Sakit Hati Seorang Wanita

New Picture (1ccc)

Sakit Hati Seorang Wanita

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Ebook oleh : Dewi KZ TIRAIKASIH WEBSITE

 Jilid 1

“NONA MANIS, hendak ke manakah?” Pemuda yang menegur itu bertubuh tinggi kurus berwajah tampan dan dari pakaiannya mudah diketahui bahwa dia seorang pemuda yang beruang. Usianya hampir tiga puluh tahun dan dari pandang matanya dan senyumnya, dapat puladiduga bahwa dia tentu seorang pria yang sudah biasa berhadapan dengan wanita.

Dua orang laki-laki lain, agaknya pengikut-pengikutnya, yang usianya sebaya, tersenyum lebar

melihat betapa orang itu berlagak dan menegur gadis itu.

Gadis itu tidak menjawab, melirikpun tidak dan melanjutkan

perjalanannya. Ia melangkah dengan cepat tanpa menoleh,

membawa keranjangnya yang terisi seekor ayam dan sayursayuran

yang baru saja dibelinya dari pasar.

“Adik cantik, siapakah namamu!”

Dara itu tetap berjalan tanpa menoleh. Ia seorang dara

berusia lima belas dan enam belas tahun, bagaikan setangkai

bunga sedang mulai merekah, belum mekar sepenuhnya,

namun dalam keadaan seperti itu ia memiliki daya tarik

tersendiri yang amat kuat. Tubuhnya sedang, ramping dan

padat. Langkahnya nampak lemah gemulai namun gesit dan

bertenaga, lekuk lengkung tubuh mulai nampak walaupun

belum menonjol sekali. Dari kulit muka, leher dan tangannya

dapat diketahui bahwa ia memiliki kulit yang putih

kekuningan, halus mulus dan sehat kemerahan. Rambut

kepalanya hitam, lebat dan panjang, dikuncir dua dan kuncirkuncir

itu bergantungan di kanan kiri. Anak rambut yang

berjuntai halus di sekitar dahi dan tengkuknya melingkar

hangat. Sepasang alisnya hitam sekali seperti dipulas, kecil

panjang melengkung, membuat kulit pelupuk mata lebih putih

nampaknya daripada kedua pipi yang segar kemerahan itu.

Sepasang matanya bersinar lembut, jeli dan jernih, agak lebar

dan biasanya agak tajam akan tetapi saat itu sinar matanya

menunduk, diliputi rasa takut dan malu. Hidungnya kecil

 

mancung, ujungnya agak berjungkit ke atas memberi kesan

lucu dan nakal. Akan tetapi mulutnya mungkin memiliki daya

tarik paling kuat. Sepasang bibir merah tanpa gincu itu selalu

nampak basah dan penuh, kulit bibirnya demikian tipis seolaholah

hanya terisi darah dan kalau tergigit sedikit saja tentu

akan muncrat darahnya, mulut yang membayangkan

kegairahan dan menjanjikan kenikmatan yang tak terbatas.

Deretan gigi kecil dan putih berkilau kadang-kadang nampak,

dan dalam kegelisahannya, kadang-kadang nampak di ujung

lidah yang kecil merah mencuat menjilat bibir. Dagunya

meruncing dan ada tahi lalat kecil hampir tak nampak di dagu

itu. Seorang perempuan yang cantik jelita, molek dan manis,

yang belum matang benar, namun jelas mudah dilihat bahwa

ia adalah seorang calon perempuan yang sebentar lagi akan

mekar sepenuhnya dengan segala keindahan dan

keharumannya.

“Nona manis, di manakah rumahmu?”

Pertanyaan bertubi-tubi dari laki-laki bersama dua orang

temannya yang terus mengikut inya itu tak pernah dijawabnya,

bahkan sama sekali tidak diperdulikan. Mulutnya yang indah

itu kini agak cemberut, akan tetapi tidak mengurangi

kemanisan wajahnya. Sepasang mata yang jeli itu, yang

tadinya menunduk malu, kini mulai melirik tajam dan

mengandung kemarahan.

“Adik manis, kau jalan sendirian, bolehkah kuantar

pulang?”

Ketika dara itu tidak menjawab dan bahkan mempercepat

langkahnya, seorang di antara dua pengikut itu terkekeh. “Aih,

kongcu, jangan-jangan dia tidak bisa bicara!”

Laki-laki yang disebut kongcu (tuan muda) itu juga

terkekeh. “Heh-heh, masa? Sayang, ah, kalau seorang gadis

yang begini cantik jelita seperti bidadari ternyata gagu. Tapi,

biar gagu juga, aku tetap cinta, ha-ha!”

 

Setelah berkata demikian, orang itu mengeluarkan suara

“ah-ah-uh-uh” dan membuat gerakan-gerakan seperti orang

gagu kalau hendak bicara, diketawai oleh dua orang

temannya. Karena orang itu kini berjalan sambil mundur di

depan gadis itu, menghadang dan membuat gerakan-gerakan

seperti orang gagu, gadis itu mengerutkan alisnya dan

berhenti me langkah.

“Mau apakah engkau mengganggu orang di tengah jalan?”

bentaknya dengan suara ketus.

Laki-laki itu tersenyum menyeringai dan memasang aksi

yang dianggapnya paling menguntungkan, yaitu lagak yang

biasa dipasang di depan wanita-wanita yang dirayunya. Dia

menjura dengan sopan dibuat-buat, lalu berkata dengan

senyum ramah. “Maaf, nona, bukan maksudku untuk

mengganggu, melainkan melihat nona, hatiku terpikat dan

ingin sekali aku berkenalan……”

Pandang mata, senyum dan kata-kata merayu itu bukan

menarik hati gadis remaja itu, bahkan mengejutkannya.

“Tidak, aku tidak ingin berkenalan!” katanya dan iapun

menyelinap hendak melewati orang yang menghadangnya itu.

Akan tetapi, dua orang teman laki-laki itu sudah menghadang

pula di depannya dan seorang di antaranya berkata dengan

suara lantang, agaknya sengaja agar didengar oleh orangorang

lain yang tertarik oleh peristiwa ini dan berhenti

menonton.

“Nona agaknya belum tahu dengan siapa nona berhadapan.

Pemuda yang mengajak berkenalan ini adalah tuan muda Pui

Ki Cong, putera dari kepala jaksa yang baru di Thian-cin.

Beliau ingin berkenalan dengan nona, ini merupakan

kehormatan besar bagi nona.”

“Aku tidak perduli dia siapa dan anak siapa, aku tidak mau

berkenalan!” kata dara itu dan iapun melangkah terus. Akan

tetapi tiba-tiba yang diperkenalkan sebagai Pui Ki Cong putera

 

kepala jaksa yang baru itu sudah berdiri di depannya sambil

tersenyum

menyeringai seperti

seekor kuda.

“He-he, nona

manis, jangan

berlagak jual mahal!”

katanya dan

tangannya dengan

sikap kurang ajar

sekali mencolek ke

arah dagu yang

bertahi lalat kecil itu.

“Dukk….. plakkk!!”

Lengan kiri gadis itu

menangkis tangan

yang hendak mencolek

dagunya dan tangan kanannya sudah menyambar ke depan

dan menampar pipi itu dengan keras sekali.

“Aduhhh…..!” Pui Ki Cong terhuyung ke belakang, tangan

kirinya mengusap-usap pipi yang menjadi bengkak dan

matang biru sedangkan dari ujung bibirnya mengalir darah

karena sebuah giginya hampir copot dan mengeluarkan darah.

Gerakan gadis remaja itu cepat bukan main dan tenaga

tamparan tangannya juga kuat, sama sekali di luar dugaan

karena tidak sesuai dengan tangannya yang berkulit halus dan

terbentuk kecil itu.

“Eh, berani kau memukul kongcu kami?” Dua orang teman

putera jaksa itu marah sekali melihat betapa majikan muda

mereka ditampar, dan mereka berdua lupa bahwa mereka

berhadapan dengan seorang dara remaja. Mereka sudah

langsung saja menyerang dan memukul ke arah dada dan

kepala gadis itu. Akan tetapi, akibatnya sungguh di luar

dugaan dua orang itu. Dengan tenang gesit sekali dara itu

 

berhasil menghindarkan diri dari serangan mereka dan ketika

ia membalas dengan kecepatan kilat, tangan kirinya sudah

menampar ke arah kepala dan kaki kirinya juga melayang dan

menendang dada orang ke dua. Dua orang itu mengaduh dan

terpelanting, yang seorang menjadi pening kepalanya dan

mengeluh kesakitan, sedangkan orang ke dua memegangi

dada yang terasa nyeri dan sesak napasnya. Dara itu tidak

memandang lagi kepada mereka, cepat mengumpulkan sayur

dan ayam yang tumpah dari dalam keranjang, kemudian

membawa keranjangnya dan cepat pergi dari situ setengah

berlari.

“Kejar dara itu! Tangkap….. pukul….!”

Pui Ki Cong berteriak-teriak dengan marah kepada dua

orang temannya. Akan tetapi dua orang itu masih kesakitan.

Banyak orang menonton peristiwa itu dan mereka

mengenal siapa adanya pemuda tinggi kurus itu, seorang

pemuda bangsawan, putera kepala jaksa yang baru tiba di

Thian-cin dan biarpun masih baru tinggal di Thian-cin,

namanya sudah terkenal sekali sebagai seorang pemuda yang

amat nakal. Pui Ki Cong dikenal sebagai seorang pemuda yang

suka berkeliaran, membawa tukang-tukang pukul, suka pelesir

dan main perempuan sehingga terkenal sekali di semua

kompleks pelacuran sebagai seorang kongcu hidung belang

yang kantongnya padat dan royal. Akan tetapi dia juga

terkenal sebagai seorang laki-laki yang suka mengganggu

perempuan baik-baik, suka mengganggu gadis-gadis dan

bahkan isteri-isteri orang. Karena itu, ketika banyak orang

melihat betapa kongcu itu ditampar dan dua orang tukang

pukulnya dihajar oleh seorang gadis, diam-diam mereka

merasa gembira sekali walaupun pada lahirnya, tak

seorangpun berani memperlihatkannya.

Akan tetapi, selalu saja di antara banyak orang terdapat

penjilat-penjilat. Pui Ki Cong adalah putera kepala jaksa yang

berkuasa-dan berpengaruh, juga kaya raya, maka tidak

 

kurang jumlahnya orang-orang yang suka menjilat dan

bermuka-muka kepada keluarganya. Oleh karena itu, di antara

banyak orang yang berkerumun itu ada pula yang cepat

menghampiri tiga orang itu dan membantu mereka bangkit,

dan seorang laki-laki tua yang mendekati Pui Ki Cong berkata,

“Kongcu, harap jangan dikejar. Gadis itu lihai dan juga

saudara-saudara seperguruannya lihai.”

Pui Ki Cong terkejut mendengar ini. Dia memandang orang

tua itu dan bertanya, “Siapakah gadis itu? Dan tinggal di

mana?”

“Namanya Kim Cui Hong, kongcu. Ia puteri tunggal guru

silat Kim Siok yang tinggal di dusun di selatan kota Thian-cin,

yaitu dusun Ang-ke-bun. Kim-kauwsu (guru silat Kim) lihai dan

mempunyai banyak murid yang lihai. Maka, kalau kongcu

mengejarnya ke sana, akan berbahaya bagi keselamatan

kongcu.”

Pui Ki Cong mendengus. “Hemm, guru silat kampungan.

Lihat saja pembalasanku nanti. Hayo kita pulang!” bentaknya

kepada dua orang temannya dan mereka segera kembali ke

Thian-cin.

Sementara itu, dengan jantung berdebar penuh rasa

marah, malu dan tegang, gadis remaja itu berlari menuju ke

dusun Ang-ke-bun yang sudah nampak temboknya. Wajahnya

yang manis itu masih cemberut dan marah sekali, bukan

hanya merah karena panas tubuhnya dipakai berlari,

melainkan terutama sekali karena panas hatinya. Semenjak

kecil, Kim Cui Hong ini hidup bersama ayahnya yang sudah

menduda sejak ia berusia lima tahun, la dididik ilmu s ilat oleh

ayahnya, bersama belasan orang murid ayahnya. Di antara

murid ayahnya yang kesemuanya laki-laki, hanya ada seorang

saja yang dididik sejak kecil bersama-sama ia, yaitu Can Lu

San yang tiga empat tahun lebih tua darinya, dan menjadi

satu-satunya suhengnya. Yang lain, biarpun banyak di

antaranya yang usianya lebih tua, termasuk para sutenya

 

(adik seperguruannya). Cui Hong belum pernah diganggu lakilaki

seperti yang dialaminya tadi. Memang, sejak satu dua

tahun yang lalu semenjak ia menjadi remaja dan menjelang

dewasa, semenjak masa kanak-kanaknya mulai

ditinggalkannya, pandang mata kaum pria terhadap dirinya

dirasakan lain, aneh dan membuatnya kadang-kadang gugup

dan bingung. Akan tetapi, belum pernah ada orang laki-laki

berani mengganggunya dengan kata-kata atau sikap yang

kurang ajar. Bagaimanapun juga, di dusun Ang-ke-bun nama

ayahnya sebagai seorang guru silat sudah dikenal orang, maka

siapakah berani kurang ajar kepada isterinya? Bahkan kota

Thian-cin yang besarpun sudah mengenal nama Kim-kauwsu.

Akan tetapi, sungguh tak disangkanya sama sekali, ketika

pada pagi hari itu ia pergi berbelanja ke kota Thian-cin, ia

diganggu orang yang kurang ajar! Hatinya memang merasa

puas bahwa ia sudah dapat menampar muka pemuda

jangkung itu, dan menghajar dua orang temannya, akan tetapi

tetap saja hatinya masih panas oleh kemarahan.

Tidak biasanya Cui Hong marah-marah. Ia seorang gadis

yang berwatak gembira, lincah, Jenaka dan jarang marah.

Akan tetapi sekali ini, ada perasaan aneh yang mendatangkan

bayangan mengerikan ketika ia diganggu tiga orang itu, yang

membuatnya marah bukan main. Kalau saja ia tidak ingat

akan pesan-pesan ayahnya bahwa ia tidak boleh

mempergunakan kepandaian silatnya untuk mencelakai orang,

melukai apalagi membunuh, agaknya ia tadi akan memberi

hajaran yang lebih keras kepada tiga orang itu! Terutama

sekali kepada pemuda yang bernama Pui Ki Cong itu, yang

katanya putera kepala jaksa! Ia tidak tahu benar apa arti

kedudukan jaksa, yang diduganya hanyalah sebuah jabatan

yang membuat orangnya menjadi kaya raya saja.

Perasaan yang mengancam hatinya itu membuat ia

memasuki dusun tanpa menengok ke kanan kiri, bahkan

ketika ia memasuki pekarangan rumah ayahnya, ia tidak tahu

bahwa seorang pemuda yang sedang membetulkan pagar

 

pekarangan itu yang rusak, memandangnya dengan sinar

mata aneh.

“Heiii, sumoi, engkau seperti dikejar-kejar setan saja!”

Pemuda itu bangkit, dan menegur, suaranya lantang dan sinar

matanya berseri ketika dia memandang wajah gadis yang

segar kemerahan itu.

Baru Cui Hong menengok dan melihat pemuda itu dan

iapun berhenti ber lari. Dengan sehe lai saputangan, diusapnya

peluh dari dahi dan lehernya. “Uhhh, panasnya…,” ia

mengeluh untuk menentramkan hatinya.

“Apakah terjadi sesuatu, sumoi?” tanya pula Can Lu San,

pemuda Itu sambil memandang dengan sinar mata

membayangkan kekaguman. Senang hati Cui Hong melihat

pandang mata itu. Sudah lama ia melihat sinar kekaguman itu

memancar dari mata Lu San kalau suheng itu memandangnya.

Ia tersenyum. “Tidak ada setan yang mengejarku, suheng.

Hanya aku khawatir kesiangan dan ayam ini ribut saja

sepanjang jalan.”

Lu San tertawa. Sikap sumoinya yang selalu periang itu

mendatangkan kegembiraan kepada hatinya yang pendiam,

seperti sinar matahari pagi menyinari sudut-sudut yang

kosong dan gelap. “Akan tetapi engkau berlari-lari sampai

bermandi peluh dan lihat, mukamu sampai kemerahan

seperti….. seperti…..”

“Seperti apa, suheng?”

“Seperti buah tomat masak!”

“Wah, celaka aku. Kalau mukaku seperti buah tomat, akan

lucu dan jelek sekali. Bulat dan gendut.”

Mereka tertawa. “Sumoi, kenapa engkau sendiri yang

berbelanja? Pagi tadi aku sudah mencari suhu untuk

menanyakan masakan apa yang dikehendaki agar dapat

 

kubelanjakan ke Thian-cin. Eh, tahu-tahu engkau sudah

mendahului aku.”

“Memang aku mendahuluimu, suheng. Tidak apakan sekalikali

aku yang pergi berbe lanja.”

“Akan tetapi engkau kini sudah menjadi seorang gadis

dewasa, sumoi. Dan kau tahu betapa tidak amannya sekarang

ini bagi wanita dewasa untuk bepergian seorang diri.”

Cui Hong menjebikan bibirnya yang merah basah itu ke

arah suhengnya. “Huh, aku dapat menjaga diri, suheng.”

“Aku tahu, akan tetapi kalau suhu mengetahui bahwa

engkau sendiri yang pergi berbelanja, jangan-jangan aku

disalahkan, disangkanya aku malas dan menyuruh engkau.”

“Tidak, suheng. Sekali ini memang aku ingin pergi, bukan

hanya untuk melihat keramaian Thian-cin yang sudah

beberapa pekan lamanya tidak pernah kukunjungi. juga

karena aku hari ini ingin masa k enak untuk ayahku.”

“Eh, ada keistimewaan apakah hari ini?”

“Hari ini adalah ulang tahun ayah.”

“Ahh! Kenapa suhu diam saja?”

“Sudah lama ayah tidak pernah mau mengingat lagi hari

lahirnya, akan tetapi aku pernah bertanya kepadanya dan aku

mencatat hari lahirnya. Selalu aku yang menyediakan masakan

atau hidangan istimewa pada hari ulang tahunnya.”

“Wah, engkau memang seorang anak yang baik dan

berbakti, sumoi.”

“Aihh, tak perlu memuji. Di balik pujianmu itu terkandung

rasa girang karena engkaupun akan kebagian masakanku

yang istimewa hari ini!” Gadis ini lalu lar i memasuki rumah,

meninggalkan Lu San yang memandang sambil tertawa dan

sinar mata penuh kagum. Sumoinya memang hebat! Sejak

kecil dia bergaul dengan sumoinya, sejak sumoinya berusia

 

lima tahun dan dia berusia sembilan tahun. Dia seorang anak

yatim piatu yang diambil murid oleh ayah Cui Hong dan dia

berangkat besar bersama dengan Cui Hong. Kinipun di dalam

rumah itu hanya tinggal mereka bertiga. Murid-murid lain tidak

ada yang tinggal di situ. Dan dia merasa gembira sekali karena

biarpun suhunya belum pernah mengatakannya, namun dari

sikap suhunya, dari kata-katanya, dia dapat menangkap

maksud hati suhunya untuk menjodohkan puteri tunggal itu

dengan dia! Dan baginya, tidak ada kebahagiaan melebihi

bayangan ini. Hidupnya akan lengkap sepenuhnya kalau saja

dia dapat menggandeng Cui Hong sebagai isterinya, untuk

selama hidupnya.

Pada masa itu, kekuasaan Kerajaan Beng sudah berada di

ambang pintu kehancuran. Kaisar sendiri, yaitu Kaisar Cung

Ceng, kaisar terakhir Dinasti Beng demikian lemahnya dan

berada dalam cengkeraman para Thai-kam (Pembesar Kebiri)

yang menguasai istana. Kaisar menjadi boneka yang

dipermainkan mereka. Menteri-menteri dan hulubalang tidak

didengar nasehatnya dan kebanyakan dari mereka adalah

koruptor-koruptor yang tidak peduli akan keadaan negara dan

bangsa melainkan saling berlomba untuk menggendutkan

perut sendiri. Pemberontakan terjadi di mana-mana dan

rakyat hidup sengsara, menderita dan tidak terjamin

keamanannya karena setiap orang pembesar mempergunakan

kekuasaannya untuk bersimaharajalela, mengumbar nafsu

mengandalkan kedudukan.

Kepala jaksa Pui yang baru saja beberapa bulan lamanya

ditugaskan di Thian-cin, tidak mau ketinggalan dengan rekanrekannya

dalam hal bermumpung. Mumpung menduduki

jabatan, mumpung memegang kekuasaan, dia pandai

mempergunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri.

Karena pengaruh uang sogokan yang amat besar jumlahnya,

yang benar bisa saja dituntut dan dibikin salah, sebaliknya

yang bersalah menjadi benar dan dilindungi. Perlindungan

hukum hanya dikenal oleh orang berpangkat dan berduit. Bagi

 

rakyat jelata yang miskin, jangan harap memperoleh

perlindungan hukum.

Dengan seorang ayah seperti itu, tidaklah mengherankan

kalau anak tunggalnya, Pui Ki Cong, bersikap sombong dan

tinggi hati, suka mengganggu anak isteri orang mengandalkan

kedudukan orang tuanya. Dia merupakan anak tunggal yang

dimanja ayahnya. Setiap keinginannya pasti dipenuhi, dan hal

ini tumbuh menjadi penyakit yang berbahaya dalam batin Ki

Cong. Sampai usianya hampir tiga puluh tahun, dia selalu

berenang dalam kesenangan dan dia menuntut agar semua

keinginannya terkabul. Karena suka bermain perempuan,

berganti orang setiap malam, dia belum menikah dan hanya

mempunyai selir yang tak terhitung banyaknya. Di dalam

gedungnya sudah penuh perempuan muda dan cam-yang

menjadi selir. Kalau ada pelayan-pelayan baru yang masih

gadis dan cantik, hampir tak pernah dia membiarkannya

begitu saja dan dalam waktu beberapa hari saja, pelayan yang

dipilihnya tentu naik pangkat menjadi selir. Belum lagi

perempuan-perempuan yang dipilihnya di luar gedung, bahkan

pelacur-pelacur tercantik di Thian-cin menjadi langganannya.

Dengan kehidupan seperti itu, tidaklah mengherankan

bahwa hatinya dibakar oleh kemarahan dan rasa penasaran

karena dirinya telah ditolak mentah-mentah oleh seorang

gadis dusun puteri guru silat kampungan! Bukan hanya

ditolak, bahkan pipinya ditampar sampai bengkaknya tiga hari

baru kempis, dan dua orang pengikutnya juga dihajar oleh

gadis ingusan itu!

“Awas kau, kalau sampai terjatuh ke tanganku….!-”

Berulang kali dia mengancam sambil mengepal tinju dan rebah

gelisah di atas pembaringannya, tidak dapat senang hatinya

walaupun beberapa orang selir tercinta mencoba untuk

menghiburnya. Karena tidak melihat munculnya puteranya

selama dua hari, Jaksa Pui lalu mengunjungi puteranya di

dalam kamarnya dan melihat betapa puteranya itu rebah

 

dengan rambut kusut dan wajah muram, dia merasa khawatir

sekali.

“Ki Cong, engkau kenapakah? Sejak kemarin aku t idak

melihatmu.”

Dengan sikap manja Ki Cong lalu berkata kepada ayahnya.

“Ayah, aku merasa sangsi apakah benar dengan kedudukan

ayah sebagai kepala jaksa di sini, orang-orang segan dan

menghormat kepada keluarga kita.”

Pembesar yang gendut perutnya itu bangkit berdiri lagi dan

membelalakkan matanya.

“Tentu saja! Siapa yang berani tidak menghormat kepada

kita? Aku berkuasa di sini. Aku yang memegang hukum,

siapapun dapat kuhukum dan kutuntut dengan kekuasaanku!”

“Hemm, kalau benar begitu, kenapa dua hari yang lalu ada

seorang gadis dusun, anak guru silat kampungan, berani

menghinaku dan menampar mukaku?”

“Apa? Kau ditampar oleh seorang perempuan dusun? Siapa

orang itu? Biar kusuruh pasukan menangkapnya dan akan

kuhukum berat perempuan keparat itu!”

“Tapi….. aku bukan bermaksud menghukumnya, ayah.

Aku….. aku cinta padanya.”

Tiba-tiba wajah yang bengis itu berubah dan tertawalah

Jaksa Pui. “Ha-ha-ha! Begitukah kiranya? Ha-ha-ha,

perempuan panas seperti itu memang menarik sekali. Nah,

apa sukarnya kalau kautarik ia dan jadikan selirmu? Ataukah

engkau sudah ingin beristeri?”

“Tidak, ayah. Akan tetapi aku ingin mendapatkannya.

Hanya….. aku khawatir kalau ditolaknya, maka kuharap

ayah…..”

“Ha-ha-ha, sungguh memalukan! Biasa nya dengan

menggapai saja -setiap wanita katanya akan bertekuk lutut

 

dan merangkak menghampirimu. Baru sekarang kau minta

bantuanku. Seperti apa sih perempuan ini?”

“Namanya Kim Cui Hong, puteri tunggal guru silat Kim Siok

di dusun Nag ke-bun.”

“Baik, sekarang juga akan kukirim utusan untuk

meminangnya menjadi selirmu. Jangan khawatir, pinanganku

pasti diterimanya. Apalagi dia kan hanya guru silat, tentu

dengan bangga dia akan menyerahkan puterinya kepadamu.”

Setelah berkata demikian, dengan mulut tersenyum dan hati

penuh kepercayaan diri sendiri, pembesar itu meninggalkan

kamar puteranya yang juga menjadi gembira dan penuh

harapan.

“Dapat kau sekarang…..!” Dia mengepal tinju,

membayangkan betapa dia akan mempermainkan dan

menikmati perempuan yang berani menamparnya itu sepuas

hatinya.

Sudah dapat dipastikan bahwa orang yang mengandalkan

kekuasaannya, dalam bentuk apapun juga kekuasaan itu,

tentu berwatak sombong dan tinggi hati, suka memandang

rendah orang lain dan menganggap bahwa dirinya sendiri

yang paling berharga, paling penting dan paling tinggi

kedudukannya di dunia ini. Orang seperti ini, kalau bertemu

dengan orang lain yang lebih tinggi kedudukannya, yang tak

dapat dibantah lagi kenyataan itu, misalnya bertemu dengan

atasannya, maka tentu wataknya akan berubah lagi, menjadi

seorang penjilat yang sudah tidak ketulungan lagi. Menjilat ke

atas menginjak ke bawah, dua watak ini serangkai dan tak

terpisahkan lagi.

Dengan penuh kepercayaan, pembesar gendut Pui lalu

mengirim utusan ke rumah guru s ilat Kim Siok di dusun Angke-

bun, untuk melamar puterinya yang bernama Kim Cui Hong

menjadi selir putera tunggalnya. Dan dengan penuh

kepercayaan akan hasil tugasnya dan membayangkan hadiah

 

yang besar dari kanan kiri, comblang itupun berangkat dengan

wajah gembira.

Cui Hong bukan hanya tidak bercerita kepada suhengnya

tentang peristiwa gangguan yang dilakukan Pui Ki Cong

kepadanya, bahkan kepada ayahnyapun ia tidak menceritakan.

Oleh karena itu, hati guru silat Kim Siok tidak menduga

sesuatu ketika pada pagi hari itu dia kedatangan seorang

tamu yang dikenalnya sebagai seorang comblang kenamaan di

kota Thian-cin. Comblang itu adalah seorang laki-laki berusia

lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus dan berkepala

botak, berkumis kecil panjang turun berjuntai ke bawah

melalui tepi mulutnya dan bersambung dengan jenggotnya

yang jarang. Matanya sipit dan tajam, mulutnya mudah

senyum. Comblang ini bernama Gu Mo Sim dan terkenal

sebagai perantara perjodohan yang pandai bicara sehingga

banyak orang suka mengutusnya untuk meminang atau

membicarakan tentang urusan perjodohan.

Begitu disambut oleh tuan rumah, Gu Mo Sim segera

memberi hormat dengan tergopoh-gopoh dan mukanya

diramaikan senyum gembira, sepasang mata yang sipit itu

bersinar-sinar.

“Kim-kauwsu, kionghi….. kionghi…..! Belum tahu apakah

semalam kauwsu bermimpi kejatuhan bulan? Heh-heh, sekali

lagi kionghi (selamat)!”

Kim Siok adalah seorang guru silat dan semenjak kecil dia

berkecimpung dengan seni o lah raga bela diri. Wataknya tidak

suka akan hal yang bertele-tele. Dia menyukai sikap yang

singkat padat, tegas dan jujur. Maka, sikap dan pembawaan

comblang ini membuat ia muak, akan tetapi sebagai tuan

rumah yang bijaksana, diapun menyambut dengan senyum

dan membalas penghormatan tamu itu.

“Saudara Gu, tiada hujan tiada angin mengapa kau

memberi selamat kepadaku? Aku tidak mengerti dan tidak

dapat menerimanya.”

 

“Ha-ha-ha, sebentar lagi kau akan mengerti, Kim-kauwsu. –

Aku yang sudah tahu lebih dulu, saking gembiraku maka aku

memberi selamat. Biarkan a ku duduk me lepas lelah, dan aku

akan menceritakan mengapa aku memberi selamat. Tentu

kauwsu semalam bermimpi indah sekali.”

Kim Siok tidak mau menanggapi lagi ocehan tamunya.

Dengan singkat dia mempersilakan tamunya duduk lalu

bertanya, “Sebetulnya, keperluan apakah yang membawa

saudara datang berkunjung?”

Comblang itu menarik napas panjang. “Aihhh….. apakah

engkau tidak kasihan kepadaku, kauwsu? Tulang-tulangku

yang sudah tua ini tidak sekuat tulang-tulangmu yang terlatih.

Berilah aku minum dulu sebelum aku menceritakan berita

yang tentu akan amat mengejutkan dan juga amat

menggembirakan hatimu. Tuhan akan selalu memberkahi

orang yang baik hati, dan tentu engkau suka berbaik hati

kepada seorang tamu yang kelelahan dan kehausan.”

Gemas sekali rasa hati Kim-kauwsu. mau rasanya dia

menangkap leher baju orang ini dan melemparnya keluar lagi.

Akan tetapi dia menahan kemarahannya, lalu mengambil

sendiri sebotol arak dan cawannya, menyuguhkannya kepada

tamu yang cerewet itu. Tanpa sungkan-sungkan lagi, Gu Mo

Sim lalu menuangkan arak ke dalam cawannya dan minum

sampai tiga cawan arak.

“Hemmm….. segar rasanya. Arakmu enak sekali, kauwsu.

Nah, sekarang barulah aku dapat bicara dengan leluasa. Kalau

engkau tahu keperluan apa yang kubawa, tentu engkau akan

menyambutku dengan hidangan dua belas macam!

Ketahuilah, aku datang ini sebagai utusan kepala jaksa Thiancin,

yaitu Pui Taijin.”

Diam-diam guru silat itu merasa terkejut dan juga heran

sekali, akan tetapi dia menghibur hatinya bahwa tentu

keperluan itu sama dengan keperluan para bangsawan dan

hartawan di Thian-cin yang pernah menghubunginya. Tentu

 

jaksa inipun ingin dia melatih silat kepada puteranya. Hal ini

banyak diminta para pembesar darinya dan tentu saja dia

tidak dapat menolaknya walaupun dengan hati t idak begitu

suka. Akan tetapi, dia sengaja memberi latihan berat sehingga

baru satu dua bulan saja anak-anak bangsawan itu sudah

mundur dengan sendirinya, tidak tahan gemblengan keras dan

sukar.

“Keperluannya?” tanyanya dengan singkat, dengan wajah

yang tidak beruban.

Comblang itu mengangkat telunjuk kanannya sambil

tersenyum. “Ha-ha, sampai bagaimanapun engkau takkan

pernah dapat menerkanya, kauwsu. Engkau tentu bermimpi

kejatuhan bulan semalam.”

“Saudara Gu, harap segera katakan apa keperluan itu dan

tidak memutar-mutar pembicaraan!” tegurnya.

“Aha, kiranya Kim-kauwsu seorang yang tidak sabaran

menanti berita baik. Baiklah. Engkau mempunyai seorang

cian-kim siocia (anak gadis terhormat), bukan? Berapa usianya

sekarang, kauwsu?”

Tiba-tiba saja Kim Siok merasa jantungnya berdebar

kencang. Baru dia men duga ke arah mana perkacapan itu dan

mengapa pula yang diutus seorang pembesar adalah seorang

comblang. Kiranya menaksir puterinya!

“Apa hubungannya usia puteriku dengan tugasmu, saudara

Gu?”

“Hubungannya erat sekali. Ketahuilah bahwa aku diutus

oleh Kepala Jaksa Pui untuk meminang puterimu untuk

dijodohkan dengan putera tunggalnya, tuan muda Pui Ki Cong

yang tampan, yang kaya raya, yang pandai dan terpelajar,

yang bangsawan itu. Ha-ha, engkau terkejut, bukan? Aku

sendiri terkejut ketika menerima tugas. Tak kusangka engkau

memiliki nasib yang begini baik, saudaraku! Kionghi, kionghi!”

 

“Nanti du lu, saudara Gu! Maksudmu, anakku dilamar untuk

menjadi isteri”

“Bukan….. eh, menjadi selir tuan muda Pui Ki Cong…..”

Berubah wajah Kim Siok, menjadi merah karena dia marah

sekali. “Selir? Bahkan isteripun bukan? Anakku dilamar untuk

dijadikan selir…..”

Melihat perubahan muka itu, comblang Gu Mo Sim menjadi

terkejut dan gugup. Dia lalu cepat berkata, “Ah, isteri juga…

hanya isteri muda, begitulah istilahnya…”

Kim Siok menahan kemarahannya. Puterinya, anak

tunggalnya, dilamar menjadi selir dan comblang ini nampak

demikian gembira, seolah-olah yakin bahwa lamaran itu tentu

akan diterimanya. Kalau menurutkan keinginannya, lamaran

yang dianggapnya sebagai penghinaan itu akan langsung

ditolaknya dan utusan itu akan dihajarnya. Akan tetapi guru

silat ini bukan seorang bodoh yang sembrono. Dia menahan

dirinya, lalu bangkit dan memberi hormat kepada tamu itu.

“Saudara Gu Mo Sim, harap sampaikan jawabanku kepada

Pui Taijin, bahwa menyesal sekali aku terpaksa menolak

pinangan ini. Aku merasa terhormat sekali, akan tetapi

pinangan ini tidak mungkin dapat kuterima.”

Suara kekeh itu terhenti dan sepasang mata yang sipit itu

mencoba untuk melebar, namun tak berhasil sehingga nampak

lucu. Hampir Gu Mo Sim tidak mempercayai telinganya sendiri.

“Apa….? Mimpi burukkah aku atau…. kau yang sedang

bermimpi buruk atau berubah ingatan? Kau tadi bilang bahwa

kau….. kau menolak pinangan Pui Taijin yang berkuasa dan

kaya raya?”

“Tidak salah. Aku terpaksa menolak pinangan itu.”

“Tapi….. tapi, bagaimana ini? Kenapa ….? Aku tidak

melihat suatu alasan mengapa kau sampai berani menolak…..”

 

Kim Siok maklum bahwa penolakannya tentu mengejutkan

dan tanpa alasan yang kuat bahkan mungkin akan

menimbulkan kemarahan di pihak pelamar. Maka dia-pun

sejak tadi sudah mengambil keputusan untuk mengajukan

alasan yang memang sudah lama menjadi keinginan hatinya.

“Harap saudara Gu sampaikan ucapan terima kasih kami

kepada Pui Taijin atas kehormatan yang dilimpahkan kepada

keluarga kami. Akan tetapi terpaksa pinangan itu kami tolak

karena anakku itu sudah terikat dalam pertunangan dengan

Can Lu San, seorang muridku sendiri. Anakku tidak bebas lagi,

melainkan sudah mempunyai seorang calon suami.”

Gu Mo Sim melongo. Hal ini sungguh sama sekali tak

pernah disangkanya. Pui Taijin tidak pernah mengatakan

bahwa gadis yang dipinangnya itu sudah bertunangan dengan

seorang pria lain. Tentu saja penolakan itu wajar dan dia tidak

dapat membantah lagi. Bagaimanapun juga, dia seorang

comblang yang terkenal dan bukan hanya dia akan kehilangan

muka kalau sampai pinangannya gagal, juga akan kehilangan

hadiah besar. Dalam keadaan putus asa itu, diapun mencoba

untuk membujuk.

“Pertunangan itu masih belum terlambat untuk diputuskan,

kan belum menikah? Apa artinya seorang murid dibandingkan

putera Pui Taijin? Pula, hanya seorang murid, bukankah murid

itu seperti anak sendiri dan diputuskanpun tidak menjadi

halangan….”

“Cukup, saudara Gu Mo Sim!” Hampir habis kesabaran di

dalam hati guru silat Kim itu. “Engkau hanya seorang utusan

dan urusan pertunangan anakku tidak ada sangkut-pautnya

denganmu! Engkau sudah menyampaikan tugasmu dan aku

sudah menjawab. Sampaikan saja jawaban ini kepada orang

yang mengutusmu. Aku tidak banyak waktu untuk bercakapcakap

denganmu!” Guru silat itu lalu bangkit dan dari

suaranya jelas bahwa dia mengusir tamunya itu.

 

Dengan muka berubah merah Gu Mo Sim lalu bangkit,

setelah memandang beberapa jam lamanya, diapun menjura

dan membalikkan tubuhnya, pergi meninggalkan rumah guru

silat Kim Siok dengan hati mendongkol dan kecewa bukan

main.

Sekali saja menjadi utusan Kepala jaksa Pui yang demikian

kaya dan berkuasa, dan ternyata dia gagal melaksanakan

tugasnya dengan hasil baik.

Karena hatinya kecewa, dia merasa sakit hati terhadap Kim

Siok yang dianggapnya bersikap tidak baik dan merugikannya,

maka begitu menghadap Pui Taijin, dia melapor sambil

menjelek-jelekkan diri Kim-kauwsu. “Taijin, guru s ilat she Kim

itu sungguh seorang manusia yang tak tahu diri sekali. Dia

berani menolak pinangan taijin terhadap puterinya!”

“Aihhh….!” Pembesar Pui yang gendut itu berseru marah

dan alis matanya diangkat naik. “Keparat sombong! Berani dia

menolak? Apa alasannya?”

“Anak perempuan itu sudah ditunangkan dengan muridnya

yang bernama Can Lu San.”

“Aihhh….?” Kemarahan pembesar itu menurun.

Bagaimanapun juga, dia mengerti pula aturan dan penolakan

itu menjadi wajar. Bagaimana seorang gadis yang sudah

mempunyai calon suami dapat menerima pinangan orang lain?

“Wah, kenapa Ki Cong tidak memberi tahu? Celaka, kita

menjadi malu, melamar gadis yang sudah mempunyai calon

suami!”

“Kalau Pui-kongcu menghendaki selir, biar selusin dan lebih

cantik daripada anak guru silat kampungan itu, saya masih

sanggup mencarikan, Taijin. Harap hal itu jangan khawatir.

Akan tetapi, guru silat itu harus dihajar. Adalah haknya untuk

menolak karena anaknya sudah bertunangan, akan tetapi dia

tidak perlu marah-marah dan mengusir saya. Apakah dia tidak

tahu bahwa ketika berhadapan dengan saya, maka saya

 

mewakili Pui Taijin dan kalau menghina saya, hal itu sama

artinya dengan menghina Pui Taijin?”

Akan tetapi Pui Taijin termenung. Kini dia mengerti

mengapa puteranya ditampar oleh gadis anak guru silat itu.

Kiranya dia sudah bertunangan dan tentu Ki Cong

menggodanya maka gadis itu marah dan menamparnya.

“Sudahlah, kalau dia marah tentu engkau tidak pandai

membawa diri. Hal itu tidak perlu ribut. Yang lebih penting,

coba kau hibur Ki Cong dan tawarkan gadis-gadismu itu, agar

dia tidak memikirkan lagi anak tukang silat itu.”

Melihat hasutannya tidak berhasil, Gu Mo Sim tidak berani

mendesak. Dia memperoleh kesempatan lain yang lebih baik

untuk melampiaskan rasa penasaran dan kecewa hatinya.

Bergegas diapun pergi menemui Pui Ki Cong dan di depan

pemuda inilah dia menghasut dengan kata-kata beracun.

“Guru silat itu dan anak gadisnya amat menghinamu,

kongcu. Mereka bukan hanya menolak pinangan, bahkan

berani memburuk-burukkan kongcu, mengatakan kongcu tidak

tahu aturan berani meminang seorang gadis yang sudah

bertunangan dengan orang lain. Siapa yang tidak panas

perutnya mendengar guru silat itu berkata bahwa biarpun

kongcu putera jaksa atau putera raja sekalipun mereka tidak

takut menolak! Pendeknya, gadis itu dan ayahnya dan

tunangannya, bersikap menantang dan menghina sekali.

Sayapun sebagai utusan Pui Taijin dihinanya dan diusirnya!”

Wajah Pui Ki Cong sebentar merah’ sebentar pucat.

Perasaan di hatinya bermacam-macam, akan tetapi yang

paling kuat adalah kekecewaan dan kemarahan. Kecewa

karena gadis yang membuatnya tergila-gila itu tidak jadi jatuh

ke dalam pelukannya dan marah karena selain ditolak

lamarannya, juga keluarga gadis itu berani menghinanya.

Apalagi melihat sikap pemuda bangsawan itu, Gu Mo Sim

masih menambahkan minyak pada api yang berkobar itu.

 

“Mereka itu harus dihajar, kongcu. Kalau tidak tentu nama

besar kongcu dan Pui Taijin akan menjadi cemar. Mari,

kongcu, bawa sepuluh orang tukang pukul dan saya yang

akan menjadi saksi. Kita serbu Ang-ke-bun dan kita hajar ayah

dan anak dan calon mantunya itu, agar puas hati kita

walaupun lamaran dito lak!”

Kebetulan ketika Gu Mo Sim menghadap, di situ terdapat

dua orang kepala pengawal jagoan yang biasa membantu Puikongcu.

Karena mereka berdua itu ditakuti orang, dan mereka

memang boleh diandalkan, Pui Ki Cong lalu menarik dua orang

kepala pengawal yang menjadi komandan pasukan pengawal

ayahnya itu dan menjadi pembantu-pembantu pribadinya,

melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada sangkutpautnya

dengan tugas mereka berdua sebagai kepala

pengawal. Ketika dua orang kepala pengawal ini mendengar

laporan yang disampaikan Gu Mo Sim, mereka juga ikut

menjadi marah.

“Guru silat kampungan itu berani menolak pinangan

kongcu, bahkan menghinanya? Keparat!” bentak komandan

yang bernama Bhong Gun,, yang bertubuh pendek gemuk dan

matanya bundar, mukanya licin seperti muka anak kecil.

“Kita harus menghajarnya! Kongcu tak usah khawatir, kami

berdua cukup untuk menghajar guru silat itu!” bentak pula

komandan ke dua, yang bertubuh tinggi besar dan mukanya

penuh brewok menyeramkan. Orang ini bernama Teng Ki dan

terkenal memiliki tenaga besar, sedangkan kawannya yang

bernama Bhong Gun tadi terkenal pula dengan gerakannya

yang lincah dan cepat walaupun tubuhnya bundar.

“Nah dengan adanya dua orang ciang-kun ini, tentu guru

silat kampungan she Kim itu dapat dihajar sampai bertobat!”

Gu Mo Sim menambah. “Akan tetapi harus diingat bahwa

mereka itu dan murid, ayah dan anak semuanya adalah ahliahli

silat.”

 

“Ji-wi ciangkun (perwira berdua) harap membawa pasukan

belasan orang. Kita berangkat sekarang juga!” Tiba-tiba Pui Ki

Cong yang sudah menjadi panas perutnya itu mengajak dua

orang pembantunya.

“Eh, kongcu mau ikut juga?” tanya Gu Mo Sim. “Kalau

begitu, sayapun ikut. Ingin saya melihat guru silat kampungan

itu dihajar babak belur, ha-ha!”

Demikianlah, dengan kemarahan meluap-luap, Pui Ki Cong

tanpa setahu ayahnya, membawa dua belas orang pengawal

termasuk Bhong Gun dan Teng Kui, tiga belas bersama Gu Mo

Sim yang sudah bergembira ingin nonton keramaian untuk

melampiaskan rasa kecewa dan marahnya terhadap keluarga

guru silat Kim Siok. Dua orang pengawal itu tentu saja pernah

mendengar nama guru silat Kim Siok, akan tetapi mereka

tidak merasa gentar karena selain mereka berduapun ahli

silat, juga mereka berdua adalah komandan pengawal dan kini

mereka membawa sepuluh orang anak buah. Takut apa? 3uga

kedudukan mereka sebagai kepala pengawal jaksa Pui

merupakan andalan yang cukup kuat. Bagaikan pasukan yang

hendak maju perang, empat belas orang itu menunggang

kuda dan keluar dari kota Thian-cin menuju ke selatan, ke

dusun Ang-ke-bun.

**d*w**

Cui Hong menghadap ayahnya dengan alis berkerut dan

hati diliputi ketegangan. Ia tadi tahu bahwa ayahnya

kedatangan seorang tamu yang tidak dikenalnya. Akan tetapi

ketika tamu itu pulang, ayahnya nampak seperti orang marah

dan memanggil dia bersama Lu San untuk menghadap. Kini ia

duduk di atas bangku di depan ayahnya. Lu San juga datang

dan murid ini menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi Kim Siok

minta kepada murid ini untuk bangkit dan duduk di atas

bangku dekat Cui Hong, Kini mereka berdua duduk di atas

 

bangku menghadapi orang tua yang wajahnya nampak muram

itu.

“Ayah, ada urusan apakah maka ayah kelihatan tidak

gembira seperti biasanya, bahkan memanggil aku yang

sedang sibuk membuat masakan istimewa untuk ayah?” Gadis

ini masih gembira kalau mengingat beberapa hari yang lalu,

kembali ia mengejutkan dan menggembirakan hati ayahnya

dengan masakan istimewa untuk merayakan hari ulang tahun

ayahnya. Dan pagi ini iapun ingin membuat masakan istimewa

untuk ayahnya, karena suheng-nya kemarin telah

mendapatkan jamur-jamur kuning yang enak dimakan dan

yang mulai bertumbuh di dalam hutan karena hujan sudah

mulai turun.

Akan tetapi, kegembiraan Cui Hong nampaknya tidak dapat

menembus awan kelabu yang menggelapkan wajah guru silat

itu. Dia bahkan menarik napas panjang, lalu bertanya kepada

puterinya sambil menatap tajam wajah yang manis itu, “Cui

Hong, berapakah usiamu tahun ini?”

“Eh.? Aih, bagaimana sih ayah ini? Apakah ayah sudah lupa

berapa usia anaknya sendiri, anak tunggal lagi?”

“Aku tidak lupa, Hong-ji, hanya ingin mengingatkan. Berapa

usiamu sekarang?”

“Beberapa bulan lagi enam belas tahun, ayah.”

Ayahnya mengangguk-angguk. “Sudah dewasa, bukan

anak-anak lagi. Sungguh bukan anak-anak lagi, Hong-ji.”

“Ayah, apa maksudmu…?” Cui Hong memandang ayahnya,

kini dengan serius dan sinar mata penuh selidik karena ia

merasa benar akan perbedaan dalam sikap dan kata-kata

ayahnya.

“Maksudku, Hong-ji, bahwa seorang wanita yang sudah

dewasa, akan kemana lagi kalau bukan memasuki hidup baru,

menjadi seorang isteri dan ratu rumah tangga”

 

“Ayah, jangan bicara seperti teka-teki. Apa maksudmu?”

“Hong-ji, keadaan negara sedang tidak aman. Kini bangsa

Mancu sudah mulai menekan dari utara, sedangkan di manamana

terjadi pemberontakan. Keadaan sebentar lagi akan

kacau dan tidak aman oleh akibat perang. Karena itu, akan

lebih tenanglah hatiku melihat engkau sudah terikat dan

sudah ada yang melindungi…..”

“Ayah, sekali lagi, apa maksudmu terhadap diriku?”

“Engkau sudah dewasa, Hong-ji, sudah tiba waktunya

bagimu untuk menikah.”

“Ahhh…..!” Wajah itu berubah merah sekali dan hampir Cui

Hong lari saking malunya. Ayahnya bicara soal pernikahan

begitu saja, apalagi di depan suhengnya. Akan tetapi, ia

seorang gadis yang lincah dan tabah, maka ia menekan

batinnya yang diliputi perasaan malu dan ia membantah

sesuai dengan suara hatinya. “Akan tetapi, ayah. Usiaku baru

hampir enam belas tahun! Aku….. aku belum ingin menikah,

masih ingin melayani ayah. Dan dengan adanya ayah

disampingku, ditambah lagi dengan kekuatanku sendiri, apa

yang ayah khawatirkan? Aku mampu menjaga diri sendiri.”

“Memang tadinya akupun berpikir demikian, tidak akan

tergesa-gesa, setidaknya menanti sampai engkau berusia

tujuh belas atau delapan belas tahun. Akan tetapi kedatangan

tamu tadi mengubah pikiranku…..”

“Tamu siapakah, ayah? Orang yang tinggi kurus berkepala

botak tadi? Siapakah dia dan apa hubungan kedatangannya

dengan aku? Dengan….. maksud ayah?”

“Dia adalah comblang Gu Mo Sim dari Thian-cin dan

kedatangannya tadi adalah untuk meminangmu, Hong-ji.”

“Ahh…..! Dan ayah….. ayah menerima pinangannya!” Gadis

itu setengah berteriak saking kaget dan khawatirnya.

 

Hati gadis itu lega karena ayahnya menggeleng kepalanya

dengan cepat. “Dia datang sebagai utusan Kepala jaksa Pui

Taijin, melamar engkau untuk puteranya yang bernama Pui Ki

Cong…..”

“Ahhh….” Cui Hong berseru kaget.

“Untuk menjadi.. selirnya. Aku menolaknya dengan keras.”

“Ahhh…..! Si keparat! Berani benar dia!” teriak Cui Hong

dan membuat ayahnya menjadi heran mendengar ini. Juga Lu

San yang sejak tadi hanya duduk diam mendengarkan

percakapan yang menegangkan hatinya ini, kini mengangkat

muka memandang wajah sumoinya.

“Kau sudah mengenal dia?”

“Tentu saja! Aku belum bercerita kepada ayah, juga kepada

suheng aku tidak bicara apa-apa. Terjadinya pada hari ulang

tahun ayah itu. Aku pergi ke pasar Thian-cin untuk berbelanja

sayur dan ayam untuk membuatkan masakan istimewa untuk

ayah. Ketika pulang dari pasar, seorang pemuda jangkung

bersama dua orang kaki tangannya menghadang perjalananku

dan bersikap kurang ajar kepadaku. Karena dia

menggangguku, maka aku telah menampar mukanya. Dua

orang kaki tangannya menyerangku dan kuhajar mere ka, lalu

aku pulang dengan cepat…..”

“Ah, ketika itu engkau nampak marah-marah dan mukamu

merah padam, sumoi. Kiranya terjadi hal itu?” kata Lu San

yang teringat akan keadaan sumoinya pada beberapa hari

yang lalu itu.

“Benar, dan sekarang, dia berani menyuruh seorang untuk

meminangku. Keparat benar orang itu! Kalau tahu begini,

tentu aku akan menghajarnya lebih keras lagi!

“Hemm…„ ada kejadian seperti itu?”

Guru silat Kim Siok mengerutkan alisnya dan berpikir keras.

“Dia tertarik padamu, mengganggumu dan kautampar dia.

 

Akan tetapi dia malah menyuruh ayahnya mengirim utusan

melamar, dan melamarmu untuk menjadi selirnya. Sungguh

terlalu!” Guru silat itu mengepal t inju. “Memang hatiku sudah

merasa tidak enak sejak munculnya comblang keparat itu. Dan

kini ceritamu lebih meyakinkan lagi hatiku. Engkau harus

segera menikah, Hong-ji!”

“Tapi, ayah! Engkau sudah menolak lamarannya, dan

akupun tidak sudi…..”

“Jangan bodoh, Hong-ji. Tentu saja akupun tidak rela

membiarkan engkau menjadi selir keparat itu. Tidak, engkau

bukan menjadi selir anak jaksa itu, melainkan menjadi isteri

dari suhengmu ini, Can Lu San.”

“Ahh…..!” Cui Hong berseru dan menahan suaranya,

menunduk dan tidak berani berkutik lagi saking malunya.

Ingin ia lari akan tetapi mengingat akan pentingnya persoalan

yang dibicarakan, ia menahan diri dan hanya menunduk.

“Ahh….!” Can Lu San juga terkejut karena ucapan suhunya

ini terlalu tiba-tiba datangnya, walaupun sudah sejak lama dia

jatuh cinta kepada sumoinya dan sudah lama mengharapkan

putusan suhunya ini. Diapun lalu menundukkan mukanya yang

berwarna kemerahan.

Melihat sikap kedua orang muda yang menundukkan muka

dengan malu-malu itu, Kim Siok tersenyum. “Kurasa kalian

merasa setuju dan dapat menerima keputusanku agar kalian

berjodoh dan menjadi suami isteri.”

Dua orang muda itu tidak dapat menjawab dan kepala

mereka semakin menunduk. Kim Siok mendapat akal. “Kalau

ada di antara kalian merasa tidak setuju, harap menyatakan

sekarang juga karena kalau diam saja sudah kuanggap kalian

tidak menolak dan sudah merasa setuju. Bagaimana?”

Can Lu San yang setuju seribu prosen itu tentu saja merasa

lega dan diapun hanya menunduk, bahkan semakin rendah

 

mukanya menunduk. Tiba-tiba Cui Hong mengangkat

mukanya.

“Ayah…..”

Hati ayah ini terperanjat. Apakah puterinya tidak setuju?

Dengan was-was dia menatap wajah puterinya penuh selidik.

“Ayah, perlukah pernikahan dilakukan tergesa-gesa? Kalau

hanya ancaman dari keparat itu saja…..”

“Anakku, ketahuilah bahwa tadi aku terpaksa

mempergunakan alasan untuk menolak pinangan dari Jaksa

Pui, dan alasan yang kupergunakan adalah bahwa kau telah

bertunangan dengan Lu San. Dan hatiku takkan merasa

tenteram sebelum kalian benar-benar menjadi suami isteri

sehingga tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi

karena- engkau sudah bersuami. Aku merencanakan untuk

merayakan pernikahan itu dalam bulan ke sepuluh depan ini.”

“Bulan ke sepuluh? Kini sudah ke tujuh. Tinggal tiga bulan

lagi,” pikir Cui Hong dengan jantung berdebar tegang.

“Bagaimana? Apakah kalian setuju? Ingat, kita sekeluarga

hanya tiga orang, aku tidak dapat mengajak siapapun

berunding kecuali kalian. Karena itu, keluarkan pendapat

kalian. Apakah kalian setuju kalau pernikahan dilakukan dalam

bulan ke sepuluh?”

Tanpa mengangkat mukanya, Cui Hong berkata lirih,

“Terserah kepada ayah…..”

Mendengar sumoinya menjawab, Lu San memberanikan diri

berkata pula, “Teecu hanya mentaati segala perintah suhu.”

“Nah, kalau begitu legalah hatiku.”

Akan tetapi baru saja guru silat itu merasa terlepas

daripada himpitan kekhawatiran, tiba-tiba terdengar derap

kaki kuda yang berhenti di depan rumah mereka. Kim Siok

saling pandang dengan puteri dan muridnya, dan ketiganya

 

lalu serentak meloncat bangun dan berlari keluar. Dan di

pekarangan rumah mere ka itu telah berloncatan turun enam

belas orang perajurit pengawal berpakaian seragam yang

dikepalai dua orang perwira, dan yang dua orang lagi adalah

Pui Ki Cong dan Gu Mo Sim! Melihat pemuda jangkung kurus

itu, tentu saja Cui Hong sudah menjadi marah sekali dan tahu

bahwa pemuda itu datang mencari gara-gara. Sedangkan Kim

Siok sendiri begitu melihat hadirnya Gu Mo Sim di situ, sudah

dapat menduga apa artinya kedatangan rombongan perajurit

ini. Tentu bermaksud kurang baik.

“Hati-hati…..” bisiknya kepada puteri dan muridnya.

Akan tetapi Gu Mo Sim yang sudah melangkah maju dan

orang ini memperoleh keberanian karena mengandalkan

pasukan itu, sudah menudingkan telunjuknya ke muka Kim

Siok dan memaki, “Guru silat kampungan she Kim! Engkau

sudah berani menolak kehormatan dan maksud ba ik keluarga

Pui yang mulia, bahkan berani pula mengusir aku yang

menjadi utusannya. Agaknya engkau memang sudah bosan

hidup! Hayo cepat minta maaf kepada Pui-kongcu dan cepat

menyerahkan nona Kim dengan baik-baik untuk menebus

dosamu!”

Bukan main marahnya hati Kim Siok mendengar ucapan ini.

Biarpun dia tahu dar i cerita puterinya bahwa putera jaksa Pui

itupun bukan seorang yang baik-baik, akan tetapi sedikit

banyak comblang Gu Mo Sim ini mempengaruhinya.

“Mulutmu yang busuk itulah yang perlu dihajar!” katanya

dan dia melangkah maju untuk menampar muka comblang itu.

Melihat ini Gu Mo Sim lari bersembunyi di belakang Pui

Kongcu.

“Kaupun bukan manusia baik-baik. Mau apa datang ke sini?

Mau minta ditampar sampai mukamu hancur?” bentak Cui

Hong dan iapun sudah melangkah maju untuk menghampiri

Pui Ki Cong. Akan tetapi, Bhong Gun dan Teng Kui sudah

 

cepat melangkah maju untuk menghadang ayah dan anak

yang marah itu.

“Hemm, guru silat Kim Siok, berani engkau hendak

melawan yang berwajib? Hayo cepat kau berlutut dan

menyerah!” bentak Bhong Gun dengan sikap gagah dan galak.

Kim Siok memandang mereka berdua dan tersenyum

mengejek. “Aha, bukankah kalian ini dua orang perwira

keamanan di Thian-cin yang bertugas mengawal pembesar?

Sebagai kepala pengawal, tugas kalian adalah menjaga

keselamatan pembesar, bukan untuk berlagak menindas

rakyat.”

“Kurang ajar! Tangkap dia!” Pui Ki Cong yang sudah tidak

sabar lagi melihat Cui Hong di situ dan ingin cepat-cepat

menangkap dan membawa pulang gadis itu, sudah memberi

aba-aba. Mendengar aba-aba ini, dua orang perwira pengawal

itu lalu menerjang maju. Bhong Gun yang gemuk pendek

menerjang Kim Siok, sedangkan Teng Kui yang tinggi besar itu

maju menyerang Cui Hong. Akan tetapi dengan cepat Lu San

yang berdiri di belakang gadis itu meloncat ke depan

menyambut terjangan Teng Kui mewakili tunangannya atau

sumoinya. Seperti juga Kim Siok yang sudah mulai berkelahi

me lawan Bhong Gun, Lu San segera bertanding melawan

Teng Kui dengan serunya.

Sementara itu, melihat betapa ayahnya dan suhengnya

sudah berkelahi, Cui Hong yang sudah marah sekali terhadap

Pui Ki Cong, sudah menerjang ke depan untuk menyerang

pemuda yang menjadi biang keladi se mua keributan ini. Akan

tetapi, beberapa orang perajurit pengawal menyambutnya

dengan senjata mereka dan sebentar saja Cui Hong sudah

dikeroyok oleh belasan orang perajurit itu! yang sebagian

membantu Bhong Gun yang nampaknya kewalahan

menghadapi guru silat Kim Siok.

Bhong Gun yang gemuk pendek itu, biarpun memiliki

gerakan yang lincah dan cepat, ternyata bukan lawan

 

seimbang dari guru silat Kim. Mula-mula dia memang

menyerang dengan ganas, menggunakan kaki tangannya yang

serba pendek namun cepat dan kuat itu, hendak mendesak

lawan. Namun, Kim Siok adalah se orang ahli silat murid

Siauw-lim-pai yang sudah memiliki ilmu silat yang matang.

Ilmu itu sudah mendarah daging dalam gerakannya dan

sebagai guru silat, tentu saja ia seringkali mengajar muridmuridnya

dan hal ini sama saja dengan berlatih diri, maka

gerakannya cekatan dan tepat. Mula-mula dia hanya membela

diri, akan tetapi agaknya pihak lawan tidak tahu diri, tidak

mau tahu bahwa dia banyak mengalah. Maka setelah lawan

terus mendesaknya sampai dua puluh jurus lebih, Kim Siok

mulai membalas dan baru beberapa jurus saja dia membalas,

sebuah kakinya berhasil mendarat dengan tendangan kilat ke

arah perut Bhong Gun yang bundar dan gendut.

“Bukkkk!” Bagaikan sebuah bola yang ditendang, tubuh

Bhong Gun terlempar dan terbanting roboh sampai tergulingguling.

Akan tetapi ternyata dia cukup lihai karena begitu

terlempar, dia sengaja menggulingkan dirinya sehingga dia

mampu cepat melompat bangkit lagi. Kini dia mencabut keluar

goloknya dan menyerang lagi, dibantu oleh empat orang

perajurit yang melihat betapa komandan ini kewalahan

menghadapi guru silat Kim. Karena Bhong Gun dan empat

orang perajurit itu mempergunakan senjata, Kim Siok juga

segera melolos ikat pinggangnya yang merupakan senjata

yang ampuh. Ikat pinggang ini terbuat daripada kain yang

ulet, akan tetapi dikedua ujungnya diikatkan mata pisau

bercabang tiga yang kecil namun cukup berat. Segera terjadi

pengeroyokan yang lebih seru lagi.

Perkelahian antara Lu San dan Teng Kui amat ramai.

Walaupun Teng Kui juga mempergunakan goloknya dan Lu

San hanya bertangan kosong, namun komandan pengawal itu

tidak mampu mengimbangi kecepatan gerakan Lu San dan

sudah beberapa kali dia terkena pukulan dan tendangan.

Kalau saja tidak ada dua orang anak buahnya yang cepat

 

membantunya tentu dia sudah roboh dalam waktu kurang dari

dua puluh jurus saja Dikeroyok tiga, Lu San yang gagah

perkasa itu masih mengamuk dan sama sekali tidak terdesak

walaupun tiga orang pengeroyoknya mempergunakan senjata

golok.

Sisa enam orang anak buah pasukan pengawal itu

mengeroyok Cui Hong. Namun, mereka yang bertangan

kosong dan tidak berani mempergunakan senjata karena Pui

Ki Cong melarang mereka melukai gadis itu, sama sekali

bukan lawan tangguh bagi Cui Hong. Dara remaja ini

berloncatan dengan lincah seperti seekor burung walet

menghindarkan diri dari tangan-tangan yang hendak

menangkapnya, dan membagi-bagi tamparan dan tendangan

yang cukup keras sehingga enam orang itu jatuh bangun dan

tiap kali terkena tamparan atau tendangan tentu terpelanting

dan mengaduh. Dara itu sungguh lincah dan kecepatan

gerakannya sama sekali t idak dapat diimbangi oleh enam

orang pengeroyok yang hanya memiliki tenaga otot yang

besar dan keberanian karena mengeroyok itu.

Perkelahian itu, walaupun t idak seimbang dalam jumlah,

namun ternyata keadaannya sama sekali berlawanan dengan

jumlahnya karena keluarga guru silat yang hanya terdiri dari

tiga orang itu ternyata mampu mendesak para pengeroyok

yang jumlahnya empat belas orang! bahkan di antara para

pengeroyok, terutama yang mengeroyok guru silat Kim,

banyak yang sudah roboh dan tidak mampu melanjutkan

pengeroyokan lagi. Melihat keadaan yang tidak

menguntungkan pihaknya ini, Gu Mo Sim menjadi ketakutan.

“Kongcu…..! Kongcu…..! Mari kita pergi. Cepat-cepat…..!”

Comblang yang berwatak pengecut ini dengan ketakutan

lalu lari menghampiri kudanya dan berusaha meloncat ke atas

punggung kuda. Akan tetapi karena dia memang bukan ahli

menunggang kuda dan berada dalam keadaan panik,

loncatannya tidak mencapai sasaran dan kakinya yang

 

menginjak sanggurdi terpeleset sehingga diapun terjatuh.

Ketika dia hendak bangun dia terkejut setengah mati melihat

bahwa Kim Siok telah berdiri di dekatnya. “Celaka……!”

serunya.

“Manusia busuk!” Kim-kauwsu memaki dan sekali

tangannya menampar, terdengar suara “krekk!” dan tulang

pundak comblang itupun patah-patah. Manusia itu menjeritjerit,

lebih karena takut dan ngeri daripada karena nyeri dan

belum apa-apa diapun sudah terkulai lemas dan pingsan.

Sementara itu, ketika

mendengar teriakan Gu Mo

Sim, Pui Ki Cong juga tahu

akan bahaya. Tak

disangkanya bahwa

keluarga guru silat itu

sedemikian lihainya. Maka

diapun berpikir bahwa

melarikan diri lebih aman

dan diapun cepat lari dan

meloncat ke atas punggung

kudanya. Akan tetapi, baru

saja tubuhnya tiba di atas

sela di punggung kudanya,

tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan Cui Hong sudah

berada di sampingnya.

“Turun kau, pengacau busuk!” Dara remaja itu

mendorongkan kedua tangannya dan tanpa dapat dihindarkan

lagi, tubuh pemuda bangsawan itu terpelanting dari atas

punggung kuda dan terbanting ke atas tanah sampai

mengeluarkan suara berdebuk. Pemuda bangsawan itu

mengaduh, akan tetapi dia ketakutan dan memandang dengan

muka pucat kepada dara remaja yang sudah melangkah

menghampirinya dengan sikap mengancam. Saking takutnya,

 

Pui Ki Cong sampai tidak mampu bangun dan celananya

menjadi basah tanpa disadarinya!

“Hong-ji, jangan…..!” Tiba-tiba Kim Siok berseru keras dan

puterinya yang sudah siap memberi hajaran keras kepada Pui

Ci Kong mengurungkan niatnya dan meninggalkan pemuda

yang masih rebah di atas tanah itu.

Ternyata perkelahian itu sudah selesai. Bhong Gun sudah

roboh, demikian pula Teng Kui. Dari dua belas orang

pengawal, yang delapan orang luka-luka dan kini yang empat

orang tidak berani lagi melawan.

“Kalian pergilah dan jangan mengganggu kami lagi!” kata

guru silat Kim Siok. Dengan susah payah, dan saling bantu,

enam belas orang itu lalu meninggalkan dusun Ang-ke-bun,

menunggangi kuda mere ka perlahan-lahan karena sebagian

besar dari mereka luka- luka.

Setelah mereka pergi, Kim Siok berkata kepada puterinya

dan muridnya, “Kalian berkemas. Kita harus pergi sekarang

juga!”

“Ke mana, ayah?” Cui Hong bertanya heran.

“Ke selatan, makin jauh makin baik.”

“Ah, perlu apa kita melarikan diri. ayah? Maksud ayah, kita

harus melarikan diri, bukan?”

Guru silat itu menatap wajah puterinya dan juga wajah Lu

San yang agaknya juga merasa penasaran mendengar bahwa

mereka diharuskan melarikan diri dari dusun tempat tinggal

mereka.

-ooo0dw0ooo-

 

Jilid 2

“AGAKNYA kalian belum dapat membayangkan akan

bahaya besar yang mengancam kita. Apakah kalian tidak

menyadari bahwa Pui Ki Cong itu adalah putera kepala jaksa

di Thian-cin? Lihat saja sepak-terjangnya. Ditolak lamarannya,

dia malah membawa pasukan pengawal untuk menghukum

kita. Untung bagi kita bahwa perhitungannya keliru. Kalau dia

datang bersama pasukan besar yang jumlahnya puluhan atau

ratusan orang, tentu kita tadi tidak akan mampu

menyelamatkan diri dan entah bagaimana nasib kita. Oleh

karena itu, sekarang juga kita harus pergi dari sini sebelum

pasukan yang lebih besar datang untuk menangkap atau

membunuh kita.”

“Aku tidak takut!” Cui Hong berteriak. “Mereka itu jahat dan

aku akan melawan mere ka, akan kuhajar mere ka!”

“Cui Hong, jangan bicara seperti anak kecil,” ayahnya

menegur. “Keberanian tanpa perhitungan bukan merupakan

kegagahan, melainkan suatu kebodohan. Hanya

mengandalkan keberanian melawan pasukan besar

pemerintah dengan nekat, hal itu berarti bunuh diri.

Ucapanmu itu menimbulkan keraguan apakah engkau ini

memang gagah atau bodoh.”

Cui Hong dapat melihat kebodohannya dan iapun tidak

membantah lagi hanya mengepal tinju karena marah sekali

kepada Pui Ki Cong yang menjadi biang keladi semua ini.

“Akan tetapi, suhu. Sudah jelas bahwa sumoi tidak

bersalah, kita tadi hanyalah membela diri. Kalau kita tidak

bersalah, kenapa kita harus pergi? Bukankah melarikan diri

seperti juga mengaku bersalah? Kita tidak bersalah, dan

pemerintah tentu dapat menilainya.” Lu San juga membantah

karena diapun merasa penasaran mengapa mere ka yang

diganggu, malah kini mereka yang harus melarikan diri.

 

Gurunya menarik napas panjang. “Memang mendatangkan

rasa penasaran sekali, Lu San. Akan tetapi engkau harus

menyadari bahwa dalam keadaan pemerintah lemah seperti

ini, kaisar tidak berwibawa sama sekali sehingga kita sendiri

bingung siapa sebenarnya yang berkuasa. Oknum-oknum

yang memegang jabatan itu ataukah hukum pemerintah.

Dalam keadaan seperti sekarang ini, bisa saja kita dituduh

sebagai pemberontak dan dihadapkan kepada pasukan

keamanan pemer intah. Karena itu, satu-satunya jalan adalah

menghindarkan bentrokan lebih lanjut dan melarikan diri

sejauh mungkin dari sini.”

Dengan hati penuh duka dan penasaran, terpaksa Cui Hong

mentaati ayahnya dan mereka bertiga lalu berkemas. Kepada,

beberapa orang murid yang rumahnya berdekatan dan sudah

berdatangan mendengar keributan yang terjadi di rumah guru

mereka, Kim Siok meninggalkan pesan agar mereka tidak

mencampuri urusan itu dan sebaiknya menjauhkan diri jangan

sampai terlibat kalau pihak pembesar she Pui itu mencari

gara-gara di antara murid-muridnya. Mereka bertiga hanya

dapat membawa barang-barang kecil dan berangkatlah

mereka meninggalkan Ang-ke-bun pada hari itu juga.

Apa yang dikhawatirkan guru silat Kim Siok memang tidak

berselisih jauh dengan kenyataannya. Jaksa Pui menjadi

marah bukan main ketika dia melihat puteranya babak belur

dan kepalanya tumbuh benjolan besar ketika terjatuh dari atas

kuda. Ada dua hal yang membuat pembesar itu marah.

Pertama karena kelancangan puteranya yang membawa

pasukan untuk bertindak sendiri. Ke dua karena puteranya

telah dipukul dan dihina orang.

“Ayah, kita akan kirim pasukan besar untuk menangkap

dan menghukum mereka!” kata Pui Ki Cong yang merasa malu

dan marah sekali.

“Bodoh! Kau hendak menarik perhatian orang seluruh

Thian-cin? Memukul anjing tidak perlu menggunakan tongkat

 

terlalu besar. Akan memalukan saja kalau kita harus

menggunakan pasukan. Apalagi, urusan ini adalah urusan

pribadi, bukan urusan pemer intah.”

“Akan tetapi, apa sukarnya mengalihkannya menjadi urusan

pemerintah, ayah? Bukankah mereka telah melabrak pasukan

pengawal dan berarti mereka itu telah memberontak? Anggap

saja mereka pemberontak-pemberontak dan ayah berhak

untuk membasminya dengan pasukan, bukankah begitu?”

“Bodoh! Mana ada pemberontak hanya tiga orang dan

alangkah memalukan kalau harus menundukkan tiga orang

saja mempergunakan pasukan besar. Tidak, suruh orang

panggil ke sini Thian-cin Bu tek Sam-eng!”

Pui Ki Cong terbelalak. “Bu-tek Sam-eng? Tapi….. mana

mereka mau membantu kita dan….. mereka bukan

pembunuh-pembunuh bayaran.”

“Hemm, kau tahu apa? Mereka itu haus akan kedudukan

dan kini aku akan memberi kesempatan kepada mereka untuk

meraih kedudukan. Kalau aku menjanjikan kedudukan dan

memperkenalkan mere ka ke kota raja, tentu mereka mau

membekuk tiga orang itu.”

“Bagus, kalau mereka yang maju, tentu tiga orang itu dapat

dibekuk. Akan tetapi, jangan boleh membunuh mereka, ayah.

Aku ingin mendapatkan mereka hidup-hidup di tanganku!”

Sang ayah yang sangat sayang kepada puteranya itu

tersenyum dan mengangguk angguk.

“Hayo cepat kirim utusan kepada mereka!”

Pui Ki Cong lalu cepat mengutus pengawal mengundang

tiga orang jagoan itu dan pengawal itu tentu saja tahu ke

mana harus mencari mereka. Nama besar tiga orang jagoan

itu amat terkenal. Baru julukannya saja Thian-cin Bu-tek Sameng

(Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin!

 

Tak lama kemudian, tiga orang penunggang kuda

memasuki pekarangan yang luas dari rumah gedung

pembesar Pui. Melihat lagak dan pakaian saja, mudah diduga

bahwa tiga orang penunggang kuda ini adalah jago-jago silat.

Mereka menunggang kuda dengan cara yang gagah, duduk

dengan tegak di atas kuda mere ka yang tinggi besar. Siapakah

tiga orang gagah ini dan mengapa mereka berani

mempergunakan julukan yang demikian tekebur, yaitu Tiga

Orang Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin?

Seorang di antara mereka bernama Gan Tek Un berusia

kurang lebih tiga puluh lima tahun, berperawakan sedang,

mukanya bersih dan termasuk tampan juga, akan tetapi wajah

yang tampan bersih itu dingin sekali, jarang tersenyum dan

matanya amat tajam menusuk. Pakaiannya indah, model

pakaian pendekar yang serba ringkas. Sepasang pedang

tergantung di punggungnya, bersilang dengan ronce-ronce

merah dan kuning.

Orang ke dua bernama Koo Cai Sun, usianya juga kurang

lebih t iga puluh lima tahun. Tubuh orang ini agak gemuk,

terutama di bagian perutnya yang gendut. Mukanya juga

bersih karena dia berkulit putih kuning, muka yang bulat

karena gemuk. Sepasang matanya yang lincah mengerling ke

kanan kiri itu, mulutnya yang bibirnya agak tebal dan selalu

tersenyum-senyum gembira, menunjukkan dengan jelas

bahwa dia seorang mata keranjang dan sombong, pakaiannya

pesolek, bahkan dari pakaian itu berhamburan bau minyak

wangi melebihi wanginya pakaian pelacur di waktu malam.

Rambutnya disisir licin bekas minyak. Di pinggangnya, secara

menyolok sekali, tampak terselip sepasang tombak pendek,

yaitu senjata siang-kek, tombak cagak yang pendek, yang di

kedua gagangnya dipasangi tali merah.

Adapun orang ke tiga bernama Louw Ti, usianya juga

sebaya, kurang lebih tiga puluh lima tahun, la dapat dibilang

buruk rupa di antara ketiganya. Hidungnya pesek dan

 

tubuhnya pendek tegap nampak kuat sekali. Mukanya hitam

dan matanya menyeramkan. Dia tidak membawa senjata,

akan tetapi di pinggangnya melingkar sebuah benda yang

menarik. Itulah sebatang cambuk hitam yang ujungnya

dipasangi kaitan baja!

Tiga orang ini sebenarnya berasal dari aliran yang berbeda.

Akan tetapi secara kebetulan, tiga orang ini sama-sama

menjadi murid seorang pertapa tersesat, seorang tokoh sakti

dari dunia hitam.

Karena mereka seguru, maka mere ka lalu bersatu dan

memang tingkat kepandaian mereka sama. Mereka bertiga,

dengan kepandaian masing-masing, sudah menjadi seorang

jagoan yang sukar dilawan. Apalagi mereka bersatu dan saling

bela, tentu saja kekuatan mereka menjadi berlipat ganda.

Inilah sebabnya, mereka menjadi jumawa dan merasa tidak

ada lagi yang mampu menandingi mereka dan mereka berani

mempergunakan julukan Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari

Thian-cin. Bukan hanya karena kepandaian mereka yang

tinggi yang membuat mereka berani memakai julukan ini, juga

terutama sekali karena mereka mempunyai hubungan yang

amat baik dan erat dengan kalangan atas, dengan pejabatpejabat

tinggi yang berkuasa di Thian-cin. Inilah sebabnya

maka para pendekar, walaupun merasa penasaran mendengar

tentang julukan mereka yang amat tekebur itu, mereka segan

untuk menentang mereka yang berlindung di balik kekuasaan

para pejabat dan membiarkan mereka mabok dalam

kejumawaan mereka.

Tiga orang itu memakai julukan Sam-eng (Tiga Jagoan atau

Tiga Pendekar) karena memang mereka merasa diri mereka

sebagai pendekar-pendekar silat yang tangguh. Mereka

memang bukan penjahat, dalam arti kata tidak melakukan

pekerjaan sebagai penjahat. Hal ini sama sekali bukan berarti

bahwa mereka adalah pendekar-pendekar budiman yang suka

menolong sesama hidup, menentang yang kuat menindas dan

 

membela kaum lemah tertindas. Sama sekali t idak. Bahkan

kadang-kadang, di luar kesadaran mere ka sendiri, tiga orang

ini, dalam kepongahan dan kemabokan masing-masing, suka

melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sikap seorang

pendekar. Kadang-kadang mereka itu dipergunakan oleh para

pejabat tinggi untuk membela kepentingan sang pejabat. Akan

tetapi mereka bertiga ini terkenal sebagai jagoan-jagoan

bayaran yang menuntut bayar-an tinggi.

Demikianlah sedikit tentang keadaan tiga orang jagoan

yang kini diundang oleh Pui Taijin itu. Mendengar undangan

dari pejabat yang penting ini, tentu saja tiga orang jagoan

yang tempat tinggalnya berpisah, akan tetapi ketiganya samasama

tinggal di kota Thian-cin, cepat-cepat berkumpul dan

segera datang berkunjung ke rumah gedung Pui Taijin.

Pembesar gendut itu menyambut mereka di dalam ruangan

khusus yang biasa dia pergunakan untuk membicarakan

urusan rahasia. Setelah pelayan mengeluarkan hidangan,

mereka mulai dengan perundingan mere ka dan daun pintu

dan jendela ditutup rapat, para pelayan tidak diperkenankan

mendekat. Yang berada di dalam kamar itu hanyalah tiga

orang jagoan itu bersama Pui Taijin dan Pui Ki Cong. Pertamatama

Pui Taijin sendiri mengucapkan selamat datang dengan

secawan arak, mempersilakan mereka makan minum dan

diapun menyampaikan kehendaknya minta bantuan dari tiga

orang pendekar itu.

“Keluarga Kim itu jelas menghina kami sekeluarga, berani

menghina kami dan melawan pasukan pengawal. Mereka itu

jelas memberontak, atau setidaknya memperlihatkan sikap

melawan alat negara dan memberontak. Akan tetapi karena

jumlah mereka hanya bertiga, kami merasa malu kalau harus

mengerahkan pasukan untuk menangkap mereka. Oleh karena

itu, kami mengharap bantuan sam-wi untuk menangkap

mereka.”

 

“Tapi harap sam-wi jangan sekali-kali membunuh mereka,

bahkan jangan melukai nona Kim. Tangkap mereka hiduphidup

dan seret mereka ke sini.” Pui Ki Cong menambahkan

perintah ayahnya.

Koo Cai Sun yang bermuka bulat dan selalu tersenyum itu

memainkan biji matanya yang berminyak itu, menyumpit

sepotong daging dan memasukkan daging itu ke mulutnya.

Sambil mengunyah daging babi berminyak itu dia berkata,

“Aha, agaknya kongcu tertarik kepada nona Kim itu, sudah

dapat dipastikan bahwa ia tentu amat cantik jelita!”

“Aihh, nona itulah yang menjadi gara-gara semua ini.” Pui

Taijin berkata gemas. “Dan anak yang kurang hati-hati ini.

bernasib sial. Mula-mula dia bertemu dengan nona itu dan

tertarik. Kami mengajukan pinangan. Pinangan ditolak, bahkan

keluarga itu menghina kami. Dia membawa selosin pengawal

untuk memberi hajaran, akan tetapi malah dilabrak o leh guru

silat Kim, puterinya dan calon mantunya.”

“Apakah yang taijin maksudkan dengan guru silat Kim itu

adalah Kim Siok, guru silat dari Ang-ke-bun itu?” tiba-tiba Gan

Tek Un yang sejak tadi diam saja bertanya.

“Benar, dialah orangnya, guru silat kampungan itu,” kata

Pui Ki Cong.

Tiga orang jagoan itu saling pandang, “Hemm,” kata Louw

Ti yang bermuka hitam itu sambil memandang wajah Pui

Kongcu. “Guru silat kampungan? Dia adalah murid S iauw-limpai

yang cukup lihai ilmu silatnya.”

“Akan tetapi bagaimanapun juga aku tidak percaya kalau

sam-wi takut melawannya.” kata Pui Ki Cong. Pemuda ini

memang cerdik dan licik sekali. Ucapannya ini merupakan

kesengajaan untuk membangkitkan kemarahan mereka karena

harga diri mere ka disinggung dan kegagahan mereka

diragukan.

 

“Takut? Huh, setanpun kami tidak takut melawannya!” kata

Louw Ti setengah membentak dan diam-diam Ki Cong merasa

girang karena pancingannya mengena.

“Kamipun sudah tahu bahwa keluarga Kim itu memiliki

kepandaian silat yang lihai sehingga pasukan pengawal

kamipun dihajar oleh mereka. Karena itulah maka kami

sengaja mengundang sam-wi untuk minta bantuan sam-wi,

karena siapa lagi , kalau bukan sam-wi yang akan mampu

menyeret mereka bertiga ke sini.” kata Pui Taijin dan ucapan

ini cocok sekali dengan pancingan puteranya.

Koo Cai Sun yang merupakan orang paling pandai dan

paling suka bicara di antara mereka bertiga, kini mewakili

saudara-saudaranya berkata kepada Pui Taijin, “Harap taijin

jangan khawatir. Memang Kim Kauwsu itu murid S iauw-lim-pai

yang lihai, akan tetapi bagi kami dia itu bukan apa-apa. Kami

tanggung dalam waktu singkat kami akan dapat menyeret

mereka bertiga itu sebagai tawanan ke sini. Akan tetapi, kami

mengharap agar taijin suka mempertimbangkan permintaan

kami bertiga tempo hari yang sampai kini belum juga taijin

penuhi.”

“Ahh, tentang kedudukan itu? Jangan khawatir. Kami sudah

mencari-carikan di kota raja dan kami sudah mengadakan

hubungan di sana. Kalau sam-wi berhasil membantu kami,

kami akan menyerahkan surat perkenalan dan tanggungan

agar sam-wi dapat diterima menjadi calon-calon perwira di

kota raja. Kalau mungkin di istana, kalau tidak tentu di dalam

pasukan pengawal para pejabat tinggi di sana.”

Tentu saja tiga orang jagoan itu merasa gembira bukan

main. Hanya ada satu cita-cita mereka yang belum tercapai,

yaitu kedudukan tinggi karena mereka tahu bahwa kedudukan

tinggi mendatangkan kekuasaan yang jauh bedanya dari

kekuasaan yang datang karena ilmu silat mereka. Kekuasaan

yang didapat dari kedudukan atau jabatan jauh lebih besar

pengaruhnya.

 

“Baiklah, taijin.” kata Koo Cai Sun.

“Sekarang juga kami akan menangkap keluarga Kim itu.”

“Mungkin mere ka melarikan diri dari Ang-ke-bun. Harap

sam-wi mencarinya sampai dapat kalau mereka telah

melarikan diri,” kata sang pembesar.

“Tentu saja kami akan melakukan pengejaran. Mereka

takkan dapat lari jauh.” jawab Gan Tek Un.

“Akan tetapi saya mohon dengan sangat kepada sam-wi

agar nona Kim jangan dilukai, dan jangan….. diganggu, ingat,

ia itu milikku, calon selirku…..” kata Pui Ki Cong sambil

memandang tajam wajah bulat Koo Cai Sun. Dia sudah

mendengar tentang jagoan ini, seorang mata keranjang yang

tidak melewatkan wanita cantik begitu saja.

Koo Cai Sun terkekeh dan matanya makin menyipit. “Haha-

ha, kongcu aku masih tahu perempuan mana yang boleh

kujamah dan mana yang tidak. Tentu saja aku tidak akan

mengganggu dara cantik yang membuat kongcu tergila-gila

itu, ha-ha!”

Kim Kauwsu bersama puterinya dan muridnya

meninggalkan Ang-ke-bun dan melarikan diri menuju ke

selatan kemudian membelok ke barat. Setelah melakukan

perjalanan cepat selama tiga hari, sampailah mereka ke kaki

Pegunungan Tai-hang-san dan mereka pada pagi hari ke

empat berhenti di tepi sebuah sungai yang melintang dan

menghadang perjalanan mereka. Banyak sudah bukit dan

hutan mereka lalui, dusun-dusun kecil mereka lewati. Setelah

berada di lembah sungai di kaki Pegunungan Tai-hang-san

yang indah itu, cuaca yang cerah dan suasana yang sunyi dan

tenang membuat hati mereka merasa tenang pula.

“Ayah, kita akan menuju ke manakah?” Cui Hong bertanya

kepada ayahnya selagi mereka makan bekal makanan mereka

yang kemar in mere ka beli dar i sebuah dusun. Mereka duduk di

bawah sebatang pohon besar dan sinar matahari pagi

 

menerobos di antara celah-celah daun pohon itu, menimpa

tempat mereka beristirahat dengan sentuhan-sentuhan hangat

dan halus.

“Sebaiknya kita pergi ke kota Tai-goan. Di mana aku

mempunyai seorang sahabat baik. Tentu untuk sementara

waktu dia akan suka menampung kita, sementara kita

berusaha mencari sumber penghasilan baru. Kita harus hidup

baru di tempat itu, dan sebaliknya kalau kita berganti nama.”

Dara itu mengerutkan alisnya, juga Lu San merasa tidak

setuju. Dua orang muda itu merasa betapa sikap orang tua itu

terlalu ketakutan. Kalau menuruti hati mereka, lebih baik

mereka tetap tinggal di dusun dan melawan mati-matian

terhadap setiap pengganggu yang berani datang mengusik

mereka.

Agaknya guru silat itupun dapat menduga akan isi hati

puterinya dan muridnya, maka diapun menarik napas panjang.

“Cui Hong, dan Lu San, aku tahu bahwa kalian merasa tidak

puas dengan sikapku yang melarikan diri seolah-olah takut

menghadapi bahaya. Memang terus terang saja, aku merasa

takut.”

“Ayah…..!” Ucapan ayahnya itu hebat sekali bagi Cui Hong

yang sejak kecil menganggap ayahnya orang yang paling

hebat, paling gagah dan tidak mengenal takut. Dan sekarang

ayahnya begitu saja mengaku bahwa dia takut!

Orang tua itu memegang tangan anaknya. “Aku memang

takut sekali, bukan takut kalau aku sampai terkena celaka.

Akan tetapi aku takut kalau-kalau engkau, Cui Hong, kalaukalau

kalian berdua tertimpa malapetaka. Kalian tidak tahu

betapa kejam dan jahatnya manusia-manusia di dunia ini. Aku

ingin melihat kalian terhindar dari bencana. Kalau aku sudah

berhasil menyelamatkan kalian, kalau kalian sudah menjadi

suami isteri, aku sendiri akan menggabungkan diri dengan

para pemberontak.”

 

“Suhu, apa maksud ucapan suhu ini?” Lu San terkejut

mendengar ini. Belum pernah suhunya bicara seperti itu,

apalagi menyatakan hendak bergabung dengan pemberontak.

“Ketahuilah kalian. Pada waktu ini, pemerintah amat lemah,

Kaisar telah menjadi seperti boneka saja. Yang berkuasa

adalah pejabat-pejabat setempat dan mereka yang memiliki

kekuasaan. Kabarnya, di kota raja sekalipun yang berkuasa

adalah pejabat-pejabat dan di istana yang berkuasa adalah

pejabat-pejabat thai-kam. Kejahatan merajalela, perbuatanperbuatan

tak patut dan tidak adil terjadi di mana-mana.

Karena itu, orang-orang gagah yang berjiwa patriot

memberontak terhadap pemerintah yang dianggap tidak

becus. Mereka memberontak untuk membentuk pemer intahan

baru yang bijaksana dan adil. Sudah lama aku memikirkan hal

itu dan siapa kira hari ini kita sendiri malah menjadi korban

keganasan seorang pejabat yang sewenang-wenang. Hal ini

mendorong semangatku untuk membantu para pemberontak,

yaitu menggulingkan pemer intah lalim dan mendirikan

pemerintah baru yang sehat. Dengan demikian, maka tidak

akan sia-sialah aku menghabiskan sisa hidupku. Aku

mendengar bahwa banyak sekali para pendekar gagah

perkasa yang masuk menjadi pembantu suka rela dari

pasukan pemberontak yang disebut pejuang-pejuang rakyat.”

“Kalau begitu, teecu ikut, suhu!” kata Lu San penuh

semangat.

“Aku juga ikut, ayah!” sambung Cui Hong.

Tiga orang itu terseret oleh semangat perjuangan yang

timbul karena perhatian yang mereka alami akibat gangguan

seorang pejabat. Demikian tersentuh rasa hati mereka oleh

kegembiraan semangat itu sehingga mereka tidak begitu

memperhatikan bunyi derap kaki kuda yang datang dari jauh.

Setelah tiga orang penunggang kuda itu tiba di situ dan

berloncatan turun, barulah Kim Kauwsu, puteri dan muridnya

terkejut dan mereka pun mengenal tiga orang itu. JagoanTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

jagoan sombong yang menyebut diri Thian-cin Bu-tek Sameng!

Tiga orang itu dengan sikap tenang menambatkan kuda

mereka pada batang pohon dan mereka lalu melangkah maju

menghampiri Kim Siok dan dua orang muda itu. Koo Cai Sun

memperhatikan dara remaja yang nampak berdiri dengan

gagahnya itu dan tiba-tiba dia tertawa bergelak.

hal 24-25 gak ada

“orang juga.” kata Koo Cai Sun, masih tersenyum mengejek

dan pandang nyatanya seperti menggerayangi seluruh bagian

tubuh yang ranum dar i remaja itu.

Karena tidak melihat cara lain untuk menghindarkan

bentrokan, Kim Kauw-su membentak dengan marah, “Ah,

kalau begitu, benar ucapan anakku tadi bahwa kalian adalah

tiga ekor anjing penjilat dan pemburu dari jaksa Pui?”

“Ha-ha-ha, benar Benar! Kami adalah tiga ekor anjing

pemburu yang mengejar-ngejar tiga ekor tikus yang melarikan

diri, ha-ha!” kata Koo Cai Sun yang pandai bicara itu.

“Ayah, menghadapi anjing perlu bertindak, bukan bicara!”

Tiba-tiba Cui Hong sudah menerjang ke depan, mengirim

tendangan yang amat keras dan cepat ke arah perut Koo Cai

Sun yang gendut. Akan tetapi, orang ini sambil terkekeh sudah

mengelak dengan menarik tubuh ke belakang, bahkan dia

berusaha menyambar dengan tangannya untuk menangkap

kaki Cui Hong yang menendang. Dara itu terkejut dan cepat

menarik kembali kakinya, kemudian menyerang lagi dengan

kedua tangannya, mengirim pukulan-pukulan beruntun.

“Aha, kuda betina liar ini sungguh menarik!” kata Koo Cai

Sun dan dengan mudah dia menghindarkan diri dari semua

serangan itu dengan elakan dan tangkisan. jelas bahwa dia

hendak mempermainkan gadis itu karena dia tidak membalas

serangan-serangan itu, hanya membiarkan gadis itu

menyerang terus yang semua dapat dihindarkannya dengan

 

mudah, bahkan dalam serangan jurus ke lima, sambil

mengelak dia berhasil mengusap dagu runcing itu.

“Aih, manisnya!”

Tentu saja Cui Hong menjadi marah dan menyerang

semakin dahsyat. Hal itu membuat Lu San juga marah sekali.

“Manusia busuk!” bentaknya dan dia-pun terjun ke dalam

perkelahian itu, hendak membantu sumoinya atau

tunangannya. Akan tetapi, dari kanan menyambar tubuh Gan

Tek Un yang sudah menghadangnya sehingga merekapun

segera berkelahi dengan seru.

Hati guru silat Kim Siok terkejut dan khawatir sekali ketika

dia melihat gerakan dua orang yang sudah berkelahi dengan

anak perempuan dan muridnya. Tahulah dia bahwa tiga orang

lawan ini bukan hanya bernama kosong saja dan biarpun

mereka menggunakan julukan yang terlalu sombong, namun

Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin ini ternyata

memang lihai sekali. Tidak ada jalan lain baginya kecuali

menyertai anak dari calon mantunya untuk membela diri dan

melawan mati-matian. Hanya Louw Ti seorang yang masih

belum memperoleh tanding, maka diapun tak mengeluarkan

kata-kata lagi, langsung saja menyerang Louw Ti yang pendek

tegap itu dengan pukulannya yang ampuh.

Louw Ti menghadapi serangan itu dengan tenang. Pukulan

itu bukan pukulan biasa, melainkan pukulan dari jurus Ilmu

Silat Sin-ho-kun (Silat Bangau Sakti), dilakukan dengan

sempurna dan didorong oleh tenaga sinkang yang amat kuat.

Namun Louw Ti tidak mengelak, sengaja tidak mengelak

melainkan menyambutnya dengan tangkisan sambil

mengerahkan tenaganya pula karena dia ingin menguji

kekuatan pihak lawan.

“Dukkk……!” Dua tenaga yang amat kuat bertemu melalui

dua lengan itu dan akibatnya, tubuh Kim Siok terdorong ke

belakang sampai dia terhuyung, sebaliknya, Louw Ti masih

 

berdiri tegak, matanya melotot lebar dan mulutnya bergerak

ke arah senyum mengejek. Dalam pertemuan adu tenaga

gebrak pertama ini, mereka berdua sudah maklum akan

kekuatan masing-masing dan diam-diam guru silat Kim

terkejut bukan main karena dia tahu bahwa tenaganya masih

kalah jauh dibandingkan dengan lawan yang bertubuh pendek

tegap bermuka hitam ini. Dengan sudut matanya diapun

melihat betapa keadaan anak perempuan dan muridnya sudah

payah, terdesak terus oleh pihak lawan dan mudah diduga

bahwa mereka berdua itu pasti akan kalah. Maka, dengan

menebalkan muka, demi kepentingan puterinya, dia segera

berkata dengan lantang.

“Tahan dulu……!!”

Tiga orang itu menahan serangan mereka dan melangkah

mundur sambil memandang dengan sikap memandang

rendah. Bagaimanapun juga, tentu akan lebih menyenangkan

dan lebih mudah bagi mereka kalau t iga orang buruan ini

menyerahkan diri dengan suka re la agar tidak susah-susah

lagi mere ka menggiring tawanan itu ke Thian-cin. Inilah

sebabnya mengapa mereka menahan serangan mereka ketika

mendengar suara Kim Siok.

“Bu-tek Sam-eng, kalian bertiga adalah orang-orang gagah.

Kalau memang kami dianggap bersalah, biarlah semua

kesalahan itu aku sendiri yang akan menanggungnya. Kalian

kasihanilah puteriku dan muridku yang tidak berdosa ini.

Biarkan mereka berdua pergi dan aku yang akan menerima

segala macam hukuman yang akan dijatuhkan kepada kami.”

“Ayah!”

“Suhu…..!”

Dua orang muda itu memandang kepada Kim Siok dengan

mata terbelalak dan alis berkerut. Tentu saja mereka merasa

tidak setuju sama sekali dengan sikap Kim Kauwsu itu.

 

“Ha-ha-ha-ha! Kim Siok, untuk apa kami hanya membawa

pulang seorang seperti engkau? Yang dibutuhkan adalah

puterimu, dan engkau bersama muridmu ini harus ikut pula

untuk menerima hukuman!” kata Koo Cai Sun sambil tertawa

mengejek. “Dar ipada kami harus menggunakan kekerasan dan

bagaimanapun juga kalian takkan dapat menandingi kami,

lebih baik kalian bertiga lekas berlutut dan menyerah saja.”

“Singgg….!” Nampak sinar berkilat ketika Cui Hong sudah

mencabut pedangnya. Karena mereka bertiga melarikan diri

dari bahaya, maka dari rumah mere-ka telah mempersiapkan

senjata dan kini dara itu yang menjadi marah sekali

mendengar ucapan Koo Cai Sun, sudah mencabut pedangnya.

“Manusia sombong, lihat pedang!” bentaknya dan iapun sudah

menggerakkan pedangnya menyerang Koo Cai Sun dengan

tusukan ke arah dada.

“Heh-heh, liar dan panas!” Si perut gendut itu mengelak

dengan cepatnya.

Akan tetapi Cui Hong menyerang terus dengan tusukantusukan

dan bacokan-bacokan bertubi-tubi dan berbahaya

sekali.

Melihat sumoinya sudah maju lagi, Lu San juga mencabut

pedangnya dan tanpa banyak cakap diapun sudah

menggerakkan pedang menyerang Gan Tek Un yang juga

cepat mengelak dari serangan-serangan pedang yang cukup

berbahaya itu. ”

Kim Siok menghela napas panjang. Usahanya gagal! Tidak

ada jalan lain kecuali melawan mati-matian. Maka diapun

melolos sabuknya yang merupakan senjatanya yang ampuh

dan dengan sabuk ini diapun menyerang Louw Ti. Louw Ti

mengeluarkan dengus mengejek dan tahu-tahu cambuk

hitamnya yang disebut Toat beng-joan-pian (Cambuk

Pencabut Nyawa ) sudah berada pula di tangannya.

 

“Tar-tar-tarrr…..!” Cambuknya meledak-ledak menyambut

sambaran sabuk Kim Siok dan kedua orang ini segera

berkelahi dengan seru. Nampak gulungan sinar putih dan

hitam dari senjata mere ka menyambar-nyambar.

Perkelahian antara Cui Hong dan Koo Cai Sun terulang

kembali, akan tetapi biarpun kini Cui Hong menggunakan

pedang, tetap saja keadaan mereka tidak seimbang. Koo Cai

Sun juga mempergunakan senjatanya, yaitu sepasang tombak

pendek, akan tetapi sepasang senjata ini hanya dia

pergunakan untuk menangkis dan mengancam saja. Dia tidak

bermaksud melukai gadis itu seperti yang telah dipesankan

dengan sungguh-sungguh oleh Pui Ki Cong. Kalau dia

menghendaki, dengan ilmu kepandaiannya yang jauh lebih

tinggi, akan mudah bagi Koo Cai Sun untuk merobohkan gadis

itu. Dia mempermainkan sambil tertawa-tawa, dan hanya

menambah tenaganya setiap kali menangkis sehingga

beberapa kali hampir saja pedang di tangan Cui Hong

terlempar lepas.

Tidak banyak perbedaannya dengan keadaan Lu San.

Pemuda ini mengamuk dengan pedangnya, akan tetapi semua

gerakan pedangnya itu menemui jalan buntu dan kandas

dalam gerakan sepasang pedang Gan Tek Un. Jagoan ini

menggunakan sepasang pedang dan dengan pedang

pasangan yang digerakkan secara hebat, sepasang pedang itu

demikian ganasnya seperti sepasang naga terbang dan

bermain-main di angkasa, sesuai dengan ilmu pedangnya,

yaitu Siang-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Naga). Lu

San sungguh bukan lawan seimbang dari Gan Tek Un dan

setelah mempermainkan pemuda ini selama t iga puluh jurus

lebih, tiba-tiba Gan Tek Un mengeluarkan bentakan keras dan

tahu-tahu pedang di tangan Lu San terlepas dan pemuda

itupun terpelanting roboh karena pundak kanannya tercium

ujung pedang dan ada otot di pundaknya yang putus!

 

Robohnya Lu San disusul dengan robohnya Cui Hong. Dara

ini dirobohkan oleh Koo Cai Sun yang merasa sudah cukup

mempermainkannya. Tiba-tiba pedang di tangan dara itu

tertangkap oleh kaitan senjata siang-kek di tangannya dan

sekali membuat gerakan memutar, pedang itupun patah dan

karena tangannya terasa nyeri, terpaksa Cui Hong melepaskan

gagang pedang. Sebelum dara ini mampu menjaga diri, tahutahu

lawannya yang amat lihai telah menotoknya dan

robohlah ia tanpa terluka, terkulai dalam keadaan lumpuh dan

tak mampu bergerak lagi.

Melihat betapa dua orang kawannya sudah merobohkan

lawan, Louw Ti mengeluarkan suara melengking nyaring sekali

dan kini gerakan cambuknya berubah ganas bukan main. Guru

silat Kim Siok terkejut. Dia sendiri adalah seorang ahli bermain

senjata lemas seperti cambuk atau sabuknya, akan tetapi kini

dia tahu bahwa dia telah bertemu dengan seorang yang

tingkat kepandaiannya masih jauh lebih t inggi. Dia mencoba

untuk mengerahkan seluruh tenaga dan memutar senjata

sabuknya itu dengan sebaik mungkin, memainkan ilmu silat

yang mendarah daging kepadanya. Sabuknya membuat

gerakan menyambar-nyambar dan membentuk lingkaran

cahaya putih. Akan tetapi, cambuk di tangan Louw Ti

mengeluarkan suara meledak-ledak, membuat gerakan

melecut-lecut secara aneh, kadang-kadang menyambarnyambar

dari atas, bawah, kanan kiri dan depan belakang,

sukar sekali untuk dibendung. Apalagi setiap lecutan itu

mengandung tenaga yang amat kuat sehingga sabuk di

tangan Kim Kauwsu kadang-kadang membalik ketika terbentur

senjata lawan. Dia tidak tahu bahwa lawannya telah

memainkan Ilmu Cambuk Pencabut Nyawa yang dahsyat

sekali.

Kim Siok terlalu lama meninggalkan dunia persilatan.

Semenjak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, dia tidak

pernah lagi menjelajah dunia persilatan dan tidak tahu bahwa

di dunia kang-ouw, telah terjadi banyak perubahan dan

 

banyak bermunculan tokoh-tokoh yang lihai. Juga telah terjadi

perkembangan yang luas dalam ilmu silat sendiri. Karena ini,

biarpun dia setiap hari melatih diri dengan mengajarkan ilmu

silat kepada murid-muridnya, namun selama dua puluh tahun

dia tidak menambah pengetahuannya dalam ilmu silat. Maka,

begitu bertemu tanding tangguh, yang memainkan ilmu silat

baru yang sama sekali tidak dikenalnya, dia menjadi bingung.

“Tar-tar-tarrr….. robohlah kamu!” terdengar Louw Ti

membentak dan ujung cambuknya yang dipasangi mata pisau

tajam itu menyambar turun secara bertubi-tubi. Kim Siok

terkejut mengelak dan memutar sabuknya melindungi dirinya,

namun terlambat.

“Crokkk.. aughhhh….” Dan robohlah guru silat itu, dari kaki

kanannya di bagian lutut bercucuran darah karena sambungan

lututnya hampir putus disambar mata pisau di ujung cambuk

lawan tadi. Juga di pergelangan tangannya mengucurkan

darah dan terpaksa dia melepaskan sabuknya. Karena luka di

lutut dan pergelangan tangan, guru silat itu tidak mampu

melakukan perlawanan lagi dan diapun roboh terguling tanpa

dapat mengelak ketika Louw Ti menambahkan totokan yang

membuat kaki tangannya lumpuh.

“Ha-ha-ha, Kim Siok. Kiranya engkau dan puterimu beserta

muridmu ini tidak seberapa hebat. Engkau memang orang

keras kepala dan tolol. Kalau saja kau-berikan puterimu

kepada Pui-kongcu, tentu tidak akan begini jadinya dan

engkau akan hidup terhormat dan makmur.”

“Bunuhlah aku, tapi bebaskan anakku berdua itu.” Kim Siok

masih mencoba untuk membujuk karena dia amat

mengkhawatirkan nasib puterinya. Akan tetapi tiga orang itu

hanya tertawa-tawa dan Koo Cai Sun lalu mengangkat tubuh

Cui Hong yang sudah tak mampu bergerak, meletakkan tubuh

itu melintang di atas punggung kudanya. Lalu dia sendiri

meloncat naik dan tubuh dara itu melintang menelungkup di

depannya.

 

“Mari kita cepat bawa mereka!” katanya dan dua orang

temannya juga segera membawa tawanan masing-masing.

Kim Siok dan Lu San yang juga sudah tidak mampu bergerak

karena ditotok, juga mereka dibelenggu kaki tangannya, diikat

di atas punggung kuda. Lalu tiga orang jagoan itu melarikan

kuda masing-masing membawa tawanan itu menuju ke Thiancin,

membayangkan kedudukan terhormat yang akan mereka

terima sebagai hadiah Pui Taijin.

“Ha, nona manis, akhirnya engkau terjatuh ke dalam

tanganku!”

Cui Hong rebah di atas pembaringan dengan kaki tangan

terikat. Tadi ia dilemparkan oleh Koo Cai Sun ke atas

pembaringan di dalam kamar itu, dan sambil terkekeh Koo Cai

Sun menyerahkannya kepada Pui Ki Cong.

“He-heh-heh, Pui-kongcu. Nih, kuda betina liar itu. Ia panas

dan liar, akan tetapi aku menepati janji, ia tidak kusentuh! Haha,

memang ia menarik sekali, tapi aku tidak menyentuhnya.”

Jagoan itu tertawa bergelak.

“Terima kasih, Koo-enghiong, terima kasih.” kata Pui Ki

Cong dan setelah jagoan itu keluar dari kamar, dia cepat

menutupkan daun pintu dan menghampiri pembaringan

dengan mulut menyeringai.

“Kim Cui Hong, kalau engkau dahulu menerima

pinanganku, tentu tidak perlu dilakukan kekerasan seperti ini.

Akan tetapi sekarang masih belum terlambat, manis, aku

sungguh cinta padamu dan kalau engkau mau dengan suka

rela menjadi isteriku, aku akan membujuk ayahku agar

ayahmu tidak menerima hukuman berat.” Pui Ki Cong duduk

di tepi pembaringan dan mengulur tangan untuk membelai

dagu yang meruncing manis itu.

Cui Hong menggerakkan kepalanya mengelak dari belaian

itu. Totokan pada tubuhnya telah punah akan tetapi ikatan

pada kaki tangannya kuat sekali, membuat ia tidak mampu

 

menggerakkan kaki tangannya. “Tidak sudi aku! Lebih baik

mati!” ia membentak dan melotot kepada pemuda itu.

“Ah, nona manis, kenapa engkau berkeras hati? Ingatlah,

engkau sudah tertawan, juga ayahmu dan muridnya itu.

Betapa mudahnya menjatuhkan hukuman kepada kalian

bertiga dengan dalih pemberontak. Kalau engkau berkeras dan

menolak, aku dapat mendapatkan dirimu, kalau perlu dengan

perkosaan. Apa kau lebih suka diperkosa dan melihat ayahmu

dan muridnya itu mati tersiksa? Ataukah engkau lebih baik

menyerahkan diri baik-baik kepadaku, menjadi isteriku,

sedangkan ayahmu mungkin akan dibebaskan?”

Ki Cong membujuk dan merayu. Dia ingin mendapatkan diri

gadis ini dengan suka rela karena dia benar-benar tertarik oleh

kemurnian dan kecantikan aseli dara puteri guru silat ini. Kalau

harus memperkosanya, sungguh kurang menyenangkan dan

tidak akan memuaskan hatinya. Pula, hal ini menyinggung

harga dirinya. Sebagai seorang perayu wanita yang tampan

dan kaya, belum pernah ia harus memperkosa wanita. Semua

wanita yang digodanya dan dirayunya, satu demi satu pasti

akan tunduk bertekuk lutut, menyerahkan diri dengan suka

rela kepadanya. Memperkosa wanita, sama saja mengaku

bahwa dia ditolak dan tidak dikehendaki wanita itu!

Tiba-tiba terjadi perubahan pada wajah yang cantik manis

dan dan agak pucat itu. Sepasang mata yang jeli itu menatap

wajah Pui Ki Cong penuh selidik, kemudian bibir yang mungil

dan walaupun dalam keadaan tegang dan lelah masih nampak

segar merah membasah itu, bergerak mengajukan pertanyaan

lirih.

“Be….. benarkan….. kau akan membebaskan ayahku kalau

aku…. aku menyerahkan diri dengan suka rela padamu?”

Wajah pemuda bangsawan itu berseri gembira. “Tentu

saja! Ha-ha, nona Kim yang baik, apakah kau belum percaya

kepadaku? Apakah aku harus bersumpah? Aku cinta padamu

dan kalau kau mau menerima cintaku, dengan suka rela,

 

engkau akan menjadi seorang isteriku yang tercinta dan tentu

saja aku akan membebaskan ayahmu yang menjadi ayah

mertuaku!”

“Kalau begitu…. demi keselamatan ayah…. akui… aku

menyerah. Tapi….. harap bersikap sabar denganku, kongcu.

Aku…, aku masih belum dewasa……”

Wajah dara itu menjadi merah sekali dan ia tidak berani

menentang pandang mata pemuda itu yang kini tersenyum

penuh kegembiraan.

“Tentu saja, manisku! Aku cinta padamu, aku akan bersikap

sabar…. ah, girang rasa hatiku kalau kau mau menyerahkan

diri dengan suka rela.” Dan dia-pun merangkul hendak

mencium mulut yang sejak pertama kali dilihatnya telah

membuatnya tergila-gila itu.

“Aih, nanti dulu, kongcu…..” Cui Hong miringkan mukanya

mengelak. “Aku ….. tidak enak sekali terbelenggu seperti

ini….. kenapa kau tidak melepaskan ikatan tangan kakiku? Aku

sudah menyerah…. demi keselamatan ayah.”

“Ah, aku sampai lupa! Maafkan, kekasihku, aku a kan cepat

melepaskan ikatan kaki tanganmu.” Dengan penuh

kegembiraan, sambil menggunakan jari-jari tangannya

kadang-kadang mencolek sana-sini dengan sikap genit, Ki

Cong lalu membuka ikatan tangan kaki Cui Hong. Dia sudah

membayangkan betapa akan gembira dan nikmatnya kalau

nanti gadis remaja ini menyerahkan diri dengan hati terbuka

kepadanya.

Dengan kedua tangan gemetar karena gejolak hatinya, Ki

Cong melepaskan ikatan-ikatan pada pergelangan kaki dan

tangan Cui Hong dan membantu gadis itu bangkit duduk. Cui

Hong mengurut-urut pergelangan kaki dan tangannya, yang

terasa kaku dan nyeri setelah ikatannya dibuka.

“Mari kuurut kakimu, manis.” Ki Cong segera meraba kaki

itu dengan tangan panas membelai, akan tetapi tiba-tiba dia

 

terkejut setengah mati karena tengkuknya sudah dicengkeram

dan gadis itu sekali meloncat sudah turun dari atas

pembaringan dan tangan kirinya mencengkeram tengkuk,

tangan kanannya siap memukul kepala.

“Jangan bergerak!” bentaknya. “Hayo cepat perintahkan

agar ayahku dan suhengku dibebaskan!”

Ki Cong terkejut bukan main, bergerak meronta hendak

melepaskan diri. “Akan tetapi, nona…..”

“Diam dan jangan bergerak! Hemm, kalau tidak cepat

kaubebaskan mereka, akan kuhancurkan kepalamu!” Dan ia

memperkuat cengkeramannya sehingga tengkuk Ki Cong

rasanya seperti dijepit besi membuat pemuda itu gelagapan

dan sesak napasnya.

“Ba….. baik….. baik….., tapi….. mereka tidak ditahan di

sini…..”

Pemuda itu merasa mendongkol, menyesal, marah akan

tetapi juga ketakutan. Tak disangkanya sama sekali bahwa

dara remaja itu dapat mempergunakan siasat selicik itu.

Sedikitpun tidak nampak kepura-puraannya ketika tadi mau

menyerahkan diri, nampak demikian sungguh-sungguh. Dia

sama sekali tidak tahu bahwa seorang manusia, dalam

keadaan terhimpit, akan mampu melakukan apa saja untuk

menyelamatkan diri. Dalam hal ini, Cui Hong tidak hanya

mengkhawatirkan diri sendiri, melainkan ia ingin sekali

menyelamatkan ayahnya dan suhengnya.

“Jangan bohong! Hayo panggil pengawalmu dan katakan

bahwa ayahku dan suhengku harus dibebaskan dan dibawa ke

sini. Cepat, atau akan kupatahkan batang lehermu!” Kembali

cekikannya pada tengkuk menguat dan Ki Cong dengan

ketakutan lalu memanggil pengawalnya.

Dua orang pengawal mengetuk daun pintu karena daun

pintu itu tadi dikunci dari da lam oleh Ki Cong. “Apakah kongcu

memanggil kami?” demikian terdengar teriakan dari luar.

 

Melihat sebatang pedang menghias dinding, sebatang

pedang yang tidak begitu baik akan tetapi indah ukirannya

dan lebih menyerupai hiasan daripada! senjata, Cui Hong lalu

menyambar senjata itu, menghunusnya dan menempelkannya

pada leher Ki Cong yang menjadi semakin ketakutan.

“Cepat buka pintu dan perintahkan! dia agar cepat

membawa ayahku dan suhengku ke sini. Cepat!”

Dengan todongan pedang di tengkuknya, Ki Cong

membuka daun pintu dan dua orang pengawal itu terbelalak

melihat betapa majikan mereka ditodong pedang oleh gadis

yang menjadi tawanannya. Tentu saja mereka terheran-heran.

Tadi, di luar pintu di mana mereka ditugaskan menjaga

keamanan, mereka kasak-kusuk dan terkekeh-kekeh

membicarakan dan membayangkan betapa majikan muda

mereka tentu tengah mempermainkan gadis tawanan itu yang

mereka namakan sebagai “memetik bunga” atau

“menyembelih ayam”. Siapa kira, kini majikan muda mereka

itu sama sekali tidak menikmati tawanannya, bahkan ditodong

oleh tawanan itu, mukanya pucat tubuhnya gemetar seperti

orang r-serang demam.

“Cepat….. pergi ke tempat tahanan…. dan bawa dua

tawanan itu ke sini…….”

“Siapa, kongcu? Tawanan yang mana?” Dua orang

pengawal itu masih bingung dan gugup.

“Guru silat Kim Siok dan muridnya yang tertawan.

Bebaskan dan bawa mereka ke sini, atau…. aku akan

memenggal leher kongcu kalian ini. Cepat!” bentak Cui Hong

dan ujung pedang itu ia tempelkan pada tengkuk Ki Cong

sehingga terluka sedikit dan berdarah.

“Cepat…… lakukan perintah itu, cepat…..!” Ki Cong berkata

dan dua orang pengawal itu kini maklum apa yang terjadi.

Ternyata tawanan ini, dara yang mereka sudah dengar pandai

ilmu silat ini, telah berhasil meloloskan diri sehingga

 

keadaannya menjadi terbalik, kongcu mereka kini menjadi

tawanan. Mereka mengangguk dan bergegas pergi dari situ

untuk melaksanakan perintah. Tempat tahanan berada di

belakang gedung besar.

Setelah dua orang pengawal itu pergi, Cui Hong menotok

jalan darah tawanannya dan Ki Cong roboh dengan lemas.

Cepat dara itu mempergunakan tali yang tadi dipakai untuk

mengikatnya, kini ia mempergunakannya untuk mengikat kaki

tangan Ki Cong dengan erat. Ia tahu bahwa ia berada di

dalam guha singa dan kalau tiga orang jagoan yang pernah

menangkap ia dan ayahnya itu muncul, berarti

keselamatannya terancam. Akan tetapi ia mempunyai tawanan

penting dan dengan adanya pemuda ini di dalam

kekuasaannya, tiga orang jagoan itu tidak akan mampu

mengganggunya. Ia bertekad untuk membebaskan ayahnya

dan suheng-nya, dengan jalan menjadikan Ki Cong sebagai

sandera yang amat berharga. Ia harus berlaku hati-hati sekali

dan karenanya, ia baru merasa tenang setelah pemuda itu

dibelenggu kaki tangannya dan membiarkan pemuda itu roboh

di atas lantai, sedangkan ia sendiri lalu duduk di atas bangku,

siap dengan pedang di tangan menodong ke arah pemuda itu

dan menghadap ke arah pintu.

Seperti dapat diduga oleh dara perkasa itu, perbuatannya

membuat gedung menjadi gempar! Tentu saja pembesar Pui

merasa bingung dan khawatir sekali. Memang mudah

mengerahkan pasukan pengawal untuk mengeroyok gadis itu,

akan tetapi bagaimana dengan keselamatan nyawa

puteranya? Untung masih ada Thian-cin Bu-tek Sam-eng yang

sedang dijamu dengan hidangan mewah oleh pembesar itu.

Tiga orang jagoan inilah yang bersikap tenang dan merekalah

yang mengatur siasat untuk menghadapi kenekatan Cui Hong.

Hampir habis kesabaran Cui Hong menanti di dalam kamar

itu dengan daun pintunya terbuka dan pedang siap di tangan.

Pui Ki Cong mengeluh perlahan-lahan, akan tetapi pemuda itu

 

terlampau ketakutan untuk dapat bicara atau banyak

bergerak. Pandang mata Cui Hong ditujukan ke luar kamar

dan ia melihat betapa keadaan di luar kamar itu sunyi saja,

tidak nampak ada gerakan apa-apa.

Akhirnya dua orang pengawal itu muncul di depan pintu

dan Cui Hong cepat menempelkan ujung pedangnya di dada

Ki Cong. “Mana mereka?” bentaknya kepada dua orang

pengawal itu. “Awas kalau kalian menipuku, dada kong-cu

kalian ini akan kurobek-robek!”

“Tolol kalian! Mana tawanan itu?” Ki Cong juga berseru

dengan ketakutan melihat betapa dua orang pengawal itu

kembali dengan tangan kosong.

“Ampun, kongcu, ampunkan kami.” kata seorang di antara

mereka sedangkan orang ke dua hanya memandang dengan

muka pucat. “Para penjaga di kamar tahanan tidak percaya

kepada kami dan tidak mau menyerahkan dua tawanan itu.

Mereka minta agar kongcu sendiri yang datang ke sana, baru

mereka mau percaya.”

“Keparat….!” Makian ini keluar dari mulut Cui Hong dan

kembali ujung pedangnya menembus baju dan melukai kulit

dada Ki Cong yang menjerit kesakitan, atau lebih lagi, karena

ketakutan.

“Ampun.” dia meratap, “biarlah aku sendiri….. yang

membebaskan mereka….”

Cui Hong memutar otaknya. Kalau dibiarkan berlarut-larut

dan ayah serta suhengnya tidak cepat dibebaskan, pihak

musuh akan dapat mengatur siasat. Memang lebih ba ik kalau

pemuda ini yang membebaskan sendiri dua tawanan itu. Kalau

ia terus menodongnya, pihak lawan tidak akan mampu

mengganggunya dan terpaksa harus memenuhi tuntutannya.

“Baik, mar i kita bebaskan mereka!” katanya dan dengan

pedangnya ia membabat tali pengikat kedua kaki Ki Cong, lalu

ia membebaskan totokannya dari tubuh pemuda itu. Pemuda

 

itu dapat bergerak lagi dan dengan susah payah karena kedua

pergelangan tangannya masih dibelenggu, dia bangkit berdiri,

dibantu dengan sepakan kaki oleh Cui Hong. Dengan tangan

kiri mencengkeram rambut kepala, tangan kanan

menodongkan pedang yang ditempelkan di leher pemuda itu,

Cui Hong lalu menodongnya keluar dari kamar, didahului oleh

dua orang pengawal, yang bersikap ketakutan dan menjadi

petunjuk jalan menuju ke kamar tahanan yang berada di

belakang gedung.

Hati Cui Hong diliputi penuh kecurigaan dan ia bersikap

hati-hati sekali, tak pernah melepaskan kewaspadaan dan

dengan keras mencengkeram rambut kepada Ki Cong dan

terus menempelkan pedangnya di leher orang itu. Ia merasa

lega ketika t iba di ruang tahanan, melihat bahwa di situ tidak

nampak penjaga-penjaga yang siap mengeroyoknya, bahkan

para penjaga nampak menyingkir dan berdiri di tepi yang

aman. Dan hatinya girang sekali ketika tiba di sebuah tikungan

sempit, dari jauh ia melihat ayah dan suhengnya di dalam

sebuah kamar kerangkeng, terbelenggu dan duduk di atas

lantai dalam keadaan selamat.

“Ayah….!” Tak tertahankan lagi keharuan hatinya dan ia

berteriak memanggil.

Tiba-tiba ayahnya berseru, “Hong-ji, hati.. hati……!”

Akan tetapi terlambat. Karena pada saat itu, perhatian Cui

Hong tertarik kepada ayah dan suhengnya sehingga ia tidak

melihat betapa tiba-tiba ada sebuah tubuh menubruknya dari

kanan. Tentu saja ia cepat menggerakkan pedangnya

menyambut tubrukan orang itu tanpa melepaskan jambakan

tangan kirinya dari rambut kepala Ki Cong.

“Crokkkk……..!” Perut orang yang menubruknya itu

terbacok dan darah muncrat-muncrat ke Cui Hong. Tentu saja

gadis ini merasa terkejut dan ngeri. Biarpun sejak kecil ia

belajar ilmu silat, akan tetapi belum pernah ia membunuh

orang, apalagi membacok perut sampai muncrat-muncrat

 

darahnya seperti itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa

orang yang menubruknya itu ternyata tidak menubruk,

melainkan dilontarkan orang dan orang itu sama sekali tidak

mampu mengelak atau menangkis ketika dibacoknya. Karena

kaget dan ngeri, otomatis melepaskan jambakan rambut Ki

Cong dan melompat ke belakang agar tidak terkena darah.

Dan pada saat itu, muncullah Koo Cai Sun dan Gan Tek Un.

Gan Tek Un menyambar tubuh Ki Cong dan Koo Cai Sun

sudah menyerang Cui Hong dengan kedua tangannya. Gadis

ini berusaha membela d iri, akan tetapi ia memang kalah jauh,

dan juga sudah lelah sehingga sebuah tendangan yang

mengenai lututnya membuat ia terpelanting dan sebelum ia

dapat bangkit berdiri, Kuo Cai Sun sudah menubruknya dan

beberapa orang pengawal maju dan membelenggu kaki

tangannya!

Cui Hong meronta-ronta dan memaki-maki, akan tetapi siasia

saja dan di lain saat ia sudah tidak mampu bergerak, kaki

tangannya ditelikung dengan amat kuat. Tiba-tiba Pui Ki Cong

tertawa.

“Ha-ha-ha-ha, bocah liar. Engkau memang tidak boleh

disayang! Engkau memang ingin disiksa, diperkosa, dan

dihina. Aku akan mempermainkan engkau sampai meratapratap

minta ampun, sampai engkau menyesal pernah

dilahirkan oleh ibumu!” Setelah berkata demikian, dalam

kemarahannya Ki Cong mengayun tangannya menampar muka

gadis yang sudah tak berdaya rebah di atas lantai itu.

“Plak! Plak!” Dua kali tangannya menampar, sampai panas

rasanya mengenai kedua pipi gadis itu saking kerasnya. Kedua

pipi gadis itu menjadi merah sekali, akan tetapi sepasang

matanya tetap melotot penuh kebencian. Melihat ini, kembali

Pui Ki Cong tertawa mengejek. Dia merasa amat penasaran

dan marah. Beberapa kali dia mengalami penghinaan gadis ini

dan kemarahannya membuat dia lupa diri bahwa di situ

 

terdapat tiga orang jagoan itu, dua orang tawanan dan

beberapa orang pengawal yang menjadi penonton.

“Ha-ha-ha, setelah ditampar engkau bertambah cantik!”

Setelah berkata demikian, tiba-tiba dia merangkul leher Cui

Hong dan mencium mulut yang dikaguminya itu. Dia mencium

dengan rakus, seperti orang kehausan memperoleh minuman

segar yang diteguknya dengan ln-hap.

“Aaughhhh…….!!” Tiba-tiba Ki Cong menjerit dan merontaronta,

akan tetapi deretan gigi putih kecil-kecil yang amat kuat

itu tidak mau melepaskannya, karena seperti seekor singa

menggigil korbannya. Ki Cong meronta-ronta dan mengaduhaduh,

darah bercucuran dari mulutnya. Melihat ini, Koo Cai

Sun cepat menotok jalan darah di leher Cui Hong dan gadis itu

terkulai, gigitannya terlepas.

“Aduhhhh….. iblis betina….. aduhhhh” Ki Cong bangkit dan

menutupi mulutnya yang bercucuran darah. Bibirnya yang

bawah hampir putus oleh gigitan Cui Hong, gigitan yang

dilakukan penuh kebencian tadi. Mulut gadis itupun juga

berlepotan darah yang keluar dari luka di bibir Ki Cong dan

gadis itu, biarpun sudah tertotok lemas, masih mampu

meludahkan darah yang menodai mulutnya.

Koo Cai Sun tertawa. “Ain, kongcu, tidak perlu tergesagesa.

Sudah kukatakan bahwa dia ini seekor kuda betina liar,

ganas dan panas. Kalau engkau mampu menjinakkannya,

wah, dia akan hebat sekali. Akan tetapi sebaliknya, ia dapat

membawa kau terjun ke jurang, ha-ha!”

Pui Ki Cong menjadi semakin penasaran dan marah.

Dengan kasar dia lalu menggunakan sehelai saputangan untuk

diikatkan di depan mulut Cui Hong, kemudian ia memondong

tubuh gadis itu dan dibawanya kembali ke dalam kamarnya,

diikuti suara ketawa ketiga orang jagoan itu.

Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Kim Siok dan

Lu San menyaksikan semua. Mereka tidak berdaya, dibelenggu

 

dengan kuat. Timbul tekad dalam hati mereka untuk mencari

kesempatan, memberontak dan kalau perlu mempertaruhkan

nyawa untuk mencoba menyelamatkan Cui Hong.

-oo0dw0oo-

“Tar! Tar! Tarr…..!!”

Berulang kali cambuk itu melecut dan menimpa tubuh Cui

Hong. Gadis itu terlentang di atas pembaringan dengan

tangan dan kaki terpentang dan terikat pada kaki

pembaringan. Cambuk itu diayun oleh Ki Cong dan melecut

tubuhnya, menggigiti kulitnya melalui robekan baju. Pakaian

gadis itu koyak-koyak oleh lecutan cambuk dan bahkan

kulitnya yang putih mulus itu mulai penuh dengan garis-garis

merah, ada pula yang mengeluarkan darah. Namun tidak satu

kalipun terdengar keluhan dari mulut Cui Hong. Ia merapatkan

bibirnya, bahkan kalau terlalu nyeri, digigitnya bibir sendiri dan

matanya tetap melotot menatap wajah penyiksanya. Habis

koyak-koyak seluruh pakaiannya dan yang tinggal hanyalah

belenggu pada masing-masing tangan dan kakinya.

Kadang-kadang datang pula perasaan takut dan ngeri yang

bergelombang dan hampir menenggelamkan kesadarannya,

rasa takut yang jauh lebih hebat dan lebih besar daripada rasa

nyeri karena siksaan cambuk itu. la berharap agar orang itu

mencambukinya terus sampai ia mati. Tidak, ia tidak takut

mati. Kalau ia mati, ia akan terbebas dari siksaan ini, terutama

sekali siksaan rasa takut yang mengerikan. Hanya satu hal

yang membuat ia penasaran kalau ia mati, yaitu ia tidak akan

lagi mampu membalas dendam kepada keparat ini.

“Bunuhlah aku, bunuhlah, hanya demikian bisik suara

hatinya ketika akhirnya Ki Cong menghentikan siksaannya. Dia

melemparkan cambuk yang berlepotan darah itu, dan

mengusap peluh yang membasahi tubuhnya. Matanya liar

menatap seluruh tubuh yang ditinggalkan pakaian yang sudah

koyak-koyak dan kulit I putih mulus yang dihiasi garis-garis

merah. Memandang dengan penuh gairah nafsu dan Ki Cong

 

lalu duduk di tepi pembaringan, kedua tangannya mengusapusap

seperti hendak mengobati atau mengusir semua rasa

nyeri.

Berdebar jantung Cui Hong dan seluruh tubuhnya terasa

menggigil. Rasa ngeri dan takut menyerangnya dan ketika Ki

Cong mendekapnya dan menciuminya, iapun terkulai dan

roboh pingsan. Ia tidak tahu apa-apa lagi, tidak merasakan

apa-apa lagi seperti orang pulas atau mati.

Nafsu birahi timbul karena gambaran pikiran. Tanpa adanya

pikiran yang menggambarkan hal-hal yang ada hubungannya

dengan nafsu berahi, maka nafsu itu t idak akan timbul begitu

saja. Dan menurutkan nafsu birahi, tanpa dikendalikan

kebijaksanaan dan kesadaran akan membuat seseorang

menjadi hamba nafsu berahi. Dan celakalah badan dan batin

kalau orang sudah menjadi hamba nafsu. Nafsu apa saja,

termasuk nafsu berahi. Dalam cengkeraman nafsu, orang akan

lupa diri dan sanggup melakukan apa saja, bahkan kadangkadang

melakukan hal-hal yang melanggar segala hukum

kemanusiaan atau kesusilaan, kadang-kadang malah

mengarah kepada perbuatan keji dan kejam sekali, tanpa

memperdulikan keadaan orang lain, yang terpenting adalah

memenuhi dorongan hasrat untuk memuaskan nafsu sendiri

yang mendesak-desak.

Dendam membuat seseorang dapat melakukan kekejaman

yang luar biasa. Dendam adalah nafsu kebencian, dan seperti

juga nafsu berahi, sekali orang dicengkeram, maka orang itu

akan menjadi boneka, menjadi hamba daripada nafsunya

sendiri. Pui Ki Cong menaruh dendam kebencian yang cukup

mendalam terhadap Cui Hong. Mula-mula karena dia kecewa

bahwa hasrat hatinya tidak mendapat sambutan. Kemudian

dia merasa dihina oleh gadis itu, dan terutama sekali merasa

tersinggung rasa harga dirinya oleh semua penolakan dan

penghinaan itu. Apalagi setelah berkali-kali dia gagal, bahkan

hampir celaka di tangan Cui Hong. Rasa suka karena dorongan

 

birahi berubah menjadi kebencian, dendam kebencian yang

amat besar. Kebencian menimbulkan hasrat ia melihat orang

yang dibencinya itu menderita sehebat-hebatnya. Dendam

kebencian hanya dapat dipuaskan kalau melihat orang yang

dibencinya itu menderita hebat. Karena dirinya dicengkeram

dua macam nafsu yang amat berbahaya itu, nafsu birahi dan

nafsu kebencian, maka perbuatan Ki Cong terhadap diri Cui

Hong sungguh d i luar batas perikemanusiaan. Segalanya tidak

dipantangnya untuk dilakukan terhadap Cui Hong, untuk dapat

menghina sehebat-hebatnya, untuk dapat memuaskan hasrat

hatinya sedalam-dalamnya.

Begitu siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya

ternoda, tanpa mengeluh atau menangis, Cui Hong pingsan

lagi. Berulang kali ia sadar dan pingsan lagi, dan akhirnya ia

hanya rebah terlentang seperti mayat, pandang matanya

kosong ditujukan ke langit-langit kamar itu dan ia sama sekali

tidak perduli lagi akan dirinya, sama sekali tidak menghiraukan

lagi apa yang akan terjadi dengan dirinya. Bahkan ia hanya

memandang kosong ketika Ki Cong menggodanya dengan

kata-kata, dengan perbuatan, seolah-olah semua itu hanya

terjadi dalam mimpi buruk. Ia hanya menanti datangnya saat

terbangun dari tidur agar mimpi buruk itu dapat terhenti. Akan

tetapi mimpi buruk itu berkelanjutan dan tak pernah terhenti,

baru berhenti kalau ia tenggelam kembali ke dalam

ketidaksadaran! Wajah Ki Cong terukir di dalam lubuk hatinya,

tanpa disadarinya. Wajah seorang laki-laki yang kemerahan,

penuh peluh, yang matanya kemerahan, hidungnya kembangkempis,

mulutnya dengan bibir pecah menjendol itu terengahengah.

Ia takkan pernah melupakan wajah itu!

Cui Hong lupa segala. Lupa akan waktu. Ia tidak tahu

sudah berapa lama ia tersiksa di dalam kamar itu. Ia tidak

ingat apa-apa lagi t idak tahu bahwa sudah sehari semalam ia

tersiksa secara melampaui batas itu. Ki Cong juga lupa diri.

Hanya berhenti menyiksa gadis itu untuk makan dan minum,

yang diantarkan oleh seorang pengawal. Kini hatinya tenteram

 

dan dia boleh melakukan apa saja tanpa gangguan karena tiga

orang jagoan itu berada tak jauh dari kamarnya. Di kamar

sebelah, selalu siap melindunginya.

Ki Cong agak mabok, terlalu banyak minum arak.

Dihampirinya gadis itu dan dituangkannya arak dari cawan ke

mulut Cui Hong yang setengah terbuka. Gadis itu menelannya

dan tersedak. “Heh-heh-heh, Cui Hong, manisku. Bagaimana,

apakah sekarang engkau sudah tunduk dan takluk kepadaku?

Ha-ha-ha…..!” Dia menunduk untuk mencium dengan buas.

“Brakkk……!!” Tiba-tiba daun pintu jebol dan dua laki-laki

berloncatan masuk. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati

Ki Cong ketika dia melihat bahwa yang menjebol daun pintu

itu adalah guru silat Kim Siok dan Lu San!

“Tolooonggg……! Toloooongggg….!!” Dia berteriak-teriak

ketakutan.

Pada saat itu, tiga bayangan orang berloncatan masuk

sebelum Kim Siok dan muridnya terbelalak memandang ke

arah dipan di mana Cui Hong rebah seperti mayat itu dapat

melakukan sesuatu, tiga orang jagoan itu telah menerjang

mereka. Kim Siok dan Lu San tadi berhasil melepaskan diri

dari ikatan kaki tangan mere ka dengan susah payah,

merobohkan enam orang penjaga dan lari ke kamar itu.

Sekarang, melihat tiga orang tangguh itu menerjang, mereka

mengamuk dan sekali ini mereka berkelahi seperti dua ekor

harimau terluka. Mereka marah, benci dan sakit hati melihat

keadaan Cui Hong sehingga mereka menjadi nekat, tidak

memperdulikan nyawa sendiri dan menerjang dengan ganas

dan dahsyat.

-ooo0dw0ooo-

 

Jilid 3

BIARPUN tingkat kepandaian tiga orang jagoan itu lebih

tinggi, akan tetapi menghadapi amukan dua orang yang sudah

nekad tanpa memperdulikan keselamatan nyawa sendiri Nitu

Bu-tek Sam-eng menjadi kewalahan dan terpaksa mereka lalu

mengeluarkan senjata masing-masing dan akhirnya senjatasenjata

mereka dapat merobohkan Kim Siok dan Lu San. Guru

silat dan murid itu roboh dengan luka-luka parah dan pada

saat itu Cui Hong yang selalu berada dalam keadaan setengah

pingsan itu siuman dan melihat ayah dan suhengnya roboh

mandi darah, ia menjerit.

“Ayaaaahhhh……!.” Dan gadis itupun menangis. Baru

sekarang ia menangis, menangis karena melihat ayahnya,

bukan menangisi dirinya sendiri. Guncangan batin yang

menimpa dirinya lebih mendalam daripada tangis. Ia tidak lagi

dapat menangisi diri sendiri, karena di dalam batinnya,

sebagai akibat malapetaka yang menimpa dirinya, hanya

terdapat dendam dan sekali lagi dendam!

Ki Cong yang kembali terlepas dari ancaman maut itu,

berdiri dengan muka pucat dan dia memandang kepada Cui

Hong, kepada Kim Siok dan Lu San dengan mata mengandung

kemarahan besar. Dia memang berhasil membalas dendam

kepada gadis itu, berhasil mempermainkannya dan

memperkosanya sesuka hatinya. Akan tetapi dia sama sekali

tidak menikmati kepuasan dari pengalaman itu, bahkan

semakin dia memaksakan kehendaknya, semakin terasa

olehnya betapa gadis itu menolaknya sehingga dia terpaksa

harus memperkosanya. Dia merasa bosan harus memperkosa

terus, sedangkan keadaan gadis itu lebih banyak mati

daripada hidup, lebih sering pingsan daripada sadar.

“Phuhh! Keluarga setan!” Dia mengomel. “Sam-wi enghiong,

kuserahkan gadis itu kepada kalian. Ambillah, aku tidak

sudi lagi!” katanya dan diapun meninggalkan kamar itu untuk

pergi ke kamarnya sendiri di gedung besar.

 

Koo Cai Sun tertawa girang. “Ha-ha-ha, sungguh

beruntung. Aku memang kagum sekali kepada gadis ini!”

“Pui-kongcu menyerahkan kepada kita bertiga bukan,

bukan kepada seorang!” tiba-tiba Gan Tek Un berkata dan

matanya yang tajam itu menyambar dingin.

Koo Cai Sun tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, jangan khawatir,

kawan. Gadis ini memang menarik sekali dan amat tabah.

Baiklah, kita bagi rasa. Engkau dan Louw toako boleh

mendapat giliran lebih dulu, biar aku yang terakhir, ha-ha-ha!”

Gan Tek Un dan Louw Ti memang tidak semata keranjang

Koo Cai Sun, akan tetapi merekapun bukan laki-laki yang alim.

Melihat Cui Hong yang demikian muda dan demikian cantik

manis, juga melihat sikap gadis itu yang amat tabah dan keras

hati, mereka berduapun merasa tertarik sekali. Dan tiga orang

jagoan ini memang sudah biasa bersenang-senang bertiga,

maka kini tanpa malu-malu lagi, tanpa banyak cakap lagi, Gan

Tek Un lalu menghampiri pembaringan di mana Cui Hong

masih terbelenggu kaki tangannya. Dengan jari-jari tangannya

yang kuat, Gan Tek Un membikin putus belenggu-belenggu itu

dan diapun merangkul dengan penuh nafsu.

Ketika merasa betapa kaki tangannya terbebas dari

belenggu, Cui Hong lalu bergerak memukul. Akan tetapi

dengan mudah Gan Tek Un menangkap pergelangan kedua

tangan gadis yang sudah lemas karena menderita lahir batin,

juga sudah tiga hari tidak pernah mau makan. Dan kembali

Cui Hong tidak ingat apa-apa lagi ketika Gan Tek Un mulai

mendekapnya.

Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hati Kim Siok dan

Lu San menyaksikan betapa Cui Hong diperkosa orang di

depan mata mereka. Biarpun mere ka berdua sudah terluka

parah, akan tetapi kemarahan dan sakit hati membuat mereka

mampu bergerak lagi dan mereka lalu meloncat ke atas,

bangkit berdiri dan dengan tubuh berlumuran darah, dengan

mata terbelalak penuh kebencian, merekapun menerjang ke

 

arah manusia berhati binatang yang sedang mempermainkan

tubuh Cui Hong di atas pembaringan itu.

Akan tetapi sambil

tertawa, Koo Cai Sun dan

Louw Ti menyambut

mereka dan dengan

tendangan-tendangan

tubuh Kim Siok dan Lu San

terjengkang dan

terbanting jatuh kembali

ke atas lantai. Mereka

berusaha bangkit, akan

tetapi kembali dua orang

jagoan itu menyusulkan

tendangan-tendangan

yang membuat mereka

jatuh kembali. Koo Cai

Sun, Louw Ti tertawa-tawa, berdiri dan setiap kali dua orang

yang sudah luka-luka itu hendak bangkit berdiri, mereka

merobohkannya kembali dengan tendangan-tendangan.

Gan Tek Un meloncat turun kembali dari pembaringan.

Wajahnya keruh karena ia merasa terganggu oleh dua orang

yang sudah luka-luka itu. “Mereka lebih baik dibunuh saja agar

kelak tidak mendatangkan banyak urusan,” katanya dan kedua

tangannya bergerak menyambar sepasang pedangnya.

Nampak sinar pedang berkelebat. Pada saat itu Cui Hong

sudah siuman dan dia sempat melihat betapa sepasang

pedang itu menyambar dan menembus dada ayahnya dan

suhengnya.

“Ayaaahhh……! Suhengggg……!” Dan iapun jatuh pingsan

lagi.

Cui Hong t idak ingat apa-apa lagi, tidak tahu betapa tiga

orang itu mempermainkannya secara bergantian. Setiap kali

 

sadar dari pingsannya, yang tampak hanyalah bayangan

ayahnya dan Lu San yang mandi darah.

Jaksa Pui mendengar akan semua peristiwa itu. Setelah dua

jenazah Kim Siok dan Lu San disingkirkan, jaksa Pui lalu

membujuk t iga orang jagoan itu agar segera berangkat ke

kota raja, membawa suratnya yang memperkenalkan mereka

ke kota raja kepada seorang rekannya yang berpengaruh di

sana.

“Sebaiknya kalau sam-wi segera berangkat. Kini keadaan

kota raja sedang kalut, dan membutuhkan bantuan tenagatenaga

yang boleh dipercaya seperti sam-wi. Dan jangan lupa,

kalau sam-wi pergi, bawa perempuan itu bersama sam-wi.

Kalau ia ditinggalkan di sini, ia hanya akan membikin pusing

saja.”

Tiga orang jagoan itu menerima hadiah-hadiah berupa

masing-masing sekantung emas, dan merekapun menerima

masing-masing seekor kuda terbaik. Setelah menyimpan surat

dari 3aksa Pui itu, Koo Cai Sun membawa Cui Hong yang

lemas itu ke atas kudanya, dan diikuti oleh dua orang

temannya, diapun berangkat pada pagi hari sekali menuju ke

kota raja di utara.

Koo Cai Sun ternyata jatuh cinta atau mempunyai rasa

sayang kepada Cui Hong, maka ia tidak keberatan membawa

gadis itu ke kota raja. Akan tetapi ketika mereka t iba di

sebuah hutan, dan berhenti beristirahat di bawah pohon

dalam hutan, Gan Tek Un mencelanya. “Koo-toako, sungguh

tidak baik sekali kalau membawa perempuan ini ke kota raja.

Ia hanya akan menimbulkan kesukaran saja. Lihat, pandang

matanya penuh dendam. Ia takkan pernah mau menyerah

kepada kita dan di sana hanya akan menimbulkan kecurigaan

orang banyak saja.”

“Benar, ia kelak hanya akan menjadi musuh bagi kita. Di

kota raja tentu banyak perempuan yang lebih cantik dan lebih

 

baik daripadanya. Mengapa susah-susah membawa calon

mayat ini ke kota raja saja?”

Dibujuk oleh dua orang rekannya, Koo Cai Sun menjadi

bimbang. Ia menoleh dan memandang kepada gadis yang

duduk bersandarkan pada pohon itu. Dia telah menotok gadis

itu dan mendudukkannya di sana. Gadis itu merupakan

pandangan yang tidak menarik sama sekali. Seorang wanita

muda yang kotor. Rambutnya kusut masai. Mukanya pucat,

bibirnya yang masih nampak indah bentuknya itu-pun

kehilangan warna merahnya, bahkan nampak pucat. Sepasang

matanya mengerikan, seperti mata mayat, sama sekali tidak

bercahaya lagi, akan tetapi ketika pandang mata itu ditujukan

kepada mereka bertiga, seperti ada api membara di manik

matanya. Pakaiannya awut-awutan.

Koo Cai Sun menghela napas panjang. Seorang gadis yang

keras hati dan tak pernah mau tunduk walaupun segalagalanya

telah dipatahkan dengan paksa. Betapa akan

menggembirakan kalau saja seorang wanita seperti ini mampu

mencurahkan kasih sayang. Seorang wanita yang panas

membara, penuh semangat. Akan tetapi sayang, penuh pula

dengan dendam kebencian. Diapun hanya akan dapat

menguasai gadis itu dengan cara memperkosanya.

“Baiklah, ia akan kutinggalkan saja di sini.” akhirnya dia

berkata dengan suara bernada menyesal dalam hati.

“Bunuh saja, agar kelak tidak mendatangkan kepusingan.”

kata Gan Tek Un.

“Benar, membasmi tanaman beracun harus sampai ke akarakarnya.”

sambung Louw Ti.

Akan tetapi, hati Koo Cai Sun yang mempunyai rasa sayang

kepada Cui Hong, merasa tidak tega. “Apakah kalian merasa

takut kepadanya? Lihat, ia hanya seorang gadis yang tidak

berdaya. Mau bisa apakah ia terhadap kita? Biarlah, biarkan ia

di sini dan kita lanjutkan perjalanan kita.”

 

“Tapi, kelak……” Louw Ti membantah.

“Louw-toako, tidak kita bunuh juga ia akan mati sendiri.

Hutan ini penuh dengan binatang buas. Biarlah ia mati

dimakan binatang buas. Terus terang saja, setelah menikmati

dirinya, aku tidak tega melihat ia terbunuh.” jawab Koo Cai

Sun.

“Mari kita berangkat!”

Tiga orang jagoan itu lalu berangkat meninggalkan tempat

itu, meninggalkan Cui Hong yang masih lemas bersandar

pohon. Mereka tidak tahu bahwa biarpun kelihatan seperti

orang setengah mati, yang seperti kehilangan semangatnya,

namun sesungguhnya, semangat Cui Hong masih menyalanyala.

Bahkan kekerasan hatinya menekan penderitaannya

yang dialami tubuh dan batinnya, yang kadang-kadang

membuat ia ingin mati saja. Kekerasan hatinya yang

menentang ini. Ia harus hidup! Ia harus hidup terus agar kelak

ia dapat membalaskan semuanya ini! Ia harus hidup, biarpun

semata-mata untuk dendamnya! Ia tidak mau mati sebelum

dapat membalas dendam kebencian hatinya terhadap empat

orang, yaitu Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, Gan Tek Un, dan Louw

Ti! Ia harus hidup, dan kalau ia sudah memiliki kesempatan, ia

akan mengejar empat orang itu, biar sampai ke neraka

sekalipun!

Karena itu, Cui Hong tahu dan sadar betapa tiga orang itu

berbantah dan kemudian meninggalkannya. Senyum

kemenangan mulai menghias bibirnya yang pucat dan

berdarah. Ia berdarah di mana-mana. Bahkan bibirnya lukaluka

bekas gigitan, juga lehernya, dadanya, mereka itu telah

bertindak melebihi binatang-binatang buas terhadap dirinya!

Setelah tiga orang itu pergi menunggang kuda, terjadilah

ketegangan luar biasa dalam hati Cui Hong. Bagaimana kalau

mereka itu mengubah pikiran dan mereka kembali lagi? Setiap

ada suara, hatinya terguncang keras, takut kalau-kalau

mereka bertiga, atau seorang di antara mereka, kembali lagi.

 

Jalan darahnya mulai normal kembali dan lewat dua tiga

jam kemudian, totok-an pada tubuhnya mencair dan ia dapat

bergerak kembali. Pertama-tama yang dikerjakannya adalah

bangkit berdiri, memandang ke kanan kiri dan berindap-indap

pergi dari tempat itu secepat mungkin, untuk

menyembunyikan diri karena khawatir kalau-kalau tiga orang

itu akan datang kembali. Setelah ia berhasil menyusup-nyusup

melalui pohon-pohon dan semak-semak belukar, akhirnya ia

menjatuhkan diri ke atas rumput tebal di balik semak be lukar.

Dipegang-pegangnya kaki tangannya, kepalanya, tubuhnya, ia

masih hidup dan inilah yang terpenting. Ia masih hidup! Tapi

ayahnya dan suhengnya sudah mati.

“Ayahhh……………! Suheng……….!” Ia mengeluh dan

menangislah Cui Hong. Teringat ia akan ayahnya dan bahwa

kini ia hidup sebatangkara, seorang diri, dalam keadaan

seperti itu. Ayahnya dibunuh orang, suhengnya atau

tunangannya juga dibunuh orang. Dan ia dinodai,

dipermainkan dan dihina melampaui batas perikemanusiaan.

Cui Hong menangis, mengguguk akan tetapi ia masih

berusaha agar tangisnya tidak mengeluarkan suara.

Ia harus dapat menyelamatkan diri. la harus hidup terus

demi dendam! Ia harus dapat membalas semua ini! Rasa duka

yang amat berat menindih perasaannya dan membuat ia

merasa lelah bukan main. Dan iapun terkulai dan roboh pulas,

tertidur di balik semak-semak belukar. Tidur dalam arti yang

sesungguhnya karena kelegaan hati terlepas dari

cengkeraman musuh, karena kedukaan yang menghimpit.

Tidur yang amat dibutuhkan badan dan batinnya, karena

hanya tidurlah yang dapat menghapus segala duka.

0dw0

Kalau orang tidak memiliki batin yang kuat, apalagi seorang

dara remaja seperti Cui Hong, setelah mengalami segala

penderitaan lahir batin yang merupakan malapetaka amat

hebatnya itu, mungkin saja orang itu akan menjadi gila.

 

Penderitaan badan masih dapat dipertahankan, akan tetapi

penderitaan batin seperti yang dialami Cui Hong itu terlalu

hebat untuk dapat ditahan perasaan. Ayahnya dan

tunangannya walaupun ia belum memiliki perasaan cinta kasih

terhadap tunangannya itu, dibunuh orang di depan matanya.

Dan ia sendiri diperkosa di depan mereka, dipermainkan dan

dihina oleh empat orang yang kejam seperti iblis. Dan kini, ia

berada seorang diri di dalam hutan, kehilangan segalagalanya,

keluarganya, harta benda, kehormatannya.

Selama kurang lebih sepekan ia berkeliaran di dalam hutan.

Rasa lapar di perutnya mendorongnya untuk mencari

makanan. Buah-buahan, daun-daun muda, dan binatang

kelinci dan ayam hutan menjadi makanannya. Akan tetapi

yang amat parah menindih hatinya adalah perasaan dendam

yang membuatnya putus asa. Bagaimana itu mungkin dapat

membalas sakit hati kepada empat orang itu? Pui Ki Cong

adalah putera seorang jaksa, putera seorang pembesar yang

dilindungi pasukan pengawal. Dan tiga orang musuh besar

lainnya adalah Thian-cin Bu-tek Sam-eng, tiga orang jagoan

yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Apalagi ia sendiri,

bahkan ayahnyapun tidak mampu menandingi mereka.

Bayangan inilah yang membuatnya putus asa. Dendam sakit

hati amat mendidih, akan tetapi ia sadar bahwa ia tidak akan

dapat membalas semua dendam itu. Kenyataan ini merupakan

siksaan batin baginya dan berkali-kali ia menangis karena ini.

Betapa kita hidup ini terombang-ambing oleh pikiran yang

melahirkan keinginan-keinginan, dipermainkan antara harapan

dan keputusan, suka duka, cinta benci dan sebagainya.

Apakah kita semua dilahirkan hanya untuk menjadi permainan

antara terang dan gelap ini? Tidakkah kita yang dilahirkan

bukan atas kehendak kita sendiri ini berhak untuk menikmati

kehidupan ini? Mengapa kehidupan selalu penuh dengan duka

dan hanya sedikit saja datang suka? Mengapa selalu datang

kekecewaan yang mendatangkan duka? Kenapa kita selalu

diganggu oleh keresahan, kemurungan, kemarahan yang

 

menimbulkan kebencian? Mengapa terhadap segala

pertentangan dan permusuhan dengan orang lain? Mengapa

ketenteraman, kedamaian dan kebahagiaan hanya merupakan

cahaya khayali yang menggapai dari jauh tak pernah menjadi

kenyataan?

Kita selalu lupa bahwa segalanya itu harapan dan

keputusasaan, suka dan duka, cinta dan benci, kemarahan,

kebencian dan sikap bermusuhan, kesemuanya itu tidaklah

terpisah daripada batin kita sendiri. Kalau kita marah, maka

kemarahan itulah kita! Segala macam perasaan itu adalah d iri

kita sendiri. Suka duka bukan datang dari luar walaupun

dinyalakan dari keadaan luar. Suka duka adalah suatu

keadaan diri kita sendiri, yang kita buat sendiri! Segala macam

kebencian, kemarahan, segala macam perasaan datang dari

pikiran, datang dari “aku” yang selalu memperhatikan dengan

dasar rugi untung.

Kalau semua datang dar i ingatan, dari pikiran, apakah kita

lalu menghentikan pemikiran itu dan melupakan segala yang

terpikir dan yang menimbulkan duka? Hal ini jelas tidak

mungkin. Bagaimana kita bisa melarikan diri dari diri sendiri?

Melarikan diri dari duka, dengan kewaspadaan, tanpa memuji

atau mencela, tanpa membela atau menentangnya, maka kita

telah memasuki dimensi lain.

Pagi itu Cui Hong berkeliaran sampai jauh dari hutan di

mana ia biasa tinggal semenjak ia terlepas dari cengkeraman

tiga jagoan. Kalau malam tiba ia naik ke atas pohon dan tidur

dengan aman di atas pohon, jauh dari jangkauan binatang

buas. Pagi itu ia keluar dari hutan besar dan memasuki hutan

lain yang berada di lereng bukit. Hatinya diliputi kedukaan dan

putus asa. Ingin ia mati saja, karena semakin dipikir, semakin

hilang harapannya untuk dapat membalas dendamnya

terhadap empat orang musuh besarnya. Beberapa kali malam

tadi ia melepas ikat pinggangnya. Betapa mudahnya

mengikatkan ujung yang satu dari ikat pinggangnya pada

 

dahan pohon yang didudukinya dan mengikatkan ujung yang

lain pada lehernya lalu meloncat turun. Betapa mudahnya

menghabiskan riwayatnya yang penuh duka itu. Namun, suara

lain dari hatinya selalu menentang perbuatan itu. Sejak kecil ia

digembleng kegagahan oleh ayahnya dan ia merasa betapa

perbuatan itu amat pengecut sehingga ia merasa malu sendiri

untuk melakukannya.

Pagi itu ia berkeliaran dengan tubuh lemas, dengan langkah

gontai tanpa tujuan. Kalau ada orang mengenal Cui Hong

sebelum malapetaka itu, tentu dia akan terkejut dan sukar

baginya untuk mengenal kembali gadis ini. Dulu, Cui Hong

adalah seorang dara remaja berusia lima belas tahun lebih

yang manis, lincah gembira, dengan sepasang mata

memancarkan gairah hidup penuh semangat, dan sebuah

mulut yang selalu tersenyum cerah, seorang dara yang

memiliki lenggang tegap dan menggairahkan. Akan tetapi

sekarang, perempuan yang berkeliaran di hutan itu sungguh

merupakan pemandangan yang menyedihkan. Kemudaannya

tidak nampak lagi, bagaikan setangkai bunga yang layu karena

kekeringan. Rambutnya yang hitam panjang itu kusut masai,

sebagian menutupi mukanya yang amat pucat. Sepasang mata

yang biasanya penuh gairah hidup itu kini nampak sayu tidak

bercahaya, seperti lampu yang kehabisan minyak, kadangkadang

memandang kosong ke tempat jauh menembus pohon

dan kadang-kadang seperti mata orang yang mengantuk.

Mata yang biasanya jeli itu kini agak kemerahan, dan mulut

yang biasanya segar kemerahan penuh senyum itu kini

kepucatan dan membayangkan kepedihan hati. Tubuhnya

yang bagaikan bunga baru mulai mekar itu nampak kurus dan

layu.

Selagi Cui Hong melangkah tanpa tujuan, dengan hati

kosong dan penuh duka, tiba-tiba mendengar suara orang

bernyanyi. Otomatis langkah kakinya terhenti dan ia

menyelinap di balik sebatang pohon besar, mengintai ke

depan. Tidak nampak ada orang, akan tetapi suara laki-laki itu

 

bernyanyi itu terdengar jelas dari depan. Mungkin orangnya

berada di balik semak-semak belukar yang menghadang di

depan. Cui Hong memperhatikan kata-kata orang itu yang

terdengar lantang dan jelas.

“aku bebas ,

tak ingin tak harap

tak duka tak suka

tak lebih tak kurang

tak kiri – tak kanan………

apa kemarin sudah lalu

mengapa sesal – mengapa kecewa

tiada guna…..

sekarang sadar – sekarang ubah

sekarang baru – sekarang benar

sekarang bebas………

apa kemudian – hanya akibat bukan

urusanku sekarang benar – esokpun benar

mengapa harap – mengapa ingin

apa lamunan – apa impian

tiada guna……

sekarang insaf – sekarang bebas

aku bahagia

karena bebas!

tak sudi aku

terkurung – terbelenggu

biar kurung emas

 

biar belenggu intan

lebih baik bebas

lepas di udara

terbang melayang

arah tertentu

sabar – yakin – waspada

takkan tersesat

karena bebas!”

Mendengar kata-kata dalam nyanyian yang lantang dan

jelas itu, Cui Hong tersenyum. Lama sudah suara itu terhenti,

namun ia masih tertegun. Suara nyanyian itu seolah-olah

ditujukan kepadanya. Bebas! Terlepas dari segala sesuatu!

Terlepas dari perasaan duka ini, dari kehancuran hati dan dari

keputusasaan. Kenapa hidup macam ini harus dipertahankan

lagi? Hanya akan menderita siksa batin setiap hari saja. “Aku

ingin bebas… …” bibirnya menggumam dan tangannya

menanggalkan kain ikat pinggang yang panjang dan seperti

dalam mimpi saja, Cui Hong lalu meloncat ke atas dahan

terendah, mengikatkan ujung kain itu pada dahan pohon,

kemudian mengikatkan ujung yang lain ke lehernya. Tanpa

ragu sedikitpun, setelah ujung kain ke dua mengikat lehernya,

ia berbisik, “aku ingin bebas….” dan iapun meloncat turun dari

atas dahan.

“Brukkk….!” Tubuhnya jatuh menimpa tanah. Cui Hong

terkejut dan merasa heran, cepat ia bangkit dan memandang

ke atas. Kiranya ujung tali yang mengikat dahan tadi terlepas!

“Tolol…..!” Ia memaki diri sendiri dengan lantang. Betapa

bodohnya. Mengikatkan ujung kain itu saja ke dahan sampai

begitu ceroboh dan kurang kuat. Kalau ada orang melihat

tentu akan mentertawakannya, mengira ia memang takut

 

membunuh diri maka mengikatkan ujung kain pinggang itu

dengan kendur. Dengan gemas ia meloncat lagi ke atas

dahan, membawa ikat pinggangnya dan sekali ini ia

mengikatkan ujungnya dengan kuat sampai dua kali. Barulah

ia mengalungkan ikatan pada ujung lain pada lehernya dan

kembali ia berbisik, “aku ingin bebas….” dan iapun meloncat

ke bawah.

“Brukkk…..!” Kembali tubuhnya meluncur dan jatuh ke

bawah. Cui Hong membelalakkan matanya dan cepat bangkit,

akan tetapi pinggulnya agak sakit ketika terbanting yang

kedua kalinya itu, pinggulnya terbanting agak keras juga. Dan

ternyata tali ikat pinggang yang tadi diikatnya dengan amat

kuat itu telah terlepas pula! Cui Hong menoleh ke kanan kiri

dan ia merasa betapa bulu tengkuknya meremang ketika

pikirannya membayangkan bahwa yang melakukan perbuatan

jahil seperti ini tentulah sebangsa setan penunggu hutan itu.

Celaka, pikirnya, sungguh sial nasibnya. Baru ingin bebas saja

sudah dihalangi oleh setan! Akan tetapi bagaimana ia dapat

melawan setan yang tidak nampak? Seratus kali berusaha

menggantung diri, tentu seratus kali pula setan itu dapat

melepaskan tali ikat pinggangnya dari dahan pohon dan ia

akan terbanting-banting seperti tadi.

“Ah, tolol memang, sungguh tolol sekali…..!”

Cui Hong cepat menengok di belakangnya telah berdiri

seorang kakek bongkok yang entah dari mana datangnya.

Kakek itu sudah amat tua, sukar ditaksir berapa banyak

usianya, tentu sudah tujuh puluh tahun lebih. Mukanya hitam

keriputan dan amat kurus. Kulit muka itu berlipatan pada pipi

dan kedua matanya, menyembunyikan sepasang mata yang

kecil dan amat hitam mencorong. Mulutnya menyeringai dan

nampak di balik bibir itu tidak ada sebuahpun giginya lagi.

Pakaiannya serba hitam dan kepalanya botak, hanya ada sisa

rambut putih di sekeliling kepala bagian bawah. Tubuh yang

kurus itu berdiri bengkok karena di punggungnya, di bawah

 

tengkuk, terdapat tonjolan daging sebesar kepala anak kecil.

Pakaiannya yang serba hitam itu kedodoran, seperti kain

dibelit-be litkan begitu saja pada tubuhnya, juga sepatunya

berwarna hitam. Melihat kakek buruk dan serba hitam ini, Cui

Hong merasa jantungnya berdebar keras dan bulu tengkuknya

makin tegak berdiri. Setan, pikirnya! Akan tetapi ia melirik ke

arah kedua kaki kakek itu dan melihat bahwa sepasang sepatu

itu menginjak tanah. Padahal, menurut dongeng, setan-setan

itu kakinya tidak menyentuh tanah, kira-kira sejengkal di atas

tanah.

“Kau….. ssee….. tankah kau….?” Dengan suara gemetar

karena merasa serem dara itu bertanya, telunjuknya

menuding ke arah muka

keriputan itu.

“Heh-heh-heh-heh!”

bibir yang hitam itu

bergerak-gerak dan mulut

itu terbuka seperti sebuah

guha kecil yang gelap.

“Engkaulah yang hampir

menjadi setan penasaran,

nona. Setan perempuan

yang tolol sekali! Aku

seorang manusia hidup,

masih menikmati

kehidupan ini, tidak seperti

kau anak to lol yang mau

mengakhiri hidup begitu saja, seolah-olah engkaulah pengatur

hidup dan mati. Huh!”

Lenyap seketika semua keseraman dari hati Cui Hong.

Terganti oleh kemarahan yang membuat wajahnya yang pucat

itu menjadi kemerahan, sepasang mata yang sayu dan layu itu

menjadi hidup dan bersemangat kembali. “Jadi engkaukah

yang tadi melepaskan tali gantunganku sampai dua kali?”

 

“Heh-heh-heh, kalau bukan aku, lalu siapa?”

“Manusia jahil!” Cui Hong sudah cepat menyerang dengan

pukulan tangannya ke arah dada kakek itu. Kemarahan

membuat tubuhnya tiba-tiba menjadi gesit dan pukulan

tangannya kuat sekali.

“Wuuuttt…. heh-heh…!” Pukulan itu luput dan ternyata

kakek itu mampu menghindarkan pukulan dengan tanpa

menggeser kaki, hanya menarik tubuhnya bagian dada itu ke

belakang saja.

“Setan….!” Cui Hong menyerang lagi, kini dengan

tendangan kakinya yang menyambar dari bawah ke arah perut

orang

“Ehhh?” Kembali kakek itu hanya menarik bagian tubuh

yang ditendang dan serangan itupun luput.

Cui Hong menjadi semakin marah. Kakek itu mengelak

sambil terkekeh dan membuat gerakan-gerakan yang

mengejek sekali. Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga dan

kepandaiannya, menyerang kalang-kabut dan membabi buta,

kedua tangan dan kedua kakinya menyambar-nyambar

dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Namun,

terjadilah hal yang lucu dan aneh. Kakek bongkok itu meliukliukkan

tubuhnya seperti seekor ular, mengelak ke kanan kiri,

hanya dengan cara menarik tubuh ke belakang atau ke depan,

ke atas atau ke bawah tanpa menggeser kedua kakinya dan

semua serangan itu selalu mengenai tempat kosong!

Cui Hong sedang dilanda kedukaan, putus asa, dan

kemarahan yang memuncak sehingga ia kehilangan

kecerdikannya. Kalau tidak dikuasai perasaan yang

memabukkan itu, tentu ia sudah cepat dapat melihat

kenyataan bahwa kakek yang menjadi lawannya itu memiliki

kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya. Akan tetapi ia tidak

menginsyafi hal itu dan terus saja menyerang semakin ganas,

 

dengan penuh nafsu, bahkan ia lalu berseru keras, “Kubunuh

kau.!”

“Heh-heh-heh, membunuh diri sendiri saja tidak becus,

mau membunuh orang lain. Wah, jahat sekali kau!” Dan kakek

itu mengangkat tongkatnya. Dia memang memegang sebuah

tongkat kayu butut berwarna hitam yang sejak tadi

dikempitnya saja ketika dara itu menyerangnya kalang kabut.

“Tukkk…..!” Kepala Cui Hong kena dipukul tongkat. Nyeri

sekali rasanya dan otomatis tangan gadis itu meraba kepala

yang terpukul. Betapa gemas hatinya ketika meraba kepalanya

dan mendapatkan benjolan sebesar telur ayam pada kepala

yang terpukul. Rasa berdenyut-denyut nyeri menambah

kemarahannya.

“Kurang ajar kau!” Ia berteriak dan menubruk ke depan,

hendak merampas tongkat itu. Dan….. ternyata tongkat itu

dengan mudah dapat dirampasnya! Akan tetapi sebelum Cui

Hong sempat mempergunakan tongkat itu, baru diayunnya

untuk memukul, tahu-tahu tongkat itu seperti bersayap saja,

“terbang” dan kembali ke tangan pemiliknya.

“Bukkk!” Tahu-tahu tongkat itu telah menggebuk pinggul

Cui Hong, cukup keras sehingga terasa nyeri bukan main dan

Cui Hong jatuh terpelanting. Dara itu meringis dan mengusapusap

pinggulnya. Seolah-olah pecah-pecah rasa kulit

pinggulnya dan baru lega hatinya ketika ia meraba pinggulnya,

di situ tidak ada tanda luka, hanya terasa ngilu saja. Sambil

menggosok-gosok pinggul Cui Hong bangkit dan memandang

kakek yang ter-senyum-senyum tanpa gigi di depannya itu,

seperti seorang anak kecil kegirangan.

Tiba-tiba Cui Hong teringat akan sesuatu dan ketika

kemarahannya lenyap. “Kakek, engkaukah yang bernyanyi

tadi? Bernyanyi lagu Bebas?”

“Heh-heh-heh, kalau benar begitu, mengapa? Kau marahmarah

karena nyanyianku tadi?” Kakek itu balas bertanya

 

sambil mengamang-amangkan tongkatnya. “Kalau marahmarah,

boleh maju, akan kuhajar lagi. Anak nakal perlu

dihajar sampai jera!”

Cui Hong menggeleng kepalanya. “Aku tidak ingin digebuk

lagi. Akan tetapi engkau adalah seorang yang berhati palsu,

kek.”

“Lho! Palsu? Eh, bocah bengal. Kapan engkau menjenguk

hatiku? Bagaimana engkau bisa mengatakan hatiku palsu?”

“Orang yang lain tindakannya dari ucapannya, dia berhati

palsu. Nyanyianmu tadi menyatakan satu hal, akan tetapi

perbuatanmu terhadap diriku merupakan lain hal yang sama

sekali bertentangan.”

“Eh, kok begitu? Apanya yang berlainan? Kau bocah tolol,

tiada hujan tiada angin mau gantung diri. Apa yang bermimpi

bahwa kau telah menjadi Giam Lo Ong Si Raja Akhirat? Hal itu

sama sekali tidak boleh, maka aku terpaksa menggunakan

tongkat saktiku untuk menggagalkan perbuatanmu yang tolol

dan pengecut.”

“Nah, perbuatanmu itulah yang palsu! Engkau tadi

bernyanyi tentang kebebasan, dan nyanyianmu menggugah

hatiku. Aku ingin bebas dari kehidupan yang penuh derita ini.

Aku ingin bebas dari kesengsaraan lahir batin, dari duka, dari

dendam yang tak mungkin dapat dibalas, dari keputusasaan.

Aku ingin bebas dan mengakhiri ini semua. Akan tetapi engkau

begitu jahil untuk menggagalkan keinginanku untuk bebas.

Bukankah perbuatanmu itu berlawanan dengan nyanyianmu di

mana engkau mengatakan bahwa engkau ingin bebas pula?”

“Ho-ho-ha-ha, wah ngawur! Bebas bukan berarti lalu

membunuh diri agar terlepas dari semua kesengsaraan lahir

batin. Siapa bilang kalau sudah mat i itu lalu dapat bebas dari

kesengsaraan lahir batin? Heh-heh, anak bengal, mari kita

duduk dan bicara. Tubuhku yang tua ini tidak enak kalau

harus bicara sambil berdiri lama-lama.” Dan kakek itu dengan

 

santainya menjatuhkan diri begitu saja di atas tanah

“berumput tebal. Sampai kaget hati Cui Hong dan hampir ia

turun tangan menyambut tubuh kakek yang agaknya

terpelanting jatuh itu. Akan tetapi ia teringat bahwa kakek itu

bukan orang sembarangan, maka ia menahan diri dan benar

saja. Biarpun tadi kelihatan terguling, kakek itu ternyata dapat

mendarat dengan lunak, duduk bersila di atas tanah. Cui Hong

menarik napas panjang. Orang ini aneh dan sakti seperti

setan. Ada-ada saja peristiwa yang dihadapinya dalam hidup

ini. Entah perkembangan apa yang akan menimpa dirinya,

bertemu dengan manusia luar biasa ini. Iapun tidak peduli

lagi. Mati pun bukan apa-apa lagi baginya, apalagi

menghadapi malapetaka lain. Tidak akan ada malapetaka

yang lebih hebat daripada yang pernah dialaminya. Ia pun

duduk di depan kakek itu, memandang penuh perhatian dan

kembali merasa seram. Wajah kakek itu memang

menyeramkan sekali.

Tiba-tiba kakek serta hitam itu lalu menggerakkan bibirnya

membaca sajak sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke atas

sebuah batu sehingga terdengar suara “tak-tok-tak-tok”

berirama. Mula-mula hanya suara tak-tok-tak-tok berirama

itulah yang terdengar, kemudian disusul suara kakek itu yang

terdengar lembut dan lirih namun amat jelas memasuki telinga

Cui Hong, seolah-olah kakek itu berbisik di dekat telinganya.

Dan Cui Hong yang sejak kecil pernah menerima pelajaran

sastera dari mendiang ayahnya, kini mendengar kata-kata

dalam nyanyian itu yang tidak asing baginya.

“Tidak condong itulah Tiong (tegak lurus)

tidak berubah itulah Yong (seimbang)

Tiong adalah Jalan Kebenaran

Yong adalah hukum alam.”

Mendengar kata-kata itu, Cui Hong lalu berkata, “Kakek

yang aneh apa maksudmu mengutip kata-kata dari Sang

 

Budiman Beng Cu itu? Bukankah itu merupakan penjelasan

tentang kitab Tiong Yong?”

Kini kakek itu yang mencoba untuk melebarkan sepasang

matanya yang sipit dan dia kelihatan lucu, seperti orang

mengantuk yang berusaha membuka mata lebar-lebar

memandang dara itu. “Eh, eh….! Kau tahu tentang Tiong

Yong?” Tiong Yong adalah satu di antara kitab-kitab suci

pelajaran Agama Khong Kauw.

“Aku pernah membaca kitab suci itu walaupun sukar untuk

mengerti maksudnya.” jawab Cui Hong dengan jujur.

Kakek itu nampak girang sekali, terkekeh senang

mendengar bahwa dara itu pernah membaca kitab Tiong

Yong. Dia tidak tahu bahwa mendiang ayah dara ini adalah

seorang penggemar pelajaran Khong Kauw, bahkan banyak

pula membaca kitab-kitab Too Kauw sehingga ketika memberi

pelajaran membaca kepada puterinya, dia menyuruh puterinya

membaca kitab-kitab itu. Memang pada jaman itu, belajar

membaca didasarkan kepada pembacaan kitab-kitab agama

atau filsafat yang tinggi-tinggi sehingga anak-anak itu hanya

mampu menghafal huruf-huruf itu tanpa mengerti artinya

secara mendalam.

“Kalau beg itu dengarkan ini: Hi Nouw Ai Lok Ci Bi Hoat, Wi

Ci Tiongl”

“Ah, aku ingat!” seru Cui Hong, terseret oleh kegembiraan

kakek itu yang mengingatkan dia akan masa kecilnya ketika

mempelajari semua ujar-ujar itu. “Itulah bagian ke empat dari

kitab Tiong Yong dan artinya Sebelum timbul perasaan

Senang, Marah, Duka dan Girang, keadaan itu disebut Tiong

(tegak lurus tidak miring)!”

“Heh-heh, bagus, bagus! Atau dengan lain kata-kata,

keadaan itulah yang dinamakan Kosong atau Bebas! Aku

selalu rindu akan keadaan itu.” seru kakek serba hitam dengan

girang.

 

“Tapi kau tadi bernyanyi bahwa kau rindu akan kebebasan.

Aku yang terhimpit kekecewaan ingin bebas dari semua

kesenangan dengan jalan mengakhiri hidup, akan tetapi

engkau menghalangiku. Bebas yang bagaimana yang

kaumaksudkan, kek?”

“Dengarkan ini Lima warna membutakan mata, Lima nada

menulikan telinga, Lima kelezatan menumpulkan rasa.”

“Wah, itu kitab Tao-tek-keng….!” seru Cui Hong.

Kakek itu menjadi semakin g irang. “Bagus! Engkau seorang

anak perempuan aneh. Hafal akan ujar-ujar dalam kitab Tiong

Yong dan Tao-tek-keng, akan tetapi hendak membunuh diri.

Bebas yang kaumaksudkan bukan melarikan diri dari

kenyataan, betapapun pahit kenyataan itu terasa oleh kita,

melainkan bebas dari semua pengaruh panca indranya, bebas

dari pengaruh perasaan dan pikiran. Eh, anak baik, siapakah

engkau dan mengapa engkau seorang diri berada di tempat ini

dan ingin membunuh diri?” Dia berhenti sebentar, memukulmukulkan

tongkatnya ke atas tanah lalu berkata lagi,

“Sungguh pun engkau pernah mempelajari ilmu silat, akan

tetapi kepandaianmu itu masih terlampau rendah untuk dapat

kau pakai membela diri, padahal di dunia ini penuh dengan

kekerasan.”

Setelah semua perasaan kecewa, dendam dan

keputusasaan meninggalkan batinnya untuk saat itu karena

pikirannya dipenuhi dengan pertemuan aneh itu, maka

kecerdikan Cui Hong pun timbul kembali. Ia memang seorang

gadis yang cerdik dan kini ia melihat jelas terbukanya suatu

kesempatan yang amat baik baginya. Kakek inilah yang akan

dapat menolongnya! Kakek ini adalah seorang sakti, hal itu tak

dapat diragukannya lagi dan kalau ia bisa mewarisi ilmu-ilmu

kesaktian dari kakek ini, tentu bukan hal mustahil lagi baginya

untuk kelak membalas dendam terhadap empat orang musuh

besarnya!

 

Cui Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

“Locianpwe, saya adalah seorang yang menderita malapetaka.

Ayah dan suheng saya dibunuh orang, sehingga sekarang

saya hidup sebatangkara di dunia ini. Karena putus asa, tadi

saya bermaksud mengakhiri penderitaan ini dengan bunuh

diri. Akan tetapi, setelah bertemu dengan locianpwe, baru

saya sadari betapa kelirunya niat saya tadi. Saya akan merasa

beruntung sekali kalau locianpwe sudi menerima saya sebagai

murid locianpwe…..”

“Heh-heh-heh, aku harus tertawa agar tidak menangis. Di

pelosok manapun di dunia ini selalu kutemui kebencian,

kekerasan, permusuhan, bunuh-membunuh di antara

manusia. Tidak mudah untuk menjadi muridku, karena

selamanya aku tak pernah menerima murid. Akan tetapi….

engkau ini anak perempuan yang aneh, hapal akan kitab-kitab

suci akan tetapi mau bunuh diri, hemm, siapakah namamu?”

“Nama saya Kim Cui Hong.”

“Kenapa ayahmu dan suhengmu dibunuh orang?”

“Mula-mula putera jaksa di Thian-cin meminang saya.

Karena saya sudah ditunangkan dengan suheng, maka

pinangan itu dito lak oleh ayah. Hal ini membuat marah putera

jaksa itu dan dia hendak menggunakan kekerasan. Kami

melawan dan akhirnya kami ditangkap, ayah dan suheng

dibunuh dan saya….. saya mengalami penghinaanpenghinaan,

akan tetapi tidak dibunuh dan dibuang di dalam

hutan ini…..”

“Aihhh…..! Sungguh benar sekali para bijaksana

mengatakan bahwa kecantikan, kekayaan, kedudukan,

kepandaian lebih banyak mendatangkan sengketa dan

permusuhan daripada kedamaian dan persahabatan. Kim Cui

Hong, jadi sekarang engkau hidup sebatangkara, tanpa sanakkadang,

tanpa rumah tinggal?”

 

“Benar, locianpwe, saya tidak memiliki apa-apa lagi dan

karena itu mohon sudilah locianpwe menerima saya sebagai

murid.”

“Hemmm, selamanya aku belum pernah menerima murid,

dalam usia setua ini muncul engkau. Inikah yang dinamakan

nasib, jodoh atau kebetulan saja? Agaknya aku harus

meninggalkan semua yang pernah kupelajari kepada

seseorang, akan tetapi bagaimana kalau kelak kepandaian itu

dipergunakan untuk kejahatan?”

Cui Hong yang mendengarkan kakek itu bicara seperti

bicara kepada diri sendiri, cepat menjawab, “Saya bersumpah

tidak akan mempergunakan ilmu yang saya terima dari suhu

untuk kejahatan. Saya akan mentaati semua pesan dan

perintah suhu!” Dengan cerdiknya ia langsung menyebut

“suhu” kepada kakek itu untuk melenyapkan sama sekali

keraguan yang masih membayang pada suara kakek itu.

“Suhu….. aih, sungguh enak sebutan itu, agaknya sama

dengan sebutan ayah yang belum pernah kurasakan. Suhu…..

heh-heh-heh, anak baik, aku suka menjadi suhumu.”

Bukan main girangnya hati Cui Hong dan iapun segera

memberi hormat sambil berlutut. “Suhu, teecu (murid) Kim Cui

Hong siap menerima petunjuk dan perintah suhu yang akan

teecu taati dengan taruhan nyawa.”

“Heh-heh-heh, bangkit dan duduklah, Cui Hong. Kuharap

saja engkau akan menjadi murid yang baik. Akan tetapi

ketahuilah bahwa tidak enak menjadi murid orang seperti aku,

tidak enak dan tidak mudah. Melihat tingkat kepandaian-mu,

sedikitnya engkau harus berlatih dengan penuh semangat dan

tekun selama lima tahun, baru boleh diharapkan engkau akan

memperoleh kemajuan.”

“Teecu berjanji akan berlatih dengan tekun dan biarpun

sampai lima tahun lebih teecu tidak akan mengendurkan

 

semangat dan akan selalu mentaati petunjuk dan perintah

suhu.”

“Bagus, dan sekarang sebagai tugas pertama, engkau

harus bersumpah bahwa kepandaian yang kau pelajari dariku

tidak akan kau pergunakan untuk membunuh! Engkau tidak

boleh membunuh!”

Mendengar ini, Cui Hong terkejut bukan main sampai

mukanya berubah agak pucat dan kedua matanya terbelalak.

Tidak boleh membunuh? Dan ia ingin be lajar silat yang tinggi

hanya dengan satu tujuan, yaitu membalas dendam dan

membunuh musuh-musuhnya!

“Cui Hong, aku bertemu denganmu ketika engkau hendak

membunuh diri. Karena itu, aku ingin menghapus semua

keinginan membunuh dari dalam lubuk hatimu. Engkau tidak

boleh membunuh, baik membunuh diri sendiri maupun orang

lain! Engkau mempunyai musuh-musuh dan dendam

kebencian membayang di wajahmu, karena itulah maka aku

minta kau bersumpah bahwa engkau tidak akan menggunakan

kepandaian dariku untuk membunuh!”

Biarpun ia terkejut dan kecewa mendengar larangan

membunuh ini, namun Cui Hong yang mendapatkan kembali

kecerdikannya, cepat memutar otaknya dan iapun lalu tanpa

ragu-ragu lagi bersumpah, “Baiklah, suhu. Teecu bersumpah

bahwa teecu tidak akan menggunakan kepandaian dari suhu

untuk membunuh orang.” Ia membayangkan bahwa untuk

membalas dendam kepada musuh-musuhnya, tidak perlu

membunuh! Masih banyak jalan lain kecuali membunuh untuk

melampiaskan dendamnya.

Kakek ini menarik napas panjang. “Bagus, Cui Hong. Aku

percaya engkau akan memegang teguh sumpahmu.

Ketahuilah, mengapa aku menyuruh engkau bersumpah untuk

pantang membunuh? Tiada lain karena aku sudah terlalu

banyak membunuh orang! Dan aku tidak ingin muridku, selain

mewarisi ilmu-ilmu-ku, juga mewarisi pula kesenanganku

 

membunuh orang.” Dia mengangkat tongkat hitamnya dan

mencium tongkat itu. “Dengan kaki tanganku, terutama

dengan tongkat ini, entah sudah berapa ratus atau ribu nyawa

orang kurenggut dari tubuhnya. Gurumu ini pernah dijuluki

orang Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Merenggut Nyawa)

karena paling suka membunuh orang tanpa pilih bulu! Aku

diperhamba nafsu-nafsuku sendiri, karena itulah aku melarikan

diri ke hutan-hutan, ke gunung-gunung, tidak mau bertemu

manusia dan aku selalu mencari kebebasan, bebas dari nafsunafsuku

sendiri. Aih, betapa tersiksanya batinku, betapa

kuatnya ikatan-ikatan ini. Karena itu, aku tidak ingin melihat

engkau terbelenggu oleh dendam, diperhamba nafsu sendiri.

Aku tidak ingin melihat muridku menderita seperti aku.”

Cui Hong tidak mengerti, akan tetapi t idak membantah. Ia

tidak peduli akan semua masalah gurunya. Yang penting

baginya mempelajari ilmu agar dapat membalas dendam

kepada musuh-musuhnya. Dan ia sudah bersumpah takkan

membunuh, maka iapun tidak akan membunuh musuhmusuhnya,

akan tetapi mem balas dendam, itu harus dan

merupakan tujuan tunggal hidupnya! Ia tidak sama dengan

gurunya. Gurunya suka membunuh orang tanpa pilih bulu. Ia

tidak, sama sekali tidak! Dendamnya hanya kepada empat

orang saja.

“Teecu akan menaati semua petunjuk dan perintah suhu,”

katanya lagi untuk melegakan hati kakek itu. Suhunya dijuluki

Toat-beng Hek-mo, tentu saja memiliki kesaktian luar biasa,

pikirnya dengan girang. Tidak peduli apakah gurunya itu

seorang datuk sesat, seperti julukannya, yang penting ia dapat

mempelajari ilmu silat tinggi dari kakek itu untuk kelak

menghadapi Thian-cin Bu-tek Sam-eng!

“Engkau tidak akan menyesal telah bertemu dengan aku

yang menggagalkan niatmu membunuh diri tadi, Cui Hong.

Kalau engkau sudah mewarisi ilmu-ilmu-ku, maka engkau

 

akan mampu menjelajahi dunia ini tanpa khawatir diganggu

lagi. Engkau akan sukar menemukan tandingan!”

“Terima kasih, suhu.”

“Akan tetapi, jangan dikira menjadi muridku itu enak, Cui

Hong. Aku orang miskin, tidak punya apa-apa, rumah pun

tidak punya. Aku sudah tua, untuk mencari makan sehari-hari

pun sukar. Kalau kau menjadi muridku harus mencarikan

makan setiap hari untukku dan untukmu sendiri, kalau perlu

mengemis, atau mencuri.”

“Teecu sanggup!” kata Cui Hong.

“Masih ada satu hal lagi.” kata kakek itu, mulai gembira

melihat betapa dara itu memang keras hati dan besar

semangat, tidak pantang mundur menghadapi segala macam

kesukaran. “Selama engkau belajar silat, kita akan tinggal di

puncak gunung yang sunyi terpencil dan selama itu, engkau

hanya boleh turun ke dusun kalau kehabisan bumbu masak

dan keperluan lain, dan itu pun harus kaulakukan dengan

singkat, sama sekali engkau tidak boleh melibatkan diri

dengan urusan dan pertikaian dengan orang lain, tidak boleh

mencampuri urusan orang lain. Sanggup kati?”

“Teecu (murid) sanggup!” kata pula Cui Hong. Apa pun

syarat-syarat gurunya akan disanggupinya karena memang

tujuannya hanya satu, ialah mempelajari ilmu silat dari kakek

ini.

Demikianlah, mulai hari itu Cui Hong menjadi murid kakek

yang berjuluk Toat-beng Hek-mo, seorang kakek yang sudah

puluhan tahun lamanya tidak pernah lagi muncul di dunia

kang-ouw, yang mengasingkan diri berperang dengan batin

sendiri mencari kebebasan, seorang kakek yang memiliki ilmu

kepandaian silat tinggi akan tetapi yang memiliki pengetahuan

tentang filsafat hidup melalui ayat-ayat kitab suci yang hanya

diketahui kulitnya saja, dengan penafsiran isinya yang kacau

balau.

 

Kebebasan, dalam arti kata bebas lahir batin, tidak mungkin

bisa didapatkan dengan jalan mencari dan mengejar.

Kebebasan, seperti juga kebahagiaan, adalah satu keadaan,

bukan merupakan suatu hasil dari pengejaran atau usaha.

Kebebasan yang sudah didapatkan melalui usaha bukan

merupakan kebebasan lagi, melainkan merupakan kebebasan

semu yang terbelenggu oleh KEINGINAN UNTUK BEBAS. Dan

di mana ada keinginan, dalam bentuk apapun juga, maka

takkan mungkin ada kebebasan. Kebebasan adalah suatu

keadaan di mana tidak ada lagi aku yang ingin ini dan itu,

tidak ada lagi aku yang sarat dengan nafsu-nafsu yang

membelenggu. Kebebasan bukan sekedar bebas dari ikatan

dengan manusia lain atau dengan benda, sehingga tidak

mungkin didapatkan melalui pengasingan diri jauh dari

manusia dan harta benda. Sebaliknya, orang dapat berada

dalam keadaan bebas walaupun hidup di tengah-tengah

masyarakat ramai. Batin yang tidak memiliki apa-apa

walaupun lahirnya mempunyai banyak benda, batin yang

sama sekali tidak terbelenggu walaupun badannya mempunyai

ikatan, dengan pekerjaan, dengan keluarga, dengan

kewajiban-kewajiban dan sebagainya.

Memang lebih mudah dibicarakan tentang kebebasan,

namun semua pembicaraan itu hanya teori belaka. Kebebasan

bukan untuk dibicarakan, melainkan untuk dihayati dalam

kehidupan ini karena tanpa adanya kebebasan, takkan

mungkin ada cinta kasih, takkan mungkin ada kebahagiaan.

Hidup kita ini sudah demikian sarat dengan beban, demikian

ruwet penuh ikatan-ikatan sehingga isinya hanyalah

permainan emosi belaka karena sang aku sudah terlanjur

merajalela dipermainkan oleh Im dan Yang (Positif dan

Negatif).

0odwo0

Semenjak mengikuti gurunya ke puncak yang amat sunyi,

sebuah di antara puncak-puncak yang tinggi dari Pegunungan

 

Lu-Iiang-san di sebelah barat kota raja, Cui Hong mulai suka

akan warna pilihan gurunya, yaitu warna hitam. Ia menyukai

warna hitam karena untuk menyusup-nyusup ke dalam hutan

dan semak-semak belukar, warna ini paling aman, tidak cepat

kotor. Dan setelah beberapa bulan lamanya ikut gurunya,

berlatih ilmu silat setiap hari sambil mengurus kepentingan

gurunya dan diri sendiri, mencuci, mencari air, memasak dan

sebagainya, mulai pulih kembali keadaan badan Cui Hong.

Kedua pipinya menjadi kemerahan lagi, wajahnya nampak

segar berseri, sepasang matanya menjadi hidup dan lincah.

Agaknya sisa-sisa peristiwa hebat itu, bekas-bekas malapetaka

yang menimpanya, tidak lagi meninggalkan bekas di

tubuhnya, walaupun jauh di dalam hatinya, bekas-bekas itu

tak mungkin dapat dihapus begitu saja biarpun Cui Hong tidak

pernah membicarakannya dengan suhunya. Dendam yang

amat hebat itu disimpannya di dalam hati sebagai suatu

rahasia pribadi yang takkan diungkapkan kepada siapa pun

juga, kepada gurunya pun tidak. Apalagi karena ia melihat

sikap gurunya yang tidak setuju dengan pemeliharaan dendam

itu.

Kakek yang berjuluk Toat-beng Hok-mo itu ternyata

memang seorang yang sakti. Ilmu kepandaiannya tinggi sekali

dan hal ini dirasakan benar oleh Cui Hong. Dari hari pertama

saja ia sudah menerima latihan sinkang yang luar bisa. Kakek

itu bahkan membantunya dengan kedua tangannya diletakkan

di punggung dara itu, membantunya agar dapat dengan cepat

menghimpun tenaga sakti, mempergunakannya di seluruh

tubuh dan berlatih samadhi untuk memperkuat sinkang di

dalam tubuhnya. Setelah berlatih selama hampir dua tahun,

barulah ia dianggap mulai memiliki sinkang yang cukup kuat

untuk mempelajari ilmu silat kakek itu. Dan Toat-beng Hek-mo

juga tidak mengajarkan banyak ilmu silat, hanya satu macam

saja! Akan tetapi ilmu s ilat ini dapat dimainkan dengan tangan

kosong maupun dengan senjata tongkat. Nama ilmu silat ini

menyeramkan, sama dengan nama julukannya, yaitu ToatTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

beng-kun (Ilmu Silat Mencabut Nyawa)! Kalau dimainkan

dengan tongkat maka nama ilmu itu menjadi Toat-beng Koaitung

(Tongkat Aneh Mencabut Nyawa ). Dan biarpun hanya

satu macam, ternyata ilmu silat ini sedemikian sukar, aneh

dan dahsyat sehingga untuk melatihnya sampai sempurnya,

dibutuhkan waktu hampir lima tahun! Dapat dibayangkan

betapa kesepian rasanya harus hidup sampai bertahun-tahun

di tempat sunyi dan dingin itu. Hanya berteman seorang kakek

tua renta yang buruk, dan yang jarang sekali bicara karena

kakek itu lebih banyak bersamadhi dan hanya bicara kalau

sedang memberi petunjuk dalam pelajaran ilmu silat. Bahkan

di waktu makan pun Toat-beng Hek-mo jarang mengajak

bicara muridnya.

Waktu yang seolah-olah merayap itu merupakan latihan

yang paling berat bagi Cui Hong. Hampir ia kehilangan

kesabaran dan beberapa kali ada dorongan kuat dalam

hatinya untuk melarikan diri, turun gunung dan mencari

musuh-musuhnya. Apalagi setelah ia merasa bahwa

kepandaiannya telah meningkat dengan cepat. Namun,

dendam yang amat mendalam itu membuat ia cerdik dan tidak

mau bertindak lancang dan tanpa perhitungan. Ia teringat

akan kelihaian Thian-cin Bu-tek Sam-eng. Kalau ia sekali turun

tangan membalas dendam, ia tidak boleh gagal! Kegagalan

berarti membuat musuh-musuhnya menjadi kuat, berjaga dan

akan semakin sukarlah kelak baginya untuk mengulangi

usahanya membalas dendam. Ia harus berhasil dengan sekali

pukul dan untuk dapat memperoleh keyakinan dalam hal ini, ia

harus tekun belajar sampai gurunya menyatakan bahwa

pelajarannya sudah tamat.

Cui Hong adalah seorang gadis yang masih muda, dan

memiliki pembawaan lincah gembira. Biarpun ia pernah

menderita malapetaka hebat hampir saja membuatnya putus

asa dan membunuh diri, namun setelah tinggal di puncak

gunung itu dan menyibukkan diri dengan pekerjaan sehari-hari

dan latihan-latihan, kesegarannya pulih kembali bagaikan

 

setangkai bunga yang pernah layu kini hidup dan segar

kembali mendapatkan air dan embun. Bahkan kini, setelah

lewat kurang lebih enam tahun, Cui Hong telah berubah, dari

seorang dara remaja yang masih memiliki sifat kekanakkanakan,

menjadi seorang gadis yang bagaikan bunga sedang

mekar semerbak. Tubuhnya ramping dan padat, keindahan

bentuk tubuhnya yang tidak dapat disembunyikan oleh

pakaian sederhana berwarna hitam itu. Bahkan pakaian serba

hitam itu membuat kulitnya yang putih kuning dan halus

nampak semakin menyolok. Cui Hong telah menjadi seorang

gadis dewasa yang amat cantik, seorang perempuan yang

penuh daya tarik.

Pada suatu pagi, seperti biasa dilakukannya satu dua kali

setiap bulan, ia berpamit kepada suhunya untuk membeli

bumbu dan sedikit kain untuk membuat pakaian baru di

sebuah dusun di kaki gunung. Untuk memperoleh uang guna

berbelanja, Cui Hong membawa sekarung dendeng yang

dibuatnya. Di hutan yang terletak di balik puncak terdapat

banyak binatang hutan. Cui Hong banyak berburu binatang ini,

dagingnya didendeng dan kulitnya dijemur, kemudian kulit dan

dendeng ini dibawanya ke dusun, dijualnya atau ditukarnya

dengan bumbu-bumbu dapur, pakaian dan keperluan lain.

Karena selama enam tahun lebih ini sudah seringkali ia

berkunjung ke dusun itu, maka semua orang dusun

mengenalnya sebagai nona penghuni puncak yang cantik

manis. Melihat betapa nona berpakaian serba hitam itu

membawa beban berat dan turun dari puncak, semua orang

dapat menduga bahwa tentu nona cant ik ini seorang yang

memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka tak seorang pun berani

mengganggunya.

Akan tetapi pada pagi hari itu, setelah menjual dendeng

sekarung dan membeli bumbu masa kan, kain hitam dan lain

keperluan, seperti minyak, lilin dan lain-lain, terjadi keributan

yang sama sekali tidak dikehendakinya. Sejak terjadi

 

malapetaka yang menimpa dirinya, Cui Hong merasa tidak

senang kalau melihat mata laki-laki memandangnya penuh

gairah. Ingin ia marah-marah dan menghajar orang lelaki yang

berani memandangnya seperti itu, namun ia masih harus

menahan kesabarannya selama ini. la teringat akan pesan

suhunya, bahwa ia tidak boleh mencari keributan, permusuhan

dan tidak boleh mecampuri urusan orang lain. Maka, karena

pandang mata itu tak mungkin d ianggap sebagai gangguan, ia

pun pura-pura tidak melihatnya saja walaupun hatinya merasa

mendongkol. Agaknya, perbuatan empat orang musuh

besarnya terhadap dirinya menumbuhkan semacam perasaan

benci di dalam hatinya terhadap pria pada umumnya, apalagi

kalau pria itu memandangnya dengan sinar mata kagum dan

membayangkan gairah birahi. Hal itu dianggapnya kurang

ajar, dianggapnya bahwa pria yang memandangnya itu tiada

bedanya dengan empat orang musuh besarnya, dan kalau

mempunyai kesempatan tentu akan melakukan kekejian yang

sama seperti yang pernah dilakukan empat orang musuh

besarnya itu terhadap dirinya.

Ketika Cui Hong selesai berbelanja dan berjalan perlahanlahan

hendak meninggalkan dusun itu, membawa buntalan

terisi barang-barang belanjaannya, tiba-tiba terdengar suara

laki-laki di belakangnya, “Nona, bolehkah aku menemanimu?”

Cui Hong terkejut dan seketika mukanya berubah merah. Ia

melirik sambil menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya

itu seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang bertubuh

besar dan perutnya agak gendut, matanya sipit dan sinar

matanya penuh gairah, mulutnya menyeringai dan sikapnya

jelas menunjukkan bahwa orang ini kagum kepadanya dan

berniat menggodanya. Cui Hong membuang muka dan tidak

melayaninya, tidak menjawabnya, melainkan berjalan terus

tanpa memperdulikan orang itu.

“Aih, nona, mengapa diam saja? Aku sudah tahu bahwa

nona tinggal di puncak gunung. Siapakah nama nona dan

 

dengan siapakah nona tinggal di puncak? Kasihan sekali,

seorang perempuan cantik jelita tinggal di tempat yang begitu

tinggi, dingin dan sunyi.”

Cui Hong hampir tak dapat menahan lagi kemarahannya.

Tanpa menoleh ia membentak lirih dan ketus, “Pergilah kau

dan jangan ganggu aku!”

Akan tetapi, orang itu bahkan memperlebar langkahnya

sehingga kini dia berjalan di samping Cui Hong. Ketika Cui

Hong melirik, dilihatnya orang itu menyeringai dan muka yang

agak bulat putih itu mengingatkan ia akan muka seorang di

antara musuh-musuh besarnya yang paling dibencinya, yaitu

Koo Cai Sun. Akan tetapi jelas bukan karena orang ini masih

muda, baru tiga puluh tahun usianya, sedangkan musuh

besarnya itu sekarang sudah lebih dari empat puluh tahun.

“Wahai, nona, kenapa marah? Aku bermaksud baik, ingin

berkenalan denganmu. Marilah kutemani kau naik ke puncak

dan biarlah barang-barangmu yang berat itu kubantu

kubawakan.” laki-laki itu kembali berkata dengan suara

mengandung rayuan. Dia bukan penduduk dusun itu,

melainkan pendatang dari kota lain yang datang ke dusun itu

untuk berdagang kain. Ketika dia tadi melihat Cui Hong,

hatinya segera tertarik sekali. Dia memang seorang yang mata

keranjang dan melihat ada seorang dusun demikian cantik

manisnya, dia merasa gembira dan ingin sekali memetik

bunga dusun itu. Apalagi ketika dia bertanya dan mendapat

keterangan bahwa wanita serba hitam yang manis itu tinggal

di puncak gunung, dan tak seorang pun mengenal namanya,

agaknya merupakan seorang wanita penuh rahasia, hatinya

menjadi semakin kagum. Dibereskannya dagangan-nya,

dititipkan kepada seorang kenalannya dan diapun cepat

mengikut i Cui Hong dan menegur di tengah jalan.

“Aku tidak mau berkenalan dan tidak mau dibantu. Pergilah

kau!” kata pula Cui Hong.

 

Laki-laki itu terkekeh. Mereka tiba di pinggir dusun, di mana

keadaan sepi sehingga laki-laki itu menjadi semakin berani.

Dia tahu, menurut pengalamannya, bahwa jika seorang wanita

berkata tidak dengan mulutnya, hal itu besar kemungkinan

berarti ya di dalam hatinya. Pengetahuan ini membuat ia

semakin berani melihat betapa wanita cantik yang menarik

hatinya ini “pura-pura” tidak mau.

“Nona manis, tidak usah malu-malu. Aku adalah pedagang

kain. Nanti kuberi segulung kain yang paling baik, sutera halus

yang mahal. Mari kutemani, mau bukan?” Dan tiba-tiba saja,

sungguh di luar dugaan Cui Hong, laki-laki itu menggunakan

tangan kirinya untuk meraba dan mencubit pinggulnya!

Meledak kemarahan di hati Cui Hong dan sekali membalikkan

tubuhnya dan mencengkeram, punggung baju baju orang itu

sudah dicengkeramnya dan sekali ia berseru, tubuh laki-laki itu

sudah diangkatnya ke atas. Buntalannya dilepaskan begitu

saja dan kini tangan kirinya sudah diangkat hendak memukul

remuk kepala orang yang berani kurang ajar kepadanya itu!

Laki-laki itu terkejut, meronta namun tidak mampu

melepaskan diri.

Tangan kiri Cui Hong sudah diangkat dan sudah berisi

tenaga sinkang sepenuhnya, akan tetapi mendadak ia teringat

akan sumpahnya kepada suhunya. Dilarang membunuh! Maka,

ketika tangannya meluncur turun, ia mengubah serangannya,

bukan kepala orang itu melainkan tangan kirinya yang menjadi

serangan tangan Cui Hong yang meluncur ke depan.

“Krekkk…..I” Pergelangan tangan laki-laki itu remuk tulangtulangnya

dan dia pun menjerit-jerit kesakitan. Cui Hong

melontarkan tubuh itu jauh ke depan.

“Brukkkk….!” Tubuh itu terbanting ke atas tanah dan tidak

mampu bergerak lagi karena saking nyerinya laki-laki ceriwis

itu jatuh pingsan ketika tubuhnya terbanting.

Cui Hong tidak menengok lagi kepada laki-laki itu,

mengambil buntalannya kemudian pergi dari situ dengan

 

cepat. Setelah tidak ada orang melihatnya, ia lalu

mengerahkan tenaganya dan menggunakan ilmu berlari cepat

mendaki puncak. Wajahnya masih merah sekali, sepasang

matanya mengeluarkan sinar berapi. Marah sekali ia. Kalau

menurutkan hatinya, ingin ia menghancurkan kepala orang

tadi, menginjak-injak dadanya sampai patah-patah semua

tulang iganya! Orang itu baginya tadi seolah-olah menjadi

pengganti empat orang musuh besarnya dan semua dendam

dan kebencian ia tumpahkan kepada orang itu. Akan tetapi ia

sudah bersumpah tidak akan membunuh dan bagaimanapun

juga, ia tidak boleh melanggar sumpahnya sendiri.

0oo-dw-oo0

Jilid 4

KETIKA tiba di depan pondok kayu kasar yang menjadi

tempat tinggal mereka, Cui Hong melihat suhunya sudah

duduk bersila di depan rumah, tidak seperti biasanya karena

pada saat seperti itu biasanya gurunya itu masih bersamadhi

di depan kamarnya dan baru akan keluar kalau ia sudah

memberitahukan bahwa makanan siang telah tersedia. Dan

gurunya itu memandang kepadanya dengan matanya yang

kecil mencorong itu dengan sinar aneh. Agaknya gurunya

melihat perubahan pada wajahnya yang kemerahan, pada

sinar matanya yang berapi itu.

“Cui Hong, apakah yang telah terjadi?”

“Suhu, teecu seperti yang telah teecu katakan ketika

berpamit pagi tadi, pergi menjual ikan kering dan membeli

bumbu-bumbu dan kain hitam untuk pakaian kita. Sayang

benang hitamnya habis dan tidak ada yang menjual, suhu,

terpaksa nanti teecu menjahit dengan benang merah.”

“Bukan itu maksudku. Engkau penuh dengan semangat

berapi, penuh kemarahan. Apakah engkau telah membunuh

orang?”

 

Cui Hong terkejut. “Tidak, suhu. Mana berani teecu

melanggar sumpah teecu sendiri? Teecu tidak membunuh

orang, hanya….. teecu menghajar seorang laki-laki yang

kurang ajar terhadap teecu.”

“Apa yang dia lakukan dan apa pula yang telah

kaulakukan?”

“Dia kurang ajar terhadap teecu, tidak teecu layani, akan

tetapi dia berani meraba tubuh teecu. Teecu mematahkan

tangan itu dan melemparkannya akan tetapi tidak

membunuhnya, lalu teecu pulang.”

Kakek itu mengangguk-angguk, memandang muridnya dan

berkata, “Cui Hong, sudah berapa lama engkau menjadi

muridku?”

“Teecu tidak dapat menghitung tepat, akan tetapi kurang

lebih tujuh tahun.”

“Nah, bersiaplah, mari kau hadapi serangan-seranganku.

Ini merupakan latihan terakhir, kalau lulus engkau boleh pergi,

kalau tidak lulus engkau harus menemani aku sampai aku

mati.” Tiba-tiba kakek itu bangkit berdiri.

Diam-diam Cui Hong terkejut mendengar ini. Suhunya

sering mengajak latihan dan kadang-kadang menyerangnya

dengan sungguh-sungguh, akan tetapi dalam batas-batas

latihan. Kini, suhunya ingin mengujinya, sebagai latihan

terakhir dan yang mengejutkan hatinya adalah kalimat terakhir

itu. Kalau ia lulus, ia boleh pergi, kalau tidak lulus, ia harus

menemani suhunya itu sampai suhunya mati! Jantungnya

berdebar keras, inilah saat yang dinanti-nantikannya selama

ini, yang ditunggunya dengan menyabarkan hatinya. Agaknya

pelajarannya sudah tiba di saat terakhir, sudah tamat!

“Teecu menaati perintah suhu.” katanya dan ia pun

menyingkirkan buntalan itu, lalu berdiri tegak, menghadap

suhunya, kedua tangan lurus ke bawah di kanan kiri tubuh,

kedua kaki rapat. Inilah kuda-kuda yang aneh dari Toat-bengTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

kun! Gurunya juga memasang kuda-kuda yang sama. Mereka

berdua itu saling berhadapan dengan berdiri tegak seperti

patung, dengan kedua tangan merapat di kanan kiri dan

kedua kaki juga merapat. Pasangan kuda-kuda yang lucu

sekali, akan tetapi jangan dikira bahwa kuda-kuda seperti ini

lemah! Biarpun pemasangan kuda-kuda itu demikian kaku,

akan tetapi kaki dan tangan ini dapat bergerak setiap saat ke

segala jurusan, baik ketika menghadapi serangan maupun

ketika menyerang. Keistimewaan kuda-kuda ini adalah sukar

bagi lawan untuk menduga ke arah mana kaki dan tangan

akan bergerak dalam serangan pertama.

“Lihat serangan!” tiba-tiba kakek itu berseru dan mulailah

dia menyerang dengan cepat, kuat dan dahsyat sekali.

Namun, Cui Hong sudah siap s iaga dan ke manapun gurunya

menyerang, ia selalu dapat mengelak atau menangkis dengan

tepat sekali. Dan gadis itu pun tidak sungkan-sungkan lagi, hal

yang diperbolehkan dalam latihan itu, dan ia pun membalas

serangan gurunya setiap kali terbuka kesempatan baginya.

Terjadilah serang-menyerang antara guru dan murid itu.

Kakek itu tidak main-main, melainkan mengeluarkan semua

keahliannya dan mengerahkan semua tenaganya. Juga Cui

Hong tidak bersikap sungkan dan gurunya itu dianggap

seorang lawan yang harus dilawannya mati-matian. Diamdiam

Toat-beng Hek-mo merasa kagum, bangga dan girang

sekali. Tidak percuma selama tujuh tahun menggembleng

muridnya ini. Biarpun d ia berkelahi sungguh-sungguh, namun

dia sama sekali tidak mampu mendesak muridnya dan setelah

mereka bertanding selama seratus jurus, napasnya sendiri

mulai terengah-engah sedangkan muridnya masih segar

bugar.

“Haiiiitttt…..” Tiba-tiba kakek itu berseru keras dan tahutahu

tongkat hitam sudah berada di tangannya. Dia

menyerang dengan tongkatnya, memukul ke arah kepala Cui

Hong. Gadis ini cepat mengelak dengan melempar diri ke kiri.

 

Tongkat itu menyambar, dekat sekali dengannya dan agak

lambat sehingga memikat orang untuk menangkap dan

mencoba merebutnya. Namun Cui Hong tidak mau melakukan

ini. Ia tahu bahwa itulah satu di antara keampuhan Ilmu

Tongkat Toat-beng Koai-tung. Nampak begitu mudah

dirampas, akan tetapi sekali lawan merampasnya, tentu dia

akan terkena hantaman tongkat itu sendiri. Tongkat itu

menyambar ke bawah, membabat kedua kakinya. Cui Hong

melompat ke atas dan berjungkir balik ke belakang. Akan

tetapi tongkat itu terus mengejar-sehingga terpaksa ia

membuat jungkir balik berkali-kali makin mendekati pohon

yang berada di sebelah kanan pondok. Ketika tongkat itu

masih terus mengejar, Cui Hong tiba-tiba melempar tubuh ke

belakang dan bergulingan di atas tanah, menuju ke pohon.

Ketika tiba di bawah pohon, tiba-tiba ia mengeluarkan suara

melengking dan tangannya bergerak. Segenggam pasir dan

tanah menyambar ke depan, ke arah muka Toat-beng Hekmo.

Kakek ini tentu saja tidak mau kalau mata atau hidungnya

kena sambaran pasir dan tanah. Dia meloncat ke samping

menghindarkan diri. Akan tetapi pada saat itu, Cui Hong sudah

meloncat ke atas, menyambar sebatang dahan pohon sebesar

lengannya. Terdengar dahan patah dan ketika meloncat turun

kembali, gadis itu sudah memegang tongkat dari dahan pohon

yang masih ada daunnya pada ranting-ranting kecil.

“Haiiittt….!” Cui Hong berteriak, menggerakkan tongkatnya

dan berhamburanlah ranting dan daun-daun itu sehingga

dahan itu kini gundul dan berubah menjadi sebatang tongkat

yang menjadi senjatanya.

“Bagus!” Gurunya memuji kagum dan menyerang lagi. Cui

Hong menangkis dan balas menyerang. Kembali guru dan

murid itu saling serang dan kedua tongkat mereka berkali-kali

saling bertemu mengeluarkan bunyi tak – tuk – tak – tuk.

Keduanya bergerak cepat sehingga tubuh mereka lenyap

terbungkus sinar kedua senjata itu.

 

Kembali seratus jurus telah lewat dan Toat-beng Hek-mo

sudah merasa lelah. Tiba-tiba dia meloncat jauh ke belakang

dan berseru,

“Cui Hong, kau lulus!”

Cui Hong girang bukan main, membuang tongkatnya dan

cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya.

“Su-he, teecu menghaturkan terima kasih atas segala budi

suhu yang telah membimbing teecu selama tujuh tahun ini.

Teecu tidak akan mampu membalas budi kebaikan suhu.”

“Hemm, akupun t idak mengharapkan balasan, Cui Hong.

Asal saja engkau memegang teguh sumpahmu, tidak

melakukan pembunuhan, berarti engkau telah membalas b udi

itu.”

“Teecu pasti akan memegang teguh sumpah teecu.”

“Bagus, kalau begitu kau pergilah turun gunung, muridku.”

“Tapi, suhu. Suhu sudah tua, bagaimana teecu tega

meninggalkan suhu hidup sendirian di sini? Siapa yang akan

menanak nasi untuk suhu, membuatkan minuman hangat,

siapa yang akan merawat suhu?”

Kakek itu menyeringai dan mulutnya menjadi sebuah guha

kecil menghitam. “Heh-heh, engkau ini membuat diriku

menjadi manja saja. Sebelum ada engkau, aku pun hidup

sendirian dan mampu merawat diri sendiri. Pula, setelah

engkau pergi, aku pun hendak pergi dari sini. Sudah bosan

aku terlalu lama tinggal di sini. Pergilah dengan tenang,

muridku, engkau berhak untuk menikmat i hidup di dunia

ramai.”

Cui Hong memberi hormat lagi lalu mengusir keharuan

hatinya yang tiba-tiba saja muncul. Ia tidak pernah merasa

cinta kepada gurunya ini dan ia bahkan ingin menguasai ilmu

silat tinggi. Akan tetapi setelah secara tiba-tiba gurunya

mengambil keputusan bahwa ia telah selesai belajar

 

memperbolehkan turun gunung, setelah secara tiba-tiba

mereka hendak saling berpisah, timbul juga keharuan itu di

dalam hatinya. Baru terasa olehnya betapa selama tujuh tahun

ini, tanpa mengenal lelah, kakek ini melatihnya dengan ilmu

silat yang hebat dan biarpun tak pernah memperlihatkan sikap

kasih sayang, namun dari ketekunan kakek itu saja ia pun kini

dapat melihat dengan jelas bahwa kakek itu amat sayang

kepadanya! Dan selama hidup bersama tujuh tahun itu, Toatbeng

Hek-mo yang sudah melepas budi, memberikan ilmunya

yang tinggi, sebaliknya ia tidak pernah memberi apa-apa.

“Suhu, teecu akan selalu ingat kebaikan-kebaikan suhu dan

tidak akan melanggar sumpah teecu. Selamat tinggal, suhu,

harap suhu menjaga diri baik-baik.”

“Selamat jalan, muridku. Engkaulah yang harus menjaga

diri baik-baik dan ingatlah bahwa ilmu silat ada batasnya dan

betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, masih ada orang-orang

lain yang lebih lihai lagi. Karena itu, jangan terlalu

mengandalkan ilmu silat. Kecerdikan dan kewaspadaan selalu

lebih berguna daripada sekedar kekerasan ilmu silat.”

Cui Hong lalu turun dari puncak, membawa buntalan terisi

dua stel pakaian hitamnya, dan juga membawa bekal daging

kering dan roti yang tadi dibelinya di dusun. Sebagian

belanjaannya ditinggalkan untuk suhunya.

Hanya sebentar saja rasa keharuan karena berpisah dari

gurunya itu menyelubungi hatinya. Setelah ia tiba di lereng

gunung, melihat ke bawah, melihat dunia yang luas

terbentang di bawah kakinya membayangkan betapa ia mulai

sekarang hidup seorang diri, bebas lepas seperti seekor

burung di udara, hatinya berdebar penuh ketegangan dan

kegembiraan, la sudah bebas, berarti boleh berbuat apa saja

sesuka hatinya sendiri. Dan tentu saja ia harus pergi mencari

musuh-musuhnya. Itulah tujuannya mempelajari ilmu silat!

Bahkan itulah tujuan hidupnya, karena kalau bukan untuk

membalas dendam, tentu ia sudah mati membunuh diri. Untuk

 

apa hidup menanggung aib, malu dan penghinaan yang

sedemikian hebatnya, menderita kesengsaraan yang demikian

mendalam? Ia harus membalas dendam! Tanpa disadarinya, ia

berjalan sambil mengepal kedua tangannya dan bibirnya

bergerak-gerak, akan tetapi suaranya hanya terdengar oleh

dirinya sendiri, karena hanya hatinya yang berbisik melalui

gerak bibirnya,

“Jahanam keparat Pui Ki Cong, Gan Tek Un, Koo Cai Sun,

dan Louw Ti, tunggulah pembalasanku!”

Kemudian gadis ini pun mempercepat langkahnya, dengan

penuh semangat ia lalu turun gunung menuju ke kota Thiancin.

Kalau dibandingkan dengan tujuh tahun yang lalu,

sukarlah mengenal dara remaja puteri gur u silat Kim Siok itu.

Kim Cui Hong kini bukan seorang gadis remaja lagi, bukan

setangkai bunga yang sedang mulai mekar kuncupnya. Ia kini

seorang gadis yang dewasa, berusia dua puluh dua tahun

lebih seorang gadis bertubuh ramping dan padat, makin

menonjol lekuk lengkung tubuhnya oleh pakaian serba “hitam

yang ketat dan ringkas itu. Di dagunya masih nampak tahi

lalat kecil yang membuat dagu itu nampak manis sekali.

Sepasang matanya lebar dan jeli, bahkan kini memancarkan

sinar yang mencorong tajam. Mulutnya bahkan lebih indah

daripada dahulu, kini mulut itu nampak selalu segar basah

kemerahan, dengan bibir yang dapat bergerak secara hidup

dan menggemaskan, seakan-akan menantang dan

menjanjikan kegairahan yang penuh nikmat. Mulutnya itu

merupakan bagian yang paling manis dan indah dari wajah

gadis ini. Selain buntalan digendong di punggungnya, ia tidak

membawa apa-apa lagi. Tidak ada apa pun padanya yang

membayangkan bahwa ia adalah seorang gadis yang memiliki

ilmu silat tinggi!

Ia tidak akan menarik perhatian orang sebagai seorang ahli

silat, akan tetapi jelas bahwa seorang gadis seperti Cui Hong

akan selalu menarik perhatian kaum pria karena gadis itu

 

cantik jelita dan manis sekali. Justru pakaiannya yang serba

hitam dan amat sederhana itulah yang membuat

kecantikannya menonjol, kemulusan kulit yang putih kuning

itu nampak jelas dan membuat ia berbeda daripada wanita

lain. Akan tetapi tentu saja Cui Hong tidak menyadari hal ini

sebelum ia terjun dalam dunia ramai.

0odwo0

Perubahan besar terjadi di mana-mana, juga di Thian-cin

semenjak ditinggalkan selama tujuh tahun oleh Cui Hong.

Dalam waktu tujuh tahun itu telah terjadi banyak sekali

peristiwa penting. Bukan hanya diri Cui Hong yang berubah

banyak sekali, akan tetapi juga keadaan dalam negeri telah

mengalami perubahan.

Karena lemahnya kaisar Beng-tiauw terakhir, yaitu Kaisar

Cung Cen, yang menjadi seperti boneka di tangan para

pembesar thai-kam (kebiri), pemerintahan yang penuh dengan

para pejabat korup itu menimbulkan kekacauan dan

pemberontakan di mana-mana. Mereka yang merasa kecewa

dengan pemer intah yang lemah dan korup itu memberontak

dan yang paling terkenal adalah pemberontakanpemberontakan

yang dipimpin oleh Lee Cu Seng dan Bu Sam

Kwi.

Sementara itu, kekuasaan bangsa Mancu semakin

berkembang dan pasukan-pasukan telah menerobos ke

selatan, menguasai banyak wilayah di utara dan timur. Pada

waktu itu, bangsa Mancu yang berhasil menaklukkan banyak

suku bangsa liar di utara, dan sudah mulai melebarkan

sayapnya ke selatan dan mendesak pemer intah Beng yang

mulai suram, segera mendirikan suatu wangsa baru yang

mereka namakan Kerajaan Ceng-tiauw. Yang menjadi kaisar

pada waktu itu adalah Kaisar Thai Cung yang di waktu

mudanya bernama Pangeran Huang Thai Ci, seorang pemuda

yang gagah perkasa dan tampan, juga amat terkenal sebagai

seorang penakluk wanita. Dan seperti tercatat dalam sejarah,

 

di dalam kekuasaan Kaisar Thai Cung dari Kerajaan baru

Mancu yang disebut Kerajaan Ceng itu, permaisurinya

mempunyai jasa yang amat menonjol. Permaisuri dari Kaisar

Thai Cung ini berasal dari puteri seorang kepala suku bangsa

liar, dan namanya Ta Giok (Kemala Besar). la amat dicinta

oleh Kaisar Thai Cung karena memang sejak muda, di antara

mereka telah terjadi suatu jalinan cinta yang mesra.

Ketika Kaisar Thai Cung masih muda dan masih disebut

Pangeran Huang Thai Ci, di perbatasan Mancuria sebelah

selatan terdapat sekelompok suku bangsa yang masih belum

takluk kepada bangsa Mancu, penakluk oleh kepala suku yang

gagah perkasa. Kepala suku ini mempunyai dua orang puteri

yang sudah menjelang dewasa. Yang pertama diberi nama

Kemala Besar atau Ta Giok, sedangkan yang ke dua diberi

nama Siauw Giok atau Kemala Kecil. Keduanya merupakan

dara-dara remaja yang cantik sekali, terutama Ta Giok yang

amat jelita dan manis. Sebagai puteri kepa la suku, dua orang

dara ini sejak kecil sudah pandai berburu binatang buas,

pandai menunggang kuda, pandai melepas anak panah,

memainkan senjata dan membela diri. Suku bangsa Mancu

memang lebih besar, dan membiarkan wanita-wanita mereka

bekerja seperti laki-laki, terbiasa dengan hidup yang serba

keras dan sukar karena mereka adalah bangsa Nomad, yaitu

bangsa yang suka berpindah-pindah dalam kelompok, mencari

daerah baru yang lebih mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Suku bangsa yang dipimpin o leh ayah Ta Giok ini merupakan

suku bangsa yang gagah perkasa dan dengan gigih mereka

mempertahankan kedaulatan mereka, tidak mau tunduk

kepada bangsa lain, juga tidak mau tunduk kepada bangsa

Mancu yang mulai berkembang kuat itu. Mereka juga tidak

peduli akan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Ceng-tiauw

yang didirikan oleh bangsa Mancu yang mulai menguasai

wilayah luas di sebelah selatan Tembok Besar. Dan agaknya,

mengingat bahwa kelompok ini hanya merupakan sekelompok

suku bangsa pemburu yang kecil jumlahnya, Kerajaan CengTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

tiauw yang baru ini pun tidak mengganggu mereka, apalagi

kerajaan yang baru ini ingin menarik para kepala suku bangsa

yang kecil-kecil itu sebagai sekutu, maka kebebasan suku

bangsa ini pun tidak mereka ganggu. Bangsa Mancu tidak mau

mengganggu wilayah suku bangsa ini yang tidak begitu luas,

dan menghindarkan setiap kesalah-pahaman atau bentrokan

kecil antara perajurit mereka.

Pada suatu pagi yang cerah, di sebuah sungai kecil yang

mengalir di tepi hutan, terdengar dua orang gadis bersendagurau.

Mereka mandi di sungai yang jernih airnya itu,

berenang ke sana ke mar i, saling siram, tertawa-tawa dan

membuat suara berirama dengan menepuk-nepukkan telapak

tangan ke permukaan air. Memang sejuk dan segar sekali

mandi di air sungai itu, ditimpa sinar matahari pagi yang

hangat. Suasana amat gembira dan meriah, apalagi karena

tempat itu sunyi sekali. Dua orang gadis itu adalah Ta Giok

dan Siauw Giok. Karena tempat itu sunyi dan tidak ada

manusia lain kecuali mereka maka dua gadis itu mandi

bertelanjang bulat tanpa malu-malu lagi. Mereka

menanggalkan pakaian mereka di tepi sungai, ditumpuk di

atas batu kering dan bagaikan dua ekor ikan yang aneh

mereka masuk ke dalam air. Tubuh mereka yang berkulit

mulus dan agak coklat karena sering kali tertimpa matahari itu

nampak keemasan.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan dua orang dara

remaja itu terkejut bukan main. Tak mereka sangka bahwa di

tempat itu akan ada orang lewat! Mereka tentu saja cepat

mendekam ke dalam air dan hanya nampak kepala mereka

saja, dengan dua pasang mata yang lebar jernih itu terbelalak

mereka memandang ke arah jalan di tepi hutan, tak jauh dari

tempat mereka mandi.

Tak lama kemudian, muncullah lima orang pria muda yang

menunggang kuda. Mereka itu adalah lima orang muda,

berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun,

 

kesemuanya nampak gagah dan bertubuh tegap, dengan

pakaian indah dan kuda mereka merupakan kuda pilihan

Mereka itu adalah seorang perwira dan empat orang

pembantunya, perajurit-perajurit Kerajaan Ceng, orang-orang

muda Mancu yang pandai menunggang kuda. Ketika mereka

melihat dua wajah cantik tersembul di atas permukaan air

sungai, mereka pun tertegun dan menahan kuda mereka.

“Aihhh…. ada dua orang bidadari d i sana….!” kata perwira

itu dan mereka berlima segera mengajukan kuda dan

menghampiri sungai itu ke tepinya. Di situ mereka

memandang dengan penuh kagum. Melihat ini, Ta Giok yang

tadi sudah membisiki adiknya, tiba-tiba bangkit berdiri

sehingga tampaklah tubuhnya dari pusar ke atas, telanjang

sama sekali, diikuti adiknya. Tentu saja penglihatan ini

membuat lima orang pria itu melongo, mata terbelalak dan

mulut ternganga saking kagumnya menyaksikan segala

keindahan di depan mata mereka itu. Akan tetapi, sebelum

mereka sempat melompat turun untuk menuruti dorongan hati

mereka, tiba-tiba dua orang dara remaja itu menggerakkan

kedua tangan mereka bergantian dan hujan batu kerikil

menyerang lima orang itu. Tiba-tiba lima ekor kuda itu

mer ingkik kesakitan lalu meloncat dan kabur! Kiranya, dua

orang dara itu memiliki kepandaian menyambit dengan baik

sekali sehingga mereka berhasil menyambit dengan jitu dan

kerikil-kerikil mereka mengenai mata lima ekor kuda itu.

Binatang-binatang itu menjadi ketakutan sekali dan mereka

kabur tanpa dapat dikendalikan lagi. Saking kuatnya mereka

melompat dan mengangkat kedua kaki ke atas, dua di antara

lima orang pria itu terlempar dari atas punggung kuda, dan

karena kaki mereka masih terlibat, mereka pun terseret

sampai beberapa mil jauhnya sebelum kuda mereka dapat

ditenangkan dan mereka dapat membebaskan diri, dengan

tubuh penuh luka dan babak belur! Tentu saja mereka

menjadi marah sekali dan setelah mereka mampu menguasai

kuda mereka, lima orang itu kembali ke tepi sungai, akan

 

tetapi dua orang dara yang cantik jelita dan bengal itu sudah

tidak nampak lagi batang hidungnya.

Berita tentang peristiwa itu tersiar di kalangan perajurit

dalam pasukan pemerintah Ceng dan lima orang itu menjadi

bahan tertawaan mereka. Akan tetapi, ketika Pangeran Huang

Thai Ci mendengar tentang dua orang dara itu, hatinya

tertarik bukan main. Dia adalah seorang pria yang suka sekali

mendekati wanita cantik, seorang mata keranjang dan

penakluk wanita yang terkenal karena memang dia gagah

perkasa, berwajah tampan dan bertubuh tegap. Kenyataan

bahwa dua orang dara itu termasuk keluarga suku yang tidak

bersahabat, yang tentu akan menyerang setiap orang asing

yang memasuki wilayah mereka, tidak membuat pangeran

mata keranjang dan petualang asmara ini menjadi gentar.

Pangeran Huang Thai Ci ingin sekali berkenalan dengan

dua orang dara itu. Dia lalu mengutus pembantupembantunya

yang cerdik dan pandai untuk melakukan

penyelidikan, siapa adanya dua orang dara itu dan kapan

kiranya ia dapat bertemu dan berkenalan dengan mereka

bertiga saja. Petugas itu melakukan penyelidikan dan segera

melaporkan bahwa dua orang dara itu bernama Ta Giok dan

Siauw Giok, dua orang puteri kepala suku itu dan melaporkan

pula kebiasaan dua orang dara itu berburu binatang di dalam

hutan dalam waktu-waktu tertentu.

Mendengar laporan ini, sang pangeran lalu berangkat

seorang diri. Dengan penuh keberanian dan menyembunyikan

kudanya di dalam sebuah guha di tepi hutan di mana dua

orang gadis itu akan datang berburu, dan diapun mengenakan

kulit harimau yang sudah dipersiapkannya, dan menunggu di

tengah jalan. Tak lama ia menunggu. Sesuai dengan laporan

yang diterimanya, terdengar derap kaki kuda dan tak lama

kemudian dua orang dara itu nampak menunggang kuda

perlahan-lahan, membawa belasan ekor kelinci dan ayam

hutan hasil buruan mereka, dan mereka lewat sambil

 

bercakap-cakap dan bersendau-gurau penuh kegembiraan.

Pangeran Huang Thai Ci mempersiapkan diri di balik semaksemak

belukar, dan pada saat dua ekor kuda itu t iba di

depannya, dia meloncat ke depan sambil mengeluarkan

gerengan yang nyaring.

Biarpun terkejut, dua ekor kuda itu agaknya tahu bahwa

yang muncul dan menggereng ini bukan harimau aseli. Akan

tetapi tidak demikian dengan dua orang dara itu. Siauw Giok

menjadi demikian kagetnya sehingga ia membedal kudanya

dan kabur meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi,

penuh rasa takut karena seolah-olah merasa ada harimau

mengejar di belakangnya! Memang demikianlah orang yang

dicengkeram rasa takut.

Ta Giok lebih tabah daripada adiknya, akan tetapi ia pun

terpaksa harus mencabut pedangnya karena tidak mungkin

lagi mempergunakan busur dan anak panahnya. Harimau itu

terlampau dekat dan sebelum ia siap dengan busur dan anak

panahnya, harimau itu dapat menyerangnya lebih dahulu.

Dengan gagah sekali, dara ini siap dengan pedang di tangan,

menghadapi harimau itu.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan heran

rasa hatinya ketika ia melihat harimau itu t iba-tiba dapat

bangkit berdiri di atas kedua kaki belakang, seperti seorang

manusia! Ta Giok adalah puteri kepala suku yang masih

terbelakang dan tentu saja ia percaya akan tahyul. Melihat

betapa ada harimau dapat berdiri seperti manusia ia pun

segera menduga bahwa tentu ia berhadapan dengan seekor

harimau jadi-jadian atau seorang siluman! Ketabahannya

luntur dan ia pun memandang pucat dengan tubuh agak

menggigil. Apalagi ketika tiba-tiba harimau itu dapat

mengeluarkan suara ketawa, ia semakin takut lagi.

Harimau itu tiba-tiba bergerak dan terlepaslah kulit harimau

itu dan kini yang nampak berhadapan dengan dirinya adalah

seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali! Pemuda itu,

 

Pangeran Huang Thai Ci, dengan sigapnya melompat ke

depan, sekali renggut dia sudah merampas pedang dari

tangan Ta Giok yang masih terpesona dengan tangan kirinya,

lalu tangan kanannya meraih dan dia memondong tubuh Ta

Giok dar i punggung kuda. Dara itu meronta-ronta, akan tetapi

dia sama sekali tidak berdaya dalam dekapan Huang Thai Ci

yang pandai merayu. Dihujani rayuan dan belaian pemuda

yang sudah amat menarik hatinya itu, akhirnya Ta Giok

bertekuk lutut, takluk dan tidak melawan lagi, bahkan

menyambut pencurahan cinta birahi Pangeran Huang Thai Ci

dengan penuh gairah dan

semangat pula.

Tanpa bicara kedua

orang muda itu

menurutkan gelora hati

penuh birahi di balik

semak belukar, di atas

rumput hijau yang lunak

tebal. Baru kemudian

Tanpa bicara kedua orang

muda itu menurutkan

gelora hati penuh birahi di

balik semak belukar, di

atas rumput hijau yang

lunak tebal.

Ta Giok bertanya dengan lembut, memandang kekasihnya

itu dengan sinar mata penuh kagum dan kasih sayang siapa

adanya pemuda itu yang demikian beraninya melakukan siasat

untuk menghadangnya. Sambil tersenyum dan merangkul

leher kekasihnya, menciumnya, pemuda itu berbisik di dekat

telinga Ta Giok.

“Aku adalah Pangeran Huang Thai Ci”

“Ahhhh…..!” Pengakuan ini membuat Ta Giok terkejut,

akan tetapi juga kagum dan girang sekali. Kekasihnya, pria

 

pertama yang menyentuhnya, adalah sang pangeran yang

sudah amat terkenal itu. Dan dia pun balas merangkul dan

keduanya kembali tenggelam ke dalam kemesraan yang

mendalam.

Kemudian mereka beristirahat, rebah di atas rumput sambil

memperkenalkan diri masing-masing. Pangeran itu membujuk

Ta Giok agar suka ikut bersama dia ke istana keluarganya. Ta

Giok merasa ragu-ragu. Kalau ayahnya atau anggauta suku

bangsanya tahu bahwa ia bukan hanya berkenalan dengan

pangeran pihak musuh, bahkan telah bermesraan dan

menyerahkan dirinya, tentu ayahnya akan marah sekali.

Bahkan kalau pangeran itu ketahuan, besar sekali

kemungkinannya Pangeran Huang Thai Ci akan dikeroyok dan

dibunuh tanpa banyak cakap lagi.

Selagi ia ragu-ragu dan belum dapat menjawab, tiba-tiba

terdengar bunyi banyak kaki kuda menuju tempat itu, diseling

teriakan-teriakan memanggil namanya! “Celaka…. mereka

datang….!” kata Ta Giok. “Cepat, kau pergilah, pangeran…..!”

Huang Thai Ci juga terkejut sekali dan maklum akan bahaya

yang mengancam, tanpa berkesempatan pamit lagi kepada

kekasihnya, cepat melompat dan lari menuju ke guha di mana

dia menyimpan kudanya, kemudian diam-diam dia kabur dari

tempat itu melalui lain jurusan.

Sementara itu, Ta Giok setelah membereskan pakaiannya,

lalu pura-pura rebah pingsan di dekat semak-semak di tepi

jalan. Ternyata rombongan itu terdiri dari belasan orang

perajurit dipimpin oleh ayahnya sendiri dan ditemani oleh

Siauw Giok yang menjadi penunjuk jalan.

Ayahnya segera melompat turun dan bersama Siauw Giok

menyadarkan Ta Giok. Kepala suku itu menghujaninya dengan

pertanyaan di mana adanya harimau itu, akan tetapi karena

khawatir kalau-kalau ayahnya merasa curiga, Ta Giok hanya

menggeleng kepala ketakutan dan pura-pura tidak mampu

bicara saking takutnya. Mereka membawa Ta Giok pulang dan

 

dara ini dapat menyimpan rahasianya, hanya menyimpan

pertemuannya dengan Pangeran Huang Thai Ci itu sebagai

sebuah kenangan yang manis dan indah sekali. Akan tetapi

ayahnya bukan orang bodoh dan diam-diam ayahnya menaruh

hati curiga karena terjadi perubahan dalam sikap Ta Giok yang

suka duduk termenung. Karena itu, ayahnya lalu memaksanya

untuk menikah dengan seorang kepala suku yang masih muda

dan yang menjadi sahabatnya.

Pernikahan Ta Giok ini terdengar pula oleh Pangeran Huan

Thai Ci. Tentu saja hati pangeran ini merasa kecewa sekali

dan ketika terbuka kesempatan, yaitu ketika kaisar mengambil

keputusan untuk membasmi kelompok-kelompok suku bangsa

yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Ceng-tiauw,

pangeran ini lalu mengepalai sendiri pasukan yang kuat dan

dia lalu menyerbu ke perkampungan suku bangsa di mana Ta

Giok ini menjadi isteri kepala sukunya. Dia membasmi kepala

suku itu dan berhasil merampas Ta Giok dan Siauw Giok.

Pertemuan dua hati yang dipisahkan keadaan ini amat

menggembirakan kedua pihak. Dengan penuh kasih sayang,

Huang Thai Ci lalu mengangkat Ta Giok menjadi isterinya, dan

Siauw Giok lalu dinikahkan pula dengan adiknya, yaitu

Pangeran Tuo Ek Kun.

Sifat mata keranjang Pangeran Huang Thai Ci memang

sudah tidak ketulungan lagi! Biarpun d ia sudah menguasai Ta

Giok sebagai isterinya, namun melihat betapa Siauw Giok yang

menjadi adik iparnya kini pun nampak cantik jelita menyaingi

kakaknya, dia tidak dapat menahan gelora hatinya. Dan

karena adiknya pun merupakan seorang pria yang tidak

pantang melakukan pelanggaran susila, maka terjadilah tukarmenukar

antara kakak beradik ini! Bukan merupakan ha l yang

aneh lagi kalau seringkali Ta Giok menemani adik iparnya

dalam kamarnya, sebaliknya Siauw Giok tidur bersama Huang

Thai Ci’ Peristiwa seperti itu tidak jarang terjadi di dalam

istana yang megah dan mulia, bahkan seringkali di tempattempat

yang dianggap penuh kemuliaan dan kemewahan ini

 

terjadi pelanggaran susila yang lebih hebat dibandingkan

dengan yang terjadi di luar tembok istana. Hal ini adalah

karena kebebasan para wanita di dalam tembok istana amat

terbatas, dan kehidupan mereka itu seperti di dalam rumah

penjara saja, di dalam tahanan walaupun mereka berenang

dalam kemewahan. Dan para pangeran, keluarga kaisar, yang

merasa bahwa mereka berada di puncak kekuasaan, kadangkadang

tidak pantang melakukan hal-hal yang tidak pantas,

bahkan yang tidak akan dilakukan oleh seorang petani gunung

yang bagaimana terbelakang dan bodoh sekalipun. Tentu saja

hal-hal semacam itu tidak pernah dicatat di dalam sejarah.

Sejarah orang-orang besar selalu penuh dengan kebaikankebaikan

dan kebersihan-kebersihan belaka, penuh dengan

catatan perbuatan yang patut-patut dan mulia.

Demikianlah, ketika Pangeran Huang Thai Ci diangkat

menjadi kaisar menggantikan ayahnya dan berjuluk Kaisar

Thai Cung dari kerajaan Ceng, Ta Giok yang berasal dari

keluarga kepala suku bangsa kecil sederhana itu diangkat pula

menjadi Permaisuri! Dan ia masih menjadi permaisuri yang

amat berpengaruh dan berkuasa ketika balatentara Mancu

terus mengancam kota raja Kerajaan Beng-tiauw yang sudah

hampir runtuh itu.

Dalam keadaan Kerajaan Beng-tiauw yang sudah makin

lemah itu, tentu saja roda pemerintahan tidak dapat berjalan

lancar. Para pembesar di daerah-daerah seperti terlepas dari

pengaruh kota raja dan mereka itu seolah-olah berdiri sendiri,

menjadi raja-raja kecil di daerah masing-masing yang berada

di dalam kekuasaan mereka. Dan dalam hal ini pun, hukum

rimba tetap berlaku. Pembesar yang dekat dengan pasukan,

terutama pembesar yang menguasai atau mengepalai pasukan

yang terkuat, dialah yang menjadi raja tanpa mahkota!

Dengan modal kekuatan pasukannya, dia dapat memaksakan

kehendaknya di daerah yang dikuasainya dan tidak ada siapa

pun yang berani menentangnya. Hal ini terjadi karena atasan

mereka yang lebih kuat dan besar kekuasaannya berada di

 

kota raja dan kota raja sedang kacau dilanda pemberontakanpemberontakan.

Akan tetapi, di mana ada kekeruhan, di situ pasti ada yang

ingin memancing ikan di air keruh, manusia-manusia yang

ingin memperoleh keuntungan dari keadaan kacau itu. Setiap

kali negara mengalami kekacauan, pasti muncul oknumoknum

yang mencari sasaran dan ingin memperoleh

keuntungan diri sendiri melalui kekacauan-kekacauan itu. Hal

ini terjadi karena terbukanya kesempatan-kesempatan bagi

mereka. Karena itu, ada benarnyalah kalau dikatakan bahwa

kesempatan menimbulkan kemaksiatan! Demikian pula

dengan para pembesar tinggi di kota raja. Mereka melihat

kesempatan terbuka dengan adanya penguasa-penguasa

daerah yang berdiri sendiri di daerah-daerah. Dengan

pengaruh dan kekuasaan mereka, para pembesar tinggi ini

mendatangi para pembesar daerah, menggertaknya dan

mengancamnya dengan tuduhan korupsi dan kalau mereka

melawan, akan dituduh pemberontak! Tentu saja, di jaman

merajalelanya pemberontakan itu, para pejabat daerah paling

takut dituduh pemberontak dan untuk meredakan kemarahan

dan ancaman para pejabat tinggi yang datang dari kota raja

untuk “mencari-cari kesalahan” itu, para pembesar daerah

tidak sayang untuk mengeluarkan banyak harta guna

menyogok. Maka merajalela pula penyogokan dan penyuapan,

agar para pemeriksa dari kota raja itu melaporkan yang baikbaik

saja mengenai daerah mereka!

Di kota Thian-cin yang dekat dengan kota raja, hal serupa

juga terjadi. Para pejabat kota ini, tidak terkecuali,

menggunakan keadaan selagi pemerintah pusat lemah,

mereka ini hidup sebagai raja-raja kecil. Sebagai seorang

kepala jaksa, maka Pui Kian atau Pui Taijin (Pembesar Pui),

tidak mau ketinggalan berlumba mengumpulkan kekayaan dan

memperkuat kedudukan. Dipeluknya komandan pasukan

keamanan kota Thian-cin sebagai kawan akrabnya dan

mereka berdualah yang seakan-akan menjadi raja-raja kecil di

 

Thian-cin. Pui Taijin sebagai seorang kepala jaksa, berhak

untuk menangkap siapa saja dan menuntutnya dengan

tuduhan-tuduhan palsu atau tidak, dan men jebloskan mereka

yang dianggap tidak taat atau menentang ke dalam tahanan

penjara. Dan komandan pasukan itu, Ji-ciangkun (Perwira Ji),

berdiri di belakang sang jaksa bersama pasukannya dan tidak

seorang pun berani menentang atau melawan mereka!

Dengan cara demikian, mudah saja bagi Pui Kian untuk

memeras para hartawan, merampas tanah-tanah pertanian

yang luas dan melakukan segala macam penindasan lagi.

Karena itu, tidaklah mengherankan apabila dia menjadi

panik setengah mati ketika mendengar berita pengumuman

bahwa pekan depan akan datang seorang pembesar tinggi

dari kota raja untuk mengadakan pemer iksaan di Thian-cin!

Dan dia mendengar bahwa Kwa Taijin (Pembesar Kwa) itu

adalah seorang pembesar tinggi yang keras dan suka

mengambil tindakan tegas, juga memiliki kedudukan yang

kuat di kota raja! Tentu saja dia menjadi panik dan ketakutan,

maka cepat dia menemui 3i Ciangkun, sekutunya di Thian-cin.

“Ciangkun, engkau harus dapat menyelamatkan aku sekali

ini. Aku gelisah sekali menghadapi pemeriksaan Kwa Taijin.

Kabarnya dia keras sekali dan suka bertindak tegas!” demikian

katanya dengan muka agak pucat membayangkan

kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dapat menimpa

dirinya.

Wajah pembesar militer itu juga nampak gelisah. “Pui

Taijin, permintaanmu itu sungguh membingungkan hatiku.

Bagaimana aku akan dapat menolongmu? Aku sendiri pun

bingung mendengar dia akan muncul di sini. Sungguh heran,

bagaimana dia tahu-tahu akan melakukan pemeriksaan di sini?

Aku khawatir kalau-kalau ada orang yang mengadu ke kota

raja.”

 

“Apa….. apa maksudmu? Apakah engkau tidak dapat

mempergunakan kekuasaan dan pengaruhmu untuk….. untuk

sekedar melemahkan semangatnya?”

“Aih, kau tidak tahu, Taijin. Pembesar she Kwa itu amat

berkuasa dan hatinya seperti terbuat dari baja. Kalau dia

sedang tidak senang, biarpun disogok harta berapa banyak

sekalipun, dia t idak akan goyah. Dan aku bahkan pernah

menjadi korban ketegasannya. Ketahuilah bahwa aku dipindah

ke Thian-cin dari kota raja juga karena dia!”

“Apa….. apa maksudmu?” tanya pembesar she Pui itu

dengan kaget dan semakin panik.

Perwira itu menarik napas panjang, mengenang kembali

pengalamannya yang pahit ketika dia menjadi korban

ketegasan Kwa Taijin. Ketika itu, lima tahun yang lalu,

kedudukannya adalah seorang panglima di kota raja yang

berkedudukan baik. Akan tetapi, pada suatu hari dia telah

melakukan kesalahan, menggunakan kedudukannya untuk

menekan keluarga yang sejak lama menjadi musuhnya. Dia

berhasil menggunakan kekuasaannya untuk menuntut

keluarga itu sehingga mereka ditahan dan dihukum dengan

tuduhan melakukan perlawanan kepada alat negara dan

memberontak, dan dia berhasil menguasai semua harta milik

musuh itu. Dan gara-garanya hanyalah karena pu-teranya

bentrok dan berkelahi dengan putera keluarga itu, dan

puteranya itu kalah dalam perkelahian itu dan terluka. Akan

tetapi, akhirnya urusan itu sampai ke tangan Kwa Taijin yang

turun tangan menyelidiki dan mengadilinya melalui pengadilan

kota raja. Dalam urusan ini, dia dianggap bersalah. Keluarga

musuh itu dibebaskan, harta mereka dikembalikan dan dia

sendiri lalu diturunkan pangkatnya dan dipindahkan ke Thiancin.

Dan kini, sahabatnya ini minta kepadanya agar mau

melindunginya dari Kwa Taijin! Tentu saja nyalinya belum apaapa

sudah menjadi kecil. Semua ini dia ceritakan kepada Pui

Taijin yang menjadi semakin panik.

 

“Celaka, kalau begitu, bagaimana baik nya?”

“Jangan khawatir, sahabatku. Sebaik-baiknya orang,

sekeras-kerasnya orang, pasti ada cacatnya dan ada

kelemahannya. Kukatakan tadi bahwa kalau hatinya sedang

tidak senang, Kwa Taijin itu dapat keras seperti baja dan

sukar sekali dibelokkan kehendak dan keputusannya, bahkan

disogok pun tidak dapat. Akan tetapi kalau hatinya sedang

senang, dia pun murah hati sekali. Karena itu, engkau harus

berusaha menyenangkan hatinya.”

“Bagaimana caranya, ciangkun? Ingat, ini kepentingan kita

berdua. Engkau harus membantuku memikirkan jalan yang

baik agar kita berdua dapat lolos dari bahaya. Bagaimana

caranya untuk menyenangkan hatinya? Perempuan? Makan

minum yang lezat?”

Perwira itu menggeleng kepala. “Bukan, dia bukan tukang

main perempuan, bukan pula pelahap makanan lezat. Akan

tetapi dia punya kelemahan terhadap batu-batu permata yang

indah, terutama sekali batu kemala dan mutiara. Terhadap

dua macam batu permata itu, melebihi batu-batu mulia yang

lain, dia tergila-gila.”

“Batu giok (kemala)? Mutiara? Wah…. alangkah

mahalnya….!”

“Apa artinya harta benda, taijin? Habis harta, bisa cari lagi.

Kalau kehilangan kedudukan, apalagi dihukum, kita akan mati

seperti tikus dalam jebakan.”

Pembesar itu mengangguk-angguk seperti ayam makan

jagung. “Kau benar, kau benar! Baiklah, mulai sekarang aku

akan mengumpulkan batu giok dan mutiara, akan kubeli dari

semua pedagang batu permata. Akan kukumpulkan yang

paling bagus, biar sampai habis uang simpananku asal hatinya

menjadi senang.”

Pada saat itu, di dalam kegelapan malam, ada bayangan

orang mengangguk-angguk pula ketika mendengar

 

percakapan dua orang pembesar ini. Orang itu tadi

menyelinap dan meloncat seperti seekor kucing saja, tanpa

mengeluarkan suara dan tidak kelihatan oleh para penjaga.

Orang itu bertubuh ramping, berpakaian serba hitam dan

memiliki gerak-an luar biasa ringan dan cepatnya. Bayangan

hitam ini adalah Kim Cui Hongl Sepasang matanya mencorong

mengerikan ketika nampak berkilat.

Seperti telah kita ketahui, gadis ini turun dari sebuah di

antara puncak Pegunungan Lu-liang-san, berpisah dari guru

nya, Toat-beng Hek-mo, membawa buntal an pakaian dan

juga ilmu kepandaian t inggi yang dipelajarinya selama tujuh

tahun setiap hari tak pernah berhenti secara tekun sekali.

Tentu saja ia langsung menuju ke Thian-cin. la melakukan

penyelidikan tentang jenazah ayahnya dan suhengnya, namun

ia gagal dalam penyelidikannya. Tak seorang pun tahu di

mana kuburnya dua orang itu. Tadinya ada niat di hatinya

untuk menghubungi saudara-saudara seperguruannya, akan

tetapi niat ini lalu d ibatalkannya. Tidak, la t idak akan mencari

teman atau pembantu dalam usahanya membalas dendam.

Akan ditanganinya sendiri dan andaikata gagal pun akan

ditanggungnya sendiri! Balas dendam ini merupakan satusatunya

tujuan sisa hidupnya.

Pertama-tama ia harus dapat mencari dana untuk

penyelidikan dan usahanya membalas dendam. Ia tahu ke

mana harus mencari uang. Ke rumah gedung keluarga jaksa

Pui! Ke mana lagi kalau bukan ke rumah musuh besar nomor

satu itu? Mengambil harta dari situ merupakan sebagian

pembalasan dendamnya.

Demikianlah, dengan menggunakan ilmu kepandaiannya, ia

berhasil menyelinap dan naik ke atas wuwungan rumah

gedung keluarga Pui Taijin. Secara kebetulan saja ia melihat

dan mendengar percakapan antara Kepala jaksa Pui Kian dan

ji Ciangkun. Tentu saja percakapan antara kedua orang itu

amat penting baginya. Dari percakapan itu ia dapat

 

menangkap bahwa akan ada pembesar tinggi dari kota raja

datang ke Thian-cin dan agaknya Kepala jaksa Pui bersama

sekutunya yang berpakaian perwira itu akan berusaha

mengambil hati pembesar tinggi itu dengan jalan menyogok

dengan barang-barang yang amat disukainya, yaitu batu-batu

mulia berupa batu kemala dan mutiara yang tentu amat mahal

harganya. Kebetulan sekali, pikirnya dan kepalanya yang

penuh dengan siasat terdorong oleh keinginannya membalas

dendam itu sudah diputarnya dan ia sudah memperoleh siasat

yang baik sekali. Sekali turun tangan, ia harus dapat

menguasai barang-barang berharga itu dan juga memukul

keluarga Pui! Setelah selesai urusan ini, baru ia akan turun

tangan langsung kepada Pui Ki Cong yang belum dilihatnya di

gedung itu.

Diurungkannya niatnya mencuri barang berharga dari

gedung itu dan pada keesokan harinya, kembali ia melakukan

penyelidikan tentang keluarga Pui dan tentang segala sepakterjang

kepala jaksa itu. Dan ia memperoleh keteranganketerangan

yang amat penting. Kiranya sudah empat tahun

lebih Pui Kongcu atau Pui Ki Cong tidak tinggal lagi di Thiancin,

dan menurut keterangan yang diperolehnya, musuhnya

nomor satu itu telah pergi pindah. kini tinggal di kota raja,

menduduki jabatan tinggi dan penting di istana! Dan tentang

Jaksa Pui sendiri, ia memperoleh berita bahwa pembesar itu

kini seperti raja kecil, seolah-olah dialah yang paling ber kuasa

di Thian-cin, menentukan segala hukum yang berlaku di

Thian-cin, berbuat sewenang-wenang mengandalkan

kedudukannya dan dilindungi pula oleh sekutunya, yaitu Ji

Ciangkun, komandan pasukan keamanan Thian-cin. Juga gadis

yang cerdik ini berhasil mendengar percakapan antara dua

orang pegawai kabupaten yang sudah tua tentang diri Kwa

Taijin, pembesar tinggi yang datang dari kota raja untuk

mengadakan peneliti an dan pemeriksaan di Thian-cin dalam

pekan depan ini. Cui Hong mengangguk-angguk dan ia mulai

 

memintal siasat yang direncanakannya seperti seekor labalaba

memintal jaring laba- labanya dengan teliti dan tekun.

Beberapa hal penting dicatatnya dan dikumpulkannya dari

pendengarannya dalam percakapan Pui-taijin dan Ji Ciangkun,

dan dari hasil penyelidikannya, yaitu

Kwa Taijin, pembesar yang keras dan tegas dari kota raja

akan tetapi memiliki kelemahan terhadap batu-batu permata,

akan datang mengadakan pemer iksaan dan agaknya

pembesar tinggi itu sudah mendengar akan sepak-terjang Pui

Taijin di Thian-cin. Pui Taijin dibantu oleh sekutunya, Ji

Ciangkun, sudah mempersiapkan diri untuk menyogok

pembesar Kwa itu dengan batu-batu kemala dan mutiara yang

indah-indah untuk menyenangkan hatinya agar terlepas dari

pengamatan dan tuntutan, tentu saja.

Malam terakhir dari hari kedatangan Kwa Taijin, kembali

Pui Kian dan Perwira Ji mengadakan pertemuan di dalam

kamar Jaksa Pui. Kepala jaksa itu memperlihatkan hasil

usahanya mengumpulkan batu-batu kemala dan mutiara, dan

membuka sebuah bungkusan kain merah. Di dalam bungkusan

itu terdapat sebuah peti berukir indah dari kayu berwarna

hitam.

“Ciangkun, coba kauperiksa, apakah barang-barang ini

kiranya cukup untuk menyenangkan hati Kwa Taijin?” kata Pui

Kian sambil tersenyum bangga. Ditaruhnya peti itu di atas

meja dan ketika peti dibuka, Ji Ciangkun mengeluarkan seruan

kagum. Di dalam peti itu nampak benda-benda indah dari batu

giok yang berwarna kehijauan, gilang-gemilang dengan ukiran

halus sekali. Ada sepasang naga berebut mustika terbuat dari

batu giok kemerahan, ada burung merak hijau, burung hong

terbang sepasang juga dari giok hijau, ada pula gelang-gelang

batu giok yang amat halus dan indah, semua itu diukir dengan

halus dan pengikatnya dari emas putih. Benda-benda ukiran

yang demikian indahnya, terbuat dari batu-batu giok murni,

sukar ditaksir berapa harganya. Tentu amat mahal! Dan di

 

samping itu ada pula perhiasan-perhiasan terbuat dari batubatu

mutiara pilih an. Ada kalung mutiara, ada pula giwang

yang terbuat dari mutiara bermacam warna, dan ada pula

gelang dari mutiara hitam yang tentu amat mahal harganya.

“Ah, selama hidupku belum pernah aku melihat kumpulan

giok dan mutiara seindah ini, Taijin!” kata Ji Ciangkun dengan

kagum. “Kalau dia tidak puas dan senang dengan bendabenda

ini, aku sendiri tidak tahu harus memberi yang

bagaimana! Hebat sekali!”

“Tentu saja hebat! Benda-benda ini adalah barang-barang

pilihan, ciangkun. Bahkan ukiran naga dan burung hong

kemala ini tadinya adalah benda dari kamar pusaka istana

kaisar yang !olos keluar! Tak ternilai harganya dan untuk

mengumpulkan benda-benda ini, apalagi dalam waktu tiga

empat hari ini, uangku tidak cukup dan a ku harus pinjam dari

banyak kawan.”

“Ah, apa artinya uang, Taijin? Yang penting, kedudukanmu

masih selamat dan engkau masih tetap berkuasa. Apa

sukarnya kelak mencari uang lagi? Yang penting, harimau dari

kota raja itu harus dibikin senang hatinya agar tidak mencakar

dan menggigit!” Ji Ciangkun mengakhiri kata-katanya sambil

tertawa.

Pui Taijin juga tertawa bergelak dan menutup kembali peti

itu. “Ha-ha-ha, engkau benar. Harimau! Dia memang seperti

harimau yang galak. Akan tetapi harimau pun akan kehilangan

galaknya kalau dia diberi daging kesayangannya dan perutnya

kenyang, bukan? Ha-ha-ha!”

Pui Taijin nampak gembira sekali karena kekhawatirannya

hilang atau setidaknya banyak berkurang setelah dia

memperoleh kepastian sahabat dan sekutunya bahwa hadiah

itu cukup untuk menyenangkan hati Kwa Taijin yang

ditakutinya itu. Dia membungkus lagi peti hitam itu dan

meletakkan bungkusan merah ke da lam almar i yang berdiri di

sudut kamar itu, di belakang tempat tidurnya.

 

“Mari kita rayakan hasil ini, ciangkun. Hatiku terasa lega

dan aku berterima kasih padamu atas nasihatmu. Kelak aku

tentu tidak akan melupakan budimu ini. Mari, mar i kita makan

minum sepuasnya di ruangan makan.” Kepala jaksa itu

mengajak sekutunya untuk mengadakan pesta di kamar

makan.

“Akan tetapi, engkau tentu tidak akan meninggalkan begitu

saja barang-barang yang amat berharga itu di dalam kamar

ini, Taijin!” Ji Ciangkun berseru ketika mereka hendak

meninggalkan kamar. Pui Taijin tersenyum lebar dan

membuka pintu kamar. “Kau lihat, aku tidaklah sebodoh itu,

ciangkun. Kamar itu kusuruh jaga siang malam. Aku selalu

berhati-hati menjaga diriku, dan setiap hari, kamar ini dijaga

oleh enam orang penjaga secara bergilir. Mereka berada di

luar kamar dan siapa pun, kecuali aku dan keluargaku, tidak

mungkin dapat memasuki kamar ini. Belum lagi diingat bahwa

di sekeliling gedung kami ini selalu d ijaga pengawal-pengawal

siang malam. Penjahat yang berani mencoba memasuki

gedung kami sama saja dengan bosan hidup dan mau bunuh

diri. Ha-ha-ha!” Ji Ciangkun juga tertawa dan mengangguk

kagum ketika dia melihat enam orang penjaga yang

bersenjata lengkap memang nampak berjaga di depan kamar

itu. Mereka lalu meningalkan kamar yang hanya ditutupkan

begitu saja daun pintunya oleh Pui Taijin, dan menuju ke

ruangan makan di mana telah menanti pelayan-pelayan

wanita yang siap melayani mereka berdua makan minum

dengan hidangan-hidangan yang masih panas dan mewah.

Para penjaga di luar kamar itu, mau pun yang berjaga di

sekeliling gedung Pui Taijin, adalah penjaga-penjaga biasa

yang menjaga keamanan keluarga pembesar itu dari

gangguan orang-orang biasa yang hendak memusuhi keluarga

itu. Tentu saja mereka itu tidak ada artinya bagi seorang

pengunjung seperti Kim Cui Hong yang sejak tadi sudah

mengintai di antara wuwungan rumah dan mendengarkan,

bahkan melihat ke dalam kamar ketika Jaksa Pui dan Ji

 

Ciangkun bercakap-cakap dan melihat kumpulan batu permata

yang hendak diserahkan sebagai sogokan kepada pembesar

Kwa Taijin yang akan datang besok. Selagi dua orang

pembesar itu bersenang-senang makan minum di ruangan

makan dilayani oleh pelayan-pelayan wanita yang muda-muda

dan cantik-cantik, Cui Hong yang memang sejak tadi sudah

mempersiapkan rencana siasatnya, melayang turun ke dalam

kamar tidur pembesar itu. Ia membuka genteng dan

membongkar langit- langit, melayang turun bagaikan seekor

burung walet ke dalam kamar itu sehingga sama sekali tidak

terlihat atau terdengar oleh para penjaga.

Cui Hong menggendong sebuah buntalan yang kini

diturunkannya dari atas punggung dan diletakkannya di atas

meja. Ia pun lalu membuka almari di belakang tempat tidur,

mengambil buntalan kain merah yang tadi sudah dilihatnya

ketika ia melakukan pengintaian. Dengan tenang namun cepat

dibukanya buntalan itu dan dengan hati-hati agar tidak

mengeluarkan suara, dibukanya peti hitam yang penuh

dengan barang-barang indah dari batu giok dan mutiara.

Semua benda itu dikeluarkan ke atas meja, kemudian peti itu

ia isi dengan isi buntalannya sendiri yang terisi batu-batu

biasa. Setelah penuh dan beratnya sama dengan berat

barang-barang berharga tadi, ditutupnya kembali peti Itu dan

dibuntalnya kembali dengan kain merah, kemudian

dikembalikan benda itu ke dalam almar i. Barang-barang

berharga itu kini dibuntalnya dan digendongnya di atas

punggung. Setelah memeriksa dengan telit i dan merasa yakin

bahwa ia tidak meninggalkan bekas-bekas yang

mencurigakan, Cui Hong lalu meloncat ke atas, tangannya

menyambar tiang melintang dan menerobos melalui langitlangit

yang sudah dibongkarnya dan melalui genteng-genteng

yang sudah dibukanya. Ia membetulkan kembali langit-langit

dan genteng dari luar, kemudian tersenyum puas melihat hasil

perbuatannya. Ia telah melakukan siasat yang telah

direncanakannya dengan sempurna. Seperti sebatang pedang

 

yang tajam kedua sisinya, sekali bergerak ia telah

mendatangkan dua hasil yang baik. Pertama, ia memperoleh

barang-barang berharga yang akan dapat menjamin biaya

semua usahanya membalas dendam, memperolehnya dari

keluarga Pui Ki Cong musuh besarnya nomor satu, dan ke

dua, ia pun dapat menjerumuskan Jaksa Pui ke dalam

kesulitan kalau peti yang sudah diganti isinya dengan batubatu

kali itu besok diserahkan kepada pembesar tinggi dari

kota raja!

Memang tadinya tidak sedikit pun terkandung dalam hati

Cui Hong untuk mencelakakan Kepala Jaksa Pui ini, kecuali

mengambil harta untuk dipakai sebagai biaya mencari dan

membalas dendam kepada empat orang musuhnya. Akan

tetapi, ketika ia mendengar bahwa putera jaksa itu tidak

berada lagi di situ, dan ketika secara kebetulan selagi

melakukan penyelidikan hendak mencuri harta ia mendengar

percakapan antara Jaksa Pui itu dengan Perwira Ji, timbullah

rencananya untuk mencelakakan Pui Taijin. Bagaimanapun

juga, kepala jaksa ini adalah ayah Pui Ki Cong dan telah

membantu perbuatan puteranya tujuh tahun yang lalu! Ia

maklum bahwa belum tentu usahanya mendatangkan

kesulitan kepada keluarga Pui ini berhasil. Bisa saja gagal,

misalnya, kepala jaksa itu kebetulan memer iksa peti atau

melihat kembali isi peti sebelum diserahkan kepada pembesar

tinggi dari kota raja itu. Andaikata benar demikian, ia pun

tidak akan terlalu kecewa karena tujuan utamanya adalah

mencari dana untuk biaya usahanya membalas dendam dan

dalam hal itu ia telah berhasil dengan baik. la akan menanti

saja sampai besok dan menyelidiki hasil perbuatannya malam

ini.

Agaknya memang nasib Cui Hong sedang baik atau nasib

Kepala Jaksa Pui Kian sedang sial. Peti hitam itu tak pernah

dibuka lagi oleh pembesar itu sampai t iba saatnya peti itu

diserahkan kepada Kwa Taijin dari kota raja!

 

Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya

rombongan yang dinanti-nanti dengan jantung berdebar

tegang oleh para pejabat di Thian-cin itu tiba. Sebuah kereta

berkuda empat yang dikawal oleh pasukan pengawal kota raja

yang berpakaian indah dan gagah sebanyak lima puluh orang.

Pada waktu itu, para pembesar kota raja tidak berani rne

lakukan perjalanan ke luar kota raja tanpa pengawal yang

kuat, karena banyak nya kerusuhan dan pemberontakan yang

timbul di mana-mana.

Biarpun di Thian-cin ada kepala daerah yang sebetulnya

memiliki kedudukan lebih tinggi dari Kepala Jaksa Pui, namun

pengaruh dan kekuasaan kepala daerah Teng itu kalah oleh

Pui Taijin sehingga ketika para pembesar melakukan

penyambutan, kepala daerah ini diam saja, bahkan

menganjurkan ketika Pui Taijin mempersilakan tamu agung itu

untuk tinggal di gedungnya. Diam-diam Kwa Taijin mencatat

sikap ini. Memang dia sudah mendengar desas-desus dan

keluhan ra kyat di Thian-cin yang sampai ke kota raja tentang

pembesar she Pui ini, yang menurut kabar h idup sebagai raja

yang berkuasa penuh di Thian-cin! Maka, melihat sikap Pui

Taijin dan mendengar penawarannya agar dia suka tinggal di

gedung pembesar itu, dia pun menerimanya karena hal itu

akan memudahkan usahanya untuk melakukan penelitian dan

penyelidikan.

Penyambutan di gedung Pui Taijin amat meriah. Hal ini

memang sudah dipersiapkan lebih dahulu oleh Pui Taijin.

Pembesar tinggi Kwa dari kota raja itu disambut seperti orang

menyambut kaisar sendiri saja. Dan begitu tiba di rumah

gedung Pui Taijin yang luas, pembesar dari kota raja itu

bersama para pengiringnya lalu dijamu dengan hidanganhidangan

yang mewah dan lezat. Bahkan lima puluh orang

pengawal itupun dijamu d i ruangan lain oleh kepala pengawal

yang dikepalai oleh Ji Ciangkun, komandan pasukan

keamanan di Thian-cin.

 

Di dalam kesempatan ini, setelah memberi sambutan

selamat datang dan penghormatan dengan cawan-cawan

arak, disaksikan oleh para pembesar lain, dengan wajah

penuh senyum, Pui Kian lalu menyerahkan buntalan kain

merah terisi peti hitam itu kepada Kwa Taijin.

“Mendengar akan kesukaan taijin, maka sebagai

penyambutan selamat datang dan penghormatan, saya

haturkan sedikit barang-barang kesenian terbuat dari batu

kemala dan mutiara ini, harap taijin sudi menerimanya dengan

senang hati.”

Kwa Taijin adalah seorang yang paling suka mengumpulkan

barang-barang terbuat dari batu kemala dan mutiara.

Mendengar ucapan itu, dengan mata berseri dia memandang

ke arah buntalan kain merah itu.

“Batu giok dan mutiara? Ah, Pui Taijin terlalu sungkan,”

katanya sambil menerima buntalan itu, meletakkannya ke atas

meja dan karena ingin sekali melihat benda-benda yang tentu

amat indah itu, dibukanya bundalan itu, kemudian

dikeluarkannya peti kecil hitam itu, diikuti oleh pandang mata

Pui Taijin yang tersenyum gembira karena hadiahnya diterima

dengan sikap demikian gembira oleh pembesar tinggi yang

amat ditakuti ini.

Peti hitam itu dibuka o leh Kwa Taijin sendiri dan….. wajah

Kwa Taijin berubah keruh, sinar matanya penuh kemarahan,

sebaliknya wajah Pui Taijin menjadi pucat, matanya terbelalak

dan dikejap-kejapkan beberapa kali seolah-olah dia tidak

dapat percaya kepada matanya sendiri melihat betapa barangbarang

ukiran batu giok dan mutiara yang amat indah itu kini

telah berubah menjadi setumpuk batu-batu kali biasa! Juga

mereka yang duduk dekat meja itu memandang dengan

kaget. Gilakah kepala jaksa itu? Sungguh berani mati

mempermainkan Kwa Taijin dari kota raja, memberi hadiah

berupa batu-batu biasa dikatakannya perhiasan dari batu giok

dan mutiara!

 

Dapat dibayangkan betapa besar kemarahan yang

bergelora di hati Kwa Taijin. Dia merasa dipermainkan, bahkan

dihina oleh kepala jaksa yang dia dengar merupakan orang

paling berkuasa di Thian-cin ini. Dia begitu datang ke Thiancin

dihina dan dijadikan bahan tertawaan oleh kepala jaksa ini!

Diangkatnya peti terbuka itu dan dilemparkannya ke atas

lantai dengan wajah -berubah merah sekali.

“Brakkkk….!” Peti itu pecah dan isinya, batu-batu kali itu

berantakan di atas lantai. Pembesar itu lalu memutar

tubuhnya menghadapi Kepala Daerah Teng yang duduk di

dekatnya. “Teng Taijin, mari kita pergi!” Dan dia pun memberi

isarat kepada komandan pasukan pengawalnya untuk pergi

dari situ tanpa pamit kepada Pui Taijin.

Tentu saja Pui Kian tidak mampu bicara apa-apa, saking

kagetnya, heran dan takutnya. Baru setelah pembesar itu

pergi, dia berjongkok dan memunguti batu-batu itu,

mengamatinya satu-satu seperti orang kehilangan ingatan.

“Taijin, apakah yang terjadi? Bagaimana bisa menjadi batubatu

ini….?” Suara Ji Ciangkun menyadarkan Pui Taijin dan dia

pun cepat memegang tangan Ji Ciangkun.

“Ciangkun, ada….. ada yang tidak beres…..” Dan dengan

marah sekali, tanpa memperdulikan betapa para pejabat

lainnya sudah berbondong-bondong meninggalkan ruangan itu

untuk meninggalkan tempat itu agar tidak terlibat, Pui Kian

lalu berteriak memanggil kepala pasukan pengawalnya.

“Periksa mereka yang semalam berjaga di luar kamarku!

Siksa mereka agar mengaku siapa yang telah mencuri barangbarang

dari dalam peti ini. Lakukan penggeledahan di tempat

tinggal mereka!”

Dengan marah akan tetapi juga khawatir sekali Kepala

jaksa Pui mengajak Perwira Ji berunding di dalam kamarnya.

Mereka berdua juga melakukan pemeriksa an di dalam kamar

itu, akan tetapi tidak nampak tanda-tanda bahwa kamar itu

 

kebobolan. Keduanya mengambil kesimpulan bahwa yang

bermain gila tentu seorang di antara para pengawal!

Kita tinggalkan dulu dua orang pembesar yang berunding

dengan hati penuh kekhawatiran itu, dan mengikut i perjalanan

Kwa Taijin yang dengan muka merah saking marahnya kini

menuju ke gedung Kepala Daerah Teng. Karena marah dan

juga kesal hatinya, pembesar dari kota raja ini langsung saja

memasuki kamar yang sudah disediakan untuknya dan

menyatakan kepada pihak tuan rumah bahwa malam itu dia

tidak mau diganggu lagi dan baru pada keesokan harinya dia

mulai bekerja! Diam-diam Kepala Daerah Teng merasa girang

melihat adanya peristiwa aneh itu. Dia pun menduga bahwa

pasti terjadi hal-hal yang luar biasa karena dia tahu bahwa

orang she Pui itu kaya raya dan sudah biasa memberi hadiah

kepada atasannya. Tak mungkin Jaksa Pui itu sengaja

menghina Kwa Taijin. Hal ini sama dengan bunuh diri! Akan

tetapi, diam-diam dia merasa girang karena peristiwa itu

mungkin saja akan menjatuhkan Pui Taijin yang menjadi

saingan utamanya, atau setidaknya akan mengurangi

kekuasaan Pui Taijin sehingga dia sendiri akan mampu

mengembangkan kekuasaannya di Thian-cin yang sebenarnya

merupakan wilayahnya karena dialah kepala daerah di situ,

sedangkan Pui Taijin hanyalah kepala jaksa yang terhitung

anak buahnya.

0ooo-d-w-ooo0

Jilid 5

BIARPUN hatinya marah sekali akhirnya saking lelahnya,

Kwa Taijin dapat pulas juga di dalam kamarnya yang mewah,

disediakan oleh Kepala Daerah Teng. Akan tetapi lewat tengah

malam, dia terbangun. Dia terkejut melihat bayangan orang di

dalam kamarnya, dan jelas bahwa orang itu mengambil cap

kebesarannya yang terletak di atas meja, lalu orang itu

meloncat keluar dari jendela kamarnya. Kwa Taijin bangkit

 

dan mengucek-ucek matanya. Akan tetapi dia tidak bermimpi

dan cap kebesaran itu sudah lenyap dari atas meja. Kemudian

terdengar suara orang di luar kamarnya, di luar jendela dari

mana orang tadi meloncat keluar.

“Aku berhasil mengambil cap kebesarannya. Cepat larikan

cap ini kepada Pui Taijin. Cepat!”

Mendengar suara itu, Kwa Taijin kini yakin bahwa memang

ada maling memasuki kamarnya dan mencuri cap

kebesarannya. Dia lalu berteriak-teriak keras

“Maling…..! Maling…..! Tangkap…..!!”

Teriakannya disambut oleh derap kaki para pengawal yang

lari mendatangi. Kwa Taijin sendiri lari ke jendela yang

terbuka dan dia melihat bahwa empat orang penjaga yang

berada di luar jendela telah roboh pingsan! Gegerlah gedung

itu ketika para pengawal lari berserabutan untuk mengejar

dan mencari maling itu. Akan tetapi, bayangan maling itu tidak

nampak lagi.

“Cepat, antar aku ke rumah Jaksa Pui. Sekarang juga!”

Tiba-tiba Kwa Taijin memberi perintah kepada komandan

pengawalnya, “Dan bersiaplah untuk menangkapnya!”

Komandan pengawal itu segera mengumpulkan anak

buahnya, dan ditemani oleh Kepala Daerah Teng yang masih

merasa bingung dan kaget itu, Kwa Taijin lalu naik keretanya

menuju ke rumah gedung Kepala jaksa Pui.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Kepala jaksa

Pui Kian ketika dia menerima kedatangan Kwa Taijin bersama

Kepala Daerah Teng dan semua pengawal dari kota raja itu

pada waktu lewat tengah malam!

Begitu berhadapan dengan Pui Kian, Kwa Taijin

mengerutkan alisnya, dengan mata bersinar-sinar penuh

kemarahan, telunjuk kanannya menuding ke arah muka kepala

 

jaksa itu, dia membentak, “Pengkhianat she Pui! Hayo cepat

kau kembalikan Cap besaranku!”

Tentu saja Pui Kian melongo, tidak mengerti apa yang

dimaksudkan pembesar tinggi itu. “Cap….. cap kebesaran….?

Apa….. apa yang taijin maksudkan?”

Sikap dan ucapan ini oleh Kwa Taijin dianggap sebagai

sikap pura-pura yang palsu, maka kemarahannya makin

memuncak. “Keparat, kau masih mau berpura-pura lagi

setelah menyuruh maling mencuri cap itu dari kamarku?

Pengawal, geledah kamarnya dan cari cap itu, dan tahan dia!”

Para pengawal pribadi Pui Kian hanya melongo, tidak

berani membela majikan mereka karena mereka pun

mengenal siapa Kwa Taijin dan tahu bahwa para pengawal

kota raja itu adalah pasukan yang lebih tinggi kedudukannya

daripada mereka. Kepala pengawal bersama anak buahnya

cepat melakukan penggeledahan dan tak lama kemudian,

kepala pengawal sudah keluar dari kamar membawa sebuah

cap kebesaran milik Kwa Taijin yang tadi dicuri maling.

“Hemm, lihat ini! Kau masih hendak menyangkal lagi?” Kwa

Taijin memperlihatkan cap itu di depan hidung Pui Kian.

Pucatlah wajah Pui Kian.

“Tapi….. sungguh mati…… saya….. saya tidak

mencurinya…..”

“Hemm, kau penjahat kepalang tanggung! Kalau t idak

menyuruh curi, apakah cap kebesaranku itu bersayap, terbang

meninggalkan meja kamarku lalu hinggap di meja dalam

kamarmu?”

“Fitnah…., ini tentu fitnah…..” Pui Kian meratap.

“Tangkap dia! Bawa ke dalam tahanan di tempat kepala

daerah!” bentak Kwa Taijin.

Malam itu Pui Kian, kepala jaksa Thian-cin yang biasanya

menjadi raja kecil di kota itu, harus meringkuk di dalam

 

penjara di belakang gedung kepala daerah, dijaga ketat oleh

pengawal-pengawal kota raja atas perintah Kwa Taijin sendiri.

Akan tetapi, penjagaan yang amat ketat ini masih tidak

mampu mencegah Cui Hong yang membungkus sebuah kerikil

dengan kertas yang telah diberi tulisan, lalu melontarkan

kertas itu ke dalam kamar tahanan dari jauh, dan kertas yang

membungkus kerikil itu melayang melalui jeruji besi, dan tepat

mengenai kepala Pui Kian.

“Tukk!” Pui Kian mengaduh dan melihat benda kecil putih

itu yang tadi menyambar kepalanya, dia cepat memungutnya.

Penerangan lampu di luar kamar tahanan cukup terang

menerobos melalui jeruji-jeruji besi dan dia lalu membuka

kertas yang membungkus kerikil itu, dan dibacanya tulisan

tangan yang halus di atas kertas.

“Kepala Jaksa Pui,

kami mengucapkan selamat kepadamu!”

“Mendiang guru silat Kim Siok sekeluarga”.

Membaca tulisan itu, Pui Kian mengerutkan alisnya. Guru

silat Kim Siok? Sudah mendiang? Dia mengingat-ingat, lalu

mengepal tinju dengan geramnya. Ah, kini dia teringat akan

peristiwa tujuh tahun yang lalu. Guru silat Kim? Dengan anak

gadisnya yang dilamar oleh Pui Ki Cong puteranya, akan tetapi

ditolak. Guru silat itu bersama seorang muridnya telah tewas

dan gadis itu….. ah, ke mana perginya gadis itu? Bukankah

menurut kabar yang diperolehnya, gadis anak Kim Kauwsu itu

oleh puteranya diberikan kepada Thian-cin Bu-tek Sam-eng?

Dan bagaimana mungkin guru silat Kim yang sudah mati itu

mampu melemparkan surat ini? Kini dia dapat menduga

bahwa yang mencuri barang-barang berharga dan

menggantinya dengan batu, kemudian melakukan fitnah atas

dirinya dengan mencuri cap kebesaran milik Kwa Taijin

kemudian menaruh ke dalam kamarnya tentu juga orang yang

melemparkan surat itu!

 

Akan tetapi siapa? Kim Kauwsu tidak mungkin karena dia

sudah mati. juga muridnya yang akan menjadi mantunya itu.

Lalu siapa? Anak perempuannya? Rasanya tidak mungkin.

Anak perempuan itu sudah dibawa Bu-tek Sam-eng, kalau

belum mati pun tentu menjadi bini muda mereka. Apakah

murid-murid Kim Kauwsu? Ah, bisa jadi. Bukankah banyak

juga murid-murid guru silat itu? Dia mengepal t inju.

Dikirimkannya surat pemberian selamat atas malapetaka yang

menimpa dirinya itu jelas merupakan ejekan. Ingin dia

menangkap orang itu, menghukumnya dengan tangan sendiri.

Akan tetapi, pembesar itu teringat akan keadaan dirinya dan

lenyaplah semua kemarahan terhadap orang yang

memfitnahnya, terganti oleh ketakutan yang amat hebat. Dia

membayangkan dirinya dihukum, dipecat, dan dibuang, atau

bahkan mungkin dihukum mati! Gemetar seluruh tubuhnya

mengingat ini dan tanpa dapat ditahannya lagi dia menangis!

Kerap kali terbukti bahwa orang-orang yang paling kejam

hatinya adalah orang-orang yang paling penakut! Ada kalanya

pula sifat pengecut dan penakutlah yang mendorong

seseorang untuk berwatak kejam terhadap sesama manusia.

Karena merasa takut dan merasa terancam keselamatannya,

maka orang itu akan menyerang siapa saja yang dianggapnya

men jadi ancaman bagi keselamatannya, kesejahteraannya

atau kemuliaan hidupnya. Agaknya Kepala Jaksa Pui ini orang

seperti itulah. Biasanya, kalau dia memperlihatkan

kekuasaannya menindas orang lain, hatinya merasa gembira

dan puas sekali melihat orang lain itu meratap-ratap minta

ampun, menangis di depan kakinya minta keringanan

hukuman. Puas dan gembira karena tangis orang lain itu

merupakan mahkota kekuasaannya. Ratap tangis orang lain

bagaikan nyanyi merdu di telinganya. Kini, menghadapi

ancaman terhadap dirinya yang sukar untuk dapat

dihindarkannya, melihat betapa kekuasaannya runtuh dan dia

sama sekali tidak ber daya, kebanggaan dirinya runtuh pula

dan timbul iba diri yang berlebihan besarnya, yang mendorong

 

mengalirnya air mata dari sepasang matanya yang sudah lama

mengering tak pernah disentuh perasaan itu.

Dan si pelempar surat, Kim Cui Hong, sambil tersenyum

puas dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri-seri,

meninggalkan kota Thian-cin pada pagi hari itu juga, masih

gelap, membawa bungkusan pakaiannya yang kini juga terisi

sebuah kantung terisi barang-barang berharga yang indah dan

amat mahal harganya.

Kota raja masih nampak megah dan ramai, walaupun

sebenarnya banyak penduduknya merasa gelisah karena kini

pasukan-pasukan pemberontak sudah semakin maju

mendekati kota raja dari semua jurusan. Dari timur kabarnya

pemberontak yang dipimpin oleh Lie Cu Seng sudah semakin

maju sampai ke perbatasan propinsi, hanya tinggal tiga ratus li

dari kota raja. Di barat juga pasukan pemberontak yang

dipimpin oleh Bu Sam Kwl memperoleh kemenangankemenangan.

Apalagi di utara. Pasukan kerajaan kewalahan

menghadapi serbuan-serbuan bangsa Mancu yang semakin

kuat saja. Pendeknya, kota raja telah dikepung dari berbagai

jurusan oleh banyak musuh. Bukan hanya tiga golongan

musuh itu saja. Mereka bertiga itu adalah golongan musuh

paling besar dan paling kuat. Masih banyak lagi

pemberontakan-pemberontakan kecil terjadi di daerah-daerah.

Semua ini membuat para menteri yang masih setia kepada

kerajaan menjadi semakin gelisah. Akan tetapi apa daya

mereka? Kaisar dininabobokkan oleh para thaikam dan selalu

menerima pelaporan yang baik-baik saja dari para thaikam itu.

Karena keadaan seperti mendung dan gelap oleh

kegelisahan, oleh ancaman-ancaman yang tidak nampak dan

terasa oleh semua orang bahwa kota raja berada dalam

ancaman bahaya besar, maka yang berpesta pora dalam

keadaan seperti itu adalah orang-orang yang menjual tenaga

dan kepandaian silat mereka sebagai pengawal-pengawal dan

penjaga-penjaga keamanan. Orang-orang berpangkat dan

 

orang-orang hartawan yang memiliki uang, tidak sayang

mengeluarkan banyak uang membayar jagoan-jagoan yang

bertugas menjaga keamanan mereka dan keluarga mereka.

Dalam keadaan ketakutan, orang memang dapat melakukan

hal-hal yang menggelikan. Orang-orang hartawan itu sama

sekali tidak ingat lagi bahwa ancaman perang tidak mungkin

dapat dihindarkan oleh perlindungan yang diberikan jagoanjagoan

silat begitu saja! Dan mereka pun lupa bahwa yang

mungkin mengganggu dalam keadaan kacau itu justeru orangorang

yang biasa bertindak kasar dan keras, yaitu orang-orang

yang merasa punya kepandaian silat dan yang merasa unggul,

termasuk orang-orang yang mereka angkat menjadi jagoanjagoan

itu! Mereka tidak ingat betapa sudah banyak terjadi

adanya pagar makan tanaman, atau orang-orang yang

diandalkan sebagai penjaga keamanan bahkan menjadi

pengacau keamanan itu sendiri! Seperti memelihara harimau

untuk mencegah serbuan serigala. Serigalanya tidak datang,

akhirnya sang harimau peliharaan itu yang akan menerkam

dan memangsanya!

Betapapun juga, sudah pasti bahwa para jagoan atau

mereka yang merasa memiliki kepandaian silat dan yang

berani berkelahi, dalam keadaan seperti itu menjadi laris

sekali. Tenaga mereka dan jaminan mereka dibayar mahal

oleh orang-orang beruang yang rela membayar mahal hanya

sekedar untuk menenteramkan hati mereka dan “merasa

terlindung”.

Banyak jagoan-jagoan atau tukang-tukang pukul yang

memiliki ilmu silat tinggi dan yang ditakuti dan disegani orang,

yang perlindungannya berharga mahal sekali, berhasil

mengumpulkan kekayaan dan menjadi orang kaya. Di antara

mereka terdapat seorang jagoan yang terkenal sekali dengan

julukannya, yaitu Toat-beng joan-pian (Cambuk Pencabut

Nyawa)! Dia telah menjadi kaya raya karena menjadi

pelindung beberapa orang hartawan di kota raja. Melihat

betapa usaha di luar lebih baik daripada menjadi kepalaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

kepala pengawal yang makan gaji, sudah lama jagoan ini

meninggalkan pekerjaannya sebagai pengawal seorang

pembesar di kota raja dan membuka usaha melindungi

hartawan-hartawan dengan menerima bayaran mahal setiap

bulannya. Dan dia agaknya memang berdarah pedagang.

Usahanya ini dapat diperluasnya menjadi semacam

perusahaan penjaga keamanan dan dia memiliki puluhan

orang pembantu yang bertugas men jaga rumah-rumah

hartawan. Dia sendiri hanya dipakai namanya saja untuk

menakuti-nakuti orang. Dan memang sesungguhnyalah,

hartawan yang dijaga oleh anak buah Toat-beng Joan-pian ini,

tidak ada yang berani mengganggu. Agaknya para penjahat di

kota raja tidak berani menentang Si Cambuk Pencabut Nyawa

yang selain terkenal lihai bukan main, akan tetapi juga

terkenal bertangan besi dan tidak pernah mau mengampuni

siapa yang berani mengganggu hartawan yang dilindunginya.

Setelah membunuh beberapa orang yang berani mencobacoba,

akhirnya tak seorang pun berani mengganggunya lagi

dan dalam waktu dua tiga tahun saja dia telah menjadi

seorang yang kaya raya.

Jagoan itu kini mempunyai sebuah gedung besar di pinggir

kota raja dekat pintu gerbang sebelah barat. Dia hidup mewah

di situ bersama seorang isterinya dan dua orang anaknya.

Usianya sudah empat puluh tahun lebih, tubuhnya pendek

tegap dan mukanya buruk, ternyata isterinya masih muda dan

cantik sekali! Isterinya itu baru berusia dua puluh lima tahun

dan dua orang anaknya baru berusia tujuh tahun dan tiga

tahun. Hal ini tidak mengherankan karena dia memiliki

kepandaian tinggi, memiliki banyak uang dan nama besar!

Dan karena dia pun pandai mencinta isterinya yang muda dan

cantik, wanita ini pun dapat menjadi seorang isteri yang setia

dan seorang ibu anak-anaknya yang baik. Pendek kata, Toatbeng

Joan-pian Louw Ti, ya namanya adalah Louw Ti, hidup

serba kecukupan dan dapat diduga hidup berbahagia bersama

keluarganya.

 

Para pembaca tentu masih ingat kepada nama ini. Louw Ti,

jagoan yang pandai memainkan joan-pian, semacam ruyung

lemas atau cambuk yang saking tangguhnya diberi nama

Cambuk Pencabut Nyawa yang kemudian menjadi julukannya.

Ya, dia adalah Louw Ti, seorang di antara Thian-cin Bu-tek

Sam-eng (Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin), bahkan

orang yang paling tua, lebih tua setahun daripada dua jagoan

lainnya dari Bu-tek Sam-eng.

Louw Ti, seperti yang lainnya, mendengar juga akan

kejatuhan Kepala Jaksa Pui Kian di Thian-cin. Akan tetapi

karena persahabatannya dengan pejabat itu dahulu hanyalah

persahabatan belian, dalam arti kata persahabatan yang dijalin

karena saling menguntungkan, maka di dalam hatinya dia

sama sekali t idak merasa akrab dan sama sekali bukan

sahabat Pui Kian. Karena itu, mendengar betapa bekas kepala

jaksa itu kini menjadi orang hukuman, dia hanya tersenyum

saja dan beberapa menit kemudian sudah melupakan lagi

berita tentang kejatuhan orang she Pui itu. Kalau saja dia tahu

mengapa dan siapa yang menyebabkan kejatuhan Pui Kian,

mungkin dia tidak akan tersenyum acuh! Dia sama sekali tidak

tahu bahwa mendung kelabu mulai datang dari jauh untuk

membikin gelap sinar keberuntungan yang menerangi

kehidupannya.

Mula-mula terjadi pencurian di rumah gedung seorang

hartawan yang dijaga oleh empat orang anak buah Louw Ti.

Bukan hanya sejumlah perhiasan emas permata yang dicuri

orang, akan tetapi juga empat orang anak buah itu dihajar

babak-belur oleh pencuri itu.

“Orangnya bertubuh kecil, akan tetapi mukanya memakai

topeng hitam dan pakaiannya juga hitam semua,” demikian

empat orang anak buah itu melapor kepada Louw Ti. “Ilmu

silatnya lihai sekali. Ketika dia melakukan pencurian, kami

berempat yang berjaga di depan pintu besar sama sekali tidak

mengetahuinya. Adalah dia sendiri yang mendatangi kami dan

 

mengejek, mengatakan bahwa dia telah mencuri banyak

barang perhiasan berharga dari kamar tuan rumah.”

“Hemm….!” Louw Ti mengerutkan alis nya dan sepasang

matanya yang lebar itu memancarkan sinar berkilat karena

marahnya. “Apakah kalian t idak memberi tahu bahwa kalian

adalah anak buahku?”

“Sudah kami beri tahu, Louw-twako. Kami memberi tahu

bahwa kami adalah pembantu-pembantu Toat-beng Joan-pian

yang bertugas menjaga di rumah itu dan kami minta agar dia

mengembalikan barang-barang itu dan jangan mengganggu

kami.” Orang yang bercerita itu berhenti seolah-olah takut

melanjutkan.

“Dan apa katanya?” Louw Ti menuntut, penasaran.

“Saya….. saya tidak berani menceritakan…..”

“Dess….!” Tubuh orang itu terlempar dan bergulingan kena

tendangan Louw Ti yang menjadi marah bukan main.

“Apakah kau ingin mampus? Sudah gagal melakukan

penjagaan sehingga tuan rumah kemalingan, masih berani

merahasiakan keterangan kepadaku?”

“Ampun, twako. Akan tetapi orang itu….. dia menghina

sekali kepada twako.”

“Hemm, berani menghinaku? Apa kata nya?”

“Dia bilang bahwa tidak takut kepada Toat-beng Joan-pian,

bahwa dia tidak takut kepada Louw Ti yang pendek bermuka

hitam, bahkan dia minta kami menyampaikan kepada twako

bahwa dia adalah Pencabut Nyawa orang she Louw…..”

“Jahanam keparat….!!!” Louw Ti meloncat dan tentu dia

sudah menerjang empat orang pembantunya itu kalau saja dia

tidak ingat bahwa dia sendiri yang memaksa mereka

mengaku. Sepasang mata yang lebar itu menjadi kemerahan,

 

mulutnya terengah-engah seperti mengeluarkan uap panas,

kedua tangannya dikepal dan berbunyi berkerotokan.

“Di mana dia?” hanya itu yang dapat ditanyakan karena

kemarahan yang hebat membuat dia sukar bicara.

“Kami tidak tahu, twako. Mendengar penghinaannya, kami

lalu maju mengeroyoknya, akan tetapi kami tidak mampu

menandinginya dan kami dihajar sampai tidak mampu bangun

kembali.”

“Kerbau tolol! Kamu tidak tanya siapa namanya dan di

mana tempat tinggalnya?” bentak Louw Ti.

“Saya sudah tanyakan, akan tetapi dia hanya tertawa dan

meloncat pergi, menghilang dalam kegelapan malam.”

Tentu saja peristiwa itu membuat hati Louw Ti menjadi

panas dan marah sekali. Hiburan isterinya pun tidak dapat

mengobati luka di hatinya dan sejak malam itu, dia sering

keluar malam untuk meronda, kalau-kalau dia akan dapat

bertemu dengan orang bertopeng hitam itu. Dan untuk

menjaga nama baiknya, dia mengganti kerugian hartawan

yang kecurian itu dan meyakinkan hati hartawan itu bahwa

pencurian seperti itu tidak akan terulang kembali dan dia akan

menangkap si pencuri. Memang perbuatannya mengganti

kerugian ini membuat namanya menjadi bersih kembali dan

kepercayaan para hartawan itu timbul lagi walaupun tadinya

mereka meragu dengan adanya pencurian itu. Akan tetapi

hanya untuk beberapa hari saja karena segera terjadi lagi

pencurian-pencurian yang sama. Pencuri itu datang mencuri

uang yang cukup banyak atau perhiasan dari hartawanhartawan

yang rumahnya dijaga oleh anak buah Louw Ti, dan

selalu menghajar para penjaga itu sambil menyampaikan

ucapan penghinaan kepada Louw Ti.

Setelah terjadi peristiwa seperti itu sampai lima enam kali,

Louw Ti benar-benar merasa dirongrong dan setiap malam dia

melakukan penyelidikan untuk menangkap pencuri itu. Tanpa

 

hasil. Hartanya sampai hampir habis untuk mengganti

kerugian para hartawan itu, karena yang dicuri oleh pencuri

berkedok hitam itu bukan jumlah yang kecil. Kalau begini

terus, akhirnya dia akan jatuh miskin dan namanya tentu akan

menjadi rusak. Di antara hartawan langganannya bahkan

sudah ada tiga orang yang berhenti dan mencari jagoan lain

untuk menjaga keamanan keluarga mereka. Hal ini merupakan

pukulan hebat bagi Louw Ti.

“Aku bersumpah untuk menangkap pencuri keparat itu!”

omelnya marah-marah ketika pada suatu malam dia pulang

dari meronda tanpa hasil. “Akan kupatah-patahkan kedua

lengannya, kubikin buntung kedua kakinya dan kutusuk buta

kedua matanya!”

Isterinya bergidik mendengar ancaman-ancaman itu. “Ah,

kenapa marah-marah setiap hari, suamiku? Kalau pencuri itu

memang tidak mau bertemu denganmu, biar setiap malam

kau meronda pun, takkan ada gunanya. Lebih baik

mengurangi jumlah langganan dan melipatgandakan

penjagaan agar lebih kuat.”

“Uang kita sudah hampir habis untuk mengganti kerugian.

Kalau dikurangi jumlah langganan, mana penghasilan kita bisa

cukup? Selama pencuri jahanam itu masih berkeliaran, aku

akan tak dapat tidur nyenyak. Agaknya dia memang sengaja

memusuhiku. Sudah kuselidiki di kota raja ini, tidak ada

tempat lain yang diganggunya kecuali rumah-rumah hartawan

yang menjadi langgananku.”

“Aih, kalau begitu jelas dia itu seorang musuhmu.” kata

isterinya khawatir. “Cari saja siapa musuhmu itu, tentu engkau

akan dapat menduga siapa adanya pencuri itu.”

Suaminya menggeleng-geleng kepala dan matanya yang

lebar itu makin bercahaya penuh ancaman yang amat bengis.

“Mana aku tahu? Selama menjadi pengawal orang-orang besar

dahulu, sudah banyak yang menjadi lawan dan musuhku.

Hemm…. sekali waktu aku pasti akan bertemu dengan dia dan

 

joan-pianku inilah yang akan menghabiskan nyawanya!” Dia

meraba senjata itu yang tak pernah terpisah dari

pinggangnya.

“Hati-hatilah, suamiku. Bagaimana kalau kau kalah?

Menurut laporan anak buahmu, pencuri itu lihai bukan main.”

“Betapapun lihainya, aku tidak mungkin kalah!” bentak

suami itu dengan hati mendongkol dan isterinya tidak berani

banyak cakap lagi.

Pada keesokan harinya, ketika Louw Ti masih tidur karena

semalam dia kurang t idur sehingga setelah matahari naik

tinggi belum juga bangun, dia tergugah oleh isterinya. “Ah,

aku masih ngantuk, kenapa kau membangunkanku?” Omelnya

dengan sikap ogah untuk meninggalkan bantal gulingnya.

“Suamiku, ada tamu penting yang ingin sekali bertemu dan

bicara denganmu. Katanya dia mempunyai pekerjaan untukmu

yang akan mendatangkan penghasilan besar sekali dan hanya

dapat dilakukan oleh engkau sendiri.”

“Hemm…. pekerjaan apa? Siapa dia?”

“Agaknya ia puteri seorang bangsawan atau hartawan

besar, ia seorang wanita yang cantik sekali dan pakaiannya

serba mewah, seperti puteri istana saja….”

Mendengar keterangan ini, Louw Ti seketika

membelalakkan matanya dan cepat dia membersihkan

mukanya, bertukar pakaian lalu keluar menemui tamunya

yang disambut oleh isterinya di ruang depan. Ketika

berhadapan dengan tamu itu, Louw Ti cepat memberi hormat

dan dia merasa kagum bukan main. Benar isterinya. Tamu ini

seorang wanita yang luar biasa cantiknya! Seperti seorang

puteri istana memang. Ketika dia menoleh keluar, di sana

berdiri sebuah kereta dengan empat ekor kuda, sebuah kereta

yang amat indah. Tentu dia seorang wanita bangsawan,

pikirnya dan diam-diam dia merasa heran karena belum

 

pernah dia melihat wanita ini. Dengan kedua matanya yang

lebar dan bersinar tajam, dia memperhatikan tamu itu.

Ia seorang wanita muda, usianya masih lebih muda dari

isterinya, antara dua puluh satu dan dua puluh dua tahun.

Wajahnya cantik jelita dan terutama sekali matanya yang lebar

dan jernih, mulutnya yang berbibir segar kemerahan itu,

sungguh amat menarik hati. Rambutnya digelung ke atas dan

dihias dengan hiasan sanggul terbuat daripada emas permata

yang amat indah, berbentuk seekor burung Hong. Pakaiannya

juga terbuat dari sutera yang amat mahal, dan tubuhnya

penuh dengan perhiasan yang serba indah. Gelang, kalung,

cincin, hiasan rambut, hiasan baju di dada, semua begitu

indah dan mahal, gemerlapan.

Ketika Louw Ti memberi hormat, wanita itu pun bangkit

berdiri dan mengangguk, lalu tersenyum manis dan bertanya,

“Apakah aku berhadapan dengan Louw-enghiong (Pendekar

Louw)?” suaranya merdu dan halus, sikapnya lembut seperti

seorang puteri istana atau puteri bangsawan tinggi.

Girang hati Louw Ti mendengar dirinya disebut enghiong!

“Benar, siocia (nona), saya adalah Louw Ti, seorang di antara

Thian-cin Bu-tek Sam-eng!” Dia sengaja menyebut julukan itu

untuk menonjolkan diri dan mengaku bahwa memang dia

seorang enghiong, seorang di antara Sam-eng (Tiga

Pendekar).

“Ah, kalau begitu tepat sekali nasihat pamanku agar aku

minta bantuanmu, Louw-enghiong. Pekerjaan ini amat

penting, barang yang harus dilindungi berharga ribuan tail

emas, dan mengingat bahwa pada waktu sekarang ini sangat

tidak aman, maka pekerjaan ini hanya dapat dilakukan dengan

hasil baik oleh seorang yang memiliki kepandaian tinggi

seperti Louw-enghiong.”

“Barang apakah yang dilindungi dan di mana, siocia? Dan

kalau boleh saya mengetahui, siapakah siocia?”

 

“Maaf, aku harus merahasiakan diriku, juga pekerjaan ini

harus dirahasiakan, dan hanya Louw-enghiong dan isteri saja

yang boleh mengetahui. Kalau engkau setuju dengan syarat

itu, kami akan memberi upah sebanyak lima puluh tail emas!

Kalau tidak setuju, biarlah aku pergi mencari pengawal lain.”

Mendengar upah lima puluh tail emas, jantung dalam dada

Louw Ti berdebar. Jumlah itu bukan sedikit! Jauh lebih banyak

daripada jumlah yang sudah dikeluarkannya untuk mengganti

kerugian kepada hartawan-hartawan langganannya yang

kecurian. Hartanya akan pulih kembali bahkan bertambah!

“Baik, ceritakanlah, nona. Pekerjaan apakah yang harus

saya lakukan?”

“Ayahku seorang pejabat tinggi dalam istana yang kini

mengundurkan diri. Kami mempunyai harta pusaka yang harus

kami kirim ke dusun di mana ayah telah membeli dan

mendirikan sebuah rumah.

“Nah, tugasmu adalah mengirim dan mengawal harta kami

itu ke dusun itu sampai tiba di sana dengan selamat. Akan

tetapi tak seorang pun boleh tahu akan harta itu. Karena itu,

engkau harus membawanya sendiri, jangan memberi tahu lain

orang dan jangan membawa kawan. Harta pusaka itu terdiri

dari benda-benda berharga terbuat dari emas permata yang

amat mahal harganya, mencapai seribu tail emas lebih, dapat

kaubawa dengan berkuda. Setelah tiba di dusun itu, kami

menanti di sana untuk menerimanya dan setelah kami terima

dengan selamat, kami akan membayar lima puluh tail emas,

dalam bentuk emas murni.”

Wajah Louw Ti berseri gembira, akan tetapi dia pun

khawatir. Membawa harta sebanyak itu bukan merupakan hal

yang ringan, apalagi perjalanannya jauh. Cukup berbahaya

pada waktu itu, apalagi kalau sampai ketahuan orang-orang

dunia hitam, tentu harta sebanyak itu akan menjadi rebutan

dan perjalanannya akan menemui banyak halangan.

 

“Dari mana dan ke manakah harta pusaka itu harus dibawa,

nona?”

“Tidak begitu jauh, hanya memakan waktu dua hari saja

kalau menggunakan kuda yang baik. Dibawa dari kota raja ini

menuju ke dusun dekat Thian-cin.”

Makin giranglah hati Louw Ti. Begitu dekat! “Dusun

manakah, nona?”

“Ayahku telah membeli sebidang tanah di dusun Ang-kebun

dekat Thian-cin, dan sudah membangun rumah di sana.

Kakekku berasal dari dusun itu, maka ayah ingin beristirahat di

hari tuanya disana.”

“Ang-ke-bun? Aku tahu tempat itu. Baiklah, saya bersedia,

nona.”

“Ah, tidak begitu mudah. Louw-enghiong. Harta itu

berharga ribuan tail, kalau saya serahkan kepadamu, lalu apa

tanggungannya? Bagaimana kalau sampai harta pusaka itu

hilang dirampas orang? Bagaimana tanggung jawabmu? Hal

ini harus kita bicarakan dulu, kita rundingkan pahitnya dulu.

Setidaknya, setelah harta itu kau bawa, engkau harus

menyerahkan sejumlah uang tanggungan, walau tidak

sepenuh harga harta itu, sedikitnya setengahnya.”

“Hayaaa…..! Mana kami ada uang begitu banyak, nona?

Kalau ada, tentu dengan senang hati saya akan memberikan

uang tanggungan itu. Akan tetapi….” Dia menengok kepada

isterinya dengan bingung.

“Bukankah engkau masih mempunyai rumah gedung ini

dan semua isinya? Kalau digadaikan dengan bunga tinggi,

kukira banyak hartawan di kota raja yang menerimanya. Nah,

kau gadaikan rumahmu ini, kau serahkan uang tanggungan itu

kepadaku, dan aku akan menyerahkan harta itu padamu. Kau

boleh memeriksa isinya agar hatimu tenang. Dan tentang

bunga uang penggadaian rumahmu, biarlah aku yang

 

membayarnya, sebagai tambahan upahmu. Bagaimana?

Setujukah?”

Tentu saja Louw Ti setuju. Upah lima puluh tail emas

bukanlah sedikit! Dan apa salahnya menyerahkan uang

penggadaian rumahnya kepada nona ini? Bukankah dia juga

menerima harta pusaka itu yang jauh lebih besar harganya?

Hanya dua hari dan dia akan menerima upah lima puluh tail

emas, berikut uang tanggungannya dan bunga penggadaian

rumahnya. Dari kota raja ke Ang-ke-bun, dusun kecil di luar

kota Thian-cin itu. Amat dekat dan amat mudah! Dia yakin

benar bahwa perjalanan antara dua tempat itu aman. Belum

pernah terjadi gangguan perampokan besar di daerah itu.

Kalaupun ada tentu hanya gangguan penjahat-penjahat kecil

yang sudah akan berlari terbirit-birit kalau berjumpa dengan

dia. Louw Ti tertawa girang.

“Baiklah, nona. Besok pagi atau nanti saya kira saya sudah

akan berhasil menggadaikan rumah kami ini berikut isinya.”

“Baiklah, Louw-enghiong. Besok pagi saya akan datang lagi

membawa harta pusaka itu, menyerahkan kepadamu dan

menerima uang tanggungan darimu, dan sekalian akan

kujelaskan bagaimana engkau harus melaksanakan tugas itu.”

Wanita muda yang cantik jelita itu tersenyum manis lalu

berpamit, diantar sampai ke depan pintu oleh Louw Ti dan

isterinya. Kefeta berkuda empat itu lalu bergerak dan dengan

cepat lalu meninggalkan rumah Louw Ti.

Tentu saja Louw Ti gembira bukan main. Untuk sementara

dia melupakan maling berkedok hitam yang menggangunya.

Ada pekerjaan yang lebih penting, yang akan mampu

menolongnya dan memulihkan keadaan keuangannya. Dan

memang tidak sukar baginya untuk menemukan seorang

hartawan yang mau menggadai rumahnya berikut isinya,

hanya untuk jangka waktu beberapa hari saja dengan bunga

tinggi tentunya.

 

Demikianlah, ketika pada keesokan harinya nona

bangsawan yang cantik itu datang bersama keretanya, dengan

bangga Louw Ti dapat menumpuk uang hasil penggadaian

rumah dan isinya itu di atas meja. Hanya kurang dari

sepersepuluh harga harta pusaka itu, namun nona cantik itu

menerimanya dengan girang dan puas. “Bukan uang dan

jumlahnya yang penting.” katanya. “Melainkan tanggungan

itulah. Karena ada tanggungan rumah dan semua isinya, tentu

Louw-enghiong akan bekerja lebih hati-hati lagi. Dan inilah

pusaka itu, harap enghiong periksa sebentar dan cocokkan

dengan catatannya.”

Bungkusan kain kuning yang tebal itu dibuka dan Louw Ti

bersama isterinya terbelalak kagum. Benar-benar isinya

merupakan benda-benda yang amat berharga, tak ternilai

harganya. Berkilauan permata yang besar-besar, seperti mata

yang banyak dan yang hidup berkedip-kedip kepada mereka.

Dengan jari-jari tangan agak gemetar karena selama hidupnya

belum pernah melihat, apalagi memegang harta pusaka

sebanyak itu, Louw Ti lalu mencocokkan jumlah benda-benda

itu dengan catatannya. Kemudian, setelah merasa cocok, dia

menandatangani catatan itu dan menyerahkannya kepada

nona bangsawan itu bersama uang hasil penggadaian

rumahnya.

“Nah, hari ini juga engkau boleh membawa harta ini

dengan berkuda menuju ke dusun Ang-ke-bun, Louw-enghiong.

Sebaiknya dibungkus dengan buntalan kain yang tua

agar tidak menyolok, seperti buntalan pakaian saja. Engkau

terpaksa harus bermalam di tengah perjalanan dan besok

siang akan dapat sampai ke Ang-ke-bun. Rumah yang

dibangun ayahku berada di dekat jembatan di sebelah dalam

pintu gerbang dusun yang di selatan. Dia sana ada rumah

baru yang paling besar di dusun itu, bercat kuning dan jendela

depannya berbentuk bulan purnama. Aku akan menantimu di

sana. Sudah jelaskah, Louw-enghiong?”

 

Louw Ti mengangguk-angguk dan tersenyum gembira.

“Sudah cukup, lebih dari jelas. Saya akan berangkat sekarang

juga mungkin malam ini terpaksa harus bermalam di tengah

perjalanan…..”

“Berhati – hatilah, Louw – enghiong…..”

Nona bangsawan itu memperingatkan dengan wajah agak

khawatir.

“Ha-ha-ha, jangan khawatir, nona. Di luar hutan pohon pek

di sebelah selatan bukit, di lereng itu terdapat sebuah kuil tua.

Di sanalah biasanya kami yang melakukan perjalanan

beristirahat atau bermalam. Tempat itu aman sekali, belum

pernah ada gangguan. Saya jamin bahwa pada besok hari,

harta pusaka ini akan saya serahkan kepada nona di Ang-kebun

dalam keadaan utuh dan selamat!”

“Baiklah, kini tenteram hatiku.” Nona bangsawan itu lalu

berpamit dan membawa uang tanggungan itu keluar, lalu

keretanya pun pergi dengan cepat meninggalkan pekarangan

rumah gedung Louw Ti.

Derap kaki kuda itu memecah kesunyian dalam hutan.

Seekor kuda yang besar dan kuat berlari cepat di senja hari

itu. Penunggangnya adalah Louw Ti yang berpakaian ringkas

dan menggendong buntalan di punggungnya. Buntalan kain

hitam kasar dan kuat, tidak menarik perhatian. Wajahnya

yang angker itu, dan kemilau cambuknya yang melingkari

pinggangnya, lebih menarik dan mendatangkan keseraman.

Biarpun tubuhnya pendek, orang ini memang mempunyai

pembawaan diri yang berwibawa dan menyeramkan.

Wajahnya yang hitam buruk dan terutama sekali sepasang

matanya yang lebar dan mencorong itulah yang

mendatangkan perasaan segan dan takut orang lain, karena

wajahnya itu membayangkan kebengisan dan keberanian.

Louw Ti membalapkan kudanya karena dia ingin tiba di kuil

tua itu sebelum hari gelap. Tadi dia berangkat agak siang

 

karena harus menemui dulu para pembantunya dan memesan

agar mereka bekerja dengan hati-hati, agar selama dia pergi

jangan sampai terjadi pencurian-pencurian lagi di rumahrumah

hartawan yang mereka jaga.

Perdagangan agak sunyi semenjak kota raja terancam

bahaya oleh para pemberontak yang makin mendekat. Para

saudagar enggan untuk melakukan perjalanan jauh

meninggalkan keluarganya. Karena itu, perjalanan kali ini dari

kota raja menuju ke selatan amat sunyi. Hanya beberapa kali

saja Louw Ti bertemu dengan pejalan kaki atau penunggang

kuda yang lewat jalan kecil itu. Akan tetapi dia tidak berkecil

hati. Sudah biasa jagoan itu melakukan perjalanan seorang

diri. Dia terlalu percaya akan kemampuan sendiri. Siapakah

orangnya berani mengganggu di daerah yang sudah amat

dikenalnya ini? Setiap orang penjahat, dari yang kecil sampai

yang besar, semua telah mengenalnya dan takkan ada

seorang pun di antara mereka yang berani mencoba-coba

mengganggunya. Apalagi, tak seorang pun yang tahu bahwa

buntalan kain hitam di punggungnya itu terisi harta pusaka

yang harganya mencapai seribu tail emas!

Cuaca sudah mulai remang-remang akan tetapi belum

gelap benar ketika akhirnya dia tiba di depan kuil tua. Me-lihat

kesunyian di sekitar situ, juga di depan kuil t idak nampak ada

kereta atau kuda, Louw Ti merasa lega. Lebih enak kalau kuil

itu kosong daripada kalau ada orang lain yang juga bermalam

di situ, pikirnya. Dia meloncat turun dari atas punggung

kudanya, menuntun kuda memasuki kuil tua itu dan

menambatkan kudanya di ruang depan yang sudah agak

rusak. Berbahaya juga meninggalkan kuda itu di luar, karena

pada malam harinya mungkin saja ada orang yang akan

mencuri kudanya itu.

Baru saja dia selesai mengikat kendali kuda pada tiang

ruangan depan dan hendak menuju ke ruangan belakang yang

masih agak bersih dan tidak bocor, tiba-tiba dia mendengar

 

suara dan cepat-cepat dia menengok. Matanya yang lebar itu

semakin melebar ketika dia melihat bahwa di sebelah

kanannya, hanya dalam jarak tiga empat meter, berdiri

seorang yang berpakaian serba hitam dan yang mengenakan

topeng hitam pula di depan mukanya. Dua lubang pada

topeng itu memperlihatkan dua buah mata yang amat tajam,

mencorong dari dalam topeng atau kedok itu! Jantung dalam

dada Louw Ti berdebar walaupun dia tidak merasa takut. Dia

terkejut dan merasa tegang karena dia mengenal orang

berkedok itu. Bertubuh ramping sedang, berpakaian serba

hitam dan berkedok hitam, tidak memegang senjata apa pun.

Inilah yang digambarkan oleh orang-orangnya, pencuri yang

selalu mengganggu rumah-rumah hartawan yang

dilindunginya, pencuri yang telah banyak merugikannya

bahkan yang berani mengeluarkan kata-kata menghinanya!

Dan orang yang selama ini dicari-carinya tanpa hasil itu tahutahu

sekarang muncul di kuil ini, selagi dia seorang diri dan

membawa barang-barang berharga! Kecut-kecut juga hatinya

teringat akan buntalan di punggungnya terisi barang-barang

yang amat berharga dan menjadi tanggung jawabnya untuk

melindungi dan mengantar sampai ke tempat tujuan.

“Siapa kau dan mau apa!” bentak Louw Ti untuk

mendahului dengan gertakan, selain untuk membesarkan hati

sendiri juga untuk menggertak orang itu.

Terdengar dengus suara mengejek dari balik topeng. “Louw

Ti, jangan pura-pura tidak mengenal aku, cepat serahkan

buntalan di punggungmu itu kepadaku!”

Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan membakar

hati Louw Ti. Dugaannya tidak keliru. Inilah pencuri kurang

ajar itu! Dan sekarang pencuri itu agaknya memang sengaja

menghadangnya di tempat ini untuk merampas buntalan di

punggungnya. Perasaan benci, marah, dendam, akan tetapi

juga gelisah bercampur-aduk dalam hatinya. Otomatis tangan

 

kirinya meraba buntalan di pinggangnya, dan tangan

kanannya mencabut keluar cambuk dari pinggangnya.

“Jahanam busuk, memang aku sedang mencarimu untuk

menghancurkan kepalamu!” bentaknya dan tanpa banyak

cakap lagi, cambuknya menyambar dengan suara meledakledak

ke arah kepala orang itu. Akan tetapi, dengan gerakan

yang amat gesit, orang itu sudah mengelak dengan loncatan

ke belakang. Cambuk di tangan Louw Ti menyambar terus

karena dia memang bernafsu sekali untuk segera merobohkan

orang itu, melucuti kedoknya dan menyiksanya sampai mati.

Akan tetapi, biarpun didesak oleh menyan barnya cambuk

yang dahsyat itu, orang berkedok itu dapat mengelak pula ke

samping kanan dan kakinya tiba-tiba menyambar ke arah

perut Louw Ti. Cepat sekali gerakan ini dan serangan balasan

yang tidak terduga-duga ini hampir saja mengenai perut Louw

Ti. Namun, dia seorang ahli silat yang sudah biasa melakukan

perkelahian, maka dia pun dapat cepat melemparkan diri ke

belakang dan cambuknya meledak-ledak dari atas menyambar

ke depan sehingga lawannya terpaksa mengelak pula.

Tentu saja orang berkedok itu bukan lain Kim Cui Hong!

Dan seperti pembaca tentu sudah dapat menduga, gadis

bangsawan cantik jelita yang menyerahkan harta pusaka

kepada Louw Ti untuk diantarkan ke Ang-ke-bun itu adalah

Cui Hong pula! Dengan hasil rampasannya, yaitu benda-benda

berharga dari tangan Kepala jaksa Pui, gadis ini telah menjadi

seorang yang kaya raya. Ia menjual beberapa potong benda

itu kepada pedagang besar di kota raja, menerima banyak

uang dan diaturnyalah rencananya untuk mulai dengan

pembalasan dendamnya. Karena menurut hasil

penyelidikannya, musuh yang pertama kali diperoleh

keterangan adalah Louw Ti, maka dara ini pun segera

mengatur siasat untuk turun tangan terhadap Louw Ti terlebih

dahulu. Dengan sebagian uangnya, ia membeli tanah bekas

keluarga ayahnya, tanpa memperkenalkan diri kepada

penduduk dusun itu, dan membangun sebuah gedung yang

 

megah. Kepada para tetangga yang sama sekali tidak

mengenal gadis bangsawan berkereta itu, ia hanya

mengatakan bahwa ayahnya seorang pembesar tinggi dari

kota raja yang sudah pensiun dan ingin beristirahat di dusun

itu. Mula-mula ia mengganggu anak buah Louw Ti, selain

untuk merusak nama baik Louw Ti sebagai pelindung bayaran

juga untuk membikin rugi Louw Ti yang harus mengganti

kerugian-kerugian para hartawan yang kecurian itu.

Kemudian, ia pun muncul sebagai gadis bangsawan yang

menyerahkan harta pusakanya kepada Louw Ti untuk

dilindungi dan dengan cerdiknya ia minta uang tanggungan

sehingga terpaksa Louw Ti menggadaikan rumahnya dan

semua isinya! Dan kini, ia telah menjadi si topeng hitam lagi

yang melakukan penghadangan di kuil tua un-tuk mera mpas

buntalan di punggung musuh besarnya itu.

Louw Ti merasa terkejut juga menyaksikan orang

bertopeng ini benar-benar memiliki gerakan yang amat lincah

dan juga aneh. Sampai belasan kali cambuknya yang biasanya

ampuh sekali itu menyambar-nyambar ganas, namun selalu

lawan itu dapat menghindarkan diri dengan cepat. Padahal,

dalam belasan jurus itu dia sengaja mengeluarkan jurusjurusnya

yang paling ampuh untuk cepat merobohkan lawan

yang amat dibencinya itu! Dia bukan seorang bodoh dan

setelah melihat bukti kelihaian orang itu, Louw Ti maklum

bahwa lawannya amat berbahaya. Mulailah dia merasa

khawatir akan keselamatan harta pusaka yang berada di

punggungnya. Diam-diam dia mulai mencari kesempatan

untuk melarikan diri. Akan tetapi, kudanya sudah diikat

kendalinya kuat-kuat pada tiang di luar, dan untuk

melepaskan kendali membutuhkan waktu. Orang ini tentu

takkan membiarkan dia lari, maka dia pun kini mengubah

gerakan cambuknya. Cambuk itu tidak lagi meledak-ledak

menghujankan serangan, melainkan sebagian dipergunakan

untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan.

 

Setelah mengubah gerakan cambuknya, kini gulungan sinar

cambuk itu merupakan benteng yang amat kuat, yang

melindungi tubuh Louw Ti sehingga lawannya sukar

melakukan serangan, apalagi hanya dengan tangan kosong.

Ilmu cambuk dari Louw Ti memang dahsyat dan kuat sekali,

walaupun kini kehilangan daya serangannya namun masih

memiliki daya tahan yang luar biasa kuatnya.

Cui Hong juga maklum bahwa hanya dengan tangan

kosong saja sukarlah baginya untuk menundukkan lawan ini.

Pantas mendiang ayah dan suhengnya dahulu tidak mampu

menang, karena memang ilmu silat orang ini amat tinggi.

Kalau ia menghendaki kematian orang ini, walau tanpa senjata

pun ia akan sanggup melakukannya karena di antara berkelebatnya

sinar cambuk bergulung-gulung, ia masih dapat

melihat lowongan-lowongan yang dapat diterobosnya.. Akan

tetapi, tidak, dia tidak akan melanggar sumpah nya, tidak

akan membunuh orang ini. Juga, terlalu enak kalau dibunuh

begitu saja, tidak sepadan dengan perbuatannya yang

terkutuk tujuh tahun yang lalu terhadap dirinya. Orang ini,

seperti tiga orang musuhnya yang lain, harus disiksa lahir

batinnya, agar mati perlahan-lahan, bukan mati langsung oleh

tangannya.

Cui Hong meloncat jauh ke kiri dan ia sudah menyambar

sebatang tongkat yang tadi ia sandarkan di dinding ruangan

itu.

“Wirrrr….!” Tongkat itu diputarnya secara aneh, menyerbu

gulungan sinar cambuk dan terkejutlah Louw Ti ketika tibatiba

saja cambuknya macet dan menempel pada tongkat

lawan!

“Haiiiitttt….!” Dia mengerahkan tenaganya membetot

cambuknya agar terlepas dari tempelan tongkat, akan tetapi

tiba-tiba kaki Cui Hong sudah bergerak menyambar ke depan

mencium lututnya.

 

“Dukk….!” Tak dapat ditahan lagi Louw Ti jatuh berlutut

karena sebelah kakinya tiba-tiba menjadi lumpuh dan tiba-tiba

saja cambuknya terlepas, akan tetapi ujung tongkat itu sudah

berkelebat an menyambar ke arah kedua pundak dan kedua

pinggangnya, menotok secara cepat bukan main sehingga

tahu-tahu Louw Ti merasa betapa kedua kaki tangannya tak

dapat digerakkan lagi.

“Hemm, kiranya hanya begini saja kemampuan Louw Ti

yang berjuluk Toat-beng Joan-pian, yang terkenal sebagai

seorang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng!” orang berkedok

itu mengejek dan sekali tangan kirinya merenggut, buntalan di

punggung Louw Ti sudah berpindah ke tangannya! Wajah

Louw Ti menjadi pucat sekali, akan tetapi karena kaki

tangannya tidak dapat digerakkan lagi, dia hanya memandang

dengan mata terbelalak.

“Ja….. jangan rampas itu….. aku mohon padamu, itu…..

bukan….. bukan milikku…..” Akhirnya dia dapat mengeluarkan

kata-kata yang penuh permohonan dan kegelisahan.

Orang berkedok itu berdiri di depan Louw Ti yang sudah

rebah terlentang tak berdaya itu. Biarpun tidak nampak

karena tertutup kedok, namun mudah diduga bahwa mulut di

balik kedok itu tentu ter senyum, entah tersenyum mengejek

ataukah tersenyum puas.

“Louw Ti, orang macam engkau ini masih dapat memohon,

masih dapat minta dikasihani? Aih, betapa aneh dan lucunya!

Louw Ti, pernahkah engkau memenuhi permohonan orang

lain, pernahkah engkau mengasihani orang lain?” Setelah

berkata demikian, Kim Cui Hong, orang berkedok itu, meloncat

ke luar kuil dan terdengarlah derap kaki kuda.

Louw Ti menjadi bingung. Buntalan terisi barang-barang

berharga itu dirampas orang, dan kudanya juga dibawa pergi,

dan dia sendiri tidak mampu menggerakkan kaki tangan

karena totokan yang luar biasa sekali. Dia mencoba untuk

menduga-duga siapa orang berkedok yang selama ini

 

mengganggunya, akan tetapi tidak menemukan orang yang

cocok. Saking bingung, gelisah dan marahnya, Louw Ti tak

dapat menahan mengalirnya air matanya! Baru sekarang

selama ia menjadi jagoan dia tahu dan me rasakan sendiri apa

artinya duka. Dia sudah menggadaikan rumahnya, dan kalau

barang-barang harta pusaka itu tidak dapat dirampasnya

kembali, dia kehilangan segala-galanya. Rumah dan semua

isinya, dan dia bahkan tentu akan dituntut oleh puteri

bangsawan itu! Kehilangan semua hartanya masih masuk

penjara lagi!

Setelah lewat tengah malam, barulah dia mampu

menggerakkan kaki tangannya karena pengaruh totokan jalan

darah mulai menipis. Begitu dia dapat bergerak, Louw Ti cepat

bangkit dan dia lalu melakukan perjalanan secepatnya menuju

ke dusun Ang-ke-bun. Dia harus berjalan kaki atau lari karena

kudanya juga dibawa pergi perampok berkedok itu. Sambil

menyumpah-nyumpah Louw Ti berlari cepat. Setengah malam

lamanya otaknya diputar mencari siasat. Dia tidak memikirkan

lagi si kedok hitam karena dia kini terhimpit oleh

pertanggungan-jawabnya. Dia harus menghadapi nona

bangsawan itu dan urusan inilah yang terpenting dan harus

dapat diselesaikan dan diatasinya terlebih dahulu. Dan dia

sudah merencanakan siasatnya untuk dapat keluar dari

ancaman bahaya itu dengan baik. Teringatlah dia akan

kedatangan nona bangsawan cantik itu, ketika nona itu

menerima uang tanggungan, dan menyerahkan harta pusaka,

dan memesan agar dia merahasiakan kesemuanya itu. Yang

tahu akan urusan harta pusaka itu hanyalah nona bangsawan

itu sendiri dan dia disaksikan pula oleh isterinya. Tidak ada

orang lain yang mengetahuinya! Tidak ada jalan lain kecuali

yang sudah direncanakannya ketika dia masih rebah tak

mampu bergerak dan kini dia bergegas lari menuju ke Ang-kebun

untuk melaksanakan rencana siasatnya menyelamatkan

diri, bahkan memperoleh keuntungan dari masalah yang

menghimpitnya itu.

 

Pada keesokan harinya, matahari telah naik tinggi ketika

Louw Ti memasuki dusun Ang-ke-bun dan dia segera langsung

menuju ke rumah besar baru seperti yang diterangkan oleh

nona bangsawan itu. Jantungnya berdebar tegang ketika ia

memasuki pekarangan rumah itu. Punggungnya menggendong

sebuah buntalan besar. Dia merasa lega dan girang sekali

melihat betapa rumah besar itu nampak sunyi, tidak ada orang

lain. Ketika dia mengetuk pintu, yang membuka daun pintu

adalah nona bangsawan itu sendiri. Nona itu nampak makin

cantik jelita, dengan pakaian yang indah dan sungguh aneh

sekali, Louw Ti merasa seolah-olah ia pernah mengenal nona

ini. Bukan kemar in dulu ketika nona bangsawan itu datang ke

rumahnya di kota raja, melainkan jauh sebelum itu. Dia

pernah mengenal atau setidaknya bertemu dengan wanita ini.

Akan tetapi dia lupa lagi kapan dan di mana. Akan tetapi, hati

dan pikirannya segera dipenuhi oleh rencana siasatnya dan dia

tidak mau repot-repot tentang hal itu. Apalagi nona

bangsawan itu sudah tersenyum sehingga nampak deretan

gigi yang putih seperti mutiara dan rapi.

“Ah, kiranya Louw-enghiong baru datang?”

Tepat seperti yang direncanakan, Louw Ti memandang ke

kanan kiri seolah-olah takut kalau-kalau kedatangannya

diketahui orang. “Kudaku jatuh sakit di tengah jalan, nona,

sehingga saya terpaksa berjalan kaki. Maaf, saya agak

terlambat, akan tetapi saya berhasil membawa harta….. eh, ini

sampai ke sini.”

Kembali ia memandang ke kanan kiri dan menahan katakatanya

hendak menyebut harta pusaka.

Nona bangsawan itu tersenyum. “Tidak usah khawatir,

Louw-enghiong, di sini tidak ada orang lain hanya aku sendiri.

Masuklah, aku girang bahwa engkau sudah berhasil membawa

harta pusaka itu dengan selamat sampai ke rumah ini. Rumah

ini masih kosong, karena masih baru dan belum ada pelayan.

 

Besok pagi baru keluarga ayah datang bersama barangbarang

dan pelayan.”

Bukan main girang rasa hati Louw Ti. Keadaan tempat ini

sungguh tepat sekali untuk pelaksanaan siasatnya! Sunyi tidak

ada orang lain kecuali mere ka berdua! Dia mengikut i nona itu

masuk ke ruangan sebelah dalam dan dia melihat bahwa

rumah ini memang besar, mempunyai banyak kamar.

“Mari, silakan duduk dan berikan buntalan itu kepadaku,

Louw-enghiong,” kata nona itu setelah mereka tiba di ruangan

sebelah dalam yang luas, di mana hanya ada beberapa buah

kursi dan sebuah meja besar.

Louw Ti merasa betapa jantungnya berdebar semakin

kencang. Dia tidak pernah mengalami ketegangan seperti ini.

Biasanya, biar ada maksud membunuh orang atau melakukan

perbuatan apa pun, dia bersikap tenang saja. Akan tetapi

entah mengapa, sekali ini dia merasa amat tegang dan

buntalan itu mengeluarkan bunyi ketika dia letakkan di atas

meja, tanda bahwa tangannya agak gemetar.

“Nanti dulu, Siocia, Buntalan ini akan saya serahkan kepada

nona kalau uang tanggungan saya berikut ongkos pengirim an

yang lima puluh tail emas itu nona serahkan dulu kepada

saya.”

Nona bangsawan itu tersenyum manis dan kembali Louw Ti

seperti merasa pernah melihat mulut yang amat

menggairahkan itu.

“Ah, tentu saja, tunggu sebentar,” kata nona itu dan saking

tegang dan gembiranya, Louw Ti telah melupakan lagi

perasaannya itu. Nona itu memasuki sebuah kamar dengan

langkah berlenggang-lenggok amat menggairahkan dan pada

saat itu Louw Ti menambah rencananya. Sayang kalau nona

itu dibunuh begitu saja, pikirnya, sayang tubuh yang demikian

indah, wajah yang demikian cantik! Malam tadi dia

merencanakan untuk membunuh nona bangsawan ini, karena

 

tidak ada seorang pun yang tahu bahwa nona ini berhubungan

dengan dia, tidak ada yang tahu bahwa nona ini menyuruh dia

mengirim harta pusaka itu. Kalau dia dapat membunuh nona

itu dan melenyapkan mayat dan bekas-bekasnya, tentu dia

akan selamat. Biarlah harta pusaka itu hilang dirampok orang.

Setidaknya dia akan dapat memperoleh kem-bali rumahnya

dan isinya, bahkan menerima pula upah lima puluh tail emas!

Malapetaka yang menimpa dirinya akan berubah menjadi

keuntungan! Dan kini, melihat wajah itu, melihat lenggang itu,

dia menambahkan “perkosaan” pada rencananya, akan

memperkosa dulu nona bangsawan itu sepuasnya sebelum

membunuhnya!

Nona itu muncul kembali dari dalam kamar, membawa dua

buntalan. Ia meletakkan dua buntalan di atas meja, lalu

membuka dua buntalan itu. Mata Louw Ti bercahaya ketika dia

melihat uangnya, uang tanggungan hasil penggadaian rumah,

berada di buntalan besar, sedangkan di buntalan ke dua

nampak berkilauan emas batangan lima puluh tail!

“Nah, ini upah lima puluh tail emas, Louw-enghiong. Dan

ini uang tanggungan-mu kukembalikan, di dalamnya sudah

kusisipkan uang bunganya. Sekarang perlihatkan harta pusaka

itu kepadaku, hendak kulihat apakah masih lengkap, sesuai

dengan catatan ini.”

Tanpa bicara, Louw Ti mendorong buntalannya,

mendekatkannya kepada nona itu. Buntalan dibuka dan nona

itu terbelalak, lalu menatap wajah Louw Ti, “Louw enghiong,

apa artinya ini?” Ia menuding ke arah tumpukan batu koral

yang berada di dalam buntalan.

Sepasang mata Louw Ti yang sejak tadi bersinar-sinar aneh

itu kini mencorong dan wajahnya membayangkan kebengisan

yang menyeramkan. Dia mendekati nona bangsawan itu dan

menyeringai bengis.

“Heh-heh, artinya bahwa engkau akan mat i di tanganku

dan tak seorang pun tahu apa yang telah terjadi di antara

 

kita!” Setelah berkata demikian, dia menerjang ke depan

dengan kedua lengan dipentang lalu menyambar ke depan

seperti dua kaki depan harimau menubruk kelenci. Dia

membayangkan bahwa sekali tubruk saja tentu dia akan dapat

menangkap nona itu dan akan diperkosanya di situ juga

sebelum dibunuhnya dan mayatnya akan dikubur di belakang

rumah malam nanti setelah gelap.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia melihat nona itu

berkelebat ke samping dan tubrukannya mengenai tempat

kosong! Nona ini telah mampu mengelak dari tubrukannya

tadi dengan gerakan yang amat lincah! Dengan penasaran,

Louw Ti lalu membalikkan tubuhnya dan menyerang lagi, lebih

cepat dan dengan loncatan, menerkam ke depan. Dia sudah

memperhitungkan bahwa nona itu tentu tidak akan mampu

menghindarkan diri sekali ini, karena selain cepat, juga

terkamannya itu kuat, dan kedua tangannya menyambar dari

kanan kiri menutup jalan keluar bagi lawan.

Akan tetapi untuk kedua kalinya dia kecelik karena tiba-tiba

saja tubuh nona bangsawan yang kelihatannya lemah-lembut

itu sudah berkelebat ke belakang. Tubrukannya luput dan

nona itu sudah lenyap menghilang ke dalam sebuah kamar

dan menutupkan daun pintunya dari dalam.

“Ha-ha-ha, hendak lari ke mana kau? Ke dalam kamar? Haha-

ha, kebetulan sekali!” Louw Ti tertawa, mengira bahwa

calon korbannya itu melarikan diri ke tempat tidur. Dengan

beberapa kali loncatan saja, dia sudah berada di depan pintu

yang tertutup. Sekali menendang, daun pintu itu roboh dan

dia pun meloncat ke dalam. Sebuah kamar kosong dan ada

sebuah pintu tembusan ke be lakangnya. Dia menerjang pintu

ini dan ternyata menembus ke sebuah lorong yang kosong

pula. Louw Ti merasa penasaran, mencari-cari. Banyak kamar

di kanan kiri lorong dan dia membuka daun pintu kamarkamar

itu satu demi satu, akan tetapi semua kamar itu

ternyata kosong tidak ada isinya, belum ada perabot

 

kamarnya dan nona bangsawan itu tidak nampak

bayangannya.

Terpaksa dia kembali ke ruangan tadi melalui kamar yang

daun pintunya diruntuhkannya tadi dan….. di dekat meja di

dalam ruangan itu kini telah berdiri seorang yang membuat

jantungnya seperti berhenti berdenyut, seorang bertubuh

semampai yang mengenakan pakaian serba hitam dan

memakai topeng hitam pula, orang yang pernah merampas

harta pusaka itu dan merobohkannya di kuil tua! Wajah Louw

Ti yang hitam menjadi agak pucat dan dia merasa gentar

sekali. Akan tetapi, orang itu berdiri di dekat meja dan dua

bungkusan uang dan emas telah dikumpulkannya di atas meja

di dekatnya. Jelaslah bahwa orang berkedok itu akan

merampas pula dua bungkusan berharga itu. Dan habislah

kesemuanya untuk dia! Rumahnya habis, tidak ada sepeser

pun di sakunya, dan dia masih akan dituntut pula oleh nona

bangsawan yang kini telah menghilang entah ke mana! Dan

semua barang berharga itu telah dirampas deh orang

berkedok yang berdiri di depannya ini. Orang inilah biang

keladi kejatuhannya, semenjak mengganggu rumah hartawan

yang dilindunginya. Orang inilah yang mencelakakannya!

Teringat akan itu semua, Louw Ti menjadi sedemikian sakit

hati dan marahnya sehingga dia mengeluarkan suara teriakan

yang terdengar seperti gerengan seekor binatang buas dan dia

pun sudah menerjang ke depan sambil melolos dan

menggerakkan senjata cambuknya.

Akan tetapi, Kim Cui Hong yang kini menjadi orang

bertopeng hitam itu tidak mau membuang waktu seperti

ketika ia melayani Louw Ti di kuil tua. Dengan gerakan aneh,

tubuhnya menyelinap di bawah sinar cambuk dan tahu-tahu

tangan kirinya sudah menangkap ujung cambuk itu, tangan

kanannya menotok ke depan disusul kaki kanan yang

menendang ke arah lutut kiri lawan. Serangan ini sangat cepat

dan tak terduga-duga oleh Louw Ti. Dia mencoba untuk

 

menarik kembali senjatanya, namun cambuk itu tak dapat

terlepas dari pegangan tangan lawan, sedangkan tangan

kanan lawan sudah menyambar dengan totokan ganas ke arah

pergelangan tangan kanannya. Untuk menyelamatkan

tangannya, terpaksa dia melepaskan cambuknya dan meloncat

ke belakang menghindarkan tendangan lawan. Dalam

segebrakan saja kini cambuknya sudah berpindah tangan.

“Tar-tar-tar….!” Kini cambuk itu meledak-ledak dan

menyambar-nyambar, seperti ular-ular mematuk ujung

cambuk itu menyambar ke arah berbagai jalan darah penting

di tubuh Louw Ti! Tentu saja orang ini terkejut dan sibuk

sekali, berusaha mengelak, namun datangnya serangan

cambuk yang bertubi-tubi itu terlampau cepat baginya

sehingga akhirnya, dia pun terpelanting roboh dan tak mampu

bergerak lagi karena jalan darahnya tertotok, seperti

keadaannya malam tadi di kuil tua dalam hutan! Ia hanya

rebah miring dan memandang dengan mata melotot tanpa

dapat menggerakkan kaki tangannya yang menjadi lumpuh.

Sinar matanya penuh kebencian kepada orang berkedok itu.

Cui Hong memandang kepada korbannya melalui lubang di

topengnya, sepasang matanya berkilat-kilat penuh dendam.

Kemudian dia berkata, “Louw Ti, engkau jahanam keparat

yang paling busuk di dunia ini, karena itulah maka aku hendak

menghukummu sesuai dengan kejahatanmu.”

Karena sudah putus asa dan t idak berdaya, Louw Ti

menjadi nekat. “Iblis keji, siapakah engkau?”

Cui Hong mengeluarkan suara dengusan mengejek.

“Hemm, engkau ingin melihat isterimu diperkosa di depan

matamu, seperti yang sering kali kau lakukan? Engkau ingin

melihat anak-anakmu dibunuh di depan matamu, seperti

engkau membunuh mereka? Tunggu sebentar?” Dan Cui Hong

lalu meninggalkan Louw Ti, memasuki sebuah kamar. Louw Ti

tertegun dan diam-diam merasa ngeri. Orang berkedok itu

kejam seperti binatang buas, jahat seperti iblis, dan dia tidak

 

tahu apa yang dimaksudkan oleh orang itu, ucapan yang

membuat hatinya gelisah dan jantungnya berdebar penuh

ketegangan.

Tak lama kemudian orang berkedok ini muncul lagi dari

dalam kamar itu dan Louw Ti merasa jantungnya seperti akan

copot karena berdebar keras sekali ketika dia melihat isterinya

dan dua orang anaknya berjalan di samping si kedok hitam

itu!

“Ayah…..!” Dua orang anaknya itu, seorang anak laki-laki

dan seorang anak perempuan yang usianya baru enam dan

empat tahun, memanggilnya dan lari menghampirinya, lalu

berlutut di dekat tubuhnya. Akan tetapi isterinya hanya berdiri

saja memandang, dengan kedua mata berlinang air mata.

“Louw Ti, inilah isteri dan anak-anakmu. Engkau tentu ingin

melihat isterimu diperkosa orang, bukan oleh satu orang

melainkan akan kudatangkan empat orang untuk

memperkosanya, dan melihat anak-anakmu dibunuh di depan

matamu, bukan?”

Wajah yang hitam itu menjadi pucat. Dia mencoba untuk

menggerakkan kaki tangannya namun tak berhasil. “Tidak ……

tidak…., jangan ganggu mereka…..” dia meratap.

“Hemm, di mana kekerasan hatimu? Di mana

kekejamanmu? Engkau terlalu sering membunuh orang begitu

saja, di depan mata orang-orang yang mencintanya, dan

engkau selalu sering memper-kosa wanita, juga di depan

orang-orang yang mencintanya. Kenapa sekarang engkau

meratap agar isterimu jangan diperkosa di depan matamu dan

anak-anakmu dibunuh di depan matamu?”

0o-de-oo-wi-o0

 

Jilid 6

“TIDAK…. jangan..,, ah, ampunkan mereka…. bunuh aku

tapi jangan ganggu mereka….”

“Hemm, enak saja bicara! Aku pun tidak sekejam engkau

untuk melakukan semua itu di depan matamu, akan tetapi

setidaknya engkau akan mendengarkan sendiri dengan kedua

telingamu.” Cui Hong lalu memegang kedua orang anak kecil

 

itu. Dua orang anak itu meronta dan memanggil-manggil

ayahnya, akan tetapi Cui Hong menarik tangan mereka,

bahkan kini dibantu oleh isteri Louw Ti yang sejak tadi diam

saja, hanya menitikkan air mata. Dengan paksa kedua orang

anak itu diseret masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari

ruangan itu.

“Jangan….! Jangaaaannn….!” Louw Ti meratap, mer intih

dan berteriak. Akan tetapi semua Tatapannya tidak ada yang

memperdulikannya. Akhirnya dia diam dan dengan mata

terbelalak memandang ke arah kamar itu yang pintunya

ditutup dari dalam, lalu terdengar isterinya menangis dan

terdengar pula anak-anaknya menjerit dan menangis

ketakutan! Dapat dibayangkan siksaan yang diderita batin

Louw Ti di saat itu. Dia membayangkan betapa isterinya

diperkosa orang sampai merintih-ritih dan menangis,

membayangkan kedua anaknya disiksa dan dibunuh sampai

menjerit-jerit ketakutan,

“Jangan….! Ah, ampunkan mereka….. jangan….!” Dia

berteriak-teriak akan tetapi teriakannya semakin lemah karena

dia mengalami guncangan batin yang amat hebat.

Membayangkan isterinya diperkosa orang dan anak-anaknya

disiksa, tanpa mampu berbuat apa pun untuk menyelamatkan

mereka, sungguh merupakan siksaan yang lebih hebat

daripada siksaan badan. Akhirnya dia menangis mengguguk

seperti anak kecil.

Kini sunyi saja dari kamar itu. Tangis isterinya dan jerit

anak-anaknya sudah berhenti.

“Jangan-jangan mereka sudah mati…., pikir Louw Ti dan

tangisnya makin mengguguk.

Ketika daun pintu itu terbuka, Louw Ti menghentikan

tangisnya, mengedip-ngedipkan matanya untuk mengusir air

mata yang menghalangi pandang matanya, lalu memandang

dengan melotot ke arah orang berkedok itu, yang keluar dari

kamar dengan langkah seenaknya. Diakah yang memperkosa

 

isteriku? Ataukah ada kawan-kawannya? Tentu dia yang telah

membunuh anak-anakku. Sampai mati dia tidak akan

melupakan ini. Dia harus mengenal orang ini agar kelak, kalau

ada kesempatan, dia akan membalas dendam!

“Binatang she Louw, sudah puaskah hatimu mendengar

isterimu diperkosa orang dan anak-anakmu disiksa? Aku

menyerahkan isterimu kepada orang-orang ku agar

dipermainkan secara bergilir sampai mampus, dan juga

membunuh anak-anakmu di luar dusun. Akan tetapi aku masih

belum selesai dengan dirimu.”

Louw Ti yang merasa berduka, marah dan penuh kebencian

itu kini sudah nekat dan lupa akan rasa takut. “Jahanam! Iblis

keji! Siapakah engkau? Jangan menjadi pengecut dan

perlihatkan mukamu kepada ku!”

Tiba-tiba dari balik kedok itu terdengar suara ketawa halus

dan disusul suara merdu seorang wanita, berbeda dengan

suara si kedok hitam tadi yang seperti suara pria.

“Tentu saja engkau akan mengenal aku.” Dan orang itu lalu

membuka kedoknya dan sepasang mata Louw Ti terbelalak

lebar dan penuh keheranan ketika dia melihat bahwa muka di

balik kedok itu adalah wajah cantik dari nona bangsawan tadi!

Kini mengertilah dia. Si kedok hitam itu bukan lain adalah

nona bangsawan itu pula. Seorang wanita! Dan demikian

lihainya, dan demikian penuh dendam kepadanya sehingga

mengatur siasat yang sudah direncanakan dengan rapi untuk

menghancurkannya!

“Kau….!!” Dia berseru dan habislah harapannya.

Bagaimana wanita ini tidak akan berlaku kejam kepadanya?

Baru saja dia hendak membunuhnya, bahkan hendak

memperkosanya!

“Ya, akulah si kedok hitam yang mengganggu para

hartawan yang kaulindungi itu. Aku pula yang merampas harta

pusaka yang dititipkan oleh nona bangsawan yang juga aku

 

sendiri orangnya. Aku telah mengatur semua ini untuk

menjatuhkanmu, untuk menghancurkanmu, Louw Ti!”

“Tapi…. tapi….. mengapa engkau lakukan semua ini

kepadaku? Siapakah engkau? Siapa namamu?”

“Hemm, buka matamu lebar- lebar dan lihat siapakah diriku,

Louw Ti.” Kim Cui Hong lalu menghapus bedak yang menutupi

tahi lalat di dagunya. Ia memang menyembunyikan tahi lalat

itu, satu-satunya ciri pada mukanya, agar tidak dikenal oleh

musuh-musuhnya sebelum saatnya tiba. “Buka matamu dan

lihatlah baik-baik siapa aku!” Wanita itu mendekatkan

mukanya dan sepasang matanya mencorong, penuh dengan

api dendam.

“Aku…. aku tidak mengenalmu….” kata Louw Ti ragu-ragu.

Memang kembali perasaan bahwa dia telah mengenal wanita

ini timbul, akan tetapi dia tetap saja tidak dapat mengingatnya

siapa wanita ini. “Siapakah engkau….?”

Bibir yang merah basah dan indah bentuknya itu

tersenyum. “Agaknya terlalu banyak sudah engkau menyiksa

orang sehingga tidak dapat kauingat kembali satu-satu.

Namaku adalah Kim Cui Hong. Ingatkah engkau akan nama

itu?”

Louw Ti menggeleng kepalanya. “Tidak, aku tidak kenal….”

Memang, waktu yang tujuh tahun lamanya itu telah terisi

dengan pengalaman yang banyak sekali sehingga sukar

baginya mengingat gadis ini yang sudah lama sekali

dianggapnya mati dan tidak ada lagi di dunia ini, apa pula

dengan kepandaian selihai itu!

“Jahanam keparat, kenal atau tidak, engkau akan

menerima pembalasanku!” tiba-tiba dengan hati mendongkol

sekali Cui Hong menggerakkan cambuk rampasannya tadi.

Terdengar bunyi meledak dua kali dan ujung cambuk sudah

mematuk dan menotok, membebaskan Louw Ti. Orang ini lalu

 

menggerakkan kaki tangannya dan bangkit. Cui Hong

melemparkan cambuk itu kepada pemiliknya.

“Aku tidak mau menyerang orang yang tak berdaya. Nah,

pergunakan senjatamu, dan pertahankan nyawamu!”

Hati Louw Ti merasa gentar sekali. Baru se karang dia tahu

apa artinya takut. Akan tetapi, dia teringat akan isteri dan dua

orang anaknya. Mungkin dua orang anaknya telah tewas dan

isterinya.. … dia menelan ludah, isterinya telah diperkosa

orang-orang secara bergantian, mungkin sudah mendekati

maut lagi.

Perempuan ini membalas dendam? Apakah dia pernah

membunuh anak-anak perempuan ini? Rasanya tak mungkin

karena ia masih begitu muda. Kalau begitu, memperkosanya?

Memperkosanya secara bergantian? Banyak sudah perempuan

yang pernah diperkosanya ketika dia masih menjadi jagoan

dan tukang pukul, dan dia tidak ingat lagi pernah memperkosa

gadis cantik ini. Isteri dan anak-anaknya sudah tewas, dia

sudah jatuh miskin. Dia tidak memiliki apa-apa lagi. Pikiran ini

mengusir rasa takutnya, bahkan mendatangkan

kemarahannya dan tekad untuk melawan mati-matian, untuk

sedapat mungkin membunuh wanita yang telah membuatnya

sengsara ini.

“Baik, kita mengadu nyawa!” bentaknya marah. Dia

menyambar cambuknya dan dengan gerengan seperti seekor

singa terluka, dia pun menyerang Cui Hong dengan

cambuknya. Cambuk itu meledak-ledak di atas kepalanya

ketika diputar cepat dan meluncurlah cambuk itu turun ke

arah kepala Cui Hong. Dalam keadaan nekad dan marah itu,

Louw Ti yang memang lihai sekali menjadi semakin

berbahaya. Dia nekad dan bernapsu sekali untuk membunuh

lawan tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri.

Dalam ilmu silat yang dipergunakan untuk berkelahi, seorang

ahli silat hanya mengerahkan setengah bagian dari tenaga dan

kepandaiannya untuk melakukan penyerangan, sedangkan

 

setengahnya lagi untuk melindungi diri. Akan tetapi dalam

keadaan nekad, Louw Ti mengerahkan seluruh tenaga yang

ada padanya untuk menyerang tanpa memperdulikan

pertahanan atau perlindungan diri, oleh karena itu seranganserangannya

amatlah dahsyat.

Namun, pada waktu itu, tingkat Kepandaian Cui Hong

sudah lebih tinggi dari tingkat kepandaian lawan. Gadis ini

menang dalam segalanya. Menang tinggi ilmu silatnya,

menang dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan

menang pula dalam kekuatan sinkang (tenaga sakti). Maka,

biarpun ia hanya bertangan kosong menghadapi cambuk yang

diputar dengan cepat dan kuat itu, ia masih tenang saja dan

mengandalkan ginkangnya untuk menyelinap di antara

gulungan sinar cambuk yang tak pernah berhasil menyentuh

tubuhnya.

Sebaliknya, di dalam hati Cui Hong juga terjadi kebakaran!

Api dendam dan kebencian menyala-nyala di dalam dadanya.

Sambil mengimbangi kecepatan gerakan cambuk yang

meledak-ledak, Cui Hong membayangkan peristiwa yang

terjadi tujuh tahun lebih yang lalu. Masih nampak jelas di

depan matanya ketika dia diperkosa oleh musuh-musuhnya,

dan pada saat itu, selagi berhadapan dengan Louw Ti, yang

terbayang adalah ketika Louw Ti memperkosanya dengan

buas.

Laki-laki bertubuh pendek tegap yang bermuka hitam ini,

dahulu ketika memperkosanya, kelihatan amat menakutkan.

Matanya yang lebar melotot merah dan Cui Hong yang ketika

tiba giliran Louw Ti memperkosanya sudah lemah dan dalam

keadaan setengah pingsan, merasa seolah-olah ia menjadi

seekor domba yang dicabik-cabik dan di lahap seekor harimau

buas. Hatinya kini merasa sakit bukan main dan kalau saja ia

tidak teringat akan sumpahnya kepada gurunya, tentu akan

dibunuhnya orang ini.

 

“Tidak, aku tidak boleh membunuhnya ….” katanya kecewa

di dalam hatinya dan ia pun menekan kemarahannya agar

jangan sampai kelepasan tangan membunuh lawan ini, kalau

ia mau tentu pada saat itu ia akan mampu membunuh Louw

Ti. Akan tetapi, kembali peristiwa yang lalu membayang di

depan matanya, kini dilihatnya bayangan ayahnya dan

suhengnya yang disiksa sampai mati oleh tiga orang jagoan

itu, ialah Louw Ti, Koo Cai Sun, dan Gan Tek Un.

“Wuuuuttt….!” Kaki kiri Cui Hong menyambar dahsyat,

dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh kecepatan

gerakan Louw Ti.

“Krekk….!” Louw Ti menjerit karena tendangan dahsyat

yang dilepaskan Cui Hong dengan kemarahan meluap-luap ini

tepat mengenai pergelangan tangan kanannya sehingga

tulangnya patah dan kembali cambuknya sudah pindah ke

tangan wanita cantik itu.

“Tar…. tar….!” Cui Hong mengayun cambuk itu di atas

kepala dengan sikap mengancam.

Louw Ti menahan rasa nyeri di lengan kanannya, lalu

dengan nekad dia menubruk maju, menggunakan tangan

kirinya yang membentuk cakar, mencengkeram ke arah dada

Cui Hong. Sebagai seorang jagoan berilmu t inggi, biar lengan

kanannya sudah patah tulangnya dan tak dapat dipergunakan

lagi, dia masih berbahaya.

“Wuuuuttt…. tarrr…. singgg….!” Cambuk di tangan Cui

Hong menyambar seperti kilat cepatnya, dengan amat kuat

menyambut tangan kiri Louw Ti yang mencengkeram itu dan

samping. Nampak sinar berkilat saking cepatnya cambuk itu

menyambar.

“Crokkk….!” Untuk kedua kalinya Louw Ti menjerit dan dia

memandang terbelalak kepada lengan kirinya yang kini

buntung karena cambuk itu membabat lengannya seperti

sebatang pedang saja. Tangan kirinya putus sebatas

 

pergelangan tangan dan terlempar jauh, dan dari lengan yang

buntung itu bercucuran darah!

Kini kedua tangan Louw Ti tak dapat dipergunakan lagi,

yang kanan telah patah tulang lengannya yang kiri buntung.

Hal ini membuat Louw Ti menjadi semakin nekad. Dia maklum

bahwa dia takkan mampu menandingi gadis itu, maka dia tak

takut lagi menghadapi kematian, apalagi kalau dia teringat

bahwa isteri dan dua orang anaknya tentu akhirnya akan mati

pula. Maka biarpun kedua tangannya sudah tak dapat

dipergunakannya lagi, dia masih belum mau menyerah.

“Perempuan iblis kejam!” bentaknya sambil menyerang

dengan tendangan bertubi-tubi, menggunakan kedua kakinya

bergantian.

Cui Hong mengelak ke sana-sini, mempermainkan. “Louw

Ti jahanam busuk, orang macam engkau masih dapat memaki

orang lain kejam?”

Melihat kenekatan lawan, Cui Hong kembali mengayun

cambuknya yang meluncur ke depan.

“Tarrr….!” Louw Ti mengeluh dan menggerakkan kedua

lengan yang sudah tak berdaya itu ke arah mukanya. Mata

kirinya pecah oleh ujung cambuk dan berdarah.

Ketika lengan kirinya yang buntung bercucuran darah itu

digerakkan untuk menutup mukanya, muka itu pun

berlumuran darah yang keluar dari mata kirinya dan dari

lengan kiri yang buntung. Mengerikan sekali keadaan Louw Ti

di saat itu, namun dia memiliki tubuh yang kuat. Biarpun

kedua lengan sudah tak berdaya dan mata kirinya sudah

menjadi buta, dia masih maju lagi dengan ganasnya,

menyerang dengan tendangan-tendangan membabi buta.

Kembali cambuk itu meledak-ledak dan tubuh Louw Ti kini

roboh terpelanting karena kedua kakinya tak dapat dipakai

untuk berdiri lagi. Tulang kering kaki kirinya patah-patah dan

sambungan lutut kaki kanannya terlepas. Dia tidak berdaya

 

lagi, hanya rebah sambil memandang wanita itu dengan mata

kanan yang melotot. Mukanya penuh darah dan mulutnya

mengeluarkan busa saking marahnya.

“Iblis betina, bunuhlah, aku tidak takut mati!” bentaknya

penuh geram.

Cui Hong sudah merasa puas dengan pembalasan

dendamnya dan ia tersenyum sambil menggeleng kepala,

memandang dengan sinar mata mengejek. “Aku t idak akan

membunuhmu, aku ingin melihat engkau menyesali hidup dan

menyesali dosamu yang terkutuk!”

“Perempuan iblis! Dosa apakah yang telah kulakukan

kepadamu maka engkau berlaku sekejam ini, bahkan telah

menyiksa dan membunuh isteri dan anak-anakku yang sama

sekali tidak berdosa? Katakanlah agar aku tidak mati

penasaran!”

“Memang matamu buta sehingga engkau tidak mengenal

aku, Louw Ti. Ingin aku membutakan kedua matamu, akan

tetapi biarlah kutinggalkan sebuah agar engkau dapat melihat

akibat dari perbuatanmu yang terkutuk. Namaku Kim Cui Hong

tidak kauingat lagi, akan tetapi agaknya engkau tidak akan

lupa kepada gadis puteri guru silat Kim di Dusun Ang-ke-bun

itu, ketika si jahanam Pui Ki Cong dibantu oleh Thian-cin Butek

Sam-eng membunuh guru silat Kim bersama seorang

muridnya, kemudian mereka berempat itu secara biadab

memperkosa dan menghina puteri guru silat Kim dan

membuangnya di dalam hutan? Akulah puteri guru silat Kim

itu!”

Mata tunggal itu terbelalak, muka yang sudah pucat itu

menjadi semakin pucat. Kini teringatlah Louw Ti. “Kau….

kau…. gadis itu…. benar…. tahi lalat di dagumu itu….

ahhhh….!” Louw Ti memejamkan matanya yang tinggal

sebuah seperti hendak mengusir peristiwa tujuh tahun yang

lalu, yang kini kembali terbayang di dalam benaknya. Tentu

saja dia teringat karena dia pun ikut pula memperkosa gadis

 

yang sudah hampir mati itu, memperkosanya setelah gadis itu

oleh Pui Ki Cong dihadiahkan kepada mereka bertiga, dia

sendiri, Koo Cai Sun, dan Gan Tek Un, dipelopori oleh Koo Cai

Sun yang memang suka sekali mempermainkan wanita

cantik. Pantas saja gadis ini menyuruh orang-orang

memperkosa isterinya sampai mati, kemudian menyuruh

orang-orang menyiksa kedua anaknya sampai mati. Kiranya

gadis yang mereka lempar dan tinggalkan di dalam hutan itu

masih belum mati dan kini telah menjadi seorang wanita yang

memiliki ilmu kepandaian tinggi bukan main!

“Kau…. kau…. menjadi iblis betina yang kejam. Aku hanya

memusuhi engkau, akan tetapi kenapa engkau membalas

kepada anak isteriku pula yang tidak tahu apa-apa? Siksalah

aku, bunuhlah aku, akan tetapi kenapa engkau menyiksa

mereka?”

Cui Hong tersenyum mengejek. “Manusia berhati b inatang!

Engkau lupa betapa kalian telah menyiksa dan membunuh

ayahku dan suheng, juga tunanganku. Akan tetapi aku

tidaklah serendah dan sekejam engkau.” Cui Hong lalu

melompat ke pintu dan membuka daun pintu tembusan itu.

Keluarlah seorang wanita dan dua orang anak yang tadi

dibawa ke dalam. Isteri Louw Ti itu masih berpakaian biasa,

dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia

telah diperkosa orang! Dan dua orang anak-anak itupun dalam

keadaan sehat-sehat saja, sama sekali tidak menderita cidera.

Melihat Louw Ti rebah dengan berlumuran darah, isterinya

dan kedua orang anaknya lalu lar i menghampiri dan

menangisinya.

Melihat mere ka, Cui Hong merasa kasihan pula dan ia pun

berkata, suaranya tenang dan jelas terdengar oleh isteri Louw

Ti. “Seperti sudah kuceritakan kepadamu, Enci, suamimu ini

telah melakukan dosa yang tak dapat diampuni terhadap

diriku dan ayahku, juga tunanganku. Dia dan komplotannya

tidak saja menyiksa dan membunuh ayah dan tunanganku

 

yang sama sekali tidak berdosa, bahkan dia dan komplotannya

itu memperkosa aku di depan mata ayah dan tunanganku

sebelum membunuh mereka. Dia dan komplotannya telah

memperkosa aku bergantian selama beberapa hari, kemudian

karena mereka mengira aku mati mereka melempar aku ke

dalam hutan dan meninggalkan aku. Aku sudah puas

sekarang, membalas dendam kepadanya akan tetapi aku tidak

membunuhnya.”

Diingatkan akan perbuatan suaminya yang sudah

didengarnya dari Cui Hong, isteri Louw Ti berhenti menangis

dan kini ia memandang wajah suaminya yang berlumuran

darah. Di bawah ancaman Cui Hong, juga karena sudah

mendengar penuturan gadis itu, ia tadi membantu Cui Hong

dengan merintih dan menangis seperti orang diperkosa, dan

anak-anaknya ditakut-takuti sehingga mereka pun menangis

dan berteriak-teriak.

“Benarkah semua yang diceritakan itu? Benarkah engkau

dahulu melakukan i semua perbuatan terkutuk itu?” tanyanya

sambil bangkit berdiri.

Louw Ti tak dapat menyangkal lagi. Tiada gunanya

menyangkal. Dengan mata tunggalnya yang berkedip-kedip

dia memandang anak isterinya seorang demi seorang, lalu

berkata dengan suara lirih dan parau, “Benar…. semua

benar….”

Jawaban ini seperti memukul isterinya. Wanita itu cepat

meraih dan memegang tangan kedua anaknya, ditariknya

menjauh dari tubuh yang rusak itu seolah-olah takut kalaukalau

mereka akan ikut menjadi kotor. “Engkau memang

manusia biadab! Aku sendiri pun dulu kau paksa menjadi

isterimu, dengan menggunakan pengaruh uangmu dan

kepandaianmu. ayahku takut menolak dan aku terpaksa

menjadi isterimu. Aku berusaha untuk menyesuaikan diri,

belajar mencinta ayah dari anak-anakku, akan tetapi….

kiranya engkau pernah melakukan hai yang sedemikian

 

kejinya. Terkutuk kau! Aku tidak sudi menjadi isterimu lagi,

aku tidak sudi melihat mukamu lagi!” Wanita itu menangis dan

membalikkan diri, membelakangi suaminya.

Cui Hong menyerahkan sebuah bungkusan kepada wanita

itu. “Enci, terimalah uang ini untuk bekal hidupmu bersama

anak-anakmu.”

Isteri Louw Ti menerima bungkusan itu yang berisi uang

yang harganya seratus tail emas lebih, yaitu uang yang

diterima Cui Hong dari Louw Ti sebagai uang tanggungan,

hasil penggadaian rumah dan seisinya. Isteri Louw Ti

menerima uang itu lalu mengajak pergi kedua orang anaknya,

untuk pulang ke rumah orang tuanya dan selamanya tidak

akan mau lagi bertemu dengan bekas suaminya itu.

Melihat isteri dan anak-anaknya meninggalkannya, Louw Ti

merasa gelisah bukan main. Dia sudah kehilangan segalagalanya,

rumahnya dan seisi rumah, juga tubuhnya sudah

cacat. Kalau sekarang isteri dan kedua orang anaknya

meninggalkannya, bagaimana dia dapat hidup? Dia

memanggil-manggil, meratap dan menangis, akan tetapi isteri

dan anak-anaknya tidak memperdulikannya lagi sampai lenyap

ke luar rumah.

Cui Hong memandang dengan sinar mata penuh ejekan.

“Nah, baru sekarang engkau merasakan akibat dari

perbuatanmu terhadap diriku tujuh tahun yang lalu. Rumah ini

hanya kusewa dari orang. Selamat tinggal, Louw Til” Cui Hong

lalu meloncat keluar.

Louw Ti kini menjerit-jerit dan menangis, akan tetapi tak

lama kemudian terdengar dia tertawa bergelak, lalu menangis

lagi. Kiranya pukulan batin lebih hebat daripada pukulan lahir

baginya dan dia telah menjadi gila secara mendadak!

Sesal kemudian memang tiada gunanya sama sekali.

Penyesalan tidak akan mengubah seseorang dari wataknya

yang sesat, karena penyesalan biasanya datang setelah akibat

 

perbuatan itu menimbulkan kerugian bagi dirinya, kerugian

lahir maupun batin. Jadi yang disesalkan bukanlah perbuatan

pesatnya, melainkan akibatnya yang merugikan. Andaikata

tidak ada akibat yang merugikan, penyesalan pun tidak akan

ada, dan biasanya, kalau akibat yang merugikan itu sudah

mereda dan t idak begitu terasa lagi, maka pengulangan

perbuatan sesat itupun terjadilah! Yang penting bukan

penyesalan, melainkan pengamatan setiap detik terhadap diri

sendiri, setiap detik pada pengamatan apa yang kita pikirkan,

ucapkan, lakukan.

Pengamatan diri sendiri ini harus terjadi tanpa adanya

“aku” yang mengamati, karena kalau terdapat sang aku, tentu

pengamatan ini akan menilai dan pengamatan itu pun akan

menjadi miring dengan adanya pendapat-pendapat baik dan

buruk, benar dan salah. Padahal, setiap penilaian adalah palsu

karena si penilai tentu akan mendasari setiap penilaian dengan

perhitungan untung rugi bagi diri sendiri. Jadi, tidak ada “aku”

yang mengamati, melainkan yang ada hanyalah pengamatan

itu saja, perhatian sepenuhnya tanpa penilaian dari sang aku.

Pengamatan inilah yang akan mengubah! Perubahan seketika

pada saat itu juga, tanpa penyesalan, tanpa pamrih.

0odwo0

Laki-laki itu berusia empat puluh tahun lebih. Mukanya

yang bulat bersih tidak ada kumis atau jenggotnya selembar

pun juga, agak putih dan mata itu bergerak-gerak lincah,

mulutnya selalu tersenyum mengejek, akan tetapi seketika

menjadi senyum ramah kalau ada wanita lewat berpapasan

dengannya. Perutnya gendut dan pakaiannya serba mewah

dan dari sutera mahal. Mukanya masih dibikin lebih putih

dengan olesan bedak tipis, dan pakaiannya mengeluarkan bau

wangi sekali, seolah-olah sebotol minyak wangi telah tumpah

dan menyiram pakaiannya.

Biarpun dia kelihatan seperti seorang laki-laki hidung

belang tukang pelesir, dengan sinar mata membayangkan

 

kecabulan dan mata keranjang, namun pria ini bukan seorang

biasa, bukan sembarang orang. Dia adalah seorang jagoan

yang memiliki ilmu silat tinggi! Dialah Koo Cai Sun, dan.

seperti pembaca tentu masih ingat, Koo Cai Sun merupakan

seorang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng atau Tiga Jagoan

Tanpa Tanding dari Thian-cin! Dialah seorang di antara tiga

jagoan yang pernah membantu Pui Ki Cong, membunuh Kimkauwsu

dan Can Lu San, muridnya, dan memerkosa Cui Hong.

Bahkan dalam perbuatan memperkosa Cui Hong, dialah yang

menjadi pelopornya, karena di antara tiga orang jagoan itu,

dialah yang berwatak paling mata keranjang dan suka sekali

mempermainkan wanita cantik, baik secara halus

mempergunakan pengaruh uang dan kepandaiannya, namun

juga secara kasar dengan jalan mengancam dan memperkosa.

Dan selama ini tidak ada orang berani menentangnya, karena

selain dia sendiri lihai, juga semua buaya darat dan kaum

penjahat adalah sahabat baiknya!

Seperti juga Louw Ti, Koo Cai Sun tinggal di kota raja. Akan

tetapi di antara mereka berdua jarang mengadakan

perhubungan karena pekerjaan mereka memang berbeda.

Louw Ti mempergunakan pengaruhnya untuk “melindungi”

para hartawan dengan imbalan jasa, juga kadang-kadang

melindungi pengiriman barang-barang berharga dengan upah

tinggi.

Adapun Koo Cai Sun yang tinggal di tengah kota, membuka

sebuah toko yang berdagang macam-macam senjata kuno

yang dianggap sebagai pusaka-pusaka yang ampuh. Tokonya

terkenal sekali dan dia memperoleh banyak keuntungan,

menjadi kaya raya. Para pembesar di kota raja mengenalnya

karena para pembesar itu suka membeli benda-benda kuno

yang dianggap keramat dan bertuah, dan dalam hal

mencarikan senjata-senjata kuno yang ampuh untuk para

pembesar itu, Cai Sun amat pintar.

 

Sejak dulu Cai Sun berwatak mata keranjang, tak boleh

melihat wanita cantik. Mudah saja dia tergila-gila kalau melihat

wanita cantik, dan celakanya, kalau dia sudah tertarik, tidak

perduli wanita itu masih perawan, ataukah sudah janda,

bahkan isteri orang, akan diusahakan agar jatuh ke dalam

pelukannya. Dan setelah kini menjadi kaya-raya,

kegemarannya akan paras cantik ini makin menjadi, sehingga

terkenallah nama Koo Cai Sun sebagai seorang hartawan yang

mata keranjang. Di dalam rumahnya, dia telah mempunyai

seorang isteri dan tiga orang anak, dan di samping isterinya

yang dianggapnya sudah tua, masih ada lagi empat orang

isteri muda di dalam rumahnya. Namun, lima orang isteri di

rumah ini masih belum cukup bagi Cai Sun. Dia masih

berkeliaran ke luar rumah, mencari-cari mangsa baru dan

setiap kali mendengar ada janda cantik tentu akan didatangi

dan digodanya sampai dapat. Di samping itu, dia pun menjadi

langganan rumah-rumah pelacuran yang paling terkenal di

kota raja.

Pada suatu hari, pagi-pagi pada saat matahari mulai naik,

Koo Cai Sun meninggalkan sebuah rumah yang terletak di

dekat sebuah jembatan. Rumah itu tempat tinggal seorang

janda yang terpikat pula oleh rayuan Koo Cai Sun, seorang

janda yang tidak muda lagi sudah empat puluh tahun lebih

usianya, akan tetapi masih sexy dan genit. Cai Sun yang mata

keranjang dan rakus akan wanita ini tidak melewatkan janda

itu sehingga terjadilah hubungan di antara mereka, hubungan

gelap tanpa menghiraukan kritik yang dilontarkan oleh anakanak

janda itu yang besar-besar, bahkan janda itu sudah

mempunyai beberapa orang cucu! Tanpa mengenal malu, Cai

Sun keluar dari rumah itu dalam keadaan yang agak kusut dan

lesu, tidak seperti biasa dia selalu necis dan pesolek.

Ketika dia tiba di jembatan itu, sesosok tubuh yang

menggeletak di tepi jalan menarik perhatiannya. Bagi orang

lain yang lewat di situ, tubuh yang menggeletak itu tidak

diperdulikan, bahkan dengan jijik mereka membuang muka

 

agar jangan terlalu lama memandang keadaan orang yang

mengerikan itu. Keadaan laki-laki yang oleh umum dianggap

sebagai seorang gelandangan yang terlantar ini memang

mengerikan sekali. Tangan kirinya buntung dan ujung lengan

sebatas pergelangan itu dibalut kain yang mulai kotor.

Tercium bau yang busuk dan banyak lalat merubung balutan

tangan buntung itu. Agaknya kedua kaki orang itu pun cacat

karena ia menggeletak setengah rebah di tepi jembatan.

Matanya yang kiri juga buta, biji matanya tidak ada dan

pelupuknya masih memperlihatkan luka borok. Rambutnya

awut-awutan dan pakaiannya compang-camping lagi kotor.

Akan tetapi, Cai Sun terkejut dan menghampiri orang itu.

Biarpun keadaan orang itu seperti gelandangan terlantar, dia

masih dapat mengenal orang pendek muka hitam itu.

“Louw Ti! Bukankah engkau Louw Ti….?” tanyanya sambil

berjongkok dan memandang penuh rasa kaget dan heran. Dia

ingat bahwa sahabatnya ini telah menjadi seorang yang cukup

kaya dan berhasil, tinggal di tepi kota raja. Kenapa kini berada

di sini seperti seorang gelandangan dalam keadaan cacat

seperti itu?

Orang itu membuka mata tunggalnya memandang kepada

Cai Sun, lalu tertawa ha-ha-he-he, kemudian menangis.

Tahulah Cai Sun bahwa orang ini telah menjadi gila!

Hai ini membuat dia menjadi semakin penasaran dan

dipegangnya kedua pundak orang itu, diguncangnya agak

keras.

“Louw t Ti! Sadarlah! Aku Koo Cai Sun, sahabat baikmu!”

Orang itu memang Louw Ti yang telah menjadi cacat dan

gila setelah Cui Hong melampiaskan dendamnya kepada

musuh besar ini. Dia memandang Cai Sun dan alisnya

berkerut. Agaknya dia mulai ingat kepada wajah sahabatnya

ini.

 

“Koo Cai Sun? Ahhh, Koo Cai Su…. hu-hu-huuu….!” Dan dia

pun menangis dan menjambak-jambak rambutnya.

“Louw Ti! Tenangkanlah dan ceritakan apa yang telah

terjadi? Kenapa engkau menjadi begini?”

“Hu-hu-huuu…. Cai Sun…. hu-huuuuu, aku celaka…. habishabisan…..”

“Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kau tinggalkan

rumahmu….?”

“Aku tidak punya rumah lagi, isteri dan anak-anakku pergi

semua…. aku…. aku….”

“Kenapa? Dan engkau cacat seperti ini! Siapa yang

melakukan hal ini terhadap dirimu, Louw Ti?”

“Cui Hong…. ia Kim Cui Hong, anak guru silat Kim dar i Angke-

bun itu…. ia gadis bertahi lalat di dagunya yang kita.

perkosa dulu…. ha-ha-ha, ia hidup lagi, ia lihai dan aku

disiksanya….. ha-ha-ha, engkau pun tentu dicarinya. Cai Sun..

…. ha-ha-ha….” Setelah tertawa-tawa, Louw Ti menangis lagi.

Wajah Louw Ti menjadi pucat seketika Dan dia pun

melompat berdiri memandang ke sekeliling, seolah-olah takut

kalau-kalau gadis itu muncul di situ. Tentu saja dia teringat.

Gadis manis itu! Gadis yang dimusuhi oleh Pui-kongcu di

Thian-cin, kemudian ayah dan tunangan gadis itu dibunuhnya

bersama dua orang temannya, yaitu Louw Ti dan Gan Tek Un,

dan gadis itu diperkosa habis-habisan sampai disangka mati.

Pertama oleh Pui-kongcu tentu saja, kemudian dioperkan

kepada mereka bertiga, dan setelah memperkosanya sampai

sepuasnya, mereka lalu melemparkan tubuh gadis itu di

tengah hutan. Gadis itu kini menjadi lihai sekali dan membalas

dendam?

“Huh, takut apa menghadapi seorang gadis saja?” Hatinya

membantah dan mencela diri sendiri. Akan tetapi dia

memandang Louw Ti dan bergidik. Dia tahu bahwa ilmu

 

kepandaian Louw Ti cukup tinggi, tidak lebih rendah dari

kepandaiannya sendiri, terutama ilmu cambuknya yang lihai.

Dan kini Louw Ti dibikin cacat seperti itu oleh gadis itu.

“Hemm, jelas bahwa gadis itu tentu merupakan lawan

berbahaya,” pikirnya. Dia harus cepat menemui Pui Ki Cong

yang juga tinggal di kota raja, karena kalau gadis itu hidup

lagi, menjadi lihai dan membalas dendam, tentu bukan hanya

Louw Ti saja yang disiksa seperti itu, melainkan gadis itu tentu

akan mencari dia pula, dan tentu saja Pui Ki Cong! Gan Tek

Un tidak tinggal di kota raja dan ada sesuatu yang membuat

Cai Sun segan untuk menyampaikan berita mengejutkan

tentang Louw Ti dan gadis bertahi lalat di dagunya itu kepada

Tek Un. Bekas sahabatnya itu kini telah menjadi seorang

pendeta! Dan telah condong bergaul dengan para pendekar,

bahkan kabarnya Gan Tek Un yang telah menjadi pendeta itu

kini berpihak kepada para pendekar, menentang golongan

hitam! Biar lah gadis itu mencari dan menemukan Tek Un dan

menyiksanya, pikirnya. Akan tetapi dia harus mencari Pui Ki

Cong, berunding dan bersama-sama mencari daya upaya dan

persiapan untuk menghadapi gadis itu kalau-kalau benarbenar

gadis itu akan datang mencari mereka!

Cai Sun tidak jadi pulang melainkan langsung saja dia pergi

mengunjungi gedung tempat tinggal Pui Ki Cong. Seperti telah

kita ketahui, Pui Ki Cong adalah putera kepala jaksa Thian-cin.

Kini usianya sudah tiga puluh tujuh tahun dan dia menikah

dengan puteri seorang bangsawan di kota raja, masih kerabat

keluarga kaisar. Karena ayah mertuanya adalah seorang

pejabat tinggi di istana, maka Pui Ki Cong dengan mudah

memperoleh kedudukan pula sebagai seorang pejabat tinggi di

bagian perpajakan. Kedudukannya itu membuat dia mudah

mencari uang haram dan membuat dia menjadi kaya raya dan

terhormat. Dia tinggal di sebuah gedung yang terjaga oleh

pasukan pengawal, hidup bersama isterinya yang bangsawan

dan telah mempunyai seorang putera yang berusia empat

tahun. Seperti juga Cai Sun yang mata keranjang, Pui Ki Cong

 

setelah berkeluarga tidak pula meninggalkan kesenangannya

itu, dan karena memiliki kesenangan yang sama, keduanya

gemar mengejar paras cantik, maka selalu terjalin hubungan

dekat antara Pui Ki Cong dan bekas pembantunya itu.

Akan tetapi, sudah sebulan lebih Cai Sun t idak pernah

berjumpa dengan bekas majikannya yang kini tidak pernah

nampak keluar ke tempat pelesir, dan tentu saja amat

heranlah hati Cai Sun ketika berkunjung ke rumah Pui Ki Cong,

dia ditahan oleh para penjaga. Penjagaan di gedung itu amat

ketat, nampak belasan orang pengawal berjaga dengan

senjata tombak dan golok di tangan. Para pengawal itu tentu

saja mengenal Cai Sun yang sudah sering datang berkunjung,

akan tetapi pada pagi hari itu, mereka menahan Cai Sun dan

tidak diperbolehkan dia langsung masuk.

“Eh? Apakah kalian tidak mengenalku lagi? Aku adalah Koo

Cai Sun, sahabat baik tuan muda Pui Ki Cong!”

“Maaf, kami harus melaporkan dulu setiap orang tamu yang

hendak berkunjung kepada majikan kami,” kata kepala

penjaga.

Terpaksa Cai Sun menunggu dengan hati yang tidak enak,

dan kepala jaga lalu pergi melapor ke dalam. Tidak lama

kemudian, kepala jaga itu datang lagi dan Cai Sun dipersilakan

masuk, akan tetapi diantar atau dikawal oleh dua orang

pengawal! Hal ini merupakan hal baru baginya, akan tetapi

walaupun merasa penasaran, terpaksa dia pun diam saja

dengan hati mendongkol karena dia hanya seorang tamu yang

harus tunduk akan peraturan tuan rumah.

Cai Sun merasa lebih heran lagi melihat kenyataan betapa

di gedung besar itu pun nampak penjagaan yang ketat.

Hampir di setiap sudut terdapat seorang pengawal berjaga.

Ketika akhirnya dia disambut oleh Pui Ki Cong, dia

memandang dengan kaget. Tidak berjumpa dengan bekas

majikan itu sebulan saja, kini Pui Ki Cong nampak kurus dan

 

pucat, pada matanya terbayang kegelisahan. Cai Sun

memandang penuh selidik. Putera kepala jaksa di Thian-ciri itu

memang masih nampak tampan dengan pakaian yang mewah,

akan tetapi tubuhnya yang memang sudah tinggi kurus itu kini

kelihatan semakin kurus dan mukanya yang tampan agak

pucat seperti orang yang baru sembuh dari penyakit berat.

“Pui-kongcu, ada terjadi hal apakah?” Cai Sun bertanya,

hatinya merasa semakin tidak enak karena langsung saja dia

menghubungkan keadaan sahabatnya itu dengan keadaan

Louw Ti yang mengerikan. “Rumahmu penuh dengan

pengawal, dan engkau nampak begini kurus dan pucat.”

Pui Ki Cong menarik napas panjang. “Duduklah, Toako,

kebetulan sekali kau datang karena memang aku sebetulnya

ingin bertemu dan bicara denganmu.”

Semakin tidak enak rasa hati Cai Sun ketika dia duduk

berhadapan dengan bekas majikan itu. “Pui-kongcu,

katakanlah kepadaku, ada urusan apakah yang membuatmu

nampak begini gelisah?”

“Urusan Ayahku….”

“Ayahmu? Ah, apa yang terjadi dengan Pui-taijin?” Cai Sun

masih pura-pura bertanya, padahal tentu saja dia sudah

mendengar akan peristiwa yang menimpa diri Jaksa Pui di

Thian-cin itu. Dia sudah mendengar betapa Jaksa Pui itu kini

masuk penjara karena dianggap memberontak dan kesalahan

terhadap pembesar atasannya.

“Koo-toako, jangan kau pura-pura lagi. Semua orang sudah

mendengar akan apa yang terjadi dengan Ayahku.” kata Ki

Cong sambil memandang tajam dengan alis berkerut.

Wajah Cai Sun menjadi agak merah dan dia pun

mengangguk. “Memang sesungguhnya saya sudah mendengar

berita angin bahwa Pui-taijin tertimpa musibah dan dihukum

penjara oleh atasannya.”

 

“Tahukah engkau apa yang telah terjadi sehingga Ayahku

tertimpa musibah seperti itu?”

Cai Sun menggeleng kepalanya. “Saya tidak tahu, Kongcu,

dan saya tidak berani mencampuri…..”

“Dengar baik-baik, Toako, karena dalam urusan ini, engkau

pun terlibat. Baru beberapa hari kemudian setelah ayah

dipenjara, aku sempat berkunjung dan bertemu dengan ayah

di dalam penjara. Ayah menceritakan semua yang telah terjadi

dan ternyata bahwa ayah masuk penjara karena fitnah. Ada

orang menukar batu-batu permata yang oleh ayah diberikan

kepada Kwa Taijin dengan batu-batu biasa. Batu-batu permata

yang amat mahal harganya itu lenyap dicuri orang dan ditukar

dengan batu-batu koral. Dan bukan itu saja, malam harinya

ada orang mencuri cap kebesaran Kwa Taijin dan

menyembunyikannya di dalam kamar ayah sehingga ketika

diadakan penggeledahan, cap kebesaran yang hilang itu

ditemukan di kamar ayah.”

“Ahhh….! Aneh sekali!” kata Cai Sun. “Siapakah yang

melakukan fitnah keji itu, Kongcu?”

Pui Ki Cong menatap tajam wajah yang bulat itu. “Kootoako,

coba kau terka, siapa kiranya orang yang

mencelakakan Ayah itu?”

Cai Sun merasa betapa jantungnya berdebar kencang, bulu

tengkuknya meremang karena dia merasa ngeri sekali. “Ia….

ia…. bukankah ia puteri Kim-kauwsu yang bernama Kim Cui

Hong itu….?”

Kini Pui Ki Cong yang terkejut bukan main. Dipegangnya

lengan Cai Sun dan dengan suara gemetar dia bertanya, “Kootoako,

bagaimana engkau dapat menduga begitu?”

Cai Sun menarik napas panjang untuk menenangkan

hatinya yang terlanda rasa takut. “Ceritakanlah dulu apa

dugaanku itu benar, Kongcu.”

 

Ki Cong mengangguk. “Ayah sendiri tadinya tidak tahu

siapa yang telah melakukan fitnah keji terhadap dirinya, akan

tetapi ketika dia berada di dalam kamar tahanan, surat ini

melayang kepadanya. Kau baca sendiri!” Ki Cong

menyerahkan selembar surat kepada Cai Sun yang

membacanya dengan muka pucat dan kedua tangan agak

gemetar.

“Kepala Jaksa Pui, kami mengucapkan selamat kepadamu!”

“Mendiang guru silat Kim Siok sekeluarga.”

Keringat dingin memenuhi muka dan leher Cai Sun yang

gemuk itu ketika dia mengembalikan surat itu kepada Pui Ki

Cong. “Tak salah lagi, tentu ia yang menulisnya….”

“Koo-toako, ia siapakah? Bicaralah yang jelas!”

“Kongcu, lupakah engkau akan gadis remaja puteri guru

silat Kim Siok dari dusun Ang-ke-bun itu? Gadis manis yang

bertahi lalat di dagunya? Kita…, kita telah membunuh ayahnya

dan tunangannya dan kita….. kita telah memperkosanya….”

Pui-kongcu mengangguk-angguk dan meraba-raba

dagunya, mengenangkan peristiwa tujuh tahun yang lalu.

Tentu saja kini dia teringat akan semua itu. Seorang gadis

manis yang angkuh dan galak sehingga dia pernah menerima

tamparan tangan gadis itu. Akan tetapi dia telah membalas

sakit hatinya sampai sepuasnya, bukan hanya membunuh

ayah dan tunangan gadis itu, melainkan juga memiliki tubuh

gadis itu sampai sepuasnya, selama tiga hari dia

mempermainkan gadis itu sampai menjadi bosan. Dia lalu

memberikan gadis itu kepada Thian-cin Bu-tek Sam-eng.

“Tapi, bukankah ia telah kalian bawa pergi dan kalian

bunuh….?”

“Itulah kecerobohan kami, Kongcu. Kami melemparkan ia di

dalam sebuah hutan, dalam keadaan hampir mati dan kami

yakin bahwa binatang buas tentu akan membunuhnya. Akan

 

tetapi ternyata ….. ah, ia hidup kembali dan agaknya hendak

membalas dendam kepada kita semua.”

“Tidak perlu takut! Sebaiknya kita menghubungi saudarasaudara

Gan Tek Un dan Louw Ti untuk bersama-sama

menghadapi gadis itu. Masa kita harus takut menghadapi

seorang anak perempuan seperti anak guru silat itu! Kalau ia

terjatuh ke tanganku, sekali ini akan kupermainkan ia sampai

mati di depan mataku sendiri!” Ki Cong berkata dengan

gemas.

“Kongcu, Louw Ti….. Louw Ti…. dia… dia….”

Melihat sikap Cai Sun seperti orang ketakutan, Ki Cong

memandang dengan alis berkerut. “Ada apa dengan Louw Ti?”

“Celaka, Kongcu, dia…. dia…. ah, gadis itu telah turun

tangan terhadap Louw Ti. Karena itulah saya datang menemui

Kongcu. Baru saja di jembatan sana, saya bertemu dengan

seorang gelandangan gila yang tubuhnya penuh cacat, dan dia

adalah Louw Ti! Dia kehilangan segala-galanya, hartanya,

rumahnya, anak isterinya dan tubuhnya sendiri cacat, bahkan

dia telah menjadi gila, semua itu adalah perbuatan Kim Cui

Hong, gadis puteri guru silat Kim di Ang-ke-bun itu!”

“Ahhh….??” Wajah Ki Cong menjadi semakin pucat.

“Tapi….. tapi….. bukankah Louw Ti memiliki ilmu kepandaian

yang tinggi? Bagaimana mungkin gadis itu dapat membikin dia

cacat?”

Cai Sun menggeleng-geleng kepala. “Entahlah, Kongcu,

ketika Louw Ti masih mampu bercerita, dia berkata bahwa

gadis itu kini lihai bukan main.”

“Mari kita temui dia, aku ingin mendengar sendiri

ceritanya.” kata Ki Cong, mengajak Cai Sun untuk keluar.

“Nanti dulu, Kongcu…” Cai Sun berkata dan ternyata

mukanya yang bulat itu selain pucat juga penuh keringat

dingin. Mendengar betapa gadis puteri guru s ilat Kim itu juga

 

sudah menjatuhkan dendamnya terhadap Jaksa Pui, dia

menjadi semakin gentar. “Agaknya…. tidak amanlah kalau kita

berdua pergi keluar…. bagaimana kalau ia muncul?”

Mendengar ucapan ini, Ki Cong terkejut. Tak disangkanya

Cai Sun demikian berubah. Sikap jagoannya hilang dan kini dia

menjadi seorang penakut. Dia tidak tahu bahwa memang

demikianlah watak orang yang suka bersikap kejam, seorang

jagoan atau tukang pukul. Seorang tukang pukul bersikap

kejam dan pemberani kalau menghadapi lawan yang sekiranya

dapat ditundukkan. Akan tetapi begitu berhadapan dengan

lawan yang lebih kuat, nampaklah wataknya yang sebetulnya.

Dia seorang pengecut, seorang penakut yang hendak

menyembunyikan rasa takutnya di balik kekejaman terhadap

pihak yang lebih lemah.

Karena Cai Sun, bekas jagoannya itu memperlihatkan sikap

takut-takut, Ki Cong juga menjadi gentar dan dia lalu

memer intahkan sepasukan pengawal yang terdiri dari be lasan

orang untuk mengawalnya keluar rumah bersama Cai Sun.

Dengan adanya pasukan ini, besarlah hati Cai Sun dan dia pun

melangkah dengan gayanya di samping Ki Cong, dengan sikap

seolah-olah dia yang melindungi putera bekas jaksa Thian-cin

itu!

Mereka menemukan Louw Ti yang kini sudah meninggalkan

jembatan dan berusaha sedapatnya untuk pergi dari situ. Ki

Cong memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Dia pun mengenal Louw Ti, akan tetapi Louw Ti sekarang

telah menjadi seorang yang cacat lahir batinnya. Mata kiri

orang itu buta, tangan kiri buntung, tangan kanan tergantung

seperti lumpuh, jalannya pun terpincang-pincang, kaki kanan

pincang, kaki kiri diseret. Keadaan orang itu sungguh

menyedihkan dan mengerikan. Dia tertawa-tawa, lalu

menangis dan ketika melihat rombongan Pui Ki Cong

menghampirinya, tiba-tiba dia terbelalak dan berteriak,

 

“Jangan…. ah, jangan bunuh mereka….. ampunkan

aku….!” Dan dia pun melarikan diri sambil terpincang-pincang

menyeret kakinya.

Wajah Ki Cong menjadi semakin pucat melihat keadaan

Louw Ti. Juga Cai Sun mengikut i lar inya bekas rekan itu

dengan hati penuh kegelisahan dan kengerian membayangkan

betapa nasib seperti itu mungkin akan menimpa dirinya.

“Tidak!” Tiba-tiba dia membentak marah dan mengepal

tinju tangan kanannya, mengacungkan ke atas. “Aku akan

melawannya, aku akan membunuh perempuan iblis itu!”

“Tenanglah, Koo-toako. Sungguh menyedihkan se kali nasib

Louw-toako. Mari kita kembali, kita harus membicarakan

urusan ini dan mengambil langkah-langkah demi keselamatan

kita.”

Cai Sun mengangguk dan mereka semua membalikkan

tubuh dan berjalan kembali menuju ke gedung tempat tinggal

Pui Ki Cong. Akan tetapi pada saat itu mereka mendengar

suara ketawa seorang wanita, disusul kata-kata yang halus

merdu.

“Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun, giliran kalian akan tiba.

Tunggu sajalah!”

“Setan!” Koo Cai Sun sudah mencabut senjatanya, yaitu

sepasang siang-kek, tombak pendek yang bercagak dan dia

meloncat ke arah datangnya suara tadi, dari kiri di mana

terdapat sebuah bangunan tembok. Akan tetapi, dia hanya

melihat bayangan yang bertubuh langsing berkelebat dan

bayangan itu pun lenyap dari situ.

“Akan kuhajar perempuan iblis itu! Akan kuhancurkan

kepalanya dengan kepalanku, akan kucabik-cabik dagingnya

dengan siang-kek ini!” Sumbarnya, namun diam-diam dia

terkejut melihat betapa cepatnya bayangan tadi berkelebat

dan bergerak.

 

Akan tetapi, Ki Cong sudah menjadi demikian takutnya

sehingga dia cepat-cepat mengajak Cai Sun dan pasukan

pengawalnya untuk kembali ke rumahnya. Setelah

memer intahkan para pengawalnya untuk melakukan

penjagaan yang lebih ketat dan mendatangkan pasukan

pengawal lain, Pui Ki Cong lalu mengajak Koo Cai Sun untuk

berunding di dalam ruangan sebelah dalam.

“Bagaimana baiknya sekarang?” tanya Ki Cong dengan

suara agak gemetar. Melihat keadaan Louw Ti tadi, kemudian

melihat berkelebatnya bayangan yang mengeluarkan suara

ancaman, dia menjadi ketakutan.

Di lubuk hatinya, Cai Sun juga sudah takut setengah mati.

Dia bukan seorang bodoh, melainkan cerdik dan licik sekali.

Dia tahu bahwa wanita puteri g uru silat Kim itu muncul untuk

membalas dendam dan bahwa wanita itu kini lihai bukan

main. Sudah terbukti ketika ia mencelakakan Pui-taijin

kemudian menyiksa Louw Ti dan tadi pun kemunculannya

membuktikan kelihaiannya. Dia dan keluarganya terancam!

Dia harus dapat mempergunakan kecerdikannya untuk

menyelamatkan keluarganya dan dirinya sendiri, di samping

itu jangan sampai kelihatan sebagai seorang pengecut besar

yang ketakutan. Maka dia pun tersenyum. Wajahnya yang

bulat itu seperti terbelah menjadi dua ketika mulutnya terbuka

lebar.

“He-he-he, Pui-kongcu. Menghadapi ancaman bocah setan

itu, tidak perlu kita takut. Memang jelas bahwa ia tentu akan

berusaha untuk mencelakai kita, terutama sekali engkau,

Kongcu, mengingat bahwa engkaulah musuh utamanya, akan

tetapi aku yakin akan dapat mengatasinya. Pui-kongcu,

memang seba iknya kalau untuk sementara waktu ini, kita

bergabung untuk menghadapinya, dan juga aku merasa

berkewajiban untuk membantumu dalam menolak ancaman

perempuan itu. Bagaimana kalau untuk sementara ini aku

 

membawa keluargaku tinggal di sini agar dapat menjaga

keselamatan Kongcu?”

Tentu saja Pui Ki Cong yang merasa gentar menghadapi

ancaman gadis puteri Kim-kauwsu itu menjadi girang bukan

main. Dia tidak tahu bahwa sebetulnya bekas pembantunya

itu pun ketakutan dan ingin berlindung di gedungnya yang

banyak dijaga para pengawal!

“Baik sekali kalau begitu, Toako. Dan akupun akan mencari

jagoan-jagoan di kota raja ini untuk melindungiku. Selain itu,

juga aku akan mengerahkan orang pandai untuk mencari dan

membekuk perempuan iblis itu.”

Girang sekali rasa hati Cai Sun. Memang itulah yang

dikehendakinya. Selain dapat berlindung di gedung Pui Ki

Cong dan dalam menghadapi Kim Cui Hong dia memperoleh

bantuan orang-orang pandai, juga dia dapat berjasa terhadap

bekas majikan itu karena seolah-olah dia berada di situ untuk

melindungi keselamatannya, bukan untuk mengungsikan

keluarganya!

0-dw-0

Cui Hong memasuki rumah makan yang tidak begitu ramai

itu. Rumah makan yang sederhana dan berada di ujung kota.

Seorang pelayan restoran yang selama beberapa hari ini

melayaninya, segera menyambut dengan senyum ramah.

Nona cantik ini memang telah menjadi langganan restoran,

setiap hari makan di situ.

“Selamat siang, nona. Selamat duduk, dan nona pilih saja

meja mana yang nona kehendaki. Banyak yang masih kosong,

nona.” pelayan itu menegur. Cui Hong mengangguk sedikit

lalu matanya menyapu ruangan. Memang tidak banyak tamu,

hanya lima enam meja yang ada orangnya. Mereka ini

berkumpul di bagian depan, maka ia pun memilih meja di

sudut agak belakang yang sepi. Hanya ada seorang tamu lain

 

duduk di meja belakang, hanya terpisah dua meja dari tempat

yang dipilihnya.

“Sediakan makanan seperti kemarin,” kata Cui Hong singkat

kepada pelayan itu yang mengangguk-angguk ramah. Setelah

pelayan itu mengundurkan diri untuk mempersiapkan

pesanannya, Cui Hong mengambil tempat duduk dan tanpa

disengaja ia memandang ke depan. Kebetulan sekali pada saat

itu, pemuda yang duduk di meja lain, yang juga duduk

sendirian saja, sedang memandangnya. Dua pasang mata

bertemu dan Cui Hong segera membuang muka. Wajah

seorang pria yang sangat menarik, pikirnya. Heran ia mengapa

tiba-tiba saja ia tertarik kepada pria itu. Padahal, pria itu

memandangnya dengan sinar mata kagum yang demikian

jujur, tidak mengandung sinar kurang ajar seperti yang

seringkali ia lihat dalam pandang mata pria lain. Biarpun ia

tidak pernah memandang langsung, dari sudut kerling

matanya ia beberapa kali mengamati keadaan pemuda

berpakaian serba kuning itu.

Pemuda itu bukan remaja lagi, tentu sudah tiga puluh

tahun usianya, atau kurang pun hanya sedikit. Seorang

pemuda yang berpakaian sederhana, dari kain kuning yang

tidak mahal. Rambutnya yang hitam dan tebal agak keriting

itu digelung ke atas dan diikat dengan pita biru.

Wajahnya tidak terlalu tampan, namun ganteng dan penuh

kejantanan, dengar, hidung mancung dan dagu meruncing

membayangkan ketabahan dan kemauan besar. Sinar

matanya lembut namun tajam, terbayang kejujuran di dalam

pandang matanya. Bentuk tubuhnya sedang, dengan dada

yang bidang dan leher yang nampak kuat. Melihat bentuk

pakaiannya, tentu dia seorang pemuda petani, pikir Cui Hong

yang merasa semakin heran melihat diri sendiri yang begini

menaruh perhatian terhadap seorang pria yang tidak pernah

dikenalnya. Padahal, biasanya ia belum pernah

memperhatikan seorang pria. Semenjak ia diperkosa dan

 

dipermainkan empat orang laki-laki, kemudian ia ikut belajar

ilmu silat dari gurunya, ia tidak pernah tertarik kepada pria.

Apalagi ketika ia mendapat kenyataan betapa pandang mata

hampir semua orang pria yang ditujukan kepadanya selalu

mengundang sifat kurang ajar, ingin menggoda, kekaguman

yang mengandung nafsu, membuat ia teringat akan pandang

mata empat orang pria musuh besarnya dan ia seperti tak

pernah merasa tertarik atau suka kepada pria. Bahkan ada

sedikit perasaan benci, menganggap bahwa semua pria adalah

makhluk yang kejam dan hanya mengejar kesenangan nafsu

berahi belaka!

Inilah sebabnya mengapa ia merasa heran sendiri melihat

ia merasa begitu tertarik kepada pria yang satu ini! “Ah, dia

hanya seorang laki-laki…..” Akhirnya Cui Hong mencela diri

sendiri dan segera mengalihkan perhatiannya kepada

hidangan yang baru saja dikeluarkan oleh pelayan.

Sambil makan ia memikirkan dan mencari siasat untuk

menghadapi dua orang musuhnya. Setelah berhasil membalas

dendam terhadap Louw Ti, ia melakukan penyelidikan dan

dengan mudah saja ia dapat menemukan di mana tinggalnya

Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun. Segera ia melakukan

penyelidikan tentang keadaan hidup dua orang musuh

besarnya itu. Ia sempat melihat rombongan Ki Cong dan Cai

Sun yang dikawal belasan orang perajurit menemui Louw Ti

yang telah menjadi gila di jembatan itu, dan ia sempat pula

mengejek dan mengancam dua orang musuh besarnya. Kalau

ia menghendaki, tentu pada waktu itu juga ia dapat

menyerangnya dan melukai mere ka. Akan tetapi tidak, ia tidak

mau dan tidak mau menimbulkan keributan, apalagi harus

mengamuk di antara pasukan pengawal. Ia harus mencari

siasat yang tepat dan baik.

Sakit hati yang diderita Cui Hong terlalu besar sehingga

mempengaruhi seluruh hidupnya, membentuk suatu watak

tersendiri terhadap musuh-musuh besarnya. Ia ingin

 

menikmati kemanisan pembalasan dendam sedikit demi

sedikit! Ia tidak tergesa-gesa. Sudah hampir delapan tahun ia

menahan sakit hati, sudah bertahun-tahun ia bersabar, maka

sekarang pun ia tidak tergesa-gesa. Bagaikan seekor kucing

yang melihat dua ekor tikus yang akan dijadikan korban, ia

tidak tergesa-gesa menerkam mere ka, melainkan hendak

mempermainkan sepuasnya, seperti ketika ia dipermainkan

oleh musuh-musuhnya dahulu! la ingin melihat mereka

menderita ketakutan, kengerian dan akhirnya barulah ia akan

turun tangan membuat mereka menderita badan. Ia ingin

mereka menderita lahir batin secara hebat, seperti yang

pernah dideritanya dahulu oleh perbuatan mereka. Betapa

nikmat dan manisnya melakukan pembalasan dendam seperti

ini! Seperti orang makan hidangan lezat, tidak segera

ditelannya, melainkan dikunyahnya perlahan-lahan, demikian

pikir Cui Hong sambil mengunyah makanannya. Ia tidak tahu

bahwa pria berpakaian kuning itu, yang tadi tidak mau

memandang kepadanya secara langsung, kini menatapnya

dengan penuh perhatian dan penuh kagum, selagi ia

mencurahkan perhatiannya kepada makanannya.

Selama beberapa hari ini, Cui Hong diam-diam mengikuti

semua gerak-gerik dua orang musuhnya. Ia seringkali

tersenyum mengejek melihat kesibukan mereka, melihat

betapa Cai Sun membawa semua keluarganya, mengungsi ke

rumah gedung Pui Ki Cong, …….

Halaman gak ada

dan ia pun melihat yang ada hanyalah seorang pemuda

yang telah melukai para perajurit pengawal dan aku sebagai

seorang kepala pengawal. “Menyerahlah untuk kutangkap dan

aku pun tidak akan mempergunakan senjata terhadap dirimu.”

Tan Siong mengangguk. “Baiklah, ini urusan pribadi dan

tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai maupun

Kun-lun-pai. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah, maka

terpaksa aku menolak untuk menyerah dan ditangkap.”

 

“Su-toako, pemuda ini sombong sekali. Kalau tidak diberi

hajaran tentu akan memandang rendah kepada kita!” teriak

Cai Sun marah karena dia merasa khawatir kalau-kalau

rekannya itu akan berdamai dan tidak melanjutkan

perkelahian melawan pemuda itu. Dia sendiri sudah

menggerakkan pedang di tangannya melakukan serangan

dahsyat yang disambut oleh Tan Siong dengan tenang.

Melihat ini, terpaksa Su Lok Bu maju lagi melakukan serangan

dengan sepasang pedangnya. Juga dua orang pengawal

membantu dengan pedang mere ka.

Tiba-tiba muncul seorang laki-laki pendek berkulit putih dan

berperut gendut, dengan rambut dan jenggot putih semua.

“Penjahat muda yang nekat, lihat golok besarku!” bentak

orang itu dan begitu tiba di situ, dia membentak dan

menggerakkan sebatang golok besar dan berat dengan

gerakan yang amat dahsyat. Suara golok itu semakin

berdesing-desing dan menyambar-nyambar ganas menyerang

Tan Siong.

Tentu saja Tan Siong terkejut bukan main karena golok itu

tidak kalah bahayanya dengan sepasang pedang di tangan Su

Lok Bu! Orang yang baru datang ini adalah Cia Kok Han yang

menyusul rekannya dan begitu melihat rekan-rekannya

mengeroyok seorang pemuda yang amat lihai dan melihat ada

empat orang pengawal yang terluka, dia pun segera maju

mengeroyok.

Kini Tan Siong kewalahan sekali, apa lagi karena dia tahu

bahwa yang baru datang ini tentulah seorang Bu-tong-pai

hatinya merasa semakin ragu dan khawatir. Karena itu,

gerakan pedangnya agak….

Halaman gak ada

…… nanti kemanisan balas dendam sepenuhnya tanpa

gangguan orang lain.

 

Napsu yang membakar hati Cui Hong mirip dengan napsu

yang membakar d iri Kai Sun atau Ki Cong ketika memperkosa

wanita itu tujuh tahun yang lalu. Dan untuk menjatuhkan

pembalasan dendamnya, Cui Hong seperti seekor kucing yang

tekun dan sabar mengintai tikus-tikus calon korbannya, kini

dengan amat sabarnya menanti saat baik dan mencari-cari

siasat bagaimana agar ia dapat berhadapan dengan dua orang

musuh besar itu tanpa adanya gangguan orang lain.

Tiba-tiba Cui Hong dikejutkan dari lamunannya oleh suara

ketawa seorang laki-laki. Ia mengangkat mukanya dan melihat

seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bermuka penuh

bopeng dan bertubuh tinggi besar, berdiri dekat mejanya dan

sedang memandang kepadanya sambil tertawa terkekehkekeh.

Masih ada lagi tiga orang laki-laki lain, teman-teman

dari orang yang kini berada di dekat mejanya, berada di meja

sebelah kirinya, dan mereka pun tertawa-tawa dan memberi

semangat kepada si muka bopeng.

“Hayo, A-cauw, apakah engkau kehilangan nyalimu setelah

berhadapan dengan wanita cantik?” demikian antara lain

orang itu berkata.

Agaknya laki-laki yang berada di dekat meja Cui Hong itu

bernama A-cauw dan kini dia membungkuk dengan sikap

hormat dibuat-buat kepada Cui Hong. “Nona, apakah Nona

sendirian saja makan di sini?”

Cui Hong maklum bahwa laki-laki ini hendak kurang ajar,

akan tetapi ia tidak mau mencari keributan. Dengan suara

datar ia pun menjawab, “Benar, aku duduk dan makan

sendirian. Ada sangkutan apakah hal itu dengan dirimu?”

“Begini, Nona. Aku dan teman-temanku itu, kami berempat

baru saja menang taruhan, dan kami mengadakan pesta di

restoran ini. Melihat Nona seorang diri saja, kami berempat

ingin sekali mengundang Nona untuk makan bersama kami,

bersenang-senang dan ikut menghabiskan uang kemenangan

kami.”

 

Cui Hong mengerutkan alisnya dan ingin menampar muka

yang bopeng itu. Akan tetapi ia menahan diri. Ia sedang

berada di kota raja dan dengan tugas yang amat penting.

Kalau ia membuat ribut tentu akan menarik perhatian, apalagi

kalau sampai ia memperlihatkan kepandaiannya, tentu akan

menimbulkan kecurigaan. Ia harus merahasiakan dirinya agar

tidak ada yang tahu bahwa ia adalah Kim Cui Hong yang

sedang berusaha membalas dendam terhadap musuhmusuhnya.

Untuk ini pula ia sudah bersusah payah menghias

mukanya dengan penyamaran sehingga tahi lalat di dagunya

juga tidak nampak. Ia percaya bahwa seperti juga Louw Ti,

musuh-musuhnya yang lain tidak akan dapat mengenalnya

tanpa adanya tahi lalat di dagunya itu. Kalau kini ia melayani

segala urusan kecil seperti gangguan laki-laki kurang ajar ini,

hai itu amat berbahaya karena dapat membocorkan rahasia

tentang dirinya yang hendak dirahasiakan. Pula, sejauh ini,

laki-laki bermuka bopeng itu belum memperlihatkan sikap

kurang ajar, bahkan mempersilakannya dengan sopan,

walaupun kesopanan itu dibuat-buat.

“Terima kasih, Saudara. Akan tetapi aku sudah kenyang,

maka terpaksa aku tidak dapat menerima undanganmu.

Terima kasih, aku malah sudah selesai makan dan hendak

pergi.” Berkata demikian, Cui Hong bangkit dan memberi

isyarat kepada pelayan untuk datang agar ia dapat membayar

harga makanan dan pergi secepatnya dari situ. Akan tetapi,

ketika pelayan itu datang dengan sikap takut-takut Si Muka

Bopeng membentaknya,

“Mau apa kau? Pergi!” Pelayan itu mundur lagi dengan

muka membayangkan ketakutan. Hal ini menyadarkan Cui

Hong bahwa empat orang itu memang sudah dikenal di situ

dan agaknya sudah biasa ditakuti orang.

“Nona, seorang gadis secantik engkau tidak patut kalau

makan sendirian, maka mar ilah ikut bersama kami, Nona.

Nanti kami akan mengantar Nona pulang. Di manakah

 

rumahmu dan siapa pula namamu, Nona?” Si Muka Bopeng

kini semakin berani dan pertanyaan-pertanyaannya itu mulai

kurang ajar.

“Apakah sudah ada yang punya, Nona manis?” terdengar

seorang temannya berteriak dari meja sebelah.

“Aihh, jangan jual mahal, Nona manis,” kata yang lain.

“Kami baru saja mendapat rejeki besar, jangan khawatir,

kami mampu memberi hadiah besar kepadamu, Nona manis”

sambung orang ke tiga.

O0oodwoo0O

Jilid 7

MENDENGAR ucapan-ucapan itu dan melihat sikap mereka.

Cui Hong mulai naik darah. Ia merasa serba salah, menghajar

mereka berarti akan membuka rahasianya. Mendiamkan saja,

mereka tentu akan semakin kurang ajar dan ia tidak akan kuat

menahan kesabarannya lagi.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara seorang laki-laki

yang terdengar tegas dan halus, biarpun penuh dengan nada

teguran. “Saudara-saudara adalah laki-laki, maka tidak

sepatutnya kalau mengganggu seorang wanita baik-baik di

tempat umum. Nona ini sudah makan dan menolak undangan

kalian, kenapa mengeluarkan ucapan yang tidak sopan?”

Cui Hong cepat memandang dan ternyata yang

mengeluarkan kata-kata itu adalah pemuda yang berpakaian

kuning yang tadi duduk seorang diri di sudut belakang. .Kini

pemuda itu telah bangkit dari tempat duduknya dan

memandang kepada Si Muka Bopeng dengan sinar mata

penuh teguran.

Tentu saja Si Muka Bopeng menjadi marah. Mukanya

berubah merah sekali. Dia dan kawan-kawannya terkenal

 

sebagai jagoan-jagoan di lorong itu, dan kini seorang pemuda

yang asing berani menegur mereka! Si Muka Bopeng

meninggalkan meja Cui Hong dan cepat melangkah

menghampiri meja Si pemuda berpakaian kuning dengan mata

melotot dan tangan terkepal. Akan tetapi dia berhati-hati,

ingin tahu dulu siapa adanya orang yang berani menegur dia

dan teman-temannya. Di kota raja banyak terdapat orang

pandai dan golongan-golongan yang kuat, maka dia tidak

boleh salah tangan menentang orang yang lebih tinggi

kedudukannya atau lebih kuat. Memang, di bagian mana pun

di dunia ini, orang-orang yang suka bertindak sewenangwenang,

yang suka mempergunakan kekerasan untuk

menekan orang lain, selalu memiliki watak pengecut dan

beraninya hanyalah kepada orang-orang yang lebih lemah dari

padanya. Sekali bertemu yang lebih kuat atau lebih tinggi

kedudukannya, maka akan nampaklah wataknya yang aseli

dan dia akan berubah dari s inga buas menjadi seekor domba

yang mengembik, menjadi seorang penjilat yang tidak

mengenal malu.

“Siapakah engkau, berani mencampuri urusan kami?”

bentak Si Muka Bopeng. Juga tiga orang kawannya sudah

bangkit berdiri dan memandang ke arah pemuda berpakaian

kuning itu dengan mata melotot dan muka mengancam.

Dengan sikap masih tenang pemuda itu menjawab,

“Namaku Tan Siong dan aku tidak bermaksud mencampuri

urusan kalian, melainkah hanya menasihatkan bahwa tidak

sepatutnya laki-laki menggoda wanita di tempat umum.”

“Perduli apa engkau? Apa sih kedudukan dan pekerjaanmu

maka engkau berani menentang kami?” Si Muka Bopeng

kembali bertanya karena dia masih ragu-ragu untuk turun

tangan terhadap pemuda yang belum dikenalnya ini.

Sementara itu, sambil melirik dan mengikuti peristiwa itu

dengan sudut matanya, Cui Hong menghampiri pelayan dan

menyerahkan pembayaran harga makanannya. Akan tetapi ia

 

masih berdiri di dekat pintu, memandang ke arah dua orang

laki-laki yang sedang bertengkar itu. Hatinya semakin tertarik

karena pemuda berpakaian kuning itu bersikap demikian

tegas, jujur dan penuh dengan keberanian. juga hatinya

senang sekali karena pemuda itu telah membelanya, walaupun

ia yakin bahwa pemuda itu akan membela wanita mana pun

yang diganggu orang. Pemuda itu tidak membela pribadinya,

melainkan membelanya karena ia wanita yang mengalami

gangguan laki-laki kurang ajar .

“Aku tidak mempunyai kedudukan apa-apa, dan

pekerjaanku adalah bertani Aku seorang perantau yang baru

saja masuk ke kota raja dan kebetulan melihat apa yang

kalian lakukan terhadap Nona itu. Aku hanya memberi nasihat

kepada kalian, tidak bermaksud buruk..

Mendengar bahwa pemuda itu hanya seorang petani dan

perantau, Si Muka Bopeng menjadi marah sekali. “Keparat!

Kiranya hanya seorang petani dusun busuk! Berani engkau

menegur aku? Tidak tahu engkau siapa aku? Aku adalah Si

Harimau Sakti, jagoan di kota raja. Manusia usil macam

engkau ini harus dihajar!” Dan Si Muka Bopeng lalu

menendang meja di depannya itu.

“Brakkk….!” Meja itu terpelanting, berikut mangkok piring

dan semua benda itu menabrak pemuda berpakaian kuning.

Ada kuah sayur memercik ke pakaian pemuda dusun itu yang

terpaksa melangkah ke belakang dan agak terhuyung karena

meja itu menimpa dadanya cukup keras.

Melihat ini, Cui Hong mengerutkan alisnya. Pemuda itu

adalah pemuda dusun yang sama sekali tidak pandai ilmu

silat. Kalau pemuda itu pandai ilmu silat, tentu akan dapat

menghindarkan diri dengan mudah. Akan tetapi, kenyataan ini

membuatnya semakin kagum. Kalau pemuda itu gagah

perkasa, maka tidak aneh kalau dia berani menentang Si Muka

Bopeng yang berjuluk Harimau Sakti itu bersama temantemannya.

Akan tetapi, pemuda tani ritu t idak pandai ilmu

 

silat namun berani menentang. Kegagahan ini amat

mengagumkan hatinya dan ia pun siap untuk melindungi

pemuda itu kalau sampai terjadi perkelahian karena ia dapat

menduga bahwa tentu pemuda tani itu akan disiksa oleh Si

Muka Bopeng dan kawan-kawannya yang kini sudah datang

beramai-ramai dan mengepung pemuda itu.

“Toako, perlu apa banyak bicara dengan cacing tanah ini?

Hajar saja dia agar dia tahu rasa dan tahu diri! ” kata seorang

teman Si Muka Bopeng yang hidungnya pesek.

“Ya, mar i kita pukul dia setengah mati!” teriak yang lain.

Melihat sikap mereka, pemuda yang bernama Tan Siong itu

kelihatan penasaran, akan tetapi sedikit pun tidak nampak

rasa takut membayang di wajahnya. “Kiranya kalian adalah

orang-orang yang suka melakukan kejahatan. Aku tidak takut

karena aku percaya bahwa di kota raja ini tentu berlaku

hukum yang melindungi orang-orang yang tidak bersalah.”

“Heh-heh-heh, siapa yang akan melindungimu? Aku akan

menghajarmu, siapa yang akan melarang? Di sini tidak ada

hukum, hukumnya berada di dalam genggaman tanganku.”

“Hemm, siapa bilang di sini tidak ada hukum?” Tiba-tiba

terdengar suara keras dari ambang pintu muncullah tiga

orang. Orang- terdepan adalah seorang laki-laki berusia empat

puluh tahun lebih, berperut gendut, mukanya putih bersih

berbentuk bulat, wajahnya nampak gembira dan ramah,

pakaiannya indah-indah dan di pinggangnya tergantung

sepasang tombak pendek bercagak. Di belakangnya masuk

dua orang laki-laki berusia lima puluhan tahun, yang seorang

pendek putih gendut, yang ke dua tinggi besar hitam. Hanya

tiga orang ini saja yang memasuki restoran, masih ada dua

belas orang perajurit yang menanti di luar rumah makan itu.

Cui Hong yang tadi lebih dulu melihat tiga orang ini. Melihat

orang pertama, diam-diam ia terkejut. Orang itu bukan lain

adalah Koo Cai Sun! Dan dua orang kakek di belakangnya

adalah Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang jagoan yang

 

kini menjadi kepala pengawal di rumah gedung keluarga Pui

Seperti biasa, setiap kali melihat wanita cantik, sepasang mata

Cai Sun mulai main dengan lirikan genit dan senyum penuh

gaya. Dan dia pun langsung saja memperlihatkan kekuasaan

dan pengaruhnya juga hendak memamerkan “kebaikannya”

kepada wanita cantik yang begitu dilihatnya membuat hatinya

terguncang keras karena kagum itu.

Sementara itu, empat orang jagoan yang ternyata hanyalah

jagoan-jagoan kecil yang banyak berkeliaran di kota-kota

besar begitu melihat masuknya Koo Cai Sun, menjadi terkejut

dan seketika sikap mereka berubah. Bagi mere ka Koo Cai Sun

adalah seorang jagoan yang lebih besar, baik kedudukannya

maupun kekuatannya.

“Aihh, kiranya Koo-enghiong yang datang!” kata Si Muka

Bor-ng. “Maafkan, kami sedang menegur seorang pemuda tani

yang tidak tahu diri, berani hendak menentang kami

berempat.”

Koo Cai Sun melirik ke arah Cui Hong dan kemudian

mengangkat muka memandang pemuda berpakaian kuning

itu. “Siapakah kamu dan apa yang telah terjadi di sini?”

tanyanya, sikapnya demikian angkuh seolah-olah ia

berpangkat hakim yang berwenang untuk memeriksa

seseorang!

Pemuda itu menjura dengan sikap hormat, mengira bahwa

penanya itu tentulah seorang pembesar. “Saya bernama Tan

Siong, ketika saya sedang makan di sini, saya melihat empat

orang saudara ini mengganggu Nona di sana itu. Saya lalu

menegur untuk menasehati mereka, akan tetapi mereka malah

marah dan hendak memukul saya, bahkan membalikkan meja

saya.”

Koo Cai Sun kembali melirik ke arah Cui Hong dan dia lalu

bertolak pinggang menghadapi Si Muka Bopeng. “Hem, bagus

sekali perbuatan kalian, ya? Berani mengganggu seorang

gadis di tempat umum! Apa kalian kira di sini tidak ada

 

hukum? Selama aku di sini, kalian tidak boleh berbuat

sewenang-wenang. Hayo cepat kalian minta maaf kepada

Nona itu!”

Si Muka Bopeng dan teman-temannya saling pandang

dengan bingung. Mereka cukup mengenai Cai Sun, seorang

yang paling suka kepada perempuan cantik dan sering pula

mempergunakan kepandaian dan uangnya untuk memaksa

perempuan cantik yang dikehendakinya. Akan tetapi kini

bersikap sebagai seorang satria yang hendak melindungi

seorang perempuan. Akan tetapi Si Muka Bopeng itu agaknya

mengerti. Tentu Cai Sun hendak mencari muka kepada gadis

cantik itu, pikirnya! Dia dan kawan-kawannya tidak berani

membantah. Keempatnya lalu menghampiri Cui Hong,

menjura dan Si Muka Bopeng berkata, “Harap Nona suka

memaafkan kelancangan kami tadi.”

Akan tetapi Cui Hong hanya mengangguk dan ia pun sudah

membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari rumah

makan itu. Hati sendiri terlalu tegang berhadapan dengan Cai

Sun, seorang di antara musuh-musuh besarnya, bahkan

merupakan orang ke dua sesudah Pui Ki Cong, yang paling

hebat menghinanya tujuh tahun yang lalu. Maka, ia tidak mau

mengeluarkan suara, takut kalau-kalau suaranya akan

terdengar gemetar saking menahan kemarahan dan

kebenciannya.

“Kalian harus mengganti semua kerusakan di sini.” kata Cai

Sun dengan suara keras, dengan maksud agar terdengar oleh

Cui Hong yang meninggalkan tempat itu.

Pemuda berpakaian kuning itu lalu menjura kepada Cai Sun

dan berkata, “Terima kasih atas kebijaksanaan Tuan.” Cai Sun

hanya mengangguk. Memang tidak ada sedikit pun juga

maksudnya untuk menolong atau membela pemuda tani itu.

Andaikata di situ tadi tidak ada gadis cantik itu, agaknya ia

pun tidak akan peduli apakah pemuda tani ini akan dihajar

setengah mati ataukah dibunuh sekali pun! Pemuda itu pun

 

cepat meninggalkan rumah makan setelah membayar harga

makanan.

Cai Sun memang datang ke rumah makan itu untuk

menjamu Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang rekan

barunya yang dianggap cukup kuat untuk membantunya

menghadapi Kim Cui Hong. Dia sudah membuktikan sendiri

betapa hebatnya kepandaian dua orang ini, tingkat mereka

bahkan lebih tinggi daripada tingkatnya. Dengan adanya

kedua jago ini, dia sama sekali tidak takut akan ancaman

gadis puteri Kim-kauwsu itu. Kalau saja di situ tidak ada dua

orang kakek jagoan ini, tentu dia membayangi gadis cantik

tadi untuk dirayunya karena dia sudah tergila-gila kepada

gadis yang cantik manis tadi. Akan tetapi setidaknya dia telah

berdaya dan gadis itu tentu berterima kasih kepadanya,

pikirnya. Tentu sudah ada kesan baik dalam hati gadis itu

mengenai dirinya, dan kalau lain kali dapat bertemu kembali,

hemm, tidak akan sukar menundukkannya!

“Nona, mari ikut bersamaku, cepat!”

Cui Hong menoleh dan melihat bahwa pemuda berpakaian

kuning tadi telah berjalan dengan cepat mengejarnya dan

memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya. Tentu saja ia

merasa heran, bahkan ada perasaan kecewa menyelubungi

hatinya. Apakah pemuda ini, yang tadi sempat menarik

perhatiannya dan membangkitkan rasa kagumnya, pada

kenyataannya hanyalah seorang laki-laki biasa saja, seperti

yang lain-lainnya dan yang selalu menyembunyikan pamrih di

balik semua sikap dan perbuatannya terhadap seorang

wanita? Seorang pemuda yang mempergunakan kehalusan

sikapnya untuk memikat seorang gadis, dan kini, setelah

merasa bahwa dia tadi melindungi dan membelanya, pemuda

itu lalu memperlihatkan watak yang sesungguhnya dan

mengajaknya ikut ke rumahnya untuk minta imbalan jasa?

Akan tetapi, pandang mata pemuda itu demikian serius,

sedikit pun tidak nampak maksud kurang ajar. Dan karena

 

memang ingin sekali tahu dan mengenal pemuda ini lebih

mendalam untuk mengetahui apakah benar pemuda ini

seorang laki-laki yang patut dikagumi. ‘Cui Hong tidak banyak

berpikir lagi dan segera mengangguk dan mengikuti pemuda

itu.

“Cepat, ke sini….!” Berkali-kali pemuda itu berseru dan

nampak tergesa-gesa mengajak Cui Hong keluar masuk lorong

sempit di antara rumah-rumah di dalam kota raja itu.

Akhirnya, dengan mengambil jalan melalui lorong-lorong

sempit, mereka tiba di ujung selatan kota raja dan pemuda itu

mengajaknya untuk memasuki sebuah kuil tua yang

nampaknya sudah tidak terpakai lagi. Di depan kuil itu nampak

beberapa orang gelandangan berteduh. Mereka adalah para

tuna wisma yang mempergunakan kuil tua itu sebagai tempat

berteduh mereka. Agaknya pemuda itu sudah biasa memasuki

kuil tua itu sehingga para pengemis itu t idak ada yang

memperhatikannya, walaupun ada beberapa orang yagg

menoleh dan memandang heran melihat betapa pemuda itu

datang bersama gadis demikian cantiknya. Cui Hong merasa

semakin heran dan hatinya tambah tertarik. Dengan hati yang

agak tenang dan menduga-duga, ia pun terus mengikuti

pemuda itu masuk kuil rusak yang sudah tua itu dan akhirnya

pemuda yang mengaku bernama Tan Siong itu berhenti di

ruangan belakang yang biarpun sudah rusak dan tidak

terawat, namun lantainya sudah dibersihkan. Di situ tidak

terdapat lain orang kecuali mereka berdua.

“Nah, di sini kita aman sudah.” kata Tan Siong sambil

menarik napas panjang, wajahnya yang tadi serius nampak

lega. Kembali timbul kecurigaan di dalam hati Cui Hong.

Benarkah kekhawatirannya tadi bahwa pemuda ini bermaksud

kurang ajar terhadap dirinya?

“Apakah artinya semua ini? Apa maksudmu mengajak aku

pergi ke sini dengan tergesa-gesa seperti menyembunyikan

diri?” Cui Hong bertanya sambil menatap tajam. Pemuda itu

 

balas memandang dan kembali, seperti terjadi di dalam rumah

makan tadi pada saat mereka bertemu pandang untuk

pertama kali, dua pasang mata itu bertemu pandang, bertaut

dan sampai lama mereka saling pandang, seolah-olah dua

pasang mata itu saling menjajagi dan sinarnya saling melekat,

sukar dipisahkan lagi. Akhirnya pemuda itu yang

menundukkan sinar matanya karena dia harus menjelaskan

tindakannya yang agaknya menimbulkan keheranan dan

kecurigaan wanita itu.

“Maafkan aku, Nona, tadinya aku tidak sempat

menjelaskan, dan terima kasih bahwa engkau begitu percaya

kepadaku dan memenuhi permintaanku tanpa ragu-ragu.”

Lega rasa hati Cui Hong. Bukan begini sikap seorang pria

yang hendak berbuat kurang ajar, pikirnya, la tersenyum dan

kembali pemuda itu terpesona. Biarpun usianya sudah tiga

puluh tahun, namun selama hidupnya, rasanya baru sekali ini

dia melihat senyuman yang demikian manis, demikian

menyentuh perasaannya.

“Tidak ada maaf dan tidak perlu berterima kasih. Yang

penting jelaskan apa maksudnya engkau mengajak aku

bersembunyi di sini.”

“Nona, sungguh aku merasa kagum dan heran sekali

melihat betapa dalam keadaan terancam bahaya tadi, Nona

bersikap demikian tenangnya, bahkan sampai sekarang

engkau seperti tidak merasa bahwa dirimu terancam bahaya.

Empat orang tadi, apakah engkau kira akan mau sudah begitu

saja, Nona? Mereka tentu akan mencari dan mengejarmu, dan

karena itulah, sebelum mere ka keluar dari rumah makan, aku

cepat mengejarmu dan mengajakmu pergi bersembunyi, dan

di tempat ini mere ka tentu tidak akan menemukanmu.”

Hampir Cui Hong tertawa geli. Pemuda ini terlalu khawatir,

padahal pemuda ini sendiri tadi demikian tabah menghadapi

empat orang itu walaupun dia t idak pandai ilmu silat sedikit

 

pun. Kenapa pemuda ini tidak mengkhawatirkan diri sendiri,

sebaliknya amat mengkhawatirkan dirinya?

“Tapi, bukankah tadi muncul orang yang mereka takuti?”

“Aih, Nona, apakah Nona tidak dapat menduga? Orang

gendut tadi jelas memiliki kedudukan atau kekuasaan yang

lebih t inggi daripada empat orang itu, dan dengan adanya

orang tadi, Si Muka Bopeng tidak berani mengganggumu.

Akan tetapi, jelas bahwa di antara mereka ada hubungan,

buktinya Si Muka Bopeng demikian menghormat, dan aku

melihat bahwa Si Gendut yang baru datang tadi lebih jahat”

dan berbahaya lagi bagi dirimu.”

“Ehhh…?” Cui Hong benar terkejut. Pemuda ini memang

dapat menduga dengan amat cepatnya! Tentu saja Koo Cai

Sun jauh lebih berbahaya daripada empat orang bajingan kecil

tadi. “Bagaimana kau bisa tahu bahwa orang yang baru

datang tadi lebih jahat dan berbahaya? Apakah engkau

mengenalnya?”

Tan Siong menggeleng kepalanya. “Aku tidak mengenalnya,

Nona, akan tetapi siapapun dapat melihat bahwa dia

mempunyai niat buruk di dalam benaknya tehadap dirimu,

ketika dia melirik ke arahmu, Nona. Dan melihat senjata di

pinggangnya itu…. hemm, aku sungguh khawatir terhadap

keselamatanmu, maka aku segera menyusul dan mengajakmu

dan lari bersembunyi ke sini.” Ketika menyadari bahwa sejak

tadi mere ka hanya bercakap-cakap sambil berdiri saja, Tan

Siong lalu cepat mempersilakan Cui Hong duduk.

“Silakan duduk, Nona. Akan tetapi maaf, tidak ada tempat

duduk yang layak di sini. Lantainya sudah kubersihkan dan

kita hanya dapat duduk di atas lantai.”

Cui Hong mengangguk dan melihat pemuda itu duduk, ia

pun duduk bersimpuh di atas lantai dan memandang ke kanan

kiri. “Tempat ini adalah sebuah kuil tua yang tidak dipakai lagi.

 

Mengapa engkau tinggal di tempat ini? Bukankah engkau tadi

mengatakan bahwa engkau seorang petani dari luar kota?”

Tan Siong menarik napas panjang. “Benar, Nona. Namaku

Tan Siong dan pekerjaanku selama ini hanya bertani…. dan

bertahun-tahun aku tinggal di pegunungan yang sunyi. Aku

datang ke kota raja ini karena hendak mencari seorang

Pamanku. Karena belum berhasil, untuk menghemat biaya

karena bekalku tidak banyak, aku mengambil keputusan untuk

melewatkan malam di tempat ini. Dan, kalau boleh aku

mengetahui, siapakah namamu, Nona, dan di mana engkau

tinggal?”

“Namaku…” Cui Hong teringat bahwa ia harus

menyembunyikan rahasia dirinya, maka disambungnya cepat,

Cin Hwa, she Ok, dan aku…. aku pun sebatangkara di kota

raja ini. Aku seorang yatim piatu…”

Tan Siong memandang dengan penuh selidik dan alis

berkerut, agaknya dia merasa heran karena melihat betapa

pakaian gadis itu cukup indah dan mahal, dan betapa seorang

yang demikian cantik jelita hidup seorang diri saja di dunia ini!

“Tapi…. tapi kau…. benar-benar hidup sendirian saja, Nona?”

tanyanya, seperti tidak percaya.

Cui Hong maklum bahwa tentu pemuda itu heran melihat

pakaiannya yang indah dan mahal. “Aku memang hidup

sendirian saja, akan tetapi aku menerima peninggalan warisan

yang cukup banyak dari orang tuaku. Untuk kehidupanku, aku

tidak khawatir, dan aku suka sekali pesiar.” Ia merasa bahwa

ia telah bicara terlampau banyak, maka ia pun bangkit berdiri.

“Sudahlah, Saudara Tan Siong, aku harus pergi sekarang dan

terima kasih atas semua kebaikanmu terhadap diriku ”

Tan Siong juga ikut bangkit. “Tapi, Nona Ok Cin Hwa…

alangkah berbahayanya kalau engkau keluar dari sini.

Bagaimana kalau sampai bertemu dengan mereka berempat

yang tentu masih penasaran dan sedang mencari-carimu?”

 

Cui Hong tersenyum manis. “Aku tidak takut. Bukankah

selama ini aku pun merantau seorang diri dan selalu selamat?

Aku tidak khawatir, karena bukankah seperti kaukatakan tadi,

di kota raja ini terdapat hukum yang melindungi orang-orang

yang tidak berdosa?”

“Benar, itu untuk diriku, Nona. Siapa yang akan

mengganggu aku dan untuk apa mengganggu aku, seorang

laki-laki yang tidak punya apa-apa. Akan tetapi engkau!

Engkau begini. ah, keadaanmu….”

Cui Hong memandang tajam dan senyumnya masih

menghias bibirnya yang merah membasah bukan karena

gincu.

“Begini….. apa, Saudara Tan Siong?” tanyanya mendesak.

“Maaf engkau begini cantik jelita dan pakaianmu….

menunjukkan engkau memiliki uang. Keadaan dirimu dan

pakaianmu itu saja sudah cukup untuk membangkitkan selera

buruk dalam hati orang-orang jahat.”

Untuk ke tiga kalinya Cui Hong merasa heran terhadap

hatinya sendiri. Kenapa hatinya begini girang, sampai

berdebar mendengar pemuda tani ini mengatakan bahwa ia

cantik jelita? Padahal biasanya, kalau ada laki-laki yang berani

memujinya, memuji kecantikannya di depannya, ia akan

merasa sebal dan marah. Mengapa demikian? Apakah karena

laki-laki lain memuji untuk merayu dan untuk berkurang ajar,

sedangkan pemuda ini memuji dengan sinar mata jujur dan

untuk memperingatkannya akan bahaya yang mengancamnya

karena kecantikannya? Entahlah, akan tetapi yang jelas, ia

merasa senang sekali mendengar pemuda itu mengatakan ia

cantik jelita!

“Jangan khawatir, Saudara Tan. Aku melihat bahwa di kota

raja ini pusat wanita-wanita cantik dengan pakaian-pakaian

mereka yang serba indah. Apakah mereka semua itu pun takut

untuk keluar rumah? Tak mungkin kiranya empat orang itu

 

hanya mengejar-ngejar aku seorang saja. Nah, selamat tinggal

dan sampai berjumpa lagi!” Berkata demikian, Cui Hong lalu

meninggalkan ruangan belakang kuil itu.

“Nanti dulu, Nona Ok….!” Tan Siong mengejar dan berjalan

di samping Cui Hong. “Biar aku mengantar Nona sampai ke

tempat tinggalmu.”

“Ah, tidak perlu, Saudara Tan, tidak perlu,” kata Cui Hong

yang khawatir kalau orang ini mengetahui tempat ia

bermalam. Dengan uangnya ia telah menyewa sebuah rumah

gedung kecil di pinggir kota, tempat yang dipergunakannya

untuk beroperasi dan berusaha membalas dendam terhadap

musuh-musuhnya, la akan merasa tidak enak kalau sampai

ada orang yang mengetahui tempat tinggalnya.

“Baiklah, Nona Ok. Setidaknya aku akan merasa lega dan

aman kalau engkau sudah t iba di tempat tinggalmu. Di

manakah engkau tinggal?”

“Di…. di rumah penginapan.” Terpaksa Cui Hong berkata

membohong dan ia pun mendapatkan akal. Kalau ia menolak

terus, tentu akan menimbulkan kecurigaan pemuda ini, dan

pula rasanya ia pun segan untuk berpisah begitu saja. Ingin ia

berada lebih lama dekat dengan pemuda ini dan bercakapcakap.

Mereka lalu berjalan ke luar dari kuil. Matahari sudah

condong ke barat dan sambil berjalan, mereka bercakapcakap.

Percakapan kecil saja, hanya omong-omong dan

ngobrol tentang hal-hal remeh untuk mengisi kesunyian, akan

tetapi sungguh aneh, Cui Hong merasa gembira bukan main

karena belum pernah ia mengalami keakraban seperti dengan

pemuda yang baru saja dikenalnya ini.

Diam-diam, ketika bercakap-cakap, ia melirik dan

mengamati wajah pemuda itu penuh perhatian. Seorang

pemuda yang ganteng, menarik, jujur, sopan dan memiliki

keberanian yang mengagumkan. Kesopanan dan keberanian

 

itu wajar, sesuai dengan kejujurannya, tidak berpura-pura

atau menyembunyikan pamrih apa pun. Seorang pemuda

yang belum tentu dapat ditemukan di antara seribu orang

pemuda lain, pikirnya.

Setelah tiba di depan sebuah penginapan, Cui Hong

berkata, “Di sinilah untuk sementara aku menginap, Tan-toako

(Kakak Tan). Terima kasih engkau telah mengantarku

sampai di sini.”

Wajah pemuda itu nampak berseri mendengar Cui Hong

menyebutnya kakak, sebutan yang lebih akrab daripada

sebutan saudara. “Baiklah, aku pergi sekarang, Hwa-moi (Adik

Hwa). Harap kau suka berhati-hati menjaga diri. Ingat, di kota

raja ini banyak terdapat orang jahat.”

“Terima kasih, Toako. Sampai berjumpa kembali.”

“Tapi. tapi…. dapatkah kita berjumpa kembali?”

“Mengapa tidak? Kita sudah saling mengenal, bukan? Dan

selama kita berada di kota raja, tentu saja besar kemungkinan

kita akan saling jumpa.”

“Mudah-mudahan begitu. Selamat tinggal, Hwa-moi.”

Pemuda itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dengan

langkah cepat dari situ. Cui Hong mengikutinya dengan

pandang matanya. Seorang pemuda yang amat baik, pikirnya,

dan selalu menjaga kesopanan. Kalau tidak demiki-an, tentu

setelah tiba di depan rumah penginapan ini, Tan Siong akan

berusaha mengikutinya sampai ke kamarnya. Tentu saja ia

tidak tinggal di rumah penginapan ini dan setelah bayangan

Tan Siong t idak nampak, ia menyelinap ke samping rumah

penginapan itu dan mengambil jalan lain untuk kembali ke

rumah yang disewanya, yang berada di satu jalan dengan

rumah penginapan itu.

-odwoTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

Koo Cai Sun merasa tersiksa batinnya setelah dia tinggal di

dalam gedung Pui Ki Cong bersama keluarganya. Memang,

gedung itu besar dan megah, jauh lebih mewah daripada

rumahnya sendiri, dari di situ terjaga ketat oleh para

pengawal, juga merasa aman karena adanya dua orang

jagoan yang tangguh. Akan tetapi perasaan aman dan

tenteram ini hanya dinikmatinya di waktu malam. Dia dapat|

tidur nyenyak, tidak khawatir lagi akan kedatangan musuh

besar yang ditakutinya. Cai Sun adalah orang yang suka

keluyuran, suka mencari kesenangan di luar rumah. Setelah

beberapa belas hari lamanya dia tinggal terkurung saja di

dalam rumah, akhirnya dia tidak kuat, merasa seperti di dalam

rumah tahanan saja. Dia rindu untuk mengunjungi rumah

rumah pelesiran, rindu untuk mencari wanita-wanita baru

yang akan dapat menghibur hatinya yang selalu haus akan

kesenangan itu.

Dan ternyata bahwa bayangan musuh itu sama sekali t idak

pernah muncul! Juga setelah beberapa kali dia pada siang hari

keluar rumah bersama Cia Kok Han dan Su Lok Bu. Tak

pernah dia mengalami gangguan dari Kim Cui Hong. Hal ini

membuatnya berbesar hati dan mulailah dia berani keluar dari

rumah gedung itu di waktu siang. Dia berpendapat bahwa Kim

Cui Hong tentu hanya berani turun tangan di waktu malam

saja, hanya berani bertindak secara sembunyi. Kalau terangterangan

di waktu siang tentu wanita itu tidak berani karena

pertama, dia sendiri memiliki kepandaian cukup untuk

melawannya dan kedua, di waktu siang hari wanita itu tentu

akan dikenal orang dan di kota raja terdapat banyak penjaga

keamanan yang telah dikenalnya. Kalau di waktu siang dia

berkelahi dengan seorang wanita asing, tentu banyak orang

akan membantunya. Jelaslah bahwa Kim Cui Hong tidak akan

berani menyerangnya di waktu siang di tempat umum yang

ramai.

Dengan pikiran seperti itu, Cai Sun mulai berani keluar dari

gedung untuk berjalan-jalan dan tak lama kemudian, dia pun

 

mulai berani keluar mengunjungi rumah-rumah pelesiran

untuk bersenang-senang dengan pelacur-pelacur baru. Dan

pada suatu hari, setelah matahari naik tinggi, pergilah Cai Sun

keluar dari gedung seorang diri saja, tidak ditemani Cia Kok

Han, Su Lok Bu atau seorang pun pengawal. Dengan santai ia

melangkah keluar dan berjalan-jalan menuju ke pasar.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh seorang wanita muda yang

memakai pakaian merah muda, pakaian yang cukup indah dan

mewah berjalan seorang diri di depannya. Melihat lenggang

yang memikat dari belakang, pinggul yang seperti menari-nari

di balik celana sutera tipis, tergeraklah hati Cai Sun yang mata

keranjang. Dia tidak ingat lagi dari mana wanita itu tadi

muncul, karena tahu-tahu sudah berjalan di sebelah depan,

dengan lenggang yang nampak dari celah-celah rambut yang

hitam itu amat putih mulus dan timbul keinginan hati Cai Sun

untuk melihat bagaimana wajah perempuan itu. Dari belakang

memang amat menggairahkan, dengan bentuk tubuh yang

ramping dan padat, dengan lekuk lengkung tubuh yang

matang, akan tetapi hatinya belum puas kalau belum melihat

bagaimana wajahnya. Betapa pun indah tubuh dan kulit

seseorang, kalau tidak disertai wajah yang cantik, maka

wanita itu tidak akan dapat menarik hati pria, terutama pria

mata keranjang seperti Cai Sun. Dia pun mempercepat

langkahnya dengan hati berdebar penuh kegembiraan

Sebentar saja Cai Sun dapat menyusul wanita itu dan dia

lewat di sebelah kanannya, mendahului dan sengaja melepas

batuk. Wanita itu terkejut dan menoleh ke kanan. Mereka

saling bertemu pandang dan Cai Sun merasa jantungnya

seperti akan copot. Wanita itu cantik jelita dan manis sekali!

Dan yang lebih daripada itu, dia mengenal wanita itu sebagai

gadis yang pernah menimbulkan keributan di dalam rumah

makan beberapa hari yang lalu! Selama itu, dia tidak pernah

dapat melupakan gadis itu. Sudah dicobanya untuk bertanyatanya

para pelayan rumah makan, sudah diusahakannya untuk

mencari, namun dia tak pernah berhasil. Dan sekarang, tanpa

 

disangka-sangka, dia bertemu dengan gadis cantik menarik

itu. Juga wanita itu nampak kaget, lalu tersipu-sipu malu.

“Ah, kiranya engkau, Nona…l” Kata Cai Sun dengan sikap

ramah dan segera ia memasang aksinya, tersenyum-senyum

dan mencoba untuk memperlebar matanya yang sipit dan kecil

seperti mata babi itu. Memang wajah Cai Sun yang bulat dan

gemuk itu mirip wajah seekor babi.

“Ah, In-kong (Tuan Penolong) Wanita itu berseru dengan

suara tertahan sehingga terdengar merdu sekali, lalu ia

menundukkan mukanya yang berubah merah.

Bukan main besar dan girangnya rasa hati Cai Sun disebut

in-kong oleh gadis itu. Bagus, pikirnya, setelah gadis itu

mengakuinya sebagai tuan penolong, tentu tidak akan sukar

menariknya.

“Engkau masih ingat kepadaku, Nona?” pancingnya.

Dengan sikap malu-malu karena ditegur seorang laki-laki di

tempat umum, gadis itu menjawab lirih. “Tentu saja, semenjak

mendapat pertolongan darimu, aku tidak pernah dapat

melupakan penolongku.”

Hampir berjingkrak laki-laki itu saking girangnya. “Benarkah

itu? Kalau begitu, bolehkah aku berkenalan denganmu dan

singgah ke rumahmu, Nona?”

Dengan sikap masih tersipu gadis itu pun menjawab,

“Tentu saja boleh, in-kong dan aku akan merasa terhormat

sekali.”

Cai Sun hampir bersorak penuh kemenangan. Tak

disangkanya akan begini mudahnya memperoleh seorang

calon pacar baru. Demikian muda, cantik jelita, dan agaknya

semua ini berkat ketampanan dan kegagahannya, di samping

kepandaiannya merayu dengan rayuan mautnya. Bangga akan

diri sendiri, lubang hidung Cai Sun mere kah dan kembangkempis.

 

“Kalau beg itu, mar i kuantar engkau pulang, Nona. Ataukah

engkau masih ada keperluan lain?”

“Aku memang hendak pulang, In-kong. Sudah lelah

berjalan-jalan sejak pagi pulang. Di manakah rumahmu?”

“Di ujung kota sebelah sana, In-kong.”

Mereka berjalan bersama dan dengan hati girang bukan

main berkali-kali Cai Sun melirik ke arah gadis itu yang

berjalan sambil menundukkan mukanya dan tak pernah

membuka mulut. Seorang gadis yang luar biasa manisnya,

pikir Cai Sun, dan tentu mudah didapatkannya karena gadis

yang memakai bedak agak tebal “tu tentu bukan wanita yang

suka jual mahal! Akan tetapi dia teringat akan keluarga gadis

itu, dan timbul kekhawatirannya bagaimana kalau keluarga

gadis itu berkeberatan dia menggauli gadis ini?

“Nona, selain engkau, siapa lagi yang tinggal di rumahmu?”

Wanita itu menggeleng kepala. “Tidak ada orang lain,

hanya aku dan seorang pelayanku, In-kong.”

“Orang tuamu….?”

“Mereka tinggal di dusun di luar kota raja…”

“Engkau seorang gadis t inggal seorang diri saja?”

“”uamiku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu…”

Cai Sun hampir bersorak. Seorang janda! janda muda yang

beberapa bulan menjanda. Janda kembang! Bukan main

girang rasa hatinya. Dia lebih senang seorang janda daripada

seorang gadis. Seorang janda mempunyai banyak pengalaman

dan jauh lebih pandai menyenangkan hati pria daripada

seorang gadis yang masih bodoh!

Tanpa disadarinya, Cai Sun mengikuti wanita itu sampai di

ujung kota, bagian yang cukup sepi dan agak jauh dari

tetangga, tidak seperti di tengah kota yang rumahnya

berhimpitan Namun, Cai Sun yang sudah tergila-gila ini lupa

 

akan keadaan dirinya, menjadi lengah dan lupa lagi akan

ancaman terhadap dirinya selama ini. Yang dibayangkannya

hanyalah janda kembang yang cantik molek itu sebentar lagi

tentu akan menjadi miliknya, memasrahkan diri dengan suka

rela kepadanya yang menjadi tuan penolongnya!

“Di sana itulah rumahku, In-kong, yang bercat hijau.

Sebaiknya In-kong menunggu dulu. Tidak baik kalau kita

masuk bersama, aku…. aku merasa malu. …..sebagai seorang

janda…. ah, tentu In-kong mengerti. Biar aku pulang dulu

baru nanti In-kong datang bertamu. Dengan demikian, kalau

pun ada yang melihatnya, tentu disangka bahwa In-kong

masih ada hubungan keluarga denganku. Akan tetapi

sebaiknya jangan sampai ada orang lain melihatnya, Inkong…”

Ucapan itu disertai senyum dikulum dan kerling tajam

menyambar. Kata-kata dan sikap itu saja sudah merupakan

janji yang amat mesra bagi Cai Sun. Kalau wanita ini hendak

merahasiakan pertemuan mereka, berarti wanita itu memang

“ada maksud” dan tentu saja dia mengangguk-angguk dengan

muka merah dan berkali-kali menelan ludah. Dipandangnya

lenggang yang menggairahkan itu, dan nafsu-nya semakin

memuncak.

Setelah wanita itu lenyap ke dalam rumah cat hijau,

dengan tergesa-gesa Cai Sun setengah berlari menuju ke sana

dan dengan girang dia melihat bahwa tempat itu sunyi dan

tidak seorang pun melihatnya. Dan pintu depan itu tidak

terkunci karena ketika daunnya ditolakkan, segera terbuka.

Dia masuk dan menutupkan kembali daun pintu depan itu. Ia

melihat wanita tadi telah berdiri di ruangan tengah,

memandang kepadanya dengan senyum simpul. Cai Sun

sengaja mengunci daun pintu itu, memasangkan palang

pintunya dan ternyata janda muda itu hanya tersenyum saja.

Ingin Cai Sun lar i dan menubruknya, karena semua sikap itu

jelas menandakan bahwa dia telah memperoleh “lampu hijau”.

 

Berbeda dengan dandanan wanita itu yang agak mewah,

dengan pakaian yang indah dan mahal dan perhiasan di

tubuhnya, keadaan di dalam rumah itu sendiri agak gundul.

Hanya nampak meja kursi di ruangan tengah.

“In-kong, silakan duduk. Kita dapat bercakap-cakap di sini.

Pelayanku sedang keluar kusuruh membeli arak karena arakku

telah habis.”

“Ah, tidak perlu repot-repot. Oh ya, pintunya terlanjur

kupalang, bagaimana nanti pelayanmu dapat masuk?” katanya

setengah berkelakar.

“Ia mengambil jalan pintu belakang, In-kong.”

Cai Sun lalu duduk, berhadapan dengan wanita itu,

terhalang sebuah meja bundar yang kecil. Ingin Cai Sun

menendang pergi meja itu dan langsung memeluk janda

kembang yang duduk dengan manisnya di depannya. Bau

semerbak harum telah tercium olehnya, bau harum yang sejak

di jalan tadi sudah mengganggu hatinya. Akan tetapi, dia

belum mengenal siapa janda muda ini, maka dia menahan

hatinya untuk bersabar. Perlu apa tergesa-gesa kalau domba

sudah tergiring masuk kandang?

“Nona, ataukah aku harus memanggil Nyonya? Akan tetapi

kurasa lebih baik kupanggil Adik saja, bagaimana?”

“Terserah kepadamu, In-kong.”

“Aih, jangan menyebut In-kong, membikin hubungan kita

menjadi kaku dan canggung saja. Moi-moi, aku bernama Koo

Cai Sun, dan pekerjaanku adalah pedagang senjata-senjata

pusaka yang mahal. Aku mempunyai sebuah to ko di pusat

keramaian kota. Nah, kau sebut saja aku Koko (Kakanda).

Siapakah namamu dan ceritakan keadaanmu agar perkenalan

antara kita menjadi semakin…. akrab dan mesra.”

Wanita itu menundukkan mukanya yang menjadi merah

dan ia tersipu malu. “Namaku Ok Cin Hwa dan seperti sudah

 

kuceritakan tadi, orang tuaku tinggal di dusun dan suamiku

telah meninggal dunia empat bulan yang lalu.”

Tiba-tiba daun pintu depan digedor orang. Cai Sun terkejut,

juga wanita itu. Seperti para pembaca tentu sudah dapat

menduga, wanita itu yang mengaku bernama Ok Cin Hwa

sesungguhnya adalah Kim Cui Hong yang menyamar! Sudah

berhari-hari ia membayangi Cai Sun yang suka berjalan-jalan

seorang diri keluar dari gedung keluarga Pui dan kesempatan

itu dipergunakannya untuk memancing musuh besar itu. Tentu

saja ia dapat menyerang roboh musuhnya di tengah jalan,

akan tetapi hal ini ia tidak mau melakukannya. Ia ingin

membalas dendamnya sepuas hatinya, dan hal itu baru dapat

tercapai kalau ia dapat berhadapan berdua saja dengan

musuhnya. Dengan kecantikannya, ia berhasil memikat hati

Cai Sun yang mata keranjang dan kini sudah bersiap-siap

untuk melakukan balas dendamnya. Maka ketika daun pintu

digedor orang dengan kerasnya, Cui Hong terkejut bukan

main.

“Pelayanmukah itu?” Tanya Cai Sun, mengerutkan alisnya.

Cui Hong menggeleng kepalanya, “la tidak berani

menggedor seperti itu, akan tetapi masuk melalui pintu

belakang.”

Tiba-tiba wajah Cai Sun menjadi pucat. Baru dia teringat

akan ancaman musuh besarnya. Jangan-jangan yang datang

itu adalah musuhnya yang melihat dia berada di dalam rumah

sunyi ini! Dia meraba gagang sepasang tombak pendeknya

dan berkata kepada Cui Hong, “Hwa-moi, kau tanya dulu siapa

yang menggedor pintu itu sebelum membukanya.” katanya

dan suaranya terdengar agak gemetar. Batu sekarang dia

sadar bahwa dia telah terlalu jauh meninggalkan gedung

keluarga Pui, bahwa dia telah terlalu lengah.

Dengan sikap takut-takut Cui Hong menghampiri pintu,

sementara itu Cai Sun sudah mencabut sepasang senjata

tombak pendeknya. Kembali terdengar pintu digedor dari luar.

 

“Siapa itu yang menggedor pintu?” teriak Cui Hong dengan

nyaring.

Suasana hening dan menegangkan, terutama bagi Cai Sun

yang menanti terdengarnya jawaban dari luar, siap dengan

senjata di tangan. Kemudian terdengarlah suara laki-laki

menjawab dari luar, “Buka pintu, kami datang mencari

Saudara Koo Cai Suni Tadi dia masuk ke dalam rumah ini.

Buka atau…. akan kami jebol pintu ini! ”

Mendengar suara itu, Cai Sun tertawa. Legalah hatinya

ketika mengenal suara Su Lok Bu, seorang di antara dua

jagoan yang diangkat menjadi kepala pengawal oleh Pui Ki

Cong. Lenyaplah rasa khawatirnya.

“Ha-ha-ha, kiranya engkau, Su-toako!” teriaknya dan dia

pun memandang Cui Hong dengan penuh gairah. “Dia

sahabatku sendiri, Hwa-moi, jangan takut. Bukalah pintunya.”

Tentu saja Cui Hong diam-diam merasa mendongkol sekali.

Musuh besar yang amat dibencinya ini telah berada di dalam

genggaman tangannya, tinggal melaksanakan balas

dendamnya saja dan kini datang gangguan yang merupakan

pertolongan bagi Cai Sun. Tentu saja mudah baginya untuk

merobohkan Cai Sun dan melarikannya dari situ, akan tetapi

tempatnya telah diketahui orang dan kalau dilakukannya hal

itu, berarti ia membuka rahasia sendiri. Padahal masih ada Pui

Ki Cong yang harus dibalasnya pula. Tidak, ia harus

melakukan pembalasan tanpa diketahui orang. Setelah semua

musuhnya dibalas, ia tidak perduli lagi apakah ia dikenal orang

ataukah tidak. Maka, sambil menyembunyikan

kekecewaannya, ia lalu membuka daun pintu.

Di depan pintu berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi

besar bermuka hitam penuh brewok yang memegang

sepasang pedang. Laki-laki itu bukan lain adalah Su Lok Bu,

jagoan yang menjadi pelindung keluarga Pui, dan di

belakangnya nampak setengah losin perajurit pengawal yang

bersenjata lengkap.

 

“Su-toako, ada urusan apakah engkau menyusulku?” Cai

Sun bertanya.

Sejenak Su Lok Bu memandang kepada Cui Hong penuh

perhatian, lalu bertanya, “Koo-siauwte, siapakah wanita Ini?”

Cai Sun tertawa. “Ia adalah….. sahabatku yang baru,

Toako, namanya Ok Cui Hwa, seorang.. eh, janda

kembang…..”

Su Lok Bu mengerutkan alisnya memandang kepada

rekannya itu. “Koo-siauwte, engkau terlalu sembrono, pergi

seorang diri sampai di bagian yang sepi ini. Seorang pengawal

melihatmu dan memberi laporan kepada Pui Kongcu yang

mengutus aku untuk segera menyusulmu. Engkau membikin

pekerjaan kami menjadi repot saja, Koo-siauwte.”

“Maaf, maaf! Dalam bersenang-senang aku sampai lupa

diri, Toako. Akan tetapi, di rumah Hwa-moi ini aku aman,

harap jangan khawatir dan laporkan saja kepada Pui-kongcu

bahwa aku sedang bersenang-senang di dalam rumah sahabat

baruku.”

“Tidak, Koo-te, engkau harus kembali, demikianlah perintah

Pui-kongcu.” bantah Su Lok Bu dengan suara tegas.

Cai Sun ragu-ragu untuk membantah lagi. Dia tahu bahwa

di dalam keluarga Pui, dia masih kalah berkuasa dibandingkan

orang tinggi besar ini, dan pula, dia tahu bahwa

kepandaiannya pun masih belum mampu menandingi

kepandaian Su Lok Bu.

“Akan tetapi….. mengapa aku tidak boleh bersenangsenang?”

“Tidak ada yang melarangmu bersenang-senang, akan

tetapi tidak boleh meninggalkan gedung keluarga Pui terlalu

jauh. Kenapa tidak kaubawa saja sahabatmu ini ke sana?”

 

Wajah Cai Sun nampak berseri. “Ya, kenapa tidak

demikian? Hwa-moi, mari ikut dengan aku ke gedung keluarga

Pui, engkau akan senang di sana!”

Tentu saja Cui Hong tidak sudi dibawa ke rumah keluarga

Pui, karena se lain hal itu amat berbahaya baginya, ia pun

tidak sudi dipermainkan untuk kedua kalinya! “Tidak, aku…..

aku tinggal saja di sini…..”

“Eh, kenapa, Hwa-moi? Bukankah kita telah bersahabat

baik? Aku ingin menyenangkan hatimu, percayalah, di sana

engkau akan gembira sekali. Rumahnya indah dan mewah,

tidak seperti di sini dan…..”

“Terima kasih, akan tetapi, aku malu ….. apa akan kata

orang”

Melihat penolakan itu, Cai Sun menjadi kecewa dan marah.

Kesenangan yang sudah dibayangkan sejak tadi, akan gagal.

Seolah-olah makanan lezat yang sudah berada di depan bibir,

kini akan terlepas. Tentu saja dia tidak re la melepaskannya.

“Hwa-moi, engkau tidak boleh menolak lagi. Engkau harus

ikut denganku. Harus kubilang tadi, mengerti?” berkata

demikian, Cai Sun hendak menangkap lengan tangan Cui

Hong, akan tetapi wanita itu sudah melangkah mundur

sehingga tangkapannya tadi luput.

“Hemm, lagi-lagi ada laki-laki hendak memaksakan

kehendaknya kepada seorang wanita baik-baik! Apakah di

kota raja ini seperti di dalam hutan rimba?” Ucapan itu

mengejutkan semua orang dan mere ka menoleh ke luar.

Kiranya dari luar muncul seorang pemuda yang memandang

kepada Cai Sun dengan alis berkerut dan pandang mata

marah. Melihat pemuda itu, Cui Hong terkejut sekali.

“Tan-toako, harap jangan mencampuri …..” Ia khawatir

sekali karena ia tahu betapa lihainya Cai Sun, apalagi di situ

terdapat pasukan pengawal yang dipimpin oleh Su Lok Bu

 

yang ia sudah dengar memiliki kepandaian tinggi itu. Sekali ini

Tan Siong tentu akan celaka.

“Biar lah, Hwa-moi. Siapa pun akan kuhadapi kalau ia berani

mengganggu dan menghinamu!” kata Tan Siong dengan sikap

tenang dan tabah sekali.

Sementara itu, ketika melihat bahwa pemuda yang muncul

ini adalah pemuda petani yang pernah ribut di dalam rumah

makan menghadapi empat orang pria yang mengganggu

wanita itu, bangkit lah kemarahannya dan sekali loncat, Cai

Sun sudah berada di depan pemuda itu.

“Petani dusun busuk! Mau apa kau? Apakah sudah bosan

hidup? Hayo menggelinding pergi!” Berkata demikian, tangan

kanannya menampar. Tamparan yang kuat sekali karena dia

sengaja mengerahkan tenaga dan kalau pemuda tani itu

terkena tamparan tadi yang mengarah kepalanya, tentu dia

akan roboh dan mungkin akan terluka berat atau bahkan

tewas. Cui Hong terkejut bukan main dan ia sudah siap untuk

melindungi Tan Siong ketika tiba-tiba ia melihat hal yang luar

biasa, hal yang terjadi di luar dugaan sama sekali. Dengan

gerakan yang amat lincah dan ringan, dan dengan amat

mudahnya, Tan Siong telah menggeser kakinya dan mengelak!

“Sudah mengganggu wanita baik-baik masih memukul

orang tanpa dosa lagi. Wah, sungguh jahat sekali kau ini!”

kata Tan Siong, menudingkan telunjuknya ke arah hidung Cai

Sun yang bentuknya merupaan ciri khas hidung laki-laki mata

keranjang.

Melihat betapa tamparannya dapat dielakkan oleh pemuda

tani itu, Cai Sun menjadi marah bukan main. “Jahanam busuk,

engkau sudah bosan hidup!” Dan dia pun menerjang maju,

sekali ini bukan sekedar tamparan saja, melainkan serangan

dengan jurus ilmu silatnya yang ampuh. Dengan gerakan yang

cepat walaupun tubuhnya bundar dengan perut gendut, dia

mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah ulu hati

lawan, sedangkan pukulan ini disusul dengan tendangan kaki

 

kirinya mengarah selangkangan. Hebat serangan ini karena

merupakan serangan dari Ilmu Silat Thian-te Sin-kun yang

menjadi kebanggaannya. Sesuai dengan namanya, Ilmu Silat

Thian-te Sin-kun (Silat Sakti Bumi Langit) mendasarkan

gerakan kombinasi atas dan bawah dan dia menyerang

dengan jurus Kilat Mengguncang Bumi Langit.

Senyum kagum membayang di bibir Cui Hong ketika dia

melihat sikap Tan Siong menghadapi serangan itu. Kalau tadi

ia masih khawatir dan juga terheran-heran, kini hatinya mulai

merasa tenang dan bahkan kagum. Melihat sikap pemuda itu”

yang amat tenang, ia percaya bahwa pemuda yang

disangkanya petani dusun sederhana itu ternyata adalah

seorang pendekar yang memiliki kepandaian silat tinggi! Kalau

tidak tinggi t ingkat kepandaiannya, tidak mungkin sikapnya

demikian santai dan tenang menghadapi serangan Cai Sun

yang dahsyat.

“Wuuuutttt….!” Tan Siong mengelak ke kiri membiarkan

pukulan tangan lawan ke arah ulu hatinya lewat, dan ketika

tendangan susulan menyambar, dia memutar lengan

kanannya ke bawah untuk menangkis.

“Dukk….!” Kaki yang menendang itu tertangkis dan

terpental, bahkan Cai Sun menyeringai karena merasa betapa

tulang keringnya nyeri, tanda bahwa pemuda petani itu

memiliki tenaga yang amat kuat! Tahulah dia bahwa pemuda

yang kelihatannya bodoh itu sebenarnya adalah seorang yang

memiliki kepandaian silat tinggi, maka dengan marah sekali

Cai Sun mencabut sepasang senjata tombak pendeknya.

Nampak sinar berkilauan ketika sepasang senjata itu

digerakkan, dan dua gulungan sinar segera menyerang ke

arah Tan Siong.

Pemuda itu cepat meloncat ke belakang dan ketika Cai Sun

menerjang lagi, dia sudah mencabut sebatang pedang yang

tadi dipergunakan sebagai ikat pinggang. Sebatang pedang

yang lemas dan lentur sekali, tipis akan tetapi juga tajam

 

berkilauan ketika tercabut dari sarungnya yang melingkari

pinggang. Terdengar suara berdenting berkali-kali dan Cai Sun

segera menjadi silau karena gulungan sinar pedang itu

membuat sepasang tombaknya seperti mati langkah.

“Hwa-moi, larilah cepat…..pergilah…!”

Tan Siong yang tahu bahwa lawannya amat tangguh,

berteriak kepada Cui Hong yang masih berdiri dengan

bengong.

Mendengar ini, Cui Hong lalu berlari masuk ke dalam

rumahnya, untuk melarikan diri dari pintu belakang. Tentu

saja ia tidak merasa takut, akan tetapi sebagai Ok Cin Hwa,

tentu saja ia harus berpura-pura takut dan melarikan diri

selagi Cai Sun terlibat dalam perkelahian melawan Tan Siong.

Lega rasa hati Tan Siong melihat gadis itu sudah melarikan

diri. Dia melawan dengan penuh semangat dan tak lama

kemudian, Koo Cai Sun mulai terdesak. Jagoan ini juga

melihat betapa wanita yang diinginkannya itu lari maka dia

cepat berteriak, “Apakah kalian diam saja terus? Hayo bantu

aku menghadapi bocah ini! ”

Enam orang perajurit pengawal itu segera bergerak

mengepung Tan Siong membantu Cai Sun, akan tetapi Su Lok

Bu masih berdiri saja menonton. Jagoan ini merasa sungkan

untuk melawan pengeroyokan, dan juga dia kagum terhadap

pemuda itu. Nampaknya seorang pemuda sederhana, pemuda

petani dusun yang bodoh, akan tetapi ternyata pemuda

berpakaian kuning itu adalah seorang ahli silat yang amat

pandai, dan lebih dari itu, dia mengenal gerakan ilmu pedang

itu sebagai ilmu pedang dari Kun-lun-pai yang besar dan amat

terkenal! Pemuda ini seorang murid Kun-lun-pai yang pandai

dan hal inilah yang membuat hati Su Lok Bu merasa tidak

enak. Dia sendiri adalah murid Siauw-lim-pai dan di antara

kedua perkumpulan itu, biarpun Siauw-lim-pai dipimpin oleh

para hwesio beragama Buddha sedangkan Kun-lun-pai

 

dipimpin oleh para tosu beragama To, namun terdapat

persahabatan yang baik.

Biarpun kini dikeroyok oleh Cai Sun dan enam orang

pengawal, ternyata Tan Siong mampu menandingi mereka,

bahkan ketika dia mempercepat gerakan pedangnya, dua

orang pengawal terpaksa melom pat mundur karena yang

seorang terluka pundaknya, seorang lagi terluka pahanya yang

robek berdarah. Empat orang penga wal lainnya menjadi

gentar juga menghadapi kegagahan pemuda itu, dan kini Tan

Siong mempercepat serangannya untuk merobohkan Cai Sun.

Si mata keranjang yang gendut perutnya ini menjadi sibuk

sekali. Dia pun mengerahkan seluruh tenaganya dan

mengeluarkan semua ilmu silatnya untuk melawan, namun

tetap saja dia terdesak hebat. Kembali dua orang pengawal

roboh oleh tendangan kaki Tan Siong sehingga kini t inggal

dua orang, tiga bersama Cai Sun yang mengepungnya. Melihat

ini, hati Su Lok Bu merasa tidak enak. Bagaimanapun juga, Cai

Sun adalah rekannya yang sama-sama melindungi Pui Ki

Cong, dan kini bahkan empat orang pengawal telah kalah dan

tidak dapat maju lagi. Dia mencabut sepasang pedangnya dan

meloncat ke dalam kalangan perkelahian sambil membentak,

“Tahan dulu!”

Melihat berkelebatnya dua sinar pedang yang panjang dan

kuat, Tan Siong meloncat mundur dan perkelahian itu terhenti.

“Orang muda, siapakah engkau dan mengapa engkau berani

melawan kami yang bertugas sebagai pengawal-pengawal

bangsawan di kota raja?”

Tan Siong memandang kepada orang tinggi besar bermuka

hitam yang nampak gagah dan kuat ini. “Namaku Tan Siong

dan semua orang tahu bahwa bukan aku yang mencari

perkara. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat perlakuan

sewenang-wenang terhadap seorang wanita baik-baik, maka

aku pun menegur.”

 

“Hemm, engkau telah lancang tangan melukai pengawalpengawal,

bagaimana fyp p ta’ ” (fasBjjaiaw suara dosa

—–

yang harus dihukum. Menyerahlah untuk kami tangkap dan

kami hadapkan kepada majikan kami.” Su Lok Bu masih

berusaha agar tidak usah berkelahi melawan pemuda itu dan

kalau pemuda itu menyerah, dia akan menjaga agar Cai Sun

tidak ber tindak sewenang-wenang, dan agar pemuda itu

diadili secara baik-baik.

“Aku harus menyerah?” Tan Siong membentak penasaran.

“Kawanmu inilah yang harus dihukum, bukan aku!”

“Berani engkau melawan? Nah, sambutlah pedangku ini!”

Su Lok Bu menyerang dengan sepasang pedangnya. Diamdiam

terkejutlah hati Tan Siong menyaksikan gerakan pedang

itu, yang demikian cepat dan juga kuat. Serangan yang amat

dahsyat dilakukan Su Lok Bu, dengan sepasang pedang

melakukan gerakan meng dari kanan kiri

“Trang-tranggg…..!” Nampak bunga api berpijar dan Tan

Siong berhasil menghalau dua pedang yang mengguntingnya

dengan tangkisan beruntun ke kanan kiri. Su Lok Bu

mengeluarkan seruan memuji, lalu menyerang lagi dengan

lebih dahsyat.

Melihat gerakan pedang Su Lok Bu, Tan Siong merasa

semakin kaget. Dia pun mengenal gerakan ilmu pedang

Siauw-lim-pai, maka sambil meloncat jauh ke belakang dia

berseru,

“Tahan senjata!”

Tan Siong mengangkat kedua tangan ke depan dada

memberi hormat kepada Su Lok Bu sambil berkata, “Kiranya

 

bertemu dengan seorang gagah dari Siauw-lim-pai. Terimalah

hormat seorang murid Kun-lun-pai, sahabat, dan maafkan

kalau aku kesalahan tangan.”

Su Lok Bu mengerut kan alisnya. Kalau pertikaian ini

merupakan urusan pribadinya, tentu dia pun akan merendah

dan mengalah terhadap murid Kun-lun-pai seperti sikap

pemuda itu. Akan tetapi, pada saat ini dia adalah seorang

petugas yang harus membela rekan-rekan nya. Dia harus

membantu Cai Sun, dan dia pun harus membantu para

pengawal yang sudah menderita kerugian dengan kalahnya

empat orang itu.

Dalam urusan ini, Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tidak ada

sangkut-pautnya, dan ia pun melihat yang ada hanyalah

seorang pemuda yang telah melukai para perajurit pengawal

dan aku sebagai seorang kepala pengawal. “Menyerahlah

untuk kutangkap dan aku pun tidak akan mempergunakan

senjata terhadap dirimu.”

Tan Siong mengangguk. “Baiklah, ini urusan pribadi dan

tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai maupun

Kun-lun-pai. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah, maka

terpaksa aku menolak untuk menyerah dan ditangkap.”

“Su-toako, pemuda ini sombong sekali. Kalau tidak diberi

hajaran tentu akan memandang rendah kepada kita!” teriak

Cai Sun marah karena dia merasa khawatir kalau-kalau

rekannya itu akan berdamai dan tidak melanjutkan

perkelahian melawan pemuda itu. Dia sendiri sudah

menggerakkan pedang di tangannya melakukan serangan

dahsyat yang disambut oleh Tan Siong dengan tenang.

Melihat ini, terpaksa Su Lok Bu maju lagi melakukan serangan

dengan sepasang pedangnya. Juga dua orang pengawal

membantu dengan pedang mere ka.

Tiba-tiba muncul seorang laki-laki pendek berkulit putih dan

berperut gendut, dengan rambut dan jenggot putih semua.

“Penjahat muda yang nekat, lihat golok besarku!” bentak

 

orang itu dan begitu tiba di situ, dia membentak dan

menggerakkan sebatang golok besar dan berat dengan

gerakan yang amat dahsyat. Suara golok itu semakin

berdesing-desing dan menyambar-nyambar ganas menyerang

Tan Siong.

Tentu saja Tan Siong terkejut bukan main karena golok itu

tidak kalah bahayanya dengan sepasang pedang di tangan Su

Lok Bu! Orang yang baru datang ini adalah Cia Kok Han yang

menyusul rekannya dan begitu melihat rekan-rekannya

mengeroyok seorang pemuda yang amat lihai dan melihat ada

empat orang pengawal yang terluka, dia pun segera maju

mengeroyok.

Kini Tan Siong kewalahan sekali, apa lagi karena dia tahu

bahwa yang baru datang ini tentulah seorang Bu-tong-pai

hatinya merasa semakin ragu dan khawatir. Karena itu,

gerakan pedangnya agak terlambat dan tiba-tiba saja sebuah

bacokan pedang kiri Su Lok Bu mencium pangkal lengan

kirinya sehingga bajunya yang kuning terobek berikut kulit dan

sedikit dagingnya. Untung luka itu tidak terlalu dalam benar,

tidak sampai mengenai tulangnya. Namun rasa nyeri, perih

dan panas membuat dia terhuyung dan cepat memutar

pedang dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan

diri dari hujan serangan yang dilancarkan para

pengeroyoknya, terutama sekali Cai Sun, Cia Kok Han, dan Su

Lok Bu. Diam-diam dia mengeluh karena rasanya akan sukar

untuk dapat meloloskan diri dari kepungan tiga orang yang

lihai ini. Akan tetapi tiba-tiba tiga orang lawannya

memperlambat gerakan mereka, bahkan mereka seperti

tertahan oleh sesuatu dan tidak mendesaknya lagi.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Tan Siong u ntuk melompat

jauh ke luar pintu depan pekarangan rumah itu dan dia pun

terus berlompatan dan melarikan diri.

Tiga orang jagoan itu t idak melakukan pengejaran, bahkan

mereka bertiga lalu memandang ke kanan kiri seperti orang

 

yang merasa gentar. Ketika tadi mereka mendesak Tan Siong

dan pedang kiri Su Lok Bu berhasil melukai pangkal lengan

pemuda itu, dan mereka bertiga sudah siap untuk

merobohkannya tiba-tiba saja ketiganya terkejut karena

berturut-turut ada sepotong batu kerikil yang menyambar dan

mengenai tubuh mere ka. Hanya batu-batu kerikil kecil saja,

akan tetapi datangnya demikian kuat dan hampir mengenai

jalan darah sehingga terasa nyeri dan bagian yang kena

menjadi kesemutan hampir lumpuh. Hal inilah yang

mengejutkan mereka dan sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka

maklum bahwa pemuda itu telah diarn-diam dibantu oleh

seorang yang berilmu tinggi! Maka, ketika Tan Siong

melarikan diri, mereka tidak melakukan pengejaran, melainkan

menanti munculnya orang yang telah menyambit mereka

dengan kerikil-kerikil kecil tadi. Akan tetapi, tidak ada orang

muncul sampai bayangan pemuda itu lenyap.

“Ke mana perginya Cin Hwa? Ialah yang menjadi biang

keladinya!” Tiba-tiba Cai Sun berseru ketika dia mencari-cari

wanita itu dengan pandang matanya. “Biar kubawa wanita

itu!” Diapun lalu masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, di dalam

rumah itu tidak ada seorang pun juga. Ok Cin Hwa telah

lenyap, dan tidak nampak bayangan seorang pun pelayan.

Selain itu, Cai Sun melihat bahwa peralatan dalam rumah itu

sederhana sekali.

“Ah, tentu ia melarikan diri karena ketakutan.” kata Cai Sun

dengan hati menyesal sekali. “Aku akan mencarinya, tentu ia

tidak lar i jauh.”

Akan tetapi Su Lok Bu yang merasa marah karena garagara

Cai Sun yang keluyuran sampai mereka bertemu dan

berkelahi melawan orang pandai, berkata dengan suara ketus,

“Kita pulang sekarang, dan harap kau jangan mencari garagara

lagi, Koo-te!”

Melihat sikap rekannya itu, Cai Sun tidak berani

membantah lagi dan berangkatlah mereka meninggalkan

 

tempat itu, kembali ke gedung keluarga Pui. Pui Ki Cong juga

menegur Cai Sun yang dikatakan sembrono sekali dan

melarang teman dan pembantu itu untuk pergi jauh tanpa

kawan.

0oodwoo0

Jilid 8

TAN SIONG yang mengalami luka bahunya, tidak berani

langsung kembali ke tempat persembunyiannya di kuil tua,

melainkan berputar-putar di tempat-tempat sunyi. Setelah

matahari turun ke barat dan cuaca menjadi remang-remang,

barulah dia menyelinap di antara gedung-gedung, melalui

lorong-lorong menuju ke kuil tua. Akan tetapi tiba-tiba dia

dikejutkan oleh teriakan banyak orang bahwa ada terjadi

kebakaran. Dia segera menuju ke tempat itu menyelinap di

antara orang banyak. Dapat dibayangkan betapa kagetnya

ketika melihat bekas lawannya tadi, yaitu Koo Cai Sun,

bersama dua orang rekannya yang lihai, berada pula di tempat

itu dan mendengar dari orang-orang yang menonton bahwa

yang terbakar itu adalah toko milik laki-laki berperut gendut

yang tadi merayu Ok Cin Hwa! Huh, manusia jahat tentu

akhirnya akan mengalami musibah dan malapetaka, pikir Tan

Siong dan diapun tidak perduli lagi, lalu menyelinap di antara

banyak orang dan pergi dari situ.

Dia memasuki kuil tua yang gelap itu, menuju ke ruangan

belakang yang untuk sementara menjadi tempat dia

bersembunyi. Gelap sekali ruangan itu. Dia meraba-raba untuk

mencari lilin yang ditaruh di sudut ruangan. Akan tetapi

tangannya tidak menemukan sesuatu.

“Engkau mencari lilin, Toako?” Tiba-tiba terdengar suara

halus.

Tan Siong terkejut, akan tetapi girang mendengar bahwa

itu adalah suara Ok Cin Hwa.

 

Lilin itu dinyalakan oleh wanita yang ternyata adalah Cui

Hong itu. Tentu para pembaca dapat menduga bahwa orang

sakti yang diam-diam membantu Tan Siong tadi bukan lain

adalah Cui Hong sendiri, la tidak lari jauh, melainkan

bersembunyi dan menonton perkelahian itu. la merasa

terkejut, heran dan kagum sekali karena ternyata pemuda itu

memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup t inggi, tidak terlalu

banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri! Ia

melihat dengan kagum betapa dengan mudah Tan Siong

menghadapi pengeroyokan Cai Sun yang dibantu enam orang

perajurit, kemudian datang pula membantu dua orang jagoan

yang amat lihai itu. Juga dia tahu bahwa pemuda itu adalah

seorang murid Kun-lun-pai, seorang pendekar yang gagah

perkasa. Akan tetapi, kekagumannya berubah menjadi

kekhawatiran ketika ia melihat betapa Tan Siong mulai

terdesak payah dan bahkan menderita luka pada bahunya.

Cepat ia membantu dari tempat persem-bunyiannya,

menyambitkan batu-batu kerikil yang mengenai tubuh tiga

orang lihai itu sehingga mereka terkejut dan menghentikan

serangan mereka terhadap diri Tan Siong yang sudah

terdesak. Kesempatan itu, seperti yang diharapkan,

dipergunakan dengan baik oleh Tan Siong yang berhasil

meloloskan diri. la lalu mendahului pemuda itu memasuki

ruangan belakang kuil tua dan menanti di situ sampai gelap.

Kini mereka dapat saling pandang di bawah sinar lilin yang

remang-remang. Tan Siong menyembunyikan kegirangannya

melihat Cui Hong berada di situ dengan duduk bersila di atas

lantai. “Syukur engkau dapat meloloskan diri, Hwa-moi.”

“Berkat pertolonganmu, Tan-ko. Karena tidak tahu harus

lari ke mana, aku teringat akan tempat ini dan bersembunyi di

sini.”

“Engkau benar, di sini kita aman karena mereka tentu tidak

menyangka bahwa kita berada di sini.”

 

“Tan-ko, sungguh aku kagum sekali karena engkau

ternyata bukan seorang petani dusun biasa, melainkan

seorang pendekar yang amat lihai sehingga engkau berhasil

menyelamatkan aku dan menandingi orang-orang jahat yang

mengeroyokmu.”

“Ah, jangan memuji, Hwa-moi. Bagaimana aku dapat

disebut lihai kalau hampir saja aku tewas di tangan mere ka?”

Dia meraba luka di bahu kirinya dan menggigit bibir

menahan rasa nyeri ketika dia mencoba untuk membuka baju

di bagian bahu yang robek dan melekat pada lukanya karena

darah yang mengering.

“Aih, engkau terluka parah, Tan-ko? Mari, biar aku yang

merawatnya. Luka itu perlu dibersihkan.” kata Cui Hong yang

segera menghampiri lalu berlutut di dekat pemuda itu. Dengan

cekatan jari-jari tangannya yang halus membuka bagian baju

yang terobek itu lebih besar sehingga luka itu nampak.

Biarpun t idak berbahaya dan tidak sampai mengenai tulang,

namun luka itu cukup lebar dan nampak mengerikan, dan ia

tahu bahwa luka itu tentu terasa nyeri, pedih dan panas

sekali.

“Aku butuh air panas untuk mencuci luka ini sebelum

diobati, Tan-ko. Aku akan mencari air panas dan obat keluar

sebentar.”

“Jangan, Hwa-moi, berbahaya kalau engkau keluar

sekarang. Ini ada arak, cucilah saja dengan arak ini, kemudian

berikan obat ini lalu balut. Aku memang selalu menyediakan

obat untuk merawat luka.” kata Tan Siong.

Tentu saja Cui Hong juga tahu akan cara pengobatan luka,

maka ia lalu mencuci luka itu dengan arak. Pedih perih

rasanya dan Tan Siong menggigit bibir menahan rasa nyeri.

Tidak sedikit pun keluar keluhan dari mulutnya, padahal Cui

Hong maklum betapa nyerinya luka yang dibakar oleh arak itu.

Setelah membersihkan luka itu, ia lalu menggunakan obat

 

bubuk putih yang diberikan Tan Siong, setelah itu ia membalut

bahu itu dengan mempergunakan sobekan ikat pinggangnya

yang berwarna putih bersih. Selama perawatan ini, Cui Hong

berlutut dekat sekali dengan Tan Siong sehingga kadangkadang,

tanpa disengaja, ada bagian tubuh mereka yang

saling bersentuhan. Hal ini membuat Tan Siong hampir tak

berani berkutik. Bau khas wanita yang keluar dari tubuh dan

rambut Cui Hong, sentuhan jari-jari tangan yang seperti

membelai bahunya, geseran-geseran halus antara bagian

tubuh mereka yang saling bersentuhan, mendatangkan getara

dalam diri Tan Siong dan membuat jantungnya berdebar

keras. Dia tidak tahu bahwa keadaan wanita itu pun tidak jauh

bedanya dengan dirinya. Belum pernah selama hidupnya Cui

Hong berada dalam keadaan seperti itu, demikian dekat

dengan seorang pria. Pengalamannya tujuh tahun yang lalu

dengan empat orang pria yang memperkosanya merupakan

hal yang lain sama sekali karena di situ t idak terdapat

kemesraan, yang ada hanya rasa takut, duka, dan kebencian.

Akan tetapi sekarang, ia merasakan sesuatu yang aneh,

sesuatu yang amat mesra, yang membuat jantungnya

berdebar keras dan jari-jari tangannya kadang-kadang agak

gemetar. Untuk menghibur ketegangan aneh ini, Cui Hong lalu

bertanya.

“Siong-toako, engkau adalah seorang pendekar yang

berkepandaian tinggi. Kenapa engkau demikian baik

kepadaku, membelaku sampai mati-matian sehingga engkau

menderita luka parah begini?”

Tan Siong menarik napas panjang. “Mula-mula hanya

kebetulan saja kita saling jumpa di dalam rumah makan itu,

Hwa-moi. Tentu saja aku tidak suka melihat orang-orang

kasar itu mengganggumu sehingga aku menegur mereka.”

“Akan tetapi ketika meja itu dibalikkan oleh Si Muka

Bopeng, kenapa engkau diam saja sehingga pakaianmu

tersiram kuwah?”

 

“Ketika itu aku tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin

diketahui orang bahwa aku memiliki kepandaian silat. Untung

pada waktu itu t idak terjadi apa-apa, akan tetapi kemunculan

Si Muka Babi itu….”

“Si Muka Babi…?” Cui Hong bertanya sambil mengangkat

alis matanya karena heran.

“Itu, laki-laki perut gendut bermuka bulat yang membawa

senjata siang-kek…”

“Ahh, dia….!” Cui Hong menahan ketawanya. “Dia bernama

Koo Cai Sun.”

“Kemunculannya mendatangkan perasaan tidak enak di

hatiku, karena itu aku mengajakmu lar i ke sini tempo hari.

Melihat pandang matanya dan sikapnya, aku dapat menduga

bahwa dia itu selain lebih lihai daripada empat orang kasar itu,

juga lebih jahat. Dan setelah kita berpisah di dekat rumah

penginapan, hatiku tetap merasa gelisah dan aku amat

mengkhawatirkan keselamatanmu. Lebih gelisah lagi hatiku

ketika aku tidak melihatmu di rumah penginapan itu dan aku

mendengar dari para pengurus bahwa engkau tidak pernah

bermalam di sana.”

“Maaf, Toako. Aku memang sengaja membohong tempo

hari kepadamu, karena aku tidak ingin engkau mengetahui

tempat tinggalku.”

“Kenapa, Hwa-moi? Kenapa? Bukankah kita sudah saling

berkenalan?”

“Aku ingin merahasiakan diriku dan tempat tinggalku,

Toako.”

“Tapi kenapa?”

Cui Hong menarik napas panjang, menceritakan hal itu

sama saja dengan membuka rahasia dirinya. Ia menggeleng

kepala. “Sekali lagi maaf, itu merupakan rahasia besar bagiku

dan belum waktunya kuceritakan kepadamu, Toako. Akan

 

tetapi, lanjutkanlah ceritamu.” la memandang wajah pemuda

itu. “Bagaimana engkau dapat muncul lagi dalam peristiwa

tadi?”

“Kembali suatu hal yang kebetulan saja, Hwa-moi. Aku

sedang berjalan-jalan, seperti biasa mencari pamanku yang

sampai sekarang belum juga kutemukan, juga untuk

mencarimu karena hatiku masih merasa penasaran karena

tidak dapat menemukan engkau di rumah penginapan itu. Dan

kebetulan aku melihat engkau berjalan-jalan bersama Koo Cai

Sun itu… ah, benar, lupa aku memberitahukan. Tadi,

menjelang senja, aku melihat kebakaran dan ternyata yang

terbakar habis adalah toko dan rumah milik Si Muka Babi itu!”

Tentu saja Cui Hong tidak merasa heran mendengar ini

karena kebakaran itu adalah hasil pekerjaannya. Dalam

kekecewaannya karena Cai Sun terlepas dari cengkeramannya

di rumah yang disewanya karena kemunculan pengawalpengawal

keluarga Pui, ia lalu pergi ke toko dan rumah

musuhnya itu dan membakarnya habis karena sebelum

membakar, ia menyiramkan minyak ke dalam toko dan rumah

itu. Karena ia mempergunakan kepandaiannya yang tinggi

untuk menyelinap masuk dan keluar lagi, tidak ada orang yang

melihatnya ketika ia melakukan hal itu, dan karena rumah itu

pun kosong, ditinggal pergi oleh keluarga Koo Cai Sun yang

mengungsi ke rumah gedung Pui Ki Cong.

“Bagus! Aku merasa senang mendengar itu. Memang dia

jahat dan kurang ajar, sudah sepatutnya dia mengalami nasib

buruk seperti itu!”

“Hwa-moi, aku merasa heran ketika melihat engkau dan dia

jalan bersama, kemudian masuk ke dalam rumah yang sunyi

itu. Apakah sebenarnya yang telah terjadi?”

Kembali Cui Hong menarik napas panjang. Ia harus pandai

membuat cerita yang lain karena tidak mungkin ia dapat

membuka rahasianya sel-ma tugasnya membalas dendam

belum selesai dengan lengkap.

 

“Aku bertemu di jalan dengan dia, Toako. Dan mengingat

bahwa dia pernah menolongku terlepas dari tangan orang kali

tidak membayangkan kekurangajaran sehingga tidak

membikin ia marah. Sebaliknya, ia malah merasa girang

sekali!”

“Toako, apa sih yang membuat aku menarik di hatimu?” la

memancing pujian yang lebih terperinci.

Pemuda itu menatap tajam wajah Cui Hong, lalu berkata

dengan jujur, “Tentu saja pada permulaannya ketika engkau

muncul di rumah makan, yang menarik hatiku adalah

kepribadianmu, kecantikanmu….”

Cui Hong tertawa, lirih. “Aihh, Toako, di kota raja ini

gudangnya wanita cantik, di setiap tempat engkau dapat

menemukan wanita yang cantik-cantik, kenapa justru tertarik

kepadaku, seorang wanita biasa saja?”

“Memang banyak wanita cantik, Hwa-moi, akan tetapi

hanya ada engkau seorang saja! Engkau bukan hanya cantik

manis, akan tetapi ada sesuatu dalam sinar matamu, dalam

senyummu, gerak-gerikmu, yang menarik hatiku. Apalagi

setelah aku melihat sikapmu yang tabah menghadapi bahaya,

dan yang lebih dari itu lagi, ada sesuatu keanehan dalam

dirimu yang membuat aku tertarik sekali.”

“Apanya yang aneh….?” Otomatis Cui Hong melirik ke arah

tubuhnya yang dapat dilihat, takut kalau-kalau ada sesuatu

yang tidak beres sehingga ia disebut aneh oleh pemuda itu.

“Hwa-moi, engkau seorang gadis yang begini cantik hidup

sebatangkara dan yatim piatu namun kaya-raya, dan tidak

seperti gadis lain yang akan tinggal di rumah dan hidup serba

kecukupan, engkau malah merantau sendirian, kadang-kadang

hidup serba sulit, membiarkan dirimu terjun ke dalam

kehidupan yang penuh dengan bahaya yang mengancam

keselamatanmu. Tidakkah ini amat aneh?”

 

“Toako, kita bukan kanak-kanak lagi, kita sudah cukup

dewasa untuk bicara secara terbuka dan terang-terangan.”

Tiba-tiba Cui Hong berkata karena mendadak ia ingin

memperoleh kepastian tentang isi hati pemuda itu, karena ia

sendiri merasa betapa hatinya terpikat dan merasa suka sekali

kepada Tan Siong.

“Apakah hanya karena semua itu maka engkau lalu

mencari-cari aku, begitu memperhatikan aku dan membelaku

mati-matian sehingga engkau bentrok dengan orang-orang

yang amat lihai dan engkau menderita luka, bahkan

mempertaruhkan nyawa untukku?” Sambil berkata demikian,

sepasang mata Cui Hong seperti mencorong dan memandang

penuh selidik.

Ditanya demikian, wajah Tan Siong nampak tegang dan

bingung, sebentar pucat sebentar merah. “Aku…. aku…” Dia

tergagap, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan

hatinya, kemudian melanjutkan, “Aku minta maaf sebelumnya,

Hwa-moi. Memang engkau benar, kita bukan kanak-kanak

lagi, sudah cukup dewasa dan seyogyanya kalau kita bicara

jujur dan terus terang. Aku memang tertarik sekali kepadamu,

terutama melihat persamaan antara kita, sama-sama yatim

piatu dan hidup sebatangkara. Terus terang saja, sejak kita

bertemu pertama kali, hatiku tertarik dan aku kemudian

merasa yakin bahwa aku…. telah jatuh cinta padamu, Hwamoi.

Maafkan aku…. yang lancang mulut….”

Pernyataan ini demikian tegas dan jujur sehingga membuat

Cui Hong, yang memang sudah bersiap-siap, tetap saja

tertegun dan terbelalak, kemudian ia menunduk, alisnya

berkerut. Kalau saja ia bukan Cui Hong yang sudah

digembleng oleh pengalaman-pengalaman mengerikan

sehingga air matanya sudah sejak dahulu habis terkuras, tentu

akan ada air mata bercucuran dari matanya. Namun ia hanya

termenung dan membisu.

 

Melihat keadaan gadis itu yang nampaknya berduka, Tan

Siong berkata lagi. “Maafkanlah aku, Hwa-moi, kalau aku

menyinggung perasaanmu. Kita baru saja berkenalan dan

dalam keadaan seperti ini aku berani berlancang mulut, akan

tetapi aku ingin berterus terang, Hwa-moi, agar perasaan ini

tidak menyiksaku. Padahal aku pun tahu bahwa sepatutnyalah

kalau engkau menolak cintaku, karena aku hanya seorang

pemuda yatim piatu yang miskin dan bodoh. Bisaku hanya

bermain silat dan mencangkul menggarap sawah, tidak ada

harapan hidup senang di samping seorang suami seperti aku,

jadi…. maafkanlah aku.”

“Tidak! Bukan begitu, toako, akan tetapi kalau engkau

tahu…. ah, kalau engkau mengenal siapa aku….”

“Aku sudah mengenalmu. Engkau seorang gadis yang

cantik manis, tenang dan tabah, menentang kejahatan dan

mengenal budi….”

“Tidak, engkau tidak mengenal siapa aku sebenarnya!”

Tiba-tiba Cui Hong bangkit berdiri dan menyambar buntalan

pakaiannya karena pada saat itu terdengar langkah kaki

orang. Seorang jembel tua berdiri di ambang pintu dan

berkata lirih,

“Ssttt, ada dua orang mencari-cari orang she Tan. Apakah

engkau she Tan?”

Mendengar ini, Tan Siong cepat meniup lilin itu padam dan

dia mendengar suara kaki Cui Hong lari ke belakang. “Hwamoi,

engkau bersembunyilah.” kata nya dan dia sendiri pun

lalu menyambar pedang yang tadi ditaruh di sudut, juga

menyambar buntalan pakaiannya dan dia meloncat ke depan,

melewati jembel tua yang menjadi bingung dan ketakutan.

Benar seperti yang dikhawatirkan Tan Siong, ketika dia tiba

di depan kuil tua, di bawah penerangan lampu gantung tua

yang dipasang oleh para jembel yang kini menyelinap pergi

cerai-berai ketakutan, berdiri dua orang yang bukan lain

 

adalah Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang jagoan dari Butong-

pai dan Siauw-lim pai itu! Karena bahunya masih terluka

dan karena maklum betapa lihainya dua orang ini, pula karena

dia tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan mereka,

ingin Tan Siong melarikan diri saja di dalam gelap. Akan tetapi

dia teringat akan gadis yang bersembunyi di belakang kuil.

Siapa akan melindunginya kalau ia melarikan diri. Maka,

dengan sikap hormat, sambil menalikan buntalan pakaian di

punggungnya, dia bertanya.

“Kiranya Ji-wi Lo-enghiong (Dua Orang Tua Gagah) yang

datang berkunjung ke tempat yang buruk ini. Apakah memang

kini para murid perkumpulan-perkumpulan besar suka

mendesak orang yang sudah terluka dan yang tidak

mempunyai permusuhan pribadi sedikit pun dengan mereka?”

“Orang muda she Tan, hendaknya engkau tidak menduga

buruk secara sembarangan saja. Engkau adalah murid Kunlun-

pai dan kami dua orang murid-murid Bu-tong-pai dan

Siauw-lim-pai tidak mempunyai permusuhan apa-apa

denganmu. Kalau siang tadi kita bertemu sebagai lawan

hanyalah karena kedudukan dan keadaan kita yang memaksa.

Akan tetapi kedatangan kami yang mencarimu ini adalah

karena kami membawa tugas yang diberikan majikan kami,

yaitu Pui-kong-cu. Dia mendengar tentang kegagahanmu,

maka mengutus kami untuk mencarimu dan mengajakmu

menghadap Pui-kongcu karena dia ingin sekali

mempergunakan tenagamu untuk membantunya.” kata Cia

Kok Han yang pendek gendut, tokoh Bu-tong-pai itu.

Tentu saja Tan Siong merasa heran karena sekali

mendengar ucapan itu. “Aku tidak mengenal siapa itu Puikongcu,

dan aku pun tidak berniat bekerja sebagai tukang

pukul orang kaya atau bangsawan.”

Mendengar ucapan yang nadanya menyindir itu, Su Lok Bu

berkata, “Tan Siong, tidak perlu engkau menyindir dan

mengejek kami! Kami adalah bekas perwira terhormat dan kini

 

kami bekerja dengan halal, menjadi kepala pengawal, bukan

tukang pukul! Pui-kongcu sedang terancam bahaya oleh

musuhnya yang amat kejam dan lihai, maka ingin

mengumpulkan orang-orang yang pandai untuk membantunya

menghadapi musuh itu. Engkau akan diangkat menjadi rekan

kami dan menerima imbalan upah yang besar.”

Tan Siong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

“Maaf, akan tetapi aku tidak berniat untuk bekerja pada waktu

ini, karena aku mempunyai tugas sendiri yang penting. Harap

ji-wi maafkan dan sampaikan kepada Pui-kongcu bahwa aku

tidak dapat menerima pena-warannya.”

“Bocah she Tan!” Tiba-tiba Cia Kok Han berseru marah.

“Engkau sungguh besar kepala dan sombong. Engkau bersikap

seolah-olah tidak mempunyai kesalahan. Engkau telah melukai

beberapa orang pengawal dan untuk itu saja engkau sudah

sepatutnya ditangkap dan ditahan. Akan tetapi Pui-kongcu

memaafkan kesalahanmu, bahkan menawarkan kedudukan

baik dan ingin bersahabat denganmu. Namun, engkau

menolaknya dengan angkuh. Kalau begitu, terpaksa kami

harus menangkapmu dan menyeretmu ke depan Pui-kongcu,

biar dia sendiri yang mengambil keputusan atas dirimu!”

“Lebih baik engkau dengan suka rela ikut bersama kami

agar kami tidak perlu mempergunakan kekerasan.” kata pula

Su Lok Bu. Dua orang jagoan itu sudah mengeluarkan senjata

masing-masing. Cia Kok Han mencabut golok besarnya,

sedangkan Su Lok Bu mengeluarkan siang-kiamnya (sepasang

pedang).

Tan Siong tersenyum mengejek. “Hemm, bagaimanapun

alasan ji-wi, tetap saja ji-wi adalah orang-orang yang suka

memaksakan kehendak dan mengandalkan kekuatan dan

kekerasan. Dan aku mempelajari ilmu justeru untuk

menentang penindasan dan kelaliman. Aku tetap menolak!”

Berkata demikian, Tan Siong menggerakkan tangan kanannya

 

dan sudah melolos pedang tipis yang dipergunakan sebagai

sabuk dengan sarung kulit yang kuat.

“Bagus, engkau memang murid Kun-lun-pai yang besar

kepala!” kata Cia Kok Han yang sudah menyerang dengan

goloknya. Su Lok Bu juga menggerakkan sepasang pedangnya

dan dua orang itu sudah mengurung Tan Siong dengan

serangan-serangan dahsyat. Pemuda ini terpaksa memutar

pedangnya dan mengerahkan seluruh tenaganya, walapun dia

harus menahan rasa nyeri bahu kirinya ketika tubuhnya

dipakai untuk bersilat Berkali-kali terdengar suara berdencing

nyaring ketika pedangnya menangkisi tiga buah senjata lawan

yang amat kuat itu, dan sebentar saja Tan Siong yang sudah

terluka itu terdesak hebat.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan begitu

tiba di situ, bayangan hitam ini menggerakkan sebatang

ranting di tangannya untuk terjun ke dalam perkelahian itu

dan segera menyerang Su Lok Bu dengan gerakan-gerakan

aneh. Begitu ranting meluncur, senjata sederhana ini sudah

menyelinap di antara dua gulungan sinar pedang Su Lok Bu

dan meluncur, menotok ke arah jalan darah di pundak kanan.

“Eh….!,” Su Lok Bu terkejut bukan main karena nyaris

pundaknya tertotok kalau saja dia tidak meloncat jauh ke

belakang. Ketika dia dan Cia Kok Han memandang, ternyata

yang menyerang itu adalah seorang yang berpakaian serba

hitam, dan mukanya juga ditutup kedok hitam dengan dua

buah lubang untuk sepasang mata yang jeli dan tajam

sinarnya, dan nampak pula dagunya di mana terdapat sebuah

bintik, yaitu sebuah tahi lalat hitam! Melihat tahi lalat di dagu

itu dan melihat bentuk tubuh yang mudah diduga dimiliki

seorang wanita, Cia Kok Han dan Su Lok Bu terkejut bukan

main. Mereka belum pernah bertemu dengan musuh besar

Pui-kongcu, wanita iblis yang kabarnya sedang berusaha

untuk membunuh Pui-kongcu dan Koo Cai Sun, akan tetapi

dari kedua orang itu yang mengingat-ingat wajah wanita yang

 

menjadi musuh mereka, yang teringat oleh mereka hanyalah

bahwa wanita itu memiliki tanda tahi lalat hitam di dagunya.

Dan wanita berkedok ini pun memi-liki tahi lalat di dagunya.

Maka tanpa banyak cakap lagi Su Lok Bu dan Cia Kok Han

menerjang wanita berkedok itu yang hanya memegang

sebatang ranting kayu sederhana. Melihat ini, tentu saja Tan

Siong cepat menggerakkan pedangnya menyambut Cia Kok

Han. Dia pun merasa heran melihat munculnya wanita

berkedok dan berpakaian hitam ini, akan tetapi yang jelas

wanita ini tadi telah menolongnya, membantunya menghadapi

dua orang pengeroyoknya yang lihai, maka kini melihat betapa

dua orang pengeroyok itu berbalik menyerang si wanita

berkedok, yang hanya bersenjata sebatang ranting, tentu saja

dia pun cepat membantunya dan memutar pedangnya.

Kini perkelahian terjadi lebih ramai dan seru lagi, di bawah

penerangan lampu gantung yang remang-remang, Tan Siong

memutar pedangnya yang- tipis melawan Cia Kok Han yang

memegang golok besar dan berat sedangkan wanita berkedok

itu melawan Su Lok Bu yang memegang sepasang pedang

dengan meng gunakan sebatang ranting kecil saja. Dan

setelah kini melawan Cia Kok Han seorang, biarpun pundak di

sekitar pangkal lengan kiri masih terasa nyeri, Tan Siong dapat

mengimbangi permainan lawan. Untung bahwa senjatanya

adalah sebatang pedang yang tipis dan ringan, maka dia

dapat bergerak lebih cepat daripada lawannya. Dia tidak

pernah mau menangkis karena senjata lawan amat berat,

namun dengan kecepatan gerak pedangnya, dia membuat Cia

Kok Han menjadi repot juga.

Yang lebih hebat adalah wanita itu. Biarpun senjatanya

hanya sebatang ranting kecil, namun ternyata gerakan

rantingnya itu mampu membuat Su Lok Bu menjadi mati

langkah! Sepasang pedangnya bahkan hanya sibuk menangkis

saja karena ranting itu bergerak secara aneh dan cepat, juga

 

berbahaya karena ujungnya selalu meluncur ke arah jalan

darah yang berbahaya.

Lewat lima puluh jurus, Su Lok Bu mengeluarkan seruan

kaget dan dia pun meloncat jauh ke belakang. Bajunya robek

dan hampir saja pedang kirinya terlepas dari genggaman

karena tiba-tiba tangan kirinya menjadi setengah lumpuh

terkena totokan pada pundak kirinya. Mendengar temannya

berseru mengeluh dan meloncat ke belakang, Cia Kok Han

yang juga terdesak hebat itu melompat pula ke belakang.

Mereka maklum bahwa tanpa bantuan, mereka tidak akan

mampu menang, maka tanpa dikomando lagi, keduanya lalu

melarikan diri untuk mengambil balabantuan.

Akan tetapi ketika bala bantuan tiba dan mereka datang

kembali bersama Koo Cai Sun dan dua puluh lebih pasukan

pengawal, kuil tua itu telah kosong. Tak seorang pun jembel

yang biasanya memenuhi kuli itu mere ka temukan, apalagi

dua orang bekas lawan tadi.

Koo Cai Sun dan Pui Ki Cong bergidik mendengar

penuturan dua orang jagoan itu bahwa telah muncul seorang

wanita berpakaian serba hitam, berkedok dan dagunya bertahi

lalat yang lihai sekali. Biarpun mulut mereka diam saja, namun

di dalam hati, mereka menduga-duga bahwa besar sekali

kemungkinan wanita berkedok itu adalah Kim Cui Hong yang

mereka takuti!

Dugaan mereka memang tepat. Wanita berkedok itu adalah

Kim Cui Hong. Ketika Cui Hong mendengar bahwa ada dua

orang mencari Tan Siong, ia pun cepat pura-pura lari ke

belakang kuil. Di dalam gelap ia cepat mengenakan pakaian

hitam dan kedoknya, lalu keluar lagi dan membantu Tan Siong

yang sedang terdesak. Dan setelah dua orang lawan itu

melarikan diri, ia pun cepat meloncat ke dalam kegelapan

malam dan menghilang.

Tan Siong yang berterima kasih itu berusaha mengejar,

namun dia kehilangan jejak wanita berkedok itu yang telah

 

lenyap dan terutama sekali pakaian hitamnya membuat ia

sukar dicari atau dikejar. Tan Siong masih merasa penasaran

dan sampai pagi dia berkejaran di sekitar tempat itu, mencari

wanita berkedok dan juga mencari Ok Cin Hwa yang melarikan

diri tadi,

Setelah matahari mengusir kegelapan malam, dia tiba di

dekat tembok kota raja dan di tempat yang sunyi, di bawah

sebatang pohon, dia melihat Cin Hwa berdiri sambil membawa

buntalan pakaiannya.

“Hwa-moi….!” katanya girang dan cepat dia berlari

menghampiri gadis Itu.

Gadis itu memandangnya dan mengeluh, “Ah, agaknya

tidak ada tempat aman lagi di kota raja bagiku, Tan-toa-ko.

Aku ingin pergi saja dar i kota raja.”

Sejenak Tan Siong mengamati gadis itu, dari kepala sampai

ke kakinya, kemudian berkata, “Pergi ke manakah, Hwa-moi?

Kemana pun sama saja bagimu, di mana-mana tentu terdapat

orang orang jahat, akan tetapi perlu apa engkau takut?

Takkan ada yang dapat mengganggumu.”

Cui Hong mengerutkan alisnya dan memandang tajam.

“Apa maksudmu….?”

“Tidak apa-apa…. eh, Hwa-moi, lehermu itu terkena

apakah?” Dan dia maju mendekat.

“Ada apa?” Cui Hong meraba-raba lehernya dan tidak

menemukan sesuatu.

“Lehermu seperti kena noda, maaf, biar kubersihkan!”

Dengan gerakan cepat sekali Tan Siong mengulur tangannya

ke arah leher gadis itu. Kalau saja Cui Hong tidak hendak

menyembunyikan kepandaiannya, tentu dengan mudah ia

mengelak atau menangkis. Akan tetapi ia harus

menyembunyikan rahasianya dan ia pun ingin sekali tahu di

 

lehernya ada apa karena ia percaya bahwa pemuda itu

bersungguh-sungguh.

Akan tetapi sebelum jari-jari tangan Tan Siong menyentuh

lehernya, jari-jari itu membalik ke arah dagunya dan sekali

menowel, lecet dan hapuslah bedak tebal yang menutupi dan

menyembunyikan sebuah tahi lalat di dagu dan nampaklah

kini tahi lalat itu!

“Nona, terima kasih atas bantuanmu semalam sehingga

aku dapat melawan dua orang yang tangguh itu!” kata Tan

Siong sambil menjura ke arah Cui Hong.

“Lehermu seperti kena noda, maaf biar kubersihkan!”

Dengan gerakan cepat sekali Tan Siong mengulur tangannya

ke arah leher gadis itu.

“Tan-toako, kenapa sikapmu seperti ini? Memanggil Nona

padaku….”

Tan Siong menjura dan tersenyum. “Tentu namamu bukan

pula Ok Cin Hwa…..”

Cui Hong meraba dagunya dan tahu bahwa tidak ada

gunanya menyembunyikan rahasianya lagi. Ia pun menarik

napas panjang mengambil tempat bedak dari buntalan

pakaiannya, juga sebuah cermin dan cepat ia menutupi lagi

tahi lalat di dagunya. “Aku harus menutupi lagi ciri yang

membuat aku dikenal ini…”

“Akan tetapi, mengapa engkau bersikap begini? Apa artinya

penyamaran ini, berpura-pura sebagai seorang gadis yang

lemah?” Tan Siong bertanya penasaran.

“Kau pun tadinya bersikap sebagai seorang pemuda petani

yang lemah, Toako aku sengaja menyamar karena memang

ada sebabnya yang teramat penting. Akan tetapi sekarang aku

ingin tahu lebih dulu. Bagaimana engkau bisa menduga bahwa

aku adalah wanita berkedok semalam?”

Tan Siong tersenyum, senyum pahit.

 

“Sudah terlanjur aku mengaku kepadamu, Nona. Aku

tertarik dan…. cinta padamu, tentu saja segalanya yang ada

padamu tidak akan pernah dapat kulupakan. Matamu di balik

kedok itu, dan juga sepatumu yang agaknya tergesa-gesa

belum sempat kauganti pagi ini, menjelaskan segalanya.

Karena masih ragu, aku sengaja menghapus penutup tahi lalat

di dagumu itu.”

“Dan dengan adanya kenyataan ini, apakah engkau masih

tetap memiliki perasaan itu terhadap aku, Tan-toako?” Cui

Hong bertanya, memandang tajam penuh selidik.

Yang dipandang balas memandang dengan tajam.

Kemudian Tan Siong berkata,, suaranya tegas, “Nona, apakah

cinta harus berubah-ubah? Semenjak pertama kali, aku telah

jatuh cinta kepadamu, dan bagiku, cinta takkan pernah

berubah selama aku hidup.”

Cui Hong menarik napas panjang. “Hemm, aku sungguh

sangsi apakah pendirianmu itu masih akan sama kalau engkau

sudah mendengar riwayat dan keadaanku, Toako.” Ia merasa

sedih membayangkan betapa pemuda yang dikaguminya ini

akan memandang rendah kepadanya nanti kalau ia membuka

rahasia dirinya.

“Ceritakanlah, nona. Aku pun ingin sekali tahu tentang

dirimu yang diliputi penuh rahasia itu. Siapakah sebenarnya

engkau dan mengapa engkau menyamar sebagai seorang

gadis lain yang lemah? Apa artinya semua ini?”

Cui Hong lalu duduk di atas sebuah batu di tepi jalan, dan

Tan Siong juga mengambil tempat duduk di atas akar pohon

yang menonjol di atas tanah. Mereka duduk berhadapan dan

pemuda itu memandang wajah Cui Hong penuh perhatian,

hatinya tertarik sekali karena dia dapat menduga bahwa tentu

gadis ini mempunyai riwayat yang amat hebat sehingga selain

memiliki ilmu silat yang tinggi, juga menyimpan rahasia dan

menyamar sebagai gadis lain yang lemah. Sebaliknya, Cui

Hong tadinya ragu-ragu, akan tetapi karena Tan Siong adalah

 

seorang pemuda yang selama ini selalu membelanya, dan

karena Tan Siong telah dapat menyingkap rahasianya bahwa

ia seorang gadis yang menyamar, tidak ada jalan lain baginya

kecuali membuat pengakuan.

“Tan-toako, aku bukanlah seorang gadis seperti yang

kausangka, bukan seorang Ok Cin Hwa yang terhormat dan

bersih. Namaku yang sesungguhnya adalah Kim Cui Hong….”

“Hemm, nama yang indah dan gagah… …” Tan Siong

memotong, bukan pujian yang kosong melainkan pujian yang

memang sengaja dilakukan untuk mendorong gadis itu agar

lebih lancar bercerita.

Cui Hong tersenyum. “Engkau selalu memujiku, Toako.

Betapa pedih membayangkan bahwa pujianmu itu sebentar

lagi akan menjadi celaan dan cacian.”

“Teruskanlah, Nona Kim yang gagah perkasa, aku ingin

sekali mendengar ceritamu.”

“Tan-toako, aku hanyalah seorang wanita yang penuh

dengan aib dan penghinaan, seorang sisa manusia yang hanya

mempunyai satu tujuan hidup, yaitu membalas dendam

kepada musuh-musuhku.”

Tan Siong mengerutkan alisnya. Tak enak rasa hatinya

mendengar bahwa gadis ini menyimpan dendam kebencian

yang amat besar di dalam hatinya.

“Apakah yang terjadi dengan dirimu, Nona Kim?”

“Aku…. aku bukan seorang gadis suci lagi, bukan seorang

perawan seperti yang kausangka, Toako. Aku menjadi korban

kekejian empat orang laki-laki yang telah menawanku,

memperkosaku dan mempermainkan, secara biadab. Aku

sudah hampir mati, namun agaknya Tuhan sengaja

membiarkan aku hidup sehingga aku dapat mempelajari ilmu

dan kini aku dapat melakukan balas dendam terhadap empat

 

orang musuh besarku itu. Dan Tuhan akan memberkahi aku

yang telah menerima aib yang amat hebat.”

“Nona, dendam adalah racun yang hanya akan merusak

batin sendiri….”

“Biarpun demikian, aku tetap akan membalas dendam!”

“Dendam kebencian merupakan suatu kejahatan, Nona,

karena hal itu akan melahirkan perbuatan yang kejam dan

jahat.”

“Tak perduli, aku tetap akan membalas dendam!”

“Dendam kebencian adalah api yang akan membakar diri

sendiri, karena itu, harap engkau dapat menyadarinya, Nona.

Tuhan tidak akan memberkahi orang yang menaruh dendam.”

Sekali lagi Tan Siong membujuk.

“Tidak! Tuhan pasti akan memberkahi ku dan membantuku

untuk menghukum mereka yang lebih jahat daripada binatang

yang paling buas itu. Mereka harus merasakan penghinaan

seperti yang pernah kualami, merasakan kesakitan seperti

yang pernah kuderita. Dan itulah satu-satunya tujuan hidupku.

Dan untuk melaksanakan pembalasan dendamku itu, terpaksa

aku menyamar sebagai Ok Cin Hwa yang lemah. Hanya

kepadamu seoranglah aku membuka rahasiaku ini, toako dan

aku percaya bahwa toako tentu akan menyimpan rahasia ini

dari orang lain.”

Tan Siong mengangguk. “Aku tidak akan membuka

rahasiamu kepada siapa pun juga, Nona Kim Cui Hong. Akan

tetapi, sekali lagi aku memperingatkan, mengingat akan

persahabatan antara kita, hendaknya engkau menyadari

bahwa dendam kebencian amatlah tidak baik bagi dirimu

sendiri. Karena itu, sebelum terlambat, hapuskan saja

kebencian itu dari lubuk hatimu.”

Cui Hong mengerutkan alisnya. “Hem, enak saja engkau

bicara demikian, Tan-toako, karena engkau tidak mengalami

 

sendiri penderitaan lahir batin seperti yang kualami. Aku yang

pada waktu itu seorang gadis yang lemah, hanya memiliki

sedikit ilmu silat, telah ditawan orang orang jahat. Ayahku dan

seorang suheng-ku yang hendak menolongku, mereka bunuh

di depan mataku, kemudian aku mereka perkosa dan

permainkan sampai nyaris tewas. Mereka membuang tubuhku

begitu saja di dalam hutan. Akan tetapi. Tuhan agaknya

memang sengaja membiarkan aku hidup untuk dapat

menuntut balas dan sekarang engkau, yang kuanggap sebagai

seorang sahabatku yang baik, memberi nasihat agar aku tidak

membalas dendam dan membiarkan iblis-iblis berwajah

manusia itu berkeliaran?”

“Nona, sudah menjadi tugas dan kewajiban kita yang sejak

kecil mempelajari ilmu silat dengan susah payah, untuk

kemudian mempergunakan ilmu itu dalam perjuangan

melawan kejahatan dan membela orang-orang yang lemah

tertindas. Akan tetapi, ada garis pemisah yang amat besar

antara membela kebenaran dan keadilan, dan pembalasan

dendam! Kalau engkau menentang perbuatan-perbuatan jahat

dari empat orang itu, andaikan mereka sekarang masih

melakukannya, tentu saja aku tidak akan me-nyalahkanmu.

Akan tetapi kalau engkau mencari dan menentang mereka

hanya karena dendam pribadi, sungguh hal itu amat tidak

baik, Nona. Dendam menjadi satu ikatan yang akan

menciptakan karma, dendam-mendendam dan balasmembalas.

Memang, tak dapat disangkal bahwa perbuatan

empat orang itu terhadap dirimu amatlah jahatnya, amatlah

kejamnya. Akan tetapi, kalau engkau kini mencari dan

membunuh mere ka, bukankah perbuatanmu itu sama kejam

dan jahatnya? Lalu mana letak perbedaan antara yang benar

dan yang tidak benar, yang baik dan yang jahat?”

Cui Hong tersenyum, akan tetapi senyumnya masam dan

mengejek. Kemarahan menyelinap di dalam hatinya karena ia

merasa bahwa pemuda yang dikaguminya ini agaknya hendak

 

menghalangi nya membalas dendam. Padahal, pemuda ini

mengaku cinta padanya.

“Sudahlah, toako. Agaknya dalam hal ini tidak ada

kecocokan pikiran di antara kita. Engkau sendiri, apakah yang

kaucari di sini?”

“Riwayatku tidak seburuk riwayatmu, Nona, walaupun tak

dapat dibilang menyenangkan. Sejak berusia tiga belas tahun,

aku dibawa oleh seorang tosu Kun-lun-pai ke Pegunungan

Kun-lun-san untuk belajar ilmu silat. Setelah belajar belasan

tahun lamanya dan tamat belajar, aku turun gunung dan

pulang ke dusun tempat tinggal orang tuaku. Akan tetapi aku

tidak melihat lagi ayah dan ibuku dan menurut penuturan

penduduk yang menjadi tetangga kami, ayah dan ibuku sudah

lama meninggalkan dusun itu. Seluruh harta kekayaan orang

tuaku telah dikuasai oleh pamanku, adik ibuku, yang menipu

mereka. Orang tuaku meninggalkan dusun sebagai orang

miskin dan akhirnya meninggal dunia entah di mana. Karena

itu, sekarang aku sedang berusaha mencari pamanku itu.”

“Ah! Tentu untuk membalas dendam atas kematian orang

tuamu kepada pamanmu!” seru Cui Hong penuh harap.

Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala sebagai

jawaban. “Tidak, Nona. Aku sama sekali tidak ingin membalas

dendam kepada pamanku.”

“Aku mencarinya hanya untuk bertanya di mana kuburan

ayah ibuku. Itu saja.”

“Ahhh!” Cui Hong merasa kecewa mendengar penjelasan

ini.

Keduanya diam sejenak, tenggelam dalam lamunan

masing-masing. Cui Hong merasa bahwa setelah mendengar

keadaan dirinya, tentu pemuda itu memandang kepadanya

dengan hati meremehkan. Ia hanya seorang gadis yang telah

terhina! Diam-diam ia merasa sedih, akan tetapi kesedihannya

ditutupinya dengan sikap acuh. Ia tidak perduli lagi. Biarlah

 

Tan Siong mencemoohkannya, biarlah membencinya. Memang

agaknya hidupnya hanya bergelimang dengan kebenciankebencian,

baik dibenci maupun membenci. Semua ini bahkan

menyuburkan dendamnya dan ia pasti berhasil! Sementara itu,

Tan Siong juga tenggelam dalam kesedihan. Kiranya gadis itu

bukanlah seorang wanita sembarangan, melainkan seorang

gadis yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi. Akan

tetapi juga seorang gadis yang penuh dengan dendam

kebencian. Jelaslah bahwa dia sama sekali tidak pantas

mengharapkan seorang gadis perkasa seperti itu, dan yang

nampaknya juga kaya raya, dapat menerima uluran cinta

kasihnya, cinta kasih seorang pemuda miskin yang selain tidak

memiliki apa-apa, juga keturunan petani biasa saja. Di

samping itu, juga d ia berbeda paham dengan gadis itu. Gadis

yang batinnya penuh dengan racun dan api dendam

kebencian! Dia merasa bersedih mengingat akan hal itu. Ingin

dia mengingatkan gadis itu, mencegahnya melanjutkan

dendam kebencian yang hanya akan meracuni hidupnya

sendiri.

Akhirnya yang membuka percakapan dan memecahkan

kesunyian itu adalah Cui Hong, karena gadis ini makin lama

semakin merasa tidak enak saja. “Tan-toako, setelah

mendengar riwayatku, tentu engkau akan memandang rendah

kepadaku…”

“Ah, mengapa begitu, Nona? Sama sekali tidak, hanya

aku…. aku merasa bersedih kalau mengingat bahwa engkau

sedang merusak kehidupanmu dengan dendam itu. Sekali lagi,

aku minta dengan sangat, sukalah engkau menghapus saja

dendam kebencian yang hanya akan meracuni batinmu sendiri

itu.”

Cui Hong mengerutkan alisnya. “Tan-toako, engkau tidak

berhak mencampuri urusan pribadiku!”

Pemuda itu menarik napas panjang.

 

“Maaf, aku bukan bermaksud mencampuri hanya aku

merasa kasihan kepadamu, Nona.”

“Kasihan….?”

“Ya, aku merasa kasihan karena racun dendam kebencian

itu akan membuatmu menderita sendiri.”

Makin tak senang rasa hati Cui Hong. “Biarlah, aku yang

menderita, bukan engkau, Toako. Nah, selamat tinggal dan

terima kasih atas segala bantuanmu yang kau lakukan kepada

Ok Cin Hwa.”

Gadis itu membalikkan tubuh dan hendak pergi.

“Nona Kim…!” Tan Siong berseru dan Cui Hong berhenti

melangkah, membalik dan memandang dengan alis berkerut

akan tetapi pandang mata penuh harapan. Tak sedap rasa

hatinya harus berpisah dari pemuda yang dikaguminya ini

dalam keadaan berbeda paham.

“Sekali lagi kuminta kepadamu, Nona, hapuskanlah dendam

itu….”

Hampir saja Cui Hong marah-marah dan memaki pemuda

itu, kalau saja ia t idak ingat betapa beberapa kali pemuda itu

telah membelanya mati-matian. “Sudahlah, jangan

mencampuri urusan pribadiku, selamat tinggal!” katanya dan

ia meloncat jauh lalu lari secepatnya meninggalkan pemuda

itu.

Tan Siong berdiri termangu-mangu, hatinya penuh

penyesalan. Dia tahu bahwa dia mencinta Cui Hong. Cintanya

tidak berubah walaupun dia mendengar bahwa gadis itu

ternyata bukan seorang perawan lagi, melainkan seorang

gadis yang pernah diperkosa oleh empat orang penjahat.

Bahkan dia merasa rendah diri kalau dia mengingat bahwa

perempuan yang bernama Ok Cm Hwa itu, yang tadinya

disangkanya seorang perempuan yang lemah tak berdaya dan

membutuhkan perlindungan, ternyata adalah seorang wanita

 

perkasa yang tingkat kepandaiannya mungkin tidak berada di

sebelah bawah tingkatnya sendiri, seorang wanita lihai yang

agaknya kaya-raya pula. Dan dia merasa berduka melihat

kenyataan pada diri wanita itu yang penuh dendam kebencian.

Orang yang diracuni dendam kebencian seperti itu, mana

mungkin dapat mencinta?

Sementara itu, Cui Hong mempergunakan ilmunya berlari

cepat, dengan tubuh ringan seperti seekor kijang ia

berlompatan dan berlarian cepat sekali. Sebentar saja ia sudah

meninggalkan Tan Siong jauh sekali dan akhirnya ia berhenti

di tepi sebuah anak sungai yang airnya mengalir dengan

lembut di antara batu-batu yang membuat air itu menjadi

jernih dan menimbulkan suara berteriak tiada hentinya.

Cui Hong duduk di tepi sungai itu, di atas rumput hijau

yang tebal. Ia tidak perduli pakaiannya menjadi agak basah

karena rumput itu segar dan basah. Hatinya terasa berat.

Kosong dan sepi. Ia merasa seperti kehilangan seorang

sahabat yang dikagumi dan amat disukainya. Bahkan ia

hampir merasa yakin bahwa ia telah jatuh cinta kepada Tan

Siong. Pria itu sama sekali berbeda dengan pria-pria la in yang

pernah dijumpainya. Di dalam pandang matanya, sama sekali

tidak nampak bayangan tidak sopan atau kurang ajar,

melainkan suatu kemesraan yang mendalam. Juga sikapnya

amat baik, lembut dan kuat. Dan betapa gagahnya pria itu

ketika membela dan melindunginya ketika ia masih menjadi

seorang wanita lemah. Pembelaan yang tanpa pamrih! Tan

Siong adalah seorang pendekar budiman yang mengagumkan

hatinya dan betapa akan mudah baginya untuk jatuh cinta

kepada seorang pria seperti itu. Sebelum bertemu dengan Tan

Siong, dibakar dendamnya, ia selalu memandang pria sebagai

mahluk yang tidak sopan dan kurang ajar, yang menganggap

wanita sebagai barang permainan belaka. Akan tetapi,

anggapan itu membuyar ketika ia bertemu dengan Tan Siong.

Ia jatuh cinta kepada pemuda murid Kun-lun-pai itu!

 

“Tidak!” tiba-tiba Cui Hong membantah suara hatinya

sendiri, la tidak boleh jatuh cinta, sedikitnya untuk sementara

ini ia tidak boleh mengikatkan diri dengan siapapun juga,

apalagi dengan ikatan cinta. Ia harus memusatkan

perhatiannya kepada musuh-musuhnya. Masih ada dua orang

musuh yang belum dibalasnya.

Dan dia maklum bahwa kini tidak akan mudah lagi baginya

untuk dapat berhadapan dengan Cai Sun dan Ki Cong.

Semenjak perkelahian itu, ketika ia muncul dengan berkedok

tentu dua orang musuhnya itu akan menjadi semakin hati-hati

dan tidak sembarangan keluar rumah tanpa pengawalan yang

ketat. Ia harus mencari akal. Ia cukup bersabar untuk

menyusun siasat. Sudah bertahun-tahun ia menahan

kesabarannya dalam dendam. Kalau sekarang hanya

menghadapi hambatan selama beberapa hari atau beberapa

bulan saja, tidak ada artinya baginya. Sekali waktu, pasti ia

akan melihat lubang dan kesempatan untuk dapat berhadapan

berdua saja dengan musuh-musuhnya dan membalas dendam

sepuasnya, seperti yang telah dilakukan terhadap Louw Ti. Ia

cukup sabar.

Dugaan Cui Hong memang benar. Bukan saja Pui Ki Cong

dan Koo Cai Sun menjadi terkejut dan ketakutan dengan

kemunculan Cui Hong dengan kedoknya sehingga mereka

selalu tinggal di dalam gedung keluarga Pui yang dijaga

dengan lebih ketat lagi, akan tetapi juga Ki Cong

mengerahkan orang-orangnya untuk mencari wanita yang

mengancam keselamatannya itu. Dia mendatangkan jagoanjagoan

dan menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang

mampu menangkap atau membunuh wanita bernama Kim Cui

Hong yang mempunyai tanda tahi lalat di dagunya.

Hampir setiap hari dan malam kedua orang itu berbincangbincang

dan selalu yang menjadi bahan percakapan mereka

adalah Kim Cui Hong.

 

“Hayaaa, sungguh celaka!” Pada suatu malam Ki Cong

mengeluh kepada Cai Sun yang duduk di depannya. Mereka

selalu hanya berdua saja kalau membicarakan Cui Hong

karena bagaimanapun juga, apa yang pernah mereka lakukan

terhadap gadis itu merupakan rahasia pribadi mereka.

“Menghadapi seorang perempuan saja, kita menjadi begini tak

berdaya. Untuk keluar saja tidak berani. Koo-toako, apakah

selamanya kita akan begini saja, bersembunyi di dalam rumah

sendiri seperti tikus-tikus yang takut keluar karena ada kucing

yang siap menerkam? Kalau perempuan iblis itu belum dapat

kita bekuk, maka hidup akan menjadi penderitaan besar bagi

kita!” Bangsawan yang kaya-raya itu mengepal tinju dan

mukanya menjadi merah padam karena menahan

kemarahannya.

“Pui-kongcu, kami sudah berusaha sekuat tenaga,

menyebar orang-orang untuk melakukan penyelidikan. Akan

tetapi ibiis itu agaknya pandai menghiiang karena biarpun

semua tempat telah diperiksa, tidak ada yang menemukan

jejaknya.” kata Cai Sun.

“Hemm, lalu, apakah kita harus tetap begini saja?

Bagaimana kalau manusia-manusia tolol itu tidak mampu

menemukan jejaknya untuk selamanya? Apakah selamanya

kita lalu menjadi orang-orang hukuman di rumah sendiri?”

tanya Pui Ki Cong dengan jengkel.

“Jangan khawatir, Kongcu. Saya mempunyai akal baik yang

segera saya suruh mereka melaksanakan, tentu dalam waktu

singkat iblis perempuan itu akan dapat kita ketahui tempat

sembunyinya.”

Wajah Pui Ki Cong yang tampan pesolek itu, yang selama

beberapa pekan ini selalu muram, kini nampak agak berseri

dan dia menatap wajah bulat tukang pukulnya itu dengan

penuh harapan. “Apakah akalmu itu, Koo-toako? Lekas beritahukan

padaku.”

 

“Begini, kongcu. Untuk mencari jeja k siluman itu, memang

tidak mudah karena ia memiliki iimu kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi, saya kira tidak akan begitu sukar untuk mencari

jejak perempuan yang bernama Ok Cin Hwa itu. Kita tangkap

dulu wanita itu….”

“Huh, dasar engkau paling gila perempuan! Dalam keadaan

begini engkau masih memikirkan wanita itu? Gila! Untuk apa

menangkap perempuan itu, Toa-ko?”

“Kongcu, Ok Cin Hwa itu selalu dilindungi oleh pemuda

yang bernama Tan Siong itu, maka besar sekali

kemungkinannya ia mengetahui di mana Tan Siong

bersembunyi. Dan mengingat bahwa ketika Tan Siong

dikeroyok oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dia dibela oleh

siluman itu, maka kalau kita sudah dapat menangkap Tan

Siong, tentu dapat pula mengetahui di mana adanya Kim Cui

Hong. Bahkan mungkin juga Ok Cin Hwa tahu dan mengenal

siluman itu.”

Pui Ki Cong mengangguk-angguk dan wajahnya berseri

penuh kegirangan dan harapan.

“Bagus sekali kalau begitu! Cepat panggil Cia-enghiong dan

Su-enghiong, kita atur dan rencanakan siasat itu. Ok Cin Hwa

harus dapat ditemukan dan ditangkap!”

Tak lama kemudian, dua orang jagoan itu datang

menghadap dan mereka berempat lalu mengatur siasat untuk

menyebar orang-orang, sekali ini bukan mencari Kim Cui Hong

melainkan mencari seorang wanita bernama Ok Cin Hwa.

Semua anak buah yang bertugas mencari wanita ini dibekali

keterangan lengkap tentang ciri-ciri Ok Cin Hwa dan mulailah

para penyelidik itu bertebaran di seluruh kota pada hari itu

untuk mencari Ok Cin Hwa.

Tentu saja hal ini segera didengar oleh Cui Hong dan gadis

perkasa ini melihat munculnya suatu kesempatan yang amat

baik baginya. Ia pun cepat menyamar sebagai Ok Cin Hwa dan

 

sengaja memperlihatkan dirinya di pasar. Selagi ia memilih

buah-buahan di pasar, empat orang laki-laki menghampirinya

dan mengurungnya.

“Nona Ok C in Hwa?” tanya seorang di antara mere ka yang

tinggi kurus dan bermata juling.

“Ya.„?” Cui Hong berlagak kaget dan heran menghentikan

kesibukannya memilih buah.

“Mari kau ikut dengan kami. Koo-toako ingin bertemu

denganmu.” kata pula si mata juling.

Kembali Cui Hong berlagak. Sambil mengerutkan alisnya ia

menjawab, suaranya tak senang. “Harap kalian jangan

bersikap tidak sopan. Aku tidak mengenal siapa itu Koo-toako.

Pergilah dan jangan mengganggu.”

Empat orang laki-laki itu saling pandang. “Nona Ok, Kootoako

adalah kenalanmu yang baik, dia adalah penolongmu

dan dia minta kepada kami untuk mencarimu. Dia adalah

jagoan yang pernah menyelamatkanmu di rumah makan…

Si mata juling meniru kata-kata Cai Sun yang sudah

memesan kepada para anak buah itu kalau-kalau bertemu

dengan Ok Cin Hwa dan wanita itu menanyakan dirinya.

“Ahhh….dia….?” Cui Hong memperlihatkan sikap gembira.

“Tapi…. kenapa bukan dia sendiri yang datang mencariku?”

“Dia sedang sibuk sekali, dan kami disuruhnya

menjemputmu, Nona. Kami sudah menyiapkan sebuah kereta

di luar pasar. Marilah, Koo-toako ingin sekali membicarakan

urusan yang amat penting denganmu.”

“Akan tetapi….” Cui Hong berlagak meragu seperti

pantasnya seorang wanita baik-baik yang diundang

mengunjungi seorang pria, “….eh, baiklah kalau begitu.”

Ia lalu membereskan pakaiannya yang cukup bersih dan

indah, lalu tangannya meraba sanggul dan dengan diiringkan

 

empat orang itu, ia pun keluar dari pasar. Dengan sebuah

kereta, ia lalu diajak pergi ke rumah gedung keluarga Pui. Hati

para anak buah itu merasa lega sekali karena ternyata mereka

dapat membawa Nona Ok Cin Hwa sedemikian mudahnya.

Mereka sudah khawatir kalau-kalau muncul pria yang bernama

Tan Siong, yang biasanya melindungi wanita ini dan kabarnya

Tan Siong itu lihai se kali. Ternyata mereka dapat menemukan

dan mengajak Ok Cin Hwa ke gedung keluarga Pui tanpa

halangan apa pun dan tidak ada orang muncul mengganggu

kelancaran tugas mereka. Dengan hati bangga karena tentu

mereka akan menerima hadiah, empat orang itu mengawal Ok

Cin Hwa memasuki gedung.

Tentu saja hati Cai Sun menjadi girang bukan main melihat

Ok Cin Hwa dapat didatangkan ke dalam gedung itu. Bukan

hanya girang karena mengharapkan dapat menemukan

tempat persembunyian musuh besarnya dari wanita ini, akan

tetapi juga mengharapkan untuk dapat memiliki wanita yang

telah membuatnya tergila-gila itu.

“Moi-moi…. Akhirnya engkau datang juga….!” serunya

dengan gembira sekali sambil mengembangkan kedua

lengannya, kemudian memegang lengan janda itu, tanpa

memperdulikan sopan santun dan seperti lupa bahwa Pui Ki

Cong juga berada di situ.

Cui Hong mengambil sikap malu-malu dan dengan halus ia

melepaskan lengannya dari pegangan Cai Sun sambil melirik

ke arah Pui Ki Cong, diam-diam menekan perasaannya yang

terguncang penuh kebencian. “Aih, ln-kong…! Saya dipanggil

ke sini, ada keperluan apakah?”

“Ha-ha, engkau masih menyebutku ln-kong? Moi-moi,

bukankah kita sudah berjanji bahwa engkau selanjutnya akan

menyebut Koko (Kanda) kepadaku? Ha-ha-ha!” Karena merasa

di tempat aman, kumat kembali sifat Cai Sun yang mata

keranjang dan perayu wanita.

 

“Koo-inkong, mana saya berani? Saya hanyalah seorang

janda yang hidup sebatangkara….” Cui Hong mempermainkan

senyumnya dan mengerling tajam ke arah Pui Ki Cong yang

sejak tadi menatap dengan tajam penuh perhatian.

Dalam hal kegemaran terhadap wanita, tingkat Pui Ki Cong

tidak kalah oleh Koo Cai Sun. Maka, melihat sikap Cui Hong

yang beberapa kali tersenyum dan melirik ke arahnya, dia pun

menduga bahwa tidak akan sukar baginya untuk mendekati

wanita ini. Sikap wanita ini menunjukkan bahwa ia “ada

perhatian” terhadap dirinya. Dan Ki Cong percaya bahwa

dalam segala hal, kecuali ilmu silat, dia memiliki banyak

kelebihan dibandingkan dengan pembantunya itu. Dia lebih

muda beberapa tahun, juga dia lebih kaya, dengan kedudukan

yang membuatnya menjadi seorang bangsawan. Dalam hal

wajar, dia merasa yakin bahwa dia lebih tampan. Cai Sun

mempunyai muka yang bulat dan bersih, pandai merayu, suka

bergurau dan banyak ketawa, akan tetapi tidak dapat dibilang

tampan atau gagah. Perutnya gendut dan tubuh yang

kegemukan itu tentu tidak menarik hati wanita. Sebaliknya,

dia berwajah tampan,., jantan dan tubuhnya pun tidak

gendut, bahkan agak tinggi. Jantungnya berdebar juga

melihat kecantikan wanita bernama Ok Cin Hwa yang janda

muda ini. Akan tetapi, melihat sikap yang akrab dari Cai Sun,

dia mengerutkan alisnya dan ingin memperlihatkan

kekuasaannya di atas pembantunya itu kepada Ok Cin Hwa.

“Koo-toako, bukan tempatnya kita bicara di luar. Mari, ajak

Nona ini masuk ke dalam agar kita dapat bicara dengan

tenang dan aman. Marilah, Nona Ok, silakan masuk ke dalam

rumahku.”

Cut ftorrg tersenyum mana, rmttum bahwa Pui Ki Cong

mulai memperlihatkan sikap bersaing dengan Cai Sun, dan hal

ini menandakan bahwa pancingannya berhasil. Ia telah

berhasil menarik perhatian musuh utamanya itu! Sambil

tersenyum manis, ia lalu bangkit. “Kiranya Kongcu yang

 

menjadi tuan rumah? Koo-inkong, siapakah Kongcu ini dan

mengapa saya diajak ke rumahnya ini?”

Diam-diam Cai Sun mendongkol juga.

Percakapan antara Ok Cin Hwa dan Pui Ki Cong itu

dirasakannya seperti menyeretnya turun harga! “Marilah kita

masuk dan kita bicara di dalam!” katanya singkat dan mereka

pun masuk ke dalam gedung besar itu. Biarpun di dalam

batinnya, Cui Hong sama sekali tidak tertarik akan kemewahan

dan kekayaan berlimpah yang berada di dalam gedung,

namun ia memaksa diri memperlihatkan kekaguman dan

berkali-kali mengeluarkan seruan kagum sehingga Pui Ki Cong

merasa girang dan bangga, sebaliknya Cai Sun semakin

muram wajahnya. Dia teringat betapa hatta keVayaannya

habis ketika tokonya dibakar orang, dan dia dapat wietujurga

bahwa pembakarnya tentulah musuh besar yang kini sedang

ditakutinya.

Cui Hong diajak masuk ke ruangan dalam dan Cai Sun

segera disuruh memanggil dua orang jagoan yang mengepalai

pasukan pengawal keluarga Pui, yaitu Cla Kok Han dan Su Lok

Bu. Melihat dua orang ini, diam-diam ada juga rasa khawatir di

dalam hati Cui Hong. Dua orang ini lihai, kalau sampai

rahasianya ketahuan, ia tentu akan celaka. Ia berada di dalam

kepungan musuh-musuh yang lihai! Akan tetapi sikapnya

nampak tenang-tenang saja, agak malu-malu seperti sikap

seorang wanita yang berada di antara beberapa orang laki-laki

asing.

Empat orang laki-laki itu kini duduk berhadapan dengan Cui

Hong dan dengan suara tetap halus, dengan pandang mata

berseri dan senyum menyeringai seperti biasa lagak Cai Sun

terhadap wanita, Cai Sun berkata, “Adik Ok Cin Hwa, kami

sengaja mengundangmu karena kami membutuhkan

bantuanmu. Maukah engkau membantu kami?”

Cui Hong memandang dengan alis dikerutkan dan mulut

tersenyum keheranan. “Ah, harap jangan main-main, KooTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

inkong. Seorang seperti aku ini, dapat membantu apakah

kepada Cu-wi (Anda Sekalian)?”

“Nona, kami membutuhkan bantuanmu berupa keterangan

yang sejujurnya dan sebenarnya.” Ki Cong berkata.

“Aih, kalau cuma keterangan yang sebenarnya, tentu saja

saya mau melakukannya dengan segala senang hati, Kongcu.”

kata Cui Hong sambil mengarahkan pandang mata jeli

dan mesra kepada Pui Ki Cong. Melihat ini, Cai Sun kembali

merasa tak senang karena cemburu. Dia merasa mendapatkan

saingan berat dalam diri Ki Cong terhadap wanita cantik ini.

“Adik Ok C in Hwa, beliau ini adalah seorang pejabat tinggi,

maka sepatutnya engkau menyebut Tai-jin (Pembesar) dan

bukan Kongcu (Tuan Muda).” kata-kata Cai Sun ini membuat

alis Ki Cong berkerut. Tadi ia sudah merasa girang karena

sebutan kongcu itu berarti bahwa nona manis ini

menganggapnya masih seorang muda! Padahal usianya sudah

tidak muda lagi, hampir empat puluh tahun. Dan kini Cai Sun

merusak “suasana” yang menyenangkan hatinya itu.

“Ah, maafkan saya, karena saya tidak tahu, Taijin!” kata

Cui Hong sambil cepat menjura dengan hormat ke arah Ki

Cong. Hal ini menghapus kekecewaan hati Ki Cong dan

dengan sikap berwibawa dia menggerakkan tangan menyuruh

wanita itu duduk kembali.

“Nona, kami sedang mencari dua orang dan kiranya hanya

engkaulah yang dapat membantu kami dan menunjukkan di

mana adanya dua orang itu.” Ki Cong melanjutkan katakatanya.

“Yang seorang adalah laki-laki bernama Tan Siong

itu, yang sering membelamu. Sedangkan yang ke dua adalah

seorang wanita yang muncul dengan muka berkedok dan

mempunyai tahi lalat di dagunya. Nah, kami mengharapkan

keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya darimu. Di

manakah kedua orang itu?”

O00o-dw-o00O

 

Jilid 9

CUI HONG mengangguk-angguk. “Saya akan memberikan

keterangan yang sejujurnya, Taijin. Laki-laki yang bernama

Tan Siong itu baru saja kenal ketika dia muncul di rumah

makan itu dan melindungi saya dari gangguan beberapa orang

laki-laki kurang ajar, bahkan kemudian muncul Koo-inkong ini

yang menolong saya. Ada pun wanita berkedokitu saya kenal

ketika ia muncul di malam hari itu.”

“Yang kami butuhkan adalah keterangan di mana adanya

mereka?” desak pula Pui Ki Cong. Sejak tadi Cui Hong

memutar otak mencari siasat terbaik demi keuntungannya.

“Sesungguhnya, saya tidak pernah mereka beri tahu di

mana mere ka tinggal. Setahu saya, Tan Siong tadinya tinggal

di dalam kuil tua itu, akan tetapi entah sekarang, saya sendiri

tidak tahu, apalagi tempat tinggal wanita berkedokitu, saya

tidak pernah diberi tahu.”

Empat orang itu saling pandang. “Mengakulah saja kalau

engkau tidak ingin kami paksa!” Tiba-tiba Su Lok Bu yang

berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar itu menggertak. Cui

Hong memperlihatkan wajah ketakutan dan melihat ini, Pui Ki

Cong yang sudah mulai tertarik kepada wanita cantikini cepat

berkata.

“Kita tidak perlu menggunakan kekerasan, Su-enghiong!”

Kemudian dia memandang wajah Cui Hong dan berkata

ramah, “Aku percaya, Nona ini pasti akan dapat memberi

petunjuk bagaimana kita akan dapat bertemu dengan kedua

orang itu. Benarkah begitu, Nona? Kuharap saja

kepercayaanku kepadamu takkan sia-sia belaka.”

Cui Hong menggeser duduknya mendekat ke arah Pui Ki

Cong yang duduk di sebelah kanannya sambil melirik

ketakutan kepada Su Lok Bu. Kemudian, ia memandang Ki

Cong dan berkata dengan merdu dan bernada sungguhTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

sungguh. “Taijin, seorang perempuan seperti saya ini, mana

berani berbohong kepada Taijin? Saya berkata dengan

sesungguhnya ketika mengatakan bahwa saya tidak tahu di

mana mereka tinggal. Akan tetapi, seperti yang Taijin katakan

tadi, kalau memang Taijin ingin bertemu dengan mereka atau

seorang di antara mereka, agaknya saya dapat memberi

petunjuk…”

“Ah, Nona manis!” Ki Cong berseru gembira sekali. “Itulah

yang kuharapkan! Dapatkah engkau memberi petunjuk agar

kami dapat bertemu dengan wanita berkedokitu?”

“Dapat, Taijin…. karena memang ia telah…. ah, akan tetapi

ini rahasia! Kenapa sih Taijin ingin bertemu dengan wanita

aneh yang selalu berkedokitu? Saya sendiri ngeri dan takut

terhadap dirinya yang penuh rahasia.”

Su Lok Bu sudah hendak menghardik lagi untuk memaksa

wanita itu cepat bercerita di mana tempat sembunyi wanita

berkedok, akan tetapi Ki Cong memberi tanda dan berkedip

kepadanya sehingga jagoan ini terdiam. Kemudian Ki Cong

berkata lagi kepada wanita itu, nada suaranya membujuk.

“Ketahuilah, Nona Ok. Wanita berkedokitu dan laki-laki yang

bernama Tan Siong, mereka adalah penjahat-penjahat kejam,

pembunuh-pembunuh keji. Mereka sedang kami cari-cari

untuk ditangkap dan dihukum karena kalau mereka tidak

ditangkap, tentu mereka akan melakukan lebih banyak

pembunuhan lagi atas diri orang-orang yang tidak berdosa.

Nah, sekarang katakan bagaimana agar kami dapat

menangkap mereka?”

“Ihhh….! Mengerikan! Memang saya sudah merasa takut

terhadap mereka. Akan tetapi kalau saya membuka rahasia

ini, tentu mereka akan marah kepada saya dan bagaimana

kalau saya dibunuh?” la menggigil dan mukanya berubah

pucat.

“Ha-ha, jangan takut, Adik manis. Di sini ada Kakanda Cai

Sun yang akan melindungi!” kata Cai Sun, gembira bahwa

 

ternyata dugaannya benar dan siasatnya berhasil baik karena

wanita ini agaknya akan menjadi kunci pembuka tempat

persembunyian dua orang musuh itu, terutama tempat

persembunyian Kim Cui Hong yang mengancam nyawanya.

“Kami akan melindungimu!” kata Ki Cong tak mau kalah.

“Nah, bagaimana kami dapat menangkap mereka?”

“Dalam pertemuan terakhir antara kami, wanita

berkedokitu membawa saya lari ke sebuah pondok kecil di

tengah hutan. Kemudian wanita itu berpesan bahwa kalau

saya memer lukan bantuannya, saya disuruh ke pondokitu dan

menanti sampai la datang.”

“Ah! Di mana pondokitu? Di hutan mana?”

“Tapi….. tapi saya takut….. Taijin.”

“Jangan takut, kami akan melindungimu. Katakan saja di

mana pondokitu?”

“Di sebelah timur pintu gerbang kota, ada sebuah bukit

sunyi dan pondokitu berada di tengah hutan, di lereng bukit

itu. Hutan yang amat sunyi, penuh pohon cemara.”

“Ah, di hutan cemara bukit itu?” Koo Cai Sun berseru,

girang.

“Ya, sebuah pondok kosong di tengah hutan. Sunyi sekali.

Saya….. saya takut untuk pergi ke sana, Taijin.”

“Dan perempuan berkedokitu tinggal di sana?” kini Cia Kok

Han yang bertanya.

Cui Hong menoleh dan beradu pandang dengan sepasang

mata yang sipit sekali namun yang sinar matanya mencorong

menakutkan.

“Saya tidak tahu, ia hanya mengatakan bahwa saya disuruh

datang ke sana dan menunggu kedatangannya.”

 

“Apakah ia mengaku siapa namanya?” Koo Cai Sun ingin

kepastian.

Cui Hong menggeleng kepala, “la hanya mengaku bahwa ia

she Kim.”

Itu saja sudah cukup bagi Cai Sun dan Ki Cong. Kim Cui

Hong, musuh besar mereka! Gadis puteri g uru s ilat Kim yang

kini datang sebagai siluman yang hendak membalas dendam

kepada mereka. Harus didahului sebelum mereka celaka di

tangan siluman itu. Bergidik mereka mengingat akan nasib

yang diderita Louw Ti.

“Biarkan Nona ini pergi ke sana malam ini. Kita mengepung

tempat itu dan menyergapnya ketika ia memasuki pondok.”

kata Cia Kok Han dan rekannya, Su Lok Bu mengangguk

menyetujui.

“Ah, ah….. saya tidak berani…..” Cui Hong berkata seperti

mau menangis dan wajahnya menjadi pucat. “Ia tentu akan

membunuhku, setelah tahu aku mengkhianatinya tidak, saya

tidak berani.!”

“Mau atau tidak, engkau harus membantu kami agar kami

dapat menangkapnya!” kata pula Cia Kok Han tegas.

“Ahh….. tapi apakah tidak dapat diambil jalan lain yang

lebih tepat? Ia bukan seorang bodoh, tentu ia akan menaruh

curiga dan kalau sudah begitu, selain Cu-wi (Anda Sekalian)

tak dapat menangkapnya karena ia tidak akan muncul, juga

saya pasti akan dibunuhnya. Lalu apa artinya segala jerih

payah ini?”

“Adik yang manis, apakah engkau mempunyai siasat lain

yang lebih baik?” Cai Sun bertanya karena kata-kata gadis itu

memang masuk di akal. Kalau sampai gagal, dan wanita itu

terbunuh secara sia-sia, sungguh sayang sekali.

“Ia harus dapat dipancing dengan umpan yang menarik

tanpa menimbulkan kecurigaan padanya. Kalau saja Cu-wi

 

mengetahui apa yang menjadi keinginan hatinya yang paling

besar, yang akan memaksanya keluar dari tempat

persembunyiannya dan datang ke pondokitu…..”

“Hemm, keinginannya yang paling besar adalah membunuh

kami…..” Cai Sun terlanjur bicara dan isarat dari Ki Cong siasia

saja.

Pui Ki Cong menarik napas panjang. “Karena Koo-toako

sudah terlanjur mengatakan kepadamu, Nona, biarlah

kuceritakan saja dengan terus terang. Kami sudah percaya

kepadamu dan kami mengharapkan bantuan untuk

menangkap siluman betina yang amat jahat ini. la telah

mengancam untuk membunuh aku dan Koo-toako ini.. …”

“Ihhh…..! Jahatnya….!” Cui Hong berseru dengan wajah

kaget dan ngeri, memandang bergantian kepada Ki Cong dan

Cai Sun, seolah-olah t idak percaya bahwa dua orang yang

demikian baiknya akan dibunuh orang.

“Memang siluman itu jahat sekali, karena itu kami akan

menangkap atau membunuhnya,” kata pula Pui Ki Cong.

“Kalau begitu, Ji-wi saja yang datang ke pondokitu, tentu ia

akan muncul! Sementara itu, dipersiapkan orang-orang untuk

mengepung dan menangkapnya,” kata Cui Hong memberi

saran.

“Ah, itu berbahaya sekali!” kata Cai Sun, bergidik

membayangkan betapa dia dan Ki Cong berada di pondok

sunyi dalam hutan kemudian muncul musuh besarnya itul

“Heh, engkau takut? Bukankah ada kami dan pasukan yang

telah mengepung pondokitu?” Su Lok Bu mencela.

“Sejak kapan Koo Cai Sun yang terkenal itu menjadi

seorang penakut?” Cia Kok Han juga mengejek.

Koo Cai Sun merasa disudutkan. Dia tidak mampu

mengelak lagi, dan teringat bahwa yang diusulkan oleh Ok Cin

Hwa adalah dia dan Ki Cong. Kalau ada Ki Cong, tentu akan

 

berkurang rasa takutnya. “Aku tidak takut, hanya aku khawatir

Pui-kongcu yang tidak berani bersama aku pergi ke

pondokitu.” Berkata demikian, Cai Sun memandang Ki Cong

sambil menyeringai.

Pui Ki Cong mengerutkan alisnya. Dia memang

menghendaki dengan sangat agar musuh besar yang

berbahaya itu secepat mungkin dapat terbunuh agar dia dapat

tidur dengan nyenyak, akan tetapi kalau dia harus ke tempat

berbahaya itu, sungguh membuat dia merasa ngeri.

“Hemm, perlukah aku ke sana sendiri? Tidak cukup engkau

saja, Koo-toako? Dengan engkau menjadi umpan, sudah

cukup untuk memancing ia datang, atau setidaknya laki-laki

she Tan itu.” katanya meragu.

“Aih, Kongcu. Kita takut apakah? Selain ada kita berdua,

masih ada lagi Cia dan Su-enghiong, dan kalau kita siapkan

seratus orang perajurit mengepung tempat itu, membuat

barisan pendam, apa yang akan dapat dilakukan oleh siluman

itu? Sebelum ia sempat menyerang kita berdua, tentu ia sudah

lebih dulu disergap dan mampus! Selain itu perlu apa takut

kalau di samping kita ada nona yang begini manis dan

hangat?” Berkata demikian, dengan ceriwis sekali tangan kiri

Cai Sun mengelus pipi Cui Hong. Wanita ini pura-pura malu

dan mengerling tajam ke arah Ki Cong, menepiskan tangan

Cia Sun dengan berkata.

“lhhh…. Koo-inkong harap jangan nakal…!” Dan ia

tersenyum dan mengerling dengan daya tarik yang amat kuat

ke arah Ki Cong, membuat orang mata keranjang ini menelan

ludah. Di dalam pondok bersama wanita cantikini! Menarik

sekali, dan pula, kalau ada pasukan seratus orang yang

dipimpin oleh dua orang pembantunya yang lihai, memang

tidak ada yang perlu ditakuti. Pula, Cai Sun di sampingnya

juga merupakan seorang pengawal yang cukup tangguh.

“Baiklah, aku akan Ikut ke sana. Kita semua harus bekerja

sama untuk dapat membekuk siluman itu secepatnya!”

 

Akhirnya dia mengambil keputusan setelah melihat betapa

mata kiri Cui Hong berkedip lembut memberi isyarat

kepadanya yang hanya dapat dilihatnya sendiri! Kedipan mata

yang merupakan janji yang Cai Sun dan suaranya terdengar

gemetar.

Cai Sun mengangkat kedua pundaknya dan menoleh

kepada Ok Cin Hwa. “Bagaimana pendapatmu, Adik manis?

Akan berhasilkah pancingan kita ini?” Suaranya lirih sekali

seolah-olah dia takut kalau-kalau suaranya akan terdengar

musuh.

“Saya tidak tahu, akan tetapi mudah-mudahan berhasil, la

hanya mengatakan bahwa kalau saya perlu sesuatu darinya,

saya disuruh datang ke sini dan menanti, tentu ia akan

datang.”

“Bagaimana kalau ia tiba-tiba muncul di dalam pondokini,

Toako?” Ki Cong bertanya dan jelas nampak betapa dia

menggigil ketakutan.

“Ha-ha-ha!” Cai Sun tertawa, walaupun dia menahan suara

ketawanya agar jangan terdengar terlalu keras. “Bagaimana

mungkin? Sebelum ia tiba di pintu, ia akan disergap seratus

orangl Kita di sini aman seperti di rumah sendiri, Kong-cu,

harap jangan khawatir.”

“Saya pun tidak merasa takut, karena bukankah di luar

sana ada seratus orang pasukan yang berjaga? Apalagi di sini

ada dua orang gagah perkasa yang menemani saya. Kooinkong

dan Pui-taijin, saya mau beristirahat dulu di kamar

yang kiri itu. Silakan Ji-wi beristirahat pula di kamar kanan

kalau Ji-wi tidak sedang ketakutan.” Cui Hong tersenyum dan

melempar kerling genit sekali dan ia pun bangkit berdiri,

langkahnya dibuat semenarik mungkin ketika ia melenggang

dan memasuki kamar yang sebelah kiri, tahu bahwa dua orang

pria itu mengikuti nya dengan pandang mata kehausan. Dua

pasang bukit pinggulnya sengaja dibuat menari-nari ketika ia

melenggang tadi. Dan hasilnya memang baik sekali, dua orang

 

pria itu memandang dengan mata melotot, bahkan Cai Sun tak

dapat menahan dirinya untuk tidak menelan ludah.

“Kongcu, saya akan menemani nona itu, silakan kalau

Kongcu mau beristirahat di kamar kanan. Selamat malam,

Kongcu….!” Dia pun bangkit dan hendak segera menyusul

wanita itu, akan tetapi Pul Ki Cong cepat menegurnya.

“Koo-toako, engkau hendak memandang rendah

kepadaku?”

“Ehh? Apa maksud Kongcu….?” Cai Sun menahan langkah

dan membalikkan tubuhnya.

Pui Ki Cong sudah bangkit berdiri dan mukanya berubah

merah. “Sudah sejakia ditangkap, la memberi isyarat-isyarat

kepadaku. Akulah yang akan menemaninya!”

“Tapi, saya yang telah mengenalnya lebih dulu, Kongcu!”

Cai Sun membantah dengan mata melotot dan merasa

penasaran. Tak disangkanya bahwa majikannya ini ternyata

tertarik kepada Ok Cin Hwa dan hendak merampas daging

gemukitu dari depan mulutnya.

Pui ki Cong mengerutkan alisnya dengan marah. ‘”Koo Cai

Sun! Apakah engkau hendak menentang aku?” bentaknya.

Cai Sun terkejut dan sadar bahwa orang she Pui ini bukan

hanya tertarik, melainkan sudah tergila-gila kepada Ok Cin

Hwa sehingga bersikap demikian kasar keji, Tentu saja dia

tidak berani menentang orang Itu. Perpecahan akan amat

merugikan dirinya, apalagi kalau hanya karena

memperebutkan seorang wanita, seorang janda saja. Kalau

Pui Ki Cong mengusirnya, dia bisa mati konyol di dalam

tangan iblis wanita itu. Maka dia pun cepat menjur.i dan

tertawa lebar.

“Aha, mengapa kita harus bertengkar karena seorang

perempuan saja? Maaf, Pui-kongcu. Tidak kusangka bahwa

Kongcu demikian bergairah terhadap dirinya. Kita tidak perlu

 

berebut karena seorang janda muda seperti wanita itu tentu

tidak akan kewalahan melayani dua orang seperti kita. Nah,

silahkan Kongtu lebih dulu, baru nanti saya yang

menggantikan Kongcu.”

Pui Ki Cong juga teringat dan dia pun tersenyum. memang

tidak semestinya dalam keadaan nyawanya terancam seperti

itu memperebutkan seorang janda yang belum tentu akan

memuaskan hatinya, walaupun wajahnya, bentuk badan dan

sikap janda itu demikian menggairahkan. Sudah banyak dia

mengalami kekecewaan dari wanita-wanita yang tadinya

nampak cantik dan menawan hati.

“Maaf, Toako, tadi aku telah lupa diri. Baiklah, aku akan

main-main dengannya lebih dulu, dan biar nanti kusuruh ia

keluar menemani dan melayanimu.” Dengan langkah lebar Pui

Ki Cong menghampiri kamar yang sebelah kiri, membuka daun

pintunya, masuk dan menutupkan lagi daun pintu kamar itu

dari dalam.

Sambil menyeringai Cai Sun kembali duduk di atas kursi,

matanya memandang ke arah kamar itu seolah-olah ingin

menembus dinding untuk mengintai apa yang terjadi di

dalamnya. Dia mendengar suara Pul Ki Cong bicara, lalu

disusul suara ketawanya lirih dan suara ketawa Ok Cin Hwa.

Bahkan terdengar suara wanita itu cukup je las, “Aihhh…. Taijin,

jangan begitu”

Cai Sun terkekeh, membayangkan permainan cinta mereka

dan dia pun mendengar suara dipan berderit diduduki mereka.

Suasana lalu menjadi sepi di kamar itu dan Cai Sun

memperlebar senyumnya. Kalau wanita itu pandai, sebentar

saja tentu Pui Ki Cong kalah dan dia memperoleh giliran! Dia

akan mengajak wanita itu ke kamar sebelah.

Agaknya tidak meleset dugaan dan harapan Cai Sun. Tak

lama kemudian, daun pintu kamar itu terbuka dan Ok Cin Hwa

nampak keluar setelah menutupkan lagi daun pintu dari luar.

Pakaian dan rambutnya kusut, bahkan kancing-kancing

 

bajunya hanya tertutup sebagian sehingga Cai Sun dapat

melihat sebagian kulit dan dada yang kuning mulus. Wanita itu

menghampirinya sambil tersenyum manis sekali.

Cai Sun bangkit berdiri menyambut dengan pujian. “Wah,

engkau hebat sekali, Adik manis. Mana Pui-taijin?”

“Dia kelelahan dan tidur, harap jangan diganggu.” bisik

wanita itu dengan muka merah dan nampak tersipu.

“Ha-ha, engkau sungguh hebat, mengalahkannya dalam

waktu singkat, tidak ada seperempat jam. Ha-ha, lawannya

yang seimbang adalah aku, ha-ha!” Cai Sun lalu maju

merangkul wanita itu yang mandah saja ditarik sambil

dirangkul, memasuki kamar yang di sebelah kanan.

Tadi ketika dia mendengarkan dari luar di antara kesunyian

dalam kamar sebelah kiri, dia mendengar suara dipan berderit

dan Pui-kongcu terengah-engah, maka sudah bangkitlah

berahinya sampai ke ubun-ubun. Maka, begitu dia memasuki

kamar yang kosong itu, dia mempererat rangkulannya dan

mendekatkan mukanya mencium mulut Ok Cin Hwa. Yang

dicium mandah saja sehingga Cai Sun mencium mulut itu

penuh nafsu. Akan tetapi pada saat dia mengecup bibir

perempuan itu, tiba-tiba tengkuknya dihantam oleh tangan

miring yang amat kuat.

“Kekkk….!” Tubuh Cai Sun menjadi lemas dan dia pun

pingsan seketika! Untuk mencegah agar robohnya Cai Sun

tidak menimbulkan suara, Cui Hong sudah menjambak

rambutnya dan menyeretnya keluar kamar, merebahkannya di

atas lantai. Ia bekerja dengan cepat sekali. Ia tadi tidak berani

menotok Cai Sun untuk merobohkannya seperti yang

dilakukannya pada Ki Cong karena ia tahu bahwa Cai Sun lihai.

Kalau sampai totokannya meleset tentu Cai Sun akan berteriak

dan rencananya dapat menjadi gagal. Maka, ia

mempergunakan pukulan dengan tangan miring pada saat Cai

Sun mencium tadi sehingga ia yakin takkan gagal.

 

Cui Hong meludah dan mengusap bibirnya dengan ujung

lengan baju. Muak rasanya teringat akan ciuman tadi. Ia

meludah ke arah muka Cai Sun, kemudian mengeluarkan

borgol dari ramai besi yang sudah dipersiapkan untuk

keperluan itu. Diborgolnya kedua tangan Cai Sun itu ke

belakang tubuhnya, kemudian ia menotok beberapa jalan

darah untuk membuat orang itu t idak dapat bergerak atau

mengeluarkan suara kalau siuman dari pingsan nanti. Setelah

itu, ia pun memasuki kamar sebelah kiri. Ternyata Pui Ki Cong

juga sudah menggeletak di atas lantai dalam keadaan

tertotok, tak mampu bergerak atau bersuara, hanya matanya

saja yang bergerak-gerak memandang kepada Cui Hong

dengan ketakutan. Kiranya ketika tadi Ki Cong masuk dan

menghampirinya, ia melayani orang itu bercakap-cakap dan

bergurau.

Akan tetapi ketika tangan Ki Cong mulai meraba-raba dan

hendak menciumnya, secepat kilat tangan kiri Cui Hong menotok

jalan darah dan Ki Cong roboh seketika tanpa mampu

berteriak. Cui Hong lalu membuat dipan bergerak-gerak, dan

kakinya menginjak-injak perut Ki Cong sehingga orang itu

mengeluarkan suara terengah-engah seperti yang didengarkan

oleh Cai Sun tadi. Kini Cui Hong juga memborgol kedua

tangan Ki Cong, dan menyeret tubuhnya dengan cara

menjambak dan menarik rambutnya. Ki Cong hanya terbelalak

ketakutan dan kedua matanya mengeluarkan air mata, bahkan

kini celananya menjadi basah saking takutnya.

Cai Sun juga sudah siuman dan dia teringat akan segala

yang dialaminya tadi. Mula-mula dia terheran dan merasa

seperti mimpi. Kedua tangannya diborgol, bahkan dia tidak

mampu menggerakkan kaki tangan, tidak mampu

mengeluarkan suara. Ketika pintu kamar kiri terbuka dan

muncul Ok Cin Hwa yang menyeret tubuh Pui Ki Cong, barulah

dia tahu bahwa semua itu bukanlah mimpi buruk, melainkan

kenyataan! Dan dia pun mengeluarkan keringat dingin dan

matanya terbelalak ketakutan. Akan tetapi, Cui Hong kini

 

sudah menjambak rambut kepalanya dan menyeret dua tubuh

itu menuju ke ruangan kecil di antara kedua kamar itu.

Dilepaskannya papan lantai dan ternyata di tempat itu

terdapat lubang yang bergaris tengah satu meter, la menyeret

tubuh dua orang musuhnya itu ke dalam lubang, lalu

ditutupnya kembali papan lantai itu dengan rapi dari bawah.

Ternyata lubang itu merupakan sebuah terowongan yang

menembus ke dasar jurang di belakang pondok!

Memang selama ini Cui Hong tidak tinggal diam

menganggur. Ia telah mempersiapkan segala-galanya

sehingga ketika muncul kesempatan yang amat baikitu, yaitu

ketika anak buah musuh-musuhnya mulai mencari wanita

bernama Ok Cin Hwa, semua telah dipersiapkannya, dari

tempat jebakan sampai terowongan untuk melarikan diri tanpa

diketahui oleh seratus pasukan yang mengepung pondokitu!

Tak seorang pun akan menyangka bahwa ia dapat

melarikan dua orang musuhnya itu dari dalam pondok tanpa

diketahui orang! Dan siapa pula yang menduga bahwa Ok Cin

Hwa, perempuan yang dianggapnya membantu komplotan itu

untuk menjebak Kim Cui Hong, ternyata adalah musuh itu

sendiri!

Cia Kok Han dan Su Lok Bu bersama seratus orang anak

buahnya berjaga di tempat masing-masing dengan hati diliputi

ketegangan. Mereka sudah mempersiapkan senjata untuk

menyergap, begitu ada orang masuk ke hutan mendekati

pondok. Akan tetapi, sampai lewat tengah malam, tidak

nampak ada orang datang. Juga tidak ada gerakan sesuatu di

dalam pondok.

“Hemm, sialan! Kita kedinginan dan dikeroyok nyamuk di

sini, akan tetapi mereka berdua tentu kini sedang meniduri

perempuan itu!” Su Lok Bu mengomel, karena dia mengenal

baik orang-orang macam apa adanya Pui Ki Cong dan Koo Cai

Sun. Dua orang laki-laki mata keranjang, tukang main

perempuan.

 

Kini semalam suntuk berada di sebuah pondok kosong,

bersama seorang janda muda yang manis. Mudah saja diduga

apa yang akan mereka lakukan.

“Terkutuk memang iblis betina itu. Kenapa ia tidak juga

muncul?” Cia Kok Han juga mengomel. Memang berat tugas

mereka saat itu. Malam begitu dingin dan di hutan itu terdapat

banyak nyamuk yang mengeroyok mereka. Akan tetapi

mereka tidak berani membuat api unggun dan terpaksa harus

menahan semua derita. Untuk menghampiri pondok dan

melihat ke dalam, mereka pun t idak berani. Hal itu akan

merugikan karena siapa tahu perempuan iblis itu kini sedang

mengintai dan kalau melihat bahwa pondoknya dikepung

banyak musuh, tentu perempuan itu tidak berani mendekat.

Dua orang jagoan itu bersama seratus orang anak

buahnya, melewatkan malam yang menyiksa di hutan itu.

Mereka harus tetap dalam persembunyian mereka, tidak

berani mengeluarkan suara, tidak berani keluar. Mereka sudah

menyumpah-nyumpah di dalam hati.

Baru setelah terdengar ayam berkokok dan burung-burung

pagi berkicau tanda bahwa fajar mulai menyingsing, Cia Kok

Han dan Su Lok Bu yang sudah tidak sabar lagi, meloncat ke

luar dari tempat persembunyian mereka dan menghampiri

pondok. Siasat mere ka telah gagal! Ikan yang dipancing tidak

mau menyambar umpan! Hasilnya hanya kulit muka mereka

merah-merah dan gatal-gatal, juga seluruh sendi tulang linu

dan pegal.

Keduanya mendorong pintu pondok terbuka dan mereka

melongo. Kosong pondokitu. Keduanya meloncat ke arah dua

buah kamar itu, mendorong daun pintu kamar terbuka.

Kosong pula!

“Heiii….! Ke mana mereka?” Cia Kok Han berseru heran.

“Tak mungkin mere ka bertiga menghilang begitu saja!”

kata Su Lok Bu.

 

Tentu saja dua orang jagoan itu menjadi terkejut, terheran

kemudian panik karena setelah mereka memer iksa seluruh

pondok, jelaslah bahwa Pui Ki Cong, Koo Cai Sun dan Ok Cin

Hwa memang benar telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Wajah kedua orang jagoan ini menjadi pucat sekali.

“Tak masuk akal!” kata Cia Kok Han sambil membanting

kakinya. “Bagaimana mungkin mereka lenyap dari tempat

yang terkepung ketat itu? Dan siapa pula yang dapat datang

ke pondok ini tanpa kita ketahui? Sungguh aneh sekali!”‘

Su Lok Bu yang sejak tadi termenung, kini berkata, “Datang

secara berterang rasanya tidak mungkin. Akan tetapi

bagaimana kalau datangnya itu secara rahasia?”

“Secara rahasia? Kalau begitu ada jalan rahasianya di sini.”

kata Cia Kok Han, terkejut.

“Hanya, itulah satu-satunya kemungkinan. Mari kita

mencarinya.”

Dua orang jagoan ini lalu memanggil anak buah mereka

dan pondok itu pun penuh dengan perajurit yang sibuk

mencari jalan rahasia. Tidak sukar untuk ditemukan karena

tempat itu tidak begitu luas. Tak lama kemudian mereka pun

sudah membongkar papan dan mereka menemukan

terowongan bawah tanah itu.

“Celaka! Dari sinilah mereka keluar atau…. dilarikan orangl”

teriak Cia Kok Han dan dengan hati-hati, bersama Su Lok Bu

dan dengan senjata di tangan, mereka lalu memasuki

terowongan itu, diikuti pula oleh anak buah mereka.

Akan tetapi pengejaran mereka itu sudah jauh terlambat

karena baru pada keesokan harinya mereka mendapatkan

rahasia terowongan itu, sedangkan Cui Hong telah melarikan

dua orang musuhnya pada malam tadi.

Setelah menyeret dua orang musuh besarnya melalui

terowongan, akhirnya Cui Hong membawa mereka ke luar di

 

pintu tembusan yang berada di dasar jurang, dan ia terus

menyeret mereka naik dan memasuki sebuah hutan lain yang

lebat dan gelap, la memang sudah mempersiapkan tempattempat

itu dan berhenti di sebuah lapangan rumput di tengah

hutan, la lalu membuat dua api unggun yang cukup besar

sehingga tempat itu menjadi terang, la tidak khawatir akan

dilihat orang lain karena ia sudah selidiki bahwa tempat itu,

terutama di waktu malam, sunyi bukan main dan tidak pernah

didatangi manusia. Juga ia tidak khawatir akan tersusul oleh

pasukan yang dipimpin oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu

karena sudah ia perhitungkan bahwa mereka tentu tidak akan

mendekati pondok sampai keesokan harinya. Malam ini ia

bebas dari gangguan orang luar!

Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun masih rebah terlentang tak

mampu bergerak ataupun bersuara, hanya mata mereka saja

yang terbelalak ketakutan memandang kepada wanita itu. Cui

Hong kini menghampiri Cai Sun yang menjadi ketakutan dan

sekali tepuk, Cai Sun mendapatkan kembali suaranya. Dia

tidak mengeluarkan teriakan karena maklum bahwa hal itu

akan sia-sia belaka. Teman-temannya berada di tempat yang

jauh sekali dan di tempat seperti ini mana ada orang yang

akan dapat mendengar teriakannya? Kembali wanita itu

menotoknya sehingga dia mampu bergerak, dan dia hanya

dapat bangkit duduk karena kedua tangannya masih

terbelenggu di belakang tubuhnya. Dia terbelalak menatap

wajah wanita itu yang memandang kepadanya dengan mata

mencorong dan mulut tersenyum mengejek.

“Kenapa…. kenapa kau melakukan ini kepadaku.?”

tanyanya, masih terlalu ngeri membayangkan apa yang

ditakutinya ketika semacam dugaan menyelinap di dalam

benaknya. “Ok Cin Hwa, siapakah sebenarnya engkau?”

Cui Hong tidak menjawab, melainkan tersenyum dan kini ia

mematahkan belenggu yang mengikat kedua tangan Cai Sun.

Laki-laki itu bebas dan ketika ia meraba senjatanya, yaitu

 

sepasang tombak pendek, ternyata sepasang senjata itu masih

terselip dengan aman di punggungnya. Hatinya terasa agak

aman, setidaknya dia dapat membela diri, pikirnya. Dia

bangkit berdiri, membiarkan darahnya yang tadi berhenti

mengalir itu kini menjadi normal kembali. Dia masih belum

mengerti. Memang ada dugaan menyelinap di dalam benaknya

bahwa Ok Cin Hwa ini mungkin penyamaran Kim Cui Hong.

Akan tetapi tidak mungkin, bantahnya. Musuhnya itu

mempunyai tahi lalat di dagunya, dan selama ini sikap Ok Cin

Hwa amat baik. Akan tetapi yang jelas, Ok Cin Hwa ini pun

mempunyai ilmu kepandaian t inggi sehingga dapat menyeret

dia dan Ki Cong keluar dari pondok setelah merobohkan dia

dengan tamparan pada tengkuknya. Dan lebih jelas lagi, Ok

Cin Hwa ini tidak mempunyai maksud baik terhadap dia dan Ki

Cong.

Cui Hong meraba dagunya, menghapus bedak tebal yang

menyembunyikan tahi lalat di dagunya, kemudian melangkah

maju, membiarkan sinar api menerangi wajahnya, mulutnya

tersenyum mengejek, “Koo Cai Sun, jahanam besar. Buka

matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik, siapakah aku?”

Cai Sun terbelalak, mukanya menjadi semakin pucat dan

napasnya terengah-engah. Dia menderita pukulan batin yang

amat menggetarkan jantungnya. Dengan tangan gemetar dia

menuding ke arah muka Cui Hong. “Kau…. kau….?” Akan

tetapi dia tidak mampu melanjutkan karena rasa takut dan

ngeri sudah mencekik lehernya.

“Ya, akulah Kim Cui Hong. Lupakah engkau kepada gadis

puteri Kim-kauwsu yang telah kauhina dan perkosa, kemudian

kau buang seperti seekor binatang yang sudah hampir

menjadi bangkai?”

Saking takutnya, Cai Sun lalu membalikkan tubuhnya dan

meloncat untuk melarikan diri.

 

“Brukkkk!!” Tubuhnya terjengkang karena tahu-tahu gadis

itu telah berada di depannya, mendahuluinya dan

menghadangnya, lalu menendang perutnya yang gendut.

“Ah, tidak…. aku…. aku hanya ikut-ikutan…. yang bersalah

adalah dia….!” Cai Sun dengan tubuh menggigil dan telunjuk

tangan gemetaran menuding ke arah tubuh Ki Cong yang

masih menggeletak tak jauh dari situ dan yang sedang

memandang dengan mata melotot ketakutan.

“Dia? Dia akan mendapatkan gilirannya. Sekarang aku akan

membalas dendamku kepadamu, Koo Cai Sun!”

“Tidak…. tidak!” Dan t iba-tiba Cai Sun menjatuhkan diri

berlutut di depan Cui Hong. “Nona… Lihiap…. ampunkan

saya…. ampunkan saya….” ratapnya.

Ratap tangis ini terdengar merdu bagaikan nyanyian bagi

Cui Hong. la mendengarkan sambil tersenyum senang dan

setelah Cai Sun berhenti memohon, menangis sambil berlutut,

baru ia berkata dengan suara yang halus namun tajam

menusuk.

“Jahanam busuk, keparat hina Koo Cai Sun, lupakah

engkau betapa gadis Kim Ciu Hong itu pun meratap dan

menangis, memohon ampun kepadamu dan tiga orang

kawanmu yang memperkosa-nya? Akan tetapi kalian tertawatawa

senang mendengar ia meratap, merintih dan menangis,

melihat ia menggeliat-geliat kesakitan, terhina lahir batin,

lupakah kamu?”

“Ampun….. Lihiap, ampunkan saya. Saya merasa menyesal

sekali, saya bertobat, ah, ampunkan saya, kasihanilah

keluarga saya, anak isteri saya….” Kini Cai Sun tanpa malumalu

lagi menangis! Lenyaplah semua kegarangan dan dia

merasa menyesal sekali. Mengapa dia begitu bodoh, tidak

mengenal Ok Cin Hwa sebagai musuh besarnya? Kini setelah

tahi lalat itu terhapus, dia mengenal wajah itu, wajah yang

tujuh tahun yang lalu pernah dikenalnya baik-baik sebagai

 

wajah seorang gadis berusia Lima belas tahun, yang

dipermainkannya sepuas hatinya, bersama Louw Ti, Gan Tek

Un, dan didahului oleh Pui Ki Cong!

Akan tetapi, ratapan ini bahkan menambah rasa sakit di

hati Cui Hong, menambah kemarahannya seperti minyak

bakar disiramkan pada api yang sudah menyala.

“Bangsat rendah! Lupakah kalian yang telah membunuh

ayahku dan suhengku? Dan sekarang engkau minta aku

mengasihani anak isterimu? bangkitlah dan lawanlah aku

seperti seorang laki-laki. Engkau pengecut hina, bukan saja

berwatak kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut tak tahu

malu. Bangkitlah dan lawan aku, atau…. aku akan

menyiksamu sekarang juga!”

Cai Sun adalah seorang yang amat licik dan cerdik. Dia pun

maklum bahwa tidak ada gunanya segala macam ratap tangis

itu, dan dia tadi melakukannya hanya terdorong oleh rasa

takutnya, juga merupakan semacam siasat karena harus

mencari jalan untuk dapat menyelamatkan dirinya. Ketika Cui

Hong bicara, diam-diam tangannya merayap ke arah gagang

sepasang senjatanya dan begitu Cui Hong habis bicara, tibatiba

saja, dari keadaan berlutut, dia sudah meloncat dan

menerjang dari bawah, sepasang siang-kek (tombak pendek)

bercabang itu sudah menyambar dengan kecepatan kilat, yang

kiri menyerang ke arah kaki, yang kanan ke arah pusar lawan!

“Mampuslah.!” Dia membentak nyaring untuk mengejutkan

lawan.

“heiiiittt….!” Dengan gerakan amat ringan, tubuh Cui Hong

melayang ke atas belakang, lalu berjungkir balik sampai tiga

kali baru turun ke atas tanah. Akan tetapi ternyata serangan

Cai Sun yang hebat tadi hanya untuk mencari kesempatan

saja, karena begitu lawan meloncat untuk mengelak, dia

sudah membalikkan tubuhnya dan melarikan diri! Sesosok

bayangan berkelebat melewatinya dan tahu-tahu Cui Hong

telah menghadang di depannya sambil bertolak pinggang.

 

“Koo Cai Sun, engkau bukan saja seorang jahanam yang

kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut dan curang!”

Di tangan Cui Hong tergenggam sebatang kayu ranting

pohon dan melihat Ini, Cai Sun menjadi nekat. Dia tidak

mempunyai jalan keluar lagi. Bagaimanapun juga, sepasang

senjatanya masih berada di tangannya, sedangkan lawan

hanya memegang sebatang kayu ranting. Mustahil kalau dia

sampai kalah, pikirnya, maka tanpa banyak cakap lagi dia pun

lalu menerjang maju sambil menggerakkan kedua tombak

pendeknya yang mengeluarkan suara berdengung dibarengi

angin pukulan yang keras dan sepasang tombak pendekitu

pun lenyap berubah menjadi dua gulungan sinar. Koo Cai Sun

bukan seorang lemah. Ilmu silatnya tinggi dan dia pun sudah

memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran. Akan tetapi

bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Cui Hong kini sudah

berada di atasnya. Ilmu silat yang dimiliki Cui Hong adalah

ilmu-ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu silat Cai Sun. Selain

itu, kalau Cui Hong tekun berlatih dan memiliki tenaga dan

ketahanan yang kuat, sebaliknya Cai Sun yang setiap hari

hanya suka mengejar perempuan dan bermain cinta saja

menurutkan nafsu berahinya, menjadi semakin lemah tanpa

disadarinya. Tenaganya banyak berkurang, napasnya pendek

dan sebentar saja bersilat, dia telah menjadi lelah.

Akan tetapi, karena sekali ini dia harus melindungi

nyawanya, dan dia maklum bahwa musuhnya takkan mau

mengampuninya, dia menjadi nekat dan melawan matimatian.

Segala macam ilmu yang ada padanya

dikeluarkannya, dan dia pun mengerahkan seluruh tenaga

yang ada.

Tiba-tiba dia mengeluarkan gerengan keras dan dari tangan

kakinya menyambar benda hitam ke arah perut dan dada

lawan. Melihat senjata rahasia yang dilepas dari jarak dekat

dan amat berbahaya ini, Cui Hong memutar rantingnya dan

belasan batang paku hitam runtuh ke atas tanah. Melihat

 

senjata rahasianya gagal, Cai Sun menekan gagang tombak

pendeknya yang kanan dan dari gagang senjata ini pun

meluncur sebatang anak panah kecil yang cepat sekali ke arah

leher lawan! Cui Hong terkejut, tidak keburu menangkis maka

ia mengelak dengan tubuh dimiringkan sambil mengerahkan

sinkang melindungi tubuh atas.

“Takkk!” Anak panah yang dielakkan itu luput dari leher

akan tetapi mengenai pundak gadis itu dan meleset karena

pundakitu telah dilindungi sinkang. Anak panah itu tidak

melukai kulit, meleset dan hanya merobek baju di pundak

saja.

Cui Hong tertawa mengejek, “Keluarkan semua

kepandaianmu, Koo Cai Sun, karena saat ini merupakan saat

terakhir bagimu untuk dapat memamerkan kepandaianmu!”

Gulungan sinar yang dibentuk dari gerakan ranting itu semakin

ketat mengepung Cai Sun, membuat dia menjadi semakin

repot. Bukan hanya repot menghadapi ancaman ranting yang

meno-tok-notok ke arah jalah darah di tubuhnya, akan tetapi

juga repot mengatur pernapasannya yang hampir putus dan

mempertahankan tubuhnya yang sudah hampir kehabisan

napas.

“Pertahankan dirimu baik-baik, karena sebentar lagi aku

akan membuat engkau kehilangan semua kepandaianmu,

kehilangan semua tenaga dan daya tarikmu, dan kemudian

sekali aku akan menyiksa dan membunuh anak-anak dan

isterimu setelah aku membakar habis tokomu kemarin dulu.

Puaslah hatiku sekarang, hik-hik!” Cui Hong sengaja

mengeluarkan kata-kata ini untuk menyiksa hati lawan.

Dan memang kata-kata itu mendatangkan rasa takut yang

lebih berat bagi Cai Sun. Dia tahu bahwa wanita ini tidak

hanya menggertak saja. Buktinya, tokonya sudah habis

menjadi abu dan kini dia semakin terdesak dan dia tahu pula

bahwa dia takkan dapat bertahan terlalu lama. Napas dan

tenaganya semakin berkurang sedangkan wanita itu kelihatan

 

semakin kuat dan semakin cepat saja. Dan siapa yang akan

melindungi isterinya dan anak-anaknya kalau wanita ini mengganggu

mereka? Dia menjadi semakin nekat dan tanpa

memperdulikan keselamatan diri sendiri dia menubruk maju

untuk mengadu nyawa. Sepasang siang-kek di tangannya

menyambar dari kanan kiri, atas bawah. Namun, dengan

mudah Cui Hong mengelak dengan loncatan ke belakang dan

begitu kedua senjata itu menyambar, ranting di tangannya

menusuk dua kali dengan kecepatan kilat. Cai Sun

mengeluarkan teriakan kaget karena kedua pergelangan

tangannya seperti disengat, seketika lumpuh dan kedua

senjatanya telah terlepas dari pegangan kedua tangannya.

Sambil terkekeh Cui Hong menendang dua senjata itu sampai

terlempar hilang ditelan kegelapan malam.

Ternyata kelumpuhan tangan akibat totokan itu hanya

sebentar saja dan Cai Sun sudah memperoleh tenaganya

kembali. Kini dia menubruk dengan dua tangan kosong yang

dibuka seperti cakar harimau, menubruk dan menerkam untuk

mengadu nyawa.

“Dukkk….!” Sebuah tendangan menghantam perutnya yang

gendut dan dia pun terpelanting roboh, terbanting keras. Cai

Sun meringis karena perutnya terasa mendadak mulas, nyeri

sekali. Mungkin usus buntunya yang tercium ujung sepatu Cui

Hong tadi.

“Bangunlah, anjing hina! Bangunlah!” Cui Hong menantang,

ingin menikmati perkelahian itu sepuasnya, la menendangnendang

perlahan untuk membangunkan Cai Sun.

Cai Sun mengerang sambil mendekam, akan tetapi ini pun

hanya siasatnya, karena tiba-tiba ia menubruk dan

menangkap kaki kiri Cui Hong! Sekali tertangkap, dia

menggunakan kedua lengannya untuk merangkul kaki itu dan

menggunakan seluruh tenaganya untuk menyeret gadis itu.

Hal ini sama sekali tidak pernah di sangka oleh Cui Hong

sehingga ketika kakinya tertangkap, sejenak ia terkejut dan

 

tidak mampu berbuat sesuatu dan ia pun ikut roboh ketika

lawan menggunakan tenaga terakhir untuk membetotnya ke

bawah.

Cai Sun mengeluarkan suara ketawa aneh dan kedua

tangannya lalu menerkam, maksudnya hendak mencekik leher

wanita itu yang kini sudah digumulinya. Akan tetapi, Cui Hong

sudah dapat memulihkan lagi ketenangannya dan secepat

kilat, jari tangan kanannya yang terbuka menusuk ke depan.

“Hekkk….!” Seketika Cai Sun kehilangan tenaganya dan

saat itu dipergunakan oleh Cui Hong untuk meloncat bangun.

Ia merasa gemas sekali. Hampir saja ia celaka oleh

kecurangan Cai Sun. Kini ia harus berhati-hati.

“Bangunlah, anjing busuk, bangun dan berkelahilah!”

bentaknya.

Hanya sebentar saja tusukan jari ke arah ulu hatinya tadi

membuat Cai Sun kehilangan tenaganya. Dia maklum bahwa

dia harus berkelahi sampai napas terakhir, maka dia pun

meloncat bangun dan kembali menyerang. ilmu silat tangan

kosong Thian-te Sin-kun yang menjadi andalannya, dia

mainkan dengan pengerahan tenaga terakhir.

Cui Hong menyelipkan ranting tadi di ikat pinggangnya dan

ia pun menyambut serangan lawan itu dengan tangan kosong

saja. Akan tetapi, kini tenaga Cai Sun sudah hampir habis, dan

bukan saja tenaganya habis, juga napasnya terengah-engah,

membuat gerakannya lambat dan tak bertenaga. Tentu saja

dia merupakan lawan yang terlalu lemah kini bagi Cui Hong,

menghilangkan kegembiraan Cui Hong untuk berkelahi terus.

Maka gadis itu kini mencabut rantingnya.

“Anjing keparat Koo Cai Sun, sekarang rasakanlah

pembalasanku!” bentaknya dan ranting di tangannya

berkelebat ke depan dengan cepat dan amat kuatnya. Dua kali

ranting itu menyambar ke arah kedua daun telinga Cai Sun.

Bagaikan sebatang pedang saja, ranting itu membabat dan

 

dua kali Cai Sun berteriak ketika sepasang daun telinganya

terbabat buntung dan darah pun muncrat keluar dari luka di

telinganya. Dapat dibayangkan betapa nyerinya ketika Cai Sun

meraba telinga dengan kedua tangan dan melihat daun

telinganya sudah lenyap dan telapak tangannya penuh darah.

Dia meraung seperti seekor binatang buas, dengan nekat

menubruk ke depan, akan tetapi dengan gerak langkah yang

aneh, dengan mudah saja Cui Hong mengelak dan kembali

ranting di tangannya menyambar.

“Crottt….!” Cai Sun terpelanting dan meraung kesakitan,

mukanya penuh berlepotan darah karena bukit hidungnya

remuk dan rata dengan pipi, juga kedua bibirnya hancur dan

lenyap terbabat sehingga nampak giginya yang besar-besar!

Dia bangkit dan mengeluarkan suara tidak karuan karena

setelah bibirnya hilang, sukar baginya untuk bicara, apalagi

hidungnya juga buntung, yang keluar hanya suara “ngakngeng-

ngang-ngeng” tidak karuan. Dia menerkam lagi akan

tetapi Cui Hong menendang ke arah pergelangan tangan

kanannva.

“Krekkk!” Tulang pergelangan tangan kanan itu remuk dan

tangan itu pun menjadi lumpuh. Cui Hong melanjutkan

dengan sabetan ranting ke arah pundak kiri. Kembali

terdengar tulang remuk ketika ranting itu menghancurkan

tulang pundaknya. Tulang itu sama sekali hancur sehingga

tidak mungkin tersambung lagi, membuat lengan kirinya

bengkok dan miring. Cai Sun kembali meraung-raung, akan

tetapi suara raungannya menjadi semakin lemah, juga

tubuhnya yang ber-kelojotan menjadi melemah dan akhirnya

dia tidak bergerak lagi karena sudah jatuh pingsan! Dia tidak

tahu betapa Cui Hong menaburkan obat pada luka di telinga,

hidung dan mulutnya. Ia tidak ingin membunuh musuhnya,

dan kalau darah dibiarkan terlalu banyak keluar, mungkin saja

Cai Sun tewas karena kehabisan darah. Obat bubukitu

seketika mengeringkan luka, membuat bekas luka menghitam

dan seperti terbakar, akan tetapi darah tidak keluar lagi.

 

Sejak tadi, Pui Ki Cong menyaksikan semua itu dan melihat

betapa Cai Sun disiksa, beberapa kali dia memejamkan mata

dan hampir jatuh pingsan saking ngerinya. Dia mulai merasa

menyesal bukan main. Terbayanglah di pelupuk matanya

ketika dia mengeram Cui Hong selama tiga malam di

kamarnya, mempermainkan gadis itu, memperkosanya sampai

sepuas hatinya, sampai dia menjadi bosan! Teringat akan itu,

dan melihat betapa gadis itu kini menyiksa Cai Sun, teringat

pula akan keadaan Louw Ti, Ki Cong menjadi ketakutan

setengah mati dan tanpa disadarinya, dia telah terkencingkencing

dan terberak-berak di dalam celananya!

Tidak lama Cai Sun pingsan. Dia siuman akan tetapi begitu

sadar, dia menjerit-jerit dan meraung-raung kembali. Mungkin

rasa nyeri yang luar biasa itulah yang membuat dia siuman.

Ketika dia memandang dengan matanya yang sudah nanar

karena kemasukan darahnya sendiri, dia melihat betapa kedua

ujung kakinya terbakar! Kiranya, Cui Hong telah menyiram

kedua ujung kaki itu dengan minyak dan membakarnya! Siasia

saja Cai Sun menendang-nendangkan kedua kakinya untuk

memadamkan api dan akhirnya, dengan teriakan yang

menyayat perasaan dia jatuh pingsan lagi!

Api baru padam setelah minyak pada kakinya habis

terbakar, membuat ujung kedua kaki itu melepuh, jari-jari

kakinya hangus terbakar. Kini Cui Hong merasa puas dan

menghampiri Ki Cong, membebaskan totokannya dan

melepaskan borgol kedua tangannya. Begitu bebas, Pui Ki

Cong lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.

“Nona, ampunkan saya…. ah, kau ambillah seluruh harta

kekayaan saya…. akan tetapi ampunkan saya, Nona” ratapnya

sambil menangis sesenggukan.

“Bangsat Pui Ki Cong yang biadab! Coba ingat kembali

betapa engkau menyuruh bunuh Ayah dan Suhengku, dan

lupakah engkau akan apa yang kaulakukan terhadap tubuhku

ini selama tiga hari t iga malam?”

 

“Ampun…. saya mengaku salah, ampun….” Ki Cong

meratap. Dia takut sekali, dan tidak seperti Cai Sun tadi, dia

sama sekali tidak mempunyai niat untuk melawan, karena

apakah yang akan dapat dia lakukan terhadap wanita yang

amat lihai ini? Cai Sun saja tidak mampu berbuat banyak,

apalagi dia yang hampir tak pandai ilmu silat sama sekali!

“Engkau masih dapat minta ampun kepadaku? Hemm, Pui

Ki Cong, selama bertahun-tahun aku mendendam dan aku

bersumpah bahwa aku akan membalas dendam semua

perbuatanmu kepadaku tujuh tahun yang lalu! Seluruh sisa

hidupku kutujukan untuk pembalasan dendam ini dan engkau

minta ampun? Jangan harap!” Kini Cui Hong mencabut ranting

dari ikat pinggangnya. “Aku akan menyiksamu sampai engkau

menjadi manusia bukan setan pun bukan, aku akan

menghabiskan seluruh hartamu dan membunuh seluruh

keluargamu!” Tentu saja ini hanya merupakan ancamanancaman

untuk menyiksa batin Ki Cong.

“Lakukanlah semua itu, akan tetapi ampunkan saya, Nona.”

“Apa? Engkau membiarkan aku menghabiskan hartamu dan

membunuh seluruh keluargamu asal engkau diampuni?”

“Benar, Nona. Lakukanlah segalanya, akan tetapi

ampunkan aku….”

“Jahanam! Benar-benar seorang pengecut dan iblis berhati

kejam!” bentak Cui Hong yang tadinya merasa heran

mendengar ada orang mau mengorbankan anakisteri dan

hartanya asal dirinya se lamat! Dari sikap ini saja dapat dilihat

betapa rendahnya martabat manusia bernama Pui Ki Cong ini.

“Sikapmu ini mendorongku untuk segera turun tangan karena

manusia macammu ini pantas sekali dihajar!” ranting di

tangannya menyambar-nyambar, terdengar bunyi ranting itu

bercuitan dan meledak-ledak di atas tubuh Ki Cong yang

meraung-raung kesakitan.

 

Cui Hong menyalurkan seluruh dendamnya melalui

cambukan-cambukan itu, akan tetapi ia masih ingat untuk

menyimpan tenaganya agar tidak memukul terlalu keras dan

membunuh orang itu. Ia terus mencambuki seluruh tubuh Ki

Cong sampai pakaiannya hancur semua, sampai kulit

tubuhnya pecah-pecah dan penuh darah, la memukul terus

sedangkan tubuh Ki Cong berkelojotan di atas tanah, dan

ketika memukul kedua lengan dan kaki, Cui Hong menambah

tenaganya sehingga tulang-tulang dari siku ke bawah dan dari

lutut ke bawah remuk-remuk semua! Ki Cong tidak mampu

meraung lagi, hanya mer intih dan menggeliat, hampir tak

mampu bergerak lagi. Ketika ranting itu menghujani mukanya,

muka itu menjadi hancur kulitnya, kedua biji matanya keluar,

hidung dan bibirnya hancur, juga kedua daun telinganya

putus. Keadaannya lebih mengerikan daripada keadaan Cai

Sun karena dia kehilangan kedua matanya!

Menjelang pagi, Cui Hong menyeret dua tubuh yang

empas-empis itu, yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi

karena dibubuhi obat bubuk, dua tubuh yang pingsan, menuju

ke kota raja. Dengan kepandaiannya, ia dapat membawa

mereka melompati pagar tembok dan menggantung kedua

tubuh itu dengan kepala di bawah kaki di atas, tepat di depan

pintu gerbang keluarga Pui!

Pagi hari itu, gegerlah kota raja. Semakin banyak saja

orang berlarian mendatangi rumah gedung keluarga Pui dan

mereka berkumpul di depan pintu gerbang yang menjadi

ramai seperti pasar. Pemandangan di situ sungguh

mengerikan semua orang. Dua tubuh itu digantung terbalik,

dalam keadaan pingsan dan kalau siuman hanya dapat

mer intih lirih lalu pingsan lagi. Karena tadinya orang sukar

mengenali dua tubuh itu, maka para penjaga dan pelayan di

gedung itu merasa ragu-ragu untuk menurunkan mereka.

Yang membuat orang merasa ngeri adalah melihat wajah dua

orang itu. Sudah hancur penuh darah dan sukar dikenali lagi.

Hidung, telinga dan bibir mereka hilang, nampak lubang

 

hidung dan gigi mereka, apalagi yang seorang memiliki

sepasang kaki yang hangus dan melepuh bekas terbakar.

Yang seorang lagi, tidak ada bagian tubuhnya yang tidak

berdarah, seolah-olah dia telah dikuliti. Kulit tubuhnya masih

ada, akan tetapi sudah hancur dan penuh darah!

Baru setelah Cia Kok Han dan Su Lok Bu datang ber larian,

semua orang tahu bahwa dua tubuh itu adalah tubuh Pui Ki

Cong dan Koo Cai Sun! Tentu saja dua tubuh itu segera

diturunkan dan dirawat. Memang nyawa mereka tertolong,

akan tetapi tubuh mereka tidak mungkin tertolong lagi. Tubuh

itu telah menjadi penuh cacat, menjadi tubuh yang

menakutkan. Tanpa hidung tanpa bibir tanpa daun telinga,

dengan kaki dan tangan lumpuh bengkok-bengkok, bahkan

Pui Ki Cong kini menjadi buta! Sungguh, hukuman yang

dijatuhkan Cui Hong kepada musuh-musuhnya terlalu kejam

dan sadis, membuat mereka nampak seperti bukan manusia

lagi, seperti gambaran iblis-iblis yang amat menakutkan dan

menyeramkan,

Yang menggegerkan mereka yang menonton, kecuali

keadaan dua orang yang amat mengerikan itu, juga sehelai

kain putih yang ditulis dengan huruf-huruf besar, tintanya

merah karena yang dipergunakan adalah darah korban-korban

itu MEWAKILI PARA WANITA YANG MEREKA PERKOSA DAN

ORANG-ORANG TAK BERDOSA YANG MEREKA BUNUH.

Gegerlah penduduk kota raja, akan tetapi banyak di antara

mereka yang ikut merasa puas karena Pui Ki Cong dan Koo Cai

Sun sudah terkenal sebagai pengganggu para wanita cantik,

baik wanita itu isteri orang lain, atau janda, ataukah masih

perawan. Dan banyak pula orang yang tewas di tangan

mereka tanpa berani menuntut balas. Akan tetapi banyak pula

yang merasa penasaran karena kedua orang itu pandai

menutupi kejahatan mereka dengan sikap dermawan,

menggunakan uang mereka yang kelebihan. Mereka yang

pernah ditolong tentu saja merasa penasaran dan menyesal

 

melihat betapa dermawan penolong mereka mengalami nasib

yang demikian mengerikan.

Ketika banyak orang berkerumun dan tubuh manusia

setengah mati yang tergantung terbalik itu, terdapat pula

seorang tosu yang menonton sambil menangis! Dia hendak

menyembunyikan dan menahan tangisnya, tidak

mengeluarkan bunyi, akan tetapi kedua matanya bercucuran

air mata.

Ketika dua tubuh itu diturunkan oleh Cia Kok Han dan Su

Lok Bu, ditangisi oleh keluarga Ki Cong dan Cai Sun, dibantu

oleh anak buah pasukan pengawal tosu iu menyelinap pergi di

antara para penonton yang berjubel di tempat itu. Dia seorang

tosu yang usianya belum begitu tua, di bawah lima puluh

tahun akan tetapi wajahnya yang penuh kerut merut tanda

penderitaan batin itu membuat wajahnya nampak lebih tua.

Pakaiannya sederhana sekali, berwarna kuning yang agak

luntur dan kumal. Tosu ini bermata tajam, akan tetapi

matanya membayangkan kedukaan besar, apalagi setelah tadi

dia melihat dua orang yang keadaannya amat mengerikan itu.

“Siancai….! Kekuasaan alam tak mungkin diingkari

manusia. Tangan kanan menanam tangan kiri menuai, itu

sudah adil namanya. Semoga aku t idak akan menyeleweng

daripada Jalan Kebenaran, siancai, siancai!” Berkali-kali tosu

itu bicara kepada diri sendiri, menarik napas panjang dan

berkali-kali menggeleng kepala seperti hendak mengusir

penglihatan yang tidak menyedapkan hatinya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak di tempat

keramaian tadi, ada seorang laki-laki muda yang

memperhatikannya, bahkan ketika dia meninggalkan depan

gedung keluarga Pui, laki-laki muda itu membayanginya dari

jauh. Tosu itu berjalan terus, seperti orang kehilangan

semangatnya, seperti orang melamun, keluar dari pintu

gerbang kota sebelah barat, dan terus berjalan dengan wajah

penuh duka. Laki-laki muda itu tetap membayanginya dari

 

jauh. Setelah meninggalkan kota sejauh kurang lebih lima

belas Li, barulah tosu itu berhenti dan masuk ke dalam sebuah

kuil yang tua dan sunyi menyendiri, di tepi jalan simpangan

yang kecil, di luar sebuah dusun kecil tempat tinggal para

petani.

Dan begitu dia memasuki kuil itu, sampai di ruangan dalam,

tosu itu pun menjatuhkan diri berlutut dan menangis dengan

suara terisak-isak seperti anak kecil! Kemudian terdengar dia

mengeluh dengan suara yang cukup keras, karena dia yakin

bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali dia sendiri,

“Nah, menangislah, Gan Tek Un! Sesalilah semua

perbuatanmu yang terkutuk dan bertaubatlah, camkanlah

bahwa semua perbuatan jahat akhirnya akan mendatangkan

malapetaka yang lebih hebat, yang akan menimpa diri sendiri.

Buah dari pohon yang kautanam akan kaumakan sendiri…!”

Dan dia pun menangis sambil menutupi muka dengan kedua

tangan, teisak-isak dan kedua pundaknya terguncang.

Tiba-tiba dia menghentikan tangisnya. Ada suara kaki

orang tertangkap oleh pendengarannya yang tajam. Dia

bangkit berdiri dan membalikkan tubuh setelah cepat-cepat

menghapus air matanya dan dia berhadapan dengan seorang

laki-laki muda yang tidak dikenalnya. Tosu itu mengerutkan

alisnya dan memandang penuh selidik. Kemunculan laki-laki ini

yang secara tiba-tiba mendatangkan kecurigaan. Seorang lakilaki

berusia t iga puluh tahun, pakaiannya seperti seorang

petani, dari kain kuning yang kasar, rambutnya digelung ke

atas dengan pita biru, tubuhnya sedang dengan dada yang

bidang. Dia tidak mengenal pemuda ini dan jelas dia bukan

seorang pemuda dusun dekat kuil itu. Akan tetapi, sudah

menjadi kebiasaan tosu itu untuk menyambut siapa pun

dengan ramah dan sopan, walaupun kedatangan pemuda ini

kurang sopan, tahu-tahu langsung saja masuk ke ruangan

dalam.

 

Tosu itu menjura dengan sikap hormat. “Selamat datang di

kuil pinto yang sederhana inij orang muda. Tidak tahu apakah

yang dapat pinto lakukan untukmu? Mari, silakan duduk di

ruangan depan, di mana ada bangku dan kita boleh bercakapcakap

dengan enak. Apakah ada yang sakit dan membutuhkan

obat? Atau engkau datang untuk bersembahyang?”

Akan tetapi orang muda itu membalas penghormatan tosu

itu, kemudian memandang tajam penuh selidik dan akhirnya

dia berkata, “Paman Gan Tek Un, apakah Paman tidak ingat

lagi kepada saya?”

Tosu itu nampak kaget sekali mendengar ada orang

memanggil namanya, nama yang selama beberapa tahun ini

tidak pernah dipergunakannya. Kini dia lebih dikenal dengan

sebutan Gan Tosu. Dia memandang dengan alis berkerut dan

penuh perhatian, mengingat-ingat siapa gerangan orang muda

ini, akan tetapi tetap saja dia tidak mampu mengenalnya.

“Orang muda, pinto adalah Gan Tosu, dan pinto merasa

tidak pernah bertemu atau berkenalan denganmu. Siapakah

engkau, datang dari mana dan ada keperluan apakah?”

Akhirnya dia berkata dengan heran.

Pemuda itu tersenyum. “Paman Gan Tek Un, saya adalah

Tan Siong, keponakan Paman sendiri.”

Tosu itu terbelalak, pandang matanya menatap wajah Tan

Siong penuh selidik dan akhirnya dia teringat. Kurang lebih

dua puluh tahun, seorang anak laki-laki yang bernama Tan

Siong, keponakannya, putera encinya yang pada waktu itu

baru berusia sepuluh tahun, telah pergi dibawa oleh seorang

tosu! Dan teringatlah dia akan semua perbuatannya.

“Siancai…. siancai. siancai….!” Dia menengadah dan

mengangkat kedua tangan ke atas. “Betapa cepatnya dan

tidak terduganya datangnya hukuman bagi seseorang!” Lalu

dia memandang kepada Tan Siong. “Tan Siong, sekarang

pinto teringat, engkau memang keponakanku, putera dari

 

mendiang Enciku. Ahh, engkau baru datang, Tan Siong? Nah,

inilah pinto, orang yang penuh dosa. Kalau engkau datang

untuk menghukumku, lakukanlah, pinto siap untuk menebus

dosa-dosa pinto terhadap orang tuamu, Tan Siong!” Dan tosu

itu lalu menjatuhkan diri berlutut, kedua lengan bersilang di

depan dada, kepalanya menunduk dengan sikap pasrah!

Sejak tadi Tan Siong sudah membayangi tosu ini. Dia tadi

ikut pula tertarik oleh keributan orang-orang yang

mengabarkan bahwa di depan pintu gerbang keluarga Pui

terdapat dua orang yang digantung dalam keadaan luka-luka

parah. Ketika dia berdesakan dengan banyak orang untuk

menonton, dia segera mengenal Cai Sun, dan orang ke dua

yang digantung itu walaupun tidak dikenalnya, akan tetapi di

antara orang banyak ada yang mengatakan bahwa dia adalah

Pui Ki Cong, majikan gedung besar itu. Dan melihat tulisan di

atas kain putih, tulisan dengan darah itu, jantung Tan Siong

berdebar penuh ketegangan. Kim Cui Hong! Siapa lagi kalau

bukan Kim Cui Hong yang dapat melakukan hal itu? Ah, kini

baru dia sadar. Kiranya Cai Sun merupakan seorang di antara

empat orang musuh besar Cui Hong, empat orang yang

pernah merusak kehidupan Cui Hong dengan perbuatan

mereka yang keji, yaitu memperkosa dan menghinanya.

Tahulah dia kini mengapa Cui Hong berada di kota raja dan

menyamar sebagai Ok Cin Hwa. Kiranya sedang melakukan

penyelidikan dan. sedang berusaha membalas dendam dan

kini, melihat cara wanita itu membalas dendam, dia bergidik.

Keterlaluan! Wanita itu harus dicegah melanjutkan usahanya

yang kejam. Tidak, dia tidak akan membiarkan wanita yang

sampai kini masih dicintanya itu menjadi tersesat seperti itu.

Dalam dendamnya berubah menjadi iblis yang luar biasa

kejamnya. Bergidik dia melihat keadaan dua orang itu. Dia

tahu bahwa biarpun mereka berdua itu dapat tertolong

nyawanya karena tidak menderita luka yang parah, hanya

luka-luka di kulit saja, namun mereka akan menjadi seorang

penderita cacat yang mengerikan keadaannya. Dengan muka

 

yang rusak dan menjadi buruk dan menakutkan sekali, tanpa

telinga, tanpa hidung dan bibir, dan dengan kaki tangan tidak

normal. Betapa mengerikan!

O000-d-w-000O

Jilid 10

DAN pada saat itu Tan Siong melihat sesuatu yang amat

menarik hatinya. Seorang tosu yang mengis melihat keadaan

dua orang itu, walaupun tangisnya itu ditahan dan hendak

disembunyikan. Dan selain keadaan yang aneh ini, juga dia

tertarik kepada tosu itu. Ada sesuatu yang menarik hatinya.

Dia seperti sudah mengenal wajah itu. Maka ketika tosu itu

pergi, dari jauh Tan Siohg membayanginya dan setelah tosu

itu keluar dari pintu gerbang kota, dia pun teringat. Wajah itu

seperti wajah ibunya! Wajah itu adalah wajah pamannya yang

sedang dicarinya selama ini!

Dan ternyata benar! Ketika dia mengintai tosu yang sedang

menangis di dalam kuil, dia mendengar keluhan tosu itu yang

menyebutkan namanya sendiri, yaitu Gan Tek Un. Maka dia

pun lalu menjumpainya dan tak disangkanya bahwa pamannya

yang kini telah menjadi tosu itu telah berubah pula. Kini bukan

seorang yang ganas, melainkan seorang tosu yang berbudi

lembut, yang siap menerima hukuman dan mengakui dosanya

terhadap ayah dan ibunya.

Akan tetapi dia tidak mendendam. Dia sudah mendengar

dan tahu semuanya. Pamannya ini sejak dahulu memang

seorang yang tergolong jahat, suka melakukan apa saja yang

kurang patut dan mengandalkan kepandaiannya untuk

melakukan kejahatan dan penindasan. Dia tahu pula bahwa

pamannya ini telah menipu kedua orang tuanya sehingga

harta kekayaan orang tuanya yang tidak seberapa, termasuk

rumahnya, terjatuh ke tangan Gan Tek Un dan setelah harta

bendanya habis, kedua orang tuanya terlunta-lunta

 

meninggalkan dusun dan kabarnya telah meninggal dunia,

entah di mana. Dia mencari pamannya bukan untuk membalas

dendam, bukan menuntut kembalinya harta kekayaan orang

tuanya, melainkan untuk bertanya di mana adanya orang

tuanya, dan kalau mereka sudah meninggal, di mana

kuburnya.

Sejenak Tan Siong menunduk, melihat kepala tosu itu yang

berlutut didepannya. Dia lalu ikut berlutut menghadapi tosu

itu. “Paman, jangan begitu. Aku datang mencari Paman, sama

sekali bukan untuk membalas dendam karena tidak ada

dendam di dalam hatiku….”

“Karena engkau belum tahu apa yang telah kulakukan

terhadap Ayah Ibumu.”

“Sudah, Paman. Aku mendengar bahwa Paman telah

menipu mereka dan menguasai harta kekayaan mereka,

membuat mereka menjadi orang miskin yang hidup terluntalunta

dan terlantar, sehingga mereka akhirnya meninggal

dunia dalam keadaan miskin.”

“Benar sekali! Akulah yang membuat mereka menjadi

miskin, menjadi sengsara sampai mereka meninggal dunia

dalam keadaan orang terlantar. Dan engkau mau bilang

bahwa engkau tidak mendendam kepada Pinto?”

“Tidak sama sekali, Paman.”

“Kalau begitu engkau tentu pengecut, penakut sekali!

Engkau mengerti bahwa pinto lihai maka engkau tidak berani

mendendam! Jangan khawatir, kau pukulilah aku, kau

bunuhlah aku, dan aku takkan melawan. Pinto siap menebus

dosa, anakku!” kata pula tosu itu dengan suara sedih.

“Paman salah sangka. Biarpun belum tentu aku dapat

mengalahkanmu, akan tetapi sedikitnya aku pernah

mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi di Kun lun-san. Paman lihat,

apakah dengan tangan sekuat ini aku harus takut menghadapi

Paman? Aku sama sekali tidak takut.” Dan Tan Siong lalu

 

menggunakan jari-jari tangannya menusuk lantai yang terbuat

dari batu. Nampak jelas bekas jar i-jari tangannya menusuk

lantai itu! Diam-diam tosu itu terkejut bukan main.

“Engkau telah menjadi seorang yang lihai! Akan tetapi

kenapa… kenapa engkau tidak mendendam walaupun sudah

tahu bahwa aku penyebab kesengsaraan, bahkan mungkin

penyebab kematian orang tuamu?”

Tan Siong memegang kedua pundak orang tua itu. “Marilah

bangun dan mari kita duduk dan bercakap-cakap dengan baik,

Paman.”

“Siancai… siancai…. siancai….! Tak pinto sangka sama

sekali bahwa sikapmu akan begini tehadap pinto. Aihhh….

keponakanku yang gagah dan bijaksana, tahukah engkau

bahwa sikapmu ini bukan main menyiksa hatiku, lebih

menyakit kan daripada kalau engkau menyerang dan

memukuhku? Ah, penyesalan dalam hatiku semakin

bertambah berat dengan sikapmu ini….” Dan tosu itu

menggunakan ujung lengan bajunya menghapus air matanya.

“Makin terasa kini oleh pinto betapa dahulu pinto menjadi

seorang yang sejahat-jahatnya…., dan hati pinto takkan

pernah tenteram sebelum datang hukuman bagi pinto.”

“Mari kita duduk, Paman,” kata Tan Siong, membimbing

tosu yang kelihatan lemas itu untuk sama-sama duduk

berhadapan di atas bangku di dalam ruangan itu.

Setelah mereka duduk berhadapan dan saling

berpandangan beberapa lamanya. tosu itu kembali bertanya

dengan suara heran dan penasaran. “Tan Siong, pinto lihat

bahwa engkau telah menjadi seorang laki-laki dewasa yang

berilmu tinggi. Melihat caramu menusuk lantai dengan jari

tangan itu, pinto dapat menduga bahwa engkau telah memiliki

sin-kang yang amat kuat dan agaknya tingkat kepandaianmu

sudah melampaui tingkat pinto. Mengapa engkau tidak turun

tangan membalas kejahatan yang telah pinto lakukan

terhadap orang tuamu?”

 

“Paman, segala peristiwa yang menimpa diri manusia,

walaupun diakibatkan oleh ulah manusia sendiri, namun

segalanya telah ditentukan oleh Thian. Kematian orang tuaku

tentu sudah menjadi kehendak Thian pula, dan perbuatan

Paman yang Paman lakukan dahulu itu hanya menjadi satu di

antara sebab saja.”

“Ya, Tuhan…. kenapa engkau yang masih begini muda

dapat memiliki kebijaksanaan yang demikian tinggi, sedangkan

pinto…. ah, pinto bergelimang dengan kejahatan.” Tosu itu

nampak sedih sekali.

“Sudahlah, Paman. Betapapun juga, melihat betapa Paman

kini telah menjadi seorang tosu yang penuh dengan

penyesalan, melihat Paman telah bertobat, maka hal itu sudah

merupakan satu kenyataan yang baik sekali. Lebih baik

menjadi seorang yang sadar dan bertobat akan kejahatannya

yang lalu, daripada seorang yang merasa dirinya paling bersih

sehingga menjadi t inggi hati dan sombong. Yang pertama itu,

bagaikan orang sakit telah sembuh dari sakitnya, sedangkan

yang ke dua adalah orang yang jumawa dan sembrono

sehingga mudah sekali dihinggapi penyakit. Aku mencari

Paman bukan untuk menuntut sesuatu, hanya ingin mohon

pertolongan Paman agar suka memberi tahu kepadaku, di

mana adanya Ayah Ibuku, atau lebih tepat, di mana kuburan

mereka karena aku ingin mengunjungi makam mere ka.”

Tosu itu bangkit dan merangkul keponakannya sambil

menangis. “Ah, agaknya bukan hanya ilmu silat tinggi yang

pernah kau pelajari di Kun-lun-san, akan tetapi para tosu yang

bijaksana dari Kun lun-pai telah mengisi batinmu dengan

kebajikan-kebajikan yang tinggi pula. Ayah Ibumu meninggal

secara wajar, yaitu karena penyakit dan karena berduka, dan

mereka dimakamkan dengan sederhana oleh para penduduk

dusun, di dusun Hek-kee-cun di sebelah selatan kota.

Namun…..”

 

Girang sekali rasa hati Tan Siong setelah dia mengetahui di

mana adanya makam orang tuanya. Dan dia pun merasa

kasihan kepada pamannya. Jelaslah bahwa pamannya ini

sekarang telah terhukum di dalam hatinya, menyesali semua

perbuatannya yang telah lalu. Tidak ada hukuman yang lebih

berat menjadi der ita batin daripada derita yang timbul karena

penyesalan yang tak kunjung padam. Dia dapat menduga

bahwa tentu banyak kejahatan dilakukan pamannya ini di

waktu muda, karena kalau hanya kejahatan menipu untuk

menguasai harta benda ayah ibunya yang tidak berapa

banyakitu saja, kiranya tidak seperti ini keadaannya. Apalagi

pamannya sampai menangis ketika melihat orang tersiksa di

pintu gerbang rumah gedung keluarga Pui. Tentu pamannya

ini dahulunya menjadi seorang penjahat besar. Akan tetapi,

dia ikut merasa lega dan girang bahwa adik kandung ibunya

ini sekarang telah sadar dan bertobat dan untuk menghibur

hati orang tua, dia tidak tergesa-gesa me-ninggalkan

pamannya dan tidak menolak ketika pamannya mengajaknya

makan siang. Bahkan pamannya minta kepadanya untuk

tinggal di kuil itu menemaninya selama beberapa hari.

“Selama ini kau mengira bahwa aku hidup seorang diri saja

tanpa sanak keluarga di dunia ini, dan tiba-tiba engkau,

keponakanku satu-satunya muncul dalam keadaan yang begini

mengagumkan. Temani lah pinto selama beberapa hari untuk

melepas kerinduanku, Tan Siong.”

“Maaf, Paman. Aku harus cepat pergi mencari makam

orang tuaku, maka sore nanti, atau paling lambat besok pagi

aku harus pergi meninggalkan Paman.”

Paman dan keponakan itu lalu bercakap-cakap dan dengan

penuh perhatian dan girang dan bangga, Gan Tosu

mendengarkan cerita keponakannya tentang masa belajarnya

di Kun-lun-san. Bahkan untuk menyenangkan hati pamannya,

ketika diminta, Tan Siong lalu mainkan beberapa jurus ilmu

silat Kun-lun-pai, baik dengan tangan kosong maupun dengan

 

pedang tipisnya. Gan Tosu menonton demonstrasi itu dengan

hati penuh kagum karena baru melihat keponakannya bersilat

saja, dia pun tahu bahwa dia tidak akan mampu menandingi

kehebatan keponakannya!

“Hebat, hebat…!” Serunya dengan girang. “Ilmu silatmu

demikian indah dan mengandung kekuatan dahsyat.”

“Ah, Paman terlalu memuji. Aku masih mengharapkan

petunjuk dari Paman.”

“Pinto tidak sekedar memuji, Tan Siong. Tingkat ilmu

silatmu sudah jauh lebih tinggi daripada tingkat pinto. Akan

tetapi, sebaiknya kalau ilmu sepasang pedang pinto, yaitu

Siang-liong-kiam (Pedang Sepasang Naga) kau pelajari dan

biarlah kuturunkan kepadamu. Nah, lihatlah pinto mainkan

ilmu itu perhatikan baik-baik.” Tosu itu kini bergembira dan

agaknya sudah mulai melupakan kesedihannya karena

penyesalan itu. Dia mengeluarkan sepasang pedang hitam

putih dan bersilat pedang. Memang inilah ilmu silat

andalannya dan sepasang pedang itu membentuk dua

gulungan sinar hitam putih yang saling bantu dan saling

melindungi, merupakan ilmu pedang pasangan yang tangguh.

Girang sekali rasa hati Tan Siong dan setelah pamannya

berhenti bersilat, pamannya lalu menyerahkan sebuah kitab.

“Ilmu pedang Siang-liong-kiam itu sudah pinto catat dalam

kitab ini. Pelajarilah dan kau terimalah sepasang pedang ini,

Tan Siong.”

“Akan tetapi, Paman. Sepasang pedang ini adalah pedang

pusaka milik Paman, masih Paman perlukan untuk pelindung

diri.”

Tosu itu menarik napas panjang. “Terimalah, baru akan

puas hati pinto kalau pedang-pedang ini berada di tangan

seorang bijaksana dan gagah seperti engkau.” Dia memaksa

dan akhirnya Tan Siong menerimanya. “Di tangan pinto,

sepasang pedang ini dahulu hanya membuat dosa. Biarlah

 

mereka pun menebus dosa-dosa mereka dengan perbuatan

baik, menentang kejahatan di tangan seorang pendekar

seperti engkau. Pinto sekarang tidak membutuhkan

perlindungan pedang, tidak membutuhkan kekerasan lagi.

Ancaman kematian akan pinto hadapi dengan tenang dan

ikhlas.”

Pada saat itu terdengar suara orang dari luar kuil, suara

yang halus, suara wanita. “Gan Tek Un, keluarlah dari kuil,

aku ingin bicara denganmu!”

Gan Tojin terkejut dan wajahnya berubah puoat ketika ia

mendengar suara itu. Tan Siong mengerutkan alisnya dan

bangkit berdiri. Akan tetapi pamannya sudah mendahuluinya.

“Tan Siong, kuminta dengan sangat kepadamu agar engkau

berdiam saja di sini dan jangan mencampuri urusan di luar

kuil. Ini adalah urusan pribadi pinto sendiri. Duduklah saja dan

kau tunggu di sini.”

Tan Siong mengangguk dan mengerutkan alisnya. Hatinya

merasa kecewa. Tadi dia melihat pamannya sudah bertobat

Ia dan bahkan sudah menjadi seorang tosu. Akan tetapi

bagaimana sekarang muncul seorang wanita dalam kehidupan

pamannya sebagai tosu? Apakah pamannya hanya pura-pura

saja menjadi tosu untuk menutupi semua perbuatannya? Dan

pamannya jelas memesan agar dia tidak mencampuri karena

urusan dengan wanita itu adalah urusan pribadi! Kekecewaan

membuat hatinya merasa penasaran dan marah. Sebaiknya

dia cepat meninggalkan pamannya ini, yang memiliki

kepribadian yang tidak meyakinkah. Dia lalu menyambar

buntalan pakaiannya dan biarpun agak meragu, terpaksa dia

menyimpan pula sepasang pedang dan kitab pemberian

pamannya. Keadaan pamannya membuat kegembiraan untuk

mempelajari ilmu sepasang pedang itu menjadi kendur. Akan

tetapi, baru saja dia bangkit dan hendak pergi, tiba-tiba dia

mendengar suara wanita yang tadi lantang memaki-maki!

Cepat dia berjalan berindap dan biarpun pamannya sudah

 

memesan, dia kini menuju ke luar dan mengintai ke luar dari

balik jendela depan.

Siapakah wanita yang memanggil Gan Tosu dengan nama

aselinya itu? Baru mendengar suaranya saja, Gan Tosu sudah

dapat menduga siapa yang memanggil, dan dengan muka

pucat dia pun keluar. Di luar kuil, berdiri di pekarangan sambil

bertolak pinggang, Cui Hong telah menantinya. Ya, wanita itu

adalah Kim Cui Hong! Ketika ia menyeret tubuh Koo Cai Sun

dan Pui Ki Cong keluar dari dalam pondok kecil dan memasuki

hutan, ia telah berhasil memaksa kedua orang tua itu untuk

mengaku di mana adanya musuhnya yang terakhir, yaitu Gan

Tek Un. Dari kedua orang tawanannya yang sudah ketakutan

setengah mati itu, ia mendengar bahwa Gan Tek Un kini telah

menjadi seorang tosu bernama Gan Tosu, tinggal di sebuah

kuil tua di sebelah barat kota raja, kurang lebih belasan mil

dari kota raja.

Maka, setelah ia menyiksa kedua orang musuhnya dan

menggantung tubuh mereka di depan pintu gerbang rumah

gedung keluarga Pui, Cui Hong lalu beristirahat di tempat

persembunyiannya.

Hatinya terasa puas dan ia dapat tidur nyenyak setelah

semalam suntuk tidak tidur dan tubuhnya letih sekali. Setelah

tidur sampai sore, barulah ia meninggalkan tempat

persembunyiannya dan dengan pucat ia pergi mencari

musuhnya yang terakhir, yaitu Gan Tek Un.

Sejak melihat tubuh Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun

tergantung di depan gedung keluarga Pui, dan pernah pula dia

bertemu dengan Louw Ti yang telah menjadi manusia cacat,

tahulah Gan Tosu bahwa cepat atau lambat, gadis she Kim

puteri guru silat Kim itu tentu akan menemukan dirinya. Dia

merasa menyesal sekali dan merasa bahwa dia telah

melakukan perbuatan yang amat keji terhadap gadis itu. Maka

dia pun sudah siap untuk menerima hukuman untuk menebus

dosanya. Maka, begitu dia mendengar seruan wanita yang

 

memanggilnya, dia pun dapat menduga bahwa tentu gadis itu

pula yang kini datang mencarinya. Dia lalu memesan kepada

Tan Siong agar tidak mencampuri, kemudian dengan muka

pucat dan hati tenang dia pun berlari keluar.

Melihat wanita cantik dan gagah yang kini berdiri bertolak

pinggang di pekarangan kuil, Gan Tosu segera teringat akan

gadis remaja yang pernah diperkosanya bersama Koo Cai Sun

dan Louw Ti, setelah Pui Ki Cong yang mempermainkan gadis

itu selama tiga hari merasa bosan dan menyerahkan gadis itu

kepada mereka bertiga. Teringat dia betapa dia pun ikut pula

memperkosa dan menghina gadis itu. Mukanya yang tadinya

pucat, kini berubah menjadi merah sekali. Dia merasa

menyesal dan juga malu mengingat akan kejahatan itu.

Tergopoh dia menghampiri gadis itu dan menjura.

“Nona baru datang? Pinto memang sudah mengharapkan

kedatanganmu,” katanya dengan sikap tenang. Setelah kini

berhadapan dengan orang yang hendak membalas dendam

kepadanya, tosu ini bersikap tenang dan pasrah, bahkan dia

membayangkan betapa sebentar lagi dia akan dapat menebus

dosanya yang amat keji terhadap wanita ini, beberapa tahun

yang lalu ketika wanita ini masih seorang gadis remaja.

Cui Hong memandang dengan sinar mata mencorong dan

ia mengerutkan alisnya. “Hemni, Gan Tek Un, engkau masih

mengenalku? Bagus sekali kalau begitu! Biarpun berganti baju

domba atau kelenci, seekor serigala tetap serigala. Biarpun

engkau sudah berganti pakaian menjadi tosu, bagiku engkau

tetap saja Gan Tek Un si jahanam keparat yang lebih jahat

dari iblis sendiri. Gan Tek Un, apakah engkau masih ingat

kepada semua perbuatan yang pernah kaulakukan terhadap

diriku?”

“Tentu saja pinto ingat semuanya, Nona, dan karena itulah

pinto menanti kedatanganmu agar pinto dapat membayar

hutang dan melunasi dosa pinto yang amat besar itu dengan

hukuman yang akan nona jatuhkan kepada pinto.”

 

Melihat sikap yang pasrah ini, kata-kata yang lembut dan

penuh penyesalan, hati Cui Hong agak kecewa, la ingin

melihat lawan atau musuh terakhir ini juga masih dalam

keadaan jahat dan pongah seperti tiga orang musuhnya yang

telah dihukumnya, agar hatinya menjadi puas dalam

pembalasan dendamnya, karena di samping membalas

dendam pribadi, juga berarti ia telah menyingkirkan seorang

manusia berwatakiblis dari dunia ramai, membuat si jahat itu

tidak akan mampu berbuat jahat lagi.

“Gan Tek Un pendeta palsu banyak cakap, keluarkan

sepasang pedangmu dan mari kita bertanding sampai seorang

di antara kita menggeletak di sini!” tantangnya, tangannya

hanya memegang sebatang kayu ranting pohon sebesar pergelangan

tangannya.

“Nona Kim Cui Hong, sudah pinto katakan bahwa pinto

memang menanti datangnya hukuman atas dosa pinto

terhadap Nona. Pinto tidak akan melawan, juga tidak akan

minta ampun. Nah, pinto sudah siap. Jatuhkanlah hukuman

apa saja yang Nona kehendaki atas diri pinto. Pinto tidak akan

melawan!” Berkata demikian, tosu itu lalu menjatuhkan diri

berlutut, bersedakap dan memejamkan mata, dengan tubuh

dan kepala tegak, siap menanti siksaan yang bagaimanapun

tanpa melawan atau mengeluh. Dia memusatkan seluruh

perhatian kepada keyakinan bahwa dia sedang menebus dosa

dengan hati iklas

Melihat sikap musuhnya itu, Cui Hong mengerutkan alisnya

dan sejenakia termangu-mangu. Bagaimana mungkin ia

menyerang seorang yang sama sekali tidak melawan, bahkan

kini duduk bersila dengan kedua mata dipejamkan? Akan

tetapi, bagaimana mungkin pula ia melepaskan musuh yang

satu ini? Bagaimanapun juga, Gan Tek Un ini tidak lebih baik

daripada yang lain. Seperti yang lain, dia dulu juga

memperkosanya dan menghinanya dan hal itu sama sekali tak

pernah dilupakan. Selama tujuh tahun ini, bayangan

 

mengerikan diperkosa secara bergantian oleh empat orang

musuh besarnya itu selalu membayanginya, kalau malam

menjadi mimpi buruk dan kalau siang membuat ia termenung

seperti orang kehilangan semangat. Dan hanya dendam dan

pembalasan itu saja yang membuat ia dapat bertahan untuk

hidup terus, bahkan memberi ia semangat untuk belajar silat

dengan tekun. Balas dendam! Tak mungkin ia melepaskan

orang ini.

“Can Tek Un, jahanam busuk! Bangkitlah dan jangan

menjadi pengecut. Bangkitlah dan kaulawan aku, keparat!”

Akan tetapi Gan Tek Un sudah siap untuk menerima

siksaan yang betapa hebat pun, dan dia sudah pasrah, kini

sama sekali tidak menjawab dan tidak pula membuka kedua

matanya.

“Gan Tek Un, sekali lagi. Bangkitlah dan lawanlah aku,

kalau tidak, aku terpaksa akan turun tangan membalas

dendam padamu!” Suara Cui Hong penuh dengan kemarahan

dan rasa penasaran, dan ranting di tangannya sudah tergetar

ujungnya.

Kembali Gan Tek Un tidak menjawab dan duduknya tidak

pernah bergoyang. “Keparat! Jangan mencoba menggunakan

kelembutan untuk menghapus dendamku! Sampai mati pun

aku tidak akan dapat menghapus dendamku. Nah, terimalah

pembalasanku!” Berkata demikian, Cui Hong sudah

mengangkat ranting itu ke atas kepalanya, siap untuk

menghajar tubuh Gan Tek Un seperti ia pernah menghajar

tubuh Pui Ki Cong sampai kulitnya pecah-pecah semua.

“Tahan dulu!” Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan

ranting di tangan Cui Hong itu tertahan oleh sebatang pedang

tipis. Cui Hong melangkah ke belakang dan memandang

dengan marah, kemudian matanya terbelalak.

“Engkau…..!?!?” la memandang wajah Tan Siong dengan

bingung, sama sekati tak pernah mengira bahwa pemuda ini

 

akan muncul, bahkan menghalanginya untuk membalas

dendam. “Kau.mau apa kau.?” tanyanya, agak gagap, hatinya

“lihiap, aku harus mencegah engkau melakukan kekejaman,

menyerang orang yang tidak berdosa dan tidak mau

melawanmu.” kata Tan Siong sambil menarik kembali pedang

yang tadi dipakai menangkis ranting di tangan Cui Hong.

Cui Hong tersenyum dingin. “Tan-toa-ko, apakah engkau

tahu siapa orang yang kau katakan tidak berdosa ini?”

“Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah Can Tosu yang

dulu bernama Gan Tek Un, yaitu adik mendiang ibuku,

Pamanku yang selama ini kucari.”

Cui Hong terkejut dan kerut di alisnya makin mendalam.

“Ahhh! Kiranya dia inikah Pamanmu? Inikah orangnya yang

dulu pernah menipu orang tuamu sehingga orang tuamu

menjadi terlunta-lunta dan meninggal dunia?”

“Benar, lihiap.”

“Dan engkau kini hendak membelanya? Betapa anehnya

sikapmu! Toako, jangan mencampuri urusan kami. Mundurlah

dan biarkan aku menyelesaikan urusan pribadiku dengan Gan

Tek Un!”

“Tidak, Lihiap. Engkau tidak boleh bertindak kejam.”

“Apa? Engkau benar-benar hendak melindungi Pamanmu

yang jahat ini?”

“Biar dia Pamanku ataukah orang lain, aku tetap akan

mencegah engkau bertindak kejam, Lihiap. Menyerang orang

yang tidak bersalah, orang yang tidak melawan, sungguh

merupakan perbuatan yang kejam dan tidak patut dilakukan

seorang pendekar wanita seperti engkau ini.”

“Hemm, Tan-toako, tahukah engkau mengapa aku hendak

menyiksa orang ini?”

 

Tan Siong menggelengkan kepalanya, “Apa pun

kesalahannya, tidak sepatutnya kalau engkau kini hendak

menyerangnya karena dia sudah t idak mau melawan sama

sekali.”

“Tan-toako, sudah kuceritakan kepadamu tentang empat

orang manusia iblis yang telah menghinaku, memperkosaku

sampai lewat batas perikemanusiaan, perbuatan mereka

melebihi kekejaman iblis sendiri dan yang tiga orang sudah

kubereskan. Hanya tinggal seorang lagi dan yang seorang itu

adalah Gan Tek Un!”

Bukan main kagetnya hati Tan Siong mendengar ini. Dia

tahu bahwa pamannya memang pernah menjadi penjahat,

akan tetapi tak pernah disangkanya bahwa pamannya pernah

melakukan perbuatan sekeji itu, meniperkosa gadis yang tidak

berdaya, beramai-ramai dengan tiga orang kawannya! Dengan

muka berubah pucat dia membalik dan memandang kepada

tosu yang masih duduk bersila itu.

“Paman, benarkah Paman dulu melakukan perbuatan keji

dan hina itu?” tanyanya dengan suara nyaring.

Gan Tosu memang sejak tadi mendengarkan dan kini dia

menarik napas panjang, tanpa membuka kedua matanya.

“Semua yang dikatakan Nona ini benar belaka. Tan Siong.

Memang aku pernah melakukan perbuatan jahat itu dan

perbuatanku terhadap Nona inilah yang merupakan satu di

antara banyak perbuatanku yang membuat aku menyesal

setengah mati. Biarkan dia menyiksa atau membunuhku untuk

menebus dosaku, Tan Siong.”

“Nah, engkau mendengar sendiri, Toa-ko. Apakah engkau

kini masih hendak melindungi dia?” Cui Hong menuntut.

“Kim-lihiap, pendirianku tidak berubah Aku tetap mencegah

engkau melakukan perbuatan kejam itu. Aku membelanya

bukan karena dia Pamanku, melainkan seorang yang tidak

melawan terancam oleh kekerasan. Dan aku mencegah

 

engkau melakukan kekejaman itu karena…. terus terang saja,

Lihiap, cintaku kepadamu masih tetap. Aku mencegah engkau

menjadi pembunuh kejam demi cintaku kepadamu!”

Kembali Cui Hong tersenyum, akan tetapi kini senyumnya

mengejek dan sepasang matanya mencorong penuh

kemarahan, la merasa dipermainkan.

“Tan Siong!” bentaknya dengan suara ketus. “Engkau

bilang bahwa engkau mencintaku, akan tetapi engkau

menentang aku yang hendak membalas dendam kepada

orang yang telah merusak kebahagiaanku, yang telah

menghancurkan harapanku, yang telah menggelapkan sinar

kehidupanku, yang telah membunuh ayahku dan suhengku!

Cinta macam apakah itu? Tidak perlu engkau merayu, kalau

engkau membela jahanam Gan Tek Un ini, berarti engkau

adalah musuhkul Majulah!” Cui Hong menodongkan

rantingnya, siap untuk menyerang.

“Kim-lihiap, sungguh engkau membuat aku bersedih bukan

main. Tentu saja aku tidak akan melayani tantanganmu,

karena sampai mati pun aku tidak akan memu-suhimu. Aku

hanya melindungi orang yang terancam, bukan berarti

memusuhi-mu. Engkau tidak dapat mengerti pendirianku.

Sekali lagi, ingatlah dan hapuslah dendam dari dalam hatimu,

karena itu merupakan racun yang hanya akan merusak lahir

batinmu sendiri.”

“Cerewet! Aku mau hajar dan siksa dia untuk membalas

dendam, baik engkau suka maupun tidak!” Dan Cui Hong kini

dengan kemarahan meluap sudah mengayun rantingnya untuk

memukul remuk tulang kaki Can Tosu yang duduk bersila itu.

“Singggg…… takkkk!” Ranting itu tertangkis pedang di

tangan Tan Siong. Pemuda ini sudah cepat menangkis dan kini

dia berdiri menghalang di antara Cui Hong dan tosu itu

dengan sikap melindungi.

 

“Tan Siong, terpaksa aku harus menyingkirkan segala

penghalang untuk membalas dendamku, termasuk engkau!”

teriak Cui Hong dan ia sudah menyerang dengan rantingnya,

ujung rantingnya tergetar dan seolah-olah terpecah menjadi

tujuh yang melakukan serangkaian totokan ke arah tujuh jalan

darah di tubuh bagian depan dari lawan.

Tan Siong terkejut sekali. Dia memang sudah tahu betapa

lihainya wanita Ini ketika membantunya menghadapi jagoanjagoan

yang menjadi pelindung Pui Ki Cone, akan tetapi baru

sekarang dia menghadapinya langsung sebagai lawan. Dia pun

cepat menggerakkan pedang tipisnya, diputarnya dengan

cepat untuk melindungi tubuhnya. Namun, pemutaran pedang

saja tidak cukup dia harus berlompatan kesana-sini karena

ujung ranting itu seolah-olah dapat menerobos di antara

gulungan sinar pedangnya.

Cui Hong tidak bermaksud mencelakai pemuda itu, sama

sekali tidak. Dia masih merasa kagum dan suka kepada

pemuda perkasa itu, apalagi mendengar betapa sampai kini

pemuda itu masih tetap mencintanya, walaupun sudah

mendengar riwayatnya, tahu bahwa ia bukanlah seorang

perawan terhormat lagi, melainkan seorang wanita yang

sudah ternoda dan terhina. Ia hanya ingin merobohkan Tan

Siong agar tidak dapat menghalangi pelaksanaan balas

dendamnya terhadap Gan Tek Un, maka semua serangannya

me rupakan totokan-totokan yang amat hebat. Sebaliknya,

Tan Siong juga hanya ingin melindungi pamannya, bukan

berniat untuk melukai apalagi membunuh gadis yang dikagumi

dan dicintanya itu, maka dia pun hanya menggerakkan

pedangnya untuk melindungi tubuhnya, menangkis dan

mengelak tanpa balas menyerang.

Akan tetapi, segera dia terdesak hebat. Andaikata dia

membalas semua serangan Cui Hong pun belum tentu dia

akan mampu mengalahkan gadis perkasa itu, apalagi kini dia

hanya menangkis tanpa bisa menyerang. Gulungan sinar

 

pedangnya semakin menyempit, terjepit dan tertekan oleh

sinar hijau dari ranting di tangan Cui Hong.

“Tahan senjata kalian! Jangan berkelahi dan dengarkan

pinto!” Tiba-tiba terdengar teriakan Gan Tojin, tosu yang tadi

duduk bersila. Mendengar ini, Tan Siong melompat ke

belakang dan Cui Hong juga menahan gerakan rantingnya,

ingin tahu apa yang akan dikatakan musuh besarnya itu. Siapa

tahu musuh besarnya itu timbul keberanian untuk maju sendiri

menghadapinya dan melarang Tan Siong mencampuri urusan

pribadi mere ka.

Tosu itu masih duduk bersila, mukanya pucat akan tetapi

sinar mata mencorong penuh semangat. Agaknya

kesedihannya yang tadi sudah lenyap. “Siancai…! Dengan

sikap kalian, maka dosa pinto bertambah dalam dan besar

saja. Setelah menjadi seorang pemeluk agama yang taat,

pinto bahkan mengakibatkan perpecahan dan perkelahian

antara dua orang muda yang saling mencinta. Nona Kim Cui

Hong, engkau sudah sepatutnya membalas dendam kepada

pinto karena perbuatan pinto terhadapmu dahulu itu memang

tak dapat diampuni. Dan engkau pun benar, Tan Siong,

karena engkau melindungi yang lemah, bukan karena pinto

pamanmu, dan itu merupakan sikap seorang pendekar. Akan

tetapi kalau pinto membiarkan kalian saling berkelahi sampai

seorang di antara kalian roboh tewas atau terluka, pinto akan

merasa berdosa lebih hebat lagi yang takkan dapat pinto

lupakan selama hidup. Karena itu, biarlah pinto mengakhiri

saja semua derita ini!” Tiba-tiba nampak s inar berkelebat dan

tahu-tahu tosu itu sudah menusukkan sebuah pisau ke

dadanya.

“Creppp….!” Pisau itu menembus dada sampai ujungnya

nampak sedikit di punggung dan dia masih tetap duduk

bersila!

“Paman….!” Tan Siong terkejut bukan main dan cepat

berlutut di dekat tubuh pamannya. Perbuatan tosu itu sama

 

sekali tak pernah disangkanya, maka dia pun tidak sempat lagi

mencegah bunuh diri itu.

Cui Hong memandang dengan mata terbelalak, mukanya

sebentar pucat sebentar merah antara penasaran, marah dan

kecewa, la pun sama sekali tidak pernah mengira bahwa tosu

itu akan membunuh diri, maka seperti juga Tan Siong, ia tidak

sempat mencegah dan kini hanya berdiri sambil memandang

dengan mata terbelalak.

“Paman, mengapa Paman melakukan perbuatan yang

bodoh ini?” Tan Siong menegur pamannya, tanpa berani

menyentuhnya karena dia melihat bahwa nyawa pamannya

tak mungkin dapat di selamatkan lagi dengan ditembusnya

dada itu dengan pisau.

“Tan Siong….. bunuh diri memang bodoh…. dan dosa.

akan tetapi…. setidaknya pinto dapat menyelamatkan kalian ..

kasihan ia ….. bimbinglah ia…. dengan kasih sayang….” Tosu

itu tidak kuat lagi. Jantungnya tertembus pisau dan dia pun

menjadi lemas, terkulai dan roboh terjengkang. Tan Siong

cepat merangkulnya dan merebahkannya baik-baik.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa Cui Hong. Tan Siong

terkejut dan meloncat bangkit, memandang dengan mata

terbelalak. Gadis itu tertawa bebas lepas, sambil menengadah

memandang langit. “Ha-ha-ha-…. habislah sudah mereka!

Ayah, Suheng…. aku telah berhasil membalas dendam,

selesailah sudah tugas hidupku, lenyaplah sudah ganjalan

hatiku, beban yang demikian berat menekan batinku, ha-haha-

hi-hi-hi….!”

Gadis Itu tertawa-tawa seperti orang kemasukan setan

sehingga Tan Siong merasa ngeri. Cui Hong seperti telah

menjadi gila, tawanya bukan tawa seorang wanita normal lagi,

tawa terkekeh-kekeh dan terbahak-bahak. Tan Siong segera

melompat dekat gadis itu dan memegang kedua pundaknya,

diguncang-guncangnya tubuh gadis itu.

 

“Hong-moi (Adik Hong)! Sadarlah engkau! Sadarlah…!” Dia

membentak-bentak dan mengguncang-guncang, maklum

bahwa gadis itu dikuasai perasaan yang mengguncang

ingatannya. Maka dia mengerahkan tangannya sehingga

kedua tangannya seperti cengkeraman kuat pada pundak

gadis itu, mengguncang-guncangnya sehingga tubuh Cui Hong

terdorong dan tertarik ke depan belakang.

Tiba-tiba Cui Hong berhenti tertawa, memandang kepada

orang yang memegang kedua pundaknya dengan mata nanar

dan bingung. Akhirnya, kedua matanya normal kembali, tidak

liar seperti tadi.

“Toako…, engkau??”

Cui Hong mendadak menangis, menjatuhkan diri berlutut di

atas tanah. Tangisnya mengguguk, seperti anak kecil.

Kedua punggung tangannya mengusap air mata yang jatuh

bercucuran, pundaknya terguncang dan suara tangisnya

seperti Drang mer intih-rintih, terisak dan tersedu-sedu. Air

matanya bagaikan air bah menerobos bendungannya yang

pecah. Selama bertahun-tahun ini, ia menyimpan saja segala

rasa dukanya, bahkan berusaha sekuat tenaga untuk

melupakan malapetaka yang menimpa dirinya setiap kali ia

teringat akan keadaan d irinya. Hidupnya sebatang kara, tidak

ada keluarga, tidak ada harapan sedikit pun akan dapat

merasakan kebahagiaan hidup masa depan. Namun, selama

ini ia menyembunyikan semua kedukaan dan kecemasan akan

keadaan dirinya di dasar kalbunya dengan cara mencurahkan

seluruh perhatiannya kepada dendam sakit hatinya, kepada

usahanya yang mati-matian untuk membalas dendamnya. Kini

setelah empat orang musuhnya menerima hukuman,

menerima, pembalasan dendamnya dengan setimpal, seolaholah

dendam yang selama ini membendung air bah

kedukaannya, menjadi bobol dan muncullah semua kedukaan

dan kegelisahan yang selama bertahun-tahun mengendap di

dasar batinnya.

 

Tan Siong tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hati

gadis itu. Dia hanya berdiri bengong memandang gadis yang

menangis tersedu-sedu. Mengapa gadis itu menangis seperti

ditinggal mat i orang yang amat dicintanya? Bukankah

sepatutnya ia bersuka cita karena dendamnya telah terbalas?

Akan tetapi Tan Siong tahu bahwa tangis merupakan saluran

yang amat baik untuk melepaskan perasaan yang meluapluap,

maka dia pun mendiamkannya saja dan membiarkan

gadis itu menangis sepuasnya.

Setelah isak tangis gadis itu agak mereda, barulah Tan

Siong berlutut di depan Cui Hong dan dengan hati-hati dia

berkata lembut.

“Hong-moi, mengapa engkau menangis demikian sedih?”

Tangannya menyentuh lengan Cui Hong, hatinya diliputi

perasaan iba yang mendalam karena dari tangis tadi dia dapat

merasakan bahwa sesungguhnya gadis itu tenggelam ke

dalam kesengsaraan batin yang amat hebat dan lendalam.

Sepasang mata gadis itu merah membengkak, wajahnya

pucat, rambutnya awut-awutan, mukanya masih basah air

mata. Perasaan iba menusuk hati Tan Siong sehingga kedua

tangannya nenggigil ketika dia merangkul gadis itu. “Hongmoi….,

jangan bersedih….”

Bagaikan dipatuk ular, Cui Hdng menarik lengannya yang

disentuh Tan Siong lan melompat bangkit berdiri menjauhi

pemuda itu. Dengan mata merah rnembengkak ia memandang

pumuda itu, terbelalak.

“Jangan! Jangan sentuh aku…! Aku .. aku sudah kotor, aku

sudah ternoda aku bergelimang aib…!” serunya tergagap dan

kembali ia tersedu dan air mata yang agaknya tidak akan

pernah habis itu bercucuran lagi menetes-netes di kedua

pipinya.

Kini baru Tan Siong mengerti mengapa gadis itu menangis

sedih. Dia merasa iba sekali, bangkit berdiri dan suaranya

bergetar penuh keharuan.

 

“Hong-moi… aku cinta padamu… engkau tetap suci dan

mulia bagiku… cinta ku tak berubah sejak pertama kita

bertemu…” Tan Siong melangkah maju menghampiri, hendak

memegang kedua tangan Cui Hong. Gadis itu mengelak dan

mundur menjauh.

“Tidak! Tidak…! Jangan bohong aku tidak percaya! Aku…

aku bukan perawan lagi, aku…. telah ternoda…. kehormatanku

diinjak-injak empat orang laki-laki iblis itu…! Seorang dari

mereka adalah pamanmu sendiri! Aku tidak percaya!” Cui

Hong melompat jauh dan melarikan diri.

“Aku tidak percaya…!” suaranya masih terdengar dari jauh.

“Hong-moi…!”

Tan Siong mengejar, akan tetapi gadis itu sudah jauh dan

terdengar suara bergema. “Jangan kejar…..! Aku tidak sudi

mendengar rayuanmu…!”

Tan Siong menahan kakinya. Dia menghela napas panjang

berulang kali, berdiri dengan muka pucat. Hatinya terasa

pedih dan kosong. Dia harus mengaku dengan jujur kepada

dirinya sendiri bahwa memang ada perasaan hampa dan

kecewa kalau dia mengingat betapa gadis yang dicintanya itu

telah dirusak kehormatannya oleh empat orang laki-laki jahat,

termasuk pamannya sendiri. Apalagi kalau diingat bahwa Cui

Hong telah berubah menjadi seorang gadis kejam yang

dihantui dendam, bertindak kejam kepada orang-orang yang

dulu memperkosanya. Memang gadis itu t idak membunuh

mereka, akan tetapi penyiksaan yang ia lakukan bahkan lebih

mengerikan daripada kalau ia membunuh mereka sebagai

balas dendam. Empat orang yang dulu memperkosanya itu

dihukumnya dengan amat mengerikan. Pui Ki Cong menjadi

seorang laki-laki cacat dan buruk seperti setan, tidak akan

berguna selama hidup-nya. Demikian pula Koo Cai Sun,

menjadi cacat, tapadaksa yang sudah bukan seperti manusia

normal lagi. Lauw Ti menjadi cacat dan gila. Keadaan mereka

bertiga lebih menyedihkan dan mengerikan daripada kalau

 

mereka mati. Dan pamannya sendiri, orang ke empat yang

dulu memperkosa Cui Hong, terpaksa membunuh diri dengan

perasaan penuh penyesalan. Sungguh pembalasan dendam

Cui Hong itu terlalu kejam.

Kembali Tan Siong menghela napas panjang ketika

terbayang olehnya semua kekejaman yang dilakukan Cui Hong

terhadap orang-orang yang dibencinya, termasuk pamannya.

Akibat kekejamannya itu, bukan hanya empat orang yang

pernah memperkosanya itu yang menderita, terutama yang

tiga orang kecuali pamannya yang sudah tewas. Mereka itu

mati tidak, hidup pun bukan. Apa artinya hidup dalam keadaan

tapadaksa separah itu? Lengan dan kaki patah bahkan ada

yang buntung sehingga tubuh amat sukar bergerak, muka

cacat, ada yang matanya buta, ada yang hidungnya hancur,

pendeknya badan lumpuh sukar bergerak, muka cacat

menjijikkan, batin terguncang sehingga menjadi seperti gila!

Bukan mere ka saja yang menderita hebat bukan kepalang,

melainkan juga keluarga mere ka, anakisteri mereka!

“Aahh, Hong-moi…. betapa kejamnya engkau… dendam

kebencian telah membuat engkau seperti iblis! Akan tetapi, ya

Tuhan, aku cinta padamu, Hong-moi, aku tetap cinta

padamu!” Tan Siong mengeluh lalu pergi dari situ dengan

perasaan hampa. Semangatnya seolah ikut terbang bersama

Cui Hong.

0odwo0

Sudah banyak tercatat dalam sejarah betapa perkaraperkara

besar yang menyangkut bangsa dan negara,

dipengaruhi oleh ambisi pribadi para pemimpinya. Perasaan

dendam, iri, murka, dan keinginan pribadi untuk mereguk

kesenangan melalui kekuasaan dari seorang pemimpin negara

dan para pembantunya, terkadang menyeret bangsa ke dalam

kehancuran.

Seperti tercatat dalam sejarah Negeri Cina, bangsa Cina

tadinya hidup dalam keadaan yang lebih baik di bawah

 

pemerintahan Kerajaan Beng (Terang) dibandingkan dengan

keadaan rakyat di jaman penjajahan Mongol yang mendirikan

Dinasti Goan yang bertahan selama hampir satu abad (1280-

1368). Setelah rakyat Han dapat menggulingkan penjajah

Mongol dan yang berkuasa adalah bangsa sendiri dengan

berdirinya Kerajaan Beng, kehidupan rakyat mulai menjadi

makmur. Akan tetapi, setelah berjaya selama hampir tiga abad

(1368-1644), mulailah pemerintah Beng menjadi lemah sekali

sehingga mengakibatkan rakyat kembali hidup menderita,

bahkan keadaan kehidupan rakyat jelata lebih parah

dibandingkan keadaan ketika dijajah orang Mongol! Hal ini

disebabkan karena Kaisar terakhir Kerajaan Beng yang

bernama Kaisar Cung Ceng (1620-1644) merupakan seorang

kaisar yang lemah dan yang hanya mengejar kesenangan diri

sendiri. Kelemahan ini tentu saja memunculkan banyak

pejabat penjilat, terutama para Thai-kam (orang kebiri, sidasida)

yang berkuasa di dalam istana yang sedianya menjadi

pelayan-pelayan kaisar dan keluarganya. Pada mulanya, Kaisar

mempergunakan tenaga para pria yang dikebiri ini sebagai

pelayan-pelayan dalam istana untuk mencegah terjadinya

perjinaan antara banyak selir dan gadis-gadis dayang istana

dengan para pelayan pria. Karena itu, semua pelayan pria

dikebiri sehingga tidak memungkinkan terjadinya

penyelewengan. Karena para Thaikam ini tidak dapat lagi

berhubungan dengan wanita, maka mereka melampiaskan

semua nafsunya kepada kedudukan dan harta. Mulailah

mereka menggunakan segala daya upaya untuk memperoleh

kekuasaan dan satu-satunya cara untuk mendapatkan

kekuasaan itu adalah mendekati Kaisar dan mengambil hati

Kaisar.

Mungkin karena merasa senasib sependeritaan, para Thaikam

ini kompak sekali dan dapat bekerja sama dengan baik.

Juga mereka biasanya merupakan orang-orang pilihan. Kaisar

tentu saja ingin memiliki pelayan-pelayan dalam istana yang

berwajah tampan, bersih, pandai membawa diri, cerdas dan

 

cekatan. Bahkan banyak di antara mereka yang pandai . ilmu

silat untuk dijadikan pengawal pribadi, menjaga keselamatan

Kaisar sekeluarga. Akan tetapi sebagian besar dari mereka

adalah orang-orang yang terpelajar, ahli sastra. Maka, tidak

mengherankan kalau sekumpulan orang pandai ini mudah

menggunakan kecerdikan mere ka, menguasai politik

pemerintahan dan mempengaruhi Kaisar.

Kaisar Cung Ceng yang memang pada dasarnya lemah itu

seolah menjadi boneka dan menurut saja kepada para Thaikam

pimpinan yang dia anggap sebagai hamba-hamba yang

baik dan setia! Maka, biarpun kekuasaan masih berada di

tangan Kaisar, namun sesungguhnya segala keputusan yang

disahkan dan ditanda tangani Kaisar itu keluar dari pikiran

para Thaikam.

Memang tepatlah pendapat dan ajaran para bijaksana

jaman dahulu bahwa yang terpenting bagi manusia adalah

hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Benar dan baik

merupakan syarat bagi manusia untuk dapat hidup

berbahagia. Para bijaksana selalu menasihati keturunan dan

muridnya begini

“Aku tidak ingin melihat kamu menjadi orang kaya raya,

atau menjadi orang pintar, atau menjadi orang berkuasa! Aku

hanya ingin kamu menjadi orang yang baik dan benar! Hanya

orang yang baik dan benarlah menjadi kekasih Thian (Tuhan)

dan menerima kasih karunia dan kebahagiaan dunia dan

akhirat!”

Baik dan benar merupakan dasar bagi ketenteraman dan

kebahagiaan. Orang kaya belum tentu benar, orang pintar

belum tentu benar, orang berkuasa belum tentu benar. Orang

yang baik dan benar tentu merupakan penyalur berkat Tuhan

bagi manusia lain, bagi dunia. Akan tetapi sesungguhnya,

orang kaya, orang pintar, orang berkuasa tanpa didasari sifat

baik dan benar, sering malah mendatangkan malapetaka bagi

manusia dan dunia karena keadaannya itu terkadang

 

membuat dia sewenang-wenang, memikirkan kesenangan diri

pribadi saja, bahkan menggunakan kekayaan, kepintaran atau

kekuasaannya untuk menindas orang lain yang dianggap

menjadi penghalang kesenangannya.

Demikianlah keadaan para Thaikam di dalam istana Kaisar

Cung Ceng, pada masa terakhir pemerintah Kerajaan atau

Dinasti Beng. Mereka berdiri dari orang-orang pintar, kaya

raya, dan berkuasa, namun tidak memiliki watak dasar baik

dan benar tadi. Maka sepak terjang dewikz mereka hanya

menimbulkan kesengsaraan bagi negara dan bangsa.

Pemerintahan Kaisar Ceng Cung menjadi lemah, banyak

peraturan yang sewenang-wenang menindas rakyat. Para

pejabat pemerintah yang baik, yang setia, yang ingin

membawa roda pemer intahan melalui jalan yang benar dan

yang menyejahterakan rakyat, menjadi penghalang bagi para

Thaikam dan mereka itu, satu demi satu, disingkirkan dari

jabatannya. Bahkan, yang dianggap berbahaya karena

sikapnya menentang para Thaikam, banyak di antara mereka

bukan hanya dipecat oleh Kaisar atas bujukan para Thaikam,

melainkan dihukum berat dengan tuduhan fitnah

memberontak.

Kalau pemerintah gagal menyejahterakan rakyat, bahkan

menyengsarakan rakyat, maka akibatnya mudah diduga. Di

mana-mana terjadilah pemberontakan.

Muncul orang-orang gagah yang t idak suka dengan

keadaan itu dan mereka ini memiliki banyak pengikut,

membentuk laskar-laskar rakyat dan mulai mengadakan aksi

menentang kerajaan!

Di antara para pemberontak itu, yang paling kuat memiliki

banyak sekali pengikut sehingga namanya terkenal dan

menjadi bagian sejarah, adalah Li Cu Seng. Sebetulnya, Li Cu

Seng tadinya adalah seorang pendekar ahli silat dari dusun,

bukan orang penting dan bukan orang ternama. Namun,

sikapnya yang gagah dan wibawanya yang kuat

 

menggerakkan ratusan ribu orang yang dengan suka rela

menjadi pengikutnya. Terbentuklah barisan yang kokoh kuat

dan mulailah pasukan Li Cu Seng bergerak. Pendekar yang

berasal dari Propinsi Shensi ini, memimpin laskarnya dan mulai

penyerangannya dari utara dan barat. Pada waktu itu orangorang

Mancu sudah mengembangkan kekuasaannya ke

selatan, namun gerakan mereka itu terbentur dan terhenti

oleh pertahanan pasukan pemer intah Kerajaan Beng yang

berjaga di Tembok Besar yang kokoh itu.

Dalam tahun 1640 Honan terjatuh ke tangan Li Cu Seng,

dan dengan cepat pasukannya bergerak dan menduduki

Propinsi Shensi dan Shansi. Di beberapa daerah ini, jumlah

pengikutnya bertambah dan dia berhasil menghimpun

pasukan yang besar dan kuat. Pemerintahan Kaisar Cung Ceng

yang dipenuhi para Thai-kam dan pejabat tinggi yang korup,

tidak mendapat dukungan rakyat. Bahkan banyak pula

panglima perang yang besar kekuasaannya seolah kurang

mengacuhkan adanya pemberontakan Li Cu Seng yang

semakin mendekati kota raja Peking. Banyak panglima perang

juga sudah muak dengan pemerintahan Kaisar Cung Ceng

yang korup dan dikuasai Thaikam itu. Diam-diam mereka

mengharapkan pergantian pimpinan pada pemerintah Dinasti

Beng.

Di antara para panglima besar ini, yang terkenal adalah

Panglima Bu Sam Kwi. Panglima Bu Sam Kwi memiliki pasukan

yang besar dan kuat dan berkat pertahanannya di Tembok

Besar Sa-hai-koan di mana Tembok Besar sampai di tepi

lautan, maka pasukan Mancu tidak mampu menembus ke

selatan. Panglima Bu Sam Kwi terkenal sebagai seorang

panglima yang pandai memimpin pasukan, dan diam-diam dia

menaruh simpati kepada gerakan Li Cu Seng yang merupakan

seorang Beng-cu (Pemimpin Rakyat) yang berjuang

membebaskan pemer intah dari cengkeraman para pejabat

korup. Maka, Panglima Bu Sam dewi Kzwi seolah-olah

menutup sebelah mata dan pura-pura t idak tahu bahwa

 

gerakan pemberontakan Li Cu Seng sudah menguasai

beberapa propinsi, bahkan mulai mendekati kota raja Peking!

Pada suatu pagi bulan kedua tahun 1644, tiga orang

penunggang kuda menjalankan kudanya dengan santai di

jalan umum di luar kota raja Peking sebelah barat. Yang

berada di tengah adalah seorang laki-laki berusia sekitar

empat puluh tahun, bertubuh sedang namun tegap dan

gagah, duduk di atas punggung kuda dengan tegak lurus

menunjukkan seorang ahli, wajahnya membayangkan

kegagahan dan kekerasan, sepasang matanya tajam bagaikan

mata burung rajawali, pakaiannya seperti seorang petani

sederhana dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Dua orang yang menunggang kuda di kanan kirinya adalah

pria-pria berusia sekitar lima puluh tahun, yang seorang

bertubuh tinggi kurus wajahnya seperti tengkorak dan yang ke

dua bertubuh tinggi besar seperti raksasa, wajahnya penuh

brewok menyeramkan. Juga dua orang ini mempunyai senjata

golok yang terselip di punggung mere ka.

Pria yang berada di tengah dan dari sikap kedua orang

pendampingnya mudah diduga bahwa dialah yang menjadi

pemimpin, bukanlah orang biasa. Dialah pende kar Li Cu Seng

yang amat terkenal dan dipuja ratusan ribu orang sebagai

pejuang yang hendak menumbangkan kekuasaan yang

dianggap lalim di Kerajaan Beng. Adapun dua orang

pendampingnya itu adalah dua orang pembantunya yang

setia. Yang seperti raksasa brewok bernama Gu Kam,

sedangkan yang bertubuh tinggi kurus bermuka tengkorak

adalah Giam Tit, sute (adik seperguruan) dari Gu Kam. Kedua

orang ini adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai yang terkenal lihai

ilmu goloknya.

Li Cu Seng adalah seorang pemimpin rakyat yang amat

terkenal dan dia mempunyai pasukan yang amat besar

jumlahnya. Sebagai seorang panglima besar, mengapa dia

 

sekarang berkeliaran di luar kota raja, ditemani dua orang

pembantunya, berpakaian seperti tiga orang desa biasa?

Li Cu Seng, selain lihai ilmu silatnya, juga merupakan

seorang pemimpin barisan yang pandai. Setelah menguasai

beberapa propinsi di barat dan daerah utara, dia memimpin

barisannya menuju kota raja Peking. Dan sebagai seorang ahli

perang vang ulung, kini dia turun tangan sendiri melakukan

penyelidikan di luar benteng kota raja sebelah barat, ditemani

dua orang pembantunya. Dia memang sudah menyebar para

mata-mata dan penyelidik untuk mempelajari kekuatan musuh

di kota raja, akan tetapi dia tidak merasa puas kalau tidak

terjun sendiri melakukan penyelidikan. Di sinilah letak

kekuatan dari Li Cu Seng. Dia teliti dan penuh perhitungan,

melengkapi kekuatan pasukannya dengan kecerdikannya. Dua

kelebihan ini digabung dan mendatangkan keberhasilan

kepadanya.

Karena kini pasukannya sudah siap untuk melakukan

penyerbuan ke kota raja Peking, maka Li Cu Seng, ditemani

dua orang pembantunya yang setia, melakukan pengamatan

sendiri untuk melihat bagaimana kekuatan pasukan kerajaan

yang melakukan penjagaan di kota raja.

Sementara itu, di kota raja sendiri, para panglima yang

masih setia kepada Kaisar Cung Ceng, sibuk melakukan

persiapan untuk mempertahankan kota raja dari ancaman

laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng yang sudah menguasai

sebagian besar daerah barat dan utara. Akan tetapi mereka ini

sebagian besar adalah para panglima yang berpihak pada para

Thaikam, para panglima yang memperoleh kedudukan tinggi

karena jasa para Thaikam dan yang mendapatkan pembagian

harta benda yang mereka korup. Karena mereka hanya setia

kepada harta, kedudukan, dan kesenangan, maka tentu saja

mereka juga tidak sepenuh hati membela Kerajaan Beng,

walaupun jumlah pasukan mereka masih cukup banyak dan

kuat.

 

Kaisar Cung Ceng sendiri tidak menyadari bahwa kota raja

sudah terancam oleh laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng. Para

Thaikam sengaja menimbuni Kaisar dengan segala macam

pesta dan kesenangan. Akan tetapi mereka juga berusaha

untuk menyelamatkan diri. Mereka menghubungi dan

mengirim sogokan kepada para panglima besar yang bertugas

di perbatasan. Juga Panglima Bu Sam Kwi menerima sogokan

dan hadiah dengan permintaan agar Panglima Bu Sam Kwi

mengirim bala-tentaranya untuk melindungi kota raja dari

ancaman musuh. Akan tetapi, Panglima Bu Sam Kwi yang

memang sudah t idak suka kepada Cung Ceng, tidak

mengacuhkan permintaan itu. Bahkan diam-diam Panglima Bu

Sam Kwi condong mendukung gerakan Li Cu Seng untuk

menumbangkan Kaisar Cung Ceng yang menjadi kaisar

boneka di bawah pengaruh para Thaikam.

Li Cu Seng dan dua orang pembantunya, Cu Kam dan Giam

Tit, terlalu memandang rendah kepada para pimpinan pasukan

pertahanan kota raja. Karena memandang rendah, mereka

menjadi lengah, tidak tahu bahwa rahasia kedatangan mereka

mendekati kota raja telah diketahui mata-mata pasukan

kerajaan! Bagaimanapun juga, di kota raja masih terdapat

panglima tua yang amat setia kepada Kerajaan Beng. Biarpun

mereka juga t idak suka melihat Kaisar dikuasai para Thaikam,

namun mereka tetap setia kepada Dinasti Beng dan siap untuk

membela kerajaan itu mati-matian dengan taruhan nyawa.

Dalam keadaan kota raja terancam bahaya, maka para

panglima yang setia inilah yang mengundang para pendekar

untuk membantu pasukan kerajaan mempertahankan Peking

dari serangan musuh.

Di antara panglima ini terdapat seorang panglima tua, yaitu

Panglima Ciok Kak yang biasa disebut Ciong-goanswe

(Jenderal Ciong). Usianya sudah enam puluh lima tahun,

namun dia masih gagah perkasa, terkenal sebagai seorang

ahli silat dan ahli perang yang berpengalaman. Bahkan dia

mengenal baik para pendekar di dunia kang-ouw karena dia

 

sendiri adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai.

Dialah yang mengepalai bagian para penyelidik yang

merupakan bagian penting dari pasukan pertahanan kota raja.

Dia mengundang para pendekar gagah untuk menjadi

penyelidik.

Ciong Goanswe ini yang mengutus tujuh orang pendekar,

dijadikan mata-mata yang melakukan penyelidikan dan

pengawasan di luar kota raja, bersama belasan orang

pendekar lain. Tujuh orang ini melakukan pengamatan di

sebelah barat, luar benteng kota raja. Mereka adalah Su Lok

Bu, seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai, juga seorang

pen-siunan perwira kerajaan. Orangnya berusia sekitar lima

puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar berkulit hitam,

mukanya penuh brewok dan matanya lebar seperti Panglima

Thio Hwi dalam cerita Sam Kok, dan dia seorang ahli bermain

siang-kiam (sepasang pedang) yang kosen.

Orang ke dua adalah seorang pensiunan perwira pula,

sahabat dari Su Lok Bu sejak muda, bernama Cia Kok Han,

berusia sekitar lima puluh dua tahun pula. Cia Kok Han ini

seorang murid Bu-tong-pai yang terkenal dengan senjata twato

(golok besar). Tubuhnya pendek dengan perut gendut,

kulitnya putih, matanya sipit sekali dan seluruh rambut dan

jenggotnya sudah putih semua.

Kita mengenal Su Lok Bu dan Cia Kok Han ini karena

mereka ini, kurang lebih dua tahun yang lalu, bekerja sebagai

pengawal pribadi Pui Ki Cong atau yang dikenal sebagai Pui

Kongcu (Tuan Muda Pui), yaitu orang pertama yang menjadi

musuh besar Kim Cui Hong dan yang kemudian disiksa sampai

menjadi seorang tapadaksa berat oleh gadis itu yang

membalas dendamnya. Setelah terjadi peristiwa pembalasan

dendam dari Kim Cui Hong terhadap empat orang yang

pernah memperkosa dan menghinanya, yang telah disiksa tiga

orang dan yang seorang membunuh diri, dua orang jagoan ini

segera mengundurkan diri. Mereka berdua adalah pendekar,

 

tokoh Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai. Setelah mereka

mengetahui duduknya perkara, mereka segera meninggalkan

keluarga bangsawan Pui. Keduanya menyadari bahwa mereka

telah bekerja sebagai pengawal seorang pemuda bangsawan

yang pernah melakukan perbuatan keji terhadap Kim Cui

Hong. Mereka merasa malu dan pergi tanpa pamit.

Kemudian, dua orang sahabat ini mememenuhi panggilan

Jenderal Ciong Kok yang mereka kenal baik, dan mendapat

tugas mengamati keadaan di luar benteng kota raja bagian

barat. Dua orang jagoan ini ditemani oleh lima orang jagoan

lain yang terkenal dengan sebutan Liong-san Ngo-eng (Lima

Pendekar Bukit Naga). Mereka adalah kakak beradik

seperguruan, tokoh-tokoh perguruan silat Liong-san-pai yang

merupakan ahli-ahli silat pedang yang cukup tangguh.

Tujuh orang mata-mata pemerintah ini telah mendapat

berita dari para penyelidik yang membuat pengamatan lebih

jauh dari benteng kota raja bahwa ada tiga orang penunggang

kuda yang pakaiannya seperti penduduk dusun, akan tetapi

cara mereka menunggang kuda dan di punggung mereka

terdapat senjata, menimbulkan dugaan bahwa mereka itu

bukanlah penduduk dusun biasa dan patut dicurigai dan

diselidiki lebih lanjut karena tiga orang penunggang kuda itu

menuju ke arah kota raja.

Demikianlah, karena memandang rendah pertahanan kota

raja Peking, maka pemimpin las kar rakyat Li Cu Seng menjadi

lengah. Ketia dia dan dua orang pembantunya tiba di luar

tembok benteng, di tepi sebuah hutan, mereka menghentikan

kuda mereka. Li Cu Seng memberi isyarat dan dua orang

pembantunya, Cu Kam dan Giam Tit, ikut pula turun dari atas

punggung kuda mereka. Mereka menambatkan kuda di pohon

tepi hutan itu.

“Dari sini kita harus berjalan kaki. Bersikaplah biasa dan

kalau ada pertanyaan, kita mengaku akan mengunjungi

 

keluarga yang tinggal di kota raja.” kata Li Cu Seng dengan

sikap tenang.

Dua orang pembantunya mengerutkan ali dan tampak ragu

dan khawatir.

“Memasuki kota raja?” tanya Gu Kam. “Akan tetapi itu

berbahaya sekali, Li-bengcu (Pemimpin Li)!”

“Hemm, Gu-twako, apakah engkau takut?” Li Cu Seng

bertanya sambil menatap wajah raksasa brewok itu dengan

sinar mata tajam.

“Li-bengcu, engkau tahu bahwa aku tidak pernah takut!”

kata Gu Kam..

“Suheng (Kakak Seperguruan) Gu Kam tentu saja tidak

takut, Li-bengcu. Akan tetapi yang kami khawatirkan adalah

bengcu sendiri. Kalau sampai ketahuan musuh bahwa bengcu

sendiri yang memasuki kota raja, bagaimana mungkin kami

berdua dapat melindungi bengcu dari ser-gapan balatentara

kerajaan yang berkumpul di kota raja?” kata Giam Tit.

Li Cu Seng tersenyum, mengangguk-angguk. Tentu saja dia

tidak pernah meragukan kesetiaan dan kegagahan dua orang

pembantunya ini.

“Gu-twako dan Giam-twako, aku tahu benar bahwa kalian

berdua tidak takut menghadapi apapun juga. Sejak semula

kita semua sudah menyadari bahwa perjuangan ini berarti

mempertaruhkan nyawa kita. Hanya ada dua pilihan, berhasil

atau mati! Karena itu, mengapa kita ragu kalau ada bahaya

menanti dalam kota raja? Kiranya tidak ada yang tahu akan

penyamaran kita bertiga. Kalau ada yang bertanya, jangan

lupa mengatakan bahwa kita datang dari dusun dan hendak

mengunjungi keluarga Panglima Bu Sam Kwi yang tinggal di

kota raja.”

“Akan tetapi, apakah bengcu benar-benar mengenal

Jenderal Bu Sam Kwi?” tanya Giam Tit.

 

Li Cu Seng tersenyum. “Tentu saja aku mengenalnya,

bahkan kami dulu menjadi sahabat baik. Aku akan memakai

nama marga Cu, dan kalian berdua adalah kakak beradik she

(bermarga) Kam. Nah, mari kita memasuki kota raja. Kita

tinggalkan kuda di sini.” Mereka bertiga menambatkan kuda

pada batang pohon, akan tetapi melepaskan kendali dari

hidung dan mulut kuda-kuda itu sehingga tiga ekor binatang

itu dapat makan rumput yang tumbuh subur di bawah pohonpohon

itu.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han memberi isarat kepada lima

orang Liong-san Ngo-heng untuk mendekat. Mereka bertujuh

lalu berunding.

“Kita belum yakin siapa mereka dan apa niat mereka.

Belum tahu benar apakah mereka itu lawan atau kawan. Maka

kita bayangi saja ke mana mereka pergi. Lihat, mereka bertiga

meninggalkan kuda dan kini berjalan menuju ke pintu gerbang

kota raja. Kita bayangi dari jauh!” bisik Cia Kok Han.

Tujuh orang itu membayangi tiga orang yang berjalan

dengan santai menuju ke pintu gerbang. Setelah tiba di pintu

gerbang, para penjaga pintu gerbang menghadang dan

menghentikan t iga orang itu.

“Berhenti! Kami mendapat tugas untuk memer iksa semua

pendatang yang tidak kami kenal. Hayo katakan, siapa kalian,

datang dari mana dan hendak kemana?” tanya komandan jaga

dengan sikap tegas.

Li Cu Seng melangkah maju dan memberi hormat. “Sobat,

dalam keadaan seperti sekarang ini, memang kalian sebagai

penjaga-penjaga harus teliti dan tegas. Sikapmu ini

mengagumkan dan pasti akan mendapat pujian dari Panglima

Besar Bu Sam Kwi. Kami akan melaporkan ketegasanmu ini

kepada beliau!”

“Panglima Besar Bu Sam Kwi?” Komandan jaga bertanya,

matanya terbelalak. Tentu saja dia tahu siapa Panglima Besar

 

Bu Sam Kwi. Semua orang mengenal panglima besar yang

amat terkenal itu, apalagi perajurlt seperti dia dan kawankawannya.

“Engkau menyebut nama Panglima Besar Bu Sam Kwi?

Apakah kalian bertiga ini perajurit-perajurit anak buah Bu

Thai-ciangkun (Panglima Besar Bu)?”

Li Cu Seng tersenyum, sengaja mengambil sikap angkuh

dan dua orang pembantunya juga mengimbangi sikap ini,

mereka membusungkan dada.

“Perajurlt? Kami adalah perwira-perwira pembantu beliau

yang amat dipercaya sehingga beliau kini mengutus kami

untuk mengunjungi keluarga beliau di kota raja.”

Sikap komandan jaga dan anak buahnya yang berjumlah

selosin orang itu berubah. Komandan jaga memandang

hormat. “Ah, maafkan karena kami tidak mengenal sam-wi

(tuan bertiga). Akan tetapi, kalau sam-wi para pembantu

Panglima Besar Bu Sam Kwi, mengapa sam-wi tidak

mengenakan pakaian dinas?”

0ooodwkzooo0

Jilid 11

“IH, kawan. Di luar sana terdapat tt banyak pasukan

pemberontak. Kalau kami memakai pakaian perwira, tentu

kami tidak akan dapat sampai di sini! Kami sengaja menyamar

sebagai petani agar dapat mudah masuk ke kota raja dan

menyampaikan pesan Panglima Besar Bu kepada keluarganya

di kota raja.”

“Baiklah, kami percaya. Akan tetapi demi ketertiban, harap

sam-wi memperkenalkan nama sam-wi agar kami catat.”

“Aku bermarga Cu, dan dua orang temanku ini adalah

kakak beradik bermarga Kam. Sekarang maafkan kami karena

 

kami harus segera menghadap keluarga Panglima Besar Bu

Sam Kwi.” kata Li Cu Seng. Para penjaga itu tidak berani lagi

menghalangi dan mereka mempersilakan tiga orang yang

mengaku sebagai perwira-perwira utusan Jenderal Bu

memasuki pintu gerbang kota raja.

Akan tetapi pada saat itu, tujuh orang penunggang kuda

yang berpakaian sebagai perwira datang dari luar. Su Lok Bu

dan Cia Kok Han berlompatan turun dari atas punggung kuda

mereka, diikuti o leh lima orang Liong-san Ngo-eng. Su Lok Bu

dan Cia Kok Han sudah menghadang tiga orang yang baru

hendak memasuki pintu gerbang dan Su Lok Bu, murid Siauwlim-

pai yang bertubuh tinggi besar hitam brewokan itu berkata

dengan suara yang nyaring.

“Harap kalian bertiga berhenti dulu!” seru Su Lok Bu sambil

berdiri tegak di depan tiga orang itu dan mengamati wajah

mereka dengan tajam menyelidik. “Siapakah kalian, datang

dari mana dan hendak ke mana?”

Dengan penuh kewaspadaan namun dengan sikap yang

tenang, Li Cu Seng tersenyum lalu menjawab. “Baru saja para

penjaga pintu gerbang sudah menanyakan hal yang sama

kepada kami sudah kami jawab dengan sejelasnya. Akan

tetapi kalau cu-wi (kalian semua). ingin tahu, boleh kami

ulang jawaban kami. Aku she (bermarga) Cu dan dua orang

temanku ini kakak beradik bermarga Kam. Kami bertiga

datang dari barisan penjaga garis depan di San hai-koan, kami

tiga orang perwira kepercayaan Panglima Besar Bu Sairi Kwi

dan kami diutus oleh Bu Thai-ciangkun untuk mengunjungi

keluarganya di kota raja.”

Cia Kok Han yang bertubuh pendek gendut bertanya.

“Maafkan kami, sobat-sobat, kalau kami bersikap teliti. Kalau

kalian bertiga benar perwira pembantu Panglima Besar Bu

Sam Kwi, tolong perlihatkan surat kuasa untuk tanda kalian

agar kami merasa yakin. Juga agar kalian memberi keterangan

mengapa kalian berpakaian seperti petani dusun dan mengapa

 

pula kalian meninggalkan tiga ekor kuda tunggangan kalian di

hutan itu.”

Diam-diam tiga orang pimpinan laskar pemberontak itu

terkejut. Kiranya tujuh orang itu telah mengetahui bahwa

mereka datang berkuda! Ini berarti bahwa sudah sejak jauh

dari situ mereka telah diawasi! Akan tetapi Li Cu Seng yang

cerdik tetap tenang ketika dia menjawab sambil tersenyum.

“Kami kira sebagai perwira-perwira yang berpengalaman,

tentu cu-wi mengerti keadaan kami. Di luar sana terdapat

banyak sekali pasukan pemberontak. Kalau kami mengenakan

pakaian perwira, sudah pasti kami tidak mungkin dapat

sampai di sini dan sudah terbunuh di tengah perjalanan. Kami

sengaja meninggalkan kuda kami di hutan karena kami ingin

agar tidak menarik perhatian karena kami menyamar sebagai

orang desa. Dan tentang surat-surat yang menunjukkan

bahwa kami utusan Panglima Besar Bu Sam Kwi, ah, tentu cuwi

sudah mengetahui. Kami adalah perajurit-perajurit yang

setia sampai mati. Andaikata kami yang melaksanakan tugas

ini harus mati dalam perjalanan, jangan sampai ada yang

mengetahui siapa kami untuk menjaga rahasia pimpinan

kami.”

Jawaban yang lancar ini membuat hati Su Lok Bu, Cia Kok

Han dan kelima Liong-san Ngo-heng merasa puas.

“Maafkan kalau kami memer iksa dengan teliti karena kami

tidak ingin kecolongan. Nah, kalau begitu silakan sam-wi

(kalian bertiga) melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga

Panglima Besar Bu. Perkenalkan, kami bertujuh adalah para

pembantu Ciong Goan-swe yang juga merupakan rekan dan

sahabat Panglima Besar Bu Sam Kwi. Kami akan melaporkan

kedatangan kalian di kota raja kepada beliau.” kata Su Lok Bu.

Diam-diam hati Li Cu Seng terkejut juga. Kalau Jenderal

Cong sendiri yang bertemu dengannya, tentu jenderal itu akan

mengenalnya. Maka dia cepat mengucapkan terima kasih dan

melanjutkan perjalanannya ke dalam kota raja, diikuti oleh

 

dua orang pembantunya. Karena Li Cu Seng menduga bahwa

para perwira tadi cerdik dan tentu tidak akan melepaskannya

dari pengawasan begitu saja, maka dia terpaksa mengajak

dua orang temannya menuju ke rumah keluarga Panglima

Besar Bu Sam Kwi, tidak jadi langsung menyelidiki keadaan

dan kekuatan benteng pasukan kerajaan.

Dua orang temannya berbisik, menyatakan

kekhawatirannya kalau mereka mengunjungi keluarga Bu Sam

Kwi. Bagaimana kalau keluarga itu mengenal Li Cu Seng? Pasti

akan gempar dan pasukan datang menangkap mereka. Di

dalam kota raja, mereka bagaikan tiga ekor harimau yang

sudah terjebak dalam ruangan tertutup dan tidak mungkin

dapat lolos!

“Jangan khawatir, tidak ada seorang pun anggauta

keluarga Bu Sam Kwi yang pernah mengena! aku. Bahkan Bu

Sam Kwi sendiri kalau bertemu dengan aku belum tentu dapat

mengenalku. Kami bersahabat ketika kami masih muda,

belasan tahun yang lalu. Jangan khawatir, kita ke sana dan

biarkan aku yang bicara dengan mereka. Setelah ada

kesempatan, baru kita akan berkeliling dalam kota untuk

melakukan penyelidikan.”

Tiga orang itu lalu menuju ke rumah besar yang menjadi

tempat tinggal keluarga Panglima Besar Bu Sam Kwi. Tentu

saja mereka sudah tahu di mana rumah itu karena

sebelumnya mereka telah mempelajari keadaan kota raja dari

para penyelidik yang lebih dulu sudah disebar dalam kota raja

Peking. Ketika mere ka sedang berjalan dan tiba di depan

sebuah pasar, seorang pengemis berusia sekitar lima puluh

tahun, berpakaian compang-camping penuh tambalan,

terbungkuk-bungkuk menghampiri mereka dan menyodorkan

sebuah mangkok retak dengan tangan kanannya minta

sedekah (sumbangan). Tangan kirinya memegang sebatang

tongkat hitam.

 

“Kasihanilah, Tuan, berilah sedikit sumbangan!” kata

pengemis itu dengan suara cukup lantang sehingga terdengar

orang-orang di sekitar tempat itu. Li Cu Seng dan dua orang

pembantunya segera mengenal pengemis ini. Ada belasan

orang anggauta Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis

Tongkat Hitam), sebuah perkumpulan pengemis yang

mendukung gerakan Li Cu Seng, memang telah menyusup ke

dalam kota raja dan menjadi mata-mata yang melaporkan

keadaan kota raja kepada para pimpinan pemberontak. Maka

Li Cu Seng dan dua orang temannya segera mengeluarkan

uang receh dan memasukkannya ke dalam mangkok retak itu.

Ketika tidak ada orang lain memperhatikan peristiwa biasa dan

wajar ini, si Pengemis berbisik.

“Beng-cu (Pemimpin Rakyat), hati-hati, ada beberapa ekor

serigala membayangi.” setelah berbisik demikian, pengemis itu

pergi. Tiba-tiba Li Cu Seng menjatuhkan dua buah uang receh

dan segera membungkuk untuk memungutnya. Kesempatan

ini dia pergunakan untuk melihat ke arah belakangnya dan dia

dapat melihat lima orang menyelinap di antara para

pengunjung pasar dan tahulah dia bahwa mereka itu yang

disebut srigala oleh anggauta Hek-tung Kai-pang itu. Sebutan

srigala berarti mata-mata musuh, atau kaki tangan pasukan

kerajaan.

Li Cu Seng memberi isarat kepada dua orang temannya

untuk berjalan tenang seperti biasa dan dia lalu mengajak

mereka pergi ke gedung keluarga Panglima Bu. Gedung itu

besar dan halaman depannya amat luas. Akan tetapi anehnya,

mereka tidak melihat ada perajurit yang berjaga di gardu

dekat pintu gerbang. Padahal Panglima Bu Sam Kwi adalah

seorang pembesar militer yang memiliki kedudukan tinggi,

bahkan kini pertahanan seluruh balatentara kerajaan untuk

menghadang gerakan orang-orang Mancu berada di tangan

Panglima Bu. Akan tetapi mengapa rumah keluarga panglima

yang berkuasa itu tidak dijaga perajurit? Karena tidak ada

 

yang menjaga, tiga orang itu langsung saja memasuki

halaman yang luas menuju ke pendapa gedung besar itu.

Ketika mereka tiba di pendapa, dua orang laki-laki setengah

tua yang berpakaian sebagai pelayan keluar menyambut.

Melihat bahwa yang datang hanya tiga orang laki-laki

berpakaian seperti orang-orang desa, dua orang pelayan itu

mengerutkan alis mereka dan tampak tidak senang.

“Heh, siapa kalian dan mau apa datang ke sini!” seorang di

antara mereka membentak, tampaknya marah.

“Kalau mau minta pekerjaan atau minta sumbangan, kami

tidak dapat membantu dan hayo pergi dari sini!” kata orang

kedua, cak kalah galaknya.

Li Cu Seng dan dua orang pembantunya segera dapat

mengenal dua orang pelayan ini. Dari sikap mereka, tahulah Li

Cu Seng bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang suka

menjilat ke atas dan meludah ke bawah, mencari muka

kepada atasan dan menekan kepada bawahan. Dan dia tahu

bahwa Kerajaan Beng kini penuh dengan orang-orang macam

ini. Sebagian besar para pejabatnya adalah penjilat-penjilat

kaisar dan memeras rakyat, merendahkan rakyat, dan

menumpuk harta kekayaan dari hasil memeras rakyat. Karena

para pembesar sebagian besai merupakan penjilat dan

koruptor, maka dia tergerak dan mengerahkan laskar rakyat

untuk memberontak, untuk meruntuhkan kekuasaan para

koruptor itu. Baru dua orang pelayan saja sudah begini

sikapnya. Dia yakin bahwa mereka ini merupakan sebagian

dari anak buah atau pendukung dari para thai-kam yang kini

berkuasa di istana.

Gu Kam dan Giam Tit sudah tidak sabar melihat sikap dua

orang pelayan itu. Gu Kam yang tinggi besar dan brewok itu

melangkah ke depan menghadapi mereka dan berkata dengan

suara keren.

 

“Kami adalah perwira-perwira utusan Panglima Besar Bu

Sam Kwi! Cepat laporkan kepada keluarga Panglima Bu bahwa

kami diutus untuk bicara dengan keluarga beliau!”

Dua orang pelayan itu saling pandang dan cengar-cengir.

Jelas bahwa mereka tidak percaya dan menghina. “Huh, siapa

percaya?” kata yang seorang.

“Kalian bohong! Hayo pergil Masa ada perwira-perwira

seperti kalian tiga orang desa kotor?”

Gu Kam dan Giam Tit tidak dapat menahan kemarahan

mereka. Sekali bergerak, mereka sudah memegang lengan

kanan dua orang pelayan itu dan begitu mereka mengerahkan

tenaga, terdengar suara “krekk!” dan tulang lengan kanan dua

orang pelayan itu patah! Tentu saja mereka menjerit dan

menyeringai kesakitan.

Tiba-tiba seorang laki-laki yang juga berpakaian sebagai

pelayan muncul dari pintu. Usianya lebih tua dari yang dua

orang itu.

“Eh, ada apakah ini? Siapa kalian bertiga dan mengapa ada

ribut-ribut di sini?”

Karena pelayan satu ini sikapnya sopan dan kata-katanya

juga halus, Li Cu Seng berkata kepada dua orang

pembantunya. “Lepaskan mereka!” kemudian setelah dua

orang pelayan itu dilepaskan dan mereka memegangi lengan

yang patah tulangnya sambil mengaduh-aduh, dia berkata

kepada pelayan ke tiga. “Kami bertiga adalah perwira-perwira

pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi yang diutus datang

menemui keluarga beliau. Kami sengaja menyamar dan dua

orang pelayan ini tidak percaya dan bersikap kurang ajar

kepada kami.”

Pelayan tua itu segera membungkuk dengan hormat. “Ah,

kiranya sam-wi adalah perwira-perwira utusan Panglima Besar

Bu! Heh, kalian berdua sungguh tidak tahu aturan. Hayo pergi

ke belakang!” Setelah dua orang pelayan yang patah tulang

 

lengan kanannya itu sambil merintih pergi, pelayan tua itu lalu

berkata kepada Li Cu Seng.

“Harap Sam-wi Ciangkun (Perwira Bertiga) ketahui bahwa

pada saat ini, anggauta Panglima Besar Bu yang berada di

rumah hanya tinggal Kim Hujin (Nyonya Kim) seorang saja.

Sam-wi Ciangkun tentu mengetahui bahwa semua keluarga

yang lain telah dijemput oleh pasukan utusan Panglima Besar

Bu Sam Kwi beberapa minggu yang lalu dan yang tinggal di

sini sekarang hanya Kim Hujin.”

Tentu saja Li Cu Seng tidak mengetahui akan ha l ini, akan

tetapi setelah mengaku sebagai perwira utusan Panglima Bu,

tidak mungkin kalau dia tidak mengetahui!

“Tentu saja kami tahu akan hal itu. Kami memang diutus

untuk menemui Kim Hujin untuk menyampaikan pesan

Panglima Bu.”

“Kalau begitu silakan duduk menanti sebentar, saya akan

melaporkan kepada Kim Hujin!” kata pelayan itu, lalu dia

masuk ke dalam gedung. Li Cu Seng dan dua orang temannya

duduk menunggu di atas bangku yang terdapat di pendapa

atau ruangan depan itu.

“Beng-cu, apa yang akan kita katakan kalau berhadapan

dengan Kim Hujin itu?” Ciam Tit berbisik, bingung.

Li Cu Seng memberi isarat dengan pandang matanya agar

dua orang temannya itu memandang ke luar. Ketika keduanya

memandang ke luar, mereka melihat berkelebatnya bayangan

beberapa orang di luar pintu gerbang. Tahulah mereka bahwa

sampai sekarang ada orang-orang yang membayangi mereka

seperti dilaporkan anggauta Hek-tung Kai-pang tadi.

“Jangan khawatir, serahkan saja kepadaku.” kata Li Cu

Seng dengan sikap tenang sehingga dua orang pembantunya

merasa agak lega. Mereka percaya sepenuhnya akan

kecerdikan pemimpin mereka ini.

 

Pelayan tua tadi muncul kembali. “Silakan sam-wi masuk

dan menunggu di ruangan tamu. Kim Hujin akan segera

menemui sam-wi.” Dia mengantar tiga orang tamu itu

memasuki ruangan tamu yang luas, bersih dan tertutup.

Agaknya ruangan ini selain menjadi ruangan tamu, juga dapat

dipergunakan untuk ruangan tempat pertemuan penting yang

tak dapat dilihat atau didengar orang luar. Setelah mengajak

tiga orang itu masuk ke dalam ruangan tamu, pelayan itu

keluar lagi dan menutupkan pintu depan dari luar.

Li Cu Seng memberi isarat kepada dua orang pembantunya

untuk mengambil tempat duduk di atas kursi-kursi yang

menghadap kepada sebuah meja di mana terdapat pula

beberapa buah kursi, agaknya biasa menjadi tempat duduk

mereka yang memimpin pertemuan.

Terdengar langkah kaki lembut dari dalam. Mereka bertiga

cepat menengok dan ketika yang memiliki langkah kaki

muncul dari pintu dalam, berdiri di ambang pintu dan

menahan langkahnya lalu memandang kepada mereka bertiga

dengan sinar mata tajam menyelidik, tiga orang itu cepat

bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan depan dada

sebagai penghormatan. Mata tiga orang itu terbelalak heran

dan juga kagum. Sama sekali Li Cu Seng tidak mengira bahwa

yang disebut Nyonya Kim itu adalah seorang wanita yang

demikian muda, dengan kecantikan seorang dewi! Sang Dewi

Kzecantikan sendiri yang agaknya berdiri di situ! Usianya

paling banyak dua puluh lima tahun, masih tampak seperti

gadis belasan tahun, namun sinar mata, senyumnya, dan

sikapnya menunjukkan bahwa wanita ini sudah matang dan

selain pandai membawa diri, juga anggun dan bahkan

bersikap agung seperti seorang puteri istana saja! Rambutnya

hitam subur dan agaknya panjang sekali karena dilipat

menjadi sanggul yang besar ke atas, dihiasi tusuk sanggul

emas permata berbentuk burung Hong (sejenis

Cenderawasih), indah dan tentu mahal sekali. Anak rambut

hitam halus melingkar- lingkar manja di atas dahi dan kedua

 

pelipisnya, membuat wajah berbentuk bulat telur itu tampak

semakin putih mulus. Sepasang alis hitam melengkung tanpa

dibuat melindungi sepasang mata bintang yang bersinar tajam

namun lembut dan jernih, dengan bulu mata panjang lentik.

Hidungnya kecil mancung dengan ujung agak menjungat

sehingga mendatangkan kesan lucu. Mulutnya menggairahkan

dengan sepasang bibir yang lunak, tipis namun penuh,

kemerahan kalau bicara bergerak-gerak hidup. Senyumnya

menawan dan kilatan gigi putih rapi berderet teramat manis.

Selain wajah yang amat cantik jelita ini, tubuh wanita itu pun

ramping padat dengan lekuk lengkung sempurna, terbungkus

pakaian dari sutera yang indah. Kakinya memakai sandal b ulu

putih yang bersih, terhias sulaman benang sutera keemasan.

Benar-benar penampilan seorang wanita yang sepantasnya

tinggal di antara awan-awan bersama Kwan Im Pouwsat (Dewi

Maha Kzasih)!

Li Cu Seng adalah seorang pendekar yang tidak termasuk

seorang terpelajar tinggi, lebih tepat disebut seorang ahli silat.

Selama ini dia sibuk dengan perjuangan, hidup di dunia kangouw

(sungai-telaga, dunia persilatan), bahkan tidak

menghiraukan keluarganya, tidak mudah tertarik oleh wanita

cantik. Akan tetapi sekali ini dia merasa seperti mimpi bertemu

seorang dewikz! Inikah yang oleh pe layan disebut Kim Hujin?

Seorang Nyonya? Apakah ia isteri dari Panglima Besar Bu Sam

Kwi?

“Maaf, Nona, kalau kunjungan kami ini mengganggu.” kata

Li Cu Seng sambil menatap wajah wanita itu dengan

kekaguman terbuka. Wanita cantikitu tersenyum, bukan oleh

ucapan yang keluar dari mulut laki-laki gagah itu, melainkan

karena ia melihat pandang mata kagum itu. Ah, betapa setiap

orang pria memandangnya seperti itu kalau bertemu

dengannya! Ia sudah terbiasa, akan tetapi biasanya laki-laki

yang memandang kagum mencoba untuk menyembunyikan

kekaguman mereka, tidak seperti laki-laki ini yang

 

memperlihatkan kekagumannya secara terbuka. Juga ia geli

mendengar sebutan nona itu.

“Aku bukan nona, melainkan seorang diantara selir-selir

Panglima Besar Bu Sam Kwi.” kata wanita itu sambil

tersenyum sehingga wajahnya menjadi semakin menarik.

“Sam-wi (kalian bertiga) siapakah dan benarkah kalian diutus

Panglima Bu untuk berkunjung ke sini?”

“Maafkan kami, Nyonya, kami adalah utusan Panglima Bu.

Saya she Cu dan mereka ini kakak beradik she Kam. Kami

adalah perwira-perwira pembantu Panglima Bu. Kami diutus

mengabarkan bahwa keadaan Panglima Bu di sana baik-baik

saja dan kami disuruh menanyakan keadaan keluarga beliau di

sini.”

“Hemm, keluarga Panglima Bu yang tinggal di sini hanya

aku seorang, dan para pelayan. Semua anggauta keluarga

telah diboyong ke San-hai-koan!” wanita itu memandang

tajam penuh selidik.

“Kami mengerti, Toanio (Nyonya Besar)….”

“Hemm, jangan menyebut aku Nyonya besar! Namaku Kim

Lan Hwa dan aku lebih suka disebut Nyonya Kim begitu saja!”

“Baiklah, Nyonya Kim. Kami sudah tahu bahwa sebagian

besar anggauta keluarga Panglima Bu sudah diboyong ke

sana, justeru Panglima Bu menyuruh kami datang

mengunjungimu, Nyonya. Beliau mengkhawatirkan

keadaanmu di sini.”

Wajah yang cantik itu berseri, matanya bersina-sinar. “Aih,

Panglima Bu demikian sayang padaku, sungguh membuat aku

merasa bahagia sekali! Memang keadaan di sini…. ah,

bagaimana kalau dua orang temanmu ini disuruh menjaga di

luar kedua pintu depan dan belakang agar jangan ada yang

ikut mendengarkan percakapan kita? Aku mempunyai banyak

hal yang akan kusampaikan kepada Panglima Bu lewat

engkau, Cu sicu (orang gagah Cu).”

 

Li Cu Seng berkata kepada dua orang pembantunya.

“Kalian berjagalah, seorang di luar pintu depan dan seorang

lagi di luar pintu sebelah dalam itu.”

Gu Kam lalu keluar dan berjaga di pintu luar dari mana tadi

mereka masuk, sedangkan Giam Tit berjaga di luar pintu

dalam dari mana tadi Kim Lan Hwa memasuki ruangan tamu.

Setelah kini berada berdua saja dengan Li Cu Seng, Kim

Lan Hwa berkata dengan suara lirih. “Cu-sicu, laporkan kepada

Panglima Bu bahwa keadaan kota raja kini terasa tegang.

Menurut kabar pasukan pemberontak telah mulai menuju ke

kota raja. Sribaginda Kaisar telah memer intahkan semua

pasukan pemerintah ditarik ke kota raja untuk melindungi kota

raja. Bahkan telah dikirim utusan kepada suamiku, Panglima

Bu, agar membawa pasukannya kembali ke sini. Akan tetapi

aku mendengar bahwa Panglima Bu tidak menghiraukan

perintah itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan dan

amarah para Thaikam yang menuduh Panglima Bu sengaja

membiarkan kota raja terancam oleh pasukan pemberontak.

Karena anggauta keluarga Bu hanya tinggal aku seorang di

sini, maka mereka mulai melontarkan kata-kata tidak enak

terhadap aku. Aku takut sekali, Sicu! Apalagi aku mendengar

bahwa pemberontak Li Cu Seng dan anak buahnya yang amat

banyak itu benci sekali kepada para pejabat pemerintah

Kerajaan Beng. Kalau sampai kota raja mereka serbu dan

mereka duduki, tentu bahaya besar mengancam diriku sebagai

seorang selir Panglima Besar Bu Sam Kwi!” Wanita yang cantik

itu mulai gemetar dan tampak sekali ia memang ketakutan.

“Akan tetapi, Nona Kim….”

“Nyonya, bukan Nona…” Kim Lan Hwa memotong.

“Ketika Panglima Bu memboyong semua anggauta keluarga

dari sini ke San-hai-koan, mengapa Nona tidak ikut pergi?”

Mendengar Li Cu Seng kembali menyebut Nona Kim Hwa tidak

perduli lagi.

 

Ia menghela napas panjang. “Biarlah aku berterus terang

agar engkau mengerti duduknya perkara, Cu-sicu. Sebetulnya

tidak semestinya hal ini kuceritakan kepada orang lain. Akan

tetapi entah mengapa, aku percaya padamu. Ketahuilah

bahwa dahulu aku adalah seorang penyanyi yang terkenal di

empat propinsi utara. Panglima Bu Sam Kwi mengambil aku

sebagai seorang selir dan semenjak itu, isteri dan para selir

lain dar i Panglima Bu amat membenciku… mungkin karena….

Panglima Bu amat sayang kepadaku…. mereka menjadi iri hati

dan cemburu. Maka ketika Panglima Bu menyuruh pasukan

menjemput keluarganya dari sini dan diboyong ke San-haikoan,

Nyonya Bu mempergunakan kekuasaannya sebagai

isteri pertama, memaksa aku agar tidak ikut dan tinggal di sini

untuk menjaga rumah. Tentu saja mereka berharap agar kalau

pemberontak menyerbu kota raja, aku akan disiksa dan

dibunuh pemberontak yang membenci para bangsawan dan

keluarga mereka. Aih, aku khawatir sekali, Sicu… aku takut

sekali …” Wanita itu mulai menangis. Rasa takutnya selama

ini, semenjak ditinggalkan seorang diri di gedung itu bersama

sisa para pembantu yang tidak diikutsertakan boyongan ke

San-hai-koan, ia tahan-tahan dan sekarang rasa takut yang

ditahan itu jebol sehingga ia menangis tersedu-sedu,

menutupi mukanya dengan saputangan yang dipegang kedua

tangan.

Li Cu Seng merasa kasihan. Seorang wanita cantik jelita itu

kalau tersenyum, membuat orang lain merasa gembira, akan

tetapi kalau menangis, membuat hati yang keras seperti hati

Li Cu Seng menjadi lunak dan penuh iba! Dia membiarkan saja

wanita itu menangis mengeluarkan segala rasa takut dan

kesedihan bersama air mata. Setelah tangisnya mereda, dia

berkata, “Nona Kim, hentikan tangismu. Jangan takut dan

jangan bersedih. Saya akan melindungimu dari marabahaya!”

Kim Lan Hwa menghapus air matanya dengan sepasang

mata kemerahan dan membengkak ia memandang wajah Li

Cu Seng. “Ah, terima kasih, Cu-sicu, Aku mohon padamu,

 

sicu…. kalau sicu kembali ke San-hai-koan, bawalah aku serta,

Sicu”

Mendengar permintaan ini, bingung juga hati Li Cu Seng.

Tentu saja dia tidak dapat membawa wanita ini, karena dia

sama sekali tidak akan pergi ke San-hai-koan, melainkan

memimpin pasukannya menyerbu ke kota raja!

Melihat keraguan wajah pria itu, Kim Lan Hwa menjulurkan

kedua tangannya dan menyeberangi meja, memegangi lengan

kiri Li Cu Seng. “Bawalah aku, Sicu, dan jangan takut. Akulah

yang akan bertanggung jawab kalau Panglima Bu marah. Dia

tidak mungkin marah padaku, dan dia bahkan akan merasa

senang sekali kalau aku menyusul ke sana. Aku jamin engkau

tidak akan disalahkan, Cu-sicu!”

Li Cu Seng merasa betapa lunak dan hangat jari-jari tangan

yang memegang lengannya itu dan hatinya tergetar. Belum

pernah dia begini terpesona terhadap seorang wanita! Tanpa

disadarinya, tangan kanannya juga ditumpangkan ke atas

tangan wanita itu dan ditekannya dengan penuh perasaan.

“Kalau begitu, baiklah, Nona…”

Pada saat itu, pintu depan terbuka dan Cu Kam menyelinap

masuk bersama seorang laki-laki setengah tua berpakaian

pengemis dan memegang sebatang tongkat hitam. Seorang

anggauta Hek-tung Kai-pang! Wajah pengemis itu tampak

tegang.

“Gu-twako, ada apakah?” Li Cu Seng lupa bahwa tadi dia

memperkenalkan Cu Kam dan Giam Tit sebagai kakak beradik

she Kam karena dia terkejut dan maklum bahwa anggauTa

Hek-tung Kai-pang itu tentu membawa berita yang buruk

maka wajahnya tegang seperti itu.

“Cepat lapor kepada Beng-cu!” kata Cu Kam.

 

Pengemis itu menghampiri Li Cu Seng dan berbisik. “Bengcu,

tujuh orang perwira tadi menuju ke sini. Agaknya mereka

mencurigai Beng-cu bertiga!”

Li Cu Seng mengerutkan alisnya. “Hmm, kalau begitu cepat

hubungi kawan-kawan dan siap untuk melindungi kami keluar

dari kota raja. Jangan turun tangan dulu sebelum terjadi

perkelahian.”

“Baik, Beng-cu.” Setelah berkata demikian, dengan gerakan

gesit pengemis itu menyelinap keluar. Gu Kam menutupkan

daun pintu luar itu dari dalam.

Kim Lan Hwa kini bangkit dari kursinya dan menatap tajam

wajah Li Cu Seng, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke

arah muka pemimpin pemberontak itu dan berkata gagap,

“Engkau Beng-cu…? Engkau Pemimpin Pemberontak Li I Cu

Seng sendiri…?” mata wanita itu terbelalak dan wajahnya

berubah pucat.

Gu Kam menuju pintu dalam dan memanggil Giam Tit

sehingga kini mereka bertiga berada di ruangan tamu. Li Cu

Seng mengangguk kepada Kim Lan Hwa. Dalam keadaan

seperti itu dia harus tenang namun dapat mengambil

keputusan tepat dan cepat.

“Nona Kim, melihat kenyataan bahwa Panglima Besar Bu

Sam Kwi tidak mau membawa pasukannya ke kota raja untuk

melindungi Kaisar, membuktikan bahwa di antara kami

terdapat persamaan, yaitu kami sama-sama menentang

pemerintah Kerajaan Beng yang brengsek karena Kaisar telah

dikuasai oleh para Thaikam dan pembesar yang korup dan

lalim. Karena itu, keadaan Nona dan kami sama-sama berada

dalam bahaya. Tidak ada pilihan lain bagi Nona kecuali bekerja

sama dengan kami!”

“Bekerja sama bagaimana maksudmu?”

“Begini, Nona. Nona harus melindungi kami agar kami tidak

diganggu dan tidak dikenal para pengawal, kemudian setelah

 

kita dapat keluar dari kota raja, kami akan melindungi Nona

dari semua bahaya yang mengancam diri Nona.”

Kim Lan Hwa mengangguk-angguk.

“Baik… baik aku akan berusaha sedapatku!”

Pada saat itu, terdengar pintu diketuk dari luar dan ketika

pintu dibuka, seorang pelayan tua masuk dan berkata kepada

Kim Lan Hwa. “Kim Hujin, di luar terdapat tujuh orang perwira

yang mohon bicara dengan Hujin.”

“Baik, katakan kepada mereka bahwa aku akan segera

keluar menemui mere ka.” kata Kim Lan Hwa dengan suara

tegas. Wanita ini sudah dapat menenangkan hatinya dan tidak

tampak ketakutan lagi. Pelayan itu keluar dan Kim Lan Hwa

berkata kepada Li Cu Seng bertiga. “Sam-wi tunggu saja di

sini, aku akan menemui mere ka dan percayalah, sebagai selir

tersayang Panglima Bu Sam Kwi, aku masih disegani para

perwira.” Setelah berkata demikian, wanita cantik jelita ini lalu

membereskan wajahnya yang tadi menangis, membedakinya

kembali sehingga wajahnya kembali tampak berseri. Setelah

itu ia keluar dengan langkah gontai dan sikap anggun dan

agung.

Tujuh orang perwira yang duduk menunggu di pendapa itu

adalah Su Lok Bu, Cia Kok Han, dan lima Liong-san Ngo-heng.

Mereka segera bangkit berdiri memberi hormat ketika Kim Lan

Hwa muncul dari pintu dalam dengan sikapnya yang anggun

dan agung. Mereka bertujuh sudah tahu betul siapa wanita

cantik jelita ini. Wanita ini selir tersayang Panglima Besar Bu

Sam Kwi yang tidak ikut diboyong ke San-hai-koan karena ia

menjaga rumah gedung panglima besar itu.

“Maafkan kami, Toa-nio (Nyonya Besar) kalau kami

menganggu. Akan tetapi terpaksa kami datang berkunjung

bertalian dengan tiga orang yang datang ke gedung ini.

Mereka itu amat mencurigakan dan atas perintah Jenderal

Ciong Kak kami diharuskan menahan mereka untuk diperiksa

 

lebih lanjut. Kalau kemudian ternyata bahwa mereka memang

benar tiga orang perwira pembantu Panglima Besar Bu seperti

yang mereka katakan, tentu kami akan membebaskan mereka

kembali. Kami mohon perkenan Toa-nio untuk menangkap

mereka bertiga.”

Kim Lan Hwa mengerutkan alisnya, mukanya berubah

kemerahan, sepasang matanya yang indah itu menyinarkan

kemarahan dan kedua tangannya bertolak pinggang,

memandangi mereka satu demi satu.

“Berani se kali kalian menuduh yang bukan-bukan terhadap

para utusan suamiku, Panglima Besar Bu Sam Kwi? Kalau

kalian tidak percaya kepada mereka bertiga, berarti kalian

tidak percaya kepadaku dan kalau tidak percaya kepadaku,

berarti tidak percaya kepada Panglima Bu! Begitukah? Mereka

bertiga, Perwira Cu dan dua orang Perwira Kam adalah orangorang

kepercayaan suamiku, utusan pribadi Panglima Besar Bu

Sam Kwi yang diutus untuk bicara dengan aku mengenai

urusan keluarga kami. Juga mereka menceritakan bahwa saat

ini, Panglima Besar Bu sedang menyiapkan balatentara untuk

ditarik kembali ke kota raja, melindungi kota raja dari

ancaman serbuan pasukan pemberontak! Dan sekarang kalian

hendak menangkap mereka, seolah-olah para utusan suamiku

itu penjahat-penjahat? Kalau begitu, sebelum kalian

menangkap mereka, tangkaplah aku lebih dulu, biar nanti

Panglima Besar Bu Sam Kwi yang akan memutuskan apa yang

akan dia lakukan sebagai hukuman kepada kalian bertujuh!”

Tujuh orang itu tentu saja terkejut sekali mendengar

ucapan yang bernada marah ini. Melihat betapa selir

tersayang Panglima Bu itu menjamin bahwa tiga orang itu

benar-benar utusan pribadi Panglima Bu, tentu saja mereka

bertujuh percaya.

“Maaf, Toanio. Kami hanya melaksanakan perintah Jenderal

Ciong!” kata Cia Kok Han membela diri.

 

“Bagus! Kalau begitu, Jenderal Ciong yang akan

menangkap tiga orang utusan pribadi Panglima Besar Bu Sam

Kwi? Berarti Jenderal Ciong sudah berani memberontak

terhadap atasannya? Kalau perlu, suruh Jenderal Ciong bicara

sendiri dengan aku”

Tujuh orang itu kehilangan nyali. Mereka tadinya menaruh

kecurigaan besar terhadap tiga orang itu. Akan tetapi setelah

Kim Lah Hwa bersikap seperti itu, kecurigaan mereka hampir

hilang sama sekali. Kiranya mustahil kalau selir tersayang

Panglima Besar Bu Sam Kwi melindungi mata-mata

pemberontak!

“Baiklah, Toa-nio. Kami tarik kembali keinginan kami

menangkap tiga orang itu. Harap maafkan kesalah-pahaman

kami ini.” kata Su Lok Bu dan mereka bertujuh lalu memberi

hormat dan meninggalkan gedung itu.

Ketika wanita cantikitu bicara dengan tujuh orang perwira,

Li Cu Seng bertiga mengintai dari dalam dan mereka sudah

siap siaga kalau-kalau wanita itu melaporkan keadaan mereka

yang sesungguhnya, atau kalau terjadi bahaya mengancam.

Tentu saja mereka akan melawan mati-matian karena kalau Li

Cu Seng sampai tertawan hidup-hidup, berarti dia menyerah

dan ini akan melemahkan semangat laskar rakyat yang

dipimpinnya. Sebaliknya kalau dia melawan sampai mati, hal

ini malah menambah kemarahan para pemberontak terhadap

pemerintah Kerajaan Beng. Akan tetapi, betapa lega dan

girang rasa hati mereka melihat sikap Kim Lan Hwa dan

mendengar ucapannya yang tegas dan berwibawa sehingga

tujuh orang perwira itu menjadi jer ih dan meninggalkan

gedung itu. Untuk sementara mereka aman, akan tetapi rianya

sementara saja. Hal ini mereka ketahui benar.

Ketika Kim Lan Hwa memasuki ruangan tamu kembali, tiga

orang itu bangkit menyambutnya.

“Ah, Nona Kim hebat sekali! Kami sungguh merasa kagum

dan berterima kasih!” kata Li Cu Seng dan kembali dia

 

memandang dengan kekaguman yang tulus. Akan tetapi Kim

Lan Hwa mengerutkan alisnya.

“Li Beng-cu, sementara ini memang kita aman. Akan tetapi

bagaimana selanjutnya? Apa yang akan kita lakukan

sekarang?”

“Tenanglah, Nona Kim. Mari kita bicarakan dan kita cari

jalan terbaik untuk dapat meloloskan diri dari kota raja. Yang

terpenting, kami bertiga harus dapat keluar tanpa gangguan,

dan juga Nona sendiri agar dapat keluar dari sini kemudian

menyusul keluarga Nona di San-hai-koan. Hal itu merupakan

langkah ke dua. Langkah pertama sekarang bagaimana kita

berempat, yaitu kami dan Nona, dapat meninggalkan kota raja

tanpa halangan.”

Mereka berempat bersiam diri, berpikir-pikir. Tiga orang

pria itu t idak bisa mendapatkan ja lan terbaik, maka perhatian

mereka tertuju kepada Kim Lan Hwa. Wanita ini mengerutkan

alisnya dan jalan hilir mudik dalam ruangan yang luas itu.

Tiba-tiba pintu diketuk dari dalam.

“Siapa?” tanya Kim Lan Hwa.

“Hamba mengantarkan minuman, Hu-jin.” terdengar suara

pelayan wanita.

“Baik, bawa masuk.” kata Kim Lan Hwa.

Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita setengah tua

masuk membawa baki terisi seguci arak, empat buah cawan

perak dan beberapa piring makanan kecil. Dengan sikap

hormat pelayan itu meletakkan piring makanan dan guci serta

cawan di atas meja, kemudian ia membungkuk memberi

hormat lalu meninggalkan ruangan tamu itu.

“Mari, silakan makan dan minum arak untuk mengendurkan

ketegangan, perlahan-lahan aku akan mencari akal.” kata Kim

Lan Hwa.

 

Tanpa sungkan lagi tiga orang itu lalu minum arak dan

makan hidangan kecil itu bersama nyonya rumah.

“Ah, aku tahu caranya!” tiba-tiba Kim Lan Hwa berseru dan

Li Cu Seng memandang dengan wajah berseri.

“Apa yang harus kami lakukan, Nona?”

“Begini, Li Beng-cu, kalian bertiga akan kucarikan pakaian

perwira. Hal ini akan menguatkan kepercayaan mereka bahwa

kalian memang perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam

Kwi. Dan sebagai tiga orang perwira, kalian mengawal aku

keluar pintu gerbang kota raja.”

“Hemm, gagasan yang baik sekali.” kata Li Cu Seng, diamdiam

semakin kagum karena selain cantik jelita, wanita ini pun

cerdik sekali. Tidak mengherankan kalau ia menjadi selir

tersayang dari Bu Sam Kwi. Tiba-tiba timbul rasa iri dalam

hatinya terhadap Bu Sam Kwi!

“Akan tetapi, maafkan pertanyaanku, Nona. Bagaimana

kalau mereka bertanya ke mana kita hendak pergi?” tanya Cu

Kam.

“Tidak akan ada yang berani bertanya kepadaku. Aku naik

kereta, Li Bengcu yang menjadi kusir dan kalian berdua

mengawal kereta. Kalau ada yang berani bertanya, aku dapat

menjawab sesuka hatiku, mungkin pergi berjalan-jalan, atau

pergi berburu, atau bahkan aku dapat mengatakan bahwa aku

akan menyusul suamiku di San-hai-koan. Siapa yang berani

melarangku?”

“Kalau mereka tetap menghalangi?” tanya Li Cu Seng.

Kim Lan Hwa mengangkat kedua pundaknya dan menghela

napas panjang. “Kalau sampai terjadi demikian, aku tidak

dapat berbuat apa-apa lagi. Tinggal terserah kalian bertiga.”

“Kalau begitu, kita lawan mati-matian!” kata Giam Tit dan

Gu Kam menyetujui pendapat ini.

 

“Nona Kim, apakah engkau tidak dapat minta bantuan

pasukan yang setia kepada Panglima Besar Bu Sam Kwi agar

mereka memperkuat pengawalan ketika Nona meninggalkan

kota raja?”

Kim Lan Hwa menggeleng kepala. “Tidak bisa… kalau hal

itu kulakukan, memang ada perwira yang setia akan tetapi

kalau pengawalan pasukan terjadi, hal itu tentu akan

menimbulkan kecurigaan dan akan terjadi pertempuran besar

yang akibatnya bahkan buruk bagi suamiku. Tidak, kurasa

jalan tadi yang terbaik. Mudah-mudahan saja akal kita akan

berhasil baik.”

Kim Lan Hwa bekerja cepat. Ia menyuruh orang-orangnya

untuk menyediakan pakaian perwira bagi Li Cu Seng, Gu Kam,

dan Giam Tit. Tiga orang itu lalu mengenakan pakaian perwira

di luar pakaian penyamaran mereka, sedangkan Kim Lan Hwa

memer intahkan pelayan pria untuk mempersiapkan kereta

yang ditarik dua ekor kuda, juga hendak menyediakan dua

ekor kuda untuk Gu Kam dan Giam Tit. Akan tetapi Li Cu Seng

berkata. “Tidak perlu disediakan kuda bagi mereka. Kami telah

meninggalkan tiga ekor kuda kami di dalam hutan di luar pintu

gerbang barat.”

Kim Lan Hwa mengumpulkan perhiasan dan beberapa

potong pakaian untuk dibawa pergi. Setelah semua persiapan

selesai, ia memesan kepada para pelayan untuk menjaga

rumah baik-baik karena ia akan pergi menyusul keluarganya

ke San-hai-koan, dikawal tiga orang perwira pembantu

Panglima Besar Bu Sam Kwi itu.

“Mari kita berangkat.” katanya kepada tiga orang yang

sudah berubah menjadi perwira-perwira berpakaian indah

membuat mereka tampak gagah. “Hari telah siang jangan

sampai kita kemalaman sebelum jauh dari kota raja.”

Wanita itu memasuki kereta dan sengaja tidak menutup

tirainya agar semua orang dapat melihat bahwa yang berada

di dalam kereta adalah ia. Li Cu Seng yang berpakaian perwira

 

gagah itu duduk di tempat kusir, memegang kendali kuda, dan

Gu Kam bersama Giam Tit berjalan di belakang kereta sebagai

pengawal. Maka berangkatlah kereta itu keluar dari halaman

gedung tempat t inggal keluarga Panglima Besar Bu,

diantarkan para pelayan sampai di depan pintu gerbang

gedung itu.

-odwo0

Gadis itu sudah dewasa dan matang, usianya sekitar dua

puluh lima tahun. Wajahnya cantik dan lembut, namun sinar

matanya terkadang sayu seperti orang yang menderita luka

dan terkadang tajam lerkilat. Tubuhnya ramping padat, kulitlya

putih mulus kekuningan. Rambut hitam panjang lebat,

dikuncir dua sehingga tampak lucu. Hidungnya kecil mancung,

dagunya runcing dan sebuah tahi lalat kecil di dagu membuat

ia tampak manis sekali. Bibirnya merah basah namun sayang

mulut yang manis itu jarang sekali tersenyum. Ia berjalan

seorang diri di luar kota raja bagian barat. Karena ia tidak

membawa senjata apa pun, maka tentu orang akan

menyangka bahwa ia seorang gadis lemah, walaupun

keadaannya berjalan seorang diri di tempat sepi itu

mengherankan bagi seorang gadis lemah.

Padahal, sesungguhnya gadis ini sama sekali bukan

seorang wanita lemah. Bahkan ia seorang gadis yang amat

lihai, dan pernah menggemparkan kota raja dengan

perbuatannya yang mendirikan bulu roma. Dan tahun yang

lalu, gadis ini telah mengamuk dan membuat putera seorang

kepala jaksa di kota Thian-cin menjadi seorang yang cacat dan

mengerikan karena wajahnya dirusak dan kaki tangannya

menjadi buntung dan lumpuh. Putera jaksa itu bernama Pui Ki

Cong dan bersama dia, dua orang ahli silat yang tangguh juga

dibuat serupa dengan majikan mereka, menjadi cacat dan gila,

tidak seperti manusia lumrah lagi. Yang seorang lagi malah

tewas membunuh diri. Gadis ini adalah Kim Cui Hong, puteri

mendiang guru silat Kim Siok di dusun Ang-ke-bun. Seperti

 

telah diceritakan di bagian depan kisah ini, ketika ia berusia

enam belas tahun, seorang gadis remaja yang cantik, Kim Cui

Hong diculik dan diperkosa bergantian oleh Pui Ki Cong

bersama tiga orang tukang pukulnya, yaitu Gan Tek Un, Koo

Cai Sun, dan Louw Ti. Bukan hanya perkosaan berulang oleh

empat orang dan penghinaan yang diderita Cui Hong,

melainkan lebih dari itu karena ayahnya, Kim Siok dan

suhengnya, Can Lu San, tewas pula ketika hendak

menolongnya. Mereka berdua tewas di tangan tiga orang

jagoan anak buah Pui Ki Cong itu, tiga orang yang terkenal

dengan julukan Bu-tek Sam-eng (Tiga Pendekar Tanpa

Tanding).

Setelah menderita malapetaka hebat itu, Cui Hong menjadi

murid Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Pencabut Nyawa),

seorang datuk kang-ouw yang sakit dan ia digembleng selama

tujuh tahun oleh gurunya itu, sehingga Cui Hong, yang

tadinya memang sudah pandai bersilat belajar dari ayahnya,

kini menjadi seorang gadis yang luar biasa lihainya. Akan

tetapi oleh gurunya itu yang setahun lalu telah meninggal

dunia karena usianya yang sudah tua, Cui Hong disuruh

berjanji bahwa ilmunya tidak boleh dipergunakan untuk

membunuh. Akan tetapi, saking demikian mendalam perasaan

dendam dan bencinya kepada musuh-musuh itu, walaupun ia

tidak membunuh mereka, namun ia menyiksa mereka dan

membuat mereka dalam keadaan hidup tidak mati pun tidak,

lebih berat daripada kalau mereka mati. Bahkan seorang di

antara Bu-tek Sam-eng, yang sudah bertaubat dan hidup

sebagai seorang tosu pertapa, membunuh diri karena tidak

ingin melihat Cui Hong bermusuhan dengan keponakannya

sendiri yang hendak melindunginya. Keponakannya itu

bernama Tan Siong, murid Kun-lun-pai yang hidup sebagai

seorang pendekar.

Sebetulnya Tan Siong jatuh cinta kepada Cui Hong, akan

tetapi ketika Cui Hong karena hendak membalas dendam

kepada Gan Tek Un yang sudah menjadi pertapa, yang dulu

 

juga ikut memperkosa dan menghinanya, Tan Siong membela

pamannya dan menghalangi Cui Hong. Melihat ini, dan merasa

menyesal akan dosanya, akan perbuatannya yang teramat keji

terhadap Cui Hong tujuh tahun yang lalu, Gan Tek Un lalu

membunuh diri sehingga tidak terjadi perkelahian antara Cui

Hong dan Tan Siong.

Cui Hong melangkah santai sambil termenung. Ia teringat

akan Tan Siong. Setelah ia berhasil melaksanakan balas

dendam sakit hatinya, Tan Siong menyatakan cintanya

kepadanya. Ia menolak karena merasa dirinya sudah ternoda,

diperkosa empat orang secara keji. Akhirnya ia meninggalkan

Tan Siong walaupun pemuda itu mengaku tetap mencintanya

walaupun ia sudah ternoda.

Cui Hong menghela napas panjang. Selama dua tahun ini ia

merantau di dunia kang-ouw (persilatan), bertindak sebagai

seorang pendekar wanita yang membela kebenaran dan

keadilan, menentang yang jahat seperti pesan ayahnya dahulu

ketika ayahnya mengajarkan silat kepadanya. Dan selama dua

tahun itu, banyak sudah laki-laki yang tertarik dan

menyatakan cinta kepadanya, namun semua itu dito laknya

dengan halus maupun dengan kasar sesuai dengan sikap lakilaki

itu sendiri ketika menyatakan cintanya.

Harus diakuinya bahwa ia tidak dapat melupakan Tan Siong

yang amat baik kepadanya, la tahu bahwa Tan Siong amat

mencintanya, cinta yang tulus. Namun ia sendiri ragu. Ia

sendiri tidak tahu apakah ia juga mencinta Tan Siong. Ia tidak

tahu apakah ia masih dapat mencinta seorang laki-laki setelah

hidup dan kebahagiannya dihancurkan empat orang laki-laki

itu.

Ketika pergolakan terjadi, yaitu adanya pemberontakanpemberontakan

terhadap Kerajaan Beng, terutama sekali yang

digerakkan oleh pemimpin pemberontakan Li Cu Seng, Cui

Hong tidak tahu harus berpihak mana. Ia sendiri sudah

mengalami hal pahit oleh ulah seorang kepala jaksa, yaitu

 

Pembesar Jaksa Pui dan ia pun dalam perantauannya selama

dua tahun serlngkall bertemu pembesar-pembesar lalim yang

menekan rakyat, yang sewenang-wenang mengandalkan

kekuasaannya, maka ada perasaan tidak suka kepada para

pejabat pemerintah Kerajaan Beng yang pada umumnya

tukang korup dan sewenang-wenang itu. Maka, ketika

mendengar ada pemberontakan terhadap pemerintah

Kerajaan Beng, ia pun tidak begitu mengacuhkan. Akan tetapi,

ia pun melihat betapa banyak pendekar berdatangan ke kota

raja memenuhi undangan Jenderal Ciong Kak untuk

membantu pemerintah memperkuat kota raja menghadapi

ancaman pemberontak. Ia menjadi bimbang dan teringatlah

Cui Hong kepada seorang saudara sepupunya.

Ayahnya, mendiang Kim Siok mempunyai seorang kakak

bernama Kim Tek dan uwanya itu mempunyai seorang anak

perempuan yang sebaya dengannya. Nama saudara

sepupunya itu adalah Kim Lian Hwa. Ia mendengar bahwa

enam tahun yang lalu Kim Lian Hwa diambil sebagai selir oleh

seorang panglima besar Kerajaan Beng yang bernama

Panglima Bu Sam Kwi dan yang kini terkenal sebagai panglima

yang berkuasa memimpin balatentara menjaga di San-haikoan.

la mendengar dari para pendekar bahwa Panglima Bu

Sam Kwi adalah seorang Panglima baik dan setia, dan

dikagumi oleh semua tokoh dan para datuk dunia kang-ouw.

Maka timbul keinginan hatinya untuk mengunjungi saudara

sepupunya itu, dan ia tentu akan mendapat keterangan dan

penggambaran jelas tentang pemberontakan yang dipimpin Li

Cu Seng, nama yang juga dikagumi para pendekar dan

kabarnya bahkan partai-partai persilatan besar mendukung

gerakan Li Cu Seng ini. Maka pada siang hari itu, Kim Cui

Hong berjalan santai seorang diri di luar kota raja sebelah

barat.

Pada saat itu juga, kereta yang ditumpangi Kim Lan Hwa

dikusiri Li Cu Seng dan dikawal Gu Kam dan Giam Tit. Ketika

kereta melalui pintu gerbang, para perajurit penjaga tidak

 

berani menghalangi melihat kereta dikusiri dan dikawal tiga

orang perwira. Apalagi ketika melihat kereta yang terbuka

tirainya itu ditumpangi Kim Hujin yang dikenal semua

perajurit, mereka malah segera bersikap tegak dan memberi

hormat.

Kereta keluar dari pintu gerbang, mula-mula dijalankan

perlahan karena dua orang itu mengawal dengan jalan kaki,

akan tetapi setelah agak jauh dari pintu gerbang, Li Cu Seng

menjalankan keretanya lebih cepat. Gu Kam dan Giam Tit

mengikut inya sambil berlari.

Ketika mereka tiba di dekat hutan di mana mereka

meninggalkan kuda mereka, tiba-tiba muncul delapan orang

menghadang di tengah jalan. Terpaksa Li Cu Seng menahan

kuda penarik kereta, dan Kim Lian Hwa menjenguk dari

kereta. Melihat delapan orang perwira berdiri menghadang

dan ternyata mereka adalah tujuh orang yang tadi datang ke

gedungnya ditambah seorang perwira tua lagi, Kim Lan Hwa

berkata dengan suara tegas dan alis berkerut.

“Hei! Kalian ini perwira-perwira yang tidak tahu aturan!

Berani sekali kalian menahan keretaku? Apakah kalian tidak

mengenal aku, isteri Panglima Besar Bu Sam Kwi? Hayo

minggir dan biarkan kami lewat, atau aku akan melaporkan

kekurang-ajaran kalian kepada Panglima Besar Bu!”

“Maafkan kami, Toanio.” kata Su Lok Bu yang memimpin

rombongan itu. “Tindakan kami ini justru untuk melindungi

Toanio, karena yang menyamar sebagai perwira pembantu

Panglima Besar Bu Sam Kwi ini adalah pemimpin pemberontak

Li Cu Seng dan dua orang anak buahnya!”

Mendengar ini, wajah Kim Lan Hwa menjadi pucat dan ia

jatuh terhenyak di atas kursi kereta, tidak mampu bicara lagi.

Akan tetapi Li Cu Seng tetap tenang dan dari tempat

duduknya di depan kereta dia berkata dengan lantang.

 

“Sobat, engkau sungguh lancang sekali menuduh orangl

Kami bertiga adalah perwira-perwira pembantu Panglima

Besar Bu Sam Kwi, bagaimana kalian dapat menuduh kami

pimpinan pemberontak?”

Tiba-tiba perwira tua yang muncul bersama Su Lok Bu, Cia

Kok Han, dan lima Liong-san Ngo-heng berkata sambil

menudingkan telunjuknya ke arah Li Cu Seng.

“Engkau adalah pemimpin pemberontak Li Cu Seng! Aku

pernah melihatmu ketika aku ikut mempertahankan Shen-si

dari serbuanmu. Setelah Shen-si jatuh ke tangan

pemberontak, aku bertugas di sini. Aku tidak lupa, engkaulah

Li Cu Seng!”

“Bohong!” Kim Lan Hwa membentak. “Dia adalah Perwira

Cu, pembantu suamiku Panglima Besar Bu Sam Kwi!”

“Maaf, Toanio. Terpaksa kami akan menangkap tiga orang

ini dan kami bawa kepada Ciong Goan-swe (Jenderal Ciong)

untuk ditelit i lebih dulu!” kata Su Lok Bu. jPerw’ra yang

bertubuh tinggi besar berkulit hitam, bermata lebar dan

mukanya penuh brewokitu telah mencabut siang-kiam

(sepasang pedang) dari pinggangnya. Cia Kok Han, perwira

sebaya Su Lok Bu, berusia lima puluh dua tahun, bertubuh

pendek gendut, berkulit putih dan matanya sipit, rambut dan

jenggotnya sudah putih semua, juga sudah mencabut

sebatang golok besar yang berat. Su Lok Bu adalah seorang

jagoan murid Siauw-lim-pai, sedangkan Cia Kok Han adalah

seorang tokoh Bu tong pai tentu saja mereka berdua ini

memiliki kepandaian tinggi. Lima orang Liong-san Ngo-heng

juga mencabut pedang mereka. Tidak ketinggalan perwira tua

yang mengenal Li Cu Seng itu pun mencabut pedangnya. ‘

Delapan orang itu siap untuk menyerang.

“Li Cu. Seng!” bentak Su Lok Bu sambil menudingkan

pedang kanannya. “Menyerahlah kalian bertiga agar kami

tidak perlu menggunakan kekerasan!”

 

Karena merasa percuma menyangkal karena perwira tua itu

telah mengenalnya, Li Cu Seng melompat turun dari atas

kereta sambil memberi isarat kepada dua orang pembantunya,

mereka bertiga lalu merenggut lepas pakaian perwira yang

mereka pakai menutupi pakaian mereka yang biasa, dan

mencabut senjata masing-masing.

“Aku adalah Li Cu Seng! Kami bertiga pimpinan laskar

rakyat dan tidak mudah untuk menangkap kami!” kata Li Cu

Seng. Sementara itu, Gu Kam dan Ciam Tit sudah memasang

kuda-kuda dengan golok di tangan kanan. Melihat sepasang

kuda-kuda itu, Cia Kok Han berseru heran dan marah.

“Kalian adalah murid-murid Bu-tong-pail Sungguh

memalukan murid Bu-tong-pai menjadi pemberontak!”

“Hemm, kuda-kudamu adalah pembukaan ilmu golok Butong-

pai pula! Kami membantu para pejuang untuk

merobohkan kekuasaan kaisar lalim yang menjadi boneka para

Thaikam. Engkau lebih memalukan merendahkan diri menjadi

anjing para Thaikam yang korup dan jahat!” bentak Gu Kam.

Mendengar ini, Cia Kok Han menjadi marah sekali dan dia

sudah menggerakkan golok besarnya menyerang Gu Kam.

Pembantu Li Cu Seng ini pun menyambut dengan goloknya.

“Tranggg!” Bunga api berpijar ketika dua batang golok

beradu dan mereka merasa betapa tangan mereka tergetar,

tanda bahwa tenaga mereka seimbang. Mereka lalu saling

serang dengan seru dan mati-mat ian.

Su Lok Bu juga sudah menggerakkan sepasang pedangnya

menyerang Giam Tit yang cepat memutar goloknya untuk

menangkis dan balas menyerang. Kedua orang ini pun segera

terlibat dalam per kelahian yang seru.

Liong-san Ngo-eng ketika mendengar bahwa laki-laki tinggi

tegap yang tampan gagah itu adalah pimpinan pemberontak Li

Cu Seng, segera bergerak maju dan mengeroyok. Mereka

mencabut pedang dan segera mengatur gerakan, lambatTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

lambat mereka melangkah mengitari Li Cu Seng dengan

berbagai kuda-kuda. Melihat gerakan mereka ini, Li Cu Seng

waspada. Dia tahu bahwa lima orang itu membentuk sebuah

kiam-tin (barisan pedang) yang berbahaya sekali. Cepat dia

pun memutar pedangnya dan berusaha membobol kepungan

itu dengan menyerang orang yang berada di depannya,

menusukkan pedangnya dengan pengerahan tenaga sakti.

“Tranggg…!” Bukan hanya pedang lawan yang dia serang

itu yang menangkis, melainkan juga orang di sebelah kirinya

sehingga ada dua pedang yang menangkis, lalu pada saat

yang bersamaan, orang di sebelah kanannya menyerang

dengan bacokan pedang sehingga Li Cu Seng harus cepat

mengelak. Benarlah dugaannya. Lima orang itu membentuk

barisan pedang yang luar biasa tangguhnya. Setelah saling

serang beberapa lamanya, tahulah Li Cu Seng bahwa lima

orang itu membentuk Ngo-heng Kiam-tin (Barisan Pedang

Lima Unsur) yang amat berbahaya dan amat tangguh. Seperti

juga unsur Ngo-heng, yaitu Air-Kayu-Api-Tanah-Logam, lima

orang itu saling mengisi dan saling menghidupkan atau

menunjang. Air menghidupkan Kayu, Kayu menghidupkan Api,

Api menghidupkan Tanah, Tanah menghidupkan Logam dan

Logam menghidupkan Air. Maka, setiap kali Li Cu Seng

menyerang seorang lawan, ada orang lain yang bantu

menangkis atau melindunginya dan orang lain pula

menyerangnya. Semua ini dilakukan secara tertatur sekali

sehingga pertahanan mereka amat kuat, juga mereka dapat

menyerang secara bertubi-tubi. Tak lama kemudian Li Cu Seng

menjadi kewalahan juga. Dia memang seorang pemimpin

perjuangan yang gigih dan pandai, pandai mengatur pasukan,

membentuk barisan-barisan yang kuat, namun ilmu silatnya

tidaklah terlalu tinggi sehingga kini menghadapi Ngo-heng

Kiam-tin dari Liong-san Ngo-eng, Li Cu Seng terdesak hebat.

Melihat betapa usaha mereka melarikan diri ketahuan dan

kini tiga orang pimpinan pemberontakitu dikeroyok, Kim Lan

Hwa menjadi bingung. Ia hendak turun dari kereta dan

 

melarikan diri, kembali ke kota raja. Akan tetapi tiba-tiba

perwira tua itu sudah menghadang di luar kereta sambil

menodongkan pedangnya

“Toanio terlibat dengan para pemberontak, harap tidak

meninggalkan kereta.” katanya.

Kim Lan Hwa terpaksa duduk kembali. Kini, wanita

bangsawan ini tidak dapat lagi menggunakan gertakan karena

keadaan Li Cu Seng sudah ketahuan dan ini berarti bahwa ia

mempunyai hubungan dengan pimpinan pemberontakan itu!

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu

seorang gadis cantik sudah berdiri dekat kereta.

“Enci Kim Lan Hwa, jangan khawatir, aku datang

melindungimu!”

Kim Lan Hwa terbelalak memandang gadis itu dan ia

berseru girang. “Cui Hong!”

Perwira tua yang tadi menodongkan pedangnya, kini

membalik dan menyerang Cui Hong dengan pedangnya. Akan

tetapi Cui Hong yang hanya memegang sebatang ranting,

dengan mudah mengelak dan sekali ranting itu berkelebat,

jalan darah di pundak perwira itu telah tertotok, sehingga

lengan kanannya lumpuh dan pedangnya terlepas dari

pegangan. Kaki kiri Cui Hong menendang.

“Bukk…!” Perut perwira itu tertendang sehingga tubuhnya

terpental dan dia roboh pingsan!

“Adik Cui Hong, cepat engkau bantu mereka!” Kini Kim Lan

Hwa menunjuk ke arah Li Cu Seng yang masih kerepotan

dikeroyok lima orang itu. Sedangkan dua orang pembantunya,

Gu Kam dan Giam Tit, juga masih bertanding seru dengan

lawan masing-masing. Kim Lan Hwa tadi segera mengenal Kim

Cui Hong, puteri pamannya. Ia sudah mendengar tentang

nasib Cui Hong yang malang dan sudah mendengar pula

betapa kini Cui Hong menjadi seorang wanita yang tinggi

 

sekali ilmu silatnya sehingga mereka yang menjadi musuhmusuhnya,

yang membunuh ayah dan suhengnya, yang

memperkosa dan menghinanya, semua telah dihukumnya

secara mengerikan. Karena yang disiksanya itu putera jaksa

tinggi dan orang-orangnya, maka tentu saja Kim Cui Hong

menjadi orang buruan pemerintah. Tentu saja yang

memburunya adalah para penjahat yang menjadi kawankawan

pembesar itu. Maka, kemunculan Cui Hong yang lihai

itu menggirangkan hati Kim Lan Hwa.

Seperti kita ketahui, secara kebetulan pada siang hari itu

Cui Hong sedang berjalan menuju kota raja untuk

mengunjungi saudara sepupunya, yaitu Kim Lan Hwa. Sama

sekali tidak disangkanya ia akan bertemu dengan wanita itu di

dekat hutan. Melihat perkelahian itu, tadinya ia ragu karena ia

tidak tahu akan urusannya. Akan tetapi ketika mengenali Su

Lok Bu dan Cia Kok Han yang dulu pemah menjadi jagoan

Tuan Muda Pui Ki Cong, ia t idak ragu lagi harus membantu

pihak mana. Sudah pasti pihak dua orang bekas kaki tangan

Pui Ki Cong itu yang tidak benar. Juga melihat Kim Lan Hwa

yang duduk di kereta ditodong seorang perwira, ia cepat turun

tangan membereskan perwira itu. Setelah Kim Lan Hwa minta

kepadanya untuk membantu, Cui Hong kembali meragu. Siapa

yang harus dibantunya? Jangan-jangan dua orang bekas anak

buah Pui Kongcu itu berada di pihak Kim Lan Hwa. Saudara

sepupunya ini adalah isteri seorang panglima, maka tidak

aneh kalau dua orang itu kini menjadi pengawalnya.

“Enci Lan Hwa, siapa yang harus kubantu? Perwira itukah?”

tanyanya ragu.

“Bukan! Merekalah yang hendak menangkap a ku. Bantulah

tiga orang pendekar itu!”

Pada saat itu, Su Lok Bu mengeluarkan bunyi siulian

nyaring dan bermuncul-lanlah dua losin perajurit! Tadinya, dia

memandar rendah tiga orang itu dan merasa yakin akan dapat

mengalahkan mere ka. Akan tetapi setelah mendapat

 

kenyataan betapa lihainya mereka, dan melihat pula

munculnya seorang gadis cantik memegang ranting yang

membuat wajahnya pucat dan jantungnya berdebar, dia cepat

memberi isarat memanggil pasukannya yang tadi sudah siap

menanti perintah ini. Su Lok Bu mengenal Kim Cui Hong! Juga

Cia Kok Han mengenalnya sehingga dua orang ini menjadi

jerih sekali karena mereka maklum betapa lihainya gadis itu.

Cui Hong sudah menerjang dengan rantingnya. Ia melihat

betapa seorang di antara tiga pendekar yang dikeroyokitu

kewalahan menghadapi barisan pedang lima orang yang lihai.

Ia menyerang dan karena ia menyerang dari luar kepungan,

tentu saja yang diserangnya membalik untuk membela diri

dan kepungan itu menjadi kacau. Melihat kehebatan gerakan

ranting di tangan Cui Hong, dua orang dari lima anggauta

kiam-tin itu terpaksa menghadapinya sehingga Li Cu Seng

hanya dikeroyok oleh tiga orang. Tentu saja hal ini membuat

dia tidak terdesak lagi.

Barisan pedang itu berusaha untuk memancing Cui Hong ke

dalam kepungan. Biarpun ada dua orang, kalau keduanya

dapat mereka kepung dalam barisan pedang mereka, tentu

mereka berlima dapat mendesak dan mengalahkannya. Akan

tetapi Cui Hong tidak dapat dipancing. Ia tetap saja bergerak

di luar kepungan dan Li Seng bergerak di dalam kepungan.

Akan tetapi, tidak terlalu lama Li Cu Seng dan Kim Cui Hong

membuat lima orang Liong-san Ngo-eng terdesak karena Su

Lok Bu telah meniup peluitnya dan dua losin perajurit itu

datang menyerbu. Segera empat orang itu, Li Cu Seng, Kim

Cui Hong, Cu Kam, dan Ciam Tit menghadapi pengeroyokan

banyak orang. Tujuh jagoan ditambah dua puluh empat orang

perajurit. Orang yang tadi dirobohkan Cui Hong masih belum

dapat ikut mengeroyok.

Melihat empat orang itu dikeroyok demikian banyak

perajurit, Kim Lan Hwa menjadi khawatir sekali. Kalau mereka

 

itu roboh, ia sendiri tentu akan ditangkap dan dituduh

bersekutu dengan para pimpinan pemberontak!

Sementara itu, Su Lok Bu dan Cia Kok Han, dibantu belasan

orang perajurit, sudah mengepung Cui Hong.

“Kim Cui Hong iblis betina! Sekarang engkau akan menebus

semua dosa kekejamanmu dulu!” bentak Su Lok Bu. “Engkau

ikut menjadi seorang pemberontak!”

Cui Hong mengelebatkan rantingnya. “Huh, kiranya engkau

anjing-anjing penjilat pembesar korup dan laknat, sampai

sekarang tetap saja menjadi anjing penjilat!”

Empat orang itu tentu saja terdesak hebat karena

dikeroyok terlalu banyak orang. Memang mereka masingmasing

sudah merobohkan dua orang pengeroyok, namun

pihak musuh terlalu banyak sehingga keselamatan mereka

terancam dan gawat sekali. Selain untuk melarikan diri tidak

mungkin karena mereka dikepung banyak orang, juga bukan

watak Li Cu Seng untuk lari meninggalkan kawan-kawannya.

Dia pun bertanggung jawab atas keselamatan Kini Lan Hwa

karena bagaimanapun juga, wanita selir Panglima Bu Sam Kwi

itu sudah berjasa menolong dia bertiga keluar dari kota raja.

Kalau kini dia dan dua orang anak buahnya melarikan diri

meninggalkan Kim Lan Hwa dan gadis perkasa yang kini

membantu mere ka, dunia akan mencemoohkan nama mereka

sebagai pengecut-pengecut yang tidak mengenal budi! Lebih

baik mati daripada dianggap pengecut.

O0dw0O

Jilid 12

PADA saat yang amat gawat itu, tiba-tiba terdengar soraksorai

dan muncullah puluhan orang berpakaian pengemis yang

membawa tongkat hitam menyerbu ke tempat pertempuran.

Mereka itu adalah para anggauta Hek-tung Kai-pang dan

 

mereka segera menyerang para peraju-rit kerajaan dengan

permainan tongkat mereka yang lihai! Jumlah para anggauta

Hek-tung Kai-pang itu tidak kurang dari empat puluh orang

dan mereka itu rata-rata memiliki ilmu tongkat yang lihai,

yang merupakan ilmu istimewa dari Hek-tung Kai-pang. Kini

keadaannya menjadi terbalik. Para perajurit terdesak hebat,

banyak di antara mereka yang sudah roboh.

Cui Hong mengamuk. Dengan bantuan banyak anggauta

Hek-tung Kai-pang, ia mendesak Su Lok Bu dan Cia Kok Han

dengan ranting di tangannya. Pada saat yang tepat ia berhasil

menendang roboh Su Lok Bu dan tangan kirinya menampar

dan mengenai pundak Cia Kok Han sehingga dua orang ini

terpelanting. Akan tetapi mereka dapat melompat bangkit dan

bersama Liong-san Ngo-eng, mereka tanpa malu-malu lagi

melarikan diri karena makium bahwa kalau mereka nekat

melawan, akhirnya mereka tentu akan tewas. Sisa para

perajurit yang belum roboh juga melarikan diri.

Li Cu Seng lalu meneriaki para anggauta Hek-tung Kai-pang

untuk membubarkan diri. “Tidak perlu lagi kalian semua

kembali ke kotaraja, cukup beberapa orang saja dengan

menyamar sebaiknya dan kalian bersiaplah karena penyerbuan

akan segera dilakukan. Nona Kim, terpaksa engkau harus ikut

dulu dengan kami karena kami tidak mempunyai waktu

mengantar Nona ke San-hai-koan.”

“Hong-moi (Adik Hong), naiklah dan temani aku!” kata Kim

Lan Hwa kepada Cui Hong. Gadis itu pun tidak menolak dan

tanpa banyak cakap ia memasuki kereta dan duduk di

samping selir panglima besar itu. Karena keadaan mendesak,

yaitu para perwira kerajaan tadi tentu akan cepat datang lagi

membawa pasukan besar, maka Cui Hong juga tidak ada

waktu lagi untuk bercakap-cakap. Kereta segera dilarikan oleh

Li Cu Seng. Gu Kam dan Giam Tit menunggangi kuda mereka

dan mereka membalap menuju daerah barat yang sudah

dikuasai pasukan rakyat pimpinan Li Cu Seng.

 

Setelah kereta berjaian dan mereka duduk bersanding di

dalam kereta, barulah Kim Cui Hong yang tangannya dipegang

oleh Kim Lan Hwa yang gemetaran itu berkata.

“Enci Lan, apakah artinya semua ini? Engkau adalah isteri

seorang panglima besar, mengapa engkau malah bersama tiga

orang yang dikeroyok para perajurit itu? Mengapa pasukan

kerajaan malah mengganggumu? Dan siapakah tiga orang

itu?”

“Panjang ceritanya, Hong-moi. Ketahuilah bahwa suamiku,

Panglima Bu, kini berada di San-hai-koan memimpin pasukan

menjaga tapal batas di timur-laut itu. Semua anggauta

keluarganya telah diboyong pula ke sana. Hanya aku seorang

diri yang tinggal di gedungnya di kota raja.”

“Akan tetapi mengapa, Lan-ci (Kakak Lan)? Mengapa

engkau tidak ikut puia di boyong ke sana?”

Kim Lan mengheia napas panjang. “Ahh, semenjak aku

diambil menjadi selir Panglima Besar Bu Sam Kwi, hidupku

amat pahit, Hong-moi.” katanya dengan nada sedih.

Cui Hong mengerutkan aiisnya dan memandang wajah

yang cantikitu dengan heran. Seingatnya, ketika terjadi

malapetaka menimpa dirinya, yaitu ketika ia berusia sekitar

enam belas tahun, kurang lebih sembilan tahun yang laiu,

saudara sepupunya ini menjadi seorang penyanyi yang amat

terkenal. Hidupnya serba kecukupan, mewah, dan dikagumi

banyak orang. Ketika itu, ia tidak mendengar berita apa pun

tentang Kim Lan Hwa, apalagi setalah peristiwa menyedihkan

menimpa dirinya, ia lalu menghilang dari dunia ramai, menjadi

murid Toat-beng Hek-mo selama tujuh tahun. Setelah tamat

belajar dan terjun ke dunia ramai lagi, ia pernah mendengar

bahwa Kim Lan Hwa telah menjadi selir Panglima Besar Bu

Sam Kwi dan tentu saja ia menganggap saudara misannya itu

hidup daiam kemuliaan. Tentu saja ia merasa heran

mendengar ucapan wanita itu bahwa setelah menjadi

panglima besar, hidupnya amat pahit!

 

“Tapi, aku mendengar bahwa engkau menjadi selir yang

paling disayang oleh Panglima Besar Bu Sam Kwi! Bagaimana

engkau dapat mengatakan bahwa engkau hidup pahit, berarti

tidak berbahagia?”

“Justru kenyataan itulah yang menyebabkan hidupku terasa

sakit, Hong-moi. Memang, Panglima Bu amat sayang

kepadaku, akan tetapi hal itu justru membuat seluruh keluarga

Pangiima Bu, terutama isteri dan para selirnya, merasa iri dan

tidak suka kepadaku, bahkan mereka diam-diam amat

membenciku! Aku hidup seperti dikelilingi musuh-musuh,

Hong-moi. Bagaimana aku dapat hidup senang? Padahal,

sebelum aku menjadi selir Panglima Bu, dan hidup sebagai

seorang penyanyi, semua orang sayang dan memujiku. Ah,

ketika itu aku hidup berbahagia, akan tetapi setelah menjadi

selir Panglima Bu, aku hidup sengsara walaupun berada dalam

gedung besar dan serba mewah dan kecukupan.” Wanita itu

lalu menangis perlahan.

“Akan tetapi, Lan-ci, mengapa engkau perdulikan mereka

semua itu? Yang terpenting suamimu. Kalau engkau

mencintanya dan dicinta olehnya, hal-hal lain dan sikap orangorang

lain tidak perlu diperdulikan.”

Kim Lan Hwa menyusut air matanya dan menghentikan

tangisnya. “Engkau tidak tahu, Hong-moi. Justru itu yang

pertama-tama membuat aku tidak berbahagia. Aku sama

sekali tidak mencinta laki-laki yang menjadi suamiku. Ketika

Panglima Besar Bu mengambil aku sebagai selir, siapa yang

berani menghalanginya? Aku pun tentu saja tidak berani

menolak. Aku hanya mengharapkan agar dapat hidup

berbahagia di sampingnya karena aku mendengar bahwa

Panglima Bu adalah seorang yang baik dan adil. Akan tetapi

kenyataannya, aku tidak dapat mencintanya. Hal itu mestinya

masih dapat kupertahankan karena dia memang amat baik

dan sayang kepadaku, akan tetapi setelah semua anggauta

keluarga membenciku, aku merasa seolah hidup dalam

 

neraka. Bahkan, ketika Panglima Bu mengirim pasukan

menjemput keluarganya, isteri dan para selirnya meninggalkan

aku dengan alasan agar aku menjaga gedung keluarga kami.”

Kim Cui Hong mengangguk-angguk. Kini ia baru mengerti

an dapat membayangkan betapa tidak enaknya hidup seperti

saudara sepupunya itu. Menjadi isteri seorang laki-laki yang

tidak dicintainya, malah dibenci oleh semua keluarga yang

merasa iri. Tentu setiap saat bertemu dengan pandang mata

membenci dan muiut cemberut, suara-suara yang

mencemoohkan dan memanaskan hati!

“Kemudian apa yang terjadi maka engkau dapat berada di

tempat pertempuran tadi, Enci Lan?”

“Pagi tadi datang tiga orang berpakaian petani yang

mengaku perwira-perwira utusan Panglima Bu yang menyamar

untuk mengunjungi aku. Akan tetapi kemudian ternyata

mereka itu adalah para pemimpin laskar rakyat yang

memberontak.”

“Ah…l” Kim Cui Hong terkejut. “Laskar rakyat yang

dipimpin Li Cu Seng yang terkenal itu?”

Kim Lan Hwa mengangguk dan menunjuk ke arah

punggung kusir kereta. “Dialah Li Cu Seng sendiri! Dan dua

orang pengawal itu para pembantunya!”

“Ahh…!” Cui flong terkejut dan tubuhnya menegang, siap

menghadapi musuh.

Tanpa menoleh, Li Cu Seng yang sejak tadi mendengarkan,

berkata, “Nona, jangan kaget dan khawatir. Kami adalah

sahabat dan pelindung rakyat. Musuh kami hanyalah

pemerintah Kerajaan Beng yang dipimpin pembesar-pembesar

korup dan lalim. Kami berjuang demi kepentingan rakyat!”

“Dia benar, Hong-moi. Engkau sendiri tentu sudah

mendengar betapa laskar rakyat yang membebaskan banyak

propinsi di daerah barat dan utara itu selalu disambut dengan

 

gembira oleh rakyat yang mendukung mere ka. Bahkan aku

mendengar bahwa ketika Kaisar minta bantuan kepada

Panglima Bu untuk mengirim pasukan mempertahankan kota

raja, Panglima Bu menolak. Agaknya Panglima Bu sendiri

melihat kelaliman Kaisar yang dipengaruhi dan dikuasai para

Thaikam. Karena itulah, maka kami saling berjanji. Aku

membantu Li Bengcu (Pemimpin Rakyat Lu) dan dua orang

pembantunya keluar dari kota raja, dan dia akan membantu

aku, mengantarkan aku pergi ke San-hai-koan menyusul

Panglima Bu. Kami berhasil keluar dari pintu gerbang, akan

tetapi setelah tiba di sini mereka tadi menghadang dan

hendak menangkap kami. Lalu engkau muncul dan juga para

pengemis tadi datang membantu sehingga musuh dapat diusir

pergi.”

“Mereka bukan pengemis-pengemis biasa, Nona Kim.

Mereka adalah anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang yang

gagah perkasa dan membantu perjuangan kami.” Kata Li Cu

Seng.

“Hong-moi, engkau sudah mendengar semua riwayat dan

pengalamanku. Sekarang ceritakanlah padaku, kemana saja

selama ini engkau menghilang? Aku mendengar akan semua

sepak terjangmu, ketika engkau menghukum Pui Kongcu

(Tuan Muda Pui) putera Jaksa Pui yang korup dan sewenangwenang

itu, juga para jagoannya. Mereka memang manusiamanusia

iblis yang jahat dan pantas menerima hukuman yang

berat. Aku kagum sekali kepadamu yang telah membalas

kematian ayahmu. Akan tetapi lalu ke mana engkau pergi?

Dan bagaimana engkau bisa menjadi demikian lihai?”

Kim Cui Hong menghela napas panjang. Sungguh pahit

mengenang semua pengalamannya itu. “Enci Kim Lan Hwa,

banyak hal kualami dan agaknya hidupku yang lalu juga tidak

lebih daripada keadaanmu. Setelah ayah dan suheng terbunuh

orang-orang jahat, aku hampir putus asa. Akan tetapi aku lalu

 

ditolong dan diambil murid suhu Toat-beng Hek-mo dan

digembleng selama tujuh tahun.”

“Hebat! Kiranya Nona murid Lo-cian-pwe (Orang Tua

Gagah) Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Pencabut Nyawa) yang

amat sakti?” tiba-tiba Li Cu Eng bertanya. “Nona, di mana

suhumu itu sekarang dan bagaimana keadaan beliau?”

“Suhu telah meninggal dunia, tahun yang lalu karena sakit

tua.”

“Adik Cui Hong, lalu bagaimana engkau tadi tiba-tiba dapat

muncul dan membantu kami?”

“Enci Lan Hwa, selelah aku berhasil membalas rendam atas

kematian Ayahku dan Suhengku, aku lalu merantau.” Cui

Hong sengaja tidak menceritakan tentang malapetaka yang

menimpa dirinya, diperkosa dan diperhina Pui Ki Cong dan tiga

orang jagoannya. Dalam perantauan itu aku mendengar

tentang keadaan pemerintahan Kerajaan Beng yang mulai

kacau, tentang para pejabat yang korup dan lalim, tentang

penderitaan rakyat jelata, dan tentang pemberontakan yang

dilakukan rakyat yang dipimpin orang-orang gagah. Juga aku

mendengar tentang laskar rakyat yang dipimpin oleh…. Li

Bengcu ini. Aku masih bingung mendengar semua itu. Lalu

aku teringat kepadamu, Lan-ci. Aku ingin mengunjungimu

karena engkau adalah selir Panglima Besar Bu Sam Kwi yang

tentu mengetahui benar keadaan negara yang kacau itu. Dan

setibanya di sana tadi aku melihat engkau berada di dalam

kereta ditodong seorang perwira, maka aku segera turun

tangan.”

Li Cu Seng berkata. “Kedatangan Nona tepat sekali dan

kami berterima kasih atas bantuanmu. Sekarang engkau

sudah mendengar sendiri, Nona. Pemerintah Kerajaan Beng

telah menjadi rusak dan busuk karena Kaisar telah berada

dalam cengkeraman para Thaikam. Para pejabat tinggi

sebagian besar korup dan lalim sehingga rakyat merasa tidak

puas dan terjadi pemberontakan di mana-mana. Nona sendiri,

 

menurut apa yang kudengar tadi, menjadi korban kejahatan

putera seorang jaksa tinggi yang sewenang-wenang. Sekarang

terdapat lebih banyak lagi pembesar yang bahkan lebih jahat

daripada mereka yang dulu Nona musuhi. Maka, sekarang

terserah kepadamu, Nona Kim Cui Hong, kalau engkau mau

membantu perjuangan kami, kami akan menerima dengan

senang hati.”

“Hal itu akan kupikirkan dulu, Beng-cu. Akan tetapi

sekarang, ke mana engkau hendak membawa Enci Kim Lan

Hwa?” tanya Cui Hong.

“Tentu saja ke Shensi di mana markas besar kami berada.

Sekarang tidak ada waktu lagi untuk mengantarnya ke Sanhai-

koan karena kami harus mempersiapkan penyerbuan ke

kota raja. Setelah kami menyelidiki dan mendapat kenyataan

bahwa Panglima Besar Bu Sam Kwi tidak mengirim pasukan

untuk melindungi kota raja, maka kami harus cepat menyerbu

dan menguasainya.”

“Akan tetapi, bukankah engkau berjanji kepada Enci Lan

untuk mengantarnya ke San-hai-koan?” tanya Cui Hong.

“Benar, akan tetapi maaf, hal itu tidak dapat kami lakukan

sekarang. Sebaiknya, demi keselamatannya sendiri, Nona Kim

ikut bersamaku dan untuk sementara tinggal di sana.”

Cui Hong menoleh kepada saudara sepupunya.

“Bagaimana, Enci Lan. Apakah engkau mau tinggal bersama Li

Bengcu untuk sementara, ataukah engkau ingin menyusul

keluarga suamimu ke San-hai-koan sekarang? Kalau engkau

ingin kesana sekarang, aku dapat mengantar dan

mengawalmu!”

“Terima kasih, Hong-moi. Engkau memang baik sekali.

Akan tetapi kupikir aku tidak akan menyusul ke San-hai-koan

sekarang. Pertan, perjalanan itu amat jauh, dan kedua, amat

berbahaya kalau hanya engkau seorang diri yang

mengawalku, dan pula… aku akan merasa aman kalau berada

 

dalam perlindungan Li Bengcu. Biarlah untuk sementara aku

ikut ke Shen-si.” Kim Lan mengerling ke arah pendekar itu. Ia

memang sejak bertemu merasa kagum kepada Li Cu Seng.

Laki-laki itu demikian gagah, tegas, dan tenang penuh

wibawa. “Baiklah, kalau begitu, selamat jalan, Enci Lan. Aku

ingin melanjutkan perjalananku merantau.”

“Akan tetapi…. Hong-moi, apakah engkau tidak ikut

bersamaku? Aku masih kangen dan ingin banyak bercakapcakap

denganmu.”

“Maaf, Enci Lan. Engkau sudah aman terlindung, aku t idak

mengkhawatirkan keadaan dirimu lagi. Aku akan melihat-lihat

keadaan kota raja.”

“Li-hiap (Pendekar Wanita), berbahaya sekali kalau engkau

memasuki kota raja. Tentu para perajurit tadi akan

mengenalmu dan engkau akan ditangkap dan dianggap

pemberontak karena engkau tadi membantu kami.” kata Li Cu

Seng, dan dia menghentikan dua ekor kuda yang menarik

kereta. “Karena itu, marilah engkau ikut dengan kami dan kita

bersama menghadapi pasukan Kerajaan Beng yang sudah

mulai runtuh itu.”

Cui Hong tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Terima

kasih, Bengcu. Terus terang saja, aku masih bingung

memikirkan tentang permusuhan antara Kerajaan Beng dan

para pemberontak yang menamakan dirinya pejuang.

Memang, aku merasakan adanya pembesar-pembesar yang

menyeleweng dari kebenaran, mengandalkan kekuasaan

bertindak sewenang-wenang dan jahat, akan tetapi

permusuhanku dengan mereka hanya merupakan urusan

pribadi, bukan urusan negara. Ketika aku melakukan

perjalanan, aku bertemu dengan para pendekar yang bertekad

membela Kerajaan Beng sebagai warga negara yang setia.

Akan tetapi aku bertemu pula dengan para pendekar yang

mendukung laskar rakyat yang Bengcu pimpin dan

mengatakan bahwa laskar rakyat itu pejuang-pejuang

 

pembela rakyat, sebaliknya yang membela kerajaan

mengatakan bahwa laskar rakyat itu pemberontakpemberontak

dan pengacau keamanan. Aku sendiri menilai

bahwa kedua golongan itu ada benarnya dan ada pula

kelirunya. Karena itu, tadinya aku ingin bertemu Enci Kim Lan

Hwa dan bertanya kepada suaminya karena aku mendengar

bahwa Panglima Besar Bu Sam Kwi seorang yang adil dan

bijaksana. Akan tetapi sayang, aku tidak dapat bertemu

dengannya. Sampai sekarang pun aku belum dapat

mengambil keputusan harus berada di pihak yang mana, Beng

cu.”

“Akan tetapi, Kim-lihiap. Tadi engkau sudah membantu

kami melawan para perajurit kerajaan, itu berarti bahwa

engkau sudah berpihak kepada kami para pejuang dan

memusuhi pemerintah Kerajaan Beng!”

“Tidak, Bengcu. Kalau tadi aku turun tangan, aku hanya

ingin membela Enci Kim Lan Hwa dan aku membantu Bengcu

bertiga atas permintaan Enci Lan. Kuanggap mereka itu hanya

segerombolan orang yang hendak mengganggu Enci Kim Lan

Hwa, maka aku menentang mereka. Bukan berarti aku

menentang Kerajaan Beng. Seperti dulu, kalau aku menentang

pembesar pemerintah yang jahat, bukan berarti aku

menentang pemerintah, melainkan menentang orangnya yang

kebetulan menjadi pejabat. Aku menentang kejahatannya,

Bengcu, bukan kedudukannya.”

Li Cu Seng menghela napas panjang dan berkata. “Kim

Lihiap, aku tidak dapat menyalahkanmu. Aku menghargai

pendirianmu karena aku pun dapat merasakan apa yang

menjadi gejolak hatimu. Banyak pendekar yang juga bimbang

seperti perasaanmu. Aku dulu juga seorang pendekar yang

hanya menjunjung tinggi dan mempertahankan kebenaran

dan keadilan perorangan. Akan tetapi sekali ini menyangkut

nasib jutaan orang rakyat kecil, Lihiap. Maka aku memilih

berjuang menumbangkan kekuasaan lama yang sudah busuk

 

dan korup ini dan menggantikan dengan kekuasaan baru yang

adil bers ih.”

“Terima kasin atas pengertianmu, Bengcu. Nah, selamat

tinggal. Enci Lan, selamat jalan, semoga engkau menemukan

kebahagiaan.” Setelah berkata demikian, Kim Cui Hiong

melompat dan berlar i cepat meninggalkan tempat itu.

Apa yang dikatakan pemimpin pemberontak Li Cu Seng

tentang akibat pemunculan Kim Cui Hong membantunya

ternyata benar. Su Lok Bu dan Cia Kok Han, dua orang jagoan

murid Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai yahg menjadi perwira

dalam pasukan Jendeial Ciong Kak, terkejut mengenali Kim Cui

Hong. Mereka berdua bersama Liong-san Ngo-eng terpaksa

melarikan diri dan meninggalkan banyak perajurit yang tewas

atau terluka parah, cepat kembali ke kota raja dan segera

melaporkan kepada Jenderal Ciong. Mendengar bahwa

Pimpinan Pemberontak Li Cu Seng sendiri berani memasuki

kota raja dan Mini melarikan diri bersama Kim Lan Hwa, selir

Panglima Besar Bu Sam Kwi yang terkenal, jenderal itu lalu

menyuruh dua ratus orang perajurit melakukan pengejaran

dengan tujuh orang perwira itu menjadi penunjuk jalan. Akan

tetapi, pengejaran ini gagal karena Li Cu Seng sudah

menghilang ke daerah yang sudah dikuasai pemberontak dan

pasukan itu terpaksa kembali karena di sana terdapat puluhan,

bahkan ratusan ribu perajurit dan Laskar Rakyat yang siap

menghadapi mereka.

Jenderal Ciong tentu saja merasa penasaran sekali.

Kehormatannya sebagai panglima yang mengatur pertahanan

kota raja terpukul. Li Cu Seng, pemimpin pemberontak itu

sendiri sampai dapat memasuki kota raja dan dia tidak dapat

menangkapnya! Lebih dari itu, malah pemimpin pemberontak

itu melarikan diri bersama selir Panglima Besar Bu Sam Kwi!

Ini saja membuktikan bahwa Panglima Bu Sam Kwi tidak

mempunyai iktikad baik terhadap Kerajaan Beng. Agaknya

panglima penja pertahanan di garis depan mencegah

 

mlrnknya tentara Mancu itu tidak perduli bahwa kota raja

terancam para pemberontak! Jenderal Ciong lalu menghadap

Kaisar dan seperti biasa, para pimpinan Thaikam menyertai

Kaisar dalam pertemuan itu. Mereka ini jelas mengambil alih

kekuasaan Kaisar dan segala keputusan seolah keluar dari

mereka. Kaisar sendiri seolah tidak tahu. bahwa dia berada

dalam cengkeraman kekuasaan para Thaikim, bahkan Kaisar

menganggap bahwa para Thaikam itu merupakan pembantupembantunya

yang paling setia dan paling dapat dipercaya!

Setelah Jenderal Ciong melaporkan akan ancaman bahaya

dani pasukan besar pemberontak, Kepala Thaikam Sue yang

dimintai pendapat Kaisar, berkata dengan sikap congkak.

“Ciong Goan-swe mengapa melaporkan hal sekecil itu

seolah-olah perkara besar sehingga mendatangkan

kegelisahan dalam hati Sri baginda Kaisar? Apa sih artinya

pemberontakan semacam itu? Semua pemberontakan dapat

dihancurkan selama ini!”

“Akan tetapi, Sri baginda Yang Mulia, sekali ini ancaman

datang dari Laskar Rakyat yang dipimpin Pemberontak Li Cu

Seng. Anak buah mereka itu ratusan ribu orang banyaknya!”

bantah Jenderal Ciong.

“Maksud Ciong Goan-swe, ratusan ribu orang petani dan

jembel-jembel yang kurang makan sehingga bertubuh kurus

dan lemah! Mengapa harus khawatir? Bukankah kita

mempunyai balatentara yang cukup banyak dan kuat, juga

kami mendengar banyak pendekar yang siap mempertahankan

kerajaan dan kota raja?” bantah Thaikam Sue.

“Ciong Goan-swe.” kini Kaisar berkata. “Kami percaya akan

kemampuan Goan-swe memimpin pasukan. Kami

memer intahkan Goan-swe untuk menghancurkan para

pemberontakitu!” Kaisar lalu memberi tanda bahwa

persidangan ditutup. Jenderal Ciong terpaksa kembali ke

benteng dengan wajah muram. Celaka, pikirnya. Air bah

sudah merendam tubuh sampai mendekati leher, masih saja

 

Kaisar tidak menyadari bahaya mengancam. Semua ini garagara

para Thaikam tolol yang berlagak pintar itu! Tidak ada

lain ja lan bagi Jenderal Ciong sebagai seorang panglima yang

gagah kecuali akan mempertahankan kota raja mati-matian

dan sampai tit ik darah terakhir!

0odwo0

Su Lok Bu dan Cia Kok Han, pendekar Siauw-lim-pai dan

Bu-tong-pai yang kini menjadi perwira pembantu Jenderal

Ciong untuk membela Kerajaan Beng dari ancaman

pemberontak, juga merasa kecewa sekali. Akan tetapi

kekecewaan mereka terutama sekali disebabkan mere ka tidak

berhasil menangkap atau membunuh Kim Cui Hong. Dua

orang ini menganggap Kim Cui Hong sebagai seorang wanita

iblis yang teramat kejam dan jahat. Memang mereka telah

mengetahui bahwa Pui Ki Cong, kepada siapa mereka tadinya

menghambakan diri, telah melakukan kejahatan terhadap Kim

Cui Hong, telah memperkosa-nya. Juga jagoan-jagoan

pembesar Pui, termasuk Koo Cai Sun dan Lauw Ti. Akan

tetapi, pembalasan Kim Cui Hong terhadap mereka bertjga

melampaui batas perikemanusiaan, maka, setelah Kim Cui

Hong dapat terbebas dari tangkapan mereka, bahkan mereka

terpaksa melarikan diri karena munculnya banyak pengemis

bertongkat hitam yang lihai, dua orang perwira itu lalu

mengunjungi sebuah rumah besar yang terpencil di sudut

kota.

Rumah itu besar dan kuno, tampak seram dan sunyi. Akan

tetapi begitu Su Lok Bu dan Cia Kok Han memasuki halaman

gedung, dari tempat persembunyian muncul empat orang

berpakaian seperti biasa dipakai para penjaga atau tukang

pukul jagoan. Akan tetapi sikap garang mereka menghilang

ketika dalam keremangan senja itu mereka mengenal dua

orang perwira yang datang.

 

“Laporkan kepada Tuan Muda Pui Ki Cong bahwa kami

berdua hendak Bertemu dan menyampaikan berita penting

sekali.” kata Su Lok Bu.

Kepala jaga mengangguk dan dua orang perwira itu

menunggu di pendapa ketika kepala jaga melapor ke dalam.

Sebetulnya, Su Lok Bu dan Cia Kok Han sudah tidak

membantu Pui Kongcu (Tuan Muda Pui) lagi, aKan tetapi

melihat keadaan bangsawan itu yang amat menderita,

terkadang mereka datang menjenguk, bahkan mereka

mencarikan tabib yang terkenal pandai untuk merawat dan

mengobati tubuh Pui Kongcu yang cacat. Mungkin karena

merasa senasib, atau mengingat bahwa nasib dua orang anak

buahnya yang juga dibuat cacat oleh Cui Hong itu setia

kepadanya, Pui Kongcu bahkan menyuruh orang membawa

Koo Cai Sun dan Lauw Ti ke gedung itu dan t inggal

bersamanya. Mereka mendapat perawatan tabib yang pandai.

Biarpun menjadi manusia caca, namun karena Pui Kongcu

kaya raya, maka mere ka dapat terawat baik.

Tak lama kemudian kepala jaga keluar dan mempersilakan

Su Lok Bu dan Can Kok Han masuk ruangan dalam. Cuaca

sudah mulai gelaf dan lampu-lampu penerangan mulai

dinyalakan sehingga ruangan dalam itu pun terang sekali

karena ada lima buah lampu besar meneranginya. Kalau saja

dua orang perwira ini belum pernah melihat tiga orang yang

berada di ruangan icu, tentu mereka akan bergidik dan

merasa ngeri. Memang keadaan ruangan itu dan keadaan

mereka menyeramkan sekali.

Ruangan yang luas itu sudah menyeramkan. Penerangan

lima buah lampu besar itu membuat semua yang berada di

situ tampak jelas. Dinding-dindingnya terhias lukisan dan

tulisan indah. Pot-pot bunga setiap sudut menyegarkan, akan

tetapi sutera-sutera putih yang bergantungan sebagai tirai

jendela dan pintu, mendatangkan kesan menyeramkan,

seperti ruangan berkabung karena ada kematian.

 

Dan di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja yang

bundar dan lebar. Di belakang meja tampak tiga orang yang

keadaannya amat mengerikan. Mereka semua duduk di atas

kursi roda. Mereka adalah Tuan Muda Pui Ki Cong, putera

Kepala Jaksa Pui yang telah pensiun setelah dipenjara selama

satu tahun, dan sekarang bekas jaksa itu yang masih kaya

raya menjadi tuan tanah yang memiliki banyak rumah yang

dia sewakan. Orang ke dua adalah Koo Cai Sun, dan yang ke

tiga Lauw Ti. Dua orang ini dahulu merupakan dua orang di

antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng (Tiga Orang Pendekar Tanpa

Tanding dari Thian-cin), bertiga dengan mendiang Gan Tek Un

yang membunuh diri.

Pui Ki Cong sekarang berusia tiga puluh sembilan tahun,

akan tetapi karena mukanya rusak, sukar ditaksir berapa

usianya. Muka pemuda bangsawan yang dulunya tampan

berkulit putih itu kini menyeramkan, seperti muka setan

menakutkan. Seluruh tubuhnya ada bilur-bilur menghitam,

bekas luka-luka sayatan yang diakibatkan cambukan ranting

oleh Cui Hong. Kulit mukanya juga penuh luka-luka sayatan

yang sudah sembuh tapi meninggalkan garis-garis menghitam.

Sepasang matanya buta dan kosong karena kedua biji

matanya sudah copot, bukit hidungnya hilang sehingga

tampak berlubang, bibirnya juga hilang sehingga tampak

deretan gigi saja, bahkan kedua daun telinganya juga hilang.

Sungguh tidak mirip manusia lagi dan kalau orang bertemu

dengannya di jalan, orang itu tentu akan lari ketakutan!

Semua ini masih ditambah lagi dengan kelumpuhan kedua

kakinya karena tulang-tulang kakinya hancur. Tadinya, tulang

lengan dari siku ke bawah juga remuk, akan tetapi berkat

kepandaian tabib, kini dia sudah dapat menggerakkan lagi

kedua lengan dan tangannya, walaupun gerakannya kaku.

Keadaannya sedemikian menakutkan dan menjijikkan

sehingga isteri-isterinya sendiri dan anak-anaknya pun merasa

takut dan jijik mendekatinya. Maka dia hidup terasing di dalam

gedung pemberian orang tuanya itu, hanya dikelilingi pelayanTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

pelayan karena kegiatan apa pun yang dia lakukan, harus

dibantu pelayan.

Koo Cai Sun berusia empat puluh empat tahun, akan tetapi

juga tak seorang pun yang mengenalnya sembilan tahun yang

lalu akan dapat mengetahui bahwa si muka setan ini adalah

Koo Cai Sun! Keadaannya hampir sama dengan keadaan Pui Ki

Cong. Kedua telinganya hilang, bukit hidungnya remuk dan

kini hidungnya berlubang melompong, mulutnya juga tanpa

bibir sehingga tampak giginya yang besar-besar dan ompong

sebagian. Kedua lengan tangannya juga bentuknya bengkobengkok

akan tetapi sudah dapat digerakkan dan biarpun

kedua kakinya tidak lumpuh, namun kedua ujung kaki, jari-jari

kakinya habis terbakar sehingga terpaksa dia pun memakai

bantuan kursi roda!

Orang ke tiga, Louw Ti berusia sebaya dengan Koo Cai Sun,

sekitar empat puluh empat tahun. Juga mukanya cacat, mata

kirinya buta karena biji mata itu pecah, dan matanya yang

tinggal sebelah kanan Itu mempunyai sinar, yang aneh, sinar

mata seorang yang miring otaknya! Dia menyeringai dan

terkadang dia terkekeh, aneh dan mengerikan. Kedua

tangannya juga cacat dan bahkan tangan kirinya buntung

sebatas pergelangan. Kedua kakinya juga dahulu mengalami

patah-patah tulang akan tetapi kini telah dapat disembuhkan

tabib walaupun yang kanan setengah lumpuh sehingga kalau

berjalan dia harus beiipncat-loncatan dengan kaki kiri. Maka

dia menggunakan kursi roda untuk dapat berjalan. Biarpun

penderitaan jasmani Louw Ti tidak sehebat Pui Ki Cong dan

Koo Cai Sun, namun penderitaan batinnya lebih hebat

sehingga pikirannya terganggu dan menjadi setengah gila.

Demikianlah, ketika Su Lok Bu dan Cia Kok Han duduk

berhadapan dengan tiga orang itu, diam-diam mereka bergidik

ngeri. Sungguh terlalu kejam pembalasan dendam yang

dilakukan Kim Cui Hong kepada tiga orang ini. Orang ke

empat, Gan Tek Un, telah bertaubat dan menjadi pendeta,

 

akan tetapi dia pun kini membunuh diri sebagal penebusan

dosanya terhadap gadis itu! Biasanya, dua orang itu kalau

datang, ke gedung ini, hanya untuk bertemu dengan Pui Ki

Cong, bekas majikan mereka. Baru sekarang mere ka datang

dan melihat tiga orang Itu bersama, dan mereka yang dulunya

pendekar kang-ouw dan sekarang menjadi perwira, yang

sudah banyak menyaksikan kekerasan dan akibat kekerasan,

mereka ngeri melihat tiga orang bekas amukan Kim Cui Hong

itu!

“Su-ciangkun (perwira Su) dan Cla-ciangkun (Perwira Cia),

kalian berdua sudah menjadi perwira dan masih suka

mengunjungi aku. Terima kasih atas kebaikan kalian.

Sekarang kalian hendak bertemu denganku, membawa berita

penting apakah?” tanya Pui Ki Cong dengan suara yang pelo

sekali karena dia bicara tanpa menggunakan bibir! Ngeri

melihat orang ini Dicara, seperti melihat setan tengkorak

bicara. Apalagi wajah tidak berbiji lagi, ditambah amat kurus.

Persis tengkorak hidup

“Pui Kongcu, kami hanya akan memberitahukan bahwa

kami melihat Nona Kim Cui Hong!”

Mendengar ini, tiga orang yang seperti mayat hidup itu

seolah tersentak kaget. Wajah Pui Ki Cong berubah merah

sekali, mata Koo Cai Sun yang mencorong, liar dan

menyorotkan kebencian jtu seolah bersinar mengeluarkan api.

Louw Ti tiba-tiba tertawa ha-ha-he-heh dan dia

mengacungkan tangan kanan yang terkepal seperti hentak

memukul dan lengan kirinya yang buntung sebatas

pergelangan itu pun diacung-acungkan.

“Kubunuh dia! Mana dia Si Kim Cui Hong laknat, kubunuh

dia….!” katanya.

“Louw Ti, diamlah!” kata Pui Ki Cong, lalu dia bertanya

kepada Su Lok Bu. “Su-ciangkun, di mana perempuan iblis itu

sekarang?”

 

“Ia membantu pemimpin pemberontak Li Cu Seng ketika

kami hendak menangkap pemberontakitu di luar kota raja.

Sayang kami tidak dapat menangkapnya karena gerombolan

pengemis tongkat hitam yang amat banyak jumlahnya

membantunya.”

“Ahh! Iblis betina itu ternyata membantu pemberontak?

Dasar perempuan jahat! Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, tolong

kumpulkan dan Siapkan para pendekar yang tangguh untuk

menangkapnya. Kalau kalian dapat menangkapnya, aku akan

memberi hadiah yang amat banyak, yang akan dapat

membuat kalian kaya raya! Biar separuh kekayaanku akan

kuhadiahkan asalkan kalian dapat menangkap iblis betina itu

dan menyeretnya ke sini!”

“Pui Kongcu, kami berdua tidak begitu memikirkan tentang

hadiah. Kami akan mengumpulkan orang-orang sakti yang

berada di kota raja untuk membantu kami menyelidiki dan

menangkap kalau Kim Cui Hong muncul, bukan karena hadiah

itu, melainkan karena kami menganggap ia seorang wanita

yang amat kejam, jahat, dan berbahaya.” kata Cia Kok Han.

Dua orang perwira itu lalu berpamit dan keluar dari gedung

yang menyeramkan itu.

Su Lok Bu dan Cia Kokz Han lalu cepat menghubungi para

pendekar yang berdatangan ke kota raja memenuhi undangan

Jenderal Ciong untuk membela pertahanan kota raja dari

serbuan pemberontak. Pada waktu itu, memang terjadi

perpecahan di dunia persilatan. Ada yang merasa bahwa

mereka harus membela Kerajaan Beng sebagai patriot, seperti

Su Lok Bu, Cia Kok Han, Liong-san Ngo-heng, dan lain-lain.

Ada pula sebagian tokoh kang-ouw yang berpihak kepada Li

Cu Seng, dan ada pula, terutama para pendekar di utara, yang

mendukung Panglima Besar Bu Sam Kwi. Di antara pendekar

yang membela Kerajaan Beng terdapat seorang datuk dunia

persilatan dari timur. Dia adalah seorang laki-laki berusia

sekitar enam puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, rambut,

 

kumis dan jenggotnya sudah putih semua. Namanya tidak

begitu di kenal di kota raja, akan tetapi di sepanjang pantai

Laut Timur, dia terkenal dengan julukan Tung Ok (Racun

Timur). Ilmu silatnya tinggi dan dia pun pandai ilmu sihir

sehingga ditakuti banyak orang. Ketika Jenderal Ciong

mengundang para orang gagah untuk membantu pertahanan

kota raja, Tung Ok yang kebetulan berkunjung ke kota raja

tertarik. Diam-diam dia tertarik menyaksikan kemewahan di

kota raja dan dia Ingin mendapatkan kedudukan sehingga

dapat menjadi seorang pembesar tinggi dan hidup dalam

gedung seperti istana mewan. mendapat kehormatan dan

kemuliaan yang tidak pernah dia rasakan! Ketika ia

mendaftarkan dirinya dan dicoba kepandaiannya, segera dia

dihadapkan Jenderal Ciong karena memang ilmu silatnya luar

biasa.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han menghubungi Tung Ok yang

tinggal dalam sebuah gedung besar yang diperuntukkan

tempat tinggal para pendekar. Sebagai seorang datuk, Tung

Ok mendapatkan sebuah kamar terbesar dan pelayanan

istimewa. Su Lok Bu dan Cia Kok Han sudah tahu akan

kelihaian datuk ini, maka mereka menghubunginya, bukan

hanya untuk menghadapi Kim Cui Hong apabila gadis itu

muncul, melainkan terutama menghadapi para mata-mata Li

Cu Seng yang berkeliaran di kota raja.

Setelah menceritakan tentang Li Cu Seng yang

menyelundup ke kota raja dan berhasil membawa lari Kim Lan

Hwa, selir Panglima Besar Bu Sam Kwi, dan tentang Kim Cui

hong yang diceritakan sebagai iblis betina yang jahat dan

kejam, Tung Ok tertawa.

“Ha-ha-ha, mengapa baru sekarang kalian datang

kepadaku? Kalau ketika itu aku berada dengan kalian, sudah

pasti pemberontak Li Cu Seng dan kaki tangannya, juga iblis

betina Kim Cui Hong Itu, dapat kutangkap hidup atau mati.”

 

“Maafkan kalau kami pada waktu itu tidak sempat

menghubungi Lo-cian-pwe (Orang Tua Gagah), akan tetapi

mulai sekarang, kami mengharapkan bantuan Lo-cian-pwe.

Kalau kami dan para pembantu kami melihat ada mata-mata

pemberontak ber keliaran di kota raja, terutama sekali mereka

yang melindungi Li Cu Seng ketika hendak kami tangkap, dan

lebih lagi iblis betina Kim Cui Hong itu, tentu kami akan minta

bantuan Lo-cian-pwe. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat

yang tangguh sekali. Kalau Lo-cian-pwe dapat menangkap

mereka, hidup atau mati, tentu jasa Lo-cian-pwe amat besar

dan selain akan dilaporkan kepada Jenderal Ciong dan dicatat,

juga Pui Kongcu telah menjanjikan hadiah yang amat besar

dan membuat Lo-clan-pwe kaya raya.”

“Ha-ha-ha, beres, beres! Kalau mereka muncul, serahkan

saja kepadaku, beres!” kata Racun Timur sambil tertawa

senang membayangkan hadiah-hadiah yang akan diterimanya.

Demikianlah, mulai hari itu, atas perintah Jenderal Ciong,

para perwira termasuk Sn Lok Bu dan Cia Kok Han menyebar

banyak perajurit penyelidik agar tidak lagi merela kecolongan

seperti yang sudah-sudah, ketika banyak anggota

perkumpulan pengemis Tongkat Hitam berkeliaran di kota raja

sebagai mata-mata Pemberontak Li Cu Seng tanpa mereka

ketahui.

0odwo0

Seorang pemuda tampan memasuki pintu gerbang kota

raja Peking pada pagi hari Itu, berbaur dengan mereka yang

keluar masuk pintu gerbang. Para petugas penjaga pintu

mengamati setiap orang yang lewat dengan penuh perhatian.

Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang mencurigai

pemuda tampan berpakaian seperti seorang satrawan itu.

Dengan langkah santai pemuda itu berjalan-jalan di

sepanjang jalan besar dalam kota saja seolah hanya melihatlihat

dengan sikap acuh tak acuh. Akan tetapi sesungguhnya

dia memperhatikan segala yang dilihatnya, terutama ketika dia

 

berjalan di luar benteng dan melihat banyaknya perajurit

dalam pasukan-pasukan kecil berkeliaran di kota dalam

keadaan siap.

Setelah berjalan-jalan berputar-putar kota raja sejak pagi

memasuki kota sampai siang hari, agaknya dia merasa lelah

dan lapar. Dia lalu memasuki sebuah rumah makan besar “Lok

Thian” yang letaknya di sudut kota. Biarpun tidak berapa

ramai dikunjungi orang, namun rumah makan ini cukup besar

dan seperti kebiasaan pada waktu itu, rumah makan Lok Thian

ini juga merupakan bagian dari rumah penginapan yang

berada di belakang rumah makan itu.

Seorang pelayan tua segera menyambut ketika pemula itu

memasuki rumah makan. “Selamat siang, Kongcu (Tuan

Muda).” Dia lalu Mempersilakan pemuda itu duduk di meja

kosong yang berada di sudut. Dengan sikapnya yang tenang

pemuda tampan itu memesan makanan dengan minuman air

teh. Tak lama kemudian dia sudah makan. Buntalan pakaian

yang tadi dibawanya dia letakkan di atas meja.

Setelah selesai makan dia menggapai pelayan dan

bertanya, “Paman, apakah di rumah penginapannya masih ada

kamar kosong?”

“Ah, Kongcu hendak bermalam? Masih ada, Kongcu, dan

kamar rumah penginapan kami terkenal bersih. Mari saya.

antar.”

Setelah membayar harga makanan, pemuda itu lalu diantar

ke rumah penginapan di belakang rumah makan itu. Seorang

pelayan bagian rumah penginapan menyambut dan menerima

tamu itu dari tangan pelayan rumah makan. Pemuda itu

diantar pelayan mendapatkan sebuah kamar yang bersih di

bagian depan rumah penginapan, di atas loteng. Dari kamar

tidurnya yang berada di depan tamu itu dapat melihat orangorang

yang berlalu lalang di atas jalan raya depan rumah

makan. Memang dia sengaja memilih kamar di bagian depan.

 

Setelah ditinggalkan pelayan, dia memasuki kamar,

menutup daun pintu, lalu duduk di dekat jendela luar dan

memandang ke arah orang-orang yang berlalu lalang di jalan

depan rumah makan itu. Pemuda tampan itu melamun.

Pemuda itu adalah Kim Cui Hong.

Ketika memperkenalkan namanya kepada pelayan rumah

penginapan untuk dicatat dalam daftar tamu, dia memberi

nama Ok Cin. Dulu ketika ia menuntut balas kepada musuhmusuh

besarnya, ia pernah menggunakan nama samaran Ok

Cin Hwa. Sekarang, menyamar sebagai seorang pemuda, ia

memakai nama itu, hanya dikurangi huruf Hwa sehingga

pantas untuk nama pria. Ok Cin, Tuan Muda Ok Cin!

Kim Cui Hong termenung. Hatinya merasa bingung juga

menghadapi keadaan negara pada saat itu. Dahulu, ayahnya,

yaitu mendiang Kim Siok, guru silat di dusun Ang-ke-bun,

seorang yang berjiwa pendekar, selalu memberi nasihat

kepadanya agar dia memiliki tiga kebaktian. Berbakti kepada

Thian (Tuhan) yang Maha Kuasa dengan cara hidup bersih,

baik dan benar. Berbakti kepada orang tua dengan cara

menghormat i dan mencinta serta merawat mereka, dan

berbakti kepada negara, yaitu Kerajaan Beng! Kebaktian

pertama sudah ia laksanakan, yaitu ia selalu berusaha agar

perbuatannya selalu berada di pihak yang benar dan baik,

tidak pernah melakukan kejahatan menuruti nafsu sendiri.

Kemudian kebaktian kepada orang tua, tidak dapat ia

laksanakan sepenuhnya karena ibunya telah meninggal dunia

sejakia berusia lima tahun dan ayahnya tewas di tangan para

penjahat yang telah ia balas semua. Kini t inggal kebaktian

frnkhir yaitu kepada Kerajaan Beng! Hal inilah yang

membingungkannya. Ketika dulu ayahnya mengajak ia dan

mendiang suhengnya yang menjadi tunangannya melarikan

diri meninggalkan Ang-ke-bun, sebelum disusul para jagoan

yang dikirim Pui Kongcu, ayahnya pernah menyatakan

ketidak-senangan hatinya terhadap Kerajaan Beng karena

 

kelemahan Kaisar yang menjadi boneka di tangan para

pembesar lalim. Bahkan ayahnya berkata bahwa kalau mereka

terus dikejar-kejar, lebih baik mereka bergabung dengan

rakyat yang memberontak terhadap kelaliman Kaisar.

Inilah yang membingungkan hatinya. Ia melihat ada tiga

kekuasaan besar kini sedang bersaing dan siap untuk

berperang memperebutkan kekuasaan. Pertama, kekuasaan

pemerintahan Kerajaan Beng di mana kaisarnya dikuasai oleh

para Thaikam sehingga para pejabat sebagian besar

melakukan penyelewengan, tersesat dan korup. Kekuasaan

kedua adalah Laskar Rakyat yang dipimpin Li Cu Seng, yang

merupakan golongan pemberontak yang paling besar dan

terkuat. Adapun kekuasaan ke tiga dipegang oleh Panglima

Besar Bu Sam Kwi yang mengepalai bala tentara yang besar

jumlahnya dan kini berada di San-hai-koan. Ia harus berpihak

mana kalau terjadi perang? Cui Hong termangu-mangu. la

tahu bahwa tiga kekuasaan itu terdiri dari bangsa sendiri!

Masing-masing tentu mempunyai alasan sendiri dan mereka

diri sendiri atau pihak sendiri benar. Kaisar merasa benar

karena dia adalah kaisar, keturunan dari pendiri Dinasti Beng

dan menganggap mereka yang menentangnya sebagai

pemberontak. Pihak Li Cu Seng menganggap dirinya benar

karena merasa sebagai pembela rakyat yang tertindas dan

menganggap kaisar dan para pejabat lalim dan tidak

bijaksana. Adapun balatentara yang dipimpin Bu Sam Kwi

merupakan pihak ke tiga dan ia tidak tahu pasti panglima

besar itu akan berpihak siapa, setia kepada Kaisar atau

membantu para pemberontak yang merasa berjuang demi

rakyat.

Cui Hong merasa bingung. Andaikata yang bertikai hanya

dua pihak, yang pihak Kerajaan Beng menghadapi orang

asing, Mongol atau Mancu, ia tidak akan ragu lagi. Pasti ia

akan membela Kerajaan Beng melawan musuh. Akan tetapi

sekarang, tiga kekuasaan itu adalah bangsa sendiri yang

terpecah-pecah! Kalau terjadi perang antara kerajaan

 

melawan pejuang rakyat, akibatnya sama saja. Rakyat yang

menderita. Kalau kota raja dihancurkan pihak pejuang yang

memberontak, penduduk kota raja tentu mengalami

kehancuran dan penderitaan. Sebaliknya kalau pihak pejuang

pemberontak kalah, tentu laskar yang terdiri dari rakyat itu

banyak yang tewas!

Ia lalu membayangkan kakak sepupunya, Kim Lan Hwa. Ia

merasa kasihan kepada saudara sepupunya itu. Lan Hwa

sebetulnya dapat hidup berbahagia sebagai selir Panglima

Besar Bu Sam Kwi yang amat mengasihinya. Hal ini d iakuinya

sendiri oleh Lan Hwa, biarpun Lan Hwa pada dasarnya tidak

mempunyai perasaan cinta kepada Panglima Besar Bu.

Bagaimanapun juga, ia dapat hidup mulia dan terhormat

sebagai selir terkasih panglima itu. Akan tetapi sungguh

sayang, kasih sayang panglima itu menimbulkan rasa iri dan

cemburu da lam hati para isteri Panglima Bu sehingga akhirnya

Lan Hwa dibenci oleh mereka semua. Kini Kim Lan Hwa

bersama Li Cu Seng, pemimpin pemberontak! Apa yang akan

terjadi dengan diri kakak sepupunya itu? Ia tentu sudah

dianggap sebagai pemberontak karena melarikan diri bersama

Li Cu Seng. Dan bagaimana tanggapan Panglima Besar Bu

Sam Kwi kalau dia mengetahui bahwa selir terkasihnya itu kini

pergi bersama Li Cu Seng?

Akhirnya Cui Hong mengambil keputusan untuk t idak

melibatkan diri da lam permusuhan dan perang saudara. Lebih

bebas hidup sebagai pendekar yang tidak memihak karena

ketiga kekuasaan itu masih sebangsa sesaudara. Ia hanya

akan melanjutkan pendiriannya sejak dulu, yaitu memihak

orang-orang yang tertindas, menegakkan kebenaran dan

keadilan, dan menentang orang-orang yang bertindak

sewenang-wenang dan jahat, tidak perduli dari golongan

mana orang itu! Setelah mengambil keputusan ini, Cui Hong

lalu mandi, bertukar pakaian, makan malam, dan tidur. Ia

akan pergi meninggalkan kota raja pada besok pagi, sebelum

terlambat, karena kalau sudah terjadi perang tentu akan sulit

 

baginya untuk keluar dari kota raja. Apalagi kalau ada orang

yang mengenalnya sebagai wanita yang kemarin membantu

pemimpin pemberontak Li Cu Seng, tentu ia akan dikejarkejar.

Menjelang tengah malam Cui Hong tersentak bangun dari

tidurnya. Ia mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya.

Cepat ia meniup padam lampu kecil di atas mejanya dan

membuka jendela, melihat keluar, ke arah jalan raya. Akan

tetapi sudah sunyi di jalan itu, tidak tampak orang berlalu

lalang. Akan tetapi suara itu terdengar di dalam rumah makan

yang berada di depan rumah penginapan dan yang membuat

ia terkejut dan heran adalah ketika mendengar suara senjata

tajam beradu dan bentakan-bentakan marah diseling teriakanteriakan

kesakitan. Ada orang-orang berkelahi, pikirnya.

Maklum bahwa ada peristiwa penting mungkin keadaannya

gawat, dia cepat membereskan pakaian penyamarannya

sebagai seorang laki-laki, menggendong buntalan pakaiannya,

lalu keluar dari kamarnya, terus menuju ke pintu besar bagian

luar rumah penginapan setelah menuruni loteng. Pintu besar

itu tertutup dan anehnya, ia tidak melihat seorang pun di

rumah penginapan itu, tidak ada tamu, tidak tampak pula

pelayan. Ia membuka daun pintu yang menembus ke ruangan

rumah makan dan di bawah penerangan yang cukup ia

melihat perkelahian hebat. Ia melihat lima orang berpakaian

pelayan dan lima orang lain berpakaian pedagang sedang

mati-matian melawan pengeroyokan puluhan orang perajurit!

Ia merasa heran sekali. Lima orang pelayan itu, termasuk

pelayan rumah makan dan pelayan rumah penginapan yang

melayaninya tadi, ternyata kini melawan dengan

menggunakan pedang dan gerakan mereka cukup lihai! Ia

berdiri bingung karena tidak tahu mengapa rumah makan itu

diserbu perajurit. Ia tidak tahu urusannya dan tidak tahu pula

siapa yang bersalah sehingga ia tidak ingin mencampuri.

 

Akan tetapi belum lama ia berdiri di luar pintu belakang

rumah makan itu, di bawah penerangan sebuah lampu

gantung, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

“Nah, itu dia Si Iblis Betina!” Lima orang berloncatan

mengepung Cui Hong dan dua orang di antaranya adalah

Perwira Su Lok Bu dan Cia Kok Han! Cui Hong terkejut

mengetahui bahwa rahasianya telah diketahui musuh dan

keadaannya berbahaya sekali. Namun sedikit pun la tidak

merasa gentar. Ketika Su Lok Bu yang berada paling dekat

dengannya sudah menyerang dengan sepasang pedangnya,

Cui Hong melompat ke kiri di mana terdapat ruangan yang

lebih luas. Lima orang itu mengejar dan mengepungnya. Akan

tetapi Cui Hong sudah cepat menyambar sebuah sapu

bergagang panjang, mematahkan sapunya tinggal gagangnya

saja yang terbuat dari kayu dan menggunakan gagang sapu

sebagai senjata. Su Lok Bu menyerang dengan sepasang

pedangnya, disusul Cia Kok Han yang menggerakkan golok

besarnya menyerang pula, dibantu tiga orang perajurit yang

masing-masing bersenjatakan golok. Namun Cui Hong tidak

menjadi gentar. Ia mainkan senjata gagang sapu itu, diputar

cepat dengan pengerahan tenaga sakti, tubuhnya

berkelebatan cepat sekali. Terdengar suara berdentangan dan

lima orang pengeroyokitu begitu tertangkis senjata mereka,

merasa terkejut karena tangan mereka tergetar hebat. Lebih

lagi tiga orang perajurit itu. Begitu terkena tangkisan, mereka

terhuyung ke belakang.

Akan tetapi ketika para pelayan rumah penginapan Lok

Thian bersama tamunya sudah roboh semua, terluka dan

tertawan, kini para perajurit ikut mengeroyok sehingga Cui

Hong dikeroyok lebih dari dua puluh orang! Namun, sungguh

hebat sepak terjang Cui Hong. Senjatanya yang amat

sederhana itu menyambar-nyambar dahsyat, berubah menjadi

gulungan sinar yang amat dahsyat sehingga sebentar saja,

gulungan sinar tongkatnya itu telah berhasil merobohkan

enam orang pengeroyok! Hal ini tidak mengherankan karena

 

ia bersilat dengan ilmu silat aneh Toat-beng Koai-tung

(Tongkat Aneh Pencabut Nyawa), yaitu ilmu andalan yang

diwarisinya dari mendiang Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam

Pencabut Nyawa).

Kebetulan Cui Hong membuat para pengeroyok menjadi

jerih dan kepungan, menjadi agak longgar. Hanya Su Lok Bu

dan Cia Kok Han yang masih mengeroyoknya dari jarak dekat,

namun hujan serangan dua orang itu selalu terpental kembali

ketika bertemu dengan gulungan sinar tongkat gagang sapu!

Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan muncullah

seorang kakek tinggi beijar yang memegang sebatang cambuk

hitum, diikuti oleh delapan orang perajurit. Dia adalah Tung

Kok yang telah dimintai bantuan. Tung Kok cepat datang ke

rumah makan Lok Thian, diikuti delapan orang perajurit yang

telah dia didik untuk menjadi pengawal dan pembantunya.

Mendengar suara tawa ini, Su Lok Bu dan Cia Kok Han cepat

mundur dan memberi isarat kepada para perajurit untuk

mundur membuat kepungan luas agar kakek andalan mereka

itu dengan leluasa dapat menangkap Kim Cui Hong. Gadis itu

kini berdiri berhadapan dengan Tung Ok, menata,1 tajam

wajah kakek yang rambut dan jenggot kumisnya sudah putih

semua itu. “He-he-he, Su-ciangkun, mana iblis betina cantik

yang kau maksudkan itu? Di sini hanya ada seorang pemuda

tampan!” kata Tung Ok.

“Lo-cian-pwe, pemuda itulah penyamaran Si Iblis Betina

Kim Cui Hong yang kejam dan jahat, dan kini menjadi matamata

pemberontak!” kata Su Lok Bu.

“Hati-hati, Lo-cian-pwe, ia lihai bukan main. Jangan sampai

ia lolos!” kata pula Cia Kok Han.

“Heh-heh-heh, lolos dari tanganku? Tidak mungkin! Nona,

engkau tentu, cantik sekali. Dalam pakaian pria pun engkau

tampak tampan luar biasa. Namamu Kim Cui Hong? Nama

yang indah, sesuai orangnya. Nah, Kim Cui Hong, aku adalah

Tung Ok Si Racun Timur dan semua orang di dunia kang-ouw

 

tunduk kepadaku. Maka, dengarlah, Kim Cui Hong, engkau

harus tunduk pula padaku! Menyerah dan berlututlah!”

Cui Hong merasa betapa ada kekuatan aneh seolah

memakfcanya agar ia menjatuhkan diri berlutut kepada kakek

yang bernama Racun Timur itu. la sudah merasa betapa

kedua kakinya gemetar. Tiba-tiba ia teringat akan nasehat

gurunya, mendiang Toat-beng Hek-mo yang mengajarkan

kepadanya bagaimana untuk menolak pengaruh sihir. Ia

teringat bahwa ini tentulah kekuatan sihir yang dipergunakan

kakek rambut putih itu kepadanya. Cepat ia lalu mengerahkan

tenaga batinnya ia membiarkan tenaga sakti dari tan-tiat

dibawah pusar bergulung ke atas dan memperkuat perasaan

hati dan pikirannya.

“Kakek siluman! Siapa mau menyerah kepadamu!”

bentaknya.

Tung Ok menjadi marah sekali karena merasa malu. Di

depan dua orang perwira dan puluhan perajurit itu dia dibuat

malu karena sihirnya tidak dapat mempengaruhi gadis yang

menyamar sebagai pria itu.

“Tidak bisa menangkap hidup-hidup, aku akan

menangkapmu dalam keadaan mati!” bentaknya dan cepat

kakek itu bergerak ke depan dan tongkat hitamnya

menyambar dahsyat sekali.

Cui Hong mengenal serangan yang sangat bahaya itu,

maka ia cepat nenggunakan kecepatan gerakan dan

keringanan tubuhnya untuk mengelak ke kiri.

“Tar-tar-tarrr…!” Cambuk itu meledak-ledak dan

menyambar-nyambar ke arah kepala, disusul serangan ke

arah pinggang, lalu ke arah kaki secara bertubi. Hebat sekali

serangan cambuk itu. Akan tetapi Cui Hong memiliki ginkang

(ilmu meringankan tubuh) yang tinggi sehingga tubuhnya

berkelebatan sedikit, terhindar dari sambaran cambuk. Ketika

cambuk menyambar lagi ke arah lehernya, ia melompat ke

 

kanan, membalik dan menghantam cambuk itu dengan

tongkat gagang sapu.

“Wuuuttt… takkk!” Tung Ok berseru kaget dan melangkah

mundur. Dia terkejut sekali karena tangkisan gagang sapu itu

mampu menggetarkan tangannya yang memegang gagang

cambuk! Sulit dipercaya seorang wanita muda memiliki tenaga

sin-kang yang nmampu mengimbangi tenaganya! Dia

menyerang semakin hebat, memainkan ilmu cambuknya yang

ia sendiri menganggap tidak ada lawan yang mampu

menandinginya. Akan tetapi Cui Hong tidak mau kalah. Ia

memainkan ilmu tongkat warisan gurunya, yaitu Toat-beng

Koai-tung dan terjadilah perkelahian yang amat seru.

Gulungan sinar cambuk dan tongkat menyambar-nyambar dan

terkadang tampak cambuk dan tongkat seolah berubah

menjadi banyak. Mereka yang menonton perkelahian itu

menjadi kagum dan juga gentar untuk maju membantu. Tung

Ok sendiri harus mengakui bahwa baru sekali ini dia bertemu

seorang wanita muda yang sanggup melawannya tanpa

terdesak walaupun dia sudah mengerahkan tenaga dan

mengeluarkan jurus-jurus simpanannya. Bahkan tadi ilmu

sihirnya juga tidak mampu mempengaruhi Cui Hong. Baru

sekarang dia tahu mengapa dua orang tangguh seperti Su Lok

Bu murid Siauw-Iim-pai dan Cia Kok Han murid Bu-tong-pai

memuji-muji gadis ini dan merasa jer ih kepadanya. Sebutan

Iblis Betina bukan sebutan kosong.

Setelah perkelahian satu lawan satu itu berlangsung cukup

lama, sekitar lima-puluh jurus dan dia belum juga mampu

menangkap wanita itu, hidup atau mati seperti yang

dikatakannya, Tung Ok menjadi penasaran. Dari perkelahian

itu dia tahu bahwa dia pun tidak akan kalah oleh Kim Cui

Hong, akan tetapi untuk dapat merobohkan wanita itu pun

bukan hal mudah baginya. Kalau dibiarkan terlalu lama,

pandangan orang terhadapnya akan menurun. Maka dia

memberi isarat kepada delapan orang perajurit yang menjadi

pembantu dan pengawalnya. Delapan orang yang sejak tadi

 

sudah siap siaga mengepung dalam lingkaran para perajurit

itu, tiba-tiba bergerak mengelilingi Cui Hong dan Tung Ok

yang masih bertanding seru. Mereka melolos benda lunak

hitam dari ikat pinggang mereka. Benda itu ternyata adalah

semacam jala ikan yang terbuat dari tali hitam yang halus.

Tiba-tiba mereka menggerakkan tangan secara bergantian dan

jala berkembang menyambar ke arah Cui Hong. Wanita ini

menangkis dengan tongkatnya sambil mengerahkan tenaga,

namun ternyata tongkat yang mampu merusak senjata tajam

lawan itu, tidak mampu membikin putus tali-tali jala yang

terbuat dari bahan yang khas dan aneh, yang tidak akan putus

walaupun dibacok senjata tajam sekalipun! Cui Hong terkejut

dan mengelak. Ia berhasil mengelak dari sambaran jala-jala

itu sampai lima….

Ada halaman hilang

mereka pun tidak ingin mengetahui dan ia merasa yakin

bahwa wanita itu tentu dibunuh oleh Perwira Su dan Perwira

Cia.

Ruangan tertutup yang luas itu tidak terang ketika Su Lok

Bu dan Cia Kok an masuk pada hari kemar in dulu. Kalau pada

waktu pertama kali mereka berdua datang menemui tiga

orang tengkorak hidup, yaitu Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan

Louw Ti, dalam ruangan itu dipasang lima buah lampu besar

sehingga keadaan dalam ruangan itu terang benderang seperti

siang, kini yang dipasang hanya dua buah lampu sehingga

remang-remang menyeramkan! Agaknya tiga orang itu

memang tidak ingin pekerjaan mere ka tampak jelas oleh

orang yang selalu mereka tunggu-tunggu untuk dihadapkan

mereka, maka mereka, atau lebih tepat Pui Ki Cong sebagai

tuan rumah, menyuruh para pelayan menyalakan dua buah

lampu saja. Baru saja Pui Ki Cong menerima kabar dari Su Lok

Bu bahwa musuh besarnya, Kim Cui Hong, tteah dapat

ditangkap hidup-hidup dan hendak diserahkan kepadanya!

Dengan girang sekali dia lalu mengajak Koo Cai Sun dan Lauw

 

Ti untuk menanti di dalam ruangan itu, sengaja membuat

cuaca di situ tidak terang sekali agar keburukan rupa mereka

tidak tampak nyata. Kemulian dengan perasaan hati berdebardebar

penuh ketegangan, penuh dendam kebencian, mereka

duduk di atas kursi roda masing-masing dan menunggu.

Akhirnya seorang pelayan membuka pintu ruangan itu dari

depan dan Su Lok Bu masuk mendorong Kim Cui Hong yang

kaki tangannya terbelenggu kuat. Gadis itu masih

mengenakan pakaian pria, wajahnya agak pucat akan tetapi

sepasang matanya mencorong dalam keremangan cuaca

dalam ruangan itu. Setelah tidak berdaya dalam libatan dan

bungkusan delapan helai jaring yang kokoh kuat, Cui Hong

sama sekali tidak berdaya ketika ia ditotok oleh Su Lok Bu,

tidak mampu mengelak atau menangkis. Dalam keadaan tak

mampu bergerak karena tertotok dengan mudah Su Lok Bu

dan Cia Kok San melepaskannya dari dalam libatan jaa-jala

dan membelenggu kedua pasang kaki tangannya.

“Hemm, beginikah sikap dua orang laki-laki yang mengaku

gagah perkasa ini? katanya dahulu adalah pende kar Sauw-lim

dan Bu-tong? Curang, main keroyokan dan tidak adil! ” Cui

Hong mengejek, sama sekali tidak memperliatkan rasa takut.

0ooodwooo0

Jilid 13

WAJAH kedua orang perwira itu terasa panas dan kalau

bukan di waktu malam ketika mereka menangkap gadis itu,

tentu akan tampak muka mereka berubah kemerahan.

“Hemm, terhadap seorang wanita yang jahat dan kejam

melebihi iblis betina, tidak perlu memakai peraturan orang

gagah! Yang jahat harus dibasmi, dengan cara apapun juga.”

kata Su Lok Bu untuk menyembunyikan rasa tidak enak

mendengar teguran yang mengandung ejekan itu. Memang,

sebagai seorang pendekar murid Siauw-lim-pai, amat

 

memalukan kalau mengalahkan musuh dengan cara

keroyokan. Akan tetapi musuhnya ini bukan sekedar pi-bu

(mengadu kepandaian silat) atau sekadar menguji, akan tetapi

sebagai usaha untuk menyingkirkan seorang yang jahat dan

amat kejam sekali..

“Huh, kalian ini dulu menjadi anjing-anjing penjilat

pembesar Pui dan putera-nya yang jahat, masih dapat

mengatakan orang jahat seperti iblis! Tak tahu malu!” kata

pula Cui Hong marah.

“Tidak perlu banyak cerewet! Rasakan pembalasan orangorang

yang engkau siksa dengan kejam. Engkau memang

bukan manusia lagi! Hayo!” Su Lok Bu dan Cia Kok Han lalu

membawa gadis itu dan setengah menyeretnya menuju ke

gedung tempat tinggal Pui Ki Cong. Kini mereka telah

menyeret Cui Hong memasuki ruangan remang-remang di

mana t iga orang tengkorak hidup itu sudah menanti di atas

kursi roda masing-masing, seperti setan-setan yang keluar

dari neraka untuk membalas dendam kepada Kim Cui Hong.

Cui Hong didorong masuk dan karena kedua kakinya

terbelenggu, ia pun terpelanting roboh dalam keadaan

terlentang, akan tetapi dengan kedua kakinya yang telah

terbebas dari totokan ia dapat mengangkat rubuhnya dan

duduk menghadapi t iga orang di atas kursi roda itu. Matanya

mencorong dan terbayang kengerian melihat tiga orang yang

wajahnya seperti setan itu memandang kepadanya. Ia merasa

ngeri melihat yang duduk di tengah kedua matanya telah

berlubang dan tidak ada biji matanya lagi. Ia teringat bahwa

orang itu adalah Pui Ki Cong. Yang duduk di sebelah kiri Ki

Cong, mata kirinya juga buta dan itu tentulah Lauw Ti yang

memandang kepadanya dengan mata kanannya yang

berputar-putar aneh, bukan mata orang yang waras otaknya.

Yang duduk di sebelah kanan itu tentu Koo Cai Sun yang

biarpun kedua matanya tidak buta, namun mukanya juga

hancur dan kehilangan hidung, bibir dan telinga, seperti

 

tengkorak hidup! melihat tiga orang itu, diam-diam Cui Hong

bergidik dan baru ia melihat sendiri dan merasa betapa

pembalasan sakit hatinya dulu itu memang teramat kejam.

Dalam keadaan dendam sakit hati, ia seolah bukan manusia

lagi, menyiksa tiga orang sampai sedemikian rupa sehingga

kalau ia membunuh mere ka bertiga, kiranya tidak sekejam

penyiksaan yang dilakukannya itu. Mulailah timbul perasaan

penyesalan dalam hatinya yang sekarang dua orang perwira

itu menyerahkannya kepada tiga orang manusia yang sudah

berubah mukanya seperti iblis Itu. Tahulah ia bahwa

nyawanya tidak mungkin tertolong lagi. Mereka mungkin akan

membalas dan menyiksaku seperti aku menyiksa mereka, pikir

Cui Hong. Biarlah kalau demikian, memang sudah sepantasnya

dan ia akan membunuh diri begitu mendapat kesempatan! Ia

merasa heran mengapa tiga orang itu masih mau hidup dalam

keadaan seperti itu!

Di antara tiga orang itu, hanya Koo Cai Sun yang kedua

matanya masih utuh dan masih awas. Dia mengamati pemuda

tampan yang terbelenggu kaki tangannya itu dan menegur.

“Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, mana Kim Cui Hong yang

engkau janjikan akan dibawa ke sini itu? Ini seorang pemuda,

bukan Nona Kim Cui Hong!”

“Ya, ini seorang pemuda, bukan iblis betina!” kata Lauw Ti

yang memandang dengan sebelah matanya yang berputarputar.

“Hemm, benarkah itu, Ji-wi Ciangkun (Kedua Perwira)?”

tanya Pui Ki Cong yang telah buta kedua matanya.

“Harap kalian pandang baik-baik! Ia adalah Kim Cui Hong

yang menyamar sebagai seorang pemuda!” kata Su Lok Bu.

“Mana kami bisa keliru?” kata Cia Kok Han.

“Penyamarannya memang bagus, akan tetapi ia betul seorang

gadis, yaitu Kim Cui Hong!”

 

Cui Hong yang sudah bangkit duduk itu tiba-tiba

menggunakan lututnya untuk meloncat sehingga ia dapat

bangkit berdiri. Dengan sikap angkuh dan suara tegas ia

berkata. “Pui Ki Cong, Lauw Ti, dan Koo Cai Sun, aku benar

Kim Cui Hong. Aku telah ditangkap secara curang dan sudah

berada dalam kekuasaan kalian bertiga. Mau bunuh,

lakukanlah! Aku t idak takut mati!”

Mendengar suara ini, Pui Ki Cong berkata. “Benar, ia adalah

Kim Cui Hong. Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, tinggalkan ia di

sini dan ji-wi (kalian berdua) datang lagi besok untuk

menerima apa yang aku janjikan.”

Su Lok Bu dan Cia Kok Han mengangguk dan mereka lalu

pergi. Mereka merasa yakin bahwa gadis itu sudah tidak

berdaya. Tak mungkin dapat melepaskan diri dari belenggu

kaki tangannya. Biarpun tiga orang itu sudah tidak memiliki

tenaga, namun mereka mempunyai belasan orang pelayan

yang juga menjadi pengawal dengan kepandaian yang cukup.

Agaknya Pui Ki Cong menyadari akan kelemahan dia dan

dua orang bekas pembantunya yang kini senasib dengannya,

menjadi manusia yang jasmaninya seperti setan. Maka setelah

dua perwira itu keluar, dia berseru memanggil dua orang

kepala pelayan yang juga kepala pengawalnya.

“Bong Can dan Bong Lim, ke sinilah kalian!”

Pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka cepat,

menunjukkan bahwa dua orang itu sejak tadi memang siap

menanti panggilan di belakang pintu. Mereka adalah dua

orang kakak beradik, Bong Can berusia tiga puluh lima tahun

dan Bong Lim berusia tiga puluh tahun. Kakak beradikini

keduanya bertubuh tinggi besar dan sikap mereka gagah,

wajah mereka juga cukup menarik. Hanya bedanya kalau

Bong Can berkulit hitam, Bong Kun berkulit agak putih.

Mereka adalah murid-murid Kun-lun-pai dan termasuk orangorang

gagah berjiwa pendekar. Tadinya mereka datang ke

kota raja dari daerah selatan untuk membantu Kerajaan Beng

 

dari ancaman orang Man-cu yang semakin berkembang.

Ketika mendengar akan adanya pemberontakan rakyat

dipimpin oleh Li Cu Seng karena Kaisar dikuasai para Thaikam

sehingga pemerintah tidak bijaksana dan para pembesar

sebagian besar lalim dan korupsi, kedua orang murid Kun-lunpai

ini merasa ragu untuk membantu pemerintah. Maka ketika

Pui Ki Cong mengundang mereka untuk menjadi pengawal

pribadi dewi-kz, mereka menerima pekerjaan ini. Pertama,

karena menjadi pengawal pribadi merupakan pekerjaan wajar

dan baik asalkan tidak menghambakan diri kepada pembesar

atau hartawan yang menyuruh mereka melakukan kejahatan.

Ke dua, mereka merasa iba sekali melihat keadaan Pui Ki Cong

dan dua orang temannya yang harus mereka jaga. Tentu saja

mereka ingin mengetahui mengapa tiga orang itu menjadi

seperti itu dan Pui Ki Cong menceritakan bahwa mereka

bertiga dianiaya oleh seorang iblis betina bernama Kim Cui

Hong. Dan dengan alasan takut kepada iblis betina itu kalaukalau

datang mengganggu lagi, maka dia minta kepada dua

orang bersaudara itu menjadi pengawal pribadi yang

melindungi keselamatan mereka bertiga. Pui Ki Cong tentu

saja merasa malu menceritakan sebab dari kemarahan Si Ib lis

Betina itu. Demikianlah, kedua saudara Bong ini menjadi

pengawal pribadi Pui Ki Cong dan sudah berada hampir satu

setengah tahun di gedung itu. Mereka merasa iba karena Pui

Ki Cong berada di gedung hanya bertiga dengan dua orang

senasib itu, tidak didekati keluarga karena keluarga tiga orang

itu agaknya tidak ada yang mau mendekati mereka. Kedua

orang bersaudara Bong menjadi kepala pengawal atau boleh

juga disebut kepala pelayan di gedung itu, mengepalai

delapan orang pelayan lain yang juga menjadi pengawal.

Ketika dua orang perwira, Su Lok Bu dan Cia Kok Han

menghadap tiga orang majikan mereka membawa seorang

teman, Bong Can dan Bong Lim sudah siap s iaga kalau-kalau

tenaga mereka diperlukan, maka mereka sudah bersiap di

belakang pintu. Begitu dipanggil, keduanya lalu memasuki

 

ruangan itu. Melihat keadaan ruangan agak gelap, tanpa

diperintah Bong Can dan Bong Lim, segera menghampiri

lampu-lampu lain dan akan menyalakannya.

“Bong Lim, jangan nyalakan lampu itu, biar begini saja!”

seru Pui Ki Cong karena biarpun dia tidak dapat melihat,

pendengarannya menjadi tajam dan dia dapat mendengar

ketika Bong Lim menghampiri meja lampu. Bahkan langkah

kaki Bong Lim juga dia dapat membedakan dari langkah kaki

Bong Can atau orang lain.

“Mengapa, Pui Kong-cu?” Koo Cai Sun berkata, “Mengapa

harus merasa malu kalau ia melihat keadaan kita bertiga?

Biarlah ia melihat betapa kejamnya Iblis Betina ini yang telah

membuat kita bertiga seperti ini! Bong Lim, nyalakan saja

semua lampu itu!”

Akan tetapi karena dia bekerja kepada Pui Ki Cong, Bong

Lim tidak menaati perintah Koo Cai Sun, sebaliknya dia

bertanya kepada Pui Ki Cong. “Bagaimana, Pui Kongcu?

Dinyalakan atau tidak lampu-lampu ini?”

Pui Ki Cong menghela napas panjang dan mengangguk.

“Benar juga pendapatmu, Koo-twako. Nyalakanlah semua

lampu itu, Bong Lim.”

Bong Lim lalu menyalakan tiga lampu yang lain sehingga

kini ruangan itu menjadi terang sekali. Kini Cui Hong berdiri

terbelalak memandang bergantian kepada tiga orang itu

karena setelah kini cuaca amat terang, ia melihat betapa

wajah mereka benar-benar mengerikan sekali! Aih, bagaimana

mungkin ia dulu dapat sekejam itu? Teringatlah ia kepada Tan

Siong. Murid Kun-lun-pai, pendekar yang budiman dan

perkasa itu pernah menasehatinya bahwa membiarkan

dendam di hati sama dengan meracuni diri sendiri. Ternyata

kini ia melihat sendiri betapa racun dendam dalam batinnya itu

telah membuat ia mampu melakukan kekejaman yang tidak

manusiawi lagi! la merasa menyesal, sungguh menyesal!

 

“Bong Can Twako dan Bong Lim, periksa apakah kaki

tangan gadis itu sudah diikat kuat sehingga ia tidak mungkin

melepaskan diri lagi?” tanya Pui Ki Cong kepada dua orang

pengawalnya. Kakak beradik Bong itu saling pandang.

“Gadis yang mana, Kongcu?” tanya Bong Lim.

“Bodoh! Tentu saja gadis yang berpakaian pria ini!” bentak

Lauw Ti kepada Bong Lim. Dua orang kakak beradik ini diamdiam

tidak suka kepada Lauw Ti yang bersikap kasar kepada

mereka, seolah-olah dia itu yang berkuasa dan menjadi

majikan mere ka.

“Ah, jadi inikah yang bernama Kim Cui Hong dan disebut

Iblis Betina yang telah bertindak kejam sekali terhadap

Kongcu bertiga?” Bong Can berkata dan bersama adiknya dia

menghampiri Cui Hong. Setelah melihat dari dekat baru

mereka yakin bahwa “pemuda tampan” itu memang benar

seorang wanita yang menyamar dan diam-diam kedua orang

murid Kun-lun-pai ini merasa heran bagaimana ada gadis

secantik itu sudah sedemikian jahat dan kejamnya. Setelah

memer iksa belenggu pada kaki tangan Cui Hong, Bong Lim

berkata.

“Ikatannya cukup kuat dan ia tidak akan mampu

membebaskan diri, Kongcu.”

“Hemm, bagus! Kalau begitu, ikat tubuhnya di tihang sudut

ruangan itu!” perintah Pui Ki Cong.

Dua orang pengawal itu lalu memegang lengan Cui Hong

bagian siku dari kanan kiri, kemudian mereka mengangkat

tubuh gadis itu, dibawanya ke tihang tembok di sudut ruangan

dan mengikat kaki tangannya pada tihang itu. Semua ini, dari

cara mengangkat tubuh gadis, itu sampai ke sudut dan

mengikat kaki tangan yang sudah terbelenggu kepada tihang,

dilakukan dengan cara yang tidak melanggar kesusilaan

sehingga diam-diam Cui Hong mencatat bahwa dua orang

pembantu Pui Ki Cong ini adalah orang-orang yang baik, tidak

 

jahat atau kurang ajar seperti kebanyakan pengawal atau

tukang pukul, bertolak belakang dengan watak dua orang

bekas tukang pukul Pui Ko Cong yang kini juga duduk di kursi

roda seperti tengkorak hidup.

“Ia sudah terikat pada tihang, Kongcu.” kata Bong Can.

“Dorong aku ke depannya!” kata Pui Ki Cong. Bong Lim lalu

mendorong kursi roda yang diduduki Ki Cong dan

mendorongnya sehingga laki-laki buta itu kini duduk di kursi

roda, di depan Cui Hong yang tak mampu bergerak karena kini

kaki tangan yang terikat pada tihang. Koo Cai Sun dan Lauw

Ti juga menggerakkan roda kursi masing-masing mengikuti Pui

Ki Cong mendekati Cui Hong yang terikat pada tihang. Gadis

itu memandang kepada mereka dan kembali ia merasa ngeri

melihat keadaan mereka.

“Can-twako dan Bong Lim, kalian harus menjaga dekat

karena gadis ini lihai sekali.” kata Pui Ki Cong yang masih

merasa jerih, apalagi karena dia tidak dapat melihat

bagaimana keadaan Cui Hong pada saat itu. Berbeda dengan

Koo Cai Sun dan Lauw Ti yang melihat bahwa gadis yang

ditakuti itu benar-benar tidak berdaya.

“Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti! Sekarang aku

menyadari bahwa pembalasan sakit hatiku kepada kalian

memang amat kejam. Karena itu, bunuhlah aku untuk

menebus kekejamanku. Aku tidak takut mati, bahkan rela

menebus kekejamanku terhadap kalian itu dengan nyawaku.”

kata Kim Cui Hong sengaja menutup kedua matanya agar

tidak melihat muka yang mengerikan itu. Muka tanpa hidung,

tanpa bibir, tanpa telinga. Muka yang bagian hidungnya

berlubang besar, giginya tampak berderet-deret karena tidak

ada bibirnya lagi, sepasang daun telinga yang buntung, kaki

tangan yang bengkok! Apalagi Pui Ki Cong yang kedua

matanya juga hanya berbentuk dua buah lubang. Presis

tengkorak hidup, hanya tengkorakini berkulit dan berambut.

 

“Bunuh mati begitu saja? Huh, enaknya!” kata Lauw Ti

dengan suaranya yang pelo. “Aku akan membalas siksaan-mu,

aku akan menghinamu dan membuatmu menderita sehingga

engkau akan merasa menyesal hidup sebagai manusia!”

Suaranya semakin kacau dan matanya yang tinggal satu itu

mencorong seperti mata iblis karena dia dibakar kemarahan

dan kebencian. “Sekarang, lebih dulu aku akan

menelanjangimu!” Setelah berkata demikian, Lauw Ti

meloncat keluar dari kursinya, berdiri dengan kaki kirinya saja

karena kaki kanannya lumpuh, berloncatan mendekati Cui

Hong yang merasa ngeri. Tangan kiri Lauw Ti buntung sebatas

pergelangan, maka dia menggunakan tangan kanannya,

meraih baju Cui Hong dan menariknya sekuat tenaga karena

tenaga saktinya juga sudah tak dapat dikeluarkan lagi.

“Bretttt….!” baju itu robek terlepas dari tubuh atas Cui Hong,

akan tetapi gadis itu tidak menjadi telanjang karena di bawah

baju pria itu ia masih mengenakan baju wanita. Pakaian

rangkap ini yang menyempurnakan penyamarannya karena

tubuhnya tampak lebih besar. Mata yang tinggal sebelah itu

terbelalak dan Lauw Ti semakin marah melihat betapa tubuh

Cui Hong masih tertutup baju wanita yang rapi, maka dia

sudah menjulurkan tangan kanan hendak merenggut lagi baju

wanita itu dari dada Cui Hong.

“Tahan, Lauw Ti!” teriak Pui Ki Cong. Melihat Lauw Ti tidak

menaati perintah Pui Ki Cong dan hendak tetap merenggut

baju Cui Hong, Bong Can lalu menangkap tangan Lauw Ti dan

mendorongnya duduk kembali ke atas kursi roda.

“berani kau….?” Lauw Ti membentak.

“Pui Kongcu melarangmu dan engkau harus menaatinya!”

kata Bong Can singkat.

Mendengar suara Bong Can yang tegas ini, Lauw Ti t idak

berani rewel lagi, akan tetapi dia bersungut-sungut dan

matanya yang tinggal sebelah memandang ke arah Cui Hong

 

dengan penuh kebencian, seolah dia hendak menyiksa dan

membunuh wanita itu dengan pandangi matanya.

“Hemm, engkau melarang aku menyiksanya? Lalu apa yang

hendak kaulakukan kepada musuh besar kita ini, Pui Kongcu?”

tanyanya dengan suara mengandungi penasaran dan

kemarahan.

“Hemm, kukira tidak perlu menyiksa dan menghinanya lagi.

Kesalahan kita sembilan tahun lalu tidak kita ulangi lagi

sekarang. Lebih baik dia dibunuh saja dan impas sudah semua

perhitungan!” kata Pui Ki Cong.

Terharu rasa hati Cui Hong mendengar ucapan Pui Ki Cong

ini. Mungkin putera pembesar itu mata keranjang dani suka

mempermainkan wanita, akan tetapi ucapannya itu sedikitnya

menunjukkan bahwa dia menyadari akan kesalahan dirinya

sembilan tahun yang lalu.

“Ah, kalau aku tidak setuju ia disiksa dan tidak setuju ia

dibunuh. Lebih baikia dibiarkan hidup saja!” kata Koo Cai Sun.

“Hee?? Apa maksudmu, Cai Sun? Membiarkan musuh kita

yang telah merusak kehidupan kita ini hidup? Maksudmu

melepaskannya, begitu?” Lauw Ti membentak marah.

“Koo Cai Sun, bagaimana mungkin engkau mempunyai

pendirian seperti itu? Selama dua tahun ini kita hidup tidak

mati pun bukan, mengandung dendam segunung tingginya

dan selaut dalamnya, dan sekarang setelah ia kita tangkap,

engkau bilang kita sebaiknya melepaskannya begitu saja?”

tanya pula Pui Ki Cong yang merasa terheran-heran. “Apakah

engkau… menaruh iba kepada orang yang telah membuat

mukamu menjadi seburuk setan begini?”

“Heh-heh, bukan begitu, Pui Kongcu. Aku tadi mendengar

suara Kim Cui Hong ini demikian penuh penyesalan setelah ia

melihat betapa mengerikan keadaan kita akibat penyiksaannya

yang kejam dan buas seperti iblis. Nah, kalau ia mati berarti ia

akan berhenti menderita batin teringat akan kekejamannya

 

yang tak mengenal batas. Kalau ia disiksa seperti yang

dikehendaki Lauw Ti, ia pun akan merasa sudah terbayar

perbuatannya yang di luar prikemanusiaan itu. Maka, kita

bebaskan ia dan biarkan ia hidup agar selama hidupnya ia

akan selalu membayangkan wajah kita dan disiksa oleh

penyesalan yang akan membuat batinnya menderita

selamanya!”

Mendengar ini, Cui Hong memejamkan kedua matanya dan

berkata lirih. “Kalian bunuh saja aku… bunuh saja aku…”

suara tergetar karena ia benar-benar merasa menyesal. Ia

membayangkan pula apa yang terjadi dengan keluarga tiga

orang itu, betapa mereka itu, anak isteri mereka, ikut pula

menderita karena keadaan suami mereka. Dan semua ini

terjadi karena ia terlalu menuruti nafsu mendendam yang

membuat ia sekejam iblis!

“Tan-twako…” hatinya mengeluh, teringat akan Tan Siong

yang dulu pernah memperingatkan dan menasehatinya

bahwa dendam itu akan membakar dirinya sendiri, akan

mengakibatkan penderitaan dalam batinnya sendiri karena

nafsu dendam mendorong orang untuk melakukan kekejaman

agar memuaskan dendamnya.

Dan kini, hanya penyesalan mendalam yang ia rasakan,

melihat wajah tiga orang seperti itu.

Mendengar ucapan Koo Cai Sun yang disusul keluhan Kim

Cui Hong yang minta dibunuh, Pui Kongcu menganggukangguk.

“Hemm, ada benarnya juga pendapatmu, Koo Cai

Sun. Akan tetapi, biarlah hal ini kupikirkan dulu sampai besok.

Akan kuambil keputusan besok.”

“Can-ko (Kakak Can) dan Lim-te (Adik Lim), kalian berdua

jagalah tawanan ini, jangan sampai ia terlepas. Kami hendak

mengaso dulu dan besok akan kuambil keputusan apa yang

akan kulakukan dengan Kim Cui Hong.”

 

“Baik, Kongcu. Jangan khawatir, kami akan menjaganya.”

kata dua orang kakak beradik Bong itu. Tiga orang itu lalu

memutar roda kursi mereka dengan tangan dan kursi-kursi itu

menggelinding memasuki bagian dalam gedung melalui pintu

sebelah dalam yang dibuka pelayan dan kursi roda Pui Kl Cong

lalu didorong o leh seorang pelayan. Mereka menuju ke kamar

masing-masing untuk beristirahat karena pertemuan dengan

wanita yang membuat mereka kini menjadi seperti hantu itu

sungguh mendatangkan ketegangan luar biasa dalam hati

mereka sehingga membuat tubuh mere ka yang kini amat

lemah itu menjadi lemas.

Bong Can dan Bong Lim kini duduk di atas dua buah

bangku, agak jauh dari Cui Hong akan tetapi waspada

mengamati gerak-gerik wanita itu. Diam-diam dua orang

murid Kun-lun-pai ini merasa iba kepada gadis itu. Akan tetapi

mereka sudah mendengar bahwa wanita cantik ini yang telah

menyiksa Pui Ki Cong dan dua orang bekas pengawalnya

sehingga mereka pun mendapatkan kesan buruk atas diri Cui

Hong. Mereka berdua menganggap Cui Hong seorang wanita

yang teramat kejam, karena Pui Ki Cong tidak pernah

memberitahu kepadanya mengapa Cui Hong bertindak

sekejam itu kepada mereka bertiga. Kini mereka melihat

betapa Cui Hong memejamkan mata, tubuhnya lunglai dan

jelas gadis itu mengendurkan semua urat syarafnya, bernapas

dengan panjang dan teratur.

Mereka berdua merasa kagum juga. Mereka mengenal cara

mengatur pernapasan yang dilakukan gadis itu untuk

mengumpulkan hawa murni dan dalam keadaan seperti itu,

selain dapat menghimpun kembali tenaganya, gadis itu pun

dapat beristirahat menghilangkan semua kelelahan. Biarpun

dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya dan terikat pada

ti-hang, namun ternyata Cui Hong tetap tenang bahkan dapat

melakukan siu-lian (samadhi) dan mengatur pernapasan

dengan santai dan baik.

 

O0dwoO

Su Lok Bu dan Cia Kok Han duduk di ruangan depan rumah

penginapan para pendekar yang mendukung Kerajaan Beng

untuk menghadapi pemberontak, berhadapan dengan Tung

Ok. Pagi itu dua orang perwira ini sudah mengadakan

pembicaraan dengan Tung Ok dan mere ka merayakan

keberhasilan mereka menangkap Cui Hong yang dianggap

wanita iblis jahat. Kalau Su Lok Bu dan Cia Kok Han merasa

gembira karena mereka telah menolong tiga orang yang

menderita hebat itu dan menangkap seorang wanita iblis yang

amat kejam dan berbahaya bagi masyarakat, Tung Ok

gembira karena janji yang diberikan Pui Ki Cong untuk

menghadiahkan setengah dari kekayaannya kepada orang

yang dapat menangkap Kim Cui Hong, dan yang berhasil

menangkap gadis perkasa itu adalah dia, dibantu delapan

orang anak buahnya!

Sambil minum arak dan menikmat i makanan kecil, dua

orang perwira itu menceritakan kepada Tung Ok akan

kekejaman yang dilakukan Kim Cui Hong kepada Pui Ki Cong,

Koo Cai Sun, dan Lauw Ti yang kini menjadi tengkoraktengkorak

hidup dan selalu mengurung diri dalam gedung

yang disediakan untuk mereka oleh keluarga Pui Ki Cong.

Bahkan selama di kota raja, Tung Ok sendiri belum pernah

melihat mereka.

“Ha-ha-ha-ha, aku akan memiliki sebuah gedung yang

lengkap dan mewah, dan akan mengumpulkan sedikitnya lima

orang isteri! Tinggal menanti imbalan jasa berupa pangkat

yang tinggi dan lengkaplah sudah apa yang kucitakan, ha-haha!”

Su Lok Bu dan Cia Kok Han saling lirik dan mereka

mengerutkan alisnya. Timbul perasaan tidak puas dalam hati

mereka. Mereka adalah murid Siauw-lim-pai dan murid Butong-

pai yang merasa diri mereka pendekar, dan sekarang

mereka terpaksa bekerja sama dengan orang seperti Tung Ok

 

yang jelas melihat sikap dan mendengar ucapannya adalah

seorang datuk sesat yang hanya mementingkan harta dan

pangkat, sama sekali bukan ingin membela negara sebagai

seorang pahlawan.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han memang bukan golongan

pendekar yang bijaksana, namun mereka bukan orang jahat

dan perguruan mereka mengajarkan watak pendekar yang

menentang kejahatan dan berjiwa pahlawan pembela negara

dan bangsa. Mereka maklum bahwa sebagai manusia, mereka

harus memerangi nafsu mereka sendiri. Mereka maklum

bahwa yang membuat manusia lupa diri, bahkan membuat

seorang yang tadinya berwatak pendekar dapat menjadi

lemah dan jatuh ke dalam kesesatan, adalah nafsu sendiri,

nafsu yang selalu mengejar kesenangan dan yang paling kuat

adalah kesenangan yang didapatkan melalui tiga hal. Pertama

adalah kedudukan atau kekuasaan, ke dua adalah harta

benda, dan ke tiga adalah wanita. Tiga hal inilah yang

meruntuhkan hati seorang laki-laki kalau dia t idak memiliki

batin yang kuat. Dan kini mere ka melihat Tung Ok adalah

orang yang seperti itu, yakni hanya mementingkan tiga hal itu.

Mereka merasa kecewa sekali dan diam-diam merasa muak

bahwa mereka harus bekerja sama dengan orang seperti itu

dalam perjuangan membela Kerajaan Beng.

Enam orang berjalan menghampiri ruangan depan itu.

Tung Ok yang berwatak angkuh memandang acuh tak acuh

ketika mengenal bahwa yang datang adalah Liong-san Ngoeng

dan seorang laki-laki muda. Tung Ok memang

memandang rendah para pendekar, apalagi yang masih muda.

Dia tidak melihat mereka lagi dan melanjutkan minum

araknya.

Akan tetapi Su Lok Bu dan Cia Kok Han segera tersenyum

ketika melihat Liong-san Ngo-eng yang menjadi sahabat

mereka. Lima pendekar Liong-san itu adalah murid-murid

Liong-san-pai yang gagah. Mereka seringkali bekerja sama

 

dengan Su Lok Bu dan Cia Kok Han, bahkan ketika hendak

menangkap Li Cu Seng mereka juga bekerja sama.

“Ah, Ngo-wi Eng-hiong (Lima Pendekar), silakan duduk dan

mari minum bersama kami!” kata Su Lok Bu ramah.

“Terima kasih, Su-ciangkun!” kata Thio Ki, orang pertama

dan tertua dari Liong-san Ngo-eng. “Kami hanya ingin

mengundang Ji-wi ciangkun (Perwira berdua) membicarakan

urusan penting.”

Tiba-tiba Cia Kok Han menyentuh lengan Su Lok Bu dan dia

memandang kepada laki-laki muda yang gagah perkasa itu. Su

Lok Bu juga memandang dan mereka berdua segera

mengenalnya. Tan Siong! Pemuda berusia sekitar tiga puluh

dua tahun itu adalah Tan Siong, pemuda yang pernah

membela Kim Cui Hong dan memiliki ilmu silat Kun-lun-pai

yang lihai.

“Saudara ini…. siapakah?” tanya Su Lok Bu kepada Thio Ki.

“Ini Saudara Tan Siong, seorang sukarelawan baru yag

sudah diterima Jenderal Ciong. Kami berlima sudah lama

mengenal dia sebagai seorang pendekar Kun-lun-pai yang

budiman dan bijaksana. Justru kami ingin bicara dengan ji-wi

bersama Tan-enghiong (Pendekar Tan).”

Su Lok Bu dan Cia Kok Han saling pandang dan melihat

sikap mereka itu, Tan Siong lalu berkata dengan suara lembut.

“Paman berdua tentu masih ingat kepada saya. Saya ingin

membicarakan sesuatu yang penting kepada ji-wi.”

Su Lok Bu lalu berkata kepada Tung Ok. “Lo-cian-pwe,

maafkan kami. Kami mempunyai urusan penting dengan

Saudara-saudara ini. Terpaksa kami meninggalkan Lo-cianpwe

minum seorang diri.” Dengan sikap angkuh kakek itu

berkata. “Pergilah, aku pun tidak ingin diganggu orang-orang

muda!” Dan dia kembali minum arak dar i cawannya.

 

Su Lok Bu dan Cia Kok Han lalu mengikut i Liong-san Ngoeng

dan Tan Siong memasuki taman di sebelah kiri gedung

itu. Di taman yang cukup luas ini terdapat sebuah beranda di

mana terdapat bangku-bangku untuk beristirahat. Delapan

orang itu lalu duduk di atas bangku mengelilingi sebuah meja.

Mereka tidak khawatir akan ada orang lain mendengarkan

percakapan mereka karena dari beranda yang terbuka itu

mereka dapat melihat ke sekeliling sehingga tidak mungkin

ada orang mendekati beranda itu tanpa mereka ketahui.

Setelah delapan orang itu mengambil tempat duduk, Su Lok

Bu yang sejak tadi menahan rasa penasarannya, berkata

kepada Tan Siong.

“Engkau Tan Siong murid Kun-lun-pai yang dulu membantu

Iblis Betina Kim Cui Hong itu, bukan? Hemm, biarpun

sekarang kita sama-sama hendak membela kerajaan dan

menjadi pembantu Jenderal Ciong, namun kami kira tidak ada

urusan apa pun di antara kita.” Suaranya agak kasar karena

dia memang merasa penasaran kepada Tan Siong yang

dianggap sesat karena dulu membantu gadis jahat dan kejam

itu.

“Maaf, Paman Su Lok Bu dan Paman Cia Kok Han. Saya kira

dahulu itu kita saling bertentangan hanya karena salah

pengertian saja. Bagaimanapun juga, ji-wi (kalian berdua)

adalah murid Siauw-lim-pai dan murid Bu-tong-pai dan saya

sendiri adalah murid Kun-lun-pai. Saya merasa yakin bahwa

perguruan kita bertiga selalu mengajarkan kepada kita untuk

bertindak sebagai pendekar yang membela kebenaran dan

keadilan. Maka, bentrokan antara kita dahulu itu tentu karena

salah paham.”

“Hemm, bagaimana mungkin salah paham? Engkau dahulu

membela Kim Cui Hong, iblis betina yang amat kejam dan

jahat!” bentak Cia Kok Han dengan penasaran. “Apalagi yang

hendak dibicarakan?”

 

“Paman, saya ingin membicarakan dengan ji-wi tentang

Nona Kim Cui Hong yang ji-wi tawan.” kata Tan Siong.

Su Lok Bu mengerutkan alisnya dan memandang marah.

“Engkau mau apa sekarang? Masih hendak membela

perempuan kejam itu? Tan Siong, kalau benar-benar engkau

seorang pendekar Kun-lun-pai, apakah engkau tidak melihat

kenyataan ataukah karena engkau tergila-gila akan kecantikan

Kim Cui Hong maka engkau hendak membelanya mati-matian?

Engkau tidak tahu kekejaman apa yang telah dilakukan iblis

betina itu terhadap Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti?

Tiga orang itu ia siksa sehingga kini mereka itu hidup bukan

mati pun t idak. Mereka menjadi seperti tengkorak-tengkorak

hidup dan tidak berani memperlihatkan diri kepada orang lain

yang tentu akan merasa ngeri dan jijik. Kami memang telah

menangkap Iblis Betina yang amat kejam itu dan kami

menyerahkannya kepada mereka bertiga. Kalau engkau kini

masih hendak membelanya, berarti engkau juga seorang

pendekar yang menyeleweng dan sesat!”

Melihat Su Lok Bu menjadi marah, Thio Ki, orang pertama

dari Liong-san Ngo-eng lalu berkata menyabarkan. “Suciangkun,

harap tenang dan suka bersabar. Kami berlima

mengenal betul j i-wi ciang-kun (perwira berdua) yang berjiwa

pahlawan dan pendekar, dan kami juga sudah lama mengenal

Tan-enghiong sebagai seorang pendekar gagah perkasa dan

budiman. Ji-wi ciangkun adalah murid-murid Siauw-lim-pai

dan Bu-tong-pai sedangkan Tan-enghiong adalah murid Kunlun-

pai. Tiga perguruan dan aliran silat yang terkenal memiliki

murid-murid pendekar. Kami tidak membela Tan-enghiong,

hanya ingin membikin terang persoalan di antara kalian.

Karena Itu kami mohon sukalah ji-wi ciang-kun mendengarkan

dulu penjelasan yang akan diberikan Tan-enghiong,”

Cia Kok Han kini bicara. “Baiklah! Penjelasan apa lagi yang

hendak diberikan kepada kami? Bicaralah” Dia memandang

 

kepada Tan Siong dengan sinar mata tajam penuh se lidik. Su

Lok Bu juga mengangguk, tanda menyetujui ucapan rekannya.

“Paman Su Lok Bu dan Paman Cia Kok Han, harap maafkan

saya. Sama sekali saya tidak ingin membela Kim Cui Hong

secara membuta. Dahulu saya sudah mencoba untuk

mencegah dan menegurnya, namun sia-sia. Sekarang saya

ingin bertanya, apakah ji-wi (kalian berdua) mengetahui

mengapa Kim Cui Hong bertindak sedemikian kejamnya

terhadap tiga orang itu?”

Dua orang perwira itu saling pandang lalu menggeleng

kepala. “Pui Ki Cong hanya memberitahu kepada kami bahwa

Kim Cui Hong adalah musuh besarnya.”

“Baiklah, sekarang saya hendak menceritakan mengapa

Kim Cui Hong bertindak sedemikian kejamnya terhadap

mereka. Sembilan tahun yang lalu, Kim Cui Hong adalah

seorang gadis remaja berusia enam belas tahun, puteri dari

guru silat Kim Siok di dusun Ang-ke-bun. Kim Siok adalah

seorang murid Siauw-lim-pai juga, seperti Paman Su Lok Bu.”

Su Lok Bu merasa tidak enak mendengar bahwa Iblis

Betina itu puteri orang murid Siauw-lim-pai, berarti saudara

seperguruan dengannya. “Ah, aku tidak mengenalnya sama

sekali. Kalau dia benar murid Siauw-lim-pai, mengapa dia

membiarkan puterinya menjadi jahat seperti itu?”

“Maaf, Paman Su Lok Bu, agaknya Paman belum mengenal

benar orang-orang macam apa Pui Ki Cong dan dua orang

bekas tukang pukulnya itu, dan perbuatan apa yang mereka

lakukan terhadap Kim Cui Hong.”

“Kami berdua sudah mendengar bahwa mereka pernah

berbuat jahat terhadap Kim Cui Hong. Akan tetapi apa yang

dilakukan oleh gadis itu untuk membalas dendam sungguh di

luar prikemanusiaan. la membuat tiga orang itu menjadi

manusia-manusia cacat dan tidak berguna, hidup tidak mati

pun bukan. Tan Siong, kalau engkau seorang murid Kun-lunTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

pai yang berjiwa pendekar, apakah engkau menganggap

tindakan Kim Cui Hong itu benar? Ia menjadi begitu kejam

seperti iblis, apakah pantas orang seperti itu dibela?” kata Cia

Kok Han.

“Itu masih belum seberapa! Ia bahkan kini menjadi seorang

pemberontak dan antek pemberontak Li Cu Seng! Dosanya

benar-benar tak terampunkan!” tambah Su Lok Bu.

“Harap Paman berdua bersabar dan mendengarkan cerita

saya. Sembilan tahun yang lalu, ketika Kim Cui Hong berusia

enam belas tahun, ia menarik perhatian Pui Ki Cong yang

kemudian meminangnya. Akan tetapi pinangan itu ditolak oleh

Paman Kim Siok, ayah Cui Hong karena pertama, dia tidak

suka puterinya dijadikan selir. Kedua, karena pada waktu itu

Cui Hong sudah ditunangkan dengan seorang suhengnya

bernama Can Lu San, murid Ayahnya sendiri. Penolakan ini

membuat Pui Ki Cong dan Ayahnya marah, dan menggunakan

kekerasan. Akan tetapi para tukang pukul mereka dikalahkan

oleh Kim Cui Hong, Can Lu San dan Kim Siok. Keluarga yang

maklum bahwa urusan akan menjadi besar itu lalu melarikan

diri dari dusun Ang-ke-bun. Ketika mere ka tiba di kaki

Pegunungan Tai-hang-san, mereka dapat dikejar oleh Thiancin

Bu-tek Sam-eng (Tiga Pendekar Tanpa Tanding dari Thiancin)

yang dibayar keluarga Pui Ki Cong untuk menangkap Cui

Hong. Dalam perkelahian itu, Kim Siok dan Can Lu San

tertawan. Kim Cui Hong ditangkap dan diserahkan kepada Pui

Ki Cong. Paman tahu apa yang terjadi? Apa yang dialami oleh

Cui Hong, gadis remaja berusia enam belas tahun yang tidak

berdosa itu? la diperkosa oleh Pui Ki Cong di depan Ayah dan

tunangannya sebelum mereka berdua mati dibunuh! Bukan

hanya oleh Pui Ki Cong. Setelah puteri jaksa ini memperkosa

dan menghinanya sampai bosan, lalu Cui Hong diserahkan

kepada Thian-cin Bu-tek Sam-eng yang terdiri dari Gan Tek

Un, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti. Tiga orang yang mengaku

pendekar ini pun secara buas melebihi iblis sendiri bergantian

memperkosa Cui Hong sekehendak dan sepuas hati mereka.

 

Setelah mereka semua merasa bosan, mereka membawa

tubuh Cui Hong yang sudah seperti mayat hidup itu ke tengah

hutan dan meninggalkannya di hutan begitu saja! Nah, ji-wi

(Anda berdua) dapat membayangkan apakah ada siksaan bagi

seorang wanita yang lebih mengerikan daripada apa yang

dilakukan empat orang itu?”

Wajah Su Lok Bu dan Cia Kok Han berubah pucat. Mereka

terbelalak saling pandang dan merasa benar-benar terkejut

dan ngeri. Tak pernah mereka membayangkan bahwa Pui Ki

Cong dan anak buahnya itu melakukan kebiadaban sehebat

itu! Saking terkejut, bingung dan menyesal mereka tidak

dapat mengeluarkan kata apa pun.

“Paman berdua, dalam keadaan hampir mati lahir batinnya

itu, muncul Toat-beng Hek-mo dan orang tua yang sakti itu

menolong Kini Cui Hong dan mengambilnya sebagai murid.

Setelah belajar selama tujuh tahun, Cui Hong lalu pergi dan

melakukan balas dendam kepada empat orang yang telah

menghancurkan hidupnya itu. Nah, sekarang Paman berdua

dapat menilai apakah balas dendam yang dilakukan Cui Hong

itu lebih kejam daripada apa yang la derita dari empat orang

itu?”

Su Lok Bu menghela napas panjang. “Hemm, sama sekali

tidak pernah kusangka mereka melakukan perbuatan biadab

sekejam itu. Akan tetapi, engkau tentu hanya mendengar

cerita itu dari Kim Cui Hong. Bagaimana kami dapat yakin

bahwa cerita itu tidak bohong?”

“Sama sekali tidak bohong, Paman Su, karena saya

mendengar cerita itu sejelasnya dari seorang di antara empat

orang yang telah melakukan kebiadaban itu. Seorang diantara

Thian-cin Bu-tek Sam-eng itu adalah Gan Tek Un, Paman saya

sendiri. Dialah yang bercerita kepada saya sebelum dia

meninggal dunia.”

“Sungguh biadab! Mereka memang pantas dihukum, akan

tetapi mengapa Cui Hong tidak membunuh saja mereka

 

melainkan menyiksa mereka? Bukankah itu merupakan

perbuatan yang kejam sekali?” kata Cia Kok Han.

“Cui Hong tidak membunuh mereka karena ia sudah

berjanji kepada gurunya bahwa dalam membalas dendam ia

tidak boleh membunuh. Ia menaati pesan gurunya itu. Adapun

tentang kekejaman itu, kita dapat memaklumi, Paman.

Dendam sakit hati yang sedemikian hebat itu membuat ia

menjadi mata gelap dan ingin membalas penderitaan yang ia

rasakan selama hidupnya! Bahkan sampai sekarang Cui Hong

masih menderita akibat kebiadaban mereka. Gadis itu tidak

berani menikah karena merasa dirinya kotor. Pamanku sendiri,

Gan Tek Un menghibur diri menjadi pendeta karena menyesali

perbuatannya terhadap Cui Hong. Akhirnya, ketika Cui Hong

datang, dia membunuh diri sebagai penebus dosanya

terhadap Cui Hong. Sikap Pamanku ini masih baik karena dia

mau bertanggung jawab dan menyesali perbuatannya. Akan

tetapi, Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Lauw Ti tidak menyesali

kebiadaban mereka, bahkan berusaha untuk menangkap Cui

Hong. Kini, Paman berdua menyerahkan Cui Hong kepada

mereka. Dapat Paman bayangkan kekejaman yang lebih

biadab lagi tentu akan mereka lakukan terhadap Cui Hong!”

Dua orang perwira itu terbelalak!

“Celaka, kalau begitu kita harus menolongnya!” kata Su Lok

Bu.

“Nanti du lu!” kata Cia Kok Han. “Dalam urusan ini memang

kita harus mencegah Pui Ki Cong dan dua orang anak buahnya

menyiksa Kim Cui Hong. Akan tetapi ada satu hai yang

menyakit kan hatiku. Mengapa gadis itu menjadi antek atau

pembela pemberontak Li Cu Seng?”

Tan Siong mengerutkan alisnya. “Untuk pertanyaan itu,

Paman Cia, terus terang saja saya tidak dapat menjawabnya

karena saya sendiri pun tidak atau beium mengerti.

Bagaimana kalau sekarang kita tanyakan sendiri kepada Cui

 

Hong untuk memastikan apakah Paman berdua tidak salah

tangkap?”

“Ji-wi Ciang-kun (Saudara Perwira Berdua), inilah saatnya

kita semua mengetahui hal sebenarnya tentang Kim Cui Hong.

Kalau benar-benar kita keliru memusuhinya dan ji-wi salah

tangkap, sungguh kami berlima juga merasa bersalah karena

kami pernah pula membantu ji-wi memusuhinya. Mari kita

menemuinya dan mencegah tiga orang itu menyiksanya.”

Dua orang perwira yang sudah mulai merasa menyesal dan

meragu akan urusan yang menyangkut Kim Cui Hong,

menurut saja dan mereka semua, yaitu Liong-san Ngo-eng, Su

Lok Bu, Cia Kok Han, dan Tan Siong pergi menuju ke gedung

tempat tinggal Pui Ki Cong.

Ketika delapan orang itu tiba di gedung itu, para pelayan

yang sudah mengenal Su Lok Bu dan Cia Kok Han karena dua

orang perwira itu pernah datang mengantarkan gadis

tawanan, tidak mencegah mereka sungguhpun mereka

terkejut dan juga takut sekali.

Mendengar suara orang-orang datang di gedung itu, Bong

Can dan Bong Lim yang ditugasi menjaga Kim Cui Hong yang

kini telah dipindahkan di atas sebuah dipan dan terikat kaki

tangannya, segera meninggalkan ruangan itu dan keluar.

Mereka melihat delapan orang perwira dan sudah mengenai

Su Lok Bu dan Cia Kok Han yang tadi datang mengantarkan

gadis tawanan itu. Ketika mereka melihat Tan Siong di antara

delapan orang itu, Bong Can dan Bong Lim terkejut dan

girang.

“Tan-suheng…!” kata mereka sambil maju menghampiri.

Biarpun Bong Can tiga tahun lebih tua daripada Tan Siong,

namun dalam perguruan Kun-lun-pai Tan Siong merupakan

suheng (Kakak Seperguruan) karena tingkatnya lebih tinggi.

Dua orang kakak beradik ini amat mengagumi Tan Siong yang

telah mengharumkan nama Kun-lun-pai dengan sepak

 

terjangnya sebagai seorang pendekar budiman yang gagah

perkasa.

“Eh? Kalian berdua berada di sini, Sute? Apakah kalian

bekerja kepada Pui Ki Cong itu?” tanya Tan Siong dengan a lis

berkerut, heran dan tidak senang.

Wajah kakak beradik Bong itu berubah merah. Mereka

memang akhir-akhir ini merasa curiga kepada majikan

mereka, terutama melihat sikap Lauw Ti dan kecurigaan

mereka semakin hebat ketika mereka melihat Kim Cui Hong

menjadi tawanan di situ. Mereka melihat sikap yang gagah

perkasa dari gadis itu, sebaliknya mereka melihat sikap yang

keras dan penuh kebencian dari t iga orang penghuni gedung.

“Mengapa, Suheng?” Bong Lim bertanya. “Salahkah kami

kalau bekerja di sini, sebagai pengawal Pui Kongcu yang cacat

dan lemah itu?”

“Hemm, mereka itu orang-orang jahat, Sute.” Tan Siong

lalu menceritakan semua perbuatan mereka terhadap Kim Cui

Hong. Mendengar ini, Bong Can dan Bong Lim merasa

menyesal sekali.

“Ah, kami pun sudah curiga ketika melihat gadis tawanan

itu. Kalau begitu, mar i kita temui Nona Kim.” kata Bong Can.

Bong Can dan Eong Lim menjadi penunjuk jalan, mereka

langsung menuju ke ruangan di mana Kim Cui Hong ditahan.

Mereka berdelapan melihat gadis itu dibelenggu di atas

sebuah dipan. Kaki tangannya terikat dan bajunya terkoyak,

hanya mengenakan pakaian dalam. Akan tetapi gadis itu

tampak tenang dan melihat keadaannya, agaknya dia tidak

diganggu, mungkin hanya dicaci-maki saja. Akan tetapi

melihat kedatangan orang-orang itu, Cui Hong terbelalak,

apalagi ketika melihat munculnya Tan Siong bersama mereka.

Ia sama sekali tidak mengerti mengapa pemuda itu datang

bersama orang-orang yang berpakaian perwira itu. Bahkan

Tan Siong juga mengenakan pakaian perwira!

 

“Hong-moi….!!” kata Tan Siong dan suaranya mengandung

kekhawatiran.

“Siong-ko, mengapa engkau datang bersama mereka yang

memusuhi aku?” Cui Hong bertanya ketika ia mengenai tujuh

orang itu sebagai perwira-perwira yang pernah menyerang Li

Cu Seng yang dibantunya karena ia melihat saudara

sepupunya, Kim Lan Hwa, terancam bahaya. “Jangan engkau

mencampuri urusanku, Siong-ko, agar engkau tidak dianggap

jahat. Biarkan mereka membunuhku, aku t idak takut mati!”

“Hong-moi….” Tan Siong berkata terharu.

“Nona Kim Cui Hong, kami sudah mendengar akan

riwayatmu. Akan tetapi sebelum kami memutuskan apakah

engkau ini kawan ataukah lawan, katakan kepada kami

mengapa engkau membela Pemberontak Li Cu Seng. Apakah

engkau menjadi anggauta pemberontak, anak buah Li Cu

Seng?” tanya Su Lok Bu dan tujuh orang perwira itu menatap

wajah Kim Cui Hong dengan tajam penuh selidik.

“Hemm, siapa membantu Li Cu Seng? Aku tidak peduli akan

semua perebutan kekuasaan antara sesama bangsa ini!”

jawab Kim Cui Hong.

“Akan tetapi, Nona Kim Cui Hong, mengapa ketika pasukan

menyerang Li Cu Seng, engkau membantunya?” tanya pula

Cia Kok Han, penasaran.

“Bukan Li Cu Seng yang kubantu, melainkan Enci Kim Lan

Hwa. Selir Panglima Bu Sam Kwi itu adalah Kakak sepupuku.

Ia terancam, tentu saja aku membantunya. Sekarang

terserah, kalian sudah menyerahkan aku kepada iblis-iblis itu.

Aku tidak minta dikasihani!”

Tiba-tiba terdengar suara bergedebugan di luar ruangan

itu, disusul jeritan-jeritan kesakitan. Delapan orang itu terkejut

dan mereka cepat berlari keluar dari ruangan itu. Suara gaduh

itu datang dari ruangan dalam. Ketika tiba di luar ruangan

mereka melihat beberapa orang pelayan berlarian keluar

 

ketakutan dan terdengar suara cambuk meledak-ledak, disusul

suara tawa bergelak. Mereka cepat menuju ke ruangan itu dan

mereka melihat pemandangan yang mengerikan.

Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun terkapar di atas lantai. Kursikursi

roda mereka berantakan dan tubuh kedua orang itu

hancur tersayat-sayat. Muka mereka hancur, bahkan perut

Koo Cai Sun yang gendut itu terkoyak sehingga isi perutnya

berhamburan. Darah membanjir mengerikan.

Lauw Ti berdiri dengan senjata cambuknya di tangan.

Senjata cambuk ini berwarna hitam, ujungnya dipasangi kaitan

baja dan cambuk ini yang menghancurkan tubuh kedua orang

itu. Lauw Ti masih terus menghantamkan cambuknya pada

dua tubuh rekannya yang sudah hancur itu, sambil tertawa

bergelak dan dia berloncatan dengan sebelah kakinya, lengan

kirinya yang buntung bergerak-gerak seperti menari dan yang

kanan mengayunkan dan memukulkan cambuknya sekuat

tenaga sehingga terdengar bunyi meledak-ledak dan tampak

daging dan darah muncrat berhamburan!

“Ha-ha-ha, siapa berani melarangku? Ha-ha-ha, aku akan

memperkosa Kim Cui Hong sepuasku, baru akan kusayat-sayat

dagingnya sedikit demi sedikit sampai ia lebih cacat daripada

aku. Kalian menghalangiku, harus mampus!” Lauw Ti tertawatawa

dan memaki-maki. Kemudian dia melompat-lompat

dengan sebelah kaki menuju ke ruangan di mana Kim Cui

Hong terikat di atas dipan. Dia seolah tidak melihat adanya

sepuluh orang yang muncul itu dan melewati mereka begitu

saja. Sepuluh orang itu melihat betapa mata Lauw Ti

berputaran, dan segala gerak-geriknya jelas menunjukkan

bahwa dia benar-benar menjadi iblis, bukan saja wajahnya

melainkan juga p ikirannya. Tidak waras dan telah kemasukan

iblis.

Sepuluh orang itu mengikut inya, hendak melihat apa yang

akan dilakukan Lauw Ti yang kumat gilanya itu. Keadaannya

benar-benar menyeramkan. Muka yang menyeramkan itu,

 

juga kedua tangan dan pakaiannya bagian depan, berlepotan

darah!

“Ha-ha-ha, sekarang engkau akan membayar lunas semua

perbuatanmu, Kim Cui Hong!” Dia melepaskan cambuknya lalu

menubruk maju, tangan kanannya membentuk cakar hendak

mencengkeram dan merenggut pakaian Cui Hong.

“Piak! Desss….!” Su Lok Bu yang tak dapat menahan

kesabarannya lagi sudah bergerak maju, menangkis tangan

Lauw Ti yang hendak mencengkeram gadis itu, lalu

mendorong sehingga tubuh Lauw Ti jatuh terjengkang. Lauw

Ti menggereng seperti binatang buas. Matanya terbelalak dan

liar, lalu dia mengambil cambuknya dan melompat bangun,

kemudian dengan kaki sebelah berloncat-loncatan dia

mengamuk, menyerang ke arah sepuluh orang itu. Akan tetapi

sepuluh orang Itu adalah ahli-ahli silat yang tangguh, maka

dengan mudah mereka menghindarkan diri dengan elakan.

Lauw Ti lalu membalik dan cambuknya menyambar ke arah

kepala Kim Cui Hong!

Bong Lim yang merasa bertanggung jawab sebagai

pengawal Pui Ki Cong dan majikannya itu terbunuh tanpa dia

ketahui, marah sekali kepada Lauw Ti yang menjadi

pembunuhnya. Maka melihat Lauw TI hendak membunuh Kim

Cui Hong, dia bergerak ke depan dan pedangnya telah

menembus dada Lauw Ti.

Lauw Ti mengeluarkan jerit menyeramkan dan roboh

terguling, tewas seketika. Agaknya nyawanya keluar bersama

teriakannya tadi. Tan Siong lalu menghampiri dipan dan

membebaskan Kim Cui Hong dari ikatan kaki tangannya.

“Cu-wi Ciang-kun (Para Perwira Se-kalian), saya minta

persetujuan cu-wi (kaiian semua) untuk mengajak pergi Nona

Kim Cui Hong keluar kota raja. Kepada Liong-san Ngo-eng

saya minta tolong agar menyampaikan hormat dan maafku

kepada Ciong Goanswe karena saya terpaksa meninggalkan

benteng.”

 

Baik Liong-san Ngo-eng, kakak beradik Bong, dan dua

orang perwira Su Lok Bu dan Cia Kok Han, mengangguk dan

tidak ada yang merasa keberatan. Mereka semua kini yakin

bahwa tiga orang itu memang benar merupakan orang-orang

berwatak jahat sekali dan Kim Cui Hong menjadi korban

kebiadaban mereka.

“Hong-moi, mari kita pergi!” kata Tan Siong sambil

membuka jubahnya dan memberikannya kepada Cui Hong

untuk dipakai.

Cui Hong mengangkat kedua tangan, dirangkapkan di

depan dada memberi hormat kepada sembilan orang itu dan

berkata, “Terima kasih atas kepercayaan dan kebaikan budi

Cu-wi (Anda Sekalian) kepada saya.”

Tan Siong dan Kim Cui Hong lalu keluar dari gedung itu.

Sembilan orang gagah itu lalu berunding apa yang akan

mereka lakukan selanjutnya. Su Lok Bu yang dianggap

sebagai yang tertua berkata, “Biarlah mayat-mayat ini diurus

oleh para pelayan di sini. Aku akan melaporkan kepada

pejabat yang berwenang mengurusnya. Urusan mengenai Kim

Cui Hong kita rahasiakan saja karena kita pun ikut merasa

malu bahwa kita pernah memusuhi ia yang sesungguhnya

tidak jahat dan kita bahkan membantu orang-orang macam

Pui Ki Cong dan anak buahnya yang amat kejam itu. Adapun

Saudara Bong Can dan Bong Lim, kalau kalian hendak berbakti

kepada kerajaan, mari kuhadapkan Ciong Goan-swe yang

pasti dengan senang hati mere ka akan menerima kalian

sebagai perwira. Juga tentang mundurnya Tan Siong akan

kulaporkan kepadanya.”

Kakak beradik Bong itu setuju dan sembilan orang itu lalu

keluar dari gedung tempat tinggal mendiang Pui Ki Cong.

Jenderal Ciong menerima dua saudara Bong sebagai perwira

dan sembilan orang ini menjadi rekan-rekan yang sepaham

dan akrab. Akan tetapi tak lama kemudian, mereka merasa

kecewa sekali setelah melihat keadaan pemerintahan Kerajaan

 

Beng yang semakin rusak dan lemah. Kaisar Beng yang

terakhir itu, yaitu Kaisar Cung Ceng, adalah seorang laki-laki

yang lemah dan menjadi boneka dalam tangan para Thaikam

(Laki-laki Kebiri atau Sida-sida) yang menguasai pemer intahan

bersama para pejabat tertinggi. Boleh dibilang semua pejabat

pemerintah, dari yang paling tinggi kedudukannya sampai

yang paling rendah, dari yang bertugas di pusat sampai yang

bertugas di daerah-daerah paling terpencil, semua melakukan

korupsi besar-besaran dan menindas rakyat, berlumba

mengumpulkan uang haram untuk memenuhi gudang uang

mereka sendiri masing-masing. Mereka berlumba untuk

bermewah-mewahan, bersenang-senang, menari-nari di atas

penderitaan rakyat jelata. Hal-hai seperti ini diketahui oleh

para pendekar sehingga mereka yang tadinya penuh

semangat membela pemerintah Kerajaan Beng untuk

menghadapi pemberontakan, mulai ragu dan penasaran.

Sesungguhnya, keadaan brengsek dari Kaisar dan para

pejabat itulah yang akhirnya akan menghancurkan Kerajaan

Beng. Pemer intahan di negara manapun juga, pasti menjadi

lemah dan akan runtuh kalau tidak mendapat dukungan dari

rakyatnya. Cara tunggal untuk mendapatkan dukungan rakyat

sepenuhnya, bukan dukungan karena ancaman atau suapan,

hanyalah mengkikis habis korupsi, menindak dan menghukum

petugas pemerintahan yang melakukan korupsi,

menyejahterakan rakyat dan para pejabatnya memberi

tauladan yang baik dengan bekerja keras dan bersih dari

tindakan manipulasi dan korupsi. Kalau begini keadaannya,

rakyat pasti juga akan bekerja keras, bersemangat

membangun negara, yakin bahwa cucuran keringatnya akan

membawa hasil bagi keluarga seluruh rakyat. Bukan

bersemangat karena takut dihukum, karena hendak menjilat

mengharapkan jasa dan sejuta keadaan timpang dan

kepalsuan lagi.

Li Cu Seng adalah seorang pemimpin rakyat yang gagah

dan jujur. Dia memimpin rakyat dengan penuh semangat,

 

semata-mata didasari keprihatinan melihat nasib rakyat yang

semakin menderita di bawah pemerintahan Kaisar Cung Ceng,

yaitu kaisar terakhir Dinasti Beng.

Karena itu, dia didukung banyak rakyat dan dengan cepat

dia menguasai daerah-daerah. Setelah dia berhasil

menyelundup ke dalam kota raja dan melihat keadaan kota

raja, mendengar dari para mata-mata bahwa pertahanan

pemerintahan kerajaan di kota raja amat lemah, juga tidak

ada bantuan dari Jenderal Bu Sam Kwi, panglima besar yang

berjaga dan bertugas di utara, Li Cu Seng mengerahkan

barisannya dan terus menyerbu sampai akhirnya memasuki

kota raja Peking!

Pasukan yang tadinya setia kepada Kaisar Cung Ceng,

akhir-akhir ini berkurang kesetiaannya setelah melihat dengan

jelas betapa yang berkuasa di istana sesungguhnya adalah

para Thaikam yang korup dan sewenang-wenang

mengumpulkan harta kekayaan untuk diri mereka sendiri.

Maka, ketika pasukan rakyat pimpinan Li Cu Seng datang

menyerbu, perlawanan pasukan kerajaan tidak sepenuh hati.

Sebagian besar dari mere ka bahkan melarikan diri mencari

selamat keluar kota raja. Memang ada yang berjiwa patriot,

mempertahankan kota raja sampai tit ik darah penghabisan. Di

antara mereka terdapat pula Su Lok Bu, Cia Kok Han, kelima

Liong-san Ngo-eng, dua saudara Bong Can dan Bong Lim.

Bersama sejumlah pendekar patriot, terutama para murid

perguruan silat yang besar, mereka mempertahankan kota

raja sampai akhirnya mereka gugur sebagai pahlawanpahlawan

yang gagah perkasa.

Memang benarkah pendapat para bijaksana bahwa

terdapat tiga hal yang bisa meruntuhkan seorang laki-laki

yang bagaimana gagah perkasa dan cerdik pandai sekalipun.

Tiga hal itu adalah pertama kekuasaan, kedua harta-benda,

dan ketiga wanita. Tiga hal ini dapat membuat hati seorang

laki-laki yang tadinya sekuat baja menjadi cair dan lemah,

 

membuat dia menjadi mabok. Mabok kuasa, mabok harta, dan

mabok wanita membuat seorang laki-laki dapat melakukan

hal-hal yang tadinya merupakan pantangan baginya.

Satu di antara kelemahan-kelemahan pria itu hinggap pula

dalam hati Li Cu Seng. Dia tergila-gila kepada Kim Lan Hwa

yang memang cantik jelita wajahnya, indah menggairahkan

tubuhnya, lemah lembut tutur sapanya, dan pandai membawa

diri. Seorang wanita muda, berusia dua puluh lima tahun dan

sedang masak-masaknya, dengan seribu satu macam daya

tarik yang mempesona. Setelah membantu wanita ini

melarikan diri dari kota raja, Li Cu Seng tidak mengirimkan

wanita itu kepada suaminya, yaitu Panglima Bu Sam Kwi yang

berada di utara menjaga tapal batas membendung gerakan

bangsa Mancu yang mulai berkembang dan kuat. Akan tetapi

dia sengaja membujuk Kim Lan Hwa agar mau menjadi

isterinya!

Ketika barisan rakyat yang dipimpin Li Cu Seng berhasil

menyerbu kota raja, Kaisar Cung Ceng yang putus asa dan

baru menyadari kesalahannya bahwa selama ini dia hanya

menuruti semua kehendak para Thaikam dan hanya

bersenang-senang tanpa mempedulikan urusan pemerintahan,

lalu melakukan bunuh diri dengan cara menggantung diri

sampai mati!

Li Cu Seng menguasai kota raja dan dia pun lupa diri,

hanya sibuk ingin membahagiakan Kim Lan Hwa yang tidak

dapat menolak untuk menjadi isterinya. Para panglima dan

perwira pengikutnya, merasa kecewa melihat betapa Li Cu

Seng bersenang-senang saja dengan Kim Lan Hwa dan tidak

mengembalikan selir Panglima Bu Sam Kwi kepada suaminya.

Para pengikut itu condong kagum kepada Bu Sam Kwi yang

tidak mau dipanggil Kaisar untuk mempertahankan kota raja.

Bahkan sebagian besar dari mereka menghendaki agar kelak

Bu Sam Kwi yang memimpin rakyat menjadi Kaisar baru.

Bukan Li Cu Seng yang tidak berpendidikan tinggi dan bukan

 

seorang ahli pemerintahan. Apalagi kini melihat Li Cu Seng

bahkan tergila-gila kepada selir Bu Sam Kwi dan

mengambilnya sebagai isteri, berarti merampas selir orang.

Diam-diam mereka merasa penasaran.

Li Cu Seng yang tadinya hanya seorang sederhana, kini

tiba-tiba berada dalam keadaan yang serba gemerlapan,

mewah, di puncak kekuasaan, dibuai kecantikan yang

memabokkan dari Kini Lan Hwa, benar-benar menjadi lupa

diri. Dia tidak mampu membangun sebuah pemer intahan baru

dan tidak mendapat banyak dukungan dari para ahli dan

cendekiawan.

Sementara itu, tadinya Panglima Besar Bu Sam Kwi dengan

sengaja membiarkan kota raja diancam pemberontakan Li Cu

Seng. Sudah lama Jenderal Bu Sam Kwi merasa tidak senang

dengan Kaisar Cun Ceng yang lemah. Sudah beberapa kali dia

memperingatkan dan menasihati Kaisar, dan akibatnya malah

dia diperintahkan untuk memimpin pasukan menjaga di timur

laut untuk menahan serbuan bangsa Mancu. Dia seolah

diasingkan oleh kaisar. Diam-diam dia merasa sakit hati dan

dia pun bersimpati dengan gerakan Li Cu Seng yang

memimpin barisan rakyat. Dia bahkan mempunyai maksud

untuk bekerja sama dengan Li Cu Seng membangun kembali

pemerintahan yang baik dan membasmi semua bentuk

kemunafikan dan korupsi.

Akan tetapi, ketika Bu Sam Kwi mendengar bahwa selirnya

tersayang, Kim Lan Hwa direbut Li Cu Seng dan diperisteri, dia

menjadi marah bukan main. Sebetulnya hal ini hanyalah

persoalan pribadi yang kecil, memperebutkan seorang wanita

cantik sehingga tidak diketahui orang lain. Sebagai seorang

panglima besar, Bu Sam Kwi sendiri juga merahasiakan

perasaan cemburu dan marah karena selirnya direbut ini.

Bahkan para perwira pembantunya juga tidak tahu bahwa

sikap Bu Sam Kwi yang berbalik membenci dan memusuhi Li

Cu Seng sesungguhnya terutama sekali disebabkan karena

 

selirnya direbut. Dia melakukan pendekatan dan persekutuan

dengan musuh besar bangsanya, yaitu dengan bangsa Mancu.

Diajaknya bangsa Mancu bergabung untuk menyerbu dan

merebut kota raja Peking dari tangan pemberontak Li Cu

Seng!

Li Cu Seng belum sempat membentuk sebuah

pemerintahan yang kuat ketika pasukan Jenderal Bu Sam Kwi

yang bergabung dengan pasukan bangsa Mancu datang

menyerbu. Biarpun para pengikut Li Cu Seng melakukan

perlawanan mati-matian, akhirnya mereka terpaksa melarikan

diri ke barat setelah merampok kota raja habis-habisan.

Peristiwa jatuhnya Kerajaan Beng yang disusul dengan

kalahnya pasukan Li Cu Seng ini terjadi dalam tahun 16 yang

merupakan berakhirnya Kerajaan Beng-tiauw di tangan Kaisar

Cung Ceng yang lemah dan menjadi hamba nafsu

kesenangannya sendiri sehingga kekuasaan terjatuh kepada

para pejabat korup dan kepentingan rakyat terabaikan.

Jenderal Bu Sam Kwi yang juga mement ingkan diri sendiri,

ketika melihat bahwa selirnya tercinta, Kim Lan Hwa, ikut

dibawa lari Li Cu Seng, segera mengerahkan pasukannya

untuk melakukan pengejaran ke barat. Dia sama sekali tidak

mempedulikan lagi kota raja Peking yang sudah didudukinya

dengan bantuan bangsa Mancu. Tentu saja kesempatan baik

ini dimanfaatkan bangsa Mancu yang cepat menguasai kota

raja Peking dan menyusun kekuatan di situ. Peking menjadi

benteng pertama yang amat kuat bagi bangsa Mancu dan dari

sanalah kemudian mereka memperluas sayap mereka

sehingga dapat menjajah seluruh daratan Cina.

Sementara itu, Li Cu Seng dan sisa pasukannya, melarikan

diri ke barat, dikejar-kejar pasukan Bu Sam Kwi. Jenderal Bu

ini bersikeras untuk merampas kembali selirnya dari tangan Li

Cu Seng. Para pengikut Li Cu Seng mulai merasa kecewa

sekali akan sikap Li Cu Seng yang ternyata hanya pandai

memimpin pemberontakan namun tidak pandai

 

mempertahankan kota raja. Bahkan agaknya yang

dipentingkan adalah menyelamatkan Kim Lan Hwa yang cantik

agar jangan sampai dirampas kembali oleh Jenderal Bu Sam

Kwi. Banyak perajurit mulai meninggalkannya ketika melihat

bahwa mereka hanya diajak melarikan diri dan dikejar-kejar

sehingga seringkali kehabisan dan kekurangan ransum.

Mulailah mereka menyalahkan Kim Lan Hwa dan menuntut

agar Kim Lan Hwa dikembalikan kepada Jenderal Bu Sam Kwi,

atau dibunuh saja karena wanita itu agaknya yang menjadi

gara-gara sehingga mereka dapat terpukul dan terusir dari

kota raja.

Akhirnya, karena Li Cu Seng t idak mau memenuhi

kehendak para perwira dan perajurit, dia malah mati dikeroyok

para perajuritnya sendiri dan Kim Lan Hwa juga tewas

membunuh diri. Maka habislah sudah pasukan Li Cu Seng

yang tadinya merupakan pasukan rakyat terkuat yang mampu

menggulingkan Kaisar Cung Ceng. Sebagian dari mereka

menakluk kepada Bu Sam Kwi dan memperkuat pasukan

pimpinan Jenderal Bu ini.

Akan tetapi, baru Jenderal Bu Sam Kwi menyadari

kesalahannya ketika dia disambut dengan serbuan oleh

pasukan bangsa Mancu ketika hendak kembali ke kota raja

Peking setelah mendapatkan Li Cu Seng dan Kim Lan Hwa

tewas. Pasukan Jenderal Bu Sam Kwi yang sudah kelelahan itu

tidak kuat melawan pasukan Mancu dan terpaksa Jenderal Bu

Sam Kwi membawa pasukannya melarikan diri jauh ke barat,

sampai di daerah Se-cuan di mana dia menyusun kekuatan

dan mendirikan pemerintah darurat. Di Se-cuan Jenderal Bu

Sam Kwi menjadi seorang raja kecil yang berdaulatan dan

bahkan sampai hampir t iga puluh tahun dia mempertahankan

kerajaan kecil ini dan selalu menentang pemer intahan

Kerajaan Ceng (Mancu) sampai t iba saat kematiannya.

0odwo0

 

Gadis itu berwajah pucat, rambutnya terurai awut-awutan,

pakaiannya kotor dan kusut, tubuhnya lemah lunglai. Sudah

berhari-hari ia tidak makan tidak minum, sudah lima hari ia

berjalan seperti orang kehilangan semangat. Kim Cui Hong kini

bagaikan seorang mayat berjalan, tanpa tujuan, tanpa

harapan, masa depannya gelap pekat, tidak ada sinar sedikit

pun. Berbulan-bulan ia melarikan diri dari Tan Siong. Ketika

dia diajak Tan Siong keluar dari kota raja, ia bagaikan seorang

yang tidak sadar, ia hanya menurut saja, sampai mereka tiba

jauh dari kota raja. Akan tetapi, kemudian ia menyadari

keadaannya, la teringat akan semua pengalamannya,

terutama sekali terbayang di depan matanya keadaan tiga

orang korban penganiayaannya itu, tiga orang manusia yang

mengerikan, la menyesali dirinya dan baru ia menyadari

betapa kejamnya ketika ia membalas dendam. Perbuatannya

itu bukan lagi merupakan kekejaman biasa, melainkan

kekejaman iblis. Pantaslah kalau ia dianggap iblis betina! la

jahat sekali, ia kejam, melebihi kekejaman empat orang yang

dulu memperkosa dan menganiayanya. Ia merasa malu sekali

melakukan perja lanan bersama Tan Siong, walaupun pria itu

tidak pernah menyinggung masalah itu. Dan ia melihat betapa

Tan Siong bersikap penuh kasih, penuh sikap menghibur dan

berusaha membahagiakannya. Sikap Tan Siong ini semakin

menghancurkan hatinya. Ia merasa tidak layak menerima

perlakuan sedemikian baiknya, la tidak pantas dihormati, tidak

pantas dicinta, apalagi oleh seorang pria seperti Tan Siong,

seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman. Tidak,

kedekatan mereka hanya akan mengotori nama baik Tan

Siong. Karena itulah maka ketika pada suatu malam mereka

bermalam dalam sebuah rumah penginapan dan seperti biasa

Tan Siong menyewa dua buah kamar, diam-diam ia melarikan

diri!

Cui Hong maklum bahwa tentu Tan Siong melakukan

pengejaran dan pencarian, maka ia melarikan diri dan

mengembara tanpa tujuan sampai sekitar sepuluh bulan

 

lamanya sejakia pergi meninggalkan Tan Siong. Karena

selama beberapa bulan itu terjadi perang, pertama perang

antara barisan pemberontak Li Cu Seng melawan barisan

Kerajaan Beng, kemudian dilanjutkan perang antara barisan Li

Cu Seng melawan barisan Jenderal Bu Sam Kwi yang

bergabung dengan pasukan orang Mancu sehingga keadaan,

menjadi gempar, maka Tan Siong mengalami kesulitan untuk

dapat menemukan wanita yang amat dicintanya itu.

Hari itu, Cui Hong berjalan mendaki bukit gersang itu. la

hanya menurut saja ke mana kedua kakinya membawanya, la

sudah merasa lelah dan tidak ada gairah hidup lagi. la melihat

puncak bukit itu seolah menggapainya. Ia ingin ke sana dan

tidak ingin kembali lagi.

“Hong-moi!”

Cui Hong tersentak kaget sampai terhuyung karena kakinya

tiba-tiba menggigil dan tubuhnya yang sudah lemah lunglai itu

seperti terdorong angin. Suara itu!

“Hong-moi…. tungguuuu….!!”

Tan Siong! Itu suara Tan Siong! Jantung Cui Hong

berdegup keras seolah hendak meloncat keluar dari rongga

dadanya. Ia mendengar langkah kaki berlari di belakangnya.

Ia mencoba untuk lari, akan tetapi terkulai jatuh dan ia tentu

akan terbanting ke atas tanah kalau saja tidak ada dua buah

lengan yang menangkap dan merangkulnya.

“Hong-moi!” Cui Hong pingsan dalam rangkulan Tan Siong!

Cui Hong merasa seolah ia melayang-layang diantara awan

putih. Senang sekali melayang-layang seperti itu, seorang diri,

bebas dari segala sesuatu.

“Hong-moi…. ah, Hong-moi….!”

Suara ini seolah menyeretnya kembali ke bawah, la

membuka mata dan melihat Tan Siong berlutut di dekatnya

dan laki-laki itu menangis! Menangis sesenggukan sambil

 

menyebut-nyebut namanya. Cui Hong merasa betapa

mulutnya dan mukanya basah, terkena air yang sejuk. Ia

sadar kembali dan teringat akan keadaannya, la tersusul oleh

Tan Siong dan tadi ia tentu roboh pingsan. Kini ia rebah

telentang di bawah pohon. Mukanya tentu dibasahi Tan Siong

dan laki-laki itu tentu telah merawatnya, mungkin

menyalurkan tenaga saktinya untuk membantunya

memperkuat tubuhnya yang lemah.

“Hong-moi…. Ya Tuhan, sukur engkau dapat sadar

kembali! Hong-moi, aih, Hong-moi, mengapa keadaanmu

sampai seperti ini? Mengapa engkau menyiksa diri sampai

begini? Hong-moi, selama berbulan-bulan ini t iada hentinya

aku mencarimu dan sukur saat ini Thian (Tuhan) menuntunku

ke sini sehingga dapat menemukanmu.”

“Siong-ko….” Cui Hong berbisik lalu bangkit duduk. Cepat

Tan Siong membantunya. Mereka saling berpandangan. Cui

Hong melihat betapa Tan Siong berwajah kurus dan pucat.

Duga pakaiannya kusut tak terawat. Mukanya ditumbuhi kumis

dan jenggot yang awut-awutan pula.

“Siong-ko…. mengapa engkau mengejar dan mencariku….?

Mengapa, Siong-ko…?”

“Engkau bertanya mengapa, Hong-moi? Karena engkau

adalah satu-satunya orang yang kupunyai, satu-satunya orang

yang kucinta, satu-satunya harapanku dan kebahagiaanku.

Aku cinta padamu, Hong-moi, aku tidak mungkin dapat hidup

tanpa engkau…l”

Cui Hong menatap wajah Tan Siong. Matanya yang sembab

dan menjadi sipit membengkak karena kebanyakan tangis itu

dilebar-lebarkan karena hampir ia tidak dapat percaya akan

kata-kata yang keluar dari mulut pria satu-satunya di dunia ini

yang dikaguminya dan dihormatinya.

“Tapi…. aku…. bukan perawan lagi…. aku… aku telah

ternoda…, kehormatanku telah diinjak-injak empat orang….”

 

“Hong-moi, sudahlah jangan bicara lagi tentang hal itu. Aku

cinta padamu, Hong-moi, aku mencinta pribadimu, lahir dan

batinmu. Aku bukan sekedar mencinta keperawananmu atau

kecantikanmu. Tidak peduli engkau perawan atau bukan, hal

itu tidak penting bagiku. Apalagi aku tahu betul bahwa apa

yang terjadi padamu itu bukan atas kehendakmu. Apakah

engkau tidak percaya kepadaku, Hong-moi?”

Pandang mata Cui Hong mulai ada sinar, walaupun masih

redup. “Akan tetapi aku… aku seorang yang penuh dosa,

penuh kekejaman… aku kejam dan buas seperti iblis!” Ia

teringat akan penyiksaan-penyiksaan terhadap musuhmusuhnya,

terbayang akan keadaan tubuh dan wajah tiga

orang yang telah disiksanya. Ia tahu bahwa Tan Siong sama

sekali tidak menyetujui dan menyukai batas dendam seperti

itu.

“Sudahlah, Hong-moi. Yang lewat biarlah lewat. Engkau

melakukan semua Itu karena ketika itu engkau dibikin buta

oleh dendam. Yang terpenting adalah sekarang ini. Aku yakin

bahwa sekarang engkau telah insaf, telah sadar dan menyesali

perbuatanmu. Penyesalan menuntun kepada pertaubatan dan

orang yang menyesal dan bertaubat pasti akan diampuni oleh

Tuhan. Sekarang aku mengulangi pernyataanku tempo hari.

Aku cinta padamu, Hong-moi. Sudikah engkau menerimanya

dan maukah engkau melanjutkan sisa hidup ini di sampingku?

Aku hanya seorang laki-laki yang bodoh dan miskin.”

“Toako (Kanda), benarkah semua kata katamu Itu?

Benarkah engkau masih mencintaku dan engkau tidak akan

memandang rendah kepadaku?”

“Memandang rendah? Sama sekali tidak, Moi-moi. Aku

mencintamu, aku menghormatimu, aku memujamu, engkau…

kalau engkau sudi menerimanya, engkau adalah calon isteriku,

teman hidupku…”

“Tan-toako… (Kanda Tan)….” Cul Hong menangis akan

tetapi la tidak menolak ketika Tan Slong merangkul

 

pundaknya. “Aku… aku tadinya seperti tenggelam ke dalam

kegelapan… aku bingung, putus asa…. tidak tahu ke mana

harus pergi, tak tahu apa yang harus kuperbuat selanjutnya,

aku sebatang kara dan… setelah tugas balas dendamku habis,

kukira… habis pula kehidupanku. Akan tetapi engkau…

engkau membawa pelita dan aku… aku hanya pasrah, aku

hanya ikut, ke manapun engkau membawaku…. aku… aku…

ahhh….”

Tan Siong merangkulnya dan dalam dekapannya itu

tercurah semua kasih sayangnya kepada wanita itu. Sejenak

mereka berangkulan dan bertangisan, tangis haru dan

bahagia.

Setelah tangis itu mereda, Tan Siong berbisik di dekat

telinga calon isterinya. “Kita akan menghadapi tantangan

hidup bersama Moi-moi. Kita kubur semua masa lalu karena

yang penting adalah sekarang ini. Kita akan pergi jauh

meninggalkan semua kenangan lama, memulai hidup baru,

jauh di dusun yang bersih, dengan penduduk dusun di

pegunungan yang sunyi, di antara rakyat yang bodoh dan

lugu, di mana tidak ada terjadi kejahatan, pertentangan dan

kebencian. Sekali lagi, jawablah, setelah engkau sudi

menerima cintaku, maukah engkau menjadi isteriku, Kim Cui

Hong?”

Cui Hong mengangkat mukanya memandang. Muka mereka

yang basah air mata saling berdekatan dan Cui Hong lalu

menunduk dengan muka merah, menyembunyikan mukanya

di dada Tan Siong dan jawabannya lirih sekali.

“Sejak engkau mengaku cinta, aku sudah ser ingkali

membayangkan dan mengharapkan hal ini terjadi, Toako… tak

kusangka sekarang menjadi kenyataan ya, aku bersedia

menjadi isterimu yang bodoh”

Kedua orang muda itu tenggelam ke dalam kemesraan dua

hati yang saling menemukan dan hanya mereka berdualah

 

yang mampu menggambarkan bagaimana kebahagiaan yang

dirasakan pada saat seindah itu.

Tak lama kemudian, keduanya saling bergandeng tangan

meninggalkan bukit itu, menuruni lereng dengan wajah yang

cerah penuh sinar bahagia, penuh harapan dan penuh cinta

kasih menyongsong kehidupan baru.

Hidup adalah SEKARANG, bukan kemar in dan bukan esok.

Hidup adalah saat demi saat, saat ini, sekarang, detik demi

detik. Mengenang masa lalu hanya menimbulkan duka,

kebencian, kekecewaan. Membayangkan masa depan hanya

menimbulkan rasa kekhawatiran atau khayalan-khayalan

muluk yang akhirnya mendatangkan kecewa kalau tidak

terlaksana. Yang penting adalah SEKARANG, saat ini, detik

demi detik. Saat ini selalu waspada, saat ini selalu sadar,

penuh kewaspadaan dan perhatian terhadap segala sesuatu

yang berada di luar dan di dalam diri kita, saat ini bersin, saat

ini benar dan saat ini bahagia. Perlu apa menyesali dan

menangisi masa lalu? Perlu apa pula mengharapkan masa

depan? Hanya lamunan dan khayalan kosong belaka, bukan

kenyataan. Apa yang belum terjadi, kita serahkan dengan

sepenuh kepercayaan, sepenuh kepasrahan, kepada Tuhan

Yang Maha Kuasa. Apa pun yang datang terjadi pada kita, kita

terima dengan penuh kewaspadaan, tanpa penilaian untung

rugi. Semua kejadian pasti ada sebabnya dan semua sebab

berada di tangan kita sendiri. Tuhan itu Maha Adil, kalau

tangan kita menanam yang buruk, pasti kita akan memetik

buahnya yang buruk pula. Yang terjadi adalah kenyataan, dan

sudah dikehendaki Tuhan, maka apa pun penilaian kita, manis

atau pahit, menyenangkan atau menyusahkan, kenyataan

yang sudah dikehendaki Tuhan itu sudah pasti benar dan adil

karena Tuhan Maha Benar dan Maha Adil!

Sampai di sini pengarang menyudahi kisah ini, kisah

pembalasan dendam sakit hati seorang wanita, dengan

harapan semoga para pembaca dapat menikmatinya dan

menarik pelajaran bahwa dendam menimbulkan kebencian

dan kemudian melahirkan perbuatan yang amat kejam. Sekian

dan sampai jumpa dalam kisah-kisah lain

 

Lereng Lawu, akhir 1991

Tamat

Iklan

One thought on “Sakit Hati Seorang Wanita

  1. Aaiihh, suhu heibat bisa upload begitu banysk cersil orisinil.
    Kionghi 2, pasti banyak lo-enghiong yg masih cetek ilmunya
    Pada ngetem.

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s