GOLOK MAUT

New Picture (3)

GOLOK MAUT

Karya : Tan Tjeng Hung

Saduran : OPA

Golok Maut yang menggetarkan

Permulaan Kata Itulah senjata yang sangat aneh bentuknya. Panjangnya 1,5 kaki, ujungnya tajam, dikedua bagian sampingnya satu tajam dan yang lainnya berbentuk gigi gergaji. Seluruh awak senjata itu putih berkilat, sinarnya menyilaukan mata. Ditengah-tengah awak senjata itu ada terukir tulisan yang indah berbunyi : ―GOLOK MAUT‖. Dibagian Yang tajam, tajamnya luar biasa, sehingga rambut yang diletakan diatasnya kalau ditiup saja lantas putus. Dibagian yang seperti gergaji, tajamnya melebihi tajam gergajo biasa.

Senjata yang aneh luar biasa bentuknya itu mendapat nama yang sangat seram yaitu : ―GOLOK MAUT.‖ Golok Maut ini telah mewakili segala keseraman, kekejaman, dan keganasan. Oleh karena munculnya Golok Maut ini, keadaan dunia Kang-Ouw yang tadinya memang sudah keruh, ditambah diliputi suasana kekejaman dan keganasan. Orang-orang dalam rimba persilatan semuanya merasa kebat-kebit hatinya dan pucat wajahnya kalau ada orang yang membicarakan Golok Maut itu. Orang-orang yang sudah menerima Golok Maut ini sebagai pembawa kabar jelek, selambat-lambatnya dalam waktu tiga hari pasti akan binasa dalam keadaan sangat mengenaskan, kalau bukan terpapas kutung kedua lengannya, tentu terpapas kutung kedua pahanya dan sudah pasti ialah dibagian dada terdapat satu lubang yang tembus sampai kepunggungnya. Ini memang benar-benar merupakan suatu kekejaman yang sudah tidak ada taranya. Orang-orang yang menjadi korban Golok Maut itu, baik yang dikutungi kedua lengannya maupun yang dikutungi kedua pahanya, semuanya pasti mendapat tanda gergaji disebelah kirinya. Golok Maut ini menggegerkan dunia rimba persilatan, menggetarkan Orang-orang dari golongan Putih dan golongan hitam. Jago-jago dari kedua pihak, golongan Putih dan golongan hitam, telah mengambil tindakan untuk menyelidiki siapa adanya Pemilik Golok Maut itu yang penuh rahasia dan bertangan kejam itu, tetapi tidak ada seorangpun yang pernah mendapatkan tanda-tanda yang dimaksud. Munculnya Golok Maut ini membingungkan, sebentar di selatan sebentar lagi di utara, sehingga membuat Orang-orang yang

mengadakan penyelidikan repot sendiri tanpa hasil. Siapa adanya Pemilik Golok Maut itu? Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Apa sebabnya Golok Maut itu mengganas di dunia Kang-Ouw? Tidak ada seorangpun juga yang bisa menjawab. Orang-orang yang menerima ancaman Golok Maut itu kesemuanya merupakan Orang-orang kuat terkenal, baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih, semuanya mempunyai kepandaian tinggi. Tetapi aneh bin ajaib, mereka semua tidak dapat menghindarkan dairi dari cengkraman Golok Maut itu . Rupa-rupanya Orang-orang yang diincar oleh Golok Maut itu adalah Orang-orang tertentu. Apa yang menyebabkan Orang-orang itu binasa? Kecuali sang korban dan Pemilik Golok Maut itu sendiri, tidak ada orang ketiganya lagi yang dapat memberi keterangan. Golok Maut itu kecuali seram, kejam, juga harus pula ditambah dengan kata : PENUH RAHASIAH. Tidak ada seorang juga di dunia Kang-ouw yang mengetahui asal-usul munculnya Golok Maut itu . Hanya dalam waktu yang amat singkat, yaitu dalam waktu tiga bulan saja, Golok Maut itu telah muncul lima kali. Sudah dengan sendirinya ada lima orang yang telah menjadi korban korbannya. Korban-korban itu merupakan jago-jago dari tempat-tempat tertentu, juga merupakan Orang-orang kuat yang cukup berpengaruh namanya. Pertama kali Golok Maut ini muncul dikota Lam-tjiang. Salah satu jago terkenal dari golongan putih yang bernama Siangkoan In Kie telah dikuntungi kedua lengannya, kedapatan mati dengan dada berlubang. Keduakalinya Golok Maut itu minta korban Pancu dari organisasi Pek-

hap-pang didaerah Kiu-kang yang bernama Koo Goan, juga binasa dalam keadaan yang sama seperti keadaan korban pertama. Organisasi itu sebetulnya banyak Orang-orang kuatnya yang berkepandaian tinggi dan nama morganisasi itu juga cukup terkenal di kalangan Kang-ouw, tetapi yang benar-benar merupakan peristiwa yang tidak habis dimengerti ialah karena Koo Goan itu justru binasa didalam markas besarnya sendiri. Korban ketiga membuat semua orang semakin tidak habis mengerti, karena korban itu adalah orang dari golongan pengemis cabang Thian-lam yang bernama Gouw Tju Tjeng. Pada malam itu juga, setelah Gouw Tju Tjeng menerima hadiah Golok Maut sebagai pertanda, segera ia binasa dalam keadaan mengerikan. Korban keempat ialah pengusaha lima perusahaan Piuw Kiok (Pengantar barang) didaerah kayhomh yang bernama Ban Goan Hong. Korban kelima lebih-lebih mengherankan lagi, korban itu adalah orang yang bernama Hoat Giam LO (Raja Akhirat Hidup) yang pernah malang melintang 30 tahun lamanya didalam dunia Kang-ouw dan sejak sekian lamanya sudah berdiam dikota Bu-tjiang. Dia binasa dalam keadaan kutung kedua pahanya dan berlubang dadanya. Kiang Hie sebenarnya adalah seorang yang mempunyai kepandaian silat sangat tinggi, tetapi ia juga merupakan seorang yang sangat kejam dan suka membinasakan jiwa orang denga tidak memandang bulu lagi, maka kematiannya itu telah menggirangkan hati banyak orang yang tidak menyukai tindak tanduknya. Yang merupakan keistimewaan lainnya dari para korban Golok Maut itu adalah bahwa semuanya merupakan Orang-orang yang sudah berusia lima puluh tahun keatas. Apa sebabnya? Juga tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Dunia Kang-ouw ramai membicarakan peristiwa tersebut. Entah siapa lagi yang akan mendapat giliran nanti dari ancaman Golok Maut itu ? Perbuatan yang mirip dengan perbuatan gila ini entah kapan berakhirnya? Menurut apa yang diunjukan oleh peristiwa yang ganas itu, telah menimbulkan kesan bahwa Pemilik Golok Maut itu pasti adalah seorang bertabiat aneh dan mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya. Jika tidak demikian, kelima korbannya itu yang semuanya merupakan Orang-orang yang berkepandaian tinggi dan sudah terkenal itu bagaimana bias jadi dibuat bulan-bulanan oleh Golok Maut tanpa memberi perlawanan. Dari bukti yang didapat dari semua korban itu, nyata bahwa para korban itu semuanya tentu tidak sempat memberi perlawanan. Sekarang Golok Maut itu muncul lagi untuk keenam kalinya. Perbedaan waktu antara munculnya peristiwa kelima dan keenam hanya satu bulan saja. Kali ini yang mendapat kehormatan menerimam kunjungan Golok Maut itu adalah seorang Chung Cu dari perkampungan Hui Liong Tjung yang sudah sepuluh tahun lebih lamanya sudah cuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw. Dia adalah Tio Ek Tjhiu. Orang tua itu dengan kepandaian ilmu silatnya dan ilmu mengentengkan tubuh serta kekuatan tenaga dalamnya yang sangat tinggi sudah empat puluh tahun lamanya namanaya terkenal di dunia Kang-ouw. Dia adalah seorang tua yang usianya sudah lebih dari 60 yahun, sesungguhnya merupakan suatu kejadian luar dugaan kalau Golok Maut itu telah mengun jungi dirinya. Mengingat akan kepandaian, nama dan kedudukannya di dunia Kang-ouw, sudah barang tentu hal itu telah menggemparkan dunia rimba persilatan.

Banyak jago-jago dari rimba persilatan pada berduyun-duyun menuju keperkampungan Hui Liong Tjung. Sahabat-sahabat baiknya Tio Ek Tjhiu, seperti Lui Tjeng, Pek Djie Hong dan lain-lainnya sudah pada dating pada hari kedua pagi-pagi sekali sesuadah Orang tua itu menerima Golok Maut itu sebagai pertanda. Untung hari itu ternyata Pemilik Golok Maut itu tidak muncul. Diperkampungan Hui Liong Tjung hari itu banyak berkumpul Jago-jago dari kalangan Kang-ouw. Hampir setiap orang menantikan saat yang akan datang dengan hati berdebaran dan gusar. Mereka hampir menantikan setiap waktu tanpa mengenal lelah. Kecuali ada satu dewa, kalau hanya orang biasa saja , betapun tingginya kepandaian orang itu, rasanya juga tidak mampu melawan banyak Jago-jago rimba persilatan itu. Rupanya semua Jago-jago itu sudah bertekad bulat hendak membuka tabir rahasia yang dimiliki Golok Maut itu. Tetapi sampai hari ketiga, orang yang dinanti –nantikan itu belum juga tiba, tidak ada tanda-tanda apa-apa. Sedangkan menurut kebiasaan, Golok Maut itu setiap kali muncul sebagai pertanda, selambat-lambatnya dalam waktu tiga hari sudah pasti minta korban jiwa. Hari ketiga itu ada merupakan hari terakhir. Jika malam ini tidak ada kejadian apa-apa, maka saat yang sangat naas itu dianggap sudah berlalu. Kampung Hui Liong Tjung yang biasanya tenang tentram, kini karena munculnya Golok Maut itu telah diliputi oleh suasana tegang dan seram. Setiap lorong dan tikungan yang agak gelap dipasang lampu terang-terang. Hampir setiap langkah ada orang yang menjaga, baik siang

maupun malam hari. Penjagaan dilakukan sangat kuat. Dibagian depan dan belakang perkampungan itu juga dipasangi berbagai perlengkapan rahasia. Tempat sekitar tiga lie dalam perkampungan itu banyak Orang-orang dari dunia Kang-Ouw yang menjaga, baik secara terang-terangan maupun secara menggelap. Tujuan mereka sudah tentu ingin melihat wajah asli dari Pemilik Golok Maut itu. Diruanga besar didalam gedung itu pesta perjamuan dilakukan siang dan malamhari tidak berhenti-hentinya. Hampir 20 orang lebih orang-orang dunia Kang-Ouw yang sudah terkenal keganasannya telah melindungi Tio Ek Tjiu demikian rapatnya. Tio Ek Tjiu kelihatan mundar mandir didalam ruangan, kadang-kadang juga menghela nafas. Rambutnya sudah ubanan kelihatan kusut. Diatas meja ditengah ruangan besar, diantara mangkok piring perjamuan ada terletak Golok Maut yang luar biasa bentuknya itu yang diantarkan pada tiga hari berselang. Golok Maut ini merupakan suatu utusan yang menagih jiwa, sehingga setiap orang yang melihatnya pada berdiri bulu romanya. Pada orang-orang kuat yang berada didalam ruangan itumeskipun diluarnya sedapat mungkin hendak berlaku tenang, tetapi dalam hati sebetulnya merasa kebat-kebit. Meskipun penjagaan dalam perkampungan itu sangat kuat dan mungkin tidak dapat dilalui oleh seekor lalatpun, tetapi apakah mampu mencegah kedatangannya Pemilik Golok Maut itu? Ini masih merupakan pertanyaan dalam hati masing-masing. Sang waktu sedetik demi sedetik telah berlalu, saat itu sudah jam tiga malam, tetapi masih belum kelihatan perubahan apa-apa. Asal lewat dua jam lagi saja, sudah dapat diharap bahwa Pemilik Golok

Maut itu tidak akan muncul lagi. Apakah kali ini akan merupakan suatu kecualian? Itu adalah suatu pertanyaan yang timbul hampir disetiap hati orang, tetapi tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan itu dari mulutnya. Setelah lewat lagi beberapa saat lamanya, Lui Tjeng baru berani berkata sambil sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang. ―Iblis itu barang kali tidak mendapat kesempatan untuk turun tangan maka tidak berani datang.‖ Pek Djie Hong menyambung, ―Dengan penjagaan yang begini rapat dan kuat sampai seekor lalatpun rupanya tidak bisa terbang diatas kita, maka sekalipun dia mempunyai kepandaian tinggi, rasanya juga belum tentu berani muncul.‖ Tio Ek Tjiu yang mendengar pembicaraan itu hanya ketawa getir saja, ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya ia sendiri rupanya yang sudah mendapat firasat bahwa dirinya tidak akan terluput dari tangannya Pemilik Golok Maut. Berlalunya sang waktu telah menambah ketegangannya semua orang. Saat-saat yang terakhir itu dirasakan paling tidak enak. Masih tinggal satu jam lagi waktu untuk si Pemilik Golok Maut itu turun tangan. Tio Ek Tjiu pada saat itu lantas berkata sambil menghela nafas : ―Lohu tahun ini sudah berusia 65 tahun. Sekalipun harus binasa juga sudah merasa puas. Lohu merasa sangat berterima kasih atas kecintaan saudara sekalian yang telah memerlukan datang kemari. Tetapi persoalannya malam ini bukan persoalan biasa. Seandainya iblis itu nanti muncul benar-benar, Lohu akan melayani padanya dengan kepandaian yang Lohu miliki sendiri. Saudara-saudara boleh berdiri sebagai penonton saja. Sekali-kali jangan turut campur tangan, agar

tidak menanam permusuhan dengan iblis itu. Seumur hidup Lohu, rasanya belum pernah melakukan hal-hal yang melanggar lingsim Lohu. Sesungguhnya tidak tahu apa sebabnya iblis itu mau turun tangan terhadap Lohu? Lui Tjeng yang adatnya sangat berangasan, lantas berkaok-kaok: ―Hei, tua bangka she Tio, kau dan aku telah mempunyai perhubungan persahabatan bebrapa puluh tahun lamanya, kalau aku takut mati, tidak nanti aku perlukan datang kemari!‖ ―Tio Cungcu harap jangan khawatir, dengan adanya kami orang-orang disini, sekalipun iblis itu mempunyai 3 kepala dan enam tangan, hari ini juga harus dia rasakan goloknya sendiri,‖ demikian suara seorang berkata. ―Iblis itu mungkin tahu gelagat tidak baik, maka lantas mundur teratur.‖ ―Masih tidak apa kalau dia tidak datang, kalau dia berani datang, hm! Dia harus rasakan sendiri ……..‖ Sesaat itu, sana-sani ramai mengutarakan pikirannya. Kentongan telah berbunyi 4 kali. Tepat pada saat itu…………. Terdengar orang tertawa dingin, yang kedengarannya sangat tegas dalam setiap telinga orang. Dalam suasana demikian, kedengarannya semakin menyeramkan! Suara yang datangnya secara tiba-tiba itu, merupakan suatu tanda akan munculnya saat-saat yang menyeramkan. Ruangan yang tadinya ramai itu sekarang berubah sunyi senyap. Orang-orang yang tadi pada sesumbar, sekarang nampak pada pucat wajahnya. Semua mata ditujukan kearah pekarangan yang keadaannya terang benderang seperti tengah hari. Tapi heran, dari mana datangnya suara ketawa itu? Apakah dalam

penjagaan begitu rapat dan kuat, tidak ada seorangpun yang mengetahui ada orang masuk? Hui Liong Tjung Cungcu Tio Ek Tjiu, ketika mendapat kenyataan bahwa musuhnya yang dinanti-nantikan sudah tiba dan orang-orangnya yang menjaga tidak bisa berbuat apa-apa, segera mengetahui bahwa sang musuh itu memang sangat lihay. Maka ia juga mengerti bahwa nasibnya malam ini rasanya sukar dipertahankan. Melihat keadaan demikian, ia malah bisa berlaku tenang. Dengan tidak mempunyai rasa takut, ia berkata dengan suara yang nyaring : ―Tio Ek Tjiu sudah lama menantikan kedatanganmu, kau hendak kutungkan tangan atau kakiku, terserah padamu. Tapi Lohu masih belum mengerti, ada permusuhan apa sebetulnya kau dengan Lohu, sehingga kau sampai menjatuhkan hukuman ini?‖ Sebagai jawaban, telah terdengar satu suara yang dingin kaku: ―Tio Ek Tjiu, aku bukan seorang yang buas atau jahat, juga bukan seorang yang berlaku sewenang-wenang atau seorang yang kejam. Peristiwa berdarah pada Perkumpulan Kam-lo-pang dibukit Bu-leng-san pada 20 tahun berselang, kau toch tidak bisa bilang tidak tahu! Kedatanganku malam ini ialah hendak membikin perhitungan hutang darah tersebut.‖ Sesaat itu wajah Tio Ek Tjiu pucat seperti mayat serta berdiri membisu seperti patung. Semua orang gagah yang berada didalam ruangan besar itu pada terkejut. Peristiwa berdarah yang dialami oleh Perkumpulan Kam-lo-pang pada dua puluh tahun berselang memang pernah menggemparkan dunia rimba persilatan. Perkumpulan Kam-lo-pang muncul di dunia Kang-Ouw baru saja satu

tahun, mendadak telah diserang oleh lebih dari 50 Jago-jago kuat dari golongan hitam dan putih. Hanya dalam waktu satu malam saja Kam-lo-pang dibikin musnah. Semua orang-orangnya Kam-lo-pang, mulai dari Pancunya sampai ke orang-orang bawahnya hampir semuanya binasa dalam keadaan putus tangan atau kutung pahanya, ada juga yang kepallanya terpisah dari badannya. Dari 200 jiwa lebih, yang hidup dan dapat meloloskan diri hanya beberapa gelintir saja. Ini adalah merupakan suatu pembunuhan besar-besaran dalam rimba persilatan. Sementara itu, mengenai sebab-sebabnya sehingga adanya kejadian peristiwa berdarah juga tidak ada yang mengetahui. Nama selanjutnya dari Kam-lo-pang terhapus dalam dunia Kang-Ouw. Nama itu sudah menjadi catatan dalam hikayat yang berlahan-lahan hilang dari peringatannya manusia. Tidak nyana, hari ini 20 tahun kemudian nama itu terdengar pula di kalangan Kang-ouw, bahkan keluarnya dari mulut seorang ‗Penuh Rahasia‘, Pemilik Golok Maut yang telah menggemparkan dunia rimba persilatan. Cungcu dari Hui Liong Tjung itu dulu juga merupakan salah satu orang yang turut mengambil bagian dalam pembasmian orang-orang Kam-lo-pang. Hal ini rasanya tidak perlu disangsikan lagi. Tetapi apakah hubungannya antara Pemilik Golok Maut itu dengan Perkumpulan Kam-lo-pang? Suara orang itu meskipun kedengarannya sangat dekat, tetapi orang tidak dapat dilihat, sehingga semua orang yang ada disitu tidak mengetahui dari mana datangnya suara tersebut. ―Tio Ek Tjiu, apakah kau masih ada pesan apa-apa yang perlu ditinggalkan?‖ terdengar pula suaranya orang itu.

Sikap Tio Ek Tjiu pada saat itu sudah seperti orang kalap, maka ia lantas menjawab dengan suara kasar: ―Iblis! Tinggalkan namamu!‖ ―Pemilik Golok Maut.‖ ―Peristiwa Kam-lo-pang ada hubungan apa denganmu?‖ ―Hu, hu, hu. Aku adalah Pancu dari Kam-lo-pang.‖ Jawaban itu telah membikin terperanjat semua orang, sehinga masing-masing pada saling pandang. Tio Ek Tjiu yang mendengar pengakuan orang itu sebagai Pancu dari Kam-lo-pang, saat itu seperti mengetahui bahwa malam ini mungkin tidak akan terhindar dari kematian, maka ia lantas mengambil keputusan nekad, tetapi karena rasa jeri oleh kepandaian orang itu, membuat ia tidak berani sembarangan keluar dari dalam ruanga besar itu. Selagi masih bersangsi, tiba-tiba berkelebat bayangan seseorang, satu anak darah yang cantik molek sudah muncul didepan matanya. Gadis itu denga pedang ditangan serta paras gusar, telah berkata dengan suara gemetaran: ―Ayah.‖ Kemudian secepat kilat sudah bergerak melesat keluar pekarangan. Bukan main kagetnya Tio Ek Tjiu, karena gadis itu merupakan anak satu-satunya yang paling disayanginya. Ia sudah memesan wanti-wanti supaya biar bagaimana tidak boleh unjukan diri, tidak disangka dalam saat yang sangat berbahaya itu akhirnya gadis itu mengunjukan diri juga, maka ia lantas berkata: ―Tin-djie, jangan!‖ Tepat pada saat itu penerangan lampu disekitar pekarangan mendadak pada semua, sehinga disana-sini terdengar suara gaduh. Semua orang-orang gagah yang berada dalam ruangan masing-masing pada

menghunus senjatanya dan lari keluar pekarangan. Selanjutnya, peneranghan didalam ruanga juga padam, sehingga keadaan disitu menjadi gelap gulita. Para jago yang datang hendak memberikan bantuan tenaganya ketika itu lantas mengetahui gelagat tidak baik, maka mereka semuanya cepat-cepat lari kembali kedalam ruangan besar itu, tetapi sesaat sebelum mereka sampai kedalam ruangan, sudah terdengar suara jeritan yang sangat mengerikan. Suara jeritan itu merupakan suatu tanda bahwa bencana ternyata sudah tidak dapat dihindarkan. Didalam ruangan besar itu lantas menjadi ramai sekali. Dalam keadaan gaduh itu, sesososk bayangan manusia tiba-tiba melesat keluar dan akhir menghilang dalam kegelapan. Tatkala api dinyalakan lagi, suatu pemandangan yang mengerikan telah terbentang didepan mata orang banyak. Tio Ek Tjiu nampak rebah terlentang diantara darah segar yang membanjiri lantai. Cungcu yang sial nasibnya itu kelihatan kutung kedua lengannya sebatas pundak, sedangkan didadanya terdapat lubang masih menyemburkan datah. Sungguh suatu pemandangan yang sangat mengerikan. Gadis cantik molek yang dipanggil ‗Tin-djie‘ tadi lantas menubruk jenazah ayahnya sambil menangis menggerung-gerung. Suatu peristiwa yang sangat mengerikan telah berakhir. Sekali lagi Golok Maut mengambil korbannya. Bersama korban-korban yang dulu, semuanya ada enam Jago-jago rimba persilatan telah menjadi mangsanya. Waktu hari terang tanah, orang-orang kuat dari rimba persilatan yang datang hendak memberikan bantuan tadi dengan hati pilu dan kecewa telah meninggalkan perkampungan Hui Liong Tjung. Mereka menyesal

tidak dapat melihat wajah asli dari si Pemilik Golok Maut. Apa yang didapat oleh mereka ialah pada saat itu mereka baru tahu bahwa manusia ‗Penuh Rahasia‘ yang menimbulkan kegemparan itu adalah Pancu dari Kam-lo-pang yang kabarnya sudah musnah pada 20 tahun berselang. Oleh karena pengakuan Pemilik Golok Maut itu, maka orang-orang kuat dari golongan hitam dan putih yang dulu turut campur tangan dalam pembasmian perkumpulan tersebut, mungkin tidak seorangpun yang akan terlolos dari pembalasan Golok Maut. Menurut apa yang tersiar di kalangan Kang-ouw, peristiwa berdarah Kam-lo-pang hampir seluruh orang-orang Kam-lo-pang sudah terbasmi habis, bahkan Pancunya yang bernama Yo Cin Hoan berikut seluruh rumah tangganya yang berjumlah delapan jiwa telah terbinasa semua. Tetapi Pemilik Golok Maut itu telah mengaku dirinya sebagai Pancun dari Kam-lo-pang, benar-benar merupakan suatu kejadian sangat gankil. Apakah berita kematian Pancu Kam-lo-pang dulu itu tidak benar? Ataukah Pemilik Golok Maut itu tidak melakukan kejahatan dengan meminjam nama Pancu dari Kam-lo-pang atau karena lain-lain sebab ……….? Biar bagaimana ‗manusia penuh rahasia‘ yang menyeramkan itu hanya meninggalkan suatu teka-teki bagi rimba persilatan.

Bagian Kesatu Angin meniup dengan kencannya, hawa dingin menyusup di tulang-tulang. Tanah membeku. Hujan salju yang turun satu hari satu malam terus menerus telah mengubah jagat seperti tumpukan kapas belaka. Dalam keadaan demikian itu, manusia seperti hilang dari dari jalanan, begitu pula burung-burung dan binatang-binatang buas seolah-olah

menghilang dari bumi. Selain angin dingin yang meniap kencang dengan tidak henti-hentinya, seluruh jagat yang kelihatannya putih meletak, diselimuti oleh salju itu agaknya sudah kehilangan rupanya yang lama. Ditengah udara masih kelihatan gelap remang-remang. Sang waktu agaknya sudah berhenti beredar, sehingga membuat orang sukar membedakan waktu siang danmalam. Bukit Bu-leng-san yang seluruhnya tertutup salju berdiri tegak dengan megahnya. Keadaan kelihatannya sunyi senyap. Pada saat itu, setitik bayangan hitam yang kelihatannya seperti sebutir gundu yang meluncur turun diatas salju terus menuju kelembah bukit Bu-leng-san. Dalam suasana putih seluruhnya itu, bayangan hitam itu menuju lembah yang putih seluruhannya itu, bayangan hitam itu kelihatannya lebih nyata dan tegas. Ini sungguh aneh, dalam keadaan yang dingin dan tempat sesunyi itu, ternyata masih ada mahluk berjiwa yang muncul diluaran, bahkan menuju kelembah yang keseluruhannya tertutup salju. Perlahan-lahan titik hitam itu bisa dilihat nyata, ia adalah manusia tengah mengendong satu buntalan besar. Sambil melawana tiupan angin utara yang dingin, orang itu lari cepat sekali. Siapakah orang itu? Oleh karena kepalanya memakai tudung, maka wajahnya tertutup semua dan tidak bisa dilihat dengan nyata. Tetapi dari gerak jalannya yang pesat, terang orang ini merupakan orang kuat dari rimba persilatan. Orang itu agaknya mengenal baik keadaan bukit disitu. Meski keadaan jalanan penuh bersalju dan tampak putih semuanya, ia masih bisa membedakan tempat yang hendak dituju. Orang itu terus lari menuju kemulut lembah.

Jalanan berliku-liku, kedua sisinya lembah diapit oleh lamping bukit yang menjulang tinggi. Diujung lembah terdapat banyak batu-batu cadas yang besar-besar. Bayangan itu ketika tiba dibawah batu besar tadi lalu mendongak mengawasi sebuah batu cadas yang menonjol setingi sepuluh tombak, kemudian kakinya menotol tanah, badannya lantas melesat tinggi keatas. Kira-kira 7-8 tombak, sebelum mencapai tempat yang ditujunya, ujung kakinya lalu menotol lamping jurang, sehingga badanya meluncur naik keatas lagi. Dengan gayanya yang sangat luar biasa, orang itu dapat menancapkan kakinya diatas batu cadas termaksud. Dibelakang batu cadas besar ternyata ada kedapatan sebuah goa yang lebar mulutnya kira-kira satu tumbak. Orang itu ketika berada dimulut goa, baru membuka tudungnya dan kelihatan wajahnya. Ooo…., ternyata orang itu adalah satu pemuda cakap yang kelihatan baru beruaia 17 tahunan. Pemuda yang cakap itu telah menurunkan buntelan yang digendongnya, kemudian diteneng ditangan. Dengan wajah ramai dengan senyuman ia berseru kedalam goa, ―Suhu!‖ ―Suhu!‖ ……. Suara itu adalah suara kumandangnya dari dalam goa. Ia memanggil semakin keras, tetapi hanya mendapatkan jawaban yang serupa. Pemuda itu merasa heran, dengan cepat ia lari masuk kedalam goa. Goa itu tidak dalam, kira-kira Cuma 20 tumbak lebih, disitu terdapat sebuah ruangan besar. Disalah satu sudut dari ruangan itu ada sebuah balai batu yang dapat dilihat begitu orang memasuki goa. Dan sekarang, balai batu yang biasanya digunakan oleh suhunya untuk

bersemedi itu ternyata sudah kosong. Pemuda itu dengan perasaan tegang lantas lompat masuk kedalam kamar lain. Mendadak bau darah yang amis telah menusuk hidungnya dan pemandangan yan dihadapannya, saat ittu membikin dirinya berdiri terpaku, matanya berkunang-kunang, hampir saja ia tidak mampu mempertahankan dirinya berdiri. Apa yang terbentang didepan matanya adalah suatu pemandangan yang sangat mengerikan! Dilantai dalam kamar batu itu sudah berwarna merah karena darah yang sudah membeku itu ada menggeletak tiga sosok tubuh sebagai bangkai yang tidak utuh sekujur badannya. Buntelah yang dibawah ditangan pemuda itu telah terjatuh dari cekalannya dengan tidak terasa. Isinya ternyata beras, garam, daging dan keperluan sehari-hari telah berantakan dilantai. Paras si pemuda cakap saat itu telah berubah aneh sekali, matanya mendelong seperti seorang linglung. Ia berdiri terpaku sambil mengucurkan air mata. Keadaan dalam ruanga itu yang biasanya tenang tentram, kini telah berubah menjadi seram keganasan. Lama sekali pemuda itu seperti kehilangan semangat, kemudian ketika tersadar ia menjerit lalu menubruk salah satu mayat yang rambutnya sudah putih seluruhnya. Dengan suara terputus-putus ia memanggil: ―Suhu! Suhu! ….. Kau dengan kedua paman telah binasa ditangan siapa? Muridmu akan menuntut balas untukmu, Suhu, jawablah!‖ Pemuda itu sembari memanggil, tangannya menggoyang-goyang badannya seorang tua. Tanganya orang tua ternyata Cuma tinggal satu. Luka dibadannya ada sebelas tempat lebih dan masih

mengucurkan darah. Ubuh orang tua itu mendadak bergerak-gerak, sehingga membikin anak muda cakap itu terkejut. Apakah suhu masih belum binasa? Demikian anak muda itu berpikir. Ia lalu meraba-raba dada suhunya, benar saja masih hangat. Pemuda itu kelihatannya sangat girang, tetapi hanya sekejap saja, ia lantas tertegun lagi. Ia tidak mengetahui bagaimana ia harus berbuat. Dengan kekuatan tenaga Iweekangnya yang masih belum sempurna ia tidak biasa berbuat apa-apa. Seandainya pada saat itu ada seorang yang sudah sempurna betul ilmu Iweekang, dengan kekuatan tenaga dalamnya yang disaluran kedalam dirinya sang suhu mungkin masih bisa menolong jiwa suhunya itu. Tetapi di dalam goa itu kecuali ia sendiri dengan dua jenazah pamannya, tidak ada orang lain lagi yang bisa dimintakan tenaganya untuk menolong suhunya. Pemuda itu sangat gelisah. Ia berjalan menghampiri jenazah kedua pamannya. Kedua orang itu juga merupakan orang-orang yang sudah lanjut usianya, satu binasa dalam keadaan terkutung kedua tangannya dan yang lainnya binasa dalam keadaan terkutung kedua pahanya. Ketika badanya diperiksa, ternyata sudah dingin kaku, terang mereka sudah lama binasa. Kedua orang itu memang adalah orang-orang yang tadinya sudah bercacad, sekarang sekujur badanya penuh dengan tanda senjata tajam. Dari sini dapatlah diduga bahwa orang turun tangan terhadap mereka itu sangat ganas dan telengas. Sungguh tidak diduga, ketika ia meninggalkan goa tersebut untuk mencari bahan makanan, hanya dalam waktu setengah hari saja sudah ada kejadian yang demikian hebatnya. Dalam keadaan gemas ia hanya

bisa membanting-banting kaki dan meremas-remas kepalanya sendiri. Kenangan dimasa lampau telah terbayang lagi didalam otaknya. Sebetulnya ia adalah seorang anak piatu yang tidak ketahuan asal-susulnya, tidak berayah, tidak beribu, juga tidak mempunyai nama. Sejak kecil, ia hidup diantara kawanan pengemis. Sedari ia bisa mengingat, hanya diketahuinya bahwa ia adalah satu pengemis kecil saja. Selama masa kanak-kanaknya, ia pernha menjadi gembala, pernah menjadi kacung pesuruh; rupa-rupa penderitaan hidup telah dialami, rupa-rupa penghinaan telah diterima. Ia sering menanya kepada diri sendiri : ―Aku ini sebetulnya anak siapa?‖ Orang lain mempunyai ayah dan ibu, mempunyai rumah tangga yang hangat; setidak-tidaknya mempunyai anam. Tetapi ia, semuanya tidak punya, didalam dunia ini seolah-olah merupakan satu mahluk yang kelebihan. Ia belum pernah memcicipi apa artinya cinta dan kasih sayang, ia juga tidak mengerti apa artinya cinta itu. Oleh karena sejak masih kecil selau hidup dalam hinaan dan cacian orang, maka apa yang mengeram dalam hatinya ialah : KEBENCIAN. Lima tahun berselang, sama keadaannya seperti hari ini, juga diwaktu hujan salju sangat lebatnya. Ia telah dipukuli oleh sekaanan manusia biadab, sehingga jatuh menggeletak diatas salju dalam keadaan babak belur. Seorang tua yang lengannya Cuma tinggal sebelah telah menolong dirinya, dan kemudian membawahnya kedalam goa serta dipungut menjadi muridnya, Orang tua berlengan satu itu adalah orang tua rambut putih yang kini rebah dalam gumpalan darah.

Oleh karena ia sendiri tidak tahu asal-usulnya, tidak tahu anak siapa dan tidak mempunyai SHE dan nama, maka ia ikut SHE suhunya she YO. Suhunya memberikan nama padanya Tjie Tjong. Maksud perkataan Tjie Tjong ialah : supaya ia selamanya ingat dan tidak lupa mencari tahu asal-usul dirinya sendiri. Didalam goa itu bersama dengan suhunya juga tinggal juga dua orang tua , satu tidak mempunyai tangan, sedangkan yang lainnya tidak mempunyai kaki. Ia biasa membahasakan mereka paman. Tiga laki-laki tua san satu anak muda, hidup dalam goa yang aman tentram itu sekeluarga. Selama lima tahun, dibawah dibawah didikan dan bimbingan suhunya yang dibantu oleh kedua pamannya serta bakat yang ada pada dirinya sendiri, telah membuat ia menejadi seorang gagah yang sudah dapat dimasukan golongan kelas satu dalam dunia Kang-Ouw. Apa yang masih kurang ialah kekuatan tenaga dalamnya, yang masih belum sempurna. Ketiga orang tua itu membuat ia mengerti apa artinya cinta, ia mersakan bahwa didalam dunia ini ternyata masih ada kasih sayang dan tidak sekejam seperti apa yang dibayangkan. Dan sekarang, pemandangan ngeri yang terbentang dihadapan matanya, telah membuat perasaan cinta yang baru tumbuh belum lama, sudah terbang lagi tanpa bekas. Rasa benci kembali timbul dalam perasaan hatinya. Ia benci terhadap manusia yang kejam dan ganas. Ia benci terhadap dunia Kang-Ouw yang licik sifatnya. Karena manusia-manusia kejam itu telah merampas jiwanya ketiga orang tua yang sudah merupakan keluarganya……… suhu dan kedua pamanya. Tiba-tiba suara rintihan telah mengejutkan ia dari lamunannya.

Sang suhu yang hampir binasa ternyata hidup kembali. Ia membuka sepasang matanya yang layu, mengawasi padanya tanpa berkesiap. Dengan hati pilu ia memanggil, ―Suhu!‖ dan kemudian menubruk padanya. Sepasang matanya orang tua itu perlahan-lahan tampak bersinar terang. ―Suhu! Kau….. Kau………‖ ―Tjong Djie….. dengarkan aku………‖ orang tua itu membuka mulutnya, suaranya perlahan, agaknya susah sekali untuk mengeluarkannya. ―Suhu! Nanti Tjong Djie bawa kau keatas balai-balai!‖ Orang tua itu menggelengkan kepalanya, matanya dibuka semakain lebar. Dadanya bergoncang semakin keras, napasnya memburu, wajahnya nampak makin pucat. ―Suhu, kau inghin apa?‖ Orang tua gelengkan kepalanya lagi, sejenak kemudian, baru membuka mulutnya: ―Tjong Djie, kau…… sudah pulang. Suhumu…….. sedang………. Menantikan ……. kau……!‖ ―Suhu, kau sekarang jangan bicara apa-apa dulu, kau tenangkan dirimu dulu …….‖ ―Diwajahnya orang tua itu mengunjukan ketawa getir, setelah hening sejenak, ia lalu berkata pula : ―Tjong Djie.…… kau…… jangan …… memotong…… suhumu…… dalam waktu…… sesingkat …… ini…… hendak …… memberi…… tahukan…… padamu…… sesuatu…… hal…… . ―Suhu, kau jangan menggunakan banyak tenaga dulu, nanti kalau sudah sembuh baru dibicarakan lagi!‖ Matanya orang tua itu nampak gusar, sehingga pemuda itu tidak

berani memandang. Saat itu, orang tua itu keadaannya kelihatan agak baikan, pembicaraannya agak jelas. ―Tjong Djie, suhumu…… sudah tidak berguna…… lagi sekalipub ada thabib sakti…… juga tidak berdaya…… mengobati lukaku. Tuhan masih adil, pada saat ini aku masih bisa hidup kembali…… sehingga bisa meninggalkan …… pesanan…… kepada mu. Sekarang kau dengar, jangan potong bicaraku!‖ Tjie Tjong anggukan kepalanya dengan peraaan pilu. ―Tjong Djie, bakatmu dan tulang-tulangmu, semua…… merupakan bahanluar biasa bagi seorang rimba persilatan…… Suhumu sebetulnya…… menaruh harapan besar…… atas dirimu, suhumu ingin menciptakan…… kau sebagai seorang gagah luar biasa…… didalam dunia……, apa mau Tuhan tidak…… menghendaki suhumu…… mewujudkan cita-citanya…… sehingga harus binasa…… ditangannya…… orang jahat……‖ ―Suhu! kau……‖ ―Dengar, tentang dirimu……suhumu sudah……berusaha untuk mencari…… tahu…… tapi…… ternyata…… tidak berhasil…… menukan asal…… usulmu…… Hal ini…… terpaksa mengandalkan…… kau sendiri…… yang harus mencari tahu……!‖ Mendengar sang suhu menyebut tentang asal-usul dirinya, Tjie Tjong wajahnya berubah guram. ―Batu giok yang ada pada dirimu dinamakan ‗LIONG KUAT‘. Batu giok itu sebetulnya ada dua muka, kalau dirangkap bernama ‗LIONG-HONG SIANG-KUAT‘. Benda itu sebetulnya ada satu benda pusaka dalam dunia Kang-Ouw. Kalau kedua benda itu dirangkap, dapat menyembuhkan segala penyakit dan segala racun…… Kau mempunyai……

‘Liong Kuat’…… maka kau harus …… hati-hati mencari …… dimana…… itu sepotong batu giok yang…… dinamakan ‘Hong Kuat’.Batu itu…… ada sangkut…… pautnya dengan asal…… usul dirimu!‖ ―Yah! Suhu!‖ ―Tjong Djie, kau tahukah siapa suhumu ini?‖ ―Suhu seorang she YO…… ― ―Benar, suhumu ini pada 20 tahun berselang adalah Pancu dari Perkumpulan Kam-lo-pang yang bernama Yo Cin Hoan. Kedua pamanmu itu…… satu adalah Pelindung Hukum Perkumpulan Kam-lo-pang, Tjiu Lip To, ia terkenal dengan kekuatan tenaga telapak tangannya. Satu lagi adalah Tongcu Bagian Penjara Tjek Kun, ia mempunyai ilmu mengentengkan yang luar biasa. Mereka berdua…… ‗ Orang tua itu ketika menuturkan sapai disini, mendadak menangis. Yo Cie Cong yang mendengar penuturan itu lantas menjadi terkesima, Selama 5 tahun, ia Cuma tahu bahwa suhunya itu seorang she Yo, yang lainnya tidak tahu semua, ia juga tidak berani bertanya banyak-banyak. Yo Cin Hoan setelah menangis, semangatnya tiba-tiba meluap-luap, tidak seperti seorang yang sedang terluka parah. ―Lima tahun lamanya,‖ begitu ia melanjutkan penuturannya, ―Pelajaran ilmu silatmu sudah cukup sempurna, hanya kekuatan tenaga dalamu, masih jauh dari sempurna. Hal ini tergantung kepada kau sendiri, bagaimana sepaya berhasil mencapai ketingkatan yang sempurna.‖ Yo Cie Cong anggukan kepalanya. Namun dalam hatinya diam-diam berpikir, bukankah suhu ini kini nampaknya sudah segar, mengapa mengucapkan perkataan yang bersipat pesan terakhir? Yo Cin Hoan berkata pula:

―Tjong Djie, ambil benda yang berada didalam lubang keempat diatas dinding itu.‖ Yo Cie Cong menurut, ia lalu berbangkit dan mengambil benda yang dikamsud yang ternyata adalah sebuah kotak kulit. ―Buka!‖ demikian sang suhu memerintahkan. Ketika kotak kulit itu dibuka, didalamnya hanya terdapat sepotong kayu hitam sebesar telapak tanga. Yo Cie Cong merasa heran. ―Sepotong Kayu Hitam saja mengapa disimpan begitu rapinya?‖ Pada saat itu mata Yo Cin Hoan kelihatan membelalak, ia berkata pula dengan suara gemetaran : ―Tjong Djie, Sepotong Kayu Hitam itu telah menumpas semua kekayaannya Kam-lo-pang dan jiwanya lebih dari 200 anak muridnya…….‖ Yo Cie Cong dengan perasaan terharu mengawasi suhunya. ―Dua puluh tahun berselang,‖ demikian Yo Cin Hoan melanjutkan penuturannya, ―tempat asal berdirinya Kam-lo-pang itu ialah dibukit Bong-In-Hong mendadak telah gugur. Dengan secara kebetulan suhumu telah mendapatkan dua potong kayu hitam yang ternyata adalah benda pusaka yang dinamakan ‗Ouw-Bok-Po-Lok‘. Diatas potongan kayu hitam itu termuat kepadandaian ilmu silat tangan kosong luar biasa tingginya yang hanya terdiri dari lima jurus saja. Yang sepotong memuat prakteknya, sedangkan yang sepotong lagi memuat keterangannya. Kalau berhasil mempelajari ilmu serangan itu, sudah pasti kau bisa menjadi seorang kuat nomor satu dalam dunia. Ilmu silat yang tertulis dalam potongan kayu ini adalah ciptaan seorang orang luar biasa dari kalangan rimba persilatan yang bernama Tjo Kang yang hidup pada 500 tahun berselang. Ia telah mengumpulkan semua ilmu serangan dari berbagai partai yang akhirnya kesemuanya itu

dijadikan satu sehingga terciptalah ilmu silat yang luar biasa yang ada dalam kayu hitam ini.‖ Yo Cie Cong yang juga sudah belajar ilmu surat, ketika itu lantas memeriksa potongan kayu hitam itu memang benar, doatas potongan kayu itu samar-samar ada kelihatan beberapa tulisan yang kecil sekali, tetapi saat itu ia tidak mempunyai kesempatan membaca isinya, sedangkan Yo Cin Hoan saat itu sudah berkata pula : ―Soal benda pusaka itu entah bagaimana bisa tersiar di kalangan Kang-ouw, sehingga menimbulkan perasaan iri hati terhadap suhumu. Mereka telah mengumpulkan 50 lebih orang-orang kuat dari golongan hitam dan putih bersama-sama datang menyantroni suhumu. Malam yang menyeramkan, ketika Kam-lo-pang diserbu secara tiba-tiba, semua nak murid Kam-lo-pang telah melakukan perlawanan secara gagah, tetapi karena pihak musuh waktu itu benar-benar merupakan jago-jago pilihan dari dunia Kang-Ouw, maka setelah bertempur sampai pagi hari meskipun kedua belah pihak banyak jatuh korbannnya, tetapi anak murid Kam-lo-pang yang berjumlah 200 orang lebih telah binasa semuanya, sedangkan suhumu sendiri sekeluarga juga tidak terluput. Suhumu yang sudah terpapas sebelah lengannya dan luka-luka dibadannya ketika itu sudah tidak ingat orang… Kedua pamanmu, Tjek-Kun dan Tjiu-Lip-To, malam itu juga masing-masing kehilangan dua pahanya dan tangannya.‖ Yo Cie Cong tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri tetapi ketika mendengar penuturan itu, darah mudanya merasa panas. Suasana dalam kamar itu kelihatannya semakin menyedihkan. Orang tua itu melanjutkan pula ceritanya dengan suara yang sedikit parau: ―Setelah pertempuran selesai, ada seorang tabib pandai yang bernama

Gouw Tjie Djin yang telah datang kebukit Bu-leng-san untuk mencari daun obat-obatan maksudnya. Suhu dan kedua pamanmu tang sudah tidak ingat orang dan terluka telah ditolong olehnya sehingga sampai saat ini suhumu masih hidup.‖ Yo Cie Cong merasa sangat kagum atas perbuatannya Gouw Tjie Djin yang sudah menolong jiwa suhunya, maka diam-diam ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dikemudian hari pasti ia akan membalas budi ini. Pada saat itu ia teringat akan potongan kayu hitam itu, maka lantas menanya: ―Tentang Ouw-Bok-Po-Lok itu……..‖ ―Ouw-Bok-Po-Lok masih ada sepotong lagi yang memuat tulisan keterangannya. Karena kebetulan suhumu menyimpan ini dilain kamar, masih untung tidak dapat diketemukan oleh mereka. Itu adalah yang kau pegang dalam tanganmu sekarang, dan yang sepotong lagi, yang memuat tulisan prakteknya, suhumu tidak mengetahui barang itu terjatuh ditangan siapa, maka kemudian hari, kau harus berusaha untuk mencarinya kembali, sebab kedua potong kayu hitam itu sebetulnya tidak boleh berpisah, ada prakteknya kalau tidak ada keterangannya tidak akan ada gunanya, begitu puyla sebaliknya.‖ Setelah banyak mengucapkan banyak perkataan napas Yo Cin Hoan kelihatan sudah hampir habis, maka setelah terbatuk-batuk sebentar, sorot matanya guram lagi. Yo Cie Cong yang tampatnya mendapat pirasat tidak enak, lantas memanggil berulang-ulang: ―Suhu, suhu.‖ Orang tua itu kelihatan sedang bergulat dengan tangan maut yang sedang merenggut jiwanya, tetapi usahanya itu kelihatan sia-sia

belaka. Yo Cie Cong dengan air mata bercucuran menanya pula: ―Suhu, siapakha orang-orang yang hari itu melakukan kejahatan terhadap suhu dan kedua paman sekalian?‖ Orang tua itu menjawab dengan suara terputus-putus: ―Juga….. merupakan….. salah satu….. musuh lama. Suhumu sebetulnya….. hendak turun tangan sendiri untuk….. menghabiskan semua….. manusia yang berhati binatang itu….., tetapi sekarang tampaknya….. cita-cita itu….. tidak akan tercapai.‖ ―Suhu, Tjong Djie bersumpah akan melaksanakan cita-citamu itu untuk membasmi semua musuh-musuhmu.‖ Diwajah orang tua itu sejenak terkilas senyumnya yang menandakan kepuasan hatinya. ―Suhumu….. kali ini turun gunung….. dalam perjalanan pulang….. telah dapat tahu….. ada orang….. mengintai, kala itu….. suhumu tidak curiga….. apa-apa….. tidak nyana….. merupakan malapetaka………‖ Memang, selama beberapa bulan ini, suhunya itu pernah 6 kali turun gunung. Meski dalam hati Yo Cie Cong merasa curiga, tapi ia tidak berani membuka mulut untuk menanyakan suhunya. ―Suhu, siapakah penjahat-penjahatnya? Suhu, siapa?‖ Yo Cie Cong menanya lagi berulang-ulang. Tapi orang tua itu sudah tidak mampu menjawab. Ia agaknya hendak bertahan sebisa-bisa, napasnya memburu semakin hebat, matanya beberapa kali terbuka lebar menunjukan sinar buas, tapi akhirnya Cuma dapat menjawab: ―Penjahatnya….. nomor satu….. dalam lembar….. pertama……….‖ ―Apa? Suhu, apa yang kau maksudkan dengan nomor satu?‖ Orang tua itu mengangkat tangannya, tapi kemudian diturunkankan

lagi, hanya dengan jari tangannya yang menunjuk ketempat lobang kedua diatas dinding. ―Suhu, apa maksudnya didalam lobang kedua diatas dinding ada…..? tanya Yo Cie Cong. Orang tua itu kedip-kedipkan matany, suatu tanda membenarkan perkataannya. Tiba-tiba kedengaran suara pekikbya orang tua itu, badannya lantas tidak bisa bergerak, tapi matanya terbuka lebar. Yo Cie Cong yang menyaksikan keadaan suhunya, sudah lantas mengerti apa sebabnya. Suhunya sudah mati! Didalam dunia yang sifatnya kejam ini, ketiga orang yang pernah memberikan padanya cinta dan kasih sayang berlimpah-limpah, kini telah binasa semua, bahkan binasa ditangannya musuh yang masih belum diketahui namanya. Untuk sesaat lamanya, sekujur badanya dirasakan seperti sudah beku, pikirannya kalut, ia berdiri laksana patung, seolah-olah sukmanya sudah meninggalkan raganya. Angin dingin meniup kencang masuk kedalam goa, meski hawa dingin seolah-olah menusuk ketulang-tulang, tapi semua itu tidak dihiraukan oleh Yo Cie Cong. Didalam goa itu, tampak rebah menggeletak tiga mayat orang tua , yang kemarin masih meberikan petunjuk padanya berlatih ilmu silat. Entah berapa lama telah berlalu, ia baru bisa menjerit dan menangis. Ia menangis terus dengan sedihnya, sampai suaranya menjadi serak dan air matany kering. Setelah pikirannya tenang kembali, ia baru berhenti menangis. Kedukaan dalam hatinya, telah berubah menjadi perasaan dendam yang

berkobar-kobar. Ia menengok lagi sejenak pada jenazah suhunya, orang tua itu ternyata telah mati dengan mata melotot. Yo Cie Cong lalu berlutu dihadapannya, mulutnya mendo‘a: ―Suhu! Kini Tjong Djie berjanji dan bersumpah dihadapanmu, dengan jiwa raga Tjong Djie nanti akan menuntut balas sakit hati terhadap msusuh-musuh yang membinasakan 200 lebih anak murid Kam-lo-pang dan keluarga suhu. Semua musuh-musuh itu nanti akan Tjong Djie bunuh mati satu persatu, untuk membalas budi suhu yang besar ini. Suhu, meramkanlah matamu!‖ Sehabis bersujud, ketika ia buka matanya, si orang tua itu ternyata masih belum meram matanya. Tiba-tiba ia ingat bahwa suhunya tadi pernah menunjuk kelobang kedua diatas dinding, apakah disitu ada apa-apanya, yang membuat ia tidak bisa meram? Ia lalu berbangkit, dan mencari-cari lobang yang ditunjuk oleh suhunya tadi. Setelah menemukan lubang tersebut, didalamnya ia dapatkan sebuah buntelan besar yang sangat berat, ketika ia buka seketika itu lantas berdiri kesima. Isi buntelan itu ternyata sebuah senjata yang aneh bentuknya, senjata yang mirip golok tapi disisi bagian atas bentuknya seperti gergaji, sedangkan diawak golok itu ada terdapat tulisan ‗GOLOK MAUT‘. Dengan perasaan sangat heran Yo Cie Cong membaca berulang-ulang ukiran yang terdapat diatas awak golok tersebut. Dibawahnya golok itu ada sehelai kertas dan sejilid buku kecil. Ia ambil kertasnya, diatas ada tulisan perkataan: ―Golok Maut yang aneh bentuknya, digunakan untuk menuntut balas dendam!‖

―Gerak tipu selalu bergerak mencapai tiga sasaran, dapat menggetarkan nyali iblis dan setan!‖ Dibawah perkataan itu masih terdapat beberapa tulisan dengan hurup kecil-kecil, yang menjelaskan caranya mainkan gerak tipu ilmu silat yang dimaksud tadi. Ia memang seorang cerdas. Sebentar saja sudah dapat mempelajari. Dengan sebetulnya, itu memang merupakan satu gerak tipu yang sangat luar biasa. Meski Cuma satu jurus, tapi kalau dimainkan, tujuan sasarannya ada sangat berlainan dengan tipu serangan biasannya. Gerak tipu ini diatas membabat kedua lengan, dibawah memotong kedua paha dan tengah menikam ulu hati. Ini sesungguhnya ada suatu gerak tipu yang sangat luar biasa, betapapun tingginya ilmu silatnya sang lawan, rasanya juga sulit akan menghindarkan serangan tersebut. ―Sekali bergerak mencapai 3 sasaran, apakah ini yang dimaksudkan suhu?‖ demikian ia menanya kepada diri sendiri. Dengan tidak banyak pikir lagi, ia lantas membuka-buka lembaran buku kecil itu. Kulit buku itu ada tertulis beberapa hurup yang ditulis dengan tinta merah darah: ‗DAFTAR NAMA MUSUH-MUSUHNYA KAM-LO-PANG!‘ Lembar pertama ada terdapat nama-namanya 5 orang yang masing-masing diberi nomor satu sampai kenomor lima. Nomor satu ada tercatat namanya Tjho Ngo Teng dengan nama gelarnya Iblis Rambut Merah. Lembar kedua dan lembar selanjutnya ada terdapat nama-namanya orang yang kurang lebih 20 orang banyaknya. Diantara nama-nama itu, ada namanya 6 orang yang sudah dicoret dengan guratan kasar

berwarna merah. Untuk sesaat lamanya, Yo Cie Cong tidak dapat menduga apa maksudnya. Barang-barang itu ia buntal lagi seperti semula. Dengan kecerdikannya yang luar biasa, ia coba memecahkan soal itu. Tidak antara lama, ia mendapat jawabannya. Dalam hati ia berpikir: ‗Suhu menciptakan tipu pukulan yang aneh ini, tujuannya ialah hendak menuntut balas dendam. Selama beberapa bulan ini, suhu sudah 6 kali turun gunung. Nama-namanya orang yang dicoret dalam daftar nama-nama musuhnya suhu itu, pasti sudah binasa dibawah Golok Maut semuanya. Dan kali ini ketika suhu pulang, rupa-rupanya telah diketahui jejaknya oleh musuh lamanya, sehingga diinta terus, kemudian terjadilah peristiwa yang mengenaskan ini. Tatkala aku menanya siapa pembunuhnya paman dan suhu, suhu Cuma mengatakan nomor satu dalam lembar pertama, kalau begitu tidak salah lagi pasti ada si Iblis Rambut Merah Tjho Ngo Teng!‘ Setelah berpikir demikian, kembali ia berlutut dihadapan jenazah suhunya sembari berkata : ―Suhu, Tjong Djie berjanji tidak akan mengecewakan harapan suhu, Tjong Djie akan melatih ilmu silat yang lebih sempurna, dengan senjata Golok Maut, Tjong Djie hendak membasmi habis musuh suhu satu persatu sampai semua terhapus bersih dari dunia. Suhu, kau sekarang boleh merasa puas!‖ Orang tua itu agaknya merasa lega hatinya, sepasang matanya yang tadi terbuka lebar, kini telah meram. Yo Cie Cong dengan hati pilu, telah menutup goa tersebut, selanjutnya dengan membawa potongan kayu hitam ‗Ouw-Bok-Po-Lok‘, Golok Maut dan daftar nama musuh-musuhnya Kam-lo-pang turun gunung untuk pergi mengembara.

Bagian Dua Hari itu, diwaktu tengah hari, dijalan raya telah muncul seorang pemuda gagah dan tampan, tapi kecut. Oleh karena potongan paras muka dan badan yang lain dari rakyat biasa, membuat orang-orang yang berjalan dijalan raya itu pada mengawasi dirinya. Tapi, melihat wajahnya yang asam kecut, setelah melihat sekali, tidak berani memandang untuk yang kedua kalinya. Siapa ia itu? Ia adalah Yo Cie Cong yang asal usulnya sangat misterius dan selalu dirundung nasib malang. Setelah mengubur jenazah suhu dan kedua pamanya serta menututp goa yang pernah menjadi tempat tinggalnya selama 5 tahun, dengan penuh hati dendam, ia mulai merantau di dunia Kang-Ouw. Saat itu, ia sedang berjalan pelahan-lahan sambil menundukan kepalanya. Mendadak terdengar suara keliningan kuda, lalu disusul oleh larinya seekor kuda bagus kearah dirinya. Dengan tanpa menoleh Yo Cie Cong minggir kesamping. Tapi aneh, kuda itu terus ditujukan kedepan dirinya, setelah berbenger sebentar, kuda itu lantas berhenti dihadapannya kira-kira 3 kaki jauhnya, sehingga debu dijalanan pada mengotori bajunya. Perbuatan yang seperti disengaja itu telah membuat ia naik darah. Ketika ia dongakan kepalanya, ia lihat penunggang kuda yang sembrono itu ternyata ada satu nona cantik berbaju merah. Nona itu kelihatanya masih muda sekali, mungkin usianya masih belum dua puluh tahun. Saat itu nona itu sedang mengawasi padanya setengah ketawa. Yo Cie Cong sebenarnya sudah hendak mendamprat, tetapi ketika

melihat bahwa penunggang kuda itu ada satu nona cantik, niatnya segera diurungkan, karena pada anggapannya, satu laki-laki tidak pantas ribut-ribut dengan kaum wanita. Maka lantas ditindasnya kegusaran yang sudah memuncak tadi, dan hendak melanjutkan perjalanan pula. Tetapi baru berjalan belum cukup 10 tindak, tiba-tiba kedengaran suara ‗Eh!‘ yang lalu disusul dengan berkelebatnya bayangan merah. Nona baju merah itu kembali sudah menghadang didepannya dengan wajah cemberut. Yo Cie Cong dalam hati merasa heran. Bagaimana sih maunya si nona? Masing-masing punya jalanan sendiri, mengapa ia hendak merintangi? Entah apa maksud yang sebenarnya? Dengan sorot mata yang penuh rasa jengkel ia terus menatap wajah si nona. Sebagai seorang yang sejak kanak-kanak sudah mengalami pahit getirnya penghidupan terhina, maka perbuatan si nona telah menjadi ia membenci segala apa, sekalipun dihadapannya ada dewi yang turun dari kayangan, juga tidak dapat lagi menggerakan hatinya. Nona baju merah yang luar biasa cantinya itu selamanya belum pernah diperlakukan begitu kecut dingin oleh seorang pria. Kelakukan Yo Cie Cong itu adalah untuk pertama kalinya ia mengalami apa artinya ‗TIDAK DIPANDANG MATA OLEH ORANG‘. Ia benar-benar membuat ia tidak puas. Dalam hati sinona berpikir : ‗Kalau dilihat dari potongan dan parasnya, sesungguhnya sangat menarik hari. Tetapi kenapa ia kelihatannya tidak mempunyai perasaan sebagai manusia biasa umumnya?‘ Saat itu ia lantas mengunjukan sikapnya yang setengah gusar, tetapi juga setengah mengejek dan lantas berkata:

―Hey, Kau ini kenal aturan atau tidak?‖ Ini benar-benar suatu kejadian yang lucu, ia sendiri yang menghadang perjalanan orang tanpa salah, sebaliknya menegur orang ‗Kenal aturan atau tidak‘, tidak heran kalau saat itu Yo Cie Cong lantas menjadi gusar. ―Nona tanya siapa kenal aturan atau tidak?‖ ia balas menanya. Nona baju merah itu lantas ketawa terkekeh-kekeh. ―Ehee, apa disini ada prang yangketiga?‖ Yo Cie Cong dengan tidak menjawab lagi lantas hendak berlalu, tetapi nona itu kembali sudah menghadang didepannya. ―Nona, apa artinya ini?‖ tanyannya. ―Aku hendak bertanya kepadamu,‖ jawab si nona. ―Tanyalah.‖ ―Kau hendak kemana?‖ Oleh karena Yo Cie Cong selamanya belum pernah bergaul dengan kaum wanita, apa mau begitu turun gunung sudah dipermainkan oleh seorang wanita, maka perasaannya menjadi serba salah. Tadinya ia mengira bahwa wanita muda itu ada sangat nakal. Masa satu dengan yang lainnya belum kenal, sudah berani menanyakan jejak orang. ―Hal ini tidak perlu kuberitahukan padamu,‖ jawab Yo Cie Cong. ―Ehmmm, sekalipun kau tidak berkata, aku sudah tahu. Bukankah kau hendak pergi ke danau Naga di Bukit Kheng-San untuk mengambil bagian dalam perebutan barang pusaka. Betul tidak?‖ Yo Cie Cong yang mendengar perkataan itu seperti terbenam dalam kebingungan. ‗Perebutan Pusaka di danau Naga‘, sesungguhnya ia tidak mengetahui apa adanya soal yang dimaksud nona itu. Meskipun adatnya aneh, tetapi otak pemuda itu cerdas melebihi manusia biasa, ia juga mengetahui si nona menanyakan itu pasti ada sebab-sebabnya.

Mengapa tidak mau menggunakan kesempatan sebaik itu untuk mencari keterangan sesungguhnya. ―Entah barang pusaka apa yang nona maksudkan?‖ ia menanya. Nona baju merah itu berkata pula, ―Aku hendak menanya kau. Kemana jalanan yang menuju ke gunung Kheng-San itu?‖ ―Aku tidak tahu,‖ jawab Yo Cie Cong. Jawaban itu memang sebenarnya, sebab ia sendiri memang tidak mengerahui dimana letaknya gunung Kheng-San itu. Tetapi rupanya Nona baju merah itu rupa-rupanya tidak mau mengerti. ―Kau benar-benar tidak tahu?‖ ―Memang sesungguhnya aku tidak tahu.‖ ―Baik. Aku nanti bikin kau segera tahu sendiri.‖ Perkataannya itu lalu dibarengi oleh menyabetnya pecut diatas kepala Yo Cie Cong. Tetatpi Yo Cie Cong yang mempunyai kepandaian ilmu mengentengi tubuh yang luar, sudah tentu ancaman pecut itu tidak merupakan hal apa-apa bagi dirinya. Ketika pecut itu tinggal lima dim saja didepan matanya, dengan gesit sekali ia sudah mengegoskan badannya, sehingga pecut itu mengenai tempat kosong. Nona baju merah itu biasanya menyaksikan laki-laki kaum hidung belang, selalu memanjakan dirinya, hanya untuk pertama kali ini ia menemukan satu pemuda yang tidak tergerak melihat kecantikannya. Kesannnya yang sangat aneh telah timbul terhadap pemuda dihadapannya yang bersipat aneh itu. Pasangan yang dalam cita-citanya justru adalah laki-laki yang semacam ini. Pikiran itu Cuma sebentaran saja terlintas dalam otaknya. Sebetulnya

ia adalah satu wanita yang tinggi hati, maka ketika pecutnya mengenai tempat kosong, ia lantas berkata dengan suara gusar: ―Pantasan kau berani begitu jumawa, kiranya ada mempunyai kepandaian yang lumayan juga. Cobalah sambuti lagi!‖ Ia melancarkn enam jurus serangan pecut beruntun yang dilakukan dengan cepat, ganas dan tidak mengenal kasian. Yo Cie Cong ketawa dingin, ia berkelit berulang-ulang menghindarkan serangan yang gencar. Karena mengingat sedang berhadapan dengan seorang wanita, maka ia coba menanhan sabar sedapat mungkin. Sungguh tidak disangka bahwa nona itu dikasih hati jadi sangat melunjak. Si Nona baju merah ketika melihat serangannya yang dianggap paling ampuh itu kembali tidak berhasil mengenai sasarannya, semakin angot marahnya. Segera ia melancarkan serangannya lagi. Sebentar kemudian, bayangan pecut dan suara pecut telah mengurung dirinya Yo Cie Cong. Semvbari berkelit terus menerus Yo Cie Cong lantas berkata dengan suara nyaring: ―Kalau nona tidak mau menghentikan gerakan tangan nona, jangan sesalkan kalau nanti aku berlaku kurang ajar!‖ Tetapi si Nona baju merah seolah-olah tidak mendengar perkataannya Yo Cie Cong, serangannnya dilancarkan malah semakin gencar. Yo Cie Cong melihat si nona sangat bandel, hatinya mendongkol, kedua tangannya lalu bergerak berbareng mengirim serangan pembalasan. Nona baju merah itu jadi repot, ia terdesak mundur sampai lima tindak. Juga disebabkan Yo Cie Cong tidak bermaksud melukai dirinya si nona,

jika tidak, tidak mudah bagi si nona itu menghindarkan diri dari serangannya yang hebat tadi. Serangan Yo Cie Cong yang dilancarkan secara berluntun, stelah berhasil mendesak si nona, lantas serangannya itu dihentikan dan kemudian ia sendiri mundur tiga tindak. Nona baju merah itu setelah terdesak mundur, hatinya merasa sangat dongkol, ia yang sudah biasa berbuah sesuka hati, kini dipermainkan orang, seketika itu wajahnya menjadi pucat, kemudian berkata dengan suara gusar: ―Nonamu ingin mengetahui sampai dimana tinggihnya kepandaianmu.‖ ―Tarr!‖ suara pecut itu berbunyi nyaring, pecut yang tadinya sangat lemas, sekarang sudah berubah menjadi lurus kaku dalam tangannya Nona baju merah itu. Kiranya ia sudah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pada pecutnya. Kini ia menyerang lawannya dengan pecut kaku beruntun lima kali . Saat itu Yo Cie Cong sebetulnya tidak mau meladeni lagi. Tapi karena melihat serangan si nona ada begitu gesit dan gencar, maka terpaksa ia harus melayani.Ketika serangan si nona sudah mulai kendor, tangan kiri Yo Cie Cong mengirim serangan yang dinamakan ‗Ngo Theng Gay San‘ mengarah kebagian tengah, sedang kelima jari tangan kanannya dengan kecepatan kilat sudah menyambar pecut. Nona baju merah itu melihat Yo Cie Cong melancarkan serangannya dengan kedua tangannya berbarengan, ujung pecutnya dengan secara gesit sekali mendadak diputar berbalik kebawah mengarah jalan darah ‗ Wan Me Hiat‘ pada pergelangan tagan Yo Cie Cong. Si anak muda kalau tidak mau menarik pulang serangannya, tentu si nona akan jadi korban, tetapi jalan darah si anak muda sendiri sudah

pasti akan kena totok. Siapa sangka, kesudahannya tidak demikian. Yo Cie Cong sesudah melancarkan serangan dengan tangan kirinya, selagi pecut si nona itu diputar, tangan kanannya dengan kecepatan yang luar biasa sudah sampai lebih dulu dan berhasil menyambar pecutnya si nona. Si nona mencoba menarik pecutnya dengan sekuat tenaga, tetapi pecut yang tergenggam dalam tangannya si anak muda itu sedikitpun tidak bergeming. Si nona bukan main kaget. Seketika matanya menjadi merah, air matanya hampir saja melompat keluar, menangis karena jengkel. Pada saat itu, asal Yo Cie Cong mau menggetak tangannya saja, pecut itu pasti akan terlepas dari tangan si nona. Tetapi ia melihat si nona gelisah hatinya lantas menjadi lemas. Pada saat itu kedua pihak masing-masing memegang ujungnya pecut, badan kedua orang terpisah tidak cukup tiga kaki jauhnya, maka suara napas si nona kedengaran nyata dalam telingannya Yo Cie Cong. Suatu perasaan yang aneh telah timbul dalam hatinya Yo Cie Cong, tetapi itu hanya sekejapan saja, sebentar kemudian sudah menjadi kecut wajahnya. Ia mengendorkan cekalannya dan pecut si nona segera terlepas. Mendadak suara ‗Plaaak!‘ terdengar nyaring, pipinya Yo Cie Cong sudah terkena tamparan si nona. Meskipun tamparan itu tidak sakit, tetapi dirasakan panas. Untuk sesaat lamanya ia berdiri kesima. Setelah menampar pipi orang, Nona baju merah mendadak merasakan bahwa perbuatannya itu agak keterlaluan, ia maka pipinya sendiri lantas merah membara, sikapnya kelihtan sangat aneh. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara nyaring, dua bayangan orang mendadak muncul di hadapan Yo Cie Cong dan nona.

Kedua bayangan itu ternyata adalah dua pemuda dengan baju warna ungu, dipinggang masing-masing terselip sebuah pedang panjang. Kedua pemuda baju ungu itu setelah mengawasi mata mendelik, lalu mengawasi si Nona Baju Merah sambil unjukan ketawa cengar-cengir yang menjemukan. Satu diantaranya lantas berkata dengan suara dan sikap yang merendahkan: ―Sumoy, kita mencari kau setengah mati. Mengapa begitu cepat kau sudah berada disini?‖ Yo Cie Cong merasa sebal melihat sikap kedua pemuda itu, maka lantas alihkan pandangannya kearah lain. Pemuda baju ungu yang lainnya lantas turut bicara: ―Sumoy, apa tadi kau dihina oleh manusia liar ini? Nanti aku……………‖ Mendadak Yo Cie Cong berpaling, sepasang matanya yang tajam menatap wajah pemuda yang tengah bicara itu. Kelihatannya begitu kecut dan menyeramkan, sehingga pemuda itu yang dipandang demikian rupa sampai tidak berani bicara lagi. Si Nona Baju Merah dengan sikapnya yang dingin, lantas menjawab: ―Kalian tidak perlu tahu urusanku ini!‖ Kedua pemuda itu, mendapatkan jawaban demikian, merasa kepala seperti diguyur air dingin. Dua pasang mata kejam terus menatap wajahnya Yo Cie Cong. Sementara si Nona Baju Merah lalu keprak kudanya meninggalkan tempat itu. Kedua pemuda tadi setelah mengawasi Yo Cie Cong sejenak, lantas mengikuti jejak si nona. Yo Cie Cong merasa geli melihat tingkah lakunya kedua pemuda tadi. Tiba-tiba ia ingat perkataan si nona yang menyebut-nyebut tentang

barang pusaka yang menjadi barang rebutan itu. Ia lantas menduga bahwa si nona dan kedua pemuda tadi ini pasti sedang lari menuju ke gunung Kheng-San. Ia berpikir hendak pergi kesana juga untuk melihat apa sebetulnya yang dimaksud ‗ Barang pusaka yang rebutan‘ itu, maka ia lantas bergerak dan lari mengikuti jejak ketiga orang itu. Sengaja ia membuntuti terus, terpisah Cuma kira-kira seratus tumbak dibelakang mereka. Waktu senja ia sudah di kota Wan An. Sesudah melalui kota Wan An ini, adalah daerah gunung Kheng-San. Betul saja, pada semua rumah-rumah makan dan rumah-rumah penginapan sudah ditempati oleh orang-orang dari kalangan Kang-Ouw yang ramai membicarakan soal perebuatan barang pusaka di danau Naga yang akan dibuat rebutan pada besok malam. Yo Cie Cong saat itu juga sudah merasa lapar, maka ia lantas mencari makanan di sebuah rumah makan yang bernama ‗Ciu Sian Kia‘. Ia memilih tempat yang agak tenang, sambil bersantap telingannya dipasang untuk mendengar-dengar tentang barang pusaka yang hendak direbutkan nanti malam. Kiranya dibawah puncak gunung Kheng-San ada sebuah danau yang beberapa bawu luasnya. Kabarnya pada beberapa ratus tahun berselang di gunung Kheng-San itu telah diketemukan seekor naga yang keluar dari tanah dan terbang ke angkasa, setelah angin santer yang mendera hebat dan hujan angin yang lebat berhenti, tanah bekas keluar naga tadi, lantas melesak dan berubah menjadi danau yang sangat dalam. Danau ini dinamakan ‗Gek Liong Tham‘. Dipinggir danau itu terdapat satu liang yang dalam, yang selamanya belum pernah ada seorang juga yang berani coba mendekatinya. Beberapa bulan berselang, setiap malaman terang bulan, dipinggir danau itu kedengaran suara yang sangat aneh.

Ada beberapa orang yang bernyali agak besar dan ketarik oleh perasaan ingin pingin tahu, telah pergi mencari tahu. Dan apa yang dilihat? Ternyata disitu ada seekor mahluk aneh berbadan kerbau dan berkepala naga, keluar dari lubang tanah dan berdiri ditepi danau. Kepalanya menghadap rembulan sambil mengeluarkan dan menyedot sebuah benda bundar, seperti balon warna merah, itulah mustika. Berita tentang ditemukannya mahluk aneh itu, begitu tersiar kalangan Kang-Ouw, segera dikenal sebagai mahluk aneh yang Cuma didapat sesudah ribuan tahun lamanya. Mahluk demikian dinamakan ‗Gu Liong Kao‘, yang lahir dari bapak ular besar yang sudah berusia ribuan tahun dengan ibu seekor kerbau betina. Sesudah ia dilahirkan lantas berdiam didalam satu liang dekat danau. Seratus tahun kemudian mahluk itu baru dewasa, lima ratus tahun kemudian dari dalam perutnya dapat menghasilkan sebuah mustika dan ribuan tahun kemudian mustika itu berubah warnanya menjadi merah. Setiap malaman terang bulan, mahluk aneh itu pasti keluar dari goanya untuk mengeluarkan dan menyedot mustika dari dalam perutnya, kabarnya untuk menyedot hawa dari rembulan. Kalau mahluk aneh itu sedang berbuat demikian, dari tenggorokannya terdengar suara mangaung yang amat aneh. Menurut kabar, mustika dalam perut mahluk ‗Gu Liong Kao‘, apabila ditelan oleh manusia, lantas berhenti didalam pusar, harus mencari lagi benda ajaib berupa telur berwarna dari Burung Rajawali Raksasa untuk dimakan. Kedua barang ajaib itu, setelah tercampur jadi satu dalam perut lantas menyusup kesemua sum-sum, tulang-tulang, otot-otot dan darah orang yang makan sehingga menghasilkan suatu kekuatan tenaga dalam yang luar biasa, kekuatan itu melebihi dari hasil latihan puluhan tahun. Tetapi telur burung Rajawali Raksasa seperti itu sesungguhnya juga benda yang sukar didapatkan. Cuma

satu hal yang merupakan suatu kemujijatan, ialah mustika itu selama dalam tubuh mannusia, kecuali tubuh itu dipotong-potong atau dicincang, kalau tidak, biarpun terluka parah juga tidak bisa binasa. Berita yang mempunyai daya penarik bagi setiap orang yang mempelajari ilmu silat, sudah tentu dengan cepat menarik perhatiannya orang-orang gagah di dunia Kang-Ouw, sekalipun juga jago-jago tua yang sudah mengundurkan diri dari dunia Kang-Ouw, juga pada muncul lagi untuk dapat memiliki barang mujijat itu. Esok malam justru ada malaman terang bulan, entah siapa orangnnya yang beruntung mendapatkan barang aneh itu? Tapi satu hal yang sudah dapat dipastikan , ialah selama masa perebutan mustika itu, sudah tentu akan terjadi perkelahian hebat diantara mereka yang menghendakinya. Yo Cie Cong stelah kenyang dahar, juga sudah mendapat keterangan cukup jelas tentang perebutan benda mujijat itu, maka ia lantas hendak berlalu meninggalkan rumah makan. Selagi kakinya hendak melangkah keluar pintu, tiba-tiba ada mendatangi seorang tua berambut putih dengan wajahnya seperti burung. Orang tua itu menggunakan baju panjang, matanya bersinar, dipinggangnya ada menggemblok sebuah buli-buli arah, rupanya ia ada seorang yang doyan air kata-kata (Pemabukan). Para tetamu rumah amakn ketika menampak kedatangannya si orang tua, seketika ia lantas tidak ada yang berani membuka mulut. Masing-masing pada makan atau minum sambil tundukan kepala. ―Si ‗Buli-buli Arak Wajah Burung‘, Lauw Tjhiang!‖ demikian ada orang yang mengatakan dengan suara pelahan sekali. Yo Cie Cong yang mendengar nama itu, hatinya tergeuncang, Lauw Tjhiang, yang mempunyai gelar Si ‗Buli-buli Arak Wajah Burung‘

didalam daftar nama musuh-musuhnya Kam-lo-pang tercatat dalam urutan nomor 10, itu ia masih ingat benar. Sungguh tidak dinyana bisa bertemu disini. Rasa dendam seketika itu lantas bergolak didalam dadanya. Ia telah memikirkan apakah harus turun tangan melaksanakan penuntutan balas dendam suhunya sekarang juga? Setelah memikirkan bolak-balik, akhirnya ia mengambil keputusan tetap, ia hendak menggunakan kesempatan turun tangan dalam perebutan benda mujijat itu. Maka ia lantas balik kembali ketempat duduknya tadi dan minta pelayan rumah makan menyediakan arak untuknya. Ia duduk sambil minum perlahan-lahan, sampai kira-kira jam dua malam. Si ‗Buli-buli Arak Wajah Burung‘ itu baru keluar dari rumah makan dalamkeadaan sinting. Yo Cie Cong diam-diam membuntuti dibelakangnya, dalam hatinya memikirkancara bagaimana turun tangan. Orang tua itu masuk ke rumah penginapan ‗Way-Lay-Tjan‘ satu-satunya rumah penginapan terbesar dikota Wan-An itu. Yo Cie Cong juga lalu menyewa sebuah kamar disitu, hingga mereka jadi berdampingan didalam rumah penginapan tersebut. Orang tua yang berwajah burung itu, memang betul Lauw Tjhiang, yang bergelar Si ‗Buli-buli Arak Wajah Burung‘. Ia datang dari tempat kediamannya yang jayh semata-mata untuk turut merebut mustika dari mahluk aneh yang dinamakan Gu Liong Kao itu. Ketika kentongan berbunyi empat kali, keadaan dalam rumah penginapan sudah sunyi senyap. Pinu kamar Lauw Tjhiang diketuk orang dari luar. ―Siapa?‖ tanya dari dalam kamar. ―Sahabat lama.‖ Jawabnya dari luar, suara seperti orang tua.

Pintu kamar begitu terbuka, sesosok bayangan manusia lompat masuk dengan gesit. Dibawah penerangan lampu, yang lebih dahulu kelihatan dimata orang tua berwajah burung itu adalah sebuah golok yang berbentuk aneh bersinar berkialauan. ―Golok Maut.‖ Orang tua itu berseru tertahan, hatinya merasa bergidik. Ia melihat orang yang memegang golok tersebut adalah seorang yang berjenggot dan berpakaian putih, dengan wajah yang kereng dan mata mendelik sedang mengawasi kepadanya. Sesaat itu ia merasa seperti berhadapan dengan malakait pencabut nyawa, rasa takut telah membikin terbang semangatnya, karena orang tua itu adalah Pangcu dari Kam-lo-pang yang sudah binasa pada dua puluh tahun berselang. Benarkah di dalam dunia ini ada setan? Mengapa orang yang sudah mati bisa hidup kembali untuk menuntut balas? Sesaat lamanya orang tua wajah burung itu berdiri kesima seperti patung. Kiranya Yo Cie Cong sebelum diambil murid oleh Yo Cin Hoan, sudah bercampuran dengan kawanan pengemis dan dari salah seorang pengemis aneh ia telah mempelajari ilmu ‗Merubah Wajah‘. Ilmu itu sesungguhnya sangat luar biasa. Wajah manusia bisa dirubah-rubah begitu rupa, sehingga sukar dibedakan mana aslinya dan mana tiruanya. Kepandaian ilmu yang dipelajarinya itu kini telah digunakan dalam peranannya sebagai Pangcu dari Kam-Lo-Pang. Pada saat orang tua ‗Wajah Burung‘ itu masih dalam keadaan kaget dan jeri, Golok Maut yang berkilauan itu sudah beraksi didepan tubuhnya. Sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritan ngeri, kedua lengan

orang tua wajah burung itu sudah terpapas kutung dan dadanya berlubang. Waktu baru sebelah lengannya yang terpapas kutung, orang tua wajah burung itu barulah tersadar bahwa orang mati tidak bisa hidup kembali, lebih-lebih ketika ia sudah melihat orang tua itu lengkap semua anggota badannya,maka ia lantas berseru: ―Kau sebetulnya……‖ Sebelum habis pertanyaannya, Golok Maut sudah memapas lagi sebelah lengan lainnya yang kemudian menikam dadanya. Tatkala ia rubuh, samar-samar ia hanya mendengar: ―Pemilik Golok Maut, Penagih hutang dari Kam-lo-pang.‖ Begitulah akhirnya si orang tua wajah burung telah rubuh binasa tanpa mengetahui siapa pembunuh itu sebenarnya. Orang tua yang membawa Golok Maut itu juga segera menghilang dari dalam kamar tempat kejadian. Suara jeritan tadi telah mengejutkan para tamu lainnya dalam rumah penginapan itu, yang kebanyakan terdiri dari orang-orang gagah dari kalangan Kang-ouw yang hendak turut ambil bagian dalam perebutan mustika dari mahluk aneh itu pada besok malam. Semua lampu telah dinyalakan dan kemudian terdengar suara ribut-ribut dari keluarnya orang-orang yang hendak menyaksikan apa yang telah terjadi. Setelah sampai dikamar tempat kejadian itu, barulah mereka mengetahui iblis kenamaan Si ‘Buli-buli Arak Wajah Burung’ Liauw Tjhiang telah binasa dalam keadaan yang mngerikan. Ia rebah menggeletak dengan kedua lengannya terpapas kutung, darah segar masih menyembur dari lubang yang ada didadanya. Begitu melihat, orang-orang sudah mengetahui bahwa itu adalah hasil perbuatannya si Pemilik Golok Maut.

Orang-orang yang menyaksikan keadaan yang mengerikan itu pada bergidik semuanya. Golok Maut telah muncul untuk ketujuh kalinya dan kali ini yang menjadi mangsanya asalah si ‘Buli-buli Arak Wajah Burung’, Liauw Tjhiang, satu iblis kenamaan. Pintu kamar disebelah kamar orang tua wajah burung itu juga terbuka, darimana keluar seorang pemuda cakap dengan sikapnya yang dingin kecut juga menimbrung diantara orang banyak yang menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Seorang wanita muda berbaju merah juga muncul dari kamarnya, mulutnya mendumel : ―Golok Maut………………….‖ Pada saat itu, dalam hati setiap orang timbul hampir serupa pikiran: ‗Jika dalam benda mujijat besok malam Pemilik Golok Maut juga turut ambil bagian, dengan kepandaiannya yang sangat luar biasa tingginya itu, rasanya benda itu bisa terjatuh dalam tangannya. Kalau benda itu benar-benar jatuh dalam tangannya akan berarti bertambah hebatlah kekuatannya, berarti pula rimba persilatan sudah sampai pada hari kiamatnya. Si Nona baju merah ketika melihat pemuda yang dingin kecut itu juga berada disitu, lantas unjukan ketawanya yang manis. Pemuda itu wajahnya merah seketika, cepat-cepat ia masuk kekamarnya kembali. Peristiwa yang mengerikan itu sudah tentu dilakukan oleh Yo Cie Cong. Perbuatan yang nekad ini yang pertama kalinya dilakukan, telah berhasil gilang gemilang, tetapi tidak urung hatinya merasa kebat-kebit tidak karuan. Jika ditinjau dari kekuatan tenaga, sudah tentu Yo Cie Cong bukanlah tandingannya Liauw Tjhiang, tetapi dengan kecerdikan yang luar biasa,

untuk pertama kalinya itu Yo Cie Cong berhasil menyingkirkan satu musuh kuat dari Kam-lo-pang. Akal yang digunakan itu ialah, mula-mula ia membikin sang mangsa kaget dan jeri dulu oleh Golok Maut-nya, kemudian setelah sang korban kaget dan jeri ia menunjukan diri sebagai Pangcu dari Kam-Lo-Pang , supaya sang mangsa tambah jeri. Yo Cie Cong tahu benar bahwa kesempatan macam ini cepat akan lenyapnya, maka kesempatan selagi sang mangsa masih merasa kaget, jeri dan kesima itu, telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya supaya sang korban tidak keburu melawan, sebab ia tahu benar bahwa ia sendiri sebenarnya tidak mampu menghadapi iblis tua itu.

Bagian Tiga GUNUNG KHENG-SAN…………… Danau Naga yang terdapat di gunung Kheng-San itu telah mendapat kunjungan banyak orang-orang gagah rimba persilatan yang berjumlah dari 300 orang. Tetapi diantara sekian banyak orang-orang gagah itu, juga ada orang yang masih rendah kepandaiannya yang hanya karena merasa ketarik oleh adanya benda mujijat itu. Kedatangan orang-orang yang tersebut belakangan ini rupa-rupanya tidak menghiraukan usahanya dalam perebutan benda itu, tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang yang kepandaiannya agak tinggi, mereka dengan sengaja datang untuk mendapatkan benda tersebut. Sekian banyak orang-orang kuat dari rimba persilatan telah berkumpul disuatu tempat, ini juga merupakan suatu pertemuan yang paling besar dalam rimba persilatan selama hampir sepuluh tahun terakhir. Malam itu justru malam terang bulan.

Mahluk aneh termaksud pasti akan muncul dan bakal main mustikannya dibawah terangnya sinar rembulan. Rombongan orang-orang dari rimba persilatan yang datang semuanya menyembunyikan diri, dibawah pohon-pohon besar yang banyak terdapat disekitar danau tersebut. Sebentar mereka menengok keatas, sebentar pula mereka menengok kearah liang ditepinya danau itu yang merupakan tempat kediaman mahluk aneh itu. Oleh karena Golok Maut sudah muncul di kota Wan An, maka orang banyak menduga-duga apakah Pemilik Golok Maut juga akan muncul dalam perebutan nanti? Disampingnya merasa ngeri, mereka juga mengharapkan supaya si Pemilik Golok Maut itu muncul disitu agar mereka dapat menyaksikan bagaimana macamnya wajah asli si Pemilik Golok Maut, apakah dia ada satu manusia yang menyeramkan? Yo Cie Cong juga terdapat dalam rombongan orang banyak itu, sikapnya masih tetap dingin kecut. Ia tidak mempunyai maksud hendak turut ambil bagian dalam perebutan benda mujijat itu, ia hanya datang sebagai penonton saja. Dari dalam rimba sebelah kiri danau tersebut, perlahan-lahan muncul keluar dua orang tua dan seorang wanita muda berbaju putih. Seorang gadis baju merah menyambut dan jalan berdampingan dengan wanita baju putih itu, dua pemuda baju ungu mengikuti dibelakang si wanita baju merah. Dibelakang pemuda itu ada lagi tujuh orang tua dan lima orang laki-laki usia pertengahan. Kedua orang tua yang jalan lebih dulu, usianya kira-kira sudah 50 tahun keatas, tetapi kelihatannya masih gagah keren, satu berpakaian baju panjang warna ungu, satunya lagi berdandan sebagai ‗Wan-gwee‘

(orang hartawan). Wanita muda baju outih itu tidak kalah cantiknya dengan kecantikan wanita baju merah yang berada disampingnya, bentuk dan potongan badannya malah lebih menarik, sehingga merupakan suatu kecantikan yang jarang mendapat tandingan bagi seorang wanita. Hanya sayang yang harus dibuat sayang adalah matanya sangat genit, suatu tanda bahwa wanita itu bukan dari golongan orang baik. Dalam rombongan itu telah terjadi sedikit kegemparan. Bagi Yo Cie Cong, kecuali bagi si Nona baju merah dan kedua pemuda baju ungu yang sudah dikenalnya, yang lainnya semua masih asing baginya. Ia hanya bisa menduga-duga dalam hatinya bahwa rombongan orang yang datang itu tentunya bukan dari golongan orang sembarangan. Rombongan orang tua terdiri dari 18 orang itu setelah muncul dari dalam rimba, berjalan kira-kira e tumbak, lantas pada berhenti. Gadis baju merah ketika melihat Yo Cie Cong juga ada dalam rombongan orang banyak, lantas ketawa mesem. Dari sikapnya yang dingin kecut, Yo Cie Cong mendadak merasa jengah, dengan tidak terasa dibalasnya dengan ketawa hambar. Kedua pemuda baju ungu tadi ketika menyaksikan si gadis baju merah itu ketawa mesem kehadapan orang banyak, dalam hati lantas timbul rasa curiga. Ketika mereka memasan mata, segera dapat melihat bahwa pemuda sombong dan bersikap dingin kecut yang kemarin mereka ketemukan dijalan raya juga sedang unjukan ketawa hambarnya, maka seketika itu lantas timbul rasa cemburunya. Antara rombongan wanita baju putih itu dengan rombongan orang banyak, terpisah hanya sejarak kira-kira sepuluh tumbak jauhnya. Dua pemuda baju ungu tadi satu sama lain saling memberi isyarat, lalu berjalan menghampiri kearah Yo Cie Cong dengan wajah bengis,

mereka berhenti sejarak kira-kira tiga tumbak didepan Yo Cie Cong. Satu diantaranya yang bermuka tirus lantas berkata sambil menuding Yo Cie Cong: ―Bocah, kau keluar. Tuan mudamu hendak memberi hajaran padamu.‖ Seorang lagi yang matanya seperti burung elang dan bibirnya tipis juga turut bicara : ―Anjing kecil, dengan orang semacam kau ini juga ingin makan daging angsa, sungguh tidak tahu diri!‖ Yo Cie Cong mendadak mendusin bahwa kedua pemuda itu cemburu gara-gara wanita baju merah itu, maka ketika mendengar perkataan kedua pemuda itu, sikapnya kelihatan makin kaku ketus, dengan tidak banyak bicara lagi ia berjalan menghampiri. Para jago disekitar tempat tersebut semua pada tujukan matanya pada ketiga orang pemuda itu. Hampir bersamaan pada saat itu juga si gadis baju merah itu sudah lompat melesat dan turun disamping ketiga pemuda tersebut. Dengan sorot mata menghina ia mengawasi kedua pemuda baju ungu itu. Yo Cie Cong setelah berhadapan dengan kedua pemuda itu lalu menegir dengan suara dingin : ―Kalian berdua hendak berbuat apa?‖ Kedua pemuda itu lantas menjawab dengan sikapnya yang galak. ―Hendak memberi pelajaran padamu, satu bocah yang tidak punya mata.‖ ―Hanya mengandalkan kekuatan orang-orang yang semacam kalian berdua ini?‖ tanya Yo Cie Cong mengejek. Pertanyaan itu telah membikin geli si gadis baju merah. Kedua pemuda baju ungu itu semakin mendongkol, keduanya lantas menggeram dan turun tangan berbareng, keduanya mengeluarkan

serangan yang serupa. Yo Cie Cong dengan gesit sekali egoskan dirinya, sekejap saja, seolah-olah bayangan setan ia sudah berada dibelakang dirinya kedua pemuda itu. Dengan tangan kanan dan kiri masing-masing mengirim satu pukulan dari belakang dua pemuda itu. Kedua pemuda itu ketika mengeluarkan serangannya dan mendadak lantas kehilangan sasaranya, hati mereka merasa kaget. Mendadak dibelakangnya dirasakan ada sambaran angin, maka lantas lompat melesat kekanan dan kekiri untuk menghindarkan serangan Yo Cie Cong, kemudian dengan gesit sekali mereka memutar tubuh dan melancarkan serangan berbareng lagi. Kali ini Yo Cie Cong tidak berkelit dan tidak juga menyingkirkan diri, dengan ketawa dingin ia buka lebar-lebar sepuluh jari tangannya dan dengan kecepatan bagaikan kilat sudah mengcengkeram pergelangan tangan kedua orang lawannya. Gerakan itu bukan saja cepatnya luar biasa, bahkan tampaknya sangat aneh, maka begitu bergerak lantas dapat mencengkeram pergelangan tangan lawan-lawannya dengan tepat. Ia benci sejali pada kedua pemuda yang adatnya sombong dan tidak sopan itu, maka sengaja ia hendak memberi hajaran pada mereka berdua. Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya ia mencengkeram pergelangan tangan kedua pemuda itu, sehingga kedua pemuda itu berteriak-teriak kesakitan. Oleh karena disampingnya ada gadis baju merah itu, maka mereka hendak berontak sebisa-bisanya, tetapi tidak berhasil melepaskan diri. ―Tahan!‖ Suara itu datangnya secara tiba-tiba yang kemudian disusul oleh satu serangan yang hebat kearah Yo Cie Cong. Yo Cie Cong orangnya cerdik, ketika mengetahui dirinya diserang orang

dari belakang, kedua tangannya lantas bergerak berbareng mengentak dirinya kedua pemuda dalam cengkeramannya tadi digunakan menyambuti serangan dari belakang. ―Bleduk!‖ suara itu kedengaran hebat, disisi tempat Yo Cie Cong berdiri telah terbuka satu lubang yang dalam. Ternyata lubang itu hasil dari serangannya si orang tua baju ungu yang sudah menyerang Yo Cie Cong tadi. Oleh karena orang tua itu tadi ketika menyerang mendadak dapat melihat Yo Cie Cong hendak menggunakan tubuhnya kedua pemuda baju ungu untuk memapaki serangannya, maka setelah mengetahui bahwa ia tidak keburu menarik kembali serangannya, terpaksa serangannya dimiringkan sedikit, maka sudah mengenai tanah kosong disamping tempat Yo Cie Cong tadi berdiri. Pada saat seorang tua lainnya yang berdandan seperti Wangwee dan wanita cantik berbaju putih itu sudah pula pada datang ketempat mereka berkelahi. Orang tua baju ungu itu dengan perasaan gusar bercampur curiga telah menegur pada Yo Cie Cong : ―Bocah, Yo Cin Hoan itu masih pernah apa dengan kau?‖ Yo Cie Cong terperanjat mendengar pertanyaan itu. Ia orangnya sangat cerdik, maka segera mengetahui bahwa gerak tipu serangannya tadi ketika menyambar tangan kedua pemuda baju ungu itu, pasti telah dikenali oleh orang tua itu. Karena gerak tipu yang dinamakan ‘Meraup Awan dan Mengambil Rembulan‘ itu adalah satu-satunya tipu silat dari Yo Cin Hoan. Dalam keadaan demikian, Yo Cie Cong lantas bisa mengambil keputusan cepat, untuk sekarang ini ia masih belum boleh memperkenalkan asal-usul dirinya, maka ia segan menjawab dengan

sikapnya yang masih dingin. ―Maaf, aku tidak dapat memberikan keterangan!‖ Setalah itu ia lantas melepaskan cekalannya dan kedua pemuda itu telah mundur kesamping dalam keadaan menggenaskan. Gadis baju merah itu lantas anggukan kepala kepada Yo Cie Cong. Sementara itu, si orang tua yang berdandan sebagai Wangwee jugga turut menanya: ―Bocah, kau dari golongan mana?‖ ―Hal ini tidak perlu kalian mengetahui.‖ Jawabnya ketus. ―Hai! Sungguh tajam lidahmu!‖ Pada saat itu rembulan yang bulat sudah kelihatan muncul diujung langit. Sinarnya yang terang benderang sudah menyinari air danau Naga. Semua orang juga datang berkkerumun disitu pada mengawasi orang-orang yang berkelahi tadi dengan perasaan heran. Kedua orang tadi setelah saling pandang sejenak dengan si wanita baju putih, mata orang tua yang memakai baju ungu lantas mendadak kelihatan bersorot buas. Dengan suara bengis ia berkata kepada Yo Cie Cong: ―Bocah, kau mau menjawab terus terang atau tidak?‖ ―Bagaimana kalau tidak?‖ Orang tua baju ungu itu lalu mengulurkan tangannya mengirim serangan yang hebat. Yo Cie Cong yang diserang secara hebat dengan tiba-tiba itu, dengan cepat sudah lompat kesamping sejauh lima kaki menghindarkan diri. Tetapi belum sampai berdiri, serangan kedua sudah menyusul. Dalam keadaan terdesak sedemikian rupa, tiba-tiba ia ingat pelajaran pamannya, Tjek Kun, yang terkenal dengan ilmu mengentengkan

tubuhnya, maka dengan ilmu silat warisannya itu ia melayang sambil mengikuti serangan lawan sampai sejauh setumbak lebih. Gerakan menghindarkan serangan dengan mengikuti arahnya serangan lawan itu telah mendapat sambutan riuh rendah dari delapan penjuru angin. Kedua orang tua dan wanita baju putih itu, berbareng pada mengeluarkan seruan kaget. Secepat kilat mereka berbareng maju menerjang dan mengurung dirinya Yo Cie Cong, kemudian masing-masing pada melancarkan satu serangan. Serangan segitiga ini sebetulnya sangat sulit dielakannya. Maksud semula dari ketiga orang itu ialah sudah tentu hendak membinasakan Yo Cie Cong dengan pukulan sekaligus. Apa sebabnya mereka bertindak dengan begitu ganas dan kejam? Tidak lain adalah karena mereka mencurigai dirinya anak muda itu mempunyai hubungan rapat dengan Kam-lo-pang. Kalau berhasil menyingkirkan dirinya pemuda itu, bukan saja berarti menyingkirkan satu ancaman bahaya, tetapi juga dari perbuatannya itu mungkin mereka akan dapat memancing keluar si Pemilik Golok Maut. Pengakuan dari Pangcu Kam-lo-pang ketika dengan Golok Mautnya mengambil korban di Kampung Hui Liong Tjung, bagi mereka dianggap sebagai ancaman yang paling besar, sehingga membuat mereka tidak enak makan dan tidak enak tidur, seolah-olah ada duri yang malang ditenggorokan mereka. Ketika ketiga orang tadi melancarkan serangan berbarengan, lantas terdengar suara jeritannya si gadis baju merah yang berdiri disamping. Diantara suara jeritan gadis baju merah tadi, terdengar pula suara seruan tertahan yang lalu didalam gumpalan debu yang mengepul keatas kelihatan semburan darah, sedangkan tubuhnya Yo Cie Cong

telah terpental tinggi terputar seperti gasing setinggi setumbak lebih yang kemudian turun kembali ketanah. Orang-orang dri rimba persilatan disekitar tempat itu yang menyaksikan perbuatan tersebut, pada menjadi pucat dan terheran-heran. Mengapa ketiga orang itu turun tangan berbareng terhadap satu bocah yang tidak diketahui asal-usunya? Setelah melayang turun kembali ketanah, Yo Cie Cong memaksa mengerahkan tenaganya yang masih ada, dengan badan semboyongan ia mencoba berdiri tegak. Dengan wajah bengis dan buas serta suaranya yang serak ia bertanya: ―Aku Yo Cie Cong, kalau tidak sampai binasa, aku akan perhitungkan rekening ini sepuluh kali lipat!‖ Sehabis berkata mulutnya kembali mengeluarkan darah da tubuhnya jatuh lagi ditanah. Orang tua baju ungu tadi kelihatan ketawa nyengir, lalu berjalan maju dua tindak kedepanya Yo Cie Cong dan mengangkat tanganya hendak memukul dirinya Yo Cie Cong. Si gadis baju merah yang menyaksikan keadaan demikian lantas menjerit, tetapi selagi hendak maju menubruk, tangannya sudah ditarik oleh si wanita baju putih. Jiwa Yo Cie Cong kelihatan terancam bahaya…………………….. Pada saat segenting itu, sesosok bayangan orang dengan kecepatan kilat telah meluncur keaah orang tua baju ungu tadi sembari mengirimkan satu serangan yang sangat hebat. Orang tua baju ungu itu terkejut, ia terpaksa menarik kembali tangannya dan dengan cepat mundur lima tindak. ―Hehhhh! Ketua dari Dua Golongan dan Satu Perkumpulan, sungguh tidak malu menghadapi satubocah kemarin sore. Apa kalian tidak takut ditertawakan oleh orang-orang dunia Kang-Ouw?‖ demikian

terdengar satu suara yang nyaring dan lantas disusul oleh munculnya seorang wanita cantik pertengah umur. Yo Cie Cong yang masih dalam keadaan setengah pingsan ketika mendengar perkataan ‗Ketua dari Dua Golongan dan Satu Perkumpulan‘, suatu kekuatan tenaga yang tidak terlihat mendadak memimpin ia bangun tersadar. Dalam hatinya lalu berpikir: ―Dua Golongan dan Satu Perkumpulan, apa itu bukannya golongan Tjie-In-Pang, Ban-Siu-Pang, dan Pek-Hap-Hwee? Tidak kusdangka disini aku mendapatkan banyak musuh-musuh Kam-lo-pang!‖ Dua orang tua itu dan si wanita baju putih bertiga ketika melihat munculnya si wanita cantik pertengah umur tadi seketika itu wajah mereka lantas berubah.

Bagian Empat

Wanita baju putih itu sesungguhnya genit sekali. Meskipun dihadapannya orang wanita juga, ia masih menunjukan kegenitannya. Setelah mengerling kearah wanita yang baru datang itu, lantas ia berkata sambil tersenyum : ―Yo! Aku kira siapa, tidak tahunya Thian-San Liong-Lie yang datang. Kalau begitu, aku menyambutnya sudah agak terlambat.‖ Wanita cantik pertengah umur itu tidak ambil perduli atas sikap yang ditunjukan oleh si wanita baju putih. Ia maju dua tindak untuk memeriksa keadaannya Yo Cie Cong yang terluka parah. Tiba-tiba ia membuka lebar-lebar kedua matanya. Hatinya berdebaran. Diam-diam berkata kepada dirinya sendiri: ―Bocah ini mengapa mirip dengan dia?

Dengan menahan air matanya yang mau keluar, ia menanya kepada Yo Cie Cong dengan suaranya yang lemah lebut dan penuh rasa welas asih. ―Anak, siapa namamu?‖ Yo Cie Cong yang saat itu sudah panas hatinya, atas perbuatan orang-orang yang tidak patut terhadap dirinya, sebenarnya tidak ingin menjawab, tetapi ketika melihat kedua matanya yang penuh kasih sayang dari wanita setengah umur itu, ia lalu menjawab : ―Aku bernama Yo Cie Cong.‖ ―Yo Cie Cong?‖ mengulang wanita setengah umur, agaknya merasa kecewa. ―Ya, Yo Cie Cong.‖ Jawab Yo Cie Cong lagi dengan suara lemah. Wanita cantik pertengah umur itu menghela nafas, lalu mengambir tiga butir obat yang sehera dimasukan kealam mulutnya Yo Cie Cong. Kembali ia mengawasi anak muda itu sekian lamanya, kemudian berkata pula: ―anak, ini adalah obat untuk menyembuhkan luka dalam yang sangat mujarab. Asalkan tekanan jantung dan nadi masih belum putus, kau tidak bisa binasa.‖ Pada matanya Yo Cie Cong, saat itu dengan tegas terlihat perasaan terima kasihnya, ia lalu menjawab dengan suara perlahan: ―‖Aku akan membalas budimu ini!‖ Wanita cantik pertengah umur itu kembali berpaling dan berkata kepaa orang tua baju ungu bertiga: ―Harap Samwie suka memandang mukaku, jangan turunkan tangan jahat lagi terhadap bocah ini‖ Ketiga orang tua itu selagi hendak menjawab, tiba-tiba tanah bekas mereka berdiri telah bergoncang yang kemudian disusul oleh suara

seperti kerbau yang sangat aneh kedengarannya. Suara itu kedengarannya seperti dari jarak jauh, tetapi kalau diperhatikan benar-benar, barulah bisa diketahui bahwa suara itu datangnya dari bawah tanah. Saat itu rembulan sudah naik tinggi, suatu tanda bahwa mahluk aneh Gu Liong Kao sudah muncul. Tempat bekas orang tua baju ungu dan lain-lainnya berdiri tadi, ternyata Cuma terpisah kira-kira lima tumbak jauhnya dari lubang tanah itu. Semua orang lantas menyingkir sejauh dua puluh tumbak. Pada saat itu, ada tiga ratus pasang mata lebih yang semuanya ditujukan kearah lubang tanah ditepi danau itu. Suatu pemandangan anehn yang hanya dapat dilihat dalam beberapa ratus tahun sekali akan segera muncul didepan mata. Semua orang-orang gagah yang berada disekitar tempat itu pada merasakan tegtang perasaannya. Diantara mereka, ada beberapa orang yang berkepandaian tinggu yang datang dengan maksud hendak merebut benda pusaka mujijat itu, sudah siap sedia menghadapi segala kemungkinan. Sebagian lagi yang tidak ingin turun ambil bagian dalam perebuan itu dalam hati mereka hanya menduga-duga, siapa nanti yang bernasib baik dapat memperoleh benda mujijat itu. Suara mahluk aneh itu semakin lama kedengarannya semakin keras, sampai-sampai tanah disekitarnya pada bergetar. Dari situ dapat diduga, sampai dimana hebatnya mahluk aneh itu. Terpisah kira-kira lima tumbak diatas tanah dekat lubang itu menggeletak dirinya seseorang. Ia mungkin sudah binasa, tetapi mungkin juga masih hidup. Namun tidak ada seorang pun yang

memperhatikannya. Orang itu adalah Yo Cie Cong yang sedang terluka parah karena kena serangan dari tiga orang tua gagah tadi. Saat itu, meskipun sudah diberiikan obat oleh wanita cantik pertengah umur tadi, sehingga kekuatannya perlahan-lahan sudah pulih sebagian, tapi dalam hatinya mengerti, bahwa keadaan pada saat itu sesungguhnya sangat berbahaya. Jika mahluk aneh itu nanti muncul, mungkin dia merupakan orang pertama yang menjadi santapannya. Tetapi oleh karena bergerak sajapun sudah susah, maka ia tidak berdaya meninggalkan tempat yang sangat berbahaya itu. Betulkah tidak ada seorangpun yang mengambil perhatian terhadap pemuda yang berada dalam keadaan yang sangat berbahaya itu? Ada!!! Gadis baju merah hatinya merasa gelisah, tetapi karena tangannya dipegang erat-erat oleh si wanita baju putih, ia tidak berdaya menolong anak muda itu. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia telah perhatikan dirinya anak muda itu demikian rupa. Wanita cantik pertengah umur, Thian-San Liong-Lie, mendadak ingat bahwa diatas tanah dekat lubang itu masih ada seorang pemuda yang terluka parah yang wajahnya mirip benar dengan si ‗DIA‘. Ia merasa bahwa ia harus menolong si pemuda dari tempat berbahaya itu. Saat mana ditepi danau Naga, tiga ratus lebih orang-orang gagah dari rimba persilatan semua pada terdiam sambil menahan nafas. Tidak ada seorangpun yang berani membuka mulut, karena mereka takut kalau-kalau nanti mengejutkan mahluk aneh itu. Suasananya meskipun sangat sunyi, tetapi perasaan tegang makin memuncak.

Dapatkah kiranya menundukan mahluk aneh itu untuk mengambil mustikanya? Siapapun tidak ada yang berani memastikan. Tetapi mustika yang mempunyai daya tarik yang demikian hebatnya sudah telah membuat banyak orang pada berani pertaruhkan jiwa mereka untuk bisa mendapatkan benda mujijat tersebut. Sudah barang tentu, dalam usaha memperebutkan mustika itu pasti akan disusul oleh pertempuran hebat antara orang-orang gagah disitu. Thian-San Liong-Lie setelah berpikir sejurus lamanya akhirnya mengambil keputusan bahwa ia harus menolong Yo Cie Cong dari tempat yang berbahaya itu. Tetapi selagi ia hendak turun tangan, suara gemuruh hebat mendadak telah terdengar pula yang kemudian disusul oleh bau amis yang menusuk hidung. Mahluk aneh itu ternyata sudah muncul dari dalam tanah. Hati jago rimba persilatan saat itu hampir lompat keluar dari tempat lubang persembunyiannya, lantas melesat keatas setinggi sepuluh tumbak lebih yang kemudian turun lagi ketanah dengan perlahan. Kejadian itu telah disaksikan oleh jago-jago dari rimba persilatan itu dengan hati berdebaran. Makluk itu mempunyai bentuk badan kuda berkepala naga. Seluruh badannya hitam berkilat. Kaki dan tangannya berwarna putih. Ekornya seperti ekor ular. Panjangnya dari kepala sampai ekor kira-kira dua tumbak. Setelah berada ditanah kembali, kepalanya lantas menghadap kearah rembulan, dari mulutnya mengeluarkan sebutir mustika yang merah warnanya. Mustika merah itu dikelaur masukan melalui mulutnya seolah-olah seorang akrobat yang tengah memainkan gumpalan api dalam mulutnya.

Mustika ‗Gu Liong Kao‘ itu telah membuat para jago persilatan pada berseru dalam hatinya, sedangkan mata mereka terus ditujukan kearah benda mujijat itu. Karena siapa saja yang bisa mendapatkan benda mujijat itu, berarti sekaligus mendapat tambahan kekuatan tenaga yang sama dengan kekuatan dari latihan puluhan tahun. Bagi orang-orang dari rimba persilatan, ini merupakan satu-satunya kesempatan yang paling baik untuk menjadi seorang orang kuat yang tidak ada tandingannya,maka tidak ada seorangpun yang tidak ingin mendapatkan benda itu, sekalipun harus mempertaruhkan jiwanya. Tetapi setelah menyaksikan keadaannya mahluk aneh itu, sekalipun bagi orang yang mempunyai kepandaian sangat tinggi juga merasa jeri. Mereka rata-rata segan turun tangan lebih dulu. Mahluk aneh itu, paling lama setengah jam sudah akan masuk kembali kealam tempat persembunyiannya. Keadaan menjadi sunyi tapi serba tegang. Dari tempat bekas orang tua baju ungu dan kawan-kawannya tadi berdiri, tiba-tiba melesat lima bayangan orang sambil mengeluarkan serangannya dengan lima benda putih berkilauan kearah mahluk aneh itu. Orang-orang disekitar danau saat itu tampak semakin tegang. Bersamaan dengan serangannya kelima orang tadi, dari berbagai penjuru lantas meluncur berbagai senjata rahasia serta meunculnya bayangan orang yang tidak kurang dari tiga puluh orang banyaknya. Mahluk aneh Gu Liong Kao itu yang hidup sejak ribuan tahun berselang, luar biasa cerdiknya. Setelah dirinya dihujani oleh rupa=rupa senjata rahasia dari berbagai penjuru, mutikanya lalu disedot kembali dan dia sendiri lantas berdiam diri menantikan kejadian selanjutnya, sedangkan kedua biji matanya memancarkan sinar hijau yang berkilauan.

Ketika banyak bayangan orang itu mendekati dirinya, mahluk aneh itu kembali keluarkan geramannya yang hebat. Badannya yang besar mendadak melesat tinggi, sehingga bayangan orang banyak itu terpaksa harus mundur, tetapi kemudian disusul oleh suara jeritan dari bayangan orang banyak tersebut. Sebentar kemudian, tampak darah dan gading manusia pada berhamburan diudara, sedikitnya ada sepuluh orang yang telah binasa, maka orang yang bergerak belakangan terpaksa harus mundur secara teratur. Mahluk aneh itu setelah membinasakan jiwanya orang-orang yang mendekati dirinya, kembali duduk melingkar ditanah. Sebentar kemudian, jumlah orang yang maju tampaknya semakin banyak saja, pedang, golok dan berbagai senjata rahasia pada meluncur kearah badan mahluk aneh itu seperti hujan, tapi semua senjata itu Cuma bisa perdengarkan suaranya yang ramai seperti membentur banda keras yang kemudian terpental balik. Ada lagi yang melesat tinggi, sedangkan mahluk aneh itu sedikitpun tidak terluka badannya. Semua senjata tajam dan senjata rahasia itu telah dilancarkan oleh banyak tangan orang-orang dari dunia Kang-Ouw dengan sekuat tenaganya. Dapatlah diduga betapa hebatnya serangan-serangan tersebut. Meskipun kulit mahluk aneh itu sangat kebal, tetapi tidak urung merasa kesakitan juga. Dengan demikian, mahluk aneh itu tapaknya semakin buas. Suara menggeramnya terdengar berkali-kali. Tanpa menunggu orang banyak datang menyerang, badannya lantas sudah bergerak dan melesat tinggi. Begitu melihat bayangan orang, lantas diserangnya secara hebat, sehingga suara jeritan terdengar disana-sini dan bangkai manusia bergelimpangan ditanah.

Orang-orang yang hanya hanya ingin menonton keajaiaban alam saja, tampaknya saat itu tidak berani berkutik. Mereka takut kalau tempat mereka sembunyian mereka diketahui oleh mahluk aneh itu dan mendapat serangannya secara tiba-tiba. Setelah menumbar amarahnya dengan puas,mahluk aneh itu kembali duduk melingkar ditempatnya semula. Pada saat itu, tiba-tiba tampak melayang satu bayangan putih. Bayanan putih itu ternyata adalah bayangan Ketua Pek Leng Hwee yang dengan kedua tangan memegang sepasang pedang terbang melayang kearah mahluk aneh itu. Sepasang pedangnya yang berkilauan dengan kecepatan kilat telah menusuk kedua matanya mahluk aneh itu. Dua bayangan manusia lagi telah muncul dan meluncur kearah mahluk aneh itu juga. Mahluk aneh kembali mengeluarkan geramannya yang hebat dan lantas menerjang kearah tiga orang yang baru datang. Tetapi ketiga orang itu mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya,mereka bisa bergerak leluasa ditengah udara, gerakannya begitu gesit dan lincahnya, dan senjata mereka hanya ditujukan kearah mata si mahluk aneh. Pertempuran yang terjadi antara manusia dengan mahluk aneh tersebut, selewat beberapa jurus kedua pihak tampak ripuh. Tepat pada saat itu, dari dalam rimba melesat tinggi satu bayangan orang, yang kemudian dengan tiga kali bergerak ditengah udara, orang itu sudah berada diatas mahluk aneh itu. Terpisah kira-kira tiga tumbak diatas si mahluk aneh, dari dari dalam tangannya tiba-tiba keluar sebuah benda dan mulutnya lantas berseru: ―Lie Pangcu, Cin Hwetio, kalian lekas mundur!‖

Tiga bayangan orang yang pertama, ketika mendengar seruan itu lantas pada mundurkan diri semua. Apa yang sangat mengherankan ialah benda yang dilontarkan dari tangan orang yang baru muncul tadi ternyata bau yang harum sekali. Dengan sempokan angin malam saat itu, bau harum itu tersebar jauh sekali. Mahluk aneh Gu Liong Kao lantas membuka lebar-lebar mulutnya dan menelan benda tersebut. Orang tadi setelah melemparkan benda aneh yang berbau harum itu, badannya dengan cepat sudah lompat kembali. Belum lagi balik kembali ketempat asalnya, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang hebat, badan mahluk aneh telah hancur berkeping-keping. Orang tadi setelah mendengar suara ledakan itu, lantas melesat balik. Diantara tumbukan daging Gu Liong Kao yang sudah hancur berkeping-keping, ia coba mencari-cari mustika yang berwarna merah itu, lalu diambil dari perutnya si mahluk aneh, kemudian ia ketawa bergelak-gelak dengan sangat bangganya. Mahluk aneh itu telah binasa! Semua orang yang bersembunyi disekitar tempat itu kini berani pada unjukan diri. Orang yang berhasil mendapatkab mustika merah dari badannya mahluk aneh tadi, ternyata adalah satu laki-laki bercambang dan wajahnya yang menakutkan dengan gigi yang bercaling seperti babi hutan. Orang itu ternyata adalah satu iblis yang namanya sudah menggetarkan dunia rimba persilatan dengan julukan ‗Iblis Muka Singa‘. Orang ini bukan saja sangat buas dan kejam sifatnya, bahkan

mempunyai kebiasaan dan kegemaran makan nyali manusia. Entah berapa banyak orang-orang gagah dari golongan hitam, maupun dari golongan Putih yang sudah terbinasa dalam tangannya. Mustika merah yang ajaib dari Gu Liong Kao telah didapatkanoleh iblis yang buas dan kejam ini. Semua orang gagah yang berada disitu rata-rata pada merasa jeri, sebab dengan adanya mustika itu berarti akan menambah kekuatannya, dengan sendirinya juga kalau sudah kuat lantas kekejamannya menjadi-jadi. Karena jika iblis itu bertambah kekuatannya sedemikian tinggi, tidak seorangpun diantara orang-orang gagah dari rimba persilatan yang mampu menundukan padanya. Bukankah itu akan berarti pula bahwa ia akan dapat berbuat sesuka hatinya sehingga tentunya menjadi ancaman bencana besar bagi orang-orang dunia Kang-Ouw pada umumnya. Tepat pada saat si Iblis Muka Singa tadi mendapatkan mustika tersebut, dari antara rombongan banyak orang itu tiba-tiba muncul melesat keluar tiga bayangan orang, yang sebentar saja sudah berada didepannya si Iblis Muka Singa. Ketiga orang itu ternyata adalah orang-orang tua yang berbadan pendek katai. Si Iblis Muka Singa lantas berkata sambil memperdengarkan suara ketawanya yang aneh: ―Eeee, Tiga Cebol dari Kiong-Lay! Apakah kalian tiga bersaudara juga ingin mendapatan bagian? Kalian sesungguhnya tidak mengukur diri sendiri. Menurut pikiranku, sebaiknya kalian kembali saja ke gunung Kiong-Lay-San, agar bangkai kalian nanti tidak menggeletak ditempat yang asing bagi kalian ini?‖ Perkataan ini sesungguhnya sangat sombong, seolah-olah tidak memandang mata pada kekuatanya tiga orang pendek tadi. Satu diantara ketiga orang pendek itu lantas berkata:

―Harta benda dari langit dan pusaka dari tanah, siapa yang melihat ada mempunyai bagian.‖ Iblis Muka Singa itu dengan mata beringas lalu masukan mustika merahnya kedalam sakunya. ―Aku sudah lama tidak makan nyali manusia!‖ katanya bengis. ―Apakah kalian sengaja hendak mengantarkan? He, he……! Tidak pantas rasanya kalau tawaran ini kutolak.‖ Tiga Cebol dari Kiong-Lay itu dalam kalangan Kang-ouw namanya sudah cukup terkenal. Ketika mendengar perkataan si Iblis Muka Singa, lantas pada ketawa bergelak-gelak. Satu diantara mereka ialah yang tertua lantas berkata : ―Nyali kami bertiga saudara ada sangat keras dan pedas, barangkali kau tidak bisa makan!‖ Iblis Muka Singa itu kembali memperdengarkan suara ketawa yang aneh, belum lagi berhenti suara ketawanya, lima jari tangan kirinya sudah bergerak mencakar mukanya tiga orang pendek tadi, sedangkan tangan kanannya melakukan berbareng, begitu pula kakinya. Dengan sekaligus ia dapat melakukan berbareng, begitu pula kakinya. Tidak kecewa iblis itu mendapatkan nama besarnya beberapa puluh tahun lamanya. Tiga orang pendek dari Kiong-Lay itu ternyata juga buka orang sembarangan. Yang paling tua ketika mukanya hendak dicakar, dengan cepat miringkan sedikit tubuhnya, tangannya berbalik menyambar pergelangan tangan musuhnya. Kedua saudaranya juga lantas bergerak dengan berbareng, kemudian maju merangsak, dengan secepat kilat mereka bertiga menyambar pinggang si iblis. Dua orang pendek yang ditendang oleh kaki si iblis tadi, badanya

melesat keatas menghindarkan serangan lawannya, kemudian dari tengah udara mereka balas menyerang dengan tangan dan kakinya. Iblis Wajah Singa itu benar-benar tidak akan menduga bahwa Tiga orang pendek dari Kiong-Lay begitu lihaynya, maka ia lantas merubah cara bertempurnya, dengan caranya yang luar biasa. Kedua tangannya melancarkan serangannya yang sangat hebat. Satu digunakan untuk menyerang si pendek yang tertua, satu lagi untuk menyerang kedua saudaranya yang lebih muda. Setelah terdengar dua kali suara ‗Buk, buk!‘ yang amat nyaring, si pendek yang tertua badannya terpental mundur setumbak lebih, dua saudara lainnya tampak jungkir balik, tetapi si iblis itu sendiri badannya juga sempoyongan. Sesaat selagi badan si Iblis Wajah Singa dalam keadaan sempoyongan, kakinya yang digunakan untuk menendang tadi telah mengenai ketiak kirinya si pendek, sementara itu salah satu orang pendek sepuluh jari tangannya juga sudah berhasil menyambar pinggannya si Iblis Wajah Singa. Badan si pendek yang termuda telah terjatuh kesuatu tempat sejauh setumbak lebih, tubuhnya menyemburkan darah segar. Tetapi ikat pinggangnya si Iblis Wajah Singa juga terrputus dan mustika itu juga menggelinding jatuh ditanah. Orang-orang gagah disekitar ramai berseru kaget. Beberapa puluh bayangan orang secepat kilat sudah menyerbu kearah jatuhnya mustika merah tadi. Sementara itu, si Iblis Wajah Singa ketika pinggangnya merasa kendur, segera mengetahui gelagat tidak baik. Dengan cepat ia menyambar mustika merah yang jatuh itu dengan tangannya, tetapi sudah tidak berhasil dan mustika itu sudah menggeliding sejauh setumbak lebih.

Ia berteriak-teriak dengan sangat kalapnya, matanya Cuma dapat menyaksikan beberapa puluh bayangan yang sedang menerjang kearah benda pusaka tersebut. Dalam keadaan cemas, si iblis mengeluarkan serangannya dengan sepenuh tenaganya. Serangan itu sangat hhebat sekali, mungkin dapat menggempur batu beasr sampai pecah berkeping-keping. Setelah mengenai sasarnnya, lantas terdengar suara jeritan mengerikan. Sepuluh orang yang mengerumun tadi sebagian rubuh ditanah dan sisanya terpental mundur. Oleh karena terdampar oleh serangan yang dahsyat tadi, mustika merah tadi juga turut beterbangan ditengah udara bersama-sama batu-batu kecil dan debu. Ketika si Iblis Wajah Singa itu melayang menyambar benda pusaka tersebut, mendadak kelihatan muncul satu bayangan putih. Secepat kilat sudah pindah tangan kedalam tangan bayangan putih tadi. Semua orang-orang gagah disekitr tempat itu kembali perdengarkan suaranya yang gemuruh. Bayanga putih tadi ternyata adalah Ketua dari Pek-Leng-Hwee Cin Bie Nio. Dengan mata beringas dan rambut berdiri dengan gusarnya, si Iblis Wajah Singa itu membentak Cin Bie Nio: ―Lekas bawa kemari!‖ Cin Bie Nio dengan tingkah lakunya yang centil lantas menjawab sambil ketawa terkekeh-kekeh: ―Apa yang harus aku serahkan padamu?‖ Sepasang matanya si Iblis Wajah Singa kelihatan mendelik. ―Mengingat persehabatan dengan suamimu almarhum, mustika itu kau serahkan saja kepada secara baik-baik, tidak nanti akan menyusahkan

dirimu. Kalau tidak, heh, heh…….‖ Jilid 2 Orang tua baju ungu dan itu orang tua berpakaian seperti Wan-Gwee, kedua-duanya lantas maju berbareng, berdiri dikedua sisinya Cin Bie Nio. Selain dari pada itu, Nona Baju Merah dan beberapa pembantuanya Cin Bie Nio yang terhitung kuat-kuat juga pada maju dan berdiri dibelakangnya Cin Bie Nio. Iblis Wajah Singa itu saking gusarnya lantas tertawa sambil bergelak-gelak: ―Heh, Heh! Pangcu dari Tjie-In-Pang Lie Bun Hao dan Pangcu dari Ban-Siu-Pang Thio Phan! Kalian berdua sudah tidak ingat tali persahabatan kita pada dua puluh tahun berselang. Berani membantu wanita genit ini bermusuhan dengan Lohu? Bagus, Bagus! Lohu kepingin tahu sampai dimana kepandaiannya kedua Pangcu dan Hweetio ini!‖ Lie Bun Hao dan Thio Phan ketika mendengar si iblis menyebutkan tali persahabatan dua puluh tahun berselang, wajah lantas pada berubah seketika. Selagi hendak menjawab…….. Cin Bie Nio sudah menjawab dengan suaranya yang dingin…. ―Kau si Iblis Wajah Singa ada mempunyai apa yang berarti?‖ ―Rase genit, kamu mau kembalikan atau tidak?‖ ―Kalau tidak bagaimana?!‖ Si Iblis Wajah Singa, yang dalam Golongan Hitam terkenal sebagai orang paling kejam dan ganas, bagaimana mau mengerti diperlakukan sedemikian rupa oleh Cin Bie Nio? Maka ia lantas menggeram hebat, dengan kecepatan kilat ia sudah melancarkan serangan secara bertubi-tubi. Cin Bie Nio juga bukan sebangsa orang lemah, meski diserang secara

tiba-tiba namun masih berhasil menyingkirkan diri, tapi biar bagaimana kepandaiannya masih kalah setingkat dengan si Iblis Wajah Singa itu, maka tangannya sudah terkena serangannya si iblis, dan mustika yang tergenggam dalam tangannya lantas melesat keluar. Selagi si iblis hendak menyambar mustika itu, kedua Pangcu sudah mengeluarkan serangan dengan berbareng. Iblis Wajah Singa yang terdampar oleh anginnya serangan tersebut, lantas mundur tiga tindak. Pada saat itu, dirinya Yo Cie Cong yang menggeletak ditanah dan sudah hampir dilupakan oleh semua orang, oleh karena sudah minum obat mujarabnya Thian-San Liong-Lie, setelah mengasoh sekian lamanya, perlahan-lahan sudah siuman kembali, seolah-olah orang yang baru bangun dari tidurnya, ia coba merayap bangun dengan badan masih sempoyongan. Baru saja ia merayap bangun, sebuah benda merah sudah menyambar didepan mukanya! Dalam keadaan habis terluka parah dan seluruh kekuatan dan semangatnya masih belum pulih kembali, sudah tentu ia tidak mampu berkelit untuk menghindarkan meluncurnya benda merah itu, maka ia lantas membuka mulutnya hendak berseru…… Dan selagi ia pentang mulutnya, mustika itu dengan tepat telah masuk kedalam mulutnya dan terus masuk kedalam perutnya melalui tenggorokan. Ia lantas berdiri melongo! Suara seruan kaget terdengar riuh dari empat penjuru! Banyak orang lari menuju kearah dirinya. Yo Cie Cong merasa agak kuatir, karena saat itu keadaannya masih sangat payah, angkat kaki saja masih dirasakan sangat berat. Jika

para jago itu hendak mengambil tindakan kepada dirinya, ia cuma bisa mandah digebuk tanpa melawan. Coba saja pikir, para jago itu memerlukan datang ketempat itu, maksudnya ialah hendak merebut benda pusaka alam yang merupakan benda mujijat bagi orang-orang dari dunia persilatan dan sekarang benda itu telah masuk kedalam perutnya seorang pemuda yang bersikap dingin serta belum terkenal namanya itu, bagaimana mereka mau mengerti apa lagi ketika dalam pertempuran merebut benda pusaka dari badannya mahluk aneh Gu Liong Kao tadi, sudah banyak jiwa telah melayang. Para jago dari dunia persilatan itu, lantas mengurung rapat dirinya Yo Cie Cong. Hampir setiap orang memperlihatkan wajahnya yang gusar, ada juga yang merasa mengiri terhadap anak muda yang tidak dikenal itu. Tapi semua rupanya sudah menjadi takdir tuhan, Yo Cie Cong yang datang hanya tertarik oleh perasaan kepingin tahu, sedikitpun tidak bermaksud untuk turut ambil bagian dalam perebutan benda pusaka itu, namun benda pusaka dari alam itu sudah ditakdirkan siapa yang harus memiliki, maka dengan tanpa diminta, benda itu telah meluncur sendiri kedalam mulutnya.

Bagian Lima Dengan sikapnya yang kaku dingin, Yo Cie Cong mengawasi orang-orang itu dengan perasaan kaget dan terheran-heran. Kalau kedua Pangcu dan Ketua dari Pek-Leng-Hwee tadi tangan terhadap dirinya, itu karena disebabkan soal mengenai asal-usul dirinya. Tapi kelakuan orang-orang yang terdiri dari jago-jago dari rimba persilatan, sesungguhnya sangat mengherankan mereka yang menyaksikan.

Ternyata Yo Cie Cong masih belum tahu bahwa mustika yang masuk kedalam mulutnya tadi adalah benda pusaka alam yang dibuat perebutan oleh orang-orang gagah itu dengan pertaruhkan jiwanya. Tadi jiwanya hampir saja melayang, karena dirinya dicurigai sebagai muridnya Yo Tjie Hoan, Pangcu dari Kam-Lo-Pang yang terkenal pada dua puluh tahun berselang, untung perbuatannya ketiga orang jahat tadi keburu dicegah oleh Thian-San Liong-Lie, sehingga dirinya terhindar dari kematian. Tetapi sekarang, benda pusaka yang dibuat rebutan itu telah masuk kedalam perutnya, ini sangat runyam jadinya. Kalau benar seperti apa yang diduga oleh Cin Bie Nio dan kedua Pangcu itu, bahwa anak muda ini ada hubungannya dengan Golok Maut, jika dibiarkan dirinya mendapat kekuatan tenaga demikian hebatnya, akibatnya tentu ada bencana bagi dunia rimba persilatan. Maka pada saat itu, diantara orang-orang yang mengurung dirinya Yo Cie Cong, adalah Lie Bun Hao Pangcu Tjie-In-Pang, Thio Phan Pangcu dari Ban-Siu-Pang dan Cin Bie Nio Ketua dari Pek-Leng-Hwee, yang nampak paling gelisah. Pada saat itu seorang tua berewokan dengan gigi bercaling telah menerobos keluar dari antara orang-orang banyak, mulutnya memperdengarkan suara ketawanya yang mirip dengan suara iblis. Orang tua itu telah mengawasi orang banyak itu sejenak, lalu berkata : ―Bocah ini akan kubawa. Siapa yang mengenal gelagat, lekas minggir!‖ Semua orang terkejut mendengar perkataan itu, ternyata orang yang mengeluarkan perkataan tersebut adalah si Iblis Wajah Singa yang sangat buas itu. Mustika dari Gu Liong Kao sudah masuk kedalam perutnya si pemuda

yang bersikap dingin itu. Entah apa maksudnya orang tua itu hendak membawa anak muda tersebut. Sementara Yo Cie Cong yang mendengar perkataan si iblis, kedua matanya lantas merah beringas, ia berkta sambil kertak gigi : ―Dengan hak apa kau hendak membawa aku pergi?‖ ―Bocah, aku si orang tua telah menaksir kau ada mempunyai bakat yang luar biasa untuk menjadi seorang gagah yang terkuat didalam rimba persilatan, maka aku mempunyai maksud hendak menjadikan kau muridku. Ini sebetulnya ada keberuntunganmu. Apakah kau tidak suka?‖ kata si Iblis Wajah Singa sambil perdengarkan suara ketawanya yang aneh. ―Maksud baikmu aku ucapkan terima kasih, sayang aku tidak mempunyai peruntungan untuk menjadi muridmu,‖ demikian Yo Cie Cong menjawa sambil ketawa dingin. Orang-orang yang ada disitu, mendengar tanya jawab kedua orang itu, ramai kasak-kusuk. Pada umumnya mereka berpendapat bahwa iblis tua itu karena sudah tidak mempunyai harapan mendapatkan mustika dari Gu Liong Kao, maka latas timbul pikirannya hendak mengambil pemuda itu sebagai muridnya. ―Bocah, kau boleh pikir biar mateng dulu. Aku si orang tua sebenarnya belum pernah menerima murid, tetapi hari ini buat kau aku kecualikan. Maka ini adalah peruntunganmu yang bagus!‖ ―Tadi sudah kukatakan, bahwa maksud baikmu itu hanya aku bisa mengucapkan terima kasih, maka kecuali itu sebetulnya tidak perlu lagi.‖ ―Bocah, perkataanku ada merupakan hukum. Kau tidak suka juga harus suka.‖ ―Memaksa orang jadi murid, sesungguhnya merupakan suatu hal yang

langka dalam rimba persilatan.‖ ―Bocah, kau berani menentang maksudku? Sesungguhnya kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, he, he!‖ ―Habis kau mau apa?‖ tanya Yo Cie Cong jengkel, ia merasa tidak puas dengan caranya si Iblis Wajah Singa memaksa orang menjadi muridnya. ―Setan cilik, kau mau atau tidak?‖ ―Tidak!!!!‖ Iblis itu lantas perdengarkan suaranya yang menyeramkan. ―Setan cilik! Kalau kau tidak mau ikut aku, sekalipun kau mempunyai jiwa yang hidup seratus kali, juga akan binasa ditepi danau ini. Tahukah kau, sudah berapa banyak orang yang menginginkan dirimu?‖ Yo Cie Cong terkejut, lalu berpaling dan dengan mata gemas ia mengawasi si Wanita Baju Putih dan dua orang tua yang tadi telah turun tangan keji terhadap dirinya. Ketika matanya berbentrokan dengan matanya si Gadis Baju Merah yang berdirinya disampingnya Cin Bie Nio, hatinya merasa berdebar, tetapi dengan cepat ia lantas mengalihkan pandangannya kearah si iblis kemudian berkata padanya : ―Hidup atau mati adalah urusanku sendiri, tidak perlu kau turut capaikan hati.‖ ―Setan cilik, tetapi sekarang kau tidak dapat berbuat menurut kehendakmu sendiri.‖ Saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin. Si Iblis Wajah Singa itu lalu berpaling dan mencari orangnya yang ketawa tadi, orang itu ternyata adalah Cin Bie Nio, Ketua dari Pek-Leng-Hwee. Si iblis lantas menegur dengan suara bengis: ―Cin Bie Nio, kau jangan berbuat dengan tidak melihat gelagat.‖

Wanita centil itu tertawa terkekeh-kekeh dan kemudian maju tiga tindak kearah si Iblis Wajah Singa, matanya yang genit mengerling dan mulutnya masih memperdengarkan ketawanya yang dingin. ―Yo, apa artinya tidak kenal gelagat?‖ jawabnya. ―Aku juga ada mempunyai maksud hendak membawa bocah ini ke perkumpulanku. Kau pikir bagaimana?‖ sehabis berkata kembali ia memperdengarkan ketawanya yang nyaring. ―Rase genit, setan cilik ini sikapnya dingin. Hatinyapun dingin. Dia merupakan barang yang enak dilihat, tetapi tidak enak dimakan.‖ Perkataan si Iblis Wajah Singa sesungguhnya ada sangat tajam dan mengandung ejekan terhadap dirinya wanita centil itu. Tetapi Cin Bie Nio tidak menunjukan perubahan sikap apa-apa, malah ia menyahut dengan suaranya yang merdu. ―Hal ini tidak perlu kau turut campur. Kami sebagai Ketua dari suatu perkumpulan, juga harus melaksanakan setiap perkataan yang keluar dari mulut kami. Hari ini, biar bagaima bocah ini pasti akan kami bawa. Siapa yang mau coba-coba merintangi kami ingin melihat sampai dimana tingginya kepandaian orang itu!‖ ―Hmmm, aku si orang tua terhadap kesukaan dalam hal makan nyali manusia, tidak perduli nyalinya laki-laki atau wanita, aku anggap serupa saja.‖ Wajah Cin Bie Nio lantas berubah. Ia lantas berkata : ―Dengan memandang persahabatan dengan suamiku almarhum, aku sebetulnya masih hendak mengindahkan dirimu. Tetapi nyatanya kau adalah seorang yang tidak kenal budi. AKU Cin Bie Nio nyalinya ada panas laksana bara. Tetapi kerasnya seperti baja. Barangkali tidak biasa masuk kerongkonganmu.‖ Yo Cie Cong yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua telah

memperebutkan dirinya, dalam hati merasa sangat gemas tetapi apa daya? Karena badannya yang bekas terluka parah, sedikitpun ia tidak mempunyai kemampuan. Terutama terhadap wanita yang centil genit itu, bencinya semakin menjadi-jadi. Ia juga mengetahui bahwa keadaan dirinya sendiri saat itu sebetulnya sungguh berbahaya, maka ia tidak dapat memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi hatinya yang keras seperti baja dan sifatnya yang tinggi hati telah membuat ia dapat menghadapi segala kejadian dengan ketabahan, sedikitpun tidak mempunyai rasa takut. Si Iblis Wajah Singa itu yang biasanya memang bersifat buas bagaimana dapat membikin sudah saja tantangan Cin Bie Nio? Maka saat itu juga ia lantas menggeram serta maju dua langkah, dengan matanya yang buas ia membentak : ―Rase genit! Apa benar-benar kau hendak mencari kematian?‖ Ucapan si Iblis Wajah Singa itu yang selalu mengatakan Cin Bie Nio sebagai ‗Rase genit‘, apalagi hadapannya begitu banyak orang, betapapun tebalnya muka Cin Bie Nio, juga tidak biasa tinggal diam begitu saja, maka sikapnya lantas berubah, dengan suara ketus ia menjawab: ―‖Iblis tua, kau jangan sombong, bole coba-coba saja!‖ Suasana ditepi danau itu kembali menegang. Si Iblis Wajah Singa kelihatan berjingkrat-jingkrat bahna gusarnya, tetapi selagi hendak bergerak, tujuh orang tua dan tiga laki-laki kuat serta dua orang muda dengan satu Gadis Baju Merah dengan cepat sudah bergerak maju berada disampingnya Cin Bie Nio. Dua diantara ketujuh orang tua itu adalah Pangcu dari Tjie-In-Pang

dan Ban-Siu-Pang. Barisan yang demikian kuatnya itu mau tidak mau membuatBagian Ke Lima Juga oleh karena pernyataan Tjien Bie Nio itu, telah membuat beberapa kawanan iblis yang ada didalam rombongan orang banyak itu, masih mengandung harapan terhadap mustika ―Gu liong kao‖ yang sangat mujijat itu. Beberapa pasang mata yang kejam, kini mulai ditujukan kepada dirinya Yo Cie Cong. Maksud biadab dan nafsu serakah yang melebihi binatang buas itu, sesungguhnya sangat menakutkan. Cin Bie Nio dan kedua pangcu yang semula bermaksud hendak membinasakan dirinya Yo Cie Cong, karena mencurigai anak muda itu sebagai keturunannya Yo Cin Hoan, mengapa sekarang tidak membiarkan si iblis berwajah singa turun tangan terhadap anak muda itu ? Ini bukannya merupakan suatu teka – teki. Keserakahan hati manusia memang tidak ada batasnya. Disuatu fihak hendak membinasakan jiwanya, tadi dilain fihak menginginkan mustika diperutnya. Tjien Bie Nio dapat menebak maksudnya yang keji dari si iblis tua wajah singa, ada suatu bukti, ia sendiri juga memang mempunyai maksud yang serupa. Yo Cie Cong kini telah dijadikan sasaran. Suatu usaha pembunuhan yang keji dan menakutkan akan terulang lagi. Kawanan manusia yang berhati iblis itu akan memperlakukan Yo Cie Cong seperti halnya mereka memperlakukan mahluk ajaib Gu – Liong – kao tadi. Mereka akan berusaha dengan segala daya upayanya untuk

mencapai maksuknya mendapatkan barang ajaib itu. Diantara orang banyak itu ada juga yang masih mempunyai prikemanusiaan, orang – orang itu kini perlahan lahan bubarab meninggalkan tempat yang seperti neraka itu, meskipun diantara mereka ada juga yang mengandung maksud hendak mendapatkan benda mujijat itu, tapi masih merasa segan untuk membelek perut manusia hanya sekedar untuk memenuhi keserakahannya hati sendiri. Orang – orang yang saat itu masih berada ditempat tersebut, sudah tentu ada serombongan kawanan iblis yang masih menginginkan benda tersebut. Satu kecualian hanya terhadap dirinya Thian-San liong-lie.saat itu ia masih nampak bingung, ia tidak mau meninggalkan tempat tersebut, entah kekuatan apa yang membuat ia tidak tega meninggalkan dirinya si pemuda bersikap dingin yang keadaannya sudah sangat payah itu. Cin Bie Nio dan dua pangcu serta para pembantunya, yang sudah sekian lama berhadapan dengan si iblis berwajah singa, akhirnya Cin Bie Nio-lah yang membuka kesunyian dari suasana tegang itu. Setelah perdengarkan suara ketawanya yang genit, matanya memandang kedua pangcu yang berdiri dikedua sisinya sejenak,kemudian perintahkan kepada para pembantunya : ,,kalian boleh mundur dulu !‘‘ Gadis baju merah yang dipanggil kiauw-djie itu menggerendeng sendirian, nampaknya merasa kurang senang, dengan sikapnya ogah – ogahan ia terpaksa undurkan diri, yang lantas di ikuti oleh kedua pemuda baju ungu. Saat itu Yo Cie Cong masih rebah menggeletak ditanah, darah yang mengalir dari mulut dan hidungnya sudah membeku. Entah masih hidup atau sudah binasa, tapi yang terang ialah sedikitpun tidak

kelihatan ia bergerak. Setelah mengundurkan orang – orang, Cin Bie Nio lalu berkata pula kepada si iblis berwajah singa : ,,apakah kau bersedia menerima suatu usulku ?‘‘ Iblis berwajah singa itu tahu bahwa diantara orang banyak yang kini berada ditempat itu, hanya wanita ini yang paling sulit dilayani. Selain centil genit dan kejam buas, ia juga mempunyai banyak akal. Dan sekarang entah akal muslihat apalagi yang hendak diajukan. Maka seketika itu ia lantas menjawab dengan suara dingin : ,, Usul apa ? coba sebutkan !‘‘ ,, Kau kau sudah bertekad bulat hendak mendapatkan benda mujijat ?‘‘ ,, Benar !‘‘ ,, Apa kau sudah berkeputusan dan tetap hendak membelek perutnya setan cilik ini, untuk mengambil mustikanya ?‘‘ ,, Ng !‘‘ ,, Jikalau kami tidak turut campur tangan……..?‘‘ ,, Itu ada kecerdikan kalian !‘‘ si iblis memotong. Cin Bie Nio bersenyum simpul, ia berkata pula sambil menunjuk orang – orang sekitarnya : ,, Sudahlah kau memikirkan, bahwa kecuali aku dan kedua pangcu, masih ada banyak sahabat dari dunia Kang – ouw yang datang untuk turut merebut benda gaib itu ? Dan apakah mereka membiarkan anak muda itu begitu saja ?‘‘ Ucapan ini benar – benar sangat lihai ! sampai si iblis yang ditanya demikian lantas melongo seketika lamanya tidak mampu menjawab. Andai kata bertempur satu – persatu, kawanan iblis yang berada disitu, mungkin semua bukan tandingan si iblis berwajah singa, tapi jika main keroyok, ini lain soalnya.

Pada saat itu, matanya semua kawanan iblis yang ada disitu dari dirinya Yo Cie Cong telah dialihkan kearah si iblis berwajah singa dan Tjie Bie Nio. Cuma dua orang yang sikapnya terhadap To Tjie Tjong harus dikecualikan. Satu adalah sigadis baju merah, sikapnya nampak sangat gelisah. Barangkali, pemuda dengan wajah dingin kecut itu, sudah mendobrak pintu hatinya. Yang lain adalah Thian – san Liong – lie, ia sangat bingung. Seolah-olah ada pengaruh gaib yang mendorong padanya : kau harus menolong anak itu, kau tidak boleh membiarkan dia dibelek perutnya oleh kawanan iblis ! Tapi saat itu kawanan iblis sudah pada bersiap untuk turun tangan, disamping itu masih ada lagi Cin Bie Nio dan kedua pangcu, yang juga ada mengandung maksud hendak membinasakan dirinya pemuda itu, taruh kata kepandaiannya Thian – san Liong – lie sangat luar biasa, tapi kalau mau merebut jiwanya pemuda dibawah ancamannya begitu banyak musuh, sesungguhnya bukan soal mudah. Si iblis berwajah singa sesungguhnya ada manusia yang sangat kejam ganas dan buas, setelah mendengar keterangan Cin Bie Nio, hanya nampak terkejut sebentar, kemudian matanya menyapu para kawanan iblis lainnya, lantas pendengarkan suara ketawanya yang menyeramkan. ,, Tadi kata tidak akan campur tangan ?‘‘ demikian tanyanya kepada Cin Bir Nio. ,, Jah !‘‘ jawabnya Cin Bir Nio singkat. ,, Apa kau dapat menguasai kedua pangcu ?‘‘ ,, Kau rupanya terlalu memandang rendah kepada Cin Bie Nio !‘‘ ,, Ng ! kau dan kedua pangcu tanpa sebab akan melepaskan kesempatan yang sukar diketemukan ini ?‘‘

,, Tidak kecewa kau menjadi jago untuk satu masa, dugaanmu sedikitpun tidak keliru !‘‘ ,, Apa syaratnya ?‘‘ ,, Kau harus melakukan pembedahan anak itu dan mengambil mustikanya dihadapan aku dan kesua pangcu !‘‘ Si iblis itu setelah berpikir sejenak, lalu menjawab sambil ketawa : ,, Kau anggap aku situa bangka sebagai anak-anak umur 3 tahun saja !‘‘ ,, Apa artinya ?‘‘ ,, Kau hendak menggunakan tenagaku, mengundurkan semua orang kuat yang berada disini, kemudian kau akan menggunakan ketika selagi aku kehabisan tenaga, lantas turun tangan bersama kedua pangcu itu, betul tidak ?‘‘ ,, Kau telah mengukur jiwa orang dengan jiwanya orang rendah. Kita sebagai ketua dan pangcu dari perkumpulan besar, didalam kalangan Kang – ouw bukan orang – orang yang tidak ada nama. Rasanya belum sampai berbuat begitu rendah seperti apa yang kau ucapkan !‘‘ ,, Kalau begitu mengapa kau suruh aku melakukan perbuatan itu didepan kalian ?‘‘ ,, Setan cilik itu dengan aku kadua pangcu seolah- olah air dengan api. Maksudnya supaya kau melakukan pembedahan perutnya anak itu dihadapan kita, hanya mengharap bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematiannya setan cilik itu !‘‘ ,, Benar ?‘‘ ,, Hm ! apa…‘‘ Para kawanan iblis yang lainnya saat itu agaknya sudah tidak sabar lagi. Pertama- tama adalah si 3 cebol dari Kiong – lay yang bertindak lebih

dulu, dengan kecepatan bagai kilat ia menyerbu dirinya Yo Cie Cong. Selanjutnya sepasang penjahat dari Lam-bong, 4 setan dari Pak-bin, si garuda kepala botak dari bukit Kow-nia bertuju juga pada bergerak mengikuti jejak si 3 cebol. Pertempuran sengit lantas dimulai. 3 cebol dari Kiong-lay itu belum sampai kakinya menginjak tanah, sudah disambut oleh Thian-san Liong-lie dengan serangannya yang amat dasyat ! 3 cebol itu tidak menduga kalau Thian-san Liong-lie bisa turun tangan secara demikian mendadak, selagi badan mereka masih berada ditengah udara, angina kuat sudah kuat menyambar dirinya, maka lantas buru-buru jumpalitan ditengah udara dan melayang turun setombak lebih jauhnya. Si iblis berwajah singa mengeluarkan geramnya yang sangat hebat, ia maju beberapa langkah, kemudian melancarkan serangannya tangan yang tepat menghalangi majunya 7 iblis dibelakangnya 3 cebol. 7 iblis itu terpaksa harus menarik diri masing-masing secara mendadak. Kesua fihak sekarang saling berhadapan. Hanya Cin Bie Nio dan kedua pangcu itu yang berdiri sebagai penonton sambil bersenyum puas. PANGCU dari Tjie-in-pang Lie bun hao, pancu dari Ban-siu-pang Thio Phan dan ketua Pek-leng-hwee Cin Bie Nio bertiga selain berdiri sebagai penonoton, bahkan kadang-kadang memberi anjuran kepada kedua fihak yang bertempur. Akal muslihatnya Cin Bie Nio ini sesungguhnya sangat jahat. Ia menganjurkan si iblis berwajah singa supaya bertempur mati-matian dengan para iblis lainnya, tidak peduli fihak mana saja yang menang, ia

bersama kedua pangcu yang akan memungut hasilnya. Thian-san Liong-lie namanya sangat terkenal didunia Kang-ouw sebagai satu pendekar wanita yang tinggi sekali kepandaiannya ilmu silatnya, terutama ilmu pedangnya. Dan ia sekarang telah turun tangan membela Yo Cie Cong, Cin Bie Nio dan kedua pangcu tidak usah berhadapan sebagai musuh dengan pendekar wanita itu. Cin Bie Nio sudah berhasil dalam usahanya hendak menyingkirkan dirinya bocah yang dicurigai itu dengan menggunakan tenaganya para iblis itu. Karena golok maut sudah muncul didekat situ, yang mengambil jiwanya si buli-buli arak berwajah burung, siapa berani pastikan kalau pemilik golok maut itu tidak berada dibukit Keng-san ini maka Pek-leng-hwee, Tjie-in-pang dan Ban-siu-pang harus menyimpan tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Dengan berdasarkan perhitungan kepentingan sendiri, maka tercapailah suatu perjanjian antara fihak Cin Bie Nio dan kawannya dengan fihak si iblis berwajah singa,. Sementara itu, apakah perjanjian itu dapat dipertahankan terus atau tidak ? itu ada lain soal. Mari sekarang kita balik lagi kepada 3 si cebol dari Kiong-lay yang ditahan serangannya, oleh Thian-san Liong-lie. Yang tertua dari 3 cebol itu ialah Wie Bu Liang, saat itu matanya yang sipit lantas didelikan, dengan suaranya yang keras is berkata : ,, Thian-san Liong-lie yang menganggap dirinya sebagai pendekar budiman, apakah juga kepingin mendapat bagian ?‘‘ ,, Aku Tho Hui Hong Cuma tahu berbuat apa yang aku harus buat. Aku minta supaya kalian bertiga suka kembali kepada kebenaran, perbuatan yang melanggar prikemanusiaan ini, tidak dapat diizinkan oleh tuhan dan manusia !‘‘ jawab Thian-san Liong-lie.

Si cebol kedua Tjong liat lantas menyahut sambil ketawa dingin : ,, Kita bertiga Cuma tahu ambil apa yang harus kita ambil tidak mengerti peraturan kebuddahan. Kau Thian-san Liong-lie jauh-jauh datang kemari, apa perlunya masih berpura-pura berlaku sebagai orang budiman ?‘‘ ,, Dibawah sepasang mataku seorang she tho, tidak mengizinkan manusia kawanan buas melakukan perbuatan buas !‘‘ ,, Kau thian-san Liong-lie sesungguhnya terlalu tidak memandang mata kepada lain orang. Kita bertiga sodara bukannya orang yang mudah diperhina, kalau kau tahu diri, lekas kau mundur untuk menjaga nama baik dan mukamu dikemudian hari !‘‘ kata Wie Bu Liang sambil kedip-kedipkan matanya yang sipit. ,, Benda ajaib yang muncul dari bumi atau langit, sudah tahu sendiri siapa yang berhak memilikinya, hanya orang yang berjodo yang bisa memiliki benda tersebut. Merebut dengan akal atau atau dengan kekerasan, akan merupakan bencana sebaliknya membawa bahagia. Apalagi membedah perut orang itu ada perbuatan yang melanggar undang-undang ketuhanan !‘‘ Si cebol yang ketiga Wan Hong Hong lantas menyahut sambil ketwa aneh : ,, Thian-san Liong-lie memang baik hati, Cuma sayang kau sudah salah liat orang !‘‘ ,, Apa kalian bertiga pasti hendak turun tangan terhadap pemuda itu ?‘‘ ,, Memang begitu !‘‘ ,, Boleh coba !‘‘ ,, Baik !‘‘ sahutnya berbareng. Tiga orang cebol itu lantas turun tangan berbareng menyerang Thian-

san Liong-lie Kekuatan dari tiga orang cebol itu sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan, serangannya seolah-olah gelombang laut yang datang menggulung. Tapi Thian-san Liong-lie Cuma ganda ketawa, lalu ulur tangannya satu tenaga lunak meluncur keluar, hingga kekuatan tenaga keras yang dilontarkan oleh ketiga orang cebol itu lantas lenyap tanpa bekas. Tiga manusia cebol itu berubah wajahnya semua. Setelah saling memandang sejenak, Wie Bu Liang mundur setindak, lalu melancarkan serangan dengan kedua tangan, angin kuat telah menyambar kearah Thian-san Liong-lie. Berbareng pada saat itu, si lodjie atau si cebol kedua Tjiong Liat mendadak merabu dari bawah ia mengunakan kaki dan tangannya, menyerang kaki bagian Thian-san Liong-lie. Serangannya itu dilakukan secara ganas sekali. Losam atau cebol yang ketiga Wan Hong Hong badannya melesat tinggi, kemudian dengan menggunakan kedua tangannya menyambar muka lawannya. Thian-san Liong-lie badannya melesat miring untuk mentingkirkan serangan Tjiong Liat Jang ditujukan kepada kakinya tangan kirinya melanjutkan satu serangan untuk menyambuti serangannya Wie Bu Liang, sedang tangan tangannya balik menyambar tangannya Wan Hong Hong. Setelah mendengar suara ‗bruk !‗, Wie Bu Liang terpental tubuhnya, dan Wan Hong Hong yang menampak tangannya hendak disambar, lantas buru-buru narik kembali tangannya, sedang Tjiong Liat Jang serangannya mengenakan tempat kosong juga lantas melayang turun ketanah.

Sitiga cebol itu dengan kekuatannya tiga orang masih tidak berdaya menghadapi Thian-san Liong-lie, dalam gusarnya lantas menyerbu berbareng. Dilain fihak si iblis berwajah singa sudah mulai menggebrak dengan Empat Setan dari pak-bin ( Pak-bin Si-kui ). Empat orang yang mendapat julukan 4 setan itu dengan gerak ilmunya seperti setan gesit dan lincahnya, ternyata bisa bekerja sama dengan rapat dan baik sekali, hingga si iblis wajah singa hampir tidak berdaya sama sekali. Masih ada 10 orang-orang kuat dari golongan hitam yang berdiri sebagai penonton, ketika menampak dalam medan pertempuran itu telah berlangsung pertempuran dasyat dari dua rombongan, telah menganggap kedua itu ada kesempatan yang paling baik bagi mereka, maka dengan berbareng lkantas menyerbu Yo Tjie Tjiong. Tapi dua penjahat dari Lam-bong dan si Garuda kepala botak yang berdiri menonton si iblis wajah singa bertarung, ketika menampak perbuatan pengecut itu lantas melesat berbareng, untuk merintangi majunya orang-orang tersebut. Suara jeritan ngeri lantas terdengar dari sana-sini, ditanah lalu terkapar bangkainya 6 orang yang menjadi korban serangan lawannya. Sisanya buru-buru mundur secara teratur. Kedua penjahat dari Lam-bong dan garuda kepala botak yang begitu turun tangan lantas minta korban 6 jiwa dan mengusir mundur sisa yang lainnya, dengan berbareng telah melayang turun tidak jauh dari Yo Cie Cong menggeletak. Pada saat itu, apabila kedua penjahat dari Lam-bong itu turun tangan, sudah tentu akan dihalangi oleh garuda kepala botak dari bukit Kow-nia. Sebaliknya apabila si garuda kepala botak turun tangan

, juga akan dirintangi oleh dua penjahat dari Lam-bong. Dalam keadaan demikian, tiga iblis itu jadi berdiri saling memandang dan memikirkan cara bagaiman turn tangan. Thian-san Liong-lie yang menyaksikan keadaan demikian, diam-diam merasa gelisah, dengan cepat ia lantas menghunus pandangnya, dengan sgerakan yang sangat hebat ia berhasil mendesak mundur 3 orang cebol yang melakukan serangan secara kalap. Kemudian jago betina dari Thian-san itu melesat kesampingnya Yo Cie Cong. Dua penjahat dari Lam-bong dan si garuda kepala botak bertiga menjadi terjengang. Iblis wajah singa yang mengawatirkan mangsanya didahului oleh orang lain,lantas timbul pikiran buasnya. Dengan kekuatan tenaga penuh yang demikiannya ,ia lantas mengirim serangannya yang paling ganas kepada lawannya. Salah satu dari ‗Empat Setan‘ yaitu yang paling tua adalah orang yang pertama-tama menjadi korbannya. Setan sial itu setelah keluarkan jeritan ngeri,badanya terpertal sejauh tiga tumbak lebih dan tidak bisa bangun lagi. Tiga orang kawannya yang menyaksikan keadaan demikian lantas pada berdiri terpaku dengan kertak gigi, Iblis wajah singa masih belum merasa puas hatinya, dengan kecepatan bagaikan kilat kembali ia menyerang setan ketiga yang berdiri diujung kanan. Setan itu sudah kena tersambar badannya, kedua setan yang lainnya dengan mata beringas menterang berbareng dari kanan dan kiri. Iblis wajah singa sambil menggeram hebat dengan menggunakan tubuhnya setan ketiga yang sudah berhasil ditangkap olehnya untuk

memapaki serangan setan kedua dan kemudian memutar balik tubuhnya menyambuti serangan setan keempat. Sebentar lalu terdengar suara jeritan ngeri, kepalanya setan ketiga telah hancur remuk karena digunakan untuk memakai serangan kawannya sendiri. Berbareng pada saat itu, serangan setan keempat telah beradu dengan kekuatan dari si iblis wajah singa yang dipakai untuk menjabuti serangan tersebut. Kesudahnya, setan keempat itu rubuh terduduk ditanah, sedangkan si ivlis berwajah singa juga terpental mundur lima tumbak. Setan kedua yang tidak menduga-duga bahwa lawannya ini akan menggunakan tubuhnya setan ketiga menjabuti serangannya tadi, maka ia sudah tidak sempat menarik serangannya kembali, sehingga sang kawan itu harus menjadi korban dari tangannya sendiri. Dalam gusar dan sakit hatinya, ia lantas maju menyerang lagi secara nekad…….. Maka ketika si iblis wajah singa baru saja bisa tancap kaki, serangan setan kedua sudah sampai. Iblis wajah singa itu pendengarkan suara ketawanya yang aneh tangan kanannya melancarkan satu serangan yang hebat sambil menggeser maju badannya. Sementara itu, lima jari tangan kirinya yang runcing tajam menghantam badannya setan kedua. Setan kedua itu badannya telah terpental mundur beberapa tindak karena serangannya si iblis wajah singa tadi, siapa punya jari tangan terus membayangi menghantam serangan total, serangan luar biasa dasyat. Si iblis wajah singa tidak keburu mengegos maka setelah keluarkan seruan tertahan, mulutnya lantas menyemburkan darah, tubuhnya

mundur terhujung-hujung. Tetapi berbareng tubuhnya si setan kedua dan ditarik sehingga badannya terbelah menjadi dua bagian dan isiu perutnya berhamburan ditanah. Semua orang pada bergidik menyaksikan perbuatan si iblis wajah singa itu. Sehabis membereskan setan kedua, iblis itu menghampiri si setan keempat yang masih duduk ditanah. Si setan keempat mendadak lompat bangun, setelah mengawasi mayat ketiga saudaranya, lantas berseru dengan suara memilukan hati : ,, Iblis tua, kembalikan ketiga nyawa saudaraku !‘‘ Kegusarannya meluap dari takeran, mukanya berubah buas.‘ Ia lalu mengerahkan ilmu simpanannya yang paling ampuh untuk menyerang musuh. Tangan kanannya mendadak melebar menjadi besar, kemudian berubah menjadi hitam. Ditengah-tengah telapakan tangannya itu ada timbul satu bundaran seperti bola sebesar mangkok. Si iblis wajah singa adalah seorang yang sudah mempunyai banyak pengalaman. Begitu melihat, segera juga ia mengerti bahwa setan keempat ini bermaksud hendak mengadu jiwa dengannya dan telah mengerahkan serangan simpanannya yang dinamakan Tok tijang Kui-tjian‘. Tipu ‗Tok-tjiang Kui-tjian‘iniadalah tipu yang menggunakan seluruh kekuatan dan darah yang dipusatkan ketelapak tangan, kemudian membikin pecah kulitnya sendiri, sehingga dari kulitnya itu menyemburkan darah laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Semburan itu dapat mencapai jarak satu tumbak lebih sekalipun badannya berbadan seperti besi juga jika terkena serangan darah itu

bisa tembus. Tetapi bagi sipenyerang sendiri, juga akan binasa karena kehabisan tenaga dan darahnya, maka ilmu ini merupakan ilmu serangan yang paling kejam. Setan keempat itu karena melihat ketiga orang saudaranya sudah binasa semua ditangannya si iblis wajah singa dan hanya ketinggalan dia seorang diri yang masih hidup, maka ia telah memilih jalan yang terhir ini. Si iblid wajah singa yang mengetahui maksud lawannya itu hatinya diam-diam juga terkejut, maka telah urungkan gerakannya menyerbu lagi. Telapakan tangan si setan keempat yang melambung seperti bola tadi, tiba-tiba telah pecah dan menyemburkan darah menyerang kearah si iblis wajah singa. Betapapun ganas dan buasnya si iblis wajah singa, juga tidak akan berani pertaruhkan jiwanya sendiri untuk menjabuti serangan yang nekad itu. Dalam kagetnya ia lantas melompat nyamping kekanan apa mau sekalipun ia sudah bergerak sangat gesit, sehingga bagian anggota badan terpenting dapat dihindarkan dari serangan tersebut, tetapi tidak urung daun telinga kirinya sudah terkena semburan darah itu dapat copot jatuh, sedangkan pundak kirinya juga berlubang mengeluarkan darah segar. Berbareng dengan itu tubuhnya si setan keempat juga lantas rubuh untuk tidak bangun kembali. Iblis wajah singa itu lolos dari bahaya matanya kelihatan lebih buas ia lalu menghampiri mayat setan ke empat, dengan tangan kirinya ia merobek baju setan ke empat tangan tangannya lalu di tancapkan kedadanya sebentar kemudian nyalinya si setan ke empat sudah berada

di tangannya.Nyali yang masih bertetesan darah itu lantas di masukan kemulutnya. Perbuatan iblis wajah singa talah mengejutkan semua orang yang memyaksikan dan berdiri bulu roma. Si iblis wajah singa telah menghilangkan nyali setan ke empat lantas melompat kearah Tian-san Liong-lie. Hampir bersamaan pada saat itu tiga orang pendekar dari Kiong-lay juga menyusul. Pada saat itu keadaan kembali meneggang. Tian-san Liong-lie tampaknya sedang berpikir keras.Karna pada saat itu Yo Cie Cong masih dalam keadaan pingsan,jika ia tidak berhasil melindungi tentu saja sangat berbahaya. Dengan kekuatanya sendiri untuk menghadapi kawanan iblis mungkin tidak menjadi soal tetapi hendak menolong dirinya Yo Cie Cong yang sudah hampir mati itu keluar dari tempat yang berbahaya itu benar-banar merupakan satu persoalan yang sangat sulit Si iblis wajah singa yang saat itu mulut dan badannya penuh dengan darah manusia dengan suara bengis lantas membentak : ,,siapa yang tahu gelagat,lekas mundur !‖ Dua penjahat dari Lam-bong,tiga pendekar dari Kiong-lay dan si garuda keapala botak dari bukit Kow-nia,meskipun mreka merasa jeri terhasap keganasan iblis tua itu,tetapi tidak ada seorangpun yang mau mundur. Sedangkan Thian-san Liong-lie sambil memegang erat-erat pedang.Mengawasi kawanan iblis itu tanpa berkedip. Disamping itu di luar sejarak kira-kira lima tombak jauhnya orang-orang dari pek-leng,Tjie-in-pang dan Ban-siu-pang dengan sikap yang tenang menyaksikan semua kejadian yang terjadi di tempat itu seolah-

olah kejadian itu tidak ada hubungannya dengan mereka sendiri. Selain daripada itu, ditempat sejauh kira-kira sepuluh tumbak masih ada banyak orang-orang kuat dari golongan hitam dan putih yang hendak menghentikan berahirnya peristiwa yang mengenaskan demikian. Diantaraanya, adajuga yang bermaksud hendak mencari untung dalam kekeruhan itu. Yo Cie Cong yang lama pingsan perlahan-lahan telah terlihat membuka matanya, ketika kedua matanya berbentrokan dengan berapa pasang mata kawanan iblis yang buas-buas itu, diam-diam merasa bergidik sendirinya, ia insyaf dirinya ada dalam bahaya. Ketika melihat Thian-san Liong-lie ada disitu, siapa pernah memberikan obat padanya waktu ia terkena serangan orang-orang ganas, sedang berdiri disampingnya dengan pedang terhunus, dalam hatinya diam-diam merasa bersyukur. Ia berpikir, siapakah wanita pertengahan umur itu ? mengapa ters-terusan memperhatikan diriku yang sangat asing dan sebagai anak piatu yang tidak mempunyai sanak keluarga ? apakah ia mampu menghadapi kawana iblis itu semua ? jika aku Yo Cie Cong tidak binasa, aku nanti akan membalas budinya yang besar ini. Karena kesannya yang sangat baik itu, maka ia lantas mengawasi Thian-san Liong-lie sambil tersenyum. Justru senyuman itu telah membikin goncang hatinya thian-san Liong-lie. Tekadnya bertambah bulat untuk menolong dirinya anak muda itu. Ia merasa bahwa dari dirinya anak muda ini ia akan mendapat sedikit hiburan untuk hatinya yang terluka. Si iblis wajah singa ketika melihat gertakannya tidak ada seorangpun yang menggubrisnya, timbul pula hati ganasnya. Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia memutar kedua tangannya dan menyerang kearah

dua orang penjahat dari lam-bong. Iblis tua wajah singa ini meskipun adatnya kejam dan buas, tetapi ia bisa bertindak sangat hati-hati. Ia telah memperhitungkan masa-masa dari kekuatan lawan-lawannya, maka lantas mengambil keputusan hendak merubuhkan satu demi satu. Dengan adanya Thian-san Liong- lie disitu,beberapa orang itu tentunya tidak berdayamendapatkan dirinya Yo Tie Tjong. Maka ia mau membereskan lawannya yang kuat satu-persatu dulu, setelah itu baru menghadapi Thian-san Liong-lie. Tetapi dua penjahat dari Lam-bong itu juga bukannya orang-orang sembarangan, bahkan kekuatan mereka berdua masih berada diatasnya kekuatan ‗ Empat Setan dari Pak-bin‘. Ketika mereka dijadikan sasaran pertama oleh siiblis wajah singa, sambil keluarkan ketawa dingin, kedua-duanya lantas mengeluarkan tangan mereka untuk menjabuti serangan si iblis tua wajah singa itu. Karena masing-masing pada mendendam maksud untuk mrmbinasakan lawannya. Maka setiap serangan telah dilancarkan dengan sepenuh tenaga dan ganas. Sementara itu, dipihaknya tiga orang pendek dari Kiong-lay, ketika menyaksikan kejadianitu mereka bertiga lantas menganggap bahwa itu merupakan suatu kesempatan baik yang harus digunakan. Maka setelah satu sama lain memberikan isyarat. Wang Hong-hong tiba-tiba melesat tinggi, dengan gerakan burung elang menerkam tajam, lantas menyerbu dirinya garuda kepala botak. Bersamaan saat itu juga, Wie Bu Liang dengan sepenuh tenaga menerjang Thian-san Liong-lie, sedangkan Tjiong-Liat juga secepat kilat menyambar dirinya Yo Cie Cong dan melompat keliar kalangan. Gerakan mereka itu sebenarnya diluar dugaan semua orang. Thian-san

Liong-lie wajahnya berubah seketika, rupanya ia sudah gusar benar-benar. Sambil keluarkan bentakan hebat pedang di tangannya bergerak seperti bianglala, dengan kecepatan luar biasa sebentar saja sudah mengeluarkan serangannya secara bertubi-tubi dengan demikian. Maka serangannya Wie Bu Liang lantas kandas ditengah jalan. Thian-san Liong-lie merangsek, sehingga Wie Bu Liang seluruh badannya lantas terkurung oleh sinar pedangnya. Mendadak terdengar suaranya Thian-san Liong-lie yang berseri kena !‘ yang selanjutnya terdengar suara dijeritnya Wie Bu Liang, ternyata kanan orang she Wie itu sudah terpapas kutung darah tampak berhamburan ditanah, dan orangnya bergulingan. Dengan tidak mendongak lagi Thian-san liong-lie lantas mengejar si cebol kedua, Tjiong-liat. Sementara itu, si garuda kepala botak yang diserbu oleh Wan Hong-hong secara mendadak,ternyata tidak berkelit atau tidak menyingkirkan diri dari serangan lawannya, bahkan dengan kedua tangannya ia memapaki serbuannya lawannya itu. Sementara itu, si garuda kepala botak yang diserbu oleh Wan Hong-hong lantas terpental, dan setelah jumpalitan ditengah udara baru jatuh ketanah, sedangkan sigarusa kepala botak sendiri badannya juga terhujung-hujung. Si garuda kepala botak yang dalam golongan hitam paling terkenal dengan kepandaian mengentengi tubuhnya, setelah kakinya berdiri lagi, lalu meledat tinggi keatas mengejar Wan Hong-hong. Si iblis wajah singa dan kedua orang penjahat dari dari Lam-bong, ternyata merupakan lawan yang berimbang. Meskipun kedua pihak sudah berdaya sedapat-dapatnya untuk menjatuhkan lawannya, tetapi untuk sementara tidak ada yang berhasil melepaskan diri dari

lawannya, keadaannya ternyata sudah berubah. Cing-liat, si pendek yang kedua, ternyata sudah binasa dalam keadaan terkutung kepalanya, sedangkan pemuda baju kuning, Yo Cie Cong, sudah dikuasai oleh orang-orangnya Pek-leng-hwee, dan Ban-siu-pang. Thian-san liong-lie dan lain-lainnya pada berdiri sejarak dua tumbak lebih. Si iblis wajah singa dengan mata beringas lantas hendak menerjang maju….. Tetapi sesaat itu mendadak terlihat berkelebatnya satu bayangan putih, Tjien Bie Nio dengan sepasang pedang dikedua tangannya menghadang didepannya Yo Cie Cong, ia masih tetap dengan gusar lantas ia berkata kepada Tjien Bie Nio : ,, Tjien Bie Nio, perkataanmua tadi masih berlaku atau tidak ?‘‘ ,, Perkataan apa ?‘‘ ,, Setan cilik ini sksn kubelek perutnya.‘‘ Meskipun dirinya Yo Cie Cong sudah dikuasai orang, tetapi pikirannya masih terang. Ketika mendengar perkataan si iblis wajah singa itu, bukan kepalang rasa gusarnya, ia segera mengerti bahwa maksudnya kawanan iblis itu ialah hendak mengambil mustika dari dalam perutnya. Atas ucapan si iblis wajah singa tadi, Tjien Bie Nio lalu menyahut sambil ketawa : ,, Setiap perkataan yang keluar dari mulut kami selalu berharga.‘‘ Si iblis tampaknya kegirangan, ia berkata pula dengan suara cemas : ,, Apa sekarang juga kau hendak memberikan setan cilik itu kepadaku,‘‘ ,, Ini sangat mudah sekali, Cuma sahabat-sahabat dunia Kang-ouw yang berada disekitar tempat ini apakah……..‘‘ jawab Tjien Bie Nio

mengerling kearah dua penjahat dari Lam-bong, garuda kepala botak dan lain-lainnya. Belum sampai si iblis wajah singa menjawab mendadak Wie Bu Liang si pendek yang tertua menjelak dengan suara gusar. ,, Kembalikan jiwa saudaraku !‘‘ lalu ia bersama saudaranya yang ketiga lantas menyerang berbareng pada Tjien Bie Nio. Ternyata si pendek yang kedua Cing-liat, tadi ketika berhasil merebut dirinya Yo Cie Cong dan hendak dibawa kabur telah binasa ditangannya Tjien Bie Nio, dengan demikian Yo Cie Cong juga telah direbut oleh Tjien Bie Nio. Ketika melihat kedua orang cebol itu menerjang, Tjien Bie Nio tertawa terpingkal-pingkal, lantas memutar kedua pedangnya, sehingga pedang itu merupakan tembok yang melindungi dirinya. Kedua orang pendek tadi terpaksa harus melancarkan serangan menggunakan tenaganya dengan sepenuh tenaga. Serangan dari kedua orang pendek itu ternyata sangat hebat sebab mereka sudah berhasil membuyarkan tembok pedangnya Tjie Tjong juga direbut oleh Tjien Bie Nio, tetapi keduanya juga terpental jauh. Dipihak si iblis wajah singa, setelah permintaannya diterima baik oleh Tjien Bie Nio, pikirnya asal tidak ada orang ketiga yang turut campur tangan, dirinya Yo Cie Cong segera akan terjatuh dalam tangannya, maka seketika itu ia lantas turun tangan membantu Tjien Bie Nio. Tiga orang pendek dari Kiong-lay yang sekarang Cuma tinggal dua orang lagi, rupa-rupanya mengerti bahwa jika pertempuran dilakukan terus, tidak akan menguntungkan fihaknya sendiri, ketambahan lagi si pendek yang tertua saat itu tangannya Cuma tinggal sebelah, maka pengharapan mereka jadi semakin tipis untuk merebut kemenangan. Setelah menyaksikan si iblis wajah singa membantu Cin Bie Nio,

kedua-duanya lalu lompat melesat sejauh setumbak lebih menghindari serangan si iblis wajah singa itu dan lantas hilang kedalam rimba. Si iblis wajah singa tertawa bergelak-gelak, lalu berpaling dan berkata kepada dua penjahat dari Lam-bong. ,, Apakah kalian masih belum mau lepas tangan ?‘‘ Dua penjahat dari Lam-bong itu mengawasi Cin Bie Nio dan Thian-san liong-lie sejenak, kedua-duanya lantas mundur sejauh sepuluh tumbah. Sementara itu, si garuda kepala botak juga meninggalkan tempat tersebut. Disitu hanya tertinggal Cin Bie Nio, kedua pangcu, si iblis wajah singa dan Thian-san liong-lie. Yo Cie Cong dengan wajah pucat pasi, kedua tangannya dipegangi oleh orang-orangnya Pek-leng-hwee, saat itu berdiri ditempat sejauh lima tumbak, dengan matanya juga beringas ia mengawasi kawanan iblis itu. Si gadis baju merah yang dipanggil ‗Kiauw Djie‘ terus menggerak-gerakan pecut lemas ditangannya, sebentar mengawasi Yo Cie Cong yang berada disampingnya, sebentar lagi mengawasi kedalam kalangan. Tampak tegas sekali betapa tegang perasaan hatinya, sedangkan pemuda baju ungu itu kelihayan berdiri sebagai penonton dengan perasaan puas. Thian-san liong-lie dengan sangat memperhatikan mengawasi Yo Cie Cong sejenak, kemudian telah mengambil suatu keputusan tetap. Dengan keadaan tidak bersuara ia lantas melajang kea rah Yo Cie Cong. Orang-orangnya Pek-leng-hwee yang saat itu menguasai dirinya Yo Cie Cong, kecuali dua orang kuat yang memegang tangannya Yo Cie Cong, masih ada lagi lima orang tua. Kala itu, ketika melihat melesatnya bayangan manusia, lima orang tua

itu lantas maju berbareng, masing-masing mengeluarkan serangan tangannya. Thian-san liong-lie, sebelum lawan sampai sudah melanjutkan serangan tangannya, maka serangan kelima orang tadi lantas berbentrokan dengan serangan tangannya Thian-san liong-lie, dan kelima orang tua itu lantas terpental mundur semuanya. Sebentar kemudian, pedangnya Thian-san liong-lie dengan kecepatan kilat sudah menikam kearah laki-laki yang sedang memegang dirinya Yo Cie Cong. Mendadak suara ‗ terang terdengar nyaring, pedang Thian-san liong-lie telah terpental miring. Ketika ia melihat siapa orangnya yang mengkis serangannya tadi, ternyata orang itu adalah Cin Bie Nio yang dengan sepasang pedangnnya sudah berdiri didepannya kedua laki-laki tua tadi denga wajah merah padam. Terang bahwa ia tadi sudah menggunakan tenaga sepenuhnya untuk mengkis serangan Thian-san liong-lie. Yo Cie Cong yang masih terluka parah, saat itu dirinya dipegangi oleh dua orang laki-laki kuat, tampaknya terus menggigil, sedangkan jidatnya sudah penuh keringat dingin. Ia hanya kuatkan hatinya saja sehingga tidak merintih. Saat itu, ketika menyaksikan Thian-san liong-lie telah menolong dirinya lagi, bahkan dengan tidak menghiraukan jiwanya sendiri, hatinya merasa tergerak. Kedua matanya yang sayu telah memancarkan sinar berterima kasih mengawasi Thian-san liong-lie, sedangkan dalam hatinya berpikir : Wanita pertengahan umur ini kalau dilihat dari wajahnya, seharusnya aku panggil kwok-kwok ( bibi ) padanya. Jika hari ini aku akan binasa

ditangannya kawanan iblis, busi ini rasanya hanya dapat kubahas dilain penitisan. Cin Bie Nio kecuali cabul dan centilnya yang sudah sangat terkenal, juga merupakan seorang cerdik juga banyak akalnya. Ketika melihat Thian-san liong-lie berkali-kali turun tangan melindungi dirinya Yo Cie Cong, dengan tidak menghiraukan segala bahaya, ia sudah mengetahui bahwa disitu pasti ada sebab-sebabnya maka ia lantas berkata sambil ketawa : ,, Tho Lihiap perlu apa campur tangan dalam urusan ini ?‘‘ ,, Campur tangan ? apa dosanya anak ini ? mengapa kalian akan membelek perutnya dan mengambil mustikanya ? perbuatan jahat yang melanggar hukum dan perikemanusiaan ini, aku Tho Hui Hong tidak boleh tidak harus turut campur tangan‘ jawab Thian-san liong-lie tegas. Jawabnya itu telah membuat Cin Bie Nio wajahnya berubah seketika. Pangcu dari Tjie-in-pang, Lie Bun Hao, tiba celetuk : ,, Tho Lihiap, barangkali tidak bermaksud dengan kami berdua pang dan Pek-leng-hwee.‘‘ ,, Dua pang Pek-leng-hwee tidak dapat menggertak orang.‘‘jawab Thian-san liong-lie sambil ketawa dingin. Pangcu dari Ban-siu-pang. Tio Phan, lantas berkata sambil ketawa bergelak-gelak : ,, Sombongnya perkataan Tho Lihiap.‘‘ ,, Kalau benar, kau mau apa ?‘‘ jawab Thian-san liong-lie ketus. Tiba-tiba Cin Bie Nio mengeser kakinya tiga tindak, tangannya menekan jalan darah Beng-hun-hiat dibelakang gegernya Yo Cie Cong. Dengan wajah masih ramai dengan senyuman ia berkata kepada Thian-san liong-lie :

,, Tho Lihiap barangkali tidak suka melihat bocah cakap ini melayang jiwanya disini ?‘‘ Thian-san liong-lie melongo. Yo Cie Cong lantas membentak dengan suara yang serak : ,, Iblis perempuan, aku Yo Cie Cong menyesal sekali tidak bisa membeset kulitmu dan makan dagingmu !‘‘ Thian-san liong-lie hampir saja meledak dadanya, wajahnya nampak merah padam, dengan suara gusar ia berkata : ,, Pek-leng-hwee dan Tjie-in-pang serta Ban-siu-pang ternyata Cuma bisa mengeluarkan perbuatan yang begitu rendah, turun tangan selagi orang tidak berdaya. Apa masih ada muka untuk mengaku sebagai ketua dari partai-partai terbesab dalam dunia Kang-ouw ?‘‘ Cin Bie Nio lepaskan tangannya, ia maju 3 tindak dan kata dengan tenang : ,, Menurut pikiran Tho Lihiap, urusan ini bagaimana harus kita bereskan ?‘‘ ,, Anak ini dengan perkumpulan kalian sebetulnya ada masalah apa ? mengapa kalian harus membinasakan jiwanya ? jika memang benar anak ini memang cukup alasannya patut dibinasakan, maka aku Tho Hui Hong akan terlalu tanpa ambil perduli lagi !‘‘ jawab Thian-san liong-lie, mendengar perkataan itu, merah mukanya Cin Bie Nio. Memang sebetulnya mereka tidak punya alasan untuk mengambil jiwa Yo Cie Cong, mereka hanya mencurigakan dirinya pemuda itu ada hubungan dengan golok maut. Tapi karena hal itu ada menyangkut urusan atau peristiwa yang terjadi pada 20 tahun berselang, biar bagaiman tentu mereka tidak dapat menjelaskan. Cin Bie Nio dengan kecantikannya, kegenitan dan akal muslihatnya

yang banyak, telah merupakan kepala dalam rombongan dari orang-orang Pek-leng-hwee, Tjie-in-pang dan Ban-siu-pang-siu-pang. Saat itu setelah berdiam sejenak, lalu menjawab dengan sangat misterius : ,, Urusan ini ada menyangkut urusan pribadi dalam perkumpulan kami, maaf tidak dapat kami beritahukan kepadamu !‘‘ ,, Segala permusuhan dan dendaman dalam dunia Kang-ouw, boleh saja diumumkan secara terus terang, dalam urusanmu ini mungkin ada urusan yang tidak patut diketahui oleh orang lain ?‘‘ Tanya Thian-san liong-lie. Sebetulnya Yo Cie Cong sendiri juga mengerti, tapi ia tidak mau buka mulut, karena jika ia menerangkan dirinya bukan Cuma Pek-leng-hwee, Tjie-in-pang dan Ban-siu-pang saja akan membinasakan dirinya, tapi masih ada banyak lagi manusia iblis yang menakutkan tentunya juga tidak akan melepaskan dirinya. Cin Bie Nio rupanya merasa jengah, sikapnya yang genit lantas musnah seketika. ,, Tho Hui Hong, kami ketua dari Pek-leng-hwee ada menjungjung tinggi kau seorang pendekar wanita kenamaan, maka selalu bersikap mengalah. Jangan ka uterus mendesak demikian rupa. Aku sekarang Tanya hendak kau, hari ini kau hendak berbuat apa ?‘‘ demikian Tanya gusar. ,, Harap kau suka lepaskan anak yang tidak berdosa ini dengan sekuat tenaga yang ada padaku !‘‘ Suasana kembali menjadi tegang. ,, Dengan memandang mukamu Thian-san liong-lie, bukan tidak bisa kita lepaskan anak ini, tapi……‘‘ jawabnya Cin Bie Nio dingin. ,, Tapi bagaimana ?‘‘ ,, Orang lain mau mengerti atau tidak ? kami tidak tahu !‘‘ sahutnya Cin Bie Nio sambil melirik pada si iblis wajah singa.

,, Kalau begitu kau lepaskan dulu orangnya, tentang orang lain mau mengerti atau tidak, ada urusanku Tho Hui Hong !‘‘ Thian-san liong-lie mendesak. Dengan tanpa ragu-ragu Cin Bie Nio lantas memberi tanda kepada kedua laki-laki yang memegangi tangan Yo Cie Cong, kedua laki-laki itu lantas lepaskan cekalannya. Dan selagi kedua pangcu itu hendak membuka mulut, tapi sudah dicegah oleh Cin Bie Nio dengan lirikan matanya yang tajam. Sepasang alisnya Kiauw-djie yang dikerutkan sejak tadi, kini baru kelihatan terang. Yo Cie Cong dengan badan sepoyongan menghampiri Thian-san liong-lie, kemudian berkata padanya dengan suara sangat terharu : ,, Bibi Tho, izinkan aku demikian memanggil dirimu. Terhadap budimu yang begitu besar yang kau lepaskan kepada diriku, aku tidak berani mengucapkan bisa membalas. Tapi aku Yo Cie Cong selama masih hidup, pasti akan ingat terus budimu ini dalam hatiku. Sehabis mengucapkan perkataannya itu, sikap dan wajahnya kembali nampak sangat dingin dan kecut, sedang matanya memancarkan sinar kebencian. Sebutan Bibi Tho itu ternyata sangat menggirangkan hati Thian-san liong-lie, sehingga sepasang matanya yang agak layu memancarkan sinar yang menandakan tergoncangnya sang hati. Ia terus mengawasi wajahnya Yo Cie Cong, agaknya sedang mencari-cari barangnya prang yang sudah menghilang dari depan matanya, tapi agaknya juga seperti mengenangkan kepada masa yang sudah lampau. Akhirnya ia berkata sendiri dengan suara perlahan : ―…Betapa miripnya anak ini dengan dia..‖ Wajahnya mendadak berubah sedih, air mata tampak mengembang

ditelakupan matanya. Kemudian mengetes turun kedadanya. Yo Cie Cong memandang dengan perasaan heran, entah siapa yang dimaksudkan denga si `Dia` ? Saat itu mandadak terdengar suara ketawa aneh, si iblis wajah singa sudah lompat maju ke depan Thian-san liong-lie, dengan matanya yang beringas ia berkata dengan sengit : …Thian-san liong-lie, kau berani bermusuhan dengan aku si orang tua ?‖ Thian-san liong-lie angkat perlahan-lahan mukanya, baru menjawab dengan suara dingin : …Kau hendak berbuat apa ?‖ …Kalau kau kenal gelagat, lekas serahkan dirinya bocah ini !‖ Yo Cie Cong lekas nyeletuk dengan mata beringas : …iblis tua, aku Yo Cie Cong kalau tidak mati, pasti akan bikin remuk tulang-tulangmu !‖ ….setan cilik, kau pasti tidak bisa hidup lagi, tunggu sampai lain penitisan kau baru bisa membuat perhitungan hutang ini !‖ kata si iblis wajah singa. Thian-san liong-lie nampaknya sudah gusar benar-benar ia bertanya dengan suara bengis : …iblis tua, kau benar-benar hendak melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan prikemanusiaan !‖ …Kau berani ganggu selembar rambut saja anak ini, pembalasan segera berada didepan mata !‖ …He…he…he! Orang semacam kau masih belum pantas untuk mengucapkan demikian ― …Kalau begitu kau boleh coba saja !‖ Rambut dan jenggot si iblis wajah singa nampak pada berdiri mulutnya

mengangah hingga kelihatan calingnya yang tajam. Sikapnya itu sungguh menakutkan, seolah-olah siluman wajah singa berbadan manusia. Setelah pendengaran geramnya yang seram, ia lantas menyerang dengan beruntun sampai 8 kali kepada Thian-san liong-lie. Iblis ini sudah napsu benar-benar hendak mendapatkan mustika dari dalam perutnya Yo Cie Cong. Dan Thian-san liong-lie, wanita setengah umur yang sangat cantik ini, merupakan musuh kuatnya yang terakhir. Maka ia harus menghadapi dengan dengan sepenuh tenaganya. Serangan 8 kali itu dilanjutkan sekaligus, setiap gerakan mengandung kekuatan tenaga dalam yang hebat. Thian-san liong-lie mundur 3 tindak, baru berhasil menghindarkan serangan yang sangat hebat itu. Ketika serangan lawanya agak kendor, ia lantas balas menyerang dengan pedang panjangnya. Ia melanjutkan serangan berantai sampai 9 kali. Iblis wajah singa itu nampak sangat ripuh. Setelah berkelit kesana-kemari, baru berhasil meloloskan diri dari ancaman ujung pedangnya Thian-san liong-lie. Tapi dengan demikian justru telah membangkitkan kebuasannya. Dengan mendadak ia tarik mundur dirinya sampai 5 kali. Lalu mendorong kedua tangannya dengan kekuatan tenaga sepenuhnya. Seketika itu lantas terbit angin hebat yang ditimbulkan oleh serangan si iblis wajah singa tua itu. Serangan itu benar-benar sangat dahsyat. Thian-san liong-lie meski ada satu ahli pedang kenamaan tetapi kekuatan tenaga dalamnya masih kalah setengah tingkat dari pada si iblis wajah singa, maka pedangnya lantas tidak dapat digunakan. Ketika menapak serangan lawannya ada begitu hebat, ia tidak berani

menyambuti dengan kekuatan tangan kanannya dan terpaksa berkelit kesamping sampai 8 kali jauhnya. Si iblis wajah singa tidak mau memberi hati, dengan cepat susulkan serangan berikutnya. Karena dirinya sedang terluka parah, bergerak saja masih menjadi pertanyaan, mana ada kemampuan untuk melawan para iblis tua ? Thian-san Liong Lie meski membela dirinya secara mati-matian meski untuk menghadapi si Iblis Wajah singa rasanya masih tidak menjadi soal, tapi jika Tin Bie Nio Dn kedua pancu itu turut turun tangan, sudah tentu ia tidak dapat melawan. Disamping itu masih banyak lagi kawanan iblis yang mengincar diam-diam ? Masih belum diketahui. Pikir bolak-balik, semuanya merupakan jalan buntu, satu-satunya jalan ialah kematian. Dalam keadaan demikian, ia telah inggat dirinya yang tidak ketahuan asal-usulnya. Ia ingat dendam sakit hati gurunya. Denangan tidak terasa, air matanya lantas mengalir turun. Ia tidak takut mati, tapi ia merasa bahwa pada saat itu ia tidak boleh mati. Banyak urusan masih masih menantikan padanya, yang ia harus dapat melaksanakan sebaik-baiknya. Namun dalam keadaan demikian, pengharapannya hidup rasanya sedikit sekali ! Dengan tanpa terasa ia lantas berpaling dan berkata kepada Thian-san Liong-Lie. ..Bibi Tho, pergilah ! Budi kebaikanmu, sampai matipun aku tidak bisa melupakan. Buat sekarang ini aku susah menandingi mereka, jikalau aku terjadi apa-apa atas dirimu karena hendak menolong diriku …….‖ Perkataannya kandas sampai disini. Thian-san Liong-Lie dengan sorot

matanya yang penuh welas asih, yagn memandang wajah Yo Cie Cong, kemudian menjawab dengan suaranya yang lemah lembut : ….Anak, bibi Tho sejak berkelana di dunia Kang-ouw, belum pernah tunduk kepada pengaruh kejahatan !‖ Jawaban itu telah menggerakan hatinya Yo Cie Cong, wajahnya yang putih lantas berubah merah. Dari mulutnya seorang wanita, telah keluar perkataan yang demikian gagah. Benar-benar sangat menggerakan hati Yo Cie Cong dan sesungguhnya juga memalukan kaum laki-laki yang menganggap diri ada seorang gagah. Si Iblis wajah singa karena daging gemuk yang sudah berada dalam mulutnya telah hilang lagi, lantas menjadi kalap, dengan mata mendelik dan mulut berkaok-kaok ia berkata kepada Thian-san Liong-Lie : …Thian-san Liong-Lie, apa kau benar-benar tidak kenal dengan gelagat ? . Tidak peduli kau ada mengandalkan dirinya siapa yang bagaimana lihainya, aku si Orang Tua akan turun tangan terhadap dirimu juga !‖ Oleh karena itu Iblis Tua menyebut orang yang diandalkan oleh Thian-san Liong-Lie, membuat Cin Bie Nio dan kedua pancu saat itu pada terkejut. Kalau sejak tadi mereka mereka masih berlaku hormat kepada Thian-san Liong-Lie, membuat Cin Bie Nio dan kedua pancu saat itu pada terkejut. Kalau sejak tadi mereka masih berlaku horamt kepada Thian-san Liong-Lie sebabnya ialah dibelakangnya Thian-san Liong-Lie masih ada seorang yang kepandaiannya luar biasa tingginya. Suhunya Thian-san Liong-Lie ― To-thian Le-siu usianya sudah lebih seratus tahun, tinggi kepandaiannya tidak bisa di jajaki, tabeatnya juga luar biasa. Di dalam rimba persilatan tidak ada yang berani main-

main padanya. Di mulutnya si Iblis wajah Singa itu meski mengatakan demikian , tapi dalam hatinya sebetulnya merasa kebat-kebit, biar bagaimana ia tidak berani turun tangan jahat terhadap muridnya orang gagah itu. Apa lagi kekuatanya sendiri ada seimbang dengan kekuatannya Thian-san Liong-Lie kalau bertempur benar-benar. Belum tau siapa yang akan menang dan siapa yang kalah. Thian-san Liong-Lie ketika mendengar si Iblis wajah siapa nyebut-nyebut orang yang diandalkan. Sudah tentu yang dimaksudkan adalah suhunya, maka lantas berkata sambil ketawa dingin : …Aku Tho Hui Hong sejak berkelana didunia Kang-ouw belum pernah membawa-bawa namanya suhu !‖ Si Iblis wajah Singa itu sedang mengimpikan cita-citanya menjadi orang kuat nomor satu di dunia , sudah tentu menjadi gelap pikirannya. Dengan sorot mata buas, ia memandang dirinya. Yo Cie Cong. Tapi satu-satunya rintangan terberat adalah Thian-san Liong-Lie maka ia harus merubuhkan dirinya wanita itu, maka seketika ia lantas berkata : …Bagus sekali !Biarlah aku yang menyingkirkan kau !‖ Baru saja menutup mulutnya tangannya, tangannya melancarkan 5 serangan dengan beruntun. Thian-san Liong-Lie pada saat itu masih berdiri dihadapan Yo Cie Cong kira-kira 5 kaki jauhnya, kalau ia berkelit, pasti dirinya Yo Cie Cong yang menjadi sasaran serangannya Iblis tua itu. Sang waktu tidak memberikan kesempatan untuk ia banyak berfikir, terpaksa sambil gertak gigi ia menymbuti serangannya si Iblis wajah singa itu. Setelah kedua kekuatan beradu, Thian-san Liong-Lie terpental mundur beberapa tindak, dadanya dirasakan sesak.

Sejenak ia memulihkan jalan pernapasannya. Kemudian ia putar pedangnya melanjutkan serangan membalas dengan hebatnya. Tipu-tipu serangan pedang yang membingungkan musuh yang diperlihatkan secara indah dan bersahaja. Sehingga membuat kelabakan si Iblis. Ia terpaksa mundur sampai satu tombak jauhnya, mulutnya berkaok-kaok tidak berhentinya. Ia menantikan sampai serangan Thian-san Liong-Lie agak kendor, lalu buka serangannya pula. Kedua pihak nampaknya tidak ada yang mau mengalah. Setelah pertempuran berjalan seratus jurus lebih, kedua pihak sudah kelihatan lelah, gerak serangannya mulai kendor, meski demikian, tapi setiap serangan cukup untuk mengambil jiwa lawannya. Mendadak Thian-san Liong-Lie melanjutkan tipu serangan simpanan yang paling lihay yang dinamakan `Seng-Lo-kie-po`. Tipu serangn ini setiap dikeluarkan, pasti meminta korban. Selama hidupnya Thian-san Liong-Lie baru menggunakan dua kali saja tipu serangan demikian. Si Iblis Wajah Singa ketika nampak Thian-san Liong-Lie mengeluarkan tipu serangannya yang aneh itu. Ia jadi kebingungan untuk menjaga dirinya, maka seketika itu timbul pikiranya untuk mengadu jiwa. Ia tidak mundur, sebaliknya merangsak maju. Ia putar kedua tangannya dengan cepat ia hendak menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk merintangi serangannya pedang. Disamping itu ia lantas gigit lidahnya sendiri sehingga dalam mulutnya penuh darah. Dibarengi dengan tenaga dalamnya, darah dari dalam mulutnya disemburkan kewajahnya Thian-san Liong-Lie. Perbuatan itu juga merupakan tindakan terakhir bagi si iblis tua itu. Ia mengunakan tipu serangan itu harus menghamburkan kekuatan tenaga dalam yang tidak sedikit, tapi si iblis wajah singa yang berada

dalam keadaan kepepet, ia sudah tidak pikirkan lagi bahwa tindakannya itu akan membuat hilang kekuatannya yang ia latih beberapa puluh tahun lamanya. Sebentar kemudian, kelihatan kedua-duanya pada mundur. Si Iblis wajah singa tangannya terpapang kutung, darah darah menyembur keluar seperti air mancur. Thian-san Liong-Lie pipi kanannya terkena semburan darahnya si iblis, sehingga terdpat tiga lubang sebesar kacang kedele, wajahnya yang cantik manis, kini telah menjadi cacat. Selain dari pada itu, sebutir darah lagi mengenakan dengan tepat pada jalan darah `Sim-hiong-hiat`sehingga ia lantas jatuh duduk ditanah. Si Iblis wajah singa menggunakan jarinya menotok jalan darah lengan kanannya untuk mencegah mengalirnya darah lebih banyak kemudian badannya bergerak menubruk dirinya Yo Cie Cong yang masihj berdiri kesima. …tunggu dulu !‖ demikian mendengar suara bentakan nyaring. Badannya si iblis tiba-tiba terpental mundur oleh kekuatan angin yang menyerang padanya, ia ketika pentang matanya. Ternyata adalah Cin Bie Nio yang berdiri dihadapannya. Sebentar saja, pasir dan batu berhamburan. Suatu gemuruh terdengar saling menyusul. Thian-san liong-lie dengan mengandal gerak badannya yang lincah dan gesit. Berhasil menghindarkan dari serangannya si iblis wajah tua itu. Tapi Yo Cie Cong masih terluka parah, lantas kehilangan pelindungnya. Si iblis wajah tidak mau sia-siakan kesempatan yang baik itu selagi Thian-san liong-lie ripuh menghindarkan diri serangannya. Dengan kecepatan bagikan kilat ia menyambar dirinya Yo Cie Cong. Thian-san liong-lie yang sudah tidak keburu menolong dirinya Yo Cie

Cong dalam keadaan kepepet tiba-tiba telah melontarkan pedangnya ke arah iblis. Lontaran itu dilakukan dengan separuh tenaga, apalagi jarak antara ia dengan si iblis Cuma 2 tumbak saja jauhnya, dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan tersebut. Si iblis wajah singa yang baru saja merasa girang karena usahanya sudah berhasil tidak menduga kalau Thian-san liong-lie melontarkan pedangnya. Kalau ia teruskan tindakannya, meski dirinya Yo Cie Cong bisa didapatkan, tapi tapi pedangnya Thian-san liong-lie pasti akan menembus badannya. Dalam keadaan demikian sudah tentu melindungi jiwanya dulu yang paling penting. Ia lalu ayun tangan kanannya untuk menyampok badan pedang. Sedang badannya sediri lantas melesat mundur 5 kaki. Sedang Thian-san liong-lie berbaring pada saat melontarkan pedangnya, dirinya sudah melompat melesat kedepannta Yo Cie Cong. Maka ketika pedangnya kesampok oleh tangannya si iblis wajah singa ia lantas sambar kembali dengan tangannya. Tindakan yang sangat berani dan bagus sekali itu membuat kesima semua orang yang menyaksikannya. Hanya Thian-san liong-lie yang sikapnya nampak berlainan dengan orang banyak. Semula ia nampak girang melihat tindakannya si iblis wajah singa akan berhasil tetapi ketika melihat Thian-san liong-lie dapat mencegah maksud musuhnya dengan caranya yang sangat hebat itu alisnya lantas dikerutkan. Iblis wanita yang ganas dan genit itu apa yang sebetulnya yang di

pikir dalam hatinya ? siapapun tidak ada yang tahu ! benarkah ia dapat membiarkan si iblis wajah singa berhasil mendapatkan dirinya Yo Cie Cong ?Rasanya masih belum tentu! Sekalipun pancu dari Tjie Tjong-in-pang dan Ban-siu-pang yang merupakan `orang dekat` juga masih tidak bisa menebak maksud maksudnya si wanita genit itu. Keadaanya Yo Cie Cong itu waktu sesungguhnya sukar di lukiskan dengan pena. Dengan secara kebetulan ia telah menelan mustika yang sangat mukjijat bagi orang rimba persilatan tapi kini dirinya mendadak menjadi rebutan kawanan iblis. Dan semua iblis itu tujuannya ialah serupa : hendak membelek perutya !

Bagian Ke Tujuh PANGCU dari Tjie-in-pang Lie Bun Hoo dan pangcu dari Bang-sio-pang Thio Pan, juga ikut nyerbu dalam kalangan, mereka berdiri berdampingan dengan Cin Bie Nio. …Cin Bie Nio saat itu wajahnya sudah tidak semanis seperti tadi, dengan suaranya yang dingin ketus ia balas menanya : …Pungkir apa ?‖ ..Lohu sudah menepati janji memukul mundur semua orang yang ingin turut ambil bagian dalam urusan ini. Tadi kau kata sendiri, setelah lohu memukul mundur mereka bocah ini hendak kau serahkan kepada lohu untuk di belek perutnya dan diambil mustikanya, apa kau tidak mengakui janjimu sendiri. …benar, memang aku tadi kata begitu ― …kalau brgitu mengapa kau merintangi tindakanku ?‖ …Tapi sekarang keadaannya ada lain, aku tidak ingin bocah ini biasa !‖ …Benarkah kau hendak mengingkari janjimu sediri ?‖

…kau jangan lupa bocah ini tadi jatuh ditangan siapa? Dia selain kita lepaskan sesudah terjatuh dalam tangan orang-orang Pek-leng-hwee, Tjie-in-pang Lie Bun Hoo, maka perjanjian tadi harus kita batalkan ― Si iblis wajah singa yang mendengar itu, hatinya sangat mendelu. Bukan kepalang gusarnya. Sampai-sampai urat jidatnya kelihatan menonjol. Matanya mendelik seperti seperti mau mau meloncat keluar. Tetapi mulutnya tidak bisa mengatakan apa-apa. Pada saat itu matahari sudah kelihatan mendoyong ke Barat. Angin malam meniup sepoy-sepoy. Puncak gunung sekitar danau Liong-than sudah diliputi oleh suasana malam. Yo Cie Cong dengan susah payah berjalan menghampiri Thian-san Liong-Lie. Ia melihat wajahnya Thian-san Liong-Lie yang cantik bercacad oleh serangan yang ganas dari si iblis wajah singa semata-mata karena hendak menolong dirinya.ia merasa tidak enak terhadap wanita cantik yang berbudi luhur itu, maka lalu berkata padanya dengan dengan suara agak bergetar : …Bibi Tho, kau……….‖ ….Anak, tidak apa. Aku hanya menyesal tidak mempunyai tjukup kekuatan untuk menolong kau dari tangannya kawanan iblis ini….‖ Thian-san Liong-Lie tidak sanggup melanjutkan perkataanya, dalam hati berdo`a supaya pemuda yang cakap ganteng ini tidak mengalami nasibnya yg mengerikan. Yo Cie Cong pada saat itu juga seperti mendapat firasat bahwa tangan maut sedang melambai-lambai hendak menyembutnya ia seperti merasa bahwa ajalnya sudah hampir sampai, dengan tidak terasa air

matanya mengalir keluar. Kematian ada merupakan berakhirnya penghidupan manusia. Setiap manusia tidak akan terhindar daripada kematian. Yo Cie Cong bukan karena takut mati, tetapi kematian yang mengenaskan, apa lagi mati ditangan musuhnya, kematian itu baginya merupakan penderitaan bathin yang sangat hebat. Dengan perasaan putus asa ia menghelap napas panjang kembali ia berkata kepada Thian-san Liong-Lie. ….Bibi Tho, budi kebaikanmu terpaksa hanya bisa kubalas pada lain penitisannya .‖ ….Anak, siapa suruh kita saling jumpa ? ini yang dinamakan jodoh yang sudah diatur oleh yang maha kuasa. Kau masih sangat muda, barangkali tidak akan memahami perkataanku ini‖. …Bibi Tho, kau …..‖ Yo Cie Cong menatap wajah cantik pertengahan umur itu yang berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwanya tanpa menghiraukan keselamatan jiwanya sendiri. Tiba-tiba ia merasa sedih dalam hati. Sehingga air-mata mengalir bercucuran tanpa terasa. Dengan tindakan berat ia berlalu meningalkan bibinya yang baik hati itu. Dalam hatinya diam-diam mendoakan :Bibi Tho,selamat tinggal.biarlah kau selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Ia berlalu karena ia tidak ingin orang yang memperhatikan dirinya begitu sangat, akan binasa ditangan musuhnya karena hendak membela dirinya. Kira2 dua tumbak jauhnya disebelah sana, si Iblis wajah singa yang amarahnya sudah memuncak,telah mendengarkan suara ketawanya yang benar2 seperti iblis.

Selagi ia masih ketawa itu tanggan kirinya mendadak mengeluarkan sebuah benda hitam sebesar kepalan tangan.Benda hitam itu mengeluarkan bau harum yang sangat luar biasa.Cin Bie Nio dan kedusa pangtjuketika menyaksikan benda itu. Karena mereka ingat bahwa benda aneh itu adalah senjata ampuhnya si iblis wajah singa yang pernah digunakan untuk membunuh binatang Gu-liong-kao yang aneh itu. Jika si iblis wajah singa nanti melempar benda yang aneh itu maka semua orang yan ada di dekatnya kan mati seketika. Perbuatan iblis tua itu sesungguhnya di luar dugaan semua orang banyak yang menyaksikan bagaimana hebatnya benda itu,siapapun tidak mau menghantarkan nyawanya dengan percuma. Sekalipun Cin Bie Nio sendiri yang terkenal cerdik dan banyak akalnya saat itu juga tidak berdaya sama sekali kelihatannya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah membiarkan si iblis itu mencapai maksudnya membelek perut Yo Cie Cong. Tetapi Cin Bio Nio wanita yang genit cabul, saat itu dengan mendadak timbul hati sukanya terhadap Yo Cie Cong yang masih muda dan tampan itu. Kalau bukan karena dibawah mata orang banyak barangkali ia sudah berbuat apa yang ia suka terhadap dirinya Yo Cie Cong. Sebetulnya ia ingin pemuda tampan itu binasa ditangannya si iblis wajah singa. Tetapi kenyataan ada ada begitu rupa jadinya, ia harus dengan segera memilih satu jalan antara dua dan tidak mungkin dibikin sempurna kedua-duanya. Oleh karena itu iblis wajah singa mempunyai senjata yang sangat ampuh, maka itu berarti pula bahwa ia itu sudah menguasai jiwanya semua orang. Dengan sangat jumawa dan bangga sekali si iblis berkata

kepada Cin Bio Nio dan kedua Pancu : ….Sekarang kalian bertiga lekas mundur ketempat sepuluh tumbak jauhnya dari tempat kalian !‖ Perkataan ini merupakan suatu perintah. Anehnya tiga orange aneh itu yang biasanya mengangap diri jempolan sebagai pemimpin dari perkumpulan besar tidak ada seorangpun yang berani melanggar perintah itu. Ketiga orang itu mundur seperti apa yang diperintahkan oleh si iblis wajah singa. Setelah mereka mundur, si iblis wajah singa lalu berpaling dan berkata kepada Thian-san Liong-lie : …perempuan hina ! sakit hati lantaran kau bikin putus tanganku, sebentar lagi laho akan bikin perhitungan dengan kau ― Setelah berkata demikian, benda hitam itu dikempinya di ketiak kanannya supaya jika perlu bias digunakan lagi, kemudian baru ia menghampiri Yo Cie Cong. Pemuda itu sudah mengetahui bahwa dirinya menghadapi bahaya maut, tetapi ia sudah tidak mempunyai daya memberi perlawanan. Thian-san Liong-lie yang tadi hamper saja jatuh pingsan karena terkena serangan darah dari si iblis, kini memaksakan diri untuk melompat bangun lagi. Karena ia sangat simpatik terhadap Yo Cie Cong, maka ia rela mengorbankan dirinya dibawah ancaman senjata si iblis wajah singa demi keselamatan Yo Cie Cong, jangan sampai terbelek perutnya……. Pada saat itu tiba-tiba kedengaran suara melengking dan sosok bayangan merah lantas meluncur turun ke dalam kalangan. Bayangan merah itu ternyata adalah si gadis baju merah yang oleh Cin Bio Nio dipanggil Kiauw-djie.

Oleh karena itu hatinya Kiauw-djie yang masih suci murni adalah jatuh cinta pada Yo Cie Cong, maka karana pengaruhnya asmara itulah membuat Kiauw-djie tidak memperdulikan bahaya, ia lantas bergerak melindungi dirinya orang yang dicintainya. ….. Kiauw-djie, apa kau sudah gila ? lekas kembali !‖ demikian terdengar suara Cin Bio Nio yang cemas. Tetapi Kiauw-djie saat itu sudah berlaku nekad, bagaimana ia mau mendengar perkataan orang ?‖ Baru saja gadis itu sampai dikalangan pertama-tama ia tersenyum kerpada Yo Cie Cong kemudian memutar tubuhnya dengan senjata pecut lemasnya ia hendak menghajar si iblis wajah singa. Dengan kepandaian ytang dimiliki oleh si gadis. Sebetulnya masih berselisih sangat jauh dengan kepandaian si iblis, maka perbuatannya itu sebetulnya sangat gegabah dan tidak mengukur dirinya sendiri. Tetapi pengaruhnya cinta ada lebih kuat daripada segala apapun juga. Sekalipun seekor kambing juga berani melawan seekor singa. Si iblis wajah singa yang lengan kanannya sudah dibikin kutung oleh Thian-san Liong-lie maka kekuatnya pada saat itu agak berkurang. Apa yang diandalkan sebetulnya sekarang hanyalah benda yang dapat meledak itu saja. Yo Cie Cong terhadap gadis baju merah itu sebetulnya tidak mempunyai kesan yang mendalam, ditambah lagi setelah ia mengetahui bahwa si gadis ternyata ada orang dari golongan Pek-leng-hwee dan kedua pang, maka ia sudah mengangap gadis itu sebagai musuhnya. Tetapi saat itu melihat kelakuannya si gadis baju merah perasaan Yo Cie Cong yang tadinya menganggap gadis itu sebagai musuhnya, telah banyak berkurang. Pada saat itu, Thian-san Liong-lie juga sudah berdiri disampingnya Yo

Cie Cong. Si iblis wajah singa sesungguhnya tidak menyangka kalau masih ada orang yang tidak takut mati seperti gadis itu, maka saat itu ia sendiri juga menjadi kesima. Jika ia menggunakan senjatanya itu mungkinsemua akan musnah, sedangkan ia sendiri juga tidak bisa mendapatkan apa-apa tetapi jika ia tidak mau menggunakan senjatanya yang paling ampuh itu sudah tentu ia tidak akan mampu melawan kedua wanita itu. Karena tangannya Cuma tinggal sebelah lagi. Sebentar kemudian benda hitam juga berada dibawah ketiak lengan kanannya kembali tenggelam dalam tangan kirinya. Dengan mata buas ia memandang kedua wanita itu. Agaknya ia tengah menimbang-nimbang, apakah senjata itu harus dilemparkan atau tidak. Jika benda hitam itu dilemparkan, maka empat orang yang berada disitu termasuk ia sendiri sekejapan saja akan hancur lebur, jangn harap bisa lolos dari situ. Suasana yang tampaknya sunyi itu sebetulnya sangat tegang. Kiauw-djie sampai saat itu masih belum mengetahui nama dan asal-usulnya Yo Cie Cong tetapi ia sudah berani korbankan diri untuk membela diri pemuda itu. Pengaruhnya asmara besar sekali. Yo Cie Cong meskipun wajahnya tampan cakap tetapi yang menarik hatinya si gadis baju merah itu adalah sikapnya yang dingin dan angkuh dari si pemuda. Perasaan cinta itu memang bisa timbul dari beberapa sudut ini kadang-kadang memang suatu keanehan. Dan begitulah perbuatan si gadis baju merah, juga merupakan satu keanehan dari begitu banyak keanehan.

Thian-san Liong-lie dengan perasaan heran mengawasi Kiauw-djie sesaat itu hatinya agak tergoncang. Ia sudah mengetahui dari sebab apa gadis itu unjuk perbuatanya yang nekad hendak melindungi Yo Cie Cong. Suasana kembali menjadi sunyi, setiap saat menjadi suatu pembunuhan yang mengenaskan kalau si iblis itu bergerak melemparkan benda ditangannya. Si iblis wajah singa meskipun sifatnya sangat kejam dan ganas, tetapi saat ia juga ragu-ragu atas dirinya sendiri. Karena jarak antara kedua pihak sudah dekat sekal, maka sudah tentu senjatanya itu bisa membinasakan lawannya tetapi ia sendiri juga tidak akan terluput dari kematian. Namun ia juga tidak berdaya menghadapi kedua wanita itu terutama Thian-san Liong-lie sebelum lengannya dibikin kutung saja, barang kali masih belum mampu menandingi, apalagi sekarang tangannya Cuma tinggal satu. Apakah ia harus tinggalkan begitu saja ? bagaiman ia mau mengerti ? Pikirnya iblis wajah singa itu masih terus berkekuatan diantara dilemparkan atau tidak senjatanya itu. Pada saat itu, timbul pula keanehan. Didalam kalangan mendadak kelihatan menancap 3 buah bendera kecil segi tiga. Benderaitu dasarnya putih, pinggirnya warna emas, ditenga-tengahnya ada terlukis seekor burung laut warna merah dadu. Orang-oranga yang berada disitu baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih, ketika menyaksikan bendera kecil itu semua lantas pada berubah wajahnya, hanya merasa ngeri. Bendera burung laut itu seolah-olah mewakili pendekar aneh yang sangat misterius.

Bendera burung laut ini muncul didalam rimba persilatan didaerah tionggoan, hanya baru setahun sajatapi ternyata sudah menggetarkan orang-orang golongan hitam dan putih, pemilik bendera aneh itu kabarnya ada seorang yang memakai kedok kain warna merah, kepandaiannya ilmu silat tinggi sekali, hingga sukar di jajaki. Ia ada mempunyai kurang lebih 12orang pengikut, yang biasanya disebut ‗ utusan burung laut‘ orang-orangnya itu juga merupakan orang-orang kuat dalam rimba persilatan. Dimana bendera burung laut itu muncul, berarti pendekar aneh berkedok kain merah itu juga segera akan tiba, dan dimana pendekar aneh itu unjukan diri, sudah tentu merupakan kejadian yang bukan biasa lagi. Mengapa pendekar kedok itu bisa muncul secara tiba-tiba tidak ada seorangpun yang mampu menjawab. Orang banyak yang tadinya hendak menonton keramaian itu, kini dengan sendirinya telah bubardengan diam-diam, sehingga hanya ketinggalan mereka, orang-orang yang mempertengkarkan dirinya Yo Cie Cong. Pada saat itu, hanya satu orang saja yang seperti acuh tak acuh orang itu ialah Yo Cie Cong yang sedang terluka parah dan tengah menantikan nasibnyayang hendak disembelih oleh iblis berwajah singa. Disatu fihak, karena ia baru saja muncul didunia Kang-ouw dan dilain fihak, ia sekarang bagai seekor kambing yang tengah menantikan nasibnya hendak dijadikan korban, hingga sudah tidak kenal lagi apa artinya takut. Orang-orang yang ada disitu dengan perasaan heran dan takut mengawasi pada bendera kecil segi tiga itu, coba menebak-nebak akan maksud kedatangan sipendekar aneh berkedok.

selagi semua orang masih belum hilang rasa takutnya, dua bayangan orang secara tiba-tiba sudah muncul ditengah-tengah lapangan kedatangannya kedua orang itu bukan saja secara mendadak juga tidak kedengaran suaranya. Dengan kepandaiannya mengentengi tubuh itu saja, sudah cukup mengejutkan orang yang mengerti silat. Semua orang itu semuanya memakai kedok kain hitam tersulam bergambar seekor burung laut warna putih. Ditengah-tengah sulaman burung laut itu ada terdapat angka ‗1‘ dan seorang lagi berangka ‗7‘. Itu mungkin satu tanda untuk membedakan diri mereka, tapi tidak seorangpun yang tahu maksud yang sebenarnya. Orang yang berkedok angka ‗1‘ itu tiba-tiba membuka mulutnya : ,, Atas perintah majikan burung laut, siapa saja dilarang membikin celaka dirinya bocah ini !‘‘ Semua orang ketika mendengar perkataan itu pada terkejut ,,Harap semua pada meninggalkan tempat ini‘‘ kata pula arang berkedok itu. Perkataan itu seolah-olah satu perintah, orang-orang disitu semuanya merupakan orang-orang Kang-ouw kenamaan, sudah tentu tidak mau menurut begitu saja. ,, Djiwie siapa ?‘ si iblis wajah singa majukan pertanyaanya, ini mungkin merupakan ucapannya si iblis yang paling sopan untuk menghadapi orang yang belum dikenalnya. ,, Utusan burung laut !‘‘ demikian dijawabnya. Jawaban itu membuat kaget semua orang. Thian-san Liong-lie meski sudah pernah dengar namanya pendekar berkedok kain merah yang aneh dan sangat misterius sepakterjangnya itu, tapi karena saat itu sedang memikirkan keselamatannya Yo Cie Cong maka tidak mau meninggalkan tempat tersebut secara gegabah.

Sebab jika orang berkedok yang mengaku dirinya utusan burung laut itu ada mengandung maksud jahat seperti si iblis wajah singa, bukankah akan mengantarkan jiwanya anak muda itu secara Cuma-Cuma.? Kiauw-djie, gadis baju merah, memang ada satu gadis berandalan yang tidak takut segala apa, sudah tentu tidak gubris perintahnya utusan tersebut. Dan bagaiman dengan si iblis wajah singa sendiri ? Ia merupakan orang satu-satunya yang hendak mengangkangi mustika sudah barang tentu tidak mau meninggalkan begitu saja. Utusan burung laut itu agaknya dapat memahami semua maksud yang terkadang dalam hati orang-orang itu, maka dengan mendadak ia lantas mendekati Thian-san Liong-lie dan kiauw-djie serta berkata kepada mereka. ‗‘Tho liehiap‘‘ nona siang-koan, kalian berdua harap jangan khwatir, majikan kita tidak ada mengandung maksud jahat terhadap sahabat kecil ini, mungkin malah ada faedahnya bagi dia !‘‘ Thian-san Liong-lie dan sigadis baju merah pada merasa heran, mengapa utusan ini mengetahui nama mereka, bahkan tahu maksud mereka ini benar-benar sangat aneh. Yo Cie Cong saat itu mendengar dari mulutnya utusan burung laut, lantas mengetahui bahwa sigadis baju merah itu ada seorang she Siang-koan, namanya sudah tentu adalah siang- koan kiauw. Sebab Cin Bie Nio panggil padanya Kiauw-djie ( anak kiauw ). Siang-koan kiauw yang biasanya membawa adatnya sendiri, lantas menanya kepada si utusan : ,, Bagaiman jika aku tidak mau berlalu ?‘‘ Utusan angka ‗1‘ ketawa ringan. ,, Barangkali tidak mungkin kau bisa bawa caramu sendiri !‘‘ jawabnya.

Baru saj habis ucapannya, sang utusan itu nampak gerakan tangannya, suatu kekuatan tenaga dalam yang tidak kelihatan, sudah meluncur kearah Siang-koan kiauw, seranganitu nampaknya sedikitpun tidak ada yang luar biasa. Siang-koan kiauw dengan seenaknya saja lantas angkat tangannya untuk menyabuti. Siapa serangan yang kelihatan biasa saja itu, begitu menyentuh badan orang, segera menimbulkan semacam kekuatan yang luar biasa hebatnya, sehingga dirinya Siang-koan Kiauw terpental sampai 3 tumbak jauhnya. Untuk sesaat lamanya, ia berdiri seperti patung. Satu utusan saja sudah demikian hebat kekuatannya, apalagi majikannya, pikirnya. Thian-san Liong-lie dengan berpendirian menantikan perkembangan lebih jauh, lalu melanjang sejauh 5 tumbak, namun sepasang mata terus ditunjukan kedalam kalangan tanpa berkesip. Utusan burung laut angka ‗1‘ itu lantas maju dua tindak dan berkata kepada si iblis wajah singa : ,, Bagaiman dengan saudara ?‘‘ Si iblis wajah singa yang dengan senjatanya yang istimewa telah berhasil membinasakan Gu-liong-kauw, sebetulnya mustikanya sudah berada dalam tangannya, siapa Tanya kemudian menjadi barang rebutan kawanan iblis, sehingga secara kebetulan masuk kedalam perutnya Yo Cie Cong. Dan setelah bertempur mati-matian sampai ia kehilangan sebelah lengannya, kini muncul dua orang yang mengaku sebagai utusan burung laut, biar bagaiman ia tentu tidak mau mengerti, apalagi dalam tanganya masih ada mempunyai senjatanya yang paling ampuh, sudah

tentu tidak mau mandah begitu saja. Maka setelah mendengar pertanyaan sang utusan itu, lantas menjawab sambil perdengarkan suara ketawanyayang aneh : ,, Lohu tidak akan berlalu dari sini, saudara mau apa ?‘‘ ,, Didalam dunia Kang-ouw belum pernah ada orang yang berani menatang terang-terangan perintahnya pemilik bendera burung laut !‘‘berkata utusan angka ‗1‘ itu. ,, Lohu justru tidak mau percaya segala omong kosong demikian, bocah ini pasti lohu hendak bawa !‘‘ jawab si iblis dengan mata beringas. ,, Dimana bendera burung laut sampai, siapa yang menentang berarti binasa !‘‘ Bicaranya sang utusan itu diucapkan sepatah demi sepatah, dan perkataan yang paling terahir itu ia sengaja tandaskan demikian rupa. Si iblis wajahnya berubah seketika, sambil kertak gigi ia berkata dengan suara bengis : ,, Lohu ingin sekali belajar kenal dengan kepandaiannya partai burung laut, ada apanya yang patut dibanggakan, sampai begitu berani tidak memandang mata segala orang heh, heh……‘‘ ,, Kau masih belum berhak untuk belajar kenal !‘‘ bentak si angka ‗1‘. Si iblis wajah singa yang sudah meluap kegusaranya, lantas Angkat tangan kirinya. Benda kecil hitam dalam gengamanya sudah akan dilemparkan. Jika hal demikian terjadi, maka 4 orang yang berada di situ akan binasa semuanya. Dua orang utusan burung laut itu lantas mundur 2 tindak. Pada saat itu Yo Cie Cong perlahan-lahan sudah pulih kekuatanya. Wajahnya yang pucat pasi, perlahan-lahan berubah merah, mungkin itu

ada pengaruhnya mustika Gu-Liong-Kauw yang masuk dalam perutnya. Tapi ia tau bahwa bahaya maut masih belum berlalu dari depan matanya. Nama pemikik bendera burung laut itu ia belum pernah dengar tapi sekarang tiba-tiba datang utusanya yang hendak membawa ia pergi, ini sesungguhnya sangat aneh. Dengan sorot mata yang dingin ia mengawasi wajah orang-orang yang ada disitu, hatinya merasa mendelu. Malam sudah mulai tiba, keadaan seputar situ sudah agak gelap, keadaan itu nampaknya bertsmbsh menyeramkan. Utusan burung laut itu meski mempunyai kepandayan tinggi, tapi menghadapi keadaan demikian, agaknya juga merasa sulit, tidak bisa mengambil keputusans. Karena setiap kali bendera burung laut itu muncul, segala sesuatu bisa dibnereskan dengan segera. Maka kalau hari ini tidak bisa menghadapi persoalan yang agak sulit ini, bendera kecil ini selanjutnya akan tidak berharga lagi. Dipihak Si Iblis Raja Singa, sudah berkeputusan hendak menghancurkan semua orang yang ingin mendapatkan dirinya Yo Cie Cong, sekalipun ia sendiri harus binasa. Ia tidak senang barang yang ia ingin dapatkan terjatuh kepada orang lain. Orang yang ia paling benci adalah Cin Bie Nio, itu wanita yang setengah tua yang genit dan jahat. Jikalau ia tidak ada Cin Bie Nio yang selalu menghalang-halangi, mustika Gu-Liong-Kauw itu siang-siang sudah menjadi kepunyaanya. Maka ia merasa gemas sekali terhadap Cin Bie Nio, ia ingin bisa membesat kulitnya dan kemudian memakan ginjalnya.

Pikiran jahat lalu timbul dalam hatinya : ―Jika aku bisa berusaha membinasakan perempuan tua yang genit dan jahat bisa binasa lebih dulu, sekalipun aku sendiri binasa aku puas‖. Maka ia lantas berkata kepada kedua utusan itu:….Lohu ingin melepas bocah ini, juga tidak akan menggunakan senjata lohu yang ampuh itu, tapi ada syaratnya. Kalian harus melakukan sesuatu untuk Lohu‖. Kedua utusan itu saling memandang sejenak, untuk sementara tidak bisa menjawab. Merasa merasa heran, mengapa iblis itu bisa mengatakan demikian? Dan apa syarat yang hendak diajukan? Kiranya syarat itu tidak mudah tentunya. Karena kedua utusan itu wajahnya tertutup oleh kedok kain hitam, maka tidak bisa dilihat bagaimana sikapnya pada saat itu. Thian –san Liong Tie dan Siang Koan Kiaw yang berdiri ditempat sejauh 5 tumbak, ketika menyaksikan orang yang mereka sangat perhatikan keselamatanya berada dalam keadaan bahaya, hati mereka sangat gelisah. Mereka ingin menggempur iblis wajah singa itu,tapi kuatir membuat gusar iblis itu dan betul-betul melemparkan senjatanya yang bisa meledak itu, sehingga Yo Tjie Cong juga turut binasa. Sebentar kemudian. Utusan burung laut angka ―I‖ mendadak berkata: ..syarat apa yang saudara hendak ajukan ? coba sebutkan!‖ Si iblis wajah singa itu dengan matanya yang buas mengawasi Chin Bie Nio juga berdiri jauh-jauh, kemudian berkata sambil kertak gigi: …..perlu Lohu jelaskan dulu, apa bila syarat ini tidak trpenuhi, maka lohu akan bawa bocah ini pergi. Sipa yang berani menghalangi, kita akan bisa bersama-sama dibawah senjata peledak ini.

Perkataan yang kejam dan tidak tau malu ini, membuat kedua utusan itu tercengang. ..sahabat boleh sebutkan dulu !‖ ..Lohu dengan wanita baju putih itu, mempunyai permusuhan yang sangat dalam. Kalian berdua coba pergi tangkap padanya setelah lohu pergi dengan tangan sendiri coba membereskan musuh ini, lantas berlalu dengan tangan kosong. Bagaimana? Maksud dan tujuan si iblis itu, kendak menggunakan tenaganya dua utusan itu untuk menangkap diti Tjien Bie Nio, kemudian mati bersama-sama. ..yang sahabat maksud apakah bukan ketua perkumpulan Pek-Leng-Hwee ?.‖ Benar, dengan kepandaian kalian berdua, rasanya tidak sulit menangkap dia !.‖ .. kita berdua hanya mendapat perintah dari majikan bocah ini, tidak mencampuri urusan lainya. Tentang maksudmu ini maaf kami tidak terima !.‖ ..kalian tidak pikirkan akibatnya?‖ ..syarat ini kami tidak terima!.‖ ..jangan sesalkan kalo Lohu berlaku kejam, kita terpaksa harus binasa bersama-sama!‖ si iblis itu kembali mengancam dengan senjatanya yang ampuh. Ketegangan makin memuncak, peristiwa yang sangat mengenaskan rasanya tidak dapat dielakan lagi. Tian-san Liong-lie dan siang koan Kiaw wajahnya berubah pucat, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kesudahanya. Apabila siiblis itu benar-benar buktikan ancamanya. Dua utusan burung laut itu telah mendapat perintah dari atasanya,

tapi tidak berhasil melaksanakan tugasnya, sekalipun dirinya akan dirinya bakal hancur lebur, juga tidak akan mundur setengah jalan sebab ini menyangkut nama baik partai burung laut. Pertama saja kedua utusan itu sudah nenpunyai kepandayan yang sangat tinggi karena pada saat itu mereka tidak berdaya sama sekali. Sebentar saja suasana nampak semakin gawat . Mendadak suara nyaring terdengar menggema diudara. ..utusan angka 1 dan 7 lekas mundur, biarlah punleng yang menyelesaikan persoalan ini sendiri. Kedua utusan itu tanpa banyak bicara lantas melesat sejauh lima tumbak lebih., sekali bergerak lagi. Sudah lenyap dalam kegelapan kegesitanya itu sungguh mengagumkan. Hati orang-orang pada berdebaran, karena manusia yang sangat misterius itu akan segera muncul. Entah dengan cara bagaimana ia dapat membereskan masalah ini. Didalam hatinya siiblis wajah singa, tiba-tiba timbul kekejamanya Dengan kecepatan luar biasa ia pindahkan senjata ampuhnya, kebawah ketiak kanan, tangan kirinya sudah siap sedia mencegah segala kemungkinan, ia lantas menengok ke dalam liang yang dalam dan gelap gulita. Bekas tempat persembunyian Gu-Liong-Kauw. Bagaimana keadaanya didalam liang itu, tidak seorang pun yang tau. Si Iblis wajah singa dengan mendadak menubruk dirinya Yo Cie Cong, kemudian lemparkan matanya, kedalam liang yang dalam itu. Supaya simustika yang direbut itu tidak jatuh pada siapapun juga. Kekejaman iblis tua itu, sesungguhnya sukar dicari keduanya. Serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu, sudah Tentu ada yang sanggat hebat. Yo Cie Cong yang kekuatan tenaganya baru pulih dua bagian terang

tidak mampu menyingkir.perbuatan si iblis tua ini benar –benar dugaan semua orang suara jeritan terdengar.mulut Yo Tjie Yong menyemburkan darah segar,badan nya terpental tinggi seolah –olah jangan putus talinya tubuhnya meluncur hendak masuk kedalam liang.suara jeritan dua wanita terdengar,disusul oleh melesatnya dua bayangan orang laksana anak panah cemburu pada Yo Cie Cong. Hampir bersamaan pada saat itu juga,kembali satu bayangan melesat kearah jatuhnya Yo Jjie Tjong. Ketika dua bayanggan yang disebut duluan hampir tiba di dekat liang, tubuhnya Yo Cie Cong sudah disambar oleh bayangan orang yang melesat belakangan tadi. Dua bayangan orang yang bergerak duluan tadi adalah Thian-san Liong-lie dan Siang-koan kiauw.setelah menjerit kaget mereka enjot badannya melesat untuk menolong Yo Cie Cong Pada saat itu,orang yang bergerak berhasil menyambar dirinya Yo Tjie – Tjong,dengan sangat hati-hati meletakan tubuhnya Yo Cie Cong ditanah.ia mencoba memeriksa jalan pernapasan,lantas geleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas kemudian menghampiri si iblis wajah singa. Orang itu badanya tinggi langsing,wajah nya di tutupi oleh kedok warna merah mengenakan pakaian baju panjang.Gerakannya gesit luar biasa. Thian-san Liong-lie dan Siang-koan Kiaw tidak mau memperhatikan orang yang baru datang itu,ia merasa ngeri terhadap orang aneh itu yang jalan menghampiri padanya. Sebentar kemudian orang itu sudah berdiri dihadapannya kira2 dua kaki jauhnya. Orang itu pertama-tama mengambil bendera kecil yang menancap

ditanah,kemudian dimasukan kedalam sakunya. Si iblis wajah singa sudah dapat menduga siapa adanya orang itu,hatinya agak bimbang.tetapi ia masih mau mengandalkan senjata peledak didalam tangan nya yang dianggap dengan senjata itu mampu melindungi dirinya. Saat itu ia coba berlaku tenang sebisanya,dengan suara bengis ia menanya: ..kau siapa ?‖ ..pemilik bendera burung laut !‖jawab orang berkedok itu dengan dingin. Jawaban yang sangat ringkas itu telah membuat orang2 Pek-Leng-Hwee dan kedua berdiri jauh2 pada terperanjat dan gemetaran. Karena manusia aneh yang sangat misterius itu benar2 telah muncul. Sipemilik golok maut yang telah di kuatirkan oleh ketua Pek-Leng-hwee dan kedua pangcu ternyata sehingga saat itu masih belum menunjukan dirinya dan sebagai gantinya telah muncul si pendekar aneh ini sesungguhnya ada diluar dugaan mereka. Kalau begitu,pemuda yang bersikap dingin kecil itu mungkin benar tidak ada hubungannya dengan pemilik golok maut.tetapi kepandaian ilmu silatnya yang pernah diperlihatkatnya,merupakan kepandaian yang hanya dimiliki oleh Pangtju dari Kam-Lo- Pang.dan orang yang mengganas dengan Golok maut itu pernah menyebut dirinya sebaggai Pangtju dari Kam-lo-Pang. Sudah tentu mereka tidak mengetahui bahwa pemilik golok maut yang asli yang selama waktu empat bulan pernah menggerakan dunia rimba persilatan,sudah kepergok jejakanya oleh musuh lama yang merupapakan musuh nomor satu.ia dikuntit dan kemudian di binasakan.

Sedangkan orang yang melakukan pembunuhan terhadap dirinya Si-buli2wajah burung sebetulnya adalah pengganti pemilik Golok maut,bukannya Golok Maut yang asli. Dan penggantinya itu adalah Yo Cie Cong yang saat itu masih belum diketahui nasibnya. Baiklah kita tinggalkan dulu tentang pikiranyakedua pantju dan ketua dari Pek-Leng-Hwee itu. Sekarang kita balik lagi kepada si iblis wajah singa yang saat itu menjadi gelap pikirany,maka ia lantas menanya pula kepada orang di depannya : ,,mengapa sahabat mencampuri urusan ini ?‖ ,,hal ini tidak perlu kau menanyakan.‖ ,,bagaimana maksudmu ?‖ ,,menurut kebiasaan,siapa yang berani menentang perintah burung laut berarti mati !‖ ,,Huhh,huhh! dengan satu jiwa aku tukar dengan jiwamu,hitung2masih tidak rugi!‖kata si iblis sambil mengacungkan senjata peledak di tangannya. ,,sebutir peluru kecil ini dapat digunakan untuk menggertak orang2 biasa,tetapi bagiku tidak ku pandang sama sekali .‖ ,,kallau begitu kau boleh coba merasakan peluru kecil ini.‖ ,,bagus!‖ Orang berkedok kain merah itu mengucapkan ―bagus!badanya bergerak laksana kilat. Si iblis wajah singa itu belum sempat memikirkan apa yang terjadi,didepan matanya mendadak berkelebat bayangan kemudian tanggannya menjadi ringan benda kecil hitam yang dianggap mempunyai pengaruh melindungi dirinya tahu2 sudah berada ditangan orang lain.

Semangatnya lantas terbang seketika. Wajahnya pucat seperti mayat. Perbuatab yang dilakukan oleh orang berkedok itu tadi seolah-olah bukan perbuatan manusia. Orang berkedok itu tiba-tiba pendengaran suaranya yang nyaring. Sambil ketwa orang berkedok itu mengagkat takan kananya.. 5 jari tanganya kelihatan menunjuk pada si Iblis wajah singa. Jari-jari itu mengeluarkan amgin tajam yang luar biasa hebatnya. Suara jeritan si Iblis lantas terdengar, Iblis raja singa yang terkenal kejam dan ganas itu telah tamat riwayatnya. Orang berkedok sehabis membereskan Iblis raja singa itu lalu memutar tubuhnya, dengan perlahan menghampiri Yo Cie Cong.

Bagian Ke Delapan DIRINYA Yo Cie Cong yang dibuat terpental oleh serangan si Iblis wajah singa, kalau tidak keburu disambar oleh orang berkedok itu, sudah tentu tamat riwayatnya. Dan orang berkedok itu karena anggap ditanganya sio Iblis wajah singa masih mempunyai senjata peledak yang sangat ampuh, maka lantas mengambil keputusan. Untuk membereskan si Iblis wajash singa itu.dulu. Yo Cie Cong yang menggeletak ditanah, dari mulut, hidung dan telinganya mengeluarkan darah matanya tertutup rapat, keadaanya sangat mengenaskan. Thian-san Liong-lie dan siang-koan Kiauw yang sudah berada didampinginya, lantas memreiksa pernafasanya, yang ternyata sudah tidak ada, sedang jantungnya juga sudah berhenti, sekujur badannya sudah mulai kaku dingin. Maka seketika itu mereka jadi tertegun. Siang-koan Kiauw sudah melupakan keadaan dirinya sebagai seorang gadis, telah memeriksa urat-urat penting pemuda itu. Ia kaget dan

menangis, dengan suara yang terisak-isak ia bertanya Thian-san Liong-lie. …Bibi Tho……! Dia………dia…….. Karena tadi ia dengar Yo Cie Cong membahas Tian-san Liong-tie ―bibi‖ dalam keadaan cemas seperti itu, ia juga turut menggunakan panggilan ‗bibi‖ itu. Tapi pertanyaany tidak dilanjutkan, karena suara tangisan sudah tidak dapat dicegah lagi. Ia aganya sudah mendapat firasat yang tidak baik, tapi ia masih bertanya juga, dengan perngharapan dari mulutnya orang lain. Tidak membenarkan dugaanya sendiri yang sngat menakutkan. Sepasang mata Thian-san Liong-lie sudah basah dengan air mata parasnya pucat pasi. Dengan perlahan ia angkat kepalanay, sambil menghela nafas panjang ia menatap wajah siang-koan Kiauw-djie, kemudian dengan suara sediah ia menjawab : ,, Nona siang-koan Kiauw ! dia……dia…….. ,, Dia bagaimana ? apa masih ada harapan untuk ditolong ?‘‘ ..Dia sudah mati,‖jawab Tian Liong-lie. Sambil gelengkan kepala.…Mati….Dia sudah mati…? Parasnya siang-koan Kiauw berubah menjadi pucat. Mulutnya mendumal sendiri, seperti sedang mengigo. Air matanya mengalir deras dari sela-sela matanya.Hati seorang gadis putih bersih telah hancur luluh. …Bibi Tho ! apakah ……….ini benar ? demikian ia bertanya. Nona siang-koan Kiauw dai bukan apa-apaku, aku hanya merasa bahwa dengan bocah ini aku seperti merasa cocok. Selain dari pada itu, sebagai manusia yang mempunyai perasaan, peri kemanusiaan, aku tidak bisa tinggal peluk tangan!, ―jawab Thian-san Liong-lie ‖.yang

kemudian balas menanya; …nona Siang-koan Kiauw kau mencintai dia ?‖ Pertanyaanya secara terus terang ituy telah membuat jengah Siang-koan Kiauw. Setelah menyusut air matanya, yang mengalir di kedua pipinya, nona itu menjawab sambung menghela nafas: ―yah dia sudah binasa !‖ Angin malam meniup kencang, kesunyian meliputi jagat, kedukaan dan kesedihan dilubuk hatinya kedua wanita itu. …bibi Tho siapanamanya ?‖ …eh !, ― pertanyaan itu sesungguhnya membuat heran Thian-san Liong-lie dan siang liang koan. Yang sudah berada disampingnya.lantas memeriksa pernapasannya,yang ternyata sudah tidak ada,sedang jantungnya juga sudah berhenti berdenyut,sekujur badannya juga sudah mulai kaku dingin.maka seketika itu mereka tertegun. Siang-koan kiauw saat itu telah sudah melupakan keadaannya sendiri sebagai seorang gadis,telah memeriksa urat2 penting dari pemuda itu.Ia kaget dan menangis,dengan suara tersiak2 ia bertanya pada Thian-san Liong-lie ,,Bibi Tho…! dia…dia…‖ Karma ia tadi dengar Yo Jie Tjong membahaskan Thian-san Liong-lie‘Bibi,dalam keadan cemas seperti itu,ia pun turut menggunakan panggilan itu. Tapi pertanyaannya tidak dapat dilanjutkan,karena suara tangisan sudah tidak dapat di cegah lagi. Ia agaknya mendapat pirasat tidak baik,tetapi ia masih menya juga,dengan pengharapan dari mulut orang lain.tidak membenarkan dugaannya sendiri yang menakutkan. Sepasang matanya Ia agaknya mendapat pirasat tidak baik,tetapi ia

masih menya juga Thian-san Liong-lie sudah basah dengan air mata parasnya pucat pasi.dengan perlahan ia angkat kepalanya, sambil menghela napas panjang ia mengawasi wajahnya. …Nona Siang-koan ! dia…..dia…. …Dia bagaimana ? apa masih ada harapan untuk ditolong ?‖ …Dia sudah mati.‖ Jawabnya Thian-san Liong-Lie sambil gelengkan kepala. …Mati ? dia sudah mati ?‖ Parasnya Siang-koan Kiauw berubah menjdi pucat, mulutnya mendumel sendiri. Seperti sedang mengigo. Air matanya mengalir deras dari sela-sela matanya, hati seorang gadis yang masih putih kini telah hancur luluh !‖ …Bibi Tho !apakah ……..ini ada benar ?‖ demikian ia bertanya seperti orang linglung. …Nona Siang-koan Kiauw. Itu adalah benar….sudah tidak tertolong lagi!‖ …Bibi Tho ! ijinkanlah aku menyebut demikian kepada dirimu : dia ….dia pernah apa dengan kau ?‖ Thian-san Liong-Lie tergoncang hatinya ketika mendengar pernyataan seperti itu. Sudah tentu ia tidak bisa menjawab. Yo Cie Cong ada sangat mirip dengan kekasihnya yang sepuluh tahun lebih lamanya ia piker dan cari-cari. Dia merupakan sebuah jawaban kedua. Kalau ia tadi sampai tidak menghiraukan jiwanya sendiri hendak menolong jiwanya Yo Cie Cong sebab pemuda ini sikap dan wajahnya ada sangat mirip dengan kekasihnya pada sepuluh tahun berselang hingga dianggapnya seperti penjelmaan sang kekasih yang sudah lama tidak kedengaran kabar ceritanya itu. Seandainya jarum lonceng mundur 10 tahun ia bisa anggap pemuda itu

kekasihnya. …Nona Siang-koan Kiauw. Dia bukan apa-apa ku, aku hanya merasa bahwa dengan bocah ini kau merasa cocok. Selain dari pada itu sebagai manusia yang mempunyai perasaan prikemanusiaan, aku tidak bisa tinggal peluk tangan !‖ jawab Thian-san Liong-Lie yang kemudian balas menanya : …Nona Siang-koan Kiauw kau mencintai dia ?‖ Pertanyaaan secara terus terang itu telah membuat jengah Siang-koan Kiauw. Setelah memesut air matanya yang memgalir di kedua pipinya, nona itu menjawab sambil menghela napas : …yah dia sudah binasa !‖ Angin malam meniup kencang, kesunyian menyelimuti jagat kedukaan dan kesedihan menindik lubuk hatinya kedua wanita itu. …Bibi Tho Hui Hong, dia siapa namanya ?‖ …Eh !‖ Pertanyaan itu sesungguhnya membuat heran Thian-san Liong-Lie. Cinta itu benar-benar buta. Nona ini yang masih belum mengenal nama orang yang di cintainya. Dan toh sudah berani mempertaruhkan jiwanya untuk membela !‖ …Dia bersama Yo Cie Cong !‖ …Yo Cie Cong !‖ Siang-koan Kiauw menyebut nama itu sampai berulang-ulang. Hening………. Kedua wanit itu masing-masing mengandung perasaan sendiri-sendiri…… Nona baju merah Siang-koan Kiauw sejak dilahirkan di dalam dunia untuk pertama kalianya telah jatuh cinta kepada seorang laki-laki. Hatinya seorang gadis yang masih putih bersih telah di doberak oleh Yo Cie Cong tapi sekarang orang yang dicintainya itu sudah tidak

bernyawa …. Mungkin cintanya itu hanya sepihak saja sebab pemuda itu cinta padanya atau tidak. Masih merupakan sebuah pertanyaan tapi ia tidak berpikir demikian cinta adalah cinta biar walau bagaimana cinta ia timbul dari hatinya yang suci murni. Pada saat itu hatinya sedang diliputi oleh kedukaan putus asa dan kehilangn pegangan. Lain pula sifatnya rasa cinta Thian-san Liong-Lie yang di curahkan kepada Yo Cie Cong cintanya bukan cinta birahi, bukan karena pemuda itu mempunyai wajah yang cakap tampan. Tapi semata-mata ia ada mirip dengan wajahnya seorang yang pernah `menempati ` hatinya pada sepuluh tahun lebih berselang. Namun ia juga merasa seperti kehilangan hingga hanxur luluh hatinya. …Aih !‖ Suara elahan napas berat telah memecahkan kesunyian dn mengejutkan kedua wanita itu, hingga kedua-duanya lantas menoleh dengan serentak. Seorang dengan kedok kain merah entah sejak kapan sudah berdiri di belakan g mereka. Kedua wanita itu seolah-olah sufah tidak tahu kalau orang berkedok kain merah itu tadi sudah membinasakan si iblis wajah singa. Karena hati mereka sedang diliputi oleh perasaan duka yang terlalu hebat. ..Aih ! Tuhan sudah menjelmakan dia di dunia mengapa tidak diberikan umur panjang ? Bakat dan tulang-tulangnya anak inii dalam beberapa ratus tahun lamanya susah ditemukan keduanya. Apalagi dengan secara kebetulan sudah menelan mustika Gu-lion Kauw tidak susah membuat dia jadi seorang kuat nomor satu dalam rimba persilatan : Apamau sekarang telah direnggut jiwanya oleh orang jahat ah ! Tuhan

sesungguhnya tidak adil ! demikian orang berkedok itu berkata seolah-olah kepada dirinya tapi juga seperti ditunjukan kepada kedua wanita itu. Thian-san Liong-Lie seperti pernah dengar suaranya orang berkedok itu , begitu pula dedak dan sikapnya tapi pada saat itu sudah tidak ingat lagi. Mak ia lantas bertanya : ,,Bolehkah tuan memberitahukan kepada kami nama tuan yang mulia ?‖ Orang yang berkedok itu agaknya dibikin kaget oleh pertanyaan itu. Badannya agak gemetar, ia mundur satu tindak lama baru menjawab dengan perasaan dingin : …Pemilik bendera burung laut !‖ ….yang kutanyakan adalah nama tuan yang mulia ?‖ Thian-san Liong-Lie tegaskan. Orang berkedok itu tiba-tiba perdengarkan suara ketawanya yang panjang. Badannya nampak semakin gemetar. ….Aku tidak mempunyai she dan nama aku hanya seekor burung laut yang tidak ada artinya di dunia ini!‖ jawabnya dengan suara parau. Sehabis berkata, seakan-akan tidak suka ditanya lagi oleh wanita itu maka lantas menghampiri dirinya Yo Cie Cong pula. Sekali lagi ia juga memeriksa urat nadinya, lalu berkatasambil gelengkan kepala.‖ …benar-benar ia sudah binasa !‖ Siang-koan Kiauw mengalir lagi air matanya. Ia dongakan kepala mengawasi langit yang gelap. Pikirannya menjadi linglung seolah-olah sudah tidak menyadari apa yang terjadi disekitarnya. Apa yanga ada dalam alam pikiranyan pada saat itu ialah satu-satunya orang yang dicintai kini benar-benar sudah binasa dia meninggalkan padanya untuk selama-lamanya.

Thian-san liong-lie melihat orang berkedok itu tidak mau memberi tahukan namanya ia juga tidak baik,maka wajahnya lantas berubah. ,,memangnya kenapa ?‖ia bertanya, dengan suara tidak senang. ,,harus di jaga supaya janggan sampai ada orang jahat yang tidak ada yang menggali kuburannya dan membelek matanya.‖ Thian-san Liong-lie terperanjat. ,,Hal itu memang terjadi.‖ ,,Menurut pikiranmu bagaimana ?‖ ,,Harus dikubur ditempat tersembunyi supaya tidak diketahui orang lain.‖ Thian-san Liong-lie mengagukkan kepalanya,suatu tanda ia menyetujui pikiran si orang berkedok. Pada saat itu orang-orang Pek-leng-Hwee,Tjie-in-pang dan ban-siu-pang diam-diam berlalu semuanya,karena mereka takut berhadapan dengan orang berkedok itu. Tetapi masih ada orang yang menyembunyikan diri sambil terus memperhatikan gerak-gerik semua orang yang ada disitu. Siapa orangnya itu ? Orang itu tidak lain adalah Tjien Bie Nio,ketua Pek-Leng-Hwee yang terkenal genit dan banyak akal nya. Mengapa ia masih belum maumeninggalkan tempat itu ? apakah karma di sebabkan Siang-koan Kiauw masih berada di situ ? oleh karna ia ibu tirinya Siang-koan Kiauw-djie,ibu yang memperhatikan anaknya. Tetapi wanita genit dan jahat tidak mau mengaku sama sekali.sebetulnya ia tidak meninggalkan tempat itu karena menggandung suatu maksud tertentu. Saat itu satu pikiran jahat memalukan telah timbul di dalam otaknya. Orang berkedok itu tiba-tiba menghela napas.

Entah karena bersedih atas kematiannya Yo Cie Cong atau karena di sebabkan soal lain lagi. ,,Thio Lihiap, aku permisi pergi dulu.‖ia berkata pada Thian-san Liong-lie. Atas bantuanmu yang berharga, aku si orang she Tho mengucapkan terima kasih !‖ Kedua mata orang berkedok itu, tiba-tiba memancarkan sinar yang aneh, ia mengawasi Thian-san Liong-lie sejenak, kemudian berlalu. Seperginya orang berkedok itu, keadan di situ kembali menjadi sunyi senyap. Thian-san Liong-lie mengawasi berlalunya orang berkedok itu, dalam hatinya timbul perasaan aneh. Orang berkedok itu seandainya mengetahui siapa adanya Yo Cie Cong yang saat itu sudah binasa,tidak nanti ia gampang-gampang meninggalkannya begitu saja. Tetapi ia sama sekali tak menduga kalau pemuda itu ada hubungannya dengan dirinya. Thian-san Liong-lie pada depuluh tahun silam menjadi kenangan bagi dirinya yang menyedihkan, setelah meninggalkan gunung Thian-san Liong-lie,terus berkelana dalam dunia Kang-Ouw dengan maksud hendak mencari seseorang, yaitu kekasihnya yang seumur hidupnya tidak dapat dilupakan. Orang itu wajahnya mirip sekali dengan Yo Cie Cong hanya umurnya saja berbeda. Siang-koan Kiauw saat itu agaknya sudah menduga dari semula. Ia tidak berani melihat,tetapi dengan tidak sengaja matanya di tunjukan pula kearah jenajah Yo Cie Cong. Rasa perih dan sedih kembali menusuk hatinya.

Tiba-tiba memeluk Thian-san Liong-lie dan menangis mengngerung-ngerung seperti anak kecil. Suara tangisannya itu menyayat hati, apa lagi dalam keadaan malam yang sunyi malam itu. Thian-san Liong-lie turut merasa sedih air matanya turun seperti hujan. ,,nona Siang-koan Kiauw-djie,kau harus pulang.‖ ,,bibi Tho,bagaimana denagan dia ?‖ ,,aku kan mencari ke suatu tempat yang sangat sembunyi untuk mengubur jenajahnya.‖ …..kenapa ?‖ …oleh karena dalam perutnya masih ada mustika Gu-liong-kao. Jika kuburanya diketahui oleh orang lain, kuburannya bisa dibongkar dan perutnya bisa dibelek.‖ …Aku mau ikut. Aku harus mengetahui kuburanya. Supaya aku bisa sering-sering tengoki dia.‖ Thian-san Liong-lie tergerak hatinya terhadap kecintaan hati nona itu pada dirinya Yo Cie Cong lantas ia berkata dengan suara lemah lembut : ….Nona Siang-koan ……….‖ ….Aku bernama Kiauw-djie. Bibi Tho panggil saja aku Kiauw-djie. ― …Baiklah Kiauw-djie mari kita jalan .‖ Thian-san Liong-lie lalu menggotong jenajahnya Yo Cie Cong. Dua bayangan orang dengan cepat berjalan menuju kesebuah bukit yang paling tinggi. Pada saat itu satu bayangan orang lain telah muncul keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan jalan sembunyi-sembunyi ia mengikuti jejak kedua orang yang jalan lebih dulu tadi.

Setelah orang-orang berlalu semuanya. Keadaan ditepi danau itu kembali menjadi sepi sunyi.seperti keadaan semula. Malam telah makin larut tidak lama lagi akan menjelang pagi hari. Pada suatu tempat yang jauh dari keramaian manusia. Di dalam lembah yang sangat tersembunyi yang berumput subur dan berbunga-bunga beraneka warna. Dibawah sebuah pohon cemara yang besar kelihatan segundukan tanah yang baru penuh dengan bunga-bunga beraneka warna. Gundukan tanah itu adalah sebuah kuburan baru yang tidak ada batu nisannya juga tidak ada namanya. Di depan kuburan itu ada berdiri seorang wanita cantik setengah tua dan gadis berpakaian baju merah. Mereka itu adalah Thian-san Liong-lie dan Sian-koan kiauw. Dua orang yang rebah dalam kuburan itu adalah Yo Cie Cong pemuda yang tampan cakap.yang bersiakp adem kecut. Thian-san Liong-lie dengan perlahan tangannya menarik tangannya Siang-koan Kiauw yang kelihatannya sudah terbang semangatnya. ……Kiauw-djie mari kita pulang.‖ …..Bibi Tho apakah kita akan membiarkan dia rebahan di dalam lembah yang sesunyi ini ?‖ …Anak tolol, jangan mengucapkan perkataan yang setolol ini mari kita pulang. Kembali Siang-koan Kiauw mengamati gundukan tanah didekatnya, mulutnya kemak-kemik dengan air mata berlinang-linang. …..Engko Tjong kami akan meninggalkan kau tetapi aku akan kembali menengoki kau lagi si nona berkata dalam kemak-kemiknya. Thian-san Liong-lie menghela napas sambil menggendong tangannya Siang-koan Kiauw berjalan keluar lembah, tetapi sebentar-sebentar

masih menoleh kea rah kuburan Yo Cie Cong. Tidak lama setelah kedua orang itu berlalu kelihatan satu bayangan putih muncul disitu. Bayangan putih itu adalah Cin Bio Nio ketua Pek-leng-hwee yang sejak semalam terus mengikuti jejak Thian-san Liong-lie dan Siang-koan Kiauw-djie.; Saat itu wajahnya kelihatan perasaan bangga. Ia mengetahui bahwa Yo Cie Cong tidsk bisa mati selama biji mukjijat itu masih berada di dalam badannya. Setelah berfikir sejenak,Cin Bio Nio mulai bertindak dengan sangat mudah ia sudah menggali kuburan itu, dan sebentar kemudian jenajah Yo Cie Cong sudah terbentang dihadapan matanya. Ia membiarkan jenajah itu rebah terlentang dia sendiri mengawasi jenajah itu sambil tersenyum. Tapi dimatanya terpancar sinar yang menakutkan. ….Dia tidak bisa mati. Setelah terkena sinar matahari Cuma setengah jam saja ia bisa hidup kembali. Hanya setengah jam saja. ― demikian ia berkata kepada dirinya kemudian menghunus pedang panjangnya. Wanita cantik genit dan jahat itu sudah akan membelek perut orang dan mengambil mustikanya. Sambil memperlihatkan senyumnya yang kejam.ujung pedangnya sudah akan di tancapkan di pusarnya Yo Cie Cong. Asal ia mengerakan tangannya sedikit saja ia sudah dapat mustika yang tidak ada duanya di dunia ini. Tidak ada yang seorangpun yang mengetahui dan menghalang-halangi. Perbuatnnya yang sangat keji itu. Apa mau ketika matanya melihat wajahnya Yo Cie Cong yang cakap dan tampan mendadak ia jadi ragu-ragu, matanya terus menatap pemuda yang tampan itu. Meskipun sudah banyak laki-laki yang dikenalnya tapi tidak ada

seorangpun yang dapat mnandingi kecakapannya pemuda ini. Maka pada saat itu hatinya mulai tergoncang. Napsu jahatnya yang tadinya hendak mengambil jiwanya pemuda itu perlahan-lahan lenyap dengan sendirinya dan napsu keji itu kini telah berganti dengan napsu birahi. Dimatanya yang hitam jeli terlihat berkobar napsu birahinya,sehingga tangannya lantas bergetar. Pemuda itu kalau di binasakan sangat sayang.sebab seorang yang tampan seperti ini,mungkin sukar di cari tandingannya. Jenazahnya Yo Cie Cong lalu di pindahkan kesebuah tempat yang mendapat cahaya matahari ! dengan sabar ia menantikan perubahan yang akan sebantar lagi. Kiranya mustika Gu-liong-kao itu harus bertemu dengan cahaya matahari baru kelihatan kasiatnya.betapun berat luka orang yang mengandung mustika di perutnya, asal tubuhnya tidak di cingcang.orang itu tidak bisa mati. Khasiatnya yang mukjijatnya ini, sampai orang-orang yang sudah pengalaman seperti oramg berkedok dan Thian-san liong-lie sekalipun tidak bisa mengetauinya. Mereka menganggap bahwa Yo Cie Cong sudah matisehingga hampir saja jiwanya hampir celaka. Tetapi entah bagai mana Jhin Bie Nio bisa mengetahui rahasia itu tidak ada seorangpun mengetahuinya. Maksud Cin Bie Nio sebetulnya hendak membelek perutnya Yo Cie Cong lalu mengambil mustikanya, tetapi sekarang pikiranya berubah.sebab ke tampanannya itu menimbulkan perasaan birahinya. Setengah jam berlalu dengan pesat ……… Keajaiban telah muncul.

Yo Cie Cong yang sudah mati hampir satu malam, tangan dan kakimya perlahan2 kelihatan bergerak wajahnya sudah mulai memerah badannya mulai bergerak2 dan mulai bernapas. Dalam hatin Cin Bie Nio saat itu timbul pertanyaan, bagaimana ia bisa membuat pemuda yang tampan ini mau tunduk padanya untuk selama-lamanya.setengah jam telah berlalu. Yo Cie Cong kelihatan membuka matanya. Ia seperti bangun dari tidurnya yang nyenyak, matanya di tujukan keatas.memandang ke angkasa.otaknya perlahan-lahan mulai mengingat-ngingat apayang telah terjadi atas dirinya. Perlahan-lahan ingatannya kembali normal,ia mengingat apa yang telah terjadi semalam di tepi danau. Ia di buat terpental oleh pukulan yang dasyat dan menganggap dirinya pasti binasa. Tetapi apa yang di anggap paling aneh ialah, pada saat itu rasa sakit di badannya tlah lenyap semuanya, dan di ganti perasan segar. Mendadak satu pikiran yang menakutkan timnul dalam otaknya. ―Apakah aku benar-bener sudah mati? ― Ia mencoba menggigit jarinya sendiri,ternyata masih dirasakan sakit, suatu bukti bahwa sebetulnya ia belum mati. Ia lantas bangun berdiri,matanya cellingukan memandang keadaan di sekitar tempat itu. Di bawah pohon cemara kira-kira dua tombak jauhnya dari dia berdiri, kelihatan berdiri seorang wanita muda berbaju putih. Ketika ia memandang siapa adanya wanita itu, wajah nya berubah seketika. Cin Bie Nio dengan sikapnya yang manis berjalan menghampirinya. Yo Cie Cong mengawasi padanya dengan alis berdiri, kemudian berkata dengan suara dingin.

,,Cin Bie Nio, hari ini aku akan suruh kau mengucurkan di gunung ini.‖ Cin Bie Nio terkejut,tetapi ia menjawab dengan wajah yang tidak menunjukan apa-apa. ,,Dengan kepandaianmu yang sekarang ini,kau masih belum mampu melakukan itu.‖ Sehabis berkata demikian ia menghampiri semakin dekat kearahYo Cie Cong. Dari sikap dan tingkah lakunya saat itu, terang si genit tidak bisa mengendalikan gelora asmaranya, tapi sedapat mungkin dia secepatnya menundukan sikapnya yang bisa memikat hati Yo Cie Cong . Benar saja, Yo Cie Cong saat itu hatinya agk tergoyang tepai kemuida cepa-cepat ia menguatkan hatinya dan berkata padanya dengan suara keras: ,,klau kau berani maju lagi satu langkah, aku terpaksa akan turun tangan!‘‘ Cin Bio Nio benar saja lantas menghentikan tindakan kakinya, matanya bergeling dan mulunya memperlihatkan ketawanya yang manis menggiurkan. Didalam lembah yang sunyi itu, dimana hanya ada mereka berdua, sudah tentu gampang menimbulkan perasaan yang buka-bukan. ,,joj, kau hendak apakan diriku?‖ Cin Bio Nio menanya dengan suara merdu. ,,aku mau bunuh kau!‖ ,,hah?sebabnya kenapa sih? Yo Cie Cong kemekmek. Didalam namanya musuh-musuh kam-lo-pang ada terdapat antaranya nama Cin Bio Nio bersama kedua pengikut lainya. Tetapi pada saat itu ia tidak berani mengataka terus terang, sebab ia mengetahui sendiri bahwa kepandaian ilmu silat maupun

kekuatanya masih belum cukup di gunakan untuk menuntut balas, maka ia lantas balas menanya. ,,akudengan kau ada permusuhan apa? Mengapa kau dengan kedua pengikut itu telah turun tangankeji sehinggga jiwaku hamper melayang? Sakit hati ini tidak boleh tidak aku harus perhitungkan dengan kau.‖ ,,Ooooo,itu hanya salah paham saja.‖ Jawab Cin Bio Nio ketawa. ,,hemmm! Salah paham?‖ ,,kau tidak percaya?‖ ,,tidak!‖ ,,tahukah kau, siapa yang menolong dirimu sehingga kau bisa bangun kembali dari lobang kubur?‖ ,,Yo Cie Cong terkejut. Ia memang tadi juga merasa heran, karena ia masih ingat betul bahwa dirinya sudagh di serang begitu hebat oleh si iblis wajah sings, mengapa tidak bisa binasa dan skarang bagaimna bisa ada disini? Yang lebih mengherankan ialah: lukanya tadi malam sudah seperti sembuh semua dan kekuatanya juga sudah pulih kembali. ,,tetapi dengan wajah yang masih tetap ketus dingin ia menjawab: ,,apakah kau bisa menolong diriku?‖ ,,hehh,benar. Justru akulah yang menolongmu. Jawaban itu seolah-olah bunyi geleg di tengah hari bolong. Jika benar ditolong oleh perempuan genit dan jahat ini, maka selanjutnya ia takan bisa turun tangan kepadanya. Tetapi wanita ini justru merupakan salah satu musuh-musuh lamanya. Bukankan itu merupakan suatu soal yang sangat sulit bagi dirinya?‖ Setelah berpikir sejenak,Yo Cie Cong lantas menanya: ,,mengapa kau menolong dirinya?‖

,,ehhh! Kau ini bagai mana sih. Apa menolong kau itu ada salah?‖ Sehabis berkata begitu, ia maju lagi dua langkah.

Bagian Ke Sembilan OLEH karena itu, maka jarak antara kedua orang itu, kira-kira. Tiga tindak lagi saja. Bentuk tubuhnya Cin Bio Nio yang sangat menarik hati, ditambah lagi dengan pakainya yang serba tipis, serta sepasang matanyayang genit menantang, benar-benar membuat runtuh hati laki-laki yang memandangnya. Yo Cie Cong yang usianya belum cukup delapan belas tahun belum pernah menghadapi perempuan yang begini cantik menarik, maka hatinya tiba-tiba berontak. Derngan tidak di sengaja ialantas bergerak mundur dua tindak. Suatu perasaan yang belum pernah di rasakan waktu sebelumnya, kini telah membuat hatinya tergoncang keras. Cin Bio Nio Yang centil genit,saat itu menghadapi seorang anak muda yang jauh lebih muda dari dirinya, matanya menatap wajah Yo Cie Cong yang tampan. Kedua pipinya merah membara, hatinya berdebar keras badannya kelihatan menggigil,ia sudah lantas memeluk Yo Cie Cong untuk melampiaskan perasaannya yang sedang berkobar. ,,Joj !aku lihat kau ketakutan memangnya aku menelan dirimu bulat-bulat ?jawablah !apa aku menolong dirimu suatu perbuatan yang salah ?‖ Sehabisberkata kembali ia menggeser lagi dua tindak. Yo Cie Cong bimbang hatinya. Di jawabnya dengan ketus saat itu mukanya memerah justru dengan demikian wajahnya yang tampan jadi

menarik. Cin Bie Nio makin lama memandang, makin merasa tidak dapat lagi mengendalikan hawa napsunya. Dengan mata menggering dan napas memburu ia berkata : ,,engko kecil siapa namamu ?‖Yo Cie Cong sebetulnya tidak ingin menjawab, tetapi seolah-olah ada kekuatan gaib yang membuat ia sukar menolak, maka akhirnya ia menjawab juga: ,,aku bernama Yo Cie Cong .‖ ,,Yo Cie Cong ?‖ ,,Ngng.‖ ,,YoTjien Hoan, ketu dari kam-lo-pang itu masuh pernah apa dengan kau ?‖ Wanita genit itu meski di bawah pengaruhnya napsu birahi begitu hebat, tapim masih berlaku hati-hati. Ini salah satu keistimewaan Tjien Bio Nio kalau tidak begitu bagaimana biasa mengendalikan orang-orang Pek-leng-hwee ? Yo Cie Cong ketika mendengar Tjien Bio NIo menyebut nama suhunya hatinya terperanjat perasaannya telah lenyap seketika, diganti oleh perasaan gemas dan gusar berkobar dalam hatinya. Untung pikiran warasnya mengikisi agar tak terpengaruh oleh rayuannya kalau tidak besar sekali bahayanya jika pada saat itu ia tidak bisa menahan sabar, maka itu berarti menggagalkan rencana besarnya. Karena dengan kepandaian dan kekuatannya pada saat itu, untuk menghadapi musuh-musuhnya yang kuat seperti mengadu telur dengan batu. Cin Bio Nio dan kedua pangju itu, diantara diantara musuh-musuhnya masih belum terhitung seberapa kuatnya meski demikian ia masih belum mampu menghadapinya aplagi musuh yang lainnya maka ia

membalas dengan ketus : ,,apa perlunya kau menayakan hal seperti itu ?‘ Kau tak usah tanya apa perlunya jawab saja pertanyaan ku itu saja sudah cukup !‖ ,,aku tak dapat menjawab !‖ Tjien Bie Nio otaknya lantas berkerja : pangju dari Kam-lo-pang itu pada 20 tahun berselang sudah binas bersama keluarganya, tidak mungkin ia mempunyai keturunan seperti pemuda ini. Memiliki golok maut yang baru-baru menggemparkan dunia Kang-ouw,meski menyebut dirinya sebagai pangju dari Kam-lo-pang tapi benar atau tidaknya masih menjadi suatu pertanyaan, pemuda di depan matanya ada sangkutpautnya dengan pemilik Golok Maut, mengapa selagi pemuda ini menghadapi bahaya menghadapi kematiannya si pemilik Golok Maut itu tidak menunjukan dirinya ?mungkin ini ada satu kesalahan, tapi ilmu silat yang di mainkan oleh si pemuda, yang ilmunya diwarisi Yo Cin Hoan dari siapa ia belajar ? ,,engko kecil boleh kau beritau dari mana kau belajar ilmu silat ?‖ ,,aku tidak dapat memberitahukan padamu !‖Tjie Bie Nio tidak gusar sikap ketus sebaliknya tertawa terkekeh-kekeh. ,,engko kecil berapa usiamu tahun ini ?‖ ,,tidak tahu !‖ Ia memang jawab sebenarnya, sebab Yo Cie Cong yang sejak kecil hidup gelandangan dengan kaum gembel, bagaimana bisa tau usianya sendiri ? ,,kau tak mau bilang ya sudah, tapi aku perlu memperingatkankau sekarang ini kau sudah menjelma lagi di dunia. Oleh karena itu aku menolongmu hamper saja aku sendiri yang binasa !‖ Yo Cie Cong bercekat hatinya. Cin Bio Nio nampak bahwa pandangannya menggerak-gerakan hatinya

Yo Cie Cong, maka lantas berkata pula. ,,kau sebetulnya sudah binasa serangan si iblis wajah singa, oleh Thian-san Liong-lie jenajahmu dibawa dan dikubur disini. Aku mendadak ingat aku masih mempunyai sebutir pil mustajab yang sudah kusimpan 20 tahun lamanya pil itu namanya Kiu-Tjoan-Hoan-Hun-tan. Dengan maksud mencoba khasiatnya pil tersebut aku telah gali dirimu dalam kubur dan masukan pil kedalam mulutmu. Kemudian aku Bantu dengan kekuatan tenaga dalamku higa kau bisa hidup kembali. Kalau kau tidak percaya kau boleh liat liang kubur itu !‖ Pembohong besar itu karena kau begitu pandainya mengatur perkataannya, membuat Yo Cie Cong mau tidak mau percaya juga pada obrolannya. Cin Bio Nio mengira bahwa usaha kali ini akan berhasil tapi tidak taunya dibelakang ada seoarang yang sedang mengintai yang saat itu sangat dongkol. Tapi orang itu tidak berani bertindak kalau belum terpaksa. Yo Cie Cong meski tampaknya dingin ketus tapi ia seorang pemuda yang tegas. Setelah mendengarkan obrolan Cin Bio Nio dalam hatinya merasa tergerak, sikap hatinya yang dingindan kaku juga lantas lenyap tapi ia benar-benar tak sanggup manghadapi pandangan mata si iblis wanita itu terutama potongan badan dan buah dadanya yang menggairakan maka ia lantas tunduk kepalanya tidak berani mengawasi. Sebagai wanita yang sudah banyak pengalaman sudah tentu Cin Bio Nio segera mengetahui sikapnya Yo Cie Cong itu. Dengan menindas hawa napsunya yang sudah berkobar keras ia berkata pula dengan lemah-lembut : ,,ketika kau masih belum muncul 8 kawanan iblis yang dating mencari kau hendak membelah dirimu untuk mengambil mustika itu. Setelah

bertempur mati-matian mereka baru kabur tapi aku hampir saja binasa ditangan mereka. Yo Cie Cong pada saat itu perasaannya sangat menderita wanita genit ini adalah musuh suhunya, tapi sebaliknya ia juga merupakan seorang yang sudah melepas budi menolong jiwanya diantara budi dan sakit hati itu bagaimana ia harus bertindak selanjutnya ? Sudah tau ia tidak tau keadaan yang sebenarnya, ia hanya percaya obrolan Cin Bio Nio setlah mendengar keterangannya itu ia lantas berkata dengan suara sungguh-sungguh : ,,Aku Yo Cie Cong bersedia membalas budi kepada setip orang yang melepas budi kepada diriku !pasti suatu hari aku kan membalas budimu yang sangat besar ini ! Sebetulnya ia masih ingin menambahi tetapi dendam sakit hati suhu masih perlu di perhitungkan. Maka setelah membalas budi ini baru perhitungkan dendam suhu. Namun perkatan itu tidak sempat dikeluarkan dari mulutnya. ,,Joh aku aku tidak ingin menerima pembalasan darimu aku Cuma mempunyai sedikit permintaan !‖ ,,permintaan apa ?‖ ,,panggil aku enci !‖ Yo Cie Cong tercengang ia tidak tau iblis wanita ini hendak berbuat apalagi ? maka dalam hatinya lantas berpikir meski kau sudah melepas budi dari diriku, tapi kau tetap musuh suhuku. Aku Yo Cie Cong laki-laki sejati bagaimana aku harus membahaskan kau, satu wanita genit dan berhati kejam sebagi enci ? Saat itu wajahnya lantas berubah merah, mulutnya bungkam. Cin Bio Nio mengira pemuda itu sudah terima baik permitaannya maka badannya lantas maju dua tindak sehingga hampir saja mereka

berdiri satu sama lain. ,,adik tahukah kau bagaimana encimu mencintaimu. Yo Cie Cong yang ssampai begitu besar belum pernah menghadapi racun cinta hatinya lantas berdebar d3engan cepat ia mundur dua tindak. Cin Bio Nio saat itu rupa-rupanya sudah tidak mampu mengendalikan hawa napsunya maka lantas pantang kedua tangannya ia menubruk dirinya Yo Cie Cong seolah –olah macan kelaparan menubruk mangsanya. Karena jarak mereka terlalu dekat, Yo Cie Cong sudah tidak keburu mundur lagi maka sebentar saja sudah beada di pelukannya.ia masih coba berontak tapi tidak berhasil hingga keduanya rubuh bergulingan di tanah. Cin Bio Nio sperti sudah kalap ia memeluk erat-erat dirinya Yo Cie Cong dan menciumi pipi dan bibir pemuda itu. Sekujur badan Yo Cie Cong saat itu seperti kena setrum listrik perasaan aneh timbul dalam hatinya seketika. Sebagai manusia biasa apalagi dalam usianya masih muda remaja Yo Cie Cong belum mempunyai keteguhan hati untuk menahan godaan setan.akal budinya telah runtuh ia merasakan adanya suatu kebutuhan. Dengan wajah merah dan pandangan yang aneh ia mengawasi perempuan yang menciumi diririnya. Sambil pejamkan mata Cin Bio Nio terus memanggil-manggil. ,,adik, adik Encimu …encimu … aku …‖ Yo Cie Cong yang juga agaknya sudah melupakan dirinya tanggannya lantas merobek baju Cin Bio Nio ……‖

Justru pada saat itu tiba-tiba dari dalam rimba tidak jauh dari tempat telah terdengar suara elahan napas perlahan. Suara itu meski perlahan tapi didalam telinga Yo Cie Cong terdengar solah-olah suara lonceng gereja ketika mendengar itu,ia lantas tersadar dari mimpinya. Keringat dingin lantas mengucur keluar. Ia sesalkan dirinya sendiri : ,,Ah, Yo Cie Cong ! kau hampir saja melakukan perbuatan yang akan menyesal seumur hidupmu, bagaimana kau ada muka untuk menemui suhumu diakhirat nanti ? bagaimana kau ada muka untuk tancap kaki didunia Kang-ouw sebagai sutu enghiong…….?‖ Pikiran warasnya telah timbul. Ia tahu bahwa ia masih belum mampu menandingi Cin Bio Nio tapi ia sekarang ia bisa turun tangan. Pikiran itu dengan cepat lantas dilaksanakan jarinya menotok jalan darah ‗Kie-bun-hiat-nya Cin Bio Nio ……., Cin Bio Nio yang dalam saat itu juga telah membuka matanya. Ketika melihat perubahan mukanya Yo Cie Cong napsu birahinya hilang seketika dengan cepat ia hendak lompat bangun. Tapi oleh karena ia bergerak,maka bagian darah Ma-hiat-nya telah kena totok, sehingga seketik itu pula ia tidak bisa bergerak ia Cuma bisa mengawasi Yo Cie Cong dengan mata mendelik, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sesungguhnya tidak mendugga bahwa dirinya akan berbuat demikiansebagai salkah satu wanita yang ulung kiniternnyata dengan mudah tergelincir didalam tangan seorang anak muda yang baru muncul dapat di bayangkan bagaimana perasaan si wanita genit pada saat itu ! Yo Cie Cong sehabis menotok Cin Bio Nio ia merassa hutang budi

kepada orang yang brusan menghela napas. Karena kalau bukan helaan napas yang menggagetkan padanya ia sudah melakukan perbuatan yang akan membuat noda namanya untuk seumur hidup. Sekarang Yo Cie Cong kembali pada sikapnya yang dingin dan ketus. ,,Cin Bio Nio.‖ Katanya dengan suara dingin . ,,perbuatanmu yang menolong diriku tadi tidak peduli benar atau bohong tapi di tepi danau kau dcengan kedua pangju pernah menyerangku hingga terluka parah, sekarang aku ampuni dirimu maka diantara diantara kita sudah tidak adalagi hutang budi. Lain kali bila aku bertemu dengan dirimu lagi maka akukan menghabisi nyawamu !‖ Seandainya ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, ia pasti tidak akan melepaskan begitu saja wanita yang genit dan jahat itu. Cin Bio Nio, ―sekarang menyesal bukan main mengapa ia tidak bunuh mati saja Yo Cie Cong hingga mustika Gu-Liong-Kauw itu dapat di kuasai olehnya ? tapi, sekarang menyesal juga sudah terlambat. Karena jalan darahnya sudah tertotok, ia sekarang sudah tidak berdaya ssama sekali. Yo Cie Cong setelah mengawasi padanya sejenak, lalu berjalan menuju kedalam rimba. Ia, hendak mencari siapa orangnya yang tadi menghela napas perlahan ? Ilmunya membentengi tubuh Yo Cie Cong dapat warisan dari suhunya dijaman Tjek-kun yang di jamannya Kam-lo-pang sangat terkenal kenal dengan kepandaiannya. Maka sekejap saja ia sudah menghilang kedalam rimba. Ia mencari kesana-sini tapi di situ ternyata sunyi senyap, tidak terdapat bayangan seorangpun juga.

Keluar dari rimba didepan matanya terbentang, sebuah bukit yang terdiri batu cadas disitu hanya terdapat beberapa batang pohon cemara yang kelihatannya sebagi penghias saja. Yo Cie Cong bersandar di sebuah batu besar yang bentuknya seperti kursi, matanya memandangi awan yang beterbangan diatas langit, agaknya sedang memikirkan sesuatu yang telah terjadi atas dirinya selama beberapa hari ini. Ia teringat suhu dan kedua pamannya yang mengenaskan, kalau tidak ada mala petaka yang menimpa dirinya ketiga oaring tau itu, pasti ia terus akan mendapat didikan mereka bertiga. Ia lalu mengingat pesan suhunya, ketikla hendak menutup mata, ia harus mencari kayu pusaka Ouw-bok po-lok yang sebelah lagi,baru melanjutkan pelajaran ilmu silatnya. Di samping itu,ia masih harus menuntut balas terhadap musuh-musuhnya Kam-lo-pang yang terdapat dalam daftar buku yang di tinggalkan oleh suhunya. Selain dari pada itu, ia harus mencari tahu asal usul dirinya sendiri juga. Dengan tidak terasa ia merambah-rambah batu giok Liong-Kwan yang berada di lehernya lalu berkata kepada dirinya sendiri : ―aku ini siapa ? apa sih dan namaku yang sebanarnya ? dan siapa saja ayah dan bundaku ?…. Ia teringat pula akan keajaiban yang dialami selama duahari ini, meskipun suadah binasa ditangannya si iblis wajah singa tetapi akhirnya ia bisa hidup kembali. Ia juga teringat kepada mustika Gu-liong-kauw yang masuk kedalam perutnya secara kebetulan. Asal bisa mendapatkan telur berwarna dari burung Rajawali raksasa maka kekutannya akan bertambah dan berlimpah-limpah. Tapi kemana ia harus mencari telur yang aneh itu ?

Jika ia berhasil mensari yang seporong lagi kayu pusaka Ouw-bok pol-lok, ia tentu tidak berjasa musuh Kam-lo-pang karena musuh-musuh Kam-lo-pang hampir semuanya merupakan otrang-orang kuat dalam rimba persilatan pada dewsa itu. Dan apa yang tidak bisa dilupakan ialah budi Bibinya Tho atau Thian-san liong-lie yang membela dirinya tiba-tiba dibelakang dirinya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya sendiri. Budi yang besar dari bibi itu, entah kapan dapat dibalasnya. Selagi ia tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba terdengar pula elahan napas. Dengan cepat ia membalikamn dirinya …. Ditempat sejauh kira-kira dua tumbak, tampak berdiri seorang nona berbaju merah yang tengah mengawasi pandangnya yang tajam. Ia terperanjat, dalam hatinya lalu berpikir, bolehnya dia ? Tiba-tiba ia ingat bahwa nona baju merah itu pernah menolomg dirinya bersama-sama Thian-san liong-lie meski terhadap dirimya nona itu Yo Cie Cong tidak mempunyai kesan baik, tapi tidak urung maju mang hampiri seraya berkata : …Nona Siang-koan Kiauw kau pernah menolong diriku aku pasti akan membalas budimu ini !‖ Siang-koan Kiauw tidak menjawab, hanya kembali mengelah napas perlahan. napas perlahan. Yo Cie Cong terkejut mendengar elahan suara napas itu ,, Hei, barusan kau yang mengelah napas dilembah sempit tadi ?‘‘ ia menanya. ,, Ng ! Ingat akan perbuatannya yang tidak sopan telah dilihat oleh si nona,

maka wajahnya lantas berubah merah karena merasa jengah. Ia lalu alihkan pembicaraannya kelain soal. ,, Dimana bibi Tho sekarang ?‘‘ ia menanya. ,, Kita berdua setelah mengubur kau, lantas berpisahan.‘‘ ,, Mengubur aku ?‘‘ ,, Lah !‘‘ Mengapa kau belum berlalu?‘‘ ,, Sebab ……….aku…….aku…….‘‘ Dijiwanya sinona, sekeyika itu juga lantas berubah merah Yo Cie Cong merasa ketarik oleh jawaban si nona, maka ia lantas berkata : ,, Bolehkah nona menceritakan padaku, apa yang telah terjadi atas diri pemuda itu, sehingga ia dikubur dilembah yang sunyi itu. Yo Cie Cong tertegun. Ia berkata kepada dirinya sendiri kalau begitu, pemilik bendera burung laut itu juga merupakan salah seorang yang melepas budi terhadap diriku !‘‘ Setelah hening sejenak, ia berkata pula : ,, Kalau begitu, apa yang diucapkan oleh perempuan hina Cin Bio Nio tadi semuanya bohong.‘‘ Si nona wajahnya berubah menjadi merah seketika itu juga.,, Aku tidak dapat memberitahukan padamu.‘‘ ,, Kenapa ?‘‘ ,, Sebab ia adalah ibuku.‘‘ ,, Apa ? Dia ibumu ?‘‘ ,, Bukan ibu benar, tetapi ibu tiri‘‘ ,, Aku tadi sudah berkata kepadanya, bahwa antara aku dan dia sudah tidak mempunyai ganjalan sakit hati atau hutang budi untuk sekarang ini tidak akan bisa berbuat ap-apa terhadap dirinya ceritakan saja. Kau tidak usah khwatir.Aku harus mengetahui persoalan ini.‘‘

,,meskipin ia ada maksud lain, tetapi ia sudah menggali keluar dirimu dari liang kubur sehingga kau hidup kembali, itu memang sebenarnya. Tetapi sekarang urusan sudah lain biarlah jangan mengungkitnya lagi urusan ini.‘‘ ,, Dengan cara apa ia membuat kau hidup kembali ?‘‘ ,, Tidak tahu. Ia hanya meletakan dirimu dibawah sinar matahari, setengah jam kemudian kau mendadak mendusin. Hal itu juga membuat aku merasa heran.‘‘ ,, Kiranya, orang yang menelan mustika Gu-Liong-Kauw sekalipun sudah terluka para, juga tidak akan bisa mati.‘‘ ,, Tetapi wakti itu kau memang benar sudah mati.‘‘ Sudah tentu mereka samasekali tidak mengetahui kasiat benda mujijat itu yang baru kelihatan mujijatnya apabila ketemu sinar matahari, sehingga orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Siang-koan Kiauw pada saat itu nampaknya tidak begitu berarti dalam seperti waktu pertama kali bertemu dengan Yo Cie Cong nona itu sikapnya kelihatan semakin menarik. Dengan matanya yang jeli dan bening ia terus mengawasi wajahnya Yo Cie Cong. ,, Dikalau bibi Tho tahu kau bisa hidup kembali, entah bagaimana rasa girangnya.‘‘ Si nona berkata. ,, Apa ? kau juga bahasakan dia bibi Tho ?‘‘ Siang-koan Kiauw sebetulnya hendak menjawab bahwa panggilan itu karena mengikuti si pemuda, tetapi berat perkataan itu dikeluarkan dari mulutnya, maka ia hanya menjawab dengan singkat Ng‘ saja. Mendadak Yo Cie Cong mengingat suatu hal. ,, Cin Bio Nio itu apakah ibu tiri nona ?‘‘ tiba-tiba ia menanya. ,, bukan tadi sudah kukatakan ?‘‘ ,, Kalau begitu ayahmu tentunya………‘‘

,, Siang-koan Kiauw yang mempunyai gelar Tui-hong-kiam ( pedang pengejar angin ).‘ Demikian jawabnya. Yo Cie Cong terperanjat, dalam matanya tiba-tiba terlintas sinar kebencianny. Tetapi itu hanya terjadi sekejapan saja, lantas lenyap kembali. Sehiangga Siang-koan Kiauw tidak dapat melihat perubahan itu. ,, dimana ayahmu sekarang berada ? apa ia bukan menjabat ketua Pek-leng-hwee ……‘‘ ,,Ayah sudah meninggal dunia pada lima tahun berselang jabatan ketua Pek-leng-hwee,itu sekarang dipegang ibu tiri. Sudah meninggal dunia ? ,,kenapa ? Apakau kenal ayahku almarhum ? Yo Cie Cong geleng-geleng kepalanya, tetapi dalam hatinya berpikir : Siang-koan Kiauw juga merupakan salah satu musuhnya suhu yang dulu turut ambil bagian dalam pembasmian Kam-lo-pang. Karena ia sudah lama binasa dan orang yang sudah mati tak dapat diajak berhitungan, maka hutang darah itu ia akan tagih pada dirinya, tetapi ia adalah anak perempuan salah satu musuh suhunya. Lebih baik ia meninggalkan padanya saja. Oleh karena berpikiran demikian, maka sikapnya berubah kembali. ,,nona Siang-koan, budimu terhadap diriku akan ku ingat untuk selama-lamanya. Sekarang aku hendak pergi dulu, katanya dengan suara tawar. Sehabis berkata, ia lantas hendak berlalu. ,, Kau ……,kembali dulu !‘‘ Siang-koan Kiauw memohon. Yang tinggi hati dan suka berbuat menuruti perasaannya sendiri sekarang menghadapi sikapnya Yo Cie Cong yang begitu dingin

terhadap dirinya perasaanya merasa tersinggung. Yo Cie Cong yang baru saja bertindak, terpaksa berhenti menanya dengan heran ,, Nona masih ada perkataan apa ?‘‘ Siang-koan Kiauw membisu matanya lantas menjadi merah. Karena biar bagaimana ia adalah satu gadis yang masih suci, tidak bisa membeber kelakuan Yo Cie Cong yang tidak berbudi. ia pernah menempuh bahaya dan bersedia korbankan jiwanya untuk menolong diri pemuda ini. Ia pernah bersedih hati karena kematian pemuda ini tetapi ia sekarang setelah hidup kembali sikapnya malah begitu dingin terhadap dirinya. Kenapa ? Yo Cie Cong sebetulnya juga bukan tidak tergerak hatinya oleh perlakuan dan sikap si nona ini sebab sebagai manusia umumnya sudah tentu tidak akan terhindar dari lingkungan perasaan manusia. Tetapi ia tidak akan menyatakan perasaanya sebab nona itu adalah anak perempuannya musuh suhu itu. Oleh karena itu pulalah, maka kecantikannya si nona baju merah itu tidak dapat meruntuhkan hati si pemuda yang sikapnya dingin itu. Setelah agak lama bediri sepasang matanya si Nona kelihatan guram tidak bersinar dengan suara sedih pilu ia berkata. ,,pergilah.‖ ,,Bukankah nona tadi suruh aku kembali ?‖ ,,tidak salah, memang suruh kau kembali.‖ ,,Ada urusan apa ?‖ ,,Tidak ada. Sekarang aku minta kau tinggalkan aku.‖ Yo Cie Cong merasa bingung, ia bertanya sambil kerutkan alisnya : ,,Nona apa artinya ini ?‖ ,,Tidak apa-apa aku hanya ingin untuk selamanya kita tidak akan

bertemulagi dengan kau,‖ Jika perkatan itu keluar dari mulut orang lain, Yo Cie Cong pasti sudah lantas berlalu begitu saja tetapi terhadap si Nona yang melepas budi terhadapnya iaterpaksa harus menahan sabar. Terutama tadi ketika ia berada dalam cengkramannya napsu setan dari Cin Bio Nio jika bukan karna nona ini yang mengeluarkan napas, sehingga kembalilah pada pikiran yang waras barang kali ia telah melakukan perbuatan terkutuk dengan Cin Bio Nio. Hal ini lebih-lebih ia merasa berhutang budi terhadap nona ini. ,,Apakah dari diriku ada hal-hal yang dapat disalahkan terhadap dirimu ?‖ Demikian halnya Yo Cie Cong menaya Siang-koan Kiauw tidak dapat menekankan perasaan sedih hatinya Air matanya lantas keluar. Yo Cie Cong baru saja muncul dari dunia Kang-Ouw tetapi ia adalah seorang pemuda yang sangat cerdik pada saat itu ia juga sudah agak menduga perasaan hati si nona maka untuk saat lamanya perasaan tergoncang keras ia merasa tidak enak terhadap Siang-koan Kiauw dalam hatinya lantas berpikir : nona manis yang patut dikasihi. Apa aku ada harganya utuk mendapat cintamu ? sesungguhnya aku tak bisa mencintai kau jika satu hari nanti kau mengetahui siapa adanya aku ini kau tentu akan menyesal !‖ Siang-koan Kiauw adalah untuk pertamakali timbul perasaan cintanya terhadap seorang pemuda. Tetapi pemuda ini bersikap dingin terhadapnya sudah tentu ini merupakan satu pukulan yang hebat bagi seorang gadis suci murni. ,,pergilah selamanya aku tidak menemui kau lagi ia mengulangi perkataannya itu pula dan perkataan demikian tidak beda dengan

seorang wanita yang sedang terhadap kekasihnya. ,,Nona, aku…‖kata Yo Cie Cong sambil ketawa geli Kau satu-satunya laki-laki tidak berbudi Siang-koan Kiauw menekap wajahnya seniri dan lantas berlalu dengan cepat. Untuk saat lamanya Yo Cie Cong merasa serba salah ragu-ragu baiknya mengejar atau berpisah begitu saja ? Selagi masih dalam keragu-raguan, nona itu sudah menghiklang dari depan matanya. Setelah si Nona pergi ia merasa hatinya merasa kosong melompong dengan lakunya seperti orang linglung ia menongak mengawasi langit membiarkan dirinya tertiup oleh angin pagi yang sangat dingin. Siang-koan Kiauw sebetulnya tidak terjauh masih menantikan pangilanya Yo Cie Cong . Tetapi ia terlau lama menantikan akhirnya ia merasa putus harapan hatinya seorang gadis telah hancur luluh ia berkata kepada dirinya sendiri sambil kertak gigi : ―Yo Cie Cong, ada satu pasti aku akan bunuh dirimu Sehabis berkata demikian ia segera berlalu dan kali ini benar-benar berlalu. Yo Cie Cong sebetulnya tidak benar-benar tidak besikap dingin terhadap dirinya tetapi terpengaruh oleh dirinya sendiri ia tidak berani menerima cintanya Siang-koan Kiauw ia tidak ingin menyakiti hati hati siNona . Setelah sekian lama berdiri akhirnya ia juga berlalu. Belum lama ia berlalu dilambah yang sunyi itu kembali muncul orangorang pandai dari golongan hitam. Orang-orang itu juga merupakan sebagian dari orang-orang yang turut

ambil bagian dalam rebutan mustika Gu-Liong-Kauw. Oleh karena itu munculnya pemilik bendera burung laut maka mereka pada ketekutan dan kabur. Tetapi terdorong oleh perasan serakah mereka tidak berlalu terlau jauhmereka hendak melihat perkembangan selanjutnya kemana akhirnya mustika itu jatuhnyamereka telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagai mana si orang berkedok kain putih mengaku sebagai pemilik bendera burung laut, dengan kepandaian yang sangat luar biasa tingginya, dalam sekejap saja sudah merebut senjata peledak yang hebat dari tangannya si iblis wajah singa bahkan si iblis dapat dibinasakan dengan mudah. Kemudian melihat orang berkedok itu berlalu, tetapi masih mondar-mandir kira-kira lima puluh tumbak jauhnya dari tempat persembunyian mereka, agaknya masih tidak mau meninggalkan tempat itu begitu saja. Dengan demikian, maka orang-orang itu masih belum berani menunjukan diri, sehingga merekapun menyaksikan kejadian ketika jenajahnya Yo Cie Cong dibawa pergi oleh Thian-san Liong-lie dan Siang-koan Kiauw. Setelah oragn berkedok itu sudah benar-benar berlalu, orang-orang itu baru berani unjukan diri lagi. Mereka mencari ubek-ubekan ditempat sekitar lima lie dari danau tersebut. Tidak perlulah disangsikan bahwa tujuan mereka itu masih tetap pada mustika yang merupakan benda mukjijat bagi orang-orang rimba persilatan itu. Mereka masih tetap mencari jenajahnya Yo Cie Cong dan ingin membelek perut jenajah itu serta mengambil mustikanya. Satu malam telah berlalu, tetapi mereka tidak dapat menemukan apa

yang mereka cari. Ketika mereka tiba dilembah yang sempit sunyi, disitu mereka dapat menemukan dirinya si wanita genit baju putih yang bukan lain dari pada ketua Pek-leng-hwee. Cin Bio Nio. Maka mereka lantas pada menghampiri Cin Bio Nio.

Bagian Ke Sepuluh BERADANYA permpuan itu disitu, pasti bukan tidak ada sebabnya. Kiranya Cin Bio Nio yang dalam keadaan yang tidak menduga-duga telah tertotok jalan darahnya oleh Yo Cie Cong dengan mengandal kekuatan tenaga dalam yang sudah tinggi perlahan-lahan ia sudah berhasil membebaskan totokan itu. Selagi masih merasa gemas dan gusar serta mendongkol serta beberapa bayangan orang mendadak menghampiri dirinya. Ketika ia melirik kearah mereka ia segera mengerti apa maksud kedatangan orang-orang itu. Diantara orang-orang yang sedang mendatangi itu. Terenyata ada dua penjahat dari Lam-bong serta si garuda kepala botak. Sudah tidak perlu disangsikan lagi bahwa kedatangan orang itu maksudnya tentu hendak mencari mustika Gu-Liong-Kauw dalam perutnya Yo Cie Cong. Kawanan iblis itu ketika menyaksikan lubang kubur yang sudah kosong melompong dan pakaiannya Cin Bio Nio yang sudah terkoyak-koyak agaknya sudah mengerti sebagian sehingga mata mereka semua ditunjukan kearah wanita itu. Agaknya ingin menembusi apa yang tersimpan didalam tubuh wanita genit cantik itu. Orang-orang itu setelah berdiri dekat pada Cin Bio Nio, pertama-tama adalah si Garuda Kepala Botak yang membuka suara sambil

menggaruk-garuk kepanya yang kelimis. ….Cin Hweetio, mengapa kau berada disini seorang diri saja ? …Ehee, apa dalam hal ini juga ingin mengetahuinya ? …Untuk seorang yang suka berterus terang, tidak perlu sembunyi-sembunyi. Barangkali kau tahu dimana adanya bangkainya pemuda itu ? …Tidak tahu ! …Ahh, huh huh …..Rejeki Hweetio sangat besar. …Apa artinya perkataan ini ? …Mustika Go-liong-kauw tidak mudah dilihat dalam ribuan tahun sekali. Kini senjata kau dapatkan secara mudah bukan berarti besar sekali rejekimu ?‖ Orang yang mndengar perkataan si Garuda Kepala Botak wajahnya masing-masing menunjukan perasaan mengiri dan heran. Sehingga semua mata kembali ditunjukan kearah dirinya. Cin Bio Nio. …Telah kudapatkan ?‖ Cin Bio Nio balas menanya. …Cin Hweetio, perluapa maisih berlaga pilon ?‖demikian salah satu dari penjahat dari lam-bong lantas celetuk. ,,apa artinya berlaga pilon ? Bangkainya bocah itu mungkin sudah menjadi korban pedangnya Cin hweetio,‖ kata si garuda kepala botak smbikl miringkan kepalanya. ,,kata yang menyemblih pemuda itu dan mengambil mustikanya. ,,kau Cin Hweetio,rasanya mungkin tidak tega turun tangan terhadap anak itu,‖ ,,Ha, ha, ha,…..‖Cin Bio Nio perdengarkan ketawanya yang nyaring. Begitu seram terdengar suara ketawanya itu, apalagi terdengar didalam kedalaman lembah yang sunyi itu sehingga membuat wajah-wajah orang-orang jahat itu berubah.

Ketawanya Cin Bio Nio seakan–akan hendak melampiaskan benci dan jengkel karna ia dituduh sebagai pencuri. Ia yang biasa mempermainkan laki-laki sunguh tidak menyangka sekarang bisa terjungkal ditangan satu bocah. Ia tidak mendapat keuntungan apa-apa.sebaliknya sudah di tuduh sebagai orang yang mengambil Mustika dari perut Yo Cie Cong . Bagai mana ia tidak jadi gusar dan dongkol ? Tetapi tawa itu sungguh tak enak didengarkanya bagi kawanan penjaha itu. Setelah puas ketawa, Cin Bio Nio lantas berkata dengan suara yang bengis : ,,kalau benar, bagaimana ? apakah kalian hendak membelek perutku dan mengambil mustika itu. ?‖ Orang-orang jahat itu pada terkejut, salah seorang dari dua penjahat dari Lam-Bong lalu menjawab sambil tertawa : ,,Ooo , tidak berani. Kita Cuma ingin mengetahui saja dimana sebetulnya mustika itu kini berada. Ternyata Cin Hweetio ternyata rejekinya yang paling besar. Rasanya perlu aku mengucapkan selamat padamu‖. Cin Bio Nio sebagai orang yang banyak akalnya ia bisa menghitung untung rugi.utntuk menghadapi kawan penjahat kini ia tidak takut dan mereka tidak berani berlaku terlalu kejam terhadap dirinya. Tetapi kalau hal itu disiarkan kedalam dunia Kang-Ouw, itu berarti bahwa ia juga yang akan tertimpa bencana. Oleh karen itu maka ia lantas berkata : ,,juga tuian-tuan juga tidak salah !Aku mempunyai pikiran serupa itu. Cuma sayang….. kawanan penjahat itu yang menengarkan perkataan Cin Bio Nio ada isinya,semangat lantas terbangun Si Garuda Kepala

Botak kepala botak adalah seorang yang banyak akalnya, tetapi dihadapan Cin Bio Nio ia masih belum nampak seujung kukunya.ia tidak mengetahui si wanita genit itu sedang memainkan peranan, maka lantas mendesak dengan mendesak perkataanya : ,,sayang apanya ?‖ ,,sayang keadaan ku sama dengan tua-tuan yang tidak mempunya itureji untuk mendapatkan mustika itu. Kawanan pejahat itu agak bikin bingung oleh jawaban perempuan genit cerdik itu. Si Garuda Kepala Botak kepala itu agaknya masih mau percaya maka ia terus mendesak : ,,aku ingin penjelasanmu.‖Cin Bio Nio …. Mendadak berkata dengan berkata sunguh-sungguh. ,,tuan-tuan kiranya tahu sendiri bahwa orang yang menelan benda mukjijat itu, Sekalipun terluka parah juga tidak akan bisa binasa.‖kawana penjahat itu aggukan kepada. ,,dari mana Hweetio bisa mengetahui ini.‖ ,,dengan terus terang, akan juga mempunyai maksud untuk mendapatkan mustika itu. Aku mengikuti sampai disini dan ketika aku menggali liang kubur itu, ternyata sudah kosong‖ ,,kalau begitu, bocah itu tentu sudah kabur. ,,siapa kata tidak ?‖ Si Garuda Kepala Botak lantas berkata sambil ketawa dingin : ,,Cin Bio Nio Hweetio tadi rupa-rupanya pernah berkelahi dengan seporang.‖ Siapa tahu, pertanyaan yang tidak,pertanyan yang tidak di sengaja ini seolah-olah sebatang anak panah yang tajam menacap keulu hatinya Cin Bio Nio. Bukan berarti berkelahi saja bahkan ia sudah menjadi

pecundang anak muda itu. Tetapi si wanita genit yang banyak akalnya, meskipun dalam hati ada persamaan yang mendongkol diluarnya tidak menunjukan perubahan apa-apa maka ia masih bisa menjawab dengan sejenak saja : ,,memang benar !‖ ,,dengan siapa ? ,,Thian-san Liong-lie.‖meskipun jawaban Cin Bio Nio itu sejenak saja, tetapi tidak ada seorangpun yang tidak percaya. ,,Thian-san Liong-lie ?‖ Tanya mereka heran. ,,benar ? Thian-san Liong-lie memang satu jalan dengan bocah itu maksudnya dengan membuat kuburan palsu ini tidak lain hanya hendak mengelabui mata orang-orang dunia Kang-Ouw saja. Ia sendiri masih belum berlalu dari sini. Ketika aku menggali liang kubur, karena dianggapnya membuka rahasianya, maka dalam gusarnya ia lantas mengejar aku.‘ Kawan pejahat itu, setelah mendengar keterangan tersebu, hati mereka merasa maksgul si garuda kepala botak memberi pertanyaan sambil tertawa Ha,ha, hi, hi : ,,keterangan Cin Hweetio bertanya apa tidak berbohong ?‖ Cin Bio Nio sangat mendongkol terhadap kepala botak ini, tetapi diluar masih tidak menunjukan perubahan apa-apa dan atas pertanyaan itu ia menjawasb dengan sungguh-sungguh : ,,Tuan-tuan rupanya terlalu menganggap rendah diriku biar bagaimana kertas toch tidak dapat dipakai untuk membungkus api didalam kalangan Kang ouw, tauan masih banyak kesempatan bertemu dengan bocah itu. Bagai mana aku bisa bohong ?‖ Si garuda kepala botak bungkam seribu bahasa. Tapi hanya sejenak sebab kemudian ia berakta pula sambil ketawa cengar-cengir.

,,Cin Hweetio, maafkan aku yang salah omong sampai ketemu dilain waktu.‖ Setelah berkata demikian, Si Garuda Kepala Botak kepala botak lalu lantas berlalu lebih dulu. Kawanan penjahat itu setelah saling pandang sejenak, juga lantas sumuanya bubar. * * * Peristiwa yang menyangkut dirinya Yo Cie Cong yang secara kebutulan telah menelan mustika Gu-Liong-Kauw, dan kemudian telah binasa bisa hidup kembali dalam waktu beberapa hari sudah tersiar luas kalangan Kang Ouw oleh karena itu, Yo Cie Cong kini telah merupakan‘barang yang di buat incacaran oleh kawanan iblis, yang bermaksud hendak mendapatkan mendapatkan barang mustika itu. Ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang menakutkan. Kemungkinan penyemblihan atas dirinya untuk mengeluarkan mustika itu dari perutnya, setiap saat bisa saja terjadi sebab mustika Gu-Liong-Kauw itu harus ada telurnya burung raksasa baru bisa lumer dan berguna bagi dirinya pemilik, kalau tidak, selamanya akan tetap tinggal utuh dalam perutnya maka kawanan manusia yang mengandung hati seraka dan kejam lantassudah pada bergerak mencari adanya pemuda dengan mustika Gu-Liong-Kauw itu. Yo Cie Cong hari itu, setelah lolos dari bahaya kematian dari bahaya kematian dan meninggalkan lembah yang sempit sunyi yang pernah mnjadi tempat kuburannya sementara ia mlakukan perjalanan menuju keutara. Tujuannya yang pernah ia tuju mencari pusaka kayu Ouw-boks Po-Lok, supaya ia dapat mempelajari ilmu silatnya yang lebih dalam dan bisa digunakan untuk menuntut balas sakit hati Suhunya. Ouw-boks Po-loks Cuma merupakan dua kayu hitam apayang ada

ditangannya Yo Cie Cong saat itu hanya yang memuat keterangannya, sedangkan sepotong lagi yang belum di temukannya, termuat dihapalannya. Dalam sepotong kayu yang kecil itu dibuat pukulan tangan yang hanya terdiri dari lima jurus saja, tapi kalau itu dapat di muat pukulan tangan jang hanya terdiri dari djurus sadja, tetapi kalau tidak mendapatkan keterangannya dari sepotong kayu yang berada di tangannya Yo Cie Cong saat itu, tentu tidak akan dapat dipahamkan ilmu serangan termaksud. Untuk mencari benda yang sudah hilang pada dua puluh tahun berselang itu, sebetulnya merupakan suatu pekerjaan yang maha sulit. tetapi Yo Cie Cong sudah bertekad bulat, sebab benda itu bukan saja merupakan benda pusaka perguruannya, teapi juga merupakan benda penting yang harus didapatkan untuk dapat melaksanakan pesanan suhunya. Terhadap mustika yang berada dalam perutnya,malahan ia tidak taruh perhatian sama sekali, sebab benda mustika itu harus dibantu dengan telur burung berwarna dari burung rajawali raksasa baru ada gunanya. Tetapi barang yang tersebut terakhir ini juga merupakan barang yang tidak mudah untuk didapatkan, maka sama artinya dengan barang yang tidak berguna di dalam perutnya. Disepanjang jalan ia terus mengingat-ingat nama musuh kam-lo-pang. Nama-nama itu yang teratas adalah namanya lima iblis dengan huruf singkatan IM YANG SIU ROAY PO. Lima huruf ini masing-masing mewakili namanya seorang iblis yang sudah tentu berkepandaian sangat tinggi. Tetapi dengan tekadnya yang bulat dan keyakinannya yang ia henak melaksanakan tugas yang berat itu.

Sementara itu, namanya duapuluh orang yang terdapat dalam lembar kedua dan ketiga, kecuali enam nama yang sudah dicoret oleh suhunya,ditambah lagi dengan namanya si Buli-buli arak wajah burung serta nama Sian-koan Kin sudah binasa pada lima penuh, ia hendak melaksanakan tugas yang berat itu. Meskipun orang-orang itu merupakan orang-orang yang namanya sangat terkenal dalam golongan hitam maupun golongan putih tetapi kalau dibandingkan dengan golongan lima iblis yang tersebut duluan masih belum berarti apa-apa. Satu persatu ia menyebutkan nama musuh-musuh suhunya itu, mau mengukir nama-nama itu di dalam hatinya supaya selamanya tidak dapat dilupakan. Kemudian ada satu hari ia akan dapat mencoret nama-nama itu satu per-satu dari daftar nama yang berada padanya. Selagi dalam keadaan melamun, terbawa oleh siliran angin yang meniup sepoi-sepoi, telinganya lapat-lapat menangkap suara beradunya senjata dan bentakan orang.ia berhenti melamun dan pasang telinganya dengan seksama mendengarkan suara itu, ternyata datangnya dari rimba sebelah kiri jalanan. Terdorong oleh perasan heran, ia lantas menggerakan badannya dan melesat kedalam rimba tersebut. Suara pertempuran kedengarannya semakin nyata, diantara suara beradunya senjata, diseling oleh bentakan orang perempuan. Yo Cie Cong masuk lebih jauh kedalam rimba. Di rimba dalam terdapat satu tanah pekuburan yang luasnya kira kira saru bau lebih, dikitari oleh pohon-pohon Cemara. Mula-mula ia menyembunyikan di belakang di rinya di sebuah pohon,tetapi ketika matanya menyaksikan apa yang terjadi hampir saja

ia menjerit kaget. Di suatu tanah di lapang kuburan tersebut terlihat tiga orang laki-laki jahat yang sedang mengepung dirinya satu nona yang memakai baju hitam yang usianya masih muda sekali mungkin masih berumur belum cukup delapan belas tahun. Kedua pihak menggunakan pedang,pertempuran berjalan dengan sengit sekali. Di atas kuburan tersebut terdapat beberapa bangkai manusia yang tergeletak dalam keadaan tidak utuh. Ada yang terkutung tangan atau kakinya bahkan ada pula yang terkutung kepalanya. Darah merah membanjiri rumput yang hijau suatu pemandangan yang sangat mengenaskan. Di sekitar lapang itu, masih ada beberapa orangtua dan anak muda yang jumlahnya tidak kurang dari tigapuluh orang. Mereka itu tampaknya seperti orang-orang yang berkepadaian ilmu tinggi. Nona baju hitam itu kelihatan gusar. Bilah pedangnya bergerak lincah. Meskipun dengan seorang diri ia harus melawan tiga orang musuhnya, tetapi ia tampaknya tak merasa keder. Bahkan ia telah berhasil mendesak musuh-musuhnya sehingga kelabakan. Yo Cie Cong terpesona menyaksikan pertempuran tersebut ia telah kagum oleh keahlian gadis berbaju hitam dengan ilmunya sangat tinggi, ia bermaksud untuk menonton saja dulu kalau perlu baru ia turun tangan membantunya. Maka itulah ia menyembunyikan dalam pohon yang lebat. Tiba-tiba ia mendengar suara jeritan ngeri, salah satu katiga laki-laki yang mengepung sigadis berbaju hitam rubuh dalam keadaan terkatung lengannya.

Kedua laki-laki yang lainnya menyaksikan satu kawannya yang tewas, nampaknya semakin napsu dengan tanpa menghiraukan nyawanya sendiri dengan terus menyerang sigadis berbaju hitam. Dengan cepat dalam waktu singkat si nona sudah melancarkan 9 serangan, sehingga dua kaki itu menjadi gugup. Mereka terus mundur dengan smpai kira-kira lima sampai enam langkah tidak, baru terhindar dari bahaya. Gadis berbaju hitam itu agaknya sudah gemas betul-betul, setelah melancarkan serangan bertubi-tubi tadi, lalu rubah gerakaknnya dan kembali melancarkan serangan beruntun tiga kali dengan ilmu padanya yang aneh luar biasa, hingga ke dua laki-laki itu kembali terancam jiwanya. ,,kamu berdua mundur‖! Suara bentakan seperti geledeg tiba-tiba terdengar rombongan orang banyak lantas muncul seorang tua yang bertubuh pendek kecil. Baru saja orangnya bergerak, Tangan sudah mengeluarkan sambaran angina demikian hebat, menggulung si gadis baju hitam oaring tua pendek itu mempunyai kekuatan yang begitu hebat, sesungguhnya ada di luar duggan semua orang. Gadis baju hitam itu apa bila tidak menarik serangannya, dua laki-laki tadi akan binasa di bawah pedangnya, tetapi ia sendiri juga akan terluka oleh sambaran angin si orang tua pendek kecil. Itu menghindari serangan hebat ini, terpaksa ia harus melompat menyingkir delapan kaki jauh nya. Dua orang laki-laki yang terlebih dahulu telah menggunakan kesempatan itu untuk mengundurkan diri. Orang tua pendek kecil tadi, sehabis melancarkan serangannya, lalu berkata sambil

mendengarkan suara ketawanya yang aneh : ,,Budak hina lebih baik kau keluar saja dengan baik.‖ ,,setan cebol, kau belum pantas mengeluarkan perkatan begitu,‖jawab si gadis baju hitam. Bukan kepalang gusarnya orang tua pendek kecil itu. ,,budak hina apa kau mencari mampus ?‖ bentak bengis, setelah berkata, badannya yang pendek kecil telah melesat seperti gangsing mencari si gadis baju hitam. Dalam waktu yang singkat saja ia melanjutkan serangan bertubi-tubi badannya sinona melesat tinggi, ditengah udara ia membuat satu lingkaran, kemudian turun melesat seperti burung wallet, tanganya berbarang melancarkan tiga kali serangan. Yo Cie Cong yang menyaksikan serangan pertempuran itu dari tempat per sembunyiannya, diam-diam merasa kaget juga. Pikirannya gadis baju hitam betul-betul hebat, Kepadanya tampaknya gadis itu mengerti adanya benda mustika,yang membuat kawanan penjahat belum lenyap pikiran itu, dalam medan pertempuran sudah terjadi perubahan. Orang tua cebol itu dengan kedua tangannya yang kurus terusterusan melancarkan serangan secara hebat. Diantara serangan gadis baju hitam, tangan orang tua masih dapat bergerak dengan berani, kadang-kadang juga menyelusup diantara sinar pedang hendak menyambar diri si nona. Gadis baju hitam itu, sedikitnya merasa nyeri bahkan serangan dilakukan semakin gencar. Bertepatan pada saat itu muncul tiga orang tua yang kira-kira usianya lima puluh tahunan yang turut ambil bagian dan mengurung sigadis berbaju hitam. Dengan muncul mereka, keadaan lantas berubah gadis baju hitam itu

keliatan di bawa angin Yo Cie Cong pernah mengalami dirinya dikepung oleh kawaan orang-orang jahat, timbul perasan didalam hatinya kepada si nona berbaju hitam yang terkurung, selagi ia hendak bergerak, mendadak terdengar suara seperti menggeramnya binatang buas. Orang-orang jahat yang saat itu masih belum turun tangan dan masih berdiri dipinggir jalan sebagai penonton ketika mendengar suara geraman itu wajah mereka berubah agaknya mereka sangat ketakutan. Empat orang tua yang sedang mengepung sigadis baju hitam lantas lompat mundur. Yo Cie Cong merasa sangat heran. Ia tidak mengetahui kawan iblis macam apa yang mendatangi sehingga membuat orang-orang ketakutan sedemikian rupa ? Si gais berbaju hitampun terkejut, matanya mengawsi kearah rimba. Untuk sesaat lamanya keadaan menjadi sunyi senyap tetapi suasana menjadi tegang dan menyeramkan. Suara menggeram seperti binatang buas itu makin lama makin dekat kedengaranya makin masuk telinga. Baru saja suara geraman berhenti banyak orang lantas jadi kesima karana menghadapi pemandangan yang luar biasa. Pada saat itu didalam kalangan bertambah seseoarang yang aneh bentuknya seperti bangkai hidup, badannya tinggi kurus, wajahnya pucatpasi, sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti manusia hidup,matanya memancarkan sinar biru hidungnya pesek dan lebar tangan dan jari-jarinya yang terbungkus oleh kulit yang putih keriput diatas jari-jarinya yang kurus tumbuh kuku yang panjang. Bentuk manusia aneh yang menakutkan cukup menciutkan nyali-nyali yang kecil. Semua orang yang berada ditempat itu merasa seram melihatnya

sangat ngeri datangnya orang itu. Yo Cie Cong sendiri merasakan bulukuduknya berdiri. Orang aneh itu dengan matanya yang tajam menyapa sejenak kearah semua orang lantas berkata ke semua orang dengan suaranya yang menyeramkan. ,,kalian semua enyah dari sini !‖ Perintah itu dibarengi oleh gerak tangan yang kurus kering dan satu diantara orang-orang tua yang berdiri di hadapan si gadislanta lantas rubuh binasa ,dar iluban gibung, mata dan mulutnya mengalirkan darah hitam. Entah ilmu apakah yang digunakan oleh manusia aneh itu? Tidak ada seorangpun juga yang mengetahuinya. Semua kawanan penjahat yang berada itempat pada terbang semangatnya lantas dari tunggang-langgang, sebentar saja keadaan sudah menjadi sepi kembali. Gadis baju hitam itu melintangkan pedang didepan dadanya, tetapi tangan yang memegang pedang tampaknya agak gemetaran. Manusia aneh seperti bangkai hidup itu dengan matanya yang biru mengawasi si gadis, setelah itu lalu berkata sembari mengeluarkan suara ketawanya yang menyeramkan : ,,Bocah, siapa namamu ? dank kau anak siapa ? coba kau ceritakan pada Lohu barang kali saja lohu kenal. Kalau tidak …. Huhh, huhh…. Si gadis sepasang alisnya berdiri, ia menjawab dengan suara gusar : ,,Hal ini tidak perlu kau tahu.‖ ,,Ha, ha, ha…. Satu bocah yang tidak tahu diri ! sekarang serahkan saja benda didirimu itu dengan secara baik-baik, lohu akan memberikan kau kematian dalam keadaan utuh, kalau tidak, ini adalah contohnya !‖ demikian kata si manusuia aneh itu sambil menunjuk mayat orang

tua yang menggeletak di tanah. Ketika si gadis menengengok ke arah mayat yang di tunjuk oleh orang aneh itu, mayat itu sudah berubah menjadi cair, hanya rambutnya yang ketinggalan,airnya menyiarkan amis. Yo Cie Cong yang turut menyaksikan di belakang pohon,hatinya juga merasa berdebaran. Entah benda mustika apa yang ada di badannya gadis baju hitam itu sehingga menimbulkan banyak perahatian para kawanan penjahat dan pada datang merebutnya, sampaipun terkenal orang paling ganasjuga merasa tertarik, dan turut ambil bagian merebut benda termaksud. Si gadis wajahnya berubah seketika, dalam kagetnya ia telah keluarkan jeritan tertahan. ,,Kau adakah si Tengkorak Hidup Lui-bok-thong ?‖ ,,Huh , huh, huh…… kau masih terhitung seorang yang mempunyai banyak pengalaman sehingga mengenal nama dan julukan Lohu. Oleh karena itu aku akan bertindak, aku akan mengampuni jiwamu asal barang itu kau serahkan kepadaku berikan kepadaku. ,,Oh tidak begitu gampang.‖ ,,Apa perlu Lohu turun tangan sendiri ?‖ Yo Cie Cong mendengar gadis baju hitam itu menyebutkan nama dan gelar orang aneh itu, Bukan kepalang aneh dan kagetnya. Ia tidak menyangka bahwa disitu telah mengenal wajah asli si muka iblis tua ini, karma dalam daftar musuh-musuhnya Kam-lo-pang nama iblis ini tercantum dalam daftarnya. Siluman tengkorak Lui-bok-thong termasuk orang yang keempat dari lima orang lihay musuh-musuh Kam-lo-pang, Yo Cie Cong yang dirasakan seketika bergolak darahnya bergolak dan beringas. Tetapi ia tahu bahwa umpannya saat itu menunjukan diri, berarti

akan menagantarkan jiwanya secara Cuma-Cuma karena pada saat itu ia belum dapat menandingi si iblis tua itu, namun hatinya sangat gusar tapi ia harus menahan sabar sedikit. Siluman tengkorak hidup Lui bok thong dengan memandang matanya yang biru mendadak mengawasi ketempat persembunyian Yo Cie Cong setelah mendengarkan ketawanya yang aneh, kembali menatap kearah si gadis berbaju hitam. Pada saat itu si gadis berbaju hitam menggertak dengan suaranya yang bengis. ,,iblis tua, kalau aku mati ditangan mu tetapi kalau kau inginkan aku menyerahkan benda ini kepadamu jangan harap kecuali ada matahari terbit di sebelah barat. Si gadis rupanya tidak merasa jerim, maka ia berani berlaku garang terhadap satu iblis yang sudah terkenal keganasanya, terhadap keberanian si gadis itu. Yo Cie Cong merasa kagum. Siluman tengkorak itu tidak menyangka bahwa gadis kecil itu telah menantangnya dengan berani, maka wajahnya yang putih seperti kertas bergerak-gerak….. ,,Hi…hi..hi…….barang kali kau masih belum tahu‖ Baru saja mengucapkan perkataan itu, badanya yang kurus dengan cepat melesat kearah berdirinya kearah si gadis berbaju hitam kedua tangan yang seperti cakar burung dengan gerakannya yang sangat aneh sudah menyambar pinggangnya si gadis. Gadis berbaju hitam itu langsung menggertak dengan pedang di tangannya lantas terayun membabat tagan si iblis tua. Diantara suara tawa yang aneh, iblis tua itu lolos dari serangan pedang si gadis berbaju hitam tanpa luka sedikitpun, ia mundur lima kaki tangannya ternyata sudah memegang sebuah benda yang

terbungkus kain putih. Gerakan yang cepat dan gesit sungguh sangat mengejutkan. Gadis baju hitam terkejut melihat benda di badannya pindah ke tangannya, lantas berubah wajahnya dedngan gemas ia membentak : ,,aku akan mengahabisi nyawamu‖ Ucapannya itu dibarengi dengan serangan pedang yang sangat hebat. Siluman itu terpaksa mundur dengan beberapa langkah. Yo Cie Cong yang menyaksikan semua kejadian denagn perasaan yang terheran-heran diam-diam berpikir‖ gadis berbaju hitam ini kepandaianya jauh lebih tinggi dari pada aku. Entah dari golongan mana ? kepandainya mungkin berimbang dari bibi Tho Siluman tengkorak lalu memasukan benda rampasannya kedalam saku, kemudian tangannya bergerak menyerang serangan si gadis. Si nona telah melancarkan serangannya berkali-kali dengan napsu dan penasaran serangannya agak mirip serangan dilakukan secara kalap ia tidak memperdulikan jiwanya lagi. Serangan si siluman tengkorak ternyata hebat sekali sampai pedang di tangannya hampir terlepas oleh karena sambaran angina. Saat itu si gadis berbaju hitam merasa terdesak oleh kekuatan yang sangat hebat sehingga rasanya sukar untuk bernapas, maka ia terpaksa harus mundur sampai delapan kaki jauhnya. ,,siluman tengkorak berhasil mundur si gadis baju hitam, lantas menoleh dan berkata ke arah rimba yang sejauh delapan kaki : ,,siapa yang sembunyi dalam rimba itu, lekas tunjukan dirimu !‖ Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong ia sunguh tak percaya, terpaksa ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya. Si gadis baju hitam heran, dalam keadaan demikian masih ada orang yang bersembunyi kalau bukan orang yang berilmu tinggi pasti bernyali

besar…. Dan ketika melihat siapa orangnya hatinya lantas terguncang hebat.

Bagian Ke Sebelas ORANG yang baru muncul itu adalah seorang pemuda yang tampan tetapi kelihatannya sangat dingin. Siluman tengkorak itu tersentak melihat munculnya seorang anak muda yang tampan lantas tertawa bergelak-gelak. ,,bocah apa kau sudah bosan hidup ?‖ Yo Cie Cong ternyata menghadapi musuh besar suhunya hatinya sudah terguncang hebat sepasang matanya tampak beringas dengan tidak menunjukan rasa takut sedikitpun dia menjawab dengan suara kaku. ,,kau mau berbuat apa ? silahkan !‖ ,,kalau kau sudah bosan hidup Lohu bersedia mengiringi kehendakmu. Yo Cie Cong sudah mengetahui bahwa siluman tengkorak ini sangat ganas dan telenges sifatnya ia berbuat apa yang ia ucapkan. Dengan kekuatan Yo Cie Cong hendak menggempur padanya, sama saja mengantarkan kematiannya sendri. Meskipun Yo Cie Cong mengetahui semua itu masih bisa menjawab dengan berani : ,,siluman tua ! hari ini jika kau tidak membunuh aku maka aku yang suatu hari yang akan membunuh Mu !‖ Si gadis berbaju hitam yang berdiri disampingnya ketika mendengar jawaban Yo Cie Cong diam-diam berpikir : pemuda ini sungguh berani dan sombong sekali, ia berani mengucapkan perkataan jumawa di hadapan si iblis ini, bukankah mencari jalan kematian sendiri ? Tiba-tiba suatu pikiran timbul dalam otaknya, ia merasa simpatik tertarik terhadap keberanian dan ketampanannya Yo Cie Cong ,

sebentar jika si iblis itu turun tangan terhadap dirinya anak muda itu, ia akan memberi bantuannya dengan sekuat tenaga. Si siluman tengkorak Lui Bok Thong selama sedang melintang didunia Kang-ouw, namanya saja sudah Lisa membuat takut orang-orang golongan hitam ataupun golongan putih, sehingga tak ada seorangpun yang berani omong besar, dihadapannya. Tetapi sekarang ternyata masih ada orang yang berani menyatakan terang terangan dihadapannya hendak membunuh dirinya, bahkan pekataan dari keluarganya dari mulut seorang pemuda yang usianya baru kira kira delapan belas tahunan saja, mka terhadap keberaniannya pemuda itu tidak marah, malah sebaliknya merasa terheran-heran ia mula-mula menyangka hanya pendengarannya saja yang salah, maka ia menaya pula : ,,Bocah, apa kau katakana tadi ?‖ ,,Aku kata, kalau hari ini kau tidak berhasil membunuh mati aku, pada suatu hari aku yang akan membunuh mu. ,,Hu ,hu ,hu….. perkataamu yang takabur ini, aku Lui bok Thong yang takakan melepaskan dirimu. Yo Cie Cong massih dengan wajah ketus dingin menjawab : ,,Tetapi kau jangan menyesal !‖ ,,Lohu selamanya belum pernah menyesal kau boleh mencari suhu yang lebih pandai melatih dirimu baik-baik baru nanti mencari aku lagi. Yo Cie Cong Cuma terdiam ia tak menjawab. Si siluman tengkorak itu mendadak berpaling dan berkata kepada si gadis berbaju hitam. : ,,Lohu berkata hendak memberikan kau mati secara utuh. Baru saja ia mengucapkan nya itu, tangannya dengan cepat melancarkan serangan yang di barengi dengan sambaran angin yang

sangat hebat. Si gadis hitam tidak menyangka bahwa si iblis tua itu bisa turun tangan secara tiba-tiba, dalam gugupnya ia mencoba menagkis serangan dengan sekuat-kuatnya pedangnya juga terlempar untk menangkis serangan si iblis. ,,Duk, duk !‘ demikian terdengar duakali suara benturan yang nyaring, beradunya kekuatan dari kedua pihak telah menimbulkan angin hebat, sehingga membuat batu beterbangan. Sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritanm gadis baju hitam itu dengan mulut menyemburkan darah segar, badanya terpental sejauh dua tumbak lebih yang kemudian jatuh bergelimpangan ditanah. Serangan Yo Cie Cong meski dapat mengurangi kekuatan si iblis tua sedikit, tetapi ia sendiri juga sudah terpental mundur sepuluh tindak lebih oleh karena serangan itu. Untuk sesaat ia berdiri melongo, tidak bisa berkata apapun. Kekuatan tenaga si iblis tua benar-benar luar biasa hebatnya. Suara mengaung yang sangat aneh kedengarannya kembali terdengar. Siluman tengkorak itu badannya lantas melesat ke udara kira-kira lima tumbak tingginya, kemudian dengan secara mendadak ia berbalik dan lantas menghilang ketempat gelap. Yo Cie Cong sembari mengawasi kearah menghilangnya si iblis itu, dengan tidak terasa sedah mengeluarakan elahan napas panjang. Selagi ia hendak meninggalkan tempat tersebut. Mendadak ia ingat dirinya si gadis baju hitam yang saat itu entah bagaimana keaadaannya, maka ia lantas urungkan maksudnya. Ketika matanya memandang ke arah si gadis, dilihatnya si nona masih rebah dengan tidak bergerak. Suatu pikiran lantas timbul dalam otaknya : apakah dia sudah biansa ?‖

Sebetulnya ia hendak meninggalkan tempat tersebut dan tidak ingin mencampuri urusan si gadis itu, tetapi sesuatu kekuatan yang tersembunyi telah memimpin dirinya untuk menghampiri dirinya si nona. Si gadis baju hitam itu parasnya cantik seperti bidadari. Meskipun dalam keadaan menggeletak tidak sadarkan diri seperti orang yang sudah mati, tetapi tampaknya masih menarik hati. Mata dan mulutnya tertutup rapat, seolah-olah sedang tidur nyenyak. Agak lama Yo Cie Cong berada dalam kesangsian, tetapi akhirnya ia bejongkok juga, dengan tangannya ia mencoba meraba mulut dan hidungnya si gadis, ia merasa bahwa napas si gadis itu sudah lemah sekali. Tampaknya jika mendapat pertolongan pada waktunya, mungkin jiwa si nona itu dapat tertolong. Tetapi kalau terlampau lama barangkali tidak ada harapan lagi. Jika diingat dari kekuatan tenaga dalamnya sendiri pada saat itu, kalau mau digunakan untuk menolong orang lain yang sedang terluka parah, rasanya masih belum cukup. Maka satu-satunya jalan ia harus tempuh ialah berdaya sebisa-bisanya supaya si nona bisa mendusin. Jalan itu adalah mengunakan tangannya mengurut jalan darahnya pada seluruh badannya si gadis. Tetapi persoalan lain kini telah timbul diotaknya. Jika ia mau menggunakan cara demikian, sudah tentu ia harus meraba-raba sekujur badannya si korban. Justru orang yang terluka parah itu adalah seorang gadis remaja. Sekalipun dalam keadaan terpaksa juga rasanya masih kurang pantas kalau melakukan cara itu. Maka ia lantas berdiri melongo sekian lamanya. Sebentar kemudian pikiran warasnya mendorong : ―kalau aku masih

bersangsi terus, mungkin jiwanya tidak akan tertolong lagi. Apa boleh buat menolong jiwa orang lain lebih penting‖. Setelah mengambil keputusan tetap, ia lantas mengeluarkan kedua jari tangannya menotok seluruh jalan darah di badannya si gadis baju hitam itu. Ketika jarinya menyentuh badan si nona, timbulah semacam perasaan yang belum pernah ada sebelumnya. Ditambah lagi kini menghadapi badan yang lebih halus dan wajah yang lebih cantik. Maka pikiran yang bukan-bukan lantas timbul dalam hatinya. Dengan cepat ia menguatkan hatinya, sambil memejamkan kedua matanya tangannya terus digerakan. Tetapi bau harum yang keluar dari dirinya si gadis telah menusuk hidungnya. Bau harum itu kembali mengguncangkan hati nuraninya. Setelah menotok semua jalan darah disekujur badan si nona. Yo Cie Cong lalu mengunakan pula cara yang terdapat dalam perguruanya untuk mengurut sekujur badan si nona. Napas si gadis baju hitam perlahan-lahan kelihatan mulai teratur, agaknya sudah mulai mendusin. Ini adalah saat yang paling penting. Ia sekarang tambah berlaku sangat hati-hati. Ketika ia mengurut-ngurut badan si nona itu, sekujur badanna juga sudah memandikan keringat, hatinya berdebaran keras bukan disebabkan karena ia menggunakan tenga terlalu banyak tetapi disebabkan karena menahan gejolaknya perasaan. Gadis baju hitam itu sudah perdengarkan suara elahan napas, sebentar kemudian orang nya juga akan mendusin. Ia merasa seperti badannya diraba-raba oleh tangan orang, ketika ia membuka matanya wajahnya berubah merah seketika dan tangannya lantas diayun.

Suara `Plak` terdengar amat nyaring, tangan yang halus dari si gadis baju hitam lantas bersarang di pipinya Yo Cie Cong. Tamparan itu dirasakan panas sekali oleh Yo Cie Cong. Untung saja si gadis baru sembuh dari luka dalamnya, sehingga kekuatan tangannya pun jauh berkurang. Kalau tidak, mungkin Yo Cie Cong sudah dibikin rontok semua giginya. Tetapi, walaupun demikian, tamparan itu sudah cukup membuat Yo Cie Cong termangu-mangu. Ketika ia baru turun gunung, diatas jalan raya ia sudah pernah ditampar oleh Siang-koan Kiauw, si gadis baju merah, dan sekarang harus kembali menerima tamparan dari sigadis baju hitam ini. Maka dalam hatinya lantas timbul pikiran : ―Apakah semua perempuan didunia ini begini tidak tahu diri ?‖ Gadis baju hitam itu setelah memberikan tamparan kepada Yo Cie Cong, ketika melihat keadaanya Yo Cie Cong yang agak kelabakan. Segera ia ingat bahwa pemuda itu sebetulnya sedang mengobati dirinya. Maka ia merasa jengah sendiri, dalam hatinya merasa sangat menyesal. Dengan hati penuh penyesalan ia mengawasi Yo Cie Cong sejenak, kemudian lantas berkata : …siaohiap, maafkan perbuatanku yang ceroboh. Tadi karena aku belum tahu persoalannya sehingga kesalahan tangan menampar pipimu. Aku sungguh menyesal…Apa kau merasa sakit ?‖ Sehabis berkata, tangannya lantas mengusap-usap pipinya Yo Cie Cong. …Tidak apa, tidak apa.‖ Yo Cie Cong berkata sambil miringkan kepalanya. Gadis baju hitam ituyg terdorong oleh rasa menyesal dengan

tangannya ia telah mengusap pipi si pemuda yang bekas ditampar. Setelah mendengar perkataan Yo Cie Cong ia baru merasa jengah sendirinya, cepat-cepat tangannya ditarik kembali, dengan wajah merah ia tundukan kepalanya. Yo Cie Cong setelah mengetahui bahwa gadis itu telah sadar, lantas berdiri dan berkata dengan suara dingin : …Nona, aku hendak pergi. Sampai bertemu kembali.‖ Si gadis ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong, tampak sepasang matanya terbuka lebar-lebar. Ia coba hendak bangun bediri, tetapi baru saja bergerak tulang-tulangnya tiba-tiba dirasakan sakit sehingga rubuh lagi sambil keluarkan jeritan `Ajoo`. Suaranya itu telah membuat Yo Cie Cong tidak jadi pergi. …Apakah nona membutuhkan pertolonganku ?‖ …Aku Yo Cie Cong.‖ …Oooo, apakah kau ini Yo Siaohiap yang dikabarkan telah menelan mustika Gu-liong-kauw dan hidup lagi sesudah mati ?‖ …Kalau begitu, aku mengucapkan terima kasih atas bantuan Yo Siaohiau yang sudah mengobati lukaku. Aku bernama Tio Lee Tin. Orang dunia Kang-ouw memberi gelaran padaku Burung Hong Hitam.‖ Yo Cie Cong wajahnya berubah merah, tetapi sebentar kemudian sudah menjadi kecut dingin. Ia lalu berkata : …Aku yang rendah masih cetek kepandaiannya. Barusan cuma menggunakan cara yang tidak berarti apa-apa suapya nona bisa mendusin saja. Sementara, mengenai luka nona, aku yang rendah sesungguhnya tidak berdaya, maka aku tidak berani menerima ucapan terima kasih nona ini.‖ Tio Lee Tin setelah melihat wajahnya Yo Cie Cong untuk pertama kalinya, hatinya sudah terguncang. Kemudian ketika menyaksikan

keberaniannya anak muda ini dalam menghadapi si Siluman tengkorak, maka kesannya terhadap si pemuda itu sangat dalam sekali. Ia sekarang telah menolong dirinya dengan jalan mengurut sekujur badannya. Meskipun ia hendak menolong jiwanya, tetapi sebagai satu gadis, bagaimana badanna dapat diraba oleh sembarang orang ? ia bingung bagaimana harus bertindak ? Sekarang ia merasakan bahwa luka badannya itu tidak ringan. Urat beberapa bagian jalan darahnya sudah tertutup sehingga buat jalan saja masih merupakan pertanyaan. Apalagi harus memerlukan pengobatan yang sesama. Maka saat itu Tio Lee Tin dalam hatinya lantas mengambil suatu keputusan. …Yo Siaohiap, aku ada suatu pertanyaan yang tidak patut.‖ Demikian ia lantas berkata. Permintaan apa?‖ …Tolong kau kawani aku untuk mencari suhu. Lukaku ini didalam tangannya tidak merupakan soal.‖ …Dimana suhumu kini berada ?‖ …Kabarnya pernah muncul di gunung Heng-san. Barangkali masih belum berlalu terlalu jauh dari gunung itu.‖ …Siapakah suhumu itu ?‖ …Orang berkedok kain merah.‖ Yo Cie Cong terperanjat, sungguh tidak disangka bahwa suhunya nona itu adalah si pemilik bendera burung laut, itu orang berkedok kain merah yang tindak-tanduknya sangat misterius. Pantas nona ini ada mempunyai kekuatan begitu begitu hebat. Sebetulnya ia ingin menanyakan lagi benda apa yang disebut si Siluman Tengkorak tadi, oleh karena pertanyaan demikian agak mirip dengan

orang yang ingin tahu segala urusan orang lain, maka segera niatnya itu diurungkan. Sebetunya benda Tio Lee Tin yang terjatuh ditangannya si Siluman Tengkorak hidup tadi ada mempunyai hubungan erat dengan dirinya Tio Lee Tin sendiri juga masih ada sangkut pautnya dengan dia. Oleh karena itu ia urungkan niatnya untuk menanyakan tentang apa yang dipikirkannya tadi, maka telah menimbulkan kejadian yang berbelit-belit dikemudian hari. Setelah berfikir sejenak, ia lalu menanya dengan suara hambar : …Apakah nona sekarang bisa berjalan ?‖ …Barangkali tidak bisa.‖ …Dan …?‖ …Disini letaknya tidak berjauhan dengan kota. Tolong Siaohiap carikan sebuah kereta.‖ …Baik harap nona suka tunggu disini sebentar.‖ Sehabis berkata ia lantas berlalu meninggalkan rimba tersebut dan setelah melalui jalan raya ia terus menuju ke kota. Tidak sampai setengah jam ia berjalan, sebuah kereta yang cukup besar sudah berada di depan matanya. Mendadak pada saat itu satu bayangan orang melesat dan melayang turun dihadapannya. Ketika Yo Cie Cong membuka matanya lebar-lebar, seketika itu darahnya lantas mendidih. Orang itu ternyata adalah si Garuda Kepala Bota, slah satu kawanan penjahat yang turut ambil bagian dalam perbutan mustika Gu-liong-kao ditepi danau Naga. …He..He…..Bocah, selamat bertemu kembali.‖ …Kau mau apa ?‖

Mata si Garuda Botak itu nampak berputaran, kemudian berkata dengan kata menyeramkan : …Aku ingin pinjam sesuatu barang dari kau.‖ …mustka Gu-liong-kao yang berada dalam perutmu !‖ Yo Cie Cong lantas naik darah. Sambil keluarkan geraman hebat ia maju dan melancarkan serangan yang aneh. Setiap serangannya itu ditunjukan kearah bagian penting dibadannya sang lawan. Kekuatan tenaga dalamnya meskipun masih terbatas oleh karena usianya, tetapi ilmu silatnya dibawah pimpinan tiga orang kuat dari Kam-lo-pang. Sesungguhnya bukan orang sembarangan, maka serangan yang dilancarkan demikain gencarnya sesubngguhnya tidak boleh dipandang ringan. Si Garuda kepala Botak yang semuanya menganggap ringan dirinya pemuda itu, hampir saja tergelincir dibawah tangannya. …Setan cilik, kau mempunyai kepandaian yang berarti juga, heh !‖ berkata si Garuda kepala Botak, sambil melancarkan serangan pembalasan. Sebentar saja mereka telah bertarung seruh. Si Garuda kepala botak dengan kekuatan tenaga dalamnya yang hebat telah melancarkan serangannya dengan telapakan jari tangannya. Sedangkan Yo Cie Cong dengan mengandalkan gerak tipu silatnya yang aneh, ternyata bisa mengimbangi kekuatannya si garuda kepala botak. Si kepala botak tidak mengira bahwa Yo Cie Cong yang dipandang bocah ternyata mempunyai kepandaian begitu hebat, tetapi setelah 50 jurus kemudian ia lantas dapat lihat bahwa bocah ini kekuatan tenaga dalamnya masih kalah jauh dengan dirinya. Oleh karena itu, lantas rubah ilmu silatnya, setiap serangannya dibarengi dengan serangannya yang menggunakan kekuatan tenaga

dalam. Dengan demikian keadaanya lantas berubah Yo Cie Cong mulai terdesak mundur. …Setan cilik, aku kalau membiarkan kau bertahan sampai 10 jurus lagi, selanjutnya akan meningalkan dunia Kang-ouw !‖ …Setan kepala botak, kau tak usah takabur !‖ …Tidak percaya kau boleh lihat !‖ Si garuda kepala botak itu tiba-tiba badannya melesat tinggi keatas, setelah perputaran ditengah udara, dengan kepala dibawah dan kaki diatas, seolah-olah burung garuda, ia pentang 10 jari kedua tangannya, dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar dirinya Yo Cie Cong. Tapi gerakan ini telah mmengingatkan Yo Cie Cong caranya untuk menandingi lawannya. Karena ia ada mahir sekali dalam hal ilmu menggentengi tubuh, 5 tahun lamanya ia sudah mendapat didikan dari Kam-lo-pang. Dengan cepat ia juga melesat tinggi keatas, tepat sekali menghindarkan sambarannya si garuda kepala botak. Kemudian di tengah udara ia memutar balik tubuhnya untuk balas menyerbu lawannya. Satu serangan hebat telah dilancarkan dari atas. Si Garuda kepala Botak yang tidak berhasil menyambar dirinya Yo Cie Cong badannya sudah mendekati tanah. Selagi hendak naik ke atas lagi, serangan tangan Yo Cie Cong telah tiba. Ia tidak menduga bahwa bocah itu ada mempunyai kepandaian begitu hebat, seketika itu ia jadi sangat gugup. Si Garuda kepala botak yang juga merupakan salah satu jago yang mempunyai kemahiran dalam hal ilmu menggentengi tubuh serta sudah mempunyai latihan beberapa puluh tahun lamanya. Kalau sampai terjungkal ditangannya Yo Cie Cong bukan merupakan suatu hal yang

sangat ganjil ? Seketika itu ia lantas mengelinding di tanah, kemudian ia melesat lagi keatas dan balas menyerang dua kali. Yo Cie Cong juga tidak berhasil dengan serangannya, lantas melayang sejauh satu tumbak lebih, untuk menghindarkan serangan lawanya yang sangat hebat. Si kepala botak mengejar, sebaliknya lantas melayang turun ke tanah. Diwajahnya menunjukan sangat gusar, dengan mata mendelik ia mengawasi Yo Cie Cong. Anak muda itu merasa heran, entah apa maksudnya si garuda itu….. Mendadak ada satu tangan yang halus telah diletakan diatas pundaknya. Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, selagi hendak balikan badannya…. …Jangan begerak !‖ demikian ia dengar satu suara halus tapi bengis sedang tangan yang diletakan diatas pundak kini telah mencengkram dengan keras. Suara yang halus bengis itu rasanya sudah tidak asing lagi bagi Yo Cie Cong. Suara itu adalah suara satu wanita. Dalam keadaan kejepit Yo Cie Cong mendadak timbul akalnya, dengan kedua sikutnya ia menumbuk ke belakang. Gerakannya itu sangat bagus sekali, tapi juga agak keterlaluan. Sikut itu agaknya menyentuh benda yang lunak dan membal, kemudian disusul oleh suara bentakan, tapi Yo Cie Cong sudah mengunakan kesempatan itu melesat sejauh 5 kali, dengan cepat balikan tubuhnya. Orang yang mencekal pundaknya tadi adalah Cin Bie Nio. Wanita centil genit itu tangannya sedang mendekap dadanya, wajahnya nampak pucat, tapi matanya beringas.

Kiranya sikut Yo Cie Cong tadi dengan cepat telah mengenakan kedua buah dadanya. Yo Cie Cong sangat benci sekali terhadap wanita kejam dan genit itu, maka lantas menanyasambil gertak gigi : …Cin Bie Nio, kau mau apa ?‖ …Aku hendak bunuh maati kau !‖ Si garuda kepala botak yang berdiri disamping lantas berkata dengan suara mendongkol. …Cin hweetio, bocah ini adalah yang menemukan lohu lebih dulu !‖ …Kalau kau yang menemukan mau apa ?‖ …Aku hendak bawa ia pergi !‖ …Bawa pergi ? Haha, kau boleh coba bawa !‖ Si garuda kepala botak gusar sekali, dengan kecepatan kilat ia menyerang Yo Cie Cong dengan tenaga penuh. Mendengar pembicaraan meraka, Yo Cie Cong dadanya hampir meledak. Dengan gesit sekali ia mengelakan serangan dan tahu-tahu sudah berada disamping dirinya si Garuda kepala botak. Dengan gemas sekali ia melontarkan satu serangan. Si Garuda kepala botak ada seorang yang sangat licin, ia menyingkir maka sambil perdengarkan suara ketawanya yang seram. Serangannya dimiringkan ke samping. Dengan demikian, dengan cepat ia menyambuti serangannya Yo Cie Cong. Tidak ampun lagi, kekuatan dari kedua pihak lantas saling beradu, Yo Cie Cong terpental mundur sampai tiga tindak. Untung serangannya si Garuda kepala botak sendiri karena adanya perubahan gerakannya tadi, kekuatnnya juga sudah kurang banyak. Kalau tidak, Yo Cie Cong pasti akan terluka parah.

Sesaat selagi kedua lawan itu memisahkan diri……….. Serangannya tangan Cin Bie Nio dengan diam-diam tapi cepat dan ganas sekali sudah menghajar si garuda kepala botak dari belakang. Si Garuda kepala botak ketika merasakan dibelakang dirinya ada sambaran angin, badannya lantas melesat kedepan, kemudian tangannya membalik menyambuti serangan Cin Bie Nio. Tidak tahu kalau Cin Bie Nio sudah menduga akan gerakan si Garuda kepala botak itu, maka serangannya tadi dilontarkan seperti mengacip. Maka serangan tangan si Garuda kepala botak tadi lantas mengenakan tempat kosong, sedang serangannya yang bergaya mengacip dari Cin Bie Nio dengan tepat telah mengenakan dirinya. Tidak ampun tubuhnya si Garuda kepala botak itu lantas terpental sejauh satu tumbak lebih. Si Garuda kepala botak dengan menahan darahnya yang mengolak, ia lompat bangun dan menegur Cin Bie Nio dengan suara bengis : …Cin Bie Nio, perbuatanmu yang membokong tadi, apa patut dilalukan oleh seorang gagah seperti kau ?‖ …Hihihi ! dengan seorang semacam kau, perlu apa bicara tentang aturan ?‖ Pada saat itu, 10 orangnya Cin Bie Nio sudah berada didepannya. Mereka merupakan 5 orang laki-laki pertengahan umur dan 5 perempuan yang amat cantik. Yo Cie Cong hatinya berkecat, nampaknya 5 laki-laki dan 5 perempuan muda itu tentunya ada anak buahnya Cin Bie Nio, orang-orang dari Pek-leng-hwee. 10 laki-laki dan wanita itu setelah berada didepannya Cin Bie Nio, mereka lantas pada membungkukan badan untuk memberi hormat. Cin Bie Nio anggukan kepala, kemudian mengeluarkan perintahnya :

…Sepuluh anak buahku dengar !‖ …Kami bersedia menerima perintah hweetio !‖ jawab mereka berbarengan. …Tangkap Setan kepala botak ini dan bawa pulang kepusat kalau perlu bunuh mati saja !‖ …Baik !‖ Si Garuda kepala botak ketika mendengar perkataan Cin Bie Nio, bukan kepalang gusarnya. Ia sendiri juga merupakan salah seorang jago terkenal dikalangan Kang-ouw-ouw, bagaimana mandah dipermainkan oleh seorang wanita ? …Cin Bie Nio, kau perempuan hina, aku siorang tua tidak mau sudah dengan kau !‖ demikan bentaknya si garuda kepala botak. Tapi sehabis membentak, dirinya sudah dikepung oleh 10 orang-orangnya Cin Bie Nio. Cin Bie Nio ada seorang wanita yang sangat jahat dan kejam. Ia bermaksud hendak membunuh mati si garuda kepala botak, sepaya rahasianya tidak di bocorkan. Sebab terhadap dirinya Yo Cie Cong, wanita jahat kejam dan genit itu ada mengandung maksud `istimewa`. Tapi Yo Cie Cong yang dengan secara kebetulan sudah menelan mustika Gu-liong-kao, kini sudah menjadi perhatian orang banyak didunia Kang-ouw, Hari itu ia sudah bertekad bulat hendak membereskan dirinya Yo Cie Cong, apalagi hal ini tersiar dikalangan Kang-ouw maka ia mendatangkan bencana besar bagi Pek-leng-hwee di kemudian hari. Oleh karena itu, ia harus bunuh mati si garuda kepala botak ini, agar rahasianya tertutup selama-lamanya. Cin Bie Nio melirik kepada si Garuda kepala botak yang dikurung oleh 10 orang buahnya, kemudian berpaling, dengan sepasang matanya yang

genit ia menatap wajahnya Yo Cie Cong. Anak muda itu mengerti bahwa pada saat itu sudah tidak mungkin untuk melepaskan diri dari tangan musuh-musuhnya itu. Maka ia lantas berlaku nekad. Dengan maju beberapa tindak ia lantas berkata sambil menuding Cin Bie Nio : …Perempuan hina yang tidak tahu malu, kau hendak berbuat apa ?‖ Cin Bie Nio ada satu ketua dari satu perkumpulan besar, meskipun sifatnya genit, tapi belum perah dimaki dan dituding demikian rupa. Maka dalam gusarnya ia lantas tertawa bergelak-gelak kemudian menjawab : …Bocah, kau nanti akan tahu sendiri !‖ Ucapan itu diberengi dengan serangan tangannya yang sangat hebat. Dilain pihak, si Garuda kepala botak yang dikerubuti oleh 10 anak buahnya Cin Bie Nio dengan cepat sudah mulai keteter. Tapi ia masih berdaya hendak melepaskan diri dari kepungan. 10 anak buahnya Cin Bie Nio itu ada orang-orang yang pernah didik sendiri oleh ketua Pek-leng-hwee yang lama. Kekuatan tenaganya dan kepandaiannya cukup kuat, apalagi dengan bekerja sama 10 orang mereka satu sama lain nampaknya sudah saling mengerti, meski si Garuda kepala botak ada seorang berkepandaian tinggi, tapi juga tidak berdaya melepaskan diri dari kepungan 10 orang itu. Yo Cie Cong dengan hati gemas, telah keluarkan semua kepandaiannya untuk menghadapi Cin Bie Nio. Dengan secara nekad ia berikan perlawananya, hingga untuk sementara Cin Bie Nio juga tidak berdaya. Tidak lama kemudian, si Garuda kepala botak sudah ditangkap hidup-hidup oleh 10 orang anak buahnya Cin Bie Nio. Dipihaknya Cin Bie Nio, setelah melancarkan serangannya sampai 10 kali, ia baru berhasil memukul mundur Yo Cie Cong, kemudian ia

berkata kepada 10 anak buahnya : …Kalian pulang dulu, hati-hati dengan tawananmu itu !‖ 10 anak buahnya, Cin Bie Nio setelah mendapatkan perintah dari ketuanya, lantas berlalu sambil membawa dirinya si Garuda kepala botak. Cin Bie Nio setelah perintah anak buahnya pulang lantas berpaling menghadapi Yo Cie Cong. sambil ketawa terkekeh-kekeh dan kerlingkan mata ia berkata : …Bocah, hari ini kalau kau bisa lolos dari tanganku, percuma saja aku menjadi ketua Pek-leng-hwee ! Sehabis berkata, lengan bajunya yang panjang lantas dikebutkan didepan wajahnya si anak muda. Yo Cie Cong matanya mendelik, selagi hendak turun tangan mendadak bau harum menusuk hidungnya, ia lantas merasa gelagat tidak baik, tetapi sudah terlambat. Saat itu ia rasakan puyeng kepalanya, matanya berkunang-kunang, kaki dan tangannya pada lemas dan lantas jatuh rubuh ditanah. Cin Bie Nio maju menghampiri, dengan tangannya yang putih balus ia mengelus-elus wajah Yo Cie Cong, matanya memancarkan sinar aneh yang menakutkan. Yo Cie Cong ingatannya masih sadar matanya masih bisa melihat, saying badannya tidak bisa bergerak, mulutnya tidak bisa dibuka. Hampir saja ia pingsan karena gusarnya. Cin Bie Nio dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah botol kecil, dari botol itu mengeluarkan sebuah obat pil warna merah dadu. Dengan paksa ia dijejalkan masuk pil itu kedalam mulut orang, hingga tanpa diingin pil itu kena ditelan Yo Cie Cong. Setelah mana, si genit tertawa cekikikan, katanya :

,, Engko kecil yang manis, pil tadi dinamakan pil sorga dunia untuk satu malaman, setelah kau makan, kutanggung kau akan mendapat kesenangan dan kepuasan. Tapi itu hanya sekali saja setelah itu, kau akan menjadi orang yang bercacat selama-lamanya. Aku Cin Bie Nio tidak suka kau orang yang begini cakap menjadi rebutan orang banyak, maka aku harus menyingkirkan kau dari dunia. Mustika Gu-liong-kao dalam perutmu itu hitung-hitung sebagai gantinya untuk kesenangan dan kepuasanmu.‘‘ Sehabis berkata, kembali ia tertawa terkekeh-kekeh. Yo Cie Cong buka lebar-lebar sepasang matanya, tampak tegas sekali berapa gusar hatinya saat itu, matanya membara seperti mengandung api. Cin Bie Nio dengan wajah ramai senyuman membukukan badan kemudian kempit badannya Yo Cie Cong dibawah ketiaknya, dengan cepat ia sudah berlari menuju ketempat belukar. Tidak antara lama tibalah, disuatu tempat sepi sunyi, disitu ada terdapat sebuah kelenteng tua yang sudah rusak keadaanya. Ia letakan dirinya Yo Cie Cong mengerti bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi bulan-bulanan wanita setengah tua yang centil genit itu, entah apa yang ia akan perbuat terhadap dirinya itu. Cin Bie Nio setelah meletakan dirinya Yo Cie Cong ditanah, ia duduk didampinginya menantikan perubahan selanjutnya. Tidak antara lama kemudian …….. Dalam perutnya Yo Cie Cong timbul hawa panas itu kenudian mengeluarkan hawa nafsu birahi yang makin lama hebat hingga tidak dapat dikuasai lagi. Sebentar saja, mulutnya dirasakan kering, srkujur tubuhnya seperti dibakar, perlahan-lahan budi pekertinya telah lenyap sama sekali ia

Cuma merasakan sesuatu kebutuhan untuk melampiaskan hawa napsunya. Didalam matanya Yo Cie Cong pada saat itu, Cin Bie Nio kelihatannya seperti bidadari yang baru turun dari khayangan, ia sudah tidak merasa benci dan gemas lagi, ia merasa saat itu ia sangat membutuhkan dirinya. Keadaanya Cin Bie Nio saat itu juga serupa dengan Yo Cie Cong. Dari sorot matanya Yo Cie Cong ia sudah tahu kalau pemuda itu sudah hampir tidak bisa kuasai dirinya lagi, hingga ia mengerti bahwa saat bekerjanya obat itu telah tiba. Maka dengan cepat ia sudah membuka totokan Yo Cie Cong, siapa telah mendapat kembali kebebasannya, seolah-olah macan kelaparan ia lantas menubruk dirinya Cin Bie Nio. Mulutnya tidak hentinya mengucapkan perkataan : ,, Bie Nio …..Bie Nio……!‘‘

Bagian Ke Dua Belas DENGAN demikian, Yo Cie Cong dan Cin Bie Nio lantas bergulingan ditanah. Yo Cie Cong yang sudah kehilangan akal budinya, dibawah pengaruhnya obat Cin Bie Nio, pikirannya sudah menjadi gelap sekali. Suatu perbuatan terkutuk hampir saja terjadi didalam bekas rumah sunyi itu. Andai kata hal itu benar-benar terjadi, meski Yo Cie Cong dapat kepuasannya ia dapat menjadi orang bercacat untuk seumur hidupnya bahkan lebih mengenaskan lagi bagi nasibnya Yo Cie Cong, karena wanita genit centil itu, setelah merasa puas ia hendak membelek perutnya Yo Cie Cong dan mengambil mustikanya. Peristiwa yang menyedihkan itu agaknya sudah sukar untuk dilakukan

……….. Untung dalam saat yang sangat kritis itu, mendadak terdengar suara seperti keluar dari mulunya seorang yan gsudah lanjut usianya : ,, diwaktu tengah hari bolong, kau rase genit ini ternyata berani terang-terangan melakukan perbuatan terkutuk !‘‘ Suara itu meski tidak keras, tapi cukup jelas kedengarannya Cin Bie Nio yang sudah kelelap dalam napsu birahinya, ketika mendadak dengar suara itu, bukan kepalang kagetnya hingga napsunya lenyap buyar seketika. Yo Cie Cong yang sudah seperti orang kerasokan setan karena pengaruhnya obat, sekalipun dunia kiamat juga tidak peduli ia tetap memeluki dirinya Cin Bie Nio, mulutnya mengeluarkan perkataan seperti orang mengigo. Terdengar pula seorang tua itu : ,, Suhunya begitu, muridnya sudah tentu begitu juga. Rase tua itu hampir setengah tua umurnya mencelakakan dunia Kang-ouw dan sekarang si rase cilik mjuga kelihatannya hendak melanjutkan kelakuan suhumu ? rupanya peristiwa berdarah yang bersipat romantis akan terulang pula.‘‘ Cin Bie Nio sudah tidak bisa tahan sabar lagi, kegusarannya lantas memuncak sebab orang tua itu setiap perkataanya seolah-olah ditunjukan kepada dirinya. Dengan cepat ia lantas mendorong dirinya Yo Cie Cong, kemudian lompat bangun. Selagi hendak keluar dari dalam kelenteng, Yo Cie Cong menghadang dan mulutnya mengoceh: ,, Enci, kau ……sungguh kejam ………..‘‘ Tetapi Yo Cie Cong yang hendak memeluk, kembali didorong oleh Cin Bie Nio sehingga trepental sejauh setombak lebih.

Cin Bie Nio lalu membereskan pakaiannya dan rambutnya yang riap-riapan, kemudian dengan cepat lompat keluar dari dalam kelenteng. Kecuali angin yang meniup pakaianya, ia tidak dapat menemukan apapun juga. Didalam kelenteng tua yang sudah hampir rubuh itu, yang tampaknya sudah mengetahui dengan jelas asal usul tentang dirinya, sudah tentu orang itu bukan orang sembarangan. Belum lenyap pikirannya itu, Yo Cie Cong sudah menyerbu lagi seperti orang yang sudah kalap. Tetapi Cin Bie Nio saat itu sudah lenyap segala napsu birahinya. Ia hendak dulu mengetahui siapa orangnya yang usilan tadi, mak ketika Yo Cie Cong menubruk padanya, dengan cepat sekali ia mengulur tangannya dan menotok jalan darah si anak muda. ,, Eh! Kau rase cilik ini apa bermaksud hendak mengambil jiwanya si bocah ?‘‘ kembali terdengar suara seorang itu seperti dekat telinga Cin Bie Nio, tetapi ia tidak dapat menebak suara itu datangnya dari mana. Sekarang Cin Bie Nio insap bahwa ia sudah berjumpa dengan seorang yang mempunyai kepandaian yan gsudah tidak ada taranya. ,, Kalau kau ada manusia, lekas unjukan dirimu!‘ demikian ia akhirnya berkata cemas. Tetapi ia heran perkataanya itu tidak mendapatkan jawaban. Tidak lama kemudian, siara yang sangat aneh itu kembali terdengar : ,, Bocah ini mempunyai tulang-tulang dan bakat yang luar biasa nagusnya. Apalagi ia telah menemukan kejadian gaib yang menguntungkan dirinya. Dia tidak boleh mati begitu saja.‘‘ ,, Orang pandai dari mana ? mengapa harus main sembunyi-sembunyian ?‘‘ demikian Cin Bie Nio berseru, yang pada sebelumnya

mengeluarkan perkataanya itu sudah memasang telinganya untuk mendapat tahu dari mana asal datangnya suara itu, Cin Bie Nio bingung tidak berhasil menemukannya,karena suara itu kalau mau dikatakan dari jauh, tetapi kedengarannya dekat sekali dan kalau mau dikatakan dari tempat yang dekat, tetapi tidak bisa dilihat orangnya. Kini terdengar pula suaranya orang itu yang seperti ditujukan kepada dirinya sendiri :,, Hati wanita sesungguhnya sangat kejam, saying bocah ini kepandaiannya telah musnah. Tapi masih ada harapan, dimulai dari permulaan lagi. Oh ! takdir, takdir !‘‘ Cin Bie Nio yang mendengar perkataan itu, perasaan takut dan nyerinya tidak dapat disingkirkan lagi. Kiranya, pil ‗sorga dunia‘ itu adalah semacam obat racun yang sangat jahat. Tiga puluh tahun berselang orang-orang yang berkepandaian tinggi, baik dari golongan hitam dan maupun dari golongan putih banyak yang menjadi korbannya obat tersebit, jumblahnya tidak kurang dari dua ratus orang banyaknya. Ini merupakan salah satu bencana hebat dalam rimba persilatan. Orang-orang yang setelah makan obat itu dan sesudahnya melampiaskan hawa nafsunya, seluruh kekuatan badan dan semuanya, orang itu akan menjadi orang bercacat seumur hidupnya,. Ada kemungkinan juga satu jam setelah melampiaskan hawa nafsunya, sesudah musnah kekuatannya, pembuluh darah orang bermaksud pecah dan lantas binasa. Dan orang tua yang bicara taei agaknya sudah kenal baik semua kasiatnya obat tersebut. Cin Bie Nio yang baru pertama kali ini hendak melakukannya, lantaas sudah terbuka rahasianya bagaimana ia tidak terkrjut‘ Saat itu ia tidak masih tebalkan mukanya dan membentak :

,, jika kau masih tidak mau unjukan diri, jangan salahkan jika aku maki kau dengan perkataan kotor. Cin Bie Nio sesungguhnya seorang yang sangat licin. Ia telah dapat menduga pasti bahwa orang yang berbicara tetapi tidak mau ujudkan dirinya itu, tentunya dari golongan tua yang namanya sudah kesohor dan orang tua semacam itu adalah pantang sekali kalau dimaki-maki oleh kaum wanita. Dugaan itu sedikitpun tidak meleset. ,, Rase kecil, apa benar kau mau minta aku ujudkan diri ?‘‘demikian terdengar suara itu pula. ,, Apakah kau tidak mau diketahui orang luar ?‘‘ ,, Ha,ha,ha,……..Memnag benar! Agak kurang baik kalau diketahui orang,.‘‘ ,, Kalau begitu, kau jangan sesalkan aku ……….‘‘ ,,Ooo Tidak ! Tidak ! dulu ketika suhumu, sirase tua melihat aku, lantas lari terbiri-biri .Perlu kuberitahukan dulu padamu, aku sebetulnya tidak bagus kalau dilihat. Aku tanggung kau nanti mersa jemu,‘‘ Dan setelah mengatakan perkataanya itu, berulang-ulang ia lantas mengucapkan ‗O mie to hud;nya. Mandadak Cin Bie Nio dapat mengingat dirinya satu orang dan semangatnya lantas terbang seketika. Sesungguhnya ia tidak akan mengira bahwa orang aneh itu ternyata masih belum binasa dan sekarang muncul lagi disitu. Karena mengingat dirinya orang yang lihay itu, maka Cin Bie Nio lantas tidak perdulikan dirinya Yo Cie Cong lagi dan sudah lantas kabur terbiri-biri. ,, Ha, ha,ha…………‘‘

Suara yang seperti genta itu lama mengema didalam kelenteng tua itu, sehingga kelenteng tua yang sudah lapu itu pada rontok jatuh. Tidak lama setelah Cin Bie Nio kabur, dari atas penglari telah melayang turun satu bayangan orang, yang lantas menghampiri dirinya Yo Cie Cong. Yo Cie Cong saat itu mendadak seperti tergugah semangatnya oleh suara seperti genta tadi, keadaanya seperti orang yang baru terbangun dari tidurnya yang nyenyak dan matanya terpentang lebar-lebar. Ia melihat seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah tidak bertenaga lagi. Semua tulang-tulangnya seperti sudah rontok, sedangkan untuk mengangkat kepalanya saja dirasakan sukar sekali, maka terpaksa ia mengurungkan maksudnya. Pada saat itu, ia hanya dapat mengingat sebagian secara lapat-lapt saj apa yang terjadi atas dirinya pada satu jam dimuka, dengansorot mata kaget dan terheran-heran ia mengawasi orang aneh yang sedang menghampiri dirinya itu. Apakah dia ini seorang hwesio? Kalau benar hweshio, bagaiman di kepalanya ada tumbuh rambut yang sudah putih semuanya? Dan bukan kalau hweshio mengapa badanya mengenakan juba dan kakinya mengenakan sepatu hweshio ? Terutama bentuk wajahnya orang tua itu, asal orang sudah melihat satu kali, tidak mungkin dapat dilupakan untuk selama-lamanya. Ia padri bukan padri, imam bukan imam, sedangkan usianya kelihatan sudah lanjut sekali. Tetapi keadaan Yo Cie Cong saat itu sudah lemah sekali, ia tidak dapat memikir banyak lagi apa maksud kedatangan orang aneh itu, entah baik atau jahat maksudnya.

Ia seperti barusan habis mengimpi, setelah juga seperti terumbang-ambing dalam lamunan. Akhirnya orang aneh itu berdiri dihadapannya. Yo Cie Cong dengan matanya yang sayu terus menatap wajah orang itu tanpa berkedip. Orang aneh itu kedip-kedipkan matanya yang sipit, lama ia mengawasi Yo Cie Cong baru berkata sambil menggeleng-geloengkan kepala : ,, Budha berkata, bahwa sesuatu hal itu memang ada jodonya kalau tidak ketemi aku, bukankah bocah ini yang merupakan bibit luar biasa sirimba persilatan ini rusak ditangannya itu perempuan hina?‘‘ Sehabis berkata ia lantas membuka lebar-lebar sepasang matanya itu memancarkan sinar aneh dan tajam. Yo Cie Cong yang dipandang demikian, dian-diam mengakui tingginya kekuatan tenaga dalam orang aneh itu. Orang aneh itu kembali berkata kepada dirinya sendiri :‘‘ bocahini dialis matanya ada diliputi oleh hawa pembunuhan yang hebat. Kalau digunakan pada jalan yang benar, kawanan manusia jahat dan segala iblis dari rimba persilatan tentu akan dibikin musnah olehnya, sehingga merupakan suatu keuntungan bagi rimba persilatan tetapi jika digunakan pada jalan yang tidak benar, maka rimba persilatan akan mengalami bencana besar yang hebat jahat senuaitu sudah digariskan oleh tuhan. Takdir tidak boleh dilawan…… Orang aneh itu lalu gibaskan lengan jubahnya yang mesum kearah dirinya Yo Cie Cong. Totokan pada jalan darahnya pemuda itu sekejap mata juga sudah terbuka oleh karenanya. Ilmu membebaskan jalan darah dengan menggunakan lengan baju semacam ini, dulu Yo Cie Cong hanya pernah mendengar dari mulut

suhunya, itu hanya ilmu kepandaian yang sudah lama hilang didunia, sebab sukar sekali dipelajari orang, sungguh tidak disangka, orang yang bentuknya luar biasa itu bisa menggunakan kepandaian yang sudah menghilang itu. Kalau begitu, orang ini tentunya bukan sembarangan orang mungkin orang ini merupakan seorang berkepandaian tinggi sekali dari golongan tua. Yo Cie Cong setelah merasa jalan darahnya terbuka, lantas berkata : ,, Boanpwee ucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Lotjianpwee ini,‘‘ ,, bocah, budha mengatakan ada sebab ada akibatnya pertemuan kita ini disebabkan oleh Karena adanya jodoh. Maka tidak perlu kaui mengudapkan terima kasih.‘‘ ,, Adakah Lotjianpwee ini merupakan orang dari kalangan budha yang beribadah tinggi?‘‘ ,, Ha,ha ………Orang beribadah ? separuh saja, bahkan ada sedikit perbuatan nyeleweng..‘ Yo Cie Cong terjengang‘ mengapa ada orang yang beribadah separuh saja ? maka ia menanya dengan perasaan terheran-heran.?‘‘ ,, Benar, separuh padri,‘‘ ,, Bolehkah Lotjianpwee menjelaskan apa artinya separuh padri itu,‘‘ ,, Ha. Ha ……. Orang beribadah seharusnya tidak memikirkan apa-apa, sebab yang ditaati hanya ajaran budha saja. Badanku meski masih berkelucuran didalam dunia. Bahkan masih doyan arak dan makanan daging yang dipantang. Bukankah ini hanya bisa dihitung separuh saja ?‘‘ ,, Boanpwee anggap bahwa orang yang beribadah itu pada pikiran dan kelakuannya. Tentang makanan dan minuman, itu hanya diluarnya saja,

perlu apa juga harus rojoki hal itu ? maksud tujuannya budha yang utama tidak lain adalah supaya menolong orang berada dalam kesukaran, hud-tjow pernah mengatakan, kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka ? dari perkataan ini dapat ditimbang bahwa Lotjianpwee inilah penganut budha yang benar-benar yang bukan nganut diluarnya saja, entah bagaiman pikiran Lotjianpwee tentang pendapat Boanpwee yang cetek ini ?‘‘ Orang aneh itu lantas membuka mulutnya dan memperdengarkan ketawanya yang panjang dan nyaring memekakan telinga Yo Cie Cong. Sehabis ketawa, ia lantas perdengarkan suaranya yang seperti genta. ,, Bocah, kau benar-benar ada seorang cerdik, apa yang kau udapkan itu, cocok sekali dengan pikitanku, si hweshio gila.‘‘ ,, numpang Tanya, apa gelaran Lotjianpwee ?‘‘ ,, Semua ini merupakan embel-embel saja yang sudah lam kulupakan maka tidak usah kau tancapkan hal itu,‘‘ Diam-diam Yo Cie Cong merasa geli sendirinya, orang orang aneh ini benar-benar merupakan seorang aneh dalam segala-galanya. Jika tidak karena tadi ia sudah unjukan kepandaiannya,orang tentunya akan mengira bahwa orang ini adalah hweshio gila benar ? ,, Kalau begitu Boanpwee bagaiman harus menyebut Lotjianpwee ?‘‘ demikian Yo Cie Cong coba mendesak pula. ,, Ha, hweshio ……….Bocah, terserah padamu sendiri.‘‘ Jawaban itu sungguh aneh. Bagaiman boleh menyebut orang secara sembarangan saja? Yo Cie Cong merasa serba salah, karena orang aneh itu tidak mau menyebutkan mana dan gelarnya, maka ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. ,, Bocah, tidak usah kita bicarakan urusan yang bukan-bukan. Sekarang

kita bicarakan saja urusan yang benar-benar. Ketika mendengar perkataan urusan benar-benar itu, Yo Cie Cong kini baru ingat bahwa murid perempuannya orang berkedok kain merah itu masih menantikan ia yang disuruh mencari kereta. Dengan badannya yang terluka parah, bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa atas dirinya si nona……….? Karena memikirkan dirinya Tio Lee Tin itu, pikirannya lantas tegang sendirinya, maka ia lantas berkata dengan suara cemas: Lotjianpwee, Boanpwee masih mempunyai seorang kawan yang terluka sedang membutuhkan perawatan, maka Boanpwee harus……….. ,, Bocah, tahukah kau, masih berapa lama lagi kau bisa hidup?‘‘ Perkataan itu keluar dari mulutnya orang neh itu, mau tidak mau Yo Cie Cong harus percaya juga, maka ia lantas menanya : ,, Aku ………‘‘ ,, Kalau kau siapa lagi ?‘‘ ,, Boanpwee sungguh tidak habis mengerti apa maksud perkataan Lotjianpwee ini. ,, Dengan cara bagaimana kau bisa berada disini ?‘‘ ,, Boanpwee telah dibikin tidak ingat orang oleh obat bius Cin Bie Nio serta dipaksa makan obat pil dan kemudian dibawa kemari. Apa yang terjadi selanjutnya Boanpwee sudah tidak tahu lagi,‘‘ mulutnya berkata, tapi hatinya berdebaran. ,, Boanpwee, kau sudah terkena ilmunya yang sangat keji dari perempuan genit itu, kemudian kau makan lagi sebutir obat pil yang bisa mengorbankan hawa nafsu sangat hebat, sesudah itu kau juga tertotok jalan darahmu, maka saat ini kepandaian ilmu silatmu sudah musnah sama sekali.‘‘ Yo Cie Cong bukan kepalang kagetnya mendengar keterangan itu, ia

doba mengatur jalan pernapasannya, benar saja, kekuaan tenaga dalamnya sudah buyar semuanya, sehingga keadaanya saat itu sudak tidak ada dengan orang biasa yang tidak pernah melatih ilmu silat. Kejadian itu merupakan suatu pukulan hebat bagi batinnya Yo Cie Cong. Hasil jerih payahnya selama lima tahun terahir itu, kini telah musnah tanpa meninggalkan bekas sedikitpun juga. Ia merasakan seperti seorang hukuman yang dapat vonis hukuman mati, untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu-mangu. ,, Bocah, masid belim habis begitu saja kau masih mempunyai setengah jam lagi, racun itu akan menyerang jantungmu dank au juga kan lantas binasa!‘‘ kata orang aneh itu dengan sangat tenang. Pada saat itu Yo Cie Cong sudah putus asa benar-benar semua rupanya telah musnah. Sekali lagi jiwannya berada dalam ancaman bahaya maut. Ia tahu, mungkin ia tidak dapat mengelakan lagi bahaya itu. Meskipun sudah beberapa kali ia terhindar dari bahaya kematian, tetapi akhirnya ia tidak dapat terluput dari bahaya maut itu. Kematian baginya tidak begitu menakutkan, hanya ia masih merasa berat bahwa tugas dan kewajibannya masih belum diselesaikan. Ini merupakan suatu hal penting baginya, maka sekalipun ia mati, barangkali juga tidak bisa meram, mungkin juga rohnya akan tetap bergelandangan. Setelah berdiri melongo seakan lamanya, mendadak ia perdengarkan suara suara ketawa bergelak-gelak, tetapi suara ketawanya itu sangat menyedihkan, lebih-lebih dari suara tangisan. ,, Bocah, kau jangan terguncang dulu pikiranmu. Dengarkanlah perkataanku.‘‘ Demikian orang aneh itu berkata padanya.

Yo Cie Cong menghentikan ketawanya, dengan matanya yang sayu ia menatap wajahnya orang tua aneh itu, kemudian berkata dengan suara duka : ,, Lotjianpwee masih ingin memberi pelajaran apa ?‘‘ ,, tahukah kau, asal usulnya permpuan genit yang meracuni dirimu tadi ?‘‘ ,, Boanpwee tidak tahu.‘‘ ,, Dia adalah muridnya ‗ Pho Tjit Kow; seorang perempuan cabul dan genit luar biasa yang bergelar ‗ Giok – bin Giam – po‘ ( malaikat wajah kumala ) yangt pada tiga puluh tahun berselang telah menimbulkan bencana hebat, sehingga dua ratus jiwa lebih banyaknya dari orang-orang rimba persilatan telah binasa ditangannya,‘‘ ,, Giok-bin Giam-po phoa tjit kow?‘‘ demikian Yo Cie Cong berseru, wajahnya juga berbah seketika. Sebab nama itu ternyata merupakan salah satu musuh Kam-lo-pang yang didalam daptar musuh-musuhnya Kam-lo-pang tercatat dibaris kelima dalam lembaran pertama. ,, Bocah, apa kau kenal dengan rase tua itu ?‘‘ Sudah tentu Yo Cie Cong tidak dapat menjawab, maka ia hanya menjawab dengan sekenanya saja.‘‘ Tetapi pada saat itu dalam hatinya berpikir :‘ jiwa hanya tinggal satu jam saja. Perlu apa aku harus memikirkan nama musuhku itu ? biar bagaimana sekarang aku tuh tidak mampu lagi menuntut balas sakit hatinya suhu .‘‘ ,, Bocah, aku sekarang Cuma mempunyai satu cara untuk menolong kau supaya terhinadar dari kematian. Tetapi berhasil atau tidak, itu tergantung dari musuhmu sendiri. Sementaraitu, untuk memulihkan kepandaian ilmu silatmu, untuk sementara ini tidak ada harapan lagi.‘‘

Demikian orang aneh itu berkata. Yo Cie Cong ketika mendengar bahwa orang tua aneh itu masih mempunyai daya upaya hendak menolong dirinya dari bahaya kematian, semangatnya lantas terbangun kembali, sebab jika jiwanya masih ada dengan perlahan-lahan masih ada harapan untuknya melatih imlu silatnya lagi, maka ia lantas berkata dengan suara terharu. ,, Dengan cara bagaiman Lotjianpwee dapat menolong supaya Boanpwee tidak binasa ?‘‘ ,, Aku akan menggunakan ilmu Kan-thian Sin-kang untuk mendesak racun yang mengeram dalam badanmu disuatu sudut, kenudian menutup beberapa bagian jalan darahmu, dengan jalan ini kau masih dapat hidup lagi untuk tiga puluh hari lamanya.‘‘ Harapan hidup tadi yang telah timbul dalam hatinya, kini telah lenyap kembali. Hidup Cuma dalam tiga puluh hari, dengan badan yang sudah hilang sama sekali kekuatan dan kepandaian ilmu silatnya bisa digunakan untuk apa ? dan sesudah tuga puluh hari ia masih harus mati. Dari pada masih merasakan penderitaan lagi tiga puluh hari lamanya, bukankah lebih baik mati sekarang ? maka ia lantas menjawab sambil ketawa getir: ,, Budi kebaikan Lotjianpwee meskipun Boanpwee mati juga tidak bisa dilupakan, tetapi Boanpwee pikir lebih baik mati sekarang saja dari pada nanti.‘‘ ,, Eh bocah, kau ini bagaimana sih, mengapa kau inginkan mati sekarang ?‘‘ ,, Lotjianpwee Cuma membuat Boanpwee hidup lagi hanya untuk tiga puluh hari lagi dengan mati sekarang ?‘‘ ,, Apa sudah tahu pasti kalau pada tiga puluh hari kemudian kau akan

binasa?‘‘ Yo Cie Cong sekarang dibikin penasaran oleh karena pertanyaannya ini. ,, Bukankah tadi Lotjianpwee mengatakan sendiri ?‘ ,, Hi , hi ………Bocah, kau jangan kesusu dulu. Perkataanku masih belum habis.‘‘ ,, Harap maafkan kalau Boanpwee berlaku kurang ajar.‘‘ ,, Kau jangan bodoh. Aku si hweshio gilatuh bukannya anak kecil? Jika aku tidak mempunyai resep untuk menghidupkan jiwamu lagi, perlu apa aku harus kau hidup tiga puluh hari lagi. Sudah tentu aku masih mempunyai daya upaya yang lain,‘‘ ,, Boanpwee ingin mendengar bagaimana hendak Lotjianpwee ,, Racun semacam ini, dikolong langit ini tidak ada orang yang dapat mengobati, kecuali orang yang menciptakan racun itu sendiri, hanya seorang tua yang tabitnya aneh luar biasa yang kini hidup mengasingkan diri dipulau batu hitam di Lam-hay yang dapat menolong kau. Dia ada mempunyai piliharaan kura-kura yang umurnya sudah ribuan tahun, dengan beberapa tetes darah kura-kura itu saja sudah cukup untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhmu, tetapi orang tua itu tabitnya luar biasa anehnya. Ia tidak suka orang lai mengganggu ketenteramannya. Bagi orang biasa, jangan harap biasa menemukan padanya. Maka untuk mendapatkan obat itu, itu juga tergantung dari keberuntunganmu sendiri.‘‘ Yo Cie Cong kembali timbul harapan dalam hatinya, meskipun harapan itu kecil sekali, tetapi ini juga sudah memberi dorongan untuk ia hidup terus. ,, Boanpwee akan mencoba dan berusaha.‘‘ Demikian ia akhirnya menjawab. Orang tua aneh itu lantas mengeluarkan tangannya mengambil sebuah

buli-buli kecil kira-kira panjangnya dan berwarna merah, lalu diserahkan kepada Yo Cie Cong seraya berkata. ,, Bocah, ini adalah benda kepercayaan bagi diriku si Hweshio gila. Dengan membawa barang ini, kau boleh pergi keorang tua yang tabitnya aneh itu, mungkin ia mau melindungu dirimu,‘‘ Yo Cie Cong dengan sangat hirmatnya menerima barang itu, lalu disimpan disakunya. ,, Bocah‘ kalau orang tua itu menanyakan padamu tentang jejakku, kau jawab saj begini, tidak ada sesuatu yang dapat mengekangku denganb baju rombeng dan sepatu bututku hendak melunaskan tugasku.‘‘demikianlah orang aneh itu memberikan pesan pada Yo Cie Cong. Apa artinya perkataan itu sudah tentu tak dapat dimengerti oleh Yo Cie Cong, ia hanya mencatat saja perkataan itu dalam hatinya, sedangkan mulunya mengucapkan perkataan ‗ baik‘ berulang-ulang. ,, Bocah, nafsumu sungguh luar biasa. Jika kau bisa menemukan lagi telurnya burung rajawali raksasa berwarna, kau akanmenjadi seorang seorang luar biasa dalam rimba persilatan, harap saja supaya kua bisa menjaga baik-baik dirimu.‘‘ Yo Cie Cong merasa sangat heran, bagaiman Hweshio yang seperti orang gila ini bisa mengetahui kalau didalam dirinya ada mustika Gu-liong-kao ? ,, Boanpwee akan ingat baik-baik pesanan Lotjianpwee .‘‘ ,, Pertemuan antara kau dan aku dinamakan jodoh, karena kita ada jodoh, tidak boleh tidak aku bisa memberikan sedikit bingkisan untukmu, demikian kata orang aneh itu yang lantas berfikir sejenak, kemudian berkata pula : ,, Baiklah, aku akan memberikan padamu dua macam pelajaran tipu

silat yang dinamakan Liu-in Hud-hiat‘ ( menotok jalan darah secara awan terbang ) dan Hui-sio Kay –Hiut‘ ( membuka totokan jalan darah dengan kebisan lengaqn baju ). Yo Cie Cong sangat girang sekali mendengar ini, sebab pelajaran ilmu silat yang sudah lama dikatakan hilang dari rimba persilatan yang sangat di idam-idamkan oleh stiap orang gagah, kini telah didapatkan seacara tidak terduga-duga. Tetapi jika melihat bahwa kekuatan dan ilmu silatnya sendiri kini sudah lenyap seluruhnya, sekalipun ia bisa mempelajari kedua ilmu tersebut, juga tidak bisa digunakan. ,, Bocah, kedua ilmu itu sekarang hendak kuberitahukan semua hafalannya kepadamu, kau harus ingat-ingat dan simpan baik-baik dalam hatimu, dikemudian hari, apabila kekuatan dan ilmu silatmu sudah pulih kejmbali, tentu dapat kau pergunakan.‘‘ ,, Tidak usah, ini adalah aku si hweshio gila yang ingin menghadiahkan sendiri padamu. Jika tidak begitu, sekalipun kau mau juga tidak bisa didapatkan begitu saja, mari aku gunakan ilmu Kan-thian sin-kang dulu untuk mendesak racun dalam tubuhmu hingga jiwamu dapat hidup lagi 30 hari.‘‘ Yo Cie Cong kasihkan dirinya dipale orang tua aneh itu yang selalu menyebutkan dirinya sendiri sebagai Hweshioo gila setelah merasakan hidup menggunakan ilmunya, orang tua itu bersnyum kepada Yo Cie Cong yang merasakn dirinya kini banyak lebih segar. ,, Baiklah. Sekarang dengarkanlah baik-baik pelajaran yang akan kuberikan padamu ini. Aku akan mengucapkan sekali saja hafalan itu, kau bisa ingat atau tidak, semua adalah urusan sendiri, kau tidak boleh banyak menanya,‘‘ Demikian kata orang aneh itu. ,,Boanpwee mengerti.‘‘ Jawab Yo Cie Cong. Orang tua yang mengatakan dirinya sendiri sebagai Hweshio gila itu

lantas mengatakan dua hafalan yang disebutkannya tadi. Yo Cie Cong yang mendapat karunia kecerdasan otak yang luar biasa, sekali diberikan pelajaran, sidah dapat diingat semuanya dengan baiok untuk selamanya. ,, Sekarang, pergilah kau. Aku juga akan pergi.‘‘ ,, Lotjianpwee, kapan Boanpwee bisa ketemulagi dengan Tjian-pwee?‘‘ Yo Cie Cong sudah kagum benar-benar terhadap Hweshio yang menyebut dirinya gila ini, dari nama gila Hweshio itu, tidak dirasakan aneh, sebaiknya ia merasa sangat menyenangkan. Pertemuan dalam waktu yang sangat singkat itu membuat ia merasa berat untuk nerpisahan lagi dengannya. Orang tua itu lantas menjawab sambil ketawa bergelak-gelak,?‘‘ ,, Bocah, asal ada jodoh dimana saja kita bisa bertemu tetapi ada satu hal yang perlu aku beritahukan padamu, jika jika dikemudian hari kau nati melakukan perbuatan yang tidak patut, sehingga membuat bencana bagi dunia rimba persilatan, aku si hweshio gila barangkali bisa berubah menjadi orang yang menagih jiwamu,;; Ketika mendengar perkataan itu, dalam hati Yo Cie Cong timbul perasaan bergidiknya, selagi ia masih bercakat orang tua iotu sudah menghilang dari depan matanya, hanya terdengar suara tinjakan sepatunyasaja yang perlahan-lahan menghilang, ia tidak tahu bagaimana cara sijalannya si hweshio gila itu. Setelah sendiri menjublek, sekian lamanya Yo Cie Cong sudah lenyap lama sekali. Maka gerak jalannya juga tidak bedanyaseperti orang biasa saja. Berjalan hampir satu hari lamanya, barulah ia sampai kota kecil, dengan cepat ia mencari sebuah kereta dan lantas menuju keluar kota dengab kereta itu. Ia tidak beani membayangkan nagaimana keadaannya Tio Lee Tin pada

saat itu,. Entah bagaimana kegelisahan perasaan hati si nona yang menantikan kedatangannya. Setelah kereta itu dilarikan sekencang-kencangnya, tibalah ia ditempat Tio Lee Tin menunggu. Ketika Yo Cie Cong melompat turun dari keretanya, apa yang terbentang dimatanya telah membuat ia berdiri menjublek. Di depan matanya ada rebah menggeletek tubuhnya lima bangkai manusia, darahnya masih keliuatan berhamburan tampaknya matinya belum lama. Tetapi Tio Lee Tin sendiri saat itu tidak dapat terliahat bayangannya. Tampaknya ditempat tersebut tadi sudah terjadi peristiwa hebat lagi. Tio Lee Tin yang sedang menderita luka, mungkin sudah menemukan bahaya, pikirnya. Yo Cie Cong ketika mengingat hal itu badannya diraakan menggigil. Jika benar terjadi apa-apa atas dirinya Tio Lee Tin, bukankah ia juga harus turut menanggung jawab?sebab jika tadi ia tidak menyuruh sinona itu siang-siang sudah meninggalkan tempat tersebut.? Tukang kereta yang dibawanya serta, setelah menyaksikan keadaan tempat itu yang begitu mengerikan terlihatnya, sudah lantas memutar keretanya dan tanpa menunggu jawaban melarikan kudanya, Yo Cie Cong yang saat itu sedang terbenam dalam pikirannya sendiri, perbuatannya si tukang kereta tidak diketahuinya sama sekali. Ia merasa sungguh tidak enak begininya terhadap dirinya Tio Lee Tin, sebab Tio Lee Tin yang sedang menderita luka-lukanya, entah bagaimana nasib sekarang ini. Tetapi ia sendiri sudah tidak mempunyai kepandaian sama sekali, sudah dengan sendirinya pula ia tidak dapat mencari dimana adanya nona itu sekarang.

Apa yang harus dilakukan saat itu ialah, pergi kepulau batu hitam secepat mungkin untuk menemui orang tua yang aneh tabitnya itu. Jika tidak berbuat begitu, tentu ia akan binasa pada tiga puluh hari kemudian. Orang tua aneh itu mau memberikan darah kura-kuranya untuk mengobati racun yang mengeram dalam dirinya atau tidak itu masih dalam pertanyaan, sungguh tidak disangka bahwa Cin Bie Nio ternyata adala muridnya Phoa Tjit Kiow, salah satu musuh Kam-lo-pang, maka ia lantas menggerendeng seorang diri: mereka harus dibunuh semua … Dengan tidak sadarkan diri, ia lantas merabah senjata golok maut yang disimpannya didalam bajunya, agaknya ia sudah membayangkan bagaiman musuh-muduhnya yang jahat itu satu-persatu akan dibinasakan, dibawah tangannya. Dalam hatinya saat itu teringat kembali pelajaran ilmu silat yang kusus digunakan dengan golok maut membinasakan musuh-musuhnya. Meskipun hanya satu jurus saja, gerak tipu itu anehnya luar biasa, sehingga tidak ada seorangpunn yang mampu menghindar dari serangan satu jurus itu. Sepasang matanya yang sayu dari sigadis baju merah Siang-koan kiaw serta gerak-gerik yang agak berandalan saat itu terbayang kembali didalam otaknya. Ia tidak tahu, bagaimana ia harus menghadapi nona baju merah itu, sebab ayahnya juga merupakan salah satu musuh dari suhunya, tetapi ayahnya itu sudah binasa apakah ia harus membrnci turunannya?‘‘ Ia juga ingat wajahnya bibi Tho Hui Hongnya, itu pendekar wanita yang wajahnya penuh welas asih, ia percaya bahwa selama hidupnya ia takan melupakan perbuatan sang bibi yang telah membela dirinya tanpa menghiraukan jiwa sendiri.

Akhirnya bayangan Tio Lee Tin yang cantik dan gagah berkelebat didalam otaknya………….‘‘ Untuk sesaat lamanya rupa-rupa pikiran telah timbul saling susul dalam otaknya,,,,,,,,….‘‘ ,, Aih ……..‘‘ demikian ia akhirnya mengelah napas dan menggerendeng sendiri. ,, Ah, peduli apa, sekarang kepandaianku sudah musnah, bahkan jiwaku sendiri juga tidak tahu masih bisa hidup terus atau akan binasa, perlu apa aku harus memikirkan semua itu.‘‘ Setelah itu lantas menggerakan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Tujuannya masih tetap ke pulau Batu Hitam di Lam-hay. Untul mengejar waktu ia membeli seekor kuda, kudanya dilarikan siang dan malam, ia mengharap supaya dalam tiga puluh hari bisa sampai di tempat yang dituju. Hari itu, pada waktu senja Yo Cie Cong yang melarikan kudanya berhari-hari lamanya, bukan ia saja yang merasa lelah, kudanya juga merasa payah. Ketika terpisah tidak cukup sepuluh lie dengan kota Liong hoa-in, kudanya dijalankan dengan sangat perlahan karena maksudnya malam itu hendak menginap di tempat termaksud. Diatas jalan raya saat itu sunyi sepi. Angina utara menghembus kencang. Yo Cie Cong yang tadinya berjalan melarikan kudanya tampaknya tidak merasakan semua itu. Tetapi ketika kudanya dijalankan perlahan-lahan dirasakan angin itu dingin sekali. Tidaklah mengherankan karena saat itu sudah hampir habis tahun bagi rakyat biasa atau pedagang. Kebanyakan semua sudah menyediakan apa

untuk menyabut tahun baru. Tetapi Yo Cie Cong yang hidup sebatang kara tidak mempunyai rumah dan sanak saudara, diwaktu menjelang tahun baru ia terus melakukan perjalanan jauh. Sebab ia masih hendak hidup terus, maka dalam waktu tiga puluh hari itu tidak boleh tidak ia harus sampai ke Pulau Batu Hitam, untuk mendapatkan darahnya kura-kura yang usianya ribuan tahun. Perbuatannya itu seolah-olah berjudi aja layaknya, jiaka menang ia akan dapat melanjutkan tugas dan kewajibannya tetapi kalau sampai kalah ia akan binasa. Untuk sesaat lamanya rupa-rupa pikiran kembali mengaduk-aduk dalam pikirannya. Tiba-tiba suara kaki kuda telah memecahkan suasana kesunyian alam pada waktu senja itu. Suara kuda itu sebentar saja sudah berada dibelakang dirinya. Yo Cie Cong mengetahui bahwa saat itu ia menjadi seorang yang tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Maka ia tidak berani mencari setori. Sedapat mungkin ia hendak berlaku mengalah, sekalipun harus menerima hinaan. Maka ketika itu mendengar suara derap kaki kuda dibelakang dirinya. Dengan cepat ia meminggirkan kudanya untuk memberi jalan bagi penunggang kuda dibelakangnya. Tetapi sungguh aneh sekali penunggang kuda dibelakangnya tidak mau jalan melewati dirinya, tampaknya seperti dikendurkan tali kekangnya, sehingga seperti terus menguntit dibelakannya dirinya Yo Cie Cong. Cara demikian itu berlangsung agak lama juga kemudian Yo Cie Cong merasa heran, maka kudanya lantas dihentikan dan kepalanya berpaling kebelakang. Penunggang kuda dibelakang dirinya itu agaknya tidak menduga sama sekali yang akan menghentikan kudanya secara mendadak, maka dengan

cepat ia menarik mundur kudanya, dengan demikian maka kedua kuda sekarang jadi berdiri berendeng. Yo Cie Cong terperanjat sekali ketika mengetahui siapa orang yang mengikuti jejak kudanya itu. …Kiranya ada nona Siang-koan ― demikian ia berseru. Siang-koan Kiauw pendengarkan suaranya dihidung. ….ia, kau mau apa ? dijawabnya dengan suara ketus. Yo Cie Cong mendengar jawaban itu agaknya mendapat rasa tidak baik tetapi ia terus mencoba hendak berlaku sesabar mungkin. …Nona Siang-koan hendak kemana ?‖ …Cari kau !‖ …Cari aku ! …Benar ! aku hendak mencari kau, manusia yang tidak berbudi itu.‖ Yo Cie Cong memangnya seorang yang mempunyai adat tinggi, maka ketika mendengar jawaban yang singkat dan ketus itu. Darah mudanya lantas mendidih. Ia menarik mundur kudanya. …Apa perlunya nona mencari mencari aku ? katanya dengan nada dingin. …Hendak membunuh kau !‖ Jawabannya itu membuat Yo Cie Cong sangat terkejut setelah lam dalam keadaan terkesiama mendadak ia seperti ingat apa-apa maka segara ia berkata : …Apa Nona hendak membunuh kau atas perintah ibu tirimu ?‖ …Urusannya dia tidak ada hubungannya dengan aku ― …kalau begitu apa sebabnya ?‖ …Sebab kau adalah orang yang tidak mengenal bakti ― ..Tidak berbudi ?‖ Yo Cie Cong menegasi sambil ketawa getir …Memang benar, ketika di tepi naga nona pernah melepas budi

terhadap diriku. Tetapi merupakan satu hutang seandannya aku Yo Cie Cong tidak binasa aku pasti akan membayar hutang ini. Ketika menyebut kejadian di tepi danau naga itu hatinya Siang-koan Kiauw merasa sangat berduka, sebab oleh karena dirinya si pemuda sampai Siang-koan Kiauw berani menempuh bahaya hendak menghadapi senjata yang bisa meledak dari si iblis wajah singa. Oleh karena pemuda itu pula, Siang-koan kiauw tidak segan-segan memutuskan hubungannya dengan ibu tirinya. Oleh karena Yo Cie Cong hidup kembali, nona itu lantas terbangun pula semangtnya. Tetapi sekarang pemuda itu sangat dingin sikapnya terhadap dirinya, sehingga membuat hancur luluh hatinya si nona. Sebab begitu besar rasa cintanya si nona terhadap dirinya Yo Cie Cong, tapi cinta yang begitu dalam telah mendapatkan penyambutan yang tidak selayaknya, akhirnya telah menimbulkan perasaan benci dalam sanubarinya. Bagian Ke Tiga Belas DENGAN wajah merah padam, Siang-koan Kiauw berkata dengan suara bengis : …Yo Cie Cong, oleh karena kau aku merasa sangat malu !‖ …Aku merasa tidak pernah membuat malu terhadap orang ini ― …Hm! Aku cinta kau, mengapa kau tidak bisa pegang terhadap dirinya satu nona ?‖ …Apa artinya perkataan ini ?‖ …Si Burung Hong Hitam Tio Lee Tin, kau toh tidak bisa bilang kenal padanya ?‖ Yo Cie Cong terperanjat. Diam-diam berfikir bagaimana ia bisa kenal perempuan itu ?‖ …Benar kau kenal padanya !‖ …Hm! Kesulitannya sebagai satu gadis hampir saja ternoda gara-

garamu !‖ …Aku tidak mengerti maksud perkataanmu ini !‖ …Aku Tanya mengapa kau tinggalkan sendirian seorang wanita yang sedang terluka parah didalam hutan belukar ? sehingga hampir saja dirinya ternoda didalam kawannya kawan-kawan kurcaci ?‖ …Sekarang dimana adanya dia ?‖ …Hal ini tidak perlu kau tahu ― Yo Cie Cong teringatkan dirinya sendiri yang hampir saja celaka ditangan Cin Bie Nio, karena gurunya ia lantas ketawa bergelak-gelak. Mengapa kau ketawa? Hari ini aku akan membunuh kau !‖ Adatnya Yo Cie Cong yang angkuh membuat ia tidak mau memberi penjelasan. Setelah berhenti ketawa ia lantas menjawab dengan suara tenang : …Silakan kau boleh turun tangan !‖ …Apakah kau kira aku tidak berani ?‖ bentaknya Siang-koan Kiauw pecut ditangannya langsung bergerak. Yo Cie Cong tidak menyingkir atau berkelit, sebetulnya dalam keadaan seperti itu, ia yang sudah hilang semua kepandaiannya sudah tidak mampu berkelit. Apalagi serangan pecut si nona dilakukan dengan cepatnya…. …Tar ― suara pecut terdengar nyaring ujung pecut dengan tepat mengenakan dengan badannya, sehingga dirasakan sakit sekali. Dalam hatinya Siang-koan kiauw sebetulnya mencintai dirinya pemuda itu cuam karena pemuda itu nampaknya bersikap dingin, maka ia berbalik membenci. Namun serangannya itu juga menggunakan Tenaga 2-3 bagian saja, kalau tidak pasti Yo Cie Cong tidak sanggup menerima. Siang-koan kiauw hanya berbut menuruti hawa napsunya, sebetulnya

dalam hatinya tidal ingin melukai dirinya pemuda itu. Ia sungguh tidak menyangka kalau Yo Cie Cong tidak berkelit atau coba mrnghindarkan serangannya. Maka seketika itu hatinya dirasakan perih, sudah tentu ia tidak mau tau kalau pada saat itu Yo Cie Cong sudah hilang kepandaiannya. Bahkan semua itu ada perbuatan ibu tirinya Siang-koan kiauw sendiri. …Mengapa kau tidak melawan ?‖ menanya Siang-koan kiauw dengan gusar, tapi suarannya agak gemetar. …Bukankah kau kata tadi hendak membunuh aku ? aku Yo Cie Cong bersedia menerima nasib untuk menerima nasib untuk memenuhi keinginanmu !‖ …Kau kira aku benar-benar tidak heran ?‖ Tar..Tar..Tar! kembali suara pecut nyaring sampai 3 kali. Tidak ampun lagi, badannya Yo Cie Cong lantas terjungkal dari atas kudanya ! Tapi, Yo Cie Cong yang beradat keras dan tinggi hati, begitu jatuh lantas jatuh lagi, matanya merah membara. Siang-koan kiauw lantas melompat turun dari tunggannya, ia berdiri tidak cukup satu tumbak di dapat Yo Cie Cong, entah bagaimana persaan hatinya pada saat itu berdiri terpaku. Ia merasa bahwa keadaanya. Yo Cie Cong agak aneh, tapi pada saat itu juga tidak mengerti apa sebabnya. Yo Cie Cong dengan sikapnya yang masih dingin, berkata dengan suaranya yang ketus : …Nona Siang-koan, kau hendak membunuh aka, lekas turun tangan !‖ Kalau tadi Siang-koan Kiauw mengatakan hendak membunuh dirinya Yo Cie Cong, itu hanya disebabkan karena terdorong oleh perasaan gemasnya. Ia tidak nyata Yo Cie Cong anggap itu benar-benar hingga

membuat ia tidak bisa tarik kembali perkatannya. Kalau pada saat itu Yo Cie Cong berkata agak lunak saja sesudahnya mungkin ada berlainan. Tapi adat dan tabeatnya Yo Cie Cong yang tinggi ia lebih suka binasa dari pada berkata dengan suara manis. Siang-koan Kiauw agaknya merasa bahwa Yo Cie Cong sangat tersinggung perasaannya. Hatinya sangat merasa sangat berduka, maka dengan tanpa di sadari lantas menangis. Dengan demikian Yo Cie Cong bertambah bingung. Ia tidak mengerti apa maunya nona yang berandalan ini, sebentar hendak membunuh mati dirinya, sebentar lagi menangis dengan sangat sedihnya ! …Apa nona Siang-koan Kiauw tidak tega turun tangan terhadap diriku ?‖ Tanya Yo Cie Cong. Justru pertanyaan ini membuat Siang-koan Kiauw menangis semakin sedih ! Si nona berduka karena ia sesungguhnya tidak menduga bahwa si pemuda ada begitu tawar perlakuan dirinya, sedikitpun tidak mempunyai perasaan kasian atau cinta terhadapnya sehingga percuma saja cintanya yang dicurahkan kepadanya. Semakin memikirkan ini semakin sedih. Yo Cie Cong memang ada seorang pemuda cerdas, ketika menampak keadaan nona Siang-koan Kiauw itu, ia nampak sudah dapat menduga sebagian perasaan hatinya si nona ia tahu bahwa si nona itu menaruh hati pada dirinya. Ia sendiripun demikian pula. Cuma suatu anggapan atau pendiriannya mengenai diri si nona ini telah menindas perasaanya sendiri. Maka saat itu ia lantas berkata dengan suara duka : …Nona Siang-koan Kiauw dengan terus terang aku beritahukan padamu umurku Cuma tinggal 10 hari lagi. Maka kebaikanmu yang

telah kau curahkan kepada diriku kupaksa dilain penitisan aku akan membalas !‖ Perkataan Yo Cie Cong itu telah membuat Siang-koan Kiauw terkejut seperti terkena patuk ular. Otomatis ia hentikan tangisannya. Melihat Yo Cie Cong begitu berduka mau tidak mau ia percaya juga perkataan si pemuda. …Hei, kau barusan kata apa ?‖ tanyanya agak gemetar. …Kataku, jiwaku Cuma tinggal 10 hari saja !‖ …Sekarang bukankah kau ada baik saja ?‖ …Itu memang benar, aku sekarang kelihatan baik-baik saja, tapi kekuatan dan kepandaian ilmu silatku sudah hilang semua !‖ Jawaban Yo Cie Cong ini membuat kaget gemetaran Siang-koan Kiauw, pantasan tadi ketika diserang dengan pecut. Ia tidak mau menyingkir atau berkelit, bahkan serangan yang cuma menggunakan 2 atau 3 bagian saja sudah cukup membikin ia terjungkal dari atas kudanya. Ia pentang lebar kedua matanya mengawasi Yo Cie Cong. Sekarang ia sudah dapat kenyataan bahwa matanya pemuda itu sudah tidak kelihatan cahayanya, keadaanya sama seperti orang biasa maka hatinya lantas merasa pilu. …Siapakah yang membuat kau menjadi begini ?‖ Tanya si nona. …Siapa? Haha! Lebih baik kau jangan coba mencari tahu !‖ …Tidak kau harus memberitahukan padaku, aku tidak akan membiarkan ia begitu saja !‖ Sehabis berkata, si nona geser tubuhnya mendekati Yo Cie Cong wajahnya menunjukan perasaan gusar. Yo Cie Cong diam-diam merasa geli, barusan ia berkata hendak membunuh mati dirinya, tetapi sekarang berbalik sangat

memperhatikan bahkan mau turun tangan hendak membela keadilan. …Nona, lebih baik kau jangan coba turut campur dalam urusanku ini ― …Tidak ! biar bagamanapun aku harus nau tahu !‖ …kalau begitu aku terpaksa beritahukan padamu orang itu adalah ibu tirimu sendiri !‖ Mendengar jawaban itu, wajah si nona berubah seketika. …Dia ?‖ …Ng ! kalau tidak ada seorang Lotjianpwee yang datang memberi pertolongan, niscaya jiwaku siang-siang sudah melayang !‖ …Ow ! Lantaran itu maka kau melalaikan kewajibanmu untuk mencarikan kereta bagi entji Tio Lee Tin ― …Benar !‖ …Kalau begitu aku yang keliru menduga terhadap dirimu ― Setelah itu badannya digeser semakin rapat kemudian berkat pula dengan lemah-lembut : …Apa kau merasa sakit bekas pecutan tadi. Ah ! mengapa kau tidak mengatakan sedari siang-siang kepadaku ? kau sungguh keterlaluan. …Apa artinya sedikit `luka ini`. Kalau tidak ada urusan apa lagi aku hendak pergi ?‖ …Kenapa ?‖ …Sebab dalam waktu 10 hari aku harus mencapai suatu tempat untuk minta obat buat menyembuhkan penyakitku. Kalau tidak 10 hari kemudian aku pasti mati !‖ …Kau…kau …kau …! Aku harus berjalan sama-sama dengan kau ! …Apa perlunya ?‖ …Kepandaiannmu sudah hilang semua, jiak ada terjadi apa-apa bukankah….‖ …Obat itu bisa kudapatkan atau tidak masih merupakan suatu

pertanyaan. Tentan gmati atau hidupku aku pandang sangat tawar!‖ Siang-koan Kiauw tundukan kepala untuk memikir sejenak kemudian mendongak, sorot matanya keliatan aneh, dengan wajah memerah-merah dia menanya : …Jawablah pertnyaanku !‖ …Pertanyaan apa ?‖ …Kau …Kau …apa kau membenci aku ― …Tidak !‖ jawabnya Yo Cie Cong tegas sambil gelengkan kepala. …Kalau begitu apa kau suka padaku ?‖ Pertanyaan ini menunjukan kecerdikannya Siang-koan kiauw. Yo Cie Cong tercengang, ia mengerti maksud yang terkandung dalam pertanyaan si nona ini, tapi merasa berat untuk memberi jawaban. Ia akui bahwa ia juga cinta pada Siang-koan kiauw tapi ia tidak boleh mencinta. Secara berani dan tanpa tedeng aling-aling, Siang-koan Kiauw mengajukan pertanyaan demikian, ini juga merupakan suatu pertanyaan yang terus terang tentang isi hatinya terhadap Yo Cie Cong. Ketika nampak pemuda itu agak bersangsi memberi jawabannya hanya seperti diguyur air dingin, maka ia lantas berkata pula dengan suara duka : …Aku tahu bahwa kau tidak bisa menyukai diriku. Hah, pergilah !‖ Tapi Yo Cie Cong lantas berkata : …Aku sebetulnya juga suka padamu !‖ …Benar ?‖ …Ng !‖ …Boleh aku panggil kau Tjong ?‖ …Aku juga boleh panggil kau adik kiauw ?‖ Semua itu membuat hatinya Siang-koan Kiauw merasa lega dan sangat girang.

…Engko Tjong. Sekarang kau boleh beritahukan padaku kemana kau hendak pergi ?‖ …Pulau batu Hitam di Lam-hay, aku hendak menemui seorang Lo-tjianpwee, mau minta sedikit darahnya binatang kura-kura yang usianya sudah ribuan tahun, untuk menyembuhkan penyakitku !‖ Selanjutnya Yo Cie Cong lantas menceritakan apa yang telah terjadi atas dirinya sehinga kemudian dapat ditolong oleh hwa shio gila itu. Siang-koan kiauw yang mendengarkan penuturan itu wajahnya sebentar merah sebentar pucat. Ia dulu hanya curiga terhadap ibu tirinya, tapi sekarang sudah menjadi kenyataan bahwa ibu tirinya itu ternyata seorang permpuan cabul yang sangat berbahaya. Ia mendadak ingat kematian ayahnya yang tidak jelas apa sebabnya pada 5 tahun berselang. Maka ia lantas berkata dengan tiba-tiba. …Engko Tjong, aku selalu merasa curiga atas kematian ayahku apakah itu ada hubungannya dengan ibu tiriku yang jahat itu? Aku kira kemungkinan itu memang ada !‖ …Jika itu benar ada hubungannya, sehingga membuat kematian ayah, aku Siang-koan pasti akan mencincang ibu tiriku itu. …Adik Kiauw, bagaimana dengan nona Tio Lee Tin ?‖ …Sudah dibawa pergi oleh kawan seperguruannya `utusan burung laut`!‖ Yo Cie Cong anggukan kepala dalam hatinya befikir nona Tio telah mengaku sebagai muridnya pemilik bendera burung laut si orang berkedok merah. Kalau sudah dibawa pergi oleh mereka tentunya tidak ada halangan apa-apa lagi. Tiba-tiba ia berkata Siang-koan kiauw : …Adik kiauw, seandainya aku beruntung bisa mendapatkan obat, apa kita masih mempunyai kesempatan bertemu lagi ?‖

…Tidak, aku hendak ikut kau pergi !‖ …Kepergianku ini masih belum diketahui bagaimana kesudahannya, apabila nanti terjadi apa-apa….?‖ …Tidak, aku tidak izinkan kau mengucapkan perkataan demikian !‖ Sebabnya berkata, dengan tanganya yang halus mungil itu membekap mulutnya Yo Cie Cong, badannya juga lantas dijatuhkan dalam pelukan si pemuda. Kedua-duanya saling berpelukan, tapi masing-masing tidak berkata apa-apa. Malam mulai tiba, angin meniup sepoy-sepoy. Bintang di langit mulai nampak betebaran. Agaknya turut merasa girang atas kebahagiaan kedua merpati itu. Siang-koan kiauw ketika mengingat nasib yang dialami oleh kekasihnya, hatinya merasa seperti diiris-iris. Apabila dalam 10 hari tidak mendapat tempat tujuannya atau tidak mendapatkan obat yang di perlukan. Ia tidak berani memikirkannya lagi…….. Sekarang, ia berada dalam pelukan si pemuda yang pertama kali mendobrak hatinya ia hedak menikmati kemesraan cintanya dalam waktu yang sangat singkat. Lama mereka terlelap dalam larut arus asmaranya mereka sudah tahu berapa lama dilewatakan secara demikian. Tiba-tiba Siang-koan Kiauw memecahkan kesunyian, seolah-oalh sedang mengimpi ia menannya kepada Yo Cie Cong. ,,Engko Tjong, katakana bahwa kau cinta padaku !‖ ,,adik Kiaw, aku cinta kau !‖ ,,Biar dunia kiamat, cintaku terhadap mu tak akan berubah !‖ ,,Adik Kiaw, aku akan ingat selamanya mudah-mudahan kembang

tetap segar dan rembulan tetap tetap bundar ?‖ ,,Engko Tjong bisa mendapat penyataan perasaan hatimu aku sudah merasa puas. ,,Adik Kiaw hawa mulai dingin kita harus berpisah lain kali kita akan bertemu kembali !‖ ,,Apa kau tetap tidak mau ikut pergi bersama-sama !‖ ,,Bukan aku tidak sudi, tapi perjalan itu begitu jauh…. ,,Aku tidak peduli sampai diujung langit jangan banyak rewel mari jalan !‖ Sehabis berkata ia mendahului lompat keastas kudanya. Yo Cie Cong terpaksa mengikuti jejaknya Dua ekor kuda jalan berendengan, suara derap kaki kuda memecahkan kesunyian malam itu. ** Suatu pagi pada hari ke 25 di suatu perkampungan nelayan di tepi Lam hay telah datang dua pengunjung, sepasang muda-mudi yang masih belia mereka hendak menyewa sebuah perahu katanya hendak pergi ka pulau batu hitam yang terpencil. Si pemuda yang berwajah tampan, badannya tegap Cuma kelihatannya agak dingin sikapnya. Sedang wanita yang parasnya cantik menarik dengan si pemuda itu merupakan pasangan yang setimpal. Kedatangan mereka telah datang banyak perhatian orang banyak mereka mengira bahwa mereka itulah dewa-dewi yang baru turun dari kayangan. Siapa mereka ? Itu adalah Yo Cie Cong dan Siang-koan Kiauw-djie. Mereka titpkan kudanya disuatu penginapan perjalana mereka

dilanjutkan dengan perahu dan si pemilik perahu yang usianya lebih dari setengah abad, sudah tentunya ia sudah matang dalam perjalan air. Setelah membawa persedian yang cukup semuanya telah di persiapkan Yo Cie Cong dan Siang-koan Kiauw mereka lantas menuju pulau batu hitam.menurut keterangan Sipemilik perahu, jika tidak ada halangan satu hari satu malam bisa sampai di tempat yang di tuju. Tapi, pulau batu hitam ada sayu pulau yang jarang didatangi oleh manusia di sekitarnya terdapat batu karang jika tidak hati-hti perahunya bisa terbalik, jika tidak karena memandang uang.tidak ada satu perahu yang berani yang menuju kesana.

Bagian Ke Empat Belas Beberapa saat kemudian, perkampungan nelayan itu sudah hilang dari pandangan. Langit nan biru seperti mangkok bundar menutupi lautan sedang air laut dengan ombaknya seperti ayunan yang tidak berhehti-henti bergoyang. Lautan hari itu nampak tenang berlayar dalam keadaan tenang, sungguh sangat menarik hati. Yo Cie Cong dan Siang-koan Kiauw duduk berendeng ditepi perahu mereka tampak mesra dari satu sama lain. Hingga sementara melupakan rasa gelisa diantara keduanya dan melupakan yang telah terjadi atas mereka. Sepasang pemuda pemudi yang dibesarkan diatas tanah datar telah kesemsem oleh pemandangan dilautan yang indah permai itu. Kedua pemuda-mudi itu menikmati pemandangan alam, pemilik perahu itu mendadak ketakutan ia memandang kearah timur sambil berkata :

,,Siang-koan Kiauw, nona tampaknya akan timbul badai!‖ ,,Hawa begini kelihatan sejuk masa akan timbul badai.?‖jawab Siang-koan Kiauw sambil ketawa. ,,Apakah kau tidak melihat segumpal awan hitam ?‖ ,,Aku tidak percaya, apakah awan segumpal itu bisa membawa badai.? ,,Lopek apakah dengan dirimu tidak salah ?‖ Yo Cie Cong pun turut menanya. Apakah aku kira aku bcara main –main ? selambat-lambatnya akan datang angin puyuh sedangkan disini tidak ada tempat untuk berlindung. Lantas kita harus berbuat apa, Ah, mudah-mudahan tuhan melindungi kita !‖ jawab si pemilik perahu sambil mengawasi gumpalan awan yang makin lama makin namopak besar dan nyata. ,,Apabila angin meniup kencang bukankah perahunya juga akan semakin cepat ? mungkin kita cepat sampi kepulau Batu Hitam itu, Engko Tjong kau pikir betul tidak? Demikian berkata Siang-koan Kiauw dengan enaknya. Yo Cie Cong yang sejak kecil banyak bercampur dengan orang-orang dengan segala lapisan, pengalamannya juga lebih banyak dari pada si nona. Ketika si nona nampaknya seperti anak-anak ia berkata dengan suara sungguh-sungguh. ,,Adik Kiaw itu bukan angin biasa ,! Tetapi angin puyuh atau badai yang sangat menakutkan !‖ ,,Kau sudah pernah melihat ?‖ Meski aku belum pernah mengalami, tatapi aku sudah pernah dengar !‖ ,,Hm ! kau membohongi aku saja !‖ Si pemilik itu membakar hio dan kertas dan meminta lindungan kepada dewa laut.

Gumpalan awan itu nampak dekat nampaknya, sehingga menutupi separuh langit. Angin laut makin meniup kencang, ombak laut makin besar, hingga perahu yang di tumpangi bertiga kini sudah tergunang hebat. Siang-koan Kiauw baru merasa bahwa keadaan ini sungguh diluar dugaan. Si pemilik perahu dengan wajah pucat pasi dan sikap cemas ia berkata kepada kedua penumpangnya. Siang-koan Kiauw dan nona lekas masuk kedalam ,badai akan datang ini tidak boleh dibuat main-main. !‖ Belum habis ucapannya si pemilik perahu awan gelap itu sudah menjadi ombak yang lantas menggulungnya perahu air hujan datang turun turun seperti dituang. Yo Cie Cong menarik diri Siang-koan Kiauw di sebelah dalam perahu. Badai mengamuk semakin hebat saja, ombak laut menggulung-gulung hingga perahu kecil itu terguncang ke atas ke bawah. Siang-koan Kiauw mulai merasakan mabuk, hatinya mulai ketakutan dan memeluk erat tubuh Yo Cie Cong. ,,Enko Tjong skarang bagaimana .?‖ ,,Adik Kiaw terserah pada nasib saja, aih. Biar bagaimana juga didalam diriku sudah tertanam racun jahat jiwaku juga takkan pernah tahu hidup dan matinya. Sebetulnya aku tidak membiarkanmu kau ikut, aku takut terjadi apa-apa. Ah !‖ ,,Engko Tjong jangan mengucapkan begitu, hidup dan matinya seseorang ada ditangan tuhan. Baik kita mati sama-sama hidup juga sama-sama. ,, Pada saat itu rasanya perahu sudah terbalik air laut masuk kedalam kemudian di susul dengan suara benturan yang hebat awak perahu

seperti patah. ,,Adik Kiaw mungkin perahu sudah patah .‖ ,,Engko Tjong.‖ ,,Belum habis ucapannya air laut sudah masuk kedalam mulut perahu.‖ ,,Ketika mereka keluar, air laut sudah menimpa keras sehingga perahu terbalik.‖ Siang-koan Kiauw menjerit, ia memegang tiang perahu erat-erat Yo Cie Cong pun berusaha dengan sekuat tenaga ia memegang kayu perahu yang tinggal sepotong. Pemilik perahu pun tak nampak terlihat entah sejak kapan ia di telan laut ombak laut yang dasyat. Badai mengamuk terus, ombak laut bergulung-gulung seperti gunung tingginya, air hujan turun seperti di tumpahkan dari langit di barengi suara guntur dan sinar kilat yang menyambar-nyambar membuat keadaan di tempat seolah-olah,sudah sampi hari kiamat. Dalam keadaan yang menyeramkan demikian. Perahu kecil yang seolah-olah sebuah titik hitam dilautan yang luas ternyata sudah pecah berantakan. Entah sejak berapa lama waktu berlalu secara demikian…. Angin sudah sirap, ombak mulai reda laut kembali tenang seperti semula, seolah2 tak terjadi apa2. Yo Cie Cong sesaat perahunya terdampar hancur, masih berpegang erat pada potongan kayu dengan mendadak badannya terdampar tinggi kemudian tidak ingat lagi apa yang terjadi atas dirinya. Ketika ia siuman kembali, badannya merasakan panas seperti terbakar. Ketika matanya terbuka ternyata panas itu disebabkan karena panas matahari yang menyinari dirinya yang kini terdampar di sisi pantai.

Dengan susah payah ia baru bisa duduk, dia baru sadar bahwa dirinya ternyata masih belum binasa tertelan ombak. Tiba-tiba teringat akan diri Siang-koan Kiauw-djie, sudah terang kalau nona Siang-koan Kiauw mungkin sudah tertelan ombak karena terjadi badai hebat maka seketika itu hatinya dirasakan pedih. Air matanya mengalir tak terasa dengan perasaan sedih ia mengawasi laut yang tak terlihat ujung pangkalnya itu. Ia teringat pada sumpah dan janji pada diri Siang-koan Kiauw sungguh tidak disangka nasib nona yang baru bersamanya dan menikmati sebagian kecil kesenangan hidupnya, sudah terpisah lagi dengannya. Seandainya nona Siang-koan Kiauw tidak ikut bersamanya pasti ia tidak akan tertelan ombak, setelah ia berpikir ia merasa berdosa terhadap diri nona itu maka ia segera berdoa kepada tuhan :‘Adik Kiauw-djie kulah yang menyelakakanmu jika arwahmu tahu tunggulah aku dialam baka. Setelah urusanku selesai aku akan menyusulmu bersama-sama dengan dirimu dialam baka. Yo Cie Cong padasaat itu sedang terbenam dengan kedukaannya di wajahnya selalu terbayang gerak-gerik nona Siang-koan Kiauw-djie. Ia tak menghiraukan rasa letih dan rasa lapar dahaga yang menyerangnya ia terus-menerus memandangi lautan yang luas hingga tak berkedip. Matahari mulai terbenam, bintang-bintang mulai bertebaran di langit ombak laut yang tadinya surut kini pasang kembali. Ketika Yo Cie Cong tersadar dari lamunanya ternyata hari sudah pagi. Terlitas dalam otaknya . saat itu mungkin jiwanya tinggal dua hari lagi. Jika dalam dua hari ini tidak berhasil mendapatkan darah kura-kura yang dimaksud maka racun yang tersarang dalam tubuhnya sudah lantas akan menyerang jantungnya dengan sendirinya orang itu akan

binasa . Tetapi sekarang dirinya pun tak tahu ada di mana, dan di mana pula letak pulau Batu Hitam yang dicarinya sama sekali tidak di ketahuinya. Sejenak pikirannya melayang,apa yang ia alami permusuhan yang ada sangkut paut dengan perguruannya membuat semangatnya terbangun pula…… Sekarang ini aku harus belum boleh mati, aku harus hidup masih banyak tugas yang belum aku selesaikan.‖demikian Yo Cie Cong berkata kepada dirinya dan lantas ia bangkit. Pertama kali yang diperiksa adalah barang-barang bawaanya yang ada pada dirinya, Golok maut buku daftar nama-nama musuhnya Kam-lo-pang potongan kayu pusaka Ouw-bok po-lok dan buki-buli tanda kepercayannya si Hwee shio gila semua lengkap masih ada pada tubuhnya. Perlahan-lahan ia menuju tepi pantai, tetapi ketika berjalan terus dalam hatinya lantas mengeluh.‖celaka…. Ternyata tempat itu adalah sebuah pulau kecil yang tidak di tumbuhi sedikitpun tanaman dan tidak ada manusia yang tinggal disitu. Luasnya pulau itu kira-kira Cuma satu Lie persegi di sekitarnya terkurung oleh lautan jangan kata manusia burung saja tak terlihat. Sesaat itu hatinya kembali merasa putus asa diam-diam ia berpikir tampaknya semuanya adalah nasib, aku tidak mau mati didalam pulau ini ―taruh tidak mati kelaparan tapi karma dalam diriku tertanam racun yang cuma tahan dalam dua hari saja, kecuali ada pengaruh gaib. Kalau tidak pasti aku kan binasa maka maksud baiknya Hweesiogila itu barangkali akan tersia-sia saja.‖ Keadaan Yo Cie Cong pada saat itu tidak ubahnya seperti sedang

menghadapi suatu keadaan yang lebih kejam dan menakutkan dari pada binasa seketika itu. Tapi biar bagaimana, seorang yang masih ada jiwanya, sebelum tiba pada hari akhirnya, sedikit banyak masih mempunyai harapan untuk terus hidup……… Saat itu perutnya dirasakan lapar sekali, matanya bekunang-kunang kepalanya dirasakan pusing. Kaki dan tangnnya dirasakan lemas tidak bertenga. Yo Cie Cong barulah mengingat bahwa dua hari lamanya tidak ada sebutir nasipun yang masuk kedalam perutnya. Maka ia lalu berkata kepada dirinya : ―andaikata akau mesti mati, jangan sampai aku menjadi setan kepalaran.‖ Oleh karena befikir demikian, timbulah hasratnya hendak mencari barang makanan untuk mengganjal perutnya. Tetapi usahanya itu hanya sia-sia saja, sebab kecuali tanah dan pasir yang terdapat disekeliling pulau itu, sudah tidak ada apa-apa lagi yag bisa dimakan. Dengan perasaan kecewa ia kembali ditanah, rasa lapar semakin menghebat. Dalam keadaan demikian, sebuah barang menarik perhatiannya. Barang itu adalah sebuah barang aneh yang berbentuk bundar relur, besarnya kira-kira dua kaki, warnanya bukan kepalang, dibawahnya sinar matahari kelihatan indah. Tertarik oleh perasaan heran, Yo Cie Cong lantas berjalan menghampiri benda aneh itu. Ketika ia meraba benda itu dengan tangannya, benda itu ternyata keras, maka dianggapnya benda itu adalah sebuah batu aneh, ia coba mendorong batu aneh yang berwarna indah itu. Didekat tempat batu aneh itu terdapat suatu tempat yang agak miring. Oleh Karena didorong oleh Yo Cie Cong, batu aneh tadi

menggelundung kebawah. Apa lacur satu bagian dari batu aneh itu sudah membentuk sebuah batu lain yang juga ada di pantai laut itu. Barang cair seperti putih susu mengalir dari batu yang menggelundung tadi. Ooo, kalau begitu itu bukannya batu !‖ demikian Yo Cie Cong berseru sendiri, yang lantas lari menghampiri. Dan ketika ia mengadakan pemeriksaan lebih cermat, seketika itu lantas berdiri melongo. Ternyata barang itu adalah sebutir telur raksasa yang saat itu sudah pecah sebagian, dari lubang yang pecah itu mengalir barang cair. Didalam telur itu masih terlihat kuning telurnya sebesar mangkuk. Bukan kepalang rasa girangnya Yo Cie Cong dalam keadaan lapar seperti itu, ia sudah tidak memperdulikan lagi telur Itu bisa dimakan atau tidak, dengan cepat ia sudah menghabiskan seluruh isi telur itu. Apa yang mengherankan, telur itu ternyata tidak bau amis, bahkan enak sekali dan segar rasanya. Sehabis kenyang makan, badannya dirasakan segar kembali, rasa letihnya hilang semua. Dengan perasaan terheran-heran ia mengawasi kulit telur raksasa itu. Sejak ia di jelmakan menjadi manusia didunia, ia belum pernah mendengar orang mengatakan bahwa didalam dunia ini ada telur yang begitu besar. Ia seperti berada dalam impian tetapi dibawah teriknya, apa yang terjadi ternyata bukanlah impina belaka. Ia tidak mengetahui, telur aneh itu sebenarnya ada telurnya binatang apa ? Setelah perutnya dirasakan kenyang, lain soal timbul pula dalam pikirannya. Jiwanya hanya tinggal dua hari saja. Diatas pulau terpencil dan sepi

ini, sesungguhnya tidak mudah untuk mencari dimana letaknya pulau batu hitam yang sedang ditujunya. Tampaknya tidak akan luput juga ia dari kematian. Selagi masih terbenam dalam pikirannya sendiri, ia telah dikejutkan oleh suara aneh yang begitu hebat kedengarannya. Yo Cie Cong terperanjat, katika ia dongakan kepalanya, awan hitam kelihatan menutupi matahari. Tetapi ketika ia memperhatikan dengan lebih seksama, seketika itu nyalinya seperti hendak melompat keluar, karena ada yang dilihatnya diatas angkasa itu bukannya awan, tetapi adalah burung raksasa yang sedang pentang lebar kedua sayapnya. Saat itu burung itu kelihatan beterbangan di angkasa dan hendak menukik turun. Suara aneh yang sangat hebat, tadi tentunya adalah suara dari burung raksasa ini. Dengan tidak terasa, keringat dingin membasahi tubuhnya Yo Cie Cong, dalam hatinya lantas berfikir, telur raksasa berwarna tadi apakah terlurnya burung raksasa ini ? jika benar telurnya, burung raksasa ini setalah melihat telurnya sudah pecah dan kumakan habis bagaimana binatang itu bisa mengarti? Ah sungguh tidak kusangka, didalam begini aku harus menghadapi lain bahaya lagi…‖ Belum lagi lenyap semua pikiran itu, burung raksasa tadi sudah menukik turun sangat cepat Yo Cie Cong yang sudah tidak berdaya lantas menyembunyikan dirinya didalam pecahan telur. Kembali terdengar suara burung aneh itu. Dirasakannya badannya terguncang hebat, kiranya telur itu sudah dibawa terbang oleh burung raksasa tersebut. Yo Cie Cong coba menengok, pulau tempat dia tadi terdampar, hanya kelihatan sebagai sebuah titik hitam sedangkan disekitar dirinya

dilihatnya segumpal awan yang seperti asap saja layaknya. Yo Cie Cong tahu bahwa dirinya sekarang sudah diterbangkan keatas angkasa, perasaan takutnya hampir membuat ia melompat keluar. Jika cengkraman burung itu tidak kencang bukankah ia akan jatuh dengan badan hancur lebur dari atas udara ? Ia juga tidak mengetahui kemana dirinya hendak dibawa oleh burung raksasa itu ? Pada saat itu hawa panas tiba-tiba dirasakan dalam perutnya, hawa panas itu makin lama makin hebat bekerjanya sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan lagi. Kemudian dari dalam perutnya kemudian timbul hawa dingin yang membuat dirinya dirasakan sampai mengigil. Sebentar kemudian, dua rupa hawa yang berlawanan itu telah tergabung menjadi Satu, hawa itu dirasakan seperti telah menyusuri sekujur tubuhnya. Pada suatu saat hawa itu, seperti mandek di suatu sudut dalam dirinya. Rasa sakit membuat Yo Cie Cong hampir keluar menggelinding dari dalam kulit telur itu. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya. Oleh karena rasa sakit yang tidak tertahankan itu, Yo Cie Cong telah melupakan dirinya kini sedang berada didalam kulit telur yang sedang diterbangkan oleh burung raksasa itu, ia menggerak-gerakan kaki dan tangannya sambil menjerit-jerit. Mendadak kulit telur itu terlepas dari cengkramannya kaki burung raksasa itu. Telur raksasa it uterus meluncur turun kebawah, Yo Cie Cong yang berada didalamnya sambil memejamkan rapat-rapat kedua matanya ia berseru : ―habislah jiwaku‖. Tetapi kira-kira sepuluh tumbak tingginya terpisah diatas sebuah pulau, badannya dirasakan sperti mumbul lagi keatas dan kemudian

lompat keluar, rasa sakit membuat ia pingsan seketika itu. Tidak lama kemudian setelah ia siuman kembali, apa yang mengherankan ialah : saat itu rasa sakit disekujur badannya telah lenyap tiada berbekas, bahkan kekuatan tenaga dalamnya dirasakan tambah berlipat ganda. Ia lalu bangun berdiri, ia mendapat kenyataan bahwa dirinya sekarang sudah berada disuatu tempat yang banyak batu-batunya yang semuanya berwarna hitam. Saat itu ia berada ditengah-tengah antara dua batu besar. Burung raksasa dan kulit telur yang besar itu sudah terlihat lagi. Kiranya burung raksasa itu ketika telurnya terlepas dari cengkramannya karena getaran-getaran Yo Cie Cong tadi. Dengan cepat sudah lantas menukik turun lagi menyambar telur yang meluncur turun. Disuatu tempat kira-kira sepuluh tumbak dari tanah burung itu menyambar lagi telurnya, tetapi badanya Yo Cie Cong terlempar keluar dari dalam kulit telur. Kejadian secara kebetulan ini bukan saja Yo Cie Cong tidak binasa, bahkan karena getaran dari badannya yang kebentur dibawah, hawa panas dan dingin yang mandeg di suatu sudut dalam tubuhnya tadi ternyata telah membuka jalan darah pada kedua urat nadinya. Kesemuanya itu tentunya tidak diketahui oleh Yo Cie Cong sendiri. Yo Cie Cong memandang kesima keadaan tempat sekitarnya, karena ia mendapat kenyataan, dirinya sekarang kembali ada diatas pulau lagi. Jika ia ingat apa yang terjadi atas dirinya tadi, diam-diam keadaanya dirasakan menggigil. Mendadak ia merasa seperti ada semacam kekuatan dari angin yang dilancarkan oleh orang kuat menyambar kearah dirinya. Dengan sendirinya Yo Cie Cong sudah mengayunkan tangannya

menangkis sambaran tadi. Diluar dugaannjan, semacam kekuatan hebat telah meluncur keluar dari dalam tangannya itu. Saat itu lantas terdengar suara benturan keras, batu besar yang berada di depannya telah pecah berhamburan, disusul oleh suara orang berseru : …Eh !‖ Kejadian yang tidak terduga-duga ini sebaliknya membuat Yo Cie Cong termangu-mangu. Ia masih ingat betul bahwa kepandaian ilmu silat dan kekuatannya sudah lenyap semua. Tindakannya barusan hanya merupakan suatu gerakan sewajarnya saja dari seorang yang mengerti ilmu silat jika sedang menghadapi serangan gelap. Tetapi mengandung tenaga kekuatan yang sangat hebat. Ia adalah merupakan suatu yang tidak habis dimengerti. Tiba-tiba ia ingat suara orang kaget tadi, ia juga merasa bahwa sambaran angin yang menyerang dirinya tadi datangnya secara tidak terduga-duga. ―Diatas pulau ini pasti ada orang, bahkan orang dari rimba persilatan pula‖ demikian Yo Cie Cong mengambil kesimpulan setelah berfikir sejenak. Oleh karena pikirannya itu, maka ia lantas berjalan mencari suara datangnya suara orang tadi, tetapi ia sudah berputaran kesana-kemari, disekitarnya cuma terlihat gundukan-gundukan batu hitam yang hampir tersebar di seluruh pulau itu. Entah sudah berapa lama waktu telah berlalu. Bukan saja ia tidak menemukan orang yang sedang di cari-cari, malah dirinya sendiri saat itu seperti berada didalam rimba batu. Dan ia sudah tidak berdaya

keluar dari gundukan batu itu. Batu-batu yang warnanya hitam itu agaknya tidak kelihatan ujung pangkalnya, sehingga dalam hatinya mersa cemas. Ia segera melepaskan niatnya hendak keluar dari tumpukan batu itu. Ia lantas duduk untuk memikirkan dari mana datangnya kekuatan yang keluar dari serangan tadi. Ia mulai mengingat-ingat dari ditekukannya telur raksasa berwarna dan burung raksasa itu serta dirinya sendiri ketika berada didalam telur raksasa. Mengapa didalam dirinya dirasakan mengalir hawa panas dan dingin bergantian yang kemudian bergabung ke dua hawa itu. Dimulutnya lalu mengoceh sendiri. ―telur berwarna burung raksasa…‖ Seperti teringat pada sesuatu, ia lantas berkata pula pada dirinya sendiri : ―Telur burung rajawali raksasa, ooo..ya! pasti telur itu adanya ! Mendadak ia lompat bangun, saat itu kembali Ia merasa kaget dan terheran-heran. Karena gerakan melompat yang sedemikian sederhana saja ternyata sudah mencapai jarak lima tumbak tingginya. Dirinya dirasakan ringan sekali. …Ehh !‖ Kembali suara demikian terulang terdengar dari belakang dirinya. Kali ini Yo Cie Cong tidak bersangsi lagi. Dengan cepat ia lantas melompat keatas batu setinggi sepuluh tumbak lebih.

Bagian Ke Lima Belas BERADA setinggi itu, Yo Cie Cong baru dapat melihat bahwa batu-batu hitam itu ternyata ada beberapa lie luasnya. Disebelah kejauhan kelihatan sebuah rimba, tetapi ditempat itu berdiri ternyata adalah

tepi laut. Gerakan Yo Cie Cong tadi sudah cepat luar biasa, tetapi ia masih belum berhasil menemukan orang yang mengeluarkan kaget tadi, sehingga diam-diam merasa kagum atas kepandaian orang itu. Sekarang kembali ia teringat pada dirinya sendiri. Jika apa yang dikabarkan itu tidak salah, oleh karena makan telur berwarna itu, kekuatn yang ada pada dirinya sekarang ini sama dengan seorang kuat yang sefah mempunyai latihan beberapa puluh tahun. Memang benar. Karena mustika Gu-liong-kao yang secara kebetulan masuk dalam perutnya Yo Cie Cong dengan secara kebetulan Yo Cie Cong bisa memakan telur burung Rajawali raksasa,biji mustika itu lantas lumer dan kekuatannya sudah tidak ada taranya didalam diri Yo Cie Cong . Lantas ia teringat pada semua pelajaran ilmu silatnya yang di dapat dari suhunya dan ke dua pamannya. Ada beberapa gerak yang harus yang saat itu harus dibatasi oleh kekuatan tenaga dalam sehingga ia tidak bisa memaikannya secara leluasa. Tetapi sekarang setelah mampunyai kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat karena pengaruh dua benda mukjijat, maka segala gerak tipu yang dia mainkan secara mudah. Ia teringat pula bahwa kepandainya tentu dapat tugas yang di bebankan atas pundak suhunya. Dengan ‗Golok Maut‘, itu secara istimewa ia mencari satu persatu musuhnya Kam-lo-pang pada dua puluhtahun bersilang. Semangatnya lantas bergolak, dengan lantas pula ia mengeluarkan siulan panjang. Tetapi mendadak ia ingat bahwa jiwanya hanya satu hari lagi maka ia lantas menghentikan siulannya itu.

Besok adalah hari yang terakhir baginya jika tidak berhasil menemukan pulau Batu Hitam dan oaring tua aneh itu untuk meminta darah kura-kura masih akan tetap binasa juga. Maka apa gunanya mempunyai kekuatan hebat ? Kesedihan meliputi hatinya, rasa murung menguasai dirinya pula. Jikalau karena bukan karena gara-gara Cin Bie Nio, perempuan yang cabul dan genit yang memberikan pil surga padanya tidak mungkin ia sampai menjadi seorang sedemikian ! Dan suhunya Cin Bie Nio,Giok-bin Giam-po Phoa Tjit kow ia juga merupakan juga musuhnya Kam-lo-pang maka ia juga lantas mengambil keputusan. ‗jika aku dapat hidup terus,Cin Bie Nio dan suhunya maka ia orang pertama yang akan kubunuh terlebih dahulu. Yo Cie Cong setelah berpikir lama ia masih belum juga memecahkan persoalan lalu melayang turun meninggalkan tempat itu, ia kenbali kepantai laut. Dan ketika ia melihat air laut, pikiranya lantas kembali teringat Siang-koan hatinya merasa pilu sekali. Ia mendoakan Siang-koan agar tidak binasa. Ia mengharapkan supaya Siang-koan seperti dirinya terlepas dari bahaya. Tetapi rasanya semua itu hanya pengharapan saja. Ia merasa berdosa terhadap dirinya Siang-koan Kiauw pukulan bathin yang sangat hebat ini tidak nudah terhapus untuk selama-lamanya. Taruh kata Yo Cie Cong bisa hidup terus batinnya juga akan menderita. Dalam keadaan serupa itu suara Siang-koan Kiauw yang lemah lembut dan merayu hati seperti terus berkumandang didalam telinganya. Suara itu seperti masih terdengar nyata didalam telinganya, tetapi orangnya sudah tidak ada. Penderitaan batin yang hebat it terus

merupakan godaan hatinya….. Seperti orang linglung saja layaknya. Yo Cie Cong berjalan kepantai laut tanpa tujuan. Andai kata disitu ada orang, mungkin juga tidak bisa membantu dirinya. Selagi ia masih berjalan, dari jauh ia sudah dapat melihat seorang tua barambut putih sedang duduk bersila diatas sebuah batu besar dipantai laut. Orang tua itu rupanya sedang mengkail ikan. Melihat adanya orang tua itu, semangat Yo Cie Cong terbangun seketika. Dalam hati ia lantas berfikir ―Aku hendak menanyakan dan mencari keterangan dulu dimana sekarang aku berada‖. Setelah berfikir demikian dengan secara gesit sekali ia sudah lompat melesat kesampingnya orang tua itu. Orang tua berambut putih itu agaknya tidak melihat kedatangan Yo Cie Cong, ia masih ia masih tetap mengail dengan asiknya. Ketika Yo Cie Cong mengawasi dengan seksama, perasaan heran timbul dalam hatinya. Sebab orang tua yang rambut dan alisnya sudah putih semuanya itu tampaknya sedang berduduk dengan tenang sambil memejamkan mata. Dan apa yang mengherankan bagi Yo Cie Cong ialah kail ditangan orang tua itu ternyata hanya merupakan sebatang bambu kecil yang tidak ada talinya. Juga tidak ada kailnya, ujung bamboo terpisah kira-kira tiga dim diatas permukaan laut. Menyaksikan kejadian ganjil itu, Yo Cie Cong lantas berdiri melongo. Karena didalam dunia ini tidak pernah dilihatnya orang yang mengail ikan secara demikian anehnya, baru untuk pertama kali inilah dilihatnya. Mungkinkah orang ini bukannya sedang mengail ikan ? tetapi hanya

suatu perbuatan untuk menghilangkan waktu terluang saja ? Sebaliknya, orang tua itu tampaknya sangat sungguh-sungguh sikapnya dengan kail ditangannya itu. Perasaan heran lalu timbul dalam hatinya Yo Cie Cong. ia berfikir ‗Aku ingin mengetahui bagaimana cara mengailmu itu. Sesungguhnya aku tidak percaya bahwa dengan caramu itu kau akan berhasil mendapatkan ikan‘. Tetapi belum lagi pikirannya lenyap dari otaknya, bambu ditangannya orang tua itu mendadak kelihatan bergetar, seekor ikan besar tiba-tiba muncul diatas permukaan air, ikan itu masih tergoyang-goyang. Kepala ikan itu seolah-olah terpancang oleh ujungnya bamboo ditangannya orang tua itu dengan suatu kekuatan yang tidak dapat dilihat. Ia lantas mendengar orang tua itu berkata seorang diri : …Bagus binatang kecil, kau jangan kira bahwa kau pandai berenang. Tidak mungkin kau terlolos di kailnya aku, seorang tua.‖ Yo Cie Cong terperanjat sekali, terang orang tua ini telah menggunakan kekuatan tenaga dalam yang sudah tidak ada taranya, yang disalurkan keujung bamboo untuk menangkap ikan. Kekuatan semacam ini sesungguhnya sangatlah mengagumkan. Kalau dugaannya tidak salah, orang tua itu pasti adalah orang rimba persilatan luar biasa yang mengasingkan diri disitu. Pada saat itu ia kembali mendengar oraang tua itu berkat pula : …Mengingat aku tidak tau apa-apa, sekarang aku kembalikan dari mana asalmu datang.‖ ‗Plung…….‘ Ikan besar itu kembali diceburkan kedalam laut. Setelah orang tua mengail seperti biasa lagi. Yo Cie Cong setelah mendapat tahu bahwa orang tua dihadapannya

itu bukannya orang sembarangan, ia tidak berani berlaku gegabah. Ia coba batuk-batuk sebentar untuk menarik perhatiannya orang tua itu, kemudian memberi hormat dan berkata dengan suara latang : …Lo-tjianpwee, maafkan kalau aku menggangu kesenangan Lo-tjianpwee. Boanpwee, Yo Cie Cong ingin minta sedikit keterangan ― Siapa tahu meski sudah berulang-ulang Yo Cie Cong berkata demikian, orang tua itu masih terus memejamkan mata, tidak bergerak sama sekali. Yo Cie Cong berfikir dalam hati : ‗Apakah orang tua ini seorang tuli yang tidak mendengar perkataannya. Suara itu seperti genta nyaringnya. Jangan kata baru orang tuli, meskipun orang sudah mati barang kali juga akan dibikin bangun kembali oleh karenanya. Ada lagi orang tua itu terang ada mempunyai kepandaiaan yang tinggi sekali. Siapa nyana, kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan oleh Yo Cie Cong. orang tua itu masih tetap seperti tidak mau dengar apa-apa. Kali ini Yo Cie Cong mulai tidak sabar, maka ia lantas maju menghampirinya. Dengan berada dekat sekali dipinggirnya telinga orangtua itu ia bartanya pula : …Apakah Lo-tjianpwee tidak sudi menjawab pertanyaan Boanpwwee ?‖ Pada saat itu, orang tua itu baru terlihat membuka kedua matanya, dengan matanya yang satu ia mengawasi Yo Cie Cong sejenak, lalu berkata dengan tenang seperti tidak pernah ada kejadian apa-apa. …Engko cilik, kau sedang berbuat apa ?‖ Dari sorot matanya orang tua yang tidak bersahaja itu serta dari sikapnya loyo ; terang kalau orang tua itu adalah seorang tua tidak mengerti ilmu silat. Keadan itu kembali telah membuat Yo Cie Cong merasa heran lagi.

…Lo-tjianpwee, Boanpwwee ingin menayakan sedikit keterangan. ― …Ow ! Apa kau kata barusan ?‖ …Boanpwwee ingin menanyakan sedikit keterangan. ― …Apa ? aku tidak dengar jelas.‖ Yo Cie Cong merasa serba salah. Ia lalu berkata dengan suara nyaring. …Numpang Tanya, disini tempat apa ?‖ …Ow ! Apa engko cilik bukan penduduk pulau ini ?‖ Yo Cie Cong benar-benar merasa jengkel. Bukankah itu merupakan pertayaan yang aneh, sebab kalau ia adalah penduduk pulau itu, perlu apa minta keterangn padanya. …Bukan.‖ Demikian ia menjawab secara singkat. …Bukan begitu, bagaimana kau bisa datang kemari ?‖ menanya orang tua itu dengan sikap seperti orang linglung. …Boanpwee belajar dengan perahu, tetapi kemudian terdampar oleh badai sehingga sekarang tiba ditempat itu.‖ …Aih ! Engko cilik, angin laut ada sangat berbahaya mengapa kau tidak baik-baik berdiam dirumah saja ?‖ …Aku mua tanya kepada Lo-tjianpwee, pulau ini apa namanya ?‖ Pada saat itu bambu kail di tangannya orang tua kembali kelihatan bergetar, dan lagi-lagi seekor ikan besar kena sedot ujungnya bamboo. Ikan itu kelihatan bergerak-gerak hendak melepaskan diri. Yo Cie Cong tiba-tiba mendapatkan satu akal, ia lalu berkata kepada dirinya sendiri : …Aku kepingin lihat kau sebetulnya tuli benar-benar atau berlaga. Jika tidak, kau sesungguhnya terlalu tidak memandang muka orang.‖ Setelah berfikir demikian, ia lantas memasukan kekuatan tenaga dalamnya pada tangan kanannya. Kemudian dengan sikap acuh tak acuh tangannya disodorkan. Dan suatu kekuatan tenaga yang tidak

dapat terlihat lantas meluncur keluar dari dalam tangan kanannya menuju ke ikan itu. Oleh karena kekuatan Yo Cie Cong pada saat itu sudah begitu hebat, maka meskipun dilancarkan hanya dengan seenaknya saja, tetapi hebat sekali pengaruhnya. Tiba-tiba orang tua itu ketawa dingin, ia lantas berkata seperti tidak sengaja : …Bagus. Aku ada maksud untuk melepskan kau hidup, sebaliknya kau mendekati kail. Kali ini kau jangan sesalkan aku si orang tua : Aku tidak akan memberu jalan hudup lagi bagimu. Ini toh ada kemauanmu sendiri.‖ Sehabis berkata, ia lantas menggertak bambunya, sehingga ikan besar itu melejit keatas dan melayang kedalam tangannya siorang tua. Dengan demikian, maka serangan Yo Cie Cong tadi ternyata sudah mengenai tempat kosong. Orang tua itu masih tetap tidak menengok untuk melihat padanya. Wajahnya Yo Cie Cong merah seketika, sifatnya yang tinggi hati lantas timbul seketika, maka ia lantas membentuk dengan suara keras : …Hai ! Aku Tanya kau. Pulau ini apa namanya ?‖ Orang tua itu perlahan menengok. Alisnya yang putih kelihatan bergerak-gerak, kemudian baru menanya : …Bocah, kau bicara dengan siapa ?‖ …Dengan kau !‖ …Aku ? Aih orang yang sudah lanjut usianya matanya lamur, telinganya tuli. Cobalah katakan sekali lagi !‖ Yo Cie Cong dalam hatinya diam-diam lantas memaki : …Bagus, sungguh pintar kau berlaga, tetapi aku Yo Cie Cong bukan seorang buta.‖

Walaupun berfikir demikian, ia juga menanya lagi dengan suara lebih keras. …Aku Tanya kau, pulau ini apa namanya ?‖ Pertanyaan itu dikeluarkan oleh Yo Cie Cong dengan mengunakan kekuatan tenaga dalamnya. Bagi orang biasa tentu tidak akan sanggup menerimanya dan kemungkinan telinganya aka pecah, tetapi orang tua itu kelihatannya tenang-tenang saja. …Bocah, aku si orang Tua aku ada tuli dari pembawaan. Kalau kau tadi bicara demikian nyaringnya, bukannya sudah beres ? kau tanya ini apa perluya ? ini ada satu pulau.‖ …Aku tahu ini ada satu pulau, tetapi apa namanya ?‖ …Ooo, tentang ini si orang tua sendiri juga tidak tahu. Ini adalah satu pulau yang sunyi sepi.‖ Yo Cie Cong hampir saja dadanya meledak. Ia menanya hampir setengah harian, ternyata masih tidak mendapatkan keterangan apa-apa. Ia tahu bahwa orang tua ini sedang main sandiwara mempermainkan padanya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab ia menduga pasti orang yang menyerang dirinya dan mengeluarkan suara kaget tadi tentunya orang ini juga. Pada saat itu mendadak ia dapatkan suatu akal, hatinya lalu memikir; ‗kalau kau tidak mau menjawab ya sudah. Sekarang aku hendak mencoba menyantroni suaramu. Aku ingin kau tahu nanti mau bicara atau tidak. Dengan berkata apa-apa Yo Cie Cong lantas memutar tubuh dan hendak berlalu. …Bocah, kau balik ! demikian ia mendengar orang tua itu memanggilnya. Terpaksa Yo Cie Cong balik kembali.

…Bocah dengan cara bagaimana kau bisa tiba di pulai ini ?‖ Tanya si orang tua pula. …Aku berlayar dengan sebuah perahu.‖ …Bukankah dibawa oleh seekor burung besar ?‖ Yo Cie Cong terperanjat. Kiranya dirinya yang dibawa oleh seekor burung raksasa tadi sudah diketahui dengan jelas oleh orang tua ini. Dari sini jelaslah sudah bahwa orang tua ini sesungguhnya dengan sengaja menguji dirinya, maka ia lantas menjawab : …Benar. Dibawa oleh burung raksasa.‖ …Aku lihat kau bukan seorang nelayan, juga bukan seorang pedagang yang sering melakukan perjalanan jauh. Tetapi kau telah menempuh bahaya mengarungi lautan luas datang ke Lam-hay ini, apa maksudmu yang sebenarnya ?‖ …Mencari orang.‖ …Siapa orangnya yang kau cari itu ?‖ …Seorang Lo-tjianpwee yang aneh tabeatnya di pulau batu hitam. Lo-tjianpwee mempunyai gelar ‗Pengail linglung‘.‖ Orang tua itu kelihatan bergetar badannya, alisnya juga bergerak. Yo Cie Cong ada seorang yang cerdik. Ketika menyaksikan perubahan sikap orang tua itu, hatinya lalu bergerak, seketika itu ia baru ingat bahwa semua batu yang dilihatnya diatas pulau itu ternyata berwarna hitam. Ketika tadi ia sampai di pulau ini, jangan kata orang sedangkan asap saja tidak kelihatan, maka pulau itu tentunya tidak ada orang yang mendiami kecuali orang tua itu, maka seketika itu seolah-olah baru tersadar dari mimpinya ia lantas berkata kepada dirinya sendiri : ―Mengapa aku begitu bodoh, seharusnya siang-siang aku harus sudah dapat menduga bahwa orang itu yang mengail dilaut ini dengan

sikapnya seperti orang linglung, bukankah itu orang tua yang yang sedang kucari ?‖ Oleh karena itu pula maka sekali lagi ia lantas memberi hormat seraya berkata : …Boanpwee dengan brutal berani menemui Lo-tjianpwee, sebetulnya ingin minta sesuatu pertolongan dari Lo-tjianpwee‖ …Apa ? Bocah, kau mencari aku ?‖ …Benar.‖ …Ha..ha..ha…kau bocah kau mencari aku si orang tua hendak belajar mengail ikan atau mau beli ikan ?‖ …Lo-tjianpwee,………‖ …Apa ? kau panggil aku Lo-tjianpwee ?‖ …Lo-tjianpwee tidak usah berlaga lagi. Lo-tjianpwee adalah itu orang tua yang bergelar Pengail linglung.‖ …Apa yang kau ucapkan aku sedikitpun tidak mengerti lekas pergilah.‖ …Lo-tjianpwee, dari jauh Boanpwee perlukan datang ke Lam hay ini, perlunya hanya menjumpai Lo-tjianpwee yang ingin meminta suatu pertolongan. Mengapa Lo-tjianpwee menolak demikian getas.‖ Orang Tua itu dengan perlahan berdiri dari tempat duduknya, dengan gerakannya yang seperti tidak bertenaga sama sekali ia berjalan turun dari atas batu. Ia taruh bambunya diatas pundaknya, lalu berjalan lagi tanpa melihat Yo Cie Cong lagi. Anak muda itu mengingat jiwanya hanya tinggal sehari saja dan kini orang yang dapat menolongnya berada didepan mata, sudah tentu tidak mau melepaskannya begitu saja, maka dengan cepat ia sudah bergerak menghadang didepanya si orang tua. … Lo-tjianpwee, tahan dulu.‖ …Ech. Bocah kau mau apa ?‖

…Hendak minta pertolongan.‖ …Aku adalah seorang tua yang tuli dan bodoh. Apa yang bisa ku Bantu untukmu ?‖ Yo Cie Cong melihat orang tua itu masih tetap berlaga linglung sudah lantas merasa gusar, dengan alis berdiri dan mata terbelalak ia berkata dengan sengit : …Apa Lo-tjianpwee benar ? nama dan gelarnya sudah tidak mau akui lagi ?‖ Perkataan itu betul-betul memakan, sebab orang-orang dalam rimba persilatan dalam urusan-urusan lain dapat mengangap main-main tapi nama dan gelar harus di jungjung tinggi, maka tidak seorang pun dalam rimba persilatan yang tidak menghargai nama dan gelarnya sendiri. Orang tua itu nampak bergerak rambut dan jenggotnya, matanya yang sayu saat itu tiba-tiba memancarakan cahaya yang tajam. Sikapnya yang lonyo mendadak hilang sama sekali, dengan suaranya yang berat ia berkata : …Bocah, aku seorang tua memang benar ada itu orang tua yang di juluki si Pengail linglung, tapi di pulauku batu hitam ini selamanya tidak diijinkan orang luar menginjak. Kalau kau kenal gelagat, sebaiknya lekas pergi dari sini !‖ Yo Cie Cong menyaksikan caranya orang tua aneh itu memperlakukan dirinya ada demikian kasar, meski ia sudah diperingati oleh sihwesio gila tentang adatnya yang aneh dari orang tua itu. Namun tidak urung merasa mendongkol juga. Maka ia lantas berkata dengan suara dingin : …Perkataan Lo-tjianpwee ini agaknya ada sedikit keterlaluan !‖ …Apa artinya keterlaluan ?‖

…Adakah pulau Batu Hitam ini kepaunyaan Lo-tjianpwee seorang ?‖ …Hal ini Boanpwee tidak berani, cuma saja Boanpwee yang datang dari tempat jauh dengan maksud minta bertemu secara sopan mengapa Lo-tjianpwee menolak, begitu getas ? ini bukannkah agak keterlaluan ……….? …Bocah, kau mau pergi atau tidak ?‖ …Kedatangan Boanpwee dengan sungguh hati maka hanya tahu maju tidak kenal mundur !‖ Orang tua itu perdengarkan suara ketawanya yang dingin. …Bocah, usiamu masih muda sekali, ternyata adatmu sombong sekali !‖ Yo Cie Cong lalu berfikir biar bagamana jiwaku toh cuma tinggal satu hari. Dengan adatnya yang aneh seperti orang tua ini, nampaknya tidak bisa diminta secara halus terpaksa aku harus menggunakan kekerasaan. Aku harus sebisa mungkin untuk mendapatkan darahnya binatang kura-kura itu untuk menolong jiwaku, sekalipun aku harus melanggar pesannya si hweehio gila itu, juga apa boleh buat. Sebetulnya pada saat itu apabila Yo Cie Cong mengunjukan barang bukti yang berupa buli-buli kecil warna merah yang diberikan oleh hwesio gila itu, barangkali orang tua itu tidak bersikap batu lagi. Tapi Yo Cie Cong adatnya juga tinggi, makin diperlakukan kasar, ia makin tidak mau menunjukan barang bukti itu. Seketika itu lantas berkata dengan lantang : …Dalam badan Boanpwee ada kemasukan racun yang sangat jahat hanya darahnya binatang kura-kura peliharaan Lo-tjianpwee yang sudah ribuan tahun usianya yang bisa menyembuhkan. Keesokan hari racun itu sudah akan menjalar keseluruh badan. Jika Lo-tjianpwee sudi memberi sedikit saja darahnya binatang kura-kura itu Boanpwee segera

meninggalkan pulau ini !‖ Perkataan Yo Cie Cong ini kurang dipikiar, pulau batu hitam ini seolah-olah berada ditengah lautan jika tidak ada perahu bagaimana ia bisa berlalu ? Pengail Linglung ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong agaknya merasa heran, mengapa bocah ini tahu kalau dirinya ada memelihara kura-kura aneh itu ? …Bocah, kau siapa namamu ?‖ demikian ia menanya dengan suara bengis : …Boanpwee adalah Yo Cie Cong !‖ …Siapa suhumu ?‖ …Harap Lo-tjianpwee suka maafkan, dalam hal ini Boanpwee mempunyai kesukaan yang Boanpwee tidak bisa dijelaskan maka Boanpwee tidak dapat memberi tahukan nama suhu !‖ …Siapa yang memberi tahukan padamu, kalau aku seorang tua disini ada mempunyai peliharaan binatang kura-kura yang sudah ribuan tahun usianya ?‖ Yo Cie Cong sebetulnya hendak memberitahukan nama si hwetio gila itu, tapi kemudian berfikir lain, ia lantas berkata dengan sikap agak keras : …Boanpwee dengar dari salah satu orang aneh dari dalam dunia Kang-ouw !‖ …Hm ! Orang aneh, enyahlah kau dari sini !‖ …Boanpwee tadi sudah bilang, sebelum mencapai maksud Boanpwee, tidak mau meninggalkan tempat ini !‖ Orang tua itu tertawa tergelak-gelak. …Bocah, kau tidak dapat membawa caramu sendiri !‖ katanya …Belum tentu !‖

…Kau boleh coba !‖ Setelah mengucapkan demikian, orang itu lantas melancarkan satu serangan dari kekuatan tenaga dalam yang amat hebat kearah si anak muda. Yo Cie Cong meski sangat mendongkol terhadap sikapnya Pengail Linglung, tapi ia masih bisa kira-kira. Terhadap serangan hebat itu, ia tidak mau balas menyerang untuk mencegah supaya urusan tidak sampai menjadi runyam. Disini menunjukan kecerdikannya Yo Cie Cong. Dengan menggunakan ilmunya menggentengi tubuh yang luar biasa. Badannya melayang mengikuti arahnya serangan angin, sehingga kelihatannya enteng sekali. Ia terus melayang sampai kekuatan serangan berkurang, baru balik ke tempat asalnya. Gerakannya itu mengejutkan hatinya Pengail Lingkung. Selanjutnya ia lantas mengirim lagi dua kali serangannya yang lebih hebat dari pada serangan yang pertama lalu barkata : …Lo-tjianpwee, Boanpwee sudah mengalah sampai tiga kali ― Orang tua itu tabeatnya sangat aneh sudah lama terkenal didalam rimba persilatan. Meskipun saat itu ia merasa heran terhadap kepandaiannya si anak muda, tetapi ia tidak mau behenti begitu saja. Atas ucapannya Yo Cie Cong tidak mau ambil pusing, sebaliknya malah mengirim lagi serangannya yang lebih hebat. Yo Cie Cong terpaksa coba-coba menyambuti serangan. Suara beradunya tenaga kekuatan lantas terdengar nyaring, badannya Pengail Linglung kelihatan terhujung-hujung sebentar tetapi badanya Yo Cie Cong telah terpental mundur tiga tindak, darahnya dirasakan bergolak. Yo Cie Cong meskipun sudah mempunyai latihan puluhan tahun yaitu

karena bekerjanya gabungan dua rupa benda ajaib, tetapi saat itu masih belum dapat digunakan secara leluasa. Apalagi ia tidak mengunakan tenaga sepenuhnya, maka akhirnya Ia terpental juga sejauh tiga tindak. Tetapi bagi pihaknya Pengail Linglung, sekarang benar-benar merasa sangat heran. Sungguh tidak habis dipikirnya, pemuda yang usianya yang begitu muda ternyata sudah mampu menyambuti serangannya yang dilancarkan dengan menggunakan delapan dari seluruh kekuatannya. Ini benar-benar merupakan suatu kejadian gaib, maka saat itu ia berdiri melongo seperti terpaku. Yo Cie Cong maju dua tindak lalu berkata dengan sikapnya yang sungguh-sungguh. …Lo-tjianpwee, sekali lagi Boanpwee minta dengan hormat atas kemurahan hati. Lo-Tjianpwee supaya sudi memberi beberapa tetes darahnya kura-kura Lo-tjianpwee yang sudah ribuan tahun usianya. Budi Lo-tjianpwee ini tidak akan Boanpwee lupakan untuk selama-lamanya.‖ Sehabis berkata Yo Cie Cong lantas membungkukan diri dalam-dalam memberi hormatnya. Tetapi Pengail Linglung masih tetap kukuh dengan pendirinanya sendiri. …Tidak bisa !‖ jawabnya ketus …Lo-tjianpwee adalah seorang golongan tua dari rimba persilatan, apakiranya tega melihat Boanpwee mati terkena racun yang jahat itu ?‖ …Hmmm, iatu adalah urusanmu sendiri.‖ Kali ini Yo Cie Cong benar-benar menjadi gusar, ia lantas berakta sambil pelototkan matanya : …Kalau begitu, karena hendak mempertahankan jiwa, Boanpwee

terpaksa harus berlaku kurang ajar.‖ …Bocah, apa kau kira ada harganya hendak bertengkar dengan Lohu?‖ sehabisnya berkata demikian ia menggunakan bambu kailnya dengan luar biasa cepat melancarkan serangan sampai tiga kali. Yo Cie Cong kedesak menghadapi serangan tersebut, terpaksa mundur berulang-ulang. …Bocah, kau coba lagi sambuti beberapa jurus, si orang tau aneh itu berkata sambil terus memutar bambunya dan menyerang bertubi-tubi. Bambu sebagai alat pengail yang kecil itu sebenarnya merupakan senjata satu-satunya yang paling ampuh dari Pengail Linglung yang telah mengangkat namanya dan yang menjadikan ia seorang terkenal dalam rimba persilatan. Senjata yang kelihatanya dari luar sangat sederhana itu sebetulnya bukanlah senjata sembarangan dan didalam rimba persilatan, orang yang mampu menyambuti serangan Pengail Linglung mungkin tidak seberapa jumlahnya. Maka betapapun tingginya ilmu sialt Yo Cie Cong, biar bagaimana juga ia hanya baru mendapatkan didikan lima tahun saja. Meskipun saat itu kekeuatan tangannya sudah bertambah berlipat ganda karena pengaruhnya dua benda ajaib yang bergabung, tetapi untuk menghadapi serangan si jago tua yang aneh itu, ia hanya mampu berkelit saja tanpa membalas. Setelah lima jurus berlalu, Yo Cie Cong tiba-tiba ingat gerak tipu aneh yang pernah diajarkan oleh suhunya ketika hendak menutup mata, maka timbulah pikirannya hendak mencoba-coba tipu pukulan yang aneh itu. Dengan cepat ia lalu maju mendekati si orang tua, tangan kanannya digunakan sebagai golok, untuk menyerang lawan. Dengan telapak tangan dipakai sebagai pengganti golok, jurus

serangannya yang mempunyai tiga rupa gerakan itu dilancarkan cepat bagaikan kilat. Secara berbareng pula ia membabat kedua lengan kanan lawannya, kemudian menotok kebagian dada. Gerak tipunya ini adalah gerak tipu ciptaan Yo Tjie Hoan Pribadi yang sudah diyakinkan selama dua puluh tahun, yang tadinya hendak digunakan untuk menuntut balas kepada musuh-musuhnya. Sebetulnya gerak tipu silat semacam ini kusus digunakan dengan menggunakan senjatanyam Golok Maut. Dengan kekuatan dan kepandaiannya seorang jago tua seperti Pengail Linglung ini. Ternyata masih tidak berdaya menghindarkan serangan yang demikian aneh itu, sehingga orang tua itu kelihatannya sudah akan menjadi sasaran dari serangannya Yo Cie Cong. Mendadak pada saat itu terdengar suara bentakan nyaring, suatu sambaran angin hebat mengancam diri Yo Cie Cong.

Bagian Ke Enam Belas OLEH KARENA Yo Cie Cong tidak mempunyai maksud hendak melukai lawannya maka ketika serangannya hendak melukai seorang cepat-cepat ditariknya kembali badannya juga melompat mundur. Maka dengan demikian, ia malah menghindar dari serangan si orang tua jika tidak demikian sungguh hebat sekali akibatnya. Pengail Linglung sudah terkenal namanya sebagai orang yang hebat dan kuat sejak bepuluh-puluh tahun lamanya. Betapa hebat kekuatannya sudah tentu tidak ada tandinganya dengan kekuatan yang ia punya jika serangan Yo Cie Cong sungguh-singguh dengan menggunakan tenaga, maka pastilah ia akan dibikin terpental dan terluka oleh kekuatan dan tenaga yang tidak terlihat dari orang tua itu. Kekuatan semacam itu dinamakan Kan-goan Cin-tjao.

Kekuatan tidak berwujud yang dinamakan Kan-goan Cin-tjao ini merupakan ilmu yang paling ampuh dari Pengail Linglung yang sudah diyakini beberapa puluh tahun lamanya ilmu kekuatan ini tidak berwujud hampir serupa dengan ilmu kekuatan untuk melindungi diri seperti yang terdapat dalam rimba persilatan hanya bedanya ialah ilmu Kang-goan Cin-tjao bukan hanya dapat melindungi diri tetapi juga dapat digunakan untuk membalas menyerang kearah musuhnya dengan kekuatan tenaga yang luar biasa hebatnya. Ketika Yo Cie Cong melompat mundur, ia berdiri melongok seperti terpaku. Karena pada saat itu, dihadapannya sudah berdiri seorang gadis cantik jelita yang kecantikannya melebihi Siang-koan kiauw dan Tio Lee Tin. Gadis jelita itu matanya menatap Yo Cie Cong, kelihatannya juga terkejut, agak terpesona ketampanan pemuda itu sehinga kedua pipinya lantas menjadi merah. Tetapi ketika mengingat apa yang dilakukan oleh anak muda itu wajahnya lantas berubah pedang ditangannya lantas dikibaskan sepasang matanya menatap wajah Yo Cie Cong kemudian ia membentak dengan suara yang halus : …Nyalimu sungguh besar, kau berani berlaku sembarangan di pulau Batu Hitam ini ?‖ Suara itu meskipun bentakan tetapi kedengarannya begitu merdu, menyenangkan dan tidak menyakiti hati yang mendengarkannya. Yo Cie Cong yang terpesona oleh kecantikan si gadis itu hatinya tampak juga begerak taoi ia belim dapat memikirkan hal yang lainya ia hanya heran dan terpesona atas kecantikan nona itu. Berhubung Siang-koan Kiauw telah terkubur didasar laut hilangnya gadis itu telah membawa pergi semua perasaan yang ada pada dirinya.

Apa yang dipikirkannya saat itu, darah kura-kura peliharaan yang sudah berusia ribuan tahun yang akan menyelamatkan dirinya jiwanya tinggal satu hari lagi, jika ia tidak berhasil mendapatkan darah kura-kura mukjizat itu besok jiwanya itu akan melayang. Maka atas teguran gadis jelita tadi ia hanya menjawab dengan sikap yang dingin dan angkuh. …Aku yang rendah tadi telah datang dengan cara sopan, bagaimana nona katakan aku kurang ajar ?‖ …Kau berani turun tangan terhadap yayaku, bukankah itu berarti berlaku kurang ajar ?‖ …Aku yang rendah berani turun tangan karena terpaska !‖ …Bohong ! Yayaku kalau benar-benar menghendaki jiwamu, apakau kira bisa hidup sampai saat ini ?‖ …Belum tentu !‖ Belum tentu, kau boleh coba saja , kau bisa menjalani beberapa jurus dibawah pedang nonamu?‘‘ Pedang ditanganya sinona yang bersinar biru ungu,dengan cepat dan gerakan yang sangat aneh sudah menyerang sampai 5 kali dangan beruntun. Karena Yo Cie Cong bukan hendak mencari setori, maka ia tidak mau membalas . Dengan berkelit kesana-kemari ia menghindarkan serangan sinona yang luar biasa hebatnya . Pengail Linglung saat itu sudah kembali dalam keadaanya seperti seorang tolol dan linglung. Ia berdiri tanpa berkata apa-apa . Sigadis cantik melihat seranganya mengenakan tempat kosong , hatinya merasa sangat mendongkol. Ia lalu putar pedangnya semakin kencang, hinga dirinya Yo Cie Cong seolah-olah berkurung oleh sinar pedang berwarna ungu.

Yo Cie Cong menampak pihaknya sinona melancarkan seranganya semakin gencar, ditambah lagi dengan pedangnya yang merupakan pedang pusaka , jika ia tidak membalas mungkin akan terluka dibawah pedangnya sinona. Oleh karena itu , maka ia lantas melancarkan serangan membalas. Meski ia cuma menggunakan tenaganya 6 bagian saja, tapi karena pengaruh hasiatnya benda mustika , kekuatanya itu sangat mengejutkan hebatnya ! Setelah terdengar suara ‗Buk!‘ yang amat nyaring , pedangnya si nona lantas terpental miring. Nona itu terkejut, ia lantas tarik kembali pedangnya dan lompat mundur..Dengan sikap terheran-heran ia mengawasi ia mengawasi Yo Cie Cong . Kekuatan tenaga dalam si anak muda yang luar biasa , aganya sudah mengejutkan hatinya sinona. Yo Cie Cong sendiri juga sangat kagum menyaksikan kepandaian sinona ,,Kheng-djie mundur , kau masih bukan tandinganya dia!‖ berkata Pengail Linglung kepada cucunya. Justru perkataan sikakek itu rupa-rupanya telah membangkitkan napsu sinona untuk mendapat kemenangan , maka ia lantas menjawab sambil monyongkan mulunya . ,,Yaya , kau Cuma membuat dia bertambah bertingkah saja!‖ Sehabis berkata ,ia lantas masukan pedangnya kedalam serangkanya, kemudian berdiri tegak sambil lonjorkan kedua tanganya. Setelah itu ia lantas menyedot napasnya dalam-dalam . Yo Cie Cong yang menyaksikan keadaan sinona , dalam hatinya merasa bercekat, ia lantas menjaga-jaga segala kemungkinannya . Kedua tangan sinona mendadak bergerak dengan cepat ,suatu kekuatan

yang tidak kelihatan , lantas menyembar keluar dari tanganya. ,,Kheng-djie jangan!‖ Pangail linglung coba merintangi , tapi sudah terlambat . Yo Cie Cong dalam keadan kaget , buru-buru mengeluarkan tenaganya,untuk menyambutinya. ,Kedua kekuatanyang tidak dkelihatan lantas saling beradu , hanya terdengar suaranya yang sangat nyaring .Yo Cie Cong mendadak merasakan dadanya nyesak, badanya mundur 3 tindak. Badanya sijelita terhuyung-huyung, wajahnya berubah mundur satu tindak , baru bisa berdiri tegak , dalam hatinya juga merasa terheran-heran sebab serangannya dengan ilmunya ‗Kan-goan Cin tjao‘ yang ia lancarkan dengan tenaga penuh, ternyata tidak mampu melukai dirinya si anak muda . Pengail Linglung meski adatnya sangat kukoay , tapi ia masih terhitung orang dari golongan baik . maka ketika nampak cucunya menggunakan ilmunya ‗Kan-goan Cin-tjao, ia kuatir anak muda itu tidak sanggup melawan dan terluka, lantas coba marintangi, sungguh tidak nyana kalau kekuatan tenaga anak muda itu ada begitu hebat, dengan tabah berani menyambuti serangan yang sangat hebat itu . Dalam hatinya merasa tidak habis mengerti . Meskipun ia sudah dapat melihat bahwa Yo Cie Cong bukan pemuda nakal atau dari golongan jahat, tapi dalam hati masih merasa curiga . Sebab ia dengan cucu perempuannya yang mengasingkan diri dalam pulau sunyi itu, sebetulnya karena terpaksa, kecuali beberapa kenalannya yang dekat, tidak ada orang yang tau jejaknya . Dan Yo Cie Cong yang datang katanya mau minta darah binatang kura-kura peliharaannya, tapi tidak mau menyebutkan nama suhunya, sudah tentu tambah membikin ia merrasa curiga.

Cucu perempuannya yang dipanggil Kheng-djie ( anak Kheng ) tadi, mendadak mendapat kesan baik terhadap pemuda yang wajahnya tampan tapi sikapnya dingin kecut itu . bagi satu gadis dewasa seperti Kheng-djie yang hidup terasing dalam alam sunyi , kalau ia merasa terpikat oleh ketampanannya wajah Yo Cie Cong , memang merupakan satu soal wajar. Tapi pikiran mau menang sendiri, memang merupakan suatu penyakit bagi orang-orang yang belajar ilmu silat, terutama bagi orang-orang dari golongan muda, pikiran demikian nampaknyaada lebih kuat. Begitu juga bagi sijelita itu. Ketika serangannya tidak berhasil merubuhkan lawannya, ia lantas mendongkol, maka lalu membentak pula : ,,Aku kepingin tahu sampai dimana kepandaianmu !‖ Sehabis berkata sinona lantas menggeser maju kakinya, kedua tangannya melancarkan serangan bertubi-tubi, setiap serangan seolah-olah mengandung kekuatan yang dapat menghancurkan batu keras. Kiranya, nona itu sudah menyalurkan kekuatan Kan-goan Cintjao kedalamkedua telapak tangannya. Yo Cie Cong lantas berkelit sambil berseru : ,,Bolehkah nona dengar sedikit keterangnku dulu ?‖ ,,Kau harus sambuti seranganku dulu, nanti baru kita bicara lagi.‖ ,,Apa nona hendak memaksa aku turun tangan?‖ ,,Kalau ia bagaimana?‖ ,,Nanti kalau aku keterlepasan tangan mungkin mengakibatkan ……..‖ Nona itu lantas ketawa cekikikan. ,,Perkataanmu sungguh membawa,‖ katanya. Jawaban itu sesungguhnya tidak enak di dengar oleh Yo Cie Cong, maka ia lantas menjawab dengan suara dingin : ,,Aku bukan bangsa orang penakut.‖

,,Kalau begitu, bagus sekali. Sambutlah lagi beberapa jurus seranganku.‖ Gadis itu lalu menggeser dirinya kesamping kira-kira lima kaki dijauhnya, ia mengirim serangannya dari arah samping. Serangannya itu kelihatannya lebih hebat daripada serangannya yang pertama. Diperlukan secara demikian rupa, Yo Cie Cong hatinya mulai panas. Dalam hatinya berpikir : ―perempuan ini sangat keterlaluan. Hari ini kelihatanya ia tidak mau mengerti kalau aku belum turun tangan.‖ Setelah berpikir demikian, badannya juga agak dimiringkan, tanga kanannya lantas mengebut keudara. ,,Tahan!‖ demikian terdengar suara seseorang yang membentak dengan dibarengi oleh sambaran sesuatu kekuatan yang maha hebat. Yo Cie Cong dan si jelita sama-sama terpental lima tumbak dijauhnya. Pengail linglung dengan sorot matanya yang aneh, berdiri ditengah-tengah mereka berdua ,,Yaya, kau ……..?‖ demikian si nona berseru. ,,Kau mundur dulu,‖ jawab si orang tua. Gadis itu monyongkan mulutnya yang kecil mungil. Setelah mengawasi Yayanya sejenak, matanya lalu menatap wajahnya Yo Cie Cong, kemudian tunjukan ketawanya yang manis, Panggil Linglung lalu menanya kepada Yo Cie Cong : ,,Bocah, barusan gerak tipu silatmu, ‗Liu-in Hut-hiat‘ kaudapat belajar dari siapa?‖ Kiranya, Yo Cie Cong ketika mengeluarkan serangannya tadi, kalau tidak dicegah oleh si orang tua ini, si jelita pasti akan terluka dibawah tangannya. Yo Cie Cong setelah mengetahui bahwa orang tua itu telah mengenali asal-usul tipu serangannya yang digunakan tadi, maka dalam hatinya

lantas berpikir : ‘Oleh karena kedatanganku ini adalah atas atas petunjuk si Hweshio gila, maka apa salahnya kalau aku menerangkannya secara sejujurnya?‘ ,Tipu silat tadi, kudapat dari ajaran seorang Engkong Hweshio.‘Demikian Yo Cie Cong menjawab atas pertanyaan pengail Linglung. ,,Bagaimana ada hweshio disebut engkong ?‖ celetuk si jelita sambil ketawa geli. ,,Bagai mana macamnya hweshio itu ?‖ Tanya Pengail Linglung. ,,Separuh hweshio separuh imam, kelakuannya seperti orang gila !‖ ,,Yaya, hweshio yang dia disebutkan tentunya ada itu kakek hweshio gila yang pernah datang kemari pada lima tahun berselang !‖ celetuk pula si gadis. Yo Cie Cong diam-diam juga merasa geli, barusan ia menyebut hweshio gila itu sebagai engkong, telah ditertawakan oleh gsdis itu, dan dia sendiri menyebutnya kakek padanya. Si Pengail Limglung mengawasi tujuannya sejenak, lalu berkata pada Yo Cie Cong : ,,Bocah, apa kau ada muridnya ‗Pak-hong Phoa-ngo Hweshio‘?‖ Yo Cie Cong terperanjat. Kiranya hweshio yang kelakuannya seperti orang sinting itu ternyata ada ‗Pak-hong Phoa-ngo Hweshio‘, seorang luar biasa didalam dunia Kang-ouw yang namanya menakutkan orang-orang golongan hitam atau putih dari rimba persilatan. Tentang hwesio anah itu sudah lama ia dapat dari suhunya, sungguh tidak nyata kalau hweshio tua itu masih hidup, bahkan sudah menurunkan kepandaiannya kepadanya. Saat itu ia lalu balas menanya: ,,Benar. Namaku adalah Oet-tio Giok Tjiang ! Bocah, kau masih belum

menjawab pertanyanku tadi.‖ Yo Cie Cong sungguh tidak menyangka bahwa itu hweshio sinting yang pernah ditemuinya dan orang yang ada dihadapannya kini, ternyata adalah dua orang tua luar biasa yang kabarnya sudah menghilang itu yang biasanya disebut Pak-kong dan Lam-tie (Si Gila Dari Utara dan si linglung dari Selatan ), maka ia lalu ia sesalkan perbuatannya yang telah gegabah tadi.‖ Setelah itu, ia lalu memberi homat pula seraya berkata. ,,boanpwee bukan muridnya Phoa-ngo Lotjianpwee. Sedangkan nama gelarnya Lotjianpwee itu saja juga baru sekarang Boanpwee tahu dari keterangan Lotjianpwee tadi. ,,Apa ? kalu begitu, tipu silatmu Liu-in Hut-hiat tadi kau dapatkan dari man ? kau harus bicara terus terang.‖ Yo Cie Cong segera menceritakan hal ikhwalnya, setelah dibikin celaka oleh Cin Bio Nio dan kemudian ditolong oleh Hweshio itu didalam kelenteng tua, kemudian hal tentang diberikannya pelajaran berupa dua macam ilmu silat Liu-in Hut-hiat dan Hui-siu Kay-hiat, selain daripada itu, ia menunjukan jalan padanya supaya datang ke Batu Hitam untuk minta beberapa tetes darahnya kura-kura peliharan yang sudah ribuan tahun usianya, sehabis itu ia memberikan benda kepercayaan dari Phoa-ngo Hweshio yang berupa buli-buli kecil berwarna merah. Pengail tua itu. Setelah menyambuti buli-buli tersebut dan diperiksanya lalu diberikan kembali kepada Yo Cie Cong ia ketawa ber gelak-gelak kemudian berkata : ,,kalau begitu, karena gara-garanya si Hweshio gila itu. Sebab sejak aku berdiam disini selama limabelas tahun sampai sekarang kecuali si Hweshio gila itu, kaulah orangnya yang merupakan satu-satunya orang

luar yang datang mengunjungi pulau ini bocah siapa gurumu ? dari mana kepandaiana itu kau dapat ?‖ Mengenai suhu boanpwee, buat dewasa ini masih ada kesulitan-kesulitan yang di dapat Boan pwee jelaskan. Maaf saja, untuk sementara Boanpwee masih belum berani menyebutkan nama suhu……‘‘ ,,Ha, ha, ..….. Kalau begitu, sudahlah. Aku ada melihat kau telah jatuh dari cengkraman kaki burung rajawali raksasa. Bagaimanakah sebetulnya ?‖ Yo Cie Cong lantas menceritakan semua pengalaman yang dialaminya. Pengail Linglung ketika mendengar penuturannya Yo Cie Cong yang menarik hatinya, merasa heran sekali, maka ia lalu berkata sambil mengurut-urut Jenggotnya : ,,Bocah, bakat dan tulang-tulangmu sukar didapat selama seatus tahun ini dan sekarang kembali kau mendapat pengalaman-pengalaman gaib itu. Hal ini akan merupakan suatu kegaiban didalam rimba persilatan selama tahun-tahun mendatang. Mungkin itu semua ada takdir. Aih !‘‘ Yo Cie Cong yang mendengar itu. Diam-diam juga merasa bersyukur atas pengalamannya sendiri. ,,Bocah, Hweshio gila itu sejak berkelana didunia Kang-ouw, selamanya belum menerima murid. Tetapi dia menurunkan ilmu silatnya yang luar biasa dan dipandangnya sebagai jiwanya sendiri itu kepadamu, suata bukti bahwa kau telah menarik perhatiannya, maka sekarang lohu juga akan menghadiahkan apa-apa kepadamu, ‗‘ demikian kata pengail tua itu pula ! ,,Hadiah ?‘‘ ,,Ja. Aku hendak menurunkan ilmuku Kan-goan Cin-tjao kepadamu.‘‘ Yo Cie Cong terperanjat, hampir-hampir ia tidak percaya pada

pendengarannya sendiri. Sesungguhnya ia tidak menyangka kalau orang tua itu mau menurunkan kepandaiannya yang tunggal dan luar biasa itu padanya. Tetapi setelah memikirkan keadaan dirinya, ia lantas Menjawab : ,,Atas budi kecintaan Lotjianpwee,Boanpwee merasa sangat bersyukur dan disini Boanpwee ucapkan banyak-banyak terima kasih. Tetapi Boanpwee sudah merasa puas jika Loatjianpwee sudi memberikan beberapa tetes darahnya kura-kura yang sudah berusia ribuan tahun itu untuk mengobati racun didalam badan Boanpwee. Ini saja Boanpwee sudah merasa cukup dan hal-hal lainnya Boanpwee tidak berani mengharapkan.‘‘ ,,Apa ? Kau tidak sudi belajar Ilmuku ?‘‘ ,,Bukannya tidak suka, hanya …………‘‘ ,,Huh, huh …….. Bocah , kalau aku mau menurunkan pelajaranku ini, sebabnya ialah karena suatu soal janji untuk mengadu kepandaian.‘‘ ,,Janji mengadu kepandaian?‘‘ ,,Benar, perjanjian telah ditetapkan pada lima belas tahun berselang.‘‘ ,,Bagaimana sipatnya perjanjian Itu ? Dengan Boanpwee ……..‘‘ ,,Soalnya ini untuk sementara jangan kita bicarakan dulu. Kheng-djie, mari sini.‘‘ Si jelita lalu menghampiri engkongnya. Pengail Linglung lantas berkata pula kepada Yo Cie Cong sambil menunjuk pada si gadis : ,,Ini adalah cucu perempuanku. Namanya Oet-tie Kheng.‘‘ Yo Cie Cong lalu menjura pada sigadis, seraya berkata : ,,Aku yang rendah adalah Yo Cie Cong.‘‘ Oet-tie Kheng saat itu mendadak berubah wajahnya kemalu-maluan, ia membalas hormatnya Yo Cie Cong. ,, Semua nanti kita bicarakan lagi di tempat kediaman kita,‘‘ kata

Pengail Linglung yang lantas bergerak lebih dulu meninggalkan tempat itu, kemudian diikuti oleh Oet-tie Kheng dan Yo Cie Cong . Tidak antara lama, mereka bertiga sudah sampai didepan gubuk sederhana , yang lalu masuk kedalamnya . Rumah gubuk itu dibangun di pantai laut . Meskipun bentuknya sederhana , begitu pula perabot rumah tangganya , tetapi semuanya sangat bersih. Setibanya dirumah dengan tidak diperintah lagi Oet-tie Kheng lantas masuk kedalam menyediakan barang santapan. Pengail tua itu menyuruh Yo Cie Cong menantikan diruangan sejenak , ia lalu keluar dan tidak lama kemudian sudah balik lagi sambil membawa cawan kecil yang diberikan kepada Yo Cie Cong seraya berkata : ,,Bocah, ini adalah darahnya kura-kura yang berusia ribuan tahun yang kau maksudkan, minumlah.‘‘ Yo Cie Cong menyambuti cawan itu dengan kedua tangannya . Lantas berkata dengan suara terharu : ,,Lotjianpwee , budi kebaikan Lotjianpwee selamanya tidak akan Boanpwee lupakan .‘‘ ,,Bocah, tidak usah kau begitu merendahkan diri, minumlah ! Yo Cie Cong menurut. Kira-kira setengah jam sesudah minum darahnya kura-kura itu, Yo Cie Cong merasa seperti ada hawa panas menusuri sekujur badannya. Ternyata itu adalah khasiatnya dari darah kura-kura yabg sudah berusia ribuan tahun tersebut. Oada saat itu Oet-tie Kheng sudah siap dengan hidangannya, sehingga ketiga orang itu lantas mulai bersantap. Yo Cie Cong yang sudah sembuh dari penyakitnya, sudah tentu dalam

hati merasa sangat girang. Sehabis dahar, Penagail Linglung itu lantas berkata kepada Yo Cie Cong : ,,Bocah, kau ikutlah aku kebelakang rumah, sekarang aku hendak menurunkan ilmu Kan-goan Cin-tjao kepadamu.‖ ,,sekarang ?‖ ,,Kau tidak usah Tanya apa sebabnya aku ter-buru buru menurunkan pelajaran kepadamu, karena pelajaran itu kepadamu bukannya secara Cuma Cuma. ,,Apakah Lotjianpwee hendak menggunakan diri Boanpwee ?‖ ,,Aku tadi sudah katakan, kau tidak usah banyak bertanya belajarlah dulu.‖ ,,Jika Lotjianpwee mempunyai keperluan apa apa, perintahkan sajalah. Buat apa harus menurunkan pelajaran sebagai hadiah. Hal ini sebaliknya ….. ,,Bocah, tidak usah banyak rewel. Marilah !‖ Oet-tie Kheng yang menyaksikan dari samping hanya ketawa saja sambil menekap mulutnya. Yo Cie Cong terpaksa mengikuti orang tua itu kehalaman belakang. Dibelakang rumah gubuk itu tanah lapang yang luasnya kira kira lima tumbak persegi yang seputarnya dikitari oleh tanaman pohon bambu. Pengail Linglung sesampainya di tempat tersebut lanats mulai memberi petunjuk-petunjuk serta memberitahukan dengan tanda tanda gerakan tangan tentang bagaimana caranya melatih ilmu Kan-goan Cin-tjao itu. Yo Cie Cong memang seorang cerdik dan terang otaknya, maka sebentar saja ia sudah dapat memahaminya. Kemudian orang tua itu lantas menyuruh Yo Cie Cong melatih,

latihan pertama itu waktu duabelas jam sudah cukup untuk Yo Cie Cong mendapatkan hasil yang diharapkan . Setelah itu tua itu lantas meninggalkan Yo Cie Cong seorang ditanah lapangan tersebut. Yo Cie Cong mengawasi berlalunya orang tua aneh itu ia merasa heran atas kelakuan penagail linglung uyang hendak menurunkan ilmu silatnya tetapi tak memberikan kesempatan padanya menanya apa sebabnya. Saat itu matahari mulai condong ke barat tidak akan lama lagi sang siang akan di ganti sang malam. Yo Cie Cong dengan ketekunanya yang kuat mulai melatih ilmu barunya, Kang-goan Cin tjao. Ketika malam sudah gelap, keadaan sudah menjadi sunyi sosok bayangan hitam dengan perlahan menghampiri diri Yo Cie Cong yang sedasng melatih ilmu. Yo Cie Cong tidak merasa adanya orang itu sebab seluruh perhatiannya sedang di pusatkan pada ilmunya yang luar biasa. Setelah Yo Cie Cong menjalnkan latihan ilmunya cukup matan, tiba-tiba kedua tangannya di sodorkan kedepan dengan perlahan dan setelah menyedot tangan napas dalam-dalam lantas mengeluarkan hawa dari kekuatan tenaga dalamnya. Suara nyaring lalu terdengar, suatu kekuatan yang maha dasyat telah keluar dari tangan yang. Saat itu tiba-tiba terdengar orang menjerit. Yo Cie Cong terperanjat sebab ia tidak menyangka bahwa pada saat itu masih ada orang yang berada dekatnya. Ketika ia menyodorkan kedua tangannya sambil memeramkan matanya kini membuka matanya di tempat kira-kira dua langkah jauhnya kelihatan tergeletak tubuh nya seseorang.

Cepat ia menghampiri ketika diperiksa dengan seksama prang itu ternyata adalah Oet-tie Kheng sendiri. Pada saat itu sepasang mata si jelita sudah di pejamkan dan kelihatan sudah bergerak sama sekali. Sesaat lamanya Yo Cie Cong merasa bingung sendiri. Ketika ia mengatakan pemeriksaan lebih lanjut, di tanah terlihat satu bakul kecil Berisikan piring dan mangkok nasi dengan laukpauk yang saat itu sudah jatuh berhamburan jatuh ketanah. Saat itu ia baru sadar dan mengerti kalau nona itu telah datang untuk menghantarkan hidangan kepadanya. Dengan demikian, ia merasa semakin tidak enak hatinya. ,,Bocah, tidak apa. Kau boleh melatih terus.‘‘ Demikian ia mendengar suara orang tua berkata. ,,Lotjianpwee, Boanpwee sungguh tidak menyangka dan, ……. Dan sekarang ternyata sudah kesalahan tangan ………‘‘ ,,Bocah, ini bukan salahmu. Kau tidak usah pikirkan. Dari tangnmu tadi aku sudah dapatkan kenyataan bahwa kemajuan yang kau dapatkan ternyata ada demilian pesatnya. Ini sesungguhnya ada diluar dugaanku semula. Benar-benar merupakan suatu keajaiban dalam dunia rimba persilatan.‘‘ Orang tua itu sebetulnya sudah lama mengintai perbuatannya Yo Cie Cong yang sedang melatih ilmunya itu. Ketika cucu perempuannya datang hendak menghantarkan barang makanan, orang tua itu juga sudah melihatnya dengan jelas, ia hanya tidak menduga kalau Yo Cie Cong tiba-tiba mencoba ilmunya yang baru saja dipelajari, sehingga terjadilah insiden tersebut. Orang tua itu lalu memondong tubuhnya Oet-tie Kheng yang terus dibawa masuk kedalam rumah untuk diobati. Disepanjang jalan ia masih

menggerendeng seorang diri , Hweshio gila itu matanya sungguh tajam. Pilihanya kali ini sedikitpun tidak keliru . Suara itu yang terbawa oleh angin dan masuk ditelinganya Yo Cie Cong , telah membuah anak muda itu terdiam termangu-mangu, ia tidak mengerti apa maksud ucapan orang tua itu , dalam hati diam-diam lalu berpikir : ‗Apakah Pak-hong Phoa-ngo Hweshio itu menolong diriku dan memberikan ilmunya kepadaku serta kemudian menunjukan aku datang kepulau Batu Hitam ini semuanya sudah yang merupakan suatu hal yang sudah direncanakan terlebih dahulu ? Sebab jika tidak begitu, bagaimana Pengail tua ini bisa mengucapkan perkataan demikian ? Tetapi biar bagaimana juga, kedua orang tua itu adalah merupakan orang-orang luar biasa dalam rimba persilatan . Tentunya tidak nanti mereka mempunyai maksud jahat terhadap diriku. Bagian ke Tujuh Belas s.d. Bagian Ke Dua Puluh XVII OLEH KARENA kejadian tersebut, telah membikin Yo Cie Cong tidak bisa tenteram lagi hatinya. Dia merasa tidak enak terhadap dirinya Oet-tie Kheng , sebab nona itu dengan baik hati hendak mengantarkan makanan untuknya, tidak tahunya dengan tidak di sengaja ia telah membikin dirinya terluka, entah bagaimana keadaan lukanya sekarang ? Setelah kira-kira satu jam berlalu, barulah ia mampu menindas semua perasaan tidak enak hatinya dan melanjutkan ilmunya lagi. Setelah melakukan latihannya dengan tekun, sehingga berhasil sangat memuaskan, Yo Cie Cong merasa girang dan terheran-heran. Ketika ia membuka matanya, dipermukaan air laut ternyata sudah diliputi oleh embun pagi. Ia sekarang baru tahu bahwa hari sudah menjadi pagi, pada hari kedua.

Dihadapannya kelihatan berdiri seorang tua, yaitu Pengail Linglung yang sedang mengawasi dirinya dengan mata tidak berkesip, sedangkan Oet-tie Kheng juga kelihatan berdiri disisinya sang Yaya sambil bersenyum. Yo Cie Cong dengan cepat menghampiri, lebih dulu ia memberi hormat kepada Pengail Linglung, kemudian mengawasi Oet-tie Kheng dan sambil menjuta berkata : …Tadi malam aku telah kesalahan tangan sehingga melukai nona. Aku merasa sangat menyesal dan sesungguhnya tidak enak sekali. Entah ………‘‘ Oet-tie Kheng memotong sambil bersenyum : …Tidak menjadi soal. Kau lihat sendiri. Bukankah aku sekarang berdiri dihadapanmu dalam keadaan sugar bugar ?‘‘ Pengail Linglung tertawa melihat kelakuan dua anak muda itu. Di hari-hari yang akan datang masih banyak tempo untuk kalian berdua nanti akan terbiasa terjun diantara Kham-Lopang tidak usah kau bahaskan tentang dirimu begitu merendah. Kalian boleh membahasakan sebagai Engko dan adik saja. Otie-kang merasa cengah, wajahnya merah seketiaka sambil melirik Yo Cie Cong si nona menundukan kepalanya. Entah apa yang dipirkirkan saat itu ? Wajah Yo Cie Cong masih terlihat dingin sama sekali tidak menunjukan perubahan apa-apa dengan sikap menghormat ia menjawab : …Boanpwee menurut saja .‖ …Bocah sekarang kau boleh coba letihanmu selama satu malam itu. Bagaimana hasilnya.‖ Demikian si pengail linglung bekata. Yo Cie Cong setelah menjawab ‗baik‘ lalu berjalan menuju ketempat yang jauh yang kira-kira tiga tumbak dari orang tua itu, setelah

melakukan sebentar tiba-tiba tangan keduanya terayun suatu kekuatan yang maha hebat dan di barengi oleh sambaran angin keras mendadak keluar dari tangannya itu. Gerakannya itu sungguh sangat mengejutkan si pengail linglung tetapi keajaiban tidak hanya di situ saja setelah terdengar suara hebat,batu-batu hitam yang terdapat di sekitar tempat sejauh tiga tumbak,begitu pula tanaman bambu berterbangan di udara. Pengail linglung menyaksikan sendiri sampai menjadi terkesima di buatnya ia lalu berkata dengan suara agak gemetaran : …Bocah sudah cukup ! Aku sendiri yang menyaksikan selama lima puluh tahun ternyata telah dapat kau yakini dengan waktu semalam saja, ini adalah satu keajaiban.Aku sungguh tak dapat berkata apa-apa …..‖ Yo Cie Cong seorang yang cerdik, ia mendengarkan perkataan orang tua itu, segera ia menangkap maksudnya itu maka ia menjawab dengan sikap yang sangat menghormat . …Boanpwee sudah mempunyai suhu maka tidak bisa meninggalkan suhu yang lama untuk mencari suhu yang lain. Tetepi budi Lotjianpwee yang memberikan pelajaran ini tidak aklan Boanpwee lupakan untuk selama-lamanya.jika Lotjianpwee memberikan perintah sekalipun harus terjun kedalam lautan api tidak akan Boanpwee tolak.‖ …Bocah Hweshio gila, pernah mengatakan apa kepadamu.? Pho ngo Lotjianpwee hanya memberikan sedikit pesan yaitu beberapa kata kepada Boanpwee : Tidak ada suatu perbuatan yang mengekang diriku. Dengan baju dan sepatu butut itu ia mengakhiri persoalan yang lalu. Pengail linglung kemudian menokan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Setelah merasa puas tertawa ia berkata seakan di tunjukan padanya sendiri : Baik-baik Hweshio kalau sudah terjun kedalam dunia Kang-ouw lagi, aku si pengail linglung terpaksa juga akan turun dan muncul lagi. Perkataannya itu sudah tentu tak dapat di mengerti apa maksud nya oleh Yo Cie Cong . Pengail linglung itu setelah agak tenang kembali melanjutkan ucapannya kali ini terhadap Yo Cie Cong : Bocah sekarang mari ikut Lohu pulang.Ada sedikit perkataan yang hendak aku bicarakan dengan kau. Hari ini kau boleh tingglakan pulau ini. Lohu nanti suruh Kheng-djie mendayung perahu untuk mengantarkan kau.‖ …Baik.‖ Mereka bertiga kembali masuk kedalam gubuknya, tetapi tidak lama Oet-tie Kheng keluar lagi untuk menyediakan sebuah perahu, sedangkan si Pengail Linglung sendiri lantas duduk beromong-omong dengan Yo Cie Cong. Mendadak Yo Cie Cong ingat sesuatu, maka ia lantas ajukan pertanyaan : …Lo-tjianpwee kemarin katakan bahwa Lo-tjianpwee menurunkan kepandaian ilmu silat kepada Boanpwee ialah karena soal janji pertaruhan…..‖ …Ha, ha…..Sekalipun kau tidak tanya lohu juga akan beritahukan kapadamu.‖ Yo Cie Cong mengawasi orang tua itu dengan penuh pertanyaan. Pengail Linglung itu lantas berkata dengan sikapnya yang sungguh-sungguh : …Bocah urusan ini terjadi pada lima belas tahun berselang. Apakah kau

pernah dengar namanya orang aneh didalam rimba persilatan ?‖ …Boanpwee dulu pernah aku dengar suhu berkata, katanya didalam rimba persilatan memang ada tiga orang yang sangat aneh kelakuannya. Ketiga orang aneh itu disebut sepasang manusia aneh dan seorang gaib.‖ …Hm….Sepasang manusia aneh dan seorang gaib itu siapa orangnya ? Tahukah kau ?‖ …Sepasang manusia aneh yang dimaksudkan adalah Lo-tjianpwee sendiri dengan Pho-ngo Lo-tjianpwee. Sedang yang dimaksudkan dengan sebutan orang gaib itu adalah itu pemimpin dari see-gak yang brenama Leng Djie Hong yang menyebut dirinya sebagai seorang kuat nomor satu dalam dunia.‖ …Tepat, pengetahuanmu ternyata cukup luas.‖ …Kabarnya Leng Djie Hong Lo-tjianpwee itu mempunyai kepandaian ilmu silat yang memang…..‖ …Kau dengarkan cerita lohu,‖ memotong Pengail Linglung. …Pada limabelas tahun berselang, dua manusia aneh dan satu manusia gaib telah mengadakan pertemuan dipuncak gunung Busan yang dinamakan Sun-lie-hong untuk mengadu kepandaian. Tiga hari tiga malam lamanya bertarung, lohu dan Pho-ngo, dua orang telah jatuh ditangannya……” …Aaaa !‖ Yo Cie Cong bersru kaget. …Jago see gak Leng Djie Hong itu lantas menganggap dirinya sebagai seorang kuat nomor satu didalam dunia.‖ …Dan kemudian ?‖ …Lohu berdua setelah kalah, jago see-gak pernah sesumbar katanya, wlaupun sampai dua puluh tahun lagi lohu dan Pho-ngo masih belum mampu melindungi dirinya. Maka kita lantas mengadakan perjanjian

untuk bertemu lagi diatas puncak gunung Sin-lie-hong itu.‖ …Sekarang batas waktu itu apa betul tinggal lima tahun lagi ?‖ Tanya Yo Cie Cong. …Benar setelah Lohu dan Pho-ngo turun gunung, lantas kita berpisah masing-masing mencari tempat sendiri-sendiri untuk melatih ilmunya lebih dalam. Lohu berdiam dipulau Batu Hitam ini dan si hwetio gila itu tinggal dipuncak gunung Tjeng-keng-hong.‖ …Apakah ilmu Kan-goan Cin Bie Nio ciptaan Lo-tjianpwee itu masih belum mampu menandingi kepandaiannya si jago See-gak itu ?‖ …Ilmu yang lohu latih pada sepuluh tahun berselang baru selesai kuyakinkan. Tetapi saat itu hanya kira-kira lima persen saja daripada yang kuhasilkan sekarang ini, sedangkan ilmu Hut-hiat kang yang diyakinkan ileh Hweshio gila itu, juga baru sepuluh tahun kemarin saja kelihatan hasilnya. …Lima tahun kemudian, apakah jiewie Lo-tjianpwee hendak menepati janji dengan Leng Djie Hong untuk mengadakan pertandingan lagi dipuncak gunung Sin-lie-hong ?‖ …Aa ha ….Bocah, pertaruhan atau perjanjian itu sebetulnya hanya untuk melampiaskan kemendongkolan hati kita saja saat itu. Siapa yang sudah bertanding untuk memperebutkan nama kosong. Apalagi soal ini belum diketahui oleh orang-orang dunia Kang-ouw.‖ …Tapi sekarang Lo-tjianpwee sudah memberitahukan kepada Boanpwee.‖ …Dalam hal ini sudah tentu ada sebabnya.‖ …Boanpwee sungguh ingin sangat mengetahuinya.‖ …Tiga tahun berselang. Hweshio gila itu tiba-tiba datang berkunjung kemari, katanya ia dapat surat dari See-gak Leng Dje hong yang mengabarkan karena kurang hati-hati mempelajari ilmu tubuhnya telah

rusak menyayat……. …Kalau begitu bukankah pertandingannya dengan sendirinya telah batal. …Kalau sudah batal perlu apa Hweshio gila itu mencari aku ?‖ …See-gak setelah bernyayat itu apakah masih menepati janjinya ?‖ …Ia akan menyuruh murid satu-satunya untuk melaksanakan perjanjianya tersebut.‖ …Siapa muridnya itu ?‖ …Pada dewasa ini masih belum di ketahui. Dia hanya mengatakan bahwa lima tahun kemudian muridnya itu akan menantikan di gunung Hoa-san.‖ …Apakah djiwie Lotjianpwee hendak pergi menepati janjinya itu?‖ …Lohu dan Phoa-ngo Hweshio semuanya sudah merupakan orang-orang tua yang usianya audah sembilan puluh tahun lebih. Bagagaimana kita bisa berebutan nama dan kedudukan dengan seorang dari golongan muda ? bukankah hal itu akan menjadi buah tertawaan orang-orang muda dunia persilatan ?‘‘ …Lohu dan Phoa-ngo Hweshio sama-sama tidak mempunyai murid. Tetapi kedua pihak telah berjanji hendak orang yang berbakat tinggi dan masing-masing menurunkan ilmunya sendiri-sendirinya.Dan dengan darah kura-kura yang usianya sudah ribuan tahun untuk menambah kekuatannya. Orang itu akan memakili lohu berdua untuk melaksanakan janji itu.‘‘ Yo Cie Cong setelah mendengar perkataan itu , telah mengerti sebagian , lantas ia menanya: …Apa disini maksud Lotjianpwee meberikan pelajaraan ilmu itu kepada Boanpwee ?‘‘ …Benar, bocah, dua kali kau telah menemukan kejadian gaib.Sudah

tidak perlu lagi Lohu mengorbankan darahnya kura-kura yang usianya sudah ribuan tahun untuk membantu kekuatan dirimu.Meskipun hal ini adanya mengandalkan kekuatan gaib dan apa yang telah terjadi atas dirimu, tetapi antara kita dengan jago sejak itu tidak mempunyai permusuhan apa-apa. Maksudnya adalah hendak menguji kepandaian saja.‘‘ Yo Cie Cong mendadak terbangun semangatnya.Ia merasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan kekuatannya dengan muridnya satu jago yang merupakan jago terkuat nomor satu dalam dunia. Orang tua itu lantas berkata pula: …Hweshio gila itu seumur hidupnya hanya hidup bergelandangan saja.Habiatnya juga lucu dan suka main-main. Kalau dia mau berdiam dipuncaknya gunung Tjeng-kong-hong yang sepi sunyi itu selama lima belas tahun lamanya, ini sebetulnya merupakan suatu tekanan hebat bagi jiwanya yang suka kebebasan itu.Tetapi Hweshio itu juga licik sipatnya. Dia sendiri tidak mau menjelaskan persoalannya kepadamu, sebaliknya ia malah menyuruh kau mencari aku.‘‘ Yo Cie Cong ketawa hambar,tba-tiba ia berkata dengan sungguh-sungguh : …Boanpwee merasa sangat bersyukur sudah mendapatkan hadiah berupa darahnya binatang Lotjianpwee yang usianya sudah ribuan tahun itu, yang telah menolong Boanpwee dari racun yang mengeram didiri Boanpwee. Budi ini tidak ada bedanya dengan memberi jiwa baru bagi Boanpwee. Dan sekarang kembali Lotjianpwee itu, disini Boanpwee hendak bersumpah akan menggunakan segala kepandaian yang Boanpwee dapatkan untuk membasmi semua kejahatan didalam dunia.Hanya dengan jalan ini saja Boanpwee hendak membalas jiwa Lotjianpwee. Sementara mengenai pelaksana perjanjian dengan muridnya jago See-

gak itu, disegala tempat dan sembarang waktu akan Boanpwee tunggu panggilan Lotjianpwee .‘‘ …Tetapi, bocah, kalau kau nanti menggunakan kepandaianmu untuk melakukan kejahatan didunia Kang-ouw, biar bagaimana lohu tidak akan melepaskan kau begitu saja.‘‘ …Boanpwee mengerti.‘‘ …Kalau begitu, sekarang kita boleh mengadakan suatu ketetapan. Pada waktunya, lohu akan muncul lagi didunia Kang-ouw ……….‘‘ Pada saat itu Oet-tie Kheng mendatangi dari luar gubuk, ia lantas berkata dengan suaranya yang nyaring : …Yaya, perahu sudah siap.‘‘ …Baik. Kheng-djie,antarkan dia meninggalkan pulau ini.‘‘ Yo Cie Cong lantas berbangkit, ia memberi hormat kepada orang tua itu mengambil selamat berpisah. …Lotjianpwee , Boanpwee meskipun akan berkelana didunia Kang-ouw, tetapi sembarang waktu bersedia memenuhi panggilan Lotjianpwee.‘‘ Yo Cie Cong pada saat itu agaknya merasa berat meninggalkan Pengail Linglung, sebab orang tua itu bukan saja sudah menghadiahkan darahnya binatang kura-kura mujijad sehingga dapat menyembuhkan penyakitnya, tetapi juga telah menurunkan kepandaiannya yang tinggi. Kedua muda-mudi itu setelah keluar dari dalam gubuk sebentar saja sudah sampai di pantai laut. Disana sudah menantikan sebuah perahu kecil. Setelah sudah ada diperahu, Yo Cie Cong lalu berkata kepada Oet-tie Kheng dengan suara perlahan : …Aku telah merepotkan adik Kheng yang sudah menghantarkan aku.‘‘ …Huhhh. Tidak perlu kau ucapkan kata-kata yang begitu merendah. Duduk dengan baik. Aku sekarang hendak mendayung perahu ini.‘‘

Sehabisnya berkata, dengan gerakannya yang lincah dan cekatan sekali ia mendayung perahunya yang kecil, sebentar saja perahu itu sudah nyelonong ketengah laut. Karena bentuk perahu itu kecil dan ringan, maka mereka bisa berlayar dengan laju. Caranya sinona mendayung perahunya yang agak luar biasa, membuat Yo Cie Cong yang menyaksikan menjadi terheran-heran. Setelah berada di tengah lautan yang luasitu, banyak perasaan mengganggu otaknya Yo Cie Cong . Ia teringat akan nasib Siang-koan Kiauw yang telah pergi kemudian di telan ombak sekarang dia sudah berhasil mendapatkan apa yang dicari tetapi sudah sebaliknya Siang-koan Kiauw sudah terbenam di lautan yang luas. Oet-tie Kheng yang menyaksikan sikapnya Yo Cie Cong itu dalam hati merasa agak heran, maka ia lantas menanya. …Engko Tjong kau sedang memikirkan apa ?‖ Seseorang yang lagi terbenam dalam kedukaan, jika tidak terganggu mungkin masih tetap tinggal dalam lamunannya tetapi apabila ia tertegur maka ia sadar pula. Begitu pula keadaan Yo Cie Cong setelah mendapat teguran dari Oet-tie Kheng matanya mendadak menjadi basah air mata hampir turun, setelah sekian lama membisu barulah ia menjawab dengan suara sedih. …Aku sedang memikirkan diri seseorang.‖ …Siapa ?‖ …Seseorang yang bersama-sama belajar dengan aku.‖ …Lelaki atau perempuan.‖ …Sama dengan kau.‖ Jiwa Oet-tie Kheng mendadak terlintas suatu perasaan.

…Apa dia cantik.‖ …Ya.‖ …Dimana dia sekarang berada ?‖ …Di telan oleh ombak laut.‖ …Apa.‖ …Mungkin dia sudah didasar lautan atau didalam perut ikan.‖ …Benar.‖ …Ketika datang bersama-sama tetapi pulangnya hanya sendiri .‖ …Engko Tjong maaf kan aku telah mengajukan pertanyan yang membuat kau berduka.‖ Nona itu lalu tundukan kepalanya tangannya lalu di gerakan makin cepat sehingga perahu itu berjalan semakin laju. Yo Cie Cong geleng-gelengkan kepala tak bisa menjawab sebab dalam pikirannya terbenam rasa sedih yang sangat memilukan. Dua jam kemudian, perahu kecil itu mendarat dipantai yang dituju. Yo Cie Cong lantas lompat kedarat, kemudian berpaling dan berkata kepada Oet-tie Kheng-tie Keng : …Adik Keng, sampai ketemu dilaun hari.‖ Hati Oet-tie Kheng-tie Keng saat itu merasa sangat risau. Perpisahan itu membuat perasaannya sangat berat. Dengan air mata mengembang ia berkata kepada Yo Cie Cong dengan suara tidak lampias. …Engko Tjong, harap dijaga baik-baik dirimu.‖ Banyak kata-kata yang hendak diucapkan, tetapi saat itu tidak bisa diucapkan dari mulutnya. Mereka sejak bertemu hingga sekarang perpisahan, sebetulnya hanya dalam dua hari saja, tetapi bayangan Yo Cie Cong sudah menggores dalam hatinya si nona. Ia sebetulnya ingin mengatakan perasaan hatinya itu. Tetapi bagaimana ia bisa keluarkan dari mulutnya sendiri.

Meskipun dalam hatinya sendiri ada pikiran demikian, tetapi ia tidak mampu mengatakan pikirannya itu dihadapan sinona. Sambil ulapkan tangannya ia lantas berkata …Adik Keng, silakan kau pulang. Tolonglah sampaikan pernyataan terima kasihku kepada Oet-tie Lo-tjianpwee.‖ Diwajahnya Oet-tie Kheng-djie yang merah segar itu diliputi oleh kesedihan. Dengan suara gemetaran ia menjawab : …Engko Tjong, ada satu hari aku nanti pasti akan datang mencari kau.‖ Setelah mengucapkan perkataan itu dia lantas menekap wajahnya dengan tangannya, satu tangan digunakan untuk mendayung perahu. Sebentar saja perahu itu sudah meluncur ke tengah lautan. Yo Cie Cong mengawasi perahu kecil itu yang dengan perlahan-lahan menghilang seolah-olah ditelan laut, kemudian sambil menghela napas ia berlalu meninggalkan tempat tersebut. Sejak dengan tidak disengaja ia telah dapatkan dan makan telurnya burung rajawali raksasa, mustika Gu-liong-kao yang semula mengeram dalam perutnya dalam keadaan utuh itu kini telah lumer dan menyelusup menyusuri semua jalan darah dan ototnya sehingga dengan demikian ia telah menjadi seorang kuat yang sudah mempunyai latihan dari setengah abad. Dengan kekuatan yang ada pada saat itu, Yo Cie Cong ketika mengerahkan ilmu membentengi tubuhnya, benar-benar seperti sudah terbang saja. Jika dibandingkan keadaannya pada satu bulan berselang, seperti dua orang saja layaknya. Dua hari kemudian, ia sudah tiba dikota Kui lim. Dikota tersebut ia menginap disebuah rumah penginapan.Waktu malam hari, ketika keadaan diluar sudah sunyi senyap, ia mulai membuka buku yang termuatkan nama-nama musuh Kam-lo-pang.

Sepasang matanya memancarkan cahaya yang menakutkan. Ternyata anak muda itu sedang merencanakan suatu rencana yang besar dan hebat ………. . . Kota Kui-lim yang ramai tetapi tenang tenteram itu dengan mendadak telah diliputi suasana ketakutan yang hebat. Ada apa ? Oh, Golok Maut ……… Senjata aneh bentuknya yang menakutkan hati setiap orang itu, kini telah muncul kembali dikota Kui-lim. Golok keramat yang belum lama berselang menggegerkan dunia Kang-ouw dan sudah sekian waktu tidak terdengar lagi kabar ceritanya, kini muncul kembali untuk kedelapan kalinya. Oleh karena pada setiap kali munculnya Golok Maut itu, pasti ada saja korbannya yang diminta, maka kali ini tentunya juga tidak ada kecualinya. Dua orang yang kali inimenerima ancaman Golok Maut itu, ternyata adalah pemimpin dari delapan belas perusahaan Piauw dikedua propinsi Kang-tang dan Kang-see. Jago itu bernama Tjoa Tjeng It dan bergelar ‗Lutung sakti lengan besi.‘ Kalau Golok Maut itu berani mengancam jago yang kenaman itu, sesungguhnya ada diluar dugaan semua orang. Tjoa Tjeng It yang memimpin delapan belas perusahaan Piauw besar, kepandaian ilmu silatnya sudah termasuk dalam golongan kelas wahid dalam rimba persilatan. Namanya sudah sangat terkenal dikedua propinsi yang disebut duluan, bahkan orang-orang golongan hitam dan golongan putih semuanya telah memandang padanya sebagai satu macan. Piauwsu-piauwsu yang mempunyai kepandaian tinggi yang berada dibawah pimpinannya, jumlah keseluruhannya lebih dari seratus orang.

Tapi Golok Maut itu toh masih tetap berani mengancam dirinya, ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sangat menggemparkan. Siapakah pemilik Golok Maut itu ? Sampai sekarang masih tetap merupakan suatu teka-taki besar. Oleh karena munculnya Golok Maut itu dikota Kui-lim ini, maka orang yang berkepandaian tinggi dari golongan hitam maupun dari golongan putih yang dulu sedang mengejar-ngejar Golok Maut itu, setelah mendengar kabar itu, kini kembali pada berduyun-duyun menuju kekota Kui-lim. Tjoa Tjeng it dulu juga merupakan salah seorang dari orang-orang kuat yang turut ambil bagian dalam peristiwa pembasmian Kamlo-pang. Ia tidak akan menyangka kalau pada duapuluh tahun masih ada orang yang datang menagih jiwa padanya. Mengingat setiap kali munculnya Golok Maut itu selalu ditujukan kepada orang-orang yang dulu pernah ambil bagian dalam peristiwa pembasmian Kam-lo-pang, maka manusia yang menakutkan itu, sekalipun bukannya Pangtju dari Kam-lo-pang sendiri, tetapi sedikit-dikitnya juga pasti adalah seorang yang mempunyai perhubungan erat dengan Kam-lo-pang . Tjoa Tjeng It setelah menerima ancaman Golok Maut itu, dapatlah diduga kaget dan takutnya pada waktu itu. Dengan cepatnya ia mengumpulkan lima puluh lebih orang-orangnya yang terkenal kuat untuk melindungi tempat kediamannya. Ia sudah bertekad bulat untuk melayani orang yang penuh rahasia dan menakutkan itu. Tetapi munculnya Golok Maut kali ini agak berbeda sedikit keadaanya dengan beberapa kejadian yang lalu. Golok Maut itu disampaikan oleh seorang pemuda berwajah jelek yang

mengaku dirinya sebagai ‗Utusan Golok Maut .‗ Ketika itu Tjoa Tjeng It juga sudah suruh empat orang muridnya yang kuat untuk menguntit pemuda wajah jelek itu, tetapi pemuda jelek yang mengaku sebagai utusannya Golok Maut itu kepandaiannya tinggi sekali, dengan mudah ia sudah berhasil meloloskan diri dari intaiannya empat orang itu. Dipandang dari kepandaiannya utusan itu saja, dapat dibayangkan berapa tingginya sipemilik Golok Maut itu. Dari keterangan empat muridnya Tjoa Tjeng It yang menguntit jejaknya Utusan Golok Maut itu menghilangnya utusan tersebut secara misterius merupakan suatu kepandaian yang sangat gaib. Tertarik oleh perasaan keingintahuan, orang-orang rimba persilatan sekitar kota Kui-lim berduyun-duyun datang dikediamannya Tjoa Tjeng It . Mereka kepingin bisa menyaksikan bagaimana macamnya itu ( pemilik Golok Maut ) yang sepak terjangnya seperti malaikat pencabut nyawa. Kira-kira waktu tengah hari pada hari ketiga, seorang pemuda cakap tapi bersikap adam kecut juga nampak berkunjung kegedungnya Tjoa Tjeng It . Siapakah pemuda itu ? Ia adalah Yo Cie Cong yang baru kembali dari pulau Batu Hitam di Lam-hay. Tjoa Tjeng It yang kedudukannya sebagai pemimpin 18 perusahaan Piauw, mempunyai banyak kawan dan perhubungannya sangat luas, setiap orang yang berkunjung padanya, ia harus sambut dengan baik, itu ada kebiasaannya orang yang mengusahakan perusahaan tersebut. Digedungnya Tjoa Tjeng It pada hari itu, diadakan perjamuan makan, hingga gedung itu penuh dengan orang-orang Kang-ouw dari segala macam. Yo Cie Cong juga terdapat diantara mereka.Oleh karena ia

masih merupakan pemuda yang tidak banyak orang kenal, sudah tentu tidak mendapat banyak perhatian. Ia duduk di tempat biasa. Piauwsu-piauwsu yang diundang oleh Tjoa Tjeng It , pada hari kedua sudah datang di gedung tersebut , jumlahnya kira-kira 50 orang. Piauwsu-piauwsu itu semua merupakan orang-orang pilihan yang tergolong paling kuat dari barisan piauwsu dari perusahaan piauw yang dipimpin oleh Tjoa Tjeng It. Maka setelah piauwsu itu tiba, gedung Tjoa Tjeng It telah dilindungi begitu kuat, seolah-olah dikurung oleh tembok besi atau baja. Dalam perjamuan itu, orang-orang pada ramai membicarakan sepak terjangnya ‗Golok Maut ‗ dimasa yang lalu. Perjamuan makan telah berlangsung dibawah suasana yang seram dan penuh kekuatiran. Tjoa Tjeng It usianya sudah 60 tahun lebih, orang masih gagah. Tapi semenjak menerima ancaman Golok Maut , semangatnya seperti runtuh, ia harus duduk di pertengahan ruangan dengan hati ketar-ketir. Hari itu adalah hari ketiga, juga merupakan hari terakhir. Selama tiga hari itu, ia selalu berada dalam ketakutan dan kekuatiran. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, apabila ia beruntung terlolos dari kematian, ia nanti akan bubarkan perusahaan piauwnya,dan selanjutnya akan mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw . Meski hari itu orang-orang dari dunia Kang-ouw yang datang berkumpul digedungnya Tjoa Tjeng It lebih dari 300 orang jumlahnya, tapi belum cukup untuk meredakan suasana, setiap orang diliputi oleh perasaan tegang. Yo Cie Cong yang sikapnya dingin kecut, tidak jarang matanya berkeliaran memandang keadaan sekitarnya,juga tidak jarang mengawasi

situan rumah Tjoa Tjeng It yang keadaannya sangat mengesankan. Diatas penglari diruangan tersebut, ada menancap sebilah golok yang panjangnya kira-kira satu setengah kaki, golok itu bentuknya sangat aneh, disisi bawah tajam sekali, disisi atas bentuknya seperti gigi gergaji. Itulah Golok Maut yang diantarkan oleh utusannya pada dua hari berselang. Golok yang bentuknya aneh dan memancarkan sinarnya berkilauan itu, menimbulkan rasa takut dan ngeri bagi siapa yang memandangnya. Hampir setiap orang yang mengawasi golok tersebut pada merasa gemetar, akhirnya tidak berani mengawasi lebih lama. Pada saat yang tegang itu, mendadak dari luar mendatangi seorang gadis berpakaian serba hitam. Kecantikan gadis baju hitam itu membuat tergerak hatinya semua orang yang ada disitu. Tapi diwajahnya gadis baju hitam itu nampaknya sangat kejam, sepasang matanya kelihatan beringas, hal ini sesungguhnya membuat heran orang-orang banyak itu. Entah apa maksudnya kedatangan gadis itu ? Yo Cie Cong ketika menampak kedatangannya gadis baju hitam itu juga agak terkejut. Bukankah ia itu adalah Tio Lee Tin ? Mengapa ia juga muncul disini ? Pertanyaan ini selalu berputeran didalam otaknya. Gadis baju hitam itu terus berjalan menuju keruangan dimana ada duduk tuan rumah. Kedaatangan secara mendadak dan sikapnya yang aneh dari gadis itu, telah menimbulkan perasaan curiga bagi orang banyak, apakah dia itu pemiliknya Golok Maut? ………. Tjoa Tjeng It yang pertama-tama berbangkit dengan wajah berubah,

kemudian disusul oleh para tetamu lainnya . Suasana mejadi semakin tegang. Gadis berbaju hitam itu ketika menampak keadaan demikian, terlebih dulu ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan bersenyum kepada semua orang, kemudian berdiri dihadapan tuan rumah sambil mengawasi Golok Maut yang menancap diatas penglari. Setelah itu ia baru berkata kepada Tjoa Tjeng it : …Siaoli adalah Tio Lee Tin, hari ini dengan secara lancang mengunjungi Tjoa Loatjianpwee , harap Lotjianpwee suka memberi maaf banyak-banyak !‘‘ Tjoa Tjeng It dehem-dehem sejenak, perasaan tegangnya lantas lenyap. Orang-orang Kang-ouw yang tadi pada berbangkit, lantas pada duduk lagi dengan perasaan lega, tapi mata mereka masih ditujukan kepada dirinya gadis itu. Hanya Yo Cie Cong yang menyaksikan sambil kerutkan alisnya. Hatinya diam-diam berpikir : bagaimana ia bisa datang secara mendadak ? Kalau dilihat dari sikapnya, nampaknya juga ada hubungannya dengan Golok Maut ini. XVIII TJOA TJENG IT saat itu lantas menjawab : …Nona Tio, hari ini lohu ada urusan, jika nona tidak ada urusan yang penting sekali, bolehkah datang dilain hari saja ? Harap maafkan ………‘‘ …Kedatanganku ini justru karena Golok Maut ini !‘‘ demikian berkata pula Tio Lee Tin dengan sikap sedih. Keterangan itu telah mengejutkan semua orang, tidak terkecuali Yo Cie Cong . Kedatangan Tio Lee Tin yang katanya berhubung dengan Golok Maut

ini, sesungguhnya diluar dugaannya. Peristiwa diatas tanah kuburan pada beberapa waktu berselang, kembali terbayang di otaknya Yo Cie Cong . Tio Lee Tin setelah barang pusakanya dirampas oleh siluman tengkorak Lui Bok Thong , orangnya terluka parah. Ia pernah menolong membuka totokannya nona itu, hingga jari tangannya telah merabah-rabah sekujur badannya sinona. Sepasang matanya Tio Lee Tin yang bulat jeli, perkataannya yang merdu,masih belum lenyap dari ingatannya, dan sekarang bertemu pula dalam keadaan demikian …… Tjoa Tjeng It yang dibikin terheran-heran oleh perkataannya sinona, lantas berkata : …Kedatangan nona adalah karena Golok Maut ini ?‘‘ …Benar !‘‘ …Lohu ingin mendapat keterangan nona lebih jauh !‘‘ …Ayahku Tio Ek Tjhiu telah binasa dibawah Golok Maut , maka siaoli telah bersumpah hendak menuntut balas sakit hati ini, biar bagaimana harus berusaha untuk menumpas kejahatan itu.‘‘ …Ouw !‘‘ Orang banyak ketika mendengar Tio Lee Tin itu lantas ramai membicarakannya : kiranya gadis ini karena mendengar munculnya Golok Maut , telah datang hendak menuntut sakit hati ayahnya, tapi apakah kepandaiannya mampu menandingi kepandaiannya Golok Maut …………….? Hanya Yo Cie Cong ketika mendengar itu seolah-loah disambar geledek, ia sungguh tidak nyana bahwa Tio Lee Tin itu adalah anak perempuannya Tio Ek Tjhiu . Namanya Tio Ek Tjhiu sudah di hapus dari dalam daftar musuh-

musuhnya Kam-lo-pang , ini menjadi suatu bukti bahwa ayahnya gadis ini sudah binasa dibawah Golok Maut . …Kalau begitu silahkan nona duduk. Ketika lohu mendengar nona ayah, juga merasa sangat gemas, siapa nyana iblis tua kini telah mengunjungi Lohu !‘‘ Demikian berkata pula Tjoa Tjeng It . …Tjoa Loatjianpwee pikir bagaimana ?‘‘ …Melayani padanya sekuat tenaga !‘‘ …Siaoli hari ini menyediakan tenaga, dan bersumpah hendak mengadu jiwa dengan iblis itu. Sekalipun harus korbankan jiwa juga tidak apa, demi arwah ayah dialam baqa merasa gembira. Sehabis berkata ia lantas duduk dekat Tjoa Tjeng It . Tapi baru saja berduduk, matanya yang mengawasi orang banyak lantas dan melihat Yo Cie Cong duduk di suatu sudut. Nampaknya ia sangat terkejut, tapi ia mendadak , menjadi gusar. Ia bangkit dari tempat duduknya. …Nona ada urusan apa ? tanya Tjoa Tjeng it heran. Tidak apa-apa, hanya urusan sahabat lama, aku akan pergi sebentar jawabnya Tio Lie tin juga dapat dilihat dan sekarang sedang berjalan menghampiri dengan hati berdebar ia mendatangi si nona. Ketika di hadapan Yo Cie Cong Tio Lio Tin lantas merandak setelah mengawasi sejenak ia baru pendengarkan suaranya kemudian berkata agak kaku. …Yo Cie Cong, aku ingin bicara sedikit dengan kau !‖ …Nona ingin bicara apa ? silahkan jawab Yo Cie Cong dengan dingin. Saat semua mata telah di tunjukan kepda muda mudi itu entah pembicaraan apa yamh hedak dilakukan oleh mereka ? …Mari kita bicara di luar !berkata pula Tio Lee Tin.

…Disini bukan sama saja ?. …Tidak!‖ …baiklah !‖ …Yo Cie Cong lalu megikuti Tio Lee Tin, tidak lama mereka tiba disebuah rimba di luar kota. …Nona ada keperluan apa ?‖ YO CIE CONG membuka suaranya. …Yo Cie Cong aku ingin bertanya sebagai seorang rimba utama di persilatan apakah kau yang paling pertama.? …Kepercayaan dan ke bajikan !‖ …Kalau begitu kenapa kau meninggalkan aku sendiri ketika terluka parah ?‖ …Hari itu aku….‖ …Kalau begitu nona baju merah Siang-koan Kiauw yang telah tunjukan tepat pada waktunya, barang kali aku sudah di perhina oleh kawanan orang-orang rendah….‖ …Yo Cie Cong sekarang mengerti apa sebabnya Tio Lee Tin begitu gusar padanya …Tapi begitu ia menyebut namanya Siang-koan Kiauw hatinya lantas merasa perih bayangan si nona berbaju merah terlintas dalam otaknya yang tidak mudah terhapus di otaknya dan sinona itu meninggalkan untuk selama-lamanya. Untuk sesaat lamanya ia terbenam dalam lamunan yang menyedihkan. Tio Lee tin tiba-tiba alisnya berdiri ia berkata dengan suara bengis. …Yo Cie Cong sekarang kau harus berikan aku satu keadilan !‖ …Keadilan ?‖ Yo Cie Cong balas menanya… ucapan nona ini agaknya…..‖ …Hari itu aku tidak bisa menepati janji nona sebetulnya dalam keadan terpaksa !‖

…Coba kau terangkan !‖ Hari itu setelah meninggalkan nona, sebetulnya hari itu ingin lekas kembali dengan mermbawa kereta tiba-tiba ditengah jalan aku bertemu dengan musuhku, malah hampir saja jiwaku melayang !‖ …Benar‘‘ …Hari itu sebetulnya terlalu, gegabah aku tidak ingat bahwa diriku sedang di incar musuh hingga hampir mencelakakan nona!‘ Mendengar ini Tio Lee Tin nampak sudah reda kegusarannya. Ia sebetulnya mulai suka terhadap pemuda dingin ini apalagi setelah menyaksikan keberanian Yo Cie Cong yang membela dirinya yang tidak memikirkan resikonya bertambah dengan rasa simpati ketika dirinya terluka parah Yo Cie Cong telah merambah hampir seluruh badannya utuk membebaskan dari totokan Lui Bok Thong Bok Thong. Tubuh gadis yang masih putih bersih telah dirambah oleh tangan seorang leki-laki Yang baru saja di kenalnya meski hanya untuk menyembuhkan lukanya tapi biar bagai mana itu merupakan satu kejadian yang tidak biasa maka ia lantas merasa bahwa si pemuda itu calon pendamping hidupnya sudah tidak ada jalan lain lagi. Oleh karena itu ia mengakmbil keputusan demikian, maka ketika akhirnya Yo Cie Cong tidak balik lagi. Dalam anggapanya lantas mengira kalau pemuda itu menipu dirinya dan kegusarannya telah bertambah ketika tadi dapat lihat dirinya Yo Cie Cong juga berada diantara orang banyak itu. Sebetulnya hendak mengutarakan isi hatinya, tapi bagaimana ia dapat membuka mulut ? Ia pernah memberitahukan hal itu kepada suhunya, itu orang misterius yang selalau mengenakan kedok kain merah dan yang

mengaku dirinya sebagai pemilik bendera burung laut. Suhunya pernah berjanji padanya, apabila Yo Cie Cong ada seorang laki-laki yang tidak berbudi, ia juga nanti akan membereskan orang muda itu. …Kalau nona sudah tidak ada lagi keperluan, aku permisi berlalu !‖ akhirnya Yo Cie Cong berkata setelah mereka lama membisu. Tio Lee Tin wajahnya berubah, ia merasa bahwa pemuda ini ternyata telah menyia-nyiakan harapannya. Meski ia merasa cinta terhadap pemuda itu, tapi Yo Cie Cong sikapnya begitu dingin maka ucapannya yang dingin tadi ia rasakan seolah-olah pisau tajam menusuk ulu hatinya. …Kau hendak pergi ?‖ ia bertanya. Yo Cie Cong merasa heran atasa pertanyaan ini, hatinya berfikir : apakah kau akan terus berada disini ? Namun demikian, diwajahnya tidak menunjukan perubahan apa-apa, dengan tenang ia menjawab : …Yah, aku hendak pergi !‖ Sehabis berkata, ia lantas balikan badannya. Tapi baru saja bergerak……. …Kau balik !‖ demikian Tio Lee Tin minta ia kembali. Yo Cie Cong dengan perasaan heran hentikan kakinya dan lantas balik kembali. …Nona masih ada keperluan apa ?‖ ia menanya. …Kau ….kau …‖ Parasnya Tio Lee Tin saat itu menunjukan peraasaan yang tidak karuan, karena hatinya, hatinya risau, mulutnya tidak mengatkan apa-apa. Ia hendak menyatakan isi hatinya. Tapi tidak mempunyai keberanian. Sebaliknya ia juga tidak ingin pemuda yang sudah mencuri hatinya itu terlalu begitu saja. Maka untuk sesaat lamanya ia terus berdiri

terpaku, tidak bisa berbuat apa-apa. Kesannya Yo Cie Cong terhadap Tio Lee Tin yang bukan saja cantik manis tapi juga mempunyai kepandaian sangat tinggi, sebetulnya juga tidak buruk. Tertapi hari ini, setelah mengetahui asal-usulnya diri sinona itu, kesnnya lantas berubah. Apalagi hatinya saat itu sudah seperti terbang mengikuti sirinya Siang-koan Kiauw yang sudah binasa didalam lautan. Kalau saat itu ia masih terusa mau hidup, itu disebabkan semata-mata karena tugas dan kewajiban yang dibebenkan oleh suhunya masih belum selesai, sehingga perasaan hatinya seolah-olah sudah padam terhadap semua wanita. Setelah berdiam sekian lamanya, akhirnya Tio Lee Tin membicarakan soal lainnya. …Adik Siang-koan kiauw pernah mengatakan ia kenal dengan kau.‖ …Benar.‖ …Apa kau sudah bertemu padanya ?‖ Yo Cie Cong hanya mengangguk. …Dan sekarang, kemana perginya dia ?‖ Pertanyaan itu telah menimbulkan kedukaanya Yo Cie Cong, maka ia lantas menjawab sambil ketawa getir : …Dia sudah meninggal dunia.‖ …Apa sudah binasa ?‖ …Ya.‖ …Bagaimana cara ia meninggal ?‖ …Dapat kecelakaan ditengah lautan. Dia telah terlekan ombak laut.‖ Jawab Yo Cie Cong dengan nada suara sedih. Dari sikap dan pembicaraanya Yo Cie Cong yang tampaknya sangat berduka, Tio Lee Tin dapat menduga bahwa pemuda yang sikapnya

kecut dingin ini tentunnya mempunyai hubungan yang tidak biasa lagi dengang Sian-koan Kiauw. Tio Lee Tin merasa sangat berduka atas kematiannya Siang-koan kiauw, sebab nona baju merah itu pernah menolong dirinya ketika ia dfalam keadaan berbahaya sehingga senagai gadis ia tetap tak terganggu. Tetapi dilain pihak, suatu pikiran yang boleh dikatakan pikiran seorang yang rendah, telah menggirangkan hatinya sebab dengan kematian nona baju merah itu ia lantas mendapatkan pemuda idamannya dan juga kehilangan satu saingan yang berat. Dengan demikian, sebetulnya sangat bertentangan dengan Liang siang sendiri disini dapat dilihat bahwa soal asmara sebetulnya terlalu egostis mementingkan satu keuntungan diri sendiri saja. Tio Lee Tin setelah berpikirlama, tiba-tiba mengambil suatu keputusan ia mengetahui bahwa kesempatan sebaiknya tudak dilepaskan begitu saja maka dengan tidak menghiraukan kedudukannya sebagai seorang gadis suci lantas berkata dengan tidak malu-malu lagi : …Kau rupanya jemu pada ku ― Yo Cie Cong ia segera mengerti perkataan apa yang di maksud dengan pertanyaan si nona maka ia lantas menjawab dengan suara yang dingin : Dalam kehidupan manusia, betemu ataupun berpisah seperti juga awan yang menggumpal sebentar akan buyar. Diantara kita tak ada apa-apa yang dapat dikatakan jemu.‖ Jawaban Yo Cie Cong membuat hati Tio Lee Tin semakin murung karena dengan tegas sudah menggambarkan bagaimana perasan hati Yo Cie Cong . Tio Lee Tin merasa terluka hatinya wajahnya mengakat keatas

memandang kelangit perasannya dirasakan kosong melompong. Tiba-tiba ia teringat maksud kedatangannya kekota Kuil-Lim hendak menjumpai pemilik Golok Maut dan maksud tujuannya ialah hendak menuntut balas dendam atas kematian ayahnya. Jika pemilik Golok Maut muncul pada saat itu, bukankah itu berarti telah kehilangan kesempatan baiknya ? maka setelah memandang Yo Cie Cong dengan perasaan gemas ia berkata : …Diantara kita, biar bagaimana kain hari kita bikin perhitungan.‘‘ Sehabis mengucapkan perkataannya itu dengan cepat Tio Lee Tin lantas berlalu. Yo Cie Cong mengawasi berlalunya sinona sambil geleng-gelengkan kepalanya lalu ia berkata pada dirinya sendiri : ―ya antara, kau dan aku harus membuat perhitungan sekali lagi. Tetapi perhitungan yang dimaksud Yo Cie Cong dan yang di maksud oleh Tio Lee Tin sangat berlainan sifatnya. Selanjutnya ia sendiri kembali kegedung Tjoa Tjeng It. Sekarang kita kembali lagi kepada, Tio Lee Tin oleh karena mengigat kematian ayahnya yang sangat mengenaskan dengan ilmu larinya yang luar biasa sebentar saja oia sudah sampai di gedung Tjoa Tjeng It. Pikiran untuk menuntut balas untuk ayahnya, untuk sementara itu telah membuat tawar hatinya terhadap Yo Cie Cong . Ketika ia sedang lari, di tengah jalan ia melihat sosok bayangan hitam yang ddengan pesat lewat di sampingnya dan kemudian ia hilang di pandangannya. Sebagai seorang yang mempunyai ilmu lari yang sangat tinggi ilmunya Tio Lee Tin masisangat heran dengan kegesitannya orang itu dapoat di bayangkan betapa tinggi kepandainnya. Si nona kagum sejak keluar dari perguruannya belum pernah ia menjumpai orang yang mempunyai ilmu

kepandaian lari yang sekarang dilihatnya. …Apakah bayangan itu sipemilik Golok Maut pertanyaan itu timbul dalam hatinya pada saat itu, oleh karena berpikir demikian larinya di percepat pula. Tatkala ia sampai di gedung Tjoa Tjeng It ketegangan meliputi setiap oaring di tempat. Gedung itu meskipun terang benderang tetapi dirasakan begitu menyeramkan. Golok maut yang tertancap diatas tiang karena tersorot oleh sinar lillin, kelihatan tambah berkilau. Tjoa Tjeng it dengan tidak berhenti-hentinya terus mengawasi limapuluh lebih pioauwsunya yang melindungi di sekitarnya dan semua orang-orang Kang ouw datang membantu melindungi tuan rumahnya. Meski di luarnya dia seolah-olah hendak mengadu jiwa dengan si pemilik Golok Maut tetapi di dalam hatinya merasa ketakutan. Suatu perasaan buruk telah menekan perasaannya. Sebab menurut kabaryang di siarkan orang banyak kepandain yang di miliki Golok Maut susah di ukur sampai di mana tingginya. Meskipun didalamnya penuh dengan orang-orang yang gagah berilmu cukup tinggi dari berbagai golongan tetapi ia sendiri merasa orang terkecil seorang diri, dalam hatinya selalu berpikir : ―mungkin aku takan lolos dari nasib yang mengenaskan yang akan menimpa diriku……..‖ Malaikat maut seperti membayangi dirinya yang membuat tidak enak makan dan enak duduk penderitaan batin yang sangat hebat yang dialami sekarang sebetulnya lebih celaka dari pada mati. Orang-orang dari persilatan itu turut datang berkumpul ia pun merasa cemas sekali, ketegangan membuat orang susah bernapas. Dari jauh telah terdengar kentongan lonceng berbunyi dua kali suatu

tanda hari sudah pukul dua tengah malam. Sebantar lagi sudah sampai pukul tiga tetapi pemilik golok maut belum tampak jua dirinya. Didalam ruangan dan di luar pekarangan semuanya kelihatan sunyi sepi. Ratusan mata yang tidak henti-hetinya mengincar dan mencari bagai sinar bintang yang berkelik-kelik tidak terlihat apa-apa saat di situ. Pada saat-saat menegangkan terdengar suara tawa yang seram sekali….. Suara tawa itu seolah –olah sebilah pedang yang tajam yang menikam ulu hati dan menusuk telinga setiap pendengarnya. Suara tawa itu telah memecahkan kesunyian malam itu. Setiap wajah orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang-orang rimba persilatan tiba-tiba berubah pucat, hati mereka berdebar-debar napas mereka seolah-olah berhenti. Terutama Tjoa Tjeng it sendiri, saat itu pucat keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya sedangkan kelima puluh orang piauwsu telah menyiapkan senjata mereka masing-masing untuk menantikan pemilik Golok maut. Suara tawa yang dingin itu sebentar terputus . tetapi makin lama kedengarannya semakin dekat saja. Suasana tegang makin memuncak. Keseraman meliputi seluruh gedung. …Tjoa Tjeng it orang yang hendak menagih hutang kini telah dating ! demikian tiba-tiba terdengar suara seperti orang bicara yang tidak kelihatan orangnya. Suara itu tidak keras tapi nyaring menusuk telinga sehingga membuat semua orang yang mendengar berdiri bulu kuduknya. Selanjutnya disusul oleh munculnya seorang orang tua berambut putih

dengan tangan yang Cuma sebelah, seolah-oalh malikat yang turun dari langit orang tua aneh itu tiba-tiba sudah ada di atas wuwungan rumah, sedangkan Golok Maut yang menancap kini sudah berada di tangannya. …Kau….kau..kau..adalah …‖ berkata Tjoa Tjong it dengan suara gemetar. Semua orang-orang Kang ouw yang berada di tempat melongo seperti patung. Lima puluh orang piauwsu yang diundang oleh Tjoa Tjeng it saat itu tidak tahu harus berbuat apa dengan mata melotot mengawasi orang aneh yang menyeramkan itu. …Iblis,aku akan mengabisi nyawamu ―saat itu sang nona tak tinggal diam begitu saja.‖ Demikian terdengar teriakan nyaring kemudian di susul dengan melesatnya satu bayangan yang kecil langsing. Tapi sebelum Nona itu bertindak, di dalam ruangan terdengar suara jeritan ngeri kemudian satu bayangan melesat berkelebat dari ruangan. Bayangan kecil langsing lantas menyusul keluar. Lima puluh piawsu tersadar dari kagetnya di hadapan mereka sudah tak terlihat bayangan si pemilik Golok Maut diantara suara bentakan riuh merreka lantas keluar loncat untuk mengejar. Ketika orang-orang berkerumun masuk kedalam ruangan.Tjoa Tjeng it sudah tergeletak di tanah dalam keadaan mengerikan. Orang she Tjoa itu sudah binasa dalam keadaan kutung kedua lengan tangannya dan depan dadanya terdapat satu lobang besar yang saast itu masih menyemburkan darah segar kematianya itu sungguh sangat mengenaskan. Pemimpin delapan belas piaw itu ternyata tidak bisa meloloskan diri

dari tangan pemilik Golok Maut. Ia merupakan orang ke delapan yang binasa oleh golok Maut. Bagaimana sebetulnya Golok Maut itu mengambil jiwa korbannya ? meski terdapet begitu banyak, orang-orang Kang ouw yang sudah banyak pengalaman tapi herannya tak seorang pun dapat terlihat. Ini sungguh sangat mengherankan tapi merupakan kenyataan suatu bukti yang kuat maka keanehan tetap tinggal keanehan. Orang yang mengeluarkan terikan dan kemudian kelihatan bayangannya yang kecil langsing mengejar bayangan si pemilik Golok Maut adalah Tio Lee Tin karena ia agak terlambat sedetik, pemilik Golok Maut sudah berhasil mengambil jiwa korbanya. Tio Lee Tin dengan mata berlinang-linang dan hati panas telah mengejar pemilik Golok Maut sampai jauh. Ia adalah murid pemilik bendera burung laut, si orang berkedok berkain merah kepandaiannya ilmu silat didalam kalangan Kang Ouw sudah merupakan orang yag terkuat. Tetapi meski demikian nampaknya tidak berhasil menyandang pemilik Golok Maut. Sebentar saja, kedua bayangan itu sudah menghilang ke luar kota. Bayangan yang ada di depan terdengar suaranya yang dingin, larinya pun makin cepat hingga kedua bayangan itu terpisah semakin jauh. Tio Lee Tin terdengar seantero kepandaiannya, tapi masih tak berhasil membuat jarak pendek dengan bayangan pemilik Golok Maut bahkan makin lama terpisah makin jauh, sekejap saja sudah terpisah kira-kira lima puluh tumbak lebih. Setan iblis kalau kau adalah laki-laki berhenti dulu saambutlah serangan aku ! ―Nona itu berkata dalam dongkolanya ia Cuma bisa berseru dengan suara keras. Tapi bayangan itu seolah-olah tak dengar Tio Lee Tin sekejap saja

sudah menghilang kedalam rimba. Tio Lee Tin terpaksa mengejar terus. Rimba itu tak lama berselang pernah di gunakan sebagai tempat pertemuan dengan Yo Cie Cong . Tiba-tiba di suatu tempat dapat melihat berdirinya satu bayangan orang. …Iblis ! Serahkan jiwamu,‘‘ demikian Tio Lee Tin berseru dan dengan pedang terhunus ia menerjang kearah bayangan itu. Bayangan orang itu kelihatan berkelit kesamping dan kemudian membalas dengan serangan tangan kosong. ‗Bluk !‘ demikianlah terdengar suatu suara yang nyaring dan Tio Lee Tin beserta pedangnya telah dibikin terpental oleh serangan yang dilancarkan oleh bayangan orang tadi. Tatkala ia lompat bangun lagi dan selagi hendak menyerang orang tersebut, ia lantas menjadi melongo. …Ei. Kau ?‘‘ …Benar, Itu adalah aku. Mengapa nona menyerang aku ?‘‘ …Kenapa kau belum berlalu dari sini ?‖ …Ngng‖ Orang itu adalah Yo Cie Cong . Bertepatan pada saat itu, terlihat satu bayangan yang dengan cara mengendap-ngendap masuk kedalam rimba tanpa mengeluarkan suara. Tio Lee Tin masih ingant betul kekuatan Yo Cie Cong masih jauh dibawah kekuatannya sendiri. Tetepi mengapa tadi ketika turun tangan ia menyerang dirinya, ada yang mempunyai kekuatan hebat ?diam-diam ia merasa bingung sendiri. Ia masih belum mengetahui Yo Cie Cong tadi menggunakan beberapa banyak kekuatan dalam serangannya tetapi ia dapat memastikan

muangkin ia tidak mampu menangkis serangan tersebut. Untuk sesaat lamanya pikirannya menjadi kalut sendiri. Apakah ia dulu hanya pura-pura saja, tidak mau menunjukan kekuatan aslinya ? tetapi perlu apa ia menyembunyikan kekuatannya sendiri ? dengan kekuatan seperti yang sudah di keluarkan tadi, ketika lukaku parah dengan mudah ia dapat menyembuhkan lukaku dengan kekuatan tenaga dalamnya. Tetapi menmgapa ia hanya mengurut jalan darah ku saja dan mengaku tak mempuyai kekuatan untuk menyembuhkan lukaku saja. Mengapa ? pertanyaan-pertanyaan itu terus berdatangan di otakku. ―si Nona itu berkata dalam hatinya.‖ Sebentar kemudian ia lantas mendekati Yo Cie Cong. Barusan aku sudah menduga kau sebagai iblis jahat itu, kau lantas turun angan menyerangmu. Untung kekuatanmu sangat hebat. Jika tidak bukan kah membuat aku menyesal untuk selama-lamanya ?‖ demikian Tio Lee Tin berkata. …Nona tadi aku kira aku ini siapa ?‖ …Pemilik Golok Maut.‖ …YO CIE CONG terperanjat, ia coba menegasi : …pemilik Golok Maut ?‖ …Benar apakah kau barusan melihat ada orang lain masuk kedalam rimba ini ?‖ …Tidak‖ Ini sengguh heran. Aku tadi sendiri melihat sendiri iblis itu masuk kedalam rimba ini. Apakah …. …Mengapa nona hendak mengejarnya ?‖ …… …Iblis jahat itu mempunyai permusuhan yang sangat dalam dengan aku maka aku takan melepaskan begitu saja.‖ …Permusuhan apa sebetulnya ?‖

…Ayahku Tio Ek Tjhiu telah binasa ditangannya.‖ …Oooo, tapi mungkin nona masih bukan tandinganmu.‖ …Bagaimana kau tahu kalau aku bukan tandingannya ?‖ …Menurut berita yang tersiar dikalangan Kang Ouw kepandaian pemilik Golok Maut itu sangat tinggi dan sukar di jajaki .‖ …Hmm ! kalau benda pusaka ku tak dirampas oleh siluman tengkorak, sekalipun sepuluh pemilik Golok Maut juga pasti akukan binasakan.‖ Yo Cie Cong hatinya tergerak ia tidak benda pusaka apa yang di ucapkan oleh Tio Lee Tin yang katanya ada begitu hebat. Benda itu telah menarik perhatianaya si luman tengkorak yang telah merampas dari tangan si nona, maka dapat di bayangkan betapa pentingnya benda itu dan merupakan suatu benda pusaka yang tak ternilai harganya.

XIX. Hari itu ketika Si luan tengkorak Lui bok Thong merampas benda pusaka dari tangan si Nona Yo Cie Cong juga menyaksikan sendiri. Tetapi sesudah kejadian tersebut kala itu ia masih belum berani menanyakan kepada Tio Lee Tin tentang benda menarik perhatiannya itu. Dan sekarang setelah si Nona menyebutkannya lagi benda yang dirampasnya itu perasaan ingin tahu telah timbul dalam dirinya maka ia lalu menanya : …Benda apakah yang Nona maksudkan dan banggakan itu ?‖ …Aku beritahukan padamu juga taka pa, ―jawab Si Nona. …Benda itu namanya Ouw-bok pok-lok.‖ Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong mendengar sebutan Ouw-bok pok-lok. Hampir saja mulutnya berseru tanpa di sadari. Sebab benda yang di sebut oleh Tio Lee Tin adalah barang peninggalan

suhunya yang telah hilang juga merupakan peristiwa berdarah Kam-lo pang pada dua puluh tahun berselang.

Jilid 6-8 : Rasa haru orang berkedok kain merah

PADA pesan terakhir dari suhunya, ia pernah menyuruh Yo Cie Cong mencari kembali barang yang merupakan benda pusaka tersebut yang kini hanya ada sepotong saja pada dirinya. Maksudnya ialah supaya bisa di gunakan untuk menuntut balas kepada musuh- musuhnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka bahwa hari ini secara kebetulan sekali ia telah dapat mengetahui dimana adanya barang yang terhilang itu. Ia kini sudah dapat alamatnya, kepada siapa harus ia meminta, potongan ouw bok Po lok lainnya, ialah pada Lui Bok Thong, seorang iblis yang merupakan musuh besar dari suhunya.

Tetapi kemudian ia berpikir pula, ouw- bok po lok itu meskipun betul merupakan satu benda yang amat mujijad, tetapi jika tidak mendapatkan keterangannya, orang lain juga tidak akan mampu menggunakan inti sarinya yang termuat dalam potongan kayu itu. Yo Cie Cong terbenam dalam lamunannya. Ia hampir lupa bahwa disisinya masih ada Tio Lee Tin. “Eh. Kau kenapa tidak bersuara?” Tio Lee Tin menegur, bersenyum manis. “Aku… oh Aku sedang berpikir…” jawab Yo Cie Cong dengan agak gelagapan- “Berpikir mengenai soal apa ?” “Ouw bok po lok itu merupakan suatu benda sangat berharga, mengapa nona bawa-bawa dibadanmu?” “Sebab disitu ada kuncinya pelajaran ilmu silat yang dalam dan tinggi

sekali. Ayah almarhum telah menggunakan waktu hampir dua puluh tahun lamanya untuk mempelajarinya, tetapi masih juga belum berhasil memecahkan isinya, maka aku pikir, hendak minta suhuku untuk memberi pelajaran dari situ. Barangkali….”

“Suhumu ada seorang berkepandaian tinggi luar biasa, mungkin beliau dapat memahami makna isinya.” “Tapi sekarang benda itu sudah terjatuh dalam tangannya si siluman tengkorak.” “Apa suhumu sudah tahu soal itu ?” “Sudah, Malah beliau sudah mengirim dua belas orang utusannya untuk mencari siluman tengkorak itu ” Yo Cie Cong terperanjat. Dalam hatinya diam-diam berpikir: “Aku harus berdaya untuk mencari siluman tengkorak itu lebih dulu. Dan harus bisa mengambil kembali benda pusaka itu sebelum didahului oleh orang-orang pemilik bendera burung laut. saat itu meskipun dalam hatinya merasa tergoncang hebat, tetapi diluarnya masih tetap dingin kecut. sedikitpun tidak terlihat perubahan apa-apa. Jikalau Tio Lee Tin mengetahui siapa orangnya yang sedang berbicara dengannya pada saat ini, barangkali sudah akan diajak bertempur mati-matian. “Nona Tio, aku hendak pergi.” “Kau mau pergi?” “Ya.” “Hmmm …. Tidak begitu gampang.” “Apa maksud nona ?” tanya Yo Cie Cong dengan heran- “Yo Cie Cong, apa benar-benar kau tidak mengerti ?”

“Aku tidak mengerti.” “Antara kita toch masih harus mengadakan perhitungan, bukan?”

Diwajahnya Yo Cie Cong yang dingin terlintas perasaan sangsi, ia menanya dengan heran : “Diantara kita masih ada ganjalan apa lagi ?” “Kalau kau masih berani berkukuh, aku akan membunuh kau terlebih dulu.” Tio Lee Tin kelihatannya sudah gusar benar-benar. Tangannya meraba gagang pedangnya, kelihatannya jika Yo Cie Cong tidak mau menjelaskan sebab-sebabnya waktu itu Yo Cio Cong meninggaikannya begitu saja, ia benar-benar akan segera turun tangan.

Jika hal itu terjadi pada sebulan berselang, sudah tentu Yo Cie Cong tidak mampu menandingi sinona. Tetapi keadaan Yo Cie Cong sekarang sudah berlainan sekali. Dua kali keajaiban yang menimpa dirinya telah membikin ia menjadi seorang yang sangat kuat sekali. Apalagi ia sudah mendapat warisan pelajaran dan dua orang aneh luar biasa, yaitu si hweshio gila dan Pengail ling-lung. Jika Tio Lee Tin turun tangan benar-benar, pasti ia yang akan menderita kerugian.

Yo Cie Cong ketika mendengar perkataan sinona, hatinya juga merasa mendongkol maka ia lantai menjawab sambil ketawa dingin : “Tio Lee Tin coba kau sebutkan.Jika terbukti aku bersalah, aku Yo Cie Cong tidak nantinya akan pungkiri kesalahanku sendiri, juga tidak perlu kau yang turun tangan terhadapku. Aku bisa habiskan jiwaku sendiri dihadapanmu. Tetapi ingat, jikalau kau cuma mentiari-cari alasan melulu atau mencari setori, hmmm ”

“Bagaimana ?” “Kau hendak membunuh aku barangkali tidak mungkin.” “Baik. sekarang aku tanya kau. Dengan kekuatan yang kau unjukkan tadi ketika kau menyerang aku, ternyata kekuatan tenaga dalammu sudah cukup matang. Rasanya hal ini toch kau tidak bisa pungkiri bukan ?” “Sedikit kepandaian yang tidak berarti masih belum boleh dikatakan matang.” “Jika dengan kekuatan tenaga dalammu itu dipakai untuk menyembuhkan luka orang, bukankah sudah lebih dari cukup?” “Rasanya memang cukup,” “Kalau begitu, hari itu ketika aku terluka parah karena terkena serangannya si siluman tengkorak. mengapa kau tidak mau menggunakan kekuatan tenaga dalammu untuk menyembuhkan lukaku, sebaliknya mengurut jalan darahku sehingga tanganmu meraba-raba sekujur badanku?”

Yo Cie Cong sekarang baru mengerti apa sebabnya nona itu gusar. Dikala itu, memang ia sendiri tidak mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan lukanya sinona. Kalau dia akhirnya mendapatkan kepandaian dari kekuatan yang maha hebat itu, juga hanya terjadi pada hari-hari belakangan ini saja. Tetapi ia masa bisa membantah ? “Benar Apakah aku berbuat begitu itu ada salahnya?” “Kau mengandung maksud tidak baik terhadapku ”

Yo Cie Cong hampir saja meledak dadanya, ia yang dengan sejujur hatinya menolong jiwa orang, sekarang sebaliknya telah didakwa mengandung maksud jahat, maka saat itu ia lantas berkata dengan suara mengatakan ketidaksenangan hatinya. “Tio Lee Tin, kau

mengerti aturan atau tidak?” “Mengapa kau kata aku yang tidak mengerti aturan ? Kau sendiri yang tidak tahu diri ” “Apakah aku menolong kau itu ada salahnya ? Coba katakan ” “Kau tidak mengambil jalan yang dekat, malah sengaja menempuh jalan jauh. itu sudah merupakan suatu bukti bahwa kau ada mengandung maksud tidak baik.” “Ha, ha, ha… Tio Lee Tin. Kalau aku Yo Cie Cong ada seorang yang semacam apa yang kau maksudkan, ketika kau dalam keadaan pingsan tidak ingat diri, segala apa aku toch bisa lakukan terhadapmu. Bukankah begitu? Coba saja kau pikir.”

Tio Lee Tin lantas bungkam. Kalau tadi ia terus mendesak Yo Cie Cong, maksudnya ialah supaya Yo Cie Cong mengerti kehendaknya, sebab seluruh badannya sudah di-raba2 oleh Yo Cie Cong, maka ia sudah bermaksud hendak menyerahkan jiwa raganya pada anak muda tersebut. Tetapi, dengan berbuat demikian, justru ia telah mendapatkan sebaliknya .Jangan kata Yo Cie Cong saat itu hatinya sudah terbawa pergi oleh Siangkoan Kauw, sekalipun tidak begitu juga tidak nantinya ia bisa menyintakan orang secara demikian.

Meskipun Tio Lee Tin mempunyai kecantikan seperti bidadari, tetapi masih juga tak mampu menggerakkan hati Yo Cie Cong. Sebab Yo Cie Cong sudah mengetahui siapa adanya nona itu, maka ia juga tidak dapat mencintainya. Kedua orang itu dengan pikiran sendiri-sendiri pada berdiri menjublek berhadapan dalam rimba yang gelap itu.

Tio Lee Tin hatinya seperti diiris-iris rasanya. Ia tidak menduga kalau pemuda itu sedikit pun tidak mempunyai perasaan terhadapnya. Barang apa saja didunia ini. ..Cinta adalah yang paling makan hati. semakin susah orang mendapatkannya, semakin bernapsu ia hendak mendapatkannya. seolah-olah barang yang tidak mudah didapat itu adalah barang paling indah, paling berharga, yang sukar dimiliki.

Itulah sifat manusia, begitu pula keadaannya Tio Lee Tin pada saat itu. Buat orang lemah, kalau ia bisa merusak dirinya sendiri. Tapi buat orang yang berhati keras, berkemauan keras, jika tidak dapatkan barang yang diingini, ia juga tidak suka barang itu didapatkan oleh orang lain, ia bisa merusak barang tersebut. Tio Lee Tin ada seorang yang mempunyai sifat seperti orang yang tersebut belakangan. “Nona Tio, aku hendak memberi sedikit nasehat padamu, aku harap kau dalam segala hal harus pikir dulu masak-masak. Aku berani bersumpah bahwa aku ada berhati jujur terhadap diri nona, sedikitpun tidak mempunyai pikiran jahat seperti apa yang nona kira.” berkata Yo Cie Cong.

Sebetulnya hal ini Tio Lee Tin juga sudah tahu, cuma karena ia terlalu dalam cintanya kepada Yo Cie Cong, maka ia terus menerus mendesak anak muda itu. Tapi siapa sangka pemuda itu seolah-olah mengabaikan cintanya. “Yo Cie Cong, aku tidak menanyakan padamu bagaimana maksud hatimu, aku cuma tanya kau bagaimana hendak kau bereskan perhitungan antara kita berdua.” “Diantara kita tak ada apa-apa yang perlu harus diperhitungkan. Kau

mau apa ?” “Apa kau kira aku boleh kau permainkan sembarangan?”.

Perkataan yang melantur itu, membuat Yo Cie Cong tidak bisa menahan kesabaran hatinya lagi, maka ia lantas berkata dengan suara dingin: “Kau hendak berbuat apa?” “Aku hendak bunuh mati kau ” “Dengan kepandaianmu sekarang ini masih belum bisa kau lakukan ” “Coba saja.” Sehabis berkata, dengan cepat Tio Lee Tin menghunus pedangnya, dalam waktu sekejapan saja sudah melancarkan serangan sampai delapan kali. Dengan gerak badannya yang sangat lincah, Yo Cie Cong terus berkelit untuk menghindarkan serangan sinona. “Kau benar-benar hendak turun tangan?” “Memangnya aku main?” Tio Lee Tin mulutnya menjawab, tangannya tidak berhenti bergerak. Kembali sudah meluncurkan beberapa kali serangan.

Yo Cie Cong tidak senang. Ia lantas ayun tangannya, hingga meluncur keluar kekuatan tenaga dalamnya, meski itu cuma menggunakan tenaga lima bagian saja, tapi sudah cukup hebat. Tio Lee Tin kenal baik sampai dimana hebatnya tenaga dalam Yo Cie Cong, pedang ditangannya lantas diputar, untuk memunahkan kekuatan tenaga yang dilancarkan oleh anak muda itu. Yo Cie Cong agak terkejut, tahu-tahu sinar pedang sinona sudah mengurung dirinya lagi.

Kali ini ia sudah gusar benar-benar, maka lantas mengirim serangannya lagi. Serangannya kali ini dibarengi dengan kekuatan Kan-goan Cin-Cao, hingga pedang Tio Lee Tin lantas tersampok oleh sambaran angin serangannya. Dalam kagetnya, Tio Lee Tin buru-buru tarik kembali serangannya dan lantas mundur teratur. sekarang ia merasa heran atas kekuatan dan kepandaian anak muda ini, yang kelihatannya tidak dibawahnya Lui Bok Thong, itu Siluman tengkorak yang merupakan lawan paling kuat sejak ia muncul didunia Kangouw.

Justru karena demikian, sikapnya Tio Lee Tin kepada Yo Cie Cong jadi semakin tebal, tapi disamping itu, rasa gemasnya juga semakin bertambah. Perasaan cinta dan gemas yang timbul secara berbareng ini, sesungguhnya susah dimengerti. Yo Cie Cong setelah berhasil menyerang mundur lawannya, tidak mendesak lebih lanjut karena ia juga merasa mendongkol atas sikapnya sinona yang dianggapnya mencari setori tanpa sebab, maka ia tidak bermaksud hendak melukai dirinya. oleh karena meraba gusar dan malu, Tio Lee Tin lantas mengubah wajahnya, dengan suara gemetar ia membentak : “Yo Cie Cong aku akan adu-jiwa dengan kau ” Perkataannya itu lantas disusul dengan serangannya yang semakin hebat. Untuk sesaat, Yo Cie Cong terdesak oleh serangan yang dilakukan secara kalap itu sehingga mundur sampai tiga tindak. Anak muda itu diam-diam lantas berpikir,”jika tidak diberi sedikit rasa, Tio Lee Tin tentunya tidak mau mengerti.”

Setelah berpikir demikian, tangan kanannya lantas melancarkan serangan berat, hingga Tio Lee Tin mundur lagi. Yo Cie Cong geser maju kakinya, tangan kirinya ditujukan ketengah udara, dari situ lantas meluncur angin hebat. Serangan ini adalah ilmu Liu-in Hud-hiat yang ia dapat dari Phoa ngo-hweshio. Betapapun tirggi kepandaiannya Tio Lee Tin, juga tidak berdaya menghadapi serangan tersebut.

Jika serangan itu mengenakan sasarannya, Tio Lee Tin pasti akan jatuh roboh tanpa ampun lagi. Dalam saat-saat yang sangat berbahaya itu, mendadak terdengar suara yang muncul dibelakang dirinya Yo Cie Cong: “Bocah tahan ” Yo Cie Cong segera tarik kembali serangannya sambil lompat ke samping. Tatkala ia menengok, disuatu tempat terpisah kira-kira satu tombak jauhnya, ada kelihatan berdiri satu orang.

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, karena orang itu berada dibelakangnya dalam jarak cuma satu tombak saja, ia masih tidak berasa sama sekali, maka kepandaiannya orang itu sesungguhnya sangat luar biasa. Ketika ia mengawasi dengan seksama, orang tersebut ternyata adalah si orang berkedok kain merah. Selagi Yo Cie Cong hendak menghampiri, mendadak terdengar suara: “Suhu ”

Dengan cepat Tio Lee Tin sudah lompat maju dan, berlutut dihadapannya orang berkedok itu.

“Tin-jie bangun ” demikian orang berkedok itu berkata. Yo Cie Cong cepat maju menghampiri, memberi hormat sambil berkata : “Boanpwe Yo Cie Cong disini menghadap locianpwe, atas pertolongan locianpwe ditepi danau Naga yang membuat boanpwe terhindar dari kematian, disini boanpwe mengucapkan banyak-banyak terima kasih ” “Eh Bocah, kiranya adalah kau? Ha ha, Kau bisa terluput dari bencana kematian, di kemudian hari pasti besar sekali rejekimu ”

Tio Lee Tin lantas berbangkit, dengan mata masih merah, ia lantas berkata dengan lagaknya yang sangat aleman: “suhu, dia dia menghina muridmu” orang berkedok itu lalu menjawab dengan perlahan-lahan: “Tinjie, suhumu ada mempunyai pendirian sendiri dalam soal asmara, kedua pihak harus mendapat kecocokan dikedua belah pihak. sedikitpun tidak boleh ada sistem paksaan. Kau ada seorang pintar, sudah tentu mengerti apa maksud perkataan suhumu ini.” Yo Cie Cong dalam hati diam-diam memuji orang berkedok itu, sebab uraiannya itu memang tepat.

Sebaliknya hati Tio Lee Tin, nona ini merasa seolah-olah tidak digubris pengaduannya, maka hatinya merasa sedih. sambil menekap mukanya ia menangis. Ia juga mengerti bahwa asmara itu tidak boleh dipaksa, namun ia tidak tahan dengan godaan hatinya. orang berkedok itu menyaksikan keadaan muridnya, dengan perlahan menghela napas. Suasana cukup mengharukan- sejenak kemudian, orang berkedok itu tiba-tiba berkata : “Bocah. namamu Yo Cie Cong ?”

“Yah, boanpwe Yo Cie Cong.” “Siapa suhumu ?” “Untuk sementara boanpwe merasa keberatan untuk memberitahukan, harap locianpwe suka memberi maaf untuk itu.” “Ng”

Namun dalam hatinya orang berkedok itu diam-diam berpikir: “Heran, gerak tipu dan kepandaian bocah ini sungguh aneh, dengan pengalamanku yang sudah demikian luas, ternyata aku masih belum dapat mengenali ilmu silatnya itu berasal dari golongan mana. Lagi pula bocah ini pada sebulan berselang kepandaiannya biasa saja, mengapa sekarang dengan mendadak sudah berubah demikian hebat?” Sepasang matanya yang tajam, menembusi dua lubang kecil dari kedoknya, terus menatap Yo Cie Cong. Yo Cie Cong yang diawasi secara demikian diam-diam merasa tidak enak. “Bocah, sejak kau menelan mustikanya Gu-liong-kao ditepi danau Naga, apa kau mengalami kejadian gaib lainnya lagi ? Kau boleh jawab asal kau suka, tapi kalau ada mempunyai kesulitan tersendiri, kau boleh tak usah menjawab pertanyaanku ini ” berkata orang berkedok itu.

Yo Cie Cong dengan tanpa ragu-ragu lantas menjawab: “Yah, boanpwe pernah menemukan dan secara tidak terduga-duga sudah makan telurnya burung rajawali raksasa ” “Bocah, kau benar-benar seorang yang mempunyai rezeki besar sekali, harap supaya kau bisa baik-baik bawa diri” “Terima kasih, locianpwe ” Tio Lee Tin ketika mendengar percakapan mereka, lantas pesut air

matanya, kemudian berpaling kepada suhunya. Dalam hatinya berpikir : “suhu dengan dia agaknya sudah kenal satu sama lain”

Matanya orang berkedok itu dari wajahnya Yo Cie Cong lantas dialihkan kelangit yang gelap. lama tidak berkata apa-apa, entah apa yang sedang dipikirkannya. Diantara Tio Lee Tin dengan Yo Cie Cong karena sudah retak hubungannya, maka satu sama lain tidak membuka suara. Dimalam yang sunyi itu, suasananya nampak semakin mengharukan- setelah hening sekian lama, orang berkedok itu tiba-tiba berkata pada Tio Lee Tin : “Tin-jie, kau sudah bertemu dengan Pemilik Golok Maut atau belum ?” “Muridmu sudah berjumpa dengannya, ternyata dia ada seorang tua berambut dan berjenggot putih semua, sedang lengannya cuma tinggal sebelah Tapi kepandaian muridmu sangat terbatas, maka tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya” “Ng ”

Yo Cie Cong diam-diam hatinya bergoncang hebat. “Suhu, suhu lihat Pemilik Golok Maut itu apakah benar pangcu partai Kam lo-pang waktu dulu itu ?” tanya Tio Lee Tin. “Dewasa ini masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Menurut kabar yang tersiar dalam kalangan Kangouw, Yo Cin Hoan sendiri memang betul sudah binasa bersama-sama dengan runtuhnya partai Kam lopang pada dua puluh tahun berselang .” “Tapi dimalaman ketika ayah muridmu dibinasakan olehnya, pernah dengar sendri kalau orang yang turun tangan membinasakan ayah itu ada menyebutkan dirinya sebagai pangcu dari Kam-lopang, Apakah dalam hal ini …”

“Orang dalam dunia Kangouw banyak sekali akalnya. sebelum keadaan yang sebenarnya menjadi jelas, susah dipastikan ” memotong sang suhu.

Dalam hatinya Yo Cie Cong saat itu berkobar pula rasa dendam sakit hatinya. Tapi diwajahnya yang dingin kecut, masih tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa. “suhu Tidak perduli Pemilik Golok Maut itu siapa orangnya, biarpun Tin-jie harus korbankan jiwa, juga akan turun tangan untuk membinasakan padanya, untuk menuntut balas atas kematian ayah ” “Tin-jie, menuntut balas sakit hati atas kematian orang tua memang sudah seharusnya, cuma kepandaianmu maiih belum mampu menandingi Pemilik Golok Maut” “Tapi muridmu tidak mau berhenti berusaha sebelum binasa ” Yo Cie Cong yang mendengarkan dari samping, diam-diam merasa bergidik, “Tin-jie, buat sekarang soal yang penting adalah mencari kembali bendamu yang terhilang itu ” “Apakah suheng semuanya sudah berhasil menemukan jejak Siluman tengkorak itu ?” “Belum ada yang pulang atau memberi laporan.”

Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, lalu berkata kepada orang berkedok: “Locianpwe, boanpwe masih ada sedikit urusan yang hendak dibereskan, sekarang boanpwe minta permisi dulu ” Sebelum orang berkedok membuka mulut, tiba-tiba Tio Lee Tin berkata mendahului: “Suhu, kau ada kata hendak membereskan persoalan muridmu ”

“Tinjle, kenapa kau begini kukuh ?” “Tapi diri muridmu yang masih suci sudah di…” “Ha ha, Tinjie, dia toch bukan bermaksud hendak menghina kau, bukan ?” “Suhu, badannya seorang gadis, bagaimana boleh diraba oleh sembarang orang?” Tio Lee Tin lantas menangis sesenggukan- “Anak tolol, masa satu perempuan Kang-ouw mempunyai pendirian begitu cupat? Dia toch bermaksud baik, bukan?” “Bermaksud baik ? Aku lihat dia ada mengandung maksud tidak baik ”

Yo Cie Cong yang urungkan maksudnya hendak pergi ketika mendengar perkataan si nona hatinya sangat mendongkol. Dengan mata beringas mengawasi gadis itu. orang berkedok itu tiba-tiba berkata dengan suara bengis: “Tinjie, mengapa kau tidak mau dengar kata? Diam, ada orang datang ” Yo Cie Cong lalu pasang telinga, benar saja dari tempat tidak jauh terdengar suara sangat perlahan jikalau bukan orang berkedok tadi tidak mengatakan, ia sendiri benar-benar tidak mengetahui. Terhadap kepandaian orang berkedok itu, diam-diam ia merasa kagum.

Tidak antara lama setelah orang berkedok itu tadi berkata, disitu sudah muncul empat orang. Nampaknya mereka semuanya merupakan orang yang berkepandaian sangat tinggi. Empat orang tersebut setelah tiba ditempat itu, lalu mengawasi dirinya ketiga orang yang ada disitu. Tiba-tiba mereka berseru: “Eh ” lalu mundur setengah tindak, dengan sorot mata heran mengawasi si orang berkedok. . Empat orang yang baru tiba tadi semua merupakan orang-orang tua

yang usianya sudah lima puluh tahunan. Satu diantara mereka, yang bentuk badannya tinggi, lantas berkata sambil memberi hormat : “Kami tidak tahu kalau pemimpin burung laut ada disini, harap maafkan atas kelancangan kami ini. Kani berempat adalah orang-orangnya perkumpulan im-mo kauw yang mendapat perintah dari kauwcu kami untuk mencari jejaknya Pemilik Golok Maut ”

Yo Cie Cong terperanjat. Ia belum pernah mendengar didalam dunia Kang onw ada perkumpulan yang namanya Im-mo kauw. Tapi dilihat dari empat orang tua yang mengaku sebagai orang orangnya Im-mo- kauw ini yang kepandaiannya sudah sedemikian tingginya, entah bagaimana kepandaian pemimpinnya ? Barangkali merupakan satu iblis yang luar biasa . Tio Lee Tin yang selalu ingat musuh ayahnya, ketika mendengar empat orang tua itu katanya hendak mencari jejaknya Pemilik Golok Maut. “Apakah tuan-tuan berempat sudah dapat menemukan jejaknya iblis itu?” “Apa nona juga hendak mencari manusia yang sangat misterius itu ?” orang tua berbadan tinggi itu balas menanya sambil ketawa menyeringai.. “Benar ”

Orang tua tinggi itu setelah mengawasi tiga kawannya sejenak. lalu menyahut: “Ada suatu hal yang kami ingin memberitahukan kepada nona, Pemilik Golok Maut itu bukannya pangcu Kam-lopang sendiri, melainkan orang lain yang memegang peranan sebagai pangcu Kam lo-pang ” Yo Cie Cong terkejut sekali ketika mendengar perkataan orang tua

itu, diwajahnya yang cakap saat itu lantas timbul napsu hendak melakukan pembunuhan, tapi hanya sebentar saja sudah lenyap lagi. orang-orang yang ada disitu semua tidak satupun yang dapat melihat perubahan sikapnya.

BAB 20 Ia tidak merasa heran akan keterangan orang tua itu, yang membuat ia gegetun mengapa orang tua itu dapat mengetahui begitu jelas. Didalam daftar nama musuh-musuh Kam lopang tidak terdapat namanya Im mo kauw, tetapi heran keempat orang tua ini telah mengaku diperintahkan mencari jejaknya Pemilik Golok Maut. Dalam hal ini ada terselip maksud apa sebetulnya, ia sendiri juga tidak mengetahuinya . “Aku harus mencari tahu sampai kedasar-dasarnya mengenai dirinya orang-orang ini.” demikianlah Akhirnya Yo Cie Cong mengambil keputusan.

Sementara itu, Tio Lee Tin yang sama memperhatikan tentang Pemilik Golok Maut, lantas menanya dengan suara cemas: “Mengapa tuan dapat memastikan bahwa Pemilik Golok Maut itu bukannya pangcu Kam lo pang sendiri ?” oang tua berbadan tinggi itu menjawab sambil bersenyum: “Dalam hal ini nona tidak perlu tanya banyak-banyak, percaya sajalah bahwa aku tidak berkata sembarangan-”

Tetapi Tio Lee Tin masih tetap bersangsi agaknya, menanya lagi: “Pada malam itu, ketika ayahku Tio Ek Chiu dibinasakan olehnya, aku telah mendengar sendiri bahwa orang yang melakukan pembunuhan itu mengaku sebagai pangcu dari Kam lo pang. Apakah itu bohong?”

“Itu mungkin benar, tetapi tadi malam yang datang kekota Kui lim melakukan pembunuhan itu bukanlah Pemilik Golok Maut yang muncul beberapa bulan berselang. Tentang ini sedikitpun tidak bisa salah.”

Tio Le Tin menjadi binguig sendiri Apakah iblis itu ada dua orang? Mengenai soal itu, hanya Yo Cie Cong yang mengerti, sedangkan keempat orang tua dari Im mo kauw itu sebetulnya juga hanya mengetahui sebagian saja. orang berkedok kain merah yang sejak tadi berdiri mendengarkan pembicaraan mereka, sama sekali tidak turut mengutarakan pendapat apa-apa. orang tua berbadan tinggi besar itu lalu berkata kepada orang berkedok kain merah: “Maaf atas kedatangan kami yang telah mengerecok ketenangan tuan-”

Setelah berkata begitu kemudian ia mengajak ketiga orang kawannya berlalu meninggalkan tempat itu, sebentar saja mereka sudah menghilang dari depan mata. Tio Lee Tin tiba-tiba menanya kepada suhunya : “suhu, menurut pikiranmu, apa yang dikatakan oleh mereka tadi benar atau tidak?” “Ini susah dibilang.” “Im-mo kauw muncul dikalangan Kang ouw adalah baru-baru ini saja. Mengenai keadaan perkumpulan tersebut, aku sendiri juga tidak mengetahui dengan jelas. Belum lama berselang, kematiannya duapuluh lima orang kuat dari golongan hitam maupun putih yang terdapat dijalan raya antara su-cwan dengan sau see adalah perbuatan im mo-kauw. Tampaknya perkumpulan iblis ini akan membawa malapetaka

bagi dunia rimba persilatan…” “Mengapa Im mo kau mencari jejaknya Pemilik Golok Maut ?”

Yo Cie Cong yang masih hendak membereskan persoalannya, tidak mau membuang tempo cuma-cuma, maka setelah berpamitan sekali lagi pada orang berkedok kain merah itu ia lantas berlalu. Tio Lee Tin masih hendak merintangi perginya Yo Cie Cong, tetapi sudah dicegah oleh suhunya. Sebentar kemudian Yo ci Cong sudah menghilang ditelan kegelapan-

Tio Lee Tin dengan perasaan mendongkol mengawasi berlalunya Yo Cie Cong. Dalam hatinya saat itu timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Entah benci, entah cinta. Ia sendiri tidak tahu. sebagai seorang gadis remaja yang baru pertama kalinya jatuh cinta kepada seorang laki-laki dan laki-laki itu ternyata tidak membalas cintanya, dapatlah dibayangkan betapa hancurnya hati Tio Lee Tin- Akhirnya ia hanya dapat mengomel sendiri: “Yo Cie Cong, kau mempunyai kepandaian berapa tinggi ? Awas, pada suatu hari aku pasti akan membunuh kau.” Air mata kelihatan mengalir berlinang-linang dikedua pipinya.

Orang berkedok kain merah itu telah mengawasi murid kesayangannya itu sambil menggelengkan kepala, kemudian berkata dengan suara lemah lembut: “Tinjie, bukankah kau biasanya dengar perkataan suhumu ?.” Tio Lee Tin berpaling dan menganggukkan kepalanya. “Dan sekarang, kau dengar perkataanku sekali lagi.” “Murid ingin mendengarkan-”

“Dalam segala hal kita harus mengikuti aliran, dalam apa yang dinamakan jodoh atau takdir, kita tidak boleh menuruti perasaan hati sendiri”

Kembali Tio Lee Tin anggukkan kepalanya, tetapi sebetulnya ia ingin menyatakan- Toh suhu sendiri yang menjanjikan hendak membereskan soal ini ? Tetapi perkataan ini tentu saja tidak berani dikeluarkannya dari mulutnya dan oleh karena pikiran yang keliru inilah Akhirnya di kemudian hari akan membawa ekor yang mencelakakan dirinya sendiri.

Orang berkedok kain merah itu dengan sepasang matanya yang tajam mengawasi wajah muridnya seolah-olah hendak menembusi pikiran muridnya itu, kemudian terdengar ia menghela napas perlahan dan berkata pula: “Tin-jie, mari kita pulang.” “Baiklah.” Dua bayangan orang kelihatan melesat bagaikan bintang jatuh dari langit, sebentar saja menghilang ditelan kegelapan.

Sekarang mari kita balik kembali mengikuti perjalanan Yo Cie Cong. setelah meninggalkan rimba tersebut, dengan cepat ia lari menuju kearah larinya empat orang tua dari Im-mo kauw tadi.

Perkumpulan im-mo- kauw telah mengutus orang-orangnya untuk mencari jejaknya Pemilik Golok Maut, bahkan mengatakan bahwa orang yang memegang peranan sebagai Pemilik Golok Maut bukanlah pangcu dari Kam-lopang sendiri, hal ini perlu dicari tahu oleh Yo Cie Cong, sebab besar sekali sangkut pautnya dengan dirinya sendiri Apa yang membuat ia tidak habis mengerti ialah, perkumpulan yang muncul didunia Kang ouw belum lama ini mengapa bisa mengetahui

rahasianya Golok Maut ? setelah berjalan kira-kira empat puluh lie jauhnya, diatasjalan raya Yo Cie Cong melihat empat bayangan orang yang sedang berlarikan dengan perlahan, maka ia juga lantas kendorkan gerakan kakinya.

Empat bayangan itu ternyata adalah empat orang tua yang sedang dikejarnya. Yo Cie Tiong terus menguntit empat orang Im-mo- kauw itu, sedangkan keempat orang tua tersebut sama sekali tidak merasa kalau di belakang mereka ada orang lain yang membuntuti, bahkan mereka masih enak-enakan mengobrol kebarat ketimur. Terdengar salah seorang dari mereka itu tiba-tiba menanya: “Dari mana saudara Gouw tahu kalau Pemilik Golok Maut itu bukannya pangcu dari Kam-lo-pang sendiri ?”

Yo Cie Cong bercekat hatinya, ia memasang kuping baik-baik, orang tua yang bertubuh tinggi itu lantas menjawab: “Ha, ha… Kauwcu setelah mendapat tahu Golok Maut itu muncul dikota Kui-lim terus mengadakan rapat kilat antara para Thian cu dan Tongcu. Aku mendapat dengar itu secara tidak sengaja.” “Mengapa saudara Gouw memberitahukan hal ini kepada nona baju hitam tadi ?Jikalau hal ini diketahui oleh saudara-saudara kita lainnya yang diperintahkan oleh tongcu bagian penyelidik, bukankah kau nanti akan dituduh membocorkan rahasia perkumpulan ? Hukumannya rasanya sangat berat bagimu.” orang tua she Gouw itu hanya menyahut “Hmmm” dan lantas tidak mengatakan apa-apa lagi. Barangkali ia juga telah dibikin takut oleh perkataan kawannya barusan, sebab dalam peraturan Im-mo kauw, hal

ini membocorkan rahasia perkumpulan itu hukumannya sangat keras sekali, dan ia mengerti itu.

Setelah hening sekian lamanya, seorang tua lainnya berkata pula : “Sayang kita telah datang terlambat setindak saja, sehingga kita tidak bisa melihat sendiri wajahnya pemilik Golok Maut ini jika kita bisa melihatnya, maka mudahlah kita untuk mencari jejaknya.”

Orang tua she Gouw lantas berkata: “Menurut kata orang-orang Kang ouw yang menyaksikan pembunuhan atas dirinya Coa Ceng It, pemilik Golok Maut itu adalah seorang tua yang berambut dan berjenggot putih semua, sedangkan tangannya juga cuma tinggal sebelah saja. Tetapi biarpun begitu, kepandaian ilmu silatnya sukar dijajaki. Untung juga kita hanya mendapat perintah untuk menyerepi jejaknya saja. Perduli apa tentang dirinya lihay atau tidak.”

Diseberang jalan sebelah sana kini kelihatan sebuah rimba yang lebat. Yo Cie Cong diam-diam ketawa geli. Ia lalu menggerakkan badannya, mengambil jalan menyimpang melewati keempat orang tua itu, dan menghilang kedalam rimba. Keempat orang tua itu disepanjang jalan masih asyik mengobrol, kala itu juga sudah sampai didepan rimba.

Mendadak mereka melihat satu bayangan orang muncul dari dalam rimba. Dengan tak berkata apa-apa bayangan orang itu sudah menghadang, perjalanan keempat orang tua tersebut. Mereka lalu menghentikan tindakan kakinya. Ketika mereka mengawasi siapa yang menghadang, semangat mereka lantas dirasakan terbang

Sebab orang yang menghadang dijalanan ini ternyata rambut dan jenggotnya sudah putih semuanya, sedangkan lengannya juga hanya tinggal sebelah, sepasang matanya pada malam yang gelap gulita itu kelihatan mencorong seperti dua bintang. Bentuk orang tua ini mirip sekali dengan apa yang dinamakan pemilik Golok Maut Dalam perkumpulan Im-mo-kauw, empat orang tua itu juga terhitung orang kuat nomor satu. setelah merasa terkejut, masing-masing lalu bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan, orang tua she Gouw bisa mengatasi suasana, lantas berkata: “Apa maksud tuan menghadang jalan maju kami ?”

“Eh, bukankah kalian sedang mencari aku? Agar supaya kalian tidak mencari terlalu jauh, aku datang sendiri menemui kalian” demikian jawab si orang tua berambut putih dan berlengan satu itu sambil ketawa dingin. suaranya begitu menyeramkan, sehingga menimbulkan perasaan tidak enak bagi siapa saja yang mendengarnya. Keempat orang tua itu kelihatan pada bergemetaran sekujur badannya, dalam hati mereka masing-masing berpikir: “Heran, mengapa dia bisa mengeluarkan perkataan begitu? Apakah benar dia adalah…”

Orang tua berambut putih berlengan satu lalu berkata pula: “Eh, tuan-tuan berempat bukankah hendak mencari aku si orang tua ?” si orang she Gouw dengan hati berdebaran keras coba menyahuti : “Dari mana tuan dapat tahu ini ?” “Bukankah barusan kau pernah mengatakannya sendiri? Kau kira aku si orang tua ini siapa ?” Bukan main kagetnya si orang she Gouw, ia mundur satu tindak dan berkata pula dengan suara gemetaran- “Coba sebutkan nama tuan yang mulia.”

“Aku si orang tua adalah orangnya yang sedang kalian cari-cari itu ” “Adakah tuan pemilik Golok Maut ?” “Sedikitpun tidak salah ”

Keempat orang tua itu badannya lantai menggigil semakin hebat. orang tua she Gouw itu merupakan kepala rombongan dari keempat orang tersebut. Kala itu dalam hatinya lantas timbul pikiran : “Kita berempat hanya merupakan salah satu rombongan yang mendapat tugas mencari jejaknya pemilik Golok Maut ini, rombongan lainnya sekarang masih belum kelihatan, sedangkan kita berempat sudah tentu tidak mampu menandingi iblis tua ini. Kalau kita paksa menempurnya, salah-salah kita berempat bisa mati secara konyol. Lebih baik kita laguin dia saja, kemudian kita berusaha lagi menghubungi rombongan lainnya.” Setelah berpikir demikian, ia lantas tertawa dan maju dua tindak serta berkata sembari membeli hormat: “Tidak nyana cianpwe adalah pemilik Golok Maut yang namanya sangat terkenal itu. Kami berempat oleh karena tidak tahu, maka telah berlaku kurang hormat, harap cianpwe suka memberi maaf sebesar-besarnya.”

Tiga orang tua yang lainnya segera mengerti maksud pemimpinnya itu, maka semuanya lantas memberi hormat dengan serentak. orang tua berambut putih berlengan satu yang mengaku sebagai pemilik Golok Maut itu lalu berkata: “Kalian tak usah takut. Aku si orang tua belum perlu mengambil jiwa kalian- Tetapi kalian harus dengan sejujurnya menjawab setiap pertanyaanku, baru aku nanti membiarkan kalian melanjutkan perjalanan kalian jikalau tidak… hmm ”

Matanya yang tajam mengawasi si orang she Gouw yang menjadi pemimpin dari tiga orang itu. “Cianpwe ingin menanyakan apa ?” tanya orang itu, sambil tundukkan kepala. “Asal aku yang rendah tahu, sudah tentu aku akan menjawab dengan sejujurnya.” “Hmmm- Kau sungguh jujur. soal ini mudah sekali, justru adalah kau sendiri yang mengatakan tadi.” “Aku mengatakan apa ?” “Siapa yang memberitahukan kalian berempat mencari jejak diriku ? Dan apa maksudmu ? Berdasar atas apa kau dapat memastikan kalau aku si orang tua bukan pangcu dari Kam-lo-pang sendiri ?”

Orang she Gouw itu kaget bukan main- Ia tidak pernah membayangkan, karena ingin membanggakan diri, telah mengucapkan perkataan yang sombong dan Akhirnya malah membuat ia sendiri terlibat dalam kesukaran hebat. Rupanya orang tua yang menakutkan yang berdiri dihadapan ini, mungkin sudah sejak tadi mengintai dibelakangnya, sebab jika tidak demikian, mana bisa ia mengetahui begitu jelas ? Empat orang tua itu, yang mendapat perintah untuk mencari orang, sebaliknya sudah diketahui segala tindak tanduknya oleh orang yang bersangkutan, ini benar-benar membuat mereka tidak enak sendiri. Untuk sesaat lamanya orang tua she Gouw diam membisu, tidak menjawab. sebab pemilik Golok Maut itu sudah mengatakan dengan cukup jelas, maka jika ia ingin memungkirinya sekarang, sudah tentu tidak bisa lagi.

Pemilik Golok Maut kelihatan badannya bergerak, lalu berkata dengan suaranya yang menyeramkan :

“Malam ini, jikalau kau tidak menjelaskan persoalannya kepadaku, kalian berempat jangan pikir bisa berlalu dari sini dalam keadaan masih bernyawa. HuH, huh sungguh tidak kusangka perkumpulan im-mo- kauw yang namanya begitu terkenal ternyata mempunyai orang-orang yang seperti gentong2 nasi begini.” Ucapan itu mengandung ejekan yang sangat tajam.

Keempat orang tua itu seketika pada berubah wajahnya, tetapi karena merasa takut oleh pengaruhnya Golok Maut, terpaksa mereka menahan perasaan gusarnya. “Kau sebetulnya mau jawab pertanyaanku atau tidak?” tanya pula pemilik Golok Maut. “Soal ini ada diluar batas kemampuan kami maka sangat menyesal kami tidak dapat menjawabnya.” demikian seorang tua she Gouw menjawab. “Huhh.. huh… . Kau tidak mau jawab pertanyaanku ?jangan sesalkan kalau aku si orang tua turun tangan terlalu kejam. Sekarang aku hendak menghitung angka2 bilangan dari satu sampai sepuluh, kalau belum mendapat jawaban yang memuaskan, terpaksa aku nanti kirim kalian satu persatu menghadap pada Giam lo-ong ” orang tua yang mengaku dirinya sebagai pemilik Golok Maut lantas mulai menghitung. “satu …”

Empat orang tua dari Im mo-kauw itu biasanya pada menganggap diri sendiri sebagai orang2 kuat dan sekarang telah dipermainkan oleh orang tua yang mengaku dirinya sebagai pemilik Golok Maut, sudah dengan sendirinya tidak enak sekali perasaan mereka. Untuk sekian saat lamanya mereka hanya berdiri dengan saling pandang, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan-

“Dua ” “Tiga ” suara si pemilik Golok Maut masih terdengar terus menghitung angka-angkanya. suasana semakin tegang. ” Empat ”

Setiap kali menyebutkan angka bilangannya, terasa oleh keempat orang im mo-kauw itu seolah2 ada palu besar mengetuk hati mereka. Jikalau angka-angka itu telah dihitung sampai sepuluh dan pemilik Golok Maut masih tidak mendapat jawaban yang memuaskan, dengan tidak dapat disangsikan pula tentu Golok Maut akan keluar dari serangkanya, akan habislah jiwanya keempat orang utusan im-mo kauw ini. “Lima”

Angka bilangan masih disebut terus. Bilangan ini baru keluar dari mulutnya pemilik Golok Maut, si orang tua she Gouw yang agaknya telah timbul pikiran gelap. dengan tidak di-sangka2 lalu turun tangan menyerang sipemilik Golok Maut. Tiga orang tua yang lainnya juga lantas bergerak dengan serentak, masing2 melancarkan serangan hebat.

Keempat orang tua itu mempunyai kepandaian cukup tinggi, hanya karena pengaruh dari Golok Maut maka sejak tadi mereka mara perlihatkan sikap penakut. Tetapi kali ini karena sudah berlaku nekad, maka serangan yang dilancarkan oleh mereka dengan hampir berbareng pula, tentu saja kekuatannya sangat dahsyat. “Kalian cari mampus” pemilik Golok Maut membentak. lalu memutar tangannya yang tinggal sebelah itu, dari mana lantas meluncur satu kekuatan tenaga yang maha hebat menyambuti keempat orang

tersebut. setelah kekuatan tenaga dari kedua pihak saling beradu, tanah dan pasir pada beterbangan, kekuatan tenaga itu menimbulkan angin yang hebat,.

Pemilik Golok Maut melanjutkan hitungannya, seolah-olah tidak pernah ada kejadian apa2 barusan. Orang tua she Gouw lalu memberi isyarat dengan matanya kepada tiga kawannya. Tiga orang tua itu lalu maju berbareng dan terus menerjang Pemilik Golok Maut dengan caranya seperti orang kalap.

BAB 21 PEMILIK GOLOK MAUT kakinya tidak bergeming sedikitpun, hanya badannya yang tampak bergerak2. Dengan caranya yang sedap dipandang mata ia telah mengelakkan setiap serangan yang ditujukan kearah dirinya oleh keempat orang tua tadi, kemudian dari tangannya yang hanya tinggal sebelah lagi itu saja, keluarlah angin serangan dengan menggunakan tujuh bagian dari seluruh kekuatannya secara tiba2.

Suara jeritan terdengar saling sahut memecahkan suasana kesunyian malam ditempat yang gelap gulita dan dari mulutnya ketiga orang tua tadi menyemburkan darah segar, badan mereka juga terpental sejauh tiga tombak lebih dan lantas tidak bisa bangun lagi untuk selamanya.

Bertepatan pada saat rubuhnya tiga orang, diangkasa yang gelap terlihat meluncurnya sinar merah yang agaknya menembusi langit. Ternyata, selagi tiga orang kawannya bertempur melayani pemilik Golok Maut, orang tua she Gouw itu telah menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, meluncurkan api pertandaan dari perkumpulan

im- mo-kauw yang dilepaskannya karena merasa keadaan sangat membahayakan bagi dirinya.

Pertandaan Im-mo kauw yang berupa panah api itu ada tiga macam, yang masing-masing berwarna biru, putih dan merah. Warna biru sebagai tanda minta bantuan biasa, warna putih sebagai tanda berkumpul secara kilat dan yang merah warnanya sebagai tanda minta bantuan yang sangat mendesak.

Api pertandaan warna merah itu jikalau tidak menjumpai kejadian penting atau jikalau tidak menemukan bencana besar sekali2 tidak boleh dilepaskan, sebab dengan dilepasnya api pertandaan warna merah itu, seperti juga Kauwcu (kepala agama) sendiri yang sedang mengeluarkan perintah . orang2 im-mo kauw yang dapat melihat api pertandaan itu disekitar tempat dilepasnya api pertandaan itu, tidak perduli sedang melakukan pekerjaan apa juga, harus segera menuju ketempat tersebut untuk memberi bantuan kepada sipelepas tanda.

Pemilik Golok Maut dengan acuh tak acuh mengawasi tanda api permintaan bantuan itu, sementara mulutnya sudah mengucapkan angka “sembilan” si orang she Gouw setelah mengetahui bahwa dirinya sendiri tidak akan terhindar dari kematian, dengan tidak menantikan sampai angka “sepuluh” keluar dari mulutnya pemilik Golok Maut, badannya sudah lantas melesat tinggi keatas, dengan suara gusar ia lantas membentak : “Meskipun aku binasa dalam tanganmu, tapi malam ini kau juga tidak akan bisa meninggalkan tempat ini”

Setelah mengucapkan perkataan yang paling belakang isi, orangnya lantas menerjang pada pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut yang mulutnya sudah mengucapkan angka “sepuluh”, dari tangannya yang cuma tinggal sebelah itu lantas keluar satu serangan yang maha hebat. Dengan demikian, sebelum orang tua itu mengeluarkan serangannya, angin serangan yang keluar dari tangan pemilik Golok Maut dirasakan sudah menindih dadanya sangat hebat. Baru saja ia hendak berseru “celaka ” sekujar badannya sudah dirasakan seperti tersambar, geledek. Suara jeritan cuma keluar separuh saja dari mulutnya, darah segar sudah menyembur keluar dan isi perutnya hancur, jiwanya me layang seketika itu- juga.

“Tuan sungguh kejam ” demikian satu suara terdengar keluar dari tempat sejauh kira2 tiga tombak dari tempat berdirinya pemilik Golok Maut. . Pemilik Golok Maut terkejut. Ia menoleh kearah datangnya suara tadi, disana terlihat, berdirinya sesosok tubuh orang dengan sikapnya yang tenang luar biasa. Kejadian serupa itu sesungguhnya baru kali inilah dihadapi oleh pemilik Golok Maut, juga merupakan kejadian yang janggal.

Pemilik Golok Maut yang mempunyai kepandaian yang susah dijajaki tingginya ternyata masih belum mengetahui kalau didekatnya, bahkan hanya tiga tombak saja dari tempat berdirinya, ada orang menyaksikan segala sepak terjangnya dengan bebas. Orang itu dengan tenang berjalan menghampiri pemilik Golok Maut

sampai kira2 satu tombak. sehingga kedua orang itu hanya terpisah kira-kira dua tombak lagi saja.

Pemilik Golok Maut itu setelah dapat melihat dengan tegas wajahnya orang yang datang menghampiri adalah orang berkedok kain merah, yang ditakuti oleh setiap orang rimba persilatan, bukan alang kepalang rasa terkejutnya, sampai badannya kelihatan agak bergetar. Pada saat itu, dari sana sini mendadak terdengar suara gaduh yang amat ramai. Suara itu ada yang bernada rendah dan ada pula yang bernada tinggi melengking. Dari riuhnya suara-suara itu, dapatlah diperkirakan berapa banyaknya orang-orang yang bakal datang ketempat itu, yang tentunya tidak sedikit, bahkan juga dapat diduga lebih dahulu kedatangan orang- itu tentunya dari perbagai penjuru.

Setelah mengawasi wajahnya pemilik Golok Maut sejenak orang berkedok kain merah itu tiba-tiba berkata : “Tuan harus berhati2 dalam menghadapi mereka. Selamat berpisah dan sampai ketemu dilain waktu.” Sehabis berkata begitu, sekali bergerak orangnya sudah menghilang. Perkataan orang berkedok kain merah itu entah sebagai tanda perhatiannya terhadap pemilik Golok Maut ataukah masih mengandung maksud lain yang tersembunyi sekarang masih belum dapat dipastikan-

Pemilik Golok Maut itu kembali merasa terheran, lama ia membisu. Bertepatan pada saat menghilangnya orang berkedok kain merah, tiga sosok bayangan seolah-olah meluncur bintang dari langit terus turun ketempat didekat berdirinya pemilik Golok Maut. Tiga sosok bayangan yang baru muncul itu ternyata adalah dua orang

tua dan seorang anak muda yang mengenakan pakaian anak sekolahan- Sesampainya mereka ditempat itu, ketiganya lantas mengeluarkan suara terheran-heran.

Kedua orang tua itu usianya sudah lima puluh tahun lebih, wajahnya tirus, hidungnya bengkung. Kalau bukan karena badan mereka yang seorang tinggi dan yang lainnya pendek, tentunya sukar bagi orang lain membedakan wajah yang mirip satu dengan lainnya seperti pinang dibelah dua itu. Yang seorang lagi, seorang anak muda yang mengenakan pakaian seperti anak sekolah usianya baru kira2 tiga puluh tahun- Bajunya panjang, kepalanya mengenakan kopiah yang sering terlihat dipakai oleh anak2 sekolah pada umumnya, dipinggangnya sebilah agak ke belakang terlihat sebutir mutiara warna merah sebesar mata naga, perhiasan macam itu tampak sangat menyolok mata.

Ketiga orang itu setelah mengawasi empat bangkai manusia yang menggeletak ditanah sekitarnya, matanya lalu dialihkan kewajah pemilik Golok Maut. setelah mengawasi dengan seksama, wajah mereka tampak berubah seketika. Pemilik Golok Maut masih tetap membisu dan tidak bergerak. Dengan sorot matanya yang tajam dingin ia mengawasi tiga orang itu bergantian. Pada saat2 lain, dengan beruntun ditempat itu kembali muncul sepuluh lebih sosok bayangan orang.

Mereka semua merupakan orang-orang lelaki, badannya tegap, dandanan mereka semua ringkas seragam. Setelah mereka berdiri tegak. semuanya lantas membungkukkan badan membeli hormat pada tiga orang yang muncul lebih dulu disitu,

kemudian memencarkan diri pula dan berdiri dibelakang ketiga orang tersebut. Laki yang berdandan sebagai anak sekolahan tadi maju tiga tindak sambil kerutkan alisnya dan sambil menunjuk ke arah bangkai manusia ditanah ia menandakan kepada pemilik Golok Maut: “Apakah ini semua adalah akibat perbuatan tuan?” “Ng” “Apakah nama tuan yang mulia ?” “Pemilik Golok Maut.” Jawaban yang singkat itu telah membuat kagetnya setiap orang yang berdiri di tempat itu.

Si pemuda pelajar setelah merasa kaget sejenak lantas ketawa terbahak-bahak, kemudian berkata: “Selamat berjumpa. selamat berjumpa. Aku yang rendah adalah Tiancu bagian hukum dari Im-mo kauw. Namaku Kong jie yang mendapat gelar Pedang berdarah diluaran.” setelah memperkenalkan dirinya, ia menunjuk kearah dua orang tua dibelakangnya, mula2 ia menunjuk orang tua yang badannya tinggi: “saudara ini adalah Tongcu bagian penyelidik. Namanya Lo Cu Tan yang mempunyai gelar Garuda mas sayap besi, dan saudara itu…” ia menunjuk orang tua pendek badannya, “adalah Tongcu bagian pelindung Namanya Kong-sun Pa yang bergelar iblis terbang.”

Pemilik Golok Maut hanya keluarkan suara dihidung, sama sekali ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa terhadap perkataan orang. Pemuda pelajar yang menyebut dirinya Kong Jie kembali berkata sambil ketawa: “Kami sekalian telah mendapat perintah dari Kauwcu untuk

menyambut kedatangan tuan ke perkumpulan kami.” “Lohu belum pernah bertemu muka dengan Kauwcu kalian. Apa maksudnya perlakuan semacam ini ?” menanya pemilik Golok Maut dengan suaranya yang dingin. “Hanya tertarik oleh kepandaian tuan yang sangat tinggi, lain tidak.” “Hmmm. Ucapanmu kedengarannya sangat menarik. sayang tindakanmu terlalu kasar.” “Aku yang rendah bicara dari hal sebenarnya, juga dengan sejujurnya. Tidak mengerti apa yang tuan maksudkan dengan tindakan besar itu ?” “Bolehkah tuan beritahukan dulu nama besar kauwcumu itu ?” “Ng. Tentang itu tuan nanti pasti akan mengetahuinya sendiri.” “Lohu tidak mempunyai kegembiraan macam itu.” “Tapi kami ada membawa perintah kauwcu, yang harus mengundang tuan untuk datang keperkumpulan kami ” “Dengan hanya mengandal kekuatan beberapa gelintir manusia seperti kalian ini, apa kalian kira dapat memaksa aku si orang tua menurut kehendak kalian ?”

Kong-sun Pa yang sejak tadi berdiri disamping tidak turut bicara, lantas nyeletuk sambil pendengaran suara ketawanya yang aneh: “Kong Tiancu, kalau terhadap seorang tetamu yang menyaru nama orang lain saja kita masih tidak mampu mengundang, bukankah itu ada merupakan satu lelucon besar, yang akan membuat tertawaan para saudara didunia Kang-ouw ?” Pemilik Golok Maut tergerak hatinya, selagi hendak membuka mulut sudah didahului oleh tongcu bagian penyelidik, Lo Cu Tan-“Aku tak percaya ada keganjilan semacam ini ” katanya. “Tidak percaya boleh coba, empat orang yang menggeletak ditanah itu

adalah contohnya ” kata pemilik Golok Maut tenang. Begitu keluar jawaban si pemilik Golok Maut itu, sepuluh orang lebih yang berada di situ dengan serentak perdengarkan suara gempar, agaknya sudah marah benar. Suasana dengan cepat berubah menjadi tegang. Tiancu bagian hukum, Kong Jie, lantas berkata sambil ketawa dingin “Sebaiknya tuan pikir masak-masak dulu kalau tidak…” “Kalau tidak. bagaimana ?” “Heh, heh Barangkali ada sedikit kurang enak akibatnya “.

Pemilik Golok Maut agaknya juga sudah mulai gusar, sepasang matanya memancarkan sinar aneh, berkata dengan suara keras. “Lohu sebaliknya tidak takut segala akibatnya ” “Benarkah tuan tidak mau jalan bersama-sama dengan kami ?” “Jangan kata mau atau tidak mau, lohu memang tidak suka pergi Kalian mau apa?” “Barang kali tuan tidak dapat menuruti kehendak hati tuan sendiri ” “Omong kosong” “Kalau begitu terpaksa kami sekalian berlaku tidak patut terhadap tuan ” Baru selesai ucapan mereka, dengan cepat sudah melancarkan serangan pedang secara beruntun sampai tiga kali. Gerakan itu dilakukan cepat luar biasa, serangannya juga aneh.

Pemilik Golok Maut agak terkejut, dengan gesit egoskan dirinya, menghindarkan tiga serangan gedang itu. Lalu membalas menyerang dengan tangan kosong. serangan itu ia gunakan dengan kekuatan tujuh bagian, tapi sudah cukup hebat dan sangat menakutkan. Si Pedang berdarah Kong Jie miringkan badannya, kaki kirinya digeser kebalakang dan pedang ditangannya diputar secara aneh sekali, hingga

kekuatan serangan pemilik Golok Maut yang sangat dahsyat itu telah dibikin punah. setelah itu, kembali secara cepat luar biasa ia melancarkan enam kali serangan- Pemilik Golok Maut yang mendapat kenyataan bahwa pemuda pelajar ini ternyata bisa memunahkan kekuatan sampai tujuh bagian, diam juga merasa terkejut. sedang pedang panjang lawannya saat itu sudah melakukan serangannya secara bertubi2 sinar pedangnya seolah-olah meluncur dari pelbagai penjuru dan mengarah sekitar jalan darah bagian tubuhnya.

Dalam gusarnya, ia putar tangannya yang cuma tinggal satu kemudian mendorong dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam sepuluh bagian penuh, untuk menyambuti serangan pedang lawan. Kong Jie hanya merasakan kekuatan tenaga dalam lawan yang hebat. sambaran anginnya begitu aneh, merupakan suatu kekuatan yang belum pernah ia saksikan. Pedang ditangannya sampai tidak berdaya bergerak. Dalam kagetnya, ia buru-buru lompat mundur sampai delapan kaki jauhnya. Untung ia sangat cerdik dan keburu menyingkir, kalau tidak begitu pasti ia sudah terluka badannya oleh karena serangan tersebut.

Berbareng pada saat Kong Jie lompat menyingkir, dan pemilik Golok Maut belum menarik lagi serangannya, tiba2 dua kekuatan yang hebat telan menggempur kepala pemilik Golok Maut dari kanan dan kiri. Ternyata Lo Cu Tan dan Kong sun Pa telah berlaku licik dan hendak menarik keuntungan selagi pihak lawannya lemah karena harus menghadapi lawannya, dengan cepat sudah lompat melesat tinggi keatas, seolah dua ekor burung garuda, mereka menggempur dari kanan dan kiri.

Mereka berdua merupakan ahli-ahli dalam melakukan serangan dari atas, dengan kepandaiannya serupa itu mereka mendapat nama dikalangan Kang-ouw, sehingga mendapatkan gelarnya Garuda mas sayap besi dan iblis terbang. satu saja diantara mereka sudah cukup untuk menghadapi orang kuat kelas satu dalam dunia Kang ouw, apa pula kini berdua mereka turun tangan secara berbarengan. Dapatlah dibayangkan betapa hebatnya serangan gabungan tersebut. Nampaknya pemilik Golok Maut sudah tidak berdaya untuk menyingkirkan serangan tersebut, mendadak terjadi satu kegaiban . …

Tepat pada taat kedua kekuatan yang hampir menggempur kepalanya pemilik Golok Maut bisa bertindak dengan gesit, se-olah2 sebatang anak panah, ia melesat tinggi keangkasa di tengah antara kedua kekuatan itu sebentar lantas terdengar suara gemuruh akibat serangan kedua orang tadi yang menggempur tanah. Sedang pemilik Golok Maut yang melesat tinggi keangkasa, kemudian dengan cara berjungkir balik di tengah udara, ia memutar balik tubuhnya, dengan demikian ia berbalik berada diatasnya kedua orang tadi.

Ia lalu ayun tangannya yang cuma tinggal sebelah, kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat lantas mengurung kepala kedua orang tersebut. Lo Cu Tao dan Kong-sun pa yang biasanya menganggap ilmu mengentengi tubuhnya sudah tidak ada tandinganku, sungguh tidak nyana kalau pemilik Golok Maut ini ada jauh lebih hebat ilmu mengentengi tubuhnya dari pada mereka sendiri. Maka ketika serangan mereka tadi mengenakan tempat kosong, mereka

lantas tahu kalau gelagat tidak baik, Ke-dua2nya lantas melayang turun dengan ter gesa2. oleh karenanya mereka jadi terhindar dari serangan pembalasan yang dilancarkan oleh pemilik Golok Maut.

Namun demikian, tidak urung keringat dingin sudah membasahi tubuh mereka. Tubuhnya pemilik Golok Maut juga sudah melayang turun ketanah. orang-orangnya Im mo-kauw yang menyaksikan pertempuran itu, semua pada kesima. Tepat pada saat tubuhnya pemilik Golok. Maut tiba ditanah, ujung pedangnya Kong Jie sudah datang mengerang lagi. serangannya itu bahkan ada demikian hebatnya, sekejap saja sudah melancarkan tiga belas kali serangan.

Matanya sipemilik Golok Maut nampak bersinar menakutkan, ia ayun tangannya untuk menahan serangan pedang lawannya, kemudian balas menyerang tiga kali. serangan itu ternyata ada demikian hebat hingga badan Kong Jie sampai ter huyung2. sebentar kemudian, sinar pedang dan sambaran angin saling menggempur, sehingga tanah dan batu di sekitar dua tombak sampai pada beterbangan: sembari bertempur, pemilik Golok Maut membentak dengan suara keras: “Kong Jie, kalau kau masih tidak kenal gelagat, jangan sesalkan kalau aku si orang tua berlaku kejam dan ganas ” “Haha Tuan tidak usah omong besar. Hari ini kami sekalian telah mendapat perintah untuk mengundang tuan, biar bagaimana harus berhasil membawa tuan datang ke perkumpulan kami ” jawab Kong Jie, serangannya dilakukan semakin gencar.

Pemilik Golok Maut ketawa dingin, matanya makin beringas. setelah mendesak mundur lawannya, badannya digeser mundur sedikit, tangannya ditarik dan disodorkan lagi. Dari gerakkan yang aneh itu, telah menimbulkan suatu kekuatan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya. sambaran angin yang amat dahsyat mendadak meluncur keluar dari tangannya.

Kong Jie terkejut, dengan kekuatan tenaga sepenuhnya ia berdaya hendak menyingkirkan serangan lawannya, siapa nyana pedang ditangannya sudah tidak mampu bergerak, diam-diam lantas mengeluh “Celaka ” tapi selagi hendak menarik mundur dirinya, ternyata sudah terlambat. suara hebat telah terdengar, dibarengi suara jeritan ngeri. Pedang Kong Jie sudah terlepas dan tangannya, badannya terpental satu tombak lebih jauhnya. Darah segar menyembur keluar duri mulutnya, Kedua tongcu dan anak buah Im-mo kauw lainnya, yang jumlahnya kurang lebih sepuluh orang, semua meraba kaget. Mereka lantas pada menghunus senjata masing2, dengan berbareng menyerbu pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut kembali melancarkan serangan tangannya, kekuatan hebat menggulung orang2 yang menyerbu padanya. Karena sudah timbul napsunya membunuh, maka caranya turun tangan kali ini mungkin lebih hebat daripada yang sudah2. Beberapa kali suara jeritan ngeri terdengar, empat orang yang menjadi sasaran pertama badannya telah terpental terbang ke-tengah udara, mulut mereka menyemburkan darah segar, kemudian badan mereka jatuh ketempat sejauh kira tiga tombak dan lantas melayang jiwanya .

Yang lainnya pada Ketakutan setengah mati, maka serangannya dengan sendirinya lantas menjadi kendor.

Pemilik Golok Maut lalu ulur tangannya, dari dalam bajunya mengeluarkan senjata keramatnya. Senjata yang berkilauan sudah berada dalam genggamannya. “Golok Maut ” Suara seruan kaget telah terdengar riuh, orang2 itu tanpa sadar pada mundur dua tindak dengan perasaan takut yang amat sangat. senjata aneh itu telah muncul, suatu tanda akan terjadi pembunuhan hebat dan mengerikan.

Pada saat itu, hawa malam dirasakan lebih dingin. Lebih jauh sudah terdengar suara ayam berkokok. Langit disebelah Timur sudah kelihatan memancarkan cahaya kuning keemasan, menandakan hari sudah akan menjelang fajar. Tapi dijalan raya dekat rimba lebat itu akan terjadi pembunuhan besar2an. Lo Cu Tan dan Kong sun Pa yang sebagai tongcu dari Im mo kauw, dihadapan para anak buah Im mo kauw, sudah tentu tidak boleh menunjukkan perasaan takut.

Mereka sudah mengetahui kalau mereka tidak akan mampu menandingi, juga terpaksa harus bertindak secara nekad. Apa lagi saat itu yang menjadi korban sudah ada tujuh orang banyaknya. Maka ke dua-duanya lantas maju menghampiri pemilik Golok Maut. Pemilik Golok Maut terus memasang matanya yang bersinar tajam, menatap wajahnya kedua orang tersebut. Kemudian ia berkata dengan suara dingin

“Kalian berdua jika masih ingin mundur dalam keadaan utuh, jawablah pertanyaan yang akan lohu sebutkan ini.” “Coba tuan sebutkan.” jawab Lo Cu Tan sambil ketawa nyengir. “Apa sebabnya perkumpulan kalian mengejar aku dan paksa aku mengunjungi perkumpulan kalian ?” “Kami hanya berbuat sekedar menurut perintah. Maaf kami tidak dapat memberitahukan apa sebabnya.” “Benarkah kalian tak mau menjawab ?” Pemilik Golok Maut maju tiga tindak. sehingga kedua pihak terpisahnya semakin dekat. Lo Cu Tan wajahnya berubah.

Kong sun Pa mendekati Lo Cu Tan, ia telah bersiap sedia jika kedua pihak tidak mendapat kecocokan, lantas hendak turun tangan. Tujuh anak buah Im-mo kauw yang lainnya sambil menghunus senjata masing2 matanya ditujukan kepada ketiga orang itu. suasana makin tegang. sementara itu, Kong Jie yang tadinya jatuh, kini sudah mengambil kembali pedangnya. Ia duduk disuatu tempat tiga tombak jauhnya dari kalangan untuk mengatur pernapasannya. Kelihatannya ia telah mendapat luka yang tidak ringan. Pemilik Golok Maut membuka mulutnya berkata pula: ” Kalian mau menjawab atau tidak ?”

Matanya Lo Cu Tan seolah-seolah membara, ia menjawab dengan suara keras : “Kalau kami tidak menjawab, lalu tuan mau apa ?” “Heh, heh… Kalian siapapun jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup. Dengarkan kalian ?” – Terdengar riuh suaranya orang yang sedang berada dalam keadaan

gusar. Kong sun Pa dengan tidak banyak bicara lagi lantas mulai melancarkan serangannya.

Serangan yang dilancarkan itu dari sudut yang begitu dekatnya, apa lagi serangannya itu dilakukan secara tiba2 dengan, kekuatan tenaga sepenuhnya pula, dapatlah dibayangkan sendiri betapa hebatnya. Pemilik Golok Maut berseru dengan suara gusar : ” Kawanan tikus, kau berani ?” Ia tidak menyingkir dari serangan itu, bahkan mendesak maju. Ia menganggap sepi serangan Kong sun Pa yang menggenggam kekuatan begitu hebat.

Lo Cu Tan juga menggunakan kesempatan tersebut, ia sudah melancarkan serangannya yang hebat. Tetapi selagi ia keluarkan tangannya melancarkan serangannya, tiba2 terdengar suara jeritan dan muncratnya darah segar. Ternyata Kong sun Pa sudah binasa dalam keadaan tidak utuh anggota badannya, Dengan kepandaian dan kekuatan seorang seperti Kong sun Pa, ternyata juga tidak berdaya lagi buat menyingkirkan dirinya sendiri dari serangan pemilik Golok Maut, ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sangat mengherankan sekali. Lo Cu Tan yang sudah berpikir bahwa serangannya itu jika mengenakan dengan jitu pada sasarannya, lawannya itu sekalipun tidak binasa juga tentunya akan terluka parah, siapa nyana kenyataannya jauh berbeda daripada apa yang ada dalam dugaannya .Justru merupakan kebalikannya.

Pemilik Golok Maut setelah membereskan jiwanya Kong sun Pa hanya dengan satu jurus serangannya, dengan tidak menoleh lagi, terhadap serangan yang dilancarkan oleh Lo Cu Tan yang demikian hebatnya, se-olah2 tidak menganggap apa2, badannya malah digeser maju menyambuti serangan tersebut. Setelah terdengar suara benturan sangat hebat, Lo Cu Tan telah terbentur oleh kekuatan tenaga dalam yang tidak terlibat yang sudah dilancarkan oleh pemilik Golok Maut sehingga tangannya dirasakan hampir patah.. Ia buru2 mundur dengan terhuyung2 sampai tiga kaki, wajahnya memperlihatkan perasaan takut yang tidak terhingga. Sedangkan anak buahnya Im mo kauw yang tadinya pada memperlihatkan sikapnya yang galak. kini terlihat semuanya berdiri gemetaran dengan mulut terbuka lebar. Kekuatan semacam ini mereka sesungguhnya belum pernah mendengar.

Pemilik Golok Maut pada saat itu baru per lahan-lahan menggeser tubuhnya dan berpaling ke arah orang2 itu lalu berkata dengan suara dingin. “Aku siorang tua selamanya bertindak menurut perkataan yang sudah kukeluarkan. Apakah kalian mau mencari mati sendiri ?” setelah mengucapkan perkataannya, badannya bergerak dengan cepat suara jeritan terdengar saling susul. Darah berhamburan, kaki dan tangan yang terkutung tampak beterbangan ditengah udara.

Dalam tempo sekejapan mata saja jalan raya itu sudah dibanjiri oleh darah merah dan kutungan anggota badan manusia yang berserakan disana sini. Semua orang2nya Im mo kauw yang tadinya datang hendak menolong kawannya telah habis binasa dalam keadaan tidak

utuh anggota badannya dan berlubang dadanya. Keadaan demikian sesungguhnya sangat mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.

Didalam rimba pinggir jalanan saat itu kelihatan bersembunyi seseorang, Agaknya orang ini sudah dibikin bercekat hatinya oleh sepak terjang dan perbuatan ganas atau pembunuhan yang bersifat kejam itu, sehingga diam-diam berkata pada dirinya sendiri “Jika dugaanku tidak salah, dan malaikat elmaut ini benar dia adanya, aku terpaksa harus turun tangan sebelum tumbuh sayapnya Jikalau tidak demikian, rimba persilatan tidak akan aman”

Bertepatan pada saat itu Kong Jie yang tadinya sedang berduduk untuk memulihkan kekuatannya, sudah berdiri dengan per-lahan2. setelah memperlihatkan ketawanya yang menyeramkan, orangnya lantai bergerak dengan perlahan menghampiri pemilik Golok Maut. Diantara sepuluh orang lebih orang-orang perkumpulan im-mo kauw, dia merupakan satu-satunya orang yang belum binasa.

Pemilik Golok Maut sambil menenteng golok pusakanya, matanya masih kelihatan beringas mengawasi Kong Jie yang perlahan-lahan menghampiri dirinya. Terpisah kira-kira beberapa kaki jauhnya, Kong Jie menghentikan tindakan kakinya. Ia mengawasi bangkai kawannya yang berserakan ditanah dalam keadaan tidak utuh, kemudian berkata dengan suara bengis: “Perbuatan tuan sebetulnya sangat keterlaluan ” “Heh, heh, kau juga tidak akan terhindar dari kematian ” “Ha, ha, ha Tuan sesungguhnya terlalu tidak pandang mata pada akusi orang she Kong. Hari ini kalau aku tidak bisa mengundang tuan datang keperkumpulan kami, aku yang rendah terpaksa akan membawa pulang

bangkai tuan untuk memenuhi tugasku.” Pemilik Golok Maut itu tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata: “Kong Jie, kau sedang mengimpi diwaktu tengah hari. Aku lihat kau agaknya ada sedikit sinting.”

Si Pedang berdarah Kong Jie yang mempunyai kedudukan sebagai Tiancu bagian hukum dalam perkumpulan im mo kauw, sudah barang tentu bukannya sebangsa orang sembarangan. Barusan ia telah dibikin terluka oleh lawannya, itu disebabkan karena ia agak sedikit lalai, yaitu ia sudah salah menaksir kekuatan pihak lawannya. Dan sekarang, ia sudah merencanakan suatu rencana keji dalam hatinya. sudah tentu pula, lain lagi keadaannya, maka ia lantas menjawab sambil ketawa dingin: “Kepandaian tuan ternyata lebih tinggi daripada kepandaiannya pemilik Golok Maut yang asli yang menggetarkan rimba persilatan pada beberapa bulan berselang. Tetapi perlu apa tuan menyaru orang lain buat melakukan keganasan itu?”

Pemilik Golok Maut agak terperanjat di buatnya, dengan tak terasa ia bergerak mundur satu tindak. Ucapan si orang she Kong tadi membikin ia terkejut dan ter-heran2, tetapi setelah pikirannya tenang kembali, ia lantas berkata dengan suara dingin: “Orang she Kong, tidak perduli tulen atau palsu, biar bagaimana kau toch sudah ditakdirkan akan binasa dalam tanganku.”

Pemilik Golok Maut meskipun dimulutnya bicara dengan seenaknya, tetapi dalam hatinya masih belum habis mengerti. Biar bagai mana ia juga tidak dapat memikirkan apa sebabnya Kauwcu Im mo-kauw harus

mengeluarkan perintah untuk mengejar dirinya. bahkan dapat pula memastikan kalau dia adalah orang yang menyaru sebagai pemilik Golok Maut. Ini benar-benar merupakan suatu keanehan-Mendadak Kong Jie berseru dengan suara bengis: “Hari ini aku mau tahu, siapa sebetulnya yang akan mati dan siapa yang akan hidup terus.” Sehabisnya berkata begitu pedang ditangannya dilonjorkan agak miring ujung pedang lurus kedepan- Mutiara merah yang menghiasi gagangnya pedang tiba2- kelihatan memancarkan sinar merah yang menyusuri gagang pedang. Sebentar saja seluruh awak pedang sudah lembah menjadi merah warnanya serta menyiarkan bau aneh.

Pemilik Golok Maut terperanjat. Kelihatannya ini adalah ilmu Kong Jie sehingga ia mendapatkan gelarnya Pedang berdarah.. Sewaktu pemilik Golok Maut menarik napas, bau yang sangat harum dan aneh itu telah tersedot tidak sedikit. seketika itu matanya dirasakan berkunang kunang dan kepalanya pusing. Kaki dan tangannya dirasakan lemas dengan mendadak, sehingga ia mengetahui gelagat tidak menguntungkan dirinya.

Tetapi belum lagi lenyap pikirannya itu, pedang ditangannya Kong Jie sudah digerakkan dan tiba2 menjadi lebih panjang tiga kaki. Bau harum yang agak amis semakin tersiar luas, maka ia lantas berkata sambil ketawa cengar cengir “Pemilik Golok-Maut, hari ini aku suruh kau menikmati bagaimana rasanya pedang berdarah ku ini.” Belum habis ucapannya, dari ujung pedangku sudah menyemburkan

hawa merah membara yang sangat hebat kelihayannya, hawa itu terus meluncur kearah tubuhnya pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok maut hatinya tergoncang hebat, dengan cepat orangnya bergerak kesamping sejauh tiga tindak. Kong Jie lantas memutar pedang ditangannya, sehingga hawa merah kelihatan berputaran sambil menyiarkan bau harum tercampur amis se-olah2 gumpalan jaring merah mengurung diri lawannya.

Pada masa2 yang lalu, orang-orang rimba persilatan yang bisa terlolos dari serangan pedang berdarah ini jumlahnya tidak seberapa. Pemilik Golok Maut dalam keadaan kagetnya mendadak mengeluarkan serangan Golok Maut yang sangat luar biasa. serangannya itu dilakukan cepat laksana kilat. Tapi Kong Jie sangat cerdik. Ketika ia melihat bahwa hawa merah yang keluar dari pedangnya ternyata tidak bisa merubuhkan lawannya, diam-diam ia sudah siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Maka ketika melihat badan lawannya bergerak. ia tidak menantikan sampai lawan turun tangan sudah menarik kembali pedangnya dan lompat mundur lima kaki jauhnya, sehingga dapat terhindar dari bahaya maut. sebetulnya pada saat itu pemilik Golok Maut sudah dibikin mabuk oleh hawa pedangnya Kong Jie tadi, cuma karena kekuatan tenaga dalamnya yang sangat hebat, ia masih bisa bertahan bahkan masih mampu pula melancarkan serangannya yang maha hebat. Tetapi kalau serangannya itu dibandingkan dengan keadaan biasanya, sudah dengan sendirinya jauh berkurang banyak kekuatannya .Jikalau tidak demikian,

sekalipun Kong Jie sudah mengetahui dari siang2, juga tidak akan terhindar dari kematian-

Bagi si pemilik Golok Maut sendiri, setelah ia melancarkan serangannya, mabuknya dirasakan semakin hebat, sehingga sudah hampir saja orangnya roboh. Kong Jie yang melihat keadaan lawannya demikian rupa lantas ketawa bergelak-gelak. Ia menggeser maju kedua kakinya, pedang merah ditangannya kembali diputar dan melancarkan serangan sekali lagi. Kali ini serangan ini ditujukan kearah jalan darah didepan dada lawannya. Pemilik Golok Maut meskipun sudah berada dalam keadaan setengah mati, tetapi kekuatan tenaganya masih tidak boleh dianggap remeh. Ia coba menenangkan pikirannya Sedapat mungkin, kembali melancarkan serangannya dengan Golok Maut. ―Sreeet..‖ Suaranya yang nyaring terdengar, kedua lengan bajunya Kong Jie yang lebar telah terbeset dan terdapat lubang besar dari ujung golok didepan dadanya sehingga Kong Jie merasa kaget dan ketakutan, ia dapat menyingkirkan diri.

Tetapi pemilik Golok Maut karena hawa racun dari pedangnya Kong Jie tadi sudah masuk terlalu banyak. maka ia tidak mampu mempertahankan diri lagi dan lantas roboh menggeletak ditanah. Jikalau tidak karena pemilik Golok Maut dalam keadaan setengah mabuk. Kong Jie sekalipun tidak sampai dibikin binasa tetapi sedikitnya juga akan terluka parah, tidak mungkin ia bisa meloloskan diri dengan begitu mudah.

Kong Jie setelah mundur jauh2, kembali maju menghampiri pemilik Golok Maut. setelah memperlihatkan ketawanya yang puas, ia lantas

berkata: “Aku si Pedang berdarah juga harus bertindak seperti apa yang telah aku katakan- Aku akan bawa pulang saja bangkaimu, tentunya lebih aman.” sehabis berkata, ia menggerakkan ujung pedangnya, kembali hendak menyerang.

Pada saat yang sangat membahayakan jiwanya Pemilik Golok Maut, tangan Kong Jie yang memegang pedang dirasakan seperti terpagut oleh semacam binatang yang begitu sakit terasanya, dan kekuatannya lantas hilang lenyap sama sekali dan pedangnya juga hampir saja terlepas dari tangannya. Ketika ia memeriksa dengan seksama, di pergelangan tangannya telah tertancap sebatang duri pohon cemara yang menancap didagingnya kira2 setengah dim. Pada saat itu sudah terang tanah.

Kong Jie coba melihat keadaan disekitarnya, tetapi la tidak dapat melihat bayangan seorangpun juga . Ia coba memikir- mikir, orang yang menyerang dia dengan duri pohon cemara ini kecuali sembunyikan dirinya didalam rimba pohon cemara yang lebat itu, sudah tidak ada tempat yang lebih baik lagi untuk sembunyikan dirinya. Tetapi rimba tersebut terpisah dari tempat berdirinya sedikitnya ada lima tombak jauh nya. Kalau mau dikata dari jarak sekianjauhnya orang bisa menggunakan senjata yang begitu ringan untuk menyerang lawannya tanpa bersuara, maka kepandaian orang itu sesungguhnya sangatlah mengejutkan sekali. Oleh karenanya, maka ia lantas berseru ke arah rimba lebat itu: “orang pandai dari mana? Kau tidak memandang mata kepada aku

seorang she Kong, perlu apa harus main sembunyi-sembunyian? ” Siapa nyana, perkataannya itu tidak ada yang menjawab

Kong Jie menjadi uring2an sendiri, tetapi kemudian ia berpikir pula: “Perduli apa. Lebih baik bereskan jiwanya orang ini lebih dulu ” Pedang panjangnya yang sudah berwarna merah dengan cepat sudah terayun ke arah tubuhnya pemilik Golok Maut yang dalam keadaan mabuk. Malaikat elmaut yang menggetarkan dunia rimba persilatan itu hampir saja jiwanya melayang diujung pedang Kong Jie si Pedang berdarah.

Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu tiba-tiba ada suatu kekuatan hebat yang tidak kelihatan meluncur dari samping. Kekuatan yang hebat itu telah membentur pedangnya Kong Jie sehingga miring dan hampir terlepas dari tangannya. Kong Jie yang biasanya kejam dan ganas, kali ini juga merasa terkejut dan rasa takut terlintas dalam otaknya

Ia yakin orang yang turun tangan secara diam-diam itu ada mempunyai kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya sendiri Ketika ia memandang keadaan disekitarnya ternyata ia tidak dapatkan gerakan apa2?. Ia yang mempunyai kedudukan tinggi dalam perkumpulan Im- mo- kauw, ditambah lagi dengan adatnya yang sombong, sudah tentu tidak mau sudah begitu saja. Selagi hendak mengeluarkan perkataan untuk memancing keluar orang yang menyerang dua kali kepadanya tadi, tiba2 didalam rimba itu terdengar suara orang ketawa dingin. suara itu mengandung ejekan yang sangat hebat

Kong Jie lalu menghadap kearah datangnya suara tadi dan berkata dengan suara nyaring: “Sahabat, aku si orang she Kong hari ini bisa menjumpai seorang berkepandaian tinggi, sudah merasa sangat beruntung. Tetapi karena tuan tidak mau unjukkan muka, aku yang rendah terpaksa hendak menghampiri kau sendiri” Baru saja perkataan terakhir keluar dari mulutnya, orangnya sudah melesat kedalam rimba.

Tetapi aneh bin ajaib. Dalam rimba itu tampak kosong melompong. satu bayangan manusiapun tidak kelihatan. Kong Jie dengan cepat bergerak memutar kedalam rimba sejauh seratus tombak, tetapi ketika ia keluar dari dalam rimba seketika lantas berdiri melongo. Karena pemilik Golok Maut yang tadinya menggeletak ditanah kini sudah menghilang dengan tidak meninggalkan jejak.

Ini sesungguhnya merupakan suatu pengalaman pahit bagi Kong Jie. Karena setelah ribut2 sekian lama, jangankan ketemu orangnya, bayangannya saja belum mampu dilihatnya, dan kini tahu-tahu sudah menghilang lagi dari depan hidungnya. setelah pemilik Golok Maut dibawa pergi oleh orang yang penuh rahasia itu, tidak antara lama disitu kembali muncul serombongan orang2 rimba persilatan- Diantaranya kebanyakan adalah orang2 Pek-leng-hwee, Cie in-pang dan Ban siu pang. Tetapi apa yang disaksikan oleh mereka hanyalah keadaan yang sangat mengerikan.

Potongan anggota badan manusia, bangkai yang berserakan disana sini dan darah merah yang membanjiri tanah.

Di suatu tempat pegunungan terpisah kira-kira lima lie jauhnya dari tempat terjadinya peristiwa yang mengerikan itu, ada terlihat sesosok bayangan orang yang sedang menggendong seorang orang tua berambut cputih. se-olah-olah seekor kampret terbang saja layaknya orang ini lari dengan sangat pesatnya. Sebentar kemudian bayangan orang itu kelihata berhenti di sebuah bukit curam. Bukit itu keadaannya tinggi sekali. Mungkin monyet saja masih susah mencapai puncaknya. Boleh juga dikatakan tempat tersebut merupakan suatu tempat yang jarang diinjak oleh kaki manusia.

Bayangan orang itu memakai kedok kain merah, sehingga tidak dapat dilihat wajahnya dan tak dapat ditebak umurnya. siapa dia ? Dia adalah orang penuh rahasia berkedok kain merah yang menyebut dirinya sebagai pemilik bendera burung laut. Dengan kepandaiannya yang tinggi sudah ada taranya, ia telah menolong dirinya pemilik Golok Maut dan membawanya ke suatu tempat yang sangat berbahaya serta jarang diinjak oleh manusia ini. orang berkedok kain merah itu setelah meletakkan dirinya orang tua dalam gendongannya diatas sebuah batu cadas, kemudian memeriksa dengan sangat teliti, mendadak lantas ketawa ber-gelak2: “Benar seperti apa yang kuduga, itu adalah dia…”

Dengan tangannya ia lantas mengebut ke mukanya pemilik Golok Maut. Terlihatlah suatu kejadian gaib. Dengan hanya kebutan itu saja pemilik Golok Maut tang tadinya merupakan seorang tua berambut putih, kini telah berubah menjadi seorang muda yang berwajah cakap dan tampan.

Terharunya orang berkedok kain merah

Anak muda itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pemilik Golok Maut yang menggetarkan seluruh rimba persilatan ternyata adalah seorang pemuda cakap tampan yang usianya belum lebih dari dua puluh tahun, ini benar2 merupakan suatu hal yang sangat aneh.

Orang berkedok kain merah itu badannya kelihatan bergemetar, nampaknya hatinya telah terguncang hebat. setelah berpikir sekian lamanya, ia lalu mengulurkan jarinya dan hendak menotok jalan darah kematian di badan pemuda tersebut. Ia bermaksud hendak membunuh pemuda yang ganas menakutkan itu, maksudnya buat menolong orang2 rimba persilatan supaya terhindar dari bencana di kemudian hari. Tetapi pada saat jari tangannya itu hendak meluncur turun, orang berkedok kain merah itu menghela napas. Ia mengurungkan maksudnya, agaknya merasa tidak tega buat turun tangan- Sebab anak muda masih merupakan satu pemuda yang usianya masih belum cukup dua puluh tahun-

Selain daripada itu, ada sesuatu perasaan yang sulit dikeluarkan, membuat orang berkedok kain merah ini tidak bisa turun tangan. Justru oleh karena itulah pemilik Golok Maut dapat terluput dari bahaya maut, dan orang berkedok kain merah yang merupakan manusia gaib pada masa itu juga terhindar dari kesalahan terbesar yang hampir saja dilakukannya.

Orang berkedok kain merah itu setelah bersangsi sejenak, lalu berkata kepada dirinya sendiri: “Bocah ini karena mendapat karunia Tuhan

sehingga merupakan suatu bibit luar biasa yang sukar dicari selama ratusan tahun dalam rimba persilatan. Ditambah lagi dengan penemuannya yang serba ajaib, sekarang ia telah mempunyai kekuatan yang sudah menyerupai orang kuat yang mempunyai latihan hampir seratus tahun Jikalau kepandaiannya itu digunakan pada jalan yang benar, sudah tentu akan menguntungkan dunia rimba persilatan. Tetapi jikalau digunakan pada tempat yang tidak benar, rimba persilatan tentunya akan mengalami pembunuhan besar2an yang tidak ada taranya. Hah. seorang yang diluarnya begini tampan dan cakap, tidak tahunya hatinya begitu ganas dan kejam. Yah, lebih baik aku tolong hidupkan jiwanya dulu untuk menanyakan sebab2nya Jika ia memang bersifat binatang, terpaksa harus kubereskan menurut maksudku semula.” Setelah berpikir demikian, ia lantas berjongkok. tangan kanannya menempel di tempat jalan darah Beng bun hiat. Dua jari tangan kirinya lantas menotok sekujur jalan darah di badannya pemuda itu.

Orang berkedok kain merah itu hendak menggunakan ilmunya yang tinggi sekali untuk mengeluarkan racun pedangnya Kong Jie dari dalam tubuhnya si pemuda. Ketika tangannya sampai di dada orang, mendadak ia telah menyentuh sebuah benda. Cepat ia mengeluarkan dan melihat benda tersebut, seketika itu matanya gelap berkunang-kunang, hampir saja ia jatuh rubuh. Ia se-olah2 merasakan seperti disambar geledek. sekujur badannya bergemetaran.

BAB 22 ORANG berkedok kain merah itu seperti orang yang tengah mengigau layaknya, mulutnya terus menyebut: ” Liong- kuat? oh dosa ”

Badannya perlahan-lahan berdiri, ia lalu mengangkat kepalanya, matanya mendongak mengawasi langit. Mungkin ia sedang mengenangkan semua apa yang telah terjadi di masa yang lampau, ia agaknya hendak mencari apa2 yang sudah berantakan. Lama sekali, matanya kembali menatap wajahnya si anak muda. sebutir air mata, menetes turun melalui lubang dikedoknya. Selanjutnya, air mata mengalir tak dapat ditahan dan akhirnya membasahi kain merah yang menutupi wajahnya.

Orang berkedok itu setelah terharu sekian lama, perlahan-lahan pikirannya tenang kembali. Ia berjongkok. dengan tangannya ia mengusap-usap wajahnya si anak muda. Seolah-olah lakunya seorang ayah, dengan penuh welas asih meng-usap2 anaknya, Mulutnya berkata sendiri dengan suara sedih: “Yo Cie Cong? Dia Yo Cie Cong? Kenapa bisa begitu? Dia tidak seharusnya memakai she Yo”

Pemuda itu memang betul adalah Yo Cie Cong, yang asal usulnya sangat mengenaskan danpada dirinya ada menanggung beban harus melaksanakan penuntutan balas dendam sakit hati untuk suhunya. Dimasa anak2 Yo Cie Cong pernah bercampur dengan kawanan pengemis dan dari seorang pengemis luar biasa ia telah dapat mempelajari ilmu mengganti rupa atau apa yang disebut make-up pada masa sekarang. Dengan kepandaiannya itu ia bisa menyaru dan merubah dirinya menjadi Yo Cie Hoan, suhunya atau pangcu Kam lo pang

Rupa-rupa kegaiban telah menimpa dirinya silih berganti, pertama dengan secara kebetulan telah menelan mustika Gu liong kao, dan kemudian dapat makan telur burung rajawali raksasa, sehingga menjadikan ia seorang yang kuat seperti sudah mempunyai latihan seratus tahun lamanya. Kemudian dengan secara kebetulan pula ia berjumpa dengan dua manusia aneh rimba persilatan Pak hong Pho ngoa hwesio atau si hwesio gila dan Lam tie Kun siu atau pengail linglung, yang telah menurunkan masing2 ilmu silat mereka yang luar biasa, hingga membuat ia dalam waktu yang singkat berubah seperti orang lain, bukan lagi Yo Cie Cong.

Dengan bekal kepandaian yang didapatkan secara tak terduga2 itu Yo Cie Cong hendak memulai melaksanakan tugasnya untuk menuntut balas. Pemimpin besar delapan belas perusahaan piauw di daerah Kui-lim Ceng Ceng lt yang mempunyai gelar lutung sakti lengan besi, ada merupakan korban kedua yang binasa di tangannya diantara musuh2nya Kam-lo-pang. sekarang mari kita balik lagi kepada orang aneh berkedok kain merah itu, Setelah pikirannya tenang kembali, lalu melanjutkan lagi usahanya untuk mengeluarkan racun yang mengeram dalam badan Yo Cie Cong.

Kira2 setengah jam lamanya Yo Cie Ceng perlahan2 mulai siuman. Ketika membuka matanya, pertama2 yang dilihat olehnya adalah warna merah dari kedok orang yang sangat menyolok. Peristiwa berdarah diatas jalan raya antara Kui-lim dan Ho-lam, dengan cepat terbayang kembali dalam otaknya. Ia lalu merasa bahwa untuk kedua kalinya ia telah ditolong oleh orang berkedok kain merah ini, maka dengan cepat ia lantai berbangkit.

Begitu ia berdiri, ia telah menjadi kesima, karena pada saat itu ia ternyata berdiri diatas batu cadas dipuncak sebuah gunung yang tinggi. orang berkedok itu masih tetap berduduk tanpa bersuara. “Lohu……” Baru saja mengeluarkan perkataan “lohu” Yo Cie Cong telah dapat lihat rambut dan jengot palsunya berserakan dibawah kakinya. Ia tahu bahwa kedoknya sudah terbuka muka wajahnya merah seketika. Dengan suara merendah ia lantas berkata: “Boanpwe kembali telah tertolong oleh locianpwe, dengan ini boanpwe ucapkan banyak-banyak terima kasih ”

Orang berkedok kain merah itu mengawasi Yo Cie Cong sejenak. baru berkata: “Anak. mengapa kau melakukan pembunuhan dengan menyaru sebagai pemilik Golok Maut?” “Menyaru ?” Diwajahnya Yo Cie Cong yang kecut dingin, nampaknya sangat gusar. Ia sedang memikir, apakah ia harus menceritakan hal yang sebenarnya ? setelah berpikir sekian lamanya, ia tahu bahwa rahasianya tidak dapat ditutup lagi, maka lalu katanya: “Boanpwe sama sekali tidak menyaru sebagai orang lain-” “Yo Cin Hoan- pangcu dari Kam lo-pang sudah binasa pada 20 tahun berselang, sekarang kau telah muncul didunia Kang-ouw dengan wajahnya orang itu ?” “Pangcu dari Kam lopang itu adalah suhu boanpwe.” “Hmm Tahun ini kau umur berapa ?” “Kira2 diantara 17 atau 18 tahun-” “Pangcu Kam lopang sudah binasa pada 20 tahun berselang, apakah orang yang sudah mati bisa menerima murid?”

“Suhu boanpwe binasa pada dua bulan berselang.” “Apa ? Dua bulan berselang ” “Ya. Beliau telah dibikin celaka untuk ke dua kalinya oleh musuhnya dan binasa pada dua bulan berselang.” Orang berkedok kain merah itu semakin heran, ia agaknya tidak mengerti apa yang di katakan oleh Yo Cie Cong. “Kedua kali ?”

“Ya. Dua puluh tahun berselang, ketika pusat perkumpulan Kam-lopang dihancurkan, orang-orang Kam-lo-pang telah berkorban semua. suhu boanpwe badannya terluka parah, lengan kirinya terpapas kutung, pingsan dalam tumpukan bangkai manusia. Kebetulan telah di ketemukan oleh seorang tabib kenamaan Gouw Cee Jin, yang sedang mencari obat2an di gunung Bu leng-san. Berkat pertolongan tabib itu akhirnya beliau tidak jadi binasa. selain daripada suhu sendiri, masih ada lagi dua pahlawan Kam lopang yang tidak turut binasa. satu adalah tongcu bagian hukum bernama Cek Kun yang sudah kutung kedua lengannya, satu lagi adalah tongcu bagian pelindung ciu Lip Toang sudah dibikin kutung kedua, pahanya.”

3. Mendapat ilmu baru lagi

“Cek Kun didalam kalangan Kang ouw ada sangat terkenal dengan ilmu mengentengi tubuhnya ” kata si orang aneh. “Ucapan cianpwe ini memang benar. Suhu boanpwe dengan mereka jadi berjumlah tiga orang, telah sembunyikan diri didalam satu goa digunang Bu leng san. Hidup dalam terasing sampai 20 tahun lamanya, mereka telah bertekad hendak menuntut balas atas sakit

hati mereka.” “Dan bagaimana kemudian mendapat celaka?” “Untuk suatu maksudnya hendak menuntut batas, suhu telah membuat senjata istimewa kemudian terkenal dengan nama Golok Maut. Disamping itu juga sudah menciptakan satu tipu silat istimewa yang cuma terdiri dari satu jurus saja. Beberapa bulan berselang suhu telah muncul didunia Kang- ouw untuk mencari musuh-musuhnya yang lama dan hendak menuntut balas dendam kepada mereka. Sayang tindakannya kurang hati sampai jejaknya dapat dibaui orang, salah satu musuhnya mengikuti sampai ditempat sembunyi suhu. Begitulah suhu, dan kedua susiok Cek Kun dan Ciu Lip To bertiga telah dibunuh mati olehnya semua. boanpwe sendiri pada saat itu kebetulan baru keluar mencari bahan makanan, jadi bisa terhindar dari malapetaka.”

Bicara sampai disitu, suaranya sudah kedengaran sedih sekali, air matanya mengambang keluar. sebentar kemudian, kembali terlhat tegas perasaan gemasnya. orang berkedok itu agaknya juga merasa terharu mendengar penuturan itu “Kalau begitu, tujuh kali pembunuhan yang dilakukan dengan Golok Maut adalah perbuatan suhumu setelah muncul lagi didunia Kang-ouw ? sedang pembunuhan yang paling belakang ini barulah kau yang melakukannya dengan jalan menyaru ” “Ketika suhu muncul lagi didunia Kangouw untuk menuntut balas sakit hatinya, baru berhasil membunuh enam musuhnya lantas menemukan ajalnya. Pembunuhan ke 7 dan ke 8 adalah boanpwe yang melakukan, sebagai kelanjutan untuk melaksanakan maksud suhu.”

Bicara sampai disitu, Yo Cie Cong tiba-tiba seperti ingat satu hal, maka ia lantas menanya:

“Nona Tio Lee Tin yang mempunyai gelar Burung Hong hitam apakah adalah muridnya cianpwe ?” “Benar ” “Nona Tio pernah berkata hendak mencari pemilik Golok Maut untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, dan sekarang keadaan sudah menjadi terang, bagaimana lo cianpwe hendak menyelesaikan soal ini?”

Orang berkedok itu tampak berpikir sejenak. lalu menjawab: “Tin-jie hendak melakukan penuntutan balas sakit hati atas kematian ayahnya, itu memang selayaknya bagi seorang anak. Tapi ayahnya Tio Ek Chiu dulu juga pernah turut ambil bagian dalam perbuatan menumpas Kam lo-pang, maka kematiannya itu juga ada akibat atas perbuatannya sendiri. Harap kau suka ambil perhatian sedikit atas dirinya, aku pasti akan berdaya untuk menghapuskan tali permusuhan ini ”

Yo cie Cong mendengar keterangan orang berkedok yang tegas dan tidak berat sebelah, dalam hati merasa sangat kagum, maka lantas berkata dengan suara sungguh-sungguh: “Ucapan locianpwe ini sesungguhnya tidak berat sebelah, boanpwe pasti akan mentaati perintah locianpwe.” “Anak, apa kau she Yo ? Maafkan kalau aku ada sedikit bawel. bolehkah kau menceritakan sedikit asal usul dirimu ?”

Yo Cie Cong merasa heran, ia tidak tahu apa maksud orang aneh ini. Tetapi ketika matanya menatap sinar mata orang berkedok yang terlihat dari kedua lubangnya, nampaknya sinar mata itu ada mengandung perhatian besar atas dirinya, maka seketika itu ia lantas terdiam. sinar mata orang itu agaknya mempunyai daya penarik yang

begitu kuat, sampai ia tidak berdaya menentang kehendaknya. Yo Cie Cong sebetulnya ada seorang pemuda yang beradat tnggi tapi saat itu ia telah berubah menjadi seorang yang jinak sekali.

Penderitaan hidupnya dimasa anak-anak. merupakan suatu kenangan yang pahit. Asal usul dirinya yang tidak diketahui, merupakan tekanan batin yang tidak mudah dihapus. Maka tatkala ditanya tentang asal usul hidupnya, untuk sesaat lamanya ia seperti diombang-ambingkan oleh gelombang kedukaan. setelah menghela napas panjang, ia baru berkata: “Boanpwe sebetulnya ada satu anak piatu, atau lebih mirip kalau dikatakan anak buangan. ssjak boanpwe bisa mengingat, boanpwe sudah merupakan satu anak piatu yang hidup seorang diri saja. Tidak mempunyai nama, tidak mempunyai she, juga tidak mempunyai sanak dan kadang, boanpwe seolah-olah dijelmakan didalam dunia ini seorang saja tanpa mengenal ibu bapaknya.”

Ucapan Yo cie Cong ini se-olah2 sebilah belati tajam menusuk ulu hati orang berkedok itu, ia merasa hatinya seperti telah terluka dan mengalirkan darah. Badannya kembali gemetaran Yo Cie Cong dengan air mata ber-linang2 melanjutkan penuturannya : “Lima tahun berselang, boanpwe telah dipungut oleh suhu, ialah ketua Kam-lopang, Yo Cin Hoan. suhu telah memberi pelajaran pada boanpwe ilmu silat dan pandang boanpwe sebagai anaknya sendiri, maka suhu adalah merupakan satu-satunya anggota keluarga buat boanpwe, dan oleh karena itu boanpwe lantas mengikuti shenya suhu.” Saat itu agaknya terbayang pula peristiwa mengenaskan digoa gunung Bu leng san, kematian suhunya dan kedua susioknya yang menggeletak diantara lautan darah.

Maka matanya lantas tampak beringas, suaranya mengandung kebencian hebat. “kawanan iblis itu,” katanya meneruskan kembali “sudah merenggutkan jiwa suhu dan susiok yang merupakan satu-satunya keluarga terdekat dengan boanpwe.” Tangannya dikepal keras, matanya memandang kelangit, ia berkata kepada dirinya sendiri dengan nada penuh rasa duka dan gemas yang meluap-luap: “Bunuh Bunuh Aku akan bunuh habis itu semua kawanan iblis yang tidak mempunyai hati perikemanusiaan.” orang berkedok itu agaknya sudah terbenam dalam lamunannya yang menyedihkan, ia sesungguhnya sudah kepingin sekali merangkul anak muda dihadapannya untuk menjelaskan segala-galanya, tetapi ia paksa menindas keinginan hatinya itu. Dengan demikian, ia seolah-olah membunuh perasaannya sendiri

Bertahun-tahun lamanya ia selalu mengharapkan akan tibanya keganjilan dalam hidupnya, tetapi ketika keganjilan itu datang dalam bentuk kenyataan, ia tidak berani menghadapinya, ia kini malah rela hendak memikul penderitaan seorang diri saja. Dulu karena kesalahan bertindak. telah membuat ia mengalami penderitaan untuk seumur hidupnya. Jikalau ia kini menceritakan lagi semua apa yang telah terjadi, tentu akan menimbulkan akibat yang menakutkan.

Ia memandang wajah pemuda tampan di depan matanya, didalam penderitaan bathinnya seolah sudah mendapat suatu hiburan. Ia takut kalau nada dari perkataannya bisa menimbulkan curiga bagi Yo Cie Cong, maka ia tidak berani buka mulut. Tapi air matanya kembali mengalir keluar membasahi kain kedoknya.

Kedua orang itu masing-masing terbenam dalam alam pikirannya sendiri-sendiri Keheningan berlangsung terus sekian lamanya. Yo cie Cong kembali membuka suaranya memecahkan kesunyian: “Boanpwe ada suatu permintaan yang tidak layak.” Orang berkedok itu agaknya tersadar dari lamunannya setelah menyahut “oh…” ia lantas balas menanya : “Anak, kau ada permintaan apa ?” “Tentang rahasia diri boanpwe ini harap locianpwe pegang teguh dulu.” “Boleh.” “Perkumpulan Im-mo-kauw mengapa memerintahkan orang untuk mengejar boanpwe? Bahkan telah memastikan bahwa boaupwe bukan pemilik Golok Maut aslinya, adakah locianpwe tahu sebab musababnya ?” “Soal ini ada merupakan suatu teka-teki besar, terpaksa harus diselidiki dengan perlahan-” “Entah ilmu apa yang digunakan oleh si Pedang berdarah Kong Jie, boanpwe cuma merasa setelah mengendus bau harum, lantas…” “Pedang berdarah yang digunakan oleh Kong Jie, adalah benda pusaka peninggalan jaman peperangan. Pedang itu dulunya ada pedangnya mo-cun cia, entah bagaimana bisa terjatuh kedalam tangannya…”

Orang berkedok itu bicara sampai disitu, seolah ingat sesuatu maka setelah berhenti sejenak lalu berkata pula: “Kehebatan pedang itu terletak pada biji mata mutiara merah darah yang ada digagang pedang. Mutiara merah itu bisa mengeluarkan kabut harum orang yang dibikin mabuk oleh kabut harum itu, harus memerlukan waktu dua hari dua malam lamanya baru bisa mendusin. orang yang memegang pedang, dengan kekuatan tenaga dalamnya, dari

tangan yang memegang pedang mendesak keluar kabut merah dari dalam mutiara itu keluar pedang .Buat orang yang mempunyai kepandaian sudah tinggi sekali, bisa memancarkan sinarnya pedang sampai lima kaki jauhnya, ditambah lagi dengan awak pedang dan tangannya sendiri yang panjang, serangannya itu dapat melukai sejarak satu tombak lebih jauhnya.”

Yo Cie Cong agaknya sangat ketarik oleh keterangan itu, ia semakin kagum terhadap orang berkedok ini yang ternyata memiliki pengetahuan sangat luas dalam rimba persilatan dan segala rupa senjata. “Apakah sudah tidak ada benda lainnya yang digunakan untuk menundukkan pedang itu?” “Ada Cuma sulit sekali ” “Bagaimana sulitnya ? Boanpwe ingin tahu penjelasannya.” “Kalau bisa melatih ilmu kekuatan tenaga hawa serupa ‘cao khie’ dan sebagainya, diwaktu menghadapi musuh yang mempunyai senjata demikian, harus dengan menggunakan ilmu ‘Cao khie’nya untuk melindungi sekujur badannya, dan mencegah tersentuhnya sinar pedang dan kabut merah yarg tidak kelihatan itu, kemudaan dengan kekuatan tenaga tangan yang sangat tinggi, dikeluarkan serangan secara beruntun, supaya lawan itu tidak berdaya memusatkan kekuatan tenaga dalamnya ketangan yang memegang pedang. Dengan demikian, maka kabut harum dari mutiara itu dengan sendirinya juga tidak bisa dikeluarkan. Tapi orang yang melatih ilmu beginian, selama seratus tahun ini belum pernah ada orang dengar.” Yo Cie Cong setelah mendengar keterangan tersebut, diam-diam merasa malu sendiri.

Dari si Pengail linglung dipulau Batu hitam di Lam hay, ia telah dapatkan pelayaran ilmu Kian goan cin cao, yang juga termasuk ilmu Cao khie. sebab tidak mengerti untuk menghadapi musuh yang bagaimana ilmu demikian itu, maka ia tidak pernah gunakan ilmu itu. Hampir saja ia kehilangan jiwanya . Dalam hatinya berpikir, tapi mulutnya tidak mengatakan apa-apa. sedang orang berkedok kain merah itu beberapa kali hendak menceritakan rahasia dalam hatinya, tapi perkataannya yang baru sampai dimulut lantas ditelan kembali, ia masih kuatir akibatnya yang sangat menakutkan-

Setelah pikirannya berputar sekian lama, ia telah mengambil keputusan hendak membiarkan kejadian mengenaskan dimasa yang sudah lampau itu terus tertanam dalam lubuk hatinya. setelah menghela napas dalam, ia baru berkata dengan suara agak gemetar: “Anak Kita sudah waktunya untuk berpisah” Yo Cie Cong cuma bisa anggukkan kepalanya. “Anak. jikalau kau tak menolak. aku ingin menurunkan pelajaran tipu silat. maukah kau?”

Yo Cie Cong tiba-tiba ingat dirinya si hweshlo gila, pengail linglung yang masing-masing telah menurunkan pelajaran tipu silat istimewa padanya, maksudnya ialah suruh ia mewakili kedua orang aneh itu untuk memenuhi janji dalam pertandingan dengan muridnya orang aneh dalam rimba persilatan Leng Jie Hong. Dan sekarang orang berkedok ini kembali hendak menurunkan pelajaran silat padanya, entah suruh ia melakukan pekerjaan apa lagi? Maka ia lantas menjawab: “Cianpwe pernah melepas budi dengan menolong jiwa boanpwe sampai

dua kali, jika ada urusan apa-apa yang memerlukan tenaga dari boanpwe…” “Eh anak, perkataanku ini apa maksudnya ?” “Perkataan Boanpwe ada keluar dari hati yang sejujurnya.” “Haha Apa kau kira aku menurunkan pelajaran silat kepadamu ada memerlukan bayaran?” Yo cie Cong merasa jengah sendiri, ia tadi memang berpikir demikian- Berkata pula orang berkedok itu: “Aku menurunkan pelajaran ilmu silat padamu cuma ingin meninggalkan satu peringatan atau kenangan antara aku dengan kau ” “Meninggalkan satu peringatan ?” “Ya, anak sekarang barangkali kau masih tidak mengerti maksudku ini, tapi ada satu hari kau nanti pasti akan mengerti sendiri ”

Yo cie Cong bingung. ia tidak mengerti apa maksud perkataan orang berkedok ini yang hendak meninggalkan satu peringatan baginya. Namun ia juga tidak mau pikir terlalu dalam. Ia hanya menjawab sekenanya. Jikalau pada saat itu, Yo Cie Cong mau memperhatikan kelakuan yang luar biasa dari orang berkedok itu kepada dirinya dan menanyakan sebabnya, mungkin ia dapat memecahkan rahasia mengenai dirinya. Tapi sayang ia tidak berbuat demikian. orang berkedok itu kini mulai dengan pelajarannya dengan hafalan dan prakteknya, supaya Yo Cie Cong faham benar-benar.

Yo Cie Cong ada satu anak cerdik luar biasa, ditambah dengan kegaiban yang ia alami membuat ia mempunyai kekuatan otak yang luar biasa. Maka untuk mempelajari segala ilmu silat. sekejapan saja sudah matang betul.

“Anak, tipu silat ini, adalah hasil ciptaanku sendiri yang menggunakan tenaga dan jerih payah selama hidupku. Tipu silat ini aku namakan ‘Menggeser tubuh menukar bayangan’ bagi orang Kangouw biasa saja, nanti akan kau bikin bingung oleh tipu silat ini”

Yo Cie Cong saat itu perhatiannya sudah tertarik benar oleh tipu silat yang aneh luar biasa ini. ia makin lama memikirkan makin merasa kegaibannya tipu silat ini. Benar2 seperti ilmu setan menghilang. Justru ilmu silat itulah yang digunakan oleh si orang berkedok untuk menolong jiwanya pemilik Golok Maut yang kemudian diketahuinya ada dirinya Yo Cie Cong yang menyaru, dari ancaman pedang Kong Jie.

Dengan kepandaiannya dan kekuatannya seperti Kong Jie, ternyata masih tidak tahu bayangannya orang yang menolong jiwa korbannya. Maksud dan tujuannya orang berkedok itu menolong dirinya pemilik Golok Maut dan kemudian dibawa ke puncaknya gunung, ialah karena mencurigai Yo Cie Cong yang menyaru dan menggunakan nama pemilik Golok Maut untuk melakukan kejahatan, perbuatannya itu agak terlalu ganas, maka ia pikir hendak menyingkirkan dirinya. siapa nyana kenyataannya tidak demikian- Disatu fihak ia merasa simpatik atas perbuatannya anak muda itu, dilain fihak. ia sesungguhnya tidak nyana bahwa anak muda berwajah dan bersikap dingin kaku ini, ternyata merupakan bayangan yang melekat dalam hatinya selama 18 tahun lebih lamanya.

Ia tidak mempunyai keberanian menceritakan semua kejadian yang menyedihkan pada masa yang lampau kepada anak muda itu, ia rela menanggung sendiri itu segala kesedihan untuk selama nya.

Ia sungguh tidak memikirkan bahwa dengan berlaku demikian, hampir saja ia melakukan suatu kesalahan besar.

Yo cie Cong dengan sikapnya yang menghormat sekali menyoja kepada orang berkedok merah itu, berkata: “Boanpwee mengucapkan banyak terima kasih atas budi Locianpwee yang telah memberikan pelajaran kepada Boanpwee ini ” “Anak. kau tak usah mengucapkan terima kasih, semua ini lantaran jodoh, jodoh ” “Kalau cianpwee sudah tidak ada lain urusan apa-apa lagi, Boanpwe ingin minta diri ” “Baiklah, anak. didalam dunia ini memang tak ada perjamuan yang tidak bubaran ” Ucapan orang berkedok kain merah itu kedengarannya sangat memilukan hati.

Yo Cie Cong bercekat. Dalam hatinya diam-diam berpikir, bagaimana orang kuat dalam rimba persilatan yang merupakan seorang sangat misterius ini mendadak bisa berubah seperti lakunya kaum hawa yang berhati lemah? “Cianpwee, sebagai orang Kang ouw yang merantau, kita pasti bisa bertemu lagi” “Ya, anak, pergilah Harap kau bisa bawa dirimu baik-baik, kecuali untuk membalas dendam, paling baik jangan terlalu banyak melakukan pembunuhan terhadap jiwanya orang yang tidak berdosa, agar tidak berdosa kepada Tuhan” “Boanpwee akan ingat pesan cianpwee ini ” Kedua orang itu lantas berpisahan dan meninggalkan tempatang berbahaya itu.

Tiga hari kemudian. Pemilik Golok Maut yang sangat misterius dan menakutkan telah muncul dikota Tiang-soa. Kali ini, dalam waktu tiga hari saja sudah tiga orang kuat yang namanya cukup terkenal, telah binasa dibawah cincangannya golok Maut. Yang pertama adalah Gouw Leng Lam yang mempunyai gelar Cit cie seng-kiam atau dewa pedang jari tujuh.

Yang kedua adalah see bun cun Tek. yang mempunyai gelar Burung belibis. Ia adalah pemirnpin kawanan bajak laut yang sering melakukan operasinya didaerah pengairan telaga Tong teng. Tempat dimana ia menemukan ajalnya ialah didalam salah satu kamar rumah penginapan yang paling mewah dikota Tiang-soa. Yang ketiga adalah Lie Bu shia, yang mempunyai gelar Kiu-thian Hui-peng atau Burung rajawali terbang. Sejak munculnya Golok Maut didunia Kangouw sehingga pada saat itu, sudah ada 11 orang kuat yang terkenal namanya baik di kalangan hitam maupun putih yang menjadi korban, tidak ada satu yang memberi perlawanan. Maka, kota Tiang-soa dalam waktu beberapa hari saja sudah menjadi pusat perhatiannya orang2 dunia Kang-ouw. Peristiwa ini sangat menggemparkan, lebih menggemparkan daripada yang sudah-sudah.

Dalam waktu tiga hari mengambil tiga korban jiwa manusia kuat, suatu perbuatan yang mengejutkan. Orang-orang dunia Kang-ouw dari pelbagai tempat berduyun-duyun menuju kekota Tiang-soa, mereka mengharap bisa melihat wajah aslinya pemilik Golok Maut yang sangat kejam dan ganas itu, tapi ada

juga yang mengundang lain maksud. Terutama bagi orang-orang yang dulu pernah ambil bagian dalam pembasmian perkumpulan Kam-lo-pang, kejadian itu dirasakan seperti duri yang menancap diatas punggungnya. Manusia ganas itu satu hari saja belum di singkirkan, mereka selalu masih merasa tidak aman.

Hari kedua tengah hari tepat pada waktu see-bun cun Tek menemukan ajalnya. Di Ceng-yang ciu-lauw, satu rumah besar didalam kota Tiang-soa, nampak penuh sesak dengan tetamunya dari pelbagai tempat. Rumah makan yang bertingkat dua dan mempunyai tempat luas yang bisa menampung kurang lebih 30 orang itu, hampir tidak ada satu kursi yang kedapatan kosong. Cuma apa yang agak luar biasa, ialah tetamu-tetamu itu hampir semuanya terdiri dari orang2 Kang-ouw. suara orang bicara terdengar amat riuh, hampir semuanya membicarakan soal Golok Maut. Apakah Golok Maut itu sudah meninggalkan kota Tiang soa, atau mencari korban lain lagi? Tidak ada seorangpun yang bisa dapat tahu. Mereka hanya menduga-duga saja secara sembarangan.

Disalah satu meja pada suatu sudut dekat jendela, saat itu ada duduk seorang pemuda berwajah tampan tapi sikapnya dingin kecut, ia duduk seorang diri sambil minum dengan sikapnya yang tenang. Ia adalah Yo Cie Cong. Daftar nama musuh-musuhnya Kam lo-pang yang berada padanya, kini tiga nama lagi sudah di hapus. Tapi ia masih belum merasa lega, sebab 5 musuh besar yang tertulis dilembar pertama dengan nama singkatan IM, YANG, SIU, KUAY dan PO, hanya siluman tengkorak Pek- bin

ciang-sie-kuay Lui Bok Thong, yang sudah bertemu satu kali. Yang lainnya, bayangannya saja masih belum kelihatan.

Musuh- musuh yang binasa ditangannya, diantara musuh- musuhnya Kam-lo-pang, merupakan orang-orang yang tidak berarti. Dapat dibayangkan sendiri betapa beratnya tugas Yo Cie Cong yang harus dipikul itu. sekarang, hanya merupakan babak permulaan saja. Dengan sepasang matanya yang bersahaya, Yo Cie Cong memandang wajahnya setiap tetamu yang ada di rumah makan tersebut.

Matanya segera dapat melihat 5 laki-laki berbadan tegap yang duduk berkumpul disatu sudut dekat tembok. orang-orang ini rasanya ia seperti pernah lihat, tapi entah dimana setelah ia putar otaknya sekian lama, ia baru ingat bahwa laki-laki itu adalah anak buahnya Pek leng hwee. orang-orangnya Pek leng hwe sudah muncul di kota Tiang soa, orangnya kedua Pang mungkin juga tidak ketinggalan-

Dalam usahanya untuk menghadapi pemilik Golok Maut, Pek leng hwee dengan kedua pang, selalu bekerja bersama-sama. Ketua Pek leng hwee dan kedua Pang, juga terdapat dalam daftar nama musuh-musuhnya Kam lopang. Yo cie Cong juga masih tidak lupakan perbuatan orang-orang itu ketika hendak membunuh dirinya ditepi danau Naga. Itu berarti permusuhan lama ditambah dengan permusuhan baru maka rasa bencinya lantas berlipat ganda, tidak heran kalau pada saat itu Yo Cie Cong matanya lantas beringas secara mendadak. ia hampir saja tidak mampu mengendalikan dirinya. Diwajahnya yang tampan, sekejap

saja sudah dipenuhi hawa pembunuhan-‘Membunuh’ pikiran yang menakutkan itu, telah timbul dalam otaknya Yo Cie Cong.

Mendadak ditangga loteng ada terdengar orang berjalan- sebentar kemudian lantas muncul wajahnya dua orang tua yang sangat menjemukan. Kebetulan disamping Yo cie Cong duduk tadi terdapat tempat kosong. Dua orang tua yang baru datang itu setelah mencari sana-sini, ia telah dapat lihat tempat kosong itu. Maka keduanya lantas menghampiri Ketika Yo Cie Cong menyaksikan wajahnya kedua orang tua itu, dalam hatinya diam-diam lantas berseru: “Bagus kembali ada dua orang yang hendak mengantarkan jiwanya.”

Dua orang tua itu ketika tiba didepan tempat kosong, mendapat lihat dirinya Yo Cie Cong. semula mereka agak terkejut, kemudian lantas saling mengawasi dengan kawannya dan ketawa terbahak-bahak. siura ketawa mereka yang kedengarannya seperti ketawa setan itu, telah menarik perhatian para tetamu. Dua orang tua itu setelah duduk ditempatnya, lantas minta pelayan supaya menyediakan makanan dan minuman,. “sepasang manusia buas dari Lam hong ” begitu terdengar suara berisik diantara para tetamu.

Oleh karena suara ketawanya sepasang manusia buas dari Lam hong tadi, telah membual orang-orangnya Pek leng hwee dan kedua Pang, yang tadi tidak perhatikan dirinya Yo cie Cong, kini telah mendapat lihat wajahnya anak muda itu, hingga mereka pada kasak kusuk, entah apa yang dirundingkan Tapi sudah tentu hal-hal yang mengenai dirinya

anak muda itu. Meskipun mereka tidak mengetahui keadaan anak muda itu yang sebenarnya, tapi 5 laki-laki dari Pek leng hwee itu nampaknya ambil perhatian besar terhadap dirinya Yo cie Cong, karena mereka tahu benar bahwa anak muda itu adalah seorang yang dikehendaki benar oleh ketua mereka.

Mendadak, mata semua tetamu terbelalak memandang kearah tangga loteng. Yo Cie Cong yang tertarik oleh keadaan demikian, matanya juga mengawasi kearah tangga loteng. Diwajahnya yang kecut dingin, mendadak tertampak gembira. Dengan cepat ia berbangkit dari tempat duduknya dan lari menghampiri.

BAB 23 TETAMU yang baru datang itu bukan lain daripada Thian san Liong lie Tho Hui Hong, itu pendekar wanita setengah umur yang berwajah cantik dan berkepandaian tinggi. Ia kelihatan berdiri celingukan, agaknya sedang mencari tempat kosong untuk tempat duduk. Thian san Liong – lie meski usianya sudah setengah tua, tapi kecantikannya masih bisa menggiurkan hatinya anak muda. Semua tetamu yang ada disitu, meski pada dibikin silau matanya oleh kecantikan Thian-san Liong- lie, tapi tidak ada yang berani berlaku ceriwis, karena namanya wanita gagah itu dikalangan Kang-ouw ada sangat terkenal dan ditakuti baik oleh orang golongan hitam maupun golongan putih. Apalagi mengingat suhunya berkepandaian sangat luar biasa, meski usianya sudah lebih dari seratus tahun- suatu keistimewaan bagi wanita gagah itu, diparasnya yang cantik,

selamanya seperti diliputi oleh kabut kedukaan, namun tidak begitu nyata. Apakah sebab yang sebetulnya ? Tidak ada seorangpun yang tahu. Pada saat itu, ia juga sudah dapat melihat Yo Cie Cong yang berbangkit dan lari menghampiri kepadanya.

Ia juga merasa sangat girang akan pertemuan itu. Dengan bersenyum manis ia berjalan menyongsong Yo Cie Cong. Wajahnya Yo Cie Cong ada mirip benar dengan kekasihnya 10 tahun berselang dan yang sehingga saat itu masih belum hapus dan ingatannya. Maka didalam matanya, Yo Cie Cong adalah merupakan seorang yang dapat meringankan penderitaan hatinya. Maka ketika anak muda itu mendapat kesulitan ditepi danau Naga, dengan tanpa menghiraukan jiwanya sendiri ia berusaha untuk melindungi dirinya.

Yo Cie Cong ketika binasa dibawah serangannya iblis berwajah singa, ia telah mengubur jenazahnya bersama-sama Siang-koan Kiauw, itu gadis baju merah, anak tirinya Cin Bie Nio. selanjutnya, ia dengar ramai dikalangan Kangouw tentang beritanya Yo Cie Cong yang sudah mati telah hidup kembali. Ia pernah mencari kemana-mana, tidak nyana hari ini telah bertemu dirumah makan itu.

Begitu pula dilihatnya Yo Cie Cong, yang selalu berwajah kecut, ketika melihat dirinya Thian san Liong lie lantas menjadi girang, karena ia seolah-olah sudah bertemu dengan ibunya sendiri Masih jauh ia sudah berseru dengan suara girang: “Bibi Tho Mari disini ada tempat kosong.” Ia memegang erat tangannya Thian san Liong lie diajak kemejanya.

Ia memang duduk dan minum seorang diri saja, kedatangan Thian san Liong lie ada sangat kebetulan-

Thian-san Liong lie setelah duduk dikursinya depan Yo cie Cong, ia mengawasi wajahnya anak muda itu sejenak. baru berkata: “Anak. sungguh tidak dinyana aku bisa bertemu lagi dengan kau ” “Terima kasih atas perhatian bibi, Boanpwee juga selalu ingat diri bibi.” Dua manusia dari Lam hong yang telah dapat melihat Yo Cie Cong, dalam hati mereka sudah menganggap bahwa itu ada satu kesempatan yang paling baik yang diberikan oleh Thian- Ternyata mereka masih belum melupakan mustika Gu-liong kauw yang berada didalam perutnya Yo cie Cong

Tapi kini, mereka lihat dirinya Thian-san Liong- lie yang duduk disatu meja dengan Yo Cie Cong, dalam hati merasa cemas dan sangat gelisah. Lotoa yang tua dari kedua manusia buas itu duduk membelakangi Yo cie Cong, maka tidak dapat dilihat bagaimana sikapnya. Tapi Lojie (adiknya) ada duduk berhadapan dengan Yo cie Cong. Dengan matanya yang seperti mata tikus, Lo jie terus mengawasi Yo Cie Cong dengan tanpa berkedip. Sikapnya manusia buas yang demikian itu, bagi Yo Cie Cong sudah tidak asing lagi. Ketika kawanan manusia iblis berebutan hendak membelek perutnya ditepinya danau Naga, ia sudah banyak melihat sikap demikian itu. Itu ada satu sikap kombinasi antara kejahatan, kekejaman dan ketemahaan.

Yo cie Cong yang dibikin sebal oleh sikap demikian itu otomatis wajahnya menjadi dingin kecut lagi. Thian san Liong lie yang menyaksikan Yo cie Cong baru saja bicara, mendadak wajahnya sudah berubah demikian rupa, diam-diam juga merasa heran- Ketika ia mengikuti pandangan mata Yo Cie Cong, wajahnya juga mendadak berubah^ Yo cie Cong setelah mengeluarkan suara dihidung, lantas berkata kepada dua manusia buas dari Lam hong itu. “Adakah kalian masih ingat akan diriku ?”

Lojie lantas menyahut sambil ketawa cengar-cengir: “Bocah pertemuan kita ini memang sudah jodoh ” “Bocah Manusia dimana saja bisa bertemu, pertemuan kita hari ini bukan merupakan suatu kejadian yang ganjil ” menyambung Lotoa. Thian san Liong ie nampak mulai naik darah, wajahnya berubah pucat, selagi hendak buka mulut tidak jadi karena melihat Yo Cie Cong melarang. Yo Cie Cong mencegah dengan kedipan matanya kemudian sepasang matanya sangat tajam telah menyapu pada kedua manusia buas itu.

Sepasang manusia luas itu nampaknya di bikin terkejut oleh pandangan mata Yo Cie Cong itu. Dalam hati mereka diam-diam berpikir: “Heran, bocah ini yang baru saja dua bulan tidak ketemu, sekarang seolah-olah sudah berubah menjadi lain keadaannya.” Thian san Liong lie tidak perhatikan sinar matanya Yo Cie Cong, hanya dengan sorot matanya yang gusar terus mengawasi dirinya kedua iblis itu. Ia sudah tahu benar kejahatan dan kebuasannyakedua manusia itu. Ia kuatir bahwa kejadian ditepinya danau Naga tempo hari akan

terulang lagi dirumah makan ini. sebab Yo Cie yong pernah menelan mustika Gu liong kauw, dan mereka tahu, bahwa mustika itu masih mengeram dalam perutnya Yo Cie Cong. Bila benar-benar terjadi gaduh, akibatnya akan lebih menakutkan pikir Thian san Liong lie.

Sudah tentu Thian san Liong lie tidak tahu kalau keadaannya Yo Cie Cong pada saat itu, ada sangat berlainan dengan Yo cie Cong pada tempo hari. Berbareng dengan itu, orang-orang dunia Kang-ouw yang hari itu berkumpul dan makan minum dalam rumah makan itu, satupun tidak tahu bahwa manusia misteri ini, atau si pemilik Golok Maut yang ganas dan menakutkan, adalah itu pemuda berwajah tampan tapi kecut dingin, yang kini beradu didepan mata mereka sendiri sementara itu, Yo Cie Cong setelah mengawasi kedua manusia buas itu,lalu berkata pula: “Apa yang kalian ucapkan memang tidak salah. Hari ini kita benar-benar ada jodoh, apa yang kalian lakukan kepada diriku tempo hari tidak ada satu hari aku bisa lupakan. Aku justru sedang mencari kalian berdua ”

Lojie setelah tercengang sebentar, lalu menjawab: “Bocah, kita berdua saudara dapat memenuhi kehendakmu ” “Bagus, sekarang juga atau harus mencari tempat lain ?” Thian san Liong lie merasa kaget dan heran sebab ia tahu benar tentang keadaan dan kekuatannya Yo Cie Cong tidak nanti mampu menandingi kedua iblis itu. Namun ia sekarang berani menantang kedua manusia buas itu, ini benar-benar tidak habis dimengerti. Belum lenyap pikirannya, terdengar Lotoa nyeletuk sambil ketawa.

“Bocah, nanti malam sesudah rembulan muncul, kita bertemu lagi di Cit lie peng, kira-kira 7 lie diluar kota sebelah Timur bagai mana ?” “Baik tempat yang kalian pilih tepat sekali, disitu sangat indah pemandangan alamnya”

Dua manusia buas itu memandang Yo Cie Cong dengan mata mendelik. Karena sebisa- bisa menahan sabar, dalam hati mereka menyumpahi dirinya anak muda itu. Thian-san Liong lie dengan penuh rasa kuatir berkata kepada Yo Cie Cong: “Anak, kau….” Yo Cie Cong sambil bersenyum menjawab dengan tenang: “Bibi Tho, jikalau bibi ada kegembiraan nanti malam boleh juga turut menyaksikan keramaian itu ” “Anak. dua manusia itu sangat ganas dan telengas, kepandaiannya juga tidak dapat di pandang ringan- “Itu boanpwee mengerti, bibi Tho, harap bibi tak usan kuatir, Boanpwe tidak nanti berlaku ceroboh” “Tapi kau toch masih belum mampu menandingi mereka, apa lagi hari ini dikota Tiang-soa ada banyak orang-orang gagah dari berbagai golongan- apabila hal ini nanti menarik perhatian kawanan iblis yang temaha mengingini mustika Gu long-kauw itu bukankah..” “Itu ada lebih baik, biarlah mereka semua nanti tahu bahwa dalam rimba persilatan masih ada keadilan ”

Thian-san Liong lie dengan penuh keheranan mengawasi Yo Cie Cong. Hanya beberapa bulan saja tidak bertemu, anak muda itu seperti sudah berubah menjadi orang lain. Berita tentang kedua manusia dari Lambong telah menbuat perjanjian dengan Yo cie Cong untuk mengadakan pertempuran, dari satu mulut

kelain mulut, sebentar saja sudah diketahui oleh seluruh tetamu yang ada disitu.

Kejadian gaib yang dialami oleh Yo Cie Cong ditepi danau Naga pada beberapa bulan berselang, sudah lama memang pernah menggemparkan dunia Kang-ouw. Tapi sedikit sekali orang yang mengenal dirinya anak muda itu. Dan kini, setelah disebut-sebut lagi orang-orang yang bersangkutan, maka Yo Cie Cong lantas menjadi pusat perhatian para tetamu.

Jago-jago Kang-ouw itu, dikota Tiang-soa sebetulnya karena tertarik eleh peristiwa Golok Maut. sayang mereka tidak menemukan bayangan si pemilik Golok Maut, sebaliknya bertemu dengan pemuda asam kecut yang ternyata adalah itu pemuda yang pada beberapa bulan berselang pernah menelan mustikanya Gu-liong-kauw. Dipengaruhi oleh kelemahan, ada beberapa kawanan iblis yang diam-diam sudah memikirkan rencananya yang keji.

Diantara para tetamu itu, adalah Thian san Liong lie merupakan orang satu-satunya yang merasa paling gelisah. Peristiwa perebutan mustika Gu- liong kauw yang terjadi ditepi danau Naga pada beberapa bulan berselang, kekejamannya dan keganasannya masih menggores dalam hati sanubarinya, dan nampaknya peristiwa kejam itu akan terulang lagi sekali pada malam nanti.

Yo Cie Cong dalam matanya Thian san Liong lie sudah merupakan duplikat dari kekasihnya yang menghilang pada 10 tahun berselang. Maka terhadap dirinya anak muda itu timbullah perasaan welas asihnya yang sangat tebal sekali. Maka atas keselamatannya anak muda itu, ia agaknya sudah merasa ikut tanggung jawab yang tidak

dapat dielakan lagi. Kedua manusia buas itu setelah puas makan minum, lalu berbangkit dan berkata pula kepada Yo Cie Cong: “Bocah perjanjian di Cit lie peng pada nanti jam tujuh malam, kau tentunya tidsk akan salah bukan ” “Haha, memang itu yang aku nantikan bagaimana bisa bikin kalian kecewa ?” ” Kalau begitu bocah, nanti malam kita ke temu ” Kedua manusia buas itu kembali memandang Yo cie Cong dengan mata melotot, lantas berlalu.

Para tetamu yang lainnya juga nampak sudah pada mulai pergi, hingga keadaan dalam rumah makan itu kini kelihatan mulai sepi lagi. Tapi Yo Cie Cong yang masih mengandung maksud hendak menantikan kedatangannya ketua Pek leng hwee dan kedua Pang, maka belum mau meninggalkan tempat duduknya. Ia tetap duduk sambil minum dengan sabar, seolah-olah tukang berburu yang menantikan mangsanya.

Tapi sebegitu lamanya, kecuali itu lima orang dari Pek leng hwee, sudah tidak kelihatan orang lain yang datang lagi. Maka dalam hatinya dia lantas berpikir: “hari ini aku harus mencari tahu sebab musababnya.” Tidak antara lama, diatas loteng kembali muncul orang tua yang dandanannya sangat ganjil. Mereka datang benama seorang yang berbadan tinggi kurus.

Thian san Liong lie ketika melihat kedatangnnya orang aneh itu, lalu berkata kepada Yo Cie Cong dengan suara sangat perlahan- “Lima orang tua yang dandanannya sangat ganjil itu adalah jago-jago

kenamaan dari daerah Biauw yang biasanya disebut Biauw-ciang Ngo tok. sedang orang tua tinggi kurus itu adalah si iblis yang mempunyai gelar Bok tok Kiesu, yang biasanya matang melintang didaerah Thian lam. Mereka masing-masing mempunyai kepandaian ilmu silat yang luar biasa –

Yo Cie Cong hanya mengangguk saja, kemudian menyahut: “Kedatangan mereka barangkali karena peristiwa Golok Maut ” “Ng… bencana hebat mungkin akan timbul semata-mata karena gara-garanya Golok Maut!” Yo Cie Cong mendengar kata-kata Thian san Liong lie itu, hatinya diam-diam merasa terperanjat. Pikirnya: “bibi Tho, maafkan aku tidak bisa memberitahukan keadaanku yaag sebenarnya, karena aku sendiri juga mempunyai kesulitan” Pada saat itu Biauw ciang Ngo tok dan Bo tok Kiesu sudah mulai duduk. oleh karena datangnya 6 kawanan iblis itu keadaan dirumah makan itu mendadak menj sunyi.

Yo Cie Cong tiba-tiba ingat sesuatu, maka lantas berkata kepada Thian san Liong lie: “Bibi Tho, dulu ketika Boanpwee mengalami kesukaran ditepi danau Naga, mengapa bibi hendak menolong dan melindungi diri Boanpwee tanpa menghiraukan keselamatan jiwa bibi sendiri ?” Thian san Liong lie hatinya terguncang, ia memandang wajahnya Yo Cie Cong dengan mata mendelu. Apa yang terjadi atas dirinya pada masa yang lampau, seolah-olah ular berbisa yang menyemat dirinya pada masa yang lampau, seolah-olah ular berbisa yang menyemat hatinya. Lama ia berada dalam keadaan demikian, akhirnya baru bisa

menjawab sambil ketawa getir: “Anak. itu hanya untuk membela keadilan didalam rimba persilatan ” “Dari sorot mata bibi yang sayu dan agaknya ada menderita kedukaan dalam hati serta sikap bibi ketika pertama kali berbicara dengan Boanpwee. Tapi ini hanya duga-dugaan Boanpwee sendiri Malah Boanpwee masih ingat ketika bibi menanya nama Boanpwee,, waktu Boanpwee menyebutkan nama Yo Cie Cong, bibi mengulangi pertanyaan sampai dua kali, bahkan mengunjukkan perasaan kecewa” “Ah anak Kau terlalu banyak memikir” “Mungkin itu benar, tapi Boanpwee selalu merasa bahwa bibi agaknya ada menyimpan rahasia apa-apa?, yang tentunya agak menyedihkan” “Anak, kau ingin aku menceritakan?” “Boanpwe hanya mengharap bisa mengetahui sedikit saja, tapi ini juga tidak berani memaksa bibi ”

Diwajahnya Thian san Liong lie nampak awan kedukaan, dengan susah payah ia baru bisa mengatakan: “Anak, pertama karena disebabkan kau….. ah..” Yo Cie Cong pentang lebar matanya, ia menanya dengan heran- “Bibi Tho Boanpwee kenapa ?” “Kalau kau memang benar kepingin tahu, baiklah aku beritahukan padamu. Sebab kau ada mirip benar dengan seseorang ” “Mirip dengan siapa ?” “Seseorang aku katakan, ya, mirip benar. Baik wajahmu maupun sikap dan gerak-gerikmu, tidak ada yang tidak miripi. Hanya usianya saja yang berbedaan jauh” “Orang itu tentunya ada mempunyai hubungan erat sekali dengan bibi ?”

Thian-san Liong lie wajahnya mendadak berubah merah, ia anggukkan kepalanya, sebagai Jawaban. “Bibi Tho, dia itu siapa ?” “Anak, Adakah kau pernah dengar nama julukan ‘Giok bin Kiam-khek-Jago pedang berwajah kumala’?” Yo Cie Cong agaknya merasa tertarik dengan penuturan bibinya, maka ia lantas menanya pula: “Boanpwee mirip dengan dia ?” “Benar mirip sekali ” “Dan sekarang, dimana orangnya ?” “Hilang tanpa kabar ceritanya, mungkin juga sudah binasa. sepuluh tahun berselang, peristiwa hebat telah menimpa dirinya ” “Peristiwa hebat apa ?” “Anak. pertanyaanmu sudah cukup banyak”

Yo Cie Cong yang tidak ketahuan asal-usulnya, asal ada apa-apa yang mungkin ada hubungannya dengan dirinya sendiri, ia tidak mau lepaskan begitu saja. Ketika ia mendengar cerita bibi Thonya yang nampaknya ada mengandung rahasia besar, lantas unjukan perhatian sepenuhnya . Thian-san Liong- lie agaknya juga terpengaruh perasaannya, setelah pikirannya tenang kembali, ia baru bisa berkata lagi: “Aku bisa beritahukan sedikit saja pada mu” “Silahkan ” “Dia adalah muridnya Leng Gie Hong dari see gak. itu manusia gaib dalam rimba persilatan serta merupakan satu orang kuat nomor satu didalam dunia ”

Mendengar keterangan itu, hampir saja Yo Cie Cong lompat dari tempat duduknya, karena si hweshio gila Phoa-ngo Hweshio dan Pengail Linglung oet-tie Giok ciang, itu dua manusia aneh dari rimba persilatan, masing-masing telah menurunkan kepandaiannya yang luar biasa, kepada dirinya, maksudnya ialah untuk menepati janji untuk mengadakan pertandingan dengan muridnya manusia gaib itu. “Bibi Tho, dia ada digunung Hoa san ” “Bagaimana kau bisa tahu ?” “Menurut waktunya yang ditetapkan oleh fihak Leng Gie Hong, dalam waktu- tahun akan ditunggu di gunung Hoa-san- sekarang ia telah mendapat keterangan bahwa orang yang mirip benar dengan dirinya itu ternyata ada satu jago pedang nomor satu, bahkan ada hubungan sangat erat dengan bibi Tho-nya, bagaimana kalau ia tidak terkejut? Maka seketika itu ia kelepatan omong berkata: “Tengah-tengah see gak – bukankah ada gunung Hoa san ?”

Karena kegirangan, hampir saja ia menceritakan soal perjanjian itu. “Anak. kau tidak tahu, aku sudah pergi kegunung Hoa-san sampai 3 kali” “Bagaimana ?” “Dia belum kembali kegunung Hoa-san” Yo Cie Cong merasa agak bingung. Dalam hatinya lalu berpikir menurut keterangan Pengail Linglung yang diberikan padaku. Leng Gie Hong pernah mengabarkan, bahwa karena dirinya sendiri sudah bercacad gara-gara melatih ilmunya, maka soal perjanjian adu kepandaian akan dilanjutkan oleh murid tunggal-nya. Dalam waktu 5 tahun akan ditunggu di gunung Hoa san- Kalau menurut keterangan ini, dia bukan saja belum hilang, bahkan masih berada di gunung Hoa san, Ada rahasia apakah dalam soalnya bibi Tho ini ?”

Selagi pikirannya masih bekerja keras, mendadak terdengar suara orang bicara dengan nada sangat brutal. “Hihi, ibunya cantik seperti bidadari, anaknya tampan bagai batu kumala, sungguh bisa membuat setiap orang mengiri ” Terdengar pula suaranya seorang lain: “Daerah Tionggoan meskipun banyak wanita cantik, tapi orang yang se-elok ini, baru pertama kali ini aku melihat”

Thian-san Liong-lie dan Yo Cie Cong pada berpaling dengan berbareng, orang yang bicara itu ternyata ada dua orang diantara Biauw-ciang Ngo toks Dengan mata ceriwis sedang mengawasi mereka. Lalu terdengar suaranya Bok-tok Kiesu berkata: “Saudara2, kalian tahu bahwa kembang ini telah ditelantarkan, cuma saja aku tidak berani menyentuhnya” “Ha ha Apa iya saudara terhadap satu orang perempuan saja tidak berani menyentuh Apakah dia….” “Saudara tidak tahu, dibelakang dia si setan tua itu sungguh menakutkan ” Ketika Bok-tok Kiesu membicarakan tentang setan tua, sikapnya seperti benar-benar ketakutan, tapi nampaknya sangat menjemukan-

Yo Cie Cong yang menyaksikan tingkah lakunya kawanan iblis itu, baru tahu kalau mereka sedang membicarakan dirinya Thian-san Liong-lie, maka darahnya lantas naik seketika. Thian-san Liong lie dengan merah padam suatu tanda hawa amarahnya sudah memuncak, telah berbangkit dengan pelahan-lahan. sambil menuding pada Bok-tok Kiesu ia berkata: “Bok-tok Kiesu, kau juga terhitung seorang yang mempunyai nama dikalangan Kang ouw, sopan sedikit tingkah lakumu kenapa sih ?”

“Thian san Liong lie, apakah kau kira aku berlaku tidak sopan terhadap dirimu ?” jawabnya Bok-tok Kiesu sambil ketawa cengar cengir.

Biauw-ciang Ngo tok juga lantas perdengarkan suara ketawa yang menyebalkan. Yo Cio Cong dengan mata beringas, menggeram: “segala kawanan kurcaci dari daerah luar, juga berani jual lagak didaerah Tionggoan ” Biauw ciang Ngo – tok ketika mendengar ucapan Yo Cie Cong, matanya lantas melotot dan berbangkit dari tempat duduknya. satu diantaranya dengan suaranya yang aneh membentak: “Bocah, apa kau sudah bosan hidup?” Suasana dirumah makan kini mendadak menjadi tegang. Para tetamu yang tabah dan masih belum berlalu, semua pada pasang mata untuk menonton, sedang para pelayan yang bernyali kecil, sudah pada lari kalang-kabutan- “Kalian bangsa kurcaci dari daerah luar ini masih ada muka berkata demikian?” kata Yo cie Cong dengan sikap menghina.

Biauw-ciang Ngo-tok pada berubah wajahnya, bukan kepalang rasa gusarnya, sehingga wajahnya merah padam, badannya gemetaran. Mereka berlima didaerah Biauw merupakan tokoh-tokoh terkemuka dalam dunia Kang-ouw namanya sangat dimalui oleh bangsa mereka. sungguh tidak nyana hari itu dhadapannya begitu banyak orang-orang Kang-ouw, ia telah diperhina oleh seorang muda yang usianya belum cukup 20 tahun. Biar bagaimana, sudah tentu mereka tidak bisa menelan begitu saja.

Salah seorang dari mereka yang tadi buka suara, kakinya lantas bergerak menendang meja, hingga meja itu terbalik berikut cawan,

piring dan mangkuk yang ada di atasnya. Kemudian ia sendiri lantas lompat melesat menerjang Yo cie Cong. Thian-san Liong lie dengan wajah pucat, lantas hendak ayun tangannya. Para tetamu juga pada berdiri, hendak menonton pertandingan antara kedua orang itu. “Balik” demikian terdengar suara bentakan nyaring, tangannya Yo cie Cong bergerak, dari situ lalu meluncur keluar kekuatan tenaga dalamnya yang sangat hebat, untuk memapaki dirinya iblis dari Biauw yang sedang menerjang dirinya itu. Serangannya Yo cie Cong kali ini dibarengi dengan kekuatan ilmunya Kan goan cin-cao kira-kira enam bagian.

Diantara suara bentakan terdengar suara seruan tertahan iblis tua Biauw-ciang itu, dirinya lantas terpental sejauh kira-kira 5 tumbak lebih, dan kemudian jatuh tersangkut dilangkannya loteng. Keadaan dalam rumah makan itu sebentar saja lantas menjadi gempar, siapapun tidak akan menduga kalau anak muda itu ada mempunyai kekuatan demikian rupa hebatnya. Perasaan Kaget, malu, gemas dan gusar saat itu meliputi dirinya Bok-tok Kiesu dan kawan-kawannya .

Thian-san Liong-lie sendiri juga terpesona, dengan terheran-heran menanya kepada Yo cie Cong: “Anak kau ?” Yo Cie Cong sudah mengerti apa yang akan diucapkan oleh Thian san Liong-lie, maka lantas ia berkata: “Bibi Tho, kalau ada kesempatan nanti Boanpwee ceritakan pengalaman Boanpwe selama beberapa bulan ini.”

Bok-tok Kiesu saat itu perdengarkan suara ketawanya yang aneh. “Bocah, kau ternyata boleh juga, lihat aku” katanya nyaring. sehabis bicara, dengan tindakan sangat perlahan ia berjalan menghampiri Yo Cie Cong. Biauw-ciang Ngo tok. termasuk orang yang dibikin jatuh tadi, semua lantas maju bersama-sama Bok-tok Kiesu, mereka mengawasi Yo Cie Cong dengan sorot mata buas. Yo Cie Cong masih tetap dengan sikapnya yang dingin, berdiri ditempatnya dengan tanpa bergerak barang sedikit. sikapnya yang jantan itu membuat orang melongo dan kuncup nyalinya.

Ketika Biauw Ciang Ngo tok berjalan sampai didepan Yo Cie Cong, mendadak lantas berhenti. Lengan baju 5 iblis itu tiba-tiba bergoyang, tapi sebentar saja sudah pulih kembali seperti biasa. Salah satu diantara 5 orang tua itu mendadak berkata sambil ketawa girang: “Bocah, kali ini kau akan tahu rasa. sekarang kau sudah terkena racun Ngo tok Bok-keng sin ciang dari kita berlima. Kau pasti akan mengalami siksaan hebat, mati tidak hiduppun tidak, Hehe, heh kau coba bernapas”

Thian san Liong lie yang sudah banyak pengalamannya, tahu benar lihaynya racun serupa itu. Asal sudah masuk kedalam tubuh orang, jika racunnya digerakkan, orang yang terkena racun itu akan binasa setelah nyalinya dimakan oleh racun jahat itu. Racun itu ada mempunyai hubungan erat dengan orang yang melepaskannya, sekalipun sang korban itu berada sejauh ratusan lie, asal orang yang melepaskan racun tadi gerakan pikirannya. lantas berkerja hingga jiwanya sang korban seolah-olah benda ditangannya

orang yang melepas racun itu, Kecuali di tarik kembali oleh orang yang melepaskan racun tadi, sudah tidak ada lain obat yang bisa melenyapkan racun itu dan dalam badannya.

Yo Cie Cong yang diwaktu kecilnya hidup bergelandangan dengan kawanan jembel, pernah dengar juga tentang racun yang sangat ganas dan berbisa itu. Maka saat itu hatinya lantas bercekat. ia buru-buru atur pernapasannya, benar saja merasakan seperti ada benda halus yang bergerak didalam badannya. seketika itu juga lantas timbul napsunya hendak membunuh, maka ia lantas berkata dengan suara gusar: “Setan tua, hari ini sekalipun siaoyamu jatuh, tapi kalian juga jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup ” “Hahaha” terdengar mereka ramai ketawa. “Bocah tutup mulutmu, kau sudah tidak mempunyai kesempatan hidup lagi ” kata satu diantara 5 iblis itu

Biauw-ciang Ngo-tok lalu bergerak menjalankan ilmunya jubahnya kelihatan bergerak gerak. sekujur badannya Yo Cie Cong mendadak dirasakan seperti digeremeti binatang ular atau kutu, rasa sakit dan gatal menusuk ke tulang-tulangnya dan hatinya. sebentar saja keringat dingin sudah menbasahi tubuhnya Yo Cie Cong. Dalam keadaan cemas, ia buru-buru mengeluarkan ilmunya, hawa dingin dan hawa panas lantas berputaran disekujur badannya, benar saja ia rasakan agak kendor tekanan rasa sakitnya. Maka diam-diam ia lantas berpikir: apakah ilmuku Kan-goan caokhie bisa membasmi racun ini? Sesungguhnya ia masih belum mengerti, bahwa dua rupa benda mustika Gu- liong kauw dan telurnya burung rajawali raksasa, ada

mengandung dua rupa sifat yang sangat dingin dan angat panas, yang merupakan kekuatan satu-satunya untuk membasmi racun Bok bea sin ciang. Karena ia sudah mendapat kenyataan bahwa kekuatan tenaga dalamnya itu dapat digunakan untuk melawan racunnya kelima orang tua, maka ia lantas perhebat gerakannya.

Biauw ciang Naotok semula ketika menggerakan tenaganya untuk mendesak racun dalam dirinya Yo cie Cong agak berubah, tapi kemudian pulih seperti biasa, agaknya tidak takut menghadapi racunnya. Maka mereka lantas merasa heran- sedang Bok tok Kiesu yang menyaksikan Thian-san Liong lie sedang kesima mengawasi dirinya Yo cie Cong, diam-diam lantas bergerak mendekati pendekar wanita itu. Jari tangannya yang kurus kering, sudah akan menyambret pundaknya Thian-san Liong lie.

Thian-san Liong lie sendiri masih belum mengetahui kalau dirinya terancam bahaya. tapi Yo Cie Cong yang mendadak dapat lihat itu, semula ia hendak bersuara untuk memperingatkan Thian-san Liong lie, tapi sudah tidak keburu. Dalam keadaan yang sangat krisis itu, dengan cepat ia lantas membabat dengan tangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam Kan-goan Cin-cao.

Bok tok Kiesu yang sedang kegirangan karena gerakannya membokong itu sudah akan berhasil, mendadak merasakan ada suatu kekuatan tenaga yang sangat hebat menyerang padanya dari samping. Kalau ia tidak tarik mundur dirinya, meski Thian san Liong lie akan terjatuh dibawah kekuasaannya, tapi dirinya sendiri juga akan terluka oleh

serangan kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat itu. Untuk menyelamatkan diri, terpaksa ia harus lompat mundur 5 kaki jauhnya.

Thian-san Liong-lie kini sudah tahu kalau dirinya sedang terancam, maka lantas menghunus pedangnya, dengan cepat menyerang dirinya Bok-tok Kiesu. Dalam waktu sekejapan ia sudah menghujani tikaman prdang pada Bok-tok Kiesu sampai 15 kali banyaknya. Bok tok Kiesu yang masih belum tancap kakinya, mendadak dihujani serangan pedang oleh Thian san Liong lie, sudah tentu jadi kelabakan. Badannya yang kurus kering seperti linting, setelah pontang panting kesana kemari, akhirnya berhasil juga lolos dari ujung pedangnya Thian san Liong lie.

Pada saat itu, orang-orang Kang-ouw yang berada dirumah makan tersebut sudah pada hentikan minumnya, mereka semua pada minggir kepojok dinding, hingga di-tengah-tengah terbuka satu tempat yang cukup luas. Yo cie Cong yang tadi bergerak membantu Thian-san Liong-lie, kekuatan tenaga dalamnya agak kendor, hingga racun dari lima orang tua itu dirasakan bekerja lagi.

Ia sekarang sudah merasa benci sekali terhadap lima orang tua dari daerah Biauw itu, maka ia gunakan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk mengusir racun didalam badannya. Usahanya itu berhasil bukan saja rasa sakitnya lantas lenyap seketika, bahkan semangatnya bertambah meluap-luap.

Biauw ciang Ngo tok sejak berkelana didunia Kang-ouw beberapa puluh tahun lamanya, belum pernah mengalami kejadian aneh serupa itu. Meski mereka menggerakkan tenaganya sepenuhnya, tapi lawannya itu tetap seperti tidak pernah mengalami kejadian apa-apa. Maka mereka diam-diam lantas merasa jerih dan bergidik. Racun Bok-heng sin-ciang itu ada berhubungan erat dengan orangnya yang melepaskan racun itu.

Maka jika racun itu musnah, jiwanya orang yang melepaskan juga turut musnah. oleh karena Yo Cie Cong melancarkan serangan tenaga dalamnya dengan sepenuh tenaga, maka racun yang masuk kedalam badannya, per-lahan-lahan sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi Jika orang tua tidak lekas-lekas tarik kembali, maka mereka juga akan terbinasa.

Biauw-ciang Ngo-tok saat itu sudah mengetahui keadaan tidak menguntungkan maka lantas tarik kembali racunnya. Berbareng dengan itu, secepat kilat mereka mengirim serangannya kepada diri Yo cie Cong. Si anak muda yang tidak menduga akan diserang secara demikian, masih tetap dalam usahanya untuk mengusir racun dalam dirinya. Dan ketika ia mengetahui tapi sudah tidak keburu menyingkir atau menyambuti serangan lawan- Dalam keadaan kepepet, ia paksa menggunakan ilmunya Kan goan cin-cao untuk melindungi dirinya.

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar. Yo Cie Cong dengan telak badannya menerima serangan yang dilancarkan oleh orang tua itu, ia mundur beberapa tindak baru bisa tancap kakinya, sedang “Kan goan cin cao” yang melindungi dirinya hampir saja buyar. Tapi difihaknya

Biauw-ciang Ngo tok juga terpental mundur. semua orang Kang-ouw yang menyaksikan pertempuran itu pada melongo.

Biauw ciang Ngo tok mengimpi juga tidak bahwa serangan yang dilancarkan dengan kekuatan 5 orang itu, ternyata masih tidak mampu membereskan dirinya bocah yang masih baupupuk bawang itu ini sebetulnya sudah merupakan satu kekalahan yang sangat hebat bagi diri mereka.

Ketika Yo Cie Cong berpaling kearahnya Thian-san Liong-lie, ternyata tidak kelihatan, begitu pula dirinya Bok-tok Kiesu. Diam-diam ia merasa sangat gelisah, karena ia tahu benar bahwa Bok tok Kiesu ada mengandung maksud tidak baik terhadap Thian san Liong lie, apa lagi kepandaian dan kekuatan Bok tok Kiesu masih jauh lebih tinggi dari pada Thian-san Liong lie Jika dibiarkan manusia jahat itu berhasil berbuat apa-apa atas dirinya Thian san Liong lie, bukankah akan merupakan suatu kemenyesalan besar bagi dirinya ? Maka dengan cepat ia sudah meninggalkan Biauw ciang Ngo-tok dan melesat keluar melalui jendela .

Ketika ia berada diatas genteng, benar saja lantas dapat lihat satu bayangan orang sedang lari dengan pesatnya sambil mengempit benda apa-apa. Dengan tanpa banyak pikir, ia lantas mengejar bayangan tersebut. Dibelakang dirinya saat itu. terdengar suaranya Biauw ciang Ngo-tok yang memaki-maki kalang kabutan. Tapi karena mengingat keselamatan dirinya Thian-san Liong-lie terhadap lima orang tua ini, ia tidak mau ambil pusing lagi. Maka sebentar saja kelima orang tua itu sudah ketinggalan jauh.

Yo Cie Cong dengan seluruh kepandaiannya, bergerak secepat meluncurnya anak panah yang terlepas dari busurnya. Bayangan orang yang dikejar itu sebentar kelihatan sudah melalui tembok kota dan lari menuju kedalam rimba lebat. Dengan tanpa banyak pikir, la juga mengejar masuk kedalam rimba.

Rimba itu ternyata sangat lebat, betapapun hebatnya daya lihatnya, juga tidak mampu menembusi sejarak 3 tumbakjauhnya. Ditambah lagi dengan keadaannya yang gelap dan suara angin yang kencang meniup, telah menghalangi suara lainnya, maka ia juga tidak mampu mencari jejak orang tadi dengan menggunakan telinganya. Yo Cie Cong hatinya cemas tidak dapat lihat apa apa. Terpaksa ia mencari-cari tanpa tujuan, kakinya digerakan perlahan-lahan, tapi mata dan telinganya, terus dipasang.

Mendadak ia dapat menangkap satu suara aneh. Dalam kagetnya ia pasang telinganya. Suara itu seperti suaranya orang ketawa. Untung Yo cie Cong ada seorang berkepandaian tinggi, kalau buat lain orang, mungkin tidak mendengar suara itu. Ia dengar dengan seksama, suara itu keluar dari sebelah kirinya. Dengan tanpa mengeluarkan suara barang sedikit, Yo Cie Cong maju menghampiri. Apa yang ia lihat ? hampir saja dadanya meledak. napsunya membunuh telah berkobar seketika.

Astaga. Thian-san Liong-lie nampak rebah terlentang, baju bagian dadanya sudah robek. hingga kelihatan badannya yang putih meletak. Bok-tok Kiesu sedang jongkok mengawasi bakal korbannya sambil ketawa bergelak.

Yo Cie Cong baru saja hendak turun tangan, tiba-tiba hatinya berpikir. “Kalau aku majukan diri dalam keadaan sebenarnya, bukankah bibi Tho nanti malu menemui aku lagi, mengapa aku tidak berbuat..” Dengan cepat ia keluarkan kedoknya, tangan kirinya dimasukkan dalam lengan bajunya, hingga kelihatan seperti kutung.

Bok-tok Kiesu seperti orang yang sudah lupa daratan, sambil ketawa bergelak-gelak, ia berkata: “Thian san Liong-lie aku Bok-tok Kiesu ada mempunyai kepandaian luar biasa, aku tanggung kau akan mendapat kepuasan, ha ha ha ha” Thian-san Liong-lie mendadak buka matanya, ia mengawasi manusia biadab itu dengan sorot matanya sangat gusar, tapi apa daya? Ia sudah tertotok jalan darahnya, ia tidak berdaya memberi perlawanan. ia gelisah ketika tangan Bok-tok Kiesu menggerayangi dan hendak memeluknya… Dalam saat yang sangat berbahaya itu, mendadak ada suara orang mengerang.

Bok tok Kiesu sungguh tidak nyana bahwa dalam keadaan demikian ada orang yang datang itu nampaknya ada mempunyai kepandaian tinggi sekali. Bok tok Kiesu didaerah Thian lam juga merupakan salah satu orang terkuat, kepandaian tidak boleh dipandang ringan-

Bok-tok Kiesu urungkan maksud kejinya dan geser kakinya ke samping. Ketika ia berpaling, badannya mendadak dirasakan lemas, sebab dihadapan matanya ada berdiri seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, sedang lengan tangannya cuma tinggal sebelah. orang tua itu sepasang matanya memancarkan sorot yang

menakutkan, mengawasi padanya dengan tanpa berkesip. Dilihat dari sikap dan bentuknya, orang tua itu seperti apa yang kini sedang ramai dibicarakan- “Golok Maut” ia berseru tanpa terasa.

BAB 24 ORANG tua rambut putih dengan lengan sebelah itu lantas berkata sambil ketawa dingin: “Tidak salah, itu adalah lohu sendiri” Bo tok Kiesu hatinya berdebaran, dengan tanpa berasa telah mundur satu tindak. “Golok Maut, kau mau apa ?” “Ambil jiwa mu” Kembali Bo tok Kiesu mundur satu tindak.

Meskipun ia ada seorang berkepandaian sangat tinggi dan banyak akalnya, tapi terhadap seorang sangat misterius dan menakutkan seperti pemilik Golok Maut ini, ia merasa jeri. Namun ia tidak mau unjukkan kelemahannya, dengan melawan kemauan hatinya ia coba berkata dengan sombongnya: “Pemilik Golok Maut, sungguh kebetulan,aku justru hendak mencari kau ” “Mencari aku?” “Benar Kauwcu kami telah memerintahkan aku bersama-sama Biauw ciang Ngo tok datang kemari khusus mengundang kau supaya mengunjungi pusat perkumpulan kami, karena Kauwcu kami saat ini sedang membutuhkan bantuannya orang pandai..” “Hahaha” pemilik Golok Maut tertawa. Suara ketawanya amat nyaring telah memutuskan perkataannya Bok tok Kiesu.

Thian-san Liong-lie yang menampak pemilik Golok Maut telah muncul dengan tiba-tiba, hatinya merasa girang bercampur malu. Dengan mata membelalak ia mengawasi orang tua aneh itu. sayang mulutnya tidak bisa bicara dan badannya tidak mampu bergerak. Pemilik Golok Maut setelah puas dengan ketawanya, lalu berkata: “Bok-tok Kiesu, apa kau juga sudah masuk menjadi anggota perkumpulan Im-mo kauw?” “Ya, bahkan aku sudah diangkat sebagai Tongcu bagian ceng liong-tong, kalau bukan…”

Pemilik Golok Maut itu, yang bukan lain adalah Yo Cie Cong sendiri, dalam hatinya lantas berpikir: “Aku dengan im- mo- kauw tidak mempunyai sangkut paut apa-apa, mengapa Kauwcunya mengutus begitu banyak anak buahnya yang terkuat untuk mengejar-ngejar aku?” sambil pelototkan matanya, ia potong bicaranya Bok tok Kiesu: “Bok-tok Kiesu. kau ingin mampus atau ingin hidup?” “Apa artinya pertanyaan tuan ini ?” “Kalau kau masih kepingin hidup, jawablah terus terang pertanyaanku, hari ini aku akan lepaskan kau dalam keadaan hidup. Dan kalau ingin mampus, mudah sekali, aku sekarang juga bisa kirim jiwamu keneraka, supaya kau tidak bisa berbuat kejahatan lagi dikalangan Kang-ouw ”

Bok tok Kiesu ada seorang sombong dan banyak akalnya, meski dalam hati merasa jeri, tapi hatinya merasa sangat mendongkol karana orang tua itu telah menggagalkan maksudnya hendak mencemarkan dirinya Thian-san Liong lie, maka ia hendak berlaku nekad. “Kau terlalu jumawa, sahabat Tahukah kau bahwa aku Bok-tok Kiesu bukan seorang penakut yang bisa ditakut-takuti dengan gertakanmu saja ?”

“Kalau begitu aku harus beritahukan padamu, hari ini kau harus mati ” “Belum tentu ” “Nah, boleh lihat ”

Baru saja menutup mulutnya, pemilik Golok Maut dengan kecepatan bagaikan kilat sudah berada didepan Bok-tok Kiesu sejauh seuluran tangan selanjutnya, tangan kanannya dikebutkan-.. Bok-tok Kiesu belum sempat memikir, beberapa bagian jalan darah dibadannya tahu-tahu sudah merasa kesemutan karena kena tertotok. Dengan tanpa mengeluarkan suara, badannya lantas rubuh ditanah.

Pemilik Golok Maut atau Yo Cie Cong sendiri, dengan kepandaian gabungan yang didapatkan dari orang berkedok merah, Phoa-ngo Hweshio dan Pengail Linglung, dalam tempo sekejapan saja sudah bikin Bok tok Kiesu tidak berdaya. Karena betapapun tingginya kepandaian ilmu silat Bok tok Kiesu, sudah tentu tidak mampu menghadapi ilmu-ilmu luar biasa yang dipunyai oleh Yo Cie Cong. Pemilik Golok Maut dengan perlahan mengeluarkan senjata golok mautnya yang berbentuk sangat aneh.

Bok tok Kiesu, seorang iblis kenamaan yang pernah malang melintang didunia Kang-ouw dan belum pernah menemukan tandingan, saat itu dalam keadaan terkapar karena jalan darahnya sudah tertotok. ketika menampak senjata aneh bentuknya yang memancarkan sinarnya berkilauan, matanya menunjukkan rasa kaget dan ketakutan minta diampuni jiwanya.

Pada saat itu, mendadak suara daun berkeresekan serta dibarengi oleh suaranya orang telah terdengar nyata.

Yo Cie Cong berpikir: “totokan bibi Tho belum dibuka. Dalam keadaan demikian rupa, jika dilihat oleh orang bukanlah sangat runyam? sebaiknya aku buka dulu totokannya.” Setelah berpikir demikian, cepat ia menghampiri Thian-san Liong lie. Dengan menggunakan ilmunya ‘Hui-siu Kai-hiat’ pelajaran dari Phoa ngo Hweshio, ialah membuka totokan jalan darah dengan lengan baju, ia sudah berhasil membebaskan dirinya Thian san Liong lie. Setelah bebas, Thian san Liong lie dengan cepat lantas lompat bangun. Dengan perasaan sangat malu ia membereskan bayunya, kemudian hendak berlutut dihadapannya pemilik Golok Maut. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa orang tua rambut putih yang dianggap ada pemilik Golok Maut itu adalah Yo cie Cong sendiri Sudah tentu saja Yo Cie Cong tidak sanggup menerima kehormatan demikian. ia lintangkan tangannya dari mana lantas meluncur keluar satu kekuatan tenaga yang tidak kelihatan untuk mencegah Thian san Liong lie menjalankan peradatan tersebut, kemudian berkata padanya: “Sebentar lagi ada orang datang, kau lekas-lekas berlalu dari sini ” “Terima kasih atas bantuan cianpwe, sehingga diri siaoli tidak sampai ternoda ditangannya manusia busuk” “Sudahlah ”

Thian san Liong lie sekali lagi memandang orang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua itu, dalam hati merasa sangat bersyukur. selagi hendak mengucapkan beberapa patah kata lagi, mendadak ingat dirinya Yo Cie Cong yang sudah ditinggalkannya entah bagaimana keadaannya ?

Berpikir demikian, ia lantas hendak berlalu. Mendadak ia dapat lihat Bok tok Kiesu yang terkapar ditanah dalam keadaan tidak berdaya, saat itu lantas timbul perasaan gusarnya hendak membunuh dirinya manusia busuk itu. Dengan cepat ia hunus pedangnya dan hendak membabat kepala Bok tok Kiesu. Pemilik Golok Maut angkat tangannya mencegah perbuatannya Thian san Liong lie kemudian berkata: “Lohu ada mempunyai cara sendiri untuk menghukum dia, kau lekas pergi ”

Thian san Liong lie terperanjat, dengan cepat putar tubuhnya dan berlalu dari depannya ‘orang tua’ itu. Yo Cie Cong ternyata sudah pikir masak-masak. Ia kuatir ‘im mo kauw’ nanti akan memusuhi Thian san Liong lie, maka ia mendesak padanya supaya lekas berlalu.

Pada saat itu, malam mulai tiba, keadaan dalam rimba itu semakin gelap. Suara orang tadi itu kedengarannya semakin dekat, dari suaranya yang agak ribut, orang itu agaknya ada membawa banyak kawan- Yo Cie Cong ingat perjanjiannya dengan dua manusia buas dari Lam hong yang akan mengadakan pertandingan di Cit lie peng, maka ia pikir hendak membereskan jiwanya iblis cabul itu lebih dulu, sekalipun hendak memberi peringatan kepada Im mo kauw. setelah mengambil keputusan demikian, ia lalu kebutkan lengan bajunya. Bok tok Kiesu merasa terbuka totokannya secara tiba-tiba, lantas lompat bangun-

Tapi pada saat ia baru saja berdiri, Yo Cie Cong sudah melancarkan serangannya dengan golok mautnya. serangan itu ada sangat aneh dan

ganas yang tidak ada taranya terutama setelah Yo Cie Cong punya kekuatan tenaga bertambah hebat karena chasiatnya mustika Gu liong kauw dan telurnya burung rajawali raksasa, maka jarang sekali ada orarg yang mampu menghindarkan diri dari serangannya itu. sebentar kemudian lantas terdengar suara jeritan ngeri, kedua lengan tangannya Bok tok Kiesu sudah terpapas kutung, dadanya berlobang dan binasa seketika itu- juga. Tepat pada saat suara jeritan itu terdengar, beberapa bayangan orang sudah melesat mendatangi.

Dengan mata yang tajam luar biasa, Yo Cie Cong sudah dapat lihat bahwa bayangan orarg yang baru datang itu adalah Biauw-ciang Ngo tok. Tapi oleh karena hatinya memikiri perjanjiannya dengan dua manusia buas dari Lam hong, ia tidak mau membuang waktunya lebih lama lagi, maka tidak mau menghadapi 5 iblis itu. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia menyambar bangkainya Bok tok Kiesu, kemudian melesat menghilang kedalam rimba. Biauw ciang Ngo tok yang tepat pada saat itu tiba cuma merasa ada bayangan berkelebat lewat didepan mata mereka, tapi mereka tidak dapat lihat tegas siapa orangnya. Ketika lima orang tua itu coba memburu, namun sudah tidak dapat melihat apa-apa lagi.

Yo Cie Cong sambil membawa bangkainya Bok tok Kesu dengan cepat kabur kedalam kota. saat itu sudah tiba saatnya untuk pasang lampu. Ia memilih satu tempat didekat pintu kota sebelah Timur, disitu ada terdapat sebatang pohon besar. ia lalu cantelkan bangkainya Bok tok Kiesu diatas pohon besar itu setelah mengunjukkan ketawa puas, lalu ia buka rambut dan jenggotnya yang palsu, hingga terlihat pula wajah

aslinya yang cakap tampan. setelah selesai semua, ia lantas lari menuju ke Cit lie peng.

Ketika Yo Cie ycng tiba ditempat tersebut, ternyata tidak kelihatan bayangannya seorangpun juga hanya rembulan purnama yang menyinari bumi dan suara burung malam yang kedengaran disana sini. Yo Cie Cong dengan tegak berdiri ditanah gundukan itu, ia mendongak memandang rembulan, pikirannya terus bekerja: Ia ingat keadaan dirinya sendiri, permusuhan suhunya, potongan kayu pusaka ‘ouw bok po lok’ yang ternyata sudah jatuh ditangannya siluman tengkuk Lui Bok Thong, ia juga ingat dirinya sendiri yang beberapa kali telah menemukan kejadian mujijat.

Ia ingat halnya perkumpulan im mo kauw yang selalu menguntit dirinya, siapakah Kauw-cunya ? Mengapa mengetahui kalau pemilik Golok Maut bukan pangcu Kam lopang sendiri ? Teka teki yang sulit dipecahkan ini terus menggoda hatinya. Dan kalau ia ingat tentang dirinia siang-koan Kiauw, itu gadis baju merah yang mati ditelan badai dilautan Lam hay, hatinya dirasakan hancur luluh. Ia masih tidak lupa sumpahnya sendiri, maka setelah semua urusannya sendiri nanti selesai, ia akan pergi lagi ke Lam hay untuk menyusul arwahnya siang koan Kiauw. Selagi ia masih terbenam dalam lamunannya, dua bayangan orang tiba-tiba sudah berada sejarak kira-kira 3 tombak didepan dirinya.

Yo cie Cong tersadar dari lamunannya, dengan matanya yang ia menyapu kedua lawannya, kemudian berkata sambil ketawa dingin: “Jiwie ternyata telah pegang janji” orang yang baru tiba itu menang

benar adalah dua manusia buas dari Lam-hong. “Setan cilik, lohu berdua saudara sudah kata hendak menyempurnakan dirimu, bagaimana bisa tidak datang ?” jawab Lojie. “Hu..Huh orang yang namanya telah di- daftar oleh Giam lo-ong (raja akherat) kalian bisa lari kemana?” berkata Yo cie Cong. “Setan cilik, kau tak usah jual lagak. kau ingin meninggalkan pesan apa-apa atau tidak ?” kata Lotoa dengan suara menghina.

Yo cie Cong alisnya berdiri, dengan sorot matanya yang bengis menatap wajah kedua orang tua itu. Dua manusia buas itu terkejut. Dalam ingatan mereka, kekuatannya Yo Cie Coug ada biasa saja, apakah mungkin baru beberapa bulan tidak kelihatan mendadak bisa berubah ? “Jiewie hendak menghabiskan jiwa sendiri atau ingin aku yang turun tangan ?” Dua manusia buas itu, ketika Mendengar perkataan Yo cie Cong itu bukan kepalang gusarnya. Dengan berbareng mereka lantas maju menghampiri “setan cilik, aku sebetulnya hendak memberi kau suatu kematian yang secara menyenangkan, tapi karena mengingat lagak lagumu yang terlalu jumawa, terpaksa aku hendak berikan dulu sedikit rasa dan “Pek coa Coao-sim ciang”ku (ilmu gaib seperti ratusan ekor ular menembusi ulu hati).”

Wajahnya Yo Cie nampak semakin gusar, dengan suara bengis ia berkata: ” Kawanan buas dari Lam-hong, ditepinya danau Naga, kalian kawanan iblis ini karena tidak berhasil dalam usaha kalian untuk merebut mustikanya Gu liong kauw lantas timbul maksud keji hendak membelek

perutku untuk mengambil mustikanya. Perbuatan keji dan buas itu ada mirip dengan julukan kalian, yang mempunyai sifat kejam dan ganas melebihi binatang berbisa. Malam ini, diwaktu ini dan ditempat ini, adalah saatnya bagi kalian untuk pergi menemui Giam lo ong.”

Kedua manusia buas itu menggeram berbareng dan maju lagi satu tindak. cit lie peng yang semula sangat sepi sunyi saat itu di empat penjuru sudah kelihatan banyak bayangan manusia yang pada datang untuk menonton, tapi kebanyakan ada mengandung maksud jahat.

Yo Cie Cong dengan matanya yang tajam menyapu keadaan sekitarnya, hatinya diam-diam telah berpikir: “bagus, nampaknya peristiwa ditepi danau Naga malam ini akan terulang lagi ditempat ini. Biarlah malam ini kawanan iblis yang sangat buas ini akan mendapat ganjaran yang setimpal dengan kebuasannya, hitung-hitung aku menyingkirkan sejumlah kutu busuk bagi dunia Kang ouw.”

Maka ia lantas berkata pula kepada kedua manusia buas itu: “Apakah jiwie ingin meninggalkan pesan apa-apa untuk keluarga jiwie sebelum berangkat ke akherat ?” Kedua manusia buas itu juga sudah dapat melihat datangnya banyak orang, mereka sangat kuatirkan kalau-kalau orang-orang itu nanti turun tangan terlebih dulu, maka keduanya setelah saling memandang dengan tanpa banyak bicara, lantas menerjang pada Yo Cie Cong dengan berbareng. Sambil ketawa dingin Yo Cie Tiong sudah kerahkan ilmunya Kan goan cin-cao. ia bermaksud sekaligus hendak merenggut jiwanya kedua manusia buas itu.

Pada saat itu mendadak muncul sesosok bayangan orang, dengan kecepatan bagaikan kilat bayangan orang itu nyerobot dirinya kedua menusia buas itu dari samping. Dua manusia buas dari lam-hong yang tadi menerjang dirinya Yo Cie Cong dengan sekuat tenaga, sungguh tidak nyana kalau dirinya sendiri diserobot sudah tidak berdaya menarik kembali serangannya, dalam keadaan tergesa-gesa mereka membabat dengan tangan- Dua kali suara benturan keras lantas terdengar, kemudian disusul oleh dua kali suara jentan ngeri.

Tubuhnya dua manusia buas dari Lam-hong telah dibikin terpental sampai dua tumbak jauhnya oleh bayangan orang yang muncul secara mendadak itu Ketika badan mereka jatuh di tanah, jiwanya lantas melayang seketika. orang-orang disekitarnya yang menyaksikan keadaan demikian, semua lantas urungkan niatnya untuk maju. Yo cie Cong dengan perasaan heran mengawasi orang yang melayang turun dihadapannya.

Ternyata ia ada seorang imam yang wajahnya pucat pasti, kedua matanya menonjol keluar. Imam itu setelah berdiri tegak. matanya lantas memandang keadaan disekitarnya, kemudian berkata dengau suaranya yang seperti gembreng pecah: “Bocah Bagaimana dengan seranganku tadi ?” Yo Cie Cong yang sebetulnya masih belum tahu benar bagaimana dua manusia buas tadi menemukan ajalnya, dalam hati meski merasa heran caranya si imam turun tangan yang sangat aneh, tapi ia merasa mual melihat wajahnya yang menjemukan itu Dilihat dari sepak terjangnya dan wajahnya, imam itu tentunya juga bukan orang dari golongan baik-baik,

Maka atas pertanyaan tersebut, Yo Cie Cong lantas menjawab dengan suaranya yang dingin ketus: “Boleh juga ” “Apa?, boleh juga ?” “Ng ” “Bocah, mulutmu gede benar, kalau tidak salah kau ini adalah itu bocah yang tempo hari menelan mustika Gu liong kauw ditepinya danau Naga ?” Yo Cie Cong ketika mendengar imam itu kembali menyebut halnya, mustika Gu liong kauw, lantas bangkit rasa gemasnya terhadap kawanan manusia durhaka yang berusaha hend membelek perutnya. Maka setelah mengawasi imam itu dengan sorot matanya yang tajam, ia lantas menjawab dengan suaranya yang tetap dingin: “Kalau ya bagaimana ?” “HeHeh, bocah, tidak kecewa kau dipanggil sebagai seorang berwajah kecut, benar saja surup dengan orangnya ” “Memangnya kau mau apa ?” “HeHeh Tahukah kau siapakah toyamu ini ?” “Tidak tahu ” “Apakah kau pernah dengar namanya Khong tong Sin hong Tojin ? ? (Sin hong Tojin darl Khong thong pay)” “Belum pernah dengar ” “Hm Itulah toyamu sendiri ”

Kawanan manusia iblis yang berada disekitar tempat tersebut, ketika mendengar pernyataan imam itu, segera menjadi riuh, terang mereka pada terperanjat ketika mendengar namanya Khong thong Sin hong Tojin itu.

BAB 25 SIN HONG TOJIN adalah susioknya Tieng Hie Cu, ketua partay Khong tong-pay pada saat itu. orangnya jahat dan kejam, namun mempunyai kepandaian ilmu silat yang luar biasa tingginya. Kejahatannya sudah bertumpuk-tumpuk, hingga didalam kalangan Kang-ouw, siapa saja kalau mendengar disebutnya nama itu, lantas lari terbirit-birit.

Tapi Yo Cie Cong yang usianya belum cukup 20 tahun, sedikitpun tidak merasa takut atau keder menghadapi itu, bahkan masih berani mengucapkan perkataan begitu keras, hingga membuat gusar hatinya imam jahat itu. Imam yang nama dan kejahatannya sudah sangat terkenal itu, dalam waktu sekejapan sudah menamatkan jiwanya dua manusia buas dari Lam-hong, yang juga merupakan sepasang iblis kenamaan serta mempunyai kepandaian ilmu silat cukup tinggi, dari sini saja dapat diukur berapa hebatnya kepandaian dan kekuatan imam dari Khong tong itu.

Yo Cie Cong yang baru muncul dikalangan Kang-ouw. terhadap nama dan keyahatan si imam itu, memang sebenarnya tidak tahu, tapi sekalipun tahu, dengan adatnya yang tinggi serta kepandaiannya sendiri yang luar biasa, ia juga lantas menjawab dengan sikapnya yang seperti orang acuh tak acuh. “Kau pikir hendak bagaimana?” “HeHeh toya mu sudah bertindak menyingkirkan dua musuhmu yang sangat kuat, itu toch tidak bohong bukan ?” “Ini ada soalmu sendiri yang sudi gawe. Dengan kepandaiannya seperti dua manusia buas dari Lam hong itu saja, apa kau kira mereka bisa berbuat apa terhadap diriku ?” “Bocah yang terlalu jumawa, dengan terus terang toyamu hendak

memberi tahukan padamu, oleh karena melihat bakatmu yang sebagus itu. maka toyamu ingin mengambil kau sebagai muridku…” “Apa kau kira ada pantas mengucapkan perkataan demikian?” memotong Yo Cie Cong. “Haha setan cilik, kau ada mempunyai berapa lembar jiwa?” “serupa dengan kau ” “Apakah kau merasa kepanjangan umur mu” “Kaulah yang sudah bosan hidup, maka kau datang minta siaoyamu untuk mengantarkan kau menghadap kepada Giam lo ong”

Bukan kepalang gusarnya sin-hong Tojin, sampai mukanya merah padam. “Bocah kau cari mampus ” demikian ia menggeram, yang kemudian lantas pentang kedua tangannya, jari tangannya yang seperti gaetan dengan cepat menyengkcram Yo Cie Cong. Sin-hong Tojin mengira bahwa gerakannya itu pasti berhasil menyambar dirinya Yo Cie Cong, siapa nyana ketika jari-jari tangannya sudah akan mengenakan sasarannya, orang yang di arah itu sudah menghilang entah kemana perginya. Hanya suara ketawa dingin yang seolah-olah menyambut gerakannya itu. Dengan kegesitannya, Sin hong Tojin mendapat nama dikalangan Kang-ouw, hingga ia mendapat gelar sin hong yang berarti Malaikat Angin.

Ia sungguh tidak nyana bahwa satu bocah yang usianya masih begitu muda, ada mempunyai kegesitan melebihi dirinya sendiri Bukan saja dengan secara mudah sekali sudah mengelak sambaran tangannya yang dinamakan sin hong Kui ciauw atau malaikat angin dan kuku setan, bahkan sudah molos kebelakang dirinya. Kegesitannya ini benar-benar merupakan suatu gerakan yang tidak habis dipikir.

Dalam keadaan kaget dan ketakutan setengah mati, buru-buru ia tarik mundur serangannya dan memutar tubuhnya.

Yo cie Cong dengan sikapnya yang tenang mengawasi padanya. Kawanan iblis yang pada datang dengan maksud jahat terhadap Yo Cie Cong, kini ketika melihat caranya Yo Cie Cong menghindarkan dirinya dari serangannya imam jahat itu, seketika itu juga lantas pada merasa kuncup nyalinya, Kelihatannya bocah ini ada mempunyai kepandaian ilmu gaib, demikian mereka pada berpikir. setelah hening sejenak. Yo cie Cong baru berkata pula : “Sin-hong Tojin, apa benar kau hendak mencari mampus ?”

Pertanyaan Yo Cie Cong ini membuat kalap sin-hong Tojin, karena pemuda itu bukan saja sudah tidak pandang mata dirinya, bahkan melunjak menyebut namanya tanpa bahasa. Hal serupa ini baru pertama kali dialami oleh sin-hong Tojin. Dengan tanpa banyak bicara, ia lantas kepal kedua tangannya, sebentar saja ia sudah melancarkan serangkaian serangan sampai 10 kali. Gerak serangannya itu bukan saja sangat aneh, tapi juga mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat, seolah-olah ada beberapa orang yang melakukan serangan secara berbareng.

Yo cie Cong saat itu merasa agak kewalahan juga untuk membendung serie serangannya imam jahat itu, kembali ia menggunakan ilmu silat menggeser tubuh menukar bayangan ajarannya orang berkedok merah, seolah-olah setan yang bisa menghilang ia sudah lompat keluar kalangan…. sin-hong Tojin dengan cepat tarik mundur serangannya dan orangnya

mundur 3 tindak. Dengan mata kesima ia mengawasi Yo Cie Cong, pikirannya terus bekerja, ia coba memikirkan asal usulnya ilmu silat Yo Cie Cong yang sangat aneh itu

Tiba-tiba sinar merah berkelebat diangkasa, kira-kira beberapa lie jauhnya dari tempat pertempuran itu. Begitu melihat tanda sinar merah itu, Yo Ce Cong lantas dapat tahu bahwa sinar merah itu adalah api pertandaan yang dilepaskan oleh orangnya Im mo kauw. Sin hong Tojin wadahnya mendadak berubah, sejenak kelihatan ia agak bersangsi, kemudian berpaling dan berkata kepada Yo Cie Cong: “Bocah. toyamu sekarang ada urusan penting, persoalan kita ini kita tunda dulu, lain kali kalau bertemu kita perhitungkan lagi” Sehabis mengucapkan perkataannya, orangnya lantas lompat melesat dan sebentar saja sudah hilang dari pemandangan-

Dalam kagetnya Yo Cie Cong lantas berpikir, orang-orang Im-mo kauw itu entah ada kejadian apa lagi, sehingga perlu mengumpulkan orangnya yang berkepandaian tinggi ? Belum lenyap pikirannya, diantara suara menderunya angin malam, kembali melayang satu bayangan orang yang turun dihadapannya. Yo Cie Cong dengan cepat menyingkir, ketika ia pasang matanya, lantas berseru: “Bibi Tho ”

Memang benar, orang yang baru tiba itu adalah Thian san Liong-lie Tho Hui Hong “Anak, kau tidak ada halangan suatu apa-apa? Aku menduga kau pasti ada disini. Eh Mana itu dua manusia buas dari Lam hong ?…” “Sudah binasa”

“Bukan binasa ditanganmu ?” “Bukan, mereka dibunuh mati oleh Khong tong sin hong Tojin ” “Sin hong TOjin ?” “Ya” “Imam jahat itu kepandaiannya sukar dijajaki, bagaimana dia juga muncul disini? Dan malahan membunuh mati dua manusia buas itu, apakah imam jahat itu….?” “Mengandung maksud serupa dengan iblis wajah singa ditepi danau Naga ” “Hm sungguh menjemukan. Dan kemana orangnya ?” “sudah pergi sudah dipanggil oleh orang-orangnya Im-mo-kauw dengan panah api pertandaan.” “Apa imam jahat itu juga anggautanya Im-mo kauw ?” “Mungkin begitu ”

Pada saat itu, sinar rembulan nampak semakin terang, hingga keadaan disitu seperti dipasangi lampu. Kawanan manusia iblis yang tadi menonton disekitarnya tempat tersebut, kini sudah pada menghilang dengan secara diam-diam. Yo Cie Cong setelah mengawasi Thian san Liang- lie sejenak. la pura-pura tidak tahu dan menanya: “Bibi Tho, tadi didalam rumah makan mengapa bibi mendadak menghilang ?”

Thian san Liong lie mengingat apa yang telah terjadi atas dirinya, yang hampir saja tercemar ditangannya Bok tok Kiesu, wajahnya merah seketika dengan suara mendongkol ia menjawab: “Aku telah ditotok oleh itu iblis Bok-tok Kiesu dengan ilmunya totokan yang istimewa, kemudian dibawa kabur kedalam rimba,

untung saja keburu ditolong oleh pemilik Golok Maut” “Pemilik Golok Maut?” tanya Yo cie Cong yang berlaga heran “Ng ” “Bagaimana macamnya ?” “Seorang tua berambut dan berjenggot sudah putih seluruhnya, dan tangannya cuma tinggal sebelah. Namun kepandaian ilmu silatnya luar biasa tingginya ” “Bibi Tho, dalam kalangan Kang-ouw telah tersiar bahwa pemilik Golok Maut itu ada seorang iblis yang kejam dan ganas luar biasa sebab caranya membunuh musuhnya ada terlalu kejam, bibi anggap bagaimana ?” “Ucapan orang tidak selamanya betul.Jika dia benar-benar ada pangcu Kam lo pang, pembunuhan secara ganas itu, dia telah lalukan cuma terhadap musuh-musuhnya yang dulu melakukan pembasmian terhadap orang-orang Kam lo pang dan semua keluarganya. Maka boleh dianggap sebagai tindakan pembalasan atas keganasan musuh-musuhnya itu ”

Dalam hati Yo Cie Cong merasa lega. “Menurut pemandangan bibi, apa benar pemilik Golok Maut itu adalah pangcu Kam lo pang ?” “Dalam hal ini agak sulit untuk menentukan- cuma saja, mengapa menurut kabar yang tersiar dalam kalangan Kang ouw, ketika pemilik Golok Maut itu muncul di kampung Hui- liong- chung untuk ke enam kalinya mengambil jiwanya Tio Ek Chiu, kabarnya pernah menyebut dirinya sebagai pangcu Kam-lo pang. Benar atau tidaknya agak sulit dipastikan ” “Kedatangan ke kota Tiang soa ini, apakah juga karena peristiwa Golok Maut itu?” “Benar Tapi aku sekarang sudah melihat wajahnya?, bahkan sudah

ditolong olehnya, maka aku sudah tidak ada perlunya berdiam lebih lama ditempat ini ” “Kemana bibi hendak pergi?” “Untuk mencari jejaknya satu orang, sudah sepuluh tahun lebih aku merantau di kalangan Kang ouw ”

Ia ucapkan perkataannya itu dengan wajah murung. “Bagaimana macamnya orang yang bibi cari itu ?” “Ah sudahlah jangan kita bicarakan lagi” “Apa bukan muridnya itu manusia gaib dari rimba persilatan yang bernama Hoan Thian Hoa bergelar Giok bin Kiam-khek.? Yang bibi katakan ada mirip dengan boanpwe” “Anak. aku sudah- mulai kehilangan kepercayaan terhadap diriku sendiri ” “Bibi Tho, biarlah boanpwee melakukan sesuatu untuk bibi ” “Melakukan sesuatu untuk aku ?” “Benar, boaapwee pasti akan berdaya untuk mencari dia ” “Anak. maksud baikmu aku merasa berterima kasih. Tapi dimisalkan kau bisa menemukan lantas bagaimana ?” “Bukankah bibi hendak mencari dia ?” “Ya, aku kepingin mencari dia, tapi tidak ingin menemui padanya ”

Yo Cie Cong bingung. ia tidak dapat memahami perkataan bibinya yang bertentangan maksudnya itu. setelah berdiam sejenak, ia lantas berkata pula: “Bibi Tho, boanpwee pasti mencarikan untuk bibi, setidak-tidaknya boanpwee juga akan menyampaikan berita ini kepadanya. Tentang bibi suka menemui dia atau tidak. itu ada lain soal ”

Tiba-tiba suatu pikiran mendadak terlintas di-otaknya, Yo Cie Cong bertanya: “Manusia gaib dalam rimba persilatan itu sebetulnya ada mempunyai berapa murid?” “Hal ini aku sendiri tidak begitu jelas ” jawab Thian-san Liong lie. Kalau Yo Cie Cong berani majukan pertanyaan demikian, disebabkan karena ia hendak mewakili kedua manusia aneh dari rimba persilatan untuk menepati janjinya mengadakan pertandingan dengan muridnya manusia gaib dari rimba persilatan- Pada saatnya ia pasti bisa bertemu muka dengan orang itu. Kini mendadak ia merasa bersangsi apabila manusia gaib itu muridnya bukan hanya seorang, bukankah persoalannya menjadi ruwet? Disamping itu, ia juga sama sekali masih belum mengetahui bagaimana hubungannya Thian-san Liong-lie dengan Giok-bin Kiam khek… “Anak. waktu sudah malam, kita harus pergi ”

Terhadap bibi Tho-nya yang manis budi itu, Yo Cie Cong mempunyai perasaan suka yang tidak bisa dikatakan- Ia sebetulnya merasa berat berpisahan dengannya, tapi itu tidak mungkin, maka ia lantas berkata dengan suara sember: “Bibi Tho, semoga Tuhan melindungi dirimu, boanpwee pasti akan mencari dia untuk bibi” “Anak. semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan selamat ” Thian-san Liong lie sedikitpun tidak menduga bahwa pemuda didepan matanya yang ia selalu sebut ‘anak’ itu, adalah pemilik Golok Maut yang namanya menggegerkan rimba persilatan dan yang pernah menolong dirinya dari cengkeramannya Bok tok Kiesu.

Yo Cie Cong setelah berpisahan dengan Thian san Liong lie, terus balik ke kota Tiang-soa.

Ketika ia melalui di jalan pintu kota sebelah Timur. bangkainya Bok tok Kiesu yang di cantelkan diatas pohon, ternyata sudah lenyap. Diam-diam ia anggukan kepalanya. Bok tok Kiesu adalah Tongcu bagian ceng liong tong, barusan im mo kauw telah melepaskan api pertandaan warna merah mungkin karena menemukan bangkainya Bok tok Kiesu yang terbinasa ditangannya Golok Maut maka lantas mengumpulkan semua anggautanya Im-mo kauw untuk mengadakan rapat kilat.

Golok Maut sudah mengambil satu korban lagi, dan bangkainya korban itu di gantung diatas pohon dipinggir jalan, terang itu ada merupakan satu tantangan buat perkumpulan Im mo kauw. Im mo kauw ada merupakan satu perkumpulan agama besar yang baru saja muncul didunia Kang-ouw. siapa pemimpin (Kauwcu)nya ? Tidak ada orang yang tahu. Tapi dari sepak terjangnya dan orang-orangnya yang ditarik serta kemudian diberikan kedudukan tinggi dalam perkumpulan, hampir semuanya dari orang-orang kuat yang merupakan hantu atau iblis dikalangan Kang-ouw, Kauwcu itu tentunya bukan orang sembarangan Jikalau tidak, orang-orang seperti Biauw- ciang Ngo tok, sin-hong Tojin, si Pedang Berdarah Kong Jie, Bok tok Kiesu dan lain-lainnya, yang pada menjagoi di daerah masing-masing, bagaimana mau tunduk dibawah perintahnya ?

Perkumpulan tersebut kian hari kian besar pengaruhnya, nampaknya sang Kauwcu ada begitu napsunya hendak menjadikan perkumpulan im mo kauw sebagai perkumpulan terbesar dikalangan Kang-ouw. Dan kini pemilik Golok Maut sudah berani melakukan pembunuhan terhadap orang-orangnya Im mo kauw, jika tidak segera diambil tindakan

pembalasan, maka hal tersebut tentunya akan membikin merosot wibawanya Im mo kauw.

Disamping itu, ini juga merupakan satu bukti bahwa pemilik Golok Maut pada saat itu masih berada dikota Tiang soa. Maksud dan tujuannya Yo Cie Cong menggantungkan bangkainya Bok tok Kiesu diatas pohon, disatu fihak merupakan jawaban bagi tindakannya Im mo kauw yang mengutus orang-orangnya untuk mengejar jejaknya. Dilain fihak, Ia hendak menggunakan dirinya Bok tok Kiesu yang dibinasakan secara demikian, sebagai pancingan agar perkumpulan tersebut begerak lebih aktif. hingga banyak kemungkina bisa terbuka rahasianya diri pemimpinnya.

Benar saja, perkembangan selanjutnya telah berjalan seperti apa yang diharapkan oleh Yo Cie Cong. Im mo kauw kirim lebih banyak utusannya yang berkepandaian tinggi-tinggi, malam itu juga menuju kekota Tiang soa untuk menghadapi pemilik Golok Maut. Dewasa ini orang-orang Kang ouw dan kawanan manusia iblis yang sudah unjukkan diri dikota Tiang soa, kecuali orang-orangnya Im mo kauw, masih ada orang-orangnya Cie in pang, sejumlah kira-kira 16 orang dibawah pimpinannya pangcu sieBun Hao sendiri

Ketua Pek leng hwee Cin Bie Nio dan pangcu Ban siupang Thio phan, juga tidak ketinggalan, mereka pada memimpin anak buah masing-masing datang kekota Tiang soa. Disamping itu, masih ada lagi, Ceecu dari 36 perkumpulan bajak laut didaerah Tong teng ouw, Tiang lo atau golongan tua dari perkumpulan kawanan pengemis (Kaipang) cabang Thian lam dan lain-lainnya lagi.

orang-orang Kang ouw dari golongan putih maupun hitam yang belum unjukkan diri masih belum ketahuan jumlahnya.

Dengan demikian, maka kota Tiang soa dalam waktu beberapa hari saja sudah menjadi sarangnya orang-orang dunia Kang-ouw atau kawanan iblis dari sebala jenis. Kedatangan orang-orang itu semua karena gara-garanya Golok Maut suasana dikota Tiang soa pada saat itu seperti hendak menghadapi suatu peristiwa besar.

Jikalau semua kawanan iblis yang berada dikota Tiang soa itu bisa bersatu padu menghadapi pemilik Golok Maut, betapapun tingginya kepandaian pemilik Golok Maut rasanya juga sukar melindungijiwanya dari tangan kawanan iblis itu. satu hari telah liwat tanpa ada kejadiam apa-apa… Dua hari… Masih tetap belum kelihatan bayangannya pemilik Golok Maut. Hati kawanan iblis itu mulai ragu-ragu, mungkinkah pemilik Golok Maut itu sudah kabur dari kota Tiang soa ?

Andaikata benar bahwa pemilik Golok Maut itu sudah kabur dari kota Tiang soa karena melihat gelagat tidak baik, maka di dalam dunia Kang ouw yang begitu luas, ke mana harus mencari jejaknya manusia yang sangat misterius itu. Ini bukan satu soal mudah.

ADA berapa orang sudah mulai putus harapan, sebab mereka anggap sudah tidak dapat menyaksikan kejadian besar dari dunia Kang-ouw. orang-orang dari golongan ini tidak mempunyai maksud tertentu, kedatangan mereka hanya tertarik oleh perasaan heran saja. Ada orang-orang yang merasa cemas dan mendongkol, orang-orang ini

terdiri dari mereka yang datang dengan tekad membinasakan dirinya manusia yang menakutkan itu.

Ada pula orang-orang yang merasa ketar-ketir hatinya, sebab orang-orang semacam ini pernah berbuat dosa, jika pemilik Golok Maut itu tidak dapat disingkirkan pada kali ini dengan bantuannya banyak orang kuat, maka di kemudian hari akan merupakan satu bencana bagi mereka sendiri. Hari ketiga… Peristiwa yang menggemparkan telah terjadi. Pemilik Golok Maut bukan saja belum pergi dari kota Tiang soa, bahkan sudah bertindak.

Pangcu dari Ban siu pang, Thio Phan telah kedapatan mati dalam rumah penginapannya dalam keadaan terkurung kedua lengan dan kedua pahanya serta berlobang bagian dadanya. orang-orang dari Ban-siu-pang ada tinggal bersama-sama dalam satu rumah penginapan dengan orang-orang Cie in pang dan Pek leng hwee. Di bawah pimpinan pemimpin masing-masing, orang-orang itu jumlahnya tidak kurang dari 50 jiwa.

Apa yang mengherankan, di bawah penjagaan keras dari begitu banyak orang. Golok Maut sudah bisa mengambil jiwanya Thio Phan, pangcu dari Ban-siu-pang. Kepandaian serupa itu, benar menggetarkan hatinya semua orang kuat dari golongan Kang-ouw. Menurut kebiasaan Golok Maut, kalau mengambil jiwa korbannya, selalu dipereteli dulu kedua tangan tangannya atau kedua paha kakinya, yang sudah pasti ialah dibikin berlobang bagian dadanya. Tapi terhadap pangcu dari Bau siupang kali ini nampak ada kecualian, ia

telah mati dalam keadaan kutung satu lengan tangannya dan satu paha kakinya serta berlobang di dadanya.

Kembali ini ada merupakan satu hal yang tidak dapat dimengerti. Siapa yang hendak dijadikan korban untuk selanjutnya? Tidak ada orang yang tahu. Tapi yang sudah nyata ialah: pemilik Golok Maut itu terang tidak pandang mata pada semua orang kuat atau kawanan iblis yang saat itu berada di kota Tiang soa. Ini berarti pula bahwa peristiwa pembunuhan kejam serupa itu tidak akan berakhir sampai di situ saja. juga merupakan suatu tantangan buat semua orang-orang kuat atau kawanan iblis. Kota Tiang soa saat itu seperti diliputi oleh suasana ketakutan yang sangat hebat.

Semua orang dapat merasakan, dapat menduga, satu pembunuhan besar-besaran akan terjadi di kota itu. Kecuali kalau pemilik Golok Maut sudah berlalu dari kota tersebut, kalau tidak, pembunuhan kejam dan besar-besaran itu pasti tidak dapat dicegah lagi. sedang dari kejadian yang diunjukkan oleh pemilik Golok Maut, terang bahwa manusia aneh itu sudah menerima tantangan semacam itu. Hampir setiap pelosok kota siang hari malam dilakukan penjagaan sangat kuat.

Diantara orang-orang, golongan-golongan dan kawanan iblis yang saat itu berada dikota Tiang soa, yang paling kuat pengaruhnya adalah perkumpulan im mo kauw. Yang sudah mengunjukkan diri secara terang-terangan saja semuanya terdiri dari orang-orang kuat nomor satu dikalangan Kang ouw. Dalam rumah penginapan dimana ada tinggal orangnya Pek-leng-hwee,

Ban-siu-pang dan Cie in pang, disuatu kamar yang letaknya ada dipaling belakang rumah penginapan tersebut, ada menginap seorang pemuda gagah dan tampan, namun wajahnya nampak selalu kecut asam. Ia itu adalah Yo Cie Cong yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut.

Pada malam itu, rembulan nampak terang benderang menyinari pohon-pohon kembang yang ada di daLam pekarangan rumah penginapan- Yo cie Cong sambil bertopang dagu, duduk di bawah jendela mengadangi sang puteri malam. Nampak pikirannya sedang bekerja keras. Di atas genteng terhadang kedengaran suaranya orang berjalan malam, tapi ia berlagak tidak dengar, otaknya sedang memikirkan satu persoalan yang sangat penting.

Persoalan yang dihadapi, pada dewasa itu ialah: ia harus unjukkan diri terang-terangan menerima tantangan semua orang kuat dari golongan hitam atau pilih saat itu berada di kota Tiang soa, ataukah menahan sabar untuk sementara waktu supaya ia bisa menjalankan rencana secara teratur? Ini ada merupakan satu ujian yang sangat berat, ia sudah dapat membayangkan kekuatannya pihak lawan yang tidak boleh dipandang remeh, sedang dipihaknya sendiri hanya seorang diri saja.

Lama sekali ia duduk dalam keadaan demikian, mendadak ia buka matanya dan memancarkan sinar yang menakutkan- Kemudian dengan tangan kanannya ia menggebrak meja, rupanya ia sudah mengambil suatu keputusan penting.

sifatnya yang tinggi hati dan dingin laksana es serta perasaan dendam kepada musuh- musu h suhunya, telah membuat ia mengambil keputusan yang menakutkan-

Dengan pelahan ia menutup pintu jendela, kemudian geser kursinya dan duduk di bawahnya penerangan lampu. Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sejilid buku kecil, ialah buku daftar musuh-musuhnya Kam lopang yang tertulis dengan huruf merah. Ia membuka lembaran yang pertama, di situ terdapat huruf yang berbunyi : IM, YANG, SIU, KUI, Po.

Dalam lima huruf itu, hanya si siluman tengkorak (ciang sie-kuay) Lui Bok Thong yang sudah bertemu muka, bahkan ia masih mencari padanya, sebab potongan kayu pusaka Kam-lo-pang telah berada didalam tangannya. Selain dari pada itu, Giok- bin Giam-po Phoa Cit Kow, ia telah dapat dengar dari phoa-ngo Hweshio bahwa iblis wanita itu adalah gurunya Cin Bie Nio. Sedang Cek-hoat Im-mo atau iblis rambut merah yang namanya berada paling atas, adalah itu orang yang melakukan pembunuhan kedua kalinya terhadap suhunya dan kedua susioknya.

Hanya musuh-musuhnya yang tercatat dalam huruf Yang dan siu, ia masih belum tahu siapa orangnya. 5 iblis yang nama-namanya tercantum dilembar pertama ini yang merupakan musuh-musuhnya yang paling tangguh diantara semua musuh-musuhnya Kam-lo-pang. Maka terhadap mereka, Yo cie Cong akan menghadapi suatu tugas yang maha berat. Ia membuka lagi

lembar kedua… Disitu terdapat 20 nama, ia baca dengan suara pelahan: “Tiang-goan It-go siangkoan In kie… To- liong- chiu Koo Goan…. Tok gan kai (Pengemis mata satu) Gouw Cu Ceng… Chian chin Jie lay (Jie lay tangan seribu) Ban Goan Thong. Hek giam lo (malaikat wajah hitam) Kiang Hie… In liong sam hian (Naga dalam awan) Tio Ek Chiu…

Nama-namanya enam orang di atas itu sudah dicoret dengan tinta merah, itu adalah musuh-musuhnya Kam lopang yang sudah dibinasakan oleh suhunya sendiri Yo Cin Hoan, sebelum ia menemukan ajalnya yang mengenaskan-selanjutnya…… Tui hong kiam (Pedang pengejar angin) siang koan Kin-.. Siang koan Kin adalah ketua dari Pek leng hwee, sudah lama meninggal dunia. orang yang sudah binasa tidak perlu dibongkar kuburannya, tidak perlu dikorek dosanya. Apalagi ia adalah ayahnya Siang koan Kiauw, itu gadis baju merah, yang korbankan jiwanya dilautan Lam-hay karena ikut ia pergi mencari obat. Maka nama Tui-hong kian siang koan Kin juga dicoret. Lalu, nama-namanya musuh-musuh yang terbinasa di tangannya: Tiauw-bin Cu ho (Buli-buli arak wajah burung) Liauw Ciang… Thie-pie sin-wan (Lutung sakti lengan besi) Coa Cang It. Cui-yauwcu (Belibis dalam air) see bun cun Tek. Kiu thian Hui peng (garuda terbang) Li Bu Cia Hoat pangcu (Pangcu hidup) Thio Phan.

Di wajahnya Yo Cie Cong yang asam, telah terlintas satu senyuman, tapi sebentar saja sudah diganti dengan wajah yang menakutkan, matanya mengawasi nama berikutnya, dan kemudian berkata kepada diri sendiri: selanjutnya adalah Cie san khek (Tetamu baju ungu) Lie Bun Hao,

ketua dari Cie in pang Ia ada serupa dengan Thio Phan, harus dipereteli kaki dan tangannya. sepasang tangannya untuk menebus dosa atas perbuatannya terhadap Kam lopang, sedang kedua kakinya sebagai ganjaran atas perbuatan terhadap diriku ditepinya danau Naga.”

Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula dengan ganas: “Hm Terhadap Cin Bie Nio aku harus membunuh mati dia dengan unjukan wajah asliku ” Terhadap wanita cantik genit itu, Yo Cie Cong bencinya bukan main- Karena iblis wanita itu pernah turun mangan terhadapnya ketika berada ditepi danau Naga, selain dari pada itu, ia juga berusaha hendak membelek perutnya untuk mengambil mustikanya Gu- liong- kauw.

Yang terakhir, kalau bukan si hweshio gila Phoa-ngo Hweshio yang menolong Yo Cie Cong mungkin cuma tinggal namanya saja, karena terbinasa dibawah pengaruhnya obat sorga dunia dari wanita cabul itu. Tiba-tiba, di belakangnya terdengar suara elahan napas pelan.

BAB 26 BUKAN kepalang kagetnya Yo cie Cong, ia buru-buru berbangkit dan berdiri nempel ditembok. Selanjutnya, ia lantas kerahkan ilmunya ‘Kan goan cin cao’ disatukan ke sepasang telapak tangannya. sebab orang itu sudah mengetahui rahasianya, maka orang itu harus dibinasakan- Terang bahwa suara tadi ada di belakang dirinya, tapi pintu dan jendela tertutup semua, bagaimana orang itu bisa masuk ke dalam kamarnya ? Bahkan tidak diketahui olehnya, ini benar-benar luar biasa.

Ketika ia sudah lihat tegas siapa orangnya yang bukan lain adalah itu orang sangat misterius yang memakai kedok kain merah. kekuatirannya lenyap seketika. Ia buru-buru memberi hormat seraya berkata: “Kiranya adalah Lo cianpwee yang berkunjung, entah ada keperluan apa ?” Orang berkedok kain merah itu ada mempunyai kepandaian tinggi luar biasa, ketika tadi Yo cie Cong menutup pintu kamar, diam-diam sudah menyelusup masuk ke dalam, terhadap semua gerak-geriknya Yo cie Cong, ia telah mengetahui dengan jelas. Ia yang selalu memperhatikan dirinya anak muda itu, maka dengan tanpa sadar sudah menghela napas perlahan “Anak, kau harus berlalu dari kota Tiang soa ini” demikian orang berkedok itu berkata, suaranya penuh kasih sayang.

Orang berkedok itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasianya Yo Cie Cong. “Kenapa ?” tanya Yo Cie Cong. “Orang-orang kuat yang berkumpul di kota ini, jumlahnya sudah lebih dari seratus orang. Mereka semua belum puas kalau belum mendapatkan dirimu. Kau tidak boleh mengandalkan keberanian saja, nanti akan membuat kemenyesalan untuk seumur hidupmu.” Yo Cie Cong sendiri bukannya tidak tahu kalau dirinya berada dalam keadaan sangat berbahaya, tapi adatnya yang tinggi dan pantang menyerah, membuat ia semakin mengalami kesulitan semakin keras dan tabah menghadapinya. Disamping itu ia juga harus menjaga nama baik dan kewibawaannya Golok Maut.

Meskipun ia merasa berat untuk menolak permintaannya orang berkedok itu, yang penuh kasih sayang dan dengan hati sejujurnya, tetapi sifat kejantanannya dan kesombongannya rupa-rupanya lebih kuat menguasai perasaannya. Dengan perasaan berat ia menjawab dengan suara pelahan: “Maksud baik cianpwee telah boanpwe ketahui dengan baik, tapi boanpwe tidak bisa berlalu dari sini” “Kenapa?” “Untuk nama baik dan kewibawaannya Golok Maut, boanpwe tidak akan tunduk terhadap pengaruh jahat ” “Nama baik da kewibawaan? Benar, Anak, berapa banyak orang gagah didunia Kang-ouw yang hancur karena hendak mengejar nama dan kewibawaan?”. “Boanpwe bukan hendak mengejar nama kosong, melainkan berat meninggalkan kota ini, yang berarti mengelakkan diri dari ancaman mereka?” “Tapi kau hanya dengan sepasang kepalan agak sulit untuk melawan empat tangan ?”

“Untuk kepentingan usaha boanpwee dalam penuntutan balas dendam terhadap musuh suhu almarhum, untuk kepentingan keadilan dunia Kang-ouw, boanpwe bersedia dengan kemampuan yang boanpwee ada, akan menghadapi mereka dengan sepenuh tenaga ” “Aku tidak menentang kau hendak menuntut balas untuk suhumu, tapi bukan pada saat ini, kau harus mengetahui gelagat” “Sekarang atau nanti toch sama saja ” “Keadaan pada dewasa ini tidak menguntungkan buat kau ” “Boaspwee tadi sudah katakan, boanpwe akan menggunakan kepandaian yang boanpwee punyai, akan melawan mereka sampai titik darah

penghabisan ” “Anak. kau terlalu keras kepala ” “Menyesal sekali boanpwee telah mengabaikan maksud baik cianpwee ” “Anak. kalau kau hendak bertindak menuruti perasaan hatimu sendiri, mungkin akan menimbulkan bencana hebat. Apakah kau sudah pikirkan akibatnya nanti ?”

“Akibatnya ?” “Benar. Kau akan menjadi musuhnya dunia rimba persilatan” “Perbuatan boanpwee inijika tidak dapat dimengerti oleh dunia rimba persilatan, yah apa boleh buat ” “Ai ” orang berkedok itu kembali keluarkan suara elahan napas pelahan dan geleng-gelengkan kepalanya. suara itu meski perlahan, tapi dalam telinganya Yo Ce Cong seolah-olah satu martil besar yang mengetuk ulu hatinya.

Ia merasa sangat duka karena tidak dapat menerima nasehat yang diberikan oleh orang berkedok itu, padahal itu ada satu nasehat untuk kepentingan dirinya. Ia tundukkan kepala sambil membisu. Lama sekali kedua orang itu saling berhadapan dalam keadaan membisu, Akhirnya orang berkedok itu berkata dengan suara terharu: “Anak, apa kau sudah ambil keputusan hendak berbuat demikian?” Yo Cie Cong anggukkan kepala, sebagai tanda membenarkan pertanyaan orang berkedok itu. “AH ” orang berkedok itu kembali menghela napas, dengan pelahan ia mendorong terbuka pintu kamar dan lantas menghilang ditempat gelap “Cianpwee ”

Yo Cie Cong memanggil, tapi orang berkedok itu sudah tidak kelihatan bayangannya. Apa yang ketinggalan ialah satu perasaan menyesal, ia agaknya merasa berbuat satu kekeliruan besar Ia berdiri dipintu kamar sambil mengawasi sang puteri malam, hatinya seperti menangis. “Sst” Dilorong depan- mendadak terdengar suara orang ketawa dingin.

Dalam kagetnya Yo Cie Cong lantas berpaling, saat itu matanya lantas dapat lihat dirinya seorang perempuan cantik berpakaian putih, sedang menghampiri padanya dengan tindakan pelahan. Ketika ia sudah melihat tegas siapa adanya perempuan cantik itu, hatinya bercekat, diwajahnya yang tampan tapi asam timbul napsunya untuk membunuh. “Hihi manisku, kembali kita bertemu di sini ” ujar si cantik. Ucapan yang merayu itu bukan merupakan madu, sebaliknya membuat Yo Cie Cong berdiri bulu romanya. “Hm Cin Bie Nio kau manusia rendah, ada satu hari nanti siaoyamu pasti hendak mencincang dirimu ”

Perempuan cantik itu memang benar adalah Cin Bie Nio, ketua Pek-leng-hwee yang juga menginap didalam rumah penginapan tersebut. Ia agaknya belum melupakan perbuatan mesum yang hendak dilakukan terhadap dirinya Yo Cie Cong tempo hari, maka disemprot secara kasar demikian, ia sedikitpun tidak gusar sebaliknya malah mengunjukkan kegenitannya yang luar biasa menyoloknya. Dengan suara yang manis merayu ia berkata: “Yoy engko kecil yang manis. Baru saja bertemu sudah mengucapkan perkataan begitu kasar, nampaknya sedikit perasaanpunt idak ada ”

sembari bicara, badannya digeser makin dekat kepada Yo Cie Cong. Anak muda itu sangat gusar, dengan wajah merah padam ia membentak: ” Cin Bie Nio, kalau kau berani maju tiga tindak lagi, aku nanti bunuh kau di sini”

Cin Bie Nio sebetulnya siang-siang sudah tahu kalau Yo Cie Cong juga berdiam dirumah penginapan itu. oleh karena terhalang oleh kematiannya Thio Phan di bawah Golok Maut, maka sebegitujauh ia belum pergi mencari padanya. Malam itu karena udara baik, timbul napsunya. Ia teringat dirinya Yo Cie Cong yang cakap muda dan tampan, maka dengan tanpa malu-malu lantas menyamperi ke kamarnya. Meski sudah diancam oleh Yo Cie Cong ia masih belum hentikan tindakan kakinya, dengan wajah berseri-seri ia menghampiri makin dekat.

Yo cie Cong mendadak timbul napsunya membunuh, pikirnya, aku sebetulnya hendak membiarkan kau hidup lagi beberapa hari tapi kau ternyata sudah tidak sabaran Baiklah, sekarang aku antarkan kau menghadap kepada Giam-lo ong. Setelah berpikir demikian, ia lalu kerahkan kekuatannya ke dalam kedua tangannya. Tapi mendadak ia ingat bahwa di situ ada tempat penginapan umum.Jika terjadi peristiwa berdarah, orang-orang kuat yang menginap itu tentu akan dibikin terkejut, hingga menjadi runyam akibatnya. Maka terpaksa ia menahan sabar, dengan mata mendelik ia mengawasi Cin Bie Nio, kemudian putar tubuhnya hendak masuk ke kamarnya.

Tapi Cin Bie Nio bisa bergerak sangat gesit, sebelum Yo Cie Cong bertindak masuk. la sudah merapat dirinya anak muda itu dan menghadang di depan pintu. ” Cin Bie Nio, kau hendak berbuat apa ?” “Yoy manis, mengapa kau selalu mengawasi aku dengan muka mendelik ? Aku toch tidak akan menelan dirimu? Kedatanganku ini adalah hendak memberi penjelasan kesalahan paham antara kita ” “Haha kesalahan paham?” “Benar, urusan yang sudah lalu itu telah terjadi karena suatu kesalahan paham yang sangat besar ” “Cin Bie Nio, kau tak usah banyak lagak, lekas keluar dari sini .” “Ah Kau ini bagaimana sih?” Sehabis berkata, ia malah lompat masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir pembaringan. Dengan lagaknya yang centil ia berseri-seri mengawasi anak muda yang dirinduinya.

Yo Cie Cong rasakan dadanya hampir meledak saking jengkel, sambil menuding ia membentak dengan suara keras: “Cin Bie Nio, apa kau mencari mampus?” “Cari mampus belum tentu, hanya dengan kepandaianmu seperti itu” “Kalau begitu tocu kan boleh coba ” “Tunggu dulu, kau dengar perkataanku dulu” “Heheheh, Cin Bie Nio siaoyamu hampir saja binasa di bawah pengaruhnya obat mu yang terkukuk itu”

Cin Bie Nio terperanjat. Tapi sebentar saja sudah pulih seperti biasa. Sepasang matanya yang genit, memancarkan sinarnya yang memikat hati, dengan tidak berkedip ia menatap wajahnya Yo Cie Cong. “Engko kecil yang manis, aku sebetulnya sangat cinta kau, karena

takut kau tidak mau menurut, maka terpaksa telah mengambil itu tindakan rendah ” Sehabis berkata ia perlihatkan senyumannya yang menggiurkan- Ia memang mempunyai paras cantik, dengan ketawanya itu, telah menambah kecantikannya tidak sedikit. Tapi Yo Cie Cong yang sikapnya dingin kaku, apalagi terhadap dirinya wanita cantik genit itu sudah mempunyai kesan buruk begitu dalam, sudah tentu tidak merasa ketarik oleh kecantikan yang memikatmu. “Pui tidak tahu malu ”

Kali ini Cin Bie Nio benar-benar sudah tidak tahan hinaan itu lagi maka sikapnya juga lantas berubah, lalu berkata dengan suara mendongkol: “Yo Cie Cong, kau jangan bertingkah ” “Jikalau kau masih ingin hidup lagi beberapa hari, kau lekas pergi dari sini. Kalau tidak..” “Kalau tidak bagaimana ?” “Aku akan bikin mampus kau ” “Haha, kau masih belum mempunyai itu kemampuan ”

Yo Cie Cong sudah kalap benar-benar, ia lalu angkat tangan kanannya. Cin Bie Nio ketawa mengejek. la juga ayun tangannya, lengan bajunya lantas menyambar. Yo cie Cong tiba ingat bahwa dalam lengan baju perempuan genit itu ada senjata rahasianya yang sangat ampuh. Dalam kagetnya, ia buru-buru menutup jalan pernapasannya, badannya dengan secara gesit sekali sudah lompat mundur sampai 5 kakijauhnya. Cin Bie Nio kembali unjukan ketawanya yang menawan hati. “Bagaimana ? sebaiknya kau dengar kata saja” demikian katanya yang lantas geser lagi tubuhnya untuk mendekati Yo cie Cong.

Yo Cie Cong sangat mendongkol, selagi hendak bertindak… Tiba-tiba di luar pekarangan ada terdengar suara orang berkata dengan dibarengi suara ketawanya yang aneh. “Haha, kupu-kupu yang manis telah bertemu dengan sang kumbang yang buas, suatu pemandangan yang sangat ganjil ” Cin Bie Nio meski ada seorang perempuan genit yang sudah tidak kenal apa artinya kesopanan dan malu, tapi biar bagaimana ia ada menjabat kedudukan ketua dari satu perkumpulan besar. Perbuatan demikian jika diketahui oleh orang luar, sudah tentu merasa kurang pantas. Serta merta lantas merah wajahnya dan badannya lantas melesat keluar.

Dalam pekarangan keadaannya ternyata sepi sunyi, hanya sinar rembulan yang menyinari taman bunga, tidak kelihatan bayangannya seorangpun juga. Cin Bie Nio pucat seketika, ia hampir tidak mampu kendalikan perasaan gusarnya. Dan ketika ia berpaling kekamarnya Yo Cie Cong, kamar itu ternyata sudah ditutup. Sambil banting-banting kaki ia berkata kepada dirinya sendiri: “setan cilik, kau tidak bisa terbang dari tanganku. Kalau aku Cin Bie Nio tidak mampu dapatkan dirimu, percuma saja aku menjadi muridnya Giok bin Giampo” sehabis berkata ia lantas tinggalkan taman bunga itu dengan perasaan sangat mendongkol.

Baru saja Cin Bie Nio meninggalkan taman tersebut, dari atas sebuah pohon besar dalam taman itu tiba-tiba melayang turun sesosok bayangan. Waktu tiba di tanah bayangan itu seperti setangkai daun yang jatuh di tanah. Tidak kedengaran suaranya.

Bayangan yang baru turun itu ternyata ada seorang pengemis tua yang mukanya sangat mesum. Pengemis itu nampaknya tidak mirip manusia, selain wajahnya jelek dan mesum, gegernya juga bongkok. tapi sepasang matanya ternyata begitu tajam, suatu tanda bahwa pengemis itu ada mempunyai kepandaian sangat tinggi.

Pengemis tua itu ketika melihat di situ tidak ada orang, lalu berjalan menghampiri pintu kamarnya Yo Cie Cong, kemudian memanggil-manggil: “Giok wajie keluar ” Selanjutnya, ia lantas perdengarkan suara ketawanya yang aneh .Justru suara ketawa inilah yang tadi mengusir Cin Bie Nio pergi. Yo Cie Cong ketika mendengar sebutan nama Giok wajie, diam-diam terperanjat, tapi juga lantas teringat pengalamannya dimasa kanak-kanak. Dimasa kanak-kanak Yo Cie Cong hidup dengan anak-anak pengemis. sebab ia kulitnya putih bersih dan wajahnya tampan, maka diantara kawan-kawannya lantas mendapat julukan ‘Giok wa jie’, yang “berarti ” boneka dari batu kumala. Dan oleh karena ia tidak mempunyai she dan nama maka sebutan ‘Giok wajie’ itu lantas menjadi popular sekali namanya.

Panggilan demikian, sudah 20 tahun lamanya ia belum pernah dengar lagi. “Giok-wajie, kau tahu aku siapa ?” Pengemis tua itu mengulangi pertanyaannya, tapi masih belum mendapat jawaban- Ia lalu menggerutu sendiri: “Eh terang memang dia, apakah aku kesalahan mata ?” “Tidak, kau tidak salah lihat ” Tiba-tiba ia dengar satu jawaban, dan tahu-tahu pundaknya sudah dicekal oleh satu tangan yang kuat.

Pengemis tua itu rasakan sekujur badannya tergetar, seolah-olah terpagut ular, Dengan cepat ia lompat melesat sejauh 3 tumbak. Ia merasa sudah dirubuhkan oleh orang yang muncul secara tiba-tiba itu, sebab ada orang berada dekat disampingnya ia sudah tidak berjaga sama sekali. Ketika ia berpaling ia lihat orang yang tadi memegang pundaknya adalah satu anak muda cakap dan gagah, namun sikapnya dingin kaku. Ia balas berseru: “Kau….kau bukankah kau ini ada itu anak yang dulu dipanggil Giok wajie ?” “Benar, dan cianpwee siapa ?.” “Ha ha, beberapa tahun tidak ketemu, kau ternyata sudah mempunyai kepandaian ilmu silat begitu tinggi. Kau lihat aku…” Sehabis berkata, tangannya mengusap wajahnya dan membuka rambut dikepalanya, kemudian berdiri dengan tegak.

Ternyata ia bukan seorang pengemis tua dengan geger bongkok, melainkan ada seorang pemuda kulit hitam yang sebaya umurnya dengan Yo cie Cong. Dengan sepasang matanya yang aneh, memandang berputaran, sambil ketawa girang ia menghampiri lebih dekat kepada Yo cie Cong. Ketika Yo Cie Cong mengenali siapa adanya orang itu, hatinya merasa sangat girang. “Oh, kau siao hek ” serunya. “Haha, aku tadinya mengira kau sudah melupakan sahabat lamamu ” “Siao hek. mari, kita omong-omong didalam kamar ” “Baiklah ”

Dengan jalan berdampingan, kedua kawan lama itu berjalan masuk kekamar, lalu duduk mengobrol di pinggir meja. “Siao-hek. apa suhumu ada baik ?” Yo Cie Cong mulai menanya.

“Suhu sudah meninggal dunia…” jawabnya si siao-hek dengan suara duka. “Apa ? suhumu sudah meninggal dunia ?” “Ya, diwaktu hendak melepaskan napasnya yang penghabisan, suhu pernah menyebut-nyebut kau, suhu kata bahwa hari kemudian kau tiada berbatas ”

Yo Cie Cong tundukkan kepala, semua kejadian yang sudah lalu kembali terbayang di depan matanya. Siao-hek adalah kawan Yo cie Cong di masa kanak-kanak. suhunya siao- hek sering mengatakan bahwa Giok wa-jie ada mempunyai bakat dan tulang-tulang luar biasa bagi orang persilatan. Karena ia tidak mau merusak bakatnya yang bagus itu, maka ia tidak mau menerima sebagai murid, hanya diberi warisan satu-satunya kepandaian yang saat itu cuma dipunyai sendiri olehnya didalam rimba persilatan.

Kepandaian itu ialah suata cara untuk merubah wajah dan bentuk badan sehingga menjadi lain rupa. Hanya siao-hek seorang yang menjadi murid satu-satunya dari jago tua dalam kalangan pengemis itu. Pada masa kanak-kanak, Yo Cie Cong sangat kepingin bisa belajar silat, terhadap siao-hek yang dapat didikan ilmu silat, ia merasa kagum dan mengiri. Siao-hek ada satu anak berandalan, tapi Yo cie Cong adatnya pendiam, maka sifat kedua anak itu merupakan satu kontras yang sangat menyolok. sejak Yo Cie Cong hidup di kalangan pengemis, hampir selalu berada bersama sama dengan siao hek.

Sudah beberapa tahun mereka tidak saling bertemu, sekarang masing-masing sudah menyadi orang dewasa. oleh karena pengalamannya berlainan, Yo cie Cong telah mengalami perubahan besar dalam sejarah hidupnya. Dari satu anak yang tidak diketahui asal usulnya, telah berubah menjadi seorang kuat, aneh, misterius dan menakutkan. “Giok-wa-jie, bagaimana kau bisa berobah menjadi pemuda berwajah dingin Yo Cie Cong? Aku tadinya hampir tidak percaya kalau benar Yo cie Cong adalah kau. Barusan aku coba beranikan hati memanggil kau, sungguh tidak nyana benar-benar adalah kau ”

Kalau kawan dimasa kanak-kanak saling bertemu lagi, dalam kegembiraannya, apa saja dibicarakan- “Karena aku mengikuti she suhuku, maka aku memakai she Yo, nama Cie Cong ada pemberian dari suhuku ” “Hihi, sangat unik sekali. selanjutnya aku harus panggil kau Yo Cie Cong!” “Itu terserah kepada kau sendiri ” “Eh suhumu tentunya ada seorang yang mempunyai kepandaian sangat hebat” “Bagaimana kau tahu?” “Kepandaian yang barusan kau unjukkan, aku sedikitpun tidak nempil. Aku siao-hek baru pertama kali ini merasa telah terjungkal, karena pundakku dicekal orang sedikitpun tidak berasa, untung adalah kau sendiri, kalau lain orang?” “Kalau lain orang bagaimana ?” “Sudah mati konyol Aku siao- hek jangan harap bisa gelandangan didunia Kang-ouw lagi” “Hahaha Itu cuma satu kepandaian yang tidak berarti, bung ” “Oya. siapakah sebetulnya suhumu. Giok wajie, eh Cie Cong ?” Yo cie

Cong bersenyum. setelah berpikir sejenak. lalu menjawab: “Sangat panjang kalau hendak dibicarakan, biarlah lain hari saja aku ceritakan padamu ”

siao hek meski orangnya kecil, tapi pengalamannya dalam dunia Kang ouw sudah matang. Mendengar jawaban kawannya, segera mengetahui bahwa sang kawan itu ada mempunyai kesulitan yang tidak dijelaskan, maka ia tidak mau mendesak terus. “Sekarang aku sudah bukan bernama siao hek lagi, tapi perhubungan kita ada lain dari pada yang lain, kau boleh panggil sesukamu saja ” “Ooh Mohon tanya nama saudara yang mulia ?” “Maaf. aku yang rendah adalah itu orang yang mempunyai sebutan Hok-bin sin-kie atau Pengemis kecil sakti berwajah hitam.” “Bulak-balik masih tidak terlepas dari perkataan hitam- hahaha ” “Hahahaha ” “Siao hek. ada keperluan apa kau datang ke kota Tiang-soa ?” “Mencari pemilik Golok Maut untuk membuat perhitungan ”

Yo cie Cong terperanjat, wajahnya berubah seketika, tapi sebentar saja sudah pulih seperti biasa. Siao hek yang sedang gembira dapat menjumpai kawannya diwaktu kanak-kanak. sudah tentu tidak perhatikan perubahan sikap sahabatnya itu. “Perhitungan apa ” Yo Cie Cong pura-pura menanya. “Ketua (Tocu) Kai-pang cabang Thian- lam, Tok-gan kui (setan mata satu) Gouw Cu Ceng telah binasa di tangannya Golok Maut, kau kata rekening ini harus dibikin perhitungan apa tidak ?” “Perkumpulanmu Kai pang bagaimana bisa bermusuhan dengan Golok Maut?” tanya Yo Cie Cong pura-pura tidak mengerti.

“Kalau diceritakan sebetulnya ada satu hal yang sangat memalukan perkumpulan kita. Dulu, Gouw Cu Ceng sebetulnya tidak seharusnya ambil bagian daLam peristiwa pembasmian partai Kam-lo-pang. Maka penyakit itu sebetulnya ia yang mencari sendiri ”

“Balas membalas, entah kapan habisnya ? Kalau betul perkumpulanmu sudah mengerti bahwa kematian Gouw Cu Ceng itu ada salahnya sendiri, sedangkan pemilik Golok Maut itu juga tidak melakukan pembunuhan terhadap orang- mu yang tidak berdosa, buat apa kau perlukan buang waktu dan tenaga banyak kawan pergi jauh-jauh untuk menuntut balas?” “Menurut apa yang tersiar dalam kalangan Kang-ouw, pangcu dari Kam-lo-pang sudah binasa pada 20 tahun berselang, tapi pemilik Golok Maut yang mengganas itu telah menyebut dirinya sendiri sebagai pangcu dari Kam lo pang maka terang sekali kalau dalam hal ini pasti ada apa-apanya…” “Sekarang perkumpulannya bersedia ambil tindakan apa ?” “Mencari tahu keadaan yang sebenarnya. Jikalau pemilik Golok Maut itu benar adalah pangcu Kam lo pang dulu yang menuntut balas sakit hatinya, perkumpulan kita yang selalu utamakan kebajikan dan tegas bertindak terhadap kejahatan dan kebaikan, sudah tentu tidak akan campur tangan ” “Dan kalau bukan ?” “Hutang darah terpaksa ditagih dengan darah ”

“Dengan jalan bagaimana perkumpulanmu dapat membedakan tulen atau palsu?” “Anggauta tertua dari perkumpulan kita, Ciu Cong Jin yang bergelar si pengemis welas asih pada 20 tahun berselang pernah mempunyai

hubungan dengan pangcu dari Kam-lo pang itu. Asal melihat, ia lantas bisa kenali betul atau tidaknya ”

Yo Cie Cong merasa lega. “Tindakan tegas dari perkumpulanmu, sesungguhnya sangat mengagumkan ” “Mana ? Peraturan atau disiplin perkumpulan kita ada sangat keras. Gouw Cu Ceng kalau tidak dibinasakan oleh Golok Maut juga akan menerima hukuman dari perkumpulannya sendiri ” “Orang yang sudah bersalah begitu, bagaimana membiarkan padanya menjadi ketua cabang di daerah Thian-lam ?” “Tentang kesalahannya itu, setelah dia di binasakan oleh Golok Maut baru diketahui oleh perkumpulan kita ” “Ooh begitu Eh ? kabarnya dari perkumpulan ada datang tiga orang dari angkatan tua ” “Benar, Ciu Cong Jin adalah satu diantara mereka, satu lagi adalah sam-gan sin-kie (Pengemis sakti mata tiga) Li Ceng Hong ” “Dan yang satunya lagi ?” Siao-hek ketawa cekikikan sambil menunjuk hidungnya sendiri “Nah yang ketiga adalah aku sendiri yang rendah si Pengemis kecil wajah hitam.”

Yo Cie Cong tertegun, Ia tidak habis mengerti bagaimana si siao-hek yang usianya sebaya dengan dirinya sendiri bisa dihitung orang angkatan tua dalam perkumpulan pengemis itu. “Kau, siao hek ?” “Kau tidak percaya? Kuberitahukan padamu, suhu didaLam perkumpulan Kai-pang kedudukannya tinggi sekali, ketuanya yang sekarang panggil suhu “su-couw”, dan aku yang menjadi muridnya, sudah tentu turut mendapat penghargaan sebagai orang angkatan tua

(tianglo)” “Oow, kiranya begitu. kalau begini aku harus memberi selamat padamu” “Edan kau Mari kita keluar minum kopi, bagaimana ?” “Baiklah Aku yang traktir” “Tidak usah, masa seorang Tiang lo dari perkumpulan Kaipang, minum saja minta dibayari orang ?” “Eh ? sombong kau. Mari kita jalan ”

Seorang pemuda berparas putih cakap, jalan bersama-sama dengan seorang pengemis hitam seperti pantat kuali, tidak heran kalau menimbulkan perhatian banyak orang, mereka agaknya pada terheran-heran ada ‘Kopi susu jalan-jalan’ Tapi dua pemuda itu tidak mau ambil pusing, di sepanjang jalan mereka terus mengobrol sembari ketawa-ketawa.

Tidak antara lama, mereka sudah tiba di salah satu rumah minuman yang paling terkenal dikata Tiang soa, Ceng yang lauw. Pelayan rumah makan begitu melihat dua pemuda itu, masih kenali bahwa pemuda putih cakap itu adalah pemuda yang pernah berkelahi dirumah makan tersebut dan hampir membikin rubuh lotengnya. Maka dalam hati merasa agak kurang senang, apalagi ketika melihat di sebelahnya pemuda itu ada seorang pengemis, tambah merasa tidak senang. Tapi ia tidak bisa berbuat apa..

Pada saat itu, sekelompok kawanan pengemis yang ada di depan pintu rumah makan tiba-tiba pada minggir untuk memberijalan, mereka pada anggukkan kepala tiga kali kepada pengemis hitam itu.

selanjutnya, seorang pengemis setengah umur, telah datang menghampiri.

BAB 27 PENGEMIs muda wajah hitam itu nampak bicara beberapa patah kata dengannya, dan pengemis pertengahan umur itu dengan sikapnya yang sangat menghormat, setelah angguk-anggukkan kepala lantas berlalu. semua kejadian itu telah dapat disaksikan dengan tegas oleh pelayan rumah makan. Pada umumnya, orang yang mencari penghidupan sebagai pelayan rumah- makan, kebanyakan kenal baik segala manusia dari berbagai tingkat dan golongan. Maka begitu menyaksikan keadaan demikian, ia lantas mengetahui bahwa pengemis muda yang hitam wajahnya itu tentunya ada seorang penting dalam perkumpulan kaum pengemis.

Jangan dipandang ringan kepada perkumpulan kaum jembel, meski mereka terdiri dari orang-orang yang hidupnya minta-minta dengan pakaiannya yang mesum dan banyak tambalan, tapi kalau berani berlaku salah kepada mereka, tahu sendiri akibatnya. Dengan tidak banyak tingkah lagi, pelayan itu lantas mempersilahkan kedua tetamunya itu masuk ke dalam. Dua pemuda itu mencari tempat yang paling sepi. Di situ mereka makan minum sembari mengobrol.

Si pelayan yang meski dalam hati merasa takut, tapi masih tidak puas, mukanya kelihatan kecut. Hek bin siao sin kie ketika menampak keadaan demikian lantas menegur sambil ketawa. “Hei, pelayan Mari, aku hendak tanya kau”

“Tuan hendak tanya apa ?” “Apa dalam rumah tanggamu kematian orang.”

Pertanyaan itu membuat si pelayan merasa bingung. Tapi ia tidak berani marah, terpaksa menjawab sambil melototkan matanya: “Tuan pandai membanyol ” “Siapa bilang ? Aku lihat kau sejak tadi kelihatan asam saja, maka lantas menduga kalau kau kematian keluarga ” Yo Cie Cong yang mendengarkan itu, hampir saja ketawa besar. Ia ulapkan tangannya dan berkata kepada si pelayan: “Kau pergilah ” Pelayan itu mengawasi lagi kepada siao hek sejenak lantas berlalu.

Kedua orang itu sesudah mengobrol ke barat ke timur, kembali alihkan pembicaraannya ke soalnya Golok Maut. “Siao hek. menurut pikiranmu, jika pemilik Golok Maut berani terang-terangan menerima tantangan orang-orang dunia Kang-ouw yang sekarang berada dikota Tiang-soa ini, bagaimana kesudahannya ?” “Betapapun tingginya kepandaian ilmu silat pemilik Golok Maut juga sukar melawan begitu banyak musuh kuat ” “Aku lihat belum tentu seperti yang kau kira” “Hm, kau masih belum tahu. Khabarnya itu manusia hantu dari seng sut-hay, Liat yang Lo koay, yang pada 10 tahun berselang namanya sangat ditakuti oleh orang-orang golongan hitam dan golongan putih, juga datang ke kota Tiang-soa”

Yo Cie Cong ketika mendengar namanya “Liat yang Lokoay” darahnya mendidih, napsunya membunuh timbul seketika. Tapi ia kuatir perubahan sikapnya itu nanti diketahui oleh siao hek. maka ia coba berlaku tenang.

Liat yang Lo koay ini ternyata dalam daftar musuh-musuhnya Kam lopang termasuk dalam urutan huruf YANG pada lembar pertama. Si siao hek yang tidak mengetahui perasaannya Yo Cie Liong lantas melanjutkan perkataannya: “Hanya itu satu ‘Liat yang Lo koay’ saja. sudah cukup membikin pusing pemilik Golok Maut”

“Khabarnya kepandaian pemilik Golok Maut itu sangat tinggi sekali, belum tentu kalau tidak dapat menandingi itu hantu yang kau sebut ‘Liat yang Ko koay’ ” “Boleh jadi, tepi kau tahu selain dari pada itu hantu tua dari Liat yang masih ada banyak lagi orang-orang kuat dari berbagai cabang dan golongan yang tersembunyi disekitar kota ini, dan masih ada lagi yang masih berada didalam perjalanan. semakin lama, jumlah yang datang semakin banyak.”

Yo Cie Cong dalam hatinya lantas berpikir: “Ucapan siau hek ini memang benar. semakin lama, semakin tidak menguntungkan bagi diriku. Dengan keadaan seperti dewasa ini saja sudah memusingkan kepala, apalagi kalau ditambah banyak orangnya. Tapi ia ada seorang muda keras kepala yang selalu pantang mundur.” “Jikalau pemilik Golok Maut itu ada seorang cerdik dan tahu gelagat, untuk sementara ini dia seharusnya menyingkir dulu,” berkata pula si siao hek. “Barang kali belum tentu dia berbuat begitu” jawab Yo cie Cong dengan mengandung arti. “Eh Kau seperti merasa simpati terhadap pemilik Golok Maut itu ?”

“Mungkin benar. Kabarnya dulu diatas gunung Bu leng-san pusatnya perkumpulan Kam lo pang telah diserbu secara mendadak oleh orang rimba persilatan dari golongan hitam dan golongan putih. Dalam penyerbuan secara besar-besaran itu, orangnya Kam lopang hampir binasa semuanya, begitu pula pangcunya dan semua keluarganya. Hanya dalam waktu satu malam saja, Kam lo-pang telah tersapu bersih, dan kalau sekarang pangcu itu datang untuk menagih hutang darah itu, sudah tentu soal sewajarnya saja. orang-orang yang dulu turut ambil bagian melakukan serangan secara keji itu sudah sepantasnya kalau dibunuh mati semuanya ”

Yo Cie Cong nampaknya sangat bernapsu mengucapkan kata-katanya, sampai matanya merah membara. Siao- hek yang menyaksikan keadaan demikian dalam hatinya lalu berpikir, mengapa bocah ini begitu bernapsu? Kalau kau sebagai pemilik Golok Maut, dunia akan menjadi gempar. Ia tidak tahu bahwa sahabat diwaktu kanak-kanak itu, memang adalah itu orang yang memegang peranan sebagai Pemilik Golok Maut. Kalau pada saat itu ia tahu, entah bagaimana perasaannya? “Mari, jangan banyak pikir, persetan urusan orang Mari keringkan arakmu” demikian ia berkata: “Mari ” “Banyak orang-orang kuat dari rimba persilatan telah berkumpul, hanya untuk menghadapi satu orang saja, ini sebetulnya merupakan suatu kejadian yang sangat langka” berkata pula siao-hek. “Aku kira pemilik Golok Maut akan membuat satu surprise bagi rimba persilatan” “Ng. kalau benar begitu, mungkin akan terjadi pembunuhan besar-besaran yang tidak ada taranya ”

“Siao hek. si hantu tua ‘Liat yang Lokoay’ yang kau sebut tadi ada apanya sebetulnya yang dapat dibanggakan?”

“Hal iri aku hanya dengar orang kata saja, khabarnya hantu tua itu ada mempunyai ilmu pukulan tangan yang sangat luar biasa, namanya ‘Liat yang ciang’. Pukulan tangannya itu ada mengandung angin panas seperti bara, katanya bisa membakar lumer barang logam ” Yo Cie Cong diam-diam merasa kaget. Pikirnya: lokoay ini mungkin merupakan satu lawan yang paling tangguh, ia ada mempunyai ilmu pukulan demikian rupa, apa aku mampu menandingi padanya atau tidak. masih merupakan satu pertanyaan-setelah berpikir demikian, ia lantas pura-pura menanya: “Ilmu pukulan ‘Liat yang ciang’ itu, apa betul sudah tidak ada orang yang mampu memecahkan? ”

“Ada, menurut apa yang aku tahu, hanya semacam ilmu pukulan Thay im ciang yang bisa memecahkan ilmu pukulan hantu itu. Ilmu pukulan “Thay im ciang” justru merupakan musuh yang paling ditakuti oleh ilmu pukulan ‘Liat yang ciang’, karena ilmu pukulan yang tersebut duluan itu melulu terdiri dari kekuatas “Im”, Kalau terkena pukulan tersebut, seketika itu juga darahnya lantas menjadi dingin dan beku, hingga sekujur badan lantas menjadi kaku dan binasa. Tapi didalam rimba persilatan kabarnya cuma seorang saja yang menyakinkan ilmu pukulan serupa itu”. “Siapa ?” “Cek hoat Im mo” (iblis rambut merah).

Kembali Yo cie Cong dibikin kaget, hampir saja ia lompat dari tempat duduknya. sebab nama itu juga terdapat dalam daftar, musuh-

musuhnya Kam lo pang.. Bukan cuma begitu saja, iblis itu malah melakukan pembasmian untuk kedua kalinya kepada pangcu Kam lo pang dan kedua-dua pahlawannya yang sudah bercacad di dalam goa di gunung Bu leng san, ketika jejaknya pangcu itu diketahui oleh iblis itu.

Peristiwa mengenaskan di atas gunung Bu leng-san ketika langit sedang turun salju lebat, kembali terbayang di depan matanya Yo Cie Cong. Ia telah lupakan dirinya sendiri, kalau saat itu sedang mengobrol dengan kawannya, seketika itu lantas mengunjukkan rasa gusarnya. Siao hek merasa heran atas perubahan sikap kawannya itu, maka lantas menanya padanya “Eh. kau kenapa ?”

Yo Cie Tong baru sadar atas kekeliruannya, ia buru-buru menenangkan lagi pikirannya, kemudian baru bisa menjawab: “Ooh tidak kenapa- napa, aku cuma merasa heran didalam dunia ini bagaimana ada kepandaian aneh serupa itu ?” “Ya dunia memang lebar segala apa bisa terjadi ” “Siao hek. kauw ternyata mempunyai pengetahuan luas, apa saja kau tahu ” “Hihi kau terlalu memuji ” “Siao hek. tahukah kau dimana adanya si iblis rambut merah Cek hoat Im-mo itu sekarang ?” “Hal ini aku belum pernah dengar, iblis itu sudah sepuluh tahun lebih tidak muncul lagi didunia Kangouw”

Yo Cie Cong tiba-tiba ingat suatu hal, pikirnya: Siao hek ternyata luas sekali pengetahuannya, mungkin ia dapat membantu aku memecahkan beberapa kesulitan, mengapa aku tidak mencari

keterangan dari mulutnya ? “Siao hek. tahukah kau Kauwcu perkumpulan agama Im mo kauw yang baru saja muncul di dunia Kang ouw ?” demikian ia menanya, matanya terus menatap wajahnya siao hek. “Im mo kauw, makin hari makin besar pengaruhnya. Khabarnya perkumpulan itu sudah berhasil menarik dirinya beberapa orang kuat yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi siapa dan bagaimana rupanya sang Kauwcu, barangkali tidak ada seorangpun yang bisa memberi keterangan- Kau tahu perkumpulan kita Kaipang hampir di seluruh pelosok dunia tersebar mata-matanya dan toh masih belum berhasil membuka kedoknya Kauwcu itu. Cuma menurut dugaan kita, Kauwcu itu tentunya ada seorang yang mempunyai kepandaian dan kecerdikan luar biasa ”

Yo cie Cong agaknya sangat kecewa. “Kabarnya sudah ada tiga orang Tongcu dari Im mo kauw yang terbinasa di bawah Golok Maut ” “Tentang ini ada terselip sebab-sebab apa didalamnya, buat orang luar sukar untuk mendapat tahu. Tapi Golok Maut sudah berani menantang terang-terangan terhadap Im mo kauw, tentu pemilik Golok Maut itu sendiri juga bukan seorang sembarangan”

Dua kawan lama itu mengobrol hampir satu jam lamanya, saat itu diluar sudah terdengar kentongan 3 kali. Keadaan dalam rumah makan itu sudah sepi, yang ketinggalan hanya mereka berdua. Yo Cie Cong mengawasi ruangan yang sudah kolong melompong itu, lantas tertawa sendiri dan berkata kepada kawannya: “Siao hek, mari kita pulang ” “Ah, mengapa terburu-buru? Kalau kita mengobrol terus, mungkin

akan berpapasan dengan tetamu yang hendak bersantap pagi Mari kita jalan ” “Aku hendak bayar uang makannya dulu ” “Tak usah, sudah ada orang yang membayarnya ”

Dua kawan itu ketika keluar dari rumah makan, keadaan dijalan raya sudah tepi sunyi, tidak kelihatan seorangpun juga. “siao hek. dimana kita bisa bertemu lagi?” “Hihi. Kawan, ditempat mana ada terdapat orang-orang pengemis, di situ kau bisa mendapat tahu tempatku” “Sampai ketemu ” “Sampai ketemu ” Pengemis sakti wajah hitam itu nampak membelok disatu tikungan jalan, sebentar lantas lenyap dari pemandangan.

Yo Cie Cong mengawasi bayangannya kawan dimasa kanak-kanak itu, rupa-rupa pikiran timbul dalam otaknya. Jalannya penghidupan sungguh aneh. Dua kawan kanak-kanak yang dulu bergelandangan dalam kalangan pengemis kini telah menjadi tokoh-tokoh penting dalam rimba persilatan yang tindak tanduknya dapat mempengaruhi nasibnya rimba persilatan.

Yo Cie Cong memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut, seorang misterius yang ditakuti oleh hampir semua orang. Sedang siao hek sudah menjadi salah satu pemimpin golongan tertua dari partai pengemis, yang kedudukannya tidak boleh diabaikan begitu saya dalam rimba persilatan. semua ini, hampir-hampir sukar dipercaya kebenarannya.

Dengan seorang diri Yo Cie Cong berjalan pelahan-lahan dijalan raya yang sudah menjadi sepi sunyi. Kesunyian dalam hatinya semakin terasa. Dalam keadaan sunyi seperti itu, mudah menimbulkan kenangan dimasa yang lampau dan mengingat dimasa yang akan datang. Dengan tanpa berasa Yo Cie Cong mengalirkan air matanya. Ia tanya kepada dirinya sendiri: “Apakah aku datang sendirian didalam dunia ini ? Tidak Aku seharusnya mempunyai ayah mempunyai ibu Tapi, dimana adanya mereka? Apakah masih hidup didunia atau sudah meninggal ? Mengapa aku harus di terlantarkan seorang diri ? Apakah bencana alam yang mememencarkan nasib kita..?” Karena pikirannya kalut, tindakan kakinya agak limbung

“Bocah kita berjumpa lagi disini ” demikian satu suara yang berat telah menyadarkan Yo Cie Cong dari lamunannya. Di depan matanya, saat itu berdiri 5 orang tua yang dandanannya sangat aneh. Mereka adalah Biauw-Ciang Ngo-tok dari Im-mo-kauw. Yo cie Cong hentikan kakinya, lamunannya lenyap seketika dan diganti oleh perasaan gusar. ia lalu menanya dengan suara dingin: “Kalau sudah berjumpa mau apa ?” salah satu diantara 5 orang tua itu lantas menjawab. “Setan cilik, tempo hari didalam rumah makan kau bisa lolos dari tangan kami, tapi malam ini, huh. Kau jangan harap bisa berlalu dalam keadaan hidup Jikalau kami tidak mampu membereskan jiwamu, selanjutnya nama Biauw-ciang Ngo-tok boleh dihapus saja ” “Hm Aku lihat, sudah tiba saatnya nama kalian harus dihapus ” “Setan cilik, dijalan raya kita bertempur, mungkin akan mengagetkan orang, mari kita keluar kota ”

Itu memang yang diharapkan oleh Yo Cie Tong, karena ia sudah mempunyai rencana masak-masak. ia tidak sudi berhadapan sebagai musuh besar-besaran dengan Im mo kauw. Disamping itu dalam kota juga ada terdapat banyak orang-orang kuat, jika mengejutkan mereka, banyak kemungkinan akan menyulitkan pekerjaannya di kemudian hari. Maka ia lantas menjawab sambil ketawa dingini “Bagus kalian boleh menerima satu tempat yang bagus sekali letaknya untuk tempat kuburan kalian ”

Biauw-ciang Ngo-tok dengan serentak menjadi gusar, orang yang buka suara itu berkata lagi: “Setan cilik, kau jangan mengandalkan lidahmu yang tajam, mari jalan ” Enam bayangan orang dengan beruntun lari menuju keluar kota bagian Barat. Disitu terdapat sebidang tanah ladang yang sangat luas dan beberapa gubuk dari kaum petani. Karena saat itu hari sudahjum tiga pagi, para penduduknya tentu masih tidur semua. Keadaan ada sangat sunyi. Ke enam orang itu telah berhenti di suatu tempat kira-kira setengah lie terpisahnya dari kota.

Dengan mengambil sikap mengurung, Biauw ciang Ngo-tok berdiri berpencaran sehingga membuat Yo cie Cong berada ditengah-tengah antara mereka. Dengan sikapnya tenang luar biasa. Yo cie Cong berdiri di-tengah-tengah dengan tegak. sama sekali agaknya tidak memandang mata pada kelima iblis tua itu. salah satu diantara lima orang tua itu yang bercambang lebat berkata: “Setan cilik, lebih baik kau tamatkan riwayatmu sendiri, barangkali

bisa mati dalam keadaan utuh.” “Ha, ha.. sombong benar kau. Malam ini kalian berlima barangkali ingin mati dalam keadaan utuh saja masih susah.” “Setan cilik, apakah kau masih mau menantikan kita berlima turun tangan ?”

Yo cie Cong setelah tertawa bergelak-gelak lantas berkata: “Dengan mengandalkan kepandaian kalian berlima kawanan setan tua ini masih belum pantas mengeluarkan perkataan semacam itu.” “Haha.. Anjing cilik Malam ini kau harus dicincang, baru kami bisa merasa puas,” sehabis berkata, tangannya diayun berbareng. “Aku akan mengambil kau sebagai contoh dulu ” berkata Yo Cie Cong dan dengan kecepatannya yang sangat luar biasa ia menyerang kearah orang tua yang bicara tadi. Gerakannya itu ada tipu silat kombinasi dari Liu im Hut hiat pelajarannya Phoan-ngo Hweshio dan ‘Menggeser tubuh menukar bayangan’, pelajarannya orang berkedok kain merah, sedangkan kedua-duanya itu sudah merupakan tipu silat yang tidak ada taranya lagipada masa itu.

Maka dengan tidak ada ampun lagi salah satu iblis tua dari Biauw-ciang Ngo tok telah menjadi korban. Belum sampai serangannya meluncur keluar tiba-tiba matanya dirasakan gelap dan beberapa bagian jalan darah penting di badannya telah kena tertotok oleh suatu kekuatan hebat yang tidak dapat dilihat mata, maka dengan tidak mengeluarkan sedikit suarapun juga badannya lantas rubah di tanah.

Ke empat kawannya sudah dibikin terkejut dan terheran- heran oleh gerakan Yo cie Cong itu. Mereka masih belum mengetahui dengan cara bagaimana Yo Cie Cong turun tangan tadi, tahu-tahu salah satu

kawannya sudah binasa. oleh karena gerakannya yang gesit dan aneh luar biasa itu, maka mereka sama sekali tidak sempat memberikan pertolongan pada kawannya. Menyaksikan kepandaian Yo cie Cong yang seolah-olah perbuatan iblis menerkam jiwa manusia, hati mereka seketika itu lantas menjadi keder.

Namun mereka tidak mau tinggal diam begitu saja, maka setelah keluarkan geraman hebat keempat-empatnya lantas menyerang Yo cie Cong dengan berbareng. Bertempur di suatu tempat yang luas itu, sudah tentu banyak bedanya dengan keadaan bertempur dirumah makan yang terbatas. Apa lagi empat iblis tua itu sedang berada dalam keadaan kalap, maka serangan mereka berempat sesungguhnya sangat hebat tak dapat di ucapkan dengan kata-kata. Kekuatan dari serangan tergabung ke empat orang itu telah menyerang Yo Cie Cong dari empat penjuru.

Yo Cie Cong sedikitpun tidak merasa takut akan serangan itu, ia sengaja tidak mau berkelit maupun menyingkirkan diri, ia hanya menunggu sampai kekuatan serangan tersebut sudah datang dekat benar, barulah badannya melesat ke atas sambil berputaran, kemudian dengan secara ringan sekali orangnya melayang turun kebawah.

Gerakan Ye Cie Cong macam ini telah membuat bimbang hatinya kawanan iblis tersebut. “Kalian masih menyimpan kepandaian macam apa lagi, lekas keluarkan semua. Kalau terlambat sedikit saja nanti tidak keburu di keluarkan,” kata Yo cie Cong sambil ketawa dingin.

Biauw-ciang Ngo-tok itu ada merupakan tokoh terkuat didaerah Biauw. Mereka sudah menjagoi dan malang melintang didaerahnya sendiri. sungguh tidak disangka, setelah ditarik menjadi anggotanya Im mo-kauw, baru saja turun tangan sudah terjungkal ditangannya seorang bocah cilik.

Bahkan hanya dalam segebrakan saja si bocah sudah membinasakan salah satu kawannya. Dapatlah dibayangkan sendiri bagaimana perasaan gusar kawanan iblis dari daerah Biauw itu, maka ketika mereka mendengar ejekan Yo cie Cong, seolah-olah api di siram minyak, perasaan gusarnya semakin meluap-luap. Empat iblis itu dengan berbareng memendekkan badannya, tiba-tiba pakaian dibadan mereka pada melembung.

Yo Cie Cong sudah kenali gerakan ini ketika mereka berada dirumah makan, kawanan iblis itu kembali hendak menggunakan cara tempo hari melepaskan ilmu gaibnya, Bok-beng in cong. Tetapi karena Yo cie Cong sudah bersiap siang, sedikitpun ia tidak merasa takut. Dengan ilmunya Kan-goan cao-kie ia telah menutup rapat sekujur badannya.

Ilmunya itu selainnya dapat menolak serangan hawanya racun, juga bisa dipakai untuk menghancurkan daya kekuatan yang melakukan serangan padanya. sebentar kelihatan hawa putih seperti kabut menutupi sekujur badannya, maka racun dari ilmu gaib keempat iblis itu sedikitpun tidak berdaya menghadapinya. Kawanan iblis itu segera mengetahui gelagat kurang menguntungkan bagi pihaknya, mereka lalu berduduk semuanya, dengan kekuatan

sepenuhnya mereka melanjutkan serangan mereka. Dengan demikian, keadaan menjadi berubah.

Yo cie Cong merasa seperti ada bau harum sedap yang datang dari empat penjuru dengan tidak berhenti- hentinya mencoba menyusup kedalam badannya. Bahkan perasaan itu makin lama makin hebat, maka ia juga menggunakan seluruh kekuatannya untuk memberikan perlawanan. sekejapan saja kedua pihak kelihatan sudah mengucurkan keringat deras. Racun yang digunakan dalam ilmu gaib Bo-beng sin cong itu merupakan salah satu racun yarg paling ganas .Jikalau tidak menghadapi musuh yang sangat tangguh ilmunya tidak digunakan secara sembarangan, karena racun ini terdiri dari binatang kutu hidup yang disalurkan dengan kekuatan dan hawa dari orang yang menggunakan. Apabila racun itu binasa, orangnya juga pasti turut binasa.

Ke empat iblis dari daerah Biauw itu meskipun sudah mengetahui bahayanya menggunakan racun tersebut, tetapi mereka masih tetap nekad dengan tidak menghiraukan jiwanya sendiri lagi. Kedua pihak kini kembali berkutetan sekian lamanya. Yo Cie Cong tidak mau membuang waktu terlalu lama, ia sengaja mengendurkan pertahanannya, maka sebentar saja sudah ada satu racun kutu telah menyusup masuk dalam badannya.

Salah satu dari kawanan iblis itu yang melancarkan serangannya ketika mengetahui bahwa racun kutunya sudah menyusup masuk ke dalam badan lawannya, diam-diam merasa girang. Ia lantas memperhebat gerakannya dan racun kutu itu mulai bekerja dibadan lawannya.

Tetapi Yo Cie Cong yang sengaja memancing lawannya melakukan perbuatan demikian setelah racun kutu itu masuk ke dalam dirinya, ia lantas menggunakan kekuatan Kan-goan-cao khienya Untuk menggempur racun tersebut.

Iblis yang menyerang tadi mendadak merasakan keadaan tidak beres, cepat-cepat ia menarik kembali serangannya, tetapi sudah terlambat sedikit. Racun kutunya sudah dibinasakan musuh oleh kekuatan lawannya. Dengan tidak ada ampun, lagi darah di badannya lantas mengalir keluar dari lubang hidung, kuping dan matanya, kemudian disusul dengan badannya rubuh. Dengan demikian, lima orang iblis dari daerah Biauw itu sekarang hanya tinggal tiga orang lagi saja yang masih hidup.

Ketika mereka bertiga mengetahui keadaan tidak baik, cepat-cepat mereka menarik mundur serangannya, dengan mata melotot mereka mengawasi Yo Cie Cong, kemudian memutar tubuhnya hendak kabur. Yo Cie Cong yang sudah tentu tidak membiarkan 3 orang tua itu berlalu begitu saja.. Dengan cepat ia sudah menghadang di depan mereka, kemudian berkata dengan suara bengis: “Kalian bertiga hendak berlalu dari sini, tidak begitu mudah ”

Tiga orang tua beracun itu wajahnya berubah seketika, matanya mendelik semakin lebar. satu diantaranya lantas berkata: “setan cilik, kau hendak berbuat apa ?” “Kalian mau berlalu, boleh, tapi harus menjawab pertanyaanku dulu ” Tiga orang tua itu karena kedua kawannya sudah binasa, lagi pula mereka memang terdiri dari manusia-manusia yang kejam dan buas,

maka setelah didesak begitu rupa oleh Yo Cie Cong, lantas timbul pikiran nekadnya, masing-masing dengan kekuatan sepenuhnya menyerang Yo cie Cong. serangan gabungan dari ketiga orang itu hebatnya luar biasa.

Yo Cie Cong ketawa dingin, lalu ia memusatkan kekuatannya Kan-goan cin cao dikedua tangannya untuk menyambuti serangan dari ketiga orang tua itu. Suara benturan keras lantas terdengar amat nyaring. suara itu dibarengi oleh suara jeritan tertahan dari tiga orang. Yo Cie Cong badannya terhuyung-huyung kebelakang beberapa tindak baru bisa berhenti. Tetapi Biauw-ciang sam-tok itu masing-masing sudah terpental mundur lima tindak. sehingga badan merekapun sempoyongan, mulut masing-masing mengeluarkan darah segar, wajah mereka pucat pasi.

Yo Cie Cong kembali membentak dengan suara keras “Dengar Pertanyaanku pertama, siapakah Kauwcu kalian” Ketiga orang tua itu dengan napas memburu dan mata mendelik mengawasi Yo Cie Cong, tetapi tidak ada seorangpun yang memberi jawaban. Yo Cie Cong mengulangi lagi pertanyaannya: “Aku ulangi sekali lagi, siapa Kauwcu kalian ?jikalau tidak mendapat jawaban, satu diantara kalian bertiga pasti tidak akan bernyawa lagi. Ingat siapa nama dan gelar Kauwcumu ”

Ketiga orang tua itu kembali terdiam tidak menjawab. Yo cie Cong segera berubah wajahnya lantas bergerak dengan cepat. Diantara suara jeritan ngeri, satu diantara ketiga orang tua itu telah rubuh ita nah, jiwanya melayang seketika.

Dua orang yang lainnya, wajahnya lantas memucat seperti mayat, seorang diantaranya sambil kertak gigi berkata: “Setan cilik Tak perlu kau berbuat begitu kejam. sekalipun kau berhasil membunuh mati kami semuanya, tetapi pertanyaanmu itu kami memang tidak tahu.” Yo Cie Cong tidak mau percaya keterangan ini, ia lalu berkata pula: “Sekarang pertanyaan kedua .Jikalau kalian masih tetap tidak menjawab, diantara kalian berdua hanya seorang saja yang boleh hidup, Dengar biar terang Apa sebabnya Im-mo-kauw mengejar-ejar dirinya pemilik Golok Maut ?”

Dua orang tua ini saling pandang, tidak ada seorangpun yang dapat menjawab. Terhadap dua pertanyaanku itu, lima orang tua dari Biauw itu memang sebetulnya tidak mengetahuinya, sejak mereka menjadi anggota Im mo-kauw sehingga saat itu, mereka masih belum pernah melihat wajahnya Kauwcu mereka. Tentang tindakan mereka yang mengejar-ngejar pemilik Golok Maut, juga diperbuatnya hanya sekedar untuk menunaikan tugas mereka. Justru kedua pertanyaan yang sudah lama mengeram dalam hatinya Yo Cie Cong kini tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan lagi maka berkobarlah napsu membunuhnya.

Kembali suara jeritan ngeri terdengar lagi, satu diantara kedua orang tadi telah rebah menggeletak dalam keadaan tidak bernyawa. “sekarang kau harus menjawab kedua pertanyaanku tadi.Jikalau tidak. kau akan mendapat perlakuan yang serupa seperti kawan-kawanmu.” satunya orang tua yang masih tetap hidup itu dengan perasaan sedih dan gusar lantas menjawab :

“Lohu akan adu jiwa dengan kau” Badannya lantas bergerak, Yo Cie Cong cepat mengeluarkan senjatanya Golok Maut. sambil membolang-balingkan senjata yang aneh bentuknya dan yang memancarkan sinar yang kemilau itu, ia menanya pula: “Ku mau jawab atau tidak?”

Orang tua itu dengan perasaan takut setengah mati lantas mengurungkan gerakannya dan mundur satu tindak. Dengan suara gemetar ia berkata: “Kau…. Kau…. Kau ini adalah pemilik Golok Maut ?…” Pada saat itu dari jauh terdengar suara helaan napas yang sangat perlahan. Yo Cie Cong tidak akan menduga kalau di tanah belukar dan diwaktu tengah malam buta seperti itu, ternyata masih ada orang yang sembunyi di sekitarnya, bahkan ada kemungkinan besar sudah menyaksikan segala sepak terjangnya barusan.

Mengingat sampai di situ, bukan kepalang rasa kagetnya, maka ia lantas lompat melesat menuju ke arah datangnya suara tadi. Gerakan badan Yo cie Cong sudah cukup gesit, tetapi ternyata masih tidak berhasil melihat suatu apa, hanakesunyian malam saja yang saat itu membungkus keadaan di sekitarnya.

Tiba-tiba ia teringat, masih ada seorang tua yang ada disitu. Ia karena sudah menunjukkan Golok Mautnya, itu berarti sudah mengunjukkan siapa dirinya, maka jikalau orang tua itu tidak dibereskan sekalian, tentunya nanti akan membawa akibat yang sangat hebat. Dengan cepat ia lari balik. Tetapi Apa yang di saksikan telah membuat

ia melongo. satu-satunya orang dari Biauw ciang Ngotok yang masih hidup saat itu ternyata juga sudah menggeletak di tanah dalam keadaan tidak bernyawa.

Rupa-rupa pertanyaan timbul dalam otaknya Yo Cie Cong. siapakah orangnya yang mengeluarkan suara elahan napas perlahan tadi?” siapakah orangnya yang membinasakan orang tua ini?” Pertanyaan itu tinggal merupakan suatu pertanyaan yang tidak terjawab, sebab sesungguhnya ia memang tidak akan menduga dan tidak bisa menduga siapa adanya orang itu Jikalau mau dikatakan bahwa orang yang membunuh mati sisanya orang tua dari Biauw ciang Ngo-tok adalah itu orang yang telah mengeluarkan suara helahan napas perlahan, maka kepandaiannya orang tersebut boleh di kata sudah tidak ada taranya lagi dalam dunia ini. segala sepak terjangnya barusan juga sudah tentu semuanya sudah disaksikan olehnya.

Jikalau orang yang sangat misterius itu adalah pihak musuhnya, mengapa harus membunuh mati orang tua itu? Tetapi jikalau bukannya dari pihak musuh, mengapa harus berlaku begitu misterius dan tidak mau mengunjukkan muka didepan matanya ? siapakah sebetulnya dia itu ? Andaikata orang yang sangat aneh itu masih mengandung maksud lain- hal ini sesungguhnya sangat menakutkan. Sebab pada dewasa ini, didalam kota Tiang soa yang seolah-olah sudah menjadi sarangnya macan dan kedungnya naga, kedatangan semua orang gagah itu ialah semata-mata karena munculnya pemilik Golok Maut disitu. Jikalau Yo cie Cong yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut itu diketahui oleh mereka maka sungguh hebat

sekali akibatnya. Ia memikirkan soal ini bolak balik, tetapi masih tetap belum berhasil memecahkan persoalan yang merupakan teka-teki itu.

Akhirnya ia telah mengambil keputusan tetap, hendak berbuat seperti apa yang sudah direncanakan- Dengan senjata Golok Mautnya, ia telah mempreteli tangan kakinya Biauw ciang Ngo tok. Bangkai dari lima orang tua itu dibuat sedemikian rupa sehingga kelihatannya seolah-olah sudah dibunuh mati oleh Golok Maut, kemudian ia membawa bangkainya mereka pergi den lalu digantungkan di atas sebuah pohon besar didekat pintu kota. setelah selesai semuanya, ia pulang kembali kerumah penginapannya.

BAB 28 BELUM LAMA Yo Ce Cong meringkuk dipembaringan dalam kamarnya, cuaca sudah mulai terang. Yo Cie Cong bangun dari tempat tiduran, Ia dapat menghela napas lega. “Siangkong, selamat pagi.” Yo Cie Cong terperanjat. Ketika ia berpaling, orang yang menegur padanya itu ternyata adalah pelayan rumah penginapan. “Ng. Pagi-pagi kau sudah bangun. Aku hendak pergi buang air.” Pelayan itu berkata sambil tertawa cengar cengir: “siangkong juga pagi-pagi sekali sudah bangun.”

Yo cie Cong cuma mengganda ketawa lantas meninggalkan pelayan itu. Ketika baru saja berlalu pelayan itu tiba-tiba berkata pada dirinya sendiri: “Aku sibotak sudah cukup banyak melihat orang, tetapi belum pernah melihat perempuan secantik itu. siang kong ini sungguh beruntung.

Aku si botak sekalipun sepuluh tahun lagi juga jangan harap bisa dapatkan perempuan begitu cantik.” sehabis berkata begitu, ia lantas berlalu.

Yo Cie Cong dapat menangkap perkataannya pelayan tadi yang terang ada ditujukan pada dirinya sendiri, lain timbul perasaan curiganya. Ketika ia hendak menanya pelayan itu sudah berlalu, maka ia lantas melanjutkan tindakannya ke-wc. dan tidak lama kemudian ia balik lagi ke dalam kamarnya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, seketika ia lantas melongo.

Diatas pembaringannya tampak rebah seorang wanita muda yang menghadap ke dinding tembok. sehingga tidak bisa dilihat wajahnya. Yo cie cong bingung. Mengapa tidak lama ia keluar pintu wanita itu sudah tidur di atas pembaringan ? ini sesungguhnya ada merupakan suatu hal yang sangat ganjil. siapa sebetulnya wanita ini ? Mengapa ia berani tidur diatas pembaringan seorang laki-laki ? Didalam keadaan demikian rupa itu. Yo Cie Cong tidak bisa berbuat lain, kecuali dengan sengaja berdehem.

Wanita itu tempaknya terkejut mendengar deheman Yo cie Cong, ia lantas lompat bangun dan lompat melesat kepinggiran tembok. Kedua tangannya sudah disiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan- Dilihat dari setiap gerakannya, wanita itu terang ada mempunyai kepandaian tinggi. Untuk sesaat lamanya Yo Cie Cong juga dibikin terkejut oleh gerakannya wanita itu. “Engko Cong. Kau? Hampir semalam suntuk aku menantikan kau ”

“Dengan susah payah aku mencari kau sampai disini. Tetapi ketika aku tiba dikamarmu kau ternyata sudah tidak ada. Kemana saja tadi malam kau pergi ?” “Ooooh. Aku telah bertemu dengan kawanku semasa kanak-kanak dan makan minum sampai hampir pagi.” Kiranya wanita itu adalah Oet tie Kheng, cucu perempuannya Pengail Linglung dari pulau Batu Hitam. “Engko Cong, apakah kau masih ingat ketika kau meninggalkan pulau Batu Hitam, aku yang mengantarkan kau mendarat? Didalam pernah berkata apa padamu”

Nona itu berkata sambil tersenyum simpul sehingga terlihat kedua sujen dikedua pipinya, yang membuat dia semakin menarik kelihatannya. “Adik Kheng, aku sudah, lupa.” jawab Yo Cie Cong sambil ketawa. Oet-tie Kheng parasnya kelihatan sedikit berubah, ia lalu berkata setelah monyongkan mulutnya yang kecil mungil: “Hmmm. Aku tahu. Kau tentunya sudah melupakan diriku” “Mana bisa ? Engkong mu telah melepas budi kepadaku karena dia sudah mewariskan pada ku semacam pelajaran kelas tinggi ketika aku berada dipulau Batu Hitam itu juga adalah adik Kheng sendiri yang merawati segala kebutuhanku. Bagaimana semuanya itu bisa kulupakan? Hanya…” “Hanya apa?” tania Oet tie Kheng sambil ketawa geli. “Hanya ingatanku kurang baik.”

“Hh. Justa. Didalam hatimu mungkin sudah tidak ada lagi bayanganku.” oet tie Kheng ketika mengucapkan perkataannya itu, mendadak ia

merasakan sudah keterlepasan. sebagai seorang gadis remaja yang masih putih bersih, bagaimana ia boleh mengucapkan perkataan macam itu ? Tetapi karena sudah terlanjur diucapkan, maka ia tidak bisa menariknya kembali. Cuma seketika itu ia merasa sangat malu sehingga parasnya menjadi merah padam dan kepalanya lantas ditundukkan-

Yo Cie Cong bukan tidak mengerti kecintaan hati Oet tie Kheng terhadapnya, cuma saja hatinya sudah diberikan kepada siang-koan Kiauw yang sudah binasa didalam lautan sewaktu mengikuti peryalanannya ke Lam-hay. Yo Cie Tiong yang merasa bertanggung jawab atas kematiannya Siang koan Kiauw, ia menganggap adalah suatu kedosaan besar terhadap Siang-koan Kiauw. jika ia menyintakan dirinya lain gadis.Jikalau bukan karena urusannya sendiri yang masih belum selesai mungkin ia sudah menyebutkan dirinya ke dalam lautan yang untuk menyusul kekasihnya.

Maka terhadap cinta kasihnya Oet-tie Kheng, ia bukannya tidak mau menerimanya, ia merasa bahwa perasaannya sendiri saat itu sudah hampa. “Adik Kheng, harap kau jangan gusar.. Benar-benar ingatanku kurang baik.” “Hmm siapa yang gusar ? Apa perlu aku lagi yang mengingatkan ?” “Baik. Coba kau sebutkan-” “Aku pernah mengatakan bahwa ada satu hari aku akan datang keTiong-goan untuk mencari kau.” Oet tie Kheng mengangkat kepalanya, dengan sangat mesra ia melirik Yo Cie Cong sejenak. lalu kembali menundukkan kepalanya.

“Benar. Kau pernah ucapkan perkataan demikian-” berkata Yo Cie Cong. “Adik Kheng, mari kita duduk beromong-omong”

Oet tie Kheng tersenyum, ia lantas duduk di pinggir pembaringan. Yo Cie Cong menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan si nona. Beberapa detik lamanya keduanya membisu, seolah-olah kehilangan bahan yang harus diucapkan, padahal oet tie Kheng ingin mengutarakan semua isi hatinya, dengan segala perkataan yang sudah disiapkan dalam hatinya. Tetapi sebagai seorang perempuan, ia merasa tidak enak jikalau harus menyatakan hatinya kepada sang kekasih, maka Akhirnya ucapannya tidak berani dikeluarkan-

Sebaliknya bagi Yo Cie Cong yang memang benar-benar tidak ada apa-apa yang harus diucapkan hanya dalam hati saja ia merasakan tidak enak. setelah pada membisu sekian lamanya, akhirnya Yo Cie Cong jugalah yang memecahkan kesunyian. “Adik Kheng, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sini ?” “Peristiwa Golok Maut telah menggempatkan seluruh rimba persilatan. Aku menduga mungkin kau juga bisa datang kemari untuk menonton keramaiannya, maka aku lantas tujukan kakiku kekota Tiang soa ini. Baru saja aku sampai dikota ini aku sudah mendengar ramai orang membicarakan halnya pemuda kecut Yo Cie Cong yang dengan seorang diri melawan Biauw ciang Ngo tok, lima orang kuat dari daerah Biauw dan Thian-san Liong lie membuat geger dirumah makan ceng yang ciu lauw. Bukankah itu mudah sekali untuk mencari jejakmu?”

Yo Cie Cong menganggukkan kepalanya, mendadak suatu pikiran terlintas dalam otaknya: “Apakah Pengail Linglung itu juga ikut

datang? Jikalau orang tua itu turut datang dan mau turut campur tangan dalam peristiwa ini, sesungguhnya agak berabe. Maka ia lalu menanya dengan suara perlahan: “Dik Kheng datang seorang diri ataukah…” “Ng. Aku datang hanya seorang diri saja. Kata yaya, dia mau menunggu beberapa waktu lagi baru bisa datang. Dia malah betkata hendak menyelesaikan sedikit persoalan yang sudah lama, tetapi aku tidak tahu entah persoalan apa yang dimaksudkannya itu.”

Hati Yo cie Cong merasa lega. Tentang persoalan yang dikatakan oleh nona ini, yang dimaksudkan barang kali persoalan perjanjian pertandingan ilmu silat dengan muridnya seorang dari rimba persilatan, tetapi saat itu ia tidak menjelaskannya. setelah hening sejenak, barulah ia betkata pula: “Adik Kheng ketika meninggalkan pulau Batu Hitam apakah sudah mendapatkan persetujuannya oet tie Lo cianpwee?” “Kau tanya ini apa perlunya ?” oet tie Kheng balas menanya sambil monyongkan mulutnya yang mungil. “Kalau begitu, kau tentunya kabur dengan diam-diam.” “Hmmm. Kabur ? Apa bukan-..” Oet tie Kheng seolah-olah merasa diperlakukan tidak manis oleh Yo cie Cong.

Karena rasa cintanya yang sangat besar, diam-diam ia telah kabur dari pulau Batu Hitam. Dengan tidak takut mengarungi laut Lam-hay yang luas dan meninggalkan engkongnya yang sudah tua seorang diri di atas sebuah pulau yang sepi sunyi, tetapi apa yang diterima dari Yo cie Cong sekarang tidak lain daripada sikap yang dingin- Ia tadinya

bermaksud mau menjawab: “Bukankah lantaran kau?” tetapi perkataannya itu tidak berani di keluarkan dari mulutnya.

Lain lagi halnya dengan apa yang dipikirkan oleh Yo Cie Cong. Ia sangat menguatirkan kalau soal ini nanti akan menjadi persoalan yang berlarut-larut tidak ada habisnya. Di samping itu juga ia sekarang sedang memainkan dua peranan dalam dunia Kang-ouw dan sekitarnya merupakan kawanan orang gagah semuanya.Jikalau ada dirinya nona ini disampingnya. bukankah ia nanti akan merasa sangat berabe ? Benar-benar ia tidak mengetahui bagaimana harus mengatur dirinya Oet tie Kheng. “Adik Kheng, kau menginap dirumah penginapan mana ?” “Aku belum dapat rumah penginapan-”

Saat itu tiba-tiba dari luar terdengar suara riuh ramai. Terdengar orang tarik urat. “Kau benar-benar menghina orang. Apakah karena aku hanya seorang pengemis cilik tidak boleh menemui sahabatku ?” “Diruangan belakang, kebanyakan ditempati oleh para tetamu yang beruang jikalau terjadi kegaduhan, sangat tidak enak tentu akibatnya,” “Bohong Aku hendak cari sendiri itu pemuda wajah putih. Apakah perbuatanku itu dikatakan hendak membuat gaduh?” “Kau mencari orang juga harus melihat tempatnya.” “Hih i…Aku pengemis kecil justru hendak melihat tempat ini.” “Kau ingin gebukan ?” “Hi, hi…. Aku si pengemis kecil tidak mempunyai kepandaian apa-apa, tetapi kalau untuk betkelahi saja aku masih sanggup melayani,” “Jangan banyak bicara dengan dia. Usir saja, Habis perkara.” terdengar pula suara orang lain dengan nada sombong.

Begitu mendengar, Yo cie Cong sudah mengenali bahwa yang ngotot itu adalah suaranya siao hek. sipengemis kecil wajah hitam, maka ia lantas betkata kepada oet tie Kheng. “Adik Kheng, aku akan keluar dulu sebentar. aku akan segera kembali.” setelah betkata demikian, ia sudah lari ke luar menuju pekarangan. Ketika sampai didepan pintu dilihatnya ada beberapa pelayan dengan sikapnya yang garang sedang mengurung dirinya siao hek yang masih ketawa cengar cengir.

Yo Cie Cong lalu berseru sambil ketawa. “siao-hek tidak perlu ribut-ribut dengan mereka. Mari sini ” sambil ketawa besar ia lantas berjalan menghampiri Yo Cie Cong. Para pelayan itu ketika ada tetamu yang mengajak siao-hek masuk. semuanya menduga bahwa pengemis kecil itu tentunya tidak bohong, maka mereka juga tidak mau mengambil tindakan apa-apa lagi. Siao hek ketika melangkah masuk kepintu kamarnya Yo Cie Cong, sudah lantas dapat melihat adanya seorang gadis cantik sedang duduk diatas pembaringan, maka ia cepat-cepat mundur teratur.

Yo Cie Cong cepat-cepat mencekal tangannya seraya berkata: “Siao hek, kita bukan orang luar. Mari aku perkenalkan-” “Ayaaa. o Mi To Hud. Aku si pengemis kecil seumur hidupnya tidak boleh menemui orang perempuan-” Kata-kata siao hek tadi telah membuat Yo cie Cong merasa jengah sendiri. oet-tie Kheng yang berada didalam kamar juga sudah dapat mendengarnya, maka cepat-cepat ia berbangkit dan melihat keluar. Ternyata ada seorang pengemis kecil hitam, berpakaian compang camping sedang berdiri berendeng dengan Yo cie Cong, sehingga dalam hatinya diam-diam merasa heran.

“Engko Cong bagaimana bisa berkenalan dengan pengemis cilik ini?” Oet-tie Kheng yang sejak masih kanak-kanak mendapat asuhan dari engkongnya, terhadap kejadian-kejadian dikalangan Kang-ouw meskipun ia masih belum melihat dengan mata kepalanya sendiri, tetapi apa yang didengarnya sebenarnya sudah banyak sekali. Justru karena itulah maka ia tidak pernah memandang rendah pada kawanan pengemis. setelah berdiam dan bersenyum sejenak. la lantas mempersilahkan Siao hek masuk.

Pengemis kecil wajah hitam itu membuka matanya dan mulutnya menyengir kepada Yo Cie Cong, kemudian masuk kedalam. Setelah berduduk Yo cie Cong petkenalkan mereka satu sama lain- Oet-tie Kheng baru tahu bahwa pengemis cilik hitam ini ternyata besar pengaruhnya dan tinggi kedudukannya dalam partai pengemis. Ia tidak nyana bahwa pengemis yang masih muda ini ternyata ada salah satu Tiang lo (orang tingkatan dua) dalam golongannya, dan sang susioknya ketua partai pengemis pada dewasa ini. Maka ia lantas pandang hormat padanya.

Pokoknya siao-hek pandang nona cantik ini ada Cucu perempuannya Pengail Linglung, satu jago kenamaan yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia Kangouw. Hanya ini saja maka siao-hek tidak berani pandang enteng padanya. Yo cie cong menanya kepada Siao-hek: “Ada urusan apa kau pagi-pagi mencari aku?” “Hihi, aku lihat kau seperti maling kesiangan” “Ada urusan apa sebetulnya sampai berlaku begitu tergesa-gesa?” “Lima tiancu bagian hukum Im mo kauw, ialah itu manusia beracun dari daerah Biauw ciang Ngo-tok. tadi malam telah di bunuh oleh Golok Maut. Bangkainya digantung di atas pohon besar dekat pintu

kota sebelah Barat. Peristiwa ini kini telah menggempatkan seluruh kota Tiang-soa” “Haa Ada terjadi hal demikian ?” Yo cie Cong pura-pura kaget. “Memangnya aku bicara bohong ?” “Dalam perjalananku dari Lam-hay kemari dunia Kang-ouw ramai membicarakan sepak terjangnya Golok Maut. Nampaknya manusia misterius dan sangat menakutkan ini akan membuat geger dunia Kang-ouw ” berkata oet-tie Kheng.

“Kalau di hitung-hitung, orang-orangnya Im mo-kau yang terbinasa dibawah Golok Maut sudah 4 orang banyaknya. Entah ada permusuhan apa perkumpulan agama itu dengan Golok, Maut ?” kata siao-hek. “Sudah tentu kalau tidak ada angin tidak akan timbul ombak, terjadinya semua hal tentu ada sebabnya. Kita orang luar bagaimana bisa tahu ?” jawab Yo Cie Cong hambar. “Kabarnya Golok maut itu sangat ganas dan telengas, pemilik Golok Maut itu kepandaian ilmu silatnya tinggi sekali. Dalam perbuatannya menyingkirkan jiwa musuhnya, belum pernah kesalahan tangan- sepak terjangnya sangat rahasia, seperti juga hantu atau setan ” kata oet tie Kheng.

Yo Cie Cong yang mendengar itu cuma bersenyum saja. kemudian ia berkata kepada siao hek. “Siao-hek. pusatnya perkumpulan Im mo kauw itu sebetulnya terletak dimana sih?” “Hal ini sehingga sekarang aku sendiri masih belum jelas. Cuma tiga cabangnya Im mo kauw yang masing-masing didirikan digunung Kiu leng-san, ln-thay-san dan ceng liong-peng, sudah diketahui oleh anak buah kita, memang sesungguhnya ada.”

“Bagaimana reaksinya Im mo kau terhadap Golok Maut yang telah berkali-kali mengambil jiwa anggotanya ?” “Kabarnya Kauwcu Im mo kauw ketika mendengar tentang berita itu, dia sangat gusar sekali dan segera mengutus beberapa kelompok orang-orangnya yang kuat untuk menghadapi Golok Maut. Umpamanya, yang sekarang ini telah berada didalam kota Tiang-soa saja jumlahnya orang kuat dari Im mo kauw sudah tidak sedikit.”

Yo Cie Cong masih gelap. apa sebabnya Im mo kauw hendak menghadapi dirinya dengan sepenuh tenaga, bahkan sudah menyiatkan berita pula bahwa pemilik Golok Maut bukannya pangcu Kam lo-pang yang asli. soal ini terus mengganggu hatinya saja, maka akhirnya ia telah mengambil keputusan hendak mencari tahu apa yang menjadi sebabnya perbuatan Im mo kauw itu. selain daripada itu, kemarin malam ketika Yo Cie Cong membinasakan dirinya Biauw ciang Ngotok diluar pintu kota sebelah barat, ia mendapatkan kenyataan bahwa seorang diantara Ngo-tok itu sudah binasa ditangan orang lain. Tentunya pembunuh ini sudah mengetahui dengan jelas segala sepak terjangnya, hal ini juga membuat ia sangat betkuatir.

Selagi ketiga orang itu enak-enakan mengobrol, dari arah pekarangan tiba-tiba terdengar suara orang ketawa cekikikan dan suara orang yang tertawa kasar dan aneh. Dua macam suara itu bergabung menjadi satu, terdengarnya sangat tidak enak sekali. Yo cie Cong yang tertarik oleh suara tadi segera menoleh. Matanya segera melihat pula Cin Bie Nio, si perempuan genit, dengan dikawani oleh seorang tua tinggi besar dan berwajah merah.

DISEPANJANG jalan Cin Bie Nio terus memperhatikan gayanya yang genit, mulutnya saban-saban tersungging senyuman. Yo Cie Cong ketika melihat wajahnya Cin Bie Nio sudah lantas berkobar lagi napsu membunuhnya. Ia menyesal tidak bisa lantas menghabiskan jiwanya perempuan yang centil genit itu. Siao-hek yang menyaksikan aksinya Cin Bie Nio sudah lantas berkata dengan suara perlahan: “Cie Cong, kau lihatlah biar tegas. Itu orang tua yang berbadan tinggi besar dan yang sangat galak nampaknya, adalah itu hantu tua yang dipanggil Liat yang Lokoay. Hantu ini usianya sudah sembilan puluh tahun lebih, tetapi kelihatannya masih seperti seorang yang belum cukup lima puluh tahun usianya. “Liat-yang Lo-koay?” tanya Yo Cie Cong beberapa kali. “Cie Cong, hantu tua itu didalam kalangan Kangouw benar-benar merupakan seorang kuat yang dimalui.”

Yo Cie Cong berpikir: ‘Lo-koay ini merupakan musuh kuat nomor dua dari Kam lo-pang. Tetapi entah bagaimana dan sampai dimana pula tingginya? Apakah mampu menandingi kepandaiannya … ” Oet-tie Kheng mendadak menanya Yo Cie Cong dengan penuh perhatian: “Engko Cong, aku melihat keadaanmu ini seperti seorang yang sedang melamun atau banyak pikiran Apakah kau lelah? Aku lihat kau mengaso dulu sebentar tentu ada baiknya.” Siao-hek pura-pura berkata dengan nada sedih: “Aihh. Aku si pengemis kecil yang tidak mempunyai sanak kadang serta hidup sebatang kara, tidak ada seorangpun yang mengambil perhatian atas diriku. Tetapi begitu dijelmakan aku sudah mempunyai jiwa mengemis. Jikalau sampai mendapat perhatiannya orang bukankah itu

berarti hendak mengurangi umurku. Aku lihat seharusnya aku balik kembali ke dalam kuil, kalau ada pembicaraan antara orang tua itu dengan aku, boleh dibicarakan belakangan.” sehabis berkata, orangnya hendak lantas berbangkit.

“Siao-hek, apa benar kau hendak berlalu ?” tanya Yo Cie Cong. “Kalau aku tidak pergi, cuma menghalang maksud kalian berdua saja.” sambil ketawa cengar cengir pengemis cilik itu lantas berlalu. Yo Cie Cong dan Oet-tie Kheng yang digoda sedemikian rupa oleh Siao-hek. mereka merasa tidak enak. hingga wajahnya pada merah. setelah Siao-hek berlalu Yo Cie Cong dan Oet-tie Kheng mengobrol lagi sampai lama, kemudian Yo Cie Cong minta kepada pelayan supaya menyediakan sebuah kamar untuk Oet-tie Kheng menginap.

Selama tiga hari, Yo Cie Cong terus berdiam dalam rumah penginapan Oet-tie Kheng terus menunggui Yo Cie Cong, hingga semua tindakan selanjutnya yang sudah direncanakan baik-baik oleh Yo Cie Cong, terpaksa tidak dapat dijalankan- Untuk sementara itu ia tidak berhasil melepaskan diri dari pengawasannya Oet-tie Kheng.

Manusia tetap manusia yang terdiri dari daging dan darah, sudah tentu mempunyai perasaan. Yo Cie Cong lambat laun telah tergerak hatinya oleh kecintaannya Oet-tie Kheng yang begitu besar, tapi karena masih belum bisa melupakan dirinya siang koan Kiauw, ia masih bimbang untuk menyambut cintanya Oet-tie Kheng. Kalau saat itu ia menerima cintanya Oet-tie Kheng, baginya merupakan satu penderitaan, bukannya bahagia. sebab perasaan hatinya seluruhnya sudah ditumpahkan kepada dirinya Siang koan Kiauw. sedang nona baju merah itu kini sudah tiada di dalam dunia,

dan binasanya juga karena mengikuti dirinya ke Lam hay. Cinta pertama memang susah dihapus begitu saja. sekalipun orang yang dicintai itu sudah tiada, perasaan cinta itu masih begitu besar melekat dalam hatinya, maka ia tidak boleh menipu dirinya sendiri. Tapi, kalau ia menolak kecintaan Oet-tie Kheng secara getas, ia akan melukai beban hatinya nona itu maka ia juga tidak mau berbuat demikian-Penderitaan itu terus mengganggu batinnya.

Oet-tie Kheng yang masih putih bersih dan berhati mulia, bagaimana bisa tahu kalau dalam benak sang kekasih itu sedang menderita begitu rupa ? Ia terus kelelap dalam lamunannya sendiri yang sangat muluk-muluk. begitu besar rasa cintanya. kepada Yo Cie Cong, pemuda yang pertama-tama merebut hatinya, ia selalu membayangkan hari kemudian yang penuh bahagia.

Hari itu pagi-pagi sekali seperti biasanya, Yo Cie Cong setelah membersihkan badannya, ia menantikan Oet-tie Kheng di kamarnya untuk makan pagi bersama-sama. Tapi ditunggu sampai tengah hari masih belum kelihatan si nona itu muncul. Yo Cie Cong yang mula-mula masih menantikan dengan segala kesabarannya, akhirnya menjadi cemas. Ia lantas menduga bahwa nona itu tentu telah mengalami apa-apa yang tidak enak.

Ia lalu pergi ke kamarnya Oet-tie Kheng yang letaknya dibagian sebelah barat, tapi kamar itu ternyata sudah kosong. Bukan kepalang rasa kagetnya, Karena ia tahu benar, tidak nanti nona itu bisa berlalu begitu saja tanpa pamitan dengannya. Tapi kenyataannya memang begitu, kemana sebetulnya ia pergi ?

Hilangnya Oet-tie Kheng ini kembali membuat pusing kepalanya Yo Cie Cong. satu hari kembali telah berlalu, ia menduga bahwa perginya Oet-tie Kheng tanpa pamit, mungkin ada keperluan yang sangat mendesak yang membuat ia tidak ada kesempatan untuk memberitahukan padanya. Disamping kecemasan, perlahan-lahan ia mulai lega pikirannya, karena dengan demikian ia bisa melanjutkan rencananya semula.

Sama sekali ia tidak menduga bahwa pada saat itu Oet-tie Kheng tengah mengalami nasibnya yang sangat menakutkan-Ia sudah terjatuh dalam tangannya kawanan iblis….

Kota Tiang-soa… Seolah-olah sedang menghadapi datangnya angin ribut dan hujan lebat, hawa udara nampak seram. orang-orang rimba persilatan yang datang karena munculnya Golok Maut, sesudah melakukan penyelidikan berhari-hari, tetap masih tidak menemukan jejaknya itu pemuda misterius, seram dan menakutkan

Mereka itu seolah-olah lakunya tukang menangkap ikan yang memasang jalanya dimana-mana, tapi sang ikan sudah molos entah kemana arahnya. Apakah Golok Maut masih berada didalam kota Tiang soa atau sudah kabur ke lain tempat ? Tidak ada seorangpun yang tahu. Ada sementara orang yang sudah mulai kendor napsunya, mengincar, menunggu dan mencari secara tidak ke urusan, membuat mereka tidak sabaran. Itu ada hari ke 9 sejak munculnya Golok Maut dikota Tiang soa. Peristiwa hebat yang mengejutkan telah terjadi peristiwa itu

menggetarkan hatinya setiap orang. Selain daripada itu, ini juga merupakan satu alamat akan berlangsungnya suatu penumpahan darah secara besar-besaran. Ooo

BAB 29 Di ATAS tembok rumah makan Ceng – yang Ciu – lauw, satu rumah makan yang paling besar didalam kota Tiang soa, mendadak terdapat sehelai kertas selebar kira-kira dua kaki persegi, di atas kertas itu ada terdapat sebuah lukisan yang melukiskan bentuknya satu senjata serupa golok dan gergaji yang sangat aneh. Di tengah-tengah kertas ada tertulis huruf besar yang berbunyi: “BESOK JAM 3 MALAM, MENUNGGU DI CIT LIE-KENG” Ini ada merupakan satu tantangan yang sangat brutal

Golok Maut sudah menyampaikan tantangan kepada semua orang gagah dari golongan hitam dan golongan putih dari rimba persilatan yang saat itu berkumpul di kota Tiang soa. Perbuatan ini agak mirip dengan perbuatan seorang gila. Kecuali dia ada satu dewa, kalau tidak. dengan kekuatannya seorang sekalipun mempunyai kekuatan luar biasa, juga tidak berani berlaku begitu jumawa, seolah-olah tidak pandang mata pada itu semua orang-orang kuat yang berada dikota Tiang-soa, sehingga berani menantang secara terangkan Tapi, kenyataannya Golok Maut sudah berbuat demikian Maka seluruh kota lantas menyadi gempar.

Semua orang-orang gagah dari berbagai partai atau golongan yang datang kekota Tiang-soa karena hendak menangkap pemilik Golok Maut, sesungguhnya tidak menduga kalau Golok Maut berani berbuat

demikian. Maka perbuatan Golok Maut itu selain mengejutkan mereka, juga mereka mulai merasa jeri atas keberaniannya. Mereka hampir semuanya mempunyai satu pikiran-

Golok Maut sudah tahu kalau di sekitarnya diputari oleh orang-orang kuat dari berbagai golongan, tapi ia masih berani menantang secara terang-terangan, sudah tentu dalam dirinya sendiri ada mempunyai kekuatan yang dapat diandalkan- Maka dalam dugaan mereka, jikalau hendak meringkus dirinya manusia misterius seram, ganas dan menakutkan itu, pasti harus membayar dengan harga sangat mahal. Itu berarti suatu penumpahan darah besar-besaran.

Cit-lie-peng… Letaknya 2 lie diluar kota Tiang-soa. Pada saat itu, menjelang jam 1 pagi hari. Di lapangan sebuah bukit kecil yang disebut Cit-lie-peng, di sekitarnya sudah penuh dengan bayangan manusia. Yang sudah mengunjukkan diri secara terang-terangan, jumlahnya tidak kurang dari 100 orang, entah berapa banyak jumlahnya yang pada sembunyikan diri, mereka semua telah datang untuk menantikan kedatangan pemilik Golok Maut.

Rembulan nampak bundar dan terang benderang, angin malam meniup sepo^sepoi, hingga kedengaran suara berkereseknya daun-daun pohon yang tertiup angin. Dalam suasana yang sunyi sepi itu diliputi ketegangan yang mulai menanyak setiap detik, sebab begitu kentongan kali 3 terdengar, akan berkobarlah pertempuran besar-besaran yang tidak ada taranya. semua orang yang ke Cit-lie peng malam itu meski maksudnya adi berlainan tapi tujuannya ada sama. Melenyapkan dirinya Golok Maut, manusia

yang dianggap sangat ganas dan menakutkan-Waktu sedetik demi sedetik telah berlalu. Rembulan dari timur telah mendoyong ke barat. Hati dan perasaan orang-orang gagah yang berada disekitar tempat itu sudah semakin menegang.

Dari dalam kota, tiba-tiba terdengar suara kentongan 3 kali. Belum lagi lenyap suara kentongan itu mendadak terlihat sesosok bayangan orang, laksana bintang yang meluncur dari langit, lari menuju ke Cit lie keng. Ketika bayangan orang itu berhenti dan berdiri di atas suatu gundukan tanah dari empat penjuru lantas terdengar suara riuh: ” Golok Maut… Golok Maut ”

Orang yang baru tiba dan disebut sebagai pemilik Golok Maut itu ternyata ada seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semuanya, tangannya cuma tinggal sebelah, ia tampak berdiri tegak ditengah-tengah lapangan, seolah-olah satu dewa saja. Setelah suara seruan mulai reda, dari empat penjuru lantas muncul bayangan orang yang pada datang mengerubungi pemilik Golok Maut. Ketegangan dengan lantas menjadi meningkat.

Pertumpahan darah secara besar-besaran rasanya sudah tak dapat dihindarkan lagi. Orang-orang gagah dari berbagai tempat itu telah membentuk tembok pagar manusia di sekitar kira-kira lima tumbak ditempat berdirinya pemilik Golok Maut. Orang aneh itu masih berdiri tegak dengan tenangnya, seolah-olah sebuah patung tetapi di dalam hatinya ada berkobar api permusuhan yang sangat hebat..

Ia membunuh orang semata-mata hanyalah untuk menuntut balas belaka, tetapi kawanan manusia itu tidak mengerti dan tidak mau melepaskan padanya begitu saja. Apa sebabnya? perbuatan itu adalah apa yang dinamakan keadilan dalam rimba persilatan ataukah suatu peraturan yang di telorkan- oleh itu orang-orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai pendekar budiman? sungguh ia tidak habis mengerti.

Didalam kalangan pertempuran, saat itu kelihatan sunyi senyap. Semua orang pada menahan napas menghadapi orang tua yang dianggapnya sebagai manusia biadab, ganas dan menakutkan. sedikit banyak dalam hati mereka sudah diliputi oleh suatu perasaan ketakutan hebat.

Mendadak dari dalam rombongan orang-orang itu telah muncul keluar dua orang tua dan seorang anak muda dari golongan pengemis. Mereka bertiga ternyata adalah tiga golongan tua, Tiang lo dari partai pengemis (Kay-pang) ialah Li Ceng Hong, ciu Cong Jin dan pengemis sakti wajah hitam Siao-hek. Ketiga orang itu berdiri kira-kira sejarak satu tumbak di depannya pemilik Golok Maut.

Dari rombongan orang-orang itu terdengar suara riuh sebentar, tetapi kemudian tenang kembali. Ciu Cong Jin yang menjabat sebagai ketua dari para Tiang-lo, dengan sepasang matanya yang amat tajamnya mengawasi wajah pemilik Golok Maut sejenak. Tongkat di tangannya digedrukan perlahan di tanah, lalu berkata: “Yo Pa ngcu, apakah masih kenali aku si pengemis tua ?”

Pemilik Golok Maut itu bukan lain dari pada Yo Cie Cong yang memegang peranan sebagai Yo Hin Hoan, bekas ketua Kam lo-pang yang juga merupakan gurunya sendiri oleh karena dari kawan kecilnya si siao- hek. Yo Cie Cong sudah mengetahui keadaan dari kedua Tiang-lo itu, maka dalam otaknya sudah mempunyai suatu rencana yang sempurna. saat itu ia lantas menjawab sambil anggukan kepala: “Sudah beberapa puluh tahun tidak bertemu, ternyata kesehatan saudara Cia masih tetap seperti sediakala.”

“Murid- murid dari partai kami sesungguhnya tidak semestinya turut mengambil bagian daLam peristiwa pembasmian Kang lopang. Aku si pengemis tua bertiga telah mendapat perintah dari ketua kami sengaja datang ke tempat ini jikalau benar ketua cabang daerah Thin Lam si setan mata satu Go Cie Ceng binasa ditangan Yo Pangcu, itu memang sudah seharusnya untuk menebus dosa perbuatannya sendiri Tentang persoalan ini, sampai di sini sebaiknya kita bikin habis.”

“Ketua saudara sesungguhnya ada seorang arif bijaksana. Aku si orang she Yo di sini menghaturkan banyak-banyak terima kasih.” jawab pemilik Golok Maut dengan suara terharu. Ciau Cong Jin mengawasi semua orang-orang gagah di sekitarnya, kemudian berkata pula dengan suara sungguh-sungguh: “Aku si pengemis tua ada sedikit perkataan yang mungkin tidak enak didengar. Apakah saudara Yo suka dengar ?” “Silahkan ” “Saudara Yo yang hendak menagih hutang darah kepada orang-orang yang pada dua puluh tahun berselang, turut ambil bagian dalam pembasmian Kam lo pang, memang kami tidak dapat menyesalkan.

Tetapi menurut pikiranku yang bodoh, sebaiknya saudara tujukan kepada orang-orang yang bersangkutan saja dan sedapat mungkin menghindarkan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa.”

“Maksudku memang begitu. Tetapi keadaan telah memaksa aku berbuat sedapat mungkin untuk membela diri. Bagaimana aku harus menghindarkan diri dari pertumpahan darah itu.” “Ah. Memang itu agak sulit dilakukan, namun bagaimanapun juga saudara harus batasi dia sebisanya. selain daripada itu, keadaan malam ini ada sangat gawat. saudara Yo meskipun mempunyai kepandaian tinggi luar biasa, tetapi sedapat mungkin saudara harus berlaku hati-hati dalam menghadapi mereka semua. Maafkan kalau aku si pengemis tua terlalu banyak mulut dan sekarang aku permisi meninggalkan tempat ini.” Ketiga orang Tiang-lo dari partai pengemis itu lantas berlalu dari depannya pemilik Golok Maut.

Setelah mereka bertiga berlalu, beberapa puluh bayangan orang segera maju dengan serentak. Dengan hati kurang tenteram pemilik Golok Maut mengawal datangnya orang-orang tersebut. Ia mengepal kencang tangannya, sepasang matanya memancarkan sinarnya yang menakutkan- Beberapa puluh orang yang terdiri dari orang-orang tua dan muda itu dengan wajah gusar dan bengis pada berdiri kira-kira dua tumbak di hadapannya pemilik Golok Maut. Salah seorang diantara mereka, yaitu seorang tua yang berkumis lebat kelihatan maju dan berkata dengan suara agak gemetar: “Pemilik Golok Maut, si Belibis Air see-bun cun Tek apa benar

terbinasa ditangan mu?” “Tidak salah ” “Hmmm.. Peribahasa ada kata, hutang uang bayar uang, hutang jiwa bayar jiwa” “Kematian see bun cu Tek adalah karena dosanya sendiri”

Beberapa puluh orang disitu lantas memperdengarkan suaranya yang berisik, tetapi lantas dibikin sirap oleh orang tua tadi. “Malam ini, cee-cu dari tiga puluh enam perkumpulan bajak laut dari telaga Tong teng-ouw hendak minta keadilan untuk see bun cun Tek. pemimpin pusat kami.” “Harap tuan-tuan juga pikirkan masak-masak dulu baru bertindak.” “Ini sudah merupakan suatu keputusan dari semua ketua tiga puluh enam perkumpulan bajak laut yang harus minta keadilan kepada tuan,” “Aku si orang tua sebenarnya tidak suka melakukan pembunuhan kepada orang-orang yang tidak berdosa, maka aku harap supaya tuan-tuan suka memikirkan masak-masak dulu.” Siapa nyana, perkataan itu sebaliknya malah membuat gusarnya putra ketua dari tiga puluh enam perkumpulan bajak laut itu semuanya pada mengeluarkan seruan gusarnya, kelihatannya mereka sudah siap untuk segera turun tangan. orang tua tadi lantas berkata pula sambil ketawa dingin: “Perkataan tuan sebetulnya terlalu jumawa. Bagaimana pandangan tuan terhadap kami semua, ketua dari tiga puluh enam perkumpulan bajak laut?” “Ini sebetulnya adalah maksud baikku.” “Ha, ha, ha… Maksud baik, Pemilik Golok Maut kiranya juga kenal istilah maksud baik,.” “Aku ulangi sekali lagi, kematiannya si Belibis Air see-bun ciun Tek

adalah karena salahnya sendiri. Dalam peristiwa pembasmian Kam lopang pada dua puluh tahun berselang ia juga turut ambil bagian. seperti apa yang ku katakan tadi, hutang jiwa harus bayar jiwa. sebab see-bun Cun Tek ada hutang jiwa pada orang-orang Kam lopang, maka dari sebab itu ia juga harus membayarnya dengan jiwanya sendiri” “Maju” berseru si orang tua.

Teriakan maju ini disambut dengan sorak ramai oleh tiga puluh enam ketua perkumpulan bajak laut itu, mereka maju dengan serentak. Tujuh cee cu yang sudah tidak sabaran berbareng menyerbu dirinya pemilik Golok Maut. Ke tujuh orang itu masing-masing telah melancarkan serangannya yang maha hebat. orang tua yang tadi bicara juga termasuk dalam tujuh orang yang melancarkan serangan tersebut.

Tetapi pemilik Golok Maut mendadak sudah menghilang dari depan mereka, sehingga serangan dari ketujuh Cee Cu ini hanya menemui tempat kosong. Tetapi ketika mereka pentang lebar matanya, ternyata pemilik Golok Maut itu masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Perasaan kaget dan takut lantas menunduk otak mereka masing-masing, sebab caranya pemilik Golok Maut menghindarkan serangan mereka tadi seolah-olah lakunya iblis saja. “Cee cu yang lain-lainnya hanya menyaksikan dari samping juga masih belum mengetahui dengan cara bagaimana pemilik Golok Maut tadi menghindarkan serangan kawan-kawannya.

Jikalau pemilik Golok Maut tidak mempunyai ilmu gaib, maka kepandaian serupa itu sesungguhnya merupakan kepandaian ilmu silat yang sudah tidak ada taranya. Dari sini dapatlah dinilai betapa tingginya kepandaian ilmu silat pemilik Golok Maut ini, oleh karenanya maka para ketua dari perkumpulan bajak laut saat itu dengan sendirinya lantas sudah merasa keder. “Sekali lagi aku peringatkan kepada kalian, sebaiknya kalian mundur saja.” berkata pula pemilik Golok Maut.

Tetapi ketiga puluh enam cee-cu (kepala) perkumpulan bajak laut itu berikut anak buahnya yang berjumlah empat ratus jiwa lebih serta dengan barisannya yang kuat untuk mundur begitu saja sudah tentu akan mesti buat tertawanya orang-orang dunia Kang-ouw, apa lagi kedatangan mereka itu justru hendak meminta keadilan bagi pemimpin pusatnya.

Tujuh orang cee-cu yang barusan turun tangan, setelah mengeluarkan seruan geramnya, kembali melakukan serangan berbareng. Pemilik Golok Maut dengan mata beringas lalu memutar tangannya yang hanya tinggal sebelah, menyambuti serangan ke tujuh orang itu. Beberapa kali suara benturan hebat telah terdengar, disusul oleh suara jeritan dan seruan tertahan yang memedihkan.

Tujuh orang cee-cu itu, empat diantara sudah dibikin terguling di tanah dan yang lainnya mundur sempoyongan sampai satu tombak lebih. Dari rombongan kawanan bajak laut segera muncul beberapa orang menolong empat cee-cu yang terluka itu dengan membawanya mundur ke samping.

Para cee-cu yang lainnya setelah memperdengarkan suara riuh masing-masing lalu menghunus senjatanya dan dengan serentak menyerbu pada lawannya yang tangguh. Pemilik Golok Maut dengan sikapnya yang masih tetap tenang, telah menghadapi setiap serangan dari musuh-musuhnya, tetapi dalam hatinya saat itu sudah berpikir: Keadaan hari ini jikalau belum ada yang tewas jiwanya mungkin mereka tidak mau sudah begitu saja, apa lagi di bawah ancaman begitu banyak orang kuat, maka caranya yang paling baik ialah bereskan mereka secepat mungkin. Ia segera mengambil putusan. Ia kerahkan ilmunya Kan-goan cin-cao dipusatkan pada tangan kanannya dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan. Tiga puluh orang lebih ceecu mengurung dirinya pemilik Golok Maut, suasana nampak semakin menegang.

Sementara itu, orang-orang gagah yang berada di sekitarnya, masing-masing hanya berdiri menonton dengan tujuan yang berlainan. Pemilik Golok Maut yang sudah berani menantang terang-terangan kepada semua orang gagah yang mencari padanya, perbuatan itu tidak bedanya seperti mencari kematian sendiri Bagi orang-orang yang bermaksud hendak menyingkirkan jiwanya, hal ini memang merupakan suatu kesempatan yang terbaik, sebab si pemilik Golok Maut bagaimana tinggi sekalipun kepandaiannya, ia hanya seorang manusia biasa yang terdiri dari daging dan darah, bagaimana mampu menghadapi seratus lebih orang-orang kuat dari rimba persilatan yang bercampur secara bergiliran. Maka dalam anggapan mereka, malam ini pemilik Golok Maut pasti tidak berlalu dari cit-lie-peng dalam keadaan hidup.

Suara bentakan-bentakan nyaring, golok. pedang, dan sambaran angin dari serangan tangan kosong seolah-olah lautan yang bergelombang telah menyerang dirinya pemilik Golok Maut. Tiga puluh orang ceecu lebih yang mempunyai kepandaian tinggi telah bergandengan tangan hanya untuk menghadapi seorang pemilik Golok Maut saja. Pemilik Golok Maut tiba-tiba mengeluarkan suara ketawanya yang nyaring menusuk dan menyeramkan.

Diantara suara ketawanya yang menyeramkan itu, tangannya sudah melancarkan serangannya yang maha dahsyat. Suara benturan-benturan hebat lantas terdengar amat nyaring. Segera jeritan terdengar saling susul.. kemudian tampak bayangan orang yang terpental jauh bergelimpangan, darah manusia berhamburan disertai potongan lengan tangan atau senjata tajam yang berterbangan ditengah udara.

Dalam segebrakan itu saja, tiga puluh cee-cu lebih yang melancarkan serangan berbareng tadi, separuh diantaranya telah terluka berat atau binasa. orang-orang gagah yang menyaksikan kehebatan-pertempuran tersebut telah dibikin melongo dan ketakutan setengah mati. Kekuatan yang diperlihatkan oleh Pemilik Golok Maut itu sesungguhnya tidak masuk diakal pikir mereka.

Sepuluh orang lebih dari kawanan cee-cu yang terhindar dari maut tadi setelah menenangkan pikirannya masing-masing sudah lantas menyerbu lagi dengan tidak menghiraukan jiwa sendiri. Pemilik Golok Maut tadinya memang tidak bermaksud melukai tiga puluh enam orang- ceecu itu, tetapi karena dari pihak ceecu terus

mendesak. maka terpaksa pula ia harus turun tangan- Sebab kalau ia tidak mau membunuh, berarti orang lainlah yang akan membunuhnya.. Maka dalam keadaan demikian rupa, ia sudah tidak mempunyai pilihan lain daripada turun tangan secara kejam.

Setelah suara jeritan dan suara patahnya senjata yang saling beradu itu sirap. keadaan menjadi sunyi kembali. Kesunyian yang dibungkus oleh kedukaan, karena di situ terlihat suatu pemandangan yang sangat mengerikan. Potongan tangan dan kaki manusia berserakan di sana-sini.. Bangkai manusia tampak bergelimpangan dalam keadaan menyedihkan. Darah merah membanjiri rumput hijau di tanah Cit lie-peng. Tiga puluh enam ceecu perkumpulan bajak laut yang biasanya malang melintang di telaga Tong-teng-ouw, hanya dalam beberapa gebrakan saja semuanya sudah binasa ditangan pemilik Golok Maut, Ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang sangat mustahil. Namun kenyataan sudah demikian rupa, sehingga sudah merupakan kemustahilan lagi.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu di sekitarnya masing-masing hanya bingung mengawasi, siapapun tidak berani maju lebih dahulu untuk menghadapi pemilik Golok Maut yang berkepandaian sangat hebat itu. Masing-masing hanya mengandung maksud supaya lain orang yang maju dulu kemudian baru turun tangan secara membokong. Dengan demikian, keadaan ditempat itu kembali sunyi senyap. Tetapi dalam kesunyian macam ini, setiap saat dapat gula terjadi suatu pertumpahan darah yang terlebih hebat.

Dalam keadaan sesunyi itu, terdengar suaranya pemilik Golok Maut berkata: “Tuan-tuan tentunya tidak akan menyangkal bahwa kedatangan tuan-tuan sekalian ini melulu untuk menghadapi diriku si orang tua. Aku si orang-tua malam ini tidak akan membikin kecewa pengharapan tuan-tuan, maka setiap saat aku bersedia menghadapi tuan-tuan sekalian- Baik bertempur secara seorang lawan seorang maupun secara mengeroyok. itu terserah atas kehendak tuan-tuan sekalian-” “Ha, ha…… sombong sekali” terdengar suara mengejek.

Dan antara orang banyak itu kelihatan muncul seorang setengah umur yang berdandan sebagus anak sekolah. Pinggangnya menyoren pedang panjang yang diatas gagangnya terdapat sebuah mutiara merah, kelihatannya sangat menyolok mata. orang itu ternyata ada musuh lamanya pemilik Golok Maut. Dengan mata beringas pemilik Golok Maut berkata sambil ketawa dingini “Kong Tiancu, selamat bertemu pula.”. Orang laki-laki pertengahan umur yang berdandan sebagai anak sekolahan itu memang benar adalah Kong Jie, si Pedang Berdarah, Tian cu bagian hukum dari Im mo kau. “Roh setan gentayangan dari bawah pedang ternyata masih bisa omong besar.” jawabnya. “Kong Jie, malam ini aku si orang tua akan membereskan kau dulu.”

“Ha, ha….. Golok Maut, Tiancu- mu malam ini akan menelanjangi dirimu.” demikian Kong Jie berkata sambil mendekati pemilik Golok Maut. Pemilik Golok Maut tercengang. Mengapa si orang she Kong ini tetap mengatakan padanya bukan Pangcu dari Kam lopang yang tulen? Apa gerangan yang menjadikan pegangan bagi orang ini yang dapat

menduganya dengan jitu ? “Kong Jie, kau anggap aku si orang tua ini siapa ?” “Manusia tidak tahu malu yang menyaru nama orang lain.” jawaban Kong Jie ini telah menggemparkan orang-orang yang berdiri disekitar tempat tersebut. “Orang she Kong, perkataanmu ini berdasarkan atas apa ?” “Setelah binasa kau nanti akan tahu sendiri”

Dalam gusarnya pemilik Golok Maut membentak dengan suara bengis: “Kong Jie Malam ini jikalau kau tidak mau menjelaskan duduknya perkara, aku si orang tua kini bersumpah hendak membunuh habis semua orang-orang Im mo kauw. Kau boleh pikir-pikir sendiri sampai dimana kekuatan tenagaku ” “Hei… Kau mengimpi sahabat. sinarnya binatang kunang-kunang juga hendak menyaingi sinarnya rembulan. Aku beritahukan padamu, malam ini sekalipun kau mempunyai sayap juga tidak mungkin bisa terbang. Tian-cumu hendak mematahkan tulang-tulangmu dan membeset kulitmu untuk membalas sakit hati kawanku yang terbinasa dalam tanganmu.” “Dengan kepandaian yang kau punyai itu saja ?” “Sudah cukup untuk menghadapi kau.” Sehabis mengucapkan perkataannya, pedang panjang sudah berada dalam tangannya.

Bertepatan pada saat itu, dari dalam rombongan orang banyak mendadak melesat ke luar dua puluh lebih bayangan orang yang pada berdiri disampingnya Kong Jie. Salah seorang diantara mereka, seorang laki-laki berbadan tegap dengan wajahnya yang jelek dan menakutkan, setelah mengawasi Kong

Jie sejenak. lantas berkata sambil memberi hormat. “Tiancu, binatang tua ini tadi telah sesumbar hendak membunuh habis orang-orang Im mo-kauw. Aku Tiat Bu hendak mencoba dulu kekuatannya.” “Kau bukan tandingannya…”

Laki-laki tegap yang mengaku dirinya bernama Tiat Bu itu matanya mendelik, mulutnya berkauwk-kauwk. “Tiancu sebenarnya terlalu memandang rendah pada diriku si Tiat Bu.” “Hmm, kau tidak percaya? Boleh coba saja sendiri” Tiat Bu sangat girang. Dengan cepat ia maju menghampiri pemilik Golok Maut, kemudian melancarkan satu serangan dahsyat.

Pemilik Golok Maut telah mengenali bahwa laki-laki tegap ini begitu turun tangan sudah lantas menggunakan kepandaian ilmu Cuipay ciang (Tangan menghancurkan batu bata) dari golongan siao lim-pay, dalam hatinya merasa kaget juga. Diam-diam ia berpikir. orang ini tentunya dari golongan siao- lim-pay. Ia lalu mengegoskan dirinya menghindari serangan Tiat Bu yang amat hebat. Tiat Bu melihat serangannya mengenai tempat kosong sudah menggeram keras dan kemudian kembali melancarkan dua kali serangan-

Pemilik Golok Maut tertawa dingin, lalu menggeser tubuhnya menghilang seperti setan. Tiat Bu yang tiga kali melancarkan serangannya selalu dapat dihindarkan dengan caranya yang aneh sudah lantas merasa gelagat tidak menguntungkan dirinya. Baru saja ia memikir bagaimana caranya hendak menghadapi musuh

tangguh itu tiba-tiba ada semacam kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat menyerang dirinya dari belakang.

Dengan cepat ia coba menggeser kakinya ke samping, tetapi ternyata sudah terlambat. Ia hanya merasakan di belakang gegernya seperti digempur oleh senjata berat. setelah suara jeritan ngeri, badannya Ciat Bu yang sebesar kerbau lantas terpental dan jatuh sejauh dua tumbak lebih dan kemudian ternyata jiwanya sudah melayang. Orang dari Im-mo-kauw menyaksikan Tiat Bu sudah binasa lantas menjadi gusar dan dengan serentak mereka menyerbu pada pemilik Golok Maut.

Pemilik Golok Maut yang saat itu sudah berkobar napsu membunuhnya sudah menyambuti pula datangnya serbuan orang banyak itu dengan serangan tangannya yang mengandung kekuatan ilmu Kan goan cin-cao. Dengan tangannya yang mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sangat ampuh itu, tidak heran kalau setiap orang yang tersambar olen serangan angin pukulannya lantas rubuh binasa seketika itu juga.

Sebentar saja ditanah sekitar tempat itu sudah ada sepuluh lebih orang Im-mo kauw yang rubuh menggeletak menjadi bangkai. Hampir semuanya terbinasa karena kekuatan Kan- goan cin-cao, telah mengalirkan darah segar, Keadaan serupa itu sungguh mengenaskan, sehingga membuat orang-orang sekitarnya yang menyaksikan berdiri bulu romanya.

Tetapi semakin ganas perbuatan pemilik Golok Maut, semakin keras pula napsu orang baniak itu hendak menyingkirkan dirinya pemilik Golok Maut.

Dalam hati mereka berpikir, jika tidak mau menggunakan kesempatan ini, dimana telah berkumpul semua kekuatan para jago dari pelbagai tempat untuk menyingkirkan bahaya untuk hari kemudian, tentu lain hari akibatnya tidak dapat dibayangkan hebatnya .Jikalau malam ini pemilik Golok Maut bisa lolos dari tangan mereka, di kemudian hari pasti ia akan membuat perhitungan, satu persatu dengan orang-orang yang malam ini turut ambil bagian dan mengepung padanya.

Kong Jie dengan suara keras melarang orang-orang itu bertindak semaunya sendiri. Dengan pedang terhunus ia melesat maju menghampiri pemilik Golok Maut. sambil memperdengarkan suara ketawanya yang seram ia berkata kepada pemilik Golok Maut: “Tidak perduli kau ada pangcu dari Kam lopang yang tulen atau palsu, Tian-cu-mu tetap akan menghantarkan jiwamu menghadap pada Giam-lo-ong.” Kong Jie berbareng menggerakkan pedang di tangannya, sebentar saja awak pedang itu sudah lantas berubah menjadi merah darah serta menyiarkan bau harum yang luar biasa. Dengan kecepatan bagaikan kilat ia melancarkan serangan ke arah pemilik Golok Maut, sedangkan anak buah Im-mo-kauw yang saat itu berdiri disampingnya masing lantas lompat mundur ke belakang tiga tumbak.

Pemilik Golok Maut yang sudah mempunyai rencana segera mengeluarkan ilmu Kang- goan Cin caonya untuk melindungi dirinya. sekujur badannya ditutup ilmu itu guna mencegah jangan sampai terserang oleh pedang yang amat lihay itu. sebelah tangannya tangan

kekuatan tenaga delapan bagian secepat kilat sudah melancarkan serangannya secara bertubi-tubi.

Angin cao khie yang meluncur keluar dari dalam tangannya itu telah menimbulkan rasa sakit seperti ditusuk pisau oleh lawannya. si Pedang Berdarah Kong Jie yang mengetahui bahwa racun pedangnya yang bersinar merah ternyata tidak lagi mampu mendekati dirinya sang lawan, ditambah dengan dilancarkan serangan dari lawannya dengan tidak henti-hentinya, telah membuat tidak berdaya memusatkan kekuatan tenaga dalamnya kepada tangannya yang memegang pedang, maka mutiara merah darah itu lantas lenyap semua khasiatnya. Hanya tiga sampai lima jurus saja Kong Jie sudah merasa kewalahan dan hampir saja hatinya meledak saking jengkel.

Pemilik Golok Maut mengetahui, kesempatan semacam ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mendadak ia memusatkan seluruh kekuatan tenaganya. Dengan tangan kanannya ia mengebut dari tengah udara menyerang Kong Jle. Kong Jie sebagai Tiancu bagian hukum Im-mo-kauw sudah dengan sendirinya juga mempunyai kekuatan hebat luar biasa.

Tepat pada saat pemilik Golok Maut itu mengebut dengan lengan bajunya, Kong Jie segera mengenali bahwa ilmu silat yang digunakan oleh pemilik Golok Maut itu ternyata adalah ilmu silat Hui siu Hut hiat dari Phoa ngo Hweshio yang dikabarkan sudah menghilang dari dunia Kang-ouw, maka seketika itu ia lantas ketakutan setengah mati dan cepat-cepat menghindarkan diri Pemilik Golok Maut melihat Kong Jie bisa menyingkirkan diri secara

begitu bagus terhadap serangannya Hui siu Hut-hiat dalam hati juga merasa kaget dan terheran-heran.

Tetapi ia terus menyerang dengan tidak berhenti- hentinya. Dengan kecepatan yang sudah tidak ada taranya ia mengeluarkan senjatanya Golok Maut, kemudian meluncurkan serangannya yang selalu membawa akibat memutuskan tangan dan kaki lawannya. Serangan yang maha hebat itu meskipun hanya satu jurus saja tetapi orang-orang dunia Kang-ouwpada dewasa itu yang dapat meloloskan dirinya dari serangan tersebut jumlahnya tidak seberapa.

Kong Jie menyaksikan pemilik Golok Maut itu sudah mengeluarkan lagi serangannya yang sangat aneh, bukan saja cepat bagaikan kilat, tetapi juga aneh luar biasa. sama sekali ia tidak berdaya, maka rasa takutnya pun lantas menjadi-jadi. Dalam kagetnya, ia lantas melintangkan pedangnya di depan dadanya, siapa nyana kalau perbuatannya tadi telah menolong jiwanya sendiri. “Tidak boleh melukai orang ” terdengar suara teriakan-

Diantara suara seruan yang riuh itu, beberapa sosok bayangan orang dengan kecepatan bagaikan kilat coba menyerbu kedaiam kalangan, tetapi ternyata sudah tidak keburu menolong dirinya Kong Jie. Setelah terdengar suara jeritan ngeri, Kong Jie yang tidak berhasil membela diri dengan kepandaiannya yang luar biasa, lengan kirinya sudah terpapas kutung. Dengan cepat ia mundur beberapa tindak. rasa sakit telah membuat badannya sempoyongan.

Dengan wajah menakutkan Kong Jie mengawasi pada pemilik Golok Maut.

Lima sosok bayangan orang pada saat itu sudah lompat maju dan berdiri dihadapannya pemilik Golok Maut. Mereka itu ternyata adalah seorang imam dan empat orang tua. Imam itu matanya menonjol keluar, wajahnya pucat. Ia berdiri ditengah-tengah antara ke empat kawannya. Terhadap imam itu Pemilik Golok Maut sudah tidak asing lagi, sehingga diam-diam ia merasa heran. Imam itu mendelikkan matanya yang menonjol keluar, dengan juaranya yang seperti gembreng pecah ia berkata: “Pemilik Golok Maut, saat kematianmu sudah tiba ”

Pemilik Golok Maut menjawab dengan suara dingin: “Sin Hong Tojin, dengan mengandalkan kepandaian macam apa kau berani bermusuhan dengan aku si orang tua ?” “Ha, ha, ha,.. Yang lain tak usah dibicarakan- Hanya beberapa puluh jiwa yang binasa denganmu apakah mereka harus mati secara cuma-cuma begitu saja dan tidak minta ganti jiwa dari dirimu ?” “Sin Hong Tojin Urusanku dengan Im mo kauw masih belum selesai. Jikalau kau tidak mau memberikan penjelasan apa sebabnya Im mo kauw menghendaki jiwaku, aku masih akan terus melakukan pembunuhan terhadap mereka.”

Jawaban ini telah membuat berubahnya wajah keempat orang tua tadi. sin Hong tojin perdengarkan suara ketawanya yang aneh, kemudian berkata: “Kau sudah tidak ada kesempatan membunuh orang lagi.”

“Dengan hanya mengandal kepandaianmu kau masih belum berhak mengatakan itu.” Keempat orang tua yang berada di kedua sisinya sin Hong Tojin agaknya sudah merasa tidak sabar. setelah masing-masing membentak dengan suara keras semuanya pada bergerak maju dan masing-masing melancarkan serangan. Serangan itu sedemikian hebatnya, sampai-sampai anginnya saja sudah menyambar seperti angin puyuh yang datang menggulung.

Tetapi Pemilik Golok Maut sedikitpun tidak menyingkirkan diri, maupun berkelit, badannya malah digeser maju tiga tindak. Golok Mautnya kembali telah bekerja. suara jeritan yang mengerikan terdengar, salah satu dari ke empat orang tua itu kedua pahanya sudah terpapas kutung, dadanya berlubang dan orangnya jatuh menggeletak sebagai bangkai. Sedangkan pemilik Golok Maut sendiri juga terpental tiga tindak karena serangan kuat dari ke empat lawannya tadi.

Kiranya sin Hong Tojin setelah menjadi anggotanya Im mo-kauw oleh Kauwcu sudah diangkat sebagai Tancu (ketua) cabang daerah Kui ling dan ke empat orang tua itu adalah empat Hiocu di bawah penilikannya. Tiga orang Hiocu yang masih hidup telah mengetahui bahwa perbuatannya tadi bukan saja sudah tidak berhasil merubuhkan lawannya, tetapi sebaliknya malah mengantarkan satu jiwa kawannya sendiri, dalam gusarnya, setelah mereka mundur sudah lantas maju lagi dan menyerang pula dengan kekuatan sepenuhnya.

Pemilik Golok Maut yang bertujuan hendak membereskan pertempuran itu secara kilat, lalu menyimpan Golok Mautnya. Kekuatan tenaga dalam lalu dipusatkan ke satu tangannya, kemudian melancarkan satu serangannya yang maha hebat. Ia berniat sekaligus hendak menamatkan jiwanya ketiga orang tua itu.

BAB 30 PADA saat itu tiba-tiba terdengar suaranya sin Hong Tojin, ” Kalian mundur ” Bersamaan dengan seruannya, imam tua dari Khong-tong-pay itu secepat kilat gerakkan badannya melesat maju dan tangannya lantas melancarkan serangan berat. sebagai seorang yang sudah mempunyai banyak pengalaman, sin Hong Tojin tahu bahwa tiga orang Hiocunya itu tidak mampu menandingi kekuatan pemilik Golok Maut, maka ia lantas turun tangan sendiri Tetapi ternyata ia sudah datang terlambat sedetik saja.

Tiga orang tua itu yang disuruh mundur oleh sin Hong Tojin, serangannya lantas mengendur, sedangkan serangannya Kan goan cin cao dari lawannya saat itu sudah menyerbu mereka bertiga. Maka setelah terdengar suara jeritan ngeri tubuh ketiga orang tua itu lalu terbang ke tengah udara seperti layangan putus talinya. setelah jatuh pula dari tengah udara, tubuh ketiga orang tua itu telah hancur lebur mengerikan. Bersamaan pada saat itu pula serangan Sin Hong Tojin yang sangat hebat sudah menggempur badannya pemilik Golok Maut.

Tubuhnya pemilik Golok Maut telah terbawa terbang oleh serangan hebat tersebut.

orangnya melayang ke suatu tempat kira-kira dua tumbak jauhnya, tetapi tidak menderita luka sedikitpun juga. Kiranya, dengan ilmunya yang sangat luar biasa, pemilik Golok Maut telah berhasil menolong dirinya dari serangan hebat tadi. Sin Hong Tojin hanya melongo menyaksikan pemilik Golok Maut selamat terkena pukulannya yang hebat. Sedangkan para jago yang menonton di empat penjuru telah memperdengarkan suara sorak ramai dan terheran-heran.

Pemilik Golok Maut setelah kakinya menginjak tanah dengan cepat sudah menghampiri lagi lawannya, lalu berkata dengan suara bengis: “Sin Hong, imam bangsat Kau harus menjawab terus terang pertanyaanku ini, Im mo kauw telah mengutus orang-orangnya yang kuat untuk mengejar-ngejar aku, apa sebabnya ? Jikalau kau tidak menyawab..” “Bagaimana ?” “Aku hendak bunuh mati kau di Cit lie peng ini.” “Tidak begitu gampang sahabat.” “Benarkah kau tidak mau menjawab ?” “Tidak ” “Kalau begitu kau harus menerima kematianmu,” Pemilik Golok Maut menutup bicaranya dengan melancarkan serangan berantai.

Sin Hong Tojin ada salah satu orang kuat dan menjadi susiok dari ketua Keng thong pay pada saat itu, kekuatannya sudah tentu tidak dapat dipandang ringan jikalau tidak Im mo kauw tentu tidak akan mengangkat dirinya sebagai ketua cabang. Serangan berantai dari pemilik Golok Maut telah ia punahkan dengan

bagus, kemudian ia balas menyerang sampai empat kali. Kedua pihak lalu saling menyerang hebat, sehingga terjadilah suatu pertempuran yang sangat langka dapat disaksikan dalam rimba persilatan-saking hebatnya pertempuran tersebut terdengarlah angin menderu- deru.

Dalam suasana malam sesunyi itu, kedua pihak tampaknya sudah pada mengeluarkan kepandaian simpanannya masing-masing sehingga pertempuran itu telah membuat jago di sekitarnya yang menyaksikan pada terheran-heran- Selewatnya dua puluh jurus, badannya Sin Hong Tojin kelihatan mundur satu tumbak lebih, ia coba mengatur jalan pernapasannya. Kedua jari tangannya lalu ditekuk seperti gaetan, badannya mulai bergerak lagi dan mulutnya memperdengarkan suara ketawa dingin-

Pemilik Golok Maut yang menyaksikan keadaan demikian, lantas mengetahui bahwa imam tua itu tentunya akan melancarkan serangannya yang maha hebat. Selagi pemilik Golok Maut masih menduga-duga, badannya sin Hong Tojin tiba-tiba melesat ke atas. Di tengah udara badannya kelihatan berputaran, kedua tangannya diputar begitu rapat dan kemudian menyambar dirinya pemilik Golok Maut. serangan itu adalah serangan sin Hong Tojin yang dinamakan tipu serangan sin-hong KuiJiauw (Angin sakti dengan Kuku setan) yang membikin sin Hong Tojin mendapat nama baik dalam kalangan rimba persilatan.

Pemilik Golok Maut yang sudah memusatkan seluruh kekuatan Kan-goan cin cao ke tangannya yang hanya tinggal sebelah itu, sudah

lantas diayunnya tangan itu berulang-ulang sehingga kekuatan tenaga dalam meluncur keluar dari dalam tangannya menyambut serangan si imam yang amat dahsyat itu. setelah terdengar beberapa kali suara benturan hebat, serangan sin Hong Tojin telah berhenti secara mendadak.

Sin Hong Tojin sangat gusar sehingga matanya mendelik, rambutnya pada berdiri. Ia hanya bisa berdiri tegak seperti patung, mungkin inilah untuk pertama kalinya ilmu serangannya yang sangat ampuh itu mengalami kekalahan mutlak. Dengan suara ketus dingin pemilik Golok Maut berkata: “Sin Hong Tojin, aku berikan kesempatan terakhir untukmu. Kalau kau mau menjelaskan maksudnya In-mo-kauw yang menghendaki diriku, aku akan mengampuni jiwamu dari kematian. Tetapi kalau tidak mau menjelaskan, jangan harap kau bisa berlalu dari tempat ini.” “Toyamu bisa berlalu dari sini atau tidak. aku juga tidak bisa hidup lagi.” “Kalau begitu baik, aku terpaksa hendak sempurnakan dirimu.” Setelah mengucapkan perkataannya tadi badannya pemilik Golok Maut tiba-tiba menghilang dari pemandangan dan kemudian setelah menampakkan diri kembali, ternyata tubuhnya sin Hong Tojin sudah rebah terjengkang dalam keadaan tidak bernyawa. Cara membunuh orang yang demikian aneh ini benar-benar tidak habis dimengerti.

Dari empat penjuru kembali terdengar suara gemuruh, mereka tampaknya pada merasa jeri. Bagaimana sebetulnya sin Hong Tojin menemukan ajalnya itu, tidak ada seorangpun yang dapat tahu. Jikalau dilihat daripada apa yang telah terjadi maka maksud orang-

orang itu yang malam itu hendak menyingkirkan jiwanya manusia ganas dan menakutkan itu barangkali sudah tidak ada harapan lagi.

Kiranya, cara membunuh yang digunakan oleh pemilik Golok Maut tadi telah menggunakan ilmunya Menggeser tubuh mengganti bayangan-, itu ilmu silat yang sangat luar biasa, dengan kecepatan bagaikan kilat ia membuat suatu lingkaran, kemudian dengan ilmu silat Liu-in Hut-hiatnya ia menotok jalan darah kematian di depan dada sin Hong Tojin, maka terlihatlah seperti bayangan pemilik Golok Maut yang menghilang dan muncul lagi, tetapi diam-diam ia sudah menurunkan tangan jahat. Bertepatan pada saat rebah binasanya sin Hong Tojin, angkasa raya tiba-tiba terlihat sinar merah. Itulah adalah tanda s.o.s. (minta pertolongan) bagi Im-mo-kauw.

Dalam rombongan Im mo kauw kali ini yang menjadi kepala adalah sin Hong Tojin, kini ia sudah binasa, antara orang-orang kuat yang saat itu masih ada, hanya tinggal Kong-jie seorang yang tangannya sudah terkutung dan sisanya yang masih belum mau turun tangan- Mereka ini insyaf, jika hendak turun mangan percuma saja, hanya berarti akan mengantarkan jiwa secara cuma-cuma, maka lantas mengeluarkan seruan tertahan.

Pada saat itu hari sudah menjelang pagi, rembulan sudah hampir tidak kelihatan. Angin pagi meniup amat dingin. Ciet lie-peng yang tadinya sunyi senyap. kini terlihat darah yang berceceran dan bangkai manusia pada bergelimpangan di tanah. Pemilik Golok Maut mengerti apa bila waktunya diulur lebih lama lagi, pasti tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri, maka ia sudah ingin

mengundurkan diri, ia lalu berkata pada orang-orang di sekitarnya: “Tuan-tuan masih mempunyai keperluan apa lagi ?Jikalau tidak aku hendak berlalu dari sini.” Matanya bersinar mengawasi keadaan di sekitarnya, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menjawab.

Pemilik Golok Maut lalu ketawa, tetapi baru saja orangnya hendak berlalu, tiba-tiba terdengar suara orang berkata: “Iblis tua Tunggu dulu l” Suara itu ada begitu nyaring dan merdu terdengarnya, kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan orang kecil langsing yang menyerbu ke arah dirinya pemilik Golok Maut yang baru saja hendak berlalu meninggalkan tempat tersebut. Pemilik Golok Maut ketika mengenali orang yang baru datang itu, diam-diam merasa kaget. Ia lu bertanya kepada dirinya sendiri: Bagaimana Tio Lee Tin juga bisa muncul di sini? ia adalah muridnya orang berkedok kain merah. sudah tentu aku tidak boleh melukai dirinya. Tetapi kalau ia terus mencari setori dengan aku sesungguhnya merupakan soal yang sangat runyam.”

Orang yang baru muncul itu memang betul Tio LeeTin, ia mengenakan pakaian hitam seperti biasa, Dengan pedang terhunus ia membentak dengan suara gusar: “Iblis tua, serahkan jiwamu” Sehabis mengucapkan perkataannya, dengan tidak menunggu jawaban lawannya lagi ia terus menyerang secara bertubi-tubi. setiap serangannya ditujukan kebagian-bagian tubuh yang sangat berbahaya.

Pemilik Golok Maut dengan sangat gesit dan lincah telah berhasil menghindarkan setiap s erangan pihak lawannya. Dengan pura-pura

tidak tahu ia menanya: “Nona, kau ada murid siapa? Dengan aku si orang tua ada permusuhan apa?” “Iblis tua, nonamu adalah anak perempuan Tio Ek Chiu. Malam ini aku sengaja datang hendak menuntut balas sakit hati atas kematian ayahku. Kau tokh tidak bisa tahu bukan?” setelah berkata, kembali ia menyerang secara kalap. Tetapi pemilik Golok Maut kali ini hanya terus berkelit, tidak balas menyerang.

Dari antara orang banyak yang menonton di sekitarnya, tiba-tiba ada seorang berseru: “Mari kita beramai-ramai menangkap iblis ini” seruan itu ternyata mendapat sambutan ramai. sehingga sebentar saja, keadaan menjadi genting. orang-orang kuat dari dunia Kang-ouw yang tadi pada turun tangan kini tampak berkerumun maju dari empat penjuru. Oleh karena jumlah mereka ada sangat banyak. maka pertempuran kali ini mungkin saja akan meminta korban jiwa yang tidak sedikit.

Tio Lee Tin yang menjadi muridnya orang berkedok kain merah merupakan seorang kuat nomor satu diantara rombongan orang-orang kuat itu. Kedatangannya juga adalah bermaksud menuntut balas atas kematian ayahnya, tidaklah heran kalau setiap serangannya dilancarkan sangat ganas dan kejam, sehingga membuat pemilik Golok Maut merasa agak ripuh dibuatnya. Tetapi pemilik Golok Maut tetap tidak membalas menyerang, ia hanya mundur, menyingkir atau berkelit saja. Apa sebabnya? Sudah tentu tidak diketahui oleh orang luar.

Orang-orang kuat yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang telah mengurungnya makin rapat. Mereka sudah bertekad bulat hendak menyingkirkan jiwanya manusia menakutkan itu dengan secara mengeroyok. Karena pemilik Golok Maut sejak muncul di dunia Kang ouw tindak tanduknya seperti setan atau hantu saja, maka jarang sekali orang yang bisa melihat wajah aslinya.

Malam itu adalah merupakan suatu kesempatan yang paling baik, sudah tentu mereka tidak mau melepaskannya begitu saja. Terhadap Tio Lee Tin, pemilik Golok Maut agaknya merasa segan turun tangan, dan kini menyaksikan banyak musuh hendak menyerbu dirinya, sudah tentu ia mengerti kalau dirinya tengah terancam bahaya. Saat itu matanya lantas nampak beringas, ia meninggalkan Tio Lee Tin, dan menghampiri orang-orang yang mulai maju mendekati dirinya, kemudian ia menghunus Golok Mautnya.

Pertempuran hebat, tapi lebih mirip kalau dikatakan pembunuhan besar-besara telah terjadi seketika itu. sebentar saja, tangan dan kaki manusia berterbangan-Darah merah berhamburan-Bangkai manusia bergelimpangan- suara jeritan tercampur suara orang berkauwk-kauwk, kedengarannya sangat mengerikan-

Suatu pemandangan yang membikin hati mencelos dan mengerikan, telah terbentang di atas lapangan yang penuh dengan tumbuhan rumput hijau.

orang yang tadinya kelihatan begitu banyak jumlahnya, pelahan-lahan mulai berkurang. Bangkai manusia, kian meningkat jumlahnya.

Pemilik Golok Maut sekujur badannya sudah penuh darah, seolah-olah ia sudah berubah menjadi manusia berdarah. Pikiran waras agaknya sudah terpengaruh oleh napsunya membunuh, hingga ia cuma tahu membunuh, membunuh secara gila. Kemana tangannya dia pasti di situ ada jatuh korban, sedikit-dikitnya harus ada dua orang korban yang binasa. Ini ada suatu pembunuhan besar-besaran dalam sejarah rimba persilatan-

Pembunuhan besar-besaran itu selagi masih berlangsung dengan hebatnya, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring: “Semua mundur” Orang-orang kuat yang mengepung dirinya pemilik Golok Maut, telah dibikin kaget oleh suara bentakan itu, hingga semua pada hentikan gerakannya. Begitu mengetahui siapa orangnya yang datang itu, lantas pada menyingkir ke samping. Pemilik Golok Maut dengan mata beringas mengawasi orang yang baru datang itu Ia adalah seorang tua berwajah bengis, pakaiannya berwarna merah bara. Dengan tindakan pelahan ia memasuki medan pertempuran. “Liat-yang Lokoay,” demikian terdengar suara orang berseru.

Pemilik Golok Maut nampaknya juga terperanjat, sinar matanya semakin buas. Dengan tindakan mantap ia berjalan menghampiri orang tua yang disebut Liat yang Lokoay, dan baru berhenti sejarak kira-kira satu tumbak di depan orang tua itu. Liat yang Lokoay memang merupakan salah satu orang musuhnya

Kam-lopang yang terkuat, iblis tua ini sudah sepuluh tahun lebih tidak muncul di kalangan Kang ouw. Tidak nyana malam itu bisa muncul di Cit-lie-peng, sesungguhnya ada di luar dugaan semua orang.

Liat yang lokoay setelah mengawasi bangkai-bangkai manusia yang berserakan di tanah itu sejenak. tiba-tiba ulapkan tangannya kepada beberapa puluh orang yang tadi mengepung pemilik Golok Maut dan berkata: “Kalian menyingkir jauh-jauh” . orang-orang itu ternyata juga dengar kata, dengan cepat sudah pada mundur sejauh kira-kira 10 tumbak. Iblis tua ini usianya sudah lebih dari 90 tahun, tapi kelihatannya seperti seorang yang baru berusia kira-kira 50 tahun- Beberapa puluh tahun berselang, namanya sudah menggetarkan dunia Kang-ouw.

Ia ada melatih semacam ilmu gaib yang dinamakan ‘Liat-yang-ciang’ atau pukulan telapakan tangan panas membara. Hawa panas yang keluar dari serangan tangannya itu bisa membikin hancur batu dan membikin lumer barang logam. Pemilik Golok Maut mengerti bahwa ia ada berhadapan dengan musuh tangguh, maka napsunya mendidih, badannya nampak gemetar. Liat-yang Lokoay, setelah mengundurkan orang banyak. dengan sepasang matanya yang tajam dan merah membara, tanpa berkesip memandang dirinya pemilik Golok Maut, kemudian berkata sambil ketawa ha ha hi: “sahabat, kiranya kan masih belum binasa” “Lokoay, jikalau tuanmu binasa, hutang darah ini siapa yang akan menagih?” jawab pemilik Golok Maut dengan gemas.

Iblis tua itu ternyata masih anggap bahwa pemilik Golok Maut yang malam itu berdua di depan matanya adalah pangcu dari Kam-lopang

yang dulu. sudah tentu ia tidak tahu, siapa sebetulnya orang yang memegang peranan sebagai Golok Maut ini ? “Hihihihi sahabat, tidak nyana malam ini setelah 20 tahun kita tidak bertemu, kau masih menghendaki aku si orang tua repot turun tangan lagi. Jikalau kau tidak suka badan dan tulang-tulangmu menjadi abu, kau boleh bicara terus terang, aku masih bisa memberikan kau kelonggaran, supaya kau mati dalam keadaan utuh. Kau pikir bagaimana ?”

Orang yang sudah pada menyingkir jauh-jauh itu ketika mendengar perkataan Liat yang Lokoay, diam-diampada merasa girang. sebab dengan adanya iblis tua ini yang mau turun tangan sendiri, pemilik Golok Maut itu pasti tidak bisa terhindar dari kematian. Dengan demikian, mereka tak usah takut akan jiwanya terancam oleh Golok Maut lagi. “Lokoay, tuanmu sungguh merasa penasaran kalau tidak bisa makan nyalimu dan membeset kulitmu ” “Keinginan hatimu ini kau cuma bisa menantikan dalam penirisan saja. Buat sekarang ini kaujangan harap ” “Hmm… ” “Apa kau tetap menghendaki aku turun tangan ?” “Pui… siluman tua, hutang darah harus kau bayar dengan darah Tuanmu tidak akan melepaskan kau begitu saja ”

Liat yang Lokoay kembali ketawa bergelak-gelak. kedua tangannya diangkat pelahan-lahan sampai batas dada, sepasang telapakan tangannya mendadak berubah merah seperti bara, sepasang matanya juga merah, ditambah lagi dengan dandanan dan pakaiannya yang serba merah, sehingga nampaknya seperti sebatang tiang merah yang sedang

membara. Pemandangan ini sesungguhnya sangat menakutkan. Pemilik Golok Maut juga telah pusatkan seluruh kekuatannya pada sebelah tangannya, matanya memandang beringas. Ia berdiri dengan sikapnya yang keren, nampaknya sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Kedua pihak kelihatannya sudah bertekad bulat hendak membinasakan lawannya, satu sama lain sudah bermaksud begitu turun tangan, segera dapat merenggut jiwa lawannya.

Orang-orang tadi yang sekarang pada berdiri disekitar tempat tersebut sebagai penonton, pada menyaksikan keadaan itu dengan perasaan tegang. suasana kembali menjadi sunyi, hingga hampir terdengar suara bernapasnya orang-orang yang berada di situ. Tapi dalam kesunyian itu ada mengandung hawa napsu pembunuhan yang setiap saat bisa meledak. Andaikata Liat yang Lokoay tidak bisa membinasakan lawannya, akibatnya sungguh hebat. sebab semua orang yang ada di situ, barangkali akan binasa semua di tangannya Golok Maut.

Pada saat itu, di luar kalangan justru ada seseorang yang mengawasi kedua musuh dalam kalangan itu dengan perasaan cemas. Ia nampak seperti sedang menggertak gigi, sepasang tangannya dikepal erat-erat, rupa-rupanya segera akan turun tangan jikalau perlu. Ia dengan pemilik Golok Maut ada mempunyai hubungan erat, sekalipun harus berkorban jiwa untuknya, ia juga tidak akan menolak. Andaikata pemilik Golok Maut benar-benar tidak mampu menandingi Liat-yang Lokoay, ia akan segera turun tangan dengan tanpa ragu-ragu lagi. sebab ia sudah menganggap pemilik Golok Maut itu lebih

penting daripada dirinya sendiri siapa orang itu ?. Ia adalah pemilik bendera Burung Laut, itu manusia misterius yang kalau muncul di kalangan Kang-ouw selalu menggunakan kedok merah.

Mendadak berkelebat sinar merah, kemudian disusul oleh suara keras seolah-olah yang berdiri sejauh 10 tumbak lebih, masih tidak bisa berdiri tegak. Itu adalah akibat dari pemilik, Golok Maut dengan Liat-yang Lokoay yang mengadu kekuatan dengan sepenuh tenaga. Orang-orang banyak yang menonton setelah di bikin kaget oleh suara keras itu, lantas pada menengok ke dalam medan pertempuran, untuk menyaksikan apa yang telah terjadi. Segera dapat melihat bahwa jarak antara pemilik Golok Maut dengan Liat-yang Lo koay, kini sudah kira-kira 3 tumbak jauhnya. Kedua orang itu masih berdiri tegak dengan berhadapan. Tapi kalau dilihat dengan seksama, keadaannya ternyata ada sedikit aneh. Liat-yang Lokoay kedua tangannya lurus ke bawah. ujung bibirnya mengalirkan banyak darah badannya gemetar. Sedang pemilik Golok Maut pakaiannya bagian atas sudah berubah hangus, mulutnya juga mengucurkan darah Tanah kira-kira satu tumbak di depan kakinya, semua sudah seperti terbakar hangus keadaannya.

Kedua lawan tangguh setelah mengadu kekuatan tadi, nampaknya kedua pihak sudah terluka parah. Ilmunya Liat-yang-ciang si iblis tua itu dapat menghancurkan batu dan membikin lumer logam, tapi mengapa pemilik Golok Maut… “Bluk ”

Tubuhnya pemilik Golok Maut tiba-tiba rubuh di tanah “Dia binasa ” demikian suara riuh terdengar dari empat penjuru.

Liat yang Lokoay dengan tindakan sempoyongan maju menghampiri, ia berdiri di sisi badannya pemilik Golok Maut, setelah mengawasi sejenak. mendadak ia ketawa bergelak-gelak kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Tepat pada saat berlalunya Liat yang Lo koay, sesosok bayangan orang telah melayang turun di medan pertempuran- Di belakangnya bayangan orang itu ada menyusul pula satu bayangan orang kecil langsing. Orang-orang yang menonton di sekitarnya yang semula pada berdiri dalam keadaan kesima, kini seolah-olah dibikin sadar, hingga dengan serentak pada menyerbu ke dalam kalangan-

Bayangan yang melayang turun tadi ternyata ada seorang berkedok merah. sedang bayangan kecil langsing yang menyusul belakangan- adalah nona Tio Lee Tin yang datang hendak menuntut balas atas kematian ayahnya. seperti telah diketahui, ia adalah murid kesayangannya orang berkedok merah itu. Setibanya di medan bekas pertempuran tadi, Tio Lee Tin lantas berseru: “Suhu ” Kemudian ia telah menghunus pedangnya dengan tiba-tiba. Orang berkedok merah itu bungkukkan badannya untuk memeriksa jalan pernapasannya pemilik Golok Maut, badannya lantas gemetar, hampir saja rubuh. Saat itu, hatinya dirasakan hancur luluh, tanpa disadari airmatanya lantas mengalir ke luar.

Orang banyak setelah maju mengerumun, lalu tujukan matanya kepada dirinya pemilik Golok Maut yang sudah hangus. Mereka agaknya pada merasa heran, sebab dalam dugaan mereka, orang yang terserang oleh ilmu ‘Liat yang ciang’-nya Liat-yang Lokoay, pasti akan hancur lebur, tapi mengapa badannya pemilik Golok Maut ini sedikitpun tidak nampak terluka ? Hanya bajunya saja yang terbakar hangus, ini benar-benar merupakan suatu keganjilan. Tapi, orang yang sudah binasa, biar bagaimana toh tidakperlu dicari tahu melit-melit.

Orang berkedok merah itu dengan suara parau berkata kepada orang-orang yang mengurung diri: “Dia sudah binasa, tuan-tuan boleh berlalu ” Orang banyak itu sudah tercapai tujuan-nya, apa perlunya harus mencari setori dengan orang berkedek yang sangat misterius ini? Maka setelah mendengar perkataannya, tanpa di minta lagi, lantas pada bubaran.

Di sebelah Timur saat itu sudah tertampak sinar putih, dari jauh sudah terdengar ramai suara burung berkicau. Suatu tanda bahwa hari sudah menjelang pagi. Di atas tanah Cit-lie-peng, bangkai manusia nampak bergelimpangan di sana sini dan darah berceceran di sana sini. Tapi semua itu sudah lewat, dan sekarang cuma ada orang berkedok kain merah dengan muridnya, yang menghadapi dirinya pemilik Golok Maut yang sudah menjadi bangkai juga.

Malam yang gelap gulita setelah berlalu, sebagai gantinya adalah pagi hari. Tapi sebelum pagi hari itu tiba, masih ada jangka waktu gelap untuk sementara.

Diwaktu menjelang pagi yang keadaannya masih belum terang betul itu, nampak berkelebat pedang panjangnya Tio Lee Tin, yang hendak membacok dirinya pemilik Golok Maut….

Orang berkedok merah dengan cepat lantas menghadang di depannya dan berkata padanya dengan suara s ember: “Tin-jie, kau hendak berbuat apa ?” “Murid hendak membabat kutung tangan dan kakinya ” “Tapi dia toch sudah binasa ” “Dia harus mendapat bagian seperti apa yang dia lakukan terhadap dirinya orang lain ” “Tin-jie, orang yang sudah mati, semua kebencian lantas lenyap. Benarkah kau hendak melakukan suatu perbuatan kejam terhadap satu bangkai? Apalagi dia.. ai dia sama sekali bukan itu orang yang kau cari ” “Apa? suhu, kau kata… ?”

Pada saat itu, beberapa puluh bayangan manusia tiba-tiba melayang turun dari beberapa jurusan. orang berkedok itu dengan kecepatan bagaikan kilat telah memondong dirinya pemilik Golok Maut, kemudian menghilang ditempat gelap. Tio Lee Tin cuma bisa menggerendeng dengan perasaan mendongkol tapi tidak bisa berbuat apa-apa. setelah kedrukan kakinya, ia juga lantas berlalu.

Beberapa puluh bayangan orang itu kemudian muncul dengan beruntun didalam medan bekas pertempuran tadi. Tapi mereka cuma dapat menyaksikan bangkai manusia yang bergelimpangan di tanah, karena pertempuran itu ternyata sudah selesai.

Mereka itu adalah dari perkumpulan im mo kauw yang mendapat lihat api tanda permintaan tolong, semua lantai datang dari berbagai penjuru untuk menghadapi pemilik Golok Maut Tapi mereka ternyata sudah datang terlambat, pertempuran hebat itu sudah tamat.

Untuk selanjutnya, kematian pemilik Golok Maut di bawah tangannya Liat-yang Lokoay, sebentar saja sudah tersiar luas di kalangan Kang-ouw. Ada orang yang merasa girang, ada pula yang merasa sayang. sebab pemilik Golok Maut itu kalau benar-benar ada pangcu Kam-lopang yang muncul lagi di dunia Kang-ouw setelah terhindar dari malapetaka, untuk menagih hutang kepada musuh-musuhnya, tidak perd uli bagaimana kejam caranya membinasakan musuh-musuhnya, tetap mendapat simpatik orang banyak.

Sekarang kita balik lagi kepada si orang kedok merah yang membawa kabur jenazahnya pemilik Golok Maut. Dengan hati hancur lebur, dengan ilmu lari pesatnya yang sudah tidak ada taranya, ia terus kabur ke tempat belukar, untuk mencari tempat guna mengubur jenazahnya pemilik Golok Maut. Di sepanjang jalan, orang berkedok merah itu terus sesalkan dirinya sendiri ia menangis tapi tidak bisa keluar air matanya Jika saat itu ia tanpa ragu-ragu lantas turun tangan pada waktunya yang tepat, pemilik Golok Maut ini mungkin tidak akan binasa, tapi sekarang, semua sudah habis.

Hari sudah mulai terang, ketika kabut putih mulai buyar dan sinar matahari pagi muncul, orang berkedok merah itu sudah tiba diatasnya sebuah puncak gunung yang tinggi. Dengan perlahan ia letakkan dirinya pemilik Golok Maut, kemudian

mengusap wajahnya orang tua yang matanya tertutup rapat, segera tertampak wajah yang sangat tampan dan menarik hati.

Orang berkedok merah dengan perasaan mendelu mengawasi wajahnya anak muda tampan yang sudah menjadi mayat, lalu berkata: “Anak. kau terlalu keras kepala, kesombonganmu sesungguhnya hampir membuat orang tidak percaya. sekarang kau telah mengaso untuk selama-lamanya, tapi anak. aku menyesal selagi kau masih hidup aku tidak berani memberitahukan semua hal yang terkandung dalam hatiku. Aku takut akan melukai hatimu, maka aku simpan sendiri segala rahasia dan penderitaan hidupku. sekarang apakah kau bisa dengar ucapanku..” Perkataannya itu diucapkan dengan nada yang sangat sedih, hampir setiap patah perkataannya dibarengi oleh tetesan air mata.

Setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata tapi seolah-olah mendoa: “Anak. nasibmu patut dikasiani, kau sudah dewasa, tapi she dan nama saja kau tidak punya. Kau sebetulnya bukan seorang she Yo, kau juga bukan bernama Cie Cong” Ooo

BAB 31 Y0 CIE CONG dan Liat yang Lo koay… Satu ada seorang jago angkatan muda, seorang luar biasa bakatnya dalam rimba persilatan, dan penemuannya yang gaib telah membuat ia menjadi seorang kuat tidak ada taranya. Yang lain adalah satu hantu angkatan tua, yang sudah mendapat nama sejak beberapa puluh tahun sebagai orang kuat nomor satu pada masa itu sehingga saat ini.

Kedua fihak dengan kekuatan sepenuh tenaga, telah mengadu kekuatan dan kepandaian. Yo Cie Cong karena sudah ada ilmunya ‘Kan goan cin cao’ yang melindungi dirinya, maka tidak bisa terbakar oleh ilmu gaibnya Liat yang Lo koay. Namun meski demikian, ilmunya Kan goan cia cao juga hampir dibikin buyar, hingga binasa pada saat itu juga. Sedang Liat yang Lo koay sendiri juga terluka parah oleh ilmunya Kan goan cin cao Yo Cie Cong. Matahari pelahan mulai naik tinggi orang berkedok merah dengan sabar dan tidak berhenti- hentinya mengusap-usap wajah dan badannya Yo Cie Cong. Hatinya dirasakan hancur luluh, airmatanya sudah hampir dikuras habis. Ia sudah lupa diam, lupa segala-galanya, ia sudah kelelap dalam kedukaan hebat.

Di bawah sinarnya matahari pagi itu, terjadilah suatu kegaiban. Tubuhnya Yo Cie Cong yang sudah dingin, ketika terkena sinar matahari kembali menjadi hangat. Wajahnya yang sudah pucat pasi, pelahan-lahan mulai merah kembali. Begitu pula jantungnya juga kelihaian berdenyut lagi dan darah mulai berjalan normal. Tangannya orang berkedok merah yang masih menempel di badannya Yo Cie Cong, mulai gemetar. ia kini telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, pengaruhnya mustika Gu liong-kauw yang sangat mujijat, suatu keganjilan yang belum pernah terjadi pada sebelumnya…. manusia sudah mati bisa hidup kembali.

Sekarang ia ingat bahwa Yo Cie Cong pernah menelan mustikanya Gu liong kauw. Mustika itu tergolong ‘dingin atau ‘Im’ meski mustika itu sendiri sudah lumer karena telurnya burung rajawali raksasa, hingga berubah menjadi kekuatan yang sangat hebat, tapi pengaruhnya masih ada. Asal dijemur di bawahnya matahari kira-kira satu jam lamanya, mustika itu masih bisa mengeluarkan khasiatnya yang mujijat, hingga

orang yang sudah binasa bisa hidup lagi. Untung ia tidak terburu napsu mengubur jenazahnya Yo Cie Cong, kalau tidak, tamatlah riwayatnya anak muda gagah perkasa itu.

Sebetulnya Yo Cie Cong juga belum mati benar-benar. semua kekuatan dalam badan yang mengendalikan jiwanya, untuk sementara telah tertutup dalam beberapa bagian jalan darah, asal melihat sinar matahari, kekuatan ‘Im dan Yang’ saling bekerja, hingga jalan darah yang tertutup itu terbuka dengan sendirinya, maka ia juga lantas bisa hidup lagi. Oleh karena pertempuran hebat kali ini, membuat dua macam mustika yang berada dalam dirinya Yo Cie Cong berkesempatan berkumpul menjadi satu dan beruban menjadi kekuatan murni yang sangat hebat. Ini sesungguhnya diluar dugaan Yo Cie Cong semula.

Memang sesungguhnya kejadian ini merupakan suatu hal yang sangat ganjil, sebab bencana yang menimpa dirinya tadi telah berhasil menjadi suatu sumber kekuatan yang tidak ada batasnya. Jikalau tidak ada pertempuran hebat seperti tadi itu. sedikitnya ia harus mengalami latihan sepuluh tahun lagi barulah khasiat dari kedua macam kekuatan tadi dapat disatukan dan dapat pula digunakan secara leluasa. Yo Cie Cong yang saat itu masih berada dalam keadaan rebah, dadanya sudah terlihat berombak. napasnya mulai berjalan teratur nyata, kaki tangannya juga mulai bergerak-gerak.

Orang berkedok kain merah itu dengan termangu-mangu menyaksikan kejadian aneh itu, air matanya kembali mengalir keluar, Tetapi kali ini air mata itu merupakan air mata kegirangan, bukannya air mata

kedukaan. Didalam keputus- asaannya ia telah menemukan kembali pengharapannya. Kira-kira setengah jam kemudian. Yo Cie Cong pelahan-lahan membuka matanya. Dengan heran ia mengawasi keadaan di sekitarnya, matanya yang saya itu kemudian menatap pada orang berkedok kain merah.

Perlahan-lahan ia mulai ingat apa yang telah terjadi di Cit-lie-peng. setelah melakukan pertempuran hebat dengan kawanan iblis, ia lalu mengadu kekuatan dengan Lit yang Lokoay. Saat itu ia cuma merasakan satu getaran hebat dan hawa panas, lapat-lapat ia masih ingat pula bahwa dipihak lawannya kelihatan mengalirkan darah dari mulutnya. tetapi apa yang terjadi selanjutnya ia sudah tidak bisa ingat lagi. Dengan suara agak tergetar ia bertanya: “Ciannwee, kembali kau telah menolong jiwaku.” orang berkedok kain merah itu mengangguk. “Beberapa kali Cianpwe telah mengulurkan tangan untuk menolong diriku, sehingga membuat boanpwee seolah-olah hidup kembali dari lubang kubur. Budi dan kebaikan itu sesungguhnya besar sekali. Mungkin selama hidup boanpwee, tidak mampu membalas habis budi sebesar itu”

“Anak. tak usah kau mengucapkan perkataan demikian- sekarang kau coba atur dulu pernapasanmu, masih ada yang tidak beres atau tidak?” berkata orang berkedok kain merah dengan suara lemah lembut seolah-olah sikapnya seorang ayah. Yo Cie Cong mengawasi orang misterius itu dengan sorot mata penuh perasaan terima kasih. Kemudian ia bangun dari duduk. Ia coba mengatur pernapasannya, ternyata tidak mendapat gangguan apa-apa,

bahkan sebaliknya ia merasa bahwa kekuatan tenaga dalam dirinya seolah-olah telah bertambah lipat ganda. Dalam kegirangannya, ia lantas jatuhkan diri dan berlutut dihadapannya orang berkedok kain merah seraya berkata:

“Terima kasih atas budi Cianpwee yang telah sudi menolong diri boanpwe ” orang berkedok kain merah itu juga tidak menolak pernyataan terima- kasih dan penghaturan hormat anak muda itu, sambil membimbing bangun padanya ia berkata: “Anak bangunlah.” Yo Cie Cong setelah memberi hormat lalu berbangkit. Orang berkedok kain merah itu lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh: “Anak. sekali lagi kau sudah mengalami kematianmu.” “Boanpwee ?……..” “Benar jikalau tidak karena kau sudah pernah menelan mustikanya Gu liong kauw, mungkin dewa sendiri tidak mampu mengembalikan rohmu. Dan saat ini mungkin juga kau sudah rebah dalam liang kubur.”

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, sampai keringat dingin dengan tidak dirasa, sudah mengucur keluar. Sudah tentu perkataan orang berkedok kain merah itu bukanlah perkataan kosong belaka. “Anak. jikalau terjadi apa-apa atas dirimu.. maka sakit hati perguruanmu siapa yang harus menuntut balas? Dia Lam baka barangkali kau nanti juga tidak ada muka untuk menemui suhumu.” “Boanpwee mengerti telah berbuat suatu kekeliruan besar.” “Kita yang hidup idaLam dunia Kang-ouw, jika sekitar diri kita sedang terancam oleh musuh-musuh yang terlalu kuat, tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandal kekuatan dan keberanian seorang

diri saja.” “Menurut apa yang kuketahui, diantara musuhmu, kalau tidak salah juga terdapat orang-orang yang namanya termasuk dalam urutan huruf IM, YANG. sIU. KoAY dan po, lima iblis itu satu saja sudah cukup membantu kau pusing untuk melayaninya. Apa lagi kelimanya sekarang masih ada.Jikalau kau tidak memikirkan dan merencanakan lebih dulu dalam usahamu, barangkali sebelum usahamu itu berhasil jiwamu sendiri sudah terancam bahaya.”

“Boancwee tahu kesalahan boanpwee sendiri, maka selanjutnya tentu akan boanpwee ubah.” “sekarang ada sesuatu hal aku hendak memberitahukan padamu,” “Boanpwee ingin dengar.” “Di Cit lie peng di bawah matanya orang banyak. pemilik Golok Maut sudah binasa di tangannya Liat-yang Lokoay, maka untuk selanjutnya kau harus muncul lagi dengan lain rupa, berbareng dengan itu kau harus ingat pula, sekali-kali tidak boleh hanya mengandalkan keberanian dan kegagahanmu seorang diri saja. Dalam sebala hal kau harus pikir itu masak-masak dulu baru bergerak.” “Boanpwee akan ingat betul pesan cianpwee ini.” “Anak, kau… Kau…” Badannya orang berkedok kain merah itu kelihatan agak terguncang, suaranya juga parau dan gemetar. la tadinya ingin membuka rahasia mengenai hubungan dirinya sendiri dengan Yo Cie Cong, tapi suatu perasaan berkuatir telah mencegah maksudnya. “Apa Cianpwee masih ada urusan penting?” “Ah anak. semoga kau bisa bawa dirimu baik-baik. sekarang aku hendak pergi.” “Cianpwe, kau…”

Belum lagi habis ucapan Yo Cie Cong, orang berkedok kain merah itu sudah menghilang dari depan matanya.

Ia memang orangnya cerdik luar biasa, terhadap perbuatan orang berkedok kain merah itu yang berkali-kali telah menolong dirinya dari ancaman bahaya maut, bahkan sudah pula menurunkan kepandaian yang tertinggi dalam rimba persilatan, ia sudah merasa curiga terhadap dirinya orang misterius itu. Ia merasa bahwa dalam hal ini pasti ada apa-apanya yang menjadi sebabnya pula. Dan kini ketika melihat sikapnya dan pembicaraannya orang berkedok kain merah itu yang agak ragu-ragu dan tidak jelas seolah-olah masih mengandung suatu rahasia besar yang tidak dapat dikeluarkan tetapi entah rahasia apakah yang disimpannya itu ? Itu ia tidak dapat memecahkannya.

Dengan termangu- mangu ia memandang ke arah menghilangnya orang berkedok kain merah itu ia terus berdiri menjublek sekian lamanya. Lama sekali ia berada dalam keadaan demikian, kemudian ia baru ingat tindakan apa selanjutnya yang harus diambilnya.

Pertama-tama ia harus mencari dirinya siluman tengkorak Lui Bok Tong untuk mendapatkan kembali pusaka peninggalan suhunya, ouw-bok po-lok Cin kuat, barulah bisa merupakan ia rangkai ilmu silat yang sangat hebat, jika digabungkan dengan ouw-bok Po-lok Cin-kay yang ada pada dirinya. setelah ia berhasil mempelajari ilmu silatnya itu, barulah ia nanti mencari dan membuat perhitungan lagi dengan lima manusia iblis yang sangat tangguh.

Soal kedua ialah mengenai asal usul dirinya sendiri yang harus dicari tahu keterangannya sendiri, tetapi jika hanya mengandalkan pada sebuah batu Liong kuat yang terdapat pada dirinya saja, untuk

mencari keterangan, mungkin agak sulit. Ia ingat bibi Tho-nya pernah berkata: Bahwa ia ada mirip benar dengan Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa, jago pedang nomor satu yang sudah sepuluh tahun lebih menghilang dari dunia Kang-ouw. Ia tahu, bahwa Hoan Thian Hoa itu adalah muridnya Leng Jie Hong dari see gak, manusia gaib dari rimba persilatan. Sedangkan ia sendiri sudah menyanggupi permintaan secara tak langsung dari kedua manusia aneh dari rimba persilatan ialah Pengail Linglung dan phoa ngo Hweeshio untuk menepati janjinya mengadakan pertandingan dengan orang itu, maka jikalau saat itu sudah sampai, mungkin ia dapat menemukan Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa. Akhirnya ia ingat dirinya nona Oet-tie Kheng yang telah menghilang dari dalam rumah penginapan-

Biar bagaimanapun juga ia harus turut tanggung jawab atas keselamatannya nona itu sebab kedatangan sinona kekota Tiang-soa adalah melulu gara-gara dirinya. Meskipun disebabkan siang koan Kiauw ia tidak dapat menerima cintanya nona Oet-tie kheng, tetapi biar bagaimanapun ia tetap tidak dapat membiarkan dirinya nona itu begitu saja, apalagi ia sudah menerima budi yang sangat besar dari kakeknya yang telah memberikan pula hadiah berupa darahnya kura-kura yang sudah berumur ribuan tahun dan juga mewariskan padanya ilmu silat Kan- goan cin-cao. Kembali ia membuka buku daftar musuh-musuhnya Kam lo pang. la lalu berkata pada dirinya sendiri: Kali ini seharusnya adalah LieBun Hao pangcu dari Cie In pang yang akan mendapat giliran-

Setelah berkata demikian semangat terbangun secara mendadak. maka dengan cepatpula ia terus turun gunung.

Cie in pang… Pusatnya berkedudukan dibukit Ciang tiangnya di daerah Po kheng perbatasan propinsi 0uw lam. Hari itu, di atas jalanan raya yang menghubungkan kota Tiang-soa dengan Po Kheng telah terlihat seorang muda cakap tetapi sikapnya dingin kecut dengan tenang berjalan seorang diri

Dilihat dari segala gerak geriknya yang gesit dan ringan, pemuda itu tentunya mempunyai kepandaian ilmu silat yang luar biasa, tetapi kedua mata kelihatannya tidak banyak bedanya dengan mata orang-orang biasa, tidak seperti orang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat hebat. siapakah pemuda itu ? Pemuda itu tidak lain adalah Yo Cie Cong pemuda yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut. Hari itu matahari sedang panasnya, di atas jalan raya itu seperti dibakar. Yo Cie Cong meskipun mempunyai kepandaian tinggi dan tidak takuti segala hawa panas maupun dingin, tetapi ketika ia melihat ada sebuah pohon besar dengan daunnya yang rindang yang ada di pinggir jalan raya itu, ia lantas berhenti dan meneduh di bawah pohon tersebut.

Sebentar kemudian tiba-tiba dijalan raya kelihatan mengepul debunya, beberapa ekor kuda terlihat sedang berlari mendatangi dengan cepatnya. Penunggang kuda yang terdiri dari lima orang laki-laki berbadan tegap setelah tiba dibawah pohon, masing-masing juga turun dari kudanya.

Lima orang laki-laki tegap itu matanya dapat melihat Yo Cie Cong, dengan berbareng lantas berseru: “Eeeeh…”

Yo Cie Cong yang sebetulnya tengah mengawasi ke arah lain, agaknya tidak mau ambil pusing atas kedatangannya kelima orang itu, tetapi ketika mendengar seruan mereka, ia juga lantas menoleh dan kemudian menjadi kaget. Kiranya kelima orang laki-laki itu adalah lima orang dari antara sepuluh orangnya Cin Bie Nio, ketua Pek Leng hwee. Yo Cie Cong lalu mendekati kelima orang laki-laki itu, dengan matanya yang tajam ia memandang kelima orang itu dengan tidak berkedip.

Tepat pada saat itu di atas jalan raya kembali terlihat joli yang dipikul oleh empat orang. Di belakang joli itu kembali terlihat pula penunggang kuda. sebentar saja rombongan itu sudah sampai juga di bawah pohon dan lima orang laki-laki yang sampai duluan tadi lantas pada menyingkir ke samping. Joli tadi di sekitarnya kelihatannya tertutup rapat, sedangkan lima penunggang kuda yang ada di belakang joli ternyata adalah lima orang wanita muda yang menyoreng pedang semuanya dan saat itu juga pada lompat turun dari kuda tunggangannya dan berdiri berbaris di belakang joli.

Yo Cie Cong sudah tahu sekarang siapa orangnya yang berada daLam joli itu, tetapi apa yang membuat heran ialah pada hari yang hawanya panas demikian rupa mengapa joli itu tertutup demikian rapatnya ? Apakah didalamnya ada apa-apanya yang mencurigakan ?

Lima orang laki-laki tegap tadi cepat-cepat maju menghampiri joli dan berkata dengan suara pelahan-

Dari daLam joli lantas terdengar suara ketawa cekikikan yang disusul oleh suaranya wanita yang sangat merdu. “Aku tahu.” Yo Cie Cong ketika mendengar suara ketawa itu segera mengetahui bahwa apa yang diduganya semula tidak keliru maka wajahnya kelihatan semakin kecut, napsu membunuh lantas berkobar. Dengan suara dingin ia berkata pada orang yang duduk dalam joli. “Cin Bie Nio, musuh bebuyutan kembali bertemu disini.” Dari dalam joli ini terdengar suaranya Cin Bie Nio: “Tidak salah, aku juga sedang mencari kau. Ini sungguh kebetulan.” “Cin Bie Nio, lekas kau keluar.”

Lima orang laki-laki dan lima orang wanita muda yang berbaris disekitar joli tadi, semua kelihatan pada berubah wajahnya. Dengan tanpa menunggu perintah lagi pedang masing-masing lantas dihunus keluar. Tampaknya jikalau Yo Cie Cong berlaku tidak sopan lagi mereka lantas akan turun tangan. Yo Cie Cong dengan sorot matanya yang tajam menyapu anak buahnya Cin Bie Nio lalu memperlihatkan tertawa dingin. Cin Bie Nio dalam joli membentak dengan suara perlahan: “Kalian mundur ” sepuluh orang anak buahnya dengan perasaan mendongkol mundur kebelakang joli.

Oet-tie Kheng bergirang hati

EMPAT TUKANG joli dampaknya juga mempunyai kepandaian ilmu silat, saat itu mereka juga turut mundur kebelakang, sehingga hanya ketinggalan sebuah joli yang tertutup rapat yang berhadapan dengan Yo-Cie Cong. “Yo Cie Cong, kau telah bermusuhan dengan aku. Bagimu tidak ada faedahnya.” demikian terdengar suaranya Cin Bie Nio dari dalam-joli. “Cin Bie Nio, jikalau kau tidak mau keluar, jangan sesalkan kalau nanti tanganku terlalu telengas” “Kau hendak berbuat apa?” “Aku hendak membikin hancur Jolimu. Aku ingin lihat kau nanti unjukkan diri atau tidak.” “Yoy Galak benar bicaramu. Barangkali kau nanti tidak tega turun tangan-” “Kau lihat saja” Sehabis berkata tangannya lantas hendak bergerak. “Yo Cie Cong. kau tentunya tidak menghendaki sibudak cilik Oet-tie Kheng akan turut binasa, bukan ?” Yo Cie Cong terperanjat. pikirnya: Kiranya Oet-tie Kheng telah terjatuh dalam tangannya wanita jahat ini. Entah apa maksudnya wanita berbisa ini ? “Cin Bie Nio, nona Oet-tie sekarang ini berada dimana ?” “Yoy Kau jangan keburu napsu, ia sekarang sedang duduk dengan aku secara baik-baik, dalam satu joli. ” “Hmm Kau hendak apakan dia ?” ” Hatimu menjadi perih bukan?” “Jikalau kau berani mengganggu seujung rambutnya saja…” “Habis kau mau apa ?” “Pek-leng-hwee akan kuhancur leburkan, tidak ada seorangpun yang

dapat hidup lagi, termasuk kau sendiri.” “Hi, hi hi, hi…. sombong benar,” “Tidak percaya kau boleh tunggu dan lihat” “Hh” “Cin Bie Nio apa maksudmu kau menculik nona Oet-tie?” “Bocah. Kau baik-baik ikut aku, semua nanti dapat kita rundingkan secara baik-baik” “Aku mau kau sekarang juga lepaskan tawananmu.” “Jikalau aku tidak mau turut?” “Termasuk kau tentunya sebelas orang, jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup.” “Kau lihat ”

Jendela tiba-tiba terbuka, lalu terlihat dirinya Oet-tie Kheng dalam keadaan seperti orang linglung. ia duduk disampingnya Cin Bie Nio, sedangkan Cin Bie Nio kelihatan berseri-seri, agaknya ia tidak mauperdulikan ancaman Yo Cie Cong. si anak muda dadanya hampir saja meledak. ia lalu berseru dengan suara nyaring: “Adik Kheng ” Tetapi Oet-tie Kheng sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, agaknya si dara tidak kenal lagi pada pemuda itu. Yo Cie Cong merasa cemas dan gusar, ia lalu berkata dengan suara bengis: “Cin Bie Nio, kau apakah dirinya.”

Cin Bie Nio mendadak wajahnya berubah dan dengan suara keren ia menjawab: “8ocah, kau tidak usah kuatir. Dia tidak akan mati. Cuma jikalau kau tidak mau terima baik permintaanku itu ada susah dibilang, Kau lihat

saja nanti” Diwajahnya Yo Cie Cong yang asam dingin terlintas napsunya hendak membunuh. IA lalu membentak sambil kertak gigi: “Cin Bie Nio, aku mau kau lepaskan tawanannmu.” “Tidak bisa.” Yo Cie Cong sudah mulai tidak sabar, badannya tiba-tiba bergerak maju. sepuluh orang anak-anak buahnya Pek-leng hwee sudah lantas maju dengan berbareng menghalang didepan joli, dengan pedang masing-masing mereka menghalangi majunya Yo Cie Cong.

Yo Cie Cong sudah tidak dapat mengendali hawa amarahnya. “Kalian cari mampus” bentaknya keras. setelah membentak, dengan cepat ia mengayunkan tangan kanannya. serangannya itu dilakukan tenaga delapan bagian. Dilihat dari kekuatan Yo Cie Cong pada serangan itu sudah cukup dahsyat kalau untuk menggempur satu bukit saja. Sepuluh orang anak buahnya Pek Leng hwee baru saja hendak bergerak menyerang, tahu-tahu kekuatan serangan Yo Cie Cong yang sangat hebat sudah sampai lebih dulu, sehingga pedang ditangan masing-masing tidak mampu lagi di gerakkan. Barulah semuanya merasa kaget dan ketakutan setengah mati.

Sebentar kemudian lalu terdengar suara jeritan ngeri diantara suara jeritan itu darah tampak berhamburan. Dua orang laki dan dua wanita dan anak buahnya Pek leng hwee sudah rebah menjadi mayat. Enam orang yang lainnya telah terpental sejauh setombak lebih. Cin Bie Nio sesungguhnya tidak menduga bahwa anak muda itu sudah

mempunyai kekuatan yang begitu hebat. Gara-gara perbuatannya yang memandang rendah pihak lawannya itu ia sudah mengantarkan empat jiwa anak buah. Ia lalu membentak kepada enam orang anak buahnya yang masih ada: “semua mundur ” Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Yo Cie Cong: “Bocah, jikalau kau berani maju lagi satu tindak. aka akan mengambil jiwanya anak ini lebih dulu.” Sehabis berkata sebelah tangannya lalu menekan jalan darah Leng-bun hiat . ditubuh Oet-tie Kheng. Asal tangan itu bergerak saja, jiwanya Oet-tie Kheng akan melayang seketika. Perbuatan Cin Bie Nio itu sesungguhnya terlalu keji.

Yo Cie Cong kuatirkan sangat kalau jiwanya Oet-tie Kheag melayang, benar saja ia lantas tidak berdaya. setelah berdiam sekian lama barulah ia berkata lagi: ” Cin Bie Nio, percuma saja kau menjabat ketua dari suatu perkumpulan. Ternyata kau masih mau berbuat begitu rendah. Apa kau kira aku Yo Cie Cong benar-benar tidak bisa berdaya menghadapi kau ?” Cia Bie Nio sambil kerlingkan matanya yang jeli dengan cepat juga mengeluarkan sebutir obat yang lalu dimasukkan kedalam mulut Oet-tie Kheng, kemudian lompat keluar dari dalam jolinya dan berdiri dihadapan Yo Cie Cong sambil ketawa cekikikan. Yo Cie Cong mendadak mengeluarkan ilmu Menggeser tubuh menukar bayangannya, dengan kecepatan luar biasa ia telah berhasil merebut dirinya Oet-tie Kheng dari dalam joli. Tindakan luar biasa dari Yo Cie Cong ini telah membikin semua anak buahnya Pek Leng hwee yang menyaksikan pada terheran- heran.

Cin Bie Nio yang semula kelihatan wajahnya berubah, dengan cepat sudah pulih lagi pada keadaan sediakala dan memperlihatkan sifatnya yang genit. Terhadap dirinya Oet-tie Kheng yang ditolong oleh Yo Cie Cong, agaknya ia tidak memperdulikan sama sekali. Yo Cie Cong mengetahui bahwa wanita itu banyak akalnya, hatinya juga kejam, ketika melihat sikapnya yang acuh tak acuh, hatinya lantas merasa curiga, maka itu ia lantai berkata: “Cin Bie Nio, kau barusan berbuat apa atas dirinya ?” Cin Bie Nio setelah memperdengarkan suara ketawa cekikikannya lalu menjawab: “Bocah, kau ternyata pintar sekali. Aku tadi sudah memberikan padanya sebutir obat pil yang dinamakan “siao sun sie kut tan, Dalam waktu tiga hari saja tulang dan dagingnya akan berubah menjadi darah dan orangnya mati seketika. Aku memperingatkan padamu, didalam kolong langit ini, kecuali aku dan anak muridku, tidak ada lagi orang yang mampu melenyapkan racun itu”

Yo Cie Cong yang terpengaruh pikirannya, hampir saja rubuh tidak ingat orang. “Cin Bie Nio, kau terlalu kejam” “Kau cinta padanya? Betul tidak?” Yo Cie Cong dengan perlahan meletakkan tubuhnya Oet-tie Kheng yang sudah tidak ingat orang, sepasang matanya kelihatan mengembeng air. Kiranya, itu hari, didalam rumah penginapan didalam kota Tiang soa, Yo Cie Cong dan Oet-tie Kheng masing-masing mengambil sebuah kamar dalam rumah penginapan tersebut. Dengan kamarnya Cin Bie Nio cuma terpisah satu lorong dan satu pintu tengah.

Cin Bie Nio yang tidak berhasil memikat hatinya Yo Cie Cong akhirnya dibikin kaget dan kabur oleh sao-hek. Tetapi terhadap dirinya Yo Cie Cong, wanita genit itu kelihatan semakin besar cintanya, maka ia telah bertekad bulat hendak mendapatkan dirinya pemuda itu, kemudian setelah mengetahui Oet-tie Kheng mempunyai hubungan rapat dengan Yo Cie Cong, lantas saja timbul perasaan mengiri dan jelusnya.

Diam-diam ia masuk nyelundup kedalam kamarnya Oet-tie Kheng, dengan menggunakan obat mabuk ia telah berhasil membuat Oet-tie Kheng tidak berdaya. Ia bermaksud hendak membawa Oet-tie Kheng kepusat perkumpulan Pek leng hwee, kemudian dengan menggunakan dirinya nona ini sebagai umpan ia mau supaya Yo Cie Cong masuk dalam perkumpulannya Pek leng hwee, dengan begitu akan tercapailah segala cita-citanya dan keinginannya.

Sesungguhnya ia tidak menduga kalau mereka akan bertemu satu dengan lainnya ditempat itu.Jikalau ditimbang dari kekuatannya, Oet-tie Kheng yang mendapat warisan kepandaian ilmu silat dari engkongnya kalau hendak dibandingkan dengan CmBie Nio rasanya masih lebih tinggi setingkat. sayang ia masih belum banyak mempunyai pengalaman dalam dunia Kang-ouw. ditambah lagi ia tidak menduga sama sekali kalau begitu bertemu sudah lantas dibikin tidak berdaya oleh lawannya dengan senjatanya yang beracun, maka dengan mudah sudah tertawan oleh musuhnya.

Sekarang mari kita balik kembali pada jalannya cerita. Setelah meletakkan tubuhnya Oet-tie Kheng, Yo Cie Cong lantas berkata dengan suara gusar:

“Adik Kheng lihat aku nanti bunuh wanita genit dan jahat ini untuk membalas sakit hatimu.” Ia lalu mengangkat kepalanya, dengan mata beringas lantas hendak turun tangan. Cin Bie Nio kelihatan berubah wajahnya, kemudian berkata dengan tenang: “Bocah, kau jangan sombong. Terus serang kuberitahukan padamu tidak nanti kau mampu menyambuti serangan tipu silatku “cut siu Tiauw hua” Jikalau kau menghendaki dia hidup, kau harus pikir lagi masak-masak”

Yo Cie Cong yang mendengar perkataan itu jadi melongo. Sebetulnya,Jikalau Yo Cie Cong menggunakan tipu silatnya yang luar biasa, yaitu “Menggeser badan menukar bayangan” dan menyerang Cin Bie Nio secara tiba-tiba barangkali Cin Bie Nio sudah tidak berkesempatan melancarkan tipu serangannya. Tetapi karena saat itu Yo Cie Cong sedang bersedih memikirkan nasibnya Oet-tie Kheng, dalam pikirannya yang kalut ia sudah tidak dapat memikirkan itu. sebaliknya Cin Bie Nio, dalam hatinya diam-diam sudah merasa heran, pemuda ini dalam waktu yang sangat singkat dari mana bisa mendapatkan kepandaian ilmu silat yang begini tinggi? Ia mengerti bahwa kini ia tidak mampu lagi menandingi dirinya pemuda itu, tetapi iblis wanita ini banyak sekali akalnya. Ia dapat menggunakan kelemahan lawannya, maka lantas ia mendesak lagi setindak. katanya: “Bagaimana ? Itu mudah sekali sebenarnya, asal kau mau menjadi anggota Pek- leng hwee saja.”

Tiba-tiba Yo Cie Cong ingat akan pesannya orang berkedok kain merah bahwa dalam menghadapi sesuatu hal harus memikirkan masak-masak dulu baru bertindak. maka saat itu ia lantas tidak bisa menjawab.

Pada saat itu, dari atas pohon tiba-tiba terdengar suara orang disertai oleh suara ketawanya yang seperti orang gila: “Rase cilik, apa kau benar-benar tidak takut pembalasan dari tuhan?” Cin Bie Nio ketika mendengar suara itu wajahnya lantas berubah seketika. Yo Cie Cong juga merasa pernah dengar suara itu, tapi untuk saat itu ia sudah lupa siapa orangnya. Dalam kagetnya, ia lantas dongakkan kepalanya melihat kearah pohon yang sangat lebat dengan daunnya.

Tapi apa yang mengherankan, orang tua setelah perdengarkan suaranya tadi lantas tidak terdengar suaranya lagi. sebab daun pohon sangat lebat, tidak bisa ditembusi oleh daya pemandangan mata orang biasa, hingga dapat diketahui dimana tempat sembunyinya orang itu. Kekuatan mendengar Yo Cie Cong pada saat itu sudah sampai ketaraf bisa mendengar suara nyamuk terbang sejarak kira-kira 10 tumbak jauhnya. Tapi heran ia tidak tahu kalau ada sembunyi diatas kepalanya. selain dari pada itu, suara orang yang bicara itu agaknya dari jarak jauh, tapi juga seperti dari tempat dekat, hingga membuat orang sukar mengenali letaknya. Maka benarkah tingginya kepandaian orang yang bicara itu, dari sini saja kita bisa ukur sendiri

Cin Bie Nio sebaliknya sudah tahu siapa orangnya yang bicara tadi, maka saat itu ia sudah menjadi ketakutan, untung orang itu tidak unjukan diri, hingga ia masih dapat kesempatan untuk lekas-lekas kabur, kalau tidak. akibatnya sangat runyam. Tapi baru saja ia hendak angkat kaki, Yo Cie Tiong yang sudah murka, lantas menghadang didepannya. Cin Bie Nio terpaksa mundur satu tindak. “Kau hendak mabur? Tidak begitu gampang heh” berkata Yo Cie Cong

dengan suara dingin. Cin Bie Nio kuatir kalau orang yang bicara ditempat sembunyi tadi unjukkan diri, hingga tidak gampang lagi untuk ia kabur, ia harus segera meninggalkan tempat itu. maka ia lantas menjawab: “Kau hendak berbuat apa?” “Tinggalkan obat pemunah mu, hari ini aku bebaskan kau, lain waktu kalau ketemu lagi kita perhitungkan kembali” “Um, bebaskan aku, kau betul terlalu jumawa.” “Kau mau serahkan obat pemunah mu atau tidak?” “Kalau tidak kau mau apa ?” “Kalian sebelas orang jangan harap bisa meninggalkan tempat ini.”

Lagi sekali Cin Bie Nio menengok ketempat pohon lebat, kemudian berkata : “obat pemunah ? Itu gampang sekali.” setelah berkata, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan keluarkan sebutir obat pil sebesar kacang. “Nah, ambillah segera,” sambil lemparkan pil itu kepada Yo Cie Cong, siapa menyambuti dengan dua jarinya. “Apa masih ada urusan lain lagi?” tanya Cin Bie Nio sambil unjukan ketawanya yang kecut. “Aku sudah kata, asalkan mau serahkan obat pemunah, aku bebaskan kau sekali lagi, pergilah ” “Gunung hijau tidak berubah, air biru tetap mengalir, sampai ketemu lagi dilain waktu” kata Cin Bie Nio mendongkol. sehabis berkata ia lantas lompat masuk ke dalam jolinya, 4 laki-laki yang pemikul joli itu lantas pikul jolinya dengan cepat. sedang 6 anak buahnya yang lain, dengan membawa 4 mayat kawannya, juga lantas ikut kabur.

Yo Cie Cong tidak nyana Cin Bie Nio kali ini begitu mudah diajak urusan, hanya dengan beberapa patah kata gertakan saja sudah mengeluarkan obat pemunahnya. Ia memikirkan dirinya Oet-tie Kheng yang perlu segera ditolong, maka tanpa banyak pikir lagi lantas bikin hancur pil obat pemunah itu dan lari menghampiri Oet-tie Kheng. si nona masih duduk ditanah dalam keadaan linglung, tidak bergerak juga tidak bersuara. Yo Cie Cong lantas jongkok didepannya, dengan perkataan penuh kasih sayang ia berkata : “Adik Kheng, kau telan pil pemunah ini, ada satu hari aku pasti balaskan sakit hatimu ini ” Ia berkata sambit sodorkan obatnya kedalam mulutnya Oet-tie Kheng.

“Bocah, kau sudah tidak ingin dia hidup lagi ?” suara itu datangnya secara tiba-tiba, hingga Yo Cie Cong terpera at dan urungkan maksudnya hendak memasukkan pil itu kedalam mulutnya si nona. Ketika ia angkat kepalanya, lantas dapat lihat seorang tua aneh setengah paderi setengah imam, berdiri disampingnya. Bukan kepalang girangnya Yo Cie Cong. ia lantas buru-buru maju 3 tindak dan berkata padanya sambil membungkukkan badan memberikan hormat: “Boanpwe Yo Cie Cong menjumpahi locianpwee ”

orang tua aneh yang baru datang itu adalah Phoa ngo Hweshio, si hweshio gila, salah satu dari dua manusia aneh dalam rimba pesilatan. Pantasan tadi Cin Bie Nio ketakutan stengah mati dan buru-buru lari meninggalkan tempat itu. “Bocah, kau betul-betul sembrono. Apa kau kira si rase kecil itu benar-benar mau memberikan kau obat pemunah yang tulen ?”

“Apa itu obat palsu ?” tanya Yo Cie Cong terkejut “Hmm, bocah, kau terlalu kekanak-kanakan, kau kira Cin Bie Hio itu perempuan macam apa ?”. “Hal ini……locianpwee…” “Apa kau tidak percaya ?” “Bukan tidak percaya, hanya bagaimana locianpwe bisa tahu kalau obat pemunah ini adalah palsu?”

“Bagaimana moralnya si rase itu, bisa di ukur dari sifat gurunya. Menurut sifatnya Giok bin Giampo Phoa Cit Kau suhunya Cin Bie Nio. aku berani pastikan kalau obat itu ada palsu, coba kau cium bagaimana baunya ? Kalau baunya pedas dan menusuk hidung itu tandanya tulen. Kalau harum, haha, bocah kau toch sudah pernah makan satu kali, bukan ?” Yo Cie Cong lantas mencium obat pil itu, benar saja baunya harum, tangannya memuncak. Dengan suara keras ia berkata pada dirinya sendiri: ” Cin Bie No, perempuan kejam, kalau ako tidak bisa beset kulitmu, aku bersumpah tidak mau jadi orang” “Bocah, bagaimana ?” tanya si paderi gila. “Harum baunya ” “Haha, kau sendiri toch sudah pernah makan satu kali, seharusnya tahu itu ada pil apa ” “Apa itu ada pil sorga dunia ?” “sedikitpun tidak salah ”

Yo Cie Cong kepalanya seperti diguyur air dingin, matanya memandang wajah Oet-tie Kheng sejenak. Tiba-tiba ia berkata kepada Phoa-ngo Hweshio: “Locianpwee nona Oet-tie ini, dia telah diberi makan obat beracun

yang paling jahat didalam dunia “siao hun sie kutan” dalam waktu 3 hari dia akan binasa dalam keadaan hancur badannya” “Ini aku tahu ” “Kalau locianpwee tahu nona Oet-tie diberi makan obat beracun, dan tahu pula kalau pil ini ada palsu, mengapa siang-siang tidak unjukkan diri memperingatkan perempuan jahat tadi? sudah tentu tadi boanpwee tidak gampang-gampang melepaskan dirinya perempuan jahat itu berlalu begitu saja. Tapi sekarang…” “Sekarang bagaimana ?” “Nona Oet-tie sudah tidak dapat tertolong jiwanya lagi” jawabnya Yo Cie Cong dengan suara masgul.

Phoa-ngo hweshio melirik pada Yo Cie Cong sejenak, lantas berkata: “Bocah. ini ada urusanmu sendiri orang kau yang melepaskan, obat palsu juga kau sendiri yang minta dan yang terima, Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan aku si hweshio gila” Yo Cie Cong merasa sangat gelisah, tapi tahu bahwa locianpwe ini ada seorang yang suka bergurau dan adatnya memang gila-gilaan, barang kali ia masih mempunyai daya lain untuk menolong dirinya Oet-tie Kheng. Maka ia lalu berkata dengan suara cemas: “Hal ini boanpwe mengharapkan sangat pertolongan locianpwee” “Hm, bocah, aku si hweshio gila bagaimana berani berlaku gegabah. Bocah perempuan ini sudah berani meninggalkan engkongnya pergi menemui kekasihnya, sudah sepantasnya kalau dia ketularan”

Yo Cie Cong ketika mendengar perkataan phoa- ngo Hweshio, wajahnya merah seketika. Dalam hatinya diam-diam berpikir: Hweshio gila ini bagaimana bisa tahu kalau adik Kheng itu kabur untuk mencari aku? Jikalau ada apa-apa telah terjadi atas diri adik Kheng.

engkongnya tentu akan mencari aku. Meski ini ada urusan kecil, tapi aku toch tidak dapat membiarkan adik Kheng mati begitu saja” Karena berpikir demikian, hatinya semakin gelisah, akhirnya ia merengek-rengek kepada Phoa ngo Hweshio: “Locianpwee jiwanya nona Oet-ti cuma tinggal beberapa hari ” “Habis mau apa?” “Mau mencari Cin Bie Nio lagi tidak gampang, waktunya barangkali sudah terhambat ” “Habis kau hendak berbuat apa ?” “Kalau locianpwee tak dapat menolongnya, terpaksa boanpwee hendak mencari Cin Bie Nio lagi untuk minta obat pemunahnya ” “Kemana hendak kau cari ?” “Pek leng hwee ” “Kau tahu pasti dia mau memberikan kau obat pemunahnya ?” “Tentang ini, asal bisa menemukan padanya, boanpwee tidak mau sudah kalau belum tercapai maksud boanpwe” “Huh, huh, bocah, hitunglah kau bisa menemukan padanya. Tapi pusat Pek- leng hwe adalah di Hiu kang. pergi pulang paling sedikit kau harus memerlukan waktu 4 hari, apakah bocah perempuan ini bisa menunggu begitu lama ?”

Yo Cie Cong sebenarnya dalam perjalanan hendak menuntut balas kepada Cie in-pang, tidak nyana ditengah jalan menemukan kejadian demikian, yang tidak boleh tidak ia harus turut campur tangan. Tapi ia sekarang harus sesalkan perbuatannya sendiri yang begitu mudah melepaskan dirinya Cin Bie Nio. “Locianpwe, terhadap soal ini sudah tahu betul, tapi bagaimana locianpwee membiarkan boanpwee melepaskan dirinya Cin Bie Nio dan tidak mau mencegah, sekarang bagaimana dengan jiwanya nona oet-ti

ini?” “Haha, bocah, kau ternyata pintar menyangkal. Taruh kata jiwanya anak perempuan ini binasa ditanganku, tapi toch bukan aku yang suruh kau melepaskan dirinya Cin Bie Nio ?” Si hweshio gila itu nampaknya masih tidak tergerak hatinya barang sedikit, ia masih tetap dengan membawa adatnya sendiri

Yo Cie Cong menjadi penasaran, maka ia lalu berkata dengan sengit: “Boanpwee ada satu permintaan yang tidak patut, harap locianpwee suka terima baik” “Coba kau terangkan” “Tolong locianpwee menjagai dirinya nona oet-ti untuk sementara…” “Dan kau sendiri hendak berbuat apa?” “Mencari Cin Bie nio, kiranya dia masih belum pergi terlalu jauh, boanpwee aka kejar sekuat tenaga”. “Jikalau tidak kecandak ?” Untuk sesaat lamanya Yo Cie Cong membisu, tapi sebentar kemudian matanya nampak beringas, ia lantas menjawab dengan suara keras: “Jikalau tidak dapat mencandak dan dalam waktu 3 hari tidak bisa dapatkan obat pemunah, boanpwee akan terus pergi ke Ki kang meng ubrak-abrik pusatnya Pek Leng-hwee guna menuntut balas sakit hatinya nona oet-ti ”

Phoa-ngo Hwesio lantas tertawa terbahak-bahak. “Bagus bocah, orang beribadat sudah sepantasnya kalau berlaku welas asih. Aku si hweshio gila kalau tidak mencegah kau melakukan perbuatan gila ini, bukankah nanti akan diceburkan kedalam neraka?” Yo Cie Cong merasa gemas dan mendongkol, kalau bukan karena berhadapan dengan orang berkedudukan begitu tinggi dan pernah

menerima budinya begitu besar, barangkali ia sudah naik darah ketika itu. saat itu ia cuma bisa memandang si hweshio gila dengan hati mendelu, dengan tanpa disadari keringat dingin sudah membasahi dahinya… Phoa-ngo Hweshio rupanya sudah menganggap cukup mempermainkan dirinya anak muda itu, lantas berkata sambil ketawa terbahak-bahak: “Bocah, jawab pertanyaanku dahulu.” “silahkan ” “Kau pernah menelan mustikanya binatang Gu liong- kauw?” “Benar?” “Dan kemudian makan telurnya burung rajawali raksasa ?”

Yo Cie Cong merasa heran, soal ini hanya si Pengail Linglung dan cucu perempuannya serta si orang aneh berkedok merah bertiga orang saja yang mengetahui, dari mana si hweshio gila ini bisa dapat tahu? Tapi meski dalam hati merasa heran, ia tokh menjawab juga sambil anggukan kepala. “Benar ” “Tahukah kau bahwa saat ini dalam dirimu sudah mempunyai kekuatan tenaga dalam “Lian kek Cin khie” yang sudah tidak ada tara-nya dalam rimba persilatan ?” “Hal ini, boanpwe tidak begitu faham ” “Mustikanya binatang Gu liang kauw, termasuk semacam kekuatan yang bersifat dingin, ialah “Im” murni, sedang telurnya burung rayawali raksasa, termasuk kekuatan yang bersifat panas, ialah “Yang” murni. Kekuatan “lm” dan “Yang” yang tergabung menjadi satu, berubah menjadi kekuatan tenaga dalam “Liang kek Cin khie” yang sudah tidak ada taranya…”

Mendengar keterangan itu, Yo Cie Cong diam2 merasa girang, tapi kalau ia mengingat jiwanya Oet-tie Kheng yang cuma tinggal 3 hari, perasaan sedih tidak dapat dicegah lagi, maka ia hanya menjawab “Ng, ng” saja. Phoa ngo Hweshio berkata pula: “Kekuatan tenaga dalam “Liang kak Cin kie” itu, kalau bertemu keras lantas menjadi lunak, dan kalau bertemu lunak lantas menjadi keras Jika sudah terlatih benar tenaga dapat digunakan menurut kemauan sang hati, keras atau lunak bisa menurut kehendak hati sendiri, hingga kekuatannya melebihi dari segala kekuatan tenaga dalam yang mana saja Terutama untuk menghadap tenaga “Im” yang lunak dan segala kekuatan tenaga Yang bagaimana berbisa, ada merupakan senjata yang paling ampuh ” Yo Cie Cong merasa tergerak hatinya, mendadak ia ingat jiwanya sendiri hampir saja binasa didalam tangannya Liat yang Lokoay yang menggunakan ilmunya Liat-yan-ciang”

Jikalau benar seperti apa yang dikatakan oleh si hweshio gila, bahwa bertemu kekuatan keras bisa berobah lunak, tapi bagaimana saat itu tidak kelihatan khasiatnya? Mungkin ia masih belum tahu khasiat ini, sehingga percuma saja ia mempunyai kekuatan yang begitu mujijat, yang ternyata masih belum mengerti menggunakannya. “Tolong locianpwee suka memberi keterangan bagaimana harus melatih kekuatan ini supaya bisa digunakan menurut kehendak hati” tanya Yo Cie Cong. “Sekarang jangan kita bicarakan soal itu dulu, nanti terlantar urusan penting. Yang paling perlu adalah menolong jiwa orang lebih dulu ” Yo Cie Cong baru sadar, benar jiwa Oet-tie Kheng masih belum ketahuan bagaimana ? ia sendiri sebaliknya membicarakan soal lain “Menolong jiwa nona Oet-tie ?”

“sekarang kau malah tidak gelisah ?” “Bukan begitu, dari mana datangnya obat pemunah racun?” “obat pemunah racun? Haha, bocah, kau sendiri sudah cukup untuk menolong dia, buat apa obat pemunah ?”

Yo Cie Cong merasa heran, sampai mundur setindak. “Boanpwee bisa menolong dia ?” “Benar, kau bisa menolong dia ” “Terhadap segala ilmu ketabiban boanpwe sedikitpun tidak mengerti, apalagi…” “Aku si hweshio gila, kata kau bisa menolong dia. tidak nanti bisa salah lagi. sekarang kau pondong perempuan ini, dan ikut aku ketempat yang sunyi. Disini ada jalan raya, kurang pantas ”

Yo Cie Cong agak sangsi sejenak. tapi kemudian pondong dirinya Oet-tie Kheng. Phoa ngo Hweshio secepat kilat sudah berada ditempat 10 tombak lebih jauhnya. Yo Cie Cong kerahkan seluruh kepandaiannya, dengan cepat ia mengikuti jejaknya hweshio itu, seolah-olah bintang sapu meluncur kearah kanan jalan raya. Tidak antara lama, mereka sudah mulai menanyak jalanan keatas gunung. Tapi, betapapun Yo Cie Cong berdaya kerahkan seluruh kepandaiannya, masih tetap terpisah sejarak sepuluh tumbak dengan phoa-ngo Hweshio, biar bagaimana ia tidak berhasil mengeyar. Hingga diam ia memuji “benar, tidak kecewa ia menjadi orang luar biasa dalam kalangan Kang ouw ”

Dengan cepat mereka sudah mendaki dua buah bukit dan baru berhenti setelah tiba di satu tempat dilamping gunung yang agak

menonjol bentuknya. “Letakkan dia, bocah” perintah Phoa ngo Hweshio. Yo Cie Cong menurut, ia letakkan dirinya Oet-tie Kheng ditanah. “Bocah, kekuatan tenaga dalammu pada saat ini, didalam dunia Kang ouw sudah sukar mencari tandingan”

Yo Cie Cong diam, ia ingat pertempuran hebat di Cie lipeng pada beberapa hari berselang, kalau bukan si orang aneh berkedok merah yang memberi pertolongan, terang ia sudah binasa didalam tangannya Liat yang lokoay, bagaimana masih dikatakan tidak ada tandingannya ? “Tapi boanpwee merasa bahwa kepandaian boanpwee masih belum cukup untuk menghadapi dunia Kangouw..” demikian ia menyawab sambil ketawa getir. “Haha, bocah, ambekkanmu sungguh besar, apakah kau ingin menjadi orang kuat nomor satu didalam rimba persilatan ? cuma hal ini juga bukan satu kemustahilan yang kau tidak bisa dapatkan, itu tergantung dengan keberuntunganmu sendiri” ia berhenti sejenak. kemudian berkata pula: “Aku sudah kerahkan seluruh kekuatanku, tapi kau dengan memondong dirinya satu orang, masih bisa mengikuti dalam jarak 10 tumbak tidak sampai ketinggalan. Hal ini, aku si hweshio gila sungguhnya merasa sangat kagum.” “Cianpwe terlalu memuji ” “Bocah, sekarang aku hendak beritahukan caranya melatih ilmu Liang kek Cin khie ?” “Locianpwee, menurut pikiran boanpwe, sebaliknya menolong jiwanya nona Oet-tie dulu ada lebih penting ” “Eh, bocah, bagaimana kau hendak menolong ?”

Yo Cie Cong dibikin melengak oleh pertanyaan ini, pikirnya: “Bukankah tadi ia sendiri yang berkata bahwa aku bisa menolong dirinya nona Oet-tie, tapi bagaimana sekarang berbalik berkata demikian ?” Phoa ngo Hweshio lantas berkata sambil ketawa cekikikan: “Bocah, kau jangan marah dulu, pertama kau harus menggunakan waktu satu hari satu malam, untuk mengumpulkan dua kekuatan tenaga murni dalam badannu, kemudian dengan kekuatan tenaga itu kau baru bisa menolong dirinya nona itu ” Yo Cie Cong kini baru mengerti. Wajahnya Phoa ngo Hweshio mendadak berubah menjadi sungguh2. “Bocah. kau duduk dulu, sebelum kau mulai, aku si hweshio gila masih ada satu hal yang sangat penting, harus kujelaskan pada mu lebih dulu, supaya lain hari tidak timbul kerewelan ”

Yo Cie Cong menurut, ia duduk didepannya si hweshio. Phoa ngo Hweshio lantas berkata: “Sekarang kau harus menjawab pertandaan ku dengan terus terang, kau cinta kepada bocah perempuan ini atau tidak ?” Yo Cie Cong kemekmek. Ia tidak sangka si hweshio gila akan mengajukan pertanyaan demikian, maka seketika itu wajahnya lantas berubah merah, tidak bisa menjawab. “Heh bocah, kau tidak cinta padanya ?” “Locianpwee, cinta atau tidak. ada hubungan apa dengan menolong jiwanya dia?” “Besar sekali hubungannya. Kau harus jawab dulu, kau sebetulnya cinta atau tidak?” ^ “Boanpwee.. boanpwe… tidak menyangkal memang cinta padanya, cuma saja cinta itu memang tidak bisa terlaksana ” “Heran, apa sebabnya ?”

“Boanpwe bisa mencelakakan dirinya, karena boanpwee sudah mempunyai kekasih orang lain ” “Seorang yang mempunyai wajah seperti kau ini, sudah tentu tidak terluput dari godaan banyak orang perempuan. Tidak ini tidak begitu penting, asal kau bisa mencintai dia dengan tulus hati, urusan mudah dibereskan ” “Tapi, boanpwee tidak bisa berbuat demikian”

“Hai, kenapa? Apa kau sudah gila? Kasih bocah perempuan ini begitu besar cinta kasihnya terhadap dirimu, dia kabur dari damping engkongnya, perlunya hanya hendak mencari kau. Dan sekarang jiwanya terancam bahaya, kau sendiri masih bisa mengatakan demikian? Apa kau sudah tidak mempunyai perasaan tanggung jawab ? Kasian juga nasibnya si Pengail Linglung, bagaimana perasaannya kalau dia mengetahui hal ini… Kabarnya dia juga sudah ter-birit2 meninggalkan pulau Batu Hitam untuk muncul lagi didunia Kang-ouw.” “Apa Lam-tie Locianpwee sudah meninggalkan pulau Batu Hitam?” “orang tua itu cuma mempunyai satu cucu perempuan ini saja, kau pikir sendiri, ia gelisah atau tidak ketika mengetahui cucu perempuannya itu telah kabur?” “Dan sekarang dimana adanya dia si orang tua ?” “Aku dengan dia telah memencar diri untuk mencari anak perempuan ini, kami sudah berjanji 3 bulan kemudian akan bertemu di- kota Tiang-soa, sekarang kau tidak perlu tanyakan hal ini, kau harus jawab dulu pada ku, kau cinta padanya atau tidak?” “Boanpwee sebetulnya memang tidak boleh mencintai dia ?” “oleh karena lebih dulu kau sudah ada mencintai lain perempuan?” “Ya, tapi dia kini sudak tidak ada lagi didalam dunia ”

Diwajahnya Yo Cie Cong nampak sangat berduka, ia dongakkan kepala memandang ke-langit, agaknya hendak mencari-cari bayangan kekasihnya yang sudah tiada, tapi juga seperti mengenangkan semua kejadian dimasa lampau yang sangat mengenaskan itu. Untuk pertama kalinya ia mencintakan satu wanita, dan wanita itu kini sudah berlalu meninggalkan padanya, meninggalkan, untuk se-.lama2nya. Maka ia telah membawa pergi semua perasaan hatinya, itu benar2 merupakan satu tragedi yang sangat mengenaskan. “oleh karena kedukaanmu yang sangat hebat itu, maka kau tidak memikirkan untuk mencintakan lain orang lagi ?” demikian Phoa ngo Hweshio menanya. “Ya, sebab dia sudah membawa semua perasaan hatiku. selain daripada itu, boanpwe juga sudah bersumpah, asal urusan boanpwe sudah selesai, boanpwe akan menyusul arwah-nya ke alam baka”

Phoa-ngo Hweshio anggukan kepalanya, agaknya juga terharu oleh ” cinta sejatinya” Yo Cie Cong. setelah hening sejenak. Ia lalu berkata pula: “Bocah, kau suka melihat dia binasa ?” “Boanpwee tidak mempunyai maksud demikian, asal bisa menolong jiwanya nona Oet-tie Kheng, boanpwee tidak sayang berkorban ” “Baik Kalau begitu, kau harus berkorban satu kali ” “Boanpwee masih belum paham maksudnya” “Diwaktu mengobati lukanya, kau harus bersentuhan daging dengan dia. Dengan mulutmu kau masukan hawa tenaga kekuatan Lian kek Cin-khi melalui mulutnya, dan dengan telapakan tanganmu kau menyalurkan hawa kekuatan tenaga Yang kek Cin goan melalui jalan darah “Beng hun hiat”. Tindakan berbareng ini dapat mengalirkan kekuatan tenaga Im dan Yang kedalam badannya, dengan demikian

baru bisa mendesak keluar racun yang mengeram didalam badannya. Coba kau kata, meski anak-anak orang rimba persilatan tentunya tidak terlalu kukuh dengan peradatan kuno, tapi dengan bersentuhan begitu rupa, apakah dia masih bisa kawin dengan orang lain ? Apalagi lelaki yang ia cintai adalah kau sendiri ” “Apa sudah tidak ada lain jalan ?” “Tidak ada ” ooocooo

BAB 31 SEKARANG Yo Cie Cong menghadapi satu ujian yang berat. Ia tidak dapat mengantapi Oet-tie Kheng binasa begitu saja, tapi ia juga tidak dapat menerima usul si hweshio gila, yang berat mengadakan perjanjian untuk sehidup semati dengan Oet-tie Kheng Ia tidak menyangkal bahwa ia sesungguhnya juga menyintai Oet-tie Kheng, tapi ia tidak boleh menyinta nona itu, sebab kematiannya siang-koan Kiauw, sigadis baju merah yang juga ia cintai, sudah membawa pergi semua perasaan hatinya. juga karena ia sudah bersumpah hendak menyusul arwahnya, ia tidak boleh melanggar sumpahnya sendiri. Kalau ia terima baik usulnya Phoa-ngo Hweshio, terang ini akan merupakan satu tragedi pula. Tapi untuk sekarang ini, apa daya ?

Setelah memikir bulak balik, akhirnya ia mengambil keputusan untuk terima saja dulu permintaan si hweshio gila. Oet-tie Kheng ada satu wanita bijaksana, setelah sembuh dari penyakitnya, ia nanti akan jelaskan duduknya perkara dengan sabar, rasanya masih tidak terlambat. Yang sekarang ini adalah menolong jiwanya terlebih dahulu.

setelah mengambil keputusan tetap. ia lantas berkata kepada Phoa-ngo Hwesio: “Boanpwe sekarang bersedia menurut perintah locianpwee ” “Haha, bocah, kau tidak boleh ragu-ragu. Kalau tidak, di kemudian hari apabila si orang tua Pengail Linglung mencari aku untuk membuat perhitungan, aku si hweshio gila tidak dapat mengampuni dirimu”

Yo Cie Cong anggukkan kepala sambil ketawa getir. “Baiklah, sekarang kau boleh mulai melatih ilmumu ” berkata Phoa ngo Hwesio yang lantas memberi petunjuk bagaimana caranya harus melatih ilmunya yang hebat itu. Yo Cie Cong tiba2 menanya dengan perasaan heran : “Apakah locianpwee pernah melatih ilmu ” Liang kek Cin Goan ini?” “Aku si Hweshio gila mempunyai rejeki begitu besar ?” “Bagaimana locianpwee bisa mengetahui begitu jelas ?” “Pengertianku ini aku dapatkan dari kitab “Bu lim siu kie lok” (Kumpulan segala ilmu silat yang aneh), dari catatan buku itu aku sekarang ajarkan kepada kau. Menurut catatan dari kitab itu, harus orang yang mempunyai kekuatan tenaga “Im” dan “Yang” yang cukup kuat baru bisa melatih ilmu “Liang kek cin goan”. ini berarti hanya orang yang mempunyai rezeki dapatkan dua macam kekuatan itu saja yang bisa mempunyai kepandaian ilmu istimewa ini.” “Kalau begitu, jika tidak kebetulan menemukan pengalaman gaib, lantas tidak ada orang yang bisa melatih ilmu luar biasa itu ? Dan locianpwee yang menulis kitab itu berdasarkan apa ?” “Masih ada semacam orang lagi dapat melatihnya.” “orang macam apa ?” “Dengan dua orang yang mempunyai kekuatan ilmu lweekang yang sangat tinggi, tapi ada melatih ilmu kekuatan tenaga “Im” dan “Yang”

yang sangat berlawanan, kemudian dengan menggunakan cara dari kalangan Buddha, kedua kekuatan “im” dan “Yang” itu disalurkan kedalam badannya seseorang, orang itu bisa juga melatih ilmu kekuatan yang sangat hebat ini.

Yo Cie Cong merasa sangat kagum terhadap pengetahuannya Pho ngo Hweshio dalam hal ilmu silat yang begitu luas. sambil duduk bersila menundukkan kepala dan mengheningkan ciptanya, ia melatih ilmunya “Liang kek Cin goan”. Tiga hari kemudian Yo Cie Cong sudah masuk ketingkat seperti orang yang berada di antara sadar dan tidak sadar. sang waktu telah berlalu terus tanpa terasa.

Esok hari menjelang tengah hari sekitar badannya Yo Cie Cong telah diliputi oleh selapis hawa yang berupa asap berwarna putih tercampur merah, kabut merah putih ini adalah tanda2 keistimewaannya ilmu “Liang- kek cin-goan”. Dijidatnya Yo Cie Cong, keringat sebesar biji kacang kedele nampak menetes turun. saat itulah, merupakan saat2 yang paling genting dan berbahaya Jika terkena goda, bukan saja akan lenyap segala jeri payahnya, tapi juga ada kemungkinan akan kemasukan iblis jahat, sehingga orangnya akan menjadi bercacad untuk seumur hidupnya.

Phoa-ngo Hweshio meski kepandaiannya sudah mencapai taraf yang tertinggi, tetap senantiasa melindungi keselamatan Yo Cie Cong, namun demikian, ia juga tidak berani gegabah. setiap saat dengan tidak berhenti-hentinya ia meronda disekitar tempat tersebut. Keadaan nona Oet-tie Kheng masih tetap seperti orang linglung, ingatannya hilang sama sekali, dengan badan lemah, ia rebah

terlentang ditanah tanpa bergerai terhadap segala urusan yang terjadi didepan matanya sedikit pun ia tidak mengetahui. Kabut merah putih yang tersebar dari badannya Yo Cie Cong, makin lama makin tebal. sekujur badannya nampak gemetaran, suatu tanda bahwa kekuatannya ” Liang kek Cin goan” sudah nyelusup keseluruh tubuhnya.

Phoa-ngo Hweshio nampaknya sangat terperanjat terhadap hasil yang telah di dapat oleh anak muda itu, hingga dalam hatinya diam2 berpikir: “Bocah ini setelah berhasil mendapatkan ilmunya yang hebat ini, tidak bedanya seperti macan yang tumbuh sayap. Dalam kalangan kang-ouw, barangkali sudah tidak ada seorangpun yang mampu menandingi si bocah ini meski agak berat napsunya membunuh, tapi budinya luhur, rasanya tidak sampai teryerumus kedalam kejahatan. Kalau tidak sungguh menyeramkan sekali akibatnya.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara pekikan yang nyaring memecahkan kesunyian tempat tersebut, hingga tempat belukar yang sunyi itu seolah-olah berobah menjadi seram keadaannya. Meski waktu itu sudah tengah hari, tapi suara pekikan yang kedengarannya menyeramkan itu, cukup membuat berdiri bulu roma. Phoa ngo Hweshio juga terkejut, entah siapa orangnya yang akan datang itu? Kawan ataukah lawan ? orang yang lewat secara kebetulan ataukah mencari setori ? Untuk membuktikan kebenarannya, dengan cepat ia lantas lompat melesat keatas batu cadas.

Dibawahnya batu cadas itu, Yo Cie Cong yang sedang melatih ilmunya “Liang-kek cin goan” sedang mencapai taraf yang paling genting dan

berbahaya, sedang disampingnya masih ada nona Oet-tie Kheng yang masih menantikan pertolongannya, hingga dua anak muda muda itu sedikitpun tidak mempunyai kekuatan tenaga untuk melawan bahkan keadaannya sangat menguatirkan.

Suara pekikan seperti suara setan itu makin lama kedengarannya makin dekat. Diantara suara pekikan itu juga terdengar suara berkibarnya pakaian orang, terang yang datang itu bukan cuma seorang saja. Phoa-ngo Hweshio dengan matanya yang tajam, terus mengawasi ke arah orang ini. Makin dekat bayangan orang itu kelihatan makin tegas. Ternyata jumlahnya ada 8 orang.

Dari gerakan mereka dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang2 ini semuanya ada mempunyai kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi. Baru saja suara pekikan itu berhenti, bayangan orang itu sudah loncat melesat ke puncaknya batu cadas. Pho-ngo Hweshio delikkan sepasang matanya, mengawasi orang tersebut. Ternyata Cin Bie Nio juga terdapat di antara 8 orang itu. Apa maksud kedatangan mereka, rasanya tidak sukar diduga.

orang yang pertama unjukan diri itu wajahnya sangat jelek dan menakutkan, hingga membuat orang yang melihatnya seperti menemukan setan diwaktu tengah hari. orang itu tingginya cuma 3 kaki, paha dan lengannya sangat pendek. hingga bentuknya seperti anak2, tapi kepalanya luar biasa besarnya, sungguh tidak seimbang dengan keadaan badannya, begitu pula keadaan panca indranya, sepasang matanya kecil sipit dan tidak beralis, sedang hidungnya besar

seperti hidung singa, tapi mulutnya monyong. Diatas kepalanya ada tumbuh rambut warna kuning yang sangat garang. Dengan itu saja, sudah cukup membuat orang bergidik.

Enam orang lainnya, adalah itu 5 pasang muda mudi pengiringnya Cin Bie nio, yang sepasang diantaranya sudah binasa di tangannya Yo Cie Cong, hingga kini cuma tinggal 5 pasang atau 10 orang. phoa-ngo Hweshio setelah ketawa terbahak-bahak lantas berkata sambil mengawasi manusia jelek itu. “Ang Put Tan, selamat bertemu sudah beberapa puluh tahun kita tidak bertemu, kiranya kau masih belum mampus” Kiranya manusia jelek luar biasa ini adalah Ang Put Tan, si Manusia jelek nomor satu yang namanya pernah menggetarkan dunia Kang-ouw. Manusia jelek ini sampai dimana tinggi kepandaiannya sesungguhnya sukar dijajaki. Ia termasuk orang yang berada ditengah-tengah antara kebaikan dan kejahatan.

Manusia jelek nomor satu itu dengan matanya yang sipit, setelah perdengarkan suara ketawanya yang aneh dan menyeramkan, baru menjawab: “Hweshio gila, kau jangan bermain gila terus-terusan, kemana perginya dua bocah cilik itu ? Mereka ada orang2 yang dimaui oleh ketua kami, maka aku minta dengan hormat supaya kau suka serahkan saja kepada kami ” sambil ketawa bangga Cin Bie Nio turut bicara: “Phoa ngo locianpwee, kau toch tidak bisa hilang kalau tidak tahu bukan ?” Phoa ngo Hwes hio tidak mau ladeni padanya, sebaliknya berkata kepada Ang Pat Tan:

“Eh, bocah, sungguh bagus nasibmu, sejak kapan kau menjabat tugas sebagai pengawal bunga berjiwa ini ?”

Pertanyaan Phoa ngo Hweshio ini membikin merah wajahnya Ang Put Tan. Cin Bie Nio menampak Phoa-ngo Hweshio tidak perdulikan pertanyaannya, sangat tidak enak perasaannya. Ia lalu kerlingkan matanya dan berkata kepada Ang Put Tan: “Ang hokhoat (pelindung hukum), aku lihat tidak usah kau banyak bicara, sebaiknya kita geledah saja ” Phoa ngo Hweshio sangat gelisah, ia tahu benar kepandaian dan kekuatannya manusia jelek nomor satu ini. Dulu dengan ia hanya selisih setingkat saja, tapi kini setelah beberapa puluh tahun telah lalu, entah ia ada melatih ilmu kepandaian apa lagi?

Jika manusia jelek ini harus mengerocok padanya, sesungguhnya juga sangat runyam, apalagi Yo Cie Cong saat itu sedikitpun tidak boleh diganggu. Maka seketika itu lantas berkata sambil ketawa terbahak-bahak. “Rase cilik, tahukah kau siapa adanya bocah perempuan itu ?” “Siapa dia?” Cin Bie Nio balas menanya. “Cucu perempuannya si Pengail Linglung Lam tie”

Cin Bie Nio terperanjat. Ia tahu bahwa Lam-tie Kun-siu dengan Pak hong Phoa-ngo Hweshio ini ada merupakan sepasang manusia aneh dalam rimba persilatan. Baginya, satu saja sudah tidak berani mengganggu, apalagi dua? Kedatangannya kali ini, pertama karena ia masih penasaran dan tidak bisa melupakan dirinya Yo Cie Cong yang cakap tampan, ia belum merasa puas kalau belum bisa dapatkan dirinya anak muda itu. Dan

kedua, karena mengandal “Manusia jelek nomor satu” ini yang membantu, kalau tidak. biar bagaimana ia tidak berani menemui Phoa-ngo Hweshio. “Hweshio gila, buat aku si orang she Ang tidak perd uli siapa itu Lam tie atau Pak bong” berkata Ang Pat Tan sambil goyangkan kepalanya yang besar. “Hihi, bocah, apa kau memangnya sengaja hendak mencari setori dengan aku si hweshio gila ?” “Asal kau unjukkan dimana tempat sembunyinya kedua bocah cilik itu, antara kita tidak akan terjadi apa2 ” “omieToHud, kalau begitu aku si hweshio gila nanti akan berdosa besar ”

Ang Put Tan lantas ulapkan tangannya dan berkata kepada Cin Bie Nio: “Hweshio, kalian pergi geledah.” Dengan demikian, suasana menjadi sangat tegang. sebetulnya tidak perlu digeledah, asal turun kebawah. mereka sudah bisa menemukan orang yang dicari. Pada saat itu, Yo Cie Cong yang berada dibawah lobang batu itu sudah mencapai taraf terakhir dalam latihannya ilmu gaib itu, kabut merah putih yang meliputi dirinya, per-lahan2 sudah mulai terisap masuk kedalam badannya.

Sementara Cin Bie Nio setelah mendengar perkataan Ang put Tan, lalu ulapkan tangannya kepada 6 pengiringnya, hingga sebentar kemudian 7 orang itu sudah pada loncat turun kebawah. Phoa ngo Hweshio dalam cemasnya, dengan cepat mengirim serangannya yang amat dahsyat untuk mendesak mundur kepada orang itu.

serangannya yang dilancarkan dalam keadaan mendesak itu, dapat diduga betapa hebatnya. Maka Cin Bie Nio dan 6 pengiringnya telah terdorong balik dan merasa darah di dadanya pada menggolak hebat.

Tepat pada saat orang itu didorong balik oleh kekuatan tenaga yang dilancarkan oleh Phoa-ngo Hweshio, Ang Put Tan juga secepat kilat sudah melancarkan serangannya kepada dirinya hwessio gila. Phoa ngo Hweshio yang sedang melancarkan serangannya kepada Cin Bie Nio dan pengiringnya, belum sempat menarik kembali tangannya, serangan si manusia jelek nomor satu sudah datang mendesak dirinya. Dalam kagetnya, ia terpaksa lompat ke samping sampai 5 kaki, untuk menghindarkan serangan Ang Put Tan yang amat dahsyat itu. Ang Put Tan pentang bacotnya sambil ketawa bangga. “Hweshio gila yang merupakan salah satu dari sepasang manusia aneh dalam rimba persilatan, kiranya cuma begitu saja”

Tapi Phoa ngo Hweshio ada seorang yang sudah mempunyai kedudukan dan kepandaian tinggi, dengan sendirinya juga mempunyai kesabaran luar biasa. Maka ia tidak ambil pusing ejekan manusia jelek itu, ia hanya memikirkan dengan cara bagaimana supaya dapat menahan sampai Yo Cie Cong selesaikan latihannya. Jika Yo Cie Coag sudah berhasil dengan ilmunya itu, sudah cukup untuk menghadapi manusia jelek nomor satu ini, bahkan masih belum ada artinya buat ia. Tapi sekarang dalam keadaan demikian, sedikit suara saja juga sudah cukup membikin celaka dirinya anak muda itu.

Phoa ngo Hweshio tadi turun tangan merintangi tindakannya Cin Bie Nio, ia seperti juga memberitahukan bahwa orang2 yang mereka cari

itu benar2 ada dibawah batu cadas itu. Cin Bie Nio sehabis menerima serangan phoa ngo Hweshio yang sangat hebat itu, terus ketakutan- Beberapa kali ia hendak bergerak lagi, tapi tidak berani melanjutkan- ia sangat mengharapkan si “Manusia jelek nomor satu” segera turun tangan untuk merintangi si hweshio, supaya bisa bergerak dengan leluasa.

Phoa ngo Hweshio meski diluarnya kelihatan tenang2 saja, tapi dalam hatinya sebetulnya sangat gelisah, perasaannya itu hanya Tuhan saja yang tahu. sebab jika sedikit salah bertindak saja, akibatnya terialu hebat. Namanya sendiri akan runtuh, itu masih merupakan soal kedua, tapi Yo Cie Cong yang bakal menjadi orang kuat idam-idaman dalam rimba persilatan akan menjadi batal dan cacad karenanya. Waktu itu ia lantas kerahkan seluruh kekuatannya, siap untuk menghadapi segala kemungkinan, siapa saja yang lompat turun kebawah, ia akan bunuh mati dengan lantas.

Suasana pada saat itu, sesungguhnya sangat genting. Mendadak si Manusia jelek nomor satu itu menggeram. “Geledah ” Perintah ini disusul dengan gerakan sepasang tangannya, yang dengan kecepatan bagaikan kilat telah meneryang kepada Phoa ngo Hweshio. sedang Cin Bie Nio dan 6 pengiringnya juga pada saat itu sudah loncat lagi…. Phoa ngo Hweshio yang merupakan salah satu dari dua manusia aneh didalam rimba persilatan, sudah tentu bukan seorang sembarangan. Apalagi ia sudah siap sedia dengan seluruh kekuatannya untuk menghadapi segala kemungkinan, maka ketika si manusia paling jelek turun tangan melancarkan serangannya, seperti kilat cepatnya ia juga mengimbangi serangan tersebut dengan gerakan badannya yang luar

biasa gesitnya, hingga terhindar dari serangan lawannya yang dilakukan secara tiba2-itu, kemudian dengan sepasang lengan bajunya ia mengebut dari tengah udara.

Cin Bie Nio yang baru bergerak. segera merasakan suatu kekuatan hebat yang sangat aneh meluncur dari tengah udara menyerang padanya. Untung ia bisa berlaku cerdik dan sebat, dengan jalan jungkir balik ia kembali keatas batu cadas. Enam anak buahnya, dua diantaranya sudah terjungkal kebawah jurang tanpa bisa mengeluarkan suara, sedang yang 1 lagi bisa menyelamatkan diri dengan jalan bergulingan ditanah. Phoa ngo Hweshio setelah berhasil mencegah maksud orang2 itu dengan ilmunya “Liu-in Hut hiat”, lantas balik ketempat dimana tadi ia berdiri, dengan tidak mengunjukan perubahan sikap apa2. serangannya si “Manusia jelek nomor satu” yang kembali mengenakan tempat kosong, bukan kepalang gusarnya, sehingga rambutnya sampai pada berdiri. Ia merasa sangat penasaran, maka setelah perdengarkan suara geramnya yang bebas, lalu maju lagi, sepasang tangannya dengan sikap dan gerak yang berisik, telah melancarkan serangan pula dengan berbareng. serangannya sangat aneh sekali.

Phoa-ngo Hweshio tiba2 menyebut: “oMiToHud”, sepasang lengan bajunya lantas dikebutkan dengan berbareng, untuk menyambuti serangan yang amat aneh itu. Kali ini ia juga menggunakan serangan tipu silat “Liu in Hut hiat” yang tidak kalah anehnya dari serangan si manusia jelek. Tapi serangan kedua pihak itu sebetulnya tidak dilancarkan sepenuhnya, asal gerakan pihak lawan mengunjukan tanda bisa memecahkan serangannya, lantas akan ditarik kembali untuk merubah

gerakannya. Dengan demikian, nampaknya kedua belah fihak tidak bertempur secara sungguh2, hanya hendak mencoba kekuatan lawannya. Tapi pertempuran dalam kalangan orang kuat ini, memerlukan pemusatan tenaga, pikiran dan semangat, sedikit lengah saja, lantas bisa digulingkan oleh lawannya, maka sesungguhnya ada sangat berbahaya.

Phoa ngo Hweshio benar2 tidak menduga bahwa “Manusia jelek nomor satu” ini sesudah beberapa puluh tahun tidak bertemu, ternyata mendapat kemajuan begitu pesat kepandaian ilmu silatnya, dan hampir mengimbangi kekuatannya sendiri, maka ia juga tidak berani memandang ringan- Cin Bie Nio dan sisa pengiringnya, saat itu sudah dibikin kesima oleh tipu2 pukulan yang sangat aneh dari kedua orang itu, sehingga melupakan maksud kedatanganmu ke situ. “Manusia jelek nomor satu” itu sudah tidak berdaya memperingatkan Cin Bie Nio supaya lekas bertindak. oleh karena ia sendiri repot sedang bertempur melawan musuh yang amat tangguh, dan saat itu semua kekuatannya sudah dikerahkan kebatas puncak kemampuannya. Apabila ia bersuara, pasti akan diserbu oleh lawannya.

Dalam kerepotan mendadak timbul kecerdikannya. selagi melakukan gerak serangannya, kakinya telah menendang sebutir batu kecil, ditujukan kepada Cin Bie Nio yang sedang berdiri kesima dan batu itu telah mengenakan dengan tepat. Rasa sakit telah membuat Cin Bie Nio sadar. Dengan cepat ia lantas bergerak meloncat turun kebawah. Perbuatan itu lantas ditiru oleh sisa anak buahnya…

Phoa ngo Hweshio yang menyaksikan keadaan demikian, batinya merasa cemas, hingga lawannya mendapat kesempatan untuk mendesak.

Phoa ngo Hweshio agak ripuh, dengan beruntun ia robah gerak tipu serangannya sampai 8 kali, baru berhasil mengimbangi serangan lawannya. Memang tidak mudah bagi si “Manusia jelek nomor satu” untuk mengalahkan lawannya yang amat tangguh itu, tapi jika hanya hendak melihat saja masih bisa. Phoa ngo Hweshio sekalipun kepandaiannya sudah mencapai batas yang tidak ada taranya, tapi juga tidak mampu kendalikan perasaannya yang sudah cemas, sebab Cin Bie Nio dan anak buahnya sudah pada turun kebawah, entah bagaimana dengan nasibnya kedua bocah itu.

Hal itu justru mempengaruhi kekuatan dan kepandaiannya. Kalau tadi kekuatan kedua pihak masih kelihatan berimbang, tapi sekarang ia sudah mulai terdesak terus2an oleh ” manusia jelek nomor satu”. Dengan sendirinya ia sudah tidak berdaya untuk melepaskan dirinya. sekarang mari kita tengok kepada Cin Bie Nio dan anak buahnya yang berjumlah 5 orang, begitu tiba di bawah batu cadas, apa yang dia saksikan, telah membuat ia kegirangan.

Yo Cie Cong nampak masih duduk bersemedi seperti paderi. sedang Oet-tie Kheng masih menggeletak disisinya dalam keadaan linglung. Bukan kepalang girangnya Cin Bie Nio, sepasang matanya yang genit terus menatap wajahnya Yo Cie Cong. Makin lama memandang makin berkobar rasa cintanya terhadap anak muda itu. Ia sudah kepingin memeluk dan mondong dirinya anak muda itu, untuk melampiaskan hawa napsunya.

Hawa napsunya itu mendadak berkobar begitu hebat, sehingga ia sudah melupakan dirinya berada dimana.

Dilainphak. -“Manusia jelek nomor satu” sedang bertempur mati2an melawan phoa ngo Hweshio di atas batu cadas. Cin Bie Nio yang rupa2nya sudah tidak mampu kendalikan perasaannya, lantas perintahkan anak buahnya supaya membawa pergi dirinya Oet-tie Kheng. Ia sendiri lalu mendekati Yo Cie Cong mulutnya berkata: “Manisku, kali ini kau sudah tidak bisa terlepas lagi dan tanganku” Tiba2 wanita jahat dan cabul itu berpikir: “Tidak bisa bikin mabuk dia dulu dengan kebutan lengan bajuku yang mengandung racun dan dibawa ketempat sunyi? Kalau anak muda ini telah menikmati kesenangan, mungkin dia mau masuk menjadi anggota Pek leng-hwee Bukankah?” Berpikir demikian, maka ia lantas angkat tangannya. Tapi baru saja lengan bajunya hendak bekerja, mendadak pada saat itu Yo Cie Cong sudah berhasil menyelesaikan latihannya untuk mendapatkan ilmu-yang amat hebat itu. Ia telah membuka matanya secara mendadak.

Sinar matanya yang tajam terus menatap wajahnya Cin Bie Nio, hingga wanita genit itu dengan tanpa sadar sudah mundur satu tindak Yo Cie Cong setelah mengetahui siapa orangnya yang berada didepan matanya itu, yang bukan lain daripada itu wanita genit cabul yang ia paling benci, maka seketika itu lantas timbul napsunya untuk membunuh. Dengan cepat ia lompat bangun dan berkata dengan suara dingin kaku: “Cin Bie Nio saat kematianmu sudah tiba”

Baru saja habis mengucapkan perkataannya, tangan kanannya sudah menyerang secepat kilat serangan tangannya itu mengunjukan tanda kemujijatan kabut berwarna putih campur merah, telah meluncur keluar dari telapak tangannya dengan tanpa bersuara. serangan itu kelihatannya seperti sangat perlahan sekali, tapi sebetulnya cepat laksana kilat, sebentar saja sudah mengancam didepan matanya. Cin Bie Nio meski merupakan salah satu orang ternama dalam kalangan Kangouw, tapi seumur hidupnya belum pernah menyaksikan ilmu kepandaian serupa itu, sedang dengar sajapun tidak pernah .

Belum hilang rasa kagetnya, hawa serupa kabut merah tercampur putih itu sudah mendekat dirinya, dan baru saja menyentuh tubuhnya lantas ia merasakan seperti terdampar oleh gelombang yang sangat hebat.. suara jeritan ngeri tiba2 terdengar amat nyaring, darah segar menyembur keluar dari mulutnya wanita genit itu, dari badannya terpental sejauh 3 tumbak lebih, kemudian jatuh ditanah tanpa bisa berkutik. Yo Cie Cong sendiri juga dikejutkan oleh ilmu serangannya yang amat dahsyat dan aneh itu, hingga untuk seketika lamanya ia menjadi kesima. sebelumnya serangan tadi ia cuma menggunakan kekuatan 6 bagian saja, tidak nyana mempunyai kekuatan begitu hebat

Sekarang ia baru percaya ucapannya si hweshio gila yang ternyata tidak bohong. selagi ia hendak menghampiri dirinya Cin Bie Nio untuk bikin tamat nwayatnya, mendadak ia merasakan keadaan telah berubah, tubuhnya Oet-tie Kheng yang tadi menggeletak disisi dirinya, kini ternyata sudah lenyap.

Bukan kepalang kagetnya Yo Cie Cong, ketika ia dong akan kepalanya, lantas dapat lihat berkelebatnya beberapa bayangan orang yang berada sejauh kira2 10 tombak lebih.

Dengan tidak memperdulikan dirinya Cin Bie Nio lagi yang sudah mampus atau masih hidup. dengan cepat ia lantas bergerak menyusul kearah bayangan orang tersebut. Sementara itu, si “Manusia jelek nomor satu^ yang sedang bertempur mati2an dengan Phoa ngo Hweshio diatas batu cadas, saat itu juga dikejutkan oleh suara jertan ngeri dari Cin Bie Nio, hingga lantas berhenti bertempur. Kedua-duanya lantas loncat turun ke bawah Phoa ngo Hweshio mengira suara jeritan itu adalah suara Oet-tie Kheng, kalau benar demikian halnya, niscaya Yo Cie Cong tentunya juga telah binasa, maka saat itu bancur luluhlah perasaan hatinya si hweshio gila itu. Tapi ketika ia sudah tiba dibawah, ia jadi berdiri melongo

Yo Cie Cong dan Oet-tie Kheng telah lenyap dua2nya, dan ditempat kira-2 10 tombak jauhnya, ada menggeletak tubuhnya CinBio nio yang sudah seperti mayat, sedang 4 anak buahnya juga sudah tidak kelihatan bayangannya. semua pemandangan ini sudah membikin bingung hwesbio aneh itu, ia tidak tahu apa yang telah terjadi. si “Manusia jelek nomor satu” yang baru tiba agak belakangan, dapat lihat dirinya Cin Bie Nio yang menggeletak dalam keadaan seperti mayat. Ia segera menghampiri dan ketika memeriksa lobang pernapasannya, ternyata napasnya sangat lemah. Dengan perasaan sangat sedih, ia lantas pondong dirinya Cin Bie nio. seorang jelek yang tinggi badannya cuma 7 kaki, ialah memondong

tubuhnya wanita cantik yang bentuk badannya lebih tinggi 2 kali daripadanya, sesungguhnya sangat lucu kelihatannya.

Kiranya si “Manusia jelek nomor satu” ini, selain bentuk wajahnya jelek. tapi ia ada mempunyai kepandaian luar biasa, Cin Bie Nio yang membutuhkan orang kuat seperti ia itu, maka ia tidak sayang menyerahkan dirinya kepadanya, meskipun sebenarnya ada sangat ganjil. Dan untuk menghadapi Golok Maut, Cin Bie Nio lantas angkat dirinya manusia jeiek yang sudah tidak beda seperti suaminya itu, menjadi pelindung hukum untuk perkumpulannya Pek leng hwe, tapi masih tetap dibawah perintahnya. Buat si manusia jelek nomor satu sendiri, yang sudah mendapat perhatian dan penghargaannya Cin Bie Nio yang cantik serta berpengaruh itu, sudah merupakan suatu keistimewaan, maka ia lantas terima baik semua permintaan Cin Bie Nio tanpa syarat.

Terhadap sepak terjangnya Cin Bie Nio yang gemar anak muda, ia juga tidak mau ambil pusing. Maka tidak heran sebegitu lama, kedua orang itu tidak pernah bertengkar. Dan kini “Manusia jelek nomor satu” itu setelah menyaksikan dirinya Cin Bie Nio berada ditepi jurang kematian, bagaimana ia tidak cemas dan sedih? Jikalau tidak lekas ditolong, barangkali jiwanya bisa melayang. Maka seketika ia lantas berkata kepada Phoa ngo Hweshio sambil kedip2kan matanya yang sipit: “Hweshio gila, ganjalan antara kita masih belum beres, lain waktu kita bikin perhitungan lagi.” sehabis berkata, ia lantas berlalu sambil pondong tubuhnya Cin Bie

Nio. Phoa ngo Hweshio yang hatinya masih memikirkan nasibnya Yo Cie Cong dan Oet-tie Kheng, mendengar perkataan si manusia jelek itu, ia juga tidak mau ambil pusing, hanya menjawab “Ng “, antapi musuh yang sangat tangguh itu berlalu. -0000000-

BAB 34 DENGAN perasaan bingung phoa ngo Hweshio mengawasi berlalunya si manusia jelek nomor satu bersama Cin Bie nio yang masih belum ketahuan mati atau hidupnya. sekalipun ia ada seorang yang sudah kenyang asam garamnya dunia Kang ouw, tapi menghadapi kejadian aneh didepan matanya saat itu, ia sendiri juga merasa bingung. Cin Bie Nio sebenarnya terluka ditangan siapa ?

Hilangnya Yo Cie Cong dan Oet-tie Kheng, apa celaka ditangan Cin Bie Nio dan orang-orangnya atau ada lain sebab lagi ? sebab mereka yang satu sedang bersemedi melatih ilmunya, sedang yang lain dalam keadaan linglung jika ada terjadi apa2 atas diri mereka, besar sekali tanggung jawabnya bagi dirinya. Dengan kedudukannya sendiri yang merupakan salah satu orang terkuat dalam rimba persilatan, ternyata tidak mampu melindungi jiwanya dua bocah, ini sudah merupakan satu noda yang tidak mudah dihapus begitu saja. Maka ia semakin memikir semakin gelisah.

Mendadak pada saat itu terdengar suara beberapa jeritan ngeri yang datangnya dari arah sejarak kira-2 ratusan tumbak. Phoa ngo Hweeshio hatinya bercekat, dengan tanpa ragu-2 lantas

melesat kearah datangnya suara jeritan tadi. setelah melalui satu bukit, suatu pemandangan yang mengerikan telah terbentang didepan matanya. Empat bangkai manusia telah menggeletak di tanah dalam keadaan hancur tidak keruan macamnya, keadaannya sangat menggenaskan.

Phoa ngo Hwesio setelah memeriksa keadaannya semua bangkai itu, agaknya seperti terbinasa didalam tangannya seorang kuat yang mempunyai kekuatan tenaga dalam luar biasa. Maka seketika itu ia lantas merasa heran, sebab orang yang turun tangan itu selain hebat sekali kekuatan tenaga dalamnya, juga nampaknya sangat ganas dan telengas.

Ketika ia periksa lebih jauh, bangkai itu terdiri dari seorang wanita dan tiga pria, semuanya berdandan pakaian ringkas dan mana bawa pedang. Hweshlo gila itu lantas sadar. Bukankah itu ada bangkainya 4 anak buahnya Cin Bie Nio? Heran, siapa gerangan yang turun tangan begitu kejam ? Yo Cie Cong dan Oet-tie Kheng masih tetap belum diketemukan. Hatinya semakin cemas, perasaannya semakin bingung. selagi dalam keadaan demikian, didalam rimba sebelah kanannya ia berdiri, tiba2 terdengar suara aneh.

Dengan cepat ia lompat masuk kedalam rimba tersebut. Dan apa yang disaksikan. Disitu ia telah dapatkan dirinya Yo Cie Cong yang nampaknya sedang kebingungan, tangannya dengan tidak berhentinya meng-garuk2 kepalanya yang tidak gatal. Diatas tanah, nampak dirinya Oet-tie Kheng yang bergulingan sambil merintih dan mengeluh. Begitu melihat hweshio itu segera mengetahui

bahwa obat racun “sia- kut sia huntan”-nya Cin Bie Nio sedang bekerja, maka ia lantas maju menghampiri dan mengebut dengan lengan bajunya.

Yo Cie Cong yang sedang kebingungan, mendadak melihat datangnya satu bayangan orang, yang dengan cepat melesat kearahnya Oet-tie Kheng. Dengan tanpa melihat dan berpikir, ia lantas membentak dengan suara keras: “Kau cari mampus ” Berbareng dengan mara bentakannya itu, tangan kanannya lantas diayun, dari situ lantas meluncur keluar kabut merah putih, dengan tanpa bersuara meneryang ke arah Phoa ngo Hweshio yang baru tiba. “Bocah, aku ” demikian si hweshio gila berseru, dengan cepat menghindarkan serangan Yo Cie Cong tadi… Yo Cie Cong ketika mendengar seruan itu dalann hatinya lantas berseru. ” Celaka ” Dengan cepat ia tarik kembali serangannya, namun demikian, kabut merah putih masih ada sebagian yang tidak keburu ditarik kembali, saat itu lantas meluncur terus dan menyambar daunpohon dalam rimba itu, hingga beberapa batang pohon besar pada dibikin tumbang.

Phoa ngo Hweshio yang semula hendak kebutkan lengan bajunya untuk menotok jalan darah Oet-tie Kheng yang bergulingan di tanah supaya mengurangi penderitannya, tidak nyana hampir saja ia mati konyol. Untung ia ada mempunyai kepandaian sangat tinggi yang sudah tidak ada taranya, Jikalau bukan dia, mungkin tidak mampu menghindarkan serangannya Yo Cie Cong yang sangat hebat itu. sesudah hilang rasa kagetnya, Phoa ngo Hwesbio lantas berkata: “Bagus, bocah Jiwaku yang sudah tua bangkotan ini masih perlu menantikan kedatangan sang Buddha.”

“Locianpwee maafkan boanpwee yang kelerlepasan tangan ” “sudahlah bocah, apakah Cin Bie Nio dan 4 anak buahnya semua terluka dibawah tanganmu ?” “Adakah ilmu mu ” Liang kek Cin goan” sudah berhasil dengan sempurna ?”

“Terima kasih atas bantuan locianpwee.” “Hihi, bocah, aku si hweeshio gia cuma menyampaikan apa yang aku dapat baca dari buku orang lain saja, bantuan apa sampai aku perlu mendapat terima kasihmu. Jikalau bukan karena kemujijatan yang ada pada dri mu. sekalipun kau mengerti pelajarannya, apa gunanya ? Bukankah percuma saja ?” “Eh locianpwee, bagaimana dengan Cin Bie Nio? sudah mampus atau masih hidup?” “sudah dibawa pergi oleh si “Manusia jelek nomor satu” didalam dunia, barangkali masih belum tiba saatnya untuk binasa.”

Bercekatlah hatinya Yo Cie Cong ketika mendengar disebutnya nama julukan “Manusia jelek nomor satu didalam dunia ini, maka dengan cepat ia lantas menanya: “Locianpwee, siapa yang locianpwee sebutkan sebagai manusia jelek nomor satu didalam dunia itu ?” “Kenapa ? Apa kau kenal padanya ?” “oh tidak. boanpwee tidak kenal dia cuma…” Yo Cie Cong tahu bahwa ia telah keterlepasan omong, tapi sesaat itu ia sudah bisa lantas perbaiki lagi, maka ketika ditanya oleh si hweshio gila, ia lantas kelabakan tidak mampu menjawab. sedang dalam hatinya tergoncang keras, hampir tidak mampu kendalikan perasaannya . “Cuma apa ?” tanya Phoa ngo Hweshio.

“Boanpwe pernah dengar bahwa iblis itu bentuknya jelek sekali ” “Ng manusia jelek nomor satu didalam dunia Ang put Tan, jelek si memang jelek. tapi kejahatannya masih tidak seberapa. orangnya termasuk golongan di tengah2 antara kejahatan dan kebaikan, cuma selama ini bagaimana sepak terjangnya ? Aku sendiri masih belum jelas ” “Bagaimana iblis itu bisa bersama dengan Cin Bie Nio?” “Manusia jelek nomor satu itu sudah di angkat sebagai pelindung hukum dalam Pek leng hwee oleh Cin Bie Nio ” “ow, ada kejadian demikian-”

Phoa ngo Hweshio lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi diatas bukit itu, Yo Cie Cong yang mendengarkan sampai rambutnya pada berdiri Perasaan dendam yang sangat hebat timbul dalam batinnya Yo Cie Cong. sebab dalam rentetan nama2 musuhnya Kam lopang dalam buku daftar, diantara 5 orang yang termasuk golongan paling kuat, kecuali si iblis rambut merah dan Giok bin Giam po Phoa Cit Kow yang belum unjukkan diri, siluman tengkorak Lui Bok Thong, Im yang Lo-koay dan si manusia jelek nomor satu dalam dunia, satu persatu sudah muncul dikalangan Kang ouw.

Sedang ia sendiri kini sudah berhasil mempunyai ilmu Liang kek Cin-goan yang sangat ampuh, sehabis membereskan musuhnya yang namanya terdapat didalam lembar kedua, sudah tentu akan melayani mereka dengan sepenuh tenaga. Phoa ngo Hweshio tidak perhatikan sikapnya Yo Cie Cong, sembari menuturkan kejadian yang barusan telah terjadi, ia sudah menotok

jalan darah su hiat dibadannya Oet-tie Kheng dengan ilmu Liu-in hut-hiat.

Oet-tie Kheng- meski sudah ditotok jalan darahnya dan segera hentikan perbuatannya yang bergulingan di tanah, tapi diwajahnya masih mengunyukan perasaan menderita yang sangat hebat. “Bocah, urusan tidak boleh terlambat, sekarang kau harus segera mulai keluarkan racun dari dalam badannya ” “Baiklah ” “sekarang kaupondong dirinya dan rebahkan dalam keadaan terlentang didalam lobang gua dibawah pohon besar itu ” Yo Cie Cong berbuat menurut apa yang diperintahkan oleh Phoa- ngo Hweshio, Lobang goa itu ternyata cukup, luas untuk dua-orang. “Sedang hoa ngo Hweshio sendiri lantas senderkan diri dibawah pohon besar diluar goa. “Bocah, setiap aku sebutkan, kau harus lakukan seperti apa yang aku sebut.” “sekarang kau buka bajunya ” Yo Cie Cong nampaknya merasa keberatan. “Lo… locianpwe,.hal ini…” ia berkata dengan suara gemetar. “Tidak usah itu itu, lekas buka ”

Yo Cie Cong terpaksa melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Phoa-ngo Hweshio. setelah pakaian si nona dibuka, tangannya mulai gemetar begitu pula hatinya juga berdebar keras. Yo Cie Cong kini merasakan gawatnya persoalan. ia sungguh tidak menyangka ada cara yang demikian untuk menyembuhkan penyakit. Kalau tidak mengingat budinya si orang tua yang menjadi engkongnya si nona ini, ia lebih suka menempuh bahaya untuk dapatkan obat

pemunah nya. “Lekas bocah ” demikian panggilnya si hweshio gila dari luar. sambil menutup matanya, Yo Cie Cong mulai kerjakan tangannya untuk mengurut seluruh jalan darah penting dibadannya Oet-tie Kheng.

Perbuatan demikian memerlukan keteguhan batin yang sangat kuat, sebab kalau tidak. akibatnya runyam. “Bocah buka totokan jalan darah Sui-hiat nya.” terdengar pula suaranya si hweshio gila. “Baik” Yo Cie Cong yang baru pertama kali me-raba2 tubuh wanita, hatinya berdebar keras, hampir saja ia tidak mampu kendalikan dirinya. Untung saat itu Oet-tie Kheng masih dalam keadaan tidak ingat orang, kalau tidak… bagaimana anggapannya ? Kembali terdengar suaranya Phoa- ngo Hweshio. “Awas kau harus tempelkan badanmu didadanya, bawa kekuatanku kau masukkan melalui mulutmu kemulutnya, tangan kananmu harus menempel rapat dijalan darah Ben bun-hiat…”

Yo Cie Cong agak sangsi sejenak, tapi akhirnya ia lakukan juga seperti apa yang di katakan oleh si hweshio gila. Suatu perasaan yang belum pernah ada, membuat dirinya Yo Cie Cong seperti dibakar. semangatnya dirasakan terbang melayang jauh entah kemana. Ia kepingin lari keluar dari dalam goa itu, tapi sudah tidak mempunyai kekuatan dan keberanian. Pada saat itu, kembali terdengar suaranya Phoa ngo Hieshio: “Bocah, singkirkan dulu pikiran yang bukan-2, pusatkan semua

perhatian dan kekuatan serta perasaan, mulai gunakan ” Liang kek Cin goan mu.” suara hweshio gila itu telah menggugah perasaannya, ia mencoba melakukan seperti apa yang dikatakan oleh hweshio itu, tapi sukar menenteramkan pikirannya yang kalut, hingga hampir saja gila “Bocah, kau tidak boleh menyesatkan diri orang lain dan dirimu sendiri” lagi2 terdengar uarania si hweshio gila, yang meski berada diluar goa, tapi agaknya mengetahui segela apa yang terjadi didalam goa.

Perkataan “Menyesatkan diri orang lain dan dirimu sendiri” dari si hweshio gila itu se-olah2 geledek menyambar kepala, Yo Cie Cong sadar seketika, hingga pikirannya yang bukan2 telah lenyap semua. Pikiran jernih timbul, kembali, mendadak didepannya terbayang parasnya seorang gadis baju merah. Itu adalah parasnya siang-koan Kiauw yang mati tertelan oleh ombak dilautan Lam hay. oleh karena cintanya yang begitu besar terhadap dirinya siang koan Kiauw telah menempuh segaia bahaya mengikuti perjalanannya Yo Cie Cong ke pulau Batu Hitam, tapi akhirnya mendapat kecelakaan dalam lautan lam-ha y, maka Kematiannya gadis itu, dianggapnya gara2 dia yang bawa. “Yah, aku tak boleh menyesatkan dirinya lain orang dan diriku sendiri Aku sudah menyesatkan dirinya seseorang..” demikian Yo Cie Cong berkata kepada dirinya sendiri

Oleh karena pikiran jernih sudah kembali, maka segala pikirannya lalu dipusatkan kepada usahanya untuk menyembuhkan lukanya nona Oet-tie Kheng.

sebentar sekujur badannya Yo Cie Cong lantas mengeluarkan hawa seperti kabut berwarna putih campur merah, yang makin lama nampak makin tebal dan kemudian telah meliputi tubuh Yo Cie Cong dan tubuh Oet-tie Kheng. Telapakan tangan kanannya juga sudah mulai mengeluarkan hawa “Liang-kek “Cin-goan”, dengan melalui jalan darah Beng-bun hiat, perlahan-lahan menyusup ke sekujur badan Oet-tie Kheng. Entah berapa lamanya berlalu, hawa “Liang kek Cin-goan” yang masuk dari mulut dan telapakan tangan, telah membuat ingatannya Oet-tie Kheng perlahan lahan mulai jernih, semua racun yang mengeram dalam badannya, juga sudah mulai buyar. Oet-tie Kheng yang sejak masih kanak2 sudah dilatih ilmu “Kan-goan cin cao” oleh engkongnya, maka dalam ilmu lwekang sedikit banyak sudah mempunyai dasar yang sempurna.

Dan kini, setelah racun yang mengeram dalam badannya sudah lenyap. Kan goa n cin cao, yang didesak oleh “Liang kek Cin- goan” segera menimbulkan reaksi yang nyata. Dua rupa kekuatan hawa lweekang dalam tubuhnya yang membaur menjadi satu dengan cepat menyusup keurat-urat dan otot2 sekujur badannya dan akhirnya menembus bagian terpenting apa yang dinamakan “seng-te Hian koan” atau bagian yang merupakan batas antara kematian dan kehidupan manusia.

Setelah terjadi gelora hebat, jalan darah Jin dan “Tek” tertoblos secara mendadak, hingga oettie Kheng kembali berada dalam keadaan pingsan. Yo Cie Cong dibikin kaget oleh getaran itu hingga sekujur badannya turut menggetar, dan mulutnya dengan tanpa sadar mengeluarkan

seruan tertahan- ia sendiri tidak mengira apa sebabnya bisa terjadi begitu. Phoa ngo Hweshio juga dikejutkan oleh suara seruan Yo Cie Cong, ia buru2 tongolkan kepalanya untuk melongok kedalam goa. Begitu melihat, ia lantas mengerti apa yang telah terjadi. Maka lantas berkata sambil angguk-anggukan kepala: “Ai, bencana dan rezeki nampaknya salalu berdampingan. Hal ini sesungguhnya diluar dugaanku si hwethio gila. Budak ini karena mendapat bencana akhirnya menemukan rezeki, bagian batas kematian dan kehidupannya telah tertoblos. Yah dasar takdir ” Setelah itu, ia lantas membentak dengan suara keras: “Bocah, sudah selesai” Yo Cie Cong menarik napas lega, selagi hendak berdiri Tepat pada saat itu Oet-tie Kheng telah mendusin dan membuka matanya

Ketika mengetahui bahwa baju atasnya telah terbuka, sedang Yo Cie Cong rupanya baru habis menindihkan dirinya, wajahnya lantas merah seketika. Ia yang sama sekali tidak mengetahui sebab musababnya telah menganggapnya Yo Cie Cong hendak berlaku tidak senonoh terhadap dirinya. Maka ia lantas mendorong dengan pelahan dan berkata dengan perasaan malu: “Engko Cong, ini.. ini mana boleh?” Yo Cie Cong yang mendengar perkataan si nona, hatinya merasa malu serta cemas. ia tahu bahwa Oet-tie Kheng telah salah sangka. Maka ia buru2 duduk, tangannya mengambil pakaian Oet-tie Kheng dan ditutupkan diatas dadanya, lalu berkata dengan suara ter-putus2. “Adik Kheng, bu….bukan-..” sebaliknya Oet-tie Kheng telah dibikin terkejut oleh perobahan sikap Yo Cie Cong ini, maka lantas berkata sambil buka lebar matanya.

“Engko Cong, kenapa ?” “Adik Kheng, bereskan pakaianmu dulu, sebentar kujelaskan lagi.”

Oet-tie Kheng yang sudan bermandikan keringat, sambil menahan rasa malunya lantas mengenakan pakaiannya kembali. Yo Cie Cong setelah menghela napas lalu berundak keluar goa. Tidak lama kemudian Oet-tie Kheng juga turut keluar. Begitu berada diluar, kembali ia merasa ter-heran2. sebab Phoa- ngo Hweshio sedang mengawasi dirinya sambil ketawa cengar-cengir. Ia merasa lebih bingung lagi sebentar menengok mengawasi si hweshio gila, sebentar lagi melirik kearah Yo Cie Cong. Ketika ia ingat apa yang telah terjadi di dalam goa tadi, pipinya lantas menjadi merah dan menanya pada Phoa ngo Hweshio dengan suara aleman : “Engkong Hweshio, kalian ini apa artinya…?” “Hm. bu… Budak. apa kau tidak senang?”

Perkataan yang bersifat menggoda ini, didalam telinganya Oet-tie Kheng dirasakan sangat menusuk, sebagai seorang gadis yang masih putih bersih, bagaimana mengerti godaan secara demikian, maka seketika itu wajahnya antas berubah pucat dia berkata dengan suara keras: “Kalian telah bersepakat menghina diriku?” sehabis berkata ia lantas mengayun tangannya hendak menampar muka si hweshio gila. Barusan ketika Yo Cie Cong menggunakan ilmunya untuk mendesak keluar racun dalam badannya, dengan tidak disengaja telah berhasil menoblos urat nadi bagian jin” dan “Tok”, maka serangannya itu sesungguhnya sudah hebat sekali.

Phoa-Hgo Hweshio cepat2 berkelit dan berkata pada nona Oet-tie sambil tetap masih tertawa. “Budak, kau berani bersikap kurang ajar terhadap aku? Aku nanti suruh engkong mu pukul pantatmu.” Oet-tie Kheng yang sudah gusar menjadi semakin gusar, apa lagi ketika serangannya mengenakan tempat kosong, maka ia lantas menyerang lagi semakin sengit.

Yo Cie Cong yang berdiri disamping merasa kuatir kalau nanti Oet-tie Kheng yang digoda keterlaluan menimbulkan kejadian yang tidak diingini, maka cepat ia mencegah: “Adik Kheng, tahan dulu.” Oet-tie Kheng menarik serangannya kembali, dengan suara geram ia menanya pada Yo Cie Cong: “Mau apa?” “Apakah adik Kheng sudah tidak ingat semua apa yang telah terjadi selama ini ?” “Kejadian apa sebetulnya ?” “Bukankah kau sudah ditawan oleh si iblis Cin Bie Nio…”

Oet-tie Kheng baru sadar maka dengan tidak menantikan Yo Cie Cong melanjutkan perkataannya, ia memotong. “oooo, ya, Tapi sekarang bagaimana ?” Phoa ngo Hweshio lalu menceritakan apa yang terjadi atas dirinya. Oet-tie Kheng sekarang baru mengerti duduknya perkara, maka ia cepat-2 maju beberapa tindak dan berkata: “Kheng jie minta maaf pada engkong Hweshio.” sehabis berkata ia sudah hendak berlutut.

Phoa ngo Hwesio ketawa bergelak sambil kebutkan lengan bajunya, sesuatu kekuatan tenaga yang tidak terlihat telah mencegah Oet-tie

Kheng menjalankan peradatan demikian. “Tidak usah, tidak usah. Asal lain kali kau tidak sembarangan turun tangan kepada orang sudah cukup,” si hweshio berkata masih bergurau. Oet-tie Kheng delikkan matanya lalu menjawab dengan suara aleman. “Siapa suruh kau menggoda orang ? Sebagai orang tua masih suka berbuat seperti anak2 saja.” “Ha, ha… Bagus sekali ucapanmu. Tetapi budak. kau harus mengucapkan terima kasih, kepada engkong mu si hweshio gila ini yang sudah mengatur dirimu.” “Eeeh, Mengatur? Mengatur apa ?” “Apa kau benar2 tidak mengerti ? – Kau telah kabur dari pulau batu hitam sehingga membuat engkongmu yang tolol dan linglung itu mencari2 dirimu, sampai hampir2 patah kakinya. Apa sebabnya yang membuat kau berbuat demikian ?”

Oet-tie Kheng memang orangnya cerdas, maka saat itu ia sudah mengerti apa maksud perkataan mengatur yang diucapkan oleh si hweshio gila ini, maka seketika itu juga ia menundukkan kepala kemaluan, sedangkan matanya melirik kearah Yo Cie Cong yang sedang berdiri disamping. SEBALIKNYA, bagi Yo Cie Cong saat itu hatinya merasa tidak keruan, sebab hatinya sendiri seperti sudah mengikuti Siang-koan Kiauw, maka pada saat itu sesungguhnya ia tidak tahu bagaimana harus membereskan persoalan ini di kemudian hari. Sejenak ia berdiri dalam keadaan bingung, tetapi kemudian lantas berpikir: “Masih banyak urusan lagi yang harus kubereskan, sebaiknya aku harus lekas meninggalkan tempat ini.”

Tetapi, biar bagaimana ia merasa tidak enak terhadap Oet-tie Kheng. Meskipun perbuatannya itu dilakukan semata-mata karena hendak menyembuhkan penyakitnya saja, tapi merupakan suatu tindakan yang luar biasa, karena dua badan sudah bersentuhan begitu rupa, untuk dirinya Oet-tie Kheng sebagai seorang gadis yang masih suci murni, sudah tentu merupakan satu hal yang kurang pantas. Tampaknya soal ini akan membawa buntut panjang. Oleh karena pikirannya itu, maka ia lantas berkata kepada Pho ngo Hweshio: “Locianpwee, boanpwe masih mempunyai beberapa soal penting yang harus dibereskan, maka boanpwee ingin…” “Apa ? Bocah, apa kau tidak bersedia menemui Lam Tie si tua bangka ?”

Sementara itu, Oet-tie Kheng yang mendengar perkataan Yo Cie Cong, hatinya merasa berduka, maka ia lalu bertanya: “Engko Cong, kau hendak pergi kemana?” “Adik Kheng, urusanku masih banyak yang belum diselesaikan. Kemana aku pergi belum dapat diketahui.” “Bolehkah aku pergi ber-sama2 dengan mu?” tanya si nona. Yo Cie Cong merasa serba salah, lama ia tidak bisa menjawab. Oet-tie Kheng yang menyaksikan keadaan demikian lalu menghela napas dan berkata dengan suara murung: “Pergilah ” “Adik Kheng, setelah urusanku selesai, aku akan mencari kau lagi. Masih ada perkataan penting yang hendak kujelaskan padamu.” “Hm.”

Phoa ngo Hweshio lalu berkata sambil mengamati Oet-tie Kheng. “Budak. ada aku si hweshio, dia tidak akan bisa terbang kemana,

sebaiknya kau ikut aku dan menemui engkongmu jangan sampai engkong mu menjadi kebingungan tidak keruan. Mengertikah kau?” Kemudian ia berkata kepada Yo Cie Cong: “Bocah apakah kau masih ingat urusan yang dibicarakan oleh Lam tie si tua bangka kepadamu?..” Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, lalu menjawab: “Apakah mengenai soal yang jiwie lo-cianpwee suruh boanpwee mewakili lo-cianpwe berdua menepati janji melakukan pertandingan dengan muridnya manusia gaib itu?” “Benar” “Hal ini tentu boanpwee tidak akan lupakan” “Bagus Kau tunggu kabarnya saja. Kalau sudah sampai waktunya, nanti kuberitahukan lagi padamu.”

Yo Cie Cong yang pikirannya sedang kalut, agaknya sudah tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Sebetulnya ia cinta pada Oet-tie Kheng, tetapi rasanya tidak dapat mewujudkan cintanya itu. Namun, kenyataan yang telah terjadi membuat ia tidak berdaya untuk mengatur dirinya sendiri, maka akhirnya ia telah mengambil keputusan untuk menyerahkan peruntungannya kepada sang nasib. Ia sangat kasihan pada Oet-tie Kheng, ia berkata: “Adik Kheng, harap kau jaga dirimu baik2 sampai kita bertemu lagi.” Kemudian ia berkata kepada Phoa-ngo Hweeshio sambil memberi hormat se-dalam2nya: “Locianpwee, boanpwee ingin minta diri dulu.” sehabis berkata dengan tidak menantikan jawaban orangtua itu ia sudah lantas berlalu. sambil menahan mengalirnya airmata Oet-tie Kheng mengawasi berlalunya sang “Kekasih” itu sampai lenyap dari depan matanya. sebenarnya ia masih mempunyai banyak perkataan yang hendak

dikatakan, tetapi oleh karena terhalang dengan adanya Phoa ngo Hweshio disitu, ia tidak berkesempatan menyampaikan isi hatinya. Dan sekarang sang ” kekasih” itu sudah pergi meninggalkannya. Ia seperti merasa sangat penasaran, rasa pedih dan duka telah mempengaruhi pikirannya, maka dengan tidak sadarkan diri ia lantas menangis sesenggukan seperti anak kecil. “Budak.tak usah menangis, kita juga harus pergi sekarang, jangan sampai engkong mu menunggu terlalu lama.” kata Phoa-ngo hweshio.

Ia lalu menarik tangannya Oet-tie Kheng dan berlalu menuju kota Tiang-soa. Yo Cie Cong setelah meninggalkan phoa ngo Hweshio dan Oet-tie Kheng, semangatnya mendadak bangun kembali. saat itu dalam hatinya sudah merencanakan tindakan apa ya akan dilakukan selanjutnya, maka dengan tidak ragu2, pula ia terus lari menuju kekota Pho kheng. -0000000-

BUKIT CIANG TIANG NIA Letaknya disebelah Utara Pho- kheng. Lembah Cu ngo- kok adalah pusatnya perkumpulan cie inpang. Lembah itu dikitari oleh rimba yang lebat dan bukit-bukit yang menjulang tinggi. Hari itu, masih pagi sekali. seorang pemuda yang wajahnya hitam dan jelek. dengan gerak badannya yang lincah dan gesit seolah-olah melesatnya bintang sapu dari langit lari menuju kepusatnya perkumpulan Cie in pang. siapa adanya pemuda hitam ini ? Tidak lain dan tidak bukan, pemuda ini adalah Yo Cie Cong sendiri yang sedang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut

Sejak jelmaannya pemilik Golok Maut, yaitu orang tua berambut putih dan bertangan satu binasa ditangannya Liat yang Lo koay di Ciet lie peng, disebelah Timur luar kota Tiang soa, Yo Cie Cong dengan kepandaiannya mengubah rupa yang luar biasa sudah dapat merubah dirinya menjadi seorang pemuda yang sangat jelek untuk menamakan diri didunia Kang ouw. Dengan wajahnya yang baru ini, ia hendak melanjutkan tindakannya untuk menagih hutang jiwa untuk gurunya.

Kala itu, dikalangan Kang ouw pada umumnya orang telah beranggapan bahwa pemilik Golok Maut yang mewakili segala keseraman dan kebuasan itu benar2 sudah binasa ditangannya Liat yang Lokoay, sebab kejadian tersebut sudah disaksikan sendiri oleh orang2 kuat dari pelbagai golongan yang jumlah keseluruhannya hampir seratus orang. Namun, tidak ada seorangpun yang mengetahui kalau Yo Cie Cong yang sikapnya kecut dingin adalah orangnya yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut, juga tidak ada seorangpun yang mengetahui kalau Yo Cie Cong sudah hidup kembali dari pelukannya malaekat elmaut.

Marilah kita balik kembali pada Yo Cie Cong yang saat itu sudah menuju keatas bukit tempat adanya pusat perkumpulan cie- inpang. Tidak antara lama ia sudah sampai disuatu tempat yang terapit oleh dua buah bukit yang menjulang tinggi. Ia tahu bahwa tempat itu sudah mendekati pusatnya perkumpulan Cie-in pang. Maka, ia lalu mengendorkan tindakan kakinya, dengan tidak ragu2 pula ia terus berjalan masuk ke dalam lembah itu. Pada saat itu, didalam hatinya hanya ada perasaan benci dan permusuhan, ia sendiri pernah berkata, bahwa terhadap dua Pang dan satu Hwee ia akan menuntut batas secara berlipat ganda. sebab

peristiwa yang terjadi ditepinya danau Naga membuat ia merasa bertambah bencinya pada ketiga perkumpulan tersebut.

Diantara ke dua pang dan satu hwee tersebut, Pang-cu dari Ban-sus pang Thio Pan sudah dibinasakan olehnya. Yang tinggal sekarang hanya Cie in pang dan Pek leng hwee Tetapi, ketua Pek leng hwee yang lama sudah tidak ada didalam dunia dan ketua yang sekarang ini, yaitu Cin Bie Nio, permusuhannya sendiri yang tersebut belakangan ini lain lagi sifatnya, maka pangcu Cie in pang lah yang termasuk sebagai musuhnya Kam lo pang yang sebenarnya.

Pada saat itu, dari dalam lembab tiba2 muncul beberapa bayangan orang. sambil berbaris mereka semuanya melintang ditengah jalanan didalam lembah. sebagai pemimpin dalam barisan orang2 itu adalah seorang tua berhidung betet dan bermata lebar. Dibelakang orang ini berbaris delapan orang yang berbadan tegap semuanya. Orang tua hidung betet itu setelah berhenti didepannya Yo Cie Cong lalu berkata dengan suaranya yang menyeramkan: “Ssahabat datang ke perkumpulan kami Cie- inpang, ada urusan apa ?”

Yo Cie Cong yang lantas menghentikan tindakannya telah menjawab dengan suara dingini “Aku hendak menemui pemimpin kalian, Li Bun Hao.” Orang tua itu ketika mendengar pemuda jelek yang tidak terkenal ini telah menyebut nama pangcunya dengan tidak pakai bahasa, untuk sesaat lamanya ia dibikin bingung oleh asal usulnya pemuda ini, tetapi ia masih menanya lagi sambil menahan perasaan gusarnya: “sahabat hendak menjumpai padanya untuk memberi hormat atau ada lain

urusan?” “juga ya, tetapi bukan, terserah pada anggapanmu sendiri” Orang tua itu kembali melongo. “Apakah sahabat ada membawa kartu nama?” “Ha ha… Apakah masih memerlukan kartu nama segala ? Tidak ada ” “Dan mana sahabat yang mulia?” “Kalau sudah bertemu dengan Li Bun Hao sendiri, aku nanti bisa jelaskan pada kalian.” “Oleh karena sahabat tidak mau menjelaskan maksud kedatanganmu, maafkan kalau jalanan ini tidak dapat sahabat lalui”

Yo Cie Cong lalu menjawab dengan nada suara yang lebih kaku: “Apa kalian kira sudah cukup kuat semua orang2 ini melarang aku masuk kedalam lembah?” orang tua itu ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong lantas mengetahui kalau anak muda ini memang sengaja mencari setori, maka ia lalu berkata sambil ketawa mengejek. “Bocah jelek Disini bukan tempatmu jual lagak. Hari ini kalau kau tidak mau menjelaskan maksud kedatanganmu, jangan harap kau bisa pulang dalam keadaan utuh. Mengerti.” Delapan orang laki2 yang berbadan tegap semuanya yang berada dibelakangnya orang tua itu, semuanya telah memperlihatkan kegusarannya. Dengan tidak menunggu perintah lagi mereka pada menghunus pedang panjang masing2, tampaknya, jika orang tua itu mengeluarkan perintahnya mereka akan segera menyerbu dengan serentak. Dengan sikap yang memandang rendah pada orang itu, Yo Cie Cong berkata pula: “Hanya dengan mengandal kekuatan beberapa orang saja ini kalian hendak merintangi aku? Kalian benar2 tidak mengukur diri sendiri”

Delapan orang laki2 tegap itu pada saat mana kelihatannya seperti sudah tidak berdaya sama sekali, mereka hanya bisa berdiri dalam keadaan menggigil.

Dengan suaranya yang dingin Kaku Yo Ci Cong mengucapkan perkataannya sepatah, sepatah. “Diantara kalian delapan orang hanya seorang yang boleh hidup untuk menyampaikan kabar”. Delapan anak buahnya Cie in pang lantas menjadi pucat mukanya seketika, sebab perkataan pemuda jelek ini tidak ubahnya seperti putusan dari Giam-lo ong. sekalipun ingin kabur juga rasanya tidak bisa lagi, sebab dalam segebrakan saja pemuda itu sudah dapat membinasakan salah satu orang kuat, dalam perkumpulannya. “Kalian ingin bereskan sendiri atau menunggu aku yang turun tangan ?” salah satu diantara kedelapan orang itu coba berkata: “Tuan memasuki pusat perkumpulan kami apa sengaja mencari setori ataukah…” “Hal ini kau tidak perlu banyak rewel.” “Perbuatan tuan sebetulnya terlalu kejam.” “Hal ini dikemudian hari pangcumu nanti yang akan menjawab kalian di akherat.”

Delapan orang itu sudah mengetahui kalau mereka semuanya tidak akan lolos dari kematian, maka seketika itu lantas timbul pikiran nekadnya. setefah satu diantaranya bergerak, yang lainnyapun turut pula bergerak. Delapan bilah pedang panjang lantas menyerang berbareng kearah badannya Yo Cie Cong. Sambil ketawa dingin Yo Cie Cong menggerakkan sebelah tangannya,

dari mana dengan cepat meluncur desingan angin kuat dibarengi dengan keluarnya kabut merah putih. Suatu kekuatan gaib mengurung seluruh tubuh delapan orang itu, juga sampai ketempat sejauh lima kaki persegi disekitar mereka.. Terjadilah suatu keajaiban.

Delapan bilah pedang panjang yang dipakai oleh delapan orang tadi untuk melancarkan serangannya, ketika menyentuh kabut merah bercampur putih ini dengan mendadak oleh pemiliknya masing2 dirasakan seperti membentur sebuah dinding teguh kekar sehingga senjata2 itu terpental balik dengan sendirinya. suara kefuhan, rintihan dan jeritan tercampur dalam suara benturan pedang2, kesemuanya senjata itu terlepas dari tangan pemiliknya, dengan tangan berlumuran darah tampak badannya mundur sempoyongan.

Yo Cie Cong cepat menggerakkan badannya dan sekejapan saja sudah berada didekatnya orang tersebut. suara jeritan yang mengerikan terdengar saling susul berkumandang dimulut lembah yang sunyi. Dari delapan orang anak buahnya Cie inpang tujuh orang diantarnnya sudah rubuh menggeletak sebagaimana tinggal lagi- seorang yang masih hidup, berdiri bagaikan patung saja layaknya, agaknya baru habis dibikin kesima oleh kepandaian Yo Cie Cong yang sangat luar biasa. ^ “Dengar.. Kau telah kubiarkan hidup sebagai saksi. sampaikan semua kejadian disini pada Li Bun Hao ketuamu. Katakan padanya, orang yang hendak menagih hutang sudah datang dan suruh dia singkirkan semua rintangan sepanjang perjalananku kesana nanti.” demikian kata Yo Cie Cong. Orang yang beruntung masih dibiarkan hidup sendiri ini. bagaikan

mendapat pengampunan besar dari hakim, dengan tidak menoleh lagi segera lari terbirit2 hendak menyampaikan semua kejadian yang dialami oleh kawan2nya dan pemimpinnya kepada Pangcu-nya.

Yo Cie Cong menantikan sampai orang itu berlalu jauh benar baru melanjutkan perjalanannya lagi dengan perlahan-lahan menuju kedalam lembah. Lembah itu keadaannya sangat strategis. Di kedua sisinya terlihat gunung2 menjulang tinggi dengan jurangnya yang curam, tebing di tempat tersebut tidak lagi diperlukan tenaga penjagaan. Oleh karena Yo Cie Cong mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, ia tidak usah takut melihat keadaan disekitar tempat itu yang boleh dikatakan menguntungkan sekali kalau dipakai musuh untuk mengurungnya. Pada saat itu dalam hatinya hanya ada satu pikiran dan satu tujuan yaitu: Menagih hutang jiwa. Dilain pihak. dalam pusatnya Cie- inpang saat itu sedang diliputi suasana tegang.

Pangcu dari Cie- inpang Li Bun Hao, ketika menerima berita yang mengatakan bahwa ada seorang muda berwajah jelek hendak menemui dirinya sendiri yang sebelumnya sudah membunuhi orang2nya, dalam hati merasa heran. Ia tidak dapat menerka siapa gerangan pemuda yang dimaksud. Tetapi pemuda jelek itu telah mengaku bahwa kedatangannya disitu untuk menagih hutang jiwa. Hutang jiwa siapa yang harus ditagih? Sejak terbunuhnya pemilik Golok Maut oleh Liat-yang Lo-koay di ci-lie-peng, ia sudah beranggapan bahwa musuh2 besarnya yang paling ditakuti sudah lenyap, sehingga untuk selanjutnya dapatlah ia

melewatkan hari dengan aman tenteram. Tetapi sekarang, dengan mendadak sontak muncul seorang pemuda ang mengaku hendak menagih hutang jiwa.

Apa yang membuat Li Bun Hao lebih heran ialah, pemuda itu sampai dimulut lembah hanya dalam waktu seketika itu sudah berhasil membinasakan salah satu orang terkuatnya dengan orang2 bawahannya sampai tujuh orang. Menurut apa yang disampaikan oleh orang satu2-nya yang dibiarkan hidup untuk memberikan kabar, pemuda jelek itu katanya mempunyai kepandaian sangat tinggi yang sukar dijajaki ketinggiannya. kepandaiannnya itu se-olah2 merupakan suatu kegaiban dalam rimba persilatan. Suara lonceng sebagai tanda bahaya tidak lama kemudian berkumandang dengan amat nyaringnya ditengah udara sekitar lembah. Tanda bahaya ini dilembah daripusat Cie-in Pang. suara terus menggema disekitar lembah Im-cio kok. sehingga membuat semua anak buahnya Cie-in-pang pada terkejut dan segera lari menuju kepusat perkumpulannya.

Orang2 cie-in-pang yang berkepandaian tinggi yang termasuk dalam tiga bagian penting daLam perkumpulan tersebut, semuanya ber-lari2an menuju keposnya masing2. Dari pusat perkumpulan Cie in-pang sampai kemulut lembah jaraknya ada tiga lie, pada setiap lie-nya terdapat sebuah pos penjagaan. Ini berarti, antara mulut lembah dan pusat ada tiga pos penjagaan, bagi orang luar yang hendak memasuki lembah, harus melalui tiga pos itu dulu baru bisa sampai ke pusatnya. Disetiap pos itu ditempatkan seorang sebagai kepala yang dipanggil Tong cu dengan tiga orang pembantunya yang disebut Hiocu.

Disamping itu masih ada lagi seratus orang lebih sebagai anak buah pilihan.

Pada saat itu, Pangcu Li Bun Hao sedang berjalan mundar mandiri Alisnya terus dikerutkan, ia tengah memikirkan sangat siapa adanya anak muda jelek yang katanya hendak datang menagih jiwa itu ? Para Tongcu, Hiocu dan anak buah pilihan lainnya yang berkumpulan dalam pusat, dari wajahnya masing2 dapat dilihat tegas perasaan gusarnya. Mereka menantikan perintahnya pangcu. Mendadak seorang anak buahnya Cie-inpang lari mendatangi ke dalam pusat perkumpulan-nya dengan badan sempoyongan, yang begitu sampai segera berlutut dihadapan pangcunya. Dengau napas ter-senggal2 orang itu berkata: “Hunjok beritahu kepada Pangcu, pos pertama sudah bobol. Tongcu. Hiocu dan semua kawan yang menjaga disana sudah binasa ditangannya seorang pemuda jelek sekarang ini dia sedang menuju kepos penjagaan kedua.”

Li Bun Hio dengan badan gemetar karena gusarnya, segera memberi perintah pada anak buahnya yang baru datang ini: “Pergi cari keterangan lagi” orang itu segera mengundurkan diri setelah mengatakan, “Baik.” Suasana dalam pusat Cie-in pang kini tampak semakin tegang. Kejadian ini merupakan suatu kejadian luar biasa yang baru pertama kali ini dialami semenjak berdirinya Cie in pang sekian lamanya dalam keadaan aman tenteram. Agaknya orang muda itu bukan hanya memiliki kepandaian yang sangat tinggi saja, tetapi tentunya juga ada mengandung permusuhan yang sangat dalam dengan perkumpulan Cie in pang.

Dengan suara gusar Li Bun Hao segera mengeluarkan perintahnya lagi. “Tongcu bendera merah dengar perintah ” “Ya.” “Segera pimpin semua anak buah dibawah kekuasaanmu pergi kepos penjagaan kedua ” “Baik.” Tongcu dari bendera merah itu belum lagi berangkat, orang yang tadi diperintahkan mencari berita baru tiba, sudah muncul lagi dan menyampaikan beritanya: “Hunjuk beri tahu kepada Pangcu. Pemuda itu sudah melewati pos kedua. Hanya Tongcu seorang yang masih diberi jalan hidup dan mundur kepos ketiga, sekarang pemuda itu sudah akan segera sampai dipos ketiga. Mohon Pangcu keluarkan perintah.” “Kau mundur ” “Baik.” “Tongcu dari bendera merah dan bendera putih ” “Tecu sekalian ada disini.” “Segera berangkat kepos ketiga. Beri bantuan seperiunya. Aku akan segera menyusul.” “Baik.”

Keadaan Li Bun Hao sudah sangat repot sekali kelihatannya. Dengan alis dan kumis berdiri serta mata melotot kembali ia mengeluarkan perintahnya: “Tongcu bagian hukum dengar perintah ” “Tecu menantikan perintah . ” “Penjagaan didalam pusat ini kuserahkan pada kalian dengan tanggung jawab sepenuhnya.” “Baik.” “Yang lainnya ikut aku pergi kepos ketiga.”

“Baik,” “Baik.” “Baik.”

Dalam pusat cie inpeng saat itu diliputi oleh suasana ketegangan dan kesedihan. Cie in pang yang merupakan salah satu perkumpulan besar diantara sekian banyak perkumpulan besar lain dalam rimba persilatan kini telah dibikin kalang kabut hanya oleh seorang anak muda saja, ini benar2 merupakan suatu lelucon besar bagi dunia kang ouw.

Tetapi kenyataannya memang demikian hal-nya. seorang anak muda berwajah jelek yang belum dikenal dalam waktu sekejap saja sudah berhasil menghancurkan dua penjagaan penting. Banyak anak buahnya Cie-in-pang yang sudah terkenal kekuatannya terbinasa dalam tangannya. Anak buahnya yang berkepandaian biasa saja yang binasa sudah tidak terbilang lagi jumlahnya. Ini benar2 merupakan suatu bencana hebat bagi Cie-in pang. Pangcu Li Bun Hao dengan diiringi elite sejumlah pengawas kelas tingginya berjalan keluar dari dalam pusatnya..

Baru saja mereka sampai, dilapangan di luar pusat perkumpulan, mereka sudah dapat melihat sesosok bayangan orang tengah mendatangi sambii ber-lari2an dengan amat pesatnya. sekejapan saja bayangan orang itu sudah berada didepan mereka. Li Bun Hao dan para pengawalnya lantas merandek. Orang itu sesampainya didekat mereka, badannya sudah rubuh tersungkur. Beberapa anak buahnya Li Bun Hao dengan cepat maju

membimbing bangun orang yang jatuh itu, salah seorang diantaranya dengan suara nyaring berkata: “Hunjuk beri tahu kepada Pangcu. Tongcu pos ketiga Na Koancu telah terluka parah. Barangkali…”

Na Koan cu, orang yang rubuh tersungkur dalam keadaan terluka parah tadi, dengan mendadak melepaskan diri diri tangannya dua orang yang memapahnya dan dengan sempoyongan ia berusaha maju lagi dua langkah, lalu berkata dengan suara serak. “Pangcu, orang yang datang menyerbu itu adalah seorang anak muda muka jelek. Kepandaian ilmu silatnya sangat luar biasa, tidak ada seorangpun juga yang mampu menandingi, Teecu sudah berusaha mengeluarkan seluruh kepandaian Teecu yang ada, tetapi tetap tidak berhasil menghadapi majunya pemuda itu…”

Li Bun Hao yang mendapat keterangan demikian, dadanya dirasakan seperti mau meledak. Dengan perasaan gusar yang takterhingga ia mengawasi anak buahnya, matanya lalu di alihkan ke arah muka, sebab ia tahu benar bahwa musuh yang kuat itu akan segera muncul didepan matanya. Benar saja, tidak lama kemudian sososok bayangan manusia perlahan berjalan mendatangi dari depannya. Saat itu anak buahnya Li Bun Hao semuanya berseru ramai. Sambil mengulapkan tangannya Li Bun Hao mencegah anak buahnya ribut2. Bayangan orang itu datang semakin lama semakin dekat, suasanapun semakin menegang.

Akhirnya orang itu berhenti kira2 sejauh tiga tumbak dari tempat berdirinya Li Bun Hao. Tetamu aneh yang dalam waktu sekejapan saja sudah dapat membobolkan tiga pos penjagaan yang penting dari cie lie-pang yang terkenal kuat ini, dilihat sepintas lalu, hanya seperti seorang anak muda jelek saja, sedikitpun tidak terlihat apa2nya yang luar biasa.

Para pengawal Li Bun Hao setelah melihat orangnya sendiri, kini sudah tidak seberapa takut dan kaget lagi, kembali memperdengarkan suara ribut2, semuanya mengawasi pemuda. wajah jelek itu tanpa berkedip. Dengan sorot mata beringas Li Bun Hao per-lahan2 berjalan menghampiri pemuda itu. lalu berkata dengan suara gusar: “Dengan maksud apa saudara membikin ribut2 disini?” Yo Cie Cong dengan suaranya yang ketus dingin menjawab: “Menagih hutang jiwa.” Li Bun Hao terperanjat.

Semua pengawal2pun memperlihatkan wajah keheranan. “Hutang jiwa siapa yang hendak sahabat tagih dari kami ?” “Hutang jiwa orang2nya Kam lo-pang ” Wajah Li Bun Hao berubah mendadak. Dengan tidak sadarkan diri kakinya mundur setindak. lalu berkata pula: “Kau… Kau…. Kau… Adakah kau…?” “Pemilik Golok Maut ” “Apa ?” “Pemilik Golok Maut ” Orang2 yang ada disitu semuanya merasa ketakutan, tetapi juga ada yang agak bersangsi.

Pemuda wajah jelek ini telah mengaku dirinya sendiri sebagai pemilik Golok Maut. Tetapi pemilik Golok maut adalah seorang orang tua rambut putih berlengan satu dan sudah binasa dalam tangan Liat- yang Lokoay belum lama berselang. Kematiannya pemilik Golok Maut sudah disaksikan oleh hampir semua orang2 gagah dari dunia Kang-ouw. Perkataan pemuda jelek ini sebagai “Pemilik Golok Maut”, benar benar merupakan teka teki yang sukar dijawab.

Tetapi dari kepandaian dan kekuatan ilmu silatnya yang hanya dalam waktu sekejapan mata saja sudah berhasil membobolkan tiga pos penjagaan penting yang kuat, dapatlah diukur bagaimana tingginya kekuatan pemuda ini yang rasanya tidak ada dibawahnya kepandaian pemilik Golok Maut. Li Bun Hao setelah menenangkan pikirannya lalu berkata sambil ketawa dingin: “Bocah, Ucapanmu apa tidak nganglong?” “Bagaimana kau tahu?” “Pemilik Golok Maut sudah binasa di Cie lie-peng. Kejadiannya sudah disaksikan oieh banyak orang2 gagah,”

Yo Cie Cong yang diingatkan pada kejadian itu, terlihat kepalanya didongakkan mengawasi angkasa luar, kemudian dengan secara tiba-tiba ia ketawa bergelak-gelak, agaknya hendak melampiaskan rasa penasarannya. setelah merasa puas ketawa ia lantas berkata dengan suara gemas: “Li Bun Hao, aku adalah keturunannya pemilik Golok Maut yang sudah binasa itu. sekarang aku hendak melanjutkan usahanya menuntut balas, menagih jiwa pada orang2 yang berhutang satu demi satu. siapa

saja yang dulu turut ambil bagian dalam pembasmian Kam lo pang, tidak ada seorang juga yang boleh lolos dari ancaman Golok Maut ”

Suaranya yang terakhir ditandaskan sehingga membuat Li Bun Hao terkejut sekali, kembali kakinya digeser setindak lagi kebelakang. “sahabat mau bertindak bagaimana ?” Ia ketawa meringis. “seperti biasa, ditambah dengan bunganya ” saat itu, seorang orang tua berewokan lebat mendadak maju dan berkata pada Li Bun Hao: “Harap Pungcu suka mundur dulu.” Setelah berkata demikian, selanjutnya ia berkata pada Yo Cie Cong: “Bocah,jiwanya seratus orang2 perkumpulan kami yang kau bunuh bunuh Harus kau ganti sekarang juga ” “Siang-siang sudah kusampaikan kabar yang minta kanan menyingkarkan semua rintangan sepanjang perjalananku kemari. Kalian tidak menurut, itu berarti mencari kematian sendiri siapa yang harus kau salah kan ?” “Ha, ha… Bocah kau terlalu jumawa” “Sahabat menjabat kedudukan apa disini.” “Pelindung hukum Cie in pang ” “Sebaiknya kau mundur saja.” Orang tua berewokan itu setelah ketawa ber gelak2, berkata pula dengan suara beringas: “Bocah, sebagai seorang yang bertanggung jawab melindungi hukum perkumpulan, aku hendak minta ganti jiwanya orang2 kami yang kau bunuh bunuhi.” “Kau tidak berhak menagihnya.” “Bocah, jangan banyak rewel ” Sambil mengeluarkan bentakan keras orang tua itu menggerakkan kedua tangannya menyerang Yo Cie Cong dengan sangat hebatnya.

Yo Cie Cong memang bermaksud hendak mendemontrasikan kekuatannya, sengaja ia membentak dulu “Kau cari mampus”, lalu dengan tidak menyingkir, juga tidak berkelit lagi ia menyodorkan tangannya dengan perlahan. Kabut merah putih terlihat meluncur keluar dari dalam tangannya. “Liang kok Cin- goan-.” Demikianlah suara seruan terdengar dari antara orang2 yang demikian banyaknya itu, tetapi belum lagi lenyap suara seruan ini dari udara, mendadak terdengar satu suara jeritan ngeri. -0000000-

BAB 36 SUARA ilmu ” Liang- kek Cin goan” masih berkumandang di udara, sudah disusul oleh suara jeritan yang sangat mengerikan. Kemudian kita lihat tubuhnya Pelindung Hukum Cie in pang sudah terpental jatuh, dari lubang2 mata, hidung, mulut dan teinganya sudah mengeluarkan darah segar, jiwanya melayang seketika itu juga. Kekuatan tenaga “Liang kek Cin- goan” ini sesungguhnya merupakan suatu ilmu silat yang sudah tidak ada taranya, hingga orang ci in pang yang terhitung orang2 kuat dari kalangan Kangouw, seketika itu mau tidak mau juga dibikin kesima dan tidak berdaya sama sekali. Suasana seram meliputi seluruh tempat yang menjadi pusatnya perkumpulan Cie In pang, yang tadinya merupakan sarangnya harimau.

Tidak nyana pengganasnya pemilik Golok Maut yang baru muncul ini pertama2 telah tujukan sasarannya dan turun tangan kepada Cie ie pang. Bahkan caranya ada lebih kejam ganas dan telengas dari pada pemilik Golok Maut sendiri yang sudah binasa Cie in pang, salah satu perkumpulan di dunia Kang ouw yang sudah

terkenal namanya, kini betul2 sudah menghadapi bencana keruntuhan. semua orangnya yang menyaksikan pertempuran tersebut, tidak ada satu yang berani maju untuk mencoba rnenyambuti serangan yang begitu hebat dari manusia menakutkan itu

Lie Bun Hao, pangcu dari perkumpulan tersebut, sudah tentu tidak tinggal peluk tangan menyaksikan semua orang2nya binasa secara mengenaskan ditangannya orang aneh yang mengaku dirinya sebagai pemilik Golok Maut. Apalagi kalau diingat bahwa semua ini adalah akibatnya ia sendiri yang telah menanam bibit bencana pada 20 tahun berselang. Maka seketika itu ia lantas maju beberapa tindak dan berkata dengan mata beringas: “Pemilik Golok Maut, hutang piutang harus ditagih kepada orang yang bersangkutan, perlu apa kau melakukan pembunuhan begitu kejam terhadap orang2 yang tidak berdosa ?” “Lie Bun Hao, 20 tahun berselang, semua orang2nya Kam lo pang, terhitung ketuanya dan anak isterinya, boleh dikata hampir binasa seluruhnya. Apakah mereka itu juga berdosa semuanya? Apakah mereka turut bersalah?” jawab Yo Cie Cong dengan sangat gusar.

Lie Bun Hao bungkam. setelah hening cukup lama ia baru bisa berkata pula dengan suara bengis: “Apa hari ini kau bermaksud membasmi habis seluruh anggota Cie in pang?” “Aku masih belum mempunyai maksud demikian, kecuali…” “Kecuali apa ?” “Kecuali jika kau tidak segera membubarkan perkumpulan cie In pang dan lantas meninggalkan lembah ini. Perintahku selalu tidak mengenal

kasian Kau harus mengerti sendiri apa akibatnya.” “Bubarkan Cie in pang ?” Bagi orang2 cie inpang, jawaban ini se olah2 suara halilintar ditengah hari, se-akan2 ketokan martil disetiap telinga mereka. Bagi orang2 Kang ouw, ini dianggap ada satu penghinaan yang sudah tidak ada taranya atau suatu perbuatan yang sudah melewati batas.

Lie Bun Hao masih belum menjawab, dari antara orangnya sudah lompat keluar tiga orang. Mereka itu adalah orang2 yang memangku jabatan Tongcu dalam perkumpulan cie in pang. Perbuatan tiga tongcu itu segera disusul oleh hiocu yang pada berdiri berbaris dibelakang 3 tongcu tadi. Yo Cie Cong ketawa dingin. sepasang matanya memancarkan sinar tajam memandang pada mereka, sehingga untuk sesaat membikin 12 orang itu ragu. Melihat demikian, Li Bun Hao lalu berkata dengan suara terharu: “saudara silahkan mundur dahulu, soal ini akan ku tanggung sendiri” Tongcu Gak Lui Ceng lantas menjawab dengan suara gusar: “Silahkan Pangcu mundur kesamping, kita orang lebih suka musnah bersama Cie inpang daripada hidup terhina” Para tongcu dan Hiocu yang lainnya juga lantas menyambuti ucapan Tongcu tadi dengan suara gemuruh.

Yo Cie Cong sebenarnya bukan seorang yang gemar membunuh, cuma oleh karena hendak menuntut balas sakit hati gurunya, ia terpaksa berbuat demikian. Barusan ketika ia dengan beruntun menerjang tempat penjagaan, sudah menewaskan jiwanya orang Cie inpang hampir 100 orang, hawa amarahnya juga sudah tidak begitu berkobar seperti

ketika ia baru menginjak lembah yang menjadi pusatnya perkumpulan Cie inpang itu. Semula ia pikir, bila sudah membinasakan jiwanya orang yang menjadi biang keladi, sudah cukup, tapi kini keadaannya ternyata tidak begitu mudah seperti apa yang ia kira. Maka ia lantas berkata kepada Lie Bun Hao dengan nada yang agak lunak: “Lie Bun Hao, aku tidak akan berlaku keterlaluan, tidak akan melakukan pembunuhan terhadap orang2 yang tidak berdosa. Asal kau bersedia mau membubarkan Cie inpang, aku berjanji tidak akan membikin luka dirinya siapa juga, kau lihat saja nanti buktinya ” Tapi perkumpulan cie in pang yang sudah didirikan beberapa puluh tahun lamanya, para Tongcu dan Hiocu serta anggotanya yang kini masib ada, kebanyakan merupakan orang2 yang sudah banyak berjasa dalam perkumpulannya sebagai jiwanya sendiri Bagaimana mereka mau mengerti perkumpulannya yang dibangun dengan susah payah itu dibubarkan begitu saja dengan hanya menuruti perintahnya pemilik Golok Maut saja ? Andai kata, sekalipun Lie Bun Hao mau terima baik permintaan pemilik Golok Maut, tapi anggota Cie inpang yang lainnya juga belum tentu menurut. sebab permintaan perkumpulan itu kalau diterima akibatnya ada lebih memalukan daripada dibubarkan dengan kekerasan atau pembasmian.

Lie Bun Hao yang bertindak sebagai ketuanya, biar bagaimana juga tidak bisa terima baik permintaan pemilik Golok Maut yang berarti menyuruh ia menghianati atau menjual perkumpulannya sendiri Maka saat itu ia lantas menjawab dengan suara gusar: “Bocah keparat, dengarlah jawabanku : Tidak bisa ” “Lie Bun Hao, kalau begitu kau jangan sesalkan kalau aku berlaku

keterlaluan ” Yo Cie Cong mengancam. Belum sampai Lie Bun Hao memberi jawabannya, 12 Tongcu dan Hiocu yang majukan diri tadi sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Meskipun mereka tahu bukan tandingan pemilik Golok Maut, tapi mereka tidak suka diperhina begitu saja, apa lagi mengingat soal ini ada mengenai hidup atau musnahnya perkumpulan cie inpang. Maka diantara suara bentakan riuh, 12 orang kuat dari Cie inpang itu sudah melancarkan serangannya berbareng dari berbagai jurusan kepada Yo Cie Cong. serangan tangan yang dilancarkan berbareng itu se-olah2 gelombang laut dengan hebat menggempur dirinya Yo Cie Cong.

Tapi Yo Cie Cong agaknya menganggap sepi serangan yang sangat hebat itu. sambil ketawa dingin ia egoskan dirinya, dengan sangat lincah ia melesat tinggi untuk menghindarkan serangan tersebut, kemudian melancarkan serangannya pembalasan. Ketika serangan 12 orang itu meluncur ke luar tapi mendadak kehilangan sasarannya, mereka lantas mengetahui keadaan tidak beres. Belum sempat mereka bertindak. satu kekuatan tenaga dalam yang amat hebat sudah datang menggulung mereka dengan tidak diketahui dari mana datangnya.

Dengan cepat mereka menyingkir berpencaran, tapi ternyata masih ada dua orang yang agak terlambat gerakannya sudah kesambar oleh kekuatan serangan tersebut, seketika itu lantas rubuh terjengkang tidak bisa berkutik lagi. Tepat pada saat itu, pangcu Lie Bun Hao secara, pengecut, diam2 telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, dengan kecepatan

bagaikan kilat melakukan serangan pembokongan terhadap dirinya Yo Cie Cong.

Lie Bun Hao yang menjadi ketuanya Cie In pang baik kepandaian ilmu silatnya mau pun kekuatan tenaganya, sudah tentu tidak dapat dipandang ringan- Dapat kita bayangkan sendiri, betapa hebatnya serangan yang dilancarkan secara membokong tadi. Yo Cie Cong yang mengetahui dirinya dibokong, tidak sudi ia menyambuti serangan ini, sebaliknya lantas lompat melesat tinggi untuk menyingkir dari serangan. Dengan demikian, Lie Bun Hao menjadi kecele. Ia merasa sangat menyesal dan kecewa niatnya telah gagal, maka ia lanta2 berjingkrak-jingkrak dan ber-kauwk2 sendiri seperti orang kalap.

Sementara itu, 12 Tongcu dan Hiocu yang melakukan serangan berbareng tadi, setelah dibalas oleh serangan Yo Cie Cong dan terpaksa mundur tersipu2 bahkan kehilangan jiwa dua orang kawannya, juga lantas maju menyerbu lagi sambil berteriak-teriak. Kali ini mereka menyerang dengan menggunakan senjata masing-masing.

Yo Cie Cong agaknya sudah berkobar lagi napsunya membunuh, dari kedua telapakkan tangannya saat itu sudah mengeluarkan dua uap asap warna putih dan merah, asap yang merupakan kekuatan tenaga dalam yang sudah tidak ada taranya itu lantas menyambuti serangan senjata tajam yang dilancarkan oleh orang2 Cie in pang tadi. Suara beradunya senjata tajam lantas terdengar berulang ulang lalu disusul oleh suara senjata yang patah dan jatuh kemudian suara rintihan dan jeritan, yang dibarengi oleh menyemburnya darah segar dan rubuhnya beberapa tubuh manusia.

Ditanah yang sudah menjadi merah karena tersiram darah manusia, saat itu sudah tambah lagi 4 manusia yang rebah menggeletak tidak bernyawa.

Dua belas Tongcu dan Hiocu yang terdiri dari orang-orang terkuat dalam perkumpulan Cie inpang, dalam dua gebrakan saja sudah kehilangan 6 jiwa, sedang difihak lawannya masih belum mengeluarkan senjatanya atau menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya. Kalau tidak. barangkali sudah tidak ada yang bisa tinggal hidup,

Para anggota Cie in pang yang lainnya, rupanya telah mengerti bahwa sekalipun mereka semua mengeroyok juga tidak ada gunanya, maka semuanya malah tidak berani bergerak. Enam dari sisanya 12 Tongcu dan Hiocu yang menyerang Yo Cie Cong tadi, kelihatannya sudah mulai lemas, hanya dengan mata melotot mereka mengawasi Yo Cie Cong, tapi tidak ada satupun yang berani bergerak lagi.

Lie Bun Hao sambil memandang pada Yo Cie Cong berkata dengan suara mendongkol. “Bocah, kami bersumpah tidak akan berdiri dibumi ini ber-sama2 dengan kau” “Li Bun Hao, dengan kepandaianmu seperti sekarang ini masih belum boleh mengucapkan perkataan demikian” jawabnya Yo Cie Cong dengan suara dingin. Kemudian dengan tenang ia mengeluarkan senjatanya Golok Maut. Lie Bun Hao ketika menyaksikan senjata yang aneh bentuknya itu, wajahnya pucat seketika. ” Golok Maut”

Suara seruan itu terdengar amat riuh, sebab senjata yang sangat aneh bentuknya itu, setiap kali muncul. sedikitnya satu jiwa akan melayang,

bahkan belum pernah terdengar ada orang kuat yang bisa lolos dari golok aneh itu Munculnya Golok Maut, berarti datangnya bencana kematian yang tidak bisa ditakar lagi. Sinar berkeredepan yang memancar keluar dari batangnya Golok Maut, sudah cukup untuk membuat gemetar setiap orang yang melihatnya.. semua orang2 Cie-in-pang yang ada disana, meski mereka tahu bahwa Pangcu mereka akan- menemukan ajalnya dalam saat tidak lama lagi, tapi hati mereka saat itu sudah dipengaruhi oleh perasaan-takut yang hebat, maka sampai pun- bergerak saja juga tidak berani.

Hanya baru beberapa bulan saja Golok Maut unjukkan diri didunia Kang-ouw, tapi sudah cukup membuat geger dan menggema pada dunia rimba persilatan. Dalam pertempuran di ci-lie-peng, berita binasa-nya pemilik Golok Maut ditangannya Liat- yang lo koay. juga menggemparkan dunia Kangouw, tapi sungguh tidak dinyana, belum lagi sirap berita yang menggemparkan itu didunia Kang ouw telah muncul lagi dirinya pemilik Golok Maut yang lain, hal mana telah membuat terkejut dan heran semua orang.

Li Bun Hao setelah sejenak mengawasi Golok Maut yang berbentuk aneh itu, lantas menghunus pedangnya cie ia kiam yang sinarnya berkeredepan menyilaukan mata. Pedang cie in kiam ini ada suatu benda pusaka dari jaman purbakala. Tajamnya luar biasa, maka dijadikan benda pusaka dari perkumpulan cie in pang, dan ini adalah untuk pertama kalinya digunakan oleh ketuanya untuk menghadapi musuh. Semua orang cie in pang yang ada disitu ketika menyaksikan senjata pusaka itu keluar dari sarungnya, se-olah2 geledek menyambar saja,

setiap orang lalu tersadar bahwa mereka beserta perkumpulannya tengah menghadapi bencana keruntuhan, maka rasa sedih, duka telah menghangatkan perasaan gusar yang me-luap2 terhadap musuhnya ini.

Perasaan takut dan kaget yang tadinya menyelimuti seluruh pikiran mereka, kini telah lenyap semuanya, berganti dengan perasaan sakit hati dan amarah yang me-luap. “Maju ” demikian terdengar suara seruan dari antara mereka itu. Seruan yang keluarnya secara mendadak itu telah disusul oleh bergeraknya beberapa puluh orang yang-dengan senjatanya masing2 serentak menyerbu dirinya Yo Cie Cong. Li Bun Hao setelah berpekik juga turut menyerang. Yo Cie Cong Yang menyaksikan keadaan demikian, lantas membentak keras, Golok Maut tangannya sudah lantas dikerjakan, sehingga sebentar saja terjadilah suatu pertempuran hebat yang tidak ada taranya…

Suara beradunya senjata dan jeritan manusia diselingi dengan tangan dan kaki beterbangan ditengah udara serta rubuhnya tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa lagi. Yo Cie Cong yang agaknya sudah kalap. telah melakukan pembunuhan besar-besaran. Tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, dan akibatnya. Darah mengalir tanpa putus2-nya, bangkai bergelimpangan, sehingga ruangan pusat perkumpulan cie in-pang dalam waktu sekejapan saja sudah berubah menjadi tempat jagal manusia. Keadaan demikian itu, jika berlangsung kira2 setengah jam lagi, semua orang2 kuat Cie in-pang yang berada disitu barangkali seorangpun tidak ada yang bisa hidup, mereka akan terbinasa seluruhnya dibawah senjata Golok Maut.

Kejadian ini adalah merupakan peristiwa pembunuhan besar-besaran dalam sejarah rimba persilatan-

Yo Cie Cong rupanya pada saat itu sudah gelap pikirannya, akal budinya sudah dipengaruhi oleh hawa amarah dan napsu membunuhnya, sehingga tujuan satu-satunya: “Membunuh ” Tipu serangan Golok Maut yang sangat luar biasa, karena harus menghadapi musuh yang begitu banyaknya yang semuanya juga sudah menjadi kalap. maka Yo Cie Cong telah menggunakannya sampai ber ulang2, sehingga banyak sudah orang-2 kuat dari Cie in-pang yang jatuh saling susul.

Kalau bukan lengan mereka yang terkutung, sudah pasti bagian pahalah yang terlepas, sedikitpun tidak ada yang meleset dari sasarannya. Lie Bun Hao yang menyaksikan orang2-nya bertempur secara nekad, meskipun sudah banyak korban yang jatuh, tetapi yang masih hidup masih juga berani maju merangsek terus, ia hanya bisa mengawasi dengan mata beringas. Percuma saja ia mempunyai senjata pusaka yang tajamnya luar biasa, karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menghadapi lawannya.

Juga ia tidak berdaya untuk mencegah orangnya berbuat begitu nekad, maka ia hanya membiarkan peristiwa berdarah itu berlangsung terus, namun dalam hatinya diam-diam sudah mengeluh: ” Habis, tamatlah riwayatnya Cie- in-pang.” Pada saat itu, suara tajam dan berat terdengar diantara suara jeritan dan suara beradunya senjata2. suara itu tiba-2 masuk kedalam telinganya Yo Cie Cong.

“Anak. kau keterlaluan-” suara itu diulangi sampai tiga kali. Setiap patah kata dari suara tadi seolah-olah ketukan palu besar didadanya Yo Cie Cong, setinggi tersadarlah anak muda itu akan perbuatannya yang sudah seperti orang gila. Ia sudah mengenali benar siapa orangnya yang mengucapkan perkataan itu tadi. Orang itu adalah si orang berkedok kain merah yang paling dijunjung tinggi dan paling dihormati oleh Yo Cie Cong.

Perkataan orang berkedok kain merah itu seolah-olah mempunyai pengaruh gaib, sehingga membuat anak muda itu sadar dan tunduk betul-betul. “Ya, aku keterlaluan.” demikian kata pemuda itu pada dirinya sendiri. Selanjutnya, Yo Cie Coug lantas mengambil tindakan tegas dan pendek. ia memusatkan seluruh kekuatan “Liang kek Cin goan” kesebelah tangan, lalu dtayunkun kekanan dan kekiri suatu tenaga dahsyat yang tidak terlihat telah menggulung orang yang berada di kanan dan kiri dirinya.

Kekuatan itu se-olah2 angin menyapu awan, sebentar saja telah mendorong sisa orang-2 yang mengeroyok dan yang masih membandel menyerbu kearah. orang-2 itu telah dibikin terpental sejauh dua tumbak. Yo Cie Cong sendiri dengan kecepatan kilat melayang menghampiri Li Bun Hao. Gerakannya itu dilakukan secara tiba2 dan juga diluar dugaannya pangcu dari Cie in pang itu.

Li Bun Hao yang bertindak sangat hati2 dalam menghadapi pemilik Golok Maut, ketika Yo Cie Cong bergerak secara tiba-tiba meluncur kearahnya, ia sudah siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Begitu melihat bergeraknya bayangan Yo Cie Cong, ia sudah menggunakan pedang pusakanya yang tajam luar biasa. Dengan sepenuh tenaganya ia membabat dan menikam dada sianak muda, dengan beruntun sampai delapan belas kali. sinar pedang terlihat berkelebat, sedikitpun tidak memberikan kesempatan pada Yo Cie Cong untuk bertindak.

Yo Cie Cong dengan ilmunya Menggeser tubuh menukar bayanya, se-olah2 gerakan setan dan angin cepatnya telah berputar disekitar dirinya Lie Bun Hao. Ia menantikan sampai Li Bun Hao kehabisan tenaga sendiri, baru bergerak. Tidak lama ia menunggu, saat itu telah tiba. Yo Cie Cong. tertampak telah melancarkan serangan mautnya. Tetapi baru saja menyerang dua kali, serangannya tiba2 dihentikan

Diantara suara jeritan ngeri dan muncratnya darah merah, telah terbang melejit keudara dua buah benda dibarengi berkelebatnya sinar biru. orang2 kuat yang tadi terdorong mundur oleh ilmunya Yo Cie Cong, yang saat itu masih belum lagi bisa berdiri tegak, sudah pada menjerit. Dua benda yang terbang melesat ketengah udara tadi kiranya adalah dua lengan tangannya Li Bun Hao yang terpapas kutung oleh Golok Maut. sedangkan benda yang berkeredepan bersinar biru adalah pedang pusakanya Cie- in- kiam.

Semua kejadian itu kalau dilukiskan dengan kata2, akan memerlukan banyak perkataan, tetapi sebetulnya hanya terjadi dalam waktu sekejapan saja. Yo Cie Cong setelah berhasil memapas kutung kedua lengan tangannya

Li Bun Hao, tiba-tiba serangan lanjutannya dihentikan kemudian ia berkata dengan suara rendah kepada pangcu Cie- in-pang itu. “Li Bun Hao, aku mengutungi kedua lengan tanganmu ini adalah untuk menuntut sakit hatinya orang2 Kam lo pang. sekarang aku hendak berbuat atas dirimu seperti apa yang aku lakukan terhadap pangcu Ban siu pang: Aku hendak mengutungi kedua pahamu lagi. Perlu aku beritahukan lagi padamu, aku ini adalah itu bocah yang kalian, kedua “pang” dengan cin Bie Nio dari Pek leng hwe, ketika aku di tepi danau Naga tempo hari. Mendengar ini, rasanya kau bisa mati dengan meram.”

Li Bun Hao yang saat itu sedang ter-huyung2 karena kedua lengannya sudah terpapas kutung, ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong itu, mendadak lantas berdiri dan berteriak: “Kau… kau adalah kau si bocah wajah dingin?” baru mengucapkan perkataan demikian, kembali terdengar suara jeritannya, dan kali ini kedua pahanya telah terpapas kutung, dadanya berlubang. Darah segar menyembur keluar dari dadanya, tubuhnya lantas rubuh “berhenti” jadi orang… Sisa orang Cie inpang yang masih hidup ketika menyaksikan pemimpinnya mati secara demikian mengenaskan, semuanya cepat2 berteriak gusar dan menyerbu Yo Cie Cong dengan tidak menghiraukan jiwanya lagi. Tetapi terjangan gerakan mereka sudah terlambat. Pemuda aneh wayah jelek hitam yang mengaku sebagai pemilik Golok Muat itu sudah menghilang dari depan mata mereka. -0000000-

Beberapa hari kemudian dunia Kang-ouw telah dibikin gempar dengan berita tentang terbasminya habis-habisan perkumpulan Cie- in pang,

salah satu perkumpulan terbesar dalam dunia persilatan. Dua pang dan satu Hwee yang dulu namanya sangat terkenal di kalangan Kang ow, sekarang hanya tinggal lagi satu Hwee yaitu Pek leng-hwee yang masih berdiri tegak.

Ban siu-pang, sejak pangcunya, Tio Phan terbinasa diujung Golok Maut di dalam kota Tiang soa juga sudah lantas dibubarkan oleh orang-2nya sendiri Tetapi apa yang mengherankan orang2 dunia kang-ouw adalah orang yang bertindak melakukan pembunuhan terhadap perkumpulan Cie in pang ternyata adalah pemilik Golok Maut juga yang baru, yang bertindak melanjutkan tugasnya pemilik Golok Maut yang lama, tetapi baik kepandaian ilmu silatnya, maupun kekuatan tenaganya, kalau dibandingkan dengan kekuatan dan tenaga pemilik Golok Maut yang asli, pemilik Golok Maut baru ini agaknya masih lebih tinggi setingkat.

Ketika tersiar berita tentang terbunuhnya pemilik Golok Maut yang ditangannya Liat yang Lokoay, baru saja orang dunia rimba persilatan merasa tenang terhindar dari bencana yang mengerikan dan menakutkan. tiba2 dibikin gemetar oleh munculnya pemilik Golok Maut lagi. Tidak dinyana pemilik Golok Maut yang lama mempunyai pengganti yang meneruskan tugasnya menuntut balas kepada musuh nya.

Lima partai terbesar dari rimba persilatan- Kini telah berserikat dan mengutus puluhan orangnya yang paling kuat bawah pimpinannya seorang ketua dari Siau lim pay, Pek Tie siansu untuk menyelidiki keadaan sebenarnya tentang peristiwa berdarah itu supaya jangan sampai menjalar lebih luas..

Disamping itu, orang2 kuat dari golongan hitam dan putih juga mulai bergerak kembali. Maksudnya sudah tentu juga ingin menyingkirkan manusia yang menakutkan itu Di antara orang2 golongan hitam itu, adalah orang dari Im mo kau yang bergeraknya paling aktif. Sudah tentu pula, dengan terbasminya perkumpulan Cie in pang, orang2 didunia Kang ouw tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan tepat siapa sebenarnya yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut baru.

Karena apa yang pernah mereka saksikan, si pemilik Golok Maut, yang pertamanya di pegang oleh Yo Cie Cong yang menyaru sebagai orang tua, adalah pemimpin Kam lo pang. Satu2nya orang yang mengetahui rahasia ini, hanyalah si pemilik bendera burung laut, ialah itu orang penuh rahasia yang selalu mengenakan kedok kain merah. sesudah peristiwa hancurnya perkumpulan cie in-pang, dengan beruntun sampai tujuh kali pemilik Golok Maut itu telah unjukkan diri sudah dengan sendirinya pula, setiap kali muncul, Golok Mautnya pasti meminta korban dirinya musuh2 Kam-lo pang. Tempat munculnya pemilik Golok Maut itu terkadang di selatan, terkadang pula di Utara, sehingga membuat orang sukar mengikuti jejaknya, seluruh dunia persilatan telah dibikin gempar, se-olah2 sedang menghadapi dunia kiamat. Bilakah berhentinya perbuatan gila dan kejam itu? Tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan-

Seandainya perbuatan pemilik Golok Maut itu benar hanya hendak menagih hutang jiwanya orang2 Kam-lo-pang yang dibinasakan pada dua puluh tahun berselang, tidakkah perbuatan penuntutan balas itu dilakukan terlalu kejam, hingga dapat metenyapkan perasaan orang2

yang menaruh simpati ? Perbuatannya yang telengas dan kejam itu bukankah per-lahan2 akan menimbulkan perasaan antipati dari orang2 yang tadinya sudah menaruh simpati? -000000-

Pada suatu hari, jalan raya yang menuju ke kota Lam ciang tampak seorang pemuda cakap ganteng yang sikapnya kecut dingin.Pemuda ini berjalan seorang diri dengan gerakan sangat lambat sambil menundukan kepala, agaknya ia sedang berpikir keras. siapakah pemuda itu? Pembaca tentu lantas kenal, sebab ia bukan lain daripada Yo Cie Cong, yang memegang peranan sebagai pemilik Golok Maut. Dengan beruntun sampai tujuh kali telah membasmi satu demi satu musuhnya Kam-lo-pang yang namanya tercatat dalam daftar lembar kedua.

Perbuatannya itu terus dilanjutkan sampai semua nama yang terdapat dalam lembar ke dua itu terhapus habis. Mereka itu semuanya dibinasakan dengan Golok Mautnya. Dan kini, tindakan selanjutnya yang akan dilakukan ialah hendak mencari musuh2nya yang terkuat, yang namanya tercantum paling atas dalam daftar musuhnya Kam lo pang. Kelima orang kuat itu tentunya merupakan ahli2 yang terkenal karena kejahatannya dikalangan putih dan hitam.

Ini juga merupakan permulaan bagi Yo Cie Cong menghadapi tugas yang terberat selama melakukan tugasnya menuntut balas pada semua musuh2nya Kam lo-pang, sebab untuk selanjutnya ia akan menghadapi

musuh2 yang sangat kuat yang tidak begitu mudah dibinasakan seperti yang lainnya. Tugas utama bagi Yo Ci Cong pada saat itu ialah, bagaimana dapat mencari jejaknya si siluman Tengkorak Lui Bok Thong, sebab benda pusaka perguruannya, yaitu ouw bok Pow lok satu bagian berada ditangannya iblis itu. Jikalau ia berhasil dapat merebut kembali satu pusaka itu, maka untuk selanjutnya ia dapat menyatukan dengan sepotong lainnya yang sudah berada padanya. Catatan ilmu silat luar biasa yang tertulis dalam dua potong kayu pusaka itu dapat membantu tidak sedikit dalam usahanya menuntut balas dalam menghadapi musuh2nya yang terkuat. Selain dari pada itu, dua potong kayu pusaka (ouw bok Po lok) itu juga merupakan bibit bencana dalam peristiwa terbasminya perkumpulan Kam lo-pang pada dua puluh tahun berselang, maka apa pun yang akan terjadi ia harus berusaha sampai barang tersebut dapat direbut kembali.

Disamping itu semua, ia juga teringat akan dirinya sendiri yang diselubungi banyak rahasia, asal usulnya yang masih merupakan satu teka teki. Ia harus mencari tahu tentang dirinya dan baru dapat membuka tabir rahasianya itu. Banyak lagi urusan yang masih harus diselesaikannya, seperti apa yang telah disanggupi dari permintaannya Thian-san liong- lie, mencari itu akhli pedang yang wajahnya mirip sekali dengan wajahnya sendiri Karena memikir semua persoalannya yang memenuhi otaknya itulah maka ia beryalan sambil tundukkan kepala. Selagi enak2nya ia berjalan, satu sambaran angin yang sangat halus dirasa berseliwerkan disamping nya. Ia lantas menengok Apa yang

dirasakannya telah membuat hatinya bercekat. -0000000-

BAB 37 DUA BAYANGAN putih dengan kecepatan seperti asap terlihat terbang melalui samping dirinya, lari menuju kearah bukit disebelah kananyalan raya. Bayangan itu hanya dengan beberapa kali berkelebat saja sudah menghilang kedalam rimba yang terdapat di bawah bukit tersebut. Hanya bau harum yang masih tertinggal yang menusuk hidungnya Yo Cie Cong.

Dari bau harumnya itu, Yo Cie Cong mengambil kesimpulan, tentunya bayangan putih yang terbang menghilang seperti asap tadi pasti adalah dua orang wanita atau salah satu di antaranya ada wanita. Hanya seorang yang berkepandaian tinggi seperti Yo Cie Cong yang bisa mengetahui, bahkan dapat membedakan siapa orangnya yang lewat disampingnya tadi. Untuk orang yang kepandaian Ilmu silatnya belum seberapa tinggi, tidak nanti dapat membedakan kalau bayangan yang melesat disampingnya tadi benar2 manusia, mungkin pula orang itu akan menganggap setan atau makhluk jejadian-

Yo Cie Cong merasa tertarik oleh kepandaian yang luar biasa dari dua bayangan putih tadi. Dalam hatinya lalu timbul pikiran: “Ilmu lari pesat dari dua wanita tadi sangat berbeda dengan apa yang pernah kulihat didunia Kang-ouw. Ini sungguhnya sangat aneh. Entah kepandaian dari golongan manakah yang dipelajarinya ? Mengapa aku tidak mau mengejar mereka untuk mengetahui asal usulnya ? Karena terpikir demikian, dengan cepat ia lantas lari menyusul kearahnya kedua bayangan putih tadi.

Yo Cie Cong yang berkali-kali menemukan kejadian gaib dan mujijad, menjadikan dirinya berubah menjadi seorang terkuat dalam kalangan Kang ouw yang susah dicari tandingannya. Sejak ia meyakinkan ilmunya “Liang-kek Cin-goan”, kekuatannya telah bertambah beriipat ganda, maka segala gerakan-nya seolah-olah bukan gerakan manusia. Sebentar saja, ia sudah berada dalam rimba dibawah bukit, dimana kedua bayangan putih tadi menuju.

Rimba itu kira2 setengah lie lebarnya panjangnya tidak cukup 2 lie. Kalau orang berada diatas, tengah-tengahnya rimba, bisa melihat keadaan disekitarnya. Yo cie Ceng setelah berada didalam rimba, ternyata tidak dapatkan apa2. Ia berdiri sejenak. matanya celingukan memandang keadaan disekitarnya, tapi masih belum mendapatkan tanda apa2, hingga diam2 hatinya merasa heran. sebab ia tahu benar ilmu lari pesatnya sendiri yang dikala itu susah dicari tandingannya, tapi mengapa dalam waktu sekejapan saja sudah kehilangan bayangan orang yang dikejarnya ? Hal ini rasanya benar2 tidak mungkin.

Ia agaknya merata sangat penasaran, dengan cepat ia melesat ke atas pohon yang paling tinggi didalam rimba itu, Ia coba lagi memandang keadaan disekitarnya, Rimba ini ternyata berdampingan dengan sebuah bukit di kedua sisinya ada terdapat tanah datar yang luas. Tapi heran, satu bayanganpun tidak kelihatan

Yo Cie Cong dengan cepat sudah menarik kesimpulan, kedua bayangan orang tadi sudah lari menuju kedalam bukit sebelum ia bergerak menyusul. sebab kalau tidak. mana mungkin dapat terlolos dari matanya ?

Perasaan heran telah mendorong padanya untuk mencari tahu se-dalam2nya keadaan ditempat tersebut. Tanpa ragu2 ia lantas gerakan badannya menuju keatas bukit. Baru saja tiba diatas bukit, besar saja ditengah antara dua puncak gunung tinggi, ia dapat lihat dua titik bayangan putih yang terbang melesat kearah salah satu puncak gunung yang tinggi menjulang ke langit itu.

Yo Cie Cong lantas kerahkan seluruh kekuatannya, secepat kilat melesat kearah larinya orang tersebut. setelah melalui dua puncak. didepan matanya sudah kelihatan puncak yang tinggi ke langit tadi. Puncak gunung itu berdiri sendiri ditengah-tengah rentetan bukit se-olah2 sebuah pagoda tinggi. Dan tengah-2 puncak terus menjulang keatas kelihatan diliputi oleh awan dan kabut tipis. Pada saat itu mata Yo Cie Cong mendadak dapat lihat dua bayangan putih tadi melayang dan menghilang di-tengah-2puncak gunung yang diliputi oleh kabut tipis.

Dalam hatinya Yo Cie Cong, kecuali merasa heran juga diliputi oleh perasaan yang sangat rahasia. Ia tidak dapat menduga dari golongan mana sebetulnya dua bayangan putih yang sangat misterius itu, siapakah gerangan orang yang berdiam dipuncak gunung yang menjulang tinggi kelangit itu ? Dari golongan jahat ataukah dari golongan baik ? semua ini masih merupakan suatu teka teki besar baginya.

Belum lagi hilang rasa herannya, ia sudah sampai didekatnya sebuah puncak gunung. Ketika ia mengawasi tempat tersebut, ternyata

didepan matanya terpentang suatu jurang yang dalam sekali yang tidak terlihat dasarnya Jurang itu luasnya kira2 lima puluh tumbak.

Ditambah terlihat kabut tebal. Kalau orang berdiri diatas gunung melihat keatas jurang, keadaannya sangat mengerikan. ia tidak habis pikir bagaimana dua bayangan tadi bisa menyeberangi jurang ini? cepat ia menghentikan gerakan kakinya, dengan perasaan heran ia mengawasi rintangan yang terbuat dari alam itu. setelah berpikir sejenak. tiba-tiba ia mendapatkan suatu akal. Ia memungut sebuah batu sebesar kelapa yang lalu dilemparkan kedaLam jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu. siapa tahu, setelah menantikan sekian lamanya, masih tetap ia tidak melihat reaksi apapun juga, sehingga kembali ia dibikin ter-heran2. Dalam hatinya lantas berpikir: “Kedua bayangan tadi kecuali setan atau siluman sudah tentu tidak mampu terbang melayang melewati rintangan yang begitu jauh dan begitu dalam.”

Yo Cie Cong mengukur tenaganya sendiri. Paling banter ia cuma bisa terbang melesat sejauh empat puluh tumbak atau lebih sedikit, tetapi jarak antara kedua tebing yang terpisah oleh jurang yang dalam itu kira-kira jauhnya lima puluh tumbak. Selain daripada itu, tempat tersebut juga tertutup oleh kabut putih yang tebal, sehingga sama sekali tidak dapat diketahui dengan jelas apakah dipuncak gunung sebelah sana itu ada tempat yang baik untuk tancap kaki, sebab sekali saja salah bertindak. akibatnya akan hancur leburlah dirinya.

Maka untuk sesaat lamanya ia masih berdiri bengong ditempat tersebut.

“Bocah, kau sedang pikirkan apa?” tiba2 terdengar suara seperti suara orang tua yang kedengaran sangat berwibawa, telah terdengar nyata, terbawa desiran angin. Yo Cie Cong cuma mendengar suara itu yang menyebut dirinya “Bocah”, dengan tepat ia lantas lompat kebelakang. Dalam hati bukan kepalang kagetnya, sebab ada orang yang berada didekatnya juga ia masih belum merasa sama sekali. Ketika ia menegasi, dilihatnya ada seorang tua aneh dengan rambutnya yang digelung ke- belakang, bajunya compang camping dan kakinya telanjang. orang tua itu berdiri tidak jauh dari tempatnya tadi berdiri. Sepasang matanya yang tajam dengan tidak berkelip mengawasinya.

Setelah menenangkan pikirannya, Yo Ce Cong lalu menghampiri orang aneh itu dan setelah memandang dengan seksama ia lalu menyapa: “Tuan siapa ?” Orang aneh itu memandang Yo Cie Cong dengan matanya yang tajam sejenak. mendadak berseru kaget : “EH ” se-olah2 sudah melupakan pertanyaannya Yo Cie Cong, terdengar ia menggerutu seorang diri: “Bocah ini mengapa mirip benar dengan dia?” Yo Cie Cong dikejutkan oleh perkataan orang aneh itu, maka ia lantas menegur pula: “Tuan siapa? Tuan kata aku mirip dengan dia, siapakah yang tuan maksudkan dengan dia itu” Orang aneh itu mundur satu langkah, ia masih tetap berkata pada dirinya sendiri: “Sikap dan tindak tanduknya, tidak ada yang tidak mirip.” Yo Cie Cong dibikin bingung oleh kelakuan orang aneh ini sehingga dengan tidak sengaja ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dalam hatinya lalu berpikir. “Apakah orang ini gila ? Tetapi dari kepandaiannya barusan, bisa mendekati diriku tanpa kuketahui terang dia mempunyai kepandaian tinggi. Tetapi mengapa perkataannya tidak karuan juntrungannya ?” Ia lalu menanya lagi sambil kerutkan keningnya : “Apa yang tuan ucapkan ? Aku tidak mengerti..” Orang aneh itu agaknya seperti baru tersadar dari mimpinya, lantas berkata dengan suara agak terharu: “Bocah, apa kau ingin melalui jurang ini? Karena apa ?” “Karena tertarik oleh perasaan ter-heran2.” “Perasaan heran ? Ha ha… Bocah, kau tidak mampu menyeberangi jurang ini. sudah sepuluh tahun lebih lohu menantikan disini, sampai sekarang juga masih belum mampu menyeberangi jurang ini.” sehabis berkata ia menghela napas panjang. “Tuan sudah menantikan sampai sepuluh tahun lebih lamanya ?” “Benar. Malah tepatnya sudah lima belas tahun.” “Untuk apa tuan menantikan sampai begitu lama ?” “Hal ini tidak perlu kau ketahui.”

Yo Cie Cong merasa tidak puas oleh jawaban yang dingin itu, maka ia lantas hendak berlalu. “Bocah, kau jangan pergi dulu. Aku masih ada beberapa pertanyaan yang hendak ku- ajukan padamu.” orang aneh itu cepat2 mencegah Yo Cie Cong terpaksa balik kembali. Dengan matanya yang tajam ia mengawasi si orang aneh. “Ada hal apa lagi yang hendak kau tanyakan padaku?” “Siapakah namamu?” “Yo Cie Cong.” Orang aneh itu gelengkan kepalanya, tiba2 telah mengelah napas.

Kelakuan aneh dari orang aneh ini sebaliknya menimbulkan perasaan heran Yo Cie Cong, maka ia lantas menanya: “Mengapa tuan menghela napas ?” “Sudahlah, hal ini juga tidak perlu aku jelaskan ” “Tuan barusan mengatakan bahwa aku ada mirip dengan dirinya seseorang, siapakah orang itu ?” “Akhli pedang nomor satu didunia bernama Hoan Thian Hoa, sahabat karib lohu” Yo Cie Cong ketika mendengar orang aneh itu mengatakan bahwa dirinya ada mirip dengan Hoan Thian Hoa, itu ahli pedang nomor satu didunia, bukan kepalang kagetnya. Ia masih ingat benar, Thian san Liong lie juga pernah mengatakan demikian Apakah dirinya ada mempunyai hubungan apa2 dengan orang yang bernama Hoan Thian Hoa itu..?

Tapi kemudian ia berpikir pula, dan lantas merasa geli sendiri. Bukankah banyak sekali jumlahnya orang yang mirip satu sama lainnya ? “Dimanakah sekarang itu orang yang bernama Hoan Thian Hoa ?” “Bocah, apakah bisa jadi kau kenal padanya ? Nampaknya usiamu masih begini muda sekali..” “Tidak. aku tidak kenal padanya, cuma saja ada seorang yang tengah mencari padanya.” orang aneh itu nampak membuka lebar matanya. “Siapa ?” “Thian san Liong lie Tho Hui Hong, dia sudah mencari padanya 10 tahun lebih lamanya.” “Ahh.. sejak dahulu kala asmara memang selalu membikin sengsara. Nona Thio sesungguhnya patut dikasihani ”

Yo Cie Cong mendengar ucapan orang aneh ini mungkin tahu jelas persoalan antara Thian san Liong lie dengan jago pedang yang bernama Hoan Thian Hoa itu. oleh karena ia sendiri sudah berjanji hendak mencarikan dimana adanya laki2 yang sedang dicari oleh bibi Thionya itu, maka ia pikir hendak mencari keterangan dari dirinya orang itu. “Apakah Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa itu bukannya murid dari jago see gak Leng Jie Hong Locianpwee ?” “Benar ” “Dimana orangnya ?” “Mati atau hidupnya masih belum jelas. Tapi kemungkinan besar sudah binasa ditangannya wanita cabul yang kejam itu ”

Wanita cabul yang dimaksudkan oleh orang aneh itu, sudah tentu Yo Cie Cong tidak tahu siapa orangnya, tapi suatu pikiran mendadak terlintas dalam otaknya, maka lantas menanya: “Tahukah tuan jago see-gak Leng Jie Hong itu ada mempunyai berapa murid ?” “Cuma satu Hoan Thian Hoa ” Jawaban ini benar-2 mengejutkan Yo Cie Cong. Dua manusia aneh dari rimba persilatan telah menyuruh ia memenuhi janjinya untuk bertanding ilmu silat dengan muridnya manusia gaib dari rimba persilatan, sedang manusia aneh Leng Jie Hong itu cuma mempunyai satu murid, sudah tentu ia adalah Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa, tidak salah lagi.

Tapi menurut keterangannya bibi Thonya, yang pernah mencari ke gunung see-gak, Hoan Thian Hoa benar2 sudah menghilang Dan sekarang orang aneh ini mengatakan bahwa mati hidupnya Hoan Thian Hoa masih menjadi satu

pertanyaan, ini benar2 membuat orang tidak habis mengerti. Dengan orang yang mempunyai kedudukan seperti Lam tie Pak hong, yalah dua manusia aneh dari rimba persilatan, sudah tentu tidak nanti membohongi dirinya. Lama berdiri melongo. Dalam hatinya berpikir sendiri, barangkali dari mulutnya orang aneh ini aku dapat mengetahui sedikit tentang dirinya Hoan Thian Hoa. setelah berpikir demikian, ia lantas menanya dengan suara lemah- lembut: “Bolehkah tuan memberi tahukan nama tuan yang mulia?” “Lohu adalah Hui Lui chiu (si tangan geledek) Ngo Yong, saudara angkatnya Hoan Thian Hoa ”

Yo Cie Cong ketika mendengar orang aneh ini ada saudara angkatnya Hoan Thian Hoa, seketika itu lantas timbul perasaan hormatnya maka ia lantas berkata dengan sikapnya yang menghormat: “Kiranya Ngo Cianpwee, maafkan sikap boanpwee tadi yang agak kurang sopan ” “ow, tidak apa2. Nah bocah, sekarang coba terangkan, cara bagaimana kau bisa datang ke puncak gunung pit koan hong ini?” “Karena mengejar jejaknya dua orang sehingga tiba disini ” “Bagaimana orangnya yang kau kejar?” “Mungkin dua orang wanita, tapi mereka gesit sekali gerakannya, hingga tidak dapat dilihat dengan nyata ” “Dimana sekarang orangnya ?” “Ketika boanpwe tiba disini, dua orang itu sudah ada ditepinya tebing puncak gunung diseberang sana” “Eh, bagaimana lohu tidak dapat lihat”

Yo Cie Cong tampak berpikir sejenak. kemudian bertanya: “Menurut pikiran boanpwee, mungkin ada jalanan rahasia yang menuju ke seberang puncak sana .Jikalau tidak. dengan jarak yang begitu jauh dan tempat yang begitu curam, didalam rimba persilatan barangkali belum terdapat seorangpun juga yang mampu menyeberangi jurang ini.” “Ng, lohu disini sudah menunggu lebih dari 10 tahun lamanya, belum pernah menemukan dimana ada jalanan rahasia?” “Apakah cianpwee menunggu disini juga lantaran ketarik oleh perasaan heran ?” orang aneh itu mendadak dongakkan kepala dan tertawa sedih. “Hahaha… Tertarik oleh perasaan heran?, rasanya cuma tepat sebagian saja, Lohu adalah hendak mencari tahu tentang mati atau hidup saudara angkat lohu Hoan Thian Hoa itu” “Tentang mati hidupnya Hoan cianpwee apakah ada hubungannya dengan puncak gunung di seberang sana itu ?” “Benar, ada kemungkinan besar dia telah mati ditangannya Giok- bin Giam-po Phoa Cit Kow, itu wanita cabul yang paling kejam di dunia ”

Yo Cie Cong seolah-olah terpagut ular, badannya hampir saja melompat, tapi ia coba kendalikan perasaannya, se-bisa2 jangan sampai naik darahnya. Ketua Pek leng hwee Cin Bie Nio adalah muridnya Giok bin Giam po Phoa cit Kow. sedang Giok bin Giam po Phoa Cit Kow ini adalah salah satu musuh besarnya Kam-lopang, yang namanya terdapat didalam daftar dilembar pertama. Hui lui chiu Ngo Yong ketika melihat sikapnya Yo Cie Cong nampak aneh, lantas menanya dengan heran. “Bocah, kau kenapa ?”

Yo Cie Cong coba menekan perasaannya sebisa- bisa, mencoba menjawab sekenanya: “Tidak kenapa-napa, boanpwee juga sudah lama mendengar namanya siluman wanita itu ” “Bocah, tentang Giok-Bin Giam-po Phoa Ciet Kow yang sembunyikan diri dipuncak gunung Pit koan-hong ini, orang2 dunia Kang ouw masih belum ada yang tahu.. Lohu sendiri dengan secara tidak disengaja dapat mempergoki pada puluhan tahun berselang ” “Jikalau Ngo cianpwee tidak berhasil menemukan jalanan yang menuju ketempat tersebut, barangkali akan menunggu disini untuk selamanya.” orang aneh itu ketawa getir, tidak menjawab. Yo Cie Cong setelah berpikir sejenak, lalu berkata pula:

“Ngo cianpwee tidak menampik, boanpwe bersedia tenaga untuk membantu usaha Cianpwee, bersama-sama menyelidiki jalanan rahasia disekitar puncak gunung Pit- koan-hong ini tapi belum tahu bagaimana pikiran cianpwee?” “Bocah, kita agaknya seperti dijodohkan harus berjumpa satu sama lain, marilah kau ikut ke tempat kediamanku, aku akan menceritakan suatu kisah untuk kau.” Yo Cie Cong yang justru kepingin tahu persengketaan antara Giok bin Kiam khek dengan Giok bin Giampo, ia menduga kisah itu tentunya ada hubungannya dengan itu, maka ia lantas terima baik ajakan Nao Yong. Keduanya dengan jalan disepandiang tepijurang, terus menuju kesebelah kanan puncak gunung.

Tidak antara lama, mereka telah tiba di depan sebuah goa kuno. Hui Lui chiu Ngo Yang lantas berhenti dan berkata: “inilah tempat kediamanku, mari masuk ”

setelah berkata, ia masuk terlebih dahulu, Yo Cie Cong mengikuti di belakangnya. Goa itu tidak dalam, baru berjalan dua tikungan sudah buntu. Dinding goa nampak licin, luasnya kira-2 5 tombak. Didalam goa itu tidak terdapat barang apa-2, cuma ditengah-tengah terdapat setumpukan kayu yang masih menyala apinya. Didinding sebelah kanan terdapat gantungan beberapa potong daging kering. Dua orang itu setelah berduduk ditanak. Ngo Yong lalu berkata: “Bocah, sekarang kau boleh dengarkan kisah lohu” “Bonpwee bersedia mendengarkan” “Pada 20 tahun berselang, didunia Kangouw telah muncul seorang pemuda tampan cakap seperti kau, dengan sebilah pedangnya ia telah menjatuhkan jago2 pedang di seluruh kolong langit tanpa menemukan tandingan. Hanya dalam waktu setahun saja ia telah mendapatkan nama jago pedang nomor satu.” “Boanpwe duga pemuda itu tentunya Giok-Bin Kiam khek Hoan Thian Hoa…” “Dengarkan cerita lohu, jangan campur mulut. Namanya pemuda tampan itu menggetarkan seluruh rimba persilatan, berbareng itu juga menggetarkan hatinya banyak wanita muda atau tua. Banyak wanita dengan secara kalap me-ngejar2 dia, tapi pemuda itu sikapnya sedikitpun tidak tergerak hatinya. Thian san Liong lie Tho Hui Hong juga merupakan salah satu diantara-nya wanita cantik dan gagah yang kala itu jatuh hati padanya serta paling aktif mengejar padanya.”

Yo Cie Cong diam2 anggukan kepala. Ngo Yong setelah berdiam sejenak, lalu berkata “Dalam suatu ketika, pemuda gagah dan tampan itu telah berkenalan

dengan seorang gadis yang usianya sebaya dengan ia, tapi mempunyai kecantikan yang bisa membuat siapa saja sekali melihat lantas tergila gila padanya. Dan pemuda itu lantas jatuh cinta kepada gadis cantik luar biasa itu…” “Apakah ia lebih cantik daripada Thian san Liong lie ?” selaknya Yo Cie Cong. “Benar, bukan saja lebih cantik dari padanya, tapi juga mempunyai kepandaian ilmu silat lebih tinggi” “Ow ”

Yo Cie Cong agaknya merasa kaget. sebab dalam matanya. Thian-san Liong- lie sudah terhitung seorang wanita yang mempunyai kecantikan luar biasa, dengan usianya yang seperti sekarang, sudah setengah tua kecantikannya masih kelihatan nyata, apalagi dimasa mudanya, entah bagaimana cantiknya ? Tapi gadis yang dikatakan oleh orang aneh itu katanya adalah lebih cantik daripadanya, hingga sukar dilukiskan sampai dimana kecantikannya gadis jelita itu ? Selagi Yo Cie Cong masih terbenam dalam lamunannya sendiri, Ngo Yong sudah melanjutkan ceriteranya: “Yang lelaki gagah tampan, yang perempuan cantik dan gagah pula, mereka merupakan satu pasangan yang setimpal. Maka tidak lama kemudian mereka terus terangkap jodohnya menjadi suami istri dan berdiam di suatu tempat tersembunyi yang mempunyai pemandangan alam indah permai. Mereka meninggalkan dunia Kang ouw, untuk menikmati penghidupan yang tenang tenteram.” “Siapakah nama wanita itu ?” “Wanita itu bernama- Phoa san cian- …” “Apakah dia ada itu Giok-bin Giampo ?”

“Kau dengar dulu ceritera lohu” kata Ngo Yong “pemuda tampan- itu kecuali pergi ketempat perguruannya, tidak membikin perhubungan dengan orang lain lagi. selama itu, lohu karena sedang melatih ilmu pukulan “Hui lui chiu (tangan geledek), juga sudah beberapa tahun tidak unjukan diri didunia Kang-ouw, kalau tidak begitu, barangkali saja bila mencegah tragedi yang mengenaskan ini.” “Lima tahun kemudian, mereka telah melahirkan seorang anak laki2, anak itu begitu cakap. sama dengan ayahnya, bayi itu dinamakan Hoan sin Cie. Ketika Hoan sin Cie baru berusia 3 tahun, ayahnya dipanggil oleh perguruannya untuk melatih semacam kepandaian ilmu silat. Setahun kemudian baru bisa pulang berkumpul lagi dengan anak istrinya. Tapi ketika pemuda itu kembali, ia telah dapat kenyataan bahwa istrinya telah berubah sikapnya.” “Sang istri yang dulu biasanya beradat lemah lembut dan sopan santun, tapi kini mendadak berubah menyadi genit centil dan berandalan. Pemuda itu yang lebih memperhatikan pemeliharaan badan dan ilmu silatnya daripada kesenangan dalam kamar, agaknya tidak memuaskan istrinya yang sudah berubah sifatnya itu. Hal ini sangat memusingkan kepalanya anak muda itu, disamping itu, sang isteri itu juga sering keluar kelayapan, kadang2 sampai beberapa hari tidak pulang. si pemuda mengingat kepentingan anaknya, terus menahan sabar terhadap tingkah laku isterinya itu Tapi akhirnya habislah sudah kesabarannya, ia telah kabur meninggalkan rumah tangga bersama anaknya ” “Dan kemudian?” menyelak Yo Cie Cong tidak sabar. “Kau jangan cemas, dengarkan cerita lohu. Pemuda tampan itu setelah meninggalkan rumah tangganya, untuk sementara menitipkan anaknya

kepada seorang petani dan ia sendiri mulai lagi penghidupannya didunia Kang-ouw, sebagaimana umumnya orang2 yang hidup di dunia Kang ouw, tidak mempunyai tempat kediaman tertentu, sebentar disana sebentar disini. Kala itu lohu juga sudah berhasil menyelesaikan ilmu silat lohu dan mulai terjun kedalam dunia Kangouw hingga kita berdua berjumpa lagi. Dari penuturannya, lohu baru tahu nasib apa yang telah menimpa pada dirinya. Pada suatu hari, teryadilah suatu kejadian yang tidak di duga-duga, disinilah merupakan permulaan suatu tragedi yang mengenaskan ”

Si Tangan Geledek ketika menutur sampai disitu, matanya mendadak memancarkan sinar kebencian, agaknya masih merasa gemas tentang apa yang telah terjadi dikala itu, Setelah berdiam sejenak, ia baru berkata lagi. “Dalam peryalanan memasuki propinsi Ho lam kita berdua telah mendapat kabar ramai tentang perjanjian adu silat antara 5 partai besar dengan Giok bin Giam po Phoa Cit Kouw hingga perjalanan kita lantas dituju kan ketempat pertandingan tersebut. Ketika kita tiba disana, orang-2 kuat dari pihaknya partai besar, sudah ada 5 lebih jumlahnya yang binasa didalam tangannya Giok bin Giam po Tapi pemuda tampan itu ketika melihat wajahnya Giok bin Giam po, seketika itu diuga lantas jatuh pingsan, Lohu terpaksa memondong padanya kesuatu tempat yang sunyi untuk membikin sadar padanya. Ketika sadar kembali, ia baru mengatakan bahwa wanita yang menyebut dirinya Giok bin Giam po Phoa Cit Kow itu ternyata adalah isterinya sendiri, Phoa Sian Ciao ” “Giok- bin Giam-po usianya masih belum tua, mengapa menyebut dirinya Po ( nenek) ?” menyela Yo Cie Cong heran-

“Mana. wanita cabut itu kala itu usianya sudah mendekati 30 tahun, sebab ia pandai merawat diri, hingga kelihatannya masih tetap muda belia. Didunia Kang-ouw ia sudah mengacau beberapa puluh tahun lamanya, kecabulan dan kegenitan serta kekejamannya sudah sangat terkenal, entah berapa banyak pemuda binasa dibawah obat beracunnya yang dinamakan obat syorga semalaman- Maka ia disebut sebagai Giok bin Giam-po ”

Yo Cie Cong lantas ingat bagaimana dirinya sendiri juga hampir binasa dibawah tangannya Cin Bie Nio dengan obat beracun itu, maka wajahnya lantas nampak beringas, mulutnya tidak hentinya mendumel tendiri, se dang dalam hatinya lantas berpikir: “pantas karena gurunya begitu cabul maka muridnya juga demikian pula” saat itu ia sudah dengar lagi suaranya Ngo Yong yang nampaknya agak gemas. “cuma lantaran saudara angkatku itu belum lama muncul didunia Kang ouw, meski pernah dengar tentang Giok- bin Giampo, tapi belum pernah melihat orangnya, maka terjadilah peristiwa yang menyesalkan seumur hidupnya. Ia telah minta lohu supaya menilik anaknya yang masih kecil, ia sendiri hendak berusaha untuk menyingkirkan wanita cabul itu. Karena lohu tidak berhasil mencegah maksudnya, maka kita lantas berpisahan- “Sungguh tidak di duga, ketika lohu dapat mencari petani yang dititipi anaknya saudara angkat lohu, petani itu rumahnya berikut hartanya sudah ludes karena kebakaran yang terjadi pada beberapa hari berselang sebelum lohu ketemukan, dan yang lebih mengenaskan lagi ialah anak saudara angkat lohu entah kemana dan dimana sekarang adanya ” Tidak lama kemudian, dikalangan Kang ouw telah ramai tersiar kabar

tentang hasilnya pertandingan antara pemuda tampan dengan Giok bin Giampo, katanya pemuda tampan itu telah terluka, tapi selanjutnya kedua-duanya lantas menghilang dari dunia Kang ouw itu hingga sekarang sudah kira-2 10 tahun lamanya ?”

Hui lui chiu bicara sampai disini, lalu berdiam sejenak. kemudian berkata pula: “Bocah, anaknya pemuda tampan itu kalau sekarang masih hidup daLam dunia, barang kali sudah sama besarnya dengan kau. Usiamu toh tidak lebih dari 20 tahun bukan? Ketika untuk pertama kali aku tadi melihat kau, aku benar2 mengira kau mungkin ada anak dia itu, sebab wajahmu ada mirip sekali dengan wajahnya pemuda tampan itu berselang ” Yo Cie Cong hatinya tercekat.

DALAM hatinya diam2 berpikir: apakah aku ini benar2 adalah anaknya si pemuda tampan jago pedang? Tapi rasanya tidak mungkin Mendadak pikirannya ingat sesuatu, ia lalu mengeluarkan ‘Liong kuat’ dari balik bajunya didadanya dan menanyakan kepada orang aneh itu: “Apakah Cianpwee kenal benda ini? “orang aneh itu mengawasi sebentar, lalu menjawab sambil gelengkan kepalanja: “Tidak pernah melihat, apa maksudmu menanyakan benda ini?”

Yo Cie Cong anggap bahwa kisah itu mungkin tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri, maka setelah mendapat kenyataan bahwa orang tua aneh itu tidak mengenali benda satu2nya yang dapat digunakan untuk membuktikan asal usul dirinya, juga tidak mau banyak bicara lagi, hanya menjawab :

“Benda ini adalah benda boanpwee bawa dibadan sejak kanak2, entah apa maksudnya boanpwee hanya ingin mendapat keterangan saja” ia lantas berdiam sejenak, kemudian berkata pula, “Pemuda tampan itu bukankah Giok bin Kiam khek Hoan Thian Hoa ?” “Benar ” “Mengapa Cianpwee berani pasti ia telah binasa ditangannya Giok-bin Giam po ?” “Diantara mereka pasti ada seorang yang binasa, kalau tidak, tragedi ini tentu tidak ada Akhirnya. Selain dari pada itu, kira2 dua tahun sejak ia menghilang, dengan tidak sengaya lohu telah menemukan wanita cabul itu menyembunyikan diri diatas puncak gunung Pit koan-hong ini, maka lohu berani pastikan Hoan Thian Hoa mungkin sudah binasa.”

Yo Cie Cong diam. Tapi dalam hatinya berpikir: “sungguh kasihan nasibnya bibi Tho, oleh karena seorang laki yang tidak menyintakan dirinya, ia korbankan masa mudanya begitu saja, ini benar tidak ada harganya. Namun aku sudah janjikan hendak bantu mencarikan kekasihnya itu, Walaupun bagaimana aku harus mencari tahu sampai kedasarnya, supaya aku tidak mengecewakan pengharapannya ” “Dengan jalan bagaimana Cianpwee hendak mulai mengadakan penyelidikan jalanan rahasia yang menuju kepuncak gunung Pit- koan-hong ini?” demikian ia menanya. “sekarang ini aku masih belum ada rencana apa2. puncak gunung Pit koan-hong ini seputarnya dikitari oleh jurang yang curam. burung saja sukar terbang diatasnya, apa lagi orang yang ada diatas puncak gunung itu, dalam waktu setahun tidak kelihatan satu kali nampak unjukan

diri sedangkan ditengah pegunungan ini ada begitu luas, kita hendak menguntit juga bukan soal mudah ”

Yo Cie Cong tundukkan kepala berpikir sekian lamanya, ia anggap bahwa menunggu di situ juga tidak ada gunanya, apalagi ia masih ada urusan yang belum diselesaikan. “Cin Bie Nio ada muridnya Gok-bin Giam-po, mengapa kau tidak mengorek keterangan daripadanya untuk mengetahui jalanan rahasia ini?” demikian ia pikir dalam hatinya. setelah berpikir demikian, ia lantas barkata kepada Hui-lui-Chiu “Menurut pikiran boanpwee yang bodoh, boanpwee ingin mengorek keterangan dari dirinya Cin Bie Nio, muridnya Giok- bin Giam-po. sedang locianpwee tidak halangan tetap menunggu disini. Dengan begitu berarti kita turun tangan secara berbareng, jika boanpwee berhasil mendapatkan kabar apa2, selekasnya akan datang untuk menemui loCianpwee, bagaimana pikiran locianpwee ?” “Baik, Bocah. begitu saja kita tetapkan, aku menunggu disini dalam batas waktu satu tahun. sekalipun besok misalnya aku menemukan jalanan rahasia itu, aku juga akan menunggu kau kembali sampai satu tahun.” “Baik… Nah, sekarang saja boanpwee minta diri ”

Yo Cie Cong setelah meninggalkan goa itu terus berpikir. ” Heran, orang aneh dari rimba persilatan itu kalau benar mempunyai seorang murid, sedang sang murid itu sudah hilang 10 tahun lebih lamanya, mengapa masih menjanjikan dua manusia aneh dari dunia Kang-ouw untuk mengadukan muridnya dalam pertandingan ilmu silat? Apakah belakangan ini ia menerima murid baru lagi? Untuk itu rasanya baru dapat kepastian diadakan pertandingan digunung see gak nanti.

sebentar saja Yo Cie Cong sudah melalui dua bukit. Tiba2 matanya dapat lihat dua bayangan putih kira2 50 tombak jauhnya,yang sedang meluncur kebawah gunung dengan kecepatan bagaikan kilat.

Yo Cie Cong terperanjat. Pikirnja: “bagus, dua bayangan itu bukankah yang tadi memancing aku naik keatas gunung ini? Entah apa maksudnya mereka turan gunung lagi ? Nampaknya seperti ada urusan penting, tapi kali ini aku tidak akan lepaskan kalian lagi.” Kemudian ia kerahkan seluruh kepandaiannya. Dengan kecepatan kilat ia sudah mengejar kedua bayangan tadi. Gerakannya itu sedikitpun tidak menimbulkan suara. sebentar saja ia sudah dapat menyandak bayangan yang dikejarnya.

Kali ini ia sudah bisa melihat dengan tegas. bayangan itu ternyata adalah dua orang wanita berpakaian putih, dandanannya sama dengan dandanannya Cin Bie Nio. Tak usah disangsikan lagi, kedua wanita ini tentunya juga ada muridnya Giok bin Giam-po, sehingga dengan Cin Bie Nio ada hubungan sebagai saudara seperguruan. Yo Cie Cong dengan gerakan budannya yang cepat tidak ada taranya, dari samping ia memutar membuat setengah lingkaran mendahului didepannya kedua wanita baju putih itu, kemudian ia memutar balik tubuhnya memapaki kedua wanita, tersebut. Dengan demikian, kedua pihak menjadi lari dari arah yang berlawanan.

Yo Cie Cong dengan sengaya telah menubruk kedua wanita itu. oleh karena kedua pihak sedang lari dengan kecepatan luar biasa, maka tubrukan itu kelihatannya seperti sukar dihindarkan- Tepat pada saat selagi kedua pihak hendak bertubrukan, kedua wanita

itu dua2nya lompat minggir kesamping, kemudian memutar badannya dengan gaya yang indah sekali. Yo Cie Cong pada saat itu juga memutar Badannya, sehingga kedua pihak kembali berlari berhadapan “Eh ” demikian kedua wanita itu berseru kaget berbareng. Mungkin mereka dikejutkan oleh gerakan badan yang luar biasa dari Yo Cie Cong, sehingga keduanya berdiri tertegun-

Yo Cie Cong dengan tidak kalah kagetnya, karena melihat dua wanita yang badannya ceking langsing itu ternyata adalahlah dua orang wanita muda yang parasnya jelek sekali. Kejelekannya itu dapat membuat orang yang melihatnya tidak berani melihat lama2. salah seorang dari kedua wanita jelek itu lantas menegur dengan suara dingin, “Apakah tuan sengaja mencari setori?” Yo Cie Cong segera menjawab sambil ketawa. “Masing2 mengambil jalannya sendiri, satu sama lain tidak saling mengganggu, mengapa kau katakan aku mencari setori ?” “Kulihat kepandaianmu tidak lemah. Rasanya tidak mungkin kalau menghindarkan diri dari tubrukan saja tidak mampu.” Yo Cie Cong yang memangnya sengaja hendak mencari setori, lantas menjawab semau2nya: “Taruh kata aku mencari setori, kalian berdua mau apa ?”

Yang lainnya lagi lantas nyeletuk sambil perdengarkan suara mengejek: “Aku akan memberi hajaran padamu, orang kurang ajar mata buta ” “Ha, ha……Dengan kepandaian kalian berdua, masih belum pantas mengatakan ucapan hendak memberi hajaran.” Dua wanita jelek itu masing2 memperlihatkan sikap gusar. sebentar

kemudian terlihat dua bayangan berkelebat, masing2 dari dua sudut yang bertentangan mereka melancarkan serangan aneh. serangan itu ternyata ada sangat hebat dan ganas sekali. beda jauh dengan ilmu silat yang terdapat dalam rimba persilatan- Yo Cie Cong terkejut juga. Ia segera mengeluarkan ilmu Menggeser tubuh mengganti bayangannya, sebentar saja lantas menghilang.

Kedua wanita jelek itu mimpipun tidak akan menyangka bahwa pemuda cakap didepannya memiliki kepandaian begitu gesit, begitu luar biasa, yang bisa menghilang seolah-olah lakunya hantu, sehingga keduanya menarik serangannya kembali. Ketika melihat lagi, pemuda itu ternyata sedang berdiri dengan tenang di tempat sejauh kira-kira dua tombak. sehingga bukan kepalang rasa kagetnya mereka. salah seorang diantaranya lalu berkata dengan suara dingin, “jika tuan betul-mempunyai kepandaian keluarkanlah kepandaianmu itu. Dengan sedikit ilmu menghilang seperti setan itu saja masih belum terhitung perbuatannya satu enghiong,” “Apakah ini bukan terhitung dalam salah satu kepandaian?” balas tanya Yo Cie Cong dengan tidak kalah angkuhnya. Wanita jelek itu bungkam. lama tidak bisa menjawab. Yang satunya lagi lalu maju tiga tindak seraya berkata: “se-tidak2nya tuan toch mempunyai nama bukan ?” “Sudah tentu. tetapi tidak perlu kuberitahukan pada kalian-” “Ng. sungguh terlalu jumawa.” Baru saja habis ucapannya tangannya lantas diayun ber-ulang”, sehingga suatu kekuatan tenaga yang tidak terlihat dengan cepat menyambar, se-olah2 gelombang kearah Yo Cie Cong. Seorang kawannya yang lain juga lantas maju membantu menyerang.

sambil ketawa dingin Yo Cie Cong gerakkan kedua tangannya, hawa asap merah dan putih kelihatan meluncur keluar dari kedua tangannya menyambuti serangan kedua lawannya.

Dua wanita jelek itu ketika melihat angin serangan tangan anak muda itu agak aneh dan merupakan suatu kepandaian ilmu silat yang belum pernah mereka saksikan pada waktu sebelumnya, diam2 keduanya merasa terkejut. Kekuatan serangan mereka lantas ditambah lagi dua bagian, tetapi dengan demikian, akibatnya lebih celaka lagi untuk mereka sendiri Perlu diketahui, ilmu serangan ‘Liang Kek Cin Goan’ yang keluar melalui telapakan tangan Yo Cie Cong itu, lain dari pada yang lain, Kekuatan itu jika bertemu dengan kekuatan keras, dengan sendirinya menjadi lunak. tetapi apabila bertemu dengan kekuatan lunak. lantas bisa berubah menjadi kekuatan keras. Tetapi daya kekuatan mementalkan kekuatan tenaga lawan adalah sebaliknya,, Apabila kekuatan lawan lebih hebat, tenaga membaliknya makin hebat lagi, sudah tentu kedua wanita jelek itu belum mengetahui kalau ilmunya pemuda itu mempunyai daya kekuatan demikian anehnya.

Ketika dua kekuatan tenaga beradu, lantaa terdengar dua kali suara jeritan- seorang yang melancarkan serangan dari depan telah terpental mundur sampai sepuluh tindak jauhnya.Yang menyerang sembari melesat, akibatnya lebih hebat lagi. Ia telah terpental terbang sampai dua tumbak jauhnya baru jatuh Ketanah. Untungnya kedua wanita jelek itu masing2 mempunyai kepandaian cukup tinggi, selain dari itu, Yo Cie Cong juga hanya menggunakan

tenaganya kira2 enam bagian saja, maka kedua-duanya tidak sampai terluka. jika tidak demikian, mungkin mereka berdua sudah mati atau se-tidak2nya sudah terluka parah setelah menenangkan pikirannya, salah satu dari kedua wanita itu berkata “Kami berdua saudara telah mendapat hadiah yang berharga dari tuan- Tidak nanti kami lupakan-Kalau tuan betul laki2 sejati. tinggalkan nama tuan. Hutang ini nanti kita perhitungkan lagi. sekarang ini kami tidak ada waktu untuk melayani tuan.” “Ha.ha,…… sebaliknya aku masih punya banyak waktu terluang.” “Kau sebetulnya mau apa ?” “Aku selamanya tidak suka membuat perhitungan belakangan. Aku lebih suka membuat perhitungan itu sekarang juga.”

Kedua wanita jelek itu sangat gusar, sampai Badannya gemetaran. Kedua2nya lantas berseru dan segera hendak bergerak pula. Tetapi Yo Cie Cong lantas membentak dengan suara dingin- “Tunggu dulu. jika hanya kalian berdua saja, belum dapat menandingi aku. sekarang kita bicara secara terus terang. jawablah pertanyaanku. jika tidak….” “jika tidak bagaimana?” memotong salah seorang diantaranya. “Kalian jangan harap bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup,” “Hmmm, sombong sekali. Apa kau kira kami berdua saudara takut padamu ?” Kedua2nya lantas bergerak dan menyerang berbareng dari kanan dan kiri serangan mereka itu begitu ganas dan aneh sekali, sampai Yo Cie Cong sendiri dibuat ter-heran2.

Setiap serangan dilakukan secara kerja sama yang baik sekali dan selalu dilancarkan dari sudut yang tidak terduga sama sekali. jika bukan Yo

Cie Cong yang menghadapinya benar2 bisa dibikin ujatuh dalam beberapa jurus saja. Tetapi bagi Yo Cie Cong, yang sudah mempunyai kepandaian luar biasa, dapat menghindarkan serangan kedua wanita itu secara lincah. Dibawah hujan serangan yang gencar dan aneh dari kedua lawannya. ia masih bisa melesat kesana kemari seperti seeKor ikan yang sedang berenang. selewatnya dua puluh jurus kemuka, kedua wanita itu sedikitpun tidak mampu menyenggol ujung bajunya Yo Cie Cong. Mereka kelihatan semakin gusar, serangan mereka pun dilakukan semakin hebat dan ganas. Yo Cie Cong meski diluarnya kelihaian tenang, tetapi dalam hatinya diam2 juga merasa terkejut, serangan kedua wanita itu makin lama ternyata makin hebat, juga semakin aneh. Kepandaian serupa itu, dalam kalangan rimba persilatan sudah termasuk kepandaian tinggi. sebab kedua wanita itu wajahnya jelek luar biasa, malahan matanya kelihatannya seperti bukan wanita genit, maka perlahan-lahan kesannya Yo Cie Cong mulai berubah menjadi agak baik dan tidak bermaksud menurunkan tangan kejam. sebentar saja tiga puluh jurus sudah dilalui. Yo Cie Cong lalu berkata dengan suara lantang. “sekarang aku hendak turun tangan. Diantara kalian berdua ada seorang yang harus rubuh.”

Dua wanita jelek itu memang sudah mulai merasa keder. Mereka tidak dapat menduga dari golongan mana asalnya pemuda cakap yang sikapnya dingin ini? Mereka juga tidak tahu untuk apa dan dengan maksud apa pemuda ini mencari setori dengan mereka. Ketika mendengar perkataan Yo Cie Cong. hati mereka lantas

bercekat. Bersamaan dengan berAkhirnya suara Yo Cie Cong, mereka cuma meraaa didepan matanya seperti berkelebat satu bayangan orang, satu diantaranya benar2 telah rubuh terjengkang. Yang lainnya, dengan hati ketakutan lalu menghentikan serangan, cepat menghampiri kawannya yang rubuh. Ketika memeriksa segera mengetahui kalau kawannya itu hanya tertotok saja jalan darahnya, sehingga dengan demikian hatinya mulai merasa lega kembali.

Ia coba membuka totoknya itu, tapi heran, dengan jalan apa juga ia tak mampu membuka totokan pada tubuh kawannya itu, sehingga diam2 hatinya mulai diliputi rasa ketakutan. “sekarang kaulah yang harus menjawab pertanyaanku” demikian terdengar suara Yo Cie Cong. Wanita jelek itu berdiri tegak, dengan sorot mata gemas ia mengawasi Yo Cie Cong sejenak, lalu berkata. “tanyalah,” ” Kalian berdua apakah murid2nya Giok- bin Giam-po “hoa Cit Kow?” “Bukan” “Ng. Bukankah kalian datang dari puncak gunung Pit-koan-hong ?”

Wanita jelek itu dengan sorot mata ter-heran2 mengawasi Yo Cie Cong seujenak, lalu menjawab^ “Memang benar.” “Bukankan Gok-bin Giam-po berdiam di-atas puncak Pit-goan-hong ?” “Tidak….” Yo Cie Cong kelihatan beringas wajahnya. “Kau mau mampus”^ bentaknya bengis, “Ha, he… Hendak men-cari2 kesalahan orang mudah saja. cuma nonamu akan beritahukan kau, harus kau bisa menjelaskan sebabnya

kau turun tangan terhadap kami berdua saudara. jika tidak sekalipun kami sudah jadi setan, Kami juga tidak akan mengampuni padamu.” suaranya itu menyatakan keputusan dan kegeramannya membuat orang yang mendengarnya merasa bergidik.

Tetapi Yo Cie Cong yang perasaannya sudah dipengaruhi pikirannya sendiri. masih tetap berkata dengan suaranya yang dingin, “Aku beritahukan padamu juga tidak ada halangan- Biar bagaimana kau toch sudah pasti akan mati. Aku hendak mencari Giok-bin Giam-po Phoa Cit Kow dan mencingcang tubuhnya setiap anak muridnya ada Termasuk orang yang harus juga kubunuh. Bagaimana? Kau sudah mengerti belum? Dengan begitu kau barangkali bisa mati dengan mata meram.” Tiba2 wanita jelek itu mengeluarkan suara ketawanya yang mengharukan, kemudian baru berkata: “oh. Inikah alasanmu untuk membunuh kami berdua saudara?” “Benar. sebab kalian berdua adalah muridnya Giok-bin Giam-po.” Wanita jelek itu lantas berseru sambil kertak gigi: ” orang sombong Kuberitahukan padamu kami bukan muridnya Giok-bin Giam-po.” “Kalau begitu kalian sebenarnya murid siapa?”

Wanita jelek itu agaknya mempunyai kesulitan yang tidak dapat diutarakan, lama baru menjawab: “Hal ini tidak bisa kuberitahukan padamu.” “Kalau kau benar? mau binasa, aku pasti akan mengiringi kehendak kalian berdua.” Yo Cie Cong kata dengan suara tetap dingin. Wanita jelek itu mendongak memandang langit, mulutnya berdoa. “suhu untuk mentaati pesanmu kami berdua saudara terpaksa harus korbankan diri.”

suaranya terdengar sangat memilukan hati, sahingga Yo Cie Cong sendiri sampai tergerak hatinya. setelah habis berdoa, dengan sorot mata gemas lalu ia berkata dengan suara bengis: “Tidak kusangka kau yang mempunyai kepandaian begitu tinggi dan wajah begitu tampan ternyata hatinya melebihi serigala kejamnya. sekarang kau boleh turun tangan. Nonamu sungguh tidak beruntung binasa ditanganmu karena tidak mampu melawan, sehingga aku cuma bisa sesalkan kepandaianku sendiri yang belum tinggi, cuma Akhirnya perlu juga kuberitahukan padamu bahwa kami berdua saudara sekali2 bukanlah muridnya Giok-bin Giam-po. orang yang berdiam diatas puncak gunung Pit koan-hong juga bukan Giok-bin Giam-po. Demikian saja perkataanku yang terakhir, nah, sekarang kau boleh mulai turun tangan” Sebabis berkata ia lalu berdiri dan siap hendak mengadu jiwa.

Yo Cie Cong hatinya mulai curiga. diam2 ia berpikir, “Kelihatannya dua wanita jelek ini bukan dari golongan jahat, Besar sekali kesetiaannya mentaati pesan gurunya. Rupanya tidak mirip dengan murid2 didikannya Giok-bin Giam-po, Apalagi aku cuma dapat keterangan dari Ngo Yong sepihak saja, kelihatannya dalam hal ini ada terselip kekeliruan besar.” Matanya Yo Cie Cong mengawasi wajahnya wanita jelek tersebut. Dilihatnya matanya itu memancarkan sinar yang begitu cemas, tetapi kelihatannya tidak merasa jeri dalam menghadapi saat2 kematiannya maka pikirannya lama2 terguncang. “cepatlah turun tangan. Kau tunggu apa lagi?” demikian kata wanita jelek itu.

Pikiran Yo Cie Tiong saat itu lantas berubah. Pikiran waras mulai menguasai otaknya lagi. Benar saja ia telah menemukan beberapa titik bagian yang mencurigakan- Karena pada waktu sebelumnya. ia tidak memperhatikannya, hingga hampir saja ia membuat kesalahan yang sangat besar. seketika itu ia lantas berkata dengan suara lunak: “Kalau begitu harap nona suka menerangkan jalan yang menuuju kepuncak Pit koan-hong. Aku yang rendah ingin menemui sendiri suhumu. Bagaimana?” “Hal ini juga tidak mungkin.” Yo Cie Cong lantas berpikir: “supaya jangan sampai aku melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak berdosa, biarlah untuk sementara aku melepaskan mereka. Dikemudian hari. jika terbukti mereka membohong, tentunya tidak akan terlolos juga dari tanganku. Biar bagaimana maksudku toch hendak mencari Manusia jelek nomor satu itu untuk menuntut balas, aku bisa pergi ke Pek-long-bwee untuk mencari Cin Bie Nio dan mencari penjelasan lagi.”

Maka Akhirnya dengan diam ia mengebutkan lengan bajunya melepaskan totokan pada tubuhnya wanita jelek yang tertotok tadi kemudian berkata pada yang lainnya: “Baiklah. Untuk sementara aku percaya perkataanmu. setelah aku menyelidiki keadaan sebenarnya, jika ternyata apa yang kau ucapkan hari ini tidak betul rasanya, kau juga tidak akan terlepas dari pada kematian.” sehabis berkata ia lantas gerakan Badannya meninggalkan mereka. Dalam hati Yo Cie Cong sekarang kembali bertambah satu teka-teki. seaadainya orang yang berdiam diatas puncak gunung itu, benar2 bukan Giok- bin Giam-po, siapa sebenarnya orangnya itu? si tangan geledek Nao Yong dulu juga merupakan seorang terkenal

didalam rimba persilatan, sudah tentu ia tidak perlu membuat cerita yang bukan2, apalagi satu sama lain pernah ketemu.

Perkenalannya dengan Yo Cie Cong itu ada merupakan perkenalan pertama, tidak ada perlunya ia mengarang cerita yang bukan2 untuk membohongi Yo Cie Cong. Yo Cie Cong makin memikir makin bingung, pikirannya makin ruwet. Ia seperti merasa bahwa Giok-bin Kiam khek Hoan Thian Hoa, dengan asal usul dirinya sendiri ada hubungannya. Pikiran itu terus menerus berputaran dalam otaknya. Meski pun pikiran warasnya kadang2 membantah sendiri anggapan tersebut, tetapi masih tetap merupakan gangguan dalam pikirannya.

Andaikata Giok-bin Giam-po benar2 ada ibu kandungnya sendiri, bagaimana ia nanti bisa tancap kaki dikalangan Kong-ouw? Bagaimana ia bisa menjadi orang? Benarkah ia mempunyai ibu seorang wanita begitu jahat, kejam, cabul, genit dan rendah martabatnya? Bukan, pasti bukan demikian ia kadang-bantah pikirannya sendiri, sebab Giok-bin Gian-po ada merupakan salah satu musuh perguruannya, yang ia sudah tetapkan harus binasa dibawah Golok Maut. Maka pikiran itu kadang2 membuat takut dirinya sendiri, t