaan air dengan basah kuyup sambil merangkul So Ing, lalu dibawa

melompat ke atas batu.

“Dia tidak cuma menakut-nakuti orang saja, bukan?” demikian Oh Yok-su

berolok-olok dengan tersenyum.

Siau-hi-ji menyengir, ucapnya, “Budak ini ternyata berbeda daripada

perempuan lain. Wah, aku menjadi mulai sangsi apakah dia ini perempuan

tulen atau bukan?”

Dia mengira So Ing pasti sudah pingsan karena terjun dari ketinggian begitu

dan kecebur pula ke kolam.

Tak terduga “budak” yang bertubuh lemah itu ternyata mempunyai saraf yang

lebih kuat daripada baja. Bukan saja dia tidak pingsan, sebaliknya malah

kelihatan sangat enak, sangat senang atas kejadian ini. Matanya terbelalak

memandangi Siau-hi-ji tanpa berkedip.

Siau-hi-ji melengak, tiba-tiba ia kendurkan pegangannya sehingga tubuh So

Ing terlempar ke atas batu, dengan penasaran ia berteriak, “Ingin kutanya

padamu, apa artinya semua ini? Hakikatnya kau dan aku tiada hubungan

kentut sekalipun, untuk apa kau mati bagiku? Memangnya kau sengaja hendak

membikin aku berterima kasih padamu dan selama hidupku ini akan

diperbudak olehmu?”

“Aku tidak ingin memperbudak dirimu, aku cuma berharap kau akan menjadi

suamiku,” jawab So Ing dengan perlahan.

Kembali Siau-hi-ji melengak, katanya kepada Oh Yok-su sambil menuding So

Ing, “Kau dengar tidak? Apa yang diucapkan budak ini kau dengar tidak?”

“Dengar, kudengar dengan jelas,” jawab Oh Yok-su sambil mengulum senyum.

“Perempuan yang bermuka tebal begini tentunya tak pernah kau lihat bukan?”

tanya Siau-hi-ji pula.

“Tapi apa pun juga kan sudah dilihatnya sekarang,” ujar So Ing dengan

tertawa.

Terbelalak mata Siau-hi-ji memandangi So Ing sekian lamanya, tiba-tiba ia

menghela napas, ucapnya sambil menggeleng, “Aneh, sungguh aneh!”

“Aneh apa?” tanya So Ing sambil membetulkan rambutnya dengan jarinya yang

lentik.

“Ingin kutanya padamu,” kata Siau-hi-ji. “Demi seorang lelaki kau rela

membunuh diri, tapi sang lelaki merasa kepala pusing apabila melihatmu,

masa hal ini sama sekali tak merisaukan kau?”

“Mengapa aku harus risau?” jawab So Ing. “Kutahu, meski di mulut kau bilang

kepala pusing, tapi di dalam hati senang tidak kepalang. Jika sedikit pun kau

tidak menaruh perhatian padaku, mengapa tadi kau loncat ke atas untuk

menyelamatkan diriku?”

“Biarpun seekor anjing yang jatuh dari atas juga akan kuselamatkan,” ucap

Siau-hi-ji dengan ketus.

“Kutahu kau sengaja mengucapkan kata-kata keji dan menusuk perasaan ini,

kau sengaja berlagak dingin dan kejam, soalnya hatimu takut, makanya aku

pun takkan marah padamu,” kata So Ing dengan tertawa.

“Apa, aku takut?” teriak Siau-hi-ji dengan mendelik. “Apa yang kutakuti?”

“Kau takut selanjutnya akan kalah pengaruh daripadaku, juga takut kelak kau

akan keranjingan mencintai aku, makanya kau sengaja bersikap demikian

untuk membela diri,” tutur So Ing dengan kalem. Ia tersenyum, lalu

menyambung pula, “Jika orang macam Kang Giok-long itu, tentu dia takkan

bersikap seperti dirimu. Betul tidak?”

Siau-hi-ji tertawa, ucapnya sambil memiringkan kepala, “Jika begitu, ingin

kutanya pula padamu, mengapa aku mesti bersikap demikian, apakah sikap

demikian cukup membanggakan?”

“Soalnya terlalu besar emosimu, seorang yang besar emosinya sering kali

akan merugikan dirinya sendiri, makanya kau berdaya upaya sedapatnya untuk

melindungi kelemahannya sendiri.”

“Hahaha, logika yang janggal begini, selama hidup ini belum pernah kudengar,”

seru Siau-hi-ji sambil tertawa.

“Seorang kalau mendengar orang lain membongkar isi hatinya dengan tepat,

biasanya memang tidak mau mengaku dengan terus terang.”

Seketika Siau-hi-ji berjingkrak sambil berteriak, “Kentut, kentut busuk!”

“Kalau isi hati seseorang kena dibongkar orang, biasanya dia pasti akan

marah,” ucap So Ing dengan tertawa. “Meski kau mencaci maki juga aku tidak

menyalahkanmu.”

Untuk sekian lamanya Siau-hi-ji terbelalak memandangi si nona, gumamnya

kemudian, “Oh Thian, mengapa engkau mempertemukan aku dengan

perempuan begini?!”

Mendadak ia lompat ke dalam kolam, teriaknya sambil mengetuk kepala

sendiri, “Celaka, tamatlah riwayatku! Seorang lelaki kalau bertemu dengan

perempuan yang sok pintar begini terpaksa ia harus potong rambut dan jadi

Hwesio saja.”

“Wah, jika demikian, di dunia bakal bertambah lagi seorang Hwesio sontoloyo

dan seorang Nikoh (biksuni), tentu juga Nikoh sontoloyo,” ucap So Ing dengan

tertawa.

Siau-hi-ji jadi melengak, tanyanya, “Nikoh sontoloyo apa maksudmu?”

“Habis, kalau kau menjadi Hwesio, terpaksa aku akan menjadi Nikoh, tentulah

Nikoh sontoloyo, memangnya cuma ada Hwesio sontoloyo dan tidak ada Nikoh

sontoloyo, kan tidak adil?”

Sungguh dongkol Siau-hi-ji tak terkatakan, saking gemasnya ia terus

menyelam ke dalam air.

Hampir meledak perut Oh Yok-su saking gelinya menyaksikan perang mulut

kedua muda-mudi itu, pikirnya, “Biasanya ucapan Siau-hi-ji selalu membikin

gemas orang lain, tak tersangka hari dia ketemu batunya. Tampaknya nona So

Ing ini memang pintar dan cerdik, rupanya sudah dalam perhitungannya

apabila seorang perempuan ingin menaklukkan lelaki macam Siau-hi-ji, dia

harus berani menggunakan cara ‘dengan racun menyerang racun’.”

Terlihat Siau-hi-ji masih membenamkan kepalanya di dalam air, rupanya dia

lebih suka mati tenggelam daripada mati mendongkol oleh kata-kata So Ing.

Tapi So Ing tidak ambil pusing, ia malah tanya kepada Oh Yok-su, “Nah,

sekarang tentunya kau tahu, dia menyukai aku bukan?”

Terpaksa Oh Yok-su mengiakan dengan samar-samar.

“Coba pikir, jika dia tidak suka padaku, mengapa dia membenamkan kepalanya

di dalam air pencuci kakiku tanpa peduli bau busuk?” kata So Ing dengan

tertawa.

Belum habis ucapannya, secepat kodok tahu-tahu Siau-hi-ji melompat keluar

dari kolam.

Dalam pada itu pasang naik air kolam bertambah tinggi, kini hanya permukaan

batu karang itu saja yang masih menongol dan So Ing justru duduk di tengahtengah

batu itu, kalau Siau-hi-ji tidak mau duduk di sampingnya terpaksa dia

harus terjun lagi ke dalam kolam.

Dengan mengikik tawa So Ing berkata, “Duduklah baik-baik di sebelahku sini,

masih ada urusan lain ingin kutanya padamu.”

Terpaksa Siau-hi-ji duduk, ucapnya dengan melotot, “Kau ingin tanya apalagi?”

“Katanya kau ini orang pintar nomor satu di dunia, mengapa sampai tertipu

oleh Kang Giok-long?” tanya So Ing dengan tertawa.

“Aku senang, aku suka tertipu olehnya, peduli apa denganmu?” jawab Siau-hi-ji

mengada-ada.

“Kutahu kau pasti tak dapat ditipu olehnya, kau hanya ingin menggodanya saja,

betul tidak?”

So Ing cukup cerdik, ia tahu Siau-hi-ji sudah cukup dibuatnya keki, kalau tidak

tahu batas, dari malu anak muda itu bisa jadi gusar, jika sudah begini, maka

urusan bisa runyam. Sebab itulah cepat ia ganti haluan, ucapan yang terakhir

itu berubah menjadi lembut.

Lelaki memang tidak terlalu suka kepada anak perempuan yang terlampau

lembut dan terlalu penurut, terkadang lelaki juga memerlukan selingan, suka

dibikin keki oleh anak perempuan. Cuma sayang, kebanyakan anak

perempuan di dunia ini tidak tahu membedakan waktu yang tepat, tidak tahu

bilamana dapat menggoda dan membuat keki lelaki dan bilamana harus

berhenti, jika setiap anak perempuan di dunia ini sama pintarnya seperti So

Ing, maka tidak perlu diragukan lagi pasti sudah lama kaum lelaki menjadi

budak kaum perempuan.

Maka Siau-hi-ji balas menjengek, “Hm, kau tidak perlu menjilat pantatku. Sekali

ini aku memang tertipu olehnya. Ya, kan bukan apa-apa bila seorang

terkadang juga tertipu sekali dua kali.”

So Ing tahu rasa keki anak muda itu sudah buyar, tapi akan lebih baik kalau

sekarang jangan lagi diganggu. Dengan suara lembut ia lantas berkata, “Ya,

sudah tentu bukan apa-apa. Aku cuma rada heran, orang macam Kang Gioklong

itu mengapa bisa membikin Siau-hi-ji kita tertipu?” Tanpa menunggu

jawaban si anak muda segera ia berpaling kepada Oh Yok-su dan bertanya,

“Kejadiannya tentu kau lihat juga, coba kau saja bercerita.”

Oh Yok-su berdehem satu-dua kali, lalu bertutur, “Peristiwa ini harus dimulai

dari Hoa Bu-koat, dia ….”

Ketika bercerita sampai urusan “Li-ji-hong”, yaitu jamur racun yang dimakan

Siau-hi-ji, seketika So Ing menyelutuk, “He, apakah benar-benar dia telah

makan Li-ji-hong itu?”

“Benar-benar telah dimakannya,” tutur Oh Yok-su. “Justru lantaran jamur

beracun yang dimakannya itulah maka dia mengira Kang Giok-long pasti

takkan mencelakai dia lagi sehingga dia lena dan kena didorong masuk ke

sumur ini.”

“Kiranya lantaran ingin menolong Hoa Bu-koat, maka dia menjadi begini. Demi

menolong kawan dia rela mengorbankan dirinya sendiri, keluhuran budi ini

sungguh hebat ….” sekonyong-konyong tubuh So Ing menggigil, ucapnya pula

dengan parau, “Tapi apakah tak terpikir olehmu bahwa mungkin Hoa Bu-koat

sudah pergi dan Kang Giok-long sengaja berdusta untuk memeras kau?”

“Dengan sendirinya sudah kupikirkan,” jawab Siau-hi-ji.

“Kalau sudah kau pikir mengapa … mengapa kau makan Li-ji-hong itu? Apa

tidak dapat kau tunggu lagi?” So Ing menjadi cemas sendiri sehingga

kehilangan akal.

Siau-hi-ji menjadi senang melihat kegelisahan si nona, dengan tertawa ia

malah berkata, “Li-ji-hong itu kelihatan sangat enak, sebab itulah aku menjadi

kepingin mencicipinya. Kan tidak setiap orang mampu makan barang demikian,

betul tidak? Kesempatan baik begitu mana boleh kulewatkan?”

“Tapi apakah kau tahu bilamana racun Li-ji-hong itu sudah bekerja, maka kau

akan lebih suka mati daripada tersiksa?” kata So Ing dengan serak.

“Selama ini hidupku selalu menyenangkan, kalau ada orang yang bisa

membikin aku menderita, kan boleh juga?” ucap Siau-hi-ji dengan tenang.

Mata So Ing melotot, teriaknya, “Kau sendiri tidak cemas sama sekali?”

“Kalau kau sudah cemas begitu, untuk apa pula aku sendiri harus cemas?”

So Ing melenggong sejenak, ucapnya kemudian dengan gegetun, “Apabila

orang mengira kau akan tertipu, kau justru tidak tertipu. Bilamana orang yakin

kau takkan tertipu, tapi kau malah tertipu. Sungguh terkadang aku pun

bingung, sukar untuk menerka bagaimana jalan pikiranmu yang sebenarnya.”

“Jalan pikiranku ialah supaya orang lain tak dapat menebaknya,” kata Siau-hi-ji

dengan tertawa. “Jika apa yang hendak kukerjakan sudah dapat kau duga, lalu

apa artinya lagi? Kan hidup ini tiada bedanya seperti mati?”

“Betul, bila kau mati, pasti banyak orang akan terkejut. Cuma sayang, waktu itu

kau sendiri pun tidak mengetahuinya,” So Ing berseloroh.

“Belum tentu,” ujar Siau-hi-ji sambil menyengir, “Bisa jadi waktu itu aku akan

mengintip dari dalam peti mati.”

*****

Waktu So Ing terjun ke dalam sumur, saat itu juga Thi Peng-koh jatuh pingsan.

Selama beberapa hari terakhir ini dia benar-benar sangat menderita, jiwa

raganya benar-benar tersiksa dan tidak tahan lagi mengalami pukulan apa pun.

Dalam keadaan sadar tak sadar ia seperti mendengar suara percakapan orang

di dalam gua itu, tapi ia tak berani memastikannya, kini ia telah kehilangan

kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Semakin dingin angin pegunungan meniup tiada hentinya, sampai akhirnya

angin yang mengusap tubuhnya itu serasa sayatan pisau, kulitnya yang halus

itu seolah-olah merekah tertiup angin.

Tiba-tiba teringat olehnya dongeng yang pernah didengarnya waktu kecil,

konon ada seorang gadis suci, lantaran tidak sudi dinodai atau diperkosa orang

jahat, maka dengan nekat membunuh diri dengan cara menggigit putus

pangkal lidahnya sendiri.

Sudah lama juga Thi Peng-koh ingin mati, cuma dalam keadaan demikian ingin

mati pun tidak bisa. Kini tiba-tiba teringat ada cara mati semudah itu, seketika

dia bersemangat dan ingin mencobanya.

Mati adalah jalan terakhir bagi orang yang putus asa, namun betapa pun juga

jiwa seseorang tidaklah mudah dibuang begitu saja. Pada waktu keinginan

matinya tidak terkabul, tekadnya lantas goyah. Maklum, seseorang yang

mendekati ajalnya tentu akan teringat pada kejadian-kejadian di masa lampau

yang biasanya tidak berani dipikirkannya.

Teringat olehnya waktu berada di Ih-hoa-kiong, pada masa hidupnya yang

hampa dan kesepian itu, akan tetapi kini …. Meski ia berharap melewatkan

sehari saja kehidupan seperti itu pun sukar terkabul lagi.

Terkenang pula olehnya ketika bersembunyi dua hari di dalam gua bersama

Siau-hi-ji.

Kedua hari itu boleh dikatakan paling susah selama hidupnya, di dalam gua

yang gelap gulita, tidak makan dan tidak minum, bahkan tiada harapan lagi

untuk bisa keluar. Setiap saat, setiap detik selalu diintip maut.

Tapi meski jasmaninya mengalami siksa derita yang tak terperikan waktu itu,

namun jiwanya terasa segar dan gembira, asalkan Siau-hi-ji memegang

tangannya, maka segala penderitaan lantas berubah menjadi manisnya madu.

Sudah barang tentu, ia pun terkenang kepada Kang Giok-long.

Biarpun jahat dan menggemaskan, tapi Kang Giok-long juga ada saat-saat

yang menyenangkan. Yang lebih-lebih sukar dilupakan adalah kemahirannya

merayu, kata-katanya yang memikat, belaian dan rabaannya yang

menggetarkan sukma ….

Adanya suka dan duka sebanyak itu menggeluti relung hatinya, tentulah tidak

mudah baginya untuk mati.

Wajah Thi Peng-koh penuh bekas air mata dan tak dapat kering meski ditiup

angin pegunungan sekian lama.

Dari jauh ia memandangi gua yang diterjuni So Ing itu, gumamnya dengan

perasaan sedih, “Mengapa dia dapat mati dengan begitu mudah dan aku tidak?

Mengapa aku tidak mempunyai tekad sekeras itu? Bukankah dia jauh lebih

beralasan untuk hidup terus daripadaku?”

Perlahan-lahan Thi Peng-koh menjulurkan lidahnya, sekuatnya ia menggigit.

Namun antara mati dan hidup sesungguhnya tidak begitu sederhana

sebagaimana yang dibayangkannya.

Ada setengah orang yang tidak ingin mati, tapi mendadak mati dengan mudah.

Tapi ada sementara orang yang benar-benar ingin mati, terkadang malah tetap

hidup secara aneh.

Meski di dunia ini setiap hari tidak sedikit orang yang mati, tapi yang mati itu

sendiri kebanyakan justru tidak ingin mati, orang lain pun tidak menghendaki

kematiannya. Sebaliknya orang yang ingin mati dan pantas mati justru tidak

mati malah.

Ini benar-benar sesuatu yang ajaib, sesuatu yang sukar dijelaskan dan juga

sesuatu yang menyedihkan.

Thi Peng-koh juga tidak mati meski dia ingin mati. Dia cuma pingsan saja.

Waktu dia siuman kembali, pandangan pertama lantas dilihatnya topeng

perunggu hijau yang menakutkan itu.

Tong-siansing alias Kiau-goat Kiongcu juga sedang menatapnya dengan tajam,

sorot matanya yang dingin itu sungguh lebih menakutkan daripada topengnya

yang beringas itu. Tapi yang lebih menakutkan lagi adalah ucapannya.

“Lakimu itu sudah pergi?” demikian Kiau-goat Kiongcu bertanya.

Peng-koh mengiakan sambil menunduk.

“Tadi dia tidak menolong kau?” kata Kiau-goat Kiongcu pula.

Ucapan ini sungguh seperti anak panah yang menembus jantung hati Thi

Peng-koh. Meski selamanya ia tidak ingin mengungkit lagi kejadian ini, tapi ia

pun tidak berani menjawabnya. Terpaksa ia menjawab dengan menahan air

mata, “Dia … dia tidak berani menolong aku.”

“Hm, kalau dia berani melarikan diri, mengapa dia tidak berani menolongmu?”

Akhirnya air mata Thi Peng-koh bercucuran.

“Tidak perlu kau menangis,” kata Kiau-goat Kiongcu, “Ini adalah hasil

perbuatanmu sendiri. Sejak dulu-dulu seharusnya kau tahu tiada seorang lelaki

pun berhati baik, mengapa kau mau tertipu olehnya?”

Mendadak Thi Peng-koh menjawab dengan suara keras, “Tidak semua lelaki

berhati busuk, ada di antaranya meski aneh tindak tanduknya, tapi hatinya

sebenarnya sangat baik dan bijaksana.”

“Siapa yang kau maksudkan?” tanya Kiau-goat.

“Kang Siau-hi,” jawab Peng-koh.

Sorot mata Kiau-goat Kiongcu yang dingin itu mendadak merah membara,

bentaknya dengan bengis, “Memangnya yang kau sukai bukan Kang Giok-long

melainkan Kang Siau-hi?”

“Kalau aku tidak menyukai dia, masa aku selamatkan dia dari sana tanpa

menghiraukan akibatnya?”

“Plak”, kontan Kiau-goat Kiongcu menampar muka Thi Peng-koh, bentaknya

dengan parau, “Kau tahu orang she Kang tiada satu pun yang baik, lebih-lebih

Kang Siau-hi, dia sama seperti ayah-bundanya yang sudah mampus itu.”

“Aku cuma tahu dia baik hati, bajik menyenangkan ….”

“Berani kau singgung dia lagi satu kata, segera kubinasakan kau!” bentak Kiaugoat

dengan gusar.

“Engkau boleh menyumbat mulutku agar tidak bisa bicara, tapi engkau tak

dapat melarang aku memikirkan dia. Kini dia sudah mati, jika kau bunuh aku

malah kebetulan bagiku, aku dapat menemuinya dengan segera di alam baka,

hal ini pun tidak dapat kau cegah.”

Mendadak tubuh Kiau-goat Kiongcu bergetar. Rupanya dia teringat pada

kejadian 20 tahun yang lalu, waktu Kang Hong dan Hoa Goat-loh menghadapi

ajalnya. Apa yang diucapkan Hoa Goat-loh sebelum mati itu pun persis seperti

apa yang dikatakan Thi Peng-koh sekarang.

Sudah tentu ia tidak tahu apa yang diucapkan Thi Peng-koh tidak lebih cuma

ingin membikin marah padanya. Dengan sendirinya Thi Peng-koh tahu akan

apa hukuman Ih-hoa-kiong bagi muridnya yang khianat, sejak larinya Hoa

Goat-loh, yaitu ibu kandung Siau-hi-ji, hati Kiau-goat Kiongcu sudah berubah

jauh lebih kejam dan ganas daripada siapa pun juga.

Yang diharapkan Thi Peng-koh hanyalah lekas mati saja, ia tidak gentar

menerima akibatnya.

Yang lebih membuat murka Kiau-goat Kiongcu adalah Siau-hi-ji, anak muda itu

ternyata sudah mati di tangan orang lain, jadi jerih payahnya selama belasan

tahun ini hanya sia-sia belaka.

Meski sudah hampir 20 tahun, namun dendamnya tidak menjadi tawar

terhanyut oleh lalunya waktu, sebaliknya dendamnya bertambah keras,

semakin merasuk.

Maklumlah, selama 20 tahun ini apa yang pernah diucapkan Hoa Goat-loh

serta sikap Kang Hong sebelum ajal masih tetap terang benderang laksana

kobaran api yang senantiasa membakar sanubarinya.

Tekanan batin ini sungguh hampir membuatnya gila, tapi sedapatnya ia

bertahan, ia tahu pada suatu hari kelak, kedua putra kembar Kang Hong itu

pasti akan mengalami nasib tragis yang telah direkayasanya.

Entah sudah berapa kali dia mengkhayalkan adegan Hoa Bu-koat akan

membunuh Siau-hi-ji, hanya bila dia membayangkan kejadian ini barulah

jiwanya yang menderita itu rada berkurang.

Akan tetapi sekarang Siau-hi-ji telah mati di tangan orang lain, impian dan

khayalan selama 20 tahun ini telah buyar dalam sekejap saja, pukulan ini

sungguh berat dan tidak dapat ditahan oleh siapa pun juga. Seketika Kiau-goat

Kiongcu merasa lemas lunglai dan hampir-hampir ambruk.

Meski Thi Peng-koh tidak dapat melihat perubahan perasaan Kiau-goat

Kiongcu, tapi selama ini tak pernah dilihatnya sorot mata sang junjungan ini

bisa berubah begini menakutkan.

Dilihatnya Kiau-goat Kiongcu bersandar di pohon dengan lemas, selang

sejenak, matanya tampak berkaca-kaca, itulah air mata putus asa. Sungguh

sukar dipercaya, Ih-hoa-kiongcu yang tiada bandingannya di dunia ini bisa

mencucurkan air mata. Apakah sebabnya? Mimpi pun Thi Peng-koh tak pernah

membayangkannya.

Lewat sejenak pula, dengan perlahan Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Apakah

benar Siau-hi-ji sudah mati?”

Thi Peng-koh mengangguk dan berkata, “Dia sudah mati, sungguh tak terduga

engkau pun berduka baginya.”

“Ya, aku sangat berduka,” kata Kiau-goat Kiongcu. “Padahal, sekalipun semua

orang di dunia ini mampus seluruhnya juga aku takkan berduka. Sekarang apa

pun juga aku pasti akan menuntut batas baginya.”

Sorot mata Kiau-goat Kiongcu yang tajam itu tiba-tiba menatap Thi Peng-koh,

tanpa terasa Peng-koh merinding, katanya, “Tapi … tapi orang yang

membunuhnya itu bukanlah aku.”

“Betul, bukan kau yang membunuhnya. Tapi kalau kau tidak membawanya lari,

mana bisa dia terbunuh di tangan orang lain?”

“Ya, aku mengaku salah, boleh kau bunuh saja diriku,” ucap Peng-koh dengan

parau.

“Bunuh kau? Bisa kubunuh kau begini saja?”

“Memangnya apa … apa pula kehendakmu!” tanya Peng-koh dengan gemetar.

Dengan sekata demi sekata Kiau-goat berucap, “Aku menghendaki kau pun

menderita selama 20 tahun. Selanjutnya, setiap hari kusayat dagingmu

sepotong demi sepotong, sekarang juga akan kucungkil dulu biji matamu agar

kau tidak dapat melihat apa pun, lalu kupotong lidahmu, supaya kau tak dapat

bicara lagi.”

Thi Peng-koh tahu apa yang dikatakan Kiau-goat Kiongcu ini bukan cuma

gertakan belaka, jika Ih-hoa-kiongcu sudah menyatakan akan membikin

seseorang menderita 20 tahun, maka satu hari pun tak dapat ditawar.

Mendadak pada saat itu juga, seluruh lembah pegunungan ini berkumandang

suara gelak tertawa orang. Lalu seorang berseru, “Hahahaha! Tak tersangka

sedemikian hebat kepandaian Siau-hi-ji. Sesudah mati dia masih membuat Ihhoa-

kiongcu berduka cita baginya.”

Suara tertawa itu menggema dari berbagai penjuru, sampai-sampai Kiau-goat

Kiongcu tidak dapat membedakan dari arah mana datangnya suara itu. Tapi

dia lantas menenangkan diri, bentaknya, “Siapa itu berani sembarangan

mengoceh di sini?” Meski tidak keras suaranya, tapi Lwekangnya sangat tinggi,

ucapannya itu seketika berkumandang jauh dan terdengar dengan jelas.

Tapi orang itu masih tergelak-gelak, katanya, “Hahaha, masa suaraku tidak kau

kenal lagi? Apakah kau sudah lupa waktu aku berak kan pernah kau tunggu di

luar kakus, masa kau telah melupakan bau sedap itu?”

Bergetar tubuh Kiau-goat Kiongcu, serunya, “Siau-hi-ji? Jadi kau Siau-hi-ji?

Kau tidak mati?”

“Orang macan diriku ini masa bisa mati begitu saja?” ujar Siau-hi-ji dengan

tertawa.

Kata-kata ini membuat Thi Peng-koh terkejut dan juga kegirangan, walaupun

begitu toh kejutnya tidak sehebat Kiau-goat Kiongcu, saking terharunya sampai

dia tidak bersuara. Sesudah menarik napas panjang-panjang beberapa kali,

akhirnya ia tanya dengan suara parau, “Kau berada di mana?”

“Tepat berada di depanmu, apakah kau tidak melihatku?”

Sorot mata Kiau-goat mengerling, serunya pula, “Apakah kau berada di perut

bukit ini?”

“Betul,” jawab Siau-hi-ji, setelah terbahak-bahak ia menyambung pula, “Baru

sekarang kutahu Tong-siansing yang serba misterius itu kiranya ialah Ih-hoakiongcu,

di seluruh dunia ini mungkin tiada orang lain yang lebih beruntung

daripadaku.”

Kembali Kiau-goat dibuat gemas tak terkatakan sehingga tubuhnya gemetar

pula.

“Sekarang janjiku dengan Hoa Bu-koat sudah tiba waktunya,” demikian Siau-hiji

berseru pula. “Nah, tentunya kau tidak menghendaki aku mati begini saja

bukan?”

“Ya, apa kehendakmu, coba katakan?” tanya Kiau-goat Kiongcu.

“Yang jelas, nona Thi itu ….”

“Baik, akan kulepaskan dia, takkan kuganggu seujung rambutnya pun,” kata

Kiau-goat dengan mendongkol.

“Tapi meski telah kau bebaskan dia, setiap waktu kau masih dapat mencabut

nyawanya?”

“Habis apa kehendakmu?” tanya Kiau-goat.

“Bila kau membunuhnya setelah aku mati, tentunya aku pun tak berdaya, tapi

selama aku masih hidup, aku masih ingin melihat dia hidup senang dan

bahagia.”

“Sesungguhnya apa keinginanmu?”

“Gua ini meski sangat dalam, tapi di bawah sini penuh air, siapa pun kalau

terjun ke sini pasti takkan mati terbanting.”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, segera Kiau-goat mengangkat Thi Peng-koh

terus dilemparkan ke sana.

Dia hanya melempar seenaknya, seketika tubuh Peng-koh terus terlempar

belasan tombak jauhnya. Anehnya, dengan tepat dan persis terlempar masuk

ke lubang gua itu, tampaknya seperti anak kecil main lempar keranjang saja.

Selang sejenak, terdengar suara “plung” yang keras, suara benda berat

tercebur ke dalam air.

Lalu Siau-hi-ji bergelak dan berseru pula, “Bagus, bagus, tak tersangka Ih-hoakiongcu

yang malang melintang ditakuti orang ternyata juga seorang tolol.

Setelah kau serahkan dia padaku, bukankah aku tidak perlu lagi tunduk pada

kehendakmu?”

Gemas dan gusar Kiau-goat Kiongcu, saking geregetan jadi tak dapat

bersuara.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menyambung pula, “Tapi kau pun jangan khawatir,

hidupku ini terasa sangat senang, aku tidak ingin mati, pasti akan kuberi

kesempatan padamu untuk menolong aku keluar dari sini.”

Sungguh dunia terbalik, sungguh lagaknya seperti memberi pahala kepada

orang lain. Di dunia ini mungkin tiada kedua lagi yang serupa dia dan mungkin

juga takkan terjadi peristiwa kedua seperti ini.

Dengan menahan rasa gusar terpaksa Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Apakah

sekarang kau belum mau keluar?”

“Sekarang Hoa Bu-koat juga tidak berada di sini, andaikan aku keluar, lalu apa

gunanya? Bila melihat aku kau lantas marah, aku pun kikuk jika melihatmu.

Nah, kan lebih baik tetap kutinggal di sini saja.”

“Tapi janji tiga bulan kini sudah tiba waktunya,” kata Kiau-goat.

“Benar waktunya sudah tiba menurut perjanjian, maka lekas kau pergi mencari

Hoa Bu-koat dan mengajaknya ke sini, akan kutunggu di sini?”

“Kau … kau benar-benar menunggu di sini?”

“Gua ini mirip sebuah guci arak raksasa, sekalipun kau yang jatuh ke sini juga

jangan harap bisa keluar lagi. Masa kau khawatir aku melarikan diri?” Siau-hi-ji

bergelak tertawa, lalu menyambung pula, “Apalagi, biarpun kau sangsi juga tak

berdaya. Saat ini akulah yang kuasa dan menentukan persoalannya, jika aku

tak mau keluar, sekali pun muncul sepuluh orang Ih-hoa-kiongcu juga tak

mampu mengusik diriku?”

Secara akal sehat, seorang kalau sudah terjatuh ke gua sumur yang dalamnya

tak terkira dan tak dapat lari keluar, maka nasibnya boleh dikatakan konyol, sial

habis-habisan.

Siapa tahu hal apa pun yang konyol bila sudah berada di tangan Siau-hi-ji,

maka kekonyolan itu akan segera berubah, bukan saja dia tidak merasa

konyol, sebaliknya kejadian ini malah dapat diperalatnya untuk memeras Ihhoa-

kiongcu.

Dalam keadaan demikian, Ih-hoa-kiongcu benar-benar tak berdaya, mati kutu.

Selang sejenak barulah dia bertanya, “Apakah Hoa Bu-koat juga berada di

sekitar sini?”

“Betul, dia juga berada di sekitar sini,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa, “Cuma

di pegunungan ini banyak sekali liang tikusnya, dalam waktu singkat kukira kau

tak dapat menemukan dia. Jika waktu pencarianmu terlalu lama, bisa jadi aku

akan mati kelaparan di sini. Sebab itulah, paling baik kalau kau berusaha dulu

membawakan makanan bagiku. Selera perutku kan sudah kau kenal, bukan?”

“Ya, kutahu,” kata Kiau-goat Kiongcu. Saking geregetan, “krak”, mendadak

tangannya menabas ke samping, kontan sebatang pohon menjadi sasaran

pelampiasan dongkolnya.

Sementara itu pasang naik air dalam gua semakin tinggi, permukaan batu

karang yang menongol di atas air tinggal sebesar meja bundar saja. Siau-hi-ji,

Oh Yok-su, So Ing dan Thi Peng-koh sama berjubel di atas batu.

Thi Peng-koh basah kuyup dan menggigil kedinginan. Sedapatnya dia ingin

membungkus tubuhnya yang bugil itu dengan baju panjang yang basah itu, tapi

baju bekas milik Oh Yok-su yang tipis itu kini telah basah dan lengket di kulit,

jadinya seperti tembus pandang saja.

Meski dia tidak ingin duduk di sebelah Oh Yok-su, tapi So Ing seperti tidak

sengaja memisahkan dia dari Siau-hi-ji, terpaksa dia mengkeretkan tubuhnya

seringkas-ringkasnya.

Untung sejauh itu Oh Yok-su tetap duduk bersimpuh dengan sopan tanpa

sembarangan bergerak. Akan tetapi, tidak lama kemudian, terdengarlah

jantung Oh Yok-su mulai berdetak-detak keras.

Jika jantung seseorang tidak berdetak keras mana kala di sebelahnya duduk

seorang gadis cantik lagi menggiurkan, maka dia pasti bukan lelaki atau orang

yang mempunyai penyakit tertentu.

Setelah pohon di luar sana ditebas roboh oleh pukulan Kiau-goat Kiongcu,

tawa Siau-hi-ji bertambah riang. Tapi kecuali dia, orang lain sama tertekan

perasaannya dan tiada yang dapat tertawa.

Jantung Oh Yok-su berdebar semakin keras, Thi Peng-koh semakin menunduk

dengan menggigit bibir. Tiba-tiba ia melihat paha sendiri menongol di luar baju

yang basah itu. Kulitnya yang putih mulus itu masih ada butiran air serupa

embun di atas bunga teratai putih.

Biji mata Oh Yok-su tampak melotot seakan-akan melompat keluar dari rongga

matanya. Tentu saja Thi Peng-koh tambah risi, tidak cuma mukanya saja

merah, sampai telinganya pun terasa panas. Sungguh ia ingin menceburkan

Oh Yok-su ke kolam saking dongkolnya. Ia berusaha menarik ujung baju untuk

menutupi paha yang kelihatan itu. Tapi ditarik sini, di sana menongol lagi.

So Ing mengikik geli, katanya kemudian, “Bagaimana kalau lelaki berdiri saja?”

Tanpa tawar Oh Yok-su terus berbangkit. Tapi entah sebab apa, dia tidak

berani berdiri tegak, dengan setengah berjongkok ia berlagak garuk-garuk

kakinya.

So Ing meraba tangan Thi Peng-koh, katanya dengan tersenyum, “Semua

lelaki bermata keranjang. Asalkan kau anggap mereka orang mampus saja kan

beres.”

Peng-koh menunduk, jawabnya, “Terima kasih ….” tiba-tiba ia angkat kepala

dan berkata pula, “Apa yang kukatakan di luar tadi seluruhnya cuma karangan

belaka, jangan … jangan engkau pikirkan.”

“Apa sih yang kau katakan tadi?” tanya So Ing.

Setelah melirik Siau-hi-ji sekejap baru Peng-koh menjawab dengan tergegap,

“Kubilang kepada Kiongcu bahwa aku … aku menyukai dia, padahal

maksudnya hanya untuk membikin marah Kiongcu saja, yang benar ….”

“Sudahlah, tidak perlu lagi penjelasanmu,” ujar So Ing dengan tertawa. “Aku

kan bukan botol cuka. Apalagi, orang yang menyukai Siau-hi-ji juga tidak cuma

kau saja, seumpama kau memang menyukai dia juga bukan soal, malahan aku

merasa bangga.”

Meski di mulut ia bilang “bukan soal”, tapi rasa kecut ucapannya itu dapat

tercium oleh siapa pun juga.

Siau-hi-ji berkedip-kedip dan tertawa, katanya, “Kau suka padaku, kan aku juga

tidak buruk padamu. Coba, kalau bukan lantaran dirimu, sedikit banyak

sekarang aku pasti dapat mengorek rahasianya Ih-hoa-kiongcu.”

Muka Thi Peng-koh menjadi merah, ia menunduk lagi.

So Ing merasa tidak tega, ia coba menyimpangkan pembicaraan, “Ih-hoakiongcu

ada rahasia apa?”

“Kuingin tahu sesungguhnya ada dendam apa antara dia dengan keluarga

kami,” tutur Siau-hi-ji. “Bahwa dia sedemikian benci pada orang she Kang, tapi

mengapa dia tidak mau turun tangan sendiri, malahan ia sengaja menyamar

sebagai Tong-siansing segala dan menyuruh Hoa Bu-koat membunuh diriku.

Bukan saja dia sengaja mengelabui aku, bahkan juga main sembunyisembunyi

terhadap muridnya sendiri. Sampai saat ini mungkin sama sekali

Hoa Bu-koat belum lagi mengetahui Tong-siansing adalah samaran gurunya.”

So Ing berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Ya, persoalan ini memang sangat

aneh, bahkan tidak masuk akal.”

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya, “Sebab musabab persoalan ini hanya

diketahui Ih-hoa-kiongcu kakak beradik saja. Tampaknya, selama aku masih

hidup, mereka tidak mau menjelaskannya.”

“Sebab itulah, bila tadi kau tidak bersuara sehingga dia mengira kau benarbenar

sudah mati, maka bukan mustahil dia akan memecahkan rahasia ini,

begitu maksudmu?”

“Betul, tapi bagaimana aku sampai hati membiarkan dia mencolok biji mata

nona Thi?” ucap Siau-hi-ji.

“Nona Thi,” kata So Ing dengan tertawa, “Jangan kau percaya pada

ocehannya, ucapannya ini hanya sengaja membikin marah Ih-hoa-kiongcu.

Padahal kutahu dalam hatimu cuma ada Kang Giok-long dan dalam hatinya

juga ….”

Dia sengaja melirik Siau-hi-ji sekejap, habis itu lantas berhenti berucap.

“Hahaha, memangnya di dalam hatiku cuma ada kau? Wah aku bisa mati

dongkol oleh ucapanmu ini,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jika kau sangat marah, mengapa tertawamu begini riang. Semula kukira kau

benar-benar tertipu oleh Kang Giok-long, baru sekarang kutahu kau sengaja

ditipu olehnya.”

“Aku sengaja ditipu olehnya?” Siau-hi-ji menegas dengan berkedip-kedip.

“Memangnya kenapa aku sengaja membiarkan diriku ditipu orang?”

“Bisa jadi, kau ingin Ih-hoa-kiongcu mengira kau telah mati, maka sengaja

membiarkan dirimu didorong masuk ke sini oleh Kang Giok-long. Mungkin pula

sebelumnya kau tahu di dalam gua ini ada airnya dan takkan mati terbanting.”

“Dari mana kutahu di dalam gua ini ada airnya?”

“Waktu itu matahari belum terbenam, bisa jadi cahaya matahari telah menyorot

masuk ke sini dan memantulkan bayangan air kolam.”

“Seumpama betul demikian kan aku harus tahu berapa dalamnya sumur ini,

sekali jatuh ke sini tak bisa keluar lagi.”

“Dengan sendirinya kau punya akal, malahan cukup banyak jalannya, tidak

cuma satu saja.”

“Haha, tidakkah teramat tinggi kau menilai kepintaranku?” ujar Siau-hi-ji

dengan tertawa.

“Kau memang tidak bodoh,” kata So Ing.

Mendengar sampai di sini, agaknya Oh Yok-su jadi lupa pada si cantik yang

berada di sampingnya, ia tanya Siau-hi-ji, “Hi-heng, apakah betul engkau

sengaja membiarkan dirimu didorong ke sini oleh Kang Giok-long dan benarbenar

ada akal untuk keluar?”

“Bisa jadi benar, mungkin pula tidak benar,” jawab Siau-hi-ji seakan-akan main

teka-teki. “Tampaknya nona So ini seperti cacing pita di dalam perutku, kenapa

tidak kau tanya dia saja. Mungkin dia lebih tahu isi hatiku daripada diriku

sendiri.”

So Ing tertawa, katanya, “Di dalam gua sini dapat mendengar dengan jelas

suara di luar, maka siapa-siapa yang lalu di luar sana tentu akan diketahui

olehnya. Nah, dia kan tidak bisu, tentunya dia dapat berteriak minta tolong.”

Oh Yok-su melenggong sejenak, katanya kemudian, “Tapi … tapi waktu itu dia

juga belum tahu kalau gua ini bisa mengumandangkan suara.”

“Mungkin kau tidak tahu bahwa dia dibesarkan di lembah pegunungan, tentu

situasi pegunungan dipahaminya dengan baik,” tutur So Ing.

“O, jika demikian, rupanya pengetahuan Cayhe yang terlalu cetek,” kata Oh

Yok-su gegetun.

“Namun cara ini pun ada kelemahannya,” kata So Ing pula.

“Kelemahannya apa?” tanya Oh Yok-su.

“Lembah pegunungan ini sangat terpencil, apabila tiada orang lalu di sini,

bukankah dia akan mati terkurung di sini? Apalagi kalau kebetulan ada orang

lewat di sini, tapi bukan kawannya melainkan musuhnya, lalu apakah dia berani

berteriak minta tolong?” setelah tertawa, lalu So Ing menyambung pula, “Kau

tahu, musuhnya kan jauh lebih banyak daripada kawannya?”

“Betul juga, bila orang yang lalu di sini semuanya ialah musuhnya, lalu

bagaimana?” Oh Yok-su mengulang pertanyaan ini sambil garuk-garuk kepala.

“Makanya dia masih ada jalan kedua,” tukas So Ing.

“Jalan kedua?” Oh Yok-su menegas dengan terbelalak. “Jalan pertama saja

sukar dipecahkan, jika ada jalan kedua yang dapat ditempuhnya, sungguh

Cayhe tak percaya.”

“Coba jawab dulu, mengapa di perut gunung ini ada air?” tanya So Ing.

Oh Yok-su terdiam dan berpikir sambil berkerut kening, jawabnya kemudian

dengan ragu-ragu, “Bisa jadi … bisa jadi lantaran air hujan merembes masuk

ke sini.”

“Gua ini geronggang sebesar ini, sedangkan lubang gua di atas begitu kecil,

andaikan air dapat masuk ke sini juga takkan tertimbun sebanyak ini, betul

tidak?”

Oh Yok-su membenarkan sambil mengangguk.

“Apalagi, air di sini jelas pasang naik terus, setelah bertahun-tahun bukankah

gua ini akan tergenang seluruhnya?”

“Betul, jika air pasang naik begini terus-menerus, tidak sampai sebulan juga

gua ini akan terbenam,” seru Oh Yok-su, “Tapi sekarang ….”

“Sekarang air pasang ini belum ada sepesepuluhnya tinggi gua ini, apa

sebabnya?” sela So Ing.

“Mungkin … mungkin sebelumnya di sini tidak ada air, baru dua-tiga hari ini

keluar airnya.”

“Jika semula di sini tidak ada air, mengapa batu kuning ini sedemikian bersih,

masa tanpa kena air bisa berlumut?”

“Betul juga,” ucap Oh Yok-su dengan tertawa. “Jika di atas ada lubang gua,

dengan sendirinya ada debu pasir yang tertiup masuk ke sini, setelah

bertahun-tahun, seharusnya di sini penuh tertimbun debu kotoran.”

“Nah, kan sederhana jadinya persoalan ini,” ujar So Ing. “Sebenarnya air di sini

masih terus pasang naik, tapi tidak lama kemudian akan surut pula, jadi air

pasang kadang naik dan kadang surut, dengan sendirinya debu kotoran yang

tertimbun di sini akan tercuci bersih.”

“Tapi … tapi air di dalam gua ini mengapa bisa pasang naik dan surut? Dari

mana datangnya pula air ini” ucap Oh Yok-su.

“Jangan kau lupa, pegunungan ini terletak di muara Tiangkang (sungai

Panjang atau Yangzekiang), air di gua ini tentunya juga air sungai. Lantaran air

Tiangkang setiap hari pasang naik turun pada waktu tertentu, maka waktu

pasang naik air di sini juga ikut naik, waktu pasang turun, air di sini juga lantas

surut.”

Oh Yok-su termenung dengan mata melotot, ucapnya kemudian sambil

menyengir, “Memang betul, teori ini sekarang pun dapat kupahami.”

“Jika kau dapat memahami persoalan ini, tentunya kau pun dapat memahami

persoalan kedua,” kata So Ing.

“Wah, Cayhe … mana ….” Oh Yok-su jadi ragu-ragu.

“Kalau air sungai dapat mengalir ke sini, maka di tempat ini pasti ada jalan

keluar yang menembus ke Tiangkang, asalkan nanti air menyurut, tentu jalan

keluar itu akan dapat ditemukan ….” So Ing tersenyum, lalu menyambung pula,

“Teori ini pun sangat sederhana, seharusnya kau pun dapat memikirkannya,

betul tidak?”

Oh Yok-su termangu-mangu sejenak, katanya kemudian, “Sebenarnya Cayhe

bukan orang bodoh, tapi kalau dibandingkan kalian berdua, Cayhe menjadi

tolol mendadak.”

So Ing tersenyum, lalu ia berpaling ke arah Siau-hi ji dan bertanya, “Nah, betul

tidak apa yang kukatakan?”

“Hm, jangan sok pintar,” jengek Siau-hi-ji, “Perempuan yang benar-benar pintar

tentu tahu bahwa apa yang diketahuinya betapa pun tetap kalah sedikit

daripada lelaki. Nah, penyakitmu justru terlalu banyak pengetahuan, terhadap

perempuan yang terlalu pintar begini, kebanyakan lelaki tidak berani

mendekatinya.”

“Tapi kau pun bukan lelaki kebanyakan, orang seperti kau ini hanya ada satu di

dunia ….” jawab So Ing. “Apalagi, jelas kau pun paham benar apa yang

kukatakan tadi, bahkan apa yang kupahami tidak lebih banyak daripadamu.”

Siau-hi-ji terbahak-bahak, setelah tertawa, ia menghela napas, katanya, “Wah,

naga-naganya, lambat atau cepat, pada suatu hari pasti aku akan terpikat oleh

budak ini.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari atas jatuh pula sesuatu barang. Oh Yok-su dan

Thi Peng-koh sama terkejut, tapi Siau-hi-ji lantas berseru dengan tertawa,

“Haha, Ih-hoa-kiongcu ternyata sangat penurut, dia telah mengantarkan makan

malam bagi kita.”

Memang betul, barang yang jatuh dari atas itu adalah makanan yang diminta

Siau-hi-ji tadi.

Antaran Ih-hoa-kiongcu ini tidak sedikit, satu pak besar. Tanpa sungkansungkan

lagi mereka lantas makan sekenyangnya.

Sambil makan Siau-hi-ji juga memperhatikan air kolam yang mulai menyurut.

Belum lagi air itu habis menyurut, segera Oh Yok-su melompat ke bawah untuk

mencari jalan keluarnya. Sebaliknya Siau-hi-ji terus merebahkan diri di atas

batu, ia benar-benar tidur dengan nyenyaknya.

Oh Yok-su telah menyalakan geretan api, cahaya yang berkelip-kelip menyinari

wajah Siau-hi-ji, anak muda ini pulas seperti anak kecil.

Perlahan So Ing membelai rambut Siau-hi-ji yang hitam gilap itu, ucapnya

dengan rawan, “Dia benar-benar teramat lelah, selama beberapa hari ini

memang banyak sekali pengalaman pahit yang dirasakannya.” Dia berpaling

dan tersenyum kepada Thi Peng-koh, katanya, “Jika orang lain yang

mengalami pukulan berat ini, andaikan tidak patah semangat dan putus asa,

sedikitnya juga akan berkeluh-kesah, tapi coba kau lihat, dia sama sekali tidak

peduli dan dapat tidur dengan nyenyaknya. Lelaki demikian, apakah salah

kalau aku menyukainya?”

Peng-koh tersenyum, air matanya hampir menetes saking terharunya. So Ing

berbangga demi lelaki yang dicintainya, akan tetapi bagaimana dengan

dirinya? Apa yang diterimanya dari Kang Giok-long hanya hina dan dusta serta

kemalangan belaka.

Apakah ini salahnya? Mengapa harus terjadi demikian? Dunia ini mengapa

tidak adil?

Peng-koh berpaling ke sana, ia tidak ingin orang lain melihat air matanya, ia

berusaha tertawa dan menjawab, “Ya, dia sangat baik, engkau juga baik, kalian

adalah pasangan yang setimpal.”

“Terima kasih ….” ucap So Ing dengan senang. Selang sejenak, tiba-tiba ia

tanya pula, “Kau kenal Thi Sim-lan tidak?”

“Kutahu dia juga sangat baik terhadap Siau-hi-ji, namun ….”

“Namun selain Siau-hi-ji dia juga masih menyukai orang lain,” sela So Ing.

“Sebaliknya bagiku, selain Siau-hi-ji aku tak dapat menyukai lagi siapa pun

juga, sebab itulah tak dapat kubiarkan dia merampas Siau-hi-ji dariku, dengan

cara apa pun pasti akan ku ….” dia tertawa dan tidak meneruskan, tapi berganti

ucapan, “Kalau dia dapat menyukai lagi lelaki lain, sepantasnya dia tidak boleh

berebut Siau-hi-ji denganku, demikian barulah adil, betul tidak katamu?”

Thi Peng-koh tidak menjawabnya, tapi membatin dalam hati, “Untuk apa kau

berkata demikian padaku? Memangnya kau masih khawatir Siau-hi-ji akan

kurebut darimu? Seumpama aku memang menyukai dia, kini juga sudah

terlambat.”

Pada saat itulah mendadak terdengar Oh Yok-su berteriak girang di bawah,

“Aha, di sini, inilah jalannya, sudah kutemukan!”

Memang benar, di perut gunung ini ada sebuah lubang tembus ke sungai

Tiangkang, tampaknya terowongan di bawah tanah ini berliku-liku tapi cukup

untuk dilalui tubuh seorang yang tidak terlalu gemuk.

Cepat So Ing membangunkan Siau-hi-ji, serunya dengan tertawa, “Lekas

bangun. Jalan keluarnya sudah ditemukan.”

Tapi Siau-hi-ji hanya menggeliat kemalas-malasan dan membalik tubuh, lalu

pulas pula.

“He, he, bangunlah, kalau sudah keluar nanti boleh kau tidur sepuasmu,

sekarang kita harus pergi dari sini!” So Ing menggoyang-goyang pula tubuh

Siau-hi-ji.

Anak muda itu kucek-kucek matanya, katanya, “Kalian mau pergi boleh silakan,

aku ingin tidur lagi di sini.”

“Kau tidak pergi?” So Ing menegas dengan melengak.

“Untuk apa pergi? Tidakkah kau dengar bahwa aku akan menunggu Hoa Bukoat

di sini?”

“Kau … benar-benar menunggu dia?”

“Sudah tentu benar. Mana boleh aku mengingkari janji? Janji ini sudah kami

tetapkan tiga bulan yang lalu.”

“Tapi … tapi kalau dia datang, tentu Ih-hoa-kiongcu akan memaksa dia

berkelahi denganmu.”

“Istilah berkelahi tidak tepat, pertarungan tokoh kelas tinggi seperti kami ini

harus disebut ‘pi-bu’ (bertanding silat).”

“Tapi kalian kan bukan ‘pi-bu’ melainkan hendak mengadu jiwa,” ucap So Ing

dengan khawatir.

Siau-hi-ji membalik tubuh pula dan menutupi matanya dengan tangan, katanya,

“Terserah, jika kau berkeras mau bilang mengadu jiwa juga masa bodoh.

Selamanya aku tidak suka ribut mulut dengan perempuan.”

So Ing menarik balik lagi tubuh anak muda itu dan berseru dengan

mendongkol, “Tapi kau … kau bukan tandingannya, kutahu betapa saktinya Ihhoa-

ciap-giok itu ….”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, ucapnya dengan tak acuh, “Tapi tahukah kau

bahwa di kolong langit ini hanya aku saja seorang yang tahu cara bagaimana

mematahkan ilmu silat Ih-hoa-kiong?”

“Kau … kau benar tahu?”

“Dengan sendirinya ada orang yang mengajarkan padaku,” jawab Siau-hi-ji

dengan tertawa. “Rahasia ilmu silat Ih-hoa-kiong memang tiada orang lain yang

tahu terlebih jelas daripada dia.”

“Siapa dia?” tanya So Ing.

“Tong-siansing?” jawab Siau-hi-ji.

“Tong-siansing? Bukankah Tong-siansing sama dengan Ih-hoa-kiongcu?”

“Ehm,” sahut Siau-hi-ji.

“Mengapa Ih-hoa-kiongcu mau mengajarkan cara mematahkan ilmu silat

kebanggaannya sendiri padamu? Memangnya dia sudah gila?”

Siau-hi-ji menguap ngantuk, ucapnya dengan kemalas-malasan, “Mungkin dia

sudah gila, bisa jadi pula ada alasan lain. Jalan pikiran perempuan memang

sukar dipahami, maka aku pun malas untuk menerkanya.”

So Ing tercengang sejenak, katanya kemudian, “Tapi seumpama kau dapat

mematahkan ilmu silat Ih-hoa-kiong tetap kau tak dapat membunuh Hoa Bukoat,

begitu bukan?”

“Dapat kubunuh dia atau tidak, apa sangkut-pautnya dengan kau?” ujar Siauhi-

ji.

“Sudah tentu ada sangkut-pautnya,” jawab So Ing. “Kau tidak membunuh dia

berarti dia akan membunuhmu, jika kau tinggal di sini berarti ….”

“Sudahlah, siapa di antara kalian mau pergi boleh silakan pergi, yang jelas aku

tetap menunggu di sini,” Siau-hi-ji meraung sambil melompat bangun.

Sejak tadi Oh Yok-su sudah siap berdiri di tepi lorong yang menembus keluar

sana, yang diharap-harapkannya adalah sekeluarnya dari gua ini akan

diperoleh pula obat penawar dari Siau-hi-ji. Kini mendengar anak muda itu

tidak mau keluar, bahkan marah-marah dan mengusir mereka, tentu saja ia ikut

lemas dan cemas. Sambil memegangi dinding kolam dia memandang Siau-hi-ji

dengan napas terengah-engah, tiba-tiba ia berseru dengan suara serak, “Wah,

Cayhe … rasanya tidak … tidak tahan lagi.”

“Apamu yang tidak tahan?” tanya So Ing.

Oh Yok-su memegangi tenggorokan sendiri, katanya, “Mungkin … mungkin

racun sudah mulai bekerja.”

“Kau pun keracunan?” So Ing menegas, “Racun apa yang kau minum?”

Sambil melirik Siau-hi-ji sekejap, Oh Yok-su menjawab, “Cayhe sendiri tidak

tahu.”

“O, dia yang meracuni kau?” tanya So Ing.

Berulang-ulang Oh Yok-su mengangguk.

“Bagaimana rasanya racun itu?” tanya So Ing pula.

“Rada asin, lunak dan … dan rada-rada bau,” tutur Oh Yok-su dengan

menyengir.

Tiba-tiba So Ing mengikik tawa, ucapnya, “Baiklah, jika kau ingin pergi, silakan

pergi saja, jangan khawatir.”

“Tapi … tapi obat penawar ….”

“Tidak perlu obat penawar segala, dia cuma menakut-nakuti kau saja,” kata So

Ing, “Yang kau rasakan itu pasti bukan racun, barusan kau rasakan racun

sudah mulai bekerja, itu hanya sugesti, kukira pikiranmu sendiri saja yang

mengacau.”

“Habis apa kalau bukan racun?” tanya Oh Yok-su.

“Aku pun tidak tahu apa, bisa jadi cuma segelintir upil yang dia korek dari

hidungnya,” kata So Ing dengan tertawa.

Muka Oh Yok-su menjadi merah, ia pandang Siau-hi-ji dan bertanya, “Ap …

apakah betul begitu?”

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, jawabnya, “Kan sudah kukatakan sejak

tadi bahwa budak ini adalah cacing pita dalam perutku, masa kau lupa?”

Muka Oh Yok-su sebentar merah sebentar pucat, mendadak ia membalik

tubuh, seperti anjing geladak yang mendadak digebuk orang, tanpa omong lagi

terus ngacir menerobos terowongan yang ditemukannya itu.

Selama hidup ini dia berharap jangan lagi bertemu dengan Siau-hi-ji, dia lebih

suka kepergok seratus setan iblis daripada bertemu dengan anak muda itu.

Pandangan So Ing lantas beralih pada diri Thi Peng-koh, tanyanya, “Apa kau

tidak ingin pergi?”

Peng-koh menunduk bingung karena tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Dia maklum, apabila dirinya tetap tinggal di sini, tentu So Ing akan sangsi dan

mengira dia merasa berat meninggalkan Siau-hi-ji. Akan tetapi kalau pergi, lalu

mesti pergi ke mana? Dunia seluas ini seolah-olah tiada tempat bernaung

baginya.

“Apakah kau tidak ingin menemui Kang Giok-long?” tanya So Ing.

“Aku … aku ….” sukar bagi Peng-koh untuk menjawabnya. Sebenarnya dia

mengira dirinya pasti akan menjawab dengan tegas tidak mau bertemu lagi

dengan pemuda tak berbudi itu, tapi entah mengapa, kata-kata itu sukar

diucapkannya.

Bila teringat kepada macam-macam tindak tanduk Kang Giok-long yang

menggemaskan tapi juga menyenangkan, mana bisa dia dapat putus dengan

anak muda itu?

So Ing dapat meraba hatinya, dengan tersenyum ia berkata pula, “Kutahu kau

pasti ingin menemuinya, sebab, seumpama kau tidak lagi menyukai dia, masa

kau tidak ingin menuntut balas padanya?”

“Tapi … tapi aku tidak tahu cara bagaimana harus menuntut balas,” kata Pengkoh

dengan menghela napas. Kata-kata ini mestinya tidak ingin diucapkannya,

tapi entah mengapa, akhirnya tercetus juga dari mulutnya.

“Aku mempunyai akal,” kata So Ing.

“Akal apa?” tanya Peng-koh.

“Tahukah sebab apa sekarang kau merasa susah? Soalnya kau merasa dia

telah meninggalkanmu, kau merasa dirimu sama sekali tidak diperhatikan

olehnya, makanya hatimu remuk redam, betul tidak?”

Peng-koh menunduk sedih dan tidak menjawab, sebab apa yang dikatakan So

Ing itu memang kena benar di lubuk hatinya.

“Nah, jika ingin menuntut balas,” demikian kata So Ing pula, “Maka kau harus

membikin dia merasa kau sama sekali tidak memikirkan dia, jika sudah begini,

kujamin dia pasti akan mengesot di bawah kakimu dan goyang-goyang ekor

untuk memohon belas kasihan.”

Sampai lama sekali Peng-koh menunduk, setelah berpikir sekian lama, lambat

laun matanya mulai bersinar.

“Nah, sekarang kau paham maksudku tidak?” tanya So Ing.

“Ya, aku paham,” jawab Peng-koh.

“Bagus, asalkan kau bertindak menurut petunjukku, kujamin dia pasti akan

mencarimu, apalagi dia sudah datang, maka tibalah waktunya bagimu

melampiaskan dendammu.”

Thi Peng-koh tertawa, tapi lantas berkata pula dengan gegetun, “Tapi aku …

aku sekarang ….”

“Apakah kau merasa dirimu sekarang sebatang kara, tidak punya harta benda

dan juga tiada sandaran sehingga hati rada takut, begitu?”

Peng-koh mengangguk dengan sedih.

“Tapi jangan kau lupa, kau ini anak perempuan yang cantik dan menggiurkan,

usiamu masih muda dan inilah modal perempuan yang terbesar, berdasarkan

ini sudah cukup untuk mempermainkan lelaki di atas telapak tanganmu.

Dengan modalmu ini, ke mana pun kau pergi sudah cukup untuk berdikari.”

Akhirnya Thi Peng-koh mengangkat kepalanya, ucapnya dengan tersenyum,

“Terima kasih!” Ia pandang Siau-hi-ji sekejap, seperti ingin omong apa-apa,

tapi urung. Lalu ia menerobos pergi tanpa menoleh lagi melalui terowongan

yang ditemukan Oh Yok-su tadi.

Mendadak Siau-hi-ji bertepuk tangan dan berseru, “Bagus, sungguh bagus

sekali. Tak tersangka cara nona So kita menghadapi kaum lelaki ternyata

sehebat ini. Kukira kau sudah boleh mulai cari tempat untuk membuka kursus,

kuyakin dalam waktu singkat muridmu akan datang berbondong-bondong dan

sekejap saja akan kaya mendadak.”

So Ing tertawa, katanya, “Jangan khawatir, pasti takkan kugunakan cara ini

untuk menghadapimu.”

“Sekalipun kau pakai caramu ini juga tak mempan bagiku,” jengek Siau-hi-ji.

“Biarpun kau berpelukan dengan seratus lelaki dan berjumpalitan di depanku

juga takkan kupeduli, apalagi marah?”

“Kalau begitu, sekarang belum lagi aku berpelukan dengan seorang lelaki pun,

apa pula yang kau marahi?”

Siau-hi-ji melengak, segera ia meraung pula, “Kau telah mengenyahkan orang

lain, kau sendiri mengapa tidak pergi?”

“Pergi, mengapa aku harus pergi? Bukankah tempat ini sangat menyenangkan

untuk istirahat?”

“O, nonaku, kumohon dengan sangat, sudilah kau pergi saja. Jika tidak,

sebentar mungkin aku bisa gila lantaran tingkah-polahmu.”

“Jika kau tidak senang melihat diriku, kenapa tidak kau sendiri saja yang

pergi?”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, akhirnya ia tergelak-gelak, katanya, “Haha,

bagus, bagus, budak cilik, aku benar-benar takluk padamu. Sejak dilahirkan

hingga kini belum pernah ada seorang pun yang membikin marah padaku

seperti ini, akhirnya aku ketemu batunya juga.”

So Ing tidak pedulikan dia lagi, ia membungkus sisa makanan tadi dan

bergumam, “Tempat ini sangat lembap, barang makanan yang tak tersimpan

dengan baik mungkin akan bulukan dan membusuk.”

“Umpama membusuk, memangnya kenapa, masa akan kau bawa keluar lagi?”

kata Siau-hi-ji.

So Ing seperti tidak mendengar ucapan anak muda itu, ia bergumam pula,

“Barang-barang ini masih bisa dimakan untuk beberapa hari lagi, harus

disimpan supaya tidak membusuk.”

Siau-hi-ji tidak tahan, tanyanya, “Dimakan lagi beberapa hari? Memangnya kau

ingin mengeram beberapa lagi di sini?”

Baru sekarang So Ing menoleh, ucapnya dengan tertawa, “Apakah kau kira Ihhoa-

kiongcu akan segera menemukan Hoa Bu-koat?”

Siau-hi-ji terbelalak, mendadak ia mendekatkan wajahnya ke muka So Ing dan

menegas, “Jangan-jangan kau yang menyembunyikan Hoa Bu-koat?”

“Dia kan bukan anakku, masa bisa kusimpan dia dengan begitu saja?”

“Tapi kau tahu dia berada di mana, bukan?”

“Dari mana kutahu?”

“Bahwa kau tahu Kang Giok-long telah menipu aku, maka tentu kau pernah

melihat Hoa Bu-koat, betul tidak?”

So Ing tidak menjawab, ia duduk berlipat kaki di atas batu, ia pandang Siau-hi-ji

sejenak, kemudian baru berkata dengan perlahan, “Betul, aku memang pernah

melihat dia, aku pun tahu dia berada di mana sekarang. Akan tetapi tak dapat

kukatakan padamu.”

Siau-hi-ji, meraung gusar, “Mengapa tak dapat kau katakan padaku?”

“Sebab khawatir kau akan marah.”

“Marah? Mengapa aku harus marah?”

“Kalau kukatakan, kau benar-benar takkan marah?”

“Ya, takkan marah!”

“Kalau marah?”

“Kalau marah, anggaplah aku ini setan belang,” teriak Siau-hi-ji.

“Tidak, tidak setuju?” So Ing menggeleng.

“Mengapa tidak setuju?” teriak Siau-hi-ji.

“Sebab kau takkan berubah menjadi setan cara mendadak bukan?”

Sungguh dongkol Siau-hi-ji tak terkatakan, ucapnya kemudian, “Baiklah, kalau

kumarah, apa pun yang kau perintahkan pasti akan kulakukan.”

“Ucapanmu dapat dipercaya tidak?”

“Seorang ksatria sejati, seorang lelaki tulen, masa ingkar janji terhadap budak

cilik macam kau ini.”

“Baik, kuberitahu, saat ini Hoa Bu-koat lagi pergi mencari Thi Sim-lan.”

“Hah, mencari Thi Sim-lan?” seru Siau-hi-ji. “Dari mana dia mengetahui tempat

beradanya Thi Sim-lan?”

“Aku yang bilang padanya,” jawab So Ing.

Baru sekarang Siau-hi-ji benar-benar terkejut, ucapnya, “Kau yang bilang

padanya? Dari mana kau tahu tempat beradanya Thi Sim-lan? Kau kenal dia?”

“Aku dan dia sudah mengangkat saudara, masa kau tidak tahu?” tutur So Ing

dengan tertawa.

Siau-hi-ji jadi melongo dan tidak dapat bersuara pula.

“Bukankah sudah lama sekali kau tidak berjumpa dengan Thi Sim-lan?” tanya

So Ing kemudian.

“Ehm,” Siau-hi-ji mengangguk.

“Apakah kau tahu selama dua bulan ini Thi Sim-lan selalu berada bersama

Hoa-Bu-koat?”

Kembali Siau-hi-ji berteriak, “Mereka berada bersama selama dua bulan? Huh,

aku tidak percaya.”

“Tidak percaya, ya sudahlah, anggap saja aku berdusta padamu,” ujar So Ing

dengan tak acuh. Lalu ia membalik tubuh, membelakangi Siau-hi-ji dan tidak

menggubrisnya lagi.

Cepat Siau-hi-ji memutar ke depan si nona, ucapnya dengan tertawa,

“Sekarang aku percaya, sudah tentu kejadian demikian kau takkan berdusta,

aku cuma merasa rada heran saja.”

“Masih banyak sekali kejadian aneh di dunia,” kata So Ing.

“Kalau mereka berada bersama juga lebih baik, tadinya aku berkhawatir

baginya, sekarang aku boleh merasa lega, kutahu Hoa Bu-koat pasti akan

memperlakukan dia dengan baik.”

So Ing berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Kau tidak marah?”

“Marah? Mengapa aku harus marah?”

Berkilau sinar mata So Ing, tapi ia lantas menunduk dan berkata, “Kenapa kau

tidak tanya saat ini Thi Sim-lan berada di mana?”

“Toh takkan kau antar dia ke liang tikus sana?” ujar Siau-hi-ji tertawa.

“Dia justru berada di sana,” tutur So Ing.

Seketika lenyap tertawa Siau-hi-ji tadi, bahkan ia melonjak kaget dan meraung,

“Kau budak mampus, mengapa kau antar dia ke sana?”

“Dia kan kakak angkatku, justru kuantar dia ke tempat yang aman, di sana

siapa pun tak berani mengganggu dia,” ujar So Ing.

Siau-hi-ji berteriak gusar, “Tapi Hoa Bu-koat mencarinya ke sana, mana tikus

raksasa itu mau melepaskan Bu-koat? Buk … bukankah kau ini sengaja ingin

membikin celaka dia? Aku ….” Saking gusarnya ia tidak sanggup melanjutkan

ucapannya, ia pegang tangan So Ing dan meraung pula, “Kalau tidak kuhajar

adat padamu, sungguh penasaran mereka.”

“Masa kau sudah lupa, memangnya seorang lelaki sejati meski ingkar janji

pada seorang budak kecil begini?”

Kembali Siau-hi-ji melengak, akhirnya ia lepaskan tangan So Ing dan cuma

banting-banting kaki an mendongkol.

“Sebenarnya kau pun tidak perlu cemas, Hoa Bu-koat takkan mati. Pula, dia

kan berkeras hendak membunuhmu, jelas dia bukan kawanmu. Jika dia tidak

dapat datang, kan tidak perlu kau sedih baginya?”

Siau-hi-ji mengetok kepalanya sendiri dan berteriak, “Apakah kau kira

tidakanmu telah membantuku? Kau kira aku akan gembira bila dia mati? Terus

terang kukatakan, apabila dia benar-benar terbunuh oleh Gui Bu-geh, maka

aku … aku akan ….”

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang berteriak di luar sana,

“Siau-hi-ji, kau berada di dalam situ? Dapatlah kau dengar suaraku?”

Jelas itulah suara Hoa Bu-koat. Keruan Siau-hi-ji dan So Ing sama melengak.

Hoa Bu-koat mengapa sudah datang, bahkan sedemikian cepat datangnya.

So Ing pegang tangan Siau-hi-ji dengan erat, ucapnya dengan suara gemetar,

“Kumohon dengan sangat janganlah menjawabnya, supaya dia mengira kau

sudah pergi dari sini ….”

Belum habis ucapannya Siau-hi-ji telah mengibaskan tangannya sambil

berteriak, “Hoa Bu-koat, aku berada di sini!”

“Kau tidak apa-apa bukan?” tanya Bu-koat.

“Aku baik-baik saja,” jawab Siau-hi-ji. “Julurkan seutas tambang, segera aku

dapat naik.”

Selang tak lama terlihat kepala Bu-koat menongol di mulut gua dengan

wajahnya yang gembira dan simpatik.

Tertawa Siau-hi-ji juga tidak kurang riangnya, serunya, “Buset, selama dua

bulan tak berjumpa, kita berdua tak berubah sama sekali.”

Bu-koat telah mengulurkan seutas tambang panjang, katanya, “Naiklah, tak

dapat kulihat keadaanmu di bawah.”

Melihat kelakuan kedua anak muda itu, sungguh hati So Ing heran tak

terkatakan. Betapa pun juga sikap dan ucapan kedua orang ini tiada tandatanda

bahwa mereka adalah musuh yang sebentar lagi akan duel mati-matian,

sungguh sukar dipahami apa yang terjadi sebenarnya antara kedua anak muda

itu.

Setelah ujung tambang dapat diraih dengan tangan, segera Siau-hi-ji melompat

ke atas, tapi segera ia lompat turun pula dan berkata dengan menarik muka,

“Budak she So, sekarang apakah tidak mau pergi?”

“Pergilah, silakan pergilah sendiri, aku tidak ingin menyaksikan keadaanmu

setelah dibunuh orang,” jawab So Ing sambil menunduk.

“Kau tidak ingin melihat, sengaja ingin kuperlihatkan padamu, kau tidak mau

pergi, justru kuingin kau pergi, coba apa dayamu bisa melawanku” Siau-hi ji

meraung sambil mendekati si nona.

“Kau … kau berani ….” ucap So Ing sambil menyurut mundur.

Meski air mukanya berlagak sangat gusar, tapi dalam hati sebenarnya senang

tidak kepalang. Sebab ia tahu, kini tangannya sudah mulai dapat meraba hati

Siau-hi-ji, bahkan, cepat atau lambat, akhirnya hati anak muda itu pasti dapat

diraihnya.

Dengan sebelah tangan mengempit So Ing, Siau-hi-ji terus merambat ke atas

dengan bantuan tambang panjang itu, hanya sekejap saja ia sudah berada di

luar gua.

Sementara itu Bu-koat tak lagi berada di mulut gua, dia tampak berdiri lurus di

samping Kiau-goat Kiongcu, air mukanya tampak rada pucat dan kaku tanpa

emosi.

Bagi Bu-koat, Kiau-goat Kiongcu bukan cuma gurunya yang kereng, bahkan

juga orang tuanya. Sejak kecil belum pernah dilihatnya wajah sang guru

menampilkan secercah senyuman. Selama itu pun ia tidak berani sembrono di

depan Kiau-goat Kiongcu, sebab hatinya tidak cuma hormat dan terima kasih

padanya, bahkan juga rada-rada takut.

Sekarang, akhirnya Siau-hi-ji dapat melihat wajah asli Kiau-goat Kiongcu.

Topeng yang menakutkan itu sudah dibukanya, namun air mukanya terlebih

dingin daripada topengnya. Siapa pun tak mampu menemukan setitik tandatanda

perasaan senang, marah, suka atau duka pada wajahnya. Tampaknya

biarpun dunia ini kiamat juga tak dipedulikannya.

Namun dia juga cantik luar biasa, kecantikan yang sukar dibayangkan, begitu

cantiknya sehingga membuat orang yang memandangnya merasa risi sendiri.

Kecantikannya ini pada hakikatnya bukan cantiknya manusia melainkan

kecantikan malaikat dewata.

Sama sekali tak terduga oleh Siau-hi-ji bahwa perempuan yang pernah

mengguncangkan dunia persilatan selama dua-tiga puluh tahun ini tampaknya

masih semuda ini. Lebih-lebih tak pernah terbayangkan perempuan yang

cantik ini mempunyai wibawa sebesar ini, dapat membuat siapa yang

memandangnya akan merasa segan sendiri. Sampai-sampai Siau-hi-ji sendiri,

meski cuma memandangnya sekejap saja, tapi terasa seram laksana orang

mendadak melihat badan halus yang cantik di tengah malam senyap.

Betapa kesima Siau-hi-ji sehingga tidak diperhatikannya bahwa di samping

Kiau-goat Kiongcu terdapat pula Thi Sim-lan.

Sampai gemetar tubuh Thi Sim-lan saking senangnya ketika dilihatnya Siau-hiji

melompat turun dari gua sana, tanpa terasa segera ia lari menyongsong. Tapi

baru dua-tiga tindak, sekonyong-konyong ia berdiri mematung pula.

Hal ini terjadi bukan lantaran dilihatnya So Ing berada dalam rangkulan Siau-hiji,

tapi disebabkan mendadak ia teringat pada Hoa Bu-koat. Mana boleh terjadi

begitu melihat Siau-hi-ji lantas Hoa Bu-koat ditinggalkannya?

Maka sekarang ia berdiri di tengah-tengah antara Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, ia

menjadi bingung apakah harus ke sana atau ke sini, sungguh runyam, dalam

keadaan demikian ia berharap lebih baik dirinya tidak dilahirkan di dunia ini.

Dalam pada itu Siau-hi-ji juga telah melihatnya dan lagi menyapanya dengan

tertawa, “Sudah lama tak berjumpa, baik-baikkah kau?”

Thi Sim-lan sama sekali tidak mendengarnya, tiba-tiba ia berpaling dan lari ke

bawah pohon di sebelah sana, kebetulan pohon itu pun terletak di tengahtengah

antara Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat.

Sejak tadi So Ing selalu memperhatikan sikap Siau-hi-ji, dilihatnya anak muda

itu masih tertawa-tawa, atau lebih tepat dikatakan menyengir. Waktu ia

pandang Hoa Bu-koat, anak muda itu tetap menunduk tanpa menghiraukan

apa yang terjadi di sekelilingnya.

Diam-diam So Ing menghela napas panjang.

Memang, melihat hubungan ketiga muda-mudi yang ruwet dan ajaib itu, apa

yang dapat diperbuatnya selain menghela napas belaka?

Malahan sekarang ia sendiri pun terlibat ke dalam pusaran asmara ini. Ia

merasa kekuatan pusaran ini sungguh teramat dahsyat dan menakutkan

seolah-olah dikemudikan oleh sebuah tangan iblis yang misterius.

Mereka berempat, kalau kurang bijaksana, bukan mustahil akan tenggelam

semuanya terseret ke dalam pusaran air itu.

Dalam pada itu sorot mata Kiau-goat Kiongcu yang dingin dan setajam sembilu

itu lagi menatap Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji menarik napas panjang-panjang, ia pun balas menatap Ih-hoakiongcu.

Katanya dengan tersenyum, “Lumayan juga makanan yang kau antar

tadi, cuma sayang tidak ada cabainya. Lain kali bila engkau menjamu makan

diriku, jangan kau lupa bahwa aku suka makan pedas.”

Air muka Kiau-goat Kiongcu tidak mengunjuk perasaan apa-apa. Hoa Bu-koat

terkejut dan angkat kepalanya, sungguh ia tak percaya bahwa di dunia ini ada

orang berani bicara sedemikian terhadap Kiau-goat Kiongcu.

Didengarnya Kiau-goat lagi berkata, “Bagus, sekali ini kalian telah pegang janji

dengan tepat.”

“Biarpun aku suka kentut terhadap orang lain, tapi terhadap Hoa Bu-koat harus

dikecualikan,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sekarang akan kuberi tempo lagi tiga jam, dalam tiga jam ini boleh kau

mengatur napas dan menghimpun tenaga, tapi dilarang meninggalkan tempat

ini,” kata Kiau-goat dengan dingin.

Siau-hi-ji berkeplok tertawa, ucapnya, “Haha, Ih-hoa-kiongcu tetap Ih-hoakiongcu,

sedikit pun tidak sudi menarik keuntungan dari orang lain. Kau tahu

aku lelah, maka sengaja memberi waktu istirahat bagiku.”

Kiau-goat Kiongcu tidak menghiraukannya lagi, ia berpaling ke sana dan

berkata, “Kau ikut padaku, Bu-koat.”

“Aku ingin bicara sejenak dengan Hoa Bu-koat, boleh tidak?” seru Siau-hi-ji.

“Tidak boleh,” jawab Kiau-goat ketus tanpa menoleh.

“Mengapa tidak boleh” teriak Siau-hi-ji. “Memangnya kau khawatir kukatakan

padanya bahwa Tong-siansing sama dengan engkau sendiri?”

Saat itu Hoa Bu-koat juga sudah berpaling ke sana tanpa menoleh, tapi Siauhi-

ji dapat melihat tubuhnya bergetar ketika mendengar ucapannya ini.

Tertawalah Siau-hi-ji, ia puas karena maksudnya telah tercapai.

Dilihatnya Kiau-goat Kiongcu mengajak Bu-koat ke bawah pohon di kejauhan

sana, lalu berpaling dan seperti bicara apa-apa dengan Bu-koat. Namun Bukoat

berdiri mungkur ke sini.

Karena itulah sebegitu jauh Siau-hi-ji tidak dapat melihat bagaimana reaksinya,

dengan sendirinya ia pun tidak dapat mendengar apa yang dipercakapkan

mereka. Terpaksa ia menghela napas menyesal, gumamnya, “Seorang

perempuan yang tidak bersuami hingga berumur 50-an tahun, andaikan sehat

badaniahnya juga pasti akan sakit rohaniahnya. Adalah aneh jika dia bisa

normal seperti orang lain.”

“Waktu tiga jam tidaklah lama, hendaklah kau mengaso sebaik-baiknya,” kata

So Ing.

Saat itu sang surya baru saja menongol, hari masih pagi.

So Ing mengumpulkan daun-daun kering dan ditimbun di bawah pohon untuk

tempat duduk Siau-hi-ji, caranya seperti seorang istri tercinta sedang mengatur

tempat tidur bagi sang suami.

Thi Sim-lan berdiri di bawah pohon sana, air matanya berlinang-linang di

kelopak matanya. Tiba-tiba ia merasa hidupnya di dunia ini hanya berlebihan

belaka.

Kalau tadi ia tidak jadi mendekati Siau-hi-ji, tentu saja sekarang ia lebih-lebih

tidak dapat mendekati anak muda itu. Tadi dia tidak kembali ke tempat Hoa Bukoat

sana, kini jadi lebih-lebih tak dapat kembali lagi ke sana.

Ia pun tahu, dalam keadaan demikian, baik Siau-hi-ji maupun Hoa Bu-koat

pasti takkan mendekati dia. Ih-hoa-kiongcu telah merobek persahabatan antara

kedua anak muda itu, jika tiada persahabatan antara mereka, maka nasib Thi

Sim-lan jelas akan bertambah buruk dan mengenaskan.

Ia tahu paling baik baginya sekarang ialah menyingkir sejauhnya, makin jauh

makin baik, maka segala apa yang terjadi tak bisa lagi dilihatnya.

Namun antara kedua orang yang dicintainya segera akan terjadi duel maut,

masa dia tega tinggal pergi?

Thi Sim-lan adalah gadis yang keras hati, dalam keadaan begini, betapa pun ia

tidak ingin mencucurkan air mata. Tapi apa yang dilihatnya, apa yang

dialaminya sekarang mana bisa tidak membuatnya meneteskan air mata?

Angin meniup sepoi-sepoi, daun rontok berhamburan.

Ia berjongkok menjemput sehelai daun rontok itu, rasanya ia tidak ingin

berbangkit lagi, dengan termangu-mangu dipandangnya butiran air mata

sendiri yang menetes di atas daun kering yang kuping itu.

Dalam pada itu Siau-hi-ji telah merebahkan dirinya di atas “kasur” daun kering

yang dibuat So Ing tadi.

Jika ada orang lain lagi merasa tegang dan ada pula yang menderita batin,

hanya Siau-hi-ji saja yang tenang-tenang seperti tiada terjadi apa-apa, ia

memejamkan matanya sambil menumpangkan sebelah kakinya di atas kaki

yang lain, malahan mulutnya berdengung-dengung bernyanyi kecil lagi.

So Ing berdiri di samping sambil memandanginya, sejenak kemudian, ia

menghela napas perlahan, lalu berkata, “Apakah sudah kau lihat Thi Sim-lan?”

“Tidakkah kau lihat tadi aku telah menyapanya?” jawab Siau-hi-ji.

“Hanya cukup menyapa begitu saja?”

“Mengapa tidak? Memangnya kau suruh aku menyembah padanya, begitu?”

“Tapi … tapi dia sungguh harus dikasihani, mestinya kau mendekati dia dan

menghiburnya.”

Mendadak Siau-hi-ji membuka matanya dan mendelik, “Mengapa aku harus

mendekat dan menghiburnya? Mengapa dia tidak kemari?”

“Dalam keadaan demikian dia memang … memang serba susah ….”

“Serba susah? Apakah kau tidak serba susah? Apalagi serba susahnya juga

lantaran tindakannya sendiri. Siapa suruh dia diam saja di sana dan tidak mau

ke sini? Kan kakinya tidak terpantek di sana?”

So Ing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Apakah kau lagi cemburu?”

Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Mengapa kau selalu mengira aku

cemburu? Jika aku suka cemburu seperti kalian ini, mungkin sekarang aku

sudah berubah menjadi ikan masak saus asam.”

So Ing menghela napas pula, katanya, “Jika kau tidak mau mendekatinya,

biarlah aku saja yang ke sana.”

“Nanti dulu,” seru Siau-hi-ji tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya So Ing.

“Tahukah kau ada semacam kepandaian, yakni melihat gerakan bibir

seseorang lantas diketahui apa yang sedang diucapkannya?”

“Ya, itu namanya ‘membaca kata-kata bibir’. Ada orang yang tidak paham seluk

beluk ilmu ini lantas mengira kepandaian ini adalah apa yang disebut ‘ilmu

mengirim gelombang suara’ dalam dongeng itu.”

“Apakah kau mahir membaca kata-kata bibir?”

“Tidak,” jawab So Ing.

“Ai, alangkah baiknya jika saat ini aku dapat membaca bibir Ih-hoa-kiongcu,

entah apa yang sedang dikatakannya kepada Hoa Bu-koat?”

“Sekalipun tak dapat mendengarnya, tentunya dapat kau bayangkan juga.

Apalagi yang dibicarakannya kalau bukan memberi petunjuk kepada Hoa Bukoat

dengan cara bagaimana harus membunuhmu.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, ucapnya kemudian, “Ai, sungguh aneh. Waktu

aku berada di dalam gua, Hoa Bu-koat berteriak memanggilku dan berbicara

padaku dengan akrab. Tapi setelah kukeluar, dia lantas tidak gubris padaku,

bahkan memandang sekejap saja tidak.”

“Dengan sendirinya karena dia dilarang bicara denganmu oleh Ih-hoa-kiongcu,

mungkin dia khawatir kalau kalian bicara punya bicara dan akhirnya dari lawan

akan berubah menjadi kawan.”

“Masa Hoa Bu-koat sendiri sama sekali tidak mempunyai pendirian?”

“Bila kau dibesarkan di Ih-hoa-kiong, dan selalu berhadapan dengan Ih-hoakiongcu,

pasti juga kau akan kehilangan akal dan tiada pendirian.”

“Jika demikian, jadi Ok-jin-kok malah jauh lebih baik daripada Ih-hoa-kiong,

yang berada di Ok-jin-kok paling tidak masih juga manusia, tapi yang hidup di

Ih-hoa-kiong pada hakikatnya cuma setan, sekawanan mayat hidup.”

“Silakan kau mengaso saja, kupergi ke sana, segera kukembali,” kata So Ing

dengan lembut.

“Mengapa kau berkeras hendak ke sana?” tanya Siau-hi-ji dengan mendelik,

“Aku sendiri juga susah, mengapa tidak kau temani aku di sini?”

“Masa engkau tidak ingin tahu cara bagaimana dia dan Bu-koat dapat lolos dari

liang tikus sana?” ujar So Ing dengan tersenyum.

*****

Butiran air mata di atas daun rontok itu sudah kering, namun air mata Thi Simlan

sendiri belum lagi kering. Dilihatnya So Ing melangkah ke arahnya,

sedapatnya ia bertahan agar air mata tidak menetes lagi.

Perlahan-lahan So Ing mendekatinya, tapi Thi Sim-lan sama sekali tidak angkat

kepalanya. Rambutnya terurai tertiup angin, sehelai daun rontok tepat jatuh di

atas kepalanya.

Dengan perlahan So Ing pungut daun kering itu, ucapnya dengan halus,

“Apakah kau marah padaku?” pertanyaan ini sesungguhnya tidak cerdik,

soalnya dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Thi Sim-lan juga tidak menjawab pertanyaan ini, sebab ia pun tidak tahu cara

bagaimana harus menjawabnya.

Bayangan mereka membujur panjang tersorot sinar sang surya, bayangan

mereka seolah-olah tertumpuk menjadi satu, namun hati mereka entah

berjarak betapa jauhnya.

Selang sekian lama barulah Thi Sim-lan berdiri dengan perlahan, katanya

kemudian, “Kutahu engkau pasti mengira aku dendam padamu lantaran kamu

adalah sahabat Siau-hi-ji, tapi kau sengaja tidak mau berterus terang padaku,

kau tahu di mana Siau-hi-ji berada, tapi kau suruh aku menunggumu di tempat

yang lain.”

“Apakah betul kau tidak dendam padaku?” tanya So Ing menunduk.

Sim-lan tersenyum sedih, ucapnya, “Bila terjadi pada dua-tiga tahun lalu,

mungkin sekali aku akan benci dan dendam padamu, tapi sekarang …

sekarang aku sudah tahu, apa yang diperbuat seseorang belum pasti timbul

dari kehendaknya sendiri, ada kalanya seorang memang tak dapat mengekang

keinginan diri sendiri, lebih-lebih dalam hal cinta, sering kali timbul secara di

luar kehendaknya sendiri.”

“Tapi aku ….” mata So Ing menjadi basah juga.

“Kau tidak perlu menyesal. Apabila kutahu kau adalah sainganku, tentu aku

pun takkan bicara secara terus terang padamu.”

So Ing menghela napas panjang, ia pegang tangan Thi Sim-lan, ucapnya

dengan tersenyum haru, “Sungguh tak tersangka engkau adalah anak

perempuan sebaik ini, yang kuharapkan sekarang sebenarnya adalah engkau

bisa lebih kejam, lebih garang padaku, dengan demikian hatiku akan lebih

terhibur.”

Thi Sim-lan memandangnya lekat-lekat, katanya tiba-tiba, “Tapi apa pun juga

engkau takkan melepaskan Siau-hi-ji bagiku, bukan?”

Pertanyaan ini boleh dikatakan sangat bodoh, entah mengapa dia bisa

mengajukan pertanyaan sedemikian?

So Ing juga menatapnya tajam-tajam, jawabnya, “Betul, takkan kulepaskan dia

bagimu, sebab kalau kulepaskan dia, bisa jadi akan membuatmu terlebih serba

susah, betul tidak?”

Kembali Thi Sim-lan menunduk, ucapan So Ing ini laksana jarum yang runcing

tepat menusuk hatinya sehingga dia tidak tahu apa pula yang harus

diucapkannya. Setelah daun rontok tadi diremasnya hingga hancur barulah dia

berkata, “Sebenarnya tidak pantas kutanyakan hal ini padamu. Bisa jadi diriku

sama sekali tidak terpikir oleh Siau-hi-ji, mungkin hanya engkau saja yang

sesuai baginya.”

“Kau salah!” ucap So Ing.

“Salah?” Thi Sim-lan menegas heran.

“Ya, sebab Siau-hi-ji tidak melupakan dirimu, jika dia benar-benar tidak pernah

memperhatikan dirimu, tentu dia sudah mendekat ke sini.”

Thi Sim-lan melengak, katanya, “Meng … mengapa engkau mengatakan hal ini

padaku? Mengapa tidak kau biarkan persoalan ini lenyap dari hatiku?”

“Mungkin disebabkan aku teramat ingin memiliki Siau-hi-ji, makanya aku tidak

ingin dia dendam padaku, kelak, aku ingin dia memilih sendiri, jika orang yang

disukai dia adalah dirimu, sekalipun kubunuh kau juga tiada gunanya bagiku.”

Makin tertunduk kepala Thi Sim-lan, dia coba meresapi suara So Ing, terasa

penuh pahit getir hatinya. Maklum, semakin bertentanganlah perasaannya

sekarang dan juga semakin ruwet, diam-diam ia bertanya pada dirinya sendiri,

“Andaikan yang dipilih Siau-hi-ji adalah diriku, apakah aku benar-benar akan

bergembira?”

Siapa pun tak tahu jawaban soal ini, bahkan dia sendiri pun tak tahu.

Tiba-tiba So Ing tertawa, katanya pula, “Apakah kamu telah bertemu dengan

ayah angkatku? Bukankah tampangnya sangat menakutkan?”

“Aku tidak bertemu dengan dia,” jawab Sim-lan.

Tentu saja So Ing melengak heran, “Sebab apa? Memangnya kau tidak pergi

ke tempat yang kusebutkan?”

“Sudah kupergi ke sana, tapi siapa pun tak kujumpai di sana.”

“Setiba di hutan sana masa tiada orang memapakmu? Jangan-jangan engkau

kesasar ke tempat lain?”

“Aku tidak kesasar, setibanya di sana, kulihat di mana-mana hanya tikus

belaka, aku menjadi ketakutan dan manjat ke atas pohon. Siapa tahu di atas

pohon tergantung sesosok mayat, malahan kulihat di kejauhan ada beberapa

lagi mayat bergelantungan di pohon. Selagi merasa bingung, waktu itulah Hoa

… Hoa-kongcu lantas muncul.”

So Ing melenggong dan berkhawatir.

“Menurut pandanganku, tentu telah terjadi perubahan besar di sana, akan lebih

baik kalau engkau lekas memeriksanya ke sana.”

Tanpa menunggu habis ucapan Thi Sim-lan, segera So Ing lari pergi, tapi baru

beberapa langkah ia lantas berhenti, apa pun juga Gui Bu-geh adalah orang

yang pernah menolongnya, jika terjadi sesuatu atas diri Gui Bu-geh, betapa

pun ia tak dapat berpeluk tangan. Namun sekarang … sekarang Siau-hi-ji

sedang memandangnya, mana boleh dia tinggal pergi begitu saja?

Seketika So Ing menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Pertentangan batin. Setiap orang tentu mengalami pertentangan batin dan

berharap sang waktu akan berhenti pada detik demikian. Akan tetapi sejak

dahulu hingga kini, sang waktu memang tidak pernah kenal kasihan. Semakin

hendak kau tahan dia, semakin cepat dia akan berlalu.

Angin meniup kencang, pada saat itu juga sinar sang surya menjadi suram

karena teraling oleh gumpalan awan tebal sehingga suasana jagat raya ini

berubah menjadi lebih suram dan memilukan.

Melihat air muka si nona yang cemas itu, dengan tertawa Siau-hi-ji berkata,

“Tampaknya kau menjadi bingung kerena Ih-hoa-kiongcu mungkin telah

membunuh Gui Bu-geh, begitu bukan?”

Belum lagi So Ing menjawab, tiba-tiba sesosok bayangan orang melayang tiba

terbawa oleh angin.

Pendatang ini pun sama dingin dan sama cantiknya dengan Kiau-goat

Kiongcu, hanya sepasang matanya yang jeli dan berkilau itu sedikit banyak

mengandung perasaan kelembutan. Seperti daun yang jatuh, dengan enteng

dia hinggap di samping Hoa Bu-koat.

Serentak Bu-koat berlutut dan menyembahnya.

Mata Siau-hi-ji terbelalak, ucapnya, “Mungkin engkau inilah Lian-sing Kiongcu?

Engkau benar-benar berasal dari satu cetakan dengan kakakmu, seperti mayat

hidup yang bisa bernapas saja.”

“Tapi mereka kakak beradik dapat membuat setiap orang Kangouw merasa

segan, sampai menyebut nama mereka pun tak berani,” kata So Ing dengan

tertawa. “Jika mereka hanya kau anggap sebagai mayat hidup yang bisa

bernapas, maka di dunia Kangouw pasti penuh orang mati.”

“Salah kau,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Orang hidup harus bisa menangis,

bisa tertawa, bisa gembira, bisa berduka dan juga bisa takut. Kalau hidup

seperti mereka ini kan tiada artinya.”

Dia sengaja mengeraskan suaranya supaya didengar oleh Ih-hoa-kiongcu.

Tapi kedua Ih-hoa-kiongcu ternyata tidak pedulikan dia, bahkan melirik saja

tidak.

Berputar biji mata Siau-hi-ji, dengan tertawa ia berteriak pula, “Hah, orang lain

mungkin sangat mengagumi mereka, tapi bagiku mereka sesungguhnya harus

dikasihani. Seorang kalau tertawa saja tidak dapat, lalu apa bedanya dengan

orang mati.”

Ih-hoa-kiongcu tetap tidak menggubrisnya dan entah sedang bicara apa

dengan Hoa Bu-koat.

Kembali Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Hahahaha, kau anggap mereka

sebagai orang mati, bisa jadi mereka pun menganggap diriku ini orang mati,

makanya apa pun yang kukatakan tak dipedulikan mereka dan juga tidak

membuat mereka marah.”

Meski kata-kata ini diucapkan dengan tertawa, tapi bagi pendengaran So Ing

dirasakan sangat mengharukan dan menusuk perasaan, hampir saja ia

menitikkan air mata.

“Hahaha, tampaknya kau pun anggap aku ini orang mati, bukan?” seru Siau-hiji

dengan tertawa. “Kau mengira aku pasti tiada harapan hidup lagi, bukan?

Tapi paling tidak aku masih dapat hidup dua-tiga jam lagi, masih belum

terlambat kiranya bagimu untuk menangis bila aku sudah mati nanti.”

Ingin tertawa juga So Ing, paling sedikit supaya bisa membesarkan hati Siauhi-

ji, tapi dalam keadaan demikian mana bisa lagi dia tertawa?

Sesungguhnya dia tidak tahu apakah Siau-hi-ji masih ada harapan untuk hidup

seumpama dia mampu mengalahkan Hoa Bu-koat, sekalipun Hoa Bu-koat

dibunuhnya, tapi apakah dia mampu melawan Ih-hoa-kiongcu, mustahil kalau

dia takkan dibunuh oleh mereka? Jelas di dunia ini tiada seorang pun sanggup

menyelamatkan Siau-hi-ji.

Maka Siau-hi-ji berkata pula, “Maukah kau tertawa? Asalkan kau tertawa

sekejap saja, mati pun aku puas.”

So Ing benar-benar tertawa, tapi kalau dia tidak tertawa air matanya masih

dapat dibendungnya, sekali tertawa, seketika air mata pun ikut bercucuran.

Tiba-tiba angin berkesiur, tahu-tahu Lian-sing Kiongcu telah berada di depan

Siau-hi-ji, jengeknya, “Sudah hampir tiba waktunya, tahu tidak kau?”

“Kuharap waktunya akan tiba selekasnya, kalau tidak mungkin aku bisa mati

tenggelam oleh lautan air mata,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sorot mata Lian-sing Kiongcu seperti memancarkan rasa senang, tapi air

mukanya tetap dingin seperti es, katanya, “Adakah pesan yang hendak kau

tinggalkan?”

“Tidak ada,” jawab Siau-hi-ji. “Waktu hidupku sudah terlalu banyak yang

kuucapkan, setelah mati buat apa harus bikin repot orang lagi?”

“Apakah betul tiada sesuatu pula yang ingin kau katakan?” tanya Lian-sing

Kiongcu. Berputar bola mata Siau-hi-ji, dengan tertawa dia berkata, “Ya,

memang ada sesuatu ingin kutanyakan padamu?”

“Pertanyaan apa?”

“Perempuan seperti kau ini mengapa hingga kini belum kawin? Masa selama

ini tiada seorang lelaki pun yang menyukaimu?”

Sekonyong-konyong Lian-sing Kiongcu membalik tubuh, namun sekilas Siauhi-

ji dapat melihat tubuhnya rada gemetar, rambutnya yang hitam panjang juga

bertebaran tertiup angin.

Selang sejenak barulah terdengar Lian-sing berkata dengan tegas, “Berdiri

kau!”

Sekali ini Siau-hi-ji sangat penurut, segera ia melompat bangun, tanyanya,

“Apakah sekarang juga akan mulai?”

“Memangnya kau mau menunggu beberapa jam lagi?” jengek Lian-sing.

“Ya, memang tidak perlu menunggu lagi,” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Betapa pun

aku tidak gentar bertarung mati-matian dengan siapa pun juga. Waktu

menunggu, itulah yang membuatku tersiksa, kalau segera dapat membedakan

kalah dan menang serta mati dan hidup, cara demikian paling baik.”

Dilihatnya Hoa Bu-koat yang berdiri di bawah pohon sana juga mulai membalik

tubuh perlahan-lahan.

Mendadak So Ing memegang tangan Siau-hi-ji dan berkata, “Apakah … apakah

kepadaku pun tiada sesuatu yang hendak kau katakan?”

“Tidak ada,” jawab Siau-hi-ji.

Perlahan-lahan jari So Ing satu per satu mengendur dan akhirnya melepaskan

tangan Siau-hi-ji, ia menyurut mundur dua langkah, air mata pun tak

terbendung lagi.

“Nah, Hoa Bu-koat dan Kang Siau-hi, sekarang dengarkanlah kalian!” seru

Lian-sing Kiongcu. “Pertama, mulai sekarang kalian masing-masing melangkah

maju lima belas tindak ke depan, begitu langkah lima belas tercapai, segera

kalian boleh mulai bergebrak. Pertarungan ini hanya boleh dilakukan oleh

kalian berdua, orang ketiga dilarang membantu. Barang siapa berani ikut

campur, seketika jiwanya akan kubinasakan tanpa ampun.”

“Kau sendiri pun tidak boleh membantu bukan?” seru So Ing mendadak.

Belum lagi Lian-sing menjawab, dengan dingin Kiau-goat menyela, “Dia berani

ikut campur, seketika aku pun akan membinasakan dia.”

“Sebaliknya kalau kau sendiri yang ikut turun tangan, lalu bagaimana?” tanya

So Ing pula.

“Aku pun akan membinasakan diriku sendiri!” ucap Kiau-goat dengan tegas.

So Ing mengusap air matanya dan berteriak, “Nah, Siau-hi-ji, sudah kau dengar

bukan? Apa yang telah dikatakan Ih-hoa-kiongcu, kuyakin pasti akan

ditepatinya. Maka kumohon engkau harus terus berjuang sekuat tenaga dan

jangan sampai dikalahkan olehnya.”

Ia tidak tahu bahwa pertarungan ini adalah pertarungan maut, yang kalah tiada

jalan lain kecuali mati, sebaliknya nasib yang menang juga lebih tragis

daripada yang kalah. Jika Siau-hi-ji terbunuh oleh Hoa Bu-koat, maka dia boleh

dikatakan jauh beruntung daripada nasib Hoa Bu-koat nanti.

Cuaca terasa suram, awan berarak, di ujung ranting pohon masih ada

beberapa helai daun kering yang tetap bertahan dari embusan angin yang

kencang, tapi itu pun cuma rontakan sebelum ajal saja.

Siau-hi-ji sudah mulai melangkah ke depan. Hoa Bu-koat juga mulai

menggeser langkahnya dengan perlahan.

Suasana yang mendung sudah mulai mencekam, hanya deru angin barat yang

meniup kencang, tiada terdengar suara lain lagi di dunia ini.

Kiau-goat, Lian-sing, So Ing, Thi Sim-lan, empat pasang mata tanpa berkedip

mengikuti setiap langkah Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat.

Meski apa yang terpikir oleh hati keempat orang itu berlainan, tapi ketegangan

mereka sekarang jelas sama.

Thi Sim-lan tahu dalam sekejap lagi satu di antara kedua anak muda itu pasti

akan roboh. Sesungguhnya ia tidak tahu siapa yang diharapkan roboh. Dalam

lubuk hatinya ia pun tahu bilamana salah satu di antara kedua anak muda itu

sudah roboh, maka pertentangan batinnya juga akan berakhir dan tidak perlu

memilih lagi, dengan demikian persoalannya juga akan berubah jauh lebih

sederhana.

Akan tetapi jalan pikiran demikian pada hakikatnya tak berani dibayangkannya,

sebab kalau terpikir hal ini, ia menjadi marah pada dirinya sendiri, kalau bisa

hati sendiri akan dikorek keluar dan dicincang hancur lebur.

Bahkan ia pun menolak adanya jalan pikiran demikian dalam benaknya, sebab

jalan pikiran demikian sesungguhnya memang terlalu kotor, terlalu

mementingkan diri sendiri, terlalu keji dan tak berbudi.

Betapa pun ia tidak tahu bahwa seorang yang biasanya sangat luhur budinya,

seorang yang tidak egois, seorang yang baik hati, terkadang juga bisa timbul

pikiran-pikiran yang kotor dan mementingkan diri sendiri.

Memang begitulah tragisnya watak manusia dan tak dapat dibantah oleh siapa

pun juga. Sebab Malah Thi Sim-lan berharap dalam sekejap ini sebaiknya

dunia ini kiamat saja, biarlah seluruh umat manusia dilebur menjadi abu.

Sedangkan hati So Ing hanya kesedihan belaka tanpa pertentangan batin apa

pun, sebab dia sudah bertekad takkan hidup sendirian apabila Siau-hi-ji

terbunuh oleh Hoa Bu-koat.

Dia tahu kesempatan menang bagi Siau-hi-ji tidak banyak, tapi dia berharap

akan timbulnya keajaiban dan berharap Siau-hi-ji dapat merobohkan Hoa Bukoat.

Justru lantaran harapannya itu sangat sederhana dan bersahaja, maka derita

batinnya juga paling ringan.

Lantas bagaimana dengan Lian-sing Kiongcu dan Kiau-goat Kiongcu?

Kini rencana dan rekayasa mereka sudah hampir menjadi kenyataan.

Kesabaran mereka selama berpuluh tahun kini pun sudah mendatangkan hasil,

dendam kesumat mereka dalam waktu singkat juga akan terlampiaskan.

Tapi apakah semua ini telah membuat mereka merasa gembira?

Tidak!

Dendam kesumat yang terpendam selama dua puluh tahun ini dalam sekejap

ini malah tambah berkobar.

Sorot mata Kang Hong yang menatap Hoa Goat-loh sebelum ajalnya dalam

sekejap ini seakan-akan timbul pula di depan mata mereka.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, tidakkah mereka ini jelmaan Kang Hong?

Mereka hanya mengkhayalkan bilamana satu di antara kedua anak muda itu

sudah roboh barulah dapat meringankan derita batin mereka, sebab hanya

pada saat itu mereka akan menceritakan rahasia yang mengejutkan ini, rahasia

ini mirip seutas rantai yang kukuh dan berat telah membelenggu jiwa mereka

selama dua puluh tahun ini, hanya kalau mereka sudah menceritakan rahasia

ini barulah mereka merasa bebas, bebas dari tekanan batin. Kalau tidak, maka

untuk selamanya mereka akan tetap menjadi budak rahasia itu.

Dan sekarang mereka tetap harus menanti.

Diam-diam mereka menghitung setiap langkah Siau-hi-ji, “Satu … dua … tiga

….”

Siapa tahu, baru tiga tindak, tahu-tahu Siau-hi-ji berhenti, tiba-tiba ia menoleh

dan tersenyum kepada So Ing, katanya, “Oya, baru saja teringat olehku ada

sesuatu ingin kukatakan kepadamu.”

Bergetar hebat hati So Ing, air matanya berlinang-linang dan hampir menetes

lagi. Apa pun juga nyata Siau-hi-ji toh bersikap padanya lain daripada yang

lain.

“Bi … bicaralah, akan kudengarkan,” ucap So Ing dengan menahan air mata.

“Begini, kunasehatkan kau lekaslah kawin mumpung masih muda, kalau tidak,

makin tua tentu akan semakin tidak laku. Apabila kau sudah telanjur berusia

lima puluh atau enam puluh, maka kau akan berubah seperti siluman tua

macam mereka.”

Sungguh konyol. Ternyata beginilah pesan terakhir sebelum ajal Siau-hi-ji

kepada So Ing. Dalam keadaan demikian dia masih dapat mengutarakan katakata

seperti ini.

Seketika hati So Ing seperti dipuntir-puntir. Selang sejenak dengan

menggereget barulah dia berkata, “Baiklah, jangan khawatir, pasti takkan

kutunggu terlalu lama.”

Tapi Siau-hi-ji seperti tidak mendengar jawaban So Ing ini, dia mulai lagi

melangkah maju ke depan.

Hanya ucapan yang acuh tak acuh begitu Siau-hi-ji telah meremukredamkan

hati So Ing. Bahkan juga membikin marah Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu

sehingga tubuh mereka gemetar dan muka pucat.

Akan tetapi Siau-hi-ji sendiri seakan-akan tidak merasa pernah mengucapkan

kata-kata begitu.

Siau-hi-ji, wahai Siau-hi-ji, sesungguhnya orang macam apakah kau ini?

Sesungguhnya apa yang sedang kau pikirkan dan apa yang akan kau lakukan?

Yang aneh dan lucu adalah dalam keadaan demikian, dalam hati setiap orang

justru berharap Siau-hi-ji menang, Thi Sim-lan juga tidak sampai hati

menyaksikan keadaan Siau-hi-ji setelah dirobohkan oleh Hoa Bu-koat.

Entah mengapa, Thi Sim-lan selalu menganggap Hoa Bu-koat terlebih kuat

daripada Siau-hi-ji, maka tiada alangan baginya untuk menderita lebih banyak,

sebab itulah dia lebih suka Hoa Bu-koat yang roboh daripada Siau-hi-ji yang

kalah.

Hoa Bu-koat sekali-kali tidak boleh kalah berbuat apa pun dan juga tidak boleh

salah bicara apa pun. Sebaliknya apa pun yang diperbuat Siau-hi-ji dan apa

pun yang diucapkannya selalu menusuk perasaan orang, namun orang tetap

sudi memaafkan dia.

Yang lebih aneh dan ajaib adalah Kiau-goat serta Lian-sing Kiongcu juga

berharap akan kemenangan Siau-hi-ji. Mungkin mereka tidak mau mengakui

pikiran mereka ini, namun hal ini memang kenyataan.

Sebabnya, bila Hoa Bu-koat merobohkan Siau-hi-ji, maka mereka harus

membeberkan rahasia ini di depan Hoa Bu-koat. Bahwa mereka mendidik dan

membesarkan Hoa Bu-koat adalah bertujuan menuntut balas, selama belasan

tahun ini berkumpul, sedikit banyak tentu timbul perasaan kasih sayang

terhadap anak yang dibesarkan oleh mereka ini.

Betapa pun mereka kan manusia? Manusia yang berdarah daging dan

berperasaan.

Karena itulah mereka juga berharap Siau-hi-ji yang akan merobohkan Hoa Bukoat,

sebab mereka dapat menggunakan rahasia di balik peristiwa ini untuk

menyiksa batin anak muda itu, lalu menyaksikan dia mati di depan hidung

mereka sendiri.

Diam-diam mereka tetap menghitung setiap langkah Siau-hi-ji, “… sepuluh,

sebelas, dua belas … tiga belas ….”

Tampaknya dalam sekejap lagi kedua saudara kembar itu akan saling bunuh

tanpa kenal ampun. Sampai saat ini, di dunia ini tiada lagi seorang pun yang

dapat mengubah nasib tragis mereka.

Tanpa terasa tersembul secercah senyum kepuasan di ujung mulut Kiau-goat

Kiongcu.

Dalam pada itu Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sama-sama sudah mengayunkan

langkah keempat belas.

Mata Siau-hi-ji senantiasa menatap Hoa Bu-koat, air muka Hoa Bu-koat tidak

mengunjuk sesuatu perasaan apa pun, tapi sorot matanya selalu

menghindarkan tatapan Siau-hi-ji.

Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat, apa pula yang sedang kau pikirkan

sekarang?

Betapa pun lambat langkah mereka, namun langkah kelima belas akhirnya toh

harus diayunkan. Tanpa terasa Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu ikut tegang,

tangan mereka mengepal erat-erat.

Tapi tangan Thi Sim-lan dan So Ing bergerak saja terasa berat, tangan mereka

gemetar sedemikian keras seperti orang yang menggigil kedinginan.

Di luar dugaan, pada saat itulah mendadak Siau-hi-ji roboh terkapar.

Dalam keadaan tegang, pada detik semua orang menahan napas, secara tak

terduga-duga dan mengherankan Siau-hi-ji roboh tanpa sebab.

Seketika juga Hoa Bu-koat melenggong, Thi Sim-lan juga melengak. Tentu

saja So Ing terlebih-lebih tercengang. Kalau tadi tubuh mereka seakan-akan

penuh terisi oleh darah hangat saking tegangnya, kini darah yang memenuhi

tubuh mereka itu seolah-olah mendadak tersedot habis seketika, benak

mereka pun serasa hampa, semuanya bingung, tiada yang tahu apa yang

harus mereka lakukan untuk mengatasi perubahan yang timbul mendadak ini.

Bahkan Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu juga sama melenggong, air muka

mereka pun berubah hebat.

Terlihat Siau-hi-ji yang terkapar di tanah itu terus menggigil seperti orang sakit

malaria, bahkan makin lama makin hebat menggigilnya, sampai akhirnya

tubuhnya meringkuk menjadi satu seperti ebi atau udang kering.

“Apa-apaan kau ini?” omel Lian-sing Kiongcu.

“Dia cuma pura-pura mampus,” kata Kiau-goat dengan gusar.

“Tapi … tapi dia … dia tidak ….” Bu-koat tergagap-gagap dan tidak dapat

meneruskan.

“Bunuh dia, lekas bunuh dia!” bentak Kiau-goat dengan bengis.

Namun Bu-koat cuma menunduk saja, katanya, “Dia tidak sanggup melawan

sama sekali, mana Tecu boleh turun tangan?”

“Kalau dia tidak berani bergebrak denganmu berarti dia mengaku kalah,

mengapa kau tidak boleh membunuh dia?” kata Kiau-goat pula.

Bu-koat menunduk, tidak menjawab dan juga tidak turun tangan.

“Apa yang kukatakan padamu tadi apakah sudah kau lupakan?” tanya Kiaugoat

dengan gusar.

Dengan suara parau So Ing lantas menyela, “Mana boleh kalian membunuh

orang yang tak dapat melawan sama sekali?!” Seperti orang gila ia terus lari

maju hendak menubruk tubuh Siau-hi-ji, tapi mendadak terasa suatu arus

tenaga mahadahsyat mendampar tiba, tanpa terasa ia terdorong terjungkal ke

belakang.

Terdengar Kiau-goat Kiongcu membentak dengan bengis, “Kenapa diam saja

dan tidak lekas turun tangan, masa setiap kali dia berlagak mau mampus

lantas kau tidak tega membunuhnya? Masa sudah kau lupakan peraturan

perguruan kita? Kau berani membangkang pada perintahku?”

Butiran keringat tampak memenuhi dahi Hoa Bu-koat, dengan menunduk ia

pandang Siau-hi-ji, ucapnya kemudian, “Kenapa kau tidak berdiri saja untuk

bertempur? Masa kau memaksa aku membunuh dalam keadaan begini?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa lebar, katanya, “Baiklah, lekas kau bunuh aku saja,

betapa pun takkan kusalahkan kau, sebab ini tak dapat dianggap kau yang

membunuhku, orang yang membunuhku sesungguhnya ialah Kang Giok-long.”

Kiau-goat Kiongcu melengak, tanyanya, “Apa artinya ucapanmu ini?”

Siau-hi-ji menghela napas, jawabnya, “Sebab kalau aku tidak keracunan, tentu

kini aku takkan lemas begini sehingga tak dapat bertempur, dan tentunya juga

takkan mati konyol begini. Karena itulah, seumpama sekarang kau bunuh diriku

juga bukan salahmu dan kau pun tidak perlu menyesal sebab pada hakikatnya

bukan kau yang membunuh aku.”

Mendadak ia menatap Kiau-goat dan berkata pula, “Yang membunuhku

sesungguhnya ialah Kang Giok-long.”

Kiau-goat dan Lian-sing saling pandang sekejap, tanpa terasa kedua Ih-hoakiongcu

ini jadi tertegun.

Selang sejenak barulah Kiau-goat bertanya pula dengan suara bengis,

“Mengapa kau bisa diracun oleh Kang Giok-long?”

“Betapa pun pintarnya seorang terkadang juga bisa tertipu,” jawab Siau-hi-ji

dengan menyengir.

“Kau terkena racun apa?” tanya Lian-sing.

“Li-ji-hong,” tutur Siau-hi-ji.

Lian-sing menghela napas panjang-panjang, ucapnya sambil menatap Kiaugoat,

“Melihat keadaan ini, tampaknya memang mirip bekerjanya racun Li jihong.”

Air muka Kiau-goat yang pucat itu tampak semakin dingin, selang sejenak,

tiba-tiba ia mendengus, “Orang ini banyak tipu akalnya, mana boleh kau

percaya pada ocehannya.”

“Percaya atau tidak terserah padamu,” ujar Siau-hi-ji. “Yang jelas waktu aku

keracunan cukup banyak-orang yang menyaksikannya.”

“Siapa yang menyaksikan?” tanya Kiau-goat cepat.

“Ada Thi Peng-koh, ada pula seorang yang bernama Oh Yok-su, dengan

sendirinya juga ada Kang Giok-long yang meracuniku,” kata Siau-hi-ji.

Lian-sing dan Kiau-goat saling pandang pula sekejap, mendadak mereka

melayang berbareng ke sana seperti tertiup angin, hanya sekejap saja mereka

sudah berada di bawah pohon sana.

Orang keracunan, hal ini sungguh harus disesalkan, juga menyedihkan. Tapi

dalam hati So Ing, Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat sekarang diam-diam justru

bergirang, merasa keracunannya Siau-hi-ji sekarang benar-benar kejadian

yang beruntung dan menggembirakan.

Dalam pada itu setelah bersama melayang ke bawah pohon sana. Lian-sing

Kiongcu lantas bertanya kepada sang kakak, “Sekarang bagaimana

pendapatmu?”

Bibir Kiau-goat Kiongcu tampak terkancing rapat dan tidak menjawab.

Maka Lian-sing berkata pula. “Jika Kang Siau-hi betul-betul terkena racun Kang

Giok-long, maka kematiannya tidak dapat dianggap terbunuh oleh Hoa Bukoat.

Dengan demikian usaha kita selama ini menjadi tiada artinya sama

sekali.”

Sorot mata Kiau-goat setajam pisau mendadak menatap sang adik, ucapnya

dengan suara tertahan, “Inilah hasil dari akalmu yang bagus, akalmu ini yang

telah membikin susah aku menunggu selama 20 tahun, katamu setelah mereka

dewasa tentu akan saling bermusuhan dan saling bunuh, tapi sekarang Hoa

Bu-koat harus kupaksa barulah mau turun tangan.”

“Ya, tapi 20 tahun yang lalu mana bisa terpikir olehku bahwa setelah dewasa

Siau-hi-ji bisa berubah menjadi begini?” ujar Lian-sing. “Kalau saja ia bukan

orang macam begini, bukankah sudah lama Bu-koat telah membunuhnya?” ia

menghela napas, lalu menyambung, “Memang banyak kejadian di dunia ini

yang tak dapat diduga oleh siapa pun juga, masa engkau menyalahkan aku?”

“Habis siapa kalau bukan kau yang harus kusalahkan?” omel Kiau-goat. “Jika

tidak yakin akan akalmu itu, mestinya tidak … tidak perlu kau laksanakan.”

Mendadak Lian-sing menjengek, “Walaupun aku yang mengusulkan akal ini,

tapi waktu itu engkau tidak menyanggahnya. Apalagi, bila engkau merasa

akalku ini tidak baik, sekarang pun belum terlambat bagimu untuk membunuh

mereka berdua.”

Mendadak tangan Kiau-goat terangkat, seperti hendak menampar muka

adiknya. Tapi sorot mata Lian-sing tampak mencorong tajam seakan-akan

hendak mengatakan, “Aku bukan anak kecil lagi sekarang dan tidak boleh kau

pukul sesuka hatimu.”

Akhirnya tangan Kiau-goat diturunkan kembali, ucapnya kemudian dengan

suara gemetar, “Aku … aku sudah menderita selama 20 tahun dan baru

sekarang kau suruh aku membunuh mereka?”

“Kau menderita selama 20 tahun, memangnya selama 20 tahun ini aku hidup

gembira?” ujar Lian-sing dengan nada haru. Selang sejenak, ia menyambung

pula, “Tapi penderitaan kita selama 20 tahun ini juga tidak sia-sia, sebab di

kolong langit ini hanya kita berdua saja yang tahu kedua anak muda ini

sebenarnya adalah saudara kembar. Jika rahasia ini tidak kita siarkan, maka

sampai mati pun mereka takkan tahu.”

Air muka Kiau-goat mulai tenang kembali, katanya, “Ya, betul, sampai mati pun

mereka tidak tahu.”

“Sebab itulah, lambat atau cepat, pada suatu hari akhirnya mereka pasti juga

akan saling membunuh, nasib mereka sudah ditakdirkan begitu, kecuali kita

berdua, siapa pun tak dapat mengubah nasib mereka,” Lian-sing merandek

sejenak, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata, “Dan kita berdua

jelas pasti takkan mengubah nasib mereka itu, betul tidak?”

“Ya,” jawab Kiau-goat.

“Nah, jika begitu, hakikatnya sekarang pun kita tidak perlu cemas,” ujar Liansing.

“Meski rasanya tersiksa kalau kita harus menunggu dan menunggu lagi,

tapi mereka kan juga menderita? Kita justru akan menyaksikan mereka

bergelut dengan nasibnya sendiri, mirip seperti seekor kucing yang

memandangi tikus yang meronta di bawah cakarnya. Apalagi kita sudah

menunggu selama 20 tahun, apa alangannya jika sekarang kita menunggu lagi

dua tiga bulan?”

“Lantas maksudmu ….” mendadak Kiau-goat tidak meneruskan, sebab tiba-tiba

dilihatnya sang adik lagi tertawa. Selama hidupnya untuk pertama kali inilah dia

meminta pendapat sang adik. Betapa pun ia merasakan wibawa sendiri telah

mengalami gangguan, maka tanpa menunggu jawaban Lian-sing ia lantas

melanjutkan, “Kutahu maksudmu, kau hendak menawarkan dulu racun Kang

Siau-hi-ji itu, kemudian Bu-koat kau suruh membunuhnya, kau ingin dia benarbenar

mati di tangan Hoa Bu-koat, begitu bukan?”

Terpancar rasa senang dalam sorot mata Lian-sing Kiongcu, ucapnya dengan

suara lembut, “Betul, sebab hanya dengan cara begini barulah dapat membuat

Bu-koat merasa menyesal dan tersiksa sehingga merasa mati lebih baik

daripada hidup.”

“Sedangkan kalau sekarang kita suruh dia membunuh Kang Siau-hi tentu dia

akan memaafkan dirinya sendiri, bahkan bisa jadi dia akan membunuh Kang

Giok-long untuk membalaskan sakit hati Kang Siau-hi, jika terjadi demikian,

maka rencana kita menjadi tiada artinya sama sekali.”

Kiau-goat terdiam sejenak, katanya kemudian, “Tapi apakah kau tahu Kang

Siau-hi ini benar-benar keracunan atau tidak?”

“Untuk ini segera dapat kita ketahui,” ujar Lian-sing.

Di sebelah sana Siau-hi-ji masih rebah menggigil, tapi So Ing, Thi Sim-lan dan

Hoa Bu-koat tidak lagi memperhatikannya, pandangan mereka justru tertuju ke

arah kedua Ih-hoa-kiongcu di bawah pohon sana.

Tapi ini tidak berarti mereka tidak ambil pusing lagi terhadap Siau-hi-ji, justru

lantaran mereka terlalu memikirkan keadaan Siau-hi-ji itulah, maka mereka

ingin tahu bagaimana sikap Ih-hoa-kiongcu. Dari sorot mata yang tiga pasang

itu mereka ingin tahu sedikit kabar berita dari gerak-gerik Ih-hoa-kiongcu.

Cuma sayang, apa pun tak terlihat oleh mereka, bahkan satu kata saja tak

terdengar. Mereka hanya melihat wajah Kiau-goat yang dingin penuh diliputi

rasa dendam dan benci, penuh nafsu membunuh. Makin dipandang makin

cemas mereka, sehingga bertambah khawatir bagi keselamatan Siau-hi-ji.

Waktu berbicara kedua Ih-hoa-kiongcu itu tidak lama, tapi bagi mereka bertiga

rasanya telah menunggu beberapa jam lamanya, semakin gelisah dan cemas

rasa mereka, semakin lambat pula lalunya sang waktu.

Hanya Siau-hi-ji saja, meski tubuhnya masih terus menggigil, tapi sikapnya

sama sekali tidak khawatir. Dia seperti yakin Ih-hoa-kiongcu pasti takkan

membunuhnya sekarang.

Entah sudah lewat beberapa lama pula, akhirnya kelihatan kedua kakak

beradik Ih-hoa-kiongcu melangkah kemari dengan perlahan. Segera Bu-koat

hendak menyongsong mereka, tapi baru bergerak kakinya segera berhenti lagi.

Setiba di depan Siau-hi-ji, dengan suara bengis Kiau-goat lantas bertanya,

“Waktu kau keracunan antara lain disaksikan juga oleh Peng-koh, begitu?”

Siau-hi-ji mengiakan sambil merintih.

“Baik, boleh kau suruh dia keluar, akan kutanyai dia,” kata Kiau-goat.

“Ke mana harus kupanggil dia? Pada hakikatnya aku tidak tahu dia berada di

mana sekarang?” jawab Siau-hi-ji.

“Kan jelas dia kulemparkan ke dalam gua itu?” bentak Kiau-goat dengan gusar.

“Hah, apakah kau kira gua ini cuma ada sebuah jalan keluar-masuk di sini?”

“Memangnya masih ada jalan keluar lain? Jika ada, masa kau tidak kabur sejak

tadi-tadi,” jengek Kiau-goat.

Siau-hi-ji balas menjengek, “Untuk apa kukabur? Betapa pun kan aku tidak

boleh ingkar janjiku kepada Hoa Bu-koat. Tapi Thi Peng-koh memang sudah

pergi sejak tadi, jika tidak percaya, kenapa tidak kau periksa sendiri ke dalam

sana.”

Belum habis ucapannya secepat terbang Kiau-goat Kiongcu telah melayang ke

tebing sana. Tali yang dilemparkan ke bawah oleh Hoa Bu-koat tadi masih

bergelantungan di situ. Dengan gesit Kiau-goat lantas melorot ke dalam gua.

Tidak lama kemudian, secepat angin ia keluar lagi. Dari air mukanya dapat

terlihat dia pun merasa heran dan tak terduga-duga.

“Nah, sekarang kau percaya tidak?” jengek Siau-hi-ji.

Kiau-goat hanya mendengus saja.

“Dan sekarang tentunya kau tahu, apabila aku tidak mau bergebrak dengan

Hoa Bu-koat tentu sejak tadi-tadi aku sudah kabur bersama Thi Peng-koh dan

tidak perlu kutunggu di sini, lalu pura-pura keracunan segala.”

Kiau-goat berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Jika demikian, apakah kau

tahu Kang Giok-long berada di mana sekarang?”

“Sudah tentu kutahu,” jawab Siau-hi-ji. “Cuma kukhawatir setelah kusebut

tempat itu, belum tentu kalian berani pergi mencarinya.”

Sekali ini Kiau-goat tidak marah lagi, ia malah merasa geli, ucapnya dengan

tak acuh, “Tiada suatu tempat apa pun di kolong langit ini yang tak berani

kudatangi.”

Namun Siau-hi-ji sengaja membakarnya lagi, jengeknya, “Mungkin cuma

tempat ini saja yang tak berani kau datangi, sebab belum pernah kulihat ada

perempuan yang tidak takut pada tikus.”

Sorot mata Kiau-goat mencorong terang, tanyanya, “Yang kau maksud janganjangan

Gui Bu-geh? Apakah ia berada di bukit ini?”

“Sudah tentu ia berada di bukit ini, engkau benar-benar tidak tahu atau purapura

tidak tahu?” jengek Siau-hi-ji.

Padahal ia pun tahu sebabnya Gui Bu-geh bersembunyi di sini adalah karena

ingin meyakinkan semacam ilmu sakti untuk menghadapi Ih-hoa-kiongcu,

dengan sendirinya tempat tinggalnya ini sangat dirahasiakan dan tidak

mungkin diketahui Ih-hoa-kiongcu, tapi ia pun tidak habis mengerti mengapa

Hoa Bu-koat tidak memberitahukan padanya.

Hanya So Ing saja yang tahu apa sebabnya Bu-koat tidak melaporkan tempat

sembunyi Gui Bu-geh ini kepada Ih-hoa-kiongcu, soalnya Bu-koat hakikatnya

tidak bertemu dengan Gui Bu-geh. Mestinya So Ing ingin memberitahukan

Siau-hi-ji bahwa di tempat Gui Bu-geh itu telah terjadi perubahan yang

mengejutkan, bukan saja Kang Giok-long tidak mungkin berada di sana,

bahkan Gui Bu-geh sendiri juga menghilang entah ke mana.

Tapi dia tidak jadi bilang kepada Siau-hi-ji, sebab ia justru ingin pergi ke sana

agar dapat melihat sendiri apa yang terjadi di sana, untuk itulah dia khawatir

Siau-hi-ji tidak mau mengiringi dia pergi ke sana.

Terlihat sikap Kiau-goat tidak banyak berubah meski Siau-hi-ji sengaja hendak

memancing kemarahannya, dia seperti tidak ambil pusing.

Dari sikap Ih-hoa-kiongcu ini dapat dinilai bahwa Gui Bu-geh pada hakikatnya

sama sekali tak terpandang atau sangat diremehkan olehnya. Malahan dalam

hati Ih-hoa-kiongcu bobot Siau-hi-ji terlebih berat dari pada Gui Bu-geh.

Sampai di sini, mau tak mau So Ing menjadi terheran-heran, pikirnya, “Apa pun

juga Gui Bu-geh adalah tokoh terkemuka dunia Kangouw yang dapat dihitung

dengan jari, pula dia tidak sayang mengasingkan diri selama dua puluhan

tahun untuk meyakinkan semacam ilmu sakti buat menghadapi ilmu silat Ihhoa-

kiong, ini suatu tanda bahwa antara Gui Bu-geh dan Ih-hoa-kiongcu pasti

ada permusuhan yang sangat mendalam. Tapi tampaknya Ih-hoa-kiongcu

sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap Gui Bu-geh, sebaliknya Siau-hiji

malah tidak pernah berjumpa dengan Ih-hoa-kiongcu sebelum ini, namun

dalam hal-hal paling kecil yang menyangkut anak muda itu justru mendapat

perhatian sang Kiongcu, bahkan malah mengalah dan bicara halus, tujuannya

hanya ingin Hoa Bu-koat membunuh Siau-hi-ji dengan tangan sendiri,

sesungguhnya apakah sebabnya?”

Begitulah makin dipikir semakin terasa oleh So Ing akan ruwetnya persoalan

ini, sungguh misterius dan kompleks.

Dalam pada itu Ih-hoa-kiongcu sudah bicara dua-tiga kalimat, tapi So Ing tidak

mendengar apa yang diucapkannya. Hanya didengarnya Siau-hi-ji berkata,

“Baiklah, akan kubawa kau ke sana, tapi sekarang aku tak dapat bergerak,

siapa yang memayang diriku?”

Bu-koat dan Thi Sim-lan seperti ingin memberi bantuan, tapi Bu-koat lantas

melihat sorot mata Ih-hoa-kiongcu yang tajam itu sedang menatapnya, cepat ia

berpaling ke arah Thi Sim-lan seakan-akan menyuruh nona itu suka

memayang Siau-hi-ji. Tapi demi melihat Hoa Bu-koat sedang memandangnya,

seketika Thi Sim-lan juga urungkan niatnya, tangannya yang sudah terjulur

segera diturunkan kembali.

So Ing tersenyum, ucapnya dengan lembut, “Jika kau tidak mengomel jalanku

terlalu lambat, biarlah aku saja yang memayangmu.”

Sudah cukup jauh So Ing memayang Siau-hi-ji ke sana, tapi Bu-koat masih

tetap berdiri melenggong di tempatnya, kepala Thi Sim-lan juga menunduk

semakin rendah, air mata pun mulai menetes.

Lian-sing Kiongcu memandang Bu-koat, lalu memandang pula Thi Sim-lan,

tiba-tiba ia pegang tangan Thi Sim-lan dan berkata dengan halus, “Marilah kau

ikut berangkat bersamaku!”

Sungguh mimpi pun tak terduga oleh Thi Sim-lan bahwa Ih-hoa-kiongcu bisa

memperhatikan dirinya, seketika ia menjadi bingung, entah kejut entah girang.

Hanya terasa olehnya suatu arus tenaga yang lunak tapi kuat tersalur dari

tangan orang, tanpa kuasa tubuhnya lantas ikut melayang ke sana bersama

Lian-sing Kiongcu.

Bu-koat juga terkesiap dan bergirang melihat Lian-sing Kiongcu sudi

menggandeng tangan Thi Sim-lan, tapi mendadak entah apa pula yang terpikir

olehnya, tiba-tiba timbul juga rasa pilunya.

Terdengar Kiau-goat berkata padanya, “Sekarang tentunya kau pun dapat

berangkat.”

Meski cuma satu kalimat yang jamak, tapi bagi pendengaran Bu-koat terasa

lain, sebab ia merasa Ih-hoa-kiongcu telah dapat menerka isi hatinya. Padahal

isi hatinya justru tidak dapat diketahui oleh orang lain.

Cukup lama sudah So Ing memayang Siau-hi-ji berjalan ke sana dan belum

lagi mendengar ada orang menyusulnya. Ia menoleh beberapa kali, lalu

berkata dengan tertawa, “Selama setengah hari ini telah banyak yang terjadi,

setiap kejadian tampaknya sangat di luar dugaan dan mengejutkan, padahal

setiap peristiwa memang sudah diatur olehmu, betul tidak?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya, “Apa yang kau maksud, sungguh aku tidak

paham.”

“Kau tidak perlu berlagak pilon,” ujar So Ing dengan tertawa. “Sekarang aku

sudah tahu, bukan saja kau sengaja membiarkan dirimu dijerumuskan ke

dalam gua oleh Kang Giok-long, bahkan hal keracunan juga kau sengaja,

hakikatnya kau tidak pernah tertipu oleh siapa pun juga.”

“Memangnya untuk apa aku sengaja diracuni orang? Masa aku suka mati

keracunan?”

“Soalnya kau tahu hanya dengan cara demikian baru dapat mencegah Hoa Bukoat

turun tangan padamu, sedangkan kau memang tiada maksud turun

tangan terhadap Hoa Bu-koat. Kau pun sudah menghitung dengan tepat Ihhoa-

kiongcu pasti akan berdaya untuk menawarkan racunmu, sebab itulah

meski orang lain khawatir dan kelabakan setengah mati bagimu, tapi kau

sendiri malah adem ayem saja, sedikit pun tidak cemas dan gelisah.”

“Aku tidak cemas dan gelisah karena pada dasarnya aku memang orang yang

tidak dapat gelisah, bagiku biarpun langit akan ambruk juga kupercaya pasti

ada seorang yang berperawakan lebih tinggi daripadaku yang sanggup

menahannya.”

“Hihi, semakin kau tidak mau mengaku, semakin terbukti bahwa kau memang

sengaja berlagak pilon,” ujar So Ing dengan tertawa.

“Haha! Ini logika macam apa?” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Kalau menuruti

jalan pikiranmu ini, kan berarti bahwa jika kau semakin tidak mau makan tahi

anjing, maka semakin terbukti kau ini gemar makan tahi anjing?”

So Ing tidak pedulikan cemoohan anak muda itu, ia menyambung pula, “Sudah

di dalam perhitunganmu bahwa Ih-hoa-kiongcu pasti akan mengusut benar

tidaknya kau keracunan, maka lebih dulu kau mengenyahkan Thi Peng-koh

dan Oh Yok-su, dengan demikian terpaksa Ih-hoa-kiongcu harus langsung

mencari Kang Giok-long, sedangkan kau sudah tahu saat ini Kang Giok-long

bersembunyi di liang tikus, bila ke sana Ih-hoa-kiongcu mencari Kang Gioklong

pasti akan kepergok Gui Bu-geh. Kalau Ih-hoa-kiongcu bertemu dengan

Gui Bu-geh pasti pula akan terjadi pertarungan sengit. Apabila Gui Bu-geh

dapat membunuh Ih-hoa-kiongcu tentu saja sangat baik, sebaliknya jika Gui

Bu-geh yang terbunuh oleh Ih-hoa-kiongcu, maka dendammu kepada tikus

besar itu pun dapat terlampiaskan.”

Sampai di sini, So Ing berganti napas dulu, lalu menyambung pula, “Sebab

itulah, peduli siapa di antara mereka yang akan menang, yang pasti toh

berfaedah bagimu. Jika kedua pihak mereka sama-sama terluka, malahan ini

lebih-lebih menyenangkan bagimu. Ini namanya tipu sekali tepuk dua-tiga

lalat.”

“Wah, tipu bagus yang ruwet ini sungguh tak dapat kupikirkan, bahkan

mendengarkan saja aku menjadi bingung sendiri,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

So Ing tersenyum, katanya, “Bukan soal, sekalipun kau tidak mau mengaku,

yang penting aku menjadi paham duduk perkaranya. Sekarang aku tidak

mengkhawatirkan urusan lain, yang kukhawatirkan adalah kepalamu bisa cepat

botak lantaran terlalu banyak memeras otak dengan macam-macam tipu

akalmu yang sukar diraba itu.”

“Memangnya kenapa kalau kepalaku menjadi botak?” tukas Siau-hi-ji. “Kan

banyak perempuan yang anggap lelaki botak justru mahakuat?” tanpa

menunggu jawaban So Ing segera dia melanjutkan pula,” Nah, kau telah tanya

macam-macam padaku, sekarang menjadi giliranku untuk tanya padamu?”

“Kau ingin tanya apa?”

“Apa pun juga, Gui Bu-geh cukup baik padamu. Kau sendiri pun mengakui dia

adalah ayah angkatmu. Sekarang Ih-hoa-kiongcu merecoki dia, tapi kau tidak

gelisah, sebaliknya malah menjadi petunjuk jalannya, mengapa kau bertindak

demikian?”

So Ing tidak menjawab, selang sejenak barulah la menghela napas perlahan.

“Kutahu tentu ada sesuatu yang kau simpan di dalam hatimu dan tidak kau

katakan padaku, jangan-jangan tadi Thi Sim-lan ….”

Siau-hi-ji tidak meneruskan ucapannya, sebab saat itu Lian-sing Kiongcu telah

menyusul tiba dengan menggandeng Thi Sim-lan.

Siau-hi-ji mengerling, tiba-tiba ia berkata kepada Thi Sim-lan dengan tertawa,

“Kita kan sudah cukup lama tidak berjumpa? Mungkin sudah lebih dua bulan

bukan?”

Agaknya Thi Sim-lan tidak menduga Siau-hi-ji akan bicara padanya, seketika ia

menjadi kelabakan dan tidak tahu cara menjawabnya, mukanya menjadi

merah.

Lalu Siau-hi-ji berpaling dan berkata kepada So Ing, “Coba lihat, baru dua

bulan tidak berjumpa, aku menjadi seperti orang asing baginya. Baru kutanya

satu-dua kalimat padanya, segera mukanya merah.”

So Ing menghela napas gegetun, ucapnya dengan suara tertahan, “Dia sudah

cukup menderita, mengapa kau menyiksanya pula?”

Tapi Siau-hi-ji lantas menoleh lagi kepada Thi Sim-lan, katanya, “Coba, kau

dengar tidak? Dia anggap aku sedang menyiksamu, padahal aku kan cuma

menyampaikan salamku padamu, masa aku dianggap menyiksamu?”

Thi Sim-lan hanya menggeleng saja tanpa bicara, matanya menjadi merah dan

basah lagi.

“Kita memang sudah lebih dua bulan tidak berjumpa bukan?” tanya Siau-hi-ji

pula.

“Ehm,” Thi Sim-lan bersuara lirih sambil menunduk.

“Kukira, selama dua bulan ini tentu banyak yang terjadi,” ujar Siau-hi-ji dengan

menghela napas. “Sebab kulihat, meski cuma dua bulan kita tidak bertemu,

tapi engkau sudah banyak berubah.”

Hati Thi Sim-lan serasa tertusuk, tanpa terasa air mata bercucuran pula. Sebab

dia merasa dirinya memang benar sudah banyak berubah.

Dahulu bila ia lihat Siau-hi-ji, maka segala apa pun terlupakan dan dia akan lari

kepadanya.

Tapi kini? Mengapa kini dia tidak seperti dahulu lagi? Apakah dalam

penilaiannya bobot Hoa Bu-koat telah mulai bertambah berat setitik demi

setitik?

Ya, memang betul, bobot Hoa Bu-koat memang sudah bertambah berat dalam

hati Thi Sim-lan, sebab selama dua bulan ini memang telah banyak yang

terjadi. Seumpama dia dapat melupakan budi kebaikan Hoa Bu-koat yang

berulang-ulang menyelamatkan jiwanya, tapi mana bisa dia melupakan betapa

tekun dan prihatin waktu Hoa Bu-koat merawatnya ketika dia terluka?

Selama beberapa hari itu boleh dikatakan Bu-koat lupa makan dan lupa tidur,

yang dipikir hanya keselamatan Thi Sim-lan saja.

Apalagi, seumpama dia dapat melupakan kejadian ini, tapi mana dia dapat

melupakan waktu perjalanan jauh itu dengan macam-macam peristiwa yang

mengesankan itu?

Bilamana dia memejamkan mata, seketika seakan-akan terbayang lagi malam

yang sunyi dan rawan itu, mereka bergadang sepanjang jalan untuk mencari

arak. Apabila ia memejamkan mata, segera terkenang waktu dia menyaksikan

Hoa Bu-koat tertawa latah, tertawa yang menderita dan menyuruh Sim-lan

jangan menghiraukannya lagi, tujuan Bu-koat hanya supaya si nona tidak ikut

berduka baginya.

Seorang yang sudah tahu dirinya pasti akan mati toh masih memikirkan sukaduka

orang lain dan menyampingkan keselamatannya sendiri, betapa luhurnya

perasaan demikian, siapa pula yang dapat melupakan perasaan yang

mengesankan itu?

Begitulah sejak tadi Lian-sing Kiongcu memandangi Thi Sim-lan dengan dingin,

tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kau pun merasa dirimu telah banyak berubah?”

“Aku … aku ….” Sim-lan tidak sanggup melanjutkan lagi karena pecahlah

tangisnya.

Lian-sing Kiongcu lantas beralih kepada Siau-hi-ji, jengeknya, “Tentunya kau

tidak perlu tanya dia lagi, sebab kau kan sudah tahu apa jawabannya.” Tanpa

menunggu ucapan Siau-hi-ji segera ia menambahkan pula dengan tertawa,

“Tapi kau juga lebih suka tidak mengetahui jawabannya, betul tidak?”

Siau-hi-ji mencibirnya, katanya, “Jika kau kira aku menjadi sedih, huh,

persetan!”

“Ya, aku pun berharap janganlah kau bersedih,” ucap Lian-sing dengan tak

acuh.

Apakah benar Siau-hi-ji tidak sedih? Jawabannya hanya dia sendiri yang tahu.

Sungguh lambat sekali jalan So Ing, sudah sekian lamanya barulah kelihatan

hutan lebat di kejauhan sana.

“Itu dia liang tikus tempat tinggal Gui Bu-geh ….” belum habis ucapan Siau-hi-ji,

sekonyong-konyong dilihatnya seekor tikus besar lagi gemuk menerobos

keluar dari semak-semak sana, terus menyusup ke semak-semak di tepi jalan

sini.

Selang sejenak, kembali terdengar suara “cuat-cuit”, suara tikus yang ramai

mirip segerombolan tikus yang sedang berkejar-kejaran.

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya, “Aneh, biasanya kawanan tikus ini

dipandang seperti mestika oleh Gui Bu-geh, mengapa sekarang lari serabutan

ke mana-mana”

Meski tidak menanggapi ucapan Siau-hi-ji itu, tapi diam-diam So Ing bertambah

khawatir. Kini dia dapat memastikan di liang kediaman Gui Bu-geh itu tentu

telah terjadi sesuatu perubahan besar, kalau tidak kawanan tikus ini pasti

takkan berkeliaran di luar sini.

Angin meniup semakin keras, tanpa terasa langkah So Ing bertambah cepat. Di

tengah cuaca yang suram tiba-tiba tertampak sesosok tubuh tergantung di

pohon sana dan terkontal-kantil tertiup angin.

“Aneh, di depan pintu rumah Gui Bu-geh mengapa ada orang menggantung

diri?” kata Siau-hi-ji sambil berkerut kening.

Orang ini memang benar mati gantung diri. Tidak terdapat luka apa pun di

tubuhnya, tapi pipinya tampak merah bengkak, jelas sebelum mati dia telah

ditampar orang dengan keras.

“Apakah orang ini anak murid Gui Bu-geh?” tanya Lian-sing Kiongcu sambil

mengernyit kening.

“Kecuali murid Gui Bu-geh, siapa yang sudi gantung diri setelah ditempeleng

orang?” ucap Siau-hi-ji sambil menyengir.

“Baru saja kau bilang dia mati gantung diri?” kata Lian-sing pula.

Siau-hi-ji tidak menanggapi pula, tapi dia mendekati mayat itu dan menarik

dada bajunya. Maka tertampaklah di dadanya ada dua baris huruf yang ditulis

dengan warna hijau mengkilap, bunyinya, “Anak murid Gui Bu-geh, boleh

dibunuh, tidak boleh dihina.”

“Nah sekarang tentunya kau tahu,” kata Siau-hi-ji. “Mungkin ada orang hendak

menerjang ke dalam liang tikus Gui Bu-geh, tapi muridnya ini tidak mampu

merintangi, sebaliknya malah kena digampar orang. Dia menjadi khawatir akan

dibunuh sendiri oleh Gui Bu-geh, saking ketakutan dia lantas bunuh diri lebih

dulu dengan menggantung, rupanya yang gantung diri malah tidak cuma

seorang.”

Yang gantung diri memang betul tidak cuma seorang saja, di hutan sana ada

belasan mayat yang bergelantungan dengan tanda luka yang serupa, malahan

ada yang tulang pipinya tertampar remuk.

“Keras amat tenaga tamparan orang ini, hanya sekali tampar saja dapat

meremukkan tulang pipi, entah siapakah gerangannya?” gumam Siau-hi-ji,

“Besar juga nyalinya berani dia mencari perkara kepada Gui Bu-geh.”

Waktu dia menunduk, baru diketahuinya di mana-mana berserakan rontokan

gigi yang masih berdarah, jelas karena tamparan orang ini, bukan saja pipi

lantas bengkak dan tulang pipi remuk, bahkan semua gigi sasarannya juga

rompal seluruhnya. Belasan orang yang tewas ini tampaknya sama sekali tidak

mampu melawan.

Diam-diam Siau-hi-ji terkesiap, sebab ia tahu anak murid Gui Bu-geh tidak ada

yang lemah, tapi semuanya telah binasa cara begini. Setelah termenung

sejenak, kemudian ia bergumam, “Tampaknya orang yang membunuh mereka

ini memiliki kepandaian beberapa kali lipat daripadaku.”

“Dari mana kau tahu?” tanya So Ing. Makin pikir semakin khawatir dia. Soalnya

ia tahu ilmu silat Gui Bu-geh tidak terlalu jauh di atas Siau-hi-ji, jika kepandaian

penyatron ini berlipat ganda daripada Siau-hi-ji, maka jelas Gui Bu-geh juga

sukar terhindar daripada kematian.

Siau-hi-ji berkata, “Mungkin aku pun sanggup membunuh orang-orang ini, tapi

bila aku diharuskan menampar mereka masing-masing satu kali, jelas aku tidak

mampu.”

“Sebab apa? Memangnya membunuh orang jauh lebih mudah daripada

menamparnya?” tanya So Ing.

“Sebabnya, apabila aku hendak membunuh mereka, tentu dapat kulakukan

dengan berbagai cara dan dengan macam-macam jurus serangan yang tidak

sama, dengan demikian mereka pun pasti sukar melawan.”

“Ehm,” So Ing mengangguk setuju.

“Tapi orang ini jelas belum mengeluarkan kepandaiannya yang sejati, dia cuma

menampar sekenanya dan sasarannya ternyata tiada yang mampu bertahan,

bahkan berkelit juga tidak sempat. Dari sini dapat diketahui betapa cepatnya

serangan orang itu, jelas lebih cepat daripadaku, apalagi sekali tampar saja ia

sanggup membikin remuk tulang kepala sasarannya, ini pun menandakan

tenaga dalamnya jauh lebih kuat daripadaku.”

So Ing menoleh, dilihatnya Ih-hoa-kiongcu juga merasa prihatin dan

mendengarkan dengan cermat, nyata mereka pun menganggap komentar

Siau-hi-ji ini memang tepat.

Selang sejenak, tiba-tiba Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Menurut kau sudah

berapa lama mereka binasa?”

Pertanyaan ini ternyata ditujukan kepada Siau-hi-ji, nyata Ih-hoa-kiongcu yang

biasanya angkuh dan meremehkan segalanya, kini juga mulai menghargai

pandangan Siau-hi-ji.

Maka Siau-hi-ji menjawab, “Seorang kalau sudah mati satu setengah jam baru

mayatnya akan dingin dan kaku.”

“Jika demikian, jadi peristiwa ini terjadi pada satu setengah jam yang lalu?”

tanya Kiau-goat pula.

“Yang kumaksudkan adalah mayat mereka baru akan dingin bilamana

kematian mereka sudah berselang satu setengah jam, aku tidak bilang

peristiwa ini terjadi pada satu setengah jam yang lalu.”

“Lalu, menurut kau, bilakah peristiwa ini terjadi?” tanya Lian-sing Kiongcu.

“Sebelum magrib kemarin,” jawab Siau-hi-ji.

“Dari mana kau tahu?” tanya Lian-sing pula.

“Sebab kutahu, kira-kira dua setengah jam yang lalu nona Thi pernah datang

ke sini, jika orang-orang ini belum mati, tentu mereka sudah menyambutnya ke

dalam liang tikus sana, tatkala mana kalau Hoa Bu-koat mencarinya ke sini,

tentu dia akan bergebrak dengan Gui Bu-geh, dan waktu kalian datang kemari

mencari Hoa Bu-koat tentu juga tak terhindar dari bentrokan dengan Gui Bugeh.”

Lian-sing Kiongcu memandang Bu-koat sekejap, katanya kemudian, “Ya, betul

juga.”

“Tapi jelas Hoa Bu-koat tidak kalian temukan di sini, dari ini dapat diketahui

waktu itu Hoa Bu-koat dan nona Thi ini telah meninggalkan tempat ini atas

kemauan mereka sendiri, betul tidak?”

“Betul,” ucap Lian-sing.

“Jika demikian, tatkala mana orang-orang ini pun pasti sudah mati,” kata Siauhi-

ji pula.

“Lalu, mengapa tidak mungkin mereka ini mati sebelum dua setengah jam yang

lalu, mengapa kau bilang mereka mati pada waktu magrib kemarin?”

“Saat ini masih pagi, dua setengah jam yang lalu tentu belum lagi terang

tanah,” ujar Siau-hi-ji. Tiba-tiba ia tertawa, lalu menyambung, “Umpama kau

ingin mencari perkara kepada Gui Bu-geh, apakah engkau akan datang pada

waktu hari sudah gelap?”

Lian-sing Kiongcu berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Tentu tidak.”

“Betul, tentu takkan kau lakukan, sebab kalau kau datang mencari orang di

tengah malam buta, tentu akan menurunkan derajat dirimu, apalagi semakin

gelap semakin berfaedah bagi orang macam Gui Bu-geh. Bila bertempur

dengan Gui Bu-geh, di tempat kediamannya, bagimu sudah kalah tempat,

kalau kau datang di tengah malam, berarti salah waktu pula.”

Siau-hi-ji merandek sejenak dan tertawa, lalu menambahkan, “Engkau kan

orang pintar, masakan engkau mau bertindak sebodoh ini?”

Lian-sing memandang sekejap kepada Kiau-goat Kiongcu, meski tidak berucap

apa-apa, tapi dari sorot matanya jelas mengunjuk perasaan memuji akan

kecerdasan Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji lantas menyambung pula, “Dilihat dari cara turun tangan orang ini,

jelas tindak tanduknya selalu blak-blakan, sebab itulah dapat kupastikan

kedatangannya ke sini pasti tidak dilakukan pada waktu malam, dan kalau tidak

datang waktu malam, tentunya dia datang sebelum petang kemarin.” Dia

tepuk-tepuk tangannya dengan tertawa, lalu menambahkan. “Nah, bagaimana

pendapat kalian atas pandanganku ini?”

“Hm, kan sudah jelas dan sederhana kejadian ini, siapa pun dapat

menerkanya,” jengek Kiau-goat.

Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, jika kau dapat menduganya,

untuk apa kalian tanya lagi padaku?”

Kiau-goat Kiongcu menarik muka dan tidak menggubrisnya lagi, sekali

bergerak, secepat angin dia lantas melayang ke tengah hutan sana.

Siau-hi-ji mencibirnya dari belakang, ucapnya dengan tertawa, “Kau pun tidak

perlu marah. Padahal kutahu, biarpun di mulut kau tidak omong, tapi di dalam

hati kau sangat mengagumi aku.”

Setelah melintasi hutan, di depan mengadang dinding tebing yang tinggi dan

luas mirip sebuah pintu angin alam. Dinding tebing penuh tetumbuhan akarakaran

mengalingi warna batu tebing yang sebenarnya.

Kiau-goat Kiongcu tidak melihat sesuatu gua dan sebagainya, ia terpaksa

menoleh dan bertanya, “Di mana tempat tinggal Gui Bu-geh?”

Meski bicaranya menghadap Lian-sing Kiongcu, padahal ia pun tahu sang adik

juga tak dapat memberi keterangan, dengan sendirinya pertanyaan itu

ditujukan kepada Siau-hi-ji.

Tapi anak muda itu pura-pura tidak tahu, dia malah menengadah memandang

langit dan bergumam, “Tadi kukira mau hujan, siapa tahu cuaca berubah cerah

lagi.”

Kiau-goat Kiongcu sangat mendongkol, dengan mendelik ia membentak, “Di

mana liang kediaman Gui Bu-geh?”

Siau-hi-ji seperti tercengang dan berpaling, tanyanya, “Apakah kau tanya

padaku?”

“Ya, kutanya kau!” bentak Kiau-goat gusar.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menjawab, “Persoalan sederhana begini, mengapa

engkau perlu tanya padaku?”

Muka Kiau-goat menjadi pucat saking menahan gemasnya, tapi juga tidak

dapat bicara lagi.

Ia lihat Siau-hi-ji berimpitan dengan So Ing melangkah terus ke depan, akarakaran

yang memenuhi dinding tebing di situ lantas dibetot dan disingkap.

Tumbuh-tumbuhan itu sangat lebat, tapi sebagian sudah kering. Setelah akarakaran

itu disingkirkan, tertampaklah sebuah gua yang gelap gulita, tiada setitik

sinar pun tertampak di dalam.

“Inilah tempatnya, silakan masuk,” kata Siau-hi-ji.

Selain gelap gulita, gua ini pun sangat kecil, seumpama seorang kerdil juga

perlu menunduk dan membungkuk baru dapat menyusup ke dalam.

Padahal nama Gui Bu-geh sangat berpengaruh, anak muridnya juga tak

terhitung banyaknya, siapa pun tidak menduga bahwa dia bisa berdiam di

suatu gua yang lebih kecil daripada liang anjing.

Tentu saja semua orang merasa heran dan sangsi, lebih-lebih Hoa Bu-koat. Ia

pernah melihat tempat tinggal So Ing yang indah dan resik itu, maka ia

menyangka tempat tinggal Gui Bu-geh pasti juga sangat mentereng, siapa tahu

hanya sebuah gua kecil begini saja. Dengan ragu-ragu ia lantas tanya,

“Apakah ini tempat tinggal Gui Bu-geh?”

“Ya, masa kau heran?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Bu-koat masih ingin omong sesuatu, tapi setelah memandang Kiau-goat

sekejap, segera kepalanya tertunduk pula.

Diam-diam Siau-hi-ji gegetun melihat sikap Bu-koat itu, tapi dia masih tetap

tertawa dan berkata, “Meski gua ini bukan liang tikus yang baik, tapi sangat

cocok bagi tempat tinggal Gui Bu-geh, masakan kalian merasa heran?”

Sambil bicara ia terus mendahului menyusup ke dalam gua. Tertampak

tubuhnya sempoyongan, melangkah saja tidak kuat, seperti tiada tenaga sama

sekali.

Kiau-goat Kiongcu mengernyitkan kening, bentaknya tiba-tiba, “Berhenti!”

Siau-hi-ji menoleh dan bertanya, “Untuk apa berhenti? Entah apa yang telah

terjadi di liang tikus ini, bisa jadi begitu masuk segera jiwa akan melayang.

Masa kurang baik bila aku menjadi pelopor bagi kalian?”

“Justru lantaran yang jalan di depan lebih besar bahayanya, makanya kau

harus berhenti,” ucap Lian-sing Kiongcu.

“Tak tersangka kalian sedemikian memperhatikan diriku, sungguh aku sangat

berterima kasih,” kota Siau-hi-ji dengan tertawa. “Cuma aku telah keracunan,

hidup juga tiada artinya lagi, biar mati saja lebih baik.”

“Kau tidak boleh mati,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

Mendadak Siau-hi-ji merasa angin berkesiur, tahu-tahu Kiau-goat telah

melayang lewat di sampingnya melalui peluang yang cuma satu kaki luasnya,

bahkan ujung bajunya saja tidak tersentuh.

Melihat betapa hebat Ginkang Ih-hoa-kiongcu, mau tak mau Siau-hi-ji

menghela napas gegetun, gumamnya, “Jika saat ini Gui Bu-geh sudah mati,

maka lebih untung baginya. Kalau tidak, bila dia jatuh di tangan orang ini, tentu

nasibnya tiada ubahnya seperti diriku, ingin mati pun sulit.”

Begitulah berturut-turut mereka lantas masuk gua itu mengikuti jejak Kiau-goat

Kiongcu. Belasan tindak kemudian jalan itu lantas membelok ke kiri, gua yang

sempit dan gelap itu mendadak terbeliak dan terbentang sebuah jalan yang

cukup lebar.

Kedua tepi jalan adalah batu-batu putih laksana kemala yang licin gilap, di

bagian atas samar-samar seperti ada cahaya lampu, tapi tak terlihat lampunya

terselip di mana.

Thi Sim-lan, Hoa Bu-koat dan juga Ih-hoa-kiongcu sama sekali tidak menduga

di dalam gua ini masih ada dunia lain, mau tak mau wajah mereka sama

menampilkan rasa kejut dan heran.

“Sekarang kalian jadi heran bukan?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi nanti

kalau kalian sudah melihat bagian dalamnya, bisa jadi kalian akan tambah

melongo heran. Meski aku belum pernah melihat istana raja, tapi kuyakin

istana raja juga takkan lebih mentereng daripada liang tikus Gui Bu-geh ini.”

Tiada seorang pun yang menanggapi ucapannya, maka Siau-hi-ji

menyambung pula, “Padahal juga tidak perlu diherankan, sekalipun seekor

anjing kan juga ingin membuat sarangnya seelok mungkin. Hanya saja Gui Bugeh

tinggal di sini lantaran sengaja mengasingkan diri untuk meyakinkan ilmu

sakti, dengan sendirinya dia tidak dapat memajang pintu rumahnya seperti

reklame restoran besar.”

Sambil bicara dengan tertawa, malah seperti khawatir kalau-kalau orang lain

tidak mendengarnya, maka ia sengaja bersuara keras. Maka bergemalah

kumandang suaranya dari lorong-lorong bagian dalam sana, di mana-mana

hanya mendengung suara Siau-hi-ji.

“Kenapa mulutmu tak bisa bungkam, tanpa bicara juga orang takkan anggap

kau bisu,” omel Lian-sing dengan mendongkol.

“Memangnya kau takut didengar oleh Gui Bu-geh?” tanpa menunggu jawaban

Ih-hoa-kiongcu itu, segera Siau-hi-ji menyambung pula dengan tertawa.

“Apabila aku yang mau cari perkara pada seseorang, maka pasti aku akan

masuk ke sini secara blak-blakan, jika datang dengan main sembunyisembunyi,

lalu terhitung orang gagah macam apa?”

Lian-sing Kiongcu tidak menanggapinya, dengan perlahan ia lantas berkata,

“Gui Bu-geh, dengarkanlah, orang Ih-hoa-kiong berkunjung kemari, silakan kau

keluar sini!”

Suaranya tidak keras, tapi aneh, suara tertawa Siau-hi-ji yang bergema itu

seolah-olah tenggelam dan tak terdengar lagi, sebagai gantinya adalah ucapan

Lian-sing Kiongcu yang berkumandang jauh ke sana. Akan tetapi selain

kumandang suaranya itu tiada terdengar lagi suara lain.

Yang paling cemas tampaknya ialah So Ing. Ia menduga saat ini keadaan Gui

Bu-geh lebih banyak celaka daripada selamatnya. Sebab kalau Gui Bu-geh

tidak mati, tidak perlu menunggu Siau-hi-ji bergembar-gembor dan tidak perlu

Ih-hoa-kiongcu berseru menantang, tentu sejak tadi pesawat rahasia yang

banyak terpasang di lorong bawah tanah ini telah bekerja.

Mendadak Kiau-goat Kiongcu hentikan langkahnya dan berkata, “Lihatlah apa

ini?”

Waktu semua orang memandang ke sana, tertampak di jalan lorong ini ada

bekas telapak kaki, bekas ini berjarak tertentu secara teratur, sekalipun pakai

ukuran lalu diukir juga takkan begini rajin.

Padahal jalan lorong ini terbuat dari batu, seperti juga dindingnya, batunya

keras dan licin, seumpama diukir dengan pisau juga tidak mudah. Tapi bekas

kaki orang ini ternyata jauh lebih jelas daripada ukiran.

“Hebat juga tenaga dalam orang ini,” ucap Lian-sing kemudian setelah berpikir,

“Cuma caranya ini terlalu bodoh.”

“Bodoh? Apa maksudmu?” tanya Siau-hi-ji.

“Kedatangan orang ini jelas hendak mencari Gui Bu-geh, lalu buat apa dia

membuang-buang tenaga atas batu ini?” ujar Lian-sing Kiongcu.

Siau-hi-ji menggeleng tidak sependapat, katanya dengan tertawa, “Menurut

pandanganku, yang bicara inilah orang tolol.”

Keruan Lian-sing menjadi gusar, dampratnya, “Apa katamu?”

“Coba pikirkan. Tidak perlu kita bicara tentang ilmu silat Gui Bu-geh, yang

pasti, dalam hal menciptakan pesawat rahasia yang khusus untuk menjebak

atau membunuh orang, kuyakin si tikus ini harus diakui sebagai ahli nomor satu

di dunia.”

“Hm, pengetahuan Gui Bu-geh dalam hal tetek bengek begitu memang sangat

luas,” dengus Kiau-goat Kiongcu.

“Setahuku,” demikian tutur Siau-hi-ji, “Sepanjang jalan lorong ini saja sedikitnya

ada belasan macam perangkap yang terpasang di sini dan setiap macam

cukup untuk merenggut nyawamu.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Lian-sing.

“Sudah tentu kutahu, sebab paling sedikit aku sudah pernah merasakan betapa

lihainya tiga belas macam perangkap di sini,” Siau-hi-ji tersenyum, lalu

menyambung, “Jika pendatang ini hendak mencari perkara kepada Gui Bugeh,

tentu dia sangat hati-hati, setindak demi setindak dilakukannya dengan

waspada dan siap siaga. Coba kau lihat, jarak langkahnya sedemikian rajin

dan teratur, maka dapat dibayangkan bagaimana tegangnya waktu itu.”

“Betul, ilmu silat seseorang kalau terlatih sampai puncaknya, maka tatkala dia

menghimpun tenaga dan pikiran, setiap gerak-geriknya pasti juga beraturan,”

kata Lian-sing.

“Tapi pendatang itu tidak tahu di mana dan kapan pesawat rahasia itu akan

menjebaknya, sebab telah dia harus menghimpun tenaga dan pikiran agar

dapat menghadapinya setiap saat, lantaran itu pula tanpa terasa ia telah

meninggalkan bekas kaki di lantai batu ini,” Siau-hi-ji pandang kedua Ih-hoakiongcu,

lalu sambungnya dengan tertawa. “Dari ini dapat diketahui bahwa

orang ini tidaklah bodoh, hanya tenaga dalamnya saja yang terlalu kuat.”

Lian-sing Kiongcu bersungut dan tidak bersuara. Tapi Kiau-goat lantas berkata,

“Tapi pesawat rahasia di lorong sini sebegitu jauh belum pernah menjeplak,

bukan?”

“Betul,” jawab Siau-hi-ji. “Sebab kalau sesuatu pesawat rahasia telah

menjeplak, baik berhasil melukai orang atau tidak tentu akan meninggalkan

bekas-bekas dan perlu dibenahi pula baru dapat pulih kembali seperti semula.

Tapi setiba penyatron itu di sini, agaknya gua ini sudah kosong, penghuninya

seakan-akan sudah mampus seluruhnya. Kalau tidak, setiba kita di sini

sedikitnya akan mengalami belasan macam perangkap.”

“Tapi waktu orang itu datang, di gua ini pasti masih ada penghuninya, lalu

sebegitu jauh mengapa perangkapnya tidak bekerja?” ujar Kiau-goat.

Berputar biji mata Siau-hi-ji, lalu menjawab, “Meski aku tidak menyaksikan

bagaimana keadaan waktu orang itu masuk ke sini, tapi dapat kubayangkan,

seperti kita sekarang, tentunya dia juga berjalan sambil berteriak-teriak

menyebut nama Gui Bu-geh dan menantangnya keluar. Sebab perangkap di

sini sama sekali tidak bergerak, bisa jadi lantaran Gui Bu-geh menjadi terkejut

dan ketakutan setelah mendengar nama penyatron itu, ia tahu sekalipun

pesawat rahasianya digerakkan juga tiada gunanya, pula dia khawatir akan

semakin memancing kemurkaan pendatang ini, maka dia lantas tidak jadi

bertindak sama sekali.”

Kiau-goat Kiongcu manggut-manggut, nyata ia mengakui analisa Siau-hi-ji itu

memang masuk akal.

“Habis, di kolong langit ini siapakah gerangannya yang dapat membikin Gui

Bu-geh begini ketakutan?” ucap Lian-sing Kiongcu.

Kedua Ih-hoa-kiongcu saling pandang sekejap, dalam hati mereka sama-sama

teringat kepada seseorang. Tapi cuma Siau-hi-ji saja yang tahu kelirulah

dugaan mereka.

Tiba-tiba So Ing berkata, “Melihat bekas kaki orang ini, jelas jauh lebih besar

daripada orang biasa, maka dapat dibayangkan perawakannya pasti tinggi

besar, setiap langkahnya sejauh tiga kaki, dapat diperkirakan kedua kakinya

pasti sangat panjang.”

Melihat pandangan semua orang sama terpusat ke arahnya seakan-akan

menantikan lanjutan ceritanya, maka ia lantas menyambung, “Setahuku, di

kolong langit ini hanya ada seorang yang mirip seperti orang ini.”

Kembali kakak beradik Ih-hoa-kiongcu itu saling pandang sekejap, dengan

menarik muka Lian-sing Kiongcu berkata, “Siapa yang kau maksudkan?”

“Yan-tayhiap, Yan Lam-thian!” jawab So Ing.

Dengan sendirinya sejak tadi Ih-hoa-kiongcu juga menduga orang itu ialah Yan

Lam-thian, tapi demi mendengar nama “Yan Lam-thian” disebut, air muka

kedua kakak beradik yang selalu dingin itu mendadak berubah juga, tanpa

terasa mereka memandang sekejap pada Siau-hi-ji, lalu cepat berpaling pula

ke arah semula.

Sejak tadi Siau-hi-ji senantiasa memperhatikan perubahan sikap kedua Ih-hoakiongcu.

Hanya Siau-hi-ji saja yang tahu dengan pasti bahwa orang yang

dimaksud pasti bukan Yan Lam-thian, sebab, sekalipun Yan Lam-thian masih

hidup, tidak mungkin kekuatannya bisa pulih secepat ini.

Tapi lantas timbul suatu pikiran dalam benaknya, cepat ia bertepuk tangan dan

berkata, “Betul, orang ini pasti Yan Lam-thian, Yan-tayhiap adanya. Selain

Yan-tayhiap, siapa pula yang memiliki ilmu silat setinggi ini dan mempunyai

tenaga sebesar ini?”

Mendadak Kiau-goat Kiongcu berkata, “Orang ini pasti bukan Yan Lam-thian.”

Segera Lian-sing menyambung, “Betul, setahuku sudah lama Yan Lam-thian

telah mati.”

Waktu bicara, sorot mata mereka tanpa terasa beralih pula ke arah Siau-hi-ji,

jelas mereka ingin memancing sesuatu berita mengenai Yan Lam-thian dari

anak muda itu.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Meski di mulut kalian bicara sedemikian, tapi di

dalam hati kalian pasti tahu bahwa Yan-tayhiap tidak mungkin mati, betul

tidak?”

“Hm, biarpun dia belum mati, tentu juga tiada ubahnya seperti orang mati,”

jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Betul,” tukas Lian-sing Kiongcu. “Orang ini paling suka menonjolkan diri agar

namanya terkenal, dahulu setiap satu-dua bulan sekali tentu dia berbuat

sesuatu yang menggemparkan supaya namanya selalu diingat orang. Jika dia

belum mati, mengapa selama dua puluh tahun ini sama sekali tiada kabar

beritanya.”

“Haha, cara demikian kalian bicara, maksud kalian cuma ingin mencari tahu

beritanya, aku justru tidak mau memberitahukan kepada kalian,” ujar Siau-hi-ji

dengan tertawa.

Mata So Ing mengerling, ucapannya perlahan, “Mengapa kalian tidak coba

memeriksa ke dalam sana, bisa jadi penyatron ini masih berada di sini dan

belum lagi pergi.”

Belum habis ucapannya, serentak kakak beradik Ih-hoa-kiongcu melayang

lewat ke ujung lorong sana. Sampai Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan juga mereka

tinggalkan.

Kebetulan Thi Sim-lan berdiri pula di tengah antara Hoa Bu-koat dan Siau-hi-ji,

dia menunduk, tampaknya sangat sedih dan memelas. Kalau bisa, sungguh ia

ingin punya sayap dan terbang pergi atau segera menyusup ke dalam tanah,

namun dia justru hanya berdiri saja di situ, maju terasa salah, mundur juga

terasa keliru.

Sorot mata Bu-koat juga penuh rasa derita oleh pertentangan batin yang hebat,

ia menengadah seperti mau bicara apa-apa, tapi urung, lalu menunduk dan

cepat melangkah ke depan.

Di luar dugaan, mendadak Siau-hi-ji mencegat di depan Bu-koat, ucapan

dengan tertawa, “Sangat berterima kasih padamu.”

Bu-koat diam sejenak, ia coba memperlihatkan senyumnya, jawabnya, “Kukira

tiada sesuatu yang perlu kau berterima kasih padaku.”

“Janji tiga bulan kita sudah lalu kini, kutahu engkau sudah tidak pandang diriku

sebagai kawan lagi, tapi engkau toh tetap menyimpan rahasiaku yang kau

ketahui itu, dengan sendirinya aku harus berterima kasih padamu.”

Kembali Bu-koat terdiam, kini ia merasakan sangat sukar baginya untuk

mengucapkan sesuatu kata. Selang agak lama barulah dia buka suara,

“Engkau tidak perlu berterima kasih padaku, aku tidak bicara apa-apa tentang

dirimu, soalnya pembawaanku memang bukan orang yang usil mulut.”

“Tapi persoalan ini kan pantas jika kau laporkan kepada gurumu, tapi engkau

justru tidak bicara satu kata pun, dengan sendirinya lantaran diriku, hanya

sahabat sejati yang dapat saling menyimpan rahasia masing-masing, musuh

tidak mungkin ….”

“Betul, hanya sahabat sejati saja yang tahu rahasia pihak lawan,” tukas Bukoat.

“Tapi bilamana mereka sudah mulai bertengkar dan menjadi musuh,

maka dia pasti akan membongkar rahasia lawan yang diketahuinya itu.”

“Ya, memang begitulah,” ucap Siau-hi-ji.

Kulit muka Hoa Bu-koat tampak berkerut-kerut, mendadak ia berkata dengan

bengis, “Tapi aku bukanlah Siaujin (orang kecil, orang rendah, pengecut)

demikian!” Habis berkata ia terus menyelinap lewat di samping Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, “Justru lantaran engkau terlalu Kuncu

(ksatria, gentleman), makanya engkau tidak mempunyai keberanian untuk

melawan. Mengapa engkau tidak dapat meniru diriku, jadilah seorang

pemberontak ….”

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan mendekap mukanya terus lari keluar.

Cepat So Ing berseru memanggilnya, tapi Thi Sim-lan tidak menggubrisnya,

yang terpikir olehnya hanya satu, yaitu meninggalkan tempat ini sejauhnya,

meninggalkan orang-orang ini sejauh-jauhnya, walaupun ia tahu sekalipun ia

dapat melarikan diri, tapi hatinya takkan mampu lari untuk selamanya, ke mana

pun dia lari, hatinya akan tetap menyangkut di tubuh Siau-hi-ji dan Hoa Bukoat,

bahkan terobek dan berlumuran darah.

Tapi ini adalah urusan di kemudian hari, ia tidak pedulikan lagi.

“Ai, mengapa … mengapa tidak kau tahan dia?!” omel So Ing.

“Seorang kalau sudah berkeras mau pergi, maka siapa pun tak dapat menahan

dia,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Meski tertawa, tapi siapa pun takkan

menyangka tertawa Siau-hi-ji bisa begitu pedih.

“Tapi engkau pasti dapat menahannya,” ujar So Ing.

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji melonjak dan berteriak, “Memangnya kau ingin

aku berbuat apa? Kau ingin aku mengikatnya dengan rantai? Atau ingin aku

berlutut di depannya serta merangkul kakinya dengan ratap tangis?”

So Ing tidak menjawab, ia pandang anak muda itu dengan terkesima, sorot

matanya lambat-laun menjadi buram, dua titik air mata meleleh melalui pipinya

yang pucat itu dan jatuh di bajunya.

Siau-hi-ji menoleh ke sana dan mengejek, “Dia pergi seharusnya kau

bergembira, mengapa malah menangis?”

Dengan sedih So Ing menjawab, “Engkau tidak perlu mengucapkan kata-kata

sekeji ini dan menyinggung perasaan begini, kini ….”

“Kini kenapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kini aku pun berharap bisa seperti dia, meninggalkan tempat ini sejauhnya

agar tidak dapat melihat engkau marah baginya dan berduka baginya,” ujar So

Ing.

“Aku berduka katamu? Mengapa aku harus berduka?”

“Sebab, sekali ini dia yang meninggalkanmu dan bukan engkau yang

meninggalkan dia.”

Kalimat yang sederhana ini ternyata mengandung makna yang sangat ruwet

dan dalam, sama halnya sebatang jarum yang tepat menusuk lubuk hati Siauhi-

ji.

Seorang lelaki, seumpama dia tidak sungguh menyukai seorang perempuan,

tapi kalau si perempuan yang meninggalkan dia lebih dahulu, betapa pun si

lelaki ini tak bisa menerimanya.

Maka Siau-hi-ji berjingkrak pula, katanya, “Jika demikian kenapa kau sendiri

tidak pergi saja?”

So Ing tidak mampu bicara lagi, hanya derai air mata saja sebagai jawabannya.

“Ya, kutahu sebab kau merasa berat untuk meninggalkan aku, betul tidak?

Betul tidak? ….”

So Ing menggigit bibir dan menjawab, “Meng … mengapa engkau sengaja

menyiksaku cara begini, mengapa ….”

Mendadak Siau-hi-ji menubruk maju dan merangkul So Ing, dengan keras

bibirnya mengancing bibir si nona, begitu erat pelukannya sehingga tubuh So

Ing serasa mau retak.

So Ing seakan-akan runtuh seluruhnya. Tapi mendadak ia memukul tubuh

Siau-hi-ji sekuatnya, ia mendorong dada Siau-hi-ji sambil berteriak dengan

parau, “Lepaskan, lepaskan aku!”

“Masa … masa kau tidak suka ….” tapi cepat ia lepaskan rangkulan dan

mendekap mulut sendiri, bibirnya ternyata berdarah, seketika air mukanya

berubah, entah gusar, entah kejut.

So Ing mundur dengan sempoyongan ke tepi dinding, napasnya terengahengah.

Akhirnya Siau-hi-ji menghela napas panjang, ucapnya dengan menyengir,

“Baru sekarang kutahu aku berbuat salah.”

Kembali So Ing mencucurkan air mata, ucapnya dengan gemetar, “Tidak, kau

tidak salah. Bukanlah aku tidak … tidak suka dipeluk olehmu, jika tidak sedalam

ini cintaku padamu, tentu takkan kubiarkan diriku dipeluk olehmu, namun

sekarang aku tidak ingin engkau memeluk diriku, dan pada saat yang sama

hatimu justru memikirkan orang lain.”

Siau-hi-ji tercengang sejenak, baru saja ia hendak buka suara, dilihatnya Liansing

Kiongcu entah sejak kapan sudah berdiri pula di ujung lorong sana dan

sedang memandangnya dengan sorot mata yang dingin.

*****

Dengan istilah apa pun sukar melukiskan kemegahan tempat kediaman Gui

Bu-geh ini. Sebab tempat ini adalah hasil karya seorang gila dengan harta

kekayaan yang tak terperikan ditambah kekuasaan dan daya khayal yang tiada

bandingnya.

Tempat fantastis demikian pada hakikatnya sukar untuk dilukiskan dengan

kata-kata.

Di tengah-tengah tempat yang megah ini tertaruh sebuah kursi batu yang

sangat besar, sebuah kursi batu yang terukir dari sepotong batu raksasa.

Meski cuma sepotong batu, namun putih jernih seperti kemala asli, setitik

warna lain saja sukar ditemukan. Hanya di dalam istana di bawah tanah ini

terasa dingin membeku, tapi asalkan duduk di kursi ini, seketika akan terasa

badan menjadi hangat.

Kursi raksasa begini di seluruh dunia ini mungkin sukar dicari yang kedua, tapi

kursi istimewa ini sekarang telah terbelah menjadi dua.

Kiau-goat Kiongcu dan Hoa Bu-koat berdiri tepat di depan kursi batu ini dan

sedang mengawasi bagian kursi yang terbelah dengan air muka yang sangat

prihatin. Bagian kursi batu yang terbelah itu kelihatan halus, licin dan rajin

laksana sepotong tahu yang disayat oleh pisau yang sangat tajam.

Cukup lama Bu-koat memandangnya, akhirnya ia berkata, “Yang digunakan

orang ini mungkin Po-kiam (pedang pusaka) yang amat tajam.”

Kiau-goat diam saja, mukanya tambah merengut. Selang sejenak, dari jubah

putihnya yang longgar itu mendadak ia keluarkan sebatang pedang pendek

berwarna hijau kehitam-hitaman.

Panjang pedang kira-kira cuma setengah meter, sekilas pandang seperti tiada

sesuatu yang menarik, tapi kalau diperhatikan lebih lanjut akan terasa hawa

pedang yang dingin dan menyilaukan.

Tampaknya Kiau-goat sangat sayang terhadap padang pendeknya ini, dia

mengusap batang pedang dengan ujung jarinya yang lentik, setelah termenung

sejenak baru dia serahkan pedang itu kepada Bu-koat, katanya, “Coba

gunakan pedang ini untuk membacok kursi batu itu dengan sembilan bagian

tenagamu.”

Bu-koat mengiakan dan menerima pedang pendek, setelah memegang pedang

itu baru dia merasakan bobotnya jauh lebih berat daripada dugaannya, bahkan

begitu mengangkat pedang itu seketika hawa dingin merasuk jantung.

Hampir saja Bu-koat berseru memuji pedang bagus, tapi urung, sebab, di

depan Kiau-goat Kiongcu, satu kata saja dia tidak berani sembarangan omong.

Tiba-tiba Kiau-goat berkata pula, “Selama hidupmu kau tinggal di Ih-hoa-kiong,

pernahkah kau lihat pedang ini?”

“Tecu tidak tahu,” jawab Bu-koat.

“Soalnya pedang ini membawa alamat tidak baik, selama beberapa ratus tahun

ini, barang siapa melihat pedang ini pasti akan mati di bawah pedang ini, selain

diriku, tiada satu pun yang terkecuali,” tutur Kiau-goat.

Dia bicara dengan acuh tak acuh, tapi merinding bagi orang yang

mendengarkan.

Bu-koat tidak berani bertanya pula, dengan tangan kanan memegang pedang

segera ia melangkah maju, dengan gaya “Yu-hong-lay-gi” (burung Hong

datang menyembah), sinar kilat berkelebat, kursi batu itu terus dibacoknya.

Hampir seluruh tenaganya telah dikumpulkan pada pergelangan tangannya,

jangankan pedang pandak ini adalah senjata pusaka yang dapat memotong

besi seperti merajang sayur, sekalipun pedang ini cuma pedang bambu,

dengan bacokannya yang hebat ini sudah cukup menghancurkan batu menjadi

bubuk.

Maka terdengarlah suara “trang” sekali disertai muncratnya lelatu api, pedang

ini hanya mampu membelah kursi batu itu sedalam satu kaki lebih, lalu batang

pedang terjepit di tengah batu.

Bu-koat melenggong sejenak sambil tetap memegangi gagang pedang,

keringat dingin lantas merembes memenuhi jidatnya.

Orang yang mampu membelah kursi batu ini, seumpama yang digunakan

adalah pedang pusaka yang sama tajamnya, jelas tenaganya paling sedikit

harus lipat tiga-empat kali daripadanya. Di dunia ini ternyata ada tokoh sehebat

ini, sungguh sukar untuk dibayangkan.

Kiau-goat menghela napas perlahan, katanya kemudian, “Sudah lama

kudengar kadar keras batu kemala hijau ini tiada bandingannya, sekarang

terbukti memang tidak salah. Orang ini dapat sekali bacok membelah kursi

batu ini menjadi dua, ilmu pedangnya memang hebat juga.”

“Tidak cuma ilmu pedangnya hebat, mungkin tenaga dalam orang ini juga lebih

….” Bu-koat tidak melanjutkan ucapnya karena Kiau-goat telah memotongnya,

“Tinggi sandaran kursi ini hampir lima kaki, hanya sekali bacok saja orang ini

dapat membelahnya menjadi dua, tapi bacokanmu hanya mencapai satu kaki

lebih, lalu kau menganggap kekuatan orang ini sedikitnya tiga kali lipat

daripadamu, begitu bukan?”

“Ya, sungguh Tecu merasa malu,” ucap Bu-koat. “Padahal waktu pedang Tecu

membelah kursi batu, Tecu merasa sisa tenaga masih cukup kuat, sedikitnya

dapat membelah tiga kaki lagi ke bawah, siapa tahu baru mencapai lebih satu

kaki segera terasa tenaga susulan sudah habis. Dari ini dapatlah diketahui

bahwa bacokan lebih mendalam juga semakin sukar.”

“Betul juga,” ucap Kiau-goat.

“Waktu Tecu membelah kursi batu ini hingga mencapai satu kaki lebih

dalamnya, tenaga yang Tecu gunakan cuma tiga bagian saja, tapi waktu

masuk lagi beberapa inci, tenaga yang kugunakan mencapai tujuh bagian,

sedangkan sekali bacok saja orang ini dapat membelah kursi batu setinggi lima

kaki ini, maka dapat diperkirakan tenaganya tidak terbatas cuma tiga kali lipat

daripada tenaga Tecu.”

Tiba-tiba Kiau-goat tersenyum, ucapnya, “Salah kau.”

Bu-koat melengak, tanyanya, “Tapi Tecu sesungguhnya telah ….”

“Kau tidak perlu menilai rendah dirimu, di kolong langit ini tiada seorang pun

yang memiliki tenaga tiga kali lipat daripadamu. Soalnya adalah karena kau

tidak tahu sebab musababnya saja.”

“Ya, Tecu memang bodoh,” ucap Bu-koat dengan menunduk.

“Coba pikir, jagal lembu atau pembantai babi yang sehari-hari kerjanya cuma

memotong lembu dan babi itu, cukup dengan sekali tusuk saja, seketika beres.

Tapi kalau kau disuruh memotong babi atau menjagal lembu, pasti kau takkan

mampu bekerja segesit dan seterampil mereka. Lalu apakah ini berarti

tenagamu kalah kuat daripada kaum jagal itu?”

Bu-koat terdiam dan tidak berani menjawab.

Kiau-goat lantas melanjutkan, “Kunci daripada soal ini terletak pada kebiasaan

saja, lantaran sudah ‘kulino’ (biasa, hafal) menjadikan kerjanya lebih cekatan.

Teori ini berlaku bagi kaum jagal juga berlaku dalam hal ilmu pedang. Kalau

orang ini dapat sekali bacok membelah kursi batu setinggi ini dan kau tidak

mampu, ini bukan disebabkan tenaganya berlipat ganda daripadamu, soalnya

cuma cara menggunakan pedangnya jauh lebih cekatan dan lebih ‘kulino’

daripadamu.”

Meski teori ini tampaknya sederhana, tapi sesungguhnya mengandung

pengetahuan yang amat mendalam. Hoa Bu-koat merasa kuliah praktik Ih-hoakiongcu

ini banyak memberi manfaat, diam-diam ia terkesiap dan juga

bergirang.

Didengarnya Kiau-goat Kiongcu berkata pula, “Bukan saja gerak tangan orang

ini sangat cekatan dan kulino, bahkan juga sangat cepat. Kecepatan sama

dengan tenaga. Makanya dia dapat melakukan apa yang kau tidak sanggup

lakukan. Jika kau bergebrak dengan dia, dalam lima puluh jurus dia pasti dapat

mengurung pedangmu, dalam seratus jurus mungkin kepalamu akan dipenggal

olehnya.”

Kembali keringat dingin merembes keluar di dahi Bu-koat.

“Kecuali itu,” Kiau-goat menyambung pula, “Waktu ia membacok dengan

pedangnya tentu dia diliputi rasa murka yang tak terkatakan, yang dipikirnya

hanya membunuh orang sehingga tidak memikirkan apakah bacokannya ini

akan membelah kursi batu itu atau tidak. Jadi semisal jagal babi atau

pembantai lembu yang sedang melakukan tugasnya tanpa memikirkan urusan

lain, maka cara turun tangannya menjadi lain daripada yang lain. Sedangkan

caramu turun tangan tadi justru selalu berpikir berapa jauh kursi batu ini dapat

kubelah, dengan sendirinya perbawamu menjadi jauh lebih lemah

dibandingkan orang, dan jika jalan pikiranmu juga demikian, bilamana kau

bergebrak dengan orang, maka pasti akan sangat berbahaya bagimu.”

Kuliah Ih-hoa-kiongcu ini membuat Bu-koat tunduk benar-benar dan tidak

berani menengadah, keringat dingin pun membasahi bajunya.

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berkeplok tertawa dan berseru,

“Haha, Ih-hoa-kiongcu memberi kuliah tentang ilmu silat, sungguh hebat dan

membuka mata setiap pendengarnya. Sampai aku pun mau tak mau harus

rada kagum padamu.”

Dengan tertawa-tawa Siau-hi-ji telah melangkah masuk. Jika orang lain,

setelah bibirnya tergigit lecet karena mencium So Ing tadi, tentu akan berusaha

menutupi cirinya ini. Tapi Siau-hi-ji tidak ambil pusing kejadian ini, tiba-tiba ia

tertarik oleh pedang hijau gilap yang dipegang Hoa Bu-koat itu, dengan

tercengang ia bertanya, “Apakah ini pedang ‘Pik-hiat-ciau-tan jin’, senjata maut

jaman kuno dalam dongeng itu?”

“Hm, tajam juga penglihatanmu,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Konon sejak dahulu kala hingga kini, setiap senjata yang ditempa diperlukan

sesajen darah orang hidup, dengan demikian barulah senjata itu akan berhasil

digembleng. Malahan ada sementara orang yang rela mengorbankan jiwanya

demi berhasilnya pedang yang ditempa. Sebab itulah sejarah setiap pedang

pusaka yang berhasil diciptakan pasti membawa kisah yang memilukan.”

“Saat ini bukan waktunya bercerita segala,” kata Kiau-goat Kiongcu.

Tapi Siau-hi-ji tidak menggubrisnya, ia menyambung pula, “Hanya Pik-hiatkiam

ini konon tetap tak berhasil ditempa meski sudah diberi sajen darah orang

hidup. Menyusul istri dan putra-putri empu penggembleng pedang itu pun

dikorbankan, tapi tetap tak berhasil. Saking gemas dan berdukanya, tukang

gembleng pedang itu juga ikut terjun ke dalam tungku. Di luar dugaan setelah

ia terjun ke dalam tungku, seketika api tungku berubah menjadi hijau murni,

setelah tergembleng lagi dua hari, kebetulan seorang Tojin lewat di situ dan

melanjutkan gemblengan pedang itu sehingga berhasil. Konon ketika pedang

itu dikeluarkan dari tungku, cuaca berubah menjadi gelap seketika, terdengar

guntur berbunyi, Tojin itu terkejut dan roboh terjungkal, kebetulan jatuhnya

tepat di atas pedang ini sehingga dia menjadi korban pertama bagi pedang

pusaka yang baru lahir ini.”

Sampai di sini Siau-hi-ji berhenti sejenak sambil tertawa, lalu melanjutkan lagi,

“Dengan sendirinya cerita ini hanya dongeng belaka dan tidak dapat dipercaya.

Pikir saja, jika orang-orang itu benar-benar telah mati semua, lalu siapakah

yang dapat menceritakan kisah ini?”

“Betul hal ini memang tidak dapat dipercaya, tapi ada sesuatu yang tidak boleh

tidak harus membuat kau percaya,” kata Kiau-goat.

“Urusan apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Waktu tukang gembleng pedang itu terjun ke dalam tungkunya, saking gemas

dan murkanya dia telah bersumpah, dia mengutuk pedang ini bila berhasil

tergembleng, maka selanjutnya barang siapa yang melihat pedang ini pasti

juga akan mati di bawah pedang ini,” Kiau-goat menatap Siau-hi-ji dengan

tajam dingin, lalu menegaskan sekata demi sekata, “Hanya hal inilah, tidak

boleh tidak harus kau percayai.”

So Ing merinding mendengarkan cerita aneh itu, tanpa terasa ia berpaling ke

sana dan tidak berani lagi memandang senjata beralamat buruk itu.

Siau-hi-ji lantas bergelak tertawa, katanya, “Manusia hidup, akhirnya setiap

orang juga mesti mati. Kalau bisa mati di bawah senjata ajaib begini, rasanya

beruntung juga hidupku ini, apalagi, orang yang melihat pedang ini kan tidak

cuma diriku seorang saja?”

“Creng”, Bu-koat mendadak menarik kembali pedang hijau itu dan

dipersembahkan kembali ke hadapan Kiau-goat Kiongcu.

Gemerdep sinar mata Kiau-goat, ucapnya dengan hambar, “Boleh kau simpan

saja pedang ini.”

Berubahlah air muka Bu-koat, ia menunduk dan berkata, “Tecu ….”

Belum lanjut ucapan Bu-koat, dengan tertawa Siau-hi-ji berseru, “Hahaha, kau

berikan pedang ini padanya, apakah engkau menghendaki dia membunuh aku

dengan pedang ini? Tapi jangan kau lupakan, apabila kutukan tukang

gembleng pedang itu manjur, tentunya sudah sejak dulu-dulu kau sendiri mati

di bawah pedang ini.”

Tiba-tiba air muka Kiau-goat Kiongcu juga berubah pucat, sorot matanya

setajam sembilu beralih ke muka Hoa Bu-koat.

Tapi Lian-sing Kiongcu keburu menyeletuk, “Bu-koat, pergilah kau mencari

kembali Thi Sim-lan.”

Bu-koat seperti terkejut, serunya, “Dia ….” mendadak ia bungkam pula setelah

memandang Siau-hi-ji sejenak.

“Dia sudah pergi,” kata Kiau-goat. “Kukira belum jauh dia pergi, kau pasti dapat

menyusulnya.”

Dengan menunduk Bu-koat berkata, “Tapi Tecu … Tecu ….”

“Memangnya kenapa? Kau tidak tunduk lagi pada ucapanku?” bentak Lian-sing

Kiongcu dengan bengis.

Kembali Bu-koat memandang sekejap pada Siau-hi-ji dengan air muka yang

penuh rasa serba susah, namun dia tidak berani bicara lagi, akhirnya dia terus

lari keluar.

Siau-hi-ji seperti tidak memperhatikan kepergian Hoa Bu-koat, katanya

kemudian, “Waktu kalian masuk ke sini, apakah di liang tikus ini sudah tiada

seorang pun?”

Sampai saat ini perasaan Kiau-goat Kiongcu masih tertekan setiap mendengar

kata Siau-hi-ji. Maka Lian-sing Kiongcu lantas menjawab, “Ya, tiada seorang

pun.”

“Orang mati pun tidak ada?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, tidak ada,” tutur Lian-sing.

Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, katanya, “Lalu Gui Bu-geh bagaimana? Masakan

dia sudah kabur?”

Meski tidak bicara, tapi tanpa terasa terunjuk rasa kejut dan girang pada air

muka So Ing.

Siau-hi-ji mengerling sekitarnya, ucapnya kemudian kepada So Ing, “Dapatkah

kau memayang aku memeriksa keadaan sekeliling sini?”

Sudah tentu So Ing lakukan apa yang dikehendaki anak muda itu.

Sekalipun Gui Bu-geh adalah manusia yang paling rendah, paling kotor dan

paling pengecut di dunia ini, tapi cara bekerjanya ternyata tidak tanggungtanggung,

hampir seluruh perut bukit ini diterobos dan digalinya hingga

geronggang.

Kecuali gua induk yang menyerupai istana ini, sekelilingnya dibangun pula

kamar-kamar gua yang lebih kecil dan tak terhitung jumlahnya, kamar demi

kamar berderet-deret memenuhi perut bukit ini hingga mirip sarang tawon.

Setiap kamar gua itu ada pintu tembus, tapi pintunya tak dapat digembok, jelas

tujuannya agar anak muridnya yang tinggal di kamar-kamar gua ini bisa saling

mengawasi satu sama lain.

So Ing memayang Siau-hi-ji memeriksa kamar-kamar itu satu per satu, terlihat

setiap kamar itu ternyata sangat resik dan rajin, boleh dikatakan sangat

mentereng, bahkan setiap kamar ada sebuah ranjang yang sangat lunak,

ranjang berkasur karet busa barangkali kalau menurut jaman kini.

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, ucapnya, “Barangkali sudah dua-tiga tahun

aku tidak tidur di ranjang senikmat ini, sungguh tak tersangka kawanan tikus

kecil ini dapat menikmati kehidupan seenak ini.”

“Meski Gui … Gui Bu-geh sangat kejam terhadap anak muridnya, tapi kalau

anak muridnya patuh dan tidak melanggar peraturan, kehidupan sehari-harinya

memang sangat baik,” tutur So Ing.

“Hm tentu saja,” jengek Siau-hi-ji. “Jika mereka tidak diberi makan kenyang dan

tidur nyenyak, cara bagaimana datangnya tenaga mereka untuk bekerja keras

baginya.”

So Ing menunduk dan tidak bersuara lagi.

Selang sejenak, Siau-hi-ji berkata pula, “Sungguh aneh, penghuni di sini benarbenar

telah kabur semua tanpa tersisa satu pun, memangnya sebelumnya

mereka sudah tahu akan kedatangan si penyatron itu, lalu kabur lebih dulu?”

So Ing tak tahan, ia berkata pula, “Apakah kau kira yang datang ini benarbenar

Yan Lam-thian?”

“Kukira begitu,” ujar Siau-hi-ji.

Tiba-tiba So-Ing tertawa, katanya, “Tidak, kukira bukan.”

“O, apa dasarnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau sendiri yang bilang begitu,” jawab So Ing.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian dengan tertawa, “Bilakah pernah

kukatakan?”

“Meski di mulut kau tidak omong, tapi gerak-gerikmu seolah-olah sudah

memberitahukan hal ini kepada orang lain,” ujar So Ing dengan tersenyum,

“Kau tahu Yan-tayhiap tidak mungkin datang ke sini. Sayang Ih-hoa-kiongcu

yang berilmu silat maha tinggi itu ternyata tidak paham seluk-beluk kehidupan

insani, sebab itulah meski gerak-gerikmu sudah jelas kelihatan, namun mereka

tidak dapat melihatnya sedikit pun.”

Siau-hi-ji terbelalak memandangi si nona dan tak dapat bersuara pula.

“Bukan saja kau tahu Yan-tayhiap tidak nanti datang ke sini, bahkan Hoakongcu

juga pasti tahu, tapi dia telah merahasiakan hal ini bagimu. Nah, betul

tidak uraianku?”

Siau-hi-ji menghela napas panjang-panjang, katanya “Orang lain sama bilang

aku ini setan cilik mahacerdik, kukira poyokan ini harus kupersembahkan

kepadamu.”

So Ing tersenyum, katanya, “Tapi aku pun ingin tahu, jika penyatron ini bukan

Yan-tayhiap, lalu siapa gerangannya? Setahuku, kecuali Yan-tayhiap, di dunia

Kangouw ini tiada orang lain yang memiliki tenaga sehebat ini.”

“Aku pun ingin tahu, tapi betapa pun hal ini bukan persoalan yang paling pelik

dan paling sukar kupecahkan.”

“Urusan apa yang paling pelik dan tak dapat kau pecahkan?”

“Coba jawab, tak peduli siapa penyatron ini, jika sudah jelas kedatangannya ini

hendak mencari perkara pada Gui Bu-geh, tentu sebelumnya takkan

diberitahukannya kepada Gui Bu-geh, betul tidak?”

“Betul, kedatangan orang ini tentunya dilakukan secara mendadak, makanya

orang-orang di hutan sana bisa mati di tangannya.”

“Akan tetapi kalau melihat keadaan di sini tampaknya sebelumnya Gui Bu-geh

sudah bersiap-siap untuk mengundurkan diri, malahan cara mundur mereka

sedemikian lancar dan tidak terburu-buru, buktinya satu barang berharga saja

tidak ada yang tertinggal di sini.”

“Kawanan tikus berboyongan, sudah tentu apa pun dibawanya,” ujar So Ing.

“Tapi mengapa tikus harus boyongan? Memangnya mereka sudah tahu pasti

akan kedatangan kucing? Seumpama kepandaian Gui Bu-geh memang sakti,

kan dia juga tidak mampu meramal apa yang belum terjadi?”

So Ing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Betul juga. Jika orang ini datang

mendadak, tentu Gui Bu-geh tak tahu sebelumnya, bila dia kabur dalam

keadaan tergesa-gesa, pasti juga mereka takkan lari sebersih ini.”

“Apalagi dia sudah tekun berlatih selama dua puluh tahun di sini serta telah

dibangunnya pesawat rahasia sebanyak ini, maksud tujuannya jelas ditujukan

untuk menghadapi Yan-tayhiap dan Ih-hoa-kiongcu.”

So Ing mengangguk, katanya, “Betul, dia memang berniat demikian.”

“Sebab itulah sekalipun dia tahu Yan-tayhiap dan Ih-hoa-kiongcu bakal datang

kemari, tentu juga dia takkan lari, kesempatan ini kan sudah ditunggunya

selama dua puluh tahun?”

“Ya, betul, dia memang bertekad akan menempur mereka untuk menentukan

unggul dan asor. Dia juga sering berkata padaku bahwa dia khawatir kalau Ihhoa-

kiongcu dan Yan-tayhiap tidak mau datang kemari. Bilamana mereka

datang, maka mereka pasti akan dikuburnya di sini.”

“Dan sekarang Gui Bu-geh sendiri justru kabur lebih dulu, apakah sebabnya?

Dapatkah kau pecahkan soal ini?”

“Aku tak dapat memecahkannya,” jawab So Ing dengan tersenyum getir.

“Selain ini, masih ada sesuatu yang tak dapat kupecahkan,” kata Siau-hi-ji.

“Oo, apa?” tanya So Ing.

“Tempo hari, waktu aku terluka parah, tiba-tiba Gui Bu-geh keluar dengan

tergesa-gesa untuk menyambut kedatangan seorang tamu agung, sekarang

baru kutahu bahwa tamu agung itu ialah Kang Piat-ho.”

“Ya, memang betul Kang Piat-ho adanya.”

“Meski Kang Piat-ho berjuluk Kang-lam-tayhiap, tapi gelar ‘Kang-lam-tayhiap’

ini mungkin tidak berharga sepeser pun bagi Gui Bu-geh.”

“Kulihat Kang-lam-tayhiap ini memang cuma bernama kosong belaka,” ujar So

Ing dengan tertawa.

“Tapi Gui Bu-geh bergegas-gegas menyambut kedatangannya begitu

menerima laporan, lalu apa sebabnya? Masakah dia dan Kang Piat-ho

memang sudah lama kenal baik?”

“Tampaknya memang sudah lama kenal, kalau tidak mustahil Kang Piat-ho

menemukan tempat kediamannya.”

“Makanya aku bertambah bingung. Kang Piat-ho baru beberapa tahun terakhir

menonjol di kalangan Kangouw, tapi Gui Bu-geh sudah dua puluhan tahun

tirakat di sini, lalu cara bagaimana mereka bisa saling kenal?” Setelah

menghela napas gegetun, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Kalau kedua

orang ini telah berkomplot, maka Gui Bu-geh akan mirip harimau bersayap,

seharusnya dia lebih-lebih tidak perlu pergi dari sini, tapi sekarang dia justru

angkat kaki. Maka menurut perkiraanku, di balik kejadian ini pasti ada tipu

muslihat tertentu, intrik apa memang masih tanda tanya, tapi bisa jadi keadaan

ini adalah perangkap yang sengaja mereka atur. Begitu masuk di sini segera

kurasakan gelagat tidak beres.”

“Apa yang tidak beres?” mendadak seorang menukas.

Suara ini timbul dari belakang mereka, tapi So Ing dan Siau-hi-ji tidak terkejut,

bahkan menoleh saja tidak. Sebab mereka tahu Ih-hoa-kiongcu pasti mengintil

di belakang mereka, mereka pun tahu dengan Ginkang Ih-hoa-kiongcu yang

mahatinggi itu tak mungkin mereka dapat mengawasinya.

Maka Siau-hi-ji menjawab, “Meski tiada bayangan seorang pun di tempat ini,

namun aku merasakan adanya maut di mana-mana, rasanya kita sudah masuk

ke dalam kuburan dan sukar keluar lagi.”

“Hm, ini kan cuma pikiranmu sendiri yang sok curiga,” jengek Lian-sing

Kiongcu.

“Ya, mungkin aku sendiri yang besar curiga, tapi apa pun juga aku tidak ingin

tinggal lebih lama lagi di sini,” kata Siau-hi-ji. “Jika kalian tidak mau pergi

terpaksa aku harus mendahului pergi ….”

Belum habis ucapannya, mendadak seorang tertawa terkekeh-kekeh dan

berkata, “Hehehe, baru sekarang kau mau pergi mungkin sudah rada kasip.”

Meski hidup Siau-hi-ji ini belum lebih dua puluh tahun, tapi berbagai macam

suara tertawa sudah banyak didengarnya, di antaranya ada suara tertawa

nyaring seperti bunyi genta dan menggetar sukma, ada suara tertawa yang

mengerus bagai kayu diparut serta ada suara tertawa yang mengilukan seperti

logam digosok.

Tapi betapa pun tak enaknya suara tertawa yang pernah didengarnya jika

dibandingkan suara tertawa sekarang ini pada hakikatnya suara tertawa yang

pernah didengarnya itu adalah seperti suara musik yang merdu. Hakikatnya tak

pernah terpikir olehnya bahwa dari tenggorokan seseorang bisa keluar suara

seburuk ini. Dan ia pun tahu di seluruh kolong langit ini hanya ada seorang

yang bersuara seburuk ini.

Ih-hoa-kiongcu dan So Ing juga sama terkesiap mendengar suara tertawa aneh

itu.

Tanpa tertahan Siau-hi-ji lantas berteriak, “He, Gui Bu-geh masih berada di

sini!”

Aneh juga, tampaknya semua penghuni gua ini sudah pergi seluruhnya,

mengapa Gui Bu-geh masih tinggal di sini?

Terdengar orang itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Betul, aku memang

masih berada di sini, sudah cukup lama kutunggu kedatangan kalian.”

Secepat kilat Ih-hoa-kiongcu melayang ke arah datangnya suara tertawa itu.

Suara itu jelas berkumandang keluar dari kamar batu di sebelah.

Kamar ini pun ada sebuah ranjang yang bagus dengan alat perabot keperluan

sehari-hari, jelas tiada ubahnya seperti kamar yang lain, hanya sebuah kamar

tempat tinggal salah seorang murid Gui Bu-geh. Namun di tengah suara

tertawa yang menusuk telinga itu, tahu-tahu dinding di kamar ini dapat terbuka

secara ajaib, menyusul sebuah kereta kecil mungil beroda dua meluncur keluar

dari balik dinding sana.

Kereta atau kursi beroda dua ini terbuat dari sejenis logam yang mengkilat,

tampaknya sangat ringan dan gesit, di atas kereta duduk seorang kerdil yang

menyerupai anak kecil.

Kalau dipandang sepintas lalu takkan merasakan sesuatu yang menakutkan

atas diri si kerdil ini, ia serupa dengan orang kerdil umumnya, suka pamer,

pakaiannya sangat mewah, warnanya sangat mencolok mirip baju pengantin

anak perempuan yang akan menghadiri upacara nikah.

Tapi jika dipandang lebih lama sejenak, seketika orang akan merasa merinding

dan menggigil serta berharap semoga selanjutnya jangan lagi-lagi melihat

orang macam begini.

Dia duduk bersila di atas keretanya sehingga kedua kakinya sama sekali tidak

kelihatan.

Matanya tampak jelilatan, suatu tanda orang ini pasti sangat licik dan licin dan

juga kejam, warna matanya rada buram seperti orang yang putus asa, tapi

terkadang justru memancarkan sinar mata yang nakal dan kekanak-kanakan

seperti bocah yang bengal.

Mukanya rada peyot, bengis dan beringas, tampaknya mirip seekor serigala

kelaparan yang sedang menunggu mangsanya yang hendak disergapnya.

Namun ujung mulutnya terkadang juga bersembul secercah senyum yang

manis.

Apa yang dikatakan Siau-hi-ji memang tidak salah, orang ini sesungguhnya

adalah adukan dari racun dengan madu, sudah jelas diketahui dia akan

membunuhmu, tapi mau tak mau akan timbul juga rasa kasihanmu kepadanya.

Begitu melihat dia, serentak Ih-hoa-kongcu menahan gerak melayangnya tadi,

mereka tidak berani mendekat lagi, mirip seorang yang mendadak melihat

seekor ular berbisa mengadang di tengah jalan.

Gui Bu-geh tersenyum kepada mereka, ucapnya, “Sudah belasan tahun tidak

berjumpa, tak tersangka kalian masih tetap cantik molek seperti dulu. Seorang

perempuan kalau paham ilmu bersolek sungguh jauh lebih beruntung daripada

memiliki harta benda yang berlimpah-limpah.”

“Hm, tak terduga kau masih berani menemui aku,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Mengapa aku tidak berani? “ jawab Gui Bu-geh dengan tertawa. “Rasanya

kalian toh takkan membunuhku?”

Siau-hi-ji baru saja masuk, segera ia menanggapi dengan suara kasar,

“Berdasarkan apa kau anggap mereka takkan membunuh kau?”

“Sebab kutahu peraturan Ih-hoa-kiong,” jawab Gui Bu-geh dengan tenang.

“Aku sudah pernah lolos satu kali dari tangan mereka, asalkan aku tidak

bersalah lagi pada mereka, maka mereka pasti takkan turun tangan lagi

padaku.”

“Masa Ih-hoa-kiong ada peraturan berengsek begini?” tanya Siau-hi-ji sambil

berpaling kepada Kiau-goat Kiongcu.

“Ya, memang ada,” jawab Kiau-goat.

Siau-hi-ji menghela napas, mendadak ia berseru pula, “Tapi kau kan

senantiasa ingin mencari mereka untuk menuntut balas? Seumpama mereka

tidak turun tangan padamu kan seharusnya kau yang turun tangan pada

mereka, betul tidak?”

“Tidak,” jawab Gui Bu-geh.

Siau-hi-ji melengak, katanya, “Masa kau tidak ingin menuntut balas lagi?”

“Sakit hati, dengan sendirinya akan kutuntut balas,” ucap Gui Bu-geh dengan

tertawa. “Tapi biarpun aku ingin menuntut balas kan juga tidak perlu mencari

perkara pada mereka.”

“Hahaha, omongan apa ini? Hakikatnya seperti kentut belaka!” seru Siau-hi-ji

dengan tergelak.

Gui Bu-geh tidak marah, dengan tenang ia berucap pula, “Apa yang kau

katakan tadi memang tidak salah, di sini memang betul sebuah kuburan, maka

kalian jangan harap lagi akan dapat keluar dari sini.”

“Apa katamu?” Kiau-goat Kiongcu menegas dengan air muka berubah pucat.

“Di sinilah pusat daripada pengemudi seluruh pesawat rahasia yang tersebar di

istana bawah tanah ini, sekarang semua jalan keluarnya sudah kututup,

jangankan manusia, lalat juga tidak mampu terbang keluar lagi.”

Tentu saja Siau-hi-ji terkejut, segera ia hendak memburu keluar untuk

memeriksanya, tapi mendadak ia berhenti pula, sebab ia tahu apabila Gui Bugeh

sudah berkata demikian, maka pasti tidak berdusta.

Berputar biji matanya, dengan tertawa ia menukas, “Jadi semua jalan

keluarnya telah kau bikin buntu?”

“Ya,” jawab Gui Bu-geh.

“Lalu, masakan kau sendiri juga tidak ingin keluar lagi?”

“Memang, aku memang tidak ingin keluar lagi.”

“Hahaha, siapa yang mau percaya pada ucapanmu ini” ujar Siau-hi-ji dengan

bergelak tertawa. “Seumpama kau berniat mengubur hidup-hidup mereka di

sini, kan dapat kau suruh anak buahmu menggerakkan perangkapnya,

mengapa kau sendiri mesti ikut terkubur di sini?”

“Soalnya aku ingin menyaksikan sendiri kematian mereka,” kata Gui Bu-geh

dengan hambar. “Aku ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri

penderitaan mereka pada detik-detik terakhir menjelang ajal. Ingin kutahu

keadaan mereka pada saat mereka sudah kelaparan dan ketakutan, ingin

kulihat apakah mereka masih tahan pada sikap mereka yang sok gadis suci

ini.”

“Gila, betul-betul orang gila, orang gila tulen,” desis Siau-hi-ji setelah

melenggong sejenak.

Gui Bu-geh terkekeh-kekeh, katanya dengan tcrtawa, “Cuma sayang, kalian

orang waras ini bakal mati di tangan orang gila macamku ini.”

Siau-hi-ji memandang Ih-hoa-kiongcu sekejap, dilihatnya kedua kakak beradik

itu seperti mendadak berubah menjadi patung, sama sekali tidak bergerak.

Mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Haha, kukira kau takkan sempat

menyaksikan kematian kami, sebab kau pasti akan mati lebih dulu daripada

kami.”

“Aku pasti tidak akan mati lebih dulu, sebab tubuhku jauh lebih kecil daripada

kalian, segala kebutuhanku untuk hidup jelas jauh lebih sedikit dibandingkan

kebutuhan kalian, pada saat kalian mati kelaparan dan kehausan tentu aku

masih dalam keadaan hidup segar bugar.”

“Caramu bertindak begini, tentu disebabkan kau menyadari dirimu bukan

tandingan mereka, kalau tidak kan dapat kau bunuh mereka dengan senjata

tajam, dengan kepandaian sejati, kau sendiri kan tidak perlu ikut terkubur di

sini, betul tidak?”

“Ya, betul juga,” jawab Gui Bu-geh dengan menghela napas menyesal.

“Selama dua puluh tahun kukira ilmu silatku sudah maju pesat dan cukup kuat

untuk membinasakan mereka. Tapi setelah aku bertemu dengan Kang Piat-ho

baru kutahu perhitunganku telah meleset.”

Siau-hi-ji melenggong, tanyanya kemudian, “Mengapa baru kau sadari akan

kekeliruan perhitunganmu setelah kau bertemu dengan Kang Piat-ho?”

“Dua puluh tahun yang lalu, ilmu silat Kang Piat-ho pada hakikatnya tidak

termasuk hitungan,” demikian tutur Gui Bu-geh. “Tapi sekarang Kang Piat-ho

sudah tergolong tokoh kelas satu di dunia Kangouw. Selama dua puluh tahun

ini ilmu silat Kang Piat-ho saja sudah maju sebanyak ini, apalagi Ih-hoakiongcu.

Jika ilmu silatku dan Ih-hoa-kiongcu mengalami kemajuan yang sama,

maka sekalipun kubelajar lagi dua puluh tahun Juga tetap tak dapat

mengalahkan mereka, apa pula mereka kakak beradik, sedangkan aku cuma

sebatang kara.”

Ia tertawa, lalu menyambung pula, “Sebab itulah, setelah kupikir pergi datang,

terpaksa kulaksanakan caraku sekarang ini.”

“Jika demikian, kalau sekarang mereka mau membunuhmu kan juga tetap

sangat sederhana dan kau ….”

“Kan sudah kukatakan tadi,” sela Gui Bu-geh, “Mereka pasti tidak akan

membunuhku, sebab aku tidak berbuat salah kepada mereka.”

“Kau berniat mengubur mereka di sini, masa bukan kesalahan?” ujar Siau-hi-ji

tertawa.

“Tempat ini rumahku bukan?”

“Ehm, betul,” jawab Siau-hi-ji.

“Nah, aku kan tidak mengundang mereka ke sini dan juga tidak memaksa

mereka kemari. Sekarang aku hanya menutup rapat seluruh pintu rumahku

sendiri, masa hal ini kau anggap aku berbuat salah pada mereka?”

“Tapi kalau mereka menghendaki kau buka pintu dan kau menolak berarti kau

menyalahi mereka.”

“Hm, pintu-pintu yang terdapat di sini terdiri dari batu-batu raksasa, kini

semuanya sudah kusumbat, bahkan aku sendiri pun tidak sanggup

membukanya lagi.”

Seketika Siau-hi-ji juga melenggong seperti patung dan tidak sanggup bicara

lagi.

Gui Bu-geh lantas berkata pula, “Apalagi, biarpun kalian mengetahui semua

pintu di sini sudah buntu, kalian toh menaruh secercah harapan dan diriku

inilah satu-satunya sasaran curahan harapan kalian. Sebab itulah kuyakin

kalian pasti tidak berani membunuh diriku.” Tiba-tiba ia tertawa dan

menyambung, “Anak Ing, mengapa kau sembunyi di luar dan tidak berani

masuk kemari?”

Dengan menunduk So Ing terpaksa melangkah masuk, mukanya pucat pasi.

Gui Bu-geh menatapnya lekat-lekat, lalu ia pandang pula Ih-hoa-kiongcu,

katanya kemudian terhadap So Ing, “Anak Ing, selama ini aku sangat baik

padamu, tahukah apa sebabnya?”

“Ti … tidak tahu,” jawab So Ing menunduk.

“Coba kau pandang kedua Kiongcu ini, lalu kau bercermin akan wajahmu

sendiri dan segera kau akan tahu apa sebabnya,” kata Gui Bu-geh dengan

tertawa.

Tergerak hati Siau-hi-ji, baru sekarang diperhatikannya bahwa wajah So Ing

memang rada mirip dengan Ih-hoa-kiongcu. Mereka sama-sama perempuan

cantik yang tiada taranya, maka mereka pun sama pucatnya, sikapnya juga

sama dinginnya, tampaknya seperti ibu dan anak atau saudara sekandung.

Entah kejut entah girang hati So Ing, tiba-tiba ia bertanya, “Jadi engkau berbaik

padaku lantaran wajahku sangat menyerupai mereka?”

“Betul,” jawab Bu-geh. “Kalau tidak, di dunia ini tidak sedikit anak perempuan

yatim piatu yang lain, mengapa aku cuma penujui dirimu dan membawamu

pulang ke sini? Selama ini aku sangat sayang dan memanjakan dirimu justru

lantaran kuingin memupuk keangkuhanmu, supaya kau bersikap dingin

terhadap siapa pun, kubiarkan kau tinggal sendirian di sana justru lantaran

kuingin kau terbiasa dengan watak yang menyendiri ….”

“Jadi engkau telah berdaya upaya dengan segenap tenaga hanya ingin aku

berubah menjadi angkuh dan dingin seperti mereka?” tanya So Ing.

“Betul,” jawab Bu-geh.

So Ing melenggong sejenak, ia pandang Gui Bu-geh, lalu pandang pula Ih-hoakiongcu,

katanya tiba-tiba, “Apakah engkau orang tua juga ….”

“Tutup mulutmu!” bentak Lian-sing Kiongcu mendadak.

Meski So Ing tidak berani melanjutkan lagi ucapannya, tapi dalam hati sudah

paham duduknya perkara.

Dengan berkeplok tertawa-Siau-hi-ji lantas berseru, “Hahaha, baru sekarang

kutahu, kiranya permata hatimu ialah Ih-hoa-kiongcu, tapi lantaran kau tidak

berhasil mempersunting mereka, dari cinta berubah menjadi benci, makanya

kau dendam kesumat terhadap mereka.”

Bahwasanya Gui Bu-geh adalah orang kontet yang paling cerdik di dunia ini

dan jatuh cinta terhadap perempuan yang paling cantik paling anggun di dunia

ini. Peristiwa ini sungguh sukar dibayangkan siapa pun juga dan terasa sangat

lucu.

Makin dipikir makin geli Siau-hi-ji, ia tertawa terpingkal-pingkal hingga perut

terasa mules.

Tapi dengan serius Gui Bu-geh lantas berkata pula dengan tenang, “Dua puluh

tahun yang lalu aku menempuh perjalanan khusus ke Ih-hoa-kiong untuk

meminang mereka ….”

“Kau … kau melamar mereka?” Siau-hi-ji menegas dengan tertawa terengahengah.

Dengan sungguh-sungguh Gui Bu-geh menjawab, “Ya, inilah perpaduan antara

kecerdasan dan kecantikan, perjodohan yang paling cocok dan paling hikmat,

memangnya apa yang kau tertawakan?”

“Ya, ya, memang perjodohan yang sangat sesuai, dan paling serasi,” kata

Siau-hi-ji. “Tapi mereka tidak menerima lamaranmu, sebaliknya malah hendak

membunuhmu, mulai dari sinilah terjadinya permusuhan kalian, begitu bukan?”

Gui Bu-geh menghela napas, meski tidak bicara, tapi diam berarti

membenarkannya.

Waktu Siau-hi-ji memandang Ih-hoa-kiongcu, kedua kakak beradik itu tampak

rada gemetar saking gusarnya. Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula, “Kalian

dilamar oleh seorang pahlawan besar, seorang ksatria sejati, seharusnya

kalian merasa bangga dan bahagia, mengapa kalian tidak menerimanya?

Sungguh aku ikut merasa sayang.”

Dengan tergelak Gui Bu-geh berkata, “Tidak perlu kau memancing kemarahan

mereka agar turun tangan padaku, sekalipun mereka membunuhku juga tiada

faedahnya baginya. Kalau kau ini orang pintar, mestinya kau bujuk mereka

supaya jangan membunuhku, nanti kalau aku sudah kelaparan dan tidak tahan,

bisa jadi akan kupikirkan suatu akal baik untuk membuka pintu keluar yang

sekarang sudah buntu ini.”

Siau-hi-ji menatapnya sejenak, katanya kemudian, “Betul juga, kau memang

tidak boleh mati sekarang, masih banyak persoalan yang hendak kutanya

padamu.”

“Pertanyaan yang pertama tentu mengenai siapakah gerangan yang datang

kemari, siapa dia yang mampu membelah kursi kemala hijau itu dengan sekali

bacokan, betul tidak?”

“Tidak,” jawab Siau-hi-ji. “Soal ini tidak perlu lagi kutanya padamu, sebab

sekarang aku sudah paham duduk perkaranya.”

“O, kau sudah paham?” Gui Bu-geh merasa heran. “Memangnya siapa

gerangannya yang datang ini?”

“Tidak ada siapa-siapa yang datang ke sini,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Siapa pun tiada yang datang? Hahahaha! Memangnya aku sendiri, yang

meninggalkan bekas kaki di lorong sana?”

“Bekas kaki di lantai lorong itu adalah ukiranmu sendiri, makanya bisa begitu

rajin dan rata.”

Sinar mata Gui Bu-geh gemerdep, katanya, “Lantas siapa pula yang

membunuh orang-orang di hutan sana?”

“Dengan sendirinya juga kau sendiri,” jawab Siau-hi-ji. “Kau menampar

mereka, tentu saja mereka tidak berani menangkis dan berkelit, kau suruh

mereka gantung diri, mana mereka berani terjun ke sungai.”

“Tapi jangan lupa, mereka itu adalah muridku,” kata Gui Bu-geh.

“Memangnya kenapa kalau mereka itu muridmu? Hakikatnya kau tidak pernah

menganggap anak muridmu sebagai manusia.”

“Jika demikian, jadi kursi batu kemala hijau itu pun aku sendiri yang

membelahnya?”

“Ya, dengan sendirinya kau pula yang membelahnya.”

“Masa aku mempunyai kepandaian setinggi itu?”

“Karena batu kemala hijau itu sangat keras melebihi baja, untuk bisa

mengukirnya menjadi sebuah kursi tentu diperlukan pedang pusaka yang dapat

memotong besi seperti mengiris tahu.”

“Betul,” kata Gui Bu-geh.

“Dan kalau batu hijau itu dapat kau jadikan kursi, tentu padamu terdapat

sebilah pedang pusaka yang mahatajam.”

“Ehm,” Gui Bu-geh bersuara singkat.

“Dan kalau pedangmu dapat membuat batu kemala hijau itu menjadi kursi tentu

pula kau dapat membelahnya menjadi dua … kan cukup sederhana teori ini?”

Gui Bu-geh menghela napas gegetun, ucapnya, “Ya, benar, memang cukup

jelas teori ini.”

“Setelah kau bunuh anak muridmu di hutan sana, lalu kau mengukir bekas

telapak kaki di lantai lorong untuk memancing kami masuk ke sini.”

“Ya, ini pun beralasan,” kata Gui Bu-geh.

“Tapi kau pun khawatir bilamana kami sudah masuk kemari dan tiada melihat

seorang pun di sini, bisa jadi kami akan terus keluar lagi. Maka kau lantas

membelah kursi batu itu menjadi dua agar kami menjadi sangsi, pula ….” dia

berhenti sejenak, lalu menyambung, “Karena pintu-pintu di sini semuanya

terbuat dari batu-batu raksasa, untuk menutupnya hingga buntu seluruhnya

tentu juga memakan waktu dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat

….”

“Maka aku harus memancing perhatian kalian kepada kursi kemala itu, dengan

demikian barulah ada waktu bagiku untuk menyumbat semua jalan keluarnya,

betul tidak?” demikian sambung Gui Bu-geh.

“Ya, memang begitulah,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Mendadak Gui Bu-geh tertawa terpingkal-pingkal hingga hampir saja terguling

dari keretanya.

Siau-hi-ji jadi mendelik, katanya, “Apa yang kau tertawakan? Memangnya tidak

betul tebakanku?”

“Betul, betul sekali, sesungguhnya kau ini orang pintar nomor satu di dunia,”

seru Gui Bu-geh sambil tertawa.

“Untuk predikat ini memang tak pernah aku menolaknya,” ucap Siau-hi-ji

dengan tertawa.

“Cuma aku pun ingin tanya beberapa hal padamu,” kata Gui Bu-geh pula.

“O, apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau sudah pernah datang ke tempatku ini, tentunya kau tahu di sini banyak

terdapat benda-benda berharga, tapi mengapa sekarang satu biji saja tidak

ada lagi?”

Melengak juga Siau-hi-ji, jawabnya kemudian, “Sudah tentu barang-barang itu

telah … telah kau singkirkan bersama anak muridmu.”

“Mengapa harus kusuruh mereka menyingkirkan harta benda itu? Kalau aku

sudah bertekad akan mati di sini, mengapa harta pusaka itu tidak ikut terkubur

saja bersamaku, tapi malah kuberikan pada orang lain. Jika selamanya aku

tidak pandang anak muridku sebagai manusia, untuk apa aku memberikan

rezeki nomplok kepada mereka …. Nah, dapatkah kau memahami sebab

musabab persoalan ini?”

Sekonyong-konyong berbinar mata Siau-hi-ji, ucapnya, “Tentu disebabkan kau

ingin keluar lagi setelah menyaksikan kematian kami.”

“Jika begitu tujuanku, tentu lebih-lebih tidak mungkin kusingkirkan harta

bendaku, sebab kalau kalian toh pasti akan mati seluruhnya di sini, kenapa aku

mesti khawatir harta pusakaku itu akan direbut oleh kalian.”

Siau-hi-ji jadi melenggong benar-benar.

“Katanya kau ini orang pintar nomor satu di dunia, kenapa teori ini tidak dapat

kau pecahkan?”

“Sebab kau ini orang gila, jalan pikiran orang gila selamanya menyimpang

daripada pikiran orang sehat.”

“Jika benar aku ini orang gila, tentu seluruh anak muridku telah kubunuh agar

terkubur berkamaku di sini, masa hal ini tak pernah kau pikirkan?”

Kembali Siau-hi-ji melenggong, ucapnya kemudian, “Jika demikian, jadi

tempatmu ini benar-benar telah kedatangan seorang tokoh Bu-lim mahatinggi?”

“Lantaran kau tidak percaya, aku menjadi malas untuk menjelaskan,” ucap Gui

Bu-geh dengan tertawa.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya, “Dan kalau aku percaya?”

“Maka dapat kuberitahukan padamu bahwa tempat ini memang telah

kedatangan seorang tokoh besar, hal ini terjadi sebelum magrib kemarin.”

“Siapakah gerangannya?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau kenal orang ini.”

“Dari mana kau tahu kukenal dia?”

“Sebab dia pernah menanyakan dirimu.”

Berubah air muka Siau-hi-ji, tapi mendadak ia bergelak tertawa dan berkata,

“Hahaha, apakah kau ingin memberitahukan padaku bahwa pendatang ini ialah

Yan Lam-thian?”

Dengan pandangan tajam Gui Bu-geh menjawab sekata demi sekata,

“Memang betul, pendatang ini ialah Yan Lam-thian!”

Siau-hi-ji tercengang hingga lama, tiba-tiba ia tertawa pula dan berkata,

“Hahaha, jika kau bilang orang lain mungkin aku akan percaya, tapi Yan Lamthian

….”

“Masa kau tidak percaya jika kubilang dia memang benar Yan Lam-thian

adanya?”

“Ya, sebab kalau benar Yan Lam-thian telah datang kemari, mustahil kau

masih bisa hidup sampai sekarang untuk mencelakai orang lain.”

“Hm, memangnya kau kira ilmu silatnya lebih tinggi daripadaku?” jengek Gui

Bu-geh.

“Jika ilmu silatnya tidak melebihimu, bukankah sudah dulu-dulu dia telah kau

bunuh?”

“Hm, dari mana kau tahu aku tidak pernah membunuhnya?” jengek Gui Bugeh.

Kembali air muka Siau-hi-ji berubah, tapi segera ia tenang lagi dan berkata,

“Bila benar dia pernah datang kemari, tentu bekas kaki di lorong sana adalah

tinggalannya, kursi batu kemala ini pun terbelah oleh pedang saktinya. Melulu

daya bacokannya yang mahasakti ini sudah cukup mengguncang bumi dan

menggetar langit, kalau cuma kepandaianmu saja kukira sukar mengganggu

seujung rambutnya …. Betapa pun aku cukup kenal kepandaianmu.”

Gui Bu-geh termenung sejenak, ia menghela napas panjang, lalu berkata,

“Memang betul juga, melulu daya bacokan pedangnya itu sudah cukup

membinasakan setiap tokoh persilatan di dunia ini, sesungguhnya aku

memang bukan tandingannya.”

“Asal kau tahu saja,” ujar Siau-hi-ji. “Jika dia benar-benar pernah datang

kemari, mustahil kau tidak dibunuhnya?”

“Dengan sendirinya karena ada pertukaran syarat antara kami,” tutur Gui Bugeh

perlahan.

“Syarat apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kujanji akan menyerahkan seorang padanya dan dia berjanji takkan

mengganggu jiwaku.”

“Kau berjanji akan menyerahkan siapa padanya?” desak Siau-hi-ji.

“Kang Piat-ho,” jawab Bu-geh.

Siau-hi-ji terkejut, serunya, “Apa katamu? Kang Piat-ho? Masa Yan-tayhiap

mau mengampuni jiwa kau demi Kang Piat-ho.”

“Memang betul begitu,” kata Bu-geh.

“Untuk apa dia menolong Kang Piat-ho?”

“Dia bukan menolong Kang Piat-ho melainkan ingin membunuhnya.”

Siau-hi-ji terkesiap pula, ucapnya, “Ada permusuhan apa antara dia dengan

Kang Piat-ho?”

Gui Bu-geh terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan tenang, “Tahukah kau

siapa sebenarnya Kang Piat-ho?”

“Memangnya siapa?”

“Dia tak lain dan tak bukan ialah kacung ayahmu yang bernama Kang Khim,

sejak kecil ia dibesarkan di rumah ayahmu, resminya dia adalah kacung dan

majikan dengan ayahmu, tapi sebenarnya tiada ubahnya seperti saudara.”

Siau-hi-ji melongo terkejut dan tidak sanggup bersuara.

Maka Gui Bu-geh bertutur pula, “Waktu itu ayahmu Kang Hong terkenal

sebagai lelaki paling cakap di dunia dan bersaudara sehidup-semati dengan

Yan Lam-thian yang berjuluk pendekar pedang nomor satu di dunia.”

“Jika Kang Khim tidak ubahnya seperti saudara dengan ayahku, mengapa Yantayhiap

ingin membunuhnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab orang ini telah membalas kebaikan dengan kejahatan, akhirnya

ayahmu malah dijualnya.”

“Cara … cara bagaimana dia menjual ayah?” seru Siau-hi-ji.

“Kang Hong tidak saja lelaki cakap yang jarang ada di dunia ini, bahkan juga

hartawan yang sukar ada bandingnya,” tutur Gui Bu-geh. “Sudah lama

kawanan bandit mengincarnya, soalnya cuma mereka segan terhadap Yan

Lam-thian, maka sebegitu jauh belum ada yang berani turun tangan. Siapa

tahu, suatu ketika Kang Hong telah keblinger, dia tergila-gila kepada seorang

murid Ih-hoa-kiong atau lebih tepat dikatakan babu Ih-hoa-kiongcu, diam-diam

mereka minggat bersama. Nah, babu itulah ibu kandungmu.”

Siau-hi-ji menjadi gusar, dampratnya, “Kata-kata yang kau gunakan hendaknya

tahu sopan sedikit.”

Gui Bu-geh menyeringai, dengan tenang ia menyambung pula, “Meski kedua

orang itu saling mencintai hingga lupa daratan, tapi mereka pun tahu Ih-hoakiongcu

pasti tidak akan melepaskan mereka, maka begitu mereka kabur,

segera Kang Hong membereskan harta bendanya, ada yang disumbangkan

dan ada yang dijual. Ia sendiri hanya membawa ringkasan seperlunya saja dan

siap untuk kabur dan mengasingkan diri.”

“Tak tersangka ayahku rela berkorban segalanya bagi ibuku, sungguh aku

sangat kagum padanya,” seru Siau-hi-ji.

“Jika dia cuma mau berkorban segalanya tentu takkan ada persoalan lagi,”

jengek Gui Bu-geh. “Cuma sayang, dia sudah biasa hidup enak dan mewah,

dia masih takut hidup miskin di kemudian hari, maka barang-barang yang

dibawanya lari tetap bernilai cukup lumayan.”

“Makanya kawanan bangsat seperti kalian ini lantas merah matanya,” damprat

Siau-hi-ji dengan gusar.

“Sebenarnya kejadian ini sangat dirahasiakan dan tak diketahui siapa pun juga,

sayang seribu sayang, dia justru memberitahukan rahasianya kepada si Kang

Khim ini.”

“Masa bangsat itu mengkhianati ayahku hanya karena mengincar harta benda

ayahku?” tanya Siau-hi-ji dengan parau.

“Betul,” jawab Bu-geh. “Menurut rencana Kang Hong, lebih dulu Kang Khim

disuruh memapak Yan Lam-thian, dia sendiri lalu membawa ibumu menyusuri

suatu jalan lama yang tak pernah diinjak manusia lagi untuk bergabung dengan

Yan Lam-thian. Rencana ini sebenarnya juga sangat rahasia, cuma sayang,

sebelum Kang Khim mencari Yan Lam-thian, lebih dulu ia mendatangi Cap-jishe-

shio kami.”

“Pantas kau kenal Kang Piat-ho, kiranya sudah lama kalian main kongkalikong

dan sekomplotan,” damprat Siau-hi-ji dengan gemas.

“Meski aku mengetahui peristiwa ini, tapi aku sendiri tidak ikut turun tangan,

sebab biarpun begitu toh mereka pasti akan memberi bagian padaku, apalagi

waktu itu aku sendiri mempunyai urusan lain.”

“Habis siapa yang turun tangan?” tanya Siau-hi-ji.

“Kukira kau pun tidak perlu tanya sejelas ini, pokoknya yang ikut turun tangan

itu sudah lama mati semua.”

“Apakah Yan-tayhiap yang membunuh mereka?”

“Kukira begitu,” jawab Bu-geh sambil menghela napas.

“Hm, mereka sudah kenal kelihaian Yan-tayhiap, mengapa berani juga turun

tangan?” jengek Siau-hi-ji.

“Mestinya mereka hendak mengalihkan perbuatan mereka itu bagi Ih-hoakiongcu

agar Yan Lam-thian menyangka Ih-hoa-kiongcu yang membunuh

saudara angkatnya, ditambah lagi daftar inventaris ayahmu yang dibawa Kang

Khim itu cukup menarik, betapa pun Cap-ji-she-shio tidak mau sia-siakan bisnis

besar ini.”

“Tapi Kang Khim kan juga tahu bagaimana kualitas orang-orang macam Cap-jishe-

shio kalian, kalau barang sudah jatuh di tangan kalian, mana dia bisa

menarik keuntungan lagi?”

“Dia ternyata tidak terlalu tamak, dia cuma menghendaki dua bagian saja. Ia

pun tahu Cap-ji-she-shio paling adil dalam hal membagi rezeki, bilamana kami

sudah berjanji akan memberikan bagiannya, maka pasti akan kami tepati.”

Dengan gusar Siau-hi-ji berteriak, “Hanya dua bagian dari harta sekian ini dia

melakukan perbuatan terkutuk ini? Jika rahasia pribadi ayahku tanpa ragu

diberitahukan padanya, tentu ayah telah memandang dia seperti saudara

sekandung, masa beliau takkan membagi dua bagian kekayaannya

kepadanya?”

“Meski ayahmu memandangnya seperti saudara sendiri, tapi di mata orang lain

dia tetap seorang kacung, seorang budak keluarga Kang. Jika ayahmu tidak

mati, selama hidupnya jangan harap bisa menonjol ke atas,” Bu-geh

tersenyum, lalu melanjutkan, “Meski orang ini tidak terlalu tamak, tapi

ambisinya cukup besar, cita-citanya setinggi langit dan ingin menjadi tokoh

terkemuka di dunia Kangouw, untuk ini mau tak mau dia harus membunuh dulu

ayahmu.”

Terasa dingin kaki dan tangan Siau-hi-ji, ia termenung sejenak, katanya

kemudian, “Tapi ayahku kemudian kan meninggal di tangan orang Cap-ji-sheshio?”

“Apa yang terjadi kemudian aku pun tidak jelas, aku hanya tahu waktu Yan

Lam-thian menyusul ke sana, sementara itu ayah-ibumu sudah mati, hanya

kau saja yang masih hidup.”

“Jadi aku ….”

“Waktu itu kau mungkin baru lahir, maka orang lain tidak tega membunuhmu,

walaupun demikian toh lukamu juga cukup parah, bekas luka di mukamu

mungkin bermula pada waktu itu.”

Sedapatnya Siau-hi-ji menahan rasa sedihnya, katanya, “Tak peduli ayah-ibuku

dibunuh oleh siapa, yang pasti hal ini adalah akibat perbuatan Kang Khim, jika

dia tidak mengkhianati ayahku, tentu orang-orang jahat itu takkan menyatroni

ayah, betul tidak?”

“Ya, memang begitu,” jawab Bu-geh.

“Jika demikian, mengapa Yan-tayhiap tidak membunuhnya?”

“Mungkin waktu itu Yan Lam-thian tidak tahu bahwa biang keladinya adalah

Kang Khim. Tatkala dia mengetahui hal ini, sementara itu Kang Khim sudah

mengeluyur pergi. Sejak itu di dunia Kangouw lantas tidak pernah terdengar

lagi kabar beritanya Kang Khim dan juga tiada terdengar cerita tentang Yan

Lam-thian, kemudian baru kudengar bahwa Yan Lam-thian sudah mati di Okjin-

kok,” setelah menghela napas, lalu Bu-geh melanjutnya dengan gegetun,

“Tak tahunya semua kabar itu ternyata cuma kentut belaka, bukan saja Yan

Lam-thian tidak mampus sebaliknya ilmu silatnya malah jauh tambah maju.

Sedangkan si Kang Khim juga lantas malih menjadi Kang-lam-tayhiap.”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Bisa jadi

lantaran ingin mencari Kang Khim, maka Yan-tayhiap pergi ke Ok-jin-kok.”

“Sangat mungkin begitu,” kata Bu-geh. “Setelah dia mencari Kang Khim kian

kemari dan tidak ditemukan, dengan sendirinya ia menduga Kang Khim telah

kabur ke Ok-jin-kok.” Dia merandek sejenak sambil berkerut kening, lalu

berkata pula, “Tapi setiba Yan Lam-thian di Ok-jin-kok, sesungguhnya apa

yang telah terjadi? Mengapa selama dua puluh tahun tiada kabar beritanya di

dunia Kangouw?”

Siau-hi-ji mengerling, tiba-tiba ia berseru, “Seluma dua puluh tahun ini, lantaran

Yan-tayhiap ingin meyakinkan semacam ilmu yang tiada tandingnya di kolong

langit ini, maka beliau telah mengasingkan diri dan bersumpah takkan keluar

dari Ok-jin-kok sebelum ilmu saktinya berhasil dicapainya.”

“Jika demikian, sekarang dia telah muncul, tentu ilmu saktinya telah berhasil

dilatihnya?”

“Sudah tentu,” ujar Siau-hi-ji. “Setahuku, bila ilmu saktinya sudah jadi, hm,

jangankan cuma Gui Bu-geh macammu, biarpun sepuluh Gui Bu-geh duga

tiada artinya lagi. Apabila ilmu Ih-hoa-ciap-giok dibandingkan dengan ilmu sakti

beliau ini pada hakikatnya mirip permainan anak kecil saja.”

Dia membual setinggi langit, padahal tiada satu pun yang benar.

Sungguh ia tidak habis mengerti mengapa mendadak Yan Lam-thian bisa

muncul? Apakah penyakitnya sudah sembuh? Mungkin telah terjadi keajaiban

yang mempercepat kesembuhannya atau ada seorang lagi mirip Loh Tiong-tat

yang telah meminjam nama kebesaran Yan Lam-thian? Siapakah dia

sebenarnya?

Meski dalam hati Siau-hi-ji merasa bimbang, tapi Gui Bu-geh jadi melenggong

oleh bualan Siau-hi-ji tadi, nyata dia percaya penuh terhadap apa yang

diuraikan anak muda itu.

Tapi sejenak kemudian, tiba-tiba Gui Bu-geh mengekek tawa.

“Apa yang kau tertawakan?” omel Siau-hi-ji dengan mendelik.

Gui Bu-geh terkekeh-kekeh, katanya, “Yang kutertawai ialah Yan Lam-thian.

Sungguh konyol dia, dengan susah payah dia berlatih selama dua puluh tahun

hingga jadilah ilmu saktinya ini, tapi akhirnya tiada gunanya sama sekali.”

“Mengapa tiada gunanya sama sekali?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab sekarang dia tiada mempunyai lawan lagi. Ih-hoa-kiongcu dan diriku

sudah jelas akan mati di sini, lalu apa gunanya ilmu sakti yang dilatih Yan Lamthian

itu?”

“Lantas bagaimana dirimu sendiri?” jengek Siau-hi-ji. “Kau pun bersusah payah

selama dua puluh tahun dan ingin meyakinkan sejurus ilmu sakti, lalu

bagaimana hasilnya? …. Huh, kau bergebrak dengan lawan saja tidak berani,

bukankah ini lebih memalukan?”

“Hehe, memang betul, memang memalukan,” jawab Gui Bu-geh dengan

tertawa. “Tapi aku toh akan mati, sedangkan Yan Lam-thian masih akan hidup

terus, ilmu sakti yang telah dilatihnya dengan susah payah itu akhirnya tidak

menemukan lawan seorang pun, inilah yang akan membuatnya konyol.”

Tiba-tiba So Ing bertanya, “Apakah Yan-tayhiap telah membunuh Kang Piatho?”

“Belum,” jawab Bu-geh.

“Mengapa Yan-tayhiap belum lagi membunuhnya?” tanya So Ing pula.

“Sebab dia hendak menahan Kang Piat-ho untuk Siau-hi-ji, ia ingin Siau-hi-ji

yang membalas sakit hatinya dengan tangan sendiri.”

“Tapi kalau dia tidak dapat menemukan Siau-hi-ji, lalu bagaimana?” tanya So

Ing.

“Sehari Siau-hi-ji tidak ditemukan olehnya, sehari pula nyawa Kang Piat-ho

akan tertunda, bila sepuluh tahun dia tidak menemukan Siau-hi-ji, maka

sepuluh tahun pula Kang Piat-ho akan hidup lebih lama.”

“Jika demikian, bukankah Kang Piat-ho akan … akan ….” Meski tidak

dilanjutkan ucapan So Ing Ini, tapi maksudnya sudah cukup jelas.

“Memang betul, selamanya Kang Piat-ho akan hidup terus, sebab selamanya

Yan Lam-thian takkan menemukan lagi Siau-hi-ji,” tukas Gui Bu-geh dengan

tertawa. “Meski ilmu silat Yan Lam-thian sepuluh kali lebih tinggi daripada Kang

Piat-ho, tapi dalam hal tipu muslihat dia tak dapat melawan Kang Piat-ho, ia

selalu membawa Kang Piat-ho ke mana pun pergi, itu sama halnya seorang

menuntun seekor harimau berkeliaran kian kemari, lambat atau cepat pada

suatu hari jiwanya pasti akan melayang di tangan Kang Piat-ho.”

Siau-hi-ji menjadi gusar, dampratnya, “Dia telah mengampuni jiwamu,

mengapa kau berbuat demikian padanya, apakah kau bisa dianggap sebagai

manusia lagi?”

Bu-geh menengadah dan tergelak-gelak, ucapnya kemudian dengan gemas,

“Meski dia tidak membunuhku, tapi dia telah mengusir seluruh anak muridku,

bahkan mereka membawa serta semua harta bendaku, tindakannya ini tiada

bedanya seperti membunuh aku.”

Baru sekarang Siau-hi-ji paham duduknya perkara, ia tertawa geli, katanya, “O,

mungkin dia tidak cuma mengusir anak muridmu, mungkin juga kawanan tikus

kesayanganmu itu pun dihalau lari semua, betul tidak?”

“Hm!” dengus Gui Bu-geh dengan menggereget.

“Kiranya kau merasa hidup ini tiada artinya makanya kau mengatur langkah

terakhir ini. Coba kalau sehari-hari kau bersikap lebih baik terhadap anak

muridmu itu, niscaya mereka takkan meninggalkanmu tatkala menghadapi

kesulitan.”

Mendadak Gui Bu-geh menyeringai, ucapnya, “Tapi sekarang kalian akan

mengiringi kematianku aku sangat gembira dan puas.”

“Kang Siau-hi-ji, kemari kau!” tiba-tiba Ih-hoa-kiongcu memanggilnya di

sebelah sana. Sebenarnya Siau-hi-ji seperti ogah ke sana, tapi setelah berpikir,

akhirnya ia melangkah ke sana, baru dua-tiga tindak, ia menoleh memandang

So Ing.

Tampaknya So Ing ingin tahu bagaimana reaksi Gui Bu-geh, tapi tiba-tiba ia

pun berubah pendirian, ia tersenyum manis terhadap Siau-hi-ji dan ikut

melangkah ke sana.

Sinar mata Gui Bu-geh memancarkan perasaan benci dan dendam mengikuti

bayangan muda-mudi itu, mendadak ia mendorong roda keretanya, sekarang

keretanya meluncur masuk ke balik dinding sana. Segera dinding itu merapat

kembali, halus dan rata tanpa meninggalkan suatu bekas apa pun.

Kedua Ih-hoa-kiongcu berdiri tegak di tengah-tengah ruangan itu, meski sikap

mereka tetap dingin dan angkuh, tapi tampaknya telah berubah sedemikian

kecilnya, menyendiri dan sangat memelas. Orang-orang yang pernah gemetar

bila mendengar nama mereka, bila sekarang melihat keadaan mereka tentu

takkan ketakutan lagi terhadap mereka.

Namun kedua Ih-hoa-kiongcu itu masih tetap berdiri tegak dan tidak mau

duduk. Mereka selamanya seolah-olah tidak pernah duduk.

Ketika Siau-hi-ji mendekati mereka, tiba-tiba ia pandang mereka dengan

tertawa, katanya, “Kalian masih berdiri saja di sini, sungguh terkadang timbul

pikiranku ingin tahu bagaimana bentuk kaki kalian.”

Terkesiap dan gusar pula Ih-hoa-kiongcu, wajah mereka yang pucat menjadi

rada merah.

Tapi Siau-hi-ji anggap tidak melihat, dengan tertawa ia menyambung lagi,

“Sering kupikir kaki kalian tentunya tidak dapat membengkok, aku jadi ingin

tahu jangan-tangan kaki kalian ini tanpa dengkul?”

Mendadak Kiau-goat Kiongcu berpaling ke sana, mungkin saking dongkolnya

menjadi khawatir kalau-kalau hatinya tidak tahan dan sekali hantam bisa

membinasakan anak muda itu.

Lian-sing juga memejamkan matanya, sejenak kemudian baru ia membuka

mata dan berkata dengan tenang, “Tadi kami sudah memeriksa sekeliling

ruangan gua ini.”

“O, apa yang kalian temukan?” tanya Siau-hi-ji.

“Segenap pintu keluar di sini memang betul sudah buntu,” tutur Lian-sing

Kiongcu.

“Tanpa memeriksa juga kutahu apa yang dikatakan Gui Bu-geh pasti bukan

gertakan belaka,” ujar Siau-hi-ji.

“Maka dari itu bila dalam sehari dua hari tak dapat keluar, andaikan tidak mati

kelaparan juga pasti akan mati sesak napas di sini,” ucap Lian-sing pula.

“Adakah kalian mendapatkan akal baik untuk keluar?” tanya Siau-hi-ji.

“Pintu keluarnya semua terbuat dari batu raksasa dan tidak mungkin dibuka

dengan tenaga manusia,” kata Lian-sing setelah berpikir sejenak. “Tapi kuyakin

Gui Bu-geh pasti tidak sudi membunuh diri di sini.”

“Maka kau anggap dia pasti mempunyai jalan lari yang terakhir, begitu?” tukas

Siau-hi-ji.

“Betul,” kata Lian-sing.

“Memangnya engkau menghendaki aku mencari jalan lolos ini?”

Lian-sing tidak menjawab, ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Kupikir, mungkin

kau mempunyai akal dan dapat memancing sesuatu pengakuan dari mulut Gui

Bu-geh.”

“Kau kira aku mempunyai kemampuan sebesar itu?”

“Kukira kau mampu, jika dia tidak mau mengaku, boleh kau bunuh dia.”

“Mengapa kalian tidak turun tangan sendiri saja?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebabnya kan sudah dijelaskan oleh Gui Bu-geh.”

“Dalam keadaan begini masa kalian masih bicara tentang peraturan busuk

begitu?”

“Sekali peraturan, tetap peraturan, mati pun tidak boleh berubah,” kata Liansing

Kiongcu dengan tegas.

“Ai, jarang juga ada orang berkukuh pendirian seperti kalian ini, padahal

seumpama kau ingin membunuh dia juga tidak dapat lagi, sekarang dia pasti

sudah bersembunyi di tempat aman.”

“Tapi kalau aku menyatakan tidak ikut campur, bila kau menantang dia pasti

dia akan keluar menghadapi kau,” Lian-sing pandang So Ing sekejap, lalu

menyambung pula, “Kutahu dia sangat benci padamu, setiap kesempatan

dapat membunuhmu pasti takkan disia-siakan olehnya.”

“Betul penglihatanmu,” ucap Siau-hi-ji. “Cuma sayang bilamana aku bergebrak

dengan dia, yang bakal mati bukanlah dia melainkan diriku.”

“Aku pun tahu ilmu silatmu saat ini memang bukan tandingannya, tapi asalkan

kuajari selama tiga jam maka dia pasti bukan lagi tandinganmu.”

“Oo, apa benar? Kau yakin? Rasanya aku tidak percaya!”

“Memangnya betapa hebat ilmu silat Ih-hoa-kiong dapat kau bayangkan?” ujar

Lian-sing dengan mendongkol.

Siau-hi-ji termenung sejenak, mendadak ia bergelak tertawa.

Lian-sing menjadi gusar, dampratnya, “Memangnya aku bergurau denganmu?”

“Sudah tentu kutahu engkau tidak bergurau, tapi bicara kian kemari, nyatanya

engkau melupakan sesuatu.”

“Sesuatu apa?” tanya Lian-sing.

“Untuk apa aku mesti membuang tenaga dan bersusah payah untuk

menggempur Gui Bu-geh?”

Melengak juga Lian-sing Kiongcu, ucapnya kemudian, “Masa kau tidak ingin

membunuh dia?”

“Tidak,” jawab Siau-hi-ji.

Kembali Lian-sing melengak, katanya, “Tapi kalau kau dapat merobohkan dia,

lalu mengancam akan membunuhnya, mungkin dia akan mengatakan jalan

keluar yang dirahasiakannya.”

“Tapi untuk apa pula harus kupaksa dia mengatakan jalan keluar?” ujar Siauhi-

ji dengan tertawa.

“Memangnya kau tidak … tidak ingin keluar?”

“Untuk apa keluar? Bukankah di sini sangat menyenangkan?”

Tidak kepalang dongkol Lian-sing Kiongcu, ia menahan rasa gusarnya hingga

muka pucat dan tidak sanggup bersuara pula.

“Aku kan sudah keracunan, cepat atau lambat pasti akan mati,” demikian ucap

Siau-hi-ji dengan tenang. “Sekalipun kalian dapat menawarkan racunku

akhirnya aku harus mati juga di tangan Hoa Bu-koat. Jika ke sana mati dan di

sini juga mati, kan lebih baik kumati saja di sini, kulihat bakal kuburanku disini

cukup mentereng.” Dengan terkikih-kikih lalu ia menyambung pula, “Apabila

aku tidak mati di sini, kelak umpama kalian menaruh belas kasihan kepadaku

dan mau membuatkan makam bagiku, kukira kuburan yang kalian bangun juga

takkan semewah ini.”

Sejak tadi Lian-sing melotot pada Siau-hi-ji, setelah anak muda itu bicara, ia

masih mendelik sekian lamanya, tiba-tiba ia berkata, “Jika kujamin kau pasti

tidak akan mati di tangan Hoa Bu-koat, lalu bagaimana?”

Sorot mata Siau-hi-ji memancarkan cahaya gembira, jawabnya perlahan,

“Bergantung pada apa yang akan kau katakan, bila kau jamin selanjutnya

takkan memaksa aku mengadu jiwa dengan Hoa Bu-koat, maka aku ….”

Sekonyong-konyong Lian-sing menukas dengan suara bengis, “Pertarunganmu

dengan Bu-koat sudahlah pasti dan tidak mungkin berubah ….”

“O, jika begitu, apa boleh buat biarlah kita menunggu kematian saja di sini.”

“Tapi jangan kau lupa, bila dapat kubuat ilmu silatmu melebihi Gui Bu-geh,

tentu pula dapat mengalahkan Bu-koat. Kalau kau dapat membunuh Gui Bugeh,

tentu pula dapat membunuh Bu-koat.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Betul juga ucapanmu. Cuma

sayang aku tidak percaya.”

“Mengapa kau tidak percaya?” tanya Lian-sing.

“Hoa Bu-koat dibesarkan oleh kalian, dari kecil hingga besar tinggal di Ih-hoakiong,

dia bukan saja murid kalian, pada hakikatnya seperti anak kalian.

Sebaliknya aku adalah putra musuhmu, kalau saja aku tidak menyadari ilmu

silatku jauh di bawah kalian, bukan mustahil setiap saat aku akan membunuh

kalian. Sekarang kalian malah hendak mengajarkan ilmu silat padaku dan

menyuruh aku membunuh murid kalian. Siapakah di dunia ini yang mau

percaya pada ucapanmu ini?”

Lian-sing melirik sekejap pada sang kakak. Maka Kiau-goat lantas berkata,

“Sudah barang tentu di balik persoalan ini ada ….”

Berkilau sinar mata Siau-hi-ji menantikan uraian Ih-hoa-kiongcu itu. Siapa tahu,

baru sekian saja ucapannya, lalu berhenti dan tidak menyambung lagi.

Segera Siau-hi-ji bertanya, “Maksudmu di balik persoalan ini ada soal lain lagi,

begitu?”

“Hmk!” Kiau-goat hanya mendengus saja.

“Jika kalian ingin kupercaya padamu, urusannya cukup sederhana, asalkan

kalian mau menjelaskan seluk-beluk persoalan ini, maka apa pun yang kalian

kehendaki pasti akan kulakukan.”

Air muka Kiau-goat Kiongcu yang selalu kaku dingin itu tiba-tiba timbul

perubahan yang mengejutkan laksana gunung es yang mendadak longsor,

bumi raya ini seakan-akan kiamat.

Siau-hi-ji menatapnya dengan tajam, katanya dengan tenang, “Apakah kalian

lebih suka Gui Bu-geh menyaksikan kekonyolan kalian menjelang ajal daripada

menceritakan rahasia ini kepadaku? Supaya kalian maklum bahwa seseorang

kalau mendekati ajalnya, wah, macamnya itu sungguh konyol dan juga lucu,

pasti akan menjadi tontonan yang menarik bagi Gui Bu-geh.”

Kiau-goat menggereget. Mendadak ia berpaling ke sana. Perlahan Lian-sing

juga ikut membalik tubuh ke sebelah sana, mereka tidak ingin memandang

Siau-hi-ji lagi dan juga tidak ingin mendengar sepatah katanya.

Dengan suara keras Siau-hi-ji berucap pula, “Kini jelas hanya ada jalan

kematian bagi kita, mengapa kalian tetap tidak mau membeberkan rahasia ini,

sesungguhnya kalian ingin menunggu sampai kapan?”

Seketika terdengar gema suara Siau-hi-ji yang berkumandang dari dinding

istana di bawah tanah ini, “… kalian ingin menunggu sampai kapan ….” dan

kakak beradik Ih-hoa-kiongcu entah sudah pergi ke mana lagi.

Siau-hi-ji termangu-mangu seperti patung hingga lama, tiba-tiba ia menoleh

dan berkata kepada So Ing, “Sudah cukup banyak juga kau mengikuti

persoalan ini, bukan?”

“Ya,” sahut So Ing dengan gegetun. “Sekarang kutahu Kang-pekbo (bibi Kang,

maksudnya ibu Siau-hi-ji) semula adalah murid Ih-hoa-kiong, kemudian …

kemudian ….”

“Tidak perlu diragukan lagi ayah-bundaku pasti meninggal terbunuh oleh

mereka,” ucap Siau-hi-ji dengan menggereget. “Waktu itu mereka tidak

membabat rumput hingga akar-akarnya, baru sekarang mereka hendak

membunuhku agar tidak menimbulkan bibit bencana di kemudian hari.”

“Ya,” kata So Ing.

“Tapi mengapa mereka bertekad ingin Hoa Bu-koat yang membunuh diriku?

Jika mereka mau turun tangan sendiri, sampai kini entah sudah berapa kali aku

dibunuh oleh mereka.”

“Tadinya mereka mengira kau pasti akan benci kepada Hoa Bu-koat, andaikan

kau tak dapat menuntut balas pada mereka pasti juga akan mencari Hoa Bukoat

sebagai ganti mereka. Tapi kenyataannya tidak demikian, engkau cukup

berlapang dada dan berpikiran terbuka, kau anggap permusuhan orang tua

tiada sangkut-pautnya dengan angkatan yang lebih muda, maka mereka

terpaksa memaksa Hoa Bu-koat membunuhmu.”

“Betul, memang begitu maksud tujuan mereka. Tapi mengapa mereka berkeras

membikin aku saling bermusuhan dengan Hoa Bu-koat? Yang paling aneh

adalah mereka tidak melulu menghendaki aku dibunuh oleh Hoa Bu-koat,

sebaliknya kalau aku membunuh Bu-koat mereka juga akan sama puasnya.

Apakah kau dapat menyelami sebab musababnya?”

So Ing berpikir cukup lama, katanya kemudian, “Menurut pendapatku, antara

kau dan Hoa Bu-koat pasti ada hubungan yang sangat rumit.”

Terbeliak mata Siau-hi-ji, katanya pula sambil berkerut kening, “Tapi antara

diriku dan Hoa Bu-koat jelas tiada sangkut-paut apa-apa. Begitu aku dilahirkan

segera paman Yan membawaku ke Ok-jin-kok, pada hakikatnya aku tidak

mempunyai sanak keluarga di dunia ini.” Dia pegang tangan So Ing dan

berkata dengan suara parau, “Kutahu engkau adalah orang mahapintar,

sebagai penonton akan lebih jelas memecahkan persoalannya, dapatkah

engkau memikirkan apa hubunganku dengan Hoa Bu-koat.”

So Ing menghela napas, ucapnya dengan suara lembut, “Segala apa, pada

suatu hari akhirnya pasti akan menjadi jelas, mengapa engkau mesti gelisah

sekarang.”

“Gelisah sekarang saja rasanya sudah terlamhat,” ujar Siau-hi-ji sambil

menyengir. Dia lepaskan tangan So Ing dan berbaring di lantai, kembali ia

termenung-menung memikirkan soal rumit itu.

Sunyi senyap, tiada bedanya antara ruangan gua ini dengan kuburan. Cahaya

lampu yang menyorot lembut dari celah-celah dinding sana menyinari wajah

Siau-hi-ji.

Sebenarnya ini adalah sebuah wajah yang cerah, angkuh, keras dan penuh

gairah, tapi tampaknya kini wajah ini sangat letih, lesu dan guram.

Termangu-mangu So Ing memandangi muka Siau-hi-ji, terpantul sedikit demi

sedikit kilau air mata di kelopak matanya.

Entahlah sudah selang berapa lama, tiba-tiba terdengar Siau-hi-ji bergumam,

“So Ing, kau tahu aku tidak takut mati, tapi bila aku diharuskan mati konyol

begini tanpa tahu sebab musababnya betapa pun aku tidak rela … tidak rela

….”

So Ing mengusap matanya dan berkata pula dengan suara lembut, “Kau

takkan mati, asalkan kau ….”

Mendadak Siau-hi-ji melonjak bangun dan berseru, “He, apakah masih ada

jalan keluar?”

“Kutahu sudah lama Gui Bu-geh bermaksud menjadikan tempat ini sebagai

makamnya bilamana ia meninggal, sebab itulah pada setiap pintu telah

ditambahi sepotong balok batu raksasa, asalkan dia sentuh pesawat

rahasianya, pasir lantas mengalir keluar, balok batu lantas anjlok, maka siapa

pun tidak lagi mampu membukanya. Cara membangun tempat ini mirip cara

membangun makam para maharaja di jaman purbakala, namun ….”

Sebenarnya Siau-hi-ji sudah berbaring pula, demi mendengar “namun” ini,

seketika semangatnnya terbangkit pula, kembali ia melonjak bangun dan

memegang tangan si nona serta bertanya, “Namun bagaimana?”

“Bilamana pintu tempat ini benar-benar sudah buntu, seharusnya seluruh gua

ini akan sama seperti kuburan yang tidak tembus hawa lagi, namun sekarang

… sekarang sama sekali tiada terasa sumpeknya hawa, makanya kupikir ….”

“Makanya kau pikir Gui Bu-geh pasti merahasiakan suatu jalan keluar, begitu

bukan?” tukas Siau-hi-ji.

“Ya, sebab kalau seluruh jalan keluarnya sudah buntu, tentu sinar lampu ini

pun akan padam. Setahuku, tempat yang tidak tembus hawa tak mungkin

dapat menyalakan api.”

Siau-hi-ji memukul telapak tangan sendiri dengan sebelah tinjunya, katanya,

“Betul, asalkan dia masih mempunyai jalan keluar, tentu aku ada akal akan

menyuruhnya mengaku.”

Tiba-tiba So Ing berkata dengan tertawa, “Bukankah kau tidak mau keluar lagi

dari sini?”

Siau-hi-ji mencibir, ucapnya, “Aku sengaja menggoda kedua Kiongcu yang

angkuh itu, sebelum rahasia pribadiku kupecahkan dengan jelas, bukan saja

aku tidak rela mati, bahkan aku pun tidak rela mereka mati.”

Di tengah putus asa tiba-tiba timbul secercah sinar harapan, seketika

semangat mereka terbangkit. Segera Siau-hi-ji pegang tangan So Ing dan

berkata, “Sekarang langkah kita yang pertama ialah menemukan Gui Bu-geh.”

“Untuk ini tidak sulit, semua pesawat rahasia di sini cukup kupahami,” kata So

Ing.

Baru saja mereka hendak melangkah ke depan, tiba-tiba terdengar suara

orang menghela napas panjang di belakang mereka, seorang berkata dengan

gegetun, “Kalian tidak perlu cari lagi, aku sudah berada di sini!”

Altar batu yang semula tertaruh kursi kemala hijau itu kini mendadak bergeser

dan terbukalah sebuah lubang, sambil mendorong keretanya perlahan-lahan

Gui Bu-geh meluncur keluar.

Sambil menghela napas gegetun Gui Bu-geh juga bergumam, “Sudah belasan

tahun kupelihara dia, akhirnya aku tak dapat menandingi seorang anak muda

yang baru dikenalnya, pantas orang suka bilang, anak perempuan condong

keluar, lebih baik punya piaraan anjing daripada piara anak perempuan.”

Tanpa terasa So Ing menunduk, ucapnya dengan suara lirih, “Aku ….”

Mendadak Gui Bu-geh tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Kau tidak perlu

menjelaskan lagi, sekalipun kau bantu dia membunuhku juga aku tidak

menyalahkan kau. Anak muda seperti dia ini, jika aku menjadi anak perempuan

juga pasti akan minggat bersama dia.”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Haha, meski kau ini jahat, paling tidak

pandanganmu cukup tajam dan dapat membedakan antara yang baik dan

busuk.”

Gui Bu-geh terkekeh-kekeh, ucapnya, “Tidak perlu kau menjilat pantatku,

biarpun kau putar lidah bagaimana pun juga aku tidak mampu mengeluarkan

kau dari sini. Meski di tempat ini ada tiga lapis pintu, namun ketiga lapis ini

sama-sama dikendalikan oleh suatu alat pesawat, bahkan cuma dapat

digunakan satu kali saja, begitu balok batu sudah anjlok, pada saat itu pula aku

sendiri pun sudah siap untuk mati di sini.” Dia pandang So Ing dan berkata pula

dengan tertawa, “Jika kau tahu waktu kubangun tempat ini sudah siap

mengubur diriku sendiri di sini, caraku membangun tempat ini serupa

bangunan makam maharaja di jaman kuno, mengapa pula kau masih mengira

di tempat ini ada jalan keluar lagi?”

So Ing melenggong sejenak, akhirnya ia menunduk dengan muram.

“Tapi di sini masih ada tempat yang tembus hawa, bukan?” seru Siau-hi-ji.

“Betul, apakah kau kira tempat ini memerlukan pintu yang tembus hawa?” Gui

Bu-geh mengebaskan tangannya, lalu menyambung. “Tempat seluas ini

dengan penghuni sebanyak ini, jika cuma mengandalkan tiga lapis pintu

sebagai lubang hawa, bukankah sudah lama kami mati sesak di sini? Hehe,

tampaknya kau sangat pintar, tapi yang kau pahami ternyata tidak terlalu

banyak.”

Siau-hi-ji menjengek, “Aku kan bukan tikus dan tak pernah bertempat tinggal di

liang tikus, dari mana kutahu kawanan tikus menggunakan apa sebagai lubang

hawa?”

Padahal sekali-kali bukan Siau-hi-ji tidak paham, hanya saja dalam keadaan

kepepet, asalkan ada setitik harapan, tentu takkan disia-siakan olehnya,

makanya ia pura-pura tidak tahu.

Dengan tertawa terkekeh-kekeh Gui Bu-geh berkata pula, “Kutahu dalam

hatimu sekarang tentu lagi berdaya upaya agar aku mau mengatakan di mana

letak lubang hawa itu. Untuk ini dapat kukatakan padamu, tidak perlu lagi kau

peras otak, sebab tiada gunanya.”

“Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji sambil melotot.

“Sebab waktu kubikin lubang-lubang hawa itu justru sudah kupikirkan

kemungkinan kawanan tikus akan lari keluar melalui lubang hawa ini,” setelah

bergelak tertawa, lalu Gui Bu-geh menyambung, “Kalau saja tikus tidak mampu

menyusup keluar, lalu manusia sebesar kau masa dapat menerobos keluar?”

Siau-hi-ji tidak menanggapi, ia termenung sejenak, tiba-tiba bertanya pula,

“Mengapa kau tidak menyumbat sekalian lubang hawa itu?”

“Untuk apa kusumbat?”

“Memangnya kau khawatir kita mati terlalu cepat?”

“Tepat,” seru Gui Bu-geh sambil terkekeh-kekeh. “Dengan susah payah baru

berhasil kupancing kalian ke sini, mana boleh kalian mati begitu saja di sini?

Dengan sendirinya kalian tidak boleh mati terlalu cepat. Kalian harus mati

secara perlahan-lahan, dengan demikian barulah dapat kusaksikan perbuatan

konyol kalian pada waktu mendekati ajal, kutanggung di dunia ini pasti tiada

tontonan yang lebih menarik daripada ini.”

Agaknya semakin dipikir semakin geli sehingga Gui Bu-geh tertawa terpingkalpingkal.

Siau-hi-ji tertawa juga, katanya, “Ingin kutanya padamu, perbuatan konyol apa

yang akan kami lakukan menurut perkiraanmu?”

Gemerdep sinar mata Gui Bu-geh, tuturnya dengan tertawa, “Tentunya kau

tahu, selamanya kakak beradik Ih-hoa-kiongcu itu tidak mau duduk, tempat apa

pun bagi mereka terasa kotor, tapi aku berani garansi, tidak lebih daripada tiga

hari mereka pasti akan rebah di ranjang yang pernah ditiduri lelaki busuk bagi

pandangan mereka, biasanya mereka tidak suka makan barang sembarangan,

tapi beberapa hari lagi, biarpun seekor tikus mati juga akan mereka ganyang

mentah-mentah, bisa jadi kalian berdua juga akan disembelih oleh mereka

untuk dimakan. Nah, kau percaya tidak?”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Jika aku benar-benar dimakan mereka, wah, bagus

juga, aku lebih suka terkubur di dalam perut mereka. Hahaha!”

Meski dia bergelak tertawa, tapi diam-diam ia merinding juga, sebab ia tahu

apa yang dikatakan Gui Bu-geh memang bukan tidak mungkin sama sekali.

Betapa pun bajik dan anggunnya seseorang, apabila dia sudah kelaparan,

maka perbuatan kotor dan rendah apa pun dapat dilakukannya, dalam

keadaan begitu antara manusia dan hewan mungkin sudah tiada bedanya.

Maka terdengar Gui Bu-geh berkata pula dengan tertawa, “Ada lagi, kutahu

kalian berempat sama-sama masih suci bersih, masih perawan dari jejaka

tulen, belum ada yang pernah menikmati benar-benar kebahagiaan orang

hidup. Nanti kalau kalian sudah dekat ajal, bisa jadi kalian akan berubah pikiran

dan menganggap kematian kalian ini sia-sia belaka, bukan mustahil lantas

timbul pikiran ingin mencicipi rasanya orang berbuat begituan.”

Sorot matanya penuh memancarkan rasa porno, otaknya seolah-olah sedang

membayangkan kejadian begituan, badannya sampai bergeliat-geliat, sambil

tertawa ia menyambung pula, “Nah, tiba saatnya begitu, mungkin kau anak

muda ini akan menjadi barang perebutan mereka.”

Meski muka So Ing menjadi merah, tapi keringat dingin pun mengucur keluar

mengingat apa yang dikatakan Gui Bu-geh itu memang bisa terjadi.

Tapi Siau-hi-ji lantas mengejek, “Hm, kau sendiri mengapa tidak suka

menikmati rasa begituan? Memangnya kau sudah tidak sanggup lagi?”

Seketika lenyap suara tertawa Gui Bu-geh, sekujur badannya lantas menggigil.

Sambil menatap kedua kaki orang yang melingkar itu, Siau-hi-ji menjengek

pula, “Hm, kiranya kau memang tidak mampu lagi, makanya kau berubah

menjadi gila begini. Tadinya aku sangat benci padamu, tapi sekarang aku

menjadi rada kasihan padamu.”

Mendadak Gui Bu-geh meraung murka terus menubruk ke arah Siau-hi-ji.

Laksana segumpal daging saja mendadak dia melejit ke atas seakan-akan

hendak menumbuk Siau-hi-ji dengan tubuhnya. Tapi ketika Siau-hi-ji berkelit

sambil menangkis, tahu-tahu gumpalan daging ini tumbuh keluar dua belati,

kedua tangannya secepat kilat menusuk tenggorokan dan kedua mata anak

muda itu.

Cepat Siau-hi-ji berputar, kedua telapak tangannya balas memotong.

Tak terduga tubuh Gui Bu-geh mendadak bertambah pula sebilah pedang

pandak terus menyayat pergelangan tangan Siau-hi-ji.

Kiranya setiap jari Gui Bu-geh tumbuh kuku yang panjangnya belasan senti,

biasanya kuku panjang melingkar di telapak tangan, bilamana bertempur,

dengan tenaga dalam yang kuat, kuku panjang itu lantas dijulurkan dan

digunakan sebagai senjata.

Di bawah sinar lampu kelihatan kesepuluh kukunya gemerlap kehitam-hitaman,

jelas kuku beracun, asalkan kulit daging Siau-hi-ji tergores lecet saja pasti

sukar tertolong lagi.

Sekali tubrukan Gui Bu-geh itu ternyata mengandung tenaga gerakan ikutan,

setiap gerak perubahan juga di luar dugaan lawan, sungguh serangan aneh

dan keji, sungguh sukar dicari bandingannya.

Saking terkejut hampir saja So Ing menjerit.

Dilihatnya Siau-hi-ji sempat menjatuhkan diri ke lantai dan menggelinding jauh

ke sana, caranya mematahkan serangan Gui Bu-geh ini pun bukan gerakan

ilmu silat sejati, hanya ikhtiar Siau-hi-ji sendiri bilamana menghadapi bahaya.

“Ikhtiar cepat menurut keadaan”, inilah letak ciri khas Siau-hi-ji yang mahalihai.

Dilihatnya Gui Bu-geh telah mengerahkan segenap tenaga murninya, sekalipun

kepandaiannya berlipat lebih tinggi lagi juga tidak mungkin ganti napas di udara

seperti burung terbang saja. Sebab itulah begitu dia hinggap di atas tanah,

Siau-hi-ji segera dapat mendahuluinya, soalnya anak muda itu sekarang sudah

tahu di mana letak kelemahan lawan, yaitu pada kedua kakinya yang cacat.

Siapa duga, sekali putar tubuh di atas, tahu-tahu Gui Bu-geh jatuh kembali di

atas kursinya yang beroda itu. Baru saja Siau-hi-ji hendak menubruk maju,

sekonyong-konyong kereta itu berputar cepat mengitarinya.

Dalam sekejap Siau-hi-ji merasa di muka, di belakang, kanan dan kiri,

seluruhnya cuma bayangan Gui Bu-geh melulu, betapa cepatnya Gui Bu-geh

mengemudikan kursinya sungguh jauh lebih lihai daripada Pat-kwa-yu-sinciang

(pukulan menurut peta Pat-kwa) yang termasyhur itu.

Kereta beroda itu memang dibuat dengan sangat bagus, sepanjang tahun Gui

Bu-geh duduk di atas kursinya ini sehingga kereta dan orangnya seakan-akan

sudah terlebur menjadi satu, dia dapat mengemudikannya dengan sesuka hati.

Seketika Siau-hi-ji merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, hampir

saja ia roboh sendiri tanpa diserang oleh Gui Bu-geh.

Terdengar suara tertawa Gui Bu-geh yang terkekeh-kekeh itu berkumandang

dari berbagai penjuru membuat merinding orang yang mendengarnya,

sehingga sukar bagi Siau-hi-ji untuk membedakan di mana letak pihak musuh.

Mendadak Siau-hi-ji bersiul panjang terus meloncat tinggi ke atas. Gerakan ini

adalah ilmu sakti Kun-lun-pay, namanya “Hwi-liong-pat-sik” atau delapan

gerakan naga terbang.

Supaya maklum, meski ilmu silat Siau-hi-ji belum dapat disejajarkan dengan

tokoh ilmu silat kelas top, tapi betapa banyak ragam ilmu silat yang

dipelajarinya dan betapa luas pengalamannya kini sukar lagi ditandingi oleh

siapa pun juga.

Serangan Gui Bu-geh yang luar biasa ini memang cuma Hwi-liong-pat-sik saja

yang dapat mematahkannya, selain itu, sekalipun tokoh utama Siau-lim-pay

sekarang juga sukar lolos dari ilmu sakti “roda terbang” Gui Bu-geh ini. Akan

tetapi Siau-hi-ji justru sudah berhasil meyakinkan Hwi-liong-pat-sik dan tepat

dapat mematahkan ilmu sakti kebanggaan Gui Bu-geh ini.

Sudah tentu Gui Bu-geh tidak tinggal diam, begitu Siau-hi-ji meloncat ke atas,

segera ia pun mengapung ke atas dan memapaknya, kesepuluh kuku beracun

yang gemerlap itu kembali menusuk tenggorokan anak muda itu.

Gui Bu-geh seperti telah berubah menjadi bayangan Siau-hi-ji, ke mana pun

perginya Siau-hi-ji selalu dibayanginya, ingin ganti jurus serangan juga tidak

sempat lagi bagi anak muda itu. Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia

menggunakan ilmu Siau-lim-pay yang terkenal, yaitu Jian-kin-tui, ilmu

membikin tubuh menjadi seberat ribuan kati.

Padahal sewaktu tubuh sedang meloncat ke atas secara mendadak, hendak

menahan dan menurunkannya pula jelas bukan pekerjaan yang mudah. Tapi

pada detik yang sukar dibayangkan itulah Siau-hi-ji justru dapat anjlok ke

bawah.

Tak tahunya baru saja tubuhnya menyentuh tanah, terdengar suara mendesing

kencang tiga kali, tiga larik sinar hitam tahu-tahu menyambar dari tiga arah

yang berbeda.

Gui Bu-geh jelas-jelas masih mengapung di atas, siapakah yang

menyambitkan senjata rahasia ini?

Kiranya meski tubuh Gui Bu-geh terbang ke atas, namun keretanya masih

terus berputar dan ketiga larik sinar hitam itu justru terpancar keluar dari kursi

beroda itu.

Gui Bu-geh satu telah berubah menjadi dua.

Serangan ini sungguh di luar dugaan Siau-hi-ji, kalau tokoh silat lain, sekalipun

jago kelas satu aliran mana pun, di bawah serangan aneh ini mustahil kalau

jiwanya tidak melayang di bawah ketiga panah hitam ini.

Namun Siau-hi-ji justru telah mahir “Bu-kut-yu-kang”, ilmu lemaskan badan tak

bertulang, ilmu yang berasal dari negeri Thian-tiok (India) yang dibawa masuk

ke Tiongkok oleh kaum Lama, ilmu itu lebih terkenal dengan nama Yoga.

Tertampak tubuh Siau-hi-ji mendadak menekuk dan menggeliat, ruas tulang

seluruh tubuhnya seolah-olah terpisah-pisah, tiga larik sinar hitam itu pun

menyerempet lewat bajunya pada detik menentukan itu.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini Siau-hi-ji telah berhasil menyelami ilmu silat

yang tercantum dalam kitab pusaka yang diperolehnya di istana bawah tanah

ketika dia dan Kang Giok-long dikurung oleh Siau Mi-mi dahulu, intisari ilmu

silat yang tercantum dalam kitab pusaka itu meliputi hasil ciptaan berbagai

tokoh ilmu silat dari berbagai penjuru dunia ini. Dengan sendirinya ilmu silat

yang terdapat di dalam kitab itu pun beraneka ragamnya.

Cuma sayang, lawan yang dihadapi Siau-hi-ji ialah Gui Bu-geh, ilmu silat Gui

Bu-geh sungguh luar biasa anehnya dan sukar dibayangkan orang, sampai

kursi beroda yang ditumpanginya pun berubah menjadi lawan yang mahalihai.

Maka tidak sampai tiga puluh jurus mulailah Siau-hi-ji kewalahan.

So Ing menjadi khawatir dan berteriak, “Apa pun juga dia toh akan mati di sini,

mengapa kau menyerangnya cara begini?”

Gui Bu-geh menjengek, “Hm, aku tidak ingin mencabut nyawanya, aku cuma

ingin memotong lidahnya agar selanjutnya dia tidak dapat mengoceh pula. Lalu

akan kupatahkan kedua kakinya agar dia berjalan dengan merangkak.”

“Sekalipun merangkak dengan tangan juga ada sesuatu kemampuanku yang

jauh lebih kuat daripadamu,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tentu saja Gui Bu-geh bertambah murka, dampratnya, “Anak jadah, aku akan

membikin ….” belum habis ucapnya, mendadak Siau-hi-ji melangkah miring ke

samping, dengan enteng kedua telapak tangannya lantas menghantam.

Pukulan ini tampaknya tiada sesuatu yang istimewa, tapi aneh, entah

mengapa, hampir saja Gui Bu-geh tidak dapat menghindar, sama sekali tak

terpikir olehnya dari mana Siau-hi-ji dapat mempelajari jurus serangan lihai ini.

Yang lebih sukar dimengerti ialah gaya serangan Siau-hi-ji serentak berubah,

setiap jurus serangan terasa enteng tak menentu, seakan-akan tidak bertenaga

sedikit pun. Namun setiap serangan selalu mengarah titik kelemahan Gui Bugeh.

Sebenarnya So Ing lagi khawatir setengah mati, sekarang wajahnya dapat

menampilkan gembira.

Kiranya pada saat berbahaya tadi, tiba-tiba Siau-hi-ji melihat kedua Ih-hoakiongcu

sedang bergebrak sendiri di tempat kejauhan. Gerak serangan yang

mereka lancarkan itu yang satu menyerang dan lain bertahan, yang satu

positif, yang lain negatif, setiap gerakan mereka dilakukan dengan sangat

lambat seakan-akan khawatir orang lain tidak dapat mengikutinya dengan

jelas.

Melihat itu, biarpun Siau-hi-ji lebih goblok lagi juga tahu kedua Ih-hoa-kiongcu

sedang mengajarkan ilmu silat padanya. Dalam keadaan demikian umpama

dia ingin menolak juga tidak dapat lagi. Segera ia menirukan gaya serangan

Kiau-goat tadi dan dihantamkan ke arah Gui Bu-geh. Benar saja, Gui Bu-geh

terkejut. Waktu Gui Bu-geh balas menyerang, Siau-hi-ji lantas gunakan

gerakan Lian-sing Kiongcu untuk mematahkannya.

Meski gerak serangan ini tampaknya sederhana dan tidak punya daya serang

yang keras, tapi entah mengapa, sesudah belasan jurus, dengan mudah Siauhi-

ji berubah di atas angin.

Baru sekarang Siau-hi-ji merasakan betapa mukjizatnya ilmu silat Ih-hoa-kiong,

gerak serangan yang tampaknya sederhana ini ternyata setiap jurusnya

merupakan gerak serangan mematikan bagi Gui Bu-geh.

Meski Ih-hoa-kiongcu tidak bergebrak langsung dengan Gui Bu-geh, tapi setiap

kelemahan silat Gui Bu-geh seakan-akan sudah diketahuinya jauh lebih jelas

daripada Gui Bu-geh sendiri.

Padahal sama sekali Ih-hoa-kiongcu tidak memandang Gui Bu-geh, namun

setiap kali sebelum Gui Bu-geh melancarkan serangan, tipu serangan apa

yang akan digunakan seakan-akan sudah diketahui lebih dulu oleh mereka.

Ketika Gui Bu-geh mengetahui duduk perkaranya, sementara itu ia sudah

terdesak oleh Siau-hi-ji hingga kelabakan, ingin berganti napas pun sulit.

Sungguh ia tidak habis mengerti mengapa jurus serangannya sendiri yang

mahalihai ini bisa dipatahkan oleh gerakan yang hambar dan begitu

sederhana.

Ia tidak tahu bahwa tipu serangan Ih-hoa-kiongcu itu sesungguhnya telah

menghimpun intisari berbagai tipu ilmu silat yang paling ruwet dan telah

dileburnya menjadi satu. Maka setelah 30 jurus pula, kini Gui Bu-geh berbalik

terdesak di bawah angin.

Dengan tertawa Siau-hi-ji mengejek, “Haha, aku sih tidak ingin memotong

lidahmu dan juga tidak hendak mematahkan kedua kakimu yang sudah tak

berguna ini, aku cuma ingin mencukil kedua biji matamu agar selanjutnya kau

tidak dapat melihat apa pun.”

Pada saat itulah mendadak terdengar suara “tring” yang keras dan nyaring.

Suara ini seperti berkumandang dari luar gua, tapi gema suaranya menggetar

seluruh gua ini.

Siau-hi-ji terkejut dan bergirang. Sedangkan kursi beroda Gui Bu-geh lantas

meluncur pergi sejauh dua-tiga tombak. Tampaknya dia hendak kabur melalui

jalan rahasia itu, namun sial baginya, sekali ini Ih-hoa-kiongcu sempat

mencegat jalan larinya.

“Kang Siau-hi, ayo lekas turun tangan!” bentak Lian-sing Kiongcu.

Tapi Gui Bu-geh lantas berseru, “Nanti dulu, ada yang hendak kukatakan.”

“Apa pula yang hendak kau katakan?” tanya Lian-sing Kiongcu.

“Suara yang terdengar barusan, jangan-jangan ada orang yang mengetahui

kalian terkurung di sini?” kata Gui Bu-geh.

Dalam pada itu suara “tang-ting” di luar masih terus berkumandang masuk,

tertampak sinar mata Lian-sing Kiongcu mengunjuk kegirangan, namun di

mulut ia menjawab dengan acuk tak acuh, “Ya, kukira begitu.”

“Makanya kalian mengira bakal tertolong, bukan?” tanya Gui Bu-geh pula.

“Memangnya kau kira kami benar-benar akan mati di tanganmu?” jengek Liansing

Kiongcu.

“Kau kira dari dalam sini sulit membobol pintu batu, sedangkan dari luar tentu

cukup banyak alat penggali dan kalian pasti dapat tertolong keluar, makanya

kalau sekarang kalian membunuh diriku juga bukan soal lagi, begitu bukan?”

“Jika kau dapat menggali gua di bawah ini, mengapa orang lain tidak dapat?”

“Haha, memang betul,” jawab Bu-geh. “Tempat Ini memang digali dengan

tenaga manusia, tapi apakah kau tahu berapa banyak tenaga dan betapa lama

waktu yang kukorbankan?” Setelah terbahak-bahak pula ia menyambung lagi,

“Memangnya kalian mengira aku tidak tahu ada seorang kawanmu yang telah

masuk ke sini lalu keluar pula?”

Lian-sing Kiongcu berkerut kening, ucapnya kemudian, “Mau apa seumpama

kau tahu?”

“Kalau dia tahu kalian terkurung di dalam perut gunung ini dan melihat jalan

keluarnya tersumbat buntu, dengan sendirinya dia akan berusaha menolong

kalian. Jika kutahu hal ini, seharusnya kututup sekalian lubang hawa agar

kalian mati lebih cepat, akan tetapi sedikit pun aku tidak terburu-buru. Nah,

apakah kalian tidak paham sebab musababnya?”

“Memangnya kau kira anak murid Ih-hoa-kiong tidak mampu membobol pintu

batu segala?” jengek Lian-sing Kiongcu.

“Sudah tentu mampu, tetapi untuk itu sedikitnya diperlukan waktu dua-tiga

hari,” ujar Gui Bu-geh.

“Kalau dua-tiga hari lantas bagaimana, masa kami tak dapat menunggu?”

“Tentu saja kalian dapat menunggu, namun dari luar sampai ke sini,

seluruhnya ada 13 pintu batu, sekalipun seratus tenaga dikerahkan juga

memerlukan waktu paling sedikit sebulan baru sampai di sini.”

“Sebulan?” Lian-sing menegas dengan rada cemas.

“Kubilang paling sedikit satu bulan, bisa jadi lebih,” kata Bu-geh dengan

tenang.

Lian-sing Kiongcu memandang sekejap sang kakak, air muka kedua orang

sama berubah.

Gui Bu-geh berkata pula, “Di sini tiada makanan dan juga tiada air minum,

biarpun kalian mempunyai kepandaian setinggi langit paling-paling cuma juga

dapat bertahan selama sepuluh hari, bilamana orang-orang di luar dapat

menggali hingga sampai di sini, tatkala mana mungkin kalian sudah berwujud

seonggokan jerangkong.”

Mendadak Siau-hi-ji berteriak, “Jika begitu, lebih-lebih kami harus membunuh

kau saja.”

“Betul, setelah membunuhku, tentu kekonyolan kalian tidak akan terlihat

olehku, namun ….”

“Namun apa?” tanya Siau-hi-ji.

Gui Bu-geh tersenyum hambar, jawabnya, “Bila kalian membunuhku sekarang,

apakah kalian tidak merasa sayang.”

“Sayang?” Siau-hi-ji menegas. “Bagiku, sekalipun kucacah kau dan kuberikan

makan kepada anjing juga tidak perlu merasa sayang.”

Sama sekali Gui Bu-geh tidak marah, ia tetap tenang, katanya dengan tertawa,

“Coba kalian ikut pergi bersamaku untuk melihat beberapa macam barang.”

“Melihat apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Jika sudah tiba di sana tentu kalian akan tahu sendiri,” kata Bu-geh.

Siau-hi-ji memandang sekejap pada Ih-hoa-kiongcu, lalu berkata, “Baik, aku

ikut pergi, rasanya aku pun tidak takut bila kau ingin main gila.”

“Hehe, di depan Ih-hoa-kiongcu serta orang pintar nomor satu di dunia,

permainan gila apa yang dapat kulakonkan?” ejek Gui Bu-geh.

Segera ia mendorong kursinya dan meluncur masuk ke lorong bawah tanah

sana. Kakak beradik Ih-hoa-kiongcu lantas membayanginya dengan ketat.

Siau-hi-ji memandang So Ing sekejap, tanyanya, “Apakah di bawah gua ini

masih ada ruangan lain lagi?”

So Ing mengangguk.

“Memangnya di bawah sana ada apa?” tanya Siau-hi-ji pula.

So Ing menghela napas perlahan, katanya, “Aku pun tidak tahu, sebab selama

ini tak pernah kuturun ke bawah sana.”

Siau-hi-ji menjadi rada heran dan waswas, katanya, “Kau pun tidak pernah

turun ke bawah sana?”

“Ya, tampaknya dia sangat merahasiakan ruang di bawah tanah ini serta

merupakan tempat yang sangat penting, kecuali dia sendiri, siapa pun dilarang

masuk. Pernah dua anak muridnya ingin mengintip apa yang dilakukannya di

bawah sana, akibatnya mereka dijatuhi hukuman mati dicincang.”

“Perbuatan rahasia apa yang dilakukan di bawah sana, mengapa tidak boleh

dilihat orang lain?” ucap Siau-hi-ji sambil berkerut kening.

“Siapa pun tidak tahu apa yang diperbuatnya di bawah, hanya pernah

terdengar semacam suara yang aneh,” tutur So Ing.

“O, suara aneh? Suara apa itu?”

“Asalkan dia sudah turun ke bawah, segera terdengar suara nyaring ‘trangtring’

berturut-turut, terkadang suara itu berlangsung beberapa hari dan

beberapa malam tanpa berhenti.”

Terbeliak mata Siau-hi-ji, katanya, “Suara trang-ting-trang-ting, apakah suara

batu tergores oleh benda keras?”

“Ya, seperti begitulah,” jawab So Ing.

“Hah, jangan-jangan dia sedang menggali terowongan di bawah sana,” kata

Siau-hi-ji dengan girang.

Sementara itu Gui Bu-geh sudah meluncur masuk ke balik sebuah pintu batu

yang sempit, Siau-hi-ji menjadi sangsi jangan-jangan pintu inilah jalan keluar

rahasia yang masih ditinggalkan oleh Gui Bu-geh. Cepat ia memburu ke sana

dan ikut masuk.

Tapi ia menjadi kecewa setelah berada di dalam, di balik pintu sempit ini hanya

sebuah ruangan batu segi enam dan tiada terdapat pintu lagi. Ruangan ini

lebih guram daripada tempat lain, samar-samar Siau-hi-ji melihat di tengah

ruangan ada peti mati yang sangat besar, ada pula patung batu yang tak

terhitung banyaknya.

Terdengar Gui Bu-geh berkata, “Sekarang kalian tentunya mau percaya bahwa

aku memang sudah siap untuk mati di sini. Nah, peti mati batu hijau ini adalah

liang kuburku yang telah kusediakan.”

“Lalu patung-patung ini apa artinya?” tanya Siau-hi-ji.

Gui Bu-geh tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Inilah hasil karyaku yang

cermat, hasil kerja seorang seniman sejati. Biar kunyalakan lampu agar kalian

dapat melihat lebih jelas.”

Dalam tertawanya ternyata mengandung rasa kegaiban yang sukar

diterangkan. Demi mendengar suara tertawanya, Siau-hi-ji lantas tahu pasti

ada sesuatu yang aneh pada patung-patung ini.

Sementara itu Gui Bu-geh telah meluncur ke pojok sana, ia mengeluarkan

geretan api dan menyala belasan lampu minyak yang terselip di sekeliling

dinding.

Waktu lampu keempat baru menyala, terkesimalah Siau-hi-ji.

Dilihatnya patung-patung itu semuanya terukir menyerupai kakak beradik Ihhoa-

kiongcu serta Gui Bu-geh sendiri, malahan besarnya hampir sama dengan

manusia asli, setiap kelompok terdiri dari tiga patung dengan gaya yang

berbeda-beda.

Kelompok pertama menggambarkan kakak beradik Ih-hoa-kiongcu bertekuk

lutut di tanah sambil menarik ujung baju Gui Bu-geh, yakni seperti layaknya

kalau orang sedang memohon ampun dengan sangat.

Kelompok kedua menggambarkan Gui Bu-geh sedang melecuti Ih-hoa-kiongcu

dengan cambuk, bukan saja air muka Ih-hoa-kiongcu kelihatan sangat

menderita seakan-akan orang hidup, bahkan cambuknya juga seperti cambuk

asli.

Kelompok ketiga menggambarkan Ih-hoa-kiongcu kakak beradik merangkak di

tanah dan kaki Gui Bu-geh menginjak punggung mereka, sebelah tangannya

memegang cawan dengan gaya sedang menenggak arak. Begitulah makin

lanjut makin tidak senonoh ukiran patung-patung itu, namun ukirannya justru

sedemikian indah dan hidup. Di bawah cahaya lampu yang cukup terang

tampaknya seperti sejumlah Ih-hoa-kiongcu sedang dilecuti dan disiksa oleh

Gui Bu-geh dan lagi menjerit, meronta, meminta ampun.

Baru sekarang Siau-hi-ji tahu sebabnya Gui Bu-geh sembunyi di ruang bawah

tanah ini, kiranya untuk mengukir patung ini, pantas terkadang selama

beberapa hari dan beberapa malam ia bekerja tanpa berhenti, rupanya dia

sedang mencari pelampiasan, hanya dengan cara demikian barulah nafsu

berahinya mencapai kepuasan.

Akan tetapi patung-patung ini sungguh terukir sangat indah, benar-benar karya

seni pahat yang bernilai tinggi.

Mau tak mau Siau-hi-ji menghela napas gegetun, gumamnya, “Tak tersangka

si gila ini memiliki bakat seni sebesar ini.”

Sebaliknya kakak beradik Ih-hoa-kiongcu sampai gemetar saking gemasnya,

mendadak mereka menubruk maju, sebuah patung diangkat terus dibanting

hingga hancur lebur.

“Sayang, sungguh sayang,” kembali Siau-hi-ji menghela napas menyesal, “Jika

patung-patung ini disimpan dengan baik, kelak pasti sukar dinilai harganya dan

menjadi barang seni antik yang abadi.”

Patung-patung batu yang keras itu berada di tangan Ih-hoa-kiongcu ternyata

tidak lebih daripada orang-orangan buatan kertas. Maka dalam sekejap saja

hasil karya yang tiada ternilai itu berubah menjadi bubuk batu.

Sebaliknya Gui Bu-geh hanya duduk tenang-tenang saja di kursinya tanpa

bergerak sedikit pun.

Akhirnya Lian-sing Kiongcu menubruk ke depan Gui Bu-geh, bentaknya

dengan murka, “Binatang kau, sekali ini jangan kau harap akan lolos dari

tanganku.”

Di tengah bentakannya leher baju Gui Bu-geh dijambretnya dan diangkat dari

kursi beroda, terus dibanting ke dinding sana.

Maka terdengarlah suara “pyar”, Gui Bu-geh terbanting hingga hancur.

Sungguh aneh, mengapa tubuh manusia yang terdiri dari darah daging bisa

terbanting “hancur”?

Keruan Lian-sing Kiongcu melengak, akhirnya baru diketahui bahwa “Gui Bugeh”

ini pun ukiran batu, hanya pakaiannya saja yang tulen. Gui Bu-geh sendiri

entah sudah kabur ke mana sejak tadi.

Mendadak Siau-hi-ji melonjak sambil berseru, “Celaka, sekali ini mungkin kita

benar-benar bisa konyol.”

Ternyata satu-satunya pintu batu ini pun sudah tersumbat rapat, dinding

sekelilingnya adalah dinding batu gunung belaka, dinding itu tidak bergerak

sama sekali ketika kena bantingan patung yang dilemparkan Ih-hoa-kiongcu

tadi, maka kerasnya dapatlah dibayangkan.

Namun mereka tidak rela, dengan berbagai macam cara tetap tak dapat

membobol dinding batu itu dan juga tidak mampu membuka pintu batu meski

cuma satu lubang saja.

Siau-hi-ji yang pertama-tama mengakhiri usahanya. Meski dia sudah hampir

putus asa, tapi ia pikir akan lebih baik bila tenaganya tidak dihabiskan. Maka

bersama So Ing mereka lantas duduk di lantai bersandar dinding.

“Baru sekarang aku benar-benar kagum pada Gui Bu-geh, orang ini memang

benar hebat,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

So Ing termenung sejenak, katanya kemudian, “Kalau dia sudah mengurung

kita, mengapa dia memancing kita ke sini pula?”

“Cukup banyak alasannya,” ujar Siau-hi-ji dengan tersenyum getir. “Pertama,

setelah kita terkurung di sini, maka dia sendiri dapat bebas bergerak

sesukanya, bahkan dapat makan minum sepuasnya, nanti kalau kita sudah

mati kelaparan, lalu dia sendiri dapat pergi.”

“Kau kira dia tidak bertekad mati di sini?”

“Memangnya kau kira dia benar-benar akan mengiringi kematian kita di sini?

Semua ini hanya tipu muslihatnya, tujuannya cuma memancing kita ke sini, apa

yang diucapkan dan diperbuatnya di luar tadi hanya sandiwara belaka.”

So Ing menunduk dan menghela napas perlahan.

Sambil menyengir Siau-hi-ji berkata pula, “Sekarang kita mirip sekawanan kera

yang berada di kurungan, terpaksa kita harus main baginya.”

“Kau … kau kira dia akan mengintip?” tanya So Ing terputus-putus.

“Dia sengaja memancing kita ke kurungan ini, tujuannya justru ingin melihat

bagaimana perubahan tingkah laku kita ketika mendekati ajal, sudah tentu

yang diharapkannya adalah perbuatan-perbuatan tidak senonoh yang

dibayangkannya.”

So Ing tidak bersuara lagi. Selang sejenak, mendadak Siau-hi-ji bergelak

tertawa dan bergumam, “Hahaha, sebelum ajalku nanti entah bagaimana

bentukku, sungguh aku sendiri pun tidak dapat membayangkannya. Ini benarbenar

hal yang menarik.”

So Ing menggeser lebih dekat dengan anak muda itu, ucapnya dengan

tertawa, “Kau akan berubah menjadi bentuk apa pun pasti akan tetap

menyenangkan.”

Perlahan Siau-hi-ji menggigit pipi si nona, ucapnya, “Bisa jadi kau akan

kucaplok, kau takut tidak?”

“Jika demikian kita berdua akan berubah menjadi satu untuk selamanya, apa

yang kutakuti?” jawab So Ing dengan suara lembut.

Dengan tajam Siau-hi-ji menatap si nona, sampai lama barulah ia berkata pula

dengan gegetun, “Cuma sayang engkau terlalu pintar, kalau tidak, mungkin aku

bisa menyukai kau benar-benar.”

Muka So Ing menjadi merah, katanya sambil menggigit bibir, “Konon kalau

perempuan sudah melahirkan anak bisa berubah menjadi rada bodoh.”

Jika dalam keadaan biasa, mendengar ucapan So Ing ini pasti Siau-hi-ji akan

tertawa terbahak-bahak. Tapi sekarang ia merasakan hangat dan manisnya

ucapan si nona serta mengandung semacam rasa kecut, sesungguhnya ia pun

tidak jelas bagaimana rasanya, yang pasti rasa yang demikian sebelum ini tak

dikenalnya.

Dalam pada itu kakak beradik Ih-hoa-kiongcu juga sudah berhenti beraksi,

kedua orang itu berdiri mematung di sana, meski tampaknya masih tetap dingin

dan angkuh, tapi tak dapat menutupi sorot matanya yang letih dan sedih.

Entah lewat berapa lama lagi, tiba-tiba Siau-hi-ji berdiri, ia mendekati peti mati

batu hijau itu, ia angkat tutup peti mati itu dan dialingkan di bagian depan, lalu

ia mengumpulkan batu patung yang hancur berserakan itu dan ditumpuk di

kedua samping peti mati.

Ih-hoa-kiongcu tidak tahu maksud perbuatan anak muda itu, makin dipandang

makin heran mereka. Meski mereka ingin tahu, tapi mereka harus menjaga

gengsi dan berharap So Ing yang bertanya.

Namun sorot mata So Ing tampak penuh rasa mesra, dengan tersenyum ia

mengikuti tingkah polah Siau-hi-ji tanpa bersuara, agaknya dia sangat jelas apa

yang dikehendaki anak muda itu.

Selang sejenak pula, akhirnya Lian-sing Kiongcu tidak tahan, sementara itu

dilihatnya kepingan batu telah ditumpuk oleh Siau-hi-ji hingga setinggi

manusia, ia lantas tanya, “Kerja apa kau ini?”

Siau-hi-ji mengikik tawa, jawabnya, “Makan, minum, berak, kencing dan tidur

adalah lima tugas rutin yang harus dilakukan oleh manusia. Meski sekarang

kita tidak makan dan minum, tapi sebelum ini kita kan sudah banyak makan

minum, barang-barang yang sudah masuk perut itu akhirnya toh mesti keluar.

Jika kita tidak sanggup menahannya di dalam perut, dengan sendirinya juga

tak dapat membiarkannya lolos keluar di celana, maka kita harus

menggunakan cara ini.”

“Kau … kau berani tidak sopan?” damprat Kiau-goat dengan gusar.

“Tidak sopan?” tukas Siau-hi-ji. “Ini adalah urusan paling sopan di dunia ini,

mengapa kau bilang tidak sopan? Kalau kuberak di celana, nah, ini baru

dikatakan tidak sopan.”

Saking dongkolnya hingga muka Ih-hoa-kiongcu sama merah padam dan juga

tidak sanggup buka suara pula.

Dalam pada itu Siau-hi-ji telah menumpuk kepingin batu di kedua sisi peti mati

itu hingga berwujud dua dinding, lalu ditambahkan tutup peti mati itu di

atasnya, maka jadinya sebuah kakus yang praktis.

Sambil memandangi kakus darurat itu, Siau-hi-ji bergumam dengan tertawa,

“Tempat sebagus ini, digunakan untuk raja kiranya juga memenuhi syarat.

Yang hebat, selain tempatnya bagus, ukurannya juga pas, sekalipun digunakan

40 orang sekaligus juga takkan meluap.”

Dia tepuk-tepuk tangan yang kotor, lalu menyambung pula dengan tertawa,

“Biasanya Cayhe suka menghormati orang tua dan menghargai orang pandai,

jika kalian berdua mau pakai, boleh silakan dulu.”

Dengan muka merah kedua Ih-hoa-kiongcu membanting kaki terus berpaling

ke sana.

Siau-hi-ji pandang So Ing pula, tanyanya dengan tertawa, “Dan kau

bagaimana?”

“Aku … aku sekarang be … belum ingin,” jawab So Ing dengan jengah.

“Jika demikian, maaf aku tidak sungkan lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, ia

terus menyusup ke dalam sana.

Selang sejenak barulah anak muda itu keluar sambil meraba perutnya,

ucapnya dengan gegetun, “Wah, lega rasanya. Mungkin tiada urusan lain di

dunia ini yang rasanya lebih lega daripada habis kerja begini.”

Lalu ia kembali duduk ke tempatnya semula, ia memejamkan mata seperti

ingin tidur.

Akhirnya So Ing juga tidak tahan, perlahan-lahan ia merangkak, dan

melangkah ke sana.

Tak tahunya, baru saja ia berbangkit, mendadak sebelah mata Siau-hi-ji

terpentang, katanya dengan menyengir, “Sekarang kau ingin?”

“Kau … kau telur busuk,” omel So Ing dengan muka merah.

Memang aneh, bilamana tiada orang membicarakan hal-hal demikian, maka

terkadang orang menjadi lupa. Tapi bila ada orang menyinggungnya, rasanya

lantas tak tahan, makin dipikir makin kebelet.

Entah sudah lewat beberapa lama pula, lambat laun wajah Lian-sing Kiongcu

menjadi merah juga. Selang tak lama lagi, kedua kakinya seperti mulai

gemetar.

Terdengar suara napas Siau-hi-ji yang setengah mengorok, agaknya anak

muda itu sudah pulas.

Sekonyong-konyong Lian-sing Kiongcu melayang ke sana secepat angin,

mungkin belum pernah dia bergerak secepat ini biarpun dia sedang bertanding

dengan lawan yang paling lihai.

Mendadak Siau-hi-ji mengikik tawa, katanya, “Nah, sekarang mungkin kau

takkan bilang aku tidak sopan lagi, bahkan kau akan berterima kasih padaku.”

Memang banyak urusan di dunia ini yang tidak dapat dilawan oleh manusia.

Betapa pun agungnya, betapa pun angkuhnya, betapa pun keras kepalanya,

terkadang juga bisa berubah sama seperti orang yang paling hina dan paling

rendah, sebab urusan-urusan yang dihadapinya ini tidak pandang kepada

siapa pun juga, adil dan merata.

Seperti halnya orang paling cantik dan paling buruk, sama-sama akan

mengalami masa tua dan lapuk. Orang yang paling pintar dan paling bodoh

juga sama-sama bisa merasakan lapar, kedinginan dan keletihan.

Mungkin semua inilah kedukaan paling besar bagi umat manusia.

Ketika Siau-hi-ji tidak sanggup tertawa lagi, akhirnya kakak beradik Ih-hoakiongcu

duduk juga di lantai, apa yang terjadi hanya dalam dua-tiga hari saja,

tapi bagi mereka rasanya sama seperti sepuluh tahun.

Melihat Ih-hoa-kiongcu akhirnya duduk juga, So Ing jadi teringat apa yang

dikatakan Gui Bu-geh, tiba-tiba timbul rasa takutnya, “Jangan-jangan kami

akan berubah menjadi buas sebagaimana dilukiskan oleh Gui Bu-geh itu?”

Tapi dia tidak melihat sesuatu perubahan pada diri Siau-hi-ji, entah apa pula

yang dipikirkan anak muda itu. Tampaknya dia tidak pernah kenal apa itu takut.

Pada saat itulah, tiba-tiba atap ruangan itu merekah sebuah lubang sebesar

mangkuk, malahan semacam benda dijatuhkan melalui lubang itu. Setelah

mereka awasi, yang dijatuhkan itu adalah sebuah jeruk.

Dalam keadaan demikian, jeruk ini benar-benar lebih berharga daripada emas

di seluruh dunia ini. Barang siapa asalkan bisa lebih banyak makan sesisir

jeruk itu, bisa jadi akan hidup lebih lama hingga datangnya Hoa Bu-koat.

Dalam suasana begini, dapatkah mereka membagi jeruk secara adil?

Sudah barang tentu tiada seorang pun berani mendahului meraih jeruk itu. So

Ing memandangi jeruk itu hingga kesima. Selamanya tak pernah terpikir

olehnya bahwa sebuah jeruk bisa sedemikian menarik baginya. Dilihatnya

sorot mata kakak beradik Ih-hoa-kiongcu juga terbeliak memandangi jeruk itu.

Bila makanan lain mungkin takkan begitu menarik bagi mereka, tapi sebuah

jeruk yang berisi dan banyak cairannya, bisa melenyapkan dahaga dan dapat

dibuat tangsel perut, ini benar-benar sangat mereka butuhkan sekarang.

Sambil menatap tajam jeruk itu, perlahan-lahan Lian-sing Kongcu mulai

berbangkit.

Sekonyong-konyong terdengar Siau-hi-ji bergelak tertawa dan berkata,

“Hahaha, tak terduga Ih-hoa-kiongcu yang mahaagung sekarang juga sudi

makan barang yang dimakan orang di lantai. Hahaha, sungguh lucu, sungguh

menggelikan!”

Seketika tubuh Lian-sing Kiongcu mematung di tempatnya, hanya jarinya saja

yang rada gemetar. Namun matanya masih terus menatap jeruk itu tanpa

berkedip.

Dengan acuh tak acuh Siau-hi-ji berkata pula, “Jangan kau lupa, sepasang

mata Gui Bu-geh yang mirip mata maling itu sedang mengintip, jika kau jumput

dan makan jeruk ini, bisa jadi dia akan bergelak tertawa hingga copot giginya.”

Kulit maka Lian-sing Kiongcu tampak berkerut-kerut, jelas dia sedang

mengalami pertentangan batin yang hebat. Sesungguhnya umpan ini sukar

ditolak. Tapi akhirnya ia memejamkan mata dan duduk kembali.

Rupanya dia lebih suka mati daripada ditertawakan orang. Nyata, Ih-hoakiongcu

memang punya iman teguh. Di antara seratus ribu orang mungkin

cuma ada satu-dua orang yang dapat berbuat seperti dia.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berucap pula, “Tapi kalau aku yang menjumput

barang makanan yang telah dibuang orang, tentu tiada orang yang akan

menertawakan diriku, sebab pada dasarnya kulit mukaku memang setebal

tembok.” Sambil bicara ia terus melompat bangun dan mengambil jeruk itu.

Terbelalak So Ing memandangi kelakuan anak muda itu, ia tidak tahu apakah

jeruk itu akan dimakan sendiri oleh Siau-hi-ji. Betapa pun ia memang belum

mutlak memahami jiwa anak muda itu.

Maklum di antara seratus ribu orang mungkin tiada satu pun yang dapat

memahami jalan pikiran Siau-hi-ji.

Dilihatnya Siau-hi-ji telah mengupas kulit jeruk dan dibelah menjadi dua, air

jeruk lantas muncrat membasahi mukanya, ia menjulurkan lidah untuk menjilat

air jeruk itu, katanya sambil terkecek-kecek, “Ehm, alangkah manis dan

sedapnya, tampaknya tidak buruk juga kulit muka seorang dibuat tebal sedikit,”

Mendadak ia berpaling pada So Ing, katanya dengan tertawa, “Kulit mukamu

biasanya juga tidak tipis, rasanya pantas juga kalau kubagi separo jeruk ini

padamu.”

Dalam keadaan demikian, orang yang dapat membagi separo jeruk itu kepada

orang lain, sekalipun orang itu adalah ayah-ibu atau sanak keluarganya betapa

pun tindakan ini tidaklah mudah dilakukan. Untuk ini diperlukan sebuah hati

yang bajik dan welas asih, diperlukan semangat berkorban.

Jika orang lain, pada waktu berbuat demikian, tentu takkan terhindar dari sikap

sok orang dermawan, seorang penolong, seorang penyelamat, dengan

demikian supaya orang merasa kagum, berterima kasih dan merasa utang budi

padanya.

Tapi pada waktu berbuat demikian, Siau-hi-ji justru berolok-olok lebih dulu

pada orang lain.

So Ing jadi geli, ucapnya dengan suara lembut, “Sungguh, terkadang aku

sangat heran, mengapa seorang yang mempunyai mulut bandit justru

mempunyai hati yang bajik.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji menjawab, “Memang ada setengah orang pada

hakikatnya tidak banyak bedanya dengan bandit.”

“Oo? ….” So Ing melenggong bingung.

“Setahuku,” tutur Siau-hi-ji, “Ada seorang yang pintar dagang, tapi lebih banyak

spekulasi dan manipulasi, di mana-mana dia main tanah, tujuannya

menghalalkan cara, dengan jalan menipu dan merampas dia telah mengeruk

kekayaan berjuta-juta tahil perak. Dari kekayaan sekian itu dia mendermakan

seribu tahil perak untuk rumah yatim piatu, dengan demikian berubahlah dia

menjadi seorang sosial dan dermawan.”

Sambil menerima pemberian jeruk separo itu So Ing berkata dengan tertawa,

“Tapi kan lebih baik daripada manusia yang kikir, yang tak mau keluar sepeser

pun.”

Siau-hi-ji mencium separo jeruk yang tersisa itu, tiba-tiba ia berbangkit dan

mendekati Ih-hoa-kiongcu, katanya dengan tertawa, “Biarpun kalian tidak

memandang padaku kan juga dapat membau sedap jeruk ini, bukan?”

Kedua Ih-hoa-kiongcu sengaja melengos dan tidak mau memandangnya.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menyodorkan separo jeruk itu ke depan mereka dan

berkata, “Sekarang boleh kalian lihat, separo jeruk ini adalah milik kalian.”

“Ambil!” teriak Kiau-goat dengan suara serak, “Aku tidak … tidak sudi ….”

Dengan tertawa Siau-hi-ji memotong, “Kutahu kalian pasti tidak sudi makan

barang buangan orang lain, tapi separo jeruk ini adalah persembahanku

dengan hormat, kukira boleh kalian makan dengan senang hati.”

Seketika kedua Ih-hoa-kiongcu saling pandang dengan bingung. Selang

sejenak, barulah Lian-sing Kiongcu berkata, “Meng … mengapa kau berbuat

demikian?”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Seorang kalau sudah hampir

mati, tapi masih dapat menjaga martabat sendiri dan tidak sudi bikin malu

pamornya, maka orang demikian sungguh sangat kukagumi.” Ia tertawa, lalu

menyambung, “Nah, anggaplah jeruk ini adalah penghormatanku kepada

kalian. Sumbangan dengan hormat ini tentunya takkan kalian tolak bukan?”

So Ing menjadi bingung juga menyaksikan kelakuan anak muda itu, mungkin

sejak mula ia sudah menduga Siau-hi-ji akan membagi setengah jeruk itu

padanya, tapi dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sisa

separonya lagi juga akan diberikan Siau-hi-ji kepada orang lain.

Dilihatnya Siau-hi-ji kembali ke tempatnya semula dengan tertawa, sama sekali

tiada kelihatan berseri pada wajahnya dan tiada perasaan masygul, seperti

halnya dia habis makan seratus biji jeruk dan sisanya setengah biji baru

diberikannya kepada orang lain.

“Sungguh aku tidak … tidak paham mengapa kau berbuat demikian,” kata So

Ing dengan heran.

“Sebabnya kan sudah kukatakan tadi,” ujar Siau-hi-ji. “Apalagi, coba kau pikir,

jika mereka tidak merasa malu, mana kita dapat makan jeruk ini? Tentu sudah

diambil mereka dan dapatkah kita merampasnya?”

“Jika sisa separo itu kau berikan kepada mereka, mengapa yang separo ini kau

berikan padaku?” tanya So Ing.

“Kalau jeruk ini dapat kutipu berarti jeruk ini punyaku, kalau punyaku dengan

sendirinya akan kuberikan separo padamu. Mengenai sisa separo yang lain

kuberikan kepada siapa kan urusanku sendiri dan tiada sangkut-pautnya

denganmu.”

So Ing terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan rawan, “Engkau sungguh

orang yang aneh, aku benar-benar tidak memahami dirimu.”

“Jika seorang lelaki dapat dipahami perempuan sejelas-jelasnya, mana dia bisa

hidup lagi?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

So Ing lantas membagi pula separo jeruk itu menjadi dua bagian, katanya

dengan lembut, “Setelah kau berikan separo jeruk ini padaku, maka jeruk ini

pun sudah menjadi punyaku, kalau aku mempunyai jeruk, dengan sendirinya

harus kubagi setengahnya padamu. Nah, anggaplah ini pun tan … tanda

penghormatanku padamu.”

“Tidak, aku tidak mau,” kata Siau-hi-ji.

“Mengapa?” tanya So Ing.

“Sebab bagianmu itu lebih besar, aku menghendaki yang itu,” ucap Siau-hi-ji.

So Ing melenggong, tapi lantas mengikik tawa, katanya, “Jika kulahirkan anak

mirip kau, mustahil aku tidak mati kaku dibuat jengkel setiap hari.”

“Jika begitu lebih baik kau mati sekarang saja,” ujar Siau-hi-ji.

“Sebab apa?” tanya So Ing dengan melengak.

“Sebab anak yang kau lahirkan pasti mirip aku, jika mirip orang lain, akulah

yang akan mati kaku saking gemas.”

Kembali muka So Ing merah jengah, sambil menggigit bibir ia mengomel, “Kau

ini memang telur busuk kecil.”

“Salah, telur busuk besar. Telur busuk kecil kan belum kau lahirkan.”

Mendengar ucapan Siau-hi-ji yang mengandung makna ganda itu, tanpa terasa

So Ing mencubit si anak muda terus menjatuhkan diri ke pangkuannya, ia

menjadi lupa bahwa di samping mereka masih ada Ih-hoa-kiongcu, segalanya

sudah dilupakan ….

Pada saat itulah Lian-sing Kiongcu memejamkan mata perlahan-lahan, ujung

matanya tampak basah, entah apa yang terkenang olehnya.

Terdengar Siau-hi-ji bergumam, “Selanjutnya jika ada orang berani bilang

padaku bahwa pada dasarnya manusia berwatak jahat, mustahil kalau tidak

kutempeleng dia dua kali.”

Bahwa sebuah jeruk terbagi menjadi empat, yang dapat dimakan oleh mereka

masing-masing tidak lebih hanya dua tiga sayap saja, ini sama halnya tetesan

embun di tengah gurun, pada hakikatnya tiada gunanya.

Tapi semangat mereka lantas berbangkit, mungkin disebabkan penemuan

mereka bahwa watak manusia pada dasarnya adalah bajik, harkat manusia

juga tidak semudah itu runtuh sebagaimana dibayangkan oleh Gui Bu-geh.

Akan tetapi mereka pun menemukan suatu kenyataan, jarak mereka dengan

kematian sudah semakin mendekat, jelas ini kejadian yang tak dapat

dihindarkan, siapa pun tak dapat mengubahnya.

Ih-hoa-kiongcu yang selamanya tinggi di atas, lambat-laun, berubah juga tiada

bedanya seperti orang biasa.

Sampai di sini baru Siau-hi-ji merasa mereka ternyata juga manusia-manusia

yang membutuhkan macam-macam keperluan dan memiliki berbagai

perasaan, bahkan juga bisa mencucurkan air mata.

Sekarang, maukah mereka membeberkan rahasia pribadinya?

Terbeliak mata Siau-hi-ji memandangi Ih-hoa-kiongcu, tiba-tiba ia berkata,

“Rasanya aku mempunyai akal yang dapat membuat kita hidup terus.”

Benar saja, Lian-sing Kiongcu lantas bertanya, “Akal apa?”

“Meski akalku ini rada memalukan, tapi pasti berguna,” ucap Siau-hi-ji. Ia

merasa setiap orang sama mendengarkan uraiannya dengan penuh perhatian,

maka perlahan ia melanjutkan, “Walaupun Gui Bu-geh orang hina dan kotor,

tapi dia adalah seorang pecinta yang khusyuk, buktinya sampai sekarang ia

masih merindukan kalian dan tak pernah jatuh hati kepada perempuan lain.

Sebab itulah kalau sekarang kalian menyanggupi diperistri olehnya, maka dia

pasti akan membebaskan kita seluruhnya.”

So Ing berjingkat kaget, sungguh tak terduga olehnya anak muda itu berani

bicara demikian, dia mengira Ih-hoa-kiongcu pasti akan berjingkrak murka,

bukan mustahil akan membunuhnya.

Siapa tahu Ih-hoa-kiongcu tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak sedikit

pun, bahkan memperlihatkan rasa gusar pun tidak.

Gemerdep sinar mata Siau-hi-ji, dengan perlahan ia menyambung pula, “Apa

pun juga Gui Bu-geh pernah jatuh cinta pada kalian, tentunya kalian pun tahu

bahwa lelaki yang dapat mencintai setulus hati seperti dia tidaklah banyak di

dunia ini.”

Sembari bicara ia pun memperhatikan perubahan air muka Ih-hoa-kiongcu,

berbareng ia melanjutkan pula, “Jika kalian menjadi istrinya, paling tidak kan

jauh lebih baik daripada diperistri oleh manusia-manusia yang tak berbudi,

betul tidak?”

Kiau-goat Kiongcu hanya menggigit bibir dan tak bersuara, sedangkan Liansing

Kiongcu mendadak berpaling ke sana, sekilas kelihatan matanya

mengembeng air mata.

Selang sejenak barulah Siau-hi-ji mulai bertanya lagi, “Nah, apakah kalian

sudah sadar sekarang?”

Tiba-tiba Lian-sing Kiongcu menatapnya tajam-tajam dan berucap sekata demi

sekata, “Jika ucapanmu ini dikatakan beberapa jam sebelum ini, maka

bagaimana akibatnya tentu kau tahu sendiri.”

“Sudah tentu kutahu,” jawab Siau-hi-ji. “Sebab itulah kusimpan kata-kata ini

dan baru kukatakan sekarang. Sebab aku pun tahu, seseorang yang

mendekati ajalnya, cara berpikirnya pasti akan berubah banyak.”

“Jika begitu, kalau sekarang kukatakan So Ing saja diberikan kepada Gui Bugeh,

apakah kau setuju?” tanya Lian-sing.

Sampai lama sekali Siau-hi-ji tidak dapat menjawab. Tanpa berkedip So Ing

memandangi anak muda itu. Selang agak lama barulah Siau-hi-ji menghela

napas panjang, katanya, “Ah, apa yang kukatakan cuma omong iseng saja,

kan tidak kupaksa kalian harus menjadi istrinya. Boleh kalian anggap katakataku

tadi sebagai kentut belaka.”

So Ing menghela napas, ucapnya dengan suara lembut, “Asalkan aku sudah

tahu dengan pasti pikiranmu, mati pun aku rela.”

“Mati, sebenarnya bukan sesuatu yang sulit, terkadang jauh lebih mudah

daripada makan nasi,” ujar Siau-hi-ji. “Misalnya seorang berjalan di jalan raya,

sekonyong-konyong dari udara jatuh sepotong batu dan mematikan dia, coba

bayangkan, betapa mudah dan betapa ringan cara matinya, boleh dikatakan itu

tidak mengalami penderitaan apa pun juga.” Setelah menghela napas, lalu ia

menyambung, “Tapi menunggu ajal, ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Seorang patriot waktu tertawan musuh bilamana dia terus membunuh diri,

tindakan ini jelas tiada sesuatu yang luar biasa, tapi kalau dia sanggup

bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, menolak segala

pancingan dan bujukan, tapi tekadnya sudah bulat untuk mati. Patriot

demikianlah yang selalu dikenang, namanya akan terukir dalam sejarah secara

abadi.”

Bahwa Siau-hi-ji mendadak bicara hal-hal yang berbobot begitu, tanpa terasa

hati So Ing menjadi rawan juga. Ia maklum, hanya orang yang menunggu

kematian saja yang tahu betapa menderitanva orang yang menanti ajal.

So Ing kucek-kucek matanya dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah

kita sekarang benar-benar tiada harapan hidup sama sekali?”

Siau-hi-ji termenung sejenak, jawabnya dengan suara tertahan juga, “Jika kita

dapat bersabar, menanti kematian dengan tenang, mungkin akan timbul setitik

sinar harapan.”

“Bila harus menanti kematian dengan tenang, masa ada harapan untuk hidup

segala?” ujar So Ing.

“Gui Bu-geh menghendaki kita mati perlahan-lahan, tujuannya supaya kita

tersiksa lahir batin, menjadi gila, bahkan saling membunuh, sebab hanya

beginilah baru dia mendapatkan pelampiasan, hanya orang gila yang cacat

seperti dia mempunyai jalan pikiran abnormal begini.”

“Ya, memang betul,” kata So Ing.

“Tapi kita sekarang dapat bersabar dan bersikap tenang, jika kita mati dengan

tenang begini, dia pasti tidak rela, pasti akan bertindak dengan cara lain pula.

Kalau sudah begitu, maka tibalah kesempatan baik bagi kita.”

“Betul juga,” So Ing manggut-manggut. “Bila dia tidak menggubris kita, tentu

kita mati kutu. Tapi sekali dia bertindak sesuatu berarti pula kita telah diberi

kesempatan baik. Hanya ….”

“Hanya saja kalau dia terlebih sabar daripada kita, maka celakalah kita,” tukas

Siau-hi-ji.

So Ing berkedip-kedip, katanya, “Makanya sekarang kita harus mencari

sesuatu akal untuk memancing keluar dia.”

“Betul, memang begitulah maksudku,” kata Siau-hi-ji.

“Lalu akal apa?” tanya So Ing.

“Masa tak dapat kau pikirkan akal ini?”

So Ing menggigit bibir dan tak bersuara pula.

Ih-hoa-kiongcu tidak mendengar apa yang sedang diperbincangkan mereka,

sejenak kemudian mereka melihat Siau-hi-ji berjangkit, lalu memberi hormat

kepada mereka kakak beradik, kemudian menghela napas panjang dan

berkata, “Aku Kang Siau-hi dapat mati dan terkubur bersama Ih-hoa-kiongcu,

sungguh terasa sangat beruntung dan rupanya ada jodoh. Sekarang kita samasama

menghadapi kematian, biarlah permusuhan kita yang sudah-sudah

kuhapus sejak kini, sebab apa kalian menyuruh Hoa Bu-koat membunuhku dan

apa rahasianya, aku pun tidak mau tanya lagi.”

Ih-hoa-kiongcu menjadi bingung mengapa anak muda ini mendadak bicara

demikian, mereka hanya terbelalak dan ingin tahu apa yang akan disambung

pula.

Siau-hi-ji lantas berkata lagi, “Karena sekarang Hoa Bu-koat tidak berada di

sini, tampaknya kita pun tiada harapan bisa lari keluar, terpaksa kumohon

bantuan kalian agar aku diberi mati secara menyenangkan dan cepat.”

“Kau … kau ingin bunuh diri?” tanya Lian-sing Kiongcu.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, ucapnya, “Betul, kan sudah kukatakan, aku

tidak takut mati, tapi menunggu ajal, inilah yang membuatku tidak tahan.”

Seketika perasaan Ih-hoa-kiongcu kakak beradik merasa tertekan. Mendadak

Kiau-goat berseru dengan parau, “Tidak boleh!”

“Mengapa aku tidak boleh membunuh diri? Keadaan sudah begini,

memangnya kau ingin menunggu kedatangan Hoa Bu-koat untuk

membunuhku?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. Sembari bicara diam-diam ia

pun mengedipi Ih-hoa-kiongcu, jelas mengandung maksud tertentu.

Kiau-goat jadi melengak, sedangkan Lian-sing Kiongcu lantas menarik ujung

baju sang kakak. Lalu berkata, “Baiklah, silakan kau bunuh diri jika kau ingin

mati.”

“Terima kasih, setiba di depan raja akhirat pasti akan kupuji kebaikan kalian,”

kata Siau-hi-ji.

Tiba-tiba So Ing menambahkan, “Aku punya dua biji obat racun, mestinya

disediakan Gui Bu-geh untuk muridnya.”

“Kutahu betapa lihainya racun ini, satu biji saja sudah cukup,” ujar Siau-hi-ji.

So Ing tersenyum pedih, katanya pula, “Bila kau mati, satu detik saja aku tak

dapat hidup sendirian, masa kau tidak tahu?”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian, “Baiklah, ingin mati marilah kita

mati bersama agar tidak kesepian di tengah perjalanan menuju akhirat.”

Sekonyong-konyong seorang berseru, “Jangan, kalian tidak boleh mati. Kalian

muda-mudi yang sedang dimabuk cinta, lebih lama hidup sehari berarti sehari

lebih bahagia, Jika kalian mati sekarang juga, bukankah sia-sia belaka hidup

kalian ini?”

Jelas itulah suara Gui Bu-geh.

Siau-hi-ji dan So Ing saling pandang sekejap, diam-diam mereka membatin,

“Tampaknya dia tak dapat menahan perasaannya.”

Maka terdengarlah Gui Bu-geh berkata pula, “Kalau kalian merasa kesal boleh

minumlah beberapa cawan arak. Hahaha, anggaplah arak suguhanku bagi

malam pengantin kalian.”

Di tengah suara tertawa itu, dari lubang di atas lantas jatuh sebotol arak. Baru

saja Siau-hi-ji menangkapnya, menyusul sebotol lain jatuh pula. Hanya

sebentar saja di pangkuan Siau-hi-ji sudah ada dua belas botol arak, bahkan

tidak kecil botolnya.

So Ing berkerut kening, bisiknya lirih, “Apa maksud tujuannya ini? Arak kan

juga bisa menambah tenaga, bila kedua belas botol arak ini diminum secara

perlahan, tentu kita dapat bertahan hidup beberapa hari lebih lama ….”

“Arak bisa menambah tenaga, tapi juga bisa mengacaukan pikiran,” kata Siauhi-

ji. “Seorang yang sudah dekat ajalnya, bila minum arak lagi, maka segala

apa pun dapat diperbuatnya. Langkah Gui Bu-geh ini benar-benar sangat lihai

dan keji.”

“Jika demikian mengapa kau menangkap semua botol arak ini?” tanya So Ing.

“Masa kau tidak paham maksudku?” jawab Siau-hi-ji sambil tertawa.

So Ing menggigit bibir lagi dan tidak bersuara.

Siau-hi-ji lantas menaruh enam botol arak di depan Ih-hoa-kiongcu, katanya,

“Tetap aturan lama, kita bagi separo-separo.”

“Ambil kembali saja, selamanya kami tidak pernah minum barang setetes

arak,” Kata Kiau-goat Kiongcu.

“Hah, jika benar kalian tidak pernah minum arak, maka sekarang kalian lebihlebih

harus mencicipinya barang dua cawan,” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Seorang

kalau mati tidak pernah tahu rasanya arak, maka hidupnya boleh dikatakan siasia

belaka.”

Hanya sekejap saja ia sendiri sudah menghabiskan isi setengah botol.

Jika arak itu sangat keras mungkin Ih-hoa-kiongcu dapat bertahan dan tidak

meminumnya, tapi arak itu justru adalah arak Tiok-yap-jing (hijau daun bambu),

baunya harum, warnanya menarik, memandangnya saja menyenangkan,

apalagi kalau mencicipi rasanya.

Ada peribahasa yang mengatakan “Minum racun untuk menghilangkan

dahaga”, seorang kalau sudah kehausan, dalam keadaan kepepet, racun juga

akan diminumnya, apalagi arak berbau sedap begini?

Lian-sing Kiongcu dan Kiau-goat Kiongcu saling pandang sekejap, akhirnya

mereka tidak tahan, sumbat botol mereka buka dan masing-masing mencicipi

seteguk.

Mendingan kalau mereka tidak mencicipinya, sekali sudah tahu rasanya,

seketika mata mereka terbeliak, terasa hawa hangat mengalir masuk ke perut,

menyusul darah sekujur badan lantas menghangat.

Setelah minum seteguk, segera ada dua teguk, ada dua ceguk tentu ada tiga

ceguk dan begitu seterusnya.

Siau-hi-ji mengetuk-ngetuk botol arak sambil bersenandung, karena

sekolahnya terbatas, dengan sendirinya senandung Siau-hi-ji senandung

kampungan. Namun Lian-sing dan Kiau-goat tidak ambil pusing, setelah minum

beberapa ceguk arak enak itu, bahkan mereka mulai merasakan senandung

anak muda itu sangat merdu dan menggairahkan.

Tanpa terasa arak terus mengalir masuk ke perut kedua Ih-hoa-kiongcu, hanya

sebentar saja isi botol sudah tinggal setengah. Bahkan cara minum mereka

bertambah semangat, dan menyesal mengapa tidak sejak dulu-dulu mereka

minum arak yang ternyata seenak ini.

Ketika senandung Siau-hi-ji berakhir, sementara itu satu botol arak sudah

dihabiskan Lian-sing, dengan wajah merah ia mulai mengigau mengulangi

senandung Siau-hi-ji tadi sambil bergelak tertawa.

“Kang … Kang Siau-hi-ji, marilah hab … habiskan secawan ini, marilah kita

bersama-sama melupakan ….” Demikian Lian-sing tampak mulai mabuk.

So Ing jadi melenggong, sama sekali tak tersangka olehnya Lian-sing bisa

berubah menjadi demikian setelah minum arak.

Hakikatnya Lian-sing bukan lagi Ih-hoa-kiongcu yang agung itu, tapi sudah

berubah menjadi orang lain.

Ia tidak tahu bahwa perut kalau dalam keadaan kosong akan sangat mudah

menjadi mabuk, ketika setengah botol arak masuk perut Lian-sing, sedikitnya

dia sudah tujuh bagian mabuk, maka arak yang diminumnya lagi biarpun pahit

akan terasa manis.

Seorang yang biasanya tidak suka minum arak memang tidak mudah untuk

disuruh minum arak. Tapi sekali dia sudah minum, apalagi sudah tujuh bagian

mabuk, bila ingin mencegahnya supaya jangan minum lagi, maka sukarnya

jangan ditanya pula.

Siau-hi-ji tertawa kepada So Ing, katanya, “Nah, sekarang tentunya kau tahu

bahwa segala apa boleh diminum secara perlahan-lahan, hanya arak saja yang

tidak dapat.”

“Masa kau … kau benar-benar menghendaki dia mabuk?” tanya So Ing.

Siau-hi-ji tidak menjawab, tapi perlahan bersenandung pula, “Tengok pintu

longok jendela sepi tiada orang, cepat mendekap buru-buru dicium. Sialan,

omel si cantik, pura-pura menolak, belum diminta sudah mau ….”

Pantun kampungan yang tidak keruan ini memang tidak menarik, tapi cukup

melukiskan khusuk-masyuk muda-mudi yang sedang tenggelam berpacaran.

Tentu saja selama hidup Lian-sing Kiongcu tidak pernah mencicipi rasanya

berpacaran, tanpa terasa ia menjadi kesima, pipinya bertambah merah dan

panas.

Kiau-goat juga sudah minum beberapa ceguk arak, tapi ketika melihat adiknya

menghabiskan lagi sebagian isi botol kedua, ia berkerut kening dan hendak

merampas botol arak itu sambil mengomel, “Kau sudah mabuk, taruh saja

botolnya, jangan minum lagi.”

Tapi Lian-sing mengipatkan tangan sang kakak dan berkata, “Siapa bilang aku

mabuk? Selamanya aku tak pernah berpikir sejernih seperti sekarang ini.”

“Kubilang kau sudah mabuk!” seru Kiau-goat dengan bengis.

Lian-sing Kiongcu tergelak-gelak, jawabnya, “Kau bilang aku mabuk, lantas

benar aku mabuk? Kukira kau sendiri yang mabuk.”

“Mabuk atau tidak, tidak boleh minum lagi,” kata Kiau-goat.

Mendadak Lian-sing berteriak, “Kau tidak perlu urus, aku justru ingin minum

lagi.” Dia memelototi Kiau-goat dan berkata pula, “Sudah cukup hampir mati,

masa kau hendak memerintah aku pula?”

Kejut dan gusar Kiau-goat, tapi demi mendengar dua-tiga kalimat yang terakhir

itu, tanpa terasa ia pun menghela napas panjang dan minum arak seceguk,

ucapnya dengan rawan, “Ya, memang benar, aku sendiri toh tidak jauh lagi dari

ajal, untuk apa kucampur urusanmu.”

Lian-sing Kiongcu lantas berpaling dan tertawa kepada Siau-hi-ji, katanya,

“Marilah, kusuguh kau secawan pula, kau memang anak yang menyenangkan.”

Siau-hi-ji seperti tidak mengacuhkan orang, seenaknya ia tanya, “Jika begitu,

mengapa kau hendak membunuhku?”

Mendadak berubah air muka Kiau-goat, sedangkan Lian-sing cuma terkekehkekeh

saja. Ucapnya, “Setelah dekat ajalmu, tentu rahasia ini akan

kuberitahukan kepadamu.” Dalam keadaan demikian dia masih dapat

menyimpan rahasia dan tidak mau membeberkannya.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa gegetun, tapi dia sengaja tertawa dan berkata

pula, “Baiklah, sekalipun aku sudah mati pasti juga akan kutunggu ceritamu ini,

habis itu baru kupergi menghadap Giam-lo-ong (raja akhirat).”

“Baik, kita tetapkan begitu,” kata Lian-sing sambil tertawa.

“Bagus, akan … akan tetapi bagaimana bila engkau mati lebih dulu

daripadaku?”

“Jika begitu boleh kau ikut mati bersamaku saja, di tengah jalan tentu akan

kuceritakan padamu.”

“Ai, bisa mati bersamamu, tidak percumalah hidupku ini,” kata Siau-hi-ji dengan

gegetun.

Lian-sing mengerling mesra, ucapnya, “Apa betul? Kau benar-benar mau ikut

bersamaku?”

“Memangnya kau kira cuma Gui Bu-geh saja yang tergila-gila padamu? Wanita

menyenangkan seperti dirimu, sungguh aku … aku ingin ….”

“Apa benar aku sangat menyenangkan?” tanya Lian-sing dengan tertawa.

“Mengapa kebanyakan orang bilang aku menakutkan?”

“Yang menakutkan adalah ilmu silatmu dan bukan dirimu,” Kata Siau-hi-ji. “Jika

dirimu menakutkan, maka semua perempuan di dunia ini mungkin akan

berubah menjadi kuntilanak seluruhnya.”

Lian-sing Kiongcu mengerling genit, tiba-tiba ia tuding So Ing dan berkata,

“Apakah aku lebih menyenangkan daripada dia?”

“Dia mana bisa dibandingkan denganmu?” jawab Siau-hi-ji. “Jika kau mau

menjadi istriku, sekarang juga akan kukawini kau.”

Lian-sing terkikik-kikik dengan muka merah, ucapnya, “Setan cilik, meski

orangnya kecil, tapi hatimu tidak kecil.”

Makin omong makin tidak keruan seakan-akan mereka sedang bercumbu rayu

berduaan, orang lain dianggapnya sudah mati semua, sama sekali mereka

tidak mau tahu bahwa wajah So Ing saat itu telah berubah menjadi pucat dan

Kiau-goat juga gemetar karena gusarnya.

Omong punya omong sambil tertawa cekikik dan cekakak, akhirnya tubuh Liansing

lantas jatuh ke pangkuan Siau-hi-ji, katanya pula dengan tertawa genit,

“Selama hidupku belum pernah segembira sekarang, aku ingin ….”

“Apa kau sudah gila!” bentak Kiau-goat mendadak dengan gusar.

Dengan suara keras Lian-sing menjawab, “He, apakah kau merasa cemburu

lagi, dan kau hendak membuat susah diriku. Sekarang aku tidak mau tunduk

lagi padamu, mati pun aku harus mati dengan gembira.”

Karena murkanya Kiau-goat terus menubruk maju. Tapi mendadak

didengarnya Siau-hi-ji membisikinya dengan suara tertahan, “Kau ingin keluar

dengan hidup tidak? Kau ingin membunuh Gui Bu-geh tidak?”

Seketika Kiau-goat melengak, katanya, “Kau … kau ….”

Dengan suara lebih lirih lagi Siau-hi-ji berucap, “Jika kau ingin, kau harus

bertindak menurut anjuranku. Padamkan dulu semua lampu di sini.”

Ternyata Gui Bu-geh senantiasa mengintip di luar, waktu dilihatnya Lian-sing

menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Siau-hi-ji, biji matanya lantas melotot

seakan-akan melompat keluar, sekujur badannya terasa tegang dan gemetar,

telapak tangan pun terasa berkeringat. Ia membayangkan adegan apa yang

bakal terjadi.

Di luar dugaan, pada saat yang mendebarkan jantung itu, sekonyong-konyong

lampu padam semuanya. Ruangan di bawah seketika gelap-gulita, jari sendiri

saja tidak kelihatan.

Karena gelisah dan dongkolnya hampir saja Gui Bu-geh berjingkrak.

Didengarnya macam-macam suara di dalam kegelapan, mula-mula adalah

suara tawa genit Lian-sing Kiongcu, lalu bentakan Kiau-goat, menyusul lantas

sambaran angin pukulan yang dahsyat. Agaknya kedua kakak beradik Ih-hoakiongcu

telah saling labrak sendiri.

Kemudian terdengar Kiau-goat menjerit kaget, seperti telah dirobohkan.

Gui Bu-geh tambah kelabakan, tiba-tiba ia bergumam, “Ah, tidak mungkin,

Lian-sing pasti bukan tandingan Kiau-goat, mana bisa Lian-sing merobohkan

kakaknya, tentu mereka sengaja main sandiwara ….” Tapi lantas terpikir lagi

olehnya, “Namun juga bisa terjadi, sebab Lian-sing sudah banyak menenggak

arak, tenaga banyak bertambah, sebaliknya Kiau-goat sudah lemas, ilmu silat

mereka memang juga tidak banyak berselisih, dengan demikian Kiau-goat

tentu juga bisa dirobohkan oleh adiknya.”

Dan kalau benar Kiau-goat telah dirobohkan, lalu apalagi yang bakal terjadi?

Dalam kegelapan mendadak setitik suara saja tidak terdengar lagi, keadaan

sunyi senyap begini semakin merangsang orang untuk mengetahui apa yang

terjadi, tentu saja Gui Bu-geh kelabakan setengah mati karena ingin tahu.

Dengan susah payah dia telah mengatur segalanya, maksud tujuannya hanya

ingin melihat adegan yang merangsang ini. Untuk ini entah betapa banyak dia

telah memeras morel dan materiel, bahkan telah mengorbankan segalanya.

Tapi sekarang dia justru tidak dapat melihat apa-apa.

Seperti orang gila dia mendorong kursi-rodanya pergi mengambil sebuah

lentera, ia bermaksud menyinari keadaan di dalam ruangan dengan cahaya

lampu itu. Siapa tahu, begitu dia dekatkan lentera itu ke lubang, segera angin

pukulan menyambar keluar dan lentera itu pun padam.

“Tidak boleh mengintip,” terdengar suara Siau-hi-ji bergelak dengan napas

tersengal-sengal.

Hati Gui Bu-geh merasa panas sekali seperti terbakar dan juga seperti dikili-kili

karena ingin tahu. Akhirnya dia menggereget, ia menjadi nekat, gumamnya

sambil menyeringai, “Hm, kau melarang aku mengintip, aku justru sengaja mau

melihat, mati pun aku harus melihatnya.”

Menurut perhitungannya, setelah Kiau-goat dirobohkan, tentu sekarang Siauhi-

ji dan Lian-sing Kiongcu sedang asyik main cinta dan tidak sempat

mengurus orang lain. Tertinggal So Ing saja tentu tidak terpikir olehnya.

Sudah berpuluh tahun dia menunggu dengan susah payah, baru sekarang dia

mendapat sajian adegan merangsang ini, mana boleh kesempatan bagus ini

disia-siakan. Segera ia menyalakan lentera dan membuka kunci pintu, pintu

batu itu terpentang tanpa suara, lalu ia meluncur ke dalam dengan kursinya,

sudah tentu dia menahan napas, karena tegangnya hingga tangannya

gemetar, lentera yang dipegangnya juga ikut gemetar.

Terbayang adegan yang akan dilihatnya itu, jantungnya serasa mau melompat

keluar dari rongga dadanya, sungguh tak terpikir olehnya adegan apa pula di

dunia ini yang bisa lebih merangsang dan lebih menegangkan daripada apa

yang akan dilihatnya ini.

Tak terduga, pada saat itulah dalam kegelapan mendadak meledak suara

gelak tertawa orang banyak.

“Hahaha, Gui Bu-geh,” terdengar Siau-hi-ji berseru sambil terbahak, Akhirnya

kau tertipu juga olehku!”

Karena kagetnya, serasa pecah nyali Gui Bu-geh.

Di mana cahaya lenteranya menyorot, tiba-tiba dilihatnya Siau-hi-ji berdiri tegak

di depannya, pakaiannya rapi, rambutnya teratur, tiada sesuatu apa pun yang

dilakukannya sebagaimana dibayangkan Gui Bu-geh semula.

Segera Bu-geh hendak mundur kembali, namun Kiau-goat Kiongcu tahu-tahu

sudah mengadang di pintu.

“Hahaha, memang sudah kuperhitungkan kau pasti tidak tahan dan ingin

masuk ke sini untuk melihatnya dan semuanya ternyata tepat menurut

dugaanku,” seru Siau-hi-ji sambil bergelak tertawa.

Gui Bu-geh menghela napas panjang, ucapnya dengan menyesal, “Manusia

berusaha, Tuhan yang menentukan. Meski kalian sudah kukurung di sini,

akhirnya semua rencanaku menjadi berantakan. Sungguh tak tersangka aku

Gui Bu-geh yang selama hidup ini malang melintang akhirnya harus terjungkal

di tangan anak ingusan seperti kau ini.”

“Hahaha, kau terjungkal di tangan orang pintar nomor satu di dunia ini, kenapa

mesti penasaran?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Jika ada orang mau

mendirikan tugu peringatan bagiku, tentu kau juga akan ikut tercatat dalam

sejarah dan namamu juga akan terukir abadi.”

Gui Bu-geh menelan ludah, ucapnya dengan parau. “Sekarang apa … apa

kehendakmu?”

“Aku pun tidak menghendaki apa-apa, cuma minta kau mengeluarkan kami dari

liang tikus ini,” kata Siau-hi-ji.

“Kan sudah kukatakan sejak tadi ….”

Mendadak Siau-hi-ji menarik muka sebelum lanjut ucapan Gui Bu-geh,

jengeknya, “Masa sekarang kau tetap menghendaki kami percaya pada

ocehanmu tentang jalan keluar yang telah kau bikin buntu seluruhnya?” Sambil

berkata ia terus melangkah maju mendekati orang.

Di sebelah sana Kiau-goat juga tampak beringas, ia pandang Gui Bu-geh

dengan tajam dan penuh rasa benci.

Sinar mata Gui Bu-geh tampak gemerdep, tiba-tiba ia bergelak tertawa dan

berkata, “Hahahaha, jadi kau ingin kubawa kalian keluar dari sini? Haha, apa

susahnya untuk itu?”

Mencorong terang sinar mata Siau-hi-ji, cepat ia tanya, “Di mana jalan

keluarnya?”

“Di sini,” jawab Gui Bu-geh.

“Di sini?” Siau-hi-ji menegas dengan melenggong. “Mana, di mana?”

“Sekarang juga aku sedang menuju keluar, masa kau tidak melihatnya?” kata

Gui Bu-geh sambil terkekeh-kekeh.

“Kau sekarang ….” mendadak suara Siau-hi-ji terhenti seperti tiba-tiba melihat

setan, wajahnya penuh rasa kejut dan takut, tenggorokannya bersuara seperti

mengorok, tapi tak dapat bicara.

Terkejut juga Kiau-goat melihat perubahan air muka anak muda itu. “Ada apa?”

tanyanya bingung.

Siau-hi-ji menuding Gui Bu-geh tanpa menjawab, jarinya tampak gemetar.

Karena berdiri di belakang Gui Bu-geh, seketika Kiau-goat Kiongcu

melenggong. Dilihatnya lentera masih terpegang di tangan Gui Bu-geh dengan

cahaya yang cukup terang, selebar wajah Gui Bu-geh telah berubah menjadi

warna hitam, mata dan mulutnya terkatup rapat, darah segar merembes keluar

dari ujung mulutnya.

Muka Gui Bu-geh memangnya menakutkan, kini tampaknya menjadi lebih

mengerikan. Tanpa terasa Kiau-goat menyurut mundur dua-tiga tindak,

katanya dengan terkesima, “Jadi dia telah membunuh diri?”

“Betul,” ujar Siau-hi-ji, “Dia lebih suka mati daripada mengeluarkan kita dari

sini. Buset, nekat juga dia, sungguh keji, aku menjadi agak kagum padanya.”

Mulut Gui Bu-geh yang berdarah itu seperti tersenyum mengejek, seakan-akan

hendak menyindir Ih-hoa-kiongcu, “Meski aku tidak dapat menyaksikan

kematian kalian, tapi kalian pun tidak mungkin bisa keluar lagi.”

Kiau-goat berdiri terkesima di tempatnya. Waktu hidup Gui Bu-geh tidak dapat

menandingi dia, tapi sesudah mati toh dapat memberikan suatu pukulan maut

padanya sehingga dia tidak tahu cara bagaimana harus menangkisnya.

Dengan muka pucat So Ing lantas mendekati jenazah Gui Bu-geh, dengan

khidmat ia memberi sembah hormat beberapa kali, air mata pun menetes.

Entah apakah dia berduka bagi Gui Bu-geh atau berduka bagi dirinya sendiri?

Pada saat itulah mendadak Siau-hi-ji menjerit kaget, “Wah, celaka!” Berbareng

ia terus lari keluar.

Kiau-goat dan So Ing saling pandang sekejap, mereka tidak tahu apa yang

ditemukan lagi oleh anak muda itu. Tapi sekarang yang menjadi pedoman

mereka ialah Siau-hi-ji, bahwa anak muda itu berteriak khawatir dan lari keluar,

tentu saja mereka menjadi pucat.

Sementara itu Lian-sing Kiongcu seperti tidur pulas. Rupanya dalam kegelapan

tadi Kiau-goat telah menutuk Hiat-to tidurnya.

Selagi Kiau-goat bermaksud menyusul keluar, sekilas dipandangnya Gui Bugeh

sekejap, mendadak ia pandang Lian-sing dan dibawa lari keluar. Meski Gui

Bu-geh sudah mati, namun dia tidak rela adiknya ditinggalkan bersama

manusia kerdil yang rendah itu dalam suatu ruangan.

Setelah melayang keluar lorong itu, ruangan gua yang luas di atas sana masih

tetap sunyi senyap tiada sesuatu perubahan apa pun, bahkan lentera di

sekeliling ruangan juga masih menyala. Namun Siau-hi-ji berdiri di situ dengan

muka pucat pasi.

“Terjadi apalagi?” tanya So Ing setelah menyusul tiba.

“Adakah kau dengar sesuatu suara?” tanya Siau-hi-ji dengan muram.

“Tidak, tidak terdengar suara apa pun,” jawab So Ing.

Memang suasana sekeliling terasa sunyi laksana di kuburan.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya, “Lantaran kau tidak mendengar

sesuatu apa pun, makanya terasa menakutkan.”

Belum habis ucapannya, seketika pucat juga muka So Ing.

Ia tahu, apabila Hoa Bu-koat masih terus menggali di luar sana, maka suara

‘trang-ting’, suara beradunya alat penggali dengan batu gunung pasti akan

berkumandang ke dalam gua ini, namun sekarang keadaan sunyi senyap, itu

berarti Hoa Bu-koat telah menghentikan usahanya.

Jadi sekarang setitik sinar harapan yang mereka bayangkan tadi juga telah

lenyap.

“Kenapa dia tidak menggali lagi? Masa dia mengira kita sudah tak bisa

tertolong lagi?” kata So Ing dengan cemas.

Siau-hi-ji memandang Kiau-goat Kiongcu sekejap, katanya, “Seumpama dia

tahu kita tak bisa tertolong lagi, sepantasnya dia harus tetap berusaha

menemukan mayat kita.”

Kiau-goat melenggong sekian lama dengan muka pucat, gumamnya kemudian,

“Kukenal watak Bu-koat, pekerjaan apa pun, kalau dia sudah melakukannya,

tidak mungkin dia tinggalkan setengah jalan. Sekarang mendadak dia berhenti

menggali, pasti terjadi sesuatu yang tak terduga.”

“Sesuatu yang tak terduga?” So Ing menegas. “Memangnya bisa terjadi

sesuatu apa yang tak terduga?”

“Jika dapat diterka namanya bukan lagi sesuatu yang tak terduga,” ujar Siau-hiji

dengan menyengir.

Tiba-tiba Kiau-goat berkata pula, “Tapi kau pun tidak perlu khawatir baginya,

apa pun yang dihadapinya pasti bisa diselesaikan olehnya.”

“Untuk apa harus khawatirkan dia, mengkhawatirkan diri sendiri saja sekarang

tidak bisa lagi,” ucap Siau-hi-ji dengan masygul.

Dalam pada itu So Ing sedang duduk di samping sana sambil mendekap

kepala, agaknya memeras otak. Siau-hi-ji berdiri di depannya dan memandangi

si nona dengan tenang.

Suasana di dalam ruangan gua ini sangat seram, cahaya lampu juga terasa

meremang, namun cahaya yang meremang ini terasa lembut ketika menyinari

tubuh So Ing.

Meski rambut si nona sudah semrawut, namun masih tetap lembut

memantulkan sinar yang halus, tangannya yang putih mulus itu tampak lebih

gemilang.

Siau-hi-ji memandang dengan terkesima, sejenak kemudian baru dia

mendekatinya, katanya sambil tepuk bahu si nona, “Apa yang sedang kau

pikirkan?”

Perlahan So Ing merangkul kaki Siau-hi-ji, jawabnya, “Kupikir, Gui Bu-geh pasti

meninggalkan suatu jalan keluar terakhir baginya sendiri, hal ini tidak perlu

disangsikan lagi. Hanya saja mengapa kita tak dapat menemukan jalan keluar

itu?” Dia menggigit bibir lalu menyambung pula, “Sudah kuperiksa sekeliling

sini dengan sangat cermat, jelas setiap jalan keluarnya memang telah

disumbat buntu olehnya. Jika di dinding gunung ini masih ada pintu rahasianya

pasti juga akan kuketahui.”

“Ya, bila ada pintu rahasianya pasti kau dapat melihatnya,” kata Siau-hi-ji.

“Jika demikian, lalu di manakah letak jalan keluar yang terakhir ini?” tanya So

Ing.

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Jalan keluar ini sudah kuketahui.”

Hampir melonjak kegirangan Kiau-goat dan So Ing demi mendengar ucapan

Siau-hi-ji. Secepat angin Kiau-goat lantas melompat ke depan anak muda itu

dan bertanya, “Mana, di mana?”

“Tempat ini sebenarnya kalian pun sudah melihatnya tadi, cuma kalian tidak

memperhatikannya,” ujar Siau-hi-ji.

Kiau-goat melengak, ucapnya, “Apakah betul kami sudah melihatnya tadi?”

“Ya,” kata Siau-hi-ji sambil menunjuk ke sana. “Di pojok sana ada sepotong

batu yang menonjol, tentunya kalian melihatnya.”

“Masa di situlah letak pesawat rahasianya?” seru Kiau-goat.

“Batu itu tiada pesawat rahasia apa-apa, tapi di bawah batu itu ada sebuah

lubang hawa yang cukup besar, tentunya kalian melihatnya,” tutur Siau-hi-ji.

“Betul, meski lubang hawa itu lebih besaran, tapi garis tengahnya tidak sampai

satu kaki, mana bisa orang menerobos dari situ?” ujar Kiau-goat.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya, “Kita hanya yakin Gui Bu-geh

pasti meninggalkan jalan keluar terakhir bagi dirinya sendiri, tapi kita

melupakan sesuatu.”

Seketika berubah juga air muka So Ing, katanya, “Betul, kita memang

melupakan sesuatu yang paling penting.”

Kiau-goat jadi heran, tanyanya cepat, “Hal apa?”

“Kita sama lupa bahwa Gui Bu-geh adalah seorang cacat, tubuhnya kerdil,

meski kita tak dapat keluar masuk melalui lubang hawa kecil itu, tapi Gui Bugeh

sendiri dapat menerobos keluar. Jadi jalan keluar terakhir ini bagi kita

sama sekali tidak ada artinya.”

Tergetar tubuh Kiau-goat Kiongcu, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak

lagi. Setitik sinar harapan mereka sekarang pun lenyap, kecuali mati sudah

tiada jalan lain pula.

Dengan meringis Siau-hi-ji memandang So Ing dan berkata, “Dahulu kau suka

bilang dapat mengatasi dia. Tapi sekarang aku baru tahu bahwa Gui Bu-geh

memang lihai, rencananya rapi, cara kerjanya cermat, sedikit pun tidak ada

lubang-lubang kelemahan. Kalau dia menghendaki kematian kita di sini, maka

kita pun tak dapat keluar dengan hidup.”

Mendadak Kiau-goat berteriak, “Tapi Bu-koat pasti berusaha masuk kemari, dia

pasti dapat, biarpun dia mendapat hambatan apa-apa, namun lambat atau

cepat dia pasti ….”

“Betul, lambat atau cepat dia pasti akan masuk kemari untuk menolong kita,”

sela Siau-hi-ji. “Cuma sayang, kita tidak dapat menunggunya lagi.”

“Sebab apa?” tanya Kiau-goat. “Kalau Gui Bu-geh bisa memberi arak dan jeruk

pada kita, tentu dia masih menyimpan bahan makanan, asalkan kita dapat

menemukannya, tentu kita dapat bertahan hingga datangnya Bu-koat.”

“Sudah tentu kita dapat menemukannya,” kata Siau-hi-ji, “Cuma sayang,

umpama kita bisa menemukannya, paling banyak hanya dapat memandangnya

saja dan tidak sanggup memakannya.”

“Sebab apa?” tanya Kiau-goat.

“Sebab makanannya berbeda dengan makanan kita, barang yang dapat

dimakan dia tak berani kita makan, kecuali kau pun doyan makan tikus, tikus

hidup.”

Kiau-goat merasa mual mendengar keterangan ini.

Siau-hi-ji benar-benar dapat menemukan tempat penimbunan makanan Gui

Bu-geh, di situ selain ada beberapa guci arak, selebihnya hanya satu kurungan

tikus, tikus hidup.

Jangankan makan tikus, memandangnya saja Kiau-goat merasa mual dan mau

muntah. Baru sekarang ia tahu rencana Gui Bu-geh memang sangat rapi dan

tiada lubang kelemahan, yang paling hebat dalam rencana ini adalah jalan

keluar yang dia tinggalkan ini. Orang lain jelas tidak mampu keluar, sedangkan

makanan yang dia sediakan juga tidak mungkin dapat dimakan oleh orang lain.

Kiau-goat merasa kakinya menjadi lemas, rasanya mau ambruk. Akhirnya dia

menuang secawan arak dan diminumnya seceguk.

Siau-hi-ji ambil satu guci arak, ia tarik So Ing dan mengajaknya ke ruang lain.

Meski hati So Ing penuh rasa duka dan putus asa, tapi juga penuh rasa mesra

dan bahagia. Ia berbisik di telinga Siau-hi-ji,

“Apakah telah kau lupakan apa yang diucapkan Gui Bu-geh?”

“Ucapan apa?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan muka merah So Ing menjawab, “Katanya arak itu arak bahagia malam

pengantin kita.”

Memandangi muka So Ing yang kemerah-merahan dan mesra itu, sekalipun

Siau-hi-ji adalah patung juga tergerak hatinya. Perlahan dia memeluk si nona,

ucapnya dengan tertawa, “Pengantin perempuanku, marilah kita … kau ingin

tidak ….”

So Ing menggigit bibirnya yang mungil dan menunduk, ia tidak menjawab

melainkan tertawa malu.

“Cuma sayang, kamar pengantin kita berada di liang tikus ini, rasanya terlalu

merendahkan dirimu,” ujar Siau-hi-ji.

“Asalkan … asalkan engkau baik padaku, sekalipun benar-benar tinggal di liang

tikus juga aku puas,” kata So Ing.

Perlahan Siau-hi-ji memandang si nona, sekujur badan So Ing serasa lemas

lunglai tak bertulang.

Di luar dugaan, baru Siau-hi-ji melangkah dua-tiga tindak, tiba-tiba ia berseru,

“Wah, celaka!”

“Ada … ada apa?” tanya So Ing.

“Kamar pengantin kita ini mungkin akan segera kedatangan tamu jahat,” kata

Siau-hi-ji.

“Maksudmu Kiau-goat Kiongcu?”

“Siapa lagi kalau bukan dia?”

“Kukira dia takkan bertindak kejam lagi pada kita, rasanya dia sekarang sudah

banyak berubah. Sudah jauh lebih mengerti arti orang hidup ini,” kata So Ing

“Malahan boleh dikatakan dia sudah mau menurut pada perkataanmu, mana

bisa dia mencari perkara lagi padamu dalam keadaan demikian.

“Kalau tadi kita masih ada harapan untuk keluar, maka terpaksa kita harus

bersatu untuk berdaya upaya mencari jalan keluarnya. Tapi sekarang segala

harapan telah pupus sama sekali, maka ia pun tidak dapat melepaskan diriku

lagi.”

“Akan … akan tetapi kita toh harus mati juga, untuk … untuk apa dia bertindak

kejam pula padamu?”

“Sebab dia tidak ingin mati di depanku, ia pun tidak ingin aku mati di tangan

orang lain. Kalau sekarang dia tidak mampu menyuruh Hoa Bu-koat

membunuhku, terpaksa dia sendiri yang akan turun tangan.”

Baru saja habis ucapannya, mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu

Kiau-goat Kiongcu sudah berada di depan mereka.

Siau-hi-ji pandang So Ing dengan tersenyum getir, katanya, “Tidak salah bukan

perhitunganku? Sungguh terkadang aku pun berharap apa yang kuduga bisa

meleset.”

Terdengar Kiau-goat Kiongcu menjengek, “Habis belum percakapan kalian?”

So Ing berkedip-kedip, jawabnya dengan tertawa, “Belum!”

“Baik, kuberi tempo sebentar lagi, lekas kalian bicarakan,” kata Kiau-goat.

“Kan kita masih bisa hidup dua-tiga hari lagi, mengapa engkau terburu-buru?”

tanya So Ing sambil tersenyum.

“Waktu hidup kalian sudah tidak banyak lagi,” kata Kiau-goat.

“Meng … mengapa?” mau tak mau suara So Ing menjadi agak gemetar.

“Sebab akan kubunuh kalian,” jengek Kiau-goat. “Aku harus membuat kalian

mati lebih dahulu daripadaku, aku harus menyaksikan kalian mati di tanganku.”

So Ing memandang Siau-hi-ji, katanya sambil tersenyum getir, “Dugaanmu

benar-benar tepat …. Ya, mengapa kau tidak salah duga sekali-sekali.”

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Baik, lambat atau cepat toh

kita harus mengadu jiwa, tapi engkau telah berjanji akan memberi waktu

sebentar lagi, tentunya engkau tidak akan mengintip di samping seperti Gui Bugeh.”

Lalu dia tarik So Ing dan mengajaknya ke pojok sana, mereka bicara baik-baik,

sambil omong, tampaknya So Ing mengangguk-angguk sampai akhirnya

terdengar Siau-hi-ji berkata, “Nah, sekarang kau sudah paham?

“Ya, aku sudah paham,” terdengar So Ing menjawab dengan rawan. “Tapi …

tapi hendaknya kau pun hati-hati.”

“Betapa dia berhati-hati juga tiada gunanya,” jengek Kiau-goat. “Nah,

kemarilah!”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Kau ingin membunuhku, mengapa bukan kau

sendiri yang kemari?”

Kiau-goat menjadi gusar. Di luar dugaan, belum lagi dia bertindak, mendadak

Siau-hi-ji mendahului beraksi, tahu-tahu dia mengapung ke atas terus

menubruknya, secepat kilat ia melancarkan tiga kali pukulan.

Akan tetapi bagi pandangan Kiau-goat Kiongcu tiga kali pukulan maut Siau-hi-ji

ini tidak lebih hanya seperti permainan anak kecil saja. Sama sekali dia tidak

bergerak, namun serangan Siau-hi-ji itu menyenggol ujung bajunya saja tidak

dapat.

So Ing hanya memandang sekejap saja lantas tahu Siau-hi-ji pasti bukan

tandingan Kiau-goat. Ia tidak tega menyaksikannya, ia menunduk dan keluar.

Didengarnya Siau-hi-ji sedang berkata dengan tertawa, “Nah, sudah kau lihat

bukan? Ilmu pukulan ini adalah ajaranmu, sekarang kugunakan untuk

menghadapimu.”

“Hm, kau gunakan kepandaian ajaranku untuk bergebrak denganku bukankah

kau cari mampus sendiri?” jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Kau kira aku pasti tidak dapat melawanmu?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Hehe, kukira belum tentu!”

Cara bertempur Siau-hi-ji ternyata semakin bersemangat, sedikit pun tidak

gentar, setiap pukulannya selalu menderu dahsyat, dia telah menggunakan

tenaga sepenuhnya.

Tapi betapa pun lihai tipu serangannya, Kiau-goat Kiongcu cukup

mengebaskan tangannya perlahan saja dan daya serangan Siau-hi-ji lantas

dipatahkan tanpa kesulitan apa pun. Dia bergerak dengan ringan, gayanya

indah menakjubkan. Sebegitu jauh dia belum lagi mengeluarkan ilmu Ih-hoaciap-

giok dan juga tidak melancarkan serangan maut balasan.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa,

“Sesungguhnya kau ingin membunuhku atau cuma bergurau saja.”

“Hm, ikan sudah berada dalam jaring, untuk apa aku tergesa-gesa,” jengek

Kiau-goat.

“Daripada menderita lama lebih baik mati dengan cepat, kau tidak tergesagesa,

aku yang merasa tidak sabar,” ujar Siau-hi-ji.

“Kapan aku menghendaki kematianmu, pada saat itu juga kau harus mati,

biarpun kau ingin mati lebih lambat atau lebih cepat sedikit juga tidak boleh.”

“Wah, jika begitu bilakah kau menghendaki kematianku?” tanya Siau-hi-ji.

Tanpa menunggu jawaban Kiau-goat, segera ia menyambung pula dengan

tertawa, “Apakah kau sengaja menunggu setelah memahami cara kugunakan

tenaga barulah kau hendak mematikan aku?”

Agak berubah juga air muka Kiau-goat, katanya sambil berkerut kening, “Untuk

apa harus kutunggu sampai memahami kau menggunakan tenagamu?”

“Sebab kalau kau belum jelas benar-benar arah tenaga pukulanku, maka ilmu

andalanmu Ih-hoa-ciap-giok sukar dikeluarkan, betul tidak?”

Sambil terus bicara, tangan Siau-hi-ji juga terus melancarkan serangan, tapi

matanya tanpa berkedip tetap menatap Kiau-goat Kiongcu.

Benar juga, air muka Kiau-goat berubah pula, namun dia tetap menjengek,

“Hm, bilamana aku mau menggunakan Ih-hoa-ciap-giok tentu dapat

kukeluarkan dengan segera, buat apa terburu-buru.”

“Haha, tidak perlu lagi kau menipuku. Sudah kuketahui rahasia Kungfu Ih-hoaciap-

giok andalanmu itu, apakah kau ingin kubeberkan bagimu?”

“Hanya dirimu ini kukira belum setimpal untuk bicara tentang Kungfu Ih-hoaciap-

giok,” jengek Kiau-goat pula.

“Mengapa aku tidak setimpal?” jawab Siau-hi-ji. “Huh, biarpun Ih-hoa-ciap-giok

juga tiada sesuatu yang istimewa bagiku, kan serupa dengan Kungfu

‘meminjam tenaga untuk menggunakan tenaga’ itu saja, tiada bedanya seperti

ilmu empat tahil menyampuk seribu kati dari Bu-tong-pay atau ‘Cian-ih-cappek-

tiat’ (menempel baju delapan belas kali terjatuh) dari Siau-lim-pay, hanya

saja cara bergerakmu teramat cepat, dapat pula mendahului pihak lawan

sebelum dia sepenuhnya mengeluarkan tenaga, maka dalam pandangan orang

lain tampaknya menjadi sangat ajaib, ditambah lagi caramu beraksi sedemikian

rupa gaibnya sehingga sesuatu yang mestinya sangat sederhana disangka

sedemikian hebatnya. Maka orang lain pun menganggap Kungfumu

mahasakti.”

Uraian Siau-hi-ji membuat Kiau-goat menampilkan rasa kejut dan heran,

mendadak ia membentak bengis, “Apalagi yang kau ketahui?”

“Di dunia ini memang banyak urusan yang tampaknya sangat hebat, tapi kalau

sudah dibeberkan sesungguhnya tidak bernilai sepersen pun,” setelah tertawa,

lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Umpamanya ketika diketahui tenaga pukulan

lawan timbul dari Hu-sik-hiat dan Tong-tian-hiat dari bagian perut terus

mengalir ke Hiat-to berikutnya yang menjurus ke bagian tangan sehingga

akhirnya tenaga pukulannya pasti terhimpun pada tepi telapak tangan, begitu

bukan?”

Kiau-goat Kiongcu seperti terkesima mendengar uraian anak muda itu

sehingga gerakannya menjadi lambat, tanpa terasa ia pun mengangguk dan

menjawab, “Betul.”

“Nah, jika sudah begitu, sebelum tenaga lawan itu terhimpun pada tempat yang

terakhir, pada saat itu juga kau lantas menyampuknya balik,” kata Siau-hi-ji.

Tanpa terasa Kiau-goat mengangguk dan membenarkan.

“Dan karena tenaga pukulan lawan disampuk balik ketika sampai di tengah

jalan, lantaran pergolakan tenaga murni dalam tubuh, otot daging pada

lengannya menjadi tegang dan tertarik pula ketika tenaganya yang bergolak itu

menerjang kembali ke arah semula, maka pukulannya bukan lagi mengenai

sasarannya melainkan menghantam tubuh sendiri.”

“Hm, kalau tenaganya sudah tersampuk balik, mana bisa menerjang kembali

ke tempat semula?” jengek Kiau-goat.

“Dengan sendirinya disebabkan tenaga yang kau gunakan tepat pada

sasarannya, ini pun tidak mengherankan, asalkan aku berlatih beberapa tahun

pasti juga kusanggup bermain sama bagusnya seperti dirimu,” ujar Siau-hi-ji.

Kiau-goat mendengus. Ia seperti mau bilang apa-apa, tapi hanya mendengus

sekali saja lalu urung bicara. Maklum tiba-tiba ia merasa dirinya telah bicara

terlalu banyak.

Siau-hi-ji lantas menyambung pula, “Meski aku belum lagi tahu cara

bagaimana kau menyampuk balik tenaga murni lawanmu, tapi ini pun tidak

penting. Soalnya aku sudah tahu kunci utama Kungfumu ini, yakni terletak

pada mengetahui sejelasnya lebih dulu dari tempat mana dan arah mana

tenaga pukulan lawan itu hendak dilancarkan.”

“Hm,” Kiau-goat mendengus pula.

“Maklumlah, tenaga manusia pada umumnya timbul dari beberapa Hiat-to di

sekitar perut, maka tanpa kesulitan apa pun dapat kau raba kekuatan lawan,

tapi diriku ….” Siau-hi-ji bergelak tertawa, lalu melanjutkan, “Lantaran ilmu

silatku berbeda daripada siapa pun juga, guruku sedikitnya berjumlah belasan

orang, bahkan berpuluh-puluh orang, bahkan kau pun termasuk satu di antara

guruku. Nah, justru lantaran Kungfu yang kupelajari terlalu banyak dan ruwet,

makanya dasar Lwekangku juga kurang baik, hakikatnya inilah kelemahanku

yang terbesar, tapi untuk digunakan bergebrak denganmu, kelemahanku ini

berbalik telah banyak membantu diriku.”

“Huh, memangnya kau kira ….” mendadak Kiau-goat tidak melanjutkan.

“Justru lantaran Lwekangku kurang kuat, cara permainanku juga tidak menurut

aturan, makanya seketika kau tidak dapat meraba arah tenaga seranganku dan

pada hakikatnya kau pun tidak sempat menggunakan ilmu sakti Ih-hoa-ciapgiok.”

“Hm, kau bilang aku tidak dapat menggunakannya?” jengek Kiau-goat,

mendadak kesepuluh jarinya terpentang, segera Kiok-ti-hiat dan Thian-coanhiat

bagian lengan Siau-hi-ji hendak ditutuknya.

Siau-hi-ji sedang melancarkan serangan dua kali dan tenaganya justru tersalur

melalui kedua Hiat-to tersebut, nyata Kiau-goat Kiongcu sudah berhasil meraba

tempat penyaluran tenaga Siau-hi-ji, maka dia telah mendahului mengerjai

Hiat-to bagian yang bersangkutan, tenaga kebasan tangannya menyambar

dengan kuat.

Sekalipun Siau-hi-ji dapat menghindarkan tutukan jarinya, tapi sukar mengelak

akan guncangan tenaga kebasan tangan Kiau-goat Kiongcu itu. Padahal saat

ini dia sedang menyerang dengan penuh tenaga, ini berarti tenaga pukulan

akan menghantam tubuh sendiri, mengingat betapa kuat serangannya ini bisa

jadi dia akan roboh seketika terpukul sendiri.

Siapa tahu, pada detik berbahaya itu, sekonyong-konyong tubuh Siau-hi-ji

berputar dengan cepat dan menggeser ke samping sehingga tidak cedera apaapa.

Ilmu Ih-hoa-ciap-giok yang tidak pernah gagal itu kini ternyata tidak mempan

terhadap Siau-hi-ji. Keruan Kiau-goat Kiongcu benar-benar terkejut, padahal

sudah diincarnya dengan baik tempat penyaluran tenaga Siau-hi-ji, mengapa

bisa salah?

Didengarnya Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Tentunya kau tidak

menyangka, bukan? Supaya kau tahu, meski telah kau gunakan tenaga yang

keras terhadapku, namun aku sendiri sebenarnya sama sekali tidak

menggunakan tenaga, karena tujuanmu hendak meminjam tenagaku untuk

memukul aku sendiri, namun hasilnya nihil karena tiada setitik tenaga pun.

Cara demikianlah kugunakan untuk menghadapi Ih-hoa-ciap-giok

kebanggaanmu. Nah, coba katakan, bagus tidak caraku ini”

Tentu saja air muka Kiau-goat sebentar berubah pucat dan lain saat berubah

beringas, jengeknya kemudian, “Hm, memang bagus, syukur kau dapat

memikirkan cara sebodoh ini.”

“Kau anggap caraku ini sangat bodoh?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kalau bukan cara bodoh, lalu apa pula namanya?” ujar Kiau-goat. “Coba pikir,

kau menyerang tanpa menggunakan tenaga, lalu dapatkah kau melukai lawan?

Jadi kau sendiri sudah berada di tempat yang tidak mungkin menang, kalau

ada orang bertempur, bila kau tidak mengharapkan kemenangan, lalu apa

namanya jika bukan cara yang bodoh?”

Siau-hi-ji mengangguk, jawabnya dengan tertawa, “Betul juga, aku sendiri pun

merasa caraku ini sangat bodoh. Tapi menghadapi orang semacam kau, cara

yang bodoh terkadang malah terlebih berguna. Apalagi, jelas kau bertekad

membunuhku, sebaliknya aku tiada maksud membunuhmu, cukup bagiku asal

dapat mencegah keganasanmu padaku dan aku pun akan merasa puas.”

“Memangnya kau kira tanpa menggunakan Ih-hoa-ciap-giok tak dapat kubunuh

kau?” bentak Kiau-goat dengan bengis.

“Baik, justru ingin kulihat masih mempunyai kepandaian apa yang dapat kau

gunakan untuk membunuh diriku?”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, serentak angin pukulan Kiau-goat Kiongcu telah

menyambar tiba, menyusul kedua tangan Kiau-goat seolah-olah berubah

menjadi belasan tangan. Siau-hi-ji merasa seputarnya cuma bayangan pukulan

lawan belaka. Sukar dibedakan yang mana tangan betul dan mana pula

bayangan tangan, lebih-lebih tidak tahu cara bagaimana harus menghindar.

Sungguh tak terpikir olehnya tangan seorang mengapa bisa bergerak secepat

ini.

Meski Siau-hi-ji sudah berusaha menghindar beberapa kali pukulan musuh,

tapi ia tidak tahu apakah serangan berikutnya dapat dielakkan atau tidak.

Kalau jiwa seseorang sudah tergenggam di tangan orang lain dan setiap saat,

setiap detik bisa direnggut orang, maka bagaimanapun perasaannya dapatlah

dibayangkan.

Akan tetapi bagaimana pula perasaan Kiau-goat Kiongcu? Perasaan orang

yang hendak membunuh seharusnya lebih gembira daripada orang yang akan

terbunuh. Namun aneh, meski Kiau-goat bertekad harus membunuh Siau-hi-ji,

bahkan setiap saat dapat membunuhnya, tapi perasaannya sekarang ternyata

lebih menderita daripada Siau-hi-ji.

Dia sudah bersabar menunggu selama dua puluh tahun, dengan mata kepala

sendiri akan kelihatan hasilnya sesuai rencananya, tapi sekarang ternyata akan

berubah, ia sendiri yang harus menghancurkan hasil yang telah dipupuknya

dengan susah payah selama ini.

Ini dapat diibaratkan seorang pelukis, dengan jerih payah selama dua puluh

tahun baru berhasil diselesaikan sebuah lukisan yang indah, ketika hasil

karyanya ini sudah mendekati goresan terakhir, dia justru harus memusnahkan

lukisan itu, bahkan ia sendiri yang harus menghancurkannya, dalam keadaan

demikian betapa perasaannya mungkin sukar dibayangkan orang.

Seorang kalau tidak terpaksa pasti tidak mungkin berbuat demikian, sekarang

Kiau-goat merasa pasti mereka telah berada di ambang maut. Mereka sudah

ditakdirkan mati di sini dan pasti tidak bakal tertolong. Dengan lain perkataan

Siau-hi-ji juga pasti akan mati di tangannya, di dunia tiada seorang pun yang

dapat menyelamatkan anak muda itu.

Yang masih belum terjadi hanya dia belum melancarkan serangan mematikan

yang terakhir saja.

Pada saat itulah Siau-hi-ji berteriak, “Nanti dulu, aku ingin mengucapkan katakata

terakhir.”

Namun Kiau-goat tidak pedulikan, secepat kilat ia menghantam. Tapi begitu

tangan bergerak, sekonyong-konyong berhenti di tengah jalan, hanya

beberapa senti saja tangannya berada di atas kepala Siau-hi-ji.

“Hm, dalam keadaan demikian kau ingin main gila apalagi?” jengek Kiau-goat

sambil menatap tajam.

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya sambil menyengir, “Dalam tiga jurus saja

jiwaku dapat kau renggut, untuk apa aku harus main gila lagi?”

“Habis apa yang hendak kau katakan?”

“Tentunya kutahu sekarang bahwa apa pun juga toh tak dapat kabur dan tiada

orang yang dapat menolongku lagi, mau tak mau aku pasti akan mati di

tanganmu.”

“Memang,” kata Kiau-goat Kiongcu.

“Jika demikian, dalam keadaan begini kan pantas jika engkau memberitahukan

rahasia itu padaku?”

Air mukanya penuh rasa berharap dengan sangat sehingga tampaknya sangat

memelas. Sungguh tak tersangka bahwa Siau-hi-ji dapat mengunjuk air muka

yang minta dikasihani seperti ini.

Kiau-goat memandangnya hingga lama sekali dan tidak bersuara. Biasanya

bilamana soal ini ditanyakan Siau-hi-ji, seketika juga dia akan menolaknya

dengan tegas. Tapi sekarang ia menjadi ragu-ragu seakan-akan ada maksud

untuk memenuhi permintaan Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji tampak bersemangat dan juga bergirang, jantungnya berdebar

seakan-akan melompat keluar dari dadanya, ia pikir sebentar Ih-hoa-kiongcu

pasti akan membeberkan rahasia pribadinya. Namun begitu air mukanya tetap

mengunjuk rasa minta dikasihani.

“Kutahu sebelum ajal setiap orang boleh mengajukan sesuatu permintaan

terakhir, bahkan seorang perampok yang paling ganas juga boleh mengajukan

permintaan terakhirnya ketika menghadapi hukuman mati. Apalagi engkau

sendiri pun akan mati, apabila rahasia ini tetap tersimpan dalam hatimu, apa

perasaanmu tidak tertekan?”

“Setelah kau mati, tentu rahasia ini akan kuberitahukan pada So Ing,” kata

Kiau-goat.

“Meng … mengapa tidak kau ceritakan padaku saja?” teriak Siau-hi-ji dengan

parau.

“Tidak,” ucap Kiau-goat, jawaban yang singkat dan tegas tanpa kompromi lagi.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya kemudian, “Engkau sungguh jauh

lebih ganas daripada perampok, sampai permintaanku yang terakhir menjelang

ajal juga kau tolak.” Biji matanya berputar, tiba-tiba ia menyambung pula,

“Kalau permintaanku yang lain, dapatkah kau kabulkan?”

Kiau-goat tampak sangat sangsi, akhirnya ia menjawab perlahan, “Bergantung

pada apa permintaanmu itu.”

“Aku … aku mau kencing, boleh tidak?” kata Siau-hi-ji.

Buset, dalam keadaan demikian dia mengajukan permintaan semacam ini,

sungguh membuat orang serba konyol. Muka Kiau-goat menjadi merah padam

menahan gusar.

“Kencing, hanya kencing saja agar perut terasa lega, ini kan permintaan yang

paling sederhana dan paling sepele di dunia ini, masa tidak kau izinkan?” ucap

Siau-hi-ji pula dengan santai.

“Kau … kau sesungguhnya mau apa ….” suara Kiau-goat menjadi parau karena

gemasnya.

“Tadi aku terlalu banyak menenggak arak, sekarang perutku tidak tahan lagi,”

tutur Siau-hi-ji. “Jika permintaanku kau tolak, terpaksa kukerjakan di sini saja.”

“Sekarang juga kubinasakan kau,” teriak Kiau-goat gusar.

Siau-hi-ji menjengek, “Kalau perut seorang lagi kembung, tentu kepandaiannya

akan banyak terganggu, jika kau bunuh diriku sekarang juga apa tindakan ini

dapat dianggap berjaya? Sungguh tak tersangka bahwa Ih-hoa-kiongcu yang

disegani tak berani membiarkan orang pergi kencing lebih dulu.”

Dengan geregetan Kiau-goat melototi anak muda itu, tiba-tiba ia pun

menjengek, “Baik, pergilah kau, aku tidak percaya kau berani main gila

padaku.”

“Jelas tempat ini sudah buntu, memangnya aku berubah bentuk atau dapat

menghilang!” Sambil bicara Siau-hi-ji terus melangkah ke depan, di mulut ia

bergumam pula, “Tempat ini sepantasnya ada sebuah kakus, aku lupa tanya

pada Gui Bu-geh di mana letak kakusnya, entah dapat kutemukan tidak

sekarang.”

Kiau-goat Kiongcu terus membayangi Siau-hi-ji, tanpa terasa ia menanggapi

grundelan anak muda itu, “Mengapa kau tidak pergi ke tempat tadi.”

“Aha, betul, tidak kau sebut, aku jadi lupa,” kata Siau-hi-ji dengan bergelak

tertawa. “Tadi sudah kubuat kakus darurat, kakus yang longgar dan tembus

hawa.”

Maka sejenak kemudian mereka sudah sampai di ruangan bawah tanah tadi,

terlihat mayat Gui Bu-geh sudah mulai mengering dan mengerut menjadi kecil.

Bentuknya tampak seram dan memualkan.

Baru saja Kiau-goat melangkah masuk ke situ, seketika ia mundur keluar lagi

dan membentak, “Ayo, lekas!”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Kau tidak ikut masuk? Masa kau tidak

khawatir aku akan kabur?”

Kiau-goat tidak menggubrisnya. Ruangan ini hanya ada sebuah pintu, dengan

sendirinya ia yakin betapa pun tinggi kepandaian Siau-hi-ji juga tidak mungkin

bisa lari.

Sambil menghela napas gegetun Siau-hi-ji bergumam pula, “Padahal apa

alangannya jika kau masuk kemari? Meski tempat ini rada berbau sedikit, tapi

waktu kencing pasti takkan dilihat oleh siapa pun juga. Kau sendiri kan dapat

menguras perutmu.”

Kiau-goat pura-pura tidak mendengar saja, kalau tidak, mungkin dadanya bisa

meledak saking gusarnya.

Selang tak lama, terdengar di dalam ada suara gemerciknya air atau tepatnya

suara air yang dipancurkan.

Selama hidup Kiau-goat mana pernah dengar suara yang menakutkan begini.

Tanpa terasa mukanya menjadi merah, kalau bisa ia ingin mendekap

telinganya. Untunglah orang buang air tentu takkan lama, kalau bersabar

menunggu tentu juga cuma sebentar saja.

Tak tahunya, tunggu punya tunggu, sampai lama sekali suara gemercik itu

masih terus berlangsung. Di tunggu pula sekian lama, suara itu masih terus

berbunyi tanpa berhenti.

Tentu saja Kiau-goat menjadi tidak sabar dan mulai heran dan curiga.

Meski tak banyak pengetahuannya hal orang lelaki, tapi ia tahu, baik lelaki

maupun perempuan, tidak mungkin membuang air sebanyak itu. Air kencing

sepuluh orang dikumpulkan juga tidak sebanyak ini. Akhirnya Kiau-goat

berteriak dengan mendongkol, “Kang Siau-hi, lekas keluar. Apa-apaan kau

mengeram di dalam?”

Tapi di dalam hanya ada suara ‘air mancur’, sama sekali tiada jawaban orang.

Walaupun yakin di situ tiada jalan lolos bagi Siau-hi-ji, tapi tidak urung Kiaugoat

menjadi agak khawatir juga. Ia coba memanggilnya lagi dua kali dan tetap

tiada jawaban. Diam-diam ia membatin, “Kurang ajar! Jangan-jangan setan cilik

ini benar-benar telah menemukan jalan lolos? Mungkin dia tahu di situlah letak

jalan keluarnya, maka sengaja menipuku agar dia sendiri dapat kabur dan kami

tetap terkurung di sini.”

Berpikir demikian, kaki tangannya menjadi dingin dan lemas, tanpa

menghiraukan urusan lain lagi segera ia menerjang ke dalam.

Tapi aneh, di dalam tetap tenang-tenang saja tiada sesuatu perubahan, hanya

suara gemercik tadi masih terus terdengar. Lantaran teraling oleh sebuah

“dinding”, maka tidak diketahui apa yang dilakukan Siau-hi-ji dalam kakus

darurat itu.

Karena gemasnya, begitu menerjang ke dalam, segera Kiau-goat ayun

tangannya dengan tenaga murni. Terdengar gemuruh, dinding yang terbuat

dari tumpukan batu dan tutup peti itu lantas runtuh. Benar saja, di dalam

ternyata tiada lagi bayangan Siau-hi-ji. Hanya ada beberapa botol yang terikat

tali dan menjulur turun dari lubang di atas sana, jadi botol-botol itu tergantung

di udara, pantat botol diberi berlubang dan arak dalam botol lantas mengucur

masuk ke peti mati itu. Rupanya dari sinilah datangnya suara gemercik air

pancur tadi. Lalu ke manakah Siau-hi-ji?

Selagi Kiau-goat melenggong bingung, sekilas dilihatnya sesosok bayangan

orang menyelinap ke luar.

Kiranya sejak tadi Siau-hi-ji bersembunyi di balik pintu, karena seluruh

perhatian Kiau-goat tertarik ke arah sana, kesempatan mana telah digunakan

Siau-hi-ji untuk lolos keluar. Waktu Kiau-goat mengetahui apa yang terjadi,

sementara itu anak muda itu sudah berada di luar ruangan.

Segera Kiau-goat hendak memburu keluar, namun apa lacur, tahu-tahu pintu

batu itu menutup kembali, bahkan suara tertawa Siau-hi-ji di luar juga terputus.

Baru sekarang Kiau-goat Kiongcu benar-benar cemas.

Biasanya, menghadapi urusan betapa pun gawatnya, belum pernah Kiau-goat

berteriak atau menjerit, lebih-lebih tidak pernah memohon sesuatu pada orang

lain.

Tapi sekarang ia sudah lupa segalanya, mendadak ia berteriak, “Kang Siau-hi,

buka pintu, keluarkan aku!”

Selang sekian lama baru terdengar suara Siau-hi-ji berkumandang dari lubang

di atas sana, “Keluarkan kau? Haha, supaya aku dapat kau bunuh?”

Dengan menggereget Kiau-goat menjawab, “Aku … aku berjanji takkan

membunuhmu.”

Selama hidupnya bilakah pernah mengucapkan kata-kata yang bersifat

kompromis begini? Tapi kini toh dia harus merendah diri dan berucap

demikian, keruan serasa hancur hatinya. Namun apa daya, mau tak mau dia

harus berucap demikian. Sebab ia pun tahu setelah pintu keluar tertutup,

ruangan ini tiada ubahnya seperti sebuah guci yang tersumbat dan tiada jalan

keluar lagi.

Meski tahu dirinya tetap tak terhindar dari kematian, tapi betapa pun ia tidak

sudi mati di sini, tidak sudi mati di samping Gui Bu-geh, lebih-lebih tidak sudi

kematiannya diintip oleh Siau-hi-ji.

Dalam pada itu terdengar Siau-hi-ji berkata pula di atas, “Sekalipun kau tidak

membunuhku juga tak dapat kukeluarkan kau, sebab, biarpun kau tidak

membunuhku, sebaliknya aku yang akan membunuhmu. Jangan lupa,

permusuhan antara kita bukan urusan kecil.”

Tergetar hati Kiau-goat Kiongcu, ia tidak dapat bicara lagi.

“Supaya kau tahu, mestinya tadi jangan kau beri kesempatan padaku untuk

bicara dengan So Ing,” terdengar Siau-hi-ji berkata pula.

Kiau-goat tidak mau gubris padanya, tapi timbul juga rasa ingin tahunya,

segera ia tanya, “Sebab apa?”

“Tahukah apa yang kukatakan pada So Ing tadi?” tanya Siau-hi-ji, ia terbahakbahak,

lalu menyambung, “Waktu itu kukatakan padanya agar dia mengorek

botol arak dari atas sini, lalu kusuruh berjaga di samping pesawat rahasia,

begitu aku keluar segera dia menutup pintunya. Kalau tidak, selagi aku

bertempur mengadu jiwa denganmu masa dia rela menyingkir pergi?”

Tubuh Kiau-goat agak gemetar, katanya “Tapi dia … dia ….”

“Jangan kau lupa, dia dibesarkan di sini, semua pesawat rahasia di sini, kecuali

Gui Bu-geh, tentu saja dia yang paling jelas.”

Kiau-goat melenggong sekian lamanya, sekujur badan serasa lemas lunglai, ia

bergumam, “Ya, aku terlalu gegabah, sungguh aku terlalu gegabah ….”

“Apa gunanya baru sekarang kau menyesal? Apakah ada orang yang akan

menolongmu sekarang?” Setelah terbahak-bahak Siau-hi-ji melanjutkan, “Maka

sebaiknya kau menunggu kematian saja dengan tenang. Meski tempat ini agak

bau, paling tidak kan cukup tenteram, tiada lalat tiada nyamuk, apalagi, kau

pun tidak sendirian, kan ada Gui Bu-geh yang menemanimu?!”

“Tu … tutup mulut!” teriak Kiau-goat dengan suara seram.

Tapi Siau-hi-ji bahkan berseru pula dengan tertawa, “Gui Bu-geh, wahai Gui

Bu-geh! Sewaktu hidupmu tidak dapat tidur seranjang dan sebantal dengan

orang yang kau cintai, setelah mati kau malah dapat bersatu liang kubur

dengan dia, betapa pun kau masih mujur. Tapi kau pun jangan lupa, akulah

yang membantumu, jadi setan juga kau mesti membalas budi kebaikanku ini.”

Kiau-goat murka, dengan kalap ia menubruk ke depan mayat Gui Bu-geh,

tangan terangkat dan segera hendak menghantamnya.

“He, apa yang hendak kau lakukan?” seru Siau-hi-ji tiba-tiba. “Haha, Ih-hoakiongcu

yang gilang-gemilang masa menganiaya mayat yang sudah tak bisa

berkutik?”

Seketika tangan Kiau-goat terhenti di atas dan berdiri mematung.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas dan berucap, “Padahal aku pun dapat

memahami perasaanmu. Memang tiada seorang pun rela mati di tempat yang

kotor dan menjijikkan seperti ini, apalagi di samping mayat yang sangat

menjijikkan pula, lebih-lebih dirimu. Meski engkau berjiwa sempit dan juga

bersikap dingin kepada siapa pun, namun, bicara sejujurnya, engkau bukankah

orang yang kotor dan menjijikkan.”

Perlahan Kiau-goat menurunkan tangannya.

Maka Siau-hi-ji berkata pula, “Terkadang, engkau memang terasa menakutkan,

tapi terkadang aku pun merasa kasihan padamu. Selama hidupmu sedemikian

hampa, sedemikian kesepian, hakikatnya tiada mempunyai seorang kawan

pun. Jika perempuan lain mungkin akan berubah terlebih nyentrik dan lebih keji

daripadamu. Sebab aku pun tahu tiada sesuatu di dunia ini yang lebih

menakutkan daripada kesepian.”

Mendengar sampai di sini, kepala Kiau-goat Kiongcu hampir tertunduk

seluruhnya.

“Sebab itulah aku pun tidak sungguh-sungguh menghendaki kematianmu

secara mengenaskan begini, asalkan kau mau berjanji sesuatu hal padaku,

segera juga kulepaskanmu dari sini.”

“Urusan apa?” tanya Kiau-goat tanpa pikir. Tapi setelah diucapkan segera ia

tahu urusan apa yang dimaksudkan Siau-hi-ji.

Benar juga, Siau-hi-ji lantas berkata, “Asalkan kau beberkan rahasia itu, segera

kulepaskan kau.”

“Kau … kau jangan harap ….” jawab Kiau-goat dengan menyesal.

“Masa kau lebih suka mati bersama Gui Bu-geh di sini? Bila kelak, ada orang

berkunjung kemari dan melihat kalian mati di dalam suatu liang lahat, lalu

bagaimanakah mereka akan berpikir?” Setelah tertawa, lalu Siau-hi-ji

menyambung pula, “Ya, tentu orang lain akan bilang, ‘Meski tampaknya Ih-hoakiongcu

selalu bersikap dingin dan anggun, tapi nyatanya dia juga mempunyai

kekasih gelap, buktinya mereka mengadakan pertemuan rahasia di sini dan

akhirnya’ ….” Dia tertawa dan mendadak menghentikan ucapannya, ia sengaja

tidak mau melanjutkan.

Maka gemetarlah tubuh Kiau-goat karena emosinya.

“Coba kau pertimbangkan lagi, kapan kau mau bicara, kapan pula akan

kubebaskan kau. Toh setelah mendengar rahasia ini aku pun takkan hidup

lebih lama lagi,” kata Siau-hi-ji.

Kiau-goat tidak menanggapinya. Ya, paling tidak sekarang dia tetap

menolaknya dengan tegas.

So Ing yang selalu mendampingi Siau-hi-ji itu menghela napas gegetun,

katanya, “Sudah telanjur begitu, mengapa kau berkeras memaksa dia

menceritakan rahasia itu? Jika sudah dia ceritakan kan juga tiada faedahnya

bagimu, bahkan akan menambah kemasygulan saja.”

Siau-hi-ji tidak menjawabnya, sebaliknya bahkan tanya kembali, “Tentunya kau

tahu, antara aku dan Hoa Bu-koat harus mati salah satu, kalau dia tidak

membunuhku tentu akulah yang membunuh dia.”

“Tapi aku pun tahu dia tidak sungguh-sungguh ingin membunuhmu dan kau

pun lebih-lebih tidak ingin membunuh dia.”

“Namun nasib kami berdua tampaknya sudah ditakdirkan demikian dan sukar

berubah lagi, meski aku sudah berdaya dan sedapatnya mengulur waktu, tapi

pada suatu hari kelak toh peristiwa ini harus terjadi.”

So Ing mengangguk dengan pedih.

Siau-hi-ji menyambung pula, “Tapi aku pun tidak percaya bahwa di dunia ini

ada urusan yang ditakdirkan, aku pasti berusaha mengubahnya, sebab itulah

terpaksa harus kudesak dia agar menceritakan rahasia ini, jika sudah

kuketahui apa sebabnya dia menghendaki kami mengadu jiwa, maka urusan ini

pasti dapat kuselesaikan dengan baik.”

“Namun … namun nasib kalian bukankah sudah berubah?” ujar So Ing.

“Siapa bilang sudah berubah?” kata Siau-hi-ji.

Dengan muram So Ing menjawab, “Sekarang jelas engkau tidak … tidak

mampu membunuhnya, dan dia lebih-lebih tidak dapat membunuhmu, sebab …

sebab engkau toh pasti akan mati di sini.”

“Siapa bilang aku pasti akan mati di sini?” tanya Siau-hi-ji.

Seketika So Ing tersentak kaget dan bergirang pula, serunya, “He, jadi engkau

mempunyai akal untuk keluar dari sini?”

Dengan santai Siau-hi-ji menjawab, “Rasanya aku ini mempunyai Hok-khi yang

besar, bahwa apa pun yang kuhadapi pada saatnya selalu berubah menjadi

selamat. Maka sekarang aku pun berani bertaruh denganmu, pasti ada orang

akan datang kemari untuk menolongku.”

“Kau kira … siapa yang akan menolongmu?” tanya So Ing.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, sahutnya kemudian, “Coba kau terka.”

So Ing berpikir sejenak, katanya, “Sebenarnya Hoa Bu-koat pasti akan berdaya

untuk menolongmu, tapi sekarang, entah peristiwa apa yang telah dialaminya,

kalau tidak, tentu dia takkan berhenti menggali dan masuk ke sini.”

“Memangnya peristiwa tak terduga apa yang dialaminya?”

So Ing berpikir pula agak lama, tiba-tiba ia berkata, “Menurut pendapatku, bisa

jadi usaha Hoa Bu-koat telah dirintangi oleh Cap-toa-ok-jin?”

“Haha, betul!” ujar Siau-hi-ji dengan berkeplok tertawa, “Besar kemungkinan,

orang yang ditemuinya adalah Li Toa-jui serta kawan-kawannya, sebab mereka

memang ada janji bertemu di sini, dalam dua hari ini mereka pasti datang

kemari.”

“Tentunya mereka tahu tujuan Hoa Bu-koat menggali terowongan adalah untuk

menolong kita. Makanya mereka merintanginya, betul tidak?”

“Ehm,” jawab Siau-hi-ji.

“Jika demikian, kau kira mereka pun akan berusaha masuk ke sini untuk

menolong kau?”

“Tentu tidak, sebab sekarang aku pun tahu mereka mengira aku akan

bersekongkol dengan orang lain untuk menghadapi mereka, maka mereka pun

berharap akan kematianku.”

“Jika begitu, mungkinkah mereka akan kemari untuk menolong Ih-hoakiongcu?”

tanya So Ing.

“Lebih-lebih tidak mungkin,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa, “Kalau Ih-hoakiongcu

mati di sini, inilah yang diharapkan mereka.”

“Jika sekarang mereka menghalangi Hoa Bu-koat masuk ke sini, apakah nanti

mereka sendiri juga akan berusaha masuk kemari.”

“Ya, mereka akan masuk kemari.”

“Untuk apa?” Tanya So Ing.

“Sebab mereka pun ingin tahu keadaan di sini.”

“Dari mana kau tahu?”

“Mereka mengira ada satu partai harta karun disembunyikan Gui Bu-geh di sini,

kalau tempat ini tidak diperiksanya mereka tidak rela.”

“Seumpama mereka akan masuk ke sini, tentu juga akan menunggu setelah

kita mati semuanya.”

“Betul, tapi cara bagaimana mereka mengetahui bahwa Gui Bu-geh ternyata

tidak terburu-buru menghendaki kematian kita?”

Terbeliak mata So Ing, serunya, “Betul juga, setelah dihitung dan ditimbang,

tentu mereka pun tak menyangka bahwa kita masih belum mati, mereka pasti

mengira kita sudah mati sesak napas atau mati kelaparan.”

“Ya, makanya kuyakin tidak sampai lebih dari satu-dua hari mereka pasti akan

masuk kemari.”

“Dapatkah mereka masuk kemari?”

“Dengan kepandaian mereka beramai-ramai, sekalipun tempat ini adalah

gunung baja dan tembok besi juga mereka mampu masuk ke sini.”

Akhirnya So Ing berseri tertawa, katanya, “Kuharap dugaanmu sekali ini tidak

meleset.”

Belum habis ucapannya, benar saja, tiba-tiba terdengar lagi suara “trang-tring”

di luar, suara orang menggali.

“Betul tidak?” seru Siau-hi-ji sambil bertepuk tertawa. “Sekarang kau percaya

akan kehebatanku bukan.”

“Ya, seumpama Khong Beng belum meninggal, paling-paling dia juga cuma

begini saja,” ujar So Ing.

Tapi setelah mengikuti sejenak suara ‘trang-tring’ itu, kedengaran tidak sekeras

permulaan tadi, daya getarnya juga tidak sekuat tadi, mau tak mau So Ing

berkerut kening, katanya, “Apakah orang-orang yang menggali ini belum

makan nasi? Mengapa tiada tenaga sedikit pun.”

“Ini bukan tanda mereka tak bertenaga, tapi justru menandakan alat penggali

mereka teramat tajam,” ujar Siau-hi-ji. “Karena alat penggalinya tajam, maka

suara sentuhan menjadi kecil. Coba bayangkan, bilamana kau memotong tahu,

bukankah tiada menimbulkan suara apa pun?”

So Ing tertawa riang, ucapnya, “Berada bersamamu hakikatnya aku telah

berubah menjadi tolol.”

“Tidak, aku justru merasakan kau semakin pintar,” kata Siau-hi-ji.

“O, ya?” ucap So Ing sambil berkedip-kedip.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Kan sudah kukatakan sejak dulu, semakin

pintar seorang perempuan semakin bisa berlagak bodoh di depan lelaki.

Sekarang pun kau sudah pintar berlagak bodoh di depanku, tampaknya lambat

atau cepat aku pasti akan kena dikail olehmu.”

So Ing menggigit bibir dan tertawa, ucapnya, “Jangan khawatir, pasti takkan

kukail dirimu.”

“Oo!” Siau-hi-ji melenggong.

So Ing memandangnya dengan mesra, ucapnya dengan lembut, “Masa tidak

dapat kau lihat, kan sudah lama aku yang terkail?”

Perasaan Kiau-goat Kiongcu yang bergolak hebat sudah mulai tenang kembali,

dia sedang duduk bersemadi, lambat-laun telah memasuki keadaan yang

hampa segalanya.

So Ing menghela napas, katanya, “Tampaknya ia sudah bertekad takkan

menceritakan rahasia itu.”

“Tadinya kukira pikiran perempuan setiap saat pasti bisa berubah, tak

tersangka dia ternyata harus dikecualikan.”

“Kuharap orang yang menggali di luar itu takkan terlalu cepat masuk ke sini,

dengan demikian kita dapat menyumbat seluruhnya tempat ini lebih dahulu

agar dia mati sesak napas di dalam situ. Sedangkan Lian-sing Kiongcu saat ini

memang tiada ubahnya seperti orang mati ….”

“Tapi sebelum mereka membeberkan rahasia itu, takkan kubiarkan mereka

mati,” sela Siau-hi-ji.

“Namun kalau tidak kau bunuh mereka sekarang juga, apabila Hoa Bu-koat

sempat masuk ke sini, tentu dia akan menyuruh kalian mengadu jiwa pula.”

“Tapi kau pun jangan lupa, mereka masih harus mencarikan dulu obat penawar

racun bagiku, untuk ini sedikitnya diperlukan waktu satu-dua tahun dan di

dalam satu-dua tahun ini pasti kudapatkan akal bagus.”

Kembali So Ing menghela napas, ucapnya, “Hakikatnya engkau tidak

keracunan, untuk apa mereka harus mencarikan dulu obat penawar bagimu?”

Siau-hi-ji melengak, katanya sambil melotot, “Siapa bilang aku tidak keracunan,

sedikitnya ada tiga orang saksi hidup yang melihat kutelan jamur beracun jitu.”

“Apa sukarnya bagimu, asalkan kau sedikit main, jangankan tiga orang,

biarpun tiga puluh orang juga dapat kau kelabui. Kutahu caramu main pasti

jauh lebih cepat daripada penglihatan mereka.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Masa kau

anggap aku main sulap?”

“Main sulap atau tidak, yang pasti kau sengaja membikin orang mengira benar

telah kau makan jamur beracun itu, lalu sengaja terjerumus pula ke gua sumur

itu, tujuanmu adalah supaya mereka tidak dapat memaksa kau mengadu jiwa

dengan Hoa Bu-koat. Caramu ini sebenarnya sangat bagus, cuma sayang

pada saat tegang kau lupa melanjutkan sandiwara ini.”

“Apa yang kulupakan?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau bilang tidak dapat bertempur dengan Hoa Bu-koat lantaran keracunan,

tapi mengapa kau dapat bergebrak dengan Kiau-goat Kiongcu?”

“Bekerjanya racun Li-ji-hong memang tidak menentu, kalau tidak bekerja,

rasanya tiada ubahnya seperti tiada keracunan apa-apa.”

“Tapi kau lupa, orang yang keracunan Li-ji-hong pasti akan kambuh apabila

minum arak.”

Kembali Siau-hi-ji melengak, sejenak kemudian baru dia berkata pula sambil

menyengir, “Meski aku berlagak bodoh toh tetap tidak persis.”

So Ing tertawa, katanya, “Asalkan kau selamat, biarpun engkau tidak suka

padaku juga bukan soal bagiku.”

Mendadak Siau-hi-ji menarik si nona dan memeluknya, katanya dengan

lembut, “Apakah kau kira aku bisa menyukai orang bodoh?”

So Ing merangkul erat-erat pinggang Siau-hi-ji dan membenamkan kepalanya

di pangkuan anak muda itu, selang agak lama barulah ia berkata pula dengan

gegetun, “Aku pun tahu tiada maksudmu hendak membunuh mereka, tapi

sekarang hanya jalan ini saja yang dapat kau tempuh.”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian, “Meski kau dapat mengetahui

aku tidak keracunan, mereka belum pasti tahu.”

“Jangan kau nilai rendah mereka,” ujar So Ing. “Mungkin mereka tidak banyak

mengetahui seluk beluk kehidupan bermasyarakat, sebab selama ini mereka

selalu tinggi di atas, terlalu sedikit kontak dengan khalayak ramai, tapi selain

ini, terhadap urusan lain mereka tidak kurang lihainya, kecerdasan mereka

tidak di bawah kita, kalau tidak masakah mereka mampu meyakinkan ilmu silat

setinggi ini.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, lalu bergumam, “Tampaknya sekarang harus

kukatakan padanya bahwa Hoa Bu-koat selekasnya akan masuk kemari.”

So Ing berkerut kening, ucapnya, “Jika dia tahu bakal ada orang akan

menolongnya, bukankah rahasia itu lebih-lebih takkan diceritakan padamu?”

“Ini pun belum tentu, justru lantaran dia sudah putus asa, maka dia lebih suka

mati daripada membeberkan rahasia itu. Tapi kalau dia mengetahui ada

harapan untuk hidup, bisa jadi pikirannya akan berubah.”

Terbeliak mata So Ing, katanya, “Betul, lebih dulu kita beritahukan padanya

bahwa Hoa Bu-koat sudah hampir masuk ke sini. Lalu kita katakan bilamana

dia tak mau menceritakan rahasia itu, maka tempat ini akan kita bikin buntu.

Aku yakin sekalipun dia sangat memandang penting rahasia itu pasti juga

takkan lebih penting daripada jiwanya sendiri.”

Belum lenyap suaranya, mendadak di belakangnya bergema suara seorang,

terdengarlah Lian-sing Kiongcu sedang berkata, “Kau salah, dia justru

memandang rahasia itu jauh lebih penting daripada jiwanya sendiri.”

Meski suara Lian-sing ini sangat perlahan dan halus, tapi bagi pendengaran

Siau-hi-ji dan So Ing serasa seperti bunyi guntur di tepi telinga.

Di bawah sinar lampu kelihatan wajah Lian-sing Kiongcu yang pucat pasi.

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya sambil menyengir, “Rupanya Gui Bu-geh

adalah makhluk paling pelit, ingin membuat mabuk orang tapi tidak rela

menggunakan arak yang paling baik.”

Pandangan Lian-sing tampak sayu, biji matanya seolah-olah telah menjadi

kelabu, seperti tidak tahu siapa yang berdiri di depannya dan seakan-akan

tidak mendengar perkataannya.

Terpaksa Siau-hi-ji melanjutkan, “Arak yang berkualitas tinggi biasanya

menimbulkan rangsangan kemudian. Kalau arak yang diberikan Gui Bu-geh

tadi benar-benar arak bagus, sedikitnya orang akan mabuk setengah hari dan

tidak mungkin sadar secepat ini.”

Lian-sing juga menyambung, “Mungkin akan lebih baik apabila aku tidak sadar

untuk selamanya.” Dia bicara seperti orang linglung, seolah-olah tidak

menyadari apa yang diucapkannya.

Siau-hi-ji tertawa, katanya pula, “Tampaknya kau seperti sangat menderita,

padahal, mabuk arak juga bukan sesuatu yang memalukan. Di dunia ini setiap

hari sedikitnya berjuta-juta orang jatuh mabuk, kenapa engkau mesti merasa

susah?”

Lian-sing menggeleng, katanya, “Tadi aku … aku ….”

“Meski engkau tak pernah minum arak, tapi adatmu minum arak jauh lebih baik

daripada orang lain,” ujar Siau-hi-ji. “Kebanyakan orang, apabila sudah mabuk

tentu akan mengoceh tak keruan, tapi engkau ternyata sangat tenang dan

prihatin.”

“Masa aku tidak … tidak melakukan sesuatu?” tanya Lian-sing.

“Memangnya kau kira dirimu telah berbuat sesuatu?” jawab Siau-hi-ji. “Setelah

mabuk tadi engkau lantas terpulas, engkau cuma mengigau beberapa kata

saja seperti sedang mimpi.”

Lian-sing Kiongcu menghela napas lega, perlahan-lahan matanya mulai

bercahaya, wajahnya yang pucat juga mulai bersemu merah, gumamnya,

“Benar, aku memang bermimpi, impian yang sangat aneh.”

“Orang hidup kalau terkadang bisa bermimpi yang aneh-aneh kukira kehidupan

demikian pasti akan sangat menyenangkan,” ujar Siau-hi-ji.

So Ing memandang anak muda itu, sorot matanya penuh rasa mesra, rasa

kagum dan memuji seperti sangat bangga baginya. Maklum, setiap anak

perempuan tentu berharap kekasihnya berjiwa luhur, simpatik dan welas asih.

Siau-hi-ji, jika dalam keadaan kepepet, pada detik menentukan antara hidup

dan mati, pada saat yang oleh seorang pujangga diistilahkan “to be or not to

be”, berbuat atau tidak, dibunuh atau terbunuh. Dalam keadaan begitu,

terkadang ia pun bisa bertindak tanpa mengenal cara, tujuan menghalalkan

perbuatan, kata orang. Akan tetapi pada dasarnya Siau-hi-ji mempunyai

sebuah hati yang baik, hati yang welas asih, hati yang cinta kepada

sesamanya.

Begitulah, selang sejenak dengan perlahan Lian-sing berkata pula, “Sekarang

dia tak dapat lagi membunuh kau, boleh kau bebaskan dia saja.”

Nada bicaranya ini sangat aneh, rasanya sedikit pun tidak memaksa, bahkan

seperti seorang di luar garis yang membujuknya.

Siau-hi-ji memandangnya dua kejap, tanpa bicara apa pun ia lantas menarik

So Ing dan diajak menuju ke tempat yang ada tombol pengendali pesawat

rahasia itu. Lian-sing Kiongcu ternyata tidak ikut ke situ.

Kecuali alat buka-tutup ruangan di bawah itu, alat-alat lain ternyata sudah

dihancurkan seluruhnya. Sambil memandangi tangkai putaran pintu yang

mengkilat karena seringnya sentuhan tangan, tiba-tiba Siau-hi-ji berkata

dengan tertawa, “Aneh, Lian-sing Kiongcu seolah-olah berubah percaya penuh

padaku, masa dia tidak khawatir kalau alat pesawat ini pun kurusak?”

So Ing tersenyum, katanya, “Ya, sebab lambat laun dia merasa kau ini

sesungguhnya seorang yang baik.”

“Mengapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kebanyakan perempuan memang mempunyai jalan pikiran yang aneh,

biarpun kau telah beribu kali berbuat busuk padanya, asalkan kau berbuat baik

padanya satu kali, maka dia akan merasakan kau sungguh orang baik dan

akan sangat berterima kasih padamu.”

“Mengapa dia berterima kasih padaku?”

“Memangnya kau kira dia sama sekali tidak mengetahui perbuatanmu setelah

mabuk? Soalnya karena kau telah menjaga martabatnya, telah menutupi

tindakannya yang memalukan itu, kalau dia dapat mengelakkan kenyataan ini,

maka ia pun boleh sekadar membohongi dirinya sendiri dan pura-pura tidak

tahu.”

Membohongi dirinya sendiri, inilah kepandaian khas umat manusia. Misalnya

seseorang tidak berhasil makan anggur, padahal kepingin setengah mati

hingga keluar air liur, untuk menghibur dirinya yang gagal makan anggur itu ia

lantas bilang: “Ah, anggur rasanya kecut, tidak enak.” Dengan demikian hatinya

akan terhibur.

Manusia kalau tidak pintar membohongi dirinya sendiri, mungkin banyak yang

tidak sanggup hidup lagi, sebab membohongi dirinya sendiri pada hakikatnya

adalah semacam ‘obat penawar’ bagi manusia yang merasa kecewa, yang

merasa gagal memperoleh sesuatu.

Sebab itu pula, bilamana seorang patah hati lantaran kehilangan pacar, paling

baik kalau dia menghibur dirinya sendiri dengan cara demikian: “Ah, hakikatnya

aku toh tidak menyukai dia. Apalagi di dunia kan masih banyak anak

perempuan yang jauh lebih baik daripada dia”.

Jika dia tidak membohongi dirinya sendiri secara demikian, mungkin dia akan

runtuh benar-benar dan bisa jadi bunuh diri.

Begitulah Siau-hi-ji menggeleng-geleng kepala sambil menatap So Ing,

gumamnya kemudian, “Tampaknya pikiran perempuan hanya bisa dipahami

oleh kaum perempuan sendiri.”

Sembari bicara ia terus memegang putaran pesawat rahasia itu.

“He, kau benar-benar akan membebaskan Kiau-goat Kiongcu?” seru So Ing

heran.

“Sudah tentu, masa tidak benar,” kata Siau-hi-ji.

“Akan … akan tetapi, apabila pesawat rahasia itu kau rusak saja, kan

urusannya menjadi lebih sederhana?” ujar So Ing.

“Betul, jika Kiau-goat kukurung di sini, menghadapi Lian-sing seorang tentu

saja urusannya jadi lebih mudah, tapi aku tak dapat bertindak demikian.”

“Sebab apa?” tanya So Ing.

“Kan dia sudah percaya padaku, maka tidak boleh lagi kutipu dia,” tutur Siauhi-

ji. “Jika orang lain sama sekali tidak percaya padaku, maka bukan soal

bagiku untuk menipu dan membohongi dia, biarpun seribu kali juga aku tidak

sungkan,” Dia tertawa, lalu menyambung, “Mungkin di sinilah letak perbedaan

lelaki dan perempuan. Perempuan selalu akan membohongi orang yang

percaya padanya, jika kau tidak mempercayai dia, dia berbalik tak berdaya

apa-apa padamu.”

“Hah, dari nadamu ini, tampaknya seakan-akan engkau sudah pernah tertipu

beratus kali oleh perempuan,” ucap So Ing dengan tertawa.

“Keliru,” kata Siau-hi-ji. “Justru orang yang tidak pernah ditipu perempuan,

makin jelas baginya mengenai seluk beluk perempuan, kalau benar aku pernah

tertipu beratus kali oleh perempuan, aku bahkan tidak berani mengaku sangat

memahami perempuan.”

So Ing menghela napas gegetun, ucapnya, “Tampaknya jalan pikiran lelaki

juga cuma dipahami oleh kaum lelaki sendiri.”

Sementara itu pintu ruangan di bawah tanah sana sudah terbuka, seharusnya

Kiau-goat Kiongcu sudah keluar sejak tadi-tadi, tapi sampai sekian lamanya

masih belum nampak bayangannya.

“Aneh, mengapa Kiau-goat Kiongcu belum datang mencarimu?” ucap So Ing

dengan ragu-ragu.

“Sekarang dia sudah tahu bakal datang penolong dari luar, dengan sendirinya

dia tidak perlu membunuhku lagi,” ujar Siau-hi-ji.

“Menurut wataknya, seumpama dia tidak ingin lagi membunuhmu, sedikitnya ia

kan mencari perkara padamu.”

“Bisa jadi mendadak ia merasa sangat enak di sana dan tidak ingin keluar lagi,”

kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Akhirnya mereka ingin tahu juga apa yang terjadi, tapi sama sekali tak terpikir

oleh Siau-hi-ji bahwa Kiau-goat Kiongcu benar-benar masih berada di kamar

batu sana, bahkan sekarang Ih-hoa-kiongcu mahaagung itu telah duduk

bersandar dinding.

Terlihat Lian-sing Kiongcu juga berdiri di samping sana dan sedang

memandangi sang kakak dengan terkesima, air mukanya tampak mengunjuk

rasa kejut dan heran, juga merasa kagum serta iri.

Tentu saja Siau-hi-ji heran, sikap Lian-sing Kiongcu itu tampak aneh, air muka

Kiau-goat Kiongcu juga tidak kurang anehnya. Air mukanya kelihatan tidak

putih, juga tidak merah, akan tetapi di antara putih kemerah-merahan itu

tampaknya seakan-akan bening tembus cahaya.

Di bawah cahaya lampu kelihatan jelas setiap urat dan setiap tulang di bawah

kulit daging raut wajahnya yang mahacantik itu kini telah berubah menjadi aneh

dan misterius.

“Apa-apaan ini?” ucap So Ing dengan bingung. “Barangkali dia mengalami

Cau-hwe-jip-mo (salah latihan hingga mengalami kelumpuhan)?”

Siau-hi-ji menggeleng, belum lagi bicara, Lian-sing Kiongcu telah muncul

keluar dengan perlahan tapi tetap berdiri melenggong di situ, entah apa yang

sedang direnungkan. Padahal Siau-hi-ji dan So Ing berdiri tepat di depannya,

tapi Lian-sing seperti tidak melihat mereka.

Karena ingin tahu terpaksa Siau-hi-ji membuka suara, “Sungguh jarang terlihat

wajah seorang bisa berubah menjadi bening tembus cahaya begini, apakah ini

termasuk Kungfu yang kalian latih?”

Melihat Lian-sing dalam keadaan seperti orang linglung, sebenarnya Siau-hi-ji

mengira orang pasti takkan menjawab pertanyaannya. Tak terduga meski Liansing

tidak memandangnya barang sekejap, tapi toh berkata dengan perlahan,

“Ya, betul memang beginilah gejalanya jika ‘Beng-giok-kang’ sudah terlatih

sampai tingkatan terakhir.”

“Beng-giok-kang (ilmu kemala bening)? Ilmu apakah ini? Belum pernah

kudengar selama ini?” kata Siau-hi-ji.

“Sedikitnya sudah ratusan tahun Kungfu ini menghilang di dunia persilatan

dengan sendirinya tak pernah kau dengar,” ucap Lian-sing.

“Wah, jika begitu, Kungfu ini pasti sangat lihai?” Siau-hi-ji coba memancing

pula.

“Kungfu ini terbagi sembilan tingkat,” tutur Lian-sing. “Tapi asalkan berhasil

melatihnya hingga tingkat keenam, maka Kungfunya sudah dapat disejajarkan

dengan tokoh utama persilatan jaman ini. Bila berlatih sampai tingkat

kedelapan, maka dapatlah menjagoi dunia tanpa tandingan.”

“Jika demikian, kalian kakak beradik sudah berlatih hingga tingkat ke berapa?”

tanya Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Kedelapan,” jawab Lian-sing sambil menghela napas perlahan, tanpa

menunggu komentar Siau-hi-ji segera ia menyambung pula, “Pada dua puluh

tahun yang lalu kami sudah berhasil melatihnya hingga tingkat kedelapan,

sebenarnya untuk mencapai tingkat kedelapan ini sedikitnya diperlukan

ketekunan latihan selama tiga puluh dua tahun, tapi kami hanya berlatih

selama dua puluh empat tahun saja, kemajuan kami ini boleh dikatakan telah

melampaui kebiasaan dan merupakan rekor yang belum pernah dicapai orang

lain. Tadinya kami mengira empat atau lima tahun lagi kami pasti dapat

mencapai puncaknya yang tertinggi.”

Siau-hi-ji tahu selera bicara Lian-sing sudah terpancing keluar, maka ia tidak

bersuara lagi melainkan menunggu cerita lebih lanjut.

Selang sejenak, benar juga Lian-sing Kiongcu lantas menyambung setelah

menghela napas gegetun, “Siapa tahu, selama dua puluh tahun terakhir ini

latihan kami tiada kemajuan sama sekali, seolah-olah cuma sampai di sini saja

dan tidak mungkin naik lebih tinggi lagi.”

Tanpa tertahan So Ing bertanya, “Apakah sebelum ini tiada yang pernah

mencapai tingkatan kesembilan?”

“Beng-giok-kang adalah ilmu sakti rahasia yang tak diajarkan, boleh dikatakan

Kungfu yang diimpi-impikan oleh setiap orang persilatan,” tutur Lian-sing

Kiongcu. “Sebab, tak peduli siapa dia, asalkan bisa memperoleh kunci dasar

melatih ilmu ini, maka pasti akan berhasil meyakinkannya. Dan asalkan

berhasil melatihnya, maka tiada tandingannya lagi di dunia ini. Biarpun orang

yang tak berbakat, asalkan melatihnya dengan tekun dan tekad penuh, lambat

atau cepat akhirnya pasti akan berhasil!”

“Jika demikian seorang bodoh juga dapat meyakinkan ilmu silat ini?” ucap

Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, hanya makan waktu lebih lama saja,” kata Lian-sing.

“Kira-kira memerlukan waktu berapa lama,” tanya Siau-hi-ji.

“Untuk ini perlu diketahui dulu dia orang tolol macam apa, tololnya setengahsetengah

atau sudah kelewatan,” jawab Lian-sing.

“Jika setolol Gui Bu-geh, umpamanya?”

“Gui Bu-geh bukan orang tolol, tapi kalau dia ingin meyakinkan Kungfu sakti ini

hingga berhasil, sedikitnya juga perlu waktu 80-90 tahun,” tutur Lian-sing.

“Hah, begitu lama?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa dan geli. “Wah, andaikan

dia mulai berlatih pada usia sepuluh tahun, sampai berhasil dilatihnya mungkin

dia sudah dipanggil menghadap Giam-lo-ong (raja akhirat) lebih dulu.”

“Memang,” ujar Lian-sing. “Makanya untuk meyakinkan ilmu silat ini harus

dimulai selagi kanak-kanak, bahkan taraf kemajuannya harus cepat, dengan

demikian baru berguna hasil latihannya, kalau tidak ….”

“Kalau tidak orang itu harus berumur panjang seperti kita, begitu bukan?” tukas

Siau-hi-ji dengan tertawa.

Lian-sing Kiongcu menarik muka, tapi tetap menjawab, “Betul, cuma orang

yang dapat meyakinkan ilmu sakti ini hingga puncaknya juga harus orang yang

berbakat, selama ini, dari dulu hingga kini, paling-paling juga cuma enam orang

saja yang berhasil dengan baik.”

“Hanya enam orang? Wah, siapa saja mereka itu?” tanya So Ing.

“Selain kami kakak beradik, ada juga Jit-hou (permaisuri sang Surya) yang

tinggal di Kong-beng-to di lautan selatan, lalu Siau-ong-sun di lembah Te-ongkok,

putra mahkota Jit-sik-cun (kapal tujuh warna) yang selalu malangmelintang

di samudera serta tokoh ajaib dunia persilatan Sim Long.

Mendengar nama-nama itu, mau tak mau Siau-hi-ji menarik napas dingin juga.

Maklum, tokoh-tokoh yang disebut itu sudah lama wafat, tapi nama kebesaran

mereka tidak pernah pudar dari dunia persilatan, tapi cemerlang dan terukir

dengan abadi.

Dengan menyesal kemudian Lian-sing menyambung pula, “Kecuali kami

berdua, keempat orang yang lain itu sudah berhasil meyakinkan Kungfu ini

dengan sempurna.”

“Ya, begitu kudengar nama mereka, segera kutahu mereka pasti berhasil

meyakinkannya,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Dan kalian, mengapa, mengapa kalian tidak berhasil mencapai puncaknya?”

tanya So Ing.

“Orang Kangouw umumnya tahu Sim-long, Sim-locianpwe adalah tokoh ajaib

berbakat dunia persilatan, tapi setahuku ia pun memerlukan 24 tahun baru

berhasil mencapai tingkatan kedelapan, enam tahun lagi barulah mencapai

puncaknya. tapi nyatanya usaha kami selalu gagal, kami pun tidak tahu apa

sebabnya tak dapat mencapai tingkatan terakhir itu.”

“Apakah kemudian kalian berhasil menyelami sebab-sebabnya?” tanya So Ing.

“Ya,” jawab Lian-sing.

“Bagaimana?” tertarik juga Siau-hi-ji.

Lian-sing menatapnya lekat-lekat hingga lama seperti lagi menimbang apakah

harus menjawab pertanyaannya atau tidak. Terpaksa Siau-hi-ji juga berdiam

menunggu.

Selang agak lama, akhirnya Lian-sing menghela napas panjang dan bertutur

dengan perlahan, “Maklumlah, pada dua puluh empat tahun permulaan, cara

berlatih kami sangat tekun tanpa terusik oleh pikiran lain, tapi dua puluh tahun

berikutnya, kami juga seperti khalayak umumnya, kami pun mempunyai suka

duka, tidak lagi khusuk seperti sebelumnya dan berlatih dengan sepenuh hati.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, gumamnya kemudian, “Dua puluh tahun … dua

puluh tahun yang lalu ….”

Ia tidak melanjutkan, sedangkan wajah Lian-sing Kiongcu perlahan-lahan

berubah pucat pula, sebab ia merasa anak muda itu pasti sudah dapat

menerka apa yang menyebabkan suka-duka Ih-hoa-kiongcu pada dua puluh

tahun yang lalu. Ya, dua puluh tahun yang lalu, bukankah itulah waktu untuk

pertama kalinya mereka bertemu dengan Kang Hong, ayah Siau-hi-ji?

“Dan sekarang … sekarang apakah Kiau-goat Kiongcu sudah berhasil

meyakinkannya hingga tingkat kesembilan, tingkat tertinggi?” tanya So Ing.

“Ya, betul,” jawab Lian-sing, kembali sorot matanya menampilkan rasa kagum

dan iri, ucapnya pula dengan rawan, “Sungguh tak terduga olehku setelah

selama dua puluh tahun, dalam keadaan demikian dan tempat begini dia justru

berhasil mencapainya, sungguh aku … aku ikut bergirang baginya.”

Siau-hi-ji menggigit bibir, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Mungkin

disebabkan akulah yang telah membantunya.”

“Ya, mungkin begitu,” ucap Lian-sing gegetun. “Sebab dia terkurung olehmu di

tempat begini, ia benar-benar putus harapan untuk hidup, dalam keadaan

demikian pikiran manusia sering kali mengalami perubahan yang tak

tersangka, bisa jadi dalam sekejap itu pikirannya menjadi ‘plong’, mungkin ia

sendiri pun tidak menyangka akan mencapai hasil yang tak terduga ini.”

“Padahal setelah berlatih sampai tingkat kedelapan kan sudah tiada

tandingannya, andaikan tidak mencapai tingkat kesembilan juga tidak soal lagi,

bisa berhasil mencapainya memang lebih bagus, kalau tidak berhasil juga tidak

perlu sedih,” ujar Siau-hi-ji.

Ucapan ini sebenarnya bermaksud menghiburnya, siapa tahu air muka Liansing

Kiongcu bahkan berubah lebih murung, setelah termenung-menang

sejenak dengan perlahan ia berkata, “Kalau bisa mencapai tingkat kedelapan

memang sukar lagi ditandingi orang, tapi bila ketemu tokoh mahalihai seperti

Yan Lam-thian, rasanya belum pasti menang.”

“Kalau ilmu silat kalian sudah mencapai tingkatan tiada tandingannya,

mengapa dikatakan belum pasti menang?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sebabnya, meski kekuatan kami lebih tinggi sedikit daripada Yan Lam-thian,

namun selisihnya tidak jauh,” tutur Lian-sing. “Pula pertarungan antara jago

kelas top, selain kuat dan lemahnya ilmu silat, keadaan fisik masing-masing

pada waktu itu, tempat dan waktu serta cuaca, unsur ini pun ikut menentukan

kalah-menangnya.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, “Setelah dia berhasil mencapai

tingkatan kesembilan, apakah Yan Lam-thian lantas tak dapat mengalahkan

dia?”

“Ya, setitik harapan pun tidak ada,” jawab Lian-sing tegas.

Siau-hi-ji tidak bicara lagi, sebab ia tahu bilamana Lian-sing Kiongcu berani

omong begini, maka pasti bukan bualan belaka, lalu apa yang perlu

dikomentarinya?

Tiba-tiba Lian-sing berkata pula, “Menurut cerita kuno, bilamana Beng-giokkang

sudah terlatih sampai tingkat kesembilan, selain ilmu sakti ini tiada

tandingannya di kolong langit, orang yang berhasil meyakinkannya juga akan

awet muda dan panjang umur, konon ‘Permaisuri Surya’ mencapai umur

seratus lima puluh tahun, ketika meninggal wajahnya tetap cantik dan segar

seperti perawan likuran tahun.”

Selagi Siau-hi-ji asyik mendengarkan cerita Lian-sing Kiongcu itu, terdengar

suara galian di luar sana masih terus berlangsung.

Sambil mengikuti suara “trang-tring” galian itu perasaan Siau-hi-ji sendiri sukar

untuk dilukiskan. Ia pikir kalau benar ilmu silat Kiau-goat Kiongcu sudah tiada

tandingannya di kolong langit ini, setelah bebas dari sini, maka entah apa pula

yang akan terjadi atas dirinya.

Pada saat lain, mendadak suara galian di atas sana berhenti pula secara

mendadak.

Tentu saja So Ing dan Lian-sing Kiongcu menjadi cemas, mereka coba

menunggu lagi dengan sabar dengan harapan suara galian itu akan timbul lagi.

Tapi mereka benar-benar kecewa. Sampai seharian suasana tetap sunyi, tiada

apa pun yang terdengar di luar. Satu hari ini bagi mereka rasanya seperti

seribu tahun lamanya.

So Ing coba tanya Siau-hi-ji, “Sekali ini mendadak mereka berhenti menggali?

Apakah mereka dirintangi lagi oleh seseorang? Dan siapakah gerangannya

yang mampu menghentikan pekerjaan mereka?”

Siau-hi-ji hanya menggeleng saja, sekali ini ia tidak sanggup menerkanya.

Maklumlah, memang tidak banyak orang yang sanggup menundukkan Captoa-

ok-jin dan menghentikan pekerjaan mereka.

“Mungkinkah perbuatan Kang Piat-ho?” So Ing coba bertanya pula.

“Kang Piat-ho sudah jatuh di tangan Yan-tayhiap, sekalipun kepandaiannya

setinggi langit, juga jangan harap bisa lolos,” kata Siau-hi-ji.

“Habis siapa, mungkinkah Yan-tayhiap sendiri?” tanya pula So Ing.

“Tidak mungkin,” jawab Siau-hi-ji. “Jika beliau mengetahui ada orang terkurung

di sini, sekalipun orang ini musuhnya pasti juga dia akan menyelamatkan dulu

orang ini dan urusan lain adalah soal belakang.”

“Mungkinkah ….” tapi So Ing tak dapat melanjutkan lagi, sebab meski sudah

dipikirkan toh sukar teringat siapa di dunia ini yang mampu mencegah

pekerjaan Cap-toa-ok-jin.

Semakin tak dapat memecahkannya, semakin diketahuinya urusan pasti tidak

sederhana. Apalagi, seumpama sekarang ada orang hendak menolong mereka

tentu juga sudah terlambat.

Hanya Kiau-goat Kiongcu saja, air mukanya sekarang tidak kelihatan bening

tembus cahaya yang aneh, jelas ilmu saktinya telah berhasil dengan

sempurna.

So Ing memandang Kiau-goat lekat-lekat, tiba-tiba ia mengikik tawa.

Siau-hi-ji bergumam, “Jika kau teringat kepada sesuatu lelucon yang

menggelikan, kenapa tidak kau ceritakan mumpung sekarang aku masih bisa

ikut tertawa.”

Dengan tenang So Ing berkata, “Baru sekarang kutahu bahwa di dunia ini

memang ada banyak hal-hal yang menarik.”

“O, hal-hal menarik?” Siau-hi-ji menegas.

“Ya, umpamanya mati, biasanya yang paling kutakuti ialah mati, dan cita-citaku

yang paling besar adalah hidup bersamamu. Tapi sekarang, meski Gui Bu-geh

hampir berhasil membunuhku, tapi kalau dia tidak mengurung kita di sini cara

bagaimana aku dapat selalu mendampingimu seperti ini? Nah, coba katakan,

sesungguhnya aku harus berterima kasih atau benci padanya?”

“Baik kau akan berterima kasih atau akan benci padanya, yang pasti sekarang

semua itu tiada sangkut-pautnya dengan dia,” kata Siau-hi-ji.

“Mati, memang kejadian yang paling menyedihkan,” ujar So Ing pula. “Meski

sekarang aku akan mati, tapi kurasakan pula selama hidupku tidak pernah

segembira sekarang ini.”

Siau-hi-ji menggerutu, “Ya, menarik, sungguh menarik hal ini, sebenarnya aku

pun ingin tertawa, cuma sayang aku tidak sanggup tertawa lagi.”

Dengan rawan So Ing berkata pula, “Aku pun tidak benar-benar merasa hal ini

sangat menarik dan lucu, hanya kurasakan banyak kejadian di dunia ini satu

sama lain saling bertentangan, penuh sindiran, antara suka dan duka juga

tiada pembatasan yang nyata, apalagi duka terkadang juga mendatangkan

suka, sebaliknya suka juga sering mendatangkan duka.”

Siau-hi-ji hanya mendengar saja tanpa bersuara.

Yang dirasakannya sekarang hanya keletihan, maka apa pun tak ingin

diucapkannya dan apa pun tak mau dipikirkannya, bahkan rasa takut pun tak

dirasakannya lagi. Ia seakan-akan sudah berubah pati rasa.

Padahal orang keras tekadnya seperti Siau-hi-ji, sekalipun pada saat sudah

putus asa juga tidak mungkin tinggal diam dan pasrah nasib. Namun kalau

sudah ada setitik sinar harapan untuk kemudian terjadi lagi putus harapan

untuk kedua kalinya, maka biarpun manusia paling teguh imannya juga tidak

tahan pukulan-pukulan begini.

Saraf manusia memang bersifat elastis, bisa mulur dan mengkeret, bisa

kencang dan kendur, apabila sudah mengencang terus mengendur, habis

mengendur terus ditarik kencang lagi, maka akhirnya daya elastis akan lenyap.

Dan begitu pula keadaan Siau-hi-ji, setelah mengalami berbagai kejadian, kini

pada hakikatnya dia sudah putus asa.

Meski luar biasa pintar dan cerdasnya Siau-hi-ji, betapa pun ia bukan

superman yang memiliki mata telinga ajaib, ia pun tidak dapat menujum apa

yang belum terjadi, apa yang diterkanya juga tidak selalu tepat.

Kejadian di dunia ini dengan perubahan-perubahan yang aneh terkadang ajaib

daripada yang pernah dibayangkan orang. Perkembangan sesuatu urusan

terkadang juga bisa melampaui apa yang diperkirakan orang.

Begitu pula apa yang terjadi dengan Hoa Bu-koat, dia tidak berhasil

menemukan Thi Sim-lan ketika dia meninggalkan gua tempat tinggal Gui Bugeh

itu. Secara misterius Thi-Sim-lan telah menghilang.

Padahal dengan Ginkang Hoa Bu-koat, ke mana pun perginya Thi Sim-lan

pasti dapat disusulnya. Namun seluruh pelosok Ku-san itu sudah dijelajahinya

dan bayangan Thi Sim-lan tetap tak terlihat.

Setelah putus asa dan ingin kembali ke gua sana, namun gua tikus Gui Bu-geh

itu sudah tertutup rapat.

Perubahan ini membuat Hoa Bu-koat terkejut dan kebingungan, dia menjerit

dan berteriak-teriak, namun tiada suara jawaban. Jelas Ih-hoa-kiongcu dan

Siau-hi-ji telah terkurung di dalam gua itu, kalau tidak masakan mereka tidak

tahu apa yang harus diperbuatnya.

Ketika kemudian dia dapat meminjam cangkul dari seorang petani di lereng

bukit, sementara itu hari sudah mendekati senja, lereng bukit sudah mulai

berkabut.

Dengan segenap tenaganya dia mulai menggali. Waktu permulaan ia merasa

tanah pegunungan itu dengan mudah dapat dicangkulnya, tapi makin lama

terasa semakin keras dan makin berat, akhirnya terasa keras seperti besi.

Ia tahu tenaga sendiri sudah tidak tahan namun dia pantang berhenti, ia pun

tidak tahu apa yang terjadi di dalam gua, sungguh hampir gila dia

memikirkannya.

Sementara itu remang-remang malam sudah tiba. Di tengah suasana yang

remang-remang itulah tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang, dari garis

tubuhnya jelas itulah bayangan orang perempuan. Tanpa bicara bayangan itu

cuma berdiri di situ, memandang Hoa Bu-koat dengan terkesima.

Meski Bu-koat tidak mendengar suaranya, tapi nalurinya sudah merasakan

sesuatu, perlahan ia berhenti mencangkul dan cepat berpaling. Lalu, seperti

bayangan orang itu, ia pun melenggong tak bergerak.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa orang yang berdiri di depannya

sekarang adalah orang yang telah dicarinya dengan susah payah dan tidak

bertemu, yaitu Thi Sim-lan.

Waktu dia mencari nona itu di segenap pelosok lereng bukit, pikirannya

bergolak seperti langkahnya yang tidak pernah berhenti. Teringat banyak

persoalan yang hendak dibicarakannya dengan Thi Sim-lan. Akan tetapi

sekarang, setelah dia berhadapan dengan si nona, berbalik ia tidak sanggup

mengucapkan sepatah kata pun.

Thi Sim-lan juga tidak bicara apa-apa, bahkan tidak berani beradu pandang

dengan Bu-koat, tapi perlahan-lahan ia menunduk dan memainkan ujung baju

yang tersingkap tertiup angin.

Dia berdiri seperti patung, meski tampaknya begitu tenang, namun hatinya jauh

lebih kusut daripada rambutnya yang semrawut.

Dengan sendirinya perasaan Bu-koat juga tidak tenang seperti lahirnya, selang

agak lama barulah dia menghela napas panjang dan berucap, “Ta … tadi ke

manakah kau?”

“Aku … aku tidak pergi ke mana-mana, sejak tadi aku berada di sini,” jawab

Sim-lan sambil menunduk.

Ujung mulut Bu-koat bergerak seperti ingin tertawa tapi urung. Akhirnya ia pun

menunduk, katanya, “Kiranya kau tidak pergi ke mana-mana, pantas tak dapat

kutemukan kau.”

“Engkau mencari aku?” tanya Sim-lan.

“Ya, sudah kucari ke mana-mana, cuma tak tersangka engkau masih di sini?”

“Aku pun melihat engkau keluar dari situ, tak tersangka engkau akan

mencariku.”

Bu-koat angkat kepala memandangnya sekejap, lalu menunduk pula.

“Jika engkau tidak menyangka aku masih berada di sini, mengapa engkau

kembali lagi ke sini?”

“Aku … aku bukan ….”

“Kembalimu ke sini bukan untuk mencari aku? Habis untuk apa kau kembali

lagi ke sini? Mereka kan sudah pergi semua, mengapa engkau tidak ikut pergi

bersama mereka?”

Cepat Bu-koat mengangkat kepalanya dan berseru, “Sia … siapa yang kau

maksudkan sudah pergi semua?”

“Yang kumaksudkan sudah tentu gurumu dan … dan So Ing mereka.”

Hampir saja Bu-koat melonjak maju dan memegang tangan si nona, dengan

suara terputus-putus ia tanya pula, “Kau … kau benar-benar melihat mereka

sudah pergi semua?”

Kepala Thi Sim-lan menunduk hampir terbenam sampai di dada sendiri,

jawabnya lirih, “Ya, benar, masa engkau tidak melihat mereka?”

Terkejut dan bergirang pula Bu-koat, ia tertawa dan berseru, “O, langit, O,

bumi, tadinya kukira mereka terkurung di dalam situ.”

“Kau kira siapa yang dapat mengurung mereka di dalam situ?” tanya Sim-lan.

“Dengan sendirinya kusangka Gui Bu-geh.”

“Tadi engkau bertemu dengan Gui Bu-geh?” tanya Sim-lan sambil berkedipkedip.

“Tidak,” jawab Bu-koat. “Di dalam situ tiada terdapat seorang pun, tadi kukira

Gui Bu-geh pasti bersembunyi, pada waktu mereka tidak berjaga-jaga lalu

menutup pintu dan membuat buntu jalan keluarnya.”

Sim-lan tertawa menunduk, ucapnya, “Tampaknya rasa curigamu juga tidak

kecil.”

Tanpa terasa Bu-koat juga menunduk dan tertawa, baru sekarang ia tahu

tangan si nona telah digenggamnya, jantungnya berdebar keras dan segera

hendak melepas tangannya.

Siapa tahu, seperti sengaja dan tidak sengaja, tahu-tahu Thi Sim-lan juga

memegang tangannya dan berkata, “Gua ini di buntu oleh gurumu, agaknya dia

tidak ingin orang lain masuk lagi ke situ, aku menjadi menyesal mengapa …

mengapa tadi aku tidak masuk ke sana.”

Jantung Bu-koat berdetak keras, ia menarik napas panjang-panjang, ucapnya

dengan tertawa, “Sebenarnya di dalam sana juga tiada sesuatu yang baik

untuk dilihat.”

“Konon selama hidup Gui Bu-geh sangat suka mengumpulkan benda mestika,

banyak barang koleksinya adalah benda yang sukar dicari di dunia ini, masa

engkau tidak melihatnya?”

“Tidak, aku tidak melihat apa-apa, bisa jadi ia pergi dengan membawa semua

barangnya.”

“Mungkin engkau tidak menaruh perhatian.”

“Ya, bisa jadi,” Bu-koat mengangguk. “Tapi tahukah mereka menuju ke arah

mana?”

Seenaknya Thi Sim-lan menuding ke arah rembulan dan menjawab, “Ke sana.”

“Aneh, mengapa aku tidak menemukan mereka?” ucap Bu-koat sambil

berkerut kening, “Mengapa mereka tidak menunggu aku?”

“Mereka berangkat dengan tergesa-gesa, seperti mendadak menemukan

sesuatu,” kata Thi Sim-lan.

“Sudah berapa lama mereka pergi?” tanya Bu-koat.

“Baru saja mereka berangkat, lalu engkau datang kembali”

“Jika demikian, lekas kita menyusulnya, mungkin masih keburu.”

“Tidak, aku tidak mau ikut,” kata Thi Sim-lan.

“Kau harus ikut,” bujuk Bu-koat dengan suara lembut. “Sebab ….”

“Tidak, aku tidak mau, kau pun jangan pergi,” sela Thi Sim-lan.

“Sebab apa?” melengak juga Bu-koat.

Thi Sim-lan menengadah dan memandang anak muda itu, katanya perlahan,

“Sebab aku tidak mungkin menemui mereka dan juga tidak ingin engkau

bertemu lagi dengan mereka.”

Mestinya Bu-koat hendak bicara pula, tapi mendadak dilihatnya sorot mata si

nona berubah sangat aneh.

Mata Thi Sim-lan sebenarnya bersih dan bening, cuma akhir-akhir ini dia

banyak duka merana sehingga matanya sayu dan mengharukan. Tapi

sekarang sorot matanya berubah sedemikian tajam, bahkan kerlingannya

tampak licik dan membawa rasa seram.

Dipandang dalam kegelapan, perawakan dan potongan tubuhnya, wajahnya

dan gerak-geriknya memang sama seperti Thi Sim-lan, hanya sepasang

matanya saja …. Ya, betapa pun juga matanya ini jelas bukan milik Thi Sim-lan.

Begitu merasa gelagat tidak baik, segera Bu-koat bermaksud mundur.

Akan tetapi sudah terlambat, tiba-tiba Bu-koat merasa tangannya kesemutan,

menyusul seluruh anggota badannya lantas kaku.

Dengan tenaga yang masih dapat dikerahkan, sekuatnya ia menabas dengan

sebelah tangan, akan tetapi “Thi Sim-lan” sempat melompat mundur dengan

cepat. Waktu Bu-koat ingin mengejar, namun kaki tangan sudah tak bisa

bergerak lagi.

Terdengar “Thi Sim-lan” tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya, “Wahai Hoa Bukoat,

tampaknya kau terlalu jauh dibandingkan Siau-hi-ji. Apabila Siau-hi-ji,

hahaha, tidak sampai tiga kalimat kubicara tentu sudah dikenali olehnya.”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Bu-koat dengan gemas.

“Masa gurumu tidak pernah memberitahukan padamu, siapa di dunia ini yang

paling mahir menyamar?” kata nona yang mengaku sebagai Thi Sim-lan itu.

Dengan gegetun Bu-koat berteriak, “Manusia rendah dan tidak tahu malu

seperti kalian ini tidak mungkin disebut-sebut oleh guruku.”

“Hahaha, jika begitu sekarang juga dapat kukatakan padamu, di kolong langit

ini hanya nenekmu she To inilah yang paling ahli dalam hal menyamar dan

tiada bandingannya.”

Tergerak pikiran Hoa Bu-koat, segera teringat olehnya nama To Kiau-kiau,

salah satu dari Cap-toa-ok-jin yang terkenal dengan julukan ‘tidak lelaki tidak

perempuan’ itu. Namun sekarang ia merasa lemas dan tidak sanggup berdiri

tegak, belum lagi ia bersuara pula, tahu-tahu lantas roboh terjungkal.

Segera terdengar seorang lagi menjengek, “Hm, kau pun tak perlu terlalu

gembira, menurut pandanganku, sedikit kepandaianmu menyamar ini juga

bukan sesuatu yang luar biasa, bukankah akhirnya penyamaranmu juga

diketahui olehnya?”

“Betul, akhirnya memang dapat dilihat olehnya,” ucap To Kiau-kiau dengan

tertawa. “Tapi ini pun disebabkan aku tidak cukup waktu untuk mempelajari

gerak-gerik Thi Sim-lan, total jenderal aku hanya mendapat waktu setengah

jam untuk menirunya. Coba, bila aku diberi tempo setengah hari, sekalipun di

siang hari juga bocah ini dapat kukelabui.”

Orang tadi menjengek pula, katanya, “Huh, selama beberapa tahun ini,

kepandaianmu yang lain jelas tiada kemajuan apa-apa, hanya kepandaiamu

membual memang maju pesat, mungkin ini hasil pelajaranmu dari serigala

mulut lebar itu (maksudnya Li Toa-jui).”

Yang mengejek sejak tadi jelas ialah Pek Khay-sim, si ‘tukang buat rugi orang

lain tanpa menguntungkan diri sendiri’.

Dengan sendirinya Toh Sat, Ha-ha-ji dan Li Toa-jui juga ikut muncul

seluruhnya. Hanya Im Kiu-yu saja si setengah manusia setengah setan itu

seolah-olah tidak berani memperlihatkan diri di depan umum dan selalu main

sembunyi-sembunyi, tapi rasanya setiap waktu ia pun bisa menongol.

Diam-diam Bu-koat sudah dapat menerka siapa gerangan orang-orang ini. Ia

menyadari bagaimana nasibnya sendiri setelah jatuh di tangan orang ini,

hakikatnya seperti kambing berada di rumah pemotongan.

Namun dia tidak khawatir bagi keadaan sendiri, sebab ia tahu keadaan Ih-hoakiongcu

dan Thi Sim-lan sekarang pasti jauh lebih berbahagia daripadanya.

Terlihat Ha-ha-ji mendekatinya dengan berlenggang, lebih dulu ia memberi

hormat, lalu tertawa ngakak dan berkata, “Haha, Hoa-kongcu, maaf seribu

maaf. Sebenarnya Cayhe dan kawan-kawan tidak berani berlaku tidak sopan

padamu, namun ilmu silat Kongcu sesungguhnya teramat tinggi, terpaksa kami

menggunakan cara demikian.”

“Hehe, mulut si gendut ini berlumur madu, padahal hatinya lebih busuk

daripada siapa pun juga,” demikian Pek Khay-sim berolok-olok. “Maka apa pun

yang dikatanya paling baik kau anggap saja seperti kentut, kalau tidak kau

sendiri bisa celaka.”

“Hahaha, kalau kentutnya sih kentut manusia, sebaliknya kentutmu justru

kentut anjing,” sambung Li Toa-jui dengan terbahak.

Sembari tertawa ia pun mendekati Hoa Bu-koat, ia pandang anak muda itu dari

atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas, mungkin bapak mertua yang lagi

meneliti calon menantu juga tidak secermat dia. Setelah mengamat-amati

sekian lama, mulutnya berkecak-kecak memuji dan bergumam, “Ehmm, bagus,

bagus sekali. Daging sebagus ini sungguh sukar dicari, di antara seribu orang

sukar ditemukan satu. Hanya kurusan sedikit, jika dimasak Ang-sio kurang

berminyak.”

Sambil bicara air liurnya seakan-akan menetes, jakunnya naik turun, malahan

sebelah tangannya terus mencolek perut Bu-koat, mirip seorang nenek lagi

memilih ayam sembelihan di pasar.

Cemas dan gemas pula Bu-koat, tapi apa daya, hendak melawan juga tidak

mampu.

Syukur pada saat itu Toh Sat lantas membentak, “Berhenti!”

Segera Li Toa-jui menarik kembali tangannya katanya dengan tertawa, “Aku

kan tidak hendak menyembelih dia sekarang, hanya mencoleknya sekali kan

boleh?”

“Betapa pun orang ini adalah seorang pilihan,” jengek Toh Sat. “Meski aku tak

dapat mengalahkan dia dengan ilmu silat, sedikitnya harus kuhormati dia

secara sopan. Kau boleh membunuh dia, tapi tidak boleh menghinanya.”

Baru sekarang Hoa Bu-koat mendengar ucapan manusia sejati, tanpa terasa ia

menghela napas lega, katanya, “Terima kasih!”

“Kau tahu yang kuhormati bukanlah pribadimu, bukan kedudukanmu, yang

kuhormati adalah ilmu silatmu saja, kau patut dihormati.”

Bu-koat terdiam sejenak, ucapnya kemudian, “Cayhe sudah jatuh di tangan

kalian, mati hidup tak terpikir lagi olehku, lebih-lebih tak pernah kuharapkan

akan kau hormati segala, hanya saja Thi Sim-lan ….” dia tatap Toh Sat dengan

tajam lalu menyambung dengan sekata demi sekata, “Apakah Thi Sim-lan juga

jatuh di tangan kalian?”

Dia tidak tanya orang lain, tapi tanya kepada Toh Sat, sebab ia tahu di antara

kelima orang ini hanya orang berwajah dingin inilah yang tidak suka omong

kosong.

Benar juga, Toh Sat lantas menjawab, “Ya, betul.”

Dengan mendongkol Bu-koat berkata, “Lelaki gagah seperti Saudara, tentunya

takkan membikin susah seorang gadis lemah.”

“Gadis lemah? Hahahaha, kau kira dia gadis lemah?” To Kiau-kiau bergelak

tertawa. “Kulihat dia jauh lebih kuat daripada sementara lelaki di dunia ini. Tapi

kau pun jangan khawatir, kami pasti takkan membikin susah dia.”

Bu-koat tidak pedulikan orang lain dan tetap menatap Toh Sat, katanya pula,

“Jika Saudara sudi membebaskan dia, mati pun Cayhe takkan menyesal.”

“Membebaskan dia tidak boleh, tapi kami pasti takkan mengganggu seujung

rambutnya.”

“Betul?” Bu-koat menegas.

“Ya, terus terang, ayahnya adalah saudara angkat kami, mana bisa kubuat

susah dia,” kata Toh Sat.

“Hah, ayahnya ….” Bu-koat melenggong.

“Hahahaha, memangnya kau kira dia berasal dari keluarga terpelajar atau

bangsawan? Bicara terus terang, ayahnya juga serupa kami, bukan manusia

baik-baik,” seru Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Sia … siapakah ayahnya?” tanya Bu-koat dengan suara parau.

“Ayahnya bernama Thi Cian dan terkenal dengan julukan ‘Ong Say’ (si singa

gila), ia pun tergolong manusia rendah yang tidak pernah disebut oleh gurumu,

tentu saja kau tidak pernah dengar namanya,” kata To Kiau-kiau dengan

tertawa.

“Meski Thi Cian termasuk Cap-toa-ok-jin, tapi selain wataknya yang keras dan

angkuh, jika bicara tentang tindak tanduknya serta jiwanya yang teguh, rasarasanya

dia pasti tidak di bawah orang yang sok mengaku sebagai golongan

pendekar berbudi segala,” ucap Toh Sat dengan suara bengis.

Bu-koat menghela napas panjang, katanya, “Jika demikian, legalah hatiku,

sekarang aku cuma ingin minta petunjuk sesuatu padamu.”

“Bicara!” ucap Toh Sat singkat.

“Guruku ….”

Belum lanjut ucapan Bu-koat, dengan tertawa To Kiau-kiau telah memotong,

“Soal ini kau pun tidak perlu khawatir. Mereka memang terkurung di dalam gua

ini oleh Gui Bu-geh, kecuali bisa memperoleh peralatan besar untuk menggali

bukit ini, kalau tidak, selama hidup mereka jangan harap akan bisa keluar lagi.”

“Apa … apa betul?” Bu-koat menegas, sekujur badan serasa lemas.

“Sebegitu jauh tidak kulihat mereka keluar lagi,” ujar Toh Sat.

Bu-koat memejamkan mata dan tidak bicara pula.

Li Toa-jui tertawa sambil memandang Bu-koat, ucapnya, “Paling sedikit bocah

ini ada satu segi baiknya.”

“Baik dalam hal apa?” tanya To Kiau-kiau.

“Sedikitnya dia tahu bilakah dia harus tutup mulut,” kata Li Toa-jui.

“Haha, betul!” timbrung Ha-ha-ji sambil berkeplok. “Meski ia dibesarkan di

tengah kerumunan perempuan, tapi dia tahu kapan harus tutup mulut, hal ini

sungguh harus dipuji.”

“Dalam hal ini jelas kalian tidak paham,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa

“Orang yang hidup di lingkungan yang cuma orang perempuan melulu justru

tidak suka banyak omong.”

“Sebab apa?” tanya Li Toa-jui.

“Coba pikir,” tutur To Kiau-kiau dengan sungguh-sungguh. “Dia hidup di

tengah-tengah perempuan sebanyak itu, mana dia ada kesempatan untuk

bicara?”

“Haha, betul,” seru Li Toa-jui sambil bertepuk tertawa. “Selama hidupmu ini

mungkin ucapanmu inilah yang paling bagus dan paling tepat.”

Lalu To Kiau-kiau mendekati Hoa Bu-koat, katanya dengan perlahan, “Kini

satu-satunya ahli waris Ih-hoa-kiongcu sudah meringkuk di sini, kedua kakak

beradik Ih-hoa-kiongcu juga tak dapat keluar lagi, Ih-hoa-kiongcu yang gilang

gemilang selama ini selanjutnya akan pudar dan sirna. Nah, semua ini jasa

siapakah? Apakah kalian sudah tahu jelas?”

“Haha, dengan sendirinya adalah jasamu,” kata Ha-ha-ji.

“Asal tahu saja,” ucap To Kiau-kiau. “Dan kalau sudah tahu, cara bagaimana

kalian harus berterima kasih padaku.”

Cepat Pek Khay-sim mendahului menjawab, “Baiklah, kita hadiahkan serigala

mulut besar ini sebagai jodohmu, bilamana kau menjadi perempuan suruh dia

menjadi lakimu, kalau kau ingin menjadi laki-laki, tinggal suruh dia ganti tempat

saja.”

Ia merasa ucapannya sendiri sangat lucu, maka sebelum orang lain tertawa ia

sendiri sudah mendahului tertawa.

Li Toa-jui berjingkrak murka, ia meraung, “Kentut makmu busuk, kau sendiri

anak jadah.”

Namun To Kiau-kiau hanya terkikik-kikik, katanya, “Jangan khawatir, orangorang

macam kalian ini biarpun dihadiahkan secara gratis juga aku tidak sudi.”

“Omitohud! Hahaha, habis apa yang kau harapkan?” tanya Ha-ha-ji.

To Kiau-kiau mengerling genit, katanya kemudian. “Aku cuma minta kalian

membagi sebuah lebih banyak daripada beberapa buah peti itu.”

“Tidak menjadi soal, akan kubagi kau lebih banyak,” segera Ha-ha-ji

menyatakan setuju.

Tapi Pek Khay-sim menyanggah, jengeknya, “Hm, karena kau tahu tiada

seorang pun di antara kita akan mendapatkan peti-peti itu, maka kau lantas

berlagak murah hati.”

“Dari mana kau tahu takkan mendapatkan peti-peti itu?” tanya Kiau-kiau.

“Hakikatnya sampai detik ini kau pun tak tahu peti-peti itu berada di mana?”

jawab Pek Khay-sim.

“Bisa jadi kutahu, lalu bagaimana?” ujar Kiau-kiau.

“Hah, kau tahu?” melonjak juga Pek Khay-sim.

To Kiau-kiau tidak menggubrisnya, tapi ia berkata kepada Toh Sat, “Toh-lotoa,

maukah kau membagi satu peti lebih banyak padaku?”

“Baik,” jawab Toh Sat setelah menatapnya sejenak.

“Nah, asalkan Toh-lotoa sudah menyanggupi, maka legalah aku,” ujar Kiaukiau

dengan tertawa.

“Coba katakan sekarang, di mana peti-peti itu?” tanya Li Toa-jui pula.

“Kupikir peti-peti itu pasti berada di dalam gua ini,” tutur Kiau-kiau, “Betapa pun

tidak mungkin Gui Bu-geh memindahkan peti-peti yang besar dan berat itu.”

“Tapi Hoa Bu-koat bilang tidak melihat apa-apa,” kata Li Toa-jui.

“Dengan sendirinya mereka tidak memperhatikan beberapa peti itu,” kata Kiaukiau.

“Kuyakin waktu itu kedua Auyang bersaudara juga pasti tidak berani

menipu Gui Bu-geh, maka besar kemungkinan peti-peti itu masih tersimpan di

dalam gua ini.”

“Hah, bagus, bagus, silakan kau masuk ke sana, peti pasti masih tersimpan di

situ, tapi aku ingin mohon diri untuk pergi saja,” seru Pek Khay-sim sambil

tertawa. Benar juga, segera ia angkat kaki dan pergi.

“Keparat ini benar-benar pergi, apakah kau tahu sebab apa dia pergi?” tanya Li

Toa-jui.

To Kiau-kiau tertawa, jawabnya, “Dia mengira kita takkan mampu masuk ke

dalam gua, andaikan dapat masuk juga sama seperti kambing disodorkan ke

mulut harimau dan tidak mungkin bisa keluar lagi.”

“Apakah kau ingin masuk ke sana?” tanya Li Toa-jui. “Kalau kita masuk ke situ,

yang pasti akan keluar lagi ialah Ih-hoa-kiongcu, sebab meski Gui Bu-geh

mampu mengurung mereka di dalam, tapi pasti tidak mampu mencelakai

mereka. Mereka pun takkan berterima kasih karena kita telah menolong

mereka.”

“Wah, jika begitu, rasanya aku juga mau pergi saja bersama Pek Khay-sim,”

kata Ha-ha-ji.

“Kalau kita masuk sekarang memang akan seperti babi panggang disuguhkan

ke mulut mereka,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Tapi kan tiada peraturan

yang mengharuskan kita harus masuk sekarang juga?”

“Hahaha, memang betul juga, memang tiada peraturan begitu,” seru Ha-ha-ji

dengan mata berkilau.

“Jika Gui Bu-geh dapat mengurung mereka di dalam situ, tentu sebelumnya

sudah dirancang dengan cermat,” tutur Kiau-kiau. “Di dalam gua pasti tak

terdapat bahan makanan dan minuman.”

“Betul, Gui Bu-geh pasti sudah memperhitungkan mereka akan mati kelaparan

di situ,” tukas Li Toa-jui.

“Coba jawab, badanmu biasanya sangat sehat bukan?” tiba-tiba To Kiau-kiau

tanya kepada Li Toa-jui.

“Sudah tentu,” jawab Li Toa-jui dengan tertawa. “Kan sering kukatakan kepada

kalian bahwa daging manusia jauh lebih baik dari pada daging lain, lebih

bergizi dan lebih banyak menambah tenaga, orang biasa makan daging

manusia pasti akan selalu sehat walafiat, kuat dan tangkas.”

“Dan berapa lama kau tahan lapar?” tanya Kiau-kiau pula.

Terbeliak mata Li Toa-jui, jawabnya, “Wah, jika tidak makan apa-apa sedikitnya

kutahan sepuluh hari sampai setengah bulan, tapi kalau tiada air minum, dua

hari saja tidak tahan.”

“Itulah dia,” seru To Kiau-kiau dengan bergelak tawa. “Betapa pun kuatnya

seseorang, tanpa minum air dua hari saja pasti akan roboh juga. Seandainya

Ih-hoa-kiongcu memang jauh lebih kuat ketahanannya daripada orang lain juga

takkan tahan lebih dari tiga hari.”

“Haha, betul, jika begitu, kenapa kita tidak menunggu saja selama tiga atau

lima hari baru kemudian masuk ke situ?” tukas Ha-ha-ji.

Belum lenyap suaranya, mendadak Pek Khay-sim melompat keluar dari balik

pohon sana dan berseru dengan tertawa, “Betul, kita tunggu lagi tiga hari baru

nanti kita masuk ke situ. Hahaha, wahai To Kiau-kiau, kau memang jauh lebih

cerdik daripada apa yang pernah kubayangkan.”

Meski sejak tadi Hoa Bu-koat memejamkan mata, tapi telinganya tetap terbuka,

dengan sendirinya percakapan mereka dapat didengarnya. Seketika

perasaannya tertekan, cemas dan gelisah.

Didengarnya Ha-ha-ji berkata pula dengan tertawa, “Haha, memangnya apa

susahnya kita tunggu di sini, kita dapat makan minum enak di sini, biarpun

menunggu tiga bulan juga tidak menjadi soal.”

“Masa kita lantas menunggu di sini melulu?” kata Pek Khay-sim.

“Dengan sendirinya cuma menunggu saja di sini,” ujar Kiau-kiau. “Sebab kita

juga tidak ingin orang lain masuk lebih dulu, siapa pun yang muncul di sini, kita

harus berdaya mengenyahkannya.”

Sejak tadi Toh Sat diam saja, kini mendadak ia berucap dengan kaku, “Dan

bagaimana kalau Gui Bu-geh yang muncul kembali ke sini?”

Seketika berubah air muka Pek Khay-sim, serunya, “Betul juga, Gui Bu-geh

berhasil mengurung mereka, bisa jadi dia akan datang lagi ke sini untuk

melihat mereka.” Ia kebas-kebas bajunya dan menyambung pula, “Nah, silakan

kalian menunggu saja di sini, maaf, tak dapat kutemani kalian.”

“Pergilah kau, pergilah lekas, sekali ini jangan kau kembali lagi ke sini,” kata

Kiau-kiau.

“Sekali ini kalau dia berani kembali ke sini akan kutabas buntung kedua

kakinya,” ancam Toh Sat.

Rupanya Pek Khay-sim memang jeri terhadap Toh Sat, dengan menyengir ia

berkata, “Toh-lotoa, kau sendiri yang bilang Gui Bu-geh akan datang lagi,

tentunya kau pun tahu betapa hebat ilmu silatnya, untuk apa kita meski

menunggu kedatangannya dan mengadu jiwa dengan dia?”

Toh Sat tidak menanggapinya lagi, ia hanya memandang kaitan baja mengkilat

yang terpasang pada lengannya yang buntung itu, sorot matanya menampilkan

nafsu membunuh.

Seketika Pek Khay-sim merinding dan tidak berani bersuara pula.

To Kiau-kiau lagi berucap, “Coba, menurut penilaianmu bagaimana ilmu silat

Gui Bu-geh dibandingkan Yan Lam-thian?”

“Sudah tentu Gui Bu-geh bukan tandingan Yan Lam-thian,” jawab Pek Khaysim.

“Nah, sedangkan orang selihai Yan Lam-thian saja Toh-lotoa berani

melabraknya, apalagi seekor tikus yang sudah ompong?” ujar To Kiau-kiau

dengan tertawa.

Pek Khay-sim menarik napas dingin, jengeknya, “Tapi apakah kau pun ingin

melabrak Gui Bu-geh? Bilakah kau berubah menjadi pemberani?”

“Untuk apa aku melabrak dia?” jawab Kiau-kiau dengan tertawa. “Jika muncul,

aku hanya ingin bersahabat saja dengan dia.”

Pek Khay-sim memandangnya sejenak, mendadak ia tertawa terpingkalpingkal,

ucapnya sambil memegangi perut, “Hahaha! Kau ingin bersahabat

dengan dia? Kukira Gui Bu-geh yang akan bersahabat denganmu! Jika Gui Bugeh

bersahabat denganmu, maka musang pun dapat bersaudara dengan

ayam.”

“Jika terjadi setengah hari yang lalu tentu dia takkan mau bersahabat

denganku, tapi kini keadaan sudah lain,” ujar Kiau-kiau.

“O, lain? Lain bagaimana?” tanya Pek Khay-sim.

“Sebab sekarang aku sudah ada modal untuk bersahabat dengan dia,” jawab

Kiau-kiau.

“Haha, bersahabat juga perlu modal segala?” seru Pek Khay-sim dengan

tergelak.

“Sudah tentu,” kata Kiau-kiau. “Berdagang mungkin tidak memerlukan modal,

tapi bersahabat justru perlu modal. Umurmu sudah mendekati masuk kubur,

masa peraturan ini saja tidak paham?”

“Ya, aku memang tidak paham,” kata Pek Khay-sim.

“Begini,” tutur Kiau-kiau. “Misalnya kau ingin bersahabat dengan seorang

jutawan, maka sedikitnya kau harus punya kekayaan delapan ratus ribu. Jika

kau ingin bersahabat dengan putra perdana menteri, paling tidak bapakmu

sendiri harus seorang direktur jenderal. Kalau tidak, biarpun kau membelah

perutmu dan perlihatkan kesungguhanmu padanya juga dia takkan bersahabat

denganmu.”

“Ya, ya, betul juga, justru lantaran aku ini seorang brengsek, makanya

mempunyai teman-teman konyol seperti kalian ini. Begitu bukan?” kata Pek

Khay-sim dengan tertawa.

“Betul, pintar juga kau, akhirnya kau paham,” kata Kiau-kiau.

“Tapi … tapi kau punya modal apa untuk bersahabat dengan Gui Bu-geh?”

tanya Pek Khay-sim pula.

“Ini,” jawab Kiau-kiau sambil menuding Hoa Bu-koat. “Bocah inilah modalku.”

“Aha, pahamlah aku,” seru Pek Khay-sim sambil bertepuk tertawa. “Baru

sekarang kutahu kau ini sepuluh kali lebih konyol daripada dugaanku.”

“Dan sekarang kau tidak ingin pergi lagi?” tanya Kiau-kiau.

Pek Khay-sim mendelik, jawabnya, “Bilakah pernah kukatakan mau pergi? Kita

sudah berkawan selama berpuluh tahun, masa boleh kutinggal pergi begitu

saka tanpa pedulikan kalian? Seumpama Gui Bu-geh tidak mau bersahabat

denganmu juga akan kulabraknya.”

Hoa Bu-koat sampai melongo mengikuti percakapan mereka itu.

Sungguh, kalau tidak mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri pasti

tiada yang percaya bahwa di dunia ini ada manusia yang berkulit muka setebal

dan berhati sekeji ini, sekarang dia jatuh di tangan orang-orang demikian, ingin

menangis pun tak keluar air mata lagi.

Terdengar To Kiau-kiau berkata pula, “Sekarang kalau kita sudah bertekad

akan menunggu di sini, maka ada beberapa urusan yang harus kita kerjakan.”

“Betul,” tukas Pek Khay-sim, “Jika kita sudah pasti tinggal di sini, harus pula

kita bawa ke sini kedua anak dara itu. Meski makhluk setengah setan dan

setengah manusia itu berjanji akan menjaga mereka, namun aku tetap

khawatir.”

“Memang, bisa jadi kedua nona itu masih perlu kita gunakan nanti,” kata To

Kiau-kiau. “Untuk itu, hai, Ha-ha-ji, sukalah kau bawa mereka ke sini.”

Seketika Pek Khay-sim berjingkrak gusar, omelnya, “Mengapa kau menyuruh

Hwesio sontoloyo yang tak beres ini dan tidak menyuruh aku?”

“Sebabnya, sekarang aku tidak menghendaki anak perempuan si Thi gila

dicaplok oleh setan kundai licin seperti kau ini dan juga tidak ingin dia ditelan

oleh Li Toa-jui, makanya kusuruh Ha-ha-ji,” jawab Kiau-kiau dengan tertawa.

“Hahaha! Nah, orang she Pek,” kata Ha-ha-ji, “kau pun tidak perlu khawatir.

Akhir-akhir ini aku sudah tambah malas gerak badan, khawatir keluar keringat,

biarpun kau sodorkan bidadari ke depanku juga malas kuraba dia.”

“Hm,” Pek Khay-sim mendengus. “Dan bagaimana dengan diriku, pekerjaan

apa yang harus kulakukan?”

“Boleh kau pergi mencari barang makanan dan minuman, sedikitnya harus

cukup untuk kita makan tiga hari,” kata To Kiau-kiau.

Seketika Li Toa-jui juga melonjak gusar, omelnya, “Mengapa kau menyuruh

dia? Keparat itu sama sekali tidak paham soal makan, sepotong ikan saja

dimakannya selama tiga hari, apa yang dibawanya nanti mungkin anjing saja

tidak mau mengendusnya.”

“Memang betul juga, kebanyakan setan kundai licin (maksudnya tukang main

perempuan) tidak mengutamakan soal makan,” kata To Kiau-kiau. “Tapi apa

pun juga toh lebih baik daripada kau yang pergi, jika nanti kau bawa pulang

sepotong paha manusia yang gemuk, bukankah kami yang harus kelaparan?”

“Hm,” jengek Li Toa-jui. “Baiklah, jika kau tidak menyuruhku, kebetulan, aku

boleh menganggur dan berjalan jalan saja.”

“Kau pun ada tugas,” kata Kiau-kiau tiba-tiba.

Li Toa-jui melotot, tanyanya, “Tugas apa?”

“Di bawah bukit sana ada sebuah kota kecil, agaknya ada sebuah bengkel

juga, boleh kau ke sana dan usahakan beberapa alat penggali. Kukira untuk

menjebol gua ini bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah.”

“Hahaha, jika mudah, kan sejak tadi-tadi Ih-hoa-kiongcu sudah keluar?” seru

Ha-ha-ji.

Begitulah ketiga orang itu lantas berangkat menunaikan tugas masing-masing.

Yang kembali dulu adalah Ha-ha-ji.

Dia menyeret seekor keledai. Keledai itu menarik sepotong batu besar. Batu

besar yang penuh lumut, batu itu setinggi setombak lebih dan selebar tujuhdelapan

kaki, dengan mantap batu tertaruh di atas papan yang diberi empat

roda.

Batu sebesar itu sedikitnya mempunyai bobot ribuan kati. Padahal keledai itu

kurus kecil, mukanya jelek, tiada sesuatu yang menarik.

Tapi aneh, keledai yang jelek itu justru mampu menarik sepotong batu yang

beratnya beribu kali, bahkan sedikit pun tidak kelihatan payah. Masa keledai ini

“keledai ajaib”.

Padahal Hoa Bu-koat lagi menantikan kedatangan Thi Sim-lan dengan gelisah,

tapi kini Ha-ha-ji pulang dengan cuma membawa seekor keledai. Keruan Bukoat

sangat kecewa dan juga melenggong.

Pada saat itulah, peristiwa yang lebih aneh telah terjadi pula. Tiba-tiba

terdengar di dalam batu raksasa itu ada suara rintihan yang aneh, bahkan

terseling pula suara tertawa cekikikan.

Sungguh aneh, apakah di dalam batu raksasa itu ada siluman!?

Bu-koat hampir tidak percaya pada matanya sendiri, lebih-lebih tidak percaya

pada telinganya sendiri.

To Kiau-kiau meliriknya sekejap, tiba-tiba ia berkata, “Sudahkah kau lihat jelas

batu itu? Inilah batu ajaib, batu ini bisa makan manusia, maka bisa juga disebut

batu pemakan manusia. Nona Thi yang kau rindukan itu justru termakan ke

dalam perut batu itu.”

Hoa Bu-koat cuma menggereget saja, sedapatnya ia tahan perasaannya dan

tidak bersuara.

“Kau tidak percaya?” kata Kiau-kiau pula. “Baiklah, akan kuperlihatkan

padamu.”

Dengan berlenggak-lenggok ia lantas mendekati batu itu dan mengitarinya satu

kali, mulut lantas berkomat-kamit seperti membaca mantera, habis itu

mendadak ia membentak, “Batu pemakan manusia, lekas buka pintu, cepat!”

Sekalipun Hoa Bu-koat seribu kali tidak percaya, tidak urung pandangannya

tertuju juga ke sana. Walaupun matanya memandang, tapi dalam hati tetap

seribu kali tidak percaya.

Tak terduga, sekali To Kiau-kiau mengayun tangannya, tahu-tahu batu terbuka,

benar juga di dalam batu ternyata ada dua manusia. Manusia hidup.

Mereka ternyata Thi Sim-lan dan Pek-hujin, istri Pek San-kun.

Di malam gelap di tengah pegunungan yang sunyi, dalam keadaan demikian

dan pada saat ini, Hoa Bu-koat benar-benar dibuat terkejut.

Akan tetapi Ha-ha-ji dan To Kiau-kiau lantas bertepuk tertawa.

Akhirnya Bu-koat juga mengetahui bahwa batu raksasa itu ternyata buatan dari

kain layar yang dibentuk seperti batu, lalu bagian luar ditempeli dengan lumut

hijau.

Batu buatan ini memang mirip sekali batu asli, apalagi di tengah malam gelap,

sekalipun tajam mata Hoa Bu-koat juga tak dapat membedakannya.

Setelah kain layar tersingkap baru kelihatan kerangka batu itu terbuat dari

kawat baja sehingga bentuknya mirip sebuah sangkar. Pek-hujin dan Thi Simlan

justru terkurung di dalam sangkar besi ini.

Thi Sim-lan tampak meringkuk di pojok, kedua tangan mendekap muka, seperti

tidak ingin terlihat orang dan juga tidak ingin melihat orang.

Sedangkan tubuh Pek-hujin hampir telanjang bulat, bahkan kelihatan lagi

bergeliat-geliat sambil tertawa terus-menerus serta merintih-rintih.

Bu-koat memandangnya sekejap lantas memejamkan mata, ia tidak tega

memandang lebih lama. Ia tidak tega memandang keadaan Thi Sim-lan, juga

tidak tega membuatnya berduka, sedangkan Pek-hujin membuatnya agak

mual.

Terdengar To Kiau-kiau mengikik tawa dan berkata, “Kukatakan batu ini adalah

batu ajaib, kan tidak seluruhnya berdusta padamu bukan? Di waktu siang, jika

harus menempuh perjalanan, cukup di atas sangkar ini ditutup dengan tenda,

maka jadilah dia kereta bertenda, ke mana pun takkan menimbulkan perhatian

orang.”

“Dan kalau istirahat di waktu malam,” demikian Ha-ha-ji menyambung, “Kami

lantas menaruhnya di semak-semak pohon yang lebat, boleh kau

memandangnya dari jauh atau melihatnya dari dekat, diperiksa dari kanan atau

diteliti dari kiri, dia tetap sepotong batu belaka. Haha, memangnya siapa yang

menduga bahwa di dalam batu ada orangnya?”

“Bilamana kami sendiri yang tinggal di dalam batu, maka jadilah kamar yang

aman dan enak,” sambung To Kiau-kiau dengan tertawa. “Jika kami mendapat

tawanan dan disembunyikan di dalam batu, maka siapa pun takkan

menemukannya.”

“Haha, makanya sekalipun bukit ini telah kau bongkar seluruhnya juga

bayangan nona Thi ini takkan kau temukan,” tukas Ha-ha-ji.

Diam-diam Bu-koat menghela napas gegetun, baru sekarang ia mengaku

beberapa “Ok-jin” ini memang mempunyai kemampuan yang tak dapat di

kerjakan orang lain. Permainan yang aneh begini, kecuali mereka mungkin

tidak banyak yang dapat melakukannya.

Dengan tertawa To Kiau-kiau lantas berseru, “Eh, Thi Sim-lan, nona Thi,

tahukah kau kami ini sedang bicara dengan siapa?”

Namun Thi Sim-lan tetap mendekap mukanya dengan kedua tangan dan tidak

mau mengangkat kepalanya.

“Mengapa kau tidak pentang mata dan memandangnya, kutanggung kau akan

berjingkat bila kau pandang sekejap saja,” sambung Ha-ha-ji.

Namun Bu-koat justru berharap agar Thi Sim-lan jangan mau membuka mata,

jangan memandang keadaannya sekarang. Maklum, selamanya ia tidak ingin

membuat si nona berduka baginya.

Akan tetapi tangan Thi Sim-lan toh diturunkan juga dan menengadah. Seketika

tubuh si nona lantas gemetar.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan menerjang maju, tangan memegang jeruji

sangkar, sorot matanya penuh rasa duka dan putus asa, tapi dia tidak menjerit

dan menangis, kerlingan matanya sungguh membuat hati orang remuk redam.

Bu-koat memejamkan mata, ia tidak tega memandang si nona, ia berharap

bumi raya ini mendadak merekah dan menelannya bulat-bulat selamanya.

Tiba-tiba Kiau-kiau berucap dengan tertawa, “Hoa-kongcu, Kionghi, baru

sekarang kutahu dia menyukaimu dengan setulus hati. Sungguh tidak mudah

kau dapat merebutnya dari tangan Siau-hi-ji.”

“Haha, pantas Siau-hi-ji merasa cemburu, kiranya dia ….”

“Tutup mulut!” bentak Hoa Bu-koat sekuatnya sebelum lanjut ucapan Ha-ha-ji.

Dengan melotot ia pandang Toh Sat dan berteriak, “Kau sudah berjanji takkan

menganggunya?”

“Betul,” jawab Toh Sat.

“Jika begitu, mengapa sekarang kalian memperlakukan begini padanya?” teriak

Bu-koat.

“Sekarang tiada yang melukai dia, tiada yang mengganggu satu jarinya pun,”

jawab Toh Sat.

“Tapi mengapa kalian melukai hatinya?”

“Melukai hatinya? Selama hidup aku tidak kenal istilah ini,” jengek Toh Sat.

“Kau … kau sendiri selamanya tidak pernah terluka hatimu?”

Sedingin sembilu sorot mata Toh Sat ucapnya, “Hakikatnya aku tidak punya

hati untuk dilukai.”

Bu-koat tidak tahu apa yang harus diucapkannya pula. Ia merasa dirinya

sebenarnya semakin tidak memahami orang lain, ia pun tidak tahu orang ini

harus dibenci atau harus dikasihani?

Ia sendiri betapa pun juga masih mempunyai hati yang dapat dilukai, kalau

seorang sudah tiada mempunyai hati untuk dilukai, itulah benar-benar

menyedihkan.

Pada saat itu tertampak Pek Khay-sim juga telah kembali. Dia membawa dua

bungkusan besar dan tiada hentinya mengomel, “Aku dapat mencarikan

makanan bagi kalian, sungguh aku sendiri pun tidak percaya.”

“Haha, barangkali inilah untuk pertama kalinya kau berbuat sesuatu yang

menguntungkan orang lain tanpa merugikan diri sendiri,” kata Ha-ha-ji dengan

tertawa.

“Ya, dan juga penghabisan kalinya,” tukas Pek Khay-sim.

“Dan mana Li Toa-jui, mengapa belum lagi pulang?” tanya Toh Sat.

“Dia mungkin kepergok setan,” tutur Pek Khay-sim.

“Kau tidak ke kota kecil itu bersama dia?” tanya Toh Sat pula.

“Masa aku mau jalan bersama serigala mulut besar itu,” teriak Pek Khay-sim.

“Kalau dia mau menuju surga, aku lebih baik pergi ke neraka.”

“Jika demikian, makanan ini kau dapat dari mana?” tanya To Kiau-kiau.

“Dari biara di kaki bukit sana,” jawab Pek Khay-sim.

“Wah, biara!” teriak Kiau-kiau. “Masa kau suruh kami Ciacay selama tiga hari?”

Pek Khay-sim tertawa, jawabnya, “Memangnya kau kira Hwesio penghuni biara

sana itu Ciacay semua? Supaya kau tahu, nasibmu lagi mujur, biara yang

kutemukan itu kebetulan dihuni oleh Hwesio sontoloyo. Juragan dan

pelayannya saja merasa sayang makan daging barang satu tahil pun, tapi

mereka justru makan tanpa batas, daging sekati demi sekati disikat terus.”

“Hah, biara masa kau anggap seperti rumah makan, mana boleh kau anggap

Hwesio membuka rumah makan?” kata Kiau-kiau dengan geli.

“Kau kira ada bedanya antara biara kaum Hwesio dengan rumah makan?”

tanya Pek Khay-sim dengan melotot.

“Dengan sendirinya berbeda,” jawab Kiau-kiau.

“Umpamanya saja, rumah makan pasti akan menghidangkan makanan yang

paling lezat bagi tamunya, sebaliknya biara kaum Hwesio hanya memberi

makan orang lain dengan sebangsa tahu dan sayuran, mereka sendiri

bersembunyi di dapur untuk makan daging. Malahan orang yang makan tahu

dan sayur di biara kaum Hwesio itu akan jauh lebih mahal dibandingkan bila

mereka makan besar di restoran.”

“Tapi di dunia ini kan tidak seluruh Hwesio sontoloyo suka makan daging dan

minum arak, Hwesio yang prihatin dan suci juga banyak,” ujar To Kiau-kiau.

“Kalau tidak makan daging dan minum arak lantas kenapa? Apakah itu

menandakan mereka orang baik-baik?” tanya Pek Khay-sim. “Huh, mereka

tidak bekerja apa pun, tapi justru ada orang yang rela mengantarkan harta bagi

mereka sekalipun harta benda mereka itu diperoleh dari kerja mati-matian.”

Lalu dia mendengus dan mengacungkan tiga jari, katanya pula, “Kau tahu, di

dunia ini hanya ada tiga macam pekerjaan yang tidak perlu modal. Pertama

menjadi lonte, kedua menjadi rampok, ketiga ialah menjadi Hwesio.”

“Omitohud, dosa, dosa, kalau kau mati mustahil tidak digusur ke neraka untuk

dipotong lidahmu,” ucap Ha-ha-ji.

“Memangnya kalau sudah menjadi Hwesio lantas naik surga?” jengek Pek

Khay-sim. “Hehe, jika orang di dunia ini sama ingin naik surga dan menjadi

Hwesio, mungkin patung pemujaan di biara itu bisa mati kelaparan.”

“Makilah, silakan maki sepuasmu, toh tiada Hwesio yang mendengar

makianmu kecuali Hwesio munafik seperti Ha-ha-ji,” ujar To Kiau-kiau dengan

tertawa.

“Haha, biarpun kudengar juga kuanggap dia lagi kentut,” kata Ha-ha-ji. Dari

bungkusnya segera dikeluarkannya sepotong daging terus dilalap, gumamnya

dengan tertawa. “Mulut orang gunanya makan dan bukan untuk memaki orang,

jika salah pakai, yang sial pasti dia sendiri.”

Sekonyong-konyong Pek-hujin melompat bangun dan mengincar kedua

kantong makanan yang dibawa pulang Pek Khay-sim tadi.

Sekujur badanya penuh luka-luka, ada yang bekas cambuk, ada yang

dicakarnya sendiri, sesungguhnya dia telah tersiksa sedemikian rupa sehingga

tiada mirip orang, dia sudah mempunyai lagi martabat sebagai seorang

manusia. Malahan sorot mata Pek-hujin sekarang lebih mirip seekor binatang

buas.

“Apakah kau pun ingin makan?” tanya To Kiau-kiau sambil mengeluarkan

sepotong bakpau.

Dengan suara serak Pek-hujin menjawab, “Di dunia ini hanya ada pesakitan

yang harus dihukum dan tiada pesakitan yang tak diberi makan.”

“Maaf, kami justru ingin membikin kalian kelaparan,” kata Kiau-kiau.

Pek-hujin tidak bicara lagi, sebab rasa gatal aneh ditubuhnya kembali kumat.

“Mengapa kau sengaja membuat mereka kelaparan?” tanya Toh Sat.

“Ya, akan kugunakan mereka sebagai kelinci percobaan,” jawab To Kiau-kiau

dengan tersenyum. “Ingin kutahu sampai berapa lama mereka akan kehabisan

tenaga jika tidak diberi makan. Sesudah begitu baru kita mulai menggali gua

ini.”

Pek Khay-sim menggeleng dan berucap dengan gegetun, “Orang hanya tahu

di dunia ini ada perempuan yang berhati keji, tak tahunya bahwa ada

sementara orang yang bukan lelaki dan tidak perempuan justru berhati lebih

menakutkan.”

“Hehe, tak tersangka tuan Pek kita sekarang juga paham cara bagaimana

berkasih sayang,” kata Kiau-kiau. “Cuma tampaknya kau pun tidak paham

perasaannya, jika kau sangka ia menderita dan kesakitan, maka kelirulah kau.”

“Dia tidak menderita, tidak sakit? Memangnya dia sangat senang, sangat

riang?” tanya Pek Khay-sim.

“Ya, memang begitulah,” jawab Kiau-kiau. “Sebab di dunia ini memang ada

sementara orang yang suka disiksa dan dianiaya. Coba dengarkan suara

keluh-kesahnya, suara rintihannya sekarang dapatkah kau bedakan apakah itu

keluhan menderita atau rintihan kepuasan?”

Orang yang pulang terakhir ialah Li Toa-jui.

Waktu kembali hari pun sudah hampir terang tanah. Dia berlari-lari bekerja

keras semalam suntuk, tapi sedikitnya dia tidak nampak letih dan mengantuk,

sebaliknya sangat gembira dan tetap bersemangat.

Pek Khay-sim mencibir, jengeknya, “Coba kalian lihat betapa riang gembiranya

seperti orang putus lotre satu miliar.”

Tapi To Kiau-kiau lantas menyela, “Jangan kau pedulikan dia yang sedang

kentut, lekas ceritakan saja kejadian aneh apa yang kau lihat.”

“Dari mana kau tahu aku melihat kejadian aneh?” tanya Li Toa-jui.

“Jika kau berkaca sekarang, tentu kau tahu apa sebabnya?” jawab Kiau-kiau.

“Ya, ya, kelemahanku yang terbesar adalah aku tak dapat menyimpan

perasaan,” ucap Li Toa-jui sambil meraba dagunya. “Entah sampai kapan baru

dapat kulatih sehingga setaraf Toh-lotoa yang girang dan marah tidak kelihatan

sama sekali!”

“Toh-lotoa juga bukan benar-benar tidak kenal rasa senang dan marah, jika

hatinya lagi gembira tentu juga tertampak dari air mukanya, hanya saja hati

Toh-lotoa selama ini memang tidak pernah gembira,” demikian ujar To Kiaukiau.

Li Toa-jui melirik Toh Sat sekejap, mau tak mau ia pun merinding melihat

wajahnya yang seram itu. Cepat ia berkata dengan tertawa, “Dugaan kalian

memang tidak salah, kejadian yang dipergoki bukan saja sangat aneh, bahkan

sangat menarik.”

“Kejadian apa sesungguhnya?” tanya Toh Sat dengan dingin.

“Waktu kuberangkat, sementara itu sudah menjelang tengah malam,” demikian

tutur Li Toa-jui. “Semula kukira penduduk di kota kecil itu pasti sudah tidur

semua, siapa tahu, setiba di sana seluruh kota kecil itu masih terang

benderang orang masih berlalu lalang dengan ramainya, tampaknya jauh lebih

ramai daripada pasar malam di kota raja.”

“Sekalipun kota raja juga tidak ada pasar malam pada musim ini,” ujar Kiaukiau.

“Ya, aku pun heran,” tutur Li Toa-jui lebih lanjut. “Maka aku lantas mencari tahu

pada seseorang dan baru diketahui apa yang terjadi. Kiranya di sana

kedatangan dua orang yang sengaja membuka tempat judi, bukan saja

penduduk setempat siang malam ikut berjudi, bahkan penduduk sekitar kota

sana juga sama berbondong-bondong membanjir tiba. Sebab itulah kota kecil

yang biasanya sepi itu menjadi jauh lebih ramai daripada-kota dagang yang

besar.”

“Hanya tempat judi kecil begitu, mengapa punya daya tarik sebesar itu?

Memangnya selama hidup orang-orang itu tidak pernah berjudi?” kata To Kiaukiau

dengan tertawa.

“Haha, jadi bandar judi adalah usaha yang menguntungkan, boleh dikatakan

tidak ada perusahaan lain di dunia ini yang lebih menguntungkan daripada

usaha judi,” seru Ha-ha-ji. “Hahaha, bagaimana kalau kita juga ramai-ramai jadi

bandar untuk menyaingi kedua bocah itu?”

“Tempat judi seperti mereka itu mungkin kita tidak sanggup membukanya,”

kata Li Toa-jui dengan tertawa.

“Sebab apa?” tanya Kiau-kiau.

“Sebab mereka membuka tempat judi bukan untuk mencari keuntungan

melainkan untuk mencari senang saja, untuk memuaskan selera judi mereka,”

tutur Li Toa-jui. “Orang-orang yang berjudi ke sana, jika menang, mereka akan

mendapatkan kemenangannya sesuai taruhannya. Bila kalah mereka tidak

perlu keluar uang, cukup bertekuk lutut dan menyembah satu kali, lalu boleh

angkat kaki. Konon tidak sampai tiga hari kedua bandar itu sudah tombok

belasan laksa tahil perak.”

Seketika mata Pek Khay-sim terbeliak, ucapnya, “Biasanya tidak ada yang mau

bekerja rugi, jangan-jangan otak kedua orang itu sudah miring!”

“Otak mereka sih tidak miring, hanya selera judi mereka yang luar biasa, boleh

dikatakan sudah mencandu,” tutur Li Toa-jui. “Siapa saja yang mengajak

mereka bertaruh, mereka akan terima dengan senang hati, kalah atau menang

bukan soal bagi mereka.”

To Kiau-kiau tertawa, katanya, “Hah, masa di dunia ini ada orang yang

kecanduan judi seperti itu kecuali ….” mendadak ia merandek dan melototi Li

Toa-jui, lalu menegas, “Apakah dia?”

“Hahaha, kalau bukan dia, memangnya siapa lagi?” jawab Li Toa-jui dengan

bergelak tertawa.

Mendadak Ha-ha-ji juga bertepuk, serunya, “Haha, sekarang aku pun tahu

siapa setan judi begitu, di dunia ini memang tidak ada orang kedua selain dia.”

“Masa benar-benar Han-wan Sam-kong?” Toh Sat menegas dengan berkerut

kening.

“Dengan sendirinya dia, siapa lagi?” jawab Li Toa-jui.

“Kau telah melihat dia?” tanya Toh Sat pula.

“Ya, tapi dia sendiri tidak melihatku,” tutur Li Toa-jui. “Saat itu dia lagi asyik

bertaruh, matanya hanya tertuju kepada biji dadu dan kartu pay-kiu, sekalipun

bapaknya sendiri berdiri di depannya juga tak dikenalnya lagi.”

To Kiau-kiau mengikik geli, ucapnya, “Memang, bilamana seorang pecandu

judi lagi asyik bertaruh, biarpun sanak famili juga tidak dipedulikan. Cuma,

apakah kau menyaksikan dia kalah dan membayar kepada lawannya?”

“Cara pertaruhannya sangat aneh juga,” tutur Li Toa-jui pula. “Satu kali

menyembah dihargai satu tahil perak, satu kali pukul pantat dinilai dua tahil,

maka kalau taruhannya dimenangkan dia, seketika tempat judi itu ramai

dengan suara pantat orang digebuk dan kepala membentur lantai, ditambah

lagi suara gelak tertawanya yang gembira, maka suasana menjadi riuh ramai.”

“Dan kalau dia kalah, kontan dia bayar, dikeluarkannya perak sepotong demi

sepotong dan bayar kontan, satu peser pun tidak menunggak,” kata Li Toa-jui.

“Sungguh aneh, aku menjadi bingung,” ucap To Kiau-kiau. “Padahal Ok-tu-kui

terkena suka bertaruh secara keras, tidak suka utang, tidak main curang.

Malahan lebih bersifat ngotot, kalau hari terang, orang belum bubar dan uang

belum ludes, tidak mungkin berhenti berjudi. Nah, jika menuruti cara berjudinya

ini, biarpun malaikat juga akhirnya pasti kalah. Apalagi dia baru setan dan

belum malaikat.”

“Haha, makanya dia selalu rudin, sampai sepatu yang layak saja tidak mampu

beli, sepanjang tahun yang dipakainya adalah sepatu buntut yang depannya

menganga dan belakangnya mengap,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa.

“Memang betul, selama ini Ok-tu-kui terkenal miskin, entah mengapa bisa

berubah menjadi royal dan kaya mendadak, dari manakah dia mendapatkan

perak sebanyak itu untuk membayar dia,” ujar Li Toa-jui.

“Aku pun tidak tahu sebab tidak kutanyai dia,” ujar Li Toa-jui.

“Sahabat lama bertemu, masa kau tidak menyapanya?” tanya To Kiau-kiau.

“Sejak dua puluh tahun yang lalu aku dipaksa bertaruh dengan dia, sejak itu

pula kepalaku lantas pusing bila bertemu dengan dia,” tutur Li Toa-jui dengan

tertawa. “Tentunya kalian tahu, aku ini selain suka makan daging manusia,

biasanya tidak mempunyai hobi lain lagi.”

“Huh, melulu kesukaanmu itu saja sudah cukup alasan untuk memasukkan kau

ke neraka, jika kau bertambah lagi hobi lain mungkin Giam-lo-ong akan

bingung ke mana kau harus dikirim?” jengek Pek Khay-sim.

Li Toa-jui tertawa, tukasnya, “Kirim saja ke tempat tidur makmu!”

Keruan Pek Khay-sim berjingkrak murka, tapi sebelum dia bertindak lebih

dahulu Toh Sat telah bersuara, ia paling jeri pada Toh Sat, terpaksa ia

menahan gusarnya dan tidak berani bersuara pula.

“Lalu siapa lagi orang yang berkongsi dengar Han-wan Sam-kong itu”

“Sebelumnya malahan aku tidak pernah melihatnya,” jawab Li Toa-jui.

“O, macam apakah orang itu?” tanya Kiau-kiau,

“Kurus kecil, mukanya tidak menarik, kau pasti tidak suka padanya,” ujar Li

Toa-jui dengan tertawa.

“Belum tentu,” kata To Kiau-kiau dengan acuh. “Bisa jadi orang begitu akan

sangat menarik bagiku.”

“Aku pun sangat tertarik terhadap orang begini,” tukas Pek Khay-sim, “Aku

menjadi ingin tahu cara bagaimana dia bisa bersahabat dengan Ok-tu-kui, bisa

jadi dia yang merogoh saku apabila Ok-tu-kui kalah bertaruh.”

To Kiau-kiau mengerling, ucapnya dengan tertawa, “Jika kita berdua samasama

menaruh minat padanya, maka nanti kita boleh ke sana untuk menjenguk

mereka.”

“Tapi alat penggali yang kita perlukan sudah kubawa kemari, sudah dua hari

juga mereka terkurung di sini, malam nanti juga kita harus mulai bekerja,” kata

Li Toa-jui.

“Hoa-kongcu ini saja tidak gelisah, mengapa kau malah terburu-buru?” omel

Kiau-kiau.

*****

Meski sudah jauh malam, tapi kota kecil itu benar-benar masih terang

benderang, orang pun masih ramai berlalu lalang, kebanyakan orang juga

riang gembira, namun sembilan di antara sepuluh orang itu tampaknya bukan

orang baik-baik, kalau bukan pencoleng tentulah kaum gelandangan.

Tapi dandanan To Kiau-kiau sekarang justru sangat apik dan terhormat, ia

menyamar sebagai seorang Siucay (gelar terendah kaum sastrawan ujian

negara) miskin. Dan dengan sendirinya Pek Khay-sim menyaru sebagai

pengiring atau jongosnya.

Di tepi jalan kota kecil itu banyak penjaja makanan, ada pangsit mi, mi babat,

nasi campur, bubur ayam, yan-cian-ngo-hiang (sosis) dan macam-macam lagi,

ingin daging anjing juga ada.

To Kiau-k