Walet Emas Perak

New Picture (4)

Walet Emas Perak

Karya : Khu Lung

Saduran : Gan KH

Sumber DJVU : Manise dan Paulustjing

Convert & edit : Dewi KZ & Paulustjing

Source : Tiraikasih website

 Jilid l

”Tang tang…….tang….. tang…tang…..tang tang tang…..” Gema lonceng yang mengalun lembut berat berirama bergetar di teagah angkasa pada malam nan gelap dan dingin ini, suaranya melampaui tanah pegunungan tinggi, menyusup ke lembah, membentang di padang rumput, menyelinap di hutan – hutan.

Gema lonceng di tengah malam umumnya dapat

membawakan perasaan tentram dan nyaman bagi setiap insan

yang mendengarnya, menghanyutkan pikiran manusia pada

malam nan kudus dibuai suasana yang hidmat ini, benih

kemurnian, membakar rasa kebajikan dan mengejar

keindahan nan asli.

Akan tetapi gema lonceng yang satu ini justru menimbulkan

rasa ganjil bagi manusia yang mendengarnya, bukan

kemurnian, kebajikan atau kejujuran, juga bukan keindahan.

Meski harus diakui bahwa gema alunan lonceng ini,

kedengaran tetap membawa ritme-ritme yang kudus, enak

didengar, malah terasa seperti lepas dari jangkauan

keduniawian.

Selama belasan tahun ini, gema lonceng ini tak ubahnya

seperti kidung iblis yang selalu menggelitik di setiap sanubari

manusia yang mendengarnya, karena gema lonceng ini

menandakan sesuatu yang menyeramkan, elmaut kematian,

kekejaman atau sesuatu petaka yang paling ditakuti oleh

manusia umumnya. Maka setiap kali lonceng itu berbunyi,

dimana gema loncengnya bisa terdengar, di sana pula

terdengar helaan napas sedih, manusia diselimuti rasa

ketakutan, namun ada pula yang menggertak gigi dengan

tinju terkepal penuh dendam nestapa.

Dalam arena sepuluh li disekitar pegunungan itu, maka

tampaklah bayangan manusia yang bergerak-gerak, ada yang

melompat ke pucuk pohon, ada pula yang memanjat ke atas

bukit, tidak sedikit pula yang naik ke atap rumah, wajah

mereka tampak serius, tegang dan sungguh-sunggah, sorot

mata mereka menampilkan rasa kejut, ngeri dan seram tertuju

ke suatu arah di angkasa raya nan gelap sana.

3

Disanalah berdiri sebuah pucuk gunung yang menjulang

mencakar langit, gema lonceng itu pun berdentang dari atas

gunung tunggal yang terse-lubung mega itu.

Malam ini lonceng berbunyi pula, seperti biasa nya

berdentang dengan irama yang sama. Waktu orang yakin dan

dapat memastikan bahwa gema lonceng ini betul datang dari

puncak gunung itu, suara lonceng itu seketika seperti berobah

setajam ujung pedang, bagai palu godam yang besar dan

berat sekaligus berdentam disanubari setiap insan yang

mendengarnya.

Itulah Kiu-ting-san yang kokoh berdiri di perbatasan Sucwan,

selama belasan tahun kaum persilatan sama

memberitakan bahwa puncak gunung itu merupakan puncak

iblis, bukan saja tinggi ter bungkus mega, tak pernah ada

manusia yang pernah menjelajah tempat itu, sehiagga tiada

yang tahu berapa tinggi sebetulnya puncak gunung itu. Sudah

tentu tiada pula orang yang tahu apakah di puncak guauag itu

dihuni orang, ada rumah atau biara.

Di nulai pada suatu malam nan dingin kira-kira sepuluh

tahun yang lalu, dari puncak gunung yang mencakar langit

inilah pertama kali kumandang suara loaceng itu, pada waktu

itu tiada orang yang memperhatikan, semua kira itulah gema

genta entah dari biara mana, dari para Hwesio yang telah

akhir memanjatkan do’a pelajaran agamanya, tapi tanpa

sengaja ada juga orang yang mem perhatikan, di tengah

alunan gema lonceng yang lembut itu, di tengah angkasa yang

gelap, tiba-tiba muncul tiga lentera aneh yang seperti

digantung di teagah angkasa raya. Lentera itu terdiri dari tiga

warna, yaitu merah, putih dan kuning yang bsrbeda dan

menyolok pandangan, kela£ kelip di antara mega yang

bergulung-gulung sehingga menimbulkan pemandangan yang

aneh dan menakjub kan, kadaag-kandang tampak tiba-tiba

menghilang ditelan awan, Siuaipama manusia yang paling

bodoh juga akan tahu dan djpat membedakan bahwa tiga titik

4

sinar terang yang bergantung di angkasa itu jelas bukan s inar

bintang.

Karena bintang jelas tidak mungkin memancarkan tiga sinar

yang berbeda warnanya, dan tidak mungkin bergantung dan

seperti kontal kantil di angkasa sehingga menimbulkan

gambaran yang aneh dan takjub, seperti dalam kayalan lagi-.

Meski waktu itu ada orang merasa kaget dan aneh, tapi

mereka hanya merasa aneh belaka, tapi tiga hari kemudian

muncullah suatu yang lebih aneh dan seram. Di bagian selatan

dari Kiu ting-san, terdapat sebuah dinding gunung yang curam

dan dekuk, tiga penjuru dari dinding gunung yang tegak tinggi

ini jelas takkan mungkin dipanjat, atau dicapai oleh manusia,

tapi di atas dinding yang tinggi dan curam ini bergantung

sebuah batok kepala yang terpenggal sebatas leher.

Peristiwa aneh, seram dan mengejutkan ini seketika

membuat geger penduduk pegunungan Kiu-ting-san, sudah

tentu pula menimbulkan reaksi yang nyata dari kaum

persilatan. Tapi karena dinding gunung yang tinggi dan curam

itu jelas tak mungkin dicapai oleh manusia, sudah tentu tiada

seorang pun yang bisa tahu batok kepala siapakah yang

tergantung di tempat setinggi itu. Keanehan ternyata saling

bermunculan, belum lagi sebulan sejak peristiwa ganjil di

puncak Kfu-ting-san ini, beritanya dengan santer telah tersiar

ke segala penjuru dunia. Peristiwa itu sejauh ini masih tetap

merupakan suatu teka teki yang tak terjawabkan dan

mengganjel dalam sanubari setiap orang. Tapi sebulan

kemudian, disuatu malam terang bulan, lonceng itu bergema

pula .dari puncak guaung tunggal itu. Tiga warna lampion

yang berbeda muncul pula. Tapi kali ini siapapun yang

melihatnya dapat membedakan bahwa ketiga lampion aneh itu

pada hakekatnya bukanlah bergerak-gerak di tengah angkasa,

tetapi seperti disanggah oleh tsbalnya kabut dan mega.

Semenjak itu, jelasnya tiga hari kemudian, diatas dinding

gunung itu bertambah lagi sebuah batok kepala manusia.

5

Oleh karena itu mau tidak mau orang lantas

menghubungkah akan gema lonceng, tiga warna lampion dan

batok kepala yang tergantung diatas dinding guaung menjadi

suatu rentetan peristiwa. Maka perhatian orang serta merta

selalu tertuju pada dinding gunung yang curam itu.

Malah keanehan muncul pula, di atas kedua batok kepala

manusia itu, lapat-lapat kelihatan dari tempat jauh adanya dua

baris huruf-huruf tulisan yang berjajar dan rapi.

Bagi yang pandangannya tajam dan berani men, dekat,

lambat laun dapatlah mereka lihat dan baca tulisan-tulisan itu,

maka lebih gemparlah dunia persilatan.

Ternyata kedua baris huruf itu adalah tulisan nama orang

dan yang mengejutkan adalah bahwa nama kedua orang ini

ternyata amat tersohor di dunia persilatan, bukan saja mereka

orang kosen malah berkuasa di daerahnya masing-masing,

jelas bahwa kedua batok kepala itu adalah milik dari tokoh

silat kosen yang namanya tercantum di atas dinding tinggi itu

Maka orang mulai berusaha membuktikan kebenaran

peristiwa itu, yang suka usil dan memang nya tidak punya

kerja segera main selidik, dan hasilnya menang kenyataan,

malam ketiga setelah dua kali gema lonceng dari atas puncak,

dua tokoh kosen yang tidak berani diusik oleh kaum

persilatan, ternyata mati terbunuh dengan terpenggal hilang

batok kepalanya, celakanya peristiwa pembunuhan itu sendiri

tidak menimbulkan atau meninggalkan jejak apa-apa sehingga

sukar diketahui s iapa pembunuhnya.

Setelah peristiwa ini terbukti dan menjadi kenyataan, bukan

saja kaum persilatan kaget, mereka pun takut dangem-tar,

bukan saja kaum persilatan di daerah Su-cwan sendiri, mereka

yang berdiam jauh di Tionggoan, atau di Biau-kiang, pa-dang

pasir pun sama jeri dan waswas oleh berita yang mereka

dengar ini

6

Maka nama puncak misterius, lampu iblis dan maklumat

kematian menjadi topik pembicaraan kaum persilatan yang

tersiar semakin luas ke seluruh pelosok dunia. Ketiga nama itu

sendiri sekaligus menjadikan lambang kematian bagi jago-jago

kosen persilatan. Jago2 silat menjadi blingsat-an bila

mendengar ketiga jenis nama elmaut ini, mereka menjadi

takut bila suatu hari namanya sendiri juga akan tercantum di

atas maklumat kematian itu.

Selama sepuluh tahun ini, seluruh kaum persilatan, entah

dia dari partai partai besar persilatan, dari golongan hitam

maupun putih, atau tokoh-tokoh koser dari berbagai aliran

entah dia pendekar, atau begal besar, seluruhnya tumplek

perhatiaa ke puncak yang misterius ini, malah seperti

berlomba saja mereka berusaha menyelidiki teka teki yang

menyelubung puncak misterius ini. Tapi setiap tahun lonceng

tetap bergema, demikian pala ketiga warna lampu itu tetap

muncul pula, maka bertambahlah jumlah batok kepala yang

tergantung di atas dinding itu. Tapi sejauh itu belum ada

seorang pun yang berhasil dengan penyelidikannya, malah

belum pernah, ada orang yang mampu memanjat dinding

curam atau mencapai puncak gunung tunggal yang

diselubungi mega itu, sudah tentu mereka pun takkan mampu

membongkar teka teki itu.

Dasar manusia, betapa pun sulitnya orang tidak akan

menghentikan penyelidikan ini, maka beberapa tahun terakhir

ini, puluhan li di sekitar puncak tunggal ini, entah berapa

banyak kaum persilatan, entah mereka berkumpul secara

berkelompok, secara individu yang berkeliaran di atas

pegunungan yang sebelumnya tak pernah dijelajah manusia.

Tak terhitung jago-jago silat yang terjun dalam usaha

bersama iai, siang malam berjaga dan meronda, tapi mereka

hanya dapat menyimbulkan satu hal yang sepele dan sering

diabaikan oleh orang banyak, yaitu begitu gema lonceng

kematian mengalun dari puncak misterius, maka nama

7

manusia yang menjadi korban pembunuhan itu akan muncul

dan ditulis di atas dinding yang menjadikan maklumat

kematian pula, maka tiga hari kemudian batok kepala dari

orang yang namanya tertulis di atas dinding akan tergantung

pala di bawah tulisan namanya.

Maka tokoh-tokoh kosen yang merasa dirinya Setimpal

untuk menempati deretan nama di atas maklumat kematian

itu, bukan saja mempergiat penyelidikannya, merekapun

mengerahkan segala tenaga untuk berjaga dibawah bukit.

Begitu mendengar lonceng bergema, hari kedua pagi-pagi

benar mereka sudah pasti akan dapat menyaksikan nama

orang yang tercantum di atas dinding kematian itu. Entah

siapa nama itu, kemungkinan awak sendiri atau sanak

kadangnya, maka mereka sudah boleh siap untuk melakukan

sesuatu tindakan demi keselamatan jiwa dari orang yang

namanya tercantum di atas maklumat kematian itu.

Tapi semua ini hanya merupakan kegiatan yang sia-sia,

karena memangnya siapa yang tidak berjaga dan siaga

setelah tahu namanya sendiri tercantum dalam maklumat

keraatian itu, tapi pada malam ketiga setelah lonceng

kematian itu berbunyi, batok kepala sendiri tetap tergantung

juga di atas maklumat kematian itu, tanpa diketahui

bagaimana dia bisa terbunuh secara konyol itu ?

Di atas maklumat kematian Itu, kini sudah berderet dua

puluh tujuh nama dan batok kepala manusia. Peristiwa aneh

yang jarang terjadi dalam dunia ini, pembunuhan besar yang

menggemparkan pula bagi kaum persilatan, tapi kalayak ramai

termasuk mereka yang berwenang serta kaum persilatan,

kecuali menonton saja sambil menghela napas panjang, tiada

seorang pun yang mampu membongkar kejadian yang

sebenarnya.

Malam ini gema lonceng bertalu-talu pula, kaum persilatan

sejak lama tersebar di sekitar puncak gunung tunggal itu sama

menyaksikan dan menunggu dengan perasaan tegang,

8

dihinggapi rasa seram, diam-diam mereka pun berdo’a, ada

satu persamaan sikap mereka, yaitu semua berlomba memilih

tempat yang tinggi untuk menyaksikan munculnya ketiga

lampu iblis yang tiga warna itu. Lekas sekali di tengah gema

lonceng yang masih terus berdentang itu, dari puncak gunung

yang paling tinggi, lambat-lambat muncullah segulung sinar

putih di angkasa nan gelap pekat, gumpalan sinar putih ini

terus mumbul ke atas terselubung di tengah mega sehingga

kadang-kadang kelihatan, lain kejap lenyap untuk beberapa

saat lamanya.

Dalam kesunyian yang hening Itu tiba-tiba terdengar

seorang berteriak : ”Nah itu, lampu iblis, lampu iblis, yang

berwarna putih “

Dalam kegelapan entah ada ratusan atau ribuan pasang

mata sama memperhatikan lampu putih yang bergecak-gerak

seperti melayang kian kemari. Titik sinar putih itu menang

mirip sebuah bintang yang hidup bergerak menari-nari,

kadang-kadang mumbul tiba-tiba melonjak turun, seakan-akan

beterbangan berputar mengitari puncak gunung. Dikala gema

lonceng pertama belum lagi lenyap ditelan keheningan alam

semesta ini, suara lonceng bergema pula, lalu disusul

munculnya sinar lampu warna merah, pelan-pelan mumbul

seperti menguapnya segumpal asap mendadak melambung

tinggi seperti dilontarkan secara sengaja ke tengah udara

serta bergabung dengan lampu putih itu.

Maka mulut orang yang usil kembali berteriak : ”Nah,

lampu merah mumbul juga, lekas lihat, lekas lihat,”

pandangan mata yang tak terhiturg banyak nya Itu kembali

tertuju ke arah lampu merah yang bergerak-gerak itu.

Terdengar seorang menghela napas, katanya ”Entah siapa

besok yang bakal menjadi korban di atas maklumat kematian

itu.”

9

Seorang terkekeh dingin lalu memaki: ”Mak-nya!

Memangnya dia mampu membunuh habis seluruh kaum

persilatan?”

Seorang menghela napas dengan gegetun, kata nya:

”Peristiwa ini memang aneh dan belum pernah terjadi. Jagojago

kosen dari aliran lurus lima partai besar, serta pentolan

tiga Kau dan satu Hwe itu apa saja kerjanya selama ini ?

Memangnya mereka tidak berani mencampuri urusan ini ?”

Seorang menghela napas juga, ujarnya: ”Itulah yang

dinamakan orang pandai ada yang lebih pandai, memangnya

mereka setimpal mencampuri urusan ini ? Kepala anak murid

perguruan mereka pun sampai ada yang tergantung di atas

maklumat kematian itu, apa mereka mampu menurunkannya?

Apalagi mencampuri atau membongkar peristiwa aneh ini ?

Kalau dibicarakan memang harus dibuat sayang, biasanya

mereka tepuk dada mengagulkan diri, merasa dirinya jagoan

yang tiada lawan, tapi begitu kebentur jago telengas yang

lihay, hehe, mereka lebih senang menjadi kura, jangan kata

bertindak, bicara pun tak berani keras – keras.”

Saat mana di piaggir hutan berdiri dua orang perempuan,

seorang nyonya setengah baya, seorang lagi gadis berusia

tujuh delapan belasan, keduanya sama memakai pakaian ketat

warna hitam, di depan dada baju mereka tersulam sekuntum

kembang merah sebesar mulut mangkok, anehnya meski di

tengah malam gelap, warna merah kembang itu tetap

kelihatan menyala terang dan menyolok pandangan. Kedua

orang ini sama-sama mengenakan mantel panjang warna

hitam, di sepanjang pinggiran mantelnya diberi aplikasi warna

merah yang digantungi keliningan kecil-kecil warna emas pula,

begitu badan bergerak atau mantel tertiup angin, keliningan

kecil-kecil itu lantas bergemerincing ramai.

Kedua orang ini pun tengah memperhatikan ke dua lampu

merah putih yang lagi bergerak itu, terdengar gadis itu

10

berkata: ”Tam-cu, sungguh aneh, ada orang bilang, bukan

manusia yang menghuni puncak tinggi itu ? ‘

Perempuan setengah baya itu tersenyum, katanya : ”Anak

bodoh, memangnya kau kira malaikat atau dewata ? Dalam

dunia fana ini mana ada dewa dewi segala?”

„Syukurlah, pihak Ang-hoa-kau kita selama ini belum

pernah terlibat dalam peristiwa aneh itu,” kata sigadis belia.

„Memangnya Ang-hoa-kau kita kaum lemah,” jengek

perempuan setengah baya. „Kalau orang itu tidak pentang

matanya lebar-lebar, umpama betul berani mengusik kita,

pasti Kaucu tidak akan memberi ampun kepadanya.”

Gadis itu mengangguk, badannya tergeser sedikit, kelining

di atas mantelnya segera berdering nyaring, terdengar dia

berkata pula : „Tamcu benar, untung kita kebetulan lewat di

sini dan mumpung ada kesempatan, biar besok kita lihai, siapa

yang sial”

Pada saat yang sama, di pucuk rumah sebuah kuil, tampak

berdiri tiga orang, dua Tosu satu Hwesio. Si Hwesio

mengenakan jubah warna kuning, selebar mukanya tampak

merah manyala, tangannya memegang serenceng tasbih yang

terbuat dari tembaga, kedua sorot matanya menyala

mengamati kedua lampu merah putih yang masih bergetar di

puncak, mimiknya tampak serius, sejauh ini dia tetap diam

tidak bersuara.

Yang berdiri di tengah adalah seorang Tosu tua berjenggot

panjang, wajah Tosu tua ini putih benih bak umpama cahaya

rembulan sabit, sebilah pedang nampak tertancap di belakang

punggungnya, ronce pedangnya yang panjang menjuntai

melambai ditiup angin lalu, jubah yang dipakai berwarna patih

perak kelabu, tangannya membopong sebatang kebut,

wajahnya kaku dingin, sorot matanya yang mencorong juga

menatap ke puncak gunung tanpa berkedip.

11

Di sebelahnya adalah Tosu yang berperawakan lebih

pendek, diatas kepalanya mengenakan caping yang bolong di

tengah sehingga gelungan rambut kepalanya menongol

keluar, tampak tusuk kondai-nya mengkilap terang.

Perawakannya pendek, tapi jubah yaag dipakainya ternyata

longgar dan berkepanjangan sehingga tampak kedodoran dan

lucu kulit wajahnya kuning seperti malam, di tengah rona

kuning wajahnya itu seperti bersemu hijau pula, selintas

pandang orang akan merasa jijik dan seram.

Lama dia pun menatap ke puncak, mendadak dia tertawa

keriag dua kali, suaranya ringan tapi penuh bernada

mencemooh : „Kabarnya para Ciangbunjin dari Partai kalian

pernah sama-sama menyelidiki puncak gunung itu, he heh,

entah bagaimana hasilnya.”

Cahaya mata si Hwesio yang menyala seperti mengalir,

sekilas dia melirik ke arah Tosu pendek, sikapnya tetap tenang

dan tidak memberi reaksi. Sementara Tosu tua di tengah itu

juga tumplek perhatiannya kearah puncak, pada hakekatnya

dia seperti tidak mendengar, maka dia pun tidak pedulikan

ocehan orang.

Mulut Tosu pendek mengulum senyum sinis. sambil

tersenyum kembali dia mengolok : ”Siau lim dan Bu tong

menjagoi Bulim, menghadapi peristiwa ini ternyata tak mampu

berbuat apa apa, hehehe…..”

Agaknya Hwesio pemegang Tasbih itu tidak tahan,

jengeknya dingin „ Aku juga pernah dengar, katanya Bantiam-

liu-ing (ribuan titik kunang-kunang) Li-hwecu dari Thiante-

hwe kalian juga pernah seorang diri naik ke puncak itu,

tolong tanya apa pula yang dapat ditemukan?”

Tosu pendek ini ternyata bukan lain ada ah salah seorang

Tongcu dari Thian-te-hwe yang berkuasa di cabangnya di

daerah Sucwan barat, julukannya Sian-cay-pi-lik (menjentik

geledek) Pek Thay-ceng, bukan saja ilmu silatnya tinggi,

kesepuluh Jarinya sekaligus mampu menjentik pelor api yang

12

meledak di tengah udara, kekuatannya hebat dan banyak

menimbulkan korban, lebih celaka lagi asap api dari ledakan

itupun mengandung racun jahat, siapa saja yang mengisapnya

pasti binasa.

Thian-te-hwe baru beberapa tahun terakhir ini berdiri dan

berkuasa di daerah Sucwan tengah, bahwasanya mereka tiada

hubungan dengan Siau-lim dan Bu-tong, tapi dahulu dia

pernah bertemu sekali dengan Tosu tua yang berdiri di tengah

dari Bu-tong, salah satu dari Bu-tong-ngo cia julukannya Yahou-

cin-jin, siang tadi secara kebetulan bertemu di tempat Itu,

maka malam Ini mereka bertiga kumpul di atas pucuk rumah.

Mendengar olok-olok s i Hwesio, Pi-lik Tojin segera terkekeh

pula, katanya : „Yang terang sejauh ini belum ada jago dari

Hwe kami yang dipenggal kepalanya dan digantung diatas

maklumat kematian Itu. Berhasil atau tidak penyelidikan itu,

tiada ruginya bagi kami.”

Secara tidak langsung dia balas mengolok dan menghina,

karena Hou-pi-ceng (Hwesio lengan harimau) dari Siau-lim,

kepalanya tergantung di atas maklumat kematian Itu.

Rona muka si Hwesio seketika berubah kereng, jubahnya

melambai, tahu-tahu langkahnya sudah beranjak ke depan,

hardiknya dengan bengis : ”berani kau menghina Siau-lim ?”

Kebut ditangan Ya-hou Tojin lekas disendai, sigap sekali dia

sudah mengadang di tengah kedua orang, walaupun air

mukanya menandakan rasa kurang senang, tapi mulutnya

bicara manis : „Ti-bo Taysu tak usah marah kepada Pek toyu,

sepatah kata iseng Kenapa harus ditanggapi secara serius ?”

lalu dia menengadah memandang ke arah kedua lampu yang

masih terapung dan bergerak-gerak itu, katanya pula

menghela napas: „Puncak Itu tinggi melebihi mega, berdiri

lurus serta curam, jangan kata manusia, umpama kera atau

burung juga sukar mencapai pancaknya, aku yakin Li-sieu dari

Thian-te-hwe dan kedua Ciangbunjin kita pasti putar balik

13

sesampai di lamping gunung karena tak kuasa naik lebih tinggi

lagi”

Pada saat itulah, suara lonceng ketiga bergema pula, maka

ketiga orang ini menghentikan pembicaraan, perhatian tertuju

ke atas puncak, pelan-pelan tampak lampu warna kuning

mumbul ke atas, tiba-tiba mencelat lebih tinggi mengejar

kedua lampu merah putih yang lagi berputar kayun itu, maka

cepat sekali ketiga lampu berlainan warna itu sudah

bergabung dan bergerak secara beriringan, tapi kejadian

hanya sekejap saja, sayup sayup terdengar suara mendesis,

setelah itu ketiga lampu itu satu persatu menukik turun

laksana meteor jatuh membawa larikan cahaya panjang.

Dikala orang-orang dibawah sama berseru heran dan

memuji, ketiga sinar lampu itu mendadak melayang miring

pula terbang setengah lingkar, begitu cepat gerakannya, kini

memetakan tiga lingkaran sinar lampu yang berbeda-beda di

puncak gunung, dari bawah kelihatan amat bagus dan

mempesona.

Pemandangan aneh dan menakjubkan Ini hanja

berlangsung setengah jam, akhirnya ketiga lampu iblis itu

pelan pelan melayang turun dan berhenti. Semula masih

kelihatan kontal kantil seperti terhembus angin, tapi akhirnya

lenyap ditelan tebalnya kabut.

Ya-hou Ciajin menghela napas, katanya: „Kejadian aneh

yang belum pernah ada di dunia »ni, puncak itu diselimuti

kabut tebal, tingginya tidak terukur, hawa di sana pasti

teramat dingin, menurut perkiraan Piato, umpama seorang

memiliki kepandaian tinggi, bukan saja takkan mampu naik ke

atas, dia pun takkan kuat tinggal di sana. Ai, suara lonceng itu

? Lampu iblis ? Demikian pula dinding maklumat kematian

yang curam itu ? Semuanya betul-betul serba luar biasa dan

sukar diraba manusia.”

Karena dimaki oleh Ti-bo Taysu tadi, Pi-lik Tojin menjadi

naik pitam, maka dia cari kesempatan untuk balas

14

mencemooh: „Memangnya? Maklumat kematian di atas

dinding itu, bukankah mirip maklumat dunia persilatan, bagi

siapa yang seti npal dicantumkan di atas maklumat itu, baru

dia boleh terhitung dari aliran lurus dan murni.”

Sudah tentu Ti-bo Taysu merasakan sindiran pedas ini,

segera dia membentak pula : „Siau-lim dan Bu-tong adalah

perguruan lurus dan murni yang diakui oleh kaum Bulim, kan

bukan Pang atau Hwe yang sesat dan serong. Memang Houpi-

ceng dari Siau-lim dan It-seng To-tiang dari Bu-tong

tercantum di atas maklumat itu, tapi peristiwa itupun

merupakan kejadian ajaib yang patut dibuat perhatian, cepat

atau lambat teka teki ini pasti dapat dibongkar oleh Siau-lim

dan Bu-tong, apa sih artinya pengorbanan seorang!

Memangnya Thian-te-hwe kalian dahulu dan selanjutnya

takkan ada yang bakal menjadi korban ?” Tujuan Pi-lik Tojin

memang hendak menghina Siau-lim, tapi bagi Ya-hou Tojin

dari Bu-tong, dia pun merasakan ditertawakan, merasa Butong-

pay di pandang remeh, seketika alisnya tegak, sorot

mata nya mencorong tajam, katanya dingin : „Pek toyu, apa

sih sebetulnya maksudmu?’

Menghadapi dua jago kosen dari Siau lim dan Bu-tong,

ternyata Pi-lik Tojin tidak gentar, katanya setelah terkekehkekeh

: ”Sebagai murid Siau-lim-pay, sudah tentu Ti-bo Taysu

tidak memandang sebelah mata kepada orang orang sesat

dan rendah dari golongan hina macam kami ini. He he he,

terus terang sudah lama Pinto pingin belajar kenal dengan

ajaran silat Siau-lim-pay yang termashur itu.”

Ti-bo Taysu membentak: „Jadi kau ingin bergebrak dengan

pinceng ?”‘

Pi-lik Tojin mengangkat pundak, katanya tertawa besar :

„Main-main beberapa jurus juga boleh, asal kau si Hwesio ini

merasa perlu saja.”

Ti-bo Taysu maju pula selangkah, renceng tasbih baja

sepanjang dua kaki itu tampak bergetar mengeluarkan suara

15

gemerinclng. Lekas Ya-hou Cinjia maju merintangi pula, meski

dia sendiri juga dongkol dan gemas, namun dia lebih bisa

menahan emosi, katanya menghadapi Pi-lik Tojin : „To-heng

seorang kosen, Thian-te-hwe kalian malang melintang di

daerah Sucwan tengah sejak beberapa tahun terakhir ini,

sudah tentu kau tidak pandang sebelah mata Siau-lim dan Butong

kami. Buat bicara soal mengukur kepandaian, kelak

dikemudian hari masih banyak kesempatan. Malam Ini,

rasanya tempat dan waktunya tidak sesuai, biarlah kelak kami

mampir dan mohon pengajaran Sian-ci pi-lik To-heng yang

ternama itu.”

Pi-lik Tojin tertawa gelak gelak dengan rasa senang dan

congkak, bola matanya melirik dengan pandangan menghina,

katanya : „Bagus sekali! Cabang perkumpulan kami di Sucwan

ini akan selalu siap membuka pintu menyambut kedatangan

kalian !” habis bicara gelak tawanya masih tetap

berkumandang, jubahnya yang kedodoran nampak

melembung, bagai segumpal kabut hitam, tiba-tiba tubuhnya

melayang ke bawah seperti menggelinding saja, sementara

gelak tawanya masih bergema dialam pegunungan,

bayangannyapun telah lenyap

Setelah Pi-lik Tojin pergi, baru Ya-hou Cinjin menghela

napas , katanya : „Buat apa Taysu marah marah kepada orang

macam itu. Sebelum teka teki di atas puncak itu terbongkar,

buat apa kita mencari setori dengan Thian-te-hwe ?”

Ti-bo Taysu mengangguk, katanya : „Cinjin memang betul,

peristiwa Bulim yang ganjil ini, kemungkinan bakal menjadikan

petaka besar yang belum pernah terjadi selama ini bagi kaum

persilatan, sungguh tidak kecil kewajiban dan tanggung jawab

Siau-lim dan Bu-iong.”

Sebelum hari terang tanah, kaum persilatan yang

menonton dari selatan gunung sudah mulai beranjak turun

gunung, entah laki perempuan, tua muda, Hwesio, Tosu atau

pengemis dan berpakaian preman, mereka terdiri dari

16

beraneka ragam, di-antara mereka bila dalam keadaan biasa,

begitu bertemu muka mungkin sudah saling melotot, bertolak

pinggang dan saling tuding untuk menyelesaikan perselisihan

masing-masing Tapi keadaan hari ini berbeda, semua orang

sama berlari kencang menuju ke bawah dinding maklumat

kematian, ingin mereka menyaksikan nama siapa yang akan

tercantum sebagai korban kedua puluh delapan di atas

maklumat kematian itu.

Mentari baru saja terbit, ngarai di seberang dinding

maklumat kematian itu sudah berjubel banyak orang,

semuanya mendongak mengawasi dinding tinggi yang cuiam

dan licin di atas sana.

Dua puluh tujuh batok kepala manusia yang tergantung di

atas maklumat kematian, selama itu sudah rapuh tinggal

tengkoraknya yang memutih ditimpah sinar matahari,

hembusan angin pegunungan di pagi nan segar, dan nyaman

ini, dua puluh tujuh tengkorak itu sama bergerak kontal kantil

seperti sedang mengangguk atau geleng-geleng, sehingga

siapapan yang melihatnya pasti merasa-seram dan jera

hatinya.

Maklum para korban ini sebelum ajal semua adalah tokohtokoh

silat yang amat disegani. Namun nasib telah

mempermainkan mereka,satu per satu batok kepalanya

tergantung di atas maklumat kematian itu, kehujanan dan

kepanasan, hingga akhirnya menjadi tengkorak yang

menakutkan, pada hal selama hidup mereka, berjuang demi

memperebutkan pamor, gengsi dan ketenaran, namun kini

semua itu sudah lenyap tak berbekas lagi.

Dikala orang-orang di bawah itu melihat nama kedua puluh

delapan yang tercantum di atas maklumat kematian itu, ada

yang menghela napas, merasa sayang, gegetun, ada pula

yang gregetan dan sedih penuh dendam, tapi ada juga

sementara orang yang merasa senang. Maka kejap lain

17

merekapun telah mulai bubar, dengan membekal perasaan

yang berbeda, bergegas mereka meninggalkan tempat itu.

Inilah berita yang amat mengejutkan, karena nama yang

tercantum pada nomor kedua puluh delapan di atas maklumat

kematian itu adalah pentolan Bulim yang tak terkira besar dan

agung keprlbadiannya. Terhadap peduli siapa saja, entah dari

pihak kawan atau lawan, merasa sayang atau senang,

siapapun ingin lekas-lekas menyiarkan berita Ini seluas

mungkin.

Lekas sekali ngarai itupun menjadi sepi dan sunyi, hanya

hembusan angin lalu saja yang tetap menderu seperti

menghela napas merasakan suasana kepiluan ini.

Helaan napas manusia memang kumandang dari balik

tumpukan batu-batu gunung yang berserakan di sebelah atas

sana, di mana tumbuh gerombolan pohon-pohon pendek

sehingga keadaan sekitarnya tampak belukar.

Tampak sesosok bayangan bagai gerakan setan berkelebat

menyelinap diantara batu-batu runcing dan besar itu terus

berlompatan menjurus ke atas, cepat sekali dalam sekejap

mata bayangannya sudah lenyap ditelan bayang-bayang

pepohonan yang lebat.

oooodOwoooo

DIKALA matahari hampir tenggelam di peraduannya,

seorang pemuda tampak sedang berjalan menaiki undakan

batu, langkahnya pelan, mantap dan enteng. Pohon siong

yang tua dan tinggi memagari kedua sisi undakan batu yang

berliku semakin tinggi ke atas puncak, lekas sekali undakan

batu itupun berakhir pada sebuah ngarai, menghadap kebarat,

sinar surya menyoroti muka s i pemuda, tampak alisnya tegak,

mata bundar bagai kerlipnya bintang, sikapnya gagah

berwibawa, cuma pakaiannya sudah kusut dan warnanya

sudah luntur, jubah yang dipakainya sudah banyak tambalan

18

dan kotor oleh minyak, kedua tangannya kosong tidak

membawa apa-apa, mirip pelancongan, tapi dinilai

keadaannya dia lebih mirip lagi orang gelandangan.

Setiba diatas ngarai, matanya yang bersinar tajam segera

menjelajah alam pegunungan sekitarnya yang penuh diliputi

gumpalan mega, gunung gemunung sambung menyambung

laksana gajah beriring, sekilas wajahnya tampak tersenyum

sinis penuh perasaan misterius. Walau jubahnya sobek dan

kotor, tapi sikap gagah dan ketampanannya tampak

menimbulkan rasa kagum dan simpatik padanya.

Pada saat itulah lonceng bergema dari balik ngarai sana,

suaranya lembut jernih dan mengalun dipuncak pegunungan

yang sepi memecah kesunyian. Si pemuda mendengarkan

penuh perhatian, pelan-pelan badannya berputar kearah

datangnya suara lonceng.

Ceng-seng-san memang merupakan asal mula timbulnya

ajaran To, gema lonceng yang kumandang dari kelenteng

hakekatnya tidak perlu dibuat heran, tapi serta mendengar

gama lonceng ini, sikap s i pemuda mendadak amat serius dan

penuh rasa curiga, sepasang matanya jelilatan memandang

kearah datangnya suara, seolah-olah dia tengah

memperhatikan apakah gema lonceng itu ada sesuatu yang

ganjil ?

Belum lagi gema lonceng yang pertama sirna pukulan

lonceng kedua sudah menyusul. Pukulan lonceng kedua ini

jauh lebih keras, lebih jernih Rona muka si pemuda semakin

keras dan berubah semakin serius mengikuti alunan gema

lonceng itu, kini s ikapnya tampak sedikit tegang.

Gema pukulan lonceng ketigapun telah menyusul juga, tapi

kali ini bukan keras dan jernih, tapi jauh lebih lirih dan rendah,

serendah benda berat yang jatuh diatas batu, dan batu berat

itu seperti menindih kesanubari si pemuda sehingga dia

gelagapan seperti susah bernapas.

19

Tapi sekuatnya dia mengendalikan perasaannya alisnya

berkerut menampilkan kekerasan hatinya, bukan saja gentar,

ujung mulutnya malah menampilkan secercah senyuman.

Gema lonceng masih mengalun diudara, sementara mentari

sudah semakin doyong kedalam peraduannya, hari sudah

semakin gelap, kabut tipis pun mulai timbul.

Ditengah keremangan malam mendadak si pemuda

menjejak terus melambung tinggi laksana seekor rajawali,

diantara gerakan kedua tangannya yang turun naik laksana

sepasang sayap itu, segesit dan setangkas burung terbang

tubuhnya meluncur kearah ngarai di seberang sana, dari

belakang ngarai itulah gema lonceng tadi bertalu-talu.

Ngarai itu bernama Pit-mo-gay, terletak di belakang Thian

su-tong. Pada saat itulah seringan daun pohon melayang,

disisi kiri dimana tampak lebatnya tetumbuhan diantara

pohon-pohon s iong tua melayang turun satu orang, dia bukan

lain adalah pemuda ganteng yang berdiri diatas ngarai tadi,

ujung mulutnya mengulum senyum sinis, namun kerut alisnya

menampilkan rasa tegang, sorot matanya menampilkan

kecerdikan otaknya.

Begitu tiba di tanah setangkas kelinci si pemuda segera

menyelinap ke belakang pepohonan serta berdiri diam tidak

bergerak. Dengan sabar dan Penuh perhatian dia menunggu

diam.

Kira-kira sepeminuman teh kemudian, pintu biara Thian-sutong

pelan-pelan terbuka, sinar lampu tampak menyorot

keluar, pelan-pelan beranjak keluar seorang Tosu setengah

baya. Tangan si Tosu memegang sebuah lampion yang

terbuat dari sari kuning, pelan dan seenaknya dia beranjak ke

pinggir sana, pelan-pelan melepaskan ikatan tali gantungan,

lalu menggerek lampion ditangannya itu keatas. Maka

dibawah penerangan lampion ini, huruf besar bercat emas

yang berbunyi *Thian-su-tong* terpampang jelas di atas

pigura yang dicantel di atas pintu gua.

20

Setelah menggantung lampion, si Tosu mengamati

sekitarnya lalu memeriksa ikatan talinya, setelah merasa

segalanya beres, pelan-pelan dia befanjak balik kedalam biara,

pelan pelan daun pintu ditutupnya pula.

Mengawasi tiga huruf *Thian-su-tong* diatas pigura itu,

hati sipemuda menjadi sebal dan keki, karena sikap santai si

Tosu tadi sesungguhnya berada diluar dugaannya.

Padahal dia merasakan keganjilan dari gema lonceng tadi,

kecuali dia salah dengar, kalau tidak, didalam Thian-su-tong

ini pasti bakal terjadi suatu peristiwa besar yang

menggemparkan. Tapi kenapa Tosu ini tampak masih bersikap

santai dan tenang ?

Bola matanya mengerling, sekilas tampak dia tertawa geli

sendiri, batinnya: „Kenapa sih aku? Apa yang perlu

diherankan? Sebelum tiba waktunja, Tosu kroco ini mana tahu

bahwa malapetaka bakal menimpa diri mereka ?” Dengan

ringan dia bergerak tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat

maju kedepan pintu biara, sekilas dia memeriksa keadaan

sekelilingnya, lalu seringan asap mengepul dia lelompat naik

kepagar tembok.

Setiba didalam dia dihadang sebuah ruang sembahyang

besar dan luas, kedua sisi ruang ini berjajar kamar-kamar

masing-masing ada delapan dari ruang ini terus menjurus

kebelakang, jalanan dilapisi batu hijau yang tersapu bersih,

mengkilap, kiri kanan jalanan berbatu dipagari pohon cemara

yang lebat daunnya. Sipemuda angkat kepala memandang

keruang sembahyang didepan sana, ditengah ruang besar

tergantung sebuah lampu kaca berminyak, entah sudah

bertahun-tahun lamanya lampu kaca ini tidak pernah

dibersihkan, sehingga sinar lampunya nampak guram, apalagi

diliputi kepulan asap dupa wangi, dibelakang kepulan, asap ini

nampak sebuah patung Pemujaan, suasana sepi dan hidmat

menambah keangkeran tempat suci yang dilingkungkan ini.

21

Tapi si pemuda tidak perdulikan segala apa dalam ruang

sembahyang ini, hatinya tengah diliputi rasa heran akan

kesunyian yang meliputi biara ternama ini, padahal, hari baru

mulai gelap, memangnya Tosu penghuni biara ini sudah sama

tidur?. Dari kamar-kamar yang berderet itupun tidak kelihatan

sinar lampu, suara orangpun tidak terdengar. Tapi kenyataan

barusan dia melihat. Tosu tadi menggantung lampion diluar

Pintu, tapi sekarang bayangan Tosu tadipun sudah lenyap tak

kelihatan lagi.

“Pertanda bakal terjadi apakah kesunyian yang ganjil ini?”‘

demikian hati si Pemuda mereka-reka.

Dia tidak tahu apakah Tosu penghuni Thian-su-tong ini

terlibat juga dalam peristiwa besar yang bakal terjadi ini.

Karena menurut apa yang dia tahu, selamanya belum pernah

dengar Tosu dari Thian-su-tong ini memiliki kepandaian siiat

yang tinggi.

Tapi pikiran lain timbul juga dalam benaknya : ”Umpama

betul para Tosu dari Thian-su-tong ini tiada sangkut pautnya

dengan teka teki dari Bulim yang tidak terpecahkan ini,

kenapa Lam-jan dan Pak-koat serta It-ci-sin-mo yang

menganggap dirinya jagoan yang tiada bandingan pada

jamannya ini memilih Thian-su-tong sebagai arena untuk

menyelesaikan pertikaian mereka? Kenapa pula gema lonceng

tadi mirip sekali dengan suara lonceng yang kumandang dari

puncak misterius itu.”

Terhadap pertikaian ketiga gembong iblis itu sendiri, dia sih

tidak ambil perhatian, maksud kedatangannya ke Thian-sutong

ini adalah ingin membongkar teka teki yang sudah

berkecamuk . selama belasan tahun di Bulim dan sejauh ini

tiada seorang yang dapat memecahkannya. Sekian tahun

lamanya dia sudah lari kian kemari untuk menyelidiki perkara

ini, betapa banyak keringat mengucur, betapa jauh perjalanan

yang telah ditempuhnya, tapi sejauh itu apa pula hasilnya ?

Kecuali lelah dan menderita, hasilnya tetap nihil.

22

Selama bebsrapa tahun ini, gema lonceng dari puncak

misterius itu tetap berbunyi, nama-nama korban diatas dinding

maklumat tetap bertambah, korban kedua puluh delapan dari

batok kepala yang berlumuran darah itupun bakal muncul tiga

hari kemudian.

Kematian tokoh-tokoh hebat itu sebenarnya tiada sangkut

pautnya dengan dirinya. Malah, diantaranya ada yang

sepatutnya dia merasa senang dan tenteram karena

kematiannya, tapi karena peristiwa Itu sendiri telah

menimbulkan rasa benci terhadap pelaku-pelaku misterius

yang mengobarkan suasana misterius dipuncak iblis itu.

Memang dia sendiri juga sering melakukan pembunuhan, tapi

semua itu dia lakukan secara terang-terangan, secara jantan

dengan adu kepandaian menentukan mati hidup, malah belum

pernah dia main curang atau menggunakan akal licik,

membunuh yang patut dibunuh, secara jantan berani

bertanggung jawab akan apa yang dia lakukan.

Tapi sepak terjang dan perbuatan orang di atas puncak iblis

itu, bukan saja menyebalkan, diapun amat membenci

perbuatan yang tidak patut di-targai iai, sebagai pemuda yang

berdarah panas, tapi dia tidak suka berkelahi memburu

kesenangan atau dikejar adat, bukan pula karena ingin

ternama dan suka gagah-gagahan, karena dia sendiri sadar

bahwa nama julukannya sendiri sudah cukup tenar dan

menggemparkan. Bagi kaum persilatan masa kini, siapa saja

bila melihat Cui-hun-tiap (undangan pengejar sukma) pasti

akan gemetar dan ketakutan setengah mati, maka dia yakin

tidak perlu dia mengejar ketenaran yang berkelebihan, apalagi

semua itu bakal membawa ancaman bahaya serta melelahkan

belaka.

Sampai di sini serta merta dia tersenyum puas, batinnya

pula. „Orang menjuluki aku Cui-hun-jiu (tangan pengejar

sukma), memanggilkan Tok-hu (lelaki tunggal) pula, biar

terserah sesuka mereka memanggilku. Kenapa aku harus

23

pusing menghadap, kaum Bulim yang suka terikat oleh adat

dan ketenaran? Seorang laki-laki harus tahu din, apa yang

patut dilakukan harus dikerjakan, asal tidak menyalahi

kebajikan, peduli mereka memanggil apa atas diaku, persetan.

Hm, selama beberapa tahun ini, aku sudah cukup menderita

demi memperjuang kan keadilan dan kebenaran kaum Bulim,

dan itu kujadikan kewajiban tindak tandukku selama ini,

memangnya aku harus menuntut pengertian mereka atas

diriku?”

Selama beberapa tahun ini, karena peristiwa dipuncak iblis

itu, secara diam-diam dia sudah menyelidik kelima tempat

kediaman Lima Ciangbunjin besar yang paling disegani saat

ini, diapun pernah menyelundup kepusat kekuasaan dari tiga

Kau dan satu Hwe, memperhatikan pula tidak sedikit

pendekar-pendekar aneh dan jago-jago silat besar serta

mengikuti jejak serta sepak terjang mereka, tapi dia tetap

kecewa, hasilnya nihil.

Tiga hari yang lalu, secara tidak sengaja dia memperoleh

berita yang boleh dikata dia sendiri pun hampir tidak mau

percaya. Lam-jan-pak-koat dan It-ci-sin-mo tiga gembong iblis

yang sudah menghilang sejak puluhan tahun yang lalu, tengah

malam hari ini bakal membuat perhitungan dan menyelesaikan

pertikaian mereka sejak enam puluh tahun yang lalu di Thiansu-

tong ini. Sudah tentu berita ini amat mengejutkan dirinya,

namun menggerakkan rasa iseng dan menantang

kecerdikannya untuk menyelidiki persoalan ini. Diam diam dia

membatin: ”Ya, bahwa ketiga bangkotan tua ini belum

mampus, kemungkinan teka teki dari puncak iblis akan

kubongkar atau kuselidiki dari salah satu ketiga gembong iblis

ini.”

Namun dia cukup tahu diri, dengan bekal kepandaian

silatnya sekarang, untuk menghadapi kaum persilatan pada

jaman ini, meski tak berani dia bilang tiada tandingan, tapi dia

cukup yakin, bekal kepandaiannya cukup tangguh untuk

24

melayani mereka, namun untuk mengusik ketiga gembong

iblis itu, sungguh mati, dia tidak berani karena persoalan tidak

tergantung melulu bekal ajaran silat serta kematangan

latihannya, tapi titik tolaknya terletak pada usia serta

peyakinan Lwekang yang masih terlalu cetek karena usianya

yang masih terlalu muda betapapun bagus bakat dan

pembawaannya, jelas dia sulit dapat menandingi ketiga

gembong iblis itu.

Apakah dia patah semangat? Tidak! Sejenak dia ragu-ragu

lalu dengan lantang dia tertawa gagah terus berlari menuju ke

Ceng-seng-san. Tak nyana gema lonceng yang didengarnya di

atas ngarai tadi, sekilas menimbulkan ketajaman nalurinya

untuk menemukan sesuatu sumber penyelidikan, karena

menurut penelitiannya, gema lonceng di dua tempat yang

berlainan itu ternyata bunyinya sama, apa lagi ketiga

gembong iblis yang sudah lama tidak muncul bakal

mengadakan pertemuan disini, jelas ini bukan secara

kebetulan, dari sinilah dia yakin akan dapat menemukar

sesuatu demi tercapainya penyelidikannya.

Tapi keheningan dalam biara ini terasa ganjil, hening bukan

menandakan tenang dan tenteram. Ada kalanya keheningan

itu justeru merupakan babak permulaan dari suatu hujan

badai pertikaian besar yang bakal tiba, malah secara langsung

ke beningan itu sendiri tercipta oleh suasana kekejaman yang

dilandasi oleh tipu muslihat yang jahat.

Semua itu hanyalah pendapat atau hasil analisa Cui-hun-jiu

sendiri yang secara langsung menghadapi suasana ganjil ini,

dalam sejarah kehidupannya selama dua puluh dua tahun

seusianya ini, selamanya tidak pernah dia tahu arti *takut*,

selama ini belum pernah dia tunduk kepada siapa saja meski

kepandaian silatnya jauh lebih tinggi, sudah tentu kecuali ayah

bunda dan gurunya.

Sebat sekali dia berkelebat ketengah ruang sembahyang,

sekilas matanya menjelajah mencari tempat strategis untuk

25

tempat persembunyian, pilihannya tertuju pada pigura besar

yang tergantung ditengah ruang sembahyang, diam-diam dia

duduk bersimpuh, mumpung masih ada waktu maka dia mulai

mengerahkan Liok-meh-sin-kang, sesuatu kejadian dalam

jarak satu li disekitarnya akan dapat dirasakan oleh ketajaman

pendengarannya.

Diluar malam teramat sunyi, deru angin pegu nungan

seperti mengamuk, bunyi jengkrik dan lolong binatang

terdengar jelas olehnya, kecuali itu diam diam dia menyelusuri

keadaan sekelilingnya, ternyata tiada sesuatu yang ganjil,

terutama Thian-su tong dimana sekarang dia berada, ternyata

tidak pernah menimbulkan suatu suara apapun.

Kira-kira satu jam, tiba-tiba terasakan olehnya kibaran

pakaian yang ditiup angin, dari arah samping kiri suara ini

melesat ketengah rumpun pohon siong yang lebat.

Secercah senyum mengulum diwajahnya yang dingin,

batinnya: ”Akhirnya ada orang datang juga.” Disusul suara

lirih seperti jatuhnya daun kering, jelas Ginkang orang ini

sudah termasuk kelas top. Lekas dia pasang kuping dan

menghimpun Lwekangnya.

Dari hutan lebat sana lapat-lapat didengarnya suara

seorang gadis berkata berbisik: ”Popoh, apakah di sini letak

Thian-su-tong itu?”

Sebuah suara serak tua mengiakan.

”Kalau begitu marilah kita masuk.”

”Jangan bersuara nak, malam ini harus teramat hati-hati.

Ketiga setan tua itu semuanya orang orang yang sukar

dilayani.”

”Nek, apa kau juga jeri terhadap mereka?”

Terdengar suara mendengus sekali, lalu suara serak tua itu

berkata pula : “Memangnya nenek bisa takut terhadap

26

mereka? Kapan kapan kau pernah dengar, Hu-yong Siancu

yang dulu malang melintang dernah takut terhadap siapa?”

”Hu-yong Siancu.” Bergetar hati Ciu-hun-jiu, batinnja

„Aneh. Bagaimana mahluk aneh inipun muncul juga, konon dia

mengasingkan diri di Sin-li-hong di Bu san, pernah persumpah

tidak akan berkecimpung dan mencampuri urusan Kang-ow,

bagaimana malam ini mendadak muncul disini. Memangnya

perempuan siluman ini punya pertikaian dengan ketiga setan

yang bakal muncul itu.”

“Ssssst.” Mendadak terdengar suara mendesis, lalu disusul

suara berbisik lirih.”Nak, jangan bersuara lagi, ada orang

datang, suasana seketika sirap.

Cui-hun jiu agak terkejut, padahal Liok-meh sin-kangnya

sedang dikerahkan dan bekerja secara peka, namun dia tidak

memperoleh tanda-tanda atau mendengar getaran suara yang

menandakan adanya orang datang, kenapa perempuan

siluman ini mendengar sesuatu dikala dia berbicara dan

terpecah perhatiannya, memang dia sudah berhasil

meyakinkan ajaran Liok-thong. Sehingga panca indranya jauh

lebih peka dibanding Liok-meh-sin kang yang dilatihnya.

Agaknya perempuan siluman ini memang tidak bernama

kosong.

Lekas Ciu-hun-jiu pusatkan perhatiannya pasang kupiag

mendengarkan dengan seksama, ternyata memang betul,

pada saat itulah lapat-lapat dia mendengar suat u gerakan

dari ngarai sebelah kanan yang tinggi itu, enteng dan hampir

tidak mengeluarkan suara melayang turun dua orang.

Kedua orang ini tidak bersuara, berhenti sejenak, mungkin

sedang meneliti keadaan sekelilingnya, kejap lain kesiur angin

terdengar lagi, kali ini meluncur langsung kearah biara, hanya

sekejap saja, terdengar suara keresek lirih dipucuk pohon

beringin yang terletak didepan biara, agaknya kedua orang itu

bersembunyi di pucuk pohon yang berdaun lebat.

27

Dari gerakan orang serta suaranya, Cui-hun-jiu dapat

mengukur betapa tingginya Ginkang kedua pendatang ini,

agaknya tidak lebih rendah dibanding Hu-yong Siancu, diamdiam

hatinya tambah waspada, pikirnya ”Entah kenapa malam

ini berdatangan jago-jago kosen di Thian-su-tong ini.”

Pada saat itulah, dari hutan sebelah kiri, kembali terdengar

suara bisikan sigadis: „Nek, siapakah kedua orang ini ?”

Suara serak itu berkata dengan suara paling rendah:

„Memangnya siapa lagi, kalau bukan Hong-cui-ji-ceng dari Gobi-

san. Hm, mereka juga berani mencampuri urusan di sini,

sungguh tidak tahu diri.”

Kembali Cui-hun-jiu melengak, Hong-cui-ji-ceng (dua padri

gila dan mabuk) dari Go-bi, kedua orang ini diketahuinya amat

jelas, kedua orang ini sudah memiliki Sin-kang yang paling top

dari aliran Hud, tingkatannya sudah mencapai taraf yang tiada

bandingnya walau kedua orang ini suka tamasya, riang dan

pandai humor, tapi tingkah laku mereka yang satu kegilagilaan

dan yang lain suka mabok-mabokan. Seakan-akan

mereka murid agama Buddha yang murtad dan tidak

mematuhi ajaran agamanya. Tapi yang betul kedua padri ini

boleh terhitung padri pendekar yang baik hati dan luhur budi,

sudah lama Cui-hun-jiu mengagumi mereka, entah untuk

keperluan apa kedua padri pendekar ini datang kemari?

Pada saat pikirannya melayang ini, mendadak terasakan

pula olehnya, dari lobang bundar diatas dinding iebelah kanan,

kembali melayang masuk seorang, semula Cui-hun-jiu kira

salah satu pende kar itu yang semula coba menyelundup

masuk keruang sembahyang ini, tapi setelah dia meneliti

ternyata dugaannya meleset, salah satu padri sakti, juga

bukan Hu-yong siancu yang sembunyi didalam hutan diluar

biara, tapi adalah sorang Tojin berambut merah, betapa cepat

gerakan tubuhnya sampaipun dia sendiri tidak sempat mem.

perhatikan wajah orang, hanya terlihat bayangan merah

berkelebat tahu tahu orang sudah menyelinap kebelakang

28

patung besar, malah kain gordyn depinggir patung besar

pemujaan itupun tidak kelihatan bergoyang sedikitpun, betapa

tinggi Ginkang orang ini sungguh sudah mencapai taraf yang

luar biasa.

Sudah tentu lebih menimbulkan rasa kaget dan

kewaspadaan Cui-hun-jiu, sejak dia memperoleh ajaran

Kungfu dari orang aneh, sejak berumur delapan belas seorang

diri dia sudah malang melintang, entah berapa banyak jagojago

kosen yang pernah dia hadapi, tapi belum pernah dia

berhadapan dengan orang yang memiliki Ginkang dan

kecepatan gerak tubuh seperti Tojin rambut merah ini, jikalau

dirinya tidak sedang mengerahkan Liok-meh-sin-kang,

mungkin orang sudah masuk kedalam ruanganpun tetap tidak

diketahui oleh dirinya Lama Cui-hun-jiu menepekur, tapi tak

diperoleh jawaban , siapa gerangan Tojin rambut merah

sebenarnya. Tapi dia yakin orang itu ada lah jago kosen dari

angkatan tua.

Pada saat itulah didengarnya suara gadis yang sembunyi

dalam hutan di luar biara itu berbisik pula : „Nenek, waktunya

sudah hampir tiba, mari lah kitapun masuk ke dalam biara.”

„Hayolah, nak.” Suara serak itu berkata lirih. Kali ini sayupsayup

hanya terdengar suara getaran yang amat lirih

melayang turun dari tembok sebelah kiri.

Jikalau tidak sedang mengerahkan Liok-meh-sin-kang, dan

tahu bahwa kedua orang ini yang melayang masuk, hampir

saja dia berlaku lena. Sekarang sudah tentu dia tahu duduk

perkara yang sebenarnya. Setelah kesiur angin lirih itu,

terdengar seperti ada dua daun pohon yang melayang jatuh di

atas genteng disebelah belakang biara.

Cui-hun-jiu tertawa dingin seorang diri, pikirnya :

„Sekarang sudah ada tiga kelompok jago jago Bulim yang

berkepandaian tinggi didalam dan di luar biara, memangnya

mereka bertujuan sama hendak mengintip dan mencuri

29

belajar kungfu tunggal dari lam-jan, Pak-koat dan It-si-sinmo?”

Tapi rekaannya ini lekas sekali tumbangkan sendiri, ketiga

setan bangkotan adalah gembong gembong iblis yang sukar

diusik, tak mungkin orang-orang itu tidak tahu, apalagi

mengintip dan mencuri belajar kepandaian silat orang lain

merupakan pantangan dan larangan paling keras bagi insan

persilatan, tidak patut mereka jauh-jauh datang kemari apa

lagi harus menyerempet bahaya segala. Mendadak dia teringat

apa yang tadi dikatakan oleh Hu-yong Siancu : ”……mereka

juga, berani turut campur, sungguh tidak tahu diri.”

Tiba-tiba tergerak pikiran Cui-hun-jiu, ”Betul, mungkin

orang-orang ini sama mengincar sesuatu benda, mungkin

pertikaian Lam-jan, Pak-koat dan It-ci-sin-mo seiama puluhan

tahun yang tiada akhirnya ini jika lantaran memperebutkan

benda, itu, dari sini dapatlah dibayangkan bahwa benda itu

mesti suatu pusaka yang tiada taranya, atau pelajaran rahasia

yang diincar kaum persilatan, sehingga orang-orang ini berani

mempertaruhkan jiwa raganya meluruk kemari mengadu

untung.”

Terasa analisanya masuk diakal, kembali dia tersenyum

dingin, batinnya pula : „Kalau begitu malam Ini bakal ada

tontonan ramai dan menarik, maksud kedatanganku bukan

kearah itu namun demikian biarlah aku membuka mata

menambah pengalaman.”

Waktu berjalan, kira-kira semasakan air mendidih telah

berselang. ”Tang…..” gema lonceng yang keras mendadak

berdentang dari atas loteng dibelakang biara, suaranya

mengalun tinggi dan bergema sampai jauh sekali.

Mau tidak mau Cui-hu.i-jiu menjadi tegang, dia tahu waktu

yang ditunggu-tunggunya sudah hampir tiba, diam-diam dia

perhatikan pula bunyi suara lonceng itu, memang terasa

olehnya gema suara lonceng disini amat mirip dengan gema

lonceng yang bertalu-talu dipuncak misterius itu, jikalau ketiga

30

bangkotan setan tidak bakal segera tiba, ingin rasanya dia

menerjang ke sana dan melihat siapa gerangan penabuh

lonceng itu.

Tapi waktunya sudah tidak mengizinkan, walau ketiga

bangkotan setan itu belum muncul, tapi di dalam dan diluar

biara ini sudah sembunyi tiga kelompok jago-jago lihay, begitu

dirinya bergerak pasti memperlihatkan tempat sembunyi

sendiri, hal ini mungkin bakal mempengaruhi tujuan

kedatangannya. Walau hati sedang menyesal, tapi betapapun

dia harus menahan gelora hatinya.

”Tang……tang…..” suara lonceng bergema pula untuk

kedua kalinya, lekas dia menenangkan diri, diam-diam dia

kerahkan sinkang, ingin dia mencari tahu dari arah mana

ketiga bangkotan setan itu muncul.

Tapi kecuali suara belalang dan jangkrik serta hembusan

angin lalu yang menimbulkan keresekan dedaunan, semesta

alam ini sunyi senyap, taK terdengar ada langkah orang

berjalan. Malah deru napas ketiga rombongan orang orang

yang sembunyi diluar dan didalam biara itupun seperti lenyap

tak terdengar lagi, sudah tentu merekapun juga tahu bahwa

waktu yang dinanti-nantikan bakal tiba, maka mereka

menahan napas.

Gema lonceng kedua ini ternyata mengalun pan jang dan

tetap bergema diudara, belum lagi lenyap gema suaranya,

pukulan lonceng ketiga sudah berdentang pula dengan suara

yang lebih keras.

”Tang…..tang …. tang . …” dlkala bunyi lonceng tiga kali

berlangsung, Cui-hun-jiu tetap tidak merasakan adanya

gerakan apapun di sekelilingnya, tapi diwaktu dia menunduk

kebawah dan memandang keruang sembahyang, hampir saja

dia berteriak, mulut melongo mata terbeliak. Sungguhsungguh

aneh. Entah sejak kapan di tengah ruang

sembahyang tahu-tahu sudah duduk tiga orang, diam tidak

bergerak atau bersuara, bagaimana ketiga orang ini datang

31

dan masuk ke dalam ruang sembahyang? Ternyata tanpa

dirasakan dan diketahui olehnya.

Tempat persembunyian Cui-hun-jiu kebetulan terletak di

atas lampu kaca yang tergantung di tengah-tengah ruang, jadi

kebetulan dia berada di tempat yang gelap, namun keadaan

ruang sembahyang ini dapat dilihatnya dengan jelas sekali.

Tampak ketiga orang ini duduk bersila di atas kasur bundar

dalam posisi segi tiga, orang yang berada di sebelah atas

ternyata seorang laki-laki setengah baya berpakaian Bunsu

(kaum sastrawan), mengenakan jubah sutra biasa, kepalanya

terbungkus kain persegi, wajahnya putih bersih tak

berjenggot, usianya kira-kira baru menanjak empat puluhan,

sebelah tangan kanan terletak di atas lutut, jelas kelihatan

jarinya hanya tinggal jari telunjuk saja, dari jari tunggal ini

dapatlah ditebak bahwa laki-laki sekolahan ini pasti adalah Itci-

sin-mo yang menggetarkan Bulim itu.

Sekilas Cui-hun-jiu agak tertegun, pikirnya: „Kiranya

tampang It-ci-sin-mo setampan ini dan ramah tamah, semula

kukira ia berwajah bengis dan jahat, kalau tidak melihat jari

tunggalnya itu siapapun pasti takkan mau percaya bahwa

dialah gembong iblis yang ditakuti oleh kaum persilatan, hehe,

keparat ini ternyata pandai memelihara wajah dan menunda

kelanjutan umurnya.”

Yang ada disebelah kanan ternyata seorang tua yang

berlengan tunggal, lengan kirinya semampai dan kosong,

perawakannya pendek, rambut kepalanya sudah beruban,

dagunya dihiasi secomot jenggot kambing, mukanya tepos

tubuhnya kurus kering, tak ubahnya kerangka yang

terbungkusi kulit berkeriput. Ciu-hun-jiu berpikir: „Kakek tua

kecil kurus ini, mungkin adalah Lam-jan (si cacat dari

selatan).”

Waktu dia menoleh kesebelah kiri, yang duduk adalah

seorang Tojin yang kehilangan kuping sebelah kiri dan picak

mata kanannya, usianya juga sedang menanjak setengah

32

baya, kira-kira sebanding dengan It-ci sin-mo, rambut dan

jenggotnya masin hitam mengkilap, namun kulit mukanya

seperti disepuh emas, sebuah Buli-buli besar digendong

dibelakang punggung, selintas pandang orang akan tahu bila

dia inilah Pak-koat (kurang lengkap dari utara).

Tiga orang duduk bersimpuh diam tak bersuara, siapapun

tak hiraukan siapa, tak ubahnya seperti tiga patung batu.

Tepat ditengah ketiga orang, terletak sebuah piring kayu yang

ditutup sapu tangan sutra hijau, bagian tengahnya tampak

menonjol, apa yang berada diatas piring? Sudah tentu sukar

diketahui.

Kini Cui-hun-jiu sendiripun harus menahan napas, dengan

mendelong dia awasi ketiga orang di bawah. Sekarang dia

baru tahu bahwa apa yang dia duga ternyata tidak salah,

benda yang berada didalam piring itu adalah pusaka yang

diperebutkan selama puluhan tahun oleh ketiga gembong iblis

tanpa penyelesaian, benda pusaka itu pula yang menjadi

incaran ketiga kelompok jago-jago kosen yang sembunyi

didalam dan diluar biara, bila ketiga gembong iblis ini saling

labrak dan terluka parah atau mati, baru mereka akan

memungut keuntungan, merebut atau merampasnya secara

men dadak. Sudah tentu sebelum ketiga gembong iblis ini

saling cakar-cakaran dan terluka parah, siapapun tiada yang

berani turun tangan.

DI luar dan di dalam biara ini kini ada tujuh gembong silat

yang berkepandaian tinggi, ditambah Cui-hun-jiu dan gadis

yang ikut bersama Hu-yong-sian-cu semuanya ada sembilan

orang, tapi suasana sungguh amat sepi, ternyata orang-orang

di dalam dan di luar biara yang menyembunyikan diri itupun

sama menahan napas.

Keheningan kira-kira berlangsung semasakan air, boieh

dikata Cui-hun-jiu tak pernah mengedipkan kedua matanya,

dia menunggu dengna sabar, akhirnya dia melihat ada orang

yang mulai bergerak, dia adalah It-ci sin-mo.

33

Tanpak dia sedikit angkat kepala, di antara kelopak

matanya yang merem melek Itu, tampaK mencorong dua larik

sinar terang yang dingin setajam mata goiok kemilau,

beruntun dia menyapu pandang kearah Lam-jan dan Pak-koat,

wajahnya tampak tersenyum sinis dan aneh, suaranya serak

dan sumbang, tapi nadanya lebih mirip suara seorang gadis

belia: „Hahaha hari ini kita bertemu lagi.”

Lengan kosong Lam-jan yang bergantung lemas tiba-tiba

melambai meski tiada angin menghembus kepalanya tetap

menunduk, tapi suaranya terkekeh dari kerongkongan: „Itulah

yang dinamakan kalau bukan jodoh tidak akan berkumpul.”

Pak-koat yang duduk di depan Lam-jan mendadak

membuka mata tunggalnya, bagai selarik kilat saja dia

menatap kedua orang di depannya, katanya sinis : „Ternyata

kalian masih panjang umur, tidak lekas mati.”

It-ci-sin-mo terkial-kial, katanya : „Berkat do’amu, dalam

jangka sepuluh tahun mendatang, yakin aku masih belum

mampus.”

Baru sekarang Lam-jan angkat kepala, tampak mukanya

yang kurus kering tak ubahnya seperangkat tengkorak hidup,

tulang pipinya menonjol tinggi, mimik mukanya lebih mirip

mayat hidup, mulutnya terkekeh lebar, katanya : „Aku tua

bangka ini selamanya tak mau memberi kelonggaran terhadap

siapapun, namun bicara soal mati, aku jadi enggan untuk

mendahului kalian berdua.”

Pak-koat menjengek dingin : „Jadi, kalian masih punya

urusan yang belum beres, sitakan memberi pesan dulu.

Sebagai sahabat tua, boleh nanti kuwakilkan

membereskannya”

Ujung bibir It-ci-sin-mo menyungging senyum misterius,

katanya : „Sudah dua puluh tahun, kawan-kawan tua, kalian

punya permainan baru apa yang lebih segar?”

34

Lam-jan berludah sekali, jelas dlantara ketiga orang ini,

wataknya paling keras dan berangasan, hardiknya : „Aku

orang tua paling benci mendengar orang membual, kalian

punya bekal apapun boleh keluarkan saja, banyak atau sedikit

seluruhnya kusambut dengan senang hati.” .

Mata tunggal Pak-koat melotot Kearah Lam-jan, matanya

memancarkan sinar dingin yang membayangkan kekejaman

hatinya, bentaknya : ,,Aku tua bangka ini selamanya tak

pernah membual, tahu.”

Dengan suara serak It-ci sin-mo tertawa kering katanya :

„Jangan ribut, jangan ribut. Selama enam puluh tahun, kita

sudah berkumpul enam kali, setiap berkumpul kalian selalu

ribut mulut, untuk sekali ini bagaimana kalau kalian tidak

perang mulut lagi?”

Mendengar pembicaraan ini baru Cui-hun-jiu maklum,

kiranya setiap sepuluh tahun ketiga gembong iblis ini kumpul

sekali sambil mengukur kepandaian, kali ini untuk yang

ketujuh kali, jadi untuk memperebutkan benda pusaka itu

mereka sudah bentrok selama tujuh puluh tahun.

Terdengar It-ci-sin-mo berkata pula setelah ter tawa

kering: „Haha Liu loto, kau memang teman sejati, andaikan

kami memang harus mangkat lebih dulu, Seng loji akan pesan

apa, aku tidak tahu tapi aku memang perlu pesan satu hal

kepadamu, entah kau sudi melakukan tidak untuk aku?”

„Selamanya Liu Ji-hwi tidak pernah menjilat ludahnya

sendiri.”

„Bagus sekali,’ seru It-ci-sin-mo, „persahabatan kita

memang semakin kokoh sejak perkelahian yang pertama dulu,

tua bangka buntung lengan, sudilah kiranya kau menjadi

saksinya?”

„Cuh, aku tidak sudi ‘ teriak Lam-jan.

„Lho, kenapa.”

35

Tulang pipi Lam-jan yang menonjol kering itu tampak

mengkilat, pundaknya tampak terangkat, katanya : „Kau si

banci ini sepantasnya sudah mampus sejak dulu, kenapa kau

ingin menyeret ku keliang kubur? Bila aku jadi saksi, itu berarti

aku harus hidup dan menunaikan pesanmu. memangnya kau

kira aku orang tua ini sesabar itu.”

Tergerak hati Cui-hun-jiu, bathinnya : „O, Judi It-ci-sin-mo

ini ternyata seorang banci.”

Pak-koat menjengek dingin.

It-ci-sln-mo tertawa kering pula, ujarnya: „Seng loji, kau

memang berangasan, omonganku belum selesai, kau sudah

ribut tidak karuan, tak usah kau menunggunya dengan sabar,

terang diapun takkan bisa hidup lama menunaikan pesanku,

saksi yang kumaksud tadi adalah sekarang ini harus kau

lakukan.”

Lekas Pak-koat tertawa dingin dengan nada bengis,

katanya: „Tua bangka, sudah jelas bukan? Tuh ada orang

sedang mengigau.”

”Aku orang tua ini memangnya sudah terkenal berangasan,

mau kentut atau ingin berak lekas lakukan saja.”

„Cita-citaku selama hidup dan belum terlaksana sampai

sekarang, yaitu memenggal leher Liu lothau serta mengorek

keluar isinya untuk kujadikan pespot. Hai, Liu loto, kita kan

kawan lama, tentunya kau sudi melakukannya bukan?”

Hampir saja Cui-hun-jiu tertawa geli mendengar banyolan si

banci ini, batinnya : „It-ci-sin-mo ternyata culas dan humor

juga, dari perkataannya ini dapatlah disimpulkan bila wataknya

jauh lebih telengas dan jahat dibanding Lam-jan dan Pakkoat.”

Wajah Pak-koat yang kuning seperti disepuh emas

menampilkan hawa membunuh, mata tunggalnya melotot

36

besar, hardiknya keras : „Siang It-bin, berani kau menghina

Liu Ji-hwi, untuk menghibur diri ?!”

Kali ini Lam-jan ternyata tidak ribut lagi, suaranya ternyata

riang, tangan kirinya menepuk paha sembari berseru: „Bagus,

bagus sekali, untuk soal ini aku mau jadi saksi.”

It-ci-sin-mo tertawa gelak gelak, katanya: „Liu Ji-hwi,

memangnya kentutmu tidak boleh dipercaya.”

„Kentutmu busuk.” hardik Pak-koat beringas.

„Bau sekali.” seru Lam-jan tertawa gelak-gelak-

Tampak tubuh Pak-koat bergerak, tiba-tiba ia sudah berdiri,

matanya mendelik marah menatap kedua lawannya.

Tapi It-ci-sin-mo malah tergelak-gelak senang, nerunya :

„Liu loto kau ributi apa ? Mumpung sudah ada di sini,

memangnya siapa yang bakal menepuk pantat tinggal pergi

tanpa ada gawe (kerja)? Silakan duduk, marilah kita bicara

soal ini dengan baik-baik.”

„Betul,” Lam-jan menimpali, „kita tiga bangkotan yang

tidak mau mampus ini, setiap sepuluh tahun bertarung sekali,

cara ini kukira sudah usang, kalau kali ini tetap seri alias sama

kuat, kusarankan untuk berhantam sampai titik darah

penghabisan, persyaratan yang telah kita sepakati bersama itu

kurasa perlu dirobah total.’

„Kurasa kalian sudah tiada mempunyai kesempatan lagi.”

jengek Pak-koat.

Sikap it-ci-sin-mo tetap santai, katanya gelak-gelak: „Ada

kesempatan atau tidak itu soal lain. aku sih setuju akan usul

Sengloji. Marilah, duduk dulu. Sesama sahabat tua berkelekar

dan main olok-olok beberapa patah kata, kenapa sampai perlu

dibuat keki? ‘

37

Tiba-tiba terunjuk senyum misterius di muka Pak-koat, tapi

hanya sekejap saja, setelah mengekeh dua kaii segera dia

duduk kembali di kasur bundarnya semula.

Dingin dan tajam tatapan mata It-ci-sin-mo kepada keiaa

lawannya, katanya pula: „Bicara terus terang, kedatanganku

kali ini mempunyai usul yang sama dengan Seng loji,

permainan garuk anjing kalian, terus terang aku Siang lt-bin

sudah terlalu apal dan kuanggap sepele saja, demikian juga

kelihayanku kalianpun sudah mengetahuinya, oleh karena itu

selama tujuh puluh tahun ini, kita bertarung tanpa

menghasilkan apa-apa, sehingga siapapun takkan mampu

memanfaatkan benda ini.” Sampai disini dengan pandangan

tamak dia mengawasi piring kayu di-tengah mereka, lalu

menambahkan : „Alasan utama dahulu bukan melulu karena

benda ini, tentunya kalian juga tahu, karena perebutan yang

berlarut-larut ini, rahasia kita bertiga sudah bocor, kini bukan

sedikit kaum tamak yang ingin juga mengincar barang itu,

jikalau kita tidak lekas membuat penyelesaian, kita saling

rebut orang lain yang bakal memungut keuntungannya.”

„It-ci-sin-mo memang lihay dan licik, kiranya dia pun sudah

menduga akan kenyataan ini,” demikian bathin Cui-hun-jiu

dari tempat sembunyinya.

Lam-jan terkekeh penuh keyakinan, katanya : „Memangnya

siapa yaug punya nyali besar. Aku jadi tidak sabar untuk

memenggal kepalanya.”

„Sudah tentu, dalam hal ini aku dan Liu loto juga

sependapat dengan kau.” Demikian kata It-ci-sin-mo, „Liu loto

bagaimana pendapatmu?”

Pak – koat terkekeh – kekeh, katanya : „Coba katakan, coba

jelaskan.”

„Karena taraf permainan kita bertiga maslng masing sudah

sama tahu, menurut hematku dilan jutkan juga tiada akhirnya,

itu berarti kita haru menunggu sepuluh tahun lagi, selama

38

sepulu tahun ini perubahan amat besar, soal lain akui tidak

perlu kuatir, tentunya kalian juga suda tahu, kawan yang

muncul di puncak misterius d Kiu-ting-san itu, mungkin tidak

akan member kesempatan pada kita untuk menunggu lagi.

–ooo0dw0ooo–

Jilid 2

Dengan nada hina dan mengejek Pak-koat berkata :

„Tahukah kau kawan macam apakah dia?”

Lam-jan mengangkat tulang pundaknya, katanya: „Kalau

tiada harimau diatas gunung, kerapun jadi raja. Kita bertiga

terlibat oleh urusan yang satu. ini, sehingga tak pernah

perhatikan kejadian di-luaran. Hm, setelah malam ini berakhir,

aku orang tua akan naik kepuncak itu untuk melihat nya

sendiri.”

It-ci-sin-mo melirik kedua lawannya, katanya tetap tertawa

: „Akupun tiada tempo untuk mengurus persoalan tetek

bengek, siapa sahabat diatas puncak itu? Akupun tidak tahu,

tapi kenyataan dia memang cukup lihay.”

„Cukup lihay apa, amat lihaypun aku orang tua tidak

peduli.” demikian jengek Lam-jan penuh keyakinan pada diri

sendiri

Pak-koat menengadah berpikir cukup lama, mendadak dia

berkata : „Tidak tahu ya sudah, tidak perlu membuang banyak

tenaga, urusan yang tidak perlu tak usah dibicarakan,

bukankah tadi kau bilang herdak membicarakan urusan kita’:”

„Hahaha, oleh karena itulah kupikir, malam ini kita harus

merobah cara, tak perlu kita capai lelah bertarung mati-matian

di s ini.”

„Batal?” Lam-jan dan Pak-koat berseru bersama.

39

„Ya, pertarungan ini dibatalkan saja. Kita gunakan sahabat

yang belum dikenal di puncak Kiu-ting-san itu sebagai

pertaruhan, siapa lebih dulu dapat memenggal batok

kepalanya dialah yang menang.”

„Yuh, akal bagus, cara bagus.” seru Lam-jan.

„Ya, memang pertaruhan yang cukup menyenangkan.”

demikian bathin Cui-hun-jiu.

Mata tunggal Pak-koat mencorong bagai lampu, tatapannya

dingin kemuka It-ci-sin-mo seolah-olah dia sedang meneliti isi

hatinya, apakah di belakang sarannya ini orang

menyembunyikan tipu muslihat keji.

Jiwa Lam-jan ternyata lebih polos, dengan tawa keras dia

berkata : „Asal Liu loto setuju, akupun boleh akur saja.”

„Siang It-bin,” tiba-tiba Pak-koat berkata dengan ssnyum

licik, „kita sama-sama belum pernah melihat orang itu, kalau

kau memenggal kepala seorang lain, bagaimana kita bisa

dapat membuktikan kalau dia orang yang berada dipuncak

misterius itu ?”

Bola mata Lam-jan yang kemuning seperti lairang tidur

berputar-putar, akhirnya dia menepuk paha, teriaknya : „Ya,

betul.”

„Kecuali kalian tidak berani masuk kepuncak itu, atau

hakekatnya kalian tidak mampu naik kesana.” dasar licik It-cisin-

mo balas mengejek.

Selama hidup Lam-jan dan Pak-koat tidak pernah tunduk

dan mengalah kepada orang lain, lapi watak Pak-koat picik

dan licin, keculasannya tidak asor dibanding It-ci-sinm, segera

dia terkial-kial pula,katanya : „Hehe, kalau dikatakan kami jeri

pada orang, bukankah itu merupakan berita aneh dikolong

langit ini? Umpama kami tidak mampu naik kepuncak itu,

memangnya kau Siang It-bin mampu? Lalu bagaimana,

umpama ada diantara kita yang tidak mampu naik, maka

40

orang yang naik keatas, dan lalu turun lagi, dengan

menenteng batok kepala orang, barulah dia terhitung sebagai

pemenang?”

„Boleh,” teriak Lam-jan tepuk paha pula, cara Itu memang

baik, siapapun takkan dapat ditipu.”

Mau tidak mau Cui-hun-jiu jadi kecewa, bukan kecewa

karena tidak dapat menyaksikan pertarungan sengit ketiga

gembong iblis ini, bukan lantaran dia ingin memungut

keuntungan bila ada kesempatan, tapi dia kecewa karena

kedatangannya kali ini kembali sia-sia, ternyata ketiga

gembong iblis ini hakekatnya tiada sangkut pautnya dengan

peristiwa misterius dari puncak digunung Kiu-ting san itu.

Kalau kenyataan memang tiada sangkut pau nya, sudah

timbul niatnya tinggal pergi saja, di sudah tidak peduli lagi apa

yang diperebutkan ketiga gembong iblis selama tujuh puluhan

tahun dia kira paling-paling semacam mestika yang jarang ada

atau buku pelajaran silat, akan semua itu dia tidak pernah

ketarik dan tidak ingin memilikinya, salah-salah bisa dirinya

terus berada di sini, bisa terembet, urusan malah celaka.

Tapi ketiga gembong iblis duduk ditengah ruang tepat

dibawahnya, diluar biara masih ada jago-jago kosen yang

mengintip lagi, kalau sekarang dia bergerak, pasti jejaknya

konangan, apa boleh buat terpaksa dia menunggu dengan

sabar.

Mendadak didengarnya It-ci-sln-mo tertawa gelak-gelak,

katanya : „Seng loji, Liu loto, keputusan kita ini

mengecewakan beberapa teman yang datang dari jauh.”

“Lihay benar”, demikian batin Cui-hun-jiu “ternyata iblis ini

tahu kalau diluar dan didalam biara ada orang mengintip”.

Lam-jan segera angkat kepalanya menoleh ke arah patung

pemujaan, katanya dengan tawa kering : „Memangnya,

bernapaspun orang harus lirih-lirih, kalau kita bertele-tele

41

berkepanjangan, jangan heran kalau orang mati sesak

napasnya.”

Pak-koat juga mendengus, jengeknya: „Malam dingin kabut

tebal, dua kawan diatas pohon di luar pintu itu silakan turun

beristirahat.”

It-ci-sin-mo terloroh-loroh, katanya mendongak : „Kaupun

turunlah, jongkok diatas apa tidak lelah?”

Karuan Cui-hun-jiu kaget sekali, dia tahu dirinya jelas

bukan tandingan ketiga gembong iblis ini, tapi selama malang

melintang kapan dia pernah takut menghadapi musuh, kini

jejaknya sudah konangan, mumpung masih ada kesempatan

biar dia mohon pelajaran dari gembong-gembong iblis yang

tiada bandingannya ini.

Tak kira baru saja tergerak pikirannya, diatas biara seorang

sudah bersuara lebih dulu : „Tiga bangkotan tua yang tidak

mau mampus ternyata memang cerdik pandai, Yong-ji, mari

kita turun.” maka angin kesiur, dua orang telah melayang

turun kebawah.

Cui-hun-jiu sudah hendak melompat turun, serta

mendengar suara Hu-yong sinenek dari atap rumah-lekas dia

batalkan niatnya, ingin dia melihat perkembangan lebih lanjut.

Kejap lain, dari pucuk pohon diluar biara seorang bergelak

tertawa, katanya : „Hwesio Edan (gila), orang sudah tunjuk

hidung, kau mau turun tidak?”

„Setan mabuk,” terdengar seorang tertawa terkekeh malumalu,

„aku tidak punya cawat.”

Yang bersuara lebih dulu sudah tentu adalah Hwesio

pemabukan dan Go-bi, terdengar dia mencemooh : „Gila,

kiranya kau pura-pura edan, memangnya kau juga tahu kalau

tidak pakai cawat (celana) malu dilihat orang, lekaslah kau ikat

kencang jubah Hwesiomu saja, tidak turun tidak mungkin, kita

42

sepasang mestika ini, kurang satu mana bisa bermain dengan

baik?”

„Apa boleh ?” tanya Hwesio edan.

„Boleh saja.”

Maka terdengar, suara keresekan dahan pohon, tampak

dua Hwesio gundul melompat turun bersama.

Pada saat yang sama, dari balik kain gordyn di belakang

patung pemujaan diruangan tengah itu, tampak Tojin

berambut merah itupun sudah beranjak keluar, begitu dia

melompat keluar dan kaki menginjak lantai, seketika dia

terloroh-loroh, sua ranya seperti genta : „Tempat sembunyi

pinceng, ternyata tak mampu mengelabui kalian bertiga.”

Baru sekarang Cui-hun-jiu melihat jelas, kira nya Tojin

rambut merah ini bukan lain adalah jago nomor dua dari

Thian-te hwe, yaitu diberi nama julukan Jik-hwat-ling-koan

Cau Hwa-ong.

Tiga kelompok orang yang kepergok sudah ke luar semua,

namun It-ci-sin-mo, Lam-jan dan Pak-koat tetap duduk

bersimpuh ditempatnya, sikapnya dingin dan tak acuh, seolaholah

mereka tidak pandang sebelah mata orang-orang ini-

Sekilas menyapu pandang kepada orang-orang yang baru

muncul ini, suara pertanyaan It-ci-sin-mo lebih bernada

membentak : „Untuk apa kalian datang kemari ?”

Kontan berubah air muka Jik-hwat-ling-koan Cau Hwa-ong

oleh pertanyaan ketus ini, dalam Thian-te-hwe kedudukannya

sebagai Thian-tam Tamcu, Jik-yam elang yang dia yakinkan

pernah menggetarkan Kangouw, biasanya dia amat

mengagulkan diri dan amat congkak, walau dia tahu bahwa

ketiga gembong iblis ini bukan orang sembarang tokoh namun

belum ada orang yang tahu pasti sampai di mana kelihayan

mereka, setelah merah padam air mukanya, segera ia

menyeringai dan balas mengolok : „Thian-su-thong adalah

43

tempat ibadah yang suci, kalau kalian bertiga boleh kemari,

memangnya kenapa pinto tidak boleh ?”

” Blang” mendadak dari luar pintu biara terdengar suara

keras, gema suara yang besar seperti sesuatu yang jatuh

menyentuh bumi, disusul terdengar suara Hu-yong siancu

yang membentak marah : „Tiga tua bangka yang tidak mau

mampus, orang lain jeri pada kalian, memangnya aku nenek

tua gentar ? Nah aku sekarang sudah turun, masih ungkangungkang

saja kalian duduk di situ’.'” bayangan orang

berkelebat, tahu-tahu dua orang sudah melayang ke dalam

ruang sembahyang.

Waktu Cui-hun-jiu pasang mata, terlihat yang muncul itu

ternyata seorang nenek yang telah ubanan, wajahnya penuh

keriput, tangannya memegang tongkat sebesar lengan,

dipucuk tongkatnya dihiasi sekuntum kembang berwarna

merah dalu, begitu indah warnanya seakan-akan kembang asli

yang masih segar.

Cui-hun-jiu belum pernah melihat Hu-yong si nenek keriput

ini, namun dia pernah dengar bahwa enam puluh empat jalan

Hong-lui-koay yang dia yakinkan selamanya tidak pernah

memberi ampun kepada siapapun, malah kembang diujung

tongkat itu merupakan simbul kebesarannya, lagi merupakan

kepandaian tunggalnya pula, orang menamakan Toan-yanghoa

(kembang pemutus usus) jago silat mana dalam Bulim

yang berani mengusiknya bila mendengar nama Huyong si

nenek keriput.

Waktu Cui-hun-jiu melirik kewajah gadis yang dipanggil

Yong-jiu itu, jantungnya hampir melonjak keluar, kedua

matanya seketika melotot kesima seperti tersedot oleh

kekuatan gaib.

Hal ini belum pernah ia rasakan dan alami selama

hidupnya, memang sebagai pemuda siapapun pasti kemaruk

paras cantik, asal tidak cabul, tapi Cui-hun-jiu yang satu ini

justru lain dengan pemuda umumnya, tidak sedikit gadis

44

cantik yang pernah dilihat dan dikenalnya, malah tidak sedikit

diantaranya yang tergila-gila padanya, ada yang kagum akan

kepandaian silatnya, ada pula yang kepincuk akan kegagahan

dan kecakapannya, tapi selama ini tiada satupun yang menarik

perhatiannya, semuanya dibuang atau tidak dihiraukan sama

sekali, karena itulah dia memperoleh julukan ’Tok-hu’, maksud

dari julukan ini, kecuali menyindir sepak terjangnya yang

selalu seorang diri, selamanya tak mau berkenalan dengan

siapa saja, sudah tentu sikapnya yang dingin dan tidak mau

bersahabat serta menolak cinta itulah yang menimbulkan rasa

kurang senang pemujanya.

Tapi malam ini diwaktu sorot matanya tertuju kewajah

Yong-ji, seketika dia terpesona. Sungguh lak pernah dia

bayangkan didimia ini betul-betul ada gadis secantik ini yang

dapat membetot sukmanya. Betapa cantiknya, yang terang

terlalu luar biasa dan sukar dilukiskan dengan segudang kata,

sanjak-sanjak pujian atau huruf kata yang biasa tepat untuk

melukiskan keelokan seorang gadis, rasanya juga belum cukup

untuk melukiskan kecantikan gadis yang satu ini.

Yang terang Yong-ji memang teramat cantik dan rupawan,

begitu ayu dan jelita sampai rasanya menakutkan orang,

terutama lesung pipit yang menghiasi kedua pipinya, begitu

anggun, asri menambah keluwesan, kelembutannya terasa

begitu agung dan suci, setiap jengkal anggota tubuhnya tiada

yang ciri, bukan saja penuh dilembari gaya remaja nan

mengobarkan daya hidup semarak, sehingga siapapun yang

menatapnya pasti terpesona, kelelap dan terbuai oleh

lamunan dan angan-angan yang memabukkan.

Loroh tawa yang menggetar keras tiba-tiba menyentak

lamunan Cui-hun-jiu, itulah gelak tawa yang keluar dari mulut

Hwesio pemabukan dari Gobi . ”Edan, kita kan juga harus

masuk, mantu jelek akhirnya kan harus menghadap mertua,

kita sepasang mestika Ini, jangan karena takut digebuki lantas

tidak berani masuk.” ditengah gema suara nya muncullah

45

seorang Hwesio dengan langkah gentayangan, mukanya

tampak merah seperti terlalu banyak lombok, wajahnya

tampak murung dan matanya ngantuk seperti terlalu banyak

minum arak. Besar kecil disekitar pinggangnya bergelantungan

delapan buli-buli, semuanya berisi arak.

Dibelakang Hwesio pemabukan adalah Hwesio yang

berwajah kotor dan kepalanya yang gundul kelimis itupun

penuh berlepotan debu, jubahnya bukan saja kedodoran,

koyak dan lebih kotor lagi dibanding jubah yang dipakai

Hwesio pemabukan, kalau yang belakang mulur, sebaliknya

bagian depan melambai kependekan, bagian samping tampak

diikat pula dan bagian yang koyak tampak diikat dengan tali

rami, kedua tangannya menarik lurus kedua ujung jubahnya

sampai kebawah lutut dengan tubuh sedikit terbungkukbungkuk,

melihat kelakuannya orang yakin dia memang tidak

memakai celana.

Tapi mulut besar Hwesio ini justru menyengir lebar, seperti

lutung yang baru pertama masuk kota, kedua bola matanya

jelalatan, entah karena takut atau malu, sambil memegang

dan mendekap ujung jubahnya dia mengintil dlbelakang

Hwesio pemabukan, lagaknya seperti bocah berbuat salah dan

sembunyi di belakang ibunya takut dihajar ayah nya, tingkah

lakunya memang lucu dan menggelikan.

Begitu kedua Hwesio pemabukan dan Hwesio gila ini

muncul, Cui-hun jiu yang biasanya bersikap kaku ketus dan

dingin, tanpa terasa ikut tersenyum senang, karena dia tahu

kedua orang ini adalah padri sakti yang sudah sejak lama

keluyuran di dunia Kangouw dengan tingkah polanya yang

kocak, bicara soal Kungfu kedua orang ini jelas tidak dlbawah

bekal kepandaian yang dimilikinya sekarang.

Kini tiga rombongan orang sudah berada dalam ruang

sembahyang semua, sinenek Hu yong berada disebelah kanan

pintu biara, sementara kedua Hwesio pemabukan dan gila

berada disebelah kiri, sedangkan Jik-hwat-ling-koan Cau HwaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

46

ong berdiri didepan patung pemujaan, kebetulan posisi

mereka secara tidak langsung mengepung It-ci-sin-mo Lamjan

dan Pak-koat.

Jangan kata angkat kepala, ketiga gembong iblis ini

ternyata melirikpun tidak, seolah-olah mereka tidak merasakan

kehadiran orang lain, akhirnya Pak-koat yang terkekeh seram,

katanya : ”Lekas katakan, bukankah kalian ingin merebut

benda di atas lantai ini ?”

Si nenek Hu-yong mengetuk ujung tongkatnya kelantai,

serunya : „Cuh, memangnya siapa kepingin benda macam apa

yang kalian rebutkan itu, soalnya kudengar kalian tiga

bangkotan yang tidak mau mampus ini sudah bertarung

selama tujuh puluh tahun tanpa ada penyelesaian, hal ini

menarik perhatiaa aku si nenek ini, maka ingin aku

menyaksikan.”

”Hm, ya dapat dimaklumi.” seru Lam-jan tanpa angkat

kepala.

It-ci-sin-mo segera buka suara „Cau Hwa-ong untuk apa

kau kemari ?”

Memangnya hati Jit-hwat-ling-koan sudah tidak senang

karena merasa diremehkan, segera dia menyeringai dingin,

jengeknya : „Toyu senang kemana boleh kemana,

memangnya siapa berani melarang aku ?”

Belum habis dia bicara It-ci-sin-mo sudah terloroh-loroh

sambil menengadah, namun rona mukanya berubah sadis

penuh nafsu membunuh, desisnya tegas : „Ada suatu tempat

yang menyenangkan, apa kau suka ke sana ?”

„Tempat apa?” sembari balas bertanya Jik-hwat-ling-koan

mengebaskan lengan jubahnya, berbareng kakinya menyurut

mundur dua kaki, kedua tangan tersilang didepan dada, hawa

murni sudah terkerahkan.

47

It-ci-sin-mo masih tetap bersimpuh membelakangi dia,

seperti tidak acuh dan tidak ambil perhatian, suaranya yang

dingin terdengar menyeram kan sambil ditarik panjang :

“Akhirat” tepat pada suku kata ’rat’ mendadak tangannya

terangkat menuding kebelakang.

Jik-hwat-ling koan terhitung jago kosen yang top dalam

Bulim pada masa kini, apalagi sebelumnya dia sudah siap

siaga, begitu melihat lengan It-ci-sin-mo bergerak, diapun

membarengi dengan sebuah hardikan, Jik-yam-ciang yang dia

banggakan pun sekaligus dia lontarkan sepenuh tenaga.

Ditengah deru kencang, hawa dalam ruangan pemujaan

seperti bergolak dan meledak, seperti hembusan hawa panas

dimusim rontok yang mengeringkan kehidupan alam semesta,

berderai keempat penjuru, lampu kaca yang tergantung

ditengah ruanganpun tampak bergoyang dan menjadi guram

hampir padam.

Cui-hun-jiu duduk diatas lampu kaca, ditempat ketinggian,

namun diapun merasakan sampokan keras dari hawa panas

yang bergolak ini, sehingga napasnya terasa sesak. Tapi

kejadian selanjutnya sungguh sukar diikuti dengan pandangan

mata, terdengar suara yang amat jelas seperti sesuatu benda

runcing yang menusuk amblas kebadan orang di susul suara

jeritan yang menyayat hati.

Begitu pandangan Cui-hun-jiu beralih kearah Jik hwat-lingkoan,

melihat apa yang telah terjadi seketika hati kejut mata

melotot, jago kosen nomor dua dari Thian-te-hwe yang

berkedudukan sebagai Thian-tam Tamcu ini, kini sudah

menggeletak celentang, dadanya bolong sebesar mulut

cangkir arak darah tampak menyembur keluar.

Waktu dia menoleh pula kearah It-ci-sin-mo, orang Ini

tetap duduk bersimpuh seperti tidak pernah terjadi apa-apa,

badan tidak bergeming sama sekali, cuma wajahnya saja yang

kelihatan menyeringai puas dan sadis. Tudingan jari It-ci-sinTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

48

mo dengan gerakan seenaknya itu, memang tidak malu dia

dijuluki It-ci-sin-mo (iblis sakti berjari tunggal).

”Siang It-bin,” jengek Hu-yong si nenek keriput

„memangnya kau hendak pamer dihadapanku?”

Yong-ji menjerit kaget dan lekas berpaling, serunya :

„Nenek, sungguh mengerikan, jari-jari tangannya yang runcing

halus mengelus dada, sikap nya yang aleman sungguh

menimbulkan rasa kasihan dan sayang.”

Pada saat yang sama Hwesio pemabukan menanggalkan

sebuah buli-buli dari pinggangnya terus menenggaknya

seteguk sambil melirik dengan sorot pandangan ngantuk.

Sementara Hwesio gila yang sembunyi dibelakangnya tiba-tiba

menjerit sekali terus putar tubuh lari mencawat ekor. Tapi

kedua tangannya menarik dan menyempitkan jubahnya, mana

dapat dia lari kencang, lekas Hwesio pemabukan ulur tangan

menjambretnya, telak dia mencengkrak kuduk jubah orang

serta menyeretnya balik, serunya „Sahabat baikku, jangan

kau lari.!’

Hwesio gila seketika mewek-mewek seperti hampir

menangis, suaranya serak dan keras : „Kakek setan kecil,

jangan kau pegang aku. Selama hidup aku Hwesio gila tidak

pernah berbuat jahat atau salah, hanya sekali aku kencing dan

ku suguhkan kepada Suhu sebagai arak minuman, ya ampun,

ampun, lain kali aku tidak berani lagi.”

Pak-koat mendengus kereng, serunya : „Hwesio jangan

kalian pura-pura main sandiwara di sini bukalah matamu

lebar-lebar, siapa dihadapan kalian. Hayo katakan, untuk apa

kalian kemari ?”

Saking ketakutan Hwesio gila goyang kedua tangannya,

mulutpun berteriak dengan suara tergagap: „Jangan salahkan

aku, bukan aku yang ingin kemari, dia……dia inilah…..yang

mengajakku …” mulut bicara sementara tubuhnya menyurut

mundur sambil meronta mundur.

49

Mungkin karena terlampau takut dan ngeri, sehingga kedua

tangannya lupa pada tugasnya semula dan kini digoyanggoyang

naik turun sehingga lupa memegang ujung jubahnya

lagi, diluar tahunya begitu dia lepas pegangan, belum lagi

bicara habis, pegangan tangan Hwesio pemabukan juga

terlepas! karuan Hwesio gila terhuyung mundur dan akhirnya

jatuh terjengkang dengan kaki tangan mencak-mencak

menghadap keatas terus terguling-guling keluar ruangan

sembahyang.

Memangnya dia mengenakan jubah pendek yang gondrong

lagi, di sana sini koyak dan cual cuil lagi, maka begitu dia

jatuh terjengkang dan terguling, sudah tentu jubahnya itu

tersingkap naik dan kebetulan tubuh bagian bawahnyapun

kelihatan, ternyata memang betul Hwesio gila ini tidak

memakai celana.

„Hiii, nenek.” Yong-ji berteriak ngeri dan malu.

Nenek Hu-yong sedang melotot penuh kewaspadaan

menghadapi ketiga gembong iblis, mendengar jeritan itu,

segera dia menoleh dan diapun sempat melihat adegan lucu

dan memalukan dari s i Hwesio, karuan dia menghardik gusar :

„Hwesio gila, kau ingin mampus.” sekali mengetuk lantai Huyong

koay segera terayun dengan deru kencang, berbareng

tubuhnya menubruk maju, laksana samberan kilat tongkat

kembang itu mengepruk batok kepala. Saat itu Hwesio

pemabukan juga sudah memburu keluar dengan langkah

gentayangan seperti hendak menolong kawannya, baru saja

dia membungkuk sambil ulur tangan hendak memapah Hwesio

Gila, begitu mendengar deru samberan bagai kilat ini, saking

kaget lekas dia mengkeretkan kepala, berbareng dia

menjengkang kebelakang, dari mulutnya kontan menyembur

keluar sekumur arak, bagai laksaan bintik-bintik bintang

bertebaran, semburan arak dari mulutnya ini ternyata

mengeluarkan suara mendesis ramai seperti hujan lebat.

50

Betapa tinggi Lwekang nenek Hu-yong, sekedar

menggentak tongkatnya itu tahu-tahu bergetar keempat

penjuru, sehingga semburan butiran arak yang bertebaran itu

seluruhnya ditangkisnya, tapi dia sendiri tidak berhenti dengan

gerakan langkah dan tongkatnya, tongkat bergerak mengikuti

gerak badan nya, ditengah tebaran butiran arak itu, kembali

tongkatnya sudah menyapu lurus dari kanan kekiri mengincar

batok kepala kedua Hwesio Jenaka itu.

„Sudahlah nenek, jangan kau berkelahi dengan mereka.”

demikian teriak gadis juita itu seraya memburu keluar,

gerakannya ternyata amat gesit dan lincah. Ternyata sapuan

tongkat nenek Hu-yon tidak berhasil melukai kedua Hwesio

Jenaka, itu, ”Biang” tongkatnya menggempur hancur saka

batu disamping pintu sehingga debu beterbangan.

Melihat adegan lucu ini, tak tertahan ketiga gembong iblis

itu jadi bergelak tertawa. Ditengah gelak tawa ketiga

gembong iblis itulah, tiba-tiba kuping nenek Hu-yong

mendengar suara orang berbisik: „Locianpwe, biarkan kedua

Hwesio itu lari.” suara lirih seperti bunyi nyamuk.

Sekilas nenek Hu-yong melenggong, sementara Hwesio gila

sudah berguling beberapa kali terus melompat bangun serta

lari keluar.

Hwesio pemabukan segera berteriak: „Hai, sahahatku,

jangan kau lari.”

Hwesio gila berpaling sambil menyengir kearah nenek Huyong:

„Mana boleh tidak lari, nenek itu amat galak.”

Hwesio pemabukan ulur jari2 tangannya seperti hendak

mencengkram, sementara langkahnya gentayangan mirip

orang mabuk, yang betul dia mengunakan langkah Cui-patsian,

sementara mulutnya berkaok kaok: „Tapi urusan kita di

sinikan belum selesai?”

„Peduli amat, setan arak, kalau ingin mampus boleh kau

tinggal di sini.” demikian seru Hwesio gila, yang satu lari yang

51

lain mengejar, sekejap saja mereka sudah lompat keatas

tembok terus melambung keluar.

Tergerak hati nenek Hu-yong, mendadak dia mengetuk

tongkat diatas tanah, tubuhnya segera melambung keluar pula

seraya menghardik: „ Yong-ji. hayo kejar.” rambutnya yang

putih ubanan tampak melambai, disusul bayangan putih yang

meluncur seringan burung walet, cepat sekali kedua bayangan

mereka mengejar kencang kearah kedua Hwesio Jenaka tadi

menghilang

Setelah bayangan kedua nenek dan cucu itu lenyap dibalik

tembok baru terdengar Pak koat Liu Ji-hwi membentak seraya

melompat berdiri. Kiranya karena adegan lucu si Hwesio gila

tadi, sehingga mereka terlalu asyik menonton, setelah

keempat orang itu lenyap dari pandangan baru mereka sadar

bahwa mereka memang sengaja main main untuk cari

kesempatan melarikan diri.

Begitu Pak-koat melompat berdiri, Lam-jan segera tertawa

kering, katanya: „Tosu tua, untuk apa kau mengejar,

memangnya kau juga ingin meniru orang bermain joget kera?

Untuk mencari mereka, bukan soal sulit, waktu masih panjang,

kenapa harus malam ini?”

Pak-koat mendengus hidung, namun dia urungkan niatnya

serta membalik tubuh.

It-ci-sin-mo tertawa besar, katanya: „Seng loji agaknya kau

belum melupakan cinta masa muda, kenyataan kau masih

membelanya.”

”Memangnya?” Lam-jan berseloroh, „kalau kau jeri

mejghadapi Thian-te-hwe, biarlah sakit hatimu itu aku orang

tua yang menimpali kelak.”

„Hm. orang orang ini semua berani mati,” demikian dengus

Pak-koat, „berani mereka mengincar benda ini, hm.”

52

Per-lahan lahan It-ci-sin-mo berdiri, katanya tetap tertawa:

”Sudahlah. Kalau Seng loji sudah buka mulut, buat apa banyak

bicara. Marilah kita kerjakan tugas kita yang penting,” lalu dia

ulur tangan menyingkap kain penutup nampan kayu.

Cui-hun-jiu memperhatikan dari atas, dalam nampan kayu

itu terletak sebuah kotak besi yang bersih dan mungil, kotak

besi ini berukir dan mengkilap, pada bagian tertentu tampak

disegel.

„Boleh kalian periksa” demikian kata It-ci-sin-mo, „apakah

aku Siang It-bin menepati janji dan tugas, belum pernah aku

membuka dan mencuri lihat isinya.”

„Sejak sekarang menjadi giliran Seng loji yang harus

menyimpan kotak ini, namun perlu kuperingatkan, karena kali

ini bukan lagi janji terbatas, maka kotak Ini harus selalu kau

gembol kemanapun kau berada, siapa yang menang harus

segera kau serahkan kepadanya, jikalau terjadi sesuatu,

putusan semula harus tetap kita pegang teguh, kita anggap

kau sengaja mencuri dan ingin mengangkanginya sendiri,

pada waktu itu, jangan kau menyesal bila kami bergabung

untuk menggasakmu.”

Lam-jan tertawa kering, pelan-pelan dia bungkus kotak besi

itu dengan kain sutra terus di simpan kedalam baju, katanya,

„Marilah pasti beres, kukira belum ada orang yang punya nyali

sebesar itu, berani mengusik sesuatu benda yang berada

dalam simpananku.”

Habis bicara, tubuh ketiga orang tampak sedikit bergeming,

tahu-tahu bayangan dan jejak merekapun telah menghilang.

Melihat betapa hebat gerak tubuh ketiga gembong iblis yang

betul betul luar biasa ini , sampaipun dia yang menyaksikan

dengan mata mendelongpun tidak melihat jelas cara

bagaimana mereka berlalu, namun orang akhirnya pergi tanpa

memergoki dirinya, terhitung lega juga hatinya, sekali angkat

pundak, wajahnya yang membeku tersenyum kaku, pikirnya ,

„Begitupun baik, kalau aku tidak mengerahkan Liok meh-sinTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

53

kang, sehingga dapat menghentikan pernapasan dalam jangka

lama, mungkin jejak sembunyinya diatas pigurapun takkan

dapat mengelabuinya ketiga gembong iblis lihay itu. paling

tidak dirinya akan terlibat dalam kesulitan, Maklum,

memangnya apa perlunya dirinya harus terlibat dalam

pertikaian dengan ketiga gembong iblis itu.” Dengan ringan

dia segera melayang turun, sekilas dia melirik pandang kearah

mayat Jik-hwat-ling-koan Cau Hwa-hong, dengan senyum

puas dan congkak secepat terbang dlapun melayang keluar

biara.

Tapi waktu kakinya hinggap diundakan batu, entah

mengapa mendadak dia menghentikan langkah, entah kenapa,

perasaannya seperti tidak tenang, pikirannya tidak

terkonsentrasi, bagi dia, hal ini seperti jarang terjadi. Urusan

penting, atau persoalan besar apapun selamanya tiada yang

pernah membuat hatinya jera dan tegang, selama hayat

dikandung badan ini belum pernah bayangan seorang terukir

didalam benaknya, namun malam ini .

Mendadak dia menemukan sebuah bayangan yang mondarmandir

dalam benaknya, bayangan yang memiliki alis

melengkung bak bulan sabit, sepasang mata bundar besar nan

jeli seakan dapat menyedot sukma, sinarnya yang cemerlang

bak bintang kejora, hidungnya mancung menaungi sepasang

bibir yang mungil kecil dan merah seperti delima merekah,

mulut yang molek ini selalu mengulum senyum manis,

sehingga terciptalah sepasang lesung pipit yang mempesona.

pinggang nya ramping perawakan semampai, kulitnya halus

putih bak salju.

Yang paling menonjol dan memberikan kesan paling

mendalam dari bayangan itu adalah sepasang lesung pipitnya,

dia geleng-geleng kepala berkeluh kesah seorang diri, namun

bayangan itu tak kuasa dia lenyapkan begitu saja. Tanpa

tujuan kakinya beranjak pelan-pelan tanpa terasa. Mendadak

tubuhnya bergetar, tanpa terasa dia tertawa geli sendiri,

54

gumamnya : „Orang bilang kau ini Tok-hu. She Ling (dingin)

bernama Ji ping (seperti es) pula, tapi sekarang kau……ai.”

Setelah menghela napas, sikap dan mimik muka Cui-hun-jiu

kembali berubah kaku dingin dan angkuh, pelan-pelan dia

membalik tubuh dan dikala kakinya hendak melangkah kearah

loteng di mana tadi suara lonceng berbunyi.

„Jangan pergi sahabat.” dari tempat gelap sana mendadak

kumandang suara orang.

Sigap sekali Cui-hun-jiuu membalik tubuh ke arah

datangnya suara, ujung mulutnya menjengkit, katanya ketus:

„Selamat bertemu sahabat di tempat gelap.”

Sinar dingin tampak berkelebat ditengah kesiurnya tiga

deru angin, dari arah kiri yang gelap sana mendadak

melompat keluar tiga orang yang masing-masing menenteng

pedang, begitu kaki menginjak bumi sekaligus mereka sudah

menempati tiga sasaran arah, hanya arah yang menuju

kepintu biara saja yang tidak terhalang.

Jangan kata menengok melirikpun Ling Ji-ping tidak

hiraukan kepada tiga orang yang muncul mendadak Ini,

dengan langkah enteng dia turuni undakan sambil kepala

menengadah mengawasi langit nan remang-remang dibawah

penerangan bulan sabit.

Begitu muncul ketiga orang-orang itu lantas melintangkan

pedang didepan dada siap siaga, laki-laki berewok yang berdiri

didepan terdengar ngakak, serunya: „Hai, kenapa kau ada di

sini”

Perlahan-lahan Ling Ji-ping menurunkan kepalanya. dengan

tak acuh dia melirik ketiga orang, ujarnya santai : „Menikmati

terang bulan.”

„Menikmati terang bulan apa?” jengek laki-laki sebelah kiri,

tampak Thay-yang-hiat menonjol keluar, „Jangan saudara

pura-pura pikun, malam ini di sini bukan tempatnya untuk

55

menikmati terang bulan, juga bukan saatnya untuk menikmati

terang bulan, tahu ?”

”Apa iya ?”

Laki laki disebelah kanan menggetar pergelangan

tangannya, pedang ditangannya seketika berdering nyaring

bagai pekik naga, katanya terkekeh: „Mata kaum persilatan

jangan kau anggap mudah kelilipan. saudara, memangnya kau

ingin ngapusi kami ? Atau sengaja mau menghina dan

meremehkan kita ?”

Seperti tertawa tidak tertawa Ling Ji-ping berkata ”Kalau

demikian kalian bertiga boleh menebaknya.”

Laki-laki brewok ditengah dan berada didepan Ling,Ji-ping

tertawa lebar, katanya: „Kulihat tampang anak muda yang

serba rudin ini tak ubah nya kaum gelandangan yang kerjanya

cuma suka ngibul belaka dan kebetulan keluntungan kemari,

Samte, memangnya kau kira dia s iapa.”

Laki-laki yang Thay-yang-hiatnya menonjol sejak tadi

menatap Ling-Jiping dengan pandangan tajam, akhirnya dia

mendengus keras, katunya. „Kau she apa dan bernama apa ? ‘

Sesuai namanya Ling Ji-ping atau dingin bagai es, Ling Jiping

tertawa tawa, katanya: „Nama seorang gelandangan

emangnya setimpal kusebut dan kuperkenalkan dihadapan

kalian bertiga?”

”Lekas katakan.” hardik laki-laki bermata tunggal, „kalau

berani ngibul, jangan kau salahkan bila Ka-ling-sam-kian tidak

memberi muka kepadamu.”

„Ka-ling-sam-kiam ?” dengan mimik aneh Ling Ji-piug

tertawa, dalam hati dia membatin: „Eh, agaknya dagangan

masuk pintu tanpa dicari, ya, apa boleh buat, demi

mempermainkan mereka biarlah sekali lagi aku membuang

selembar undanganku, tapi bahwa ketiga gentong nasi ini

harus mampus setelah menerima undanganku, terhitung tidak

56

sia-sia mereka hidup selama Ini.” maka dia lalu berkata: „O,

sungguh mengagumkan, sudah lama kukenal nama besar

kalian, kiranya tiga ahli pedang terbesar pada jaman ini. aku

tahu kalian adalah pentolan-pentolan Thia-te-hwe yang

berkuasa didaerah sini. suigguh maaf bila mataku tidak bisa

menilai orang. Selamat bertemu, selamat bertemu.”

Laki-laki brewok tertawa bingar, katanya meml busung

dada: „Asal kau tahu saja.”

Ling Ji-ping berkata: „Terhadap jago-jago pedang ternama

seperti kaliau, adalah jamak kalau Cayhe menghadap sambil

menyampaikan kartu nama.” sembari bicara dengan laku yang

santai dia merogoh keluar segulung kertas dari balik bajunya,

perlahan-lahan tangannya membuka gulungan itu, lalu dengan

laku hormat yang dibuatl buat dia angsurkan kehadapan lakilaki

brewok.

Ling Ji-ping berpendapat, laki-laki brewok ini usianya lebih

tua, pastilah dia pemimpin tiga jago pedang ini. Dugaannya

memang tidak meleset, laki-laki brewok ini adalah Cui-hongkiam

Go Giok, atau pemimpin dari Sam-kian, biasa dipanggil

Lotoa.

Dengan tetap membusung dada dan mulut menjengek

serta hidung mendengus Go Giok uluri tangan kiri menerima

kartu itu, tak nyana begitu dia menunduk melihat kartu itu,

seketika dia berjingkat seperti disengat kala, kartu terbuang

malah pedang yang dipegangpun jatuh berkerontangan,

badan dan suaranya gemetar : Cui hun tiap ……kau. adalah

…. ”

Mendengar saig engkoh menyebut nama Cui hun tiap

dengan ketakutan karuan Loji dan Losam dari ketiga jago

pedang ini seperti kena setrom pula, badannya bergetar, bagai

orang gila serempak mereka menubruk kedekat Go Giok,

pandanganhya nanar mengawasi kartu ditangan engkohnya.

57

Itulah secarik kartu warna hitam panjang tiga dim dan

lebar dua dim, tepat ditengah kertas hitam itu berlukiskan

tengkorak dengan dua tulang bersilang, apalagi kalau bukan

Cui-hun-tiap (undangan mengejar sukma) seperti yang tersiar

luas dikalangan Bulim.

„Trang, trang.” pedang ditangan kedua orang inipun jatuh

ketanah, Agak lama kemudian baru ketiga orang ini berhasil

menguasai diri, namun sorot matanya pudar dan serempak

angkat kepala memandang kearah muka Ling Ji-ping.

Sikap Ling Ji-ping sekarang justeru berubah aneh, lekas dia

bersoja dengan merangkap ke dua tangan, katanya:

”Kuhaturkan selamat pada kalian, bertiga, maaf bila Ling Ji

ping berlaku kurang hormat, masa tiga jago pedang

kenamaan hanya disambut dengan secarik kertas undangan

belaka.”

Padahal sikap Ling Ji-ping ramah dan bicara sambil

tersenyum, namun setiap patah katanya bagai gledek bagi

pendengar ketiga orang ini. rasa ketakutan yang menjadikan

mereka linglung tadi kini seketika sadar oleh ucapan Ling Ji

ping, serempak mereka membungkuk badan memungut

pedang masing-masing, secepat kilat mereka terus mundur

setombak lebih.

Ling Ji-ping tetap tidak bergeming ditempat nya, ujung

mulutnya malah mengulum senyum sadis, katanya: „Para

jago-jago pedang, memang nya kalian menyalahkan prilakuku

yang kurang hormat ini?”

Laki-laki yang pelipisnya menonjol itu berjuluk It-ci-kiam Go

Bing, wataknya lebih pemberani dan tabah menghadapi

persoalan pelik apapun, mendadak dia membusung dada serta

bertanya: ”Apa betul tuan ini Cui-hun-jiu ?”

Tetap mengulum senyum namun senyum yang dingin, Ling

Ji-ping berkata: „Tidak berani, itulah pujian para kawan

kepadaku.”

58

Laki-laki mata tunggal itu berjuluk Pat-kwa. kiam Go Seng,

mata tunggalnya mendelong mengawasi Ling Ji-ping,

mendadak dia ikut menimbrung dengan suara berat: „Kalau

betul tuan adanya, kita kan tidak pernah bermusuhan.”

”Hal ini memang betul,” ucap Ling Ji-ping sambil

mengangguk, „kalau tadi kalian tidak main bentak dan memaki

orang, aku tidak akan tahu kalau kalian adalah jago-jago

pemberani dari Thian-te-hwe, aku orang she Ling Juga tidak

akan memberi undangan pengejar sukma itu. Ketahui lah, Ling

Ji-ping sudah menegakan suatu peraturan, bila undangan

sudah kuserahkan dan diterima, selamanya tak pernah kutarik

kembali.”

Baru sekarang Cui-hong-klam Go Giok dapat menghela

napas lega, namun pedang ditangan nya itu masih kelihatan

gemetar, katanya: ”Kami bertiga jelas bukan tandinganmu,

tapi pimpinan kita Jik-hwat-ling-koan Cay-tamcu hari ini. .”

Belum habis bicara mendadak Ling Ji-ping memutus

dengan tawa gelak-gelak, katanya ; ”Memangnya kenapa

dengan Cay-tamcu kalian.” lalu dia menuding kedalam biara,

mulutnya menyeringai dengan senyum sinis dan menghina,

„sekarang dia masih ada diruang sembahyang, kalau kalian

ingin menonjolkan dia untuk melawan aku, baiklah aku tunggu

dia di sini.” habis bicara dia mengendong kedua tangan,

kembali kepalanya mendongak mengawasi mega bergerak

diatas langit, tanpa hiraukan Ketiga orang dihadapannya lagi.

Ka-ling sam-kiam saling pandang sekejap , bayangan

mereka tanpa berjanji secepat kilat serentak menubruk kearah

pintu biara. Dikala mereka menyaksikan mayat Jik-hwat-lingkoan

Cau Hwa-hong yang celentang kaku ditengah ruang

sembahyang, sebat sekali mereka membalik tubuh, dengan

gerungan murka tiga pedang ditangan mereka merabu bagai

bianglala ke arah Ling Ji-ping.

59

Tiga batang pedang yang kemilau dingin dalam waktu yang

sama tahu-tahu sudah mengancam dipungguug Ling Ji-ping,

namun dia seperti tidak menyadarai bahaya yang tengah

mengancam jiwa nya ini, mulut malah senandung

membawakan syair-syair yang memujikan keindahan bulan

purnama. Dikala tiga pedang masih terpaut dua tiga dim

dibelakang punggungnya itulah baru kelihatan ling Ji ping

menggerakkan pundak, berbareng mulut bersuit aneh, tanpa

menoleh kedua tangan terayun kebelakang.

Ginkang It-ci-kiam lebih unggul, gerakannya lebih cepat,

entah kenapa bila ujung pedangnya sudah hampir mengenai

kulit daging Ling Ji-ping, tahu-tahu pedangnya telah terjepit

diantara ke dua jari tangan orang, sebat sekali kakinya

berkisar lima langkah sehingga It-ci-kiam Go Bing terseret

maju dengan langkah sempoyongan.

„Cles” itulah suara tusukan, ternyata pedang Pat-kwa-kian

Go Seng yang menyerang ketiak kiri Ling Ji-ping sudah

bersaran dipunggung It-ci-kiam Go Bing, padahal gerak

tusukan ini amat cepat dan keras sehingga tubuh Go Bing ikut

terdorong kedepan, ujung pedang tembus kedepan dada,

darahpun menyembur dari depan dan belakang, kontan

tubuhnya terperosok jatuh dan terpantek di tanah.

Mimpipun Go Seng tidak menyangka bahwa tusukan

pedang sendiri bakal membunuh sang Jiko, bila dia menyadari

apa yang telah terjadi, untuk menarik tenaga dan

mengendalikan pedang sudah terlambat, saking kaget dia

sampai lupa mencabut pedang serta melepas pegangan terus

mundur kebelakang.

Tapi belum dia sempat pernahkah diri, selarik sinar dingin

tahu-tahu sudah mengancam dada, jangan kata mau berkelit,

hakikatnya dia tidak melihat jelas barang apa yang

menyambar kearah dirinya, tahu-tahu pedang panjang yang

meluncur itu sudah tembus ke dadanya.

60

Langkah Ling Ji-ping seperti muncul dipermukaan salju,

melontar pedang sambil memutar tubuh, Cui-hong-kiam Go

Giok seperti kabur pandangannya, tahu-tanu pedang panjang

ditangan sendiri sudah lenyap tak karuan parannya, secara

reflek dia berusaha menghindar kebelakang. maka

didengarnya suara Ling Ji-ping berkata dengan tertawa:

,.Pergilah susul saudaramu, apa artinya kau hidup seorang

diri didunia fana ini. belum habis kata-kata orang tahu-tahu Go

Giok rasakan dadanya dingin tembus kepunggung, ternyata

pedang sendiri sudah amblas kedalam tubuhnya.

Memang tidak malu dijuluki Cui-hun-jiu (tangan mengejar

sukma), gerak tubuh, gerak tangan serta gerak langkah

ternyata sudah mencapai taraf yang sempurna, hanya sekedar

angkat tangan dan menggerakkan kaki, sekaligus tiga jiwa

manusia telah ditamatkan oleh senjata sendiri alias senjata

makan tuan.

Begitu tiga mayat terkapar diatas tanah, Ling Ji-ping masih

berdiri santai sambil menggendong kedua tangan, seolah-olah

barusan tiada terjadi apa-apa. Tiga mayat menggeletak

ditanah dengan genangan darah yang berbau amis me

muakkan, padahal semua ini adalah buah karya oerauda yang

kel hatun lembut dan cakap ganteng ini. Umumnya orang

sering menikmati buah karyanya sendiri, tapi tidak demikian

dengan Ling i-ping, tanpa melirik kepada mayat-mayat yang

barusan dibunuhnya sambil tersenyum getir dia sudah

beranjak mau tinggal pergi.

Mendadak sebuah helaan napas lirih kumandang dari luar

tembok disebelah kanan, karuan Ling Ji-ping tersirap kaget,

bentaknya: „Siapa ?” belum lenyap suaranya, tubuhnya sudah

melambung ke sana terbang melampaui tembok, namun

matanya yang jeli menyapu pandang sekelilingnya tanpa

menemukan sasaran yang diharapkan, bulan sabit masih

bercokol dicakrawala, namun diluar tidak kelihatan bayangan

manusia.

61

Agaknya dia seperti merasakan suatu firasat, tanpa terasa

dia tertawa angkuh, sifat ogahnya kembali membekali

sanubariiya, tidak kelihatan bagaimana dia bergerak tahu-tahu

tubuhnya sudah melambung beberapa tombak, bayangannya

seperti selarik sinar putih kemilau ditimpah cahaya bulan

redup, arah tujuannya adalah loteng kecil dari mana tadi suara

lonceng bertalu-talu.

Loteng di mana lonceng itu digantung dalam Thian-su-tong

ini adalah disebelah kanan adalah tepat kalau tempat itu

dinamakan gardu, Setelah melewati ruang sembahyang besar

selintas pandang Ling Ji-ping lantas melihat sebuah lonceng

besar ukuran raksasa yang tergantung ditengah pucuk gardu

yang tinggi, di s ini suasana su nyi dan tiada bayangan orang.

Dengan penuh perhatian dia mengitari gardu, namun tiada

sesuatu yang dia temukan, maka dari tempatnya berdiri, dia

menjentikan jari tangannya ‘”Tang” lonceng itu seketika

berbunyi seperti di pukul palu, dengan seksama dia dengarkan

gema suaranya, kini dia semakin yakin bahwa gelombang

suara lonceng di sini jelas tak berbeda dengan gema lonceng

yang beberapa kali pernah didengar nya.

Kini dia tinggal memeriksa dan mencari tahu siapa-siapa

para Tosu penghuni biara ini, namun tadi dia sudah

memeriksa setia pelosok, namun bayangan seorangpun tidak

kelihatan. Dia jadi bingung dan curiga, kala senja menjelang

tadi dia pernah melihat seorang Tosu menggantung lampion di

emper biara, menjelang tengah malam, diapun dengar gema

lonceng di sini, itu berarti ada orang yang membunyikan

lonceng ini, apalagi biara ini tempat suci, jelas pasti dihuni

orang dan dikepalai seorang beribadat, tapi kenyataan

sekarang dia tidak menemukan seorangpun di s ini, bagaimana

hal ini bisa terjadi ?

Karena tidak berhasil dengan penyelidikannya, kembali dia

tertawa dingin seperti biasanya, sekali berkelebat, dia berlari

keluar biara malah.

62

Hari kedua pagi-pagi benar, seorang pemuda gelandangan

tampak berada disebuah warung minuman sedang menikmati

secangkir teh panas, penuh perhatian matanya mengawasi

orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya, duduknya

menyendiri dan sikapnya yang kesepian kelihatan bahwa dia

seorang pelajar yang gagal masuk ujian, karena malu pulang

kampung halaman, sehingga keluyuran dan jadi kaum

gelandangan.

Pemuda ini tidak membawa apa-apa, pakaian nya agak

kumal lagi, diam-diam pelayan warung kuatir bila pemuda ini

tak mampu membayar uang teh yang diminumnya itu, kuatir

orang ngacir sebelum bayar, sengaja dia mengawasinya

dengan penuh perhatian.

Pakaian butut dan sikapnya memang seperti kelelahan,

namun rona muka si pemuda tampak segar, ujung mulutnya

sering mengulum secercah senyum keangkuhan yang

menandakan kekerasan hatinya.

Siapakah dia ? Bukan lain adalah Cui-hun-jiu Ling Ji-ping

yang namanya sudah menggetarkan kalangan Bulim. Tenangtenang

dia menikmati teh, sambil mengawasi orang-orang

yang berlalu lalang, agaknya dia sedang menunggu orang, lalu

siapakah yang ditunggunya ? Sebetulnya dia sendiri juga tidak

jelas, namun dari pengalaman dia yakin dan berani

berkepastian, hari ini di Giok-tiap-koan yang merupakan jalan

utama untuk keluar masuk keatas gunung, pasti akan ada

orang yang lewat.

Berjam-jam telah berselang, tanpa terasa hari sudah

menjelang lohor. Lambat laun tampak sikap kecewanya,

karena dalam jangka beberapa jam ini, yang dia saksikan

lewat dijalan raya hanyalah orang-orang gunung atau petani

yang sibuk dengan pekerjaannya, orang-orang yang dia ingin

kan justeru tiada satupun yang kelihatan.

Akhirnya dia menggeliat keletihan, setelah menguap sekali

dia.habiskan lagi satu cangkir teh, semalam boleh dikata

63

matanya tidak pernah terpejam, padahal masih ada beberapa

kejap sebelum matahari terbit dia bisa samadi atau mencari

tempat untuk tidur, namun perasaannya tak bisa tentram,

banyak persoalan memburu semangatnya untuk bertahan

melek, banyak urusan yang sepan jang waktu ini tak kuasa dia

pecahkan, sudah tentu ini termasuk bayangan molek yang

masih selalu menggelitik benaknya, sehingga dia tidak kuasa

memejamkan mata.

Sejak pagi tadi, sebelum warung teh ini membuka

dasarannya dia sudah mampir di sini dan reinta air teh hangat,

maka setelah menjelang lohor, dia betul-betul merasa penat,

sambil duduk kepalanya tertunduk hampir tak kuasa lagi dia

menahan rasa ngantuk.

Mendadak.dia tersentak sadar dan semangat nya seketika

berkobar, apa yang dia tunggu akhir nya datang juga, namun

dia pura-pura menepekur. namun matanya melirik keluar.

Kebetulan orang yang dia perhatikan juga memasuki warung

ini. Pelayan memburu keluar menyambutnya, dengan unjuk

seri tawa lebar dia menyapa: „Toya, selamat pagi.”

Yang datang bukan lain adalah Tosu setengah umur yang

semalam menggantung lampion diluar pintu biara, selintas

pandang terasa oleh Ling Ji-ping bahwa Tosu yang satu ini

sedikitpun tiada perubahan apa-apa: seolah-olah kejadian di

Thian-su-tong semalam hakikatnya tiada terjadi dan tak

pernah dia ketahui.

Tosu itu tertawa, katanya: „Masa masih pagi, hari ini aku

terlambat.”

Pelayan tertawa ujarnya: „Seperti biasa, secangkir teh

jahe.”

Tocu itu geleng kepala, katanya tertawa : „Hari ini aku

tidak minum, ada urusan “

„Tumben kalau dia ada urusan.”* demikian batin Ling Jiping

64

„Ada urusan apa ?” tanya sang pelayan, „kalau sudah biasa

minum, rasanya tentu risi kalau tidak mencicipi barang

seteguk.”

„Sudah biasa minum teh jahe di sini ?” demikian Ling Jiping

bertanya-tanya, “jadi setiap hari Tosu ini sudah biasa

minum teh di warung ini, biasanya dia datang pagi-pagi,

padahal jarak Thian-su-tong ke sini sedikitnya ada dua

tigapuluh li, kalau Tosu ini orang awam, mana dia mampu

menempuh jarak sejak sejauh ini secepat itu ?”

Didengarnya Tosu itu berkata: „Memangnya, kalau urusan

membelit badan, ya apa boleh buat.” lalu dia angsurkan

sebuah buli-buli kepada pelayan, katanya : „Lo-ong, kalau ada

waktu tolong kau isi dua kati arak, kalau pulang nanti akan

kuambil.”

Dengan tertawa lebar pelayan itu sambut buli-buli itu.

waktu si Tosu menoleh kebetulan pandangannya bentrok

dengan tatapan Ling Ji-ping. Agaknya si Tosu sudah siap

melangkah pergi, mendadak dia menghentikan langkahnya,

dengan penuh perhatian dan mimiknya seperti amat heran

dan curiga dia mengawasi Ling Ji-ping

Diam-diam Ling Ji-ping tertawa dalam hati: „Kiranya Tosu

ini cukup berisi juga. sorot mata nya teramat tajam?” bukan

menghindar,dia malah unjuk tawa kearah si Tosu, katanya:

„Toya, sudah lama kita tidak bertemu.”

Tosu itu rnelengak. katanya: ,;Kapan aku pernah bertemu

dengan tuan?”

Ling Ji-ping tertawa, katanya : „Toya banyak urusan jadi

pelupa, suatu kali aku pernah tamasya keatas gunung,

bukankah pernah bertemu di Thian-su-tong ? Haha, kali itu

Toya malah menyuguh hidangan ala kadarnya.”

Thian-su-tong adalah tempat suci bagi kaum Tosu, setiap

pelancongan yang tiba dipegunungan Ceng-seng tiada yang

tidak mampir ke Thian-su-tong. saking banyak pelancongan

65

yang pernah dilayani, sudah tentu si Tosu tidak ingat setiap

orang yang pernah dilihatnya, namun samar-samar dia merasa

memang seperti ada kejadian itu.

Sebelum orang banyak pikir, Ling Ji-ping su dah

menambahkan: „Silakan duduk Toya, sekarang giliranku

mentraktir Toya, barang dua cangkir teh.”

Setiap hari Tosu ini memang pasti datang ke Giok-tiap koan

ini. terutama warung teh ini, setiap hari dia pasti minum di

sini, siapa saja yang suka minum di warung ini sama

dikenalnya dengan baik. Ling Ji-ping masih asing bagi dirinya,

dan yang lebih mencurigakan lagi adalah jubah nya yang

sudah butut dan penuh tambalan ini, jauh berbeda dengan

sikap,tampang dan perawakannya yang gagah, apa lagi

beberapa hari banyak urusan terjadi di sekitar Thian-su-tong.

Jikalau Ling Ji-ping mengenakan pakaian perlente, mirip

pemuda hartawan yang sedang melancong mungkin si Tosu

tidak akan menaruh perhatian padanya, atau sebaliknya bila

dia berpakaian seperti kaum persilatan umumnya, karena

usianya yang masih muda, si Tosu juga tidak akan ketarik

padanya. Tapi dia justru berpakaian rombeng, bagi seorang

pengalaman selintas pandang orang akan tahu bahwa dia

bukan kaum pelajar yang putus sekolah atau kaum

gelandangan umum nya, walau Ling Ji-ping sudah berusaha

menyimpan sorot matanya yang berkilat tajam, namun Tosu

ini cukup ahli juga untuk menilai dirinya, dia tahu bahwa

pemuda ini pasti bukan orang sembarangan. Malah dia sudah

curiga bahwa pemuda ini adalah Cui-hun-jiu Ling Ji-ping yang

sudah biasa malang melintang seorang diri tanpa jejak

menentu, momok yang ditakuti oleh kaum Bulim golongan

hitam.

Baru dua tiga tahun lamanya Ling Ji-ping kelana di

Kangouw, namun setiap insan persilatan sudah jelas akan

pakaian, wajah, sepak terjang, serta hobbynya. gambaran ini

sudah melekat pada sanubari orang-orang yang merasa

66

pernah berbuat Jahat. Umum sudah tahu bahwa Cui Hun-jiu

sepanjang tahun suka mengenakan jubah butut, usia nya

likuran tahun, ajabnya cakap ganteng perawakannya tegap

dan gagah, kalau dia mau mengenakan pakaian yang mewah

dan setimpal, maka sulit untuk mencari tandingan pemuda

yang setampan dan segagah dia dalam kalangan Bulim.

Sebab itulah, selintas pandang tadi si Tosu sudah menaruh

curiga akan dirinya, walau Ling Ji-ping segera menyapa dan

ajak dia bicara, namun rasa curiganya masih belum lenyap.

Pada hal dia masih mengemban tugas penting, maka

dengan tawa lebar dia berkata : „Pinto rnemang suka pelupa,

untuk kali ini harap sicu suka maafkan sembari bicara tanpa

sungkan segera dia menarik kursi duduk dihadapan Ling Jiping.

Kebetulan bagi Ling Ji-ping, segera dia suruh pelayan

nenyuguhkan teh, dengan senyum lebar segera dia tanya lebih

dulu: „Ah, aku sendiri juga pelupa, aku sudah tidak ingat lagi

siapakah nama gelaran Totiang ?”

Sambil menaruh perhatian si Tosu menjawab: „Pinto

bergelar Yu-yen.”

„O, ya benar, tempo hari Totiang juga kasih tahu padaku,

kau adalah penyambut tamu dan penyulut dupa di Thian-sutong

bukan “

Si Tosu lebih percaya lagi bahwa mereka sebelum ini

memang pernah bertemu, kalau tidak bagaimana orang bisa

tahu akan jabatan dirinya didalam Thian-su-tong. Maka

dengan tertawa dia balas bertanya sambil menatap wajah Ling

Ji-ping: Lalu siapakah sicu ini “

„Cayhe she Ling.”

„She Ling ?” berubah roman muka Yu-yen Tojin, hampir

saja dia berjingkrak bangun, namun dia masih kuasa

kendalikan diri.

67

Mulut Ling Ji-ping mengulum senyum keangkuhan, namun

hanya sekilas saja, dengan sikap ramah segera dia berkata

pula: „Totiang, apakah ada yang tidak benar “

”Ah, ti . , . tidak. Siapakah nama sicu ?”

„Hanya satu huruf Jiu saja. Jiu artinya musim rontok.”

Lega hati s i Tosu, dia pura2 berpaling ke arah lain, secepat

kilat lengan bajunya menyeka keringat diatas jidatnya.

Kali ini Ling Ji-ping memang tidak bicara bohong, nama

aslinya memang Ling Jiu. nama Ji-ping sengaja dia gunakan

sejak dia mengembara di kalangan Kangouw. Bahwa hari ini

Ling Ji-ping menyebut nama aslinya memang punya tujuan,

karena Jiu mengandung arti ‘rontok’, merontokkan nyawa atau

membunuh, tapi Jiu itu sendiri pertanda pembunuhan yang

menentu atau pilihan, artinya dia hanya membunuh orang

yang patut dibunuh, ini tidak bertentangan atau melanggar

pantangan dan sepak terjangnya selama ini, malah boleh

dikata serasi dengan nama julukan Cui-hun-jiu.

Sudah tentu si Tosu tidak pernah berpikir sejauh ini.

dengan rasa was2 dia menoleh dan bertanya : „Sicu bukan

penduduk setempat bukan ?”

”Mengembara di Kangouw, empat lautan penjuru adalah

rumahku, jarang aku bicara soal tempat kelahiran dengan

orang lain.”

„O, lalu ada keperluan apa Sicu berada di daerah ini ” si

Tosu memancing pembicaraan.

„Disamping suka mengembara, hobbyku suka bertamasya

pula, keindahan alam Ceng-seng sudah lama kukagumi.”

„Sicu sudah puas bertamasya disini ?”

„Hanya sepintas lalu saja, rasanya belum puas, konon

menjelang musim salju pemandangan alam di Ceng-seng lebih

68

permai dari musim semi, sengaja aku menghemat ongkos,

pikirku ingin memuaskan diri dulu disini.”

Si Tosu tampak melengak.

Mumpung ada kesempatan, Ling Ji ping berkata lebih lanjut

: ,,Ada sebuah permintaan cayhe, entah Totiang suka

membantu tidak ?”

Sejenak ragu2, akhirnya si Tosu berkata ; ”Coba Sicu

katakan.”

„Aku ingin menginap beberapa hari di biara Totiang, supaya

lebih leluasa Cayhe menikmati alam nan permai di sekitar

Thian-su-tong.” lalu ia merogoh sekeping uang perak seberat

dua tahil diletakan didepan si Tojin.

Sudah tentu si Tojin tidak menyangka akan permohonan

Ling Ji-ping ini, jangan kata rasa curiganya semula sirna

seketika, umpama betul dia masih curiga, dalam beberapa hari

ini jeas dia tidak akan boleh menerima tamu, karuan dia

mengunjuk sikap serba susah.

Ling Ji-ping tertawa geli dalam hati, namun mulut sengaja

berkata: „Apa ada kesulitan “

”Beberapa hari ini agak sulit, tak mungkin kami menerima

kehadiran sicu.”

„Memangnya ada urusan apa.” desak Ling Ji-ping.

„Soal ini . . .”

Kini maksud Ling Ji-ping sudah tercapai, dan tutur kata

serta mimik perubahan muka si Tosu dapatlah dia simpulkan

bahwa Tojin dari Thian-su-tong Ini bukan saja pandai Kungfu,

bahwa hal ini sampai terahasia dan tidak diketahui oleh kaum

persilatan umumnya, pasti di balik persoalan Ini ada latar

belakang yang tersembunyi, dari soal ini cukup dapat

disimpulkan, umpama dia tanya lebib lanjut, pasti Tojin ini

tidak akan mau menjelaskan, salah-salah orarg bisa curiga dan

69

bisa membadek asal usul dirinya malah. Maka dengan tertawa

terpaksa dia jemput pula uang peraknya katanya: „Kalau biara

kalian tidak bisa menerima tamu ya apa boleh buat.”

Tosu itu rrenghela rapas lega seperti pesakitan yang

mendapat kebebasan, apa yang di duga Linh-Ji-ping memang

tidak meleset, semula Tojin ini sudah Tidak begitu curiga pada

dirinya, tapi sekarang timbul puta rasa curiganya, bahwa

pemuda gelandangan ini hendak menginap dibiara,

maksudnya mau tamasya? Ataukah ada rencana lainnya yang

tersembunyi ? Namun bila dia teringat, bahwa kabar yang

terrsiar di kalangan Kangouw menggambarkan bahwa Cuihun-

jiu berpakaian begini dan tampangnya begitu, usianya

masih muda tapi dia adalah gembong pembunuh yang tidak

pernah berkedip setelah menyaksikan korbannya

menggeletak, diapun she Ling, mau tidak mau si Tojin jadi

bergidik seram, keringat dingin membasahi gitok, tersipu-sipu

dia mohon diri terus melangkah keluar dengan tergesa gesa.

Mengawasi bayangan si Tojin Ling Ji-ping tertawa kaku dan

dingin, segera diapun meninggalkan warung itu, dikala dia tiba

diambang pintu luar. sekilas matanya melihat seorang gadis

desa yang membungkus kepalanya dengan kain kembang,

separo wajahnyapun tertutup kain panjang yang mengikat

kepalanya, gadis desa ini lewat di depan warung, meski

mukanya tertutup, tapi dari perawakannya yang semampai,

dapatlah dipasti kan bahwa gadis desa ini pasti memiliki seraut

wajah yang jelita.

Ling Ji-ping hanya melirik selintas saja, namun bila dia

sudah tiba dipinggir jalan raya, mendadak didengarnya derap

langkah ramai yang berat, dari langkah yang berat ini

dapatlah_ Ling Ji-ping menyimpulkan bahwa orang yang

datang ini memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang

enteng.

Sekilas dia melengak, tanpa merasa dia angkat kepala

menoleh ke sana, dilihatnya empat laki-laki berlari muncul

70

diujung jalan raya sana, semuanya bertampang kriminil,

bertubuh kekar kulit dagingnya merongkol gede, pelipisnya

menonjol semuanya. Terdengar seorang diantaranya tengah

terkekeh, katanya: ..Hayolah jangan sampai dia terlepas.”

Sudah tentu Ling Ji-ping maklum apa maksud perkataan

laki-laki ini, dinilai dandanan keempat orang ini, dia tahu

bahwa mereka adalah orang-orang dari kalangan hitam, dan

orang yang mereka buru sudah pasti adalah gadis desa yang

barusan lewat didepannya. Apa boleh buat Ling Ji-ping angkat

kedua pundaknya, mulutnya mengulum senyuman sadis,

pikirnya . „Empat keparat yang mampus mati juga, ah nasibku

mujur hari ini.” maka dia menghentikan langkah menunggu

keempat orang itu lewat lalu menguntitnya dari kejauhan

menuju kebarat.

Kuntit menguntit itu terus berlangsung sam pai keluar kota

sebelah barat, jalan raya di sini langsung menuju ke Cengseng-

san, dari kejauhan tampak gadis desa itu kini sudah tiba

dijembatan gantung yang terbuat dari bambu tergantung ini

panjangnya ada enam puluhan tombak, bila ada orang

berjalan di atas jembatan itu akan bergoyang-goyang, apalagi

kalau ada angin kencang, rasanya seperti diombang ambing.

Terdengar empat laki-laki itu bergelak tertawa, kini mereka

mempercepat langkah, bagai burung elang, dua dianlaranya

sudah melompat tinggi melampaui kedepan si gadis desa serta

rnengadang didepannya, sementara dua laki-laki yang lain

berdiri dlujung jembatan sambil memeluk dada.

Dengan kalem Ling Ji-ping mendekati, secercah senyuman

beku menghias wajahnya, batinnya: ”Ah, tempat ini amat

bagus, pandai juga mereka memilih tempat.”

Bahwa dua orang tiba-tiba anjlok turun didepan nya, sudah

tentu gadis desa itu kaget setengah mati, dengan menjerit

cepat dia menyurut mundur terus berputar badan hendak lari

balik. Tapi seketiica dia terpukau ketakutan pula bila dilinatnya

dua laki-laki yang lain sudah mencegat jalan mundurnya,

71

tanpa sadar dia menyurut mundur pula. Dua laki laki yang

semula berada di depan dan sekarang mengadang di belakang

terkial-kial kesenangan, kata salah seorang : ‘Hai,genduk ayu,

tak usah takut. Tuan-tuan besar ini sama suka padamu.”

Kembali sigadis desa berjingkat kaget serta membalik

tubuh lagi. tampak seorang laki yang lain sudah mengulur jarijari

telapak tangannya yang gede dan kasar berbulu itu

hendak menjamah dadanya, Bahwa dalam keadaan kepepel

seumpama di depan ada srigala rakus dibelakang dicegat

harimau, berada di jembatan gantung lagi menyingkir kekirl

kanan jelas tidak mungkin, tei paksa gadis desa itu berlaku

nekad, teriaknya ; „Kalian kawanan rampok ini mau apa. Ada

rampok. Tolong……”

Gelak tawa keempat laki-laki itu berpadu seperti gembreng

pecah yang sumbang suaranya, laki-laki yang tak berhasil

menjamah dada si gadis kembali melangkah maju setapak,

katanya: „Sampai tenggorokanmu pecah juga tak berguna,

setiap usaha tuan besar ini. memangnya siapa yang berani

turut campur, bila kau. tidak tahu diri, hehe, biarlah kami

belejeti pakaianmu diatas jembatan ini juga, berayun

bergontai, wah sungguh nikmat nya.” ketiga temannya segera

bersorak dan berkeplok saking senangnya.

Dengan memicing mata seorang laki-laki berkata : “Genduk

ayu. hendak kemana kau ?”

Entah karena jembatan bambu ini memang sedang

bergoyang, atau karena saking ketakutan sehingga tubuh si

gadis gemetar, tampak dia bergontai serta berteriak: “Aku ….

mau …. ke Ji-long-bio.”

“Kenapa harus mencari Ji-liong (laki-laki kedua) ? Haha,”

seru seorang laki-laki lain’ “kami berempat bukankah laki-laki

gagah dan kuat? Genduk ayu, ikutlah kami, tanggung kau

akan menikmati sorga dunia.”

72

Baru saja laki-laki itu habis bicara, mendadak dari arah

belakang terdengar seorang bersuara : ‘Permisi.”

Karuan kedua orang yang berdiri diujung jembatan

tertegun, sejak kapan orang ini datang dan berada

dibelakaigrtya, kedua orang ini sama sekali tidak tahu. Waktu

mereka menoleh, tampak seberapa kaki diatas jembatan

bambu Itu juga telah berdiri seorang pemuda berjubah kumal

warna biru luntur, bahwa hajat mereka terganggu sudah tentu

keempat laki-laki Ini jadi keki, ke dua laki-laki dibelakang itu

segera tertawa besar, bentaknya : ”Bocah rudin, memangnya

kau tidak punya mata “

Pemuda baju kumal Itu berkata “Soalnya kalian

mengadang jalan, aku toh sudah bilang permisi.”

Seorang membentak : “Kita sedang ada urusan di sini,

tahu, buat apa kau kemari ?”

“O,” pemuda itu pura2 baru sadar dan mengerti, bola

matanya berputar, katanya : „Tapi cayhe menempuh

perjalanan, toh tidak pernah mengganggu kalian.”

“Menempuh perjalanan?” laki-laki didepan sana

menyeringai “Lo ji, jangan cerewet lagi, gasak saja biar dia

lapor kepada raja sungai.”

Seorang laki-laki mengiakan, segera dia me langkah keluar,

tangan kirinya bergerak secepat kilat. Mungkin karena laki-laki

ini terlalu menggunakan tenaga sehingga jembatan gantung

ini bergoyang keras, tubuh si pemuda baju kumal ikut

bergontai, tampak kedua tangannya terbalik kebelakang

sambil menjeri kaget, kakinya mundur dua langkah, dengan

gelagapan tangannya memegang tambang, untung dia masih

kuasa menguasai diri. Dan anehnya laki-laki yang mengulur

tangan itu kakinya juga ikut gentayangan, bukan saja

sasarannya tak berhasil dicengkram, hampir saja dia sendiri

terjungkal jatuh kebawah malah.

73

Untung laki-laki disebelahnya lekas menarik nya, tanyanya:

„Samko, kenapa kau ?”

Laki-laki yang dipayang merah mukanya, makinya:

„Makanya, diatas jembatan ini tak bisa gunakan tenaga.”

Tapi laki-laki disebelah depan tahu sebabnya, sambil

terkekeh tawa, dia melompat maju ke samping laki-laki itu,

sepasang matanya yang mencorong sedingin tajam pisau

mendelik besar mena lap pemuda berpakaian kumal, katanya

menyeri ngei sadis: „Sahabat kau ini dari kalangan mana ?”

Mendengar saudara tertua mereka bertanya begitu, tiga

laki-laki yang lain terkejut, mereka pun memandang si

pemuda baju kumal dengan rasa heran dan tak habis

mengerti.

„Kalangan?” sikap pemuda baju kumal takut dan bingung,

„Apa sih maksudnya kalangan? “

Laki-laki tertua itu terloroh-loroh, katanya: „Saudara tidak

usah pura-pura pikun, pandangan seorang ahli jangan harap

dapat dikelabui, kepandaian Su-nio-poat-jian-kun yaug tadi

kau guna kau gunakan memang hebat. Sayang latihannya

masih belum matang, apalagi hari ini berhadapan dengan

kami Hong-nia-su-hou (empat harimau dari Hong-nia).

„Hong-nia-su-hou ” sekilas terunjuk senyuman sinis pada

wajah si pemuda baju kumal, pikirnya: „Bagus sekali, keparatkeparat

bejat ini memang sudah harus mampus sejak lama,

mumpung hari ini kebentur ditanganku, sayang aku tiada

waktu.” maka dengan dingin ia menjengek: „O, ya,

memangnya kenapa.”

Sudah tentu pertanyaan balasan si pemuda secara tidak

langsung dianggap mengakui bahwa keempat orang ini adalah

ahli-ahli Kungfu yang ditakuti, ketiga laki-laki lain segera

tertawa riang dan bingar, seorang segera membentak:

„Toako, buat apa banyak tanya ? Peduli dia dari kalangan

74

mana, bila dia berani petingkah dihadapan kita, sikat saja

habis perkara.”

Laki-laki yang dipanggil Toako mengulap sebelah

tangannya mencegah aksi ketiga saudara nya, bentaknya

bertanya’ „Sahabat siapakah pemimpinmu. Lekas katakan,

jikalau orang sendiri jadi tidak usah bentrok dan apalagi

sebagai sesama kaum persilatan;”

Pemuda baju kumal menggeleng, katanya: „Nama

pemimpin tak boleh sembarang kusebut-sebut. nah di sini aku

membawa sebuah kartu undangan, jikalau kau ingin tahu,

silakan periksa.”

Tiga laki-laki atau tiga harimau yang lain tertawa riuh,

seorang berkata: „Toako memang berpandangan tajam,

sayang sekali hanya bocah yang baru keluar kandang dan

tidak tahu aturan entah siapa yang menerima murid sedogol

ini, sungguh memalukan saja.”

Tapi Lo-toa atau harimau tertua justru tidak sepicik

pandangan ketiga saudaranya, dengan nanar dan penuh tanda

tanya dia awasi pemuda baju kumal, bentaknya: „Tentunya

kartu nama pemimpin kalian bukan, biarlah kuperiksa.”

Pemuda baju kumal tertawa ewa, dari dalam bajunya di

keluarkan segulungan kertas hitam terus diangsurkan.

Sekali jambret laki-laki Itu sudah rebut gulungan kertas

hitam dari tangan pemuda baju kumal, setelah undur

selangkah biru dia membuka gulungan itu. Tapi begitu dia

melihat apa yang tertera diatas kertas hitam Itu, seketika

mukanya pucat pasi, sekujur badaapun gemetar, tanpa terasa

mulutpun mendesis seram: ,,Cui-hun-tiap.’

„Apa Cui-hun-tiap” tiga laki-laki yang berdiri di samping ikut

menjerit kaget dan gemetar kejap lain tanpa berjanji

keempatnya seperti berlomba saja berlari lintang pukang lewat

jembata bambu itu kearah Ji-long-bio disebrang sana.

75

Setelah melihat Cui-hun-tiap Hong-ling-su hou sungguh

ketakutan setengah mati, mereka berlomba lari mati-matian,

rasanya ingin lekas terbang menyingkir tanpa berani menoleh

kebelakang, namun kaki terasa berat dan dalam hati mereka

mengumpat ayah bunda kenapa tidak memberi sepasang

sayap untuk terbang menyingkir menyelamatkan jiwa.

Pemuda baju kumal bukan lain adalah Cui-hua-jiu Ling Jiping,

berdiri ditengah jembatan dia mengulum senyum geli

yang tertahan, tidak bergerak dia diamkan saja keempat

orang itu lari sipat kuping, jatuh bangun, hakikatnya seperti

tiada terjadi apapun.

Memang dia pernah membuat peraturan yang tidak tertulis

diatas kertas, namun setiap orang persilatan sama tahu apa

aturan yang dia tegakkan dan junjung tinggi itu. Hong-liongsu

hou atau biasa dipanggil juga Lok lim-su-ok (empat

penjahat dari kalangan brandal), sudah tentu juga tahu dan

mengerti akan aturannya itu, oleh karena itu, dia tetap diam

ditempat dan menunggu tenang-tenang saja, dia tidak

percaya bahwa keempat orang ini betul-betul berani melarikan

diri.

Sementara itu Su-hou sudah mencapai sebrang jembatan,

tapi entah kenapa sebelum mereka tiba didepan Ji-long-blo,

mendadak mereka sama menghentikan langkah, dengan rasa

takut, was-was dan kebingungan mereka berpaling, begitu

meli hat bayangan pemuda baju kumal yang tetap berdiri di

ujung jembatan disebrang sana, pakaiannya melambai tertiup

angin, bagai tersihir saja, ke empat orang ini membalik tubuh

terus beranjak balik dengan berbaris pelan-pelan.

Kalau tadi mereka lari lintang pukang seperti dikejar setan,

tapi kali ini mereka justru berjalan pelan-pelan, setiap langkah

kaki mereka seperti amat dipehitungkan. maklum mereka tahu

langkah kali ini adalah langkah menuju kematian. Memangnya

manusia siapa yang tidak ingin hidup ? Manusia mirip Lok-limsu-

ok yang sudah keliwat takaran kejahatannya, meski

76

selama ini mereka tidak sayang dan merasa kasihan

membunuh orang, tapi terhadap jiwa raga sendiri betapapun

mereka ingin mempertahankan hidup, tak ubahnya orang lain

yang ingin mempertahankan hidupnya, tapi sekarang mereka

justru beranjak menuju kejalan kematian.

–ooo0dw0ooo-

Karya : Khu Lung Saduran : Gan KH

Sumber DJVU : Manise & Paulustjing

Editor : Paulustjing dan Dewi KZ

Ebook by : Dewi KZ

Tiraikasih website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://tiraikasih.co.cc/ http://cerita-silat.co.cc/

Jilid 3

”KENAPA ? MEMANGNYA MEREKA tidak ingin lari?” Bukan.

Kiranya setelah mereka lari sampai kesebsrang mendadak

mereka teringat apakah mereka mampu meloloskan diri dari

hadapan Cui-hun-jiu Ling Ji-ping yang bertangan gapah ini ?

Didalam ingatan mereka, selamanya belum pernah dengar ada

seseorang yang mampu bertahan hidup dua belas jam setelah

dia menerima Cui-hun-tiap. Lari, meski sementara kau dapat

meloloskan diri, tapi Cui-hun-jiu bagai; bayangan sukma yang

selalu melekat dibelakang punggungmu, kemanapun kau lari

di situ dia akan mengudak, mungkin malam ini, atau paling

lama besok pagi, mereka berempat akan bernasib lebih

celaka, mati dengan keadaan lebih mengenaskan kalau harus

sama-sama mati, meski sekarang atau besok pagi, daripada

mati memeluk nama busuk, walau Lok-lim-su-ok terlampau

77

jahat, tapi mereka adalah laki-laki sejati yang berjiwa jantan,

mereka berkeputusan untuk tidak melarikan diri. kini mereka

putar balik dengan satu tekad, umpama …. sudah tentu itu

hanya umpama saja, satu kemungkinan, dengan gabungan

kekuatan mereka berempat, bila dapat mengalahkan dan

membunuh Cui-hun-jiu yang ditakuti kaum persilatan,

bukankah nama Hong-ling-su-hou bakal menjulang dan

menggetarkan Bulim ? Umpama akhirnya mereka gugur

dimedan laga, betapa pun mereka akan meninggalkan nama

harum.

Karena itulah dengan berbaris, dengan langkah pelan dan

tetap mereka beranjak balik kcatas jembatan, berbalik

menantang elmaut dan meng hadapi bahaya.

Dalam pada itu Ling Ji-ping sedang berbicara tiengan gadis

desa itu : „Nona tentu kaget silakan berangkat, yakin mereka

takkan berani meng ganggu nona lagi.”

Tak nyana gadis desa itu tak bergerak dan tidak bersuara,

seakan-akan tidak mendengar omongan Ling Ji-ping.

Ling Ji ping tertawa sendiri, pikirnya: „Mungkin nona ini

ketakutan sampai kesima. aih, maklum gadis desa.” maka

dengan suara lebih keras dia berkata pula : „Nona, lekaslah

pergi. Jembatan ini terlampau keras guncangannya, apalagi

bila terjadi perkelahian di sini kau bisa ketakutan lagi.”

Kali ini gadis desa itu bersuara, kata-katanya sendu : „Kau

hendak membunuh pula ?”

„Membunuh pula?” kata-kata ini membuat Ling Ji-ping

melengak. kata-kata ‘pula’ sungguh membuatnya bingung,

bukan saja bingung diapun kaget melenggong, namun Ji-ping

tabah dan cer dik, segera ia tertawa lebar, katanya ”Kalau

begitu, agaknya pernah melihat aku membunuh orang.”

„Ah. tidak, tapi aku dapat merasakan bahwa kau akan

membunuh mereka.”

78

„Nona,” suara Ling Ji ping serasa membeku. „Dihadapanku

jangan kau jual lagak, karena siapa saja yang pamer

kepintaran dibadapanku, akhir nya membuktikan bahwa dia

tidak akan pintar.” kembali ujung mulutnya menyeringai sinis,

kata nya : „Aku yakin nona sudah tahu s iapa diriku. Tentunya

kaupun sudah tahu bahwa omonganku bukan gertak sambel.”

„Umpama betul pamer kepintaran, tapi kan bukan ditujukan

kepadamu Apakah akibatnya juga sama tidak pintar ?”

Ling Ji-ping melenggong oleh pertanyaan gadis desa ini,

entah berapa banyak nyawa manusia yang pernah dibunuhnya

selama ini, tapi semua korbannya adalah durjana besar yang

pantas menerima ganjaran, walau Su-ok ini juga patut di

bunuh, tapi dari nada gadis desa ini, agaknya dia memacg

sengaja memancing mereka kemari, jelas ini memang

disengaja dengan suatu tujuan ter tentu, jadi gadis desa

inipun samaran belaka, tapi samaran gadis desa ini jelas

bukan ditujukan ke pada dirinya.

Kalau dugaan ini betul, bukankah dirinya yang mencampuri

urusan orang lain ? Sekaligus dia menggagalkan atau paling

tidak mengacau rencana orang, sesuai peraturan Bu-lim, yang

patut disa lahkan adalah pihak sendiri. Persoalan pelik se

karang terpampang dihadapannya, yaitu apakah dia tetap

hendak membunuh Loklim su-ok ini.

Kalau dia sudah yakin gadis desa ini memancing Su-ok

kemari dengan suatu tujuan tertentu, bila dirinya membunuh

keempat orang ini, berarti dirinya merusak rencana orang, bila

karena suatu alasan sehingga gadis desa ini bertengkar dan

bermusuhan dengan dirinya, jelas dirinya berada dipihak yang

salah, jelas pertikaian takkan mudah dilerai.

Sudah tentu dia tidak takut, tapi siapakah nona ini ? Yang

jelas dia gadis belia yang masih berusia remaja, suaranya

merdu dan nyaring, kalau dia memusuhi Su-ok, jelas bukan

orang jahat. Tapi bila karena maksud tujuannya tidak terca

pai, orang pasti akan melabrak dirinya, lalu apa yang harus dia

79

lakukan? Padahal Cui-hun-tiap sudah kebacut dia serahkan,

selamanya belum pernah dia menarik undangannya tanpa

melaksa nakan aturannya. Kalau mereka dibunuh, bukan kah

itu berarti melakukan perbuatan tercela pula terhadap nona ini

? Pertanyaan ini sukar terjawab dan tak kuasa mengambil

keputusan, sesaat dia jadi gelagapan tak mampu menjawab.

Agaknya gadis desa itu berpaling memandangnya sekejap,

suaranya tetap merdu ”Ling Tayhiap soakah ucapanku keliru

?”

Menyapu pandang kearah Su-ok yang sedang mendatangi,

Ling Ji-ping tertawa dingin kaku, katanya : „Agaknya nona

sudah tahu akan diriku.”

„Memangnya dalam Bulim ada dua orang yang memakai

Cui-bun-tiap ? Maka mudah saja aku tahu akan Ling Tayhiap.”

Hong-llng-su-hou sudah semakin dekat, jaraknya tinggal

belasan tombak, Ling-ji-ping tidak boleh ragu-ragu lagi. kalau

persoalan tidak ditanya jelas, mungkin salah paham bisa

terjadi antara dirinya dengan gadis desa, maka dia bertanya

dengan sua ra tegas ; ,,’Cayhe tahu kali ini aku mencampuri

urusan orang, tapi maksudku baik.”

„Aku tahu Ling Tayhiap.”

”Padahal Cui-han-tiap sudah kukeluarkan, seia rna ini aku

sering menggunakan keputusan yang kubuat sendiri, mereka

tak boleh kubiarkan hidup, untuk ini biarlah aku orang she

Ling mohon maaf kepada nona? umpama nona punya urusan

yang belum tercapai, aku boleh menunggu dan menunda

untuk beberapa kejap, entah caraku dapat tidak menolong

keadaan serba kepepet ini ?’

„Apakah peraturanmu sendiri itu tidak bisa dirobah “

„Tidak boleh.”

Gadis desa itu menghela napas rawan, katanya: „Sayang,

kau salah paham Ling Tayhiap. keempat orang ini memang

80

Setimpal mendapat ganjaran, terhadap mereka aku tidak perlu

kasihan, aku hanya merasa sayang padamu.”

„Sayang akan diriku “seorang yang pintar luar biasa seperti

Ling Ji-piag pun merasa bingung dan tak kuasa menyelami

maksud kata-kata gadis desa ini, karena waktu tidak memberi

kesempatan untuk dia banyak pikir, dia sangka sang gadis

kuatir dirinya bukan tandingan keempat penjahat ini dan

celaka sendiri, dan lebih menyebalkan lagi bahwa dia

beranggapan sang gadis memandang rendah dirinya, ini

malah membangkitkan rasa pongah dan keangkuhan, maka

segera dia mendengus ejek, katanya . „Selamanya Ling Ji-ping

tidak sudi disayang orang. Bila nona memang ada sangkut

paut dengan keempat orang ini, boleh silakan pergi saja,

supaya orang she Ling nanti tidak kurang ajar padamu”

”Kau …”

„Jangan banyak bicara.” jawabannya tegas dan ketus,

sekeras lecutan cambuk yang mengenai sanubari gadis desa

itu, kalau wajahnya tidak di tutupi kain dan kebetulan dia

berpaling ke sana, pasti Ling Ji ping akan melihat perubahan

rona muka orang, mulutnya mencong dan cembrut.

pandangan gusar gigipun gemeretak. Akhirnya dia mendengus

lirih, katanya tiba tiba : „Ling Ji-ping, kau memang sesuai

dengan namamu, jangan kau kira manusia dalam dunia ini

semua takut padamu.” habis bicara dia putar tubuh sambil

menunduk kepala, langkahnya cepat dan tangkas-tidak

menoleh lagi.

Dia berjalan cepat dan lewat disamping Hong-ling-su-hou,

sudah tentu keempat harimau ganas ini sekarang melirikpun

tidak berani menaksir padanya. Ling Ji-ping malah tersenyum

menyaksikan kepergian si nona, sedikitpun dia tidak merasa

sesal,

Kini Hong-ling-su hou tinggal tiga tombak lagi

dihadapannya, mereka menghentikan langkah, tangan

merekapun sudah menyoreng senjata masing masing, seperti

81

harimau buas yang kelaparan mereka memandang marah dan

mendelik kearah Ling Ji-ping.

Ling Ji ping tetap tidak bergeming ditempat nya, ujung

mulutnya menyungging senyum keangkuhan, suaranya

kedengaran datar dan damai, namun nadanya tinggi dan

dingin : „Kalian sudah kembali.”

Keempat orang itu diam saja, mereka sama menelan air liur

tanpa berani bersuara.

„Tentunya kalian sudah berpikir, bahwa undanganku

selamanya tidak pernah ditarik balik, dan akibatnya tentu

sama saja ? Oleh karena itu tanpa diminta kalian sudi

kembali.”

Maka Ciang Ping orang kedua dari Su-ok yang bergelar

Cian bwe hou mengadu sepasang Boan-koan-pit ditangannya,

katanya menyeringai sadis : „Orang she Ling, sejak lama kami

mendengar kebesaran namamu, selamanya kami bak air

sungai yang tidak pernah Berbuat salah pada air sumur,

mendadak kau mengeluarkan undanganmu, apa sih

maksuknya ?”

„O, soal ini ?” Ling Jiping tertawa, „apa yang biasa kalian

lakukan, memangnya tidak pantas kalian menerima

undanganku.

Si-hou Han Hwi yang berjuluk Kim-mau-ho-i memegang

sepasang pedang gantoian, setelah di ketrukau. dia berebut

maju seraya membentak ; „Itukan urusan kita, berdasar apa

kau turut campur ?”

Ling Ji-ping angkat kedua tangannya yang ber jari-jari

halus dan putih, katanya tertawa : „Berdasar kedua tanganku

ini, boleh tidak ?”

Gelak tawa menggila keluar dari moncong Lo-sam i iaukhek-

hou Ih-ji-liong, Long-ge-pang di tangannya dia putar

ketengah udara, setelah sirap suaranya dia membentak :

82

„Bocah she Ling, kau terlalu jumawa. marilah, ingin aku

buktikan be rapa sih kemahiranmu.”

Lo-toa Hwi-thian hou Cui Ing.yang sejak tadi diam saja

menatap Ling Jiping mendadak merangkap kedua tangan,

katanya bersoja .: „Saudara, Ling, menurut aturan Kangouw,

Bulim ada tata tertipnya sendiri. Betul, nama besarmu

memang lebih menggetar kuping orang, kemampuanmu juga

lebih tinggi, namun Su hou juga bukarj kaum kroco, hari ini

saudara Ling mencampuri urusan kami, apa tidak keterlaluan

?”

„Terlalu ?” jengek Ling Ji ping lalu tertawa lantang.

mendadak dia menarik muka serta menghardik bengis : „Di

Seng-toh sehabis memperkosa kalian bunuh si korban,

keluarga Hou Goan yang tinggal dijalan air putih kau bantai

habis-habisan, di Hong Kin kalian memperkosa janda, para

nikoh Pek-hun-am kalian paksa menari dalam keadaan

telanjang bulat, apakah waktu itu kalian pernah berpikir

bahwa perbuatan kalian itu tidak keterlaluan’ “

Mendengar Ling Ji ping memblejeti beberapa peristiwa

kejahatan yang mereka lakukan, maka Hwi-thian-hou insaf

bahwa harapan untuk hidup sudah tiada lagi. karuan dia

menarik muka dan berkata beringas : „Jadi saudara Ling paksa

kami untuk turun tangan “

„Ya,” ujar Ling Ji-ping, „kuberi kesempatan untuk

bertempur secara jantan, kalian boleh ma ju bersama supaya

aku tidak terlalu banyak membuang tenaga.”

..Hayo maju,” teriakTiau-khek-hou Ih JHiong ,,buat apa

cerewet saja ” Longge-pang atau pentung gigi serigala segera

dia putar terus mengeprak kebatok kepala Ling Ji-ping.

Baru saja cahaya Long-gj-pang yang kemilau berputar dua

lingkaran, pedang pandak berganco ditangan Kira-mao-hou

juga memetakan dua lingkaran sinar terang dengan deru

angin dingin menyerang tiba pula dari arah lain.

83

Berapa sih lebarnya jembatan bambu ini, meski dua orang

yang lain sudah s iaga, dan mengambil ancang-ancang hendak

menyerang, namun mereka tak kuasa bergerak dan

menyerang. Empat sen jata dari kedua orang yang merangsak

ini menggasak tiba-tiba bagai kilatan api, namun Ling Jiping

tetap berdiri tegap dan santai, senyum kaku diwajahnya justru

semakin kelam, dikala senjata senjata lawan yang empat buah

itu hampir mengenai tubuhnya, mendadak tubuhnya

berjongkok turun, sigap sekali kakinya melangkah kedepan

terus bangkit sambil membuka kedua tangan dan menggetar

seraya menghardik : „Pergilah.”

Kim-mao-hou dan Tiau-khek-hou termasuk jago kosen

dalam kalangan Lok-lim, begitu se rangan senjata mengenai

tempat kosong, mereka sudah merasakan firasat jelek, namun

berada di jembatan bambu yang terombang ambing oleh

gerakan mereka dan tiupan angin itu jadi suka

mengembangkan kegesitan tubuh, belum lagi ke dua orang ini

sempat berpikir mencari cara untuk menghindar diri, dada

mereka seperti di hantam palu godam yang berat, ditengah

lolong berkepanjangan, bersama senjata andalan mereka

kedua orang ini terpental jatuh dan melayang ke dalam sungai

dibawah sana.

Setiap ujung jembatan merupakan jurang yang berdinding

terjal dan dalam, arus sungai dibawah amat deras, tingginya

juga ada ratusan tombak, deru ombaknya yang bergelombang

besar terdengar jelas dari atas, jelas kedua orang itu tak kan

selamat terjatuh kedalam arus yang sederas itu.

Berhasil melempar kedua lawannya kedalam jurang, mulut

Ling Ji-ping terus bersiul, gerakan ,iya mendadak berubah

segesit setan melayang, sebelum Hwi-thian-hou dan Cianbwe-

hou turun tangan dia sudah membentak : „Kalianpun

turun lah, saudara angkat harus mati dalam waktu dan hari

yang sama, nah biar orang she Ling sempurnakan kalian’

84

Hanya melihat tubuh Ling Ji-ping berkelebat, tahu-tahu Losara

dan Lo-si sudah melolong jatuh kebawah jurang, maka H

i-thian-hou dan Cian- Bwe-hou serempak melabrak derigan

sepa ang tel lapak tangan dan sepasang Boan koan pit, tapi

baru setengah gerakan, tahu-tahu serangkum angin telah

menyampuk muka, secara reflek mereka berusaha

menghindar seraya menyurut mundur, tapi sebelum mereka

berdiri tegak, sesosok bayangan orang tahu-tahu sudah

mendesak ditengah antara mereka berdua. Akibatnya sama

seperti tadi, kedua orang seperti dipalu dadanya, dengari

membawa hembusan napas terakhir, malah kaili ini mereka

tak kuasa bersuara lagi tahu-tahui tubuh sendiri sudah terjun

bebas kedalam sungai.

Dalam dua kali gebrakan Cui-hun-jiu Ling Ji-ping

menghantam keempat lawannya kedalaml sungai, seakanakan

tidak mengeluarkan tenaga sedikitpun, dengan

menggendong tangan dia beranjak diatas jembatan dengan

lenggang dan santai mulutnya terbiasa dengan senyum dingin,

pikirnya : „Hm, Sain-kiam, Su-hou segala, semua hanyalah

kaum kroco macam tempe, menyebalkan.”‘

Gadis desa yang ditolong dan sudah pergi tadi tidak masuk

pikirannya lagi, setelah berdiri pula sekian lama, baru dia

beranjak kedepan. jubah kumalnya melambai tertiup angin

langkahnya enteng tegap, sikapnya kelihatan ga gah

berwibawa.

Malam nan pekat diatas pegunungan serasa kosong dan

hampa, sinar rembulanpun terasa redup dan dingin, aagin

menghembus kencang, menderu dan mengamuk, seningga

nampak bayang-bayang pepohonan yang bergerak bagai iblis

yang lagi menari, suara burung malam berpekik dialam bebas,

bergema diudara menyusur lembah dan sungai, suasana

malam ini sungguh amat mengerikan.

Sekonyong-konyong tampak oleh Ling Ji-ping diatas tanah

kosong kira-kira lima tombak disana, duduk bersimpuh

85

seorang perempuan dengan pakaian sari memutih bagai

perak, kedua tangan terangkap didepan dada tak ubahnya

mirip padri yang lagi samadi.

Walau tidak kelihatan wajah perempuan itu. tapi dari

perawakannya, dapatlah Ling Ji-ping mengira-ngira bahwa

usianya pasti masih muda. mungkin baru saatnya mekar dan

akil balik. Bahna heran dia berpikir: „Samadhi atau latihan

Lwekang kenapa harus berada ditempat belukar seperti ini .

Siapakah gadis ini?” – karena ingin tahu maka dia beranjak

putar kearah depan si gadis, pikirnya hendak melihat raut

wajahnya, di kala hembusan angin kencang menggontai

dahan pohon ini, seringan burung walet dia melesat ke sana.

Beberapa kali loncat berjangkit, dia sudah tiba disebrang

sana, dia yakin dirinya sekarang tepat beraaa di muka orang,

tapi begitu dia ang kepala, eh sungguh aneh bin ajaib, entah

sejak kapan gadis bersimpuh itu ternyata sudah berpa ling

seratus delapan puluh derajat, jadi yang ke lihatan dari

tempatnya tetap adalah bayangan t buh orang dari Samping,

Sejenak dia berpikir, entah gadis ini memang sengaja atau

hanya kebetulan . Kalau kebetulan tidak perlu dibuat heran,

namun kalau di sengaja, itu berarti bahwa tingkat latihan

gadis in sudah mencapai taraf yang dapat merasakan gerakan

sesuatu disekitar tubuhnya, dalam masa ini jarang ada tokoh

kosen yang bisa mencapai latihan sesempurna ini, padahal

kelihatan masih muda, bagaimana dia bisa memiliki taraf

kepandaian yang mengejutkan ini ?

Hanya ragu sejenak, senyum dingin kembali menghias

mukanya, sekali bergerak kembali dia berputar kearah sana,

tapi dikala berkelebat kali Ini, diapun memperhatikan

bayangan gadis yang bersimpuh ditanah kosong itu.

Memang aneh, dikala separo jarak yang ditempuhnya dia

hampir saja berhadapan dimuka orang, tahu-tahu dilihatnya

bayangan tubuh sigadis ter nyata telah membelakangi dirinya

dari sini dapat lah dia menyimpulkan bahwa tubuh orang

86

ternyata ikut bergeser mengikuti gerakan dirinya yang ber

kisar, akan tetapi hakikatnya dia tidaK melihat gerakan apapun

dari gadis yang samadi itu.

Disamping heran, tambah kejut pula hati Ling Ji-ping ?

Betapa tajam pandangan Ling Jiping sekarang, meski dimalam

hari, apalagi senga ja dia memperhatikan, namun gerak gerik

si gadis ternyata tidak mampu diikutinya ? Sekarang dia jadi

yakin bahwa gadis ini pasti membekal Kungfu aneh yang lihay,

lalu untuk apa dia berada da lam hutan dipegunungan Cengseng

ini ? Apakah kehadirannya ada sangkut paut dengan

peristiwa di Thian-su-tong ?

Ji-ping insaf adalah sia-sia bila dia ingin me lihat wajah

orang, maka dia diam saja tidak bergerak pula, kini

dilihatnya ada .dua sinar cahaya emas dan perak lagi

berputar-putar di atas. kepala gadis itu, maka dia ingin tahu

cahaya apakah yang berputar itu’

Dengan sabai dia menunggu kira-kira sema sakan air, baru

tampak gadis itu menarik napas panjang dan kedua telapak

tangan terpentang ke dua sisi menghadap kelanglt, dikala

telapak tangan terkembang itulah, kedua lingkaran sinar emas

dan perak diatas kepalanya tiba-tiba kuncup dan menukik

kebawah berhenti ditelarak tangannya, waktu Ji-ping

perhatikan, kiranya itulah dua ekor burung walet, satu berbulu

emas yang lain ber bulu perak, burung walet ini ternyata satu

lipat lebih besar dari burung walet umumnya, mulutnya

berkicau dengan suara merdu, Sayapnya ber gerak-gerak dan

berlompatan dengan lincahnya, terutama biji mata mereka

ternyata berwarna me rah jamrut dan bercahaya pula, selintas

pandang orang akan tahu bahwa kedua burung ini bukan

walet sembarangan.

Ling Ji-ping maklum bahwa tidak sedikit orang-orang aneh

berkepandaian tinggi dalam Bulim ini yang sama memelihara

binatang atau burung-burung sakti, namun seingatnya, tak

87

terpi kir olehnya siapakah gadis yang memelihara se pasang

walet emas dan perak ini ?

Dikala hatinya bertanya-tanya itu, dilihatnya kedua burung

emas perak itu menoleh kearah tempatnya sembunyi,

kepalanya manggut-mangut mulutpun berceloteh. Sudah tentu

Ji-ping tahu bu kan saja perempuan Itu sudah tahu akan

kehadirannya, kedua burung walet itupun sudah tahu tempat

persembunyiannya. Buktinya kedua walet itu tiba-tiba

melompat terbang, arahnya lurus bagai dua larik cahaya

terang langsung meluncur Keterapatuya.

Karuan Ling Ji-ping tertegun, menghadapi dua burung

walet ini. betapapun sakti dan cerdik pandainya, paling juga

hanya burung belaka, apalagi dengan bekal kepandaiannya,

hakikatnya dia tidak perlu jeri, tapi setiap kaum persilatan

yang me melihara binatang pasti amat sayang terhadap pe

iiharaannya seperti sayang pada jiwa raga sendiri, siapa saja

bila ada orang berani melukai apalagi mencelakai jiwanya, itu

berarti dia bermusuhan dengan pemiliknya, demikian pula

gadis ini, dari golongan lurus atau aliran sesat belum jelas,

maka dia jadi ragu dan bimbang menghadapi ke dua burung

walet yang menghampirinya. Terpaksa dia ulur sebelah

tangannya menekan dahan pohon, seringan burung kenari,

“sret” tubuhnya melambung tinggi meluncur kepucuk pohon

yang lain.

Pada saat itulah, didengarnya suara si gadis yang merdu

dari bawah:” Yan-ji kembali,” suaranya lirih enteng, lembut

dan merdu, siapapun yang mendengar pasti merasa segar dan

nyaman. Kedua sinar emas dan perak yang meluncur pesat itu

tiba tiba menukik balik langsung hinggap pula dicela pak

tangan sigadis.

Hampir bersamaan dengan hinggapnya kedua burung walet

ditelapak tangannya, suara merdu si gadis seperti

bersenandung berkumandan: „Bunga rontok apa boleh buat,

88

seperti kenal burung waletku kembali,” merandek sejenak lalu

menambah kan, „Siapakah itu ?”

Tergerak hati Ling Ji-ping mendengar kedua bait syair yang

disenandungkan si gadis, seperti dia pernah mendengarnya

entah dimana, namun dalam sesingkat ini. tak teringat

olehnya, tapi orang sudah bersuara tanya dirinya, tiada tempo

buatnya memikirkan soal lain, maka dengan nada dingin dia

menjawab: „Orang lewat tanpa sengaja mengganggu

ketentraman, harap nona suka maaf kan dan maklum.”

Gadis itu tetap duduk tidak bergeming juga tidak berpaling,

katanya pula : „Aku tahu maksud ku tanya siapa shemu ?

Benama apa ? Siapa gurumu !

Terhadap siapapun tiada halangan untuk memberi tahu

namanya, tapi nengenai nama guru merupakan pantangan

bagi Ling Ji ping, selama dia mengembara, jarang yang ta.iu

akan asal usul perguruannya, seperti biasa dia menjawab

dengan nada dingin: „Cayhe Ling Ji-ping.”

„Ling … Ji . . . ping . . dari perguruan mana T’

„Maaf, hal ini tak boleh kujelaskan”

„Kenapa ?”

Timbul rasa kurang senang dalam benak Ling Ji-ping,

„Sudah tentu ada sebabnya, yang jelas tidak perlu Cayhe

memberitahu kepada nona.”

„O, agaknya kau amat jumawa ” ujar perem puan itu.

„Bukan jumawa, namun memang demikianlah watak

Cayhe.”

„Untuk apa kau kemari ?”

„Seperti asal usul pergaruanku, tak bisa kujelaskan.'”

Muiut perempuan itu seperti berdesah perlahan, namun dia

tetap duduk tidak bergerak.

89

Dengan sabar Ling Ji-ping menunggu sejenak; hatinya

terus menerawang, tujuannya adalah Thian-su-tong, namun

dikaki gunung dia melihat perempuan yang misterius ini,

apakah dia ada hubungan dengan Thian-su-tong, sukar dia

memas tikan, oleh karena itu dia merasa perlu mencari tahu

siapa sebenarnya perempuan ini Serta tahu akan maksud

tujuannya berada di sini, baru nanti dia dapat berkeputusan

akan tindakan selanjut nya.

Kini gilirannya bertanya : „Siapakah nona ? Dapatkah

dijelaskan ?’

„Setelah melihat kedua burung walet ini, se dikitnya kau

sudah dapat merabanya ? Coba kau terka siapa diriku”

Ji-ping melengong. pikirnya: „Agaknya nama perguruannya

amat erat berhubungan dengan kedua walet Ini, kalau tidak

salah namanya teramat tenar, namun sejak beberapa tahun

dia berkelana, belum pernah dia dengar tokoh mana dalam

Bulim ini yang memelihara sepasang burung walet ? Pa dahal

sebelum meninggalkan perguruan gurunya pernah berceritera

tentang jago-jago silat ternama selama seratus tahun ini,

namun tiada menyinggung orang ini ? Karuan dia tertegun

sekian lamanya tanpa bersuara.

Perempuan itu seperti menghela napas, katanya: ”Masakah

tidak pernah dengar asal-usul kedua burung walet ini “

Merah muka Ling Ji-ping yang kaku, katanya: .,Orang she

Ling cetek pengalaman dan cupat pandangan, maaf.”

„Ai,” perempuan itu menghela napas rawan, „masa lalu

telah silam bak kepulan asap yang sirna ditelan udara,

sungguh tak nyana tiada nama nama besar guruku lagi dalam

kalangan Bulim.”

Tergerak hati Ling Ji-ping, sekarang baru dia menyadari

satu hal, guru perempuan ini pasti adalah jago kosen dari

angkatan tua yang dahulu dari usia perempuan ini serta

gayanya bersamadi, tarafnya sudah dapat merasakan getaran

90

sesuatu diluar lingkungan tempat sa-nadlnva, tentunya

perguruannya cukup tenar dan besar, kenapa Suhu tidak

pernah bicara soal Ini kepadanya ?

Tengah Ji ping menimang-nimang, tiba-tiba perempuan itu

menghela napas rawan pula, kata nya: „Kalau tak bisa

menebak sudahlah, aku mau pergi, kau tak usah kuatir, aku

tidak akan meng ganggumu.”

„Tidak akan mengganggu aku ” tergerak pula hati Ling Jiping.

Dari perkataan orang dapatlah dia berkesimpulan bahwa

maksud tujuannya ke Ceng-seng saaiol sudah diketahui

dengan jelas olehnya.

Di saat melengong itulah, tiba-tiba didengarnya kedua

burung walet itu berkicau, sinar emas dan perak tampak

melesat tinggi menembus dahan dahan pohon, waktu dia

angkat kepala dan me mandang dengan tatapan bingung,

kedua sinar itu hanya berkelebat terus lenyap tak

meninggalkan bekas. Begitu cahaya emas perak itu lenyap

baru Ji-ping teringat akan perempuan yang masih ber simpuh

ditanah kosong dibawah sana, tapi begitu dia menunduk,

perempuan yang duduk dalam hutan tadi entah ke mana tahu

tahu sudah lenyap bayangannya, entah melesat pergi

bersama kedua, burung walet tadi Atau pergi dari jurusan lain

?

Lama juga dia menjublek ditempatnya, terasa perempuan

ini amat aneh kelakuannya, dinilai ke pandaiannya, gurunya

pasti angkatan tua yang lihay, namun kenapa namanya tak

pernah kuman dang dikalangan Bulim ? Dengan bekal

kepandaian yang dimiliki perempuan ini, jelas dia terhitung

jempolan diantara sesama insan persilatan, kenapa dia tidak

melakukan sesuatu yang patut dipuji . Kenapa kedengarannya

selalu berkeluh Kesah dan rawan hati Kenapa wajahnya

pantang dilihat orang ? Karena mukanya jelek ?. Atau kuatir

orang mengenali siapa dirinya Untuk apa pula dia ber ada

dipegunungan Ceng-seng ini Dari kata-kata terakhir sebelum

91

dia pergi tadi dapatlah diraba bahwa seolah olah dia pun ada

hubungan erat dengan tokoh misterius yang sembunyi

didalam Thian-su-tong ‘? Namun tindak tanduknya

menyatakan bahwa dia tidak sehaluan dengan orang itu, lalu

bigaimana dia harus mempercayai kata-katanya yang terakhir

tadi ?

Dunia persilatan memang serba keji, jahat dan banyak tipu

muslihatnya, menghadapi berbagai persolan yang sukar

terpecahkan mi, mau tidak mau timbul kewaspadaan dalam

benak Ling Jiping. Maka dia merasa perlu unluk menerawang

persoalun ini, tiba tiba senyum dingin menghias bibir pula.

tubuhnya berkelebat secepat kilat, tubuhnya meluncur dengan

tekad besas kearah Thian-su-tong.

Bila dia tiba di Thian-su-tong, lampoion yang tergantung itu

masih kontal kantil tertiup angin, suasana tetap sunyi dan

sepi. Menghadapi keada an hening tenang ini Ling Ji-pin

bertambah hati-hati, sekilas dia memeriksa keadaan sekitarnya

te rus meluncur masuk ke dalam biara, sebat sekali dia

melambung pula ke arah tembok terus menyu sup ke balik

gardu dimana lonceng besar itu ber ada, dia sembunyi di

pojokan yang gelap.

Pertama dia ingin tahu apakah gema lonceng ditengah

malam bakal berdentang pula? Kalau benar bergema: itu

berarti sudah menjadi kebiasaan dari Thian su-tong pada

setiap tengah malam membunyikan lonceng besar itu, dan

bumi Ion ceng tengah malam ini dibuat pertanda waktu

pertemuan katiga gembong iblis itu. jadi tiga kali gema

lonceng Ini hakikatnya tiada sangkut paut ‘nya dengan

mereka. Tujuan kedua adalah hendak menyelidiki siapa

sebetulnya penabuh lonceng ini, karena nada tinggi rendah,

tempo dari pukulan pertama dan kedua dari lonceng itu

ternyata mi rip sekali dengan gama suara lonceng dari pun cak

misterius itu ? Entah kebetulan : Atau me mang satu dengan

yang lain ada hubungan ? Ke tiga, dimana sebetulnya para

92

Tosu penghuni Thian su-tong menyembunyikan dirinya

dimalam hari Kenapa semalam dir nya tidak menemukan se

orangpun.

Kini sudah menjelang tengah malam, maka dia menunggu

dengan sabar dan tenang-tenang- Caha ya bulan sudah doyo

g kesamping, hanya bebera pa tombak lagi bila sinar bulan

tepat menyinari undakan batu di sana, itu berarti waktu sudah

te pat tengah malam. Kedua matanya tidak berke dip,

kupingpun mendengarkan keheningan sekeli lingnya. jangan

kata ada orang mendatangi, urapa ma sebatang jarum

jatuhpun takkan lepas dari pendengarannya.

Sang waktu berjalan, sinar rembulanpun merambat. Jago

kosen yang besar hati dan pemberani macam Ling Ji ping pun

dibuat tegang dan ber detak jantungnya, bukan takut, namun

dia terba kar oleh perasaan, maklum selama beberapa tahun

berkecimpung didunia persilatan baru sekali ini dia

memperoleh sumber penyelidikan yang tepat sasarannya, dia

kuatir usahanya kali ini bakal ga gal pula, jikalau terbukti bunyi

lonceng tengah malam di sini hakikatnya tiada hubungan

dengan bunyi lonceng di puncak misterius, maka dia kem bali

akan kecewa.

Lebih dekat, sinar rembulan tinggal beberapa dim lagi,

adalah jamak kalau dalam waktu yang sudah mendesak ini

ada orang muncul dari dalam biara, namun dia tidak

mendengar suara langkah orang yang menuju ke gardu

lonceng ini. Sepasang matanya yang berkilat menyapu

sekitarnya. Sunyi, sepi, serasa hampir beku dan sesak

napasnya me nahan emosi.

Akhirnya sinar rembulan mencapai undakan batu, tengah

malampun tiba, tetap tiada yang muncul membunyikan

ionceng. Dia betul-betul kece wa, maka dugaaannya yang

pertama adalah, bunyi lonceng semalam bukan dilakukan oleh

Tosu penghuni biara ini, mungkin perbuatan salah satu dari

ketiga gembong iblis itu Mungkin Sudah mereka janjikan,

93

begitu lonceng bergema tiga kaii, mere ka sudah harus

berkumpul di tengah ruangan.

Di saat dia mereka reka dan rasa kecewa telah menyelimuti

sanubarinya, sekonyong – konyong *Tang* gema lonceng

yang rendah dan berat tiba-tiba berdentang di tengah udara

malam nan sepi, cukup keras getaran bunyi lonceng ini

sehingga Ji-ping terperanjat dan hampir saja dia menjerit.

Aneh sekali. Kenapa aneh Kenapa jago kosen selihay Ling

Ji-ping sampai dibuat kaget dan keheranan? Maklum, meski

hati sudah merasa ke cewa namun dia masih tetap waspada

memperhatikan sekitarnya, biji matanya tidak pernah berkedip

mengawasi lonceng besar dalam gardu, jelas tiada bayangan

seorangpun di sana, namun kenya taan lonceng itu berbunyi.

Lonceng berbunyi tan pa dipukul atau disentuh, bukan aneh?

„Tang, tang . , . . tang, tang, tang.” Lonceng tetap

berbunyi tanpa ditabuh, lonceng bergoyang semakin keras,

suaranya semakin nyaring dan na danya semakin tinggi, tak

ubahnya dipukul orang.

Tiba-tiba pikirannya tergerak, pikirnya : „Mungkinkah ada

jago kosen Bulim yang membunyikan lonceng dengan sentilan

jari dari jarak jauh ?” Dengan seksama matanya menjelajah

sudut-sudut gelap dimana kemungkinan orang dapat

menyembunyikan diri, namun hasilnya nihil, Ling Ji-piag betulbetul

bingung dan mati kutu, selama mengena bara baru

pertama kali ini dia menyaksikan ke jadian nyata yang aneh ini

?

Kejadian ini sudah teramat aneh, tapi kejadian lebih aneh

ternyata masih terus berlangsung. Di saat Ling Ji-ping

menjublek, tiba-tiba dilihatnya dari bawah lonceng mengepul

pelan-pelan segum pai asap putih, hanya sekejap saja, asap

itu me lebar tak ubahnya kabut tipis yang menyelimuti seluruh

lonceng, gema lonceng masih terus berbu nyi diudara tak

putus putus, bukankah bunyi Ion ceng di tengah kabut lebih

terasa seram dan mis terius.

94

Padahal lantai di bawah lonceng itu kosong me lompong,

sungguh Ling Ji-ping tidak habis me ngerti, dari mana

datangnya asap putih ini ? Ke jadian aneh yang berurut ini

benar benar menarik seluruh perhatiannya, semakin besar

pula hasrat nya untuk memecahkan seluk beluknya, maka se

penuh perhatian dia memeriksa bawah lonceng.

Dari tipis lama kelamaan asap putih semakin tebal, lambat

laun melebar mencakup seluruh gar du sehingga lonceng

besar itu sudah terbungkus rapat dan hampir tidak kelihatan.

Tiba tiba sinar kehijauan tampak berkelip kelip beberapa kali

di tengah kabut, lalu disusul munculnya sesosok bayang an

bagai setan yang berderak pergi datang d ite ngah kabut,

seperti ada seperti kosong, seperti ba yangan tapi juga seperti

kenyataan, kadang kadang muncul dan kelihatan kejap lain

sirna tidak keli hatan, kenyataan perkembangan lebih lanjut

lebih menggiriskan lagi’ tiba tiba angin kencang bergu lung

gulung dari sekeliling gardu, angin yang dmgin mendesis

tinggi, Ling Ji-ping yang benyali doble pun niengkirik

dibuatnya, bulu buduknya ber diri.

Ling Ji-ping tidak pernah mau percaya bahwa ada setan di

dunia ini, namun bayangan yang se lalu muncul di tengah

kabut memang mirip setan, dia yakin itu bukan samaran

manusia biasa, kalau manusia biasa takkan terlepas dari

peugamatanilva yang tajam. Sebentar dia berpikir. akhirnya

dia angkat pundak, katanya dalam hati : „Hm, ternyata ada

orang berani main main dlhadapanku. permainan rendah

kaum pencoleng begini masa dapat membuatku jeri?” Tempat

sembunyinya kira kira dua tombak dari lonceng besar, dalam

jarak yang cukup jauh ini dia masih kuasa me lcntarkan

pukulan jarak jauh, maka diam diam dia kerahkan tenaga,

mendadak telapak tangannya menampar kearah bayangan

ditengahi kabut itu..

Begitu angin telapak tangannya menderu, kabut putih itu

tercerai berai keempat penjuru, namun bayangan seperti

95

setan itu mendadak lenyap tak keruan paran Tapi bersamaan

dengan tersibaknva kabut putih itu, lapat lapat terendus bau

harum oleh Ling Ji-ping. pada hal seluruh perhatian dia

tumplek kepada bayangan setan itu, hakikatnya tidak

perhatikan yang lain, setelah dia menyadari gelogat tidak

menguntungkan, hidungnya sudah menyedot bau wangi itu.

Diam diam dia mengeluh celaka, baru saja dia menjejak kaki,

namun sudah terlambat. lutut terasa lemas, kontan kepala

pusing pandangan berkunang, pelan pelan dia ter sungkur

lemas

Pada saat itulah, dari dalam lonceng kumandang ringkik

tawa dinigin yang menyeramkan, bayangan semampai sebuah

setan pelan pelan mela yang turun dari dalam lonceng, enteng

seenteng kepulan asap meluncur turun kedepan Ling Ji-ping.

Kaki tangan lemas lunglai, tak mampu bergerak lagi,

namun dia tetap terjaga sadar, sikapnya yang dingin kaku

tidak berubah, katanya : „Sahabat, mirip sekali permainanmu,

sayang salamanya Ling Ji-ping tidak percaya adanya setan ? ‘

Bayangan itu bergantung pergi datang, tiba tiba

mengeluarkan suara aneh seperu marah juga mi rip senang,

kelima jarinya yang kurus kering bak cakar ayam pelan pelan

terjulur meacengkram ke dada Ling Ji-ping, gerakannya

ternyata secepat angin, jari telunjuknya dengan tepat

mengincar Hian-ki-hiat yang mematikan didepan dada Ling J iping.

Meski membekal kepandaian setinggi langit, namun sekujur

badan lemas lunglai, perlukah dia minta ampun ? Sambil

menyeringai pelan pelan dia pejamkan mata malah pada saat

Itulah men dadak dia mendengar suara sumbang seorang ber

kata „Kui-su dengarkan perintah, gusur orang ini ke Som-lotiam

menunggu hukuman.”

Mendadak terasa sapuan angin tajam dari jari jari cakar

setan itu, namun yang diincar kali ini adalah Hiat-to

96

penidurnya, tubuhnya begetar sekali, kontan dia jatuh

pingsan.

Waktu dia siuman, ternyata dirinya berads di sebuah

pendopo yang gelap dan dingin, diatas ruangan bergantung

sebuah lentera kecil yang me nancarkan cahaya redup, hawa

terasa dingin lem lab. tepat ditengah sebelah atas sama

terdapat sebuah meja panjang, keempat kaki meja diukir

dalam bentuk setan yang bertampang seram dan mengerikan.

dikanan kiri meja berdiri dua laki laki yang masing masing

memegang buku catatan kematian dan kehidupan,

disebelahnya lagi adalah dua Bu-siang (momok) yang

berpakaian putih dengan topi runcing’ tinggi, berturut turut

adalah setan setan yang berkepala kuda, kerbau serta macam

macam setan dengan bentuknya yang aneh aneh dart

menakutkan, suasana dan keadaan, disini betul betul mirip

diruang sidang neraka.

Ling Ji-ping tetap bersikap dingin, dia coba gerakkan kaki

tangan, terasa masih lunglai, namun sedikitpun dia tidak

merasa gentar, dia tahu semua ini adalah perbuatan manusia

biasa, kalau dirinya tadi tidak menyedot bius yang berbau

wangi, orang orang didepannya ini sekarang pasti sudah

menjadi setan tulen. Tanpa bergerak dan tidak bersuara,

sikapnya kalem saja meng awasi gerak gerik orang orang itu

serta menunggu perkembangan selanjutnya.

Sesaat kemudian, dibeiakang ruang sana terde ngar

seorang berseru lantang: „Kaucu tiba.” – di susul bunyi genta

yang berbuntut panjang, maka para panakawan disekeliling

meja itu serempak menjura kearah atas.

Tampak empat setan serba putih muncul dari balik pintu

belakang: rambut panjang menjuntai disisi pundak, ada yang

mukanya berlepotan darah, ada yang lidahnya menjulur keluar

bergelantung didepan dada, namun selintas pandang Ling Jiping

tahu bahwa semua itu hanyalah kedok buatan manusia,

dan yang menyamar jadi setan ini semua adalah perempuan.

97

Dibelakang keempat setan perempuan ini. muncul pula

seorang, berkedok hitam dengan pakaian serba hitam, diatas

kepalanya mengenakan topi kebesaran yang bertatah zamrud.

orang ini langsung duduk dibelakang meja panjang, suaranya

terdengar sinis: „Siapa dibawah itu ?”

Ling Ji-ping menyeringai dingin, katanya: „Saudara tidak

pernah main sandiwara, lekas kau copot saja kedokmu itu,

ingin aku orang she Ling tahu kau siapa sebenarnya “

Reaksinya sungguh hebat, setan setan yang ber deret

dibawah meja itu serempak membentak dan mencak mencak

dengan kaki tangan mengancam, gemuruh suaranya serasa

menggetar seluruh gedung angker ini. Lekas laki-laki berkedok

yang bercokol disinggasana itu mengulap tangan menghenti

kan keributan ini, tanyanya dengan suara sum bang:

”Kau inilah Cui-hun-jiu Ling Ji-ping’!”

„Betul, kiranya saudara juga mengenalku ? ‘

„Kau memanggilku saudara, tidakkah kau berpi kir apa kau

ini setimpal “

„Semua korban yang tewas ditanganku, akupun panggil

mereka saudara, terhadapmu tuan, kenapa harus

membedakan ?”

Bergetar tubuh orang berkedok mendadak dia terkial-kial,

badannya bergoncang dan menepuk meja, katanya: „Buyung,

kaupun kira aku Ini gentong nasi seperti mereka ?”

„Menurut pendapatku. gentong gentong nasi itu malah

lebih kuat dari kau. mereka berani tarung secara jantan

melawanku, kau sebaliknya memakai cara rendah membiusku

kemari”

Orang berkedok itu melenggong dan gelagapan, dua sorot

matanya dibalik kedok hitam mendadak menyala hijau seperti

pandangan jaiang rnata kelelawar, tiba tiba dia terkial kiai

pula, katanya . „Baik, akan kuberi kesempatan adil kepadamu,

98

Joan-hiang-le akan kupunankan lebih dulu, setiap orang dalam

pendopo ini, siapa saja boleh kau pilih, bila dengan Cap-ji-satto-

jiu kau dapat mengalahkan mereka, kau boleh bebas pergi

dari s ini tapi kalau kau yang kalah, apa pula janjimu ?”

„Kalau aku kalah, biar aku mati dihadapanmu.”

Orang berkedok itu tertawa gelak-gelak, kata nya: „ Anak

muda, nyawa Itu amal berharga, usiamu masih begini muda.

memangnya kau rela meninggalkan kehidupan ini ?”

”Memangnya apa keinginanmu ”

„Ya, kau harus tunduk akan perintahku.”

„Tunduk dan jadi hambamu ” mendadak Ling Ji ping

terbahak bahak, , kawan kawan memberi dua julukan

kepadaku, yaitu ‘lelaki tanggal’ dan Cui hun jiu, untuk Cui hun

jiu aku berterima kasih dan amat bangga olehnya, tapi julukan

lela ki tunggal kuraba kurang tepat, karena dalam dunia fana

ini kecuali guruku yang berbudi, hakikatnya tiada manusia lain

yang masuk dalam pandangan mataku, apalagi

pembawaan watakku dingin, kaku, tak pernah terbetik dalam

ingatan ku untuk mencari seorang kawan sejati, memang nya

aku sudi tunduk kepada siapa lagi? Jikalau demikianlah

perhitunganmu yang muluk, maka aku minta lekas kau tarik

kembali perkataanmu tadi.”

„Kalau aku tidak menarik kembali perkataanku'”

„Orang she Ling lebih suka mati dimedan laga, saatu ketika

kaum persilatan pasti akan tahu bahwa orang she Ling mati

karena dibokong dan dicelakai secara curang dan culas. Bukan

lantarai Cap ji te jiu yang kuyakinkan bukan tandlnganmu.’

„Bagaimana kalau aku tidak mencabut nyawamu?” kata

orang berkedok sambil tertawa lebar, „buyung, kau terlalu

mengumbar adat, keta huilah betapa berharganya nyawa

manusia ini, ji kalau Pun kaucu tidak menilai tinggi bakatmu,

untuk mencabut nyawa seseorang bukan soal sulit bagiku.”

99

„Kalian dari ‘KUA’ apa ” jerigek Ling ping s inins.

„Sebetulnya belum saatnya kuumumkan, tapi terhadap kau,

biarlah aku beritahu kepadamu, nah lihatlah buyung.” sembari

bicara tangan ka nan orang berkedok terangkat keatas serta

mengulap dengan enteng.

Begitu Ling Ji ping mendongak keatas, dimana ulapan

tangan sang Kaucu menimbulkan sam beran angin kencang,

maka dinding .yang menon jol dibagian atas kepalanya

seketika berontokan jatuh, ternyata dibalik lapis dinding yang

berwarna hitam itu terdapat sebuah batu pualam hijau yang

menyerupai pigura raksasa, diatas pigura ba tu pualam inilah

bertatahkan lima huruf yang menyala kemilau warna emas.

bunyinya adalah Yu ling kau ong tam atau markas pusat Yu

ling kau ( serikat orang orang halus ).

.Nama Yu ling kau sih tidak membuat hati Ling Ji-ping jeri

atau takut, namun pertunjukan gerakan tangan tangan sang

.Kaucu yang menimbulkan getaran angin kencang itulah yang

betul betul membuat hatinya kaget, agaknya dirinya bakal

menghadapi lawan tangguh.

Meski tahu kemungkinan dirinya bukan tandingan lawan,

dasar watakrya yang angkuh dan keras kepala, selamanya dia

tidak akan tunduk dibawah tekanan atau diancam, segera dia

tertawa besar, katanya dengan nada dingin’ „Manusia tulen

jus tru pura pura jadi setan segala, duniawi bagi manusia, kau

justru menamakannya sebagai alam setan, wah memang

menyenangkan, menyenang kan.”

„Buyung,” desis orang berkedok, „jangan kau petingkah.”

,Di mana saja dan kapan saja beginilah sikap orang she

Ling.”

”Kau betul betul tidak takut mampus?”

„Sayang aku dibokong dan penasaran, kalau tidak ingin aku

melabrakmu.”

100

Bergoyang goyang kain kedok didepan muka orang

berkedok, bentaknya: „berikan obat penawarnya.”

Setan idah panjang yang berpakaian serba putih disamping

orang berkedok segara mengiakan sambil berkelebat menuju

kebelakang, lekas sekali dia sudah keluar lagi, tampak

tangannya membawa se buah nampan emas yang berukir

emas, langsung mendekat kearah Ling Ji-ping. Begitu berada

di samping Ling Ji ping, tanpa bersuara dia menurun kan

sebuah cangkir pualam yang ber si air teh wangi yang

mengepulkan asap terus diangsurkan kehadapannya. Sejenak

Ling Ji-ping ragu ragu. akhirnya dia menggerakkan sebelah

tangannya dengan susah payah, menerima cangkir itu terus di

tenggaknya sampai habis.

Setan lidah panjang terdengar menyeringai hina, setelah

menerima cangkir kosong, segera dia meng undurkan diri.

ternyata gerak geriknya memang tangkas dan cekatan,

Ginkangnya memang tinggi.

Lekas Lmg Ji ping kerahkan hawa murni, meng himpun

tenaga menyatukan Lweekang, hanya se bentar, seluruh

tenaga dan kekuatan pisiknya telah seperti sedia kala, segera

dia melompat bangun.

„Buyung, sekali kuperingatkan, asal kau dapat

mengalahkan salah satu terserah siapa yang kau pilih diautara

yang hadir di sini, kau boleh bebas keluar masuk di sini, tapi

kaiau kau kalah, kau harus tinggal di sini dan menjalankan

segala perintahku, Pun kaucu tidak akan menyia-nyiakan

bakatmu,”

„Kaucu gede, ‘ ujar Ling Ji-ping pongah, orang macamku ini

tidak akan sudi bekerja demi kepentingan mu, dan ketahuilah

lawan yang ku pilih adalah kau sendiri.”

Tawa meringkik kumandang dari sebelah kanan meja,

setan yang bertopi tinggi dengan meme gang kipas itu tahu

tahu melangkah maju. kata nya sambil menyeringai : „Buyung

101

cilik, besar amat mulutmu, memangnya kau setimpal

bergebrak de ngan kaucu kita, marilah, biarlah aku Pek-busiang

bermain dua tiga. jurus dengan kau.”

„Bukan kau yang kupilih” jengek Ling Ji-ping dengan nada

hina.

„Aku tidak setimpal ” – *Wut* tiba tiba ta ngan kirinya

bergerak dengan cengkraman kilat. Kontan Ling Ji-ping

rasakan hawa dingin menye sakkan napasnya, lengan lawan

yang memutih kurus dengan jari jari panjang itu tahu tahu

sudah mengancam dadanya.

Ji-ping tahu orang orang disini bukan lawan enteng yang

boleh dipandang remeh, kalau tidak Yu-ling kau-cu tidak akan

memberi kelonggaran pada dirinya untuk memilih lawannya

sendiri cepat dia kerahkan hawa murni pelindung badan,

secepat kilat diapun gerakkan tangan kanan, jurus Lun-wi-kiucoan

dari salah satu tipu Cap-ji-te-sat-jlu dia lancarkan, kalau

lawan kena ter papas oleh telapak tangannya, pergelangan

Pek-bu-siang pasti hancur mumur.

Jari jari Pek-bu-siang sudah hampir menyentuh kulit daging

Ling Ji ping, mendadak Pek-bu-siang merasa gerakan jarinya

seperti ditahan sesuatu benda lunak yang liat, karuan hatinya

amat kaget, dilihatnya pula Ling J i-ping tidak berusaha meng

hindar dari cengkraman jari jarinya yang sekeras baja ini,

celaka adalah pergelaugan tangan sen diri terancam malah,

lekas ia menurunkan pundak kiri, berbareng kipas ditangan

kanan menyabet.

„Heh,” Ling Ji-ping bersuara menggoda, tiha tiba tubuhnya

berputar, berbareng lengan kiri me nyapu dengan tipu Thian

mo-pi (lengan iblis langit), jurus inipun salah satu permainan

Cap-ji te-sat-jiu yang lihay, mulutpun menghardik ”Pergilah.”

Tahu tahu dirinya sudah kehilangan waktu dan didahului

lawan, lekas Pek-bu-siang angkat lengan, sementara sikutnya

naik memapak, dengan keke rasan dia menyambut serangan

102

Thian-mo-pi yang dilancarkan Ling Ji-ping. * Biang!* getaran

keras menggoncang seisi rumah, tubuh Pek-bu-siang ter getar

terbang dan jatuh dikaki tembok, tapi Ling Ji-ping juga

rasakan lengan kirinya pegal kesemut an, tanpa kuasa diapun

tersirat lima langkah ba ru kuasa berdiri tegak pula.

Hanya dua gebrak Ling J i piag dapat kalahkan Pek busiang,

segera dia tertawa gelak gelak sam bil mendongak :

„Kiranya hanya begini saja keli hayan sang Bu-siang, Toakaucu,

terbukti kau ter lalu yakin akan kemampuan anak

buahmu, kem bali pada pilihanku, silahkan kau sendiri turun

gelanggang.”

Yu-ling Kaucu memang meremehkan kemampuan Ling Jtping,

dia tidak menduga bahwa Cap-ji-te sat-jiu yang telah

dilatihnya sesempurna itu, apalagi dia tidak tahu bahwa Jiping

juga sudah berhasil meyakinkan Hou-deh – sin-kang,

kalau tidak tadi diapun takkan berani bermulut besar.

Yu ling Kaucu mendengus sambil membanting kaki, Pek-busiang

segera merangkak bangun, na mun lengan kanannya

tampak lemas semampai, teriaknya sambil meringis menahan

sakit : „Kau cu, bocah ini sudah meyakinkan Hou-deh-sinkang,

maka dia berani petingkah.”

Sebelum Yu-ling Kaucu memperlihatkan reaksi nya, setan

lidah panjang yang tadi memberi obat penawar mendadak

bersuara : „Apa yang perlu diherankan dengan Hou-deh-sinkang

yang dia yakirkan ini T”’ Tahu tahu tubuhnya sudeh

berkelebat ke muka, gerakannya sungguh lebih cepat dari

bayangan setan, tahu tahu dia sudah berada dihadapan Ling

Ji-ping.

Ling Ji-ping tetap terloroh loroh, katanya : „Kepala kerbau

mulut ular, kaum kurcaci golongan setan segala boleh maju

seluruhnya, tak usah bermain sandiwara dihadapanku.

memangnya kalian masih punya jago lihay siapa lagi”:”

103

Setan putih itu mendengus, tiba tiba lidahnya yang

menjulur panjang itu bergerak seperti bela Jai gajah, begitu

bayangan putih berkelebat, kabut putih seketika timbul dan

mengambang tanpa arah terus merubung dan membungkus

tubuhnya, ditengah kabut putih inilah tampak bayangan setar

putih bertambah banyak, lidahnya seperti sedang menjulur

datang hendak menjilat mukanya.

„Gerakan apakah Ini ” Dalam hati Ling Ji-ping kaget dan

bertanya tanya. Tapi dia tetap berlaku tenang, hatinya

memang tabah, sebelum bayangan setan mendekat,

mendadak dia menghembus napas sambil melontarkan

hardikan keras, disusul bentakannya sekeras geledek

mengguntur: .,Kepandaian cakar kucing macam ini, orang she

Ling tidak pandang sebelah mata.’ Sembari bicara ke dua

lengannya dia julur lurus kedepan, mendadak terpentang

kekanan kiri, berbareng kaki menjejak tubuh melambung

dengan gerakan Sin-lui-ap-ting (geledek menindih kepala),

tangannya langsung! menyapu ke arah gumpalan kabut putih,

kedua jalur angin pukulan bagai gugur gunung yang laksaan

kati beratnya.

Anehnya. Sin-lui-ap-ting adalah jurus terampuh dan terlihay

dari Cap-ji-te-sat-jiu yang dilatihnya, aoi begitu angin

pukulannya menindih turun, gunmpalan asap itu memang

tersiak bubar keempat! penjuru disusul suara *Bum, bum*

dua kali, lantai marmer hijau dalam ruangan itu hancur lebur

dan berlobang dua kaki dalamnya, tapi pukulan ini tidak

melukai setan putih.

Menyadari kegagal an serangan ini, Ji-ping tahu dirinya

bakal terancam malah, lekas dia kendalikan tubuh jumpalitan

minggir kesana, tapi baru saja kakinya menginjak bumi,

gumpalan asap itu sudah berkumpul pula, di belakang

tubuhnya mendadak didengarnya suara setan menangis,

sutranya sedih memilukan dan me nusuk perasaan, suaranya

bergema diseluruh pendopo, pelan pelan tapi pasti segumpal

104

hawa yang amat dingin tahu tahu sudah mengancam

punggungnya.

Karuan bukan kepalang kaget Ling Ji-ping, sambil menjerit

lekas dia menyingkir kekanan, ber bareng Thian-mo-pi

menyapu pula kebelakang. Tak nyana baru saja tangannya

bergerak, suara tangisan setan tadi kembali kumandang,

lengan nya yang menyapu kebelakang mengenai tempat

kosong, sebelum dia sempat menoleh, hidungnya tiba tiba

mengendus bau wangi, baru saja hatinya mengeluh dan lekas

tahan napas, tapi sudah terlambat, sedikit saja dia mengendus

bau wangi ini, seketika sekujur badan lemas lunglai dan pelan

pe lan roboh terkulai.

Baru saja tubuh Lieg Ji-ping ,menyentuh lantai, setan lidah

panjang tadi sudah berada di samping tubuhnya, sebuah

tangan yang putih halus bagai pualam dingin petan pelan

mencengkram kedada nya.

Betapapun tinggi Kungfu Ling Ji-ping, dalam keadaan

demikian, terpaksa dia pejam mata terima nasib. Tapi baru

saja kedua matanya terpejam, mendadak didengarnya suara

senandung yang halus merdu membawakan bait bait syair

yang pernah didengarnya: „Kembang rontok apa boleh buat,

seperti kenal walet kembali.” Begitu senandung ini bergema,

suara ribut terjadi dalam ruang pendopo, hawa dingin yang

sudah menindih ke dada mendadak sirna. Didengarnya pula

orang berkedok hitam yang duduk dibelakang meja itu

menggeram murka sekali, lekas sekali suasana menjadi sirap

dan hening:

Karena heran pelan pelan Ling Ji-ping membuka mata. Lho

aneh, orang orang yang menyamar jadi setan dalam pendopo

ini tiada satupun yang kelihatan lagi, semuanya sudah ngacir

tak karuan parannya, pendopo sebesar ini tinggal dirinya saja.

Sekuatnya dia meronta, padahal tadi tubuhnya lunglai, tapi

sekarang dia dapat meronta bangun berduduk. Dia duduk

diam saja, hatinya tenang dan mantap, dia tahu senandung

105

tadi pasti oleh gadis yang memelihara sepasang seriti emas

dan perak tadi, kenapa Yu-ling Kauca dan kamrat kamradnya

sama lari menyingkir begitu mendengar suara senandungnya,

seperti tikus yang ketakutan melihat kucing layaknya.

Sungguh dia tidak habis mengerti.

Ji-ping menduga setelah majikan seriti menggebah orang

orang setan itu lari lintang pukang, tak lama lagi pasti akan

masuk keruang pendopo Ini, tak nyana ditunggu sekian

lamanya, ternyata tiada bayangan seorangpun yang datang.

Mala n sunyi, angin malam terasa menghembus dingin,

memangnya pendopo besar ini dalam ke adaan gelap, hingga

dirinya terasa seperti berada dineraka. Waktu dia menoleh

keluar, langit nan gelap hanya tampak beberapa kerlip

bintang. Se lama kelana di Kangouw dua kali berturut turut Jiping

dibokong dan kecundang, sayang sekali s iapa sebenarnya

Yu-ling Kaucu Sekarang dia belum bisa mengetahui, dari

kepandaian anak buahnya dapatlah dia bayangkan bahwa Y uling

Kaucu pasti memiliki Kungfu yang aneh serta tinggi. Tapi

kenapi begitu mendengar senandung majikan sepasang seriti

mereka lantas ngacir ? Mungkinkah kepandaian silat majikan

sepasang seriti jauh lebih tinggi dari Yu-ling Kaucu sendiri ?

Lalu siapa sebenarnya majikan sepasang seriti Itu? Diam diam

hatinya berpilar, namun tetap tidak memperoleh jawaban.

Kira kira semasakan air mendidih kemudian, tiba tiba

didengarnya suara lambaian pakaian orang yang lagi

melayang datang, seringan daon jatuh, dua orang telah

berada diluar pendopo. Ling Ji-ping mengira yang datang

adalah majikan sepasang seriti, tak tahunya dia mendengar

suara merdu yang sudah dikenalnya: „Eh. nenek, agaknya

tiada orang disini ? Mari masuk melihatnya.” mendengar

suaranya Ji-ping lantas tahu yang datang adalah nenek Huyong

bersama cucunya hatinya jadi kaget dan kebat kebit.

Dengan nenek Hu-yong dia tidak pernah salah dan tiada

permusuhan, sudah tentu tidak perlu takut, namun keadaan

106

dirinya yang serba runyam, sekarang, sudah tentu malu dan

pantang dilihat oleh gadis yang cantik dan Jenaka itu, padahal

wataknya kaku dan nyentrik, tapi entah kenapa begitu

mendengar suara gadis yang satu ini, hati nya lantas tidak

tentram.

Didengarnya nenek Hu-yong berkata „Nanti dulu, tempat

ini agak aneh.”

„Apanya yang aneh ” tanya Yong-ji.

Enteng suara nenek Hu-yong : „Ditempat jauh tadi kami

lihat bayangan banyak orang yang bergerak gerak di sini, tak

kira setelah tiba di sini, bayangan seorangpun tak kelihatan,

pendopo ini begini gelap pekat, mana boleh sembarang

masuk, bisa .menghadapi bahaya”

„Tapi mungkin orang itu berada dalam pendopo ini’-‘” desak

Yong-ji.

Tiba tiba nenek Yong-ji mendesis sekali, kata nya: „Kau

bocah ini memang keterlaluan, tidak hujan tidak angin, tanpa

alasan kau menyeretku kemari untuk mencari seorang yang

tidak dikenal, kutanya siapa sebetulnya bocah she Ling itu,

kau juga tidak mau menjelaskan, memangnya apa sih yang

terjadi ?”

Gadis yang dipanggil Yong-ji merengek aleman, katanya

„Nenek, tadi sudah kukatakan, setelah melihatnya kau akan

tahu sendiri.”

Si nenak tiba tiba tertawa lebar, katanya meng goda : „O,

iya, tahu aku sekarang. Tentunya kau kuatir karena nenek

sudah berusia lanjut, hidup ku sudah tidak lama lagi, bila

kutinggalkan kau bakal yatim piatu, maka mumpung aku

rnasih sehat, lekaslah mencarikan jodoh untukmu, betul tidak

?”

107

Terdengar Yong ji membanting banting kaki, mendadak dia

menjerit aleman, serunya dengan suara malu malu: „Nenek,

sudahlah, kau membual dan menggodaku saja.”

Entah kenapa Ling Ji-ping yang mendengarkan percakapan

ini tergerak hatinya.

Akhirnya nenek Hu-yong menghela napas, kata nya:

„Bukan nenek membual, kenyataan memang demikian. Kali ini

kita sudah turun dari Huyung hoag, apakah bisa kembali

dengan selamat sukar diramalkan, usiamu sudah delapan

belas, memang sudah sepantasnya kucarikan perjaka yang

cocok dengan kau, siapa tahu nenek bakal mengalami

sesuatu, aku tidak usah kuatir akan dirimu lagi. Nenek dulu

juga mengalami masa remaja seperti dirimu, memangnya aku

tidak dapat menyelami perasaanmu ? Pasti bocah she Ling itu

mencocoki seleramu, maka dari jauh sengaja kau menyeret ku

kemari henkak mencari dia.”

Tak kira Yong-ji justru berludah, kedua kaki nya mencak

mencak, mulutnya merengek rengek semakin ribut: ,, Aduh,

nenek bicara semakin tidak genah, sudahlah, aku tidak mau

cari dia, nenek selalu menggodaku s ih. Aku cuma ketarik sifat

bocah she Ling yang dingin kaku dan aneh tingkah lakunya,

ilmu silatnya juga lihay, kuharap kau orang tua dapat meraba

asal usulnya, nenek justru ngelantur panjang lebar, baiklah,

mari kembali saja.”

„Kenapa tergesa,” cegah si nenek Hu-yong, .,tiada lampu

dalam pendopo ini, tapi pintunya justru terpentang lebar, coba

tunggu ingin aku tahu apa yang telah terjadi di s ini “

Habis suaranya, tampak bayangan orang berkele bat

diambang pintu, nenek Hu-yong yang ubanan tampak berdiri

sambil memegang pentung dengan kedua tangannya-

Sudah tentu Ji ping semakin gelisah, sedapatnya dia

meringkel dipojokan tanpa berani bergerak kuatir dirinya

konangan orang. Dari bawah pandang an nenek Hu-yong

108

menyapu keatas dan akhirnya ber henti pada pigura pualam

yang bertuliskan Yu ling kau itu, seketika dia menyurut kaget

dan tersirap hatinya.rambutnya yang uban tanpak bergoyang

goyang, entah karena takut atau kaget Yang terang mendadak

dia putar tubuh terus menarik tangan Yong-ji, suaranya

terdengar berubah : „Nak lekas pergi. Tempat ini berbahaya,

jangan lama lama kita di sini,” habis suaranya mereKa pun

telah lari jauh.

Melihat nenek Hu-yong membawa Yong-ji pergi, perasaan

Ji-ping jadi hampa dan kosong, tapi hati merasa lega pula,

akhirnya dia menghela napas panjang.

Seperti diketahui watak Ling Ji-ping memang kaku dan suka

menyendiri, jiwanya yang nyentrik memang serba aneh,

walaupun kecundang, awak dalam bahaya lagi, namun dia

tetap tidak sudi mohon ertolongan, sebab itulah kenapa orang

orang Kangouw sama memberi julukan ‘Tok-hu’ kepadanya.

Dengan susah payah sampai tubuh basah oleh keringat dingin

akhirnya dia berhasil meronta berdiri dan merambat kearah

pojok dinding, disini dia membelakangi tembok mulai sa madi

dan mengerahkan Hou-deh-sin-kang, maksud nya hendak

mendesak racun keluar tubuh.

Kira kira satu jam kemudian baru dia membu ka mata serta

menarik napas panjang beberapa kali, namun seperti orang

yang baru sembuh dari sakit, badannya masih lemas, paling

sekuatnya dia dapat menggerakkan badan saja, kenyataan

dirinya seperti orang biasa yang tidak pandai main silat.

Tapi memperoleh kemajuan yang limit inipun sudah amat

berharga bagi dirinya, dia yakin da lam beberapa hari lagi,

pasti dia berhasil mengu sir racun yang mengeram dalam

tubuhnya, maka tugas pertama yang penting sekarang adalah

sele kasnya meninggalkan tempat berbahaya ini, bila orang

orang Yu-ling-kau putar balik, maka celaka lah dirinya. Maka

pelan pelan dia beranjak ke luar pendopo, setelah melewati

dua ruangan dan dua pintu besar, baru dia tahu bahwa di sini

109

bu kan lagi berada di Thian-su-tong, Setelah berada di luar

pintu besar dia memeriksa keadaan sekeli lingnya, udara gelap

gulita, yang tampak hanya bayangan gunung gernuaung dan

alas belukar, angin dingin menghembus kencang sehingga dia

bergidik kedinginan.

Dengan senyum getir dia geleng geleng kepala, baru saja

dia menyadari bahwa tidak ringan racun yang semayam dalam

tubuhnya, kalau tidak hanya hembusan angin gunung tidak

akan membuatnya kedinginan seperti ini.

Racun apakah yang dinamakan Joan-hiaug-lo itu’ Sembari

jalan menyusuri aliran sungai kecil benak nya terus menimang

nimang, racun racun jahat dan aneh yang pernah dikenalnya

satu per satu dia pikirkan, tapi diantara deretan nama nama ra

cun jahat itu tiada yanp bernama Joan-hiang lo.

Hembusan angin gunung tidak pernah berhenti, badannya

semakin gemetar, namun sekuatnya dia kertak gigi, mimik

mukanya tetap kelihatan kaku dingin dan angkuh, meski

dengan langkah enteng sempoyongan dia terus maju

kedepan. Setiap beberapa langkah, dia harus berhenti

mengatur napas yang semakin ngos ngosan.

Mega mendung, cuaca pegunungan yang sudah gelap

dingin semakin pekat lagi, hembusan angin justru bertambah

kencang dan ribut, sebentar lagi jelas bakal hujan Ji-ping

kebingungan kemana dia harus pergi, dimana nanti dia harus

berteduh ?, Sekarang dia hanya bisa pasrah pada nasib,

jangan kata musuh, seekor binatang buas pun cukup

membinasakan Cui-hun-jiu yang ditakuti kaum persilatan Ini.

Setelah melampaui hutan hujan mulai gerimis hembusan

anginpun semakin kencang, tiba tiba dia melihat tak jauh

disebeiah sana terdapat sebuah Tho-te-bio yang terbuat dari

susunan tiga lembar papan batu. Dalam cuaca seperti ini,

meski Tho te-bio ini araat kecil, namun sudah merupakan

penemuan yang sangat berharga bagi dirinya, lekas dia

memburu ke sana serta melongok kedalamnya, mulutnya

110

menggumam: „Saudara Tho-te,apa bo leh buat terpaksa aku

berdesakan dengan kau di sini.!’

Tho-te-bio atau berhala bumi ini dibangun pen dek tapi

lebar memanjang, kalau rebah tetap tak kan bisa terhindar

dari hujan angin, sekilas dia menerawang, terpaksa dia

menerobos masuk dan duiuk berdesakan dengan malaikat

bumi, malah cara duduknya pun harus mirip malaikat bumi,

kalau tidak dia tidak akan kebagian tempat:

Maka dengan sikap dingin dia tertawa dan berka ta:

„Saudara bumi, aku betul betul menyusah kan kau,” lalu dia

memutar tubuh membelakangi malaikat bumi terus menyurut

mundur, pelan pelan dia pejamkan mata serta mulai

mengerahkan hawa murni dan samadi.

Kira kira beberapa lamanya, ditengah hujan lebat itulah

didengarnya kesiur angin dari lambaian pakaian basah yang

ditiup angin lalu, tujuannya ternyata kearah Tho-te-bio sini,

Karuan dia terkejut, pikirnya : „Hujan selebat ini, masih ada

juga orang menempuh perjalanan? Waktu dia membuka mata

dan celingukan kearah sekitarnya, tak tahunya baru saja dia

melongok ke luar, men dadak tangan kirinya seperti dipijat

oleh malaikat bumi yang ada dibelakangnya. serta

digoncangkan perlahan, maksudnya supaya dirinya tidak berge

rak atau bersuara.

Sudah tentu kejadian ini betul betul membuat Ji-ping kaget

setengah mati, selama beberapa ke jap dia duduk

berdampingan, yaug disangkanya malaikat bumi bersimpuh

disebeiahnya ternyata Juga manusia, hebat adalah ilmu

menahan napas orang ini ternyata sudah mencapai tarap yang

ke lewat sempurna, karena selama itu dia duduk

disebelahnya, orang tetap tidak pernih ganti ua pas’ Dua

bayangan orang tampak berkelebat dan melayang turun di

luar sana, tak sempat Ji-ping perhatikan malaikat bumi

disebelahnya ini siapa sebetulnya ? Tapi dia yakin orang tidak

bermaksud jahat padanya.

111

Didengarnya seorang di sebelah kiri berkata : „Lebat betul

hujan Ini,”

Orang di sebelah kanan mengusap air hujan di mukanya,

suaranya sember : „Cari tempat untuk berteduh barang

sejenak,”

Kawannya gera melongok ke daalm Tho-te bio, katanya :

„Tempat ini terlalu kecil, tidak cukup untuk berteduh'”

Temannya itu juga menoleh, katanya: „Lempar kan saja

kedua patung di dalamnya itu, tempatnya cukup tiba untuk

kita berdua.”

„Lo-toa,” ujar orang di sebelah kiri dengan tertawa lebar,

„kau tidak takut bapak dan ibu bumi marah padamu ?’

„Lo-ji, memangnya kenapa sih kau ini, dua patung tanah

liat kenapa harus dibuat takut ? He he, selama hidup berapa

jiwa manusia pernah kubunuh, memangnya aku takut

terhadap bangsa setan dan malaikat segala.”

Sudah’tentu Ling Jl-ping kebat keblt dan ter tawa getir

dalam hati, bila orang mau ulur tangan pasti akan tahu dirinya

adalah manusia tulen dalam keadaan lunglai seperti ini, kalau

sampai tubuhnya dilemparkan, sungguh malunya bukan main.

Dikala dia kebingungan orang yang dipang gU Lotoa sudah

datang menghampiri, telapak ta ngannya segede kipas itu

salah terulur masuk dan yang dicengkrannya pertama justru

dirinya.

,,Keparat,” demikian umpat Jl-ping dalam hati. „aku yang

didahulukan.”

Walau dia tidak kuasa menggunakan tenaga, ta pi kedua

tangan sekuatnya masih dapat digerakkan, baru saja dia

merangkap kedua jari tangannya hendak menusuk Hlat-to

dlpergeiangan tangan orang. Mendadak tangan malaikat bumi

meremas tangan nya pula, seperti memperingatkan dirinya

112

supaya jangan bergerak, sekilas dia. melengak, tapi dia urung

bertindak.

Cepat sekali telapak tangan Lo-toa tinggal beberapa senti

lagi mencengkram pundak Ling Ji-ping, tiba tiba dari belakang

malaikat bumi tampak sinar hijau berkelebat menyembur

keluar hanya sekali berkelebat sinar hijau Itu, kontan laki laki

itu menjerit kesakitan, telapak tangan yang menjulur masuk

lekas ditariknya balik sara bil mundur sempoyongan.

Laki laki yang berdiri kehujanan dibelakang sa na berseru

kaget : „Kenapa kau Lo-toa ?’

Tidak sempat menjawab laki laki itu langsung angkat

tangan kiri terus menepuk kepunggung tangan kanan. Kembali

,Lmg Ji-ping melihat sinar hijau berkelebat, kembali laki laki itu

menjerit kesakit an, tangan kirinya menari nari naik turun

sambil diobat abitkan, tapi sinar hijau yang melekat di tangan

kirinya itu tetap menempel tak bisa dijatuhkan.

Baru sekarang temannya itu melihat kejadian ini, tapi

seperti juga Ling Ji-ping dia tidak tahu jenda apakah yang

bemnar hijau dan melekat di kulit daging laki laki yang

dipanggil Lo-toa itu, namun mereka sudah menduga bahwa

sinar hijau itu pasti sesuatu yang amat beracun.

Lekas laki laki yang lain mencabut pedang pan jang yang

kemilau serta berseru: „Jangan bergerak, biar aku tabas

dengan pedang.”

Laki laki yang tergigit segera menghentikan gerakannya,

baru sekarang Ji-ping melihat jelas, ter nyata yang menggigit

ditangan laki laki itu ada lah seekor kelabang yang panjangnya

empat limal senti, sekujur badan berwarna hijau dan tampak

masih bergerak gerak.

Laki laki itu maju dua langkah, lengan kanan’ bergerak

sinar pedang pun berkelebat, ujung pedang segera menabas

dan menjungkit kearah kela bang hijau itu. tak nyana

kelabang hijau ini ter nyata cerdik dan gesit gerakannya,

113

mendadak dia meliuk badan serta merambat naik kelengan

yang lebih tinggi, tabasan pedang ternyata dapat dihindarkan

dengan baik

-oo0dw0oo-

Jilid 4

Taraf permainan ilmu pedang laki-laki itu agaknya sudah

cukup tinggi sudah tentu dia pe nasaran, pedangnya ternyata

berhenti ditengah jalan serta memelintir balik ke atas mengiris

permukaan kulit terus menyapu ke atas. Kelabang hijau ini

seperti tumbuh mata diekornya, tahu dirinya ter ancam

mendadak ia menyelinap masuk kclengan baju orang. Karuan

si Lo-toa berkaok-kaok sambil mencak-mencak, tampak kedua

lengannya itu sudah melepuh hitam, karena kehilangan

sasaran, laki-laki yang pegang pedang malah berdiri me

lenggong di tempatnya.

Ling Ji-ping tertawa geli dalam hati, pikir nya : “ Saudara

malaikat bumi ternyata memang pandai menggoda orang,

entah siapa kedua laki laki ini ? Kenapa mereka dikerjai

dengan binatang berbisa’ “

Laki laki berpedang tiba tiba menggerung sekali, kaki

melangkah pedang pun berkelebat, ge rakannya memang

cekatan dan diperhitungkan, “Bret” lengan baju saudaranya

ternyata sudah di babatnya sobek sebatas pundak. Laki laki

ber pedang ini memang cukup cerdik, dalam gugupnya segera

dia bertindak, akalnya memang berhasil kelabang hijau segera

ikut jatuh bersama lengan baju yang terobek, sambil

menyeringai laki laki berpedang memburu maju, pedang

terangkat sege ra dia menepuk menggunakan badan pedang.

Tapi kelabang hijau ternyata cukup gesit, sekali me tenting,

tubuhnya ternyata melejit mumbul meli Wati sinar pedang,

sekali berkelebat lagi sinar hijau tampak meluncur kebelakang

malaikat bumi.

114

Beberapa kali gerakan pedangnya ternyata tidak mampu

membunuh seekor kelabang sudah tentu laki! itu amat marah

dan pmasaran, saking marah napasnya memburu mata

mendelik bundar. Tdpi lekas sekali dia ingat akan temannya

yang terluka parah, menolongnya lebih cepat lebih baik,

dilihatnya lengan kawannya sudah membengkak makin besar

dan masih menjalar keatas pundak, karuan kejutnya bukan

main, teriaknya gugup : ,,Lo-toa, lekas kerahkan hawa murni

mendesak racun, jangan biarkan kadar racun menyerang da

da.”

Laki-laki itu sudah tidak hiraukan hujan lebat dan lumpur

yang kotor, segera dia duduk ber simpuh mulai kerahkan

tenaga dalamnya. Sementara laki laki berpedang merogoh

kantong menge luarkan sebuah botol kecil warna hijau tua, dia

tuang sebutir pil terus dijejalkan kemulut laki laki, lalu

dituangnya pula beberapa butir serta diremas dan digosok

gosok ditelapak tangan dibubuhkan dlsekitar lengannya yang

membengkak, akhirnya dia menghela napas, katanya:

,.Syukurlah, kalau Cui-tok-tan buatan Ngo-tok Hujin ini tidak

se lalu kubawa, akibatnya pasti celaka dua belas.”

Tergerak hati Ling Ji-ping, pernah dia mendengar bahwa

Cui-tok-tan adalah obat mujarab untuk menawar racun jahat,

racun jahat apapun di du nia ini dapat disembuhkan, jikalau

dirinya bisa mendapatkan sebutir, mungkin racun Joan-hianglo

dari Yu-bing Kaucu yang menyebabkan dirinya lunglai inipun

dapat disembuhkan.

Teagah dia berpikir pikir, dilihatnya laki laki berpedang itu

sudah menoleh kemari, kedua matanya kelihatan jalang.

Hujan masih lebat, da lam jarak beberapa kaki ini Ji-ping bisa

melihat usia laki laki ini kira kira tiga puluhan, tampang nya

culas, siaar matanya tajam, jelas Lwekangnya tinggi, ilmu

pedangnyapun kelihatan amat lihay.

Pada saat itulah, suara lirih berbisik ditelinga Ling Ji-ping:

„Jangan kau bergerak, aku bisa menghadapinya.” suaranya

115

lembut namun jelas, Ji-ping agak kaget, bukan kaget karena

orang mampu menggunakan ilmu Thoan-im-jip-blt un tuk

bicara dengan dirinya, tapi kaget karena sua ra itu adalah

suara perempuan, bukan saja perem puan malah suaranya

yang lembut merdu itu jelas menandakan bahwa dia seorang

gadis belia.

Sesaat dia duduk mematung, siapakah gadis ini ? Apakah

tujuannya sembunyi, didalam Tho-te-bio ini menunggu kedua

orang ini Atau hanya secara kebetulan? Bahwa dia mencelakai

orang dengan kelabang beracun, jelas membuktikan bah wa

gadis ini bukan murid aliran lurus atau per guruan ternama,

namun kenapa dia bersikap bcrsa habat dan melindungi

dirinya? Apa pula maksud orang terhadap dirinya7

Laki laki berpedang itu menggerung rendah tiba tiba

mukanya menyeringai sadis, telapak ta agan kiri terayun,

segumpal hawa dingin segera menyampuk kearah mereka

berdua. Gumpalan angin pukulan ini tidak bersuara seperti

tidak bertenaga, namun sebelum angin pukulan mengenai

tubuh, Ling Ji-ping sudah merasakan sekujur tubuh dingin

hanpir membeku.

„Hoat-kut-han-ping-ciang.” demikian keluh Ji-ping dalam

hati dengan kaget, lekas dia kerah kan Hou-deh-sin-kang,

pada saat itu pula, tangan kiri yang dipegang orang mendadak

merembes se gulung hawa hangat, lekas sekali berputar

keseluruh tubuhnya, lebih aneh lagi, gumpalan angin pukul an

yang menerpa itu tidak mengenai tubuhnya, ter nyata sirna

dltengah jalan, seperti dipunahkan oleh semacam ilmu yang

menakjupkan.

Laki laki itu menjerit kaget dan terlongong sekian lamanya,

seperti tidak peicaya wajahnya kaget dan curiga, akhirnya dia

terkekeh dingin, katanya: „Kiranya dua jago kosen ada di sini,

silakan keluar saja.”

Suara tawa merdu tiba tiba kumandang dari samping Ling

Ji-ping: „Jago kosen atau jago keok apa segala, serahkan.”

116

Sudah tentu laki laki ita tersentak meleng gong, tanyanya :

„Siapa kau T’

„Cuh,” perempuan itu berludah sekali, „se telah tergigit

oleh kelabangku, masih juga kau tidak tahu siapa aku ?

Memangnya apa kerja kalian selama ini di kampung ‘

Laki laki itu menjerit kaget sambil mundur beberapa

langkah, mukanya tampak jeri dan berkeringat dingin,

mulutnya megap megap : „Kau kau……kau orang dari Thiango-

kiong “

Perempuan itu berludah beberapakall pula, dampratnya :

„Memangnya kau belum pernah melihat kelabang tadi

berwarna hijau .-“

Laki aki itu mengeluh sekali, katanya „Ja di kau adalah Likgo

Wancu, betul tidak ?”

„En, lumayan jaga. setelah tahu aku ini Lik-go Wancu,

tentunya kau tahu bahwa aku tidak akan mencabjt nyawa

kalian, sekarang lekas ke luarkan.-‘

Laki laki itu melenggong, tanyanya: „Apa’ yang Wancu

minta ?’“

„Barang yang kalian dapatkan.”

„Kami . . . tidak memperoleh apa-apa “

„Bohong.” damprat perempuan itu, „Thian-tiok-sam-po

memangnya kaum kroco seperti kalian juga ingia

mengangkanginya. Lekas serahkan Giok-liorg-soh, kalau tidak,

hem.”

Ling Ji-ping tidak hiraukan percakapan kedua orang ini, dia

duduk dengan hati tidak karuan, sungguh tak pernah terpikir

dalam benaknya bah wa perempuan yang memegang

lengannya adalah Lik-go Wancu dari Thian-go-kiong. Padahal

sejak puluhan tahun ang lalu, perempuan ini sudah terkenal

cabul dan keji, Thian-siong-bun termasuk salah satu dari

117

empat aliran paling berbisa dalam dunia ini, bahwa hari ini

dirinya terjatuh ke Jangan orang, sungguh hatinya menyesal

bukan main.

Namun soal lain menimbulkan gairah hatinya pula, tapi juga

agak heran Giok-hud-jiu, Giok-tiap dan Giok-Ian termasuk

Thian-tiok-sam-po. Ketika pusaka ini sudah turun temurun

sejak ratusan tahun yang lalu dan berpindah dari tangan yang

satu ketangan yang lain. terakhir tidak dike tahui paranannya,

dari percakapan kedua orang ini barulah dia menjadi jelas

persoalannya, bahwa kedua iaki laki ini ternyata berhasil

mendapatkan Giok-iiong soh seperti apa yang dituduhkan oleh

Lik-go ancu. Pada hal menurut apa yang dia tahu diantara

ketiga pusaka itu, Giok-liong-soh tidak termasuk diantarauya.

Setelah melecggong beberapa kejap, aki laki itu tidak

herani mungkir, akhirnya dia bersuara gagap:

„Tapi…….tapi…….”

„Tapi ksnapa ” bengis suaranya Lik-go Wancu, „Kaucu

kalian bisa membunuh orang, memangnya aku tidak mampu

meng habisi jiwa kalian? Siapa yang duduk disampingku

tentunya kalian juga sudah mengenalnya. Lekas serahkan,

jiwa kalian kuampuni dan boleh pergi. Jangan kira temanmu

sudah menelan Cui-tok-tam lantas dapat melindungi jiwanya.

Ketahuilah oleh mu, dalam jangka satu jam dewapun takkan

dapai menolongnya lagi. Kecuali obat penawar dari per

guruanku sendiri, kalau tidak, memangnya Thisn-siong-bun

kita dapat diagulkan sebagai pentolan dari Si-tok ? “

Dengan rasa takut takut laki laki itu coba melongok

kedalam Tho-te-blo, tiba tiba dia me nyurut mundur pula

dengan terbeliak takut dan ngeri, lekas dia menoleh kearah

temannya yaig duduk ditengah hujan, ternyata lengannya itu

tetap membengkak hitam seperti gelembung, meski tidak

menjalar keatas lagi, tapi juga tidak lebih baiki karuan dia

mengerut kening.

118

Lik-go Wancu tertawa ejek : “Serahkan dulu Giok-liong-soh

kepadaku, nanti kuberi tanda pengenalku, dengan tanda

pengenalku itu kalian boleh serahkan kepada Kaucu kalian,

katakan bah wa Giok-liong-soh telah kurampas, kalau dia tidak

terima suruh dia meluruk ke Thian-si-ong-nia, kapan saja dia

datang pasti kita sambut deng an pintu terbuka lebar.

Yakinlah setelah dia mels hat tanda pengenalku, jiw» kalian

pasti tidak, akan diusik sama sekali.”

Akhirnya laki-laki itu menghela napas, tanpa berani

membangkang lagi, pelan-pelan dia keluar kan sebuah

bungkusan kain dan dipegangnya de ngan kebingungan.

„Buka buntalan kain itu !” seru Lik-go Wancu.

Dengan jari-jari tangannya yang gemetar laki-laki itu

membuka kain ountalan, ditengah hujan lebat, tampak cahaya

merah cerah seketika men corong ditengah kegelapan,

ternyata isi buntalan itu memang sebuah gelang pualam

berwarna me rah darah, lapat-lapat kelihatan dtantara cahaya

iaerah yang menyala itu, ada ukiran dua ekor naga yang lagi

berlegot-legot di atas gelang bun dar itu. Anehnya hujan

begini lebat, tapi caha,ya merah itu tetap menyala, tetesan air

hujan seperti tersibak oleh cahaya merah itu.

Ling Ji-ping terpesona, batinnya: „Memang sebuah

pusaka.”

Lik go Wancu agaknya juga yakin bahwa gelang itu tidak

palsu, segera dia tertawa riang, katanya: „Baiklah, letakkan di

atas panggung batu.”

Setelah laki laki itu menaruh gelang pusaka Itu ditempat

yan ditunjuk, Lik-go Wancu me nambahkan : „Nah” terimalah.

Kuberi sebentuk kelabang hijau ini, sebutir obat pemunah,

lekas enyah.” habis bicara tampak tangannya terayun, maka

melesatkan dua titik bayangan.

Tersipu sipu laki laki itu menangkap kedua titik bayangan

itu, setelah diperiksa sejejak, lalu dia masukkan kedua benda

119

itu kedalam kantong, tanpa bicara segera dia gendong

kawannya lalu berlari meninggalkan tempat itu.

Waktu laki laki itu periksa benda yang di tarimanya, Ling Jiping

juga ikut menyaksikan dengan jelas, satu dianiaranya

adalah sebuah batu pualam yang berbentuk kelabang

berwarna hijau pupus, begitu indah dan bagus sekali ukiran

batu pualam ini, sementara benda yang lain adalah sebutir pil

bewarna hijau daon, sebesar kacang tanah,

Setelan kedua laki laki lagi itu pergi terdengar Lik-go

Wancu menghela napas lega, sekali gerak gelang pualam

merah darah diatas batu tahu tahu sudah diraihnya dibawah

pancaran cahaya merah gelang pualam itu. baru Ling Ji-ping

dapat meli hat jelas wajah Li-go Wancu.

Ternyata Lik-go Wancu adalah seorang gadis belia, beralis

lentik bermata bundar jeli seperti raita burung phonix,

wajahnya nan ayu jelita bak kembang yang sedang mekar,

apalagi dibawah pan cara n cahaya merah dalu, tampak lebih

anggun dan agung, hakikatnya tidak nampak sifat cabul dan

watak kejinya dari sorot mata maupun rona mukanya.

Setelah menyimpan Glok-liong-soh baru dia membalik

kearah Tho-te-bio, katanya tersenyum lebar: “Hai, banyak

terima kasih ya. Kalau kau tidak datang, yakin kedua laki laki

itu takkan gampang tunduk ancamanku.”

Ji-ping melongo, serunya:”Jadi kau bukan Lik-go Wancu?”

Gadis itu cekikikan, katanya: “Kau tak percaya?”

Gadis itu tertawa riang, ujarnya “Sekarang tidak parcaya,

betul tidak.’ Dugaanmu memang betul, itulah yang dinamakan

satu lawan satu, kalau aku tidak pinjan nama perempuan iblis

itu menggertak mereka, masa bisa barang ini ku peroleh?”

„Siapakah nona “

Gadis Itu tertawa pula, pelan pelan tangan nya mengusap

kemuka sendiri.

120

„Lian-hoa.” teriak Ji-ping mendadak, „kiranya kau,”

„Ya, memang aku, kau tidak duga ?” sembari bicara aia

menghampiri terus menyelinap masuk pula kedalam Tho-tebio,

duduk bersimpuh de kat disamping Ji-ping.

Hujan semakin lebat, angin menderu semakin kencang,

karuan Ji-ping yang sudah kepayahan semakin menderita,

tubuhnya menggigil keras, pe rut hampir beku dan kejang

menahan dingin. Lekas dia kerahkan hawa murni untuk

menahan rasa dingin, setelah agak mending dia berhenti dan

tanya: „Nona, apakah itu tugasmu di Ceng-seng-san ini ?”

Lian-hoa mengangguk tanpa bersuara, akhir nya

mengiakan perlahan.

„Nona memang cerdik pandai, dari mana kau tahu kalau

kedua keparat itu takut terhadap Lik-go Wancu ‘?”

Lian-hoa cekikik geli. katanya : „Tam-culah yang

mengaturnya, konon kedua keparat itu pernah kepergok oleh

perempuan iblis itu, hampir saja jiwa mereka amblas, burung

yang sudah ketakut an melihat busur, gampang saja

dikelabui.”

„Ob, ya betul.” ucap Ji-ping, „tadi nona bi lang aku ini

pernah apanya ?”

Lian-hoa tersenyum. Sambil memalingkan muka, katanya :

„Masa tidak pernah kau mendengar, kelabang hijau itu

kepunyaan seorang gendak yang berjuluk Bu-sim-kbek,

hobbynya suka makan jantung manusia “

Mengkirik bulu kuduk Jiping, tanyanya : „Apa betul ada

manusia sekeji itu dalam Bulim “

„Manusia aneh ada saja dalam dunia ini.” ucap Lian-hoa

tertawa manis, „Beberapa tahun belakangan ini konon kedua

orang ini tidak per nah berpisah, kau duduk disampingku,

bukankah kebetulan membuat samaranku menjadi tulen.”

121

„Hm,” Ji-piog mendengus dingin, pikirnya: ‘Manusia macam

itu, suatu haii bila kerergok olehku, pasti tidak akan kuampuni

dia.”

„Eh, kenapa sih kau””‘ Ji-ping tertawa beku, sahutnya :

„Tidak apa apa- Aku cuma heran kenapa manusia jahat da

jam dunJ3 ini tidak habis juga diberantas.”

,,Em,” Lian-hoa bersuara prihatin, „tapi me nurut apa yang

Kutahu, Lik-go Wancu si perem puan iblis itu memiliki Kungfu

yang tiada tara dengan demikian pula Bu-sim-khek itu

meyakin kan Kik-sim-jiu yang hebat dan dahsyat sekali, jikalau

kau betul betul kjbentur dengan mereka, kau harus lebih hati

hati.”

Ling Ji-ping tertawa angkuh, tiba tiba dia tanya : „Konon

Glok-hud jiu, Giok-tiap dan Giok-lan termasuk Sam-po, lalu

Giok-liong-soh yang nona peroleh itu…..”

Giok liorgsoh memang bukan salah satu dari ketiga pusaka

itu. Tapi untuk menemukan raha sia ketiga pusaka itu,

siapapun harus memperoleh dulu gelang pusaka ini.”

„Vlakmd nona dari gelang pusaka inilah baru dapat

menemukan tempat rahasia penyimpanan ketiga pusaka itu?”

„Mungkin demikian……” serius sikap

Lian-hoa, „bagaimana duduk persoalan yang nyata aku

sendiri tidak tahu. Tapi kali ini Kau cu meng utus Tam-cu dan

aku kemari, tujuannya adalah men cari Giok liong-soh ini.

Konon tempat menyimpan ketiga pusaka itu amat dirahasia,

berbahaya lagi, tanpa Giok-liong-soh tidak mungkin kita dapat

menemukan tempat itu,”

„Darimana pula nona tahu kalau Giok-liong-soh terjatuh

ketangan kedua orang tadi “

„Ang-hoa-kau sudah menyebarkan sayapnya keseluruh

pelosok dunia, sudah tentu dengan mu dah kuketahui.'”

122

„Lalu dimana Tamcu kalian sekarang ?”

”Diapun menyaru seorang Lik-go Wancu yang lain, dia

berada diarah lain.”

Ling Ji-ping berpikir: „Mata telinga ang-hoa-kau ternyata

memang tersebar luas, sepak terjang mereka amat terpimpin

dan disiplin, selanjutnya aku harus lebih waspada terhadap

mereka” Mendadak dia teringat sebuah persoalan lain, lekas

dia menoleh dan tanya kepada Lian-hoa: „Lalu dari mana nona

mendapatkan kelabang hijau tadi “

Lian-hoa tertawa bangga dan senang, katanya „Tidak

sedikit orang-orang cerdik pandai dalam Ang-hoa-kau kita,

setiap manusia aneh, jago kosen tokoh disegani yang berada

dikolong langit dan tersebar luas di manapun, semua ada

dalam catatan kita, dari wajah dan tingkah laku, dandanan

dan keistimewaannya, dari ilmu silat yang diya kinkan sampai

senjata apa dan senjata rahasianya semua diselidiki, ditiru dan

mendidik orang untuk menyamarnya, yang palsu tidak

kentara, yang tulen dapat dikelabui. Kelabang hijau ini sengaja

kita pelihara juga, cuma kadar racunnya tidak lebih lihay dari

kelabang hijau milik Lik-go Wancu tulen.”

Diam-diam mencelos hati Ling Ji-ping, Ang-hoa-kau betul

betul tidak boleh dipandang remeh jangan di sangka mereka

terdiri kaum hawa, ter nyata jalan pikirannya jauh lebih cerdik,

teliti dan penuh perliStungan, tapi tindak tanduk mere ka

ternyata begitu mengerikan.

Hujan mulai mereda, namun angin badai masih tetap ribut.

Mendadak hawa dingin menye rang tubuh Ling Ji-ping pula,

kali ini sungguh tidak tertahankan lagi, meski dia sudah

berusaha mengerahkan hawa murni, namun kali ini tiada

manfaat sama sekali, tanpa kuasa tubuhnya menggigil dan

tergoncang keras sampai meliuk turun kepala menyentuh

bumi.

123

Lian-hoa tercengang, tanyanya gugup: „Ling Tayhiap,

kenapa kau.”

Menahan dingin sekuatnya Ling Ji-ping ma sih coba

tersenyum kaku, katanya : „Tidak apa-apa. Sayang angin

pegunungan teramat dingin.”

Bagai sepasang mata bola Lian Hoa menatap wajah Ling

Jiping, dilihatnya muka orang pucat, bibir gemetar, suarapun

sumbang, hal semacam ini jarang terjadi pada seorang ahli

silat, karuan dia merasa heran dan tidak habis mengerti. Sete

lah menghela napas, akhirnya dia tanya: „Tayhiap. jangan kau

ngapusi aku, Lian hoa tidak akan mencelakaimu, apakah kau

terluka ?”

Dasar berjiwa nyentrik, wataknya kukuh lagi selamanya

tidak pernah Ji-ping tunduk terhadap siapapun, apalagi mohon

bantuan, dengan tawa dipaksakan dia berkata : „Aku tidak

terluka.”

„Apa benar ” Lian hoa menegas tidak percaya; dengan

penuh perhatian dia awasi mimik mukanya akhirnya tertawa

rawan, katanya „Ling Tayhiap. meski dua kali kami bertemu,

dulu orang menghinggap laki laki aneh tak berperasaan, laki

laki tunggal yang tidak mau kenal dan bersahabat dengan

orang lain. kau dijuluki Cui-hun jiu, tapi liku pribadi merasa

simpatik, hormat dan segan terhadapmu, kalau tidak siang

tadi aku tidak akan banyak bicara dengan kau di jembatan

gantung itu. Rahasia Ang-hoa-kau kami tidak boleh bocor;

siapa membocorkan hukumannya mati, tapi terhadap kau aku

telah bicara blak blakan, memangnya kau tetap tidak percaya

kepadaku “

Ling Ji-ping tetap tunduk tidak bersuara.

Lian-hoa menghela napas pilu, katanya sendu: „Aku salah

masuk perguruan, hatiku amat menyesal, tapi aku ini seorang

gadis, bekal Kungfuku terbahas pula, hakikatnya tidak berani

aku meninggalkan Ang-hoa-kau. namun setelah bertemu kau,

124

diam-diam aku sudah berkeputusan dalam hati . . .” suaranya

semakin menyedihkan, matapun berkaca-kaca.

Tergerak juga hati Ling Ji-ping, namun dasar dingin dan

kaku sikapnya, meski merasa simpatik akan nasib Lian-hoa,

namun hakikatnya dia tidak pernah merasa jatuh cinta,

dengan dingin dia ter tawa, katenya: „Bahwa nona tahu diri

dan membalik dari jalan sesat, sungguh tekadmu harus di puji,

bila Cayhe mampu membantu kau, setiap aku siap membantu

nona.”

„Hanya terbatas pada bantuan saja ?” diam-diam tubuhnya

menggeremet maju lebih dekat, bau harum badmnya seketika

memabukkan perasa an Ji-ping.

Tapi pikiran ling Ji-pig tetap jernih, lekas dia-menggeser

tempat duduknya sehingga tubuh orang yang menggelendot

dihindarkan, katanya sungguh-sungguh „.Nona . . . . ‘ baru

separuh kata, rasa dingin dalam tabah tiba tiba menyerang

pula, begitu dingm bukan saja tu’nuh menggigil tulang

sunsumpun terasa hampir beku, mulutnya megap megap tak

kuasa bicara lagi.

Lian-hoa terperanjat, tanpa hiraukan pantangan laki-laki

perempuan, lekas dia peluk tubuh orang serta memanggil lirih:

„Tayhiap, kau lekas katakan Kenapa kau?”

Sekuatnya Ji-ping geleng geleng kepala sambi! kertak gigi,

sayang Hou-deh-sin-kang yang melindungi badanpun buyar

seketika oleh getaran, tubuhnya yang mengigi! keras, tanpa

kuasa tubuh nya ambruk bagai bendungan bobol keterjang air

bah, tubuhnya rebah dalam pelukan. Lian-hoa.

Pagi nan cerah, hawa sejuk, alam nan permai. Kicau

burung bersahutan dalam lembah itu, entah berapa lamanya,

pelan pelan Ji-ping siuman dari pulasnya, dia sadar dengan

kaget, tiba tiba dirasa kannya dadanya hangat seperti ditindih

sesuatu yang lunak gempal, segulung hawa hangat merem

125

bes ke daia.n tubuh langsung berkumpul kepusar, hawa dingin

yang menyiksa dirinya, ternyata semakin berkurang,

Dengan kaget dan keheranan dia membuka mata, tepat

berada muka dilihatnya seraut wajah nan molek bersemu

merah dengan mata yang bersinar mesra dan malu malu, dia

bukan lalu adalah nona Lian-hoa. Tiba tiba orang memejam

mata, napas memburu. Baru sekarang Ji-ping sadar bahwa

dirinya ditindih dan dipeluk kencang oleh si nona, malah

pakaian orang didepan dada saling nempel kencang Sepasang

bukit halus si nona yang kenyal padat terasa menggelitik

hatinya, dasar laki-laki polos dan hijau Ji-ping belum pernah

bersentuhan dengan perempuan, kontan dia menjerit kaget

dan serta merta tangannya mendorong tubuh orang, sigap

sekali dia meng gelinding kesamping terus berduduk.

Sudah tentu perbuatannya ini membuat Lian-hoa kaget dan

membuka mata. pandangannya kaget dan heran serta

melenggong, namun wajahnya menampilkan rasa malu dan

jengah.

Ji-ping menarik muka. Bentaknya „Apa yang kau akukan ?”

„Aku …. aku . . . . ” Lian-hoa gelagapan. Mendadak dia

sadar baju didepan dadanya masih terpentang lebar, tersipu

sipu dia menarik bajunya serta menunduk dengan malu.

Ling Ji-ping menjengek dingin; „Nona telah insaf dari

kesesatan, maka aku menghargaimu, tak Jcira nona

menggunakan kesempatan hendak berbuat tidak senonoh,

memang aku sudah duga orang orang Ang-boa-kau tiada

perempuan yang suci dan bersih.” dengan senyum ejek dan

hina segera dia melompat berdiri terus berlari keluar, cepat

sekali dia sudah pergi jauh.

Dengan jelas dia mendengar Lian hoa mengejar keluar dan

berteriak, memanggilnya; „Ling Tayhiap, tunggulah aku.”

Tapi langkahnya malah dipercepat, setelah lari beberapa li

jauhnya baru dia perlambat lang kahnya, namun amarah

126

masih menggelora dalam dada karena merasa dipermainkan

dan direndahkan. Ling Ji-ping beranggapan dirinya adalah laki

laki sejati, laki laki tulen, kini dia betul betul merasa terhina

dan dipermainkan oleh perempuan, apalagi dengan cara yang

kotor, ini merupakah penghlna an akan gengsi, martabat dan

jiwa satrianya, rasanya ingin segera dia putar balik serta sekali

pukul binasakan Lian hoa. baru terlampias rasa dongkol dan

penasarannya

Tapi dia tidak berbuat demikian, akhirnya dia mempercepat

langkah serta berlari semakin jauh lagi. Setiba disebuah

selokan baru dia berhenti, lalu dia duduk diatas baju hijau

yang terletak dibawah pohon besar, mengawasi air terjun

yang tumpah dari atas ngarai disebrang sana, lambat laun

gejala perasaannya mulai reda, baru sekarang pikirannya

dapat bekerja secara sehat dengan nalar nya, dia

menarawang akan kejadian yang menimpa dirinya barusan,

dia berpikir cermat dan hati hati serta bijaksana.

Satu jam kemudian mendadak dia berjlngkrak kaget,

dengan kecepatan maksimal segera dia berlari balik dari arah

datangnya tadi, tujuannnya adalah lembah dimana Tho-te-bio

itu berada. Sa yang. sekali, setiba dia di tempat semula,

bayangan Lian-hoa sudah tidak kelihatan, kabut masih tebal,

pohon menari nari ditiup angin, entah ke mana arah tujuan si

nona yang telah terluka perasaan nya?

Dia celingukan tiba-tiba pandangannya ter tumbuk pada

goresan huruf huruf dari tangan ba lus diatas batu hijau.

Goresan huruf yang ditulis dengan ujung pedang berbunyi

demikian.

„Kulihat kau terkena racun dingin yang hebat, walau sudah

kuberi minum obat penawar racun dari perguruanku, namun

aku kuatir kadar obatku tidak tepat untuk menawar racun

dingin itu, maka sengaja dengan panas badanku sendiri aku

menyalurkan hawa murni ketubuhmu. Tak nyana kau salah

127

paham, kenyataan terbalik dari maksud tujuanku yang suci

dan murni.

Awakku memang berada di wadah yang kotor, tapi yakin

aku masih suci bersih, bahwa aku berani membuka dada

memberi kehangatan lantaran aku jatuh cinta, namun

tujuanku baik dan demi kesetiaan, hanya Thian yang tahu apa

maksud hatiku sebetul nya. Kau pergi dengan marah justru

roenam bah rasa hormat dan cintaku kepadamu, ka iau kau

bukan laki-laki sejati, pasti aku sendiri yang telah ternoda dan

kejeblos ke jurang nista, menjadi korban cintaku sendiri.

Sayang sekali aku tidak berjodoh mendam pingimu, maka

selanjutnya aku akan pergi ketempat jauh, berteduh dialas

pegunungan yang sunyi, mengasingkan diri membina diri,

walau hidupku selanjutnya bakal tersiksa dan kesepian,

namun aku sudah mendapat kesem patan bersentuh tubuh

dengan pujaanku, apa pula yang dapat kuperolch kecuali itu ?

Gioa-liong-soh kutinggal dalam kantongmu, jikalau dengan

itu kau bisa memperoleh ke tiga pusaka, sehingga kelak kau

bakal men jagoi dunia dan berkuasa dikoloug langit, sebagai

jago kosen nomor satu dijagat raya ini, semua itu berkat doa

dan harapanku.

Selamat berpisah, harap jaga dirimu baik baik.

Terlanda orang yang menderita’

Menggigil sekujur tubuh Ling Ji-ping, bukan karena

kedinginan lagi, tapi karena menahan gejo lak hati dan

penyesalan yang luar biasa, pelan-pelan dia merogoh kantong,

memang Glok-liong? soh berada dalam kantongnya, namun

dia tak kuasa menarik tangannya, baru sekarang dia sadar

bahwa dirinya telah menghancurkan harapan seorang gadis

yang memujanya, sungguh menyesal pun sudah terlambat.

Lama sekali Ling Ji-pi.ng menjublek diternpat nya, akhirnya

dia keluarkan tangan mengusap tulisan diatas batu. dengan

128

perasaan hambar dan masgul perlahan-lahan dia

meninggalkan tempat itu.

Sejak beberapa tahun yang lalu berguru ke pada Thong in

kong. sering dia mendengar prihal Thiat-tiok-sau-po ini, konon

diantara ketiga pu saka itu tersinpan suatu rahasia pelajaran

ilmu sakti yaiij; ‘iaa . taranya, cuku^ satu diantaranya da pat

kaa oero.e sudan berkelebihan untuk menja gol -Jujra,

sungguh tak nyana, dirinya tiada mak sud dan tujuan mencari

pusaka itu, sekarang justru telan me nperoleh Giok lionj soh,

kunci dari rahasia ketiga pusaka itu.

Tapi Giok-liong-soh adalah pemberian nona

Lian-hoa, maka diam diam dia bertekad untuk melanjutkan

pencarian ketiga pusaka itu, jikalau dia betul betul bisa

berhasil, meski sampai keujung langit kelak dia akan mencari

Lian-hoa dan serahkan ketiga pusaka itu kepadanya sebagai

tanda terima kasih daa membalas budi kebaikannya pula.

Setelah mengambil keputusan, terasa lapang perasa an

dadanya, sejenak dia menerawang keadaan diri nva, lalu

berlari menuju kearah Thian-su-tong.

Daerah Ceng-seng seluas ratusan li, sekarang dirinya

berada di mana, dia sendiri tidak tahu, walau dia mencari

menurut arat letak matahari, tapi setelah hari hampir magrib

tetap tidak mene mukan tempat yang dituju, diluar sadarnya

diri nya telah kesasar semakin jauh dan tak tahu jalan

keluarnva.

Waktu itu Ji-ping tiba disebuah pinggir sungai kecil, tiba

tiba hidungnya mencium bau kembang yang wangi

menyegarkan bacan, waktu dia angkat kepala, tampak

didepan sana kiranya merupakan sebidang hutan kembang

Bwe yang tengah mekar semerbak, tanpa banjak pikir segera

dia beranjak kearah hutan itu, pikirnya: „Orang sering bilang

Ceng-seng paling mempesona di kolong langit, mungkin

jarang yang tahu bahwa di sini ada tem pat seindah dan

129

semolek ini, kelak bila dapat bersemayam ditempat yang

permai seperti ini sungguh bahagia hidupku.”

Setiba dipinggir hutan harum kembang semakin semarak,

sirar surya yang kuning kemilau menara bah eiok

pemandangan, orang akan segan meninggal kari tempat yang

sejuk dan segar ini. Tengah dia celingukan. tiba tiba dari

dalam hutan didengarnya suara orang bersenandung, karuan

dia melenggong, waktu dia pasang kuping kebetulan

didengarnya orang membawakan dua bait syair terakhir : .,Ne

raka tiada hotel, dirumah siapa malam nanti aku menginap.”

suaranya pilu dan sedih, nadanya putus asa, jelas orang yang

senandung ini sudah putus harapan dan ingin mencari

kematian.

Sudah tentu Ling Ji-ping kaget, buru buru dia melejit

kedalam hutan. Puluhan tombak kemudian dilihatnyaa

dibawah sebuah pohon kembang Bwe yang besar dan rindang

seorang laki laki tua beruban tengah mengikat ikat pinggang

diatas dahan pohon, agaknya dia hendak menggantung diri.

Laki laki tua ini mengenakan baju warna hijau, sambil

mengikat ikat pinggang tampak ke dua tangannya gemetar,

jelas hatinya amat sedih dan haru.

Lahirnya Ling Ji-ping memang kaku dan di ngin, tadi dia

seorang pendekar yang bajik melihat orang hendak, bunuh diri

mana dia mau terpeluk tangan, sekali gerak tanpa

mengeluarkan suara dia sudah berada dibelakang laki laki tua,

dengan merangkap kedua jari dia menutul, kontan ikat

pinggang dari kain sutra itu putus.

Laki laki tua itu dan melongo, agaknya dia tidak sadar

bahwa dibelakangnya ada orang yang memutus ikat

pingganya, dia mendongak dan meratap: „Oh Thiang” tiada

muka aku kembali menemui Hujin. kenapa kau tidak idzinkan

aku mati saja.”

Bavu sekarang Lin Ji-ping bersuara : Lo-tiang, kau ada

kesulitan apa .”

130

Laki laki tua itu berjingkat kaget, namun pelan pelan dia

menoleh. Kini jelas oleh Ling Ji-ping, laki laki ini berusia lima

puluhan, muka nya sudah berkeriput, kedua matanya cekung

dan pudar, wajahnya tampak pucat dan gelisah serta

ketakutan, lama dia terlongong mengawasi „Lo-tiang,

menghadapi kesulitan apa kau ?” tanya Ji-ping.

Seketika bercucuran air mata laki iaki tua, kaeanya

menghela napas- sambil menggeleng : „Kongcu,

kedatanganmu tidak tepat waktunya.’“

„Lo-tiang apa maksud kata kata mu ?” tanya Ji-ping

melenggong.

„Kau mengganggu Lohu bunuh diri, bukan kah tidak tepat

waktunya’;”

„Semut toh juga ingin hidup, apalagi Lo-tiang sudah berusia

selanjut ini, kenapa harus mencari kematian ? Kalau kau

menghadapi kesulitan, mungkin ku bisa membantu

menyelesaikan.”

Lama laki laki tua mengawasinya dengan tatapan ragu,

akhirnya dia menghela napas „Kongcou, kesulitan yang

kuhadapi, mungkin kau takkan bisa menyelesaikan.”

„Coba Lo-tiang jelaskan dulu, kalau aku orang she Ling

tidak mampu menyelesaikan, masih ada waktu kau mencari

kematian.”

Laki laki tua menghela napas pand jang, sekian, saja dia

menapekur, akhirnya berbicara perlahan „Losiu she Tan,

kemaren diperintah Hujin untuk mengantar sebuah kotak

kepada Siocia, tak nyana dihutan aku kepergok rampok, kotak

itu dirampas, maka sejak kemaren aku tidak berani pulang,

sehari ini aku hanya mondar mandir dalam hutan ini, setelah

kupikir pikir, kotak itu tak mungkin kuminta balik, terpaksa

biar aku mati saja.”

„Dimana tempat tinggal Hujin kalian” tanya Ji-ping,

131

Tangan tangannya laki laki tua menuding ke barat,

katanya: ‘Di Bwe-tun, letaknya beberapa li diujung hutan

kembang Bwe ini.”

„Siocia kalian tidak tinggal serumah dengan keluarganya?”

„Tidak. Siocia tinggal di Yu-lihg-siau-ciok, belasan li dari

sini, dia paling suka bambu, maka dia tinggal di sana.”

„Lalu Loya kalian “

„Dua tahun yang lalu sudah meninggal.”

„Siapa nama Hujin kalian?”

„Hoa-je Hujin.”

„Hoa-je Hujin” Ji-ping mengulang, “agaknya Hujin kalian

dari keturunan bangsawan, “keluarga hartawan, hanya

kehilangan sebuah kotak yang berharga tidak seberapa, buat

apa Lotiang sampai merasa perlu bunuh diri “

„Kongcu tidak tahu. Dalam kotak berisi perhiasan yang

paling mahal milik Hujin, tapi perhi asan apa Losiu tidak tahu,

karena kehilangan perhiasan yang paling disayang itu Hujin

pasti marah setengah mati, rasa malu Losiu pulang memberi

laporan.”

„Macam apa tampang orsng orang yang merampok

kotakmu itu 7″

„Seorang berusia empat puluh, seorang lagi Jebih muda,

kita kira tiga puluhan, keduanya ber tampang muka kuda,

masing masing menggendong sebatang pedang.”

Ling Ji-ping sudah dapat menduga, tanyanya” Apa betul Lotiang

tidak tahu Isi kotak itu?”

„Losiu hanyalah seorang bawahan, barang berharga milik

Hujin mana berani aku membukanya”

„Aakah Hujin dan Siocia kalian pandai main silat ? Kalau

tidak, tinggal ditempat sesunyi ini, masa dia tidak takut ?”

132

„Kongcu, jangan kau salah terka, memang Hujin dari

keturunan bangsawan, namun barang yang sedikit berat tidak

mampu diambilnya, memotong ayam saja tidak berani

menonton mana bisa main silat. Namun dalam rumah

memang dijaga oleh beberapa guru silat, ilmu silat mereka

tinggi.”

„Ilmu silatnya tinggi”

„Ya, mungkin Kongcu tidak akan percaya, suatu hari ada

seekor serigala besar masuk ke dalam rumah, seorang

seorang Busu menghajar sampai beberapa jam lamanya,

meski dia terluka sedikit, tapi serigala itu akhirnya dibacok

mampus. Bila terbayang peristiwa itu, Losiu sering kebal kebit,

kalau ilmu silatnya tidak tinggi masa dia mampu membunuh

serigaia itu “

Lung Ji-ping tertawa geli dalam hati. namun dia masih

merasa curiga, menurut ceriteranya, kedua laki laki yang

merampas kotaknya itu ada lah dua orang yang dipergokinya

di Tho-te-bio itu, kalau yang dirampok kedua orang Itu adalah

perhiasan yang amat berharga dari laki laki tua ini. sementara

yang diperolehnya adalah Giok-liong-soh, kemungkinan sekali

kotak yang dirampok kedua orang laki laki dari laki laki tua Ini

adalah kotak yang berisi gelang pualam naga itu.

Padahal Giok-liong-soh menyangkut rahasia Thian-tioksam-

po yang diperebutkan kaum per silatan, selama puluhan

tahun orang mencarinya kesana kemari, tanpa diketahui

jejaknya, bagaimana mungkin pusaka ini terjatuh ketangan

keluarga bangsawan ?

Satu hal yang sukar dimengerti adalah ke dua orang Yuling-

kau itu, kalau tahu Giok-liong-soh berada ditaogan Hoa-je

Hujin, kenapa tidak langsung merampas atau merampoknya di

rumah? Kenapa harus menunggu laki-laki tua ini membawa

kotak itu untuk diantar ke Yu ling-siau-tiok Kenyataan sudah

jelas bahwa Hoa-je Hujin adalah seorang jagoan yang memiliki

ilmu silat tinggi, sehingga kedua orang laki-laki itu tidak berani

133

turun tangan. Demikian pula putri Hoa-je Hujin pasti pernah

belajar silat, kalau tidak kenapa Hoa-je Hujin menyuruh

kacung tua ini mengantar Giok-liocg-soh kepada putrinya ?

Ada satu persoalan lagi yang membuatnya tidak habis tahu,

perhiasan sepenting ini kenapa hanya menyuruh seorang

kacung yang lemah untuk mengantarnya, kenapa Hoa-je Hujin

sendiri tidak mengantarnya? Atau kenapa bukan putrinya sen

diri yang datang mengambilnya?. Kecuali analisa nya keliru,

Hoaje Hujin betul betul seorang lemah yang tidak pandai s ilat,

dia tidak tahu bahwa gelang pualam ini adalah pusaka Bulim

yang tiada taranya, namun dia anggap gelang ini hanya

perhiasan biasa. Karena sukar memperoleh jawaban, sesaat

dia menepekur tanpa bersuara.

„Nah apa kataku tadi,” ucap laki laki tua membanting kaki,

„urusan sepelik ini bagaimana Kongcu bisa membantu, jangan

kata sukar menemukan kedua perampok itu, umpama betul

kau dapat menemakan mereka, Kongcu orang sekolah yang

lemah begini, mana mampu membekuk mere ka”

„Lo-tiang,” akhirnya Ling Ji-ping berkeputusan. „sudikah

kau membawaku menemui Hujin kalian”

Laki laki tua menyurut selangkah sambil goyang kedua

tangan, katanya : „Tidak, jangan, sejak Loya meninggal Hujin

tidak pernah menerima tamu, apalagi barang pusaka telah

hilang dari tangan Lohu, masa ada muka aku pulang

menemuinya. Kongcu, silakan kau pergi saja, biar Losiu

mencari jalan pendek saja,” air mata kembali bercucuran,

inguspun meler. pelan pelan dia mem balik badan serta

mengikat pula ikat pinggangnya siap menggantung diri pula.

Dengan penuh perhatian Ling Ji-ping awasi gerak gerik si

orang tua, kedua tangan orang tampak gemetar, tadi diapun

perhatikan sinar matanya bola matanya redup dan guram,

sedikitpun tidak memperlihatkan tanda seorang persilatan,

sudah tentu dia jadi kasihan. Setelah berpikir sebentar,

akhirnya dia ‘berkeputusan: „Lo-tiang, bawalah Hujin, asal aku

134

tahu pusaka apa yang berada dalam kotak itu, serahkan

kepadaku, dan tanggung barang itu dapat kurebut kembali,

mungkin tanpa membuang tenaga aku bisa kembalikan

kepadanya.”

Laki laki tua menoleh memandang Ling Ji-ping dengan

tatapan nanar, akhirnya dia menghela napas, katanya ;

„Kongcu, jangan kau berkelakar, jikalau aku boleh pulang

dengan tangan kosong menemui Hujin, buat apa aku cari

kematian disini, apalagi kulihat Kongcu sendiri…..ai,” kembali

dia geleng geleng kepala.

Mendadak timbul penasaran Ling Ji-ping, dia tertawa gelakgelak

sambil mendongak, katanya lantang : „Lo-tiang jangan

kaa meremehkan aku, aku betul betul bermasud baik, asal

urusan memang seperti apa yang kau ceritakan, aku pasti

dapat selesaikan.”

„Apa betul?”

„Orang she Ling sekali berkata pasti di lakukan, yakin

selama hidupku belum pernah aku ingkar janji, cuma aku

orang she ling adalah laki-laki sejati, kalau orang berani

bertingkah dan main main dihadapanku, jelas dia sendiri yang

mencari gebuk.”

Lama orang tua itu mengawasi Ling Ji-ping, wajahnya

mengunjuk rasa bimbang dan kaget, lalu katanya” Kongcu,

betulkah kau dapat meno long jiwa Losiu“

Tiba tiba dia menekuk lutut hendak menyembah kepada

Ling Ji-ping.

Sambil bersiaga Ji-ping pura pura memapah si orang tua,

namun jari jarinya secepat kilat justru menutuk ke Hian-ki-hiat

didepan dada orang. Jarinya jelas sudah menyentuh sasaran,

tapi orang tua Ini ternyata seperti tidak tahu apa apa,

sedikitpun tidak memperlihatkan reaksi apa apa, tujuan Ling

Ji-ping memang hanya mencoba dan meng gertaknya saja,

melihat orang diam tidak berkelit atau berusaha menghindar,

135

lekas dia tarik tutukan jarinya, kali ini dia betul betul

memapahnya berdiri. Setelah diuji dan terbukti laki laki tua ini

memang tidak pandai nsaln silat, maka lenyap lah rasa

bimbang dan kecurigaan Ji-ping pada orang tua ini.

Memuji Ji-ping setinggi langit, laki laki tua itu segera

membawa Ji-ping menuju kearah barat Hutan kembang Bwe

ini ternyata amat luas dan panjang, mereka tak ubahnya

berjalan ditengah hutan kembang yang lagi mekar dan rontok

ber hamburan, seolah olah meraka hidup dialam dewata.

Kira kira setengah jam mereka menempuh perjalanan,

haripun sudah gelap, jauh disebelah dalam hutan Bwe sana

nampak sinar pelita yang kelap kelip, kadang kadang

kelihatan, tiba tiba lenyap, namun jelas pelita itu terpancar

dari pu cuk loteng yang berwarna merah.

Siorang tua yang jalan didepan segera menuding kedepan,

katanya : ..Kongcu, didepan itulah Bwe-tun adanya.”

„Kecuali Hujin, siapa lagi yang menghuni perkampungan

itu'” tanya Ji -ping.

„Ayah Hujin juga tinggal di sana, kecuali itu semua adalah

orang bawahan.”

„Ayah Hujin, siapa namanya ?”

„Beliau she Ui, bernama Clok, kami biasa-memanggilnya Uiciok-

kong.”

“UI Ciok-kong?” sekilas Ji-ping berpikir, da lam kalangan

Bulim belum pernah dia dengar nama ini, dalam hati diam

diam tertawa geli, pikir nya:” Dasar keturunan bangsawan,

namapun suka meniru para pujangga jaman dulu.”

Ditengah hutan yaag dikelilingi pohon kem bang Bwe,

tampak sebuah gedung yang dipagari te.nbok tiaggi. lepat

dioagia tengah terdapat se buah pintu besar bercat merah,

diatas pintu ber gantung sebuah lampion sutra warna merah

diba wah lampion terdapat sebuah papan pigura yang

136

bsrtuliskan dua huruf “Bwe-tua”, tulisannya ber ukir indah dan

kuat, warnanya merah menyala, gaya tulisannya jelas

merupakan karya seorang ahli tulis.

Seorang tua lekas memburu maju serta mengetuk pintu,

sebentar saja terdengar seorang ber tanya dari balik pintu :

“Siapa.”‘

“Aku sudah pulang.” sahut si orang tua.

“O, apakah Tan loya'”‘ seru orang didalam, “Pagi tadi sudah

disuruh orang menyusul ke Yu-ling-siau-tiok mencarimu,

katanya kau belum sampai di sana, Hujin sudah gugup dan

gelisah se tengah mati, memangnya kemana kau selama ini?”

Siorang tua menghela napas, katanya : „Aih, panjang

ceritanya, tak usah kau banyak tanya, nanti kuceritakan, lekas

buka pintu.”

Daon pintu besar dan tebal itu berkeriut dan pelan pelan

terbuka, dari balik pintu raeno ngol kepala seorang laki laki

berpakaian hijau berpeci hitam, begitu melihat Ji-ping,

seketika dia membelalak, katanya: ,,Lo-tia, siapa dia ?

Kenapakau sembarang membawa orang luar kemari,

raemaignya kau tidak ingat akan larangan Hujin “

„Aih, apa boleh buat, aku kena perkara,”ucap si orang tua

geleng geleng, „Siangkong ini berjanji akan membantuku, aku

membawanya kemari untuk menemui Hujin,”

Mendengar mau ditemukan Hujin, berubah hebat air muka

laki laki itu, serunya gugup : ‘„Lo-tia kenapa kau, membawa

orang kemari sudah berdosa, hendak kau temukan kepada

Hujin lagi, memangnya kau ingin mampus””

„Sama-sama harus mati, aku tidak bisa banyak pilih lagi.

Sudah tak usah kau turut campur, kalau Hujin marah dan

menjatuhkan hukuman biar aku sendiri yang memikulnya,”

137

Laki laki ita melenggong, sambil menggeleng dia

menggerutu : „Lo tia, semakin tua kau me mang semakin

ceroboh, memangnya kau tidak tahu tabiat Hujin ?”

Tanpa menghiraukan omelan orang, si orang tua menoleh,

katanya; „Silahkan masuk Kongcu. Bilamana Hujin tetap tidak

memberi kelonggaran, dan aku mendapat hukuman, harap

Kongcu tidak berkecil hati.”

Orang tua itu lantas menunjukkan jalan, Ling Ji-Ping

mengikuti dihelakan, setelah menyusuri jalanan berlapis batubatu

gayli yang mengkilap hijau, didepan mereka memasuki

sebuah mang tamu yang dipajang indah dan bagus, semua pe

rabot yang ada dalam ruang ini serba antik. Siorang tua suruh

seorang kacung cilik menyuguh teh, waktu Ling Ji-ping

menerimanya, bau harum lantas merangsang hidung, waktu

dia membuka tutup cangkir, tampat air teh yang berwarna

hijau kekuningan itu, mengembang beberapa lembar daon

daon teh yang bundar bundar seperti mutiara, di sekitar daon

bundar ini tumbuh bulu bulu lembut yang pendek.

Diam diam Ling Ji ping membatin:„lnilah bik-lo hiang, teh

manis yang terkenal dari Thay ouw, pemilik rumah ini tinggal

jauh di Ceng-seng, tapi mampu membeli teh terkenal dari

Thay-ouw, agaknya memang tidak kecil pamornya.” Ji-ping

tidak berani segera meminum, kuatir teh ini di campuri racun,

maka dia lantas menaruhnya di atas meja.

Siorang tua lantas berkata : „Harap kongcu tunggu

sebentar, aku akan kebelakang memberi laporan kepada

Hujin.”

„Silakan Lo-tiang.” ucap Ling Ji-ping.

Siorang tua segera membalik dan berlalu. Tak lama

kemudian dari ruang depan tiba tiba berjalan masuk seorang

tua bertubuh pendek de ngan rambut dan jenggot yang sudah

memutih panjang, tangannya memegang sebatang tongkat

bambu. Tampak oleh Ling Ji-ping laki laki tua ini punggungnya

138

melengkung jadi seorang bung kuk, usianya sekitar delapan

atau sembilan puluh tahun, meski sudah berusia lanjut tampak

lemah, .tapi semangatnya masih kelihatan menyala. Lama laki

laki mengawasi Ling Ji-ping, dengan suara serak akhirnya dia

bertanya : „Apa kah kau Ini adanya itu Siangkong yang tadi

telah menolong Tan In”

Dengan sikap dingin Ling Ji-ping berdiri serta mengangguk,

tanyanya ; “siapakah she dan nama besar kau orang tua ?”

Siorang tua tersenyum, katanya : ”Lohu Ui-ciok-kong.”

Ling Ji-ping manggut pula, setajam pisau biji matanya

mengamati, terasa kecuali semangat orang ini memang masih

kelihatan segar, tiada sesuatu yang aneh padanya.

„Siangkong ini sebenarnya she apa?” tanya si orang tua.

„Cayhe Ling Ji-ping.”

„Ling …. Ji … . ping…..” sengaja si orang tua mengulang

dengan menarik panjang suaranya, tetap dengan wajah

senyum dia berkata pula ; “Tan In bilang, sebuah benda

putriku dia hilangkan, dan kau katanya bisa mencarinya

kembali .”

„Karena kehilangan barang Lo-tiang itu hendak bunuh diri,

karena tidak tega, maka aku siap membantunya.”

„Em,” si orang tua memuji sambil mengangguk, „orang

muda punya semangat jantan membantu kesulitan orang, itu

baik sekali. Sayang putriku selamanya tidak mau terima

tamu.”

„Bukan maksudku pasti akan menemui Hujin, cuma ingin

aku tahu barang apa yang di hilangkan Tanlotiang, apakah

kau orang tua dapat menjelas kan ?”

„O, beginilah persoalannya.” ucap si orang tua, „hal ini

memang agak berabe”

„Apakah kau orang tua juga tidak tahu .’“ tanya Ji-ping.

139

„Urusan putriku selamanya aku tidak pernah campur,

barang apa miliknya yang hilang, kepadakupun dia tidak mau

memberitahu.”

Tergerak hati Ling Ji-ping. katanya : „Kalau demikian,

mungkin benda itu merupakan barang pusaka yang misterius

?”

„Lohu memang tidak tahu, kalau Siangkong bermaksud

baik, biar Lohu tanyakan soal ini kepadanya, mungkin dia mau

menemui kau.”‘ dengan bertopang pada tongkatnya, langkah

si orang tua tampak berat meninggalkan ruang itu.

Memang sudah curiga sejak mula, kini Ling Ji-ping lebih

merasakan keanehan didalam Bwe-tun ini, suasana di sini

agaknya rada misterius, bahwa benda pusaka yang mahal

harganya boleh diserahkan kepada seorang kacung, tapi

kenapa pantang diketahui orang, bi a orang tua ini betul

adalah ayahnya, kenapa tidak raemberltahu kepa danya ?

Agak lama kemudian tampak Tan ln ter gopoh gopoh

mendatangi, wajahnya mengunjuk rasa girang, katanya :

„Terima kasih kepada bumi dan langit, setelah Lohu mohon

ampun dan di bantu pula oleh Ciok-kong si orang tua,

akhirnya Hujin mau menerima kedatanganmu “

Ji-ping tertawa kaku. katanya : „ Dia pasti akan

menemuiku, karena dia ingin mencari balik barangnya yang

hilang itu.”

„Baiklah. Silakan Kongcu, Hujin akan menemuimu di Yamih-

lou.” lalu dia membawa Ji-ping keluar, jalanan’ belak belok

seperti putar kayun, jalanan sepanjang ini terryata semua ter

buat dari batu batu marmar yang mahal dan tinggi mutunya,

setelah berulang kali melawati gunung gunungan dan kebou

kebon akhirnya mereka tiba di pinggir sebuah danau kecil,

di’engah danau itu lab bsdiri tegak sebuah bangunan bersusun

yang mungil, kerai merah menjuntai turun sehingga tidak

kelihatan keadaan sebelah dalam, namun so rot lampu

kelihatan terang disebelah dalam, danau ini dipagari pohon

140

pohon kembang Bwe, rontokan kelopak kembang sama

berhamburan dipermukaan danau, baunya nan harum

sungguh memabukkan, suasana nan sejuk dan permai disini

sungguh amat romantis.

Si orang tua me nbuka ikatan tali sebuah sampan kecil

dipohon sana, katanya kepada Ling Ji-ping : “Silakan naik

Kongcu.”

Ling Ji-ping agak was was, danau ini luasnya ada puluhan

tombak, bila ada sesuatu yang gawat dari atas loteng, berarti

dirinya berada dalam ke adaan berbahaya, untuk

meninggalkan tempat ini, jelas bukan soal mudah.

Tapi siorang tua sidah mendesak pula ;”Sila kan kongcu.”

Tiba tiba Ling Ji-ping tersenyum tawar, dengan langkah

tetap sambil membusung dada segera dia melangkah masuk.

Setiba dibawab loteng mereka melompat naik langsung

menuju ketangga akhir nya memasuki sebuah kamar kacil,

pajangan dikamar ini lain pula coraknya, tapi serba antik pula,

haki katnya tidak mirip tempat tinggal manusia. suasananya

hikmat dan membuat orang menaruh hormat.

Dua pelayan cilik dengan rambut dikepang tampak muncul,

keduanya mengenakan pakaian panjang serba putih, usianya

sekitar lima belasan, cantik tapi sederhana. Salah satu yang

berada si sebelah kanan lantas bertanya :”Tan-lotia, apakah

Siangkong ini yang ingin bertemu dengan Hujin ‘”

Usia Tan ln sudah genap lima puluh tahun, tapi terhadap

kedua pelayan ini sikapnya ternyata amat hormat, sahutnya

sambil maluruskan kediia tangan. “Ya, nona Khim.”

Nona Khim itu tersenyum manis, katanya: “Baiklah silakan

Siangkong duduk, sebentar juga Hujin akan keluar.”

Tan lotia mengiakan pula. Kedua pelayan cilik itu langsung

menuju ketengah ruang yang menghadap kemuka, dimana

mereka rnanarik se buah tali menggulung tirai yang terbuat

141

dari kain sutra putih, dibelakang tirai sutra ternyata masih,

terdapat, pula dari kain sari yang tembus pandangan, tampak

dibelakang tirai ternyata adalah sebuah pangung di mana

terdapat sebuah meja pendek, diatas meja pendek itu terletak

sebuah kecapi, bentuk kecapi yang satu ini lebih pendek dari

kecapi umumnya, asap dupa tampak mengepul dalam ruangan

dibelakang tirai, sehingga pemandangan tertutup oleh kabut

asap tebal itu.

Ling Ji-ping segera mencari tempat duduk, sementara laki

laki tua itu tetap berdiri dengan meluruskan kedua tangan,

Kira kira setengah jam lamanya mereka menunggu, maka

terdengar lah suara gemerincing dari benturan perhiasanperhiasan

yang bergelantung dibadan orang yang tengah

berjalan, lekas sekali muncullah seorang perempuan

berpakaian keraton dengan langkah lembut dia menghampiri

panggung serta duduk di belakang meja pendek dimana

terletak kecapi itu, kedua pelayan cilik tadi berdiri dikanan kiri

sebelah belakang perempuan itu.

Karena teraling tirai kain dan jaraknya cukup jauh.

ditambah asap dupa yang mengepul sukar bagi Ling Ji-ping

untuk melihat jelas wajah perempuan itu. Dilihatnya Tan lotia

sudah berlutut dan berseru : .„Hamba tua memberi hormat

kepada Hujin.”

Dengan sikapnya yang angkuh Ji ping tetap duduk

dikursinya, dengan penuh perhatian dia awasi gerak gerik

perempuan dibelakang tirai itu

Terdengar suara halus merdu berkumandang dari balik

tirai; „Bangunlah kau. apakah di situ Ling Siangkong “

Terpaksa Ling Ji-ping menggerakkan sedikit badannya serta

bersoja, suaranya tetap kaku „Cayhe memang Ling Ji-ping,

mohon maaf akan kelancanganku mohon bertemu ini.” Hoa je

Hujin yang berada dibelakang tirai berkata; „Katanya bila aku

mengatakan barang apa milikku itu yang hilang siangkoag

lantas bisa mencarinya kembali ?”

142

„Betul,” sahut Ling Jiping sombong. „Cayhe memang

pernah bilang demikian, namun Cayhe ingin tahu agak

mendetail,”

„Mendetail bagaimana Siangkong?” tanya Hoa-je Hujin,

„Kecuali nama dari benda yang hilang itu, bila benda itu

merupakan barang pusaka, mohon Hujin juga suka

menerangkan sejelasnya.”

Agaknya Hoa-je Hujin ragu-ragu, tapi akhir nya berkata

dengan tawa ringan : „Bentuk dan namanya sudah tentu akan

kujelaskan, tapi me ngenai soal soal lain, apa betul harus

kujelaskan, Siangkong ?”

„Hujin jangan salah paham,” ucap Ling Ji-ping, „Cayhe

bukan manusia rendah yang tamak harta, menurut ceritera

Tan lotiang, kedua orang perampok itu bukan sembarang

orang, bila barang Hujin yang hilang Itu memang amat

berharga, kira kira Cayhe dapat meraba dan mengira-ngira

siapa sebenarnya orang yang jadi perampok itu.”

„Em,” Hoa-je Hujin bersuara dalam mulut, „kiranya begitu,

baiklah, itulah sebuah gelang kumala.”

„Gelang kumala ?’

„Ya, tapi bukan gelang kumala biasa, itu lah pusaka

warisan keluargaku sejak beberapa generasi, gelang Itu

seluruhnya berwarna merah darah, didalam gelang lapat lapat

seperti ada gambar dua ekor naga, gelang itu sendiri

merupakan mestika yang tidak ternilai.”

Ling Jl-ping melenggong, tanyanya: „Apaka nama gelang

itu Giok-liong-soh ?”

„Lho, dari mana Slangkong bisa tahu ?”

Tidak menjawab Jl-ping malah bertanya pula „Kecuali

gelang pusaka warisan keluarga, apakah Hujin tahu dimana

letak keanehan dan kumujijatan dari gelang itu?”

143

„Rasanya tiada keanehan apa apa, Soalnya itu benda

warisan dari nenek moyang, tiada keduanya dalam dunia ini.

Ada pesan sejak leluhur dahulu, rahasia ini tidak boleh sampai

bocor, mungkin dikuatirkan ada orang jahat yang akan

merampasnya,’“

Sudah tentu Ling Jl-ping kurang percaya, sesaat dia

berpikir, lalu katanya tegas : „Seorang teman karib Cayhe

pernah mendapatkan sebuah gelang kumala dari dua orang

jahat sampah persilatan, tapi kawanku itu bilang, gelang

kumala itu menyangkut rahasia tiga pusaka Bulim yang dipe

rebutkan oleh idaman persilatan, entah apakah gelang yang

diperoleh temanku itu betul betul adalah gelang naga milik

Hujin yang hilang itu-”

Lembut dan damai suara Hoa-je Hujin.tanyanya tanpa

terkejut sedikitpun: „Siapakakah kawanmu itu .”

Sebetulnya Ji-ping mau katakan nama nona Lian-hoa. tapi

terasa kurang tepat, maka dia berkata ”Lik-go Wancu dari

Thian-gokiong.”

„Lik-go Wancu .” kedengarannya Hoa-je Hu jin tertawa.

„Dimana dia Sekarang “

„Dia sudah pergi.”

„Kembali ke Thian-go-kiong ?”

„Umpama kata gelang itu memang betul barang milikku

yang hilang itu, apakah Siankong akan ke Thian-go-kiong

mencarinya ?”

Tanpa banyak pikir Ling Ji-ping menjawab ,Di Thian gokiong

tidak akan bisa menemukan dia.”

„Lalu di mana kau akan bisa menemukan dia ”

”Ini aku tidak tahu.”

„Lho, lalu bagaimana Siangkong bisa mencari barangku

yang hilang itu ?”

144

„Ini ….” Ling Jiping bungkam.

„Sebuah gelang saja hilangpun tidak jadi persoalan, yang

terang Siangkong adalah seorang yang simpatik, suka

menolong kesulitan orang, membantu memecahkan masalah

rumah orang lain, dalam hati aku amat terkesan dan banyak

terima kasih akan kebaikanmu, Meski gelang itu terma suk

benda mestika, tapi s iapapun yang memperolehnya tidak akan

membawa manfaat bagi diri nya, apalagi belum tentu orang

yang telah memperoleh gelang Itu mau serahkan kembali,

maka soal ini tak perlu dibicarakan lagi.’:

„Jadi Hujin tidak akan menyalahkan orang tua ini”

„Aih,” perempuan itu menghela napas, „barangnya sudah

hilang, mau apa lagi ? Apa gunanya menyalahkan dia ?”

Kalau siorang tua menganggap gagalnya dia menjalankan

tugas bisa .mengakibatkan dianya dihukum berat sampai dia

rela bunuh diri, sebaliknya Hoa-je Hujin berkata seremeh ini

akan hilangnya gelang pusaka itu, sudah tentu semakin tebal

rasa curiga Ling Jl-ping. Tapi untuk menyadap rahasia Hoa-je

Hujin, sengaja dia bertanya mengada ada : ”Hujin agaknya

seorang pernah, tinggal ditempat nan permai, agaknya pandai

ber main kecapi lagi.„

„Aku yakin Siangkong juga seorang ahli seni musik, apakah

sudi mendengar petikan lagu kecapiku ?” ucap Hoa-je Hujin.

Lalu dia ulur kedua jari jari tangannya yang runcing halus dan

putih bagai air susu, padahal teraling tirai sari tapi warna

tangannya yang menyolok itu bisa kelihatan jelas.

Kejap lain terdengarlah snaar snaar kecapi mulai

memperdengarkan suaranya nan merdu dan mengasyikkan.

Sambil mendongak dan mata merem melek Ling Ji-ping

mendengar lagu kecapi itu, terasa lagu dan permainan yang

dibawakan terlalu umum: Tak nyana petikan lagu kecapi yang

dia nikmati ternyata semakin lembut dan halus perasaannya

145

ikut terhanyut seakan mengambang ditengah awan, rasa jadi

kantuk dan ingin tidur pulas.

Baru sekarang Ling Ji-ping tersirap dan me ngeluh „celaka,”

Tapi baru saja mulut terpentang, sebelum suara keluar dari

mulutnya, „Creng” snaar kecapi mendadak memperdengarkan

suara nada yang aneh dan ganjil, kontan Ji-ping rasakan,

jantungnya panas. Thian-ti-hiat disamping ketiak ternyata

tertutup. Karuan tubuhnya menjadi lemas lantas duduk

rnenggejendot diatas kursi

Beruntun snaar kecapi dibawah permainan jari Hoa-je Hujin

memperdengarkan suara suara ganjil yang berlainan nada,

maka berturut turut Hun-hou-hiat dipunggung, Khi-hay-hiat

dibawah pusar tersumbat oleh getaran snaar kecapi itu, kini

kaki tanganpun lunglai’

Sungguh mimpipun Ling Ji-ping tidak pernah kira ditempat

ini dirinya bakal kesaplok jago sekosen ini, sungguh sesalnya

bukan kepalang akan kebodohan dan kecerobohan sendiri

sehingga diri nya terbokong dengan konyol.

Petikan snaar kecapipun segera berhenti terdengar tawa

nyaring cekikikan, katanya : ,,Tan In ambillah Giok-liong-soh

didalam saku bajunya,”

Tan In yang berdiri disebelah Ji-ping tertawa gelak gelak,

katanya : „Rencana Kaucu memang sempurna, kalau tidak

menjebaknya dengan cara begini, sulit juga untuk membekuk

anak jadah ini”

Meski Hiat-to tertutuk, tapi mata dan kuping Ji-ping tetap

bekerja normal, begitu dengar Tan In panggil perempuan

dibalik tirai itu “‘Kaucu”, baru sekarang dia insaf, pikirrya:

„Sungguh sial, Hoa-je Hujin dibalik tirai itu ternyata adalah

Bwe-ou Hujin yang menjadi Ang-hoa kaucu, kenapa aku tidak

menduganya sejak tadi ‘

Dikala Ling Jing-ping masih kebingungan, Tan In sudah

mendekati terus menggagapi isi kantong nya, akhirnya dia

146

keluarkan Giok-liong-soh terus membungkuk ke arah

panggung, Salah seorang dayang cilik itu maju dan

menyingkap tirai serta mengambil gelang itu dari tangan Tan

In yang mengangsurkan dengan kedua tangan diatas kepala.

Dayang itu langsuug naik ke panggung dan taruh gelang itu

dimeja kecapi, Setelah tertawa dingin dua kali terdengar Anghoa

Kaucu berkata: „Lian-hoa genduk genit itu memang

berani mati, Tan In sampaikan perintahku, suruhlah So-ngo

dan Giok-li dua seksi mengutus sepuluh orang, genduk tengik

itu harus digusur pulang kehada panku, biar aku sendiri yang

menjatuhkan hukum asonya di markas pusat,”

Tan In mengiakan terus putar tubuh berlalu Bila tirai

tersingkap, Hoa-je Hujin atau Ang-hoa Kaucu tampak beranjak

keluar, sambil mengawasi Ling Ji-ping dia tertawa dingin,

katanya : „Orang she Ling, biasanya kita tidak pernah saling

melakukan pelanggaran, tak nyana kau berani memelet anak

murid partaiku sehingga dia khianat terhadapku, sekarang apa

pula katamu ‘

Ji-ping tertawa besar dengan nada dingin, katanya ;

„Sebagai Kaucu yang diagungkan, ternyata sempat juga kau

mengatur muslihat keji dan sekotor ini, sayang orang she Ling

terlalu ceroboh, meski sekarang aku jadi tawananmu, aku

tetap tidak akan menyerah.”

Ang-hoa Kaucu juga tertawa tekial-kial, ka tanya: „Menang

mengandal kelihayan bekal silat nya adalah cara membabi

buta. Kenapa sebaga Kaucu aku tidak boleh mengembangkan

cerdik pandaiku sendiri?”

„Akal bulus dan berhasil masih juga dianggap cerdik pandai

? Sehari orang She Ling belum mampus Cui-hun-tiap milikku

itu suatu ketika bakat kau terima juga.”

„Kau kira masih punya kesempatan ?” ejek Bwe-ou Hujin.

„Kecuali sekarang juga kau membunuhku.”

147

„Memangnya apa susahnya ?’ mendadak alis lentik An-hoa

Kaucu berdiri, bola matanyapun mendelik, tangannya keplok

dua kali. Kedua dayang cilik itu segera maju sambil

menenteng pedang, cahaya pedang yang kemilau dingin

menjadikan hawa diatas loteng hampir membeku.

Ang-hoa Kaucu mendengus dua kali katanya, „Orang ini

kurangajar, seret kebawah loteng, potong tangan kutung!

kakinya, lalu cukil mata dan kupas lidahnya,”

Kedua dayang itu mengiakan bersama.

Ling Ji-ping tidak gentar mati, namun mendengar hukuman

seberat itu yang akan dijatuhkan pada dirinya, hatinya

seketika seperti tenggelam, saking gusar dia malah tertawa

bingar, serunya; „Seorang laki laki sejati tidak gentar

menghadapi kematian, tapi dengan caramu ini kau

menyiksaku, apa kau tidak melanggar peradilan Bulim “

„Oh, jadi kau ingin mampus segera ? Emangnya semudah

itu Jiwamu harus tetap utuh dan tersiksa sampai Lian-hoa

perempuan centil itu diringkus, biar dia menyaksikan

bagaimana bentuk rupa buah hatinya, setelah itu aku akan

kabulkan keinginannya kawin dengan kau, supaya dia tidak

menyesali bahwa tubuhnya yang montok dan gemulai halus

itu tidak pernah dijamah lelaki sebelum ajalnya.”

Ling Ji-ping melongo, baru sekarang dia sadar bahwa

tulisan diatas batu peninggalan Lian-hoa ternyata sudah

ditemukan orang-orang Ang-hoa-kau sebelum dirinya putar

balik ke ngarai itu. maka gerak geriknya sejak meninggalkan

tempat itu padahal sudah dibawah pengawasan musuh,

sungguh celaka dirinya justru masuk perangkap mereka. Apa

yang pernah dikatakan nona Lian-hoa memang tidak salah.

Sepak terjang Ang-hoa-kau memang keji, telengas dan berani

berbuat dengan cara kotor apapun demi tercapainya keinginan

mereka.

148

Tapi berdebat juga tiada gunanya, maka dia bungkam dan

hanya menyeringai dingin saja. Kedua dayang cilik itu segera

menyeretnya turun kebawah loteng. Bagian bawah ternyata

merupakan rumah kosong, diempat penjuru ada jendela, tepat

ditengah bergantung sebuah Jampuangin, noda darah tampak

tercecer diatas lantai, entah berapa jiwa sudah dijagai

ditempat ini?

Terdengar seorang dayang berkata : “Laki laki ini

tampangnya sih ganteng, sayang kaku dan dingin, memang

cocok dan sesuai nama dan orangnya.”

Dayang yang lain cemberut, katanya:” Lian-hoa justru

kepelet padanya, sikapnya yang dingin begini, memangnya

apanya sih yang apik?”

Dayang yang bicara duluan berkata pula: „Kabarnya ilmu

silatnya lihay? Cui-hun-jiu nama nya itu konon sudah

menggetarkan Bulim.”

“Ya, kudengar Cap-ji-ce-sat-jiu yang dia yakin kan tiada

tandingan di Bulim.”

“Kalau tidak masakah……..” dayang pertama ragu ragu,

“kalau tidak buat apa Kaucu susah payah memetik kecapi

untuk menutuk Hiat-tonya?”

“Em, laki laki setampan ini, sayang kalau di mampusin.”

Dayang yang duluan tadi cekikikan, katanya: “Setan cilik,

apa kau juga ngebet padanya? ‘

Dayang yang lain melerok dulu kearah Ling ji-ping,

wajahnya tampak merah lalu makinya dengan tertawa :

„Memangnya aku gampang dipelet seperti dirimu.”

„Aku kepelet ?” dayang yang lain cekikikan, „memangnya

siapa yang harus ganti celana beberapa kali setiap kali jaga

malam diluar kain . Kaucu ?”

149

„Cis,” dayang yang dicemooh berludah seunit terus

menubruk maju hendak mencubit temannya. Dayang yang

ditubruk lekas berkelit kesamping, katanya dengan tertawa:

„Bagaimana ucapanku mengena sasaran bukan ?”

Dayang yang mengudak itu menjadi merah padam saking

malu, katanya : „Memangnya kau baik. Kalau merintih

kenikmatan orang seisi rumah semua mengetahui.”

„E, apa kau pernah dengar rintihan nikmatku ?”

„Kau kira aku tidak pernah dengar ?”

”O, jadi kau tidak pernah merintih, tapi kau pasti pandai

menggigit pundak laki laki.”

„Setan alas,” maki dayang yang lain sambil banting kaki,

tiba tiba dia menubruk maju pula sambil mencengkram. Maka

kedua dayang itu jadi saling udak sambil cekikik cekikik, Ling

Ji-ping yang jadi tawanan dan harus mereka bunuh malah

dilupakan.

Mendengar percakapan kedua dayang kecil yang maslh

remaja ternyata sudah pandai bergulat diatas ranjang dengan

laki-laki ini, sungguh tidak kepalang jijik dan gusar hati Ling Jiping.

Dalam hati dia membatin ; „Beginilah perempuan ?

Dihadapan orang kelihatan alim, tapi bila kedok mereka

terbongkar, kiranya juga bisa berkata berani melakukan.”

–ooo0dw0ooo–

Jilid 5

SETELAH SALING UDAK BEBERAPA lamanya, dayang yang

dikejar itu akhirnya berhenti sambil meminta ampun :

”Sudahlah, jangan ribut saja, kalau diketahui Kaucu, bisa

didamprat olehnya.”

„Kelak kau masih berani mencemoohku tidak?’

150

„Tidak adikku manis, ampunilah aku kali ini.”

„Kecuali nanti malam aku yang jadi lelaki:”

„Baiklah, aku menurut saja akan kehendakmu.” maka

celoteh kedua dayang itupun berakhir begitu saja, keduanya

saling bergandengan dan berpelukan dengan mesra

menghampiri kearah Ling Ji-ping. „Ayolah, kau yang turun

tangan.” kata salah seorang dayang.

Temannya ftu segera angkat pedang maju kedekat Ling Jiping.

Ji-ping tahu kali ini diri nya tidak akan terhindar dari ke

matian, maka dengan tenang dia pejam mata menunggu ajal.

Padahal jantungnya dag dig dug mengikuti lang kah dayang

yang menghampiri dirinya, seolah olah elmaut semakin dekat

mengancam jiwanya, hatinya jadi beku, bila pedang terayun

dan kepalanya ter penggal, maka sia sialah ambek,

perjuangan dan latihan silatnya selama Ini akan ludes ber

sama darahnya yang menyembur berhamburan.

Detik detik menghadapi kematian ini, teraya tak sedikitpun

Ji-ping tidak merasa gentar, tidak sedih tidak merasa pilu serta

berat meninggalkan dunia fana Ini, dia hanya menyesal,

menyesal bahwa cita citanya selama ini belum tercapai dan

tiada orang yang mewarisi tugas mulia yang di pikulnya

selama ini.

„Sret” suara pedang tercabut dari sarungnya kedengaran

meggelitik gendang pendengarannya, walau Ji ping memejam

mata, namun seolah olah dia melihat berkelebatnya cahaya

terang kemilau yang menyamber lehernya, tanpa terasa dia

meng bela napas panjang,

Pada detik-detik yang kritis itulah, mendadak kicau burung

walet terdengar menerobos jendela, lalu disusul suara jeritan

kaget dan ketakutan dari kedua dayang cilik, pedang ditangan

merekapun jatuh berkerontang.

Siapa yang datang? Majikan sepasang burung walet.

151

–oodwoo–

Suasana yang sunyi terasa tentram, tapi juga lengang.

Dalam kesunyian inilah terdengar irama seruling nan merdu

kumandang dari rumpun bambu di luar kamar yang agak jauh

letaknya.

Itulah sebuah kamar yang berbentuk memanjang dengan

pajangan dan prabot yang serba sederhana tapi rapi dan

bersih, ranjang bambu kuning dengan kelambu yang

menjuntai turun, tampak sulaman burung seriti menghiasi

kanan kiri kelambu yang tertutup rapat, lapat lapat kelihatan

seperti ada orang yang tidur telentang di atas ranjang bambu

itu.

Begitu nyenyak orang yang tidur diatas ranjang, namun

begitu irama seruling merdu mulai kumandang, kelopak

matanyapun tampak bergerak, pelan pelan akhirnya dia

membuka mata lalu membalik miring, matanya berkedip kedip

seperti menikmati lagu yang dibawakan si peniup seruling,

agaknya irama seruling itulah yang membuatnya terjaga dari

tidurnya yang pulas.

Begitu lembut selembut jari jari si manis yang empuk

mengelus tubuh menggelitik hati, hati seorang sebatang kara

dan hidup terlunta-lunta, belum lagi dia menyadari apa yang

telah terjadi dan dimana sekarang dirinya berada, tanpa

terasa dia terbuai oleh lagunya nan mengasyik kan itu

sehingga pandangannya nanar, seperti kosong tapi juga berisi

seakan akan tubuhnya ikut mutabul mengikuti gema seruling

yang mengambang diudara, mengambang sampai keawang

awang.

Dan tanpa disadarinya urat nadi disekujur badannya

ternyata sudah jebol keterjang arus hawa , panas yang timbul

dari pusarnya, begitu cepat kejadian ini sehingga dia tidak

menyadari bahwa Sam-kiau, Hian-koan dan Pit-boh ketiga

Hiat-to yang terkutuk itu sudah tembus dan berjalan lancar

seperti sedia kala. Sekonyong konyong tubuh nya bergetar

152

dan berjingkrak sekali, irama seru ling itupun tahu tahu sudah

berhenti.

,,Hah,” tanpa kuasa mulutnya berseru kaget, serta merta

mendadak dia melompat berduduk, seluruh tubuh basah oleh

keringat yang gemeroyos, seketika pula ingatannva terbayang

akan kejadian yang dialaminya sebelum ini. Ternyata di saat

saat jiwanya sudah terancam oleh pedang kedua dayang cilik

yang ternyata cabul itu, dua ekor burung walet dengan

kicaunya yang merdu tahu tahu menerobos masuk lewat

jendela.

Lekas dia berduduk sila serta mengerahkan hawa murni,

terasa urat nadinya berjalan lancar-malah kekuatan dan

semangatnya menyala nyala. Baru sekarang dia menyadari

bahwa sekali lagi jiwanya telah ditolong orang, yang menolong

diri nya jelas adalah majikan sepasang burung serit! itu.

Seperti biasa diapun tertawa dingin seorang diri, mendadak

dia mendongak mengawasi sulaman burung seriti diatas

kelambu, serta merta dia mengulur tangan mengelus sulaman

burung seriti’ itu dengan tawa getir dia berkata dalam hati:

„Kelambu bersulam burung seriti, ternyata kamar ini kamar

tidur pemilik burung seriti itu “-lalu dia teringat akan suara

seruling itu, apakah peniup nya juga pemilik sepasang burung

seriti?

Dia pasang kuping sebentar, tidak terdengar suara apapun

diluar rumah, hanya suara angin yang lalu yang menyebabkan

pohon pohon bambu bergoyang gontai. Melihat pemandangan

nan elok dan permai didepan rumah, sungguh takjup dan

pesona dibuatnya.

Baru saja dia bergerak hendak turun dari ranjang, suara

merdu dan lembut tiba tiba berkumandang diluar rumah: “Ginih,

kau sudah kembali.”

Maka terdengarlah suara gelepar sayap burung yang

meluncur tiba disertai kicauannya yang merdu,

153

Ling Ji-ping tertegun, tapi hatinya juga bergejolak, karena

suara orang itu adalah suara senandung yang pernah

didengarnya didalam hutan itu jelas nona yang memelihara

burung seriti Itu ada diluar jendela, “Gin-ih” atau sayap perak

kemungkinan adalah nama panggilan untuk burung seriti

berbulu perak itu. Maka dia mendengarkan lebih lanjut.

Tiba tiba didengarnya suara nona Itu seperti kaget,

seunya.” Gin ih, kau terluka?’

Diam diam Ji ping merasa rikuh dan menyesal, dia kira

lukanya burung seriti perak itu lantaran menolong dirinya.

Maka didengarnya suara helaan napas duka dan kasihan diluar

jendela.

Ada maksud Ji-pingg mendekati jendela serta melongok

keluar untuk melihat wajah pemilik se pasang buruug seriti.

namun lekas dia berpikir pula, karena didalam hutan kemaren

malam bukan kah orang tidak mau dilihat wajahnya Dari sini

dapatan dia memastikan bahwa penilik buruug saluiai tidak

mau memperlihatkan wajannya ke pada orang lain, kalau

orang tidak mau memper lihatkan wajah sendiri, kenapa pula

dirinya harus mengintipnya? Maka dia tetap duduk diam

dipinggir ranjang tanpa bergerak, tak lama kemudian di

dengarnya pemilik buruug itu menghela napas lirih.

Tiba tiba lambaian kain baju meladang turun diluar jendela

baru saja Ling Ji ping tertegun, nona yang memiliki burung

seriti sudah berseru: „Apakah Liat-cu?”

Suara yang nyaring tinggi seraya menyahut „Ya, nona.”

Suara nona burung seriti berkata pula : “Tadi aku sudah

membuka hiat tonya dengan irama se ruling, lekas kau antar

dia meninggalkan tempat ini.”

„Nona, kau……..”

„Tak usah banyak mulut, lekas antar dia pergi.’

154

Irama seruling membebaskan tutukan HIa-to sekilas Ji-ping

melengak, baru sekarang dia sadar bahwa irama seruling tadi

ternyata besar manfaatnya, tak heran begitu irama seruling itu

mengalun, seketika dia merasa badannya segar, urat nadi

mengendor dan darahpun berjalan lancar malah semakin

deras bagai air bah yang melanda dan tak terbendung lagi.

Ling Ji-ping tidak sangka dalam semalaman ini dia bertemu

dengan dua perempuan yang masing-masing memiliki

kepandaian tinggi, jarang dalam kalangan bulim ada tokoh

silat yang mampu menutuk dan membebaskan tutukan hiat-to

dengan irama musik, sejak jaman dahulu kala sukar dicari

sumbernya dan kemungkinan kelak takkan ada orang yang

mampu mewarisinya. Pada hal menurut apa dia yang ketahui,

tokoh tokeh kosen dalam Bulim jaman Ini tidak banyak yang

betul-betul membekal kepandaian sejati dalam bidang masingmasing,

oleh karena itulah sedikit lena sehingga dia

kecundang oleh Ang-hoa Kaucu .

Lalu siapa pemilik sepalang burung seriti ini, sejauh ini

diapun masih bingung memikirkan. meski wajah orang beium

pernah dia melihatnya, tapi dari perawakan dan potongan

tubuhnya, jelas usia nya masih muda, dengan usianya yang

masih remaja sudah memiliki kepandaian setinggi itu, sungguh

orang sukar membayangkanya.

Pada saat dia terlongong itulah, cahaya rembulan yang

menyorot masuk lewat jendela tiba-tiba menjadi gelap,

bayangan seseorang ternyata sudan mengaling didepan

Jendela ,tahu-tahu seorang dara cilik yang menggelung

kepang rambutnya diatas kepala sudah berdiri didepan

ranjang, langsung dia menyingkap kelambu serta

menyantetnya kesampiiig, katanya dengan tertawa: “Ling siau

hiap, silakan turun.”

Sejak mengembara di Kangouw, kapan Ling Ji ping pernah

kecundang serunyam ini, tak nyana dua kali dirinya harus

mengalami kekalahan getir ceng seng -san, celakanya lagi dua

155

kali pula dirinya ditolong oleh nona burung seriti ini, walau

sekarang dia hanya berhadapan dengan pelayan pribadinya,

tapi sudah cukup membuatnya malu dan kikuk. Tapi sikapnya

yang kaku dingin tetap melekat pada wajahnya, dengan tawa

dipaksakan lekas dia melorot turun.

Dia tahu pelayan ini ditugaskan mengantar dirinya

meninggalkan tempat ini, rasa kurang senang tiba tiba

menghantui dirinya, pikirnya ”Karena aku kecundang, kalian

menolongku ke mari, yah apa boleh buat. sekarang setelah

Hiat-toku bebas, untuk pergi aku harus diantar orang,

memangnya Cui-hun-tiap yang selama ini kuagungkan harus

dihapus dari percaturan dunia persi latan?” Padahal dia sendiri

kurang senang dan merasa kurang sepadan nama julukan ini,

namun setelah beberapatahun ini, dia menjadi biasa

menggunakan nama julukan itu, sekaligus melambangkan

kebesaran nama Ling Ji-ping, melambangkan kewibawaan dan

gengsi. Maka dengan nada dingin dia berkata menyeringai:

“Apakah nona hendak mengantarku keluar?”

„Jadi kau sudah dengar ? Mari. silabkan Ikut aku.”

Tak nyana Ling Ji-ping malah geleng geleng katanya:”

Nona tidak usah mengantar Cayhe”

”Lho, kenapa ?”

„Terlalu merepotkan, apalagi selama ini Ling Ji-ping malang

melintang cuma seorang diri selamanya tidak sudi ditemani

apalagi harus diantar orang.”

„Tapi diluar lembah Yan-kui-kok kini sudah terkepung oleh

musuh.”

„Musuh? Siapa mereka ?”

„Ada orang Thian-te-hwe, Ang-hoa-kau mungkin juga

orang orang Yu-bing-kau.”

Berkeriut kulit daging muka ling Ji-pi sikapnya kelihatan

tenang dan mantap. Dengan ujung lidah dia membasahi bibir,

156

sekarang lebih jelas lagi kenapa tadi nona burung seriti bilang

’mengantar” maksudnya bukan dia memandang rendah

dirinya, tapi lantaran musuh sebanyak itu sedang menunggu

dirinya diluar jadi si nona bermaksud baik pula terhadap

dirinya.

Selama hidup Ini belum pernah dia gentar menghadapi

musuh, walau secara kenyataan beberapa hari ini dua kali dia

kecundang, tapi dirinya kalah bukan berdasarkan mengadu

kepandaian silat sejati, namun dirinya dibokong secara gelap

dan licik. Bahwa orang lain menguwatirkan keselamatannya,

sebaliknya dia justru beranggapan mendapat kesempatan

yang berharga, dia harus merebut kembali gengsi dan

kewibawaan Cui-hun-tiap dihadapan orang Thian-te-hwe, Anghoa-

kau dan Yu-bing-kau. Mulutnya menggeram keras dengan

acuh dia berkata tertawa, “o, ada kejadian itu, kalau demikian

nona boleh tidak usah mengantar ku lagi.”

„Tapi, aku mendapat perintah”

“Aku tahu. ” tukas Ji-ping sebelum nona Liat-cu bicara

habis, “tolong sampaikan rasa terima kasihku kepada nona

kalian, orang she Ling mendapat pertolongannya tak perlu

banyak mulut mengucap terima kasih segala, mohon pamit.”

Berkedip bola mata Liat-cu, dia jadi heran, menghadapi

sikap pemuda yang dua kali pernah di tolong majikannya ini,

bukan saja tidak mau meng haturkan terima kasih, nada

bicaranya juga ketus dan kaku, tidak tanya siapa she dan

nama penolongnya pula. maka pandangannya mendelong,

wajahnyapun memperlihatkan mimik kecewa dan rasa

penasaran.

Habis bicara Jl-ping sudah beranjak keluar, mendadak Liatcu

menghardiknya : „Berhenti.”

Jl-ping menoleh mengawasi wajah Liat cu yang penasaran,

tanyanya : „Nona masih ada urusan?”

„Begini saja kau hendak pergi ?”

157

„Cara bagaimana aku baru boleh pergi ? Tolong nona

jelaskan.”‘

Cemberut mulut Liat-cu, katanya : „Belum pernah aku

melihat laki laki tak kenal aturan dan tidak tahu diri seperti

kau.”

„Aturan dan tahu diri?” akhirnya Jl-ping mengerti, katanya

tertawa geli : „Oh, ya. kenapa aku lupa mengucap terima

kasih kepada nona, betul tidak.”

„Dua kali nona kami menolongmu, kakiku pun bengkak

karena putar kayun untuk kepentinganmu, kenapa kau tidak

tanya siapa kami ?”

„O, hal itu sudah pernah kutanyakan, tapi nona mu tidak

mau memberi tabu, memangnya apa yang bisa kulakukan ?

Apalagi selama hidup orang siorang Ling tidak sudi tanya

persoalan orang lain yangi pantang dibicarakan kepadaku’

„Kalian pernah bertemu ?”

Kemaren malam didalam hutan diluar Thian su-tong “

Liat-cu mengawasinya dengan segala mendelong tanyanya

: „Kau pernah melihat wajah nona”

„Ah, belum” ucap Ling Ji-ping, „aku hanya; melihat

bayangan punggung nonamu.”

Liat-cu tertawa lebar, katanya ; „Agaknya kau amat

sombong dan angkuh “

,Bagi diriku, Ini adalah harga dlrr.”

„Harga diri’.'” Llat-cu cekikikan geli, ”karena itu kau

bersikap dingin, tinggi hati, anggap diri nya paling

jempolan.’^

„Memang pembawaanku bersikap kaku dan dingin,

selamanya tak pernah aku sombong apa lagi mengagulkan

158

diri, apakah karenanona pernah dua kali menolong aku, maka

aku diharuskan tunduk pada kalian?”

Kontan Liat-cu menarik muka, sambil membanting kaki dia

berpaling kearah lain.

Ling Ji-piig tertawa angkuh, katanya : „Kalau betul

demikian, aku mohon pertolongan nona untuk menyerahkan

kembali jiwa ragaku ini kepada Yu-bing Kaucu, atau kepada

Ang-hoa-kau karena selama hidup ini orang she Ling tidak

ingin berhutang budi terhadap siapapun.”

Liat-cu tertegun, pelan pelan dia membalik kemari pula,

sepasang bola matanya membelalak bundar, sungguh dia

tidak habis mengerti, watak pemuda dihadapannya Ini

ternyata begini nyentrik memangnya orang lain salah malah

bila menolong dia ?

Dikala Liat-cu terlongong itulah, suara helaan napas

panjang berkumandang dlluar jendela itulah suara nona

burung seriti berkata : „Liat-cu, buat apa kau putar lidah

dengan Ling Siauhiap Apa pesanku kepadamu;”

„Tapi dia tidak sudi kuantar nona.”

Kalau tadi Ling Ji-ping merasa asyik mendengar suara

merdu nona burung seriti, tapi sekarang dia merasa nada

perkataannya ternyata memiliki kekuatan yang tak boleh

diabaikan membuat hatinya bergetar, seperti seseorang yang

mendadak mendengarkan irama lagu klasik yang

mengasyikkan, karena ketarik diluar sadarnya dia mendengar

dan menaruh perhatian sepenuhnya se olah olah sukmanya

tersedot.

Bagitu terpesona Ling Ji-ping mendengarkan suara merdu

ini sampai dia tidak hiraukan apa yang dikatikan Liat-cu,

dalam hati dia berpikir „Agaknya nona burung seriti memiliki

Kungfu yang tiada tandingan dalam kalangan Bulim, kenapa

tindak tanduknya begini misterius dan suka menghela napas,

memangnya hidupnya merana dan menanggurg nestapa “

159

Suma merdu itu terdengar pula: „Lho, mana boleh begitu ?

Musuh sebanyak itu diluar lembah begitu dia keluar, mana dia

bisa selamat .”

Tiba tiba Ling Jl-ping bicara langsung „Terima kasih akan

maksud baik nona. memang orang she Ling ingin membuat

perhitungan dengan mereka, sekarang mereka justru meluruk

datang seluruhnya, mumpung ada kesempatan sekaligus aku

membuat perhitungan dengan mereka, demi urusanku, buat

apa nona harus ikut menanggung beban bermusuhan dengan

mereka ?”

Liat-cu segera memonyongkan mulut, katanya: “Nah, baru

sekarang perkataanmu enak didengar kenapa tidak sejak tadi

kau katakan.”

Helaan napas terdengar pula diluar jendela, katanya lebih

lanjut: “Sepak terjang Siauhiap sebelum ini memang agak

telengas, maka orang orang jahat itu sama mengincar jiwamu,

Kungfu Siauhiap memang tinggi, tapi menghadapi keroyokan

musuh sebanyak itu. apalagi orang orang jahat itu tega

melakukan kejahatan apa saja, seorang diri kau menghadapi

mereka, apakah kau menggunakan akal sehat? Liat cu

mengantarmu meninggalkan lembah ini.”

Agaknya Ling Ji-ping tidak ambil perduli bahwa musuh

musuh itu sedang menunggu dirinya diluar lembah, katanya

dengan tawa angkuh “Memang sejak berkelana terlalu banyak

Cayhe membunuh orang, tapi undangan penyabut sukma ku

itu kukirim kepada alamat yang betul betul patut

menerimanya, aku yakin tidak pernah salah membunuh

orang.”

„Hal itu aku juga tahu. Kejahatan ada besar kecilnya, suatu

kesalahan secara tidak sengaja, atau karena suatu sebab

terpaksa seseorang ke jeblos kedalam organisasi gelap, belum

tentu kesalahannya patut dihukum mati, apalagi diantara

kalangan organisasi gelap Itu bukan mustahil ada juga orang

yang berhati baik, oleh karena itu ku harap selanjutnya SiauTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

160

hiap lebih berhati hati setiap melakukan tindakan, kalau bisa

berilah pengampunan, dan tundukkan dia dengan kebajikan,

dengan kebijaksanaan kau bisa membimbing nya kembali

kejalan yang benar, yakin kelak kau bakal lebih disanjung pula

sebagai pahlawan besar. Bukan maksudku hendak berkotbah

dihadapan Siau hiap, harap dimaafkan dan tidak berkecil hati.”

Sejak meninggalkan perguruan, belum pernah ada teman

yang memberi nasehat kepadanya, maka sepak terjangnya

melulu menuruti adatnya sendiri, mendengar kotbah nona

burung seriti, bermula dia mefasa janggal dan panas hatinya,

setelah di telaah dengan seksama, baru dia sadar akan

maksud baik terhadap dirinya. Maka dia mengangguk dan

berkata :”Nasehat nona memang betul sebelum ini kita tidak

kenal, namun beberapa kali nona telah menolongku,

memberikan petunjuk dengan petuah petuah berharga lagi,

Cayhe pasti akan catat dalam hati dan selanjutnya akan

bertindak sesuai petunjuk nona.”

„Mana berani aku memberi nasehat atau petunjuk?” ucap

nona diluar jendela, “Bulim sekarang sedang diliputi banyak

keributan. Siauhiap punya hati yang bajik dan berjiwa

pendekar, siapa pun pasti akan kagum kepadamu, oleh karena

itu kami beranikan diri menyampaikan uneg uneg dalam hati,

harap Siauhiap tidak berkecil hati.”

Timbul rasa kagum dan hormat Ling Ji-ping terhadap nona

seriti, katanya pula : “Ucapan nona amat berharga dan banyak

mengoreksi diriku, entah kapan Jlping boleh berhadapan

untuk menyampaikan rasa terimakasihku ?’

Agak lama nona diluar berpikir pikir, akhir nya bercuara

kalem ;”Kalau memang bisa bertemu pasti akan tiba saatnya

untuk berhadapan., Siau hiap, boleh silakan berangkat.”

Terasa oleh Ji-ping dirinya seperti kehilangan dan hambar,

tapi orang tidak mau menemui diri nya, memangnya dia bisa

memaksa ? Tapi oleh karena itu lebih tajam keyakinan Ling Jiping

akan noaa burung seriti yang serba misterius ini kecuali

161

menyembunyikan muka dan. asal usul, musuh musuh yang

tahu dirinya berada dalam lembah ini ternyata tiada satupun

yang berani meluruk kedalam lembah, dari sini dapat

dibuktikan bahwa nona burung seriti ini memang

berkepandaian tinggi dan memiliki nama yang di segani. Lalu

kenapa pula mereka berani mencari keributan diluar lembah ?

Memangnya tidak takut dilabrak oleh penghuni lemban ini?’

Tadi diapun dengar burung seriti perak si nona ternyata

terluka dalam menjalankan tugas, kalau dikata orang orang

diluar itu jeri padanya, kenapa burung peliharaannya dilukai ?

Dikala dia kebingungan itulah suara diluar jendela

berkumandang pula:” Liat-cu, jangan seperti kanak kanak,

lekas temani Siauhiap keluar lembah, dan larang mereka

membuat keributan di luar lembah.”

Liat-cu mengiakan, namun mukanya masih cemberut,

katanya kepada Ling Ji-ping: “Hey dengar tidak hayo

berangkat.”

Ling Ji-ping tertawa angkuh, katanya ; “Cayhe pasti

berangkat, tapi nona tak usah mengantar. Betapapun banyak

orang menungguku diluar lembah, dengan bekal kepandaian

yang kuyakinkan selama ini, ingin aku melabrak mereka.”

Bibir Lian-cu menjengek, katanya : „Kau yakin kau dapat

mengalahkan mereka .”

„Keyakinan adalah keberanian, hidup atau mati urusan

kecil, kalau Ling Ji-ping harus di antar orang, dalam Bulim

selanjutnya pasti tiada tempat berpijak lagi untukku.”

„Liat-cu, agaknya Ling Siauhiap memang tidak mau diantar

keluar, boleh kau antar sampai dimulut. lembah saja.”

demikian suara diluar jendela memberikan pesannya.

„Wah, jual mahal segala, ayo berangkat.” setelah

membanting kaki segera dia mendahului beranjak keluar.

Bahwa pemilik burung serititi tak mau berhadapan dengan

dirinya, sebagal laki laki sejati, maka Ling Ji-ping tidak mau

162

melirik atau menoleh, lekas sekali dia ikuti langkah Liat-cu

keluar rumah menuju keluar lembah.

Bentuk Yan-kui-kok ternyata amat lucu, sejauh dua ll dari

mulut lembah ternyata semakin sempit mirip paruh burung

seriti, dinding gunung berhadapan dtsebelah depan, lebarnya

hanya beberapa tombak. Setelah melewati sebuah jembatan

bambu yang dibangun serba model, tiba tiba Liat-cu berhenti

seperti roendengarkaa sesuatu, akhirnya dia mendengus

keluarkan suara hidung terus berlari secepat terbang, lekas Jiping

ikut berlari tak kaah cepatnya.

Belasan tombak menjelang mulut lembah, sudah tampak

bayangan orang yang lagi tubruk sana terkam sini dimulut

lembah, disamping suara mereka yang ribut. Diam diam Ling

Ji-ping keheranan : „Orang orang yang meluruk kemari pasti

memiliki kepandaian tinggi, memangnya ke dua burung seriti

itu mampu membendung me reka ?”

Tengah dia berpikir, disana sudah terdengar suara hardikan

Liat-cu : „Kalian sungguh ber nyali besar, berani membuat

keributan di sini, memangnya sudah bosan hidup :'”

Ling Ji-ping berpikir : „Biar aku saksikan sampai di mana

taraf kepandaian nona Liat cu ini, dari gaya permainan silatnya

mungkin aku bisa meraba asal usul perguruan nona seriti.”

segera dia melompat keatas batu, dari sini dia menjejak lagi

sehingga tubuhnya melambung tinggi dan hinggap diatas

pohon beringin yang rindang. Dilihatnya Liat-cu bertolak

pinggang sambil melotot kearah orang orang diluar lembah.

kedua burung seriti itu sudah hinggap dikanan kiri pundaknya.

Ternyata orang sebanyak itu diluar lembah tiada yang berani

bergerak maju menghadapi seorang gadis muda bersama

sepasang burung seriti.

Rombongan yang berada disebelah kiri adalah orang orang

Ang-hoa-kau yang dipimpin Sip-kut-sian-ki Hoa Kik-jin,

dibelakangnya ada empat gadis yang mengenakan mantel

163

hijau, didepan dada mereka disulam kuntum kembang yang

berbeda.

Rombongan ditengah semuanya terdiri dari orang orang

yang bertampang seram, yaitu setan setan yang berbentuk

kuda, sapi dan sebangsa kuntilanak, orang yang berada

ditengah bukan lain adalah Pu-bing kaucu yang mukanya

ditutup cadar hitam, pakaiannya serba gelap,

Disebelah kanan dipimpin seorang Tosu yang

berperawakan kecil pendek, mukanya kuning se perti malam,

tapi mengenakan jubah yang besar lebar dan panjang warna

kelabu, kedua bola ma tanya mencorong kemilau, Ling Ji-ping

masih ingat Tosu pendek ini adalah salah satu Tong-cu Thiante-

hwe yaug berkuasa dicabangnya di Jowan-tang, nama

julukannya adalah Pi-lik Tojln Pek thay-ceng.

Empat laki laki bermuka hitam tampak berada dibelakang

Pi-lik Tojin, semuanya bersenjata lengkap, sikapnya kereng

dan buas.

Dilihat gelagatnya, ketiga rombongan orang orang ini sudah

pernah dirugikan oleh sepasang seriti sakti itu, karena banyak

diantaranya yang berdarah dimuka, leher, tangan dan

dadanya, namun luka luKa mereka tidak berat.

Terdengar Yu-bing Kaucu mendengus, jengek nya „Siapa

kau ?”

Mengernyit hidungnya Liat-cu, katanya :„Tidak setimpal kau

tanya siapa diriku, pendek kata, orang dilarang membuat

keributan disini, hm, bila majikan tidak berpesan, bola mata

kalian sudah sejak tadi menjadi santapan sepasang seriti sakti

ini.”

Biasanya Sip-kut-sian-ki Hia Kik-jin selalu tersenyum

dengan gayanya yang jalang, tapi sekarang dia merengut dan

membesi, serunya menuding : „Peduli siapa kau, kalau orang

she Ling tidak diserahkan, akan kuratakan lembah kecil ini,

164

jangan kau kira sepasang burung itu mampu menakutkan

orang.”

Pi-lik Tojin juga berbenger tawa, katanya sambil angkat

muka : „Majikan yang kau maksud tadi, apakah dia Sin-yansoh-

ngo Bing Siau-tang salah satu dari In-yang-siang sian

dulu.”

„Sin-yan-soh ngo Bing Slau tang ?’ hampir saja Ji-ping

melonjak diatas pohon „ya. kenapa aku tidak ingat akan

tokoh hebat ini ?’ tapi setelah dia pikir lebih lanjut terasa

urusan agak janggal, karena dulu Sin-yan-soh-ngo

bersemayam di Tiang-pek’sam diluar perbatasan, padahal

tempat tinggal nona seriti dalam lembah ini dinama kan Yankui

kok dari sini dapat disimpulkan bahwa leluhur nona seriti

dahulu memang bertempat tinggal dilembah ini, jadi yang satu

diutara yang lain diselatan, sehingga tidak mungidn

menghubungkan Sin yan-soh-ngo Bing Siau tang dengan

pemilik sepasang buruug seriti di sini. apalagi usia mereka

terpaut banyak sekali. Atau kemung kinan bahwa nona seriti

itu adalah murid didik Sin yan soh-ngo, setelah tamat belajar

dia kembali ketempat semula.

Tapi didengarnya Liat-cu mendengus keki, katanya :

„Syukurlah kau sudah tahu akan nama beliau, kalau tahu diri

lekaslah menggelinding pergi.”

Mendengar nama Sin-yan-soh-ngo tampak Sip-kut-sian-ki

Hoa Kik-jin tersentak melongo, tapi lekas sekali dia sudah

tertawa tawar, kata nya : “Oh, jadi beliau tinggal disini,

memangnya sudah kuduga siapa yang mampu memelihara

burung seriti untuk menakuti orang.”

Yu-bing Kaucu juga berludah lalu mengejek : ”Umpama

Bing Siau-tang sekarang berada di sini, Pun-Kaucu juga tidak

ambil peduli, siapapun macam ini jangan harap dapat

melindungi bocah she Ling Itu.”

165

Pi-lik Tojin terkekeh kering, serunya : “Kaucu memang

betul, bocah she Ling itu sewenang wenang main bunuh tanpa

alasan, Ka-ling-sam-kiam dari perkumpulan kamipun

dibunuhnya maka jiwanya harus mampus di sini untuk

membalas kematian mereka.”

Mendadak Liat-cu menuding Yubing Kaucu, semprotnya

:”Kau ini terhitung barang apa ? Berani memanggil langsung

nama besar Sin-yan-soh go kita ?’

Karena mendengar makian Liat-Cu, seketika Ling Ji-ping

mengerti, batinnya “O, jadi nona burung seriti memang betul

adalah murid didik Suryan-soh ngoJ”

Sebagai Kaucu jelek jelek punya wibawa diantara anak

buahnya, kini dihadapan umum dirinya dituding dan dimaki,

karuan gusar Yu-bing Kauci bukan main, makinya :”Genduk

busuk yang bemulut tajam, bila kaucu tidak menghajar ada

padamu, kau kira sepasang binatang itu mampu melindungi

dirimu .'” lalu dia berpaling kearah Pek-bln-bu-siang yang

berada disamping belakangnya, katanya ‘.”Pergilah targkap

budak busuk Itu” Pek-bu-siang yang bertopi tinggi lancip

segera mengiakan, kipas lemplt raksasa dltangannya

dikebaskan lalu melangkah maju.

Liat-cu mengejek sambil melirik hina kearah Pek-bu siang,

ejeknya :”BIarlah kuperingatkan kembali, kalau ingin hidup

lekas menggellnding pergi.”

Pek-bu-siang terkial kiai, katanya :’Genduk ayu, besar juga

mulutmu.”

Dalam tempat sembunyinya Ling Jl-ping membatin :”Aku

pernah membuktikan kepandaian silat Pek-bu-siang, meski

bukan tokoh kosen, namun cara turun tangannya amat keji,

biar Liat-cu adalah pelayan pribadi nona seriti, apakah dia

mampu melawannya, masih merupakan tanda tanya karena

merasa kuatir, dia sudah siap hendak melompat keluar dan

turun ketengah gelanggang.

166

Baru saja tubuhnya bergeming, tiba tiba secara reflek dia

menghentikan niatnya pula, ternyata disaat otaknya bekerja

itu, Pek-bu-siang sudah turun tangan, tangan kirinya yang

putih panjang dan tinggal kulit pembungkus tulang dengan

kukunya menjulur tajam telah mencengkram, ternyata sekali

turun tangan dia telah mengguna kan Han-ping-kui-jiau

(Cakar setan sedingin salju)-

Ternyata Liat-cu berdiri tegak tidak bergeming seperti

menunggu cakaran lawan malah, hidungnya mendengus pula,

hanya jari tengah tangan kanannya saja yang kelihatan seperti

menyenlik sekali dengan lirih, tapi kejadian justru amat aneh

dan mengherankan, cakar setan Pek bu-siang yang menderu

keras dengan angin kencang yang dingin membeku itu

ternyata sirna tanpa bekas belum lagi dia menubruk lebih

dekat, mulutnya sudah keburu menjerit kesakitan, kontan

tubuhnya tergeletak keras sempoyongan tiga langkah, kipas

raksasa dilempar sernantara tangan kanan menekan tangan

kiri sambil menahan sakit, mukanya me ringis, matanya

terbelalak dengan pandangan kaget dan heran.

Ling Ji-ping juga tertegun, pikirnya :”latihan jari Liat-cu

ternyata juga begini lihai, kemaren malam bila aku tidak

mengandal Liok-meh-sin-kang, jelas sukar aku bertahan dari

serangan TIan-ping-kui-jiau yang lihai itu. Tapi kenyataan

Liat-cu seperti tidak acuh sama sekali, cukup sekali jentikan

tangan, Pek-bu-siang telah dilukai malah “

Tampak Liat-cu berdiri santai dengan senyum lebar,

katanya :”BagaImana? Hanya dengan jari tanganku saja kau

sudah ketahuan kau bukan tarndinganku. Kau masih berani

membuat keributan disini ? Lekaslah enyah ! Kalau aku

inginkan jiwamu, cukup dengan satu jentikan ke Hian-ki-hiat

mu, coba kau pertimbangkan apakah jiwamu masih bisa

dipertahankan ?”

Pada hal yang hadir semua adalah orang orang kosen, tapi

apa yang dikatakan Liat-cu memang bukan bualan, dari sikap

167

dan mimik muka Pek-busiarg, tangan kiri itu jelas tidak ringan

lukanya. kalau jentikan jari itu benar benar ditujukan ke Hlanki-

hlat, urat nadinya pasti tergetar hanccur, dan jiwa pasti

tamat seketika.

Belum sejurus dirinya bergebrak tahu tahu salah

kecundang. hal Ini belum pernah terjadi analagi

kedudukannya dalam Yu-bingkau cukup tinggi, meski hati

amat kaget dan jeri, namun dlhadapan umum sudah tentu dia

tidak terima, setelah menyengir kuda, dia berseru : „Siluman

perempuan, ilmu jari apa yang kau gunakan ?”

„Memangnya tidak malu kau tanya hal ini ? Tapi biarlah

kuberitahu padamu, yang kugunakan adalah Hwi-hong-cikang,

kalau kau tidak percaya, marilah kita ulangi sekali lagi.”

„Hwi-hong-ci.” seluruh hadirin bergetar hatinya mendengar

nama kepandaian sakti dari Sia-yan-soh-ngo di masa lalu, bila

Ilmu jari ini diyakinkan mencapai tingkat yang paling top, tiada

sesuatu benda sekeras bajapun yang mampu menahannya,

apalagi ilmu jari ini kusus untuk memecahkan Hou-deh-sln

kang. Dahulu Sin-yan-soh-ngo pernah bertanding dengan It-ci-

sin-mo Ko It bin di Thian-tay-san, iblis yang amat ditakuti

dengan jari tunggalnya itu toh dapat dikalahkannya sejurus.

Tak nyana gadis cilik muda usia ini ternyata juga pandai

menggunakan ilmu jari sakti itu ?

Mendengar yang digunakan melukai dirinya adalah Hwihong-

ci, Pek-bu-siang tersentak kaget sambil menyurut

mundur, semula dia masih ingin melabrak genduk cilik ini,

sekarang jangan kata menantang, melirik padanyapun sudah

ketakutan,

Liat-cu cekikikan, katanya : ,,Nah sudah ke takutan

sekarang ? Lekaslah mencawat ekor, kalian yang hadir

dengarkan, siapapun dilarang membuat keributan di sini.”

Mendadak Yu-bing Kaucu terkekeh kering, katanya :

„Genduk busuk, jangan kau kira Hwi hong-ci tiada tandingan

168

dikolong langit Ini, ketahuilah, umpama Bing Siau-tang sendiri

berada di sini. akupun tidak gentar terhadapn a.”

Tak pernah terbayang oleh Pi-lik Tojin bahwa di sini dia

bakal berhadapan dengan anak murid Sin-yan, diam diam dia

sudah berkeputusan headak mengundurkan diri, namun

mendengar pernyataan Yu-bing Kaucu, segera dia

menyeringai sambil mengebas lengan bajunya, katanya :

„Memangaya, jelek jelek kau ini seorang Kaucu, kalau takut

menghadapi cewek sekecil ini, lebih balik pulang kerumah

tutup pintu dan mengnndurkan diri dari percaturan dunia

persilatan.”

Yu-bing Kaucu menggeram sambil berpaling ke arah Pi-lik

Tojin, katanya : „Apa maksud per kataanmu ?”

Pi-lik Tojin tertawa gelak gelak, serunya „Apa salah

ucapanku ?’

Berputar biji mata Sip-kut-sian-ki, katanyai tertawa lebar :

„Masakah Toa-kaucu tidak paham’.’ Maksudnya supaya kau

melabrak genduk cilik ini dan nanti berhantam sampai gugur

bersama murid Sin-yan-soh-ngo, baru nanti dia akan

memungut keuntungan dari bentrokan Ini.”

„Enak juga perhitunganmu ” Yu-bing Kauci, menyeringai

sambil melangkah beberapa tindak.

Seperti diketahui Pi-lik Tojin adalah pejabat yang berkuasa

dicabang Thian-te-hwe di Thian-tang, bahwa di Ceng-seng

tanpa diketahui oleh siapapun mendadak muncul Yu-bing

Kaucu, kalau tidak secara kebetulan dia menguntit jejak Ling

Ji-ping, jelas dia tetap tidak tahu adanya tokoh bangkotan ini

didaerah kekuasaannya, sudah tentu hatinya kecut dan malu

pula, namun dia tahu bahwa lawan yang sedang diudaknya

Cui-hun tiap Ling Ji ping adalah lawan yang amat tangguh,

sementara pihak Yu-bing-kau juga selang mencarinya, jadi

sasaran sana. sementara Thian-te-hwe belum pernah

bermusuhan dengan Yu-bing-kau, orang orang yang hadir di

169

sini pinak Yu bingkau juga berjumlah paling banyak, kalau

sampai terjadi bentrokan jelas pihak sendiri berada di tempat

yang tersudutkan, dasar licik apa yang menjadi tujuannya

memang seperti yang dibongkar oleh Sip-kut-sian-ki,

maksudnya nendak mengadu domba satu dengan lainnya,

supaya nanti dirinya memungut keuntungan tanpa banyak

memeras tenaga.

Diluar dugaan muslihatnya dibongkar orang, Y u-bing Kaucu

malah mengancam dirinya, lekas dia kerahkan Lwekang,

namun lahirnya tetap-wajar dan terkekeh kearah Sip-kut-sian

ki: „Jem pol, jempol. Memangnya kau sendiri tidak ingin

memungut keuntungan, sungguh hebat.”

Ternyata ucapannya ini menimbulkan reaksi pula, Yu-bing

kaucu mendadak berpaling ke arah Sip-kut-sian-ki sambil

mendengus, katanya : „Setelah kubereskan dia, baru tiba

giliranmu “

„Apa benar .” Sip-kut-sian-ki cekikikan genit, : ”sungguh

merupakan penghargaan bagi diriku, selamanya Ang-hoa-kau

tidak pernah gen tar terhadap siapapun.”

Meadadak Liat-cu membentak : „Hai, kalian mau anjing

gigit anjing pergilah yang jauh. Siapa pun dilarang berkelahi

dimulut lembah Ini.”

Sekilas Sip-kut-slan-ki melirik kearah Liat-cu lalu berkata

kepada Yu-blng Kaucu : „Nah kau dengar Kalau terjadi

keributan diantara kita sendiri, orang akan mengusir pergi.”

Lega hati Pi-lik Tojin, bukan dia jeri terhadap Yu-bing

Kaucu, tapi pembantu yang dibawa nya malam ini memang

terlalu minim untuk bentrok dengan pihak Yu-bing-kau, dia

sendiri tidak yakin bahwa I lmu tunggalnya yang llhay itu mam

pu mengalahkan musuh, kini mumpung ada kesem patan

segera dia menyeletuk: „Memang betul, jangan kita lupa

malam ini menghadapi musuh yang sama, kalau mau

bertanding, kelak masih banyak waktu,”

170

Yu-bing Kaucu mendengus, sorot matanya di belakang

cadar tampak berkilat, tatapannya kems ball ke arah Liat-cu,

jelas dia sudah bertekad sebelum membereskan musuh

tangguh, diapun segan mencari setori dengan musuh yang

lain.

Diam diam Ling Ji-ping kaget melihat sinar mata Yu-bing

Kaucu yang mencorong terang di tengah kegelapan,

bangkotan ini pandai melancar kan pukulan yang tidak

mengeluarkan suara, kekuatannya amat mengejutkan lagi, bila

Liat-cu lena menghadapi, pasti akan kecundang.

Belum lagi sempat dia memberi peringatan, tampak Yubing

Kaucu sudah menyeringai sadis, pelan pelan telapak

tangannya membalik, dari telapak tangannya itu mendadak

mengepul segumpal asap putih terus menerjang ke arah Liatcu.

Kalau Ji-ping merasa kuatir, sebaliknya Liat cu tetap berdiri

sambil senyum dikulum, hakikat nya dia tidak ambil peduli

akan serangan Yu-bing Kaucu, katanya menggoda malah :

„Wah, Hoat kut-han-ping-ciang, sayang permainan ini sudah

tidak segar lagi,” mulut bicara tangan kiri melintang ke kanan

sementara tangan kanan tegak lurus, tangan kiri yang

melintang di depan dada itu mendadak mengipat keluar,

seolah olah damparan tenaga deias yang menerjang tiba itu

kena dituntun dan disampok minggir, berbareng langkahnya

seenteng mega mengambang berkelebat tiga tombak jauhnya,

bukan saja gerakan enteng dan pesat indah gemulai pula.

Hampir saja Ling Jl-ping berteriak memuji pikirnya: ,,Hwiyan

sin-hoat pelajaran Sia-yan-bun memang bukan bernama

kosong, dengan membekal gerakan tubuh sehebat ini, jelas

dia takkan gampang dilukai Yu-bing Kaucu.”

Setelah berpijak ditanah Liat-cu tertawa cekikikan lagi,

katanya : „Toa-kaucu, hanya mengandal kemahiranmu ini saja

?”

171

„Genduk busuk, kau kenal Hoatkut-han-ping ciang, jelas

pengetahuanmu cukup mendalam dan pula lagi kepandalanmu

menuntun tenaga memunahkan tenaga juga terhitung boleh

juga, sebetulnya malu aku bergebiak dengan kau, tapi

sekarang, hehey hati hatilah kau.”

Sip-kut-sian-kl dan Pi-lik Tojin sama2 kaget, kedudukan

mereka tidak rendah dalam perkumpulan masing masing,

pengetahuan ilmu silat juga cukup luas, tapi ilmu apa yang

dilancarkan Yu bing Kaucu hakikatnya mereka tidak tahu,

setelah, Liat-cu menyebut namanya barulah mereka tahu

itulah ilmu pukulan dingin paling berbisa dari kalangan sesat,

sungguh tidak sangka bahwa Yu-bing Kaucu ternyata

meyakinkan ilmu yang paling top jahatnya diam diam mereka

mengucap syukur bahwa tadi mereka tidak bertindak

sembrono, kalau tidak mungkin jiwa mereka sudah amblas

sejak tadi.

Liat-cu berkata pula setelah cekikikan geli : ”Apa betul?

Boleh kau kembangkan seluruh ilmu saktimu. Buktikan saja

apakah aku rnampu meng hadapinya ?’

Yu-bing Kaucu menggerung gusar, kedua lengan tiba tiba

didekap di depan dada, telapak tangan menghadap ke luar,

maka mengepullah segumpal asap, mula mula sedikit lama

kelamaan semakin tebal membesar dan berputar putai di

telapak tangannya, ini merupakan pertanda bahwa Yu-bing

Kaucu telah mengerahkan seluruh Lwe kangnya untuk

melontarkan pukulan.

Tersirap darah Ling Ji-ping. jikalau Yu-bing kaucu

melontarkan pukulannya serentak dengan kedua tangan,

mungkin dia sendirlpun takkan kuat menahannya, bila hanya

mengandal ketangkasan gerak lubuhnva, ‘mungkin Liat-cu

takkan dapat terhindar dari mara bahaya.

Tapi Liat-cu tetap berdiri tegak ditempatnya wajahnya tetap

mengulum senyum, hembusan ingin gunung mengikarkan

172

pakaiannya, sikapnya begitu santai dan gemulai. Sebelah

tangan menyingkap rambut yang terurai, katanya tertawa :

”Em, cara yang pintar, satu tangan tidak becus dua

tanganpun boleh.”

Yu-bing Kaucu menyeringai, sepasang telapak tangannya

pelan pelan didorong lurus kedepan. kali ini dua larik

gumpalan asap putih secepat kilat meluncur bagai bianglala.

Jarak tempat sembunyi Ling Ji-ping kira kira ada empat

tombak, diapun merasakan hawa dingin seperti mengiris

kulit, hampir saja dia tidak kuat menahannya.

Ternyata Pi-lik Tojin dan Sip-kut sian-ki ju ga terdesak

mundur oleh pergolakan hawa dingin yang menggejolak

diudara, lekas mereka suruh anak buahnya melompat minggir

sejauh mungkin.

Ternyata Liat cu tetap tertawa riang, sekali jejak kaki,

tubuhnya seringan burung walet mela yang tinggi keudara,

cepat sekali ditengah udara pinggangnya ditekuk, disaat tubuh

mengapung itu dia berputar satu lingkaran, secepat anak

panah dari sebelah atas kiri dia menukik ke bawah menubruk

langsung ke arah Yu-bing Kaucu, belum tubuhnya meluncur

turun jarinya sudah menjentik yang diincar adalah gitok yang

terletak dibelakang kepala Y u-bing Kaucu.

Kembali serangannya mengenai tempat kosong, celaka

dirinya menjadi sasaran balasan lawan, karuan Yu-bing Kaucu

berjingkrak gusar, pakaian hitamnya seketika melembung,

lengan baju kiri kontan mengebut ‘wut’ timbullah deru angin

kencang bagai badai mepgamuk memapak terjangan

selentikan jari Liat-cu yang menubruk turun.

Jangan dikira hanya’ kebutan lengan baju, ternyata

mengandung damparan angia pukulan yang dahsyat, tubuh

Liat-cu yang menukik turun itu seperti tertahan sebentar terus

membal naik pula keudara, lekas dia meluruskan pinggang

173

terus jum palitan sekali meluncur tujuh tombak di sebelah

sana.

Tapi gerakan Yu-bing Kaucu ternyata setangkas setan, baru

saja hinggap ditanah, dia sudah menubruk tiba dan terkekeh

sadis; „Gcnduk busuk, rasakan kelihayanku.”

Agaknya Liat-cu merasa malu dan gusar, karena dirinya

terpental turun oleh kebutan lengan baju orang, mukanya

tampak kaku membesi, tiba tiba mulutnya berpekik, tampak

pundak bergerak tahu tahu dia lancarkan gerakan tubuh yang

mengaburkan pandangan orang, yang tampak hanya

bayangan hijau yang berkelebat, serta ke’siur angin yang

menyambar kian kemari, bagai segumpal cahaya hijau

gerakannya begitu cepat, seolah olah vu-bing Kaucu telah

dikurungnya dalam rangkaian serangan gencar. Dari tengah

udara tampak dua bayangan kuring dan perak turun naik

saling samber silih berganti, jadi satu orang dua burung seriti

serempak mencecar Yu-bing Kaucu dengan serangan

serangan aneh dan mema tikan.

Namun seluruh tubuh Yu-bing Kaccu telah terbungkus oleh

gumpalan asap tebal yarg tetap bergulung gulung di sekitar

tubuhnya, ditengah kekeh tawanya, gumpalan asap Itu

ternyata dapat mulur modot naik turun seperti terkendali,

gerakannya tetap gesit dan tangkas, ternyata dia tetap

mampu menandingi serangan gencar lawannya, hanya suara

burung seriti Itulah yang terdengar ribut dan ramal.

Anak buah Yu-bing Kaucu yang bertampang hewan Itu

sama mundur semakin jauh, tanpa perintah sang Kaucu

siaparun tiada yang berani tampil ke tengah gelanggang,

semua menonton dengan pandangan terbelalak dan tegang

Pertempuran berlangsung satu jam lebih, keadaan tetap

seru, tiba2 terdengar Yu-bing Kaucu menggerung sekeras

singa mengamuk, gumpalan asap yang membungkus

tubuhnya itu mendadak tercerai berai melesat keempat

penjuru seperti ledakan bom yang dahsyat.

174

Maka terdengarlah Liat cu menjerit kaget, segumpal

bayangan hijau tampak terlempar jumpalit an kearah kiri.

Kaget Ji ping bukan main, sembari menggentak gusar kedua

tangannya terkembang, tak ubahnya seekor naga tahu2

tubuhnya sudah meluncur kebawah, kedua tangan terulur dan

tepat dia masih serapat meraih tubuh Liat-cu yang terlempar

itu Gerakannya memang teramat cepat. sebelum Yu bing

Kaucu bertindak lebih lanjut, dia sudah mencelat mundur dan

kembali berdiri dimulut lembah.

Setelah Ling Ji-ping menurunkan Liatcu, baru hadirin

melihat jelas yang menolong Liat cu ternyata adalah Ling Ji

ping yang sedang mereka cari. Ji ping tidak sempat

memeriksa Liat-cu, se gera dia membalik tubuh, kedua tangan

digendong dibelakang, sikapnya kaku dingin wajahnya

menyeringai hina dan mencemooh.

„Haha, buyung, kiranya kau.” Yubing kaucu terkekeh

senang.

„Bukankah kalian sedang mencariku?”jengek Ling Ji-ping.

Yu-bing Kaucu melangkah satu tindak, sembari terkekeh

tiba2 dia ulurkan tangannya: “Mana serahkan.’

„O, jadi kau Ingin memiliki gelang naga itu?”

„Agaknya kau tahu diri, asal kau serahkan gelang naga,

hari ini jiwamu boleh diampuni.”

„Sejak kelana di kangouw, jiwa ragaku Ini sudah

kuserahkan untuk kawan2 kangouw. siapa mampu dia boleh

mencabut jiwaku.Tentang gelang naga itu, aku sudah

serahkan kepada seorang teman untuk menyimpannya

sementara waktu , kalian jangan harap dapat merebutnya.”

Yu-bing Kaucu mendesak pula selangkah sorot matanya

beringas, desisnya: “Anak jadah, agaknya kau memang

sudah bosan hidup.”

175

„Toa-kaucu, belum tentu aku akan mati hari ini “Ji-ping

mengeledek.

Sip-kut-sian-ki tiba tiba tampil kedepan, dengan wajah

membesi dia berkata : „Orang she Ling, kau memang hebat-

Dalam jangka setengah hari kau sudah berhasil memelet LIanhoa

si cewek brengsek itu, sekarang serahkan dia padaku.”

Pl lik Tojin tidak mau kalah suara, dlarun menimbrung;

„Kau Inikah Ling Ji-ping? Jadi beginikah tampang Gui-huntiapyang

ditakuti itu’? Kukira berkepala tiga bertangan enam,

jadi kau pula yang membunuh Ka-ling-sam-kiam dari Tam cu

kita itu ?”

Sinis pandangan Ling Ji-ping menyapu Sip-kut sian-ki dan

Pi-lik Tojin, tapi dia berkata pada Pi iik Toj’n : „Jikalau Thiantam

Tamcu Cau Koa hong juga mampus ditanganku,

memangnya kau tojin kerdil ini juga berani menuntut balas

kematiannya ?

Meringis dan lucu sekali mimik Pi-lik Tojin mendengar olok

olok Ling Ji-ping. Apa yang di katakan itu memang benar Cau

hoa-hong adalah Thin-tam Tamcu dari Thian-te-whe,

kedudukan nya lebih tinggi, Jin-yam-ciang pernah malang

melintang di dunia Kangouw dan belum pernah ketemu

tandingan, bicara soal Iwekang dirinya jelas bukan

tandingannya, bahwa hari ini dia berani ikut ikutan meluruk

kemari, soalnya dia per caya dua belas pelor geledeknya yang

sudah terke nal di Bulim, dengan terkial kial dia berkata :

„Anak muda. jangan takabur, nanti kau akan tahu

kelihayanku.”

Ujung mulut Ling Jl-ping menjengek hina, malas dia bicara

sama orang tidak tahu malu ini, lalu dia berpaling ke arah Sipkut-

sian ki, kata nya: ”Nona Lian-hoa amat menyesal bahwa

dia salah masuk perguruan yang kotor, mumpung belum

terlanjur maka dia mengundurkan diri demi menjaga kesucian

dirinya, hal ini Kaucu kalian sudah tahu, kenapa Tamcu

sekarang justeru menagih orangnya kepadaku.”

176

Yu-bing Kaucu melirik ke arah Pi-lik Tojin dan Sip-kut-sianki,

katanya: „Sebelum anak ja dah ini menyerahkan gelang

naga itu, kalian kularang bergebrak sama dia, kalau tidak

hehehe, jangan salahkan kalau aku bertindak terhadap

kalian.”

„Lho, kenapa Kaucu bilang demikian,’ tampak sikap genit

Sip-kut-sian-ki, „kami punya persoalan sendiri sendiri,

memangnya kau bisa mencampuri urusan Ang-hoa-kau kami

?”

Pi-lik Tojin juga terloroh-lcroh, namun dia tidak memberi

komentar.

Acuh dan angkuh sikap Ling Ji-ping, katanya lantang

„Kalian bertiga sama sama hendak men cari setori padaku,

kenapa harus membedakan satu dengan yang lain, hayo maju

bersama saja.”

Yu bing Kaucu menggerung gusar, mendadak dia berpaling

kepada anak buahnya yang berpakaian serba putih, katanya :

Suruh mereka mundur, kalau berani membangkang bunuh

saja.”

Dua orang berpakaian putih dengan lidah menjulur panjang

ini segera terpekik seram, serempak keduanya bergerak, satu

ke arah Sip-kut sian-ki yang satu menubruk ke arah Pilik Tojin,

“sementara anak buah lain yang bertampang hewan beramal

ramai mengikuti di belakang kedua orang ini. Situasi

mendadak memuncak tegang, pertempuran besar bakal

terjadi dimulut lembah.

Tapi pada saat gawat itulah, sebuah suara nyaring

berkumandang dari dalam mulut lembah : „Semuanya

berhenti, siapapun dilarang betingkah di daerah Yan-ku-kok

kekuasaanku ini,”

Ling Ji-ping melenggong, pikirnya : „Sejak kapan diapun

kemari ‘

177

Suara itu nyaring lembut amat mengasyikan pendengarnya

orang orang yang bergrombolan di luar lembah itu seperti

tertekan perasaannya oleh suara yang penuh wibawa ini, ada

yang celingukan ada yang melongok, semua memandang

kedalam lembah.

Ling Ji-ping tidak ketinggalan, diapun berpaling kebelakang,

dilihatnya nona burung seriti tetap berpakaian putih sutra,

duduk bersimpuh menghadap ke dalam lembah di atas sebuah

batu besar, kedua burung walet emas dan perak itu tampak

hinggap diatas pundaknya, serasang mata burung itu ternyata

menyala terang bagai kunang kunang ditengah kegelapan,

gaya duduknya serta dilihat perawakannya yang semampai,

berpakaian serba putih lagi, siapapun mengira melihat dewi

yang baru turun dari kayangan, meski tidak melihat wajahnya

tapi merasakan keagungannya yang tak boleh dilawan.

Semua hadirin menahan napas, terasa betapa misterius

nona burung seriti ini, meski orang duduk membelakangi

mereka, tapi dari bentuk tubuhnya saja mereka yakin bahwa

penghuni lembah burung seriti Ini adalah seorang gadis

remaja yang ayu jelita, jadi bukan Sin-yan-soh-ngo yang amat

disegani itu.

Hanya sekilas Yu-bing Kaucu tertegun, sege ra dia unjuk

tampang pula „Siapa kau ?”

Nona yang membelakangi mereka itu berkata dengan suara

rawan : „Akulah penghuni lembah ini, apa kau yang melukai

dayangku ‘

„Kau bukan Sin-yan-soh-ngo?” tanya Yu-bing Kaucu.

„Beliau adalah guruku.” sahut suara rawan itu.

Agaknya lega hati Yu-bing Kaucu setelah ta hu gadis ini

bukan Sin-yan-soh-ngo sendiri, kata nya menyeringai lebar :

„Kami kemari untuk membekuk bocah she Ling ini, siapa suruh

da yangmu kurang ajar terhadapku, hehe, hukuman nya

setimpal dengan kelakuannya.”

178

„Tapi apakah kau tahu mengganggu ketenangan orang

juga perbuatan salah’:”

„Mengganggu ketenangan orang ?” Yu-bing Kaucu

terbahak2 sambil mendongak, „Kemaren malam kau

mengutus orang mengganggu kami dlmarkas pusat,

mengingat Yu-bing-kau baru saja berdiri belum pernah

bermusuhan dengan gurumu, maka kami mengalah dan

melepaskan bocah she Ling itu, taknyana setelah dia lolos

ditengah jalan dia membegal dua orang anggota kami, sebuah

benda berharga milik kami dirampasnya, apa sekarang aku

tidak patut membekuknya ‘.”

„Tahukah kau barang itu sekarang sudah terjatuh ketangan

orang lain ?”

„Jatuh katangan siapa?” hardik Yu-bing Kaucu.

„Tak usah kau tanya siapa dia.” timbrung Ling Ji-ping

dengan argkuh, „Barang itu memang pernah berada

ditanganku, boleh kau mencari perkara kepadaku.”

„Anak jadah, kau kira aku tidak mampu mengganyangmu.”

„Toa-kaucu, boleh kau mencobanya, kalau hanya

mengandal kepandaian silat sejati, aku sih tidak perlu gentar

terhadapmu.”

Nona yang duduk membelakang itu berkata pula :

„Didaerah Yan-kui-kok ini, siapapun dilarang bergebrak.”

„Mengandal kata katamu ini tok?” jengek Yu-bing Kaucu.

„Memangnya aku dipaksa turun tangan”

„Kecuali kau serahkan bocah she Ling ini kepadaku,

kalau tidak, jangan kira kau ini murid Sin-yan-bun lantas kami

jeri padamu.”

”Toa-kaucu jangan kau takabur.” semprot Ling ji-pIng.

179

„Toa Kaucu tidak mampu membereskan kau bocah keparat

ini, memangnya Yu-bing-kau mampu bertenjger didunia

persilatan “

Ling Ji-ping tertawa remeh, katanya : „Baik, mari cari

tempat lain saja, jangan membuat keri butan ditempa orang.”

Memang begitulah maksud Yu-bing Kaucu, dia akur saja:

„Bagus, ayo ikut aku.”

„Nanti dulu,”‘ suara rawan itu berkumandang pula dari

dalam lembah, „urusanku dengan kau belum lagi selesai.”

„Urusan apa belum selesai ?” bentak Yu-bing Kaucu, sorot

matanya yang tajam seakan me nembus cadar hitamnya itu.

„Mengganggu ketenanganku dan melukai dayangku,

memangnya kau sudah lupa”

Mendadak Pi-lik Tojin yang sejak tadi diam saja bergelak

tertawa.

”Apa yang kau tawakan ” hardik Yu-bing Kaucu.

„Yu-bing-kau mendirikan markasnya dldaerah Joan-he, aku

yang menjadi tuan rumah didaerah ini sedikitpun tidak tahu,

dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa sepak terjang

kalian amat rahasia dan sembunyi-sembunyi, pepatah ada

bilang, disamping ranjang, orang lain dilarang mendengkur,

siapa nyana tidak jauh dari markas pusat Yu-bing-kau ada

pula orang sa nayam di sini, sungguh tak habis aku mengerti

dalam dunia ini ada kejadian yang begini kebetulan, sekarang

terserah bagaimana tindakan Toa-kaucu.” jelas maksud

perkataannya hendak mengadu domba pula,

”Hm, agaknya kau ingin menjadi penonton vang memungut

keuntungan lagi.” jengek Yu-bing Kaucu dengan hina.

„Betul,” ucap Sip-kut-sian-ki, „memang ke situlah

tujuannya, tapi bila pihak Sin-yan-bun tidak memberi

180

kelonggaran padamu, jelek jelek kau Ini seorang Kaucu

memangnya kau harus minta maaf mengaku salah ?”

Terbakar amarah Yu-bing Kaucu : „Memang nya aku takut

menghadapi murid Si-yan-bun.”

„Siapa bilang kau takut,” Sit-kut-sian-ki ikut mengipasi,

„Bicara terus terang Ilmu yang tadi Toa-kaucu lancarkan tadi

adalah kepandaian tunggal yang tiada taranya di Bulim, aku

amat me ngaguminya, sayang demonstrasi tadi belum

menyeluruh, sekarang mungkin tiba saatnya kami bisa

menikmati dengan lengkap dan puas.”

Yu-bing Kaucu sadar akan maksud orang yang mengumpak

dan membakar amarahnya, tapi umpama busur yang telah

ditarik gendewanya tlnggai membidikkan anak panahnya,

terpaksa dia pun mandah diperalat, bentaknya kearah nona bu

rung seriti :„Semula kupandang rnuka gurumu, tak sudi aku

memberi pelajaran padamu, tak nyana begini muda usiamu

tapi berani menghina orang mencari setori terhadapku,

baiklah, coba t erangkan apa kehendakmu ?”

Nona burung seriti tidak menanggapi tantangannya, malah

berkata kepada Ling Ji-ping :„Siau hiap, boleh kau silakan

pergi saja. Sepuluh li disebelan tenggara dari sini, ada orang

mencarimu.”

„Siapa mencariku ?” tanya Ling Ji-ping melengak.

”Setiba disana kau akan tahu, dia tengah menghadapi

persoalan pelik.”

„Menghadapi persoalan pelik?”

„Hm, adik cilik itu bak mutiara yang sudah mulai

menampakkan cahayanya, memangnya kau tega melihat dia

terjeblos kedalam bahaya ?”

Ling Jl-ping melenggong, dia tahu yang di maksud nona

burung seriti kalau bukan Yong-ji, pastl adalah nona Llan-hoa,

hatinya jadi gelisah, tapi apakah sekarang dia boleh tinggal

181

pergi demikian saja? Bukan dia kuatlr akan keselamatan nona

burung seriti, tapi tiga rombongan orang yang mencari dirinya

Ini semuanya menantang dirinva, kalau dia tinggal pergi

begini saja, bukankah gengsi sama kebesaran nama Cui-huntlap

akan runtuh total ? Apalagi wataknya keras kepala, sekalikali

dia tidak sudi berbuat serendah itu. Maka dengan angkuh

dia berkata : „Urusan ku di sini belum beres, jikalau aku

tinggal pergi sekarang, bukankeh diriku bakal jadi buah ter

tawaan mereka ?”

„Siauhiap,” suara rawan itu terdengar lebih menyentuh

perasaan, „urusanmu dengan mereka tetap akan berlarutlarut,

kenapa harus dlbereskan malam ini juga ? Waktu amat

kejam, menolong jiwa orang bagai menolong kebakaran,

sedikit terlambat, kau akan menyesal seumur hidup.”

„Masa begitu penting?”

„Ya, aku tak akan ngipusi.” tegas suara nona burung seriti,

„ingat sepuluh li kearah tenggara, disana ada sebuah rumah

bobrok, lekaslah berangkat, jangan sampai terlambat.”

Ling Ji-ping masih bimbang, nona burung seriti sudah

mendesaknya pula : „Orang orang ini takkan merintangi kau,

aku tidak akan memperbolehkan mereka meninggalkan

tempat ini.”

Diam diam kaget hati Ling Ji-ping, dia tidak tahu membekal

ilmu sakti macam apa saja nona burung seriti ini ? Orang

orang yang ada di mulut lembah bukan kaum kroco, umpama

dia me miliki kepandaian luar biasa, bila bergebrak meng

hadapi keroyokan orang sebanyak itu, mungkin mereka

memang tak mampu mengalahkan dia, tapi, bila dikatakan dia

mampu menahan mereka disini, ini sungguh suatu kejadian

luar biasa. Tapi kenya taan nona burung seriti bicara biak

biakan di hadapan orang orang itu, Ji-ping tahu dia pasti yakin

dapat melaksanakan ancamannya, maka bej tambah tebal

keyakinannya bahwa nona ini me miliki sesuatu keajaiban

yang luat biasa.

182

„Memangnya kau bisa pergi ?'” Yu-bing Kaucu mengancam

sambil memberi tanda kepada anak buahnya, serempak

mereka menyebar diri siap me rintangi Ling Ji-ping pergi.

„Toa-kaucu,” ujar Ling Ji-ping, „kalau orang she Ling ingin

pergi, memangnya orang orangmu ini mampu menahanku ?”

Suara nona burung seriti tegas dan kuat berwibawa :

„Siapapun berani ulur tangan merintangi dia, jangan salahkan

kalau aku tidak kenal kasihan. Sejak meninggalkan perguruan

dan pulang ke selataa ini, sebetulnya aku tidak suka melukai

orang tanpa alasan yang kuat, tapi bila kalian tidak mau

dengar nasehatku, yah apa boleh buat. Kelak masih ada waktu

kalian membereskan urusan dengan Ling siauhiap, kenapa

harus malam ini? Apalagi didepan mulut lembahku Bukan

maksudku memberi dukungan bagi Ling siauhiap, kalau

mengandal kepandaian sejati aku yakin dia tidak akan

gampang dikalahkan. Bahwa aku larang kalian pergi karena

kalian sudah mengganggu ketenangan dalam lembah ini,

melukai dayangku pula, maka kalian harus bertanggung jawab

dan membuat pe nyelesaian denganku.”

Yu-bing Kaucu tertawa loroh loroh sambil bertolak

pinggang, katanya : „Aku percaya murid Sin-yan-bun memiliki

kemampuan luar biasa sehing ga kami semua tunduk akan

perintahmu.”

Mendengar Ling Ji-ping hendak pergi, sekilas Pi-lik Tojin

memberi tanda kepada empat orang nya dibelakang, maka

diam diam empat orang ini mulai menyebar diri ke arah

tenggara.

Hanya Sip-kut s ian-ki dan empat anak buah nya yang tetap

berdiri dltempatnya, tapi matanya yang bundar Itu melotot

mengawasi Ling Ji-ping, entah dia siaga menjaga bila Ling Jiping

menda dak petgi ? Atau pesona oleh ketampanan

pemuda, kita ini ?

183

terdengar nona burung serit! berkata : „Jadi kalian tidak

percaya ‘

Yu-bing Kaucu berpaling kekanan kiri, dilihatnya seluruh

anak buahnya sudah tsrsebar dan menempati posisi yang

menguntungkan, lalu dia berpaling pula dan terkekeh :

„Boneka perempuan, boleh kau pertunjukan kepandaianmu.”

Cepat Ling Ji-ping menimbrung : „Buat apa nona

mencapaikan diri bergebrak dengan mereka, biarlah aku saja

yang menghajar mereka.”

„Tidak.” Suara tegas tandas jang mengandung kekuatan

dan wibawa berkumandang dari mulut nona burung seriti:

..Siauhiap, di sini kan Yan-kui-kok, orang berani bikin ribut di

tempat ini, maka urusan ini adalah urusanku, seperti pula

urusan pribadimu yang pantang dicampuri orang lain, nah

lekaslah kau pergi. Memangnya kau tega membiarkan nona

yang masin muda belia dan suci murni ternoda dan tersiksa”

Kata kata yang terakhir betul betul merbuat perasaan Ling

Ji-ping goncang, tanyanya kaget: „Maksud nona . . .”

„Betul, Siauhiap, waktu sudah amat mendesak.”

Peduli nona yang dimaksud pemilik burung seriti ini entah

Yong-ji ataukah nona Lian-hoa, Ling Ji-ping. sudah tidak

punya waktu untuk berpikir, demi keselamatan mereka dia

harus lekas berkeputusan. Maka dia sapu rombongan orang

orang yang meluruk dirinya serta berkata: „Karena ada urusan

genting, terpaksa persoalanku dengan! kalian biar ditunda

sementara, kelak orang she Ling pasti membuat penyelesaian

dengan kalian, terserah di mana atau kapan saja. Maaf, aku

mo hon diri.” habis bicara mulutnya lantas bersiul panjang,

kedua lengan terkembang, tubuhnya tiba tiba tubuhnya

melambung tinggi melampaui pucuk pohon terus berlari

kearah tenggara.

Baru saja tubuh Ling Ji-ping melambung ke atas. Yu-bing

Kaucu sudah membentak: „Jangan biarkan dia pergi.”

184

ditengah suara bentakannya itu, dua sosok bayangan putih

seperti setan me nunggang angin menubruk ketengah udara

pula, sementara di sebelah sana Pi-lik Tojin juga ber teriak:

„Mau pergi. Memangnya begini gampang “

Lima orang dari Thian-te-hwe serentak juga menerjang ke

atas.

Keempat kembang dibelakang Si-kut-sian-ki tiba tiba

berpekik bersama, kelinting disekitar mantel mereka sudah

berdering nyaring, serempak mereka sudah siap mengudak

pula. Tapi Sip-kut-sian-ki keburu menghardik perlahan dan

kereng : „Jangan bergerak, biarkan dia pergi.”

Tahu dibelakangnya musuh sudah mengudak dengan

berbagai serangan ilmu sesat yang dahsyat, lekas Ling Ji-ping

kerahkan Hou-deh-sin-kang, berbareng dia mainkan sepasang

telapak tangannya, dia sudah siap melontarkan Lur.-wi-kiucoan

dari ilmu ajaran gurunya yang terampuh kepada para

musuh yang berada dibelakangnya. Tapi sebelum dia

lontarkan Ilmu pukulannya, sebuah suara irama seruling yang

merdu nyaring dan bening tiba tiba bergelombang diudara,

suaranya yang melengking tinggi seperti menembus langit,

bagai pekik burung yang mcngasyikan, sekonyong konyong

Ling Ji-ping merasakan seluruh tenaga murni dalam tubuhnya

buyar, kedua lenganpun seketika lemasi lunglai, lebih celaka

lagi tanpa kuasa tubuh nya langsung anjlok ke bawah.

Kalau keadaan Ling Kun-gi cukup payah, lebih celaka pula

keadaan para musuh yang menyergap dirinja itu. semua

melorot jatuh kaku seperti balok, untung semuanya masih

beidiri te gak, kebetulan Ling Ji-ping jatuh di depan salah

seorang setan topi tinggi dengan lidah terjulur panjang, tapi

setan gentayangan ini berdiri kaku dengan pandangan

lengang seoerti tidak melihat di rinya, tubuhnya kaku tak

kuasa bergerak.

185

Maka didengarnya suara merdu rona burung seriti

”Siauhiap, selamat bertemu lagi, setiap saat Yan-kui-kok siap

menunggu kedatanganmu.”

Suara yarg menyentuh pendengaran ini seketika membuat

Ling Ji-ping tersentak sadar dan segar bugar pula, baru

sekarang dia mengerti, bahwa bekal Kungfu nona burung

seriti ini ternyata Jauh diluar batas ukuran. Pernah dia dengar

orang bilang bahwa ailran Hud ada semacam ilmu auman

singa yang keras kuat dan tak tertahankan, orang yang

mendengar auman singa ini urat syarafnya akan tergetar

putus dan menjadi gila atau paling ringan tersesat, dengan

suara lantang auman keras itu pula dapat memukul mundur

musuh. Tapi seruling nona burung seriti ternyata mirip perik

burung hong yang tidak kalah hebatnya dengan auman singa,

jadi keduanya kira kira setanding dan setaraf

Cepat dia menyapu ke arah mulut lembah ternyata benar,

ketiga rombongan orang orang yang cari setori padanya itu

semua berdiri kaku ditempat. demikian pula Y u-bing Kaucu

Jikalau penghuni lembah mau mengambil Jiwanya mungkin

tiada satupan yeng bisa selamat.

Waktu Ling Ji-ping memandang kearah nona burung seriti

yang bersimpuh diatas batu, tampak orang tetap duduk

santai, tubuhnya tidak kelihatan bergerak, pakaian putih yang

tertiup angin melambai lambai, tak ubahnya seperti bidadari

yang turun dari kayangan, tapi seperti pula seorang padri tua

yang tekun bersamadi, hakikatnya tidak menyadari bahwa tak

jauh di belakangnya berdiri puluhan Orang musuh.

Sebetulnya timbul keinginan Ling Ji-ping mengucap terima

kasih, namun lekas dia batalkan niatnya, katanya dalam hati;

„Terima kasih nona. selama gunung tetap menghijau dan air

masih mengalir, semoga akan datang suatu ketika orang she

Ling dapat mendarma baktikan tenagaku ke padamu.” maka

dari kejauhan dia bersoja kearah nona burung seriti terus

186

menjejakkan kakinya, secepat kilat tubuhnya telah meluncur

kearah tenggara.

—ooo0dw0ooo—

Jilid 6

MALAM TETAP SEPI LENGANG, TAPI Juga tentram dan

aman.

Tapi ditengah alas pegunungan belukar ini, malam terasa

lebih pekat, suasana di sini justru tidak tenang, malah boleh

dikata terasa seram dan menakutkan, dari tengah semak

dibalik selokan sering terdengar suara-suara aneh yang

membuat orang merinding kerenanya. karena terburu-buru

Ling Ji-ping tidak hiraukan semua itu, dia kembangkan Lingkhong-

pou-si (melangkah kosong ditengah udara) menembus

hutan melampaui jurang, dalam jangka setengah jam dia

sudah menempuh puluhan li jauhnya.

Dia berhenti dipuncak sebuah gunung meng atur nafas

sambil celingukan kesekitarnya, yang tampak hanyalah

kegelapan dari gunung gemunung yang ditumbuhi hutan

belantara, alam semesta di taburi sinar perak sang rembulan

yang redup, gubuk kecil yang dikatakan nona burung seriti

entah terletak dimana ? Baru sekarang dia sedikit menyesal

kenapa tadi tidak tanya jelas letaknya, ditengah alas

pegunungan yang lebat ini. di malam hari lagi, kemana dia

harus mencari sebuah gubuk bobrok ditengah hutan ! Karena

gelisah segera dia menengadah sambil berpekik nyaring,

suaranya bergetar mengalun menimbulkan gema yang keras

sebelum suaranya lenyap dia sudah meluncur lagi dengan

kecepatan maksimal kearah kiri, kira-kira satu li dia

menempuh perjalanan tiba-tiba tak jauh di bawah ngarai sana

seperti ada sinar pelita yang berkelebat. Padahal tubuhnya

belum hinggap ditanah, namun dibawah pancaran sinar rem

bulan dapatlah dia melihat jelas bahwa dikaki gunung dibawah

187

ngarai sana seperti ada sebuah gubuk, sinar lampu tampak

menyorot keluar dari dalam rumah, agaknya penghuni rumah

itu belum tidur.

Karena ingin buru-buru menolong orang, Ji-ping tidak

perduli siapa yang menghuni rumah ini ! Mumpung angin

pegununan agak ribut, hanya sedikit menutul kaki di tanah,

tubuhnya sudah mencelat kesana dan anjlok dibawah jendela

GInkangnya sudah termasuk tinggi, detngah angin ribut

lagi, sudah tentu suara lambaian baju nya kelelap karenanya,

padahal Ling Ji-ping tidak perduli meski kedatangannya

konangan oleh penghuni rumah ini, karena menurut pesan

nona burung seriti, seorang nona mengalami bahaya dan

terancam kesuciannya dalam rumah ini, betapa besar dan

genting peristiwa ini, sedetikpun Ling JI-ping tidak boleh

menunda waktu legi.

Begitu turun dibawah jendela, tidak melihat reaksi apapun

dalam rumah lekas dia dekatkan matanya melongok kedalam,

tampak didalam ru mah terdapat sebuah meja kayu, diatas

meja tulah sebuah lampion yang terbuat dari sutra merah

memancarkan cahayanya, disudut kiri rumah terdapat sebuah

dipan selintas pandang keadaan dalam rumah sudah terlihat

jelas, rumah ini ko song tiada penghuninya.

Bahwa ditengah alas pegunungan terdapat rumah kosong,

tapi didalam rumah terpasang lampion merah yang menyala,

terasa oleh Ling Ji-ping bahwa rumah ini agak aneh dan ganjil,

cahaya lampion yang benderang, tapi terasa sinar nya agak

menimbulkan rasa seram dan dapat mendirikan bulu roma

orang. Betapapun ganjili rumah ini. karena rumah ini kosong,

tiada nona yang harus ditolong seberti apa yang dikatakan

nona burung seriti, maka Ling Ji-ping sudah siap

meninggalkan tempat itu supaya tidak membuang waktu.

Mendadak dari dalam rumah kumandang suara tawa orang

yang aneh, katanya seorang : „Anak muda, siapa yang kau

cari ‘

188

Sudah tentu Ling Ji-ping kaget, lekas dia kerahkan Houdeh-

sin-kang, pelan-pelan dia mem balik serta melongok

kedalam jendela. Aneh bin ajaib, runah tetap kosong, lampu

tetap menyala, namun tidak kelihatan ada bayangan manusia

Ling Ji-ping sudah termasuk jago kosen, namun merasa

heran dan kebingungan Maka dengan teliti dia periksa setiap

sudut rumah ini, tidak ketinggalan blandar di atas, kolong

meja dan dipan, namun tidak kelihatan ada orang, lalu dari

mana orang tadi bicara,? Kini bukan heran Ji-ping malah

kaget, karena terbukti suara itu keluar dari lampion merah itu,

padahal lampion itu tembus cahaya, lidah api tampak

bergoyang-goyang dan terlihat jelas dari luar lampion itu

meski cukup besar, tapi didalam maupun dibelakang atau di

bawahnya jelas tak mungkin manusia sembunyi.

Tampak lidah api meletik sekali, lalu suara itu berkata pula:

„Anak muda, jangan heian. Aku bukan setan bukan dedemit.

Aku manusia biasa, manusia seperti dirimu juga, cuma kau

tidak bisa melihatku, tadi kutanya kau mencari siapa? Kenapa

tidak kau jawab.”

Walau urusan amat ganjil, tapi Ling Ji-ping cukup tabah,

katanya dengan sikapnya yang ang kuh: „aku mencari seorang

teman, Saudara, kalau kau manusia, silakan keluar untuk

berbicara.”

„Kau memanggilku saudara? Anak muda'”

„Mungkin kau seorang Cianpwe, tapi sebelum Cayhe fahu

siapa dirimu, apakah salah aku me manggilmu saudara?”

„Boleh, boleh saja.” lampion merah itu ter tawa gelakgelak,

„coba jelaskan siapa yang kau cari

”Wah…..” Ling Jiping ragu-ragu, „Yang jelas dia seorang

teman baikku, namun temanku, yang mana, aku sendiri juga

belum jelas.”

„Siapa beritahu kau untuk mencarinya kema rit” tanya

lampion merah itu.

189

”Maaf, hal ini tak bisa kujelaskan, Saudara siapa kau”

„Aku lidah api menari-nari, Umpama Lohu beritahu she dan

namaku, kaupun takkan kenal dan tahu siapa aku. Anak

muda, malam, ini kau memang mujur.”

„Mujur ?” Ji-ping tertegun,, apa maksudmu Aku tidak

mengerti.”

„Tahukah kau lampu apakah lampion merah ini ‘

„Aku tidak tahu.”

„Sudah tentu kau takkan tahu.” lampion Itu terkial-kial,

„itulah lampu Iblis.”

„Lampu iblis ?’ Ji-ping tertegun, Segera dia teringat akau

peristiwa lain, otaknya bekerja kilat, tanyanya : „Apa sangkut

pautnya lampu ini dengan kemujuranku ‘

„Ya, ada sangkut pautnya.” lampion Itu tertawa besar,

„lampion ini dinamakan juga Cau-hun ting (lampu memanggil

sukma), sudah jelas anak muda ?’

„Cau-hun-ting ?” Ji-ping menyurut selangkah namun lekas

sekali dia sudah tertawa dingin, kata nya : „Maksud saudara

bila melihat lampion sukmanya bakal terpanggil “

„Betul anak muda, tapi malam ini adalah hari bahagia,

maka selama hidup ini sekali Lohu melanggar pantangan.

Lekas kau pergi, semoga kau dapat rejeki.”

‘Hari besar bahagia’ ketiga kata ini laksana Jarum menusuk

ulu hati Ling Ji-ping, sekarang dia lahu bahwa yang dituju

ternyata memang gubuk kecil ini, entah Yong-ji atau Lian-hoa

yang terta wan oleh orang aneh lampion merah ini?

Ternyata Ling Ji-ping tetap berlaku tenang, katanya tertawa

lantang „Sungguh mujur, kalau saudara sedang merayakan

hari bahagia, apakah Cayhe tidak boleh mengganggu barang

secangkir arak”

190

Suara tawa loroh itu berkumandang dari dalam lampion

merah, katanya „Anak muda, nyalimu memang besar. Selama

hidupku kaulah orang sa tu-satunya yang tidak melarikan diri

setelah melihat lampion memanggil sukma milikku ini. sayang

ditengah alas didalarn gubuk rebot begini, jangan. kata arak

secangkir, airpun tak mampu kusediakan terpaksa tuan rumah

macamku ini tidak bisa me layani tamu yang tidak diundang.”

„Kalau begitu mempelai perempuan yang bahagia itu.

bolehkah aku melihat wajahnya ?”

Suara dalam lampion mendadak berkumandang lebih keras

:.,Anak muda, kau memang Jenaka. Biarlah malam ini Lohu

melanggar partangan sekali lagi, bukan saja kau boleh melihat

calon isteriku, kaupun boleh melihat bayanganku.”

„Bayangan'”

„Betul biarlah kau melihat bayangan Lohu, hal itu belum

pernah terjadi selama hidupku dan kau orang pertama yang

kuberi prioritas, sebelum ini betapa banyak manusia yang

mampus ditangan Lohu, sungguh teramat banyak dan tak bisa

kuhitung, namun tiada korbanku itu yang pernah melihat

bayanganku.”

Habis perkataannya lidah api dalam lampion mendadak

berkobar semakin besar, disekeliling lampion sontak timbul

kabut merah yang semakin membesar setinggi satu tombak,

ditengah asap merah ying berputar-putar itulah lapat-lapat

seperti ada bayangan seorang manusia, sekujur badan

berwarna merah darah, tak ubahnya separti mandi darah.

Meski aneh dan ajaib kejadian ini, tapi dalam kalangan

Bulim memang banyak ilmu yang serba mujijat, dari gurunya

diapun pernah mendengar cerita-cerita yang serba magic,

apalagi tujuannya kali ini hendak menolong orang, kalau

hanya menghadapi keanehan ini dia lantas ketakutan,

bagaimana dia bisa menyelamatkan jiwa orang.

191

Tanpa takut dia tertawa dingin, katanya: „Mana mempelai

perempuan?”

Bayangan merah darah itu terbahak-bahak, katanya : „Itu

bukan ? Anak muda, cantik tidak?”

Lekas Ling Ji-ping berpaling kearah dipan, sungguh aneh

bin ajaib, dalam sekejap ini dipan yang tadi kosong tampak

rebah seorang gadis belia yang celentang menutup mata,

tubuhrya ditutupi kemul kapas, sepasang pipinya merah,

bibirnya tersenyum, tapi dia kehilangan kesadaran.

Serasa hampir melonjak keluar jantung Ling Ji-ping, karena

sekali pandang dia lantas kenal gadis yang tidur diatas dipan

bukan lain adalah Yong-ji- Padahal Yong-ji selalu

berdampingan dengan nenek Hu-yong yang berani unjuk diri

di hadapan Lam-jan-pak-koat dan It-ci-sin-mo, ini

membuktikan bahwa dia memiliki kepandaian silat tangguh,

memangnya nenek Hu-yong telah celaka ditangan bayangan

merah darah Ini. kalau tidak mana mungkin Yong-ji tertawan

dan akan dijadikan isterinya digubuk bobrok ini.

Karuan mencelos pula perasaan Ling Ji-ping kalau nenek

Hu-yong bukan tandingan orang dan jiwanya mungkin sudah

amblas, mungkinkah diri nya menolong orang dari

cengkeraman bayangan merah darah .’ Jelas harapannya

terlampau kecil-Tapi urusan sudah kebacut, demi menolong

jiwa orang, maka sengaja dia tertawa lantang, serunya:. „Ya,

amat cantik, sayang . . . . “

„Anak muda, apa yang kau buat sayang ?” tanya bayangan

merah darah.

Berat dan tegas suara Ling Ji-ping :”Sayang usia kalian

terpaut terlalu banyak, hakikatnya perjodohan ini dipaksakan,

maka menurut pendapatku, saudara, lebih baik kau jangan

bertindak secara oodoh.”

192

Bayangan merah darah itu tampak menepekur, mendadak

kumandang suaranya vang seram menakutkan : „Anak muda,

apa maksud perkataanmu ?”

„Aku minta kau melepasnya.” lantang dan te gas suara Ling

Ji-ping.

„Melepasnya.” tampak bayangan merah darah itu bergerak,

suaranya terdengar semakin seram menakutkan, tapi kejap

lain dia terkial-kial „Anak muda, berani kau bicara seperti itu

dihadapanku Ah, ya, aku lupa, anak muda siapa kau i”

„Ling Ji-ping.

”Ling Ji-ping ? “bayangan merah mendesis lirih, mendadak

dia terloroh-loroh : „Kalau begitu kau adalah murid Lu Tongping

salah satu dari Tat-tong- kim-sian.”

Pertanyaan bayangan merah Ini ternyata membuat Ling Jiping

tertegun bingung, serunya : ”Siapa bilang ?”

„Kalau bukan murid Lu Tun-yang, hehe ! anak muda. maka

kau tidak setimpal bicara seperti itu terhadapku, lalu siapa

gurumu ?”

Ling Jl-ping barus berpikir secara kilat perguruannya

sekarang sudah bukan rahasia lagi, soal nya orang orang Yubing-

kau dan Ang-hoa-kau sudah tahu, maka dengan tegas

dia berkata: „Guruku bergelar Te-sat-sin Thong bu-kong.”

„Thong Bu-kong ?’ sejenak bayangan merah. Itu berpikir,

„Em, pernah aku mendengar nama nya, tapi dia terhitung

angkatan muda, anak muda, gurumupun takkan berani kurang

ajar terha dapku, kau percaya?”

Tersirap darah Ling Ji-psng, agaknya, bayangan merah Ini

lebih tua dan angkatannya lebih tinggi dari gurunya, jelas ilmu

silatnyapun bukan olah-olah, bila benar apa yang dikatakan

bayang an merah, jelas jiwanya bakal amblas di s ini di malam

Ini juga.

193

Dasar wataknya angkuh dan keras kepala, Selamanya

tidak pernah mau tunduk oleh tekanan macam apapun,

apalagi dia tidak akan tinggal diam bila melihat Yong-ji dinodai

dihadapannya, maka dengan tandas dia bertanya : „Tahukah

kau siapa yang sedang kucari ?”

„Memangnya genduk jelita ini ?’

„Betul” ujar Ling Ji-ping, „aku memang sedang mencarinya,

maka kularang kau menjamah nya.”

„Kau melarang'” mendadak bayangan merah itu tertawa

aneh, „Buyut, bicaramu semakin besar, dalam Bulim jaman ini

memangnya siapa yang berani kurang ajar terhadapku, paling

hanya dua orang.”

„Masa aku tidak boleh jadi orang ketiga.”

”Tepat.” bayangan merah itu terbahak-bahak suaranya

yang keras menggetar gubuk bobrok Itu sampai debu

berhamburan, untung tidak sampai ambruk, „betul kau adalah

orang ketiga, karena kau buyut ini tadi memang sudah bilang,

tapi sesudah itu, selanjutnya didunia ini bakal tetap ada dua

orang saja.”

„Jadi sudah ada satu yang mati.”

„Ya, yang akan mampus itu adalah kau.”

”Jikalau aku tidak mati?”

”Tidak mungkin buyut.” semakin keras gelak tawa

bayangan merah, „kecuali muncul keajaiban, tapi Lohu yakin

«selama hayat masih dikandung badan, keajaiban itu takkan

pernah terjadi.’.

Ling Ji-ping tahu banyak bicara takkan, membawa manfaat

bagi dirinya, maka dia sekarang perlu mengambil sikap tegas,

meski dia insaf sukar menolong orang atau sulit meloloskan

diri, tapi keadaan sudah terlanjur sejauh ini, umpama anak

panah sudah terpasang dimsur yang terpen tang dan terpaksa

194

harus dibidikan, maka dia tertawa lantang, katanya :„Kalau

demiKian, biarlah sekarang aku mencipta keajaiban itu.”

„Buset,” dengus bayangan merah, „memang nya kau buyut

ini memiliki Kungfu luar biasa yang kau andalkan”

„Yang kuandalkan justru bukani-Kungfu.”

„Lalu apa andalanmu”

„Tekad yang tidak tergoyahkan.”

„Buyut, segar rasanya kata-katamu bagi pendengaran

telingaku, untuk menghadapi sesuatu persoalan umum,

perkataanmu memang tepat, tapi bila saatnya bergebrak,

sudah tiba waktunya memperebutkan antara kuat dan lemah,

antara mati dan nidup, tekad yang bagaimanapun tebal

danbesarnya, paling hanya akan mengangkat namamu lebih

harum setelah kau mampus, memangnya kau yakin tekadmu

ini bakal ada manfaatnya, mungkinkah merubah situasi dan

membelokkan jalan nya sejarah ?’

„Uraiamu memang betul. Bila seseorang sudah tidak

menghiraukan mati hidupnya, tanpa peduli siapa yang

dihadapi, kekuatan semangatnya yang mendukung tekadnya

itu. kadang kala memang dapat menciptakan satu

kemukjijatan, dan itu bukan mustahil akan terjadi.”

„Lalu Baiklah.” ucap bayangan merah, „biar lah kuberi

kesempatan untuk mencobanya, apakah uraianku yang betul

atau alasanmu yang benar. Bukankah kau melarang aku

menjamahnya? Buyut lihatlah jelas, sekarang juga

dihadapanmu skan kuraba gadis pujaanku ini.” tampak

gumpalan asap merah itu mulai bergerak kearah dipan,

seolah-olah ada bentuk manusia yang tidak kelihatan tengah

bergerak pelan-pelan kearah lampion merah itu.

Ling Ji-ping tidak, mempunyai kesempatan memilih lagi.

Tidak boleh bimbang. Sebelum ba yangan merah bergerak

lebih jauh dia sudah menghardik: „Berdiri”

195

Bayangan merah itu memang berhenti, tapi gelak suaranya

berkumandang : „Buyut, seharusnya kau merintangiku.

Gerakanku sudah begini lambat memangnya aku memberi

kesempatan pada engkau?’

„Keluarlah kau.”

„Kau Ingin menjajalku dengan bekal kepandaian silatmu “

„Betul. Bukankah tadi kau bilang orang ketiga saja dalam

dunia ini yang berani memberi perintah padamu harus

mampus? Sekarang orang she Ling Ingin mencoba iya.”

„Kau memang buyut oertama yang berwatak angkuh dan

pemberani yang pernah kuhadapi sela ma hidup. Ya betul,

adalah pantas kalau aku ha rus menyambut dan melayani dulu

terhadap tamu yang memberi selamat meski dia tidak kuun ‘

anp.” habis perkataannya, lampion merah di dalam rumah

mendadak padam.

Sigap sekali Ling Ji-ping melompat mundur setombak lebih,

diam-diam dia perhatikan keadaan sekelilingnya, tenaga

murnipun dia kerahkan dikedua lengan, sementara Liok-mehsinkangpun

dikerahkan untuk melindungi badan. Selama

melanglang buana selalu dia bersikap santai mengha dapi

musuh tertangguhpun, semakin lawan tegang, semakin dia

meremehkannya, tapi malam ini ke adaan justru terbalik,

justru dia sendiri yang merasa tegang.

Dikala dia celingukan begitu mendadak pandangannya

seperti kabur karena bercelebatnya cahaya api, waktu dia

mendongak dan melihat jelas, secara mendadak diatas pucuk

pohon setinggi beberapa tombak tergantung sebuah lampion

merah. Bagaimana lampion itu bisa tergantung dipucuk

pohon. Padahal jaraknya dengan dirinya hanya kira-kira empat

tombak, namun dirinya tidak pernah merasakan apa apa.

Baru saja lampion merah itu tergantung di pucuk pohoi,

maca dibawah pohon seperti bergulung-gulung segumpal

bayangan merah tak ubahnya bayangan merah didalam rumah

196

tadi, cuma dibanding bayangan didalam tadi, bayangan diluar

rumah Ini kelihatan lebih tawar, sudah tentu sukar bagi dia

untuk melihat jelas wajah orang Itu.

Ling Ji ping sudah nekad dan pasrah nasib, sedikitpun dia

tidak kaget Jagi, malah langsung mendekat kearah bayangan

merah itu, setelah jarak tinggal dua tombak baru dia

menghentikan langkah, katanya mendelik : „Sebelum gebrak

di mulai, ingin aku tahu satu hal, maukah kau memberitahu

padaku “

„Coba katakan.” suaranya berkumandang seperti didalam

rumah tadi.

„Apakah tuan datang dari Kiu-ting-san.”

Bayangan merah segera bersuara heran, agaknya dia

menyadari akan kesalahan sikapnya ini lekas dia terawa untuk

menutupi suaranya: „Lohu tidak punya tempat tinggal tetap,

gunung gunung ternama dikolong langit adalah tempat

semayam, buyut, untuk apa kau tanya hal ini “

Kira kira Ling Ji-ping sudah menebak separo, kontan dia

menebak sinis, katanya : „Tentunya kau mempunyai nama

julukan”

„Sudah tentu ada ” ucap bayangan merah itu itu. ”tiada

halangan kuberltahu kepadamu buyut mungil ini. Karena

takkan lama lagi kau hidup didunia fana Ini, tentunya kau

pernah mendengar julukan ‘Hiat-ing-cu ?”

Bagaikan disamber geledek kaget Ling Ji-ping. batinnya

:„pantas gerakannya begitu aneh men dekati ajaib, Kiranya

iblis laknat itulah, konon waktu mudanya dulu dia pernah

membuat geger di istana raja, puluhan jago Istana dilukai dan

di bunuhnya, malah Klu-liong-king milik rajapun di curinya.

Saking murka baginda raja lantas mengundang para pendekar

serta mengutus jago jago nya untuk membekuknva, tapi sejak

itu Hiat-ing cu (bayangan darah) menghilang entah kemana,

197

peristiwa itu tetap menjadi berita besar meski kejadian sudah

berlangsung sepuluh tahun.

„Buyut, mungkin kau tidak pernah tahu akan nama

julukaoku ‘

„Sudah tentu tahu. Peristivva besar yang menggegerkan

istana dan melukai jago jago istana, pernah aku mendengar

ceritanya.”

Hiat-ing-cu terloroh bangga, katanya dengan tiada tinggi:

„Buyut, kau memang jempol ter nyata kau juga tahu akan

sepak terjangku yang menggemparkan dulu ? Sekarang kau

pasti sudah mengerti bahwa keajaiban yarg ingin kau ciptakan

malam ini takkan mungkin terlaksana “

„Kukira terlalu pagi kau mengambil kesimpuian,” ucap Ling

Ji-ping sinis, „meski kau pernah melukai jago jago istana,

meski namamu menggetarkan dunia, tapi kalau dibicarakan

yang paling hanya menciutkan nyali sementara orang.”

” Bulim yang berani memusuhi jago jago istana sejak jaman

dulu sampai sekarang, menurut apa yang Lohu tahu bisa

dihitung dengan jari jumlahnya. Buyut, berani kau

meremehkan prestasiku dulu itu ?”

„Bisa aku menerima uraianmu, karena Hiat-ing-cu yang

tersohor itu tokh akhirnya harus me nyembunyilan diri dan

tidak berani kelana di Kangouw.”

Tak pernah terbayang oleh Hiat-ing-cu bahwa pemuda

dihadapannya ini berani menghina dan mencemooh dirinya

secara terang terangan, karuan dia naik pitam, bentaknya:

„Buyut, memang sejak peristiwa itu aku mengasingkan diri

tapi bukan lantaran aku takut memikul tanggung jawab tapi

lantaran persoalan lain, tahu.”

„Mungkin urusan sudah dilupakan orang, apa alasanmu

dulu sehingga kau harus mengasingkan diri dulu, kukira juga

sudah sama dilupakan orang banyak, betul tidak ?”

198

Amarah Hiat-ing-cu berkobar karena disindir sepedas itu,

setelah mengerung murka dia mendesis seram : „Buyut,

enyahlah kau bersama apapun yang kau ketahui. Malam ini

Lohu masih punya banyak urusan, memangnya pernah aku

adu bacot dengan kau ” gumpalan asap merah itu mendadak

berputar langsung menerjang kearah Ling Ji-ping,

kelihatannya lambat, tapi kenyataan sudah berada didekat

tubuh.

Melihat bayangan merah mendekat, yakin akan kekuatan

Liok-meh-sin-kang yang melindungi badannya, mendadak dia

berputar satu lingkar, Thian-mo-pi (lengan Iblis langit) dari

salah satu jurus Cap-ji-te-sat-jiu dia loniarkan menyapu ke

arah bayangan merah itu.

Pukulannya barusan boleh dikata sudah menyerahkan

setaker tenaganya. Yakin musuh pasti tapat dirobohkan. Siapa

nyana meski pukulannya kelihatan telak telah menyambar

pinggang bayangan merah itu, tapi aneh bin ajaib, bayangan

merah Itu memang merupakan bayangan betul betul, dimana

lengannya menyambar lewat, bayangan merah itu pun

seketika terpotong buyar, jadi pukulan keras lengannya itu sla

sia belaka.

Hanya sebentar bayangan asap merah Itu buyar, lekas

sekali sudah merangkap kembali seperti-semula, gelak tawa

lantang kumandang pula dari lbayangan merah itu, katanya

:”Buyut, sekarang kau sudah mengerti bukan, jangan kata

kungfumu yang cakar kucing ini, gurumu sendiripun takkan

mampu melukai aku.”

Bahwa sapuan lengannya mengenai tempat ko song,

karuan terkesiap darah Ling Ji-ping, sebat sekali dia melompat

minggir beberapa tombak matanya terbeliak mengawasi

bayangan merah itu hatinya bingung dan tidak habis

mengerti? Tiba-tiba dia membatin : „Bayangan kosong dan

mengambang, hakikatnya tidak berisi, kenapa tidak kucoba

199

dengan pukulan tenaga telapak tangan supaya bayangannya

itu tercerai berai, coba bagai mana dia bisa berkumpul pula.”

Pada hal seluruh tenaganya sudah terkumpul dikedua

tangannya, begitu bayangan merah itu mendekat satu tombak

didepannya, mendadak dia menarik napas, mulut menghardik

kedua tangan terangkap terus didorong lurus serta diarik

kembali terangkap didepan dada, maka mendampar lah

gelombang pasang angin pukulannya sedahsyat badai

prahara, sebelum damparan angin pukulan ini mengenai

sasaran, bayangan merah itu mendadak memencar sendiri

kekanan kiri, tapi pukulan Ling Ji-ping justru mengikuti

perubahan. dari satu jalur tlba-tiba terpencar menjadi dua

jalur dan terpisah kekiri kanan pula. kekuatan damparannya

ternyata tidak, berkurang tetap menerpa kearah bayangan

darah yang terpisah itu.

Pukulan Ling Ji-ping dilancarkan dari salah satu tipu Cap-jite-

sat-jiu yang digunakan Ngo-ting-kau-san (Ngo-ting

membelah gunung), serangan yang terampuh, bahwa

serangan ini dinamakan membemblah gunung, maka dapatlah

dibayangkan betapa dahsyat kekuatannya.

Sayup-sayup terdengar oleh Ling Ji-ping suara dengusan

berat dari kedua bayangan merah yang terpisah itu. Karuan

Ling Ji-ping melongo, batin nya : „Hiat-ing-cu ternyata sudah

mencapai tingnkat yang dapat memisah dan merangkap

kembali bayangannya sendiri, jelas aku takkan mungkin dapat

mengalahkan dia.”

„Buyut.” terdengar suara bayangan merah berkata, „kau

memang hebat, dengan bekal Lwekangmu sekarang, memang

jarang lawan yang dapat menandingimu, tapi terhadap diriku,

kau biasa biasa saja. Punya simpanan ilmu tangguh apa lagi,

boleh kau pamerkan didepanku, kuberi satu kali kesempatan

lagi, aku orang tua puanya tabiatku sendiri, kalau aku mau

orana boleh menyerangku sepuas hatinya, kalau tidak, jangan

harap dia bisa bernyawa. Nah buyut, jangan lupa masih ada

200

satu kesempatan inilah jurus ketiga, jurus terakhir, kalau jurus

ketiga ini tetap biasa saja, maka di dunia ini jiwamu takkan

tertahankan lagi, tahu tidak ?”

Kembali Ling Ji-ping tertegun, kiranya bayangan merah

sengaja memberi ikesempatan tiga jurus padanya, bila ketiga

jurus dirirya tetap ga, berari orang akan turun tangan, dan itu

arti nya jiwanya bakal mampus.

Sudah terbiasa hidup sebatang kara dengan watak angkuh

dan sombong, bukan lantaran Ji-ping membenci kehidupan

dunia ini, yang terang jiwa raga ini masih tetap berharga

untuk dirinya. Padahal waktu bayangan darah bicara, kedua

tangannya sudah terangkat pelan-pelan, tapi kini dia menjadi

bimbang dan menurunkan kedua tangannya pula.

Dia maklum jurus terakhir serangannya ini bukan saja

menentukan mati hidup dirinya, tapi , juga menyangkut mati

hidupnya Yong-ji yang masih beiada didalam gubuk,

Perkataan nona burung seriti memang tidak salah, Yong-ji bak

mutiara yang baru memancarkan cahayanya, bila dia harus

jadi korban secara sia-sia, lahir batinnya pasti penasaran,

kematiannya itu sungguh patut di sesalkan. Apakah bayangan

darah sudi membiarkan dia mati dengan tetap suci ? Oleh

karena itu, demi jiwa sendiri, tapi juga demi Yong-ji, dia barus

memperteguh tekad dan menggunakan kecerdikan otaknya,

pada juius ketiga atau terakhir ini betul-betul harus dapat

menciptakan keajaiban. „Ya, aku harus bisa menciptakan

keajaiban itu baru bisa memutar balik situasi.” demikian

batinnya Maka dia mendongak dan membusung dada, setelah

tertawa lebar dia berkata : „Kurasa cara ini tidak adil.”

„Tidak adil ?”

„Ya, sejak tadi kau menggunakan Ilmu memecah tubuh,

walau aku sudah menyerang dua ju rus, tapi kau tidak pernah

punahkan seranganku dengan kepandaian silat sejati, tapi

memakai ilmu sesat yang menyerupai sihir, disinilah letak

kurang adilmu terhadapku.”

201

Setelah terloroh-loroh, bayangan merah berkata : „Buyut

kau memang menyenangkan, kau kira aku tidak mampu

memunahkan kedua jurus seranganmu ? Thian-mo-pi dan

Ngo-ting-kai-san dan Can-ji-te-sat-jiu mungkin dipandang ilmu

mujijat oleh orang lain, tapi dimataku tak ubah nya permainan

kanak-kanak, kalau, kau tidak percaya. baiklah, yang tadi tidak

usah dihitung, mari kita ulangi, coba aku mampu

memunahkan tidak :’

„Masih ada satu hal kurang adil, tadi belum sempat

kujelaskan.”

”Masih ads lagi :”

„Ya, yaitu kurang adilku terhadap kau.”

”Buyut” ucap bayangan merah terloroh senang, semakin

lucu perkataanmu, dengan cara apa pun orang terhadapku,

belum pernah Lohu ber anggapan caranya itu tidak adil” ‘

„kurang adil yang kumaksud timbul dari dalam sanubarku.

Selama hidupku bergebrak dengan lawan, belum pernah orang

memberi kelonggaran tiga jurus.”

„O, hanya lantaran hal ini’?” bayangan darah tertawa besar,

„tapi kali ini toh atas keinginan Lohu sendiri bukan kau yang

mohon padaku, hakikatnya tak bisa dikatakan adil atau tidak

adif.”

„Itu kan cari mu berpikir jelas berbeda dengan jalan

pikiranku.”

”Buyut, kau menang, punya keberanian dan berhati jantan.

Lohu jadi serba susah, kau mem bawa watakmu yang keras,

tapi aku orang tua juga membawa watakku sendiri, sesuatu

yang sudah Kuputuskan selamanya tak pernah diubah dan

takkan kusesalkan, kini kau tidak mau menerima kelonggaran

tiga juru. itu, Lohu justru akan menunggu setelah kau

menyerang tiga jurus baru akan membunuhmu, coba katakan,

lalu bagaimana baik nya ?”

202

„Bagaimana kalau kau merubah putusanmu ? Kalau tidak

urusan bakal terbengkalai begini saja, mungkin sampai hari

terang tanah atau berlarut sampai besok malam lagi.”

”Tidak boleh,” seru bayangan darah, „memangnya kau lupa

malam ini adalah hari pernikahanku”

„Nona Yang bak mutiara yang suci bersih mana boleh kau

menodainya”

„Buyut, agaknya aku lupa, kiranya kau berteman baik

dengan buyut perempuan ini, coba katakan, apa hubungan

kalian? Mungkin kau sedang cemburu “

”Bedebah, orang she Ling selamanya berbuat genah,

selamanya tak pernah aku memikirkan kepentingaaku sendiri.”

„O, begitu ? Jadinya kau buyut ini sedang melaksanakan

darma melakukan keadilan, membela kebenaran ? Em .”

„Apa salahnya bila aku menolong yang lemah dan

menumpas kelaliman”

„Tepat, betul, tidak salah,” bayangan darah terbahak

bahak: „Pendekar besar, pahlawan sejati, sungguh patut

dihormati, kalau demikian aku betul betul harus meiubah

keputusan tadi.”

Sikap lahiriah Ling Ji-ping kelihatan tetap wajar dan

angkuh, hakikatnya hatinya sedang gundah dan kuatir, karena

bila bayangan darah tidak mempertahankan pendapatnya tadi,

berarti dirinya harus berantam secara berhadapan

berdasarkan kepandaian silat sejati, ini jelas bakal terjadi

pertarungan seru dan bagaimana akhirnya, jelas dirinyalah

yang bakal kalah atau mungkin binasa. Tapi mulutnya berkata

dengan tegas „Memang harus dlrubah, tidak usah Kau

menggunakan ilmu sihirmu, akupun tak perlu mendapai

kelonggaran tiga jurus, mari kita berantam secara jantan

dengan kaki tangan, kalau kau menang, biar aku serahkan

203

jiwa ragaku, kalau kau kalah, nona Yong-ji serahkan

kepadaku.”

Tak nyana setelah tertawa bayangan darah berkata :

„Buyut, yang kurubah justru kebalikan dengan apa yang kau

bayangkan.”

„Terbalik ” tatapan Lipg Ji-ping penuh tanda tanya.

„Ya, buyut, tidak usah bersitegang leher. Keputusanku

memberi kelonggaran tiga jurus buat kau tetap tidak akan

Lohu rubah. Tapi jangan senang dulu. Jiwamu tetap akan

kutagih, tapi yang kuubah hanyalah waktunya saja. Semula

aku hendak membunuhmu dulu baru akan kawin dengan nona

jelita itu. Hehe, tapi sekarang sudah kuganti. waktunja, yaitu

setelah aku kawin, lalu, hehem baru akan kuberi kesempatan,

jurus ketiga, lalu hehe, nah tibalah saatnya kau mangkat. Kau

dengar bukan?”

Merinding bulu kuduk Ling Ji-ping dibuat nya. Sungguh keji

betul rencara setan tua ini. Secara langsung ini juga

merupakan statu penghinaan bagi dirinya. Meski harus adu

jiwa, betapa pun rencana jahatnya itu tak boleh terlaksana.

Maka dengan mendelik dia membentak : „Setan bangkotan,

kau kemaruk kepuasan, meski ilmu silatku bukan

tandinganmu, tapi jangan kira kau bisa melakukan

keinginanmu itu segampang yang kau kira.”

,Gampang saja,” nada suara bayangan merah tetap sama,

seolah olah sesuatu vang sudah men jadi keputusannya,

cukup asal dia ulur tangan meraihnya, segala keinginan pasti

tercapai tanpa menemui halangan berarti

”Kalau aku tidak melancarkan jurus ketiga, tapi justru kau

setan tua ini yang menyerangku ‘ dulu malah, aku tidak tahu

apakah-tindakanmu ini terhitung melanggar keputusanmu

sendiri apa ‘tidak.”

„Memangnya aku bakal berbuat demikian? Legakan, saja

hatimu buyut,” bayangan darah tertawa enteng, „karena tak

204

usahaku susah susah turun tangan, akupun tetap bisa

membekukmu.”

„Derigan cara apa kau bisa membekuk aku?”

”Banyak sekali caranya. Buyut, pernahkah kau engar

semacam ilmu mujijat yang dapat membekuk atau

rnengalahkan musuhnya hanya dengan tekad dan pikirannya?”

Sakhig kaget Ling Ji-ping menyurut beberapa-langkah, bola

matanya terbelalak, tanyanya : „Jadi taraf kepandaian silatmu

sudah mencapai tingkat pikiran jalan mengalahkan musuh dan

keinginan hati melukai orang ?”

„Ya, kira-kira setingkat dengan itu.” ujar bayangan darah

bernada bangga. ,terhadap nenek itu dan gadis jelita ini, aku

gunakan cara yang itu. Kau percaya tidak buyut “

Gemeretak gigi Ling Ji-ping, dia percaya apa yang

dikatakan Hiat-ing-cu memang bukan bualan, berdasar umur

dan ilmu mujijat yang sudah terbukti didepan mata seperti apa

yang telah dia saksikan tadi, kalau itu. kemungkinan taraf

kepandaiannya sudah rnampu berbuat seperti apa yang

diuraikan tadi, kalau itu benar, kecuali diri nya sudah

berkeputusan mati sebelum orang menggerakkan keinginan

hati, baru dia akan terhindar dari penghinaan.

„Buyut,” tengah Ji-ping menepekur suara bayangan darah

berkata pula, „dihadapanku, jangan kau kira gampang mau

membunuh diri.”

Kali ini Ji-ping benar-benar mati kutu, karena apa yang

menjadi beban pikirannya, ternyata sudah diselami oieh setan

tua ini, ini bukan rabaan, tapi semacam ilmu batin yang dapat

menangkap getaran pikiran orang yang diincarnya, bahwa

orang mampu berbuat demikian, maka apa yang dikatakan

dapat membetuk musuh dengan jalan pikirannya kiranya

bukan omong kosong.

205

Selama Ji-ping malang melintang dilalangan Kangouw,

menghadapi musuh tangguh yang mana pun tak pernah dia

kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Tapi sekarang

ini, boleh dikata dia sudah patah semangat. Semangat

tempurnya sudah luluh Rasa putus asa dan kecewa tiba-tiba

menjalar hati sanubarinya.

Gelak tawa yang keras menyentak lamunan Ling Ji-ping,

pikirnya ; „Kenapa aku sih? Ling Ji-ping, memangnya kau

sudah lupa bahwa kau murid Te sat-sin Thong Bu-kong ?

Sudah lupa akan cita-citamu waktu pertama kali kau keluar

pintu perguruan ! Kenapa dihadapan musuh tangguh lantas

timbul keresahanmu. Kalah bukan sesuatu yang memalukan,

adalah memalukan bahwa kau sudah kehilangan semangit

tempur manusia hanya hidup dan mati sekali, bila jiwa ini

tidak mungkin bisa dipertahankan lagi. menangnya kenapa

kau takut merghadapi kematian ? masa kau sudah lupa akan

perkataanmu sendiri, hendak menciptakan keajaiban? Selama

dua tahun ini, dikala dia menghadapi saat-saat terakhir,

keajaiban kan pernah terulang beberapa kali ? ‘

Maka gemuruhlah semangat tempurnya., sorot matanya

mendadak menyala, dengan sikapnya yang kereng berwibawa

dia berkata : „Mati dan hidup, bangga atau terhina tidak

penting bagiku, bila aku harus gugur secara jantan demi

membela kebenaran, Itu berarti aku tidak perlu malu

terhadapku atau perguruan ! Nah setan tua, marilah !’

Menghadapi sikap Ling Ji-ping yang tegas berwibawa

dengan sikapnya yang gagah, entah kenapa, bayangan darah

malah jadi ragu-ragu dan bimbang akan keputusannya sendiri.

Biasanya, untuk membunuh seorang korban sekalipun sampai

menyiksanya, belum pernah dia main lambat-lambatan seperti

sekarang.

Melihat bayangan darah tidak memberi reaksi, Ling Ji-ping

makin dapat angin, dia melangkah setapak lebih dekat,

serunya keras : „Setan tua, kau takut ? Jikalau kau mau

206

tunduk dihadapan keadilan Thian, maka lekaslah lenyapkan

angan-angan cabulmu ! Jangan kau sentuh kesucian seorang

gadis ! Bebaskan dia!”

„Bebaskan dia?” bayangan darah tertawa gelak gelak,

„buyut, jargan kau anggap urusan seamparg kau putar

lidahmu, sejak muda tidak pernah Lohu membebaskan

perempuan yang sudah bakal kulalap. tahu.”

Dikala lenyap suara bayangan darah, lampion merah itupun

serentak padam. Seketika itu pula pandangan Ling Ji-ping

jadi gelap gulita. Sebelum dia mengetahui jelas apa yang telah

terjadi, mendadak didengarnya bayangan darah berteriak

nyaring. bayangan merah tampak berkelebat menerjang ke

pucuk pohon.

Waktu Ling Ji-ping mengikuti bayangan merrah

memandang kearah pohon, seketika diapun menjerit kaget

Ternyata lampion itu padam, lampu iblis pelambang bayangan

darah atau yang disebut juga lampu pemanggil sukma

mendadak padam, Apa arti semuanya ini ?

Sekilas Ling Ji-ping melengak dan heran Lampu iblis itu

merupakan lambang kekuasaan! dan kebesaran bayangan

darah. Bahwa setiap orang yang pernah melihat lampu ini

harus dipanggil sukmanya, tapi sekarang ternyata ada orang

yang berani mengusiknya, ini pertanda menartang dan

menentang kekuasaan dan kebesarannya. Pada hal orang itu

tidak pernah unjuk diri, tapi dia padamkan dulu lampion itu, ini

jelas bahwa penyatron ini pasti memilik ilmu silat yang setaraf

dengan bayangan merah.

Cepat sekali tiba tiba Ling Ji-ping mendengar pula

gemboran sengit yang keras, kali ini bukan bayangan merah

yang menubruk maju, tapi sebaliknya bayangannya kelihatan

terpental mundur bsberapa kaki malah.

Baru sekarang Ling-Ji ping melihat jelas ada tiga orang

berdiri jajar dibawah pohon besar itu, Selelah melihat jelas

207

ketiga orang itu, sungguh berambah kejut hati Ji-ping. Mereka

bukan lain adalah Lam-jan, Pak-koat dan It-ci-sin-mo.

„Jadi ketiga iblis ini belum berangkat ke klu-ting-san ?”

demikian batin Ling Ji-ping. „Mendadak mereka muncul di sini,

entah kawan atau lawan Hiat-ing-cu ? Kalau musuh berarti

keajaiban betul betul telah muncul dan bakal menolong

dirinya, cuma keajaiban ini bukan atas ciptaannya.”

Tiba tiba didengarnya It-ci-sih-mo bersuara dengan

nadanya yang banci: ”Seng-loji, kau bawa kami kemari,

lantaran adanya bayangan merah bagai setan ini “

”BetuI,” Lamjan terkekeh, „memang karena bangkotan Ini.”

Mendelik bola mata Pak-koat yang keiunggalan satu itu,

wajahnya yang buas dan menyeramkan tampak menakutkan,

katanya setelah mendengus sekali „Manusia tidak mirip

manusia, diikata setan juga bukannya setan, hanya dengan

bekal permainan sulapan begini juga berani pamer di sini,

memangnya apa kerjanva sehari hari?”

Setelah mendengar percakapan ini, sungguh lega setengah

mati hati Ling Ji-ping pikirnya ”Keajaiban akhirnya betul betul

muncul, mungkin hanya ketiga gembong iblis ini yang mampu

menghadapi bayangan darah ini.”

Bayangan darah tidak bergerak, entah dia kenal Ketiga

orang ini Atau Insaf bahwa dirinya bukan tandingan ketiga

orang, maka dia perlu memutar otak mencari akal dengan

kepala dingin.

Terdengar Lam-jan berkata pula : „Lo-siang, taruhan kita

Itu masih terikat tidak”

”Siapa bilang tidak?’ It-ci-sin-mo tertawa keras

„Baiklah, orang ini adalah salah satu duta lampu dari

sahabat yang menghuni puncak tunggal itu, dua puluh

delapan batok kepala di atas rnaklumat kematian itu semua

208

adalah karya ketiga duta lampu itu, untuk bisa tahu keadaan

puncak Kiu-ting-san itu, boleh kau tanya kepadanya.”

Ling Ji-ping. membatin :”Kiranya dugaaiku tepat, kiranya

bayangan merah ini adalah Ang-ting-su-cia, jadi ketiga duta

lampu ini hanyalah pelaksana saja diatas mereka masih ada

seorang yang lebih kuasa, bahwa Hiat-ing-cu yang memiliki

kepandaian setinggi ini ternyata masih terima diperintah

orang, maka dapatlah dibayangkan orang yang memerintah

mereka itu pasti memiliki kepandaian yang tidak, bisa diukur.

„Seng loji,” Pak Koat tertawa s inis, „jangan enak ngomong,

api yang terkandung dalam hati, memangnya dapat

mengelabui aku ?”

Lam-jm menggerakkan kepalanya yang kurus tinggal kulit

membungkus tengkorak, katanya setelah berludah :

„Memangnya kau kira aku main tipu segala, apa perkataanku

keliru ‘.”

Pak-koat menyeringai, katanya : „Sahabat tua. kenapa

harus kubongkar ”.

“Tapi kau bilang bangkotan setengah manusia separon

setan ini adalah anjing pesuruh dari sahabat penghuni puncak

tunggal itu memang benar.”

Pandangan It-cl-sin-mo setajam golok tetap mengawasi

bayangan darah, katanya : „Hai, sudah jangan main sulapan

lagi, dihadapan manusia tulen, tak guna kau main-main

seperti ini.”

Baru sekarang suara bayangan merah terloroh-loroh,

katanya : „Kukira siapa ‘.’ setelah kupikir pikir baru sekarang

teringat, haha. Seng Thian-hoat kehilangan sebelah lengan,

Liu Ji-hwi terima. jadi Tosu setelah picak satu matanya dan

protol sebelah kupingnya, adalah kau Ko It-bin yang masih

utuh jasmani, tapi gayamu yang bukan laki tidak perempuan

ini. tampangrya memang mirip banci, selembar jenggotpun

kau tidak punya.”

209

Bahwa bayangan darah dapat menyebut nama asli dan

mengolok olok cacat mereka, karuan ke tiga gembong iblis ini

kaget dibuatnya. Terutama It-ci-sin mo paling keki, jubahnya

melambai seperti melayang saja dia melangkah maju

beberapa tindak bentaknya : „Siapa kau “

Bayangan darah teitawa ter loroh loroh, „Lho, memangnya

suara sahabat tua juga tidak kau kenal lagi ?”

Membulat mata tunggal Pak-koat, tanyanya keras :

„Apakah kau ini Hoan-sin-yau-hou Ouw Tang-hwat ?’

„Hehehe, hahaha” setelah tertawa panjang dengan nada

berganti, bayangan darah berkata lantang .„Betul, tidak salah,

kiranya Lo-liu masih ingat diriku.”

Bertambah jelas bagi Ling Ji-ping bahwa Hiat-ing-cu

ternyata bernama Ouw Tang-hwat, nama julukannya di

Kangouw dahulu adalah Hoat-sin-you-hou (s iluman rase

merubah bentuk).

Disaat Ji- ping terlongong itulah, tiba tiba suara serak tua

seperti berbisik dipinggir telinga nya :”Anak boioh, tidak lekas

kau menolong orang, untuk apa kau mematung di sini “

Ling Ji-ping melenggong, waktu dia melirik kearah Sam-mo,

dilihatnya bibir Lam-jan bergerak, waktu Ling Ji-ping

mengawasinya, dilihatnya orang sedikit mengangguk kepala,

jelas orang yang bicara dengan dirinya adalah Lam-jan Seng

Thian-hoa

Terbayang oleh Ling Ji -ping kejadian di Thian-su-tong

tempo hari, waktu nenek Hu-yon pergi menyeret Yong-ji pura

pura mengudak hwcsio gila dan Hwesio pemabukan dari Gobi,

Pak-koat sudah be-diri hendak mengudaknya, tapi Lam-jan

bersuara mencegahnya, akhirnya dia di olok-olok oleh It-cisin-

mo. dikatakan dia tidak melupakah cinta lama, kiranya

nenek itu adalah ‘Hu-yong-sian-cu yang kenamaan dulu. Tadi

It-ci-sin-mo bilang Lam-jan yang menyeret mereka ke .mari

lagi. mau tidak mau satu dengan lain persoalan dia gandeng

210

menjadi satu, maka timbullah satu kesimpulan bahwa dengan

nenek Hu-yong dahulu pasti memang punya hubungan cinta,

tujuan nya membawa kedua rekannya kemari jelas henndak

menolong Yon-ji.

Setelah dia paham duduk persoalan, kebetulan didengarnya

Lam-jan sudah tertawa lebar, katanya : „Ouw Tang-hwat,

bagaimana sih kau kok terima menjadi pesuruh orang, apa

tidak memalukan “

„Hm, Seng-Ioji, mulutmu memangnya pingin disikat, siapa

yang jadi pesuruh ?”

”Eh, menyangkal ? Bukankah kau salah satu duta lampu

dari penghuni puncak Kiu-ting-san itu:”

„Kalau benar kenapa ? Memangnya kau kira tua bangka

lengan satu macammu ini setimpal menjadi duta semacamku

ini ?”

„Sudah tentu aku tidak setimpal, dengan bekal kepandaian

yang kumiliki ini, meski belum menonjol diantara orang

banyak, betapapun aku tidak sudi menjadi kacurg orang.”

It-ci-sin-mo segera menimbrung dengan suaranya yang

runcing: „Wah, kalau begini sasaran kita tepat jadinya. Hai,

orang she Ouw, siapakah penghuni puncak tunggal itu ? Kami

sedang mencarinya.”

„Untuk apa kalian mencarinya?” tanya Hiat ing-cu bersuara

berat.

„Sudah tujuh puluh tahun kami bertiga ber hantam tanpa

ada kesudahan, dan satu hal tak bisa terselesaikan, maka kita

mengubah cara, siapa yang dapat sesuatu dari cukongmu itu,

dialah yaag menang.”

„Sesuatu apa ” tanya Ouw Tang-hoat.

„Yaitu batok kepala cukongmu itu,’ sebut Lam-jan.

211

Dikiranya bayangan darah bakal naik pitam setelah

mendengar jawaban ini, tak nyana setelah tubuh bayangan

darah bergerak gerak mendadak dia tertawa gelak gelak, tawa

geli dan lucu, bukan tawa marah, tawa yang mengandung

nada menghina malah.

„Ouw Tang-hwat,’ tuding It-ci-sia-mo, „apa yang bikin kau

tertawa?”

„Aku jadi geli melihat tampang kalian yang lucu ini, tidak

tahu diri lagi, kalian kira dengan bekal kepandaian telapak

bebek yang kalian latih itu mampu merobohkan pohon atau

rumput yang tumbuh diatas puncak itu ‘”

Pak-koat menggerung gusar, dampratnya: „Berani kau

menghina kami bertiga ?”

„Bukan saja kupandang kalian hina, hakikat nya kalian tidak

mempunyai kemampuan itu untuk memanjat ke-puncak

tunggal. Dan lagi, hehe, selanjutnya kalian takkan punya

kesempatan untuk pergi ke puncak tunggal Itu “

”Apa maksud perkataanrnu,” maki It-ci-sin-mo sengit,

„Apa kalian tidak tahu bahwa sekerang aku tidak dipanggil

Hoat-sin-yau-hou ? Aku dinama kan Hiat-ing-cu. bayangan

darah adalah pimpinan dari ketiga duta lampu itu.”

.Memangnya apa yang harus dibanggakan setelah kau

ganti nama julukan ””

„Betul, memang tiada yang perlu diagulkan tapi lampu iblis

milik ketiga duta lampu dinamakan juga Bong-hun-ting ( lampu

pemanggil sukma), siapa melihatnya maka dia harus mampus,

kalian tahu ‘ Apalagi, tadi kalian berani memadam laampuku,

dosa kalian tidak terampun lagi.”

Berpadu gelak tawa Lam-jan, Pak-koat dan L-cl-sin-mo.

sebelah puas mereka tertawa It-ci-sln-mo berpaling kepada

Lam-jan, katanya : „Seng lo ji, kau dengar tidak ? Dia

menginginkan kita mati “

212

Wajah Lam-jan yang kurus kering meringis kering, katanya

: „Ya kudengar kentut anjing.”

„Sungguh menyegarkan.” timbrung Pak-koat.

„Lo-ko, kami yang salah dengar atau orang she Ouw ini

yang terserang penyakit pikun, kenapa dia ngobrol sembarang

ngomong “

Ling Ji-ping sedang mencari kesempatan, bukan ingin

merat, tapi cari kesempatan untuk menolong orang, tapi dia

baru akan bergerak bila Ouw Tang hwat sudah tidak mampu

menghiraukan dirinya kesempatan Itu jelas bakal segera tiba,

bila ketiga gembong iblis itu bergebrak dengan Ouw Tang

hwat, maka dia akan mendapat kesempatan menolong Yongji.

Maka didengarnya suata Lam-jan berbisik pula: „Anak

muda. setelah berhasil, larilah menuju kearah tenggara sejauh

sepuluh li, supaya pengejaran ilmu batin Hiat-ing-cu

kehilangan kegu naannya. Ingat baik baik pesanku, jangan

menoleh dan juga jangan berhenti. Setelah sepuluh kau boleh

putar haluan kearah timur laut sejau sepuluh li lagi, di sana

terdapat sebuah biara tunggulah aku di sana.”

Terkesiap hati Ling Ji-ping, Kungfu Hiat-in cu ternyata

memang sudah mencapai taraf yang luar biasa, ternyata

dengan bersamadi dia cukup tahu dan dapat mengikuti

perkembangan apapun yang terjadi disekitar arena sepuluh li,

untung malam ini tiga gembong iblis ini muncul, kalau tdak

jelas takkan bisa ia meloloskan diri.

Didengarnya Hlat-ing-cu tertawa bingar, katanya : „Taoi

siapa yang turun tangan memadam kan lampuku ?”

Sorot mata Lam-jan memancarkan cahaya kuning, sekilas

dia melirik It-ci-sin-mo. it-ci-sin-mo tertawa lebar, katanya

kepada Lam-jan dan Pak-koat : ,,Aku orang she Ko sungguh

beruntung’ dan bangga, akulah orang pertama yaig dituding

213

kalian boleh tunggu sebentar, coba aku mampu tidak

melawannya.”

Lam-jan tertawa kering, sekali berkelebat dia sudah

menghadang didepan Ling Ji-ping, baru kakinya menyentuh

tarah, suara terkiang pula : „Anak bodoh, sekarang boleh

bertindak.”

Dalam pada itu It-ci-sin-mo sudah beranjak maju dengan

santai, hanya Pak-koat yang tetap berada ditempatnya,

matanya melirik Lam-jan, mulutnya terbuka lebar tertawa

sinis.

Kalau orang lain mungkin tidak menjadi perhatian Hiat-ingcu.

tapi ketiga gembong iblis ini merupakan iblis besar yang

tidak boleh dipandang enteng, maka dia tidak berani

memecah perhatian maka sejak munculnya ketiga orang ini

dia sudah tidak perhatikan kehadiraa Ling Ji-ping lagi.

Ling Ji-ping bsrdiri membelakangi pintu, melihat Lam-jan

berdiri menghadangnya, maka dia tahu kinilah tiba saatnya dia

bertindak, meski dia tahu cara melarikan diri adalah tindakan

yang memalukan, tapi didesak oleh situasi, demi menolong

orang, terpaksa dia tidak hiraukan gengsi atau pamor lagi.

Maka pelan pelan dia merobohkan tubuhnya kebeiakang

terus dengan gerakan ikan meletik tu buhnya mencelat masuk

kedalam rumah, gerakan nya penuh perhitungan sehingga

tidak menimbul kan suara, sekali jumpalitan pula tubuhnya

sudah berdiri disamping dipan.

Tampak Yong-ji tetap memejam mata, tidurnya amat pulas,

namun wajahnya tetap mengulum senyum mekar, tak

ubahnya sekuntum kembang mekar ditengah embun pagi,

begitu cantik dan molek, mempesona pula.

Ling Ji-ping tidak berayal lagi, mendadak dia membungkuk

terus hendak membopong Yong-ji, tak kira begitu kemul

tersingkap, hampir saja dia berteriak kaget, jantungnya

seketika berdebur kencang, ternyata Yong-ji yang tidur, pula

214

didalam kemul pakaiannya sudah dibelejeti, tubuh montok

berisi dari seorang gadis yang sedang mekar seketika

terpampang didepan mata, payu dara yang membukit dengan

putih yang merah bagai buah anggur, paha yang mulus serta

pinggang yang ramping, Ji ping hampir kelenger dibuatnya.

Ling Ji-pin boleh terhitung laki laki sejati, seorang Kuncu,

tapi jantungnya tak tertahan hampir melonjak keluar, lekas dia

tarik kemul menutup tubuh orang, sekilas dia berpikir, waktu

mendesak tak mungkin dia mencari pakaian yong ji, terpaksa

dia bungkus, tubuh Yong-ji yang telanjang bulat itu dengan

kemul tebal terus dikempit serta bolos dari pintu belakang,

cepat sekali dia sudah berlari lari pesat bagai terbang.

Sesuai pesan Lam-jan dia tidak berani ber paling dan tidak

bernenti, begitu mencapai hutan sigera dia kembangkan

Ginkang Ling-kong pou-si. tubuh enteng seperti asap cepat

laksana anak panah, tujuannya ketenggara.

Kira kira setengah jam lamanya, direrkira kan dia sudah

berlari sejauh sepuluh li, tanpa berani ganti napas, segera dia

belok kearah timur laut.

Saat mana sudah menjelang fajar, rembulan sudah turun

dibarat dan sembunyi dibalik pucuk gunung, hutan belantara

yang dilaluinya terasa semakin gelap, suara aneh ber anutan

di sana sini, tapi Ling Ji-ping hanya menepati pesan Lam-jan,

pikirannya tidak bercabang kakinya terus berlari sekencang

angin. Setelah dia lari kira kira sepuluh li pula, barulah

langkahnya mulai dikendorkan, serta menarik napas panjang.

Sudah tentu Keringat emerobyos, badan basah kuyup, Ling

Ji-ping harus segera menemukan biara yaag ditunjuk Lam-jan,

disamping menunggu kedatangan Lam-jan, diapun harus

berusaha menyadarkan Yong-ji. Yong-ji entah ditutuk Hiat-to

apa dan Hiat-to yang mana, yang dikuatiikan bila waktunya

terlalu lama, kondisi badan Yong-ji mungkin tidak tahan lagi.

215

Ji-ping berlari ketempat ketinggian, kepala nya celingukan,

sayang rembulan sudah turun, alam semesta hitam pekat

tiada yang dapat dilihatnya, hakikatnya dia tidak tahu dimana

letak biara yang sedang dicarinya Cukup lama dia, berdiri

bingung, tanpa merasa dia menunduk me mandang wajah

Yong-ji dalam pelukannya, tam pak orang tetap tidur pulas,

napasnya enteng harum dan teratur, dalam jangka pendek

terang dia tidak akan segera siuman.

Entah kenapa begitu memandang wajah Yong-ji,

jantungnya lantas berdebar debar, kulit mu kanya terasa

panas, padahal orang memberi juluk an Cui-hun-jiu,

membunuh orang tidak berkedip, pembawaan wataknya

angkuh dingin, sehingga orang memanggilnya Tok-hu, tapi

Yong-ji, anak perawan yang satu ini agaknya amat berjodoh

dengan dirinya, sorot pandangannya penuh dilembari rasa iba,

kasih sayang, terasa bukan saja Yong-ji bagai mutiara yang

baru memancarkan cahayanya kecauntikannya ternyata begitu

anggun, agung dan suci, baru sekarang dia merasakan

sedalam dalamnya waktu tadi tanpa sengaja dia menyaksikan

tubuh Yong-ji yang telanjang bulat, sungguh merupakan suatu

kerugian yarjg teramat besar, dan bagi dirinya ini merupakan

dosa dan kesalahan yang tak mungkin ditebus dengan

apapun.

Tanpa merasa dia menghela napas, dalam ke adaan

kepepet ini dia harus selekasnya menemukan rumah

penduduk, penduduk yang ada perempuannya, supaya dapat

meminjam pakaian dan mohon pertolongan perempuan

mengenakan baju bagi Yoag-ji, setelah itu baru dia berusaha

menolongnya siuman. Kembali dia angkat kepala, matanya

memandang keempat penjuru, terasa tempat di mana

sekarang dia berada adalah puncak gunung yang belukar,

sekitarnya jelas takkan bisa mene mukan rumah penduduk.

Setelah menerawang se kitarnya, akhirnya dia berkeputusan

melanjutkan ke utara, di sana dia melihat dataran rendah

yang lapang.

216

Setelah melampaui dua puncak, mendadak Ling Ji-ping

berteriak senang, karena tak jauh didepan, dibalik bayangan

pepohonan dia melihat pucuk gedung ber loteng.

Dalam keadaan seperti dirinya, Ling Ji-ping tidak perlu pikir

siapa penghuni gedung berloteng itu ? Seakan akan urusan

besar apapun didunia ini tidak lebih penting dari pada

usahanya mem beri pertolongan kepada Yong-ji. Maka tanpa

ayal sambil membopong Yong-ji dia percepat langkah, hanya

bebeiapa kali lompat berjangkit akhirnya dia tiaa dipinggir

hutan, kiranya dibalik hutan ini terdapat pula hutan bambu,

sementara puncak loteng itu berada ditengah buian bambu ini

Tanpa curiga Ling Jl-ping langsung beranjak masuk kedalan

hutan bambu, lekas sekali bangun an loteng sudah berada

didepan mata, setelah di amati kiranya sebuah bangunan yang

terbuat dari bambu, disamping rumah bersusun terdapat pula

dua rumah lebih pendek yang kelihatan mungil dan bersih,

atap rumah juga dibuat dari sirap tumbu, namun dicat warna

merah.

Suasana disini ternyata sepi, rumah berloteng itu seperti

tidak dihuni manusia, atau mungkin isinya masih, lelap dalam

impiannya.

Tiba tiba sorot mata Ling Ji-ping tertarik oleh sebuah pigura

kecil yang teigantung diatas pintu, Karena d atas pigura inilah

bertahtakan emj pat huruf yang berbunyi: *Yu-mo-siau-tiok*.

Sekilas dia melongo dan tanpa merasa menyurut mundur

selangkah, batinnya : , Apakah betul Ang-hoa Kaucu memang

punya seorang putri yang tinggal diatas gunung ini ‘ Umpama

bukan, penghuni loteng ini pasti orang orang Ang-hoa-kau

pula.”

Meski tahu dirinya mungkin memasuki sarang harimau, tapi

sedikitpun tiada Ling Ji-ping mengundurkan diri, karena dia

psrlu mendapatkan pakaian perempuan, umpama di sini

sarang Ang’ho kau, untuk mendapatkan seperangkat pakaian

prrempuan yakin tidak akan mengalami kesulitan Tapi cara

217

nagaimana dia harus mengambil pakaian itu ? Meminjam atau

mencuri ?

Meminjam jelas harus membuat ribut dengan orang orang

penghuni loteng, dengan bekal kepadaiannya sekarang, dia

boleh tidak usah gentar namun sulitnya sekarang dia masih

harus membopong Yong-ji, keselamatan Yong-ji harus tetap

terjaga, lalu oagaimana dia bisa bekerja untuk dua tujuan

sekali gus ?

Mencuri dia rasa pe;buaian rendah yang me malukan,

apalagi selama mengembara di Kaneouw selamanya belum

pernah melakukan perbuatan kotor yang memalukan, tak

mungkin hanya karena mencari seperangkat pakaian untuk

Yong-ji dia harus melakukan kejahatan, meski hanya mencuri

seperangkat pakaian. Akhirnya dia jadi bimbang sendiri,

sambil membopong Yong-ji dia berdiri termangu mengawasi

keempat huruf emas diatas pigura itu, sukar dia mengambil

keputusan.

Beberapa kali timbul niatnya meninggalkan tempat ini, tapi

diatas pegunungan seperti ini, mungkin sukar menemukan

rumah petani atau pemburu, padahal pakaian untuk Yong-ji

harus selekasnva didapatkan sebelum hari terang tanah, tanpa

mengenakan pakaian bagaimana dia berani membebaskan

tutukan Hiat-to Yong-ji ?

Cuaca sudah remang remang, sebentar lagi bakal terang

tanah, bila ketemu orang persilatan dan melihat dia

membopong perempuan yang telanjang bulat, pasti

namanya bakal rusak, ini tidak jadi soal. yang penting Yong-ji

adalah gadis suci bersih, apakah dia tega membiarkan gadis

ini dicap sebagai perempuan yang jalang ? Setelah ragu ragu

dan kehabisan akal, mendadak dia tertawa geli sendiri,

batinnya : „Kenapa aku jadi linglung ? Persoalan sekecil ini tak

kuasa aku membereskan, kalau terlambat urusan bisa berabe.

Aku mengambil demi keperluan dan aku bisa membayar

dengan meninggalkan uang, bukankah urusan bakal beres?

218

Apalagi tujuanku menolong orang, hanya Thian yang tahu

akan kebersihan diriku kenapa aku harus canggung dan

bertele tele .”

Maka segera dia bertindak, hanya sekali berkelebat

bersama Yong-ji dia sudah meluncur kearah rumah pendek

sebelah kiri serta merunduk kebawah jendela, pelan pelan dia

melongok kedalam. Sungguh kebetulan, itulah kamar tidur,

kelambu tersingkap kekedua samping, bantal guling dan

kemul teratur rapi, agaknya semalam ranjang ini belum

ditiduri orang.

Pelan pelan dia menggerernet kearah pintu, sedikit

mengerahkan tenaga dia mendorong daon pintu, daon pintu

yang juga terbuat dari bambu seketika terbuka lebar,

pandangan Ling Ji-ping amat tajam, sekilas dia menyapu

pandang keadaan dalam rumah, bukan saja tiada orang, tiada

sesuatu yang mencurigakan pula, hanya sekali gerak perlahan

sekali dia sudah berada didalam rumah. Langsung dia

merebahkan Yong-ji diatas ranjang, kelambu lantas

diturunkan, setelah itu dia memeriksa keadaan kamar ini

dengan seksama, sayang sekali dalam kamar ini tiada pakaian

perempuan, terpaksa dia menyelinap keluar menuju ke rumah

pendek sebelah kanan.

Setiba dibawah jendela dia melongok keda lam, seketika Jiping

mengerut alis, diatas ranjang dalam kamar ternyata

rebah dua lelaki dengan dengkur napasnva yang keras,

agaknya kedua orang Ini pulas karena habis minum arak dan

mabuk.

Kalau kamar ini dihuni lelaki jelas takkan ada pakaian

perempuan, tinggal rumah berloteng inilah sasaran terakhir,

dia yakin orang yang ber ada diatas loteng pasti majikan dari

rumah rumah di sini, kemungkinan sekali dia memiliki ilmu

silat yang tidak lemah.

Cuaca sudah mulai benderang, dalam waktu mendesak ini,

dia tidak perlu tanjak kua’ir lagi, kedua lengan terkembang,

219

kailnya menjejak bumi tubuhnya lantasmelambung tinggi,

bagai seekor burung dia hirggap dilankan loteng tanpa menge

luarkan suara sedikitpun.

Empat penjuru loteng ini semua di lingkari serambi, meski

bangunannya terdiri bambu bambu besar, namun

bangunannya cukup kokoh dan le bih artistik malah, jendela

ditutup kain sari, bau harum merangsang hidung, memang

benar kamar diatas loteng ini dihuni perempuan.

Sambil memiringkan tubuh dia menyelinap kesamping

jendela, pelan pelan mengintip kedalam. Kelambu menjuntai

turun, tapi waktu Ling ji-ping memaniang kedalam kelambu,

mau tidak mau menjingkat kaget: Karena kelambu terbuat

dari kain sari yang tipis dan tembus pandangan maka keadaan

dalam ranjang bisa dilihatnya jelas-Diatas ranjang memang

rebah seorang perempuan, tapi aneh dan mengherankan,

dipagi yang dingin begini, ternyata perempuan yang tidur

diatas ran jang ini tidak mengenakan selembar benang apa

pun. alias telanjang bulat. Kemul kapas yang tipis hanya

menutupi bagian kakinya sebatas lutut, sepasang buah

dadanya tampak padat kenyal, kebetulan dia tidur miring

menghadap ke sini, maka gaya tidurnya yang merangsang

seakan akan menantarg dan pasti membangkitkan nafsu lelaki

yang normal, rambutnya yang panjang awut awut an terurai

diatas bantal, ada pula yang menjuntai turun dipinggir

ranjang.

Lekas Ling Ji-ping berpaling muka, pikirnya: „Memalukan

sekali cara perempuan ini tidur, memangaya dia tidak takut

masuk angin?”

Waktu dia menjelajah pandang keadaan sekitar kamar,

tidak nampak ada pakaian perempuan yang dicantel, apa

boleh buat akhirnya ditujukan Pandangannya ke ranjang pula.

Kali ini pandang arinya tertuju kearah setumpukan pakaian,

tapi letaknya ternyata berada dibelakang ranjang gading ini

220

mepet dinding bambu pula, untuk mengambilnya harus dari

depan dan berada dimuka perempuan Itu.

Karuan Ling Ji-ping jadi bingung, orang memarg memberi

julukan Cui-hun-jiu padanya, tapi sebenarnya dia seorang

pemuda yang berjiwa pendekar, seorang kesatria, dia

berangga pan mendekati perempuan yang sedang tidur

apalagi dalam keadaan telanjang bulat adalah perbuatan tidak

senonoh, kalau terhadap Yong-ji, memang dia di desak oleh

keadaan, tapi terhadap perempuan ini, meski dia tidak punya

pikiran nyeleweng, jelas perbuatannya ini bisa dianggap tidak

sopan. .

Tapi keadaan amat mendesak pula, terpaksa dia harus

mendekati perempuan Ini, tanpa mengambil pakaian itu,

bagaimana dia bisa mengenalkan pakaian pada Yong-ji yang

telanjang juga Padahal fajar hampir menyingsing, bila

perempuan ini sudah siuman, harapan dan usahanya akan

semakin sia sia.

Tapi dalam situasi sekarang berada ditempa yang asing

lagi, mau tidak mau Ling Ji-ping harus waspada dan bertindak

lebih hati hati, kartnil dia yakiu Yu-mo-sau-tiok ini adalah satu

motc atau tempat peristirahatan orang orang Ang-hoai kau,

kalau perempuan diatas ranjang ini tidak mimiliki kepandaian

silat, mana mungkin dia berani tinggal dialas pegunungan

yang sepi dan jauh dari keramaian? Memangnya dia tidak

takut binatang buas atau penjahat cabul bakal

mengganggunya? Dan alasan kedua, bila benar perempual ini

anggota Ang-hoa-kau, pasti kedudukannya tidak rendah,

jikalau bukan putri sang kaucu, kemungkinan salah satu

dayang pribadinya, atau salah satu Tamcu, kalau dugaannya

benar, maka ti dak mungkin dia tinggal dlloteng bambu ini se

orang diri, disekltarnya pasti ada pula para pembantunya yang

lain Tapi kecuali dua laki laki yang mabok dikamar kanan,

tidak nampak adanya perempuan lain, hal ini mau tidak mau

menambah rasa was was dan curiga Ling Ji-ping.

221

Kalau sekararg dia seorang diri, meski ada hal hal yang

dikuatirkan, tapi dia tidak perlu jeri, namun dia masih harus

melindungi keselamatan Yong-ji, maka setiap tindakannya

harus dijaga tian hati hati, apalagi orang orang Ang-hoa-kau

terkenal licik dan licin, banyak muslihatnya pula bila Yong-ji

yang kehilangan kemampuan melawan itu terjatuh ketangan

orang lain pula, bukan saja dia berdosa terhadap Yong-ji,

diapun takkan berani memikul tanggung jawab ini terhadap

Lam jan. Karena adanya berbagai kesulitan ini, dia sudah ingin

membatalkan niatnya mencuri pakaian itu, pikirnya : „Lebih

baik aku menyingkir saja setelah berhasil menemukan biara

itu, sambil aku menuoggu kedatangan Lam-jan,” setelah

berkeputusan maka dia memutar tubuh.

-ooo0dw0ooo-

Karya : Khu Lung Saduran : Gan KH

Sumber DJVU : Manise & Paulustjing

Editor : Paulustjing dan Dewi KZ

Ebook by : Dewi KZ

Tiraikasih website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://tiraikasih.co.cc/ http://cerita-silat.co.cc/

Jilid 7

TAK NYANA DIKALA DIA MEMUTAR tubuh itulah,

didengarnya perempuan diatas ranjang itu bersuara perlahan

sambil menggeliat, Tanpa kuasa Ling Ji-ping menoleh lagi,

ternyata gaya tidur perempuan diatas ranjang kali ini lebih

elok lagi, tubuhnya terangkat keatas bantal, sementara

tubuhnya lebih miring keluar, kaki kanan tertekuk sedang kaki

222

kiri menjulur lempang, sehingga bagian paling terlarang

ditengah kedua paha perempuan itu seperti dipertontonkan,

kebetulan Ling Ji-ping menoleh kedalam, maka dia menoleh

kedalam, maka dia melihat jelas dan seketika….

Berkerut alis Ling Ji-ping, lekas dia melengos, jantungnya

berdebar, tapi tak kuasa dia melawan da ya tarik ini. Kuatir

dirinya tak kuasa mengenda i kan diri lekas dia berkeputusan,

taru baru saja tubuhnya setengah berjongkok hendak berlalu,

di dengarnya perempuan diatas ranjang sudah cekikikan tawa,

suaranya lembut dan aleman: ,’,Apa kau sudah datang ?

Kenapa tidak masuk ,”

Ling Ji-ping melengong, pikirnya : „Celaka, dia sudah

siuman.”

Sebetulnya dia bisa segera meninggalkan tem pat itu, tapi

dia kuatir bila perempuan did lam tidak memperoleh jawaban

dan tahu ada orang mengintip dirinya lalu berteriak, untuk

turun dan meniuggalkah tempat ini pasti sukar bagi dirinya_

Maka sigap sekali dengan ujung kakinya dia me lompat ke

sana, seenteng kucing, lekas dia menye linan serta

.menyembunyikan tubuhnya dipayon bambu dibawa atap.

Pikirnya : „Bila tidak ada orang menjawab, pasti perempuan

itu menyangka sedang mimpi dan akan tidur pulis lagi, waktu

itulah saatnya aku pergi.”

Tak nyana baru saja dia menyembunyikan diri, tiba tiba

dilihatnya dari arah hutan muncul bayangan beberapa orang,

gerakannya tangkas dan cepat sekali sudch meluncur turun

dibawah lo teng. Melihat para pendatang ini, kembali Ling Jiping

melongo dibuatnya.

Tampak ada berdiri lima Orang berdiri dibawah loteng,

kelimanya adalah pemuda pemuda, yang berwajah tampan,

yang terdepan mengenakan ikat kepala ala pelajar, wajahnya

putih tulang pi plnya menonjol, mengenakan jubah longgar

yang disulam indah, tangannya memegang kipas lempit

sikapnya gagah, tampan dan romantis. Keempat orang yang

223

lain agaknya adalah pengawal pribadi semua berpakaian

kencang bersenjata pedang, semuanya bertampang garang

tapi bermuka bersih, menbasung dada dan bertolak pinggang.

Hanya sorot mata mereka yang kelihatan berkilat keji dan

membayangkan jiwanya yang kejam walau berwajah tampan,

tapi dari sikap mereka dapatlah diraba bahwa mereka orang

orang jahat.

Terdengar pemuda pelajar itu mengetuk kipas lempit

disebelah telapak tangannya, katanya sambil tertawa dengan

nada bangga : „Kalian jaga diawah loteng, harus hati-hati !”

lenyap suaranya, tidak kelihatan dia bergaya, tahu-tahu

tubuhnya sudah mumbul keatas dengan gerak salto, dan

melayang turun dibawah jendela di atas loteng.

Baru saja pemuda pelajar ini hinggap di serambi,

perempuan telanjang didalam kamar sudah mengeluarkan

suaranya yang merdu pula : „Ku suruh kau lekas masuk,

kenapa pakai pesan-pesan segala terhadap orang-orang

rendah itu ?”

Pemuda pelajar itu kedengaran tertawa terbahak-bahak,

katanya sambil berjalan mendekati jendela: „Agaknya kau

sudah tidak sabar lagi menunggu ? Aku pergi buat menyelidiki

sebuah urusan besar, makanya aku terlambat.” tampak jubah

biru berkelebat, sigap Sekali dia sudah me lompat masuk

melalui jendela.

Diam-diam Ling Ji-ping mengeluh dan menyesal, kenapa

tidak sejak tadi meninggalkan tempat ini dengan kedatangan

pemuda bangor ini, dibawah loteng dijaga empat orang lagi,

jelas sukar dia turun kebawah. Apalagi dia tidak tahu sampai

di mana taraf kepandaian silat orang-orang ini ? Jelas

kedatangan pemuda pelajar inipun akan melakukan adegan

ranjang yang hot dengan perempuan telanjang diatas ranjang

itu, memangnya dia betah sembunyi dibawah payon

menyaksikan tontonan yang memalukan itu ? Kalau kejadian

bukan malam ini. Ling Ji-ping tidak akan berpeluk tangan

224

membiarkan kejadian ini berlangsung didepan matanya, tapi

keadaan sekarang jauh ber beda, Sekali-kali dia tidak boleh

membuat suara yang mencurigakan sehingga menarik

perhatian mereka, supaya keselamatan Yong-ji tetap

terjaga.

Lekas sekali dia sudah mendengar suara keriat keriut dari

ranjang yang bergetar, disusul cekikik geli suara perempuan

yang genit. Maka terdengar pemuda pelajar Itu berkata

dengan berseri tawa „Sayangku manis, agaknya kau sudah

menungguku sejak tadi, sampai tidak sabaran mencopot

pakaian segala, sungguh mergasikkan, as-sooy.”

Perempuan itu terkikik, katanya riang : „Masih ngomong,

semalam suntuk aku kesepian me’nunggumu, sampai

sekarang baru kau datang, aiuh, kenapa kau mencubitku.’

mungkin saking gemes dan terangsang oleh tubuh perempuan

yang telanjang, pemuda pelajar itu meremas sambil mencubit.

Sebetulnya dari tempat persembunyian Ling Ji-ping dapat

menyaksikan dengan jelas sekali permainan merangsang

diatas ranjang, tapi tak sudi dia menyaksikan perbuatan kotor

yang mejijikkan menurut pendapatnya.

Terdengar pemuda itu terbahak-bahak, katanya : „Memang

aku yang berdosa, kekasihku sampai menunggu terlalu lama.”

„Kenapa tidak lecas copot pakaian, hayolah naik keranjang,

coba libat hari sudah hampir terang tanah.”

”Yayaya,’ pemuda itu menslakan sambil cengar cengir, lalu

terdengarlah suara keresakan dari orang yeng mulai membuka

pakaian.

Saking geregetan ingin rasanva Ling Ji-ping melompat

masuk, sekali hantam mampusin kedua laki perempuan cabul

ini. Tapi dia tidak berbuat demikian, karena bayangan wajah

nan molek se perti terbayang didepan matanya, maka pelan

pelan dia menarik napas, sedapat mungkin dia tekan gejolak

perasaannya.

225

Sementara itu terdengar suara perempuan itu berkata

sambil tertawa geli ditahan tahan : „Ou, kenapa kau terburu

buru. Ada yang ingin kutanya kau, tadi kau bilang menyelidik

Urusan besar, urusan apa ?”

„Nanti saja kuceritakan pelan-pelan, bukan kah kau sudah

tidak tahan lagi’.”

„Em, tidak, kau harus bicara didepan,” Ranjang bergetar

mengeluarkan irama yang berpadu dengan dengusan napas,

tawa siperem ptan agaknya sudah tertahan-tahan, katanya :

„Tidak bisa, kau harus ceritakan aulu, kalau tidak aku tidak

akan melayani.”

„Cup,” setelah mencium pipi, pemuda itu ;, tertawa

menyengir, katanya apa boleh buat : „Gara-gara urusan

Thian-tiok-sam-po itulah.”

„Kau berhasil memperoleh sumber penyelidikan ?”

Semula Ling Ji-ping berusaha menutup mata dan kuping

terhadap adegan ranjang didalam kamar, namun bila dia

mendengar Thian-tiok-sam-po disinggung, mau tidak mau dia

menaruh perhatian serta mendengarkan dengan seksama,

pikirnya: „Baru saja Giok-liong-soh terjatuh ketangan mereka,

memangnya secepat ini mereka sudah mendapatkan ketiga

pusaka itu “

„Cobalah kau terka,” kata si pemuda, „benda apakah kirakira

yang diperebutkan oleh Lam jan. Pak-koat dan It-ci-sinmo

ketiga orang itu selama tujuh puluh tahun sampai

sekarang Ini.”

Tergerak hati Ling Ji-ping, batinnya : „O, benda yang

mereka perebutkan itu ternyata Thian-tiok-sam-pa adanya ?

Apakah itu betul ?”

Didengarnya perempuan itu bertanya dengan naia kaget:

„Apakah yang mereka perebutkan itu adalah Thian-tiok-sampo

? Begitu maksud mu ?”

226

„Bukan,” sengaja si pemuda tertawa jual mahal.

„Wah, kenapa tidak bicara blak-blakan? Pakai putar kayun

lagi. Sungguh menyebalkan ! Ayo lekas terangkan.”

„Haha,” si pemuda tertawa bangga, tidak lantas bicara,

dia membenamkan mukanya lebih dulu didada orang.

Perempuan itu menjadi gugup dan keki. katanya „Tidak

mau bilang ya sudah! Aku tidak mau dengar, Hayo, turun !

Aku mau tidur lagi!”

„Aduh hai sayang. Kenapa sih musti marah begini Wajahmu

jadi tambah cantik saja, tam bah memukau, terutama bibirmu

ini, sungguh nik mat bila dilumat!”

”Pergi, pergi! Aku tidak suka mendengar segala ecehanmu

!” suaranya aleman tapi juga mem bangkitkan ransangan.

„Baiklah akan segera kututurkan, tapi aku harus…..” maka

ranjangpun terdengar bergerit, siperouda hendak meneruskan

perkataannya diikuti dengan gerakan tubuh dan tangan.

Terdengar perempuan itu memburu napasnya, tapi dia

tetap tertawa cekikikan, geli rupanya sambil katanya “.

„Sudahlah, sekarang lekas kau ceritakan ‘

Setelah melumat bibir orang, baru sipemuda berkata :„

Ibumu sudah mendapatkan Giok-liong-soh, paling bisa

mendapatkan rahasia dimana letak simpanan pusaka itu, tapi

tanpa dibantu ketiga pusaka yang diperebutkan ketiga

gembong Iblis itu, tetap takkan bisa mendapatkan ketiga

pusaka itu.”

„Benda apa yang kau maksud’.” „Giok-pin-kim-lun.”

„Giok…pin . . , kim , . lun ?” tergerakhati Ling Ji-ping.

Perempuan itu juga terdengar mengulang kata kata Itu,

,,Giok-ping-kim-lun ? Apakah yang dinamakan Giok-pln-kimlun

itu ?,

227

„Giok-pin adalah tempat dimana pusaka itu disimpan, tanpa

Kim-lun atau kunci emas, siapa pun takkan bisa membuka

Giok-pin (pintu angin kumaia) itu.’

Terdengar si pemuda bertutur lebih lanjut: „Kecuali partai

partai besar dalam Bulim, berbagai aliran silat, entah itu dari

Kau. Hwe, Pang atau Bun semuanya dibikin pusing oleh tokoh

misterius yang menghuni puncak tunggal di Kiu-ting-san itu,

ilmu silat bukan tandingan dapat di maklumi, yang penting,

puncak gunung tunggali itu katanya dinginnya dapat

membekukan jago silat manapun meski memiliki latihan

Lwekang tangguh, tapi lain halnya bila kita dapat memperoleh

ketiga pusaka itu.”

„Itu berani dengan membekal ketiga pusaka itu, kau akan

dapat memanjat puncak tunggal ?”

„Bukan hanya bisa naik keatas belaka,” ucap si pemuda,

„Kungfu yang tertera diatas Giok-jiap seluruhnya adalah ajaran

Se-ek dari aliran hudyan; sejak lama tidak pernah diturunkan

kepada generasi mematang, sementara dengan membawa

Giok-lan yang merupakan pusaka aliran Hud, kau tidak akan

takut kedinginan, ratusan racun tak perlu gentar, dlsamping

itu dia memiliki manfaat lain yang aneh, peduli kau memiliki

kepandaian silat setinggi langit. bita berhadapan dengan

orang yang membawa GioK-lan, maka dia tidak akan kuasa

mengembangkan kepandaiannya.”

,,Oh,” perempuan itu kaget, namun suarenya bernada

riang, tanyanya pula : „Lalu apa gunanya Hud-giok-jiu itu ?”

„Hud-giok-jiu lebih menakjubkan lagi, Hud-giok-jiu

mengandung ajaran plam dan ilmu kebati nan yang amat

tinggi, ditelapak tangan terukir huruf-huruf sangsekerta, bila

kau dapat menyelami Intisari pelajaranya, kau dapat

meyakinkan ilmu yang dapat terbang sejauh ribuan li, dan ber

bagai ilma mujijat lainnya.”

228

„Wah, kalau benar demikian, bukankah kita bakal menjadi

dewa dan dewi.”

Sekilas Ling Ji-ping melirik kedalam, pikir nya : „Mana

mungkin ada keajaiban seganjil Itu dalam dunia ini ?”

Pemuja itu berkata lebih lanjut: „Ajaran dewa memang

sukar dibuktikan, sudah tentu aku juga tidak percaya, tapi aku

yakin salah satu dari ketiga pusaka itu pasti ada kegunaannya

yang luar biasa.”

„Memangnya apa gunanya kau bicarakan hal ini ? Lam-jan,

Pak-koat dan It-ci-sin-mo adalah gembong gembong iblis.

Siapa yang berani mengusik mereka? Apa berani kau

mencabut kumis dimulut harimau? Kerjamu berarti kan sia si

belaka!”

Pemuda itu tertawa besar, katanya: „Ang hoa-kau kalian

tidak berani mengusik ketiga bangkotan itu, memangnya aku

Hwi-hou Kongcu takut pada mereka ? Haha, gagal merebutnya

masl ada akal untuk mencurinya, boleh kau buktikan dalam

tiga hari, tanggung barang itu bakal jatuh ketanganku'”

„Hwi-hou Kongcu ?” Ling Ji-ping bertanya tanya dalam hati,

dalam Bulim pernah dia men dengar nama julukan ini, tapi

dari sikap dan omong besarnya, agaknya dia memiliki

kepandaian tinggi, paling tidak pasti tidak kalah dari Ang-hoakau.

Tiba tiba timbul pikiran aneh dalam benak Ling Ji-ping:

„Bukankah Hiat-ing-cu dahulu ber juluk Hoa-sin-yau-hou ?

Mungkinkah Hwi-hou Kongcu ini juga datang dari luar

perbatasan, jadi serumpun dengan Hoa-sin-yau-hou ?’

„Em, aku tak perduli,” rengek si perempuan, „kau harus

rebut Giok-pin-kim-lun dan serahkan kepadaku.”

„Sayangku nan molek, kau memang pintar, ibumu berhasil

menipu Giok-liong-soh, kau justru ingin memperalat aku dan

ingin mendapatkan Kim-lun, kenapa tidak langsung kau bilang,

229

supaya aku menyerahkan ketiga pusaka itu dengan ke dua

tanganku padamu ?”

Perempuan itu bersuara dalam mulut sambil

menggelinjang, katanya : „Boleh ya boleh, kalau tidak boleh

ya sudah, aku tidak mau layani kau. Umpama kau

mendapatkan Kim-lun, tanpa ada nya Giok-liong-soh, kau

takkan bisa menemukan tempat itu, bila kau memberikan

kepadaku, apa sih hubungan kita ? Memangnya harus tawar

menawar dan membedakan milik siapa ? Kelak bila ketiga

pusaka itu sudah berada ditangan, aku ini juga sudah menjadi

milikmu, bukankah pusaka itu menjadi milikmu pula. Hm, kau

justru sirik dan membedakan aku dan kau, sudahlah jangan

kau merayuku.”

Hwl-hou Kongcu tertawa gelak gelak, kata nya : „Baiklah,

segala permintaanmu kululuskan, dewiku, bila melihat kau

marah, hatiku jadi lebih sayang, sudah jangan marah melulu,

bila pusaka sudah berada ditanganku nanti kuberakan

kepadamu.”

Ling Ji-ping menyeringai dingin batinnya „Perempuan

memang racun dunia, tapi Hwl-hou Kongcu juga licik dan

culas, sayang akhirnya dia tunduk juga oleh rayuannya.”

Terdengar Hwi-hou Kongcu berkata : „Dewi cantik, segala

keinginanmu sudah kuturuti, sekarang giliranmu menuruti

keinginanku.”

Maka terdengarlah cekikik kegelian yang me manjang, tawa

genit dan dengusan jalang, kini bukan ranjang saja yang

bergetar, loteng bambu ini pun rasanya seperti diterjang

gempa bumi.

Hampir meledak dada Ling Ji-ping, sungguh tak pernah dia

sangka bahwa putri Ang-hoa Kau cu ternyata secabul Ini,

kalau dia tidak memikir kan keselamatan Yong-ji, umpama

kedua orang Ini memiliki ilmu silat melebihi orang juga pasti

dilabiaknya. Tapi Ji-ping jadi tidak betah lagi, tawa jalang dan

230

dengus napas yang tersengal, suara birahi yang menimbulkan

nafsu justru membakar amarahnya, sekilas dia menyapu

pandang kebawah loteng, dilihatnya keempat pemuda cakap

berdiri tegak penuh perhatian, semua menatap lurus kehutan

bambu didepan bangunan loteng ini.

Apa boleh buat, terpaksa Ling Ji-ping melorot tuiun serta

mendekam diserambi, gerakannya seenteng asap melesat

kepcjok kanan ditikungan kebelacang, sekali melayang pula

dia sudah me luncur turun dibelaicang kamar pendek sebelah

kiri, dimana Yong-ji berada didalam, gerakannya enteng bagai

burung walet, orang diatas loteng dan yang jaga dibawah

loteng tiada satupun tahu akan jejaknya.

Dibelakang rumah bambu ini, pada dinding belakangnya

kebetulan terdapat sebuah jendela kecil, jendela yang

dipasangi jeruji bambu kecil sebagai hiasan, terpaksa Ji-ping

kerahkan sedikit tenaga dan menggaris sekali, jeruji jeruji

bambu ini dengan mudah dipatahkan dan dicopotinya, sekali

melompat dia meluncur kedalam kamar.

Untung Yong-ji tetap pulas dan selamat tidak kurang suatu

apa, dia geleng geleng kepala, pelan pelan dia membungkus

tubuhnya pula lalu membopongnya, padahal cuaca sudah

benderang, lekas dia melompat keluar pula dari jendela

belakang.

Sekarang baru dia sempat memperhatikan keadaan

diseKitarnya. belakang deretan rumah ini ternyata adalah

barisan bukit melintang yang ti dak begitu tinggi, tumbuh

bambu hijau yang subur dan rindang. Karena tidak ingin

kepergok, terpaksa Lng Ji-ping lari ke atas bukit, unturg

dedaonan di sini cukup lebat sehingga bayangan nya cepat

sekali sudah lenyap dibabk sana.

Semula dia mengira begitu memasuki rumpun bambu, dia

tak perlu kuatir jejaknya konangan orang, maka dia

kembangkan Ginkangnya, sekejap saja, dia sudah berada di

punggung bukit. Tak nyana setiba di punggung bukit,

231

selayang pandang yang dilihat hanyalah lautan hijau dari

dedaonan pohon melulu, gunung gemunung seperti gajah

berbaris, selepas pandangannya tak berujung rang kal, bila

angin menghembus, suara berisik dari de daonan yang

beradu.

Setelah menentukan arah dia menarik napas kembali

meluncur kebawah sana, menerjang hu tan seperti memasuki

perkemahan, tak nyana cukup lama dau dia rasa sudah jauh

dia menem puh perjalanan, tapi dirinya masih tetap di dalam

hutan bambu, karuan hatinya heran, kebetulan di Sebelah ki.i

adalah jalur bukit pula, segera dia melompat kesana, Ingin dia

melihat betapa luas sebetulnya hutan bambu Ini.

Tak kira setelah berada di pucuk bukit, seketika dia berdiri

melongo, karena dibawah sana dia melihat bayangan atap

rumah bambu warna merah, jelas itulah Yu-mo-siau-tiok yang

tadi dia tinggalkan, ternyata setelah dia putar kayun menem

puh perjalanan jauh dan makan waktu lama, diri nya sekarang

berada diarah yang berbeda saja,

Ji-ping bingung, sejenak dia menunduk, akhir nya dia

mengerti, tawanya dingin, pikirnya „Agak nya hutan bambu

ini sudah diatur dalam bentuk suatu barisan yang

menyesatkan, karena kurang hati hati, aku hanya berjalan

menuruti jalur-jalur luang di dalam hutan, sudah tentu putar

sana belok sini tetap berada di dalam hutan ini.”

Dikala dia membersihkan keringat diriahinya, dari rumpun

bambu sebelah kiri tiba tiba didengarnya suara cekikik geli,

suaranya yang kecil nyaring jelas keluar dari mulut

perempuan.

Ling Ji-ping melengak, bentaknya dengan juara rendah :

„Siapa ?”

„Jangan keras keras,” terdengar suara dari balik bambu

sana, „kalau sampai konangan orang orang dibawah bukit,

kau takkan bisa lari dari s ini.”

232

„Siapa kau?” tanya Ji-ping gelisah. Tak kira perempuan

dalam hutan bambu balik bertanya : „Siapa orang yang kau

bopong ?”

„Untuk apa kau tanya hal ini ?” desis Ling b -ping geram.

„Aduh galaknya, cuma tanya kenapa tidak boleh ‘ Em,

cantiknya nona itu. Yang benar tak aku kau bilang akupun

sudah tahu.”

Ji-ping memandang tajam kearah datangnya suara, tapi

rumpun bambu disebelah kiri ternyata cukup lebat d tonnya

rimbun, bayangan orang tidak kelihatan, entah sembunyi di

mana orang yang bicara itu. tapi satu hal meyakinkan diinya,

bahwa orang yang berbicara ini tidak punya maksud jahat

terhadap dirima.

Setelah tertawa geli pula, perempuan itu berkata pula

„Hai apa, kau tidak ingin keluar dari hutan sesat ini’ „Hutan

sesat ?”

„Alah tanya lagi, memangnya kau tidak merasakan?

Bukankah kau sudah putar kayun beberapa! jam ?’

„Tadi Cayhe tidak memperhatikan, jalan asal menuruti jalur

jalur luang di sini, maka . . .”

„Kau kembali ketempat semula, betul tidak ?’ perempuan

itu menyambung perkataannya setelah tertawa lirih pula dia

menyambung: „tadi kalau tidak menuruti jalur jalur luang

ditengah hutan ini, kemana dan cara bagaimana kau akan

beranjak di hutan ini ?’

Maklum hutan bambu Ini amat lebat, apala gl seperti

sengaja ditanam dan diatur sedem kian rupa, kecuali jalurjalur

jalan yang sudah dibuka, hakikatnya tiada jalan, lain,

kalau tidak membopong Yong-ji, dengan Gikangnya yang

tinggi, dia bisa meluncur terbang di. atas pohon dengan Lingkhong-

pou-si, namun sekarang tak mungkin dia melakukan.

233

Dari mimik muka Ling Ji-ping, perempuan .itu dapat

meraba keadaannya yang serba salah, katanya tertawa

enteng: „Kalau orang bisa seenak nya keluar masuk didalam

barisan bambu yang menyesatkan ini, memangnya Pek-hoa

Kongcu berlaku begini ceroboh, tanpa menugaskar seorang

penjaga di sini ?”

Ling Ji-ping segera’mengerti, tak heran Hwi-hou Kongcu

datang dari arah depan, demikian pula keempat pengawalnya

itu hanya mengawasi bagian depan, sedikitpun tidak hiraukan

keadaar belakang.

Perempuan itu berkata pula: „Mau tidak ku tunjukkan jalan

den kuajak kau keluar dari sini?’

„Siapa kau ‘ bentak Ling Ji-ping dengan suara rendah.

„Aku ?” tawa manis si perempuan terdengar riang, „Soal

siapa diriku kau tidak usah tanya, kalau aku mau mencelakai

kau, bila aku berteriak, orang-orang dalam loteng itu akan

segera melu ruk kemari, jangan kau sangka Pok-hoa Kongcu

lemah gemulai, apa lagi Hwi-hou Kongcu. keempat

pengawalnya itu yakin kau takkan kuat melayaninya, apalagi

kau membohong nona cantik ini.”

Selama kelana Ling Ji-ping tidak pernah tun duk kepada

siapapun, belum pernah dia menemu kan persoalan pelik

seperti hari ini, setelah meng alami beberapa kali kegagalan di

Cene-seng-san ini, wataknya tetap tak pernah berubah, kini

demi menjaga keselamatan Yong-ji, meski hati merasa

penasaran, tapi apa boleh buat, akhirnya dia ber Kata setelah

menghela napas: „Kalau Cayhe tidak ingin menolong nona ini,

hutan yang menyesatkan seperti ini memangnya bisa

mengurungku ? Baik lah, kalau nona bisa dan mau membantu,

kelak pasti akan kubalas kebaikanmu ini.”

Perempuan itu cekikikan pula, katanya: „Siapa piogin kau

membalas kebaikan, aku kan menjalankan tugas, cukup asal

234

kau tidak melupakan orang yang menyuruhku kemari

menolongmu.”

„Siapa suruh nona kemari menolong aku ?”

„Pemiiik sepasang burung seriti.”

„Pemilik sepasang burung seriti ?” Ling Ji-ping melenggong,

„kenapa bila aku menghadapi kesulitan, selalu dia yang

menjadi penolongku? padahal aku tidak kenal dan bukan

sanak bukan kadang, kenapa dia berbuat sebaik ini kepadaku ‘

„Sekarang lega belum hatimu ?” tanya perem puan itu.

„Baiklah tolong nona tunjukkan jalannya.”

Begitu suara Ling Ji-ping lenyap, dari balik rumpun bambu

hijau disebelah sana terdengar suara sayap menggelepar, lalu

selarik bayangan putih melesat dengan cahaya kemilau, waktu

Ji-ping menegasi, ternyata burung seriti perak itu.

Seriti perak ini agaknya cerdik pandai, setelah berputar satu

lingkar di atas kepala Ling Ji-ping, dia terbang kearah kanan

terus belok kedepan, Ling Ji-ping tabu seriti perak ini

ditugaskan menunjukkan jalan, maka tanpa ayal segera dia

kembangkan Ginkang berlari mengikuti arah terbang seriti

perak- Kira-kira setengah jam lamanya dia berlari kencang

mengikuti seriti perak itu, putar kanan belok kiri berputar pula

beberapa lingkaran, eh ternyata dia sudah berada diluar

hutan, waktu dia angkat kepala, mentari sudah bercokol

setinggi genter, tapi seriti perak itupun mendadak lenyap

entah terbang ke mana.

Tak jauh di atas batu didepan sana dilihatnya ada sebuah

buntalan kain, lekas Ling Ji-ping lari ke sana serta memungut

buntalan kain itu. tehnyata empuk dan enteng, isinya seperti

pakaian. Sudah tentu Ji-ping mengerti, pemilik sepasang

burung seriti pula yang membantunya menyediakan pakaian

ini untuk Yong-ji, agaknya segala gerak geriknya selalu

dibawaa pengawasannya, betapa besar perhatian orang

235

terhadapnya, sungguh dia merasa banyak berhutang, entah .

kelak dapatkah dia membalas kebaikan orang.

Pakaian sudah ada, tapi persoalan timbul pula, tak mungkin

dia sendiri yang mengenakan pakaian ini pada Yong-ji’,

apalagi dirinya masih ada di tengan’pegunungan, dia harus

cepat “mem cari seorang perempuan, sebetulnya dia mengha

rap bantuan perempuan yang bicara dihutan tadi, tapi

perempuan itu kini entah sudah pergi ke mana

Setelah celingukan, apa boleh buat akhirnya Ling Ji-ping

beranjak ke depan, boleh dikata dia sudah kehilangan arah

untuk menemukan biara yang ditunjuk oleh Lam-jan, terpaksa

dia berja )an tan a tujuan, syukur bila dia menemukan ru mah

petani atau pemburu, kepada bu tani dia bisa rnonoa

pertolongannya untuk mengenakan pa fcaian pada Yong-ji.

Satu jam lamanya dia berjalan tanpa arah , tiba-tiba

dilihatnya diautara lingkaran hutan disebelah depan sana ada

asap mengepul, itulah asap yang mengepul dari dapur orang,’

kariian hatinya senang bukan main. Lekas dia mempercepat

tang kah menuju kearah asap itu.

Setelah dekat kiranya Itulah sebuah perkampungan, tapi

bukan perkampungan kaum petani, , karena bangunan rumah

di sini ada belasan dan semuanya terbuat indah dan megah

beratap gen teng dan berdinding tebal dan kuat, catnya masih

baru lagi, kemunginan besar perkampungan ini dihuni

sebangsa tuan tanah yang berkuasa disekitar sini.

Tujuan Ling Ji-ping mencari orang untuk mengenakan

pakaian pada Yong-ji, maka dia tidak banyak perduli siapa

penghuni perkampungan ini, langsung dia lari kedepan pintu,

ternyata suasana sepi-sepi saja, tidak terdengar ada suara

orang, maka dia tarik suara berteriak: „Apakah didaiam ada

orang ?”

„Setelah dia berteriak dua kali baru didengarnya sahutan

orang: „Siapa diluar?”

236

Girang hati Ling Ji-oing. karena orang yang bersuara

bernada nyaring dan merdu, jelas itulah seorang oerempuan.

Lekas sekali daon pintu tebal yang tertutup itu pelan-pelan

terbuka sedikit, maka menongolah kepalla seorang gadis

berpakai an pelayan berusia delapan belasan, bola mata nya

turun naik mengawasi Ling Ji-ping dari kepala sampai kekaki,

lalu bertanya dengan senyum malu malu: „Mencari siapa ?”

„Barusan Cayhe menolong seorang nona dari tangan orang

jahat, mohon rona suka bantu mengenakan pakaian padanya,

maukah ?”

Berputar bola mata pelayan itu, katanya : „Mengenakan

pakaian Kau tidak bisa mengena kan “

„Nona ini bertelanjang, mana Cayhe leluasa menyentuh dia

Pelayan itu bersuara dalam tenggorokan, lalu tertawa geli

sambil menutup mulut dengan lengan baju, kembali dia melirik

kearah Ling Ji-ping )alu mengawasi Yong-ji yang dibopongnya

itu, kata .ya: „Aduh, begini cantiknya nona ini.”

Ling Ji-ping tertawa menyengir.

Pelayan itu mengerling tajam, tanyanya: „Pernah apakah

dia dengan kau ?”

„Buat apa nona banyak tanya?” sahut Ling Ji-ping dingin,

„aku hanya ingin sekedar bantuan nona saja.”

„Baiklah biar aku yang memakaikan baju padanya. Untung

dalam rumah kebetulan tiada orang.”

Sudah tentu Ling Ji-ping sangat girang ketika pelayan ini

mau membantunya, maka dia tidak pikir lagi siapa pemilik dan

penghuni perkampung aa ini.

Pelayan itu membuka daon pintu lebih lebar serta berkata:

”Silakan masuk.”

237

Tetap membopong Yong-ji, Ling Ji-ping melangkah masuk,

keadaan perkampungan ini memang tidak mirip rumah petani,

setelah melewati dua pekarangan bersusun, pelayan

membawanya menuju kesebuah pintu, segera dia

menyingkapi kerai dan berkata : „Bawalah masuk kekamar

ku.?’

Begitu berada didalam kamar, sekilas Ling ji-ping sempat

memperhatikan keadaan kamar tidur pelayan ini, ternyara

perabot dsn pajangaya cukup mewah di anding kamar orangorang

awam umumnya, langsung dia letakkan Yong-ji diatas

ranjang, lalu menurunkan buntalan baju yang ter gantung

dipundaknya lalu membalik tubuh dan berkata kepada

pelayan: , Mohon bantuan nona, Cayhe akan menunggu diluar

kamar saja.” habis berkata sebat sekal dia sudah menyelinap

keluar diluar dia tetap memperhatikan suara dan gerakan di

tajam kamar, kuatir terjadi sesuatu diluar dugaan.

Tak lama kemudian, didengarnya pelayan bersuara didalam

kamar: „Silahkan masuk, pakaian sudah kukenakan padanya.”

Lega benar hati Ling Ji-ping, baru saja dia hendak

melangkah ke dalam, dari luar pekarangan tiba-tiba

didengarnya derap langkah.

Air muka si pelayan seketika berubah hebat, serunya gugup

dan ketakutan : „Aduh celaka, majikanku sudah pulang.”

Ling Ji-ping menghibur : „Nona bantu aku melakukan

kebaikan, majikanmu pasti tidak akari menyalahkan kau.”

„Kongcu jangan bersuara,” desis si pelayan ketakutan,

„perkampungan kami melarang orang luar masuk kemari, tadi

karena majikan sedang keluar, baru aku berani mengundang

kalian masuk, jikalau sampai diketahui majikan, jiwaku pasti

melayang “

Ling Ji-ping tertegun tanyanya : „Siapakah majikanmu ‘?”

238

baru saja si pelayan hendak menjawab, dari ujung

pekarangan terdengar seorang bertanya dengan suara keras :

„Bwe-ing, dengan siapa kau bicara didalam kamar ‘

Pelayan itu kontan gemetar dan lunglai, mukanya pucat

pias, mulut terbuka lidah menjulur keluar, saking ketakutan

dia tidak kuasa bicara lagi.

Mendengar suara orang diluar, sungguh kejut Ling Ji-ping

bukan main, lekas dia menyingkap kerai mengintip keluar,

seketika dia terbelalak, batinnya :„Celaka dua belas, tanpa

sengaja ternyata aku trobosan diperkampungannya.”

Ternyata diluar pekarangan kecil sana tampak berdiri lima

orang, mereka bukan lain adalah Hwi-hou Kongcu dan ke

empat pengawalnya, bola mata Hwi-hou Koagcu

memancarkan cahaya, dingin yang. tajam mengawasi daon

pintu kamar pelayannya,.

Memangnya Ling Ji-ping sudah mual akan perbuatan Hwihou

Kongcu, apa lagi gayanya main diatas ranjang amat

menjijikkan, serta keadaan sudah begini mendesak serta tidak

mungkin tidak dia harus mengunjukkan diri, maka segera dia

mengambil keputusan, menyingkap kerai segera dia

melangkah keluar, katanya sambil menyeringai: „Cayhe

berada disini.”

Melihat seorang pemuda cakap keluar dari kamar pelayan,

Hwi-hou Kongcu juga melongo, tapi lekas sekali dia sudah

menarik muka, sentak nya :„ Siapa kau ?”

Ling Ji-ping melirik dengan pandangan hina, katanya:„Aku

mohon bantuan bwe-ling untuk melakukan sesuatu, akulah

yang memberanikan diri masuk keperkampungan ini, jikalau

tuan merasa perbuatanku keterlaluan, harap maaf dan jangan

kati menyalahkan nona Bwe-ing.”

Hwi-hou Kongcu mendengus hidung, katanya: „Kutanya

siapa kau ?”

239

„Cayhe Ling Ji-ping.”

„Ling Ji-ping?’ mendadak Hwi-hou Kongci tertawa gelak

gelak, katanya ;„Jadi yang dijuluki Cui-hun-jiu adalah kau ini

?”

„Betul itu adalah julukan dari anugrah temai teman

Kangouw.”

Semakin kelam rona muka Hwi-hou Kongcu” katanya

menyeringai sadis „ Kau suruh Bwe-ig melakukan apa ?”

„Mengenakan pakaian untuk orang yang telah kutolong.”

„Memakai pakaian ?’ kembali Hwi-hot Kongcu tertawa gelak

gelak, „untuk memakai pakaian memangnya harus kelayapan

kekampungku dan minta bantuan orang lain ? Orang she Ling

disaat aku tidak di rumah, sengaja kau kemari hendak

menyelidik tempatku ini, atau mungkin kau ngebet pelayanku

ini, bagus ya, memangnya aku ingin mencarimu, tumben

sekarang kau berada di sini.”

„Omong kosong,” hardik Ling Ji-ping, „Orang she Ling

selamanya bertindak jujur dan terang-terangan, belum pernah

aku melakukan perbuatan kotor dan tidak senonoh.”

Rona muka Hwi-hou Kongcu dilembari nafsu yang

berkobar, katanya : „Pelayan sundel, hayo menggelinding

keluar.”

Bwe-ing si pelayan terpaksa beranjak keluar dengan tubuh

gemetar, kepalanya tertunduk, suaranyapun

tergetar:„Memang betul Kongcu, dia kemari membawa gadis

yang dibuntal kemul, gadis itu telanjang, maka dia minta aku

mengenakan pakaiannya. Semua ini kenyataan.”

Setajam pisau pandangan Hwi-hou Kongcu hardiknya

sambil mendelik kepada Bwe-ing : „Berani kau bohong,

kucabut nyawamu.”

240

Gemetar tubuh Bwe-ing. saking takut dia menyurut

selangkah, teriaknya setengah terisak. „Kenyataan memang

demikian, nona itu masih ada didalam kamar,Kongcu boleh

memeriksanya.”

Hwi-hou Kongcu menggeram, dengan langkah lebar segera

dia mendatangi.

„Berhenti, kularang kau melihatnya.” bentak Ling Ji-ping.

Hwi-hou Kongcu menghentikan langkah, wajahnya diliputi

rona kebencian, katanya dengan mulut menyeringai: „Tuan

masuk kerumahku, sekarang aku dilarang memeriksa rumahku

sendiri, hehe, haha, adakah jalan seaneh ini dalam dunia ?”

„Setelah aku membawanya pergi, boleh kau

memeriksanya.” jengek Ling Ji-ping.

„Pergi.'” desis Hwi-hou Kongcu dengan ancaman sadis,

„orang she Ling, kau masih ingin pergi? Ketahuilah, tidak

pernah terjadi musuh yang masuk kedalam Hwi-hou-ceng ini

bisa pergi dengan selamat. hehehe, umpama betul didalam

kamar ada »orang perempuan dan tuan mudamu ini naksir

padanya, mungkin aku boleh izinkan kau pergi se orang diri.”

Mendengar orang naksir dengan Yong-ji, berkobar amarah

Ling Ji-ping. maju selangkah dia membentak : „Boleh kau

mencobanya, berani kau maju selangkah, orang she Ling akan

membikinmu roboh, binasa di halaman ini.’

„Sreng” tiba tiba keempat pemuda dibelakang Hwi-hou

Kongcu mencabut pedang seremak, tampak cahaya kemilau

menyilaukan mata bergerak gerak segesit kera, masing dua

dikanan kiri mengepung Ling Ji-ping didalam kamar.

Ling Ji-ping tertawa hina, katanya kepada Hwi-hou Kongcu

: „Lebih baik kau suruh mereka Jangan banyak tingkah,

untung kalau aku orang she Ling tidak turun tangan, asal aku

dipaksa bergebrak jiwa mereka bisa amblas bersama.”

sembari bicara dia mundur dua langkah dan tepat mencegat

241

diambang pintu, bukan karena takut, tapi dia kuatir bila Hwihou

Kongcu bergebrak dengan dirinya, keempat pengawal itu

menerjang masuk kamar, ini jelas tidak menguntungkan bagi

Yorjg-ji.

Dasar berjiwa licik dan telengas, sudah tentu Hwi-hou

Kongcu dapat menangkap maksud Ling Ji-ping, katanya gelak

gelak : „Jiwamu sendiri apa bisa selamat masih merupakan

tanda tanyai, memangnya kua masih ingin melindungi

cewekmu ? Hehe, asal dia cantik, aku tanggung seujung

rambutpun tidak akan kuganggu dia.

Bertambah murka hati Ling Ji-ping melihat orang begitu

getol ingin melihat Yeng-ji tapi yang paling dikuatirkan

memang keselamatan Yong-ji, meski sekarang dia sudah

berpakaian, namun Hiat-tonya belum dibebaskan, bila dirinya

berhantam dengan Hwi-hou Kongcu, salah satu dari keempat

pergawalnya kemungkinan bisa menyelundup kedalam,

umpama dia tidak sempat merintangi, bukankah Yong-ji bakal

jatuh ketangan musuh? Menghadapi orang lain mungkin Jiping

tidak merasa serba salah seperti sekarang, soalnya dia

tahu pasti Hwi-hou Kongcu pemuda bangor ini memang suka

pelesir, terbukti dengan permainan ranjangnya dengan Pekhoa

Kongcu tadi betapa jelita paras Yong-ji, kecantikannya

yakin tiada bandingan diseluruh negeri, bak mutiara yang baru

memancarkan cahayanya, bila dia sampai jatuh ketangan

pemuda bergajul ini, sungguh tak berani dia membayangkan

akibatnya.

Hwi-hou Kongcu melihat sikap serba salah Ling Ji-ping,

mendadak dia terbahak bahak sepuasnya, kipas lempit

ditangannya diputar putar sambil melangkah dua tindak,

katanya : „Nah, biarlah tuan mudamu kali ini memberi

kelonggaran, ku tanggung tidak akan merugikan dia, tapi aku

harus melihatnya, kalau aku tidak menaksirnya, boleh kau

bawa pergi, tapi kalau aku naksir dia, haha, aku harus

menahannya di sini.”

242

Ling Ji-ping menggeram pendek, sungguh dia tidak tahan

lagi menahan gejolak amarahnya tiba tiba dia berkelebat,

tubuhnya mendesak maju sambil memukul dengan sekali

tamparan.

Hwi-hou Kongcu tertawa besar, kakinya se perti terpeleset

selicin rase. tiba tiba dia menyelinap kesamping sambil ulur

tangan, bukan saja dia hindarkan serangan, berbareng lengan

kanan mero goh, sementara kipas lempitnya menjojoh ke

jalan darah dipundak kiri Ling Ji-ping.

Serangan Ling Ji-ping ini memangnya hanya percobaan

untuk menjajaki sampai di mana bekal Lwekang Hwi-hou

Kongcu, melibat gerak gerik orang memang tangkas dan

segesit rase, tidak malu memang dijuluki rase terbang, lekas

dia merendahkan pundak, kaki tiba tiba menyurut mun dur,

dia tutup dulu penjagaannya, jari jarinya tertekuk bagai cakar

mencengkram kepergelangan tangan Hwi-hcu Kongcu.

Kipas lempit ditangan Hwi-hou Kongcu mendadak diputar

sekencang roda berputar, terasa oleh Ling Ji-ping angin tajam

seperti mengiris ujung jari jarinya, mau tidak mau hatinya

kaget tak nyana putaran kipas lempit Hwi-hou Kongcu

ternyata memiliki daya kekuatan setajam Ini, lekas dia mundur

pula selangkah, sigap sekali mendadak dia berputar, Thianmo-

pi dari ajaran Te-sat jiu mendadak dia sapukan keluar.

Jurus Ling Ji-ping ini mengutamakan mundur untuk melabrak,

musuh, gerakannya memang lihay dan tangkas sekali, kalau

orang lain pasti sukar lolos dari ancaman elmaut.

Tapi pemuda yang berjuluk Rase terbang ini memang

memiliki kegesitan yang luar biasa, di antara kaum muda

sekarang, mungkin sukar dicari tandingannya, melihat

bayangan lengan Ling Ji ping menyamber tiba. dia malah

terbahak-bahak, tampak kedua pundaknya bergerak, tahu

tahu dia sudah berkelebat minggit dan mundur setombak laih.

Untuk mempertahankan kedudukannya, Ling ji ping tidak

mau mengudak, setelah orang didesaknya mundur, dia oerdiri

243

tegap diambang pintu, Hwi-hou Kongcu dipandangnya dengan

sorot dingin dan hina.

Walau berhasil meluputkan diri dari samberan Thian-mo-pi

lawan, namun hati Hwi-hou Kongcu juga kaget, katanya

tertawa dingin: „Memang tidak malu dijuluki Cui-hun-jiu,

memang cukup berisi.”

Ji-ping menyeringai angkuh, katanya : „terima kasih atas

pujianmu.”

Tapi Hwi-hou Kongcu mendengus, katanya : „Tapi jangan

kau takabur, kau kira tuan muda ini tidak mampu

membekukmu? Hahaha, bila dua gebrak permainanmu tadi

kau sangka sudah menciutkan nyaliku, memangnya berani aku

jauh jauh dari luar perbatasan meluruk kemari.”

Ling Ji-ping berkata :„Jadi orang kosen macammu ini tidak

pandang orang orang persilatan di Tionggoan ini, maka jauh

jauh kau datang dari Tiangpek untuk melakukan kejahatan

disini.’

„Kaum persilatan di Tionggoan?” Hwi-hou Kongcu tertawa

ejek, kipas lempit ditekuk ketelapak tangan, iaiu berkata pula,

„memang banyak kaum persilatan di Tionggoan, tidak sedikit

pula yang Kusen, tapi tokoh macammu ini, kukira masih terlalu

jauh bedanya.”

Sejak Ling Ji-ping mengembara, baru pertama ini ada

orang secara berhadapan muka mencemoohkan dirinya,

betapa dia tidak naik pitam, namun dia tidak boleh

meninggalkan pintu kamar ini, dia kuatir keempat pemuda

berpedang itu cari kesempatan meneiobos masuk kamar.

Kecuali itu Ji-ping harus pecah perhatian, kuatir ada orang

lain yang menyelundup kekamar lewat jalan lain, maka dia

tidak berani bertindak meski hatinya amat murka.

Tujuan olok olok Hwi hou Kongcu memang hendak

memancingnya keluar, supaya anakbuahnya sempat

244

membekuk perempuan didalam kamar, bila perempuan

dikamar itu sudah berada di’ cengkramannya, betapapun

tinggi iimu silat Ling Ji-ping, dia punya akal untuk

menundukkannya.

Tak nyana meski muka Ling Je-ping merah padam, tapi dia

cukup cerdik untuk tidak meninggalkan kedudukannya,

sikapnya semakin kereng dan, ber wibawa

Melihat muslihatnya, tidak berlaku sorot mata Hwi-hou

kongcu, melirik kearah keempat pengawalnya yang berada. di

kiri Kanan, katanya setelah tertawa licik: „Untuk apa kalian

berdiri di situ ? Jangan nanti di sangka Hwi-hou Kongcu

hendak mengeroyoknya, hayo mundur.” para pengawalnya

sudah tahu akan maksud majikannya serentak mereka

membungkuk sambil mengiakan, sekali berkelebat mereka

melompat mundur terus terbang keluar pekarangan.

Tawa licik Hwl-hou Kongcu sudah dalam pengawasan Lim

Ji-ping, karuan hatinya semakin gelisah, bila salah satu orang

orang itu masuk dari jendela belakang, bagaimana dia harus

menghadapi nya ?. Akhirnya Ling Ji-ping berkeputusan, segera

dia bertindak, bukan melabrak keluar dia malah menyurut

masuk kedalam kamar, sekilas matanya menyapu kearah

jendela, memang dijendela ada bayangan orang, agaknya

seseorang sudah siap menerjang dari belakang. Dalam

keadaan kepepet ini sudah tidak tempo untuk beragu lagi,

sekali melejit, dia sudah junjung tubuh Yong-ji terus dikempit

dibawah ketiaknya. Tapi sebelum dia membalik tubuh,

terdengar tawa jengekan dibelakang, berbareng sejalur angin

dingin melesat ke Nau-hou-hiat dibelakang kepalanya.

Sebat sekali Ling Ji-ping menggeser kekiri berbareng

membalikkan telapak tangan membelah kebelakarg,

sementara pinggang tertekuk kedepan sambil membalik

tubuh, ternyata Hwi-hou Kongcu sudah berada didalam kamar

serta membokongnya.

245

„Orang she Ling. ingin lari ?” desis Hwi-hou Kongcu. Kipas

lempitnya tiba tiba membuat satu lingkaran terus menggaris

tegak, sehingga belahang telapak tangan Ling Ji-ping

dipunahkan, berbareng tangan kiri mencengkram ke lambung

Ling Ji-ping, gerakannya sebet dan keji tak ubahnya rase yang

mencakar lawannya.

Ling Ji-ping tertawa keras, rumah kecil Ini ternyata goyang

seperti keterjang gempa, ditengah suara gaduh atapnya

mendadak runtuh berhamburan. Ji-ping sudah menduga akan

akibat ini, sebelum atap jatuh, ditengah kepulan debu bagai

segulung asap dia sudah melesat keluar.

Hwi-hou Kongcu telambat setindak, tapi Hwi-hou-sin-hoat

ternyata bukan olah olah cepat nya, belum lagi tubuhnya

melayang turun, tangan nya sudah menyerang gencar,

terakhir jari jari nya mencengkram ke punggung Ling Ji-ping.

Tangan kiri Ling Ji-ping mengempit Yong-ji, tubuhnyapun

belum hinggap dibumi, karena kepepet kembali dia

menyapukan lengan kebelakang, lengan serangan Thian-mopi.

Hwi-hou Kongcu memang selicin rase, mendadak dia

menarik napas, tubuhnya ternyata mengapung lurus ke atas,

sehingga sapuan lengan Ling Ji-ping menyambar lewat

dibawah dadanya.

Karena itu cengkeraman jari tangannya ikut tergeser naik

dan „bret’ kebaju dipnnggung Ling Ji-ping tercengkeram

sobek, kulit dagingnya seketika dihiasi lima jalur cakaran

berdarah, untung terpaut beberapa mili, kalau tidak tentu

pinggang Ji ping sudah berlobang, bukan mustahil Jiwanya

sudah, melayang

Ling Ji-ping merasakan punggungnya sakit bukan main,

tapi tak sempat hiraukan luka di pung gngnya, dia menghardik

sekali, meminjam daya dorong cengkramaa lawan, dia

menjejak kaki se hingga tubuhnya mencelat lebih jauh

246

kedepan, begitu kaki menutul bumi tubuhnya lantas mumbul

keatap rumah.

Tapi baru saja kakinya hinggap diatas genteng kesiur

anginpun sudah memburu tiba dibelakang jelas Hwihou

Kongcu mengudak dengan kencang Selama hidupnya belum

pernah Ling Ji-ping me larikan diri dari medan laga meski

musuh tangguh sekali, tapi keadaan hari ini memaksanya

untuk mengalah demi keselamatan Yong-ji. Maka dia harus

berusaha meloloskan diri. Sambil menggentak tubuhnva

berkisar, serempak dia lancarkan sejurus Lui-ci hiap-ting

(halilintar menyambar kepala) salah satu jurus mematikan dari

Cap ji te-sat-jiu, pukulannya sedahsyat bumi runtuh.

Inilah jurus yang menentukan apakah Ling Ji-ping akan

lolos atau gagal total sama sekali, jikalau Hwi-hou Kongcu

tergetar jatuh oleh pukulan ini, jelas dirinya akan dapat

meloloskan diri bersama Yong-ji.

Agaknya usaha Ling Ji ping berhasil, baru saja serangan

dilancarkan, maka terdengarlah suara gemuruh seperti

geledek menggelegar, kebetulan Hwi-hou Kongcu mengudak

keatas, begitu mendengar suara gemuruh yang memekakkan

telinga, diselingi damparan angin badai yang menindih pula

bagai gunung ambruk, karuan kagetnya setengah mati, lekas

dia menjungkir balik kebelakang, tubuh yang terapung itu

sempat pula melesat lurus dengan gerakan Hwi-hou-yu-khong

(Rase terbang mengarungi udara) melorot turun beberapa

tombak jauhnya.

Ling Ji-ping tidak peduli apakah Hwi-hou Kongcu terluka,

tanpa ayal dia bersiul panjang, sekali menarik napas panjang

dia kerahkan tenaga murni terus melambung keangkasa

mengembangkan Ginkang melangkah kosong diudara, cepat

sekali dia sudah meluncur keluar meninggalkan Hwi-hou ceng.

Bila hwl-hou Kongcu bersama keempat pengawalnya

mengudak keatas rumah, bayangan Ling Ji-ping sudah

mencapai puluhan tombak, sekali berkelebat pula

247

bayangannya sudah lenyap di dalam hutan. Tapi Hwi-hou

Kongcu tidak putus asa. sekencang angin dia mengudak

kedalam hutan setelah dia tiba diujung hutan sebelah luar,

bayangan Ling Ji-ping sudah tidak kelihatan lagi. Namun

mereka masih ubek-ubekan menggeledah hutan ini setengah

harian, akhirnya dengan rasa gegetun Hwi-hou Kongcu

panggil keempat penga walnya lalu pulang

Tak lama setelah Hwi-hou Kongcu berlima pergi, tahu tahu

Ling Ji-ping menongol keluar dari bawah akar pohon sambil

mengempit Yong ji. Ternyata begitu masuk hutan, dia yakin

Hwi hou Kongcu pasti akan mengudak, gerakan tubuh orang

ternyata tidak kalah dibanding Ginkang sendiri, kalau adu

kecepatan, dirinya yaag membawa Yong ji mungkin bisa

kecandak. mungkin dia tidak akan kalah melawan Hwi-hou,

tapi dengan mengempit Yong-ji, gerak-geriknya pasti kurang

tangkas, kalau sampai kecandak, pasti sukar untuk meloloskan

diri. Maka dia perlu mencari tempat untuk sembunyi, secara

kebetulan waktu dia melompat turun kebumi, terasa tanah

yang dipijaknya empuk dan amblas, hampir saja dia ke jeblos

kebawah, saking kaget, lekas dia melayang kesamping,

sehingga tubuhnya tidak masuk lobang.

Waktu dia tegasi ternyata tanah dibawah akar pohon ini

terdapat sebuah lobang, setelah diteliti cukup lega untuk

menyembunyikan diri, apalagi sekelilingnya ditumbuhi rumput

jalar yang lebat, sekilas pandang dari luar takkan tahu kalau

dibawah pohon ada lobang.

Lekas Ji-ping berjongkok menyingkap rumput-rumput jalar

serta memeriksa lobang itu, lebarnya ternyata hampir satu

tombak, cukup untuk dia menyembunyikan diri. tanpa ayal

segera dia menyelinap masuk setelah itu baru dia seret Yong-ji

kedalam pula, tak lupa dia tarik pula rumput-rumput jalar itu

untuk menutupi mulut lobang..

Syukur kelima musuh yang menggeledah hutan dapat dia

kelabui. Sekilas Ling Ji-ping melirik kearah Yong-ji yang

248

dibopongnya, selama hidupnya baru pertama kali ini dia

menghindarkan diri dengan bentrokan musuh, mau tidak mau

timbul rasa penasaran dalam benaknya, pikirnya sambil geleng

kepala: „Kenapa aku harus berkorban sebanyak ini untuk

cewek ini ?” tapi bila pandangannya tertuju ke wajah Yong-ji

yang molek, suci dan mekar tak berdosa ini, rasa penasaran

itu seketika sirna, lalu timbul pula perasaan lain bahwa adalah

jamak sebagai laki-laki sejati dia rela berkorban demi gadis

yang dipujanya.

Sekilas dia melirik ke arah Hwi-hou-ceng, dengan geram dia

mendengus, batinnya : „Suatu ketika aku akan kemari lagi,

coba buktikan apakah Ling Ji-ping terhitung seorang jagoan

dalam Bulim ditanah perdikan Tionggoan ini.” Sekali

berkelebat dia pergi meluncur didalam hutan lebat.

Sekarang dia harus mencari tempat yang tersembunyi

untuk membebaskan tutukan Hiat-to Ang-ting-su-cia ditubuh

Yong-ji. Uncung dia mengembangkan Ginkang ditengah hutan,

kira-kira sepuluh Ji jauhnya baru dia memperlambat larinya,

ditariknya napas panjang.

Sungguh dia tidak habis mengerti, lantaran mencari

pakaian untuk Yong-ji dia harus memeras keringat memutar

otak dan menghabiskan tenaga lagi, syukur majikan sepasang

burung seriti suruhkan orang memberi pakaian, kalau tidak

entah sampai kapan dirinya akan ubek-ubekkan ditengah

hutan. Padahal masih banyak urusan harus dia bereskan,

Giok-liong-soh harus dia rebut kembali dari Ang-hoa Kaucu,

terhadap Hwi-hou Kongcu yang cabul itupun dia harus

membuat perhitungan, bukan karena pertikaian barusan, yang

penting orang memandang rendah kaum persilatan di

Tiouggoan, orangpun sedang menyelidik ketiga pusaka itu,

maka dia harus berusaha mengorek rahasia ketiga pusaka itu

dari pemuda bangor itu.

Satu hal lagi terasa olehnya, bahwa antara Hwi-hou Kongcu

pasti ada latar belakang yang belum diketahui orang.

249

Demikian pula majikan sepasang burung seriti yang misterius.

Mati hidup nenek Hu-yong yang sejauh ini belum di ketahui.

Apa pula yang berada dalam kotak besi yang sekarang berada

ditangan Lam-jan, kenapa ketiga gembong iblis sampai rela

memperebutkan tujuhpuluh tahun lamanya ? Apa betul isinya

adalah Glok-pln-kim-lun ?.

Ruwet pikiran Ling Ji-ping, tak pernah terpikir olehnya

untuk menyelidik teka teki dari puncak iblis, ternyata urusan

berbuntut panjang dan semakin sukar diselami. Sampai di sini

dia menunduk pula memandang wajah Yong-ji, mata nya

terpejam, napasnya teratur, pipinya semu merah, bibirnya bak

delima merekah, lesung pipit menghiasi pipi kirinya, tanpa

tawa tapi lesung pipit ini betul-betul mempesona, tampak

Jenaka, suci anggun dan agung bak bidadari yang turun dari

kayangan: Syukur nona burung seriti memberitahu padanya

sehingga dia datang menolong tepat pada waktunya, kalau

tidak nona secantik dan seayu ini pasti sudah ternoda oleh

Ang-ting-su-cia.

Mendadak dia angkat kepala menyapu sekitar nya, ternyata

dia kehilangan arah, sudah tentu sulit untuk menemukan biara

yang ditujunya semula . Yang penting sekarang dia harus

berusaha membebaskan tutukan Hiat-to Yong-ji.

Dilihatnya tak jauh disamplng kiri sana hutannya cukup

lebat, maka dia melangkah kesana, dicarinya tempat yang

cukup bersih, tak kira dikala dia celingukan mendadak dia

tersentak kaget, ternyata ditengah hutan sana, diatas sebuah

batu hijau berlumut, duduk bersila seorang yang mengenakan

kedok kelabu, duduk tegap bagai patung tidak bergerak,

hanya cadar yang menutup mukanya yang melambai tertiup

angin lalu, padahal siang terang benderang, tapi kehadiran

orang ini tak ubahnya setan gentayangan.

Lekas sekali Ji-ping sudah tenangkan diri, dia tahu bahwa

orang ini mendadak muncul di tengah hutan, pasti bukan

250

secara kebetulan, maka dengan tawa dingin dia menegor:

„Siapa tuan ini ?”‘

Orang itu diam saja seperti tidak mendengar

pertanyaannya.

Ji-ping tidak tahu siapa dan ada apa kerja orang berkedok

ini, karena yang ditegor tidak memberi reaksi, dia anggap

menolong Yong-ji lebih penting, maka dia sudah siap

meninggalkan tempat itu.

Sekonyong-konyong suara yang tajam sedingin es

berkumandang dari mulut orang itu : „Siapa yang kau

gendong itu ?”

Ji-ping melenggong meski orang tidak bergerak tapi dia

tahu orang baju kelabu ini yang berbicara, Dengan angkuh dia

tertawa, sahutnya: „Ternyata saudara bisa bicara, kenapa

tidak menjawab pertanyaanku ?”

„Kutanya sipa yang kau gendong itu “

”Memangnya aku harus memberjtahu ?”

„Hehe,” nada tawanya runcing dan menusuk genderang

kuping, katanya: „Apapun yang ingin kuketahui, selamanya

tiada orang yang berani tidak menjawab, tahu ?”

Pongah benar orang ini, demikian batin Ling Ji-ping, namun

dia tekan rasa gusarnya, katanya: „Tapi belum pernan ada

orang berani memaksa aku memberi keterangan.”‘

„Berani kau bicara sekasar ini kepadaku?”

„Dihadapanku, selamanya belum pernah ada orang

bermulut sebesar kau.”

Tertegun orang berkedok, „Siapa kau ?”

„Tadi sudah kutanya padamu, kenapa tidak kau jawab dulu

pertanyaanku?”

„Apa benar kau ingin tahu 7″

251

„Kecuali nama julukan tuan malu diumumkan dihadapan

umum.”

Mendadak orang berkedok tertawa terkial-kial, tawanya

tinggi seperti palu yang beradu dengan tanggem, daon-daon

pohon sama rontok, Ling Ji-ping yang memiliki Lwekang

tangguhpun merasa darah bergolak dirongga dada, karuan

hati nya amat kaget, pikirnya: „Lwekang orang ini ternyata

lebih tinggi dari aku, kalau aku sudah bentrok, agak sukar aku

melayani dia.”

Kalau wajahnya masih mengulum senyum, padahal diamdiam

Ling Ji-ping sudah kerahkan Liok-hap-sin-kang untuk

melindungi badan, lalu Yong-ji dikempitnya dengan tangan

kiri, sementara tangan kanan bergaya siap menghadapi setiap

kemungkinan.

Orang bersedok baju kelabu mendesis dingin; „Pernahkah

kau dengar dua patah kata pameo gikalaugan Kangouw, kata

pertama berbunyi ’Tidak takut Giam-lo-ong*”

„Tidak takut Giam-lo-ong ?” Ling Ji-ping menegasi.

„Ya apa kata sambungannya ?” ,

Ling Ji-png tertegun, mendadak dia menyurut selangkah

sambil membentak: „Jadi kau ini Tokbu-

siang ?”

„Betul, sambungan katanya berbunyi ”Hanya takut Tok-busiang”

yang dimaksud sudah tentu adalah Tok-bu-siang dari

lm-hong-nia di Biau-san. sekarang tentunya kau tidak anggap

aku bermulut besar bukan “

Mimpi juga Ling Ji-ping tidak menyangka di hutan sepi ini

bakal ketemu gembong iblis beracun ini, Ji-ping tahu Tok-busiang,

Ngo-tok Hujin, Ban-tok-po-cu hian-tok-tong-cu disebut

Bu-lim-si-tok, yang ditakuti bukan ilmu silat mereka yang

lihay, tapi setiap gerak gerik kaki tangannya semua

252

mengandung racun jahat, manusia yang kena racun mereka

pasti binasa.

Bila membicarakan keempat gembong iblis ini, tiada kaum

persilatan yang tidak mengerut kening, karena bukan saja

keempat gembong beracun ini pandai menggunakan bisa, hati

merekapun jahat dan kejam, untungnya mereka jarang

keluyuran di Kangouw dan tak pernah mengikat hubungan

dengan siapapun, kalau tiada urusan genting jarang mereka

mencari setori dengan orang lain, entah kenapa hari ini Tokbu-

siang justru muncul dihutan ini.

Meski hati merasa kaget, tapi wajahnya kelihatan tenang

dan wajar, katanya dengan tertawa „Kiranya tuan, sungguh

aku kurang hormat.”

„Sekarang giliranmu, katakan siapa kau ‘”

„Caybe Ling Ji-ping.”

„Ling Ji-ping ” Laki laki berpakaian kelabu berpikir sejenak,

akhirnya mengangguk. „Em, jadi kau ini Cui-hun-jiu yang baru

saja angkat nama kurang lebih dua tahun mendatang ini ?’

„Cayhe tidak pernah ketarik akan nama julukan itu.”

„Apakah kau kira nama julukanmu masih kurang tenar ?”

Bibir Ling Ji-ping menyeringai sinis, kata nya : „Bukan

begitu maksud Cayhe.”

„Lalu apa maksudmu ?”

„Cui-hun-tiap milikku itu tidak sembarang ku serahkan

kepada orang, kecuali kejahatannya memang sudah keliwat

ukuran.”

„Hehehe,” tampak cadar orang berkedok bergetar, „Lalu

aku, Tok-bu-siang cukup setimpal tidak kau beri Cui-huntiapmu

itu?”

253

„Dalam kalangan Kangouw belum pernah aku dengar kau

pernah melakukan kejahatan keluar batas, kalau tidak Cayhe

tidak akan kikir untuk memberimu selembar.”

Mendadak Tak-bu-siang terbahak bahak, ujarnya.’ Kalau

sekarang aku tidak sungkan padamu?’

„Kalau kau menghina dan memandangku rendah. sudah

tertu lain persoalannya, tapi antara kita tak pernah

bermusuhan, kukira tuan tak perlu iseng,”

„Tapi kutanya kau siapa orang yang kau bopong ? Sejak

tadi kau belum menjawabnya ?” .

„Demikian pula apa keperluan tuan disinl ? Tuanpun belum

menjelaskan.”

„Sudah tentu Cayhe tidak perlu menjawab pertanyaanmu.”

„Kalau aku tolak pertanyaanmu”

”Bagus, kau memang mencocoki seleraku, selama hidup ini

aku paling suka terhadap pemuda yang berhati keras dan

punya tekad baja, berapa banyak manusia yang ketakutan bila

mendengar Tok-bu-siang namaku itu ? Demikian pula orangorang

yang cari setori padaku tak pernah ada yang kembali

dengan selamat. Nyalimu besar, karena ‘itu nasibmu baik.”

Maka legalah perasaan Ling Ji-ping, maklum orang orang

Kangouw yang aneh mempunyai watak yang nyentrik pula,

Tok-bu-siang terkenal sebagai salah satu dari Si-tok (empat

racun), setiap patah katanya cukup berbobot untuk dipercaya,

Tok-bu-siang berkata : „Kelihatannya cewekmu itu tertutuk

Hiat-tonya oleh sejenis ilmu tunggal yang lihay, betul tidak ?”

„Mungkin demikian”

„Kau tidak bisa membebaskan ?”

„Kukira belum tentu, tujuanku masuk kehutan ini adalah

sedang berusaha kearah itu.”

254

„Kenapa harus jauh jauh lari kemari ?

„Karena di sini sepi dan tersembunyi.”

”Kenapa harus tersembunyi ? Kau kuatir dikejar orang atau

kepergok ?”

„Ya, demikianlah.”

„Kau takut padanya?

”Selamanya orang she Ling tidak pernah takut kepada

siapa, saja, namun orang she Ling hanya memiliki sepasang

tangan, lawan berjumlah banyak, sedikit lena celakalah

akibatnya.”

„Siapa mereka ?”

,,Hwi-hou Kongcu dan para pengawalnya.”

„O, dia.”

„Tuan kenal “

„Sudah tentu kenal, di sini aku memang sedang

menunggunya, kami sedang mengikat suatu kontrak dagang.”

„Kontrak dagang” Ling Ji-ping menyurut pula, diam diam

dia bersiaga, katanya : „Dagang apa?”

„Kontrak dagang yang amat mengesankan.”

„Baiklah karena tuan masih ada urusan, biar orang she Ling

mohon diri, selamat bertemu.”

Sebelum Ling Ji-ping putar badan, Tok-bu siang mendadak

berteriak melengking : „Apa kau tidak ingin menyaksikan

suatu perdagangan yang aneh dan mengesankan ?”

”Kenapa daganganmu kau katakan aneh dan mengesankan

„Sudah tentu aneh dan mengesankan sekali. Kalau kau

ingin menyaksikan, nah dibawah dinding tanah itu ada sebuah

255

lobang, kau boleh istirahat di sana, kutanggung kau puas. Nah

dengar, bukankah mereka sudah kemari?”

Betul juga dari kejauhan sudah terdengar langkah orang

berlari-lari, niat Ling Ji-ping mau pergi, namun dia kuatir Tokbu-

siang mengira dirinya takut berhadapan dengan Hwi-hou

Kongcu. Demi gengsi, sekilas dia ragu ragu, akhirnya

mendengus ejek, dengan langkah tegap dia menuju ke lobang

yang ditunjuk. Begitu dia menyingkap daon daon bambu, betul

juga dibawah ada sebuah lobang. luasnya ada setombak lebih,

kebetulan cukup untuk tempat persembunyian.

Ling Ji-ping berpaling, katanya : „Semoga orang she Ling

betul betul menyaksikan suatu kejadian yang aneh dan

mengesankan, tapi umpama persoalan kalian tidak lucu,

akupun tidak akan berkecil hati.” Habis berkata dia terus

menyelinap turun.

Tidak lama setelah Ling Ji-ping menyembunyikan diri,

beruntun beberapa orang meluncur turun di dalam hutan. Dari

celah celah dedaonan Jing Ji-ping mengintip keluar, tampak

dua orang pemuda sudah berdiri dihadapan Tok-bu-siang

mereka adalah dua pengawal Hwi-hou Kongcu.

Terdengar Tok-bu-siang bertanya heran „Lho, mana

Kongcu kalian ?”

Salah seorang pemuda ganteng menjawab „Kongcu

berpesan pada kami untuk menyampaikan kepada Lo-cianpwe,

dia ada urusan penting yang perlu diselesaikan, maka kami

yang diutus kemari mewakilinya “

„Barangnya sudah dibawa kemari?”

„Sudah kami bawa.” Sahut pemuda yang lain. dari dalam

bajunya dia keluarkan sebuah kotak persegi yang dilembari

kain sutra ungu, katanya sambil mengacungkan tangan :

„Kotak inilah yang harus kami serankan kepada Lo-cianpwe.”

256

Tok-bu-siang tetap duduk di atas batu hijau tanpa

bergerak, suaranya berubah tinggi dan menusuk kuping :

„Serahkan !”

Pemuda itu bimbang, tanyanya : „Mana barang Lo-cianpwe

?”

„Sudah tentu ada.” Baru sekarang tampak! badannya

bergerak, tangan kanan yang tampak memutih bening diulur

merogoh kantong didepan dadanya, itulah segulung kertas,

katanya sambil mengacungkan gulungan kertas itu „Nah

inilah.”

Pemuda yang memegang kotak melirik kepada temannya

yang berada di samping, serempak mereka maju beberapa

langkah dan berhenti kira kira dua kaki dari batu hijau itu,

berkata pemuda yang membawa kotak : „Harap Locianpwe

letakkan peta rahasia penyimpanan pusaka itu diatas batu,

kami juga akan letakkan GiokTiong-soh ini diatas batu, kita

boleh mengambil barang yang diperlukan masing masing.'”

Ling Ji-ping melongo, batinnya : „Lho kok barter kedua

barang itu ? Bukankah rahasia letak penyimpanan pusaka itu

tertera diatas gelang naga itu ? Kenapa muncul lagi peta

gambar segala ? Kalau betul ada gambar peta, lalu apa

gunanya gelang naga ? Atau mungkin gelang naga itu sendiri

menyimpan rahasia lain? Atau sebaliknya gambar peta itu

menunjukkan pusaka lainnya pula?”

Sekarang dia paham akan satu hal, bahwa Hwi-hou Kongcu

mau mendekati Pekhoa Kongcu, demikian pula Pek-hoa

Kongcu mau meladeni nafsu birahi Hwi-hou Kongcu, ternyata

kedua pihak sengaja hendak adu pengaruh dan saling

memperalat, jadi sudah jelas tujuan Hwi-hou Kongcu ada!ah

ingin mengangkangi gelang naga itu.

Tiba tiba perasaannya menjadi tegang, seperti diketahui

gelang naga semula berada ditangan nya, akhirnya jatuh

ketangan Ang-hoa Kaucu secara licik, kalau sekarang betul

257

betul terebut pula oleh Hwi-hou Kongcu dan jatuh pula

ketangan manusia berbisa ini, maka dia harus merebutnya

kembali dari tangan manusia beracun ini.

—ooo0dw0ooo—

Jilid 8

KARENA MEMPUNYAI NIAT, LEKAS dia kerahkan Liok-hapsin-

kang dan dikerahkan ketangan kanan, saat mana dia tidak

lagi hiraukan perbedaan laki perempuan, karena dia harus

merebut waktu, selekasnya membebaskan tutukan Hiat-to

Yong-ji, bila nanti dirinya sampai bergebrak dengan Tok-busiang,

dia tidak perlu memecah perhatian lagi.

Secara tergesa gesa dia mencopoti kancing baju Yong-ji

serta menyingkap baju dalamnya, maka payudaranya yang

padat kenyal dengan kulit dagingnya yang putih halusseperti

dipamerkan didepan matanya.

Bau perawan yang memabukkan hampir saja membikin

hatinya tergoncang, lekas dia menahan napas, terutama putik

payu daranya yang berwarna merah jambon seperti jambul

ayam jantan begitu menggoncang perasaan kelakiannya, ingin

rasa nya meremas dan memagutnya, hampir Ling Ji-ping tak

kuasa mengendalikan nafsunya.

Syukur kesadarannya masih memperkokoh imannya, lekas

dia pejam mata sambil menahan napas, telapak tangan

meraba dada serta menekan Hian-ki-hiat dibawah payudara,

pelan-pelan dia salurkan tenaga murninya ketubuh orang.

Disamping berusaha membuka tutukan Hiat-to Yong-ji,

perhatian Ji-ping juga tidak lepas dari kejadian di luar.

Didengarnva Tok-bu-siang terkekeh runcing, katanya :

„Boleh, cara demikian memang paling adil, apa kalian tidak

kuatir.”

258

Ling Ji-pihg membatin : „Cara dagang seperti ini kan biasa

saja, kenapa dikatakan aneh dan mengesankan. Tenaga murni

terus disalurkan, kepalanya sempat melongok dan mengintip

keluar, untung dia hanya membantu Yong-ji menjebol Hiat-to

yang tertutuk, jadi tidak perlu mengkon-sentrasikan seluruh

pikiran dan tenaganya.

Tampak olehnya pemuda yang membawa ko lak diam diam

telah siap siaga dengan tangan kanan, tangan kiri yang

pegang kotak pelan pelan diulur dan meletakkan kotak itu

diatas baru. Demikian pula Tok-bu-siang meletakkan gulungan

kertas ditangannya diatas batu.

Pemuda yang satunya sejak tadi juga sudah siap, begitu

To-bu-siang lepas tangan, secepat kilat dia samber gulungan

kertas itu terus melompat mundur. Demikian pula pemuda

yang memegang kotak segera lepas tangan terus mundur ke

belakang, gerak gerik kedua orang ini ternyata amat tangkas

dan cekatan, sekali berkelebat tiga gerakan, sigap sekali

mereka sudah tiga tombak jauhnya dari Tok-bu-siang.

Ternyata Tok-bu-siang tetap tidak bergerak, kotak sutra

ungu itupun tidak dihiraukan. Buru buru kedua pemuda itu

membuka gulungan kertas, sekilas pandang terunjuk rasa

senang, berbareng mereka bersoja kepada Tok-bu-siang,

katanya : ”Terima kasih Lo-cianpwe, kami akan pulang

melaporkan tugas.”

Tak nyana Tok-bu-siang terkial-kial, ejek nya : “Mau pulang

? Nah bawalah Giok-liong-soh ini kembali.”

Kedua pemuda itu melenggong, tanya seorang diantaranya

: „Bukankah Lo-cianpwe menuntut ganti rugi .”

„Ganti rugi ?’ melengking suara Tok-bu-siang „Siapa sudi

menerima gelang naga palsu”

Bergetar tubuh kedua pemuda, kembali mereka mundur

lebih jauh, katanya tergagap : „Jadi gambar peta Lo-cianpwe

ini . . .”

259

„Sudah tentu palsu. Memangnya racun tua seperti aku yang

sudah kesohor ini gampang ditipu oleh Kongcu kalian ?

Hehehe . . hehehe . .”

Pemuda yang satunya segera merebut gulungan kertas itu

serta membenernya pula, agaknya dia ingin memeriksa

apakah gambar ini tulen atau palsu.

„Sudah kukatakan gambar itu palsu, memang nya gambar

itu bisa berobah tulen?”

Diam diam Ling Ji-ping tertawa geli sendiri, pikirnya:

„Barang palsu diganti barang tiruan, masakah kejadian begini

dianggap aneh ?’

Terdengar Tok-bu siang tertawa pula, kata nya: „Betul

betul rase yang licin, berani dia main main dihadapan aku

racun tua ini, celaka adalah kalian yang harus mampus

mewakili dia.”

Berubah hebat dan tegang muka kedua pemuda,

mendadak mereka melejit tinggi beberapa tombak, ditengah

udara berkelebat sekali, sungguh bagai panah terbang

cepatnya, sekejap saja sudah melesat pergi.

Ling Ji-ping sangka Tok-bu-siang akan merintangi kedua

orang ini pergi, tak nyana dia tetap duduk tak bergerak

ditempatnya, seolah olah tidak ambil perhatian pada kedua

pemuda yang berusaha melarikan diri itu. Pikirnya: „Inikah

yang dinamakan kontrak dagang aneh ?”

Pada saat itulah Yong-ji yang celentang ter nyata

menggeliat, mulutnya bersuara lirih. Girang hati Ling Ji-ping,

lekas dia menunduk.

Kebetulan dilihatnya Yong-Ji membuka mata lalu dikucak

kucak sebentar, wajahnya dilembari rasa bingung dan

memandangnya terlongoug.

Ling Ji-ping unjuk senyum lebar, lekas dia tarik tangannya,

katanya lirih : „Nona, akhirnya kau siuman juga.”

260

Tiba tiba Yong ji meronta duduk, waktu melihat baju

dadanya terbuka, kedua payudara nya mengintip keluar,

secara reflek dia menarik baju untuk menutupinya, seketika

mukanya merah malu, katanya : „Kau . . . kau …. apa yang

kau lakukan ?”

Kalem suara Ling Ji-ping: „Hiat-to nona dituiuk orang, masa

kau tidak tahu ?”

Sambil membetulkan kancing bajunya, otak Yong-ji

bekerja, tiba tiba dia menunduk dengan rasa malu, tanyanya

„kaukah yang menolongku kemari ?”

„Ya, baru saja Cayhe salurkan tenaga murni untuk

menjebol tutukan Hiat-to itu.”

Tiba tiba Yong-ji berteriak ksget: „Mana nenekku ?”

„Entah, aku tidak tahu, waktu aku menolong nona, kau

hanya sendirian,”

Tiba tiba Yong-ji melompat berdiri hendak menerjang

keluar. Lekas Ling Ji-ping menarik nya, katanya lirih : „Nona

tenang saja di sini, di luar ada siracun tua.”

„Racun tua ?” Yong-ji kipaskan pegangan Ji ping, ”siapa dia

„Hehe,” tawa enteng berkumandang di belakang mereka,

„betul memang akulah racun tua.” Kapan Tok-bu-siang tampil

di depan lobang, ternyata Ling Ji-ping tidak tahu.

Tiba2 Yong-ji menoleh, begitu melibat seorang berkedok

dengan baju kelabu berdiri tegak dldepan lobang, seketika dia

menyurut mundur dengan kaget, pandangannyapun

terbelalak.

Sekilas Tok-bu-siang pandang mereka silih berganti lalu

tertawa melengking : “Kontrak dagang ini tidak aneh, tak

kurang mengesankan, betul tidak ?”

„Aku cuma tidak begitu ketarik.”

261

„Apa tuan tidak kepingin menyaksikan adegan yang lebih

menarik?”

”Lihat apa ?”

„Barang yang boleh kau saksikan.”

„Gelang naga palsu maksudmu ?”

Tok-bu-siang tertawa ngekeh duakali, kata nya: „Semula

aku ingin membunuh seekor rase, tak nyana yang mati malah

dua ekor anjing.”

„Kedua orang itu mati ?”

„Ya, tidak alan salah.”

„Lho, tuan kan tidak turun tangtn.”

„Anggapanmu aku membual ? Marilah kau Ikut aku! Coba

kau saksikan sendiri, tuh periksa lah ada apa dibawah pohon

sana.” Habis bicara dia putar tubuh terus jalan lebih dulu.

Setelah Tok-bu-siang pergi Yong-ji bertanya dengan suara

perlahan : „Siapa dia .'”

”Tok-bu-iiang.”

„Tok-bu-siang? Salah satu dari Si-tok ?” Yong-ji tertegun,

„kau kenal dia?”

Ling Ji-ping geleng geleng, katanya „Baru tadi aku

bertemu didalam hutan.”

„Dia menyuruh kau menyaksikan apa ?”

„Mungkin buah karyanya. Apakah keadaanmu sudah pulih

seluruhnya .'”

Yong-ji lantas kerahkan tenaga muridnya, terasa badan

segar dan tiada suatu hambatan apapun katanya lirih :

„Apakah kita perlu mengeroyoknya nanti “

„Mengeroyoknya sih tidak perlu nanti bila betul betul harus

berkelahi, sekujur tubuhnya serba berbisa, tidak boleh

262

disentuh, maka jangan kau turut melabraknya, kukira aku

cukup kuat melawannya,’

„Memangnya aku begitu tak berguna,” ujar Yong-ji

merengut.

Ling Ji-ping tertawa angkuh, katanya : „Bila aku bergebrak

dengan orang, selamanya tidak pernah dibantu orang, bukan

aku memandang rendah kepandaian nona.”

„Marilah keluar,” ucap Yong-ji tertawa, „coba kita saksikan

sampai dimana kelihayan racunnya itn.” Satu persatu mereka

melompat ke luar, dilihatnya Tok-bu-siang sudah berdiri

dibawah pohon sana, kepalanya tertunduk mengawasi tanah.

Kira kira dua tombak jauhnya dari pohon besar itu, Yong-ji

dan Ling Ji-ping sudah dirangsang bau amis, waktu mereka

melihat ketanah, dibawah pohon terdapat dua genangan

cairan darah, dua batang pedang tampak menggeletak

ditengah genangan darah itu, rambut tampak masih utuh, ada

juga sisa sisa pakaian. Agaknya kedua pemuda itu telah

terkena rasun jahat Tok-ou-siang, sedemikian jahatnya racun

itu sehingga tubuh mereka yang sudah mati dilumat hancur

menjadi cairan darah, sampai tulang belulangnyapun ikut

ludes, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat racun yang

dipakai Tok-bu-siang membunuh kedua korbannya ini.

Bukan saja Yong-il kaget, Ling Ji-ping juga tersirap,

batinnya : „Agaknya gulungan kertas itu sudah dilumuri racun,

begitu kedua pemuda itu menyentuh gulungan kertas, mereka

sudah keracunan diluar sadar. Bergaul dengan manusia

berbisa ternyata memang mengerikan.”

Tanpa menoleh Tok-bu-siang tertawa melengking dengan

nada puas, katanya: „Bagaimana lucu tidak kontrak dagang ini

? Sayang rase licin Itu tidak berani datang.”

„Racunmu memang berbisa, tapi kejadian ku rasa tidak

lucu,” ucap Ling Ji-ping.

263

Tok-bu-siang membalik secara mendadak, sorot matanya

mencorong hijau menembus cadar, tanyanya; „Kenapa tidak

lucu’:”

„Karena kau terjungkal ditangan rase terbang itu.”

„Jadi aku yang kalah ?”

„Memangnya kau yang menang.”

„O, maksudmu aku telah mengejutkan dia .”

„Itulah salah satu unsur kekalahanmu,” ucap Ling Ji-ping,

nadanya tetap kaku. „Dan yang lebih parah lagi, karena kau

sudah berada didalam cengkraman tipu dayanya, kalau

dugaanku tidak meleset, hutan ini sejak tadi sudah dikepung

mereka.”

Melengking tawa Tok-bu-siang, katanya : „Kau kira mereka

punya nyali sebesar itu ?”

„Siapa bilang aku tidak berani” Sebuah suara

berkumandang dibalik pohon, serempak bayangan orangpun

bermunculan dari empat penjuru, tampak Hwi-hou Kongcu

beranjak keluar sambil kipas kipas angin, wajahnya mengulum

senyum sadis dan licik.

Yong-ji kaget, tanyanya : „Siapa dia ?’

„Seekor rase yang licin dan licik. Bukankah kau ingin pamer

kepandaian silatmu ? Nah sekarang tiba saatnya.”

Hwi-hou Kaucu melirik kearah Ling Ji-ping, akhirnya

berhenti pada wajah Yong-ji, kata nya bergelak tawa „Nah,

apa kataku tadi? Lari Sana sembunyi sini, tetap kau takkan

lolos dari cengkramanku.”

„Kebetulan, aku memang ingin mencarimu, kedatanganmu

menghemat tenaga.”

„Betul, semua menghemat waktu dan tenaga? bolehlah

semua urusan diselesaikan disini.”

264

Ling Ji-ping melirik kekanan kiri, depan dan belakang,

bayangan orang tampak bergerak mendekat, jumlahnya

puluhan orang, diantaranya tidak sedikit bayangan

perempuan, dia yakin mereka ada’ah orang orang Ang-hoakau.

Entah Ang-hoa Kaucu dan Pek-hoa Kongcu ikut datang

atau tidak.

Tok-bu-siang berdiri kaku ditempatnya, seolah olah dia

tidak ambil perhatian akan kedatangan musuh sebanyak ini.

Akhirnya Hwi-hou Kongcu menghadapi Tok bu-siang,

tawanya tetap lebar, katanya: „Aku tahu tuan pasti akan main

main dengan racun, dugaanku memang tidak meleset,

kejadian sesuai dengan rencanaku, kontrak dagang Ini masih

boleh diteruskan secara gamblang saja, serahkan gambar peta

yang asli, tuan muda akan memberi kelonggaran padamu.”

Tok-bu-siang mendengus, katanya: „Lenghou Hou,

terhadap siapa kau bicara ”

„Sudah tentu kau tuan,” sahut Hwi-hou Kongcu dengan

nada mengejek.

Tok-bu-siang terkekeh dingin. „Macam tampangmu ini

Lenghou Hou ? Atau terhadap orang orangmu yang sembunyi

disekeliling ini “

„Main racun ?”Hwi-hou Kongcu terbahak bahak sambil

mendongak, „tuanmu memang bukan tandinganmu, tapi

bicara soal Kungfu sejati ? Yakin aku tidak akan kalah

melawanmu, kau percaya?”

„Kedengarannya segar bacotmu ini, selama hidupku baru

pertama ini kudengar orang bicara macam itu. Lenghou Hou,

genangan darah disini merupakan contoh untuk kau.”

Ling Ji-ping menyeringai, timbrungnya : „Leng hou Hou,

pertikaian kita terjadi lebih duiu, marillah kita selesaikan lebih

dulu.”

265

Tak nyana Hwi-hou Kongcu membeber kipas dengan jari

jemarinya, katanya : „Kuharap tuan sabar dulu, setelah ada

disini, betapapun urusan harus dibereskan, Cap-ji-te-sat-jiu

kukira juga ilmu silat biasa saja.” Sorot matanya beralih

kearah Yong-ji, katanya pula Cengar cengir „Dewiku cantik,

mundurlah agak jauh, jangan nanti kau kaget dibuatnya.”

Yong-ji naik pitam, sambil membanting kaki segera dia

tampil kemuka Ling Ji-ping, hardiknya menuding .” „Kau ini

barang apa, berani kurarg ajar terhadap nonamu ?”

„Aduh dewiku sayang, kalau marah kelihatan begini ayu

menggiurkan. Hanaha, kecantikanmu jarang kulihat selama

hidupku ini, kau tidak usah kuatir, tuan muda ini takkan

membikin kau kaget ya mestikaku.”

Tak kira belum dia bicara habis, mendadak tampak

bayangan berkelebat, lalu terdengar suara tamparan keras,

tahu tahu ploinya telah kena gampar keras sekali, rasa panas

dan pedas, sebelah pipinyapun merah membengkak dihiasi

lima jalur jari tangan. Orang mengira setelah digampar

mukanya oleh Yong-ji, pantasnya rase licin Ini akan murka

dan mencak mencak, tak tahunya dia masih cengar cengir,

katanya : „Dewi pujaanku, pepatah ada bilang, memukul

adalah suka, memaki adalah cinta, tamparan ini ? Sungguh

menimbulkan kenikmatan luar biasa dalam sanubariku,

anggaplah antara kita sudah terikat jodoh, nah coba lihat,

tanda matapun sudah kau serahkan kepadaku” sembari bicaia

sebelah tangannya merogoh kelengan bajunya, dikeluarkan

selarik kain sutra hijau pupus, itulah ikat pinggang yang

sengaja dia acungkan ke atas, wajahnya berseri senang dan

puas.

Yong-ji beteriak kaget dan mundur, waktu dia menunduk,

kiranya ikat pinggang sutranya entah bagaimana di waktu,

dirinya menampar orang tadi telah dilucuti tanpa diketahui,

saking malu muka nya merah padam.

266

Ling Ji-ping ikut tertegun, melibat Yong-ji turun tangan, dia

ikut kuatir, tapi tak sempat mencegah, hanya sekejap saja

kejadian berlangsung, setelah Yong-ji mencelat balik

kesempatannya habis menampar muka orang, baru legalah

hatinya, malah dia membitin : „Hwi—hoa-sin-hoat ajaran Huyong-

hong memang tidak bernama kosong, sayang

gamparannya terlalu ringan.”

Tak tahunya dengan tawa meringis Hwi-hou Kongcu

mengeluarkan ikat pinggang Yong-ji, ini membuktikan bahwa

bukan Hwi-hou Kongcu tidak manpu menghindari dari

gamparan Yong-ji, hakekatnya orang memang sengaja

membiarkan muka nya digampar, dalam kejadian sekejap

itulah, sekaligus dia melucuti ikat pinggang Yong-ji. Padahal

dirinya menyaksikan dengan gamblang, cara bagaimana orang

turun tangan ternyata dirinya tidak melihatnya, kecepatan

gerak tangan Hwi-hou Kongcu ternyata memang luar biasa,

tak heran dia pandang rendah kaum persilatan Tionggoan.

Malu Yong-ji bukan main, sambil membanting kaki dia

memaki : „Tidak tahu malu.”

„Dewiku, jangan kau salahkan aku, kan kau sendiri yang

mergantar padaku 1″

”Tutup bacotmu.” hardik Ling Ji-ping murka. Kakinya

bergerak sudah siap melabrak.

Ternyata gerakan Tok bu-siang lebih cepat, bagai bayangan

setan tahu-tahu dia sudah merebut kedepan Hwi-hou Kongcu,

katanya tertawa : „Anak muda, kau terlalu sombong,

dihadapan kami berani kau menggoda gadis belia, hehe, kalau

kau tidak diberi hajaran, memangnya matamu takkan melihat

ada orang lain di sini ?”

Menghadapi Tok-bu-siang, salah satu dari empat racun

termasyur ternyata Hwi-hou Kongcu tidak gentar, katanya

dengan tertawa bingar „Memangnya dalam mataku hakikatnya

tiada manusia macam kalian Racun tua, boleh kau pamerkan

267

keahlianmu, buktikan saja apakah tuan muda ini takut

terhadap permainanmu?” sembari bicara kipas lempit di putarputar,

kaki melangkah maju malah, sikapnya yang tidak acuh

tidak peduli sungguh amat menjengkelkan.

„Anak muda, diatas gunung didalam air boleh kau menjual

lagakmu, tapi jangan lupa disini tanah perdikan Tionggoan.”

„Memangnya kenapa kalau di Tionggoan?” Hwi-hou kongcu

tertawa gelak-gelak, „kalau tidak, berisi, memargnya siapa

berani meluruk ke Tionggoan ? ‘

Agaknya Tok-bu-siang naik pitam, ditengah dengusan

geram mulutnya, tampak bajunya bergetar, kelima jari

tangannya yang memutih bening secepat kilat mencengkram.

Ling Ji-ping tahu cara turun tangan Tok-bu-siang amat keji,

cukup gerakan jari tangannya sudah dapat menimbulkan

samberan angin kencang yang membawa racun, lekas dia

berkata lirih ; „Nona, mari mundur sejauh mungkin, orang

yang dibawanya tidak sedikit, nanti masih ada kesempatan

melabrak mereka.”

Yong-ji bsrsungut-sungut, setelah melihat Tok-bu-siang

turun tangan, dia jadi kewalahan, terpaksa dia ikuti bujukan

Ling Ji-ping, menyurut jauh beberapa tombak.

Menghadapi cengkraman jari Tok-bu-siang Hwi-hou Kongcu

masih tertawa lebar, „sret” kipasnya bergerak rnembundar

secara enteng seenaknya, tahu tahu kipasnya itu terbuka dan

tepat menahan kelima jari cengkraman Tok-bu-siang

Agaknya Tok-bu-siang tahu akan kelihayan Ilmu kipas

orang, kakinya bergeser memindah posisi, gerakannya

memang mirip setan, tahu tahu dia sudah berkisar kesamping

kiri Hwi-hou Kongcus tidak kalah tangkas, lengan diturunkan

sementara kipasnya menyendat, maka cengkraman Tok-busiang

kembali mengenai tempat kosong, didengarnya

lawannya tertawa gelak gelak, katanya : „Salah satu dari Bulim-

si-tok kiranya juga begini saja.” belum habis bicara,

268

telapak tangan kiri tiba tiba terbalik, dia balas menyerang

kepundak kanan Tok-bu-siang malah.

Tak kira Tok-bu-siang tidak berkelit, kaki kiri hanya mundur

setengah langkah pundak kiri malah didorong maju,

Yong-ji menjerit kagat. Ling Ji-ping hanya tersenyum saja.

Ditengah jeritan Yong-ji itulah, sebuah suara nyaring

berkumandang dari belakang pohon: „Tubuhnya tidak boleh

disentuh, sekali sentuh kau akan keracunan.”

Padahal telapak tangan Hwi-hou Kongcu tinggal lima senti

menyentuh pundak lawan, mendergar peringatan ini, secara

mentah mentah dia tarik serangannya, berbareng dia imbangi

dengan tarikan kipas ditangan kanan pula, secepat kilat Jiankin-

hiat dipundak Tok-bu-siang ditutuknya. Ilmu silat rase

terbang ternyata memang luar biasa, kecepatannya merubah

tipu dan gerakan memang cukup lihay dan patut dibanggakan.

Tok-bu-siang menggerung gusar, tampak bayangannya tiba

tiba mencelat mundur baru dia luput dari tutukan kipas lawan.

Terasa Ling Ji-pirg yarg menyaksikan pertempuran diluar

gelanggang bahwa ilmu silat Rase terbang memang kesohor

diluar perbatasan, tapi gerak gerik Tok-bu-siang juga tidak

kalah tangkasnya, kalau Hwi-hou Kongcu tidak kuatir akan

racun ditubuhnya, didalam permainan adu pukulan dan main

tipu jelas dia satu tingkat lebih unggul.

Sekejap saja mereka sudah berhantam puluhan jurus,

sejauh itu keadaan tetap sama kuat alias setanding. Mungkin

karena tadi sudah kebacut omong besar, di keliling orang

orang Ang-hoa-kau lagi, dia merasa malu, mendadak

mulutnya bersiul, gerakan kipasnyapun berubah, setangkas

naga selincah burung tubuhnya berlompatan, gerakannya

memang mirip rase yang bermain petak, entah ketuk, tutuk

atau mengibas kipas itu ternyata mengandung tipu tipu lihay

yang tidak boleh dianggap enteng, karena dirabu segencar ini,

Tok-bu-siang memang keripuhan dan terdesak dibawah angin.

269

Muak oleh tingkah laku Hwi-hou Kougcu yang tengik tadi,

Yong-ji sudah getol dan gatal tangan, diharap Hwi-hou Kongcu

lekas dikalahkan, kini melihat Tok-bu-siang malah yang

terdesak, segera dia memonyongkan mulut, katanya” Biar aku

bantu bereskan dia, memangnya ilmu rase terbangnya itu

sampai dimana lihaynya”

Kuatir nona polos ini serampangan terjun ke arena, cepat

Ling Ji-ping menghibur dengan tertawa : „Nona tunggu saja,

racun tua itu cukup licik dan berbahaya, aku yakin dia masih

punya ilmu simpanan lihay, bila dia betul betul tak mampu

melawan lagi, masih sempat kau melabrak pemuda bangor itu.

Bukankah kau sudah dengar, dibelakang pohon masih ada

lawan tangguh? Kita perlu memelihara tenaga.”

„Siapakah mereka ” tanya Yong-ji. „Mungkin orang-orang

Ang-hoa-kau, atau mungkin Pek-hoa-kongcu.”

„Siapa dia Pek-hoa Kongcu?”

”Putri sang Kaucu, perempuan jalang yang tidak tahu

malu.”

„Perempuan jalang, kenapa tidak tahu malu ?” sangguh

Jenaka pertanyaan Yong-ji, tapi Ling ji-ping tertegun tak

mampu menjawab, bagaimana dia harus menjelaskan ?

Maklum dihadapan nona polos yang belum dikenal peradatan

ramai, sulit untuk menjelaskan adegan yang pernah dilihatnya

antara Hwi-hou Kongcu dengan Pk-hoa Koogoii diatas ranjang

itu.

Akhirnya dia tertawa, katanya : „ Kelak nona akan tahu

sendiri, sekarang bukan saatnya aku menjelaskan.”

Berkedip bola mata Yong-ji, saat dia berpikir agaknya

otaknya cukup cerdik untuk menangkap arti kecanggungan

Ling Ji-ping, mukanya yang jelita seketika bersemu merah,

entah kenapa dia ternyata bertanya pula : „Kau kenal dia ?”

„Tidak.” sahut Ling Ji-ping menggeleng,

270

„Dari mana Kau tahu ?”

Tanpa pikir Ling Ji-ping menjelaskan: „ Waktu aku

menolong nona, kau tidak berpakaian, karena mencari baju

untuk kau semalam aku pernah mampir ketempat

kedamannya, tak nyana kebetulan kusaksikan dia dan Hwi-hou

Kongcu sedang…… . . .”

Yong-ji berteriak kaget, malu dan gugup menyembar rona

mukanya, katanya : „Katamu tidak..”

Ling Ji-ping baru sadar telah kelepasan omong, karuan dia

sendiri ikut malu hatinya menyesal kenapa bicara tidak kenal

batas. Untung pertempuran Hwi-hou Kongcu kontra Tok-busiang

semakin sengit, suara gerungan dan bentakan saling

bersahutan dari mulut kedua orang yang berhantam.

„Persoalan sebesarnya kelak kujelaskan, coba lihat, mereka

sudah bertempur mati matian.”

Baru saja lenyap suara Ling Ji-ping, tiba tiba terasa angin

kencang yang berbau harum menerpa ketengah gelanggang d

selingi suara gemerincing, dari belakang pohon meluncur

keluar seutas bayangan putih panjang menyelinap ditengah

kedua orang yang lagi berhantam, tanpa kuasa Hwi-hou

Kongcu dan Tok-bu-siang seperti dipagut mundur kedua arah

yang berlainan.

Ditengah gelanggang tahu tahu telah berdiri seorang

perempuan cantik yang berpakaian ala putri kraton dengan

kain sari panjang membelit dibadannya. Terlalu pesolek

dandanan perempuan cantik dengan make up yang

berkelebihan lagi, kerlingan matanya tampak cabul dan genit,

pertama dia mengerling kearah Hwi-hou Kongcu, lalu pelan

pelan membalik kearah Tok-bu-siang, katanya dengan suara

yang merdu: „Sudah jangan berkelahi lagi, dengarkan

perkataanku.’

Melihat yang muncul adalah perempuan yang semalam

dilihatnya diatas loteng. Ling Ji-ping. berpikir : „Bukan saja

271

perempuan ini jalang dan tidak tahu malu, kelihatannya

hatinyapun sejahat ular berbisa, kalau tidak dibrantas, kelak

pasti membuat banyak kejahatan di Bulim.”

Yong-ji berludah sambil melengos, agaknya melihat lirikan

genit yang menjijikkan itu Yong ji merasa sebal.

Tok-bu-siang mendengus sekali, Jengeknya ; „Apa yang

hendak kau katakan’;”

Pek-hoa Kongcu mencibir bibir, katanya . ”Bagaimana kalau

kita ulangi kontrak dagang.”

Tok-bu-siang tertawa, katanya „Rase yang licin, perempuan

cabul yang licik, memangnya, perlu apa meneken kontrak

dagang segala?”

”Alaah, tegakmu, usiamu juga tidak muda lagi, ternyata

perangaimu masih begini kasar, ketahuilah, kami tidak jeri

padamu, kalau harus berhantam betul betul, kau kira aku

tidak bisa mengalahhan kau? Hubungan dagang yang

kumaksud pasti adii merata, tidak main tipu bukan barang

tiruan.”

„Gelang naga ditukar gambar peta ?”

”Betul.”

Sementara iiu Hwi-hou Kongcu sempat menoleh kearah

Ling Ji-ping dan Yong-ji, katanya dengan tawa yang dibuat

lucu ”Sekarang harus ditambah kedua orang itu.”

„Persoalan kalian dengan mereka aku tidak perduli,” ujar

Tok-bu-siang. „Kalau benar ada gelang naga tulen, soal

dagang ini masih boleh kupertimbangkan.”

„Nah kan jadi ? Tentang kedua orang Ini, asal kau tidak

turut campur, urusan serahkan kepadaku. Baiklah aku yang

bertanggung jawab, marilah ditukar.”

Ling Ji-ping terloroh loroh, katanya; ,.Orang she Ling

memangnya mandah diatur orang lain? Salah besar bila

272

perempuan tidak tahu maiu macammu ini berprasangka

demikian, tiba urusan kalian beres, urusanmu dengan aku

belum lagi terakhir, jangan kira aku akan melepaskan kalian

Pergi.”

Senyum lebar mulut Pek-hoa Kongcu, katanya „Aku tahu,

siapa tidak tahu bahwa kau ini Cui-hun-jiu yang ternama itu.”

„Syukurlah bila kau sudah tahu.”

Yong-ji ikut menimbrung: „Bila mau bicara pikirlah dulu

dengan otakmu “

„Alah, sudah tentu sudah kupikir adik manis. Tapi perlu

kunyatakan padamu, maksudku baik”

„Cis, siapa sudi menerima kebaikanmu, kau kira aku takut

padamu “.

”Hm.”

Mendadak berubah air muka Hwi-hou Kongcu, dia punya

perhitungan sendiri, bila Pek-hoa Kongcu betul betul meneken

kontrak dagang dengan Tok-bu-siang, maka harapannya akan

gagal, lekas dia bergelak tawa, katanya: „Buat apa Koagcu

adu bacot dengan mereka, racun bangkotan ini lebih jahat dari

binatang, kontrak dagang dengan dia sama saja bersahabat

dengan harimau, tentang cewek ayu ini ? Hahaha, memang

menggiurkan, bila kuambil dia sebagai dayangku, memang

cocok, namun bocah she Ling itu, dia boleh diampuni.”

Tiba tiba Pek-hoa Kongcu menarik muka, katanya : „Jangan

nyeleweng pikiranmu, kau kira aku tidak tahu kemana

juntrunganmu ?”

Hwi-hou Kongcu melengak, tanyanya : „Kongcu, aku

kenapa ?”

„Hatimu tahu sendiri, bicaralah jujur dihadapanku.”

Hwi-hou Kongcu tiba tiba terbahak bahak katanya: „O,

kiranya kau cemburu, bagus, lucu sekali.”

273

Yong-ji malu dan gugup, sambit menggeram dia sudah siap

menubruk maju.

Lekas Ling Ji-ping menarik lengannya, kata nya menghibur:

„Nona …” sebetulnya Ji-ping hendak bilang, „limu silat mereka

diatas dirimu, kau akan rugi berhadapan dengan mereka.”

Tapi dia sadar belum lama dia kenal Yong-ji kuatir si nona

beradat keras dan suka menangnya sendiri, kata katanya

malah menyinggung perasaan sehingga dia nekad menerjang

bahaya. Apalagi situasi sekarang tidak menguntungkan,

apakah Tok bu-siang berada dipihaknya masih sukar diraba,

bila Yong-ji terjatuh ketangan musuh pula, seorang diri jelas

dia takkan dapat melawan, ngeri bila membayangkan

akibatnya. Untung dia sempat mengerem kata katanya, tapi

dia tidak hirau kan perbedaan laki perempuan pula, jari jemari

Yong-ji yang halus empuk digenggamnya kencang.

Semula Yong-ji masih meronta tapi karena tidak terlepas,

akhirnya dia diam saja, matanya melirik kearah Ling Ji-ping,

seketika mukanya merah jengah. Kebetulan Ling Ji-ping juga

sedang memandangnya, seketika darah seperti mendidih,

entah mengapa jantungpun berdebar debar. Seketika terasa

pula olehnya jari Ling Ji-ping yang menggenggam tangannya

mengeluarkan hawa panas yang aneh, secepat air bah

tersalur kesekujur tubuhnya, reaksi yang timbul dalam

badannya ternyata juga aneh dan menyegarkan.

Suara Tok-bu-siang yang menusuk terdengar berkata :

„Gelang naga sudah kau bawa ?”

„Lalu gambar peta itu ?”

„Sudah tentu kugembol selalu.”

„Apa benar ?”

„Percaya tidak terserah Selama hidupku belum pernah

menipu orang, kalau tidak ditipu, yakinlah bahwa aku tidak

akan membunuh orang tanpa sebab.”

274

„Betulkah kau ingin tukar barang ”

„Tanyalah pada dirimu sendiri.”

Tiba tiba Hwi-hou Kongcu menyeletuk: „Jangan kau

percaya obrolan manusia beracun ini Bahwasanya kita belum

pernah melihat gambar peta itu, siapa tahu kalau kau

menukar dengan yang palsu, umpama yang tulen, apakah ia

tidak melumuri racun terlebih dulu ?’

„Em, ya,” Pek-hoa Kongcu mengangguk. “Ucapanmu juga

benar. Apa salahnya kalau kami berhati-hati.” Lalu ia berkata

pula : „Nah begini saja, menurut pendapatku, kau harus

buktikan dulu bahwa gambarmu itu asli dan yakin tidak kau

lumuri racun, barulah nanti kita tukar barang.”

Tok-bu-siang terkekeh, katanya : „Rase betina umumnya

memang licik dan licin, untuk membuktikan bahwa gambarku

tidak beracun s ih gampang saja, tapi tentang asli atau palsu ?

Hehe sukar aku membuktikan, bagaimana pendapat nona ?”

Pek-hoa Kongcu berpikir sambil menengadah, katanya

kemudian : „O. ini pun benar.” Lalu ia berbaling kepada Hwihou

Kongcu. „Bagaimana pendapat mu ?’

Hwi-hou Kongcu tertawa bangga, ”Tap” kipas lempitnya

menepuk telapak tangan yang lain, katanya : „Aku memang

panya pendapat, entah kalian percaya padaku ”

„Coba katakan,” ujar Pek-hoa Kongcu tertawa lebar,

„memangnya diantara kita masih ada batas percaya tidak

percaya segala ?’

Sebaiknya Tok-bu-siang mendengus sebal dan jijik tanpa

bicara.

Hwi-hou Kongcu pandang dulu kedua orang didepannya,

mulutnya terbahak bahak kakipun me langkah maju, kepala

tertunduk, agaknya dia sedang memutar otak cara bagaimana

ia harus ber bicara.

275

Yong-ji membelalakkan bola matanya, kata nya lirih :

„Orang ini menyebalkan”

Ling Ji-ping tertawa kaku, katanya: „Rase jantan yang culas

ini agaknya sedang mencari akal jahat.”

Setelah mondar mandir beberapa langkah akhirnya Hwihou

Kongcu berhenti, tiba tiba ia angkat kepala dan berkata

kepada Tok-bu-siang : „Kukira kau manusia beracun ini masih

belum menjelaskan sesuatu hal.”

„Hal apa ?” seru Tok-bu-siang jengkel.

„Kalau erang lain curiga akan gambar peta mu itu tulen

atau palsu, memangnya kau tidak menaruh curiga apakah

gelang naga itu asli atau palsu ?”

„O, sudah,tentu,” ujar Tok-bu-siang menyerlngal, „cuma

aku ingin mendengar dulu bagaimana pendapat kalian tentang

gambar petaku ini, nanti akan kuutarakan pendapat ku.”

”Nah itu betul,” ucap Hwi-nou Kongcu, ”kukira dua

persoalan ini diselesaikan bersama pasti lebih baik dan lebih

mudah.”

”Bagaimana penyelesaiannya ?” tanya Pek-hoa Kongcu,

„bicaramu plintat plintut kenapa tidak cekak aos dan tegas

caramu itu.”

„Caranya sih gampang sekali.” Ujar Hwi-hou Kongcu.

„Hm, katakan,” jesgek Tok-bu-siang.

Hwi-hou Kongcu bersikap Jual mahal, kata nya: „Dengan

api dan air dapat membuktikan as li atau palsu gelang itu, tapi

gambar itu harus dibuktikan sesuai tidak dengan tempat yang

tertera diatas kertas itu. Haha, kukatakan mudah, karena

kudengar diatas gunung ini terdapat lembah air dan api.

Permukaan air adalah api, di bawah api adalah air, di sanalah

tempat sesuai-untuk membuktikan apakah gelang itu tulen.”

276

„Memangnya soal ini perlu kau jelaskan lagi” seru Pek-hoa

Kongcu tidak sabar.

„Maksudku cara bagaimana membuktikan keaslian gambar

peta itu ?”

„Nah, sekarang giliranku bicara soal ini.” kata Hwi-hou

Koucu berpaling kearah Tok-bu-siang, „mari kita buktikan dulu

bahwa gelang naga itu betul betul asli, baru kau tunjukkan

tempatnya dimana kita bisa menemukan rahasia yang

diharapkan itu, kalau gambar peta itupun asll, waktu itu juga

kita adakan barter, bagaimana”

Tok-bu-siang menepekur sebentar, katanya dengan

terkekeh : „Akal inipun boleh juga.”

„Kau curiga bahwa aku menipu kau menunjukkan tempat

rahasia itu, bukan.” Hwi-hou Kongcu menegas.

„Hehe, kau terlalu licik, memangnya kau ang gap aku

gampang kau tipu “

„Hwi-hou Kongcu tertawa gelak-gelak, „Mahluk beracun,

maksudku hanya membuktikan ke adaan sekitarnya saja.”

Melengking suara Tok-bu-siang: „Setelah tahu tempat nya

yang pasti baru mencari harta karun itu. memangnya itu tidak

lebih mudah ? Hehehe, akalmu memang bagus.”

„Kau kuatir tiba waktunya kami tidak akan menyerahkan

gelang naga itu ?”

„Hati manusia susai diduga, terutama terhadap kau si rase

yang licik ini.”

„Kalau kau tidak percaya padaku, aku justru percaya

padamu, setelah kubuktikan gelang itu asli, boleh kuserahkan

kepadamu lebih dulu, mau tidak ?”

„Tidak bisa,” Pek-hoa Kongcu menyeletuk „kalau gelang

naga sudah ditanganaya, bagaimana kalau dia mungkir “‘

277

Hwi-hou Kongcu memberi kedipan kearah Pek-hoa Kongcu,

„Kau kuatir dia melarikan diri Hehe, kalau dia tidak menepati

janji, memangnya kita boleh mengampuninya “

Tok-bu-siang hanya terkekeh dua kali lalu tidak bersuara

lagi.

Sebaliknya Pek-hoa Kongcu terkial-kial, bola matanya

jelalatan, katanya: „Em, ya apa boleh buat, biarlah kita

tempuh cara itu saja. Hai, mahluk beracun, bagaimana

pendapatmu ?”

Kalem suara Tok-bu-siang: „Umpama kalian main muslihat,

aku s itua beracun ini juga tidak perduli, baiklah, kita tentukan

demikian saja.”

Ling Ji-ping diam saja saksikan perkembangan ini, katanya

lirih: „Nona, tiga keparat ini jelas mengandung maksud jahat,

kau percaya tidak ?”

„Ya, memangnya mereka tidak tahu sama tahu ?” ucap

Yong-ji.

„Bukan tidak tahu, tapi masing-masing mempunyai jalan

pikirannya sendiri, nah tontonan bakal ramai.”

Tiba-tiba Hwi-bou Kongcu berkata „Baiklah kita putuskan

sekarang juga , diantara kita boleh dikata tiada pertikaian lagi,

harap tunggu dulu, setelah kami bereskan urusan kami

dengan bocah she Ling ini, baru kita berangkat ke lembah air

dan api !”

„Nah, itulah nona, langkah pertama dari ke licikan si rase.”

ujar Ling Ji-ping.

„Langkah pertama ?” Yong-ji menegas heran,

„Ya, dia kuatir Tok-bu-sang membela kami maka dia cegah

dulu dengan perjanjian itu. Iiu namanya……”

„O, ya aku tahu.” tukas Yong-ji. „Itu nama nya gempur satu

persatu.”

278

” Nona, kau amat pintar.” kata Ling Ji-ping tersenyum.

Mendengar dirinya dipuji, wajah Yong-ji yang bersenyum

cerah seketika merah jengah, wajahnya nan molek ditimpah

cahaya mentari, maka kelihatan lebih semarak.

Melihat perubahan rona muka Yong-ji yang memancarkan

cahaya nan agung suci, tergerak hati Ling Ji-ping, entah apa

yang harus dia kata kan’.’ Tanpa merasa mulutnya nyeletuk:

”Nona.”

„Em, ada apa ? Kenapa tidak kau panggill saja namaku ?”

„Memanggil nama nona ?”

„Ya, namaku kan Yong-yong.”

„Yong-yong ? Dia melambangkan keagungan, lambang

kesuclian sungguh nama yang indah.”

Selama berblsik-bisik ini, tangan Ling Ji-ping masih

menggenggam erat jari jemari Yong-ji dengan kencang.

Seperti seekor burung yang patuh saja Yong-ji bersandar

dekat disamping Ling Ji-ping, seolah-olah mereka sudah lupa

bahwa musuh besar didepan mata, hanya mereka berdua saja

yang ada dihutan ini.

Tiba tiba lengking tawa yang menusuk kuping menyentak

sadar lamunan mereka berdua yang tengah dimabuk asmara,

terdengar Tok-bu-siang sedang berkata : „Tidak bisa. Akulah

yang menahan saudara Ling ini !”

Berkerut alis Hwi-hou Kongcu, katanya : „Jadi kau ingkar

janji ?”

„Apapun syaratmu boleh kutandangi, tapi terhadap saudara

Ling ini, sekali bertemu seleraku ternyata cocok sama dia,

kalau aku tidak di sin! boleh terserah akan pertikaian kalian,

tapi jangan hari ini.”

Sejak tadi Ling Ji-ping menaruh curiga kepada Tok-busiang,

kini setelah mendengar pernyataannya, maka terasa

279

bahwa salah satu dari Bu-lim si-tok ini adalah laki laki sejati

yarg tidak sudi menjual teman, maka dengan angkuh ia

tertawa, katanya : „Terima kasih akan perhatian tuan. tapi

tuan boleh tidak usah kuatir. Orang she Ling yakin bekal yang

kubawa cukup berkelebihan untuk memberantas kawanan

rase licik ini. Kalau orang she Lenghou ini tidak mencariku,

orang she Ling yang akan mencarinya, biar ia tahu bahwa di

Tionggoan tidak sedikit orang pandai.”

Bola mata Pek-hoa Kongcu mengerling tajam kearah Ling

Ji-ping. katanya terkial kiai : „Mahluk tua, biarlah mereka

berkelahi. Kau dan aku tak usah turut campur, asal adil,

kenapa tidak biarkan mereka berhantam ?”

„Kalian pihak Ang-hoa-kau betul betul tiaak turut campur

?!” Tok-bu-siang menegasi.

„Memangnya omonganku kentut belaka ?”

Pelan pelan Tok-bu-siang berpaling kearah Ling Ji-ping,

katanya : „Lote, bagaimana pendapat mu .”

„Tuan boleh saksikan saja diluar gelanggang,’ ujar Ling Jiping

menjura, „sebetulnya umpama mereka maju bersama,

aku orang she Ling juga tidak keberatan.”

Merengut muka Yong-ji, serunya “Bila mereka berani main

keroyok, terpaksa aku ikut turun tangan.”

„Betul, adik manis,” ujar Pek-hoa Kongcu sambi tertawa

genit, „Kau tak usah kuatir, kalau ada orang lain terjun

kearena, akupun takkan tinggal diam.”

Hwi-hou Kongcu melengak, tanyanya menoleh : „Kongcu,

apa sih maksudmu “

„Tiada maksud apa apa. Memangnya kau berani bertanding

secara adi dan jantan ?”

Hwi-hou Kongcu malah tertegun oleh pertanyaan ini, dia

sadar bila dia menunjukkan sikap, itu berarti dia unjuk

280

kelemahan, bahwa ajaran silat dari aliran Tiang-pek

hakikatnya tidak setara dengan Kungfu Tionggoan. Maka ia

nengganuguk, katanya : „Kalau demikian, biarlah tuan muda

ini mohon pengajaran beberapa jurus, hayo maju orang she

Ling.”

Pelan pelan Ling Ji-ping lepas tangan Yong-ji katanya lirih :

”Kau perhatikan orang orang disekitar gelanggang, hati hati

bila mereka membokong kau,” bahwasanya Ling Ji-ping hanya

menyampaikan pesan sewajarnya namun lain bagi

pendengaran Yong-ji, terasakan pesan itu penuh bernada

prihatin dan cinta kasih, terutama untuk seorang gadis remaja

yang sedang mekar seperti Yong-ji terasa betapa hangat dan

manis madu.

Beberapa patah kata sederhana, namun sekaligus telah

memperpendek jarak antara Ling Ji-ping dengan Yong-ji. gadis

remaja umumnya kaya akan angan angan, perasaannyapun

amat peka pandangannya begitu tenang, damai dan terhibur

tentram, penuh kepercayaan diri sendiri, akhirnya ia

menunduk dan berkaia dengai mesra: „Kau . . . kaupun harus

hati hati.”

Hati Ling Ji-ping seperti ditindih benda ribuan kati beratnya,

bergetar keras badannya, dalam waktu sesingkat ini. dia

seperti merasa Yong-Ji telah bertambah dewasa dan tambah

pengetahuan, sanubarinya seperti diliputi kasih sarang

terhadap ceweK yang satu ini. Kalau dahulu bayangan ini

masih samar samar, tapi sekarang, semua itu mendadak

menjadi kenyataan, kenyataan yang gamblang.

Lekas Ling Ji-ping pulihkan semangat tenangkan pikiran,

baru sekarang ia menyadari bahwa hari ini dia benar benar

telah jatuh cinta pada seorang gadis. Cinta dalam arti yang

sebenarnya.

Pelan-pelan ia menghela napas, sepasang matanya tetap

mengawasi wajah Yong-yong yang molek, mulutnya berbisik

manis: „Aku tahu, kau tak usah kuatir.”

281

Jengah wajah Yong-yong, matanya mengerling tajam

penuh arti. Terbangkit semangat Ling Ji-ping oleh lirikan yang

menimbulkan gairah tempurnya, dengan langkah lebar ia

memasuki gelanggang, hatinya dilembarl keyakinan akan

kemampuan diri sendiri

Suasana hutan seakan membeku setelah Ling Ji-ping

berhadapan dengan Hwi-hou Kongcu, betapa dahsyat dan

hebat dari duel yang bakal menentukan kebesaran nama Cuihun-

tiap kontra Hwi-hou Kongcu, jago kosen dari Tiang-pekpay.

Pek-hoa Kongcu mundur setombak lebih. Tok-bu-siang

tetap berdiri tidak bergeming. Kalau Pek-hoa Kongcu

tersenyum lebar, adalah Tok-bu-siang dingin tak

memperlihatkan perubahan apa pun.

Hanya Yong-ji saja yang jantungnya berdenyut tegang, dia

yakin pahlawannya bakal menang dimedan laga, seluruh

perhatian tercurah kepada perjaka yang telah menambat

sanubarinya ini, namun demikian tak urung sorot mata dan

mimik mukanya menampilkan rasa kuatir juga, meski hanya

bayangan yang tidak berarti.

Menurut rencana Hwi-hou Kongcu, ia ingin meminjam

kekuatan Ang-hoa-kau vang berjumlah banyak dan besar,

selangkah demi selangkah melaksanakan rencananya,

sungguh tak pernah ia bayangkan bahwa tahap pertama dari

permulaan rencananya ini, justru dirinya yang harus tampil

sendiri, apalagi duel kali ini bukan saja menyangkut nama baik

Tiang-pek-san, juga merupakan titik tolak dari tujuan utama

dari kedatangannya ke Tionggoan kali ini. Maka ia harus

menang, kalau tidak segala rencananya bukan saja

berantakan. gagal total bakal menghantui dirinya.

Maka sikapnya yang biasa sombong, brutal dan berandalan

itu, kini beruiah jadi sinis dan prihatin, ujung mulutnya malah

menyungging senyum sadis. Katanya: „Orang she Ling, duel

282

cara apa yang ingin kau gunakan bertanding ilmu silat ? Atau

duel sampai mati ?”

„Bertanding cara apapun boleh,” ujar Ling Ji-ping, „orang

she Ling pasti mengiringi Segala kehendakmu.”

Suara tawa Pek-hoa Kongcu berkumandang, katanya:

„Ingin aku mengajukan usul, entah boleh tidak ?”

Ling Ji-ping menjengek tak acuh, Hwi-hou Kongcu purapura

ngakak untuk menghilangkan rasa tegangnya katanya

dengan nada sumbang : „Coba Kongcu katakan dulu.”

„Aku usul, pertandingan kalian ini dibatasi sepuluh jurus

saja, cukup saling tutul dan jamah saja, kalian toh tidak punya

permusuhan, buat apa harus duel sampai mati .”

Kebetulan buat Hwi-hou Kongcu, namun dia tidak bersikap

setuju, ia harus menunggu reaksi lawannya, katanya tertawa:

„Bila orang she Llng Ji menerima usul Kongcu, aku sih tidak

jadi soal.”

Dengan angkuh Ling Ji-ping utarakan pendapatnya: „Kalau

cukup hanya saling jamah saja, bertanding sepuluh jurus

kurasa terlalu banyak.”

Sudah barang tentu hadirin sama terkejut oleh pernyataan

yang gagah berani ini. Pek-hoa Kongcupun merasa diluar

dugaan. Demikian pula Tok-bu-siang Dia tertawa melengking,

serunya memuji: „Bagus, kawan sejati, tidak sia-sia aku

bersahabat dengan kau !”

Taut alis Yong-yong yang mengencang sejak tadipun pelan

pelan mengendor seperti tertiup angin lalu, pernyataan Ling

Ji-ping sekali lagi mempertebal kepercayaannya kepada

pemuda pujaannya ini, hatinya tenang dan bertambah

rnantap.

Adalah rona muka Hwi-hou Kongcu berubah kaku dan

membesi, katanya: „Orang she Ling, angkuh benar kau ini.”

283

„’Karena aku akan membuktikan bahwa sikapmu yang

sombong dan picik memandang rendah Kungfu jago-jago silat

Tionggoan, itu sebenarnya tidak berarti di mataku.”

„Baik, berapa jurus yang kau perlukan ?” tantang Hwi-hou

Kongcu nekat.

„Tiga jurus kukira sudah lebih dan cukup.”

”Tiga jurus juga boleh, aku pakai kipas, keluarkan

senjatamu “

”Senjata.?” Ling Ji-ping mengejek, ”selama orang she Lirg

kelana di kangouw, belum pernah aku memakai senjata.”

„Lho, berarti aku kurang adil.”

„Betul, tapi aku orang she Ling menghendaki secara suka

rela, namun perlu kutegaskan sebelum nya, bagaimana

setelah kalah menang sudah ada keputusan ?’

„Kalau aku kalah, segera aku pulang ke Tiang-pek, selama

hidup ini takkan menginjak pula bumi Tionggoan.”

Lantang suara Ling Ji-ping: „Bagus sekali. Jikalau orang she

Ling kalah, rela aku menggorok leherku sendiri, bagaimana

cukup setimpal atau tidak “

„Hah.”tanpa kuasa Yong-yong menjerit kaget dan ngeri

Tapi suara pekiknya ini kelelap oleh sorak sorai dan tepuk

tangan banyak orang orang Ang-hoa-kau yang lagi sembunyi

didalam hutan, tampik sorak ini tercetus tanpa sengaja karena

mereka merasa kagum akan kegagahan Ling Ji-ping.

Sampaipun Pek-hoa Kongcupun tak terkecuali, ia jadi

kesengsem oleh keperwiraan pemuda ganteng ini, tanpa

berkesip bola matanya yang penuh dilembari nafsu birahi itu

menatap wajah Ling Ji-ping lekat lekat. Maklum terhadap Hwihou

Kongcu hakikatnya ia tidak menaruh cinta, bahwa dia mau

main cinta diatas ranjang dengan pemuda hidung belang ini

karena menuruti ketagihan birahinya belaka. Sudah tentu

dibelakang layar ada pula tujuan tertentu, yaitu dengan

284

memperalat pemuda bergajul ini ia ingin mendapatkan rahasia

ketiga pusaka itu, kini setelah kenyataan terbeber didepan

mata, terhadap Hwi-hou Kongcu hakikatnya ia sudah tidak

ambil peduli lagi, oleh karena itu tepuk tangan dan seru

pujiannyapun lebih keras dari orang lain.

Sudah tentu tampik sorak yang ramai itu bagai palu godam

menindih ulu hati Hwi-hou Kongcu, bukan kepalang

amarahnya, bentaknya keras: „Baik, kita temukan demikian,

hayolah mulai.”

„Tuan tamu yang datang dari jauh, silahkan lebih dahulu’

Karena sudah sengit Hwi-hou Kongcu tak banyak bicara

lagi, kipas lempit ditangannya segera menggaris sekali lalu

membuat satu lingkaran kontan Ji-ping rasakan pandangannya

kabur, bayangan kipas seperti ber-lapis lapis didepan mata.

Pusaran angin kencang sekaligus menerpa kearahya sedahsyat

amukan badai prahara.

Waktu di Hwi-hou-ceng pernah Hwi-hou Kongcu bergebrak

dengan Ling Ji-ping, meski permainannya waktu itu amat lihay

dan tangguh, tapi serangannya tidak sekeji dan telengas

Seperti sekarang. Ji-ping tahu bahwa lawan agaknya sudah

bertekad untuk menang, maka begitu turun tangan lantas

menyerang dengaa tipu jahat, maka iapun tak berani lena,

penuh perhatian Ia hadapi dan layani rangsakan musuh,

ditengah tawa dinginnya, sebelah kaki menggeser miring,

„Wut” dengan jurus Thian-mo-pi, tahu-tahu dengannya

menyapu masuk ke tengah lapisan bayangan kipas lawan.

Jurus permainan Ban-siang-san (kipas gajah laksa) amat

termashur diluar perbatasan, dalam gebrak pertama tadi ia

sudah melancarkan jurus ketiga yang bernama Cin-hoa-jun-hi

(kembang mekar dimuslm hujan). Jangan kira hanya sejurus

ternyata didalamnya ada mengandung berlaksa perubahan,

begitu melihat lengan Ling Ji ping menyapu datang, ditengah

gelak tawanya yang menggila, bayangan kipasnya mendadak

berubah, bagai ribuan bayangan kupu kupu yang menari

285

sejulup timbul, deru anginnya laksana guntur menggelegar

hebat adalah bayangan ribuan kupu kupu itu sekaligus

memberondong kearah Ling Ji-ping, begitu tangkas dan cepat

sekali gerak serangan ini sehingha Hwi-hou Kongcu sendiri tak

kelihatan bayangannya.

Belum jurus setangannya mencapai tasaran yang

diharapkan, mendadak dirangsak oleh serangan kipas lawan

yang cepat dan aneh luar biasa sehingga orang merasa dirinya

takkan mampu menangkis atau melawannya, se-olah olah dari

segala sudut dan arah gerak gerik dirinya sudah terjangkau

oleh bayangan kipas itu.

Ling Ji-ping sudah kebacut omong besar betapanun dia

pantang didesak mundur, apalagi terdesak hanya oleh sekali

serangan kipas lawan, situasi tidak mengizinkan dirinya

mundur, maka sambil mengerahkan kekuatan tenaga untuk

melindungi badan, sebat sekali ia tarik lengan kanan, ditengah

tawanya yang menggelora, tampak bayangannya tahu-tahu

melambung keluar dari libatan bayangan kipas lawan, begitu

ia merangkap sepasang telapak tangan, mumpung musuh

masih terapung diudara, dia lancarkan jurus Lui-sin-ap-ting,

salah satu jurus permainan Te-sat-jiu yang amat lihay,

dilandasi kekuatan murni lagi, maka begitu kedua telapak

tangannya terpentang menekan dan menyedot, sayup-say-up

terdengar guntur gemuruh, bagai kilat damparan ombak

pukulannya menerjang.

„Blang.” ledakan pun terjadi, begitu kerasnya sampai

bergema cukup lama didalam hutan. Semua hadirin sama

melonjak kaget karena pekak telinganya, hatipun seperti dikilikili.

Setelah kepulan debu pasir buyar tertiup angin, tampak

kedua orang sama berdiri ditempat semula, seolah-olah sejak

tadi mereka belum pernah bergerak, namun hadirin sama tahu

mereka sudah bergebrak dua jurus, keadaan sama kuat alias

setanding, belum ada pinak yang menang atau kalah.

286

Bagi kedua pihak yang bersangkutan diam-diam mencelos

hatinya, masing-masing insaf bahwa lawan yang dihadapi

memang musuh tangguh. Raut muka Hwi-hou Kongcu tampak

berubah buruk. Adalah Ling Ji-ping tetap mengulum senyum

dingin kaku tegak tak bergeming.

Dari sikap dan mimik kedua jago yang saling pelototan,

dapat disimpulkan bahwa Ling Ji-ping agaknya sedikit unggul,

namun belum ada ketentuan bahwa dia yang menang.

Diam-diam Tok-bu-siang mengangguk kepala. Senyum

simpul semakin mekar menghias walah Pek-hoa Kongcu yang

cantik, bola matanya pelerak pelorok pada kedua jagoan yang

lagi berlaga.

Perubahan air muka Hwi-hou Kongcu tidak menentu,

terbayang rasa kaget, curiga, marah dan sengit serta

prasaran, ditengah gelak tawanya ia berkata: „Orang she Ling,

sudah dua jurus.”

„Ya sudah dua jurus.”

„Kau sendiri yang bilang cukup tiga jurus.” demikian ejek

Hwi-hou Kongcu. Secara tidak langsung dia memperingatkan

kepada Ling Ji-ping, tinggal sejurus lagi, kalau jurus terakhir

ini dia tidak mampu mengalahkan dirinya, itu berarti dia harus

menggorok leher sendiri.

Telapak tangan Yong-yong berkeringat dingin, tekanan

suara Hwi-hou Kongcu menambah tegang perasaannya, Pekhoa

Kongcu yang semula masih tersenyum-senyum kinlpun

ikut berubah, dengan kesima ia awasi Ling Ji-ping.

„Betul,” sahut Ling Ji-ping kalem, „akulah yang menentukan

tiga jurus, bila jurus ketiga tetap seri, anggaplah aku yang

kalah, batok kepala ku boleh kau penggal nanti.”

Yong-yong menjerit ngeri sambil menutupi, mukanya,

tangisnya tak tertahankan lagi. Pek-hoa Kongcu berubah

pucat. Tok-bu siangpun terkekeh kekeh kering. Orang-orang

287

Ang-hoa-kau yang sembunyi dalam hutanpun ikut bersuara

kaget dan gegetun.

Maklum kenyataan sudah gamblang, Lwekang Ling Ji-ping

hanya setingkat lebih unggul dari Hwi-hou Kongcu, jangan

dikata betapa tinggi ilmu silat Hwi-hou Kongcu, Hwi-hou-sinhoat

(gerak tubuh rase terbang) yang dipelajarinya itu

agaknya cukup mampu untuk menghindar lima jurus serangan

lagi. Padahal duel ini tinggal satu jurus lagi, untuk

mengalahkan Hwi-hou Kongcu dalam segebrakan lagi, jelas

tidak mungkin, adalah jamak kalau mereka tiada yang berani

menjagoi bahwa Ling Ji-ping pasti menang.

Tapi nada suara Ling Ji-ping justru tegas dan penuh

keyakiuan, pernyataan yang tak tergugah oleh rintangan atau

hambatan apapun.

Kepercayaan Yong-yong terhadap kemampuan Ling Ji-ping

masih tebal, bahwa tadi ia menjerit hanya karena cetusan

emosi yang spontan, lekas sekali sikapnya sudah tenang,

pandangannya penuh diiputi pengharapan, jantungpun tetap

berdebar.

„Baiklah, aku percaya kau adalah orang gagah yang pasti

menepati omongan. Haha, bila aku kalah dalam gebrak ketiga

ini, segera aku pulang ke Tiang pek, selama hidup takkan

kembali ke Tionggoan.”

Maka kedua orang mulai mengatur napas memulihkan

teuaga. Keduanya tetap melotot saling pandang, tanpa

Bergerak memusatkan perhatian, siaoapun tak berani lena.

Maklum gebrak terakhir yang bakal menentukan menang

kalah, menentukan mati atau hidup akan segera dimulai.

Suasana mencekam, hawa dalam hutan seperti sudah

membeku.

Tapi sebelum gebrak ketiga ini berlangsung, se-konyong

konyong berkumandang sebuah gelak tawa serak tua yang

bergema da’am hutan, belum lenyap gema tawa itu,

288

disamping kedua orang yang lagi berhadapan ini mendadak

muncul seorang kakek tua bertubuh kurus kering, lengan baju

kanan tampak melambai kosong, matanya yang memang sipit

memicing bergantian memandang kedua orang yang sudah

siap tempur ini. Katanya : „Sedang apa kalian ini ?”

Seketika pucat pasi muka Hwi-hou Kongcu melihat kakek

kurus kering ini, lekas ia membungkuk dengan tubuh gemetar,

mulutpun tergat gap: „Locianpwe …. kaukah ini?”

Ling Ji-ping juga merangkap tangan, katanya menjura:

„Kau orang tua sudah datang.”

Sikap Hwi-hou Kongcu, tampak jeri dan takut terhadap

kakek kurus kering ini, sebaliknya Ling Ji-ping hanya menyapa

ala kadarnya. Sambil mengelus jenggot kambing.yang tinggal

secomot, mendadak kakek, kurus itu melotot kepada Hwi-hou

Kongsu : „Aku tanya kau, sedang apa disini Kenapa tidak

kaujawab”

Bergidik Hwi-hou Kongcu, sahutnya munduk munduk : „Aku

sedang bertanding dengan orang she Ling ini.”

Melotot mata sipit kakek kurus, jengeknya : „Disini tempat

apa ? Luar perbatasan ? Atau Tionggoan “

Pucat pias muka Hwi-hou Kongcu, samar samar ia

menyahut: „Atas perintah ayah, Wanpwe sedang

menyelesaikan suatu urusan di sini.”

„Rase tua itu memangnya sudah gatal tulang nya.” jengek

kakek kurus, „sudah sepuluh tahun aku tidak berkecimpung di

kangouw, ternyata berani dia betingkah lagi. Hm, baik bila ada

waktu senggang, biar kuluruk dia dan kupatahkan tulang

kakinya.”

Bukan saja sikap kakek kurus kasar dan bengis, dengan

memaki dan menghina ayah Hwi-hou Kongcu. tapi wajah Hwihou

Kongcu tetap pucat dan malu jangan kata membantah

mengiakanpun la tidak berani.

289

Berhenti sebentar akhirnya kakek kurus Itu membentak

pula „Tidak lekas kau enyah mencawat ekormu ? Memangnya

kau ingin aku membeset kulitmu?”

Meski dimaki, tapi Hwi-hou Kongcu malah unjuk rasa

girang, tanpa banyak suara segera ia jejak kaki, tubuhnya

melambung keatas hinggap dipucuk pohon, sekali tutul lagi

tubuhnya sudah melayang jauh dan lenyap, kecepatannya

memang

„Kembali.” mendadak kakek kurus itu menghardik sambil

melambaikan tangan ke atas. Sungguh aneh, bayangan Hwihou

Kongcu yang sudah lenyap dengan kecepatan luar biasa

itu ternyata meluncur balik pula, tubuhnya hinggap ditempat

semula, wajahnya tampak murung dan kuatir, katanya

menjura: „Loclanpwe masih ada pesan apa?”

Mengelus jenegot kambingnya, kakek kurus berkata:

„Urusan lain, malas aku mencampuri, tapi kedua orang ini

adalah orangku, jikalau berani kau mengusik mereka, apa lagi

mencelakai dengan akal licik, awas kalau tidak kubeset kulit

mu kubetot uratmu” Sembari bicara kakek kurus menuding

Ling Ji-ping dan Yong-yong bergantian.

Sikap Hwi Kong-cu seperti tikus berhadapan dengan kucing,

sambil munduk munduk ia menjawab : „Ya, ya, ya,

selanjutnya “wanpwe takkan berani turun tangan terhadap

mereka.”

Mendelik bengis mata kakek kurus, katanya setelah

berludah : „Memargnya Kungfu cakar anjing yang kau pelajar!

itu mampu mengalahkan dia ? Yang kumaksud adalah jangan

kau main muslihat. Hm, kalau tidak aku takkan memberi

ampun lagi. Enyah !”

Meski kurang senang dan penasaran, namun Hwi-hou

Kongcu tak berani menampilkan perasaan nya, setelah dicaci

maki dia masih harus munduk munduk, akhirnya ia’pergi

dengan lesu.

290

Setelah Hwi-hou ,Kongcu tak kelihatan lagi, mata sipit

kakek kurus menyapu pandang sekeliling nya, katanya setelah

, bergelak tertawa : „Cepat juga keparat keparat Itu

mencawat ekornya. Hm, tahu diri juga, kalau tidak awas !

Hahaha . . .”

Baru sekarang Ling Ji-ping sadar bahwa Tok-bu-siang, Pekhoa

Kongcu dan orang orang Ang-hoa-kau yang sembunyi

dalam hutan ternyata sudah tak kelihatan bayangannya lagi.

Kakek kurus kering ini bukan lain adalah Lam-jan Seng

Thian-hwat, katanya menoleh kearah Ling Ji-ping: „Kau bocah

ini ternyata memang anak bagus, kalau tidak kaupun takkan

kuberi ampun”

Ling Ji-ping melenggong, tanyanya : „Seng-locianpwe. apa

maksudmu ”

Lam-jan tuding Yong-ji, katanya „Kau bopong dia lari kian

kemari, selama itu aku menguntitmu, tujuanku adalah menguji

apakah kau punya maksud jelek kepadanya. Haha, ternyata

mataku yang tua ini belum lamur, aku tidak keliru

menilaimu.”

Bercekat hati Ling Ji-ping, pikirnya: „Kiranya tua bangka ini

selalu berada dibelakangku, ternyata aku tidak tahu sedikitpun

?”

„Kalau kau tahu memangnya usahaku tidak gagal ?” seperti

dapat meraba pikiran Ling Ji-ping kakek kurus ini seterusnya

berolok-olok, „Seorang genduk ayu ini kuserahkan kepadamu,

selembar rambutnya saja hilang, kupuntir kepalamu sebagai

gantinya,” padahal Lam-jan bicara sambil tertawa, tapi sikap

dan mimiknya cukup berwibawa. Ling Ji-ping sampai bergidik

seram dibuatnya

Sudah tentu Yong-yong juga kenal bahwa kakek kurus ini

adalah Lam-jan, menghadapi sikakek orang yang menaruh

perhatian atas dirinya, ia jadi kesima, sayang selama ia hidup

berdampingan dengan neneknya belum pernah beliau

291

menyinggung soal nama Lam-jan, kecuali pernah melibatnya

sekali waktu di Thian-sutong, sebelum ini bahwa sanya ia

tidak pernah kenal kakek kurus ini, kenapa orang justru amat

perhatikan keselamatan dirinya ? Hatinya bingung dan tidak

habis mengerti.

Di kala Yong-yong kebingungan itu, Lam jan melambaikan

tangan kepadanya, serunya: „Genduk ayu, kemari kau.”

Dengan langkah ragu-ragu terpaksa Yong-yong mendekat

katanya lirih setelah memberi hormat: „Locianpwe.”

Sebetulnya cukup pantas kalau Yong-yong memanggilnya

‘Locianpwe’, tak nyana Lam-jan langsung berludah

kemukanya, katanya: „Kau panggil apa padaku ?’

Yong-yong mundur ketakutan, sahutnya; „Ku panggil kau

…. Locianpwe.”

Kembali Lam-jan berludah beberapa kali, katanya:

„Memangnya nenekmu tua bangka itu tidak pernah

memberitahu kepadamu?

Seketika merah mata Yong-yong mendengar neneknya

disinggung, katanya: „Nenek tak pernah membicarakan

dirimu. Oh, orang tua, apa kau tahu di mana nenek berada :*’

„Nenekmu ?’ seketika suram air muka Lam jan,

sikapnyapun berubah, katanya setelah menghela napas: „Aku

tahu.*’

„Kau tahu ? Di mana ? Lekas bawa aku kesana.” pinta

Yong-yong kegirangan.

Lam-jan geleng-geleng kepala, bola matanya berkaca-kaca,

katanya; „Nenekmu pergi ketempat jauh, beberapa hari lagi,

bila aku senggang boleh kuajak kau ke sana, sekarang boleh

kau ikut bocah she Ling ini. Dia orang jujur, yakin takkan

menyia-nyiakan dirimu.”

292

Sekilas Yong-yong melirik kearah Ling Ji-ping, memang ia

senang terada di dampingnya, tapi dia tetap berkata : „Tidak.

Aku ingin mencari nenek, sekarang juga kau antarkan aku ke

sana.”

Tiba-tiba Lam-jan tertawa dipaksa, tapi segera mendengus,

kalanya jengkel: „Genduk ayu sebesar ini masih binal,

memangnya aku ngapusi kau ? Beberapa hari lagi, pasti

kuajak kau mencarinya, sekarang aku punya banyak urusan.”

—ooo0dw0oo—

Karya : Khu Lung Saduran : Gan KH

Sumber DJVU : Manise & Paulustjing

Editor : Paulustjing dan Dewi KZ

Ebook by : Dewi KZ

Tiraikasih website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://tiraikasih.co.cc/ http://cerita-silat.co.cc/

Jilid 9

Tersirap darah Ling Ji-ping walau tidak menerangkan,

namun dia sudah tahu bahwa nenek Yong-yong pasti sudah

celaka ditangan musuh, sudah tentu hal ini harus dia

rahasiakan, bila Yong-yong tahu neneknya sudah ajal,

tanggung tangisnya akan pecah berderai.

Maka maklum pula hati Ling Ji-ping, kenapa Lam-jan

sampai mempercayakan diri Yong-yong kepadanya. Karena

nona jelita ini sekarang sudah sebatangkara, tiada sanak tak

punya kadang, gadis yang masih hijau lagi, maka dia perlu

dilindungi dan dijaga.

293

Tiba-tiba Lam-jan menoleh, katanya kepada Ling Ji-ping:

„Anak muda, kau sudah mengerti?”

„Wanpwe mengerti.” sahut Ling Ji-ping membungkuk

badan.

„Syukurlah kalau kau sudah mengerti.” ucap Lam-jan Lalu

ia rogoh kedalam baju mengeluar kan sebuah kotak besi terus

diangsurkan kearah Ling Ji ping, katanya: „Barang ini

kuserahkan kepadamu.”

Kotak besi ini bukan lain adalah barang yang diperebutkan

oleh ketiga gembong iblis, seperti yang pernah dia saksikan di

dalam Thian-su-Jong tempo hari, karuan Ji-ping menyurut

kaget, katanya: „Apa isi kotak besi ini, Lo cianpwe ?’

„Gembok emas untuk mengambil ketiga pusaka itu.’ sahut

Lam-jan.

Sekarang Ling Ji-ping tahu bahwa apa yang dikatakan Hwihou

Kongcu memang tidak salah-Waktu ia mengintip di atas

pigura dalam Thian-su-tong dulu, kotak besi ini dipercayakan

kepada Lam-jan untuk menyimpannya, kalau kotak besi ini

berada ditangannya, bagaimana kelak Lam-jan bertanggung

jawab kepada Pak-koatdan lt-ci-sin-mo ? Bukan mustahil

kedua gembong iblis itu bisa mengeroyoknya, betapa tinggi

kepandaian Lam-jan, masa mampu dia menghadapi keroyokan

kedua iblis itu ? Maka Ling Ji-ping tidak berani menerima serta

mundur selangkah malah, katanya: ”Lo cianpwe, mana boleh

begitu ‘

„Kenapa tidak boleh “

„Kejadian dalam Thian-su-tong tempo hari wanpwe juga

menyaksikan, untuk memperebutkan gembok ini, bukankah

kalian sudah berhantam selama tujuhpuluh tahun ?”

„Aku tahu anak muda,” ujar Lam-jan menghela napas,

„jiwaku yang tua ini cepat atau lambat pasti melayang, dari

294

pada benda ini jatuh ke tangan mereka, lebih baik kuberikan

kepadamu, tahu tidak”‘

„Kenapa diberikan kepadaku” tanya Ling Ji-ping.

„Memangnya kau tidak dengar,” mendelik mata sipit Lamjan,

„kami tiga tua bangka yang sudah dekat liang kubur,

bertaruh untuk memenggal kepala penghuni puncak iblis?”

„Ya, wanpwe juga dengar.”

„Nah urusan kan sudah gamblang.” suara Lam-jan berubah

kalem, „beberapa hari ini aku sudah berhasil mencari tahu,

dengan gabungan kami bertiga, siapapun jangan harap dapat

memenggal kepala orang itu, apalagi hawa dipuncak iblis itu

sedemikian dingin, curam lagi, siapa yang mampu naik ke

sana.”

”Masakah pelajaran Kungfu diseluruh kolong langit ini tiada

yang mampu menandingi ?”

„Sudah tentu ada.”

„Siapa “

„Kotak besi ini.”

„Ha, kotak besi ini?” Ling Ji-ping pun maklum, gembok

emas ini dapat membuka pintu rahasia di mana ketiga pusaka

itu disimpan, bukan saja ketiga barang pusaka itu, diatas gioktiap

itupun ada dimuat ajaran Lwekang dari aliran hud yang

paling digjaya, sebentara Giok-hud-jiu muat ajaran silat yang

tiada taranya. Jadi untuk mengalahkan penghuni puncak iblis

itu, maka orang harus memperoleh dulu ketiga pusaka itu

serta mempelajari ilmunya sampai sempurna.

Maka terpancar cahaya yang penuh diliputi harapan dan

permohonan yang murni dari kedua mata Ling Ji-ping dta

tahun sudah dengan segala jerih payahnya ia berusaha

menyelidiki rahasia dan teka teki yang menyelimuti puncak

iblis itu, sayang berbagai usahanya untuk manjat kepuncak Itu

295

selalu gagal, kini meski sudah terjawab sebagian ttka teki

yang masih tetap terselubung ini paling tidak ia sudah

memperoleh sedlkit sumbernya, bukan dia tamak dan ingin

mengangkangi ketiga pusaka itu, namun dia berusaha dan

rela berkorban demi kedamaian dan kesejahteraan kaum

persilatan umumnya, tiada rebutan, tiada bunuh membunuh,

dia bekerja lebih mengu tamakan ketentraman dunia

persilatan sebagai ke wajiban, maka dia bertekad untuk

mendapatkan ketiga pusaka itu.

Memicing mata sipit Lam-jan, katanya :”Anak muda,

sekarang kau sudah mengerti, maka barang Ini kuserahkan

kepadamu, lekaslah terima dan perhatikan akan perkataan

dan perbuatanku, sebelum kau memperoleh ketiga pusaka itu,

ah tidak, seharusnya kukatakan setelah kau memperoleh

ketiga pusaka itu, dan sebelum kau sempurna meyakinkan

ilmu sakti yang tertera diatas Giok-tiap dan Giok-hud-jiu itu,

jangan kau bocorkan soal penting ini, kalau tidak meski

jiwamu rangkap dua belas juga tiada yang bisa bidup.’

Tapi Ling Ji-ping tetap tak berani menerimanya, setelah

bimbang akhirnya ia merubah haluan, katanya „Tidak

Locianpwe, kau tidak boleh ingkar janji teihadap Pak-koat dan

ll-ci-sin-mo dan lagi kalau mereka sampai tahu, pasti urusan

berkepanjangan.”

Melotot bola mata Lam-jan, dengan sengit ia berludah, lalu

katanya : „Kau bocah keparat ini juga pandai berpura pura

bajik dan setia kawan segala heh !”

Sudan tentu Ling Ji-ping keki, berkata batin nya : „Aku

bicara dengan sejujurnya, kau justru memaki aku berjiwa

palsu, memangnya kau tua bangka ini sudah gila ?”

„Kau bocah inilah yang gila.” damprat Lam-jan pula,

tubuhnya duduk tidak kelihatan ia bergerak, namun entah

bagaimana tahu tahu kotak besi itu sudah terbang sendiri

menyusup kedalam kantong baju Ling Ji-ping, waktu Ling Jiping

mundur kerepotan didengarnya Lam jan telah berkata

296

„Kau bocah ini kenapa tidak pakai otakmu. Orang juga ada

bilang jangan karena urusan kecil mengorbankan yang besar,

Coba kau jawab pertanyaanku, mana lebih penting menolong

kaum persilatan diseluruh duria ini ? Atau mementingkan

hubunganku dan ingkar janji segala ? Sudah selanjut ini aku

hidup, memangnya aku takut mati ? Beberapa tahun

belakangan ini, sering aku melakukan perbuatan yang kotor

dan rendah, maka aku merasa perlu menebus dosa dosaku itu

dengan sekedar darma baktiku ini. Kematian justru akan

mencuci bersih segala kesalahanku, aku pasti mangkat dengan

meram dan tentram, memangnya maksudku tidak baik ?’

Semakin bicara semakin emosi, sorot mata nya semakin

membara kuning melotot kepada Ling ji-plng, serunya pula :

„Bila barang ini terjatuh ketangan salah satu dari Pak-koat

atau Jt-ci-sin-mo, untuk membunuh penghuni puncak iblis itu

memang jauh lebih mudah di banding kau bocah ingusan ini,

tapi kenapa tidak kau gunakan otak mu, kecuali seekor

harimau buas, didalam bulim ini justru kutambah seekor singa

liar pula, bila sayap sudah tumbuh pada singa liar itu. memang

nya siapa yang mampu menumpasnya?”

Maka Ling Ji-ping balas bertanya: „Maksud Locianpwe

memang luhur, kenapa bukan Locianpwe sendiri memikul

tugas mulia ini ?”

Lam-jan berludah pula tiga kali, agaknya emosinya tak

terkendali lagi, serunya sengit : „Otakmu memang sudah

tumpul, kalau aku orang tua mampu mengerjakan, buat apa

aku serahkan kepadamu ? Coba pikir, bila aku tidak berusaha

memancing pergi kedua gembong laknat itu pergi, kau keparat

ini apa bisa mendapatkannya dengan begini leluasa Bila aku

yang pergi mengambil pusaka itu, apakah jejakku dapat

mengelabui ke dua Serigala lapar itu ? Akhirnya pasti

ketiganya gugur bersama, bukan mustahil pusaka itu akan

jatuh Ketangan orang lain. Apa kau bocah keparat ini tidak

bisa meiihat gelagat, untuk apa orang-orang Ang-hoa-kau,

297

Thian-te-bwe dan Yu-bing-kau berada di pegunungan ini?

Demikian pula rase yang licik tadi jangan kau pandang remeh

kepandaiannya, tapi otaknya justru jahat dan banyak

muslihatnya, beium lagi rase tua bapaknya bila muncul juga.

Memangnya kau kira mereka itu orang-orang baik ? Bila

barang ini jatuh ketangan mereka, satu saja diantara mereka

sudah cukup menjadikan bibit bencana kelak. Nah kata kan,

katakan ” saking marah, jenggot kambingnya sampai

menegang kaku. seolah olah ingin rasanya ia ganjar muka

Ling Ji-ping untuk melampias kan rasa dongkolnya.

Setelah dimaki baru Ling Ji-ping maklum akan maksid

tujuan Lam-jan, ternyata orang rela mengorbankan kawan

sendiri demi keselamatan kaum Bulim umumnya, biarlah diri

sendiri menjadi korban sekaligus untuk menebus dosa

kesalahan, asal dunia ini tenteram dan damai. Sesaat Ling Jiping

berdiri terlongong, hatinya terharu. Kesan buruknya

terhadap ketiga iblis itu memang sudah mendalam, baru

sekarang ia tahu bahwa Lam-jan hakikatnya masih memiliki

kebajikan yang luhur, perbuatannya patut ditiru dan di jadikan

teladan sepanjang hayat masih dikandung badan, sejak jaman

dulu kala kapan ada kaum Bulim yang pernah berbuat sebajik

ini. Maka akhir nya dia manggut manggut, katanya: „Petuah

kau orang tua memang betul- Wanpwe wajib meniru nya.”

„Syukurlah kalau kau mengerti.” ujar Lam-jan,

amarahnyapun mulai reda, katanya pula menuding Yong-yong

: „urusanku banyak, tak mungkin aku selalu berada disamping

kalian, hal itupun bisa menimbulkan curiga ketiga gembong

laknat itu, genduk ini kuserahkan Kepadamu dalam dunia ini

kini tinggal dia seoraag saja adalah sanak kadangku, kau anak

muda ini sekali kali jangan me nyia nyiakan dia, mumpung

sekarang ada waktu, biar kuajarkan dua ilmu kepadamu, kelak

masih bisa bertemu atau tidak sukar diramalkan.”

„Sanak kadang ?” Yong-yong mengulang dalam benaknya,

diam diam perasaannya bergoncang, bola matanya seketika

298

memancarkan sinar heran dan curiga, katanya: „Kau orang tua

bilang apa?”

Lekas Ling Ji-ping menyela: „Kau orang tua tak usah kuatir,

aku pasti anggap Yong-moay seperti adik kandungku sendiri.”

Ling Ji-ping kira jawabannya cukup pantas, tak nyana Lamjan

seketika naik pitam, serunya gusar : „Anak muda, berani

sepatah kata kau bilang demikian lagi, kupuntir batang

lehermu.”

Ling Ji-ping melengak, tanyanya : „Orang tua, apa aku

salah omong ?”

Lam-jan membentak guiar: „Anak keparat. memangnya

cucu perempuanku ini tidak setimpal jadi binimu ?’

Yong-yong menjerit kaget, lekas dia melompat maju terus

memeluk Lam-jan erat erat, seru nya aleinan; „Jadi kau orang

tua adalah kakekku “

Bercucuran air mata Lam-jan, sebelah tangan pegang

pundak, tangan yang lain mengelus kepala, katanya tersedu :

„Betul, nak, sebetulnya ini rahasiaku dengan nenekmu, tiada

orang lain yang tahu, sampaipun ayahmu yang sudah matipun

tidak tahu menahu. Ai, sekarang, tak bisa tidak aku harus

bocor rahasia ini, karena … ai.”

Ling Ji-ping menyingkir agak jauh dan duduk dibawah

pahon, Lam-jan belum menjelaskan, namun kira kira ia sudh

maklum. Dahulu antara Lam-jan dan Hu-yong Saucu pasti

punya hubungan cinta yang mendalam, entah karena apa

akhirnya mereka berpisah.

Tampak Lam-jan terlongong memandang mega, matanya

yang sipit tidak berkesap, agaknya sedang mengenang masa

lalu yang tak bisa terlupakan. Namun masa lalu juteru

membawa siksa derita yang tak terlampias bagi kehidupannya,

air mata berkaca kaca dikelopak matanya, bila masa masa lalu

299

tidak menimbulkan duka lara. gembong iblis duaia persilatan

macam Lam-jan mana mungkin meneteskan air mata.

Kakek,” kita Yong-yong rawan, „kenapa dulu kau

meninggalkan nenek? Tadi kau sudah berjanji untuk

mengajakku mencari nenek”

„Ya, ya, nak.” pelan pelan Lam-jan menunduk ssrta

menepuk pundak Yong-yong, „bukankah kakek sudah berjanji,

suatu hari kelak pasti kakek akan mengajakmu pergi

mencarinya Tapi bukan sekarang.”

„Lho, kenapa ?”

„Kakek masih punya banyak urusan, nenek mu juga ada

urusan. Dan lagi ia pergi ketempat yang amat jauh, jauh

sekali.”

„Berapa jauhnya ?”

„Jauh sekali, terlalu jauh untuk diukur,Nak kakek sudah

berjanji padamu, kelak pasti membawamu ke sana, sabarlah.”

Yong-yong menengadah, bola matanya yang bundar jeli

berkedip kedip mengawasi muka Lam-jan. gadis yang masih

polos dan suci ini meski merasa heran dan curiga, dari mimik

muka kakeknya ingin dia menyelidik gerangan apa yang

menyebabkan sang kakek menghiburnya dengan janji janji

belaka.

Tapi Ling Ji-ping cukup tahu bahwa orang tua ini tidak ingin

membuat Yong-yong sedih, maka sang kakek ngapusi dengan

janjinya itu,

„Kelak berapa lama lagi ?”

Lam-jan tersenyum welas sambil menahan air mata,

katanya : „Tak kan lama, mungkin besok atau lusa, pokoknya

setelah kakek membereskan urusan segema membawamu,

kau harus ikut anak muda itu dengan baik, dia tidak akan

menyakiti kau.”

300

Sekilas Yong-yong menoleh kearah Ling Ji-ping dengan

pandangan manis mesra, namun bibir nya mencibir dan

berkata: „Tidak. Aku ingin ikut kakek saja’

„Anak bodoh,” kata Lam-jan sambil tertawa kering,

„bukankah kau suka pada anak muda she Ling itu ?”

Yong-yong berjingkrak malu sambil meronta ronta

dipelukan Lam-jan, serunya tidak terima : „Kakek kenapa

sejelek ini, menggodaku saja, kelak pasti kuadukan kepada

nenek, biar nenek membuat perhitungan dengan kakek.”

Lamjan bergelak tertawa, namun suaranya sendu „Kakek

bicara sesungguhnya, anak muda harus bergaul sama anak

muda, kakek sudah tua, banyak urusan yang harus

kubereskan pula. Yah, ada satu hal perlu aku pesan kepada

kalian, sejak hari ini kularang menyinggung namaku, jangan

pula katakan bahwa Yong-yong ada ikatan darah daging

dengan aku, kalian mengerti ?” Pada akhir katanya ia menoleh

kearah Ling Ji-ping.

Ling Ji-ping mengangguk, sahutnya : „Wanpwe mengerti,

Locianpwe.'”

Tapi Yong-yong tidak mengerti, dia mendongak pula,

tanyanya dengan mata berkedip: „kenapa toh kek ?”

„Sudah tentu ada akibatnya, kelak bocah she Ling itu bisa

menjelaskan kepadamu, harus selalu diingat. kalau tidak

kalian akan selalu terlibat banyak kesulitan.”

Ternyata Yong-yong masih tak mau tunduk, serunya :

„Sudahlah, kalian main ngelabui aku. Kakek jelek, diapun ikut

jelek.”

„Anak manis,” ujar Lam-jan setelah menghela naias.

„Usiamu masih amat muda, banyak persoalan yang belum bisa

kau mengerti, kelak kau akan tahu sendiri. Nah mumpung ada

waktu, coba tunjukkan Hwi-hoa-jiu dan Hwi-sik-loh-ing-,sinhoat

dihadapan kakek.”

301

Yong-yong lantas putar tubuh sambil membetulkan letak

sanggulnya, pelan pelan ia mulai bergaya memainkan Hwihoa-

hud-hiat-jiu warisan keluarganya disertai gerak tubuh

Hwi-sik-loh-ing sin-hoat.

Lam-jan menyaksikan sambil mengangguk, katanya

kemudian: „Nak, dalam usia semuda ini, kau telah

memperoleh bekal kepandaian nenek mu, sayang Kungfu yang

kau pelajarl baru dasarnya saja, untuk menghadapi jago silat

kampungan sih masih cukup berkelebihan, namun berhadapan

dengan gembong gembong Iblis jahat, bekalmu Ini tak

ubahnya telor yang di adu dengan batu, nah mari kau

perhatikan, kakek ajarkan semacam jurus padamu.”

„.Kungfu apa?” tanya Yong-yong

”Hian-im-khi-sat.”

„Hian-im-khi-slat ?” Ling Ji-ping mengulang dengan nada

penuh tanda tanya.

Beralih pandangan Lam-jan kearah Ling Ji-ping, tanyanya:

„Kau juga tahu akan ilmuku ini anak muda?”

„Pernah kudengar dari guruku.”

„Tidak banyak Kaum persilatan yang tahu akan ilmu ini,

yang pernah melihat apa lagi tapi terus terang, ilmu inipun

dulu hasil curian yang berhasil kuperdalam sendiri.”

”Ilmu curian ?” Yong-yong berteriak, „aku tak mau belajar

ilmu curian, nanti ditertawakan orang.”

Lam-jan terbahak-bahak, „Nak, kalau bukan kakekmu,

orang lain tanggung takkan bisa mencurinya. Tidak percaya

coba kau tanya pada anak muda itu.”*

Yong-yong menoleh dan bertanya kepada Ling Ji-ping:

„Ping-koko…..” setelah kebacut memanggil baru Yong-yong

sadar kelepasan omong, seketika mukanya merah jengah dan

302

cekikik malu serta memeluk kakeknya, rengeknya: „Kakek

jelek, bawel.’

Lam-jan terloroh-loroh, katanya: „Toh bukan kakek yang

suruh kau panggil dia Ping-koko, kenapa aku yang jelek malah

?”

„Tapi . . . .kau … kau yang suruh aku tanya padanya.’

„Sudahlah, anggaplah kakek memang jelek, nah dengarkan

penjelasannya.”

Maka Yong-yong putar tubuh pula kearah sana, matanya

mengerling tajam kepada Ling

Hal 20-29 ga ada

Lam-jan tertawa riang, katanya: „Nah, coba lihat kau anak

binal ini. Kakek bilang itu barang curian, maksudnya ilmu ini

bukan berasal dari perguruan kita sendiri, namun kuperoleh

dari se orang Cianpwe jaman dahulu, tanpa guru aku berhasil

mempelajarinya. Kalau kau pandai menggunakan ilmu ini,

kenapa oraag harus mentertawakan kau ?”

Yong-yong cekikikan senang, katanya: ,,Kenapa tidak

dijelaskan sejak tadi, urusan kan tak usah ber-tele tele. Kck,

lekas ajarkan kepadaku.”

Lam Jan merogoh keluar se-jilid buku tipis yang sampulnya

sudah kuning lusuh langsung di angsurkan kepada Yong-yong,

katanya : „Dalam buku ini sudah diterangkan secara jelas, kau

bisa belajar menurut petunjuk yang telah kutulis di dalamnya

Tapi hanya kau saja yang boleh belajar bocah she Ling itu

tidak boleh.”

„Lho kenapa “

„Karena…..karena . . . .” susah Lam-jan menjelaskan, tanpa

gatal Ia garuk-garuk kepala sendiri, akhirnya ia tertawa geli,

katanya menatap cucu perempuannya: „Karena kakek

303

meyakinkan ilmu ini maka nenekmu kurang senang, akhirnya

timbul salah paham, maka ia berpisah dengan aku.

Perempuan termasuk negatif serasi dengan latihan ilmu ini,

kalau lelaki yang meyakinkan, maka selama hidupnya dia

harus hidup membujang, tidak boleh kawin, atau dia akan

mencari Kematiannya sendiri. Dulu secara kebetul an aku

mendapatkan buku ini, terbayang dalam angan-anganku bila

berhasil mempelajari ilmu sakti ini, kepandaianku pasti tiada

bandingannya, maka tanpa banyak pikir aku lantas

meyakinkan, tak nyana karena latihan itulah aku dipaksa

berpisah dengan nenekmu. Apa kau rela bila dia juga

meyakinkan ilmu ini”

Seperti mengerti tapi tidak paham, bola mata Yong-yong

berkedip-kedip, tanyanya : „Alah. kakek bicaranya plintat

pllntut, kenapa tidak di jelaskan secara gamblang ?”

„Anak bodoh, memangnya kau belum mengerti juga ? Coba

kau pikir lagi.”

Yong-yong menengadah, bola matanya tetap berkedip,

otaknya bekerja untuk sekian saat lama nya„ akhirnya

mukanya jengah malu dan menunduk tanpa bersuara.

Lam-jam berpaling kearah Ling Ji-ping, „Cap-ji-te-sat-jiu

dan Liok-hap-sin-kang yang kau pelajari kira-kira sudah

delapan puluh prosen, sekarang kuturunkan tiga jurus Tinthian-

ciang (pukulan penggetar langit), tapi kau harus ingat,

bila tidak terdesak, kularang kau menggunakan ilmu Ini, meski

hanya tiga jurus, tapi ilmu ini amat dahsyat dan akibatnya

juga takkan menguntungkan kamu sendiri.”

Diam-diam girang hati Ling Ji-ping. dia pernah mendengar

bahwa Tin-thian-ciang merupakan Ilmu pukulan jang paling

keras dan digjaya, bila sudah diyakinkan sampai ketarap yang

paling tinggi, dengan sekali pukul dapat merobohkan laksaan

pasukan tentara, meski hal ini terlalu dibesar-besarkan, namun

berapa banyak musuh yang mengepung, bila maju dalam

jarak tertentu. jiwanya pasti melayang oleh kehebatan

304

pukulan penggetar langit ini. Maka tersipu ia menjura,

katanya: ..Terima kasih akan pemberian Locian pwe.”

Maka Lam-jan mulai mendemontrasikan Tin-thian-ciang

dengan perlahan, setiap jurus dan gayanya dia sebutkan dan

diberikan keterangan secara terperinci, dasar otaknya encer

lekas sekali Ling Jl-ping sudah mencakupnya, katanya

kemudian; ..Lembah api dan air yang dikatakan Leng hou Hou

tadi sebetulnya berada digunung ini, letaknya belasan li

disebelah barat, apa kau tahu ke mana tujuannya mengajak

Tok-bu-siang membuktikan keaslian gelang naga itu ”

Ketiga orang itu sama-sama mementingkan dirinya sendiri,

dengan muslihat yang berbeda-beda. Aku tahu bocah she

Lenghou itu bermain licik dan jahat.”

„Betul.” Lam-jan manggut, „tempat penyimpanan itu

sebetulnya berada didasar lembah itu. namun harus melalui

penjagaan api dan air baru bisa masuk kedalam, tapi dimana

letak sejelasnya harus diteliti dari gambar peta itu. Maka tugas

mu yang utama sekarang adalah merebut kembali gelang

pusaka, setelah mendapatkan ketiga pusaka itu, kau harus

tetao waspada, jangan kau kira dengan gampang kau bisa

memperolehnya, ketahui lah, segala urusan dunia ini, sering

terjadi di luar dugaan. Bukan mustahil disekitar tempat penyim

panan ketiga pusaka itu ada mahluk-mahluk aneh yang

menjaganya, atau ada perangkap jahat yang bakal

menyulitkan dirimu, bagaimana kau harus bertindak terserah,

sekarang aku harus segera pergi, akan kupancing kedua

gembong laknat itu ketempat yang jauh.” sampai di sini Lamjan

berpaling kepada Yong-yong, katanya: „Mungkin aku bisa

kembali lagi Tapi jangan sekali-kali kalian mencariku atau

mencari tahu tentang diriku, aku bisa mencari kalian, apa yang

pernah kujanjikan kepada Yong-ji pasti kutepati, Kuharap kau

tidak kecewa karenanya.” Lan-jan beranjak perlahan. „Sejak

sekarang, kalian harus latihan tekun dan rajin agar ilmu yaag

305

kuturunkan itu, jangan patah semangat dan berhenti di

tengah jalan, baiklah, aku pergi.”

„Kakek, jangan kau tinggalkan aku.” seru Yong-ji dengan

sedih dan mewek mewek. Sembari berseru lekas ia memburu

serta menubruk kearah Lam jan hendak menariknya, sayang

dia menubruk tempat kosong, karena tubuh Lan-jan tiba tiba

melambung tinggi meluncur kedepan sana, sekali berkelebat

bayangannyapun lenyap.

Yong-yong dan Ling Ji-ping sama berdiri melongo, pada hal

mereka sudah memiliki Ginkang yang iarang tandingan di

bulim, tapi menyaksikan gerak tubuh Lam-jan, sungguh

mereka merasa terlalu kerdil, dari sini dapatlah dinilai bahwa

kepandaian ketiga gembong iblis yang menggetarkan dunia

persilatan ternyata memang bukan nama kosong. Baru

sekarang pula mereka menyadari bahwa bekal Kungfu yang

telah mereka miliki sekarang hakikatnya masih terlalu cetek.

Mau tidak mau Ling-ji-ping lantas menghubungkan hal ini

dengan penghuni puncak iblis, betapa tinggi kepandaian

ketiga gembong itu, namun masih bukan tandingannya, lalu

dengan bekal kepandaian yang pernah dia pelajari dari

gurunya, mampukah dia memikul tugas mulia dunia persilatan,

sungguh bagai orang pikun yang mengidam bakan Impian,

muluk muluk.

Lama mereka berhadapan saling pandang, akhirnya Ling Jiping

memecah kesunyian: Yong” moay, mari kita pergi.”

”Ping-koko,” kata Yong-ji, „apa kakek pasti kembali mencari

kita ?”

„Sudah tentu, Yong-moay.”

„Kakek bilang, nenek pergi ketempat yang jauh, apa betul?”

Ling Ji-ping menjawab dengan anggukan kepala tanpa

bersuara, ia tahu gadis belia yang masih suci, polos dan

Jenaka ini untuk selamanya takkan bisa bertemu lagi dengan

306

neneknya. Umpama kelak Lam-jan datang dan membawanya

pergi, yang dituju tidak lain hanyalah pusara yang telah

ditumbuhi rumput liar dan lama tak terawat lagi maklum tokoh

wanita Bulim yang kenamaan itu kini sudah ajal tinggal tulang

belulangnya saja Namun apakah Ling Ji-ping harus

menerangkan? Betapapun dia tidak tega melukai hati seorang

gadis yang masih bersih, maka sekenanya dia bilang :

„Kakekmu masa ngapusi kau, Yong-moay tak usah kuatir.”

Yong-yong menghela napas rawan, butiran air mata

mendadak berlinang linang, katanya : „Ping-koko, kemana

sekarang kita harus pergi “

„Bagaimaaa kalau kita pergi ke lembah api air dulu ?”

„Tapi perutku amat lapar Ping-koko.” maklum sehari

semalam dia belum makan minum.

Dengan tertawa Ling Ji-ping berkata : „Hari sudah magrib,

mari kita cari rumah petani mohon sepiring nasi, malam ini

juga kita boleh mulai latihan ilmu yang diajarkan kakek,

mungkin setiba di lembah api air ilmu itu dapat kita guna kan.”

maka mereka menuju ke arah barat.

Hari sudah menjelang magrib, sinar surya masih

memancarkan cahayanya yang kemuning sebelum kembali

keperaduannya, angin menghembus kencang, hawa mulai

dingin.

Sembari jalan mereka celingukan kesana ke mari, mencari

apakah di atas gunung ada rumah penduduk, Yong-yong

berkata „Ping-koko, kiranya kau cukup keji. Hari itu Cin-nia-suhou

kau pukul mampus kecemplung kedalam sungai, tiada

seorangpun yang kau ampuni ?”

„Lho, dari mana kau tahu ?” Ling Ji-ping melengak.

Yong-yong cekikikan, katanya: „Aku ada di sampingmu,

kenapa tidak tahu ?”

„Jadi gadis desa itu adalah kau?’

307

„Ya, kau tidak mengenaliku bukan ? Belakangan akupun

pergi ke Ji-long-bio.”

„Ya itu aku tahu.’

„Kau tahu?”

„Ya, waktu kau pergi bersama nenek, aku sembunyi

dibelakang pohon.”

„Kau memang jelek, kenapa kau tidak keluar menemui kami

„Waktu itu kau toh tidak kenal aku, apalagi malam itu aku

ada urusan. ‘

„Oh, ya, apa kau kenal kedua Hwesio gundul itu ?”

„Maksudmu Hwesio gila dan pemabukan dari Go-bi itu?”

„Hwesio gila itu memang kurangajar.” ujar Yong-yong

dengan muka merah. Malam itu Hwe sio gila yang tidak

berpakaian lari lintang pukang dengan jumpalitan sehingga

alat vitalnya kelihatan.

„Apa kau masih membencinya karena adegan lucu di Thiansu-

tong itu ? Padahal menurut dugaanku, mereka sengaja

memainkan sandiwara itu untuk meloloskan diri.”

„Jadi malam itu kau juga hadir ?”

”Ya, dibelakang pigura diatas belandar.”

„O, makanya ada orang berbisik supaya aku dan nenek

lekas pergi, apa kau “

„Ya, akulah yang memberi kisikan itu.’

„Tak heran nenek bilang suara seorang pemuda,

belakangan aku lari balik pula kebetulan ku saksikan kau

bunuh Ka-ling-sam-kiam dalam se gebrakan saja.”

„Waktu itu juga aku tahu bahwa diluar biara ada orang

kiranya kau.”

308

„Kejadian itu kulaporkan kepada nenek, maka lalu kami

menguntitmu.”

„Adik Yong, kau belum menceritakan cara bagaimana kau

terjatuh ketangan Hiat-ing-cu.”

„Hiat-ing-cu ? Aduh, aneh benar nama julukannya, apakah

aku pernah ketemu dia ?”

Ling Ji-oing melengak, katanya „Aku justru menolongmu

dari tangannya “

„Bahwasanya aku tidak tahu cara bagaimana diriku terjatuh

ketangannya.’

„Apa waktu itu kau tak pernah bertemu dengan seseorang ”

„Oh, ya ada seorang, kakek yang berambut dan bermuka

merah.”

„Mungkin dialah Hiat-ing-cu.”

Tiba tiba Yong-yong teringat akan cerita Ling Ji-ping, waktu

dirinya ditolong dalam keadaan pingsan dan telanjang buat,

seketika jantungnya berdebar debar, mukanya merah seperti

kepiting rebus, desisnya sambil kertak gigi: „Aku pasti

mencarinya, ternyata dia jauh lebih jahat dari s iapa pun.”

Ling Ji-ping geleng geleng, katanya : „Dengan bekal

kepandaian kita berdua, meski ditambah ilmu sakti pemberian

kakekmu itu, mungkin kita masih bukan tandingannya, dia

adalah salah satu dari duta lampu yang menghuni puncak iblis

itu, nama julukannya sekarang adalah Ang-ting-su-cia.’

„Duta lampu merah ? Apakah dia itu penghuni puncak iblis

yang dimaksud kakek?”

„Bukan, dia hanya salah satu duta atau pesuruh dari

penghuni puncak iblis itu.”

Yong-yong yang jajan didepan mendadak berhenti dan

menoleh, katanya ; „Oh, ya, waktu bertemu dengan tua

309

bangka itu, sebelumnya kami memang melihat lampion

merah.”

„Nah betul kalau begitu, coba kau tuturkan, bagaimana kau

bertemu dengan kakek rambut putih muka merah itu, sampai

kau kehilangan kesadaranmu.”

Yong-yong memejam mata, menepekur beberapa kejap

lamanya, setelah menghela napas baru dia menceritakan

pengalamannya yang pahit itu.

Ternyata waktu menguntit Ling Ji-ping mendekati gubuk

kecil itu, Nenek Hu-yong dan Yong yong juga melihat lampion

merah yang tergantung didepan pintu, padahal hari siang,

anehnya pemilik gubuk kecil itu justru pasang lampu. Dengan

heran Yong-yong lantas bertanya sambil me nuding : „Lho,

nek lihatlah, kenapa gubuk kecil itu memasang lampion

sebesar itu ?”

Padahal nenek Hu-yong juga sudah melihat, hatinyapun

sedang heran, namun nenek Hu-yong memiliki Kungfu yang

tinggi, maka ia tidak jeri atau ambil perduli, katanya : „Genduk

cilik, kenapa gembar gembor keheranan, kan biasa orang

menggantung lampion didepan pintu.” Dimulut dia bicara

begitu, padahal dalam hati ia merasa aneh, maka langkahnya

lantas mendekati kegubuk kecil itu.

Setelah dekat baru terlihat jelas gubuk kecil ini ternyata

sudah bobrok dan penuh gelagasi, ko eor dan berdebu, jelas

sudah lama tidak dihuni orang, rumput liar tumbun subur

sampai didala n rumah, daon pintunya setengah terbuka,

namut keadaan sepi tak terdengar suara orang, tiada: g.

rakan apapun, kira kira dua tombak diluar gubul kecil itu

nenek dan cucu ini berhenti. Kini lebih jelas pula bagi nenek

Hu-yong bahwa didalam lampion merah itu tampak bayangan

merah yang bergerak gerak, cahaya merah yang bergerak itu

jelas bukan pantulan s inar matahari, namun merupakan kerlip

sinar api yang menyala didalam lampion, karena siang hari,

cahaya matahari mennari lampion itu, maka dari kejauhan

310

kalau tidak diperhatikan orang takkan melihat lampion merah

yang tergantung ini.

Mau tidak mau nenek Hu-yong menaruh curiga, pikirnya:

„Alas belukar, gubuk liar dan bobrok, tapi ada lampion merah

menyala di sini, disiang hari bolong lagi. Apa arti semua ini ?”

Karena heran tanpa terasa nenek Hu-yong bersuara lirih.

Karena dimaki maka Yong-yong uring uringan, kini dia

punya kesempatan mengomel: „Tadi memaki orang, sekarang

kau orang tua merasa keheranan sendiri.”

„Hm, memang agak aneh,” ujar nenek Hu yong, „Untuk apa

menyulut lampu disiang hari”

„Mari kita masuk melihatnya.”

„Genduk nakal, jangan sembarang bertindak. Lampion

merah ini amat ganjil.”

Tak nyana sebelum ia bicara habis, dari balik daon pintu

tiba tiba muncul seorang kakek tua yang berambut ubanan

bagai perak, dengan muka merah menyala, sekilas dia

mendelik kepada nenek Hu-yong, tanyanya: „Kalian cari siapa

?’ Kakek ini berdandan orang desa, kecuali muka nya yang

merah, perawakan dan tingkah lakunya tiada keanehan.

Pergaulan nenek Hu-yong luas dan banyak kenalan, naman

belum pernah dia melihat kakek tua yang aneh ini, maka dia

berkata: „Kami kebetulan lewat, melihat lampion yang

tergantung didepan pintu ini, maka kami merasa heran.”

Sekilas kakek itu mendongak melirik kearah lampion merah,

katanya tersenyum: „Apanya yang dibuatnya aneh ? Pada hal

lampion hanya melambangkan arti sebuah huruf.”

„Melambangkan arti sebuah huruf ? Huruf apa ?’

Kakek ubanan tersenyum lebar, senyum yang anehh dan

ganjil. Kontan nenek Hu-yong merasa kan adanva keganjilan

311

Ini, pelan pelan ia tarik Yong-vong mundur beberapa langkah,

bentaknya : „Siapa kau ?”

Kakek itu tetap tersenyum, ujarnya! „Petani pegunungan,

kalau kusebut namaku, kaupun tak kan mengenalnya.”

Nenek Hu-yong gedrukkan tongkatnya kebumi sampai

mengeluarkan suara getaran keras, bentaknya: „Jangan kau

pura pura pikun didepanku s iapa kau sebetulnya?”

”Tadi Kau bilang melambangkan satu huruf apa ‘

Dipucuk tongkat besi nenek Hu-yong itu dihiasi sekuntum

kembang, semua kaum persilatan mengenal tanda

pengenalnya ini, tapi kakek ini ternyata bersikap adem ayem

seperti tidak menge nalnya, sekilas matanya melirik, tiba tiba

air mukanya berubah, suaranya mendesis : „Kau nenek ini kok

aneh, tanpa sengaja kau datang mau cari perkara,

memangnya kau betul betul ingin ta’hu namaku?”

Yong-yong yang jenaka segera menyeletuk : Lekas

katakan, nanti nenekku marah lho.”

„Nenekmu marah ” Kakek tua itu menatap Yong-yong

dengan pandangan aneh sambil tersenyum, sikapnya yang

marah seketika sirna, ujarnya : „Kenapa membuat dia marah,

kan bukan aku yang mencari perkara didepan rumah orang

lain ?”

Sejak mengalami pertengkaran dan berpisah dengan

suaminya, sifat nenek Hu-yong banyak berubah, pemarah dan

suka mengumbar adat, apa lagi selama ini dia tidak pernah

ketemu musuh, maka dia menjengek dingin: „Aku nenek

reyot ini selama hidup tidak suka terhadap manusia yang

menyembunyikan kepala menutupi ekor. Hari ini kau harus

kupaksa membuka kedok aslimu,”.

Tongkat besi nenek Hu-yong kembali digedruk kan lebin

keras, sehingga bumi jadi bergetar, gubuk reyot seperti

hampir ambruk, debu beterbangan, tanah di mana tongkatnya

312

digedrukkan seketika berlobang dalam. Bentaknya: „Kalau

begitu jangan kau salahkan tongkatku yang tidak kenal

kasihan ini.”

Kakek muka merah Itu mendadak mendongak sambil

tertawa kial kial, bukan saja tidak takut akan ancaman nenek

Hu-yong, dia malah tertawa menghina, katanya : „Tongkat

besimu itu tidak ringan, benar tidak ?”

Kini Yong-yong juga sudah melihat gelagat, kakek muka

merah ini pasti bukan manusia serupa barang manusia,

melihat sikap orang yang meremehkan peringatan neneknya,

tapi dia juga kuatir bila. neneknya betul betul turun tangan,

jiwa tua kakek ubanan ini salah salah bisa direnggutnya, la

tahu bagaimana tabiat neneknya, kalau dicegah pasti makin

jadi, lekas dia menghadang didepan neneknya, serunya pura

pura marah : „Hai, kau memang tidak tahu diri, kami kan

hanya tanya, kenapa dibilang mencari perkara. Hati hatilah

jangan kau bikin nenekku marah.”

Kakek ubanan muka merah itu kembali ber derai tawa,

katanya : „,Em, nona cilik memang ayu jelita dan lucu, nona

manis yang menggiurkan. ‘

Padahal kakek ubanan ini sudah tahu maksud Yong-yong,

tapi bukan saja tidak berterima kasih, omongannva malah

kurangajar, karuan Yong-yoag naik pitam. bentaknya dengan

muka membesi : ,Tua bangka tidak tahu diuntung !”

„Hahaha.” tertawa si kakek semakin menggila, bola

matanya malah berputar menyelidik tubuh Yong-yong,

katanya pula sambil masih terus tertawa : „Nona cilik, berapa

usiamu ? Kau sudah tumuh masak dan menggiurkan.”

„Cis.” Yong-yong berludah, „kiranya kau ini tua bangka

mata kranjang.”

Kakek muka merah kembali tertawa lebar mendadak dia

angkat sebelah tannannya menggape dan menepuk sekali

313

kearah Yong-yong, entah kenapa badan Yong-yong tahu tahu

mencelat terbang kearahnya.

Sayup sayup masih didengar oleh Yong-yong suara

bentakan sang nenek, namun lekas sekali dia sudah jatuh

pingsan dan tidak tahu apa pula yang terjadi.

Setelah mendengar ceritanya, Ling Ji-ping-mengangguk,

katanya : „Kakek muka merah itu adalah Ang-tiag-sucia, yaitu

Hoat-sin-yau Ouw Tang-hoat yang dahulu kenamaan diluar

perbatasan itu.”

„Hoat-sin yau hou?”

„Kau kenal dia ?’

„Tidak benar. Nenek pernah bilang bahwa dia kenal Hiatsin-

yau-hou itu, dahulu dia rernah dikalahkan oleh tongkat

besi nenek malah.”

„Itu memang benar, kalau dia berjuluk Hoat-sin-yau-hou

(merubah bentuk siluman rase) pasti dia pandai ilmu merias

diri, dengan berbagai bentuk rupa dia sering muncul diluaran,

dahulu nenekmu pernah bsrmusuhan dengan dia, tak heran

dia turun tangan terhadapmu.’

„Dia jahat sekali,” damprat Yong-yong dengan muka

merah, „kelak aku takkan memberi ampun padanya.’

„Itu sudah jelas, cepat atau lambat pasti bersua, hayolah.”

mereka melanjutkan perjalanan kearah barat.

Hari sudah hampir petang, kabut pegunungan sudah mula!

datang, deru angin pegununganpun semakin kencang.

Ling Ji-ping mendongak, katanya: „Yong moay, akan hujan

Waktu Yong-yong mendongak, dilihatnya mega mendung

memang seperti berlomba melayang angkasa, semakin lama

semakin tebal.

314

„Wah bagaimana baiknya. Carilah tempat untuk berteduh.”

Ling Ji-ping tarik tangan Yong-yong berlari-lari kencang,

sekilas matanya menanggap secerca sinar lampu dibawah

lembah sebelah kanan. Girang hati Ling Ji-ping, katanya:

„Yong-moay, disana ada rumah penduduk, lekas kesana.”

dengan cepatan maksimal mereka terus meluncur lompatan

diantara batu-batu gunung menuju lembah dibawah sana.

Tapi setelah tiba dibawah lembah, seketika kedua oraru ini

kecewa, karena disini tiada rumah penduduk, yang ada adalah

sebuah pusara besar, diatas batu nisan besar dan tebal itu

ditaruh sebuah lampu teplok, nyala apmya amat kecil seperti

hampir padam karena kehabisan minyak, cuaca mulai gelap

lagi, sehingga dari kejauhan sukar terlihat.

Hujan gerimis mulai turun, angin menghembus semakin

kencang, hawa dingin membeku. Yong yong jadi bergidik

kedinginan, katanya menegak alis „Bagaimana nih?

Memangnya kita harus bermalam dalam hutan dengan

kehujanan basah kuyup begini ?’

Ling Ji-ping celingukan, kebetulan dilihatnya tak jauh di

samping pusara besar ini ada dibangun sebuah barak dengan

atap rumput alang2, meski bocor dan tidak tertutup

sekelilingnya, tapi cukup mending untuk berteduh sekedarnya.

Maka sambil menuding barak itu dia berkata ‘. „Apa boleh buat

Yong-moay, terpaksa berteduh disana, masuklah lebih dulu,

aku akan pergi sejenak mencari apa-apa yang dapat dimakan”

„Tidak usah; hujan sudah turun, nanti kau jadi basah

kuyup. Aku tidak lapar.” Yong-yong mencegah.

„Memangnya kenapa kalau pakaian basah ? Sehari

semalam kau belum makan, mana mungkin perutmu tidak

lapar, tunggulah sebentar, aku segera kembali.” habis bicara

sekali berkelebat dia melompat jauh kesana.

Hujan semakin lebat, Ling Ji-ping sudah basah kuyup,

tujuan utamanya adalah mencari rumah penduiuk dan mencari

315

makanan, kalau siang hari dengan mudah dia bisa berburu,

tapi di mala m hari, hujan lagi, kemaia dia Harus menemukan

Jejak binatang liar, maka dia meiuncur kepuncak bukit, dari

sini dia menerawang sekelilingnya, meski jauh dan hujan lebat

sinar lampu masih bisa terlihat, kalau ada sinar lampu berarti

disana ada penduduk.

Tapi dia keeswa, alam semesta gelap pekat, hujan angin

menderu-deru. Tapi ia belum putus asa, beberapa puncak

gunung dijelajahinya pula, namun dia tetap tidak

mendapatkan apa yang diharapkan. Dikala dia berdiri lunglai

dan akan kembali saja, mendadak berkumandang gelak tawa

yang ganjil kedengarannya, nadanya seram menggiriskan.

Sekilas Ling Ji-ping membedakan arah, tiba-tiba dia

mengeluh dalam hati. Secepat terbang segen dia barlari balik

kearah pusara tali. Gerak luncurannya kali ini sudah tentu jauh

lebih pesat dalam jangka waktu pendek dia sudah miliha sinar

teplok didepan batu nisan itu

Suasana masih hening sepi, seperti tak terjadi apa-apa,

hanya suara hujan lebat yang menjadikah tanah pekuburan ini

terasa semakin seram mcncekam. Ling Ji ping tertegun,

pikirnya „Apakah aku salah arah?” benak berpikir, tapi

langkahnya tidak berhenti, begitu kakinya meluncur turun

ditanah pekuburan, matanya langsung tertuju arah barak,

hujan masih lebat dalam jarak tentu pandangan Ling Ji-ping

masih dapat nangkap sesuatu, dilihatnya Yong-yong sudah

tidak meringkel diatas tumpukan jerami, suasana di ternyata

begini tentram, seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Ling Ji-ping menghela napas lega, badan Ling Ji-ping

oiernang basah kuyup oleh air hujan yang tercampur dengan

keringatnya.. Makanan yang di cari tidak diperoleh, pakaian

basah, hati merasa was-was pula.

Tapi keadaan di s ini menyulitkan dirinya, hanya barak itulah

satu satunya tempat untuk berteduh, sebagai laki laki berjiwa

ksatria, dia merasa tidak pantas berlekatan dengan Yong-yong

316

yang Sudah pulas. apalagi dihutan lebat yang sepi ini, Yongyong

sudah pulas kalau dibangunkan. Pasti dia mengeluh

kelaparan.

Namun di sekitar kubiran itu tiada temoat lain untuk

berteduh, memangnya dia harus kehujanan semalam suntuk.

Hujan semakin deras, meski fisik Ling Ji-ping cukup kuat, tak

urung dia merasa kedinginan juga.

Tiba tibi dia teringat : „Didalam barak memang tidak

kehujanan, tapi Yong-yong yang sudah pulas tentu kedinginan

oleh deru angin yang dingin ini.” tanpa baayak pikir segera ia

melangkah kearah barak, diluar amat gelap, sudah tentu

dalam barak lebih gelap lagi. Yong-yong tidur meringkel

ditumpukan jerami karena kedinginan. Kuatir membuatnva

kaget dan terjaga, maka gerak gerik Ling Ji-ping amat

perlahan, hati hati sekali ia duduk disampingnya.

memejamkan mata mulai bersamadi, namun sebelah

tangannya terulur menekan punggung Yong-yong, dua bagian

hawa murninya dia salurkan ketubuhnya untuk menahan

dingin

Semula Ling Ji-ping sudah ingin mencoba ajaran sim-hoat

yaag diberikan Lam-jan untuk melandasi Tin-thian-ciang, tapi

entah kenapa perasaannya tidak tenang Karena jarak dekat,

sebelah tangan terulur menyentuh puiggung anak perawan

lagi, bau harum seperti tercium Kehidung nya. bau harum

inilah yang menyulitkan dia menghimpun tenaga.

Mendadak Yong-yong menggeliat sambil bersuara lirih terus

membalik badan kemari, wajah nya kini menempel

dibelakangnya, sebelah tangannyapun terletak didepan

dadanya, tidurnya masih lelap dan pulas, napasnya teratur

enteng.

Karena tidak berani membangunkan orang, terpaksa Ling

Ji-ping biarkan dia tidur didekatnya. Pikirnya! „Biarlah begini,

supaya dia lebih hangat. Yong-moay memang harus

317

dikasihani, hidupnya sudah sebatangkara, kecuali aku, siapa

pula »ang akan melindunginya ?’

Tengah melamun itulah, tangan Yong-yong yang terletak

didepan dadanya itu mendadak terbalik dan telak menutuk

Hay-khi-hiat. Karuan iubuh Ling Ji-ping bergetar keras sampai

melonjak keatas, seluruh bawa murni yang terkerahkan ketika

buyar, ditengah ia merasa kaget dan bingung itulah, diluar

barak dari samping kubur sana berkumandang gelak tawa

bingar, seorang berkata : „Bagaimana rencana Kongcu ?

Bukankah dengan mudah membekuk bocah keparat ini “

Sebelum orang diluar itu habis bicara, Yong yong yang

semula tidur pulas itu mendadak tertawa cekikikan dan

melompat bangun langsung mencelat keluar barak, mulutnya

bersiul lirih, dltengah hujan lebat itu, muncul bayangan

beberapa orang, setelah dekat kiranya adalah empat orang

gadis.

Baru sekarang Ling Ji-ping melihat jelas, orang yang pura

pura tidur sebagai Yong-yong ternyata bukan lain adalah Pekhoa

Kongcu„ orang orang yang berlari datang itu jelas adalah

anggota Ang-hoa-kau. Kini semakin jelas pula oleh Ling Jiping,

laki laki yang bersuara diluar barak itu tak lain tak bukan

adalah Lunghou Hou.

Sambil memutar kipas lempitnya Lenghou Hou beranjak

memasuki barak, katanya penuh kebanggaan; „Orang she

Ling, pantas kau congkak dan jumawa, karena ada Seng

Thian-hoat setan tua itu jadi tulang punggungmu. Hahaha,

tapi sekarang, sedikit tuan mudamu Ini memutar otak, kau

tetap terjatuh ketanganku, sekarang tak usah kau jumawa

lagi.”

Saking marah bola mata Ling Ji-ping sampai melotot

merah, sayang dia tidak mampu bergerak sedikitpun, namun

dalam hati dia mengumpat; „Rase keparat ini memang terlalu

licik, tapi me mang salahku tidak berlaku hati hati. Jelas Yong

318

yong terjatuh ketangan mereka. Hm, akan datang suatu

ketika, kubetot ototnya kubeset kulitnya.”

Tiba tiba Hwi-hou Kongcu langsung menubruk masuk

kedalam barak, belum lagi sampai kipasnya itu sudah terulur

kedepan hendak menutuk lliat-to mematikan didepan dada

Ling Ji-ping.

Diam diam Ling Ji-ping mengeluh dalam hati: „Mati aku

sekarang,” Terpaksa ia pejam mata pasrah nasib saja.

Tiba tiba didengarnya Pek-hoa Kongcu memekik sekali,

serunya: „Apa yang kau lakukan? Minggir.”

Lekas Ling Ji-ping membuka mata, dilihatnya Pek-hoa

Kongcu sudah mengadang didepannya, keempat gadis itupun

sudah berjaga diluar barak. Jelas Pek-hoa Kongcu yang

menahan serangan Hwi-hou Kongcu, kalau tidak jiwanya tentu

sudah melayang.

Didengarnya Hwi-hou Kongcu bersuara heran, katanya :

„Kongca, apa maksudku ?”

Pek-hoa Kongcu tertawa riang, katanya : „Kau

menghendaki orang ini. sekarang dia belum boleh mati.”

Hwi-hou Kongcu mendongak, tawanya menggila, „Kongcu,”

ujarnya. „Aku sudah mengerti.”

„Kau mengerti apa ‘”

„Kenapa tidak kau katakan Kongcu sendiri yang

menghendaki dia ‘”

„Memangnya kenapa kalau aku yang menghendaki dia ?

Toh bukan urusanmu.”

„Tapi jangan kau lupa, gambar peta itu belum kau

peroleh.”

„Tapi kan tidak berada ditanganmu juga. Aku punya caraku

sendiri untuk mencari Tok-bu siang.”

319

„Kau mau cari Tok-bu-siang?’ Hwi-hou Kongcu tertawa

bingar pula. „Kau kira racun tua itu gampang kauhadapi,

tanpa kerja sama dengan aku Lenghou Hou, urusan takkan

segampang yang kau kirakan.”

Pek-hoa Kongcu berpikir sejenak, kataaya kamudian : „Aku

hanya melarang kau melukai dia, nona cilik itu boleh

kuserahkan kepadamu.”

Dari pembicaraan Ini Ling Ji-ping lebih jeias tluduk

perkaranya, Yong-yong memang terjatuh ketangan meresa,

sungguh hatinya sesal bukan main, namun diri sendiri dalam

keadaan tertutuk, apa gunanya gupup dan gelisah ?

Terdengar Lenghou Hou berkata pula dengan tertawa riang

”Nona cilik itu jelas kepunyaan ku, tapi kalau keparat ini tidak

kubunuh, kelak pasti menjadi bibit bencanaku, apalagi kalau

hal ini diketahui oleh Seng Thian-hoat sisetan tua itu,

menyesalpun sudah kasip.”

„Bila rahasia kita tidak bocor, bagaimana dia bisa tahu ?’

Sinis tawa Hwi-hou Kongcu, katanya: „Tapi kau ingin

meruntuhkan jembatan setelah diseberang, bila sedikit aku

membocorkan peristiwa ini, segala harapanpun bakal gagal.”

„Jadi kau mengancam aku ?”

„Tapi kau yang ingkar janji lebih dulu. maka jangan kau

salahkan aku.”

„Kau harus membunuhnya ?”

„Memberi pengampunan kepada musuh berarti berlaku

kejam terhadap diri sendiri.”

„Kau harus membunuhnya”?”

„Tidak boleh ditawar lagi.”

Pek-hoa Kongcu tertawa cekikikan, mendadak-dia berkata

tegas : „Baik kujawab, aku akan membelanya,”

320

„Kau naksir dia ‘ “

„Terserah bagaimana pendapatmu mau kerja sama, kita

laksanakan sesuai rencana semula, kalau tidak boleh, batal

dan silahkan pergi.”

Mendadak Hwi-hou Kongcu menggeram gusar, serunya :

„Jadi kau memperalat aku saja ?”

„Betul, aku memang memperalat kau, jikalau kau tidak

melaksanakan kerja itu secara baik baik, hahaha, daiam

jangka sebulan, kau akan mampus keracunan,”

„Perempuan ini lebih lihay dan licik dari Lenghou Hou,

kiranya dia sudah mencekok racak ketubuh orang ? Sungguh

yang satu ini lebih berbisa dari yang lain, lebih licin.” Demikian

batin Ling Ji-ping.

Tak nyana Hwi-bou Kongcu malah terkial kial, katanya :

„Memangnya kau tidak tahu kalau akupun menaruh sesuatu

pada tubuhmu ? Haha ha, sungguh menyenangkan, dalam

perjalanan ke akhirat nanti, kita teiap merupakan pasangan.

Malah kau yang berangkat lebih dulu harus menunggu aku

ditengah jalan.”

„Apa yang telah kau lakukan”

„Memangnya siapa tidak tahu akan kelihayan Jit-jit-toanhun-

san (puyer pemutus usus dalam tujuh hari) ?”

„Jadi dalam arak semalam itu ?”

„Benar, bagaimana ? Aku Lenghou Hou se tingkat lebih

lihay bukan?”

Ling Ji-ping melengak pula. batinnya : „Dua orans ini

memang setanding, yang satu licik bagai rase, yang lain

berbisa melebihi ular, memang pasangan yang setimpal.”

Mendadak Pek-hoa Kongcu tertawa genit, katanya lembut:

„Memarjg aku curiga kau tidak mencintaiku sungguh sungguh,

sekarang dugaanku ternyata benar. Terus terang, sebetulnya

321

aku tidak menaruh racun ditubuhmu, kau justru tega

mengerjai aku.”

.„Asal kau tunduk oleh perintahku, aku tidak akaa

menghukummu sampai mati.”

„Baiklah, lekas berikan obat pemunahnya.” pinta Pek-hoa

Koi gcu.

„Nanti setelah aku memperoleh ketiga pusaka Itu. aku pasti

memberi obat penawarnya haha ha, sekarang terpaksa setiap

tujuh hari kuberi sedikit sekedar memperpanjang waktu

supaya ra’vun itu tidak bekerja.” Lalu dengan nada puas dia

menambahkan. „Jangan kau pikir mau pakai guna guna

terhadapku, sejak mula aku sudah tahu bahwa kau hendak

memperalat diriku. Terus terang, obat penawar itu tiada pada

diriku, cara licik apa pun tak berguna lagi, kecuali obat

penawar buatan khusus keluargaku, tiada obat lain di kolong

langit ini dapat menawarkan Toan-yang-san itu.”

Ling Ji-ping yakin, kali ini Pek-hoa Kongcu harus tekuk lutut

kepada Hwi-hou Kongcu, jadi nasib dirinya malam ini tetap

takkan terhindar dan kematian.

Mati hidup diri sendiri sebetulnya sudah tak terpikir oleh

Ling Ji-ping, namun dia justru menguatirkan keselamatan

Yong-yong. Lam-jan sang kakek cacad mata itu sudah pasrah

cucunya kepada dirinya, sungguh tak nyana belum setengah

hari, Yong-yong yang harus dia lindungi kini sudah terjatuh

ketangan musuh yang cabul ini, terbayang bila Yong-yong

yang masih suci itu sampai ternoda, hatinya sakit seperti

ditusuki jarum, ingin rasanya dia mengepruk pecah batok

kepala kedua orang ini.

Tapi dalam keadaan Hiat-to tertutuk seperti ini, apa

dayanya ? Secara diam diam pernah ia mencoba kerahkan

hawa murni berusaha menjebol tutukan Hiat-to sendiri, namun

usahanya selalu gagal, agaknya Pek-hoa Kongcu menutuk

dengan ilmu tunggal ajaran keluarganya, kecuali paham cara

322

tutukan itu, siapapun takkan mampu merubuhkan tutukan

Hiat-to itu.

Terdengar Pek-hoa Kongcu berkata lembut : „Oiang bilang

lelaki umumnya tega, semula aku tidak percaya, sekarang

baru aku sadar anggapanku itu tidak betul. Ai, selanjutnya

biarlah aku dengar segala petunjukmu.”

,„Syukur bila kau sudah tahu kelibayanku. Nah sekarang

boleh kau bunuh bocah keparat itu dengan tanganmu sendiri.”

„Tapi Kaucu sudah pesan, aku harus membawanya pulang

hidup hidup.”

Mendesis suara Hwi-hou Kongcu: „Kalau malarn ini dia

tidak mampus. maka tujuh hari lagi kau lah yang binasa,

terserah bagaimana pilihanmu.”

Pek-hoa Kongcu menghela napas, apa boleh buat dia

memutar badan menghampiri kedepan Ling Ji-ping. Walau

hiat-to tertutuk dan tak mampu bergerak, namun mata bisa

melihat kuping dapat mendengar, tampak wajah Pek-hoa

Kongcu kelihatan bingung dan hambar, agaknya Jit-jit-toanyang-

san itu memang amat mengerikan, akhirnya dia. tunduk

oleh bayangan yang menakutkan itu, bagi perempuan yang

sudah biasa hidup makmur, bergelimang dalam keserangan

dan kepuasan, bayangan ‘mati’ memang amat mengerikan.

Pandangannva yang penuh iba dan putus asa menatap lekat

muka Ling Ji-ping, lama dia membelalak tanpa bergerak, ragu

dari tidak tega.

„Tidak tega ya ” Suara Hwi-hou Kongau mengejek. „Biarlah

tujun hari lagi kau yang mampus. Hehe, namun kau harus

rasakan dulu siksa deritanya yang nikmat.'”

Bergetar tubuh Pek-hoa Kongcu, akhirnya ia kertak gigi,

mukanya menampilkan nafsu, tangan kanan tiba tiba

terangkat mengincar Hiai-to mematikan didada Ling Ji-ping

bila jari ditutukkan meski jiwa Ling Ji-ping rangkap dua juda

melayang.

323

Ling Ji-p.ng memejam mata, pelan pelan dia menghela

napas, bukan sedih akan kematian sendiri, tapi dia merasa

malu dan kasihan akan nasib Yong-yong yang jelek itu. Cepat

sekali gerak tutukan Pek-hoa Kongcu, ternyata sekaligus dia

menutuk beberapa Hiat-to ditubuh Ling Ji-ping. Tubuh Ji-ping

bergetar keras, pelan pelan tubuh nya meloso roboh.

Setelan menutuk dan menurunkan tangannya! Pek-hoa

kongcu tetap berdiri ditempatnya.

Hwi-hou Konncu tertawa riang, katanya „Nah, kan begitu.

Asal selanjutnya kau dengar kataKu, aku tidak akan

membunuhmu, kelak bila aku sudah memperoleh ketiga

pusaka itu obat penawarnya akan kuberikan kepadamu.”

Siapa nyana mendadak Pek-hoa Kongcu tertawa dingin,

seraya menjengek . „Lenghoa Hou kau sudah menang.”

„Kenapa kau tidak mencari tahu siapa sebetulnya Hwi-hou

Kongcu ini, kecerdikan dan keberanianku sudah lama terkenal

diluar perbatasan. Hahaha, bila aku sudah mendapatkan

ketiga pusaka itu, aku tidak akan mencampakkan dikau. boleh

kau ikut aku keluar perbatasan, selamanya kau akan menjadi

pendampingku yang setia.”

„Ya,” ujar Pek-hoa Kongcu tertawa. „Aku akan

mendampingimu selamanya, tapi bukan diluar perbatasan.”

„Memangnya di mana?”

„Di akhirat.”

„Perempuan jalang, kau . . .” belum habis Hwi-hou Kongcu

bicara, Pek-hoa Kongcu sudah menubruknya disertai tamparan

keras, dua rumpun tenaga lunak tapi amat keji dan hebat

secepat kilat telah menerpa ke mukanya.

Bahwa Pek-hoa Kongcu berani turun tangan, secara

mendadak lagi, ini memang sama sekali diluar dugaan Hwihou

Kongcu, Namun sebat sekait dia sudah berkisar dengan

324

langkah enteng sejauh setombak lebih, seraya berseru dengan

tawa besar :

„Kuntilanak, kau ingin mampus, maka janginkan salahkan

tuan mudamu.” Mendadak dia balas menubruk, ujung kipas

lempitnya berderai dengan tutukan keji.

Kungfu Pek-hoa Kongcu sudah mendapat didikan murni

dari Bwe-ou Hujin, ibunya. Bahwa dia memakai nama gelar

Pek-hoa (seratus kembang), adalah karena dia mahir ilmu

Pek-hoa ciang ciptaan Bwe-ou Hujin. Pek-hoa ciang pernah

menggetarkan Bulim, setelah diajarkan kepada putrinya Pekhoa-

ciang ternyata berkembang lebih lihay dan hebat, karena

sejak itu pula dia memakai nama Pek-hoa.

Ditengah gerungan suaranya, sepasang telapak targannya

terayun menari dan melambai, gerakan nya mirip menyerupai

kuntum bunga yang mulai mekar, gerakannya kali ini berbeda

dengan serangan pertama, baru saja telapak tandannya

bergerak, darnparan angin dingin sudah menerjang lebih dulu,

Mendadak Hwi-hou Kongcu merasakan damparan angin dingin

yang mengurung tubuhnya, begitu dingin dan tajam damparan

angin ini sehingga sulit daging tubuhnya seperti diiris-iris,

tulang merasa hampir beku.

Meski dalam hati merasa kaget, namun Hwi hou Kongou

masih bisa tertawa keras. Disertai suara ”Sret” kipasnya

berkembang, sekali kebas dia tangkis dan punahkan dua jalur

angin yang menerpa ke arahnya, terdergar ledakan keras dari

beradunya angin pukulan yang dahsyat itu, kedua nya sama

tertolak mundur selangkah.

Pek-hoa Kongcu tergetar mundur oleh tenaga kebasan

kipas Hwi-hou Kongcu. tapi Hwi-hou Kongcu juga menyurut

selangkah karena gelombang angin dingin itu. Dinilai dan

Lwekangnya, dalam gebrak sejurus ini Hwi-hou Kongcu

ternyata setingkat lebih unggul, namun dinilai dari kelihayan

dan keganasan permainan, pakulan Pek-hoa Kong cu ternyata

seurat lebih tinggi diatas angin.

325

Diiringi tawa dinginnya Pek-hoa Kongcu telah mengerahkan

kekuatannya dikedua belah telapak tangannya, sambil berseru

dengan penuh kebencian : „Lenghou Hou, kaupun rasakan

pukulan ku!” Hawa dingin kembali membadai sedahsyat

Amukan bayu, kali ini Pek-hoa Kongcu benar benar kerahkan

staker tenaganya, maka damparan angin pukulannya yang

dingin itu setajam pisau menerjang kearah Hwi-hou Kongcu,

Tapi Hwi-hou Kongcu kali inlpun tak berani lena, kipas

ditangan kanan dan telapak tangan kiri sekaligus

memberondong pula dengan seluruh kekuatannya juga.

”Blang” ledakan dahsyat kembali, menggelegar menggetar

bumi, hawa dingin pecah berderai kesegala penjuru,

damparan kekuatan angin berpusar sekeras angin lesus.

Ternyata kali ini kedua pihak tetap berdiri tegak ditempat

tanpa bergeming, mereka setanding alias sama kuat.

—ooo0dw0ooo—

Jilid 10

Hwi-hou Kongcu bergelak tawa, serunya ” Perempuan

sundel, hanya begini saja kemampuan mu ? Agaknya

penilaianku terlampau tinggi.”

Pucat pasi wajah Pek-hoa Kongcu, seraya mendesis geram

: „Lenghou Hou, kaupun kiranya hanya begini saja’

Hwi-hou Kongcu tertawa sinis, katanya: „Untuk mengadu

kekuatan, mungkin kau kuat berhantam sampai sepuluh jurus.

Tapi. hahaha, cukup lima jurus saja bila kau kerahkan seluruh

kekuatanmu, Jit-jit-toan-yang-san yang berada dalam perutmu

itu akan kumat lebih cepat dari waktunya maka pada waktu

itulah …. hehehe, malam ini juga ususmu bakal rantas dan

binasalah kau.”

Karuan pucat pias dan ketakutan membayangi pada rona

muka Pek-hoa Kongcu, lama kemudian baru dia menghela

326

napas, kedua tanganpun pelan peian diturunkan katanya

setelah menghela napas : „Lenghou Hou, apakah omonganmu

dapat dipercaya “

„Kalau tidak percaya boleh dicoba. Sekarang paling penting

kau mampu bergebrak lagi tiga jurus. Nah coba kau pikir,

dalam tiga jurus ini, memangnya kau mampu mengalahkan

aku ‘

„Kalau dia tidak mampu kerahkan tenaga, kan masih ada

aku ?” tiba tiba sebuah suara menenyeletuk dari dalam barak.

Hwi-hou Kongcu tersentak kaget. Sebaliknya secercah

senyuman menghias muka Pekhoa kongcul yang pucat itu.

Ketika Hwi-hou Kongcu menoleh, ditengah hujan lebat

tampaklah olehnya bayangan seorang beranjak keluar dari

barak disamping pusara itu.

Lekas Hwi-hou Kongcu melompat setombak lebih jauhnya,

seraya membentak beringas : „Jadi perempuan sundel itu

tidak mencabut nyawamu, tapi malah telah membebaskan

tutukan Hiat-to mu .'”

„Betul! Dia telah menaruh sedikit belas kasihan kepadaku.”

Pek-hoa Kongcu tertawa leceh, katanya :”Lenghou Hou,

kau tidak menduga bukan? Itulah yang di namakan sepandai

pandai tupai melompat, akhirnya tergelesek juga.”

Membesi hijau muka Hwi-hou Kongcu. Jengeknya ”Walau

dia masih hidup, memangnya aku gentar ? Cap-ji-te-sat-jiu

aku sudah merasakan kelihayannya .”

Orang yang beranjak keluar ini sudah tentu adalah Ling Ji

ping. Ternyata disaat jari jari Pek-hoa Kongcu sudah hampir

menutuk Hiat-to Ling Ji-ping, mendadak dia berubah pikiran,

namun karena gerak tangannya teramat cepat, •ji-ping

mengira jarinya telah menutuk Hiat-to mematikan didada Ling

Ji-ping, padahal sedikitpun dia tidak mengerahkan tenaga,

berbareng dengan tutukan jari kanan, lengan baju kiri ikut

327

mengebut untuk menutupi gerak tutukan tangan kanan,

padahal jari tangan kiri sekalian menutuk pula Hiat-to dibawah

ketiak Ling Ji-ping.

Begitu tertutuk roboh Ling Ji-ping yakin dirinya pasti

melayang jiwanya, tapi kenyataan dia tidak mati, sekilas dia

melenggong, diam diam dia kerahkan hawa murni, barulah dia

sadar bahwa Hiat-tonya yang tertutuk ternyata sudah bebas

Namun Ji-ping tidak segera bangun, dia tetap berbaring

sedikit miring itu, dia menghimpun tenaga sambil

mendengarkan pembicaraan kedua orang diluar barak, Tinthian-

sim-hun pemberian Lam-jan yang telah dia yakinkan

kembali dia latih sekali. Setelah yakin semuanya sudah

sempurna, kondisi fisiknyapun cukup kuat baru pelan pelan dia

bangkit berdiri serta beranjak keluar

Dingin sekali tawa Ling Ji-ping, katanya „Sayang, kau tidak

atau belum mencobanya seluruh, nah sekarang saatnya.” lalu

dia berpaling arah Pek-hoa Kongcu, „Mundurlah kau, rase licik

ini biar serahkan kepadaku “

Rawan lirikan mata Pek-hoa Kongcu, nampak disuruh

minggir hatinya malah merasa senang, manis, katanya

mengangguk : „Hati hatilah Menghadapi manusia laknat

seperti dia kau harus gunakan cara paling keji. Lebih baik

kalau tidak beri kesempatan hidup.”

”Apa kau tidak ingin aku memaksanya menyerahkan obat

penawar itu ?’

„Dia begitu licin, bila waktu terulur panjang, bukan mustahil

dia ingkar janji. Ai, syukur tadi aku tadi tidak membunuhmu,

bila aku bisa saksikan dia mati ditanganmu, aku sendiri mati

juga anggaplah kematianku sebagai penebus dosa

kesalahanku terhadapmu.”

Ling Ji-ping tertawa angkuh, katanya : „Seseorang tahu

salah dan Berani memperbaikinya, ini ini sungguh harus dipuji

dan dijadikan teladan. Kau tidakk usah kuatir, bukan saja aku

328

ingin merenggut nyawanya, akupun akan merampas obat

penawar Ini.”

„Ai,” kembali Pek-hoa Kongcu menghela napas, „Terserah

kepadamu sajalah. Kau tidak usah kuatir akan keselamatan

nona cilik itu, nanti ku akan suruh orang membawanya ke

yillaku. setelah urusan di sini beres, aku akan serahkan ia

kepadamu.”

„Perempuan sundel,” maki Hwi-hou Kongcu, umpama aku

mati, jangan harap kan dapat memperoleh obat penawarnya,

hm. Apalagi aku toh belm tentu mati.”

Ling Ji-ping tertawa besar, serunya ; „Lenghou Hou. kau

masih ingin hidup ?”

„Orang she Ling, kemungkinan yang bakal segera mampus

bukan aku, tapi kau.”

„Baik mari kita buktikan ” mendadak Ji-ping melangkah

maju, dengan jurus Thian pi dia sapu muka orang.

Gerak gerik Hwi-aou Kongcu memang nya selicin rase,

sambil menyingkir sejauh delapan kaki dia berkata diringi

gelak tawanya : „orang she Ling, sudah beberapakali aku

melihat permainan dengan jurus ini. Hayo coba keluarkan

jurus simpananmu yang lebih segar.” ditengah suara kata kata

nya. kipas lempit ditangannya ternyata berkelebat bagai kilat

menyamber, yang diserang adalah ketiak Kiri Ling Ji-ping.

Ling Ji-piag melingkar lengan sambil menyurut mundur,

jengeknya dingin : „Nah inilah yang segar, rasakan

kelihayanku.”

Kali ini Hwi-hou Kongcu tidak berkelit atau menyingkir,

ujung kipasnya melintir kesebelah kanan, langsung menutuk

kesikut Ling Ji-ping

Ling-Ji-ping tertawa keras, ia menekuk siku merubah

langkah, sebat sekali tubuhnya berkelebat maju, lagi lagi

lengannya menyapu dari luar kedalam.

329

Melihat lawannya pulang pergi selalu menyerang dengan

jurus yang sama, sudah tentu Hwi-hou Kongcu tidak pancang

sebelah mata, lekas kipasnya mengetuk turun, dengan gaya

yang tadi pula dia memunahkan serangan ini Begitulah seperti

sedang berlatih saja kedua orarg ini saling serang menyerang,

adu tipu, mengukur kekuatan. Tapi Ling Ji-ping cukup tahu

betapa licik rase terbang, maka sejak permulaan dia selalu

menggunakan jurus permainan yang sama supaya musuh

memandang enteng dan akhirnya terperangkap oleh nya

belasan jurus telah berselang, namun Ling Ji-ping tidak pernah

bilas menyerang dengan jurus lain, demikian pula Hwi-hou

Kongca juga gunakan permainan yang itu itu saja.

Ling Ji-ping juga tahu bahwa rase laknat ini amat licik,

maka sengaja dia mengaburkan ke waspadaannya. Semula

Hwi-hou Kongcu memang bergebrak hati hati namun puluhan

jurus kemudian, terasa olehnya kekuatan Thian-mo-pi yang

dilontarkan Ling ji-ping semakin lemah, lambat laun

pertahanannyapun ikut mengendor. Pikirnya : „Memalukan

kalau keparat ini dijuluki Cui-hun-jiu, ternyata hanya begini

saja kepandaiannya.” rasa congkaknya membakar hati, maka

gerak langkahnya seperti biasa, santai dan berlanggong

seenaknya, ditengah permainan kipasnya dia selingi dengan

kelakar yang mencemooh, namun gerak serangannya tak

pernah mengendor

Dalam hati Ling Ji-ping amat senang, pikir nya; „Rase licik,

akhirnya kau masuk perangkap juga” kebetulan kipas Hwi-hou

Kongcu menyerang tiba, sengaja dia pura pura bergerak

lambat dan gelagapan, „Cret” ujung kipas orang yangj runcing

tajam menyobek baju diatas pundaknya untung tigak terluka

Sebat sekali Ling Ji-ping melompat mundur! namun dalam

sekejap itu ia sudah kerahkan Lwekang ajaran Lam-jan itu,

kekuatan sudah terpusat dikedua telapak tangannya, tubuh

agak mendak ke bawah, telapak kiri. menghadap kehangit

330

sementara telapak tangan menelungkup ketanah, kakinya

pasang kuda kuda dan diam tidak bergerak.

Baru saja Hwi-hou K.ongcu memperdengarkan tawa binar,

dia pikir hendak mendesak mumpung ada kesempatan, namun

mendadak dilihatnya perlahan lahan Ling Ji-ping menunjukkan

suatu gaya yaiig aneh, keruan Hwi-hou Kongcu melengak,

sesaat dia berdiri diam dengan melongo. Akhirnya setelah

melihat Ling Ji-ping berdiri diam seperti patung peragaan

belaka, tak tertahan dia tertawa gelak gelak, serunya : „Orang

she Ling, apakah ini permainanmu yang segar itu ?”

„Betul, nah sambutlah.” mendadak Ling Ji ping menghardik.

Telapak tangan kiri membundar setengah lingkar, telapak

tangan kanan dan bawah membalik keatas, ditengah

bentakannya, kontan dia lontar kan sekali pukulan

Perbawa pukulan ini ternyata tak ubahnya, amukan

halilintar, segulung angin pukulan melanda dengan hebatnya.

Sudah tentu mimpipun Hwi hou Kongcu tidak pernah

menyangka, begitu Ling Ji-ping merubah permainannya,

kekuatan pukulan nya ternyata bertambah lipat ganda, entah

jurus tipu dari ilmu apa, di saat dia bertanya tanya itulah,

seranganpun tiba, untuk berkelit sudah tidak keburu lagi.

Kontan mulutnya menjerit ngeri, tubuhpun mencelat tinggi

keudara dan melayang, jauh kesana meluncur kebawah

lembah.

Peo-hoa Kongcu juga menjerit kaget dan bingung. Agaknya

dia kaget dan terpesona oleh jurus pukulan Ling Ji-ping yang

bukan kepalang hebatnya. Ternyata Ling Ji-ping sendiri juga

tidak habis mengerti, bahwa anjuran Tin-thian-ciang yang

baru dipelajarinya, ternyata memiliki kekuatan sebesar ini,

sambil melongo dia diam saja mengawasi tubuh Lenghou Hou

yang melayang jatuh ke jurang.

Namun pada detik detik yang gawat itulah, sssosok

bayangan orang bagai meteor jatuh cepatnya, ditengah hujan

331

lebat pula, sehingga gerakan bayangannya itu hanya samar

samar belaka, nampak bayangan itu ulur kedua tangannya

menangkap tubuh Lenghou Hou yang mencelat terbang itu,

hanya beberapa kali lompatan berjangkit tubuh nya telah

hilang ditelan kegelaoan.

Malam terlampau pekat, hujan bayupun amat derasnya,

sehingga Ling Ji-ping dan Pek-hoa Kongcu sama sekali tidak

menyadari akan kejadian tersebut.

Namun setelah Ling Ji-ping sadar, seketika dia menyesal

pula, batinnya : „Celaka, kali ini Hwi-hou Kongcu pasti mati,

meski dia setimpal menerima kematian ini, tapi aku sudah

berjanji kepada Pekhoa Kongcu untuk meminta obat

pemunahnya, karena kematiannya ini, dari mana dia harus

memperoleh obat penawarnya ?”

Tersipu-sipu dia meluncur ke sana memburu kebawah

lembah, namun hujan angin sedemikian lebat, hari gelap

gulita lagi, meski, dia sudah menjelajah kian kemari, mayat

Hwi-hou Kongcu tetap tidak dia ketemukan. Akhirnya dia

sadar kalau Hwi-hou Kongcu belum mati dan kuasa melarikan

diri pasti telah ditolong orang.

Melairikan diri ? Jelas tidak mungkin, karena Ling Ji-ping

yakin pukulannya tadi sedemikian dahsyatnya, umpama tidak

seketika mati, Hwi-hou kongcu pasti terduka Parah, tak

mungkin dapat melarikan diri.

Mungkin ditolong orang ? Ditengah alas belukar di saat

saat hujan selebat ini, mungkinkah ada orang sembunyi

disekitar sini dengan maksud menolongnya? Kalau benar dia

ditolong orang yang kebetulan memergoki kejadian itu,

kenapa dirinya tidak tahu sedikitpun ? Lama Ling Ji-ping

merenung, susah dia menyimpulkan apa sebenarnya yang

telah terjadi.

„Siauhiap,” setelah menghela napas, sebuah mata rawan

berkata dibelakangnya. „tidak kau temukan dia ?”

332

Waktu ‘Ling Ji-ping membalik, dilihat Pekhoa Kongcu

bersama keempat gadis Ang-hoa kau sudah berada

dibelakangnya.

Dengan tertawa dingin Ling Ji-ping berkata „Ya, sudah

hilang. Tapi nona tak usah kuatir, aku sudah berjanji

mendapatkan obat penawar itu pasti akan kulakukan.”

”Aku tidak memikirkan obat penawar itu tapi aku kuatir bila

rase siluman itu tidak mampus, kelak pasti membawa

bencana.”

„Kebetulan kalau dia tidak mampus, aku bisa menagih obat

penawarnya itu,”

„Soal obat penawar itu Siauhiap tidak usah ambil di hati,

aku memang setimpal menerima ganjaran ini, matipun tak

akan menyesal. Seorang aku sudah sadar, ilmu itu seluas dan

sedalam lautan, gunung yang tinggi ada yang lebih tinggi lagi,

demikian pula kecerdikan manusia satu lebih pintar dari yang

lain, biasanya aku terbangga akan kebolehanku sendiri, tak

nyana ini aku kecundang juga, malah tidak kusadari

sebelumnya. Mungkin takdir memang sudah menghendaki

demikian, maka tentang kematianku pada tujuh hari lagi itu,

sedikitpun aku tidak ambil peduli.”

„Tapi aku sudah berjanji kepada nona, tadi nonapun telah

menolongku, maka wajib aku berusaha sekuat tenaga. Cukup

asal nona insaf dan bertobat akan kesalahan masa lalu

kehidupan nan indah dengan jiwa yang luhur memang patut

dikenang untuk selamanya”.

Pek-hoa Kongca tertawa rapuh, katanya sedih „Terima

kasih, kehidupan nan indah itu akan menjadi milik adik yang

mungil rupawan Dan aku, hidup ini hanya akan meninggalkan

kenangan pahit getir masa lalu, hidupku ini akan terasa

hambar dan tawar, bila Siauhiap betul-betul ingin memberikan

obat pegawar itu, kecuali…..”

„Kecuali apa “

333

„Aih,” Pek-hoa Kongcu menghela napas rawan, namun kita

tidak memberi penjelasan akan kepedihannya ini, entah apa

yang terkandung di balik helaan napas itu.

Tenang-tenang Ling Ji-ping menunggu, namun Pek hoa

Kongcu tidak bicara pula. maka dia berkata: „Asal nona mau

merubah kesalahan, membina diri mnnempuh hidup baru.

Bagi Ang hoa kau kalian, hal ini jelas akan membawa rejeki,

sesuai apa yang pernah kujanjikan, aku pasti takkan

mengecewakan engkau.” akhir perkataan Ling Ji-ping

ditujukan tentang obat penawar dari Jit-jit-toan-yang-san.

Tapi Pek-hoa Kangcu justru salah paham seketika mukanya

merah, untung malam gelap tengah hujan lebat lagi, sudah

tentu Ling Ji-pig tidak tahu akan hal ini.

„Siau-hiap. betulkah ucapanmu ?” tanyanya penuh emosi,

bola matanya seperti berkilauan! tengah kegelapan.

„Selama hidupku ini belum pernah aku ingkar janji.”

„Syukurlah.” rasa senang membakar jiwa Pek-hoa Kongcu,

sepercik harapan tumbuh pula dalam kalbunya, dari harapan

itu dia membayangkan kehidupan baru akan sepera tiba. Maka

tertawa riang, katanya; „Kalau begitu, selama hidupku ini akan

selalu berterima kasih kepadamu Siauhiap.”

„Nona bagaimana kalau kita kembali dulu ke yilamu?”

„Ke yillaku ?” bergetar tubuh Pek-hoa Kongcu, bayangan

gelap seketika menyelubungi selebar wajahnya. Karena di

yillanya itu kini terbaring pulas diatas ranjangnya seorang

nona cantik Nona rupawan itu akan menghapus harapan

sekaligus merupakan ancaman yang serius untuk kehidupan

baru yang tengah dibayangkan tapi dalam keadaan seperti ini

tak bisa dia menunjukkan perasaannya, walau rasa jelus

menjalari sanubarinya, tapi dihadapan Li Ji-ping, tak boleh dia

menunjukkan rasa kurang senangnya.

334

Maka dia mengangguk dengan perasaan katanya : „Iya

mari kita pulang, mungkin adik itu sudah menunggu tidak

sabar.”

Ling Ji-ping tertawa kaku tanpa berbicara Pek-hoa Kongcu

sudah angkat langkah tiba-tiba dia berhenti, katanya: „Oh, ya,

siapa sebetulnya nona itu “

„Cucu perempuan Hu-yong Siancu yang kenal dahulu.”

„Hu-yong Siancu ‘” kembali Pek-hoa kembali tertegun,

namun segera ia tertawa, „Aduh kiranya dia. Tak heran begitu

cantik, malam ini dewi malam sampai tak berani keluar.”

berhenti sejenak tiba-tiba dia bertanya : „Apakah kalian

sepasang kekasih ?”

„Ah tidak, belum ini saja kami berkenalan” sahut Ling Jiping.

„Masa ?’

„Hal ini nona tak perlu tahu.”

Mencelos hati Pek-hoa Kongcu, rasa bimbanj menjalari

sanubarinya, lekas sekali benaknya diselimuti suatu bayangan,

secepat ini dia sudah melupakan rasa penyesalannya tadi.

wajahnya kembali tersenyum genit, katanya : „Memang, entah

kenapa aku ini, tanya melulu soal pribadi orang-Siauhiap,

harap kau tidak berkecil hati.”

„Nona, mari berangkat.” ujar Ling Ji-pi dingin.

Pek-hoa Kongcu mengiakan, bayangan enam orang segera

berkelebat ditengah hujan lebat di telan kegelapan.

Waktu hari hampir fajar, ternyata hujan reda. Tampak

bayangan enam orang meluncur dengan kecepatan tinggi

diantara rumpun rumpun bambu dan akhirnya berhenti

didepan loteng bambu. Cuma orang yang didepan berjalan

berendeng, dibelakangnya mengintil empat orang gadis yang

menyoren pedang.

335

Setelah tiba didepan rumah sekilas Pek-hoa kongcu melirik

dan memberi isyarat kepada salah seorang pelayan

pribadinya, dimulut dia berkata : „Pergilah kalian ke Kun-hoakik

mengundang nona Itu kemari, katakan bahwa Ling

siauhiap menunggunya di sini.”

Pelayan yang dikedipi sudah maklum, segera ia mengiakan

terus mengundurkan diri, sebelum berlalu dia senggol lengan

kedua temannya yang berdiri di kanan kiri, katanya : „Kalian

saja yang menjalankan tugas ini.”

Ling Ji-ping bertanya sambil membalik tubuh : „Apa Yongmoay

tidak di s ini ?*’

„Tidak, tapi Kua-hoa-kik tidak jauh dari sini, sebentar juga

sudah sampai, silakan Siauhiap masuk dan istirahat didalam’

Ling Ji-ping dipersilahkan naik kesebuah ruangan tamu

yang terletak diatas loteng, dengan perabot dan pajangan

serba bambu yang antik. Di sebelah kanan kamar tamu ini

adalah kamar tidur Pek hoa Kongcu, di mana tempo hari dia

memergoki perempuan centil ini sedang bermain dengan Hou

Kongcu diatas ranjang.

Ling Ji-ping sedang melamun seorang diri sambil

memandangi panorama nan molek permai di luar loteng. Tiba

tiba dia terjaga oleh suara, tawa cekikikan di belakangnya,

„Siauhiap kenapa melamun ?”

Bau harum merangsang hidung, pelan pelan Ling Ji-ping

membalik badan, bola matanya seketika berbinar binar,

ternyata Pek-hoa Kongcu sudah ganti pakaian dan bersolek,

tubuhnya di bungkus kain sari yang tembus cahaya sehingga

potongan badannya yang semampai menggiurkan seperti

dipamerkan dihadapan Ling Ji-ping. Tergerai hati Ling Ji-ping,

namun alisnya berkerut, katanya dingin „ Nona, kenapa

pelayanmu belum juga kembali ?”

„Aduh, kenapa kau tergesa-gesa, meski dikata, dekat, jarak

Kun hoa-kik ada lima li, jalan pulang pergi juga memerlukan

336

waktu, tunggulah dengan sabar. Aku sudah suruh menyiapkan

sebuah perjamuan, semalam suntuk engkau bercapai lelah

tidak tidur lagi, tentu perutmu sudah lapar.”

Menyinggung makan minum, seketika Ling Ji-ping rasakan

perutnya memang lapar, tenggorokan pun dahaga, katanya

mengangguk : „Baiklah, setelah Yong-moay tiba, aku akan

segera pergi ke Hwi-hou ceng untuk mencari jejak Leng-hou

Hou, aku duga obat pemunahnya itu tentu disimpan di

perkampungan itu.”

”Banyak terima kasih akan perhatianmu. Sayang Hwi-hou

Kongcu amat licin, tak mungkin ia kembali ke rumahnya.

Untuk ini tak usah terburu-buru baru semalam aku minum

obat racunnya itu, masih ada waktu enam hari, tadi aku sudah

perintahkan anak buahku untuk mencari jejaknya, bila sudah

ada kabar, belum terlambat Siauhiap menyusulnya kesana

bersamaku.”

Ling Ji-ping dapat menerima alasan ini, maka ia bersabar

Tiba-tiba tangga loteng berkeriut, derap langkah orang

berkumandang diambang pintu waktu Ling Jiping menoleh,

dua pelayan muda tampak muncul membawa nampan yang

berisi masakan terus ditaruh dimeja.

„Silahkan duduk.” Pek-hoa Kongcu tertawa lembut ”mari

makan dulu. ada orang lain yang melayani segala keperluan

adik cilik itu.”

Memangnya sudah kelaparan meski dia tahu Pek-hoa

Kongcu pandai menggunakan daya tariknya, namun malam

tadi dia menyatakan penyesalannya setulus itu, dirinyapun

sudah berjanji nanti mencarikan obat penawar itu, betapapun

jahat hati perempuan, yakin dia tidak akan melakukan

perbuatan keji terhadap dirinya. Maka dengan hati lapang dia

duduk dan mulai makan, tapi dia tidak pernah meninggalkan

kewaspadaan, makanan yang sudah dicicipi Pek-hoa Kongcu

baru berani dia mengambilnya, arak sama sekali tak

diteguknya sama sekali.

337

Pek-hoa Kongcu ternyata tidak memaksa minum, tapi dia

sendiri minum beberapa cangkir Mereka sudah selesai makan,

tapi, Yong-yong belum juga kunjung tiba, mau tidak mau

timbul rasa curiganya, tanyanya : ”Nona, kenapa mereka

belum juga datang ?”‘

„Kukira sebentar lagi mereka pasti sudah tiba.”

Kedua pelayan mengangkuti piring mangkuk kebawah

loteng, lalu menyuguh pula secangkir teh wangi. Pelan2 Ling

Ji-ping menghirup teh wangi yang Panas segar ini,

Pandangannya tertuju keluar loteng, suasana alam

pegunungan terasa hening dan tentram.

Keheningan ini membuat Ling Ji-ping melamun pikiraannya

menyusur kembali pengalaman selama Ini, pengalaman pahit

getir dimana dia pernah memperoleh gelang naga, dari Lian

hoa. dan dari tangan Lam-jan dia menerima pula kotak besi

berisi gembok emas, namun untuk menuju lembah api dan air

dia harus memiliki gelang naga itu, padahal gelang naga itu

kini berada di tangan Bwe-hou Hujin. Maka dia menoleh, dan

kebetulan pandangannya bentrok dengan sorot mata Pekhoa

Kongcu yang kebetulan sedang menatapnya lekat2. Pek-hoa

Kongcu segera tersenyum manis, tanyanya : ”Siauhiap, apa

yang engkau bicarakan ?”

„Ada sebuah permintaan yang kurang patut dapatkah

Kongcu suka membantuku?”

“Katakan saja Siauhiap, bila aku dapat memangnya aku

tidak sudi membantu?”

„Tentunya nona tahu tentang gelang naga Bwe hu kaucu

merampasnya dari tanganku.”

”Oh, jadi karena soal ini.” ucap Pek hoa kongcu tertawa

manis, “tapi, ibuku bilang, gelang itu semula adalah milik Lianhoa.”

338

Bungkam mulut Ling Ji-ping, apa yang dikatakan Ini

memang tidak salah, Lian-hoa adalah anggota Ang-hoa-kau,

dirinya memang mendapat gelang itu dari tangan Lian-hoa,

kenyataan ini tak mungkin dibantah.

Pek-hoa Kongcu tertawa genit, katanya:

”Tapi, bila Siauhiap memerlukannya aku bisa berusaha,

apakah Siauhiap bertujuan mengudak ketiga pusaka dari

Thian tiok itu?

Tahu dirinya tak bisa mungkir akan rencananya, dengan

tegas Ling Ji-ping mengiakan.

„Ibuku juga bertekad mendapatkan ketiga pusaka itu.” kata

Pek-hoa Kongcu.

„Kalau begitu, soal ini tak perlu dibicarakan lagi. Memang

benar, Lian-hoa merebut gelang naga itu dari anggota Yubing-

kau, namun aku tidak merebutnya secara paksa, tapi

nona Lian-sendiri yang menghadiahkan kepadaku.”

„Hal itu kami sudah tahu Siauhiap.”

„Tapi ibumu dengan akal merebutnya dari tanganku, yakin

akupun bisa merebutnya kembali bahwa tadi aku minta

bantuan nona supaya tidak terjadi pertikaian.”

„Apa benar Siauhiap yakin dapat merebut kembali?”

„Keyakinan adalah keberanian yang amat berharga.”

„Tapi aku punya cara lain sehingga kedua pihak tidak usah

bentrok.”

„Coba katakan.”

Berputar bola mata Pek-hoa Kongcu, katanya „Biarlah soal

ini kubicarakan laigsung dengan ibu ku, kemungkinan bisa

dicapai cara yang sempurna demi keuntungan kedua pihak.”

„Cayhe tidak bermaksud mengangkangi ketiga pusaka itu,

namun ketiga pusaka itu memangku suatu urusan besar dalam

339

Bulim. bila Ang-hoa-khu kalian bisa merubah haluan, menjadi

organisasi sosial yang mementingkan kepentingan rakyat

Jelata, dengan suka rela akan kuberikan kepada kalian bila

kelak barang barang itu terjatuh ketanganku,”

„Urusan besar Bulim ? Urusan apa ?”

”Sekarang tidak boleh kuterangkan.”

”Hm, aku pasti dapat menebaknya.”

”Kalau nona sudah tahu, mohon tak usah kau katakan.”

„Ya, soal ini mudah dibereskan, tapi . .” Belum habis orang

bicara, tiba tiba Ling ping merasa ngantuk, tubuhnya

bergoyang-goyang

Pek-hoa Kongcu tertawa riang katanya: „Pergilah istirahat

di kamarku, bila adik cilik datang akan kuberitahu kepadamu.”

Ling Ji-ping merasa amat penat, tubuhnya lunglai, diam

diam dia merasa heran, hawa murni pun dia kerahkan, tapi

tidak terasa keracunan apa-apa.

Didengarnya Pek-hoa Kongcu berkata : ”Semalam suntuk

kau tidak tidur, kehujanan !agi, mungkin masuk angin lekaslah

istirahat, jangan kuatir, aku takkan berbuat tidak senonoh.”

Ling Ji-ping tidak kuat lagi. diantara sadar tidak sadar dia

biarkan dirinya dipapah dan diseret masuk kekaraar oleh Pekhoi

Kongcu. Ling Ji-ping masih sedikit sadar bahwa ada

sesuatu yang ganjil pada dirinya, tapi sekarang dia tidak kuasa

berbuat apa apa, terpaksa mandah saja apa yang dilakukan

Pek-hoa Kongcu. Layap-layap dia merasa dirinya direbahkan

diatas ranjang yang empuk dan wangi, seseorang mulai

membelejeti pakaiannya. Ingin dia meronta, sayang tenaga

tidak mampu dikerahkan, bahwasannya dia memang tidak

mampu bergerak sedikitpun. Sayup sayup didengarnya tawa

genit yang merangsang.

340

Kesadarannya sudah hampir punah, namun dia masih

merasakan pipinya diciumi, bibirnya dilumat bau harum

merangsang hidung sayang rasa kantuk teramat berat

sehingga dia tidak ambil peduii apa yang terjadi atas dirinya.

Pada saat itulah, disaat pikirannya hampir tenggelam oleh

lelapnya tidur, kupingnya sempat mendengar tawa dingin.

Kenapa tawa dingin yang satu ini seperti obat mujarab,

semangatnya yang sudah runtuh seketika menyala, sambil

mengeluh tiba tiba dia berjingkrak duduk diatas ranjang. Lapat

lapat pandangan masih sempat menangkap bayangan

seseorang yang meluncur keluar dari jendela, maka

pandangannya melongo kearah jendela. terasa olehnya tawa

dingin itu begitu dekat, amat dikenalnya, dia geleng geleng

kepala untuk menghilangkan rasa kantuk, namun sesingkat ini

tak kuasa dia pikirkin siapa tadi yang tertawa dingin Tiba tiba

sebuah helaan napas terkiang pula di pinggir kupingnya,

waktu dia menoleh, lapat lapat dilihatnya seseorang berdiri

didepan ranjang, dengan hambar dia bertanya : „Siapa kau ?”

Bayangan orang Itu tidak menjawab, tiba tiba terasa

mulutnya dijejal sesuatu yang berbau wangi, begitu masuk

mulut kena ludah benda itu segera lumer dan tertelan

kedalam perut, segulung hawa panas seketika bergolak dalam

pudarnya.

Tidak sedikit kesadaran Ling Ji-piog telah pulih, sekuatnya

dia pusatkan perhatiannya memandang dengan memicing

mata, namun setelah keadaannya sedikit tenang, bayangan

orang itu pun telah lenyap. Seketika dia melongo seperti

linglung, otaknya masih sempat menyusuri kejadian yang baru

dialaminya, senyum yang amat dingin segera mengulum

diujung bibirnya, kini dia sudah tahu apa yang telah terjadi,

namun suara tawa diluar jendela dan orang yang menjejal

obat ke mulut entah siapa ?

”Kehidupan Kangouw yang penuh liku liku kejahatan,

manusia yang picik dan kotor, sungguh tak pernah kusangka,

341

di Ceng-sen–san ini aku betul-betul meresapinya.” pelan pelan

dia memejam mata

Tak lama kemudian, didengarnya suara lambaian baju, ada

orang melayang turun di dalam rumah. Ling Ji-ping pura pura

tidur pulas, namun dalam hati dia sudah mengumpat: „Kau

perempuan sejahat binatang berbisa ini, majulah. Hari ini kau

akan mesrasaKan imbalannya.”

Ternyata Pek-hoa Kongou telah kembali, dari suara

langkahnya dia tahu orang mendekati ranjang, terdengar oleh

Ling Ji-ping helaan napasnya yang sedikit memburu. Mungkin

tadi dia keluar mengejar orang yang tertawa dingin sampai

cukup jauh, namun kuatir terjadi sesuatu diatas loteng, maka

ia buru dia putar balik.

Dalam hati Ling Ji-ping tertawa dingin, dia pun pura pura

tidur pulas tanpa bergerak.

Lambat laun deru nafasnya yang tersengal sudah mereda,

tiba tiba Pek-hoa Kongcu menghela nafas, mulutnya

bergumam : ”Pujaanku, entah kenapa, begitu melihatmu, aku

lantas naksir padamu. Apa yang kulakukan terhadap mu

sekarang memang salah, tapi apa dayaku ?.” merandek

sejenak lalu menyambung, „aku tahu diriku yang telah ternoda

ini tidak setimpal jadi jodohmu, dahulu memang aku salah

langkah, sekarang menyesalpun telah kasip. Aku tidak ingin

menelanmu bulat-bulat, aku hanya ingin mendapatkan sekali

kenikmatan saja, dan itu sudah cukup uptuk mengukir

kenangan dalam kalbuku, karena selama hidupku ini, kali ini

adalah yang terakhir, kali yang paling pendek, namun dalan

lembaran hidup akan kujadikan kenangan yang manis mesra,

kenangan yang akan mendampingiku sampai akhir ku.

Maafkanlah aku.”

Ling Ji-ping adalah pemuda yang berhati kaku berwatak

dingin, tangannya gapah tak kenal kasihan sehingga dia

dijuluki Cui-bun-jiu. Tapi Laki laki yang berhati kaku dingin,

ada kalanya justru adalah laki laki yang dihuni perasaan

342

hangat dan penuh dilembari rasa iba Demikian pula seorang

yang sering membunuh orang secara keji, adakalanya diapun

memiliki hati yang lemah lembut entah kenapa tekadnya yang

akan menghukum dan menghajar Pet-hoa Kongcu mendadak

rnenjadi goyah dan lumer.

Karena apa yang dilimpahkan Pek-hoa Kongcu dalam

gumam perkataannya menyuarakan hati nurani seorang

perempuan yang jatuh cinta secara membuta, sungguh

kasihan, helaan napasnya yang rawan itu kedengarannya

seperti ritme lagu yang syahdu dan memukau.

Diam diam dia menghela napas, batinnya: ”Cinta dapat

membuat jiwa orang nyentrik, dan cinta itu pula itu pula dapat

menyadarkan kesesalan seseorang Meski cara yang dia

lakukan terhadapku terlalu nyeleweng, tapi isi hati yang

diutarakannya merupakan kesadarannya pula, kenapa aku

harus menghukumnya. Menyadarkan seseorang dari kejahatan

kejalan yang benar adalah suatu kebaikan “

Terdengar dia melangkah maju dua langkah lebih

mendekat ke pembaringan, setelah menghela nafas pula.

perlahan lahan dia membungkuk badan. Ling Ji-ping segera

rasakan seraut wajah yang hangat nenempel mukanya,

dengus nafas terasa memburu, bau harumpun merangsang

hidung. Hati Ji-ping bergoncaig, perasaannya seperii di kili-kili.

lekas dia menikah perasaan dan kendali semangat.

Tapi sebelum dia berkeputusan, turun tangan apa tidak ?

Ternyata bibir Pek-hoa Kongcu yang sudah hampir menyentuh

bibirnya tiba tiba beralih kepinggir dan tubuh orang ternyata

telah berdiri tegak pula, terdengar dia menarik napas panjang

lalu bergumam pula: ”Tak boleh aku berbuat demikian.

Indahkah kenangan yang kupero!eh nanti ? Dapatkah

kujadikan kenangan selama hidup ? Aku ini sekali sudah salah

langkah jangan kuulangi kesalahan itu.”

Pada saat itulah, diluar jendela berkesir angin melambai,

ada orang melompat turun.

343

”Siapa ?” Pek-hoa Kongcu segera membentak

”Kongcu, inilah hamba.” sahut orang diluar jendela.

”Ada urusan apa, kenapa tergesa-gesa?”

”Nona Yong-yong ternyata telah hilang.!”

Ling Ji-ping yang pura pura pulas terkejut hampir saja dia

berjingkrak.

”Bagaimana bisa hilang ?” hardik Pek hoa Kongcu.

”Entahlah,” sahut pelayan itu kebingungan ”waktu hamba

tiba di Kun-hoa kik, pintu gua sudah terbuka, nona itu sudah

tidak kelihatan lagi”

„Sudah kau periksa adakah jejak jejak yang mencurigakan

?”

„Tiada apa apa yang kutemukan, keadaan dalam gua biasa

tetap rapi. Padahal pintu gua itu hanya bisa dibuka dengan

sandi rahasia, pasti ada seseorang yang telah menolongnya.”

„Mana mungkin ?” gumam Pek-hoa Kongcu setengah

berbisik, „kecuali orang yang tahu cara membuka pintu

rahasia itu. siapa yang mampu masuk ke Kun-hoa-kik ?”

Pelan pelan Ling Ji-ping membuka segaris kelopak

matanya, mengintip sikap dan kelakuan Pek-hoa Kongcu,

dilihatnya orang sedang tunduk menepekur. Tiba tiba dia

tersentak kaget dengan perubahan hebat dimukanya, seperti

telah membayangkan suatu kejadian yang mengerikan,

katanya: ,Ya, pasti dia. Dia belum mati dialah yang membuat

gara gara ini.”

Ling Ji-ping ikuit tersirap, ‘dia’ yang dimaksud oleh Pek-hoa

Kongcu pasti adalah Hwi-hou Kongcu, semalam mayatnya

tidak diketemukan di bawah lembah, mungkin sudah ditolong

orang, saat itu juga dia pergi ke Kun-hoa-kik menculik Yongyong.

344

Yong-yong adalah gadis rupawan yang masih suci bersih,

bila dia terjatuh ketangan iblis cabul Itu. maka dapatlah

dibayangkan akibatnya. Keringat dingin membasahi sekujur

badannya, tanpa banyak pikir segera lia mencelat bangun

berdiri.

Mendadak Pek-hoa Kongcu berjingkat kaget sambil

menoleh, kedua tangan mengelus dada. kakinya menyurut

mundur, mulutnya megap megap ”Kau …. kau . . . .”

Sedingin es suara Ling Ji-ping : „Terima kasih akan teh

harummu Kongcu, orang she Ling sudah sadar kembali.”

Merah berganti pucat wajah Pek-hoa Kongcu merah malu,

pucat karena menyesal, jelas jantung nya sedang berdetak

keras, akhirn/a dengan tertawa nyengir dia berkata :

„Ternyata kau hanya pura pura saja ?”

Ujung mulut Ling Ji-ping mengulum senyum sinis, katanya :

”Jangan singgung soal ini kalau tidak kudengar penyesalanmu

tadi, Ling Ji-ping tidak akan mengampunimu, waktu aku pukul

Hwi-hou kongcu. Kongcu kan juga hadir.?

Pek-hoa Kongcu terkancing mulutnya, pelahan=lahan dia

menunduk dengan malu, akhirnya menghela napas rawan;

„Sekarang ingin aku tanya satu hal, kau harus menjawab

sejujurnya.”

„Bukan aku takut kepadamu. Tapi aku tidak akan bergebrak

dengan kau, kau boleh tanya apapun yang ingin kau ketahui

sekarang akan kujelaskan kepadamu.*’

„Waktu nona Yong-yong dikurung di Kun hoa-kik, dia dalam

keadaan sadar atau pingsan?”

„Ya, dalam keadaan sadar dan bebas, Hiatto tidak ditutuk,

namun dia hanya dikurung seperti pesakitan biasa.”

„Apakah Lenghou Hou juga tahu cara membuka pintu

rahasia itu ?”

345

”Ya.”

”Kecuali dia.?”

„Hanya keempat pelayanku ini.”

”Orang orang Ang-hoa-kau lainnya?”

”Hanya Kaucu saja.”

Setajam pisau sorot mata Ling Ji-ping. kata nya pula

menatap Pek-hoa iyongcu : „Sejak kedatangannya dari luar

perbatasan, kecuali Hwi hou seng, adakah Lenghou punya

sarang persembembunyian lainnya ?”

„Aku tidak tahu.”

„Ayahmu Tiang-pek-hwi-hou apakah dulu bersamanya ?”

„Akupun tidak tahu,”

„Sungguh ?.”‘

„Aih,” setelah menghela napas perlahan lahan Pek-hoa

Kongcu berkata : „Demi kau, dengan dia aku sekarang sudah

menjadi musuh, memangnya aku masih harus

menyembunyikan sesuatu yang kuketahui Apalagi tadi sudah

kukatakan, untuk dikau, apapun akan kubeberkan.”

Melihat orang bicara dengan sikap sungguh sungguh dan

setulus hati, mau tidak mau Ling Ji ping jadi percaya juga,

sekilas dia berpikir lalu berkata pula : „Kalau demikian, akupun

takkan menyalahkan kau, semoga kelak aku dapat

membuktikan bahwa semua ini bukan muslihatmu belaka.”

akhir katanya ditambah dengan sekali dengusan lirih.

„Sekarang juga kau mau pergi ?”

„Memangnya Kongcu ingin menyuguh secangkir teh wangi

lagi ?”

„Dapatkah aku membantu ala kadarnya untuk menebus

kesalahanku ”

346

„Tidak usah.” tawa Ling Ji-ping angkuh, ”apabila kau tahu

tempat persembunyian Lenghou Kou, cukup kau beri tahukan

kepadaku saja” beberapa langkah dia beranjak, tiba tiba

berhenti dan menambahkan, tolong tanya Kongcu, kontrak

dagangmu dengan Tok-bu siang, apa jadi dilaksanakan?”

Pek-hoa Kongcu melengak, katanya: „Hubungan dengan

Lenghou Hou sudah retak, kukira persoaiannyapun batal.”

„Perlu kuperingatkan kepada Kongcu, gelang naga itu

kalian memperolehnya dari tanganku, kuharap kalian

menjaganya baik-baik, setelah aku menemukan nona Yongyong,

akan ku luruk ke Bwe-tun mengambilnya, bila terjadi

sesuatu atas gelang itu, hem, jangan salahkan kalau orang

she ling bertindak sadis.”

Bergetar kulit muka Pek-hoa Kongcu. kata „Jangan kau

teramat yakin akan kemampuan mu, bagaimana Kungfu ibuku,

tentunya kau sudah tahu ?”

„Kecuali akan merebut kembali gelang itu, orang she Ling

juga ingin menjajal pula sampai di mana lihaynya ilmu irama

harpa menembus Hiat-to ibumu itu.”

Pek-hoa Kongcu menghela napas sedih, katanya:

„Dengarkan penjelasanku . . . . ‘

Ling Ji ping sudah tertawa gelak-gelak, katanya ”Aku tahu

maksud kongcu, tolong sampaikan dalam beberapa hari ini

orang she Ling akan bertandang. Selamat bertemu.” tiba-tiba

tubuhnya berkelebat tanpa menoleh dia sudah meluncur

keluar jendela.

Bagai anak panah yang meluncur dengan dengan daya

luncuran kencang Ling Ji-ping berlari sekuat tenaganya

menuju ke Hwi-hou-ceng, sebetulnya dia tahu bahwa

kedatangannya kesana pasti menemukan tempat kosong, tapi

kecuali Hwi hou ceng, kemana pula dia harus menyelidik

persembunyian Hwi-hou Kongcu ?

347

Selama dua tahun dia menyelidik teka-teki yang

menyelubungi puncak iblis dengan penghuninya yang

misterius, jejaknya hampir menjelajah seluruh dunia, bahwa

kedatangannya ke Ceng-seng kali ini ternyata banyak

menghadapi persoalan pelik yang diluar dugaannya, ternyata

urusan semakin ruwet dan sukar dipecahkan, beberapa kali

dirinya hampir kecundang pula, untunglah teki teki puncak

Iblis itu akhirnya dapat juga dia singkap meski baru

selimutnya, dan yang lebih penting lagi bahwa lembaran

hidupnya kini mulai tampak perubahan yang cukup nyata.

Kalau dulu seluruh perhatian dia konsentrasikan demi

kesejahteraan kaum Bulim, namun di dalam relung hatinya

kini telah disadarinya bahwa banyak persoalan penting seperti

menyangkut pribadinya. terutama segala sesuatu yang

menyangkut diri Yong-yong.

Tugas yang terpenting sekarang adalah menemukan Yongyong

namun dalam alam pikirannya yang terbayang dua

bayangan orang, terhadap si nona burung seriti dia menaruh

hormat, kepada nona Lian-hoa dia amat simpatik, namun

terhadap Yong-yong, tak boleh disangkal lagi, itulah cinta.

Karena cinta itulah maka dia merasa kehidupannya ini semakin

padat, tambah malang. Tapi juga tambah rumit dan

mengalami liku-liku kehidupan. Dan liku-liku kehidupan ini

terbaur pula dengan tugas utamanya demi mendarma

baktikan diri untuk kepentingan Bulim.

Itulah sebabnya kenapa dia mulai menyadari bahwa

kehidupannya sekarang nampak perubahan.

Banyak urusan yang harus dia selesaikan, tiada yang dapat

dia pikirkan secara mendalam, tapi dia memang tak mungkin

tidak harus memikirkannya, Sambil memutar otak, langkahnya

tidak pernah kendor, hanya satu tujuannya Hwi-hou-ceng.

Cepat sekali Hwi-hou-ceng sudah kelihatan tak jauh lagi

didepan, sekilas dia mendongak melihat cuaca, tepat tengah

hari. Dia menuju hutan dimana tempo hari dia pernah

348

menyembunyikan diri. sekilas dia melirik kearah pohon besar

dimana Yong-yong pernah dia sembunyikan atas lobangnya,

bibirnya bergerak-gerak pikirnya „Kalau bukan mementingkan

menolong Yong yong. memangnya orang she Ling takut

terhadp siapa ?'”

Pelan-pelan dia beranjak keluar dari hutan kali ini dia tidak

perlu main sembunyi, padahal dia sudah menduga bahwa

perkampungan ini sekarang pasti sudah kosong,

kedatangannya hanya ingin mengeduk sumber penyelidikan

saja. Suasana sepi lengang melingkupi Hwi-hou-hanya kicau

burung terdengar disana sini. Pintu gerbang perkampungan

ternyata terbentang lebar, tiada suara apapun di dalam,

biarpun cuma kotek ayam atau gonggong anjing. Ling Ji-ping

segera mempercepat langkah kakinya keadaan perkampungan

ternyata sudah morat marit, seperti baru diserbu gerombolan

perampok perabot rumah porak poranda, namun Ling Ji-ping

tidak hiraukan semua itu dia langsung menuju kepekarangan

sebelah dalam, keadaan di sinipun kocar-kacir bayangan

seorang pun tidak kelihatan.

Dengan senyum sinis Ling Ji-ping sapukan pandangannya,

tiba-tiba kupingnya menangkap suara rintihan yang lirih dari

sebuah kamar kecil dipojok sana. Sekilas dia melengak.

akhirnya dia tertawa angkuh, langkahnya menuju ke sana, di

depan pintu dia berhenti, mendadak dia layangkan sebelah

kakinya, “Blang” pintu kecil itu dltendangnya remuk

berhamburan. Begitu daon pintu runtuh Ling Ji-ping segera

membentak :, Siapa di dalam ru . . . .”

Tapi pemandangan di dalam rumah yang begitu

mengenaskan seperti mencekik lehernya sehingga dia tidak

kuasa meneruskan bentakannya. Saking kaget Ling Ji-ping

menyurut mundur, sementara dia berseru sambil memburu ke

dalam: “Bwe , . . . ing…..”

349

Rintihan lirih yang meyayat hati terdengari pula, lalu disusul

suara pertanyaan yang hampir tidak terdengar : „Siapakah kau

?”

Melotot mata Ling Ji-ping mengawasi muka orang yang

berlepotan darah dengan bola mata yang sudah dicukil

bolong, kaki tangan Bwe-ing di pantek didinding, darah

berkobang disekitar kaki nya, tanyanya dengan suara geram

„Apakah karena! kau menolongku kemaren maka mereka

menyiksai mu begini rupa ?”

„Apakah kau Ling siauhiap?”

Ling Jl-ping mengiakan, katanya : ”Kemana mereka

melarikan diri ? Akan kutuntut balas untuk sakit hatimu ini.”

Saking menderita siksa kesakitan ini Bwe-ing rampak

merintih dan menggeliat sekali, bibirnya yang sudah

membengkak biru bergerak lambani „Entah … . aku…..tidak

tahu.”

“Apakah Leng-hou Hou pagi tadi pulang

„I…ya.. “

„Tiang-pek-hwi-hou juga telah … datang? “

”Em”

Ling Ji-ping menggertek gigi, pikirnya: „Rase tua itu

ternyata memang sembunyi digunung ini, dugaan seng

Locianpwe memang tidak keliru.” lalu dia tanya „Tahukah kau

di mana tempat tinggal Rase tua itu ?”

Bwe-ing merintih pula, suaranya lebih lirih badannya

kelejetan. Ling Ji-ping tidak tega, segera dia mendekat,

tangan kiri memapah tubuhnya tangan kanan mencabut paku

yang memantek kaki tangan Bwe-ing. lalu pelan-pelan

merebahkan di atas lantai.

Kaki tangan Bwe-ing mengejang, mulutnya berbuih,

suaranya kelu, dengus napasnya semakin lemah. Setelah

350

menghela napas Ling Ji-ping berkata: „Karena kedatanganku

kemaren, sehingga nona mengalami nasib sejelek ini, kalau

nona tahu di mana tempat persembunyiannya, boleh kau

beritahu padaku, aku pasti menuntut balas sakit hati mu.”

Bwe-ing yang celentang berkelejetan pula, tangan

kanannya akhirnya terangkat sedikit menuding kearah kiri, tapi

lantas lunglai, napasnya terheti, jiwapan telah melayang.

Seorang perempuan lemah yang harus dikasihani, dia mati

dibawah siksa kekejaman di luar prikemanusiaan hati Ling Jiping

seoerti disayat-sayat, dia menunduk mengawasi

jenazahnya, air matanya hampir tak tertahan. „Gadis ini mati

lantaran kehadiranku di sini kemaren, walau bukan aku yang

membunuh, tapi Kematiannya karena aku sungguh malang

nasibnya.”

Akhirnya dia berdoa : ”Tenanglah, darahmu masih segar,

dia telah mencuci bersih kehidupanmu yang hina-papa ini,

karena itu sukmamu akari tetap suci dan agung Aku Ling Jiping

berjanji akan menuntut balas kematlanmu itu ini “

Sekarang baru dia sempat memperhatikan bahwa keempat

jari Bwe-ing tertekuk menggengam, hanya jari telunjuknya

saja yang terjulur seperti orang menuding, seketika dia

maklum pikirnya: „Kiranya Bwe-ing menunjukkan arah

kepadaku, tempat persembunyian rase tua itu pasti berada

disebelah kiri dari perkampungan Ini”

Ling Ji-ping mengangguk hormat ke arah jenazah Bwe-ing,

katanya rawan: „Aku sudah tahu, istirahatlah tenang.” Lalu

dengan hati membara dan dirasuk dendam Ji-ping membalik,

terus keluar terus lari menuju kearah kiri,

Keadaan pegunungan didaerah sini jauh lebih berbahaya,

lembah ngarai sama curam dan licin berlumut, pohon-pohon

raksasa mencuat kelangit. kalau bukan ahli silat seperti Ling

Ji-ping. yakin akan mengalami kesulitan untuk menempuh

perjalanan dihutan pegunungan yang susah ditempuh

351

Kita-kita sejam kemudian belasan li telah ditempuhnya,

keadaan tanah pegunungan di sini ternyata lebih rendah dan

merata, pada sebuah tanah datar yang dikelilingi bukit muncul

sebuah biara.

Tergerak hati Ling Ji-ping. segera dia menghentikan

langkah, dengan seksama dia awasi biara yang sudah bobrok,

dan tidak terawat Ini. tampak sebuah jalanan kecil yarg

berliku ditanah rerumputan menjulur kedepan biara bobrok

itu, rumput tumbuh subur dlsekitar biara ini, jelas sudah

jarang diinjak manusia.

Pikirnya: “Mungkin inilah tempatnya. Hm, inginaku adu akal

dengan kau rase tua licik dan kejam, buktikan siapa lebih

unggul.” lalu dia menelusuri jalan kecil berliku-liku itu berlari

kearah biata.

Ling Ji-ping sudah bertekad untuk melabrak Tiang-pek-hwihou,

maka tidak perlu main sembunyi, waktu dia tiba didepan

biara, dari dalam biara kebetulan muncul seorang Tosu tua

bertubuh setengah bungkuk dengan langkah menggeremet,

rambutnya sudah ubanan, sepasang matanya cekung dagunya

yang panjang ditumbuhi secomot jenggot Kambing yang telah

memutih pula, jubah ke imaman yang dipakaipun sudah butut,

langkahnya bergoncang dan gemetar, langsung dia maju ke

depan menuju kearah Ling Ji-ping, seperti tidak tahu bahwa

didepan pintu ada orang berdiri.

Ling Ji-ping sengaja batuk-batuk Tapi Tosu tua ini seperti

tidak mendengar, langkahnya tetap lurus, setelah dekat

terdengar oleh Ji-ping, kerongkongan Tosu tua ini berbunyi

seperti tersumbat riak kental, napasnya sedikit memburu,

langkahya terangkat, sambil menyapa: „Siapa ?”

Karena dirinya hampir ditabrak oleh Tosu tua, sengaja Ling

Ji-ping batuk sekali lagi keras-keras. Agaknya Tosu tua kali ini

ada mendengar, langkahnya berhenti, kepalanya terangkat,

sambil menyapa: „Siapa..?”

352

Begitu Tosu tua ini angkat kepalanya baru Ling Ji-ping

melihat jelas, bukan saja sepasang mata Tosu tua ini cekung,

kedua biji matanya ternyata memutih kristal, ternyata kedua

matanya sudah buta.

Sekilas Ling Ji-ping menyapu pandang ke dalam biara,

suasana ternyata sepi-sepi saja. maka dia bertanya: „Apakah

Toya yang pegang pimpinan di biara ini ?”

Tosu tua miringkan kepala seperti mendengarkan, tapi

setelah Ling Ji-ping habis bicara baru dia manggut-manggut,

”Eh, apa katamu.” tanyanya kemudian.

Ling Ji-ping melenggong pikirnya: ”Lha apakah Tosu tua ini

buta tuli? ” maka dia bertanya dengan suara lebih keras :

„Apa kau pimpinan biara ini “

Tosu tua berpikir sebentar, tiba-tiba tangan bergoyanggoyang,

katanya: ”Tidak boleh, biaraku ini serba miskin, tiada

yang bisa dimakan, kau tidak boleh tinggal di s ini.”

Ling Ji-ping jadi geli. pikirnya : „Ternyata memang bisu

tuli.” lalu dia tanya lagi lebih keras apakah biara ini milikmu?”

Kali ini rupanya si Tosu sudah mendengar jelas dia

manggut manggut, katanya. „Betul, tapi aku sendiri sering

kelaparan, tidak bisa melayani tamu.”

”Aku kemari bukan minta makan.”

”Ha, apa katamu ?”

Apa boleh buat Ling Ji-ping berkata lagi lebih keras : „Aku

mencari orang.”

„O ?” Tosu tua angkat mukanya, bola mata berkedip-kedip,

„tapi aku ini hanya tukang api.”

Geli dan keki Ji-ping dibuatnya, katanya pula keras:

„Apakah dalam biaramu ini kedatangan tamu dari luar

perbatasan?”

353

”Dari bawah gunung?”

”Dari Tiang-pek-san diluar perbatasan”

”O, tidak, tidak ada. Kapan biaraku ini pernah kedatangan

orang, Ong-toahu dibawah gunung itu setiap bulan memang

suruh orang menyumbang minyak dan dupa, beras dan

makanan kering”

Ling Ji-ping geleng geleng, pikirnya : „Sungguh sial, aku

bertemu dengan orang bisu tuli.”

Dalam hati Ling Ji-ping mereka bahwa Tian pek-hwi-hou

tak mungkin tinggal dibiara bobrok ini namun hatinya belum

lega, dia berpikir pula ,Buat apa aku membuang waktu dengan

tanya jawab tak berguna ini, langsung periksa kedalam kan

beres,” maka tanpa hiraukan Tosu tua ini, langsung dia

menuju kebiara.

Tak nyana baru dua langkah tiba tiba didengarnya Tosu tua

ini menjerit sekali. Ling Ji-ping melengak, tanyanya setelah

menghentikan langkah : „Apa yang hendak kau katakan .'”

Seperti tidak mendengar pertanyaannya, Tosu tua berkata

sendiri : „Em, ya betul.”

Ling Ji-ping bertanya keras: „Ada orang pernah datang

kemari, betul tidak ?”

Tosu tua geleng geleng, katanya : „Bukan ke biaraku, tadi

pagi tukang masak bilang pernah melihat orang lewat didepan

biara kami “

„Orang macam apa dia ?” tanya Ji-ping keras.

Bola mata si Tosu yang memutih berkedip kedip, berpikir

sebentar lalu geleng geleng, kata nya „Aku tidak tanya.”

„Biarlah aku pergi tanya kepada tukang Masak mu itu.”

„Dia sedang keluar “

„Kemana”

354

„Pergi menebang kayu.”

Sekenanya Ling Ji ping memandang kepegunungan sebelah

kanan, sayup sayup memang dia mendengar suara orang

menebang kayu Sekilas dia melirik lagi kearah Tosu tua, tanpa

bicara segera dia berlari kearah datangnya suara.

Hutan cukup lebat, pegunungan sunyi senyap maka suara

orang menebang kayu itu kedengaran nyata, Ling Ji-ping terus

berlari-lari Kearah datangnya kapak menebang dahan.

Sungguh aneh! setelah kira kira semasakan air mendidih,

belum juga dia temukan orang menebang pohon, namun

suara tebang pohon itu masih terdengar pula disebelah depan,

dari suaranya kira kira dapat meraba jaraknya ada satu li

jauhnya, jarak tetap sama seakan akan larinya sekian jauh Ini

sia sla belaka.

Akhirnya Ling Ji-ping berhenti, pikirnya keheranan : „Aneh,

apa sih yang terjadi Mungkinkah suara tebang pohon ini

sengaja hendak memancing aku meninggalkan biara Itu ?

Atau penebang pohon itu sengaja memancingku kesuatu

tempat ‘?”

Gerak gerik Ling Ji-ping boleh dikata secepat terbang,

matanyapun dipantang lebar menatap kedepan dari mana

suara tebang pohon itu. Ternyata suara itu memang terus

bergerak disebelah depan, mungkin karena kali ini Ling Ji-ping

lari lebih cepat, meski suara tebang pohon itu masih

terdengar, namun suaranya sedikit kacau, ini menandakan

penebang pohon yang memancing diri nya itu menggerakkan

kapaknya sambil berlari lari juga.

Beberapa kejap telah berlalu, jarak tertentu sudah

dicapainya, hutan disebelah depan sudah kelihatan ujungnya,

kedepan lagi adalah pegunungan berbatu yang gundul dan

gersang.

Ling Ji-ping tertawa, batinnya: „Hutan ini sudah kelihatan

ujungnya, ke mana lagi kau akan menyembunyikan diri, ingin

355

aku melihat macam apa tampang orang itu ?” sembari

membatin langkahnya mengembangkan Ginkang yang luar

biasa, dikala kedua lengannya terkembang bagai seekor

rajawali tubuhnya melambung tinggi lalu rneluncur turun

dipinggir hutan.

Betul juga, suara tebang pohon itupun berhenti, begitu

kakinya hinggap ditanah didengarnya seorang tertawa enteng,

namun gema suara tawanya ternyata menggetarkan pohon

ditanah pegunungan ini. Dari tawa enteng ini, Ling Ji-ping

sudah dapat menilai bahwa Lwekang orang itu sudah

mencapai taraf yang tinggi.

Ling Ji-ping tertawa terbahak-bahak, katanya lantang:

„Sahabat, silahkan keluar, jangan main petak saja!”

Lenyap suara tawa itu, dalam hutan kedengaran suara

yang seram menakutkan: „Buyung, ke sorga ada jalan kau

tidak mau masuk, kau justru kemari mengantar kematian,

jangan kau salah kan Lohu.”

Ling Ji-ping mendengar orang yang bicara didalam hutan

pasti Tiang-pek-hwi-hou, dengan tawa dingin dia menjengek:

„Kalau takut mati aku takkan meluruk kemari, kedatanganku

ini memang. mencari kau.”

„Kau tahu siapa Lohu'”

„Sudah lama Cayhe kagum akan kebesaran nama Tiangpek-

hwi-hou, sengaja mohon pengajaran di sini”

Tak nyana suara tawa orang itu kedengaran aneh, katanya

: „Buyung, kau salah sangka’

„Salah sangka ?”

„Tosu tua bisu tuli itulah Tiang-pek-hwi-hou, kau sudah

berhadapan, namun tidak mengenalnya, memangnya

kedatanganmu ke sini bukan mengantar ke matian ?’

356

Ling Ji-ping melengak, hatinya agak kaget, ibanya : „Siapa

kau?”

„Kui-tiap sin, pernah kau dengar nama Ini “

„Kui-tiap sin?” Ling Ji-ping tidak percaya akan pendengaran

sendiri, batinnya : „Mana mungkin makhluk aneh ini masih

hidup ? Sebelum penghuni puncak iblis itu merajalela di Bulim,

gembong gembong aneh di Bulim yang paling top ads. Lamjan,

Pak-koat dan It-ci sin-mo, setelah ia, barulah It-kui it-hou.

It-hou yang dimaksudkan Hoat-sin yau-hou, yaitu Ang-teng

su-clang pernah dijumpainya waktu dia menolong yong-yong.

kini berganti gelar Hiat-ing-cu. Selama Hoat-sln yau-hou sudah

tidak. pernah muncul, kini mendadak keluar kandang, hal ini

tidak perlu dibuat heran. Tapi It-kui atau setan tunggal ini

jelas adalah gembong setan yang pernah diceritakan gurunya,

dalam peristiwa besar di Ko lau-san dalam Kui-tiap kok, setan

tunggal ini telah terbinasa jatuh kedalam Hek-cui-tham karena

dikepung dan dikeroyok oleh sepuluh ja Bulim yang paling top

masa itu, kenapa hari masih dan muncul di s ini ?”

„Buyung.” seru orang itu dari dalam hutan “kau kira Lohu

ini palsu bukan ?”

Tahu bahwa memang benar gembong setan itu, diam diam

hati Ji-ping mencelos, namun sudah berhadapan buat apa

takut, maka dia nekad jengeknya : ”Aku tahu Kui-tiap-sin

sudah mampus kecebur di Hek-cui-tham waktu dikeroyok

dalam Kui-tiap-kok dulu.”

„Betul, buyung. Tapi kenyataan Lohu tidak mati, malah

sebaliknya mereka yang masih diagulkan sepuluh jago top di

Tionggoan, beberapa antara mereka sekarang yang masih

.hidup.”

Tergerak hati Ling Ji-ping, serta merta pikirannya teringat

sesuatu, delapan dari sepuluh jago top dunia persilatan dulu

sudah mati dan kepala nya tergantung diatas maklumat

kematian yang tinggal hidup kini hanyalah gurunya dan ItTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

357

kiam kinghun Hoan Bu wi. Sesaat Ji-ping berdiri melongo,

akhirnya berkata berat: ”Jadi kau datang dari Kiu-ting-mohong

?’

„Hahahaha” gelak tawanya menyibak kabut menembus

mega, bergema dilembah mengalun di atas pegunungan,

katanya : „Buyung, kau memang cerdik. sekali tebak ternyata

jitu.”

„Jadi kau salah satu dari tiga lampu ?”

„Lebih tepat lagi.” Setelah tertawa aneh pula ”apa kau ingin

melilat lampu kuning Lohu !”

„Kui-sin su-cia !” Ling Ji-ping menjengek pongah. „Ada

permusuhan apa kau dengan aku ?”

„Memangnya kau sudah lupa bahwa guru setanmu itu

termasuk salah satu dari sepuluh jago top dunia persilatan ?”

”Betul “

..Lebih tepat pula.” ujar Kui-tiap-sin, „bila kau katakan di

mana tempat persembunyian gurumu sekarang, hari ini kau

tidak akan kurang satu apa.”

„Memangnya kau kira aku takut mati dan menghianati guru

‘”

„Jangan kau bandel buyung, dihadap Kui tiap sin siapapun

tunduk, tahukah kau sudah dua puluh tahun Lohu mencari

jejak gurumu dan Han Bu-wi tua bangka itu, coba pikir, hari

ini bertemu dengan kau, memangnya aku harus peluk tangan

?”

Tahu urusan hari ini teramat pelik, Ling ping jadi nekad dan

pasrah nasib, katanya tak gentar : „Baiklah, kau keluar saja.”

„Keluar?” Kul-tiap-sin terloroh loroh, ”Jadi kau tidak mau

memberitahu ?”

„Jangan kau harap bisa mengancam aku.”

358

„Hehehehe, untuk merenggut nyawamu, tak usah Lohu

turun tangan sendiri, kalau kau murid Thong Bu-kong setan

tua itu, sebelum kau bocorkan dulu tempat persembunyian

gurumu, Lohu tidak ingin membunuhmu. Nah buyung

dengarkan, akupun tidak akan membebaskan kau”

Ling Ji-ping berseru membusung dada : ”Murid Te-sat-sin

takkan menjual guru minta ampun kepada musuh,

memangnya kau kira aku gentong dan takut mati ‘.'”

„Bagus sekali,” ujar orang dalam hutan, ”buyung ini keras

kepala, kau kira sudah punya talang punggung macam Lamjan

Seng-loji itu!”

„Persetan, selama orang she Ling kelana di Kangouw,

belum pernah aku meminjam nama kebesaran guruku sendiri,

tahu. “

„Mungkin gurumu sudah berpesan kepadamu, setelah dia

tahu bahwa musuh besarnya macam diriku ini belum mampus

?”

„Guruku bukan orang yang takut mati dan perlu

menyembunyikan diri dari tanggung jawab, namun sejak

beliau mengasingkan diri, sejauh ini tidak mau mencampuri

urusan Bu lim, maka tempat tinggalnya amat dirahasiakan,

beliau juga tidak suka kalau orang tahu aku ini murid

didiknya.”

„Lalu apa alasanmu tak mau memberitahu tempat

tinggalnya?”

„Aku tidak ingin ada orang mengganggu ketenangan

hidupnya diharl tua.”

„Tanpa kau beritahu, Lohu juga bisa mencari tahu sendiri,

bila kau sudah ditanganku, memang nya setan tua gurumu itu

takkan keluar kandang.”

„Kukira tidak semudah itu?”

359

„Baik, Lohu akan membuktikan.”

Mendadak dari dalam hutan melayang turun segumpal

bayangan hitam.

Sebat sekali Ling Ji-ping melompat mundur waktu dia

menegas, tampak Kui-tiap-sin memegang sebilah kampak

yang kemilau gelap, mengenakan jubah hitam yang lebar dan

kedodoran kepalanya dibelit kain hitam yang ujungnya

menjulai turun menutupi muka, hanya dua lobang matanya

saja yang Kelihatan, bola matanya kelihatan mencorong hijau,

siapa yang dipandang setan ini. pasti mengkirik dibuatnya.

Setelah kepepet begini patutkah Ling Ji-ping takut dan

tunduk kepada musuh. Unjuk kelemahan dihadapan musuh

berarti memadamkan semangat sendiri, apalagi

pembawaannya memang pemberani, kapan dia pernah

mundur berhadapan degan musuh, maka dengan tawa

pongah dia berkata „Kui-tiap-sin yang kesohor kiranya adalah

manusia penakut yang menyembunyikan mukanya”

Berkibar jubah Kui-tiap-sin, serunya dengan tawa aneh :

„Buyung, apa betul Kui-tiap-sin malu dilihat orang ? Hehehe,

ketahuilah dandanan Lohu ini memang disengaja supaya tidak

menakutkan orang lain saja.”

„Kenapa ?’

„Berkat anugerah kesepuluh jago top dunia persilatan

termasuk gurumu itu. karena air dari rawa air hitam itu dapat

membusukkan daging, melumerkan tulang, meski beruntung

Lohu tidak mati, namun keadaan jasmaniku sudah tidak utuh

seperti sediakala, sekujur badan penuh bekas borok yang

menjijikkan.”

”O,” Ling Ji-ping bersuara enteng. Dalam hati dia membatin

: „Entah bagaimana setan bangkotan ini dapat meloloskan diri.

Padahal setelah kesepuluh jago top dunia persilatan memukul

nya jatuh kedalam Hek-cui tharn, mereka masih menunggu

sehari semalam disekitar rawa itu, maksudnya untuk berjaga

360

jaga bila dia meloloskan diri, atau mungkin orang ini bukan

Kui-tlap-sin yang asli.”

„Kau buyung ini sedang keheranan bukan ?”

„Merupakan berita aneh dan menggemparkan bahwa ada

manusia yang tidak mati setelah tercebur sehari semalam

dirawa air hitam itu.”

„Sedikitpun tidak aneh.” Ujar Kui-tiap-sin ”kalau orang lain

sudah tentu jiwanya melayang tapi Lohu sudah lama tinggal di

Kui-tiap-kok, bagaimana sifat air beracun itu sudah hapal di

luar kepala, kesepuluh jago goblok itu, mana tahu kalau

sebelumnya aku sudah biasa makan buah teratai hitam yang

tumbuh dalam rawa itu, walau aku tak bisa menahan seluruh

hebatnya kadar racun, tapi kondisi badanku sudah berbeda

dengan orang lain, maka persoalan jadi gampang bagi aku,

setelah kesepuluh jago goblok itu pergi, maka Lohupun

merayap naik ksatas.”

„Bahwa kau beruntung tidak sampai ajal seharusnya kau

menyesali perbuatan dan dosa-dosamu dulu, kenapa sekarang

masih berani merajalela di Bulim ? Pakai maklumat kematian

segala”

Kembali Kui-tiap-sin tertawa terkial kia- : ”Bertobat dan

menyesali kesalahan katamu? Merajalela di Bulim ? Hahaha,

buyung, seolah olah sedang berkotbah kepada jagal manusia,

kalau Lohu belum menggantung batok kepala sepuluh jago

jago top dunia persilatan yang mengeroyokku dulu, sebelum

ajal aku tidak akan berhenti menghina”

Gusar Ling Ji-ping, serunya : „Memangnya kaum persilatan

diseluruh kolong langit tiada yang menjadi tandlnganmu ?”

„Sedikt sekali,” ujar Kui-tiap-sin terkekeh, „Buyung kau

percaya tidak?”

„Aku tidak percaya.”

361

„Aku bisa membuktikan dan kau akan percaya takkan lama

lagi, buyung.”

Selama pembicaraan ini dam diam Ling Ji-ping sudah

kerahkan Liok-hap-sin-kang untuk melindungi badannya,

dlsamping dia praktekkan menurut petunjuk Lam-jan

mengerahkan seluruh Lwekang dikedua telapak tangannya

dan siap melontarkan Tin-thian-san-sek, Ling Ji-ping in

menghadapi gembong iblis ini, lebih baik kalau menyerang

secara tidak terduga, sekail pukul mengalahkannya, kalau

tidak nasib dirinya hari ini bisa celaka.

Ternyata usahanya mengerahkan tenaga tidak bisa

mengelabui Kui-tiap-sin, katanya terkekeh „Buyung, kau sudah

siap belum.”

„Mau mulai, boleh silahkan.”

Menggeledek gelak tawa Kui-tiap-sin, serunya : „Selama

hidupku baru pertama kali ini bergebrak melawan bocah

angkatan muda seperti dirimu. Baiklah, Lohu hanya akan

memakai tiga puluh prosen tenagaku untuk menghadapimu.’

„Terlalu lemah.” Ejek Ling Ji-ping.

”Cukup, lebih dari cukup. Buyung, bukan Lohu suka

membual, untuk menghadapimu Lohu mau menggunakan tiga

puluh prosen tenaga sudah merupakan kebanggaan bagi kau.”

„Jangan takabur.”

”Kau buyung ini jangan kuatir, apa yang Lohu ucapkan

pasti ditepati. Biarlah Lohu tegaskan sekali lagi, bila kau

mampu melawan tiga jurus serangan Lohu, hari ini kau

kubebaskan tanpa syarat.”

Diam diam senang hati Ling Ji-ping, menghadapi gembong

iblis yang jumawa ini. dia yakin jiwanya pasti takkan

berkorban sia sia. „Baiklah,” akhirnya dia bersuara dengan

congkak. ”Kau sendiri yang memberi janji, terus terang aku

tidak mengharap kau mengalah kepadaku.”

362

Pada saat itulah, dari dalam hutan mendadak seorangberteriak

keras : „Ling locianpwe, jangan kau ditipu oleh

bocah keparat itu.”

Kui-tiap-sin menggeram sekali, katanya: „Ucapan yang

sudah Lohu katakan selamanya tak pernah dijilat kembali.”

Tampak bayangan seorang berkelebat keluar dari dalam

hutan, tahu-tahu disamping Kui-tiap sin sudah berdiri satu

orang, orang ini bukan lain adalah Tiang-pek-hwi-hou yang

tadi pura-pura buta dan tuli. Tapi kini tubuhnya tidak lagi

bungkuk atau buta tuli, walau dandanan dan tampangnya

tidak berubah, namun kedua bola matanya tampak

mencorong, sekilas dia melirik Ling Ji-ping dengan senyum

dingin, lalu berkata kepada Kui-tiap-sin dengan laku hormat:

„Lam-jan Seng loji sudah mengajarkan Tin-thian-sam sek

kepadanya, semalam putraku hampir saja ajal oleh serangan

Tin-thian-sam-sek yang dia lancarkan ”

-oo0dw0oo-

Jilid 11

Kui-tiap-sin seperti melengek sebentar, namun lekas sekali

dia sudah terloroh loroh, katanya : “Tin-thian-sam-sek

terhitung pukulan macam apa? Apalagi buyung ini baru saja

mempelajari kulit nya, terhadap orang lain mungkin, besar

manfaatnya, tapi untuk Lohu, hehe . . . .”

“Melihat Tiang-pek-hwi-hou menyusul tiba tiba, diam diam

hati Ling Ji-ping jadi tegang, batinnya :”Tiga puluh prosen

tenaga pukuian Kui tiap-sin yakin mampu kuhadapi, apalagi

dia berjanji hanya akan bergebrak tiga jurus, kini ke tambahan

Tiang-pek-hwi-hou, rase tua ini jauh lebih licik dan telengas

dari rase kecil, mungkin dia bisa menghasut dan mengadu biru

sehingga urusan menjadi runyam bagiku, bila Kui-tiap-sin

terbujuk oleh hasutannya dan merubah keputusan semula,

bisa celaka aku ini.” Namun urusan sudah kebacut, terpaksa

363

Ji-ping harus nekad, jengeknya kepada Tiang-pek-hwi-hou :

”Jadi kau inilah Tiang-pek-hwi-hou (rase terbang dari Tlang-

Pek) sayang sekali orang she Liang tadi tak sempat mohon

pelajaran terhadapmu.”

“Buyung bagus, bila kau tidak mampus menghadapi

pukulanku, kau masih punya kesempatan untuk melabraknya.”

“Itu betul dan pasti” ujar Ling Ji-ping manggut, “satu hal

perlu kutanyakan dulu kepada kau, dimana sekarang nona

Yong-yong berada?”

Bersinar mata Tiang-pek-hwi-hou, katanya gelak gelak “O,

kiranya kau sedang mencari cewek jelita itu ?”

“Betul. Kalian menculiknya dari Kun-hoa-kip sungguh

rendah dan hina perbuatan kalian.” demikian cemooh Ling Jiping,

Mendadak Kui-tiap-sin bertanya. : “Siapakah cewek yang

kau maksud tadi ?”

Sesaat bimbang akhirnya Tiang-pek-hwi-bou menjawab

dengan seri tawa lebar “Seorang perempuan yang tiada

sangkut pautnya dengan persoalan ini,”

Agaknya Kui-tiap-sin kurang senang bicara tentang

perempuan, katanya merengut : “Kau harus jelaskan

kepadaku, apa yang kau maksud deagan tiada sangkut paut?

Kau tahu selama hidup Ini lohu paling tidak senang main

perampuan.?”

Tersirap darah Tiang-pek-hwi-hou, saking jera dia

melangkah mundur, jangan kira di luar perbatasan dia

merupakan jagoan kosen yang amat disegani namun sikapnya

sekarang jelas amat takut terhadap Kui-tiap-sin, dengan tawa

menyengir lekas dia menjelaskan: “Baiklah kujelaskan kepada

locianpwe. Bukan aku yang menculik perempuan itu ”

”Jawabanmu dapat dipercaya ?” ancam Kui-tiapsin.

364

”Mana berani Wanpwe mengapusi Io-cianpwe ?” sahut

Tiang-pek-hwi-hou munduk munduk.

Mendengar jawaban Tlang-pek-hwi-hou, Ling Ji-ping

seketika paham, pikirnya : “Iya, waktu aku pingsan dikamar

tidur itu, jelas kudengar diluar ada tawa dingin seorang

perempuan, setelah ku timang timang yakin itulah suara Yongyong

sendiri. Tak heran begitu aku mendengar suara tawa

dingin itu, semangatku seperti disentak bangun, sehingga

pengaruh tidur agak berkurang karenanya.” namun lekas

sekali hatinyapun mengeluh, batinnya : “Wah, celaka, pasti dia

salah sangka bahwa aku ada main cinta dengan Pek-hoa

Kongcu. Kalau dia minggat dengan rasa jelus dan marah

padaku ke mana aku harus mencarinya ?” namun diam diam

dia pun bersyukur, asal Yong-yong tidak terjatuh ketangan

kawanan rase ini, legalah hatinya, dengan perasaan lega pula

dia boleh melabrak gembong iblis yang bangkotan ini.

Didengarnya Kui-tiap-sin berkata : “Itulah baik, tentu kau

juga tahu bagaimana watakku, Perbuatan jahat apa boleh

dilakukan, tapi menodai kesucian perempuan merupakan

pantangan terbes«r meski orang lain yang melakukan, tapi

bila koiin ngan Lohu, pasti tak kuberi ampun padanya.”

“Ya, ya, Loeianpwe.”

“Kau tua bangka ini memang meniru gurumu, romantis dan

kelak pasti akan mampus oleh kebejatan sendiri, agaknya

putra kesayanganmu itupun tidak mau ketinggalan, tiga

generasi seperti ber lomba saja main perempuan. Hm, suatu

ketika bila kepergok oleh Lohu, awas pasti tidak kuberi

ampun. Tahu!”

Mau tidak mau timbal rasa simpatik Ling Ji-ping terhadap

gembong iblis Ini, pikirnya : “Agaknya tabiarnya yang kaku ini

membawa kebaikan juga bagi kaum hawa yaag lemah, sebab

itulah dia berumur panjang meski pernah mengalami petaka.”

365

Dari nada perkataan Kui-tiap-sin waktu menyinggung guru

Tiang-pek-hwt-hou, Ling Ji-pin lantas mereka dalam hati, yang

dimaksud adalah Hoat-sin-yau-hou atau yang sekarang sudah

ganti juluka sebagai Hiat-ing-cu. Maka dia membatin :

”Tiga duta lampu dari puncak iblis sudah dua kutemui,

entah siapa pula duta lampu putih yang satu lagi”

Sorot mata Kui-tiap-sin yang tajam berkilat akhirnya tertuju

kepada Ling Ji-ping pula katanya kemudian terkekeh:

“Buyung, sekarang kita boleh mulai bukan? Kau tidak usah

takut apa yang pernah lohu ucapkan pasti boleh dipercaya,

aku hanya menggunakan tiga puluh prosen tenagaku, dalam

tiga jurus akan kukalahkan kau, jiwamu juga tidak akan

kurenggut.”

Tiang-pek-Hwi-hou segera mundur ke tempat jauh, rona

mukanya mengunjuk sifatnya yang culas banyak muslihat dan

licin, jelas otaknya yang selicik rase sedang diputar untuk

mencari akal guna menjatuhkan dirinya.

Dengan angkuh Ling Ji-ping berkata dengan tertawa : “Apa

yang ingin Kau lakukan adalah urusanmu. Tadi sudah

kutandaskan, tak pernah akan memohon sesuatu keringanan

dari kau”

“Hehehe, hahaha . . Kui-tiap-sin terloroh-loroh sampai

kedua pundaknya bergetar naik turun jubah kedodoran yang

membungkus tubuhnyapun melambung seperti balon yang

ditiup kencang, loroh tawanya bergelombang mengalun tinggi

dan menyusup dasar menggetarkan genderang telinga Ling Jiping.

Seperti anak panah yang kebaeut dipasang busur, dalam

keadaan ke pepet ini betapapun Ling Ji-ping berpantang

mundur, asal dia kuat menahan tiga jurus serangan Kui-tiapsin,

Tiang pek Hwi-hou tidak perlu ditakuti lagi. Maka pelan

pelan dia pasang kuda kuda, seluruh kekuatan di salurkan

kekedua tangannya.

366

Tiba tiba Kui-tiap-sin tertawa gelak gelak pula, katanya

”…Buyung, kau harus tahu, selama hidup. bila bergebrak

dengan lawan lohu pasti menggunakan sepasang kampakku

ini. Tapi kau Buyung bagus ini justru bertangan kosong, maka

jangan kau kira karena Lohu hanya menggunakan sedikit

tenaga sebagai memberi kelonggaian terhadapmu, biarlah

dianggap sebanding saja.”

Ling Ji-ping menjengek di hidung katanya angkuh : “Kau

pakai senjata apapun tidak jadi soal, aku orang she Ling

selamanya tak pernah pakai senjata.”

Kui-tiap-sin tertawa besar, katanya : “Buyung kau ibarat

anak kambing yang tidak takut harimau sombong dan tinggi

hati. Kecuali menghadapi keroyokan seluruh jago jago kosen

dulu, belum pernah ada lawan yang bersikap tak acuh seperti

kau menghadapi seranganku ini. Mungkin kau belum pernah

dengar pameo *kampak setan bergerak, malaikatpun

terperanjat*.”

Ling Ji-ping insaf bahwa hari ini dia harus adu jiwa, banyak

bicara tidak berguna, maka dia hanya tertawa angkuh

menanggapi ocehan Kui-taip-sin.

Ku-tiap-sin naik pitam melihat sikap Ling Ji-ping yang

dianggapnya kurang ajar, tampak jubahnya bergelombang,

tahu-tahu dia sudah maju beberapa kaki, sebuah kampaknya

diangkat serta diayunkan membuat sebuah lingkaran, maka

terdengarlah lengking sebuah suitan tajam, suaranya seperti

pekik setan ditengah alas, udara sekitar raya seketika seperti

diaduk sehingga timbul pusa ran angin kencang yang

membadai.

Ling Ji-ping berdiri tegak sambil pasang kuda-kuda, Liokhap-

sin-kang dikerahkan melindungi badan, tapi begitu

keterjang oleh pusaran angin lesus yang dijangkitkan oleh

gerakan kampak Kui-tiap-sin. tanpa kuasa tubuhnya tergeser

maju beberapa langkah, hampir saja dia tergulung pergi.

367

Kalau sekuatnya Ling Ji-ping masih kuasa kendalikan diri,

celaka adalah pepohonan di sekitarnya seperti dibedol oleh

tangan raksasa, daon rontok dahan patah dan akarnyapun

terbongkar, semuanya tersapu bersih oleh pusaran angin

dahsyat itu Karuan bukan kepalang kejut hati Ling Ji-ping,

agaknya pameo ‘kampak setan bergerak, malaikatpun

terperanjat’ memang bukan bualan belaka. Agak lama

kemudian baru pusaran angin kencang itu mereda.

Pandangan tajam dingin Kui-tiap-sin kembali tertuju

kemuka Ling Ji-ping, katanya dengan tawanya yang khas : ”

Buyung, biarlah kau saksikan dulu demonstrasiku, Itupun baru

menggunakan tiga puluh prosen tenagaku.”

Karuan serasa beku hati Ling Ji-ping. baru tiga puluh

prosen dari Lwekang yang dimiliki ternyata sudah

menimbulkan pcrbawa sehebat ini, kalau dia mengerahkan

seluruh kekuatannya, jangan kata manusia, gunungpun

mungkin bisa di pindah olehnya.

Kecuali meneguhkan tekadnya untuk melawan sampai titik

darah terakhir, tiada jalan lain bagi Ling Ji-ping, untung Yongyong

tidak jatuh ke tangan penjahat, hatinya boleh dikata

tidak perlu kuatir dan tidak kapiran lagi. Dengan angkuh

segera dia menantang : “Cayhe sudah saksikan.”

“Baik, kuulangi pertanyaanku, dimana gurumu sarg setan

itu sekarang menyembunyikan diri nya ?”

“Jangan harap kau memperoleh keterangan dari mulutku.

Orang she Ling tidak pernah tunduk dibawah ancaman orang

lain.”

“Bagus. Terhitung kau buyung ini menang pemberani, patut

dipuji.“ Mendadak mulurtya menghardik, sorot matanya

seperti lebih menencrong terang langkahnya berderap keras

maju lebih dekat, setiap langkah kakinya pasti meninggalkan

bekas tapak kaki sedalam dua dim.

368

Tanah gersang di luar hutan memang bukan tanah wadas

yang keras, namun juga bukan tanah lempung yang empuk.

Tapi langkah kaki Kui-tiap-sin seperti beranjak ditumpukkan

pasir basah krikil sekalipun yang terinjak ikut melesak amblas.

Meski Ling Ji-ping anak kaum persilatan, tapi kapan dia pernah

saksikan ada manusia yang memiliki Lwekang sehebat ini.

Semula jarak kedua orang kira-kira dua tambak lebih, derap

langkah Kui-tiap-sin yang berbunyi ganjil itu kedengarannya

amat menusuk prndengaran, ketambah jubah kedodoran yang

d pakai Kui-tiap-sin melembung besar seperti gentong, bagi

perasaan Ling Ji-ping seperti didekati oleh malaikat kematian

yang hendak merenggut nyawanya. Jantungnya serasa mau

berhenti setiap derap langkah lawannya melangkah lebih

dekat.

Tatapan kui-tiap-sin lebih tajam, lebih menakutkan. Tapi

Ling Ji-ping juga serius, bola matanya yang jeli terbelalak

lebat, diapun balas menatap lawan dengan tatapan menyala

juga.

Kini jarak kedua orang hanya setombak saja. Pelan-pelan

Ling Ji-ping menekuk lutut sehingga tubuhnya mendak

kebawan. telapak tangan terangkat menghadap kelangit,

sementara telapak turun disebelah bawah menghadap

ketanah, setaker tenaganya sudah tersalur dikedua

tangannya.

Gempuran pertama yang dahsyat menggetar kan bumi dan

langit bakal segera dilontarkan. Tampak semakin lebar

senyum sinis Tiang-pek Hwi-hou, tanpa sadar kakinya

menyurut lagi lebih jauh ke belakang.

“He.” mendadak Kui-tiap-sin bersuara kasar dengan nada

rendah, kampak setan ditangannya bergerak menimbulkan

sejalur cahaya remang remang dengan lengking suaranya

yang memecah keheningan udara, mendadak terbalik kedua

telapak tangan Ling Ji-ping terus diputar naik turun dua kali.

dibarengi gerungan keras, sekuat tenaga dia dorong kedepan

369

“Daaaaarrrrr !’ ledakan keras seperti bunyi halilintar yang

menggelegar serasa menjungkir balik bumi, pohon patah batu

hancur dan tanahnya seperti digali. pasir beterbangan

memenuhi angkasa.

Semakin kental senyum sinis Tiang-pek-hwi hou yang licik,

biji matanya yang benar-benar mirip mata rase jelilatan

menyaksikan adu kekuatan ditengah arena, dia tidak perduli

pihak mana bakal menang dan siapa akan mampus, karena

dalam benaknya sudah terancang dua rencana yang satu

sama lain akan bisa direalisir secara berurutan sesuai

kesudahan dari adu otot ditengah gelanggang, maka tawanya

kelihatan amat puas dan senang.

Tapi ditengah mengepalnya debu pasir itu di dengarnya

suara erangan tertahan, menyusul gelak tawa aneh. Bayangan

seorang kelihatan mencelat mundur gentayangan.

Siapakah yang gentayangan kebelakang ini Di luar dugaan,

ternyata adalah si Kampak setan bergerak, malaikatpun

terperanjat, yaitu Kui-tiap-sin adanya, malah kedua kampak

yang semula di pegang kedua tangannya kini sudah mencelat

entah kemana, kedua tangannya kini kosong tidak memegangi

lagi gamannya yang sudah puluhan tahun mengangkat

namanya dari percaturan dunia persilatan. Demikian pula

jubah hitam kedodoran yang dipakainya itu kini sudah

compang camping seperti pakaian gembel, rambutnya awutawutan,

keadaannya amat mengenaskan.

Meski Tiang-pek-hwi-hou senang bila kedua lawan gugur

bersama. atau tidak peduli pihak mana yang bakal menang

dan kalah, namun melihat keadaan Kui-tiap-sin yang begitu

mengenaskan, sampaipun gaman yang diandalkan lenyap tak

keruan paran, sungguh di luar perhitungannya, sungguh

mimpipun tak pernah dibayangkan bahwa Ling Ji-ping si bocah

kemaren sore itu ternyata mampu mengalahkan Kui-tiap-sin.

Lambat tapi pasti debu pasir itupun akhirnya sirna, keadaan

terang kembali. Ada sesuatu hal pula sehingga Tiang-pek-hwiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

370

hou lebih terkejut lagi. Ternyata setelah debu tidak kelihatan,

bayangan Ling Ji-pingpun sudah tidak nampak batang

hidungnya, ke mana dia dan cara bagai mana ia pergii ?

Suasana sekeliling masih sunyi senyap, padahal berkesip

matapun dia tidak pernah, apakah Ling Ji-ping pergi sendiri?.

Atau terluka parah tolong orang ? Rase tua yang licik ini

ternyata tidak tahu. Ditanah tepat ditengah gelanggang tadi.

tampak sepasang kampak yang kemilau terang ditimpali sinar

matahari memancarkan cahaya refleknya yang dingin

mengiriskan.

Satelah Kui-tiap-sin yang melongo kaget tersentak kaget

dari lamunannya, walau dia terluka dalam oleh getaran

pukulan Ling Ji-ping, untung Lwekangnya cakup tangguh,

darah yang sudah hampir menyembur keluar mulut secara

mentah mentah dia telan kembali, lekas dia kerahkan hawa

murni serta menyalurkan keseluruh tubuh, begitu dia

membuka kembali kedua matanya, dan melihat bayangan Ling

Ji-ping sudah tidak kelihatan lagi sekilas dia terlongong,

akhirnya dia tujukan sorot matanya yang penuh diliputi rasa

marah, penasaran serta malu itu kearah Tiang-pek-hwi-hou

bentaknya dengan nada bertanya: “Tua bangka, apakah yang

telah terjadi ?”

Dalam hati kecil Tiang-pek-hwi-hou tertawa geli, namun

lahirnya dia unjuk rasa prihatin, bibirnya bergerak gerak,

akhirnya dia menjawab “Dia ditolong orang.” Padahal ini

hanya dugaan Tiang-pek-hwe-hou, karena hanya itulah

kemungkinannya, dia tahu cukup jelas betapa tinggi Iwekang

Kui tiap-sin, Ling Ji-ping tidak mungkin segar bugar, luka yang

dideritanya mungkin lebih parah, disaat debu masih mengepul

tebal itulah dia telah ditolong pergi orang. Namun dihadapan

kui-tiap-sin sudah tentu dia tidak ingin mengutarakan isi

hatinya, bahwa mayat Ling Ji-ping tidak kelihatan, jelas pasti

tidak mati, jikalau tidak terluka juga takkan melarikan diri,

371

maka dia menjawab secara tepat, karena secara tidak

langsung jawabannya itu menjilat juga kepada Kui-tiap-sin.

Jelilatan sorot mata Kui-tiap-sin, amarahnya belum reda,

bentaknya pula : “Siapa yang menolong dia ?”

Kalau dijawab tidak melihat, terang menandakan ketidak

becusan dirinya. Dasar manusia licik, biji matanya berputar

lalu menjawab dengan tawa terkekeh: “Kalau mataku tidak

lamur, mungkin Seng lothau.”

“Lam-jan maksudmu ?”

”Dari bentuk bayangannya jang kulihat aku rasa tidak

meleset.” Sehabis berkata dia tertawa kikuk sambungnya ”Ling

locianpwe tentu tahu, kalau orang lain, tentu sudah kukejar,

hehehe tapi terhadap Seng loji, terus terang aku tidak berani

mengusiknya.” rase tua ini selama hidupnva memang jarang

bicara jujur, hanya jawaban kail ini dia lontarkan dengan

setulus hati, karena bila dia menyebut Lam-jan. Kui-tiap-sin

pasti tidak akan menyalahkan dirinya kenapa tidak bantu dia

merintang! orang pergi, dirinyapun takkan malu di tertawakan

Orang.

Sepandai-pandai tupai melomrat, suatu ketika pasti

terjungkal jatuh juga. Demikian pula Tiang-pek-hwi-hou yang

anggap otaknya cerdik pandai, dibantu mulutnya yang pandai

mengoceh lagi, sehingga Kui-tiap-sin percaya seratus presen

akan bualannya, namun karena obrolannya ini maka jiwa Ling

Ji-ping tertolong, sudah tentu hal ini jauh diluar tahu Tiang –

pek-hwi-hou sendiri.

Kui-tiap-sin terkial kial dua kali, katanya penuh kebencian :

“Setan tua itu cukup pintar juga, kalau tidak lekas minggat

dari s ini, hehehe, jiwanyapun takkan kuampuni.”

Hampir saja Tiang-pek-hwi-bou tertawa geli tapi lekas dia

melengos kearah lain batinnya: ”Masih membual juga, bila aku

tadi mau turun tangan, jiwamu sudah melayang sejak tadi.

Bila Seng loji betul betul berada di sini, mamangnya dia mau

372

mengampuni jiwamu” Tapi sekarang dia tidak berani menguslk

bangkotan iblis yang satu ini, setelah tertawa kering segera

dia mengumpak : ” Memangnya, maka Seng loji larinya juga

cepat.”

Karena percaya pada obrolan rase tua ini, maka Kui-tiap-sin

tidak pernah berpikir untuk memeriksa keadaan sekitarnya-

Kalau Tiang-pek-hwi hou sudah mengatakan pernah melihat

Lam-jan yang menolong Ling Ji-ping, jelas dia takkan berani

ngapusi dirinya mata dia merasa tidak perlu mengadakan

pemeriksaan segala.

Dengan berusaha Kui-tiap-sin jemput sepasang

kumpaknya, serunya keras: “Tua bangka, hayo ikut aku, bila

Seng loji dapat kutemuKan pasti akan kubuat perhitungan

kejadian hari ini. Kukira dari mana buyung Itu dapat memiliki

Lwekang setinggi itu, siapa tahu tua krempeng buruk rupa

itulah yang menjadi biang keladinya.” lalu sekali bergerak dia

menyelinap masuk ke dalam hutan.

Dibelakangnya Tiaeg-pek-hwi-hou menyengir sinis penuh

kelicikan, batinnya: “Pandai juga dia menempeli emas dimuka

sendiri, alasannya sama dengan aku, bila dia menyalahkan

Seng loji awak sendiri tidak akan kena malu ! Hehe…..”

Tujuan Tiang-pek-hwi-hou hendak memperalat Kui-tiap-sin,

maka dia berusaha supaya orang tidak menaruh curiga kepada

dirinya, meski dalam hati dia merasa lenyapnya Ling Ji-ping

teramat ganjil, ingin dia memeriksa sekelilingnya, tapi setelah

dipikir sebentar, akhirnya dia berkeputusan untuk mengejar ke

dalam hutan, ikut Kui-tiap-sin meninggalkan tempat itu.

Pada saat itulah, tidak jauh dari tempat kejadian tadi, di

bawah lereng tidak jauh dari pinggir hutan, diantara semaksemak

rumput yang tumbuh subur dan tinggi rebah seorang

pemuda dengan pakaian yang dedel dowel, kulit mukanya

menguning seperti dilapisi emas, tidak bergerak seperti orang

mati. Tapi napasnya bergerak, namun amat lemah Tidak lama

setelah Kui-tiap-sin dan Tiang-pek-hwi-hou meninggalkan

373

tempat itu, pelan-pelan dia siuman dan membuka mata,

pandangannya masih bingung dan nanar, lekas dia pejamkan

mata pula. Pembaca tentu maklum, pemuda ini bukan lain

adalah Ling Ji-ping yang terlempar jauh dan menggelundung

ke bawah lereng oleh kedahsyatan sejurus permainan ilmu

kampak setan Kui-tiap-sin.

Agak lama kemudian, Cui-hu-jiu Ling Ji-ping baru membuka

mata lagi, hari sudah menjelang magrib, kabut tipis mulai

melingkupi alam semesta, Ling Ji-ping coba menggerakkan

badan sambil kerahkan sedikit tenaga, agak lama setelah itu

berusaha berulang kali baru dia duduk bersimpuh.

Seluruh tulang belulang tubuhnya seperti copot badan nyeri

otot linu, terutama bagian dada nya sakit bukan kepalang.

Sambil kertak gigi dia berpikir: “Ini baru tenaga tiga puluh

prosen yang kuhadapi Meski aku berhasil menyakinkan Tin

thian-sam-sek, untuk menghadapi gembong iblis ini, agaknya

masih terpaut jauh sekali.”

Setelah mengatur pernapasan, dia celingukan kesekitarnya,

bayangan Kui-tiap-sin dan Tian-pek-hwi-hou tidak kelihatan

lagi. maka dia membatin pula: “Kenapa mereka tinggal pergi?

Bukankah Kui-tiap-sin bertujuan hendak menyandera diriku

supaya suhu terpancing ke luar dan hendak dibunuhnya?

Demikian pula Tiang-pek-hwi-hou hendak menuntut balas

sakit hati putranya, dalam keadaan terluka parah ini, kenapa

mereka malah pergi meninggalkan diriku ?’

Hembusan angin gunung menyingkap rambut Ji-ping yang

awut-awutan kotor oleh debu dan rumput kering, suasana

sekelilingnya hening lelap setelah celingukkan pula, dan yakin

kalau kedua orang Itu sudah pergi, baru dia berusaha

mengerakkan badannya. Sekarang dia harus samadi dan lekas

kerahkan hawa murni untuk menyembuhkan luka-luka dalam

sendiri. Bila musuh datang pula, harapan hidup dirinya jelas

bakal tergenggam ditangan musuh. Apalagi hutan ini banyak

binatang buas, dalam keadaan seperti dirinya sekarang,

374

seekor serigalapun tak mampu dilawannya celaka kalau dirinya

menjadi santapan kawanan hewan itu.

Sebagai murid Te-sat-sin Thong Bu-kong, Ling Ji-ping

pernah Liok-meh-sin-kang, latihan lwekangnya sudah

terhitung kelas tinggi dibanding kaum persilatan yang

berkecimpung dipercaturan dunia persilatan. Akhir-akhir ini

Lam-jan pernah mengajarkan cara pengerahan napas, ilmu

tunggal perguruannya, latihannya kini sudah hampir tamat,

maka bekal yang dibawanya sekarang sudah boleh

dikategorlkan sebagai jago kosen ahli Lwekang.

Pelan-pelan dia mengerahkan hawa dipusatkan di bawah

pusar, meski isi dadanya terasa linu dan kejang, tapi dia

kertak gigi menahan sakit pelan-pelan napas diatur, pelanpelan

dan sedikit-sedikit. setelah terhimpun cukup banyak

baru dia salurkan hawa murni keseluruh tubuh, kaki tangan

baru terakhir untuk menghangati isi perutnya yang terluka.

Lambat laun rasa sakit didadanya mulai lenyap, pernapasan

sudah lancar dan perasaan enteng. semangat tumbuh badan

segar.

Waktu itu hari sudah malam, lolong Serigala dikejauhan

menambah seram hutan yang gelap itu, telinganya yang tajam

mendengar derap langkah yang ribut dari langkah binatang

binatang yang lari serabutan. lolong serigala semakin dekat

menuju kearah dirinya berada. Walau rasa sakit ditubuhnya

sudah lenyap, tapi keadaannya dewi-kz sekarang tetap belum

mampu melawan seekor serigala, apalagi kawanan serigala

yang kelaparan, beruntun dia tidak ajal oleh serangan Kuitiap-

sin, sungguk celaka dan konyol bila dirinya menjadi

mangsa kawanan serigala itu.

Maka sebelum luka lukanya sembuh, dia merangkak berdiri,

tubuhnya sempoyongan berjalan turun kebawah lereng, ingin

dia mencari suatu tempat untuk menyembunyikan diri supaya

tidak menjadi incaran kawanan serigala itu, asal malam ini dia

375

bisa selamat sampai besok pagi, yakin latihan napasnya akan

memulihkan sedikitnya setengah tenaganya semula.

Bulan sabit sudah bergantung di cakrawala sinarnya yang

redup menembus dari celah celah dedaonan, langkahnya

seperti kakek tua yang baru sembuh dari penyakitnya,

suasana sepi menjadikan deru napasnya yang tersengal

seperti emposan ban gembes. Langkahnya enteng namun

susah, kalau ada orang melihat keadaannya, siapa mau

percaya bahwa pemuda cakap ganteng yang rambut awutawutan

pakaian compang camping ini adalah Cui-Hin-ju Ling

Ji-ping yang sudah menggetarkan bulim. Setelah keluar dari

mulut gunung, Ling Ji-ing melihat di depan, sana ada sebuah

aliran sungai, cahaya rembulan tampak kemilau dipermukaan

air, hembusan angin lalu membawa harumnya bunga liar yang

tumbuh diatas pegunungan. Otaknya seperti habis dicuci,

mendadak semangatnya menyala, waktu dia angkat kepala,

tak jauh di pinggir sungai sana terdapat sepucuk pohon

kembang Bwe, kebetulan hanya ada satu cabangnya yang

menjulur keluar melintang kebawah, kembang Bwe tampak

mekar semerbak, dibawah pohon terdapat sebuah batu

gunung yang menjulang tinggi dua tombak, setelah

memeriksa sekelilingnya, Ling Ji-ping yakin hanya batu besar

dan tinggi inilah satu satunya tempat untuk dia

menyelamatkan diri dari sergapan kawanan serigala itu.

Pikirnya : ”Biarlah di sini saja, meskipun semalam ini aku

harus di tempat terbuka, yah apa boleh buat.” maka dia

menuju kebatu besar Itu, tapi setiba dibawah batu hatinya

mengeluh pula. Karena batu-batu ini dua tombak tingginya,

dalam keadaan seperti dirinya sekarang, bagai mana dia bisa

manjat ke atas ?

Lolong serigala sudah tak jauh lagi, agaknya kawanan

serigala itu sudah mengendus bau badan dan nenemukan

jejak kakinya, dengan suaranya yang ribut tengah memburu

datang.

376

Sudah tiada pilihan lagi bagi Llng Ji-ping, kalau tidak naik

keatas batu, maka kawanan serigala itu akan pesta pora

melalap dirinya. Demi menyelamatkan diri, apa boleh buat

dengan menahan segala derita pelan pelan dia merambat naik

keatas pohon, lalu merayap di atas dahan melintang dan turun

diatas batu. Syukur usahanya yang memeras keringat dan

menguras seluruh tenaganya itu akhirnya berhasil mencapai

keinginan.

Berada diatas batu, dia jadi heran karena permukaan batu

di sebelah atas rata dan mengkilap seperti sering diduduki

oleh orang yang bersimpuh di s ini.

Tapi Ling Ji-ping tidak banyak pikir, waktu dia menunduk,

dilihatnya ada lima ekor serigala besar dengan taring

taringnya yang menggiriskan sudah mondar mandir di bawah

batu sambil mendongak dengan bola matanya yang beringas

liar. Batu besar tinggi dan licin, kawanan serigala itu tak

mampu melompat setinggi itu. maka mereka hanya berputar

putar sambil mengeluh dan melolong

Ling Ji-ping membatin dalam hati: “Kawanan binatang Ini

sudah picak matanya, kalau dalam keadaan biasa, cukup satu

jariku sudah mampu kubunuh mereka. Ai, nasib memang

mempermainkan orang. dalam keadaan seperti sekarang,

serigalapun srani menghinaku.”

Namun dia tidak ambil pusing akan kawanan serigala iru,

setelah yakin kawanan serigala itu takkan berani mendekat,

legalah hatinya, pelan pelan dia mulai bersimpuh dan

mengerahkan hawa murni, duduk menghadap ketimur

menyambut terbitnya sinar surya.

Kira kira satu jam lamanya, hawa murni dalam tubuh Ling

Ji-ping sudah mengalir gencar sederas air mancur dari sumber

bawah tanah, dari sedikit terus meninggi sampai memuncak

ketingkat dua belas, seluruh tubuh serasa terbaur di dalam

keadaan hilang bobot dan Ingatan, uap putih mengepul dari

377

tubuhnya, setelah sekali putaran berhasil rasa sakit tubuhnya

sudah tinggal sepuluh prosen saja.

Pada saat itulah kupingnya yang tajam mendengar suara

lambaian pakaian orang, karena kaget lekas dia buka mata.

Baru kelopak matanya terbuka, disamping tubuhnya terdengar

seorang bersuara heran, tanyanya : “Siapa kau ?”

Waktu Llng Ji-ping mendongak tahu tahu di sampingnya

berdiri seorang perempuan setengah umur dengan pakaian

serba putih, wajahnya kelihatan masih cantik dan agung,

sikapnya yang anggun dengan tatapan yang tajam penuh rasa

heran.

Ling Ji-ping melengak, pikirnya : “Cepat benar gerak

ginkang perempuan ini Baru saja aku dengar lambaian

pakaiannya, tahu tahu sudah tiba disamping tubuhku.”

Enam puluh prosen luka luka Ling Ji-ping sudah sembuh,

tapi tenaganya masih agak lemah. dia tidak tahu siapa

perempuan setengah umur ini.Maka diam diam dia kerahkan

tenaga yang ada dikedua telapak tangannya, siap siaga sambil

mengawasi orang.

Perempuan itu tersenyum, tanyanya: “Kau terluka. Dalam

keadaan begini jangan kau kerahkan tenaga dan jangan

bergerak itu akan membawa akibat jelek bagi dirimu.”

nadanya kalem dan bersahabat.

Kembali Ling Ji-ping tertegun, pikirnya: “Lihay dan tajam

pandangannya. Aku terluka dalam dan diam-diam

mengerahkan tenaga ternyata tidak luput dari

pengawasannya, agaknya perempuan ini bukan orang

sembarangan.”

“Siapakah kau ?” tanya perempuan Itu lembut penuh kasih

sayang.

Berpikir sejenak akhirnya Ling Ji-ping menyebut namanya.

378

“Ling …. Ji … . ping” perempuan itu geleng-geleng sambil

mengulang namanya, “agaknya belum pernah kudengar

namamu, siapa kah gurumu ?’

Rahasia gurunya sudah tidak merupakan rahasia lagi. maka

Ling Ji-ping berpikir: “Untung rugi sukar diduga, apa pula yang

masih kukuatirkan?” maka dengan lantang dia menjawab

“Suhuku bergelar Te-sat-sin Thong Bu-kong.”

“Thong Bu-kong. Em, ya, nama ini sih aku pernah dengar.”

ucap perempuan baju putih.

Ling Ji-ping heran, dari nada pembicaraanya. dia yakin

perempuan ini pasti punya tingkat kedudukan yang tinggi di

Bulim, Kungfunya pasti lihay sekali, padahal gurunya termasuk

satu diantara sepuluh jago top masa kini, namun terhadap

kebesaran nama gurunya perempuan ini seperti hanya pernah

mendengarnya saja tanpa embel embel.

Dengan pandangan heran dan curiga dia awasi perempuan

baju putih, dari wajahnya yang masih cantik dapat diterka

usianya baru tiga puluhan umurnya terang separo dari

gurunya, tak mungki tiia punyu tingkatan yang lebih tinggi dari

gurunya tapi bicaranya seperti orang gede terhadap anut kecil

.’

Agaknya perempuan baju putih dapat mer ba jalan pikiran

Ling Ji-ping, dengan tertaw lebar dia berkata: “Siapa yang

melukai kau?”

“Kui-tiap-sin.”

Terbeliak kaget perempuan baju putih, tanyanya : “Kau

masih Selamat dari tangan Kui-tiap-sin? Kalau begitu, taraf

kepandaianmu tentu cukup mengejutkan juga !”

Ling Ji-ping hanya tersenyum getir akan pengalaman

pahitnya, katanya: ”Cayhe memang beruntung, kenapa jiwaku

tidak mampus, Cayhe sendiri juga heran.”

379

“Oh. Aku tahu Kui-tiap-sin memang bermusuhan dengan

gurumu. Setelah kau terluka di tangannya, jiwamu pasti

takkan diampuni kecuali kau mampu meloloskan diri. Dari

ceritamu ini kuduga kejadian teramat ganjil, tapi kenyataan

jiwamu masih selamat setelah bergebrak melawan dia, bekal

Kungfumu pasti cukup mengejutkan. Menurut apa yang aku

tahu, taraf kepandaian yang dicapai Te-sat-sin takkan

mungkin mendidik murid selihay kau.”

Merah muka Ling Ji-ping, apa yang diuraikan perempuan ini

memang kenyataan, jadi bukan sengaja mau merendahkan

gurunya, tapi Lam-jan pernah berpesan, maka dia tidak enak

mencerita kan asal mula ilmu yang digunakan melawan Kui

tiap sin. Maka dia mandah tersenyum saja tanpa memberi

tanggapan. Tapi tiba-tiba tergerak pikiraannya, batinnya: “

Darimana dia tahu kalau Suhu bermusuhan dengan Kui-tiapsin?

Agaknya diapun kenal baik dengan Kui-tiap-sin ?? mau

tidak mau timbul kesiapsiagaannya. sayang luka-lukanya

belum sembuh, hawa murni tak bisa dihimpun, dia kuatir bila

perempuan ini turun tangan terhadap dirinya, apakah dia

mampu melawan, masih merupakan tanda tanya.

Perempuan baju putih tertawa lebar, katanya: “Tak usah

tegang, aku tidak akan mencelakan kau, bila aku punya

pikiran jahat, ketambah sepuluh kau juga belum apa-apa

untukku. Apalagi luka-lukamu belum sembuh”

Apa yang terkandung dalam benak Ling Ji ping ternyata

tidak lepas dari pengawasan dewi perempuan kz baju putih,

dengan tertawa getir dia bertanya : ”Dapatkah Wanpwe tahu

nama gelar Cian pwe ?”

“Kau tanya namaku ?” bola mata perempuan baju putih

mengerling tajam, “sekarang lebih baik kau tidak tahu siapa

diriku, kalau tahu pasti kau tegang dan kuatir. Yang terang

aku tidak akan mencelakai kau, untuk ini kau boleh tidak usah

kuatir.” Sejenak dia menepekur, lalu berkata pula dengan

mendongak : “Sayang sekali kenapa justru kau

380

menyembuhkan luka-lukamu ditempat ini, membuat aku serba

salah jadinya.”

Ling Ji-ping tertegun, tanya : “Apakah Cianpwe ada urusan

disini ? Kalau benar biarlah bwanpwe pergi saja.”

“Kau mau meninggalkan tempat ini ?” perempuan baju

putih ragu ragu, entah apa yang tengah dirisaukan. Pada saat

itulah disebrang lereng sana berkumandang gelak tawa orang

yang aneh, menyusul mumbul sebuah lampu merah yang

melayang dan kontal kantil diantara dahan pepohonan didalam

hutan.

Ling Ji-ping kaget, tanpa sempat dia menanggapi

pertanyaan perempuan baju putih, perhatiannya tertuju

kearah lampu merah itu, pikirnya’: “Apakah mahluk tua itu

yang datang ?” Tiba-tiba dirasakan jari jari perempuan baju

putih menarik pundaknnya, eh, seperti ayam kecil saja tahutahu

tubuhnya dijinjingnya, kejadian berlangsung begitu cepat

hasrat untuk melawan belum lagi tersirat dalam benaknya,

tahu tahu seringan doa jatuh dirinya sudah melayang

kebawah batu.

Perempuan baju putih menurunkan dia di bawah pohon

kembang Bwe, dengan lirih dia berkata : “Jangan bersuara.

Satupun kau takkan kuat menghadapi para pendatang, kalau

mereka tahu kau berada disini, jiwamu pasti takkan diampuni,

akupun takkan bisa menolong kau.”

Sementara itu kawanan serigala sudah bubar mendengar

gelak tawa yang menakutkan itu.

Sebelum Ling Ji-picg memberi reaksi, seringan mega

mengembang, tanpa kelihatan bergerak tahu-tahu perempuan

baju putih sudah melejit mumbul naik ke atas batu pula.

Pohon kembang Bwe ini cukup besar dan tua, dahannya

sebesar pelukan dua orang, tumbuhnya seperti berdampingan

dengan batu besar itu, kebetulan Ling Ji-ping duduk nyelempit

di antara pohon dan batu. kalau tidak diperhatikan, orang

381

takkan tahu akan persembunyiannya, namun dengan jelas dia

bisa melihat keadaan disebrang depan.

Gelak tawa aneh itu semakin dekat dan kumandangnya

lebih keras, suaranya mengiringi selulup timbulnya gerakan

lampu merah itu. yang seperti mengambang di tengah udara,

akhirnya berhenti di puncak sebuah pobon. Lampu merah

tidak lagi kontal kantil, dibawah penerangan lampu merah ini

samar samar kelihatan seperti ada bayangan merah yang

kadang kadang kelihatan tiba tiba lenyap di bawah pohon

sana, ternyata duta lampu merah utusan puncak iblis itu yang

telah tiba,

Kaget dan curiga hati Ling Ji ping, pikirnya: “Agaknya

perempuan baju putih ada janji dengan Hiat-Ing-cu, entah

mereka kawan atau lawan'”

Begitu lampu merah berhenti dan otak Ling ji-ping tengah

berpikir itulah, dari atas batu besar tiba tiba memancar cahaya

terang warna putih yang menyilaukan mata. Dengan kaget

Ling ji-ping menengadah ke atas batu, dilihatnya perempuan

itu telah duduk bersimpuh di atas pohon di pinggir sungai tak

jauh di depan batu besar Itu bergantung sebuah lampu putih.

“Lampu putih?” bergoncang hati Ling Ji-ping, “celaka,

ternyata perempuan baju putih adalah duta lampu putih dari

puncak iblis Itu. Sungguh berbahaya, kalau tadi dia turun

tangan terhadapku, jiwaku sudah mampus tentu sudah

mampus sejak tadi.”

Terdengar gelak tawa aneh di seberang sana

berkumandang lagi, setelah lenyap gema tawanya, terdengar

Hiat-Ing-cu berkata : “Giok-siau datang dari jauh, entah Cuko

ada pesan apa pula untuk kami”

Mendengar Hiat-ing-cu memanggil ‘Glok-siau’ terhadap

perempuan baju putih, Ling Ji-ping memeras otak, namun

sejauh apa yang dia ketahui selama dia malang melintang

beberapa lama ini. belum pernah dia mendengar adanya

382

perempuan baju putih yang memiliki kepandaian tinggi

bernama Giok-siau.

Didengarnya perempuan baju putih diatas batu berkata :

“Kenapa Kui-tiap-su-cia tidak datang tepat pada waktunya

yang dijanjikan?”

“Kukira sebentar juga dia datang” sahut Hiat-ing-cu dari

sebrang.

Belum habis dia bicara dari hulu sungai sana tiba-tiba

bergema loroh tawa keras yang menggetar bumi. Lekas Ling Ji

ping menoleh kearah hulu, dari kaki gunung sana tiba-tiba

mumbul sebuah lampu kuning seperti anak panah cepatnya

melesat datang, begitu kencang luncurannya sampai menderu

mengeluarkan lengking suara keras, tapi anehnya lampu Itu

tidak padam. Lekas sekali lampu kuningpun telah berada

diseberang, loroh tawa inipun masih terkial-kial katanya :

“Kalian datang lebih dulu, maaf Kui tiap terlambat selangkah.”

Hiat-ing-cu menyambut kedatangan Kui tiap-sin dengan

gelak tawa pula, ujarnva. ”Lo ling. apa sih yang kau sibukkan –

belakangan ini?”

Dari arah lampu kuning sana berkumandang suara Kui tiap

sin ; “Kalau dikatakan sungguh menyebalkan, hari ini aku Lo

liang hampir saja kecundang ditangan seorang bocah kecil.”

”Bocah kecil maksudmu?”

”Memang salahku sendiri terlalu ceroboh, kukira seorang

anak kecil mampu apa” Kukira cukup tiga puluh prosen

tenagaku lebih dari cukup untuk membereskan dia.”

Hiat ing cu tertawa gelak gelak, katanya, ”Karena itu kau

kena dirugikan, begitu?”

“Bukan, bukan.” seru Kui tiap sin. “tiga puluh prosen

kekuatan cakup mengakibaikan bocah itu sekarat. Menurut

maksudku semula akan membekuknya hidup hidup, untuk

383

kukompres keterangan gurunya, siapa tahu, hehe, ternyata

dia bisa melarikan diri.”

“Siapakah bocah itu?”

“Memangnya kau sudah lupa Lo-Ou, dua orang yang kita

cari dengan segala daya Itu'”‘

“It-klam-klng-hun Hoan loji maksudmu “

“Bukan, bukan, setan tua she Thong itulah. Tentunya kau

Lo-ou tahu, puluhan tahun ini Vapan ada manusia yang

mampu menyelamatkan diri dari kedua kampakku ini. Tapi

bocah Itu mampu melarikan diri. bukankah aku Ini sudah

kecundang'”

“Apakah bocah itu she Ling?” tanya Hiat-ing-cua.

“Betul, betul. Eh, Lo-ou, Dari mana Kau tahu bocah Itu?”

Hiat-ing-cu mendengus sekali, katanya “Akupun sedang

mencari bocah keparat itu.”

“Ha, Lo-ou pernah kecundang juga oleh bocah she Ling

itu?” tanya Kui-tiap-sin,

“Huh, memangnya dia setimpal? Jikalau Lam-jan Pak-koat

dan It-si-cin-mo tidak melibat diriku, sepuluh bocah she

Lingpun Jangan harap bisa lolos dari jariku.”

“Betul, tidak salah.” seru Kui-tiap-sin. “kukira Lam-jan setan

keparat itu pula yang menolongnya pergi.”

Perempuan baju putih yang bersimpuh di atas batu lantai

berkata setelah tertawa ”Untuk apa kalian ogobrol soal yang

tidak perlu melulu? Seorang pemuda memangnya pantas

dibicarakan seribut ini oleh kalian?”

“Giok siau,” jengek Kui-tiap-sin “jangan kau aiggap enteng

bocah she Ling itu. Kalau sekarang dia tidak dibunuh, kelak

kemungkinan bisa jadi musuh tangguh dari cukong kita.”

384

Ling Ji-ping tertawa dingin di tempitnya sembunyi. “Tepat

juga dugaan setan tua ini.”

Hiat-ing-cu tertawa dingin, ujarnya. “Kalian tidak tahu,

bocah itu menggembel sesuatu yang menyangkut suatu

rahasia b«ar.”

Bergetar hati Ling Ji-ping. batinnya. “Mungkinkah perihal

Lam-jan menyerahkan kunci Itu kepadaku telah diketahui

oleh Kiat-ing-cu?”

“Rahasia tentang spa?” terdengar Kui-tiap-sin tanya.

Hiat ing-cu tertawa gelak-gelak serunya „Thian tiok sam

po”

Perempuan baju putih diatas batu bersuara heran, serta

merata ujung matanya melirik kebawah dimana Ling Ji ping

duduk bersimpuh, katanya: ”Apakah pemuda itu sudah tahu

rahasia kedua pusaka itu”

”Mungkin demikan ujar Hiat ing cu” tertawa. ”Giok pin kim

so berada d tangan Lam-jan, konon Giok liong siok untuk

memasuki Cui hwe koh berada ditangan bocah itu.”

”Apa betul’? tanya Giok siau melengking. Matanya melirik

pula kearah Ling Ji-ping.

Bergetar sekujur tubuh Ling Ji ping, bibir nya.” Malam ini

tamatlah riwayatku, demi merebut ketiga pusaka itu, bukan

mustahil perempuan baju putih ini merubah tekadnya semula,

jelas aku bukan tandingan satu diantara ketiga orang ini bila

perempuan ini bilang aku berada dibawah batu. Jiwaku jelas

bakal terancam.”

Cara terbaik untuk menolong diri sendiri sekarang adalah

secepatnya menyembuhkan luka dalam sendiri dengan

kekuatan Lwekang dan samadi. bila tenaga dan semangatnya

sudah pulih baru mungkin dia bisa rneloloskan diri secara

diam-diam. Maka lekas dia himpun Lwekang yang sudah mulai

385

terhimpun dan mendorong hawa murni didalam tubuh

sehingga mengailir dan menderu kencang disekujur badan.

Terdengar Kui-tiap-sin berkata keras. ”Tidak benar, tidak

mungkin. Menurut apa yang kutahu gelang naga itu kini

berada ditangan Ang-hoa Kaucu. Tapi apa yang diucapkan Loou

tadi juga tidak salah, Ang-hoa Kaucu memang merebutnya

dari tangan bocah she Ling.”

“O, kalau demikian, laporan rahasia yang di sampaikan

kepada majikan agaknya tidak salah.” demikian kata

perempuan baju putih.

”Kau. Giok-siau untuk apa menyusul ke Ceng-seng san ini.

apakah lantaran persoalan Ini ” tanya Kui-tiap-sin.

“Benar.” sahut perempuan baju putih. “Majikan suruh Giok

siau kemari adalah untuk menyampaikan pesannya berkenaan

dengan ketiga pusaka itu, beliau suruh kalian dalam jangka

sepuluh hari harus berhasil merebut ketiga pusaka itu dan

langsung pulang memberi laporan.”

Dingin perasaan Ling Ji-ping mendengar percakapan ini

pikirnya : “Ang-hoa kaucu Yubing-kau, sampaipun Tok-busiang,

Tiang-pek-hwi-hou dan lsin lain bukanlah merupakan

musuh yang patut dikuatirkan, kalau majikan puncak iblis juga

mencampuri urusan ini, urusan bakal lebih pelik dan ramai,

jikalau ketiga pusaka itu terjatuh ketangan majikan puncak

Iblis, bagaimana dirinya harus bertanggung jawab kepada

Seng locianpwe yang sudah bertekad mengorbankan jiwa

raganja demi menyelamatkan umat persilatan ?”

Terdengar Hiat-ing-cu tertawa gelak gelak katanya:

“Urusan sekecil ini terhitung apa’? Memangnya kau Giok-siau

perlu diutus kemari menyampaikan perintah ini.”

”Lo-oa,” seru Kui tiap-sin terloroh-loroh “jangan kau

takabur, urusan kukira tidak segampang yang kau kira,

tahukah kau ditangan siapa sekarang penyimpanan ketiga

pusaka itu ?”

386

“Sudah tentu aku tahu.” ucap Hiat-ing-cu membusung

dada, “Tok-bu-siang terhitung manusia apa ? Bila kutemukan

dia, sepatah kataku yakin cukup untuk memaksanya

menyerahkan gambar lukisan itu kepadaku.”

“Lalu gemboknya bagaimana ?” tanya Kui-tiap-sin.

“Ketahuilah Lam-jan, Pak-koat dan lt-ci-sin-mo bukan manusia

sembarangan yang dianggap enteng, kalau satu lawan satu,

kita cukup berkelebihan untuk mengalahkan mereka, tapi

untuk memperebutkan gembok itu, ketiga tua bangka Itu

sudah saling labrak selama tujuh puluh tahun, bila mereka

tahu kita mengincar barang milik mereka, bila mereka

bergabung melawan kita, urusan tentu tidak mudah

dibereskan.”

Perempuan baju putih menyela bicara: “Hal Ini majikan ada

berpesan, bila menghadapi kesulitan, majlkan akan turun

gunung dan membereskan sendiri soal ini. Bila majikan sendiri

turun tangan, apakah ketiga orang itu mampu melawan nya?”

Bukan kepalang kaget Ling Ji-ping, entah macam apa

sebenarnya majikan puncak Iblis itu? Lam-jan, Pak-koat dan

It-ci-sin-mo ternyata tidak masuk hitungan. Agaknya Seng

locian-pwe memang sudah memperhitungkan hal itu sejak

semula maka dia sudah bersiaga.

Hiat-ing-cu tertawa gelak-gelak, katanya “Urusan sekecil

ini, buat apa majikan sampai perlu turun gunung?”

“Ini bukan urusan kecil” ucap perempuan baju putih.

“Thian-tiok sam-po secara langsung akan menyangkut

keselamatan dan kejayaan puncak iblis kita, kalau tidak, buat

apa aku disuruh turun gunung menyampaikan perintahnya

kepada kalian “

”Lo-ou, perintah majikan sudah disampaikan apa pula yang

kita tungau di sini?” demikian seru Kui-tiap-sin, “walau urusan

agak pelik, sehingga majikan merasa perlu untuk turun

gunung membereskan sendiri, lalu dimana muka kita yang

387

sudah keriput ini akan ditaruh? Nah coba katakan dari ketiga

pusaka itu, kau ingin membereskan yang mana?”

Hiat-ing-cu menepekur, agak lama baru ia bersuara :

“Barang ada tiga, namun yang paling sukar diurus adalah

gembok emas itu. Lo-ling bagaimana kalau gambar lukisan

rahasia berisi simpanan ketiga pusaka bersama gelang naga

diurus satu orang, sementara gembok emas itu selesaikan

seorang lagi, adil tidak menurut pandanganmu?”

”Apa yang telah kau usulkan, kapan aku orang she Ling

pernah menentangnya,” ujar Kui-tiap-sin.

“Begitu paling baik.” ucap perempuan baju putih, “baiklah

sekarang kalian lekas ambil putusan, siapa bertanggung

jawab memperoleh gembok emas, siapa pula yang harus

merebut kedua pusaka yang lain ?”

Hiat-ing-cu tertawa gelak-gelak, katanya: ”Selama hidupnya

Lo-ling tidak pernah mau dirugikan biarlah dia yang merebut

kedua pusaka itu, tugas yang paling berat boleh serahkan

kepada aku”

Tergerak hati Ling Ji-ping Hoat-sin-yau-hou memang

terkenal licik dan culas, tak mungkin dia rela melepas yang

enteng memungut yang berat, mungkinkah dia sudah tahu

bahwa Lam-jan sudah menyerahkan gembok emas itu

kepadaku ?

Didengarnya Kui-tiap-sin bersuara heran, katanya: “E, eh,

kau Lo-ou kapan pernah bersikap sesungkan dan setia kawan

seperti ini. Memangnya kau rela menyerahkan tugas, yang

ringan kepadaku?”

Hiat-ing-cu tertawa gelak gelak. katanya “Kalau kau mau

kita saling tukar juga boleh meski aku terkenal licin, tapi

terhadap orang sendiri aku tak pernah berlaku curang”

388

Perempuan baju putih tertawa ringan, katanya “Baiklah,

ditenttukan demikian saja, aku akan segera puiang memberi

laporan.”

Sejenak Kui-tiap-sin tampak bimbang, tapi akhirnya dia

terkekeh, katanya : “Baiklah kita putuskan demikian.”

Luka luka Ling Ji-ping sudah sembuh sembilan puluh

presen dalam hati dia membatin “Bila sekaraag aku tidak lekas

menyingkir, andai pembicaraan mereka telah selesai, umpama

kedua gembong iblis diseberang itu tidak melihat kehadiranku

di sini, mungkin perempuan baju putih itu berubah sikap

terhadapku. Bila hal itu sampai terjadi, celakalah aku.” karena

itu pelan pelan dia menggeser lebih dekat kebawah batu

raksasa itu, pikirnya dia akan mengeremet mundur lewat batu

supaya tidak diketahui oleh perempuan baju putih.

Setiba didekat batu raksasa Ling Ji-ping berhenti sebentar,

setelah tidak mendengar reaksi apa apa dari perempuan baju

putih dlatas batu, dia menempelkan tubuhnya ke batu raksasa

terus melorot kebawah menyurut kebelakang.

Ling Ji ping takut menghadapi kenyataan maka dia dipaksa

bertindak demikian, padahal menurut wataknya biasa,

selamanya dia tidak tahu apa artinya lari dan takut meski

menghadapi musuh tangguh macam apapun, tapi malam ini,

satu saja diantara ketiga duta lampu ini dirinya bukan

tandingannya. Bukan dia takut kena perkara, adalah dia kuatir

bila dirinya menyia-nyiakan harapan yang dipercayakan

kepadanya oleh Lam-jan. Demi menyelamatkan kaum

persilatan, terpaksa dengan hati berat dan tanpa hiraukan

gengsi dan martabat dirinya, dia berbuat demikian.

Tiba tiba didengarnya Hiat ing-cu diseberang sana terseru;

“Baiklah, kami mohon pamit, Harap Giok-siau laporkan

kesediaan kami menunaikan tugas mulia ini.”

Perempuan baju putih diatas batu tertawa, katanya:

“Baiklah, kudoakan kalian sukses menunaikan tugas,”

389

Yang satu gelak-gelak yang lain terkiai-kial. waktu Itu Ling

Ji ping sudah menyurut mundur ke belakang batu raksasa,

tampak dua lampu merah kuning tiba-tiba berkelebat di

tengah udara, lalu didengarnya suara menderu kencang

melesat ke barat dan timur, suaranya dari keras semakin lirih,

jaraknyapun telah semakin jauh dan akhirnya tak kedengaran

pula.

Ling Ji-ping tidak sempat pikirkan ke arah mana kedua

orang ini menuju, begitu bertiarap setangkas trenggiling dia

terus meluncur ke depan menuju ke semak-semak pohon di

pinggir kali sebelah sana.

Setiba di balik semak-semak, kakinya menutul sekali,

tubuhnya lantas melambung tinggi ke angkasa secepat anak

panah lepas dari busurnya, seringan asap. tubuhnya telah

meluncur ke pucuk sebuah bukit.

Sewaktu Ling-Ji-ping meluncur pula ke bumi dan

mengambil kesempatan masih ditengah udara ia menoleh ke

belakang.

Dilihatnya lampu putih sudah lenyap, perempuan baju putih

sedang bangkit pelan-pelan, agaknya perempuan itu tahu

bahwa dirinyasudah meninggalkan tempat itu.

Legalah hati Ling Ji-ping, namun dia tidak berani berhenti.

Segera dia kembangkan Ginkangnya, meluncur pula kedalam

hutan di pinggir sana. Ling Ji-ping kira bila dirinya sudah

berada di dalam hutan, lebih mudah ia menyembunyikan

dirinya, bila perempuan baju putih menyadari bahwa dirinya

sudah tidak ditempat itu, betapapun tinggi ilmu silatnya untuk

menyandaknya amat sukar.

Tak nyana begitu dia meluncur kearah hutan, baru saja

kaki depannya menjejak bumi, tiba tiba terasa pandanganya

jadi kabur, bayangan putih tahu tahu berkelebat didepan

mata. seorang berkata lirih dengan tertawa : ”Siauhiap,

390

kenapa kau pergi diam diam ? Apa kau curiga aku bakal

melakukan sesuatu yang merugikan dirimu ?”

Ling Ji-ping melonggong, cepat dia melompat mundur,

waktu dia angkat kepala Giok-siau alias perempuan baju putih

tahu tahu sudah berdiri didepannya dengan sikap santai dan

tersenyum rumah, bola matanya yang bening dan terang bak

bintang kejora tengah menatap wajahnya, dari senyumnya

yang manis dan ramah, dia merasa orang memang tidak

mengandung maksud jahat.

Dengan sikap kikuk dingin, Ling Ji-ping berkata : “Kalau kau

toh orang dari puncak iblis maka tiada yang bisa kita

bicarakan lagi. Sekararng orang she Ling tidak ingin

bermusuhan dengan kau.”

“O,” perempuan baju putih bersuara dalam mulut dengan

tertawa lebar, “kau bermusuhan dengan pihak puncak iblis ?”

Ling Ji-ping menyeringai angkuh, sahutnya “Tidak!”

“Ya, aku mengerti, tentunya karena Ow Tang hoat dan Ling

Jong bersikap bermusuhan terhadap kau. Tapi mereka adalah

urusan mereka, aku adalah aku, diantara aku dan kau kan

tidak bermusuhan dan tidak perlu bermusuhan, betul tidak?”

“Apakah kau bukan salah satu dari tiga duta lampu Puncak

Iblis ?” Tanya Ling Ji-ping.

“Memang betul. Aku adalah duta lampu putih, tadi juga kau

sudah saksikan'”

“Lha, urusan kan sudah gamblang. Puncak iblis merajalela

dan mengganas di bulim, seluruh insan persilatan pasti

bangkit melawannya, lalu pula yang harus dibicarakan lagi

antara kita berdua ?”

“Em.” sikap perempuan baju putih tetap kalem, sedikitpun

tidak marah karena sikap kasar Ling Jing-ping. “Maksudmu

tentang kematian dua puluh delapan orang orang diatas

maklumat kematian itu ?”

391

“Mungkin diautara para korban itu tidak pantas mati,

umpama betul harus dihukum mati, bila orangnya sudah mati

dosanyapun himpas, tapi kalian justru mempamerkan batok

kepalanya di buat pajangan diatas maklumat kematian, bukan

kah itu keterlaluan?”

Perempuan baju putih tetap tertawa, katanya : “Jadi karena

itulah kau bermusuhan dengan majikan puncak Iblis ? Hehe,

tak kukira semuda ini usiamu, namun sudah punya tanggung

jawab dan merasa wajib melindungi keselamatan dan

kesejahteraan kaum persilatan umumnya.”

“Ji-ping tidak berani menerima pujian ini.T api demi keadilan

aku rela berkorban.””

“Ya, dengan bekal Kungfumu sekarang, memangnya kau

mampu bermusuhan dengan majikan puncak iblis ?”

Dingin tatapan mata Ling Ji-ping, katanya tertawa: “Ling Jiping

hanya tahu demi kebenaran, kepaia boleh dipenggal

darah boleh menetes sampai titik terakhir, selama ini belum

pernah aku pikirkan keselamatanku sendiri.”

“Kau yakin bahwa kau tidak akan mampu melakukan apa

apa yang berarti, tapi kau justru bertindak secara

serampangan, itu berarti kau mengantar kematian, apa pula

manfaat Kematianmu yang konyol untuk kaum persilatan

dilolong langit ini ?”

”Kan bukan hanya Ling Ji-ping seorang yang menderma

baktikan dirinya demi keselamatan kaum persilatan.”

“Ya. ya, kau memang seorang pendekar muda yang jiwa

ksatria, sungguh aku kagum dan patut dipuji.”

Mendelik bola mata Ling Ji-ping, katanya: “Kau merintangi

jalanku, apa pula maksudmu””

“Ah, tidak apa apa. kau jangan kuatir, aku tidak akan

bertindak kepadamu karena kau bermusuhan dengan

mereka.”

392

“Hm,” Ling Ji-ping menjengek angkuh. ”orang she Ling

selamanya tidak pernah takut di persulit orang, tapi maksud

kebalkan Duta kepadaku sejak kini akan selalu kucatat dalam

benakku “

“Kau memanggiIku Duta”

”Karena itulah gelar kehormatanmu.”

”Dapatkah aku bicara dengan kau bukan sebagai Duta

lampu putih dari puncak iblis?”

“Sudah tentu bo!eh, tapi aku kan pernah mohon

petunjukmu.”

“Oh ya, memang aku belum memberitahu siapa aku

sebenarnya!” Tiba tiba perempuan baju putih menghela

napas, “mereka memanggilku dewi Giok-siaukz, kau

mendengarnya bukan ?”

“Sudah tentu dengar, sayang Ling Ji-ping bodoh dan masih

hijau.”

“Sudah tentu kau takkan tahu, memangnya berapa banyak

kaum persilatan yang tahu siapa sebetulnya diriku ini ?'”

“Dapatkah aku mengetahui?”

Menunduk sejenak akhirnya perempuan baju putih

menggeleng gelengkan kepalanya seraya katanya “Lebih baik

tidak kukatakan saja,” lalu matanya, mengerling dan

menyambung kalimatnya sambil tertawa : “Sebetulnya siapa

aku ini tidak jadi soal kuberitahu kepada kau. Pendek kata,

sekarang aku bukan sebagai Duta lampu putih dari puncak

iblis bicara dengan kau.”

“Cayhe tidak tahu apa maksudmu.”

“Apakah pembicaraan Ou Tang-hoat dan Ling Jong tadi kau

dengar seluruhnya””

“Ya, kudengar seluruhnya.”

393

“Kau tahu Ou Tang-hoat suka rela untuk merebut gembok

emas itu ?”

Mendengar perempuan baju putih menyinggung gembok

emas itu, tergerak hati Ling Ji-ping, pikirnya : “Lihay juga

perempuan ini, ternyata tujuannya hendak mengorek

keterangan tentang gembok emas Itu dari mulutku.” Maka dia

geleng geleng dan sahutnya : “Cayhe tidak tahu.”

Tertawa lebar perempuan baju putih, katanya: “Rase tua

itu memang licn sekali, coba kau pikir bila gembok emas itu

benar ditangan Lam-jan bertiga, mungkinkah Ou Tang-Jioat

menampilkan dirinya untuk merebut gembok emas itu”

“Untuk apa kau singgung soal ini kepadaku?”

“Sudah tentu untuk memperingatkan kau.”

Pernyataan ini sudah gamblang, betapapun bodoh Ling Jiping

juga sudah meraba kemana tujuan kata katanya, lekas

dia kerahkan tenaga dan menjengek dingin: “Maksudmu . . .”

”Ah, masa kau lupa Ou Tang hoat pernah bilang bahwa kau

ada sangkut pautnya dengan ketiga pusaka itu. gelang naga

sudah tak berada ditanganmu, sementara gambar lukisan itu

berada ditangan Tok-bu siang, lalu benda apa yang ada

sangkut pautnya dengan ketiga pusaka itu atas dirimu ?”

Ling Ji-ping tersentak mundur, serunya: “Jadi kau curiga

bahwa gembok emas itu ada di tanganku?”

“Bukan curiga lagi.” Ucap perempuan baju putih oengan

tatapan tajam tidak berkesip, “aku menganalisanya dari

ucapan rase tua tadi, oleh karena Itu aku harap kau hati hati,

jangan sampai kau bertemu dengan mereka, sekarang kau

mengerrti ? Itulah sebabnya kenapa Sekarang aku bicara

dengan kau bukan sebagai Duta lampu putih dari puncak

iblis.”

Ling Ji-plng masih ragu, apakah orang setulus hati memberi

peringatan kepadanya, atau sengaja hendak memancing

394

keterangan darinya. Otaknya bekerja kilat, akhirnya dia

tertawa dingin, katanya : ”Cayhc tetap tidak mengerti, soal

gembok emas itu memang benar Cayhe mendengarnya. tapi

kalau Lam-jan, Pak-koat dan It-ci s ian mo memperebutkannya

sampai tujuh puluh tahun, kenapa dikatakan aku ada sangkut

pautnya dengan gembok emas itu”

Perempuan baju putih tertawa, katanya : ”Semoga

demikian, kalau tidak, banyak kesulitan akan kau hadapi.”

Demi menjaga kepercayaan dirinya akan pesan Lam-jan,

sudah tentu Ling Ji-ping segan memberi keterangan, maka dia

bersikap tetap congkak, katanya tertawa angkuh : “Itulah

sebabnya kenapa kau merintangi aku pergi?”‘

“Masih ada lagi.”

“Masih ada?”

“Ya, aku Ingin tahu dimana tempat tinggal gurumu?”

Melonjak hati Ling Ji-ping, sahutnya angkuh : ?Hal ini tak

bisa kuterangkan.”

Perempuan baju putih menghela napas rawan, katanya

dengan wajah sayu: “Kau tak usah kuatir. bukan untuk

menuntut balas aku ingin mencarinya,”

“Lalu untuk apa kau mencari beliau ?”

“Aih, atcu hanya ingin menjernihkan sesuatu persoalan di

masa lalu”

“Urusan masa lalu?”

“Ya. suatu peristiwa masa lalu yang takkan terlupakan.”

Ling Ji-ping melongo, pikirnya : “Suhu selamanya bertindak

jujur dan terang terangan. selamanya belum pernah

melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, mungkinkah

beliau ada pertikaian cinta dengan perempuan yang bernama

Giok s iau ini ?”

395

Canang pandangan perempuan baju putik mengawasi

rembulan dari celah-celah pepohonan, tiba tiba terbayang

perasaan haru dan sedih diwajahnya, entah karena

mengenang masa lalu yang manis madu atau risau akan

pengalaman hidup yaog pernah dialaminya ? Atau mungkin

kini dia tengah menghadapi sesuatu yang menguatirkan diri

nya? Entah karena cahaya rembulan yang redup keperakperakan,

atau karena reflek cahaya bulan yang berpadu

dangan pakaiannya yang putih, tiba tiba terasa oleh Ling Jiping

wajah perempuan baju putih amat pucat, sendu, rawan

dan kudus, sinar matanya memancarkan perasaan kebencian

yang lapat lapat.

Tanpa sadar Ling Ji-ping jadi merasa simpatik terhadap

Duta lampu putih dari puncak Iblis yang riwayat hidupnya

masih misterius bagi dirinya. Terasa walau sekarang dia

sebagai salah salah satu Duta lampu dari puncak iblis,

kemungkinan kedua taogatnya juga berlepotan darah seperti

Ou Tang-hoat dan Ling Jong, namun dia dapat meraba bahwa

riwayat kehidupan perempuan yang satu ini jauh lebih bersih

dan lurus. Karena dari rona muka dsn sinar matanya nan

anggun dan bening dapatlah dirasakan, bahwa di situlah letak

perbedaan yang nyata antara perempuan yang satu ini

dengan kedua gembong iblis itu, paling tidak wajahnya tidak

pernah menampilkan sifat buas, liar dan sesat, demikian pula

sifatnya lembut dan ramah”

Siapakah dia ? Merupakan teka teki yang tak terjawab

dalam benak Ling Ji-ping. kalau dia tidak mau menjelaskan,

mungkin karena dia sekarang sebagai utusan puncak iblis, dia

pantang merusak nama kebesaran dari golongan yang

dianutnya, demikian pula malu untuk mengudal pula masa

lalunya.

Tapi Ling Ji-ping yakin bahwa gurunya dulu pasti kenal baik

dengan dia, cuma apa maksud menyelesaikan persoalan

396

*masa lalu* yang diucap kan tadi, *masa lalu* Ini mungkinkah

menyangkut soal cinta atau persoalan pribadi ?

Ling Ji-ping menjubjek ditempatnya, terbayang dalam

benaknya masa di kala dirinya masih berada disamping

gurunya dulu. tiba tiba terasa olehnya bahwa sebab dari pada

gurunya mengasingkan diri dan tidak mau berkecimpung di

Kangouw, serta tempat semayamnya dirahasiakan, mungkin

bukan takut menghadapi perkara, atau kuatir musuh datang

menuntut balas kepadanya, kemungkinan besar lantaran ada

hubungan persoalan masa lalu dengan perempuan Ini.

Masih segar dalam ingatannya, sering dia melihat diluar

pintu kamar yang dirinya dilarang masuk, gurunya sering

mondar mandir sambil menggendong tangan, alisnya yang

memutih panjang bertaut dalam, bukankah itu pertanda

bahwa pikirannya pepat atau risau ? Didengarnya pula

gurunya sering berkeluh kesah bila berada seorang diri di

dalam kamar, namun diluar tahu gurunya dia sering

mendengar tingkah polah gurunya yang aneh dan

mengherankan ini. Tapi bila berhadapan dengan dirinya, sikap

sedih, risau dan bimbang itu sirna tanpa bekas, tawanya

tampak lebar dan suaranya lantang tegas, kalau adegan masa

lalu di bayangkan pula, lantas dalam hati kecilnya menjadi

yakin bahwa gurunya menyandang suatu persoalan pribadi

yang tidak ingin di ketahui orang lain.

Dan semua yang diduganya ini ternyata klop dan persis

dengan apa yang di lihatnya atas perempuan baju putih ini.

Mungkin perempuan baju putih bicara sejujurnya.

Setelah menarik napas panjang, didengarnya perempuan

baju putih berkata: “Siauhiap, kau pasti curiga apa maksud

sebenarnya dari pertanyaanku tentang tempat tinggal

gurumu?”

“Entah peristiwa masa lalu itu dapatkah aku

mengetahuinya?”

397

“Ah, masa lalu hanya membawa kenangan sedih. Nak,

marilah duduk, bolehkah aku memanggilmu demikian nak?”

Mendengar nada suaranya berubah sedemikian lembut

penuh kasih sayang, panggilan ‘nak’ ini amat menyentuh

perasaan hati Ling Ji-ping, namun dia juga merasa janggal

karena dinilai dari usia, sebetulnya mereka hanya terpaut

sepuluhan tahun, tapi suaranya adalah sedemikian welas asih.

seperti panggilan seorang ibu yang mendambakan putranya,

maka Ling Ji-ping segera menganggukkan kepala tanyanya :

“Apakah mereka takkan kembali?” sembari bicara dia duduk

diakar di bawah pohon sana.

Perempuan baju putih membetulkan letak sanggulnya,

kembali dia mendongak memandang nanar kearah rembulan

yang memancarkan cahayanya nan redup, katanya :

“Maksudmu Hiat-ing-cu dan Kui-tiap-sin ?”

Ling Ji-pirg mengiakan

”Tidak mungkin Dalam arena satu Li disekeliling sini, bila

ada orang, apalagi menuju kearah sini, pasti kuketahui.”

Ling Ji-ping melengak, pikirnya: “Memangnya taraf yang

kau capai sudah setinggi itu ? Bila tidak mempunyai ilmu

mendengar jarak jauh, darimana dia bisa tahu ada tidak ada

orang dalam jarak satu Li jauhnya?”

“Jangan kau curiga akan perkataanku,” perempuan baju

putih menandaskan, “sekitar sini memang tiada orang, boleh

kau duduk dengan lagi hati.” setelah melirik Ling Ji-ping

perempuan baju putih meneruskan, “kau lihat bukankah aku

kelihatan masih terlalu muda?”

Ling Ji-ping manggut, “Betul Lo-cianpwe.”

“Yang benar, usiaku dua kali lipat dari umur mu sekarang,

namun aku meyakinkan ilmu yang dapat mempertahankan

kehalusan wajah, maka aku kelihatan masih muda Itulah

sebabnya aku memanggilmu seperti putraku sendiri.”

398

Maka perempuan baju putih juga duduk di atas batu di

depan Ling Ji-ping, katanya pula “Sejak dahulu kala entah

betapa banyak manusia bekorban karena ‘cìnta’, masa remaja

tersia-sia, Kebahagiaan terpendam, betapa banyak pula

dendam permusuhan timbul karenanya, jiwa melayang secara

konyol pula. Hanya kenyataan pahit dan kejam belaka yang

menyesatkan manusia kejurang nista ?”

Ling Ji-pinp tertawa beku katanya : “Apakah komentar

Cianpwe ini tidak terlalu menyimpang dari kenyataan?”

Perempuan baju putih berkata rawan ”kau masih terlalu

muda, banyak persoalan yang belum bisa kau selami dan

pahami, karena seusia mu inilah kau justru sedang mengejar

kenyataan hidup ini. Seperti juga anak-anak muda seusiamu,

apa yang kau pikirkan, yang kau lihat adalah begitu indah

mengesankan, tapi itu hanyalah kenangan sebelah. Nak coba

kau pikir. sejak dahulu kala betapa banyak orang yang ingin

memperoleh kenyataan hidup ini ? Umpama betul ada orang

yang berhasil mencapainya, itupun hanya sementara saja

malah celakanya, imbalan selanjutnya yang harus dikeluarkan

justru jauh lebih parah dan banyak Dan akhirnya……ai,

merupakan akhir dari suatu tragedi, suatu kenangan yang

sama-sama akan mendatangkan keluh kesah manusia”

Ling Ji-ping menepekur, terasa apa yang diucapkan ini

memang tiada salahnya, memang kenyataan di dalam

ingatannya, belum pernah dia menemukan suatu cerita dalam

kenyataan ini yang betul-betul dapat memuaskan hatinya.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 12

Tiba-tiba perempuan baju putih tertawa tawar, suara

tertawa yang akan-akan ingin menyapu bersih kerawanan

yang timbul dalam hati sanubarinya. Katanya kemudian:

“Sudah tentu, ada sesuatu yang terkecuali. Tapi, nak. Hal itu

399

jarang sekali terjadinya, hanya bisa dikatakan tidak pernah

saja.”

Tanpa sadar Ling Ji-ping mengangguk sambi! mengiakan.

Perempuan baju putih menghela napas, katanya pula:

“Nah, semestinya aku tidak pantas bicara begini rupa terhadap

pemuda seperti kau, karena orang seusiamu belum saatnya

mempunyai pandangan yang mendalam untuk menghadapi

kenyataan hidup ini, seharusnya kau mempunyai pandangan

luas mengejar yang kau inginkan, bukan kebencian atau

muak.”

Dari uraian terakhir ini Ling Ji-ping lebih condong untuk

meresapi perkataan orang, bahwa sifat perempuan ini

nyentrik, namun sekaligus dari perkataannya ini diam-diam dia

telah ini meresapi penderitaan hidup yang pernah diresapi

oleh perempuan yang lihay ilmu silatnya ini tapi gagal dalam

menempuh kehidupan sehingga di membenci dan amat jelus

ternadap kerageman suatu pasangan manusia yang berhasil

memupuk diri ke jenjang kehidupan yang sempurna, oleh

karena itulah maka dia rela diperbudak oleh majikan puncak

iblis. Tapi siapa pula orang yang menyebabkan dia jelus dan

bersifat nyentrik terhadap sesama manusia ini ? Mungkinkah

orang itu adalah gurunya ?

“Tidak mungkin.” demikian pikir Ling Ji-ping lebih lanjut.

“Suhu teramat keras dan disiplin dalam pendidikan budi

pekerti maupun dalam pelajaran silat, beliau mengutamakan

keluhuran budi kesetiaan dan kepercayaan, walau biasanya

dia larang banyak bicara, namun dalam relung hati nya diliputi

rasa hangat akan cinta kasih, tidak mungkin beliau adalah

manusia yang Ingkar janji dan menyia-nyiakan masa remaja

seorang dara, apalagi gadis yang pernah dicintainya.”

Perempuan baju putih memandang nanar ke arah

bayangannya sendiri diatas tanah, lama sekali dia tidak

bergerak, maka diapun tidak memperhatikan apa yang kini

dipikirkan oleh Ling Ji-ping. Cukup lama kemudian baru dia

400

berkata perlahan: “Nak. sekarang mungkin kau sudah dapat

menyelami pribadiku, dan lagi pertemuan kita kali ini juga

mungkin karena ada jodoh, bahwa aku simpai berkotbah

terhadapmu, karena aku menuntut kepercayaanmu

terhadapku, tapi kau boleh yakin bahwa apa yang kulakukan

sekarang pasti akan mendatangkan kebalkan bagi dirimu,

terhadap aku sebaliknya merupakan suatu akhir yang masih

samar-samar dan belum bisa diramalkan.”

Ling Ji-ping bingung dan keheranan, katanya ”Locianpwe

Ji-ping terlalu tumpul, aku tidak paham apa maksud Cianpwe.”

“Kelak kau akan tahu sendiri, nak.” ucap perempuan baju

putih, “kau tidak sudi menerangkan dimana tempat tinggal

gurumu sekarang bukan “

“Ya, aku tidak bisa menerangkan, bukan karena tidak sudi.”

”Kenapa?”

“Karena sebagai murid beliau, aku tidak berani melanggar

pantangannya.”

“Em,” perempuan baju putih bersuara dalam mulut, “kalau

begitu aku tidak bisa salahkan kau, Tapi nak, dapatkah kau

memberitahukan kepadaku apa tujuanmu datang ke Cengseng-

san ,”

Tergerak hati Ling Ji-ping. Agak lama dia menatap

perempuan baju putih, karena dua pertanyaan yang diajukan

tak mungkin akan dijawabnya. Pertanyaan pertama adalah

yang menyangkut rahasia gurunya. Sudah jelas ini tak boleh

dibocorkan Dan pertanyaan kedua, menyangkut nasib banyak

insan persilatan. Peduli bagaimana sikap perempuau baju

putih ini, apakah dia jujur, tulus dan baik sekalipun terhadap

dirinya, tetap takkan boleh diterangkannya. Apalagi orang ini

adalah salah satu dari tiga duta lampu dari puncak Iblis. Maka

setelah direnungkan sekian saat akhirnya Ling Ji-ping

menjawab dengan suara dingin: ”Agaknya Locianpwe amat

ketarik pada sepak terjangku selama ini “”

401

“Nak, kalau dugaanku tidak meleset, tujuanmu kemari pasti

ada hubungannya dengan Thian-Cok-sam-po bukan.?”

“Tujuan utama waktu datang ke Ceng-seng ini sebetulnya

bukan karena itu,”

“Tapi sekarang kesitulah tujuanmu ?”

Ling Ji-ping tertegun, pikirnya : “Lihay benar perempuan

ini.” Tahu bahwa menyangkal jelas tidak mungkin, maka

dengan tawa angkuh dia ber kata : “Memangnya siapa yang

tidak ngiler terhadap barang pusaka. Apa lagi sebagai insan

persilatan, setelah tiba di Ceng-serg baru aku tahu tentang

ketiga pusaka itu. Jadi hanya secara kebetulan saja aku

memergoki kejadian ini.”

“Lalu, kau yakin akan memperolehnya?”

“Mungkin saja bila aku memang berjodoh.”

Tiba tiba perempuan baju putih mendongak mengawasi

mega yang mengambang diangkasa, mulutnya seperti

mengigau : “Kalau pihak iblis juga ikut mencampuri urusan ini,

kukira nak, jodoh itu takkan mungkin tiba pada dirimu.”

Mendadak Ling Ji-ping berseru “Locianpwe…” sebetulnya

dia ingin tanya tentang rahasia majikan puncak Iblis, namun

dengan lekas dibatalkannya niatnya, karena dia tabu

perempuan baju putih pasti takkan mau menjelaskan kepada

nya,

“Apa yang ingin kau ketahui dariku nak?. Katakanlah “

Akhirnya Ling Ji-ping bertekad dalam hati meski perempuan

baju tidak mau menjawab dia tetap ingin mengajukan

pertanyaan ini, sudah dua tahun teka teki ini bersemayam

dalam benaknya tanpa ada jawaban kepastian. Sudah puluhan

tahun tanpa ada seorangpun dari kaum persilatan yang

mampu membongkar rahasia ini. Sekarang, mumpung ada

kesempatan kenapa dia mengabaikan kesempatan yang baik

402

ini ? Maka dia tatap bola mata orang yang bening, tanyanya :

“Ji-ping ingin tahu, siapakah majikan Puncak iblis ?”

“Apa penting bagimu untuk tahu perihal ini nak?”

“Bukan untuk pribadiku, tapi untuk kaum persilatan di

seluruh dunia.”

Perempuan baju putih menunduk, bola mata nya yang

bening memancarkan sinar terang, sekian saat Ling Ji-ping

ditatapnya, akhirnya menghela napas, katanya : “Nak,

keperkasaanmu memang patut dipuii, tapi usahamu ini salah

salah bisa mendatangkan petaka bagi dirimu.”

“Sebagai orang yang sudah menerjunkan diri dalam

percaturan peisilatan, tidaklah pantas bila aku memikirkan

keselamatan dan kepentinganku sendiri.”

“Kau memang mirip gurumu. Dahulu gurumu tidak tahu

apa yang dinamakan takut, bahayapun dihadapinya dengan

lapang dada, apalagi membantu yang lemah menumpas

lalim.”

“Agaknya Locianpwe banyak mengenal pribadi suhu “

“Ya, banyak sekali, jauh lebih banyak dari apa yang kau

duga sekarang Tapi,.. aih.”

“Apakah hal itu ada hubungan langsung dengan persoalan

masa lalu yang ingin Locianpwe selesaikan?”

“Ya, mungkin ada, tapi mungkin juga tidak.” berkata

perempuan baju putih.

“Mungkin. Kenapa mungkin?”

“Sebelum duduk persoalannya menjadi jelas, aku hanya

bisa menilaikan dengan “mungkin” saja.”

“Bolehkah Ji-ping tahu?” Ling Ji-ping masih perasaran.

“Tidak boleh, nak.” perempuan baju putih geleng-geleng

kepala.

403

“Siapa majikan puncak iblis ? Juga tidak bisa diterangkan?”

“Ya, tidak boleh juga.”

”Apa karena alasan yang sama “

“Ya, alasannya sama.”

“Ji-ping tidak habis mengerti.”

“Banyak urusan dalam dunia Ini yang belum kau ketahui

nak. Malah ada kalanya urusan sebanyak itu suatu ketika bisa

melibatkan dirimu,”

“Apakah majikan puncak iblis juga ada pertikaian lama

dengan guruku ?”

“Bukan begitu maksudnya,” ujar perempuan baju putih

geleng kepala. “Semua ini terjadi karena timbulnya sebab

musabab belaka.”

Ling Ji-ping membatin: “Agaknya Suhu tidak bisa

meluputkan diri dari kerumitan yang bakal terjadi dalam Bulim

ini, mungkin angan-angan nya untuk hidup tentram di hari tua

ini takkan bisa terlaksana.”

“Oleh karena itu.” kata perempuan baju putih lebih lanjut,

“meski kau tidak mau menerangkan di mana tempat semayam

gurumu, cepat atau lambat dia sendiri takkan bisa berpeluk

tangan apalagi kau sebagai muridnya sudah terlibat d!

dalamnya, umpamanya bila kau sampai disandera oleh orang.”

Ling Ji-ping tertawa angkuh, katanya: “Hal itu sudah Ji-ping

ketahui meski bekal Kungfu Ji-ping terbatas, tapi aku yakin

diriku tidak sampai begitu tidak becus ”

”Nak, keyakinan merupakan bekal keberanian yang amat

berharga, tapi sombong mudah mendatangkan malapetaka

bagi dirimu.”

”Betul, Ji-ping akan berhati-hati’.”

404

“Nak, jagalah dirimu. Aku masih ada urusan lain,

selanjutnya kau harus berhati-hati terhada Tiat-ing-cu dan

Kui-tiap-sin.” lenyap suaranya mendadak Ji-ping merasa

dirinya seperti diseret terbang ketengah udara, tubuhnya

melayang turun pelan-pelan, begitu kakinya menginjak bumi,

dia menoleh dan celingukan, suasana sepi pegunungan seperti

mencekam perasaannya, bayangan perempuan baju putih

sudah lenyap entah kemana.

Untuk mencari Yong-yong, berulang kali dia menghadapi

bahaya, tapi dia memperoleh suatu rahasia yang amat

berharga pula, terasa urusan semakin rumit dan gawat, sudah

jelas bahwa majikan puncak iblis juga mengincar ketiga

pusaka itu, seperti apa yang dikatakan perempuan baju putih

bila perlu majikan puncak iblis akan turun tangan sendiri, lalu,

dengan bekal kepandaiannya yang terhitung rendah ini,

mungkinkah menandingi majikan puncak iblis dalam usahanya

memperebutkan ketiga pusaka itu. Musuh tangguh berada di

sekeliling, setiap langkahnya amat berbahaya, seorang diri

berada di dalam lingkungan yang terjepit ini harus berjuang

mati-matian, walau gembok emas berada ditangannya, tapi

untuk mencapai keinginan seperti apa yang dicita-citakan

Lam-jan, agaknya harapannya terlalu kecil. Selama ini Ji-ping

tidak pernah putus asa, namun kini mau tidak mau dia

menarik napas, dengan rasa hambar dan kecewa

pandangannya nanar mengawasi rembulan.

Angin pegunungan menghembus sepoi-sepoi, tiba-tiba Ling

Ji-ping bergidik, seketika dia sadar pula dari lamunannya,

bukan karena kedinginan, tapi lantaran hembusan angin lalu

membawa kumandangnya suara jeritan keras yang

mengerikan.

Sekilas Ling Ji-ping melenggong, tanpa merasa langkahnya

lalu berlari cepat kearah datangnya suara. Setelah dia

melampaui sebuah selokan yang dihimpit dua puncak gunung

kira-kira setengah jam kemudian, mendadak dilihatnya sinar

405

jago merah yang membumbung tinggi keangkasa, lekas dia

percepat langkahnya, kejap lain dia sudah tiba di tempat

kebakaran.

Waktu dia periksa keadaan sekitarnya, akhirnya dia berdiri

melongo, karena yang terbakar adalah sarang kediaman Pekhoa

Kongcu, bangunan yang terdiri dari bambu itu kini sudah

menjadi puing-puing yang rata dengan tanah, dari asap yang

masih mengepul tinggi tercium pula bau hangusnya mayat

yang terbakar.

Padahal Ling Ji-ping tidak pernah merasa simpatik terhadap

Pek-hoa Kongcu, tapi melihat tempat kediamannya habis

terbakar, hatinya ikut sedih juga, dalam hati dia menduga

kebakaran ini pasti perbuatan Tiang-pek-hwi-hou. Entah

bagaimana nasib Pek-hoa kongcu sekarang ? Kalau nasib jelek

dan dia mati terbakar, kejadian lantas menyangkut urusannya

pula, itu berarti juga dirinya telah mengorbankan jiwa dua

orang perempuan.

Dengan perasaan hambar dia berdiri mematung diluar

pekarangan dengan pandangan terlongong, sulit dia

membuktikan apakah Pek-hoa kongcu terkubur dalam kobaran

api. Rasa dendam dan kebenciannya terhadap Tiang-pek-hwi

hou semakin mendalam, akhirnya dia menyengir getir,

desisnya : “Kalian boleh tunggu rase yang licik dan jahat,

kalau Ji-ping tidak mampu menumpas kalian atau

mengusirnya keluar perbatasan aku bersumpah takkan jadi

manusia. Biar kaum persilatan di Tionggoan tidak lagi

tertindas oleh mereka.”

Lama dia menjublek ditempat itu, akhirnya tergerak

pikirannya, pikirnya: “Tujuan Tiang-pek-hwi-hou membakar

rumah bambu Ini pasti bukan hanya menuntut balas luka-luKa

yang diderita oleh putranya, tujuan yang utama pasti ingin

merebut gelang naga itu. Kalau dugaanku benar, Tiang-pekhwi-

hou pasti berada bersama Kui-tiap-sin dan sekarang

406

mungkin sudah meluruk ke Bwe-tun, langsung menuju

kemarkas besar Ang-hoa-kau menemui Bwe-ou Hujin.”

Gelisah hati Ling Ji-ping, kalau gelang naga terjatuh

ketangan Kui-tiap-sin, jelas jauh lebih sukar untuk merebutnya

dari tangan Bwe-ou Hu jin. Maka tanpa hiraukan peringatan

perempuan baju putih, sampaipun nasib Yongyong juga tidak

terpikir lagi olehnya, segera dia angkat langkah berlari kearah

Bwe-tun.

Setiba dihutan kembang Bwe, fajarpun telah menyingsing,

kembang Bwe mekar ditengah kabut pagi dengan embun

airnya yang bintik-bintik menambah keindahan dan kesegaran

alam semesti ini, bau harum merangsang napas menyegarkan

badan. Pucuk rumah yang berwarna merah tampak ditengah

hutan kembang Bwe, namun suasana sepi dan lengang di sini

terasa amat ganjil, seolah olah tidak pernah terjadi apa-apa di

sini. Ji-ping lantas menduga: ”Apakah dugaanku keliru? Kui

tiap-sin dan Tiang-pek-hwi-hou tidak atau belum kemari ?”

Karena heran dia jadi kebingungan sendiri, padahal

semalam dia dengar sendiri bahwa Kui-tiap-sin menerima

tugas untuk merebut gelang naga dan gambar lukisan rahasia

penyimpanan harta, dari Hiat ing cu, Kui-tiap-sin sudah

memperoleh keterangan bahwa gelang naga kini berada

ditangan Ang-hoa-kau, tidak mungkin dia tidak akan meluruk

kemari. Sembari membatin tubuhnya meluncur cepat ke dalam

hutan, tak nyana baru beberapa langkah, dari belakang

sebuah pohon didengarnya seorang terkekeh dingin,

membentak : “Siapa ? Hayo berhenti.”

Ling J-iping segera berhenti, dilihatnya di belakang pohon

Bwe berkelebat keluar seorang laki-laki tua, yaitu laki-laki tua

yang pura-pura mau gantung diri itu. Melihat Ling Ji-ping laki

laki tua bernama Tan In ini kelihatan melenggong, tapi lantas

terkekeh dan menyapa : “Kiranya kau ?”

Dingin dan angkuh tawa Ling Ji-pimg, katanya: “Betul,

ternyata kau masih mengenal aku ??”

407

“Untuk apa kau kemari ” bentak Tan In.

Ling Ji-ping mendengus dingin, katanya; “Memangnya

kedatanganku Ini tidak dalam dugaan kalian “

”Anak kemaren sore seperti dirimu ini terhitung apa ?” ejek

Tan In, “Ang-hoa kau kita belum memasukkan kau sebagai

musuh yang berarti”

“O, jadi hari ini ada orang lain yang hendak meluruk

kemari?” jengek Ling Ji-ping..

“Masih bocah ternyata kau cerdik juga, kalau tahu diri lekas

kau menggelinding pergi, hari ini aku tiada tempo

membereskan kau.”

Ling Ji-ping tahu bahwa dugaannya tidak melesat, Kui-tiapsin

dan Tiang-pek-hwi-hou belum tiba di sini, namun pihak

Ang-hoa kau sudah tahu bakal kedatangan musuh tangguh,

maka mereka telah mempersiapkan diri untuk menyambut

kedatangan kedua penyatrom ini. Maka dengan tertawa dingin

dia membentak : “Tan In, lekas beritahu kepada Kaucu kalian,

katakan orang she Ling hendak minta kembali gelang naga itu,

kalau tidak, hem. peduli jebakan apapun yang telah kalian

rencanakan, biar hari ini kusapu bersih perkampungan ini.”

Tan In terkekeh-kekeh, serunya : “Anak keparat, besar

juga mulutmu. Kami memang sudah siap, tujuan kami adalah

memburu dua ekor binatang buas, tapi bukan kelinci macam

dirimu hehe ..he, tapi kalau kau ingin cari mati, boleh juga kau

coba-coba.”

“Orang she Ling memang ingin mencobanya, Ingin aku

melihat persiapan apa saja yang telah kalian lakukan dan

betapa llhaynya ?”

“Boleh silakan.” ucap Tan In geleng-geleng, “sungguh tak

nyana belum lagi berhasil menjebak dua binatang buas,

seekor kelinci telah mengantar kematian.” habis bicara tibaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

408

tiba dia melompat mundur lantas menyelinap kebalik pohon

dan menghilang.

Karuan Ling Ji-ping melenggong, matanya menyapu

pandang keempat penjuru, hutan .pohon Bwe Ini terlalu lebat,

di slang hari bolong lagi, bagaimana mungkin hanya sekali

berkelebat, tahu tahu jejak Tan In sudah lenyap tak berbekas?

Dahan pohon bergerak, cahaya mentaripun cukup benderang

di mana angin menghembus lalu, kembang Bwe rontok

berhamburan, suasana di sini amat sunyi dan tenang, pada

hakikatnya tiada sesuatu yang kelihatan ganjil.

Tapi Tan In menghilang tanpa karuan paran merupakan

suatu bukti bahwa apa yang diucapkan Tan In tadi pasti bukan

gertakan belaka, hutan ini pasti telah diatur dengan suatu

barisan yang menyesatkan, kalau tidak Ang-hoa kau Kaucu

sudah tahu bahwa pihaknya bakal kedatangan Kui-tiap-sin dan

Tiang-pek-hwi-hou, kenapa kelihatannya tetap tenang dan

tidak gentar sedikitpun.

Diam-diam Ling Ji-ping menerawang: “Disebelah depan

dalam hutan kembang Bwe ini pasti ada diatur semacam

barisan, entah itu Ngo-hing-pat-kwa atau Kiu-kiong-pat-kwa,

memangnya semua ini dapat mempersulit diriku?”

Perlu diketahui Te-sat-sin Thong Bu-kong guru Ling Ji-ping

adalah seorang jago silat kenamaan yang memiliki kemahiran

diberbagai bidang, bukan saja lihay silatnya, tapi ilmu

sastranya juga amat tinggi, sebagai murid Te-sat-sin satusatunya,

sudah tentu Ling Ji-ping mendapat warisan yang

cukup banyak dan luas, maka soal barisan dan jebakanpun

pernah juga dipelajarinya dengan bekal yang cukup sempurna

mana dia gentar menghadapi rintangan apapun, maka sambi|

menyeringai dingin, segera dia melangkah lebar ke dalam

hutan.

Tapi langkahnya diperhitungkan, taraf kepandaian silat

Ang-hoa kau-cu memang belum tehitung top, tapi orangnya

licik dan culas, banyak muslihat keji, kekejaman dan

409

kelicikannya tidak kalah dibanding keluarga Hwi-hou rase

terbang dari luar perbatasan, meski bukan salah seorang dari

empat datuk ahli racun dalam bulim ini, tapi diapun cukup ahli

dibidang ini, sekail kena bukan mustahil dirinya bisa

kecundang penasaran.

Sebelum beranjak lebih dalam, Ling Ji-pin mendekati pohon

dimana tadi Tan In menghilang dia periksa dengan teliti,

dilihatnya pohon ini tak ubahnya pohon-pohon lain yang

tumbuh secara wajar, bau harum kembang merangsang

hidung, suasana hening lelap, hakikatnya tidak kelihatan

sesuatu yang mencurigakan, karuan hati Ling Ji-ping

keheranan, pikirnya : “Mungkinkah Tan in sengaja hendak

menggertak aku atau hanya membual belaka ?”

Tengah dia terlongong itulah, tiba tiba kupingnya

menangkap suara tawa dingin, di susul seorang berkata :

“Bocah, kuharap, kau tahu diri dan lekas menggelinding pergi.

Biar terus terang kuberitahu kepada kau. Yang ingin kami

tangkap hari ini bukan kau, bukan karena aku kasihan dan

sayang kepada kau, tapi lantaran kuatir memukul ular

mengejutkan ular, sehingga kedua ekor binatang buas itu

sukar masuk perangkap, maka gagal lah segala rencana

besarku”

Ling Ji-ping melongo, dengan cermat, dia dengarkan dari

arah mana datangnya suara, tapi di sana pohon Bwe berdiri

kokoh, dahannya bergoyang ditiup angin, kembang

berhamburan, sang kumbang memetik madu, hakikatnya tidak

kelihatan ada bayangan manusia. Diam diam Ling Ji-jing

perhatikan setiap pucuk pohon kembang Bwe itu, sepertinya

tumbuh secara alamiah, letak dan susunan nya juga seperti

tidak teratur, seperti asal tumbuh begitu saja, hakikatnya

bukan tumbuh dengan diatur oleh manusia, jelas ini bukan

barisan pohon.

Tapi peringatan orang menyadarkan pikiran Ling Ji-ping,

pikirnya : “Memang, peduli barisan menyesatkan atau barisan

410

beracun, kenapa aku harus menjadi pelopor bagi Kui-tiap-sin ?

Biar aku jadi penonton ditempat gelap saja, biarlah baku

hantam dan gugur bersama, barulah nanti aku merebut

gelang naga Itu.” segera dia menyapu pandang, dilihatnya

dibelakang pohon sebelah kiri sana tumbuh sepucuk pohon

Siong yang tinggi dan tua, aneh memang ditengah hutan Bwe

tumbuh sepucuk pohon siong, tapi daunnya tampak rimbun,

cabangnya menjulur panjang dan kokoh, segera Ling Ji-ping

menjejak kaki, tubuhnya melambung tinggi kesana, hinggap

didahan pohon yang lebat dengan dedaunan.

‘Setelah berada dipucuk pohon Ling ji-ping mencari posisi

yang paling enak dan menguntungkan, situasi hutan

sekelilingnya diperhatikan dengan seksama, dengan sabar dia

menunggu perkembangan selanjutnya. Tapi setelah lama

dinanti belum tampak ada gerakan apapun dari luar

Tan In juga tidak kelihatan muncul pula. Gedung merah

dengan puncaknya yang berbentuk mirip kelenteng tampak

bertengger di kejauhan sana, bila gin menghembus lalu,

tampak kembang Bwe seperti mengalun dengari tarian

gemulai, pegunungan, dikejauhan di bungkus mega,

sementara gemercik air mengalir di sungai diluar hutan. Diamdiam

Ling Ji-ping membatin dalam hati : “Di sini memang

mirip dunia impian, taman firdaus yang di impikan setiap

manusia, sayang bila Kui-tiap-sin datang, pasti terjadi

pertempuran sengit, alam se permai ini bakal menjadi ajang

pertempuran, sayang sekali bila di sini akhirnya dibumi

hanguskan pula.”

Tengah menepekur, tiba tiba kupingnya yang tajam

mendengar adanya suatu gerakan yang meluncur diudara,

maka tampak dua bayangan orang muncul dari balik puncak

sana, secepat panah meluncur kearah sini, kecepatannya

sungguh sukar di ukur. belum pernah Ling Ji-ping

menyaksikan ginkang sehebat ini. Tegang urat syaraf Ling JiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

411

ping, batinnya : ”Datang juga akhirnya, biar aku jadi penonton

saja, siapa yang bakal mampus peduli amat.”

Hanya sekejap saja kedua bayangan orang itu sudah

meluncur turun di luar hutan, yang di depan memang Kui-tiapsin,

dibelakangnya adalah Tian pek-hwi-hou yang licik dan

culas. Begitu kaki hinggap di tanah, bola mata Kui-tiap-sin

baga! cahaya kilat menyapu di tengah angkasa, sambil

terkekeh dia berkata: “Apakah Ui Bwe-ing tinggal di s ini ?”

Tiang-pek-hwi-hou yang ada dibelakangnya segera

mengiakan, sahutnya : “Ya, memang di sini diatas loteng

tinggi besar ditengah hutan kembang Bwe itulah”

Sambil bertolak pinggang segera Kui tiap-sin berseru :

“Lekas kau suruh Ui Bwe menemui aku”

Tergerak hati Ling Ji-ping, batinnya: ”Nama asli Ang-hoakau.

Kaucu ternyata Ui Bwe-Ji tak heran, hobbynya suka

memelihara kembang Bwe. Agaknya Kui-tiap-sin jelas

mengetahui asal usul Ang-hoa Kaucu, padahal sudah dua

tahun lebih dia berkecimpung didunia Kangouw, tapi belum

pernah dengar siapa nama asli dan hidu hidup Ang-hoa

Kaucu”

Terdengar Tiang-pek-hwi-hou tertawa, katanya: ”Locianpwe,

apa kau tidak merasa heran dan aneh akan suasana

hening didalam hutan Bwe ini”

Kui-tiap-sin menyabitkan kampak ditangannya ditengah

udara katanya setelah terloroh loroh :”Bila Ui Bwe-ing tahu

aku yang telah datang, meski besar nyalinya, memangnya dia

berani bertingkah dan mengatur perangkap untukku Hehe he,

memangnya hutan Bwe begini buat kedua kampakku bekerja,

tanggung sekejap saja sudah kubuat rata dengan tangan, kau

takut apa ?”

Tiang-pek-hwi-hou mengiakan, tapi dia berkata pula

“Maksud Wanpwe ..”

412

Mendelik biji mata Kui-tiap-sin, bentaknya “Kau takut

memasuki hutan Bwe ini ?”

Tiang-pek-hwi-hou mundur selangkah, tapi wajahnya tetap

tertawa licik : “Bersama Locianpwe, kenapa aku harus takut ”

Saking senang di umpak Kui-tiap-sin tertawa gelak gelak,

serunya : “Syukurlah kalau kau tahu.”

Pikir Ling Ji-ping : “Rase tua ini memang licik dan bermulut

manis, kwpandaiannya menjilat memang sukar dicari

tandingannya, agaknya dia memang ada rencana

memperdaya dan memperalat iblis laknat itu.”

Didengarnya Tiang-pek-hwi-hou telah berkata pula

“Maksudku, Ang-hoa Kaucu sekarang sudah berbeda dengan

yang dahulu. Konon kabarnya dia sudah bergabung dengan

Bantok Pocu dan Thian-yok Sin-thong, dua dari empat datuk

racun di Bulim. Menurut kabar belakang belakangan ini ilmu

silatnya telah maju pesat, maka tidak ada ruginya kita berlaku

hati hati.”

Ling Ji-ping yang mencuri dengar kaget, pikirnya:

“Makanya, hutan kembang Bwe ini kelihatannya seperti tiada

apa apa, ternyata memang sudah diatur oleh suatu barisan,

bukan saja menyesatkan juga barisan beracun pula.”

Kui-tiap-sin mengerutkan kening, katanya “Empat datuk

racun Bulim? Orang macam apa mereka?”

Tiang-pek-hwi-hou batuk batuk dulu baru menjawab :

”Mereka adalah angkatan muda, maklum kalau kau orang tua

tidak kenal, Bu-lim Si-tok atau empat datuk beracun bulim

dikepalai oleh Ngo-tok Hu-jin, lalu disusul Tok-po-cu, ketiga

adalalh Thian-tok-sin-thong dan keempat yaitu Tok-bu-siang

yang menyimpan gambar lukisan itu,”

Jelilatan biji mata Kui-tiap-sin, katanya agak terkekeh :

“Ngo-tok Hu-jin, apakah perempuan yang dulu suka main

413

main kelabang beracun warna hijau itu? Hehe, sejak kapan

mereka, berani angkat nama jadi Bu-lim-si-tok segala?”

Tiang-pek-hwi-hou senyum sinis, katanya : “Betul, betul.

Kejadian satelah kau orang tua mengasingkan diri, bila kau

orang tua tetap berada, di barisan depan, memangnya orang

orang ini berani bertingkah dihadapanmu ?”

Kui-tiap-sin tertawa gelak gelak kesenangan karena

diumpak, tanyanya “Siapakah Ban-tok Pocu dan Thiao-tok-sinthong

?”

“Ban-tok Pocu adalah alias Tok-bi-kui Li Ki yang dulu itu.”

“Lini Ki ?’ Kui-tiap-siu terpingkal-pingkal ”Perempuan modar

itu kini juga menamakan Pocu (nenek) segala ? Hehehe,

maklumlah, kalau gunung tiada harimau, kerapun jadi raja.”

“Memangnya begitulah,” segera Tiang-pek-hwi-hou menjilat

lebih berani, “sejak puluhan tahun kau orang tua

mengasingkaa diri, kemajuan telah dicapainya dalam bermain

racun, kini usia memang sudahnya tua, maka dia mengubah

nama julukannya menjadi Ban tok Pocu.”

Kui-tiap-sin tertawa ejek menghina, katanya: ”Hayo lekas

jelaskan,siapa pula Thian-tok sin-thong ?”

“Buyung yang satu ini sih belum lama angkat nama,

mungkin kau orang tua belum pernah mendengar namanya.

Dia she Ciok bernama Tiong, entah murid didik siapa atau dari

aliran mana tapi kabarnya kepandaiannya dalam bermain

racun Justru paling unggul diantara ketiga rekannya.”

“Bocah kecil masih berbau bawang, meski lihay juga masih

terbatas, coba kau jelaskan, racun apa saja yang pandai dia

gunakan?”

“Konon cukup dengan sekali tuding dengan jarinya, benda

yang tidak beracun seketika juga beracun, itu belum hebat,

lebih lihay lagi sekujur badan bocah itu bukan saja berlumuran

racun, sehingga lima kaki sekelilingnya di manapun dia

414

berada, hawanya juga mengandung racun, orang yang berada

dekat dalam jangkauan lima kaki pasti binasa keracunan,

maka dia menjuluki diri nya Thian-tok.”

“Masa betul begitu ?” Kui-tiap-sin menegasi

“Meski hanya kabar angin, mungkin berita ini juga bukan

bualan.”

Ling Ji-ping yang mencuri dengar kaget dalam hati, pikirnya

: “Pernah aku dengar nama Thian tok-sin-thong, namun tak

pernah kutahu bahwa dia selihay itu, untung tadi aku tidak

serampangan main terjang kedalam hutan, kalau tidak

bukankah aku terperangkap?”

Kui-tiap-sin terloroh loroh, katanya : “Sudah puluhan tahun

Lohu malang melintang di Kang ouw, belum pernah kudengar

ada manusia selihay ini, dahulu aku pernah berhadapan

dengan Tok mo (racun Iblis) Ui Thian-ho, diapun tidak selihay

ini. Kukira bocah itu hanya besar nama kemampuan kecil,

julukannya itu hanya untuk menakuti orang belaka”

Makin lebar senyuman sinis Tiang-pek-hwi hou, katanya

“Mungkin ucapan kau orang tua memang benar, umpama

kabar angin itu benar, dengan Lwekang Locianpwe yang

tangguh itu, memangnya hawa beracun mampu mengapakan

kau orang tua ?”

Gembong iblis ini memang suka diumpak dan diagulkan,

segera dia terkial kial kesenangan sambil membusung dada,

katanya kemudian : “Kau bocah tua Ini ternyata juga tahu

tabiat Lohu.”

“Oleh karena itu, kupikir. . oo . berani. . . masuk bersama

kau orang tua, bila kepergok dengan kawanan beracun itu,

dengan berada disamping kau orang orang tua yakin aku tak

akan gentar lagi”

Tergerak hati Ling Ji-ping, diam diami tertawa geli,

pikirnya: “Rase tua ini memang licin dan hina dina, pulang

415

pergi tetap rnemperlihat jiwanya yang kerdil dan takut mati,

dia harap gembong iblis laknat itu maju lebih dulu”

Kui-tiap-sin memang kegirangan oleh sanjung puji Tiangpek

hwi-hou. Ling Ji-ping tahu, bahwa seorang tokoh silat

yang Lwekangnya sudah mencapai taraf yang paling tinggi,

sekedar permainan racun memang tidak akan mampu

menjatuhkan dia, apalagi Kui-tiap-sin dengan kampaknya

sudah mendapat pengakuan umum bahwa kampak sekali

bergerak, setan malaikatpun terkejut. Hutan kembang Bwe

sekecil ini, pasti diratakan oleh sang kampaknya itu dalam

sekejap mata belaka”

”Bagus, anak tua” seru Kui-tiap-sin tertawa gelak gelak,

“mari ikuti di belakangku saja.”

“Baiklah, sekarang silahkan masuk,” ucap Tiang-pek-hwihou

sambil munduk-munduk.

Dengan menjinjing sepasang kampaknya yang kemilau

tajam, Kui-tiap-sin melangkah lebar masuk kedalam hutan,

sengaja Tiang pek hwi hou menunggu beberapa langkah

disebelah belakang, baru dia mulai beranjak dari tempatnya.

Ling