Ouw Yang Heng-te

New Picture (4)

Ouw Yang Heng-te

Karya : Kho Ping Hoo

Ebook pdf oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

 Jilid I

KOTA Liok-hui pada hari itu ramai sekali karena banyak tamu luar kota bahkan luar daerah datang membanjiri kota itu. Mereka terdiri dari bermacam-macam orang. Ada bangsawan dan ada yang berpakaian petani, ada saudagar dan ada pula yang berpakaian seperti pengemis penuh tambalan,

ada orang-orang berpakaian seperti sastrawan

dan ada juga yang berpakaian seperti ahli-ahli silat, bahkan

tampak pendeta-pendeta, baik hwesio (penganut agama

Buddha) gundul maupun tosu (penganut agama To).

Baru keadaan para tamu yang terdiri dari berbagai ragam

dan golongan ini saja sudah merupakan pemandangan

menarik yang jarang tampak di kota itu, apalagi kalau orang

mengikuti para tamu itu dan melihat mereka semua

ternyata mengunjungi sebuah gedung besar yang dihias

mentereng dan indah, maka orang akan melihat suasana

yang lebih ramai lagi. Bunyi suling dan yang-khim,

gembreng dan tambur, meramaikan dan menggembirakan

sua sana.

Para tamu semua hanya mempunyai satu tujuan, yakni

mengunjungi gedung besar yang berada dalam suasana

berpesta itu. Gedung ini adalah milik Gak Liong Ek Si

Naga Terbang, seorang tokoh kenamaan di kalangan

persilatan, yang juga terkenal kaya raya, hingga di kota itu

ia disebut Gak-wangwe (hartawan she Gak).

Pada waktu itu Gak-wangwe sedang merayakan hari

ulang tahunnya yang ke enampuluh. Karena ia terkenal

sebagai tokoh di dunia kang-ouw (dunia orang-orang gagah

atau persilatan) dan juga terkenal sebagai seorang kaya raya

yang mempunyai hubungan luas dengan para saudagar dan

para pembesar, maka tidak heran bila hampir setiap orang

yang diundangnya pasti memerlukan datang menghadiri

Ternyata Gak Liong Ek tidak menyia-nyiakan

kesempatan itu untuk memamerkan kekayaannya. Ia

mendatangkan pemain-pemain musik yang paling ternama

dari Hok-chiu dan selain memanggil tukang-tukang masak

dari Lok-thian, juga sengaja mendatangkan berpuluh-puluh

guci arak wangi dari An-hwe-ein. Ia sengaja membongkar

beberapa dinding di ruang depan hingga ruang itu menjadi

sangat lega dan luas, di mana ia atur bangku-bangku bercat

merah dan meja-meja bundar yang ditilami kain

berkembang. Kertas-kertas berwarna dan daun hijau

menghias dinding dan tiang, sedangkan di atas tergantung

teng-loleng (lampion) yang indah-indah beraneka warna

Karena sudah tua dan merasa terlalu merendahkan diri

kalau ia sendiri menyambut kedatangan para tamu, maka ia

perintahkan kedua orang puteranya yang kesemuanya

sudah berumah tangga, untuk mewakilinya menyambut

tamu. Putera sulung menyambut tamu di pintu depan dan

putera bungsu di sebelah dalam, mengantar para tamu

menuju ke tempat duduk masing-masing. Gak Liong Ek

sendiri duduk di tempat yang sengaja ditinggikan di mana

terdapat beberapa belas bangku lain yang khusus disediakan

untuk para tamu agung yang terdiri dari para locianpwe

(orang-orang tua gagah) dan para bangsawan tinggi.

Gak Liong Ek berpakaian serba biru yang indah berkilat

karena terbuat dari sutera. Pada dada bajunya itu tampak

sulaman naga terbang yang sengaja dibuat berbeda

bentuknya dengan naga-naga biasa karena pada waktu itu

yang diperbolehkan memakai baju bersulamkan naga

hanyalah kaisar seorang dan keluarganya. Gak Liong Ek

memakai sulaman naga terbang hanya untuk menyesuaikan

dirinya dengan julukannya yang sudah terkenal dan yang

mengangkat tinggi namanya selama berpuluh tahun, yakni

julukan Hwie-liong atau Naga Terbang.

Untuk menambahkan kebesarannya, ia sengaja

menggantungkan pedang pusakanya yang dimasukkan di

dalam sarung pedang bergambar naga terbang pula, di atas

dinding tempat ia duduk.

Dari penuturan di atas ini orang dapat mengira-ngira

akan perangai jago tua itu. Ya, Gak Liong Ek memang

sejak dulu terkenal angkuh dan sangat membanggakan

kepandaiannya, akan tetapi, betapapun sombongnya dia

harus diakui bahwa perangai sombong dan kasar itu

dibersihkan oleh adatnya yang jujur dan terus terang.

Gak Liong Ek sudah memesan kepada kedua orang

puteranya untuk berlaku hormat kepada semua tamu, tak

perduli tamu itu dari golongan apa. Jago kawakan ini

memaklumi, bahwa orang-orang gagah di dunia ini banyak

sekali yang aneh perangai dan banyak yang

menyembunyikan dirinya di balik pakaian pendeta, hwesio,

sastrawan, petani, bahkan banyak yang mengenakan baju

Karena pesan ayahnya inilah, maka kedua puteranya itu

m maksa diri berlaku hormat kepada siapa saja yang masuk,

baik ia seorang pendeta maupun seorang pengemis jembel.

Dan lucunya, keadaan ini rupa-rupanya diketahui juga oleh

para pengemis, hingga di antara sekian banyak tamu, ada

beberapa orang pengemis tulen yang membonceng dan

sengaja berpura-pura menjadi tamu dan ikut masuk. Dan

ternyata mereka ini juga diterima baik-baik oleh kedua

putera Gak-wangwe hingga pengemis-pengemis itu tentu

saja merasa mendapat untung besar dan seperti memasuki

sorga saja. Tanpa sungkan-sungkan lagi mereka hantam

kromo segala hidangan di meja karena kesempatan macam

ini tak mungkin akan terjadi untuk kedua kalinya selama

mereka hidup.

-Ooo-dw-ooOKedua

putera Gak Liong Ek terpaksa tak dapat

menyembunyikan rasa heran, terkejut dan bingung ketika

dari luar datang dua orang anak muda yang sangat aneh.

Bukan pakaian mereka yang sederhana dan ringkas itu yang

aneh, juga bukan wajah keduanya yang sangat tampan dan

gagah yang mengherankan. Tapi yang sangat aneh dan

menyolok mata ialah persamaan mereka. Kedua pemuda

itu demikian sama dan serupa, sebentuk, dan segaya hingga

benar-benar bisa membikin orang yang melihat mereka

menjadi kesima dan terheran-heran. Muka serupa, hidung

yang mancung dan mulut yang indah bentuknya itu

semacam, tubuh sebentuk, pakaian sama, sepatu sama, ikat

kepala serupa.

Tak aneh bahwa putera Gak Liong Ek yang menyambut

mereka berdiri keheranan memandang. Setelah kedua

pemuda itu menjura dan memperkenalkan diri sebagai

Ouwyang-hengte (kakak beradik she Ouwyang), barulah

tuan rumah sadar dari kesimanya dan balas menjura.

Berbeda dengan putera sulung, ternyata putera bungsu yang

menyambut di sebelah dalam lebih tajam matanya. Tadinya

iapun heran sekali, tapi cepat matanya mencari-cari

perbedaan yang mungkin ada di antara kedua saudara

Ouwyang itu, dan ia berhasil. Ternyata pedang yang

tergantung di pinggang kedua saudara itu berbeda. Seorang

berpedang panjang, yang lain berpedang pendek. Ia lalu

tersenyum lega dan puas melihat perbedaan ini dan segera

mengantar mereka ke tempat duduk di bagian para muda,

yakni di ujung kiri.

Sebelum duduk, sepasang pemuda yang serupa itu lebih

dahulu menuju ke tempat di mana Gak Liong Ek duduk

dan keduanya lalu menjura dan memberi hormat.

“Siauwte berdua mewakili suhu dan membawa pesan

suhu yang menghaturkan selamat dan panjang usia kepada

lo-enghiong,” kata yang berpedang panjang.

Gak Liong Ek juga berdiri dan membalas hormat

mereka, lalu ia memandang kagum kepada dua orang

pemuda yang sangat tampan dan serupa itu, lalu berkata,

“Terima kasih banyak, dan jiwi-hiante ini siapakah?

Serta siapa pula suhu kalian yang terhormat? Maaf, saya

telah terlalu tua hingga tidak ingat lagi.”

“Tidak heran bila lo-enghiong tidak ingat karena

memang kita belum pernah bertemu. Siauwte berdua adalah

Ouwyang-hengte dan suhu kami adalah Ang In Liang dari

Hong-san.”

Tiba-tiba Gak Liong Ek tampak senang sekali dan ia

dongakkan kepalanya lalu tertawa gelak-gelak. “Ha-ha-ha.

Jadi suhu kalian adalah Pat-jiu Lo-mo (Iblis Tua Tangan

Delapan)? Hei, apakah iblis tua itu masih hidup?”

Melihat kegembiraan dan kekasaran tuan rumah, kedua

pemuda itu bersikap tenang saja. Si pedang pendek yang

kini menjawab, “Suhu sehat-sehat saja dan mengharap loenghiong

juga dalam keadaan sehat.”

“Ah, bagus, bagus. Mari, mari, jiwi harus mewakili si

iblis tua kawan baikku itu untuk menghabiskan tiga cawan

arak wangi.” Mendengar ucapan ini, cepat seorang pelayan

yang memegang guci arak menghampiri mereka dan tanpa

diperintah, pelayan yang tahu kewajiban itu menuang arak

dalam tiga cawan. Untuk menghormat tuan rumah,

terpaksa kedua pemuda itu mengeringkan cawan mereka

bersama-sama tuan rumah sampai tiga kali. Kemudian

mereka mundur dan duduk di tempat yang memang

disediakan untuk para muda, yakni di ujung sebelah kiri tak

jauh dari tempat duduk Gak Liong Ek.

Kedua pemuda itu memang murid-murid Pat-jiu Lo-mo

Ang In Liang, seorang pertapa tua bekas perampok tunggal

yang sangat ternama dan memiliki kepandaian tinggi dan

yang kini bertapa di Bukit Hongsan. Dua saudara ini

memang sepasang anak kembar dari keluarga Ouwyeng.

Yang berpedang panjang bernama Ouwyang Bun dan

adiknya, yang berpedang pendek, bernama Ouwyang Bu.

Ayah mereka adalah seorang saudagar bernama Ouwyang

Heng Sun yang tinggal di daerah selatan. Ketika mereka

berusia sepuluh tahun, Ang In Liang yang tadinya hendak

merampok keluarga Ouwyang, mengurungkan maksudnya

ketika melihat kedua enak itu dan sebaliknya ia laiu

menculik mereka dan membawanya ke Gunung Hong-san.

Ia didik dan ia gembleng kedua anak kembar itu sampai

delapan tahun lebih hingga kini mereka telah berusia

delapanbelas tahun dan telah memiliki kepandaian silat

yang tinggi sekali, karena boleh dibilang mereka telah

mewarisi delapan bagian dari seluruh kepandaian Pat-jiu

Lo-mo Si Iblis Tua Tangan Delapan. Biarpun muka kedua

orarfg pemuda itu serupa benar, namun ternyata perangai

mereka berbeda jauh. Ouwyang Bun berwatak pendiam,

halus tutur sapanya, dan cerdik penuh akal. Sebaliknya Bu,

adiknya, beradat keras, suka terus terang, jujur dan tak

begitu mengindahkan adat sopan santun, pula mudah sekali

marah. Hanya baiknya anak muda yang keras hati ini

sangat cinta dan taat kepada kakaknya, hingga Ouwyang

Bun yang lebih cerdik dan halus dapat menguasai dan

mengendalikan adiknya itu.

Ketika Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang, suhu mereka

menerima undangan dari Gak Liong Ek, kebetulan sekali

jago tua ini merasa bahwa sudah tiba waktunya bagi kedua

muridnya untuk turun gunung dan mempraktekkan semua

kepandaian yang telah dipelajarinya di atas gunung dengan

tekun dan bersusah payah. Oleh karena itu, maka ia

mengutus kedua muridnya itu untuk mewakili dia

menghadiri pesta perayaan Gak Liong Ek, agar mereka

dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang pandai

di dunia kang-ouw.

Selain menyuruh mereka mengunjungi pesta Gak Liong

Ek, juga Iblis Tua Tangan Delapan itu memberi pesan

dengan kata-kata bersemangat,

“Kalian boleh pergi mencari orang tuamu yang telah

kauketahui terang nama dan tempat tinggalnya. Tapi yang

terpenting sekali, aku minta kepada kamu berdua supaya

menunjukkan kepada dunia bahwa kamu berdua adalah

laki-laki bersikap jantan dan gagah yang tidak sia-sia belajar

silat dengan tekun di sini. Ketahuilah bahwa negara sedang

terancam oleh serangan-serangan para pemberontak dari

utara. Siapa lagi yang akan membela negara selain puteraputeranya

seperti kalian berdua? Dengan demikian, maka

tidak percuma pula aku mendidik kalian sampai bertahuntahun.

Setelah kamu berdua bertemu dengan orang-tuamu.,

maka pergilah ke Pak-thian dan carilah seorang panglima

perang bernama Cin Cun Ong yang memimpin barisan

besar menindas para pemberontak di daerah utara.

Ketahuilah bahwa Cin Cun Ong ini adalah susiokmu

sendiri. Kalian berikan surat dariku dan kalian harus

membantu dia menumpas para pemberontak pengacau

negara. Bunuhlah sebanyak-banyaknya para pengkhianat

negara itu, sepuas hatimu. Tapi berlakulah waspada dan

hati-hati karena di antara mereka banyak terdapat orangorang

pandai.”

Tentu saja kedua saudara Ouwyang ini menerima pesan

suhu mereka dengan taat. Mereka menerima masingmasing

sebatang pedang, dan setelah menyimpan surat

suhunya untuk diberikan kepada panglima Cin Cun Ortg

kelak dan berpamit, keduanya lalu turun gunung.

-Ooo-dw-ooOTak

lama kemudian, ruang yang sengaja disediakan

untuk para tamu di rumah Gak Liong Ek, telah penuh

dengan tamu. Tempat tuan rumah yang agak tinggi kini

telah penuh tamu pula, yakni orang-orang tua yang ganjil

pakaian dan bentuk tubuhnya dan beberapa orang yang

berpakaian seperti pembesar. Karena ingin sekali kenal

siapakah adanya para locianpwe yang mendapat

kehormatan di kursi tinggi itu, Ouwyang Bun bertanya

kepada orang-muda lain yang duduk di dekatnya. Orang

muda itu berpakaian sebagai seorang ahli silat juga dan

mendengar pertanyaan itu, ia merasa girang dan bangga

sekali. Dengan menunjukkan bahwa ia telah kenal semua

cianpwe itu, seakan-akan ia telah membanggakan

pengalamannya hingga orang dapat menduga bahwa iapun

memiliki kepandaian tinggi.

Ia menggunakan jarinya menunjuk dari kiri ke kanan

sambil memperkenalkan, “Yang duduk di ujung kiri,

tubuhnya bongkok kurus, rambutnya panjang diikatkan ke

atas dan berpakaian seperti tosu itu adalah Kin Keng Tojin,

tokoh dari Go-bi-san. Kedua dari kiri, hwesio gundul

bertubuh gemuk pendek itu adalah Cin Kong Hwesio dari

kelenteng Hok-po-tong, di mana ia menjadi ketuanya.

Ketiga adalah Bhok Sun Ki dan dari pakaiannya yang

penuh tambal an itu kau dapat menduga bahwa dia adalah

seorang pengemis, tapi bukan sembarang pengemis karena

julukannyapun Raja Pengemis. Lima orang tua berikutnya

yang berpakaian petani adalah tokoh-tokoh terkenal, karena

mereka ini tidak lain ialah Ki-lok Ngo-koai atau Lima Setan

Tua dari Ki-lok. Hanya delapan loeianpwe itulah yang

berkepandaian setingkat dengan Gaklo-enghiong,

sedangkan yang lain berada di bawah tingkatnya.”

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu memandang mereka

yang dipuji-puji itu dengan kagum. Mereka menduga-duga

sampai di mana kehebatan dan keunggulan mereka ini.

Apakah mereka ini lebih hebat daripada gurunya?

Demikian kedua saudara Ouwyang ini berpikir.

Pada saat itu para tamu sudah banyak yang setengah

mabok karena arak wangi yang dihidangkan itu benar-benar

keras dan simpanan lama. Dari rombongan anak-anak

muda mulai terdengar suara-suara keras dan tertawa-tawa

bebas dan berani, hingga Ouwyang Bun berdua adiknya

beberapa kali menengok. Tiba-tiba seorang yang berusia

kurang lebih tigapuluh tahun dan duduk di tengah-tengah di

antara kaum muda, berdiri dan mengacungkan cawan

araknya ke arah tuan rumah, lalu berkata dengan suara

lantang,

“Gak-lo-enghiong yang gagah dan dipanggil Hui-liong

(Naga Terbang), sungguh-sungguh telah menghibur kita

dengan arak baik dan hidangan lezat. Sayangnya tidak ada

sesuatu pertunjukan yang menarik hati, kecuali suara musik

yang membosankan. Para locianpwe yang mendapat tempat

terhormat, apakah tidak hendak turun tangan sekedar

membantu meramaikan pesta dan membalas budi tuan

rumah?”

Semua orang-orang tua yang duduk di dekat tuan rumah

saling pandang, ada yang memandang marah, ada pula

yang geli dan menganggap pemuda itu sudah mabok dan

mengoceh tak keruan.

“Ha-ha.” pemuda itu tertawa, “kalau begitu percuma

saja tuan rumah menyediakan tempat khusus untuk para

locianpwe yang gagah. Nah, Gak-lo-enghiong, biarlah

siauwte minum arak ini untuk keselamatanmu.” Terpaksa

Gak Liong Ek sambil tertawa menyambut ucapan selamat

ini dengan mengangkat cawan araknya pula.

Kemudian anak muda itu berkata pula, “Sekarang, kalau

para locianpwe tidak ada yang sudi turun tangan biarlah

siauwte yang muda dan bodoh meramaikan pesta ini

dengan pertunjukan sedikit kepandaian silat. Harap jangan

ditertawakan, karena memang siauwte masih bodoh. Lihat,

tempatkupun di rombongan ini, bukan di atas.”

Terang sekali ia menyindir tuan rumah dan para

locianpwe, dan setelah meletakkan cawan arak kosong di

atas meja, orang itu dengan sekali gerakan tangan, tahutahu

tubuhnya telah melayang dan meloncat ke panggung

yang cukup luas di tengah-tengah ruangan itu. Panggung ini

memang sengaja dibangun untuk para penari dan penyanyi,

juga karena Gak Liong Ek adalah seorang dari kalangan

persilatan, ia sengaja menyediakan tempat ini kalau-kalau

ada pertunjukan silat.

Gerakan yang didemonstrasikan oleh pemuda berbaju

biru itu memang cukup gesit hingga Ouwyang-hengte

(kakak beradik Ouwyang) diam-diam memuji.

Setelah berada di atas panggung, si baju biru lalu

memberi tanda kepada para pemukul gamelan untuk

menghentikan permainan mereka. Kemudian ia menjura ke

arah tuan rumah, lalu ke seluruh penjuru.

“Cuwi sekalian yang mulia. Mungkin cuwi belum pernah

mendengar namaku dan belum mengenal siauwte, memang

siauwte bukanlah orang gagah yang terkenal. Baiklah

siauwte memperkenalkan diri, nah aku Lui Kok Pauw dan

terus terang saja siauwte mengaku bahwa siauwte ikut

menghadiri pesta ini semata-mata karena kagum akan nama

Gak-lo-enghiong, bukan atas undangan. Oleh karena itu,

karena aku bukanlah seorang yang hendak makan hidangan

orang begitu saja tanpa membayar, biarlah sekarang siauwte

bayar makanan dan hidangan itu dengan meramaikan dan

menggembirakan pesta ini. Kalau kiranya di antara para

locianpwe ada yang merasa bergembira untuk menemani

siauwte bermain-main, hal itu akan baik sekali.”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang tinggi dan nyaring

dari arah para locianpwe. Ternyata yang tertawa itu adalah

si Raja Pengemis Bhok Sun Ki. Dari suara tertawa ini saja

dapat diketahui bahwa khikangnya sudah matang dan tentu

kepandaiannya juga tinggi sekali.

“Lui-sicu.” katanya kepada si baju biru di atas panggung,

“kalau aku tidak salah ingat, namamu sangat terkenal di

antara tokoh-tokoh dari utara. Cobalah perlihatkan

kepandaianmu dulu untuk kulihat apakah cukup berharga

untuk bermain-main dengan aku orang tua.”

Lui Kok Pauw terkejut ketika mendapat kenyataan

bahwa pengemis jembel itu mengenalnya, maka iapun

menjura dan berkata, “Lo-enghiong yang gagah

menyembunyikan kepandaian tinggi di dalam tubuh yang

dibungkus kain-kain lapuk penuh tambalan. Bukankah

julukan lo-enghiong ini Kai-ong si Raja Pengemis?”

Kini Bhok Sun Ki yang kaget karena ternyata Lui Kok

Pauw bermata tajam. “Ha-ha, Lui-sicu, kaupun bukan

orang bodoh sembarangan saja. Lekas perlihatkanlah

beberapa gerakanmu, sudah gatal-gatal tanganku untuk

menerima sedikit pengalaman darimu.”

Lui Kok Pauw adalah seorang jago muda yang namanya

telah menggemparkan daerah utara. Dia adalah murid

langsung dari Keng-an-san dan memiliki ilmu silat

campuran dengan ilmu silat dan gumul dari Mongolia.

Sebenarnya, orang she Lui ini adalah seorang di antara para

tokoh pemberontak yang bergerak di sepanjang tembok

besar dan berusaha menjatuhkan pemerintahan kaisar yang

pada waktu itu berkuasa. Dan kini Lui Kok Pauw datang ke

situ bukanlah semata-mata hendak menghadiri pesta, tapi

juga hendak mengumpulkan kawan-kawan sepaham dan

membujuk orang-orang kang-ouw untuk membantu

pergerakan kawan-kawannya.

Untuk inilah, sengaja ia hendak memperlihatkan

kepandaiannya agar menarik perhatian para orang gagah. Ia

lalu gerakkan kedua kaki dan tangannya dan memainkan

Pek-wan-kun-hoat (Ilmu Silat Lutung Putih) yang eepat dan

gesit karena tiap-tiap pukulan diakhiri dengan tangkap dan

cengkeraman serta tiap pukulan lalu dirobah dengan

serangan lain yang tak terduga datangnya. Baru beberapa

jurus saja ia bersilat, para locianpwe yang duduk dekat tuan

rumah maklum sudah bahwa orang she Lui yang baru

berusia paling banyak tigapuluh tahun itu memang

memiliki kepandaian tinggi dan merupakan lawan yang

sukar ditandingi.

Melihat gerakan-gerakan Lui Kok Pauw yang aneh itu,

timbullah kegembiraan Bhok Sun Ki untuk mencobanya.

Sekali menggerakkan kaki ia telah sampai di atas panggung

itu dan berkata,

“Lui-sicu. Namamu bukan kosong melompong, kau

ternyata memang mempunyai isi yang baik juga. Mari kita

bermain-main sebentar.”

Tanpa menanti jawaban, si Raja Pengemis itu telah

bersilat mengimbangi permainan Lui Kok Pauw. Raja

Pengemis ini bersilat Tat-mo-kun-hoat yang cukup kuat dan

lihai hingga sebentar saja tubuh mereka berdua

Berkelebatan ke sana ke mari, makin lama makin cepat

hingga membikin kabur mata para penonton yang tak

begitu pandai dalam hal ilmu silat. Ketika kedua lengan

mereka bertemu untuk pertama kali, keduanya maklum

bahwa tenaga dalam mereka seimbang.

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu diam-diam kagum juga

melihat kelihaian mereka dan dua orang pemuda yang

berkepandaian tinggi dan bermata tajam inipun tahu bahwa

dalam hal ilmu silat, Lui Kok Pauw lebih menang setingkat,

tapi kekalahan si Raja Pengemis itu tertutup dengan

kemenangannya dalam ginkang. Memang Bhok Sun Ki

memiliki ginkang luar biasa dan tubuhnya sampai hampir

tak terlihat lagi karena cepatnya ia bergerak.

Setelah bertempur seratus jurus, keduanya makin panas

dan penasaran karena belum juga dapat keluar sebagai

pemenang. Sebenarnya Lui Kok Pauw tidak hendak

melanjutkan perkelahian yang tadinya hanya bersifat mainmain

ini, tapi karena Bhok Sun Ki yang sudah memiliki

nama besar dan terkenal sebagai seorang tokoh tingkat

tinggi, kini tak dapat menjatuhkan seorang muda, merasa

penasaran dan malu sekali hingga Raja Pengemis itu kini

tidak main-main lagi, tapi berkelahi dengan sungguhsungguh

dan melancarkan serangan-serangan dan pukulanpukulan

maut. Tentu saja Lui Kok Pauw tahu dan merasa

pula, maka iapun terpaksa mengeluarkan ilmu

simpanannya dan kini setiap serangan dilakukan dengan

tenaga lweekang sepenuhnya hingga sangat berbahaya bagi

Pada suatu saat, Bhok Sun Ki menyerang hebat dengan

tangan kanannya. Karena serangan ini cepat sekali, Lui

Kok Pauw menangkis dan berbareng mencengkeram tangan

lawan itu. Ternyata maksudnyapun sama dengan maksud

Bhok Sun Ki, karena ternyata pukulan si Raja Pengemis itu

lalu diubah menjadi pukulan Eng-jiauwkang (Pukulan

Cakar Garuda). Maka secara tepat dan cepat sekali kedua

tangan kanan mereka saling mencengkeram dan saling

memegang hingga jari-jari tangan mereka saling

menggenggam. Karena gerakan ini dilakukan berbareng,

maka kini mereka tak dapat melepaskan tangan lagi dan

keduanya mengerahkan tenaga lweekang untuk

menjatuhkan lawan. Tubuh mereka diam bagaikan patung,

tangan kiri diacungkan ke atas dan kedua mata mereka

saling pandang tak berkedip.

Melihat betapa kedua orang itu mengadu kepandaian

dan lweekang hingga berada dalam keadaan yang

mengkhawatirkan sekali, semua orang menahan napas.

Memang sukar bagi kedua pihak untuk mundur lagi, karena

mengalah sedikit saja pasti akan mendapat luka dalam yang

berbahaya. Adu tenaga dalam itu telah mendatangkan

peluh di jidat kedua orang itu dan napas mereka telah

terdengar terengah-engah.

Pada saat itu, Ouwyang-hengte yang sudah bersepakat,

tiba-tiba meloncat dengan gerakan lincah dan ringan ke atas

panggung. Ouwyang Bun turun di dekat Raja Pengemis,

sedangkan adiknya turun di dekat Lui Kok Pauw.

Keduanya berseru,

“Maaf.” dan cepat sekali mereka keduanya

menggunakan tangan kanan untuk menotok pergelangan

tangan masing-masing dan cepat membetot tubuh mereka

ke belakang. Baik Bhok Sun Ki, maupun Lui Kok Pauw

ketika tertotok merasa tenaga mereka lenyap dan tangan

mereka lumpuh tak bertenaga, maka mudah saja keduanya

ditarik ke belakang hingga terlepaslah genggaman masingmasing.

Sekali lagi Ouwyang Bun dan adiknya menjura kepada

dua orang itu dan Ouwyang Bun berkata merendah,

“Mohon dimaafkan bahwa siauwte berdua lancang tangan

memisah, karena dua harimau bergulat, pasti akan ada yang

terluka. Bukankah hal itu sayang sekali?”

Sehabis memisah dua orang gagah yang bertanding matimatian

tadi, kedua saudara Ouwyang itu cepat meloncat

turun dan duduk kembali ke tempat mereka semula. Diamdiam

Bhok Sun Ki dan Lui Kok Pauw merasa kagum akan

kecerdikan kedua anak muda itu, dan merasa malu kepada

diri sendiri yang telah melupakan maksud semula bahwa

mereka bertanding hanya untuk main-main dan

meramaikan pesta saja. Bhok Sun Ki si Raja Pengemis lalu

menjura sambil berkata,

“Lui-sicu, sungguh kau gagah perkasa dan aku orang tua

takluk padamu. Kau benar-benar patut disebut enghiong

sejati, hohan yang berjiwa patriot.”

Lui Kok Pauw buru-buru membalas penghormatan itu

dengan merendahkan diri dan berkata, “Sebaliknya siauwte

merasa mendapat kehormatan besar sekali karena hari ini

telah berkenalan dengan keulungan lo-enghiong, dan

mendapat kenyataan bahwa lo-enghiong juga berjiwa

patriot sejati. Atau, apakah siauwte salah raba?” ia

memancing untuk mengetahui pendirian orang tua gagah

Si Raja Pengemis tertawa gelak-gelak. “Apakah sicu

hendak samakan aku orang tua sebagai segala macam orang

pengekor seperti Cin Cun Ong dan para begundalnya?”

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu terkejut mendengar

kata-kata ini, dan mereka memandang kepada pengemis itu

dengan mata marah. Cin Cun Ong adalah seorang

panglima besar dan menjadi susiok mereka, mengapa kini

dimaki-maki oleh raja pengemis itu? Sebaliknya, Lui Kok

Pauw menjadi girang sekali, biarpun ia merasa agak heran

akan keberanian orang memaki panglima itu di depan orang

Lui Kok Pauw tentu tidak tahu bahwa sebagian besar

orang-orang gagah yang duduk di situ semua merasa

simpati dan setuju akan pemberontakan yang dipimpin oleh

seorang gagah perkasa bernama Lie Cu Seng yang terkenal.

Orang gagah ini memimpin barisan besar sekali yang terdiri

dari kaum tani dan jembel yang telah merasa cukup banyak

menderita karena tindasan dan perasan para pembesarpembesar

busuk di bawah pemerintahan kaisar yang lalim.

Memang harus diakui bahwa pemberontakan yang

dicetuskan oleh Lie Cu Seng ini tidak banyak mendapat

sambutan dari para orang gagah yang kebanyakan hanya

peluk tangan dan bersikap masa bodoh saja, walaupun di

dalam hati mereka bersimpati. Akan tetapi tidak sedikit

orang-orang gagah di utara dan timur dengan aktif

membantu pergerakan ini hingga lambat-laun barisan Lie

Cu Seng makin besar dan kuat saja, apalagi karena

pergerakan ini dibantu oleh rakyat jelata yang memberi

ransum dan makan dengan suka rela kepada mereka.

Kini mendengar betapa Bhok Sun Ki memaki-maki Cin

Cun Ong, seorang panglima yang terkenal gagah dan

banyak membasmi kaum pemberontak, mereka itu bersikap

dingin saja, dan tidak ambil perduli. Akan tetapi, Ouwyang

Bun dan Ouwyang Bu merasa marah sekali, biarpun

mereka masih menahan-nahannya. Lebih-lebih Ouwyang

Bu, ketika mendengar susioknya yang dipuji oleh suhunya

itu dimaki orang, hampir saja tak dapat menahan

kemarahan hatinya dan hendak melompat ke atas panggung

kalau saja tidak ditahan oleh kakaknya yang lebih sabar.

Lui Kok Pauw tertawa senang mendengar kata-kata si

Raja Pengemis itu. “Bagus, bagus. Sungguh senang bertemu

dengan orang-orang gagah yang berhaluan mulia. Memang,

pengekor-pengekor macam orang she Cin itu dan kaki

tangannya, kalau bukan orang-orang gagah macam kita

yang membasminya, siapa lagi? Lo-enghiong, mengapa kau

tidak cepat-cepat menggabungkan diri dengan kami dari

utara? Waktunya kini telah tiba untuk membebaskan rakyat

dari hidup sengsara.”

“Sicu berada di bawah pimpinan siapakah?”

“Siapa lagi kalau bukan Thio Sian Tiong enghiong yang

bijaksana dan gagah perkasa?”

Mendengar bahwa orang she Lui itu adalah seorang anak

buah dari barisan pemberontak Thio Sian Tiong, terkejutlah

semua orang dan mereka menaruh perhatian besar.

Sementara itu, Ouwyang Bu yang sudah tak dapat menahan

sabarnya lagi, meloncat sambil memaki,

“Bangsat pemberontak jangan kau lancang mulut.”

Lui Kok Pauw dan Bhok Sun Ki terkejut karena melihat

bahwa yang meloncat ke panggung dengan muka merah, ini

adalah seorang dari kedua pemuda yang tadi memisah

mereka. Belum hilang kaget mereka, seorang pemuda lain

melompat menyusul dan kini kedua pemuda yang bermuka

sama benar itu telah berdiri menghadapi mereka. Karena

tindakan ini, maka sepasang saudara kembar ini jelas

kelihatan oleh semua orang yang memandang dengan

bingung dan heran. Sungguh kedua pemuda itu sama benar

bentuk dan rupanya. Ketika kedua pemuda ini tadi naik ke

panggung dan memisah kedua jago yang sedang bertempur,

mereka bergerak cepat dan tidak lama tinggal di atas

panggung hingga tidak menarik perhatian orang. Juga,

gerakan-gerakan mereka yang cepat tadi tak terlihat oleh

sebagian besar para tamu hingga mereka tidak menaruh

perhatian karena menyangka bahwa pemuda itu hanya

memisah dengan mulut saja.

Bhok Sun Ki si pengemis membentak. “He, anak muda,

siapakah yang kau maki pemberontak tadi?”

“Siapa lagi kalau bukan kalian berdua? Kalian

pemberontak-pemberontak rendah pengacau negara

sungguh berani mati menghina Cin-ciangkun di muka

umum. Agaknya kalian telah bosan hidup.” Ouwyang Bu

Lui Kok Pauw lalu maju dan menjura. “Jiwi ini sungguh

anak-anak muda yang aneh. Tadi kalian bersikap sebagai

sahabat, tapi kini tahu-tahu memusuhi kami. Sebenarnya

siapakah jiwi dan mengapa melarang kami memaki-maki

pembesar pengkhianat yang menjadi penjilat kaisar lalim

itu?”

“Bangsat bermulut lancang.” Ouwyang Bu memaki, tapi

kakaknya lalu berkata kepada Lui Kok Pauw.

“Saudara adalah seorang yang berkepandaian, dan

bukanlah urusan kami kalau kau hendak berlaku sesat dan

ikut-ikut dengan para pemberontak yang kejam dan ganas.

Akan tetapi, kami berdua Ouwyang-hengte tentu saja

takkan tinggal diam mendengar susiok kami dimaki-maki

orang. Ketahuilah, kami berdua adalah murid-murid

kemenakan Cin-ciangkun, dan kami berdua hendak

membantu susiok membasmi para pemberontak dan

pengkhianat yang mencelakakan rakyat jelata.”

Tiba-tiba Lui Kok Pauw tertawa besar. “Ha-ha. Sungguh

lucu. Masih tidak aneh kalau kalian anak-anak muda ini

membantu kaisar kejam karena mempunyai susiok yang

menjadi panglima penjilat. Tapi sungguh lucu kalau orangorang

sesat dan pengkhianat seperti kalian ini mengaku

sebagai pembela rakyat. Ketahuilah orang-orang muda yang

buta, para pemberontak itulah rakyat jelata.”

“Jangan jual obrolan kosong.” Ouwyang Bu berseru lalu

maju menyerang. Lui Kok Pauw menangkis dan sebentar

saja mereka berdua bertempur hebat. Bhok Sun Ki tentu tak

mau tinggal diam saja, karena iapun sudah mengaku

sebagai seorang patriot, maka kini di situ terdapat orangorang

muda pembela kaisar, mustahil ia harus tinggal diam

saja? Maka ia lalu bergerak dan menyerang Ouwyang Bun.

Pertempuran di atas panggung makin menghebat,

sedangkan semua tamu menjadi panik dan memandang ke

arah panggung dengan wajah tegang. Mereka maklum

bahwa kini perkelahian dilakukan dengan sungguh-sungguh

dan bukan main-main. Sementara itu, Gak Liong Ek si tuan

rumah, menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ia tahu bahwa kepandaian keempat orang itu sangat hebat

dan untuk memisah mereka adalah pekerjaan yang sangat

berbahaya dan sukar, dan ia sendiri memang berpendirian

bebas, tidak pro sana tidak anti sini. Oleh karena itu, lain

tidak ia hanya bisa mondar-mandir di bawah panggung

sambil berseru berkali-kali,

“Berhenti, tahan, tahan.”

Akan tetapi keempat orang yang sudah terlibat dalam

pertempuran seru dan mati-matian itu, tidak sudi berhenti

demikian saja. Ouwyang-hengte memang memiliki

kepandaian asli dari Pat-jiu Lo-mo guru mereka yang

tersohor itu, maka setelah bertempur beberapa puluh jurus,

Lui Kok Pauw dan Bhok Sun Ki kena didesak hebat dan

hanya sanggup menangkis saja.

Maka marahlah kedua orang itu lalu mencabut senjata

masing-masing. Lui Kok Pauw mencabut sebatang pedang

dan Bhok Sun Ki mengeluarkan sebatang tongkat.

Ouwyang-hengte melihat kenekatan lawan, lalu

mengeluarkan senjata mereka pula. Ouwyang Bun

mencabut pedang panjangnya, sedangkan Ouwyang Bu

mengeluarkan pedang pendeknya. Keempat senjata itu

berkelebat dan kembali pertempuran berlangsung dengan

hebat dan serunya, bahkan lebih seru dan menyeramkan

daripada ketika dilakukan pertandingan tangan kosong tadi.

Ternyata dalam permainan senjata, tongkat si Raja

Pengemis sangat hebat sekali, karena ia memiliki

kepandaian tunggal, yakni Hui-coa-tung-hoat (Ilmu

Tongkat Ular Terbang). Dengan gerakan tongkatnya yang

berkelebatan dengan bergetar dan berputaran ujungnya, ia

dapat melayani pedang panjang Ouwyang Bun dengan baik

dan seimbang. Tapi sebentar saja Ouwyang Bu telah dapat

mendesak senjata Lui Kok Pauw dengan pedang pendeknya

yang ternyata hebat dan ulung pula. Lui Kok Pauw kini

hanya dapat main mundur saja dan beberapa kali

pedangnya hampir terlepas dari pegangannya kena gempur

pedang pendek lawannya yang cepat dan kuat gerakannya

Pada saat itu terdengar suara teriakan orang. “Cuwi,

kedua anak muda ini sungguh tak tahu diri. Agaknya ia

hendak meng gunakan pengaruh Cin-ciangkun untuk meng

hina kami orang-orang kang-ouw. Ayoh kita usir mereka.”

Yang berseru demikian itu adalah tosu bongkok kurus,

tokoh Go-bi-san yang bernama Kin Keng Tojin dan yang

tadi duduk di deretan tempat para loeianpwe. Tojin ini

adalah kawan baik Bhok Sun Ki. Maka ketika melihat

kawannya itu terdesak, tentu saja tak mau tinggal diam,

apalagi ketika mendengar bahwa dua orang anak muda itu

adalah murid kemenakan Cin Cun Ong, panglima raja yang

gagah perkasa dan yang sudah banyak mengorbankan jiwa

kawan-kawan baiknya di dunia kang-ouw, ia menjadi

marah sekali.

Di antara tamu-tamu Gak Liong-Ek, banyak terdapat

orang-orang gagah yang telah merasa sakit hati kepada Cinciangkun,

maka serentak mereka bangun berdiri, hanya

masih ragu-ragu karena merasa malu harus mengeroyok

dua orang anak muda. Ada juga yang tinggal diam saja

karena memang tak kurang jumlahnya orang-orang kangouw

yang tidak mau ambil perduli tentang pertentanganpertentangan

yang pro dan anti pemberontak atau yang pro

dan anti kaisar.

Ouwyang Bu dan Ouwyang Bun melihat sikap orangorang

itu, segera berkata dengan suara keras kepada tuan

rumah “Gaklo-enghiong, maafkan kami tidak dapat hadir

lebih lama di sini.” lalu dengan cepat sekali Ouwyanghengte

meloncat turun dan lari meninggalkan tempat itu

dengan cepat, disusul oleh seruan Gak Liong Ek.

“Jiwi, sampaikan maafku kepada gurumu.”

-Ooo-dw-ooOOuwyang

Bun dan Ouwyang Bu lari dan dengan

kepandaiannya meninggalkan tempat pesta itu karena

mereka berdua maklum bahwa dengan tenaga berdua saja

tak mungkin dapat menghadapi sekian banyak orang yang

memiliki kepandaian tinggi. Mereka langsung mengambil

jalan yang menuju ke selatan, karena niat mereka hendak

mencari orang tua mereka terlebih dulu. Mereka telah tahu

dari Pat-jiu Lo-mo guru mereka itu bahwa orang tua mereka

tinggal di kota Nam-tin dan bahwa ayah mereka bernama

Ouwyang Heng Sun. Telah hampir sembilan tahun mereka

berpisah dari kedua orang tua hingga wajah ayah ibu

mereka hanya teringat dengan samar-samar saja.

Ouwyang Heng Sun adalah seorang saudagar yang

berdagang hasil bumi dan memiliki tanah sawah yang

beratus hektar luasnya. Ia sangat kaya dan boleh disebut

menjadi hartawan terbesar di kota Namtin. Anaknya hanya

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu yang lahir kembar. Maka

dapat dipahami bahwa ia dan isterinya sangat menyayangi

anak kembar mereka itu.

Tapi ketika kedua anak itu baru berusia kurang lebih

sepuluh tahun, pada suatu malam datanglah malapetaka

yang merupakan diri Pat-jiu Lo-mo, perampok tunggal yang

sangat ditakuti itu. Si iblis tua tangan delapan datang

dengan maksud hendak mengambil sedikit bagian dari harta

kekayaan Ouwyang Heng Sun, tapi kebetulan sekali ia

memasuki kamar kedua anak kembar itu dan sangat tertarik

melihat sepasang anak kembar yang cakap dan mungil itu.

Memang, selama merantau dan malang melintang di dunia

kang-ouw, iblis tua ini belum pernah menerima murid. Juga

ia belum pernah kawin dan belum pernah punya anak

sendiri, maka melihat kedua anak yang cakap-cakap ini

timbullah hati sayangnya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia

batalkan niatnya untuk merampok harta benda dan

sebaliknya menculik dua anak kembar itu, setelah

meninggalkan surat pemberitahuan di atas meja bahwa

sepasang anak kembar itu diambil oleh Pat-jiu Lo-mo untuk

dijadikan muridnya.

Tentu saja peristiwa ini menghancurkan hati Ouwyang

Heng Sun dan isterinya. Mereka telah berusaha sedapat

mungkin untuk mencari kedua anak itu. Mereka gunakan

harta kekayaan mereka untuk menyewa guru-guru silat dan

petugas-petugas guna mencari jejak Pat-jiu Lo-mo, tapi

semua usaha ini sia-sia belaka, karena andaikata ada juga

guru silat yang dapat menemukan iblis tua itu, siapakah

yang berani menentang perampok tunggal yang

berkepandaian tinggi itu?

Maka segala kebahagiaan lenyaplah dari. dalam hati

Ouwyang Heng Sun dan isterinya dan tiap hari nyonya

Ouwyang hanya pasang hio bersembahyang kepada Yang

Maha Kuasa untuk memohon berkah bagi kedua puteranya.

Sedangkan Ouwyang Heng Sun sendiri, lebih banyak

berkecimpung dalam dunia perdagangan untuk melupakan

kesedihannya. Oleh karena itu, maka kekayaan keluarga

Ouwyang makin bertambah saja.

Ketika Ouwyang-hengte (kedua saudara Ouwyang)

memasuki kota Nam-tin, kota kelahirannya, mereka sudah

lupa sama sekali dan merasai keasingannya memandangi

rumah-rumah di kanan kiri jalan. Mereka mencoba-coba

mengumpulkan ingatan, tapi benar-benar keadaan kota

yang memang telah banyak mengalami perubahan itu

tampak baru dan asing. Mereka lalu mencari keterangan

tentang orang tuanya.

Yang ditanyai memandang heran kepada dua orang

pemuda yang sebentuk dan serupa ini karena selain merasa

aneh melihat sepasang pemuda yang serupa benar itu, juga

ia heran mengapa terdapat orang-orang yang tidak tahu di

mana rumah Ouwyang-wangwe (hartawan Ouwyang).

Setelah diberi tahu letak rumah Ouwyang-wangwe, dengan

hati berdebar kedua pemuda itu menuju ke gedung orang

tua mereka.

Di pintu depan mereka disambut oleh seorang pelayan

muda yang menyambut dengan hormat dan menanyakan

maksud kedatangan mereka.

“Saudara, apakah benar-benar ini rumah Ouwyang Heng

Sun?”

Pelayan itu mengangguk dengan heran.

“Apakah orang tua itu ada di rumah?”

“Tidak ada, sedang, pergi mengurus perdagangan di

Kwi-an. Jiwi dari manakah dan ada keperluan apa?”

Tapi Ouwyang Bu tidak memperdulikan pertanyaan itu,

dan malah bertanya lagi dengan tidak sabar, “Ouwyanghujin

(nyonya Ouwyang) adakah?”

Biarpun makin merasa heran, pelayan itu mengangguk

dan menjawab,

“Ada, di dalam.. Ada apakah kau menanya-nanyakan

hujin?”

Mendapat jawaban itu, kedua pemuda itu tak dapat

menahan sabar lagi dan menyerbu ke dalam. Pelayan itu

menjadi marah dan membentak.

“Eh-eh. Jangan kalian masuk, bukankah sudah kuberi

tahu bahwa wangwe tidak ada di rumah?”

“Minggir kau.” seru Ouwyang Bu dan mendorong

pelayan itu ke pinggir. Pelayan itu terlempar dan menabrak

dinding, hingga ia berteriak-teriak kesakitan dan marah.

“Tolong, tolong, ada perampok. Tangkap pengacau.”

“Diam. Kami adalah putera-putera Ouwyang-wangwe,

kau mengerti?”

Mulut pelayan yang tadinya berteriak-teriak itu kini

terbuka ternganga dengan mata terbelalak. Mana ia mau

mempercayai keterangan ini? Pada saat itu dari dalam

gedung keluar beberapa orang pelayan berlarian mendengar

teriakan-teriakan tadi. Seorang pelayan tua bernama Tan

Ngo berdiri kesima dan memandang kedua pemuda itu. Ia

tadi sempat mendengar keterangan Ouwyang Bun bahwa

mereka adalah putera Ouwyang-wangwe dan ia teringat

akan kedua anak kembar yang dulu diculik penjahat.

Akhirnya ia tidak ragu-ragu lagi dan lari menubruk kedua

anak muda itu.

“Ah, kongcu, benar-benarkah kalian yang datang ini?

Sudah lupakah padaku? Aku A-ngo yang dulu sering

bermain-main dengan jiwi.”

Ouwyang Bun masih ingat ketika mendengar nama ini,

maka ia pegang tangan orang tua itu dengan girang sekali.

“A-ngo, benar-benar kau berhadapan dengan kami berdua.

Mana ibu?”

Dengan air mata mengalir saking gembiranya, Tan Ngo

lalu menarik-narik tangan kedua anak muda itu menuju ke

dalam. Di sepanjang jalan menuju ke kamar majikannya,

tiada hentinya ia berteriak-teriak.

“Kedua kongcu datang…. kedua kongcu pulang.”

Nyonya Ouwyang yang sedang duduk di dalam

kamarnya, mendengar teriakan ini, tergopoh-gopoh keluar

dari kamarnya. Ia berdiri dengan muka pucat dan sekali

saja memandang kedua anak muda itu, tahulah ia bahwa

mereka benar-benar puteranya. Kedua tangannya diulurkan

ke depan, bibirnya bergerak-gerak tapi tak mengeluarkan

sepatah katapun, sedangkan air mata yang membanjir turun

dari kedua matanya dan membasahi pipinya yang masih

putih halus itu bicara dalam seribu bahasa.

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu melihat wanita

setengah tua yang masih cantik itu, untuk sesaat menahan

kedua kaki mereka dan mengumpulkan semua ingatan.

Ouwyang Bun yang teringat lebih dulu, segera lari diikuti

oleh Ouwyang Bu. Mereka berdua menjatuhkan diri

berlutut di depan ibu mereka dan menyebut,

“Ibu….”

“A Bun…. A Bu….” Nyonya itu akhirnya dapat juga

mengeluarkan perkataan, ia menangis tapi mulutnya

tertawa-tawa dan tubuhnya menjadi lemas dan limbung.

Kedua anak muda itu cepat berdiri dan memeluk tubuh

ibu mereka yang setengah pingsan karena kegirangan dan

karena peristiwa perjumpaan ini benar-benar mendatangkan

kaget pada hatinya yang memang telah lemah karena

banyak bersedih. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang,

kedua putera itu membimbing ibu mereka memasuki kamar

dan membaringkannya di atas tempat tidur.

“Ibu…. aku dan adikku telah berada di sini.

Senangkanlah hatimu, ibu,” kata Ouwyang Bun dengan

suara halus dan mengelus-elus rambut ibunya.

Nyonya Ouwyang lalu bangun dan duduk di atas

pembaringannya. Sekali lagi ia memandang kedua anaknya

dari kanan ke kiri dan tiba-tiba ia merangkul mereka dalam

pelukannya dan menangis keras.

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu pun tak dapat menahan

keharuan hati mereka dan ikut mengalirkan air mata.

“A Bun…. A Bu… kau anak nakal… jangan kalian

tinggalkan ibumu lagi….” Setelah menangis sepuaspuasnya,

legalah dada nyonya yang telah bertahun-tahun

menderita sedih itu. Berkali-kali dipandanginya wajah

kedua anaknya dan akhirnya ia tertawa girang.

“A Bun…. yang manakah kau? Aku sendiri menjadi

bingung….”

“Akulah A Bun, ibu….” jawab Ouwyang Bun, dan

Ouwyang Bu tersenyum geli melihat ibunya.

“Kaukah A Bun? Ah, serupa benar, tentu aku akan lupa

lagi. Kalau dulu mudah saja bagiku, ada tanda biru di

pahamu, A Bun. Dan tanda itulah yang memudahkan aku

untuk mengenal mana kau mana adikmu.”

Ouwyang Bun tersenyum. “Tanda itu masih ada, ibu.”

Tiba-tiba nyonya itu teringat sesuatu, maka ia segera

memanggil Tan Ngo dengan suara nyaring. Nyonya itu

ternyata dalam sekejap mata saja mendapatkan kembali

kegembiraan hidupnya dan tampak lebih muda beberapa

tahun. Tapi yang dipanggil tidak menghadap, dan seorang

pelayan lain yang dapat menghadap.

“Mana Tan Ngo? Suruh ia lekas beritahukan wangwe

dan menyusulnya di Kwian. Suruh lekas pulang, kedua

kongcu telah datang.”

“Dia sudah pergi, sudah sejak tadi.”

“Pergi ke mana?”

“Menyusul loya di Kwi-an.”

Ternyata pelayan tua itu dengan gembira sekali

mendahului perintah majikannya untuk menyampaikan

berita baik ini kepada majikannya di Kwi-an. Karena

Kwian hanya terpisah beberapa li saja dari Nam-tin, maka

sebentar saja Ouwyang Heng Sun yang mendapat kabar

baik itu segera menyuruh pengemudi keretanya

membalapkan kuda menuju ke Nam-tin.

Tidak terkira rasa bangga dan girang hati ayah ini ketika

ia dapat berhadapan muka dengan kedua puteranya yang

tercinta. Semalam itu mereka berempat, kedua orang tua

dan kedua anak itu, tiada henti-hentinya mengobrol dan

Ouwyang-hengte harus menuturkan segala pengalamannya

semenjak mereka diculik oleh suhu mereka.

Esok harinya, Ouwyang-wangwe mengadakan pesta dan

mengundang handai-taulan dan langganan-langganan untuk

merayakan kedatangan kedua putera mereka. Suasana

gembira sekali dan semua orang memberi selamat kepada

hartawan yang bahagia itu.

Beberapa hari kemudian, Ouwyang Bun dan adiknya

dengan terus terang memberitahukan kepada ayah ibunya

tentang pesan suhu mereka agar mereka pergi ke utara dan

membantu usaha susiok mereka, yakni Cin Cun Ong untuk

membasmi para pemberontak yang bergerak di sepanjang

tembok besar sebelah utara.

Ouwyang Heng Sun mengangguk-angguk dan berkata,

“Sungguhpun aku sama sekali tidak suka melihat kalian

maju bertempur menghadapi para pengacau negara itu,

namun aku lebih tidak suka lagi melihat dan mendengar

tentang para pemberontak itu. Mereka itu namanya saja

pemberontak yang merobohkan pemerintah yang sekarang,

tapi pada hakekatnya mereka itu tidak lain hanya

perampok-perampok yang mengincar harta benda orang.

Aku mendengar dari orang-orang bahwa di utara, tiap kali

mereka menduduki sebuah kampung, perampok-perampok

itu merampas semua sawah dan membagi-bagikannya di

antara kawan-kawan mereka dan orang-orang jembel.

Perbuatan ini mereka tutupi dengan kedok menyumbang

dan menolong orang melarat. Tapi apa yang dilakukan oleh

para jembel yang menerima sawah rampasan itu? Mereka

menjualnya lagi kepada orang-orang yang mempunyai uang

dan menggunakan uang itu untuk foya-foya hingga sebentar

saja sawah dan uang habis ludes. Setelah habis, mereka ikut

pula dengan para pemberontak untuk mengharapkan

pembagian baru. Hah..”

Ouwyang-wangwe menghela napas. Memang tidak aneh

pendapatnya ini, karena sebagai seorang kaya raya yang

memiliki ratusan hektar sawah, tentu saja ia sangat

khawatir kalau-kalau tanahnyapun dirampas oleh para

pemberontak itu. Apalagi sebarang telah timbul

pemberontakan di mana-mana, dan tidak hanya di utara. Di

selatan inipun mulai ada orang-orang yang membentuk

perserikatan dan perkumpulan-perkumpulan gelap yang

maksudnya menentang dan memberontak terhadap

Mendengar kata-kata ayahnya itu, Ouwyang Bun lalu

bertanya,

“Kalau begitu, tentu ayah tidak berkeberatan kalau anak

berdua pergi memenuhi pesan suhu, bukan?”

Sebelum ayah mereka menjawab, nyonya Ouwyang

sudah mendahului,

“Baru beberapa hari kalian datang sudah mau pergi lagi.

Apalagi sekarang pergi untuk menghadapi pertempuran.

Sungguh kalian tidak sayang kepadaku.”

Ouwyang Bun segera mendekati ibunya. “Bukan

demikian, ibu. Ibu tahu bahwa aku dan adikku sayang

kepada ibu, tapi kepergian kami berdua ini tidak saja demi

kepentingan negara den rakyat tapi juga demi kepentingan

ayah dan ibu sendiri.”

“Bicara twako benar, ibu,” Ouwyang Bu menyambung,

“kalau para pemberontak ini tidak segera dibasmi sampai

mereka meluas dan menyerbu ke sini, bukankah hal itu

akan menimbulkan celaka den malapetaka terhadap

keluarga kita juga?”

Nyonya Ouwyang menutupi mukanya dengan tangan.

“Tidak tahu, tidak tahu.” serunya. uTapi aku tidak suka

kalian pergi sebelum kalian melangsungkan perjodohan

dulu.”

Ouwyang-hengte meloncat dengan kaget. “Apa?

Perjodohan kami?”

Ibu yang bersedih itu menurunkan tangannya dan

memandang kepada mereka. “Ya, perjodohan kalian.

Ketahuilah, semenjak kecil kalian telah kami jodohkan

dengan kedua puteri dari keluarga Can yang kini telah

pindah ke Tung-han. Karena kalian dulu lenyap diculik oleh

perampok itu, maka keluarga Can tidak pernah mengirim

berita lagi.”

“Ibu, jangan sebut suhu sebagai perampok,” kata

Ouwyang Bu.

“Dia itu memang perampok, bukan?” tanya ibunya dan

Ouwyang Bu tak dapat menyangkal pula. Memang dulu

suhunya adalah perampok, hal ini tak dapat disangkal,

maka ia diam saja dan menundukkan kepala.

“Sekarang kalian telah pulang dan telah dewasa. Kalau

tidak salah, tahun ini kalian telah berusia sembilanbelas

tahun, cukup dewasa untuk melangsungkan perkawinan.

Maka, sebelum kalian langsungkan perjodohan itu, aku

tidak rela membiarkan kalian pergi bertempur melawan

para pemberontak dan pengacau itu.”

Ouwyang Bun semenjak kecil memang lebih sayang

kepada ibunya. Maka mendengar kata-kata ibunya ini, ia

lalu bertanya kepada ayahnya.

“Bagaimana, ayah? Aku hanya menurut saja kepada

kehendak ayah dan ibu, dan kurasa Bu-tepun demikian

juga.”

Ouwyang-wangwe meraba-raba jenggotnya. “Memang

menurut pendapatku juga demikian. Sekarang begini,

karena Tung-han bukanlah dekat dari sini, lebih baik kau

pergi ke Tung-han bersama adikmu, mencari keluarga Can

Lim Co itu. Kalau sudah bertemu, sampaikan salam kami

dan atas nama kami boleh kalian tanyakan tentang urusan

perjodohan itu. Atau di sana kalian boleh mencari seorang

perantara untuk menyampaikan pertanyaan ini. Kalau

pihak sana bersedia, boleh ditetapkan hari kawin pada

permulaan musim Chun pada hari keempat bulan depan.”

Memang malam tadi, kedua suami isteri itu telah

merencanakan semua itu, hingga kini tanpa mencari hari

baik lagi Ouwyang Heng Sun telah dapat memutuskan

harinya. Terpaksa Ouwyang-hengte menurut kehendak

ayah ibu mereka dan mereka berkemas untuk segera

berangkat melakukan perjalanan ke Tung-han.

Pada waktu itu, memang di mana-mana banyak terjadi

pemberontakan-pemberontakan dan orang-orang gagah di

kalangan kang-ouw banyak yang bersimpati kepada gerakan

Lie Cu Seng hingga diam-diam mereka di tempat masingmasing

menghimpun para kawan-kawan sepaham, bersiapsiap

untuk sewaktu-waktu menggabungkan diri bila

masanya untuk memberontak telah tiba. Juga di Tung-han

tak terkecuali, bahkan di sekitar daerah itu telah pecah

pertempuran-pertempuran antara para pemberontak

melawan alat-alat pemerintah. Melihat adanya bahaya dari

segenap pihak, para pembesar setempat juga bersiap sedia

menjaga keamanan sendiri-sendiri. Mereka membentuk

barisan-barisan pengawal yang terdiri dari orang-orang

berkepandaian silat tinggi untuk menjadi penjaga keamanan

dan menumpas para pemberontak yang berani mengacau.

Karena kota Tung-han bukanlah kota yang sangat besar,

maka mudah juga mencari rumah keluarga Can Lim Co.

Ternyata orang she Can ini adalah seorang sastrawan yang

miskin, biarpun dulu ketika masih tinggal di selatan, ia

adalah putera seorang yang kaya raya. Agaknya Can Lim

Co bukan berjiwa pedagang hingga ia tak dapat

mempergunakan uang warisan ayahnya untuk berdagang.

Bahkan sebaliknya, uang warisan itu lekas habis karena

dimakan sambil menganggur saja, dan pula, orang she Can

ini suka sekali bergaul dengan segala macam orang dan tiap

lari di rumahnya selalu penuh dengan tamu-tamu yang

diajaknya bercakap-cakap sambil minum arak. Mereka

selalu mempersoalkan syair-syair kuno yang penuh arti,

tentang peperangan, tentang sejarah dan tentang ilmu

pengetahuan lain, tergantung dari sifat dan keadaan tamu

yang diajaknya bercakap-cakap itu. Tak heranlah, apabila

lambat-laun harta benda yang dulu dikumpulkan dengan

susah payah oleh ayahnya menjadi ludes dan habis.

Terpaksa Can Lim Co menjual rumah dan sawah, lalu

pindah ke kota Tung-han.

Ia mempunyai dua orang anak perempuan yang usianya

sebaya dengan Ouwyang-hengte. Dulu ketika ia masih

tinggal di selatan, ia menjadi kenalan baik keluarga

Ouwyang, maka terjadilah ikatan jodoh itu. Kemudian,

setelah Ouwyang-hengte diculik orang, dan keadaan

keluarganya makin susah, ia lalu pindah ke Tung-han dan

semenjak itu ia tak pernah berkabar-kabaran dengan

keluarga Ouwyang.

Ketika Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu mengunjungi

rumah keluarga Can dengan pertolongan seorang perantara,

mereka diterima oleh Can Lim Co sendiri. Sastrawan ini

telah nampak tua dan rambutnya telah putih, tapi sikapnya

masih lemah-lembut dan pakaiannya bersih.

Ketika dua anak muda itu memperkenalkan diri sebagai

kedua putera dari Ouwyang Heng Sun, ia merasa terkejut

dan heran sekali. Lalu dipanggilnya isterinya yang berada di

dalam dan kedua orang tua itu menghujani Ouwyanghengte

dengan bermacam-macam pertanyaan, membuat

kedua anak muda itu menjadi malu dan menuturkan

pengalaman mereka dengan singkat.

“Kalian telah belajar silat, itu baik sekali.” kata Can Lim

Co sambil mengangguk angguk senang. “Memang dalam

keadaan zaman seburuk ini, perlu sekali orang memiliki

kepandaian bu (silat) untuk membela keadilan. Apakah

gunanya sebatang pit (alat tulis) dan kertas pada masa

sekacau ini?” orang tua ini menghela napas, kemudian

dengan cara jujur seperti yang telah menjadi kebiasaannya,

ia tanyakan maksud kedatangan kedua anak muda itu

mengapa mereka datang membawa seorang perantara.

Kini giliran perantara itu untuk bicara, karena

mendengar pertanyaan ini. Sedangkan Ouwyang Bun dan

Ouwyang Bu tak berani menjawab. Mereka hanya tunduk

dengan muka merah. Perantara itu lalu memberi tahu.

maksud keluarga Ouwyang untuk menetapkan hari kawin,

yakni pada permulaan musim Chun pada hari keempat

bulan depan.

Setelah perantara itu selesai bicara, barulah Ouwyang-

Yiengte berani mengangkat muka untuk mendengar

jawaban calon mertua mereka. Tapi sungguh

mengherankan sekali karena wajah sastrawan tua tiba-tiba

tampak muram dan tak senang, kemudian terdengar ia

berkata,

“Pada waktu sekacau ini, siapakah yang ada waktu

untuk bicara tentang perkawinan?” kata-kata ini seakanakan

ditujukan kepada diri sendiri, kemudian segera

disambungnya dan kini ia bicara kepada kedua anak muda

yang masih duduk di depannya dengan hati tak enak

mendengar ucapannya tadi. “Jiwi hiante, sungguh menyesal

sekali bahwa, aku tak dapat menyetujui kehendak orang

tuamu. Tolong kausampaikan saja salamku disertai

pernyataan maaf dan hormatku. Kami menolak bukannya

tanpa alasan, tapi sesungguhnya pada waktu ini kedua

puteri kamipun tidak berada di rumah.”

Kedua anak muda itu heran dan bibir mereka bergerak

hendak bertanya ke mana perginya kedua “tunangan”

mereka itu tapi mereka tak kuasa membuka mulut karena

malu. Can Lim Co maklum akan maksud kedua pemuda

itu, maka ia berkata perlahan,

“Karena keadaan di sini kurang aman, mereka pergi dan

untuk sementara tinggal di rumah paman mereka di utara.”

Kemudian kedua anak muda itu berpamit dan Can Lim

Co berkata lagi kepada mereka, “Biarlah urusan perjodohan

ini ditunda dulu sampai keadaan menjadi aman dan beres.

Dan jiwi hiante yang memiliki kepandaian, tidak

menggunakan kepandaian itu pada masa ini, mau tunggu

kapan lagi?” Sebetulnya maksud Cam Lim Co ialah

menganjurkan kedua calon mantunya itu untuk membantu

pergerakan para pemberontak, tapi karena pada waktu itu

tak seorangpun berani mengatakan hal ini dengan terangterangan

yang dapat mengakibatkan mereka ditangkap dan

dianggap anggauta pemberontak lalu menerima hukuman

mati, maka ia hanya berkata seperti tadi hingga kedua

saudara Ouwyang salah mengerti. Mereka mengira bahwa

calon mertua mereka juga benci kepada para pemberontak

dan menganjurkan untuk menggunakan kepandaian mereka

membasmi pemberontak-pemberontak itu. Maka tanpa

ragu-ragu lagi mereka menjawab,

“Memang telah menjadi cita-cita kami berdua untuk

secepatnya berangkat ke utara menyumbangkan tenaga.”

Mendengar kata-kata ini, orang tua itu tampak senang

sekali. Maka pergilah Ouwyang-hengte meninggalkan

rumah keluarga Can. Mereka lalu menyuruh orang untuk

mengirimkan suratnya kepada orang tua mereka di Namtin,

karena dari Tung-han mereka akan terus ke utara hingga

tidak usah pulang lagi. Ketika menerima surat kedua

puteranya itu, Ouwyang Heng Sun dan isterinya hanya bisa

menghela napas dan mengharap mudah-mudahan kedua

anak muda itu akan pulang dengan selamat.

-Ooo-dw-ooOKarena

ayah mereka memberi bekal uang yang cukup,

kedua saudara itu lalu membeli dua ekor kuda agar

perjalanan dapat dilanjutkan lebih cepat dan tidak tertundatunda

lagi. Dengan menunggang kuda mereka dapat

melakukan perjalanan jauh tanpa merasa lelah.

Pada suatu hari, pagi-pagi mereka telah memasuki

sebuah hutan besar. Hutan itu liar dan penuh dengan

pohon-pohon raksasa. Ketika mereka telah memacukan

kuda beberapa li jauhnya di dalam hutan itu, terdengar

suara ringkik kuda dibarengi suara senjata beradu dan

orang-orang berteriak. Jelas bahwa di sebelah depan sedang

terjadi pertempuran hebat. Mereka lalu mempercepat jalan

kuda untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam

hutan itu.

Tak lama kemudian tampaklah oleh Ouwyang-hengte

sebuah pertempuran yang dahsyat dan hebat. Kurang lebih

duapuluh orang berpakaian seragam sedang mengeroyok

lima orang yang memainkan pedang dengan gerakan luar

biasa. Di sana-sini ada beberapa orang pengeroyok yang

roboh mandi darah. Melihat pakaian para pengeroyok tadi,

tahulah Ouwyang-hengte bahwa mereka adalah tentara

negeri, dan rata-rata memiliki kepandaian lumayan juga.

Tapi lima orang yang dikeroyok itu lebih hebat lagi.

Ketika diperhatikan, ternyata bahwa lima orang itu

berpakaian sederhana. Mereka adalah laki-laki semua yang

rata-rata sudah berusia empatpuluh tahun lebih.

Ouwyang Bun dan adiknya lalu melompat turun dari

kuda dan Ouwyang Bun yang tidak mau berlaku ceroboh,

lalu meng hampiri seorang tentara yang luka.

“Saudara, siapakah lima orang yang mengamuk itu?”

Tentara yang luka itu memandang heran, lalu menjawab

dengan suara lemah karena ia telah banyak mengeluarkan

“Siapa lagi, mereka adalah pemberontak.”

Mendengar ini, Ouwyang-hengte lalu meloncat berdiri

dan mencabut senjata. Tanpa banyak cakap lagi mereka

menyerbu dan menyerang lima orang pemberontak itu.

Kedatangan Ouwyang-hengte merobah keadaan

pertempuran, karena dengan ilmu pedang mereka yang lihai

sebentar saja mereka dapat mendesak kelima orang

pemberontak itu. Dan para tentara negeri dengan gembira

sekali bersorak-sorak dan mengurung. Akan tetapi, ternyata

lima orang itu betul-betul gagah, karena melihat keadaan

mereka terdesak, kelimanya lalu mengeluarkan senjata

rahasia mereka yang berbahaya. Beberapa orang

pengeroyok roboh lagi oleh senjata itu hingga kurungan

menjadi kendur. Kesempatan itu mereka gunakan untuk

melompat dan kabur. Tapi Ouwyang Bu secepat kilat

mengirim serangan pada pemberontak yang terakhir larinya

hingga ketika orang itu menangkis, pedangnya kena babat

dan putus oleh pedang Ouwyang Bu, berikut dua buah jari

tangan orang itu. Dia menjerit kesakitan dan cepat

menggunakan tangan kiri menyerang Ouwyang Bu dengan

senjata rahasia berupa jarum-jarum halus. Ouwyang Bu

maklum akan bahaya senjata-senjata rahasia ini, maka ia

cepat melompat mundur dan membiarkan orang itu lari

menyusul kawan-kawannya. Terdengar kuda mereka

meringkik dan suara kaki kuda mereka meninggalkan

tempat itu dengan cepat.

Ouwyang-hengte hendak mengejar, tapi pemimpin

tentara yang berjenggot pendek mencegahnya. “Mereka

mungkin masih mempunyai banyak kawan, awas jangan

sampai terjebak.” katanya.

-O0od-wo0OJilid

II

SETELAH merawat para korban pertempuran itu,

kepala rombongan tentara lalu menjura kepada mereka.

“Ji-wi enghiong sungguh gagah perkasa. Terima kasih

atas pertolongan ji-wi yang telah mengusir lima penjahat

itu. Bolehkah kami mengetahui nama ji-wi yang terhormat

agar kami dapat memasukkan dalam buku laporan?”

“Tak usah, tak perlu nama kami disebut-sebut dalam

buku laporan. Kami adalah Ouwyang-hengte yang hendak

mencari tempat markas barisan Cin-ciangkun di Pak-thian

untuk membantu usahanya membasmi pemberontak.”

Mendengar ini, tiba-tiba sikap pemimpin rombongan itu

menjadi sangat hormat dan kagum. “Jadi ji-wi adalah

pembantu-pembantu Cin-ciangkun? Pantas demikian hebat.

Maaf kami berlaku kurang hormat.” Setelah berkata

demikian, dengan tubuh tegak ia memberi hormat lagi.

“Janganlah berlaku sungkan-sungkan, lebih baik

tunjukkan kepada kami jalan mana yang terdekat untuk

pergi ke Pak-thian,” kata Ouwyang Bun.

“Jika ji-wi keluar dari hutan ini dari sebelah kiri dan dari

situ dengan lurus menuju ke utara melalui Sungai Luan-ho,

maka dalam waktu tiga hari saja ji-wi akan tiba di Pakthian.

Harap sampaikan hormatku kepada semua kawan

dalam barisan Cin-ciangkun.”

Setelah mendapat keterangan lengkap, kedua anak muda

itu lalu melanjutkan perjalanan mereka. Setelah matahari

telah naik tinggi, baru mereka dapat keluar dari hutan itu

dan mereka lalu menurut petunjuk pemimpin rombongan

tadi menuju ke utara.

Betul saja, dua hari kemudian mereka tiba di pinggir

Sungai Luan-ho yang lebar.

Dari jauh tampak beberapa orang sedang berdiri di

pinggir sungai dan beberapa orang lagi duduk di atas perahu

yang dijalankan di pinggir. Ketika mereka telah dekat

Ouwyang-hengte melihat seorang laki-laki yang mereka

kenal baik-baik berdiri di situ sedang memandang

kedatangan mereka. Juga semua orang kini menengok dan

memandang mereka dengan mata mengancam. Ternyata

orang yang berdiri paling depan tidak lain ialah Lui Kok

Pauw si pemberontak yang pernah bertempur dengan

mereka di rumah Gak Liong Ek dulu. Dan ketika mereka

memandang dengan penuh perhatian, tampak pula lima

orang yang dikeroyok di dalam hutan pada kemarin dulu,

juga orang kelima yang dua jarinya dibuntungkan oleh

pedang Ouwyang Bu, berada pula di situ dengan tangan

Tahulah kedua saudara itu bahwa mereka telah dicegat

oleh sekawanan pemberontak yang berkepandaian tinggi.

Tapi mereka tidak gentar. Dengan tenang mereka meloncat

turun dari kuda dan menuntun kedua kuda mereka maju

menghampiri sungai.

Lui Kok Pauw menghadang dan berkata, “Aha, benarbenar

kalian anak muda hendak menghambakan diri

kepada para penindas rakyat itu dan rela menjadi kaki

tangan kaisar?”

Ouwyang Bu tidak sesabar kakaknya. Mendengar

makian ini ia mendelikkan mata dan membentak, “Kami

tak mempunyai urusan dengan kamu orang rendah,

mengapa mengganggu? Apakah belum cukup mendapat

hajaran di pesta Gak-lo-enghiong? Atau minta ditambah

lagi?”

Tiba-tiba sikap Lui Kok Pauw yang tadinya seperti

bermain-main itu berubah. Wajahnya memerah dan

matanya mengeluarkan cahaya.

“Dua saudara Ouwyang. Kami telah menyelidiki halmu

dan kami tahu bahwa kalian adalah anak-anak muda yang

masih bersih. Kebetulan saja kalian menjadi murid Si Iblis

Tua Tangan Delapan dan menjadi murid keponakan dari

komplot besar she Cin. Tapi jiwa kalian masih belum

ternoda, hanya karena kurang pengalaman, maka kalian tak

tahu bahwa kalian telah mengambil jalan sesat. Sadarlah

sebelum terlambat.”

Ouwyang Bun tertawa terbahak-bahak. “Ha-ha, orang

she Lui. Sungguh lucu lagakmu. Sebenarnya kaulah

orangnya yang harus sadar. Kau dan komplot-komplotmu

tidak saja mengacau negara, tapi juga merampok dan

mencelakakan rakyat jelata. Apakah kaukira kami tidak

tahu?”

“Pandangan ayahmu. Kami tahu ini. Kau berdua anakanak

orang kaya yang selalu mementingkan diri sendiri.”

“Sudahlah, jangan banyak cerewet.” Ouwyang Bu

membentak sambil mencabut pedangnya. “Kami hendak

menyeberang sungai ini dan jangan menghalang-halangi

perjalanan kami. Kalau tidak, terpaksa pedang ini yang

“Kalau begitu kalian akan terpaksa dikubur di pinggir

sungai ini, dan sungguh sayang usia yang masih begini

muda.” Lui Kok Pauw mengejek dan mencabut pedangnya.

Beberapa orang yang berada di situ, termasuk kelima orang

yang kemarin dulu dikeroyok di tengah hutan, pada

mencabut senjata masing-masing.

Melihat hal ini, Ouwyang-hengte juga mencabut pedang

masing-masing dan siap sedia menanti serangan. Setelah

berseru, “Serbu.” Lui Kok Pauw lalu melancarkan serangan

hebat yang dapat ditangkis dengan mudah oleh Ouwyang

Bu. Yang lain serempak menyerbu pula dan sebentar saja

kakak beradik itu telah dikeroyok oleh tujuh orang yang

berkepandaian tinggi. Mereka berdua mengeluarkan seluruh

yang mereka warisi dari Pat-jiu Lo-mo hingga pedang

mereka berkeredepan dan berubah menjadi segulung sinar

yang mengurung tubuh mereka, hingga para pengeroyok itu

sukar untuk menerobos gulungan sinar ini dan melukai

Ouwyang-hengte.

Akan tetapi, ketujuh orang pengeroyok itu bukanlah

orang sembarangan dan mereka sengaja diajak oleh Lui

Kok Pauw untuk mencegat di situ. Kelimanya memiliki

kepandaian tinggi dan pengalaman pertempuran puluhan

tahun, maka biarpun mereka tak dapat segera merobohkan

Ouwyang-hengte, namun sukar juga bagi Ouwyang Bun

dan Ouwyang Bu untuk merobohkan seorang saja di antara

ketujuh pengeroyok itu.

Lui Kok Pauw dan kawan-kawannya merasa kagum

sekali melihat permainan ilmu pedang kedua pemuda itu

dan di dalam hati mereka menyayangkan mengapa

pemuda-pemuda gagah perkasa ini mau diperalat oleh kaki

tangan kaisar lalim. Tapi karena mereka pikir kalau sampai

ke dua pemuda itu dapat menggabungkan diri dengan para

tentara negeri, maka tugas mereka akan makin berat dan

musuh-musuh mereka makin tangguh saja, maka maksud

mereka menggabungkan diri dengan Cin Cun Ong perlu

dihalang-halangi dan bahkan kalau perlu dibinasakan di situ

juga. Karena pikiran ini, maka kurungan me reka makin

rapat dan desakan mereka makin hebat. Walaupun

Ouwyang-hengte memiliki kepandaian tinggi, namun

mereka kurang pengalaman bertempur, maka menghadapi

tujuh lawan yang kesemuanya merupakan lawan-lawan

kuat ini, mereka menjadi sibuk juga. Betapapun juga, kalau

terus saja mereka bertempur tanpa memperoleh hasil, tentu

mereka akan kalah tenaga. Para pengeroyok itu tak

menggunakan tenaga sebanyak mereka yang harus

menghadapi tujuh buah senjata.

Setelah bertempur duaratus jurus lebih, maka kurungan

mereka makin rapat saja dan tak lama lagi kedua anak

muda itu tentu takkan kuat bertahan lagi. Tapi dengan

kertak gigi, kakak beradik itu berlaku nekat dan mereka

mempertahankan diri sambil kadang-kadang membalas

dengan serangan-serangan maut. Hal ini membuat ketujuh

orang itu merasa terkejut dan kagum, karena sungguh tak

mereka sangka kedua anak muda itu berhati sekeras itu.

Tadinya memang ada harapan pada mereka kalau-kalau

pemuda kembar itu akan menyerah dan takluk. Kini

melihat bahwa Ouwyang-hengte benar-benar tak sudi

menyerah, mereka juga menjadi gemas. Atas isyarat Lui

Kok Pauw, mereka kini bergerak lebih cepat dan serangan

dilancarkan lebih hebat untuk membinasakan kedua anak

muda itu. Benar saja, serangan-serangan ini akhirnya

membuat Ouwyang-hengte menjadi kewalahan dan dengan

napas terengah-engah mereka kini hanya dapat menangkis

sambil mundur saja.

Pada saat yang sangat berbahaya bagi jiwa kedua

saudara itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan

bayangan seorang berbaju serba biru berkelebat dan

menyerbu ke dalam kalangan pertempuran. Orang yang

baru datang ini bersenjata siang-kiam (sepasang pedang)

yang dimainkan dengan hebat sekali hingga kepungan yang

mengeroyok Ouwyang-hengte menjadi buyar.

Ouwyang-hengte cepat menengok dan alangkah heran

mereka berdua ketika melihat bahwa yang membantu

mereka adalah seorang gadis berbaju biru yang wajahnya

cantik sekali seperti bidadari. Kedua pedang di tangan

kanan kiri itu bergerak-gerak bagaikan dua ekor naga

bermain-main dan sekelebatan saja tahulah kedua saudara

itu bahwa nona itu memiliki kiam-hoat (ilmu pedang) yang

sama dengan ilmu pedang mereka. Maka timbullah

semangat baru dalam dada Ouwyang-hengte. Timbul pula

tenaga mereka hingga sebentar saja mereka mengamuk

hebat, seakan-akan bersaing dengan nona penolong itu.

Keadaan para pengepung menjadi kacau, dan cepat

bagaikan kilat pedang nona itu telah berhasil melukai dua

orang pengeroyok. Melihat kehebatan ini, pengeroyokpengeroyok

yang lain lalu menolong kawan yang luka dan

dengan cepat mereka melarikan diri di atas kuda dan kabur

dari situ. Karena sudah lelah sekali, Ouwyang-hengte tidak

mau mengejar, demikianpun nona penolong itu tidak

mengejar, hanya berdiri bertolak pinggang sambil

memandang kedua saudara itu.

Dan pada saat ia memandang wajah kedua saudara

Ouwyang, barulah ia tahu akan persamaan wajah itu

hingga sepasang matanya yang indah itu terbelalak dan ia

memandang ke kanan kiri dengan bingung, karena dua

orang pemuda di kanan kiri yang berdiri berjajar itu

sungguh-sungguh sama. Tapi ia lalu melihat pedang di

tangan mereka dan baru ia tahu bahwa ia bukan sedang

berhadapan dengan ilmu sulap atau sihir. Ternyata pedang

di tangan mereka itu berbeda hingga tentu saja di depannya

ada dua orang, bukan satu orang yang menyihirnya.

Ouwyang Bun segera menjura dan berkata, “Kami

berdua sungguh merasa berhutang budi kepada lihiap.

Kalau tidak ada lihiap yang menolong, mungkin sekarang

kami telah menjadi mayat.”

Nona itu menggeleng-gelengkan kepala dan kelihatan

ngeri mendengar orang menyebut-nyebut mayat. “Ji-wi

memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin demikian mudah

dirobohkan mereka. Aku kebetulan lewat saja dan melihat

ji-wi dikeroyok oleh perampok-perampok dan pemberontakpemberontak

itu. Melihat bahwa kita dari satu cabang

persilatan, maka tak dapat tidak aku harus membantu. Ji-wi

dari manakah dan murid siapa?”

Ouwyang Bu yang mewakili kakaknya menjawab,

“Kami juga tadi merasa heran sekali karena melihat lihiap

mainkan kiam-hoat dari cabang kami dan belum juga

bertanya, lihiap telah mendahului kami. Kami adalah

Ouwyang-hengte, dia ini kakakku bernama Ouwyang Bun

dan aku sendiri bernama Ouwyang Bu. Suhu kami ialah

Pat-jiu Lo-mo….”

Tiba-tiba wajah gadis itu berubah terang berseri. “Jadi

kalian ini murid-murid supek? Ah, maaf, ji-wi suheng, aku

tidak tahu hingga berlaku kurang hormat.” gadis itu

menjura untuk memberi hormat.

Ouwyang Bun yang tadinya merasa heran mengapa

adiknya tiba-tiba menjadi demikian ramah dan pandai

bicara, kini lebih heran lagi mendengar nona ini menyebut

suheng kepada mereka. Tapi otaknya yang cerdik segera

dapat menduga.

“Lihiap ini bukankah puteri dari Cin-susiok?”

Gadis itu mengangguk sambil memperlihatkan

senyumnya yang manis sekali hingga kedua saudara itu

berkata hampir berbareng, “Ah, sumoi, sungguh kami

girang sekali dapat bertemu dengan sumoi di sini.” mereka

terus saja menyebut sumoi sebagai layaknya seorang

menyebut adik perempuan seperguruan, karena selain

mereka lebih tua usianya, juga berada di tingkat lebih tua,

karena ayah gadis itu adalah adik seperguruan suhu

“Kami memang sengaja hendak menghadap susiok dan

membantu pekerjaannya, dan kami membawa surat suhu

untuk su-siok.” kata Ouwyang Bun dengan girang.

Nona itu tertawa gembira dan wajahnya makin manis.

“Sungguh-sungguh pekerjaanku hari ini boleh dibilang

berhasil baik dan kebetulan sekali, hingga tanpa kusengaja

dapat membantu ji-wi suheng. Perkenalkanlah, Ouwyangsuheng

berdua, aku bernama Cin Lie Eng. Dan mari

kuantar ji-wi suheng menghadap ayah. Baiknya aku datang

membawa perahu besar yang cukup dipakai menyeberang

kita bertiga.”

“Habis, kuda kami bagaimana?” tanya Ouwyang Bu

sambil memandang kuda mereka yang tadi diikatkan pada

sebatang pohon tak jauh dari situ.

Lie Eng tertawa lagi hingga dapat diduga bahwa gadis ini

memang seorang periang. “Jangan kau bingungkan urusan

kuda, saudara…. eh, kau ini Bun-suheng atau Bu-suheng?

Nah, aku sudah bingung dan tak dapat mengenal yang

mana saudara Bun dan mana saudara Bu.” tapi lalu ia

pandang sarung pedang yang tergantung di pinggang kedua

“orang itu, maka teringatlah ia bahwa yang berpedang

panjang adalah Ouwyang Bun dan yang berpedang pendek

Ouwyang Bu. Sementara itu, kedua kakak beradik itu hanya

tersenyum dan mendiamkan saja gadis itu menerka-nerka.

“Ha, aku tahu, kau tentu Bu-suheng.” katanya girang.

“Betulkah dugaanku?” tanyanya kemudian dengan raguragu.

Sungguh sikap gadis ini lucu menarik hingga kedua

saudara itu ikut tertawa gembira. Ouwyang Bu mengangguk

“Bu-suheng, kau jangan bingung perkara kuda itu, kalau

kita sudah menyeberang, maka akan kuperintahkan orang

mengambilnya. Pula, kedua kuda itu kurang baik, lihatlah

kalau kita sudah tiba di markas ayah, kau boleh pilih kuda

yang jempolan.”

Demikianlah, mereka bertiga lalu menaiki perahu Lie

Eng dan menyeberangi Sungai Luan-ho yang lebar dengan

airnya yang mengalir tenang. Lie Eng ternyata pandai sekali

bergaul dan bercakap-cakap tiada hentinya hingga kedua

saudara itu makin tertarik dan ikut bergembira. Setelah

menyeberang, mereka lalu berjalan ke utara dan sebentar

saja mereka bertemu dengan banyak tentara negeri yang

bersikap hormat sekali bila bertemu dengan Cin Lie Eng,

puteri panglima Cin yang mereka ketahui memiliki

kepandaian tinggi dan gagah perkasa itu. Di samping

menghormat, mereka juga memandang dengan kagum

sekali. Memang, siapakah yang takkan kagum memandang

dara yang cantik jelita dan bersikap gagah itu? Lie Eng

memerintahkan orang untuk mengambil dua ekor kuda di

seberang, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke

Di sepanjang jalan menuju ke markas, kedua saudara

Ouwyang itu melihat banyak sekali tenda-tenda tentara

negeri di pasang di mana-mana, dan markas besar sendiri

berada di sebelah dalam tembok besar. Tampak banyak

tentara negeri menjaga di atas tembok besar itu dengan

senjata tombak dan anak panah. Agaknya para

pemberontak itu berada di luar tembok hingga pertahanan

dikerahkan di tempat itu.

Setelah melalui banyak sekali tenda-tenda tentara,

mereka menuju ke sebuah tenda yang berwarna coklat dan

berada ditengah-tengah, juga paling besar dan tinggi. Di

puncak tenda besar itu berkibar bendera pangkat dari Cinciangkun

dan huruf “CIN” tampak megah dan gagah di

tengah-tengah bendera itu.

Sebetulnya, tidak sembarang orang dapat keluar masuk

begitu saja di daerah itu, apalagi sampai di depan markas

besar dan memasuki tempat kediaman Cin-ciangkun. Akan

tetapi, karena Ouwyang-hengte datang bersama Lie Eng,

para penjaga hanya memandang saja kepada mereka

dengan menduga-duga, dan mereka berdua sama sekali tak

mendapat gangguan.

Tepat di depan pintu tenda ayahnya, mereka bertiga

bertemu dengan laki-laki gagah perkasa dengan pakaian

perang yang bersisik-sisik berwarna hijau. Laki-laki Itu

berusia paling banyak tigapuluh tahun, wajahnya gagah,

sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar. Pedangnya yang

panjang tergantung di pinggang kiri menambah

kebesarannya. Ketika melihat Lie Eng, sikapnya yang tegap

berubah seketika dan wajahnya yang keras itu

membayangkan kelembutan.

“Nona Cin, kau baik saja, bukan?” tegurnya dengan

suara halus.

“Terima kasih, Gui-ciangkun,” jawab Lie Eng, dan gadis

itu lalu memperkenalkan Ouwyang-hengte yang tadinya tak

dipandang sebelah mata oleh panglima muda yang

berpakaian gagah itu.

“Gui-ciangkun, kedua saudara kembar ini adalah kedua

suhengku yang bernama Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu,

mereka ini murid-murid supekku. Ia datang hendak

membantu ayah. Mereka lucu, bukan? Lihat dan kau

takkan dapat membedakan mana kiri dan mana kanan.”

Gadis itu tertawa lucu, lalu berkata kepada Ouwyanghengte,

“Ji-wi suheng, ini adalah Gui-ciangkun, pembantu ayah

yang paling berjasa. Dan untuk daerah utara sini, selain

ayah, tidak ada orang lain yang lebih ditakuti lawan,

disegani kawan seperti Gui-ciangkun.”

Ouwyang-hengte lalu menjura dan mengangkat tangan

tanda memberi hormat yang dibalas dengan tak acuh oleh

Gui-ciangkun.

“Cin-siocia, ayahmu di dalam tadi mencari-carimu.”

Hanya demikian ia berkata kepada nona itu lalu pergi tanpa

melirik sedikitpun kepada kedua saudara yang baru datang

itu. Ouwyang-hengte merasa tak enak dan tak senang

melihat sikap angkuh dari panglima muda itu, tapi

sebaliknya Lie Eng tersenyum geli dan mengajak mereka

memasuki tenda.

Cin Cun Ong adalah seorang yang bertubuh tinggi kurus

dan wajahnya telah mengerat, tapi memiliki sepasang mata

yang tajam bagaikan mata burung rajawali, kumisnya

panjang dan bercampur dengan jenggotnya. Pakaian

perangnya berwarna biru. Ketika kedua saudara Ouwyang

itu masuk, panglima tua yang terkenal namanya itu sedang

duduk menghadapi meja sambil menggunakan pit untuk

corat-coret di atas kertas, entah sedang menuliskan surat

perintah apa. Ia tidak memakai topi dan topi itu telah

ditanggalkannya dari kepala dan kini terletak di atas meja

sebelah kirinya.

“Ayah.” Lie Eng memanggil dengan suara manja, lalu

gadis itu meloncat di dekat ayahnya dan mulai

membereskan rambut ayahnya yang terurai ke belakang.

“Kau dari mana saja?” ayah itu menegur dengan mulut

tersenyum tanpa menengok, karena seluruh perhatiannya

tertuju pada kertas yang ditulisnya itu.

“Ayah, ada tamu menghadap engkau,” kata Lie Eng

Panglima itu menunda menulis dan memandang kepada

Ouwyang-hengte yang segera menjura dalam-dalam untuk

memberi hormat. Untuk sejenak mata panglima tua itu

bercahaya tajam dan memandangi kedua anak muda itu

dengan pandangan menyelidiki, tapi segera sinar matanya

berubah heran dan tercengang melihat persamaan kedua

anak muda itu.

“Mereka ini siapa, Lie Eng?” tanyanya kepada anak

tunggalnya yang mulai menjalin rambutnya menjadi kuncir

yang besar.

“Ha, ayah mulai bingung bukan?” Lie Eng menggoda.

“Dapatkah ayah membedakan satu dari yang lain? Ayah,

mereka adalah murid-murid dari twa-supek.”

Kini Cin-ciangkun memandang penuh perhatian.

“Hm, betulkah kalian ini murid Pat-jiu Lo-mo?”

Sambil tetap menjura, Ouwyang Bun menjawab, “Betul,

susiok. Teecu berdua adalah murid orang tua itu, dan

kedatangan teecu berdua adalah atas pesan dan

perintahnya. Teecu membawa surat suhu untuk

disampaikan kepada susiok yang terhormat,” sambil berkata

demikian, Ouwyang Bun mengeluarkan surat suhunya dan

memberikannya kepada panglima itu.

Cin Cun Ong menerima surat dengan tangan kiri,

sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil

topinya dan dipakainya. Sementara itu, Lie Eng yang telah

selesai menguncir rambut ayahnya, lalu berdiri di pinggir

dan memandang kepada kedua saudara itu dengan mata

Sehabis membaca surat itu, Cin-ciangkun bertanya,

“Jadi kalian hendak membantuku? Tahukah kalian siapa

lawan-lawan kita dalam pertempuran ini?”

Ouwyang Bun menjawab, “Maaf, susiok. Teecu berdua

memang belum mempunyai banyak pengalaman, tapi kalau

teecu tidak salah, musuh-musuh kita adalah pemberontakpemberontak

dan perampok-perampok yang mengacau

rakyat jelata.”

Tiba-tiba panglima tua itu tertawa geli. “Ha-ha-ha.

Tahumu hanya pemberontak dan perampok. Ketahuilah,

hai anak-anak muda, musuh-musuh kita adalah tokohtokoh

kang-ouw yang ternama, orang-orang gagah yang

biasa hidup sebagai pendekar-pendekar, ketua-ketua dan

pemimpin-pemimpin cabang persilatan, bahkan banyak

pula pendeta-pendeta dan pendekar-pendekar wanita.

Mereka banyak sekali yang memiliki kepandaian tinggi dan

hebat sekali.”

“Tapi teecu tidak percaya, susiok.” tiba-tiba Ouwyang

Bu yang semenjak tadi diam saja kini membuka mulut,

membuat panglima tua itu keheranan karena biarpun muka

dan potongan tubuh serupa dan sebentuk, namun suara

mereka berbeda. Ia memandang Ouwyang Bu dengan mata

tertarik ketika ia berkata dengan suara keras.

“Apa alasanmu maka kau tidak percaya omonganku,

anak muda?”

“Kalau mereka itu benar-benar orang gagah, mengapa

mereka mengacau negara dan merampok rakyat? Tak

mungkin, susiok, tak mungkin orang-orang gagah sudi

menjadi pemberontak, pengacau, dan perampok.”

“Ha-ha-ha. Anak muda, kau hanya tahu kulitnya tapi tak

tahu isinya. Bagaimana pendapatmu?” panglima itu tibatiba

bertanya kepada Ouwyang Bun. Pemuda ini dengan

tenang menjawab,

“Susiok, kalau memang para pemberontak itu terdiri dari

orang-orang gagah perkasa dan pendekar-pendekar

budiman yang memang bermaksud mulia, tidak mungkin

suhu menyuruh teecu berdua datang ke sini dan membantu

susiok. Pula, susiok terkenal sebagai seorang tokoh yang

ternama dan gagah perkasa, maka kalau memang mereka

itu benar-benar orang gagah, tak mungkin kiranya susiok

memusuhi dan menghancurkan mereka.”

“Ha, kau cerdik. Tapi kaupun tidak mengetahui isiisinya.

Segala hal di dunia ini memang tergantung dari

pandangan dan pendapat orang. Aku semenjak muda telah

menjadi tentara negeri, maka sudah menjadi tugas

kewajibanku untuk membela negara tanpa melihat dan

menyelidiki sebab-sebab pertempuran yang sewaktu-waktu

timbul. Pokoknya, menjadi tentara berarti membela negara,

tak perduli siapa-siapa saja yang berani mengganggu

negaraku, pasti akan berhadapan dengan aku dan akan

kulawan mati-matian. Tapi terus terang saja kukatakan

kepada kalian bahwa seringkali aku harus menghadapi

orang-orang gagah yang dulu pernah menjadi kawan-kawan

baikku. Dan tahukah kau bahwa pernah aku mencucurkan

air mata menangisi mayat seorang tokoh persilatan yang

mati di ujung pedangku sendiri?” Panglima tua itu

menghela napas berat dan keadaan menjadi sunyi, karena

kedua saudara Ouwyang itu sama sekali tidak mengerti

akan maksud kata-kata Cin-ciangkun. Lie Eng sendiri selalu

dilarang oleh ayahnya untuk ikut-ikut dalam pertempuranpertempuran

untuk membantunya, maka gadis itu tidak

menjadi heran mendengar ucapan ayahnya yang sampai

saat itu belum dapat diselami arti dan maksudnya.

Namun, Lie Eng adalah anak tunggal yang mencintai

ayahnya karena sudah tak beribu lagi, maka biarpun

dilarang tak jarang gadis itu membantu ayahnya dalam

pertempuran-pertempuran karena iapun memiliki

kepandaian silat yang cukup hebat.

Setelah hening sejenak, tiba-tiba Cin-ciangkun berkata

lagi, “Bagaimana, apakah kalian tetap dengan maksud

kalian hendak membantuku melawan orang-orang di luar

tembok besar itu?”

“Teecu berdua tetap dengan pendirian semula, susiok.

Apalagi teecu berdua sedang menjalankan perintah suhu,

dan pendapat teecu berdua, tindakan ini memang benar dan

patut dilakukan oleh orang-orang gagah. Teecu berdua

sediakan jiwa raga untuk tugas yang mulia, yakni membela

negara dan membebaskan rakyat dari gangguan segala

penjahat.” berkata Ouwyang Bun bersemangat.

“Terserah kepadamu, tapi satu syarat yang harus

kautaati, yakni kalian tidak boleh sekali-kali memikirkan

atau membicarakan tentang politik mereka maupun politik

negara kita. Kau berjuang di sini sebagai pembantuku, yang

berarti bahwa kau juga menjadi tentara dan tugasmu

semata-mata hanya tunduk perintah atasan, mengerti?”

Ouwyang-hengte memberi hormat dan menjawab bahwa

mereka telah mengerti akan maksud susiok mereka itu.

“Ada lagi…. malam nanti adalah malam berlatih dan

ujian kepandaian para panglima. Kalian bersiaplah karena

sebagai orang baru, kalian harus diuji. Apalagi sebagai

murid-murid keponakan dariku, kalian harus menjaga nama

suhumu dan namaku, mengerti? Nah, kalian boleh mundur.

Eh, Lie Eng, beritahukan kepada pengawal dalam untuk

memberi tenda dan atur semua keperluan kedua suhengmu

itu.”

Lie Eng menjawab, “Baik, ayah.” lalu ia memberi

hormat secara militer kepada ayahnya dengan sikap yang

lucu dan manja hingga ayahnya tertawa senang. Ketiga

anak muda itu lalu keluar dari tenda panglima Cin dan Lie

Eng lalu sibuk mengatur segala keperluan Ouwyang-hengte.

Ia gembira sekali dan melakukan segalanya dengan tangan

sendiri, hingga Ouwyang-heng-te merasa tidak enak dan

“Ji-wi suheng, kalian harus siap dan berhati-hatilah

karena malam nanti kalian akan diuji dan menghadapi

lawan-lawan berat. Terutama kalau si raksasa itu muncul

untuk mengujimu, kalian harus waspada. Ia ahli gwakang

dan kepandaiannya walaupun tidak sangat tinggi, namun

tenaganya melebihi tenaga gajah.”

“Raksasa yang mana, sumoi?” tanya Ouwyang Bun

Sambil tersenyum Lie Eng berkata, “Raksasa yang tadi

kita jumpai di depan tenda ayah.”

“O, kau maksud Gui-ciangkun tadi?” kata Ouwyang Bu.

“Benar-benarkah tenaganya melebihi tenaga gajah?”

“Entahlah,” gadis itu menjawab sambil tertawa lucu,

“aku sendiripun belum pernah melihat gajah, apalagi

mengukur tenaganya.” Ketiga anak muda itu tertawa-tawa

dan mengobrol senang.

Malam harinya, boleh dibilang semua anggauta tentara

yang tidak sedang tugas berjaga, datang membanjiri lian-buthia

(ruang main silat) di mana khusus untuk keperluan itu

telah dibangun panggung semacam panggung lui-tai

(tempat adu silat). Tempat ini sedikitnya setengah bulan

sekali tentu digunakan oleh Cin-ciangkun untuk menguji

para panglima muda yang baru, juga para kepala-kepala

regu yang baru untuk menetapkan tingkat masing-masing.

Harus diakui bahwa jika orang telah menceburkan diri

dalam dunia ketentaraan, maka hati menjadi berani, tabah

dan keras. Oleh karena itu, tidak jarang dalam hal mainmain

dan menguji kepandaian ini sampai terjadi

pertandingan seru yang mengakibatkan luka berat. Tapi

dalam hal persilatan, luka ringan atau berat adalah soal

biasa dan tak patut diributkan.

Malam hari itu, tempat itu makin ramai dan lebih penuh

dari biasanya karena para anggauta tentara mendengar

kabar bahwa selain ada lima orang panglima muda yang

baru dilantik, juga di situ datang dua orang murid

keponakan dari Cin-ciangkun sendiri. Mereka dapat

menduga bahwa malam ini tentu akan terjadi pertandinganpertandingan

hebat dan ramai, maka berduyun-duyunlah

mereka menuju ke lian-bu-thia itu, biarpun di antara mereka

ada yang siang tadi telah bertugas menjaga sampai sehari

penuh dan tubuh mereka lelah sekali.

Di atas sebuah kursi yang tinggi di dekat panggung

duduklah Cin-ciangkun dalam pakaian kebesaran. Baju

perangnya bersisik biru dan mengkilap, sedangkan pedang

gagang emasnya dipakai hingga menambahkan

kegagahannya. Di sebelah kirinya duduk Cin Lie Eng yang

memakai pakaian ringkas warna biru muda hingga tampak

terang di samping baju perang ayahnya yang berwarna biru

tua. Seperti ayahnya, gadis itupun memakai pedang di

punggung. Rambutnya diikal ke atas dan diikat dengan

benang perak yang berkilauan dan ditusuk dengan hiasan

rambut dari perak pula. Gadis itu nampak gagah dan cantik

bagaikan bidadari. Tak ada seorang pun yang berada di

ruang itu yang tidak menujukan matanya memandang gadis

itu dengan sinar kagum.

Di atas kursi-kursi yang agak rendah, di sebelah kanan

dan kiri, sejajar dengan panglima tua itu, duduk panglimapanglima

muda yang jumlahnya tujuhbelas orang. Pakaian

perang mereka bersisik dan berwarna hijau semua dan

pedang mereka tergantung di pinggang kiri. Mereka ini

biarpun disebut panglima muda, tapi di antara mereka

banyak yang sudah berusia empatpuluh lebih dan Guiciangkun

yang duduk paling dekat dengan Cin-ciangkun,

merupakan panglima muda yang tergagah, apalagi

tubuhnya yang tinggi besar memang tepat sekali dipunyai

oleh seorang panglima perang. Seringkali panglima muda

raksasa ini mengerling ke arah Lie Eng hingga para

anggauta tentara banyak yang tersenyum-senyum dan saling

berbisik. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa panglima muda

she Gui itu punya “banyak harapan” untuk memetik bunga

yang sedang mekar indah di taman panglima Cin itu.

Ouwyang-hengte karena belum disahkan sebagai

pembantu atau panglima, mendapat tempat di bagian tamu,

satu tempat khusus bagi para pendatang baru, hingga kedua

saudara itu duduk bersama-sama dengan lima panglima

baru yang hendak di uji dan beberapa orang pembesar Lain

yang sengaja diundang dan datang menyaksikan ujian ini.

Kebetulan sekali tempat duduk mereka berhadapan dengan

tempat duduk Lie Eng, hingga mereka dapat saling

memandang, bahkan ketika Lie Eng memandang ke arah

mereka ia mengangguk dan tersenyum lucu.

Setelah Cin-ciangkun memberi sambutan yang isinya

berupa nasihat-nasihat agar semua anggauta tentara, baik

yang bertingkat rendah maupun yang bertingkat tinggi,

semua tunduk akan peraturan dan taat akan perintah serta

disiplin maka tahulah Ouwyang-hengte mengapa paman

guru itu berhasil menggembleng semua anggauta tentara di

bawah pimpinannya menjadi kesatuan yang kuat dan

ternama. Di waktu menyambut, orang tua itu tampak

bersemangat dan semua nasihatnya memang tepat dan baik

sekali bagi setiap anggautanya, jauh bedanya dengan

kesatuan-kesatuan lain yang kotor sekali keadaannya,

karena para panglima dan pemimpinnya kebanyakan hanya

tahu menyenangkan diri sendiri saja dan menjalankan

korupsi besar-besaran. Kalau kepalanya merayap ke selatan,

mana ekornya bisa merayap ke utara? Demikian bunyi

peribahasa sindiran kuno yang maksudnya, kalau para

pemimpinnya nyeleweng, mana bisa anak buahnya berlaku

benar? Akibatnya, kesatuan-kesatuan itu menjadi lemah dan

menjadi tempat pemakan gaji buta saja hingga sewaktuwaktu

ada bahaya mengancam negara, tenaga mereka tak

banyak dapat diharapkan.

Kemudian, setelah sambutan selesai, ujian dimulai.

Kelima panglima muda itu maju seorang demi seorang

untuk memperlihatkan kemahiran mereka bersilat tangan

kosong dan bersilat pedang. Dalam pandangan Ouwyanghengte,

kepandaian mereka itu biasa saja, hanya lebih tinggi

sedikit daripada kepandaian guru silat biasa. Tapi mereka

mendapat sambutan hangat dan tempik sorak ramai dari

para anggauta tentara yang menganggap permainan mereka

cukup bagus.

Kemudian atas isyarat Gui-ciangkun yang menjadi

pemimpin ujian itu, dari deretan panglima muda keluarlah

seorang panglima yang bertubuh pendek. Ia adalah seorang

yang dipilih untuk menguji kepandaian perwira pertama.

Menurut peraturan, perwira yang diuji, kalau dapat

memenangkan panglima muda, mendapat pangkat, perwira

kelas satu, tapi yang kalah hanya menerima tanda pangkat

berupa pakaian seragam perwira kelas dua saja.

Setelah memberi hormat kepada Cin-ciangkun yang

menganggukkan kepala, perwira pendek itu meloncat ke

atas panggung dengan gerakan Burung Walet Menyambar

Air. Gui-ciangkun lalu memanggil calon perwira pertama

yang diuji, dan majulah seorang dari pada kelima calon

tadi. Mereka lalu bertanding tangan kosong. Biarpun

tubuhnya pendek, ternyata perwira penguji itu pandai sekali

bersilat tangan kosong dari cabang Siauw-lim. Juga ia

memiliki tenaga yang cukup hebat hingga setelah

bertanding selama lebih dari empatpuluh jurus, calon

perwira itu terdesak hebat dan akhirnya ia tertendang roboh

keluar panggung. Tempik sorak hebat-menjadi hadiah

perwira penguji ini yang lalu menjura kepada Cin-ciangkun

dan mengundurkan diri, memakai kembali pakaian perang

yang tadi ditanggalkan, dan dengan langkah bangga

kembali ke tempat duduk semula.

Demikianlah berturut-turut kelima calon perwira itu diuji

oleh perwira-perwira muda yang ditunjuk oleh Guiciangkun.

Hasilnya, tiga di antara mereka kalah dan

menjadi perwira kelas dua sedangkan yang dua orang

menang dan diangkat menjadi perwira kelas satu.

Setelah itu, tampak Cin Lie Eng berbisik dekat telinga

ayahnya dan panglima tua itu mengangguk-angguk lalu

berkata kepada Gui-ciangkun,

“Sekarang biar kita. uji dua anak muda itu, mereka juga

merupakan pembantu-pembantu yang cakap. Pilihlah

perwira yang agak tinggi kepandaiannya karena mereka

berdua tak dapat disamakan dengan orang-orang yang telah

diuji tadi.”

Gui-ciangkun yang semenjak siang tadi tidak suka

melihat kedua anak muda yang bergaul erat dengan Lie

Eng, kini makin cemburu dan iri hati, akan tetapi ia tidak

berani membantah perintah atasannya, maka berdirilah ia

dan dengan suara keras berkata,

“Kini kami hendak menyaksikan kepandaian dua tamu

muda yang bernama Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu, yang

sengaja datang ke sini untuk menawarkan tenaga

bantuannya. Kami harap kedua orang itu suka maju dan

memperlihatkan kepandaiannya, kalau dianggap cukup

tinggi maka akan diuji pula.”

Hati kedua pemuda itu panas sekali mendengar

perkenalan dan perintah yang memandang rendah sekali

ini, sedangkan Cin-ciangkun juga merasa heran mengapa

seolah-olah pembantunya ini mempunyai iri hati terhadap

kedua pemuda itu.

“Ouwyang Bu diminta maju memperlihatkan

kepandaian.” Gui-ciangkun berseru lagi dengan suara

memerintah. Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut tidak

mau berdiri dari tempat duduknya.

“Bu-te, kau majulah.” kata Ouwyang Bun, tapi adiknya

dengan cemberut geleng-geleng kepala.

“Biarkan anjing itu menggonggong lebih lama dulu.”

“Bu-te, jangan begitu. Ingatlah bahwa dia itu hanya

memenuhi perintah susiok saja. Kau majulah.”

Terpaksa Ouwyang Bu berdiri dari tempat duduknya dan

sekali loncat ia telah berada di atas panggung. Ia menjura

kepada susioknya, lalu bersilat. Tapi cara bersilatnya aneh

sekali. Ia pasang kuda-kuda dan tanpa mengindahkan

kedua kakinya, ia memukul ke depan ke belakang, ke kanan

kiri dan hanya tubuh atasnya saja yang bergerak-gerak,

sedangkan kedua kaki tetap di atas lantai tak bergerak.

Setelah memukul sana menghantam sini beberapa jurus, ia

lalu menghentikan gerakannya dan menjura lagi kepada

Semua orang mencela dan heran sekali akan ketololan

pemuda itu. Hanya Cin-ciangkun seorang yang tahu bahwa

pemuda itu telah mengeluarkan dasar ilmu silat Cian-jiu

Kwan-im-hian-ko (Kwan Im Tangan Seribu

Mempersembahkan Buah) yang menjadi sumber ilmu silat

Kiauw-ta-sin-na yakni gabungan ilmu silat Siauw-lim dan

Bu-tong. Biarpun kedua kaki tidak mengubah bhesi (kudakuda),

namun sepasang tangan dapat bergerak dalam

bermacam-macam tipu dan dapat menghadapi musuh dari

manapun juga, bahkan dapat menghadapi lawan yang

berada di belakang. Maka ia tidak mencela, hanya diamdiam

ia sesalkan murid keponakan itu mengapa tidak mau

memperlihatkan keindahan ilmu silat cabang mereka agar

semua orang menjadi kagum.

Melihat cara bersilat Ouwyang Bu, panglima she Gui itu

memandang remeh sekali, maka ia segera berdiri dan

dengan suara keras memerintah lagi.

“Kini Ouwyang Bun harap maju menunjukkan

kemahirannya.”

“Ayah, kuharap suheng ini tidak terlalu seji (sungkan)

seperti adiknya,” kata Lie Eng kepada ayahnya. Gadis ini

biarpun berkata perlahan, tapi sengaja ia kerahkan tenaga

lweekang dari tan-tian (pusar) hingga suaranya terdengar

pula oleh Ouwyang Bun. Pemuda ini tersenyum lalu

dengan loncatan Naga Sakti Terjang Mega ia telah berada

di atas panggung. Loncatannya benar-benar bergaya indah

hingga diam-diam panglima muda she Gui itu merasa

kagum juga, dan semua anggauta tentara melihat gaya ini

lalu bertepuk tangan ramai.

Ouwyang Bun lalu menjura kepada susioknya kemudian

ia keluarkan ilmu silatnya. Berbeda dengan adiknya,

Ouwyang Bun yang mendengar kata-kata Lie Eng, segera

berusaha “menebus” kerugian yang diperlihatkan oleh

adiknya. Ia maklum bahwa selain susioknya dan sumoinya

itu, mungkin semua orang memandang rendah kepada ilmu

silat yang baru saja diperlihatkan Ouwyang Bu, maka kini

ia segera memainkan ilmu silat Ngo-heng-lian-kun-hoat,

yakni ilmu silat warisan suhunya yang memang tidak saja

indah dipandang, tapi juga sangat hebat dan tidak mudah

dimainkan oleh sembarang orang. Tubuhnya bergerak cepat

hingga membuat mata penonton menjadi kabur. Tidak

heran bila sambutan-sambutan sorak-sorai dan tepuk tangan

terdengar terus-menerus sampai ia menghentikan

gerakannya dan berdiri menjura kepada susioknya dengan

wajah tidak berubah.

Diam-diam Cin Cun Ong senang melihat kepandaian

Ouwyang Bun dan adiknya, karena ia maklum bahwa

kedua pemuda itu benar-benar merupakan pembantu yang

boleh dipercaya.

Tapi pada saat itu, Gui-ciangkun segera berdiri dan

berseru keras.

“Ouwyang Bun dianggap lulus dan boleh diuji melawan

seorang perwira untuk menetapkan kelasnya, tapi Ouwyang

Bu tidak dapat diterima karena ilmu silatnya masih rendah.

Ia hanya boleh masuk menjadi perajurit biasa.”

Ouwyang Bu lalu meloncat cepat ke atas panggung dan

setelah menjura kepada susioknya, ia berkata kepada

panglima muda itu,

“Aku juga tidak sangat mabok pangkat seperti engkau,

tapi tentang kepandaian, biarpun pengertianku masih

rendah, tapi dapat kupastikan bahwa dengan ilmu silatku

tadi, kau takkan mampu menjatuhkan aku. Percaya atau

tidak? Kalau tidak percaya, naiklah ke mari dan kita

membuktikannya. Kalau kau percaya, maka kau ter nyata

tidak tahu malu.”

Kagetlah semua orang mendengar ucapan ini, karena

siapa orangnya berani menghina Gui-ciangkun yang selain

terkenal kejam dan gagah perkasa, juga menjadi tangan

kanan panglima tua Cin Cun Ong. Tantangan itu sungguh

lancang dan gegabah.

Sebaliknya, Cin-ciangkun merasa menyesal mengapa

pembantunya begitu bodoh hingga tak dapat mengenal ilmu

silat Ouwyang Bu yang ulung tadi dan mengeluarkan

pernyataan yang menyakiti hati pemuda itu, tapi memang

ia telah mengangkat Gui-ciangkun menjadi pemimpin

penguji hingga panglima muda itu memang berwewenang

dalam hal itu.

Gui-ciangkun tentu saja sangat marah. Kedua matanya

melotot dan mukanya menjadi merah. Kalau tidak ada Cinciangkun

di situ, pasti ia telah memerintahkan orangorangnya

untuk menangkap anak muda kurang ajar itu.

“Apa kau sudah bosan hidup?” hanya demikian

Ouwyang Bu tertawa. “Aku atau kau yang bosan hidup?

Naiklah, naiklah, ingin sekali aku melihat apakah

kepandaianmu sehebat pakaianmu.”

“Bu-te. Jangan begitu, kau turunlah.” Ouwyang Bun

berseru karena tak suka melihat adiknya menimbulkan

Sementara itu, Cin-ciangkun merasa sudah tiba

waktunya untuk bertindak sebagai pemisah, karena kalau

sampai kedua orang itu betul-betul bertempur, pasti salah

seorang menderita bencana dan hal ini tak ia kehendaki

karena berarti merugikan kekuatan kesatuannya. Ia lalu

berdiri dan membentak,

“Gui-ciangkun, habisi pertengkaran ini. He, Ouwyang

Bu, kau kembalilah ke tempat dudukmu lagi.” bentakan ini

terdengar keras dan berpengaruh sekali hingga kedua orang

itu tak berani membantah. Panglima Gui tunduk

menghadapi pemimpinnya, sedangkan Ouwyang Bu tidak

saja takut kepada kakaknya, tapi juga ia segan membantah

susioknya. Keduanya lalu mundur dan pada saat itu

terdengar suara tertawa keras dan nyaring dari luar. Suara

ketawa ini demikian nyaring dan menyeramkan, apalagi

terdengar pada saat semua orang tak berani bersuara

melihat Cin-ciangkun yang marah hingga suasana sunyi

sekali. Siapakah orangnya yang demikian berani mati

tertawa dalam saat seperti itu?

Semua orang menengok dan dari luar masuklah tiga

orang tua-tua dengan langkah kaki perlahan. Yang berjalan

paling depan adalah seorang bertubuh tinggi kurus seperti

batang bambu. Mulutnya menjepit sebatang huncwe bambu

yang kecil panjang dan ujungnya mengepulkan asap biru,

kedua tangannya yang kurus seperti tangan jerangkong itu

digendong di belakang. Ia berjalan bagaikan sedang jalanjalan

di dalam taman bunga di rumahnya saja demikian

seenaknya dan tenang. Orang kedua dan ketiga juga orangorang

tua yang usianya sebaya dengan orang pertama, kirakira

limapuluhan tahun. Yang kedua orangnya gemuk

pendek, kepalanya gundul dan berjubah hwesio. Mulutnya

selalu menyeringai dan matanya yang bundar itu

memandang liar ke kanan kiri. Orang ketiga berpakaian

seperti orang pertama, yakni pakaian guru silat yang serba

ringkas, tapi sangat mewah karena pinggir pakaiannya

dihias sulaman-sulaman benang emas. Tubuh orang ketiga

ini sedang saja, tapi dadanya bidang menandakan bahwa ia

kuat sekali.

Si hwesio dan orang ketiga itu berkali-kali menengok ke

kanan kiri dan memuji-muji, “Sungguh angker, sungguh

kuat.” agaknya mereka memuji-muji pertahanan dan

kedudukan markas besar Cin-ciangkun.

Diam-diam Cin Cun Ong terkejut karena bagaimana tiga

orang aneh ini dapat masuk ke situ tanpa dapat dicegah

oleh para penjaganya? Tentu mereka ini orang-orang

pandai. Akan tetapi, sebagai seorang berkedudukan tinggi,

ia tak mau berlaku terlalu merendah, dan sebaliknya ia

hanya memberi isyarat kepada Gui-ciangkun untuk

menegur mereka.

Tapi sebelum Gui-ciangkun sempat menegur, si empek

yang menghisap huncwe (pipa tembakau) panjang itu

melepaskan huncwenya dari mulut dan bertanya kepada

seorang anggauta tentara yang berdiri di dekatnya,

“Eh sahabat, kalian ini sedang melihat apakah? Sedang

diadakan apa di sini?”

Anggauta tentara itu geli melihat sikap dan lagak empek

itu, maka ia lalu menjawab sambil tertawa,

“Empek tua, lebih baik kau jangan dekat-dekat di sini

karena kami sedang mengadakan ujian permainan silat

kepada para perwira baru.”

“Bagus, bagus. Memang kami bertiga datangpun hendak

memasuki ujian. Mana pemimpin ujian itu?” ia lalu

memandang ke sekeliling dengan mata mencari-cari. Lalu

pandang matanya bertemu dengan Cin Cun Ong yang

duduk dengan sikap tegap dan-agung.

“Oh, oh, kiranya kita tersesat di dalam markas besar

panglima besar yang kalau tidak salah tentu Cin-ciangkun

sendiri adanya.” kakek penghisap huncwe itu berkata

kepada dua orang kawannya. Dua kawannyapun

memandang ke arah Cin-ciangkun. Tapi pada saat itu, Guiciangkun

sudah membuka mulut membentak.

“Dari mana datangnya tiga orang-orang tua kurang ajar

yang masuk ke sini tanpa ijin? Tahukah kalian bahwa

pelanggaran ini dapat dijatuhi hukuman mati?”

Si penghisap huncwe memandang ke arah panglima

muda itu dan tertawa geli kepada kedua kawannya. “Lihat,

agaknya Cin-ciangkun biarpun terkenal gagah perwira, tapi

belum dapat mengajar adat kepada orang-orangnya.”

Sementara itu, Cin Cun Ong yang dapat menduga bahwa

ketiga orang itu tentu berkepandaian tinggi, menyuruh Guiciangkun

menanyakan maksud kedatangan mereka.

Terpaksa perwira muda itu mentaati perintah atasannya

dan ia menegur pula,

“Tiga tamu yang datang tanpa diundang, sebenarnya

mempunyai maksud apakah? Harap segera memberi

laporan.”

“Kaukah yang menjadi pemimpin ujian ini?” tanya

hwesio gemuk pendek. “Kalau begitu, boleh kau catat

bahwa kami bertiga juga minta diuji apakah kami telah

cukup cakap untuk membantu pekerjaan Cin-ciangkun.

Ajukan syarat-syaratmu, baru kami akan ajukan syaratsyarat

kami, bukankah begitu, kawan-kawan?” tanyanya

kepada kedua kawannya. Dan si penghisap huncwe dan

orang ketiga yang berbaju biru itu tertawa-tawa dan

mengangguk-angguk membenarkan.

“Syaratnya? Kalian sudah tak memenuhi syarat karena

datang tanpa diundang dan tanpa ada orang perantara yang

memperkenalkan kalian.”

Tapi buru-buru Cin-ciangkun memberi isyarat kepada

pembantunya hingga Gui-ciangkun melanjutkan kata-kata,

“Biarlah, kalian dengar syarat-syaratnya. Kalian harus

dapat memenangkan seorang perwira yang kami tunjuk

untuk menguji kepandaian kalian. Tapi kalau pertandingan

ujian ini mengakibatkan luka atau mati, tidak boleh ada

tuntutan.”

“Bagus, bagus sekali.” orang ketiga yang berbaju biru

tertawa mendengar syarat-syarat ini. “Memang adil sekali.

Belum pernah seumur hidupku aku bertanding me lawan

seorang perwira. Tentu saja takkan ada tuntutan, karena

dalam hal pibu (beradu silat) sudah sewajarnya mendapat

luka atau mati. Pula, kalau orang sudah mampus, ia tak

mungkin dapat menuntut.”

Para anggauta tentara tertawa geli mendengar ucapan

yang lucu ini.

“Kami terima syarat ini.” si penghisap huncwe berkata

nyaring. “Sekarang kami majukan syarat-syarat kami.”

“Di sini orang tidak boleh mengajukan syarat.” bentak

Gui-ciangkun yang merasa marah sekali melihat sikap

orang yang ugal-ugalan. Tapi Cin Cun Ong memberi isyarat

hingga perwira muda itu dengan mendongkol bertanya,

“Apakah syaratmu, he, orang-orang aneh?”

Si penghisap huncwe tertawa gelak-gelak dan berkata,

“Biarpun orang-orangnya tak tahu adat, tapi ternyata Cinciangkun

peramah sekali, sesuai dengan nama besarnya.

Nah, dengarlah, kami minta dijamin makan minum dan

pakaian kami, di samping itu tiap sepekan sekali kami

minta upah sepuluh tail perak. Bagaimana, setuju?”

Ternyata syarat yang dimajukan ini bukanlah syarat, tapi

hanya main-main saja, hingga semua orang pada tertawa

geli dan Gui-ciangkun makin mendongkol saja.

“Syaratmu diterima dan kini orang pertama naiklah ke

panggung. Ujian segera dimulai.” Gui-ciangkun lalu

memilih seorang perwira yang cukup tinggi ilmu silatnya

untuk memberi hajaran kepada orang-orang tua gila itu.

“Orang pertama adalah aku, kaukeluarkan dulu orangmu

yang hendak pibu denganku dan suruh ia naik ke

panggung.” kata orang tua berbaju biru itu.

Terpaksa perwira yang hendak melayaninya itu cepat

menanggalkan pakaian perangnya dan dengan pakaian

ringkas ia meloncat ke atas panggung. Orang ini adalah

seorang yang telah lama menjadi perwira di situ hingga

telah cukup terkenal akan kegagahannya. Dengan gagah ia

berdiri menanti datangnya kakek baju biru itu untuk segera

diberi hajaran karena kekurang-ajarannya.

“Nah, sekarang aku naik. Ah, mengapa panggung ini

setinggi ini?” Sambil berkata demikian, si baju biru itu lalu

menggunakan tangan dan kakinya untuk memanjat balok

pinggiran panggung itu, seperti lakunya seekor monyet

memanjat pohon. Tentu saja perbuatannya ini

menimbulkan suara ketawa riuh rendah karena meloncat ke

atas panggung saja tidak becus, apalagi hendak melawan

perwira itu? Sungguh manusia tak tahu diri dan hendak

mencari mampus.

Akan tetapi Ouwyang Bun saling pandang dengan

adiknya karena dari tempat duduk mereka, kedua saudara

Ouwyang ini dapat melihat jelas dan mereka kagum sekali

akan ilmu merayap Pek-houw-yu-chong (Cecak Merayap

Di Tembok) yang cukup hebat itu. Kedua telapak tangan

dan kaki si baju biru itu bagaikan kaki tangan cecak dapat

lengket di balok yang licin itu tanpa terpeleset sedikit juga.

Ilmu ini sepuluh kali lipat lebih sukar dipelajari daripada

meloncati panggung yang dua kali tingginya daripada

panggung ini.

Setelah berhadapan dengan perwira itu, si baju biru lalu

menjura dengan lagak sangat hormat, tapi mulutnya tetap

“Sungguh satu kehormatan tinggi sekali bagiku untuk

pibu dengan seorang gagah lagi berpangkat. Ciangkun,

harap kau berlaku murah dan jangan membinasakan aku,

karena akupun tidak akan melukaimu.”

Dari tempat duduknya, Gui-ciangkun berseru keras,

“Sebelum pibu, hendaknya tuan memberitahukan nama

terlebih dulu.”

“Aku bernama Lee Uh dan disebut orang Hoa-gu-ji (Si

Kerbau Belang).”

Maka mulailah pertandingan itu ketika si perwira tanpa

banyak peradatan lagi melancarkan serangannya. Perwira

itu bertenaga besar dan pukulannya mendatangkan

sambaran angin keras. Tapi ketika Lee Un menangkis

dengan kepretan tangannya, perwira itu meringis karena ia

rasakan pergelangan tangannya sakit sekali. Marahlah ia

karena maklum bahwa musuhnya mempunyai tenaga tak

kalah besarnya. Ia lalu menyerang dengan pukulan-pukulan

berat dan berbahaya dengan bertubi-tubi.

“Hati-hati, ciangkun, jangan main keras, kau nanti

jatuh.” si Kerbau Belang menyindir sambil berkelit ke sana

ke mari dengan lincahnya. Si perwira menjadi malu dan

makin marah hingga kini gerakan-gerakannya dilakukan

dengan sepenuh tenaga hingga papan panggung itu

bergerak-gerak tergetar oleh perubahan kakinya yang cepat

dan berat. Tapi dengan kegesitannya, Hoa-gu-ji Lee Un

membuat lawannya berputar-putar karena ia selalu berkelit

sambil berputar mengelilingi panggung itu. Setelah

lawannya menjadi pusing, tiba-tiba Lee Un tertawa

terbahak-bahak dan ketika lawannya memukul keras dari

depan ke arah dadanya, ia meloncat ke samping dan

sebelum perwira itu keburu menarik kembali lengannya,

Lee Un sudah berada di belakangnya dan mendorongnya

dengan keras. Karena kepalanya telah pusing dan tenaga

dorong dari belakang itu sangat besar perwira itu bagaikan

meloncat ke depan saja dan tidak ampun lagi tubuhnya

terpelanting keluar panggung.

Terdengar tempik sorak ramai menyambut kemenangan

ini, dan tiba-tiba si baju biru itu menjadi sombong sekali. Ia

bertolak pinggang dan menghadap Cin-ciangkun sambil

berkata keras,

“Ciangkun, mengapa perwira-perwiramu hanya macam

begitu saja? Kalau menghadapi pemberontak-pemberontak

yang berkepandaian tinggi, apakah takkan mengecewakan?

Kalau hanya setinggi itu kepandaian perwiramu, lebih baik

kau turun sendiri dan mengujiku, ciangkun. Dengan

mengukur kepandaianku, maka kau akan dapat mengirangira

sendiri berapa pantasnya gajiku.”

Ucapan ini bagaimanapun juga merupakan tantangan.

Gui-ciangkun menjadi marah sekali. Sambil berseru keras ia

genjot tubuhnya dan tahu-tahu ia telah berada di atas

panggung, menghadapi si baju biru dengan pakaian

perangnya masih lekat di tubuhnya.

“Ha, ini ada satu lagi. Tapi kepandaiannya jauh lebih

baik daripada yang tadi,” kata Hoa-gu-ji Lee Un.

“He, orang jumawa dan sombong. Bilanglah terus

terang, kau datang hendak membantu kami atau hendak

memusuhi?”

“Eh, bagaimanakah kau ini? Sudah terang kami datang

hendak membantu. Apakah kaukira kami suka pada kaum

pemberontak?”

“Mengapa kau berani sekali menghina jenderal kami?”

Si baju biru itu mengangkat pundaknya lalu berkata

heran, “Siapa yang menghina? Aku hanya ingin diuji oleh

orang yang benar-benar memiliki kepandaian. Kau agaknya

boleh juga, mari kau coba-coba mengujiku, tapi kalau kau

kalah, sudah selayaknya kauserahkan kedudukanmu

kepadaku.”

Marahlah Gui-ciangkun yang bernama Li Sun, karena

memang ia seorang yang beradat keras sekali. Cepat Gui Li

Sun menanggalkan pakaian perangnya yang kurang leluasa

dipakai bersilat itu dan kini ia memakai pakaian ringkas.

“Marilah kita main-main sebentar,” katanya sambil

memasang kuda-kuda. Carang she Gui ini anak murid Kunlun-

pai yang melatih tenaga gwa-kang (tenaga luar) hingga

mencapai tingkat cukup tinggi. Tenaganya besar dan kuat

sekali hingga boleh dibilang bahwa di dalam seluruh

pasukan Cin-ciangkun ia adalah orang terkuat.

Karena menduga bahwa perwira ini yang diserahi tugas

memimpin ujian tentulah bukan orang sembarangan, maka

si Kerbau Belang berlaku hati-hati. Ia hendak mengambil

keuntungan dengan menyerang lebih dulu, maka dengan

tiba-tiba ia gerakkan tangannya menyerang dada lawan.

Gui Li Sun mengangkat tangan menangkis dan dua buah

tenaga besar beradu keras sama keras tapi akibatnya

mengagumkan karena orang she Lee itu terhuyung mundur

tiga tindak sedangkan Gui-ciangkun hanya mundur

selangkah saja. Tahulah si Kerbau Belang bahwa ia kalah

tenaga hingga ia merasa kagum. Ia dijuluki Kerbau Belang

karena tenaganya yang luar biasa tapi sekali ini ia bertemu

lawan yang bertenaga gajah.

Melihat bahwa tenaganya lebih besar daripada tenaga

lawan, Gui-ciangkun merasa besar hati dan ia mendesak

makin hebat dan melancarkan pukulan-pukulan keras. Tapi

ternyata si Kerbau Belang hanya kalah tenaga saja,

sedangkan dalam hal ilmu silat dan kegesitan, terbukti

bahwa perwira she Gui itu masih kalah setingkat. Hal ini

dengan mudah dapat terlihat oleh Ouwyang-hengte dan Cin

Lie Eng serta ayahnya, walaupun tak dapat diduga oleh

orang lain karena memang Gui Li Sun berada di pihak yang

selalu menyerang dan mendesak.

Li Sun makin gembira dan mendesak, terus, tidak tahu

bahwa lawannya sengaja menggunakan akal untuk

membuat ia berlaku sangat bernafsu hingga mengutamakan

penyerangan tanpa ingat akan penjagaan diri. Dengan

demikian, maka ia memberi tempat-tempat kosong pada

tubuhnya tanpa ia sadari. Memang Lee Un si Kerbau

Belang memperlihatkan sikap seakan-akan repot dan

terdesak sekali, tapi ia tidak mau menyia-nyiakan

kesempatan baik. Pada saat yang menguntungkan, ia cepat

bergerak menyerang dengan tendangan kakinya yang

“mencuri” kekosongan hingga tepat menendang lambung

kanan Gui-ciangkun. Raksasa muda yang bertenaga besar

itu merasa betapa seakan-akan pernafasannya tertutup. Ia

terhuyung mundur dengan terengah-engah, kemudian

roboh di atas panggung. Lawannya menjura kepadanya

sambil berkata,

“Gui-ciangkun, betapapun juga, aku kagumi tenagamu

yang besar.”

Kata-kata ini bahkan menambah rasa mendongkol di

hati Gui Li Sun hingga ia memuntahkan darah dari

mulutnya karena malu, marah, dan mendongkol.

Melihat hal ini, Cin Lie Eng merasa marah sekali. Ia

merasa betapa dengan peristiwa kekalahan para perwira itu,

seakan-akan orang telah mengotorkan muka ayahnya. Ia

tadi melihat bahwa Gui Li Sun hanya dikalahkan karena

kecerobohannya saja dan ia taksir bahwa ia takkan kalah

menghadapi si Kerbau Belang, maka ia cepat berdiri dan

siap hendak menghadapi orang itu. Tapi ia didahului orang

karena pada saat itu, bayangan seorang muda berkelebat

cepat dan tahu-tahu Ouwyang Bu telah berdiri di atas

“Gui-ciangkun, biarlah aku dengan ilmu burukku

membayar hutangmu kepada sobat ini,” katanya dan pada

saat itu dua orang prajurit naik ke panggung dan membawa

pergi Gui-ciangkun yang terlalu lemah untuk turun sendiri.

Beberapa orang perwira meminumkan obat kepada perwira

itu, kemudian setelah ditempeli obat penawar luka yang

memang sudah tersedia, perwira muda yang bertubuh kuat

itu sudah dapat duduk lagi di tempat semula, biarpun

wajahnya masih pucat. Ia merasa penasaran dan kini ia

memandang ke atas panggung dengan keheran-heranan.

Tiba-tiba Kerbau Belang yang tangguh itu telah

bertanding melawan Ouwyang Bu, pemuda yang tadi ia

tolak dan nyatakan bahwa kepandaiannya terlampau

rendah. Dan yang sangat mengherankan ialah bahwa

pemuda itu masih saja menggunakan ilmu silatnya yang

didemonstrasikan tadi, yakni kedua kakinya tak berubah,

hanya tubuh atasnya saja bergerak-gerak ke sana ke mari,

sedangkan kedua tangannya seakan-akan berubah menjadi

banyak sekali.

Ouwyang Bu benar-benar hebat karena dengan ilmu silat

Cian-jiu Kwan-im-hian-ko yang sudah terlatih hebat itu ia

dapat membuat lawannya tak berdaya. Si Kerbau Belang

tadinya hendak menggunakan kegenitannya seperti tadi

untuk menjatuhkan lawan ini, tapi siapa tahu, anak muda

yang tampan dan selalu tersenyum ini sama sekali tidak

mau berpindah dari tempatnya hingga terpaksa dia harus

menghampirinya lagi. Segala macam serangan telah ia

lakukan, tapi selalu dapat ditangkis dengan tepat oleh lawan

muda itu dan ketika ia mencoba mengadu tenaga, ternyata

ia merasa betapa lengannya kesemutan. Ia terkejut dan

maklum bahwa anak muda ini adalah seorang ahli lweekeh

yang memiliki tenaga lweekang sangat tinggi, maka ia tidak

berani main-main pula.

Karena pemuda itu hanya menangkis saja, si Kerbau

Belang menjadi marah dan pada pikirnya kalau pemuda itu

menyerang, tentu akan ada kesempatan baginya untuk

merobohkannya. Jika hanya bertahan, maka tentu saja

pemuda itu kuat sekali karena seluruh perhatian dan

tenaganya dikerahkan untuk bertahan dan membela diri,

tidak demikian kalau ia balas menyerang, tenaga dan

perhatian menjadi terpecah. Maka si Kerbau Belang lalu

berseru gemas,

“Eh, anak bandel, apa kau tidak berani menyerang?”

Ouwyang Bu menjawab, “Menyerang? Kau yang minta,

jangan menyesal nanti.” dan tubuhnya lalu mulai bergerak

pindah. Sebentar saja ia berkelebat ke sana ke mari dengan

kecepatan yang melebihi lawannya hingga si Kerbau Belang

menjadi terkejut sekali. Beberapa jurus kemudian, dengan

gerak tipu Pai-bun-twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung) ia

berhasil mendorong dada lawannya hingga sambil berseru

marah dan kesakitan si Kerbau Belang terdorong

bergulingan di atas panggung kemudian menggelinding dan

jatuh ke bawah. Tapi karena ia memang berkepandaian

tinggi, jatuhnya di atas tanah masih berdiri. Ia meringis

kesakitan dan mengelus-elus dadanya.

Gegap-gempita suara sambutan para anggauta tentara

melihat kemenangan Ouwyang Bu yang tidak disangkasangka

ini. Juga Cin Cun Ong nampak girang karena murid

keponakan itu telah dapat membersihkan mukanya. Lie

Eng ikut tepuk-tepuk tangan saking gembiranya, sementara

itu Gui-ciangkun memandang bengong seakan-akan tak

percaya kepada mata sendiri. Benar-benarkah pemuda yang

tak becus bersilat itu bisa memenangkan si Kerbau Belang

yang telah merobohkannya?

Tapi pada saat itu terdengar seruan keras dan hwesio

gemuk pendek itu sambil menyeringai telah meloncat ke

atas panggung. “Tidak adil, sungguh tidak adil. Leeenghiong

kalah karena keroyokan? Mengapa di sini orang

tidak mengerti aturan? Lee-enghiong telah dua kali menang,

kepandaianmu boleh juga, coba kaujatuhkan aku kalau

mampu.” katanya kemudian sambil memandang Ouwyang

Pemuda yang keras hati itu tentu saja tidak gentar

sedikitpun, tapi pada saat itu terdengar kakaknya berseru

dari bawah.

“Bu-te, kau turunlah. Berikan daging gemuk ini untukku,

jangan kau borong semua.”

Ouwyang Bu tertawa dan berkata kepada si hwesio

gemuk, “Eh, hwesio gendut, sayang aku harus

meninggalkan kau. Kakakku agaknya lapar juga dan kau

memang menjadi ‘makanannya’.” Ia lalu melayang turun

dan pada saat itu Ouwyang Bun meloncat ke atas panggung

menggantikan adiknya.

Hwesio gendut itu berkata kepada Ouwyang Bun sambil

tertawa,

“Eh, bocah, jangan kau main gila. Kau bilang hendak

digantikan kakakmu, tapi setelah meloncat turun mengapa

kembali lagi. Apakah kakakmu ketakutan dan lari pulang ke

pangkuan ibumu?”

-Oo)d-e(oOJilid

III

MENDENGAR kata-kata yang diucapkan dengan suara

nyaring itu, terdengar suara ketawa di sana-sini karena

orang-orang yang telah kenal kepada Ouwyang-hengte tahu

bahwa hwesio itu salah lihat dan menyangka bahwa yang

kini berdiri di depannya masih pemuda yang tadi.

“He, hwesio, bukalah matamu lebar-lebar dan lihat baikbaik,

aku berada di sini.” Ouwyang Bu berteriak dari

bawah. Hwesio itu cepat memandang ke bawah jdan kedua

matanya terbelalak lebar karena heran. Ia lalu menghadapi

Ouwyang Bun sambil menjura.

“Pemuda gagah harap perkenalkan nama. Pinceng (aku)

sendiri bernama Bi Kok Hosiang.”

“Siauwte Ouwyang Bun mohon pengajaran dari kau

orang tua,” jawab pemuda itu.

“Jangan kau merendah, adikmu tadi kepandaiannya

tinggi, kau tentu lebih hebat lagi. Bagaimana kalau kita

main-main dengan senjata sebentar?”

“Terserah kepadamu, siauwte hanya melayani saja.”

Bi Kok Hosiang lalu mengambil seuntai tasbeh yang tadi

dikalungkan di lehernya. Sambil berseru “Ahh.” ia kebutkan

tasbeh-nya yang terlepas sambungannya dan kini menjadi

senjata panjang seperti rantai. Ternyata tasbeh ini memang

sengaja dibuat dari baja kuat dan digunakan sebagai senjata

Melihat hwesio itu mengeluarkan senjata aneh,

Ouwyang Bun juga mencabut pedangnya dan siap menanti

datangnya serangan.

“Lihat senjata.” Bi Kok Hosiang berseru dan senjata

tasbehnya meluncur cepat ke arah leher Ouwyang Bun.

Pemuda itu cepat menangkis dan balas menyerang.

Sebentar saja kedua opang itu saling serang dengan hebat

sekali hingga semua penonton menahan napas saking

tegangnya. Memang kepandaian kedua pihak berimbang

dan hwesio itu biarpun tubuhnya gemuk, tapi gerakangerakannya

gesit dan cepat psekali. Akan tetapi, Ouwyang

Bun tidak kalah gesit. Ia putar pedangnya dan mulai

memainkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (Ilmu Pedang

Garuda Sakti) hingga tubuhnya tertutup sinar pedang dan

ia menyambar-nyambar dengan sinar pedangnya bagaikan

seekor garuda melayang dan menyambar-nyambar

Sekali lagi Gui-ciangkun dikejutkan oleh kehebatan anak

muda yang dipandang rendah itu dan diam-diam ia

menghela napas karena terus terang ia mengakui bahwa

ilmu kepandaian Ouwyang Bun masih jauh berada di

atasnya. Perwira muda yang kasar dan sombong ini

menjadi insyaf bahwa kepandaiannya sebenarnya masih

dangkal sekali.

Cin Lie Eng tidak heran melihat kehebatan kedua

saudara kembar itu karena gadis ini pernah menyaksikan

kepandaian mereka ketika dikeroyok oleh para

pemberontak di pinggir sungai. Tapi ia merasa kagum juga

melihat permainan pedang Ouwyang Bun dan tahu bahwa

dengan permainan pedang sehebat itu, Ouwyang Bun tak

kalah oleh hwesio yang juga sangat hebat itu.

Sebaliknya Cin Cun Ong berpikir lain. Panglima tua ini

merasa gembira sekali karena selain kedua saudara

Ouwyang yang kosen, ia juga kedatangan tiga orang tua

yang cukup hebat hingga mereka ini kesemuanya

merupakan pembantu-pembantu yang sangat berharga

baginya. Kini melihat jalannya pertempuran antara

Ouwyang Bun dan Bi Kok Hosiang, timbul

kekhawatirannya, la maklum bahwa hwesio itu tentu

merasa malu kalau sampai dikalahkan maka melawan matimatian

dan nekat, sebaliknya Ouwyang Bun yang masih

muda tentu saja berdarah panas dan tidak akan mau

mengalah begitu saja. Ini berarti bahwa banyak

kemungkinan seorang di antara mereka tentu akan terluka

atau binasa, dan kalau hal ini terjadi, tentu akan timbul

permusuhan di antara Ouwyang-hengte dan ketiga orang

tua itu. Maka orang tua ini lalu segera bertindak. Ia

gerakkan tubuhnya dan tahu-tahu ia telah melayang ke atas

Semua penonton terkejut melihat jenderal besar itu turun

tangan dan berada ni atas panggung begitu tiba-tiba. Cinciangkun

lalu menggunakan kipas yang sejak tadi dipegang

untuk mengipasi tubuhnya. Kipas yang terbuat dari bambu

itu dikebutkan ke tengah-tengah di antara kedua orang yang

sedang bertempur itusam-bil berseru keras sekali,

“Tahan..”

Bi Kok Hosiang dan Ouwyang Bun terkejut bukan main

karena kebutan kipas itu mendatangkan tenaga besar hingga

kedua senjata mereka tertolak mundur hingga keduanya

juga cepat-cepat mundur.

Ouwyang Bun lalu memberi hormat kepada susioknya,

sedangkan Bi Kok Hosiang juga memberi hormat karena ia

merasa kagum akan kelihaian panglima tua ini.

“Toyu, kepandaianmu cukup tinggi. Aku amat merasa

girang sekali kalau kau sudi membantu kami.”

Hwesio gendut itu tersenyum girang dan menjura

kepada Cin-ciangkun. Ia suka kepada panglima tua yang

dapat menghargai tenaganya walaupun tadi ia tak dapat

dikatakan menang atas kepandaian anak muda yang

menjadi lawannya itu.

“Ouwyang Bun, kau duduklah di sana dengan adikmu.”

Orang tua ini menuding ke arah deretan tempat duduk di

dekat kursinya sendiri hingga Ouwyang Bun menghaturkan

terima kasih. Mendengar bahwa anak muda itu menyebut

“susiok” kepada panglima itu, Bi Kok Hosiang terkejut dan

berkata,

“Tidak kusangka sicu adalah murid keponakan Cin-taiciangkun,

pantas saja demikian hebat.” katanya sambil

memberi hormat yang dibalas Ouwyang Bun dengan

merendah. Kemudian pemuda itu mengajak adiknya

pindah tempat duduk di dekat Cin Lie Eng dan disambut

dengan gembira oleh gadis yang sudah menyediakan kursi

untuk mereka berdua itu.

Selain Bi Kok Hosiang, juga Lee Un si Kerbau Belang

diterima oleh Cin-ciangkun hingga si baju biru itu berterima

kasih sekali, walau terang bahwa ia sudah dikalahkan, tapi

tetap diterima oleh panglima itu. Setelah kedua orang itu

menduduki kursi yang disediakan, tiba-tiba dari bawah

melayang naik ke atas panggung si penghisap huncwe tadi.

“Ha-ha-ha. Cin-ciangkun, orang-orangmu sungguh gagah

dan kau sendiri benar-benar ulung. Kedua kawanku

memang tepat bekerja di bawah perintahmu. Aku sendiri….

kalau memang ada orang-orang yang lebih pandai di sini,

pasti dengan suka rela membantu.” sambil berkata begini ia

sedot huncwenya kuat-kuat dan dari mulutnya ia tiupkan

asap huncwenya yang berwarna putih kebiru-biruan, dan

heran. Asap itu bergulung-gulung tidak mau buyar dan

terbentuklah bundaran menyerupai tengkorak. Semua orang

merasa heran melihat ini dan sebagian besar menganggap

bahwa si kurus ini sedang main sulap maka di sana-sini

terdengar seruan memuji.

Tapi Cin Cun Ong terkejut melihat demonstrasi tenaga

dalam ini dan ia lalu menjura sambil berkata,

“Tidak kusangka aku berhadapan dengan si Huncwe

Maut. Sungguh satu keberuntungan besar sekali hari ini

kami mendapat kunjungan orang gagah yang telah tersohor

dan terkenal kehebatannya. Lebih beruntung lagi jika sicu

(tuan yang gagah) suka membantu usaha kami menumpas

para pengkhianat dan pemberontak.”

“Ucapanmu betul, ciangkun, karena memang aku telah

datang ke sini, mau apalagi kalau tidak ikut membantu

pekerjaanmu? Tapi, kawan-kawanku telah diuji, dan

akupun perlu diuji, ciangkun.”

“Ha-ha, siapa yang belum pernah mendengar nama

Huncwe Maut? Tak perlu diuji, kami telah tahu

kehebatanmu.” kata Cin Cun Ong.

“Tapi aku belum tahu kehebatanmu, dan ini penting

kuketahui, karena bukankah kau akan menjadi pemimpinku

yang kutaati perintahnya?”

Cin Cun Orig berpikir. Orang ini memang hebat dan

tenaga lweekangnya cukup tinggi. Tapi kalau aku tidak

memperlihatkan kehebatanku, tentu ia kelak akan banyak

membandel, juga derajatku akan turun dalam pandangan

mata semua anak buahku. Maka ia lalu berkata sambil

tertawa,

“Sicu hendak memberi pelajaran kepada semua anak

buahku? Baik, baik silahkan.”

Si tinggi kurus itu lalu menancapkan huncwenya di

dalam mulut, dan ia mulai menggerak-gerakkan kedua

lengannya. Ketika ia adu-adukan kedua tangan, maka

terdengar suara seakan-akan dua batang kayu diadu hingga

Ouwyang-hengte dan Lie Eng terkejut sekali, karena

mereka pernah mendengar adanya satu ilmu yang disebut

Tiat-bhok-ciang (Tangan Kayu Besi) yang sangat hebat dan

berbahaya. Kini mereka dapat menduga bahwa si kurus ini

tentu memiliki ilmu itu dan diam-diam mereka merasa

khawatir. Tapi Cin Cun Ong hanya memandang dengan

tersenyum, bahkan berkata, “Berlakulah murah kepadaku,

sicu.” dan kemudian ia memasang kuda-kuda.

“Kau menyeranglah dulu, ciangkun,” kata Huncwe Maut

dengan suara tidak jelas karena bibirnya terganjal huncwe.

“Kau tamu aku tuan rumah, jangan berlaku sungkan,

sicu,” jawab Cin Cun Ong.

Maka bergeraklah si Huncwe Maut dengan serangan

tangan kanan. Sungguh mengherankan sekali, serangannya

itu dilakukan perlahan sekali dengan gerakan yang lambat,

memukul ke arah pundak lawan. Cin Cun Ong tidak

berkelit, tapi sengaja menerima pukulan itu dengan

tangannya pula. Ini adalah gerakan percobaan untuk

mengukur tenaga masing-masing dan kesudahannya

membuat si Huncwe Maut heran dan kagum. Ketika

tangannya bertemu dengan tangan panglima tua itu, ia

merasa bagaikan memukul kapas yang empuk dan lemas

sekali hingga buru-buru ia tarik kembali tangannya yang

tadinya digunakan dengan tenaga Tiat-bhok-ciang

sepenuhnya. Ternyata dengan menggunakan lweekangnya

yang tinggi Cin-ciangkun telah dapat memunahkan

serangan lawan hingga tenaga Tiat-bhok-ciang itu tak

berdaya sama sekali.

Maka si tinggi kurus tak berani main-main lagi. Ia

berlaku waspada dan mengeluarkan ilmu silatnya yang

tertinggi. Tapi ternyata Cin Cun Ong tak percuma

mendapat nama besar sebagai seorang panglima yang kosen

dan tak terkalahkan. Selain memiliki tenaga besar dan

kepandaian tinggi, juga Cin Cun Ong mempunyai

pengalaman bertempur puluhan tahun. Entah sudah

berapa banyak lawan-lawan lihai dan musuh-musuh

hebat pernah dihadapinya, maka selain pandai iapun tenang

dan tabah, serta sudah hafal akan ilmu-ilmu silat dari

berbagai cabang. Kini menghadapi si Huncwe Maut, ia

dapat membuat lawannya tak berdaya dan semua serangan

dapat dipatahkan dengan mudah saja.

Karena merasa takkan mungkin menang jika bertempur

dengan tangan kosong, maka si Huncwe Maut lalu berkata

sambil memegang huncwenya, “Maaf, marilah kita mainmain

sebentar dengan senjata.”

“Silakan, sicu.” Cin Cun Ong maklum bahwa lawannya

ini tentu istimewa sekali kepandaiannya dalam hal

mempergunakan huncwe dan melihat ujung huncwe yang

kecil setengah runcing itu maklumlah ia bahwa si tinggi

kurus ini tentulah seorang ahli totok yang lihai. Tapi karena

sudah dapat mengukur kepandaian lawannya, ia sengaja

hendak melayaninya dengan tangan kosong untuk

membuktikan keunggulan dan kelihaiannya.

Melihat panglima tua itu tidak mengeluarkan senjata, si

tinggi kurus lalu berkata, “Ciangkun, mana senjatamu?

Lekas keluarkan biar kurasakan pukulannya.”

“Aku adalah tuan rumah, mana aku berani menghina

tamuku dengan sambutan senjata tajam. Sicu, jangan kau

sungkan-sungkan, pergunakanlah huncwemu, kebetulan

sekali aku ingin sekali belajar kenal dengan huncwe maut

yang telah terkenal. Biarlah aku bertahan dengan kedua

tanganku.”

Si Huncwe Maut marah dan penasaran sekali karena

merasa dipandang rendah, tapi karena maklum bahwa

panglima tua she Cin ini tak boleh dibuat gegabah, ia tak

banyak bicara lagi lalu berseru,

“Awas senjata.”

Berbeda dengan ilmu silatnya tadi yang dilakukan

dengan ayal-ayalan dan lambat karena mengandalkan

kehebatan Tiat-bhok-ciang di lengan tangannya, kini

gerakan si kurus itu berubah cepat sekali. Huncwenya

berkelebatan ke sana ke mari dan ujungnya selalu menuju

jalan darah Cin Cun Ong dengan totokan-totokan

berbahaya dan cepat sekali. Sementara itu, karena api di

dalam huncwe itu belum padam, maka a-sap tembakau

yang berbau keras itu keluar ikut menyambar muka orang

membuat lawan yang kurang hati-hati tentu akan merasa

bingung dan mabok.

Diam-diam Cin Cun Ong kagum melihat permainan si

kurus ini dan tak terasa pula ia berseru, “Bagus, memang

hebat sekali si Huncwe Maut.” Ia berlaku hati-hati sekali

dan segera mengeluarkan ilmu silatnya Ngo-heng-lianhoan-

kun-hoat. Ilmu silat ini tadi telah dimainkan oleh

Ouwyang Bun tapi setelah kini dimainkan oleh Cin Cun

Ong, maka lebih hebat dan luar biasa lagi. Gerakan-gerakan

orang tua ini demikian cepat hingga seakan-akan ia berubah

menjadi lima orang yang menjaga dan menyerang dari lima

penjuru. Memang ilmu silat ini berdasarkan Ngo-heng dan

gerakannya dari lima jurusan, juga perubahan kaki lima

macam hingga tampaknya ia bersilat sambil berputaran,

tapi selalu dapat mengelit atau memukul huncwe lawannya,

bahkan dapat balas menyerang dengan hebat sekali.

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu yang mengenal baik

ilmu silat ini merasa sangat kagum Mereka tak menyangka

bahwa ilmu silat Ngo-heng itu dapat dimainkan sedemikian

hebatnya, karena suhu mereka sendiri Pat-jiu Lo-mo (Iblis

Tua Tangan Delapan) tidak dapat memainkan sehebat itu.

Yang langsung merasai kehebatan ilmu silat Ngo-heng

dari Cin Curi Ong adalah si Huncwe Maut sendiri. Ia

merasa betapa dari lima penjuru yang mengelilinginya di

mana tampak bayangan lawannya menyambar angin

pukulan yang membuat huncwenya terasa ringan sekali dan

tak bertenaga. Ke mana saja ia menyerang, huncwenya

selalu bertemu dengan tenaga besar yang membuat

senjatanya terpental kembali hingga gerakannya menjadi

kacau-balau. Sebentar saja ia merasa pening dan matanya

menjadi kabur, maka dengan kewalahan ia lalu berteriak,

“Sudah, sudah, ciangkun. Aku menyerah kalah.” maka

berhentilah panglima tua yang gagah perkasa itu, lalu

berdiri di depannya sambil tersenyum.

“Sicu, kau dan dua kawanmu memang cocok untuk

menjadi pembantu kami,” tapi tiba-tiba sikapnya berobah

ketika ia berkata dengan suara keras dan tetap.

“Sekarang kau mengakulah terus terang mengapa kalian

datang hendak membantuku. Tentu ada sesuatu yang

menyakiti hatimu hingga kalian mengambil keputusan

untuk membantu kami memusuhi para pemberontak.”

Si Huncwe Maut menghela nafas. “Memang tak salah

kalau orang berkata bahwa Cin-ciangkun adalah seorang

panglima nomor satu di dunia ini. Kau tidak saja kosen dan

lihai, ciangkun, tapi juga matamu awas sekali. Biarlah aku

mengaku terus terang padamu. Kami bertiga memang telah

bermusuhan dengan beberapa orang kang-ouw yang kini

menggabungkan diri dengan pemberontak. Kami telah

bertemu dengan mereka tapi kami kalah. Karena tidak ada

jalan lain untuk membalas dendam, kami mengambil

keputusan untuk menggabungkan diri dengan ciangkun di

sini untuk membantu membasmi mereka dan komplotkomplot

mereka.”

Cin Cun Ong menganggok-angguk dan si Huncwe Maut

memperkenalkan diri. Ternyata ia bernama Khu Ci Lok.

Kemudian Cin-ciangkun mengadakan perjamuan untuk

menghormati perwira-perwira baru itu dan semua perwira

ikut berpesta gembira-. Para anggauta tentara bubaran dan

mereka merasa puas sekali karena pertunjukan-pertunjukan

malam ini sungguh-sungguh hebat dan lain daripada yang

lain. Bahkan Cin-ciangkun sendiri sampai maju dan turun

0o-dw-o0

Ternyata Cin Lie Eng sangat suka bergaul dengan

Ouwyang-hengte hingga tiap hari mereka bertiga tampak

selalu bersama-sama. Hal ini tidak menjadikan keberatan

bagi ayahnya karena bagi panglima ini memang lebih suka

melihat puterinya bergaul dengan kedua keponakan kembar

itu yang tampaknya lebih sopan daripada bergaul dengan

anak buahnya yang kasar-kasar. Mereka bertiga sering

berlatih bersama-sama karena memang tidak berbeda.

Sering pula mereka pergi berburu binatang bersama-sama.

Hubungan yang akrab ini membuat sakit hati Gui Li

Sun, panglima muda yang tinggi besar itu. Hati panglima

ini merasa cemburu sekali, tapi apa yang dapat ia lakukan?

Kedua anak muda itu hebat sekali dan memiliki kepandaian

tinggi, pula Ouwyang-hengte ternyata memperlihatkan

sikap yang baik terhadapnya. Buktinya kedua pemuda yang

terang-terang telah mengalahkannya dan lebih tinggi

kepandaiannya, tidak mau merebut kedudukannya, bahkan

kedua pemuda itu mengajukan permohonan kepada Cinciangkun

untuk tetap saja dengan pakaian biasa dan tidak

diharuskan memakai pakaian tentara, walaupun mereka

bersedia membantu dalam pertempuran. Demikianpun

ketiga orang tua aneh itu. Hingga di dalam markas besar

itu, yang tidak mengenakan pakaian tentara ada enam

orang, yakni Lie Eng sendiri, Ouwyang-hengte, dan ketiga

orang tua itu.

Biarpun Lie Eng suka bergaul dengan Ouwyang-hengte,

namun ia berlaku seperti adik perempuan hingga hubungan

mereka erat dan tidak canggung-canggung.

Pada suatu hari mereka pergi berburu bertiga. Seperti

janji Lie Eng dulu ketika mereka bertemu pada pertama

kalinya, kedua saudara kembar itu akan mendapat kuda

yang bagus-bagus dan besar. Mereka bertiga berburu sambil

naik kuda dan di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap

“Kalau aku sedang berburu begini, seakan-akan di

sekelilingku tidak ada perang, tidak ada pertempuranpertempuran,

yang ada hanya kesenangan belaka.

Aah…….. alangkah senangnya kalau keadaan damai dan

tenteram hingga orang boleh hidup sesukanya tanpa rasa

takut.”

Ouwyang-hengte tersenyum mendengar kata-kata nona

ini yang sebetulnya kurang tepat keluar dari mulut seorang

puteri panglima besar. Tapi memang Lie Eng mempunyai

watak yang jujur dan terbuka.

“Seringkali aku merasa heran dan menyesal mengapa

kita harus bertempur dan membasmi bangsa sendiri,

seakan-akan keluarga besar saling bunuh-membunuh,”

gadis itu berkata lagi.

Ouwyang Bu yang melarikan kuda di sebelah kirinya

menjawab,

“Biarpun bangsa sendiri, mereka itu pemberontak,

pengkhianat dan perampok-perampok jahat. Dan orangorang

jahat harus dibasmi habis agar negara tidak menjadi

kacau dan rakyat tidak hidup ketakutan.”

Nona itu menghela nafas, tapi bibirnya yang indah

bentuknya itu tersenyum manis ketika ia memandang

kepada Ouwyang Bu. “Kau betul,” demikian katanya.

Mendengar percakapan antara adiknya dan gadis itu,

Ouwyang Bun yang melarikan kuda di sebelah kanan nona

itu, mendapat pikiran yang membingungkan hatinya.

Benar-benarkah pemberontak-pemberontak itu perampokperampok

jahat? Selama ia turun dari gunung, baru sekali ia

bertemu muka dengan anggauta pemberontak, yakni Lui

Kok Pauw dan kawan-kawannya yang dulu

mengeroyoknya di pinggir sungai. Mereka itu memang

pemberontak-pemberontak seperti yang mereka akui

sendiri, tapi apakah mereka itu perampok? Hal ini belum ia,

ketahui benar karena belum ada buktinya.

Tiba-tiba Lie Eng yang melihat dia termenung di atas

kudanya menegur,

“Eh, twa-suheng, kau sedang memikirkan apa?”

Ouwyang Bun terkejut dan menoleh lalu menjawab,

“Aku sedang memikirkan apakah pemberontak itu sama

dengan pengkhianat.”

Lie Eng dan Ouwyang Bu memandang heran. Ouwyang

Bu sendiri tidak tahu akan perbedaannya dan tak dapat

menjawab, tapi Lie Eng segera menjawab dengan suara

tetap,

“Tentu saja sama. Pemberontak-pemberontak itu

menyerang dan memusuhi pemerintah sendiri, merampok

bangsa sendiri, maka mereka dapat juga disebut

pengkhianat.”

Tapi Ouwyang Bun tidak puas mendengar jawaban gadis

Tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi pada meringkik

ketakutan dan mengangkat kaki depan mereka ke atas

sambil mendengus-dengus. Dan terdengarlah aum harimau

yang menggetarkan hati.

“Bagus, agaknya nasib kita baik hari ini,” kata Lie Eng

yang berhati tabah itu. Cepat ketiganya meloncat turun dari

kuda, mengikatkan kendali kuda mereka pada sebatang

pohon dan lalu mereka meloncat ke atas pohon untuk

mengintai. Kuda-kuda itu mereka gunakan sebagai umpan

untuk memancing binatang buas itu. Kasihan kuda-kuda itu

yang meringkik-ringkik ketakutan dan berusaha

memberontak untuk melepaskan tali dan kabur.

Tak lama kemudian, seekor harimau jantan yang besar

dan buas keluar dari semak-semak. Matanya yang lebar

memandang liar dan tajam ke arah tiga ekor kuda yang

meronta-ronta. Karena bau manusia yang berada di atas

pohon tak dapat tercium olehnya, maka ia sama sekali tidak

tahu bahwa tiga pasang mata mengintainya dari atas

dengan perasaan gembira dan tegang.

Sekali lagi harimau itu mengaum dan mendekam, siap

untuk meloncat menubruk korbannya, yakni seekor di

antara tiga kuda itu. Ia enjot kaki belakangnya dan tiba-tiba

tubuhnya mencelat ke atas. Lie Eng dan dua saudara

kembar telah siap untuk meloncat turun sambil menyambitkan

piauw mereka, tapi mereka tahan gerakan mereka

dengan kaget karena pada saat itu dari belakang sebatang

pohon besar meloncat keluar tubuh seorang kanak-kanak

berusia paling banyak empatbelas. Anak ini memegang

sebatang tongkat panjang yang dipegangnya seperti orang

pegang toya. Ia meloncat tepat di depan harimau yang

sedang melompat dan menggunakan tongkatnya menyodok

perut harimau yang sedang melayang itu.

Tapi harimau itu cukup gesit dan cerdik. Melihat

datangnya serangan tongkat ke arah perutnya, ia gunakan

kaki depan mencakar tongkat itu sambil membuang diri ke

Kini binatang yang besar dan buas itu berdiri di atas

tanah menggereng-gereng, menghadapi anak kecil itu. Tapi

anak itu dengan wajah tenang dan tabah segera siap dalam

bhesi (kuda-kuda) yang teguh sambil menyilangkan tongkat

di depan dada. Sikapnya yang gagah berani itu membuat

Lie Eng dan Ouwyang-hengte kagum sekali, tapi mereka

siap untuk membantu anak itu bila sampai terdesak oleh

Sementara itu, setelah menggereng-gereng, harimau itu

meloncat lagi menubruk dengan lompatan tinggi. Tapi anak

itu sungguh tabah dan cerdik karena sementara tubuh

harimau masih di atas, ia bahkan lari mendekat hingga

berada di bawah perut harimau lalu menusuk lambung

binatang itu dengan tongkatnya lagi.

Kali ini tusukannya tepat dan keras hingga harimau itu

terpental dan jatuh dengan keempat kakinya di atas. Anak

itu cepat menambahi dua kali tusukan pada perut harimau

yang sedang telentang itu. Tapi harimau itu kuat sekali dan

dengan cepat meloncat membalik. Kali ini ia menubruk dari

depan lurus ke muka, tidak meloncat tinggi. Keadaan anak

itu berbahaya, dan tiga orang yang berada di atas sudah siap

membantu. Tapi anak itu cepat sekali meloncat ke pinggir

dan pada saat harimau itu lewat cepat di sampingnya, ia

memukul dengan tongkatnya yang tepat mengenai pantat

binatang itu. Agaknya pukulan kali ini mengenai tempat

yang lunak hingga binatang itu meraung kesakitan lalu lari

secepatnya menghilang ke dalam semak belukar.

“Bagus, Ahim. Kali ini kau dapat mengusirnya. Lain kali

kau harus dapat membunuhnya.” tiba-tiba terdengar suara

orang dan tiba-tiba di situ muncul dua orang muda dan

seorang kakek. Dua anak muda itu cakap sekali wajahnya,

pipinya kemerah-merahan dan bibirnya merah segar hingga

patut kiranya kalau menjadi anak perempuan. Kakek itu

berpakaian petani sederhana, tapi gerak-geriknya

menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli lweekeh yang

memiliki kepandaian tinggi.

“Engkong, binatang tadi buas sekali. Kulihat mukanya

seakan-akan mengilar sekali dan ingin segera merasai

daging dan darahku. Matanya buas dan mulutnya meringis.

Kong-kong, ganas manakah harimau itu dibandingkan

dengan panglima she Cin?”

Kakek itu tertawa besar mendengar pertanyaan ini,

sementara itu ketiga anak muda yang berada di pohon

mendengarkan dengan penuh perhatian sedang Lie Eng

memandang tajam mendengar ayahnya di sebut-sebut.

“Ahim, kau ini aneh, binatang buas dibandingkan

dengan manusia,” kata seorang di antara kedua pemuda itu,

dan setelah ia mengeluarkan kata-kata, barulah Lie Eng dan

Ouwyang-hengte maklum bahwa mereka itu benar-benar

dua orang gadis yang berpakaian laki-laki. Suara gadis yang

bicara tadi sangat nyaring dan merdu dan ke tawanya manis

“Enci Cui Sian jangan berkata begitu, bukankah

panglima she Cin itu kudengar ganas dan kejam sekali dan

tak pernah memberi ampun kepada kawan-kawan pejuang

yang tertawan? Kong-kong, jawablah pertanyaanku tadi.”

“Ahim, kalau kau tanya mana yang lebih buas, kurasa

dua-duanya sama buas dan sama kejam.”

“Mana yang lebih jahat, kong-kong?” tanya Ahim lagi.

“Tidak ada yang jahat, cucuku,” jawaban ini tidak saja

membuat anak itu keheranan, tapi juga kedua dara yang

berpakaian laki-laki itu memandang heran.

Empek tua itu maklum akan keheranan mereka maka

lalu melanjutkan kata-katanya, “Harimau itu disebut kejam

karena suka makan manusia, sedangkan Cin-ciang-kun

disebut kejam suka membunuh kawan-kawan kita. Tapi

harimau itu hanya menurut perintah, yakni perintah

perutnya yang lapar dan membutuhkan isi. Sedangkan Cinciangkun

melakukan pembasmian dan pembunuhan besarbesaran

juga hanya melakukan tugas kewajibannya belaka,

untuk mentaati perintah kaisar.”

“Kalau begitu, yang jahat adalah perut harimau dan

kaisar itu, kong-kong?” tanya Ahim yang ternyata cerdik

Kembali kakek itu tertawa. “Perut harimau tidak jahat,

karena kalau tidak diisi daging mentah, akan menderita

kelaparan. Kaisar juga tidak jahat, tapi bodoh dan lalim,

tidak memperdulikan nasib rakyatnya hingga rakyat hidup

sengsara tertindas dan kelaparan tidak diketahuinya,

tahunya hanya pelesir dan bersenang-senang belaka.”

“Kaisar macam ini harus dibasmi dan diganti, kongkong.”

kata Ahim bersemangat.

“Hush, Ahim, kau bicara seperti di sini tidak ada orang

lain saja.” kakek itu berkata lagi.

“Siapa lagi selain kita berempat yang berada di sini,

kong-kong?”

“Kau lupa kepada pemilik ketiga ekor kuda itu?” kata

empek tua sambil menunjuk ke arah tiga ekor kuda yang

ditambatkan di batang pohon. Lalu kakek itu memandang

ke atas pohon dan berkata,

“Sam-wi silakan turun.”

Ouwyang-hengte dan Lie Eng merasa terkejut dan malu

karena orang telah mengetahui tempat persembunyian

mereka. Lie Eng yang merasa marah mendengar

percakapan mereka tadi, lalu memperlihatkan

kepandaiannya. Ia meloncat turun dengan gerakan Koailiong-

hoan-sin (Siluman Naga Berjumpalitan) dan tubuhnya

melayang dan berpoksai (bersalto) di udara hingga

terpelanting ke arah di mana kudanya berdiri dan dengan

ringan sekali ia turunkan dirinya di punggung kuda.

“Bagus, bagus.” Ahim bertepuk-tepuk tangan dan

suaranya memuji.

Sementara itu, Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu juga

meloncat turun dari atas pohon. Ouwyang Bu yang juga

merasa tak senang kepada orang-orang yang ternyata

adalah anggauta-anggauta pemberontak, hanya mengerling

sekilas kepada empat orang asing itu. Tapi Ouwyang Bun

tersenyum kepada Ahim dan kepada kakek itu ia menjura

lalu menyusul adiknya yang telah pergi ke kudanya.

“Mari kita tangkap mereka dan serahkan kepada susiok.”

kata Ouwyang Bu kepada kakaknya, tapi Lie Eng berkata

“Jangan”. Kalau mereka tidak mengganggu kita, untuk

apa kita mencari musuh?”

“Tapi bukankah mereka pemberontak?” bantah Ouwyang

“Bu-te, kurasa benar kata-kata sumoi. Tak perlu mencari

musuh, lagi pula kulihat empek tua itu bukan orang

sembarangan.”

Sementara itu, empek itu tertawa dan berkata,

“Nona, kepandaianmu hebat sekali dan kedua suhengmu

juga tidak tercela. Kalau kau pulang, sampaikanlah salamku

kepada ayahmu, bilang saja salam dari orang tua she Ciu.”

Ketiga anak muda itu terkejut sekali karena tak mereka

sangka sama sekali bahwa dari percakapan mereka yang

dilakukan perlahan itu, si kakek telah dapat mengetahui

siapa mereka. Padahal jarak yang memisahkan mereka

cukup jauh.

Karena kakek dan kawan-kawannya itu tidak

mengganggu, maka Lie Eng lalu memacu kudanya diikuti

oleh Ouwyang-hengte pulang ke markas besar panglima

Mereka langsung menghadap Cin Cun Ong dan Lie Eng

melaporkan kepada ayahnya tentang kakek yang berada di

pedalaman itu.

“Orang tua she Ciu? Bagaimana rupanya? Bertubuh

tinggi kurus pakaian petani, bertopi lebar dan matanya

tajam serta mulutnya selalu tertawa? Ah,… tak salah lagi,

tentu Ciu Pek In. Kalau Naga Sakti ini pun telah

menggabung menjadi pemberontak, kita harus segera

mencari bala bantuan orang-orang pandai.”

Melihat betapa ayahnya agak gentar mendengar nama

orang tua itu, Lie Eng lalu bertanya kepada ayahnya,

“Sebenarnya kakek itu siapakah?”

Ayahnya menghela napas. “Dia’ adalah seorang dari

jago-jago nomor satu di dunia pada masa ini. Ia dijuluki

Sin-liong atau Naga Sakti, sesuai dengan keahliannya,

memainkan Ilmu Pedang Naga Sakti atau Sin-liong Kiamsut.

Ia tidak saja sangat terkenal sebagai seorang cianpwe

(cabang atas) yang disegani, tapi juga pengaruhnya besar

sekali, dan jika ia sampai merendahkan diri dengan

menggabung pada pemberontak, maka tentu banyak orangorang

gagah yang akan meniru dan memihaknya.”

“Sampai di mana ketinggian tingkat kepandaiannya,

ayah? Bagaimana kalau dengan….. Khu-lo-enghiong?”

katanya sambil memandang muka Khu Ci Lok si Huncwe

Maut yang juga berada di situ, karena kebetulan pada saat

itu Cin Cun Ong sedang bercakap-cakap dengan si Huncwe

Maut dan dua kawannya.

Mendengar pertanyaan gadis itu, Khu Ci Lok

melepaskan huncwe dari mulutnya dan ia berkata dengan

wajah bersungguh-sungguh, tidak seperti biasanya suka

“Nona, kau tidak tahu tentang orang tua itu. Aku sendiri

belum mengenalnya, tapi dari namanya saja aku sudah

dapat mengukur sampai di mana ketinggian ilmu silatnya.

Jangan bandingkan dia dengan aku, ah, aku masih jauh

berada di bawah tingkatnya.”

Lie Eng terkejut. Si Huncwe Maut ini sudah memiliki

kepandaian yang sangat tinggi dan bahkan lebih tinggi

daripada kedua suhengnya atau dia sendiri.

“Kalau begitu, apakah dapat disejajarkan dengan

kepandaian ayah?”

Kini Cin Cun Ong berkata, “Biarpun aku belum pernah

mengukur tenaganya, tapi kiraku dia tidak akan mudah

mengalahkanku, biarpun menurut kabar, ilmu pedangnya

belum pernah dikalahkan orang. Tapi bagaimanapun juga,

datangnya orang tua ini tentu tidak sendiri dan akan disusul

oleh yang lain-lain, maka kita harus siap sedia. Khu-sicu,

harap kau dan Lee-sicu besok pagi-pagi pergi ke kota raja

untuk memanggil beberapa orang pembantu yang pandai,

dan Bi Kok suhu harap suka menyampaikan sebuah surat

undangan kepada tiga orang kawan baikku di See-bun.”

“Siapakah kawan-kawan baik itu, ciangkun?” tanya si

hwesio gemuk.

“Mereka adalah See-bun Sam-lo-mo atau Tiga Iblis Tua

Dari See-bun. Kalau mereka dapat diundang ke sini, maka

segala Sin-liong dan komplot-komplotnya takkan mungkin

membikin aku gentar.”

Maka dibuatlah surat-surat untuk dibawa ke See-bun dan

ke kota raja. Semua lalu mengundurkan diri. Sedang

Ouwyang Bun dan adiknya duduk di dalam kamar mereka

“Agaknya tak lama lagi tentu akan terjadi perang hebat

antara kita dengan pihak pemberontak,” kata Ouwyang

“Memang hal itulah yang kuharap-harapkan selama ini.

Hatiku merasa tak senang disuruh menganggur saja tanpa

ada pertempuran hingga seakan-akan kita hanya

menumpang makan dan tidur. Bagi para tentara keadaan

itu menyenangkan saja karena mereka selalu ada yang

dikerjakan, berlatih, berbaris dan lain-lain. Tapi bagi kita?”

Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut menyatakan

Ouwyang Bun termenung sejenak lalu berkata, “Bagiku

kalau bisa jangan sampai ada perang.”

Adiknya memandang heran dan dengan pandang mata

menyelidik. Kakaknya membalas pandangan matanya dan

tersenyum. “Jangan salah sangka, aku bukannya takut,

sungguhpun harus kuakui bahwa pihak pemberontak

bukanlah orang-orang lemah. Dengarlah, Bu-te, melihat

tampang kakek dan orang-orang tadi, aku menjadi raguragu

dan sangsi. Apakah orang tua gagah dan bersikap

halus itu bisa menjadi penjahat? Dan pula, apakah anak

kecil yang tabah dan berbakat seperti Ahim tadi juga dapat

disebut penjahat yang harus dibasmi?”

“Bun-ko, biarpun mereka bukan penjahat, tapi karena

mereka menggabungkan diri dengan pemberontak, maka

mereka adalah pengkhianat yang berbahaya dan harus

dibasmi. Coba kau ingat kata-kata anak. kecil tadi yang

menganggap susiok dan kaisar sebagai binatang buas.”

Ouwyang Bun tak menjawab,, hanya menghela napas

dan termenung.

Pada saat itu, dari arah belakang rumah, mereka

mendengar suara Gui-ciang-kun bercakap-cakap dengan

keras. Mereka tertarik sekali dan mendekati jendela

belakang agar dapat menangkap kata-kata yang mereka

“Memang para anjing pemberontak makin berani saja.

Tadi kulihat beberapa o-rang berkeliaran di bawah tembok

sebelah luar. Seakan-akan mereka itu menantang-nantang

dan sama sekali tak pandang sebelah mata kepada kita.

Sungguh celaka, dan tai-ciangkun (panglima besar) hanya

bersabar saja. Apa gunanya mempunyai pembantupembantu

seperti lima orang itu? Tiap hari kerjanya

hanya makan tidur saja. Kalau aku jadi mereka, setidaknya,

tentu keluar dan menyelidiki keadaan para pemberontak.

Dengan pakaian preman mereka akan lebih mudah

melakukan pekerjaan penyelidik. Tapi dasar jiwa pemalas

dan tak tahu malu. Piara anjing masih ada gunanya.”

Hampir saja Ouwyang Bu meloncat keluar dan

menerjang orang she Gui yang diam-diam memaki-maki

mereka itu. Pemuda yang keras hati ini merasa malu dan

marah sekali. Tapi Ouwyang Bun cepat mencegahnya dan

berkata,

“Adikku, sabarlah. Tak perlu kita bertindak terhadap

orang rendah seperti dia itu Kalau kita mengadakan

keributan, ma ka tentu kita akan mendapat teguran dari

susiok. Dan lagi, kalau dipikir-pikir memang tidak ada

salahnya kata-kata Gui-ciangkun tadi. Telah hampir

sepekan kita berada di sini dan kebetulan sekali susiok

menjalankan siasat bertahan dan menanti aksi gerakan

lawan hingga kita terpaksa menganggur saja Bagaimana

pikiranmu ka lau kita keluar dan melakukan penyelidikan?

Siapa tahu kalau diam-diam mereka i-tu sedang mengatur

siasat, bukankah kemarin susiok pernah mengatakan bahwa

ia merasa lebih cemas melihat musuh diam-diam saja dan

tidak melakukan penyerangan?”

Setelah diam sesaat, akhirnya Ouwyang Bu menyatakan

setuju dengan buah pikiran kakaknya ini. Dengan diamdiam

mereka bersiap untuk melakukan penyelidikan keluar

tembok besar malam nanti.

0od-wo0

Setelah siang berganti malam yang gelap, kedua saudara

itu mengenakan pakaian malam yang berwarna gelap, lalu

keluar dari kamar. Tapi mereka menjadi bingung karena

ternyata tembok besar itu penuh oleh barisan penjaga.

Memang, Cin-ciangkun menaruh penjaga-penjaga di

sepanjang tembok besar sampai lebih dari lima li

Biarpun semua penjaga telah tahu siapa mereka, tapi

tanpa surat perintah dari Cin-ciangkun, mereka akan

dicurigai kalau keluar dari tembok besar. Pada saat mereka

merasa bingung, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan

suara yang merdu nyaring menegur mereka.

“Ji-wi suheng (kedua kakak seperguruan) hendak ke

manakah?”

Ouwyang-hengte terkejut karena yang menegur mereka

itu tidak lain ialah Cin Lie Eng yang juga sutfah berpakaian

malam serba gelap.

“Eh, sumoi malam-malam hendak ke mana?” tanya

Ouwyang Bun.

Di bawah sinar bulan yang bercahaya terang, dara cantik

itu tersenyum manis dan matanya bermain lincah. “Ditanya

belum menjawab sudah balas bertanya. Agaknya ada apaapa

yang dirahasiakan kepadaku.”

Ouwyang Bun tak dapat menjawab, ta-pi Ouwyang Bu

dengan tabah berkata dengan tertawa, “Sumoi, memang ada

rahasia, tapi bukan rahasia jahat.”

“Kalau rahasia jahat, apakah kalian ma sih hidup di

asrama ini? Suheng, ketahuilah, sumoimu ini diam-diam

sudah tahu maksud kalian. Bukankah kalian hendak pergi

menyelidik di tempat musuh?”

Terkejutlah kedua saudara itu, tapi Lie Eng hanya

tertawa manis.

“Akupun tak enak tinggal menganggur, maka aku

sengaja menyusulmu. Mari kita menyelidiki bertiga.”

“Jangan, sumoi. Perjalanan ini berbahaya, kalau sampai

terjadi sesuatu padamu, kami akan mendapat marah dari

susiok,” kata Ouwyang Bu.

“Aku bukan anak kecil, pula, dengan adanya kalian

berdua, apa yang harus kutakutkan?”

Terpaksa Ouwyang-hengte membawa gadis yang berani

itu. Dengan adanya Cin Lie Eng, mudah saja bagi mereka

untuk melewati penjaga di atas tembok. Mereka percaya

penuh kepada gadis puteri Cin-ciangkun itu dan dengan

mudah mereka melewati tembok besar dan turun melalui

tali yang dilepas ke bawah.

Kemudian ternyata bahwa adanya gadis itu

menguntungkan mereka karena Lie Eng telah tahu di mana

tempat yang digunakan sebagai markas oleh pihak musuh.

Bulan bercahaya terang hingga mereka dapat melakukan

perjalanan dengan mudah. Lie Eng membawa kedua

saudara itu menyusur sepanjang tembok menuju ke barat,

lalu membelok ke utara menuju ke sebuah hutan yang lebat.

“Ji-wi suheng, berhati-hatilah. Aku tidak suka melihat

keadaan yang terlalu sunyi di sini,” kata Lie Eng setelah

mereka tiba di dalam hutan yang sunyi itu.

Belum sempat Ouwyang-hengte menjawab, tiba-tiba

terdengar suara ranting ter-pijak kaki di sekeliling mereka

dan tahu-tahu mereka telah dikurung oleh orang-orang yang

bersenjata tajam. Orang-orang yang mengurung mereka itu

terdiri dari bermacam-macam orang. Ada yang masih muda

sekali, ada pula yang sudah kakek-kakek. Ada yang

berpakaian pendeta, hwesio, dan sastrawan. Tapi sebagian

besar dari mereka berpakaian petani sederhana.

Ouwyang-hengte dan Lie Eng cepat mencabut pedang

mereka dan siap mengamuk tapi tiba-tiba terdengar suara

orang berkata,

“Sam-wi, tahan dulu. Apakah maksud dan kehendak

kalian maka malam ini datang ke tempat kami rakyat

miskin?”

Suara ini mereka kenal dan ternyata dari luar kurungan

masuklah kakek tua yang siang tadi mereka jumpa di dalam

hutan sebelah dalam tembok besar. Lie Eng dan, Ouwyanghengte

merasa heran sekali bagaimana orang tua itu dapat

melewati tembok besar yang terjaga kuat itu.

Mendengar teguran kakek itu, dengan suara gagah Lie

Eng menjawab, “Kami ingin menyaksikan sendiri apakah

kalian masih hidup, karena mengapa kalian tidak bergerak

menyerang benteng pertahanan kami. Apakah kalian sudah

kehabisan tenaga dan tidak berani bertempur lagi?

Ketahuilah, para tentara kami telah gatal-gatal tangan untuk

menghadapi kalian.”

Kakek itu tertawa. “Ha-ha-ha, ayah harimau anakpun

harimau. Gagah dan berani. Nona Cin, jangan khawatir.

Kawan-kawan kami bukannya takut bertempur, tapi

sesungguhnya lawan dan musuh kami bukanlah ayahmu

dan anak buahnya. Ayahmu adalah perajurit yang baik dan

amat berguna bagi negara dan rakyat. Yang kami musuhi

ialah raja lalim, para pembesar durjana, dan para pembesar

penindas rakyat jelata. Mereka inilah yang hendak kami

basmi.”

Mendengar kata-kata ini Ouwyang Bun merasa makin

tertarik, maka ia lalu maju dan menjura kepada orang tua

“Siauwte tadi mendengar bahwa locian-pwe adalah Sinliong

Ciu Pek In yang terkenal di kalangan kang-ouw,

betulkah itu?” :

Orang tua itu tertawa. “Tentu Cin-ciangkun yang

memberitahukan padamu, bukan? Aha, ia masih ingat

padaku. Memang betul aku Ciu Pek In.”

“Siauwte mendengar bahwa locianpwe mengutamakan

kegagahan dan keadilan serta membela pihak yang benar.

Tapi mengapa locianpwe menggabungkan diri dengan para

pemberontak yang selain mengacau negara juga

menyusahkan rakyat? Apakah ini laku seorang gagah yang

mengutamakan kebaikan dan yang pantas disebut ho-han

(orang budiman)?”

Ucapan Ouwyang Bun yang panjang ini memang ia

sengaja. Ia bukan tidak tahu bahwa kata-katanya ini

berbahaya, tapi karena terdorong oleh rasa penasarannya, ia

tidak perdulikan lagi bahaya yang mungkin timbul karena

Sementara itu, semua orang yang mengurung terdengar

berseru marah mendengar betapa anak muda ini berani

sekali menghina kakek yang mereka hormati itu. Mereka

siap untuk maju menerjang, tapi Ciu Pek In mengangkat

tangan memberi tanda dan berkata,

“Anak muda, kau bagaikan seekor burung yang baru

belajar terbang dan tidak tahu keadaan dunia luas. Tahumu

hanya bahwa setiap orang yang memberontak a-dalah jahat

dan salah. Tapi aku tidak menyalahkan engkau karena kau

kebetulan sekali menjadi murid si Iblis Tua Tangan

Delapan yang justeru menjadi sute dari Cin-ciangkun.

Ya..ya, aku tahu, anak, aku tahu kau dan adikmu ini siapa

dan mengapa ikut membantu Cin-ciangkun. Kalian

Ouwyang-hengte kena diperalat dan mengotorkan tangan

tanpa kalian sadari. Sayang, sayang, sungguh sayang.”

“Suheng, mari kita beri mereka pelajaran.” kata Lie Eng

yang merasa marah sekali mendengar ucapan Ciu Pek In.

“Beda lagi halnya dengan Cin-siocia ini,” kata kakek itu

lagi tanpa memperdulikan kemarahan Lie Eng. “Ia adalah

puteri Cin-ciangkun dan sudah seharusnya menurut jejak

kaki ayahnya.”

“Orang tua, kami datang ke sini bukan hendak

mendengarkan obrolan kosong. Beritahukan apa maksud

kalian mengurung kami, jangan kira kami bertiga takut.”

tiba-tiba Ouwyang Bu membentak sambil melangkah maju

dengan dada terangkat.

“Suhu, jangan kasih hati kepada orang kasar ini.” tibatiba

seorang gadis yang berpakaian laki-laki meloncat maju

dari belakang kakek itu. Ia adalah seorang gadis yang baru

berusia kurang lebih tujuh-belas tahun, wajahnya manis dan

sepasang matanya bersinar tajam dan berani. Ia menatap

wajah Ouwyang Bu dengan marah sekali.

“Kau anak kecil mau apa?” Ouwyang Bu membalas

membentak sambil tersenyum mengejek. Gadis itu marah

sekali, sambil membanting-bantingkan kakinya ia berkata

kepada Ciu Pek In.

“Suhu, biarkan teecu memberi pelajaran kepadanya.”

Tiba-tiba kakek itu nampak gembira. Ia memberi tanda

kepada semua orang untuk mundur dan memperlebar

Lalu katanya kepada gadis muridnya itu, “Siauw Leng,

kau selalu menganggap dirimu paling pandai. Kaukira anak

muda ini makanan lunak? Ha, kau salah sangka. Tapi

biarlah kau mencobanya.” Kemudian ia berpaling kepada

Ouwyang Bu dan berkata,

“Anak muda, muridku yang bodoh ini hendak minta

sedikit pelajaran darimu, harap kau tidak

mengecewakannya.”

Ouwyang Bu tidak suka melihat gadis yang dianggapnya

memandang rendah padanya itu, tapi ia juga tidak senang

bertempur melawan seorang anak perempuan. Ia merasa

tidak ada harganya dan memalukan, tapi melihat sinar mata

gadis itu ditujukan padanya dengan menghina, ia lalu

melangkah setindak lagi ke depan dan berkata,

“Boleh, boleh. Kau hendak bertanding dengan tangan

kosong atau senjata?”

Gadis muda yang berpakaian laki-laki dan bernama

Siauw Leng itu tersenyum, dan tampaklah sebaris gigi yang

putih dan rapi. “Kau bersikap seperti orang yang mau

menang saja,” katanya, “kulihat kau membawa-bawa

pedang, mari kita bermain pedang.” Ia lalu menghunus

senjatanya yang ternyata adalah sebatang pedang yang

berkilauan terkena cahaya bulan

Biarpun merasa gemas, mereka masih ingat akan sopan

santun orang berpibu (beradu kepandaian) dan mereka

bukanlah sedang berhadapan sebagai musuh hendak

bertempur, oleh karena itu terlebih dulu mereka saling

memberi hormat dengan menjura.

“Awas pedang.” tiba-tiba gadis itu setelah menjura

berseru nyaring dan pedangnya berkelebat membuka

serangan yang cukup cepat. Ouwyang Bu cepat menangkis

dan menggunakan tenaga sepenuhnya dengan maksud

membuat pedang lawannya terpental dan membuat gentar

hati gadis itu. Tapi si gadis bergerak gesit dan pedang yang

hendak disabet lawan itu cepat ditarik mundur lalu

diteruskan dalam serangan kedua yang lebih berbahaya.

Diam-diam Ouwyang Bu terkejut juga melihat kegesitan

dara ini, maka ia tidak mau berlaku sembrono dan bersilat

lebih hati-hati. Ia sengaja menanti serangan-serangan lebih

dulu untuk mengukur kepandaian gadis itu dan melihat

sampai di mana kehebatannya.

Sementara itu, Ouwyang Bun dan Lie Eng berdiri

tenang-tenang saja setelah memasukkan kembali pedang ke

dalam sarung pedang masing-masing. Mereka lalu

menonton pertempuran itu dengan hati tertarik karena

ternyata bahwa gadis muda itu memiliki ilmu pedang yang

hebat sekali.

Hal inipun terasa benar oleh Ouwyang Bu. Ia tadinya

mempertahankan diri dengan tenang untuk mengukur

kepandaian gadis itu, tapi alangkah herannya ketika melihat

betapa ilmu pedang gadis itu luar biasa hebatnya. Terpaksa

ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya karena tiba-tiba ia

teringat bahwa gadis muda ini adalah murid dari Sin-liong

Ciu Pek In, seorang ahli pedang dan teringatlah ia akan

penuturan susioknya bahwa Ciu Pek In memiliki

kepandaian tunggal yang istimewa, yakni Sin-liong Kiamsut

(Ilmu Pedang Naga Sakti). Kalau begitu kiam-sut gadis

inipun tentu Sin-liong Kiam-sut.

Ouwyang Bu lalu mengerahkan seluruh tenaga dan

kepandaiannya untuk mengalahkan lawannya. Oleh karena

itu, maka sebentar saja keduanya bertempur hebat dan seru

sekali. Keduanya saling mengeluarkan ilmu pedang yang

hebat dan cepat gerakannya hingga merupakan dua gulung

sinar pedang saling melibat dan membelit.

Dari permainan pedang kedua anak muda ini ternyata

bahwa ilmu pedang gadis itu masih setingkat lebih tinggi

dari ilmu Ouwyang Bu. Akan tetapi pemuda itu lebih

matang latihannya dan juga lebih besar tenaganya. Ketika

pertempuran sedang hebat-hebatnya, tiba-tiba berkelebat

bayangan putih dan suara kakek itu terdengar.

“Sudah cukup, sudah cukup.” Siauw Leng segera

meloncat mundur sedangkan Ouwyang Bu tiba-tiba merasa

betapa pedangnya tertolak oleh tenaga yang besar dan kuat

hingga hampir terlepas dari pegangannya. Maka terpaksa

iapun meloncat mundur. Pemisah itu, yakni Ciu Pek In,

tertawa dan berkata kepada muridnya,

“Betul tidak kata-kataku tadi? Kau baru berlatih pedang

tiga tahun, mana dapat melawan murid dari Pat-jiu Lomo?”

Ouwyang Bu makin kaget dan heran mendengar bahwa

gadis itu baru saja berlatih pedang tiga tahun, sedangkan ia

yang sudah berlatih lebih dari delapan tahun masih juga

belum dapat mengalahkan gadis itu. Maka diam-diam ia

merasa khawatir, karena kalau sampai terjadi pertempuran,

maka pihaknya tentu takkan mungkin menang.

Pada saat itu, gadis yang seorang lagi, yang agaknya

kakak perempuan.dari Siauw Leng, juga berpakaian lakilaki,

maju dan berkata kepada kakek itu, “Suhu, aku juga

ingin sekali mengukur tenaga tamu-tamu kita.”

“Kau sudah lebih lama belajar daripada adikmu, masih

juga berlaku seperti kanak-kanak?” suhunya berkata sambil

tertawa. Sementara itu, Lie Eng merasa penasaran dan

maju sambil berkata,

“Kalau kau gatal tangan, marilah mencoba

kepandaianku.” ia menantang.

“Sumoi, jangan sembrono.”

Siauw Keng, gadis yang berpakaian laki-laki yang kedua

itu, hanya tersenyum dan memandang suhunya, seakanakan

meminta izin. Tapi Ciu Pek In berkata kepada Lie

Eng,

“Cin-siocia, kita sudahi saja segala permainan berbahaya

ini. Kita bukanlah musuh. Kalian bertiga dengarlah dan

boleh sampaikan kepada Cin-ciangkun. Kami sama sekali

tidak ingin bermusuhan dengan dia, bukan berarti kami

takut kepadanya, tapi kami anggap Cin-ciangkun bukanlah

musuh kami.”

“Kalau tidak bermaksud menyerang markas kami, untuk

apa kalian berkumpul di luar tembok besar ini?” Lie Eng

memotong dengan suara keras.

Tertawalah Ciu Pek In mendengar kata-kata nona itu.

“Ha-ha. Ayahmu telah kena kami tipu dengan siasat

kami. Memang tadinya pemimpin kami, Thio Sian Tiong

yang namanya tentu telah kau dengar, berkumpul di sini

dengan semua anggauta. Maka kaisar lalu mengerahkan

tenaga ayahmu dan barisannya untuk mencegat di tembok

besar hingga lima li panjangnya. Tapi apa kau-kira orang

dapat menjaga sepanjang tembok yang laksaan li

panjangnya ini? Thio-enghiong telah memimpin barisannya

menerobos melalui tembok besar dari sebelah barat dan

yang sekarang berada di sini hanyalah beberapa kaum tani

dan kawan-kawan yang datangnya menggabungkan diri

terlambat. Pada waktu ini, barisan Thio-enghiong telah

masuk ke pedalaman dan entah telah menyerbu sampai di

mana. Ha-ha-ha..”

Pucatlah muka Lie Eng mendengar ini. Ayahnya telah

kena tipu. Mereka semua telah menjaga beberapa lama di

tempat itu dengan sia-sia belaka.

“Kalau memang kami mengambil sikap bermusuhan,

apakah kalian kira akan dapat keluar dari tempat ini?” Ciu

Pek In kembali tertawa.

Lie Eng mendengar semua ini lalu cepat membalikkan

tubuh dan lari pulang, diikuti oleh Ouwyang Bu.

“Sumoi…… Bu-te…… Tunggulah sebentar.” Tapi kedua

anak muda itu terus lari cepat tanpa menoleh lagi.

Ouwyang Bun ragu-ragu hendak menyusul pula, tapi tibatiba

Ciu Pek In berkata kepadanya,

“Ouwyang-hengte, dengarlah kata-kataku sebentar. Kau

adalah seorang muda yang panjang pikirannya dan cerdik,

apakah masih juga belum dapat membedakan mana yang

benar dan mana yang salah? Masih tidak percayakah kau

bahwa perjuangan para pemberontak ini suci dan mulia?”

Dan tiba-tiba Ouwyang Bun mengurungkan niatnya

untuk mengejar adik dan su-moinya.

“Bagaimana siauwte tidak merasa ragu dan bimbang?

Memang kalau melihat lo-cianpwe dan saudara-saudara

yang berada di sini, siauwte merasa tak percaya bahwa cuwi

sekalian tergolong orang-orang yang jahat, perampok dan

mengacau rakyat seperti yang sering kudengar dikatakan

orang. Akan tetapi sebaliknya, apakah orang-orang seperti

suhu, susiok bahkan ayahku sendiri dapat keliru dan salah?”

Ciu Pek In tertawa sebelum menjawab. “Aku tidak

pernah mempersalahkan susiok-mu. Cin-ciangkun adalah

seorang perwira dan perajurit dan memegang teguh tugas

kewajibannya sebagai seorang perajurit sejati. Juga suhumu

tak dapat dipersalahkan, karena selain orang tua itu selalu

berada di atas gunung hingga tak pernah melihat keadaan

dunia ramai dan tidak tahu pula kelaliman raja dan para

pembesar korup, juga karena ia percaya penuh kepada sutenya,

yakni Cin-ciangkun, yang dianggapnya sedang

bertugas membasmi segala gerombolan perampok jahat.

Adapun tentang orang tuamu, yah, aku tak dapat memberi

sambutan apa-apa terhadap pandangan seorang hartawan

besar seperti ayahmu itu.”

Diam-dfem Ouwyang Bun merasa heran sekali terhadap

orang tua yang agaknya mengerti segala apa tentang dirinya

dan guru serta orang tuanya.

“Anak muda, akupun tidak menyalahkan kau, karena

kau masih hijau dan belum berpengalaman. Cobalah kau

merantau dan lihatlah dunia dengan segala isinya ini sambil

mempergunakan pertimbanganmu, maka kau akan

mengerti mengapa orang seperti kami sampai memberontak

terhadap kaisar yang memegang pemerintahan pada masa

ini.”

Dengan hati bingung dan pikiran kacau, Ouwyang Bun

akhirnya minta diri dan lari pulang ke markas Cinciangkun.

Ternyata sumoinya yang sudah tidak tahan lagi

pada malam itu juga pergi ke kamar ayahnya dan

membangunkan orang tua ini lalu menceritakan

Cin Cun Ong mendengar ini menjadi marah sekali dan ia

berjalan hilir-mudik di dalam kamarnya sambil menggigitgigit

bibir dengan gemas.

“Kurang ajar. Pantas saja mereka tak pernah menyerang,

tidak tahunya mengatur muslihat curang. Celaka, kita harus

cepat-cepat mundur untuk menjaga serangan mereka di

pedalaman.”

Ketika Ouwyang Bun tiba di markas, ternyata panglima

tua itu telah mengumpulkan semua perwira dan pemimpin

pada malam hari itu juga.

“Besok pagi-pagi, di waktu fajar menyingsing, kita semua

harus mundur dan berpencar menjadi lima. Sebagian harus

tinggal di sini untuk tetap menjaga, kalau-kalau ada barisan

pembantu pemberontak hendak lewat di sini. Aku sendiri

pimpin barisan induk langsung menuju ke kota raja. Sisa

barisan semua menuju ke barat dan bermarkas di kota Seebun,

bersatu dengan kesatuan di bawah pimpinan Lu-ciangkun.

Jurusan barat itu harus diperkuat karena kuduga

bahwa barisan pimpinan Thio Sian Tiong ini tentu hendak

bergabung dengan sisa barisan Lie Cu Seng dari barat.”

Setelah memberi instruksi secara cermat kepada semua

perwira dan pemimpin regu, pertemuan lalu dibubarkan

untuk memberi kesempatan kepada mereka bersiap dan

berkemas. Cin Cun Ong lalu memanggil menghadap ketiga

orang tua yang menjadi pembantunya itu, yakni Khu Ci

Lok si Huncwe Maut dan kedua temannya.

“Sam-wi ketahui sendiri bahwa tugasku di sini gagal.

Kalau memang sam-wi berniat membasmi kaum

pemberontak, silakan menggabung dengan para pahlawan

keraton yakni barisan Sayap Garuda atau Kuku Garuda.

Dapat juga sam-wi bekerja sendiri, karena kini pemberontak

telah masuk di pedalaman hingga di mana-mana mereka

mungkin bergerak.”

Kemudian panglima tua itu memberi bekal beberapa

kantung emas dan perak kepada tiga orang itu sambil

memberi petunjuk-petunjuk. Lalu ia panggil Ouwyanghengte.

“Kalian berdua telah berjasa karena dengan

kenekatanmu keluar dari sini malam tadi dan telah

membuka rahasia mereka. Kalian merasa bosan dan tidak

senang karena di sini menganggur saja? Nah, di pedalaman

akan terjadi banyak pertempuran dan kalian boleh

membantu aku membasmi anggauta gerombolan itu

sebanyak mungkin. Kita menuju ke kota raja.”

Ouwyang Bun berkata, “Susiok, kalau kiranya susiok

mengijinkan, teecu ingin sekali meluaskan pengalaman

dengan merantau, karena sejak turun gunung teecu terus

langsung ke sini dan belum mendapat pengalaman. Maka,

ijinkanlah teecu berdua menuju ke kota raja dengan jalan

memutar dan biarlah teecu menjumpai susiok di kota raja

dan menggabungkan diri di sana.”

Cin Cun Ong tidak keberatan dan memberi pesan agar

kedua murid keponakan itu berlaku hati-hati di sepanjang

Maka pada keesokan harinya berangkatlah semua orang

memenuhi tugas masing-masing.

Berbeda dengan rombongan Cin-ciangkun yang menuju

langsung ke selatan, Ouwyang-hengte memutar ke barat.

Tapi ketika mereka melarikan kuda belum ada duapuluh li

meninggalkan benteng itu, tiba-tiba dari belakang terdengar

suara kaki kuda dilarikan dengan cepat dan ketika mereka

menengok, ternyata yang mengejar mereka adalah Cin Lie

“Eh, sumoi, engkau menyusul kami?” terdengar

Ouwyang Bu berseru girang sekali hingga kakaknya diamdiam

memperhatikan adiknya ini, karena semenjak pergi

tadi adiknya tampak tidak gembira, tapi kini tiba-tiba

melihat sumoi itu lalu berobah menjadi girang sekali.

“Aku hendak ikut kalian merantau.” jawab Lie Eng

dengan muka merah karena tadi ia terlalu cepat melarikan

“Sumoi, apakah hal ini sudah mendapat persetujuan

ayahmu?” tanya Ouwyang Bun.

Lie Eng memandangnya dengan mata berseri. “Tentu

saja, twa-suheng. Ayah juga menganggap ada baiknya aku

mencari pengalaman, sekalian memata-matai keadaan dan

gerakan lawan.”

Ouwyang Bun tak dapat mengatakan ketidakcocokan

hatinya terhadap sumoinya ini dan terpaksa menerimanya.

Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan dengan

perlahan sambil mengobrol dan melihat-lihat pemandangan

di sepanjang jalan.

Di sepanjang jalan, dengan diam-diam Ouwyang Bun

memperhatikan keadaan rakyat dan keadaan kampungkampung

serta kota-kota. Sedikit demi sedikit terbukalah

matanya terhadap kenyataan yang pahit dan menyakitkan

hati. Memang, semenjak pertemuannya dengan Ciu Pek In,

dalam hatinya timbul keraguan akan kesucian tugas yang

sedang dijalankan oleh susioknya. Dalam pandangannya,

Ciu Pek In tampak begitu gagah dan budiman, sedangkan

kedua nona yang menjadi murid Ciu Pek In tampak begitu

cantik dan gagah. Orang-orang macam itukah yang harus

dibasmi?

Ia kini melihat betapa semua sawah ladang yang berada

di bumi Tiongkok sebagian besar dimiliki oleh beberapa

gelintir orang saja, pertama-tama oleh para pembesar

negeri, dari lurah sampai yang berpangkat tinggi, kedua

oleh para hartawan yang seakan-akan menjadi raja kecil di

kampung-kampung.

0o-dw-o0

Pada suatu hari mereka bertiga masuk ke dalam sebuah

kampung yang cukup besar dan ramai. Ketika tiba di

sebuah jembatan, terpaksa mereka hentikan kuda mereka

karena jembatan itu penuh dengan orang-orang. kampung

yang sedang mengelilingi seorang laki-laki tua yang sedang

menangis. Mereka memegangi kedua lengan orang tua itu

dan membujuk-bujuk-nya. Ouwyang Bun segera meloncat

turun dari kuda dan bertanya kepada seorang di antara

mereka, ?

“Eh, laoko, apakah yang terjadi di sini?”

Orang itu menengok dan ketika melihat Ouwyang Bun

dan kedua kawannya ber pakaian sebagai orang-orang

gagah berpedang, segera memberi hormat dan berkata

perlahan,

“Siapa lagi kalau bukan seorang daripada pembesarpembesar

busuk yang menyusahkan kehidupan kami?

Sekarang yang menjadi korban adalah empek she Lim ini.

Ia adalah penduduk kampung ini semenjak mudanya, hidup

sebagai petani miskin. Tapi ia cukup beruntung karena anak

perempuannya telah kawin dengan seorang pemuda tani

yang pandai bekerja hingga penghidupan empek ini dan

anaknya terjamin. Empek Lim demikian senang melihat

keadaan anaknya yang telah kawin dengan baik-baik hingga

ia ingin menyatakan terima kasihnya kepada Yang

Mahakuasa maka diajaknya anak dan mantunya pergi ke

kota Lam-ciu untuk bersembahyang di kelenteng. Tapi tibatiba

datang malapetaka menimpanya. Di dalam kota, anak

perempuannya terlihat oleh tikwan kota Lam-ciu yang

terkenal mata keranjang, hingga pembesar itu mengucapkan

kata-kata yang menghina dan memalukan anak perempuan

empek Lim itu. Tentu saja anaknya menjadi marah dan

melawannya. Tikwan itu lalu bertindak dan anak mantu

empek Lim ditangkap dengan tuduhan yang telah men

bosankan kami.”

“Tuduhan apa?” Ouwyang Bun bertanya penasaran,

sementara itu, Ouwyang Bu dan Lie Eng juga sudah

mendekat dan mendengarkan.

0oo-d-w-oo0

Jilid IV

“APALAGI? Tentu saja tuduhan sebagai kaki tangan

pemberontak. Juga anak perempuannya ditangkap.

Kemudian pembesar itu diam-diam memberi tahu kepada

empek Lim bahwa, jika ia memberikan a-nak

perempuannya dengan baik-baik untuk menjadi bini muda

tikwan itu, maka anak mantunya boleh pulang dengan

aman, akan tetapi kalau tidak, maka anak mantunya akan

dihukum terus, sedangkan anak perempuannya juga akan

ditahan.” Orang itu menghela napas.

“Dan sekarang mengapa banyak orang membujuk-bujuk

empek itu di sini?” tanya Lie Eng yang juga sangat tertarik

dan penasaran oleh kelakuan tikwan jahanam itu.

“Pagi tadi empek Lim hendak bunuh diri dan terjun ke

dalam sungai yang curam itu, maka ia dicegah oleh, orang

banyak dan dibujuk-bujuknya supaya jangan mengambil

keputusan pendek dan-nekat.”

Ouwyang Bu tidak sabar lagi. Ia bertindak maju

mendekati empek Lim itu dan berkata,

“Orang tua, jangan kau khawatir. Kami bertiga sanggup

menolongmu.”

Kakek itu heran mendengar kata-kata ini karena

terdengar baru dan ganjil. Semenjak ia mendapat kesusahan

ini, orang-orang hanya menghiburnya dan minta ia

menyerahkan nasib kepada Yang Maha Kuasa. Tapi anak

muda ini sanggup menolongnya, maka ia lalu mengangkat

muka memandang. Melihat betapa anak muda itu

berpakaian dan berwajah tampan dan gagah, serta di

pinggang tampak gagang pedang,, tiba-tiba ia mendapat

harapan besar. Ia lalu maju berlutut di depan Ouw-yang Bu

dan kedua kawannya yang juga mendekatinya.

“Kalau enghiong bertiga dapat menolong tak dan

mantuku, aku yang tua akan bersembahyang siang malam

memohon kepada Thian agar membalas budi kalian orangorang

gagah.”

Kata-kata yang diucapkan dengan bibir gemetar dan

mata basah ini membuat Lie Eng merasa terharu.

“Hayo antar kami ke kota Lam-oiu untuk bertemu

dengan tikwan itu.” kata gadis itu dengan gagah.

Melihat peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya

itu, yakni betapa ada orang-orang muda yang hendak

melawan tikwan, orang-orang kampung merasa heran dan

gembira dan segera ada orang yang meminjamkan seekor

kuda kepada empek Lim ke Lam-ciu.

Ketika mereka tiba di kota Lam-ciu mereka langsung

menuju ke gedung tikwan. Melihat gedung yang angker dan

megah itu, empek Lim menggigil karena bagaimana mereka

dapat melawan seorang pembesar yang memiliki kekuasaan

Tapi Lie Eng menghiburnya.

“Jangan kau takut, lopeh, aku yang tanggung bahwa,

anak dan mantumu pasti akan dibebaskan?”

Mendengar suara gadis yang gagah itu, empek Lim

merasa agak terhibur. Kedatangan mereka berempat

disambut oleh penjaga pintu dan Ouwyang Bu berkata

kepadanya,

“Beritahukan kepada tikwan bahwa kami hendak

bertemu.”

Penjaga itu menjadi marah melihat lagak mereka dan

sebentar saja lima orang penjaga telah menghadapi mereka.

“Kami bertiga sengaja mengantar empek Lim ini untuk

menghadap kepada tikwan dan minta keadilan,” kata

Ouwyang Bun yang tidak mau menerbitkan keributan

dengan penjaga itu.

“Tunggu saja di sini, akan kami laporkan..’ kata kepala

penjaga yang lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian

penjaga itu datang dan mereka diperkenankan masuk, tapi

dikawal oleh belasan penjaga.

Tikwan kota Lam-ciu adalah seorang gemuk yang

bermulut lebar. Ketika ia keluar dengan pakaian kebesaran,

wajahnya nampak pucat dan kepalanya dibalut. Begitu

keluar dan melihat para tamunya yang memakai pedang di

pinggang, ia segera menuding ke arah Ouwyang-hengte dan

Lie Eng sambil berseru keras,

“Nah, inilah orang-orangnya. Tangkap… tangkap

mereka……”

Para penjaga yang belasan jumlahnya itu segera maju

mengurung hingga Ouwyang-hengte dan Lie Eng menjadi

marah sekali. Mereka cepat mencabut pedang, dan Lie Eng

meloncat bagaikan seekor burung ke arah tikwan itu lalu ia

pegang pundaknya dan pedangnya ditempelkan di lehernya.

“Kalau orang-orangmu bergerak, maka lehermu akan

kuputuskan lebih dulu.” ancamnya dengan marah dan

“Ampun…. ampun, lihiap…. ampun.,” Tikwan itu

ketakutan dan ia membentak para kaki tangan, “Eh,

kalian… mundur….”

“Kau anjing gemuk. Tidakkah kau tahu sedang

berhadapan dengan siapa? Kalau aku beri tahu kepada

ayahku, pasti dengan tangannya sendiri ia akan

mematahkan batang lehermu. Kau kenal ayah? Namanya

Cin Cun Ong, kenalkah kau??”

Makin takutlah tikwan itu mendengar nama Cin Cun

Ong. Ia kini ingat bahwa Cin-ciangkun yang berpengaruh

itu mempunyai seorang puteri yang gagah perkasa. Jadi

inikah puterinya itu?

“Ampun, lihiap… ampun. Apakah salahku maka lihiap

memberi pengajaran? A-ku… aku tidak bersalah apa-apa

terhadap Cin-ciangkun….”

“Kau memang tidak bersalah terhadap kami, tapi apa

yang telah kaulakukan terhadap keluarga Lim? Lihatlah

kepada empek ini, apa yang telah kauperbuat terhadap anak

perempuan dan menantunya?”

“Aku…. aku….. ah, mereka itu adalah pemberontakpemberontak,

lihiap. Menantunya adalah anggauta

pemberontak, maka kusuruh tangkap.” Tiba-tiba ia

mendapat pikiran baik dan berkata dengan penuh semangat.

“Lihatlah ini, lihiap. Aku dapat membuktikan bahwa

menantu kakek Lim adalah pemberontak jahat, bahkan

kakek Lim inipun tadinya hendak kusuruh tangkap hari ini

juga. Malam tadi telah datang kawan-kawan menantunya

dan apa yang mereka lakukan terhadapku? Lihatlah,,

sendiri.”

Tikwan itu lalu melepaskan pembalut kepalanya dan

ternyata telinga kirinya terpotong dan lenyap. Kemudian

secara singkat tikwan itu menceritakan betapa tadi malam

kamarnya didatangi dua orang yang masuk dari jendela.

Orang-orang itu mengancamnya untuk melepaskan

menantu dari anak kakek Lim dan dengan pedang mereka

lalu menyabet putus telinga kirinya. Dan di dalam

kamarnya, di dinding yang putih, mereka gunakan darah

yang mengucur dari telinganya untuk melukis sebatang

bunga bwee.

Mendengar penuturan ini, Lie Eng saling pandang

dengan Ouwyang-hengte.

“Aku tidak percaya, yang perlu sekarang lekas keluarkan

dan bebaskan anak dan menantu kakek ini.”

Tapi pada saat itu, datang masuk sambil berlari-lari

seorang berpakaian penjaga.

“Celaka, taijin. Dua orang penjaga penjara terbunuh mati

dan menantu kakek Lim telah dibawa kabur penjahat.

Juga….. anak perempuannya telah lenyap dari kamar

tahanan.”

Tikwan itu menjadi pucat. “Nah, inilah bukti lebih nyata

lagi, lihiap. Mereka itu pasti pemberontak-pemberontak

jahat. Lekas tangkap anjing tua ini.” ia memerintahkan

orang-orangnya.

Tapi Lie Eng mencegah. “Lepaskan dia. Dia orang tua,

tidak tahu apa-apa. Lim-lopeh, sekarang pulanglah kau.

Anak dan menantumu ternyata telah ditolong oleh orangorang

lain.” Suara Lie Eng mengandung nada tak senang

karena kini iapun percaya bahwa menantu kakek Lim itu

tentu anggauta pemberontak.

“Mari kita periksa lukisan di dinding kamarmu,” katanya

kepada tikwan itu yang lalu mengantar mereka bertiga ke

kamarnya. Tikwan ini benar-benar takut dan tunduk kepada

Lie Eng, karena nama Cin Cun Ong yang terkenal, sebagai

seorang jenderal perang yang keras, jujur, dan suka

bertindak terhadap siapa saja yang tidak benar dalam

anggapannya itu membuat semua pembesar merasa takut.

Kini menghadapi puleri panglima tua itu, tentu saja ia

merasa gemetar apalagi karena tahu bahwa gadis ini

memiliki kepandaian tinggi dan kini datang berkawan pula.

Benar saja, di atas dinding yang putih terdapat lukisan

setangkai bunga bwee yang indah, dilukis dengan

menggunakan tinta darah.

“It-to-bwee (Setangkai Bunga Bwee)?? Siapakah mereka

ini?” tanya Lie Eng. Tapi Ouwyang-hengte yang baru saja

muncul dalam dunia ramai, tentu saja belum pernah

mendengar nama ini.

Setelah mereka keluar dari gedung tikwan, Ouwyang

Bun berkata kepada Lie Eng,

“It-to-bwee tidak ada hubungannya dengan kita, untuk

apa kita urus mereka? Asalkan mereka tidak mengganggu

kita, biarkan sajalah. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan

kita.”

Lie Eng mengerutkan jidatnya yang berkulit halus.

“Tidak tahukah kau bahwa mereka itu mungkin anggautaanggauta

pemberontak yang berada di kota ini, kita harus

cari dan basmi mereka. Demikianlah pesan ayah. Coba saja

ingat, malam tadi mereka telah melukai seorang tikwan dan

membunuh mati dua orang penjaga.”

“Tapi mereka lakukan itu untuk menolong empek Lira

dan anak menantunya. Bukankah kita juga tadinya

bermaksud menolong mereka? Sudah sepatutnya tikwan

jahanam itu mendapat hukuman.” kata Ouwyang Bun.

“Kalau semua orang boleh saja membunuh pegawai

pemerintah, maka di manakah kewibawaan pemerintah.

Tidak, twa-suheng, bagaimanapun, sudah kewajiban kita

untuk mencari It-to-bwee ini dan menyelidikinya, apakah

betul-betul orang-orang ini anggauta pemberontak yang

perlu dibasmi.”

Ouwyang Bun melihat betapa adiknya diam saja

mendengar perbantahannya dengan Lie Eng, lalu bertanya

untuk minta bantuan,

“Bagaimana pikiranmu, Bu-te? Apakah kita harus

mencari mereka itu atau kita biarkan saja dan melanjutkan

perjalanan kita?”

Setelah memandang kepada Lie Eng, Ouwyang – Bu

menjawab, “Aku sependapat dengan suraoi.”

Mendengar jawaban ini, Lie Eng nampak gembira sekali

dan lalu berkata dengan suara halus kepada Ouwyang Bun,

“Twa-suheng, mungkin kau juga benar dan mungkin

mereka ini bukanlah anggauta pemberontak, tapi hanyalah

orang-orang gagah yang merantau dari dunia kang-ouw.

Tapi tidak ada salahnya kalau kita mencoba selidiki dulu.

Kalau mereka ternyata orang-orang gagah, lebih baik lagi,

kita bisa berkenalan dengan mereka. Bukankah ini baik

sekali?” kata-kata ini diikuti senyuman manis hingga

Ouwyang Bun terpaksa menurut.

“Tapi ke mana kita harus mencari mereka?” tanya

Ouwyang Bu.

Sebelum Lie Eng dapat menjawab pertanyaan sukar ini,

Ouwyang Bun yang berotak cerdik berkata,

“Mereka telah menolong dan membawa pergi anak

perempuan serta menantu empek Lim. Maka

bagaimanapun juga, mereka pasti akan menghubungi

empek Lim. Kalau hendak mencari tahu tentang mereka,

tiada jalan lain kecuali menghubungi kakek itu.”

Lie Eng bertepuk tangan memuji. “Twa-suheng memang

cerdik.”

Ouwyang Bun melirik ke arah gadis itu dan diam-diam

dalam hatinya ia memuji,

“Ah, kau sendiri yang cerdik luar biasa. Kaukira aku

tidak tahu bahwa pujian-pujianmu ini sengaja,

kaukeluarkan untuk menyenangkan hatiku karena kalah

dalam perbantahan tadi?”

Memang Lie Eng adalah seorang gadis yang berpikiran

cepat dan cerdik. Sebelum Ouwyang Bun mengeluarkan

pendapatnya, memang ia telah berpendapat bahwa mereka

harus mencari melalui empek Lim, tapi ia terlampau cerdik

untuk menyatakan ini dan biarlah Ouwyang Bun yang

mengemukakan pendapatnya. Gadis ini setelah kenal baik

dengan Ouwyang-hengte, dapat membedakan, kedua

saudara itu, tidak saja membedakan rupa, tapi juga

keadaan dan perangai mereka. Ia tahu bahwa Ouwyang Bu

keras hati dan jujur, tapi tidak sepandai Ouwyang Bun yang

sangat cerdik dan berbudi halus itu.

Hanya satu hal yang tak diketahui oleh gadis itu, yakni

bahwa di dalam dada Ouwyang Bun telah timbul perang

pertimbangan dan perasaan mengenai baik buruk dan benar

salahnya orang-orang yang mereka sebut pemberontak jahat

itu. Sebaliknya, dalam pikiran Ouwyang Bun sama sekali

tiada sangkaan bahwa diam-diam gadis yang gagah dan

cantik jelita itu telah jatuh hati kepadanya.

Sementara itu, sikap Ouwyang Bu yang terus terang dan

jujur membuat Ouwyang Bun dan Lie Eng tahu jelas bahwa

pemuda ini mencintai Lie Eng.

Demikianlah, setelah mengambil keputusan, ketiganya

lalu cepat menyusul empek Lim yang pulang ke

kampungnya menunggang kuda pinjamannya dengan cepat.

Dan ketika empek ini sudah mengembalikan kuda kepada

pemiliknya dan pulang ke rumah, ia mendapatkan sebuah

surat di dalam kamarnya. Dengan cepat ia buka surat itu

dan tangannya yang sudah tua itu gemetar ketika membaca

isinya:

Empek Lim yang baik.

Aku dan kawan-kawanku telah menolong dan

membebaskan anak serta menantumu dari cengkeraman

pembesar korup. Tak mungkin menyuruh mereka pulang ke

kampung karena pasti akan dicari oleh pembesar jahanam

itu. Juga dengan suka rela menantumu hendak ikut dengan

kami. Kalau kau hendak bertemu dengan mereka,

datanglah malam ini di hutan sebelah timur kampung

Tanda lukisan It-to-bwee

Girang sekali hati empek Lim membaca surat ini. Ah,

benar saja anak dan- menantunya telah selamat. Tapi

mengapa mereka hendak ikut dengan para penolong itu?

Siapakah mereka ini dan mengapa anak dan menantunya

hendak ikut mereka?

Pada saat itu, dari luar jendela terdengar suara,

“Empek, tolong kauperlihatkan surat itu kepada kami.”

Dan sebelum hilang kagetnya tahu-tahu tiga orang dengan

gerakan cepat sekali telah berada di dalam kamarnya

dengan meloncati jendela. Tapi kekagetan kakek Lim segera

lenyap ketika melihat bahwa yang datang adalah tiga anak

muda yang menolongnya tadi. Ia segera menjatuhkan diri

berlutut di depan mereka, tapi Ouwyang Bun cepat

mengangkatnya bangun.

Tanpa sangsi-sangsi lagi kakek-itu memberikan surat

yang baru saja dibacanya kepada Lie Eng. Dara ini

mengangguk-angguk karena ia makin yakin bahwa It-tobwee

dan kawan-kawannya adalah para anggauta

pemberontak, dapat diketahui dari sebutan-sebutan mereka

kepada pembesar yang penuh dengan kebencian dan

makian

“Lopeh, hati-hatilah kau malam nanti, jangan sampai

ada orang yang mengikutimu,” pesan Lie Eng. Mereka

bertiga lalu meninggalkan kakek itu.

“Bagaimana, twa-suheng. Bukankah mereka itu

mencurigakan sekali?” tanya Lie Eng.

Ouwyang Bun harus mengakui bahwa ia kini juga

menyangka bahwa mereka itu adalah anggauta

pemberontak. Tapi dugaan ini bahkan mempertebal rasa

kagumnya terhadap sepak terjang kaum pemberontak. Kini

ia dapat menduga mengapa kaum pemberontak itu

demikian banyak mendapat bantuan para petani dan orangorang

miskin. Ternyata perbuatan mereka yang selalu

menolong kaum lemah dan miskin tertindas, membuat

rakyat kecil merasa simpati dan membantu mereka, seperti

halnya dengan menantu empek Lim yang telah tertolong

itu, kini secara suka rela agaknyapun hendak masuk

menjadi anggauta pemberontak.

“Lebih baik kita mendahului mereka dan menyelidiki

sekarang juga ke hutan itu, ia utarakan pikirannya. Lie Eng

dan Ouwyang Bu setuju dan berangkatlah mereka ke hutan

di sebelah timur kampung, hutan ini memang lebat dan liar,

penuh pohon siong yang telah puluhan tahun umurnya.

Ouwyang-hengte dan Lie Eng menambatkan kuda

mereka di luar hutan dan masuk hutan dengan jalan kaki.

Mereka tak dapat menggunakan kuda karena kaki kuda

bersuara berisik, menimbulkan kecurigaan .dan mudah

diketahui orang dari jauh.

Pada waktu itu hari telah, mulai gelap, lebih-lebih di

dalam hutan yang penuh pohon-pohon besar itu. Setelah

masuk di tengah-tengah hutan, ketiga anak muda itu

melihat sekelompok orang duduk mengelilingi api unggun.

Mereka segera menghampiri kelompok orang itu sambil

sembunyi-sembunyi di belakang rumpun. Dan ketika

melihat orang-orang itu, terkejutlah Ouwyang-hengte dan

Lie Eng. Ternyata di antara beberapa orang yang tidak

mereka kenal, tampak kedua orang gadis berpakaian lakilaki

murid Ciu Pek In, dan di situ terdapat pula Lui Kok

Pauw, murid Kengan-san yang pernah mereka jumpai di

tempat Gak Liong Ek Si Naga Terbang dari Liok-hui dulu.

Sungguh-sungguh di luar dugaan mereka, dan kini tak dapat

diragukan lagi bahwa mereka ini adalah anggauta-anggauta

pemberontak, bahkan tokoh-tokoh yang penting. Di antara

mereka tampak juga seorang laki-laki muda dan seorang

perempuan yang berpakaian petani tapi berwajah cantik,

maka mereka bertiga dapat menduga bahwa kedua orang

itu tentu anak dan menantu dari kakek Lim.

“Bagaimana, sumoi? Kita serbu saja?” Ouwyang Bu

berbisik perlahan kepada Lie Eng. Melihat bahwa keadaan

para anggauta pemberontak itu tidak sekuat dulu, karena

hanya terdiri dari tujuh orang saja, sedangkan yang sudah

ketahuan kehebatannya hanyalah kedua murid Ciu Pek ln

dan Lui Kok Pauw saja, maka Lie Eng memberi tanda

setuju dengan anggukan kepala.

Tapi Ouwyang Bun berpikir lain. “Sabar dulu,” bisiknya,

“lebih baik kita muncul dengan baik-baik dan menanyakan

It-to-bwee yang berada di antara mereka, dan kita lihat saja

sikap mereka bagaimana.”

Lie Eng dan Ouwyang Bu sebetulnya tidak menyetujui

sikap sabar terhadap para pemberontak yang jelas menjadi

musuh-musuh mereka itu, tapi tidak mau berbantah pada

saat seperti itu. Mereka lalu keluar dari tempat

persembunyian dan dengan beberapa kali loncatan saja

mereka telah berada di dekat mereka.

Tapi sungguh aneh, orang-orang yang mengelilingi api

unggun itu tidak melihat kedatangan mereka. Bahkan Lui

Kok Pauw hanya menengok sebentar kepada mereka

dengan acuh tak acuh. Murid pertama dari Ciu Pek In,

yakni gadis yang lebih tua daripada Siauw Leng yang dulu

pernah mencoba kepandaian Ouwyang Bu, agaknya

menjadi pemimpin kelompok itu, karena ia segera berdiri

menyambut Ouwyang-hengte dan Lie Eng, menjura sebagai

pemberian hormat lalu berkata,

“Sam-wi telah sudi mengunjungi tempat kami yang

kotor, silakan duduk dekat api. Maaf bahwa kami tak dapat

menyediakan tempat yang lebih baik kepada sam-wi, tapi

agaknya dekat api lebih baik daripada di belakang rumpun

alang-alang itu, ia menunjuk ke arah di belakang rumpun di

mana tadi mereka bertiga bersembunyi.

“Kau sudah tahu bahwa kami tadi bersembunyi di sana,

nona?” tanya Ouwyang Bun kagum.

Nona itu tersenyum dan wajahnya yang gagah itu tibatiba

berobah manis sekali, hingga dalam pandangan

Ouwyang Bun, gadis ini bahkan lebih cantik daripada Lie

Eng. Sayang bahwa pakaian dan topinya yang seperti lakilaki

itu menyembunyikan kecantikannya.

“Bukankah sam-wi mencari It-to-bwee?”

“Di manakah pemberontak itu?” tiba tiba Lie Eng maju

dan bertanya dengan suara keras.

Gadis itu menghadapi Lie Eng dengan senyum sabar.

“Nona Cin, kau sungguh cantik dan gagah, pantas menjadi

puteri Cin-ciangkun. Kau mau mencari It-to-bwee? Akulah

orangnya, dan namaku Cui Sian.”

“Bagus, dan mana kawanmu yang pergi bersamamu

membunuh penjaga penjara?” tanya Lie Eng sambil

mencabut pedangnya.

“Akulah orangnya, kalian sudah kenal padaku, bukan?”

dan meloncatlah Siauw Leng menghadapi Lie Eng. Gadis

yang lincah ini tersenyum dan matanya berseri-seri

memandang ke arah Ouwyang Bu.

“Kalau begitu, menyerahlah kalian.” bentak Ouwyang

Cui Sian tertawa dengan nyaring. “Kalian ini sungguh

harus dikasihani. Benar seperti kata suhu bahwa kalian

adalah tiga batang kembang teratai yang tumbuh di. dalam

lumpur. Tanpa sadar kalian telah menghambakan diri

kepada raja lalim,, memusuhi pejuang-pejuang rakyat.

Tanpa disadari membela para pembesar ganas, pemeras

rakyat jelata.”

Mendengar ini, Lie Eng tak dapat mengendalikan

kesabaran hatinya lagi.

“Bangsat pemberontak.” makinya dan pedangnya

berkelebat menyambar. Tapi dengan gesit sekali Cui Sian

dapat mengelakkan serangan itu sambil mencabut pedang.

“Kau hendak menguji kepandaian? Baik, baik, mari kita

main-main sebentar, agar kau ketahui kehebatan It-tobwee.”

Maka bertempurlah Lie Eng dan Cui Sian. Keduanya

sama gesit dan sama mahir mempermainkan pedang.

Keduanya sama-sama murid tokoh persilatan yang tenar

namanya. Sebagai puteri tunggal dari Cin Cun Ong, tentu

saja Lie Eng memiliki kepandaian silat dan ilmu pedang

yang luar biasa, karena sepasang pedang (siang-kiam) di

tangannya itu dimainkan dengan ilmu silat pedangberpasang

ciptaan ayahnya sendiri yang disebut Im-yang

Siang-kiam-hoat. Begitu ia putar kedua pedangnya,

lenyaplah tubuhnya terbungkus sinar kedua pedangnya itu.

Tapi ia kini menghadapi Cui Sian, murid pertama dari

Ciu Pek In yang terkenal sebagai Si Naga Sakti. Cui Sian

atau yang dijuluki It-to-bwee (Setangkai Kembang Bwee)

segera memutar pedangnya dalam gerakan ilmu silat Sinliong

Kiam-sut yang memiliki sinar panjang dan kuat.

Gerakan pedangnya seperti gelombang samudera yang

menelan sinar kedua pedang Lie Eng, tapi karena Lie Eng

mempunyai ilmu pedang Im Yang yang gerakannya sangat

bertentangan yang kiri dengan tenaga kekerasan, sebaliknya

yang kanan digunakan dengan tenaga lembek, dan begitu

sebaliknya hingga untuk beberapa puluh jurus mereka

bertempur dengan hebat dalam keadaan berimbang.

Akan tetapi, setelah bertempur seratus jurus, diam-diam

Lie Eng mengakui bahwa kepandaian lawan ini sungguh

hebat dan luar biasa, dan mulailah ia terdesak.

Tiba-tiba terdengar bentakan Ouwyang Bu yang tidak

enak harus tinggal diam saja melihat Lie Eng terdesak. Ia

menyerbu masuk ke dalam kalangan pertempuran dengan

pedang di tangan. Tapi ia disambut oleh Siauw Leng, yakni

adik dari Cui Sian. Seperti dulu, kedua anak muda ini

bertanding lagi. Tapi kalau dulu mereka hanya bertanding

tangan kosong, kini keduanya menggunakan pedang. Juga

Ouwyang Bu begitu pedangnya terbentur dengan pedang

Siauw Leng, harus mengakui bahwa gadis yang lincah ini

memiliki tenaga lweekang dan gerakan pedang yang hebat

dan merupakan lawan yang kuat.

Ouwyang Bun berdiri bingung. Haruskah ia turun

tangan? Ia melihat bahwa selain Lui Kok Pauw, di situ

masih ada tiga o-rang lagi yang agaknya memiliki

kepandaian tinggi, maka andaikata ia maju pula turun

tangan, belum tentu pihaknya akan mendapat kemenangan,

dan hasil dari serbuan ini tentu hanya akan memperhebat

permusuhan belaka. Oleh karena itu ia mencabut

pedangnya dan meloncat memisah Cui Sian dan Lie Eng

yang sedang bertempur sambil berkata,

“Sumoi, tahan.”

Lie Eng melohcat mundur dan merasa girang karena

menyangka bahwa Ouwyang Bun hendak

menggantikannya, tapi ia kecewa melihat bahwa Ouwyang

Bun hanya memisah saja, bahkan kini membentak adiknya

supaya menghentikan pertempurannya. Ouwyang Bu

dengan bersungut-sungut juga meloncat mundur dan

pertempuran dihentikan. Orang-orang yang mengelilingi api

unggun tetap di tempatnya tidak bergerak.

“It-to-bwee, kau memang gagah dan maafkan kamikalau

mengganggu. Biarlah lain kali kita bertemu pula.”

kata Lie Eng dengan hati gemas kepada Ouwyang Bun

yang tak mau membantunya.

“Nona Cin, kau juga hebat,” jawab Cui Sian sambil

tersenyum, “sayang kita dilahirkan di tempat yang berbeda,

kalau tidak, aku akan senang sekali bersahabat dengan

kau.”

Tanpa menjawab dan dengan muka cemberut

menandakan bahwa hatinya masih merasa dendam dan

jengkel karena tak dapat mengalahkan lawannya, Lie Eng

lalu meloncat pergi, diikuti oleh Ouwyang Bu. Sementara

itu, Ouwyang Bun menjura kepada Cui Sian sambil berkata,

“Kulihat bahwa nona dan kawan-kawan nona adalah

orang-orang perwira yang memiliki kepandaian tinggi dan

orang baik-baik, tapi mengapa sampai menjadi anggauta

pemberontak?”

Nona itu memandang wajah Ouwyang Bun dengan

tajam dan tiba-tiba muka yang tadinya lemah lembut itu

kini tampak berapi ketika ia berkata,

“Sudahlah. Kau yang dilahirkan di air laut tentu

menganggap bahwa semua air rasanya asin dan tidak tahu

bahwa air daratan adalah air tawar yang rasanya manis.

Berkali-kali kami masih memberi kesempatan hidup kepada

kau dan kawan-kawanmu tapi sekali lagi kita bertemu,

hanya ujung pedanglah yang akan menentukan.”

Ouwyang Bun merasa hatinya tertusuk sekali oleh

ueapan ini dan ia makin bimbang dan ragu-ragu.

Menghadapi dua pihak yang bermusuhan ini, ia merasa

terjepit di tengah-tengah seakan-akan orang berdiri di antara

dua api yang bernyala-nyala panas. Akhirnya dengan

menghela napas dan menundukkan kepala ia pergi

menyusul Lie Eng dan Ouwyang Bu.

Setelah mereka bertiga berkumpul kembali, Ouwyang Bu

berkata,

“Mereka masih berada di sana, mengapa kita tidak minta

bantuan pembesar kota untuk mengerahkan barisan penjaga

dan menawan mereka itu? Dengan bantuan kita bertiga,

tentu mereka semua akan dapat dibekuk dan diserahkan

kepada pengadilan.”

Ouwyang Bun buru-buru mencela usul adiknya dan

berkata, “Ah, apa perlunya hal itu kita lakukan? Kurang

baik dan memalukan. Apakah untuk melawan beberapa

orang saja kita harus mengerahkan barisan penjaga? Pula

mereka telah berlaku lunak terhadap kita, apakah perlunya

kita membalas dengan kekerasan. Ini akan memalukan dan

menodai nama baik kita saja.”

“Bun-ko. Mengapa akhir-akhir ini hatimu begitu lemah?

Kau pikir sedang menghadapi siapa? Ingat, kita

menghadapi pemberontak jahat. Mereka itu harus dibasmi.

Sekarang kita bertemu dengan mereka dan mendapat

kesempatan baik sekali, mau tunggu apa lagi?”

Ouwyang Bun menghela napas. Otaknya membenarkan

kata-kata adiknya, tapi hatinya membantah. Ia lebih taat

kepada suara hatinya, maka katanya, “Bu-te, sebenarnya

mereka itu mempunyai kesalahan apakah terhadap kita?

Apakah mereka pernah mengganggu kau atau aku, atau

bahkan pernah mengganggu sumoi? Mengapa kita mau

menawan mereka dan kemudian mereka dihukum mati

seperti semua orang yang dianggap anggauta pemberontak?

Bukankah itu terlalu kejam?”

Lie Eng memandang wajah Ouwyang Bun dengan

tajam, lalu berkata,

“Untung sekali bahwa kau tidak mengucapkan kata-kata

ini di depan ayah. Kata-katamu ini dapat dianggap

mengkhianati negara. Ah, twa-suheng, kau tak dapat

menjadi seorang perajurit yang baik. Kau bukan berdarah

perajurit hingga kau terlalu menurutkan suara hati, dan

tidak taat kepada perintah atasan serta tidak tahu akan

tugas kewajiban sebagai seorang perajurit. Aku tidak dapat

menyalahkan-mu, suheng, karena kau belum pernah

mengalami pertempuran hebat. Kalau saja kau tahu dan

pernah mengalami betapa para pemberontak itu

menyembelih tentara kita dengan kejam, betapa mereka itu

membasmi dan membinasakan seluruh keluarga para

pembesar yang jatuh ke tangan mereka, betapa anggautaanggauta

mereka itu pada malam hari mendatangi gedunggedung

orang hartawan dan pembesar tinggi untuk

merampok harta dan membunuh jiwa, betapa mereka

bercita-cita untuk menggulingkan pemerintah dan untuk

membunuh kaisar dan semua pembesar tinggi yang

sekarang berkuasa, tentu kau takkan bicara seperti itu.”

Gadis ini bicara dengan bernapsu sekali. Dan aneh, tiba-tiba

saja kedua matanya yang bening dan bagus itu mengalirkan

air mata.

Melihat keadaan gadis itu dan mendengar kata-katanya,

Ouwyang Bun duduk kebingungan, sedangkan Ouwyang

Bu merasa terharu dan jengkel, la memang telah jatuh hati

kepada sumoinya ini dan mencintainya tanpa disadarinya,

maka mendengar kata-kata gadis itu, timbullah

semangatnya. Serentak ia berdiri dan mengepal tinju.

“Kalau begitu, mengapa kita membuang-buang waktu di

sini dengan mengobrol saja? Hayo kita lekas menjemput

pengawal dan membasmi mereka itu.”

Tapi biarpun Ouwyang Bun telah mendengar kata-kata.

gadis itu dengan segala alasannya, namun ia tetap ragu-ragu

dan1 tidak bergerak dari tempat duduknya. Mungkinkah

seorang gadis secantik dan segagah Cui Sian itu dapat

berlaku sekejam dan sejahat itu?

Ketika Lie Eng melihat sikap Ouwyang Bu yang

bersemangat, ia berkata, “Ji-suheng, takkan ada artinya

kalau kita menyerbu ke sana. Sepanjang pengetahuanku,

mereka itu bukanlah orang-orang bodoh, dan setelah tempat

mereka kita ketahui, tentu mereka akan berpindah tempat

secepatnya dan dapat kupastikan bahwa jika kita membawa

barisan menyerbu ke sana, tentu mereka telah pergi dari

situ. Kalau hal ini terjadi, maka kita hanya akan mereka

tertawakan dan mendapat malu saja. Biarlah kali ini kita

biarkan mereka, tapi lain kali kalau kita mendapat

kesempatan] bertemu dengan anggauta pemberontak lagi,

kita sekali-kali tidak boleh berlaku lemah.” sambil berkata

demikian, Lie Eng mengerling kepada Ouwyang Bun yang

hanya menundukkan kepala.

Pada keesokan harinya, setelah meninggalkan pesan

kepada tikwan agar jangan berlaku sewenang-wenang

dengan ancaman bahwa hal itu akan diadukan kepada

ayahnya, Lie Eng dan Ouwyang-hengte meninggalkan

tempat itu untuk melanjutkan perantauan mereka.

Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kampung yang

tampak sunyi sekali. Di dalam kampung itu terdapat dua

buah rumah penginapan sederhana, tapi anehnya, ketika

ketiga anak muda itu hendak bermalam dan minta kamar,

kedua rumah penginapan itu tidak mau menerima mereka

dengan alasan kamar penuh.

Ouwyang Bu yang beradat keras segera berkata,

“Kamar penuh? Eh, louwko, kami datang dari tempat

jauh dan sudah lelah sekali. Kau harus menerima kami.”

Pengurus rumah penginapan itu dengan wajah muram

menjawab, “Bagaimana kami dapat menerima kalian?

Kamar sudah penuh, lebih baik sam-wi terus saja, Di

sebelah barat kira-kira limabelas li dari sini terdapat sebuah

kampung dan di situ juga ada rumah penginapan.”

“Kau gila?” Ouwyang Bu membentak. “Hari sudah

malam dan kami sudah lelah, kau bilang harus melanjutkan

perjalanan? Kaukatakan bahwa rumah penginapanmu

penuh, tapi mana tamunya? Aku tidak melihat seorangpun

di sini. Jangan kau menipu kami, apa kaukira kami takkan

membayar sewa kamarnya?”

Melihat pemuda itu menjadi marah, pengurus rumah

penginapan yang sudah tua itu cepat menjura dengan

hormat. “Maaf kongcu, bukan saya menipu, tapi benarbenar

semua kamar telah diborong oleh Lai-loya untuk

digunakan malam ini dan besok hari. Saya tidak berani

melanggar perintah dan pesannya.”

“Lai-loyamu itu mengapa begitu serakah? Kamar begini

banyak hendak disewanya semua? Sungguh gila.” kata

Ouwyang Bun yang juga merasa jengkel.

“Lai-loya hanya menggunakan dua kamar, tapi ia tidak

mau terganggu oleh tamu-tamu lain, maka ia borong semua

kamar. Dan siapakah yang berani membantah perintah Lailoya?”

kata pengurus itu dengan muka takut-takut dan

melihat ke sana-sini karena ia khawatir kalau-kalau ada

orang mendengar betapa Lai-loya dimaki-maki oleh

Ouwyang Bun.

Mendengar jawaban ini, Ouwyang Bu marah sekali dan

ia segera mengangkat tangan hendak memukul sambil

berkata, “Kau harus memberi kamar kepada kami.

Sedikitnya kau harus melihat bahwa di antara kami ada

terdapat seorang siocia. Aku dan kakakku dapat tidur di

luar atau di lantai, tapi untuk siocia ini kau harus memberi

sebuah kamar.”

Ouwyang Bun melihat betapa adiknya hendak memukul

tuan rumah, segera mencegahnya dan dengan suara halus

lalu berkata, “Saudara, berlakulah baik hati dan berilah

sebuah kamar untuk sumoiku ini. Nanti kalau Lai-loya itu

marah, kami yang akan menghadapinya.”

Lie Eng juga tidak sabar lagi, lalu maju dan bertanya

kepada pengurus rumah penginapan, “Eh, sebenarnya Lailoya

ini orang macam apakah? Apakah ia telah menjadi

raja?”

“Di kampung ini ia memang sama dengan raja. Siapa

berani membantahnya? Hampir semua rumah-rumah di

kampung ini adalah miliknya dan semua sawah ladang di

sekeliling kampung inipun miliknya. Boleh dibilang

sekampung ini adalah hambanya, karena betapapun juga,

kami telah berhutang budi kepadanya.”

“Berhutang budi? Bagaimana maksudmu?” tanya Lie

“Lai-loya telah begitu baik hati sudi menyewakan rumahrumahnya

itu kepada kami dan menyerahkan tanahtanahnya

itu untuk kami kerjakan dengan bagi hasil. Kalau

tidak ada dia, bukankah kami akan mati kelaparan?”

Lie Eng memandang heran, sedangkan Ouwyang Bun

tiba-tiba menjadi tertarik sekali. “Kau bilang bahwa dia

yang menolong semua penduduk kampung ini? Dan berapa

kau bayar untuk sewa rumah ini?”

“Murah saja, hanya seperempat bagian dari seluruh hasil

usaha kami.”

“Seperempat bagian? Dan kaukatakan ini sebagai

pertolongan?” setelah berkata demikian, tiba-tiba Ouwyang

Bun tertawa bergelak-gelak. Ia merasa geli dan kasihan

melihat kebodohan orang kampung itu dan merasa marah

mengingat akan kelicinan orang she Lai yang memeras

penduduk kampung tapi masih menerima ganjaran nama

baik sebagai “penolong besar” itu. Alangkah bodohnya

orang-orang kampung ini dan alangkah pintarnya hartawan

“Apalagi kalau bukan pertolongan?” pengurus rumah

penginapan itu berkata lagi. “Kalau tidak ada Lai-loya,

takkan ada rumah ini, dan kalau tidak ada rumah ini, kami

takkan dapat membuka perusahaan ini.”

Kembali Ouwyang Bun tertawa geli. “Dan sawah-sawah

ladang itu? Apakah hendak kau bilang juga bahwa kalau

tidak ada Lai-loyamu itu, maka takkan ada sawah ladang

dan tanah? Apakah Lai-loya itu yang membikin tanah di

sekitar kampung ini pula?”

“Tentu, kalau tidak ada dia tentu kita tidak bisa

menyewa tanah sawah di sekitar kampung ini. Dan tentang

membikin tanah….” penjaga rumah penginapan itu berhenti

karena bingung.

“Bun-ko, sudahlah,” tiba-tiba Ouwyang Bu menyela

kakaknya, “apakah anehnya dengan semua itu? Memang

sudah menjadi kebiasaan demikian, yakni penyewa rumal”

harus membayar dan penggarap tanah harus pula membagi

hasilnya kepada pemilik tanah. Apakah yang aneh dalam

hal ini maka kau menjadi heran dan menertawakannya?”

Ouwyang Bun memandang kepada adiknya dengan

heran. “Apa? Kau juga tidak dapat melihat kelucuan hal ini?

Tak dapatkah kau melihat kejahatan orang she Lai itu?

Kejahatannya lebih besar daripan da kejahatan seorang

perampok. Tidak tahukah kau…. dan kau, sumoi, kau juga

tidak tahu? Tidak mengerti…..?” Ouwyang Bun memindahmindahkan

pandangan matanya kepada Lie Eng dan

Ouwyang Bu, tapi kedua anak muda itu hanya balas

memandang dengan penuh keheranan.

Akhirnya Ouwyang Bu segera memegang pundak

kakaknya karena ia merasa cemas kalau-kalau kakaknya itu

terlampau lelah. “Bun-ko, sudahlah. Kau perlu beristirahat.

Jangan pikirkan hal itu lagi, karena bukankah ayah juga

seorang kaya dan memiliki banyak tanah dan rumah pula?

Ingatlah, sawah-sawah dan rumah-rumah kita juga banyak

disewa orang seperti yang terjadi di kampung ini.”

Tapi sungguh tak terduga sama sekali, mendengar katakata

adiknya ini, tiba-tiba Ouwyang Bun menggunakan

tangannya untuk memukul tiang yang berdiri di dekatnya

hingga dengan mengeluarkan suara keras tiang kayu yang

besar itu roboh karena sebagian daripadanya hancur kena

pukulan Ouwyang Bun.

“Itulah yang memualkan perutku. Itulah..” sambil

berkata demikian pemuda itu berjalan ke arah sebuah

kamar yang kosong dan tanpa melepas pakaian atau

sepatunya lagi ia menjatuhkan diri di atas pembaringan dan

kemudian terdengarlah dengkurnya.

Ouwyang Bu saling pandang dengan Lie Eng. Keduanya

heran sekali melihat kelakuan Ouwyang Bun seperti itu.

Sementara itu, pengurus rumah penginapan melihat betapa

galaknya mereka ini, hinggai ia tak berani, membantah, lalu

menyediakan dua kamar untuk mereka. Hanya ia berkata

berkali-kali kepada Ouwyang Bui dan Lie Eng bahwa

mereka harus berani bertanggung jawab bila nanti Lai-loya

menjadi marah.

“Jangan takut, kami yang akan menghadapi loyamu itu.”

Ouwyang Bu akhirnya membentak marah hingga pengurus

rumah penginapan itu menjadi takut dan pergi.

Lie Eng memasuki kamarnya dan beristirahat, sedangkan

Ouwyang Bu masuk ke dalam kamar yang ditiduri

kakaknya. Dengan khawatir dan penuh kasih sayang, ia

perlahan-lahan membuka sepatu kakaknya itu lalu

menyelimuti tubuh Ouwyang Bun. Lalu ia duduk di pinggir

pembaringan dan berkali-kali meraba jidat kakaknya,

karena ia khawatir kalau-kalau kakaknya jatuh sakit.

Ouwyang Bu sampai lupa akan diri sendiri yang sama sekali

belum mel ngaso itu. Sambil memandangi wajah kakaknya,

ia merasa bingung memikirkan mengapa kakaknya menjadi

begini. Sungguh ia tidak mengerti.

Terdengar suara panggilan perlahan dari Lie Eng di luar

pintu. Ouwyang Bu lalu keluar. Ternyata, setelah mencuci

muka dan badan, gadis itu memesan makanan dan

maksudnya mengajak kedua suhengnya itu makan malam.

“Sumoi, kau makanlah lebih dulu. Bun-ko belum

bangun.”

“Bagaimana dia? Apakah sakit?” Lie Eng bertanya

dengan khawatir lalu ia memasuki kamar itu. Dengan

penuh perhatian dipandangnya muka pemuda yang

berbaring itu dan dengan gaya yang mesra dirabanya

jidatnya. Kemudian ia berpaling dan bersama Ouwyang Bu

keluar dari kamar.

“Kalau begitu biarlah kita menanti sampai ia bangun,”

katanya perlahan.

“Sumoi, kau makanlah dulu. Kau lelah dan sejak pagi

tadi belum makan pagi. Makanlah, nanti kau sakit,” kata

Ouwyang Bu dengan penuh perhatian.

Mendengar suara pemuda itu, Lie Eng menjadi terharu.

Ia maklum bahwa pemuda ini mencintainya, tapi apa daya

hatinya telah terjatuh oleh sinar mata Ouwyang Bun. la

hanya menggelengkan kepala dan menjawab,

“Biarlah, ji-suheng, aku juga belum lapar benar. Kita

makan sama-sama saja nanti kalau twa-suheng telah

bangun.” Dan gadis ini lalu lari ke kamarnya.

Ketika Ouwyang Bii memasuki kamarnya lagi, ia

melihat kakaknya bergerak-gerak. Ia cepat menghampiri

dan duduk di pinggir pembaringan. Ouwyang Bun

membuka matanya perlahan dan memandang adiknya.

“Bun-ko, bagaimana? Kau merasa pening?” tanya

adiknya sambil memegang lengannya.

Ouwyang Bun menggeleng-gelengkan kepala.

“Bun-ko, kau kenapa? Apakah kau marah kepadaku?

Kalau aku bersalah, pukul saja aku, Bun-ko.”

Tiba-tiba Ouwyang Bun bangun cepat. Ia peluk adiknya

yang dikasihinya ini.

“Adikku, adikku…. tidak. Kau tidak bersalah, Bu-te.

Akulah yang bersalah, ah…. kau juga…. kita berdua dan…

dan suhu juga…..”

“Bun-ko, apa maksudmu?” Ouwyang Bu memandang

dengan mata terbelalak.

“Ya, suhu salah, bahkan.,., ayah juga salah…… Ah,

adikku, tidak tahukah kau bahwa mereka itu, orang-orang

yang kita anggap pengkhianat dan pemberontak jahat itu,

mereka adalah orang-orang yang benar cinta kepada tanah

air dan bangsa? Mereka adalah patriot-patriot sejati. Mereka

benar, memang keadaan rakyat kita sangat sengsara dan

perlu ditolong.”

Ouwyang Bu memandang kakaknya dengan mata liar. Ia

takut kalau-kalau kakaknya telah menjadi gila. Kata-kata

kakaknya membuat ia marah sekali. Ia pegang kedua

pundak Ouwyang Bun sambil berkata dengan suara berbisik

tapi penuh nap-su hingga terdengar mendesis,

“Apa katamu….? Apa katamu….??” Ia mengguncangguncangkan

tubuh kakaknye seakan-akan hendak membuat

kakaknya sadar dari maboknya

Dengan tubuh lemas dan suara terputus-putus Ouwyang

Bun berkata,

“Memang…. suhu.. susiok… ayah dan kita sendiri…. kita

semua tersesat dan menjadi…. alat. belaka……”

“Plok..” tangan Ouwyang Bu menampar muka

kakaknya. Karena Ouwyang Bun tidak mengelak atau

menangkis, maka tamparannya tepat mengenai pipi

Ouwyang Bun hingga darah merah mengalir keluar, dari

bibir pemuda ifu. .

“Ya, tamparlah…. tamparlah sekali lagi, dua kali, ya

tamparlah seratus kali, Bu-te. Memang aku pantas ditampar

untuk menebus dosa suhu, dosa ayah…….. dosa kita……”

Melihat betapa muka kakaknya yang dikasihinya itu

berdarah, tiba-tiba Ouwyang Bu memeluk kakaknya dan

“Bun-ko…. Bun-ko, jangan kau bicara begitu, Bun-ko….

kau tidak sayang kepada adikmu….?”

“Bu-te, siapa bilang aku tidak sayang kepadamu? Aku

tidak gila, juga tidak ma-bok. Semua kata-kataku itu

kuucapkan dengan penuh “kesadaran. Bu-te, kalau kau

memang menurut kehendakku, marilah kita pergi dari sini.

Marilah kita tinggalkan sumoi dan tinggalkan semua ini,

kita pergi ke puncak gunung dan mengasingkan diri dari

dunia yang penuh keributan ini.”

Ouwyang Bu bangun duduk dan memandang muka

“Bun-ko, kalau aku tidak sangat sayang kepadamu,

untuk ucapanmu terhadap ayah dan suhu tadi saja, sudah

cukup bagiku untuk membunuhmu. Tapi aku tak dapat

melakukan itu, dan kau…. janganlah kau berbuat semacam

ini, Bun-ko. Apakah kau ingin menjadi seorang

pengkhianat? Ingin melawan dan memusuhi pendapat dan

cita-cita ayah dan suhu sendiri? Di mana jiwa kebaktianmu

terhadap orang tua dan guru? Apakah kau ingin menjadi

pengecut yang merasa takut terhadap para pemberontak itu

dan mengundurkan diri? Ah, Bun-ko, pikirlah baik-baik.”

“Adikku, bukan sekali-kali aku pengkhianat atau

pengecut. Kau cukup tahu o-rang macam apa kakakmu ini.

Hanya saja, aku telah merasa yakin bahwa tindakan kita ini

keliru. Kita tidak boleh memusuhi para pejuang rakyat itu,

bahkan seharusnya kita membantu. Kalau kau suka

menurut kakakmu dan masih percaya akan bimbinganku,

mari kita pergi dan kau kelak akan melihat sendiri bahwa

pendapatku ini benar semata-mata.”

“Tak mungkin.” adiknya menjawab sambil

menggelengkan kepala.

Ouwyang Bun memegang. pundaknya. “Bu-te, kau…..

cinta pada sumoi, bukan?”

Pundak yang dipegang itu sesaat menggigil sedikit.

Akhirnya Ouwyang Bu mengangguk perlahan lalu

menundukkan mukanya.

Ouwyang Bun menepuk-nepuk pundak adiknya. “Aku

tahu, adikku. Dan aku girang, karena Lie Eng memang

seorang gadis yang tepat sekali untuk menjadi isteri-mu.

Tentang tunanganmu pilihan ibu, ah, aku sendiripun

kurang begitu cocok dengan pendapat orang-orang tua yang

secara sembrono telah memilihkan calon isteri untuk anakanak

mereka. Berbahagialah kau dengan Lie Eng, adikku.”

Ouwyang Bu terkejut dan memandang muka kakaknya.

“Kau…..kau hendak pergi ke mana, Bun-ko?”

Ouwyang Bun menggeleng-gelengkan kepala. “Kau tak

perlu tahu, Bu-te.”

“Bun-ko, kau tahu, kalau…. kalau di sini tidak ada

sumoi, tentu aku akan ikut padamu.”

Kakak itu menepuk-nepuk pundak adiknya. “Aku

tahu….. aku tahu…..”

Pada saat itu, dari luar terdengar bentakan keras,

“Orang-orang kurang ajar dari manakah berani

merintangi kehendak Lai-loya?”

Sementara itu, Lie Eng menolak daun pintu kamar

Ouwyang-hengte sambil berkata perlahan,

“Ji-wi suheng, mari kita makan dulu. Perutku sudah

lapar sekali.”

Ouwyang-hengte lalu turun dari pembaringan dan

melangkah keluar. Mereka melihat seorang laki-laki tinggi

besar berdiri sambil bertolak pinggang dengan lagak

sombong sekali. Laki-laki tinggi besar itu memaki-maki

pengurus rumah penginapan dan beberapa kali melirik ke

arah Ouwyang-hengte dan Lie Eng, tapi ketiga anak muda

ini tidak memperdulikannya, bahkan dengan tenang lalu

duduk mengelilingi meja makan yang sudah disiapkan oleh

Lie Eng. Gadis ini tadi mendengar suara kedua suhengnya

bercakap-cakap di dalam kamar, ia segera menyediakan

makanan dan mengajak suheng-suhengnya makan, dan

sedikitpun tidak memperdulikari rbentakan orang kasar di

luar itu.

Begitulah, dengan enak ketiganya makan. Lie Eng yang

bermata tajam maklum bahwa ada terjadj sesuatu antara

kedua suheng itu, karena sebentar-sebentar Ouwyang Bu

memandang kakaknya sedangkan Ouwyang Bun menjadi

pendiam sekali, tapi pandangan matanya tenang dan tidak

liar seperti tadi ketika marah.

Sementara itu, laki-laki tinggi besar itu setelah

mendengar keterangan pengurus penginapan, menjadi

marah sekali. Ia adalah kepala dari para tukang pukul atau

kaki tangan Lai-loya. Namanya Cu Houw dan ia terkenal

kejam serta ditakuti karena bertenaga besar dan

berkepandaian tinggi. Ia hendak mengajar adat kepada

orang-orang yang kurang ajar itu, tapi melihat bahwa

mereka membawa pedang yang tergantung di pinggang ia

dapat menduga bahwa mereka ini tentu mengerti silat dan

karenanya hatinya menjadi agak ragu. Untuk menambah

semangat, ia segera menggerakkan tangan ke belakang dan

dari luar rumah penginapan, lima orang kawannya yang

tinggi besar dan bersikap angkuh segera maju. Karena kini

berenam, Cu Houw menjadi berani dan tabah.

“Mana tiga orang rendah yang berani mati dan kurang

ajar itu?” bentaknya.

Ouwyang Bu tidak setenang dan sesabar. Ouwyang Bun

atau Lie Eng. Dadanya telah terasa panas bagaikan terbakar

dan mukanya perlahan-lahan berubah merah. Ia lalu

berkata kepada kedua kawannya cukup keras untuk

didengar oleh Cu Houw,

“Sungguh menyebalkan anjing kuning itu, sejak tadi

menggonggong dan menyalak-nyalak.”

Lie Eng tertawa dan berkata, “Mungkin ia lapar.”

Ouwyang Bun menyambung, “Ia mencium bau tulang,

tentu saja ia menyalak-nyalak.”

Kedua mata Cu Houw terputar-putar karena marahnya

mendengar sindiran-sindiran yang diucapkan oleh ketiga

anak muda itu. Lebih-lebih kepada Ouwyang Bu yang

memulai mengeluarkan sindiran itu.

Ia memandang dengan mata melotot dan seakan-akan

hendak menelan bulat-bulat pemuda itu. Dengan gerakan

mengerikan ia mencabut sebilah pisau belati yang kecil dan

tajam dari pinggangnya, lalu ber-kata,

“Kawan-kawan, biarlah aku binasakan binatang rendah

ini dulu. Kalian lihatlah.” Tiba-tiba tangannya yang

memegang pisau itu diayun dan senjata tajam yang kecil itu

melayang cepat sekali ke arah tenggorokan Ouwyang Bu.

Lie Eng dan Ouwyang Bun melihat ini, tapi mereka tetap

saja makan seakan-akan tidak melihat serangan berbahaya

ini, sedangkan pada saat itu Ouwyang Bu sedang

menggunakan sumpitnya untuk mengambil sepotong

daging. Melihat berkilatnya pisau yang menyambar ke arah

lehernya, ia lepaskan daging itu dan menggerakkan

sepasang sumpitnya ke atas dan tahu-tahu pisau itu telah

terjepit oleh sepasang sumpitnya.

“Ha, kebetulan, ada yang memberi pisau untuk

memotong daging yang alot dan keras ini,” katanya sambil

tertawa menyindir.

“Ah, anjing itu tidak hanya menggonggong, tapi juga

memperlihatkan giginya yang sudah ompong. Menjemukan

benar.” kata Ouwyang Bun.

Biarpun Cu Houw terkejut sekali melihat demonstrasi

kepandaian Ouwyang Bu ini, namun ia merasa malu untuk

mengundurkan diri. Ia adalah kepala barisan pengawal Lailoya

yang telah terkenal dan disegani, apakah ia harus

mundur menghadapi tiga orang anak muda saja? Pula, di

dekatnya ada lima orang kawannya yang kesemuanya

berkepandaian, dan masih berpuluh-puluh lagi anak

buahnya yang akan segera datang membantunya atas

perintahnya. Maka ia lalu memaki,

“Bangsat-bangsat kecil, hari ini yaya-mu akan mengajar

adat kamu sekalian.”

Sambil berkata demikian, ia mencabut goloknya dan

memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang juga

mencabut senjata masing-masing. Enam orang ini lalu

menghampiri Ouwyang-hengte dan Lie Eng dengan sikap

Tiba-tiba Ouwyang Bu menoleh kepada mereka dan

dengan pandangan mata tajam ia membentak,

“He, kalian mau apa?” Suaranya keras dan nyaring

hingga untuk sesaat keenam orang itu terkejut dan raguragu

untuk melangkah maju.

“Kalian bertiga “berani betul memaksa untuk memakai

kamar rumah penginapan yang sudah diborong oleh Lailoya.

Hayo kalian keluar dan bermalam di rumah

penginapan lain agar loya kami jangan sampai marah

hingga kalian akan dihukum.” kata seorang di antara

pengawal-pengawal itu. Ia memang agak ragu setelah

melihat demonstrasi kepandaian Ouwyang Bu tadi dan

sedapat mungkin hendak menyuruh mereka ini pergi

dengan damai saja.

Tapi tiba-tiba Ouwyang Bu melemparkan pisau Cu

Houw tadi ke atas yang menancap ke tiang yang melintang.

Gagang pisau itu bergoyang-goyang dan Ouwyang Bu

membentak lagi,

“Diam dan jangan banyak cerewet, kami sedang makan.”

Ia lalu melanjutkan makan dengan Ouwyang Bun dan Lie

Eng, sama sekali tidak memperdulikan mereka berenam,

seakan-akan di situ tidak ada orang lain. Sedangkan enam

orang itupun merasa ragu-ragu untuk bertindak sembrono,

maka mereka hanya berdiri saja di situ melihat orang

makan bagaikan pelayan-pelayan sedang menjaga majikanmajikan

mereka makan. Dan ketiga anak muda itu terus

makan minum dengan tenangnya. Sungguh peristiwa dan

pemandangan yang lucu.

Setelah selesai makan, Ouwyang Bu dan kedua

kawannya berdiri lalu dengan tenang menghampiri Cu

Houw dan lima orang teman-temannya.

“Nah, kami telah selesai makan, kalian mau apa?” tanya

Ouwyang Bun sambil tersenyum.

Cu Houw melihat sikap Ouwyang Bun yang lemah

lembut serta melihat Lie Eng yang cantik jelita tiba-tiba

timbul dugaan jangan-jangan mereka ini anak-anak orang

kaya atau orang berpangkat di kota lain. Karena itu iapun

agak menjadi sabar dan berkata dengan suara ditenangkan,

“Sam-wi diharap suka pindah ke rumah penginapan lain,

karena tempat ini telah lebih dulu dipesan oleh loya kami.”

“Loyamu itu orang macam apa maka begitu ditakuti oleh

semua orang? Dan mengapa penginapan ini diborongnya

semua, bukankah cukup kalau ia menyewa satu atau dua

kamar saja? Kami tak mau pergi.” jawab Lie Eng.

“Cu-twako, mengapa banyak berdebat. Kalau tidak mau

pergi, seret saja keluar.” kata seorang dari kawan-kawan Cu

“Bagus, kalian majulah.” Ouwyang Bu menantang dan

mencabut pedangnya.

Tapi tiba-tiba Ouwyang Bun mencegah adiknya. “Bu-te,

membasmi kaki tangan segala hartawan kejam dan

pembesar jahat bukanlah tugasmu, tapi tugasku. Kau

lihatlah saja,” dan tiba-tiba tubuh Ouwyang Bun meloncat

maju. Terdengar teriakan ngeri dan orang yang baru saja

bicara tadi tahu-tahu telah kena tendang dadanya hingga

terlempar keluar dan tak dapat bangun lagi. Maka ramailah

lima orang yang lain menyerbu Ouwyang Bun yang

menggunakan tangan kosong menghadapi mereka.

Ouwyang Bu heran sekali melihat sepak terjang kakaknya

berobah dari biasanya. Kini kakaknya menjadi telengas dan

menurunkan tangan besi kepada, lawannya hingga sebentar

saja dengan mudah empat orang telah dirobohkan dengan

pukulan dan tendangan berat hingga mereka mendapat luka

parah di dalam dan tak dapat, bangun lagi.

Melihat kehebatan pemuda ini, Cu Houw dan seorang

kawannya yang belum roboh lalu lari keluar. Ouwyang Bun

tertawa ber-gelak-gelak.

“Ha-ha, segala anjing hina pengganggu rakyat. Baru tahu

rasa kalian sekarang.”

Tapi pada saat itu, dari luar menyusul banyak orang

yang tidak lain adalah Cu Houw dengan kawan-kawannya

pengawal lain. Jumlah mereka tidak kurang dari tigapuluh

orang dan mereka mengiringkan seorang tua yang

berpakaian mewah dan memegang sebuah kipas.

Pakaiannya berwarna merah dan serba indah. Tubuhnya

tinggi kurus dan kumisnya panjang, sedangkan sepasang

matanya yang kecil sipit itu memandang liar seperti yang

biasa dimiliki orang-orang mata keranjang.

“Mana mereka?” tanyanya dengan suara marah.

“Ha-ha, inikah manusia kaya yang banyak lagak itu?”

Ouwyang Bun menyambut dengan makian. “Mari, mari,

majulah kau biar kutamatkan riwayat hidupmu yang kotor

dan penuh najis itu.”

Sebetulnya orang tua ini memang seorang hartawan

besar dari Lok-yang. Dengan pengaruhnya ia berhasil

membeli hampir semua tanah di kampung itu hingga ia

menjadi raja kecil di situ karena semua orang di kampung

itu mendewa-de-wakannya. Ia adalah seorang bandot tua

yang tiada jemunya mencari daun muda hingga beberapa

kali ia menggunakan pengaruh hartanya untuk mengawini

seorang gadis dari kampung di mana ia berkuasa. Orang tua

mana yang berani menolak pinangannya? Biarpun di

rumahnya telah ada isteri dengan selir-selir lebih dari

sepuluh orang, namun masih saja ia mencari korban baru

dari kampung. Kedatangannya kali ini juga untuk

melangsungkan “perkawinannya” yang entah sudah

keberapa puluh kalinya itu. Tapi sungguh malang baginya,

hari ini ia bertemu dengan orang-orang asing yang berani

mengganggu dan merintanginya. Maka bukan main

marahnya mendengar berita tentang hal itu dan cepat-cepat

ia membawa semua-pengawalnya untuk memberi “hajaran”

kepada orang-orang “kurang ajar” itu.

Kini mendengar. makian Ouwyang Bun, ia marah sekali

dan siap hendak memerintahkan kaki tangannya maju

mengeroyok, tapi tiba-tiba matanya yang tajam itu dapat

melihat Lie Eng. Tiba-tiba saja segala kemarahan yang

terbayang pada mukanya lenyap seketika dan mulut yang

tadinya cemberut itu berubah tersenyum, sedangkan mata

yang tadinya merah dan mengeluarkan cahaya marah itu

kini berseri-seri.

“He, kalian ini mengapa berani-berani mengganggu nona

dan dua kawannya itu?” tiba-tiba ia menegur ke arah

belakang kepada Cu Houw hingga kepala pengawal ini

melongo, tapi ia memang telah tahu akan adat kelakuan

majikannya dan dapat menduga bahwa si tua ini tentu

tertarik oleh kecantikan gadis asing itu. Dasar seorang

berjiwa penjilat, tukang pukul inipun tiba-tiba dapat

merobah sikapnya. Kalau tadinya ia garang dan galak, kini

ia membongkok-bongkok dan menjura kepada majikannya

sambil berkata.

“Loya, maafkan hamba dan kawan-kawan yang tidak

mengenal tamu-tamu agung.” Ia sengaja menyebut

Ouwyang-heng-te “tamu agung” untuk mengimbangi maksud

dari niat majikannya.

Maka giranglah hati hartawan tua itu melihat kecerdikan

orangnya, ia lalu maju dan menjura kepada Ouwyanghengte

dan Lie Eng sambil berkata,

“Sam-wi, mohon maaf sebesar-besarnya bahwa orangorangku

yang bodoh dan kasar ini mengganggu sam-wi.

Kalau hendak memakai kamar di sini, silakan saja dan kami

akan menganggap sam-wi sebagai tamu agung kami, karena

kebetulan sekali hari ini aku sedang merayakan pesta

perkawinan.”

“Eh, mengapa sikap orang ini beda benar dengan sikap

orang-orangnya?” Lie Eng berkata perlahan, lalu ia maju

menjura dan berkata,

“Tuan yang harus memaafkan kami karena telah terjadi,

salah mengerti ini. Apakah tuan hendak mengawinkan

putra tuan?”

Ditanya oleh gadis itu sendiri, muka hartawan she Lai

menjadi merah bagaikan kepiting direbus.

“Eh, bukan…. yang kawin….. eh, saya sendiri, siocia.”

Kini muka Lie Eng yang berobah merah karena muak,

sedangkan Ouwyang Bun tertawa gelak-gelak.

“Ha-ha-ha. Dengar, sumoi, Bu-te. Dia mau kawin. Sudah

kuduga bahwa orang yang disebut Lai-loya tentu seorang

hartawan tua pemeras rakyat yang berhati binatang dan

pantas diberi hajaran.”

“Bun-koko, jangan bicara begitu.” Lie Eng menegur, dan

dalam kebingungannya gadis itu terlanjur menyebut “Bunkoko”

atau kanda Bun, tidak menyebut twasu-heng seperti

biasa, hingga suaranya ini seakan-akan mewakili suara

hatinya. Tapi karena keadaan yang tegang itu, baik

Ouwyang Bun maupun Ouwyang Bu kurang

memperhatikan perubahan ini.

Ouwyang Bun berkata lagi, suaranya seram, “Kalau

orang macam ini tidak dibasmi hanya akan membikin kotor

dunia saja.” Sehabis berkata demikian, ia mer loncat dan

tahu-tahu ia telah memegang leher baju hartawan she Lai

itu dan dibawanya meloncat ke atas genteng.

Cu Houw dan kawan-kawannya yang memiliki

kepandaian lalu mengejar dan meloncat ke atas sambil

berteriak-teriak. Juga Lie Eng dan Ouwyang Bu mengejar

ke atas genteng sambil berkata,

“Bun-ko, lepaskan dia.”

Tapi Ouwyang Bun yang sangat marah dan gemas

kepada hartawan tua itu lalu membentak,

“Kau mau minta bangsat ini, marilah.” ia lalu

melemparkan tubuh itu sekuat tenaganya ke arah para

pengejarnya. Tentu saja Cu Houw dan kawan-kawannya

terkejut sekali dan mengelak karena tidak berani

menyambut tubuh yang menyambar cepat ke arah mereka

itu. Hartawan Lai menjerit-jerit ketika merasa tubuhnya

melayang ke bawah dan jantungnya berhenti berdetak

karena ia telah merasa pasti bahwa kali ini tentu akan mati

Tapi tiba-tiba hartawan tua itu merasa betapa lengan

tangannya disambar orang dan ia dibawa melayang turun

ke atas tanah dengan selamat. Ternyata pada saat yang

sangat berbahaya itu, Ouwyang Bu berhasil menolong Laiwangwe

dari bahaya

Melihat betapa adiknya menolong Lai-wangwe dari atas

genteng Ouwyang Bun berkata, “Ah, Bu-te, sekarang

ternyata bahwa kaulah yang lemah. Karena anjing rendah

macam itupun cukup berharga untuk kau tolong.” Suara

pemuda itu mengandung penyesalan besar.

“Bun-ko, kau mau ke mana?” tanya Ouwyang Bu yang

segera meloncat lagi ke atas genteng.

“Sudahlah, Bu-te, selamat tinggal, mudah-mudahan kita

akan bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik. Aku

tetap tak dapat mengekor dan melakukan pekerjaan yang

berlawanan dengan suara batinku ini.” Setelah berkata

begitu, Ouwyang Bun lalu meloncat pergi.

“Twa-suheng.. Tunggu..” Lie Eng memanggil.

Ouwyang Bun menoleh. “Sumoi, jangan menahan aku.

Baik-baiklah kau menjaga diri dan berlaku baiklah kepada

Bu-te.” Setelah berkata begitu, ia cepat lari pergi-

“Bun-ko……” Terdengar Ouwyang Bu memanggil, tapi

Ouwyang Bun tidak memperdulikan dan lari terus.

Ouwyang Bu menutup mukanya dan air mata mengalir

membasahi pipinya.

“Sudahlah, suheng. Dia tidak mau bersama-sama kita.

Biarlah. Mungkin ia akan menyusul ayah dengan jalan

lain.”

Ouwyang Bu mengangkat mukanya lalu menghela

napas. “Sumoi, kau tidak tahu… Bun-ko telah mengambil

keputusan lain, ia….. tidak mau membantu susiok, tidak

mau memusuhi para pemberontak, bahkan agaknya ia…..

ia…. menganggap para pemberontak itu betul?”

“Apa…..?” gadis itu menjadi pucat karena terkejut.

“Kaumaksudkan bahwa ia ……. ia hendak menyeberang

dan membantu pemberontak?”

“Entahlah, tadinya ia mengajak aku pergi bersama-sama

ke gunung untuk mengasingkan diri, tapi aku…. aku

menolaknya.” suaranya terdengar penuh penyesalan.

“Mengapa kau tidak ikut dengan kakakmu, suheng?”

Ouwyang Bu memandang gadis itu dengan mata tajam

dan mesra.

“Sumoi… bagiku…. pekerjaan ini dan semua urusan

ini….. tidak ada artinya. Aku tidak perduli mana yang benar

dan mana yang salah, tapi…. tapi karena ada kau di sini….

bagaimanakah aku sanggup meninggalkanmu….. ?”

0o-dw-o0

Jilid V

WAJAH Lie Eng yang sudah pucat kini berobah merah

mendengar betapa pemuda jujur ini dengan terus terang

menyatakan rahasia hatinya. Ia merasa terharu sekali. Tapi,

ia teringat akan Ouwyang Bun, kesedihan besar membuat ia

tak kuat menahan air matanya mengalir karena pemuda

idaman hatinya itu telah pergi. Tapi ini, belum seberapa bila

dibandingkan dengan kehancuran hatinya bila mengingat

bahwa Ouwyang Bun hendak menyeberang dan membantu

pemberontak. Inilah yang meremukkan hatinya benar.

Ia menutup mukanya dan menangis terisak-isak.

Ouwyang Bu menyangka bahwa gadis itu menangis karena

terharu dan menyangka pula bahwa Lie Eng diam-diam

membalas perasaan hatinya, maka ia lalu memegang

tangan, gadis itu dan berkata dengan suara mesra,

“Sumoi, jangan bersedih. Bun-ko tersesat, biarlah karena

aku yakin ia akan kembali ke jalan benar. Aku tahu bahwa

sebenarnya Bun-ko adalah seorang perwira yang berhati

mulia. Memang harus disesalkan bahwa ia meninggalkan

kita, tapi bukankah masih ada aku di sampingmu?

Percayalah, sumoi, selama aku masih ada di dunia ini aku

pasti akan membelamu samr pai napasku terakhir. Aku

akan membantu perjuangan ayahmu dengan setia.”

Kemudian, dengan kata-kata keras mereka menegur dan

menasihati Lai-wangwe supaya tidak berlaku sewenangwenang

mengandalkan kekayaannya dan memeras rakyat

kampung yang miskin.

Setelah itu, keduanya melanjutkan perjalanan, kini

langsung menuju ke kota raja.

0o-dw-o0

Ouwyang Bun meninggalkan adik dan sumoinya dengan

perasaan campur aduk. Sebenarnya pada dasar hatinya ia

merasa bahagia dan girang sekali karena tindakannya itu

membuat ia merasa seakan-akan seekor burung yang

terlepas dari kurungan, seakan-akan kini ia terbang ke

angkasa dengan bebas lepas dan dengan tujuan yang lebih

luas. Ia merasa seakan-akan terlepas dari sebuah tugas yang

sangat menyiksa hatinya, tugas pekerjaan yang dipaksakan

padanya dan yang berlawanan dengan kehendak hatinya. Ia

kini boleh pergi ke mana saja yang ia sukai, boleh berbuat

menurutkan suara hatin.

Tapi bila ia teringat akan adiknya, ia merasa sedih sekali.

Ia tahu bahwa Ouwyang Bu beradat keras dan tidak mudah

dirobah pikirannya. Juga ia maklum betapa adiknya itu

sangat mencintai Lie Eng hingga andaikata adiknya akan

sadar juga bahwa pihak pemberontak tak seharusnya

dimusuhi, masih akan sukar juga bagi Ouwyang Bu untuk

meninggalkan Lie Eng, apalagi untuk menjadi lawan atau

musuh gadis itu.

Dalam perjalanannya seorang diri kali ini, Ouwyang Bun

mencurahkan perhatiannya kepada keadaan orang-orang

kampung umumnya. Dan apa yang ia saksikan

mempertebal keyakinannya bahwa memang raja yang

memegang tampuk pemerintahan saat itu perlu diganti.

Hampir di tiap kota atau kampung, tak pernah ia melihat

seorang pembesar yang benar-benar patut disebut pemimpin

rakyat. Para pembesar itu menjalankan pemerasan,

penggelapan, kecurangan-kecurangan yang kesemuanya

dibebankan kepada rakyat jelata. Hanya orang-orang kaya

saja yang hidup senang bahkan berlebih-lebihan, karena

dengan mengandalkan pengaruh uang sogokan kepada para

pejabat pemerintah, mereka ini hidup terlindung. Jelas

tampak di mana-mana bahwa pada hakekat-nya yang

berkuasa adalah harta kekayaan. Seorang yang ada uang tak

usah takut sesuatu. Ingin mengawini belasan atau puluhan ,

gadis cantik? Ingin menang dalam perkara biarpun berada

di pihak salah? Ingin naik pangkat secara mudah? Ingin

menjadi raja kecil yang mempunyai kekuasaan sendiri,

mempunyai “posisi” sendiri? Mudah, asal orang

mempunyai banyak emas dan perak.

Melihat keadaan ini semua, diam-diam Ouwyang Bun

merasa heran sekali mengapa suhunya dapat berdiri di

pihak raja dan tidak suka kepada perjuangan para patriot

bangsa yang dicap “pemberontak” itu. Ia kini dapat

menangkap arti. dari kata-kata Ciu Pek In, orang tua

perwira yang aneh itu. Baru terbuka matanya dan diamdiam

ia mengagumi orang tua yang dianggap seorang

locianpwe yang berpemandangan luas sekali. Ia merasa

kagum betapa dalam keadaan bertentangan dan

bermusuhan, Ciu Pek In masih memuji-muji sikap Cin Cun

Ong. Ternyata bahwa orang tua she Ciu, guru dari nona

Cui Sian yang. cantik dan perwira itu, telah dapat

menundukkan perasaan perseorangan hingga

pertimbangannya adil dan tepat, sama sekali bebas dari rasa

sentimen. Rasa kagumnya membuat ia ingin sekali dapat

bertemu lagi dengan orang tua itu. Dan diam-diam iapun

merasa rindu kepada Cui Sian, gadis yang tampaknya

pendiam tapi yang kalau sudah berkata-kata ternyata

menyatakan pikirannya yang luas dan cerdik.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di sebuah kota, yakni

kota Lee-sarr yang cukup ramai. Toko-toko dan rumahrumah

makan berderet-deret di sepanjang jalan hingga

menambah kemegahan kota itu. Ia memilih sebuah kamar

di penginapan yang berada di jalan sebelah barat.

Sebetulnya hari masih belum gelap benar dan iapun belum

lelah, tapi melihat bahwa udara gelap dan agaknya akan

turun hujan, ia tunda perjalanannya dan bermaksud

menginap semalam di kota ini.

Ketika membuka bungkusan pakaian, baru ia ingat

bahwa bekal uangnya telah habis sama sekali. Ouwyang

Bun lalu mengambil keputusan untuk meniru pekerjaan

suhunya ketika masih muda dulu, yakni menjadi maling.

Gurunya, Si Iblis Tua Tangan Delapan, pernah berkata

bahwa mengambil sedikit harta seorang kaya untuk sekedar

bekal perjalanan, bukanlah hal yang patut dibuat malu bagi

seorang kang-ouw, asal saja uang yang diambil itu bukan

digunakan untuk hidup royal dan bersenang-senang.

Apalagi kalau telah diketahui bahwa hartawan yang

dimalingi itu adalah seorang yang bertabiat kikir dan yang

menjadi kaya karena menghisap tenaga rakyat kecil.

Dengan hati tetap, ketika malam telah gelap benar,

Ouwyang Bun keluar dari kamarnya melalui jendela dan

langsung naik ke atas genteng. Keadaan benar-benar gelap

karena udara diliputi mendung hitam hingga langit tak

berbintang sama sekali. Biarpun matanya telah terlatih

untuk dapat menangkap bayang-bayang benda di tempat

gelap, namun untuk berloncat-loncatan di atas genteng pada

saat segelap itu, bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh

karena itu, ia sangat berhati-hati dan tidak berani lari terlalu

Ketika ia telah berada jauh dari penginapannya, tiba-tiba

ia melihat lima bayangan hitam bergerak turun dari atas

wuwungan rumah. Ia cepat meloncat ke arah tempat itu

dan memandang ke bawah. Dengan bantuan sinar lampu

yang menyorot keluar dari lubang rumah, ia melihat lima

orang tua berpakaian sebagai petani sedang berjalan di atas

tanah dengan langkah cepat sekali. Ia lalu meloncat turun

mengejar pula, karena ia merasa curiga dan tertarik sekali

hatinya hendak melihat siapakah mereka itu dan apa yang

hendak mereka lakukan pada waktu segelap ini.

Ternyata lima orang itu menuju ke gedung besar yang

dapat diduga rumah tinggal seorang pembesar. Memang,

yang tinggal di situ adalah seorang tihu kota itu. Seperti

biasanya rumah pembesar, keadaan di luar dan sekitar

gedung terang sekali, karena di seluruh sudut dipasang teng.

Ouwyang Bun makin tertarik karena kelima orang itu

ternyata bersikap sangat mencurigakan. Mereka

menghampiri gedung itu dari belakang dan berkumpul di

suatu sudut sambil berbisik-bisik seakan-akan

merundingkan sesuatu. Dan pada saat itu teringatlah

Ouwyang Bun bahwa ia pernah bertemu dengan lima orang

tua berpakaian petani yang seragam ini. Ia mengingat-ingat

dan akhirnya ia tahu bahwa kelima orang itu adalah Kilok

Ngo-koai atau Lima Setan Dari Kilok, yang dulu juga

datang menghadiri pesta perjamuan di rumah Gak Liong

Ek di Liok-hui.

Hatinya menjadi girang dan tiba-tiba Ouwyang Bun

muncul dari tempat pengintaiannya dan menegur,

“Eh, ngo-wi (tuan berlima) bukankah kelima enghiong

(orang gagah) dari Kilok?”

Bukan main terkejutnya kelima orang itu. Mereka segera

memutar tubuh dan ketika melihat bahwa yang datang

adalah Ouwyang Bun segera berkata perlahan, “Ouwyanghengte.”

Serentak mereka berlima mencabut pedang dan

menyerang dengan gerakan hebat. Ouwyang Bun terkejut

sekali dan mengelak sambil meloncat jauh.

“Eh, tahan dulu. Kenapa ngo-wi menyerang aku?”

Tapi, tanpa menjawab, kelima orang tua itu maju lagi

menyerang makin hebat hingga terpaksa Ouwyang Bun

mencabut pedangnya untuk mempertahankan dan menjaga

diri, karena ilmu pedang kelima kakek itu tak boleh

dipandang remeh.

“Ngo-wi, mengapa kalian memusuhiku?” lagi-lagi ia

bertanya, tapi Kilok Ngo-koai itu sama sekali tidak mau

menjawab, hanya menyerang makin keras dan nekat hingga

sekarang Ouwyang Bun juga merasa marah dan gemas. Ia

putar pedangnya sedemikian rupa hingga dapat

mengimbangi serangan kelima orang lawannya. Mereka

bertempur ramai sekali.

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dan dari dalam

gedung tihu itu keluarlah beberapa orang penjaga yang

bersenjata tombak dan golok.

“Bangsat pengacau dari mana berani datang membikin

ribut,” mereka berteriak dan hendak mengurung. Melihat

datangnya para penjaga ini, kelima petani dari Kilok itu

segera meloncat dan melarikan diri. Ouwyang Bun

sebenarnya merasa gemas dan ingin sekali bertanya kepada

mereka mengapa mereka memusuhinya, tapi menghadapi

para penjaga tihu yang banyak itu iapun tidak ada napsu

untuk melayaninya, lalu meloncat terus ke dalam taman

gedung tihu yang gelap. Dari taman itu ia langsung masuk

ke dalam gedung dari belakang. Seorang pelayan yang

bangun dan kaget karena ribut-ribut di luar kebetulan keluar

dari kamarnya dan melihat Ouwyang Bun yang lari masuk

sambil membawa pedang terhunus, merasa kaget sekali.

Tapi sebelum ia sempat berteriak, Ouwyang Bun telah

mendahuluinya dan menotok jalan darahnya yang

membuat pelayan itu menjadi gagu.

“Jangan banyak ribut kalau kau menyayangi jiwamu,”

Ouwyang Bun mengancam. “Tunjukkan aku ke kamar

majikanmu.” Biarpun Ouwyang Bun bicara bisik-bisik dan

ia tenang-tenangkan hatinya, namun tidak urung suaranya

terdengar gemetar karena sesungguhnya selama hidupnya

belum pernah ia mencuri harta orang lain seperti kelakuan

seorang perampok.

Karena ketakutan, pelayan itu lalu menunjuk ke arah

sebuah kamar besar di tengah ruang gedung. Ouwyang Bun

lalu me-notok roboh pelayan itu dan cepat menghampiri

pintu kamar. Sekali dorong saja terbukalah daun pintu.

Ternyata tihu telah bangun karena iapun mendengar suara

ribut-ribut di luar gedung. Tihu ini, she Lie, pernah pula

mempelajari silat. Melihat seorang pemuda asing memasuki

kamarnya, cepat ia menyambar pedangnya yang tergantung

di tembok dan meloncat menyerang. Tapi sekali tangkis saja

pedang ditangan tihu itu jadi terpental. Ouwyang Bun lalu

menendang lutut lawan itu hingga jatuh berlutut.

“Jangan banyak tingkah, aku tak hendak

membunuhmu,” kata Ouwyang Bun. “Aku hanya

membutuhkan sedikit uang bekal.”

Besar dan girang hati tihu itu yang tadinya menyangka

bahwa yang datang ini adalah seorang anggauta

pemberontak yang mengingini jiwanya. Berulang-ulang ia

mengangkat tangan memberi hormat dan berkata,

“Tai-ong (raja = sebutan kepala rampok), jangan

khawatir, saya akan memberi bekal secukupnya.”

“Diam. Tak usah banyak mulut dan jangan sebut kepala

rampok,” Ouwyang Bun membentak marah. “Keluarkan

peti uangmu.”

Dengan tubuh masih menggigil tihu itu membuka

lemarinya dan Ouwyang Bun melihat uang emas dan perak

berkantung-kantung dan berjajar di dalam lemari itu.

Timbul pula gemasnya karena ia dapat menduga bahwa

uang itu adalah hasil perasan dan sogokan, karena kalau

tidak, dari mana tihu ini dapat mengumpulkan uang

sebanyak itu? Ia lalu mengambil tiga kantung uang emas,

kemudian menghadapi tihu itu ia mengancam.

“Kau tentu seorang pembesar busuk juga. Ingat, kali ini

aku kebetulan lewat di sini dan hanya mengambil uang

sebagai peringatan. Lain kali kalau aku masih mendengar

bahwa kau adalah seorang pembesar yang menindas rakyat,

jangan kaget kalau aku bukan mengambil uang, tapi

mengambil kepalamu, mengerti?” Pedang di tangan

kanannya bergerak cepat dan tihu itu hilang semangatnya

karena melihat sinar pedang menyambar kepalanya. Ia

segera berlutut dengan kaki lemas dan mulutnya tiada

hentinya meminta ampun.

Tapi ketika ia mengangkat muka, ternyata pemuda itu

telah lenyap dari situ dan ia melihat rambutnya yang

dikucir panjang dan tebal telah menggeletak di dekatnya,

kena sabetan pedang tadi. Ia kaget sekali dan dengan tubuh

gemetar dan panas dingin ia memekik memanggil penjaga.

Ketika beberapa orang penjaga menyerbu masuk, tihu itu

jatuh pingsan karena takutnya. Para penjaga, segera

menolongnya dan mengangkatnya ke pembaringan.

Malam itu Ouwyang Bun mengelilingi kota itu dari atas

genteng dan menjelang fajar baru ia kembali ke kamar

hotelnya lewat jendela. Dan pada keesokan harinya, pagipagi

sekali, banyak orang-orang miskin yang berumah

gubuk, tiba-tiba menemukan segumpal emas di dalam

rumahnya, hingga mereka merasa sangat kaget dan senang,

lalu diam-diam memasang hio untuk menyatakan terima

kasihnya kepada penolong yang tak dikenal itu. Ternyata

ketika mengelilingi kota, Ouwyang Bun diam-diam

membagi-bagi emas kepada penduduk miskin hingga habis

dua kantung lebih. Sisanya ia simpan untuk bekal sendiri.

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi,

barulah Ouwyang Bun bangun dari tidur. Ia segera

membersihkan tubuh dan setelah makan pagi,

meninggalkan hotel untuk melanjutkan perjalanannya.

Karena ketika meninggalkan adik dan su-moinya ia juga

meninggalkan kudanya, maka sebelum meninggalkan kota

itu ia membeli seekor kuda yang cukup baik.

Tukang kuda adalah seorang she Tan yang doyan sekali

mengobrol. Ia sedang gembira karena. dari penjualan kuda

kepada Ouwyang Bun, ia memperoleh keuntungan yang

lumayan besarnya dan melihat bahwa pemuda itu adalah

seorang asing ia lalu berkata,

“Kongcu tentu seorang yang pandai ilmu silat,” katanya

sambil tersenyum memuji.

Ouwyang Bun kaget. Ia memandang tajam ketika

bertanya, “Bagaimana sebabnya maka kau menduga

demikian?”

Pedagang kuda itu tertawa. “Mudah saja, kongcu. Kau

seorang diri berani melakukan perjalanan jauh, membawabawa

banyak emas dan juga menyandang pedang. Kalau

tidak pandai menjaga diri, mana kau bisa melakukan

perjalanan dengan selamat? Pada waktu ini keadaan tidak

aman, pemberontak dan perampok berkeliaran di manamana.

Untungnya barisan Cin-ciangkun yang gagah

perkasa telah mulai bertindak. Kemarin banyak sekali

anggauta pemberontak tertawan oleh Cin-ciangkun.”

Ouwyang Bun merasa terkejut dan heran mendengar ini,

ia tenangkan hatinya dan bertanya secara sambil lalu, “Di

manakah ada pemberontak tertangkap?”

“Di sebelah timur kota ini, kongcu. Kudengar jumlahnya

banyak, karena hampir penduduk seluruh kampung Benglok-

chun menjadi anggauta pemberontak.”

“Aku pernah mendengar tentang Cin-ciangkun yang kau

sebut tadi. Apakah dia sendiri yang melakukan

penangkapan?” Ouwyang Bun tahu bahwa paman gurunya

itu tak mungkin di sini, maka ia sengaja bertanya demikian

untuk memancing dan mengetahui apakah orang she Tan

ini membohong atau tidak.

“Ha, kau tampaknya takut-takut, kongcu. Jangan takut

pemberontak, selama masih ada barisan-barisan Cinciangkun,

mereka tidak akan mampu bergerak. Tentu saja

bukan Cin-ciangkun sendiri yang memimpin, tapi barisan

Cin-ciangkun telah tersebar di mana-mana.”

“Mereka apakan anggauta-anggauta pemberontak yang

tertawan itu?” Ouwyang Bun bertanya.

“Ha-ha, diapakan? Tentu saja digiring ke kota raja untuk

menanti hukuman gantung. Digiring seperti babi-babi

dibawa ke pejagalan.” orang she Tan itu tertawa girang

Ouwyang Bun memandang tajam. “Kau agaknya

membenci sekali kepada pemberontak, mengapakah?”

Orang she Tan itu memperlihatkan luka yang telah

mengering di lehernya sebelah belakang. “Kau lihat ini,

kongcu? Nah, inilah yang mereka lakukan padaku. Hampir

saja aku mereka bunuh.”

“Mengapa?”

“Mengapa? Entah, karena….. karena aku pedagang

kuda.”

“Tak mungkin orang akan membunuh tanpa alasan,”

“Alasannya hanya karena aku didakwa membeli kuda

curian.”

Tiba-tiba Ouwyang Bun teringat bahwa di daerah itu

memang sering terjadi pencurian kuda, maka diam-diam ia

lirik kuda yang baru saja dibelinya. Jangan-jangan inipun

kuda curian. Para pemberontak itu tentu mempunyai alasan

kuat hingga menuduh orang ini pencuri kuda.

“Barangkali kau memang tukang membeli kuda curian,”

katanya sambil naiki kuda itu dan pergi, meninggalkan si

pedagang kuda yang memandangnya dengan heran.

Ouwyang Bun melarikan kudanya menuju ke timur

karena ia hendak melihat sendiri keadaan para pemberontak

yang tertawan itu. Siapakah yang menawan mereka?

Apakah barangkali ia mengenal pemimpin barisan Cinciangkun

ini?

Ketika ia tiba di luar kota, tiba-tiba ia melihat debu

mengepul dari timur tanda bahwa di atas jalan yang

berdebu itu sedang berjalan banyak kuda dan rombongan

orang. Ia segera menghampiri, dan benar saja, seregu

tentara terdiri dari kira-kira tigapuluh orang sedang

menyeret-nyeret dan menggiring tawanan kurang lebih

tigapuluh orang. Tawanan itu terdiri dari orang-orang yang

berpakaian sebagai petani miskin, bahkan di antara mereka

terdapat pula beberapa orang wanita. Tawanan-tawanan itu

memperlihatkan sikap macam-macam, ada yang berjalan

tunduk dan bersedih, ada yang mengangkat dada dan

kepala dengan gagah, ada pula yang menangis sepanjang

jalan. Kedua tangan mereka semuanya terbelenggu.

Ouwyang Bun mencari-cari dengan pandangan matanya

dan melihat bahwa tiga orang perwira yang berkuda dan

memimpin barisan itu tak dikenalnya. Sebaliknya tiga orang

perwira itu memandang kepada Ouwyang Bun dengan

pandangan curiga dan mereka berbisik-bisik.

Melihat keadaan para tawanan itu Ouwyang Bun merasa

kasihan dan sedih. Ia maklum bahwa tak mungkin

anggauta-ang-gauta pemberontak selemah itu, membiarkan

dirinya begitu saja ditawan sedangkan jumlah mereka lebih

besar. Mungkin mereka adalah orang-orang kampung yang

kena fitnah oleh hartawan-hartawan yang menghendaki

tanah mereka. Memikir demikian, timbullah marahnya. Ia

majukan kudanya dan menghadang di depan barisan itu.

Tiga orang perwira itu segera mencabut pedang masingmasing.

Ouwyang Bun sengaja mengangkat tangan kanannya

memberi tanda berhenti kepada barisan itu. Ia menghadapi

tiga orang perwira tadi dan menegur,

“Sam-wi ciangkun, orang-orang kampung ini hendak

kalian bawa ke mana?”

“Orang tidak tahu diri.” seorang di antara ketiga perwira

itu menegur. “Siapa kau maka berani-berani mencegat

kami? Apakah kau sudah bosan hidup?”

Ouwyang Bun tersenyum. “Hm, kalau Cin-ciangkun

melihat lagakmu yang sombong ini, tentu akan turun

pangkat.” sindirnya.

Melihat sikap pemuda itu, perwira yang tertua berlaku

hati-hati, dan bertanya sambil mengangkat kedua tangan,

“Siapa dan dari mana enghiong yang telah kenal dengan

Cin-ciangkun kami, dan ada keperluan apa maka mencegat

barisan kami?”

Ouwyang Bun balas memberi hormat dari atas kudanya.

“Siauwte Ouwyang Bun dan tentu saja kenal dengan Cinciangkun

karena beliau adalah susiok dan siauwte pernah

menjadi pembantunya.”

Terkejutlah ketiga perwira itu dan buru-buru perwira

yang tadi berlaku kasar segera memberi hormat, biarpun ia

masih meragukan kebenaran kata-kata anak muda ini.

“Maaf kalau kami tidak mengenal kepada taihiap. Orangorang

ini adalah tawanan kami, mereka adalah anggautaanggauta

pemberontak dan kini sedang kami giring ke

markas besar Cin-ciangkun.”

“Kalian salah tangkap, kawan-kawan. Mereka itu

bukanlah pemberontak. Kurasa kalian takkan semudah ini

menangkap mereka kalau mereka benar-benar

pemberontak. Orang-orang kampung ini hanya menjadi

korban fitnahan belaka. Lepaskan mereka.”

Ketiga perwira itu terkejut. “Taihiap mengapa berkata

begitu? Bukanlah hak kami untuk memutuskan apakah

mereka itu pemberontak atau bukan. Kewajiban kami

hanya menangkap orang-orang yang dicurigai dan

membawanya ke markas besar. Dan selain Cin-ciangkun

sendiri atau atasan lain, tidak ada orang yang berhak

melepaskan orang-orang tawanan kami ini.”

“”Begitukah? Tapi aku tetap minta kalian melepaskan

mereka.”

Marahlah perwira termuda yang tadi mengeluarkan katakata

“Ji-wi twako, kukira orang ini mengaku-aku saja menjadi

keponakan Cin-ciangkun. Jangan-jangan ia ini juga

anggauta pemberontak.”

Ouwyang Bun tertawa bergelak-gelak. “Baik, kau

percaya atau tidak, aku tetap hendak membela orang-orang

kampung ini yang menderita karena kekejaman kalian.”

“Bagus, kawan-kawan, tangkap orang ini.” teriak ketiga

perwira itu dan anak buah mereka lalu mengurung dengan

senjata di tangan.

Ouwyang Bun tertawa keras dan sambil mengangkat

kepala ia berkata,

“Cin-susiok, maafkan kalau teecu terpaksa menghajar

anak buahmu yang kurang ajar ini.” tiba-tiba saja tubuhnya

lepas dari punggung kuda dan menyambar ke sana ke mari

di antara keroyokan para tentara itu. Dan di mana saja ia

sampai, tentu terdengar pekik kesakitan dan seorang

pengeroyok roboh. Sebentar saja beberapa orang anak buah

rombongan itu jatuh terguling terpukul atau tertendang

hingga keadaan menjadi kacau. Tapi kepungan makin tebal,

bahkan ketiga perwira itupun mulai mengambil bagian.

Ternyata kepandaian mereka cukup baik.

Menghadapi serangan dan kepungan yang dilakukan

oleh lebih dari duapuluh orang bersenjata tajam itu,

Ouwyang Bun terpaksa menggunakan pedangnya untuk

melawan. Ia tidak berlaku setengah-setengah lagi dan

memainkan pedangnya dengan hebat hingga banyaklah

korban luka oleh u-jung pedangnya.

Tiba-tiba dari jurusan timur datang barisan yang lebih

besar lagi, dan barisan i-ni dipimpin oleh dua orang perwira

yang telah lanjut usianya. Barisan ini adalah barisan

pengawal istimewa dari kota raja dan dipimpin oleh dua

orang perwira yang berkepandaian tinggi karena ini adalah

anggauta Pengawal Sayap Garuda, terlihat dari topi mereka

yang berbentuk sayap burung garuda.

Melihat kedatangan barisan baru itu, terkejutlah

Ouwyang Bun, karena hanya seorang diri saja tak mungkin

ia melawan orang sebanyak itu. Ia lalu memutar pedangnya

lebih cepat dan melukai beberapa orang lagi, lalu ia cepat

meloncat keluar dari kalangan pertempuran. Ia bingung

bagaimana harus menolong tawanan-tawanan sebanyak itu,

sedangkan untuk melawan para anggauta barisan itu saja

sudah payah baginya. Tiba-tiba dari barisan yang baru

datang itu berkilat bayangan hijau dan seorang perwira

Sayap Garuda melintangkan golok besarnya dan

membentak,

“Pemberontak hina, hendak lari ke mana kau?” suara

orang itu parau dan biarpun tubuhnya tinggi besar, tapi

gerakannya ketika meloncat menghadang Ouwyang Bun

tadi sangat gesit hingga Ouwyang Bun maklum bahwa ia

berhadapan dengan seorang lawan yang “berisi”.

Maka tanpa banyak cakap lagi Ouwyang Bun

menggerakkan pedangnya mengirim serangan kilat, tapi

perwira itu menangkis dengan golok besarnya. Tangkisan

itu saja cukup memperingatkan kepada Ouwyang Bun

supaya berlaku hati-hati, karena ternyata perwira itu

bertenaga kuat dan gerakan goloknyapun gesit. Mereka

berdua bertempur dengan seru, dan tak lama kemudian

kembali Ouwyang Bun kena terkurung, kini lebih rapat dan

hebat daripada tadi karena gerakan golok perwira itu betulbetul

hebat. Diam-diam Ouwyang Bun mengeluh karena

kini keadaannya berbahaya sekali. Jangan kata hendak

menolong puluhan tawanan itu, sedangkan untuk menolong

diri sendiripun ia harus mengeluarkan seluruh tenaga dan

kepandaiannya, dan inipun masih belum tentu berhasil. Ia

lalu berseru nyaring dan mengeluarkan ilmu pedang Sin-eng

Kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Sakti) yang dilakukan

dengan cepat dan hebat sekali. Melihat permainan pedang

ini, terkejutlah perwira ini, yang meloncat mundur sambil

berseru,

“Tahan. Dari mana kau peroleh Sin-eng Kiam-hoat ini?

Apa hubunganmu dengan Cin-ciangkun?”

Ouwyang Bun memandang tajam dan ia tertawa

menyindir ketika menjawab, “Cin-ciangkun adalah

susiokku. Kau mau apa?”

Perwira itu makin terkejut. “Kalau begitu, mengapa kau

memusuhi kami? Kenapa kau bertempur dengan anak buah

Cin-ciangkun sendiri?” tanyanya heran.

“Kami berselisih paham,”-jawab Ouwyang Bun dengan

suara dingin, “kalau kalian bertempur melawan

pemberontak, Itu bukan urusanku, tapi kalau kalian

menangkapi orang-orang kampung yang tidak berdaya, aku

tak dapat membiarkannya.”

“Habis, apa kehendakmu?” perwira Sayap Garuda itu

“Lepaskan mereka ini.”

“Aah, tak mungkin. Sungguh-sungguh a-neh

permintaanmu ini, apalagi kalau diingat bahwa kau adalah

murid keponakan Cin-ciangkun sendiri. Seharusnya kau

tahu akan peraturan ini.”

“Betapapun juga, kalian harus melepaskan orang-orang

kampung yang tidak berdosa dan tidak berdaya itu.”

Ouwyang Bun berkata sengit dan menggerak-gerakkan

pedangnya dengan sikap menantang.

“Kalau begitu, kau termasuk pengkhianat yang harus

dibinasakan.” perwira itu berseru marah dan kembali

mereka bertarung sengit, dan kali ini perwira yang seorang

lagi dan yang bersenjata sebatang tombak ikut menyerbu.

Maka repot juga Ouwyang Bun menahan serangan mereka

yang ternyata berkepandaian tinggi hingga ia terpaksa harus

mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri.

Dalam saat ia berada dalam keadaan terdesak itu, tibatiba

para pengepungnya menjadi panik dan kepungannya

mengendur. Ketika Ouwyang Bun meloncat keluar dari

kepungan yang sudah menipis itu, ia melihat keadaan yang

mendebarkan jantungnya. Ia melihat Kilok Ngo-koai atau

Lima Setan Dari Kilok yang malam tadi bertempur

dengannya, telah datang menyerang pihak tentara dengan

pedang mereka, sedangkan selain kelima setan dari Kilok

ini, tampak juga….. Cui Sian, nona yang dirindukannya itu,

juga Siauw Leng gadis lincah yang pernah menguji

kepandaian dengan Ouwyang Bu dulu, serta tidak

ketinggalan Lui Kok Pauw, penyelidik kaum pemberontak

yang telah dikenalnya dulu. Dan kini terjadilah

pertempuran hebat antara -kurang lebih empatbelas orang

pemberontak yang berkepandaian tinggi dengan puluhan

tentara negeri yang mengeroyok mereka.

Ouwyang Bun berada dalam keadaan serba salah

Apakah ia harus membantu tentara? Ah, hal itu tak

mungkin ia lakukan, karena berlawanan dengan

keyakinannya. Pula, pemberontak-pemberontak itu

menyerbu tentu untuk menolong orang-orang kampung

yang menjadi tawanan itu, jadi berarti cocok dengan

maksud hatinya sendiri. Kalau begitu, apakah ia harus

membantu pihak pemberontak? Ini juga tak mungkin ia

lakukan, karena ia masih merasa ragu-ragu dan malu untuk

mengkhianati paman gurunya sendiri.

Karena merasa bingung, Ouwyang Bun lalu teringat

akan para tawanan itu. Ah, kewajibannya hanyalah

membebaskan para tawanan itu. Cepat ia lari ke tempat di

mana para tawanan itu berada. Tapi ia dicegat oleh lima

orang anggauta tentara yang menjaga para tawanan itu.

Terpaksa Ouwyang Bun lalu menggunakan pedangnya

untuk memutuskan semua tali belenggu yang mengikat

tangan para tawanan itu. Dan aneh, begitu terlepas dari

belenggu, sebagian besar para tawanan laki-laki, yakni yang

tadi mengangkat tegak kepala mereka, lalu ikut menyerbu

dan melawan tentara setelah memungut senjata-senjata para

korban yang terlempar ke atas tanah. Mereka ikut

mengamuk seakan-akan hendak membalas sakit hati kepada

para anggauta tentara yang tadi telah menghina dan

menyakiti mereka.

Setelah melepaskan belenggu semua tawanan, Ouwyang

Bun lalu berdiri menganggur dan hanya menjaga para bekas

tawanan yang tidak ikut bertempur.

Ternyata amukan para pemberontak dan para bekas

tawanan itu membuat anggauta-anggauta tentara itu

kewalahan dan tak lama kemudian mereka terdesak

mundur. Terutama pedang di tangan Cui Sian yang sangat

hebat itu membuat kedua perwira Sayap Garuda merasa

bahwa pihak mereka takkan menang, maka segera mereka

memberi isyarat mundur.

Setelah semua anggauta tentara lari, Cui Sian memberi

perintah kepada Kilok Ngo-koai yang ternyata juga

pemimpin-pemimpin pemberontak, untuk membawa orangorang

kampung itu lekas pergi bersembunyi, karena tak

lama lagi tentu akan datang bala bantuan tentara yang lebih

besar jumlahnya Untuk mengadakan “pembersihan”

Kemudian, Cui Sian dan Siauw Leng menghampiri

Ouwyang Bun dan menjura,

“Ouwyang-taihiap, pertemuan kali ini sungguh-sungguh

membuat kami merasa girang sekali,” kata Cui Sian sambil

memperlihatkan senyumnya yang mempercepat jalan darah

dalam tubuh Ouwyang Bun.

Mendengar kata-kata ini, bukan main girang hati

pemuda itu, hanya ia merasa kecewa mengapa gadis ini

menyatakan bahwa yang bergirang bukan gadis itu seorang

diri tapi menggunakan sebutan “kami”, maka ia segera

menjawab,

“Bolehkah aku bertanya. Dari mana li-hiap ketahui sheku

yang tak ternama, dan mengapa pula lihiap merasa

girang dengan pertemuan kali ini?” Ia sengaja bertanya

mengapa mereka merasa girang. Cui Sian adalah seorang

gadis yang cerdas otaknya, maka mendengar kata-kata ini

saja sudah cukup untuk membuat wajahnya yang jelita itu

menjadi merah karena merasa malu.

“Kami tahu bahwa taihiap bernama Ouw yang Bun dan

murid dari Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang dari Hc-ng-san.

Jangan taihiap menjadi kaget karena nama suhumu sudah

cukup terkenal dan kami ketahui semua itu dari suhu kami.

Adapun tentang kegirangan kami karena pertemuan kali ini

ialah karena kau telah membantu kami menghadapi

gerombolan kaki tangan kaisar itu.”

“Ouwyang-taihiap sungguh gagah perkasa, dengan

seorang diri saja berani menghadapi puluhan tentara kaisar,

sungguh-sungguh satu perbuatan gagah berani yang pantas

dikagumi.” Siauw Leng ikut memuji dengan suara yang

nyaring dan kerling mata yang tajam.

“Eh, dengarlah, ji-wi. Jangan menganggap bahwa aku

telah membantu kalian. Aku bertempur dengan mereka

adalah karena persoalanku sendiri. Aku adalah tetap murid

keponakan dari Cin-ciangkun dan tentang pemberontakan

yang kalian dan kawan-kawanmu lakukan, tiada sangkutpautnya

dengan diriku. Juga aku takkan membela mereka

yang mencoba menumpas pemberontakan.”

Cui Sian kembali tersenyum manis. “Ucapanmu inipun

tidak aneh bagi kami, taihiap. Kami telah tahu benar

persoalanmu. Aku tahu juga bahwa kau telah meninggalkan

adikmu dan sumoimu.”

Hampir saja pemuda itu meloncat kaget. “Apa? Dari

mana kauketahui semua itu?”

“Ouwyang-taihiap, kau dan adikmu adalah orang-orang

hebat yang kalau menjadi lawan akan merupakan musuh

yang kuat. Maka sudah menjadi kewajibanku untuk

menyelidiki keadaanmu dan hal ini mudah saja karena di

setiap kota, di setiap rumah penginapan, di setiap rumah

makan, pasti ada rakyat yang membela dan membantu

kami.”

Ouwyang Bun memandang kagum dan heran kepada

nona yang luar biasa cerdiknya itu, lalu ia menggelengkan

kepala. “Kalau melihat keadaan ini, hampir aku menyangka

bahwa kau juga telah mengetahui segala isi hati dan jalan

pikiranku, lihiap.”

Cui Sian tersenyum lagi dan suaranya menjadi perlahan

sekali ketika ia berkata,

“Mungkin aku dapat menduga isi hati dan jalan

pikiranmu itu, taihiap.”

“Benarkah? Coba kaukatakan.” Ouwyang Bun merasa

gembira sekali, di samping heran dan ragu.

“Di dalam hatimu kau bersimpati kepada gerakan kami

dan pikiranmu juga membenarkan tindakan para patriot

yang hendak membebaskan rakyat dari kekuasaan raja

lalim, tapi karena susiokmu kebetulan menjadi panglima

perang raja yang justeru berkewajiban membasmi kami,

maka liangsim-mu (hati nurani) tidak meng-ijinkan kau

untuk mengkhianati paman gurumu itu. Bukankah

demikian?”

Sekarang benar-benar Ouwyang Bun merasa heran. Ia

pandang wajah yang cantik berseri-seri itu dengan mata tak

berkedip dan mulut ternganga.

“Nona…..,” katanya setengah tak sadar. “kau ini….

manusia atau…. dewi kahyangan yang sakti?”

Terdengar suara tertawa cekikikan dari Siauw Leng

hingga sadarlah Ouwyang Bun akan kata-katanya yang lucu

dan bodoh itu, maka buru-buru ia menjura dengan wajah

“Lihiap, kau sungguh luar biasa. Sukakah kau

menerangkan dari mana pula kauketahui semua itu?

Apakah juga dari suhumu yang sakti?”

Kini Cui Sian menggeleng-gelengkan kepala. “Bukan dari

siapa-siapa. Apakah sukarnya mengetahui atau menerka hal

itu? Setiap orang yang berjiwa patriot akan berpendirian

seperti itu. Setiap laki-laki yang gagah perkasa, yang

berbudi mulia, yang bijaksana, yang berpemandangan luas,

akan berpendirian seperti itu. Dapat melihat kebenaran

dalam perjuangan para patriot bangsa, tapi juga tidak lupa

akart kebaktian terhadap guru.”

Kembali terdengar Siauw Leng tertawa cekikikan, kini

bahkan dengan menepuk-nepuk bahu Cui Sian.

“Eh, eh, kau kenapa?” tanya Cui Sian sambil

memandang gadis lincah itu.

“Ah, ciciku yang baik, betapa kau telah memuji-muji

Ouwyang-taihiap. Bagus, bagus, ya??”

Maka sebentar saja otak yang tajam dari Cui Sian dapat

menangkap maksud adiknya dan seluruh mukanya berobah

merah. Benar saja, tanpa disadarinya ia telah mengatakan

bahwa pemuda itu adalah seorang laki-laki yang gagah

perkasa, berbudi mulia, bijaksana dan berpemandangan

luas. Sementara itu, Ouwyang Bun tersenyum saja dengan

hati berdebar girang dan hidungnya berkembang menahan

geli hatinya mendengar dan melihat betapa Siauw Leng

yang nakal telah menggoda Cui Sian.

Cui Sian merasa malu sekali dan untuk menghilangkan

rasa malunya ia cubit lengan adiknya, yang segera lari

sambil tertawa. Ouwyang Bun dan Cui Sian yang ditinggal

berdua saja hanya berdiri saling berhadapan tanpa

mengeluarkan ucapan apa-apa, bahkan mereka tak berani

saling memandang, hanya tunduk dan hanya kadangkadang

mencuri pandangan dengan kerling tajam.

Akhirnya Ouwyang Bun memecahkan kesunyian dan

kebingungan mereka dengan berkata, “Lihiap, kau telah

mengetahui she dan namaku, tapi bolehkah aku ketahui

she-mu dan apa pula hubungan nona Siauw Leng dengan

kau?”

Cui Sian mengangkat muka dan memandang wajah

Ouwyang Bun dengan tenang ketika ia menjawab,

“Aku she Can bernama Cui Sian, dan Siauw Leng

adalah adikku sendiri bernama Can Siauw Leng.”

Tiba-tiba Ouwyang Bun menjadi pucat dan ia merasa

kepalanya pening ketika teringat akan sesuatu. Hampir saja

ia tak dapat mengendalikan diri lagi dan hendak memegang

lengan gadis itu yang segera mundur.

“Kau….. kau dan adikmu… dari manakah asalmu….?”

Cui Sian tidak tampak heran melihat sikap Ouwyang

Bun yang aneh ini, bahkan dengan tenang sekali ia berkata,

“Aku sudah tahu apakah yang timbul dalam dugaanmu,

taihiap. Memang dugaanmu itu benar. Ayahku adalah Can

Lim Co yang tinggal di Tung-han.”

“Kau.. kau….,” Ouwyang Bun tak dapat melanjutkan

kata-katanya hanya menggunakan jari telunjuknya untuk

menuding dada gadis itu lalu menuding dadanya sendiri.

Cui Sian mengangguk-angguk. “Ya, memang ibumu dan

ibuku telah menjodohkan kita…,” gadis itu lalu

menundukkan muka dengan malu.

Ouwyang Bun teringat akan adiknya dan ia meloncatloncat

ke atas bagaikan menginjak pasir panas. “Kalau

begitu, adikmu itu…. nona Siauw Leng dan Bu-te…..”

“Ya, memang menurut orang tua kita, adikmu itupun

telah dijodohkan dengan Siauw- Leng.”

Tiba-tiba Ouwyang Bun tertawa gelak-gelak sambil

mengangkat kepalanya ke atas. Ia merasa geli sekali ketika

teringat betapa Ouwyang Bu telah mengadu kepandaian

melawan tunangannya sendiri. Alangkah cocoknya jodoh

itu. Adiknya yang kasar dan jujur dan Siauw Leng yang

lincah dan Jenaka. Tapi, tiba-tiba ia teringat akan keadaan

Ouwyang Bu dan tiba-tiba saja suara ketawanya berobah

menjadi isak dan pemuda gagah itu lalu menjatuhkan diri di

atas rumput lalu menangis.

Cui Sian yang belum mengetahui duduknya persoalan,

menjadi heran sekali dan salah sangka. Terdengar katakatanya

yang diucapkan dengan tenang tapi tetap,

“Ouwyang-taihiap, tak perlu, hal ini dibingungkan dan

disusahkan. Kita adalah orang-orang yang mengutamakan

kejujuran dan tidak terikat oleh segala yang tak kita setujui.

Kalau kita tak menyetujui tindakan orang tua kita, mudah

saja. Batalkan dan habis perkara, tak perlu dibingungkan.”

Mendengar ini, sekali itu juga hati Ouwyang Bun

memberontak dan ingin sekali ia meloncat dan memegang

tangan gadis itu dan mengakui bahwa ia setuju sekali

dengan ikatan jodoh itu, tapi karena ia sedang merasa

hancur hatinya teringat kepada adiknya yang mengambil

jalan lain, ia tak kuasa menjawab kata-kata Cui Sian, hanya

berkata lirih berkali-kali,

“Bu-te…. Bu-te…..”

Ketika Ouwyang Bun mengangkat mukanya, ternyata

Cui Sian telah lenyap dari situ. Ia cepat berdiri memandang

ke sekitarnya, tapi keadaan di situ sunyi senyap. Sementara

itu, hari telah berobah senja dan keadaan telah mulai gelap.

Tiba-tiba dari timur tampak beberapa orang berlari cepat

sekali ke arahnya dan empat orang telah berada di

hadapannya. Mereka ini adalah perwira-perwira Sayap

Garuda dan tanpa banyak cakap lagi mereka menyerang

Ouwyang Bun yang masih merasa setengah sadar karena

pukulan kesedihan tadi, cepat menggunakan pedangnya

melakukan perlawanan. Ternyata empat orang pahlawan

keraton ini sangat hebat dan segera ia terkurung rapat.

Sementara itu, musuh datang lebih banyak. Ouwyang Bun

maklum bahwa ia takkan tertolong lagi, karena terlalu

banyak musuh pandai mengurung dan menyerangnya,

bahkan di antara mereka ini tampak Kin Keng Tojin, tokoh

Go-bi-san yang bertubuh bongkok dan rambutnya yang

panjang diikal ke atas. Inilah tosu yang pernah ia jumpai di

medan pesta Gak Liong Ek dulu, dan ternyata pendeta

inipun telah menjadi kaki tangan kaisar pula.

Karena terkurung rapat-rapat sedangkan ia hanya

seorang diri, Ouwyang Bun menjadi nekat. Ia mainkan

pedangnya sedemikian rupa dan ia kerahkan seluruh tenaga

dan kepandaian hingga sampai dua-ratus jurus ia masih

tetap dapat mempertahankan diri, biarpun tubuhnyalah

merasa lemas dan lelah sekali.

Ia telah menerima hantaman tiga kali, yakni sekali

bacokan golok yang meleset dan melukai kulit pundaknya,

sedangkan dua kali lagi pukulan toya di lengan kiri dan

pinggang. Tapi berkat semangatnya yang menyala-nyala

dan kenekatannya yang luar biasa, ia belum juga dapat

Akhirnya kedua matanya menjadi gelap, pandangan

matanya kabur dan kepalanya pening, sepasang lengannya

terasa lemah tak bertenaga dan kedua kakinya terhuyunghuyung

ke belakang. Ia hanya mendengar suara ketawa dan

bentakan-bentakan lawannya di sekelilingnya yang tiba-tiba

terhenti dan akhirnya semuanya tampak hitam karena ia

telah pingsan.

0odwo0

Ketika sadar kembali, Ouwyang Bun mendapatkan

dirinya terbaring di atas sebuah dipan bambu yang

bertilamkan kain putih bersih dan pinggirnya berenda.

Bantal yang mengganjal kepalanya terbungkus sutera merah

bersulam kembang-kembang mawar indah sekali. Bantal itu

mengeluarkan bau harum dan sedap menyegarkan.

Ouwyang Bun merasa seakan-akan dalam mimpi. Tanpa

menggerakkan kepala, kedua matanya bergerak ke

sekelilingnya. Ternyata ia berada di dalam sebuah kamar

segi empat yang terbuat dari bilik bambu sederhana. Di

sebelah kirinya terdapat lubang jendela yang tak berapa

besar dan dari jendela itu masuklah angin berhembus

perlahan menggerak-gerakkan sutera hijau yang tergantung

di belakang jendela. Dari atas sutera hijau itu, ia hanya

dapat melihat langit yang biru muda terhias awan-awan

putih berkelompok-kelompok.

Tiba-tiba teringatlah ia akan pertempuran hebat dan

teringatlah ia betapa ia terluka karena dikeroyok oleh

jagoan-jagoan keraton. Maka ia segera menggerakkan

kedua lengannya. Lengan kanannya dapat digerakkan

seperti biasa, tapi lengan kirinya terasa sakit sekali ketika ia

gerakkan, terutama di bagian pundak. Ketika ia raba

pundaknya, ternyata bahwa bagian tubuh itu telah dibalut.

Di manakah dia? Demikianlah otaknya mulai berpikir

dan ia bangkit dengan perlahan lalu duduk di atas dipan itu.

Pada saat itu, daun pintu di sebelah kanannya terbuka

perlahan dan seorang gadis masuk dengan langkah kaki

perlahan dan halus. Gadis itu membawa sebuah nampan

berisi cawan kosong dan poci air teh, dan sebuah mangkuk

berisi obat. Ketika pandang mata mereka bertemu, hampir

saja Ouwyang Bun berseru karena herannya. Ia merasa

seakan-akan berhadapan dengan seorang bidadari yang baru

saja turun dari kahyangan. Demikian cantik, demikian

manis dengan pakaiannya yang sederhana. Senyumnya

menghias mulut yang indah bentuknya itu, sepasang

matanya berseri-seri dan bercahaya bagaikan bintang pagi,

dan begitu lemah gemulai. Ouwyang Bun hampir tak

percaya kepada mata sendiri, tapi tak terasa pula bibirnya

bergerak memanggil,

“Cui Sian……”

Gadis yang sedang berdiri dan memandang padanya itu

tiba-tiba menundukkan mukanya yang berobah menjadi

kemerah-merahan dan tangan berkulit putih halus itu

menggigil hingga cawan kosong di atas nampan berbunyi

berkerotekan. Benarkah ini Cui Sian, gadis yang biasanya

berpakaian laki-laki, gadis yang gagah perkasa, yang telah

mendapat kekuasaan memimpin barisan pemberontak, yang

biasa menghadapi musuh banyak dengan tenang dan

sepasang pedang di tangan. Benarkah tangan yang biasanya

pandai mengayun dan mempermainkan pedang itu kini

gemetar menggigil untuk membawa sebuah nampan kosong

saja?

Ternyata bahwa dara ini memang benar Cui Sian

“Ouwyang-taihiap, kau sudah sadar?” tanyanya. Aneh

sekali pendengaran telinga Ouwyang Bun, suara gadis

inipun berobah, merdu halus dan bagaikan kicau murai di

waktu pagi.

“Cui Sian….. moi-moi, masih perlukah kau panggil aku

dengan segala taihiap-taihiapan?” Ouwyang Bun berkata

Muka gadis itu makin merah dan ia mengerling kepada

pemuda itu dengan sudut matanya.

“Baiklah, Bun-ko,” jawabnya perlahan hampir tak

terdengar, kemudian setelah menghela napas untuk

menenteramkan hatinya yang berdebar-debar tadi, ia

berkata lagi, kini dengan suara biasa, “Bun-ko, minumlah

dulu obat ini.”

Semenjak kecil Ouwyang Bun memang paling benci

minum obat-obat yang tak sedap rasanya, apalagi kalau

yang pahit. Mendengar bahwa ia harus minum obat

semangkuk penuh itu, ia kenyitkan hidungnya dan belum

apa-apa ia telah merasa mau muntah.

“Haruskah kuminum obat itu, moi-moi?” tanyanya.

Melihat wajah pemuda itu, Cui Sian tertawa geli. “Tentu

saja harus kau minum, apa kaukira aku bersusah payah

masak obat ini hanya untuk main-main saja?”

“Eh, kau memasak obat untukku, adikku yang baik? Dan

kau…. kau rawat aku dengan baik pula, ah…. sungguh kau

baik sekali, moi-moi….”

“Hush….. sudahlah, minum dulu obat ini dan jangan

membantah.” setelah gadis itu meletakkan nampan di atas

meja kecil, lalu mengambil mangkuk obat itu dan

menghampiri Ouwyang Bun. Dari pakaian gadis itu keluar

bau harum’yang sama dengan bau harum bantalnya, maka

Ouwyang Bun memejamkan mata sebentar dan menarik

napas dalam, lalu dengan menurut sekali ia terima

mangkuk itu, menutup matanya rapat-rapat lalu sekali

tuang habislah obat semangkuk itu.

“Nah, begitu baru baik,” gadis itu memuji dan cepat

mengambil mangkuk kosong itu menuangkan teh di dalam

cawan kecil yang kemudian disodorkan kepada pemuda itu,

“dan ini obat penawar pahit,” katanya sambil tersenyum

dan memandang penuh mesra. Ouwyang Bun juga tak

membantah dan meminum habis teh itu.

“Sekarang, kau ceritakan semuanya kepadaku, moi-moi,”

ia lalu menuntut, tapi cepat disambungnya, “eh, jangan kau

berdiri saja, duduklah…..” Pemuda itu merasa bingung

karena ia merasa tidak sepantasnya kalau mereka duduk

berdua di atas pembaringan, sedangkan di situ tidak ada

bangku atau kursi. Maka ia lalu cepat turun dari

pembaringan. Pinggangnya terasa agak sakit, tapi

ditahannya, lalu ia berdiri dan berkata lagi,

“Nah, kau duduklah di situ biar aku berdiri saja.”

Cui Sian tersenyum geli. “Kau berbaring saja, Bun-ko.

Lukamu belum sembuh benar, tidak boleh turun dari

pembaringan. Biar aku duduk di pinggir pembaringan.”

Karena memang pinggangnya terasa sakit dan kepalanya

masih pusing, Ouwyang Bun lalu merebahkan diri lagi, dan

tanpa malu-malu lagi Sui Cian duduk di pinggir

“Moi-moi… bukannya aku tak suka, tapi…. tapi kalau

terlihat orang lain… bolehkah kau duduk di pinggir

pembaringanku?” sambil berkata demikian pemuda itu

menjauhkah diri sedapat mungkin dan mukanya menjadi

merah sekali.

Cui Sian menggunakan ujung lengan bajunya untuk

menutup mulutnya dan menahan geli hatinya.

“Koko, sungguh kau… menggemaskan. Tiga hari aku

terus-menerus menjagamu di sini dan sekarang kau hendak

melarang aku duduk di sini?”

“Apa? Tiga liari kau menjagaku di sini? Seorang diri?

Dan di mana kawan-kawan yang lain?”

“Sabar, koko. Ketahuilah, ketika kau dengan matimatian

dan gagah berani menghadapi keroyokan beberapa

perwira Sayap Garuda dan berada dalam keadaan yang

berbahaya sekali, kebetulan aku dan kawan-kawan datang.

Untung pada waktu itu suhuku juga ada di antara kami

hingga beliaulah yang menolongmu dari bahaya maut.

Kalau tidak ada suhu, kiraku sukar menolongmu, karena

pengeroyok-pengeroyokmu adalah jago-jago keraton yang

berkepandaian tinggi.”

“Aduh, kalau begitu aku berhutang budi kepada

suhumu.”

“Stt, siapa bicara perkara budi? Dengarlah baik-baik

ceritaku,” gadis itu menyela. “Setelah kami berhasil

memukul mun dur mereka semua, kami lalu membawamu

ke sini yang terpisah hampir limapuluh li dari tempat kau

bertempur. Suhu lalu memeriksamu dan ternyata kau

mendapat beberapa luka yang berat juga. Kata suhu, kau

akan pingsan sampai dua atau tiga hari karena selain

mendapat luka dan terlampau lelah, kau juga menderita

tekanan hatin hebat hingga jantungmu terganggu.”

“Aah, suhumu sungguh pandai luar biasa seperti seorang

dewa,” kata Ouwyang Bun dengan kagum.

“Suhu lalu memberi obat dan beliau segera pergi karena

mempunyai tugas penting di kota raja, sedangkan semua

kawan-kawan juga harus segera menggabungkan diri

dengan kawan-kawan lain untuk bersiap sedia menanti

perintah penyerbuan besar-besaran ke kota raja. Karena kau

harus dirawat baik-baik seperti perintah suhu, maka aku

lalu memberikan tugasku kepada Siauw Leng dan aku

sendiri tinggal merawatmu.”

“Ah, moi-moi, adikku yang manis,” Ouwyang Bun

berbisik terharu sambil memegang tangan gadis itu dan

tanpa disadarinya ia mencium tangan yang halus dan

hangat itu.

Untuk beberapa lama Cui Sian membiarkan saja

tangannya dipegang tapi kemudian ia menarik tangannya

sambil berkata lagi.

“Koko, menurut kata suhu, setelah empat hari barulah

kau boleh melakukan.perjalanan. Aku mempunyai tugas

penting, yakni memimpin kawan-kawan mencari dan

menggabungkan diri dengan induk kesatuan. Maka,

terpaksa besok pagi-pagi aku pergi dari sini.”

Ouwyang Bun terkejut. “Pergi ke mana, moi-moi?”

“Menyusul kawan-kawan. Ke mana lagi?”

“Aku juga ikut pergi,” katanya dengan suara tetap.

Cui Sian mengangkat telunjuknya. “Ingat, koko, aku

menunaikan tugasku untuk menyerbu ke kota raja.”

“Akupun hendak ikut menyerbu dan bertempur di

sampingmu.”

“Ingat, koko. Tidak ada yang memaksa kau untuk ikut

menggabungkan diri menjadi pemberontak.”

“Tidak ada yang memaksa, dan kau bukanlah

pemberontak. Kau adalah seorang patriot wanita, semua

kawan adalah patriot-patriot gagah sejati. Aku sekarang

mengerti dan tahu akan isi perjuanganmu, moi-moi.”

“Tapi, koko, janganlah kau berobah pikiran hanya

karena ada aku. Ingatlah bahwa kau akan berhadapan

dengan susiokmu, bahkan mungkin dengan ….. adikmu

sendiri.”

Mendengar adiknya disebut-sebut, Ouwyang Bun

menghela napas dan berkata perlahan, “Sayang…. sayang

sekali Bu-te tidak berada di sampingku….”

“Memang, aku juga sangat menyayangkan, koko.

Ketahuilah, dari berita para pe nyelidik kita, aku mendapat

kabar bahwa adikmu kini telah diangkat menjadi tangan

kanan Cin-ciangkun.”

Ouwyang Bun makin sedih mendengar ini.

“Dan diberi tugas mengepalai barisan yang menjaga

benteng Kwi-ciok-bun di sebelah selatan kota raja.

Kabarnya benteng nya besar dan kuat sekali dan merupakan

perintang besar sekali bagi kawan-kawan kita.”

“Dan kau serta kawan-kawanmu hendak menyerbu ke

sana?” tanya Ouwyang Bun.

“Memang tugas kita harus melalui benteng itu.”

“Kalau begitu, aku ikut. Biarlah, kalau perlu aku

berhadapan dengan adikku sendiri. Mungkin aku dapat

menyadarkannya sebelum terlambat.”

Sehari itu mereka bercakap-cakap dan pada kesempatan

ini Can Cui Sian menceritakan riwayatnya secara singkat.

Ternyata bahwa Can Lim Co, ayah Cui Sian dan Siauw

Leng, setelah harta bendanya habis dan menjadi miskin,

pindah ke Tung-han dan mendiami rumah sederhana. Pada

suatu hari, ketika hujan turun dengan lebatnya, di depan

rumah keluarga Can itu tampak meneduh seorang kakek

yang memikul keranjang obat. Kakek itu menggunakan

ujung lengan bajunya untuk menghapus air hujan yang

menimpa kepala dan mukanya, lalu mengucapkan syair

dengan suara riang sambil memandang air yang mengucur

dari atas.

Kata orang purbakala

mendung timbul dari samudera

mendung jadi hujan

dan air mengalir masuk sungai

sungai bergerak maju

dan akhirnya masuk ke samudera kembali

Alangkah adilnya kekuasaan alam

segala sesuatu

pasti kembali ke asal semula.

Kebetulan pada waktu itu Can Lim Co sedang duduk di

dekat jendela sambil memandang air hujan juga. Can Lim

Co adalah seorang sastrawan yang tentu saja pandai akan

sastra dan syair. Mendengar syair yang diucapkan orang

dari luar ini, ia merasa kagum dan tertarik sekali. Segera ia

keluar dan dengan ramah-tamah mempersilakan kakek

tukang obat itu masuk.

Kakek itu ternyata adalah Sin-liong Ciu Pek In si Naga

Sakti yang tidak hanya hebat sekali ilmu pedangnya. juga

seorang ahli ilmu pengobatan yang pintar dan sakti. Ciu

Pek In segera menjadi sahabat baik Can Lim Co karena

keduanya suka akan syair-syair kuno, maka semenjak saat

itu, seringkali Ciu Pek In mengunjungi sahabatnya itu.

Kemudian, karena Can Lim Co juga berjiwa patriot,

melihat keadaan negara dalam kacau dan tahu bahwa Ciu

Pek In adalah seorang pendekar gagah perkasa, orang she

Can ini minta kepada sahabatnya untuk menerima kedua

anak perempuannya sebagai murid.

Ternyata kedua anak perempuannya, Cui Sian dan

Siauw Leng, memang mempunyai bakat baik hingga

mereka mudah £apat menerima pelajaran silat tinggi dari si

Naga Sakti. Ketika pemberontakan pecah di mana-mana,

sebagai seorang pen cinta bangsa Ciu Pek In juga ikut

membantu pergerakan untuk meruntuhkan kekuasaan raja

lalim dan para pemimpin jahat, sedangkan dua orang

muridnya itu-pun mendapat izin dari orang tuanya untuk

membantu pula.

Mendengar cerita Cui Sian, Ouwyang Bun merasa

kagum sekali dan tiada habisnya memuji ayah. gadis itu

sebagai seorang yang berjiwa patriot.

“Sayang sekali ayahku tidak berpemandangan demikian,

dan lebih sayang lagi bahwa Bu-te juga tidak menginsyafi

hal ini,” katanya sambil menghela napas.

Pada keesokan harinya, ternyata kesehatan Ouwyang

Bun telah pulih kembali dan luka-lukanya sudah hampir

sembuh. Keduanya lalu berangkat meninggalkan tempat itu

dengan naik dua ekor kuda yang memang sengaja

disediakan dan ditinggalkan di situ untuk mereka berdua.

Mereka memacu kudanya cepat-cepat untuk dapat

menyusul kawan-kawan yang telah mendahului mereka

empat hari yang lalu. Karena kawan-kawannya telah

berangkat lebih dulu, maka di mana-mana Cui Sian

mendapat bantuan orang kampung dan mudah saja baginya

mencari tahu dari mereka ini ten-r tang perjalanan kawankawannya

dan tentang pergerakan tentara negeri yang

beraksi mengadakan pembersihan.

Melihat sikap gadis itu kepada orang-orang kampung,

makin kagumlah hati Ouwyang Bun dan ia makin yakin

para pemberontak memang berada di pihak yang benar dan

Tiga hari kemudian, ketika mereka sedang melarikan

kuda dengan cepat menyeberangi sebuah hutan, tiba-tiba

dari depan terdengar suara kaki kuda dilarikan dengan

cepat dan sebentar saja tampak penunggang kuda itu dari

“Siong-lopeh, kau hendak ke mana?” tiba-tiba Cui Sian

menegur dengan suara nyaring dan ramah.

“Twa-lihiap, aku sengaja hendak menyusul dan

menyambut engkau.” kata orang tua itu. Memang di antara

kawan-kawannya itu, Cui Sian dipanggil twa-lihiap dan

Siauw Leng dipanggil ji-lihiap, bahkan kadang-kadang Cui

Sian mendapat julukan It-to-bwee.

“Apakah ada kejadian-kejadian yang penting, Sionglopeh?”

tanya gadis itu dengan sikap tenang-tenang saja.

“Perjalanan kita terhalang oleh barisan besar yang kuat.

Telah dua kali terjadi pertempuran, tapi pihak musuh

terlampau kuat dan jumlahnya jauh lebih besar. Ji-lihiap

memerintahkan kami supaya mundur dan bersembunyi di

dalam hutan-hutan dan tidak boleh menyerang sebelum kau

datang. Karena kami merasa gelisah menghadapi musuh

yang kuat dan banyak, kami lalu mengambil keputusan

untuk menyusulmu dan aku yang mendapat tugas ini.

Kebetulan sekali kita bertemu di sini, twa-li-hiap.”

Suara gadis itu tetap tenang ketika ia – bertanya,

“Bagaimana perbandingan jumlah tenaga dan siapa yang

memimpin pihak musuh?”

“Jumlah musuh menurut para penyelidik kita adalah

lebih dari tigaratus orang sedangkan kita hanya berjumlah

enampuluh. Pemimpin pihak lawan adalah seorang perwira

baru yang masih muda dan memiliki kepandaian silat

tinggi. Kabarnya ji-lihiap kenal padanya dan kalau tidak

salah perwira itu adalah keponakan Cin-ciangkun sendiri.”

“Apa?” Ouwyang Bun tak tahan lagi berseru dengan

kaget. Tentu adiknyalah perwira itu.

Tapi Cui Sian lebih tenang dan berkata, “Kalau begitu,

mari kita menemui kawan-kawan secepatnya, lopeh,” dan

kepada Ouwyang Bun ia berkata,

“Koko, mari kau ikut.”

Biarpun anggauta pemberontak she Siong itu merasa

heran mendengar panggilan Cui Sian kepada pemuda itu

namun ia tidak berani membuka mulut, dan ketiganya lalu

memacu kuda secepatnya. Orang she Siong itu berjalan

paling depan sebagai penunjuk jalan, Cui Sian di

belakangnya dan Ouwyang Bun di belakang sekali.

Setelah membalapkan kuda hampir setengah hari dan

hari telah menjadi gelap, barulah mereka sampai di tempat

tujuan yakni sebuah hutan pohon pek yang lebat sekali. Di

tengah-tengah hutan itulah para anggauta pemberontak

menyembunyikan diri. Ketika Cui Sian datang, semua

orang merasa gembira sekali dan lega, karena dengan

adanya pendekar wanita ini di antara mereka, maka hati

mereka menjadi lebih tabah.

Siauw Leng menyambut encinya dengan girang

kemudian memeluknya. Gadis lincah itu lalu menjura

kepada Ouwyang Bun dan berkata dengan wajah sungguhsungguh

dan lenyaplah untuk saat itu sifatnya yang nakal,

“Ouwyang-taihiap, sungguh-sungguh aku merasa girang

dan lega sekali melihat kau suka datang di tempat ini

bersama cici.”

Kemudian, enci dan adik itu serta beberapa orang yang

dianggap sebagai pembantu, mengadakan rapat di dekat api

unggun. Di sekeliling api itu ditutup dengan kain tebal

hitam hingga dari jauh api itu takkan tampak oleh musuh.

Ouwyang Bun ikut duduk di situ, tapi ia hanya

mendengarkan saja segala percakapan mereka.

Setelah mendengar laporan-laporan para pembantunya,

Cui Sian memeras otaknya yang cerdas lalu mengatur

“Kawan-kawan kita yang berjumlah e-nampuluh ini kita

bagi menjadi tiga kelompok. Empatpuluh orang besok pagipagi

sekali ikut dengan aku sendiri menyerbu musuh di luar

hutan. Kalau jumlah mereka bertambah, aku pimpin

empatpuluh orang kawan ini mundur dan melarikan diri ke

dalam hutan untuk memancing mereka mengejar sampai di

tempat yang banyak terdapat pohon siong besar yang

kulihat di sana tadi. Di belakang pohon-pohon itu, Siauw

Leng harus memimpin sepuluh orang yang pandai

menggunakan anak panah dan menunggu sampai musuh

yang mengejarku tiba di situ lalu menghujani anak panah

tanpa memperlihatkan diri. Tentu keadaan mereka menjadi

kacau dan banyak korban jatuh. Kalau mereka melarikan

diri dan kembali hendak ke luar hutan, maka Lui-twako

yang memimpin sepuluh orang kawan lain harus

menyergap mereka dengan anak panah pula dari depan

hingga mereka seakan-akan terkurung tanpa mengetahui

jumlah kita yang sesungguhnya. Aku sendiri akan

memimpin kawan-kawanku untuk menyerbu kembali

hingga mereka betul-betul menjadi kacau-balau.”

Semua orang mendengarkan perintah i-ni dengan penuh

perhatian, sedangkan Ouwyang Bun merasa kagum sekali.

Pada keesokan harinya semua orang telah bersiap

melakukan tugas masing-masing. Ouwyang Bun menemui

Cui Sian dan bertanya,

“Moi-moi, aku tentu boleh ikut denganmu, bukan?”

“Lebih baik jangan, koko. Siapa tahu, jangan-jangan

adikmu sendiri yang akan maju memimpin pengejaran

nanti, dan jika ia melihat kau, ia akan menjadi curiga dan

siasatku mungkin akan gagal. Biarlah kau mengamat-amati

saja dan membantu bila di antara kawan kita ada yang

terkurung atau terancam bahaya.”

“Tapi kau harus berlaku hati-hati, moi-moi, jangan kau

pandang ringan adikku itu dan…. dan.,,, sedapat mungkin

janganlah kau…. celakakan dia.”

Cui Sian memandang pemuda itu dengan mata sayu.

“Apa dayaku, koko? Dalam keadaan seperti ini apakah

masih perlu perasaan perseorangan diutamakan?” Ouwyang

Bun menghela napas dan tak men jawab karena ia maklum

sepenuhnya akan maksud kata-kata gadis itu.

Setelah memberi pesan terakhir kepada kawan-kawannya

dan mengatur persiapan-persiapan untuk menjalankan

siasat itu, Cui Sian lalu memimpin kawan-kawannya untuk

menyerbu perkemahan serdadu negeri yang menjaga di luar

hutan dalam tenda-tenda berwarna hijau. Kurang lebih

tigaratus orang serdadu itu memang dipimpin sendiri oleh

Ouwyang Bu. Bagaimanakah nasib pemuda gagah ini yang

ditinggal pergi oleh kakaknya yang ia kasihi?

Setelah Ouwyang Bun pergi, Ouwyang Bu merasa sangat

sedih, akan tetapi karena kasih dan cintanya kepada Lie

Eng jauh lebih besar daripada kasih sayangnya kepada

kakaknya itu, maka kenyataan bahwa ia dapat selalu

berdampingan dengan gadis itu yang banyak menghibur

-00oodwoo00-

Jilid VI

SEMENTARA itu, semenjak kepergian Ouwyang Bun,

Lie Eng menjadi pendiam. Wajahnya yang cantik itu

tampak muram saja dan ia jarang tersenyum, kecuali kalau

sedang bicara dengan Ouwyang Bu, karena diam-diam ia

merasa sangat kasihan kepada pemuda ini. Ia tahu bahwa

pemuda ini sekarang menaruh seluruh pengharapannya

kepada dia seorang, maka tidak sampai hatinya untuk

menolak cinta Ouwyang Bu, biarpun ia juga tidak

menyatakan bahwa ia menerima atau membalas cinta itu.

Diam-diam gadis ini masih mengingat dengan hati penuh

rindu Kepada Ouwyang Bun, pemuda idaman hatinya itu.

Setelah Ouwyang Bun pergi, Lie Eng dan Ouwyang Bu

tiada bernapsu lagi untuk melanjutkan perantauan mereka,

maka langsung mereka menyusul pasukan yang dipimpin

oleh Cin Cun Ong. Beberapa hari kemudian mereka dapat

menyusul pasukan itu karena Cln-ciangkun menggerakkan

pasukannya sambil melakukan pembersihan di sana-sini.

Sambil berlutut Ouwyang Bu memintakan ampun untuk

kakaknya yang telah pergi tanpa pamit itu. Cin Cun Ong

menghela napas dan diam-diam ia merasa menyesal karena

ia sungguh mengharapkan tenaga anak muda itu, tapi

mulutnya berkata,

“Tidak apalah, memang segala sesuatu tidak dapat

dipaksakan. Mungkin dia mempunyai pendapat lain.

Mudah-mudahan saja dia tidak mengambil jalan

berlawanan dengan jalan kita. Dan kau sendiri bagaimana?”

“Teecu sudah berjanji hendak membantu pekerjaan

susiok sampai titik darah peng habisan.” sambil berkata

demikian pemuda itu melirik ke arah Lie Eng yang berdiri

di dekat ayahnya bagaikan patung, seakan-akan pikirannya

melayang-layang pergi jauh dari tubuhnya.

Cin Cun Ong adalah seorang kang-ouw yang sudah

ulung dan banyak punya pengalaman. Ia maklum bahwa

saudara kembar she Ouwyang itu mempunyai hubungan

persaudaraan yang luar biasa. Dan kalau ada sesuatu yang

mampu memisahkan mereka berdua, maka sesuatu itu

tentulah seorang wanita. Dan dalam hal ini, siapakah lagi

kalau bukan Lie Eng anak gadisnya sendiri?

“Ouwyang Bu, baik sekali kalau pendirianmu demikian.

Aku percaya penuh kepadamu. Ketahuilah, sekarang ini

dari sekeliling jurusan yang menuju ke kota raja, telah

penuh dengan barisan pemberontak yang bergerak dengan

sembunyi-sembunyi. Menurut perhitunganku, yang

berbahaya adalah barisan-barisan pemberontak yang

bergerak dari timur dan utara. Maka kebetulan sekali

kedatanganmu ini. Aku akan menjaga di sebelah timur dan

kau menjaga di sebelah utara. Karena kau belum

berpengalaman, maka biarlah Lie Eng membantumu.”

Bukan main girang hati Ouwyang Bu, bukan terlalu

girang karena diberi tugas besar yang berbahaya itu, tapi

gembira karena gadis yang dicintainya itu dijadikan

pembantunya. Cin Cun Ong dapat melihat sinar bahagia

memancar dari muka pemuda itu, maka dugaannya makin

tebal. Tapi ketika ia menengok dan memandang muka Lie

Eng, gadis itu menyambut perintah ini dengan dingin saja,

walaupun ia berkata,

“Aku akan girang sekali kalau dapat membantu Bu-ko.”

“Kalian harus memimpin barisan yang kini sudah berada

di benteng Liok-kwa-shia. Di situ terdapat seribu orang

tentara di bawah pimpinan Gui-ciangkun. Kau bawalah

suratku untuknya dan boleh ambil alih pimpinan dan

angkatlah ia menjadi pembantumu. Biarpun kepandaian

Gui-ciangkun tidak berapa tinggi, namun ia dapat

memimpin anak buahnya dan ia cukup setia. Ingat,

kewajiban kalian hanya untuk menjaga daerah itu yang

panjangnya lima li dan jangan bergerak terlalu jauh.

Ingatlah baik-baik akan gerak-gerik barisan pemberontak

yang menggunakan taktik perang secara sembunyisembunyi

dan jangan percaya kepada segala petani dan

pengemis. Mereka ini mungkin sekali adalah anggautaanggauta

pemberontak atau mata-mata. Pendeknya,

tanggung jawab benteng itu kuserahkan kepadamu dan hatihatilah

jangan sampai pemberontak dapat menerobos dan

melewati benteng itu.”

Setelah menerima nasihat-nasihat banyak sekali dari

panglima tua yang ulung itu, Ouwyang Bu dan Lie Eng

berangkat dengan diiringkan oleh satu regu tentara pilihan.

Ouwyang Bu mengenakan pakaian perwira kelas satu yang

terbuat dari kain berwarna hijau dengan sulaman-sulaman

kuning. Topinya dihias benang emas hingga berkilauan

kena cahaya matahari sedangkan pedangnya digantungkan

di pinggang. Ia tampak gagah sekali dan untuk sesaat Lie

Eng memandang padanya dengan mata mesra karena

Ouwyang Bu memang dalam hal rupa dan bentuk badan

serupa benar dengan Ouwyang Bun. Juga Lie Eng

berpakaian sebagai seorang panglima wanita, tapi ia tidak

menggantungkan sepasang pedangnya di pinggang. Ia lebih

suka mengikatkan pedangnya itu di punggungnya hingga

dilihat dari depan, hanya gagang pedang saja yang nampak

mengintai dari balik bahunya.

Kedatangan mereka disambut oleh Gui Li Sun atau Guiciangkun,

panglima yang tinggi besar itu. Gui-ciangkun

tentu saja merasa tidak puas dan kecewa sekali ketika ia

harus menyerahkan pimpinan benteng itu kepada Ouwyang

Bu. Anak muda yang baru saja masuk lingkungan

ketentaraan itu dan belum mempunyai pengalaman perang

sama sekali, telah diserahi tugas ini? Sungguh gemas sekali

hati Gui Li Sun dan kalau ia tidak ingat bahwa Ouwyang

Bu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari padanya,

pula kedatangan anak muda itu membawa surat perintah

dari Cin-ciang-kun, bahkan Cin Lie Eng juga ikut

membantu, tentu ia akan memperlihatkan rasa menyesal

dan marahnya. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apa-apa

selain memberi hormat secara militer kepada Ouwyang Bu

yang semenjak saat itu menjadi pemimpinnya.

Dengan bantuan Lie Eng dan Gui Li Sun, Ouwyang Bu

mengadakan peraturan baru yang keras pada seluruh anak

buahnya dan penjagaan dilakukan lebih kuat lagi.

Semenjak Ouwyang Bu menjabat pimpinan di situ, benar

saja para pemberontak yang hendak menerobos daerah itu

selalu dapat digagalkan. Telah lebih dari lima kali

rombongan-rombongan kecil pemberontak yang lewat di

situ dapat digagalkan bahkan dihancurkan. Beberapa orang

pemberontak yang berkepandaian tinggi tidak kuat

menghadapi Ouwyang Bu yang dibantu oleh Lie Eng, pula

tidak dapat melawan barisan yang besar jumlahnya dan

dapat menerobos penjagaan yang sangat kuat itu.

Di waktu tidak ada serbuan pemberontak, tiap hari

Ouwyang Bu melatih semua anak buahnya dengan latihanlatihan

main senjata. Ia sengaja menurunkan kepandaian

silat yang praktis dan yang mudah dipelajari serta dapat

digunakan pada saat terjadi pertempuran.

Dan pada suatu hari sampailah pasukan pemberontak

yang dipimpin oleh Siauw Leng ke benteng itu. Berbeda

dengan serbuan-serbuan pemberontak yang sudah-sudah,

pasukan Siauw Leng ini ternyata cukup kuat hingga ketika

terjadi pertempuran pertama di antara mereka, banyak juga

serdadu penjaga jatuh menjadi korban. Keadaan penjagaan

menjadi kacau dan mendengar akan kehebatan para

pemberontak yang kali ini menyerbu bentengnya, Ouwyang

Bu menjadi marah dan ia sendiri ikut bertindak. Alangkah

marahnya ketika ia melihat bahwa yang menyerang adalah

pemberontak-pemberontak yang dipimpin oleh gadis yang

pernah mengadu kepandaian dengan dia dulu itu. Ia

menjadi terkejut dan berlaku hati-hati sekali. Diam-diam ia

atur barisannya untuk mengepung, dan ia sendiri bersama

Lie Eng lalu menyerbu hingga rombongan pemberontak itu

terpukul mundur dan melarikan diri ke dalam hutan.

Karena tahu bahwa rombongan itu terdiri dari banyak

orang-orang pandai yang perlu sekali dibasmi agar tidak

membahayakan pertahanan bentengnya, Ouwyang Bu lalu

mengejar mereka ke dalam hutan. Per tempuran seru terjadi

berkali-kali dan pihak pemberontak selalu terdesak hingga

mundur dan dikejar terus.

“Sudah, Bu-ko. Jangan-jangan kita kena dipancing.” Lie

Eng memperingatkan ketika mereka mengejar sampai di

pinggir hutan lain yang lebat dan gelap.

Ouwyang Bu berkata dengan penuh napsu,

“Eng-moi, biarlah kita bergiliran menjaga di sini dengan

tigaratus orang tentara. Kita dapat mendirikan tenda-tenda

di sini, karena kalau tempat ini dijaga, maka tak ada

pemberontak dapat mendekati benteng. Juga, pada siang

hari kita dapat mengejar ke dalam hutan dan membasmi

mereka semua.”

Karena Ouwyang Bu yang memegang pucuk pimpinan,

maka Lie Eng hanya menurut saja. Tigaratus orang tentara

dikerahkannya dan di situ didirikan perkemahan besar. Lie

Eng dari Gui Li Sun diperintahkan menjaga benteng,

sedangkan tigaratus orang tentara itu dipimpin sendiri oleh

Ouwyang Bu.

Keputusan inilah yang membingungkan Siauw Leng dan

kawan-kawannya yang berjumlah enampuluh orang, karena

dengan dijaganya mulut hutan itu, benar-benar mereka tak

dapat keluar.

Demikianlah keadaan Ouwyang Bu, pemuda gagah

perkasa yang terpaksa berselisih jalan dengan kakaknya

karena pengaruh asmara.

O0odwoO

Pada malam itu ketika Ouwyang Bu sedang mengepalai

sendiri anak buahnya melakukan penjagaan di sekitar mulut

hutan itu, maka di tengah-tengah hutan sedang diadakan

perundingan antara Cui Sian dan kawan-kawannya, bahkan

terdapat pula Ouwyang Bun di antara mereka. Seperti telah

diketahui, Cui Sian mengambil keputusan untuk memimpin

sendiri empatpuluh orang pada pagi hari itu dan menyerbu

serta memancing barisan tentara negeri yang menjaga di

luar hutan.

Dengan hati-hati dan cekatan, Cui Sian yang berjalan

paling depan dapat melihat keadaan penjagaan Ouwyang

Bu yang betul-betul kuat dan rapi. Ia memberi tanda kepada

kawan-kawannya dan tiba-tiba sambil memekik nyaring, ia

perintahkan anak buahnya menyerbu di bagian sayap kiri di

mana berkumpul para penjaga terdiri dari kira-kira

limapuluh orang berpencaran di sana-sini.

Mendapat serangan tak terduga-duga yang dilancarkan

pada waktu pagi sekali itu, para perajurit menjadi panik dan

bingung. Sebentar saja di pihak mereka telah jatuh korban

beberapa belas orang. Tapi bala bantuan segera datang,

dikepalai oleh Ouwyang Bu sendiri.

Melihat bahwa yang memimpin penyerbuan itu adalah

Cui Sian, maka panglima muda ini tertawa keras dan

berkata,

“Aah, It-to-bwee sendiri yang mengantarkan jiwa.”

Ouwyang Bu lalu menyerang dengan pedangnya,

dibantu oleh beberapa orang yang berkepandaian cukup

tinggi. Biarpun ia belum tentu kalah menghadapi Cui Sian

seorang diri saja, tapi di dalam peperangan seperti itu, tidak

ada yang harus dibuat malu jika melakukan pengeroyokan,

maka Ouwyang Bu juga tidak melarang anak buahnya

mengeroyok, karena memang ia ingin segera membereskan

pemberontak-pemberontak ini, termasuk juga nona cantik

Cui Sian memang franya ingin memancing mereka saja,

bukan bermaksud hendak bertempur mati-matian, maka

sambil memutar pedangnya menangkis serangan para

lawannya, ia mengeluarkan tiupan yang terbuat dari gading.

Setelah ia meniup benda itu, terdengar suara melengking

yang tinggi dan nyaring dan serentak anak buahnya

meloncat mundur dan melarikan diri ke dalam hutan. Cui

Sian sendiri lalu berkata sambil tertawa,

“Ouwyang Bu, sayang aku tidak ada waktu lebih lama

untuk melayanimu.” Dan sekali loncat, melayanglah

tubuhnya cepat sekali ke atas pohon.

Ouwyang Bu kagum melihat ginkang yang hebat ini, tapi

ia tidak mau kalah. Sambil memberi aba-aba agar semua

anak buahnya mengejar, iapun meloncat mengejar dengan

cepat sekali.

Akan tetapi, biarpun merasa gemas dan marah,

Ouwyang Bu masih dapat mengendalikan perasaannya dan

tidak mau meninggalkan anak buahnya karena ia khawatir

kalau-kalau ia lupa diri dan meninggalkan mereka hingga

jika terjadi penyerbuan dan pencegatan sewaktu-waktu

tidak ada yang memimpin anak buahnya lagi. Ia hanya

berteriak keras agar semua anak buahnya cepat mengejar.

Ouwyang Bu Sama sekali tidak pernah menyangka

bahwa Cui Sian yang sengaja menyuruh kawan-kawannya

berteriak memaki-maki sedang memancing ia masuk ke

Akan tetapi, biarpun Ouwyang Bu tidak sangat cerdik,

namun ia masih teringat sekali tipu muslihat. Oleh karena

pikiran inilah ia menjadi curiga.

Pada saat ia hendak memberi perintah supaya anak

buahnya berhenti dan mundur, tiba-tiba dari depan dan dari

atas pohon datang serangan anak panah yang berhamburan

bagaikan hujan. Ouwyang Bu cepat menggunakan

pedangnya diputar sedemikian rupa hingga .semua anak

panah yang menuju kepadanya dapat dipukul runtuh.

Tapi terdengar pekik-pekik kesakitan dari anak buahnya

yang menjadi korban anak panah hingga Ouwyang Bu

menjadi terkejut dan marah sekali. Ia pungut sebatang golok

dari seorang., anak buahnya yang binasa dan sekali

\angannya bergerak maka golok itu terbang ke atas pohon

dan terdengar jeritan ngeri ketika golok itu dengan tepat

sekali menancap di perut seorang anggauta pemberontak

yang bersembunyi di atas pohon sambil melepaskan a-nak

panah, hingga tubuh itu terjungkal ke bawah.

Tapi datangnya anak panah makin banyak dan korban

yang jatuh di pihak serdadu sampai belasan orang. Maka

Ouwyang Bu lalu meneriakkan aba-aba mundur kepada

anak buahnya yang sudah panik itu. Akan tetapi baru saja

bergerak mundur beberapa puluh langkah, dari sebelah

kanan kiri yang penuh dengan rumpun dan alang-alang,

menyambut pula puluhan anak panah hingga sekali lagi

barisan Ouwyang Bu menjadi kacau dan kocar-kacir.

Sementara itu, sambil berteriak-teriak, pasukan yang

dipimpin oleh Cui Sian maju menerjang lagi, kini dibantu

oleh pasukan Siauw Leng dan pasukan Lui Kok Pauw.

Bukan main marah Ouwyang Bu melihat betapa

tentaranya yang berjumlah banyak itu dapat ditipu hingga

mengakibatkan banyak sekali jatuh korban. Dalam

marahnya ia mempergunakan pedangnya mengamuk

hingga sebentar saja beberapa orang ang-gauta pemberontak

roboh di tangannya. Tapi karena ia merasa khawatir kalaukalau

masih banyak pemberontak yang bersembunyi dan

menyangka bahwa jumlah pemberontak yang mengepung

di hutan itu jauh lebih besar daripada sangkaannya semula,

terbukti dari serangan-serangan anak panah yang dilakukan

dari mana-mana, terpaksa Ouwyang Bu memberi perintah

untuk mundur terus dan lari keluar dari hutan itu.

Ketika ia sedang lari, Ouwyang Bu mendengar suara

tertawa merdu dari atas dan ia mengenal suara itu sebagai

suara Cui Sian. Gadis itu tertawa lalu berkata,

“Ouwyang Bu, kau tersesat. Kalau tidak mentaati pesan

kakakmu, pasti hari ini kau telah menemui ajalmu di rimba

ini.” Kemudian sunyi senyap.

Ouwyang Bu terkejut sekali dan menduga bahwa

Ouwyang Bun pasti berada di hutan itu, menggabungkan

diri dengan para pemberontak. la tahu pula bahwa tadi Cui

Sian tentu bicara dari atas sebuah pohon dan menggunakan

tenaga tan-tian hingga suara ketawa dan kata-katanya

terdengar sampai jauh.

Dengan menderita kekalahan besar dan kehilangan

tigapuluh orang lebih, Ouwyang Bu keluar dari hutan itu

dan terus kembali ke benteng, karena ia perlu mengatur

siasat dan merasa bahwa malam ini ia dan barisannya

bermalam di pinggir hutan, banyak sekali bahaya yang

mungkin akan mendatangkan kerugian lebih besar lagi di

Lie Eng menyambut kedatangannya dengan ikut merasa

dendam serta marah. Ia menyatakan penyesalannya

mengapa tidak ikut dalam pertempuran itu. Sebaliknya,

biarpun di luarnya Gui-ciangkun menyatakan menyesal dan

marah, di dalam hati ia mentertawakan kegagalan

Ouwyang Bu.

Ketika berdua saja dengan Lie Eng, Ouwyang Bu lalu

menceritakan pengalaman dan pertempurannya dengan Cui

“Sayang aku tidak mendapat kesempatan untuk

merobohkannya, karena ia keburu mengundurkan diri dan

lari ke dalam hutan,” katanya, kemudian dengan wajah

bersungguh-sungguh ia menyambung ceritanya, “Dan aku

mendapat dugaan keras bahwa Bun-ko berada pula di

dalam hutan itu.”

Bukan main terkejut hati Lie Eng mendengar warta ini.

Memang telah lama ia merindukan Ouwyang Bun dan

seringkali ia termenung dan menduga-duga bagaimana

keadaan pemuda itu dan bagaimana nasib serta di mana ia

berada. Kini mendengar bahwa pemuda kenangannya itu

mungkin berada di dalam hutan yang tampak dari atas

benteng itu, tentu saja ia merasa terkejut dan dadanya

berdebar-debar. Tapi Lie Eng dapat menekan perasaannya

hingga tidak tampak perubahan air mukanya.

Dan Ouwyang Bu sama sekali tidak pernah menyangka

betapa setelah ia pergi ke kamarnya, gadis yang

ditinggalkan seorang diri itu duduk’ termenung seakan-akan

kehilangan semangat dan sampai hari berobah senja gadis

itu tidak bergerak dari tempat duduknya yang tadi.

Sementara itu, kawanan pemberontak di tengah hutan

itu bergembira-ria dan merayakan kemenangan mereka.

Tiada hentinya mereka memuji-muji Cui Sian yang berhasil

siasatnya. Walaupun di pihak mereka terdapat beberapa

orang korban, di antaranya seorang yang tertancap oleh

golok yang dilemparkan oleh Ouwyang Bu, tapi jika

dibanding dengan jumlah korban di pihak musuh, mereka

memang sudah sepatutnya bergembira. Di pihak mereka

hanya dua orang binasa dan lima orang luka, sedangkan

pihak. lawannya yang mati saja sudah tigapuluh orang

lebih, belum yang luka.

Biarpun telah memperoleh kemenangan, namun Cui

Sian tidak berlaku lalai. Ia mengatur penjagaan di sekitar

hutan itu dengan sangat rapi.

Di samping itu ia selalu memikir-mi-kirkan bagaimana

caranya agar ia dapat membawa kawan-kawannya

melewati benteng itu hingga dapat menggabungkan diri

dengan kesatuan induk yang dipimpin oleh pemimpin besar

Lie Cu Seng. Oleh karena ini, ia tidak ikut bergembira-ria

dengan kawan-kawannya, tapi bahkan menjauhkan diri dan

duduk di bawah sebatang pohon pek dengan Ouwyang Bun.

Ia merasa lebih senang dan tenteram untuk duduk dan

bercakap-cakap berdua saja dengan pemuda ini.

“Moi-moi, tadi aku sudah hampir tidak kuat menahan

diri mendengar bahwa Bu-te sendiri yang memimpin

barisan menyerbu ke sini. Aku ingin sekali keluar dan

menemuinya, tapi karena pertempuran berjalan hebat, aku

khawatir kalau-kalau kedatanganku malah akan

mendatangkan salah paham di kedua pihak. Untungnya

kau tidak berlaku kejam dan tidak membinasakan adikku

itu.”

Cui Sian menghela napas. “Adikmu sungguh hebat,

belum tentu aku dapat mengalahkannya. Sayang sekali dia

tidak insyaf, ah, sungguh sayang. Ia akan merupakan

pasangan yang tepat sekali untuk Siauw Leng….” Nona itu

menghela napas, dan Ouwyang Butf juga ikut merasa

Alangkah baiknya kalau Ouwyang Bu dapat berada di

situ bersama dia dan dapat bertemu sebagai tunangan

dengan Siauw Leng, seperti halnya dia dengan Cui Sian.

Diam-diam ia merasa heran sekali akan kebijaksanaan

ibunya dan ibu Cui Sian. Kedua orang tua itu agaknya telah

tahu lebih dulu bahwa mereka akan menjadi pasangan yang

saling mengasihi dan saling mengagumi.

“Betul katakatamu moi-moi. Alangkah bahagianya rasa

hatiku kalau Bu-te dapat bertemu dengan adik Siauw Leng

seperti kau dan aku….”

Cui Sian diam saja dan ia tidak membantah ketika

tunangannya memegang tangannya. “Moi-moi, kau

sungguh mengagumkan. Tidak saja kau lemah lembut dan

baik budi sebagaimana terbukti ketika kau merawat aku di

waktu aku mendapat luka, tapi kau juga gagah perkasa dan

cerdik sekali. Aku heran di mana kau belajar ilmu perang

hingga bisa mengatur siasat yang begitu berhasil siang tadi.

Sungguh-sungguh aku kagum padamu.”

“Ah, kau memuji saja. Apakah artinya kepandaianku

kalau dibandingkan dengan kepandaianmu yang tinggi?”

Pada saat itu bulan telah muncul hingga keadaan yang

remang-remang itu tampak romantis sekali dan sepasang

anak muda itu tenggelam dalam cahaya bulan yang

mendatangkan hikmat gaib bagi para muda yang sedang

dimabok asmara. Biarpun hanya saling berpegang tangan

sambil saling memandang, namun dalam sentuhan jari dan

pertemuan sinar mata ini mereka telah sama-sama

mengutarakan semua isi hati hingga bagi kedua pihak lebih

jelas daripada seribu macam katakata. Mereka demikian

asyik dan masyuk hingga tidak tahu bahwa ada sepasang

mata yang tajam memandang mereka dengan sinar mata

marah, tapi dengan pipi basah oleh air mata.

Pada saat itu terdengar teriakan.

“Tangkap mata-mata musuh.”

Ouwyang Bun dan Cui Sian terkejut sekali dan meloncat

ke arah suara itu. Tiba-tiba mereka melihat bayangan orang

ber kelebat di belakang mereka. Keduanya lalu mengejar:

Dan terdengarlah suara senjata beradu ketika bayangan itu

diserang oleh seorang anggauta penjaga yang tadi melihat

dia mengintai Cui Sian dan Ouwyang Bun.

Ketika dua anak muda itu tiba di tempat pertempuran,

ternyata mata-mata musuh itu ialah Lie Eng sendiri yang

sedang dikeroyok tiga orang penjaga.

“Sumoi..” Ouwyang Bun berseru dan ia cepat meloncat

ke kalangan pertempuran dan berkata keras kepada tiga

orang penjaga yang mengeroyok. “Tahan dulu.”

Lie Eng mengenakan pakaian serba hijau yang kelihatan

hitam ditimpa sinar bulan yang remang-remang itu dan

sepasang tangannya memegang siang-kiam. Sikapnya tegas

sekali dan ia berdiri dengan kedua kaki terpentang dengan

sikap menantang.

“Kau… kau juga menjadi pemberontak?” tegurnya

kepada Ouwyang Bun dengan sikap menghina.

“Sumoi…. kita memang berbeda paham. Kalau kau

sudah tahu akan hal itu, mengapa……. kau malam-malam

ke tempat ini..?”

Tiba-tiba mata dara itu mengeluarkan eatiaya penuh

kemarahan. Sambil menuding ke arah Ouwyang Bun

dengan pedangnya, ia memaki.

“Kau… kau pengkhianat. Kau murid murtad.. Kau tidak

kenal apa artinya bakti dan setia, tidak malu mengkhianati

guru dan susiok sendiri.. Kau….. kau…,” dan tiba-tiba saja

gadis itu menangis karena merasa betapa hatinya hancur

lebur dan krcewa.

Sementara itu, Cui Sian yang mendengar betapa

tunangannya dimaki-maki orang, tentu saja tidak rela.

Apalagi karena ia tahu bahwa gadis ini anak musuh besar

semua hohan dan patriot, maka ia segera meloncat maju

dan membentak,

“Perempuan kasar dan sombong, apa yang kaukchendaki

maka kau berani lancang memasuki daerah kami?

Menyerahlah kau menjadi tawanan kami.”

Tiba-tiba Lie Eng tertawa dengan nyaring dan tinggi.

“Ha, It-to-bwee. Bukalah telinga dan matamu lebar-lebar.

Aku Cin Lie Eng, sengaja datang ke sini untuk mencari

engkau. Aku telah mendengar tentang kegagahan dan

kecantikanmu maka sekarang aku sengaja datang hendak

melihat sendiri kegagahan yang disohor-sohorkan orang itu.

Majulah dan mari kita bertempur sampai seorang di antara

kita mati di ujung pedang.”

Ouwyang Bun terkejut sekali. Tadinya ia hanya

menyangka bahwa gadis yang tabah itu hanya datang untuk

menyelidiki para pemberontak. Tidak disangkanya sama

sekali bahwa sikap gadis itu akan senekat ini dan tiba-tiba ia

dapat. menduga apa yang menjadi sebabnya. Lie Eng tadi

telah mengintainya dan tentu mengerti bahwa ia dan Cui

Sian saling mencintai. Dan inilah agaknya yang menjadi

sebab kenekatan gadis itu dan yang membuat ia menantang

Cui Sian bertanding sampai mati.

“Sumoi……” tegurnya sambil berdiri menghadapi gadis

itu. “Kenapa kau begini nekat? Kenapa kau hendak

mengadu tenaga tanpa alasan? Sumoi…. bukankah Bu-te

menanti-nantimu dan alangkah akan hancur hatinya

kalau…. kalau kau menjadi korban kenekatanmu ini….”

“Diam. Kau perduli apa dengan tindakanku? Aku bukan

sumoimu. Kau….. kau…. pengkhianat…..” kembali ia

terisak, kemudian ia berkata kepada Cui Sian,

“Eh, Cui Sian. Bagaimana? Takutkah kau kepadaku?”

Cui Sian lalu memegang lengan Ouwyang Bun dan

menarik pemuda itu untuk mundur dan Ouwyang Bun

menurut. Kemudian gadis yang tenang sikapnya ini-maju

menghadapi Lie Eng dan berkata dengan suara halus tapi

tetap, “Lie Eng, sekarang aku tahu. Kau… mencintai Bunko….”

“Perempuan rendah, jangan jual obrolan busuk.” Lie Eng

merasa marah sekali dan cepat menusuk dengan

pedangnya, tapi Gui Sian mengelak sambil mundur.

“Nanti dulu, Lie Eng. Dengarlah dulu omonganku.

Memang kau adalah musuhku, musuh semua orang yang

berjiwa patriot dan yang kau sebut pemberontakpemberontak.

Sudah sepatutnya kalau aku menyiapkan

semua kawan untuk membunuhmu. Tapi, terus terang saja

kukatakan bahwa aku mengagumi kau. Aku kagum karena

kau berani dan karena kau berhati… setia.” Kalau tidak

demikian, tak mungkin kau berani datang seorang diri ke

sini. Aku kagum padamu, seperti juga guruku kagum

kepada ayahmu yang gagah perkasa. Tapi melihat sikapmu

ini, aku khawatir bahwa kita berdua terpaksa harus

mengadu pedang sampai penentuan terakhir. Sungguh satu

kehormatan besar, kawan. Memang sayang bahwa justeru

kau yang kukagumilah yang menjadi musuh besarku dalam

hal ini, tapi sebaliknya aku takkan dendam kalau sampai

terjatuh dalam tangan seorang wanita gagah seperti kau.”

Lie Eng adalah seorang gadis yang juga memiliki otak

yang cerdik dan pandangan yang luas, maka biarpun Cui

Sian mempergunakan kata-kata kiasannya yang

mengandung sindiran-sindiran, namun ia dapal menangkap

seluruh isi dan maksudnya. Untuk sesaat ia tak dapat

menjawab karena merasa terharu. Alangkah cerdiknya

gadis ini, pikirnya. Sepintas lalu saja ia telah dapat

membaca seluruh isi hatiku. Bukan main.

“Cui Sian, aku girang bahwa kau juga patut menjadi

lawanku. Kita sama-sama dapat memahami. Nah, cabutlah

pedangmu dan mari kita segera menyelesaikan urusan ini.”

Pada saat itu yang paling bingung adalah Ouwyang Bun.

Ia juga seorang cerdik dan pintar maka tentu saja ia tahu

apa yang hendak dilakukan oleh kedua nona itu dan

mengapa mereka hendak mengadu tenaga. Ia segera

meloncat di tengah-tengah antara kedua nona itu sambil

mengangkat kedua tangan dengan bingung.

“Sumoi. Kau pulanglah. Aku yang akan menjamin

bahwa kau tentu keluar dari sini dengan selamat dan aman.

Pulanglah kau dan jangan bikin ribut di sini lebih lama

lagi.”

“Kau laki-laki tidak setia, jangan banyak cerewet. Aku

tidak berurusan dengan kau. Aku mempunyai urusan

dengan Cui Sian. Kau minggirlah.” Ia menggerakkan

pedangnya hendak menusuk.

Tapi Ouwyang Bun mengangkat dada dan sama sekali

tidak mengelak.

Ketika ujung pedangnya sudah hampir menyentuh dada

pemuda itu, Lie Eng menarik kembali senjatanya.

“Kau mau membunuh aku? Boleh, hayo tusuklah aku,

sumoi. Aku juga tidak takut mati.”

“Kau….. mengapa kau menghalang-halangi maksudku?

Aku hendak bertempur melawan Cui Sian, bukan dengan

kau.”

“Sumoi, dengarlah. Kalau misalnya besok kau dan Cui

Sian bertemu dalam peperangan dan bertempur matimatian,

aku takkan merasa apa-apa. Tapi keadaan kalian

pada waktu ini bukan sewajarnya, kalian hanya terdorong

oleh napsu hati yang sedang bergolak. Kau pulanglah dan

jangan berlaku seperti anak kecil.”

“Kau pergilah….. biarkan aku bertanding dengan Cui

Sian. Ah, Cui Sian seribu kali lebih berharga daripada

engkau.”

Dan pada saat itu Ouwyang Bun merasa tubuhnya lemas

dan ia roboh di atas tanah. Ternyata Cui Sian telah

menotoknya dari belakang tanpa ia duga sama sekali.

“Koko, kau memang terlalu mulia untuk membiarkan

dua orang gadis beradu tenaga karenamu. Tapi sikap Lie

Eng kuhargai, dan kalau aku menampik ajakan maka aku

akan merasa malu dan menyesal selama hidupku. Nah, kau

lihatlah saja dan maafkan bahwa aku terpaksa menotokmu

dengan diam-diam.”

Kemudian Cui Sian memerintahkan orang-orangnya

membuat lingkaran besar dan semua orang yang hendak

menonton harus berada di luar lingkaran. Beberapa obor

dipasang untuk menerangi tempat itu dan semua orang

dipesan agar jangan ikut mencampuri pertempuran ini.-

“Kawan-kawan semua,” Cui Sian berkata dengan suara

lantang, “kali ini aku bukan bertempur sebagai seorang

pemimpin-mu. Ingat, ini adalah urusan pribadi yang

menyangkut nama dan kehormatan. Biarpun aku sampai

kalah dan mati dalam tangan nona Cin Lie Eng ini, jangan

sekali-kali kalian berani mencampuri. Dan lagi, sebagai

seorang pemimpinmu, aku memberi pesan dan perintah,

yakni andaikata aku kalah dan roboh mati, janganlah nona

ini diganggu dan biarkan dia pergi dari sini dengan aman.

Mengerti semua?”

Tiba-tiba Siauw Leng meloncat memeluk cicinya. “Cici,

mengapa kau lakukan ini?”

Cui Sian dengan halus mendorong adiknya keluar

lingkaran dan berkata,

“Adikku, kita adalah murid seorang gagah dan kita harus

menghadap? kegagahan orang lain. Kalau aku kalah,

kaulah yang menjadi pemimpin kawan-kawan kita.”

Ouwyang Bun yang didudukkan di dekat situ sambil

menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon dengan

lemah tak ber daya, merasa hatinya seperti dipotong-po

tong. Ia menyesal sekali mengapa tadi berlaku lalai hingga

kena ditotok oleh tunang annya, karena kalau tidak

demikian, biarpun bagaimana juga, ia takkan membiarkan

dua singa betina ini saling terkam. Diam-diam ia

mengerahkan Iweekangnya untuk membebaskan diri dari

totoknn, tapi karena Cui Sian tahu akan kehebatan pemuda

itu, ia telah menotok dua kali hingga tak mungkin pemuda

itu dapat membebaskan diri dengan mudah begitu saja.

Sementara itu, Cui Sian berkata kepada Lie Eng, “Lie

Eng, marilah kita mulai.”

Lie Eng sekali lagi memandang wajah Ouwyang Bun

dan ia gunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap air

mata yang tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya, kemudian

ia menghadapi Cui Sian dengan tabah.

“Marilah, Cui Sian.” jawabnya dan sepasang pedang di

tangannya telah siap sedia.

“Kau sebagai tamu, bergeraklah lebih dulu.” kata Cui

Sian dengan pedang melintang di dada dengan sikapnya

tenang sekali.

Lie Eng lalu mulai menyerang dengan hebat yang

ditangkis oleh Cui Sian dengan tenang, dan beberapa saat

kemudian kedua, dara remaja itu telah bertempur hebat

sekali. Bayangan kedua dara itu lenyap ditelan sinar pedang

yang bergulung-gulung dan angin pedang mereka sampai

terasa oleh para penonton di luar lingkaran.

Ouwyang Bun yang lumpuh kaki tangannya itu berkalikali

memejamkan mata karena merasa ngeri, sedangkan

semua penonton melihat pertempuran istimewa ini dengan

hati tegang dan hampir tak berani bernapas. Lui Kok Pauw

meremas-remas tangannya, Siauw Leng membantingbanting

kakinya dan tiba-tiba gadis ini menangis perlahan.

Semua orang tak berani mengeluarkan suara sedikitpun dan

pada saat itu mereka merasa seakan-akan pertempuran ini

adalah sesuatu yang suci dan yang harus dipandang dengan

penuh penghormatan.

Sementara itu, kedua dara yang bertempur mati-matian

itu berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa lawannya

adalah seorang yang kuat. Lie Eng segera memainkan ilmu

pedangnya yang paling hebat, yakni Im-yang-siang-kiamhoat.

Ilmu pedang berpasangan ini betul-betul hebat sekali,

karena gerakan pedang kanan dan pedang kiri sungguh jauh

bedanya dan bahkan boleh dibilang berlawanan. Oleh

karena ini, tampaknya permainannya kacau dan kalut, tapi

sebetulnya kedua pedang itu merupakan imbangan atau

kesatuan gerakan yang bukan main kuatnya. Kalau pedang

kiri digerakkan dengan tenaga halus, pedang kanan

bergerak didorong tenaga kasar dan demikian sebaliknya

hingga kalau saja yang bertanding melawan Lie Eng

bukannya Can Cui Sian si Bunga Bwee, pasti takkan

mampu bertahan lama.

Akan tetapi Cui Sian adalah murid pertama dari Sinliong

Ciu Pek In si Naga Sakti yang telah menggemparkan

dunia kang-ouw dengan kehebatan ilmu pedangnya.

Biarpun baru belajar paling banyak lima tahun, namun

kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi dan biarpun

ia belajar bersamaan dengan adiknya, tapi karena ia

memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, maka tentu saja

kepandaiannya menjadi lebih tinggi daripada Siauw Leng.

Dalam hal ilmu pedang ia tak khawatir kalah oleh Lie Eng,

hanya ia kalah latihan karena Lie Eng telah belajar silat

semenjak kecil. Akan tetapi sebaliknya, Cui Sian menang

tenaga dan ketabahan serta ketenangan wataknya membuat

permainan silatnya kuat dan tetap.

Menghadapi ilmu pedang Im-yang-siang-kiam-hoat yang

luar biasa hebatnya dan serangan-serangan yang bagaikan

badai datangnya itu, terpaksa Cui Sian tidak berani berlaku

sembarangan dan iapun segera mengeluarkan ilmu pedang

tunggal yang menjadi pokok kepandaiannya yakni Sin-liong

Kiam-hoat. Ilmu pedang Naga Sakti ini adalah kepandaian

tunggal dari Ciu Pek In dan selama orang tua itu malang

melintang di dunia kang-ouw, belum pernah ilmu

pedangnya terkalahkan, maka ke-hebatannyapun luar biasa.

Pedang di tangan Cui Sian bagaikan hidup dan sinarnya

merupakan gulungan putih yang tebal dan panjang hingga

benar-benar bagaikan seekor naga sakti menyambarnyambar

dan bermain-main di antara mega-mega yang

terbentuk dari gundukan kedua pedang Lie Eng.

Telah seratus jurus lebih mereka bertempur dengan matimatian

dan mata para penonton di sekeliling lingkaran itu

menjadi kabur karena hebatnya pertandingan itu.

Sedangkan Ouwyang Bun menonton dengan muka pucat.

Perasaannya tertekan sekali dan kesedihan hatinya

memuncak. Bagaimana kalau Cui Sian sampai mati oleh

Lie Eng? Ah, hal ini tentu akan menghancurkan hatinya,

melenyapkan kebahagiaan hidupnya. Dan bagaimana kalau

Lie Eng yang binasa? Juga susah, karena hal itu berarti

hancurnya kebahagiaan adiknya. Ia menjadi serba salah,

tapi apa daya? Tubuhnya masih berada di bawah pengaruh

totokan, bahkan, andaikata ia tidak tertotokpun, belum

tentu ia sanggup memisah kedua pendekar wanita yang

sedang bergumul mati-matian karena kedua dara itu

kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah tingkatnya

sendiri. Karena merasa tidak berdaya, Ouwyang Bun

terpaksa menekan perasaan hatinya dan ia menyerahkan

nasib kedua gadis itu ke tangan Thian Yang Maha Kuasa

Lie Eng juga merasa kagum sekali menghadapi ilmu

pedang Cui Sian yang begitu hebat dan kuat, sedangkan Cui

Sian diam-diam memuji kelihaian Im-yang-siang-kiamhoat.

Pada suatu saat Lie Eng menggunakan pedang kanan

menusuk ke arah mata kiri Cui Sian dengan gerakan

Bidadari Petik Teratai, sedangkan pedang kirinya pada saat

itu juga membabat kaki dengan gerakan Angin Menyapu

Daun Kering Bukan main hebat dan berbahayanya

serangan bercabang ini. Seluruh perhatian lawan ditujukan

untuk menghadapi serangan pedang yang menusuk mata,

akan tetapi sebetulnya serangan ke arah kaki itulah yang

lebih berbahaya karena mengandung perubahan tipu-tipu

berbahaya. Biarpun ia pandai, namun Cui Sian terkejut

juga, karena ketika ia menggunakan pedangnya menangkis

serangan pedang kanan yang menyambar matanya itu

dengan gerakan Naga Sakti Perlihatkan Ekor, tiba-tiba

pedang kiri Lie Eng telah melayang ke arah kakinya. Ia

cepat berseru dan menggunakan ginkang-nya untuk

meloncat menyelamatkan kedua kakinya. Tapi tidak ia

sangka pedang yang dilayangkan ke kaki itu segera berobah

dengan gerakannya yang membabat tadi diteruskan menjadi

sebuah tusukan yang berbahaya ke arah perut.

Ouwyang Bun terkejut sekali melihat kehebatan serangan

ini, apalagi ketika ia melihat betapa pedang Lie Eng di

tangan kanan menyambar pula untuk menjaga dan

digunakan sebagai serangan susulan apabila lawan itu

mengelak. Pemuda ini merasa betapa dadanya berdebar

ngeri dan terbayanglah matanya betapa tubuh kekasihnya

itu mandi darah.

Tapi, kembali kali ini ketenangan dan kecerdikan Cui

Sian menolong dirinya. Melihat datangnya pedang yang

menusuk perutnya, ia tidak mau menangkis, dan karena

tubuhnya masih berada di tengah u-dara, ia segera

menggerakkan tubuh itu miring ke kiri sambil menarik

perutnya ke dalam hingga pedang Lie Eng menyambar

angin. Cui Sian dapat menduga akan bahaya yang

mengancam dari pedang kanan Lie Eng Benar saja, ketika

ia mengelakkan pedang kiri lawannya ke kiri, tiba-tiba

terdengar Lie Eng berseru girang dan pedang kanannya

menyambar cepat membabat leher Cui Sian.

Kali ini tak mungkin Cui Sian mengelak karena selain

datangnya pedang itu sangat cepat, juga tubuhnya masih

miring biarpun kakinya telah menginjak tanah. Jalan satusatunya

bagi dia ialah melemparkan tubuh ke belakang dan

bergulingan. Dara inipun melakukan hal itu, tapi ia tidak

menjatuhkan diri ke belakang untuk bergulingan, hanya

menggunakan ginkangnya yang tinggi untuk berjungkir

balik ke belakang.

Akan tetapi Lie Eng tidak mau memberi kesempatan

kepada Cui Sian untuk melepaskan diri dari kurungan

pedangnya sedemikian mudah. Ia meloncat cepat

menubruk dan mengirimkan tusukan maut dengan ujung

pedang digetarkan. Ketika itu, baru saja Cui Sian

menurunkan kakinya, melihat datangnya tusukan maut

yang digerakkan dalam tipu Macan Buas Sambar Hati ini,

ia segera kertak giginya dan mengerahkan seluruh tenaga

lweekangnya, lalu dengan gerakan Naga Sakti

Menyabetkan Ekor ia menangkis dengan pedangnya sekuat

“Traang..” dan bunga api biru dan merah memancar

keluar ketika dua batang pedang itu beradu dengan

kerasnya. Alangkah terkejut kedua dara itu ketika melihat

bahwa pedang mereka ternyata telah putus di tengahtengah.

Lie Eng melempar gagang pedang itu dan kini ia

menggunakan pedang kirinya untuk menyerang lagi kepada

lawan yang telah tak bersenjata lagi itu.

Dalam keadaan seperti itu Cui Sian masih dapat berlaku

tenang. Iapun melempar gagang pedangnya yang telah

patah itu dan siap menghadapi serangan Lie Eng dengan

tangan kosong. Akan tetapi, tiba-tiba Lie Eng menahan

pedang yang telah digerakkan hendak menusuk itu. Ia

berdiri bagaikan patung karena pada saat itu ia

menggunakan pikirannya. Liang-simnya (hati nuraninya)

dan sifat gagahnya tidak mengijinkan ia menggunakan

kesempatan dan keuntungan itu untuk memperoleh

kemenangan. Ia lalu berkata,

“Kau bertangan kosong? Baik, lihatlah ini.” setelah

berkata demikian, Lie Eng lalu melemparkan pedangnya

hingga menancap di atas tanah. Lalu tanpa banyak

membuang waktu ia maju menubruk dan melancarkan

serangan dengan kepalan tangan dalam gerak tipu Sian-jinci-

louw (Dewa Tunjukkan Jalan). Kepalan tangan ini

bergerak ke arah leher dan segera berobah menjadi tusukan

dengan dua jari tangan. Cui Sian mengelak dan balas

Maka kembali dua dara jelita itu bertempur mati-matian.

Kali ini dengan tangan kosong, tapi kehebatannya tidak

kalah dengan pertempuran menggunakan pedang tadi. Lie

Eng yang telah berpeluh dan lelah menggunakan

kecerdikannya dan ia bersilat dengan ilmu gerakan Cian-jiu

Koan-im-hian-ko, yakni Dewi Koan Im Tangan Seribu

Persembahkan Buah. Biarpun ilmu silat ini hebat dan dapat

menghadapi serangan yang bagaimanapun, tapi cukup

dimainkan dengan tak banyak perubahan kaki hingga tidak

membuang tenaga. Tampaknya Lie Eng berdiri diam saja

dan hanya bergerak apabila diserang dan membalas dengan

Sebaliknya, Cui Sian juga sama keadaannya dengan Lie

Eng. Gadis inipun telah lelah dan peluhnya telah

membasahi jidat. Menghadapi ilmu silat Lie Eng, gadis

yang cerdik inipun tahu bahwa jika ia menurutkan napsu

hati dan menyerang tanpa perhitungan biarpun ia takkan

dikalahkan dengan ilmu silat itu, namun ia akan kehabisan

tenaga juga, sedangkan Lie Eng dapat beristirahat sambil

mempertahankan diri. Oleh karena itu, iapun lalu berdiri

diam tidak mau menyerang, hanya memasang kudakuda di

depan Lie Eng dan menanti lawannya maju menyerang.

Melihat sikap lawannya itu, diam-diam Lie Eng

mengeluh sambil memuji, karena ternyata gadis yang amat

cerdik itu telah tahu akan maksudnya dan tahu pula rahasia

ilmu silat Cian-jiu Koan-im-hian-ko ini. Biarpun keduanya

sama-sama cerdik dan tinggi ilmu silatnya, namun Lie Eng

kalah tenang dan adat yang berangasan dan keras dari gadis

ini membuat ia kalah sabar. Ia segera berseru keras dan

menubruk maju sambil melancarkan serangan maut.

Tangan kanannya memukul dada sedangkan tangan kiri ia

gunakan untuk menusuk kedua mata lawan. Serangan ini

luar biasa hebat dan berbahayanya karena dilakukan

dengan nekat. Dengan dua tangan menyerang ini, maka

otomatis Lie Eng telah membuka lubang bagi diri sendiri

karena sama sekali tidak ada penjagaan. Ia memang telah

nekat dan biarpun ia tahu bahwa lawannya akan mudah

mengirim serangan, namun ia tahu juga bahwa kalau Cui

Sian menyerang, tak mungkin lawannya itu menghindarkan

serangan kedua tangannya.

Tapi agaknya Lie Eng terlalu memandang rendah

lawannya dan inilah kesalahannya. Otak Cui Sian yang

memang cerdas itu dalam saat sekilat saja sudah dapat

melakukan perhitungan untung rugi dalam menghadapi

serangan ini. Ia maklum bahwa kalau selalu menghindari

pukulan Lie Eng, maka pertempuran ini takkan ada

habisnya, apalagi ia telah merasa lelah sekali. Kini melihat

datangnya serangan ia maklum bahwa Lie Eng telah

berlaku nekat. Maka cepat sekali ia merendahkan tubuhnya

hingga serangan tangan kiri lawan yang menusuk matanya

itu lewat di atas kepalanya sedangkan tangan kanan Lie

Eng yang memukul dadanya, kini tepat menghantam

pundaknya. Tapi pada saat itu juga, dari bawah ia

melayangkan pukulan ke arah lambung Lie Eng.

Keduanya menjerit ngeri dan keduanya terhuyung

mundur lalu roboh pingsan. Para pemberontak segera maju

hendak menghabiskan jiwa Lie Eng, tapi terdengar

bentakan keras dari Siauw Leng.

“Mundur semua. Siapa berani menyentuh dia akan

berkenalan dengan tanganku.” Maka semua kawannya yang

tadinya telah marah sekali kepada Lie Eng itu tiba-tiba

teringat akan pesan Cui Sian. Sementara itu, Siauw Leng

lalu membebaskan totokah yang mempengaruhi Ouwyang

Bun hingga pemuda itu dapat bergerak. Ia maju menubruk

Cui Sian yang rebah dengan wajah pucat seperti mayat.

Tapi hatinya menjadi lega ketika mengetahui bahwa gadis

itu hanya menderita luka yang tak berapa berat di

pundaknya dan jatuh pingsan hanya karena terlalu lemah

dan lelah. Kemudian ia teringat kepada Lie Eng dan segera

memeriksa keadaan gadis itu. Diam-diam Ouwyang Bun

terkejut sekali karena di bibir gadis ini tampak darah

mengalir. Siauw Leng yang juga mempelajari ilmu

pengobatan dari suhunya, mengerutkan jidat ketika

memeriksa lambung Lie Eng yang terpukul karena ternyata

gadis ini menderita luka dalam yang mengkhawatirkan

Ouwyang Bun lalu mendukung tubuh Cui Sian masuk ke

tenda, sedangkan Siauw Leng mengangkat tubuh Lie Eng

masuk ke tendanya sendiri. Tenda Siauw Leng ini

berdekatan dengan tenda Cui Sian. Lie Eng masih pingsan

ketika dibawa masuk, sedangkan Cui Sian telah sadar.

Gadis ini sadar dalam dukungan Ouwyang Bun dan ia

berbisik,

“Koko, maafkan aku tadi telah menotokmu.”

Ouwyang Bun menggeleng-gelengkan kepala. “Ah,

kalian gadis-gadis kepala batu. Gila sekali untuk bertempur

mati-matian hanya karena seorang tak berharga seperti

diriku.”

“Untuk menjaga nama dan kehormatan, koko….,” Cui

Sian berbisik lemah. Ketika ia telah dibaringkan di atas

dipannya, ia bertanya,

“Koko, bagaimana dengan dia?”

“Siapa? Lie Eng? Ah, pukulanmu terlalu hebat.”

Cui Sian diam saja dan memejamkan mata.

“Kasihan Lie Eng yang malang….” sambil memejamkan

mata ia berkata lirih.

Ouwyang Bun memandang wajah kekasihnya dengan

heran. Sungguh ia tak dapat mengerti sikap ini. Tadi

berkelahi mati-matian dan kini mengucapkan kata-kata

menyatakan iba hati kepada bekas lawannya itu.

Sementara itu, dengan napas terengah-engah, Lie Eng

sadar dari pingsannya. Ia membuka mata perlahan-lahan

dan melihat betapa Siauw Leng sedang merawat dia. Maka

ia menutup matanya lagi.

Rasa dendam dan gemas membuat lukanya makin terasa

sakit. Gadis ini memang mempunyai watak tidak mau

kalah, maka tentu saja kekalahan ini menyakitkan hatinya

benar. Ia mencoba untuk mengerahkan Iweekangnya

menahan rasa sakit itu dan tahulah ia bahwa lukanya

memang berat dan berbahaya. Ia diam-diam kagum akan

kehebatan Cui Sian dan diam-diam ia harus mengakui

bahwa gadis itu memang pantas menjadi isteri Ouwyang

Pada saat itu, telinganya yang tajam mendengar suara

Ouwyang Bun di tenda sebelah, dan ia mendengar pula

suara Cui Sian. Hatinya terasa perih karena ia tahu bahwa

pemuda itu tentu sedang merawat Cui Sian. Ia teringat

bahwa Cui Sian juga kena pukulannya, tapi hanya di

pundak dan tehtu saja tidak berbahaya. Kembali ia

memejamkan mata dengan hati sakit. Mengapa ia tidak

mati saja? Ah, ia malu dan apa artinya hidup menanggung

malu dan patah hati?

Melihat wajah yang cantik itu nampak sedih, Siauw

Leng merasa terharu. Iapun merasa suka kepada gadis yang

gagah dan jujur serta keras hati ini, sifat yang juga menjadi

sifatnya. Maka katanya perlahan,

“Lihiap, enciku itu telah ditunangkan dengan Ouwyang

Bun semenjak mereka masih kecil oleh orang tua kami.

Ouwyang Bun dengan enciku, dan Ouwyang Bu dengan

aku.”

Ucapan Siauw Leng ini sebetulnya dimaksudkan untuk

memberi penjelasan agar dapat menghibur hati gadis itu,

tapi tidak mengira bahwa penjelasan ini bahkan lebih

menyakiti hati Lie Eng. Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu

dan membentak.

“Pergi kau. Jangan rawat aku, pergi…..”

Dengan mengangkat pundak dan muka menyatakan

kasihan, Siauw Leng keluar dari tenda itu.

Lie Eng menangis sedih tapi ia kuatkan hatinya untuk

menahan suara tangisnya agar jangan sampai terdengar

oleh o-rang lain. Hatinya makin terasa sakit. Ia malu sekali,

karena ternyata bahwa Ouwyang Bun adalah tunangan Cui

Sian yang sah hingga dialah yang sesungguhnya bersikap

rendah, hendak merampas tunangan orang. Dan lebih-lebih

lagi, dia telah menjadi sebab hingga Ouwyang Bu terpisah

dari kakaknya, bahkan kini menjadi musuh Siauw Leng,

tunangan pemuda itu sendiri. Ah, kalau saja tidak ada dia,

tentu kedua pemuda itu akan berkumpul dengan kedua

tunangan mereka dan semuanya akan beres dan lancar.

Semua akan berbahagia. Tapi sekarang dengan adanya dia,

segalanya menjadi kacau.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, semua orang di

situ mendengar jerit tangis Siauw Leng yang memilukan,

karena ketika gadis ini memasuki tendanya hendak

menjenguk Lie Eng, ternyata ia mendapatkan gadis ini telah

menjadi mayat. Lie Eng telah menggunakan sebilah pisau

yang terdapat di tenda itu untuk bunuh diri. Pisau itu

menancap di dada kirinya dan ia mati telentang di atas

dipan. Tangan kirinya memegang sehelai kertas yang

ternoda darah yang memercik keluar dari dadanya.

Melihat keadaan Lie Engr-Oywyang Bun tak dapat

menahan keharuan hatinya. Ia maju dan berlutut di dekat

tubuh itu sambil menundukkan kepala. Diam-diam m

merasa bertanggung jawab akan peristiwa ini dan tahu pula

bahwa kematian gadis ini adalah karena dia. Sementara itu,

Cui Sian yang juga sudah dapat turun dan berada pula di

situ, hanya berdiri sambil menghela napas berulang-ulang.

Ketika Ouwyang Bun mengangkat muka, ternyata wajah

pemuda ini pucat dan kedua matanya basah, sedangkan

pada wajah, itu terbayang kedukaan besar hingga membuat

ia tampak lebih tua. Ia tidak saja menyedihi kematian

sumoinya ini, tapi juga bersedih karena Ouwyang Bu. Ia

maklum bahwa kematian Lie Eng ini akan menghancurkan

kebahagiaan hidup Ouwyang Bu.

Dengan perlanan ia ambil surat di tangan gadis itu.

Ternyata surat itu ditujukan kepadanya.

Bun-ko,

Sudah Sepantasnya aku tewas di tangan. Cui Sian yang

gagah, tapi sayang ia memukul kepalang tanggung hingga

terpaksa aku sendiri yang menamatkan hidupku, Tapi

agaknya arwahku takkan tenang sebelum mendapat ampun

dari engkau dan dari Bu-ko. Aku adalah seorang gadis yang

tak tahu diri dan hanya, mengacaukan kebahagiaan orang.

Dengan membabi-buta dan tak tahu malu aku telah

berani mencintaimu, Bun-ko, mencintai seorang pemuda

yang telah mempunyai tunangan secantik dan segagah Cui

Oleh karena akulah maka Bu-ko terpisah darimu. Karena

aku pula Bu-ko menjadi pembantu ayah dan karenanya tak

dapat berkumpul dengan Siauw Leng, tunangannya.

Aku tak mungkin menjadi isterimu, dan tak mungkin

pula menjadi isteri Bu-ko, hingga akibatnya aku hanya akan

hidup menderita dan merusak hati Bu-ko yang mencintaiku.

Karena inilah lebih baik aku mati.

Bun-ko, aku percaya bahwa kau tentu suka memaafkan

daku karena aku tahu betapa mulia hatimu. Tapi aku masih

ragu-ragu apakah Bu-ko dapat mengampuni dan melupakan

aku. Sukakah kau mintakan ampun padanya?

Selamat tinggal dan tolong sampaikan permohonan

ampun kepada ayah untuk anaknya yang tidak berbakti.

CIN LIE ENG

Semakin keraslah sedu-sedan dari dada Ouwyang Bun

ketika ia baca isi surat ini dan tanpa berkata apa-apa ia

berikan surat itu kepada Cui Sian untuk dibaca. Gadis

itupun menjadi merah mukanya karena terharu sedangkan

Siauw Leng yang juga membaca surat itu menangis keras.

Ouwyang Bun lalu menyimpan surat itu dalam saku

Ouwyang Bu merasa heran, khawatir, dan bingung

ketika tidak melihat Lie Eng dalam benteng. Ia mencari ke

sana-sini dan bertanya kepada anak buahnya yang berjaga

di sepanjang daerah penjagaannya, tapi tak seorangpun

melihat gadis itu.

Ketika matahari telah naik tinggi, tiba-tiba ia diberi tahu

oleh penjaga bahwa di luar benteng ada seorang pemuda

berpakaian putih datang dengan sebuah kereta hendak

bertemu dengannya. Hati Ouwyang Bu berdebar aneh dan

segera ia lari keluar.

“Bun-ko…..” ia berseru keras sambil lari keluar

menyambut kakaknya itu. Tapi ia heran sekali melihat

betapa kakaknya itu berpakaian putih dan wajahnya

nampak sedih sekali.

“Bun-ko, kau dari mana dan hendak ke mana? Mari,

mari masuk, kita bicara di dalam,” kata Ouwyang Bu

setelah berpelukan dengan kakaknya.

Tapi Ouwyang Bun tidak menjawab, bahkan tiba-tiba

saja matanya menjadi merah dan ia pandang wajah adiknya

yang gagah dan kini berpakaian perwira itu. Pandangan

mata Ouwyang Bun membuat Ouwyang Bu terkejut sekali.

“Bun-ko.” teriaknya dengan hati tidak karuan. “Ada

kabar apa?”

Ouwyang Bun hanya menunjuk ke arah kereta yang

tertutup kain putih yang ditarik oleh seekor kuda. Ouwyang

Bu masih tidak mengerti walaupun hatinya berdebar-debar

cemas. Ia lalu menghampiri kereta itu dan membuka kain

putih yang menutupi kendaraan itu. Di dalam kereta

terdapat sebuah peti mati.

Dengan terkejut Ouwyang Bu melangkah mundur.

Mukanya menjadi pucat.

“Bun-ko, apa artinya ini? Peti mati siapa ini dan apa

maksudmu?”

“Bu-te….. sumoi…”

Tiba-tiba saja Ouwyang Bu menggigil dan mukanya

semakin pucat ketika ia berteriak,

“Lie Eng…..?.” dan cepat sekali ia meloncat ke arah peti

mati itu. Dengan tangannya yang kuat ia buka peti itu

hingga peti mati yang telah dipaku itu terbongkar seketika

itu juga. Ia buka kain penutup muka mayat itu.

“Lie Eng…. kau….” dan pemuda itu tak dapat

melanjutkan katakatanya karena pada saat itu juga ia roboh

“Bu-te…. ah, Bu-te….. kasihan kau…… adikku…”

Ouwyang Bun-lalu menubruk dan memeluk tubuh adiknya.

Ia angkat kepala Ouwyang Bu dan dipangkunya serta

diciuminya dengan penuh kasih sayang.

Para penjaga yang melihat peristiwa ini berdiri bingung

dan tak tahu harus berbuat apa. Mereka belum tahu

siapakah yang berada di peti mati itu dan mereka tidak

berani melakukan apa-apa karena tidak mendapat perintah.

Ketika Ouwyang Bu sadar sambil merintih memanggilmanggil

nama Lie Eng, ia dapatkan dirinya sedang dipeluk

dan dipangku oleh kakaknya. Tiba-tiba ia meloncat berdiri

dan mencabut pedangnya.

“Bun-ko…. siapa…. siapa yang membunuh dia?

Kaukah…?” ia menghampiri kakaknya dengan sikap

mengancam. “Ya, tentu kau. Siapa lagi yang dapat

membunuh dia? Dan kau sekarang sudah menjadi

pemberontak? Hayo, mengakulah kau.”

Ouwyang Bun hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu

ia mengeluarkan surat Lie Eng. Ouwyang Bu menerima

surat itu dengan kedua tangan menggigil. Ketika ia

membaca isinya surat itu, mukanya menjadi sebentar pucat

sebentar merah. Ia lalu memukul-mukul kepala sendiri

dengan tangan hingga topi besi yang dipakainya berbunyi

tang-tung dengan keras. Setelah habis membaca surat itu, ia

menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakaknya dan

berkata,

“Bun-ko…. kaubunuhlah aku, Bun-ko…. aku hendak

menyusul Lie Eng…”

Tapi Ouwyang Bun memegang kedua pundak adiknya

dan ditariknya Ouwyang Bu berdiri. “Bu-te. Bukankah kau

seorang laki-laki dan seorang jantan pula. Janganlah

bersikap lemah.”

Tiba-tiba katakata ini bagaikan cahaya kilat yang

memasuki tubuh Ouwyang Bu. Ia berdiri tegak dan kedua

matanya memandang kepada kakaknya sedemikian rupa

hingga Ouwyang Bun mundur dua langkah. Mata itu

bagaikan mata seorang buta melek.

“Baik, Bun-ko. Aku tetap seorang laki-laki dan sudah

menjadi tugasku untuk membalas dendam ini. Jangan kau

menyesal kalau kelak aku pasti membunuh Cui Sian, Siauw

Leng, dan…. engkau juga.”

Biarpun hatinya merasa sakit dan pilu, tapi Ouwyang

Bun tahu bahwa inilah sikap terbaik bagi seorang perajurit

seperti Ouw yang Bu.

“Bu-te, aku tahu bahwa surat ini telah menyakiti hatimu

dan kau tentu marah kepadaku. Kalau kau sakit hati dan

hendak membunuh aku, lakukanlah itu sekarang juga,

adikku.”

“Tidak membunuh pemberontak ini sekarang, mau

tunggu kapan lagi?” tiba-tiba terdengar orang berseru keras

dan Gui Li Sun yang mengeluarkan katakata ini lalu

menyerbu dan menyerang Ouwyang Bun, diikuti oleh

beberapa orang perwira lain.

“Tahan.” Ouwyang Bu membentak hingga semua

penyerang itu mengundurkan diri. “Jangan serang dia.”

“Ciangkun, dalam menghadapi musuh, perajurit sejati

tidak kenal saudara.” Gui Li Sun memperingatkan.

“Tutup mulut.” Ouwyang Bu membentak marah.

“Kaukira aku tidak tahu aturan seorang perajurit sejati? Aku

larang kau serang dia bukan karena ia saudaraku, tapi

karena kedatangannya adalah sebagai seorang utusan yang

membawa jenasah Cin-lihiap. Pantaskah kalau kita serang

dia? Perbuatan ini akan dipandang rendah dan aku

melarang siapa saja menyerang dia pada waktu sekarang

ini.”

Semua orang terpaksa mengakui kebenaran katakata ini.

“Sekarang kau pergilah.” kata Ouwyang Bu dengan

suara dingin.

“Bu-te…. marilah kita pergi saja, pergi dari segala

peperangan ini…”

Untuk sesaat Ouwyang Bu ragu-ragu, tapi ia segera

menetapkan hatinya dan berkata,

“Sudahlah, jangan banyak ribut. Bujuk-anmu tidak ada

artinya bagiku..Aku seorang perajurit sejati dan harus tetap

menu naikan tugasku sebagai seorang perwira. Dan kau….

kau pergilah kembali kepada tunanganmu.” Kemudian

Ouwyang Bu memerintahkan anak buahnya untuk

mendorong kereta berisi peti mati itu ke dalam benteng dan

ia sendiri lalu masuk ke dalam benteng tanpa menoleh lagi

kepada kakaknya. Ouwyang Bun menghela napas berkalikali

dan terpaksa ia lalu kembali ke dalam hutan.

Setelah berada dalam benteng, barulah Ouwyang Bu

menangisi jenasah Lie Eng, sedangkan Gui Li Sun berkata

dengan suara gemas.

“Ciangkun, marilah kita kerahkan tenaga dan menyerbu

ke dalam hutan. Kalau belum dapat membasmi habis

pemberontak-pemberontak hinadina itu, belum puas rasa

hatiku.”

Ouwyang Bu tidak menjawab tapi diam-diam ia

mengatur siasat untuk membalas kematian Lie Eng kepada

para pemberontak itu.

Benar saja, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali

Ouwyang Bu bersama Gui Li Sun dengan tiga ratus orang

tentara telah menyerbu ke dalam hutan. Pertempuran hebat

terjadi dan Ouwyang Bun melihat betapa Cui Sian dan

kawan-kawannya terkurung, terpaksa turun tangan hingga

di pihak tentara negeri menjadi kacau. Amukan Ouwyang

Bun dihadapi oleh beberapa orang perwira yang cukup

tinggi kepandaiannya. Karena para pemberontak itu

menggunakan taktik berpencar, maka pertempuran menjadi

berkelompok-kelompok. Yang mengherankan ialah bahwa

Ouwyang Bu tidak tampak dalam pertempuran itu.

Karena pihak tentara sangat banyak, maka banyak sekali

jatuh korban dan akhirnya pihak pemberontak terpaksa

meng undurkan diri. Tapi pada saat itu muncul tiga orang

tosu tua yang datang membantu pihak pemberontak. Tiga

orang tosu ini berkepandaian tinggi sekali hingga para

tentara kocar-kacir tidak kuat menghadapi mereka bertiga

yang bersenjata pedang.

Ke manakah perginya Ouwyang Bu? Sebetulnya tadinya

pemuda ini memang memimpin sendiri penyerbuan ke

dalam hutan, tapi setelah pertempuran terjadi, ia

memisahkan diri karena bermaksud hendak menawan

hidup, seorang di antara tiga pemimpin pemberontak itu. Ia

melihat betapa Ouwyang Bun bertempur di samping Cui

Sian merupakan sepasang anak muda gagah perkasa hingga

sukar sekali didekati. Maka ia lalu mencari ke kelompok

lain dan melihat Siauw Leng sedang mengamuk dikeroyok

beberapa orang anak buahnya. Ouwyang Bu segera

meloncat membantu karena anak buahnya yang dipimpin

Gui Li Sun ternyata sangat terdesak oleh gadis lincah itu.

“Bun-ko, bantulah aku membereskan beberapa ekor tikus

ini.” Siauw Leng berkata tanpa menengok. Ouwyang Bu

heran, tapi ia segera tahu bahwa gadis itu salah sangka. Ia

memang berpakaian putih untuk menyatakan kesedihannya

atas kematian Lie Eng, dan gadis itu tentu menyangka,

bahwa ia adalah Ouwyang Bun.

Karena inilah maka ketika Ouwyang Bu meloncat di

dekatnya dan mengulurkan tangan menotok, Siauw Leng

tidak menyang ka sama sekali bahwa ia bukan Ouwyang

Bun dan mudah saja ia kena ditotok roboh. Seorang

pengeroyok mengayun senjata hendak membunuh gadis itu,

tapi Gui Li Sun mendahuluinya dengan memegang dan

mendukung tubuh Siauw Leng.

Karena tidak ingin melihat gadis itu dibunuh, Ouwyang

Bu lalu mengangguk kepada Gui-ciangkun dan berkata,

“Bawa tawanan ini dan jaga baik-baik,” kemudian ia

sendiri lalu pergi menghadapi tiga orang tosu yang sedang

mengamuk itu. Ternyata tiga orang tosu itu benar-benar

gagah perkasa dan kini semua pemberontak yang tadi

melarikan diri mendapat tambahan semangat dan melawan

Ouwyang Bu melihat gerakan-gerakan ketiga orang itu,

maklum bahwa pihaknya takkan menang, maka ia segera

memberi aba-aba dan menarik mundur semua orangnya,

lalu kembali ke dalam benteng.

Ouwyang Bu langsung menuju ke tempat tahanan untuk

menemui Siauw Leng yang ditawannya tadi. Tapi alangkah

herannya ketika ia tidak mendapatkan gadis itu di antara

tawanan-tawanan lain. Ia lalu bertanya kepada penjaga

yang segera dijawab bahwa tawanan wanita itu dibawa

pergi oleh Gui-ciangkun

0oooo0dw0oooo0

Jilid VII Tamat

OUWYANG BU marah sekali. Sambil berlari ia menuju

ke tempat tinggal Gui Li Sun di sebelah utara dalam

benteng itu. Ketika ia tiba di depan kamar Gui-ciangkun, ia

mendengar suara wanita memaki-maki dan suara Gui Li

Sun tertawa-tawa.

Ouwyang Bu tak dapat mengendalikan kesabarannya

lagi. Ia mendorong daun pintu dan apa yang terlihat

olehnya membuat ia mencabut pedangnya karena marah.

Gui Li Sun yang agaknya sudah mabok, berdiri dengan

sikap menantang.

“Gui-ciangkun, apakah yang sedang, kau lakukan ini?”

“Ha-ha ciangkun, apakah kau tidak melihat? Aku sedang

memeriksa seorang tawanan”

“Lepaskan dia dan kembalikan ke dalam kamar tahanan”

Ouwyang Bu memerintah dengan mata terbelalak marah.

Gui Li Sun menggeleng-gelengkan kepala. “Ouwyangciangkun,

kau selalu mau menang dan mau enak sendiri

saja. Kau datang-datang telah, merampas nona Lie Eng dari

tanganku merampas pula kedudukanku. Semarang aku

dapat menangkap tawanan pemberontak wanita ini, apakah

kau juga hendak merampasnya pula? Ha-ha, ia memang

cantik, lebih cantik daripa da nona Lie Eng. Tapi dia adalah

bagianku dan kau tidak boleh merampasnya.”

“Gui Li Sun, tutup mulutmu yang kotor. Apakah kau

hendak membantah perintahku?”

“Perintah apakah ini? Ouwyang-ciangkun, apakah kau

lebih memberatkan dan membela tawanan seorang

pemberontak daripada seorang perwira pembantumu

sendiri?”

“Selama aku masin berada di sini, kau tidak boleh

memperlakukan tawanan kita secara sewenang-wenang”

kata Ouwyang Bu tidak sabar.

“Siapa yang sewenang-wenang? Kau atau aku? Aku

takkan menyakiti atau menyiksa nona ini. Aku bahkan

hendak mengambil dia sebagai isteriku”

“Bangsat rendah” Ouwyang Bu marah sekali dan

menggerak-gerakkan pedangnya. Tiba-tiba Gui Li Sun juga

mencabut pedangnya dan menghadapi Ouwyang Bu

dengan mata merah.

“Orang she Ouwyang. Kali ini aku terpaksa tak mentaati

perintahmu yang gila. Aku hendak mengambil nona ini,

kau mau apa?”

“Kalau begitu aku akan menggunakan kekerasan” kata

Ouwyang Bu.

“Bagus” dan sambil berseru keras Gui Li Sun loncat

menyerang dengan pedangnya yang dapat ditangkis dengan

mudah oleh Ouwyang Bu. Tak lama kemudian Gui Li Sun

menyerang mati-matian dan Ouwyang Bu bertahan dengan

Sementara itu, Siauw Leng yang terikat kaki tangannya

dan tidak berdaya, melihat pertempuran itu dengan mata

terbelalak. Tiba-tiba ia menitikkan air mata dari sepasang

matanya karena keadaan itu mendatangkan berbagai

perasaan kepadanya. Ia tahu bahwa Ouwyang Bu adalah

tunangannya dan karena ia telah tahu pula bahwa anak

muda ini mencintai Lie Eng, maka ia tidak banyak

mengharapkan dari padanya. Pula karena Ouwyang Bu

ternyata telah menjadi kaki tangan kaisar, ia lebih benci dan

menganggap bahwa pemuda itu memang berwatak jahat

dan buruk, berbeda jauh dengan Ouwyang Bun tunangan

encinya. Tapi kini melihat betapa pemuda itu ternyata

cukup memiliki sifat ksatria dan bahkan membelanya dari

gangguan panglima kasar she Gui itu, ia tak dapat menahan

keharuan hatinya lagi.

Ia merasa girang karena ternyata bahwa betapapun juga

pemuda pilihan orang tuanya itu tidak sejahat yang ia

sangka, dan ia merasa sedih karena pemuda itu mau

menjadi kaki tangan kaisar lalim.

Karena kepandaian Gui Li Sun memang kalah jauh jika

dibandingkan dengan Ouwyang Bu dan karena perwira she

Gui ini memang hanya mengandalkan tenaganya yang

besar belaka, maka tak lama kemudian ia hanya mampu

menangkis saja dan napasnya terengah-engah menghadapi

serangan-serangan Ouwyang Bu yang hebat. Pada saat yang

tepat sekali, akhirnya Ouwyang Bu berhasil menendang

tangan lawannya itu dan Gui Li Sun menjerit kesakitan.

Pedangnya terlempar dan jatuh di atas lantai.

“Pungut pedangmu dan pergi dari sini” Ouwyang Bu

memerintah sambil memasukkan pedangnya sendiri ke

dalam sarung pedang.

Bagaikan seekor anjing kena pukul, Gui Li Sun

membungkuk dan memungut pedangnya yang terlempar ke

dekat pembaringan. Karena pergelangan tangan kanannya

patah oleh tendangan Ouwyang Bu, ia menggunakan

tangan kiri untuk memungut pedang itu, tapi tiba-tiba

bagaikan orang kemasukan iblis ia menyeringai dan cepat

sekali ia gerakkan pedang, di tangannya itu untuk menusuk

dada Siauw Leng yang rebah telentang. Dara itu memekik

lirih dan berkelojotan dalam ikatannya, lalu

menghembuskan napas terakhir. Darah merah menyembur

keluar dari dadanya, membasahi pakaiannya.

Ouwyang Bu tiba-tiba merasa kepalanya pening dan

matanya kabur. Ia tak percaya kepada pandangan matanya

dan menggunakan tangannya untuk menggosok-gosok

kedua matanya.

“Kau halang-halangi maksudku dan kau hendak

merampas dia, maka lebih baik dia mati dan habis perkara”

Mendengar kata-kata Gui Li Sun, barulah Ouwyang Bu

sadar dan maklum bahwa ia bukan sedang mimpi dan

bahwa benar-benar perwira itu telah membunuh Sianw

Leng dengan kejam. Suaranya gemetar ketika ia berteriak.

“Bangsat rendah. Kau…. kau binatang kejam” Ouwyang

Bu melangkah perlahan menghampiri Gui Li Sun dengan

mata mengancam dan wajah menyeramkan.

Melihat keadaan pemimpinnya ini, Gui Li Sun terkejut

sekali. Biarpun ia seorang yang tabah, namun melihat

wajah Ouwyang Bu pada saat itu, ia menjadi ngeri dan

“Ciangkun…. ciangkun,,,. maaf…. yang kubunuh

hanyalah seorang pemberontak…”

Tapi Ouwyang Bu tetap melangkah maju, perlahanlahan,

bagaikan seekor harimau menghampiri korbannya,

bibirnya tetap bergerak-gerak dan berbisik dengan napas

mendesis-desis,

“Bangsat rendah, binatang kejam”

Gui Li Sun makin takut. Tubuhnya menggigil dan untuk

penghabisan kali ia berusaha membela diri.

“Ouwyang-ciangkun ….. ampunkan aku…. ingat…. ia…

ia hanyalah seorang perempuan pemberontak”

Ketika Ouwyang Bu telah cukup dekat Gui Li Sun lalu

menggunakan pedang di tangan kirinya untuk menyerang,

tapi satu tangkisan keras membuat pedangnya terlempar

dan ia terhuyung ke samping. Ouwyang Bu bergerak cepat

dan tangan kanannya menghantam dada sedangkan kaki

kirinya menyusul menendang lambung.

Gui Li Sun memekik ngeri dan roboh tak bernapas lagi.

Ouwyang Bu berdiri memandang kedua mayat itu

dengan tak bergerak bagaikan patung batu. Pikirannya

kacau-balau.

Pada saat itu terdengar suara orang menegur di

belakangnya,

“Ouwyang Bu, perbuatan apakah yang kaulakukan ini?”

Ouwyang Bu terkejut sekali karena suara itu adalah

suara Cin CUn Ong. Ia mem balikkan tubuh dan benar saja,

Cin-ciang-kun telah berdiri di depannya.

Ouwyang Bu segera menjatuhkan diri berlutut di depan

susioknya. Ia teringat akan kematian Lie Eng dan tak

tertahan pula ia menangis sambil berkata,

“Susiok…. adik Lie Eng…”

“Sudahlah, aku telah tahu semua. Aku tidak

menyalahkan kau, dan kejadian sekarang ini sungguh

kusesalkan sekali. Beginilah akibatnya kalau orang

mencampuradukkan tugas kewajiban dengan perasaanperasaan

perseorangan.”

“Susiok, Gui Li Sun bertindak di luar batas

perikemanusiaan dan teecu sebagai seorang yang

menghargai kejujuran tak kuat melihat dan….”

“Saya tahu Gui-ciangkun bersalah” Cin Cun Ong

membentak. “Tapi betapapun besar kesalahannya, kau tak

berhak membunuhnya. Untuk mengadili dia, ada

pengadilan tertentu, kau tidak boleh bertindak sendiri”

Ouwyang Bu menundukkan kepala dan mengakui

“Lie Eng mati karena terlalu menurutkan nafsu hatinya,

tapi sudahlah, kematian bagi orang-orang dalam

peperangan seperti kita tidak berarti apa-apa.” Sungguhpun

mulutnya berkata begitu, namun wajah panglima tua ini

tampak bersedih juga, tanda bahwa kematian Lie Eng

sangat mendukakannya hingga Cin Cun Ong kini nampak

lebih tua.

“Kita harus memperkuat benteng di sini karena akan ada

barisan pemberontak besar dan kuat melalui daerah ini.

Karena ini pula aku membawa seribu orang tentara ke.

benteng ini dan ada pula beberapa orang kawan-kawan

yang membantu kita. Mari kuperkenalkan kau kepada

mereka.”

Ouwyang Bu mengikuti susioknya keluar dari kamar itu

dan memerintahkan orang-orangnya mengurus jenasah Gui

Li Sun dan Can Siauw Leng, dengan pesan bahwa jenasah

nona itu harus diurus baik-baik dan jangan dianggap

sebagai mayat musuh biasa. Setelah tiba di luar, ia

diperkenalkan kepada beberapa orang tokoh persilatan yang

terkenal di kalangan kang-ouw.

Ia melihat Hoa-gu-ji Lee Un si Kerbau Belang, Bi Kok

Hosiang si hwesio gendut yang bersenjata tasbeh, Khu Ci

Lok si Huncwe Maut yang hebat. Mereka ini adalah tiga

tokoh yang dulu pernah membantu Cin Cun Ong di

benteng tembok besar di utara. Juga tampak Kin Keng

Tojin tokoh Go-bi-san yang bongkok kurus dan di antara

seribu orang anggauta tentara yang baru datang, terdapat

sepasukan tentara istimewa sebagaimana dapat dilihat dari

topi mereka, yakni Barisan Sayap Garuda, pahlawanpahlawan

istana kaisar yang terkenal kekejaman dan

keberaniannya. Pasukan ini terdiri dari seratus dua puluh

Melihat rombongan yang kuat ini, diam-diam Ouwyang

Bu merasa kagum, dan ia merasa yakin bahwa kali ini

barisan pemberontak pasti akan dapat dihancurkan. Semua

perwira dan para ksatria itu lalu dijamu oleh Cin Cun Ong

dan semua orang, kecuali Ouwyang Bu, merasa gembira.

Pemuda ini tidak dapat bergembira karena hatinya masih

sedih mengingat kematian Lie Eng dan ditambah pula ia

menyesal sekali telah menangkap Siauw Leng hingga gadis

itu menjadi binasa. Kalau saja ia binasakan gadis itu di

dalam pertempuran, maka ia takkan demikian menyesal.

Tapi, biarpun ia tidak membunuh gadis itu, namun tetap

saja ia merasa menyesal dan merasa seakan-akan ia sendiri

yang menyebabkan kematian gadis Itu. Hanya sedikit

pikiran yang menghiburnya, yakni bahwa ia telah

membunuh Gui Li Sun,

“Cuwi,” kata Cin Cun Ong, “menurut laporan para

penyelidik kita, musuh yang akan menyeberang daerah ini

jumlahnya besar sekali dan mungkin lebih besar daripada

jumlah anak buah kita. Akan tetapi, dengan adanya kawankawan

di sini, kurasa kita takkan kalah. Menurut

perhitunganku, malam ini tentu mereka telah tiba di sini

dan kalau tidak malam ini, tentu besok pagi-pagi mereka

melakukan serangan. Maka kuharap cuwi sukalah berjagajaga

menghadapi segala kemungkinan. Ketahuilah bahwa

tempat ini sangat penting artinya dan penyerbuan ke kota

raja oleh para pemberontak itu tergantung kepada berhasil

atau tidaknya mereka menyeberang daerah ini.”

“Cin-eiangkun” tiba-tiba Khu Ci Lok si Huncwe Maut

berkata setelah melepaskan huncwenya dari mulut.

“Perlukah kita takuti segala pemberontak itu? Biarpun

jumlah mereka besar, tapi mereka itu terdiri dari petanipetani

dan pengemis-pengemis miskin yang kelaparan.

Kurasa biarpun jumlah mereka lima kali lebih banyak

daripada jumlah kita, dengan satu lawan limapun kita

takkan kalah. Maka kuharap Cin-ciangkun tidak berkecil

hati.”

Semua orang membenarkan kata-kata ini, tapi Ouwyang

Bu diam-diam khawatir melihat kesombongan mereka. Juga

Cin Cun Ong berkata,

“Betapapun juga, harap cuwi berhati-hati, karena terus

terang saja kukatakan bahwa di antara mereka ada juga

orang pandai.” Akan tetapi, tentu saja panglima yang cerdik

itu tidak mau mengecilkan hati dan semangat mereka yang

membantunya ini, dan untuk menggembirakan suasana, ia

minta kepada mereka untuk mendemonstrasikan

kepandaian silat guna menyegarkan semangat.

Lok Wi Beng, seorang komandan Barisan Sayap

Garuda, yang masih muda dan bersikap galak, mulai

dengan demonstrasi kepandaiannya. Ia adalah murid dari

Him Kok Hwesio seorang tokoh dari Thai-san, maka

kepandaian silatnya cukup hebat. Dengan senjata sebatang

tombak panjang, perwira Sayap Garuda ini main silat

tombak yang mendapat sambutan dan pujian riuh rendah.

Ujung tombaknya bergetar-getar dan menjadi belasan

banyaknya, mengelilingi seluruh tubuh dengan suara angin

yang cukup kuat. Diam-diam Ouwyang Bu kagum juga dan

merasa bahwa kepandaian komandan she Lok tidak berada

di bawah kepandaiannya sendiri.

Selesai Lok Wi Beng berdemonstrasi, majulah dua

perwira lain yang dijuluki Tiat-tho-siang-houw atau

Sepasang Harimau Kepala Besi. Dua perwira ini adalah

saudara seperguruan dan mereka ini murid-murid Siauwlim-

si yang berpihak pada pembesar seperguruan dan

mereka ini murid-murid Siauw-Iim yang berpihak pada

pembesar pemeras dan diperbantukan kepada Cin Cun

Kepandaian kedua murid Siauw-lim si inipun cukup

hebat. Mereka memperlihatkan kemahiran bersilat dengan

toya dan tentu tingkat kepandaian merekapun berimbang

dengan tingkat Lok Wi Beng hingga Ouwyang Bu makin

berbesar hati saja.

Dengan bergiliran, mereka saling memperlihatkan

kehebatan mereka. Ouwyang Bu teringat akan gurunya,

maka ia lalu mendekati susioknya dan dengan suara

perlahan bertanya mengapa suhunya tidak datang

“Gurumu orang aneh” kata Cin Cun Ong. “Aku sudah

minta bantuannya tetapi ia berkata bahwa ia tidak mau

mengotorkan tangannya dengan segala urusan perang. Ia

telah tua dan telah menjadi lemah, sayang…” Cin Cun Ong

tertawa dan Ouwyang Bu merasa heran, diam-diam ia

merasa menyesal mengapa suhunya bersikap demikian.

Suhunya telah menyuruh ia dan kakaknya turun gunung

untuk membantu Cin Cun Ong, tapi ia sendiri tidak mau

membantu. Sungguh aneh.

Pada saat itu, Khu Ci Lok si Huncwe Maut, Bi Kok

Hosiang, dan Hoa-gu-ji Lee Un sudah memperlihatkan

kemahiran mereka. Ketika tiba giliran Kin Keng Tojin

memainkan pedangnya, maka Ouwyang Bu kagum sekali

karena tosu ini memiliki kepandaian yang tinggi pula.

Pada saat itu, tiba-tiba dari luar berkelebat bajingan putih

dan terdengar suara orang berkata,

“Cin Cun Ong, maafkan aku mengganggu pestamu. Aku

perlu dengan pemuda she Ouwyang ini”

Semua orang terkejut ketika melihat betapa tiba-tiba saja

di tengah ruangan itu berdiri seorang tua berpakaian sebagai

petani dengan baju warna putih dengan sikap-tenang sekali.

“Sin-liong Ciu Pek In” Cin Cun Ong berkata terkejut.

Mendengar nama ini, Hoa-gu-ji Lee Un tahu bahwa

kakek yang datang ini adalah seorang tokoh pemberontak

yang terkenal sekali, maka diam-diam ia mengeluarkan tiga

batang piauw dan melemparkan senjata rahasia itu dari

jurusan belakang, mengarah tiga jalan darah yang paling

berbahaya dari kakek itu. Semua orang terkejut melihat hal

ini dan terutama Cin Cun Ong merasa tak senang karena

tindakan Lee Un itu dianggap gegabah dan sembrono

Ciu Pek In seperti tidak tahu akan datangnya tiga batang

piauw yang menyambut dan tiga buah senjata rahasia itu

tepat mengenai tubuhnya. Tapi sungguh aneh. Bagaikan

mengenai karet saja, tiga buah senjata itu mental kembali

dan jatuh di atas tanah tanpa melukai kulit kakek itu

“Cin Cun Ong, tidak malukah kau menyambut tamu

dengan cara gelap?” tanyanya kepada Cin Cun Ong.

Cin-ciangkun dengan muka merah berkata,

“Pemberontak tua. Apakah kehendakmu datang ke sini?”

“Ada dua macam keperluan. Pertama, aku hendak

membawa pemuda she Ouwyang ini karena ada sesuatu

urusan penting. Kedua, aku memimpin barisanku hendak

menyerang bentengmu ini dan kini mereka telah mulai

menyerbu masuk”

Dan pada saat itu terdengar sorak-sorai yang hebat dan

gegap-gempita dari luar benteng. Terkejutlah semua orang

yang berada di situ.

“Ciu Pek In, kau mencari mati” kata Cin Cun Ong

sambil mencabut pedangnya. Tapi pada saat itu, dari luar

berloncatan masuk beberapa orang, di antaranya tampak

Ouwyang Bun, Can Cui Sian si Bunga Bwee, tampak juga

tiga orang tosu ulung yang sebenarnya adalah Cun-san

Sam-lo-hiap (Tiga Pendekar Tua Dari Cun-san), tampak

pula Bhok Sun Ki si Raja Pengemis, Cin Kong Hwesio

ketua kelenteng Hok-po-tong yang gemuk pendek, dan tidak

ketinggalan Kilok Ngo-koai (Lima Setan Dari Kilok).

Ternyata para pemimpin pemberontak ini dengan gagah

berani menyerbu masuk pada saat para pemimpin barisan

negeri sedang berkumpul. Sedangkan anak buah mereka

telah bertempur di luar tembok benteng dengan hebat

melawan penjaga-penjaga benteng.

Di ruangan yang lebar itu segera terjadi pertempuran

yang. luar biasa hebatnya. Ciu Pek In yang mempunyai

gerakan bagaikan seekor naga sakti, sekali menggerakkan

tubuh sudah menyambar ke arah Ouwyang Bu dan sebelum

anak muda itu dapat melawan, ia telah kena ditotok hingga

tak dapat bergerak.

Cin Pek In lalu mengempit pemuda itu dan dibawa

meloncat keluar dari ruangan. Ia turunkan Ouwyang Bu di

atas tanah. Ia bertanya dengan suara tetap dan berat,

“Anak muda yang sesat, kauapakan muridku si Siauw

Leng?”

Pada saat itu Cui Sian juga memburu kesitu dan melihat

pemuda itu ia memaki gemas,

‘Manusia keji. Kau telah menculik dan menganiaya

tunanganmu sendiri, sungguh kejam dan rendah”

Biarpun Ouwyang Bu telah ditotok tai-twi-hiat yakni

jalan darah yang membuat ia lemah tak berdaya, namun ia

masih dapat berbicara dan semangatnya tidak padam.

Dengan berani dan tabah ia berkata,

“Aku sudah tertangkap, mengapa tidak lekas kau bunuh,

mau tunggu apalagi?”

“Akuilah dulu bagaimana kau membunuh muridku” kata

Ciu Pek In. Tapi Ouw yang Bu hanya memandang dengan

mata bersinar dan tidak mau menjawab. Betapapun juga, ia

telah merasa bertanggung jawab atas kematian Siauw Leng,

untuk apa ia harus menceritakan segala peristiwa itu hingga

seakan-akan ia membela diri? Ia tidak takut mati dan ia tak

perlu minta dikasihani.

Melihat kekerasan hati Ouwyang Bu, Cui Sian menjadi

tak sabar dan tak dapat menahan kemarahan hatinya, ia

mengangkat tangannya yang memegang pedang. Tapi pada

saat itu terdengar teriakan,

“Moi-moi. Ciu-locianpwe. Tahan dulu…. dengarlah

keterangan orang ini”

Ternyata yang datang adalah Ouwyang Bun yang

menyeret-nyeret seorang anggauta tentara. Anak muda ini

sengaja menangkap dan memaksa tentara ini mengaku dan

menceritakan peristiwa yang terjadi antara Gui Li Sun,

Siauw Leng, dan Oouyang Bu. Dengan paksaannya, tentara

itu terpaksa menceritakan kembali di depan Ciu Pek In dan

Can Cui Sian tentang peristiwa itu, betapa Gui-ciangkun

menawan Siauw Leng dan betapa ia membawa gadis itu ke

tendanya dengan maksud jahat. Kemudian datang

Ouwyang Bu yang menghalangi maksudnya hingga terjadi

pertempuran. Dan ia ceritakan pula bahwa yang

membunuh Siauw Leng adalah Gui Li Sun dan bahwa

karena itulah Ouwyang Bu sampai membunuh orang she

Gui itu.

Mendengar keterangan ini, tiba-tiba Cui Sian menjerit

lirih dan ia pegang tangan Ouwyang Bu sambil berkata,

“Ah…. kau…. telah membalaskan sakit hati Siauw Leng….

dan… dan aku yang membunuh kekasihmu… sekarang

mendakwamu lagi…”

Tapi Ouwyang Bu tidak memperlihatkan muka girang,

dan setelah Ciu Pek In dengan wajah kagum melepaskan

totokannya, Ouwyang .Bu berdiri lalu berkata keras, “Aku

adalah seorang perajurit yang telah bersumpah setia kepada

negara. Segala urusan pribadi ini bukanlah urusanku. Nona

Siauw Leng terbunuh karena ia seorang anggauta

pemberontak yang tertawan. Ini sudah sewajarnya. Guiciangkun

kubunuh karena ia melanggar peraturan kami. Inipun

sewajarnya” Kemudian ia menghunus pedangnya dan

dengan gagah berkata,

“Dan kalian semua adalah anggauta-anggauta

pemberontak yang melanggar tempat penjagaanku, maka

sudah sewajarnya pula kalau menjadi musuh-musuhku

yang harus kubasmi” ia lalu menggerakkan pedangnya

“Ouwyang-hiante, kau layani dia” kata Ciu Pek In

kepada Ouwyang Bun. Pemuda ini dengan hati perih

terpaksa menurut dan dengan pedangnya ia menangkis

serangan Ouwyang Bu yang kalap.

“Bu-te, jangan kau gunakan pedangmu terhadap aku.

Mari kita berdua pergi saja jauh-jauh, Bu-te.”

“Jangan banyak cerewet. Kau pemberontak dan aku

perajurit negara”

Adik yang telah kalap ini menyerang lagi lebih hebat

hingga terpaksa Ouwyang Bun menangkis dengan hati-hati.

Berkali-kali Ouwyang Bun menyebut nama adiknya dengan

hati hancur. Ia tidak mau balas menyerang, hanya

menangkis saja.

Melihat keadaan Ouwyang Bun demikian itu, Cui Sian

tahu bahwa kalau dilanjutkan, kekasihnya itu tentu akan

kena celaka di ujung pedang Ouwyang Bu, maka ia

meloncat untuk membantu. Tapi pada saat itu, datanglah

Cin Cun Ong yang sengaja mencari-cari Ouwyang Bu.

Melihat Ouwyang Bun sedang bertempur melawan

adiknya, panglima tua ini marah sekali dan membentak,

“Ouwyang Bun, kau pemuda pengkhianat”

Tapi terdengar jawaban Ciu Pek In dengan suara halus,

“Cin Cun Ong, seseorang bebas memilih pendapatnya

sendiri-sendiri tak dapat dipaksa untuk hanya ikut-ikutan

saja. Ouw yang Bun telah memilih perjuangan kami.”

“Kau tua bangka yang menjadi biang keladi semua ini”

bentak Cin Cun Ong dengan marah sekali lalu menyerang

Ciu Pek In. Kedua jago tua ini lalu bertempur dengan luar

biasa hebatnya. Cui Sian tetap membantu Ouwyang Bun

dan melihat betapa Ouwyang Bun benar-benar tidak

sanggup mengangkat senjata terhadap adiknya yang

dikasihi, gadis ini lalu menyuruh ia membantu saja kawan

yang lain.

Pertempuran di dalam benteng yang berjalan hampir

setengah hari itu ternyata dimenangkan oleh pihak

pemberontak, karena tidak saja jumlah mereka jauh lebih

besar, tapi juga datang barisan baru di bawah pimpinan

Thio Sian Tiong sendiri, pemimpin besar pemberontak yang

sangat terkenal itu.

Tentu saja pihak tentara negeri tak sanggup menahan

serangan gelombang besar dari barisan pemberontak ini dan

mereka segera mundur sambil meninggalkan ratusan

korban. Dan pertempuran yang berlangsung antara para

pemimpin di dalam tenda besar juga hebat sekali. Ternyata

keadaan mereka seimbang, tapi melihat bahwa anak buah

mereka telah kalah dan kabur, banyak pula di antara

mereka, termasuk Khu Ci Lok si Hun-cwe Maut dan Kin

Keng Tojin, segera meninggalkan lawan dan lari. Yang lainlain

telah roboh menjadi korban senjata. Di pihak

pimpinan pemberontak, Kilok Ngo-koai yang berjumlah

lima orang itu tetah roboh tiga dan tinggal dua orang lagi

saja, juga Bhok Sun Ki si Raja Pengemis telah tewas. Cin

Kong Hwesio mendapat luka bacokan dan masih banyak

pula pemimpin dan pembantu lain yang menderita luka.

Setelah sisa dari mereka yang bertarung di dalam tenda

itu pada lari, kini masih bertempur ramai hanyalah Cin Ong

melawan Ciu Pek In dan Ouw-Bu melawan Cui Sian.

Sebenarnya, beberapa kali Ciu Pek In tadi berseru bahwa

kalau Cin Cun Ong hendak lari, ia takkan mengejar. Tapi

ucapan ini hanya menimbulkan kemarahan Cin Cun Ong

dan Ouwyang Bu saja. Kedua ksatria tua dan muda ini

ingin berkelahi terus sampai napas terakhir. Mereka lebih

baik mati daripada harus meninggalkan benteng itu.

Ciu Pek In adalah seorang ahli pedang yang istimewa

dan berkepandaian tinggi, namun menghadapi Cin Cun

Ong ia tidak berdaya dan bukan perkara mudah untuk

mengalahkan panglima tua itu. Dan biarpun Cui Sian hebat

juga, namun kepandaian Ouwyang Bu dapat

Kini semua kawanan pemberontak yang ditinggal lari

musuh, mengurung tenda itu dan beberapa orang pemimpin

hendak membantu Ciu Pek In dan Cui Sian tapi Ciu Pek In

berteriak,

“Jangan. Jangan main keroyokan terhadap dua orang

pahlawan gagah ini. Aku dan muridku masih belum kalah”

Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya. Tibatiba

dari luar masuk seorang laki-laki berusia kira-kira

empat puluh lima tahun, berpakaian seperti orang tani dan

bertopi lebar. Kumis dan jenggotnya yang hitam panjang itu

terpelihara matanya yang tajam. Semua seorang segera

memberi jalan padanya dengan sikap hormat.

Ia lalu melihat empat orang yang sedang bertempur itu

dengan kagum dan akhirnya mengeluarkan sebuah

gendewa dan beberapa batang anak panah. Lalu ia berseru

dengan suara menggeledek,

“Ciu-lopeh dan Can-siocia. Kalian mundurlah”

Mendengar suara yang sangat berpengaruh dan telah

mereka kenal baik ini, Ciu Pek In dan Cui Sian segera

meloncat mundur meninggalkan lawan mereka dari pada

saat itu enam batang anak panah meluncur bagai kilat. Tiga

menuju ke arah Ouwyang Bu dan tiga lagi menuju ke arah

Cin Cun Ong.

Biarpun sudah lelah sekali, namun Cin Cun Ong masih

berhasil mengelakkan dua di antara tiga anak panah itu tapi

yang ketiga tepat menancap di dada kirinya hingga ia

terhuyung mundur lalu roboh tak berkutik lagi. Anak panah

itu menembus jantungnya hingga ia binasa seketika itu juga.

Ouwyang Bu yang gagah, hanya dapat menangkis

sebatang anak panah, yang dua batang tepat menancap di

dada hingga pemuda inipun rebah dan mati seketika itu

juga tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sama halnya

dengan Cin Cun Ong, itu mati dengan pedang masih erat

tergenggam dalam tangan.

Semua orang maju melihat kedua orang yang gagah

perkasa ini. Ouwyang Bun mau menubruk adiknya yang

telah mati sambil mengeluarkan keluhan sedih.

“Anak muda, mundur kau” petani bertopi lebar tadi

berkata lagi dengan suaranya yang menggeledek. “Ini bukan

waktunya untuk menangis. Mundurlah” Tapi pada saat

Ouwyang Bun mundur, ia melihat persamaan muka di

antara Ouwyang Bun dan pemuda yang rebah itu, maka ia

segera bertanya,

“Ah, kalian ini bersaudarakah?”

Cui Stan yang mewakili kekasihnya menjawab,

“Mereka adalah saudara kembar yang berselisih pendapat,

taihiap.”

Mata orang itu bersinar ganjil. “Hm, anak muda. Kau

beruntung mempunyai saudara seperti ini. Tak perlu kau

bersedih, bahkan kau boleh merasa bangga. Kalau saja kita

mempunyai orang-orang seperti Cin Cun Ong dan anak

muda ini. Lihat, semua kawan-kawan, lihatlah. Dua orang

ini barulah patut disebut orang-orang gagah, perajuritperajurit

sejati, yang patut dicontoh oleh semua orang yang

menganggap dirinya sebagai ksatria. Mereka berdua ini

dengan pedang di tangan membela benteng ini sampai titik

darah terakhir. Biarpun kawan-kawan mereka telah lari,

namun mereka tetap membela tempat pertahanan yang

menjadi tanggung jawab mereka, tetap memenuhi tugas

kewajiban sebagaimana layaknya seorang pahlawan sejati.

Inilah orang-orang gagah perkasa, perwira-perwira yang

patut kita hormati”

Siapakah orang bertopi lebar yang mempunyai suara

menggeledek dan mempunyai ilmu memanah yang luar

biasa hebatnya ini? Tidak lain ialah Thio Sian Tiong

sendiri, pemimpin pemberontak yang terkenal itu, yang

bersama-sama seorang pemberontak lain yang lebih terkenal

lagi, yakni Lie Cu Seng, telah berhasil menggerakkan rakyat

tertindas untuk menggulingkan pemerintahan kaisar lalim.

Setelah itu, semua barisan pemberontak lalu maju

bergerak menuju ke kota raja. Kemudian mereka

menggabungkan diri dengan barisan Lie Cu Seng dan

langsung menyerbu kota raja hingga berhasil menghalau

semua pembesar. Kaisar lalim berhasil lolos dari istana, tapi

karena terus dikejar-kejar akhirnya ia menjadi putus asa dan

menggantung diri di sebuah gunung hingga binasa. Pada

saat terakhir itu, barulah kaisar insyaf akan kesalahannya,

insyaf bahwa ia sebagai seorang pemimpin telah lupa akan

kewajibannya, hanya ingat akan kesenangan diri sendiri

saja, berfoya-foya dan bersenang-senang dan sama sekali

tidak memperdulikan nasib rakyatnya hingga seakan-akan

buta terhadap segala kejahatan dan kecurangan para

pegawainya hingga rakyat kecil hidup tertindas dan

Setelah pepterangan padam dan semua menjadi aman

kembali, Ouwyang Bun dan Cui Sian kembali ke Tung-han,

ke rumah orang tua Cui Sian. Can Lim Co. suami isteri

girang sekali melihat Cui Sian pulang dan bahkan telah

bertemu dengan tunangannya, tapi mereka berduka

mendengar tentang kematian Siauw Leng. Dengan singkat

Cui Sian menceritakan segala pengalamannya kepada ayah

Setelah tinggal untuk tiga hari di rumah calon

mertuanya, Ouwyang Bun lalu pulang ke Nam-tin, ke

kampung orang tua nya. Alangkah sedih hati ayah ibunya

ketika mendengar tentang gugurnya Ouwyang Bu, tapi

Ouwyang Bun dapat menghibur mereka dan menceritakan

betapa Ouwyang Bu gugur sebagai seorang ksatria dan

mendapat penghormatan besar baik dari kawan maupun

dari lawan. Ketika Ouwyang Bun menceritakan betapa ia

sendiri menggabungkan diri dengan para pemberontak,

ayahnya agak kurang senang, tapi melihat kenyataan bahwa

akhirnya Lie Cu Seng yang menang, ia tidak berkata apaapa.

Melihat sikap ayahnya, Ouwyang Bun yang sudah

mendapat pengalaman itu lalu menceritakan tentang

keadaan rakyat kecil yang penuh derita dan menceritakan

pula bahwa sudah menjadi kewajiban tiap orang yang

menyebut dirinya sebagai hohan (orang budiman) untuk

menolong mereka ini, baik dengan tenaga, harta, maupun

pikiran membantu mereka terlepas dari kesengsaraan.

Akhirnya terbukalah pikiran ayahnya dan lambat-laun

Ouwyang Heng Sun menjadi seorang hartawan yang

dermawan di kotanya.

Tiga bulan kemudian, dilangsungkanlah perkawinan

antara Ouwyang Bun dan Cui Sian yang dirayakan dengan

ramai sekali. Banyak sekali orang-orang besar yang mereka

kenal menghadiri pesta perkawinan itu, di antaranya

tampak pula. Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang, guru Ouwyangheng-

te. Dan adalah satu hal yang sama sekali diluar

dugaan Ouwyang Bun ketika ia mendengar dari suhunya

bahwa orang tua itupun ternyata……. membantu

pergerakan pemberontak, tapi di rombongan lain yakni ia

membantu barisan di bawah pimpinan orang besar Lie Cu

Seng sendiri. Tentu saja, selain girang mendengar ini,

Ouwyang Bun juga merasa heran sekali dan mengajukan

pertanyaan kepada suhunya itu.

Sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan putih

Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang lalu menuturkan betapa

tadinya iapun anti kepada pemberontak hingga ia sendiri

menyuruh kedua muridnya membantu sutenya Cin Cun

Ong. Bahkan ia sendiri ketika mendengar bahwa barisan

pemberontak hendak lewat di daerah Hong-san, lalu turun

gunung mencegat dan hendak melawan. Tapi ia heran

sekali melihat betapa semua rakyat miskin menyambut

kedatangan pemberontak dengan suka ria. Ia lalu

menggunakan kepandaiannya untuk memasuki tenda besar

dengan maksud mengacau pemimpin barisan. Tak tahunya

ia bertemu dengan Lie Cu Seng sendiri. Di dalam tenda

itulah ia menerima keterangan-keterangan. dan petuahpetuah

hingga terbuka matanya dan ia menjadi insyaf akan

sucinya tugas barisan rakyat itu. Dengan suka rela ia lalu

menggabungkan diri.

Mendengar ini, tentu saja Ouwyang Bun suami isteri

menjadi girang sekali. Demikianlah, sepasang orang muda

ini hidup berbahagia, saling.mencintai dan menghormati

sampai di hari tua.

Tamat

Iklan

6 thoughts on “Ouw Yang Heng-te

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s