Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 46 – 55)

New Picture (3s)

Sayap-Sayap Yang Terkembang

Jilid 46 – 55

Karya : S.H. Mintardja

Jilid 46

KI TUNGGULPUN kemudian telah menarik senjatanya pula. Sebuah luwuk yang panjang. Pada tangkainya terdapat ukiran yang dihias dengan rambut yang Kasadha mengira rambut itu tentu rambut manusia, sebagaimana sering dilihat sebelumnya, bahwa rambut manusia memberikan kebanggaan tersendiri kepada pemiliknya. Apalagi rambut orang yang telah dibunuhnya dalam persoalan apapun.

“Marilah anak muda,“ berkata Ki Tunggul, “kita akan bertempur seorang lawan seorang. Jangan menyesal bahwa di padukuhan kecil ini kau bertemu dengan seseorang yang memiliki kemampuan melampaui Senapatimu sekalipun.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Ki Tunggul yang memiliki pengaruh yang besar itu agaknya memang seorang yang tidak mau dikecewakan. Ia dapat berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya tanpa menghiraukan kepentingan orang lain.

Namun Kasadhapun menyadari, bahwa Ki Tunggul itu tentu seorang yang berilmu tinggi. Ia mengerti juga bahwa ada kekuatan yang bersumber dari siraman cahaya bulan.

Demikianlah keduanyapun telah berhadapan. Ki Tunggul mulai menggerakkan luwuknya yang kehitam-hitaman. Pamornya nampak berkilat memantulkan cahaya bulan Sementara itu Kasadha menggenggam sebilah pedang yang tajamnya bagaikan membelah cahaya bulan itu.

Sejenak kemudian, luwuk Ki Tunggul itupun mulai terayun. Namun Kasadha yang ingin menjajaginya telah menyentuh luwuk itu dengan pedangnya.

Satu benturan kecil telah terjadi. Tetapi dengan benturan itu keduanya masih belum dapat menduga kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing.

Karena itu, maka keduanya masih harus tetap berhati-hati. Masing-masing masih belum tahu pasti, sampai dimanakah tataran kekuatan lawannya. Terutama Kasadha yang masih belum melihat sama sekali, apa yang dapat dilakukan oleh Ki Tunggul, sementara Ki Tunggul telah melihat bagaimana ia mampu mengalahkan para pengawalnya.

Dengan demikian, maka Kasadha masih saja berusaha untuk dapat membentur ayunan senjata lawannya. Ketika sekali-sekali benturan yang keras terjadi, maka Kasadhapun mengetahui, bahwa lawannya memiliki kekuatan yang sangat besar.

Demikianlah, sejenak kemudian, pertempuran antara Kasadha dan Ki Tunggul itu menjadi semakin cepat. Keduanya telah meningkatkan kemampuan mereka pula. Bahkan semakin lama semakin tinggi. Luwuk Ki Tunggul-pun berputaran semakin cepat. Ayunannyapun menjadi semakin kuat. Beberapa kali Kasadha memang harus meloncat surut untuk menghindari sambaran luwuh Ki Tunggul itu.

Tetapi pedang Kasadhapun tidak pula kalah garangnya. Pedang itu bagaikan terbang menyambar-nyambar. Pantulan kilatan cahaya bulan kadang-kadang memang membuat jantung Ki Tunggul berdebaran apalagi setelah ia menduga bahwa Kasadha termasuk salah seorang pemuja bulan yang mengisap sinarnya dengan lubang-lubang kulitnya untuk meningkatkan kemampuannya.

“Iblis kecil ini ternyata keras kepala,“ berkata Ki Tunggul didalam hatinya, “tetapi ia harus benar-benar dihancurkan agar tidak ada lagi tuntutan karena aku telah berani melawan seorang prajurit. Meskipun prajurit itu tidak sedang bertugas, tetapi prajurit muda itu dapat menyatakan bahwa ia sedang melindungi seseorang, apalagi orang itu adalah bibinya.”

Karena itu, maka setelah mereka bertempur beberapa saat, Ki Tunggul menjadi tidak sabar lagi. Iapun telah mengerahkan kemampuannya sampai kepuncak.

Kasadha memang terdesak untuk beberapa saat. Ibunya sempat menjadi cemas melihat keadaannya. Meskipun ia sendiri akan dapat menyelesaikan Ki Tunggul, tetapi itu akan dapat merusak suasana hidupnya sehari-hari.

“Apakah aku harus menyelesaikan persoalan ini sebagaimana pernah aku lakukan?“ pertanyaan itu mulai timbul didalam hati ibu Kasadha itu.

Namun hatinya menjadi sedikit tenang, ketika ia melihat anaknya menjadi mapan lagi. Kasadha tidak lagi nampak terdesak setelah iapun meningkatkan kemampuannya pula. Pedangnya berputar secepat luwuk Ki Tunggul.

Ki Tunggul sempat mengumpat didalam hati. Anak muda itu ternyata tidak segera dapat ditundukkan. Menurut perhitungannya, sebagaimana dikenalnya, kemampuan para prajurit tidak akan dapat memanjat sampai ketingkat kemampuan anak muda itu.

Karena itu, maka Ki Tunggul itupun menjadi semakin yakin, bahwa Kasadha adalah seorang yang bukan saja memiliki kemampuan seorang prajurit, tetapi juga pernah berguru kepada seseorang yang ternyata pemuja bulan.

Karena itu, maka dalam siraman sinar bulan, maka kemampuannya telah menjadi semakin berkembang.

Ki Tunggul itupun kemudian berusaha untuk mendesak Kasadha agar anak muda itu lepas dari pengaruh sinar bulan dan bertempur dibawah bayangan pepohonan. Namun ternyata bahwa Ki Tunggul tidak mampu melakukannya. Ternyata Kasadha cukup trampil menanggapi usaha Ki Tunggul itu. Jika serangan Ki Tunggul itu datang memburu, maka dengan tangkasnya Kasadha meloncat berputaran. Namun Ki Tunggul itu tidak pernah dapat mendesak Kasadha sehingga tenggelam dalam bayangan pepohonan yang rimbun di halaman rumah itu. Setiap kali Kasadha sempat menembus desakan lawannya dan kembali berdiri di terangnya sinar bulan yang kekuningan. Sehingga dengan demikian, maka Ki Tunggulpun menjadi semakin yakin, bahwa Kasadha adalah seorang diantara mereka yang berusaha menyerap cahaya bulan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam olah kanuragan.

Kasadhapun ternyata mengerti juga usaha lawannya. Justru karena itu, maka Kasadha setiap kali selalu berusaha untuk berada di cerahnya sinar bulan yang bergerak semakin tinggi.

“Anak iblis,“ geram Ki Tunggul itu diluar sadarnya, “kau kira bulan itu akan dapat menolongmu?”

Kasadha tidak menjawab, tetapi ia menjadi semakin yakin, bahwa lawannya menyangka ia termasuk seorang yang bergantung pada cahaya bulan.

Justru karena itu, maka Kasadha semakin keras berusaha agar ia nampak selalu berusaha berada dibawah cahaya bulan sehingga pada suatu saat ia akan menunjukkan bahwa bulan itu sama sekali tidak mempengaruhinya.

“Jika ibu menjadi kecewa, aku akan menjelaskan,“ berkata Kasadha kepada diri sendiri.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Tunggul masih saja berusaha mendesak lawannya, tetapi Kasadha justru tetap berusaha bertahan dibawah sinar bulan yang semakin lama seakan-akan menjadi semakin cerah.

Namun sebenarnyalah bahwa kemampuan Ki Tunggul memang tidak dapat untuk mengatasi kemampuan Kasadha. Beberapa kali Ki Tunggullah yang justru terdesak. Sehingga Ki Tunggul itupun mencoba untuk berganti cara. Ia tidak lagi berusaha mendesak Kasadha, tetapi ia justru mencoba memancing agar Kasadha memburunya ke kegelapan oleh bayangan dedaunan.

Mula-mula Kasadha masih mencoba untuk tidak terpancing memasuki bayangan dedaunan. Namun akhirnya ia menjadi jemu untuk selalu menghindari bayangan pepohonan. Justru karena itu, maka ketika Ki Tunggul itu terdesak dan dengan serta merta meloncat kebawah lindungan dedaunan, maka Kasadhapun telah memburunya. Dalam pada itu, demikian tubuh Kasadha lepas dari cahaya bulan maka dengan serta merta Ki Tunggul meloncat menyerangnya sambil berteriak nyaring, “Tengadahkan wajahmu kepada bulan yang kau sembah itu. Mintalah pertolongannya agar kau mampu menyelamatkan dirimu.”

Namun Ki Tunggul itu terkejut. Serangannya sama sekali tidak menyentuh sasarannya. Ketika luwuknya terjulur lurus mengarah kepada Kasadha, maka Kasadhapun dengan tangkasnya telah menangkis serangan itu. Dengan kuatnya Kasadha memukul luwuk itu kesamping. Demikian kerasnya, sehingga hampir saja luwuk itu terlepas dari tangannya. Namun selagi ia berusaha mempertahankan luwuk itu, maka dengan kecepatan melampaui kesadaran Ki Tunggul, pedang Kasadha bergerak terayun mendatar.

Terdengar Ki Tunggul mengaduh perlahan. Sambil meloncat surut Ki Tunggul telah meraba pundaknya. Terasa cairan yang hangat telah meleleh dari luka yang menganga dipundaknya itu. Namun baru sejenak kemudian perasaan pedih menyengat lukanya, setelah keringatnya yang menitik mulai membasahi lukanya itu.

Kasadha tidak memburunya. Tetapi ia menunggu Ki Tunggul mempersiapkan diri untuk melanjutkan pertempuran.

Ibunya yang menjadi cemas melihat Kasadha memburu lawannya kedalam bayangan dedaunan telah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dibawah bayangan yang menghalangi cahaya bulan, Kasadha masih tetap seorang yang memiliki ilmu yang mampu mengatasi ilmu lawannya.

Dalam pada itu, maka terdengar Ki Tunggul menggeram, “Ternyata kau memang anak iblis yang licik.”

“Kenapa?“ bertanya Kasadha.

“Kau menunggu aku menjadi lengah, justru karena aku yakin bahwa kau telah menyerap kekuatan sinar bulan untuk meningkatkan ilmumu yang kotor itu.”

“Kenapa aku kau anggap licik? Kenapa kau tidak melakukannya juga karena sinar bulan itu melimpah dan tidak habis aku serap seberapapun aku perlukan?“ jawab Kasadha.

“Kau jangan terlalu sombong karena kau sempat melukai aku,” geram Ki Tunggul, “tetapi aku sudah bersikap. Kau harus mati dan berkubur di kebun ini. Kau akan diam dan kedua perempuan itupun tidak akan sempat berbicara kepada siapapun. Aku memerlukan bibimu. Jikabenar yang seorang itu ibumu maka ia akan mengalami nasib sebagaimana nasibmu. Ia akan diam untuk selama-lamanya. Nah, kau yakin bahwa tidak akan ada saksi yang dapat mengatakan apa yang terjadi disini?”

Tetapi Kasadha tertawa. Katanya, “Jangan berkata begitu Ki Tunggul. Tidak mudah untuk membunuh seseorang, karena kematian kami tidak berada ditanganmu. Juga batas kematianmu tidak berada ditangan kami. Tetapi jika aku akan menjadi perantara, maka kau akan dapat terbunuh disini justru karena kau memang sudah sampai kebatas hidupmu yang sesat itu.”

“Tutup mulutmu iblis kecil,“ geram Ki Tunggul sambil menyerang. Luwuknya terayun deras menebas kearah leher. Namun Kasadha yang sudah yakin akan kelebihannya, telah menangkis serangan itu. Dengan demikian maka benturan telah terjadi dengan kerasnya. Sekali lagi Ki Tunggul terkejut. Luwuknya hampir saja terlepas dari tangannya.

Dengan demikian, maka akhirnya Ki Tunggul itu menyadari, dengan atau tidak dengan sinar bulan, maka kemampuan anak muda itu memang berada diatas kemampuannya. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali membawa kedua pengawalnya kedalam pertempuran itu dengan satu perintah yang tegas, “Bunuh anak yang sombong itu. Meskipun ia seorang prajurit, tidak seorangpun akan dapat menjadi saksi.”

Kasadha meloncat selangkah surut. Jantungnya memang menjadi berdebar-debar. Dengan demikian berarti bahwa ia harus bertempur melawan ketiga orang itu sekaligus. Meskipun seorang demi seorang kemampuan mereka tidak banyak berarti, tetapi bersama-sama mereka akan menjadi lawan yang berat.

Tetapi Kasadha sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Ia tidak mempunyai pilihan lagi. Apalagi Ki Tunggul nampaknya telah berniat untuk benar-benar membunuhnya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Kasadha telah bersiap. Diluar sadarnya ia telah bergeser keluar dari bayangan dedaunan. Sinar bulan yang semakin tinggi itu, rasa-rasanya menjadi semakin terang.

Diwaktu Kasadha masih kanak-kanak dan bernama Puguh, jarang sekali ia sempat bermain-main diterangnya bulan. Jika anak-anak sebayanya bermain kejar-kejaran, maka Kasadha harus tinggal didalam biliknya yang sempit pengab. Yang didengarnya tidak lebih dari makian dan umpatan kasar.

Justru setelah ia dewasa dan menjadi seorang Lurah prajurit, maka rasa-rasanya ia mendapat kesempatan untuk bermain-main sepuas-puasnya dibawah sinar bulan, meskipun permainan yang dilakukan adalah permainan yang berbahaya. Permainan dengan taruhan maut.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, Kasadha harus bertempur melawan ketiga orang itu. Ki Tunggul dengan kedua orang pengawalnya, yang keduanya tidak berdaya menghadapinya. Namun bertiga dengan Ki Tunggul mereka akan dapat memecah pemusatan nalar budinya.

Warsi dan adik sepupunya menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka mengerti bahwa Kasadha memiliki kemampuan yang tinggi, namun melawan ketiga orang itu, rasa-rasanya memang akan terlalu berat baginya.

Karena itu Warsipun menjadi semakin berhati-hati. Diamatinya pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Setiap saat ia akan dapat terpanggil untuk berbuat sesuatu, jika Kasadha mengalami kesulitan.

Meskipun demikian, ketika ia melihat Kasadha sudah berada dibawah sinar bulan yang semakin terang itu, hatinya terasa menjadi semakin tegar, meskipun ia masih belum pasti, apakah sinar bulan itu berpengaruh atau tidak atas anak laki-lakinya, karena nampaknya Kasadha sendiri tidak begitu menaruh perhatian atas sinar bulan itu sendiri.

Sejenak kemudian, maka pertempuranpun telah berlangsung kembali. Memang terasa bagi Kasadha bahwa ia harus lebih banyak mengerahkan tenaganya. Namun dengan tenaga dalamnya, maka Kasadha telah membuat ketiga orang lawannya mengalami kesulitam.

Sambil berloncatan menyerang dan menghindari serangan, Kasadha masih sempat berkata, “Ki Tunggul. Urungkan niatmu. Jika kau masih saja berniat buruk terhadap bibi, maka aku akan dapat kehabisan kesabaran. Tetapi jika kau mengurungkannya, dan bersedia meninggalkan tempat ini, maka kau akan kami maafkan.”

Tetapi nampaknya Ki Tunggul juga seorang yang keras hati.

“Hanya ada satu hal yang dapat menghentikan pertempuran ini. Jika kau sudah mati,“ jawab Ki Tunggul sambil menyerang dengan garangnya.

Kasadha sempat menghindar. Bahkan pedangnya yang berputar telah menggeliat dan menyambar salah seorang pengawal Ki Tunggul itu, sehingga terdengar keluhan tertahan. Sebuah goresan telah menyilang didada orang itu. Tidak terlalu dalam, namun luka itu telah menitikkan darah.

Ki Tunggullah yang mengumpat kasar. Dengan garangnya ia meloncat menyerang, seakan-akan memberi kesempatan kepada pengawalnya yang terluka untuk memperbaiki kedudukannya. Namun Kasadha sempat bergeser dan menangkis serangan Ki Tunggul. Ketika kemudian pedangnya terjulur, maka Ki Tunggul itu harus meloncat menghindari menjauhi lawannya. Namun dalam pada itu, pengawalnya yang lain telah mencoba mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepat ia melenting sambil mengayunkan senjatanya menebas kearah leher Kasadha tanpa ragu-ragu. Ia memang benar-benar ingin membunuh anak muda itu.

Namun ternyata bahwa Kasadha telah menghindarinya dengan merendahkan diri, berlutut pada satu kakinya. Namun sementara itu, pedangnya telah ter julur lurus menyongsong lawannya yang menyerangnya.

Pedang itu akan dapat menghunjam kedada pengawal itu. Tetapi demikian terasa ujung pedang itu menyentuh dada, maka Kasadha justru telah menarik pedangnya. Namun demikian ujung pedang itu telah sempat melukai dada pengawal Ki Tunggul meskipun tidak terlalu dalam.

Pengawal itu terkejut, ia merasa ujung pedang yang tajam itu menyengat dadanya. Sehingga karena itu, maka iapun telah meloncat surut pula beberapa langkah.

Kasadha memang tidak memburunya. Dibiarkannya lawannya yang terluka itu berdiri termangu-mangu. Dengan tangan kirinya ia meraba lukanya yang mengalirkan darah yang hangat itu.

Dua orang pengawal Ki Tunggul telah terluka. Darah telah mengalir dari luka-luka mereka.

Ki I unggul tidak dapat mengabaikan kenyataan itu. Ia harus membuat perhitungan yang lebih cermat untuk selanjutnya.

“Ki Tunggul,“ berkata Kasadha, “sebenarnyalah seorang prajurit bukan seorang pembunuh. Karena itu, maka aku tidak ingin membunuh kalian. Aku hanya ingin mencegah kalian melakukan perbuatan yang sewenang-wenang. Karena itu Ki Tunggul. Aku minta kau dan kedua orangmu mengurungkan niatmu untuk mengambil bibi. Bukan hanya sekarang karena aku ada disini. Tetapi besok atau lusa atau kapan saja. Dalam waktu yang tidak lama lagi aku akan datang kemari untuk menengok ibu dan bibi. Jika ternyata terjadi sesuatu atas mereka, maka aku akan langsung berurusan dengan Ki Tunggul. Mungkin aku tidak akan berusaha menahan diri lagi seperti sekarang ini.”

Ki Tunggul menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain, karena bagaimanapun juga ia dan kedua orangnya tidak akan dapat mengalahkan prajurit muda itu.

Karena itu, maka kemudian katanya, “Baiklah. Aku mengurungkan niatku membawa bibimu sekarang.”

“Sekarang? Bagaimana dengan besok, lusa dan seterusnya,“ bertanya Kasadha.

Ki Tunggul tidak segera menjawab. Namun Kasadha mendesaknya, “berjanjilah.”

“Ya. Ya. Aku berjanji,“ jawab Ki Tunggul.

“Baiklah. Sekarang bawa orang-orangmu pergi. Besok pagi-pagi aku akan mengantarkan ibu dan bibi ke rumah Ki Bekel dan langsung kerumah Ki Jagabaya. Aku akan menitipkan keduanya kepada Ki Jagabaya, setidak-tidaknya untuk mengawasinya,“ berkata Kasadha.

Wajah Ki Tunggul menjadi semakin tegang. Sementara Kasadha masih saja berkata, “Seandainya mereka tidak kuasa melawan pengaruhmu disini karena kau memiliki uang sehingga kau akan dapat berbuat apa saja dengan uangmu, namun kau tidak dapat melawan paugeran. Aku dapat mempergunakan kekuatan prajurit-prajuritku jika perlu untuk menegakkan paugeran itu. Berapapun banyaknya orang yang kau upah, namun prajurit Pajang, jumlahnya lebih banyak lagi.”

Ki Tunggul tidak menjawab. Nampaknya anak muda itu bersungguh-sungguh. Sementara itu ia memang tidak dapat berbuat apa-apa lagi menghadapinya.

Karena itu, maka iapun segera memberi isyarat kepada kedua orangnya untuk meninggalkan halaman rumah perempuan yang menolak untuk diperisteri itu.

Kasadha hanya memandang sambil berdiri termangu-mangu. Baru kemudian ia menarik nafas panjang sambil berkata kepada ibunya, “Mudah-mudahan ia tidak kembali lagi.“

Ibunya mengangguk. Katanya dengan nada rendah, “Ya. Agaknya ia tidak akan kembali. Nampaknya ia benar-benar telah jera.“

Namun bibinya menyahut, “Meskipun demikian, aku masih akan menemui Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati, sementara kita sendiri tidak dapat langsung melawannya meskipun kita mampu.”

Ibu Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, besok pagi-pagi kita pergi menghadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya untuk mohon perlindungan.”

“Bagaimana jika Kasadha ikut bersama kita sebelum ia kembali ke Pajang? Meskipun ia akan sampai kebaraknya lebih siang, tetapi masih dalam hari yang sama,“ bertanya bibi Kasadha.

Ibu Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu lebih baik. Aku harap Kasadha tidak berkeberatan.”

“Baikah ibu,“ sahut Kasadha kemudian, “besok aku akan ikut kerumah Ki Bekel dan Ki Jagabaya.”

Demikianlah, mereka bertigapun telah masuk kedalam rumah mereka setelah Kasadha menutup pintu regol halaman. Setelah mencuci kaki dan tangannya, maka Kasadhapun telah dipersilahkan untuk beristirahat.

Kasadha merasa beruntung bahwa ibunya sama sekali tidak bertanya tentang pengaruh cahaya bulan bagi ilmunya. Meskipun Kasadha sudah bersedia jawaban seandainya hal itu ditanyakan kepadanya.

Malam itu, Kasadha memang tidak terlalu nyenyak tidur. Ia masih saja memikirkan orang yang bernama Ki Tunggul yang pernah menjadi seorang prajurit yang ingin mengambil bibinya sebagai isterinya sekaligus sebagai budaknya.

Namun kemudian Kasadha juga mulai dibayangi lagi oleh persoalan yang menyangkut dirinya sendiri. Wisuda di Tanah Perdikan Sembojan dan seorang gadis yang bernama Riris.

Meskipun demikian, karena badannya yang terasa letih, maka Kasadhapun akhirnya tertidur juga. Tetapi menjelang fajar, Kasadha telah bangun. Ketika langit menjadi merah, maka senggot timbapun telah berderit. Kasadha telah mengisi jambangan penuh sebelum ia sendiri mandi disejuknya pagi hari.

Seperti yang direncanakan maka ketika matahari terbit, Kasadha telah mengantar ibu dan bibinya kerumah Ki Bekel untuk memberikan laporan tentang maksud Ki Tunggul. Namun jawaban Ki Bekel tidak cukup tegas. Ia nampak ragu-ragu meskipun ia dapat mengerti bahwa sikap Ki Tunggul itu tidak dapat dibenarkan.

Dengan demikian maka Kasadha, ibu dan bibinya memang mendapat kesan bahwa Ki Bekel itu tidak dapat bertindak tegas terhadap Ki Tunggul. Sebagaimana keterangan Ki Tunggul, bahwa Ki Bekel telah dapat dipengaruhinya.

Namun baik Kasadha, maupun ibu dan bibinya sama sekali tidak mempersoalkannya. Apalagi mereka memang telah merencanakan pergi menghadap Ki Jagabaya, karena mereka menganggap bahwa Ki Jagabaya akan selalu berpegang pada paugeran yang berlaku.

Ternyata sambutan Ki Jagabaya membesarkan hati ibu dan bibi Kasadha. Apalagi setelah Ki Jagabaya mendengar bahwa Kasadha adalah seorang prajurit Pajang.

“Baiklah ngger,“ jawab Ki Jagabaya, “aku akan ikut mengawasi Ki Tunggul. Ternyata orang itu telah membuat banyak gangguan di Kademangan ini. Ki Demangpun pernah menyebut-nyebut namanya. Sementara kamipun sudah menduga bahwa Ki Bekel tidak banyak dapat berbuat apa-apa atas Ki Tunggul itu karena Ki Tunggul adalah seorang yang kaya yang dapat mempergunakan uangnya untuk mendapat pengaruh di padukuhannya. Tetapi hal itu tidak akan berlaku di Kademangan ini ngger.”

“Terima kasih Ki Jagabaya,“ jawab Kasadha, “kami tidak dapat lain daripada mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Nanti aku harus kembali ke Pajang, sehingga karena itu, maka pagi-pagi aku telah mengantar bibi untuk menghadap Ki Jagabaya agar hatiku menjadi tenang.”

“Jangan cemas ngger. Kami akan membantu bibi dan ibumu sejauh dapat kami lakukan. Akupun nanti akan menyampaikan hal ini kepada Ki Demang agar ketenangan bibimu lebih terjamin,“ berkata Ki Jagabaya itu kemudian.

Sebenarnyalah Kasadha menjadi tenang. Meskipun sebenarnya Ki Tunggul itu tidak berarti apa-apa bagi ibu dan bibinya, namun agaknya mereka tidak mau merusak anggapan orang-orang padukuhan itu tentang diri mereka.

Demikianlah, maka Kasadha serta ibu dan bibinya-pun segera mohon diri, karena Kasadha akan segera kembali ke Pajang.

Dalam pada itu, ternyata seorang suruhan Ki Tunggul tengah mengawasi mereka. Ki Tunggul tidak yakin bahwa Kasadha, ibu dan bibinya akan benar-benar melaporkan kepada Ki Jagabaya. Namun ketika suruhan Ki Tunggul itu melaporkan kepadanya bahwa pesuruh itu benar-benai melihat Kasadha, ibu dan bibinya menghadap Ki Jagabaya, maka Ki Tunggul itu mengumpat kasar. Katanya, “Anak iblis itu telah membuat rencanaku gagal. Perempuan itu adalah perempuan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja disawah selain sebagai seorang isteri yang tentu akan terampil mengerjakan pekerjaan seorang perempuan dirumah. Tetapi agaknya niat itu tidak akan terjadi karena Ki Jagabaya sifatnya agak berbeda dengan Ki Bekel padukuhan ini yang mudah diselesaikan dengan uang.”

Pesuruh itu tidak begitu mengerti maksud Ki Tunggul. Karena itu ia lebih banyak berdiam diri.

Demikianlah, setelah persoalan tentang bibinya dapat diselesaikan, maka Kasadhapun telah minta diri kepada ibu dan bibinya untuk kembali ke Pajang.

Keduanya memang melepaskannya dengan berat hati. Namun mereka tidak dapat menahan Kasadha lebih lama lagi. Anaknya adalah seorang prajurit yang mempunyai tugas yang tidak dapat terlalu sering dan terlalu lama ditinggalkan.

Namun dalam pada itu Kasadha berkata, “Ibu, dalam waktu dekat, aku akan datang lagi untuk menjemput ibu dan bibi. Kita akan bersama-sama menghadiri wisuda Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.”

“Baiklah Kasadha, aku menunggumu,“ jawab ibunya.

Bibinya nampak termangu-mangu. Agaknya ada yang akan dikatakannya namun tidak terucapkan justru karena ada ibu Kasadha. Namun Kasadha mengerti apa yang akan dikatakan bibinya. Tentu tentang anaknya perempuan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Kasadha telah meloncat naik kepunggung kudanya. Ketika kudanya mulai bergerak, maka Kasadha sekali lagi minta diri dari atas punggung kudanya itu, “Sampai bertemu kembali ibu dan bibi.”

Ibu dan bibinya mengangkat tangannya sementara kuda Kasadha itupun telah bergerak semakin cepat.

Ketika Kasadha keluar dari regol padukuhan, maka iapun menarik kendali kudanya, karena tidak diduga, Kasadha telah bertemu dengan Ki Tunggul dan seorang pengiringnya. Tetapi bukan salah seorang dari kedua pengiringnya yang telah dilukainya semalam.

“Aku minta diri Ki Tunggul,“ berkata Kasadha tanpa turun dari kudanya, “aku terpaksa berangkat terlalu siang, karena pagi tadi aku harus menghadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya dirumah mereka. Aku terpaksa menitipkan ibu dan bibi kepada mereka karena aku tidak yakin akan kejujuranmu.”

“Aku tidak memerlukan bibimu lagi. Ternyata bibimu adalah orang dungu yang tidak diuntung. Ia menolak untuk menjadi seorang yang paling terpandang di padukuhan ini,“ jawab Ki Tunggul. Lalu katanya lagi, “Bahkan seandainya bibimu menyesal dan datang sambil menyembah, aku tidak sudi lagi menerimanya.”

“Jika demikian, aku mengucapkan terima kasih Ki Tunggul,“ berkata Kasadha kemudian.

“Kenapa kau berterimakasih?“ bertanya Ki Tunggul.

“Karena dengan demikian, kau tidak akan mengganggunya lagi,“ jawab Kasadha.

Ki Tunggul itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Bahkan iapun telah memberikan isyarat kepada pengiringnya untuk melanjutkan perjalanan menuju ke regol padukuhan.

Kasadha hanya tersenyum saja memandanginya. Namun kemudian iapun telah melanjutkan perjalanannya.

Perjalanan Kasadha memang tidak terlalu jauh. Ketika matahari turun ke Barat, maka Kasadha sudah memasuki pintu gerbang kota.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Pajang nampaknya menjadi terlalu ramai setelah dua hari dua malam ia berada disebuah padukuhan yang tidak terlalu besar. Suasananyapun menjadi jauh berbeda. Yang nampak di jalan-jalan adalah orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa orang berkuda lewat tanpa saling menyapa karena yang satu dan yang lain tidak saling mengenal.

Beberapa saat kemudian, maka Kasadhapun telah memasuki jalan yang langsung menuju ke baraknya. Sambil memperlambat lari kudanya Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia telah berada diambang pintu rumahnya kembali.

Ketika Kasadha itu memasuki gerbang halaman baraknya, maka prajurit yang sedang bertugas di pintu gerbang itupun menghentakkan landean tombaknya sebagai sapa hormatnya.

Kasadhapun mengangguk sambil tersenyum.

Dalam pada itu, demikian Kasadha sampai di baraknya, maka iapun telah langsung menghadap Ki Rangga Dipayuda untuk melaporkan kehadirannya.

“Apakah urusanmu telah selesai?“ bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Sudah Ki Rangga. Tidak ada persoalan penting. Aku hanya merasa rindu kepada ibuku, karena sudah agak lama tidak bertemu,“ jawab Kasadha.

“Aku kira kau membawa persoalan yang penting,“ desis Ki Rangga Dipayuda, “mungkin kau telah mengenal seorang gadis Pajang sehingga kau minta ibumu untuk melamarnya.”

“Ah,“ desah Kasadha, “gadis mana yang tertarik kepada seorang Lurah Prajurit.”

“Jangan merasa rendah diri terhadap gadis-gadis,“ berkata Ki Rangga, “ketika aku kawin, aku belum menjadi seorang Lurah prajurit. Aku masih seorang prajurit.”

Kasadha tersenyum. Namun katanya, “Jodoh itu pada suatu saat akan datang sendiri Ki Rangga.”

“Memang mungkin. Tetapi tidak ada salahnya jika kau juga berusaha untuk mengenal gadis-gadis. Setidak-tidaknya kau akan mengenali sifat dan watak mereka. Nah, jika saatnya datang, maka tentu kau tahu, yang manakah gadis yang paling sesuai dengan sifat dan watakmu.”

Tetapi hampir diluar sadarnya Kasadha menjawab, “Apalagi untuk mengenali sifat dan watak orang lain, Ki Rangga. Sedangkan terhadap sifat dan watakku sendiri aku tidak yakin.”

Ki Rangga Dipayuda tertawa. Ia menganggap bahwa Kasadha sekedar bergurau. Sementara Kasadha sendiri juga tertawa. Tetapi dibalik suara tertawanya, pertanyaan tentang sifat dan wataknya sendiri itu tiba-tiba telah menyelinap kedalam dadanya sehingga terasa sesuatu telah mengganjal direlung jantungnya.

Namun Kasadhapun kemudian telah minta diri untuk kembali ke pasukannya yang telah ditinggalkannya selama dua hari dua malam, selama ia pergi ke ibu dan bibinya.

“Nanti sore aku akan melapor kepada Ki Tumenggung,“ desis Kasadha ketika ia siap meninggalkan bilik Ki Rangga Dipayuda.

Tetapi Ki Rangga berkata, “Hari ini Ki Tumenggung tidak ada di barak. Ada tugas penting yang harus dilakukannya bersama dua orang Tumenggung yang lain.”

“O,“ Kasadha mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya, “apakah Ki Tumenggung akan pergi keluar kota Pajang? Atau tugas penting didalam kota saja?”

“Ki Tumenggung bersama dengan dua orang Tumenggung yang lain telah mendapat tugas untuk pergi ke Madiun,“ jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Ke Madiun?“ ulang Kasadha, “nampaknya ada sesuatu yang penting di Madiun.”

“Tentu,“ jawab Ki Rangga Dipayuda sambil tersenyum.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian iapun sekali lagi minta diri dan meninggalkan Ki Rangga itu sendiri.

Ketika Kasadha kembali ke pasukannya, maka para prajuritnya menyambutnya dengan gembira. Rasa-rasanya sudah terlalu lama Ki Lurah Kasadha itu meninggalkan baraknya.

Di hari berikutnya, maka Kasadha telah melakukan tugasnya sehari-hari. Selama Ki Tumenggung meninggalkan barak, maka Ki Rangga Prangwiryawanlah yang diserahi melakukan tugasnya sehari-hari. Namun Ki Rangga Prangwiryawan memang sudah berubah.

Setelah berada di baraknya kembali untuk beberapa hari, maka Kasadha telah melupakan kekasaran Ki Tunggul atas ibu dan bibinya, apalagi Kasadha telah mempercayakan kepada Ki Jagabaya. Yang kemudian ditunggunya adalah Barata yang akan datang sepekan sebelum wisuda.

Kepadanya Kasadha akan dapat mengatakannya, bahwa ibunya ternyata telah menyatakan kesediaannya untuk menghadiri wisuda Kepala Tanah Perdikan Sembojan di Sembojan.

Sementara itu di Sembojan, Risang masih dibayangi oleh kecemasan atas sikap ibunya. Jika saja ibunya menolak menerima kehadiran Warsi yang pernah hampir saja menyebabkan kematiannya justru saat ia mengandung, maka ia akan mengalami kesulitan.

Karena itu, maka Risang masih saja selalu mendesak kakek dan neneknya bahkan Bibi agar membantunya membujuk ibunya untuk menerima ibu Kasadha itu datang ke Tanah Perdikan Sembojan.

Menjelang sepekan dari ancar-ancar waktu sepekan menjelang hari Wisuda, maka Risang sudah menjadi gelisah. Ia harus segera datang ke Pajang untuk menghadap Ki Rangga Kalokapraja yang akan memberikan kepastian dari saat wisuda baginya itu.

Namun dalam pada itu, neneknya telah memanggilnya dan berkata kepadanya, “Nampaknya hati ibumu telah menjadi lunak ngger. Tetapi sebaiknya kau berbicara langsung dengan ibumu. Nanti sore jika kita duduk-duduk diserambi, cobalah mengemukakan persoalan itu. Aku, kakek-kakekmu, dan juga Bibi telah memberikan pertimbangan kepada ibumu.

Risang menarik nafas panjang. Katanya, “Baik nek. Aku akan mencoba.”

“Sambi Wulung dan Jati Wulung juga sudah dipanggil oleh ibumu. Ternyata keduanya telah diminta pertimbangan mereka tentang persoalan Warsi itu,“ berkata neneknya pula.

Risang mengangguk-angguk. Ia memang harus mendapat kepastian segera karena dalam waktu yang dekat, ia harus menghadap Ki Rangga Kalokapraja.

Seperti yang dikatakan oleh neneknya, ketika Risang sedang duduk-duduk diserambi samping rumahnya bersama ibunya dan neneknya, maka Risang telah memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya.

“Kasadha telah menanyakan hal itu kepadaku ibu,“ berkata Risang kemudian.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Jika sebelumnya ia telah hampir melupakannya, namun ketika anaknya menanyakan apakah Warsi itu boleh hadir disaat anaknya itu diwisuda atau tidak, maka rasa-rasanya waktu telah bergerak beberapa tahun kembali kemasa silam.

Yang terjadi itu rasa-rasanya baru saja kemarin, ketika Bibi mengacungkan pisau belati ke dadanya.

Saat itu ia memang sudah tidak berpengharapan lagi. Ia tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan Serigala Betina yang garang. Seorang pembunuh upahan meskipun ia seorang perempuan.

Namun keajaiban itu telah terjadi. Sepeletik sinar telah menerangi hati Serigala Betina itu sehingga pisau itu tidak menikam jantungnya. Yang Maha Agung ternyata menghendaki lain.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Anak yang berada didalam kandungannya ketika ia hampir saja ditikam mati itu sekarang sudah siap untuk diwisuda. Dan perempuan yang menginginkan kematiannya itu akan hadir dalam wisuda anaknya yang diharapkan mati bersamanya itu.

Iswari memang menjadi bingung. Yang minta kepadanya untuk pienerima perempuan itu adalah justru anaknya yang diharapkan kematiannya itu yang ternyata orang yang akan diwisuda itu sendiri.

Namun Iswari memang telah mendapat beberapa pertimbangan. Dari Nyai Soka, bahkan juga Kiai Soka dan Kiai Badra dan bahkan dari Bibi yang waktu itu telah mengacungkan pisau kejantungnya, Iswari telah diharapkan untuk dapat menerima kedatangannya.

“Perempuan itu telah benar-benar merasa bersalah,“ berkata Nyai Soka kepadanya.

Dalam kebimbangannya itu Risang berkata, “Ibu, biarlah untuk meyakinkannya, aku akan menemui bibi Warsi itu langsung dan mengundangnya datang ke Tanah Perdikan?”

Iswari masih termangu-mangu. Namun Nyai Soka telah menyahut, “Aku kira ada baiknya Risang datang sendiri menemui Warsi. Ia tentu akan mendapat kesan sikap dan tingkah laku perempuan itu. Jika ternyata sikapnya mencurigakan, maka kita memang harus berhati-hati. Tetapi menurut dugaanku, Puguh telah banyak memberikan keterangan tentang sikap kita disini terhadapnya, sehingga sikap kita kepada Puguh itu akan dapat memberikan pengaruh atas sikap Warsi kepada kita disini.”

Akhirnya Iswari menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah Risang. Kau dapat pergi ke Pajang lebih awal. Ki Rangga Kalokapraja tentu tidak akan menolak seandainya kau datang dua hari sebelum hari yang ditentukan. Kemudian kau ajak Kasadha pergi menemui ibunya untuk minta agar ia bersedia datang ke Tanah Perdikan yang pernah ingin dirampasnya ini. Bukan hanya Tanah Perdikan ini. Tetapi dengan seluruh isinya.“

“Sudahlah Iswari,“ potong neneknya, “kau tidak usah selalu dibayangi oleh keadaan masa silammu. Sekarang tengadahkan wajahmu ke masa mendatang. Sebentar lagi anakmu sudah akan diwisuda menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang besar. Bukankah itu merupakan satu kurnia. Dan kau, anakmu dan kita semuanya harus mensukurinya.”

Iswari mengangguk kecil. Katanya, “Aku memang tidak berkeberatan Risang.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “terima kasih ibu. Aku akan mengunjunginya dan langsung minta kepadanya, agar bersedia hadir dihari wisuda itu.”

Ternyata keputusan ibunya itu membesarkan hati Risang yang akan pergi ke Pajang sebelum sepekan dari ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Rangga Kalokapraja sehingga ia akan mempunyai waktu untuk singgah di rtimah ibu Kasadha.

“Kasadha tentu tidak akan berkeberatan mengantarkan aku untuk menemui ibunya,“ berkata Risang didalam hatinya.

Dengan demikian, maka dua hari sebelum waktu yang diberikan oleh Ki Rangga Kalokapraja Risang telah bersiap untuk berangkat ke Pajang. Mungkin Ki Rangga itu menganggap bahwa ia terlalu tergesa-gesa atau bahkan ingin mempercepat hari wisuda. Namun ia akan dapat menjelaskannya. Tetapi sebelum ia menemui ibu Kasadha, maka ia harus sudah mendapat kepastian tentang wisuda itu sendiri.

Seperti biasanya, Risang ingin pergi sendiri ke Pajang tanpa seorangpuan yang menemaninya. Ibunya, nenek dan kedua kakeknya mengerti kenapa Risang lebih senang seorang diri meskipun mereka tidak tahu pasti kemana Risang akan singgah selain di barak Kasadha.

Seperti yang telah direncanakan maka Risangpun telah berangkat berkuda ke Pajang tujuh hari sebelum rencana wisuda itu dilaksanakan. Ibu, nenek dan kakek-kakeknya serta orang-orang tua yang lain, berpesan agar ia berhati-hati diperjalanan.

“Kau akan segera diwisuda, Risang. Karena itu, kau harus segera kembali agar segala persiapan dengan pasti dapat kami lakukan,“ pesan ibunya.

“Tentu ibu,“ jawab Risang, “aku tentu akan segera kembali.”

Sesaat kemudian maka kuda Risangpun telah berpacu ke Pajang, selagi hari masih pagi. Segarnya udara telah mengantar perjalanan Risang menuju ke Pajang.

Risang memang tidak berniat singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda. Ia berharap bahwa Riris akan benar-benar pergi ke Tanah Perdikan Sembojan saat ia diwisuda. Mudah-mudahan jika ia bertemu dengan Ki Rangga, ia akan mendapat kepastian, apakah Riris akan pergi atau tidak.

Tanpa sesadarnya maka kuda Risangpun berpacu semakin cepat. Seakan-akan ia demikian tergesa-gesa untuk sampai ke Pajang dan menemui Ki Rangga Kalokapraja.

Karena Risang tidak singgah diperjalanan, maka iapun dengan cepat telah memasuki jalan raya yang langsung menuju kepintu gerbang kota Pajang.

Namun Matahari telah tinggi di puncak langit. Tubuh Risang telah menjadi basah oleh keringat.

Tetapi diperjalanan betapapun Risang ingin cepat sampai tujuan, namun ia tidak sampai hati memaksa kudanya berlari terus. Iapun telah memaksa diri untuk berhenti sejenak, memberi kesempatan kepada kudanya untuk beristirahat dan minum air diparit yang mengalir jernih. Rerumputan yang hijau ditanggul parit membuat kuda itu tidak lagi haus dan lapar.

Sedikit lewat tengah hari Risang telah berada didalam kota Pajang. Iapun telah langsung menuju kerumah Ki Rangga Kalokapraja, meskipun terlalu cepat dua hari.

Kedatangannya telah disambut dengan ramah oleh Ki Rangga sendiri yang untung berada dirumah.

“Aku baru saja pulang dari paseban,“ berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Maaf Ki Rangga. Aku datang terlalu cepat. Sebenarnyalah aku juga mempunyai kepentingan yang lain di Pajang, sehingga aku tidak menunggu dua hari lagi,“ berkata Risang.

“Kebetulan sekali,“ jawab Ki Rangga yang kemudian mempersilahkan Risang duduk di serambi gandok.

“Untunglah bahwa aku belum memerintahkan orang menjemputmu,“ berkata Ki Rangga Kalokapraja, “semuanya sudah jelas dan pasti, sehingga aku sudah boleh menyampaikannya kepadamu”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Ki Rangga. Sebenarnya aku sudah ragu-ragu untuk menghadap, justru belum sampai waktunya. Jangan-jangan Ki Rangga menjadi marah karena seakan-akan aku terlalu tergesa-gesa dan mendesak untuk mempercepat hari wisuda itu.”

“Tentu tidak,“ jawab Ki Rangga, “kapanpun kau datang, aku akan menerimamu dengan baik. Seandainya kau menjadi gelisah dan ingin segera mendapat kepastian waktu itupun wajar sekali karena kau tentu akan mengundang beberapa orang tamu dari luar Tanah Perdikanmu selain keluarga Tanah Perdikanmu itu sendiri.”

“Ya Ki Rangga. Aku memang mengharapkan beberapa orang keluarga dari luar Tanah Perdikan untuk hadir dalam wisuda itu. Meskipun tidak terlalu banyak.”

“Nah,“ berkata Ki Rangga, “ternyata hari yang ditentukan adalah hari yang telah kita jadikan ancar-ancar. Tujuh hari lagi. Sebenarnya Kangjeng Adipati Pajang ingin datang sendiri setelah Kangjeng Adipati mendengar apa yang pernah kalian lakukan di Tanah Perdikan itu dalam gejolak beberapa saat yang lalu. Namun ternyata Kangjeng Adipati tidak mungkin dapat memenuhi keinginannya itu, karena Kangjeng Adipati sedang terlibat dalam persoalan yang menghangat dengan Madiun.”

“Dengan Madiun?“ bertanya Risang.

“Tetapi Kangjeng Adipati akan menyelesaikan persoalan ini dengan sebaik-baiknya. Persoalan yang juga menyangkut Mataram. Apalagi Kangjeng Panembahan di Madiun adalah paman Kangjeng Pangeran Benawa sendiri, sementara Kangjeng Panembahan Senapati di Mataram adalah kakaknya meskipun bukan kakak kandungnya. Apalagi Mataram telah membantu mengembalikan Pajang kepada Pangeran Benawa itu,“ Ki Rangga berhenti sejenak, lalu katanya pula, “yang kemudian akan mewakili Kangjeng Adipati adalah seorang Tumenggung Wreda. Ki Tumenggung Wirajaya.”

Risang mengangguk-angguk. Seandainya Kangjeng Adipati Pajang sendiri yang berkenan mewisudanya, maka ia akan menjadi sangat berbangga. Tetapi siapapun yang melakukannya sudah tentu atas nama Kangjeng Adipati itu sendiri.

Dalam pada itu, Ki Rangga itupun berkata, “Ia adalah seorang yang baik. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya selalu menjalankan tugasnya dengan bersungguh-sungguh. Tetapi ia termasuk seorang yang dapat diajak berbincang untuk membicarakan segala sesuatu. Ia bukan termasuk seorang yang hanya mau mendengarkan suara hatinya sendiri.”

“Aku percayakan segala kebijaksanaan kepada Kangjeng Adipati sendiri,“ berkata Risang.

Baiklah. Seperti yang aku katakan, sehari sebelumnya aku akan berada di Tanah Perdikan untuk menyiapkan segala sesuatunya agar wisuda itu dapat berlangsung dengan baik. Jangan cemas, upacara itu bukan upacara yang sudah mempola. Setiap Tanah Perdikan memiliki caranya sendiri yang mungkin berbeda, karena upacara itu hanyalah kelengkapan dari wisuda itu sendiri sehingga tidak terlalu mengikat,“ berkata Ki Rangga kemudian.

“Baiklah Ki Rangga,“ berkata Risang kemudian, “jika demikian maka segala sesuatunya kami siapkan setelah Ki Rangga berada di Tanah Perdikan.”

“Itu tidak perlu,“ berkata Ki Rangga, “siapkan apa yang ingin kalian siapkan. Wisuda itu sendiri dapat dilakukan di pendapa. Karena itu, yang kami perlukan adalah pendapa rumahmu itu saja. Namun sudah tentu bahwa pada hari wisuda itu pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan tidak dipergunakan untuk pagelaran wayang kulit sehari semalam. Tetapi jika itu akan dilakukan setelah wisuda, maka tentu tidak akan ada keberatannya sama sekali.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah mengerti Ki Rangga. Yang diperlukan dalam wisuda itu hanyalah pendapa.”

“Ya. Peralatan yang diperlukan akan aku siapkan jika aku sudah berada di Tanah Perdikan,“ jawab Ki Rangga Kalokapraja.

Risang masih saja mengangguk-angguk. Segala sesuatunya sudah menjadi jelas baginya.

Namun Ki Rangga masih memberikan beberapa pesan lagi kepada Risang agar segala sesuatunya dapat berlangsung dengan baik dan tertib. Demikian pula tentang penginapan yang diperlukan oleh Ki Tumenggung Wreda Wirajaya, yang akan mewakili Kangjeng Adipati Pajang mewisuda Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika segala sesuatunya sudah jelas, maka Risang itupun mohon diri untuk melanjutkan tugas-tugasnya di Pajang. Namun Ki Rangga masih menahannya ketika kemudian hidangan telah disuguhkan. Minuman hangat dan beberapa jenis makanan.

Namun ketika minuman sudah diminum dan beberapa potong makanan telah dimakan, maka Risangpun telah mohon diri pula.

“Baiklah. Hati-hatilah diperjalanan,“ pesan Ki Rangga Kalokapraja. Lalu katanya pula, “Seandainya terjadi sesuatu atasmu, maka segala yang telah dipersiapkan itu akan urung.”

“Ya Ki Rangga,“ jawab Risang, “aku akan berhati-hati diperjalanan. Bukankah Pajang sekarang sudah menjadi tenang?”

Ki Rangga tersenyum. Namun katanya, “Jika kudamu tergelincir karena kau tergesa-gesa bukankah tidak ada hubungannya dengan Pajang yang telah menjadi tenang dan damai?”

Risangpun tersenyum pula. Katanya, “Ya Ki Rangga. Aku akan berhati-hati diperjalanan. Sangat berhati-hati.”

Ki Rangga tertawa. Lalu katanya, “Semoga segala sesuatunya dapat berlangsung dengan baik. Yang Maha Agung hendaknya menyertaimu dalam segala kewajibanmu.”

Demikianlah, maka Risangpun meninggalkan rumah Ki Rangga Kalokapraja. Segala sesuatunya memang telah menjadi pasti, sehingga ia akan dapat menyampaikannya kepada Kasadha dan minta agar Kasadha bersedia mengantarkannya menemui ibunya.”

Jarak antara rumah Ki Rangga Kalokapraja dan barak Kasadha memang tidak terlalu jauh. Beberapa saat Risang berkuda melalui jalan kota yang ternyata cukup ramai itu. Kemudian, kudanyapun telah berhenti didepan regol barak sepasukan prajurit Pajang dibawah pimpinan Ki Tumenggung Jayayuda.

Prajurit yang bertugas di gerbang halaman barak itu kebetulan telah mengenal Risang. Karena itu, maka iapun segera dipersilahkannya masuk.

Kedatangan Risang telah diterima oleh Kasadha dengan gembira. Dipersilahkannya Risang duduk di biliknya. Katanya, “Kau tunggu aku sebentar. Aku selesaikan tugasku yang tersisa. Hanya sebentar.”

Risang memang hanya menunggu sebentar. Sejenak kemudian, maka Kasadhapun telah datang dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya.

“Satu latihan khusus,“ desis Kasadha.

Sejenak kemudian, maka merekapun telah berbincang dengan akrabnya. Sama sekali tidak membayang warisan permusuhan diantara ibu-ibu mereka sebelumnya. Meskipun keduanya mengetahui bahwa ibu mereka telah pernah berusaha untuk saling membunuh, namun kedua-nyapun telah meyakinkan diri mereka masing-masing bahwa permusuhan itu memang harus dihentikan.

Namun Kasadha terkejut juga ketika Risang berkata, “Kasadha, aku minta kau bersedia mengantarkan aku untuk pergi menemui ibumu. Keluarga di Tanah Perdikan berharap, bahwa aku sendiri dapat menemuinya dan menyampaikan undangan agar ibumu bersedia untuk hadir disaat wisuda itu.”

“Aku telah menyampaikannya. Ternyata ibuku bersedia untuk datang saat kau diwisuda. Bahkan dengan rendah hati ibuku yang merasa bersalah itu datang bukan sebagai tamu. Seandainya ibuku diperlakukan sebagai seorang yang sangat dibenci sekalipun ibuku tidak berkeberatan. Namun aku berkeyakinan, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Bahkan sekarang ternyata bahwa kau telah berniat untuk menemui ibuku dan menyampaikan undangan langsung kepadanya.”

Risang mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Ibumu tentu akan diterima dengan baik oleh keluarga Tanah Perdikan. Sebaiknya sekaiang kita tidak lagi berbicara tentang siapa yang bersalah.”

“Aku tahu dan aku yakin akan hal itu,“ jawab Kasadha.

“Bukankah dengan keyakinanmu itu kau tidak berkeberatan untuk mengantarku kepada ibumu?“ bertanya Risang.

“Tentu tidak. Persoalannya adalah, bahwa aku baru saja minta ijin pergi menemui ibuku itu,“ jawab Kasadha, “meskipun demikian aku akan mencobanya. Tetapi tidak lebih dari satu malam saja. Lepas tengah hari kita berangkat. Kemudian sebelum tengah hari berikutnya aku harus sudah berada di barak ini.”

“Kaulah yang mengatur waktu,“ sahut Risang.

“Baiklah. Aku akan menghubungi Ki Rangga. Aku akan minta ijin untuk pergi menemui ibu bersamamu dan bukankah tujuh hari lagi aku harus minta ijin lagi? Tentu tidak mungkin hanya sehari, karena aku harus menjemput Ibu dan bersamanya pergi ke Tanah Perdikan Sembojan? Ibu sekarang tidak lagi ibu yang dahulu. Seandainya aku mendapat pinjaman kuda sekalipun, ibu tentu tidak akan bersedia naik kuda meskipun dahulu hal itu sering dilakukannya. Karena itu, tentu diperlukan waktu yang panjang untuk berjalan ke Tanah Perdikan, meskipun bagi ibu dan bibi perjalanan itu bukan perjalanan yang berat.“ jawab Kasadha.

Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Kasadha tidak dapat sekehendak sendiri meninggalkan baraknya.

“Baiklah. Tetapi bukankah Ki Rangga Dipayuda juga akan pergi ke Tanah Perdikan?“ bertanya Risang.

“Agaknya memang demikian,“ jawab Kasadha, “tetapi nanti kita akan menghadap bersama-sama.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Nanti kita akan menghadap. Besok kita akan pergi menemui ibumu.”

Kasadha tidak berkeberatan. Karena itu, setelah Risang dipersilahkan minum dan makan diruangan sebelah dapur, maka merekapun telah menghadap Ki Rangga Dipayuda.

Risangpun telah menjelaskan, bahwa wisuda akan dilakukan tujuh hari lagi sebagaimana direncanakan.

“Baiklah,“ berkata Ki Rangga, “seperti telah aku janjikan, maka aku benar-benar akan datang. Malahan bukan hanya aku sendiri. Jangkung telah datang menemuiku dan minta agar kami sekeluarga dapat datang ke Tanah Perdikan Sembojan. Maksudku, aku, isteriku, Jangkung dan Riris.”

Secercah kegembiraan membersit diwajah Risang. Namun Risang segera berusaha untuk menyembunyikannya.

Namun sebaliknya, jantung Kasadha bagaikan terhempas dari tangkainya. Ia tahu bahwa beberapa hari yang lewat, Jangkung datang untuk menemui ayahnya di barak itu. Tetapi Kasadha tidak pernah mengetahui apa yang dibicarakan dengan ayahnya itu.

Baru ketika Ki Rangga Dipayuda mengatakan hal itu kepada Risang, Kasadha menduga, bahwa kedatangan Jangkung itu tentu membicarakan akan kepergian mereka ke Tanah Perdikan Sembojan.

Yang merisaukan hati Kasadha adalah justru kesungguhan sikap keluarga Ki Dipayuda, sehingga seakan-akan mereka dihadapkan pada satu masalah keluarga yang sangat penting. Padahal bukankah Risang itu bagi Ki Dipayuda adalah orang lain sebagaimana dirinya dan para nrajurit yang lain?

Tetapi seperti Risang yang berusaha secepatnya menghapuskan kesan yang memercik diwajahnya, Kasadhapun berusaha untuk tidak menunjukkan gejolak perasaannya itu.

Bahkan untuk mengalihkan pembicaraan tentang rencana Ki Dipayuda dan keluarganya yang akan pergi ke Tanah Perdikan, maka Kasadhapun kei:udiaq mengemukakan maksudnya untuk minta ijin lagi menemui ibunya bersama Risang sebelum ia tentu akan minta ijin lagi disaat hari wisuda itu.

Ki Rangga Dipayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, karena aku mengerti kepentinganmu, maka aku tidak berkeberatan. Tetapi sebaiknya, kita berbicara dengan Ki Rangga Prangwiryawan yang diserahi tugas sehari-hari selama Ki Tumenggung Jayayuda bertugas ke Madiun.”

Ki Rangga Prangwiryawan ternyata tidak berkeberatan. Tetapi ternyata ia ingin tahu, kenapa Risang memerlukan menghadap ibu Kasadha untuk mengundangnya.

Risang memang agak bingung menghadapi pertanyaan itu. Tetapi kemudian katanya, “Aku dan Kasadha telah menjadi saudara .sejak kami bersama-sama bertugas dalam dunia keprajuritan. Kami hampir mati bersama dan ternyata kami berdua bersama-sama masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”

Ki Rangga Prangwiryawan mengangguk-angguk. Ternyata ia tidak bertanya lebih panjang lagi. Namun katanya, “Tetapi jika kau kembali ke barak ini Ki Lurah Kasadha, kau harus membawa sebakul oleh-oleh dari Tanah Perdikan.”

“Ki Rangga Dipayuda juga akan datang ke wisuda itu,“ jawab Kasadha.

“Jika demikian maka Ki Lurah Kasadha membawa sebakul dan Ki Rangga Dipayuda akan membawa sebakul pula.”

Mereka yang ada diruang itupun tertawa. Risang yang dikenal dengan nama Barata itupun berkata, “Apakah aku harus megirimkan pedati?”

Ki Rangga Prangwiryawan tertawa pula. Katanya, “Jangan hanya satu, tetapi sepuluh pedati sehingga dapat dibagi rata seluruh penghuni barak ini.”

Demikianlah, maka Kasadhapun mengucapkan terima kasih atas ijin yang diberikan oleh Ki Rangga Prangwiryawan. Dengan demikian di keesokan harinya Kasadha akan dapat mengantar Barata pergi menemui Warsi.

Dihari berikutnya, menjelang tengah hari keduanya telah meninggalkan barak itu menuju kerumah ibu dan bibi Kasadha. Bayat memang tidak terlalu jauh dari Pajang. Karena itu mereka akan sampai ketujuan sebelum matahari menjadi merah.

Diperjalanan Barata dan Kasadha sempat berbincang tentang tugas-tugas keprajuritan. Memang tidak jauh berbeda dengan saat-saat Barata masih menjadi seorang prajurit. Namun pembicaraan merekapun kadang-kadang bergeser juga ke Tanah Perdikan Sembojan yang sebentar lagi akan memiliki Kepala Tanah Perdikan yang baru.

Namun akhirnya Kasadha berkata, “Kehidupan ibuku kini sudah sangat jauh berbeda dengan masa-masa silam, selagi ibu masih dibayangi oleh nafsunya yang melonjak-lonjak. Justru setelah ibu membunuh laki-laki yang pernah dianggapnya menjadi pasangan yang serasi itu, maka ibu benar-benar telah menjadi lain.”

“Sokurlah,“ sahut Barata, “dengan demikian maka hari-hari yang tersisa akan dijalaninya dengan hati yang tenang dan penuh kedamaian hati.”

“Aku juga berdoa agar untuk selanjutnya ibu akan dapat menikmati kehidupan yang tenang dan damai itu,“ desis Kasadha.

Keduanyapun kemudian terdiam untuk beberapa saat. Namun kemudian Kasadha berkata, “Kita sudah mendekati padukuhan yang kita tuju.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia juga menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat membayangkan, bagaimana sikap ibu Kasadha nanti jika ia sudah menghadapnya.

Jantung Barata memang sudah semain cepat bergetar. Beberapa saat kemudian, maka Kasadhapun berkata, “Regol itu adalah regol halaman rumah bibiku itu.”

“O,“ Barata mengangguk-angguk.

Demikian keduanya sampai keregol, maka keduanyapun segera meloncat turun.

Kasadha dan Baratapun menuntun kuda mereka memasuki regol itu setelah Kasadha mendorong pintu regol yang hanya sedikit terbuka. Ternyata mereka tidak melihat seorangpun dihalaman.

“Rumah ini memang hanya dihuni oleh dua orang saja,“ berkata Kasadha sambil menuntun kudanya ke halaman samping diikuti oleh Barata, “Jika keduanya pergi ke sawah, maka rumah ini memang menjadi kosong.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu terdengar suara orang menyapa dari dalam, “Siapa itu?”

“Ternyata ibu ada dirumah,“ desis Kasadha.

“Memang sudah terlalu sore untuk berada disawah,“ jawab Barata.

“Jika demikian, bibi tentu juga ada dirumah,“ berkata Kasadha pula.

Dalam pada itu terdengar kembali suara dari dalam, “Siapa diluar?”

“Aku ibu. Kasadha,“ jawab Kasadha. Terdengar pintu rumah itupun terbuka. Seorang perempuan yang menjelang hari-hari tuanya muncul dari dalam.

“Kau begitu cepatnya kembali Kasadha. Apakah hari wisuda itu sudah dekat?“ bertanya ibunya.

Kasadha tersenyum. Katanya, “Aku tidak datang sendiri ibu.”

Ibu Kasadha memang melihat seorang anak muda bersama Kasadha itu. Dipandanginya anak muda itu dengan kening yang berkerut.

“Siapa?“ terdengar suaranya tertahan. Anak muda yang datang bersama Kasadha itu wajahnya memang mirip dengan anaknya. Umurnyapun tidak terpaut banyak seandainya anak itu lebih muda dari anaknya.

“Apakah ibu dapat menerka?“ bertanya Kasadha.

Ibunya termangu-mangu. Sementara itu, bibinyapun telah melangkah keluar pintu pula bersama ibu Kasadha yang masih belum mengucapkan sepatah katapun untuk menebak siapakah anak muda itu.

“Kasadha,“ berkata bibinya, “wajah anak muda itu mirip wajahmu. Umurnyapun tentu hanya terpaut sedikit dengan umurmu. Ia pantas menjadi adikmu.”

Namun Kasadha itu menjawab, “Ialah kakakku yang akan diwisuda di Tanah Perdikan Sembojan.”

“Risang,“ desis ibu Kasadha ragu-ragu.

“Ya,“ jawab Kasadha, “ia datang khusus untuk mengucapkan sendiri undangan bagi ibu dan bibi disaat ia diwisuda nanti.”

Wajah ibu Kasadha menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Benarkah begitu?”

Barata mengangguk hormat sambil menjawab, “Benar bibi. Aku datang untuk mohon kesediaan bibi datang saat aku diwisuda nanti. Enam hari yang akan datang.”

Ibu Kasadha itu justru mematung. Wajahnya masih tegang. Namun kemudian dahinya mulai berkerut. Tanpa dapat dibendung lagi, maka tiba-tiba saja air matanya telah mengalir dari kedua pipinya.

Kasadhapun dengan tergesa-gesa mendekati ibunya. Katanya dengan nada cemas, “Ibu. Bukankah ibu tidak apa-apa.”

“Tidak. Tidak Kasadha. Aku hanya merasa tersentuh perasaanku. Angger Risang sudi datang untuk minta aku hadir disaat ia diwisuda,“ jawab ibunya.

“Ibu, marilah kita masuk,“ berkata Kasadha, “marilah Barata. Akulah yang mempersilahkan kau masuk?”

“Kau memanggilnya Barata?“ bertanya ibunya lirih.

“Ya ibu. Kami memang mempunyai nama tersendiri dilingkungan keprajuritan. Jika aku dipanggil Kasadha, maka Risang lebih dikenal dengan nama Barata,“ jawab Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk. Baru kemudian iapun berkata, “Marilah Risang. Masuklah. Aku merasa lebih dekat jika aku memanggilmu dengan namamu sendiri.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Namun setelah menambatkan kudanya, maka iapun segera mengikuti Kasadha masuk ke ruang dalam setelah ibu dan bibinya juga masuk pula.

Demikianlah, mereka berempat duduk di amben besar diruang dalam. Dengan sendat ibu Kasadha berkata, “Ngger, Risang. Apakah pantas aku ikut memanggil angger dan ikut pula menganggap kau sebagai anakku.”

“Tentu bibi,“ jawab Barata, “ibu juga menganggap Kasadha sebagai anaknya pula.”

“Tetapi keadaannya jauh berbeda ngger. Kasadha merasa bangga bahwa ia boleh ikut menganggap ibumu, seorang perempuan yang berbudi dan berjiwa besar sebagai ibunya. Tetapi aku adalah seorang perempuan yang paling hina didunia ini. Sehingga aku tidak tahu apakah aku masih pantas untuk datang kerumah ibumu di Tanah Perdikan Sembojan,“ suara ibu Kasadha masih saja sendat oleh perasaannya yang bergejolak.

“Bibi dan ibu tidak ada bedanya,“ jawab Barata, “bibi sebagaimana juga ibu, tentu akan dihormati di Tanah Perdikan. Yang telah lalu biarlah berlalu.”

“Aku akan sangat berterima kasih kepada kalian,“ berkata ibu Kasadha itu sambil mengusap matanya yang basah.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, ibu dan bibi Kasadhapun telah sibuk didapur untuk menyiapkan hidangan bagi tamunya. Makan malam. Dan seekor ayam-pun telah dipotong pula.

Ketika kemudian setelah Kasadha dan Barata mandi dan berbenah diri, maka hidangan makanpun telah disiapkan di amben bambu diruang dalam.

Sambil makan ibu Kasadha masih sekali-sekali menyinggung akan kehadirannya di Tanah Perdikan Sembojan. Dengan ragu ia berkata, “Tetapi bukankah tidak akan ada tamu perempuan diantara mereka yang akan hadir di hari wisudamu?”

“Tetapi bibi bagi kami bukan tamu. Bibi adalah keluarga sendiri. Sementara itu selain bibi berdua ada juga tamu perempuan yang akan hadir. Mereka adalah isteri Ki Rangga Dipayuda yang pernah menjadi pemimpinku ketika aku masih menjadi prajurit bersama Kasadha. Dan yang satu lagi adalah anaknya, Riris.

Ibu Kasadha yang tidak mengenal Riris mengangguk-angguk kecil. Tetapi wajah Kasadhalah yang terasa menjadi tegang. Namun seperti biasanya Kasadha berusaha untuk menghapus kesan itu dari wajahnya.

Meskipun setiap kali ia berhasil, tetapi gejolak perasaannya itu tidak dapat dihapuskannya begitu saja. Selapis demi selapis gejolak perasaannya itu tertimbun didasar jantungnya sehingga semakin lama menjadi semakin tebal.

Namun pembicaraan itupun segera terputus ketika ibunya mempersilahkan Risang untuk makan lebih banyak lagi. Bahkan kemudian pembicaraan merekapun segera beralih. Kasadha yang berusaha untuk menghilangkan kesan yang buram dihatinya itu telah berceritera kepada ibunya, bagaimana mereka berdua menjadi prajurit. Bagaimana mereka merasa sehidup semati sebelum mereka sadar bahwa mereka memang bersaudara.

Meskipun masih juga terasa sentuhan tajam di jantungnya, namun Kasadha sempat tertawa ketika ia berceritera kepada ibu dan bibinya bagaimana sekelompok orang yang mencari anak muda yang bernama Puguh menjadi kebingungan.

“Seorang menuduh akulah Puguh,“ berkata Kasadha, “sedangkan yang lain menganggap bahwa yang bernama Puguh adalah Risang.”

Betapa pahitnya. Namun ibu dan bibinya sempat tertawa pula.

Demikianlah malam itu keduanya bermalam dirumah bibi Kasadha. Namun keduanya telah menyatakan, bahwa mereka akan minta diri esok pagi-pagi, karena mereka hanya mempunyai sedikit waktu.

“Selain Barata harus segera mempersiapkan Tanah Perdikan Sembojan, akupun harus segera kembali ke barak,“ berkata Kasadha, “bukankah tiga hari lagi aku akan datang kembali untuk menjemput ibu?”

Ibu dan bibi Kasadha itu dapat mengerti. Namun rasa-rasanya mereka masih ingin menahan Risang untuk satu dua hari.

“Pada kesempatan lain, aku akan datang lagi bibi,“ berkata Risang kemudian.

***

Namun dalam pada itu, seseorang yang mendendam ternyata tengah mengadakan pembicaraan dengan beberapa orang. Seorang diantara orang-orang itu berkata, “Biarlah kami menyelesaikan mereka sekarang.”

“Jangan bodoh,“ geram Ki Tunggul, “jika terjadi sesuatu dirumah perempuan itu, maka Ki Jagabaya akan segera menangkapku karena mereka telah melaporkan segala-galanya kepada Ki Bekel dan Ki Jagabaya.”

“Bukankah tidak akan ada masalah dengan Ki Bekel,“ bertanya seorang diantara mereka.

“Dengan Ki Bekel memang tidak ada masalah. Tetapi dengan Ki Jagabaya aku tidak berani bermain-main. Ia seorang yang sulit diajak berbincang tentang kepentingan bersama.”

“Jadi, bagaimana maksud Ki Tunggul?“ bertanya orang yang lain. Seorang yang bertubuh tinggi tegar.

Ki Tunggul termangu-mangu. Namun iapun bertanya, “Tetapi apakah benar yang kau lihat? Anak muda yang pernah datang kerumah itu?”

“Ya,“ jawab pengikutnya yang pernah dilukai Kasadha, “aku tidak akan pernah dapat melupakannya.”

“Ki Tunggul mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Awasi. Kapan mereka meninggalkan rumah itu. Sementara itu lima orang akan segera mempersiapkan diri ditambah dengan tiga orang pengawalku yang diantaranya telah mengenal mereka dengan baik. Orang-orang itu harus diselesaikan diluar padukuhan. Mungkin di bulak panjang atau ditempat penyeberangan. Mereka dapat diseret ke tikungan sungai dan kuburkan mereka disana.”

“Untuk melawan dua orang, kenapa harus delapan orang?“ bertanya salah seorang diantara mereka.

“Jangan besar kepala. Anak itu mempunyai ilmu yang tinggi. Bukan sekedar ilmu yang diperolehnya dari lingkungan keprajuritan,“ jawab Ki Tunggul.

“Baiklah,“ berkata orang yang bertubuh tinggi tegar, “semakin banyak kawan, semakin ringan pekerjaanku.”

“Kalian harus selalu bersiap. Kita tidak tahu kapan mereka akan meninggalkan rumah itu. Mudah-mudahan kawannya bukan seorang yang berilmu tinggi,“ berkata Ki Tunggul pula.

Demikianlah mereka telah mendapat tugas untuk mencegat Kasadha dan Barata dan membunuhnya karena dendam Ki Tunggul yang masih saja membakar jantungnya. Apalagi Kasadha telah menyentuhnya dengan ujung senjata.

Sejak saat itu, maka rumah ibu Kasadha itu selalu diawasi.

Ki Tunggul mengira bahwa anak muda itu tidak akan terlalu lama tinggal dirumah perempuan yang disebutnya sebagai ibu dan bibinya itu, karena belum lama berselang anak itu baru saja mengunjunginya.

“Anak itu tentu hanya ingin melihat apakah ibu dan bibinya selamat,“ berkata Ki Tunggul kepada orang-orangnya.

Sebenarnyalah, pagi-pagi orang yang mengawasi rumah ibu Kasadha itu lewat pintu regol halaman yang terbuka telah melihat kedua orang anak muda yang datang kerumah itu telah mempersiapkan kuda mereka. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa orang itupun telah meninggalkan regol halaman rumah itu. Setelah agak jauh dari regol halaman rumah yang diawasinya, maka orang itupun memungut busur dan anak panah yang disembunyikannya.

Sejenak kemudian maka anak panah sendarenpun telah terbang di udara. Suaranya berdesing melintasi beberapa rumah menuju kerumah Ki Tunggul.

Suara sendaren itu sendiri memang tidak banyak menarik perhatian. Di padukuhan itu, anak-anak memang sering bermain dengan burung merpati dan memberi sendaren pada ekornya, sehingga jika burung merpati itu terbang, maka sendaren itupun telah berdesing. Namun sendaren pada anak panah itu tidak berdesing berputar-putar. Tetapi langsung menuju dan memang jatuh dihalaman rumah Ki Tunggul.

Ki Tunggul sempat memuji orangnya yang melemparkan anak panah sendaren itu. Namun kemudian iapun segera memerintahkan orang-orangnya untuk menerobos sawah dan pategalan.

“Kalian akan dapat memotong perjalanan kedua orang berkuda itu,“ perintah Ki Tunggul, “asal kalian berjalan cepat.”

Orang-orang Ki Tunggul itu tidak membuang waktu. Tiga orang telah berlari lebih dahulu. Mereka akan dapat menghentikan perjalanan anak muda yang telah menghina Ki Tunggul dan para pengikutnya. Sementara itu lima orang yang lain telah menyusul pula dengan cepat.

“Hati-hatilah. Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Setidak-tidaknya seorang diantara mereka. Aku akan menyusul kemudian. Aku akan naik kuda lewat jalan yang dilalui oleh anak-anak itu,“ berkata Ki Tunggul.

Sementara itu, Kasadha dan Barata telah minta diri kepada ibu dan bibi Kasadha. Sambil memegangi kendali kudanya Kasadha berkata, “Tiga hari lagi aku akan datang kerumah ini. Wisuda itu akan dilakukan lima hari lagi.”

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya, “Hati-hatilah di jalan.”

Demikianlah sejenak kemudian maka Kasadha dan Barata itu telah menuntun kuda mereka kepintu regol, sementara ibu dan bibi Kasadha juga mengantar mereka sampai keregol itu pula. Untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Namun kemudian Kasadha dan Barata sekali lagi telah minta diri. Keduanyapun segera meloncat kepunggung kuda mereka dan sesaat kemudian kuda itupun telah meninggalkan regol halaman rumah itu. Ketika keduanya berpaling, mereka masih melihat ibu dan bibi Kasadha itu berdiri didepan pintu regol itu.

Namun sejenak kemudian kuda keduanyapun telah berlari menuju kegerbang padukuhan, memasuki bulak pendek didepan padukuhan itu.

Kedua anak muda itu sama sekali tidak menduga, bahwa perjalanan mereka telah ditunggu disebuah sungai kecil. Jika keduanya nanti menyeberangi sungai itu, maka delapan orang telah siap untuk membunuh mereka. Ungkapan dendam seorang yang kecewa karena usahanya untuk memperisteri dan sekaligus menjadikannya sebagai budak, seorang perempuan yang diakunya sebagai bibi anak muda yang menjadi seorang prajurit itu, telah gagal.

Bahkan lebih dari itu, anak muda itu telah berani melawannya dan bahkan melukainya.

Ternyata orang-orang yang berusaha mencegat perjalanan Kasadha dan Barata itu tidak terlambat. Ketika mereka sampai disungai kecil yang tebingnya agak tinggi itu, mereka belum menemukan jejak kaki kuda, sehingga mereka memperhitungkan bahwa kedua orang anak muda itu masih belum lewat.

Perhitungan orang-orang yang mencegat perjalanan Kasadha dan Barata itu memang benar. Seorang diantara mereka yang duduk diatas tebing telah melihat dua ekor kuda yang berlari mendekat.

Dengan isyarat orang itu memberitahukan kepada kawan-kawannya yang menunggu dibawah, bahwa yang mereka tunggu telah tiba.

“Nah, bersiap-siaplah,“ berkata seorang yang tertua diantara mereka,“ Kita harus dengan cepat menyelesaikan mereka. Upah yang disediakan bagi kita cukup banyak.”

Kawan-kawannyapun berpencar. Mereka bersiap dibelakang tebing yang memang agak tinggi. Setiap saat mereka telah siap menyergap kedua orang anak muda yang akan lewat berkuda itu.

Kasadha dan Barata memang tidak menduga. Bahkan Kasadha masih sempat menceriterakan apa yang pernah terjadi dengan bibinya itu. Bahkan iapun berkata, “Agaknya Ki Tunggul telah benar-benar melupakan bibi dan peristiwa yang pernah terjadi itu. Bagaimanapun juga ia harus mempertimbangkan kekuasaan Ki Jagabaya.”

Namun, demikian mereka sampai ke tanggul tebing sungai, maka Kasadha justru telah menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang duduk termangu-mangu dan sekali-sekali berpaling kebelakang tanggul.

“Orang itu mencurigakan,“ desis Kasadha.

Barata mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menjawab, “Ada apa dibelakang tanggul itu? Nampaknya memang menarik perhatian.”

Keduanya justru menjadi berhati-hati. Meskipun baru saja Kasadha menganggap bahwa orang yang disebut Ki Tunggul itu sudah tidak akan mengganggu bibinya lagi, namun orang itu memang perlu diperhatikan.

Orang itu tidak berbuat apa-apa ketika kedua orang penunggang kuda itu lewat disebelahnya. Bahkan orang itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Namun demikian Kasadha dan Barata menuruni tebing, maka mereka menarik kendali kuda mereka. Dibawah tebing beberapa orang berdiri disebelah menyebelah jalan.

Kedua ekor kuda itu memang berhenti. Ketika keduanya berpaling maka orang yang duduk ditanggul dan tidak menghiraukannya itu telah bangkit berdiri ditengah jalan.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata aku salah menilai keadaan. Orang-orang ini tentu ada hubungannya dengan Ki Tunggul.”

Barata mengangguk-angguk kecil. Katanya, “bukankah kita belum berbicara dengan mereka?”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bergumam, “Aku menyesal bersedia membawamu kemari. Nampaknya aku melibatkanmu dalam kesulitan.”

Tetapi Barata menjawab, “Bukankah kita pernah juga bersama-sama mengalami keadaan seperti ini? Bagaimana jika orang-orang itu masih juga mencari Puguh dan menyangka aku dan yang lain menganggapmu Puguh?”

Kasadha masih juga sempat tersenyum. Katanya, “Bagus. Kita akan mengaku bahwa kita masing-masing adalah Puguh.”

Demikianlah Kasadha dan Barata telah bergeser beberapa langkah maju. Nampaknya mereka tidak akan dapat memutar kuda mereka untuk menghindar karena dibelakang mereka seseorang telah menjaga dan berdiri di tengah jalan.

Sebelum keduanya sampai ke tempat beberapa orang berdiri, maka keduanya telah berhenti pula. Sementara itu, seorang diantara mereka yang berdiri ditepi jalan penyeberangan itu berkata, “Marilah Ki Sanak, silahkan lewat. Kami memang sedang menunggu seseorang.”

“Siapakah yang kalian tunggu?“ bertanya Kasadha.

“Sebuah pedati yang akan mengambil batu untuk bebatur rumah,“ jawab orang itu.

“Rumah siapa?“ bertanya Kasadha.

Orang itu memang termangu-mangu sejenak. Yang kemudian menjawab adalah Kasadha sendiri, “Rumah Ki Tunggul?”

Wajah orang itu menjadi tegang. Demikian pula kawan-kawannya yang menunggu kedatangan kedua orang berkuda itu, seakan-akan rahasia mereka telah dapat ditebak.

Sementara itu Kasadha dan Barata telah meloncat turun dari kuda mereka dan bahkan dengan tenang keduanya telah menambatkan kuda-kuda mereka pada pohon perdu dipinggir jalan.

Orang-orang yang memang diupah oleh Ki Tunggul itu merasa tidak perlu lagi menyembunyikan niat mereka. Karena itu, maka merekapun justru telah melangkah mendekati Kasadha dan Barata yang kemudian berdiri termangu-mangu.

“Ki Sanak,“ berkata orang tertua diantara orang-orang yang menunggu kedua anak muda itu di penyeberangan itu, “sebaiknya kami memang tidak usah berpura-pura lagi. Kami, delapan orang telah mendapat upah dari Ki Tunggul untuk membunuh kalian berdua, karena kalian berdua telah menyakiti hatinya dan bahkan menghinanya. Tidak ada pilihan lain bagi Ki Tunggul selain membunuh kalian berdua. Tetapi pembunuhan ini tidak dapat kami lakukan dirumah perempuan dungu itu, karena persoalannya telah kalian laporkan kepada Ki Jagabaya. Dengan demikian maka kami telah memutuskan untuk menghabisi kalian berdua disini dan kemudian menghilangkan jejak kalian. Jika kalian kami kuburkan disini, maka tidak akan ada seorangpun yang mengetahui apa yang telah terjadi dengan kalian.”

“Kau memang bodoh,“ berkata Kasadha sambil tertawa, “seisi barakku mengetahui bahwa hari ini aku dalam perjalanan dari rumah ibuku kembali ke barak. Nah, jika sampai nanti malam aku tidak datang ke barak, maka pimpinanku tentu akan menelusuri perjalananku. Mereka akan menemui ibuku dan bertanya apakah benar aku telah datang menemuinya. Kemudian ditelusurinya semua kemungkinan. Juga dendam seorang yang bernama Ki Tunggul.”

“Jika ibu dan bibimu memberikan laporan kepada para prajurit maka merekapun akan terancam jiwanya?”

Kasadha tertawa. Katanya, “Kenapa kalian tidak berani berusaha membunuhku dirumah ibuku? Bukankah hal itu akan sama saja akibatnya jika Ki Tunggul mengancam ibuku untuk tidak memberikan laporan yang sebenarnya, karena ibu danjbibi berada dibawah lindungan Ki Jagabaya?”

“Persetan semuanya itu,“ geram orang yang bertubuh tinggi besar dan berkumis lebat, “kewajiban kami adalah membunuhmu. Kami akan menerima upah karena itu. Apapun yang akan terjadi pada Ki Tunggul, aku tidak peduli.”

“Dihadapan para prajurit dan perabot Kademangan, apakah Ki Tunggul tidak dapat menyebut namamu dan nama kalian semua?“ bertanya Kasadha.

“Aku tidak sempat membuat pertimbangan-pertim-angan seperti itu. Seandainya bal itu dilakukan oleh Ki Tunggul, maka Ki Jagabaya Kademangan Lipur yang meliputi padukuhan Bayat itu tidak akan dapat menangkapku, karena aku tidak tinggal di Bayat.”

“Tetapi prajurit Pajang akan dapat mengejarmu sampai keujung bumi sekalipun,“ sahut Kasadha.

“Persetan,“ gerak orang itu, “kami sudah menerima sebagian dari upah kami, Kami akan melakukan tugas ini dengan baik untuk dapat mengambil sisa upah kami.”

Namun tiba-tiba suara Kasadha berubah geram, “Dan kalian telah mempertaruhkan nyawa kalian? Berapa upah yang kalian terima he?”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak, Tetapi orang tertua diantara mereka itupun segera memberikan isyarat sehingga delapan orang telah bergerak bersama-sama.

“Kita harus melakukannya dengan cepat,“ berkata orang tertua itu, “kita tidak mempunyai waktu banyak.”

Kasadha dan Baratapun segera mempersiapkan diri. Dengan geram pula Kasadha berkata, “Marilah. Siapakah yang akan mati lebih dahulu.”

Bagaimanapun juga sikap Kasadha telah membuat jantung orang-orang yang mencegatnya itu berdebar-debar. Anak muda itu sama sekali tidak merasa gentar. Sementara itu anak muda yang seorang lagi nampak tenang-tenang saja. Seakan-akan orang-orang itu tidak berarti apa-apa baginya.

Sejenak kemudian, kedelapan orang itupun telah mulai menyerang meskipun mereka masih harus menjajagi kemampuan kedua orang anak muda itu. Kasadhaj dan Baratapunl telah mengambil jarak diantara mereka. Dengan tangkas keduanya mulai berloncatan. Tangan mereka berputaran, semakin lama menjadi semakin cepat.

Tetapi mereka harus bertempur masing-masing melawan empat orang sehingga baik Kasadha maupun Barata harus benar-benar berhati-hati.

Demikianlah arena pertempuran itupun telah bergeser ketepian sungai yang tidak begitu besar itu. Mereka telah bertempur diatas pasir yang basab. Berbeda dengan kedelapan orang lawan mereka yang kakinya mulai diberati oleh pasir lunak tempat mereka berpijak, Kasadha dan Barata masih saja berloncatan dengan sigap dan cepat.

Keempat lawan Kasadha dan keempat lawan Barata segera menyadari bahwp lawan mereka adalah orang orang yang berilmu tinggi sebagaimana dikatakan oleh Ki Tunggul. Bahkan Ki Tunggul sendiri bersama dengan para pengawalnya tidak mampu mengalahkan salah seorang diantara anak-anak muda itu.

Dengan demikian maka kedelapan orang itu telah berusaha mengerahkan kemampuan mereka agar mereka dapat melakukan tugas yang dibebankan kepada mereka dengan upah yang cukup banyak. Tetapi merekapun kemudian menyadari, bahwa untuk upah yang banyak itu mereka memang harus mempertaruhkan nyawa mereka.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka rasa-rasanya ada sesuatu yang menarik perhatian Kasadha. Tiba-tiba saja ia ingin menilai, apakah kemampuan Barata masih saja sebagaimana saat mereka menjadi prajurit atau sudah menjadi semakin maju. Tanpa disadarinya Kasadha ingin membuat perbandingan antara kemampuannya dan kemampuan Barata.

Barata yang tidak menyadari, bahwa Kasadha telah memperhatikannya, telah bertempur dengan tangkasnya. Keempat orang lawannya saipa sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengenai tubuh Barata dengan serangan-serangan mereka. Begitu tangkasnya Barata menghindari setiap serangan, sehingga lawan-lawannya mulai menjadi gelisah.

Sementara itu Kasadhapun menjadi berdebar-debar melihat kemampuan Barata. Ternyata Barata maju dengan pesat. Kemampuannya tidak lagi terbatas sebagaimana saat ia menjadi prajurit. Tetapi kemampuan Barata telah meningkat jauh lebih tinggi.

Kasadha yang justru berloncatan surut menghindari serangan lawan-lawannya menyadari, bahwa iapun masih harus berhati-hati menghadapi keempat orang lawan itu,

Kasadha sendiri tidak mengerti, kenapa kemajuan Barata membuatnya risau. Sementara itu, antara dirinya dan Barata sudah tidak ada permusuhan lagi. Bahkan ibu-ibu merekapun telah dapat dipertautkan.

Namun Kasadha tidak sempat memikirkannya lebih panjang lagi. Empat orang lawannya berusaha untuk semakin mendesaknya dan bahkan membunuhnya.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Orang-orang yang bertempur melawan kedua orang anak muda itu berlompatan menyerang bergantian. Bahkan kadang-kadang dua atau tiga diantara mereka menyerang bersama-sama.

Namun justru merekalah yang lebih dahulu dikenai oleh serangan anak-anak muda itu. Serangan Kasadha yang cepat dan keras telah melemparkan seorang diantara mereka yang mengeroyoknya. Namun demikian ia terbanting diatas pasir, iapun segera bangkit kembali. Tetapi betapa dadanya terasa menjadi sesak. Nafasnya tersendat sehingga orang itu menjadi terbatuk-batuk kecil.

Samil menggeretakkan giginya orang itu telah meng-geggam hulu parangnya. Sambil menarik parangnya ia berkata lantang, “Kenapa kita menunggu lebih lama lagi? Bukankah kita akan membunuhnya?”

“Kita bunuh mereka dengan tangan kita. Kita akan menjadi lebih puas karenanya,“ jawab seorang kawannya.

“Mampukah kita melakukannya?“ bertanya orang yang telah menarik parangnya itu.

Kawan-kawannya memang mulai berpikir. Sudah sekian lama mereka berkelahi. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka tanpa mempergunakan anjata.

Karena itu, maka kawan-kawannyapun setuju untuk dengan segera mengakhiri perkelahian itu dengan senjata.

Dengan demikian, maka keempat orang yang bertempur melawan Kasadha itu telah menarik senjata mereka.

Selain parang, ada juga yang bersenjata golok dan seorang lagi bersenjata pedang pendek, namun terlalu besar untuk ukuran pedang pada umumnya.

Kasadha yang melihat lawan-lawannya bersenjata, segera meloncat mengambil jarak. Bagaimanapun juga, ia tidak mau terlambat. Jika ia tidak mempergunakan senjata pula, maka ia akan mengalami kesulitan.

Karena itu ketika keempat orang lawannya memburunya, maka Kasadhapun segera mencabut pedangnya. Pedang seorang Lurah Prajurit Pajang.

Demikianlah, maka Kasadhapun telah bertempur dengan pedangnya melawan ampat orang yang juga bersenjata. Dalam kilatan pantulan sinar matahari pada daun pedang Kasadha terbersit ungkapan ilmu pedang Kasadha yang menggetarkan jantung keempat orang lawannya.

Sementara itu lawan-lawan Baratapun merasa tidak lagi mempunyai harapan untuk dapat mengalahkan apalagi membunuh Barata hanya dengan tangan mereka. Meskipun hal yang demikian sering mereka lakukan terhadap korban-korban mereka yang tidak berdaya menyelamatkan nyawa mereka.

Tetapi jangankan mencekik atau mematahkan leher anak muda yang bertempur dengan tangkasnya itu, menyentuhpun mereka tidak dapat melakukannya.

Bahkan justru merekalah satu demi satu telah dikenai serangan Barata. Seorang diantara mereka mengerang kesakitan ketika bibirnya menjadi pecah. Tumit Barata telah mengenai mulutnya sehingga bibirnya itu berdarah.

Karena itu, maka keempat lawan Baratapun telah mempergunakan senjata mereka pula. Dua orang bersenjata golok yang besar, seorang mempergunakan pedang dan seorang lagi mempunyai senjata yang tidak terlalu sering dipergunakan orang. Seutas rantai baja yang tidak terlalu panjang.

Melihat lawannya bersenjata, maka Baratapun telah menarik pedangnya pula. Namun ternyata bahwa pedang Barata tidak sama dengan pedang Kasadha, Lurah Prajurit Pajang. Dengan demikian maka ada diantara orang-orang yang melawannya itu mengenalinya, bahwa Barata bukan seorang prajurit.

Dengan demikian maka orang-orang itu berharap bahwa Barata bukannya seorang yang memiliki kemampuan sebagaimana Lurah Prajurit yang bernama Kasadha itu.

“Kita akan membunuh orang ini lebih dahulu,“ berkata salah seorang yang bertempur melawan Barata, “ia bukan seorang prajurit. Pedangnya bukan pedang seorang prajurit. Baru kemudian kita beramai-ramai membunuh yang seorang lagi, yang nampaknya lebih liat dari orang ini.”

Barata menggeram mendengar kata-kata salah seorang lawannya itu, Bagaimanapun juga Barata merasa bahwa harga dirinya telah direndahkan. Tanpa disadarinya, maka Barata merasa bahwa ia tidak lebih buruk dari Kasadha.

Karena itu, maka Baratapun dengan serta merta telah menggerakkan pedangnya. Ternyata bahwa ilmu pedang Barata memang sempat membingungkan keempat lawannya.

Namun dengan demikian pertempuran itupun semakin menjadi sengit. Senjatapun saling beradu. Bunga apipun berhamburan di kedua lingkaran pertempuran itu.

Sekali lagi Kasadha memuji kemampuan Barata, Ilmu pedangnya ternyata lebih baik dari yang pernah dikenalinya ketika Barata masih menjadi seorang prajurit. Kasadha tidak sempat menilai kemampuan Barata ketika Kasadha atas perintah para pemimpin Pajang sebelum pemerintahan Pangeran Benawa menyerang Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi saat itu Kasadha dengan sengaja memang menghindari pertempuran dengan Barata di medan pertempuran.

“Barata memang luar biasa,“ berkata Kasadha didalam hati.

Dalam pada itu, adalah diuar dugaan Kasadha, bahwa ketika tidak sengaja Barata melihat Kasadha memutar pedangnya, pedang seorang prajurit, maka Baratapun mengerutkan dahinya. Sambil bertempur Barata sempat memuji ketrampilan Kasadha mempermainkan pedangnya.

Adalah diluar kesadaran masing-masing, bahwa baik Barata maupun Kasadha seakan-akan tengah menguji kemampuan mereka masing-masing. Keduanyapun kemudian seakan-akan tengah berlomba, siapakah yang lebih dahulu dapat mengalahkan keempat lawannya. Sedangkan menurut pengamatan mereka, kedelapan orang itu memiliki kemampuan yang rata-rata hampir sejajar.

Dengan demikian maka baik Kasadha maupun Barata telah meningkatkan kemampuan mereka untuk mempercepat pertempuran itu.

Sementara itu, selagi pertempuran itu berlangsung dengan-sengitnya, diatas tebing, Ki Tunggul menyaksikannya dengan jantung yang berdebaran. Kasadha yang melihat kehadiran orang itu sempat berkata lantang, “Barata. Lihatlah. Orang diatas tanggul itulah yang bernama Ki Tunggul, yang berusaha untuk mengganggu bibi. Menurut pernyataannya, ia ingin memperisteri bibi. Namun sebenarnyalah ia ingin memperbudaknya.”

Baratapun sempat melihat orang yang bernama Ki Tunggul itu. Dengan lantang pula ia menjawab, “Seorang yang nampaknya berilmu tinggi. Tetapi kenapa ia tidak mau turun?”

“Nanti,“ sahut Kasadha pula, “jika perkelahian ini sudah mendekati akhirnya. Ia berharap orang-orangnya akan menang. Tetapi bukankah kita tidak akan membiakkan leher kita ditebas sampai putus?”

Barata tidak menjawab lagi. Namun iapun bergerak semakin cepat. Pedangnya berputar seperti baling-baling, seakan-akan yang bergerak itu bukannya sebilah pedang saja, tetapi beberapa bilah pedang didalam genggaman beberapa pasang tangan.

Sementara itu Kasadhapun berloncatan semakin garang. Pedangnya terayun menebas mendatar. Namun kemudian terjulur lurus mematuk kearah dada seorang diantara lawannya. Tetapi ketika lawannya yang lain meloncat menyerang, maka ujung pedang itu berputar menggeliat dengan cepatnya.

Seorang diantara lawan Kasadha itu berdesah menahan sakit yang menyengat pundaknya. Ternyata bahwa ujung pedang Kasadha telah sempat hinggap dipundaknya itu, sehingga kulitnyapun telah menganga dan darahpun mulai mengalir.

“Anak iblis,“ geram orang yang terluka itu, “aku akan menyayat kulit dagingmu sampai ketulang.”

Namun sebelum orang itu sempat memasuki lingkaran pertempuran kembali, seorang lawan Barata seakan-akan telah terdorong keluar lingkaran pertempuran. Bajunya yang kehitam-hitaman itupun telah terkoyak. Bahkan sampai ke kulitnya menyilang dada. Luka itu memang tidak begitu dalam. Namun dari luka itu darahpun telah mengalir pula.

Kedelapan orang yang bertempur melawan kedua anak muda itu menjadi semakin marah. Apalagi ketika mereka mendengar Ki Tunggul yang berada diatas tanggul sungai itu berteriak, “Jangan beri kesempatan. Kedua orang itu harus dibunuh dan dikubur ditikungan sungai itu. Jangan beri kesempatan keduanya atau salah seorang dari mereka lolos.”

Kasadha yang sudah mengenal Ki Tunggul itu berkata, “Marilah Ki Tunggul. Bukankah kau termasuk orang yang memiliki ilmu yang tinggi? Kenapa kau tidak ikut bertempur bersama orang-orangmu yang ternyata tidak berkemampuan apa-apa?”

Ki Tunggul menggeram. Namun ia memang melihat bahwa kedelapan orang upahannya termasuk para pengikutnya itu tidak segera akan dapat mengatasi kedua orang anak muda itu. Bahkan ia sempat melihat diantara orang-orang itu terluka.

Karena itu, maka Ki Tunggulpun menjadi cemas. Jika orang-orangnya tidak dapat menyelesaikan kedua orang anak muda itu, maka keduanya akan dapat memberikan kesaksian yang akan dapat menyulitkan kedudukannya kelak.

Meskipun demikian Ki Tunggul masih menunggu sejenak. Ia masih berharap bahwa kedelapan orang itu akan dapat menyelesaikan tugas mereka.

Namun dalam pada itu, kedelapan orang itu justru menjadi semakin sulit. Barata yang menghentakkan kemampuannya, telah melukai seorang diantara lawannya lagi. Sehingga dengan demikian maka kekuatan bersama keempat orang lawannya itu telah menjadi semakin susut.

Ki Tunggul yang berada diatas tanggul itu menjadi semakin gelisah. Didalam pengamatannya, kawan anak muda yang pernah datang ke padukuhan itu sebelumnya adalah sangat berbahaya. Setidak-tidaknya ia memiliki ilmu yang setingkat dengan anak muda yang telah melukainya itu. Bahkan nampaknya putaran pedang ditangannya terasa lebih mantap dan berbahaya.

Karena itu, sebelum terlambat, maka Ki Tunggul itu benar-benar harus ikut campur. Ia harus membantu orang-orang upahannya itu. Setidak-tidaknya untuk membunuh salah seorang diantara kedua orang anak muda itu. Dengan demikian maka kedelapan orang itu akan bersama-sama membunuh seorang yang lain.

Dengan cepat Ki Tunggul itupun menuruni tebing dan menginjakkan kakinya di tepian. Namun ia terkejut ketika ia melihat, seorang diantara orang upahannya yang bertempur melawan Barata telah terbaring diatas pasir yang basah. Meskipun sekalisekali ia masih menggeliat, namun lukanya ternyata cukup parah sehingga ia tidak mampu lagi, untuk bangkit dan kembali bertempur bersama kawan-kawannya.

Ki Tunggul yang sempat melihatnya, menggeram melihat darah yang tercecer dari lambungnya yang koyak.

“Anak iblis kau,“ geram Ki Tunggul yang telah siap memasuki arena pertempuran.

Barata yang melihat orang itu mendekatinya, telah mempersiapkan diri pula. Dari Kasadha ia tahu bahwa orang itu memiliki ilmu yang justru lebih baik dari para pengawalnya dan sudah tentu juga orang-orang yang diupahnya itu.

Karena itu, maka pada kesempatan terakhir sebelum orang itu memasuki arena, dengan menghentakkan kemampuannya, Barata telah meloncat menyerang salah seorang lawannya yang sudah terluka didadanya. Orang yang telah mengalirkan darah itu geraknya sudah mulai Jamban, sehingga ketika tiba-tiba saja Barata menggeliat danmemutar pedangnya, orang itu tidak mampu menghindar secepat putaran ujung pedang Barata.

Karena itu, demikian Ki Tunggul memasuki arena, maka orang itu tengah mengaduh perlahan. Pedang Barata telah tergores menyilang sekali lagi didadanya. Tetapi lebih dalam dari lukanya sebelumnya.

Ki Tunggul terkejut. Tetapi ia tidak sempat menilai keadaan. Demikian ia mendekat, maka Baratapun telah meloncat menyerangnya dengan garangnya.

Karena itu, maka Tunggulpun dengan serta merta telah meloncat surut menghindari kejaran ujung pedang Barata.

Namun dalam pada itu, Ki Tunggul justru sempat mendengar seorang diantara empat lawan Kasadha berteriak mengumpat kasar. Namun suaranyapun segera terputus. Ujung pedang Kasadha telah mengoyak lengannya. Namun demikian ia merasa kesakitan dan mengumpat marah, kaki Kasadha telah menyusul serangan pedangnya dan menghantam dada orang itu.

Orang itu terlempar beberapa langkah surut dan jatuh terbanting di pasir tepian. Pasir itu sendiri tidak menyakitinya. Tetapi tulang-tulang iganyalah yang terasa berpatahan. Nafasnya menjadi sesak, seakan-akan segumpal batu padas telah menindih dadanya yang terasa sangat kesakitan.

Ki Tunggul menggeram marah. Ia sudah mengupah delapan orang untuk membunuh hanya dua orang. Menurut perhitungannya, empat orang pembunuh upahan itu akan mampu membunuh sedang diantara anak muda itu. Namun ternyata mereka mengalami kesulitan.

Karena itu Ki Tunggul tidak mau terlambat. Ternyata orang yang terhempas oleh tendangan Kasadha itu masih berusaha untuk bangkit betapa sulitnya. Semantara itu Ki Tunggulpun segera memasuki arena dilingkaran pertempuran melawan Barata.

Namun Barata telah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu demikian Ki Tunggul masuk, maka kakinyapun seakan-akan menjadi semakin tangkas bergerak Bahkan kemudian kaki Barata itu tidak lagi berjejak diatas tanah.

Namun sebenarnyalah kata Kasadha, maka Ki Tunggul memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang upahannya. Sehingga karena itu maka Barata harus benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk melawan Ki Tunggul dan dua orang upahannya.

Sementara itu Kasadhapun telah semakin menguasai arena. Orang yang terluka lengannya dan yang nafasnya serasa sesak itu tidak mampu lagi bergerak cepat, sehingga ia justru lebih banyak mengganggu kawan-kawannya. Sementara itu, pedang prajurit di tangan Kasadha itu berputaran semakin cepat dan berbahaya. Pantulan cahaya matahari berkilat kilat menyilaukan, sementara bunga api pada benturan benturan senjata telah memancar kebiru-biruan.

Ki Tunggul yang bertempur melawan Barata itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Selagi masih ada dua orang upahannya yang dapat membantunya, maka Ki Tunggul berusaha untuk dengan cepat menyelesaikannya.

Tetapi ternyata usaha Ki Tunggul itu tidak segera dapat dilaksanakan. Barata tidak dengan mudah dapat ditundukkan. Bahkan anak muda itu seakan-akan semakin lama justru menjadi semakin tangkas dan garang.

Sebenarnyalah ketika Ki Tunggul yang memiliki kemampuan lebih baik dari orang-orang upahannya itu menekannya semakin berat, maka Barata benar-benar telah menghentakkan kemampuannya pula. Sebagai seorang yang telah dipersiapkan untuk menerima warisan ilmu Janget Kinatelon, maka landasan kemampuan Barata benar-benar telah mapan. Sehingga karena itu, maka Ki Tunggul dan kedua orang upahannya yang tersisa itu tidak banyak berbuat. Mereka tidak mampu menguasai arena pertempuran karena Baratalah yang justru seakan-akan mengepung ketiga orang lawannya itu. Barata yang tangkas dan berilmu tinggi itu berloncatan dengan cepat disekitar lingkaran pertempuran, sehingga ketiga orang lawannya menjadi bingung.

Sementara itu, Kasadhapun telah menguasai medan sepenuhnya. Ketika seorang lagi berteriak kesakitan, maka yang lainpun menjadi semakin ragu-ragu.

Ki Tunggulpun rasa-rasanya telah menjadi berputus asa. Apalagi ketika seorang diantara orang upahannya itu telah terlempar pula. Bukan ujung pedang Barata yang mengenainya, tetapi ketika orang itu menusukkan pedangnya dan Barata sempat menangkisnya maka pedang orang itupun telah terangkat. Satu kesempatan terbuka bagi Barata ketika ia melontarkan serangan kaki kebawah lengan di bagian samping dada lawannya itu.

Dengan demikian maka Ki Tunggul tinggal mempunyai seorang kawan lagi, karena serangan kaki Barata itu justru membuat lawannya itu pingsan.

Ki Tunggul semakin menjadi gelisah. Namun justru kegelisahan serta keputus-asaannya, telah membuatnya kehilangan pertimbangan. Nalarnya menjadi buntu dan perasaannya menjadi gelap.

Dengan demikian maka Ki Tunggul itu menjadi seperti orang yang sedang mabuk tuak. Senjatanya terayun-ayun tanpa arah dan perhitungan. Luwuk Ki Tunggul yang panjang dan pada tangkainya terjurai rambut manusia itu, sama sekali tidak mengarah ke sasaran yang mapan.

Untuk beberapa saat Barata justru lebih banyak menghindari serangan-serangan itu. Dengan nada tinggi ia berkata, “Ki Tunggul, kenapa kau menjadi bingung seperti orang yang kehilangan akal? Padahal, bukankah kau orang berilmu tinggi dan mempunyai pengalaman yang luas? “

Ki Tunggul tidak menjawab. Tetapi luwuknya menggapai-gapai dan terayun-ayun dengan garangnya, namun sama sekali tidak mapan. Sementara kawannya telah terseret pula kedalam arus perasaannya dan menjadi bingung dan kehilangan pegangan pula.

Ki Tunggul semakin bingung ketika sejenak kemudian, Kasadha telah melumpuhkan lawan-lawannya. Lawannya yang terakhir ternyata tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika pedangnya terayun deras menebas kearah leher Kasadha, maka dengan segeip kekuatannya Kasadha telah menangkis serangan itu dengan membenturkan pedangnya. Ketika benturan yang keras terjadi, maka pedang lawannya telah terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa langkah daripadanya.

Namun orang itu ternyata cukup licik. Dengan cepat ia meraih segenggam pasir dan dilontarkan kewajah Kasadha.

Pasir yang terhambur itu telah membuat Kasadha sesaat kehilangan penglihatannya. Matanya menjadi sangat pedih. Namun ia masih sempat melihat bayangan yang kabur dari lawannya yang meloncat menyerangnya dengan kakinya yang terjulur kedadanya.

Dengan gerak naluriah Kasadha memiringkan tubuhnya sekaligus mengayunkan pedangnya.

Justru yang terjadi adalah diluar kehendaknya. Ujung pedang Kasadha itu telah mengoyak perut lawannya. Meskipun kakinya mengenai pundak Kasadha, tetapi ia sempat menjerit kesakitan dan sesaat kemudian jatuh diatas pasir tepian.

Orang itu mengerang kesakitan sementara Kasadha berlari ke aliran air sungai yang tidak begitu besar. Dengan cepat ia membersihkan wajahnya dan pasir di matanya, sehingga meskipun matanya menjadi merah, namun ia sudah dapat melihat keadaan disekitarnya. Mata Kasadha itu terasa masih sangat pedih ketika ia berjalan mendekati lawan-lawannya yang terbaring diatas pasir. Yang lukanya nampak paling parah adalah justru orang yang terakhir, yang dengan licik telah menghamburkan pasir kematanya.

Dalam pada itu, ketika Kasadha kemudian berpaling, Barata telah menyelesaikan lawan-lawannya pula. Empat orang upahan dan pengikut Ki Tunggul itu sudah tidak berdaya. Bahkan ada diantaranya yang jatuh pingsan. Sementara itu luwuk Ki Tunggulpun telah terlempar pula.

Yang masih tinggal adalah Ki Tunggul yang termangu-mangu. Ujung pedang Barata teracu ke arah dadanya, sementara ia sendiri sudah tidak bersenjata.

Kasadha yang juga sudah kehilangan lawannya melangkah mendekatinya pula, sehingga wajah Ki Tunggul menjadi pucat.

“Ki Tunggul,“ berkata Kasadha yang masih menggenggam pedang ditangannya, “jadi kau benar-benar sudah berniat untuk membunuh kami? Bahkan dengan mengupah delapan orang yang kau anggap akan dapat menyelesaikan niatmu itu?”

Wajah Ki Tunggul yang pucat itu menegang. Namun kemudian dengan gagap ia menjawab, “Tidak. Aku sama sekali tidak ingin membunuhmu. Aku hanya ingin menjajagi kemampuanmu.”

Kasadha tertawa. Ketika ia meletakkan daun pedangnya dipundak Ki Tunggul, maka rasa-rasanya tajam pedang itu telah menyentuh lehernya.

“Kau mencoba untuk berbohong. Bukankah dari atas tanggul kau telah meneriakkan perintah itu?“ berkata Kasadha kemudian.

“Aku hanya sekedar menakut-nakutimu. Tetapi orang-orang ini sudah tahu, bahwa kalian tidak akan dibunuh,“ Ki Tunggul menjadi semakin gemetar.

“Kau memang pandai berbohong. Tetapi kau tidak dapat menolong dirimu sendiri dengan kebohonganmu itu. Nah, sekarang kau boleh memilih salah seorang diantara kami. Siapakah yang akan kau jadikan lawan dalam perang tanding sampai mati,“ berkata Kasadha dengan geram, “kau sudah pernah menjajagi kemampuanku. Meskipun sekarang tidak ada sinar bulan, namun aku tidak berkeberatan untuk bertempur melawanmu. Saudaraku ini juga tidak akan berkeberatan jika kau memilihnya sebagai lawan dalam perang tanding itu.”

Namun Ki Tunggul itu menjawab terbata-bata, “Tidak. Aku tidak akan berperang tanding dengan siapa-pun juga.”

“Jadi maksudmu, kau menyerah?“ bertanya Kasadha.

Ki Tunggul memang agak ragu-ragu untuk menjawab. Namun Kasadha itupun berkata, “Jika kau memang tidak ingin menyerah, jangan menyerah. Bukankah kau seorang laki-laki yang berilmu tinggi?”

“Ya, ya,“ suaranya semakin gagap, “aku menyerah.”

“Jika demikian, maka menunduklah. Aku akan memenggal lehermu dengan pedang prajuritku ini. Aku yakin, bahwa sekali tebas, lehermu akan terputus. Aku tidak akan perlu mengulanginya,“ suara Kasadha menjadi berat.

Tetapi tiba-tiba Ki Tunggul, orang yang berpengaruh dipadukuhan Bayat itu telah berjongkok sambil berkata dengan suara gemetar, “Jangan bunuh aku. Aku mohon maaf. Aku benar-benar sudah jera.”

“Cukup begitu? Ternyata kau adalah seorang pendendam. Jika kau masih hidup, maka kau tentu masih akan mendendamku sampai kau berhasil membunuhku. Karena itu, agaknya lebih baik aku membunuhmu lebih dahulu.”

“Jangan. Jangan. Aku mohon ampun. Aku berjanji tujuh turunan tidak akan mengganggumu lagi,“ minta Ki Tunggul memelas.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih bertanya, “Hanya itu?”

“Maksudmu?“ bertanya Ki Tunggul gagap, “apakah aku harus menyediakan uang? Atau apa? Kuda? Pedati?”

Kasadha menggeleng. Katanya, “Tidak. Tetapi kau harus benar-benar menepati janjimu. Kali ini kau aku maafkan. Tetapi sekali lagi, aku benar-benar akan membunuhmu.”

“Aku berjanji. Aku berjanji. Aku akan memberi ibu dan bibimu apa saja yang mereka butuhkan.”

“Itu tidak perlu. Jika kau ingin memberikan sesuatu, serahkan kepada Ki Demang. Tentu akan berguna bagi Kademanganmu,“ berkata Kasadha.

“Ya. Ya. Aku akan melakukannya,“ jawab Ki Tunggul.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diangkatnya pedangnya yang masih bernoda darah. Katanya, “Aku akan membersihkan pedangku. Mudah-mudahan pedangku tidak akan dinodai dengan darah lagi. Darah siapapun juga. Lebih-lebih darahmu Ki Tunggul,“ geram Kasadha. Lalu, “Sepeninggal kami, uruslah orang-orangmu. Merekapun harus menjadi jera agar lain kali aku tidak membunuh mereka.”

Kasadhapun kemudian memberikan isyarat kepada. Barata untuk meninggalkan Ki Tunggul yang masih gemetar.

Sejenak kemudian maka Kasadha dan Barata telah berada di punggung kudanya untuk melanjutkan perjalanan. Namun pada kesempatan itu, ternyata baik Barata maupun Kasadha telah dapat saling mengetahui tingkat kemampuan mereka setelah mereka berpisah. Keduanya tidak mengerti, kenapa mereka menaruh perhatian terhadap kemampuan masing-masing.

Bahkan dalam perjalanan berikutnya, setiap kali mereka masih membayangkan bagaimana masing-masing mengerahkan ilmu pedangnya untuk melawan empat orang upahan yang akan membunuh mereka.

Namun dalam perjalanan pulang ke Pajang itu, Kasadha masih sempat pula menceriterakan tentang Ki Tunggul yang ternyata mendendam itu.

“Apakah mereka tidak akan melepaskan dendam kepada ibu dan bibimu?“ bertanya Barata.

“Dalam keadaan terpaksa, ibu dan bibi tentu akan mampu melindungi diri mereka sendiri. Namun ibu dan bibi berusaha untuk menghindari sejauh-jauhnya. Karena jika ibu dan bibi bertempur maka tentu akan menarik perhatian orang sehingga hubungan mereka sehari-hari dengan para tetangga tentu akan berubah,“ jawab Kasadha.

“Jadi, seandainya Ki Tunggul itu benar-benar akan bertindak terhadap ibu dan bibimu?“ bertanya Barata.

“Kami sudah melaporkan kepada Ki Jagabaya. Ibu dan bibi ada didalam perlindungannya,“ jawab Kasadha.

Barata mengangguk-angguk.Kasadha memangpernah menceriterakan bahwa mereka telah menghadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya.

Demikianlah, maka kedua anak muda itu berkuda semakin cepat. Mereka ingin segera sampai ke barak Kasadha di Pajang. Sementara Barata yang semula berniat kembali ke Tanah Perdikan, agaknya telah menjadi terlalu siang. Karena itu, maka Barata harus bermalam semalam lagi.

Namun Barata mulai menjadi bimbang.

“Apakah aku akan bermalam di barak prajurit itu atau dirumah Ki Rangga Dipayuda?”

Agaknya pertanyaan itu ternyata telah membuatnya ragu-ragu.

Namun ketika Barata dan Kasadha memasuki kota Pajang dan turun ke jalan yang menuju ke barak, maka Barata telah mengambil keputusan meskipun dengan ragu-ragu, untuk bermalam saja di Pajang.

Sebenarnyalah, ketika mereka telah berada di barak, Kasadha minta agar Barata bermalam satu malam lagi di Pajang. Katanya, “Matahari telah turun jauh di Barat. Jika kau kembali ke Tanah Perdikan, kau akan kemalaman di perjalanan.”

Barata mengangguk kecil. Meskipun masih agak ragu namun akhirnya ia menjawab, “Baiklah. Aku akan bermalam semalam lagi.”

Ternyata Barata merasa bahwa keputusan yang diambilnya itu benar. Ketika bersama Kasadha ia menghadap Ki Rangga Dipayuda, maka Ki Rangga itu juga minta agar Barata bermalam saja semalam lagi di barak itu.

“Kau akan kemalaman di jalan,“ berkata Ki Rangga.

Ternyata Ki Rangga itu tidak minta kepadanya, agar ia. singgah dan bermalam saja dirumahnya sambil memberitahukan kepastian hari wisuda itu kepada Jangkung dan keluarganya yang lain. Tetapi Ki Rangga itu justru berkata, “Besok saja jika kau kembali ke Tanah Perdikan, kau dapat singgah sejenak dirumah untuk bertemu dengan Jangkung. Beritahukan, bahwa empat hari lagi aku akan singgah mengambil mereka untuk pergi ke Tanah Perdikan menghadiri wisudamu itu.”

Malam itu Barata bermalam di barak prajurit. Sementara Ki Tumenggung Jayayuda masih belum kembali.

Namun dalam pada itu, Kasadha merasa semakin terhimpit oleh perasaannya yang kurang dimengertinya terhadap Barata. Ia selalu menjadi berdebar-debar jika mendengar Barata akan singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda, karena dirumah itu tinggal seorang gadis yang bernama Riris.

Demikianlah, pagi-pagi sekali dihari berikutnya, Barata sudah bersiap-siap untuk berangkat. Ketika Barata membersihkan kudanya, Kasadha bertanya kepadanya, “Apakah kau akan berangkat pagi-pagi sekali?”

“Ya,“ jawab Barata, “aku masih harus mempersiapkan beberapa kelengkapan untuk wisuda. Harinya semakin aus, sehingga waktunya benar-benar tinggal sepekan.”

“Tetapi sebaiknya kau menunggu nasi didapur masak. Hari ini bukan kendo udang. Bukan pula dendeng ragi. Tetapi aku lihat beberapa ekor kambing telah dipotong.”

Barata tertawa. Katanya, “Gigiku sedang sakit. Aku tidak dapat makan daging.”

Kasadha tidak dapat menahannya. Pagi-pagi sebelum matahari terbit Barata telah siap untuk berangkat.

Ki Rangga Dipayuda sekali lagi berpesan, agar ia singgah dirumahnya dan memberitahukan kepada Jangkung, agar keluarganya bersiap-siap empat hari lagi.

Demikianlah, maka Baratapun telah meninggalkan barak itu setelah ia minta diri pula kepada Ki Rangga Prangwiryawan. Kasadha yang mengantarnya sampai kepintu gerbang, memperhatikannya sampai hilang di tikungan. Diluar sadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Ia telah mendapat kesempatan lagi untuk singgah dirumah Riris.”

Namun seperti biasanya, setiap kali Kasadha berusaha untuk mengusir perasaannya itu. Bahkan ia berusaha untuk menyalahkan diri sendiri, “Kenapa jiwaku begini kerdil? Aku tidak pernah merasa iri hati ketika aku harus melepaskan seluruhnya hakku atas Tanah Perdikan Sembojan. Kenapa tiba-tiba timbul perasaan dengki seperti ini.”

Sementara itu Barata telah memacu kudanya. Memang jalan-jalan masih agak sepi. Baru beberapa orang yang akan berjualan ke pasar nampak lewat di jalan-jalan kota. Satu dua pedati membawa hasil bumi merayap perlahan-lahan.

Namun Kasadha merasa bahwa ia harus berpacu agak cepat. Apalagi ia masih harus singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda.

Tetapi keharusannya untuk singgah dirumah Ki Rangga itu bagi Barata bukan merupakan beban yang memberatinya. Namun ia justru merasa mendapat kesempatan untuk melakukannya, meskipun ia agak kecewa bahwa ia tidak bermalam dirumah Ki Rangga Dipayuda itu saja daripada dibaraknya.

Demikianlah, karena jarak rumah Ki Rangga memang tidak terlalu jauh dari Pajang, maka dengan memacu kudanya lebih cepat, maka Baratapun segera telah sampai kerumah yang dituju.

Kedatangan Barata yang masih terhitung pagi itu memang mengejutkan. Sumbaga yang sedang membersihkan halaman depan rumah itu memang terkejut. Namun ia sudah merasa bahwa dirinya tidak lebih dari seorang yang menumpang hidup dirumah itu, sehingga ia lidak dapat berbuat lebih dari itu, meskipun ia masih terhitung kadang sendiri.

Karena itu, maka setelah mempersilahkan Barata duduk dipendapa maka Sumbagapun segera memberitahukan kedatangan Barata kepada Nyi Rangga Dipayuda.

Nyi Ranggapun dengan tergesa-gesa telah pergi ke pendapa setelah disuruhnya Sumbaga memanggil Jangkung yang sedang berada dikebun belakang.

Beberapa saat kemudian, maka Nyi Rangga, Jangkung dan Ririspun telah menemui Barata di pendapa. Mereka memang sudah menduga bahwa kedatangan Barata itu ada hubungannya dengan rencana wisuda yang akan segera diselenggarakan di Tanah Perdikan.

Baratapun agaknya sulit untuk menahan diri berlama-lama. Karena itu, maka iapun segera menyampaikan kepentingannya singgah dirumah itu.

“Aku telah menemui Ki Rangga di Pajang,“ berkata Barata,“ Ki Rangga berpesan agar aku singgah memberitahukan kepada keluarga disini untuk bersiap-siap. Ampat hari lagi Ki Rangga akan berangkat ke Tanah Perdikan bersama dengan seluruh keluarga disini.”

“Baiklah ngger,“ sahut Nyi Rangga, “kami akan bersiap-siap. Demikian Ki Rangga datang, kami akan dapat segera berangkat.”

Namun demikian Barata lelah ditahannya agar tidak tergesa:gesa meninggalkan rumah itu. Nyi Rangga dan Riris segera akan menyiapkan hidangan baginya.

Barata memang menjadi agak bimbang. Ia ingin segera sampai kerumah untuk mempersiapkan segala sesuatu, namun rasa-rasanya ia masih ingin juga tinggal dirumah Riris untuk beberapa lama.

Namun Nyi Rangga telah benar-benar menahannya untuk beberapa saat sambil duduk berbincang dengan Jangkung.

“Air telah hampir mendidih. Kebetulan ketika kau datang, aku sudah mulai menjerang air,“ berkata Nyi Rangga.

Barata memang tidak mempunyai pilihan. Iapun untuk beberapa saat menunggu hidangan disuguhkan.

Ternyata sambil minum minuman hangat ia masih sempat berbincang dengan Riris untuk beberapa saat. Namun Barata memang tidak dapat duduk terlalu lama. Bagaimanapun juga keluarga dirumah tentu sudah sangat menunggunya.

Demikianlah, setelah minum dan makan beberapa potong makanan, maka Baratapun segera minta diri. Ia harus segera sampai ke Tanah Perdikan yang telah bersiap-siap untuk menyelenggarakan wisuda.

Nyi Rangga, Jangkung dan Riris tidak menahannya lagi. Mereka mengerti bahwa Barata sudah digelisahkan oleh waktuyang semakin sempit. Karena itu, maka merekapun segera melepaskan Barata meninggalkan rumah itu.

Sejenak kemudian, maka Baratapun telah berpacu menyusuri jalan persawahan. Jarak yang ditempuhnya memang masih jauh. Namun kudanya yang tegar telah berlari cukup kencang. Bahkan kadang-kadang Barata harus memperlambat derap kaki kudanya karena kadang-kadang jalan tidak begitu rata. Bekas roda pedati membuat jalan-jalan bulak itu ditelusuri oleh jalur-jalur yang semakin lama semakin dalam.

Kedatangannya di Tanah Perdikan disore hari, disambut oleh keluarganya dengan tarikan nafas lega. Ternyata seperti yang diduganya, ibu, nenek dan kakek-kakeknya telah menjadi gelisah. Selain tentang perjalanan Barata juga tentang hari wisuda yang menjadi semakin dekat.

Demikian Barata sampai dirumah, maka iapun segera melaporkan hasil perjalanannya. Terutama tentang pembicaraannya dengan Ki Rangga Kalokapraja.

“Semua akan berjalan sesuai dengan rencana,“ berkata Barata, “tidak ada perubahan apapun juga.”

“Apakah Ki Rangga akan datang sehari sebelum wisuda sebagaimana direncanakan?“ bertanya ibunya.

“Ya. Ki Rangga akan datang sehari sebelumnya,“ jawab Barata, “tetapi tidak banyak lagi yang harus dikerjakan, kecuali kelengkapan wisuda itu sendiri.”

“Apa saja yang harus kita sediakan sebagai kelengkapan wisuda itu?“ bertanya ibunya.

“Pendapa rumah kita. Hanya itu. Yang lain, apabila harus disediakan adalah kelengkapan-kelengkapan kecil yang tidak banyak berarti,“ jawab Barata, “Namun jelasnya nanti setelah Ki Rangga Kalokapraja datang.”

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian nampaknya tidak akan terlalu banyak memerlukan persiapan. Namun agaknya justru penginapan mereka yang akan hadir itulah yang harus kita siapkan dengan baik.”

Baratapun telah memberitahukan kepada ibunya, bahwa tamu yang terpenting selain pejabat dari Pajang yang akan mewakili Kangjeng Adipati Pajang sgrta beberapa pengiringnya, Barata juga mengundang Ki Rangga Dipayuda yang akan datang sekeluarga. Merekapun memerlukan tempat untuk menginap. Demikian pula Puguh akan datang bersama ibu dan bibinya.

“Siapa saja yang kau maksud dengan keluarga Ki Dipayuda itu, Risang? Isterinya atau siapa?“ bertanya ibunya.

“Ya ibu. Ki Rangga Dipayuda akan datang bersama Nyi Rangga, anaknya laki-laki dan anak gadisnya,“ jawab Risang.

“O,“ ibunya mengangguk-angguk, “jadi mereka akan datang berempat?”

“Ya ibu,“ jawab Risang agak ragu.

Ibunya tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi yang menjadi perhatiannya adalah, bahwa keluarga Ki Rangga Dipayuda itu akan datang bersama seorang anak gadisnya.

“Apakah gadis itu yang telah menarik perhatian Risang sehingga ia lebih senang pergi ke Pajang seorang diri?“ pertanyaan itu memang timbul dihatinya meskipun tidak diucapkannya.

Ternyata bukan hanya ibu Risang saja yang tertarik kepada akan kehadiran seorang gadis pada hari wisudanya itu. Tetapi juga nenek dan kedua kakeknya. Apalagi Nyai Soka yang telah agak lama memperhatikan kelakuan Risang itu.

Tetapi seperti ibu Risang, merekapun tidak menanyakannya.

Demikianlah, maka kesibukan di Tanah Perdikan Sembojan semakin nampak. Beberapa buah rumah telah diperbaiki dan disiapkan untuk menginap para tamu. Rumah disekitar rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan dipinjam untuk dipergunakan sebagai penginapan. Sebuah bangunan khusus telah didirikan di belakang dapur rumah Kepala Tanah Perdikan, karena dapur yang telah ada ternyata terlampau kecil. Selain dapur, telah disiapkan pula sebuah kandang kuda bagi kuda-kuda yang bakal dipakai oleh para tamu. Kandang yang justru cukup panjang.

Sementara itu, di Pajang, Kasadha telah bersiap-siap pula untuk menjemput ibunya. Ia telah minta ijin lagi kepada Ki Rangga Dipayuda dan Ki Rangga Prangwiryawan untuk meninggalkan barak beberapa hari. Namun dalam pada itu, Ki Rangga Dipayudapun berkata, “Aku-pun akan minta ijin pula untuk barang dua hari, karena aku juga akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi aku harus menjemput ibuku Ki Rangga,“ jawab Kasadha dengan ragu.

“Bagaimana jika kita pergi bersama-sama? “ tiba-tiba Ki Rangga bertanya.

Wajah Kasadha berbinar sejenak. Namun kemudian segera menjadi muram kembali? Sekilas ia melihat kesempatan untuk menempuh perjalanan bersama Riris. Namun ketika ia sadar akan keadaan ibunya, maka agaknya sulit baginya untuk pergi bersama Ki Rangga. Ia tidak akan mampu mencegah jika ibunya yang penuh dengan perasaan bersalah itu, tiba-tiba menumpahkan perasaannya kepada Nyi Rangga Dipayuda. Meskipun mungkin hal itu dapat terjadi di Tanah Perdikan, namun Kasadha berharap bahwa ia dan ibunya akan datang lebih dahulu dari para tamu yang lain. Apapun yang akan ditumpahkan oleh ibunya karena perasaannya yang penuh sesak dan berjejalan didalam hatinya, diharapkan telah dilakukannya sebelum ada orang lain di Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka Kasadha yang ragu-ragu itu akhirnya berkata, “Maaf Ki Rangga. Ibuku adalah seorang perempuan yang tidak terbiasa bergaul. Ibuku hidup sebagai petani di padukuhan terpencil. Karena itu, maka agak sulit bagiku untuk mengajak ibu pergi bersama-sama dengan orang lain, apalagi bersama keluarga.

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Sebenarnya tidak ada jarak diantara kita. Petani yang bagaimanapun juga terasingnya, namun bagiku, defajad dan martabat kita sebagai mahluk Yang Maha Agung tidak ada bedanya. Hanya secara kebetulan tugas kita berlainan.”

Namun Kasadha berkata pula, “Aku mohon maaf Ki Rangga. Ibuku tentu merasa rendah diri sehingga sulit baginya untuk menyesuaikan diri. Bahkan akupun mencemaskannya, apakah ia dapat menyesuaikan dirinya.di Tanah Perdikan Sembojan. Namun setidak-tidaknya ibu akan dapat berada di dapur membantu menunggui perapian.”

“Ah,“ desis Ki Rangga, “kau selalu merendahkan diri. Sikap itu dapat dibaca dalam sikapmu sehari-hari disini. Juga saat-saat kau membuat perbandingan ilmu. Sebagaimana kau bertanding melawan K i Rangga Prangwiryawan. Jika Ki Rangga Prangwiryawan tidak dengan jantan mengakui kekalahannya, maka kaupun tidak akan menyatakan dirimu menang.”

Kasadha tersenyum kecil sambil menjawab, “tentu tidak Ki Rangga. Aku memang tidak menang.”

Ki Ranggalah yang tertawa. Katanya, “Jika kau berkata bahwa kau memang rendah hati, itu pertanda bahwa kau sama sekali tidak rendah hati. Tetapi kau tidak berkata demikian.”

Kasadha masih tersenyum. Tetapi ia berdesah, “Ah, Ki Rangga selalu memuji.”

“Tetapi baiklah,“ berkata Ki Rangga, “kau dapat berangkat lebih dahulu karena kau akan menjemput ibumu. Tetapi tidak mustahil jika kita akan bertemu di perjalanan.”

Kasadha mengerutkan dahinya. Namun katanya kemudian, “Memang mungkin Ki Rangga.”

Demikianlah, pada saat yang ditentukan, maka Kasadhapun telah minta diri. Kasadha memang sengaja membawa seekor kuda. Jika nanti ibu dan bibinya mengajaknya berjalan kaki saja, maka kudanya akan menjadi kuda beban. Mungkin ibu dan bibinya akan membawa sebungkus keperluan mereka, justru karena seorang perempuan yang bepergian tentu akan membawa bekal apapun juga. Mungkin pakaian atau barang-barang lain.

Ketika Kasadha sampai kerumah ibu dan bibinya, maka ternyata ibu dan bibinya memang sudah siap. Mereka memang membawa sebungkus bekal berisi pakaian, kapur sirih dan keperluan-keperluan lainnya.

***

Seorang pengikut Ki Tunggul ternyata melihat kehadiran Kasadha seorang diri. Namun ketika hal itu disam paikan kepada Ki Tunggul, maka Ki Tunggul itupun berkata, “Jika kau mau mati, cegatlah besok di penyeberangan sungai itu.”

“Tetapi orang itu sendiri,“ sahut pengikutnya.

“Yang nampak ia sendiri,“ jawab Ki Tunggul, “tetapi siapa tahu anak itu sengaja menjebakku.”

Pengikutnya tidak menjawab lagi. Tetapi sebenarnyalah bahwa iapun benar-benar telah jera untuk berhadapan dengan prajurit muda itu. Apalagi setelah Ki Tunggul sendiri merasa berkeberatan.

Ternyata Ki Tunggul benar-benar sudah menjadi jera. Ia telah mengesampingkan mimpinya untuk mendapatkan seorang isteri dan sekaligus seorang budak yang cekatan, terampil, mampu bekerja keras dan cantik, meskipun tidak muda lagi.

Betapapun dendam membara dihatinya, namun kenyataan-kenyataan pahit yang telah terjadi tidak akan dapat dilupakannya. Bahkan nampaknya prajurit muda itu akan benar-benar membunuhnya jika ia berani mengganggunya sekali lagi.

Dalam pada itu, Kasadha, ibu dan bibinya memang sudah siap untuk berangkat. Mereka berniat untuk berangkat lewat tengah malam. Sebenarnyalah bagi ibu dan bibi Kasadha, perjalanan itu bukan merupakan persoalan.

Buku 47

KEDUA perempuan itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Mereka memiliki ketahanan tubuh yang tinggi karena mereka sudah terbiasa melakukan latihan-latihan yang berat. Meskipun pada saat terakhir keduanya sudah tidak sering lagi melakukan latihan, tetapi mereka masih harus bekerja keras di sawah dan dirumah, sehingga seakan-akan ketahanan tubuh mereka tetap terpelihara.

Seperti yang direncanakan, maka lewat tengah malam keduanya meninggalkan pondok tempat tinggal kedua orang perempuan itu. Namun menjelang malam, mereka sudah menitipkan rumah itu kepada tetangga terdekat.

“Besok kami berdua akan pergi untuk beberapa hari,“ berkata ibu Kasadha kepada tetangganya, “tolong awasi rumahku. Tolong beri makan ayamku. Aku masih mempunyai persediaan jagung untuk memberi makan ayam-ayam itu.”

Ternyata tetangganya adalah seorang yang baik, sehingga dengan senang hati tetangganya itu menyatakan kesediaannya.

“Biar anak-anak menyapu halaman selama kalian pergi,“ berkata tetangganya itu. “Tetapi sudah tentu mereka akan memanjat pohon jambu air itu.”

“Silahkan. Jambu itu tidak akan habis diambil anak-anak,“ jawab ibu Kasadha.

Dengan demikian maka, malam itu keduanya dengan tenang meninggalkan rumah mereka yang memang tidak berisi barang-barang berharga. Beberapa lembar pakaian yang terbaik telah mereka bawa. Namun demikian ada juga yang disembunyikan oleh ibu dan bibi Kasadha. Senjata-senjata mereka. Keduanya sepakat untuk tidak membawa senjata apapun, karena senjata jika dilihat oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan akan dapat menimbulkan salah paham.

Ketika ayam berkokok untuk kedua kalinya, ketiga orang itu telah berada diluar padukuhan. Kasadha yang berjalan dipaling belakang menuntun kudanya yang membawa beban. Tetapi bukan beban yang berat.

Kasadha memang ingin mereka mendahului perjalanan Ki Rangga Dipayuda. Bahkan Kasadha berniat untuk mengambil jalan lain. Ia akan membawa ibu dan bibinya menghindari padukuhan tempat tinggal Ki Rangga Dipayuda.

Perjalanan ke Tanah Perdikan memang perjalanan yang panjang. Namun ibu dan bibi Kasadha sudah membawa bekal lengkap diperjalanan. Mereka membawa nasi beberapa bungkus lengkap dengan lauknya, karena sebelum mereka berangkat, seekor ayam sudah disembelihnya.

Namun Kasadha tidak mengalami kesulitan di perjalanan. Kedua orang perempuan itu sama sekali tidak menjadi beban baginya, karena mereka memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan.

Namun perjalanan di malam hari tidak selalu menguntungkan. Matahari memang tidak memancar dilangit sehingga kulit mereka tidak terbakar oleh sinarnya yang terik. Meskipun mereka sadar, bahwa perjalanan mereka yang panjang itu tentu akan melewati juga masa-masa matahari menyengat kulit mereka.

Tetapi di malam hari, udara terasa dingin. Bahkan titik-titik embun terasa membasahi kening.

Namun yang ternyata sangat mengganggu perjalanan mereka justru saat mereka berjalan di bulak panjang, setelah menjelang fajar. Meskipun langit masih kelam, ketiga orang itu sama sekali tidak terhambat oleh kegelapan sebagaimana mereka berjalan keluar dari halaman rumah mereka dan menelusuri jalan padukuhan. Justru ketika mereka berjalan di jalan bulak, rasa-rasanya malam menjadi lebih terang. Bintang-bintang dilangit nampak berhamburan dari kaki langit sampai kekaki langit yang lain.

Tetapi ternyata masih juga ada orang-orang yang ingin mendapatkan harta benda dengan mudah dan cepat. Meskipun cara yang ditempuh tidak sepantasnya. Ampat orang yang berwajah garang, tiba-tiba saja meloncat dari balik gerumbul-gerumbul perdu di pinggir jalan. Dengan serta merta keempat orang itu berdiri tegak dengan bertolak pinggang.

Dengan cepat ibu dan bibi Kasadha yang berjalan dipaling depan segera tanggap atas apa yang mereka hadapi. Ampat orang itu tentu sekelompok penyamun yang sering mengganggu orang-orang yang akan pergi ke pasar dengan membawa barang-barang dagangan mereka. Para pedagang yang berhasil kadang-kadang tidak saja membawa barang dagangan, tetapi mereka juga membawa dan mengenakan perhiasan yang mahal.

Karena itu, sebelum orang-orang itu menghentikan langkah mereka, ibu dan bibi Kasadha sudah berhenti beberapa langkah dari mereka.

Kasadhalah yang kemudian melangkah maju setelah menyerahkan kendali kudanya kepada bibinya.

“Kuda ini sudah jinak bibi,“ desis Kasadha meskipun ia tahu bahwa sebelumnya bibinya sebagaimana ibunya sering berpacu diatas punggung kuda.

Keempat orang itu melangkah mendekat. Seorang diantara mereka berada dipaling depan. Dengan suara yang mengguruh orang itu berkata, “Ki Sanak. Aku ingin berbicara dengan kalian.”

“Aku sudah mengira melihat Ki Sanak langsung berdiri ditengah jalan. Nah, jika kau ingin berbicara, katakan.”

Wajah orang itu berkerut. Ia memang agak heran melihat sikap Kasadha yang tetap tenang. Demikian pula kedua orang perempuan itu sama sekali tidak berkesan ketakutan.

“Kalian akan pergi kemana Ki Sanak?“ bertanya orang yang berdiri dipaling depan itu.

“Kami akan kepasar. Kami membawa beberapa jenis barang yang akan kami jual ke pasar. Diantaranya adalah wesi aji,“ jawab Kasadha tanpa ragu-ragu.

“Apa yang kau maksud dengan wesi aji? Keris, patrem, luwuk atau wesi kuning?“ bertanya orang itu.

“Apakah kau akan membelinya?“ bertanya Kasadha tiba-tiba.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berpaling kepada ketiga orang kawannya sambil berkata, “Nampaknya anak ini anak yang sombong dan keras kepala. Ia mencoba untuk membuat kita tersinggung.”

Namun Kasadha justru menyahut, “Bukankah lebih baik aku bertanya demikian daripada aku bertanya, apakah kalian akan menyamun atau merampok?”

“Setan kau,“ geram orang itu, “aku memang akan merampok. Aku tidak perlu berpura-pura membeli atau apapun juga. Serahkan wesi aji itu kepadaku bersama kuda itu. Aku tidak akan mengganggu dan menyakiti kalian.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Apakah kau sudah benar-benar tidak dapat mencari nafkah dengan cara yang lebih baik dari cara yang kau pilih sekarang ini?”

“Tutup mulutmu,“ orang itu membentak, “aku tidak mau berbicara apapun juga. Berikan barang-barang itu sekarang. Sebelum aku melakukan kekerasan.”

“Ki Sanak. Kedua orang perempuan ini telah mengupah aku untuk mengantar mereka ke pasar. Sudah tentu melindungi mereka jika terjadi perampokan seperti sekarang ini. Karena itu, maka aku tidak akan membiarkan kau mengambil selembar rambutnya sekalipun. Nah, terserah kepada kalian, apakah kalian ingin meneruskan niat kalian, atau kita akan berkelahi.”

Wajah orang itu menegang. Bahkan seorang kawannya yang tidak dapat menahan diri menggeram, “Serahkan anak itu kepadaku.”

“Nah, kau dengar anak iblis? Sebaiknya kami tidak usah menyakitimu, apalagi perempuan itu. Karena itu, serahkan saja barang-barangmu dan kudamu itu kepadaku,“ berkata orang yang berdiri dipaling depan itu.

“Jika kalian berhasil merampas barang-barang kedua perempuan itu artinya sama saja dengan mematikan penghasilanku. Aku adalah orang upahan yang mendapat penghasilan karena tugas seperti ini. Kalau kau merampas wesi aji itu berarti kau merampas sesuap nasi dari mulutku. Karena itu, biarlah aku mempertahankannya. Aku yakin bahwa mencari makan dengan caraku jauh lebih baik dari cara yang kau tempuh.”

Para penyamun itu tidak sabar lagi. Merekapun segera berpencar dan langsung menyiapkan senjata mereka masing-masing.

“Seandainya kau mampu bertahan terhadap dua orang diantara kami, namun dua orang yang lain akan dapat membunuh kedua orang perempuan itu,“ berkata salah seorang dari para perampok itu.

Namun tiba-tiba Kasadha bertanya, “He, apakah kau orang upahan seperti aku, tetapi untuk membunuh orang? Apakah kau orang upahan Ki Tunggul?”

“Persetan dengan celotehmu. Aku tidak mengenal nama itu,“ jawab pemimpin mereka.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia berpaling kepada bibi dan ibunya. Katanya, “Mereka orang lain. Mereka bukan orang-orang padukuhan kita.”

“Maksudmu?“ bertanya ibunya.

“Seperti yang dikatakannya, diantara mereka ada yang akan berbuat licik dengan menyerang perempuan. Tetapi mereka tidak akan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari meskipun seandainya kita melakukan sedikit kelainan untuk mempertahankan diri,“ jawab Kasadha.

Ibu dan bibinyapun tanggap akan maksud anak muda itu. Seandainya benar ada diantara para penyamun itu menyerang ibu dan bibinya itu, maka hendaknya mereka melindungi diri mereka masing-masing.

Sementara itu, keempat orang yang berniat untuk merampok itu mulai bergerak. Mereka telah mengacukan senjata mereka, sementara Kasadhapun telah menarik pedangnya pula.

“Kami tidak mempunyai banyak waktu. Langit menjadi semakin merah. Sebelum jalan ini menjadi ramai, maka kalian harus kami habisi jika kalian berkeras untuk tidak menyerahkan barang-barang kalian,“ geram pemimpin perampok itu.

Kasadha tidak sempat menjawab. Orang itu segera meloncat menyerangnya.

Namun Kasadha telah bersiap. Ketika serangan itu datang, maka iapun segera berloncatan menghindar.

Tetapi para perampok yang lainpun telah menyerangnya pula. Berturut-turut empat ujung senjata terjulur ke arahnya. Namun Kasadha cukup tangkas untuk menghindar dengan loncatan-loncatan panjang. Bahkan sambil menangkis, putaran pedang Kasadha justru menggeliat menyambar lawannya.

Beberapa saat lamanya Kasadha bertempur seorang diri melawan keempat orang penyamun itu. Meskipun beberapa kali Kasadha harus berloncatan mengambil jarak, namun keempat orang itu tidak segera dapat menundukkannya, sehingga pemimpin perampok itu menjadi tidak sabar. Sementara itu langitpun menjadi semakin merah oleh bayangan fajar.

Karena itu, maka pemimpin perampok itupun segera berteriak, “Letakkan senjatamu, atau kedua orang perempuan itu aku bantai dihadapan matamu. Jika mereka terbunuh disini, siapakah yang akan mengupahmu, he?”

Tetapi Kasadha justru tertawa. Katanya, “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Namun jika kalian berani mengganggu kedua orang perempuan itu, maka kalian semuanya akan aku tumpas.”

Pemimpin perampok itu memang menjadi heran. Nampaknya orang yang menyatakan diri sebagai orang upahan itu tidak merasa cemas sama sekali meskipun kedua orang perempuan itu diancamnya untuk dibunuh.

Namun para perampok itu benar-benar telah kehilangan waktu. Langit yang merah itupun membuat mereka tidak lagi dapat berpikir panjang.

Karena itulah, maka pemimpin perampok itu telah meneriakkan aba-aba. Dua orang diantara mereka akan bertempur melawan anak muda yang mengaku orang upahan itu sedangkan dua orang yang lain akan merampok barang-barang yang dibawa dipunggung kuda itu. Bahkan jika perlu dengan kekerasan terhadap kedua orang perempuan itu.

Demikianlah sejenak kemudian, maka dua orang diantara para penyamun itu telah meninggalkan Kasadha. Mereka bergerak, seorang mendekati ibu dan bibi Kasadha, sedangkan yang lain menuju langsung kearah kuda Kasadha yang kendalinya masih dipegangi oleh bibinya.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat menjerat leher kalian sendiri,“ ancam salah seorang dari kedua orang penyamun itu.

Namun penyamun itu justru menjadi heran, ketika bibi Kasadha itu berkata dengan tenang, “Tunggu sebentar Ki Sanak. Aku akan menambatkan kuda ini pada batang perdu dipinggir jalan itu. Barangkali itu lebih baik daripada kuda ini berlari menjauh.”

Kedua perampok yang keheranan melihat sikap perempuan itu justru tercenung untuk beberapa saat. Baru kemudian setelah kuda itu tertambat, maka keduanya mulai melangkah mendekat. Seorang diantara mereka mendekati kuda yang tertambat itu.

Tetapi kedua perampok itu menjadi heran. Seorang diantara perempuan itu justru langsung menghalangi perampok yang mendekati kuda itu sambil berkata, “Jangan singgung kuda itu Ki Sanak. Kuda itu membantu kami membawa barang-barang kami.”

Sebelum para perampok itu menyadari benar apa yang dilihatnya maka perempuan yang seorang lagi telah berkata pula, “Sebaiknya kalian mengurungkan niat kalian. Tidak ada gunanya kalian mencoba merampok kami, karena hanya akan mencelakai kalian sendiri saja.”

Para perampok itu menjadi semakin heran. Sementara itu Kasadha sudah tidak lagi berloncatan mengambil jarak sebagaimana ketika ia bertempur melawan empat orang sekaligus. Baginya dua orang perampok itu tidak terlalu menyulitkannya sebagaimana mereka berempat.

Namun ketika warna merah dilangit semakin jelas, maka para perampok itupun menjadi semakin gelisah. Perampok yang dihalangi oleh bibi Kasadda itupun berkata geram, “Apakah kau sudah gila? Atau kau memang sedang membunuh diri?”

“Tidak Ki Sanak,“ jawab bibi Kasadha, “tetapi aku ingin mempertahankan milikku jika kau memaksa.”

“Apakah kau benar-benar sudah gila? “ penyamun itu hampir berteriak. Namun diluar sadarnya, pedangnya telah teracu kearah dada bibi Kasadha itu.

Namun bibi Kasadha justru menyingsingkan kainnya sambil berkata, “Sebenarnya aku tidak siap melawanmu dalam pakaian ini. Tetapi apaboleh buat.”

“Gila kau. Jadi kau akan melawan aku?”

“Ya, kenapa? Apakah kau heran? Bukankah wajar jika aku mempertahankan milikku,“ jawab bibi Kasadha.

Perampok itu memang tidak sabar lagi. Ia benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka senjatanyapun mulai digerakkannya untuk mengancam perempuan yang mencoba menghalanginya itu.

Namun perempuan itu sama sekali tidak merasa cemas melihat ujung senjata itu. Bahkan ketika ujung senjata itu mulai bergerak maka perempuan itupun mulai bergeser.

Tetapi yang sangat mengejutkan adalah perempuan yang seorang lagi. Ibu Kasadha. Selagi perampok yang mengancamnya memperhatikan gerak perempuan yang seorang lagi, maka seakan-akan terjadi didalam mimpinya, perempuan itu begitu saja telah berhasil merampas senjatanya. Perampok itu tidak tahu bagaimana terjadinya. Ia hanya merasa angin bergeser menyentuh kulitnya. Dan tiba-tiba senjatanya telah terlepas.

Perempuan itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Maaf, aku memang ingin meminjam senjatamu sebentar.”

Perampok itu masih kebingungan sehingga justru berdiri membeku. Sementara itu ibu Kasadha itu berkata kepada adik sepupunya itu, “Marilah. Kau tentu memerlukannya.”

Yang terjadi memang terlalu cepat untuk diikuti. Senjata itu telah meloncat dari tangan perempuan yang merampasnya ketangan perempuan yang seorang lagi, sehingga dengan demikian maka bibi Kasadha itu menghadapi lawannya dengan bersenjata pula sebagaimana lawannya. Sementara itu, perampok yang kehilangan senjatanya itu harus berhadapan dengan perempuan yang telah merampas senjatanya tanpa diketahui bagaimana terjadi itu.

Namun terasa tengkuk perampok itu mulai meremang. Bahkan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku berhadapan dengan sosok-sosok peri dan gendruwo?”

Sementara itu, kedua kawannya masih bertempur melawan anak muda yang mengaku orang upahan itu. Kedua orang kawannya itupun nampaknya tidak segera dapat menguasai anak muda itu, sementara kawannya yang berhadapan dengan perempuan yang kemudian telah bersenjata itu, mulai bergeser surut ketika bibi Kasadha mengacukan senjata rampasannya itu.

Namun perampok yang masih bersenjata itu memang tidak segera menyerah. Ia mencoba untuk menggerakkan senjatanya dan menyerang perempuan itu. Tetapi ternyata bahwa perempuan itu dengan tangkas telah menangkis serangan-serangannya.

Namun demikian, kain panjang bibi Kasadha itu memang agak mengganggu sehingga langkah kakinyapun tidak dapat leluasa sebagaimana ia mengenakan pakaian khususnya.

Meskipun demikian namun bibi Kasadha itu telah mampu menunjukkan ilmu pedang yang cepat dan mendebarkan.

Dalam pada itu, ibu Kasadha yang berhadapan dengan perampok yang sudah tidak bersenjata lagi itupun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan kau? Apakah kau juga masih akan menyerangku atau kau mempunyai rencana yang lain?”

Perampok itu memang termangu-mangu sejenak. Namun ternyata bahwa iapun masih berpegang kepada harga dirinya. Dengan lantang iapun berkata, “Meskipun kau iblis betina sekalipun, aku akan memaksamu untuk menyerahkan barang-barangmu.”

“Kau tidak akan mampu melakukannya,“ berkata ibu Kasadha, “seperti dikatakan oleh anak muda itu, bahwa kami membawa wesi aji dan benda-benda bertuah lainnya. Karena itu, maka pengaruhnya akan dapat menjeratmu dan bahkan mencekik lehermu.”

“Persetan dengan igauanmu itu,“ geram perampok itu. Sementara itu, iapun telah bersiap untuk menyerang ibu Kasadha yang juga tidak bersenjata.

“Aku sudah memperingatkanmu,“ desis ibu Kasadha.

Namun perampok itu ingin meyakinkannya. Perempuan itu nampak sudah merambat ke usia tuanya. Ujudnyapun tidak meyakinkan sama sekali.

Apalagi ketiga orang kawannya yang lain masih saja bertempur dengan sengitnya.

Karena itu, maka perampok yang sudah tidak bersenjata lagi itupun telah bergeser selangkah menyamping. Iapun telah bersiap untuk menyerang Warsi.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah tidak tertarik lagi untuk berkelahi karena alasan apapun. Tetapi ia sadar, jika Kasadha sendiri harus melawan keempat orang penyamun itu, ia memang akan mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga keempat orang penyamun itu adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas didunia kekerasan.

Karena itu, maka mau tidak mau ia harus memperingan tugas Kasadha itu.

Sekilas Warsi sempat melihat bagaimana Kasadha bertempur melawan dua orang perampok yang keras dan kasar. Namun Kasadha masih selalu dapat mengimbangi mereka. Bahkan ketika Kasadha semakin meningkatkan kemampuannya, maka kedua orang lawannya itupun mulai mengalami kesulitan.

Sementara itu bibi Kasadha sama sekali tidak mengalami kesulitan apapun menghadapi lawannya. Bahkan beberapa kali senjatanya telah mulai menyentuh tubuh penyamun itu, sehingga sesekali penyamun itu berdesah menahan pedih, tetapi juga menggeram marah. Darah yang menitik dari lukanya, telah membuatnya liar.

Tetapi orang itu memang tidak mampu berbuat banyak. Setiap kali serangannya tidak berhasil menyentuh tubuh perempuan itu. Bahkan jika terjadi benturan senjata, maka terasa tangannya menjadi pedih.

Namun dalam pada itu, maka penyamun yang berhadapan dengan Warsipun telah mulai menyerangnya pula. Kedua tangannya terjulur mengarah ke dada selagi ia meloncat mendekat.

Tetapi ibu Kasadha itu tidak mau berkelahi berkepanjangan. Permainan yang sudah tidak disukainya lagi. Bahkan ada perasaan tidak pantas lagi baginya untuk melakukan kekerasan.

“Mudah-mudahan benar orang-orang ini bukan orang upahan Ki Tunggul yang akan dapat menyebarkan ceritera ini di padukuhan,“ berkata Warsi didalam hatinya.

Karena itulah, maka ia telah berniat untuk segera menghentikan perkelahian itu.

Demikianlah, ketika lawannya itu menyerang kearah dadanya, maka seperti kilat tangan Warsi bergerak menangkap pergelangan tangan orang itu. Satu putaran yang kuat telah memilin tangan orang itu, sehingga penyamun itu terpekik dan tubuhnyapun terputar membelakangi ibu Kasadha, namun tanpa dapat melepaskan tangannya yang terpilin.

“Aku dapat mematahkan tanganmu,“ berkata Ibu Kasadha itu.

Orang itu menyeringai menahan sakit. Tetapi ia merasa malu untuk menyatakan kesakitannya. Sehingga untuk beberapa saat ia mencoba mengerahkan daya tahannya.

“Apakah kau menyerah?“ bertanya ibu Kasadha itu.

Orang itu tidak menjawab. Bahkan ia masih mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi tangan ibu Kasadha itu bagaikan besi yang menghimpit tangan penyamun itu.

“Jangan menunggu tanganmu patah,“ ibu Kasadha berdesis sambil menekan tangan orang itu.

“Jangan,“ orang itu mulai mengaduh, “Jangan kau patahkan tanganku.”

“Apakah kau menyerah?“ bertanya ibu Kasadha kemudian.

Orang itu tidak segera menjawab. Namun yang terjadi di arena yang lain telah mengejutkan pula. Seorang dari antara para penyamun yang bertempur melawan Kasadha telah terlempar beberapa langkah surut dan jatuh berguling ditanah. Orang itu memang mencoba untuk bangkit, tetapi iapun telah jatuh terduduk sambil mengerang kesakitan. Didadanya telah tergores luka menyilang yang panjang.

Sementara itu, lawan bibi Kasadha itupun telah terdesak pula. Meskipun tidak dalam, tetapi ada beberapa luka ditubuhnya. Perasaan pedih semakin menyengat ketika keringatnya mulai membasahi luka-lukanya itu.

Sementara itu langit memang menjadi semakin merah. Jika fajar menyingsing, maka jalan itu akan segera menjadi ramai oleh orang-orang yang pergi ke pasar.

Karena itu, maka para penyamun itu semakin menjadi gelisah.

Yang terdengar kemudian adalah suara Kasadha, “Apakah kau tidak akan menyerah? Aku telah melukai kawanmu. Ingat, aku akan dengan mudah membunuhmu jika aku kehilangan kesabaranku.”

Penyamun itu memang menjadi bingung. Ia sudah kehilangan harapan untuk dapat memenangkan perkelahian itu. Apalagi kawan-kawannya nampaknya juga sudah tidak berdaya.

Bahkan selagi ia dicengkam oleh kebimbangan, maka tiba-tiba saja pedang Kasadha bagaikan berputar. Tanpa dapat berbuat sesuatu, senjata penyamun itu terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa langkah daripadanya.

Ketika pedang Kasadha kemudian teracu ke dadanya, maka penyamun itu segera berjongkok dan mohon dengan memelas, “Ampun anak muda. Jangan bubuh aku dan saudara-saudaraku.”

“Bukankah menyenangkan sekali membunuh seseorang yang ketakutan?“ desis Kasadha.

“Jangan, kami mohon ampun,“ minta orang itu dengan suara yang gemetar.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun pedangnya masih teracu kepada orang itu.

Sementara itu, lawan bibi Kasadha itupun telah meloncat mengambil jarak, sementara bibi Kasadha tidak memburunya meskipun ia masih bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi, karena penyamun itu akan dapat menyerangnya dengan tiba-tiba saja.

Sedangkan ibu Kasadha justru berdiri tegak sambil memegangi tangan lawannya yang dipilinnya. Ia tidak memberikan isyarat apapun kepada anaknya. Justru ibu Kasadha itu ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Kasadha menghadapi penyamun yang telah menyerah itu.

Sebagai seorang yang pernah turun di dunia yang gelap dan penuh dengan kekerasan, maka ibu Kasadha saat itu tidak akan pernah memberi ampun kepada seseorang yang telah melakukan perlawanan atasnya meskipun orang itu sudah menyerah dan tidak berdaya. Kesadaran yang datang kemudian itu masih dibayangi oleh kecemasannya bahwa kekelaman jiwanya itu terselip juga dibawah sadar pada jiwa anaknya.

Ibu Kasadha itu menahan nafasnya ketika ia melihat Kasadha menekan leher penyamun itu dengan ujung pedangnya dan berkata, “Kau tidak pantas diampuni. Sepantasnya kau mati dan tubuhmu terkapar di bulak ini. Sebentar lagi orang-orang akan lewat dan melihat bahwa orang yang mereka takuti selama ini sudah menjadi mayat. Hal itu tentu akan dapat memberikan ketenangan kepada mereka yang setiap kali selalu dibayangi ketakutan itu.”

“Ampun, aku mohon ampun,“ suara orang itu menjadi gemetar.

Ibu Kasadha memang menjadi tegang sejenak. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh anaknya yang masih saja melekatkan ujung pedangnya dileher lawannya.

Namun ibu Kasadha itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Kasadha mengangkat pedangnya dan bertanya kepada penyamun itu, “Kau kenal bentuk pedangku?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menggeleng sambil menjawab, “Tidak.”

“Baiklah. Jika pada suatu saat kau bertemu dengan seorang prajurit, maka perhatikan pedangnya,“ berkata Kasadha kemudian.

“Kenapa dengan pedang seorang prajurit?“ bertanya penyamun yang ketakutan itu.

“Pedangku ini adalah pedang seorang prajurit,“ berkata Kasadha dengan nada dalam.

“Apakah kau seorang prajurit?“ bertanya penyamun itu.

“Ya. Kami memang prajurit yang mendapat tugas khusus untuk membantai para penyamun di daerah ini.”

Wajah para penyamun itu menjadi pucat. Orang yang tangannya dipilin itupun kemudian justru telah didorong dan dilepaskan. Namun ia sama sekali tidak berani melarikan diri. Bahkan iapun telah berjongkok pula sambil berkata, “Aku juga mohon ampun.”

Demikian pula lawan bibi Kasadha. Dilemparkannya senjatanya sambil berkata, “Kami mohon jangan bunuh kami. Kami berjanji untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi.”

“Apakah janji seorang penyamun dapat dipercaya?“ bertanya Kasadha.

“Mungkin kami berbohong kepada orang lain. Tetapi tidak kepada seorang prajurit,“ jawab penyamun itu.

“Ingat. Daerah ini adalah daerah ronda kami. Salah seorang dari kami akan selalu mengawasi daerah ini, bahkan mungkin dengan kawan-kawan yang lain. Jika kami menjumpai kalian lagi bukan hanya dibulak ini, tetapi dimanapun juga, maka kami tidak akan mengampuni kalian lagi. Kalian akan mati ditempat sebagaimana perintah yang kami terima untuk menangkap hidup atau mati para penyamun, perampok dan penjahat yang manapun.”

“Kami berjanji,“ jawab penyamun yang bertempur melawan Kasadha itu, “Ieher kami akan menjadi taruhan. Kami tidak akan melakukan pekerjaan ini lagi.”

“Kalian kami lepaskan kali ini. Tetapi ingat, bahwa kami tidak mempercayai kata-kata kalian itu sepenuhnya. Karena itu, bersiap-siap sajalah untuk mati ditempat jika kami bertemu dengan kalian selagi kalian menyamun atau merampok.”

“Tidak. Kami tidak akan melakukannya lagi,“ jawab tiga orang diantara para perampok itu hampir berbareng.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya, “Pergilah sekarang. Langit telah menjadi merah. Kau dengar suara tembang itu? Tentu orang yang akan pergi ke pasar dalam satu iring-iringan. Mereka tidak berani berjalan dalam kelompok kecil karena tingkah kalian selama ini. Keuntungan mereka yang tidak seberapa harus mereka bagi dengan orang-orang yang mereka upah untuk mengawal mereka.”

Keempat orang penyamun itu ragu-ragu sejenak. Namun Kasadhapun membentak mereka, “Cepat pergi. Atau aku harus menyerahkan kalian kepada orang-orang yang akan pergi ke pasar itu?”

Orang-orang itu tidak menjawab. Namun dengan cepat mereka beringsut meninggalkan tempat itu.

Tetapi Kasadha masih memanggil mereka dan berkata, “Bawa kawanmu yang terluka itu.”

Merekapun kemudian bergerak serentak untuk menolong dan membawa kawannya yang terluka itu meninggalkan jalan yang segera akan menjadi semakin ramai.

Ketika para penyamun dan perampok itu meninggalkan Kasadha, ibu dan bibinya, maka mereka bertigapun segera membenahi diri. Mereka melepaskan kuda mereka yang tertambat dan bersiap untuk meneruskan perjalanan.

Dalam pada itu, suara tembang yang telah mereka dengarpun menjadi semakin jelas.

Beberapa saat kemudian, maka nampak iring-iringan beberapa orang yang akan pergi ke pasar membawa barang dagangan mereka.

Meskipun Kasadha tidak tahu sebelumnya, namun apa yang dikatakannya ternyata benar. Orang-orang yang pergi ke pasar itu telah mengajak beberapa orang upahan selain untuk membantu membawa barang-barang dagangan mereka, juga untuk melindungi mereka jika terjadi kejahatan diperjalanan. Bahkan mereka telah saling menunggu sebelum mereka memasuki bulak-bulak yang mereka anggap rawan. Dengan tiga atau ampat kelompok pedagang, maka mereka memang merasa aman. Meskipun orang-orang upahan itu bukan orang-orang berilmu tinggi, namun jumlah mereka menjadi cukup banyak.

Ketika orang yang berjalan diujung iring-iringan itu melihat dalam keremangan fajar tiga orang yang berdiri dipinggir jalan bulak dan seekor kuda, maka orang itupun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Meskipun langit menjadi semakin terang, tetapi kemungkinan, buruk masih dapat terjadi di bulak itu.

Yang kemudian berjalan didepan adalah ampat orang laki-laki yang membawa keranjang dikepalanya. Namun mereka telah bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi.

Tetapi keempat orang itu berbareng menarik nafas panjang. Yang mereka lihat berdiri dipinggir jalan itu adalah seorang laki-laki dan dua orang perempuan.

Karena itu, maka merekapun merasa bahwa perjalanan mereka tidak akan terganggu oleh orang-orang itu. Bahkan orang yang berjalan dipaling depan sempat berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang kalian tunggu?”

Yang menjawab adalah Kasadha, “Kami hanya ingin berjalan bersama-sama.”

“Marilah,“ jawab orang itu, “tetapi daerah ini adalah daerah yang paling rawan. Selewat daerah ini, maka tidak ada lagi bulak-bulak panjang yang dapat mendirikan bulu tengkuk, meskipun kemungkinan buruk dapat saja terjadi dimana-mana.”

“Terima kasih,“ jawab Kasadha, “mudah-mudahan kita tidak menemui hambatan diperjalanan.”

“Jangan takut. Jumlah kami cukup banyak. Jika terjadi sesuatu maka kami akan dapat saling membantu. Bukankah kau juga membawa pedang?”

Diluar sadarnya Kasadha melihat hulu pedangnya. Pedang yang khusus bagi para prajurit Pajang. Ternyata orang-orang yang lewat itu tidak mengetahui bahwa pedang itu adalah pedang prajurit. Namun dalam pada itu, Kasadha itupun berkata didalam hatinya, “Sebaiknya aku memiliki pedang yang lain. Jika aku tidak mengenakan pakaian keprajuritan, sebaiknya akupun tidak membawa pedang khusus seperti ini. Mungkin ada orang yang langsung dapat mengenalinya seperti Ki Tunggul yang memang bekas seorang prajurit.”

Demikianlah sejenak kemudian maka Kasadha, ibu serta bibinya telah melanjutkan perjalanan bersama iring-iringan orang yang akan pergi ke pasar. Mereka berjalan diujung paling belakang.

Namun dalam pada itu, Kasadha yang menuntun kudanya, telah dihampiri oleh salah seorang dari mereka yang menjadi pengantar dari orang-orang yang pergi ke pasar itu.

“Kau juga akan pergi ke pasar Ki Sanak?“ bertanya orang itu.

“Sebenarnya tidak,“ jawab Kasadha, “kami sedang dalam perjalanan dari Bayat ke Sembojan.”

“O,“ orang itu mengangguk-angguk, “satu perjalanan yang panjang. Aku pernah pergi ke Sembojan beberapa saat yang lalu. Tetapi hanya sekedar lewat.”

“Apakah Ki Sanak mempunyai sanak kadang di Sembojan?“ bertanya Kasadha.

“Tidak,“ jawab orang itu, “waktu itu aku masih senang bertualang. Aku dan dua orang kawanku menempuh perjalanan tanpa tujuan dari satu tempat ketempat yang lain. Namun akhirnya kami menyadari, bahwa akhirnya kami tidak dapat hidup seperti burung. Apalagi sekali-sekali kami mengalami benturan-benturan kekerasan diperjalanan. Bahkan ada diantara kami bertiga yang hampir mati di perantauan.”

“Sekarang petualangan itu telah Ki Sanak hentikan?“ bertanya Kasadha.

“Ya. Aku telah beranak isteri. Akupun mulai terikat dengan tanah garapan. Meskipun sawahku tidak luas, tetapi dapat menjadi landasan hidup sekeluarga. Disamping mengerjakan sawah, aku mempunyai pekerjaan sambilan seperti ini. Sedikit banyak dapat mengobati kerinduanku pada masa petualanganku yang tidak dapat aku lakukan lagi. Kecuali itu, akupun mendapat sedikit tambahan uang untuk membelikan pakaian anak-anakku.”

“Tetapi apakah pekerjaan Ki Sanak sekarang ini tidak berbahaya?“ bertanya Kasadha.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Sebagaimana kau lihat, pekerjaan ini sama sekali tidak berbahaya. Bukankah tidak terjadi apa-apa disepanjang perjalanan?”

“Apakah selama Ki Sanak bertugas tidak pernah terjadi sesuatu dengan Ki Sanak?“ bertanya Kasadha.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang pernah terjadi sesuatu ketika dua orang mencoba mencegat sekelompok orang yang pergi ke pasar. Tetapi aku dan beberapa orang pengantar dengan cepat mengatasi mereka yang kemudian melarikan diri ke tengah sawah dan kemudian masuk ke pategalan,“ orang itu terdiam sejenak. Namun kemudian katanya, “Memang pernah pula terjadi bencana atas seorang kawanku yang juga menjadi pengantar. Ia seorang yang berani. Tetapi menurut pendapatku, ia justru bukan seorang yang berpengalaman dalam petualangan sebagaimana pernah aku lakukan. Ia merasa dirinya terlalu kuat, sehingga ia terbunuh di bulak ini juga. Barang-barang bawaan orang yang diantarkannya telah dirampas oleh tiga orang penyamun yang membunuhnya.”

“Bagaimana dengan kawan-kawannya?“ Kasadha bertanya.

“Itulah yang membuat kami menyesal. Ia memberanikan diri untuk mengawal sebuah iring-iringan kecil seorang diri. Ia memang tamak, karena ia ingin mendapat upah untuk dirinya sendiri tanpa dibagi dengan orang lain. Namun akibatnya sangat menyedihkan. Bukan saja bagi keluarganya, tetapi juga bagi kami.”

Kasadha mengangguk-angguk. Agaknya peristiwa itu telah menjadi pengalaman yang sangat berarti. Ternyata para pengawal itu tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Pada iring-iringan itu terdapat beberapa orang pengawal. Enam orang.

Meskipun hal itu tidak ditanyakan oleh Kasadha, namun orang itu berkata, “Iring-iringan ini sebetulnya terdiri dari tiga kelompok yang masing-masing dikawal oleh dua orang. Kami memang sepakat untuk bergabung jika menyeberangi bulak yang satu ini. Agaknya bulak ini memang sering makan korban. Untunglah bahwa kau tidak mengalaminya meskipun kau tidak berada dalam iring-iringan yang dikawal.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi diluar sadarnya ia berdesis, “Satu pilihan yang terpuji.”

“Apa yang terpuji?“ bertanya orang itu.

“Ki Sanak telah memilih jalan yang paling baik,“ berkata Kasadha, “ada orang yang memilih jalan yang sesat jika ia memiliki sedikit kemampuan sebagaimana Ki Sanak katakan pernah terjadi disini.”

“Ya. Yang menyedihkan, seorang dari kawan-kawanku bertualang telah mengambil jalan sesat itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika tiba-tiba kami bertemu disini,“ desis orang itu.

“O,“ Kasadha mengerutkan keningnya. Sementara orang itu berkata, “Tetapi selama ini aku memang belum berhasil menemuinya. Aku pernah mencari kerumahnya, tetapi ia jarang sekali pulang. Apalagi ketika tetangga-tetangganya seakan-akan menolak kehadirannya di padukuhannya.”

“Apakah ia mempunyai anak isteri?“ bertanya Kasadha.

“Aku tidak tahu. Tetapi aku memang pernah mendengar kabar, bahwa ia akan kawin. Namun aku tidak tahu, apakah ia benar kawin atau tidak,“ jawab orang itu.

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah melewati bulak panjang yang rawan itu. Langitpun menjadi semakin terang oleh cahaya pagi.

“Nah, bukankah kita tidak diganggu oleh para penyamun? Mereka memang harus berpikir ulang untuk menyamun iring-iringan seperti ini. Ada beberapa orang pengawal diantara iring-iringan ini. Selebihnya, laki-laki dalam iring-iringan ini juga bersenjata, sehingga kami siap menghadapi segala kemungkinan.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia tidak mengatakan bahwa ada empat orang penyamun di bulak panjang itu. Tetapi menurut perhitungan Kasadha, penyamun itu akan mengurungkan niatnya jika mereka melihat iring-iringan yang kuat seperti yang baru lewat di bulak itu.

Demikianlah, ketika langit menjadi terang, maka Kasadha, ibu dan bibinyapun telah minta diri kepada orang-orang dalam iring-iringan itu untuk memisahkan diri. Kasadha mengajak ibu dan bibinya untuk berbelok mengambil jalan simpang. Apalagi mereka memang tidak akan pergi ke pasar.

“Perjalanan kalian masih jauh,“ berkata pengawal yang berbincang dengan Kasadha.

“Ya. Tetapi kami sudah menyiapkan bekal diperjalanan kami,“ jawab Kasadha.

Demikian mereka berpisah, maka ibu Kasadha itupun bertanya, “Apakah mereka mengetahui tujuan kita?”

“Aku telah mengatakan kepada pengawal itu,“ jawab Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi iapun tidak merasa berkeberatan karena memang tidak ada persoalan dengan tujuan perjalanan mereka.

Demikianlah, mereka bertigapun berjalan semakin cepat. Bibi dan ibu Kasadha yang memiliki kemampuan olah kanuragan itu sama sekali tidak segera merasa letih. Daya tahan mereka cukup tinggi sehingga mereka sama sekali tidak menjadi beban bagi Kasadha yang berjalan sambil menuntun kudanya.

Dengan demikian maka mereka bertiga tidak perlu terlalu sering berhenti, meskipun ditengah hari mereka singgah di sebuah kedai dipinggir jalan sekaligus memberi kesempatan kepada kudanya untuk beristirahat, makan dan minum pula.

Namun demikian mereka selesai makan dan minum serta setelah beristirahat sejenak. Maka merekapun telah meneruskan perjalanan ke Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha ingin bahwa mereka akan sampai di Sembojan lebih dahulu dari Ki Rangga Dipayuda.

Di perjalanan selanjutnya, mereka bertiga memang tidak menemui hambatan apapun juga. Mereka telah melintasi beberapa puluh padukuhan dan bulak-bulak panjang dan pendek. Ketika matahari melewati puncaknya, maka sinarnya telah memanasi mereka bertiga dari arah punggung. Meskipun tengkuk mereka terasa terpanggang oleh panasnya sinar matahari, namun mereka tidak menjadi silau karena mereka membelakangi matahari yang semakin lama menjadi semakin rendah.

“Kita akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan menjelang senja,“ berkata Kasadha.

“Kita sudah berjalan cukup jauh,“ desis bibinya.

“Apakah bibi merasa letih?“ bertanya Kasadha.

“Apakah jika aku letih kau akan mendukungnya?” justru bibinya ganti bertanya, sehingga Kasadha dan ibunya tertawa.

Namun Kasadha masih menjawab, “Jika bibi mau, kuda ini dapat mendukung bibi.”

“Jika aku mau berkuda, kenapa kita tidak berkuda sejak dari rumah?“ sahut bibinya.

Kasadha hanya tersenyum saja, sementara ibunya menjawab, “Kau dapat berkuda ditengah bulak yang sepi. Kemudian kau harus meloncat turun jika bertemu dengan orang-orang yang pergi ke sawah.”

Bibi Kasadha itupun tertawa. Tetapi ia justru berjalan dipaling depan.

Seperti yang dikatakan oleh Kasadha, maka menjelang senja mereka memang telah memasuki lingkungan Tanah Perdikan Sembojan yang sedang bersiap-siap untuk menyambut wisuda bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sebenarnyalah, demikian mereka memasuki wilayah Tanah Perdikan Sembojan, maka kegembiraan itu telah terasa. Regol-regol padukuhanpun sudah mulai dihiasi dengan janur. Bahkan ada yang telah memasang rontek, umbul-umbul dan kelebet beraneka warna untuk menyatakan kegembiraan seisi padukuhan. Di senja hari itu, oncor-oncor telah mulai dipasang sehingga setiap padukuhan terasa kehangatan penghuninya menyambut hari yang besar bagi Tanah Perdikan yang sudah beberapa lama tidak mempunyai seorang Kepala Tanah Perdikan.

Meskipun selama itu Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu mampu menjalankan tugas-tugas yang dipangkunya dengan baik, namun akan hadirnya seorang Kepala Tanah Perdikan yang sebenarnya tentu akan lebih menggembirakan para penghuni Tanah Perdikan itu.

Apalagi Kepala Tanah Perdikan yang akan diwisuda itu adalah seorang yang telah dikenal dengan baik oleh setiap orang, bahwa ia adalah seorang yang memang pantas untuk menduduki jabatan itu. Apalagi orang itu memang seorang pewaris yang sah untuk menerima jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga Warsi mengatur perasaannya, namun masih terasa juga duri-duri tajam yang menyentuh hatinya. Luka-luka yang pernah dibuatnya sendiri, pengakuan atas segala kesalahan serta niat untuk menyongsong hari-hari yang lebih bening memang membuat Warsi lebih tenang dalam kepedih annya. Namun Warsi memang sudah meletakkan segala-galanya dalam kepasrahannya kepada Yang Maha Agung yang dijumpainya menjelang hari-hari tuanya. Seakan-akan Yang Maha Agung itu telah mengulurkan tangannya yang lembut mengusap dinding hatinya yang gersang sehingga menjadi sejuk dingin.

Karena itu, maka Warsi itu telah berjalan dengan tetap menyusuri jalan Tanah Perdikan yang pernah diperebutkannya.

Tetapi seandainya seseorang yang pernah mengenalnya saat-saat ia tinggal di Tanah Perdikan itu, bertemu dengan Warsi saat itu, maka orang itu tentu tidak akan dapat mengenalnya lagi. Dahulu Warsi adalah seorang yang cantik, yang memasuki Tanah Perdikan Sembojan sebagai seorang penari keliling yang mampu merebut hati anak Kepala Tanah Perdikan yang seharusnya dapat mewarisi kedudukan itu, maka kini Warsi adalah seorang tua yang sederhana dalam pakaian seorang petani kebanyakan, berjalan menyusuri jalan-jalan berdebu.

Warsi sendiri memang berusaha untuk melupakan semua itu.

Demikianlah, maka ketika malam mulai turun, ketiga orang itu telah mendekati padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Melebihi padukuhan-padukuhan yang lain, maka padukuhan induk itupun nampak terlalu sibuk. Meskipun pititu gerbang padukuhan telah dihiasi dengan janur kuning, tetapi orang-orang masih sibuk membenahinya. Beberapa rontek dan umbul-umbul masih nampak diperbaiki letaknya, ditambah dipindah. Sementara oncor-pun telah menyala pula dimana-mana.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun ikut menjadi sibuk mengatur hiasan disepanjang jalan padukuhan. Sedangkan Gandar yang sudah berada di Tanah Perdikan itu telah ikut menghiasai rumah Kepala Tanah Perdikan yang akan menjadi tempat wisuda.

Risang sendiri bersama ibu, kakek serta neneknya ikut mengatur segala sesuatunya di halaman rumah itu, terutama pendapa tempat wisuda akan berlangsung.

Dalam pada itu, Kasadha, ibu dan bibinyapun telah sampai keregol padukuhan induk. Orang-orang yang sedang sibuk bekerja telah memberi jalan kepada mereka. Ketiga orang yang lewat itu memang tidak menarik perhatian. Seperti orang-orang lewat yang lain, yang datang dari satu padukuhan pergi ke padukuhan yang lain. Atau orang yang kebetulan menempuh perjalanan jauh, melewati padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang kebetulan juga berada di regol padukuhan induk serta ikut mengatur tarub dipintu gerbang, terkejut melihat ketiga orang itu. Meskipun gelapnya senja menjadi semakin hitam, namun dibawah cahaya oncor diregol maka Sambi Wulung dan Jati Wulung segera mengenali Kasadha yang menuntun kudanya memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

“Kasadha,“ desis Sambi Wulung.

Kasadha tersenyum ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung berada diantara orang-orang yang sedang sibuk itu.

“Ternyata kalian menjadi sangat sibuk,“ desis Kasadha.

“Marilah,“ Sambi Wulung mempersilahkan, “ternyata kau benar-benar datang.”

“Aku datang bersama ibu dan bibiku,“ sahut Kasadha.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk hormat. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “Kami mengucapkan selamat datang kepada Nyai berdua.”

“Terima kasih Ki Sanak,“ jawab ibu Kasadha, “kami memerlukan datang untuk menghadiri wisuda angger Risang.”

“Kedatangan Nyai agaknya memang telah ditunggu oleh Risang dan ibunya.”

Sebuah desir lembut menyentuh dasar jantung ibu Kasadha, bahkan juga Kasadha. Namun Warsi itu masih saja tersenyum sambil menjawab, “Aku mengucapkan terima kasih.”

“Biarlah Jati Wulung mengantar Nyai ke rumah Risang yang juga sedang dipajang,“ berkata Sambi Wulung kemudian.

“Terima kasih Ki Sanak,“ jawab ibu Kasadha.

Jati Wulunglah yang kemudian mengantar Kasadha, ibu dan bibinya menuju kerumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang sedang dihiasi dengan berbagai macam hiasan termasuk janur kuning.

Ketika mereka bertiga mengikuti Jati Wulung memasuki halaman rumah yang sedang dihiasi dengan berbagai macam hiasan itu, tidak banyak mendapat perhatian. Jati Wulunglah yang kemudian naik ke pendapa mendapatkan Risang yang sedang sibuk mengatur orang-orang yang sedang bekerja. Sambil menggamit Risang, Jati Wulung berkata, “Mereka telah datang.”

“Mereka siapa?“ bertanya Risang.

“Angger Kasadha bersama ibu dan bibinya,“ jawab Jati Wulung.

“O, dimana mereka?“ bertanya Risang.

“Mereka masih berada di halaman,“ jawab Jati Wulung.

Dengan tergesa-gesa Risangpun kemudian turun ke halaman. Dengan akrab pula Risang menerima kedatangan Kasadha, ibu dan bibinya.

“Marilah bibi, marilah naik kependapa,“ Risang menipersilahkan, “marilah Kasadha.”

Ketiga orang itu memang termangu-mangu sejenak. Sementara Risang berkata kepada Jati Wulung, “Tolong paman. Berikan kuda itu kepada anak-anak.”

Jati Wulungpun kemudian menerima kuda yang dituntun oleh Kasadha dan menambatkannya di halaman, sementara itu Kasadha bersama ibu dan bibinya telah dibawa oleh Risang naik kependapa yang sedang dihiasi itu.

Orang-orang yang sedang bekerja menghiasi pendapa itu memang menyibak. Tetapi mereka tidak mengenal kedua orang perempuan yang diterima dengan hormat oleh Risang itu.

Seorang yang umurnya telah setengah abad yang ikut menghiasi pendapa itu sempat memperhatikan Warsi. Kepada seorang anak muda yang sibuk disampingnya ia berdesis, “aku pernah melihat perempuan itu.”

“Siapa?“ bertanya anak muda itu.

“Tetapi aku lupa, dimana aku pernah melihatnya atau barangkali hanya mirip saja,“ jawab orang tua itu.

Anak muda yang sibuk disebelahnya itu mengerutkan dahinya. Ia ikut memandangi perempuan yang disebut itu. Tetapi ia sama sekali tidak mengenalinya.

Dalam pada itu, Risangpun telah berlari-lari masuk keruang dalam untuk mencari ibunya. Dengan sedikit gugup ia berkata kepada ibunya, “Ibu, Kasadha telah datang. Ia datang bersama ibu dan bibinya.”

Wajah Nyi Wiradana memang menegang. Bagaimanapun juga luka di jantungnya masih membekas. Untuk beberapa saat ia berdiri membeku.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun sekali lagi ia mempersilahkan ibunya, “Ibu, silahkan ibu menerima kedatangan mereka. Kemudian mereka akan diantar kerumah yang telah disediakan bagi peristirahatan mereka.”

Namun ibunya masih saja merenung. Wajahnya justru tampak menegang. Diluar sadarnya telah terkilas, bagaimana Serigala Betina membawanya ketempat yang sepi justru saat ia mengandung. Kemudian, hampir saja jantungnya ditembus oleh ujung pisau belati yang tajam.

Namun selagi Iswari itu termangu-mangu, maka neneknya, Nyai Soka telah menepuk bahunya sambil berkata lembut, “Jemputlah tamumu dipendapa Iswari. Ia datang atas undanganmu untuk menghadiri wisuda anakmu Risang, yang akan menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Iswari itupun menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin mengendapkan segala macam gejolak didalam hatinya.

Namun bersama neneknya, Iswaripun kemudian telah melangkah kepintu pringgitan untuk selanjutnya keluar dari ruang dalam.

Demikian Iswari turun ke pringgitan dari ruang dalam, maka langkah Iswaripun tertegun. Yang dilihatnya berdiri dipendapa bersama Kasadha adalah seorang perempuan yang nampaknya sudah tua dalam pakaian seorang petani biasa. Jauh sekali dari gambarannya tentang Warsi, seorang perempuan cantik yang pernah merebut suaminya sehingga suaminya sampai hati untuk berusaha membunuhnya justru saat ia mengandung. Perempuan yang memasuki Tanah Perdikan itu sebagai seorang penari keliling yang merias wajahnya dengan agak berlebihan.

Sejenak Iswari berdiri termangu-mangu. Sementara itu, jantung Warsipun rasa-rasanya berdetak semakin cepat.

Namun secara jiwani, ternyata Warsi lebih siap menghadapi pertemuan itu. Karena itu, maka ialah yang melangkah mendekati Iswari dan berhenti dua langkah dihadapannya.

Kasadha dan Risang menjadi berdebar-debar. Bahkan orang-orang yang ada dipendapa itupun menjadi diam. Jati Wulung menahan nafasnya untuk beberapa saat.

Yang tidak diduga ternyata telah terjadi. Juga Kasadha tidak menduga, bahwa tiba-tiba saja ibunya telah berlutut dihadapan Iswari yang berdiri bagaikan membeku.

“Apakah aku masih pantas untuk menginjakkan kakiku dipendapa rumah ini?“ desis Warsi. Ternyata suaranya bergetar sebagaimana getar jantungnya yang semakin cepat.“

Semua orang dipendapa itu sejenak ikut membeku. Iswaripun menjadi bingung sesaat melihat Warsi berjongkok dihadapannya. Apalagi Warsi itupun kemudian berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Aku datang untuk menyatakan segala penyesalan atas tingkah lakuku. Aku datang untuk mohon diampuni.”

Warsi adalah seorang perempuan yang sebelumnya mempunyai hati sekeras batu. Watak yang kasar sebagaimana darah Kalamerta yang mengalir didalam diri dan ilmunya. Namun ketika Warsi berjongkok dihadapan Iswari itu, terdengar perempuan yang garang itu terisak.

Ternyata betapapun tegarnya hati Iswari sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang telah menempa diri dalam kehidupan yang keras dan berat, namun hatinyapun dapat menjadi luluh seperti malam.

Justru karena ia mendengar Warsi yang pernah dihadapinya di perang tanding sampai dua kali itu terisak, maka matanyapun telah menjadi basah.

Iswari itupun kemudian menunduk sambil menarik lengan Warsi. Rasa-rasanya ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kerongkongannya terasa tersumbat.

Warsipun kemudian berdiri sambil menunduk. Tetapi ia benar-benar tidak dapat menahan tangisnya.

Namun Warsi itupun terkejut ketika tiba-tiba saja Iswari itu memeluknya.

Keduanyapun kemudian berpelukan. Tangis mereka adalah tangis yang tulus.

Pendapa itupun sesaat dicengkam oleh keharuan. Nyai Soka yang pernah menyaksikan keduanya bertemu di arena perang tanding menarik nafas dalam-dalam. Permusuhan yang sudah berlangsung berpuluh tahun itupun telah diakhiri.

Demikianlah, maka Nyai Sokalah yang kemudian mengajak mereka untuk masuk keruang dalam. Katanya, “Biarlah orang-orang menyiapkan pendapa ini. Kita akan duduk diruang dalam.”

Beberapa saat kemudian, Kasadha, ibu dan bibinya-pun telah dipersilahkan masuk keruang dalam. Risang, Iswari dan Nyai Sokapun telah menemui mereka. Pertemuan yang mempunyai kesan tersendiri itu kemudian berlangsung dengan akrab. Sisa-sisa permusuhan yang ada telah larut dihanyutkan oleh kebesaran jiwa mereka masing-masing.

Setelah dihidangkan minuman dan makanan, maka Risangpun telah mempersilahkan Kasadha, ibu dan bibinya untuk beristirahat dirumah yang memang telah disediakan.

“Kami mohon maaf, bahwa rumah ini tidak dapat menampung. Semua tamu yang menginap terpaksa kami titipkan dirumah tetangga-tetangga terdekat,“ berkata Risang.

“Kami mengerti,“ jawab Kasadha, “kami sama sekali tidak merasa keberatan.”

Risang sendirilah yang mengantar Kasadha, ibu dan bibinya ke penginapan yang hanya berjarak beberapa patok saja dari rumah itu. Sementara Kasadha menuntun kudanya yang membawa beban pakaian ibu dan bibinya.

Setelah mapan dan diserahkan kepada pemilik rumah itu, Risangpun telah minta diri untuk meneruskan pekerjaannya. Katanya, “Baru besok Ki Rangga Kalokapraja akan datang. Mungkin masih harus ada beberapa perubahan dari persiapan yang kami lakukan sampai hari ini.”

Sepeninggal Risang, maka Kasadhapun telah mempersilahkan ibu dan bibinya beristirahat setelah mandi dan berbenah diri.

“Aku akan pergi kerumah Risang,“ berkata Kasadha kemudian, “mungkin aku dapat membantu kesibukannya.”

“Apakah kau tidak lelah?“ bertanya ibunya.

“Tidak,“ jawab Kasadha, “Minuman hangat telah membuatku segar kembali.”

“Kasadha,“ pesan ibunya dengan nada dalam,“ berbuatlah sebaik-baiknya. Ternyata Iswari adalah seorang perempuan yang berjiwa besar.”

“Ya ibu,“ jawab Kasadha, “sejak aku bertemu dengan ibu Iswari, aku telah merasakan kebesaran jiwanya.”

“Sokurlah jika kau juga menangkapnya dengan penglihatan mata hatimu. Bersokurlah kau bahwa kita masih sempat menghirup udara Tanah Perdikan ini dengan leluasa seperti ini,“ desis ibunya.

Demikianlah, maka Kasadhapun telah meninggalkan ibu dan bibinya, kembali kerumah Risang untuk ikut membantu kesibukannya. Setidak-tidaknya ia ikut melihat apa yang sedang dilakukan di pendapa rumah itu.

Tengah malam baru pekerjaan itu selesai. Kasadha ikut bersama dengan orang-orang yang sibuk bekerja di pendapa itu makan malam sebelum orang-orang itu pulang.

“Besok pagi kami mengharap kalian datang lagi,“ berkata Risang, “mungkin masih ada yang harus dibenahi setelah Ki Rangga Kalokapraja datang.”

Sementara itu Kasadha masih tinggal beberapa saat di pendapa yang sedang dihias itu. Ia masih sempat berbincang dengan Risang dan ibunya. Namun Risangpun kemudian mempersilahkan Kasadha untuk beristirahat, karena Risang sendiri juga akan beristirahat.

Namun dalam pada itu, Nyai Soka masih sempat berkata kepada Iswari dan Risang, “Ternyata Warsi seorang perempuan yang berjiwa besar. Bagaimanapun juga ia telah datang memenuhi undangan kalian. Sekaligus mengakui segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Dengan demikian aku yakin, bahwa sikapnya jujur. Ia tidak sekedar berpura-pura.”

“Nampaknya memang demikian, nek,“ jawab Iswari, “karena itu, maka akupun menerimanya dengan terbuka.”

“Aku memang kagum atas kebesaran jiwa kalian. Juga kebesaran jiwa Warsi. Mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak akan pernah terjadi persoalan lagi diantara kalian dan Warsi.”

Iswari tidak menjawab. Bahkan wajahnya nampak menunduk.

Demikianlah, maka Nyai Sokapun telah pergi ke biliknya. Sementara Kiai Soka dan Kiai Badra masih mempunyai kesibukan tersendiri. Mereka bukan saja mengamati orang-orang yang bekerja di pendapa, tetapi mereka telah melihat-lihat rumah yang dipersiapkan untuk menjadi penginapan para pemimpin yang akan datang dari Pajang serta para tamu yang lain.

Dipagi hari berikutnya, padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan nampak semakin hidup. Orang-orang yang lewat di tlatah Tanah Perdikan itupun ikut mengagumi kemeriahan yang nampak di seluruh lingkungan Tanah Perdikan Sembojan.

Pada hari itu, sebagaimana dijanjikan oleh para Demang, maka kebutuhan bahan-bahan untuk menjamu para tamu telah berdatangan seakan-akan mengalir dengan sendirinya.

Dalam pada itu, ibu Risang tidak hanya sibuk menyiapkan wisuda anaknya dengan segala macam kelengkapannya, tetapi sebagai seorang perempuan, maka Iswaripun telah ikut sibuk pula didapur. Ia masih harus mengatur apa saja yang harus dipersiapkan oleh perempuan-perempuan yang berdatangan ikut membantu menyiapkan hidangan bagi mereka yang bekerja mempersiapkan dan menghiasi tempat wisuda serta memajang seluruh padukuhan induk.

Sementara itu beberapa orang perempuan secara khusus telah ditunjuk untuk menyiapkan hidangan bagi para tamu yang pada hari itu akan berdatangan. Bahkan Ki Rangga Kalokaprajapun akan datang juga hari itu.

Warsi dan sepupunya tidak tinggal diam dirumah yang disediakan bagi mereka. Tetapi merekapun telah ikut pula membantu perempuan yang sibuk bekerja didapur sebagaimana kebiasaan perempuan.

Beberapa orang memang mempertanyakan, siapakah kedua orang perempuan itu. Mereka saling berbisik dan saling bertanya. Namun sebagian besar mereka tidak mengetahuinya.

“Tentu seorang perempuan cantik semasa mudanya,“ desis seorang perempuan sebaya dengan ibu Kasadha itu.

Namun akhirnya, tersebarlah kenyataan tentang perempuan itu. Merekapun saling membicarakannya. Perempuan itu adalah Warsi. Isteri muda Ki Wiradana.

Namun kesannyapun sudah jauh berbeda. Perempuan yang mereka lihat ikut membantu bekerja didapur itu sebagai seorang perempuan yang ramah dan lembut. Sama sekali tidak menunjukkan kekasaran dan apalagi kegarangannya dimasa mudanya.

Perempuan-perempuan yang membantu bekerja didapur itupun sempat mengusap dada, bahwa hubungan perempuan itu dengan Iswari nampak akrab dan baik.

Bahkan orang-orang itupun mulai berbicara tentang anak laki-laki Nyi Wiradana yang muda itu.

“Namanya Puguh. Tetapi ia kini dipanggil Kasadha. Seorang prajurit yang nampaknya berhasil. Masih muda ia telah menjadi Lurah Prajurit,“ berkata seseorang yang merasa dirinya paling tahu.

Sedangkan perempuan yang lain yang tidak mau kalah menyahut, “Tetapi wataknya tidak seperti ibunya. Ia seorang anak muda yang baik.”

Namun yang lain lagi menambahkannya dengan berbisik, seakan-akan ia telah mengatakan satu rahasia yang tidak boleh didengar orang lain, “Tetapi ibunya juga sudah berubah sama sekali. Ia sekarang menjadi perempuan yang baik.”

Perempuan-perempuan yang berbincang itu hampir bersamaan telah berpaling kepada Warsi. Namun cepat-cepat mereka menghindarkan pandangan matanya ketika Warsi tiba-tiba saja berpaling meskipun ia tidak sadar, bahwa beberapa orang telah berbincang tentang dirinya.

Tetapi seandainya hal itu didengar oleh Warsi sekalipun, perempuan itu tidak akan marah. Tidak pula akan menanggapi. Ia menganggap bahwa hal seperti itu adalah wajar. Perempuan-perempuan yang berkumpul didapur itu akan membicarakannya. Tetapi ia sudah benar-benar mempersiapkan diri untuk tetap tabah.

Orang-orang yang membicarakannyapun telah berbicara pula tentang hubungan yang akrab antara Iswari dan Warsi, seakan-akan diantara mereka tidak pernah terjadi sesuatu.

Menjelang tengah hari, maka orang-orang Tanah Perdikan itu menjadi sibuk. Ki Rangga Kalokapraja dengan beberapa orang pejabat yang lain telah datang. Mereka adalah orang-orang yang mendapat tugas untuk mempersiapkan semua kelengkapan agar wisuda dapat berlangsung dengan lancar.

Nyi Wiradana dan Risang telah menyambut langsung kedatangan Ki Rangga Kalokapraja. Setelah mengucapkan selamat datang, maka para tamu itupun dipersilahkan untuk naik kependapa yang telah siap dipajang.

Demikianlah, setelah para tamu telah beristirahat sejenak, hidanganpun mulai disuguhkan. Bukan sekedar minum. Tetapi juga dihidangkan makan siang.

“Nanti setelah makan sajalah Ki Rangga melihat-lihat persiapan yang telah kami lakukan,“ berkata Iswari mempersilahkan tamunya untuk makan.

Ternyata para tamu itu tidak menolak. Merekapun kemudian setelah makan diantar oleh Risang dan Kasadha, sementara Iswari masih sibuk bersiap-siap diruang dalam. Ia menjadi sangat sibuk justru karena ia berperan ganda. Selain Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan menyerahkan jabatannya kepada Risang yang akan diwisuda, iapun harus mempersiapkan hidangan dan mengatur persiapan di rumah-rumah yang akan dipergunakan sebagai penginapan.

Namun ketika kemudian Ki Rangga Kalokapraja mengamati segala persiapan yang telah dikerjakan, maka dengan puas ia berkata, “Ternyata semuanya telah tertata dengan tertib. Aku tidak perlu mengadakan perubahan-perubahan apapun juga. Aku hanya akan membimbing Risang dan Nyi Wiradana untuk menjalani upacara besok. Sementara itu pendapa rumah inipun telah memenuhi persyaratan untuk melakukan wisuda.”

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang telah bekerja keras itupun merasa puas pula bahwa jerih payah mereka ternyata memenuhi keinginan Ki Rangga Kalokapraja.

Demikianlah, maka seisi Tanah Perdikan itu tinggal menanti. Besok sekitar tengah hari, para utusan dari Pajang akan datang. Sementara itu Ki Rangga Kalokapraja-pun telah melihat rumah yang akan menjadi penginapan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya yang atas nama Kangjeng Adipati Pajang akan mewisuda Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan menggantikan kakeknya yang telah terbunuh. Ki Wiradana yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya ternyata juga telah terbunuh, sehingga kemudian cucunya, Risang akan menggantikan kedudukan kakeknya itu setelah untuk waktu yang terhitung lama, Tanah Perdikan Sembojan tidak mempunyai seorang Kepala Tanah Perdikan. Yang ada hanyalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang dipegang oleh isteri Ki Wiradana yang terbunuh itu.

Ternyata tempat yang disediakan bagi Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dan beberapa orang pengiringnya menurut Ki Rangga Kalokapraja cukup memadai. Sehingga dengan demikian maka segala sesuatunya telah dianggap mencukupi.

Karena itu, maka setelah mengamati segala persiapan, maka Ki Rangga Kalokaprajapun telah dipersilahkan untuk beristirahat pula ditempat yang telah disediakan. Sebuah rumah disamping rumah yang akan dipergunakan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Namun dalam pada itu, meskipun segala persiapan sudah dianggap memadai, namun Risang masih saja gelisah. Ia belum melihat Ki Rangga Dipayuda datang. Sebenarnya ia tidak terlalu mengharap Ki Rangga Dipayuda itu sendiri. Tetapi bersama Ki Rangga Dipayuda itu akan datang pula Riris. Gadis itu benar-benar diharapkan dapat datang menghadiri wisuda yang akan dilangsungkan esok malam.

Tetapi Risang tidak mengatakan kepada siapapun juga. Bahkan tidak pula kepada Kasadha meskipun keduanya seakan-akan tidak pernah berpisah selama Kasadha berada di Tanah Perdikan.

Ternyata bahwa pada hari itu, Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya masih belum datang di Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka rasa-rasanya bagi Risang masih ada yang kurang meskipun Ki Rangga Kalokapraja telah merasa puas dengan segala macam persiapan.

Ketika menjelang malam, Ki Rangga Kalokapraja dan beberapa orang duduk-duduk di pendapa yang telah dihias rapi. Risang, ibunya dan Kasadha menemui mereka untuk mendengarkan beberapa petunjuk tentang upacara wisuda yang akan dilakukan esok lewat senja sebagaimana direncanakan.

Risang dan ibunya mendengarkan petunjuk itu dengan bersungguh-sungguh. Beberapa orang bebahu telah mendapat tugasnya masing-masing. Demikian pula telah diberitahukan tentang beberapa orang pejabat yang akan menyertai Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dalam upacara itu.

“Jika di Tanah Perdikan ini ada pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka pertanda itu akan dapat dikenakannya esok dalam upacara itu,“ berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Ada Ki Rangga,“ jawab ibu Kasadha, “sebuah kalung dengan sebuah bandulnya. Barangkali Risang pernah mengatakannya kepada Ki Rangga.”

“Ya. Tetapi itu tidak mutlak harus ada besok. Pertanda itu hanya untuk mengukuhkan saja. Karena pertanda seperti itu kadang justru menjadi hambatan. Jika pertanda itu hilang atau rusak, maka persoalannya akan berkepanjangan. Bahkan pertanda itu akan dapat diperebutkan, seolah-olah siapa yang memiliki pertanda itu adalah orang yang berhak menjadi Kepala Tanah Perdikan tanpa diperhitungkan cara pemilikannya. Meskipun seseorang mempunyai pertanda itu, tetapi hasil dari perampokan misalnya, maka sudah tentu bahwa orang itu tidak akan dapat ditetapkan menjadi Kepala Tanah Perdikan. Bahkan orang itu harus ditangkap dan dihukum, karena hak atas jabatan Kepala Tanah Perdikan tidak tergantung pada pertanda itu,“ berkata Ki Rangga Kalokapraja. Lalu katanya kemudian, “Tetapi jika seseorang yang memang berhak berdasarkan atas penelitian atas dasar keturunan memiliki pertanda itu, tentu akan lebih baik.”

Risang dan ibunya mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata selanjutnya, “Jika pertanda itu ada, maka sebaiknya besok disiapkan saja. Dalam upacara itu biarlah Ki Tumenggung Wreda Wirajaya akan mengalungkan pertanda itu. Tetapi harus disiapkan pula seseorang yang akan membawa pertanda itu diatas sebuah nampan yang pada saatnya dibawa naik kependapa. Besok aku akan berbicara dengan Ki Tumenggung agar acara itu dapat berlangsung dengan lancar.”

Risang dan ibunya masih saja mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata pula, “Urut-urutan waktunya baru akan kami susun setelah besok Ki Tumenggung Wreda itu datang. Secepatnya urut-urutan upacara itu akan kami serahkan kepada Nyi Wiradana.”

“Terima kasih Ki Rangga,“ jawab Iswari, “kami hanya dapat menunggu perintah Ki Rangga karena kami memang belum pernah mengalami sebelumnya.”

“Tidak ada yang rumit. Semuanya akan berlangsung dengan wajar saja,“ jawab Ki Rangga Kalokapraja.

Demikianlah, setelah hal-hal yang penting disampaikan oleh Ki Rangga Kalokapraja, maka pembicaraan selanjutnya adalah sekedar pengisi waktu menjelang makan malam yang kemudian disuguhkan kepada mereka yang berada di pendapa itu.

Namun ternyata Risang masih saja merasa gelisah. Apalagi ketika malam menjadi semakin kelam. Ki Rangga Dipayuda masih belum tampak hadir di Tanah Perdikan.

“Mudah-mudahan besok Ki Rangga datang,“ berkata Risang didalam hatinya.

Dengan demikian maka malam itu ternyata harus dilalui oleh Risang dengan hati yang gelisah. Berbeda dengan para pemimpin di Tanah Perdikan itu yang lain serta Ki Rangga Kalokapraja yang merasa bahwa tugas-tugasnya telah selesai. Bahkan Kasadha yang tidak mengerti kegelisahan dihati Risangpun setiap kali menyatakan bahwa Risang seharusnya beristirahat secukupnya.

“Besok, kau akan menjadi pusat segala kegiatan ini Risang,“ berkata Kasadha, “sekarang, beristirahatlah.”

Risang memang mengangguk. Tetapi ia tidak segera masuk kedalam biliknya. Bahkan ia telah mempersilahkan Kasadha untuk beristirahat.

“Rasa-rasanya aku harus menunggui semua yang telah dipersiapkan dengan baik ini Kasadha. Beristirahatlah. Sebentar lagi, akupun akan beristirahat. Aku akan menemui Gandar, paman Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka ganti mengawasi segala-galanya yang telah dipersiapkan ini.”

Kasadha memang menganggap bahwa perasaan gelisah pada Risang itu wajar. Bagaimanapun juga besok ia akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan.

Karena itu, ketika malam menjadi semakin larut, Kasadha telah minta diri untuk kembali ketempat yang disediakan baginya dan bagi ibu serta bibinya yang juga sudah kembali lebih dahulu, setelah pekerjaan didapur berkurang, meskipun masih ada perempuan yang sibuk untuk mempersiapkan makan di keesokan harinya bagi mereka yang masih akan sibuk membersihkan halaman dan tempat-tempat yang akan dipergunakan upacara. Juga tempat-tempat yang akan dipergunakan oleh para tamu.

Ketika tengah malam telah lewat, maka Padukuhan Induk itu mulai lelap didalam tidurnya. Meskipun didapur rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu masih nampak sibuk, namun dihalaman, di jalan-jalan dan dirumah-rumah penghuni padukuhan induk itu sudah nampak sepi.

Iswari yang masih ikut sibuk didapur, tidak melihat anaknya melangkah keluar dari halaman rumahnya berjalan menyusuri jalan padukuhan induk. Diluar kehendaknya, maka Risang telah melihat-lihat hiasan disepanjang jalan. Rontek, umbul-umbul dan kelebet yang dipasang berderet dipinggir jalan sampai ke regol padukuhan induk. Kegelisahannya telah membawa Risang menuju kepintu regol padukuhan induk yang telah dipajang rapi.

Namun Risang itu terkejut ketika ia mendengar suara tertawa dihadapannya. Kemudian iapun melihat sinar lampu minyak yang memancar menusuk kegelapan menerangi jalan.

Risang menarik nafas dalam. Ternyata anak-anak muda yang meronda masih berkelakar didalam gardu.

Rasa-rasanya Risang tidak ingin bertemu dan berbicara dengan mereka. Risang memang ingin sendiri malam itu untuk memanjakan kegelisahannya. Justru karena Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya masih belum datang.

Karena itu ia tidak meneruskan langkahnya. Tetapi Risang itupun melangkah kembali ke regol halaman rumahnya yang juga diterangi oleh oncor minyak.

Namun sekali lagi Risang terkejut. Dilihatnya seseorang berjongkok dipinggir jalan. Orang itu belum dilihatnya ketika ia berjalan menuju kegardu diujung jalan padukuhan induk itu.

Ketika Risang menjadi semakin dekat, maka orang itupun bangkit berdiri sehingga Risangpun menjadi lebih berhati-hati.

“Selamat malam anak muda,“ berkata orang itu hampir bergumam, sehingga suaranya tidak begitu terdengar.

“Selamat malam Ki Sanak,“ jawab Risang, “nampaknya Ki Sanak bukan orang padukuhan ini.”

“Memang bukan anak muda,“ jawab orang itu, “aku datang untuk mengucapkan selamat. Bukankah besok kau akan diwisuda? Kau akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang masih muda. Namun dengan demikian Tanah Perdikan ini tentu akan menjadi lebih hidup. Kau tentu mempunyai greget yang lebih tinggi dari seorang perempuan, meskipun aku tahu, ibumu adalah seorang perempuan yang mumpuni. Namun bagaimanapun juga, seorang laki-laki muda seperti kau tentu akaa mempunyai gejolak yang lebih panas. Bukankah begitu?”

“Terima kasih Ki Sanak,“ jawab Risang dengan hati-hati.

“Tetapi sayang bahwa aku tidak mendapat undangan untuk menghadiri wisuda esok malam,“ berkata orang itu kemudian.

“Aku belum pernah mengenal Ki Sanak,“ jawab Risang.

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku mengerti anak muda. Tentu hanya orang-orang terdekat sajalah yang akan menghadiri wisuda itu besok selain para bebahu Tanah Perdikan ini dan para pejabat dari Pajang. Kau tentu tidak akan mengundang para pejabat dari Kadipaten Madiun yang belum kau kenal sebelumnya.”

“Apakah kau salah seorang pejabat dari Kadipaten Madiun?“ bertanya Risang.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ya. Aku memang salah seorang pejabat dari Kadipaten Madiun. Kedatanganku memang dalam kerangka tugasku untuk melihat apa yang terjadi di Tanah Perdikan ini, karena berita tentang wisuda ini sudah sampai kepada kami di Madiun. Tetapi tugasku memang sekedar melihat dan kemudian memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati di Madiun.”

“Apakah ada kepentingan Kangjeng Adipati Madiun?“ bertanya Risang.

Orang itu tertawa. Katanya, “Tanah Perdikan Sembojan yang terletak di pesisir Selatan ini berada dekat dengan Madiun. Maksudku dibandingkan dengan Pajang, maka jarak Tanah Perdikan ini dengan Madiun terhitung dekat pula.”

Risang mengangguk-angguk, sementara orang itu berkata selanjutnya, “Tetapi kami tidak mempunyai maksud apa-apa. Kami hanya ingin tahu saja.”

“Jika demikian, aku persilahkan Ki Sanak singgah.“ berkata Risang kemudian.

“Terima kasih anak muda. Aku memang sedikit segan karena Ki Rangga Kalokapraja telah hadir. Jika aku bertemu dengan Ki Rangga Kalokapraja, maka kami tentu akan berbicara panjang lebar merambat kesoal-soal pribadi yang tidak berkeputusan, karena kami memang sudah lama tidak bertemu,“ orang itu berhenti sebentar. Lalu katanya, “Salamku saja kepadanya.”

“Tetapi siapakah Ki Sanak itu?“ bertanya Risang.

“Sebut saja nama panggilanku masa kecil, Rumpon.”

“Rumpon,“ Risang mengulang.

“Ya. Ki Rangga lebih mengenal nama itu daripada namaku yang sebenarnya,“ jawab orang itu.

“Tetapi siapakah nama Ki Sanak? Bukankah tidak pantas jika aku memanggil Ki Sanak dengan sebutan itu?“ bertanya Risang.

Orang itu tertawa. Katanya, “tidak apa. Panggil saja aku Rumpon. Karena aku jauh lebih tua darimu, kau dapat memanggil aku paman. Paman Rumpon. Sedangkan aku tidak perlu menanyakan namamu, karena aku sudah mengetahuinya.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun sekali lagi ia mempersilahkan, “Marilah paman Rumpon. Duduklah. Kita akan dapat berbicara lebih panjang.”

“Terima kasih. Terima kasih,“ jawab orang itu, “aku sudah mendapat banyak bahan yang dapat aku laporkan kepada Kangjeng Adipati di Madiun. Seperti yang aku katakan, tidak ada maksud apa-apa selain sekedar ingin mengetahui saja. Bahkan Kangjeng Adipati tentu akan mengucapkan selamat kepadamu, ngger. Karena Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk selanjutnya akan dipegang oleh angger Risang yang juga bernama Barata.”

“Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih paman,“ jawab Risang meskipun ia masih agak ragu.

Namun orang yang menyebut dirinya Rumpon itupun kemudian telah minta diri. Katanya, “Aku akan kembali ke Madiun, ngger. Aku tidak mempunyai sanak kadang disini.”

“Aku mempunyai tempat bagi paman untuk menginap,“ Risangpun telah menawarkan bantuan kepada orang itu. Tetapi orang itu menjawab, “Terima kasih. Aku sudah terbiasa melakukan tugas seperti ini. Lewat senja aku sampai disini, dan sebelum dini aku akan berangkat menempuh perjalanan kembali ke Madiun.”

“Satu perjalanan yang berat,“ desis Risang.

“Tidak. Aku hanya menempuh satu perjalanan. Anggerlah yang akan memikul beban yang berat sejak besok. Bukan sekedar melaksanakan tugas. Tetapi angger juga harus merencanakan dan kemudian menilai pelaksanaannya sebelum angger merencanakan kerja selanjutnya. Sementara itu angger harus juga mengawasi selama pelaksanaannya. Tetapi lebih berat dari itu, angger harus mempertanggung jawabkan hasilnya kepada seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan ini.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia menjawab, “Ya. Itulah tugas yang harus aku pikul kemudian setelah hari wisuda.”

“Tetapi kau akan mampu melaksanakannya ngger,“ berkata orang itu kemudian.

Risang tidak menjawab lagi, sementara orang itupun segera minta diri untuk kembali ke Madiun. Namun sebelumnya ia berkata, “Apakah angger belum pernah bertemu dengan seorang diantara kawanku dari Madiun yang pernah datang kemari?”

Risang mencoba untuk mengingat. Ia pernah bertemu dengan seseorang dibawah bukit. Orang yang juga tidak dikenalnya yang menyaksikan, saat ia melepaskan gemuruh dihatinya.

Tetapi orang itu berkata, “Sudahlah. Itu tidak penting. Mungkin pada suatu hari aku akan datang lagi, atau orang lain yang mendapat tugas dari Kangjeng Adipati di Madiun.”

“Kami akan menerima dengan baik,“ berkata Risang kemudian.

“Terima kasih. Bukankah tidak ada buruknya Tanah Perdikan ini memperluas persahabatan?“ bertanya orang itu.

“Ya,“ jawab Risang, “semakin banyak sahabat, tentu akan menjadi semakin baik.”

Demikianlah orang yang menyebut dirinya Rumpon itupun meninggalkan Risang yang termangu-mangu. Dipandanginya orang itu sampai hilang dikegelapan. Meskipun sikap Risang baik terhadap orang itu, tetapi Risang tidak kehilangan kewaspadaan. Orang itu tentu tidak memasuki padukuhan induk lewat regol dikedua ujung jalan di padukuhan induk itu, karena di kedua ujung jalan itu terdapat regol dan gardu para peronda, sehingga para peronda itu tentu akan bertanya kepada orang itu dan membawa orang itu kepadanya. Mungkin orang itu memasuki padukuhan induk lewat lorong-lorong kecil yang tidak diawasi oleh para peronda.

“Apakah maksudnya sebenarnya?“ Risang tidak dapat menyingkirkan pertanyaan itu dari hatinya. Tetapi Risang tidak bermaksud untuk berbuat kasar terhadapnya. Jika terjadi keributan, maka suasana yang tenang menjelang hari wisudanya itu akan terganggu sehingga akan dapat menimbulkan kesan yang kurang baik.

Demikianlah, dengan berbagai macam pertanyaan, Risang memasuki halaman rumahnya. Ia memang berniat untuk berbicara dengan Ki Rangga Kalokapraja esok pagi.

Namun demikian, malam.itu Risang benar-benar menjadi gelisah. Bukan saja karena kehadiran orang yang terasa asing itu, tetapi juga karena Ki Tumenggung Dipayuda masih belum datang.

Namun menjelang pagi, akhirnya Risang sempat juga tidur meskipun hanya beberapa saat.

Ketika matahari terbit, setelah mandi dan berbenah diri, Risang tidak sempat merenung lagi. Ia sudah mulai sibuk lagi bersama Kasadha untuk mengatur penerimaan para tamu yang akan datang di sekitar tengah hari. Gandar, Jati Wulung dan Sambi Wulungpun ikut sibuk pula. Sementara ibu Risang menyiapkan segala kelengkapan termasuk pertanda bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan, nampan dan alasnya yang khusus dibuat dari kain beludru berwarna kuning, maka Bibi telah diserahi untuk mengatur segala sesuatunya di dapur.

Dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan benar-benar telah bersiap.

Ketika kemudian Ki Rangga Kalokapraja dan beberapa orang pengiringnya yang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan berada dipendapa untuk makan pagi, maka Risangpun telah menyampaikan kepadanya tentang pertemuannya dengan seorang yang mengaku pejabat dari Kadipaten Madiun.

“Dari Madiun?“ bertanya Ki Rangga Kalokapraja.

“Ya. Menurut keterangannya dari Madiun,“ jawab Risang.

“Kenapa orang itu tidak mau singgah barang sebentar?“ bertanya Ki Rangga itu pula.

“Aku sudah mempersilahkannya. Tetapi orang itu berkeberatan,“ berkata Risang.

“Apakah ia menyebut namanya?“ bertanya Ki Rangga.

“Ia tidak mau menyebut namanya. Tetapi ia hanya menyebut nama panggilannya. Menurut keterangannya, ia sudah mengenal Ki Rangga Kalokapraja dengan baik,“ jawab Risang. Lalu katanya pula, “Nama panggilannya Rumpon.”

“O, jadi orang itulah yang telah datang,“ sahut Ki Rangga, “Aku telah mengenalnya dengan baik.”

“Orang itu juga mengatakan bahwa ia mengenal Ki Rangga Kalokapraja dengan baik.”

“Tetapi kenapa ia tidak mau singgah?”

“Ia tidak mau mengganggu Ki Rangga. Menurut keterangannya, jika ia singgah juga, maka ia dan Ki Rangga akan berbicara berkepanjangan. Mungkin orang itu menganggap bahwa dengan demikian Ki Rangga tidak akan sempat beristirahat.”

“Orang itu memang aneh sejak mudanya,“ desis Ki Rangga, “ia memang berada di Madiun. Lepas dari persahabatanku dengan orang itu, aku minta kau berhati-hati terhadapnya. Bukan karena Rumpon seorang yang jahat atau seorang yang licik. Sama sekali tidak. Tetapi justru karena ia bekerja untuk kadipaten Madiun,“ Ki Rangga justru termangu-mangu sejenak.

Risang tidak segera bertanya. Ia masih menunggu. Nampaknya ada sesuatu yang akan dikatakan oleh Ki Rangga, namun masih tertahan di bibirnya.

Namun tiba-tiba saja Ki Rangga berkata, “Bukankah Pajang telah mengirimkan beberapa orang utusan ke Madiun untuk sedikit menguak kabut yang kelabu yang menyaput hubungan antara Madiun dan Mataram? Sudah tentu menyangkut Pajang.”

Risang mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata, “Tanah Perdikan ini letaknya memang agak menjorok ke Timur, sehingga jaraknya ke Madiun tidak jauh berbeda dengan jaraknya ke Pajang. Karena itu agaknya yang membuat Madiun menaruh perhatian khusus kepada Tanah Perdikan ini.”

Risang menarik nafas panjang. Iapun mengerti bahwa Ki Tumenggung Jayayuda juga sedang pergi ke Madiun.

“Baiklah Ki Rangga,“ berkata Risang kemudian, “jika kemudian datang lagi para petugas dari Madiun sebagaimana dikatakan oleh Rumpon, maka aku akan berhati-hati.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tetapi kau tidak usah berprasangka buruk terhadap Madiun. Perbedaan pendapat sudah tentu dapat saja terjadi. Jangankan antara dua kekuasaan, sedangkan antara dua orang saudara kandung dalam lingkungan yang sempitpun dapat terjadi.”

Risangpun mengangguk-angguk pula. Sementara Ki Rangga berkata selanjutnya, “Sebenarnya jika aku ingat sebelumnya akan kepentingan Madiun, lebih baik Madiun justru diundang secara resmi. Namun segalanya sudah terlanjur. Seandainya hal itu aku usulkan kepada para pemimpin tertinggi di Pajang, belum tentu mendapat tanggapan yang baik.”

Risang masih saja mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali, karena ia masih belum mempunyai bahan yang cukup untuk ikut menilai Madiun. Namun yang dapat dilakukannya adalah lebih berhati-hati menghadapi para petugas dari Madiun yang mungkin akan datang di Tanah Perdikan itu kemudian sejalan dengan perkembangan hubungan Mataram dan Pajang dengan Madiun.

Namun Ki Ranggapun kemudian berkata, “Baiklah. Kita lupakan saja untuk sementara Rumpon itu. Tetapi sebagai orang, ia ramah dan baik. Jika ia datang dengan cara yang agak asing, barangkali karena ia merasa tidak perlu bertemu dengan terlalu banyak orang yang justru akan dapat menghambat tugasnya.”

“Ya Ki Rangga,“ desis Risang kemudian, “sikapnya memang cukup baik. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.”

Demikianlah, maka pembicaraan merekapun segera bergeser kepada rencana pelaksanaan wisuda yang akan diselenggarakan menjelang malam nanti.

“Tidak ada masalah lagi,“ berkata Ki Rangga Kalokapraja kemudian, “segalanya sudah siap. Termasuk pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.”

Karena itu tugas Ki Rangga kemudian bersama Risang adalah tinggal menunggu kedatangan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dan para pengiringnya.

Untuk mengisi waktunya, maka Ki Rangga Kaloka-prajapun telah diantar oleh Risang dan Kasadha melihat-lihat seisi padukuhan induk yang sudah dirias untuk menyambut hari yang dianggap sangat berarti bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Namun keresahan hati Risang masih saja terasa bergejolak didadanya. Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya ternyata belum datang.

Demikianlah, maka menjelang tengah hari, seorang yang bertugas menunggu kedatangan para tamu dari Pajang telah melihat iring-iringan itu datang. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa iapun telah melaporkannya kepada Risang yang berada di banjar bersama Ki Rangga Kalokapraja dan Kasadha.

Dengan demikian, maka padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itupun menjadi sibuk. Risang, Kasadha dan Ki Rangga Kalokapraja dengan tergesa-gesa telah kembali kerumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Sementara Iswaripun telah menyiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan kedatangan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Namun Ki Rangga Kalokapraja sempat berkata, “Jangan bersikap berlebihan. Ki Tumenggung justru kurang senang mendapat sambutan yang terlalu besar. Ki Tumenggung termasuk orang yang sederhana menurut kedudukannya.”

“Tetapi bukankah Ki Tumenggung datang atas nama Kangjeng Adipati Pajang?“ bertanya Risang.

“Ya. Tetapi demikianlah pribadi Ki Tumenggung,“ jawab Ki Rangga Kalokapraja.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan yang menyambutnya memaklumi. Pribadi seseorang memang berbeda-beda. Bahkan ada seseorang yang justru menginginkan sambutan dan penghormatan yang berlebihan. Namun agaknya tidak bagi Ki Tumenggung. Namun bagaimanapun juga, sulit bagi para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan untuk mengekang rakyatnya yang ingin menyambut kedatangan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya yang datang atas nama Kangjeng Adipati di Pajang.

Karena itulah, maka hampir semua orang di Tanah Perdikan Sembojan, bukan saja yang tinggal di padukuhan induk, tetapi di setiap padukuhan yang dilalui oleh iring-iringan itu, telah keluar dari rumahnya dan berdiri berjajar disepanjang jalan.

Ki Tumenggung memang seorang yang ramah dan rendah hati. Sambil duduk diatas punggung kudanya Ki Tumenggung Wreda telah mengangguk membalas hormat yang diberikan oleh rakyat Tanah Perdikan Sembojan yang menyambut kedatangannya.

Dengan demikian maka perjalanan Ki Tumenggung Wreda itu menjadi lamban. Ia tidak mau mengecewakan orang-orang yang menyambutnya dengan lewat begitu saja. Apalagi dengan kuda yang berlari kencang.

Demikianlah, betapapun juga, sambutan atas kedatangan Ki Tumenggung Wreda itu terasa cukup meriah. Meskipun diusahakan tidak terasa berlebihan, namun terasa bahwa rakyat Tanah Perdikan menaruh hormat kepada pemimpinnya.

Ki Tumenggung Wreda itupun telah diterima oleh Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan di pendapa rumahnya, yang telah dipersiapkan untuk melaksanakan wisuda pada menjelang malam mendatang.

Namun kesan yang timbul atas Ki Tumenggung itu memang terasa sejuk. Wajahnya lembut meskipun pada sorot matanya menunjukkan ketajaman penalarannya.

Hubungannya dengan Ki Rangga Kalokaprajapun nampak akrab. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya itu agaknya memang sengaja didalam kehidupannya sehari-hari tidak mengambil jarak dengan orang-orang disekitarnya meskipun pangkat dan derajatnya lebih rendah daripadanya.

Itulah agaknya yang membuat semua persoalan yang ditanganinya justru melahirkan hasil yang baik. Orang-orang yang mendapat tugas daripadanya tidak merasa takut dan segan untuk membicarakan tugas-tugasnya dengan Ki Tumenggung Wreda. Bahkan yang kedudukannya dibatasi oleh jarak yang agak jauh.

Kesan itulah yang membuat semua persoalan dapat dibicarakan dengan lancar menjelang saat wisuda menjelang malam nanti. Sementara Ki Rangga Kalokapraja yang menjadi jembatan pembicaraanpun dapat membawakannya dengan baik karena ia dapat berbicara dengan akrab pada keduabelah pihak.

Ketika kemudian Ki Rangga Kalokapraja melaporkan semua persiapan yang telah dianggapnya baik serta menawarkan agar Ki Tumenggung menilainya kembali, maka Ki Tumenggung berkata sambil tersenyum, “Jika semuanya sudah dianggap baik oleh Ki Rangga, maka aku-pun menganggapnya baik. Bukankah yang penting dalam upacara ini asal aku tidak lupa membawa mulutku untuk menyampaikan ketetapan wisuda Kepala Tanah Perdikan ini? Sedangkan yang lain-lain adalah sekedar kelengkapan yang tidak mutlak.”

Orang yang hadir dalam penerimaan itu tertawa tertahan mendengar gurau Ki Tumenggung. Namun sikap itu sama sekali tidak mengurangi kewibawaannya. Sikap kebapaan nampak jelas, juga pada kata-kata yang diucapkannya kemudian menanggapi laporan Ki Tumenggung Kalokapraja.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka para petugaspun telah menghidangkan berbagai macam suguhan. Minuman hangat, beberapa jenis makanan dan bahkan kemudian makan siang karena matahari memang telah melewati puncak langit.

Baru kemudian, setelah beristirahat sejenak sambil membicarakan jalannya upacara, maka Ki Tumenggung itupun telah dipersilahkan beristirahat ditempat yang lelah disediakan.

Demikian Ki Tumenggung diantar oleh K i Rangga Kalokapraja, Risang, Kasadha dan beberapa orang yang lain pergi ke tempat peristirahatannya, maka Iswaripun telah menemui kakek dan neneknya diruang dalam.

Kepada mereka Iswari berkata, “Ternyata Ki Tumenggung Wreda Wirajaya tidak sebagaimana aku bayangkan. Ia adalah seorang yang rendah hati, ramah dan gembira dalam usianya yang sudah dipertengahan abad. Tetapi tidak mengurangi kewibawaannya.”

“Sokurlah. Bukankah dengan demikian segala sesuatunya akan dapat berjalan lebih lancar?“ bertanya Kiai Badra.

“Ya kek,“ jawab Iswari, “semua pembicaraan dapat dilakukan dengan terbuka. Tidak ada perasaan segan dan apalagi takut untuk menyatakan satu pendapat.”

“Jika demikian, nampaknya segala sesuatunya akan dapat dilaksanakan dengan baik,“ berkata Kiai Soka kemudian.

Sebenarnyalah bahwa tidak ada masalah lagi yang agaknya dapat mengganggu upacara yang bakal dilakukan menjelang malam. Sehingga dengan demikian maka Iswari menjadi semakin tenang. Sementara itu jalannya upacarapun telah disetujui oleh Ki Tumenggung sehingga segala sesuatunya tinggal melaksanakannya saja.

Ketika Ki Tumenggung Wreda sudah berada ditempat peristirahatannya bersama beberapa orang pengiringnya, maka Ki Rangga Kalokaprajapun telah memperingatkan agar Risang juga beristirahat. Setidak-tidaknya untuk mengendapkan perasaannya menjelang saat wisudanya.

“Aku sudah cukup beristirahat Ki Rangga,“ berkata Risang yang telah mulai diganggu lagi oleh kegelisahannya karena Riris masih belum nampak datang dengan atau tidak dengan Ki Rangga Dipayuda. Namun nampaknya Risangpun ingin menyimpan kegelisahannya itu sendiri. Ia masih belum mengatakannya sama sekali kepada siapapun juga, termasuk kepada Kasadha.

Bahkan kemudian justru Risanglah yang memper-silahkan Kasadha untuk beristirahat barang sejenak.

“Kau sudah terlibat dalam kesibukan yang melelahkan,“ berkata Risang, karena itu beristirahatlah meskipun hanya sebentar. Nanti kau masih akan ikut membantu menerapkan kelangsungan upacara agar dapat berjalan sebagaimana seharusnya.”

“Bukankah selama ini aku tidak berbuat apa-apa? Aku hanya duduk ikut menemui para tamu. Berjalan-jalan mengiringi Ki Rangga Kalokapraja, kemudian menyongsong kedatangan Ki Tumenggung Wreda,“ jawab Kasadha.

“Tetapi bukankah sekarang tidak ada lagi yang harus dilakukan sampai menjelang senja? Baru kemudian setelah mandi dan membenahi diri, maka kita akan kembali naik kependapa untuk mengikuti upacara itu,“ berkata Risang kemudian.

Kasadha tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan beristirahat.”

“Bibi keduanya juga sebaiknya beristirahat,“ berkata Risang kemudian, “justru bibi berdua menjadi sangat sibuk didapur terus-terusan.”

Kasadha tersenyum sambil berkata, “Tetapi baiklah. Aku akan mempersilahkan ibu dan bibi untuk beristirahat. Tetapi biasanya orang-orang yang sedang membantu kesibukan peralatan apapun juga, baru akan berhenti jika pekerjaan itu telah selesai atau sebagian besar selesai.”

“Tetapi didapur bukankah sudah banyak orang vang mengerjakannya?“ desis Risang.

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian perempuan-perempuan didapur itu sebaiknya memang bergilir sehingga tidak semua bersama-sama menjadi letih.”

“Ya. Padahal bukan hanya nanti malam mereka menjadi sangat sibuk. Besok pagipun mereka masih sangat sibuk menyiapkan makan pagi bagi para tamu dari Pajang dan mereka yang bekerja membersihkan tempat upacara dan halaman-halaman rumah yang dipergunakan untuk menginap itu. Apalagi jika mereka baru meninggalkan Tanah Perdikan ini disiang hari,“ sahut Risang.

Dengan demikian maka Kasadhapun telah meninggalkan Risang, kembali ke tempat yang disediakan baginya serta ibu dan bibinya, yang ternyata seperti dugaannya masih berada didapur bersama perempuan-perempuan yang lain.

Namun nampaknya Risang telah minta pada Bibi yang sibuk didapur, agar tenaga yang ada itu dapat dibagi seisuai dengan kebutuhan.

Sementara itu, Risang sendiri sama sekali tidak dapat beristirahat. Perasaannya masih selalu diusik oleh kegelisahannya karena Ki Rangga Dipayuda masih belum datang. Sementara itu segala sesuatu yang berhubungan dengan wisuda itu sudah mulai berlangsung. Ki Tumenggung Wreda Wirajayapun telah datang pula bersama beberapa orang pengiringnya.

Ketika matahari menjadi semakin turun, serta beberapa orang laki-laki mulai menyiram halaman rumah sebelum disapu agar tidak berdebu, maka Risangpun seakan-akan menjadi putus asa. Ia tidak dapat menunjukkan kepada Riris, bagaimana ia telah diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan lesu Risang itupun kemudian masuk keruang dalam langsung kebiliknya. Ia ingin berbaring meskipun hanya sesaat untuk menghilangkan pegal-pegal dipunggungnya. Namun Risang sendiri mengerti, bahwa ia tidak dapat menghilangkan pegal-pegal dihatinya karena ke tidak datangan Riris.

Namun selagi Risang itu seakan-akan menghitung kerangka atap rumahnya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu biliknya sambil berdesis, “Risang. Masih ada tamu yang datang dari Pajang.”

Risang tahu bahwa suara itu adalah suara ibunya. Dengan nada tingi ia bertanya, “Siapa ibu?”

Ternyata Risang tidak menunggu jawaban ibunya. Iapun segera meloncat turun dari pembaringannya dan lari kepintu. Sambil membuka pintu maka iapun berdesis, “Tentu Ki Rangga Dipayuda.”

Risang memang tidak menunggu ibunya. Iapun segera berlari kepintu pringgitan. Demikian ia membuka pintu, maka hatinya yang mengering itu seakan-akan telah disentuh titik-titik air embun. Yang dilihatnya dipendapa adalah Ki Rangga Dipayuda disertai oleh Nyi Rangga, Jangkung dan Riris.

Baru kemudian Risang teringat akan ibunya. Karena itu, maka iapun telah mempersilahkan ibunya untuk menemui Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya itu.

Perasaan seorang ibu ternyata cukup tajam menanggapi sikap anaknya. Ketika Risang memperkenalkan ibunya dengan Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya, maka tatapan matanya telah tertambat sesaat kepada seorang gadis diantara mereka.

Perkenalan merekapun segera menjadi akrab. Risang telah menyebutkan siapakah Ki Rangga Dipayuda, sementara Risangpun telah mengatakan kepada, Ki Rangga bahwa untuk waktu yang cukup lama, ibunyapun yang menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Maaf, kami datang terlambat,“ berkata Ki Rangga Dipayuda kemudian.

“Tidak,“ sahut Risang, “wisuda baru dilakukan nanti malam.”

“Sebenarnya kami ingin datang kemarin,” berkata Ki Rangga, “tetapi aku tidak dapat meninggalkan barak. Ketika Ki Tumenggung Jayayuda datang dari tugasnya, maka ia telah memanggil semua pandega untuk memberikan beberapa penjelasan. Baru kemudian aku diijinkan untuk meninggalkan barak.”

“Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Rangga dan keluarga untuk datang,“ desis Iswari kemudian.

Namun Ki Rangga itupun bertanya, “Bukankah Kasadha sudah berada disini?”

“Ya,“ jawab Risang, “kemarin lusa ia datang setelah senja.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa aku tidak menahan anak itu agar pergi bersamaku. Jika ia pergi bersamaku, maka iapun akan terlambat.”

Demikianlah, setelah dihidangkan minuman, makanan dan bahkan makan, maka Ki Rangga Dipayudapun telah dipersilahkan untuk beristirahat ditempat yang telah disediakan.

Namun sebelum mereka meninggalkan pendapa, dengan ragu Risang bertanya kepada ibunya, “Ibu, apakah ibu telah menunjuk seseorang yang akan membawa nampan berisi pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan?”

Ibunya mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun menjawab, “Segala sesuatunya telah siap Risang. Tetapi aku lupa menunjuk seseorang. Namun itu bukan soal yang terlalu sulit. Aku akan segera menyiapkannya.”

“Ibu,“ tiba-tiba nada suara Risang merendah, “bagaimana jika aku minta tolong Riris untuk melakukannya. Sudah tentu jika Ki Rangga dan Nyi Rangga tidak berkeberatan.”

Ibunya termangu-mangu. Diluar sadarnya ia memandang Riris yang justru menunduk.

Namun ibu Risang itupun tanggap akan perasaan anaknya. Karena itu, maka iapun telah memberanikan diri untuk menyampaikan permintaan kepada Ki Rangga dan Nyi Rangga Dipayuda, “Kami mohon maaf sebelumnya, Ki Rangga. Sebagaimana permintaan anakku, kami mohon perkenan Ki Rangga dan Nyi Rangga, bahwa angger Riris akan kami minta pertolongannya untuk mempersiapkan pertanda bagi seorang Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang nanti akan dikalungkan oleh Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.”

Ki Rangga Dipayuda menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun berpaling kepada Riris, bahkan sambil tersenyum. Katanya, “Bukankah kau tidak berkeberatan Riris?”

Sebelum Riris menjawab, Jangkung berdesis, “Jika kau berkeberatan, biarlah aku saja.”

Namun Ririspun berdesis, “Ah, kau.“

Ki Rangga Dipayudapun kemudian berdesis, “Baiklah Nyi. Agaknya Riris tidak berkeberatan untuk melakukannya.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ibunya telah mempersilahkannya pula untuk beristirahat meskipun waktunya menjadi semakin sempit.

Risanglah yang kemudian mengantar mereka ke tempat yang telah disediakan. Disepanjang jalan yang hanya beberapa puluh patok itu, Ki Rangga sempat bertanya tentang Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

“Ki Tumenggung telah berada disini,” jawab Risang.

Sementara itu Jangkungpun bertanya pula, “Dimana Kasadha sekarang?”

“Ia berada di tempatnya menginap. Baru saja ia meninggalkan pendapa. Sejak kemarin ia membantu mempersiapkan tempat ini.”

“Sayang, aku datang terlalu lambat,“ desis Jangkung.

“Kami merasa bersukur bahwa Ki Rangga sekeluarga akhirnya sempat datang,“ desis Risang.

Demikianlah, setelah Ki Rangga dan keluarganya berada ditempat yang telah disediakan, maka Risangpun meninggalkan mereka untuk mempersiapkan diri. Sementara itu matahari telah menjadi semakin rendah. Namun hati Risang tidak lagi terasa gelisah. Bahkan ia merasa beruntung, bahwa Riris telah bersedia untuk membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan dalam upacara yang akan diselenggarakan nanti.

Waktupun merambat setapak demi setapak. Menjelang senja, maka lampu-lampupun telah dinyalakan, lebih cepat dari biasanya. Bahkan oncor diregolpun telah menyala. Bukan saja di regol halaman rumah yang akan dipakai untuk wisuda, tetapi diregol-regol halaman rumah yang lain. Bahkan dipintu gerbang padukuhan induk. Sehingga ketika gelap mulai turun, maka justru jalan-jalan menjadi terang benderang. Demikian pula halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sejenak kemudian, maka para tamupun mulai berdatangan. Pendapapun mulai terisi. Sementara beberapa orang perempuan yang menjadi tamu khusus dipersilahkan duduk diruang dalam. Demikian pula Nyi Rangga Dipayuda yang ditemui oleh Nyai Soka, beberapa orang isteri bebahu yang ditunjuk oleh Iswari. Namun lernyala ibu Kasadha tidak bersedia duduk bersama mereka, ia dan bibi Kasadha lebih senang berada di dapur menenggelamkan diri dalam kesibukan.

“Bukankah dengan demikian aku tidak sempat merenungi diriku sendiri,“ berkata ibu Kasadha itu kepada sepupunya.

Diruang dalam itu pula Riris dipersiapkan, ia mengenakan pakaian yang paling baik yang dibawanya. Disebelahnya telah disiapkan sebuah nampan yang dialasi dengan beludru berwarna kuning keemasan. Diatasnya terletak sebuah kalung yang lebih besar dari kalung kebanyakan. Terbuat dari emas dengan bandul dari emas pula dan bertatahkan lukisan kepala seekor burung yang garang.

Risang sendiri duduk didepan pintu pringgitan bersama ibunya dan kedua orang kakeknya, Kiai Soka dan Kiai Badra. Disebelahnya yang lain, duduk Ki Rangga Kalokapraja yang telah hadir pula.

Kasadha terkejut ketika ia melihat Ki Rangga Dipayuda dan Jangkung telah ada diantara para tamu. Iapun segera beringsut dan duduk disebelahnya.

Ki Ranggapun beringsut pula. Sambil tersenyum ia berkata, “Aku datang terlambat. Ki Tumenggung Jayayuda yang datang dari Madiun telah memanggil para Pandega untuk berbincang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara Jangkung berkata, “Kau sempat membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Aku tidak.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Tetapi bukankah karena Ki Rangga sedang dalam tugas yang penting.”

“Sebenarnya aku dapat berangkat lebih dahulu,“ desis Jangkung yang nampak kecewa atas kelambatannya.

Tetapi Kasadha menjawab, “Kau tidak usah menyesali dirimu sendiri. Semuanya sudah terjadi. Bukankah kau juga datang tidak terlambat?”

“Ya. Aku memang tidak terlambat,“ desis Jangkung.

“Apakah kau sudah bertemu dengan Risang?“ bertanya Kasadha dengan nada rendah.

“Risang?“ bertanya Jangkung.

“Maksudku Barata,“ jawab Kasadha.

“Sudah. Ketika kami datang, kami sudah ditemuinya. Ibunya memang memanggilnya Risang. Agaknya disini ia lebih dikenal dengan nama itu daripada Barata,“ berkata Jangkung kemudian.

“Kau hanya berdua saja?“ bertanya Kasadha, “apakah Nyi Rangga tidak jadi berangkat?”

“Aku datang bersama ibu dan Riris,“ jawab Jangkung.

Jantung Kasadha berdesir lembut. Jika demikian ibu Jangkung tentu ada didalam bersama Riris. Mungkin mereka duduk bersama ibu dan bibinya. Namun Kasadha tidak tahu, dimana ibu dan bibinya duduk. Ketika ia berangkat dari tempat yang disediakan baginya, ibu dan bibinya sudah mendahuluinya.

“Tetapi agaknya ibu dan bibi lebih senang berada di dapur,“ berkata Kasadha didalam hatinya.

Demikianlah, sejenak kemudian, ketika malam menjadi gelap, Ki Tumenggung Wreda Wirajaya telah datang pula bersama beberapa orang pengiringnya. Para tamupun beringsut dan menempatkan diri, sementara Ki Tumenggung Wreda Wirajayapun dipersilahkan untuk duduk di muka pintu pringgitan yang tertutup.

Suasana pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu memang menjadi ceria. Wajah Risangpun nampak cerah dibawah cahaya lampu minyak yang kekuning-kuningan. Demikian pula Iswari yang nampak lebih muda dari umurnya yang sebenarnya.

Setelah Ki Tumenggung Wreda Wirajaya duduk sejenak, maka Ki Rangga Kalokapraja yang mengantar upacara wisuda itupun mulai membuka pertemuan.

Para tamu mendengarkannya dengan bersungguh-sungguh. Kata demi kata yang diucapkan oleh Ki Rangga Kalokapraja.

Kasadhapun mendengarkan penjelasan Ki Rangga tentang upacara wisuda itu. Sedikit uraian tentang riwayat Tanah Perdikan itu, serta Surat Kekancingan yang menetapkan Tanah Perdikan Sembojan sebagai Tanah Perdikan yang sah.

Kasadha menjadi berdebar-debar ketika disebut oleh Ki Rangga Kalokapraja bahwa Ki Wiradana, yang tidak sempat diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan, meninggal dengan meninggalkan dua orang anak laki-laki.

Namun Ki Rangga ternyata tidak menyebutkan nama kedua orang anak laki-laki itu. Yang dikatakannya kemudian adalah, “Yang sekarang akan diwisuda adalah anak tertua dari Ki Wiradana itu. Risang.”

Demikianlah, maka upacara wisuda itupun segera dimulai. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya telah minta salah seorang pembantunya untuk membacakan Surat Kekancingan penetapan Risang, anak laki-laki tertua Ki Wiradana untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Ki Tumenggung itupun kemudian telah mengucapkan sesorahnya berkenaan dengan Surat Kekancingan itu. Kemudian sesorahnya diakhirinya dengan mempersilahkan Risang untuk maju dan duduk dihadapannya bersama ibunya, yang selama itu menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang kosong.

“Atas nama Kangjeng Adipati yang memerintah di Pajang, maka Risang, anak laki-laki tertua Ki Wiradana, tanpa mengkesampingkan hak atas anak yang termuda, dibawah perlindungan Yang Maha Agung terhadap segala marabahaya, ditetapkan menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan dengan segala wewenangnya, haknya dan kewajibannya.”

Susana di pendapa itupun terasa hening. Seakan-akan anginpun telah berhenti berhembus. Dedaunan menjadi diam tanpa terusik seakan-akan ikut mendengarkan sesorah yang diakhiri dengan wisuda atas Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Demikian sesorah itu selesai, maka Ki Rangga Kalokaprajapun mempersilahkan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya mengenakan sebuah kalung pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Suasanapun menjadi semakin hening. Pintu pringgitan dibelakang tempat duduk Ki Tumenggung itu terbuka dari dalam. Kemudian muncul seorang gadis yang berjalan sambil berjongkok membawa sebuah nampan yang beralaskan kain’beludru berwarna kuning keemasan. Gadis itu adalah Riris.

Semua orang memandang dengan kagum. Gadis yang dirias dan berpakaian serasi dengan warna kulitnya itu, nampak sangat cantik. Cahaya lampu minyak membuat kulit gadis itu menjadi kuning langsat. Matanya yang icdup sedikit menunduk membuatnya nampak agung dalam bayangan warna kuning keemasan dari alas nampan yang dibawanya.

Didalam nampan itu terletak pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, jantung Kasadha yang duduk didekat Ki Rangga Dipayuda dan Jangkung itu telah terguncang. Ia sudah tahu kalau Riris ada didalam sebagaimana dikatakan oleh Ki Rangga dan Jangkung. Namun ia lidak mengira bahwa Riris akan ikut melayani Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dalam rangkaian upacara itu. Justru membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Apalagi malam itu Riris yang berhias dan berpakaian sangat serasi itu nampak sangat cantik.

Dada Kasadha bergelora melihat Riris duduk mendekat Risang yang sedang diwisuda itu. Kemudian Ki Tumenggung Wreda bergeser dari tempatnya mengambil kalung emas pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan di nampan yang dibawa oleh Riris, dan mengalungkannya dileher Risang.

Rasa-rasanya dada Kasadha akan meledak. Keringat dingin telah mengalir diseluruh tubuhnya, sehingga bajunya menjadi basah. Di keningnya keringat itu mengalir menitik satu-satu.

Tetapi betapa hatinya bergejolak, namun Kasadha masih tetap bertahan duduk ditempatnya. Meskipun tikar tempat ia duduk itu bagaikan menjadi bara, Kasadha tetap tidak beringsut. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap mengendalikan penalarannya. Apalagi saat itu adalah salah satu peristiwa puncak dalam perjalanan hidup Risang dan kehidupan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun untuk selanjutnya wisuda itu sendiri sudah tidak lagi menjadi perhatiannya, justru karena ia harus mengerahkan ketahanan jiwanya untuk mengatasi gejolak yang mengguncang-guncang jantungnya. Sementara itu, upacara itupun masih berlangsung. Tetapi setelah upacara pengalungan pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan itu, rasa-rasanya memang tidak ada lagi hal-hal yang penting. Sedikit sesorah Nyi Wiradana sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian ucapan kesediaan dan janji Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan yang sudah ditetapkan.

Dengan demikian upacara itu sendiri telah selesai. Yang tinggal kemudian adalah acara makan bersama.

Satu-satu suguhan telah dihidangkan. Sementara itu Kasadha masih saja harus selalu mengusap keringat dinginnya. Sekali-sekali terdengar ia berdesah, seakan-akan ingin melepaskan himpitan pada perasannya.

Dengan tidak sengaja Jangkung melihat keadaan Kasadha. Beberapa kali Kasadha mengusap keringat dikeningnya. Bahkan bajunya mulai nampak menjadi basah. Bagaimanapun juga Kasadha berusaha, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan seluruh kegelisahannya, sehingga Jangkungpun bertanya, “Kenapa kau Kasadha? Apa kau sakit?”

Kasadha terkejut mendapat pertanyaan itu. Dengan serta-merta iapun menjawab, “Tidak. Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi kau nampak gelisah sekali. Keringatmu mengembun dikening dan lihat, bajumu menjadi basah,“ berkata Jangkung pula hampir berbisik.

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Sudah terbiasa bagiku keringat mengalir seperti diperas dari tubuh,“ jawab Kasadha perlahan. Lalu katanya pula, “Minuman hangat membuat peluhku semakin banyak. Tetapi itu tidak apa-apa.”

Jangkung mengangguk kecil. Tetapi iapun merasa bahwa keringatnya juga mengalir. Tetapi tidak sebanyak keringat ditubuh Kasadha.

Acara makan bersama itupun berlangsung tidak terlalu lama. Ketika acara itu selesai, maka Ki Tumenggung Wreda Wirajayapun merasa bahwa pertemuan itu sudah Cukup. Tugasnya telah diselesaikannya dengan baik. Karena itu, maka Ki Tumenggungpun akan segera meninggalkan tempat upacara kembali ketempat yang disediakan baginya.

Kesempatan itu sekaligus dipergunakan oleh Ki umenggung untuk minta diri. Katanya, “Sayang, aku besok harus kembali ke Pajang, sehingga aku tidak sempat melihat acara-acara keramaian yang akan diselenggarakan mulai besok di Tanah Perdikan ini. Karena itu, maka biarlah aku mengucapkan selamat atas kegembiraan rakyat Tanah Perdikan ini menyambut kehadiran Kepala Tanah Perdikan ini. Besok aku minta diri.”

Beberapa orangpun kemudian mengiringi Ki Tumenggung meninggalkan pendapa rumah Risang. Tetapi Tumenggung justru mencegah Risang yang akan mengiringinya pula. Katanya, “Kau menjadi pusat segala kesibukan sekarang. Biarlah kau tidak usah meninggalkan pendapa ini.”

Risang memang menjadi agak bimbang. Namun kemudian Ki Rangga Dipayudalah yang berbisik kepadanya, “Biarlah aku mewakilimu.”

“Terima kasih Ki Rangga,“ jawab Risang. Namun ternyata Kasadha juga berbisik, “Aku juga dapat ikut mengantar Ki Tumenggung. Barangkali aku juga dapat mewakilimu.”

“Terima kasih,“ desis Risang itu pula tanpa mengerti gejolak perasaan Kasadha.

Kasadha memang ingin sedikit melepas himpitan perasaannya. Dengan meninggalkan pendapa itu, maka dadanya memang terasa agak lapang. Ia sempat meng hirup udara malam yang segar sepanjang langkahnya dalam iring-iringan mengantar Ki Tumenggung Wreda sampai ketempat yang dipersiapkan baginya.

Oleh Ki Rangga Kalokapraja dan Ki Rangga Dipayuda yang memang sudah mengenal Ki Tumenggung dengan baik, Kasadhapun telah diperkenalkan kepada Ki Tumenggung.

“Kau masih begitu muda sudah diangkat menjadi Lurah prajurit?“ bertanya Ki Tumenggung.

“Satu anugerah Ki Tumenggung,“ jawab Kasadha sambil mengangguk hormat.

“Bagus. Mudah-mudahan kau akan segera mendapat kesempatan yang lebih baik,“ berkata Ki Tumenggung sambil tersenyum. Namun kemudian ia menjawab, “Siapakah pimpinan kesatuanmu?”

“Ki Tumenggung Jayayuda,“ jawab Kasadha.

“O,“ Ki Tumenggung Wreda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Seorang Tumenggung yang baik.”

“Kemudian dibawah Pandega Ki Rangga Dipayuda,“ berkata Kasadha kemudian.

“O,“ Ki Tumenggung Wreda mengangguk-angguk pula, “juga seorang Pandega yang baik. Sayang, umurnya sudah mengejarnya terus, sehingga kesempatannya menjadi terbatas.”

Orang-orang yang mendengar gurau Ki Tumenggung Wreda itu tertawa. Ki Rangga Dipayuda sendiri berkata sambil tertawa, “Siapa tahu bahwa pada suatu saat aku akan menajdi muda kembali. Sehingga aku akan mendapat kesempatan lagi.”

“Kesempatan apa?“ berkata Ki Tumenggung Wreda.

Sekali lagi orang-orang yang masih berkerumun disekitar Ki Tumenggung Wreda itu tertawa. Namun Ki Tumenggung itupun kemudian berkata, “Sudahlah. Aku akan beristirahat. Besok pagi-pagi aku akan kembali ke Pajang. Sebagaimana kalian ketahui, Pajang masih saja diselubungi kabut. Apalagi sekarang Kangjeng Adipati sedang sakit.”

“O, jadi Kangjeng Adipati sedang sakit?” justru Ki Rangga Kalokapraja yang bertanya.

“Ya. Hanya orang-orang terbatas yang mengetahui. Namun sekarang hal itu memang tidak perlu dirahasiakan lagi,“ jawab Ki Tumenggung, “mudah-mudahan dalam satu dua hari ini Kangjeng Adipati akan segera sembuh.”

Demikianlah, ketika Ki Tumenggung Wreda itu masuk keruang dalam rumah yang diperuntukkan baginya sebagai penginapan, maka Ki Rangga Dipayuda, Kasadha dan beberapa orang lagi telah kembali kerumah Risang.

Tetapi demikian mereka sampai keregol halaman rumah Risang, maka Kasadha telah menjadi gelisah lagi. Sekali lagi ia harus bertahan, agar jantungnya tidak meledak, sehingga dapat menimbulkan suasana yang tidak pantas.

Tetapi Kasadha justru menjadi sedikit lega, justru karena pendapa itu sudah menjadi lengang. Agaknya sepeninggal Ki Tumenggung Wreda, maka para tamupun telah minta diri.

Namun demikian, ternyata orang-orang terdekat masih juga berada di pendapa. Bahkan beberapa orang perempuan telah keluar pula dan duduk dipendapa.

Kasadha menjadi berdebar-debar ketika diantara mereka terdapat Nyi Rangga Dipayuda dan anak gadisnya Riris. Namun diantara mereka tidak terdapat ibu dan bibinya.

Ketika Kasadha melangkah mendekati pendapa, maka Iswaripun berkata kepadanya, “Marilah ngger. Ibu dan bibimu tidak mau aku minta duduk bersama kami disini.“

“Terima kasih ibu,“ jawab Kasadha, “biarlah aku menemani ibu dan bibi.”

Namun Risanglah yang menyahut, “Biar aku sajalah yang memanggilnya. Aku juga akan pergi kebelakang.”

“Tidak. Jangan,“ cegah Kasadha, “aku ingin menemani ibu.”

Risang tidak dapat memaksanya. Sementara Ki Rangga Dipayuda dan Ki Rangga Kalokapraja naik kependapa, maka Kasadhapun telah pergi ke dapur menemui ibu dan bibinya.

Ketika Jangkung berbisik untuk mengikutinya, Kasadha berkata, “Jangan. Kau duduk saja dipendapa. Nanti aku juga kembali kependapa.”

Jangkung termangu-mangu. Namun Risangpun kemudian mempersilahkan naik kependapa pula.

Sementara itu, Kasadha yang pergi ke dapur, mendapatkan ibu dan bibinya sudah duduk diamben panjang bersama beberapa orang perempuan. Nampaknya sudah tidak ada pekerjaan yang dikerjakannya. Sehingga karena itu, maka Kasadhapun berkata, “Jika ibu dan bibi ingin beristirahat, marilah. Aku antarkan kembali kepenginapan.”

“Tetapi bukankah masih ada tamu dipendapa?“ bertanya ibunya.

“Nanti aku akan kembali,“ jawab Kasadha.

Ibu dan bibinya tidak menolak. Apalagi pekerjaan memang sudah selesai di dapur. Besok pagi-pagi sekali perempuan-perempuan itu harus sudah mulai lagi sibuk mempersiapkan makan pagi para tamu.

Merekapun kemudian telah minta diri. Iswari memang menahannya. Namun ibu dan bibi Kasadha menyatakan bahwa besok pagi-pagi benar mereka sudah akan berada didapur lagi.

Sementara itu Risangpun bertanya, “Kau juga akan kembali ke penginapanmu Kasadha?”

“Nanti aku kembali lagi. Sekedar mengantar ibu,“ jawab Kasadha.

Risang tersenyum. Baginya memang terdengar aneh, luhwa ibu dan bibi Kasadha masih harus diantarkan. Tanpa Kasadha maka keduanya tidak akan ada yang dapat imngganggunya. Sepengetahuan Risang, perempuan itu adalah perempuan yang berilmu sangat tinggi.

Namun dalam pada itu, sepanjang jalan menuju kepenginapannya terasa oleh ibu dan bibi Kasadha perubahan akap anak muda itu. Ia lebih banyak merenung. Pertanyaan-pertanyaan ibu dan bibinya kadang-kadang mengejutkannya.

Apalagi ketika mereka sampai dipenginapan. Mereka melihat wajah Kasadha yang pucat, pakaiannya yang basah oleh keringat. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, kadang-kadang tidak dikendalikan oleh nalarnya yang bugaikan beku.

“Kau kenapa Kasadha?“ bertanya ibunya.

Kasadha memang menjawab dengan serta-merta, ”Aku tidak apa-apa ibu.”

Namun kemudian angan-angannyapun telah menerawang. Wajah Riris yang cantik nampak melintas di penglihatan batinnya. Bahkan kemudian nampak Riris seakan-akan duduk tidak sekedar didekatnya membawa nampan berisi kalung pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan. Namun seakan-akan Riris itu duduk disebelah Risang.

“Ibu,“ berkata Kasadha tiba-tiba, “besok kita akan pulang.”

“Besok? Bukankah besok disini masih sibuk? Besok malam keramaian baru dimulai.”

“Keramaian itu akan berlangsung sedikitnya tiga hari. Apakah aku harus menunggu disini sampai tiga hari? Bukankah aku seorang prajurit ibu? Aku mempunyai tugas di barak. Tentu aku tidak dapat bersenang-senang disini tanpa memikirkan tugas-tugasku di barak?”

“Kasadha,“ potong ibunya, “kenapa kau sebenarnya? Bukankah kau merencanakan untuk berada disini sedikitnya lima hari? Bukankah kau sudah mendapat ijin dari Senapatimu. Bahkan Ki Rangga Dipayuda juga ada disini. Apakah ia memerintahkan agar kau segera kembali?”

Wajah Kasadha memang menegang. Ia tidak segera menjawab. Namun keringatnya mulai mengalir lagi diseluruh tubuhnya.

Namun suara ibunya merendah. Sambil mendekati dan memegang kedua bahu anaknya, Warsi itu berkata lembut, “Kasadha. Bukankah selama ini kau telah mengatakan, bahwa kau dengan ikhlas menyerahkan semua hak atas Tanah Perdikan ini kepada Risang, saudara tuamu sendiri? Bukankah kau sudah berjanji, bahwa kau tidak akan merasa iri atau dengki atas warisan dan juga sudah tentu kedudukan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tentu ibu, tentu,“ suara Kasadha justru mengeras. Ia beringsut beberapa langkah dari ibunya sambil berkata, “Aku sama sekali tidak merasa iri. Apalagi dengki atas kedudukan Risang sekarang.”

Buku 48

IBUNYA termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anaknya yang gelisah dengan kerut didahinya.

“Kasadha,“ desis ibunya pula, “jika bukan karena hak atas Tanah Perdikan ini, apalagi yang kau pikirkan? Kau merenung, gelisah dan bahkan seperti orang bingung. Tiba-tiba saja kau ingin meninggalkan tempat ini dan kembali ke Pajang. Semuanya itu terjadi setelah wisuda itu dilakukan. Mungkin sebelumnya kau memang tidak berniat untuk menjadi iri, dengki dan semacamnya. Tetapi ketika kau menyaksikan wisuda atas Risang itu, maka perasaan yang selama ini mampu kau tekan kebawah sadar, tiba-tiba telah muncul kepermukaan. Justru lebih dahsyat bergelora didadamu.”

“Tidak ibu, tidak. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak pernah memikirkan tentang warisan atas Tanah Perdikan ini. Bukankah aku sekarang seorang Lurah prajurit pada umurku yang masih muda ini? Beberapa tahun lagi aku akan mendapat kesempatan untuk mendapatkan pangkat dan jabatan yang lebih tinggi. Demikian pula tahun-tahun berikutnya sehingga pada suatu saat aku akan menjadi seorang Senapati dengan pangkat Tumenggung.”

“Jika demikian apakah yang terjadi atasmu sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba mengajak aku kembali mendahului rencana yang telah kita buat sebelumnya?“ bertanya ibunya.

Wajah Kasadha menjadi semakin tegang. Sementara itu ibunya berkata lembut, “Kasadha. Jika kau terpaksa harus kembali ke pekerjaanmu, maka biarlah kau tinggalkan aku dan bibimu disini. Aku masih akan tinggal untuk satu dua hari lagi. Aku dan bibimu akan dapat pulang tanpa kau, karena kau tahu, bahwa kemampuanku jauh lebih tinggi dari kemampuanmu, sehingga jika terjadi sesuatu diperjalanan, maka aku dan bibimu akan dapat menyelesaikan sendiri. Kami berdua tidak mau berkelahi hanya di Kademangan kami untuk mempertahankan hubungan kami dengan tetangga-tetangga kami.”

Kasadha itupun terduduk lemah. Ternyata ibunya salah menangkap perasaannya. Ia sama sekali tidak merasa iri, dengki atau perasaan apapun terhadap Risang yang diwisuda. Tetapi ia tidak dapat menahan gejolak perasaannya ketika ia melihat Riris.

Tetapi Kasadha tidak dapat mengatakan hal itu kepada ibunya. Karena itu, maka gejolak perasaannya itu disimpannya saja didalam dadanya. Namun dengan demikian, maka dada Kasadha itu terasa menjadi nyeri.

Ibunya tidak berbicara lebih panjang lagi. Namun ia justru memperingatkan Kasadha, “Bukankah kau berjanji untuk kembali kerumah Risang?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia merasa segan untuk kembali kerumah Risang. Tetapi ia tidak ingin ibunya menjadi semakin salah paham. Karena itu, maka katanya, “Baiklah ibu. Aku akan kembali ke rumah Risang.”

Dengan langkah yang lesu Kasadha menyusuri jalan di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Di regol-regol halaman masih terpancang obor-obor yang menerangi jalan yang sedang dilaluinya. Bahkan satu dua ia masih bertemu dengan orang-orang yang menyusuri jalan itu pula. Bukan saja mereka yang pulang dari rumah Risang, tetapi juga beberapa orang anak muda yang sedang meronda.

Dipendapa rumah Risang memang masih ada beberapa orang yang duduk-duduk sambil berbincang kesana-kemari. Kasadha menarik nafas dalam-dalam ketika ia tidak melihat lagi seorang perempuanpun di pendapa itu. Agaknya mereka telah kembali lebih dahulu ke tempat yang sudah disediakan bagi mereka. Nyi Rangga Dipayuda dan Riris juga sudah tidak berada dipendapa. Namun Ki Rangga dan Jangkung ternyata masih duduk diantara beberapa orang yang masih tinggal dipendapa.

Kasadhapun kemudian telah duduk pula diantara mereka. Dari Jangkung ia mendengar bahwa Nyi Rangga dan Riris sudah diantarkannya ketempat yang disediakan bagi mereka untuk beristirahat.

Ki Rangga Kalokapraja ternyata sudah tidak ada pula di pendapa itu, meskipun dua orang yang datang bersamanya, yang terhitung masih muda, masih berada di pendapa itu untuk ikut berbincang dan berjaga-jaga.

Sanak kadang dan orang-orang terdekat yang berada di pendapa itu ternyata hampir semalam suntuk. Ki Dipayuda dan Jangkung yang baru disiang harinya datang, tidak meninggalkan pendapa itu pula. Karena itu, bagaimanapun segannya, Kasadha juga tinggal di pendapa itu sampai hampir menjelang pagi.

Dalam kesempatan itu, Ki Rangga Dipayuda sempat bertanya, “Kapan kau meninggalkan Tanah Perdikan ini?”

Kasadha mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Aku menunggu ibu, Ki Rangga. Tetapi sudah tentu tidak lebih dari ijin yang diberikan kepadaku.”

“Aku akan kembali besok,“ berkata Ki Rangga.

“Besok pagi?“ bertanya Kasadha, “begitu tergesa-gesa.”

“Maksudku, aku masih akan bermalam semalam lagi. Bukankah sekarang sudah pagi?“ sahut Ki Rangga.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia ingin kembali ke Pajang bersama Ki Rangga Dipayuda yang berarti bersama-sama dengan Jangkung, Nyi Rangga dan sudah tentu Riris.

“Tetapi bagaimana dengan ibu?“ pertanyaan itu telah tumbuh didalam hatinya.

Pertanyaan itu memang tidak dapat dijawab oleh Kasadha. Karena itu, maka dadanya yang sesak itu seakan-akan justru menjadi bertambah sesak. Ternyata ibu dan bibinya yang semula disangkanya tidak akan menjadi beban baginya itu, agaknya justru merupakan beban yang sangat berat bagi perasaannya. Tanpa ibunya ia tentu sudah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan atau ia dapat memilih kembali ke Pajang bersama-sama dengan Ki Rangga Dipayuda. Tetapi ia tidak dapat melakukannya karena ibu dan bibinya.

Memang kadang-kadang terbersit pernyataan didalam dirinya, bahwa ibunya itu akan dapat pulang berdua saja bersama bibinya. Namun rasa-rasanya hal itu akan menimbulkan persoalan dihati ibunya yang ternyata telah menjadi salah sangka, karena ibunya mengira bahwa perasaan Kasadha terguncang ketika ia melihat Risang diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Kasadha menyadari, jika ia masih tetap berada di Tanah Perdikan itu, akan berarti bahwa perasaannya akan menjadi tersiksa setidak-tidaknya sampai Riris meninggalkan rumah Risang itu.

Namun Kasadha memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia memang harus mengorbankan perasaannya. Ia harus mengerahkan segenap daya tahannya untuk menjaga keseimbangan nalar budinya.

Demikianlah, menjelang fajar, maka pendapa rumah Risang itu menjadi sepi. Para tamu yang datang dari luar Tanah Perdikan itu sudah berada kembali di tempat yang telah disediakan bagi mereka. Mereka memanfaatkan waktu yang pendek untuk beristirahat karena setelah matahari mulai memanjat langit sepenggalah, mereka harus sudah berada di pendapa itu lagi. Para tamu dari Pajang akan meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan setelah makan pagi. Karena itu, para tamu yang lain akan dipersilahkan untuk ikut makan pagi bersama Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Di tempatnya menginap, sikap Kasadha memang menimbulkan persoalan bagi ibu dan bibinya. Namun ketika keduanya berada dibelakang, ibu Kasadha itu sempal berdesis, “Mungkin hatinya terguncang melihat upacara wisuda yang memang mendebarkan itu. Namun setelah dua tiga pekan, maka ia akan melupakannya.”

“Mudah-mudahan,“ sahut bibi Kasadha, “tetapi agaknya Kasadha tidak akan larut terlalu jauh dalam gejolak perasaannya. Sampai saat terakhir, sama sekali tidak nampak kesan padanya, bahwa ia merasa iri. Karena itu, maka gejolak itu tentu baru timbul setelah ia menyaksikan upacara itu.”

Kedua orang perempuan itu mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat. Namun segala sesuatunya memang masih harus dilihat kemudian.

Dalam pada itu Kasadha memang tidak memaksa untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu lebih dahulu. Ia sadar, bahwa ia harus bertahan apapun yang terjadi pada jantung didalam dadanya.

Seperti direncanakan, maka ketika matahari mulai naik, ibu dan bibi Kasadha telah mengajak Kasadha yang juga telah berbenah diri untuk pergi ke rumah Risang. Kasadha memang tidak dapat menolak. Ia sebaiknya memang berada di pendapa untuk mengantar Ki Tumenggung Wreda Wirajaya makan pagi sebelum ia meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan bersama para pejabat dari Pajang, yang ternyata termasuk juga Ki Rangga Kalokapraja.

Ketika Kasadha sampai dipendapa, maka Risangpun telah mempersilahkannya naik. Hampir berbisik Risang berkata, “Tolong temani Ki Rangga Dipayuda dan Jangkung. Aku masih belum dapat duduk bersama mereka.”

“Baik,“ jawab Kasadha sambil mengangguk. Iapun Kemudian naik kependapa dan duduk bersama Ki Dipayuda dan Jangkung. Satu dua bebahu telah berada di pendapa itu pula menunggu kehadiran Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dan para pejabat yang lain.

Dalam kesempatan itu Ki Rangga Dipayuda sempat bertanya lagi, “Apakah kau dapat kembali bersamaku besok?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Keinginannya memang melonjak. Namun apakah ibu dan bibinya bersedia menempuh perjalan bersama Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya.

Karena itu, maka Kasadhapun menjawab, “Agaknya kami masih akan tinggal sampai lusa. Kami masih ingin ikut menunggui ujung dari malam-malam yang akan dimeriahkan oleh berbagai macam keramaian di Tanah Perdikan ini.”

Ki Rangga Dipayuda mengangguk-angguk. Ia tahu benar hubungan yang sangat akrab antara Kasadha dan Risang yang semula dikenalnya bernama Barata itu, maka ia tidak mendesaknya lagi.

Beberapa saat kemudian maka Ki Tumenggung Wreda Wirajayapun telah datang bersama-sama dengan para pejabat dari Pajang. Para tamu yang telah berada di pendapapun segera bangkit, turun ke tangga dan mempersilahkan Ki Tumenggung untuk naik.

Demikianlah, maka sejenak kemudian maka hidang-anpun telah disuguhkan. Dan ternyata yang menghidangkannya adalah Riris.

Jantung Kasadha yang berdebaran itu menjadi semakin bergejolak. Namun ia sadar sesadar-sadarnya, bahwa ia memang harus dengan sekuat tenaga menahan diri.

Beberapa saat kemudian, setelah semua hidangan disuguhkan, Iswari, ibu Risang, telah mempersilahkan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya untuk makan pagi bersama para tamu yang lain sebelum Ki Tumenggung meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Segalanya serba buram bagi Kasadha. Tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya melupakan gejolak dijantungnya itu. Apalagi kemudian Riris masih saja sibuk dipendapa melayani para tamu yang sedang makan. Terutama Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Demikianlah, setelah segalanya selesai serta mangkuk, tenong dan cething serta kelengkapan yang lain disingkirkan, maka Ki Tumenggung Wreda masih sempat memberikan beberapa pesan kepada Risang yang telah resmi menjadi Kepala Tanah Perdikan.

“Apalagi kau masih muda, masih belum berkeluarga,“ berkata Ki Tumenggung Wreda kemudian, “kau masih harus menganyam masa depanmu disamping masa depan Tanah Perdikan Sembojan. Kau tidak boleh gagal sebagai Kepala Tanah Perdikan. Tetapi kau juga tidak boleh gagal sebagai seorang anak muda yang kemudian akan menempuh satu kehidupan berkeluarga.”

Risang duduk sambil menundukkan kepalanya, sementara Ki Tumenggung itu berkata selanjutnya, “Karena itu, maka sejak semula kau harus memikirkan bahwa orang yang akan mendampingimu harus seorang yang tahu benar akan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan. Bukan hanya mengetahui hakmu semata-mata.”

Risang mengangguk hormat sambil menyahut, “Ya Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung tersenyum. Ia masih memberikan beberapa pesan lagi. Namun kemudian setelah segalanya dirasa cukup, maka Ki Tumenggung itupun berkata, “Aku sudah selesai dengan tugasku. Karena itu aku akan kembali ke Pajang. Nampaknya aku telah kesiangan dibandingkan dengan rencanaku.”

Demikianlah, maka Ki Tumenggung serta para pejabat dari Pajang telah minta diri, termasuk Ki Rangga Kalokapraja. Namun Ki Rangga Dipayuda masih tetap tinggal, karena kehadirannya bukan karena kedudukannya. Tetapi ia diundang sebagai seorang tamu di Tanah Perdikan Sembojan.

“Kau masih ingin tinggal?“ bertanya Ki Tumenggung sambil tersenyum.

“Aku masih mempunyai hari yang tersisa dari ijin yang diberikan kepadaku,“ jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Baiklah,“ berkata Ki Tumenggung Wreda, “tetapi besok jika Ki Rangga kembali ke Pajang, tentu Ki Rangga akan membawa jodang berisi makanan.”

Ki Rangga dan orang-orang yang mendengarnya tersenyum. Namun Ki Tumenggungpun kemudian telah menuntun kuda yang telah dipersiapkan baginya keregol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sambil sekali lagi minta diri.

Orang-orang Tanah Perdikan serta para tamu yang semula duduk dipendapa telah mengantar Ki Tumenggung Wreda dan para pejabat dari Pajang yang lain, yang akan meninggalkan Tanah Perdikan itu. Mereka berdiri berjajar diluar regol halaman. Diantara mereka berdiri Iswari dan Risang.

Kasadha yang juga berdiri diluar regol, berada agak dibelakang dari kerumunan orang-orang Tanah Perdikan. Dipandanginya mereka yang sibuk mengucapkan selamat jalan dan terima kasih itu dengan tatapan mata yang kosong. Ki Rangga Dipayuda ternyata sedang sibuk pula ikut mengucapkan selamat jalan. Tetapi Jangkung justru berdiri disebelah Kasadha.

Namun Kasadha itu justru terkejut ketika ia merasa lengannya digamit seseorang. Ketika ia berpaling, dilihatnya Riris berdiri dibelakangnya.

“Kau juga pulang besok kakang?“ bertanya Riris diluar dugaan Kasadha.

Jantung Kasadha kembali diguncang oleh keragu raguan. Ketika Ki Rangga bertanya kepadanya, ia sudah mendapatkan kepastian pada dirinya sendiri, bahwa apapun yang terjadi didalam dadanya, ia terpaksa tinggal menunggu ibu dan bibinya sesuai dengan rencananya. Tetapi ketika Riris itu bertanya pula kepadanya, maka keragu-raguanpun kembali melanda dinding hatinya.

Dalam pada itu, terdengar Jangkung berbisik, “Sayang. Kasadha baru akan kembali dihari berikutnya karena ia harus menunggu ibu dan bibinya.”

Sebenarnya Kasadha tidak menghendaki Jangkung mengucapkan jawaban itu. Tetapi Jangkung telah mengatakannya, sehingga Kasadha tidak dapat berkata lain. Apalagi ketika Jangkung kemudian berkata, “Ayah sudah mengajaknya. Tetapi nampaknya Kasadha menjadi agak berkeberatan.”

“Sayang,“ desis Riris.

Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak lagi. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya telah berada di punggung kudanya. Demikian pula para pejabat yang lain, termasuk Ki Rangga Kalokapraja.

Demikianlah sejenak kemudian, maka kuda-kuda itu-pun telah berderap maju. Tidak terlalu cepat. Tetapi beberapa saat kemudian iring-iringan itupun telah menuju ke kelok jalan. Sejenak kemudian yang nampak tinggal debu kelabu yang terhambur dibelakang kaki-kaki kuda itu.

Dalam pada itu sejenak kemudian Iswari telah mem-persilahkan para tamu untuk kembali duduk di pendapa. Namun ternyata beberapa orang diantaranya langsung mohon diri dan kembali kerumah mereka masing-masing.

Yang kemudian duduk dipendapa hanyalah orang-orang yang terdekat saja lagi. Diantara mereka terdapat Ki Rangga Dipayuda, Jangkung dan ternyata Riris juga ikut duduk dipendapa itu.

Adalah diluar dugaan Kasadha, bahwa ternyata sikap Riris rasa-rasanya telah pulih kembali sebagaimana dikenalnya. Disaat upacara berlangsung, maka Riris seakan-akan telah menjadi seorang gadis yang lain, yang tiba-tiba jaraknya terasa demikian jauh daripadanya. Riris seakan-akan menjadi seorang gadis yang beku yang menjadi bagian peralatan dari upacara wisuda. Namun kini ternyata sikap Riris telah menjadi wajar kembali sebagaimana sering dijumpainya dirumahnya.

Bahkan Riris justru sempat berceritera, bagaimana keringatnya bagaikan terperas dari seluruh tubuhnya, saat ia harus membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan dihadapan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Kasadha mendengarkan ceritera Riris sambil mengangguk-angguk. Sekali-sekali nampak Kasadha tersenyum meskipun ceritera Riris itu kadang-kadang membuat desir yang pedih dihatinya. Namun Kasadha sadar, bahwa Riris sama sekali tidak mempunyai maksud apa-apa dengan ceriteranya.

Sikap Riris itu ternyata sedikit meredakan gejolak perasaan Kasadha. Dengan demikian maka ia mengetahui, bahwa yang dilakukan Riris pada saat wisuda itu tidak lebih dari menjalankan beban kewajiban yang diserahkan kepadanya.

Sebenarnyalah dengan demikian keinginan Kasadha untuk pulang ke Pajang bersama Ki Rangga Dipayuda menjadi semakin melonjak didadanya. Tetapi setiap kali ia teringat akan ibu dan bibinya, maka ia harus kembali pada satu kenyataan bahwa ia tidak akan dapat melakukannya.

Ketika Kasadha kemudian kembali ke tempat yang disediakan baginya bersama ibu dan bibinya, telah nampak sedikit perubahan pada sikapnya. Terutama sikap batinnya. Sebagai seorang ibu Warsi ternyata mampu mengamati getaran jiwa anaknya yang sempat membuatnya gelisah.

Kepada bibi Kasadha Warsi itu berdesis, “Nampaknya hatinya mulai mengendap lagi.”

Bibinya mengangguk sambil tersenyum, “Sokurlah. Aku kemarin hampir kehilangan akal.”

“Besok mudah-mudahan ia sudah melupakannya.“ desis Warsi.

“Upacara wisuda itu memang mampu menggugat batinnya,“ sahut sepupunya. Namun katanya kemudian, “Tetapi sokurlah, bahwa keadaan anak itu tidak berlarut-larut.”

Ketika matahari lewat dipuncak langit, maka segala persiapan bagi pertunjukan di malam harinya telah selesai. Malam pertama dari rangkaian keramaian di padukuhan induk Tanah Perdikan itu adalah sebuah pertunjukan tari topeng. Para penarinya adalah orang-orang Tanah Perdikan itu sendiri. Demikian pula para penabuh yang akan mengiringi tari topeng itu.

Dalam pada itu, justru karena Risang masih sibuk dengan berbagai macam hal, maka Riris lebih banyak bersama Jangkung dan Kasadha. Mereka sempat menikmati acara-acara yang berlangsung di Tanah Perdikan. Disore hari mereka sempat melihat-lihat bukan saja padukuhan induk Tanah Perdikan, tetapi satu dua pedukuhan terdekat. Mereka melihat bagaimana Rakyat Tanah Perdikan Sembojan menyambut dengan gembira kehadiran seorang Kepala Tanah Perdikan yang disahkan oleh Pajang.

Dimalam hari mereka berada di pendapa untuk menyaksikan pertunjukan yang meriah. Namun tengah malam Riris dan ibunya telah meninggalkan pendapa. Hanya Ki Rangga Dipayuda sajalah yang masih berada di pendapa bersama Jangkung diantara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha juga meninggalkan pendapa untuk mengantarkan ibu dan bibinya. Namun ia berjanji untuk kembali lagi ke pendapa.

Risang memang tidak mendapat banyak kesempatan untuk berada diantara tamu-tamunya. Ternyata bahwa pada hari-hari yang pertama ia memegang jabatan Kepala Tanah Perdikan, ia telah mendapat laporan, bahwa ada orang-orang yang tidak dikenal berkeliaran di Tanah Perdikan. Terutama di padukuhan-padukuhan disisi Utara.

“Apakah para peronda telah mencoba menemui orang-orang itu?“ bertanya Risang.

Seorang bebahu yang ikut mendengarkan laporan itu berkata, “Sudahlah ngger. Silahkan duduk diantara para tamu. Biarlah aku yang mengurusnya.”

Tetapi Risang ternyata merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas ketenangan di Tanah Perdikannya. Karena itu, maka iapun berpesan kepada bebahu itu, “Tanyakan kepada orang itu jika kau berhasil menemuinya, apakah mereka orang Madiun?”

Bebahu itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke padukuhan-padukuhan yang menjadi gelisah itu.”

“Hati-hatilah,“ pesan Risang, “jangan merusak suasana yang meriah ini. Apalagi masih ada beberapa orang tamu dari luar Tanah Perdikan.”

Namun bagaimanapun juga Risang tidak dapat tenang duduk diantara para tamu. Sebenarnya ia ingin duduk bersama Riris dan Jangkung. Apalagi Kasadha berada diantara mereka. Namun setiap kali ia memang harus bangkit berdiri dan ikut membicarakan beberapa masalah yang timbul.

Tetapi ketika Riris telah meninggalkan pendapa, maka Risang justru tidak terlalu tertarik lagi untuk berada diantara para tamu. Kepada Kasadha yang kembali dari mengantarkan ibu dan bibinya kembali ke penginapan mereka berbisik, “Tolong, temui para tamu.”

“Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Kasadha meskipun agak ragu.

Risangpun membisikkan laporan yang diterimanya dari padukuhan-padukuhan disisi Utara itu.

“Kau akan kesana?“ bertanya Kasadha.

“Tidak,“ jawab Risang, “tetapi aku harus mengikuti perkembangannya. Seorang bebahu telah pergi ke padukuhan-padukuhan yang gelisah itu.”

“Baiklah,“ berkata Kasadha, “aku akan berada di pendapa.”

Demikianlah Risang ternyata masih saja hilir mudik. Menjelang dini bebahu yang pergi ke sisi Utara Tanah Perdikan itupun telah kembali untuk memberikan laporan kepadanya.

“Semula para peronda mengira bahwa mereka adalah orang-orang dari luar Tanah Perdikan yang ingin melihat-lihat keramaian di Tanah Perdikan induk ini. Sejak kemarin dari Kademangan sebelah menyebelah Tanah Perdikan ini memang banyak orang yang datang untuk melihat wisuda dan malam ini melihat keramaian. Tetapi orang-orang yang demikian biasanya tidak menarik banyak perhatian. Mereka lewat saja tanpa memperhatikan padukuhan-padukuhan yang mereka lewati karena mereka telah sangat sering melihat.”

“Jadi bagaimana dengan orang-orang yang dikatakan asing itu?“ bertanya Risang.

“Mereka nampaknya sangat memperhatikan padukuhan-padukuhan disisi Utara itu. Bukan karena padukuhan-padukuhan itu berhias. Tetapi nampaknya lebih dari itu. Bahkan setelah mereka keluar dari padukuhan itu mereka masih saja memperhatikan padukuhan-padukuhan itu. Seorang yang kebetulan sedang membuka air disawah melihat dua orang yang berdiri saja di jalan bulak sambil memperhatikan padukuhan dengan saksama. Sekali-sekali mereka menunjuk kesudut-sudut padukuhan, kemudian mereka mulai memperhatikan sawah yang hijau segar.”

Risang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah orang-orang itu masih ada disana?”

“Tidak. Mereka sudah pergi. Tetapi tidak seorang-pun tahu kemana mereka menghilang,“ jawab bebahu itu.

“Apakah kau pesan kepada para peronda agar mereka berhati-hati?“ bertanya Risang kemudian.

“Ya,“ jawab bebahu itu, “jika perlu Bekel di padukuhan itu dapat memanggil orang-orang itu untuk mendapat keterangan apa yang sedang mereka lakukan.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Tetapi ingat, bahwa jangan merusak suasana. Orang-orang Tanah Perdikan sedang bergembira untuk beberapa hari.”

Namun ternyata bahwa hal itu tidak dapat begitu saja dikesampingkan oleh Risang, Bahkan Risang telah memberitahukan hal itu kepada ibunya.

“Besok aku ingin mendengar langsung dari orang-orang yang melihat orang-orang yang berkeliaran itu,“ berkata Risang yang memperbandingkan dengan kegiatan seorang pejabat dari Madiun yang tidak mau menemuinya dengan terbuka.

“Kau memang sebaiknya datang ketempat itu Risang,“ berkata ibunya.

“Besok ibu, setelah Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya kembali ke Pajang,“ jawab Risang.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat memaksa, justru Iswari tahu bahwa diantara keluarga Ki Rangga Dipayuda itu terdapat seorang gadis yang cantik.

Di dini hari baru Risang sempat duduk bersama Ki Dipayuda dan Jangkung. Kepada Ki Rangga, Risang juga menceriterakan apa yang terjadi disisi Utara Tanah Perdikan yang sedang bergembira itu.

“Hati-hatilah,“ pesan Ki Rangga Dipayuda, “hal-hal yang nampaknya kecil itu harus kau perhatikan dengan sungguh-sungguh karena mungkin dibelakangnya tersimpan hal-hal yang besar bagi Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Rangga.”

“Tetapi bukankah sebelumnya tidak pernah ada masalah dengan Tanah Perdikan ini?“ bertanya Ki Rangga.

“Maksud Ki Rangga?“ bertanya Risang.

“Misalnya persoalan antara keluarga Tanah Perdikan ini. Mungkin ada satu dua orang keluarga yang mempunyai pertimbangan lain atas Tanah Perdikan ini. Jelasnya, bukankah tidak ada orang yang merasa iri terhadap kedudukanmu sekarang?”

“Tidak Ki Rangga, tidak. Semua keluargaku menganggap bahwa yang terjadi ini wajar sekali. Sebagaimana seharusnya terjadi,“ jawab Risang dengan serta merta.

Kasadha menahan nafas sesaat. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Jika ibu dan bibinya mendengar pertanyaan Ki Rangga itu, akan dapat menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Apalagi jika mereka mendengar tentang orang-orang yang berkeliaran di sisi Utara Tanah Perdikan Sembojan itu.

Namun ternyata Ki Rangga Dipayuda tidak mempersoalkannya lebih panjang. Bahkan kemudian Ki Rangga itupun minta diri untuk beristirahat.

“Besok aku harus kembali ke Pajang. Karena itu, meskipun hanya sebentar aku akan beristirahat,“ berkata Ki Rangga.

“Silahkan Ki Rangga,“ sahut Risang yang tidak dapat menahannya untuk tetap berada di pendapa.

Bersama Jangkung keduanyapun kemudian kembali ke penginapan yang disediakan bagi mereka. Sementara Kasadha masih tetap berada di pendapa bersama Risang. Sementara itu pertunjukan tari topeng akan berlangsung sampai menjelang pagi.

Tetapi Kasadha juga tidak terlalu lama berada di pendapa. Iapun kemudian minta diri untuk beristirahat.

Disepanjang jalan menuju ke penginapannya, Kasadha ternyata masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Rasa-rasanya ia memang ingin kembali ke Pajang bersama Riris. Namun bagaimana mungkin ia dapat meninggalkan ibu dan bibinya. Karena ia sebelumnya pernah dengan serta merta mengajak ibu dan bibinya pulang, maka seandainya sekali lagi ia menyatakan keinginannya itu, maka ibu dan bibinya tentu masih tetap salah mengerti. Sementara ia masih tetap tidak dapat mengatakan alasan yang sebenarnya.

Ketika ia sampai dipenginapannya, ternyata ibu dan bibinya masih juga belum tidur. Mereka masih duduk berbincang diruang tengah.

Sikap Kasadha ternyata memang membuat kedua orang perempuan itu agak bingung. Sebelumnya mereka l melihat keadaan Kasadha sudah menjadi lebih baik. Namun malam itu mereka kembali melihat Kasadha yang merenung dalam-dalam.

Tetapi keduanya tidak bertanya lebih banyak lagi kecuali beberapa pertanyaan tentang tari topeng di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Malam itu, Kasadha hanya sempat beristirahat beberapa saat. Pagi-pagi ketika ibu dan bibinya bangun dan membersihkan diri, Kasadhapun melakukannya pula.

Baru ketika matahari sepenggalah maka mereka berangkat ke rumah Kepala Tanah Perdikan.

Beberapa saat Kasadha duduk dipendapa, Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya telah datang pula. Namun agaknya mereka telah bersiap untuk kembali ke Pajang.

Sebenarnyalah, setelah Risang dan Iswari menemuinya, maka Ki Rangga Dipayudapun menyatakan niatnya untuk minta diri.

Namun Iswari masih menahannya untuk makan pagi lebih dahulu.

Sambil makan pagi, Ki Rangga Dipayuda sempat berkata kepada Kasadha, “Sebenarnya Jangkung ingin tinggal dan kembali bersamamu besok.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi, bagaimana keputusannya?”

“Aku akan merasa terlalu sibuk untuk seorang diri kembali ke Pajang bersama Riris dan ibunya,“ jawab Ki Rangga.

Kasadha mengangguk-angguk. Iapun segera teringat kepada ibu dan bibinya yang tentu agak berkeberatan untuk menempuh perjalanan bersama orang lain.

Namun terbersit pula pertanyaan didalam dirinya, “Apakah hanya ibu dan bibi saja yang merasa rendah diri?”

Ternyata ketika Kasadha menukik kedalam dasar batinnya, sebenarnyalah Kasadhapun merasakan hal yang sama. Meskipun orang lain tidak tahu latar belakang kehidupan ibu dan bibinya, namun rasa-rasanya bayangan kehidupan Warsi dimasa lampau masih saja mengikutinya.

Dengan demikian iapun justru bersukur bahwa Jangkung tidak akan tinggal dan kembali bersamanya di keesokan harinya.

Tetapi Jangkung sendiri sambil bersungut-sungut berdesis, “Aku sebenarnya masih kerasan tinggal disini. Aku belum sempat melihat-lihat seluruh Tanah Perdikan ini. Aku belum sempat bersama-sama dengan Kasadha dan Risang berpacu di jalan-jalan bulak dan di lereng-lereng pegunungan Tanah Perdikan Sembojan untuk melihat secara utuh.”

“Bukankah pada kesempatan lain kau dapat pergi sendiri atau katakanlah, jika Kasadha pergi ke Tanah Perdikan ini kapan saja, kau dapat ikut bersamanya,“ sahut ayahnya.

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Pada kesempatan lain aku akan datang lagi.”

Risang yang hanya mendengarkan pembicaraan itu tiba-tiba menyahut, “Aku tunggu kedatanganmu, Jangkung. Kau akan dapat melihat-lihat lebih banyak lagi. Dan barangkali kau akan mendapatkan arena bermain-main dengan kuda sepuas-puasmu disini. Tetapi disini jarang kau jumpai seekor kuda yang baik.”

“Ya. Pada kesempatan lain aku tentu akan datang lagi kemari dan untuk waktu yang lebih lama,“ jawab Jangkung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian acara makan pagi itupun selesai. Setelah mangkuk, tenong, cething serta alat-alat yang lain disingkirkan, serta beristirahat sesaat, maka Ki Rangga Dipayudapun minta diri untuk kembali ke Pajang.

Risang dan ibunya tidak dapat menahan mereka lebih lama lagi, karena mereka tahu bahwa Ki Rangga Dipayuda masih seorang prajurit, sehingga iapun harus kembali ke tugasnya pada saat yang telah ditentukan.

Demikianlah, maka Nyi Rangga, Jangkung dan Riris-pun telah minta diri pula kepada Risang yang telah dengan resmi menjadi Kepala Tanah Perdikan serta ibunya, yang semula adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Dalam pada itu, ibu Kasadha yang tidak mau ikut keluar ke pendapa, ternyata ingin juga melihat keluarga Ki Rangga Dipayuda. Dari Kasadha ibu dan bibinya mendengar bahwa Ki Rangga adalah seorang Senapati prajurit yang pernah memimpin langsung Kasadha dan Risang ketika mereka masih menjadi satu dilingkungan keprajuritan.

Ibu Kasadha serta bibinya termangu-mangu sejenak ketika mereka dari belakang seketheng sebelah kiri melihat keluarga Ki Rangga Dipayuda. Seorang diantara mereka adalah seorang gadis yang cantik.

“Gadis itulah kemarin yang membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan,“ desis bibi Kasadha.

“Ya,“ sahut ibu Kasadha, “betapa cantiknya gadis itu ketika ia dirias mirip dengan rias pengantin. Dengan pakaian yang berwarna cerah dan kain beludru berwarna kuning keemasan sebagai alas nampan tempat pertanda jabatan itu diletakkan, gadis itu seakan-akan bersinar melampaui terangnya cahaya lampu.”

“Jarang aku melihat gadis secantik itu,“ desis bibi Kasadha.

Namun kening ibu Kasadha itupun berkerut dalam. Kegelisahan mulai mengusik perasaannya. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Itukah sebabnya kenapa Kasadha ingin lebih cepat pulang agar dapat bersama-sama dengan gadis itu?”

“Ah,“ tiba-tiba bibinya berdesah.

“Kenapa?“ ibunya segera berpaling.

Tetapi sepupunya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya Kasadha menghindari gadis itu.”

“Kenapa?“ bertanya ibu Kasadha.

“Bahwa ia dipilih untuk membawa pertanda kedudukan Kepala Tanah Perdikan Sembojan tentu ada sebabnya,“ jawab sepupunya.

Ibu Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud sepupunya itu. Namun justru karena itu, maka jantungnyapun menjadi berdebar-debar. Hampir berbisik ia berkata, “Apakah kecantikan gadis itu telah mengguncang jantung Kasadha? Jika demikian, yang membuatnya gelisah sama sekali bukan kedudukan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi gadis anak Ki Rangga Dipayuda itu.”

Wajah sepupunyapun berkerut. Katanya, “Jika demikian, maka persoalan itu harus dihindari.”

Ibu Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya orang-orang yang sudah turun dari pendapa itu. Ibu dan bibi Kasadha sempat melihat, bagaimana Riris minta diri kepada Kasadha yang masih akan tinggal sehari lagi di Tanah Perdikan Sembojan.

Ibu dan bibi Kasadha itu melihat bagaimana gadis itu bersikap ramah, baik kepada Risang maupun kepada Kasadha. Sehingga karena itu, maka ibu Kasadha itu berkata, “Jiwa gadis itu masih bersih, lugu dan tidak dibuat-buat.”

“Tetapi justru karena itu akan dapat menimbulkan salah paham diantara kawan-kawannya. Barangkali juga Kasadha.”

“Tetapi apakah kita dapat berbicara berterus-terang dengan Kasadha?“ bertanya ibu Kasadha.

Sepupunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita harus menunggu kesempatan.”

“Ya. Kita memang harus menunggu kesempatan untuk berbicara tentang gadis itu dengan Kasadha. Nampaknya hatinya akan mudah tersinggung. Apalagi jika dugaan kita salah,“ desis ibu Kasadha.

Keduanyapun kemudian terdiam. Orang-orang yang turun dari pendapa itu sudah berada dipintu regol. Kemudian Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya itupun melangkah menjauhi regol halaman rumah itu.

Namun ternyata Kasadha dan Risang ikut mengantar mereka sampai ke penginapan yang disediakan bagi mereka untuk mengambil barang-barang bawaan yang ditinggal di penginapan itu.

Demikianlah hari itu Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian maka rasa-rasanya rumah Risang itu menjadi semakin lama semakin lengang.

Yang kemudian tinggal adalah Kasadha, ibu dan bibinya yang masih akan bermalam semalam lagi di Tanah Perdikan. Mereka masih akan menyaksikan keramaian dihari kedua. Sementara itu keramaian berikutnya akan berlangsung tersebar di padukuhan-padukuhan di seluruh Tanah Perdikan Sembojan. Para Demang dan para Bekel-pun telah mempersiapkan segala-galanya untuk itu.

Namun dalam pada itu, sebagaimana direncanakan oleh Risang, maka setelah Ki Rangga Dipayuda meninggalkan Tanah Perdikan, maka ia sendiri akan pergi ke padukuhan-padukuhan disisi Utara untuk mendapat keterangan langsung dari orang-orang yang melihat orang-orang asing yang mencurigakan itu.

Namun karena Kasadha masih berada di Tanah Perdikan, maka Risangpun telah mengajaknya untuk melihat-lihat padukuhan-padukuhan disisi Utara.

Kasadha sama sekali tidak berkeberatan. Justru setelah Riris pergi, maka rasa-rasanya perasaannya tidak lagi digelitik oleh kegelisahan yang tajam.

Demikianlah maka Kasadhapun telah memberitahukan kepada ibu dan bibinya yang masih berada dirumah Risang, bahwa ia akan pergi ke sisi Utara Tanah Perdikan itu.

“Baiklah,“ jawab ibunya, “hati-hatilah diperjalanan.”

Sejenak kemudian maka kedua anak muda itu telah berderap diatas punggung kudanya, menyeberangi bulak-bulak di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka menuju ke sisi Utara Tanah Perdikan itu untuk mendapatkan keterangan tentang beberapa orang asing yang mencurigakan.

Di padukuhan disisi Utara Tanah Perdikan itu, Risang dan Kasadha telah menemui Ki Bekel dari padukuhan Karanggayam. Salah satu padukuhan yang didatangi oleh beberapa orang yang dianggap asing itu.

“Ya ngger,“ berkata Ki Bekel Karanggayam, “beberapa orang Karanggayam memang melaporkan tentang orang-orang yang mencurigakan itu. Namun ketika aku sendiri turun ke tempat yang dilaporkan itu, orang-orang itu sudah tidak ada.”

“Apakah orang-orang yang melihat langsung tidak berbuat sesuatu?“ bertanya Risang pula.

“Tidak ngger. Mereka hanya sekedar mengawasi ketika seorang diantara mereka melaporkan kepadaku. Tetapi orang-orang yang mengawasinya itu telah kehilangan mereka. Bahkan kehilangan jejaknya,“ jawab Ki Bekel.

Bersama Ki Bekel, Risangpun kemudian telah melihat tempat-tempat yang menjadi perhatian orang-orang asing itu. Satu lingkungan persawahan yang subur diantara beberapa buah padukuhan.

Bahkan Ki Bekel itupun kemudian berkata, “Bukan hanya padukuhan Karanggayam saja yang menjadi sasaran pengamatan mereka. Tetapi juga dibeberapa padukuhan lain. Pada umumnya adalah padukuhan-padukuhan yang subur. Namun pada umumnya, orang-orang padukuhan yang mengawasi orang-orang itu telah kehilangan jejak pula.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Sementara Kasadha berkata, “Jika demikian maka mereka tentu memerlukan waktu yang cukup lama untuk melihat-lihat beberapa padukuhan disisi Utara ini.”

“Agaknya memang demikian. Namun setiap kali orang-orang itu telah menghilang dari pengawasan. Bahkan jejaknyapun sulit untuk ditelusuri,“ sahut Risang.

Untuk beberapa saat keduanya telah berjalan menuntun kuda mereka dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain sambil memperhatikan jalan-jalan bulak yang mereka lalui. Bulak diantara daerah persawahan yang subur. Sementara batang-batang padi tumbuh menghijau dari cakrawala sampai ke cakrawala.

Keduanya tertegun sejenak ketika mereka mendengar suara seruling yang menyusup disela-sela angin yang menghanyutkan gemericiknya air sungai kecil yang mengalir disela-sela kotak-kotak sawah.

Ternyata beberapa orang anak yang menggembalakan kambingnya tengah duduk diatas bebatuan. Seorang diantara mereka berbaring diatas sebongkah batu yang besar sambil meniup seruling, sementara beberapa ekor kambing berkeliaran dilereng tebing sungai sambil makan rumput yang segar.

Risang dan Kasadhapun meneruskan perjalanan mereka, menuntun kuda di jalan-jalan bulak. Sambil memandang sawah yang terbentang bagaikan tanpa batas itu Kasadha berdesis, “Daerah ini sangat subur. Agaknya hal itulah yang menarik perhatian beberapa orang yang datang ke Tanah Perdikan ini.”

“Apakah kira-kira yang mereka maksudkan? Apakah mereka menginginkan tanah ini? Jika demikian maka mereka akan melanggar hak kami di Tanah Perdikan ini.“ sahut Risang.

“Hanya satu kemungkian. Tetapi tentu ada kemungkinan yang lain,“ jawab Kasadha.

Merekapun tertegun ketika mereka melihat dibawah sebatang pohon turi yang tumbuh dipinggir jalan terdapat jejak beberapa ekor kuda yang agaknya ditambatkan pada batang pohon turi itu. Rumput disekitarnya nampak bekas terinjak-injak kaki kuda yang jelas nampak jejak telapak besi pada kaki kuda itu.

“Mereka berhenti disini untuk beberapa saat,“ berkata Risang sambil mengamati jejak itu.

“Ya,“ jawab Kasadha.

“Aku akan minta paman Sambi Wulung dan Jati W ulung untuk mengawasi daerah ini. Biarlah mereka berusaha untuk menemui orang-orang itu jika mereka datang kembali.”

Namun keduanya masih juga meneruskan pengamatan mereka sampai ke padukuhan berikutnya. Risang telah memberikan beberapa pesan kepada Ki Bekel agar berhati-hati.

“Besok malam kita menyelenggarakan keramaian,“ berkata Ki Bekel, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

“Hati-hatilah,“ pesan Risang, “siapkan para pengawal sebaik-baiknya. Jika perlu beritahukan kepada kami di padukuhan induk agar kami dapat mengirimkan secukupnya.”

“Baiklah ngger. Aku akan berhati-hati dan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya,“ jawab Ki Bekel.

“Keramaian apa yang akan diselenggarakan disini?“ bertanya Kasadha.

“Tayub,“ jawab Ki Bekel. Namun dengan cepat ia melanjutkan, “Tetapi kami akan menjaga, bahwa tayub yang kami selenggarakan tidak akan menimbulkan keributan. Batas antara penari dan mereka yang ikut ngibing harus jelas.”

“Bukankah tayub biasanya dilakukan setelah panen berhasil? Ucapan sukur atas keberhasilan itu diungkapkan lewat keramaian yang dilakukan disawah yang baru saja dipanen,“ bertanya Kasadha sambil tersenyum.

Ki Bekel mengangguk. Katanya, “Ya. Tetapi kali ini kita juga bergembira sebagaimana panen yang berhasil, karena kami telah memiliki Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.”

“Baiklah Ki Bekel,“ berkata Risang kemudian, “tetapi aku sependapat dengan Ki Bekel. Jangan timbul kekisruhan. Biasanya tuak ikut mewarnai keramaian yang diselenggarakan dengan tayub. Jika seseorang menjadi mabuk, maka sulitlah untuk menguasai diri. Apalagi jika orang itu memiliki kebanggaan bahwa ia dapat bersikap sebagai seorang laki-laki. Kita tidak dapat ingkar Ki Bekel, bahwa seseorang ingin menunjukkan kelebihannya dengan tingkah laku yang aneh-aneh yang dapat mereka tunjukkan atau mencari kesempatan selama tayub berlangsung.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan membatasinya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki. Apalagi berhubungan dengan kehadiran orang-orang yang kita anggap asing itu. Mungkin saja mereka memanfaatkan kesempatan untuk membuat keributan disini.”

“Bagus,“ Risang mengangguk-angguk.

Tetapi Ki Bekel masih berkata, “Namun demikian, jika perlu kami akan mohon bantuan untuk menjaga ketertiban. Maksud kami, jika orang-orang asing itu datang. Adapun orang-orang padukuhan ini aku yakin akan dapat kami kendalikan.”

Risang masih mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian minta diri bersama Kasadha untuk kembali ke padukuhan induk.

Namun sepanjang perjalanan kembali Kasadha berkata, “Sayang besok aku sudah kembali ke Pajang, sehingga aku tidak dapat menyaksikan tari tayub dipadukuhan itu.”

“Kenapa tidak besok lusa saja?“ bertanya Risang.

“Jika aku terlambat sampai ke barak, aku akan mendapat hukuman. Padahal aku masih harus mengantar ibu dan bibi lebih dahulu,“ jawab Kasadha.

Risang mengangguk-angguk pula. Ia tahu benar akan hal itu, sehingga karena itu maka ia tidak akan menahannya lagi.

Sejenak kemudian maka keduanya telah berpacu mendekati padukuhan induk.

Demikian mereka sampai ke padukuhan induk, maka Risangpun telah memanggil Sambi Wulung dan Jati Wulung. Risang minta kepada mereka, agar besok malam mereka berada di padukuhan Simanyar untuk melihat keramaian.

“Keramaian apa?“ bertanya Sambi Wulung.

“Di padukuhan Simanyar akan diselenggarakan tayub,“ jawab Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Dengan ragu-ragu Sambi Wulung berkata, “Apakah kau anggap aku seorang penggemar tari tayub?”

Risang tersenyum. Katanya, “Jangan salah sangka. Aku tidak menganggap demikian, tetapi bahwa aku minta kau pergi ke Simanyar justru ada kepentingan yang lain kecuali tayub itu sendiri.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia berdesis, “Jadi?”

“Aku tadi baru saja pergi ke padukuhan-padukuhan disisi Utara dari Tanah Perdikan ini. Aku sudah bertemu dengan Ki Bekel Karanggayam, Ki Bekel Tegalwareng dan terakhir Ki Bekel Simanyar.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mendengarkan keterangan Risang itu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu Risangpun telah memberitahukan tentang orang-orang asing, jejaknya serta rencana keramaian di padukuhan Simanyar.

“Hubungi lebih dahulu Demang Cupuwatu,“ pesan Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka menjadi jelas apa yang harus mereka lakukan.

Namun dalam pada itu, Risangpun telah berbicara dengan Gandar pula. Tidak mustahil bahwa orang-orang asing itu sampai juga di padukuhan induk dan memasuki halaman rumah itu untuk berpura-pura melihat keramaian.

“Baiklah,“ jawab Gandar, “aku akan berhati-hati.”

“Tetapi jangan terlalu cepat bertindak. Perhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Sebaiknya keramaian-keramaian di Tanah Perdikan ini tidak terganggu,“ pesan Risang.

Demikianlah Risang masih membatasi persoalannya pada orang-orang yang dianggapnya dapat menahan diri serta tidak cepat melakukan tindakan-tindakan yang menyangkut banyak orang. Risang berharap bahwa dalam keadaan tertentu Sambi Wulung dan Jati Wulung berdua akan dapat mengatasi keadaan tanpa mengerahkan banyak pengawal dan anak-anak muda yang akan dapat mengganggu ketenangan Tanah Perdikan yang sedang bergembira itu.

Sebenarnya Kasadha juga ingin ikut memecahkan persoalan orang-orang yang tidak dikenal itu dan menge-: tahui maksud mereka. Tetapi dihari berikutnya Kasadha harus sudah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

“Sayang,“ katanya, “besok aku harus kembali. Mudah-mudahan tidak ada masalah yang gawat di Tanah Perdikan ini.”

Tetapi sambil tersenyum Risang berkata, “Jika terjadi sesuatu aku tentu akan memberitahukan kepadamu. Tidak sia-sia aku mempunyai seorang adik yang telah diangkat menjadi seorang Lurah Prajurit Pajang.”

Kasadhapun tertawa pendek. Tetapi diluar sadarnya, didalam dadanya terasa desir lembut. Tetapi terasa pedih. Ia memang adik Risang meskipun berbeda ibu. Namun betapapun samarnya, Kasadha harus mengakui bahwa antara dirinya dan Risang, sadar atau tidak sadar, telah terjadi semacam persaingan dalam hubungan mereka dengan Riris.

“Atau hatikulah yang memang kelam. Sementara itu Risang tidak berpikir apapun tentang Riris,“ berkata Kasadha didalam hatinya. Bahkan ia mulai menilai dirinya sendiri, apakah memang ada tetesan noda hitam dihatinya yang diwarisinya dari ibunya.

“Tidak,“ berkata Kasadha kepada dirinya sendiri didalam hatinya pula, “aku adalah seorang yang mempunyai nalar budi yang dapat aku pergunakan untuk menimbang baik dan buruk. Akal budi yang dikurniakan oleh Yang Maha Agung itulah yang harus mewarnai hidupku. Bukan siapa-siapa. Bukan pula ibu bapaku.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, Risang melihat Kasadha yang tiba-tiba saja merenung itupun bertanya, “Apa yang kau pikirkan? Orang-orang yang datang itu?”

“Ya,“ jawab Kasadha tanpa sempat berpikir, “Tetapi aku kira bukan saja aku. Ki Rangga Dipayudapun tentu akan berbuat sesuatu jika Tanah Perdikan ini mengalami kesulitan.”

Risang mengangguk-anggukjpula. Katanya, “Tetapi kau tidak usah terlalu memikirkan Tanah Perdikan ini. Biarlah kami mencoba untuk mengatasi persoalan kami. Tetapi bukan berarti bahwa kami tidak memerlukan bantuanmu jika kami memang mengalami kesulitan. Kami, di Tanah Perdikan ini ingin belajar untuk dapat tegak diatas kemampuan kami sendiri.”

“Ya. Tanah Perdikan ini akan segera menjadi dewasa penuh setelah mempunyai seorang Kepala Tanah Perdikan,“ desis Kasadha, “tetapi aku akan tetap menjadi bagian dari Tanah Perdikan ini, lebih-lebih jika terjadi kesulitan.”

“Terima kasih Kasadha,“ desis Risang, “ibuku dan ibumu tentu akan sangat bergembira pula melihat keutuhan Tanah Perdikan ini. Sementara itu kau bukan saja merupakan bagian dari Tanah Perdikan ini, tetapi kau harus ikut menentukan arah perkembangannya.”

Kasadhapun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku akan berusaha untuk memegang kewajibanku sebaik-baiknya, karena aku adalah anak Tanah Perdikan ini.”

Dalam pada itu, ibu dan bibi Kasadha memang merasa heran melihat sikap anaknya. Sepeninggal Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya, yang diantaranya adalah seorang gadis cantik yang bernama Riris itu, sikap Kasadha justru menjadi wajar kembali. Memang sekali-sekali anak muda itu masih merenung. Tetapi tidak lagi nampak gelisah dan bingung.

Perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat itu memang membuat ibu dan bibinya gelisah. Mereka menghubungkan perubahan-perubahan sikap Kasadha itu dengan hadirnya Riris dan kemudian kepergiannya bersama keluarganya.

Namun ada latar belakang yang berbeda dari kegelisahan antara ibu dan bibi Kasadha. Ibu Kasadha menjadi gelisah, bahwa hubungan anaknya dengan Riris akan dapat mempengaruhi kerukunannya dengan Risang, saudaranya seayah. Jika kedua anak muda itu mempunyai perasaan yang sama terhadap Riris, maka persoalannya akan dapat berkembang kearah yang tidak dikehendaki. Sedangkan bibi Kasadha merasa gelisah, bahwa perhatian Kasadha benar-benar ditujukan kepada gadis anak Ki Rangga Dipayuda, sehingga apa yang pernah diutarakannya kepada Kasadha tentang anak perempuannya akan tersisih dari perhatian anak muda itu.

Namun kedua perempuan itu masih belum dapat mencampuri persoalan Kasadha yang masih belum jelas bagi mereka.

Demikianlah, malam itu Kasadha masih berada di Tanah Perdikan Sembojan. Sebenarnya Kasadha berharap bahwa pada malam terakhir baginya berada di Tanah Perdikan dalam rangka wisuda Kepala Tanah Perdikan itu, ia dapat membantu memecahkan masalah orang-orang yang tidak dikenal di Tanah Perdikan Sembojan. Namun ternyata bahwa malam itu justru tidak ada laporan tentang kehadiran orang-orang yang dianggap asing itu.

Malam itu di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah diselenggarakan pertunjukan wayang beber. Pertunjukan yang sangat digemari. Apalagi dengan seorang dalang yang sangat terkenal dan digemari oleh orang-orang Sembojan.

Karena itulah, maka sampai pertunjukan selesai, menjelang fajar, penontonnya masih tetap memenuhi halaman rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Ketika kemudian fajar mulai menyingsing maka ibu dan bibi Kasadha sudah mulai berbenah diri. Seperti yang direncanakan, maka pada hari itu, Kasadha bersama ibu dan bibinya akan meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Betapapun ingin mereka untuk tinggal lebih lama, namun Kasadha tidak dapat menunda-nunda lagi. Ia masih harus mengantarkan ibu dan bibinya pulang, sebelum ia sendiri kembali ke baraknya di Pajang.

Ternyata bahwa kehadiran ibu dan bibi Kasadha yang hanya beberapa hari di Tanah Perdikan itu telah membuat ikatan yang erat antara mereka dan ibu Risang. Meskipun sebelumnya mereka bagaikan air dan minyak yang tidak dapat bercampur, namun kesadaran yang tumbuh dihati mereka telah membuat hubungan mereka menjadi akrab.

Karena itu, ketika saatnya mereka harus berpisah, terasa juga jantung mereka telah tergetar.

“Aku akan berusaha untuk dalam waktu dekat datang kembali ke Tanah Perdikan ini,“ berkata Warsi ketika ia minta diri untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu.

“Kami di Tanah Perdikan ini selalu menunggu kedatangan kalian,“ jawab Iswari.

Bibi yang sebelumnya masih merasa sulit untuk melupakan sikap dan kesalahan Warsi, ternyata hatinya menjadi lunak pula. Sikapnyapun telah menjadi baik dan wajar.

Demikian pula Gandar yang tahu pasti apa yang sebenarnya telah terjadi pada Iswari dan Warsi. Namun itu telah sangat lama berlalu. Yang berkepentinganpun telah memaafkannya.

Warsi dan sepupunyapun telah minta diri pula kepada Kiai Badra yang menjadi semakin tua, Kiai Soka dan Nyai Soka yang rambutnya telah memutih seperti kapuk.

Ketika Warsi mencium tangan Nyai Soka, maka terasa air matanya telah menitik.

“Alangkah bahagianya jika aku masih mempunyai orang-orang tua yang dapat menunggui aku setiap hari,“ desis Warsi.

Nyai Soka tersenyum sambil berkata, “Bukankah ada orang-orang tua disebelah-menyebelah rumahmu?”

Tetapi Warsi justru menjawab, “Akulah yang dituakan di lingkunganku.”

“Jika demikian, maka kau tentu mempunyai banyak anak dan cucu. Nah, kau dapat mengisi waktumu bersama mereka,“ berkata Nyai Soka kemudian.

“Ya Nyai,“ jawab Warsi, “namun kadang-kadang aku merasa betapa hidupku menjadi sepi.”

“Bagaimana dengan Ki Randukeling?“ bertanya Kiai Badra.

“Ki Randukeling memang masih sering mengunjungi aku. Tetapi iapun menjadi semakin tua, sehingga kewadagannya menjadi semakin lemah.”

“Bukankah itu wajar,“ sahut Kiai Soka, “setiap orang akan menjadi semakin tua dan semakin lemah. Tetapi hubungan kita dengan Yang Maha Agung tidak boleh ikut menjadi lemah.”

Warsi mengangguk sambil menjawab, “Ya Kiai. Akupun selalu berdoa bagi diriku sendiri, agar aku selalu merasa dekat dengan Yang Maha Agung.”

“Nah,“ berkata Nyai Soka kemudian, “baik-baiklah kau dengan lingkunganmu. Kau sudah dilahirkan kembali dalam keadaan yang jauh berbeda dengan masa hidupmu yang lalu. Karena itu, pertahankan citra hidupmu yang baru itu. Yang Maha Agung akan selalu memberikan terang kepadamu.”

Demikianlah Warsipun meninggalkan Tanah Perdikan. Beberapa saat ia berpelukan dengan Iswari. Namun kemudian merekapun harus berpisah.

Risang masih sempat mengantarkan Warsi, sepupunya dan Kasadha sampai ke gerbang padukuhan induk. Kemudian dilepaskannya mereka menempuh perjalanan yang cukup panjang, karena mereka tidak hanya sekedar sampai ke Pajang. Tetapi mereka masih harus singgah di Bayat, justru disebelah Barat Pajang. Sepeninggal Kasadha, ibu dan bibinya, maka rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu memang terasa sepi. Sementara itu keramaian dimalam-malam berikutnya akan tersebar di Kademangan-kademangan dan bahkan di padukuhan-padukuhan.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Risang, ibu dan seluruh keluarganya memang sudah merasa sangat letih. Sejak mereka mempersiapkan hari-hari wisuda dan kemudian diakhiri dengan keramaian yang meriah seakan-akan telah menguras tenaga mereka.

Walaupun demikian Iswari dan keluarganya merasa puas dengan segala-galanya. Meskipun tubuh mereka menjadi letih, tetapi kepuasan batin mereka membuat mereka tetap tegar.

Beberapa orang masih sibuk membersihkan rumah-rumah yang untuk beberapa hari telah dipinjam Iswari untuk menginap para tamu yang datang dari luar Tanah Perdikan Sembojan. Beberapa dinding batas yang dirubah harus dikembalikan lagi.

Tetapi ternyata bahwa orang-orang yang memiliki rumah itupun ikut berbangga pula, karena mereka telah dapat ikut membantu terselenggaranya wisuda bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Untuk mengisi waktunya, maka Risangpun kemudian telah mengunjungi beberapa padukuhan yang dimalam harinya akan menyelenggarakan keramaian, terutama padukuhan-padukuhan disisi Utara.

Kepada Bekel di padukuhan Simanyar, Risang menanyakan apakah semalam nampak orang-orang yang dianggap orang asing bagi padukuhan Simanyar.

“Semalam orang-orang itu tidak nampak disekitar padukuhan Simanyar,“ jawab Ki Bekel, “tetapi entahlah di padukuhan yang lain. Mungkin mereka melihat-lihat tempat lain yang juga menarik perhatian mereka.”

“Memang dari padukuhan-padukuhan lainpun tidak ada laporan,“ jawab Risang. Namun iapun sempat berpesan, “Tetapi jangan kehilangan kewaspadaan. Usahakan dapat berhubungan dan berbicara dengan mereka.”

“Baik ngger,“ jawab Ki Bekel Simanyar. Ketika Risang berkuda kembali ke padukuhan induk, maka ia sempat melihat bekas kaki-kaki kuda ditengah bulak dibawah batang pohon turi. Namun ia tidak melihat jejak-jejak baru di tempat itu. Sehingga Risang berkesimpulan bahwa orang-orang itu memang tidak mendekati padukuhan Simanyar. Tetapi itu bukan berarti bahwa perhatian mereka terhadap padukuhan itu sudah hilang. Mungkin hanya sekedar tertunda.

Seperti yang pernah dikatakan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka malam itu mereka diminta untuk melihat tayub di banjar padukuhan Simanyar. Tetapi tugas mereka bukan menilai tayub itu sendiri. Bahkan jika perlu Sambi Wulung dan Jati Wulung diminta untuk melihat-lihat keadaan diseputar padukuhan itu.

“Daerah itu sangat subur,“ berkata Risang, “mungkin kesuburan lingkungan itulah yang menarik perhatian mereka.”

“Ya,“ desis Sambi Wulung, “hutan disebelah Timur padang perdu yang memang masih termasuk lingkungan padukuhan Simanyar itu memang sangat menarik perhatian. Sebuah sungai yang mengalir menembus hutan itu merupakan jalur yang membuat tanah disebelah-menyebelahnya menjadi subur. Jika hutan itu kemudian ditebang, maka lingkungan itu akan menjadi lingkungan persawahan yang subur sebagaimana sawah dibulak-bulak panjang disekitar padukuhan Simanyar.”

“Tetapi hutan itu merupakan tanah cadangan bagi perkembangan Tanah Perdikan ini. Itupun harus diperhitungkan, seberapa luas hutan itu dapat ditebang. Sebagaimana hutan-hutan yang lain yang ada di Tanah Perdikan ini,“ sahut Risang.

“Tetapi mungkin orang lain mempunyai perhitungan lain,“ berkata Jati wulung hampir bergumam.

“Memang mungkin,“ jawab Risang, “karena itu, maka aku minta kalian melihat kemungkinan itu. Sedangkan kemungkinan lain orang-orang itu adalah orang-orang dari Madiun.”

Meskipun orang-orang yang tidak dikenal itu baru nampak di Tanah Perdikan disisi Utara, tetapi Risang telah memerintahkan menyampaikan hal itu kepada para Demang diseluruh Tanah Perdikan. Mereka harus memberitahukan hal itu kepada para Bekel agar mereka berhati-hati. Tetapi para Bekel jangan tergesa-gesa bertindak, karena mereka masih belum tahu apa yang dikehendaki oleh orang-orang asing itu.

Demikianlah, keramaian-keramaian yang dilakukan hampir diseluruh Tanah Perdikan Sembojan telah dibayangi oleh kekhawatiran akan hadirnya orang-orang asing yang tidak dikenal. Namun demikian para Demang dan Bekel berusaha untuk tidak mengurangi kegembiraan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan seperti yang direncanakan maka keramaian di Sembojan itu akan berlangsung sekitar tujuh hari tujuh malam, meskipun diselenggarakan oleh Kademangan dan Padukuhan yang berlainan dan waktu yang bergantian. Disiang hari hampir disemua padukuhan bergantian menyelenggarakan pertunjukan reog. Sementara di malam harinya dipendapa Kademangan dan banjar-banjar padukuhan diselenggarakan pertunjukan tari, wayang beber atau tayub sebagaimana diselenggarakan di padukuhan Simanyar.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tidak henti-hentinya mengunjungi keramaian-keramaian itu. Di Simanyar mereka tidak menemukan orang-orang yang pantas dicurigai. Mereka juga tidak melihat ada orang-orang yang tidak dikenal berkeliaran.

Tetapi dimalam berikutnya, ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung berada di padukuhan Sukareja, maka keduanya telah melihat sesuatu yang menarik perhatian.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang mengenakan pakaian orang kebanyakan dan berada diantara para penonton itu telah melihat-lihat keadaan disekitar pendapa banjar padukuhan. Bahkan kemudian selagi pertunjukan tari topeng-masih berlangsung di banjar keduanya telah meninggalkan tontonan itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah banyak mengenali orang padukuhan Sukareja merasa belum pernah mengenal, bahkan belum pernah melihat orang itu. Karena itu, maka keduanya merasa perlu untuk melihat apa yang mereka lakukan di padukuhan Sukareja itu.

“Apakah keduanya orang Madiun seperti yang telah menemui Risang itu?“ desis Jati Wulung.

“Kenapa mereka harus melakukan hal-hal yang mencurigakan? Bukankah orang Madiun itu langsung menemui Risang meskipun saat itu ia tidak mau dipersilahkan singgah?“ sahut Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, agaknya memang bukan. Kita memang harus melihatnya lebih jauh.”

Dengan demikian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itu telah berusaha mengikuti kedua orang yang meninggalkan banjar itu. Ternyata keduanya berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan yang sepi, karena sebagian besar penghuninya berada di banjar.

Sekali-sekali memang terdengar tangis bayi didalam rumah yang pintunya telah tertutup rapat. Bayi yang masih terlalu kecil untuk diajak pergi ke banjar melihat keramaian, sehingga karena itu, maka ibunya harus menungguinya dirumah.

Ketika kedua orang itu memasuki jalan induk padukuhan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mendahului mereka, berloncatan melewati dinding batas halaman menuju gardu dimulut lorong.

Ternyata digardu itu masih ada ampat orang anak muda yang meronda. Mereka memang terkejut melihat kehadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Aku sedang mengawasi dua orang,“ desis Sambi Wulung,

“Siapa?“ bertanya salah seorang dari anak-anak muda yang kebetulan telah mengenal Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan baik.

Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “Aku belum tahu. Aku justru ingin mengetahui apa yang mereka lakukan. Karena itu, jika mereka lewat didepan gardu ini jangan kau hentikan. Kau boleh menyapa sekedarnya, tetapi biarkan mereka lewat.”

Anak muda itu tanggap akan maksud Sambi Wulung. Karena itu maka iapun menjawab, “Baiklah. Kami akan membiarkan orang-orang itu lewat.”

“Terima kasih,“ sahut Sambi Wulung. Tetapi ia masih sempat bertanya, “Kalian tidak menonton keramaian di banjar?”

“Aku mendapat giliran ronda malam ini. Besok saja aku dapat melihat tontonan dipadukuhan sebelah.”

Sambi Wulung menepuk bahu anak muda itu. Katanya, “Bagus. Kau harus dapat mengesampingkan kesenanganmu untuk kepentingan orang banyak. Meskipun bukan berarti bahwa kau harus mengorbankan segala-galanya.”

“Terima kasih atas pujian itu,“ jawab anak muda itu sambil tersenyum.

Sambi Wulungpun tersenyum pula. Tetapi sekejap kemudian keduanya telah hilang didalam kegelapan.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Sambi Wulung oan Jati Wulung. Dua orang memang lewat didepan gardu itu. Bahkan keduanya justru berhenti didepan gardu sebelum anak-anak muda itu menyapa.

“Apakah padukuhan ini perlu dijaga?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

Anak muda yang tertua diantara keempat orang peronda itu meloncat turun dari gardu sambil menjawab, “Ya Ki Sanak. Malam ini ada keramaian di banjar. Jika semua orang pergi ke banjar, maka rumah-rumah akan menjadi kosong sehingga perlu mendapat pengawasan khusus.”

“Tetapi kalian hanya duduk saja disini. Bagaimana kalian tahu jika terjadi sesuatu ditengah-tengah padukuhan kalian ini. Pencuri misalnya atau apalagi perampok. Justru karena padukuhan ini ada keramaian, maka banyak orang yang hilir mudik keluar masuk padukuhan. Sebagian dari mereka justru bukan orang Tanah Perdikan ini.”

“Ya Ki Sanak,“ jawab peronda itu, “karena itu maka ampat orang kawan kami sedang nganglang padukuhan ini disisi Barat. Sedangkan peronda di gardu ujung Timur meronda disisi sebelah Timur dari padukuhan ini.”

“Tetapi aku tidak bertemu dengan para peronda itu,“ berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Mungkin Ki Sanak berselisih jalan,“ jawab peronda itu.

“Memang mungkin,“ jawab kedua orang itu.

Namun diluar sadarnya peronda itu bertanya, “Apakah Ki Sanak baru saja melihat keramaian?”

“Ya. Aku baru dari banjar,“ jawab orang itu.

“Kenapa Ki Sanak sudah meninggalkan keramaian? Nampaknya baru Ki Sanak berdua yang keluar dari padukuhan ini meskipun sejak sore tadi banyak sanak dari padukuhan lain yang memasuki padukuhan ini. Bukankah pertunjukan masih panjang? Bahkan semalam suntuk?”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka menjawab, “Aku tidak tertarik untuk melihat lebih lama lagi. Penari-penari yang jelek. Nampaknya mereka dipaksa untuk menari tanpa mengerti bagaimana seseorang harus menari.”

Anak-anak muda yang ada di gardu itu tiba-tiba saja merasa tersinggung. Hampir berbareng yang lainpun telah berloncatan turun pula. Seorang diantara anak-anak muda itu menyahut, “Ki Sanaklah yang tidak mengenal tari. Mereka adalah penari-penari terbaik bukan saja dari padukuhan ini. Beberapa orang kami undang dari padukuhan lain, bahkan dari padukuhan induk.”

“Kau sendiri tidak menyaksikannya,“ jawab orang Itu.

“Aku sudah melihat latihan-latihannya. Aku melihat gladi resiknya dan tadi serba sebentar aku sudah melihat pula,“ jawab anak muda itu.

Kedua orang itu saling berpandangan lagi. Namun keduanya tersenyum. Seorang yang lain berkata, “Baiklah. Mungkin kami memang tidak banyak mengenal tari. Kami minta maaf.”

Anak-anak yang meronda itu termangu-mangu sejenak. Mereka yang sudah siap mempertahankan harga diri para penari di padukuhannya itu ternyata justru kehilangan greget ketika kedua orang itu justru minta maaf.

Namun ternyata kedua orang itu tidak segera meninggalkan gardu itu. Mereka justru melangkah mendekat. Seorang dari mereka berkata, “Apakah aku boleh ikut duduk digardumu? Bukankah aku tidak mengganggu?”

Orang tertua diantara para peronda itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun sudah tentu bahwa para peronda itu tidak dapat menolak mereka begitu saja.

Karena itu, maka kedua orang itupun kemudian telah dipersilahkannya duduk.

Meskipun demikian para peronda itupun selalu ingat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang tentu menunggu kedua orang itu. Tetapi kedua orang itu agaknya sudah terlalu lama tidak muncul dari pintu gerbang.

“Anak-anak muda,“ berkata salah seorang dari kedua orang itu, “bagaimana kesan kalian tentang Kepala Tanah Perdikan kalian yang masih sangat muda itu?”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Baru sejenak kemudian yang tertua diantara mereka menjawab, “Ia memang berhak untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan ini. Ia adalah cucu Ki Gede Sembojan yang memerintah Tanah Perdikan ini sebelumnya.”

“Tetapi bukankah jabatan itu pernah dipangku oleh seorang perempuan?“ bertanya orang itu.

“Ya. Ibu Risang, yang sekarang menjadi Kepala Tanah Perdikan ini,“ jawab anak muda yang tertua diantara para peronda itu.

“Apakah anak itu mampu melakukan tugasnya dengan baik?“ bertanya orang itu pula.

“Ia baru beberapa hari ini diwisuda. Tentu saja kami belum dapat menilainya dengan baik. Tetapi seandainya terdapat kekurangan-kekurangan padanya, maka ibunya masih ada. Ia akan dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan yang rumit,“ jawab anak itu.

“Tetapi apa yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan,“ desis orang itu kemudian.

“Bukankah Ki Sanak tahu bahwa sebelumnya ia memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini? Selama perempuan itu memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan, segala sesuatunya berjalan dengan baik. Apalagi sekarang.”

“Bukankah itu hanya satu kebetulan bahwa selama itu tidak pernah terjadi persoalan yang gawat di Tanah Perdikan ini?“ berkata orang itu pula.

“Tentu sudah. Pergolakan di Pajang membuat Tanah Perdikan ini bergejolak pula. Terakhir, Pajang justru mengirimkan prajurit-prajuritnya kemari. Justru saat Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini dipangku oleh seorang perempuan.”

Tetapi kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Aku kagum kepada kesetiaan para bebahu Tanah Perdikan ini. Mereka selama ini tunduk dan setia kepada seorang pemimpin yang sebenarnya tidak berhak memegang kendali pemerintahan disini. Apalagi ia seorang perempuan. Para bebahu itulah yang sebenarnya memiliki kemampuan dan ketrampilan memimpin Tanah Perdikan ini. Bukan perempuan itu. Dan sudah tentu bukan pula anaknya yang bernama Risang itu.”

Peronda yang tertua diantara keempat anak-anak muda itu dengan serta merta menyahut, “Itu persoalan kami. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya datang ke tanah Perdikan ini?”

“Jangan marah anak muda,“ berkata orang itu, “kami tidak bermaksud buruk. Kami hanya ingin menempatkan persoalannya pada tempat yang sewajarnya.”

“Sewajarnya apa maksudmu?“ bertanya anak muda yang lain.

“Sebenarnyalah kesadaran kami tentang hak atas Sembojan memang sudah terlambat. Tetapi masih belum berarti segala-galanya tidak lagi dapat dibicarakan,“ jawab orang itu.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan,“ berkata salah seorang diantara anak-anak muda itu.

“Kau masih terlalu muda untuk mengetahuinya,“ jawab orang itu, “tetapi barangkali kau memang perlu mendengar apa yang sebenarnya terjadi atas Tanah Sembojan ini.”

“Apa yang sesungguhnya terjadi itu?“ bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “sebenarnya sebagian besar dari tanah Perdikan ini telah melanggar hak dan milik orang lain.”

“Kenapa?“ bertanya anak muda yang tertua dian-tarapara peronda itu.

“Dahulu disini berdiri sebuah padepokan yang besar dan kuat. Tetapi padepokan itu telah didesak oleh kekuatan seseorang yang berhasil membujuk para pemimpin dari Demak untuk membantunya menyingkirkan padepokan itu. Daerah yang berhasil direbutnya itulah yang kemudian disebut Tanah Perdikan Sembojan sekarang ini.”

“Omong kosong,“ desis salah seorang anak muda yang ada digardu itu.

“Memang sudah lama sekali terjadi. Kamipun belum lama mengetahui akan hal itu. Tetapi karena orang-orang tua kami telah menceriterakan hal ini kepada kami, maka kamipun berniat untuk mempersoalkannya kembali. Sebenarnyalah hal ini akan kami lakukan sebelum Tanah Perdikan ini mempunyai Kepala Tanah Perdikan yang sah seperti sekarang ini. Tetapi kami ternyata terlambat. Meskipun demikian, kami merasa bahwa hak kami untuk mempersoalkannya,“ berkata orang itu.

“Kau jangan mengigau,“ geram salah seorang anak muda, “bukan hanya kedudukan Kepala Tanah Perdikan saja yang telah disahkan. Tetapi juga lingkungan wilayah Tanah Perdikan ini. Jika Ki Tumenggung Wreda Wirajaya mengesahkan kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini dengan mewisuda, maka itu berarti bahwa kedudukan dan batas wilayah Tanah Perdikan inipun sah. Apa yang dilakukan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya itu adalah atas nama kuasa Kangjeng Adipati di Pajang.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Menurut Kangjeng Adipati di Pajang itu sudah sah. Wilayah dan batas Tanah Perdikan inipun sah pula.”

“Sejak kekuasaan tertinggi berada di Demak, kedudukan Tanah Perdikan ini adalah sah,“ jawab anak muda itu.

Tetapi orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Kau salah anak muda. Mungkin Pajang menganggap kedudukan itu sah. Tetapi belum tentu dengan Madiun.“

“Kenapa dengan Madiun?“ bertanya anak muda itu.

“Apalagi kedudukan Tanah Perdikan ini. Sedangkan Madiun dapat menganggap kedudukan Pajang itu sendiri tidak sah,“ jawab wang itu bersungguh-sungguh.

“Aku tidak tahu apa yang kalian katakan,“ jawab anak muda itu, “menurut pendengaranku, Madiun telah mengucapkan selamat pula kepada Risang yang telah diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan lewat salah seorang pejabatnya yang datang ke tanah Perdikan ini meskipun tidak resmi.”

“Tentu hanya satu dongeng ngaya-wara,“ jawab orang itu.

“Kata-katamulah yang tidak masuk akal,“ bentak anak muda yang tertua, “kau tidak dapat mengigau seperti itu disini sekarang. Pergilah. Kata-kata dan sikapmu telah menyebarkan kemarahan dihati kami.”

Tetapi kedua orang itu tertawa. Katanya, “Anak-anak muda. Aku datang dari sebuah padepokan yang besar dan berwibawa. Kau tidak dapat mengusir aku seperti mengusir tikus begitu. Apalagi aku merasa bahwa aku berada diatas bumiku sendiri.”

“Cukup,“ bentak anak muda yang tertua itu, “sekali lagi aku minta kau meninggalkan tempat ini.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu anak-anak muda digardu itu berharap bahwa kedua orang itu akan meninggalkan gardu itu dan bertemu dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung sehingga keduanya akan dapat mendengar keterangan kedua orang yang tidak dikenal itu.

Tetapi ternyata kedua orang itu tidak segera pergi. Meskipun keduanya sudah turun dari gardu, namun keduanya masih tetap bediri ditempatnya. Seorang diantara mereka berkata, “Sayang anak-anak muda. Kau tidak dapat memperlakukan kami seperti itu. Sudah aku katakan, bahwa kami berdua tidak akan dapat kau bentak-bentak seperti itu.”

Anak muda yang tertua diantara para peronda itu berkata, “Jika demikian, maka kami akan menangkap kalian dan membawa kalian menghadap Ki Bekel untuk selanjutnya dibawa menghadap Kepala Janah Perdikan ini.“

Kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Jangan aneh-aneh. Kalian tidak akan dapat melakukannya.”

“Jika kalian berdua tidak mau pergi dari tempat ini, maka kami akan melakukannya. Kami akan menangkap kalian.”

“Sebenarnya kami ingin berhubungan dengan kalian dengan cara yang baik. Pada saatnya tanah ini akan kembali kepada kami. Dengan demikian maka kita akan selalu berhubungan dalam pergaulan hidup kita sehari-hari. Tetapi jika seseorang menentang kami, maka orang itu tidak berhak hidup diatas bumi yang subur ini. Orang itu harus pergi atau ditiadakan sama sekali.”

Keempat anak muda itu tidak dapat menahan diri lagi. Mereka adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang telah mendapat serba sedikit latihan-latihan olah kanuragan. Merekapun telah mempunyai pengalaman mempergunakan senjata. Karena itu, maka yang tertua diantara merekapun berkata, “Ki Sanak. Jika demikian, marilah. Kita menghadap Ki Bekel. Kau dapat berbicara apa saja kepada Ki Bekel.”

Tetapi seorang diantara kedua orang itu berkata lancang, “Kau harus minta maaf kepada kami, agar pada saatnya kami kembali ketempat ini, kalian kafan ijinkan untuk tinggal disini. Kalian harus tahu, bahwa Pajang masih harus menguji diri terhadap kekuasaan Madiun.”

“Jadi kau memang orang Madiun?“ bertanya anak itu.

“Sudah aku katakan. Kami tinggal disebuah padepokan yang besar dan berwibawa. Kami memang tinggal di wilayah Madiun. Sejak Madiun menentukan sikapnya terhadap Pajang dan Mataram, maka kamipun berniat menentukan sikap kami terhadap Tanah Perdikan ini.”

Keempat anak muda itupun segera bersiap. Dengan lantang pula yang tertua diantara mereka berkata, “Jangan mencoba melawan kami. Kami bertanggung jawab atas keamanan padukuhan ini.”

Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak menghirau kannya. Dengan tegas seorang diantara mereka berkata, “Tundukkan kepala kalian. Kalian harus minta maaf kepada kami. Kalian dengar?”

“Tidak,“ anak muda itu hampir berteriak, “buat apa aku minta maaf kepadamu?”

Tetapi baru saja mulutnya terkatub, maka terdengar anak muda itu mengaduh. Tubuhnya terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja ia jatuh terlentang. Namun ternyata ia masih mampu bertahan untuk tetap berdiri tegak. Tetapi ketika ia mengusap bibirnya yang pedih, terasa darah yang hangat mengalir dari bibirnya yang pecah.

Anak muda itu marah bukan buatan. Dengan cepat iapun telah meloncat menyerang. Demikian pula kawan-kawannya yang melihat salah seorang dari kedua orang asing itu telah memukul kawannya dengan tiba-tiba.

Sejenak kemudian telati terjadi perkelahian antara dua orang yang tidak dikenal itu dengan ampat orang peronda yang ada digardu. Ternyata bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga dalam waktu singkat keempat anak muda itu telah terdesak. Bahkan ketika salah seorang diantara mereka meloncat kearah kentongan yang tergantung diemper gardu itu, tiba-tiba terasa tangannya dicengkam oleh kekuatan yang sangat besar. Satu dorongan yang sangat kuat telah melemparkannya keseberang jalan, sehingga anak muda itu jatuh terjerembab. Hampir saja kepalanya membentur dinding batu batas halaman diseberang jalan.

Namun hempasan yang sangat kuat itu telah membuat kepalanya menjadi pening sehingga ketika ia berusaha untuk bangkit, maka terasa tubuhnya bergetar dan pandangan matanya berputar, sehingga sekali lagi ia jatuh terbanting ditanah.

Sebelum anak muda itu sempat memperbaiki keadaannya, maka seorang lagi diantara anak-anak muda itu vang terlempar jatuh. Punggungnya justru menimpa tiang gardu itu sehingga terdengar ia mengaduh kesakitan. Gardu itupun berguncang. Untunglah bahwa obor yang menyala itu tidak jatuh menimpanya.

Dua orang anak muda yang tersisa memang tidak berdaya. Meskipun mereka masih bertempur dengan mengejankan segenap kemampuan mereka, tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Beberapa kali tubuh mereka justru lelah terkena serangan lawan-lawan mereka. Beberapa kali pula keduanya terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan. Tetapi agaknya kedua orang asing itu dengan sengaja telah mempermainkan mereka. Dengan nada tinggi seorang diantara kedua orang yang tidak dikenal itu berkata, “Nah, sebaiknya kalian serba sedikit mengenal kami. Tetapi kalian tidak perlu membunyikan kentongan. Dengan demikian maka keramaian di banjar itu akan sandal terganggu. Bahkan mungkin keadaannya akan menjadi kacau-balau.”

Kedua orang anak muda itu benar-benar tidak mampu berbuat banyak. Bahkan seorang diantara mereka telah terlempar dengan kerasnya menimpa anak muda yang masih terhenyak ditempatnya dengan pandangan mata berkunang-kunang.

Namun dalam pada itu, selagi wajah kedua orang anak muda itu mulai menjadi pengab, tiba-tiba saja telah terdengar suara dari luar pintu gerbang, “Bagus Ki Sanak. Ternyata kalian hanya berani menyakiti anak-anak.”

Kedua orang itu terkejut. Merekapun segera meloncat surut. Sementara itu dari luar pintu gerbang nampak dua orang melangkah mendekat. Keduanya adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Aku mencoba mendengarkan pembicaraan kalian. Meskipun tidak seluruhnya dapat kami dengar, tetapi kami dapat menangkap maksud kalian,“ berkata Sambi Wulung.

“Siapakah kalian berdua?“ bertanya salah seorang dari kedua orang asing itu.

“Aku penghuni padukuhan ini. Namaku Sambi Wulung sedangkan adikku ini namanya Jati Wulung. Kami baru pulang dari sawah, karena kebetulan kami sedang mendapat bagian air. Sebenarnya kami ingin segera melihat keramaian di banjar. Namun tingkah laku kalian sangat menarik perhatian kami.”

“Ki Sanak,“ berkata salah seorang dari kedua orang asing itu, “jika kalian sudah mendengar pembicaraan kami, maka sebaiknya kalian segera menentukan sikap. Bertinkah laku baik dihadapan kami atau mengalami nasib buruk seperti anak-anak itu. Tetapi karena kalian sudah terlalu tua untuk mendapat pelajaran yang sama dengan anak-anak itu, maka sebaiknya kalian jangan membuat kami marah.”

“Kalau aku boleh tahu, siapakah nama kalian dan kalian datang dari padepokan mana? Padepokan yang mengaku memiliki bumi perdikan ini.”

“Aku memang tidak ingin merahasiakan namaku. Aku Nagawana dan ini saudara seperguruanku, Nagawereng,“ jawab orang itu.

“Apakah itu memang nama kalian sendiri atau nama yang kalian buat kemudian untuk satu kebanggaan,“ bertanya Sambi Wulung dengan nada sumbang.

“Jangan bersikap begitu Ki Sanak,“ berkata orang yang disebut namanya Nagawereng, “kalian sudah terlalu tua untuk membuat persoalan dengan orang lain. Kalian telah berada didunia senja sehingga sebentar lagi maka langitpun akan menjadi kelam. Karena itu seharusnya kalian bersikap baik, agar kalian tetap mendapat tempat tinggal di padukuhan ini.”

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Terima kasih atas kesempatan itu Ki Sanak. Tetapi kesempatan itu seharusnya datang dari Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukan dari kalian, meskipun kalian mengaku memiliki Tanah Perdikan ini.”

“Ah,“ desah Nagawana, “Nampaknya Ki Sanak memang keras kepala. Bukankah kalian melihat bahwa ampat anak-anak muda yang masih kuat dan berkemampuan tinggi ini sama sekali tidak berdaya menghadapi kami? Apalagi kalian. Atau kalian ingin bersandar pada bunyi kentongan? Sudah aku katakan, bunyi kentongan hanya akan mengacaukan tontonan di banjar padukuhan itu. Dan itu sama sekali tidak menguntungkan bagi kalian dan orang-orang yang sedang bergembira itu.”

“Aku sependapat,“ jawab Sambi Wulung, “kami tidak akan membunyikan kentongan. Anak-anak muda itupun tidak. Aku ingin bersikap baik kepada kalian berdua. Aku minta kalian bersedia bersamaku pergi menemui Ki Bekel di padukuhan ini atau langsung menemui angger Risang, Kepala Tanah Perdikan yang baru saja diwisuda. Percayalah bahwa Kepala Tanah Perdikan yang muda itu mempunyai cukup kebijaksanaan untuk menyelesaikan persoalannya dengan kalian.”

“Pada suatu saat kami memang akan menemui anak muda yang menyebut dirinya Kepala Tanah Perdikan itu. Kami ingin berbicara tentang hak kami. Tetapi sudah tentu dengan cara yang terhormat. Bukan dengan pengawalan sebagaimana seorang tawanan yang sedang digiring ke tiang gantungan.“

“Tentu tidak,“ sahut Sambi Wulung, “marilah, kau akan diterima oleh angger Risang dengan baik sebagai tamu yang terhormat. Beberapa saat yang lalu angger Risang juga telah menerima seorang tamu dari Madiun meskipun tamu itu tidak bersedia dipersilahkan naik kependapa, justru karena di Tanah Perdikan ini sedang banyak tamu dari Mataram.

“Tidak Ki Sanak. Aku tidak akan menemuinya sekarang. Aku sudah cukup memperkenalkan diriku kepada anak-anak muda Tanah Perdikan. Kalian, orang-orang senja itu sebaiknya tidak usah berbuat apa-apa. Bawa saja pesanku kepada Risang, bahwa pada suatu saat aku akan datang untuk membuat perhitungan. Risang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima syarat-syarat yang kami ajukan. Pajang tidak akan dapat campur tangan jika Pajang tidak ingin berbenturan dengan Madiun.”

Tetapi Sambi Wulung tertawa. Katanya, “jangan menakut-nakuti dengan nama besar Kangjeng Adipati di Madiun. Sudah aku katakan bahwa Madiun justru datang untuk mengucapkan selamat. Bahkan pada kesempatan lain pejabat dari Madiun itu akan datang lagi. Madiun justru menawarkan bantuan kepada angger Risang sejauh dapat dipenuhinya.”

Kedua orang itu mengerutkan dahinya. Mereka berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Kalian petani-petani tua jangan terlalu banyak membual. Apa yang ingin aku tunjukkan kepada para pengawal Tanah Perdikan ini sudah cukup. Sekarang aku akan pergi. Tetapi pada kesempatan lain aku akan datang menemui Risang.”

“Apakah kau menganggap sudah cukup?“ bertanya Sambi Wulung, “tidak Ki Sanak. Kau harus menghadap angger Risang sekarang. Setelah menyakiti anak-anak itu kau tidak dapat begitu saja pergi.”

“Ki Sanak,“ berkata Nagawereng, “aku tahu bahwa kalian berdua tentu serba sedikit memiliki ilmu kanuragan. Jika tidak kalian tidak akan berani berbuat seperti itu. Tetapi aku peringatkan bahwa kami dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang sudah kami lakukan terhadap anak-anak muda itu. Karena itu minggirlah.”

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun justru saling menjauh. Sambi Wulungpun kemudian berkata, “Kalian tidak dapat pergi begitu saja. Kalian harus menghadap angger Risang.”

“Orang-orang tua yang tidak tahu diri. Jika terjadi sesuatu atas kalian, bukan salah kami. Kami telah memperingatkan kalian beberapa kali. Tetapi kalian ternyata keras kepala.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak beringsut. Tetapi Sambi Wulung berkata kepada anak-anak muda yang telah bangkit berdiri meskipun masih saja menyeringai menahan sakit.

“Anak-anak muda. Kalian tidak perlu membunyikan kentongan. Aku sependapat dengan kedua orang yang menyebut dirinya Nagawana dan Nagawereng ini, agar tontonan di banjar tidak menjadi kacau. Biarlah kita selesaikan persoalan kita disini.”

Nagawana dan Nagawereng menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan nada rendah Nagawereng berkata, “Orang-orang tua yang sombong. Tetapi apaboleh buat. Kalianlah yang membuat persoalan diantara kita.”

“Apapun yang kau katakan, tetapi kalian berdua telah melanggar hak atas tanah Perdikan ini. Kalian telah menyerang anak-anak muda yang sedang menjalankan tugasnya,“ sahut Sambi Wulung sambil bergeser mendekati Nagawana.

Nagawanapun segera bersiap. Kepada Nagawereng ia berkata, “Kita selesaikan mereka dengan cepat. Aku tahu, mereka dengan sengaja mengulur waktu sambil menunggu anak-anak muda yang meronda berkeliling.”

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah bersiap sepenuhnya. Ketika kemudian Nagawana mulai menggerakkan kedua tangannya menebas kearah leher dari dua arah, maka Sambi Wulungpun melangkah surut.

Tetapi Nagawana memang belum berniat menyerang bersungguh-sungguh. Ia ingin melihat kecekatan orang yang menyebut dirinya petani padukuhan itu yang sedang mendapat giliran air bagi sawahnya.

Meskipun Sambi Wulung juga hanya sekedar menghindari tangan Nagawana, tetapi justru sikap Sambi Wulung yang nampaknya tenang-tenang saja itu telah mengisyaratkan, bahwa petani-petani tua itu memiliki ilmu yang cukup.

Sementara itu, berbeda dengan dengan Nagawana, maka Nagawereng telah benar-benar meloncat menyerang Jati Wulung dengan kakinya yang terjulur lurus menyamping. Nagawereng merasa bahwa waktunya telah banyak yang tersita oleh pembicaraannya dengan kedua orang itu tanpa arti. Bahkan kedua orang itu tentu hanya berusaha untuk mengulur waktu agar mereka sempat minta pertolongan kepada para peronda yang sedang berkeliling padukuhan yang sebentar lagi tentu akan datang kembali ke gardu itu.

Namun serangan serangannya itupun sama sekali tidak menyentuh tubuh Jati Wulung. Dengan tangkasnya Jati Wulungpun meloncat menghindari serangan itu. Bahkan dengan cepat pula tubuh Jati Wulung berputar dengan cepat. Kakinyalah yang terayun mendatar mengarah kedada Nagawereng. Nagawereng memang terkejut mendapat serangan itu. Ternyata orang tua itu masih juga cekatan.

Dengan tangkasnya Nagawereng meloncat surut, sehingga serangan Jati Wulung itu tidak mengenainya. Namun yang tidak diperhitungkan adalah kemampuan Jati Wulung bergerak dengan cepat. Sehingga karena itu, maka demikian kaki Nagawareng berjejak diatas tanah, maka serangan Jati Wulung telah menyusulnya pula.

Nagawereng yang tidak menduga sama sekali akan datang serangan itu tidak sempat menghindar lagi. Karena itu maka Nagawereng harus menangkis serangan itu.

Satu benturan kekuatan telah terjadi dengan serta merta. Keduanya memang belum mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka. Namun demikian benturan yang terjadi itu benar-benar telah mengejutkan Nagawereng. Orang tua yang mengaku petani yang baru pulang dari mengairi sawahnya itu, ternyata mempunyai kekuatan yang sangat besar. Benturan itu justru telah mendorong Nagawereng selangkah surut.

Tetapi Nagawereng sama sekali tidak merasakan hal itu sebagai satu ukuran kekuatan mereka. Nagawereng merasa bahwa ia benar-benar tidak siap. Bahkan justru karena ia menganggap bahwa lawannya memang tidak lebih dari seorang yang baru sekedarnya memiliki ilmu sehingga ia menjadi terlalu bangga karenanya.

Namun benturan itu telah memperingatkan Nagawereng, bahwa lawannya bukan sekedar seorang petani tua yang bangga memiliki sedikit tenaga dan kemampuan olah kanuragan.

Karena itulah, maka Nagawerengpun telah meningkatkan ilmunya pula. Apalagi ia memang ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran itu sebelum para peronda yang nganglang itu kembali ke gardu.

Tetapi mereka yang sedang bertempur itu, bahwa juga anak-anak muda yang sedang meronda itu tidak tahu, bahwa kawan-kawan mereka yang meronda berkeliling telah tersangkut di banjar melihat keramaian yang sedang berlangsung.

Meskipun kemudian Nagawereng meningkatkan ilmunya, namun ia masih saja merasa heran. Orang yang menyebut namanya Jati Wulung itu masih saja mampu mengimbanginya. Selapis ilmunya meningkat, maka kemampuan lawannyapun telah meningkat pula.

Nagawana sempat juga melihat Nagawereng terdorong surut ketika benturan terjadi. Bahkan Naga wanapun terkejut pula. Tetapi seperti Nagawereng, maka Nagawanapun mengira bahwa Nagawereng masih terlalu merendahkan lawannya.

Tetapi bahwa saudara seperguruannya terdorong surut dalam benturan kekuatan itu telah memberikan peringatan pula kepada Nagawana. Lawannya itupun tentu juga memiliki kekuatan yang cukup untuk mengimbangi kekuatannya.

Karena itulah, maka Nagawana telah meningkatkan kemampuannya pula. Iapun ingin segera menyelesaikan orang tua yang dianggapnya terlalu sombong itu.

Tetapi perhitungan Nagawana ternyata keliru. Orang tua itu tidak segera dapat ditundukkan. Bahkan semakin meningkat ilmunya, maka perlawanan Sambi Wulungpun menjadi berbahaya.

Sementara itu, anak-anak muda yang wajahnya telah menjadi biru pengab itu menyaksikan pertempuran dengan hati yang berdebar-debar. Mereka merasa bersukur, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung telah datang ke gardu. Nampaknya mereka merasa terlalu lama menunggu, sehingga mereka telah melihat apakah kedua orang itu terhenti dimulut lorong.

Jika saja Sambi Wulung dan Jati Wulung itu tidak datang kegardu itu, maka mungkin anak-anak muda itu telah mengalami nasib yang lebih buruk. Meskipun kedua orang itu agaknya memang tidak ingin membunuh mereka, tetapi keduanya tentu benar-benar akan menyakiti mereka. Bahkan mungkin mereka menjadi cacat.

Kehadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung tepat pada waktunya ternyata telah menyelamatkan mereka dari kemungkinan buruk itu.

Dengan tegang keempat orang anak muda itu memperhatikan pertempuran yang sedang terjadi. Meskipun ilmu mereka tidak terhitung tinggi, namun mereka dapat menduga bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung setidak-tidaknya tidak terdesak oleh lawan-lawannya yang garang itu.

Tetapi anak-anak muda itu tidak dapat berbuat apa-apa selain menyaksikan dengan jantung berdebaran. Sambi Wulung sendiri telah berpesan agar mereka tidak membunyikan kentongan untuk memanggil kawan-kawannya, karena hal itu akan dapat mengacaukan keramaian yang sedang berlangsung di banjar.

Namun sebenarnyalah Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak memerlukan bantuan. Keduanya ternyata tidak mengalami banyak kesulitan mengatasi kedua orang yang mengaku datang dari padepokan yang besar dan berwibawa itu.

Sebenarnyalah, Sambi Wulungpun dengan cepat telah mendesak Nagawana. Meskipun Nagawana meningkatkan ilmunya sampai ketataran tertinggi, namun ternyata bahwa Sambi Wulung masih saja mampu mengimbanginya. Demikian pula Nagawereng. Seakan-akan ia telah kehilangan akal untuk dapat mengalahkan Jati Wulung. Apapun yang dilakukannya, maka Jati Wulung selalu dapat mengimbanginya. Bahkan semakin lama justru semakin mendesak Nagawereng sehingga kadang-kadang Nagawereng harus berloncatan mengambil jarak.

Dengan demikian, maka kedua orang yang mengaku datang dari sebuah padepokan di daerah Madiun itu mengalami kesulitan. Serangan-serangan mereka semakin lama justru menjadi semakin kabur. Sementara itu, sekali-sekali tangan Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menyentuh tubuh mereka.

Nagawana yang yakin akan kemampuannya itu, justru harus mengaduh kesakitan ketika jari-jari Sambi Wulung yang berkembang merapat sempat menusuk bagian atas perut Nagawana. Terdengar orang itu mengumpat sambil mengambil jarak. Tetapi Sambi Wulung justru memburunya. Satu tendangan yang keras terayun menyamping. Tubuh Sambi Wulung yang bagaikan terbang itu datang terlalu cepat, sehingga Nagawana tidak sempat menghindarinya.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan adalah melindungi dadanya yang menjadi sasaran serangan itu dengan kedua tangannya yang bersilang didepan dadanya.

Tetapi serangan itu datang terlalu keras. Tangan yang bersilang itu tidak mampu menahan dorongan kaki lawannya yang datang dengan kuatnya.

Karena itu, maka justru kedua tangan yang bersilang itu telah menghentak menekan dadanya. Demikian kuatnya dorongan serangan itu, maka Nagawanapun telah terdorong pula beberapa langkah surut. Bahkan kemudian ia telah kehilangan keseimbangannya sehingga jatuh berguling. Tetapi Nagawana yang memiliki ketangkasan bergerak itu dengan cepat pula melenting bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ternyata Sambi Wulung tidak memburunya. Tidak pula menyerangnya pada saat-saat kedudukannya belum tegak. Seakan-akan Sambi Wulung membiarkannya bersiaga untuk menghadapinya.

Nagawana yang sudah berdiri tegak itu memang merasa heran bahwa Sambi Wulung tidak mempergunakan kesempatan itu. Namun Nagawana menyadari bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi.

Bahkan Sambi Wulung itupun kemudian berkata, “Nagawana. Apakah kau masih menolak untuk bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan ini?”

Nagawana menggeram. Katanya, “Apapun yang terjadi, aku tidak akan menemuinya sekarang. Tetapi aku akan datang pada kesempatan lain.”

“Apa bedanya? Mumpung kau sudah berada di Tanah Perdikan ini. Bukankah itu lebih baik? Dengan demikian persoalan yang akan kau bicarakan tidak tertunda-tunda lagi,“ berkata Sambi Wulung.

“Jangan berusaha menyelamatkan diri dengan cara yang licik itu. Jika kau tidak lagi mampu bertempur, minggirlah. Kami akan meninggalkan tempat ini,“ geram Nagawana.

“Jangan begitu,“ sahut Sambi Wulung sambil tertawa, “kita adalah orang-orang yang memiliki wawasan yang cukup luas tentang olah kanuragan. Apakah menurut penilaianmu kemampuanku berada dibawah kemampuanmu?”

“Ya,“ jawab orang itu tegas, “jika kau memaksakan perkelaian, maka bukan salahku jika aku nanti membunuhmu.”

Sambi Wulung tertawa semakin keras. Bersamaan dengan itu, maka Jati Wulung telah berhasil menembus pertahanan Nagawereng. Tangannya dengan kerasnya mengenai ulu hati sehingga Nagawereng itu terbungkuk kesakitan. Pada saat itu pula Jati Wulung dengan tangkas menangkap kepala lawannya dan menghentakkannya membentur lututnya yang diangkatnya tinggi-tinggi.

Terdengar Nagawereng mengaduh tertahan. Namun dengan cepat ia berusaha menyerang dengan kedua belah tangannya kearah perut Jati Wulung. Tetapi Jati Wulung yang melihat serangan itu sempat meloncat surut. Justru pada saat Nagawereng berusaha untuk tegak, serangan Jati Wulung telah datang lagi meluncur dengan derasnya. Tubuhnya yang berputar telah mengayunkan kakinya tepat mengenai keningnya.

Nagawereng terlempar kesamping. Dengan kerasnya ia terjatuh terbanting ditanah. Sekali ia berguling. Kemudian dengan cepat iapun bangkit berdiri. Tetapi untuk beberapa saat, punggungnya terasa nyeri, sementara dari bibirnya telah menitik darah. Lutut Jati Wulung telah memecahkan bibirnya ketika wajah itu terantuk lututnya itu.

Jati Wulungpun tidak segera menyerangnya. Iapun berdiri tegak beberapa langkah didepannya sebagaimana Sambi Wulung berdiri dihadapan Nagawana.

Sambi Wulung menunggu sejenak. Kemudian sambil lersenyum ia bertanya, “Apa katamu Ki Sanak.”

Wajah Nagawana menjadi panas. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa kedua orang yang mengaku petani itu memiliki ilmu yang tinggi.

Karena Nagawana dan Nagawereng masih berdiam diri saja, maka Sambi Wulung itupun berkata, “Ki Sanak. Aku kira kesempatan untuk memperkenalkan diri sudah cukup. Jika kau ingin menunjukkan kepada anak-anak itu bahwa kalian yang datang dari padepokan yang kau sebut besar dan berwibawa itu, maka kaupun telah melihat isi dari Tanah Perdikan Sembojan. Jika kau harap bahwa akan ada pembicaraan antara Tanah Perdikan ini dengan padepokanmu maka marilah, kita menghadap Kepala Tanah Perdikan ini.”

Wajah kedua orang asing itu menjadi tegang. Namun mereka memang tidak berniat untuk bertemu dengan Risang. Karena itu maka Nagawana dan Nagawereng masih berpikir bagaimana mereka harus menghindarinya. Sementara itu mereka memang tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa mereka berdua tidak dapat mengimbangi kemampuan kedua orang yang mengaku petani dari Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sementara itu Sambi Wulungpun berkata selanjutnya, “Kalian tidak mempunyai pilihan lain Ki Sanak.”

Nagawana menjadi tegang sekali. Namun tiba-tiba saja ia berteriak nyaring. Dengan cepat dan sekuat tenaga ia telah meloncat menyerang Sambi Wulung.

Nagawereng, saudara seperguruan Nagawana itu segera tanggap. Iapun berteriak pula keras-keras, sehingga suara mengumandang menggetarkan padukuhan yang sepi itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut. Serangan itu datang begitu tiba-tiba dan begitu cepat. Mereka menyadari bahwa teriakan-teriakan itu tentu merupakan isyarat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengira bahwa teriakan itu mengisyaratkan bahwa keduanya akan mengerahkan ilmu puncak mereka. Sehingga karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun meloncat menghindari serangan itu sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk bertempur dalam tataran ilmu tertinggi.

Tetapi sekali lagi keduanya terkejut. Ternyata Naga wana dan Nagawereng tidak memburu dan menyerang mereka. Bahkan tiba-tiba saja mereka telah meloncati dinding halaman dan menyusup diantara pohon-pohon perdu dan tanaman yang ada di halaman itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung itupun dengan cepat memburu. Merekapun telah meloncati dinding halaman pula. Sebagaimana kedua orang yang melarikan diri itu berpencar, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah berpencar pula.

Tetapi ternyata kedua orang yang ilmunya tidak dapat mengimbangi tingkat ilmu Sambi Wulung dan Jati Wulung itu memiliki kemampuan menghindar yang tinggi. Kelebihan waktu yang sekejap ternyata telah mampu membawa mereka menghilang dibalik tanaman tanaman di kebun. Apalagi ketika mereka mencapai rumpun-rumpun bambu di kebun belakang.

Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung mengejar mereka, seorang diantara anak-anak muda di gardu itu telah bangkit dan melangkah cepat mendekati kentongan. Tetapi anak muda tertua di gardu itu dengan serta-merta telah mencegahnya, “Jangan. Bukankah paman Sambi Wulung dan Jati Wulung melarang kita memukul kentongan agar keramaian di banjar tidak menjadi kacau?”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Namun katanya kemudian, “Tetapi bukankah dengan demikian seluruh isi padukuhan ini akan dapat ikut mengejar kedua orang itu.”

“Tetapi kegembiraan seisi padukuhan ini akan lenyap seketika. Beberapa lama kita mempersiapkan kera maian ini, sehingga jika terjadi kekacauan maka akan siap-sialah kerja kita selama ini. Padahal kita bukan saja telah mencurahkan tenaga, tetapi juga dana,“ jawab anak muda yang tertua itu.

Anak muda yang akan memukul kentongan itu mengurungkan niatnya. Iapun kemudian duduk di gardu sambil mengusap lambungnya yang masih.terasa sakit. Pundaknyapun rasa-rasanya menjadi retak. Sedangkan yang lainpun kemudian telah duduk pula. Semua anak muda yang ada digardu itu memang sedang kesakitan.

Tetapi beberapa saat kemudian Sambi Wulung telah meloncat dari halaman disebelah gardu itu. Sambil menggeleng ia berkata, “Ternyata mereka memiliki kemampuan berlari sangat tinggi. Aku tidak berhasil menyusul buruanku.”

“Bagaimana dengan paman Jati Wulung?“ bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

Belum lagi Sambi Wulung menjawab, maka Jati Wulungpun telah muncul pula sambil bergumam, “Orang itu mampu menghilang seperti iblis.”

“Aku juga kehilangan buruanku,“ sahut Sambi Wulung.

“Sebenarnya aku sudah akan memukul kentongan,“ berkata salah seorang dari anak-anak muda yang ada di gardu itu.

Tetapi Sambi Wulung berkata, “Untunglah, bahwa hal itu belum jadi kau lakukan. Sudah aku katakan, bahwa suara kentongan itu akan dapat membuat keramaian di banjar menjadi kacau.”

Anak muda itu mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, selagi mereka masih berbincang, seorang laki-laki tua yang tinggal tidak jauh dari gardu itu berjalan tertatih-tatih mendekati gardu. Seorang diantara anak muda itu menyongsongnya sambil bertanya, “Ada apa kek, malam-malam begini pergi ke gardu?”

“Aku mendengar teriakan-teriakan. Cucuku terkejut dan sampai sekarang tidak dapat tidur lagi. Jika anak itu tidur, sebenarnya ibunya dan kakaknya yang sulung akan pergi ke banjar,“ berkata orang tua itu.

“Jadi kakek mendengar teriakan itu?“ bertanya anak muda yang menyongsongnya.

“Tentu, teriakan yang keras. Mungkin orang-orang yang ada dirumah-rumah yang lain tidak mendengarnya, atau rumah disebelah itu memang kosong, karena semua isinya pergi ke banjar,“ jawab orang tua itu.

“Maaf Ki Sanak,“ jawab Sambi Wulung, “anak-anak itu jika sedang bergurau telah melupakan segala-galanya. Mereka berteriak-teriak tanpa mengenal waktu dan tempat.”

“Sekarang cucuku masih belum tidur, sehingga ibunya dan kakaknya yang sulung tidak dapat pergi ke banjar,“ berkata orang tua itu.

“Bukankah tontonan itu akan berlangsung semalam suntuk?“ bertanya Jati Wulung.

“Tetapi sudah tentu penontonnya lebih senang jika dapat melihat urut-urutan ceriteranya,“ jawab kakek tua itu.

“Kami minta maaf kek,“ jawab anak muda itu.

“Lain kali hati-hatilah. Jika kalian sedang meronda, kalian harus menjaga ketenangan dan ketentraman. Bukan justru merusak ketenangan dengan mengganggu orang-orang yang sedang tidur.”

“Ya kek,“ jawab anak muda itu.

“Nah, seharusnya yang tua-tua itu dapat mengatur anak-anak yang sedang meronda. Jangan sampai terjadi keributan,“ berkata orang itu pula. Namun tiba-tiba ia bertanya, “He, siapakah Ki Sanak berdua itu?”

“Kami datang dari padukuhan induk Tanah Perdikan ini, Ki Sanak. Kami memang jarang berada disini, sehingga Ki Sanak nampaknya belum mengenal kami. Tetapi anak-anak muda ini telah mengetahui siapakah kami. Kami datang untuk melihat keramaian yang diselenggarakan di Banjar.”

“Tetapi kenapa kalian masih ada disini, sedangkan malam sudah larut begini?“ bertanya orang tua itu.

“Bukankah pertunjukan itu akan berlangsung semalam suntuk? Sejak sore aku berada di padukuhan Banjarreja. Tetapi kami tidak dapat melihat wayang beber yang diselenggarakan di banjar, karena penontonnya penuh sesak. Jadi aku kemudian bergeser kemari. Tetapi di gardu kami sempat berbincang-bincang sejenak dengan anak-anak muda itu.”

“Dan berteriak-teriak,“ sahut orang tua itu.

Sambi Wulung tidak menjawab. Anak-anak muda itupun terdiam. Sementara itu orang tua itupun telah melangkah meninggalkan anak-anak muda yang termangu-mangu.

“Untunglah orang tua itu tidak melihat wajahnya yang biru pengab,“ desis salah seorang anak muda itu kepada kawannya.

Kawannya hanya tersenyum saja.

Dalam pada itu, ketika anak-anak muda itu kemudian duduk digardu, mereka melihat keempat kawannya yang meronda berkeliling padukuhan disisi Barat itu datang. Begitu mereka mendekati gardu, merekapun mulai tertawa-tawa. Seorang diantara mereka berkata, “Maaf, mungkin kami terlalu lama meronda berkeliling. Kami menyelusuri semua lorong-lorong sampai lorong yang paling sempit sekalipun. Kami mengetuk setiap pintu rumah dan mengamati semua kebun dan halaman.”

Tanpa berjanji anak-anak muda yang berada digardu, bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menjawab!

Karena itu maka salah seorang anak muda itu berkata, “Maafkan kami. Terus terang kami singgah sebentar di banjar,“ lalu katanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, “untunglah paman berdua menemani kawan-kawan kami yang bertugas di gardu.“ bahkan katanya kemudian, “tetapi jika kalian ingin melihat barang sebentar, pergilah.”

Anak-anak muda yang ada di gardu itu masih belum menjawab. Mereka hanya memandangi kawan-kawan mereka yang baru datang itu sambil berdiam diri.

Tiba-tiba saja salah seorang diantara mereka yang datang itu memandangi wajah kawan-kawannya itu dengan kerut didahinya. Semula ia hanya mengira bahwa yang nampak diwajah kawan-kawannya itu adalah bayangan cahaya obor digardu itu. Namun ternyata bukan.

“He, kenapa wajahmu itu? Dan wajahmu? Kenapa?“ bertanya anak itu dengan cemas.

Baru kemudian kawan-kawannyapun telah memperhatikannya pula. Mereka memang melihat sesuatu yang tidak wajar diwajah kawan-kawannya itu. Bahkan ada diantara mereka yang nampaknya bibirnya telah berdarah dan membengkak.

Baru kemudian keempat orang yang datang itu menjadi ribut. Mereka telah bertanya bergantian dengan nada cemas. Bahkan sekali-sekali mereka memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kalian mengira bahwa aku telah menyakiti mereka?“ bertanya Sambi Wulung.

“Tidak,“ jawab salah seorang dari para peronda itu, “tetapi kenapa?”

Sambi Wulung hanya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, yang tertua diantara mereka yang ada di gardu itu menjawab, “kami hampir mati terbunuh disini. Seandainya paman Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak kebetulan lewat, maka aku kira kami tidak melihat lagi kedatangan kalian.”

Keempat kawannya yang baru datang itu menjadi tegang. Seorang diantara mereka bertanya, “Apa yang terjadi, kenapa kalian tidak memukul kentongan?”

“Semula kami memang tidak ingin membuat keributan di padukuhan ini. Jika kami membunyikan kentongan, maka keramaian di banjar akan menjadi kacau balau. Apa yang telah dipersiapkan lama itu akan tidak berarti sama sekali. Ketika kemudian kami tidak mampu lagi melawan orang-orang itu dan berniat memukul kentongan, maka kami tidak sempat lagi. Ternyata mereka mampu menghalagi niat itu dan bahkan membuat kami tidak berdaya sama sekali. Nampaknya mereka benar-benar ingin menyakiti kami dan mungkin juga membunuh kami.”

“Siapakah yang kau maksud dengan mereka itu?“ bertanya salah seorang peronda yang tersangkut di banjar itu.

“Dua orang yang mengaku datang dari sebuah padepokan,“ jawab yang tertua diantara anak-anak muda yang ada di gardu.

“Kami minta maaf,“ berkata seorang dari mereka yang baru datang, “seharusnya kami tidak meninggalkan kalian terlalu lama, sehingga hal ini dapat terjadi.”

“Tetapi hal ini sudah terjadi,“ jawab salah seorang peronda yang ada di gardu itu.

“Itulah sebabnya kami minta maaf,“ sahut kawannya yang baru datang.

“Sudahlah,“ berkata Sambi Wulung, “segalanya sudah terlanjur. Sekarang aku akan minta diri. Aku harus segera melaporkan hal ini kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan malam ini juga. Kalian yang ada digardu ini dapat berceritera tentang kedua orang yang mendatangi gardu ini. Untunglah bahwa kami merasa terlalu lama menunggu kedua orang itu dibulak dan kami datang untuk melihat mereka di gardu ini, sehingga kami sempat melihat apa yang terjadi.”

“Kami mengucapkan terima kasih paman,“ berkata anak muda yang tertua diantara para peronda yang ada digardu.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Hati-hati sajalah. Mudah-mudahan mereka tidak kembali lagi.”

“Baik paman,“ jawab anak muda itu.

“Jika mereka kembali dan keadaan memang memaksa sekali, apaboleh buat. Kalian dapat membunyikan kentongan itu. Keramaian di banjar sudah berlangsung cukup lama. He, apakah sekarang sudah lewat tengah malam?”

“Sudah menjelang dini paman,“ jawab anak muda itu.

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun segera meninggalkan padukuhan itu langsung kembali ke padukuhan induk. Ternyata bahwa di padukuhan induk, Risang masih belum tidur. Iapun mengikuti keramaian yang terjadi di beberapa padukuhan lewat orang-orang yang memang ditugaskan untuk itu. Dengan demikian Risang dapat mengetahui kegembiraan orang-orang Tanah Perdikan itu sehubungan dengan wisuda yang telah dijalaninya.

Kedatangan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang langsung menemuinya itu memang membuatnya berdebar-debar. Sedangkan Sambi Wulung dan Jati Wulungpun ingin segera menyampaikan laporannya tentang peristiwa yang telah dialaminya.

Risang mendengarkan laporan itu dengan sungguh-sungguh. Sekali-sekali kepalanya terangguk-angguk. Namun kemudian dahinyalah yang berkerut.

“Jadi mereka datang dari Madiun?“ bertanya Risang.

“Tetapi tentu tidak ada hubungannya dengan Kangjeng Adipati di Madiun,“ jawab Sambi Wulung.

“Ya. Aku mengerti,“ jawab Risang, “mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan keadaan. Disaat mereka melihat mendung diatas hubungan antara Madiun dengan Pajang dan Mataram, maka mereka dengan serta-merta ingin mendapatkan keuntungan dari itu. Mereka mengira bahwa rhereka akan dapat dengan mudah mengambil Tanah Perdikan ini. Agaknya mereka mengira bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini bergantung kepada bantuan Pajang.”

“Kita memang harus bersiap-siap,“ berkata Sambi Wulung.

“Sayang, kami kehilangan mereka berdua,“ berkata Jati Wulung kemudian.

“Tetapi itu lebih baik daripada padukuhan yang sedang bergembira itu menjadi kacau,“ sahut Risang.

“Tetapi aku memperhitungkan, bahwa orang-orang itu atau mungkin bersama orang lain akan datang menemuimu,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “dengan demikian, maka kau harus sudah mempunyai landasan sikap menghadapi mereka.”

“Bukankah sikap kita sudah jelas?“ bertanya Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun Sambi Wulung kemudian berkata, “Tetapi sebaiknya kau sampaikan hal ini kepada ibumu. Meskipun sekarang kau adalah Kepala Tanah Perdikan, tetapi jabatan ini baru kau pegang beberapa hari, sementara ibumu telah melakukannya untuk waktu yang lama.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Ibu sekarang sudah tidur dibiliknya. Biar besok saja aku bicarakan hal ini sekaligus dengan kakek dan nenek.”

“Ya. Tetapi sekarang, sebaiknya kaupun beristirahat,“ berkata Sambi Wulung.

Risang mengangguk. Tetapi ternyata bahwa ia tidak segera beringsut dari tempatnya meskipun kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkannya sendiri di pendapa.

Untuk beberapa saat Risang masih termenung sendiri. Angan-angannya menerawang ke masa lampau dan ke masa mendatang. Ternyata bahwa jabatan yang dipegangnya memang menuntut tanggung jawab yang berat. Baru beberapa hari ia diwisuda, maka persoalan yang gawat telah membayang dihadapannya. Adalah kebetulan bahwa saat ia diwisuda langit diatas Pajang justru menjadi mendung. Persoalan dengan Madiun yang untuk beberapa saat mampu diredam, pada akhirnya muncul pula dipermukaan. Untunglah bahwa kedua belah pihak berusaha untuk menahan diri sehingga benturan akan masih dapat dicegah.

Namun akibat samping dari persoalan itu adalah justru ada sekelompok orang yang memanfaatkan keadaan mengambil keuntungan justru ketika Pajang dan Mataram sedang berusaha untuk meredakan goncangan-goncangan yang terjadi. Demikian pula Adipati di Madiun.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Risangpun akhirnya meninggalkan tempatnya. Agaknya memang sudah tidak ada laporan-laporan khusus datang dari padukuhan-padukuhan. Ternyata di padukuhan-padukuhan lain keramaian dapat berlangsung dengan baik dan kegembiraan mewarnai seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Dipagi hari berikutnya Risang telah menyampaikan laporan yang disampaikan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung bukan saja kepada ibunya, tetapi juga kepada kakek dan neneknya yang kebetulan duduk bersama-sama diruang dalam.

“Satu isyarat bahwa kau benar-benar harus mulai melakukan tugas serta tanggung jawabmu,“ berkata Kiai Badra.

“Ya kakek,“ jawab Risang, “mudah-mudahan mereka benar-benar datang untuk berbicara tentang tanah Perdikan ini. Dengan demikian aku dapat menunjukkan surat kekancingan yang pernah kita terima serta kekan-cingan jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sudah aku terima pula. Dengan melihat sendiri surat-surat kekancingan itu, maka mereka tidak akan dapat menuntut terlalu banyak lagi.”

Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, “Mereka tentu sudah mengetahui bahwa kita memiliki surat-surat kekancingan. Tanpa surat kekancingan maka tidak akan dapat dilakukan wisuda. Tetapi mereka dengan sengaja telah melontarkan satu perang urat syaraf untuk mengguncang ketahanan jiwani orang-orang Tanah Perdikan ini. Mereka berharap bahwa kekalutan antara Pajang dan Mataram dengan Madiun menjadi semakin parah.”

“Apakah dengan demikian berarti bahwa padepokan yang dikatakannya itu, mereka perhitungkan memiliki kemampuan untuk menguasai Tanah Perdikan ini?“ bertanya Risang.

“Ya. Mereka menganggap bahwa Tanah Perdikan ini adalah Tanah Perdikan yang bergantung kepada Pajang. Jika Pajang terlibat dalam perang melawan Madiun, maka Pajang tentu tidak akan sempat melindungi Tanah Perdikan ini,“ jawab Kiai Badra.

Risang mengangguk-angguk, sementara Kiai Soka berkata pula, “Apa yang dilakukan oleh kedua orang itu tentu satu penjajagan. Mereka ingin mengetahui kesiagaan Tanah Perdikan ini. Tetapi juga kemampuan anak-anak mudanya. Tentu akan diperbandingkan dengan para cantrik dari padepokan yang disebutnya besar dan berwibawa itu.”

“Tetapi ternyata keduanya telah membentur Sambi Wulung dan Jati Wulung,“ sambung Nyai Soka, “mudah-mudahan mereka sempat mempertimbangkan.”

Risang mengangguk-angguk pula. Namun sementara itu ibunyapun berkata, “Jika demikian Risang, maka yang perlu kita siapkan bukan sekedar sikap kita yang sudah pasti tentang Tanah Perdikan ini. Bukan pula sekedar surat-surat kekancingan. Tetapi juga kekuatan. Menurut perhitunganku, jika perselisihan yang terjadi antara Pajang dan Mataram dengan Madiun tidak terselesaikan, maka padepokan itu akan mengambil kesempatan untuk menyerang Tanah Perdikan ini yang diperhitungkan bersandar kepada bantuan kekuatan dari Pajang. Tetapi kitapun harus berjaga-jaga pula. Mungkin padepokan itu memang benar sebuah padepokan yang besar dan kuat, sehingga kita akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri.”

Risang mengangguk-angguk pula sambil menjawab, “Ya. Ibu. Setelah keramaian-keramaian ini berakhir, maka kita akan mulai dengan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan itu. Bukankah mereka tidak ikan bergerak dalam satu dua hari ini?”

“Ya. Agaknya memang demikian. Mereka tentu menunggu perkembangan hubungan yang suram antara Madiun dengan Pajang dan Mataram,“ jawab ibunya.

Risang mengangguk-angguk. Namun jelas baginya, bahwa Tanah Perdikan itu memang harus bersiap-siap. Tetapi Risang tidak mau mengganggu keramaian yang diselenggarakan di Kademangan-kademangan dan padukuhan-padukuhan yang masih tinggal dua tiga hari lagi.

Namun dalam pada itu, Risang ternyata juga ingin menemui Kasadha atau Ki Rangga Dipayuda di Pajang. Risang ingin mendapat kabar tentang hubungan antara Pajang dan Madiun.

Tetapi sudah tentu bahwa keinginannya itu baru akan dapat dilakukan setelah keramaian-keramaian di Tanah Perdikan Sembojan itu selesai.

Sementara itu, di Pajang, Kasadha telah berada kembali di baraknya. Ia mulai tenggelam dalam tugas-tugasnya. Namun apa yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan masih saja terkesan dihatinya. Wisuda itu sendiri merupakan satu peristiwa yang baru pertama kali dilihatnya justru menyangkut dirinya sendiri meskipun hanya sekedar sentuhan-sentuhan kecil. Tetapi yang diwisuda itu adalah kakaknya seayah.

Tetapi lebih dari itu, kehadiran Riris di Tanah Perdikan Sembojan yang bahkan merupakan bagian dari upacara itu tidak dapat terlepas dari angan-angannya. Riris nampak cantik sekali ketika ia duduk sambil membawa sebuah nampan yang beralaskan beludru berwarna kuning emas untuk membawa pertanda Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Kasadhapun tidak dapat melepaskan diri dari kegelisahannya bahwa ibunya telah salah terima. Ibunya masih saja menyangka bahwa hatinya telah terguncang saat ia melihat kakaknya diwisuda.

“Tetapi aku tidak dapat menjelaskannya,“ berkata Kasadha kepada diri sendiri. Meskipun sebenarnya Kasadha sendiri mulai tersentuh oleh pertanyaan ibunya tentang seorang gadis yang membawa nampan beralaskan beludru berwarna kuning itu.

“Apakah ibu sudah mulai menduga-duga tentang gadis itu?“ pertanyaan itupun mulai bergejolak dihatinya.

Tetapi untuk sementara Kasadha berusaha melupakan semuanya itu. Persoalan Riris merupakan persoalan yang baru akan dapat dipecahkan dalam waktu yang panjang.

Persoalan yang kemudian dihadapinya, bukan saja oleh Kasadha sendiri atau bahkan oleh prajurit-prajurit seisi baraknya, tetapi oleh seluruh rakyat Pajang, bahwa ternyata Pangeran Benawa sudah beberapa hari tidak dapat keluar dari biliknya.

Semula berita tentang sakitnya Pangeran Benawa itu bertahan disekeliling dinding istana saja. Namun ternyata berita itu telah menyusup keluar, sehingga Pajangpun mudian telah diliputi oleh suasana yang muram.

Kasadha yang juga telah mendengar tentang sakitnya Pangeran Benawa itupun telah bertemu dan berbicara dengan Ki Rangga Dipayuda yang mendapat kesempatan bertemu dengan para pemimpin di istana.

“Pangeran Benawa baru kira-kira setahun memerintah sejak Adipati Demak diminta meninggalkan Pajang dan kembali ke Demak,“ desis Kasadha.

“Ya. Tetapi dalam waktu yang singkat itu telah banyak terjadi perubahan-perubahan,“ berkata Ki Rangga Dipayuda, “diantaranya adalah bahwa aku telah kembali masuk kedalam barak. Bahwa kau telah ditetapkan menjadi seorang Lurah prajurit dalam kesatuan pandhega yang aku pimpin. Terakhir adalah bahwa Pajang telah mewisuda angger Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukan karena hal itu menyangkut Risang. Tetapi apa yang dilakukan atas Tanah Perdikan Sembojan itu adalah satu pertanda bahwa Pangeran Benawa membuka wawasan yang lebih luas bagi kesejahteraan rakyatnya, lahir dan batin.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Rangga Dipayuda. Sembojan hanyalah salah satu contoh dari langkah-langkah yang telah diambil oleh Pangeran Benawa untuk menata kembali susunan pemerintahan serta citra kekuasaan Pajang setelah kakak iparnya kembali ke Demak.

“Tetapi bagaimana keadaannya pada saat-saat terakhir?“ bertanya Kasadha.

“Para tabib masih berusaha untuk menyembuhkannya. Beberapa hari yang lalu, keadaannya berangsur baik. Tetapi sejak kemarin sore keadaannya telah menurun dengan cepat. Panas bagaikan membakar seluruh tubuhnya. Kemudian dinginpun membuat darahnya seakan-akan membeku.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu hubungan antara Pajang dan Madiun masih belum ada tanda-tanda membaik meskipun tidak menjadi semakin buruk.

Keadaan Pangeran Benawa itu telah disampaikan pula kepada Panembahan Senapati di Mataram. Bahkan Panembahan Senapati telah mengirimkan tabib terbaik dari istana Panembahan Senapati itu sendiri.

“Apakah tabih itu tidak dapat mengobatinya?“ bertanya Kasadha.

“Baru hari ini tabib itu tiba. Tetapi ia sudah berada di istana,“ jawab Ki Rangga Dipayuda.

Kasadha mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga keadaan Pangeran Benawa itu membuat seluruh rakyat Pajang berprihatin, justru karena apa yang dilakukan dalam setahun telah menunjukkan bekas tangannya yang dingin.

Buku 49

SEBENARNYALAH keadaan Pangeran Benawa memang menjadi semakin mencemaskan. Kedatangan tabib dari Mataram hanya mampu sekedar memperingan penyakitnya. Tetapi kemudian, keadaannya telah menajdi semakin mendebarkan keluarganya.

Siang malam Pangeran benawa ditunggui oleh orang-orang terdekat, sementara para pemimpin pemerintahan-pun ikut berjaga-jaga diserambi samping istana Pajang.

Panembahan Senapati sendiri telah memerlukan melihat keadaan Pangeran Benawa. Namun sebagai manusia biasa, Panembahan Senapati hanya dapat berdoa dan memohon kepada Yang Maha Agung disamping usaha para tabib.

Bukan saja Panembahan Senapati, tetapi Panembahan Madiunpun telah mengirimkan utusan untuk menengok keadaan Pangeran Benawa yang nampaknya memang menjadi semakin berat.

Setelah segala usaha dilakukan sesuai dengan kemampuan manusia, maka hari yang tidak diharapkan itupun datang. Pangeran Benawa dipanggil menghadap Yang Maha Agung.

Seluruh Pajang seakan-akan menjerit menangisinya. Para keluarganya, para pemimpin pemerintahan, prajuril dan rakyat seluruhnya. Suasana yang baik dan mapan baru saja terasa mulai menjamah Pajang. Dengan susah payah Pangeran Benawa berusaha untuk mencegah meluasnya persoalan dengan Madiun, dengan pamannya sendiri. Namun Pajang memang harus menyerahkan pemimpinnya itu dengan ikhlas.

Demikianlah seluruh Pajang berkabung. Bahkan Mataram dan Madiun ikut berkabung. Mereka berusaha melupakan perbedaan-perbedaan pendapat yang memang menjadi semakin tajam antara Mataram dan Pajang dengan Madiun.

Hari-hari yang dijalani kemudian oleh Pajang terasa menjadi sepi. Berita itupun telah mengetuk hati rakyat Tanah Perdikan yang berlindung, kebawah barat pemerintahan Pajang, termasuk Tanah Perdikan Sembojan.

Meskipun kemudian pemerintahan berjalan sebagaimana biasa, namun tanpa seorang pemimpin Pajang tentu akan dapat mudah diguncang oleh ketidak pastian.

Hal itu nampaknya terasa pula oleh Panembahan Senapati yang tidak dapat membiarkan Pajang berjalan tanpa seorang pemimpin yang disegani.

Tetapi Panembahan Senapati tidak dapat mengambil langkah dengan tergesa-gesa. Disisi sebelah. Timur Pajang memerintah Panembahan Emas di Madiun. Salah seorang keturunan langsung dari Demak, karena la adalah putera bungsu Sultan Trenggana, bernama Pangeran Timur di masa kecilnya.

Tetapi Panembahan Senapatipun tidak dapat membiarkan Pajang untuk terlalu lama tanpa seorang pemimpin yang disegani.

Sementara itu perginya Pangeran Benawa terasa pula di Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun hubungan antara Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan berlangsung baik dan masih saja ditangani oleh Ki Rangga Kalokapraja, namun Tanah Perdikan Sembojan juga merasakan kekosongan kepemimpinan di Pajang.

Tetapi ternyata persoalan yang dihadapi Tanah Perdikan Sembojan bukan saja ketiadaan pimpinan di Pajang. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan juga menghadapi persoalan dengan sebuah Padepokan yang belum diketahui dengan pasti, yang menurut pengakuan orang yang pernah datang ke Tanah Perdikan Sembojan, padepokan itu terletak di daerah Madiun.

Risang yang mendapat laporan tentang dua orang yang mengaku berasal dari padepokan itu telah memerintahkan kepada semua orang di Tanah Perdikan Sembojan untuk berhati-hati. Ketika keramaian di Tanah Perdikan Sembojan telah lewat, maka Risang mulai dengan meningkatkan usaha-usaha yang pernah dirintisnya sebelumnya bersama ibunya. Termasuk ketenangan dan ketenteraman hidup diseluruh Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi kehadiran orang-orang dari padepokan yang disebut berada di Madiun itu agaknya akan dapat mengganggu ketenangan dan ketenteraman rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan kemudian laporanpun telah datang pula kepada Risang, bahwa dibeberapa padukuhan memang terlihat orang-orang yang belum dikenal sebelumnya.

Kepada para Demang Risang telah memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang dicurigai. Namun pesannya, “Tetapi jangan melakukan tindakan-tindakan yang tidak pada tempatnya karena mungkin orang-orang yang dicurigai itu memang tidak bersalah. Karena itu, maka segala sesuatunya harus dipertimbangkan sebaik-baiknya agar tidak terjadi salah langkah.

“Jangan sampai terjadi bahwa orang-orang yang tidak berwenang telah menghukum orang yang ternyata tidak bersalah,“ pesan Risang kepada setiap Demang dan bahkan para Bekel di padukuhan-padukuhan.

Tetapi Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi dalam suasana keramaian. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk bertindak tanpa merasa cemas akan mengacaukan keramaian karena keramaian-keramaian itu sudah selesai seluruhnya.

Tetapi Risang memang tidak terlalu lama berteka-teki tentang orang-orang Padepokan yang datang ke Tanah Perdikan itu. Karena tanpa diduga sebelumnya dua orang telah datang menemui Risang dirumahnya. Kedua Orang yang belum dikenal sebelumnya di Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Risang telah menduga, bahwa kedua orang itu tentu mempunyai hubungan dengan laporan-laporan yang pernah diterimanya tentang orang-orang yang tidak dikenal dan mengaku datang dari sebuah padepokan di Madiun.

Dengan ramah dan sepantasnya Risang menerima kedua orang itu. Ternyata kedua orang itu juga datang dengan unggah-ungguh yang genap dan keduanya bersikap ramah pula.

Meskipun Risang telah sepenuhnya memegang jabatan kepemimpinan di Tanah Perdikan Sembojan, namun Risang masih juga minta ibunya untuk ikut menemui kedua orang tamu itu.

Seperti yang diduga, maka salah seorang tamu itu telah memperkenalkan diri. Katanya, “Kami datang dari sebuah padepokan yang memang agak jauh. Tetapi tidak sejauh Pajang. Kami berdua datang untuk memenuhi perintah pemimpin Padepokan kami yang ingin memperkenalkan diri beserta padepokan kami kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Terima kasih Ki Sanak,“ jawab Risang, “setiap perkenalan berarti memperluas persahabatan. Jika tidak berkeberatan, aku ingin mengetahui nama Ki Sanak serta nama padepokan Ki Sanak.”

“Tetapi kami sebenarnya ingin bertanya, bagaimana kami memanggil Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih sangat muda. Tentu tidak pantas aku memanggilnya dengan sebutan-sebutan orang tua, seperti Ki Gede dan semacamnya.”

Risang tersenyum. Katanya, “panggil saja namaku Risang. Sedangkan ibuku ini dapat Ki Sanak sebut dengan Nyi Wiradana.”

Kedua orang itupun tersenyum pula. Seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Aku akan menyebut Kepala Tanah Perdikan dengan namanya. Angger Risang.”

“Terima kasih,“ sahut Risang yang masih saja tersenyum. Bahkan ibunyapun ikut tersenyum pula. Sementara itu Risang berkata selanjutnya, “Seperti yang sudah aku katakan, aku ingin mengetahui nama Ki Sanak berdua”

“Namaku Pandansirat dan ini adik seperguruanku, namanya Wirasrana,“ jawab salah seorang dari keduanya.

Risang mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Dan nama padepokan Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana?”

“Padepokan Sela Kuning. Nama itu sama dengan nama perguruan kami yang ada di padepokan itu. Perguruan Sela Kuning. Mungkin nama yang aneh, tetapi sebenarnyalah di padepokan kami banyak sekali terdapat batu-batu besar yang berwarna kuning.”

Risang memandang kedua orang itu dengan dahi berkerut. Nampak keragu-raguan membayang di wajahnya. Meskipun demikian, akhirnya Risang itu bertanya juga, “Apakah kalian datang dari padepokan yang sama dengan dua orang yang pernah datang lebih dahulu di Tanah Perdikan ini?”

Kedua orang itulah yang kemudian termangu-mangu. Bahkan keduanya saling berpandangan sejenak. Baru kemudian seorang diantaranya bertanya, “Siapakah nama mereka berdua? Apakah mereka memperkenalkan diri mereka?”

“Ya,“ jawab Risang, “mereka tidak datang ke padukuhan induk ini. Tetapi anak-anak muda di padukuhan yang dikunjungi itulah yang menerima mereka. Seorang mengaku bernama Nagawana dan yang seorang lagi bernama Nagawereng.”

Kedua orang itu kembali termangu-mangu. Tetapi kemudian seorang diantara mereka berkata, “Ya. Aku mengenal mereka. Mereka memang penghuni padepokan kami.”

“Jika demikian, maka agaknya perlu kami beritahukan kepada Ki Sanak berdua, bahwa Nagawana dan Nagawereng telah melakukan kekerasan di Tanah Perdikan ini,“ desis Risang.

“Aku minta maaf ngger,“ jawab seorang diantara kedua orang itu, “Nagawana dan Nagawereng juga memberikan laporan tentang benturan kekerasan yang terjadi. Nampaknya memang terjadi salah paham antara kedua orang penghuni padepokan kami itu dengan beberapa orang penghuni Tanah Perdikan ini. Kedatangan kami antara lain juga untuk menghapuskan salah paham itu.”

“Terima kasih Ki Sanak,“ jawab Risang. Namun iapun kemudian bertanya, “Tetapi, apakah ada keperluan Ki Sanak datang kemari, atau sekedar ingin memperkenalkan diri kepada kami. Barangkali karena Ki Sanak mendengar bahwa di Tanah Perdikan ini baru saja diwisuda Kepala Tanah Perdikan, sehingga Ki Sanak atas nama Padepokan Watu Kuning datang untuk menyambung persahabatan yang disaat-saat terakhir telah terputus.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang tertua, Ki Pandansiratpun berkata, “Benar Ki Sanak. Kedatangan kami memang berniat untuk menyambung kembali hubungan yang pernah terputus itu.”

“Aku, atas nama Tanah Perdikan ini mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Sanak berdua datang untuk menyambung kembali hubungan antara Tanah Perdikan ini dengan Padepokan Watu Kuning. Setiap uluran tangan persahabatan kami terima dengan senang hati, karena semakin banyak sahabat-sahabat kita, maka kehidupan ini terasa menjadi semakin semarak.”

“Selain itu anak muda,“ berkata Pandansirat, “ada persoalan yang ingin aku sampaikan kepada angger Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Persoalan apa Ki Pandansirat?” bertanya Risang.

“Sebelumnya aku minta maaf ngger, jika mungkin apa yang akan aku sampaikan ini mengejutkan. Tetapi aku kira lebih baik aku berterus-terang dan kemudian membicarakannya dengan baik-baik daripada persoalan ini tiba-tiba akan meledak menjadi malapetaka bagi Tanah Perdikan ini,“ jawab Ki Pandansirat.

“Nampaknya masalahnya cukup penting,“ desis Risang.

“Memang ngger. Penting bagi Tanah Perdikan Sembojan, juga penting bagi Padepokan Watu Kuning,“ Pandansirat berhenti sejenak, lalu katanya pula, “sebenarnyalah aku membawa pesan dari pimpinan padepokan kami.”

“Pesan apa Ki sanak?“ bertanya Risang yang sudah menduga apa yang akan dikatakannya, karena ia sudah mendengar laporan yang disampaikan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang dua orang yang telah melakukan kekerasan itu.

“Angger Risang,“ berkata Pandansirat kemudian, “pesan itu memang mirip sebuah ceritera. Jika aku sampaikan sejak awal mulanya, maka ceritera itu akan berkepanjangan. Barangkali aku dapat memotong bagian terpenting dari ceritera itu sesuai dengan kepentinganku datang kemari.”

“Baiklah Ki Pandansirat,“ jawab Risang, “mana saja yang penting menurut Ki Sanak.”

“Angger Risang,“ berkata orang itu, “sebelum angger dilahirkan, bahkan sebelum ibumu, Nyi Wiradana menjadi isteri ayahmu yang telah meninggal itu, maka di sini berdiri sebuah Padepokan yang besar dan kuat.”

Jantung Risang mulai berdebaran. Darahnyapun serasa mulai mengalir semakin cepat. Kemudaannya telah bergejolak mendengar keterangan orang yang menyebut dirinya Pandansirat itu. Karena itu, maka Risang yang muda itu segera memotong, “Ki Pandansirat. Bukankah Ki Pandansirat akan berceritera, bahwa dengan bantuan Demak maka leluhurku telah merampas tanah itu dan kemudian mendirikan Tanah Perdikan ini?”

“Risang,“ potong ibunya, “biarlah Ki Pandansirat melanjutkan ceriteranya yang sangat menarik itu.”

Dahi Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana memang berkerut. Sementara itu Risang justru berkata, “Ceritera itulah yang membuat Nagawana dan Nagawereng menjadi salah paham dengan orang-orang Tanah Perdikan ini.”

“Mungkin ngger,“ jawab Ki Pandansirat, “mungkin cara menyampaikan ceritera itu, keduanya tidak mempergunakan kata-kata yang jelas sehingga telah menimbulkan salah paham.”

Sebelum Risang menjawab, Nyi Wiradana telah menyahut, “Ceriterakan Ki Sanak. Mungkin Ki Sanak dapat menceriterakan dengan cara yang jauh lebih baik.”

Pandansirat termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Nyi Wiradana sekilas. Ternyata bahwa perempuan itu memiliki ketajaman penalaran serta mampu menahan diri meskipun pengertian yang tersirat dari kata-katanya tidak kalah tajamnya dari kata-kata yang dilaporkan oleh Risang dengan gaya kemudaannya.

Risang mengerutkan dahinya. Tetapi iapun mencoba untuk menahan diri.

“Nyi Wiradana,“ berkata Pandansirat, “aku mohon kesempatan untuk berbicara agar tidak terjadi salah paham.”

“Silahkan, silahkan Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak tidak tergesa-gesa?“ jawab Nyi Wiradana sekaligus bertanya.

“Tidak. Kami memang tidak tergesa-gesa,“ jawab Pandansirat yang kemudian melanjutkannya, “hari ini kami memang menyediakan waktu untuk memperkenalkan diri kepada angger Risang.”

“Jika demikian, biarlah kami mendengarkan pesan itu sebaik-baiknya,“ berkata Nyi Wiradana kemudian.

Pandansirat menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia berkata, “Nyi Wiradana dan angger Risang. Pesan itu memang berbunyi sebagaimana angger katakan. Tanah ini pernah menjadi tanah yang dimiliki oleh Padepokan Watu Kuning. Tetapi pada suatu saat tanah ini jatuh ketangan Ki Wanasraya. Ki Wanasraya adalah seorang Demang yang semula menguasai tanah yang sempit disudut Tanah Perdikan ini. Tetapi begitu pandainya Ki Wanasraya mengatur perkembangan Kademangannya, pada suatu saat Demak telah merestui rencananya untuk menguasai tanah yang lebih luas lagi. Dengan bantuan Demak, maka padepokan Watu Kuning telah terusir dan bergeser ke Timur. Sehingga sampai sekarang Padepokan Watu Kuning berada ditempat itu, sementara tanah ini berkembang dengan pesatnya menjadi Tanah Perdikan Sembojan.”

“Jadi menurut ceritera itu, Padepokan Watu Kuning itu didirikan diatas tanah ini Ki Sanak?“ bertanya Nyi Wiradana.

“Ya,“ jawab Ki Pandansirat.

“Tetapi yang terdapat banyak batu-batu berwarna kuning justru ditempat kalian yang baru,“ berkata Nyi Wiradana sambil mengerutkan keningnya, seakan-akan ia sedang memikirkan satu teka-teki yang sulit untuk dipecahkan.

Pertanyaan itu memang sangat sederhana. Tetapi Ki Pandasirat dan Ki Wirasrana memang menjadi bingung sesaat. Mereka memang tidak mengira bahwa hal itulah yang akan ditanyakan oleh Nyi Wiradana.

Namun Ki Wirasrana kemudian menjawab, “Nama Watu Kuning itu memang baru kemudian setelah kami berada ditempat kami yang baru. Sebelumnya padepokan dan perguruan kami memang bernama Padepokan dan Perguruan Sembojan sebagaimana nama yang dipakai oleh Tanah Perdikan ini.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Namun katanya, “Kakek Risang tidak pernah menceriterakan sebelumnya sebagaimana kau ceriterakan Ki Sanak. Bahkan ceritera yang pernah kami dengar tentang berdirinya Tanah Perdikan ini berbeda dengan ceriteramu. Sementara itu di Tanah Perdikan ini masih ada orang-orang tua yang dapat berceritera dengan lancar, bagaimana Tanah Perdikan ini berdiri. Meskipun pada umumnya mereka sudah tidak mengalaminya langsung, tetapi mereka dapat berceritera sebagaimana mereka mendengar ceritera itu dari orang tua sebelumnya. Aku percaya kepada mereka, karena pada umumnya orang-orang tua kita adalah orang yang jujur.”

“Apakah dengan demikian Nyi Wiradana ingin mengatakan bahwa kami tidak jujur sebagaimana orang-orang tua di Tanah Perdikan ini?“ bertanya Pandansirat.

Jawab Nyi Wiradana memang mengejutkan kedua orang yang datang dari Padepokan Watu Kuning itu. Katanya, “Ya. Aku memang tidak percaya kepada kalian. Tidak percaya kepada ceritera kalian itu.”

Pandansirat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Wirasrana yang sedikit lebih muda itu berkata, “Percaya atau tidak percaya, tetapi itu adalah kenyataan. Karena itu, maka sudah waktunya sekarang kami berbicara tentang kebenaran dari kenyataan itu. Bahkan kami menginginkan tanah kami kembali.”

“Ki Sanak,“ berkata Nyi Wiradana, “bahwa Tanah Perdikan ini ada, itu adalah sah. Kami mempunyai surat kekancingan dari Demak dan yang kemudian surat kekancingan pengakuan dan wisuda Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan ini. Wisuda itupun merupakan salah satu ungkapan pengakuan Pajang atas Tanah Perdikan ini. Karena itu, maka apa yang ada ini tidak akan dapat diganggu gugat oleh siapapun.”

Wajah kedua orang itu memang menegang. Tetapi merekapun sudah menduga bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dengan mudah dapat mereka ambil. Karena itu, maka Pandansiratpun berkata, “Nyi Wiradana. Kami sama sekali tidak berhubungan dengan Pajang. Kami hanya mengakui kekuasaan Madiun, sehingga karena itu, maka pengakuan Pajang atas Tanah Perdikan inipun tidak berarti apa-apa bagi kami.”

“Kalian hanya berpijak pada sikap sepihak,“ sahut Risang, “ketahuilah Ki Sanak. Kami bukan orang-orang berjiwa kerdil yang dapat percaya begitu saja kepada ceritera itu Ki Sanak.”

“Aku sudah menduga,” jawab Ki Pandansirat, “tetapi ketahuilah ngger, bahwa kami datang tanpa niat buruk. Kami memang sedang menawarkan satu pembicaraan untuk menyelesaikan persoalan ini. Bukankah kita masing-masing mempunyai alasan dan sikap terhadap tanah ini? Nah, bukankah dengan demikian kita akan dapat mempertemukan pendapat kita masing-masing sehingga akhirnya kita dapat menghasilkan satu kesimpulan bersama tanpa saling merugikan.”

“Tentu tidak akan ada pembicaraan tentang kedudukan tanah ini Ki Pandansirat,“ jawab Risang. Lalu katanya, “Kedudukan Tanah ini sudah pasti.”

“Baiklah ngger,“ berkata Ki Pandansirat, “sebenarnyalah kami berdua hanya merintis satu pembicaraan. Biarlah pimpinan kami datang sendiri untuk bertemu dengan angger dan Nyi Wiradana. Tetapi sebelumnya aku ingin memberitahukan, bahwa pemimpin kami itu mempunyai cacat.”

“Apakah ada hubungannya antara cacatnya dengan persoalan yang timbul antara Tanah Perdikan ini dengan Padepokan Watu Kuning?”

“Ada ngger,“ jawab Ki Pandansirat, “pemimpin kami adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ia seorang yang mempunyai daya pikir yang sangat tajam. Tetapi, inilah cacatnya, ia bukan seorang yang sabar.”

Tetapi Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana terkejut. Risang justru tertawa sambil berkata, “Jangan mencoba menakut-nakuti kami seperti menakuti anak-anak.”

“Tidak. Kami sama sekali tidak menakut-nakuti angger,“ jawab Ki Pandansirat dengan serta-merta, “Aku justru berniat baik agar angger tidak menjadi sasaran kemarahannya. Aku ingin minta angger menyesuaikan diri dan tidak terlalu banyak bertanya apalagi menolak gagasan-gagasannya. Aku ingin menganjurkan agar angger meyakini bahwa apa yang dilihat dengan mata hatinya adalah benar, sehingga tidak perlu mendapat pertimbangan-pertimbangan apapun lagi.”

“Ki Pandansirat,“ berkata Nyi Wiradana, “anakku sudah terlalu tua untuk mendengarkan dongeng kanak-kanak menjelang tidur itu. Apalagi dongeng Ki Pandansirat itu sama sekali tidak menarik. Bahkan hanya sekedar seperti sebuah lelucon saja.”

Wajah Ki Pandansirat menjadi merah. Sebelum ia menjawab, Maka Ki Wirasrana telah mendahuluinya menggeram, “Kalian telah menghina pemimpin kami. Tetapi jangan menyesal bahwa hal ini akan kami sampaikan kepadanya, sehingga ia akan datang ke Tanah Perdikan ini dengan sikap yang sudah pasti.”

“Baik Ki Pandansirat,“ jawab Risang mendahului ibunya, “kamipun akan menerima pemimpinmu itu dengan sikap yang pasti pula. Bahkan kami sekarang sudah tahu bahwa pemimpinmu akan datang untuk memaksakan kemauannya. Tetapi kami harap pemimpinmu itu juga mengetahui bahwa kami tidak akan bersedia diperlakukan seperti itu.”

“Baik,“ Ki Wirasranalah yang menjawab, “kalian akan menyesal dengan sikap kalian itu. Tetapi apa yang sudah kalian ucapkan itu tidak akan dapat kalian telah kembali.”

“Kami akan mempertanggungjawabkan segala ucapan dan sikap kami,“ jawab Risang.

“Jika demikian ngger,“ berkata Ki Pandansirat,“ perkenankanlah kami mohon diri. Kami telah menjalankan tugas kami merintis hubungan antara angger Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan ini menurut pengakuan Pajang dengan Padepokan Watu Kuning.”

“Kami akan menunggu kedatangan pemimpin kalian itu Ki Sanak,“ jawab Risang.

“Baiklah, pemimpin padepokan kami yang sekaligus guru kami itu akan datang kira-kira sepekan lagi. Bersiaplah menerimanya. Tetapi kami masih berpengharapan bahwa pembicaraan yang akan terjadi itu akan menghasilkan kesimpulan yang dapat kita terima bersama-sama,“ berkata Ki Pandansirat kemudian.

“Tetapi ketahuilah bahwa kami tidak akan pernah bergeser setapakpun dari sikap kami,“ jawab Risang.

Ki Pandansirat tersenyum. Tetapi Ki Wirasrana menyahut, “Sekarang kau memang tidak berniat bergeser setapakpun. Tetapi bagaimana jika kau justru harus bergeser seribu tapak.”

“Ki Wirasrana,“ jawab Risang, “Tanah ini sama harganya dengan diriku sendiri. Karena itu, maka taruhannya adalah diriku bukan saja sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan disini.”

Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana tidak menyahut lagi. Sebenarnya Ki Wirasrana sama sekali tidak puas dengan pembicaraan itu. Tetapi Ki Pandansirat telah mengajaknya untuk minta diri.

Diperjalanan mereka meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan, Ki Pandansirat berkata, “Kita sudah cukup melakukan tugas kita dengan baik. Kita hanya mendapat tugas untuk menghubungi Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang muda itu. Kemudian menjajagi sikapnya. Bukankah kita sudah tahu betapa kerasnya hati Kepala Tanah Perdikan itu? Ia segera tersinggung demikian ia mendengar niat kita.”

“Kita tidak boleh terlalu mengalah, seakan-akan kita lebih lemah dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Dengan demikian, anak itu akan menjadi semakin besar kepala.”

Ki Pandansirat tersenyum. Katanya, “Kau jangan terlalu mudah dihanyutkan oleh perasaanmu semata-mata. Jika Risang menunjukkan sikapnya yang keras sejak semula, itu karena di Tanah Perdikan ini pernah hadir pula Nagawana dan Nagawereng. Mereka bahkan telah terlibat dalam benturan kekerasan dengan orang-orang Tanah Perdikan ini. Untunglah bahwa mereka sempat melepaskan diri, meskipun mereka harus melawan sekelompok peronda. Jika tidak, maka persoalannya akan menjadi lain.”

“Tetapi kita harus menunjukkan bahwa kita kuat dan mampu memaksakan kehendak kita atas mereka. Dengan demikian maka anak itu tidak akan bersikap seakan-akan mereka jauh lebih kuat dari kita,“ geram Wirasrana.

Pandansirat justru tertawa. Katanya, “Kepala Tanah Perdikan itupun masih muda. Darahnya mudah menjadi panas. Jika terjadi sesuatu atas kita, maka kita tidak akan menyampaikan hasil pengamatan kita. Bukan karena aku takut menjadi korban kemarahan orang-orang Tanah Perdikan ini. Tetapi persoalannya akan pecah sebelum kita siap benar menghadapi mereka.”

Wirasrana tidak menjawab. Namun wajahnya masih saja nampak tegang.

Tetapi dengan demikian, keduanya yakin bahwa Perguruan Watu Kuning harus memukul Tanah Perdikan itu dengan kekerasan,’ karena mereka yakin bahwa Risang tidak akan mau membicarakan kemungkinan untuk mencari pemecahan atas masalah yang dikemukakan oleh Perguruan Watu Kuning.

Sementara itu, sepeninggal kedua orang yang mengaku datang dari Perguruan Watu Kuning itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah dipanggil Risang. Bahkan juga Gandar dan beberapa orang bebahu Tanah Perdikan itu.

Kepada mereka Risang menceriterakan apa yang baru saja terjadi. Bahkan Risang juga memperingatkan apa yang pernah terjadi sebelumnya di Tanah Perdikan itu, ketika dua orang yang mengaku bernama Nagawana dan Nagawereng datang dan terjadi benturan kekerasan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kita harus berhati-hati,“ berkata Risang. Lalu katanya pula, “Aku tahu. Mereka mempergunakan saat Pajang sedang dibayangi oleh mendung yang kelabu. Pangeran Benawa baru saja meninggal, sementara kemelut dengan Madiun masih belum dapat diatasi sampai tuntas. Mereka menganggap bahwa selama ini Tanah Perdikan Sembojan selalu menggantungkan diri pada perlindungan Pajang. Sehingga saat Pajang sedang kalut, maka Tanah Perdikan ini tidak mendapat perlindungan dari siapapun.”

“Pajang memang tidak akan sempat membantu kita sekarang ini,“ sahut ibunya, “karena itu, maka kita harus benar-benar berpijak pada kekuatan dan kemampuan kita sendiri.”

Mereka yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk kecil. Mereka menyadari, bahwa bahaya memang sedang mengancam Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, maka Risangpun kemudian telah memerintahkan bebahu untuk memanggil semua Demang dan Bekel dikeesokan harinya. Risang akan berbicara langsung dengan mereka tentang ancaman yang bakal datang atas Tanah Perdikan mereka itu.

Sebenarnyalah maka semua Demang dan Bekel telah datang dikeesokan harinya. Risangpun kemudian telah memberikan keterangan dan penjelasan sikap apakah yang harus diambil oleh seisi Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Waktunya memang terlalu sempit. Sepekan lagi pemimpin Perguruan Watu Kuning itu akan datang ke Tanah Perdikan ini. Kemudian, kita dapat memperhitungkan apa yang bakal terjadi. Nampaknya mereka sudah bertekad bulat untuk mengambil alih Tanah Perdikan ini apapun alasannya. Agaknya alasan mereka itu sengaja dicari-cari sekedar untuk menimbulkan persoalan sehingga terjadi perselisihan,“ berkata Risang kepada para Demang dan para Bekel. Lalu katanya pula, “Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas tanah Perdikan ini. Aku sudah berkata kepada kedua orang yang datang itu, bahwa harga Tanah Perdikan ini sama dengan harga diriku sendiri. Maksudku, bukan diriku secara pribadi. Tetapi diriku sebagai rakyat Tanah Perdikan ini. Dengan demikian maka juga semua pribadi yang merasa dirinya keluarga Tanah Perdikan ini.”

Ternyata para Demang dan para Bekel telah menun jukkan sikap mereka sesuai dengan sikap Kepala Tanali Perdikan mereka yang muda itu. Seorang Demang berkata, “Orang-orang Kademangan kami masih dilandasi ungkapan kebanggaan mereka atas hadirnya seorang Kepala Tanah Perdikan. Gelora jiwa mereka saat-saat mereka membuat keramaian masih memanasi darah mereka, sehingga jika mereka mendengar bahaya yang mengancam Tanah Perdikan ini, maka sudah tentu maka darah mereka yang masih hangat itu akan kembali bergelora meskipun dengan sasaran yang berbeda.”

“Terima kasih,“ sahut Risang, “aku harapkan, bahwa setiap jengkal tanah di Tanah Perdikan ini kita pertahankan sampai batas kemungkinan terakhir,“ berkata Risang. Lalu katanya, “Selama ini kita telah mengalami ancaman serupa beberapa kali. Bahkan dari Pajang sendiri. Namun kita sampai saat ini masih tetap berpijak pada kecintaan kita kepada Tanah ini. Yang Maha Agung akan selalu melindungi kita. Karena Tanah ini adalah Tanah yang memang dikurniakan kepada kita.”

Jiwa para Demang dan Bekelpun bergelora seperti gelora kata Risang. Mereka berjanji didalam hati, bahwa mereka akan melakukan perintah Risang itu dengan sebaik-baiknya sejauh dapat mereka lakukan.

Demikianlah, ketika para Demang dan para Bekel itu kembali ketempat tinggal mereka masing-masing, maka merekapun segera pula mengumpulkan para bebahu Kademangan dan Padukuhan untuk menyampaikan perintah Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu Risang dan ibunya telah mengadakan pertemuan pula dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Mereka ingin mendapat pertimbangan dari mereka, apakah yang sebaiknya mereka lakukan.

“Apakah tidak sebaiknya kita memberikan laporan kepada Ki Rangga Kalokapraja?“ desis Kiai Badra.

“Aku kira memang ada baiknya,“ sahut Kiai Soka, “Bukankah Ki Rangga Kalokapraja termasuk salah seorang pejabat di Pajang yang bertugas menjadi penghubung dengan Tanah-tanah Perdikan yang ada?”

“Aku sependapat,“ sahut Nyi Wiradana, “jika terjadi sesuatu atas Tanah Perdikan ini, Pajang sudah mengetahuinya. Atau jika kita harus mempergunakan kekerasan, maka kita tidak dianggap bersalah.”

“Baiklah,“ jawab Risang, “masih ada waktu. Besok aku akan pergi ke Pajang,“ jawab Risang.

“Tetapi kali ini sebaiknya kau tidak pergi sendiri,“ pesan Nyi Wiradana kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menolak, karena ia menyadari bahwa nampaknya Padepokan Watu Kuning itu tidak sedang bermain-main.

Karena itu, maka iapun bertanya, “Dengan siapakah sebaiknya aku pergi ke Pajang?”

“Kau dapat mengajak kedua pamanmu, Sambi Wulung dan Jati Wulung,“ jawab ibunya, “biarlah Gandar dan Bibi menemani aku dirumah disamping kakek dan nenek.”

“Baiklah,“ sahut Risang, “besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali. Kami berharap bahwa sebelum tengah malam kami sudah berada di Tanah Perdikan ini kembali.”

Demikianlah, seperti yang direncanakan, maka didini hari berikutnya, Risang telah berangkat menuju ke Pajang bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Sebelum matahari terbit mereka telah berpacu meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka berharap bahwa mereka akan sampai di Pajang sebelum Ki Rangga Kalokapraja pergi ke tempat tugasnya, meskipun jika demikian, mereka akan dapat menyusulnya. Tetapi Risang merasa lebih baik untuk berbicara dirumah Ki Rangga.

Meskipun matahari masih belum terbit, tetapi nampak langit cerah. Tiga ekor kuda berlari dalam keremangan dini hari menembus udara yang masih terasa dingin. Embun masih menggelantung diujung dedaunan yang bagaikan masih tidur nyenyak.

Tetapi sejenak kemudian, maka burungpun mulai berkicau. Suaranya nyaring menggetarkan udara pagi. Seakan-akan memanggil membangun batang-batang padi yang merunduk dalam kepulasan tidur.

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meninggalkan Tanah Perdikan. Ketika langit di Timur mulai menjadi merah, maka perbatasan Tanah Perdikanpun telah mereka lampaui.

Disepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara. Risang lebih banyak merenungi niat Padepokan Watu Kuning untuk mengambil setidak-tidaknya sebagian dari bumi Tanah Perdikannya. Bagi Risang, maka itu sama saja dengan gaung gentha perang yang mengumandang di seluruh Tanah Perdikannya.

Tetapi ternyata bahwa perjalanan Risang itu telah terganggu. Mereka mendengar derap kaki kuda berpacu menyusul perjalanan mereka. Tidak hanya tiga, tetapi lima ekor kuda.

Risang menoleh. Diantara Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melarikan kudanya dibelakang Risang, ia melihat dalam keremangan pagi beberapa orang berkuda berpacu searah dengan perjalanannya membelakangi cahaya fajar yang mulai mewarnai langit.

“Siapakah mereka?“ desis Risang.

Sambi Wulungpun menggeleng sambil menjawab, “Aku belum tahu.”

Risang tidak bertanya lebih jauh. Tetapi iapun menepi sambil memperlambat lari kudanya. Risang ingin memberi kesempatan kepada orang-orang berkuda itu yang nampaknya juga tergesa-gesa agar mendahului perjalananya.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, kelima orang penunggang kuda itu telah berpacu mendahului Risang. Sekilas Risang melihat bahwa kelima orang itu adalah orang-orang yang bertubuh tinggi, kekar dan berwajah keras. Mereka membawa berbagai macam senjata. Ada yang membawa tombak yang digantungkan dipunggungnya. Ada yang membawa pedang. Bahkan ada yang membawa kapak yang cukup besar.

Sekilas Risang dapat menduga bahwa mereka bukan orang baik-baik. Bukan saja ujud mereka, tetapi juga sikap mereka yang nampak kasar meskipun mereka berpakaian cukup baik.

Tetapi Risang tidak begitu menghiraukan mereka. Apalagi ketika kelima orang penunggang kuda itu berpacu terus tanpa berpaling lagi. Untuk beberapa lamanya Risang yang juga ingin cepat sampai di Pajang itu melarikan kudanya dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari kelima orang berkuda yang mendahuluinya itu. Bahkan karena kecepatan kuda mereka tidak berbeda, jaraknyapun seakan-akan terpelihara.

Namun Risang sama sekali tidak menduga, bahwa kelima orang itupun tiba-tiba telah menghentikan kuda mereka ketika mereka sampai disebuah simpang ampat.

Risang memang terkejut. Hampir saja ia kehilangan penguasaan atas kudanya. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Untunglah bahwa mereka benar-benar menguasai kuda mereka, sehingga kuda-kuda itu berhenti tepat pada waktunya. Bahkan kuda Risangpun telah berdiri diatas kaki belakangnya sambil meringkik keras. Tetapi Kisangpun kemudian telah mengelus leher kudanya sehingga kudanya menjadi tenang kembali.

Kelima orang berkuda yang masih duduk dipunggung kudanya itu telah memutar kudanya menghadap kearah Risang dan kedua orang yang menyertainya. Seorang yang membawa tombak tergantung dipunggungnya, yang agaknya adalah pemimpin mereka, berkata dengan lantang, “Ki Sanak. Kenapa kalian mengikuti kami?”

Risang menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Dengan nada tinggi Risang menjawab, “Ki Sanak? Bukankah kalian yang telah mendahului kami sehingga perjalanan kami yang searah ini telah menempatkan kami dibelakang Ki Sanak berlima? Bukankah dengan demikian kalian tidak dapat menuduh kami mengikuti Ki Sanak berlima?”

“Bukankah kalian dapat mengambil jalan lain?“ bertanya orang bertombak itu pula, “kami sudah bersabar menunggu sampai kami melewati dua jalan simpang. Kami berharap bahwa kalian akan berbelok di salah satu jalan simpang itu. Tetapi ternyata tidak. Ternyata Ki Sanak masih saja mengikuti kami. Karena itu. kami berhenti disimpang ampat ini. Kami ingin memperingatkan kepada Ki Sanak bertiga, agar mengambil jalan lain dari jalan yang akan kami lalui.”

“Ki Sanak memang aneh,“ sahut Risang, “aku tidak tahu Ki Sanak akan pergi ke mana. Tetapi ketahuilah, bahwa kami akan menuju ke Pajang, sehingga kami akan menempuh jalan yang lurus kedepan.”

“Ki Sanak tidak dapat berjalan lurus. Kami akan berjalan lurus kedepan. Kami persilahkan Ki Sanak mengambil jalan lain. Ada dua jalur jalan yang lain yang dapat Ki Sanak lalui.”

“Tetapi kami akan pergi ke Pajang,“ jawab Risang jalan terdekat adalah jalan lurus dihadapan kita.”

“Sekali lagi aku peringatkan. Jangan melalui jalan yang akan kami lalui,“ berkata orang itu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjadi curiga terhadap sikap kelima orang itu. Sikap mereka benar-benar tidak masuk akal. Karena itu, maka Risangpun kemudian berkata, “Ki Sanak. Bukankah jalan itu memang disediakan bagi siapapun. Apakah jika kami lewat melalui jalan itu pula, kami akan mengganggu perjalanan kalian berlima?”

“Tentu,“ jawab orang yang membawa tombak itu, “kami merasa tidak enak diikuti oleh tiga orang berkuda dibelakang kami. Kalian tentu mengamat-amati apa yang akan kami lakukan. Terus terang, kalian akan dapat mengganggu tugas kami atau bahkan kalian akan dapat menjadi saksi dari perbuatan kami.”

“Apakah yang akan kalian lakukan?“ bertanya Risang.

“Itu bukan urusanmu. Karena itu, pilihlah jalan yang lain. Jangan jalan yang lurus dihadapan kita ini.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya sangat mengejutkan. Sambi Wulung dan Jati Wulungpun terkejut mendengarnya. Bahkan kelima orang itupun terkejut pula. Dengan nada rendah dan mengalah Risang berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kalian tidak mengijinkan kami meneruskan perjalanan lewat jalan lurus didepan kami karena kami dapat mengganggu kalian berlima, biarlah kami mengambil jalan kekanan. Kami akan menempuh jalan sedikit jauh. Tetapi perbedaan jarak itu tidak seberapa. Kami memang harus segera sampai di Pajang. Ada persoalan penting yang harus kami sampaikan kepada para pejabat di Pajang atau bahkan para Senapati.“

Wajah orang itu berkerut. Kelima orang itu saling berpandangan sejenak. Orang yang membawa tombak itu kemudian bertanya, “Untuk apa sebenarnya kalian pergi ke Pajang?”

“Itu persoalan kami Ki Sanak,“ jawab Risang.

“Bukankah kalian orang-orang Tanah Perdikan Sembojan?“ orang yang membawa tombak itu agaknya ingin meyakinkan.

“Dari mana kau tahu?“ Risang ganti bertanya.

“Kalian melintasi perbatasan Tanah Perdikan ketika kami mulai menyusul kalian,“ jawab orang itu.

“Ya. Kami orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Kami ingin pergi ke Pajang,“ jawab Risang. Lalu katanya, “Karena kami tidak kalian perbolehkan lewat jalan terdekat, maka biarlah kami menempuh jalan yang sedikit memutar.”

Kelima orang itu nampak menjadi bingung. Sementara Risang berkata, “Selamat jalan Ki Sanak. Jika kalian juga akan pergi ke Pajang, maka kita akan dapat bertemu lagi.“

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengerti kenapa tiba-tiba Risang dapat begitu saja mengalah. Keduanya berpendapat bahwa Risang ingin segera sampai ke Pajang, sehingga ia berusaha untuk menghindari perselisihan. Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung mengetahui bahwa jalan yang akan ditempuh memang menjadi agak jauh. Bahkan beberapa ratus patok lagi, mereka harus menyeberangi sebuah sungai, kemudian sedikit memanjat bukit. Baru kemudian turun lagi. Tetapi jalan itu akan bertemu kembali dengan jalan yang lurus itu.

Meskipun demikian, baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung tidak ingin mempersoalkannya. Mereka mendapat perintah menyertai Risang. Tidak menolak kebijaksanaan yang diambilnya.

Tetapi sekali lagi Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut ketika orang yang membawa tombak itu berkata, “Ki Sanak. Sebaiknya Ki Sanak juga tidak mengambil jalan itu.”

Risang mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa? Bukankah aku sudah menuruti kehendak kalian, aku tidak mengambil jalan lurus itu. Bukankah kalian juga yang menawarkan agar aku berbelok kekanan atau kekiri?”

“Sebaiknya juga tidak kekanan,“ suara orang itu menjadi berat. Bahkan ketika Risang akan bertanya lagi orang itu membentak, “Kau tidak boleh mengambil jalan lurus ataupun kekanan.”

“Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Bagaimana jika aku mengambil jalan kekiri. Meskipun jalan kekiri lebih buruk dari jalan kekanan, tetapi aku dapat mengambil jalan pintas, lewat lorong-lorong kecil.”

“Tidak. Dengar kata-kataku, kalian tidak boleh pergi ke Pajang, “orang yang membawa tombak itu hampir berteriak.

Ketika Risang kemudian tertawa, barulah Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari kebodohan mereka. Tiba-tiba saja keduanyapun ikut tertawa. Mereka baru mengerti, bahwa Risang sama sekali tidak ingin mengalah. Tetapi ia ingin meyakinkan, dengan siapa ia berhadapan.

Risang berhenti tertawa ketika orang yang membawa tombak itu membentak, “Kenapa kau tertawa, he?”

“Kau memang menggelikan Ki Sanak,“ jawab Risang, “kau sendiri yang menawarkan agar aku memilih jalan. Tetapi kemudian kalian juga melarang pilihan kami. Bahkan akhirnya kalian melarang kami pergi ke Pajang, apakah hak kalian untuk melarang kami?”

“Aku tidak perduli akan hak. Berhak atau tidak, tetapi kami tidak akan membiarkan orang-orang Tanah Perdikan pergi ke Pajang apalagi menemui para pejabat dan para Senapati,“ bentak orang itu pula.

Risang mengangguk-angguk kecil. Dengan nada berat ia berkata, “Kalian tidak usah mengelak. Bukankah kalian orang-orang dari padepokan yang disebut Padepokan Watu Kuning?”

Wajah orang itu menjadi tegang. Orang yang membawa tombak itu bertanya, “Dari mana kau tahu?”

“Sikap dan perbuatan kalian,“ jawab Risang.

“Persetan. Meskipun kalian mengenal kami, namun hal itu sama sekali tidak akan berpengaruh sama sekali. Tetapi sebelum kalian mati, siapakah nama kalian?“ bertanya orang yang membawa tombak itu.

“Namaku Werdi,“ jawab Risang sebenarnya, “kedua orang pamanku ini bernama Kerta dan Weru.”

“Setan kau anak muda,“ geram orang itu, “aku tahu itu bukan nama kalian. Tentu kau sudah menyebut nama apa saja seperti orang mengigau. Tetapi sebentar lagi kalian akan mati. Orang-orang Tanah Perdikan tidak akan pernah melihatmu lagi. Apalagi mendengar ceriteramu bahwa perjalanan kalian telah dihentikan oleh orang-orang dari Padepokan Watu Kuning.”

“Ki Sanak,“ berkata Risang kemudian, “sebenarnya apakah keberatan kalian jika kami melanjutkan perjalanan kami ke Pajang. Bukankah hal itu tidak akan mengganggu Padepokanmu?”

“Aku tidak peduli mengganggu atau tidak mengganggu. Tetapi tidak seorangpun dari Tanah Perdikan Sembojan boleh berhubungan dengan Pajang,“ jawab orang yang membawa tombak itu.

Risang mengangguk-angguk pula. Iapun dapat mengurai sikap orang-orang Padepokan Watu Kuning. Meskipun orang-orang Padepokan Watu Kuning sudah memilih saat yang paling baik sepeninggal Pangeran Benawa sementara hubungan antara Pajang dan Madiun menjadi semakin tajam, sehingga pada saat-saat berkabung Pajang tidak akan mungkin melibatkan diri membantu Tanah Perdikan Sembojan justru karena Pajang sendiri tentu bersiaga sepenuhnya manghadapi kemungkinan buruk yang mungkin ditimbulkan oleh Madiun, namun Padepokan Watu Kuning masih berusaha mencegah kemungkinan lain yang dapat terjadi jika Tanah Perdikan Sembojan menghubungi Pajang.

Karena itulah maka lintasan antara Tanah Perdikan dan Pajang telah ditutup.

Dalam pada itu, maka Risangpun kemudian berkata, “Sebenarnya aku masih memikirkan kemungkinan lain. Jika Ki Sanak tidak memperbolehkan kami pergi ke Pajang, maka kami akan kembali dan melaporkan hal ini kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tidak anak muda. Ternyata kau adalah anak muda yang keras kepala. Jika kau lepas dari tangan kami, maka kau tentu benar-benar akan sampai ke Pajang lewat jalan yang manapun.”

Tetapi Risang menjawab, “Baiklah, jika demikian, maka kamipun harus memilih cara yang terbaik untuk menyelamatkan jiwa kami, karena kami tidak akan dengan suka rela menyerahkannya kepada kalian.”

Orang yang membawa tombak itu agaknya tidak ingin berbicara berkepanjangan. Sekali-sekali ia melihat keempat arah jalan simpang ampat itu untuk melihat apakah ada orang yang lewat. Tetapi agaknya jalan bulak panjang itu memang sepi. Tkiak banyak orang yang melewatinya.

Karena itu, maka orang yang membawa tombak itupun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Kita selesaikan saja ketiga orang ini. Kita kuburkan mayatnya di tengah-tengah simpang ampat ini. Justru tidak akan ada orang yang menemukannya. Kudanya dapat kita bawa untuk menambah jumlah kuda di padepokan.”

Kelima orang itupun dengan cepat berloncatan turun. Agaknya mereka tidak ingin bertempur diatas punggung kuda mereka, karena tempat yang tidak memungkinkan.

Risangpun segera memberi isyarat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ketika kelima orang yang mencegat perjalanan mereka itu menambatkan kuda-kuda mereka, maka Risangpun telah melakukan hal yang sama.

Sejenak kemudian, maka kedua belah pihakpun telah saling berhadapan. Risang bertiga menghadapi lima orang yang mencegat perjalanan mereka.

Nampaknya kelima orang itu ingin dengan cepat menyelesaikan tugas mereka. Karena itu, maka merekapun segera menarik senjata mereka masing-masing.

Namun dengan demikian Risang menyadari bahwa kelima orang itu benar-benar ingin membunuh mereka bertiga, sehingga karena itu, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun benar-benar telah bersiap menghadapi pertempuran yang keras. Sementara itu mereka bertiga masih belum mengetahui tataran kemampuan kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu.

Sebenarnyalah orang yang membawa tombak itu telah meneriakkan perintah kepada kawan-kawannya untuk segera menyelesaikan tugas mereka itu. Sambil memutar tombaknya terdengar perintahnya, “Cepat kita selesaikan orang-orang itu dan kita kuburkan disimpang ampat ini.”

Kelima orang itupun segera berpencar. Mereka berdiri disegala arah menghadapi ketiga orang itu.

Dalam pada itu, Risangpun telah menggenggam pedangnya. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bertiga mereka bersiap menghadapi lima orang yang telah mengepungnya.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka orang yang bersenjata tombak itupun mulai menjulurkan tombaknya kearah dada Risang. Belum begitu berbahaya, sementara Risang cukup bergeser selangkah kesamping. Sementara itu, sebuah kapakpun telah terayun deras mengarah ke pundak Sambi Wulung. Namun dengan cepat Sambi Wulung telah memiringkan tubuhnya, sehingga kapak itu terayun sejengkal disisinya.

Orang yang bersenjata tombak itu mengerutkan dahinya. Melihat bagaimana ketiga orang itu dengan tenang menghadapi mereka berlima, maka orang bersenjata tombak itu menyadari, bahwa ketiga orang itu tentu orang-orang yang berilmu.

Dengan demikian, maka mereka berlima harus berhati-hati. Menurut pendengaran kelima orang itu, di Tanah Perdikan Sembojan memang terdapat beberapa orang yang berilmu tinggi.

Demikianlah sejenak kemudian, maka delapan orang telah berloncatan disimpang ampat bulak panjang itu, namun tidak ada orang yang menyaksikannya. Para petani-pun nampaknya belum tergesa-gesa turun kesawah karena matahari baru saja terbit. Apalagi nampaknya tanaman padi di sawah sudah nampak tumbuh subur sedangkan tanah masih basah.

Orang yang bersenjata tombak itu ternyata memiliki ketangkasan yang tinggi sehingga ujung tombaknya berputaran dengan cepat sekali. Sedangkan orang yang bersenjata kapak itupun nampak menjadi sangat berbahaya. Orang itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar. Kapaknya terayun-ayun bagaikan sebatang lidi meskipun kapaknya adalah kapak yang besar dan terbuat dari baja pilihan. Selain tombak dan kapak, maka pedangpun berputaran, sehingga desing anginnya menyambar-nyambar menerpa kulit.

Tetapi Risangpun cukup tangkas. Anak muda itu berloncatan seperti anak kijang direrumputan. Kakinya yang bergerak ringan seakan-akan tidak menyentuh tanah.

Risang yang telah dipersiapkan dengan masak untuk menerima ilmu Janget Kinatelon itu memiliki bekal yang cukup untuk melawan orang-orang yang mengaku dari Padepokan Watu Kuning itu.

Apalagi Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berilmu tinggi. Mereka sama sekali tidak menjadi bingung. Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mulai dengan gerakan yang dapat mengganggu pemusatan perhatian lawannya. Berdua mereka mulai dengan putaran perlahan-lahan. Sementara Sambi Wulung berbisik ditelinga Risang, “Sesuaikan dirimu. Kami akan berputar.”

Risang yang telah memiliki dasar yang lengkap dalam olah kanuragan segera tanggap. Iapun mulai bergerak perlahan-lahan dalam satu putaran. Dengan gerak berputar mereka telah berganti-ganti lawan.

Ternyata gerak berputar itu untuk beberapa saat telah membingungkan kelima orang dari Padepokan Watu Kuning. Namun kemudian perlahan-lahan merekapun dapat menyesuaikan dirinya. Meskipun mereka tidak ikut berputar, tetapi setiap orang akan menyambut serangan yang datang dari siapapun diantara ketiga orang lawannya itu.

Namun demikian, selagi mereka bertempur dengan sengitnya, terdengar Sambi Wulung berkata, “He Ki Sanak. Agaknya kalian memang datang dari Padepokan Watu Kuning. Tetapi agak aneh bahwa jika kalian murid-murid perguruan Watu Kuning, maka landasan dasar ilmu kalian sama sekali tidak menunjukkan bahwa kalian datang dari satu perguruan.”

Kelima orang itu tidak segera menjawab. Pertempuran itu justru menjadi semakin sengit? Kapak yang besar itu terayun-ayun mengerikan, sementara ujung tombak yang berputar itu sekali-sekali mematuk menjangkau kearah jantung salah seorang yang berada dalam kepungan itu.

Baru sesaat kemudian orang yang bersenjata tombak itu menjawab, “Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat picik dalam olah kanuragan. Kalian tidak dapat melihat landasan dasar kemampuan seseorang pada sifat dan watak ilmunya. Yang kalian lihat hanyalah sekedar gelar yang sudah dikembangkan oleh setiap pribadi sesuai dengan kepribadian masing-masing.”

Tetapi Sambi Wulung justru tertawa. Tetapi ia harus bergeser selangkah ketika kapak yang besar itu terayun mengarah ke ubun-ubunnya. Dengan cepat Sambi Wulung memberikan serangan balasan. Hampir saja Sambi Wulung berhasil mengoyak dada lawannya. Namun lawannya sempat meloncat surut, meskipun ujung pedang sambi Wulung sempat menyentuh dan menggores tipis kulit dada lawannya yang membawa kapak itu.

Terdengar orang itu mengumpat. Tetapi Sambi Wulung telah bergeser. Orang yang berkapak itu terkejut ketika tiba-tiba serangan datang bukan dari Sambi Wulung, tetapi serangan yang cepat datang dari Jati Wulung. Orang itu sekali lagi meloncat mundur. Dengan kasarnya ia mengumpat. Sementara kawannya yang bersenjata pedang berusaha untuk menolongnya. Pedangnya terayun mendatar menebas leher Jati Wulung. Tetapi Jati Wulung sempat merendahkan diri, justru sambil menjulurkan pedangnya kearah lambung.

Orang yang bersenjata pedang itu berdesis sambil menyeringai menahan pedih yang menyengat. Ternyata ujung pedang Jati Wulung mampu menggapai lambung orang berpedang itu meskipun hanya seujung duri. Tetapi dari lambung itu telah mengembun darah.

Orang berpedang itupun mengumpat pula. Sengatan rasa pedih itu telah membuat darahnya menggelegak sampai ke tenggorokan.

Dengan demikian maka pertempuranpun semakin lama menjadi semakin sengit. Kelima orang itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk segera mengakhiri perlawanan ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu.

Tetapi ternyata bahwa tidak mudah untuk dapat mengalahkan ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu. Ketiganya memiliki ilmu yang tinggi serta kecepatan gerak yang mendebarkan. Serangan-serangan yang datang dari kelima orang itu bagaikan menebas angin. Demikian tangkasnya Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung menghindari serangan-serangan lawannya dan bahkan demikian cepatnya mereka berganti menyerang dalam putaran yang semakin lama semakin cepat, telah membuat kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu menjadi semakin gelisah.

Telah beberapa lama mereka bertempur. Tetapi senjata mereka sama sekali tidak dapat menyentuh ketiga orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Bahkan satu demi satu kelima orang Padepokan Watu Kuning itu telah tersentuh senjata. Orang yang bersenjata kapak yang besar itupun telah terluka pula dilengannya ketika orang itu dengan sekuat tenaga mengayunkan kapaknya kearah kepala Risang. Jika mata kapak itu sempat menyentuh sasaran, maka kepala Risang memang akan dapat terbelah.

Tetapi Risang tidak membiarkan kapak itu mengenai kepalanya. Iapun tidak berniat untuk mengadu tenaga, karena Risang sadar, orang berkapak itu memiliki kekuatan yang sangat besar.

Dengan tangkasnya Risang melenting melampaui kecepatan ayunan kapak itu. Bahkan sambil menggeliat Risang telah menyerang dengan tebasan mendatar.

Ternyata pedang Risang telah mengoyak lengan orang berkapak yang dadanya telah dilukai oleh Sambi wulung.

Orang bersenjata kapak itu berteriak marah sekali. Matanya menjadi merah dan giginya gemeretak.

Namun teriakannya itu disambut oleh desah perlahan kawannya yang membawa tombak. Jati Wulung sempat menangkis tombak yang mengarah kelambungnya. Dengan satu putaran ujung tombak itu bergeser jauh dari sasarannya. Sementara pedang Jati Wulung berputar menikam kearah jantung. Tetapi orang bertombak itu menggeliat. Meskipun demikian ujung pedang Jati Wulung sempat menyusulnya meskipun hanya mengenai pundaknya.

Seorang demi seorang kelima orang itu telah dikenai ujung-ujung senjata dari ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu. Bahkan orang yang bersenjata kapak itu mulai kelihatan letih. Bukan saja karena ia telah mengerahkan senjatanya yang berat, tetapi juga karena dari beberapa luka ditubuhnya, darah masih saja mengalir. Bahkan menjadi semakin deras. Orang yang bersenjata tombak, yang nampaknya memimpin kawan-kawannya yang lain menjadi sangat marah. Ia dengan mengerahkan segenap kemampuannya berusaha untuk benar-benar membunuh lawan-lawannya. Tetapi ternyata usahanya masih saja sia-sia. Meskipun ujung tombaknya berputar dengan cepat, namun ternyata bahwa ketiga orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu mampu bergerak secepat gerakan ujung tombaknya itu.

Semakin lama maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak benar-benar telah berniat mengakhiri pertempuran itu. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang bergerak dalam putaran itu memang menjadi jemu untuk bertempur lebih lama lagi. Karena itulah, maka keduanyapun telah meningkatkan kemampuannya sehingga kelima orang lawannya itu menjadi semakin terdesak. Ujung-ujung senjata bukan saja Sambi Wulung dan Jati Wulung, namun juga ujung pedang Risang telah menyentuh tubuh lawan-lawannya semakin sering.

Ternyata kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu harus mengakui kelebihan ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan. Semakin tinggi matahari, maka keringatpun menjadi semakin banyak mengalir. Luka-luka ditubuh keempat orang itu semakin terasa pedih.

Ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu justru menjadi semakin garang. Senjata mereka bergerak semakin cepat sehingga kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu benar-benar merasa tidak akan mampu mengalahkan mereka. Luka-luka mereka justru menjadi semakin banyak. Apalagi ketika ketiga orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu merasa bahwa mereka telah terlalu lama bertempur disimpang ampat itu.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari orang-orang Padepokan Watu Kuning itu daripada meninggalkan medan.

Demikianlah maka sejenak kemudian telah terdengar isyarat dari orang yang bersenjata tombak itu. Bergegas kelima orang itu menarik diri dari medan. Mula-mula mereka saling merapat. Meskipun mereka masih melawan, tetapi mereka sudah mengambil ancang-ancang.

Risang sadar, bahwa kelima orang itu akan melarikan diri. Karena itu, maka Risangpun berdesis, “jangan beri kesempatan mereka menempuh jalan lain kecuali jalan lurus ke Pajang. Kita memang tidak akan membunuh mereka. Tetapi biarlah mereka menempuh perjalanan yang agak panjang.”

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tanggap akan maksud Risang. Karena itu, maka mereka memang tidak mengejar orang-orang yang berusaha melarikan diri itu. Dengan tangkas Sambi Wulung, Jati Wulung dan Risang segera berdiri di ketiga simpang jalan untuk mencegah agar kelima orang itu menempuh satu-satunya jalan yang terbuka, justru jalan terdekat menuju ke Pajang.

Kelima orang itu memang dengan cepat berhasil meloncat kepunggung kudanya. Tetapi mereka memang tidak dapat memilih jalan. Ketiga simpangan jalan itu telah dijaga dengan senjata yang teracu. Jika mereka berusaha untuk menerobos dengan memacu kudanya, maka lambung mereka akan dapat dikoyak oleh ujung pedang dari orang-orang yang berilmu tinggi itu.

Karena itu, maka mereka tidak mempunyai pilihan lain. Apalagi mereka memang tidak mempunyai banyak kesempatan untuk berpikir. Dengan demikian maka sejenak kemudian kelima orang itu telah berpacu melalui jalan yang langsung menuju ke Pajang.

Demikian kelima orang itu memasuki mulut jalan dan melarikan kuda mereka, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah berlari kekuda mereka. Dengan cepat merekapun meloncat dan sejenak kemudian ketiga ekor kuda itu telah berlari seakan-akan memburu kelima orang yang lebih dahulu memacu kudanya.

Bagaimanapun juga luka-luka pada kelima orang itu telah berpengaruh atas kecepatan berpacu kuda-kuda mereka. Karena itu, maka sejenak kemudian Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah berhasil mendekati mereka.

“Kita tidak akan menangkap mereka,“ berkata Risang, “biarlah mereka kembali ke Padepokan Watu Kuning dan berceritera tentang tugas mereka sambil menunjukkan luka-luka ditubuh mereka,“ berkata Risang, “tetapi dengan cara ini mereka akan benar-benar merasakan betapa mereka merasa dirinya semakin kecil. Hal itu akan sangat penting membubui laporan mereka kepada para pemimpin di Padepokan Watu Kuning.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berpacu dise-belah menyebelah Risang agak kebelakang mendengar kata-kata Risang itu. Meskipun tidak seluruhnya tetapi mereka mengerti maksudnya, bahwa Risang masih ingin bermain-main dengan kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu.

Sebenarnyalah orang-orang dari Padepokan Watu Kuning itu berusaha mempercepat derap kuda mereka. Tetapi darah yang mengalir dari tubuh mereka menjadi semakin banyak sehingga tubuh merekapun menjadi semakin lemah. Sementara itu, jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju ke Pajang.

Tetapi nampaknya orang yang bersenjata tombak itu telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, agar mereka membelok kekanan ketika mereka menjumpai jalan simpang.

Tetapi Risang justru memacu kudanya lebih dekat lagi, sehingga kelima orang itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika kuda Risang kemudian hampir menyusul kuda mereka.

Tetapi jalan simpang itu sudah berada didepan hidung mereka. Dengan cepat orang bersenjata tombak itu telah berusaha memasuki tikungan yang tajam, sementara kudanya berpacu dengan kecepatan sangat tinggi.

Ketika kendali kuda orang bersenjata tombak itu ditarik, maka kudanyapun berusaha untuk berbelok. Tetapi tidak ada kesempatan untuk mengambil arah. Kuda itu dengan serta merta telah berbelok memasuki jalan yang tidak begitu lebar itu.

Ternyata yang tidak dikehendaki itu terjadi. Meskipun orang bersenjata tombak itu adalah seorang yang memiliki kemampuan berkuda, tetapi ketergesa-gesanya serta keadaan wadagnya yang tidak mendukung karena luka-lukanya, maka orang itu telah terpelanting dari kudanya, sementara kudanya juga tergelincir dan jatuh beberapa langkah dari tikungan.

Keadaan itu terjadi dengan tiba-tiba, sehingga kuda-kuda yang berada dibelakangnya tidak mendapat kesempatan untuk berbuat banyak. Apalagi keempat ekor kuda yang lain serta penunggangnya berada dalam keadaan yang sama seperti kuda serta penunggangnya yang bersenjata tombak itu.

Keempat ekor kuda yang berlari dibelakangnya telah terantuk tubuh kuda yang terjatuh itu. Dengan demikian maka berurutan keempat ekor kuda itupun telah terjatuh pula.

Risang memang tidak ingin berbelok mengejar mereka.

Tetapi ketika Risang melihat kelima ekor kuda itu saling menindih, maka iapun telah memberi isyarat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk berhenti.

Bahkan kemudian mereka bertiga telah kembali beberapa langkah sampai ke simpang tiga itu.

Risang melihat kelima orang penunggangnya telah terpelanting dari kuda-kuda mereka. Namun ketika Risang melihat tiga orang diantara mereka masih sempat bangkit, maka sambil menarik nafas dalam-dalam Risang berkata, “Ternyata masih ada yang dapat mengurusi kawan-kawannya yang agaknya terluka karena mereka terbanting dari punggung kudanya.”

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung memerlukan untuk turun dari kuda dan berjalan mendekati orang-orang yang dengan kesakitan berusaha untuk bangkit itu.

Ketiga orang itu memang menjadi ketakutan. Mereka tidak akan mungkin dapat melarikan diri lagi. Tulang-tulang mereka rasanya telah berpatahan. Sebelumnya, ketika mereka masih tegar, apalagi mereka berlima, tidak dapat memenangkan pertempuran melawan ketiga orang itu. Apalagi setelah mereka hampir kehabisan tenaga dan terbanting jatuh pula sehingga tubuh mereka seakan-akan remuk karenanya.

Tetapi ternyata Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu tidak berbuat sesuatu. Mereka yang mengaku bernama Werdi, Kerta dan Weru itu, memandangi ketign orang itu dengan wajah yang nampak bersungguh-sungguh. Bahkan terdengar anak muda yang mengaku bernama Werdi itu bertanya, “Bukankah kalian tidak apa-apa?”

Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinga ketiga orang yang sudah kehabisan tenaga itu. Namun justru karena itu, maka mereka tidak menjawab sama sekali.

Risang yang melihat bahwa ketiga orang itu masih mungkin berbuat sesuatu bagi kedua orang kawannya yang agaknya pingsan serta kuda-kudanya yang terjatuh dan mungkin ada diantaranya yang menjadi cidera itupun kemudian berkata, “Bangkitlah dan berusahalah. Jika kalian menyerah, maka kalian akan mati bersama dengan kuda-kuda kalian dan kawan-kawan kalian.”

Ketiganya masih saja berdiam diri. Bahkan sekali-sekali terdengar mereka berdesah menahan sakit.

“Nah,“ berkata Risang, “kalian dapat berusaha kembali ke Padepokan Watu Kuning. Kalian dapat melaporkan, bahwa kalian gagal menutup perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Jika kalian ingin, maka kalian dapat membawa kawan yang lebih banyak untuk mencegat kami kembali, karena kami besok akan melalui jalan ini pula.”

Risang memang tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian mengajak Sambi Wulung dan Jati Wulung meneruskan perjalanan mereka. Sementara itu, mereka sempat melihat dua diantara kelima ekor kuda itu sudah dapat bangkit berdiri tanpa pertolongan. Namun yang lain masih juga terbaring meskipun kuda-kuda itu nampaknya masih hidup. Tetapi cacat bagi seekor kuda adalah isyarat bahwa kuda itu tidak akan dapat disembuhkan lagi.

Demikianlah sejenak kemudian, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meneruskan perjalanan, sementara ketiga orang yang masih tetap sadar itu, betapapun sakit tubuhnya berusaha untuk berbuat sesuatu atas kedua orang kawannya yang pingsan.

Dalam pada itu, maka Risangpun meluncur dengan cepat menuju ke Pajang. Mereka telah tertahan beberapa lama, sehingga mereka memang menduga Ki Rangga Kalokapraja tentu sudah berangkat ketempat tugasnya, sehingga dengan demikian maka mereka harus menyusulnya.

Ketika Risang kemudian mendekati regol kota, maka sudah terasa suasana yang berbeda dari suasana sebelumnya, ketika Pangeran Benawa masih memegang pimpinan pemerintahan di Pajang.

Jalan-jalan rasa-rasanya tidak terlalu ramai. Wajah-wajahpun nampak murung. Rasa-rasanya seisi kota Pajang masih saja berkabung sepeninggal Pafngeran Benawa. Bahkan ketika Risang melintasi jalan yang melalui pasar yang biasanya sangat ramai, rasa-rasanya menjadi lengang.

Namun ketika hal itu dikatakan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Sambi Wulungpun menjawab, “Tetapi hari memang sudah agak siang. Mungkin pasar itu memang menjadi lengang atau orang-orang yang berada di pasar sudah menyusut.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, maka mereka bertiga meneruskan perjalanan mereka langsung menuju kerumah Ki Rangga Kalokapraja. Tetapi mereka tidak dapat berpacu terlalu cepat. Meskipun jalan-jalan kota nampak menjadi lebih sepi, namun masih juga terasa cukup banyak orang yang berjalan hilir mudik.

“Jika Ki Rangga sudah tidak ada dirumah, kita akan menyusul ketempat tugasnya. Kita harus dengan cepat menyampaikan persoalan ini dan kembali ke Tanah Perdikan. Nampaknya perang memang sudah dimulai. Kita tidak yakin apakah benar masih ada waktu sepekan.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka tidak menjawab.

Setelah beberapa saat mereka menelusuri jalan-jalan kota, maka merekapun telah sampai kerumah Ki Rangga Kalokapraja. Meskipun mereka menduga bahwa Ki Rangga telah pergi ketempat tugasnya, namun mereka mencoba juga untuk memasuki halaman dan mendekati pendapa.

Seorang laki-laki yang agaknya seorang pembantu di rumah itupun telah mendekati mereka sambil bertanya, “Ki Sanak, apakah keperluan Ki Sanak datang kemari?”

“Apakah Ki Rangga sudah pergi bertugas?“ bertanya Risang.

“Belum Ki Sanak. Ki Rangga ada dirumah,“ jawab orang itu.

“O, sokurlah. Kami ingin menghadap Ki Rangga.” berkata Risang kemudian.

“Marilah, silahkan duduk,“ berkata orang itu, “biarlah aku menyampaikannya. Tetapi siapakah Ki Sanak bertiga itu?”

“Aku Risang. Dari Tanah Perdikan Sembojan,“ jawab Risang.

Orang itu mengangguk-angguk. Sekali lagi ia mempersilahkan ketiga orang tamu itu naik kependapa, sementara orang itu kemudian masuk lewat seketeng kelongkangan samping kanan.

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian duduk diatas tikar pandan putih bergaris-garis biru yang terbentang dipendapa. Dengan nada rendah Risang berkata perlahan, “Ternyata Ki Rangga masih ada dirumah. Apakah mungkin Ki Rangga sedang sakit atau ada persoalan lain sehingga Ki Rangga tidak pergi ke tempat tugasnya?”

Sebelum Sambi Wulung dan Jati Wulung menyahut, mereka telah mendengar langkah kaki dibelakang dinding gebyok kayu melangkah menuju ke pintu pringgitan.

Sejenak kemudian maka pintupun berderit. Ki Rangga muncul dari balik pintu sambil tersenyum. Namun wajahnya nampak letih.

Sambil duduk, maka Ki Ranggapun mengucapkan selamat datang kepada ketiga orang tamunya.

“Aku memang tidak pergi hari ini,“ berkata Ki Rangga sebelum Risang bertanya, “Tiga hari tiga malam aku bertugas diistana. Sejak Pangeran Benawa wafat, bergantian para pejabat diistana berjaga-jaga. Baru pagi tadi aku selesai bertugas sehingga hari ini aku mendapat kesempatan untuk beristirahat sehari.”

“O, maaf Ki Rangga. Ternyata kami telah mengganggu saat-saat Ki Rangga beristirahat,“ desis Risang.

“Tidak. Kalian tidak mengganggu. Sejak pagi-pagi demikian aku sampai dirumah, aku langsung tidur. Ketika kalian datang, aku memang sudah bangun.”

Risang mengangguk hormat. Katanya, “Kamilah yang harus minta maaf Ki Rangga.”

“Sudahlah,“ berkata Ki Rangga, “tetapi agaknya kedatangan kalian membawa persoalan yang penting. Atau kalian sekedar menengok keselamatanku dan sahabatmu di barak pasukan Ki Tumenggung Jayayuda?”

“Kedatangan kami memang membawa persoalan yang bagi kami cukup penting Ki Rangga,“ jawab Risang.

“Persoalan apa? Kau baru saja diwisuda. Apakah kau sudah mulai menghadapi persoalan-persoalan yang rumit?”

Risangpun kemudian telah menyampaikan persoalan yang dihadapinya. Bahkan Risangpun kemudian berkata, “Ternyata bahwa perang itu memang sudah dimulai.”

Ki Rangga mengerutkan dahinya. Sementara Risang meneruskan laporannya tentang orang-orang yang mencegatnya diperjalanan karena pemimpin Padepokan Watu Kuning memang ingin menutup perbatasan Tanah Perdikan Sembojan, agar tidak seorangpun yang diperbolehkan keluar dari Tanah Perdikan, apalagi berhubungan dengan Pajang.

Ki Rangga mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian terdengar suaranya agak serak, “Orang-orang itu ternyata memang licik. Mereka agaknya memang sudah memperhitungkan keadaan. Demikian Pangeran Benawa wafak, maka mereka telah mengambil langkah. Sementara hubungan antara Pajang dan Madiun sepeninggal Pangeran Benawa nampak menjadi semakin buruk. Pangeran Timur di Madiun yang bergelar Panembahan Mas itu merasa mempunyai hak pula atas Pajang. Bahkan Pangeran Timur yang keturunan langsung Sultan Trenggana sebagai putra bungsu itu merasa bahwa ia adalah pewaris Demak itu sendiri.”

“Tetapi bukankah Panembahan Mas belum mengambil langkah-langkah tertentu?“ bertanya Risang.

“Memang belum,“ jawab Ki Rangga Kalokapraja, “tetapi kesiagaan Madiun membuat Pajang harus bersiaga pula justru sepeninggal Pangeran Benawa.”

“Dalam keadaan yang demikian, siapakah yang berwenang memegang pimpinan tertinggi di Pajang sekarang?“ bertanya Risang.

“Secara resmi memang belum ditentukan. Tetapi untuk sementara Pangeran Gagak Baning sudah ada disini. Ia mewakili Panembahan Senapati memegang kendali pemerintahan di Pajang.”

“Pangeran Gagak Baning,“ desis Risang.

“Ya. Pangeran Gagak Baning adalah adik Panembahan Senapati memegang kendali pemerintahan di Pajang.“

“Pangeran Gagak Baning,“ desis Risang.

“Ya. Pangeran Gagak Baning adalah adik Panembahan Senapati yang dimasa mudanya bernama Raden Tompe.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Bagaimana menurut Ki Rangga Kalokapraja? Apakah kepemimpinan Pangeran Gagak Baning sama baiknya dengan Pangeran Benawa atau tidak?”

“Sudah tentu bahwa aku tidak akan dapat menilai kepemimpinan Pangeran Gagak Baning dalam waktu yang singkat. Tetapi apa yang aku lihat selama ini, nampaknya Pangeran Gagak Baning berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan kepemimpinan Pangeran Benawa. Maksudku, dalam waktu dekat ini, Pangeran Gagak Baning tidak mengambil sikap yang mengejutkan. Bahkan ia berusaha mengerti apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Benawa, sehingga yang dianggapnya baik, dilanjutkannya dengan penuh tanggung jawab.”

Risang masih saja mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga Kalokapraja mengerti apa yang dipikirkan oleh anak muda itu. Karena itu, maka iapun berkata, “Juga tentang kedudukan beberapa Tanah Perdikan yang ada. Aku sudah dipanggilnya untuk memberikan keterangan tentang Tanah Perdikan yang ada itu. Agaknya Pangeran Gagak Baning tidak mempunyai perhatian yang berbeda dari Pangeran Benawa. Maksudku, nampaknya tidak akan timbul perubahan kebijaksanaan, setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat ini.”

Risang termangu-mangu sejenak. Tetapi keterangan itu telah membuat dadanya menjadi lapang. Agaknya ia tidak perlu mencemaskan sikap pemimpin Pajang yang baru atas Tanah Perdikannya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga. Setidak-tidaknya untuk waktu dekat ini.

Dengan demikian maka perhatiannya sepenuhnya dapat ditujukan pada Padepokan Watu Kuning yang berusaha untuk memanfaatkan keadaan.

Sebenarnyalah, Ki Rangga Kalokaprajapun kemudian bertanya dengan nada dalam,“ Risang. Bagaimana menurut pendapatmu tentang Padepokan Watu Kuning? Mereka benar-benar licik, justru karena mereka tahu bahwa Pajang tidak akan dapat berbuat banyak sekarang ini. Pangeran Gagak Baning sudah memerintahkan untuk bersiaga sepenuhnya setiap saat. Tidak ada seorang prajaurit dan pemimpin pemerintahanpun yang diijinkan meninggalkan Pajang pada saat ini, karena sewaktu-waktu mereka dapat diperlukan untuk menyelamatkan Pajang. Karena itulah maka aku benar-benar merasa cemas akan perkembangan keadaan di Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ki Rangga,“ jawab Risang, “hal ini memang sudah aku perhitungkan. Jika aku menghadap, sebenarnya aku hanya mohon petunjuk, apakah aku diperkenankan mengambil langkah sendiri untuk keselamatan Tanah Perdikan Sembojan. Aku adalah orang baru. Meskipun hal yang sama pernah dilakukan oleh ibu selaku Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, namun aku tidak ingin melakukan kesalahan. Karena itu aku mohon ijin untuk mengambil tindakan sesuai dengan kemampuan yang ada. Bahkan seandainya hal itu akan dapat mempertajam persoalan antara Pajang dari Madiun.”

Ki Rangga Kalokapraja termangu-mangu sejenak. Dengan ragu ia justru bertanya, “Apakah ada kaitannya dengan Madiun?”

“Mudah-mudahan tidak Ki Rangga,“ jawab Risang.

“Jika ada kaitannya, tentu tidak dengan sepengetahuan Panembahan Madiun. Mungkin satu dua orang pejabat di Kadipaten Madiun yang dapat dipengaruhi oleh orang-orang yang mengaku dari Padepokan Sela Kuning itu,“ berkata Ki Rangga kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Sedangkan Ki Rangga setelah berpikir sejenak telah berkata, “Sebaiknya aku mengirimkan orang untuk mengetahui, apakah Madiun ikut campur atau tidak. Atau orang-orang padepokan Sela Kuning itu saja yang memanfaatkan keadaan. Aku akan mohon ijin untuk mengirimkan satu dua orang saja, karena tidak mungkin sekelompok prajurit. Hal itu tidak akan diijinkan. Mudah-mudahan untuk melepas satu dua orang Pangeran Gagak Baning masih mengijinkan.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Ki Rangga. Kami, seluruh Tanah Perdikan akan berterima kasih sekali jika ada satu atau dua orang yang sempat melihat keadaan dan sekaligus memberikan petunjuk-petunjuk kepada kami, agar kami tidak melakukan kesalahan yang dapat mempersulit kedudukan Pajang dengan Madiun.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun perintah Pangeran Gagak Baning mengatakan bahwa tidak seorangpun dapat meninggalkan tugasnya, namun bukankah yang akan dilakukan di Tanah Perdikan itu juga termasuk tugas seorang prajurit? Aku akan mohon kepada Pangeran Gagak Baning. Sokurlah jika diijinkan Kasadha untuk pergi ke Tanah Perdikan. Bukankah ia seorang yang dekat sekali dengan kau?”

“Sokurlah jika hal itu diijinkan,“ sahut Risang dengan serta merta. Lalu katanya, “Kami, di Tanah Perdikan akan berterima kasih sekali.”

“Apakah kau dapat menunggu sampai esok? Jika permohonan ini diijinkan, maka kau akan kembali ke Tanah Perdikan bersama Kasadha,“ berkata Ki Rangga kemudian.

Namun wajah Risang memancarkan keragu-raguan. Ia sadar, bahwa keadaan sudah menjadi semakin panas di Tanah Perdikan. Kelima orang yang dikalahkannya bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung akan dapat mengadu, sehingga orang-orang Padepokan Sela Kuning akan dapat mengambil langkah-langkah dengan cepat.

Ki Rangga melihat keragu-raguan Risang. Karena itu, maka iapun berkata, “Agaknya kau memikirkan Tanah, Perdikanmu yang kau tinggalkan. Karena itu, baiklah. Jika kau akan kembali lebih dahulu, biarlah besok Kasadha menyusul. Atau mungkin juga orang lain.“

“Terima kasih Ki Rangga. Kami memang merasa gelisah untuk menunggu sampai esok,“ jawab Risang.

“Baiklah. Jika demikian, aku tidak akan menahanmu sampai esok. Kau memang harus segera berada di Tanah Perdikanmu lagi. Bahkan secepatnya,“ berkata Ki Rangga.

Tetapi ketika Risang segera ingin meninggalkan rumah itu, Ki Rangga menahannya. Katanya, “Hanya sebentar. Kalian tentu haus. Bahkan mungkin lapar. Lebih baik kalian menunggu sejenak daripada kalian harus singgah di sebuah kedai.”

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat menolak. Mereka harus menunggu. Tetapi seperti dikatakan oleh Ki Rangga, mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.

Setelah minum dan makan serta beristirahat sejenak, maka ketiganyapun segera minta diri kembali ke Tanah Perdikan. Mereka tidak sempat singgah dibarak Kasadha. Apalagi Ki Rangga sudah menjanjikan untuk menemui dan berbicara dengan Kasadha apabila permohonannya untuk mengirimkan prajurit muda itu diperkenankan.

Demikianlah, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mohon diri. mereka ingin segera berada ditengah-tengah keluarga Tanah Perdikan Sembojan yang sedang terancam bahaya itu. Bahaya yang sudah mulai terasa menyentuh Tanah Perdikan Sembojan dengan kekerasan.

Tetapi Risang tidak mengambil jalan yang sama sebagaimana saat mereka berangkat. Bertiga mereka berusaha untuk mengambil jalan lain yang meskipun agak melingkar tetapi kemungkinan adanya hambatan jauh lebih kecil. Hal itu dilakukan Risang bukan karena mereka bertiga menjadi, ketakutan. Tetapi mereka memang ingin segera berada di Tanah Perdikan. Apalagi menurut perhitungan, kelima orang itu jika benar-benar ingin mencegatnya tentu akan membawa kawan lebih banyak lagi, sehingga sesuai dengan pertimbangan nalar, maka mereka bertiga akan dapat kehilangan kesempatan untuk sampai di Tanah Perdikan lagi.

Sementara itu mataharipun telah menjadi semakin rendah di ujung Barat. Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung berpacu semakin cepat, apalagi ketika mereka berada dibulak-bulak panjang. Karena jalan agak sempit, maka bertiga mereka berpacu berurutan membelakangi matahari yang mulai menjadi kemerah-merahan.

Selagi Risang bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung berpacu menuju ke Tanah Perdikan Sembojan, maka memenuhi janjinya, Ki Rangga Kalokapraja meskipun masih merasa letih telah berusaha menghadap Pangeran Gagak Baning untuk menyampaikan pesoalan yang berkembang di Tanah Perdikan Sembojan serta mohon perkenan Kasadha untuk pergi melihat keadaan di Tanah Perdikan itu.

Mendengar nama Padepokan Watu Kuning, Pangeran Gagak Baning terkejut. Ketika Pangeran Gagak Baning masih seorang anak muda yang sedang menempa diri, maka ia memang pernah mendengar nama Padepokan Watu Kuning. Kemudian beberapa tahun kemudian, dalam perjalanan pengembaraannya untuk mematangkan ilmu yang dimilikinya, Pangeran Gagak Baning kembali bertemu dengan nama Padepokan Watu Kuning.

“Sebuah padepokan yang terhitung memiliki kekuatan yang besar,“ berkata Pangeran Gagak Baning.

“Padepokan itulah yang mengancam Tanah Perdikan Sembojan, Pangeran,“ desis Ki Rangga Kalokapraja.

“Menurut pendengaranku, padepokan itu memiliki jumlah cantrik yang terhitung banyak. Yang berbahaya adalah, bahwa banyak orang berilmu tinggi yang bergabung dengan Padepokan Watu Kuning karena padepokan itu mampu menjanjikan kenikmatan duniawi kepada orang-orang itu. Padepokan Watu Kuning yang dihuni oleh Perguruan Watu Kuning itu memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh orang-orang berilmu tinggi. Namun sudah tentu, bahwa apa yang diberikan itu berasal dari sumber yang tidak sewajarnya,“ berkata Pangeran Gagak Baning. Namun kemudian katanya, “Agaknya para pemimpin padepokan itu memang licik. Mereka sadar sepenuhnya bahwa Pajang sedang berjaga-jaga menghadapi kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh Madiun. Dengan demikian maka orang-orang Watu Kuning memperhitungkan bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mampu menghadapi kekuatan Watu Kuning tanpa bantuan Pajang.”

“Benar Pangeran,“ jawab Ki Rangga Kalokapraja, “tetapi apakah Pajang memang tidak dapat memberikan sekedar bantuan kepada Tanah Perdikan Sembojan?”

“Itulah yang menyulitkan, Ki Rangga. Aku tidak berani menerima akibat buruk jika Madiun tiba-tiba bergerak. Setiap orang prajurit Pajang akan sangat berarti dalam keadaan seperti ini,“ jawab Pangeran Gagak Baning.

“Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang datang menemui hamba memang telah memperhitungkannya. Tetapi Kepala Tanah Perdikan yang muda itu dan masih belum mengetahui kekuatan Padepokan Watu Kuning menyatakan bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap menghadapi Padepokan itu.”

“Aku hanya dapat mencemaskan mereka Ki Rangga,“ berkata Pangeran Gagak Baning, “aku menyangsikan kekuatan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun mungkin jumlah laki-laki di Tanah Perdikan itu cukup banyak, namun aku tidak yakin bahwa mereka memiliki kemampuan yang pantas untuk menghadapi orang-orang dari Padepokan Watu Kuning. Sementara itu Pajang dalam keadaan seperti sekarang ini, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, Prajurit kita terlalu sedikit untuk masih harus dikurangi lagi. Sementara Madiun agaknya telah menghubungi para Adipati disisi Timur tanah ini.

Ki Rangga Kalokapraja mengangguk-angguk. Tetapi nampak bahwa iapun menjadi gelisah karenanya. Jika benar Padepokan Watu Kuning mempunyai banyak orang-orang berilmu tinggi, maka meskipun jumlah laki-laki di Tanah Perdikan cukup banyak, namun hal itu justru hanya akan menambah jumlah korban saja.

Dengan ragu-ragu Ki Ranggapun kemudian berkata, “Pangeran. Jika Pangeran mengijinkan, hamba ingin mohon agar Pangeran berkenan menugaskan dua orang saja prajurit untuk melihat perkembangan di Tanah Perdikan Sembojan.”

Pangeran Gagak Baning memang menjadi ragu-ragu sejenak. Terbayang mendung yang menggelantung dilangit diatas Pajang. Angin bertiup dari Timur membawa awan hitam yang basah, yang setiap saat dapat tercurah diatas Pajang dan sekitarnya.

Tetapi hampir bergumam Pangeran Gagak Baning berkata, “Hanya dua orang.”

“Ya Pangeran, dua orang saja untuk sekedar mengamati keadaan. Mereka akan dapat memberikan laporan terperinci tentang keadaan di Tanah Perdikan serta kemungkinan terburuk yang dapat terjadi jika Padepokan Watu Kuning beriar-benar menyerang Tanah Perdikan itu.”

“Apakah Ki Rangga dapat menyebutkan, siapakah kedua orang yang kau maksud itu?“ bertanya Pangeran Gagak Baning.

“Seorang diantaranya Ki Lurah Kasadha, Pangeran,“ jawab Ki Rangga.

“Kenapa Ki Rangga menunjuk Ki Lurah Kasadha?“ bertanya Pangeran Gagak Baning pula.

“Ki Lurah Kasadha adalah seorang Lurah Prajurit muda yang tangkas. Memiliki kemampuan yang cukup meskipun tidak terlalu berlebihan. Tetapi lebih dari itu, ia adalah sahabat terdekat dari Kepala Tanah Perdikan Sembojan ketika keduanya sama-sama menjadi prajurit.”

“Jadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu juga bekas seorang prajurit?”

“Ya Pangeran,“ jawab Ki Rangga.

“Baiklah. Aku ijinkan mereka berdua pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi beri bekal pengertian kepada kedua orang prajurit itu. Padepokan Watu Kuning adalah padepokan yang memiliki sebangsal orang-orang berilmu tinggi, meskipun sebenarnya mereka bukan sejak semula murid dari Padepokan Watu Kuning. Itu terjadi beberapa tahun yang lewat. Apalagi sekarang, agaknya mereka memiliki lebih banyak orang berilmu tinggi, bahkan dari. lingkungan hitam sekalipun, karena itu kedua orang prajurit itu harus berhati-hati. Mereka tidak harus ikut mempertahankan Tanah Perdikan sampai batas terakhir. Jika demikian maka mereka tidak akan dapat memberikan laporan kepada kita.“

“Hamba Pangeran,“ jawab Ki Rangga.

“Yang harus mereka amati adalah, apakah Madiun terlibat langsung atau tidak dalam tindak kekerasan itu,“ pesan Pangeran Gagak Baning pula.

Demikianlah, maka Ki Ranggapun segera meninggalkan istana setelah Pangeran Gagak Baning memberikan pertanda tugas kepada Ki Lurah Kasadha Sebuah kelebet berwarna kuning keemasan dengan pelisir hitam ditepinya. Ditengah-tengahnya terdapat gambar sebilah keris dengan luk sebelas.

Ki Rangga tidak segera pulang. Tetapi ia langsung menemui Ki Tumenggung Jayayuda dibaraknya Ki Tumenggungpun memang agak terkejut. Apalagi. ketika ia melihat kelebet yang berwarna kuning itu.

“Apa ada perintah bagi pasukanku?“ bertanya Ki Tumenggung Jayayuda dengan nada tegang.

“Tidak Ki Tumenggung,“ jawab Ki Rangga, “tetapi kepada dua orang prajurit Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Ranggapun menceriterakan tentang kedatangan Risang serta pembicaraannya langsung dengan Pangeran Gagak Baning.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi Ki Rangga memerlukan Kasadha dan seorang lagi yang ditunjuknya?“ bertanya Ki Tumenggung.

“Ya Ki Tumenggung,“ jawab Ki Rangga.

“Baiklah. Aku akan memanggil Ki Rangga Dipayuda dan Ki Lurah Kasadha, karena Ki Lurah Kasadha berada di bawah pimpinan langsung Ki Rangga Dipayuda,“ berkata Ki Tumenggung Jayayuda.

Ketika kemudian keduanya menghadap, maka dengan singkat Ki Rangga telah menyampaikan persoalan yang menyangkut Ki Lurah Kasadha, pesan serta perintah yang harus dijalankannya.

Ternyata perintah itu diterima dengan baik oleh Kasadha. Bahkan dari wajahnya nampak bahwa perintah itu memberikan kegembiraan kepadanya.

“Aku akan menjunjung perintah itu dengan sebaik-baiknya,“ jawab Kasadha.

Namun dalam pada itu, maka Ki Ranggapun telah menyampaikan pula pesan Pangeran Gagak Baning tentang pengenalannya atas Padepokan Watu Kuning beberapa tahun yang lalu, selagi Pangeran Gagak Baning mengembara di Timur.

“Padepokan itu mempunyai banyak orang berilmu sangat tinggi. Tetapi mereka sebagian besar justru orang-orang yang memiliki ihnu hitam. Mereka adalah orang-orang yang mengesahkan segala cara untuk mencapai tujuannya,“ berkata Ki Rangga. Lalu, “Adapun tugas Ki Lurah adalah mengamati apakah yang ikut bergerak bersama orang-orang Watu Kuning itu terdapat kekuatan Madiun itu sendiri. Karena menurut pertimbangan Pangeran Gagak Baning, betapapun panasnya hubungan antara Madiun dan Pajang, Madiun tidak akan mempergunakan cara yang kotor itu.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia mencoba menilai para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi Kasadha tidak dapat mendapat ukuran yang pasti karena ia memang tidak sempat mengetahui terlalu banyak tentang Tanah Perdikan yang dipimpin oleh kakaknya itu.

Kepada Ki Rangga Dipayuda, Ki Tumenggung Jayayuda memerintahkan agar Kasadha diijinkan untuk meninggalkan barak berdua dengan seorang prajurit yang akan ditunjuknya. Meskipun ada perintah dari Pangeran Gagak Baning bahwa tidak seorangpun boleh meninggalkan barak, namun Ki Lurah Kasadha justru langsung mendapat perintah dari Pangeran Gagak Baning itu sendiri.

Tentu saja Ki Rangga Dipayuda tidak mempunyai keberatan. Namun sebelum berangkat Kasadha diminta untuk menunjuk seseorang yang akan mewakilinya selama ia pergi.

Demikianlah, maka Kasadhapun segera mempersiapkan diri. Atas ijin Ki Rangga Dipayuda, maka Kasadha telah menunjuk seorang pemimpin kelompoknya yang tertua, yang banyak mengetahui tentang pergolakan jiwanya untuk ikut bersamanya ke Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian menunjuk seorang lagi diantara pemimpin kelompoknya untuk mewakilinya selama ia bertugas ke Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara Kasadha bersiap-siap, maka tiba-tiba saja ia teringat akan ibunya. Dalam keadaan yang sulit, maka ibunya tentu tidak akan berkeberatan jika ibunya ikut membantu menyelamatkan Tanah Perdikan Sembojan.

Apalagi menurut Pangeran Gagak Baning, Padepokan Watu Kuning mempunyai banyak sekali orang-orang berilmu tinggi.

Karena itu, maka Kasadhapun telah memberanikan diri untuk meminjam dua ekor kuda dari baraknya kepada Ki Tumenggung Jayayuda.

“Untuk apa?“ bertanya Ki Tumenggung Jayayuda.

“Ki Tumenggung, sesuai dengan pesan dari Pangeran Gagak Baning tentang kelebihan Padepokan Watu Kuning dengan orang-orang berilmu tinggi, maka aku ingin singgah kerumah seorang pamanku yang mungkin akan dapat membantu Risang di Tanah Perdikan Sembojan. Karena agaknya pamanku itu tidak mempunyai kuda, maka aku ingin membawa kuda itu bagi paman. Besok, setelah aku kembali dari Tanah Perdikan, maka kuda itu akan aku bawa kembali ke barak.”

Ki Tumenggung memang agak ragu. Tetapi akhirnya Ki Tumenggungpun mengijinkannya.

Dengan demikian, maka Kasadhapun segera minta diri kepada para prajuritnya, kepada Ki Rangga Dipayuda dan kepada Ki Tumenggung Jayayuda serta para Pandhega yang lain untuk pergi ke Tanah Perdikan. Tetapi Kasadha sudah berniat untuk singgah ke Bayat menjemput ibu dan bibinya untuk dibawanya pula ke Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha juga teringat kepada gurunya yang masih selalu membimbing dan meningkatkan ilmunya. Tetapi ternyata Kasadha memutuskan untuk tidak minta kepada gurunya menyertainya ke Tanah Perdikan karena beberapa pertimbangan.

Meskipun kemudian malam akan segera turun, tetapi Kasadha yang sudah bersiap segera berangkat justru ke Barat. Anak muda itu yakin, bahwa ibunya tidak akan berkeberatan melihat sikapnya serta sikap ibu Risang ketika mereka bertemu di Tanah Perdikan.

Tanpa berhenti Kasadha memasuki padukuhan tempa 1 tinggal ibu dan bibinya. Meskipun Kasadha sadar, bahwa kedatangannya akan mengejutkan ibu dan bibinya, tetapi Kasadha tidak mempunyai waktu lagi untuk menunda.

Seperti yang diduganya, ibu dan bibinya memang terkejut sekali. Tetapi dengan cepat Kasadhapun memberikan penjelasan bahwa memang ada hal yang penting, tetapi ia tidak membawa kabar buruk tentang dirinya dan juga tidak bagi ibu dan bibinya.

Dengan jelas Kasadhapun kemudian menceriterakan tentang perintah yang diterima untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Iapun menjelaskan persoalan yang tengah dihadapi oleh Tanah Perdikan Sembojan justru saat kemelut sedang terjadi di Pajang.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kasihan Risang yang baru saja mendapat wisuda. Ia sudah harus mengalami cobaan yang sangat berat. Padepokan Watu Kuning memang sebuah padepokan yang kuat. Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Pangeran Gagak Baning. Dipadepokan itu tersimpan orang-orang berilmu tinggi, namun yang berhati gelap. Ibu tahu pasti, karena ibupun pernah hidup didunia yang gelap itu pula. Orang-orang berilmu tinggi itu merasa hidup di Padepokan Watu Kuning seperti hidup disorga. Apa yang mereka butuhkan ada di Padepokan itu. Karena itu, maka Padepokan Watu Kuning sering melakukan penculikan atas gadis-gadis yang meningkat dewasa.”

Kasadha mengangguk-angguk mendengarkan keterangan ibunya yang ternyata juga sudah mendengar tentang Padepokan Watu Kuning. Padepokan yang sekedar dipergunakan sebagai kedok dari sebuah gerombolan yang melakukan banyak kejahatan. Bukan hanya banyak dalam pengertian jumlahnya, tetapi juga jenisnya.

Karena itu, maka ibu Kasadha itupun kemudian berkata, “Baiklah. Aku bersedia melakukannya. Aku dan bibimu akan ikut bersamamu ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Terima kasih ibu,“ Kasadha menjadi gembira. Tetapi iapun menjadi sedikit cemas tentang kemampuan Tanah Perdikan untuk mempertahankan diri. Sementara itu Pajang dalam keadaan tersudut sehingga tidak akan mampu memberikan bantuan apapun juga.

Ibu dan bibi Kasadhapun segera berkemas. Tetapi mereka masih harus menemui tetangga mereka yang terdekat untuk menitipkan rumah dan ternak mereka selama mereka pergi.

Tetangganyapun ternyata terkejut juga. Ibu Kasadha memang mengatakan bahwa saudaranya ada yang menderita sakit keras, sehingga ia harus segera pergi menemuinya sebelum terlambat.

Beberapa saat kemudian, maka berempat Kasadha meninggalkan rumah bibinya. Sebelum keluar dari lingkungan padukuhan, mereka memang hanya berjalan kaki sambil menuntun keempat ekor kuda yang dibawa oleh Kasadha. Tetapi demikian mereka berada dibulak panjang, maka mereka berempatpun segera berpacu dipunggung kuda.

Malam memang kelam, meskipun dilangit banyak terdapat bintang yang tertabur dari cakrawala sampai ke cakrawala.

Tetapi ibu Kasadha itu berkata, “Menjelang dini bulan akan terbit meskipun tinggal sebagian saja.”

“Tetapi yang sebagian itu akan dapat membantu menerangi jalan,“ jawab Kasadha.

Sejenak kemudian, maka kuda-kuda itupun berpacu semakin cepat. Mereka tidak lagi berbicara. Mereka berharap bahwa sebelum siang besok, mereka telah berada di Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu. ketika malam menjadi semakin dalam. Risang telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka mereka tidak lagi terlalu tergesa-gesa. Ternyata Tanah Perdikan Sembojan masih tetap tenang.

Tetapi demikian mereka memasuki bulak-bulak panjang di Tanah Perdikan, Risang segera teringat akan orang-orang Padepokan Watu Kuning yang mencegat mereka ketika mereka berangkat. Dengan nada tinggi Risang berkata, “Aku lupa memberikan pesan agar Kasadha atau siapapun yang akan datang ke Tanah Perdikan, tidak melalui jalan itu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk kecil. Tetapi Sambi Wulung kemudian berkata, “Bukankah Ki Rangga sudah mengetahui bahwa jalan itu berbahaya?”

“Ya. Mudah-mudahan teringat oleh Ki Rangga Kalokapraja sempat menceriterakan hal itu kepada mereka yang akan pergi ke Sembojan. Itupun jika Pangeran Gagak Baning mengijinkan.”

Sebenarnyalah, lima orang dari Padepokan Watu Kuning itu telah memberikan laporan kepada seorang berilmu tinggi yang bertugas mengawasi Tanah Perdikan sebelum pimpinan tertinggi Padepokan itu datang menemui Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih muda itu.

Dari kelima orang itu, tiga diantaranya terluka parah. Bahkan, seorang diantara mereka kemudian telah meninggal. Sedangkan kedua orang yang lain meskipun terluka, tetapi tidak terlalu parah. Sementara itu, tiga diantara kelima aekor kuda yang mereka bawa memang harus dibunuh ditempat karena kuda-kuda itu tidak akan mungkin dapat ditolong lagi.

Orang berilmu tinggi itu menggeram marah. Tetapi kenyataan itu telah terjadi.

“Kapan orang-orang itu akan pulang?“ bertanya Wira Gobang yang dipercaya untuk memimpin sekelompok orang mengamati Tanah Perdikan Sembojan dari gubug mereka disebuah hutan dilereng bukit kecil tetapi memang agak terpencil letaknya, justru diluar Tanah Perdikan Sembojan. “Menurut kata-kata yang mereka ucapkan, besok mereka akan kembali,“ jawab salah seorang dari mereka yang masih dapat memberikan keterangan.

“Baik,“ jawab Wira Gobang, “aku sendiri akan menunggu anak gila itu. Aku akan memaksanya mengakui kebesaran Padepokan Watu Kuning. Karena itu aku tidak akan membunuh mereka sebagaimana kau tidak dibunuhnya. Tetapi dengan demikian orang-orang Tanah Perdikan tidak lagi dapat menyombongkan diri, karena mereka akan melihat kenyataan. Anak itu akan menjadi cacat seumur hidupnya.” Demikianlah, maka Wira Gobang yang merasa memiliki ilmu yang tinggi itu telah memerintahkan lima orangnya yang terpilih untuk menyertainya. Dengan geram ia berkata, “Sebenarnya aku sendiri akan mampu melumpuhkan perlawanan mereka. Tetapi ada baiknya kalian melihat, bagaimana aku menghancurkan kesombongan seseorang.”

Wira Gobang itu ternyata tidak menunggu sampai esok. Ia menduga bahwa sebelum fajar orang-orang itu tentu sudah akan lewat. Bahkan katanya kemudian, “Aku tidak akan menunggu meskipun diluar Tanah Perdikan. Tetapi aku akan menyongsong mereka meski hampir sampai di Pajang sekalipun. Aku tidak mau kehilangan Orang yang telah menghina Padepokan Watu Kuning itu.”

Dengan demikian, maka Wira Gobang bersama lima orangnya yang terpilih telah menempuh perjalanan menuju ke arah Pajang. Mereka berniat untuk mencegat perjalanan kembali tiga orang yang telah berhasil menembus penjagaan lima orang dari Padepokan Watu Kuning.

Sementara itu, ternyata Kasadha bersama ibu dan bibinya serta seorang prajurit yang lain, sama sekali tidak memperhatikan kemungkinan untuk memilih jalan lain. Meskipun Kasadha juga mendengar keterangan Ki Rangga Kalokapraja bahwa perjalanan Risang telah dicegat oleh lima orang dari Padepokan Watu Kuning, namun mereka tidak berpikir, bahwa perjalanan merekapun akan mungkin dicegat pula.

Karena itu, maka mereka telah menempuh jalan yang terdekat menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Jalan yang juga langsung memasuki jalan dari Pajang ke Tanah Perdikan itu.

Adalah diluar perhitungan Kasadha, tetapi juga diluar perhitungan Wira Gobang, bahwa mereka akan bertemu sebelum fajar menyingsing. Justru karena Wira Gobang tidak saja menunggu, tetapi justru menyongsong orang yang disangkanya akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan melalui jalan itu pula.

Ketika Wira Gobang memasuki sebuah bulak panjang, justru setelah ia menelusuri jalan yang langsung menuju ke Pajang, ia memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk berhenti. Telinganya yang tajam telah mendengar derap kaki beberapa ekor kuda dengan arah yang berlawanan dari perjalanannya.

“Mungkin mereka,“ berkata Wira Gobang.

Seorang pengikutnya yang bertubuh raksasapun berkata, “Ya. Agaknya memang mereka itu. Seharusnya kita mengajak salah seorang dari mereka yang telah mengenalinya.”

“Mereka akan mati diperjalanan,“ desis Wira Gobang. Lalu katanya, “Bukankah kita mempunyai mulut untuk bertanya. Tetapi seandainya mereka bukan orang-orang yang kita cari. mereka tidak akan kita ijinkan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.”

Kelima orang pengikut Wira Gobang itu mengangguk-angguk. Seorang yang bertubuh agak gemuk dengan jambang lebat berkata, “Siapapun mereka, kita akan menyudahi.”

Demikianlah, sejenak kemudian, dalam keremangan malam mereka melihat beberapa orang berkuda mendekat. Langit menjadi semakin terang ketika bulan mulai nampak, meskipun tinggal sebagian karena bulan itu menjadi semakin tua.

Kasadha yang berkuda dipaling depan telah memberikan isyarat pula kepada ibu dan bibinya, sehingga kuda merekapun telah menjadi semakin lambat. Dengan nada datar Kasadha berkata, “Kita harus berhati-hati. Aku tidak sempat memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang dari Padepokan Watu Kuning meskipun Ki Rangga Kalokapraja telah menceriterakan bahwa Risang juga telah dicegat ketika ia menuju ke Pajang.”

Ibunya yang kemudian berada disampingnya menyahut, “Jika benar mereka adalah orang-orang Watu Kuning, maka kita memang harus berhati-hati.”

“Kita tidak sempat mengambil jalan lain,“ berkata Kasadha kemudian.

“Ya,“ desis ibunya, “biarlah kita berjalan terus. Mudah-mudahan mereka bukan orang-orang Watu Kuning.”

Demikianlah, kuda-kuda itupun telah bergerak maju perlahan-lahan, sementara orang-orang Watu Kuning telah menghalangi jalan yang akan mereka lewati.

Dengan demikian, maka Kasadha dan ketiga orang yang bersamanya terpaksa berhenti beberapa langkah didepan orang-orang dan Padepokan Watu Kuning itu.

Kasadha yang ada dipaling depan, dengan nada rendah bertanya, “Ki Sanak. Kenapa kalian telah menutup jalan yang akan kami lalui? Apakah kalian mempunyai kepentingan dengan kami?”

“Siapakah kalian, dari mana dan akan pergi ke mana?“ bertanya Wira Gobang.

“Kami adalah orang-orang Bayat, Ki Sanak. Kami akan pergi ke Kademangan Pakis, disebelah Timur Tanah Perdikan Sembojan,“ jawab Kasadha, yang pernah mendengar nama Kademangan Pakis.

Tetapi sambil mengerutkan keningnya Wira Gobang itu bertanya, “Apakah kau orang dari Kademangan Pakis?”

“Bukan Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa kami orang-orang Bayat. Tetapi yang tinggal di Pakis adalah pamanku.”

“Siapakah nama pamanmu itu?“ bertanya Wira Gobang.

Kasadha memang menjadi agak ragu. Tetapi kemudian ia menjawab, “Namanya Ki Partawandawa.”

Wira Gobang mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tertawa sambil berkata, “Kau berbohong Ki Sanak. Aku belum pernah mendengar nama Ki Partawandawa.”

“Bukankah itu wajar jika kau tidak mengetahui nama semua orang Kademangan Pakis?“ sahut Kasadha.

“Tidak Ki Sanak. Sama sekali tidak wajar. Aku mengenali semua orang dari Kademangan Pakis karena aku memang pernah tinggal di Kademangan itu.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, “Entahlah Ki Sanak. Kenapa kau belum mengenal pamanku yang tinggal di Pakis. Namun bagaimanapun juga, aku tidak akan mengurungkan niatku untuk mengunjunginya hanya karena kau tidak mengenalnya. Karena itu Ki Sanak. Aku minta agar kalian memberi jalan kepadaku agar kami dapat lewat.”

“Tidak. Kami tidak dapat memberi jalan kepada kalian, karena kami tahu, niat kalian bukan niat yang baik, karena kalian telah menipu kami.”

“Ki Sanak,“ berkata Kasadha, “lihat, kami menempuh perjalanan jauh bersama dua orang perempuan. Karena itu, aku harap kalian dapat mengerti kesungguhan kami. Jika aku berniat buruk, tentu aku tidak akan mengajak dua orang perempuan.”

Wira Gobang memandang kedua orang perempuan yang berkuda dibelakang Kasadha. Meskipun agak ragu, tetapi Wira Gobangpun berkata, “Mereka bukan perempuan kebanyakan. Aku mengenal bagaimana seorang perempuan kebanyakan naik seekor kuda.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Bagaimana menurut pendapatmu seorang perempuan kebanyakan naik kuda?”

“Mereka hanya berani naik jika kuda itu dituntun. Merekapun tidak mengenakan pakaian seperti itu. Karena itu, maka perempuan-perempuan itu tentu perempuan yang sudah terbiasa mengembara, apakah mereka pelaku kejahatan atau pemburu kejahatan. Tetapi bagi kami sama saja.”

“Ki Sanak,“ bertanya Kasadha kemudian, “apakah maksudmu sebenarnya. Katakanlah, agar kami tidak berteka-teki.”

“Kalian tidak boleh meneruskan perjalanan. Kalian harus kembali ke Bayat. Kami akan mengantar kalian sampai keperbatasan kota Pajang. Jika kalian mencoba untuk mengelabuhi kami dan menempuh jalan lain ke Tanah Perdikan Sembojan, maka kalian akan mati. Karena kami tidak akan segan membunuh siapapun yang menentang paugeran yang kami buat.”

“Paugeran apa? Kau kira kau berhak membuat paugeran?“ bertanya Kasadha pula.

“Ya. Kami berhak membuat paugeran. Ketetapan hak itu ada ditajamnya pedang kami,“ jawab Wira Gobang.

Tetapi Kasadha menjawab, “Jika demikian, maka paugeran yang kau buat mempunyai nilai sama dengan tajamnya pedang. Jika kalian merasa berhak menentukan paugeran itu akan kami patahkan dengan tajamnya pedang pula.”

“Nah, bukankah dugaan kami benar, bahwa kedua perempuan itu bukan perempuan kebanyakan, mereka sama sekali tidak menjadi ketakutan melihat kami dan mendengarkan pembicaraan kita.”

“Aku tidak berkeberatan,“ berkata ibu Kasadha, “mungkin kami memang bukan perempuan kebanyakan karena kami memang tidak menjadi ketakutan. Tetapi sebenarnya kami tidak ingin bertengkar, meskipun kami tidak akan ingkar jika pertengkaran itu dipaksakan atas kami. Kami akan melayani apa saja yang akan kalian lakukan.”

“Lihat, kami berenam. Diantara kami terdapat aku, Wira Gobang. Orang-orang disekitar Madiun menjadi ketakutan mendengar namaku. Tetapi agaknya kalian belum mengenal kami.”

“Jadi kalian berasal dari Madiun?“ bertanya Kasadha.

“Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan Madiun,“ jawab Wira Gobang.

“Jika demikian kalian tentu datang dari Padepokan Watu Kuning,“ Kasadha mulai menebak.

Wira gobang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Kau dapat berkata apa saja tentang kami.”

“Kami tidak akan salah,“ sahut ibu Kasadha, “tentu hanya orang-orang Watu Kuning sajalah yang mampu berpikir cemerlang dalam kelicikannya. Hanya orang Watu Kuning yang dengan cepat memanfaatkan wafatnya Pangeran Benawa serta kemelut yang terjadi dalam hubungan antara Pajang dan Madiun. Karena itu. maka aku berani memastikan bahwa kalian tentu orang-orang Watu Kuning. Kalian tentu mendapat tugas untuk mengurung Tanah Perdikan Sembojan agar tidak dapat berhubungan dengan orang luar.”

“Baiklah,“ berkata Wira Gobang, “kita tidak usah saling berpura-pura. Aku memang orang dari Perguruan Watu Kuning. Dan kalian tentu orang-orang tanah Perdikan Sembojan.”

“Tidak,“ jawab ibu Kasadha, “aku tetap berkeberatan disebut orang manapun juga. karena aku memang orang Bayat.”

“Persetan,“ geram Wira Gobang, “pokoknya kalian tidak boleh meneruskan perjalanan, apalagi ke Tanah Perdikan Sembojan.“

“Aku tidak akan menghiraukan laranganmu. Kami berempat akan tetap meneruskan perjalanan,“ berkata Kasadha.

Wira Gobang yang mempunyai pengalaman yang luas itupun segera dapat menilai keempat orang itu. Apapun yang dikatakannya tidak akan mampu memaksa mereka kembali kecuali dengan kekerasan. Karena itu maka Wira Gobang berkata, “Baiklah. Jika kalian memaksa, maka kalian akan mati. Jika saja kalian orang Sembojan yang baru saja kembali dari Pajang, maka kami ingin membiarkan kalian hidup dan mengabarkan kekuatan dan kemampuan orang-orang Watu Kuning kepada orang-orang Sembojan. Tetapi karena kalian mengaku bukan orang Tanah Perdikan Sembojan, maka kalian harus mati disini. Kami tidak memerlukan kalian, sementara kalian akan dapat berbuat buruk terhadap rencana kami atas Tanah Perdikan Sembojan.”

Kasadhapun kemudian menyahut, “Apapun yang ingin kalian lakukan kami sudah menentukan niat kami untuk berjalan terus.”

Wira Gobangpun kemudian telah memberi isyarat kepada orang-orangnya agar mereka turun dari kuda mereka. Mereka akan menghadapi keempat orang itu tidak diatas punggung kuda.

Ternyata Kasadhapun telah berbuat hal yang sama. Dengan demikian maka sepuluh orang telah terbagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan. Satu kelompok berjumlah enam orang sedangkan kelompok yang lain berjumlah ampat orang. Termasuk dua orang perempuan didalamnya. Namun kedua orang perempuan itu adalah Warsi dan sepupunya.

Namun Warsi sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaannya. Dengan serta merta iapun telah bersiap menghadapi Wira Gobang, karena ia tahu bahwa Wira Gobang tentu memiliki ilmu yang tinggi, sebagaimana dikatakannya.

Tetapi ternyata Wira Gobang merasa terhina. Dengan lantang ia berkata, “He, kenapa aku harus berhadapan dengan betina ini?”

Warsilah yang menjawab tidak kalah lantangnya, “Kau yang telah menghina aku dengan mengatakan bahwa aku bukan perempuan kebanyakan. Kau kira aku perempuan apa? Karena itu, maka biarlah kita berhadapan untuk menyalurkan perasaan kita masing-masing. Kita sudah saling merasa tersinggung. Nah, kita selesaikan persoalan kita dengan tuntas.”

Wira Gobang itu menggeram. Katanya, “Aku justru semakin yakin bahwa kau termasuk salah seorang dari sedikit perempuan liar yang berkeliaran di bulak-bulak panjang dan di medan-medan pertempuran. Baiklah. Aku akan mengurangi setidak-tidaknya dua orang perempuan diantara kalian.”

Warsi tiba-tiba tertawa. Tetapi ketika Kasadha berpaling kepadanya, tiba-tiba saja Warsi menutup mulutnya sambil berdesis, “Maafkan aku Kasadha. Kebiasaan ini kadang-kadang muncul tanpa terkendali.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia justru merasa iba terhadap ibunya yang selalu dibayangi oleh kesalahan-kesalahannya masa lampau, sehingga disetiap langkahnya, bayangan itu selalu membuatnya cemas bahwa ia telah membuat kesalahan lagi.

Berbeda dengan tanggapan Kasadha, maka Wira Gobang merasa bahwa perempuan itu telah mentertawa-kannya dan bahkan mempermainkannya. Karena itu, iapun menggeram, “Perempuan iblis. Kaulah yang akan mati lebih dahulu dari semua kawan-kawanmu.”

Warsi tidak menjawab lagi. Namun hampir diluar sadarnya ia memandang bulan tua yang sudah bertengger dilangit. Bagaimanapun juga Warsi tidak dapat memisahkan dirinya dengan sinar bulan jika bulan mulai nampak. Meskipun disiang hari, Warsi tetap seorang yang berilmu tinggi, tetapi sinar bulan itu benar-benar telah memberikan pengaruh jiwani kepadanya.

Demikianlah, sejenak kemudian maka Wira Gobang itupun telah berteriak, “Selesaikan semua orang diantara jalan ini melihat ampat sosok mayat terkapar dengan dada yang menganga.”

“Itu sangat mengerikan,“ sahut Kasadha, “tetapi lebih mengerikan lagi jika enam sosok terbaring disini.”

Wira Gobang itu menjadi semakin marah. Karena itu, maka iapun segera bergeser bersiap untuk menyerang Warsi sambil berkata, “Bukan kebiasaanku berkelahi dengan perempuan, tetapi jika ia sudah menghina kebesaran namaku, maka apaboleh buat.”

mereka. Biarlah besok orang pertama kali lewat

Warsi itupun telah bersiap pula. Ketika ia berdiri agak miring, sementara kedua kakinya merenggang dan sedikit merendah pada lututnya, serta kedua tangannya dengan jari-jari terbuka bersilang didepan dadanya, maka Wira Gobangpun melihat, bahwa perempuan itu bukan perempuan yang kurang waras dan berangan-angan menjadi seorang yang berilmu tinggi. Tetapi perempuan itu benar-benar seorang yang berilmu.

Demikian, maka sejenak kemudian, Wira Gobangpun telah mulai bertempur melawan Warsi. Keduanya nampaknya masih harus menjajagi kemampuan lawan, sehingga keduanya tidak berani tergesa-gesa memasuki jarak yang berbahaya.

Tetapi semakin lama perempuan itupun menjadi semakin cepat. Wira Gobang mulai berloncatan menyerang dengan tangannya menggapai tubuh lawannya. Tetapi Warsipun dengan tangkas telah menghindar dan bahkan membalas menyerang, meskipun serangan-serangan mereka belum merupakan serangan-serangan yang dapat menentukan.

Sementara itu, lima orang kawan Wira Gobang telah bergerak pula. Mereka menghadapi tiga orang yang telah bersiap pula. Kasadha dan kawannya telah bersiap sepenuhnya. Demikian pula bibi Kasadha. Karena lawan-lawan mereka telah menggenggam senjata, maka mereka bertiagapun telah bersenjata pula.

Dengan demikian maka sejenak kemudian, telah terjadi pertempuran yang sengit di bulak persawahan itu. Kasadha dan bibinya telah memancing masing-masing duaorang lawan, sementara kawan Kasadha itu Bertempur melawan seorang diantara pengikut Wira Gobang itu.

Ternyata mereka harus mengakui kenyataan yang mereda hadapi. Anak muda itu tidak mudah untuk dapat ditaklukkan meskipun oleh dua orang sekalipun. Sementara itu, perempuan yang harus bertempur melawan dua orang itupun ternyata sangat tangguh sehingga tidak segera dapat ditundukkan.

Wira Gobangpun harus melihat kenyataan pula. Perempuan yang dihadapinya memang seorang perempuan yang berilmu tinggi. Meskipun perempuan itu nampak mulai menjadi tua, namun ia masih mampu bergerak dengan tangkas dan cepat.

Bahkan semakin lama Wira Gobang itupun menjadi semakin berdebar. Bagaimanapun juga perempuan itu berusaha menyembunyikan unsur-unsur geraknya, tetapi Wira Gobang melihat, betapa kerasnya dasar-dasar unsur gerak yang mengalasi ilmu perempuan itu.

Namun sebelum Wira Gobang mengatakan sesuatu tentang ilmu perempuan itu, tiba-tiba saja ia mendengar perempuan itu berkata diantara derap kakinya yang dengan tangkas menggelepar melontarkan tubuhnya yang seakan-akan menjadi sangat ringan, “Ki Sanak. Aku melihat kau mempergunakan ilmu dasar bukan dari Perguruan Watu Kuning. Tetapi kau menguasai keturunan ilmu dari Perguruan Kumara Kala.”

“Iblis betina kau. Kau kira aku tidak melihat ilmu Kalamerta dalam permainanmu yang kasar itu.”

Wajah Warsi menjadi panas. Meskipun Kasadha sudah mengetahui akan hal itu, tetapi ia tidak ingin anaknya mendengarnya lagi hubungannya dengan gerombolan Kalamerta dimasa lampaunya. Tetapi ia tidak dapat ingkar. Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka dasar ilmu masing-masing justru menjadi semakin jelas.

Tetapi Warsi tidak ingin terpengaruh karenanya.

Iapun kemudian memutuskan, bahwa jika Kasadha melihat kekasarannya, ia tidak akan mengingkarinya. Apalagi hal itu memang sudah diketahui oleh Kasadha sebelumnya.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Wira Gobang dan Warsi itupun semakin lama memang menjadi semakin keras. Pada dasarnya kedua ilmu itu memiliki sumber yang sama. Namun perkembangannyalah yang membuat keduanya menjadi berbeda. Tetapi watak dasar dari ilmu yang keras dan kasar itu masih nampak.

Meskipun demikian, bagaimanapun juga, ilmu itu adalah ilmu yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, Wira Gobangpun kemudian berkata lantang, “Ternyata aku telah berhadapan dengan sisa gerombolan Kalamerta. Tetapi sebentar lagi sisa-sisa itupun akan segera terbabat habis. Ilmu yang termasuk ilmu hitam itu memang harus dimusnakan sampai tuntas.”

“Jangan sebut ilmu hitam atau putih. Semuanya tergantung kepada orang yang memilikinya. Ilmu yang diturunkan oleh Resi Ragageni yang dianggap orang yang paling bersih dari perguruan tiga bersaudara itu, akhirnya telah merusakkan citra kebersihan Resi Ragageni sendiri, Empat muridnya telah berkhianat dan menjadi bajak laut yang paling ditakuti. Nah, bagaimana jika aku mempergunakan ilmu yang sama dengan orang-orang gerombolan Kalamerta. tetapi aku pergunakan untuk memerangi kejahatan sebagaimana akan dilakukan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning?”

“Tetapi kau hisap ilmunya diantara bau kemenyan ditempat-tempat yang dihuni genderuwo dan thethekan, “Wira Gobang hampir berteriak.

“Omong kosong,“ geram Warsi, “aku tekuni ilmuku dalam sanggar dengan latihan-latihan yang berat. Tetapi aku tidak ingkar, bahwa tujuan semula mengusai ilmu itu memang untuk melakukan kejahatan,“ Warsi berhenti sejenak. Ia meloncat mengelakkan serangan Wira Gobang yang hampir saja membungkamnya, untuk selamanya karena ujung parang Wira Gobang yang besar itu mematuk kearah lehernya..

Namun kemudian ia melanjutkan pula, “Tetapi apakah kau kira aku tidak tahu, untuk apa sekelompok orang berguru dan menekuni ilmu dari perguruan Kumara Kala? Katakan, apakah Kumara Kala ditekuni dalam kemelutnya asap kemenyan di sarang genderuwo dan thethekan?”

“Setan kau,“ bentak Wira Gobang sambil meloncat menyerang. Parangnya yang besar itu berputar kemudian menebas kearah lambung.

Tetapi Warsi masih mampu mengelak dengan sebuah loncatan panjang. Namun Wira Gobang tidak melepaskannya. Dengan cepat ia memburunya. Parangnyapun terayun-ayun mengerikan.

Warsi akhirnya harus mengakui bahwa ia tidak dapat melawan Wira Gobang yang kuat dan tangkas dengan parangnya itu hanya dengan tangannya. Karena itu, maka Warsi terpaksa harus mengurai senjatanya lagi. Meskipun ia sudah berniat untuk tidak mempergunakannya, tetapi ketika ia berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan yang terancam oleh kekuatan yang besar dari Padepokan Watu Kuning itu, maka senjatanya itupun telah dibawanya pula.

Ketika ia semakin terdesak oleh parang Wira Gobang, maka tiba-tiba saja terdengar suara berdesing.

Wira Gobang meloncat surut. Dengan jantung yang berdebaran ia melihat perempuan itu telah memutar seutas rantai yang terbuat dari baja pilihan.

Wira Gobang itupun menggeram. Dalam keramangan cahaya bulan tua ia melihat, bagaimana perempuan itu benar-benar menguasai senjatanya yang kemudian berputaran. Demikian cepat, seolah-olah pada putaran rantai itu telah timbul kabut yang keputih-putihan karena pantulan cahaya bulan.

Sebenarnyalah bahwa pengaruh cahaya bulan itu benar-benar telah membuat Warsi seakan-akan menajdi semakin garang. Ia tidak saja menunggu lawannya menyerang untuk dihindarinya. Tetapi dengan rantainya itu, Warsi justru telah menyerang lawannya dengan tangkas dan kuat.

Wira Gobang mengumpat kasar. Ia sadar, bahwa ia harus bertempur diantara hidup dan mati, sebagaimana perempuan itu sendiri. Ia tahu bahwa mereka yang ilmunya dibasahi oleh landasan ilmu sebagaimana dikuasainya, jarang sekali meleapskan lawan-lawannya dalam keadaan hidup.

Itulah sebabnya, maka Wira Gobang kemudian tidak sempat lagi memperhatikan orang-orangnya yang juga sedang bertempur, karena ia harus memusatkan perhatiannya kepada perempuan yang sudah mendekati hari-hari tuanya itu. Namun yang ternyata masih memiliki kemampuan bertempur sangat tinggi.

Sebenarnyalah bahwa ujung rantai Warsi bagaikan kepala seekor ular yang sangat buas. Bahkan seakan-akan mempunyai sepasang mata yang sangat tajam, sehingga setiap kali mematuk ke sasaran yang berbahaya. Bahkan hampir saja mematuk mata Wira Gobang.

Sementara itu Kasadha, bibinya dan seorang kawannya masih bertempur dengan sengitnya pula. Dua orang pengikut Wira Gobang yang bertempur melawan bibi Kasadha semakin menjadi heran, bahwa setelah bertempur beberapa lama, mereka sama sekali tidak mampu menguasai perempuan itu. Bahkan sekali-kali keduanya harus berloncatan menjauh untuk mengambil jarak, jika keduanya menjadi kebingungan.

Kasadha telah bertempur dengan garang pula. Pedangnya berputaran semakin cepat. Ketika seorang lawannya meloncat menyerang sambil mengacukan senjatanya kearah dada Kasadha, maka dengan cepat Kasadha menghindar. Ketika senjata lawannya terjulur. Kasadha justru merendah hampir berjongkok pada sebelah lututnya. Tetapi sementara itu tangannya telah menjulurkan pedangnya pula menggapai lambung lawannya itu. Lawannya berteriak nyaring ketika pedih terasa menggigit lambung. Dengan cepat ia telah meloncat mundur. Tetapi Kasadha tidak sempat memburu, karena lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula. Pedangnya terayun mendatar menebas kearah leher.

Kasadha dengan cepat bangkit dan meloncat mundur. Ketika lawannya itu menyerangnya pula dengan tusukan kearah jantung, maka Kasadha telah menangkis serangan itu. Dengan putaran yang cepat dan kuat, hampir saja pedang lawannya itu terlempar. Untunglah betapa pedih telapak tangan lawannya, namun senjata lawannya itu masih dapat diselamatkan, meskipun lawannya itu kemudian harus melangkah surut.

Kasadha juga tidak memburu. Ia harus memperhatikan lawannya yang seorang lagi, yang menjadi semakin marah karena lambungnya telah terluka meskipun tidak begitu dalam.

Dengan demikian maka pertempuran diantara merekapun menjadi semakin sengit. Senjata mereka berputaran, beradu dengan dentang yang keras, sehingga bunga apipun berhamburan. Kaki-kaki mereka yang terlibat dalam pertempuran itu berloncatan dengan cepat. Sementara mulut kedua orang lawan Kasadha itu mengumpat beberapa kali dengan kasarnya.

Buku 50

KEDUA orang pengikut Wira Gobang yang bertempur melawan bibi Kasadha itupun menjadi gelisah. Perempuan itu terlalu tangkas. Ia dapat bergerak dengan cepat dan kadang-kadang bahkan tidak terduga-duga. Senjatanya berputaran dengan cepat. Terayun deras dan sekali-sekali menebas mendatar. Bahkan kemudian mematuk kearah jantung. Pedang yang hanya sehelai itu seakan telah berubah menjadi dua, tiga bahkan lima helai pedang yang bergerak bersama-sama.

“Iblis betina,“ geram salah seorang lawan bibi Kasadha itu.

Tetapi bibi Kasadha itu tidak menghiraukannya. Pedangnya justru semakin cepat berputar. Ketika seorang lawannya terlambat menghindar, maka pedang yang menebas mendatar itu telah menyentuh lengannya, sehingga sebuah luka telah menganga.

Orang yang terluka lengannya itu megumpat kasar. Tetapi luka itu tidak membuat perlawanannya menjadi surut. Seperti seekor harimau yang terluka, orang itu justru menjadi semakin garang. Kemarahan dan dendam telah membakar kepalanya.

Dalam pada itu, kawan Kasadha, seorang diantara para pemimpin kelompok yang banyak mengerti tentang pergo lakan jiwa Kasadha telah bertempur dengan keras pula. Untunglah bahwa kadang-kadang ia mendapat kesempatan untuk berlatih khusus dengan Kasadha sehingga prajurit itu memiliki pengalaman yang lebih luas tentang ilmu kanuragan. Ia tidak saja memiliki kemampuan seorang prajurit dalam perang gelar. Tetapi ilmunya secara pribadipun telah banyak meningkat.

Disisi lain, Wira Gobangpun harus bertempur dengan mengerahkan kemampuannya. Bahkan ia merasa dirinya seorang yang berilmu tinggi, harus melihat kenyataan, bahwa perempuan itupun memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan ia tidak mengira sama sekali,bahwaia’akanbertem-pur dengan seorang yang memiliki landasan dasar ilmu yang sama. Keras dan bahkan kasar. Namun perkembangannya telah membuat ilmu itu seakan-akan terpisah, meskipun wataknya masih nampak.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Warsi. Ilmu kanuragan yang tidak jauh berbeda dengan senjata itu arti dan nilainya tergantung pada orang yang memiliki dan mempergunakannya, jika ilmu itu dipelajari dengan cara yang wajar. Bekerja keras dan berlatih dengan tekun.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Warsi dan Wira Gobang itu semakin lama menjadi semakin rumit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka. Bahkan mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Warsi memang merasakan pengaruh perang tandingnya yang terakhir melawan Iswari sehingga ilmunya tidak dapat berkembang lagi. Tetapi dengan ilmu dan kemampuan yang telah dikuasainya, maka ia yakin akan dapat menyelesaikan lawannya yang juga berilmu tinggi itu.

Tetapi Wira Gobang bukan orang yang mudah menyerah pada keadaan. Dengan keras dan kasar ia melawan setiap serangan. Benturan-benturan telah terjadi. Kedua-duanya melandasi kemampuan mereka dengan landasan yang memang keras dan kasar. Parang Wira Gobang berputaran menggetarkan udara disekitarnya. Namun rantai Warsipun bagaikan perisai yang tidak tertembus mengelilingi tubuhnya. Sentuhan-sentuhan antara rantai baja dengan parang Wira Gobang telah memercikkan bunga-bunga api yang membungai gelapnya malam.

Tetapi ujung rantai Warsi yang bagaikan kepala ular itu mampu bergerak lebih cepat dari ayunan parang Wira Gobang. Selagi parang itu terayun menebas kearah leher, Warsi sempat mengelak. Sambil merendah Warsi bergeser selangkah kesamping. Namun bersamaan dengan itu, ujung rantainya meluncur mematuk dengan cepatnya mengenai lambung Wira Gobang.

Wira Gobang meloncat beberapa langkah surut. Perasaan pedih dan nyeri telah menyengat lambungnya. Bahkan lambungnya itupun kemudian telah menitikkan darah. Ketika tangannya meraba, maka cairan hangat itu telah tersentuh jari-jarinya.

Wira Gobang mengumpat kasar. Tetapi ia masih belum kalah. Ia masih mampu-mengatasi perasaan nyeri itu. Bahkan dengan demikian Wira Gobang itu justru menjadi semakin garang.

Tetapi ternyata bahwa Warsi yang pernah menempa diri justru karena nafasnya ingin menguasai Tanah Perdikan Sembojan itu, memiliki pengalaman yang lebih luas dari Wira Gobang. Ilmunya berkembang lebih jauh sehingga Warsi mampu menunjukkan unsur-unsur gerak yang sama sekali tidak dikenal oleh Wira Gobang. Sementara itu, Warsi lebih banyak dapat mengenali unsur-unsur gerak pada ilmu lawannya. Karena itu, maka Warsi mempunyai kesempatan lebih besar untuk memotong dan melawan ilmu Wira Gobang. Sementara itu kekuatan cadangan didalam dirinya yang diungkapkan sebagai tenaga dalam-pun Warsi masih mempunyai kelebihan.

Dengan demikian, maka Wira Gobang itupun semakin lama menjadi semakin terdesak. Beberapa kali ia harus berloncatan surut. Sementara Warsi yang bertempur disiraman sinar bulan yang semakin tinggi itu nampak menjadi semakin garang. Perempuan itu tidak lagi menghiraukan tanggapan anaknya atas unsur-unsur geraknya. Ia tidak akan dapat mengatasi Wira Gobang jika ia terlalu membatasi geraknya untuk menghindari kekerasan dan kekasaran yang nampak pada unsur-unsur geraknya itu.

Tetapi Kasadha memang tidak sempat memperhatikan bagaimana ibunya bertempur. Jika sekali-sekali ia sempat melihat pertempuran itu, ia hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa ibunya akan dapat mempertahankan dirinya sendiri.

Meskipun demikian Kasadha tidak dapat membiarkan ibunya bertempur seorang diri melawan orang berilmu tinggi itu. Bagaimanapun juga ibunya sudah menjadi semakin tua.

Karena itu, maka Kasadha berusaha untuk dengan secepatnya menyelesaikan kedua lawannya itu. Sehingga karena itu, maka iapun’telah mengerahkan segenap kemampuannya.

Pertempuranpun berlangsung dengan kerasnya. Ujung pedang Kasadha ternyata telah berhasil sekali lagi menggores lawannya yang telah dilukainya itu. Sehingga karena itu, maka orang itupun menjadi semakin lemah. Darah yang mengalir dari lukanya itu telah membuat tenaganya menyusut dengan cepat.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Kasadha sebaik-baiknya. Beberapa kali Kasadha justru mencari kesempatan untuk menyerang orang yang menjadi semakin lemah itu.

Tetapi ternyata bahwa kesempatan yang lain telah terbuka pula. Ketika lawannya menyerang dengan cepat dan mengerahkan tenaga sekuat-kuatnya untuk menebas kearah lehernya, Kasadha sempat meloncat surut. Demikian senjata lawannya terayun, Kasadha justru telah memukul senjata itu dalam ayunan yang searah. Kasadhapun telah mengerahkan kekuatannya pula, sehingga karena itu, maka sentuhan senjata Kasadha yang membentur senjata lawannya pada arah yang sama, seakan-akan telah mendorong lawannya sehingga lawannya itu telah kehilangan keseimbangannya dan terlempar beberapa langkah. Betapapun ia berusaha, tetapi orang itu telah terjatuh dan berguling beberapa kali justru untuk mengambil jarak.

Dengan cepat orang itu bangkit berdiri. Tetapi ia sudah terlambat. Kawannya yang telah terluka, yang berusaha membantunya telah jatuh terjerembab. Satu lagi luka telah menganga didadanya.

Meskipun orang itu masih berusaha untuk bangkit, tetapi ternyata ia sudah tidak berdaya lagi.

Kawannya termangu-mangu sejenak. Berdua ia tidak mampu mengalahkan Kasadha. Apalagi seorang diri.

Tetapi ketika ia melihat Wira Gobang masih bertempur dengan sengitnya, maka iapun telah menggeretakkan giginya pula. Sebagai seorang kepercayaan Wira Gobang ia tidak boleh terlalu mudah merasa kalah.

Dengan demikian, maka iapun telah berteriak nyaring sambil melompat menyerang.

Tetapi kegelisahan didalam dirinya membuatnya tidak Tagi mampu memusatkan nalar budinya.

Apalagi ketika kemudian ia mendengar seorang kawannya berteriak keras melontarkan kemarahan yang harus tertahan didadanya. Sebuah tusukan yang cepat, telah terhunjam didadanya itu. Ketika pedang bibi Kasadha itu ditariknya, maka orang itu terhuyung-huyung sejenak. Namun ketika ia berteriak keras-keras mengumpat marah, maka darah bagaikan dihentakkan dari lukanya itu. Sementara tubuhnyapun kemudian jatuh terhempas di tanah.

Seorang dari lawan bibi Kasadha telah jatuh. Meskipun ia masih tetap bernafas, namun sulit baginya untuk dapat bangkit lagi sebagaimana lawan Kasadha yang seorang.

Tetapi yang kemudian menentukan segala-galanya adalah pertempuran antara Warsi melawan Wira Gobang. Semakin lama Wira Gobang memang menjadi semakin terdesak. Ujung rantai Warsi sekali lagi telah mengenainya. Bukan saja mematuk tubuh Wira Gobang. Tetapi rantai baja itu telah terhempas dilambungnya. Hentakan sendai pancing, bukan saja membuat tulang-tulangnya bagaikan retak, tetapi tarikan yang menghentak dari rantai itu telah tergores mengoyak pakaian dan kulit lambungnya.

Wira Gobang berteriak keras menahan sakit yang menggigit lambungnya itu. Namun teriakan itu terputus ketika sekali lagi rantai Warsi tanpa dapat dihindari dan ditangkisnya, terjulur kelehernya. Rantai itu memang seperti tubuh seekor ular yang ganas. Dengan cepat rantai itu membelit leher Wira Gobang.

Wira Gobang yang merasa tidak akan dapat mengurai rantai itu dengan cepat, ternyata masih juga mampu mengambil sikap. Ketika rantai itu ditarik dengan satu hentakan, Wira Gobang sama sekali tidak melawan. Ia justru mengikut arah tarikan itu. Namun demikian ia bergerak semakin dekat dengan tubuh Warsi yang menariknya, Wira Gobang telah mengayunkan parangnya.

Warsi memang terkejut. Parang itu ternyata telah menyentuh tangannya. Segores luka menyilang diatas pergelangannya.

Tetapi dengan cepat Warsi melepaskan rantai itu dan menangkapnya dengan tangannya yang lain. Warsi tidak menarik lagi rantai itu, tetapi ia meloncat kesamping.

Waktu yang sekejap itu sempat dipergunakan oleh Wira Gobang dengan baik. Sambil berputar ia melepas rantai yang melilit lehernya. Tetapi ia terlambat untuk menghindar ketika tangan Warsi terayun dengan derasnya. Jari-jarinya yang merapat terbuka telah menghantam tengkuk Wira Gobang yang baru berhenti berputar.

Tetapi tangan Warsi yang telah terluka diatas pergelangannya itu tidak melontarkan tenaganya sepenuhnya. Warsi tidak ingin lukanya itu menyemburkan darah, sementara tangannya yang lain tengah memegangi rantainya yang baru saja terurai dari leher Wira Gobang.

Wira Gobang memang terhuyung. Tetapi ia tidak jatuh tertelungkup. Bahkan ia sempat menjulurkan pedangnya menyentuh lambung Warsi.

Meskipun hanya segores kecil, tetapi kemarahan perempuan itu benar-benar telah membakar jantungnya.

Karena itu hampir diluar kendali nalarnya, bahkan seolah-olah kegarangan Warsi telah kambuh kembali, maka tiba-tiba tangannya yang memegang rantainya itupun bergetar. Ujung rantainyapun menggelepar dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata mematuk dada Wira Gobang.

Terdengar Wira Gobang berteriak nyaring. Orang itupun menggeliat sambil melangkah surut. Terasa dadanya bagaikan disengat bara.

Tetapi Warsi yang sangat marah itu tidak melepaskan lawannya yang telah melukai tangan dan lambungnya. Sekali lagi rantainya menggelepar menampar kening.

Wira Gobang berteriak skalilagi. Tetapi keningnya seakan-akan telah pecah. Matanyapun menjadi gelap dan sejenak kemudian Wira Gobang itu terpelanting jatuh.

Ternyata darah telah mengalir dari luka dikeningnya itu.

Warsi berdiri termangu-mangu. Dipeganginya rantainya pada pangkal dan ujung. Wajahnya masih nampak tegang.

Tetapi sejenak kemudian Warsi itupun menarik nafas dalam-dalam. Wira Gobang agaknya menjadi pingsan. Sementara itu, orang-orangnya yang masih sempat bertempur telah kehilangan keberaniannya. Ketika kemudian Kasadha memberi kesempatan kepada mereka untuk menyerah, maka merekapun telah meletakkan senjata mereka.

Kasadhapun kemudian melangkah mendekati ibunya yang masih berdiri termangu-mangu. Ketika Kasadha itu kemudian berdiri disisinya, maka Warsi itupun berdesis, “Maafkan ibumu Kasadha.”

“Kenapa?“ bertanya Kasadha.

“Ibumu memang bukan seorang yang lembut. Dalam keadaan yang memaksa, maka kau telah melihat, betapa kasarnya ilmu yang aku kuasai.”

“Tetapi kita sedang mempertahankan diri ibu. Bukankah kita tidak berdiri dipihak yang bersalah?“ bertanya Kasadha. Lalu katanya, “Apapun yang kita lakukan, kita berhak untuk membela diri, melindungi diri kita sendiri. Kita tidak sedang merampok atau menyamun atau perbuatan-perbuatan lain yang menyalahi paugeran Pajang dan paugeran hidup.”

Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi kemudian dengan nada dalam ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika dengan ilmu yang kasar ini ibu ikut mempertahankan Tanah Perdikan Sembojan?”

“Tidak seorangpun akan mencela ibu. Bukankah ibu berniat baik sehingga ibu telah mengorbankan waktu, tenaga dan bahkan mempertaruhkan nyawa untuk kebaikan Tanah Perdikan Sembojan?“ sahut Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk kecil.

Namun dalam pada itu, bibi Kasadha itupun berkata, “Sebaiknya lukamu diobati meskipun tidak parah. Tetapi darah itu harus dipampatkan. Karena itu sebaiknya luka itu diobati lebih dahulu.”

Warsi memang membawa obat untuk memampatkan luka dalam sebuah bumbung kecil. Ditaburkannya obat itu pada lukanya sehingga darahpun menjadi pampat.

Sementara ibu Kasadha dibantu oleh bibinya, maka Kasadha berkata kepada orang-orang yang telah menyerah, “Kami tidak akan membunuh kalian. Seandainya ada diantara kalian yang terbunuh, bukan niat kami. Tetapi tentu merupakan peringatan bagi kalian, bahwa kalian tidak berhak berbuat sebagaimana kalian lakukan. Jika kalian sempat memberikan laporan kepada pemimpin Padepokan Watu Kuning, maka katakan apa yang telah terjadi. Kami akan meneruskan perjalanan kami ke Kademangan Pakis seperti yang sudah aku katakan kepada kalian.”

Orang-orang yang masih tersisa itu mengangguk.

“Nah, sampaikan salamku kepada pemimpin Padepokan Watu Kuning,“ berkata Kasadha kemudian.

Orang-orang itu mengangguk lagi.

“He, kenapa kalian hanya mengangguk-angguk saja? Jawab pesan-pesan kami itu,“ bentak Kasadha.

“Baik, baik Ki Sanak,“ jawab salah seorang dari mereka, “kami akan kembali ke Padepokan Sela Jene untuk memberikan laporan.”

“Padepokan Sela Jene?“ bertanya Kasadha.

“Ya, Padepokan Sela Jene. Maksudku, Padepokan Sela Kuning, eh, Sela Watu, eh, Watu Kuning,“ orang itu menjadi gagap.

“Apapun namanya, tetapi aku tahu Padepokan yang kau maksud,“ berkata Kasadha kemudian.

Sejenak kemudian, maka setelah membenahi diri, maka iring-iringan itupun melanjutkan perjalanan. Pemimpin kelompok tertua dari antara para prajurit Kasadha yang ikut bersamanya itu memang juga terluka meskipun hanya segores kecil. Tetapi luka-lukanya telah menjadi pampat pula, sehingga luka-luka itu tidak mengganggu sama sekali.

Sementara itu, langit menjadi semakin terang. Mata-haripun memancarkan sinarnya yang cerah. Bulan tua yang sudah berada dipunggung bukit tidak lagi mampu bersaing dengan terangnya matahari pagi.

Demikianlah, keempat orang itu berusaha untuk tidak menarik perhatian banyak orang. Meskipun demikian, beberapa orang yang berpapasan masih saja memperhatikan pakaian ibu dan bibi Kasadha yang tidak terbiasa dipakai oleh seorang perempuan.

Namun ketika kemudian mereka memasuki daerah Tanah Perdikan Sembojan, maka yang menarik perhatian banyak orang bukan lagi bentuk pakaian mereka. Mereka sudah sering meihat sebelum Risang diwisuda, ibunya yang saat itu masih menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, memakai pakaian seperti itu juga. Yang justru menarik adalah bahwa ada perempuan lain yang juga memakai pakaian seperti itu.

Dalam pada itu, setelah menempuh perjalanan yang panjang maka dibawah teriknya matahari yang sudah melampaui titik puncaknya, Kasadha bersama iring-iringan kecilnya telah berada di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka semakin mendekati Padukuhan Induk. Meskipun kuda-kuda mereka nampak letih, tetapi karena jarak yang akan ditempuhnya tinggal beberapa puluh patok, maka merekapun melanjutkan perjalanan mereka.

Kedatangan mereka di Tanah Perdikan Menoreh memang agak mengejutkan. Yang diharap dan ditunggu hanyalah Kasadha dan barangkah seorang prajurit yang akan datang bersamanya. Namun ternyata Kasadha datang bersama ibu dan bibinyaIbu Risangpun menerima mereka dengan gembira. Demikian pula Risang. Apalagi ketika kemudian Kasadha menyatakan bahwa ia telah mengajak ibu dan bibinya setelah ia mendengar dari Ki Rangga Kalokapraja, apa yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan ini. Bahkan Kasadhapun sempat menceriterakan apa yang telah terjadi di perjalanan serta menyampaikan pesan Pangeran Gagak Baning serta apa yang diketahui pula oleh ibu Kasadha.

“Jadi, yang disebut Padepokan Watu Kuning itu hanyalah satu tempat yang menjadi sarang orang-orang yang sebagian besar, adalah orang-orang yang tidak terpuji. Memang di Padepokan Watu Kuning terdapat perguruan Watu Kuning. Tetapi yang ada di Padepokan itu bukan saja orang-orang dari perguruan Watu Kuning,“ berkata Kasadha selanjutnya.

Risang mengangguk-angguk kecil. Katanya dengan nada dalam, “Terima kasih atas keterangan ini. Kami juga berterima kasih bahwa bibi berdua telah datang pula dan berniat membantu kami. Juga kepada Ki Sanak, yang telah menyempatkan diri datang bersama Kasadha ke Tanah Perdikan kami yang sedang terancam bahaya ini.”

“Saya sekedar menjalankan tugas,“ berkata pemimpin kelompok yang datang bersama Kasadha itu.

Dengan demikian, maka Tanah Perdikan itu merasa menjadi semakin kuat. Meskipun Pajang jelas tidak dapat membantu, tetapi kehadiran Kasadha merupakan pertanda bahwa Pajang tidak berniat untuk membiarkan saja Tanah Perdikan Sembojan berada dalam kesulitan. Kehadiran Kasadha akan dapat memantau keadaan Tanah Perdikan dan melaporkannya kepada pimpinan pemerintahan di Pajang yang untuk sementara masih berada ditangan Pangeran Gagak Baning.

“Kita masih menunggu,“ berkata Risang, “ketika dua orang utusan dari Padepokan Watu Kuning datang, mereka mengatakan bahwa sepekan lagi pemimpin Padepokan Watu Kuning akan datang kemari.”

“Jadi masih ada waktu dua tiga hari lagi,“ desis Kasadha.

“Ya. Dua hari lagi. Tetapi Tanah Perdikan ini sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Kami merasa semakin tenang karena kedatangan bibi berdua dan dua orang prajurit Pajang,“ sahut Risang.

“Apa yang dapat kami lakukan,“ berkata ibu Kasadha, “agaknya memang tidak banyak. Tetapi niat kamilah yang telah membawa kami datang kemari.”

“Itulah yang membesarkan hati kami,“ jawab ibu Risang, “dan hal itu tentu akan sangat besar pengaruhnya.”

Demikianlah, maka hari itu juga, setelah mereka beristirahat dan makan bersama-sama, maka Risang telah mengajak Kasadha untuk melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan. Mereka melihat bagaimana Tanah Perdikan itu mempersiapkan dirinya. Sementara itu, prajurit yang datang bersama Kasadha itupun telah melihat-lihat pula dibagian lain dari Tanah Perdikan itu bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Ternyata persiapan Tanah Perdikan ini sudah rapi sekali,“ berkata Kasadha, “bahkan para pengawal sempat meminjam dan mengumpulkan kuda yang ada di padukuhan-padukuhan untuk mempercepat gerak pasukan. Meskipun tidak begitu banyak, tetapi cukup memadai.”

“Para pemilik kuda itu menyerahkan kuda-kuda mereka dengan ikhlas. Mereka tahu pasti, untuk apa kuda-kuda itu dikumpulkan,“ jawab Risang.

“Aku kira Padepokan Watu Kuning tidak menyadari bahwa Tanah Perdikan ini memiliki pengawal yang mempunyai tatanan yang tersusun rapi sebagaimana tatanan dalam lingkungan keprajuritan yang sudah mapan. Karena itu, Padepokan Watu Kuning itu akan terkejut membentur pertahanan di Tanah Perdikan ini. Meskipun demikian, kita belum tahu pasti kekuatan Padepokan Watu Kuning yang menganggap Tanah Perdikan ini hanya dapat menyelamatkan diri karena bantuan Pajang,“ berkata Kasadha kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Iapun menyadari bahwa kekuatan Padepokan Watu Kuning sama sekali belum dapat dijajagi.

“Jika saja Padepokan Watu Kuning merupakan sebuah perguruan yang wajar, maka jumlahnya tidak akan dapat menyamai jumlah pengawal dan anak-anak muda di Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Risang, “namun mereka tentu memiliki kesempatan lebih baik untuk menempa diri secara pribadi. Merekapun tentu mempunyai ikatan yang lebih erat yang satu dengan yang lain, serta antara para cantrik, putut dan para pemimpinnya. Sementara itu, seperti yang kau katakan sesuai dengan pesan Ki Rangga Kalokapraja yang mendengarnya dari Pangeran Gagak Baning serta dari bibi, maka di perguruan Watu Kuning tentu terdapat banyak orang berilmu tinggi.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Apapun yang kita hadapi nanti, Tanah Perdikan ini sudah melakukan persiapan sebaik-baiknya.”

“Kita masih harus selalu berdoa, semoga Yang Maha Agung melindungi Tanah Perdikan ini,“ desis Risang kemudian.

“Ya. Bukan kita yang bersalah. Kita tidak berniat untuk bermusuhan,“ desis Kasadha.

Demikianlah, kedua orang anak muda, cucu Ki Gede Sembojan itu telah meyakinkan diri bahwa Tanah Perdikan itu sudah bersiap sebaik-baiknya. Bahkan pada saat-saat terakhir, para pengawal masih sempat melakukan latihan-latihan yang cukup berat. Terutama mereka membiasakan diri untuk mempergunakan senjata sesuai dengan pilihan mereka masing-masing. Mereka bukan saja berlatih secara pribadi, tetapi mereka juga berlatih untuk bekerja sama dalam perang brubuh.

Kasadha, seorang Lurah prajurit Pajang mengagumi kemampuan para pengawal Tanah Perdikan yang tidak berada dibawah tataran seorang prajurit. Mereka memiliki landasan dasar yang cukup. Sudah tentu bahwa mereka masih belum memiliki pengalaman yang cukup luas sebagaimana seorang prajurit. Meskipun demikian, mereka tidak akan mengecewakan jika mereka turun didalam pertempuran yang sebenarnya.

Karena itulah, maka Kasadhapun menjadi berbesar hati. Ia tidak terlalu mencemaskan keadaan Tanah Perdikan Sembojan menghadapi Padepokan Watu Kuning. Meskipun demikian, Kasadha masih belum dapat memperhitungkan apakah di Tanah Perdikan terdapat cukup banyak orang yang berkemampuan tinggi untuk menghadapi para pemimpin dari Padepokan Watu Kuning yang jumlahnya cukup banyak sehingga dapat mencemaskan sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Gagak Baning maupun oleh ibu Kasadha itu sendiri.

Tetapi untuk menanyakan hal itu langsung kepada Risang, Kasadha memang agak segan. Tetapi Kasadha tahu bahwa setidaknya ada beberapa orang yang dapat dijadikan tumpuan kekuatan Tanah Perdikan. Selain ibu Risang sendiri maka ibunya telah ada di Tanah Perdikan itu pula. Meskipun demikian, Kasadha masih juga meragukan ibunya. Apakah ibunya dapat mengerahkan segenap kemampuannya, karena ibunya merasa segan untuk menunjukkan, bahwa dasar ilmunya adalah ilmu yang kasar dan keras.

Tetapi Kasadha berniat untuk mempersilahkan ibunya bertempur ditempat yang berbeda dengan ibu Risang, agar ibunya tidak merasa dibayangi oleh kesegannya sendiri atas jenis ilmu yang dimilikinya.

Ketika Risang dan Kasadha telah berada dirumah, maka telah datang dua orang pengawal yang bertugas untuk mengawasi keadaan diperbatasan.

“Apa yang kau lihat?“ bertanya Risang.

“Di sebelah perbatasan Tanah Perdikan Sembojan terdapat pasukan yang berkemah,“ berkata salah seorang dari kedua pengawal itu.

“Pasukan apa?“ bertanya Risang.

“Belum kami ketahui. Tidak ada pertanda yang dapat menunjukkan untuk mengenali pasukan itu,“ jawab pengawal itu.

Namun baik Risang maupun Kasadha hampir berbareng berkata, “Padepokan Watu Kuning.”

Pengawal itu mengangguk hormat. Katanya, “Kamipun sudah menduga. Tetapi tidak ada pertanda apapun yang dapat menguatkan dugaan kami.”

“Aku akan melihatnya,“ berkata Risang.

“Aku ikut bersamamu,“ desis Kasadha.

Demikianlah maka mereka berdua telah berpacu diatas punggung kuda untuk melihat, pasukan yang berkemah diluar perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun mereka tidak akan mendekat, tetapi dari perbatasan mereka akan dapat mengurai keadaan pasukan yang berkemah itu.

Demikianlah sejenak kemudian maka Risang, Kasadha dan beberapa orang apengawal telah berada diperbatasan. Mereka memang tidak berniat untuk melampaui perbatasan dan melihat perkemahan itu dari dekat.

Sebenarnyalah, ketika mereka berada diperbatasan yang menghadap padang perdu yang agak luas, maka mereka memang melihat pasukan yang berkemah di padang perdu itu. Didirikannya gubug-gubug kecil untuk beberapa kepentingan. Menyimpan peralatan, untuk dapur dan untuk beberapa orang pemimpin mereka, dan beberapa macam kepentingan yang lain. Juga untuk berteduh sementara orang didalam pasukan itu. Sedangkan yang lain tersebar di padang perdu itu. Mereka duduk-duduk dan bahkan ada yang berbaring dibawah pohon-pohon perdu.

Kasadha yang melihat perkemahan itu dari kejauhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebuah pasukan yang kuat. Aku tidak yakin bahwa mereka benar-benar terdiri dari sebuah Padepokan saja. Meskipun Padepokan Watu Kuning merupakan sarang dari banyak kelompok, tetapi yang nampak itu adalah satu kekuatan yang besar.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Tanah Perdikan ini berada dalam keadaan bahaya yang sebenarnya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kita tidak mempunyai harapan.”

“Nampaknya Kademangan Pakis yang memiliki padang perdu yang dipergunakan untuk perkemahan itu tidak dapat berbuat apa-apa,“ desis Kasadha kemudian. Namun tiba-tiba iapun bertanya, “Bukankah Kademangan disebelah Timur Tanah Perdikan ini Kademangan Pakis?”

“Ya,“ jawab Risang.

“Aku memang mengaku untuk pergi ke Pakis ketika aku datang dan dicegat oleh orang-orang dari Padepokan Watu Kuning seperti yang pernah aku ceriterakan,“ berkata Kasadha.

“Sebenarnya bahwa Kademangan Pakis juga termasuk sebuah Kademangan yang kuat. Justru karena Tanah Perdikan ini sering bergolak, maka Kademangan Pakis juga telah berusaha untuk membuat perisai bagi Kademangannya. Bahkan Kademangan Pakis telah minta beberapa orang pengawal Tanah Perdikan ini untuk melatih anak-anak mudanya, agar mereka tidak terlalu canggung untuk mempertahankan diri jika hal itu diperlukan. Tetapi mereka tidak akan dapat menghadapi kekuatan yang demikian besarnya, bahkan Tanah Perdikan inipun telah menjadi gentar pula karenanya. Bukan berarti bahwa kami pengecut, tetapi kami tidak dapat mengabaikan kenyataan itu.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti. Tetapi melihat kesiagaan Tanah Perdikan ini, aku masih mempunyai keyakinan bahwa Tanah Perdikan ini akan dapat bertahan.”

Sementara Kasadha dan Risang serta beberapa orang pengawal mengamati keadaan, maka mereka melihat lima orang berkuda yang berpacu menuju kearah mereka.

“Nampaknya mereka sengaja ingin menemui kita,“ berkata Risang.

Kasadha mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, maka Kasadhapun sebagaimana Risang dan para pengawal telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Namun orang yang berkuda dipaling depan telah mengangkat tangan kanannya ketika kuda itu menjadi semakin dekat. Bahkan ketika kuda itu berhenti beberapa langkah dihadapan Risang dan Kasadha.

“Selamat bertemu anak-anak muda,“ berkata orang yang berkuda di paling depan sambil mengangguk hormat.

Risang dan Kasadhapun telah mengangguk pula. Dengan ramah pula Risang menjawab, “Selamat bertemu Ki Sanak. Kami, penghuni Tanah Perdikan ini menjadi sangat teratrik atas kehadiran Ki Sanak dengan pasukan yang demikian kuatnya di Kademangan Pakis. Tetapi yang dapat kami lakukan hanyalah melihat dan bertanya-tanya, siapakah mereka.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Kami memang sedang melakukan perjalanan panjang dalam rangka latihan besar-besaran dari Padepokan kami. Kami sedang menguji kemampuan dan ketahanan para cantrik kami, agar pada saat yang penting mereka tidak mengecewakan kami, para pemimpin dari Padepokan kami.”

“Dari Padepokan manakah kalian berasal?“ bertanya Risang.

“Kami datang dari Padepokan Watu Kuning,“ jawab orang itu.

“Watu Kuning,“ Risang mengulang, “Jadi kalian dengan pasukan yang besar itu menempuh satu perjalanan panjang untuk melakukan latihan?”

“Ya. Kami sedang menjelajahi daerah Selatan ini. Sekarang kami berhenti dan berkemah didaerah Kademangan Pakis. Nanti kami akan meneruskan perjalanan ke Barat.”

“Nanti?“ bertanya Risang.

“Maksudku, setelah kami beristirahat dua tiga hari disini,“ jawab orang itu.

“Apakah kau sudah mendapat ijin dari Ki Demang di Pakis?“ bertanya Kasadha kemudian.

“Kami tidak merasa perlu untuk minta ijin. Ternyata Ki Demang Pakis orang yang baik hati. Ia sama sekali tidak menyatakan keberatannya. Sampai saat ini tidak ada utusannya yang menemui kami dan menolak kehadiran kami,“ orang itu berhenti sejenak, lalu, “kami berharap bahwa daerah yang lainpun berbuat demikian.”

“Kaukah pemimpin pasukan itu?“ bertanya Kasadha pula.

“Aku salah seorang diantara para pemimpin itu. Tetapi aku bukan pemimpin tertinggi dari Padepokan Watu Kuning.”

“Siapakah pemimpin tertinggi Padepokanmu?“ bertanya Risang meskipun dengan agak ragu.

“Kebetulan aku bertemu dengan orang-orang Tanah Perdikan disini,“ berkata orang itu, “karena itu, aku ingin berpesan agar kau sampaikan kepada Kepala Tanah Perdikanmu, bahwa pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning akan bertemu dan berbicara dengan Kepala Tanah Perdikanmu.”

“Apakah kau pernah bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan?“ bertanya Kasadha.

“Aku sendiri belum. Tetapi beberapa orang Padepokan Watu Kuning sudah,“ jawab orang itu.

“Baiklah,“ jawab Risang, “aku akan menyampaikannya. Tetapi tepatnya, kapan pemimpin tertinggi itu akan datang berkunjung kepada Kepala Tanah Perdikan kami?”

“Menurut pendengaranku, besok lusa. Besok segala sesuatunya baru dipersiapkan. Baru besok lusa pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning itu akan bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan,“ jawab orang itu.

“Persoalan apakah yang akan dibicarakannya?“ bertanya Risang, “Mungkin hal itu perlu bagi Kepala Tanah Perdikan.”

“Biarlah pemimpinku mengatakannya langsung. Tetapi sudah tentu berhubungan dengan latihan yang sedang kami selenggarakan disepanjang daerah Selatan ini,“ jawab orang itu.

“Baiaklah,“ berkata Risang, “terima kasih atas keteranganmu. Aku akan segera menyampaikannya.”

“Akupun berterima kasih kepadamu,“ berkata orang itu, “mudah-mudahan kedatangan kami dapat diterima dengan baik. Bukan saja oleh Kademangan Pakis, tetapi juga oleh Tanah Perdikan Sembojan.”

Orang itupun segera bersiap-siap untuk kembali ke kemahnya. Tetapi ia sempat berkata, “Sebaiknya kami juga mengucapkan ikut berduka cita atas meninggalnya Pangeran Benawa dari Pajang. Kalian tentu berkabung karenanya. Selama ini Pangeran Benawa merupakan pelindung Tanah Perdikan ini yang terbaik.”

“Kami memang berkabung,“ jawab Kasadha, “tetapi Pajang akan segera bangkit kembali dari kemuram-annya atas wafatnya Pangeran Benawa. Mudha-mudahan kami akan segera mendapatkan ganti yang lebih baik.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku minta diri.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian orang-orang berkuda itu telah melarikan kuda mereka kembali keperkemahan mereka di padang perdu itu.

Risang dan Kasadha masih memandangi mereka beberapa saat sebelum mereka meninggalkan perbatasan. Sementara itu langitpun menjadi muram. Matahari telah turun kebalik bukit.

Dipadukuhan-padukuhan hari telah terasa menjadi gelap. Lampu telah menyala dirumah-rumah yang nampak hening.

Namun dalam keheningan itu, Risang dan Kasadha melihat kesiagaan para pengawla Tanah Perdikan di padu kuhan-padukuhan. Di banjar-banjar para pengawal yang bertugas selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan, apalagi setelah mereka mengetahui bahwa diseberang perbatasan terdapat pasukan yang sedang berkemah, Dan merekapun telah menduga bahwa pasukan itu tentu berasal dari Padepokan Watu Kuning.

Sementara Risang dan Kasadha masih berada di perjalanan menuju kepadukuhan induk, maka ia telah memerintahkan dua orang pengawal yang baru saja kembali dari perbatasan bersamanya untuk mengatur pengawasan bersama-sama padukuhan terdekat. Bukan saja dari satu padukuhan, tetapi bersama-sama beberapa padukuhan.

Risangpun telah memerintahkan salah seorang dari para pengawal itu untuk menghubungi para Demang. Malam nanti mereka harus berkumpul dirumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika Risang dan Kasadha sampai dirumah, maka malam sudah mulai turun. Ternyata dirumah itu terdapat dua orang tamu yang datang dari Kademangan Pakis. Seorang diantara mereka adalah Ki Demang Pakis sendiri.

“Ki Demang,“ desis Risang, yang kemudian telah memperkenalkan Kasadha sebagai seorang Lurah prajurit di Pajang.

“Nampaknya ada sesuatu yang penting Ki Demang?“ bertanya Risang kemudian.

“Ya ngger,“ jawab Ki Demang, “aku sudah menyampaikannya kepada Nyi Wiradana.”

Namun ibu Risang yang masih juga menemui Ki Demang itu berkata, “Sebaiknya Ki Demang menyampaikan langsung kepada Risang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengulanginya.”

“Silahkan Ki Demang,“ sahut Risang.

“Ngger,“ berkata Ki Demang kemudian, “aku ingin menyampaikan keluhan kepada angger Risang. hari ini di daerah Kademangan Pakis telah didatangi segerombolan orang yang tidak kami ketahui darimana datangnya. Mereka berada hampir diperbatasan dengan Tanah Perdikan. Mereka menempati sebuah padang perdu yang cukup luas. Mereka bahkan telah membuat gubug-gubug di padang perdu itu. Tanpa minta ijin kepada siapapun mereka telah menebangi batang-batang bambu dihutan bambu disebelah padang perdu itu. Mereka telah mengambil batang padi yang sedang dikeringkan oleh orang-orang padukuhan terdekat.”

“Apakah Ki Demang sudah memerintahkan menghubungi mereka?“ bertanya Risang.

“Sudah. Ki Jagabaya dan seorang Kebayan telah datang menemui pemimpin mereka. Tetapi sikap mereka kasar sekali. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kekuatan Kademangan Pakis. Mereka terlalu yakin akan kekuatan mereka, sehingga agaknya mereka menganggap bahwa hak dan wewenang berada diujung senjata mereka,“ jawab Ki Demang.

Risang dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Menurut orang yang ditemuinya di perbatasan, Ki Demang sama sekali tidak mempedulikan kehadiran mereka. Ki Demang tidak mengirimkan utusan untuk menemui mereka.

“Mungkin orang itu berbohong. Tetapi mungkin orang itu tidak tahu bahwa ada dua orang utusan Ki Demang yang telah menemui pemimpin mereka,“ berkata Risang didalam hatinya.

Dengan nada dalam Risangpun kemudian bertanya, “Ki Demang. Apa yang dapat kami lakukan? Maksudku jika Ki Demang ingin kita berkerja bersama.”

“Bagaimana menurut pendapat angger?“ Ki Demang justru bertanya.

“Ki Demang,“ berkata Risang, “sebenarnyalah menurut pengetahuan kami, orang-orang yang berkemah di lingkungan Kademangan Pakis itu adalah orang-orang dari Padepokan Watu Kuning. Sasaran mereka sebenarnya adalah Tanah Perdikan Sembojan. Mereka ingin menguasai Tanah Perdikan ini karena Tanah Perdikan ini adalah Tanah Perdikan yang subur. Dengan berbagai macam alasan mereka berniat untuk dengan kekerasan merebut Tanah Perdikan ini. Justru mereka memilih saat yang paling tepat untuk mendung yang mengalir dari Madiun setiap saat dapat menjatuhkan hutan prahara diatas Pajang.”

Ki Demang Pakis mengangguk-angguk. Dengan suara yang bergetar ia berdesis, “Jadi mereka akan menyerang Tanah Perdikan ini dan mempergunakan Pakis sebagai landasan serangannya?”

“Ya, begitulah kira-kira,“ jawab Risang.

“Lalu bagaimana sikap angger?“ bertanya Ki Demang Pakis.

“Sudah tentu kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kami akan melawan. Sudah tentu kekerasan hanya dapat kami lawan dengan kekerasan,“ jawab Risang.

“Apakah angger telah memberikan laporan kepada Pajang?“ bertanya Ki Demang Pakis.

“Sudah aku katakan, Pajang sedang diliputi mendung. Bukan saja karena wafatnya Pangeran benawa, tetapi juga karena hubungan antara Pajang dan Madiun yang kurang mantap.”

“Jadi angger akan bertumpu pada kekuatan Tanah Perdikan ini sendiri?“ bertanya Ki Demang.

“Ya,“ jawab Risang. Lalu katanya pula, “Kami memang sudah menyiapan diri Ki Demang. Apalagi kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami akan memilih mempertahankan diri daripada harus menyerahkan Tanah Perdikan ini.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya sambil berkata, “Sejauh dapat kami lakukan, kami akan membantu, ngger. Meskipun kekuatan kami jauh lebih kecil dari kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan, namun kami juga merasa tersinggung atas kehadiran orang-orang Watu Kuning. Apalagi sikapnya yang sama sekali tidak menghiraukan hak kami atas tanah kami sendiri. Kecuali itu, kamipun menyadari, seandainya Tanah Perdikan Sembojan benar-benar dikuasai oleh Padepokan Watu Kuning, maka lingkungan inipun benar-benar akan tercemar. Orang-orang Watu Kuning akan berbuat sewenang-wenang. Bahkan Kade-mangan-kademangan yang lain yang berada diluar wilayah Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ki Demang,“ berkata Risang, “sebenarnya aku tidak ingin menyeret Kademangan-kademangan kecuali dalam lingkungan Tanah Perdikan, kedalam persoalan ini, karena bagaimanapun juga akan dapat terjadi kekerasan yang akan membawa korban.”

“Bukankah itu wajar,“ sahut Ki Demang Pakis, “korban adalah pupuk bagi kesejahteraan hidup kami. Korban bukan berarti kesia-siaan. Pengorbanan itu akan sangat berharga bagi kami.”

“Jika demikian, kami mengucapkan terima kasih Ki Demang. Tetapi Ki Demang harus memperhitungkan segala segi dari pengorbanan ini,“ berkata Risang kemudian.

“Kami menyadari ngger. Dan pengorbanan ini sebenarnya juga mengandung landasan perhitungan bagi kepentingan diri sendiri. Maksudku bagi Kademangan Pakis. Bahkan aku akan berbicara dengan para Demang disekitar Pakis yang berhubungan langsung dengan Tanah Perdikan yang tentu mempunyai kepentingan yang sama seperti kepentingan Kademangan Pakis,“ berkata Ki Demang Pakis.

“Tetapi Ki Demang harus menyadari bahwa orang-orang Watu Kuning adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas. Seandainya Ki Demang Pakis atau Kademangan lain yang ingin membantu Tanah Perdikan, maka harus dipilih para pengawal yang sudah memiliki landasan kemampuan dalam olah kanuragan dan lebih-lebih kemampuan olah senjata. Mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang terlatih baik, justru karena mereka adalah murid-murid sebuah perguruan.”

Ki Demang menganguk-angguk. Katanya, “Bukankah para pengawal Kademangan, khususnya Kademangan Pakis dan sekitarnya telah pernah mendapat tuntunan dari para pengawal Tanah Perdikan ini pada saat-saat yang gawat. Aku yakin, bahwa mereka masih tetap memiliki gejolak jiwa jantan sebagai pagar tanah kelahiran.”

“Baiklah Ki Demang,“ berkata Risang, “masih ada waktu dua tiga hari. Biarlah anak-anak muda itu kembali meraba hulu senjata mereka dan membiasakan lagi bagaimana mereka harus menggerakkannya. Dengan demikian, mereka akan kembali mengenali watak dan tabiat senjata-senjata mereka serta beberapa hal yang berhubungan dengan medaan pertempuran yang sebenarnya.”

“Aku akan memerintahkan agar mereka menentukan siapakah yang akan ikut serta memasuki medan dan siapakah yang akan menjaga kampung halaman,“ berkata Ki Demang kemudian.

Namun ketika Ki Demang kemudian minta diri, Risang tlah menahannya. Dimintanya Ki Demang ikut dalam pertemuan antara para Demang di Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata dalam pertemuan itu, telah disusun kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh serta kesediaan Ki Demang Pakis untuk membantu. Bahkan Ki Demang Pakis telah menyatakan kesediaannya untuk menghubungi para Demang disekitar Tanah Perdikan Sembojan.

Risang memang tidak berkeberatan. Tetapi ia tetap bertumpu pada kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sem bojan itu sendiri. Sehingga karena itu, maka perintah Risang kepada para Demang adalah, bahwa besok, segala sesuatu harus sudah siap. Setiap saat mereka harus dapat bergerak bersama para pengawal dari setiap padukuhan. Para pengawas akan memberikan isyarat, perbatasan yang manakah yang menjadi paling rawan. Sementara itu, semua kuda yang ada harus dikerahkan untuk mempercepat gerak para pengawal dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain.

Ternyata para Demang, termasuk Ki Demang Pakis tidak menunggu sampai esok. Malam itu juga langkah-langkah yang harus diambil oleh para Demang itupun telah mulai dilaksanakan. Para Demang di Tanah Perdikan Sembojan yang memang sudah mempersiapkan diri sejak beberapa hari sebelumnya tinggal menyalurkan perintah-perintah yang datang kemudian lewat jalur yang sudah dipersiapkan oleh para Bekel di padukuhan-padukuhan.

Sementara segala persiapan dilakukan, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menyusun petugas khusus untuk mengawasi setiap gerak orang-orang yang ada diperkemahan. Jika keadaan menjadi berbahayam mereka harus segera memberikan laporan.

Tetapi dihari berikutnya, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa akan ada gerakan kekuatan langsung yang ditujukan kepada Tanah Perdikan Sembojan. Yang mereka lakukan adalah sekedar berlatih diantara beberapa kelompok, sedang yang lain masih saja menebar di padang perdu itu.

Tetapi ada diantara orang-orang yang berkemah dipa-dang perdu itu justru memasuki hutan dilereng bukit diseberang padang perdu dengan alat-alat berburu. Lembing dan busur serta anak panah. Agaknya mereka akan mencari binatang buruan untuk menambah perbekalan yang sudah mereka bawa.

Para pengawal yang bertugas mengawasi perkemahan itu dari kejauhan melihat, beberapa kelompok diantara mereka telah berlatih dengan bersungguh-sungguh. Nampaknya mereka sengaja menunjukkan betapa mereka mampu melakukan latihan yang berlandaskan pada ilmu yang tinggi, sehingga agaknya mereka ingin mengatakan bahwa dengan mudah mereka akan dapat menembus pertahanan Tanah Perdikan Sembojan seandainya benar-benar terjadi pertempuran diantara mereka.

Namun para pengawal Tanah Perdikanpun terdiri dari anak-anak muda yang telah berlatih. Merekapun memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapi kekuatan yang ada di padang perdu itu.

Sementara itu, Risang dan Kasadha masih juga melihat-lihat seluruh kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Kesediaan Kademangan Pakis untuk membantu akan sangat berarti bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha yang melihat sendiri kesiagaan para pengawal berkata kepada Risang dengan nada dalam, “Kau tidak usah cemas. Meskipun Pajang tidak dapat turun membantu, agaknya Tanah Perdikan ini bukan sasaran yang lunak bagi Padepokan Watu Kuning. Aku sebagai prajurit pernah mengalami benturan kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini. Meskipun saat itu Tanah Perdikan ini mendapat bantuan dari Jipang, tetapi kekuatan dasar Tanah Perdikan ini dapat dipercaya.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kami dapat menyelamatkan Tanah Perdikan ini.”

Ketika matahari mulai turun, maka berdua mereka kembali pulang. Ternyata dirumah itu telah menunggu tiga orang Demang yang memimpin tiga Kademangan disekitar Tanah Perdikan Sembojan, termasuk Ki Demang Pakis.

Seperti Ki Demang Pakis mereka menyatakan kesediaan mereka untuk membantu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Seperti yang pernah aku katakan kepada Ki Demang Pakis, sebenarnya kami tidak ingin menyeret tetangga-tetangga kami dalam kesulitan. Karena yang akan terjadi adalah kekerasan.”

Tetapi jawab para Demang itu tidak berbeda dengan jawab Ki Demang Pakis. Mereka merasa bahwa mereka akan ikut mengalami kesulitan jika benar Padepokan Watu Kuning dapat merebut Tanah Perdikan dengan kekerasan.

“Selama ini kami tidak dapat berbuat sesuatu yang dapat meringankan beban Tanah Perdikan ini. Jika terjadi benturan kekerasan, kami selalu berusaha membatasi diri dan berlindung dibalik garis perbatasan, seolah-olah kami sama sekali tidak bersangkut-paut dengan segala peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan itu. Tetapi ternyata kami menyadari kemudian, bahwa kami tidak dapat berbuat demikian untuk seterusnya. Apalagi sekarang kami merasakan, betapa sakitnya harga diri kami diinjak-injak oleh orang asing. Kehadiran orang-orang Watu Kuning di Kademangan Pakis adalah satu pertanda bahwa mereka sama sekali tidak menghargai orang lain. Kamipun mulai membayangkan, apa jadinya, jika orang-orang itu berkuasa di daerah yang berbatasan dengan daerah kami,“ sahut Ki Demang Pakis.

“Baiklah,“ berkata Risang, “sekali lagi kami hanya dapat mengucapkan terima kasih. Seperti yang pernah aku pesankan kepada Ki Demang Pakis, bahwa lawan yang akan kita hadapi adalah orang-orang yang memiliki landasan ilmu kanuragan. Karena itu, kami mohon hendaknya dipilih anak-anak muda yang benar-benar tidak canggung lagi memegang senjata. Mereka yang memiliki keberanian dan tekad yang besar. Pertempuran yang jika benar terjadi, merupakan pertempuran yang gafang. Hal ini dapat dilihat bagaimana kerasnya ilmu mereka dalam latihan-latihan yang sengaja diperlihatkan dihadapan perbatasan Tanah Perdikan ini.”

Ketiga orang Demang itu mengangguk-angguk. Ki Demang Pakislah yang kemudian berkata, “Angger Risang. Untuk membatasi perasaan dendam dari orang-orang Watu Kuning, biarlah kami tidak semata-mata melakukan perlawanan. Biarlah kami mengirimkan anak-anak muda kami yang sudah memiliki sedikit dasar olah kanu-ragan memasuki Tanah Perdikan lebih dahulu. Dengan demikian maka biarlah mereka berada didalam lingkungan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.”

“Baiklah Ki Demang, aku mengerti. Jika demikian, biarlah kami menugaskan beberapa orang untuk menerima para pengawal Kademangan-kademangan yang dengan ikhlas membantu kami. Kami akan menempatkan mereka dalam tatanan pasukan pengawal Tanah Perdikan.”

“Jika demikian, biarlah malam nanti kami kirimkan anak-anak kami meskipun jumlahnya tidak seberapa. Tetapi sebenarnyalah kami ingin ikut mempertahankan lingkungan ini dari kekuasaan, orang-orang yang menganggap bahwa kekuasaan itu berada di ujung senjata,“ berkata Ki Demang Pakis.

Dengan demikian, maka Risangpun telah membicarakan dengan ketiga orang Demang itu, bagaimana sebaiknya yang harus mereka lakukan. Risang telah memberikan petunjuk tempat-tempat yang akan dipergunakan para pengawal Kademangan itu untuk memasuki Tanah Perdikan Sembojan tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang berkemah di padang perdu dilingkungan Kademangan Pakis.

“Mereka tentu menyebar orang-orangnya untuk mengawasi Tanah Perdikan ini siang dan malam,“ berkata Risang, “tetapi para pengawal kamipun akan melakukan hal yang sama, sehingga daerah yang telah aku sebutkan itu akan mendapat pengawalan yang cukup dari para pengawal Tanah Perdikan ini.”

Dengan demikian, maka telah disepakati beberapa rencana yang berhubungan dengan bantuan beberapa Kademangan disekitar Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi bantuan itu akan sangat berarti.

Hari itu, maka segala sesuatunya dalam hubungannya dengan kesiagaan Tanah Perdikan Sembojan telah tersusun rapi. Setiap saat, pasukan pengawal Tanah Perdikan itu sudah siap bergerak. Sebagian besar dari para pengawal telah dipersiapkan di padukuhan yang terdapat dengan perbatasan, menghadapi perkemahan orang-orang Watu Kuning.

Para pengawal Tanah Perdikan tidak merasa perlu untuk melakukannya dengan diam-diam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning. Bahkan Tanah Perdikan Sembojan telah menunjukkan, bahwa kehadiran kekuatan Padepokan Watu Kuning tidak membuat Tanah Perdikan itu menjadi gemetar ketakutan sehingga tidak berani berbuat sesuatu menghadapi ancaman Padepokan Watu Kuning.

Tetapi Risang masih mengendalikan diri. Ia masih menunggu kedatangan pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning yang akan datang menemuinya dihari berikutnya.

Sebenarnyalah, dihari berikutnya, pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning, diiringi oleh sebelas orang telah memasuki perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka dengan berkuda melintasi sekelompok pengawal di perbatasan.

Para pengawal yang telah mendapat perintah untul membiarkan mereka lewat, memang tidak mengganggu sama sekali. Pemimpin pengawal itu memang menghentikan mereka dan bertanya, siapakah mereka dan untuk apa mereka melintasi perbatasan Tanah Perdikan Sembojan.

Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itu tertawa mendengar pertanyaan pemimpin pengawal itu. Katanya, “Kau mempunyai niat untuk melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar. Kau tentu tahu siapa aku dan untuk apa aku memasuki Tanah Perdikan ini.”

Ternyata pemimpin pengawal itu menjawab, “Aku hanya tahu kau adalah salah seorang yang ada di perkemahan itu. Tetapi aku tidak tahu siapa namamu dan untuk apa kau memasuki perbatasan Tanah Perdikanku.”

Pemimpin Tertinggi Padepokan itu tertawa semakin keras. Katanya, “Ternyata para pengawal Tanah Perdikan ini benar-benar anak muda yang bertanggung jawab meskipun sedikit dungu. Dengar. Aku akan berjalan terus dengan para pengawalku. Aku tidak peduli apakah kau mengetahui siapa aku dan apa maksudku atau tidak. Jika kau benar-benar pengawal yang bertanggung jawab, coba, cegah aku.”

Pengawal itu justru terdiam. Wibawa orang berkuda itu cukup tinggi, sehingga ketika orang itu bersama sebelas orang pengawalnya telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan para pengawal itu tidak mencegahnya. Diantara mereka yang mengawal Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itu terdapat Pandansirat dan Wirasrana yang telah pernah menemui Risang sebelumnya.

Dalam pada itu, sebelum Pemimpin Tertinggi itu memasuki Padukuhan Induk, maka Risang telah mengetahuinya dari laporan para pengawal, bahwa satu iring-iringan orang-orang berkuda telah mendekati Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Risangpun telah bersiap-siap untuk menerima mereka. Selain Risang sendiri, maka ibunya dan Kasadha telah bersiap-siap pula. Sementara itu diruang dalam, sambi Wulung dan Jati Wulung, Ibu dan bibi Kasadha, juga telah hadir pula ketiga orang kakek dan nenek dan sekaligus guru Risang. Sedangkan dihalaman, beberapa orang pengawal berada di serambi gandok. Diantara mereka terdapat Gandar iyang telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka sebuah iring-iringan orang berkuda telah meinasuki halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika orang-orang itu kemudian meloncat turun dari punggung kuda, maka Risang dan Kasadha telah turun dari tangga pendapa untuk menyongsongnya.

Berbeda dengan sikapnya di perbatasan, maka Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itupun berlaku sopan. Sambil tersenyum dan mengangguk hormat iapun berkata, “Apakah aku berhadapan dengan Kepala Tanah Perdikan yang masih muda itu?”

“Ya Ki Sanak,“ jawab Risang, “marilah, silahkan naik. Ki Sanak tentu Pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning yang sedang berkemah di tlatah kademangan Pakis berhadapan dengan perbatasan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tepat anak muda,“ jawab orang itu, “aku adalah orang yang dituakan di padepokan dan Perguruan Watu Kuning.”

“Marilah, silahkan naik,“ Risang sekali lagi mempersilahkan tamu-tamunya.

Sejenak kemudian, maka Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning serta beberapa orang pembantu dekatnya telah naik dan duduk dipendapa, sementara beberapa orang pengawalnya menebar di halaman.

Setelah saling mengucapkan selamat, maka Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itupun berkata, “Kami memenuhi janji kami untuk datang menemui Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang belum lama ini disiwuda.”

“Terima kasih atas kunjungan ini, Ki Sanak,“ jawab Risang, “tetapi apakah kami boleh mengetahui nama atau sebutan Ki Sanak agar kami tidak menjadi canggung karenanya?”

“Tentu, tentu,“ sahut orang itu dengan serta merta, “orang memanggilku Ki Gede Sela Kuning atau ada yang menyebut Ki Gede Watu Kuning.”

“Ya manakah yang sebaiknya kami pakai?“ bertanya Risang.

“Kedua-duanya sama saja. Tetapi lebih banyak orang memanggilku Ki Gede Watu Kuning,“ jawab orang itu.

“Baiklah Ki Gede Watu Kuning,“ berkata Risang kemudian,“ Ki Gede dapat memanggilku Risang. Namaku memang Risang. Ini ibuku, Nyi Wiradana dan ini adalah adikku, Kasadha.”

Orang itu mengangguk hormat sambil berkata, “Senang sekali aku dapat berkenalan dengan Nyi Wiradana dan angger Kasadha.”

“Nah Ki Gede,“ berkata Risang kemudian, “kedatangan Ki Gede memang sudah kami ketahui sebelumnya. Beberapa orang pernah mengatakannya. Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana yang pernah datang kemari juga sudah mengatakannya. Dua hari yang lalu, di perbatasan ada juga beberapa orang yang menemui kami dan mengatakan bahwa Ki Gede akan datang kemari.”

“Dan aku memang memerlukan datang ngger,“ berkata Ki Gede Watu Kuning.

“Apakah kedatangan Ki Gede sekedar ingin memperkenalkan diri atau mempunyai kepentingan tertentu dengan kami, orang-orang Tanah Perdikan Sembojan?”

Ki Gede Watu Kuning berpaling kepada Pandansirat yang duduk dekat Wirasrana. Dengan nada rendah ia kemudian menjawab, “Serba sedikit agaknya Pandansirat dan Wirasrana telah mengatakan, bahwa ada sedikit persoalan yang akan kami sampaikan atas nama Padepokan Watu Kuning. Tetapi persoalan itu bukan persoalan yang penting dan hanya sekedar bahan pembicaraan saja.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Maksud Ki Gede, tentang kedudukan Tanah Perdikan ini?”

“Ya, begitulah. Tetapi angger jangan menganggap bahwa persoalan ini sangat penting. Bagiku persahabatan dan persaudaraan diantara sesama merupakan hal yang jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain. Karena itu, maka kedatanganku ini adalah satu usaha untuk lebih memperluas persahabatan itu. Tidak lebih! ngger.! Jika ada persoalan-persoalan lain itu adalah sekedar pembicaraan sambilan saja.”

“Sokurlah Ki Gede,“ Risang mengangguk-angguk. Meskipun demikian, ia tetap berhati-hati menghadapi sikap Ki Gede Watu Kuning yang nampaknya sangat bersahabat itu.

“Barangkali kami hanya ingin sekedar memperingatkan ngger, bahwa persaudaraan kami akan dapat menjadi lebih erat, karena kami memang berasal dari tanah kelahiran yang sama.”

Risang mengerutkan keningnya. Dengan agak ragu ia bertanya, “Maksud Ki Gede?”

“Ya. Kita memang lahir ditempat yang sama. Tanah Perdikan ini lahir diatas bumi Sembojan, sedang Padepokan Watu Kuning juga lahir diatas bumi Sembojan. Nah, bukankah kami benar-benar bersaudara? Jika angger bertanya siapakah yang lebih tua diantara kita, maka tentu aku akan menjawab, bahwa Padepokan Watu Kuninglah yang pantas disebut saudara tua,“ berkata Ki Gede Watu Kuning kemudian.

Risang yang sudah mengetahui arah pembicaraan itupun menjawab, “Terima kasih atas keterangan ini Ki Gede. Kami sama sekali tidak berkeberatan dengan pernyataan Ki Gede, bahwa kami lahir diatas bumi yang sama, bumi Sembojan.”

“Terima kasih ngger,“ Ki Gede itu tersenyum, “aku tidak mengira bahwa sikap angger demikian longgar terhadap pernyataan kami tentang bumi Sembojan.”

“Aku berpendirian sama seperti Ki Gede Watu Kuning,“ jawab Risang, “persaudaraan dan persahabatan merupakan hal yang yang jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain.”

Ki Gede Watu Kuning mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian tertawa panjang. Katanya, “Bagus ngger. Ternyata kau adalah anak muda yang cerdas dan tangkas berpikir.”

Risangpun tersenyum. Katanya, “Terima kasih atas pujian itu Ki Gede.”

“Nah, dengan demikian, agaknya pembicaraan kita selanjutnya tidak akan mengalami kesulitan. Kami, Padepokan Watu Kuning ingin mempererat hubungan kita sebagai saudara yang lahir di bumi yang sama dengan ikatan yang lebih nyata ngger,“ berkata Ki Gede kemudian.

“Maksud Ki Gede?“ bertanya Risang.

“Kami ingin mengembalikan kedudukan Sembojan sebagaimana sebelum kami harus terbelah. Agaknya orang-orang tua kita di Tanah Perdikan sebelum kita sekarang, mempunyai pikiran yang kerdil, sehingga Sembojan harus dipecah. Bahkan dengan kekerasan dan dengan tajamnya senjata. Campur tangan Demak membuat perselisihan diantara saudara yang sama-sama lahir di bumi Sembojan semakin menjadi-jadi. Akibatnya Padepokan Watu Kuning harus menyingkir dari bumi Sembojan. Sedangkan untuk memperkuat kedudukan saudara-saudara kita yang masih tetap berada di Sembojan telah didirikan Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Ki Gede.

Risang mengangguk-angguk kecil. Agaknya pembicaraan Ki Gede Watu Kuning telah mengarah kepada maksudnya yang sebenarnya.

Dengan nada rendah Risang berkata, “Biarlah ceritera itu tetap merupakan ceritera Ki Gede. marilah, persahabatan dan persaudaraan kita, kita landasi dengan apa yang ada sekarang,”

Wajah Ki Gede menegang sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata, “Bukankah kita bukan orang-orang yang hidup tanpa masa lalu? Nah, sudah tentu bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa sekarang adalah sekarang. Dan ceritera itu biarlah tetap menjadi ceritera saja.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?“ bertanya Risang.

“Kita akan selalu berpijak pada masa lalu untuk menyongsong masa depan,“ berkata Ki Gede.

“Tetapi kita tidak dapat ingkar akan kenyataan kita sekarang,“ jawab Risang, “sebagaimana Ki Gede ketahui, kenyataan yang ada sekarang, kita telah terpisah oleh alasan dan sebab apapun juga. Padepokan Watu Kuning sebagai satu kenyataan memang ada dan berdiri tegak sebagai sebuah perguruan yang besar dan berwibawa. Namun disamping itu Tanah Perdikan Sembojan yang ada sekarang inipun adalah sebuah Tanah Perdikan yang ada dan sah pula adanya berdasarkan beberapa bukti dan kenyataan.”

Ki Gede Watu Kuning mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti ngger. Tetapi sebagaimana perubahan itu pernah terjadi, maka kita sekarangpun berhak membuat perubahan-perubahan bahkan sampai yang mendasar sekalipun tentang kedudukan bumi Sembojan. Kita dapat berbuat sesuai dengan keinginan kita. Bukankah kita terikat dalam persaudaraan dan persahabatan sehingga kita akan dapat membuat perubahan-perubahan tanpa menimbulkan masalah?”

“Ya Ki Gede,“ jawab Risang. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebagai saudara dan sahabat yang baik, kita-pun dapat saling bersetuju untuk tidak mengadakan perubahan apa-apa tentang kedudukan kita masing-masing. Maksudku, Padepokan Watu Kuning yang besar dan berwibawa sebagaimana adanya sekarang dan Tanah Perdikan Sembojan yang sudah mendapat kekancingan dari Demak dan kemudian Pajang. Bahkan Jipangpun mengakui adanya Tanah Perdikan Sembojan. Terakhir aku menerima ucapan selamat dari Kangjeng Panembahan Mas di Madiun lewat utusannya yang datang pada saat aku diwisuda.”

Ki Gede Watu Kuning itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika demikian, apakah kita akan ingkar, bahwa persaudaraan dan persahabatan kita jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain”

“Ya. Aku juga akan bertanya kepada Ki Gede. Jika Ki Gede menghendaki perubahan-perubahan apalagi yang mendasar tentang kedudukan bumi Sembojan, bukankah itu berarti bahwa Ki Gede mengingkari pernyataan Ki Gede sendiri, bahwa persaudaraan dan persahabatan kita lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain termasuk kedudukan bumi Sembojan?”

Warna merah sekilas membayang diwajah Ki Gede. Namun Ki Gede itupun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku tidak mengira bahwa angger yang masih muda itu begitu terampil berbicara. Baiklah. Mungkin kemudaan angger Risang yang membuat angger tidak segera mengerti yang aku maksud.”

“Mungkin Ki Gede. Karena itu, aku mohon Ki Gede menjelaskan maksud Ki Gede yang sebenarnya,“ jawab Risang.

“Baiklah,“ berkata Ki Gede “ aku akan mempergunakan kata-kata yang lebih sederhana, sehingga ngger Risang yang muda itu akan segera mengetahui maksudku yang sebenarnya.”

Ki Gede Watu Kuning berhenti sejenak, sementara Risangpun menunggu kelanjutan kata-katanya. Baru setelah menarik nafas dalam-dalam, Ki Gede itu berkata, “Angger. Sebenarnyalah bahwa aku ingin menyatukan kembali bumi Sembojan ini. Persaudaraan kita akan menjadi lebih kental dan akrab karena kita akan menjadi satu. Satu Sembojan dan satu pemegang pimpinan. Sedangkan isinya adalah bersatunya kembali keluarga yang pernah terpisah oleh ketamakan orang-orang tua kita waktu itu.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut dikening Risang bertanya, “Itulah artinya persaudaraan dan persahabatan yang jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan lain?”

“Bukankah persaudaraan dan persahabatan yang demikian akan menjadi lebih tegas dan pasti?“ bertanya Ki Gedei Risang tidak segera menjawab. Sementara itu, orang-orang yang mendengarkan pembicaraan itu memang menjadi tegang. Mereka menunggu jawaban Risang yang akan menentukan hasil dari pembicaraan itu.

Mereka sempat terkejut ketika Risang menjawab, “Baiklah jika itu yang Ki Gede kehendaki.”

“Jadi angger bersedia menerima keinginan ini?“ bertanya Ki Gede Watu Kuning.

Nyi Wiradana dan Kasadha memang terkejut ketika Risang berkata, “Aku setuju Ki Gede.”

Tetapi ternyata Risang belum selesai. Katanya selanjutnya, “Jika Ki Gede ingin bernaung dibawah pemerintahanku dan menjadi satu kembali di bumi Sembojan, tentu aku tidak berkeberatan. Sembojan akan menjadi lebih besar dan kuat. Tetapi sudah tentu bahwa Padepokan Watu Kuning akan tunduk pada segala paugeran yang ada di Tanah Perdikan Sembojan.”

Terasa wajah Ki Gede Watu Kuning menjadi panas. Ia tidak mengira bahwa anak muda itu dengan beraninya akan menentangnya sementara itu pasukannya yang kuat telah berada di perbatasan.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning kemudian masih juga tersenyum dan berkata, “Angger ternyata seorang yang pandai bergurau. Tetapi persoalan bumi Sembojan bukan sekedar bahan untuk bergurau.”

Risang yang melihat perubahan wajah Ki Gede betapapun Ki Gede berusaha untuk tersenyum, menjadi semakin berhati-hati. Dengan nada dalam ia menjawab, “Ki Gede. Aku memang senang bergurau. Tetapi sekarang aku tidak sedang bergurau. Aku berkata dengan sesungguhnya. Ki Gede tidak usah merasa cemas, bahwa pada suatu saat aku mencabut kesediaanku menerima Ki Gede yang ingin kembali ke bumi Sembojan yang sekarang menjadi Tanah Perdikan dan yang sekarang aku pimpin sebagai Kepala Tanah Perdikan dengan surat kekancingan dari Pajang dan yang bahkan telah diwisuda atas nama Pangeran Benawa.”

Bagaimanapun juga Ki Gede menyembunyikan perasaannya, namun tersirat juga dalam getaran kata-katanya, “Angger Risang. Marilah kita berbicara wajar dan bersungguh-sungguh. Bumi Sembojan ini adalah bumi kelahiran Padepokan Watu Kuning sebelum Tanah Perdikan ini ada. Singkatnya, kami ingin memiliki bumi kelahiran kami ini kembali.”

“Lalu bagaimana dengan Tanah Perdikan Sembojan?“ bertanya Risang.

“Kalian yang mengaku orang-orang Tanah Perdikan Sembojan harus menyatakan diri dalam satu permohonan untuk diijinkan tinggal di Sembojan. Kamilah yang akan menentukan, siapa yang diijinkan dan siapa yang tidak diijinkan.”

Namun ternyata Risang masih juga mampu menahan diri. Di wajahnya masih nampak sebuah senyum yang menghiasi bibirnya. Bahkan katanya, “Ki Gede. Marilah kita berpijak pada kesepakatan kita untuk lebih mementingkan persaudaraan dan persahabatan. Sebaiknya Ki Gede dengan kebaikan hati dengan resmi mohon kepadaku, Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk diperkenankan membuat sebuah padepokan kecil disudut Tanah Perdikan ini dengan janji untuk tunduk kepada semua paugeran yang berlaku di Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede Watu Kuning itupun tertawa. Tetapi betapa kecutnya suara tertawanya. Dengan suara yang tertahan-tahan oleh gejolak didalam dadanya ia berkata, “Angger Risang. Jadi tegasnya angger menolak mengembalikan Tanah Perdikan ini kepada kami?”

“Ki Gede,“ jawab Risang, “ikhlaskan saja bumi Sembojan seandainya Ki Gede merasa bahwa bumi ini milik Padepokan Watu Kuning.”

“Angger,“ berkata Ki Gede yang masih berusaha untuk berbicara dengan lembut, “aku sebenarnya merasa kasihan kepada angger sekarang ini. Jika angger kukuh pada sikap angger, sebaiknya angger melihat orang-orangku yang sudah berkemah di perbatasan. Sementara itu, angger pada saat ini tidak akan dapat bertumpu pada kekuatan Pajang yang mengakui kehadiran Tanah Perdikan ini. Pangeran Gagak Baning yang untuk sementara memimpin Pajang adalah seorang yang berhati-hati. Ia tidak ingin mengirimkan prajuritnya ke Tanah Perdikan ini sementara Madiun telah merunduknya dan siap untuk menerkam.”

“Itu sudah kami perhitungkan Ki Gede,“ jawab Risang, “kami memang tidak dapat mengharapkan bantuan Pajang. Meskipun demikian kami tidak akan membiarkan bumi Sembojan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berhak. Betapa lembutnya bulu-bulu domba yang Ki Gede kenakan, tetapi getar suara Ki Gede tidak lebih ramah dari geram seekor serigala.”

Ternyata Ki Gede masih juga berhasil menguasai diri. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Baiklah ngger. Jika demikian apaboleh buat. Kau sudah menolak uluran tangan persaudaraan dan persahabatan Padepokan Watu Kuning.”

“Terima kasih Ki Gede,“ jawab Risang, “tetapi persaudaraan yang Ki Gede tawarkan ternyata tidak sesuai bagi Tanah Perdikan Sembojan.”

“Baiklah ngger. Kami masih memberi kesempatan kepada angger untuk berpikir selama dua hari. Jika dalam dua hari ini angger tidak memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan kami, maka apaboleh buat. Kami akan kembali ke bumi Sembojan dengan cara kami. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa Pajang tidak akan mungkin dapat membantu angger.”

“Terima kasih atas peringatan itu Ki Gede. Tetapi sayang, bahwa kami akan tetap dalam sikap dan pendirian kami. Bumi Sembojan adalah bumi kelahiran. Apapun yang terjadi, dengan bantuan Pajang atau tidak, maka kami akan mempertahankannya,“ jawab Risang.

Ki Gede tertawa, katanya, “Angger memang seorang yang pantas untuk menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan. Angger memegang jabatan angger dengan penuh tanggung jawab. Tetapi sayang bahwa angger menjadi Kepala Tanah Perdikan diatas bumi Sembojan milik kami.”

“Kami mohon restu Ki Gede, agar kami mampu mempertahankan bumi kelahiran kami,“ sahut Risang.

Wajah Ki Gede menjadi semburat merah. Namun ia menjawab, “Sebaiknya angger berdoa agar angger mendapat umur panjang.”

Demikianlah, dengan sikap yang masih saja ramah dan kebapaan Ki Gede minta diri meninggalkan Padukuhan Induk, kembali keperkemahannya. Namun demikian ia keluar dari padukuhan Induk, maka warna yang terang di wajahnya segera disaput oleh ledakan kemarahan yang ditahannya. Dengan geram ia berkata, “Siapkan kekuatan sepenuhnya dalam dua hari ini. Jika dalam dua hari ini cucurut kecil itu tidak datang menemui kami, maka kamilah yang akan datang kepadanya dan menghancurkannya.”

Para pengikutnya tidak menyahut. Mereka tahu bahwa dalam keadaan yang demikian, Ki Gede Watu Kuning akan cepat sekali meledak.

Para pengawal Tanah Perdikanpun tidak mengganggu perjalanan Ki Gede Watu Kuning. Bahkan sambil menempuh perjalanan berkuda dari Padukuhan Induk, Ki Gede sempat melihat kesiagaan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi Ki Gede tetap berpendapat bahwa anak-anak muda itu tidak akan banyak berarti bagi para cantrik Padepokan Watu Kuning.

Demikian Ki Gede Watu Kuning sampai ke perkemahan, maka iapun segera mengeluarkan perintah untuk bersiaga penuh bagi orang-orangnya. Bahkan Ki Gede memerintahkan agar mereka melakukan latihan-latihan dan menunjukkan kelebihan mereka agar anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan menjadi gentar.

“Aku memberi kesempatan kepada Risang dua hari. Pada hari ketiga kita akan menghancurkan Tanah Perdikan itu. Kita akan melintasi perbatasan sebagaimana kita masuk kehalaman rumah kita sendiri. Risang tidak akan dapat membendung pasukan kita. Dalam sehari kita tentu sudah akan menguasai Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Ki Gede Watu Kuning dengan wajah yang tegang.

Namun bukan berarti bahwa Ki Gede Watu Kuning hanya duduk bertopang dagu menunggu dua hari sebagaimana ia memberikan waktu kepada Risang. Tetapi ia sudah memerintahkan orang-orangnya untuk mengawasi lebih ketat agar tidak ada orang-orang yang mencurigakan masuk dan keluar perbatasan Tanah Perdikan.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning terlambat mengadakan pengawasan yang ketat. Ternyata anak-anak muda dari tiga Kademangan termasuk Kademangan Pakis telah memasuki perbatasan Tanah Perdikan. Mereka telah berada di banjar Padukuhan Induk dan sebagian yang lain di banjar padukuhan-padukuhan disekitar Padukuhan Induk. Mereka telah mendapat penanganan khusus dari para pemimpin pengawal Tanah Perdikan untuk mempersiapkan mereka agar mereka dapat menyesuaikan dirinya dengan para pengawal Tanah Perdikan.

Dalam pada itu, ternyata waktu yang dua hari yang dbiberikan oleh Ki Gede Watu Kuning itu sangat berarti bagi para pengawal Tanah Perdikan. Lebih-lebih lagi bagi para pengawal ketiga Kademangan yang berada di Tanah Perdikan. Dalam waktu yang singkat itu, mereka sempat berbenah diri. Mereka berusaha untuk semakin mengenali watak dan tabiat senjata mereka masing-masing dengan tuntunan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang lebih banyak berpengalaman dari mereka. Namun ternyata bahwa tekad yang menyala dihati mereka tidak kalah dari para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Sementara menunggu dua hari, maka Risang telah berbicara dengan bersungguh-sungguh dengan para pemimpin Tanah Perdikan serta dengan Kasadha dan ibunya. Sebagai seorang prajurit ternyata Kasadha mempunyai pendapat-pendapat yang sangat berarti bagi Risang. Pengelompokan-pengelompokan pasukan yang ada akan menghasilkan daya tempur yang lebih besar apalagi menghadapi pasukan yang dipimpin oleh orang-orang yang berilmu tinggi.

“Kau dapat memisahkan sejumlah orang terbaikmu Risang,“ berkata Kasadha, “mereka dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka akan menjadi ujung tombak dari seluruh pasukanmu. Dengan kelebihan mereka, maka mereka akan dapat memancing kegelisahan lawan, sementara pasukan yang lain akan segera menentukan arah penyelesaian pertempuran itu.”

Risang ternyata sependapat. Iapun segera memerintahkan para pemimpin pengawal untuk memilih mereka yang terbaik diantara para pengawal Tanah Perdikan. Pada lapis kedua para pengawal yang lain akan mengikuti gerak kelompok-kelompok khusus. Sementara itu telah disiapkan pula pasukan cadangan yang akan turun kemedan jika sangat diperlukan. Mereka akan terdiri dari laki-laki yang lebih tua, terutama mereka yang pernah mengalami menjadi pengawal Tanah Perdikan Sembojan atau bahkan pernah menjadi prajurit.

Dalam keadaan tertentu mereka akan dapat membantu para pengawal karena pengalaman mereka serta kemampuan yang mereka miliki meskipun tenaga dan daya tahan tubuh mereka sudah mulai menyusut.

Karena tatanan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sudah mapan, maka semua rencana itu dapat berjalan dengan cepat. Dihari berikutnya Risang telah mendapat laporan bahwa segala sesuatunya telah tersusun dengan rapi.

Dalam kesempatan yang pendek itu ternyata Risang masih sempat mengamati langsung susunan pasukan pengawalnya yang jumlahnya menjadi semakin banyak karena diantara mereka terdapat anak-anak muda dari tiga Kademangan.

Secara khusus Risang dan Kasadha telah melihat para pengawal yang terbaik yang ada di Tanah Perdikan. Mereka akan menjadi kelompok pertama dalam benturan kekuatan dengan orang-orang dari Padepokan Watu Kuning.

Ketika hari pertama lewat, maka sekali lagi Risang memanggil semua unsur pimpinan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan termasuk para Demang, para pemimpin pengawal Tanah Perdikan dan dari tiga Kademangan diluar Tanah Perdikan Sembojan.

Mereka akan membicarakan lingkaran pertahanan yang akan mereka susun menghadapi pasukan lawan yang nampaknya masih terpusat di perkemahan mereka.

“Kita tidak tahu, dari mana mereka akan menusuk Tanah Perdikan ini. Tetapi justru karena mereka berada di padang perdu dihadapan perbatasan Tanah Perdikan, maka kita dapat melihat langsung gerakan mereka,“ berkata Risang.

Dalam pada itu, meskipun agak ragu-ragu, namun ibu Risangpun berkata, “Selama ini kita berbicara tentang pertahanan untuk melindungi Tanah Perdikan ini dari serangan orang-orang Padepokan Watu Kuning. Kita tahu bahwa orang-orang Watu Kuning telah berkemah dihadapan perbatasan Tanah Perdikan ini. Kenapa kita tidak mencoba berpikir, bagaimana jika kita tidak menunggu.”

“Maksud ibu?“ bertanya Risang.

“Jika semula kita memperhitungkan kemungkinan Kademangan Pakis tersinggung jika kita memasuki wilayahnya, maka sekarang kita dapat berbicara dengan pemimpin pengawal Kademangan Pakis. Bagaimana jika kitalah yang memasuki wilayah Pakis dan menyerang perkemahan itu,“ jawab Nyi Wiradana.

Pendapat itu telah menyentuh hati para pemimpin yang sedang membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi itu. Risang mengangguk-angguk sambil berdesis, “Memang menarik untuk melakukannya.”

Sedang Kasadhapun berkata, “Satu pikiran yang sangat baik. Jika Pakis tidak berkeberatan, memang lebih baik kita memasuki wilayah Pakis dan langsung menyerang perkemahan itu.”

Pemimpin pengawal dari Kademangan Pakis itupun menyahut, “Pakis tentu tidak berkeberatan. Bukankah Pakis telah menyatakan dirinya untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan sepenuhnya meskipun kekuatan yang ada di Pakis terhitung kecil dibanding dengan kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi hanya dengan memberikan kesempatan pasukan Tanah Perdikan memasuki wilayah Pakis untuk mengusir orang-orang dari Padepokan Watu Kuning itu. Ki Demang Pakis tentu tidak akan merasa tersinggung.”

“Terima kasih,“ berkata Risang kemudian, “jika demikian, bagaimana pendapat kalian jika kitalah yang menyerang mereka. Bukan sekedar menunggu apa yang akan mereka lakukan besok lusa.”

Ternyata semua orang yang hadir menyetujuinya. Bahkan mereka menjadi tidak sabar menunggu waktu yang disediakan oleh Ki Gede Watu Kuning.

Tetapi pasukan Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat bergerak lebih cepat dari rencana itu. Meskipun pasukan pengawal Tanah Perdikan sudah siaga sepenuhnya, tetapi perubahan rencana itu memang memerlukan persiapan agar dapat berlangsung dengan baik.

Karena itulah maka mereka memutuskan, bahwa pasukan Tanah Perdikan Sembojan akan bergerak pada malam hari sehari kemudian tepat pada batas akhir ancaman Ki Gede Watu Kuning. Sebelum fajar, perkemahan itu harus sudah dikepung dan serangan akan dilakukan dari beberapa arah.

“Pasukan khusus dari para pengawal pilihan akan menjadi paruh serangan pasukan Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Risang kemudian.

Demikianlah, setelah pertemuan itu selesai, maka Risang, Kasadha dan para pemimpin pasukan pengawal telah melakukan pembicaraan secara khusus. Mereka akan mengatur dari mana pasukan induk akan menyerang, sementara pasukan yang lain akan memecahkan perhatian orang-orang Watu Kuning yang ada di perkemahan itu.

“Kita akan bertempur dalam gelar,“ berkata Risang, “meskipun demikian, maka kemungkinan lain dapat terjadi. Jika lawan mempergunakan gelar Glatik Neba atau Samodra Rob, maka perang brubuh dapat saja terjadi. Dengan demikian dituntut kemampuan para pengawal secara pribadi disamping kerja sama yang harus tetap dibina sebaik-baiknya.”

Malam itu juga maka para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan itupun mengatur pasukan mereka, termasuk para pengawal dari Kademangan-kademangan diluar Tanah Perdikan. Malam itu, para pengawal telah digerakkan kepadukuhan-padukuhan. Bahkan di beberapa padukuhan yang terdekat dengan perkemahan.

“Besok, setelah matahari terbit, maka semua gerakan pasukan di Tanah Perdikan justru dihentikan. Rencana penyerangan itu tidak boleh diketahui oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning yang ada di perkemahan,“ pesan Risang kepada para pemimpin pengawal.

Karena itu, maka malam itu juga, semua pasukan sudah harus ditempatkan sesuai dengan rencana.

“Ketika fajar menyingsing, maka permukaan wajah Tanah Perdikan Sembojan masih nampak tenang. Tetapi ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka yang dilihat oleh orang-orang padepokan Watu Kuning adatlah justru orang-orang yang mengungsi, sehingga kesan yang timbul pada orang-orang Padepokan Watu Kuning adalah, bahwa Tanah Perdikan Sembojan akan mempertahankan diri pada padukuhan-padukuhan pertama dibelakang perbatasan.

Karena itu, maka persiapan-persiapan yang dilakukan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning adalah justru kesiagaan untuk menyerang. Beberapa kelompok diantara mereka sebagaimana diperintahkan oleh Ki Gede Watu Kuning telah melakukan latihan-latihan yang memang membuat para pengawal Tanah Perdikan Sembojan menjadi berdebar-debar. Kelompok-kelompok itu telah menunjukkan, betapa mereka memiliki kemampuan olah senjata yang sanagat tinggi. Dengan sengaja mereka melakukan latihan-latihan dekat dengan padukuhan-padukuhan diperbatasan agar dapat dilihat oleh para pengawal yang ada di padukuhan itu.

Tetapi para pengawal pilihan yang akan menjadi ujung tombak pasukan pengawal Tanah Perdikan itu berkata, ”Lihatlah dengan baik. Beberapa unsur gerak yang diulang. Tidak hanya sepihak, tetapi kedua belah pihak.”

“Maksudmu?“ bertanya seorang pengawal.

“Latihan yang kita lihat memang mendebarkan. Tetapi yang mereka lakukan benar-benar telah terlatih untuk waktu yang panjang,“ jawab pengawal itu.

Para pengawalpun mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Jadi kapanpun dan dimanapun, latihan-latihan itu akan berlangsung seperti itu?”

“Ya,“ jawab pengawal terpilih itu, “bukankah kita juga dapat melakukannya jika kita ingin?”

Para pengawal, terutama yang termuda diantara mereka mengangguk. Mereka baru mengerti bahwa gerakan-gerakan yang nampaknya rumit dan berbahaya itu telah dilatih dan dihafal sebelumnya sehingga mereka benar-benar dapat melakukan dengan baik sekali. Meskipun demikian pengawal terpilih yang telah berpengalaman itu berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak memiliki kelebihan. Mereka memang memiliki ketrampilan yang tinggi. Daya tahan tubuh yang kuat dan sudah tentu pengalaman yang luas. Kita memang harus berhati-hati menghadapi mereka. Tetapi juga bukan berarti bahwa kita akan menjadi gentar karenanya.”

Para pengawal muda itu mengangguk-angguk. Ketika dengan saksama mereka memperhatikan latihan-latihan yang nampak menyeramkan itu, ternyata yang dikatakan oleh kakak-kakak mereka yang lebih berpengalaman itu benar. Latihan itu berlangsung dengan lancar dan sangat tertib buat sebuah latihan yang bersungguh-sungguh.

Ketika matahari melewati puncaknya, maka Ki Gede Watu Kuning nampaknya sudah yakin bahwa Risang tidak akan datang atau mengirimkan utusannya untuk menyampaikan kesediaannya menerima keinginan Ki Gede Watu Kuning. Karena itu, maka Ki Gedepun telah memerintahkan semua kekuatan yang ada padanya untuk bersiap sebaik-baiknya, “Besok, disaat matahari terbit, kita memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Kita tidak usah memilih medan. Dimanapun kita siap untuk bertempur. Kekuatan kita jauh lebih besar dari kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Meskipun ada satu dua orang Tanah Perdikan yang memiliki kemampuan tinggi, sehingga beberapa orang kita telah dapat dikalahkan, tetapi orang-orang kita itu bukannya orang-orang terbaik di Padepokan Watu Kuning.”

Karena itulah, maka menjelang sore hari, Padepokan Watu Kuning yang sedang berkemah didepan perbatasan Tanah Perdikan Sembojan itu telah mempersiapkan diri. Mereka telah membagi diri dalam kelompok-kelompok yang akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

Para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan memperhatikan kesiagaan pasukan Watu Kuning itu dengan saksama. Sementara Tanah Perdikan sendiri belum menunjukkan tanda-tanda bahwa merekalah yang akan datang menyerang perkemahan itu.

Ketika senja turun, maka Ki Gede Watu Kuning justru memerintahkan orang-orangnya untuk beristirahat kecuali sebagian dari mereka yang bertugas menjaga perkemahan itu.

Pada saat itu pula, Risang juga memerintahkan para pengawalnya untuk beristirahat sampai tengah malam. Setelah itu, maka mereka akan segera bergerak.

Namun para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak sempat beristirahat. Para Demang dan para Bekel. Juga para pemimpin pengawal padukuhan-padukuhan serta para pemimpin pengawal dari ketiga Kademangan yang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah mengatur diri serta mendengarkan perintah-perintah yang diberikan oleh Risang. Risang sendiri beserta ibunya, Nyi Wiradana akan berada di pasukan induk. Sementara itu, Kasadha seorang prajurit Pajang yang datang bersamanya serta ibu dan bibinya akan berada di sayap kanan bersama Gandar, sementara itu disayap kiri Sambi Wulung dan Jati Wulung akan memegang pimpinan. Para Demang yang akan langsung terjun ke medan akan menjadi pengapit kanan dan kiri di pasukan induk. Sedangkan para bekel akan menebar disepanjang gelar pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Gelar yang akan dipergunakan adalah Garuda Nglayang. Namun gelar itu dapat berubah sesuai dengan keadaan medan. Bahkan mungkin jika perlu pasukan Tanah Perdikan Sembojan akan mempergunakan gelar Jurang Grawah untuk menenggelamkan pasukan lawan. Apalagi jika pasukan lawan mempergunakan gelar Glatik Neba atau Samodra Rob.

Tetapi disamping pasukan induk itu, maka ada tiga pasukan kecil yang harus memancing perhatian pasukan lawan. Mereka akan menyerang pasukan yang berkemah itu dari belakang dan dari samping kanan dan kiri. Pasukan kecil itu bukannya pasukan yang harus menembus dan memasuki perkemahan lawan. Tetapi mereka hanya sekedar untuk memancing perhatian dan juga mempunyai tugas untuk menjaga agar orang-orang Perguruan Watu Kuning tidak sempat melarikan diri jika pasukan Tanah Perdikan berhasil mendesak mereka. Tetapi pasukan kecil itu diberi kesempatan untuk mundur jika keadaan menjadi sangat buruk.

“Kita tidak dapat membiarkan korban terlalu banyak jatuh. Seandainya pasukan kecil itu terdesak, sebaiknya mereka menarik diri. Biarlah pasukan induk yang akan memberikan tekanan terbesar kepada pasukan yang berkemah itu,” berkata Risang.

Setelah semuanya menjadi jelas, maka barulah mereka diperkenankan untuk beristirahat.

Namun Risang masih sempat berpesan, “Pada saatnya kita harus bersiap. Kita akan mendahului gerakan mereka.

Karena itu, maka kita harus mempersiapkan diri sebelum fajar. Beberapa saat kemudian, kita harus sudah berada di tempat kita masing-masing dan siap untuk bergerak. Tidak ada pertanda bende sampai tiga kali. Tetapi hanya ada satu kali isyarat dengan panah api yang akan dilontarkan ke udara. Mungkin ada dua atau tiga bersama-sama. Dengan demikian maka setiap kelompok harus selalu siap memperhatikan arah pasukan induk yang akan memberikan isyarat itu. Kita tidak akan menangkap isyarat itu dengan telinga, tetapi dengan mata.”

Demikianlah, maka para pemimpin pasukan itupun segera kembali kepasukan masing-masing. Merekapun berusaha untuk dapat mempergunakan waktunya yang sedikit untuk beristirahat, agar mereka mendapatkan kembali tenaga mereka seutuhnya.

Sementara para pengawal dan anak-anak muda serta hampir semua orang laki-laki yang masih mampu dan berani turun ke medan pertempuran beristirahat, maka Bibi tengah sibuk mempersiapkan makan bagi mereka. Sebenarnya Bibi lebih senang untuk langsung berada di medan. Bahkan hampir menangis ia minta kepada Nyi Wiradana agar ia diberi kesempatan untuk ikut dalam pasukan induk. Namun ibu Risang berkata, “Bibi, sebaiknya kau tetap berada di dapur. Bukankah kita sudah belajar dari pengalaman? Ketika dapur kita pernah diserang oleh lawan, bukankah Bibi waktu itu mampu menyelamatkan? Jika hal seperti itu terulang lagi, sedangkan tidak ada seorangpun yang mampu berbuat apa-apa terhadap lawan, maka dapur kita tentu akan menjadi hangus bersama semua bahan yang telah kita persiapkan.”

Bibi tidak dapat menolak. Karena itu, betapapun kecewanya ia menjawab, “Baiklah. Aku akan melakukan tugas ini sebaik-baiknya untuk Tanah Perdikan Sembojan dan anakku Risang.”

Nyi Wiradana menepuk bahu Bibi sambil berkata, “Terima kasih Bibi. Risangpun akan berterima kasih kepadamu.”

Demikianlah, maka segala persiapan telah dilakukan. Pada saatnya semuanya akan dapat bergerak sesuai dengan rencana. Meskipun mungkin ada perkembangan yang tiba-tiba saja terjadi, namun tatanan pasukan Tanah Perdikan itu sudah tersusun rapi. Mereka yang telah ditentukan sebagai cadanganpun akan dapat digerakkan setiap saat. Sedangkan sebagian dari mereka tetap berada di padukuhan-padukuhan mereka masing-masing. Namun di padukuhan-padukuhan itu telah disiapkan kuda yang dapat mempercepat gerak pasukan cadangan bila diperlukan.

Waktu yang sempit itu telah dipergunakan para pengawal Tanah Perdikan dengan sebaik-baiknya. Lewat sedikit tengah malam merekapun telah dibangunkan. Setelah berbenah diri dan sebagian dari mereka sempat mencuci muka, maka merekapun segera bersiap. Orang-orang yang bertugas didapur yang dibuat khusus telah membagikan makan bagi setiap orang sebelum mereka mulai bergerak.

“Makanlah secukupnya,“ berkata orang-orang yang membagikan makan bagi para pengawal, “kita tidak tahu apakah besok kalian mempunyai kesempatan untuk makan jika pertempuran berlangsung meskipun kami berusaha untuk membuat makanan khusus yang dapat kalian makan sambil bergerak di medan.”

“Bawa saja besok ke medan jika memungkinkan,“ jawab para pengawal.

Demikianlah, maka pada saatnya para pengawalpun telah siap seluruhnya. Memang tidak ada isyarat bunyi sama sekali. Demikian pula saat para pengawal menempatkan diri ditempat yang sudah ditentukan. Tiga kelompok pasukan pengawal bertugas untuk menyerang perkemahan dari tiga arah. Dengan diam-diam mereka menembus gelapnya dini hari ketempat yang sudah direncanakan. Sementara itu pasukan indukpun telah menebar memasang gelar.

Sementara itu, orang-orang yang berada diperkemahan-pun telah mulai bersiap-siap pula. Mereka merencanakan untuk memasuki Tanah Perdikan demikian fajar menyingsing. Karena itu, maka mereka tidak terlalu tergesa-gesa untuk menempatkan diri. Apalagi mereka merasa pasukan Watu Kuning itu demikian kuatnya sehingga mereka akan dapat memasuki perbatasan Tanah Perdikan tanpa kesulitan. Mereka tidak akan memilih dimana mereka menembus perbatasan.

“Kita tahu bahwa dipadukuhan-padukuhan terutama diperbatasan telah disiapkan pasukan pengawal. Tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi kita,“ berkata Ki Gede Watu Kuning, “bahkan kita tahu bahwa hal itu merupakan salah satu kebodohan Kepala Tanah Perdikan yang masih sangat muda itu. Jika para pengawal Tanah Perdikan ingin mempertahankan padukuhan demi padukuhan, maka mereka justru akan dilumatkan, karena kekuatan mereka terpecah belah. Pasukan yang hanya sedikit itu dibagi dalam beberapa padukuhan disepanjang perbatasan.”

Mendekati fajar, maka orang-orang Watu Kuning itupun telah mendapat kesempatan untuk makan sebelum mereka akan bergerak menyerang Tanah Perdikan. Semuanya itu mereka lakukan dengan terbuka. Mereka sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikan apapun juga justru karena mereka merasa terlalu kuat.

Saat itulah yang ditunggu Risang. Jika orang-orang Watu Kuning itu sedang makan, maka pasukan Tanah Perdikan akan mulai bergerak.

Namun sebelum ada isyarat untuk bergerak bagi pasukan Tanah Perdikan, dua orang pengawas dari perkemahan Watu Kuning berlari-lari mencari Ki Gede Watu Kuning untuk memberikan laporan.

“Ada apa?“ bertanya Ki Gede Watu Kuning.

“Kami melihat kelompok-kelompok kecil pengawal Tanah Perdikan mulai bergerak menyeberang perbatasan.”

Wajah Ki Gede Watu Kuning berkerut. Dengan nada rendah ia bertanya, “Untuk apa?”

“Kami tidak tahu Ki Gede. Mereka menyeberangi perbatasan dan melingkar beberapa puluh patok dari perkemahan kita.”

“Satu tindakan yang sangat bodoh,“ berkata Ki Gede, “mereka tentu berniat untuk menyerang pasukan kita dari belakang setelah terjadi pertempuran antara pasukan kita dengan para pengawal Tanah Perdikan. Seharusnya mereka tidak memecah-mecah pasukan mereka yang tidak terlalu besar itu di padukuhan-padukuhan dan apalagi kelompok-kelompok kecil yang akan menyerang dari belakang atau dari lambung. Itu tidak akan berarti apa-apa. Kita tidak akan menyerang Tanah Perdikan dengan gelar apapun juga. Kita akan menyerang sebagaimana kita pergi bertamasya dengan anak cucu melihat-lihat lereng-lereng bukit yang hijau, danau yang luas dengan riak-riak kecil serta ngarai yang terbentang seperti permadani yang sangat luas.”

“Tetapi mereka akan dapat berbuat sesuatu diluar dugaan,“ berkata salah seorang dari para pengawas itu.

“Kau tidak usah menjadi cemas dan apalagi menjadi bingung. Biarkan mereka melakukan apa saja. Kita tidak akan terguncang oleh mereka bahkan dengan akal dan cara apapun juga. Apakah kau tidak yakin?”

Kedua orang pengawas itu tidak berani menjawab lagi. Mereka kemudian hanya dapat menganggu-angguk mengiyakan.

Sementara itu, maka orang-orang Padepokan Watu Kuning, baik para cantrik yang memang berguru pada perguruan Watu Kuning, maupun orang-orang yang hanya ikut saja bersarang di padepokan itu, telah sibuk dengan sebungkus nasi yang mereka terima dari para petugas di dapur mereka. Nasi hangat dengan daging hasil buruan dan bahkan daging kambing yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.

Pada saat yang ditunggu itulah, maka Risangpun telah siap memberikan isyarat kepada tiga orang yang berdiri disebelahnya dengan panah api yang sudah melekat pada busurnya.

“Nyalakan api,“ perintah Risang.

Beberapa orang telah membuat api dengan emput aren dan batu titikan. Kemudian dengan dimik belerang mereka menyalakan api yang kemudian disulutkan pada ujung anak panah api yang sudah siap itu.

Sekejap kemudian, maka Risangpun telah memberikan isyarat dengan mengangkat tangannya. Kemudian, tiga buah anak panah api telah lepas dari busurnya dan meluncur keudara.

Orang-orang yang sedang makan diperkemahan memang terkejut. Sementara itu padang perdu itu masih disaput oleh kegelapan.

Tetapi beberapa oncor telah membuat beberapa bagian dari padang perdu itu dapat diamati dari kejauhan oleh para petugas dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Isyarat apakah itu?“ bertanya beberapa orang cantrik dari padepokan Watu Kuning, ketika mereka melihat panah api yang naik keudara. Justru tiga buah dengan arah yang berbeda.

Ki Gedepun melihat panah api itu pula. Sambil berdiri bertolak pinggang ia memanggil beberapa orang kepercayaannya.

“Isyarat apa menurut pendapatmu?“ bertanya Ki Gede.

“Mereka menganggap bahwa kita akan segera menyerang. Nampaknya mereka memerintahkan para pengawal untuk bersiap-siap,“ berkata salah seorang dari mereka yang dianggap pemimpin di padepokan Watu Kuning.

“Tetapi bagaimana dengan kelompok-kelompok kecil yang menembus perbatasan?“ bertanya Ki Gede pula.

Para pemimpin Padepokan itu memang sudah mendengar laporan tentang kelompok-kelompok kecil itu pula. Seorang diantara mereka menjawab, “Isyarat itu mungkin ditujukan kepada mereka agar mereka mengganggu gerakan kita.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, kita percepat gerakan kita. Perintahkan semuanya bersiap. Kita justru akan segera bergerak sekarang juga. Kita tidak usah menunggu matahari.”

Para pemimpin Padepokan Watu Kuning itu ternyata sependapat. Karena itu, maka merekapun segera menebar kembali ke tempat mereka masing-masing. Ki Gede Watu Kuning akan segera memerintahkan pasukannya bergerak demikian mereka selesai makan.

Justru karena itu, maka para cantrik itupun menjadi tergesa-gesa. Para pemimpin mereka mulai menjadi gelisah dan karena itu mereka memerintahkan para cantrik untuk segera menyelesaikan makan mereka.

Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk berpikir. Tiba-tiba saja para pengawas telah memberitahukan bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan justru telah bergerak menyeberangi perbatasan dan menuju ke perkemahan.

“Mereka berani menyerang kita?“ bertanya Ki Gede Watu Kuning.

“Mereka memang menyerang,“ jawab seorang pengawas.

“Kepala Tanah Perdikan yang masih muda itu memang gila. Seharusnya mereka bertahan dibelakang dinding pedukuhan dan menyambut kedatangan kita dengan menghujani anak panah dan lembing untuk menahan arus pasukan kita,“ teriak Ki Gede.

“Tetapi mereka sudah menyerang,“ sahut seorang Putut kepercayaan Ki Gede.

“Kenapa anak itu tidak memusatkan pertahanannya pada padukuhan induknya saja?“ Ki Gede itu menjadi sangat marah. Serangan itu baginya merupakan satu penghinaan. Karena itu maka katanya kemudian, “Kerahkan semua kekuatan yang ada. Kita akan menghancurkan mereka dalam sekejap. Sebelum matahari terbit, mereka harus sudah menjadi bagaikan tebasan batang ilalang.“

Para pemimpin Padepokan Watu Kuning itupun segera bergerak. Dengan tergesa-gesa para cantrik, Putut, Jejanggan dan semua unsur yang ada di padepokan itu telah berlari-lari ke kelompok mereka masing-masing.

Ternyata merekapun mampu bergerak cepat. Sesaat kemudian, maka merekapun telah bersiap menyongsong pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Mereka ternyata terkejut melihat sederet pasukan melebar dalam gelar. Dalam keremangan dini hari mereka melihat gelar yang utuh untuk bergerak mendekati perkemahan mereka di padang perdu yang cukup luas itu.

“Anak iblis,“ geram Ki Gede Watu Kuning, “dari-mana mereka sempat mengumpulkan orang sebanyak itu.”

Tetapi Putut kepercayaan yang mendampinginya berkata, “Kami benar-benar akan menebas ilalang. Kita tidak akan dapat menghitung dan bahkan kita tidak akan sempat menguburkan mereka yang akan menjadi korban pertempuran ini.”

“Ingat, ada diantara mereka yang berilmu,“ berkata Ki Gede Watu Kuning, “Nagawana dan Nagawereng sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa ketika ia bertemu dengan dua orang pemimpin pengawal Tanah Perdikan yang menyebut dirinya sebagai petani kebanyakan. Sementara itu, lima orang kita yang lain terbantai bersama kuda-kuda mereka sementara Wira Gobang hampir mati pula ditangan orang-orang Tanah Perdikan.”

“Tetapi jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang. Yang bertempur melawan Nagawana dan Nagawereng tentu juga yang membantai kelima orang yang mengawasi jalan ke Pajang itu. Juga mereka pulalah yang mengalahkan Wira Gobang,“ sahut Putut kepercayaannya itu.

“Yang mengalahkan Wira Gobang adalah seorang perempuan,“ geram Ki Gede sambil melangkah dengan cepat dipaling depan.

“Perempuan itu tentu ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang pernah menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan. Ia memang seorang perempuan yang berilmu tinggi. Tetapi sebagaimana kita ketahui, Wira Gobang terlalu lemah menghadapi seorang perempuan.”

“Perempuan itu sudah tua,“ bentak Ki Gede Watu Kuning.

“Apakah Wira Gobang dapat membedakan perempuan tua dan muda bahkan yang telah pikun sekalipun,“ sahut Putut itu.

Dalam keadaan gelisah Ki Gede Watu Kuning masih dapat tertawa. Namun kemudian ia berteriak, “Hancurkan mereka. Gelar itu harus dipecahkan menjadi kepingan-kepingan yang terkoyak-koyak. Bunuh semua orang yang ada di gelar itu kecuali mereka yang menyerah. Yang menyerah akan menjadi budak yang melayani kekuasaan kita di Tanah Perdikan Sembojan.”

Teriakan itu lamat-lamat terdengar oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Namun teriakan itu segera tenggelam oleh sorak orang-orang Tanah Perdikan yang bagaikan menggugurkan sisa-sisa bintang dilangit.

Sorak itu memang sempat menggetarkan jantung orang-orang Padepokan Watu Kuning. Namun seorang Pututpun kemudian berteriak, “He, apakah kita tidak dapat berteriak sekeras mereka?”

Sebenarnyalah orang-orang Padepokan Watu Kuning itupun bersorak-sorak pula. Lebih keras dan bahkan kesannya lebih kasar. Disela-sela sorak yang mengguntur itu terdengar umpatan-umpatan kasar bahkan kotor.

Demikianlah, maka kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Ibu Kasadha yang berada di sayap kanan sempat melihat sisa bulan tua yang masih bertengger dipunggung bukit disisi Timur langit yang sudah menjadi merah.

Namun terasa demikian cepatnya langit menjadi terang. Ketika kedua pasukan itu saling berhadapan, maka langit sudah menjadi semakin terang.

Sekali lagi terdengar teriakan Ki Gede Watu Kuning, “Sudah terlambat untuk mohon pengampunan. Tetapi masih mungkin untuk menyerah dan dibiarkan hidup. Yang lain akan ditumpas seperti menyulut ilalang kering.”

Namun dalam pada itu, pasukan Padepokan Watu Kuning itu terkejut. Dari lambung kiri dan kanan beberapa kelompok pengawal Tanah Perdikan telah berlari-lari seakan-akan memburu mereka dengan mengacu-acukan senjata mereka yang telanjang.

Ternyata orang-orang Padepokan Watu Kuning itu tidak menjadi bingung. Dengan sendirinya, kelompok-kelompok kecil diantara mereka telah memisahkan diri untuk menyongsong pasukan yang menyerang lambung itu. Bahkan kemudian mereka terkejut ketika mereka melihat asap mengepul diperkemahan. Tanpa mendapat perintah dari Risang, beberapa gubug perkemahan itu telah terbakar. Pertempuran kecil telah terjadi antara sekelompok pengawal yang bertugas menyerang dari belakang dengan orang-orang Padepokan yang bertugas didapur. Dalam pertempuran kecil yang terjadi itu dengan tidak sengaja, maka apipun telah terserak oleh hentakan-hentakan pertempuran, sehingga menjilat dinding-dinding bambu yang sudah menjadi kering. Apipun dengan cepat berkobar dan membakar atap jerami gubug-gubug di perkemahan. Bahkan ikut terbakar juga bahan-bahan makanan yang menjadi persediaan orang-orang Watu Kuning.

Ki Gede Watu Kuning yang melihat asap dan bahkan kemudian lidah api yang menjilat itu mengumpat habis-habisan. Kesan keramahannya ketika ia mengunjungi Risang telah lenyap sama sekali. Dengan kemarahan yang memuncak ia berteriak, “Biarlah apa yang ada di perkemahan itu terbakar. Kita akan mencari gantinya di Tanah Perdikan Sembojan. Kita akan mengambil kembali Tanah Perdikan itu dengan segala isinya.”

Orang-orang Padepokan Watu Kuning itupun berteriak semakin kasar. Sementara kelompok-kelompok kecil di lambung pasukan dari Padepokan Watu Kuning itu sudah bertempur melawan kelompok-kelompok kecil pasukan Pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika benturan itu terjadi, maka orang-orang dari Padepokan Watu Kuning itu terkejut. Mereka tidak mengira sama sekali bahwa ujung kekuatan kecil itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Mereka adalah para pengawal terpilih yang harus membuka jalan pertempuran bagi kawan-kawannya.

Bahwa para cantrik dari Padepokan Watu Kuning itu terkejut dan bahkan sesaat mereka tertahan oleh para pengawal yang berdiri di paling depan, telah membesarkan hati para pengawal yang lain. Dengan berani mereka menyerang para cantrik yang masih tergetar hatinya melihat kemampuan para pengawal.

Namun sejenak kemudian pertempuran telah berlangsung dengan sengitnya antara kelompok-kelompok kecil di lambung itu.

Sementara itu induk pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang menyerang dalam gelar itupun telah berada beberapa langkah saja dari pasukan dari Padepokan Watu Kuning. Risang dan ibunya yang berada diinduk pasukan telah melambaikan senjatanya memberikan perintah kepada pasukannya untuk langsung menyerang lawannya.

Para pengawal yang ada di paruh pasukan induk itupun adalah pengawal-pengawal pilihan. Dengan tangkasnya mereka berlari menyergap orang-orang yang berada di paling depan dari pasukan Watu Kuning. Sementara itu, para Demang yang menjadi pengapit Kepala Tanah Perdikan Sembojan bersama beberapa orang kepercayaan merekapun telah membenamkan diri dalam benturan-benturan kekuatan yang terjadi.

Seperti benturan pada kelompok-kelompok kecil di lambung, maka orang-orang Padepokan Watu Kuning yang membentur paruh induk pasukan Tanah Perdikan Sembojan dalam gelar Garuda Nglayang juga terkejut. Kelompok-kelompok kecil diparuh pasukan pengawal Tanah Perdikan itu ternyata memiliki kemampuan diluar dugaan mereka. Dengan tangkasnya para pengawal itu menyusup memasuki pertempuran dengan kemampuan olah senjata yang tinggi. Mereka memiliki bekal kemampuan bertempur secara pribadi, tetapi mereka juga terlatih bertempur dalam gelar.

Dengan demikian maka sejak benturan antara kedua pasukan itu terjadi, maka pertempuran berlangsung dengan sengitnya. Kedua belah pihak memiliki orang-orang yang berkemampuan tinggi serta ketrampilan olah senjata, sehingga dengan demikian maka benturan yang terjadi antara kedua pasukan itu adalah benturan yang sangat keras.

Ternyata para cantrik dari Padepokan Watu Kuning yang sebelumnya selalu mendapat keterangan bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan tidak lebih baik dari anak-anak muda padukuhan-padukuhan yang lain, harus menghadapi kenyataan, bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang tergabung dalam kelompok-kelompok pengawal bahkan kelompok terpilih adalah anak-anak muda yang mempunyjai bekal yang lengkap untuk turun kemedan pertempuran.

Demikianlah, gelar Garuda Nglayang yang utuh itupun telah bertempur melawan pasukan lawan yang sama sakali tidak tersusun dalam gelar. Karena itu, maka tekanan terberat pada pasukan Tanah Perdikan adalah pada induk pasukan. Kekuatan pasukan Watu Kuning memang seakan-akan berkumpul berkelompok dihadapan induk pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang menebar dalam gelar.

Sementara itu, kedua sayap gelar pasukan Tanah Perdikan Sembojan seakan-akan tidak tersentuh oleh pasukan lawan.

Namun Risang yang pernah menjadi seorang prajurit itupun tanggap akan keadaan pasukannya. Jika ia tetap membiarkan gelarnya melebar, maka induk pasukanlah yang akan mengalami kesulitan sementara kedua sayapnya tidak mendapatkan lawan. Karena itu maka Risangpun telah mengerutkan gelar pasukannya. Dengan lewat penghubungnya ia memerintahkan sayap pasukannya menyesuaikan diri. Tanpa merubah gelarnya, maka pasukan Tanah Perdikan Sembojan akan bertugas sebagai kedua sapit pada gelar Sapit Urang.

Para penghubung itu dengan cepat telah berlari ke gelar Garuda Nglayang. Mereka berbicara dengan para pemimpin sayap untuk segera menyesuaikan diri.

Dengan cepat, maka Kasadha dan Gandari di sayap kanan dan Sambi Wulung dan Jati Wulung di sayap kiri telah membawa pasukannya untuk bergerak melingkar sehingga ujung kedua sayap itu hampir bersentuhan dengan kelompok-kelompok kecil yang menyerang lambung.

Ternyata bahwa dengan demikian, orang-orang Padepokan Watu Kuning seakan-akan justru terkepung. Namun jumlah mereka cukup banyak untuk berusaha menembus kepungan.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning sama sekali tidak memerintahkan untuk mematahkan kepungan lawan. Ki Gede masih percaya kepada kemampuan para cantrik dan orang-orang padepokan yang lain sehingga ia tidak memandang perlu untuk mempergunakan cara yang lebih baik daripada membenturkan kekuatannya pada kekuatan lawan.

Sementara pertempuran itu berlangsung, maka kelompok-kelompok kecil pengawal terpilih dari Tanah Perdikan Sembojan yang bertugas menyerang dari belakang, telah dapat menyelesaikan tugas mereka. Orang-orang Watu Kuning yang berada di dapur bersama beberapa pengawalnya tidak berdaya menghadapi para pengawal itu. Merekapun tidak mampu memadamkan api yang membakar semua persediaan makan mereka, karena kesulitan air. Meskipun para pengawal Tanah Perdikan itu seakan-akan tidak menghiraukan mereka dan meninggalkan mereka begitu saja tanpa membunuh atau menciderai mereka kecuali yang memang terbunuh dan terluka dalam pertempuran singkat, namun mereka tidak mampu lagi berbuat apa-apa.

Karena itu, maka pasukan kecil itu segera menyusul gerak pasukan Watu Kuning dan langsung menyerang mereka dari arah belakang.

Dengan demikian maka perhatian orang-orang Padepokan Watu Kuning itu benar-benar telah terpecah. Mereka harus menghadapi serangan dari lambung. Kemudian gelar yang melingkar dan yang terakhir serangan dari arah belakang.

Ki Gede memang menjadi sangat marah. Tetapi ia masih saja berteriak, “Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memang bodoh. Mereka telah memecah-mecah kekuatan mereka sendiri menjadi kepingan-kepingan kecil yang akan dengan mudah dapat kami hancurkan menjadi debu.”

Tetapi ternyata melakukan hal itu tidak semudah sebagaimana Ki Gede Watu Kuning itu berteriak. Meskipun pasukan Padepokan Watu Kuning itu cukup besar, tetapi perhatian mereka yang terbagi membuat Ki Gede kurang dapat memusatkan perhatian mereka.

Apalagi sekali-sekali pasukan Tanah Perdikan yang dilambung itu bersorak dengan kerasnya justru saat orang-orang Watu Kuning sudah menjadi serak suaranya.

Sesaat kemudian, para pengawal yang menyerang dari belakang itulah yang bersorak. Belum lagi suaranya mereda, maka induk pasukannya bersorak gemuruh bagaikan meruntuhkan langit.

Dalam pada itu, Kasadha yang bertempur di sayap kanan ternyata telah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebagai seorang prajurit, maka ia melihat bahwa diantara orang-orang Padepokan Watu Kuning, terdapat kelompok-kelompok yang memiliki gaya bertempur para prajurit. Mereka bertempur dalam kesatuan yang tertib. Meskipun mereka berpakaian sebagaimana orang-orang Padepokan Watu Kuning yang lain, namun rasa-rasanya mereka memiliki sikap dan kerja sama yang rasa-rasanya dapat dikenalnya sebagai kelompok-kelompok dalam kesatuan prajurit.

Meskipun demikian Kasadha tidak berani langsung menyebut bahwa mereka adalah sekelompok prajurit yang menyusup diantara orang-orang padepokan Watu Kuning. Menurut pengamatan Kasadha, para pengawal Tanah Perdikanpun mempunyai kesatuan sikap dalam pertempuran sebagaimana prajurit. Apalagi dalam gelar yang utuh sebagaimana nampak pada gelar Garuda Nglayang itu.

Demikianlah ketika matahari mulai memanjat langit, keringatpun mulai mengalir dituduh mereka yang tengah bertempur itu. Panas matahari yang menyengat seakan-akan ikut membakar kemarahan mereka yang sedang bertempur menyabung nyawa itu.

Para pengawal terpilih yang menjadi kelompok-kelompok yang diharapkan dapat membuka jalan, ternyata memang tidak mengecewakan. Kemampuan mereka yang tinggi, serta senjata mereka yang menghentak-hentak telah membuat lawan mereka mengalami kesulitan. Sementara itu, maka para pengawal yang lain berusaha untuk meneruskan tekanan para pengawal yang terpilih itu.

Di induk pasukan, ternyata Risangpun melihat kelompok-kelompok yang memiliki gaya yang berbeda dengan para cantrik yang lain. Kelompok-kelompok yang tidak terlalu mengandalkan kemampuan mereka secara pribadi. Sehingga Risangpun telah menduga, bahwa diantara orang-orang Padepokan Watu Kuning itu. terdapat kelompok-kelompok prajurit atau setidak-tidaknya kelompok-kelompok diluar para cantrik dari Padepokan Watu Kuning itu sendiri.

Tetapi sebelumnya Risang memang sudah mendengar, bahwa Padepokan Watu Kuning ternyata tidak lebih dari sarang kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan sifat, watak dan bahkan pekerjaan yang tidak terpuji. Karena itu kehadiran orang-orang lain dalam pasukan Watu Kuning itu memang memungkinkan sekali.

Namun Risang tidak menjadi gentar. Pasukan pengawal Tanah Perdikan dengan bantuan anak-anak muda pengawal Kademangan diluar Tanah Perdikan itupun jumlahnya cukup banyak. Bahkan masih ada kekuatan cadangan yang berarti jika mereka dipanggil turun ke medan. Meskipun mereka adalah orang-orang yang sudah lebih tua dari para pengawal, namun pada umumnya mereka adalah justru orang-orang yang berpengalaman, sebagaimana ibu Risang dan ibu Kasadha yang masih juga tampil di medan.

Dengan demikian maka pertempuran itupun berlangsung dengan sengitnya. Dua kekuatan yang cukup besar saling berbenturan. Ternyata para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning. Mereka memiliki kemampuan dan keberanian untuk melawan para cantrik dari Padepokan Watu Kuning dan kelompok-kelompok yang bertempur bersama mereka.

Seperti yang pernah diberitahukan oleh Pangeran Gagak Baning serta apa yang pernah diketahui oleh ibu Kasadha sendiri, bahwa banyak orang berilmu tinggi yang terlibat dalam pertempuran itu. Diantara mereka adalah Pandansirat dan Wirasrana. Keduanya ternyata memang termasuk pimpinan Padepokan Watu Kuning.

Di induk pasukan Padepokan Watu Kuning, Ki Gede Watu Kuning masih saja berteriak-teriak memberikan perintah-perintah kepada orang-orangnya. Ia sendiri masih belum langsung turun ke pertempuran yang menjadi semakin sengit.

Dalam pada itu, Risang yang berada di paruh gelar Garuda Nglayang memang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning itu. Ia sudah berada bersama beberapa orang pengawal pilihan untuk menembus medan agar ia dapat langsung bertemu dengan Ki Gede Watu Kuning.

Namun ibunya yang melihat usaha itu telah mendekatinya sambil berkata, “Bukan kau lawan orang itu Risang.”

“Aku adalah Kepala Tanah Peprdikan Sembojan,“ jawab Risang.

“Dengar nasehatku,“ berkata ibunya, “Ki Gede adalah orang yang berilmu tinggi. Kau belum sempat menerima ilmu Janget Kinatelon seutuhnya. Meskipun kau sudah siap untuk menerimanya. Sedangkan ibu adalah orang yang pernah menerima ilmu itu langsung dari ketika, kakek dan nenekmu. Akulah yang akan menghadapi Ki Gede Watu Kuning. Tetapi tidak sekarang. Biarlah ibu menunggu orang itu langsung memasuki lidahnya api pertempuran.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat membantah lagi. Ia memang menyadari, bahwa ibunya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari ilmu yang dimilikinya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak sampai hati membiarkan ibunya yang sudah menjadi semakin tua itu bertempur melawan Ki Gede Watu Kuning yang tentu seorang yang sangat garang dipertempuran.

Dalam pada itu, maka pertempuran itupun menjadi semakin garang dimana-mana. Bukan saja diinduk pasukan. Tetapi kedua sayap gelar pasukan Tanah Perdikanpun telah bertempur dengan sengitnya pula. Ternyata naluri seorang ibu memang cukup tajam untuk melindungi anaknya. Seperti Risang, maka Kasadhapun telah dicegah ketika ia bersiap untuk menghadapi salah seorang pemimpin Padepokan Watu Kuning yang nampaknya sangat meyakinkan.

Ketika keduanya bertemu di medan, maka orang itu tiba-tiba berkata, “Ternyata aku salah lihat. Aku kira aku berhadapan dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata bukan meskipun wajahmu mirip sekali.”

Namun yang menyahut adalah ibu Kasadha, “Ia adalah adiknya.”

“O,“ orang itu mengangguk-angguk, “tetapi kau siapa? Seorang perempuan tua yang berani memasuki medan pertempuran yang keras seperti ini? Aku kira kau bukan ibu Kepala Tanah Perdikan ini yang pernah memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan sebelumnya.”

“Memang bukan,“ jawab ibu Kasadha.

“Jadi kau siapa?“ bertanya orang itu..

“Aku adiknya, kau siapa?“ bertanya ibu Kasadha.

”Jika kau adiknya, kau nampak sedikit lebih tua. Tetapi aku percaya bahwa masa mudamu, sebagaimana masa muda ibu Kepala Tanah Perdikan itu, tentu perempuan-perempuan yang cantik.”

“Mungkin,“ jawab ibu Kasadha. Namun kemudian iapun bertanya, “Siapakah kau? Apakah kau pernah bertemu dengan ibu Risang?”

“Namaku Pandansirat. Aku memang pernah menemui Risang dan ibunya dirumahnya sebelum persoalan ini berkembang semakin buruk,“ berkata orang itu yang ternyata adalah Pandansirat.

“Pendirian Kepala Tanah Perdikan Sembojan sudah tetap. Tinggal ada dua pilihan bagi Padepokan Watu Kuning. Dihancurkan disini atau menarik diri,“ berkata ibu Kasadha.

Tetapi Pandansirat tertawa. Katanya, “Sayang, bahwa kami tidak memilih kedua-duanya. Tetapi kami akan menghancurkan Tanah Perdikan ini dan membangun sebuah Padepokan yang besar, utuh dan berwibawa disamping kekuasaan yang ada di Pajang dan Madiun.”

“Kau ternyata telah bermimpi,“ desis ibu Kasadha.

“Apapun yang kau katakan, kami akan menghancurkan pasukan Tanah Perdikan yang sombong ini,“ geram orang itu.

Kasadha menjadi tidak sabar lagi. Tetapi ketika ia siap untuk menyerang, ibunyalah yang kemudian menantang orang itu, “Cobalah kau lakukan kalau kau mampu.”

“Ibu,“ desis Kasadha.

“Biarkan orang ini. Hati-hati. Lawanmu adalah disekelilingmu. Kau tidak boleh menjadi lengah.”

Orang-orang dari Padepokan Watu Kuning yang berhadapan langsung dengan sayap kanan itu segera mengalami tekanan yang berat. Kasadha dan seorang prajurit yang menyertainya dari Pajang telah bertempur dengan tangkasnya pula. Sementara itu, Kasadha masih juga sempat menilai lawan-lawannya yang berhadapan dengan sayap kanan pasukan pengawal Tanah Perdikan itu.

Semakin lama Kasadha semakin yakin, bahwa didalam lingkungan orang-orang Padepokan Watu Kuning itu terdapat sekelompok prajurit atau sekelompok orang yang menjadi bagian dari pasukan yang lebih teratur dan tertib dari orang-orang Padepokan Watu Kuning sendiri yang nampaknya memang terdiri dari para cantrik perguruan Watu Kuning dan orang-orang yang sekedar ikut bersarang di Padepokan itu. Bahkan semakin lama Kasadhapun semakin menggali orang-orang Watu Kuning dari unsur-unsur gerak mereka yang bersumber dari perguruan yang sama, serta ciri-ciri yang mereka perlihatkan. Teriakan-teriakan dan bahkan umpatan-umpatan mereka. Sementara itu, kelompok yang lain dapat dilihat dari jenis senjata mereka yang sama.

Tetapi Kasadha memang tidak berani mengambil kesimpulan. Apalagi penglihatan yang hanya sepintas karena pertempuran itupun menjadi semakin lama semakin sengit. Hanya karena latihan-latihan yang mantap sajalah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan mampu mempertahankan gelarnya sambil menekan kedudukan lawan.

Disayap yang lain, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertempur dengan garangnya pula. Keduanya bersama-sama beberapa orang pengawal terpilih seakan-akan mampu menyibakkan pasukan lawan yang bertempur mengandalkan kemampuan pribadi mereka masing-masing.

Namun Sambi Wulung terhenti ketika seorang yang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam sambil mengumpat-umpat mendekatinya. Dengan suara yang gemuruh seperti guntur orang itu berteriak lantang, “He, cucurut mabuk. Siapa kau yang berani menyombongkan diri dihadapanku?”

“Bukankah kita sedang berperang?“ bertanya Sambi Wulung, “aku tidak mempunyai kesempatan untuk menyombongkan diriku disini. Agaknya memang tidak ada gunanya. Lebih baik aku menyombongkan diriku dipasar atau disimpang-simpang ampat padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.”

Sambil tersenyum Pandansirat berkata, “Aku percaya sekarang, bahwa kau pantas berada di medan perang yang garang seperti ini meskipun kau seorang perempuan yang memanjat keusia tua.”

“Aku belum terlalu tua,“ jawab Warsi, “kau lihat bahwa gigiku masih utuh meskipun wajahku nampak lebih tua dari kakak perempuanku.”

Pandansirat termangu-mangu sejenak. Perempuan itu nampaknya memang terlalu yakin akan dirinya. Karena itu, maka ia harus menghadapinya dengan hati-hati.

Sementara itu, beberapa langkah dari Pandansirat, seseorang bertempur dengan tangkasnya. Gerak senjatanya seakan-akan telah mendesak para pengawal yang ada disekitarnya. Suaranya berdesing menaburkan getaran angin yang tajam.

Para pengawal Tanah Perdikan menghadapinya dengan kelompok kecil dari beberapa arah. Namun kadang-kadang’ kelompok itu harus pecah karena para cantrik dari Padepokan Watu Kuning telah menyerang mereka pula dari arah yang berbeda.

Tetapi ayunan senjata orang itu telah tertahan oleh sebilah pedang yang besar dan berat. Seorang yang bertubuh, kekar berdiri dihadapannya.

“Kau bertempur seperti seekor harimau terluka,“ geram orang bersenjata pedang yang besar dan berat itu.

“Kau siapa,“ geram orang Padepokan Watu Kuning yang sedang mengamuk itu.

“Namaku Gandar,“ jawab orang berpedang besar dan berat itu. Bahkan katanya kemudian, “Kau tentu orang yang pernah datang ke rumah Kepala Tanah Perdikan sekitar sepekan yang lalu.”

“Kau melihat aku waktu itu?“ bertanya orang itu.

“Ya,“ jawab Gandar, “kau berdua menghadap Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah namamu Wirasrana.”

“Ya. Namaku Wirasrana,“ jawab orang itu, “nah, kita ternyata sudah saling mengenal. Jika aku membunuhmu, aku dapat berceritera bahwa aku telah membunuh Gandar.”

Gandar tidak menjawab. Namun pedangnya yang berat itulah yang mulai bergerak terjulur lurus mengarah kepada Wirasrana. Wirasrana mundur selangkah. Ia sadar, bahwa Gandar belum benar-benar menyerangnya.

Demikianlah, maka keduanyapun segera saling menja-jagi. Keduanya sudah saling menduga, bahwa lawan mereka adalah orang berilmu tinggi.

Seorang Putut dari Padepokan Watu Kuning menjadi heran, ketika ia bertemu dengan seorang perempuan yang garang dimedan perang. Bibi Kasadha yang bersenjata pedang telah menggetarkan pertahanan Putut itu. Apalagi ketika keduanya terlibat dalam pertempuran yang semakin cepat. Maka perempuan itu ternyata memiliki ketangkasan yang tidak diduga sebelumnya. Sehingga dengan demikian maka Putut itu harus bertempur dengan sangat berhati-hati.

Jilid 51

ORANG yang berkulit hitam dan yang suaranya seperti guruh itu mengumpat kasar. Katanya “Kau benar-benar seorang yang tidak tahu diri. Sadari. Kau berhadapan dengan Ki Wanda Dumung. Kau tidak dapat bermain-main dengan nyawamu.

“Setiap orang yang memasuki peperangan, maka ia sudah bermain-main dengan nyawanya. Nah, kitalah yang sekarang mendapat kesempatan untuk bermain bersama ” jawab Sambi Wulung..

“Anak iblis “suara orang itu semakin mengguruh.

Matanya menjadi merah membara. Katanya, “Kepalamu memang harus dipatahkan. He, siapa namamu?”

“Namaku Sambi Wulung. Tetapi jangan dikira bahwa aku akan dengan sukarela memberikan kepalaku.”

Orang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam itu

tidak berbicara lagi. Senjatanya, sebuah bindi segera terayun-ayun. Masih terdengar umpatan kasar. Namun kemudian desir angin yang keras karena ayunan senjata Ki Wanda Dumung itu telah menampar wajah Sambi Wulung.

Selangkah Sambi Wulung meloncat surut. Namun orang berkulit hitam itu memburunya. Bindinya masih terayun-ayun deras memburu kepalanya.

Dengan tangkasnya Sambi Wulung mengelak. Ketika Ki Wanda Dumung itu melangkah lagi selangkah

maju sambil mengangkat bindinya, justru Sambi Wulung meloncat masuk dengan pedang terjulur lurus kedepan.

Hampir saja ujung pedangnya mengoyak dada Ki Wanda Dumung. Tetapi orang itu sempat bergeser surut.

Ketika Sambi Wulung bergerak untuk memburunya, maka sekali lagi bindinya terayun mengarah kekepalanya.

Sambi Wulung harus meloncat surut. Ia masih ragu-ragu untuk menangkis serangan itu. Agaknya orang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam itu memiliki kekuatan yang sangat besar.

Demikianlah keduanyapun segera bertempur dengan sengitnya. Ternyata Ki Wanda Dumung termasuk salah seorang pemimpin Padepokan Watu Kuning yang berilmu tinggi. Begitu yakin ia akan kemampuannya sehingga ia agak merendahkan lawan-lawannya, yang dianggapnya tidak lebih dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Orang-orang yang sangat terbatas kemampuannya.

Tetapi ia terbentur pada kenyataan yang lain. Sambi Wulung ternyata mampu mengimbanginya. Bahkan karena Wanda Dumung agak merendahkan lawannya, Sambi Wulung yang agak tersinggung itu telah memperingatkannya.

Ujung pedangnya sudah mulai menyentuh kulit lawannya.

Ki Wanda Dumung mengumpat sambil meloncat surut. Dengan geram ia berkata “Setan licik. Kau telah berani melukai aku, he? Kau kira bahwa kau benar-benar akan berhasil?

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ia justru mempercepat serangannya, sehingga Wanda Dumung harus berloncatan mundur. Kemudian dengan cepat ia

memutar bindinya diseputar tubuhnya untuk berlindung dari ujung pedang Sambi Wulung.

Sambi Wulung yang ingin menjajagi kemampuan lawannya, telah berusaha menyentuh putaran bindi Wanda Dumung. Ketika terjadi benturan, maka pedang Sambi Wulung tergetar. Namun dengan demikian maka Sambi Wulung serba sedikit mempunyai gambaran kekuatan lawannya yang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam itu.

Pertempuran selanjutnya berlangsung dengan sengitnya, Sekali-sekali terdengar Wanda Dumung menggeram bahkan mengumpat-umpat, suaranya masih saja seperti ledakan guntur yang berloncatan dilangit.

Disisi lain disayap itu juga Jati Wulung telah tertahan oleh seorang yang umurnya juga sudah melewati setengah abad. Janggutnya keputih-putihan memanjang dibawah dagunya. Kumisnya melintang bergayut pada jambangnya yang panjang. Tubuhnya agak kekuruskurusan.

Tetapi nampaknya orang itu memiliki tenaga dalam yang tinggi. Senjatanya, sebatang tongkat kayu yang berselut besi baja putih dari pangkal sampai keujungnya di jinjingnya disisi tubuhnya.

Orang itu berhenti dua langkah dihadapan Jati Wulung yang justru bergeser selangkah surut. Para pengawal Tanah Perdikan segera mengambil alih beberapa orang lawannya yang bertempur dalam sebuah kelompok kecil.

“Bagus “desis orang berjanggut putih itu Kau berilmu cukup tinggi. Kau mampu bertempur menghadapi beberapa orang sekaligus. Siapa namamu Ki Sanak?

“Namaku Jati Wulung.

“Kau tidak ingin tahu namaku? “orang itu justru bertanya “Apakah kau menjadi cemas, bahwa namaku akan membuatmu pingsan dan tidak sempat melawan?

“Sebut namamu “desis Jati Wulung.

“Orang memanggilku Ki Singa Wantek. Tetapi orang juga menyebutku Ki Teken Waja. Mereka menyebutku demikian karena tongkatku diselut dengan baja putih dari pangkal sampai keujungnya. “sahut orang itu.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya “Ternyata aku belum pernah mendengar namamu.

“Pantas “desis Ki Singa Wantek.

“Apa yang pantas? “bertanya Jati Wulung.

“Pengenalanmu memang terlalu sempit. Tidak lebih luas dari batas tempurung yang menelungkup, jawab Ki Singa Wantek.

Namun Jati Wulung tertawa. Katanya “Aku memang tidak pernah melihat-lihat keluar dari Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi namamu memang tidak pernah terdengar disini. Nama seorang tua kerdil tidak akan ada artinya bagi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan Wajah orang itu menjadi merah. Namun Jati Wulung berkata selanjutnya “Sudahlah. Kita orang-orang tua tidak perlu lagi saling menyombongkan diri. Marilah.

Kita selesaikan persoalan kita sendiri. Atau barangkali kau akan menarik diri dari pertempuran?

“Kenapa aku harus menarik diri? “bertanya Ki Singa Wantek.

“Karena namamu tidak dikenal sama sekali disini “jawab Jati Wulung sambil tersenyum.

Orang itu menggeram marah. Tongkatnyapun tibatiba saja sudah berputar. Hampir saja menyambar kening Jati Wulung. Namun dengan cepat Jati Wulung mengelak, sehingga tongkat itu terayun sejengkal dari keningnya. Tetapi orang yang menyebut dirinya Singa Wantek itu tidak membiarkannya. Dengan tangkasnya ia mengulangi serangannya. Demikian cepat sehingga Jati Wulung harus meloncat surut. Namun sekali lagi Jati Wulung terkejut. Orang berjanggut putih itu meloncat memburunya. Tongkatnyapun terayun mengerikan. Agaknya orang itu ingin dengan secepatnya menyelesaikannya.

Agaknya ia benar-benar telah membuat orang itu marah.

Tetapi Jati Wulung tidak membiarkan dirinya diburu.

Ketika tongkat itu terayun menebas lambungnya, Jati Wulung sempat bergeser. Tetapi demikian tongkat itu terayun lewat, maka iapun justru meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya.

Singa Wanteklah yang harus meloncat menghindar.

Tetapi sambil melenting kesamping, tongkatnya telah menggeliat menyambar pundak Jati Wulung.

Jati Wulung merendah. Pedangnya dengan cepat berputar menyambar kaki lawannya. Tetapi dengan tangkas Singa Wantek itu melenting tinggi, sehingga pedang Jati Wulung terayun dibawah kakinya yang ditekuknya sambil meloncat. Tetapi yang tidak diduga oleh orang berjanggut putih itu, bahwa demikian pedang itu terayun, maka kaki Jati Wulungpun terangkat pula dan berputar sambil bertumpu pada kaki yang lain.

Orang berjanggut putih itu tidak siap menghadapi serangan itu. Karena itu, maka iapun tidak sempat mempergunakan tongkatnya untuk menangkis serangan itu.

Dengan demikian, maka kaki Jati Wulung yang berputar itu telah mengenai lambung lawannya. Orang berjanggut putih itu sempat terhuyung-huyung sejenak.

Namun dengan cepat ia berhasil menguasai keseimbangannya kembali. Karena itu, ketika Jati Wulung siap untuk menyerangnya, maka niat itu diurungkannya.

Tongkat Singa Wantek sudah berputar lagi dan siap menangkis serangannya.

Jati Wulung surut selangkah. Namun pedangnyalah yang kemudian telah teracu.

Sejenak kemudian, maka pertempuranpun telah menyala kembali. Keduanya bergerak semakin cepat.

Namun dengan demikian Singa Wantek itu tidak lagi dapat menganggap lawannya hanya seorang penghuni Tanah Perdikan Sembojan. Dalam pertempuran selanjutnya orang Tanah Perdikan Sembojan itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi yang mampu mengimbangi ilmu orang berjanggut putih itu.

Sementara itu pertempuran antara pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang dibantu oleh beberapa Kademangan diluar Tanah Perdikan Sembojan melawan orang-orang yang mengaku dari padepokan Watu Kuning itu menjadi semakin sengit. Matahari yang semakin tinggi telah melontarkan panasnya bagaikan membakar arena pertempuran itu. Keringat menjadi semakin banyak mengalir membasahi tubuh mereka yang sedang bertempur itu.

Di induk pasukan, Risang mencoba untuk mengetahui keadaan seluruh pasukannya. Meskipun ia tidak langsung melihat, namun beberapa orang penghubung telah berusaha untuk memberikan laporan-laporan kepadanya. Menurut para penghubung keadaan di sayap kiri dan kanan ternyata tidak mencemaskan. Meskipun demikian kedua sayap itu menghadapi perlawanan yang sangat berat.

Di induk pasukan pertempuranpun menjadi semakin garang. Beberapa orang berilmu yang ada disekitar dan bahkan didepan Ki Gede Watu Kuning berusaha

untuk menembus pertahanan Tanah Perdikan Sembojan. Namun gelar Garuda Nglayang ternyata sulit untuk ditembus. Apalagi sayap-sayap gelar Garuda Nglayang

yang seakan-akan berubah menjadi sapit dalam gelar Sapit Urang dan bahkan berpadu dengan dua kelompok yang menyerang dari lambung, maka pasukan Watu Kuning benar-benar menjadi sibuk. Sekelompok kecil pengawal yang menyerang dari belakangpun terasa cukup mengganggu, meskipun orang-orang Watu Kuning telah berhasil menahan mereka beberapa langkah dari pertempuran yang sebenarnya yang semakin lama menjadi semakin sengit.

Paruh gelar Garuda Nglayang itu benar-benar bagaikan kekuatan yang sulit ditahan. Tajamnya melampaui ujung tombak dengan pengapit yang diikuti oleh para pengawal terpilih.

Karena itu, maka perlahan-lahan tetapi meyakinkan, paruh gelar Garuda Nglayang itu menghunjam semakin dalam menembus pertahanan pasukan Padepokan

Watu Kuning yang bertempur tanpa gelar. Tetapi mereka tidak mampu memancing agar pasukan Tanah Perdikan Sembojan juga terlibat dalam perang brubuh, karena pasukan Tanah Perdikan Sembojan tetap lekat dalam gelar.

Sementara itu sayap-sayap gelar Garuda Nglayang yang menekan lawan dari samping bersama-sama dengan kelompok kecil yang dilepas lebih dahulu, membuat pasukan Padepokan Watu Kuning seakan-akan menjadi semakin sesak bernafas.

Meskipun demikian, para pemimpin Tarkah Perdikan Sembojan tidak merasa bahwa mereka akan dapat segera menguasai keadaan sepenuhnya. Sementara itu matahari menjadi semakin tinggi menggapai puncak langit.

Di sayap kanan Pandansirat masih bertempur melawan ibu Kasadha. Ternyata keduanya sudah memanjat ilmu mereka semakin tinggi. Keduanya mulai merambah ke ilmu simpanan mereka.

Disayap kiri Sambi Wulung dan Jati Wulung bertempur pula dengan sengitnya. Ki Wanda Dumung yang semula tidak mengira bahwa lawannya memiliki ilmu yang tinggi, mulai menjadi gelisah sehingga keringatnya semakin deras mengalir membasahi pakaiannya. Bukan hanya karena ia semakin mengerahkan tenaganya serta panas matahari yang semakin menyengat. Tetapi juga karena lawannya yang mampu meningkatkan kemampuannya semakin tinggi.

Tetapi Ki Wanda Dumung memang seorang yang mempunyai tenaga yang sangat besar. Desir angin karena ayunan bindinya selalu memperingatkan Sambi Wulung, bahwa tenaga lawannya terlalu besar. Seandainya Sambi Wulung mengerahkan tenaga dalamnya dan mengimbangi kekuatan lawannya, namun setiap benturan senjatanya dengan bindi lawannya agaknya harus diperhitungkan. Meskipun pedangnya pedang yang baik, tetapi benturan kekuatan yang besar melawan bindi yang besar pula, akan dapat berakibat buruk bagi pedangnya.

Namun Sambi Wulung tidak menjadi bingung karenanya.

Dengan tangkasnya ia berusaha untuk menghindari setiap serangan. Jika ia harus menangkis serangan lawannya, maka ia tidak membenturkan senjata langsung melawan bindi yang terayun-ayun mengerikan itu.

Tetapi dengan tangkasnya Sambi Wulung justru berusaha untuk menembus celah-celah putaran bindi Wanda Dumung. Pedangnya yang bergerak cepat, sekali-sekali memang mampu menyusup pertahanan Wanda Dumung, sehingga sempat menyentuh kulit lawannya yang kehitam-hitaman itu.

Sentuhan-sentuhan yang tipis itu telah membuat Ki Wanda Dumung semakin marah. Apalagi ketika keringatnya yang mengalir membasahi goresan-goresan dikulitnya itu membuat luka-luka kecil itu menjadi pedih.

Namun bagaimanapun juga ia berusaha, bindinya ternyata tidak mudah untuk dapat menggapai sasaran.

Disebelah yang lain disayap itu, Jati Wulung bertempur pula dengan sengitnya. Lawannya, Singa Wantek yang berjanggut putih itu berusaha untuk mematahkan tulang-tulangnya dengan tongkatnya yang berselut besi baja. Tetapi Jati Wulung mampu bergerak dengan cepat melampaui ayunan tongkat orang berjanggut putih itu.

Dalam pada itu, meskipun pertempuran berlangsung dengan sengitnya, bahkan terasa gelar Garuda Nglayang itu mulai mendesak pasukan Padepokan Watu Kuning, tetapi Ki Gede masih belum turun kemedan. Ia masih memberikan aba-aba langsung maupun lewat penghubung-penghubungnya. Ketika keadaan semakin mendesak, maka Ki Gedepun telah memerintahkan kepada orang-orabng terbaiknya untuk mengerahkan kemampuan mereka.

“Mereka tidak usah ragu-ragu. Bunuh semua orang Tanah Perdikan Sembojan “teriaknya. Lalu katanya pula “Semua orang harus berbuat sebaik-baiknya dalam keadaan seperti ini.”

Perintah itu ternyata ada juga pengaruhnya. Pasukan Padepokan Watu Kuning itu seakan-akan telah menggeliat sehingga seakan-akan menggelembung mendesak kesegala arah.

Sekelompok keeilpasukan Tanah Perdikan Sembojan yang ada dibelakang pasukan Watu Kuning itupun telah terdesak pula. Beberapa orang yang garang telah turun memasuki medan pertempuran dibelakang pasukan Watu Kuning itu. Sehingga karena itu, maka pasukan kecil itu justru harus bergeser surut beberapa langkah.

Demikian pula sayap-sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan dalam gelar Garuda Nglayang itu. Sayap-sayap itupun seakan-akan telah terdesak surut.

Dengan demikian maka gelar Garuda Nglayang yang ujung-ujungnya melengkung seperti sapit dalam gelar Sapit Urang itu telah hampir menjadi lurus kembali.

Meskipun kelompok-kelompok kecil yang menyerang dari lambung itu masih juga bertempur ditempatnya, namun pasukan itupun telah mulai terdesak pula.

Kasadha dan Gandar yang berada disayap kanan merasakan desakan pasukan Watu Kuning itu. Satu hentakan kekuatan yang nampaknya memang berpengaruh atas keseluruh medan. Apalagi orang-orang Watu Kuning itupun kemudian telah bersorak gemuruh, seakan-akan mereka telah sampai diambang kemenangan.

Dalam pada itu, ibu Kasadha masih bertempur melawan Pandansirat yang harus mengakui kemampuan perempuan itu. Dengan keris ditangannya Pandansirat berusaha untuk menggapai tubuh lawannya yang dikiranya sudah mulai renta. Tetapi ternyata Warsi, ibu Kasadha itu memiliki ketangkasan yang mengagumkan.

Pandansirat dengan kerisnya yang besar dan panjang, tidak kalah panjangnya dengan sebilah pedang, berloncatan sambil memutar senjatanya. Dipunggungnya melekat wrangka kerisnya yang besar itu.

Warsi memandang keris itu dengan dahi yang berkerut.

Ia melihat goresan pamor yang berkerlipan pada daun keris yang panjang itu.

“Kau memperhatikan kerisku nenek yang perkasa?

“bertanya Pandansirat sambil tersenyum.

“Sudah aku katakan, aku belum terlalu tua Pandansirat.

Aku belum seorang nenek. Anakku masih belum menikah. Apalagi mempunyai anak, sehingga karena itu, maka aku masih belum seorang nenek sebagaimana kau duga. “jawab Warsi.

“Tetapi guratan tahun diwajahmu menunjukkan bahwa kau memang seorang nenek “desis Pandansirat.

Tetapi Warsi justru tertawa. Katanya “Kau memang cerdik. Kau tahu kelemahan hati seorang perempuan.

Seorang perempuan akan merasa rendah diri jika ia dikatakan terlalu cepat menjadi tua. Tetapi aku tidak ingkar bahwa ujudku memang terlalu tua dibandingkan dengan umurmu, —

Pandansirat memandang Warsi dengan tajamnya.

Tetapi Warsi sama sekali tidak menundukkan kepalanya. Iapun menatap Pandansirat justru pada biji matanya.

Dengan demikian Pandansirat menyadari bahwa ia berhadapan dengan seorang perempuan yang memiliki kelebihan. Karena itu maka katanya “Kita akan bertempur dengan mengerahkan kemampuan kita masingmasing. Pertempuran disayap ini menjadi semakin garang. Pasukan Padepokan Watu Kuning nampaknya berhasil mendesak kembali pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun anak-anak Sembojan memiliki ketrampilan bertempur, tetapi mereka masih terlalu miskin pengalaman. Mereka hentakkan kekuatan dan kemampuan mereka pada benturan pertama, sehingga ketika matahari mencapai puncak langit dan panas terasa semakin menyengat, maka merekapun telah kehabisan tenaga.”

“Tidak “jawab Warsi sambil menggeliat ketika Pandansirat menyerang dengan kerisnya yang panjang.

Dengan lantang Warsi berkata “Kau salah menilai keadaan.”

“Bagus “geram Pandansirat “Semula aku ingin mengelak melawanmu karena kau seorang perempuan yang mulai rapuh dan renta. Tetapi melihat ketabahan hatimu membuat aku membatalkan niatku. Aku justru ingin bertempur sampai tuntas.”

Warsi tidak segera menjawab. Namun senjatanya, seutas rantai, telah berputar dengari cepat. Sebenarnya ia sudah ingin menyimpan rantainya itu. Namun ternyata bahwa rantai baja itu masih harus dipergunakannya.

Pandansirat pun kemudian telah bertempur semakin keras. Kerisnya yang besar dan panjang itupun terayun-ayun mengerikan. Namun rantai Warsipun menyambar-nyambar dengan garangnya.

Namun dalam pada itu, ibu Kasadha yang berpengalaman luas itupun segera mengetahui bahwa keris Pandansirat itu telah dimandikan dengan warangan yang sangat kuat. Sehingga goresan kecil pada kulitnya akan dapat berakibat sangat buruk baginya. Racun warangan itu dapat dengan segera menggumpalkan darahnya sehingga jiwanya akan tidak dapat tertolong lagi.

Karena itu dalam serunya pertempuran yang terjadi disayap kanan itu, Warsi telah meloncat mengambil jarak sambil mengambil sebuah bumbung kecil yang terselip pada ikat pingganya.

“Apa yang kau lakukan? “bertanya Pandansirat yang tertahan sejenak. Bahkan orang itu menjadi termangu-mangu.

Warsipun tertawa. Katanya “Kau benar. Aku memang sudah menjadi semakin rapuh. Tetapi aku mempunyai obat yang akan dapat membuat aku muda kembali. Setidak-tidaknya dalam pertempuran ini. Itu jika kau berani menghadapinya nanti. Jika tidak, aku akan membatalkan untuk menelan obatku ini.”

Tetapi Pandansirat justru tertawa. Katanya “Telanlah obat sebanyak kau inginkan. Kekuatanmu yang berlipat ganda tidak akan mampu mengimbangi kemampuanku.

Sedangkan kekuatan yang dapat ditimbulkan oleh sejenis obat apapun juga tidak akan dapat bertahan sepenginang. Bahkan sebelum matahari turun, kekuatan obatmu sudah akan larut bersama keringatmu.

Warsi tidak menjawab. Ia menelan sebutir obat yang diambilnya dari bumbung kecil itu. Namun ia tidak meninggalkan kewaspadaan, bahwa lawannya akan dapat menyerang setiap saat.

Tetapi ternyata Pandansirat tidak menyerangnya.

Ia memberi waktu kepada Warsi untuk menelan obatnya, menyumbat kembali bumbung kecil itu dan menyimpannya disela-sela ikat pingganya. Sambil menggeliat Warsi itupun kemudian berkata “Nah, sekarang aku sudah siap. Apakah aku masih kelihatan seperti seorang nenek?”

“Kau sekarang justru mirip seperti kerangka yang hidup. “jawab Pandansirat.

Warsi tertawa. Sementara itu pertempuran disekitarnya menjadi semakin sengit. Kasadha yang bertempur tidak jauh daripadanya, kadang-kadang dilihatnya.

Namun kadang-kadang tenggelam dalam pertempuran.

Demikian pula Gandar yang berada disisi yang lain daripadanya.

Namun Pandansirat ternyata tidak segera menyerangnya.

Bahkan pertempuran yang terjadi disekitarnya

seakan-akan telah memberi waktu kepadanya untuk

menyiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi pertempuran

yang akan menjadi semakin keras dan bahkan kasar.

“Apakah kau sudah siap? “bertanya Pandansirat.

“Kenapa kau menunggu aku siap? “bertanya

Warsi “bukankah kita berada dipertempuran? Kapanpun

kau dapat menyerangku. Bahkan kadang-kadang

seseorang menunggu lawannya menjadi lengah sehingga

kesempatan itu akan sangat berarti baginya. —

“Jika aku bertempur melawan seorang laki-laki

yang berilmu sangat tinggi aku akan berbuat demikian

“jawab Pandansirat.

Warsi mengerutkan dahinya. Rantainya ditangannya

telah bergetar pula. Sementara itu darahnya mulai

dialiri oleh obat yang baru saja ditelannya. Obat itu

adalah obat untuk menawarkan racun. Sama sekali bukan

obat untuk menambah kekuatan sebagaimana dikatakannya.

Jika keris yang dimandikan dengan racun warangan

yang tajam itu menggoresnya, maka racun itu

akan menjadi tawar. Sehingga dengan demikian, maka

racun itu tidak akan menggumpalkan darahnya dan tidak

akan membunuhnya.

Sejenak kemudian maka Warsipun telah mulai bergeser.

Demikian pula Pandansirat yang memang berilmu

tinggi. Kerisnyapun telah mulai bergerak pula sebagaimana

rantai baja ditangan Warsi.

Pertempuran antara kedua orang berilmu tinggi itu

telah berlangsung kembali. Keduanya berloncatan dengan tangkasnya. Keris Pandansirat terayun-ayun dengan

cepat. Bahkan kemudian mematuk dengan cepat

seperti paruh seekor burung sikatan menyambar bilalang.

Tetapi Warsi yang memanjat kehari-hari tuanya

itu masih mampu melenting dan berloncatan dengan

cepat. Kakinya bahkan seakan-akan tidak lagi berjejak

diatas tanah. Rantainyapun seakan-akan telah berputar

semakin cepat, sehingga suaranya yang berdesing semakin

memekakkan telinga.

Diluar penalarannya, Pandansirat seakan-akan merasakan

bahwa kecepatan gerak dan kekuatan lawannya

yang tua itu memang semakin bertambah. Perempuan

rapuh itu rasa-rasanya mampu bergerak semakin cepat

setelah menelan obatnya, meskipun sebenarnya obat itu

adalah obat penawar racun.

Namun sebenarnyalah Warsi memang semakin meningkatkan

dukungan tenaga dalamnya. Apalagi ia tidak

lagi merasa cemas seandainya kulitnya tergores ujung

keris lawannya yang dimandikan dengan warangan

yang tajam.

Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi

semakin sengit. Sekali-sekali Pandansirat terkejut

mengalami serangan yang cepat dan tiba-tiba. Sementara

itu kekuatan perempuan tua itupun menjadi semakin

terasa menekannya.

Disisi lain Gandar yang bertempur melawan Wirasrana

harus meningkatkan ilmunya semakin tinggi pula.

Ternyata Wirasrana memang seorang yang berilmu tinggi,

sehingga dengan demikian maka pertempuran diantara

keduanya itupun semakin lama menjadi semakin

sengit pula. Beberapa kali Gandar merasa terdesak.

Namun kemudian dengan meningkatkan tenaga dalamnya,

Gandar berhasil mengimbangi kemampuan orang

yang bernama Wirasrana itu. Seorang yang bersamasama

dengan Pandansirat datang menemui Risang dirumahnya.

Demikianlah pertempuran antara dua kekuatan itupun

masih nampak berimbang. Sekali-sekali gelar Garuda

Nglayang pasukan Tanah Perdikan Sembojan sempat

menghimpit lawannya, Namun kemudian kekuatan dari

Watu Kuning itu telah menggelembung kembali mendesak

lawannya disegala sisi.

Risang memperhatikan pertempuran itu dengan tegang.

Ia memang belum melihat kesempatan terbuka

bagi pasukannya. Sementara itu ibunya memang mencegahnya

untuk langsung menghadapi Ki Gede Watu Kuning.

Ibunya memang telah berpesan kepadanya, jika

Ki Gede itu turun ke medan, maka Nyi Wiradana sendirilah

yang akan menghadapinya. Tetapi ibunya tidak

ingin menembus pertahanan lawan untuk langsung

menghadapi Ki Gede. Ibunya justru menunggu kesempatan

itu datang.

“Tetapi pertempuran ini sudah berlangsung cukup

lama. Korban telah berjatuhan. Semakin lama maka

korban akan menjadi semakin banyak. —

Disayap kiri Sambi Wulung dan Jati Wulungpun

bertempur dengan mengerahkan tenaga mereka. Tetapi

lawan merekapun berbuat hal yang sama. Bahkan seorang

yang memiliki ilmu melampaui kebanyakan orang

pengawal harus menghadapi mereka bersama-sama.

Namun para pengawal Tanah Perdikan, terutama

para pengawal pilihan memang sudah dipersiapkan untuk

melakukannya, sehingga dengan sigapnya tiga orang

telah menghadapi seorang lawan yang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, Risang yang melihat kenyataan itu

memang menjadi gelisah. Ia tidak gentar bahwa pasukannya

akan segera dapat didesak oleh lawan, tetapi ia

justru gelisah karena korban yang menjadi semakin banyak.

Jika pertempuran itu berlangsung semakin lama,

maka berarti bahwa kematian akan menjadi semakin

banyak. Para pengawal dan anak-anak muda Tanah

Perdikan akan susut dengan cepat. Selain yang gugur

sebagian lagi terluka parah.

Meskipun lawan akan mengalami keadaan yang sama,

namun Risang harus mencari jalan untuk mengurangi

korban yang jatuh.

“Pertempuran ini harus cepat selesai. Semakin

cepat semakin baik “berkata Risang didalam hatinya.

Karena itu, maka iapun mendekati ibunya yang

bertempur diantara para pengawal dan berdesis “Ibu,

bagaimana pendapat ibu jika aku memanggil pasukan

cadangan yang telah dipersiapkan? —

“Apakah kau mendapat laporan bahwa pasukanmu

terdesak? “bertanya ibunya.

“Tidak. Tetapi pertempuran ini nampaknya seimbang,

sehingga pertempuran ini tidak akan segera berakhir.

Jika aku memanggil pasukan cadangan, maka

pasukan cadangan itu akan dengan cepat merubah keseimbangan

ini. Dengan demikian maka pertempuran

ini akan lebih cepat berakhir. Korban akan dapat dikurangi

sejauh mungkin. “jawab Risang.

Ibunya termangu-mangu sejenak. Ia memang melihat

bahwa pasukan Tanah Perdikan tidak dapat mendesak

lagi. Kadang-kadang bahkan gelar Garuda Nglayang

itu sempat terguncang, meskipun segera dapat dicari

keseimbangannya kembali.

“Bukankah orang-orang Watu Kuning telah bergerak

dengan seluruh kekuatan yang ada? “berkata

Risang kemudian “sementara mereka yang tinggal

diperkemahan sudah dihancurkan oleh sekelompok

pengawal. Mereka yang sempat lolos telah lari memasuki

induk pasukan mereka dan menjadi satu dengan mereka.

Ibunya mengangguk-angguk kecil. Tetapi menurut

perhitungan ibunya, pasukan cadangan itu memang dapat

digerakkan. Bukan berarti bahwa padukuhanpadukuhan

menjadi kosong sama sekali, karena dengan

demikian pihak ketiga akan dapat mempergunakan kesempatan

sebaik-baiknya untuk melakukan kejahatan.

“Ibu “berkata Risang “yang aku maksud

pasukan cadangan adalah mereka yang sudah siap di

padukuhan terdekat yang melindungi dapur dan perlengkapan.

Sementara pasukan cadangan itu bergerak,

maka setiap padukuhan disekitarnya akan dapat mengirimkan

dua atau tiga orang yang akan membantu menjaga

dan melindungi padukuhan itu. —

Nyi Wiradana masih berpikir sejenak. Tetapi ia

memang tidak mempunyai pendapat lain. Pendapat Risang

itu memang akan dapat segera merubah keseimbangan

dari pertempuran yang berlangsung semakin sengit

itu. Agaknya pasukan Watu Kuning juga sudah

mengerahkan segenap kekuatan mereka sehingga tidak

lagi ada orang yang tersisa diperkemahan yang sebagian

justru terbakar itu. Namun Nyi Wiradanapun berpendapat

bahwa orang-orang Padepokan Watu Kuning yang

garang itu akan dapat mempergunakan kesempatan saat

anak-anak muda Tanah Perdikan mulai menjadi letih.

Sementara itu ternyata pasukan Watu Kuning memang

sempat menggelembung lagi. Orang-orang yang

keras dan kasar itu telah menghentak-hentak medan

sehingga garis pertempuran itupun selalu berguncangguncang.

Apalagi seperti Risang dan Kasadha, maka

Nyi Wiradanapun melihat didalam pasukan Padepokan

Watu Kuning terdapat sekelompok kekuatan yang nampaknya

memiliki keseragaman. Senjata, tatanan perang

meskipun secara pribadi dan unsur-unsur kerja sama

yang nampak lebih padat dari kelompok-kelompok yang

lain.

Karena itu maka Nyi Wiradana itupun berkata —

Baiklah. Tetapi jika perang ini tidak dapat diselesaikan

hari ini dan saat senja turun kita harus menghentikan

Pandan Siratpun kemudian telah bertempur semakin

keras. Kerisnya yang besar dan panjang itupun terayun-ayun mengerikan. Namun rantai Warsipun menyambarnyambar

dengan garangnya. pertempuran sesuai dengan

tatanan yang berlaku sampai saat ini, maka nanti malam

kita harus membuat susunan baru dari seluruh pasukan

ini. —

“Mudah-mudahan kita dapat menyelesaikan pertempuran

ini pada hari ini juga ibu. Jika pasukan cadangan

kita turunkan, maka aku berpendapat, bahwa

kita akan dapat segera menguasai kekuatan lawan. —

sahut Risang.

“Mungkin ada unsur lain yang tidak dapat kita

perhitungkan sebelumnya. Karena itu, maka ita harus

tetap mempunyai kekuatan cadangan “berkata ibunya

kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Katanya “Aku

mengerti ibu. Malam nanti kita akan mengatur kembali

seluruh pasukan kita. Kecuali jika pasukan dari Padepokan

Watu Kuning tidak mempergunakan tatanan

yang berlaku, sehingga perang akan tetap berlangsung

meskipun malam turun. Jika mereka memaksakan pe –

rang itu, kita tidak akan dapat menghindar. —

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi Nyi Wiradanapun

memperhitungkan jika Padepokan Watu Kuning

memaksakan pertempuran meskipun malam turun,

maka jumlah laki-laki di Tanah Perdikan akan masih

dapat digali lagi disetiap padukuhan. Mereka akan dapat

membantu setidak-tidaknya untuk mengisi beberapa

kekosongan saat-saat para pengawal kelelahan dan tentu

juga menjadi lapar dan haus.

Sekelompok demi sekelompok para pengawal itu

akan dapat beristirahat, sementara kekuatan cadangan

dilapisan terakhirpun akan dapat mengisi kekosongan

itu.

Karena itulah maka Nyi Wiradanapun berkata —

Baiklah Risang. Panggil pasukan cadangan. Hanya yang

ada dipadukuhan landasan pasukan ini. Biarlah yang

ada dipadukuhan-padukuhan lain, terutama di padukuhan

induk tetap ada ditempatnya. Kekuatan mereka

memang tinggal kecil sekali. Mereka diperlukan untuk

mengatasi kemungkinan pihak ketiga memanfaatkan

keadaan ini. —

Risangpun kemudian telah bergeser meninggalkan

ibunya yang kembali berada diantara para pengawal.

Sementara itu Risang telah memanggil dua orang penghubung

untuk pergi ke padukuhan landasan pasukan

Tanah Perdikan Semboyan untuk menghubungi pasukan

cadangan yang ada di padukuhan itu. Mereka membawa

perintah dari Risang bahwa pasukan cadangan yang

ada di padukuhan itu harus segera menyusul kemedan

secepatnya.

“Semuanya “berkata Risang “kecuali yang

bertugas didapur. Mereka harus menyiapkan makan bagi para pengawal. Kemudian padukuhan itu supaya diisi

oleh beberapa orang pengawal dari padukuhan yang

lain. Dua orang dari setiap padukuhan terdekat. Semua

laki-laki dipadukuhan itu harus ikut bersiaga jika ada

pihak ketiga yang mengambil keuntungan dari keadaan

ini. —

Demikianlah, maka kedua orang penghubung itupun

segera berangkat kepadukuhan membawa perintah

Risang. Adapun pesan Risang pula kepada keduanya —

Mereka harus menempatkan diri mereka langsung di

sayap-sayap gelar Garuda Nglayang ini dan bertempur

dengan kemampuan tertinggi mereka agar keseimbangan

pertempuran ini cepat berubah. —

Sementara itu, pertempuran ditebaran gelar pasukan

Tanah Perdikan Sembojan masih berlangsung dengan

sengitnya. Kedua pasukan itu saling mendesak dan

saling bertahan. Garis pertempuranpun telah bergerakgerak

pula. Semakin panas matahari dilangit yang semakin

tinggi, maka keringatpun bagaikan diperas dari setiap

tubuh mereka yang, sedang bertempur itu.

Teriakan-teriakan yang garang terdengar disela-sela erang

kesakitan. Beberapa orang terpaksa meninggalkan

medan karena luka-luka mereka yang parah, sementara

beberapa orang yang lain berusaha membebaskan

kawan-kawan mereka yang terperangkap dalam pertempuran

sementara mereka tidak lagi mampu mempertahankan

diri karena luka-luka mereka.

Ki Gede Watu Kuning yang melihat pasukannya

tidak dapat bergerak maju menjadi marah. Beberapa

kali ia meneriakkan aba-aba dan perintah-perintah. Tetapi

orang-orangnya tidak mampu berbuat lebih banyak

lagi. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan ternyata

baik dalam gelar maupun secara pribadi mempunyai

bekal yang cukup untuk menghadapi orang-orang dari

Padepokan Watu Kuning itu.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning itu masih berteriak

“Kita harus segera menyelesaikan tikus-tikus clurut

itu. Kita hari ini harus berhasil menguasai Tanah Perdikan.

Orang-orang Tanah Perdikan dengan licik sudah

membakar persediaan bahan makan dan perlengkapan

kita. Kita harus mendapatkannya di Tanah Perdikan.

Atau kita akan membalasnya, menjadikan Tanah Perdikan

Sembojan karang abang. Kita bakar semua padukuhan

bahkan padukuhan induk sebagaimana mereka

membakar perbekalan kita. —

Orang-orang dari Padepokan Watu Kuning memang

berusaha menghentakkan kekuatan dan kemampuan

mereka. Orang-orang yang memiliki kelebihan

dari yang lain telah turun langsung kemedan yang

garang. Beberapa orang diantara mereka harus dihadapi

oleh kelompok-kelompok kecil pengawal Tanah Perdikan.

Disayap kiri gelar Garuda Nglayang, seorang yang

berilmu tinggi sempat membuat para pengawal menjadi

gelisah. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung

masih terikat dengan lawan mereka masing-masing. Orang

yang mengaku bernama Ki Lurah Cublik itu ternyata

memiliki ilmu yang tinggi. Tiga orang pengawal

pilihan dari Tanah Perdikan Sembojan mengalami kesulitan

menghadapinya. Namun setidak-tidaknya untuk sementara

ketiga pengawal itu mampu menahan Ki Lurah

Cublik yang bertempur dengan keras dan kasar.

Tetapi kelompok kecil itu kadang-kadang memang

terdesak, karena seorang dua orang cantrik Padepokan

Watu Kuning sering melibatkan diri dan mengganggu

para pengawal.

Tetapi langkah yang diambil Risang memang mengejutkan

orang-orang Padepokan Watu Kuning. Ketika

dua kelompok pengawal cadangan itu berlari-lari menuju

ke medan, maka Ki Gede Watu Kuning berteriak —

Setan-setan kecil itu akan turut mnyerahkan nyawa mereka.

Sambut mereka. Kita tebas batang ilalang kering

dihadapan kita. Jangan biarkan seorangpun yang lolos.

Teriakan-teriakan itu telah disahut dan bergaung

diantar a orang-orang Padepokan Watu Kuning. Seorang

yang bertubuh gemuk yang berada disamping Ki Gede

Watu Kuning itupun telah mendapat perintah dari Ki

Gede “Turun ke medan. Hancurkan induk pasukan

Tanah Perdikan Sembojan itu. Nampaknya orangorangnya

yang baru datang itu akan memperkuat sayapsayap

gelar mereka. —

Sebenarnyalah kedua kelompok pengawal dari

pasukan cadangan itu langsung menuju ke ujung sayap

sebagaimana diperintahkan oleh Risang. Risang memang

ingin merubah keseimbangan pertempuran itu dari

ujung-ujung sayap gelarnya.

Demikian kedua kelompok pasukan cadangan yang

masih segar itu memasuki arena, maka memang terasa

terjadi guncangan. Terutama dikedua sayap. Para pengawal

yang baru datang itu segera melibatkan diri kedalam

pertempuran. Meskipun jumlah mereka tidak banyak,

tetapi kehadiran mereka benar-benar mempunyai

pengaruh yang besar.

Orang-orang Watu Kuning yang berada berhadapan

dengan sayap-sayap pasukan gelar Garuda Nglayang

itu mulai merasakan tekanan lawan mereka menjadi

semakin berat. Para pengawal yang semula merasa

kecewa karena mereka dianggap tidak lebih dari cadangan

saja, justru setelah berada dimedan ingin menunjukkan

bahwa mereka tidak lebih buruk dari para

pengawal yang bukan sekedar cadangan.

Meskipun pengaruh kehadiran pasukan cadangan

itu tidak segera terasa diinduk pasukan, namun lambat

laun, terasa pula bahwa sebagian dari para cantrik mulai

terhisap kearah sayap-sayap pasukan lawan karena

kawan-kawan mereka menjadi semakin terdesak oleh

para pengawal.

Kemarahan Ki Gede benar-benar telah membakar

jantungnya. Sementara itu, orang yang gemuk itu telah

menyibak para cantrik Padepokan Watu Kuning dan

memasuki medan yang semakin garang.

Ibu Kasadha terkejut melihat kehadiran orang itu.

Orang itu demikian tangkasnya, sehingga ketika beberapa

ujung senjata mematuknya, dengan tangkasnya ia

menangkis dan menghindar. Bukan saja ketangkasannya,

tetapi Nyi Wiradana melihat ilmu yang tinggi tersirat

dari tatanan geraknya.

Karena itu, maka ketika Risang siap menghadapinya,

ibunya telah mencegahnya.

“Biarlah aku yang menghadapinya & berkata Nyi

Wiradana.

“Bukankah ibu menunggu Ki Gede Watu Kuning?

“Tetapi orang ini juga berbahaya “berkata ibunya

“aku akan menghadapinya, jika Ki Gede juga

turun kemedan , maka aku akan beralih lawan. Siapkan

sekelompok kecil pengawal terbaik bersamamu menghadapi

orang gemuk itu. —

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ibunya

sudah bergerak lebih dahulu menghadapi orang yang

bertubuk gemuk itu.

“He, bukankah kau seorang perempuan? “bertanya

orang yang gemuk itu.

“Ya. Kenapa? “Nyi Wiradana justru bertanya

pula.

“Apakah kau ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan?

“bertanya orang itu pula.

“Ya “jawab Nyi Wiradana.

Orang itu tertawa. Katanya “Kau memang menjadi

semakin tua. Tetapi kau masih tetap cantik. —

Wajah Nyi Wiradana menjadi merah. Tetapi iapun

kemudian bertanya “Siapakah kau? Apakah kau juga

orang Padepokan Watu Kuning? —

“Tentu. Aku adalah salah seorang andalan Ki

Gede Watu Kuning yang memimpin langsung pasukannya

kali ini. “jawab orang gemuk itu.

“Siapa namamu? “bertanya Nyi Wiradana.

“Namaku Ki Tanda Permati. Nah, jika kau pernah

mendengar namaku, maka kau tentu akan membuat

pertimbangan baru untuk melawanku. —

Nyi Wiradana tidak bertanya lagi. Pedangnya mulai

bergetar. Sementara itu Ki Tanda Permati justru bergeser

selangkah surut.

Sebagai seorang yang berilmu tinggi iapun melihat

bahwa perempuan yang dihadapinya itu berilmu tinggi.

Karena itu, maka Ki Tanda Permati itupun telah mempersiapkan

dirinya untuk menghadapi ibu Kepala Tanah

Perdikan Sembojan itu.

Sejenak kemudian, maka keduanyapun segera terlibat

dalam pertempuran yang sengit. Orang bertubuh

gemuk itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Dengan

tangkasnya ia berloncat sambil menggerakkan senjatanya.

Sebuah golok yang besar dan berat. Namun ditangan

orang gemuk itu golok yang besar itu seakanakan

sama sekali tidak berbobot.

Namun Nyi Wiradanapun berilmu tinggi pula. Tenaga

dalam yang telah dibangunkan membuatnya semakin

berbahaya, kekuatannya justru telah membuat lawannya

yang gemuk itu menjadi heran.

Tetapi Nyi Wiradana bukan saja memiliki kekuatan

yang besar, tetapi kakinya nampak terlalu ringan. Dengan

tangkasnya ia berloncatan sambil memutar pe –

dangnya. Bahkan kadang-kadang membuat Ki Tanda

Permati menjadi berdebar-debar.

Sementara itu, kedatangan pasukan cadangan yang

langsung bergabung dengan kekuatan sayap-sayap gelar

Garuda Nglayang telah merubah keseimbangan, terutama

diujung sayap-sayap gelar. Orang-orang Watu Kuning

mulai terhisap keujung medan pertempuran untuk

membantu kawan-kawan mereka yang mengalami tekanan yang semakin berat. Namun dengan demikian,

maka diinduk pasukan Watu Kuning lapisan pasukan

itupun menjadi semakin menipis.

Hentakkan kekuatan yang diteriakkan Ki Gede Watu

Kuning memang berpengaruh. Tetapi tidak terlalu

banyak. Apalagi Ki Tanda Permati yang diharapkan

dapat menyulitkan kedudukan paruh gelar Garuda

Nglayang itu telah membentur kekuatan yang mampu

mengimbanginya.

Ki Gede yang memerintahkan seseorang untuk menilai

apa saja yang telah dapat dilakukan oleh Tanda

Permati telah melaporkan bahwa Ki Tanda Permati telah

bertemu dan bertempur dengan seorang perempuan.

“Itu adalah ibu Kepala Tanah Perdikan ini —

berkata Ki Gede Watu Kuning. Lalu katanya “Jika

demikian, maka harus ada orang lain yang melakukan

tugasnya, menghancurkan induk pasukan itu. Jika paruh

pasukan dalam gelar itu hancur, maka yang lain

akan menjadi sangat terpengaruh. Apalagi jika Tanda

Permati yang berilmu tinggi itu dapat menghancurkan

ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang juga

seorang yang berilmu tinggi.

“Pertempuran masih berlangsung dengan ganasnya.

Tetapi masih sulit untuk dapat meramalkan apakah

kita akan berhasil “berkata petugas yang memberikan

laporan itu dengan ragu-ragu.

“Baik “geram Ki Gede Watu Kuning “Aku

sendirj akan turun ke medan. Jika ibu Kepala Tanah

Perdikan itu sudah bertempur melawan Ki Tanda Permati,

maka akulah yang akan menghancurkan induk

pasukan Tanah Perdikan. Setiap kejap mata aku membunuh

seorang diantara mereka. Maka saat matahari

turun ke Barat, induk pasukan itu tentu sudah menjadi

rapuh. —

Para pengiring khususnya segera mendapat perintah,

bahwa Ki Gede Watu Kuning akan turun keme –

dan. Para penghubung diminta untuk memberitahukan

kepada para pemimpin yang tersebar diseluruh medan

agar mereka masing-masing berusaha menempatkan diri

mereka. Ki Gede Watu Kuning tidak akan memberikan

aba-aba apapun lagi, karena Ki Gede akan melibatkan

diri dalam pertempuran di induk pasukan.

Sejenak kemudian, maka Ki Gedepun segera menyibak

dan dengan cepatnya Ki Gede telah muncul

diantara orang-orang Watu Kuning yang sedang bertempur

dengan garangnya.

Seperti yang dikatakannya, maka senjatanya, sebuah

canggah bertangkai pendek segera menghirup darah

korbannya. Seorang pengawal Tanah Perdikan berteriak

nyaring ketika dua mata canggah Ki Gede itu

menjepit lahernya. Namun suaranya segera terputus karena

kematian dengan cepat telah merenggutnya.

Kehadiran Ki Gede Watu Kuning dimedan segera

didengar pula oleh Risang dan Nyi Wiradana. Sejenak

Nyi Wiradana memang menjadi bingung. Ia tidak dapat

meninggalkan Tanda Permati begitu saja karena ia juga

seorang yang berilmu tinggi. Tetapi jika Ki Gede

Watu Kuning dilepaskan saja, maka ia akan dapat

membunuh sebanyak-banyaknya. Apalagi jika Risang

tidak dapat menahan diri dan mencoba menghadapinya.

Untuk beberapa saat Nyi Wiradana itu masih bertempur

melawan Ki Tanda Permati. Namun ketika ia

sempat melihat Risang dengan tiga orang pengawal terpilih

berusaha mendekati Ki Gede, maka Nyi Wiradana

segera memanggilnya.

“Risang, hadapi orang ini bersama kelompok kecilmu.

Aku akan menemui Ki Gede Watu Kuning. —

“Biarlah aku menghadapi Ki Gede Watu Kuning,

ibu. “jawab Risang.

“Dengar kata-kataku “sahut ibunya.

Risang tidak membantah. Bersama tiga orang

pengawal terpilih Risang siap menghadapi orang gemuk

yang bernama Ki Tanda Permati itu.

Orang gemuk itu sempat tertawa Katanya “He,

apakah anak muda itu Kepala Tanah Perdikan Sembojan?

Risang tidak menjawab. Tetapi ia siap bersama tiga

orang pengawal terpilih untuk menghadapi Ki Tanda

Permati yang gemuk itu. Namun suara tertawa Ki Tanda

Permati masih terdengar seakan-akan mengguncang

seluruh isi dada Risang.

Namun bagi ibu Risang, Ki Tanda Permati itu masih

belum terlalu berbahaya sebagaimana Ki Gede Watu

Kuning. Risang bersama dengan tiga orang pengawal

terpilihnya setidak-tidaknya akan dapat menahan orang

gemuk itu untuk beberapa lama agar orang itu tidak

membunuh pengawal terlalu banyak.

Sejenak kemudian, maka Nyi Wiradanapun telah

meninggalkan Ki Tanda Permati. Dengan cepat ia bergerak

diantara para pengawal Tanah Perdikan Sembo

j anyang bertempur dan dengan tangkas ia kemudian

telah berdiri dihadapan Ki Gede Watu Kuning. Ternyata

canggah Ki Gede Watu Kuning telah sempat membunuh

dua orang pengawal Tanah Perdikan yang berusaha

menahannya.

“Bagus “teriak Ki Gede Watu Kuning “aku

sudah mendengar bahwa bekas Pemangku Jabatan Kepala

Tanah Perdikan Sembojan adalah seorang pe

rempuan yang berilmu tinggi. Sekarang aku mendapat

kesempatan untuk menemuinya di medan pertempuran.

Nyi Wiradana memandanginya dengan tajamnya.

Ia sadar, bahwa Ki Gede Watu Kuning tentu seorang

yang berilmu sangat tinggi. Tetapi Nyi Wiradanapun

memiliki bekal yang memadai. Nyi Wiradana telah mewarisi

kemampuan ketiga orang kakek dan neneknya

yang telah berusaha menggabungkan ilmu mereka yang

kemudian luluh menjadi sebuah ilmu yang sangat tinggi.

Ilmu Janget Tinatelon. Ilmu yang mempunyai alas pada

ilmu ketiga orang kakek dan neneknya.

“Sayang ketiganya sudah terlalu tua, sehingga

tidak lagi turun ke medan pertempuran “desis Nyi

Wiradana itu didalam hatinya.

Meskipun demikian, ketiganya masih tegar di sanggar.

Mereka sudah siap untuk menurunkan ilmu itu

pula kepada Risang, karena landasan yang dipersiapkan

telah cukup masak.

Tetapi dalam pertempuran yang keras itu, sebenarnya

bahwa kedua orang kakek dan seorang nenek tidak

tinggal diam dirumah Kepala Tanah Perdikan Sembo –

jan. Meskipun mereka sudah menjadi semakin tua, tetapi

mereka ternyata juga berada di padukuhan terdekat

dari medan yang menjadi ladasan pasukan Tanah Perdikan

Sembojan.

Dari kejauhan ketiganya selalu mengikuti perkembangan

pertempuran yang terjadi. Dua orang pengawal

khusus telah mereka tugaskan untuk melihat pertempuran

itu dan memberikan laporan kepada mereka. Bukan

saja dari perbatasan, tetapi keduanya kadangkadang

mendekati pertempuran dan bahkan memasuki

medan. Sekali dua kali keduanya sempat berhubungan

dengan Risang atau Nyi Wiradana. Namun kemudian

Risang telah terlibat dalam pertempuran melawan Tanda

Permati sementara Nyi Wiradana telah berhadapan

dengan Ki Gede Watu Kuning.

Sementara itu Ki Tanda Permati bertempur semakin

garang melawan Risang dan tiga orang pengawal

terpilih dari Tanah Perdikan Sembojan. Sambil tertawa

Ki Tanda Permati berloncatan dengan cepatnya. Goloknya

terayun-ayun mengerikan. Benturan senjata akan

mengakibatkan telapak tangan lawannya menjadi pedih.

Bahkan seorang diantara. para pengawal yang bertempur

bersama Risang mengaduh tertahan ketika pedangnya

membentur golok Ki Tanda Permati. Kulit tangannya

bagaikan terkelupas. Sementara itu pedangnya

telah terlempar jatuh beberapa langkah dari padanya.

Dengan sigap Risang menjulurkan pedangnya. Orang

yang siap mengayunkan goloknya menebas leher

pengawal yang kehilangan pedangnya itu terpaksa berpaling

untuk menangkis serangan Risang. Dengan cepat

golok yang besar itu berputar menepis pedang Risang

kesamping. Tetapi golok itu sempat terjulur karena dua

orang pengawal yang bertempur bersama Risang telah

meloncat menyerang pula.

Orang itu menggeram, sementara pengawal yang

kehilangan pedangnya itu sempat memungutnya. Sekalisekali

ia meniup tangannya yang masih terasa pedih,

Namun sejenak kemudian, bertiga para pengawal itu

sudah siap bertempur pula bersama Risang yang telah

mulai menyerang lagi.

Ki Tanda Permati tertawa pula berkepanjangan.

Tetapi serangan-serangannya masih saja sangat berbahaya.

Meskipun keempat orang lawannya berloncatan

dengan tangkas, tetapi Ki Tanda Permati sama sekali

tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Karena itu, maka Risang dan ketiga orang pengawal

itu harus mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan

mereka untuk menghadapi orang gemuk itu.

Tetapi ternyata salah seorang pengawal itu telah

terlambat mengelak ketika golok Ki Tanda Permati menyambarnya.

Dengan pedangnya pengawal itu berusaha

menangkis golok yang besar itu terayun ke lehernya.

Namun ketika benturan terjadi, maka pedang pengawal

itu terlempar, sementara itu golok yang besar itu masih

tetap terayun deras. Tetapi arahnya sajalah yang telah

berubah. Golok itu tidak mengenai leher pengawal itu,

tetapi mengenai pundaknya.

Pengawal itu terdorong beberapa langkah surut.

Bahkan ia telah kehilangan keseimbangannya. Lukanya

yang dalam menganga memancarkan darahnya yang hangat.

Agaknya Ki Tanda Permati ingin menyelesaikan

pengawal itu. Apalagi Ki Tanda Permati berdiri diarah

yang menguntungkan karena ketiga lawannya yang lain

berdiri terhalang oleh pengawal yang kehilangan senjatanya

itu.

Tetapi Risang tidak membiarkan hal itu terjadi.

Dengan mengerahkan segenap tenaganya, Risang meloncat

untuk membenturkan pedangnya menahan golok

yang besar yang sudah terayun itu.

Namun Ki Tanda Permati mengurungkan serangannya.

Ia melihat sasaran yang lebih berarti. Meskipun

tubuhnya gemuk, tetapi ia cukup cepat untuk bergerak

dan bergeser menghindari serangan Risang. Bahkan

demikian senjata Risang terjulur, maka terbuka kesempatan

baginya untuk menyerang anak muda itu.

Keadaan Risang yang tergesa-gesa berusaha menyelamatkan

pengawal itu memang tidak menguntungkannya.

Ia melihat serangan Ki Tanda Permati. Tetapi

tidak ada kesempatan baginya untuk menangkis serangan itu justru saat pedangnya terjulur namun tidak

mengenai sasaran.

Karena itu, maka satu-satunya jalan untuk menghindari

serangan itu adalah justru menjatuhkan dirinya.

Dengan berguling mengambil jarak Risang ingin membebaskan

dirinya dari lawannya.

Tetapi lawannya tidak mau melepaskannya. Ki

Tanda Permati agaknya mengabaikan kedua orang

pengawal yang bertempur bersama Risang. Dipusatkannya

perhatiannya kepada Risang. Karena itu maka

memburu anak muda yang berguling itu.

Ternyata kedua orang pengawal yang kehilangan

seorang kawannya itu agak terlambat. Keduanya sempat

tergetar jantungnya melihat luka yang menganga.

Ternyata yang sekejap itu telah dimanfaatkan sebaikbaiknya

oleh Ki Tanda Permati.

Demikian Risang melenting berdiri maka Ki Tanda

Permati telah siap meloncat sambil menjulurkan goloknya

yang besar kearah jantung Risang yang masih belum

siap benar menerima serangan itu.

Tetapi yang terjadi benar-benar mengejutkan Ki

Tanda Permati. Ia memang melihat Risang berusaha

menangkis goloknya yang besar. Tetapi kedudukan Risang

yang lemah meyakinkan Ki Tanda Permati bahwa

ia akan berhasil menyentuh sasaran. Seandainya tidak

langsung dapat membunuhnya, tetapi anak muda yang

menjadi pemimpin tertinggi di Tanah Perdikan Sembo –

jan itu akan dapat dilukainya.

Namun ketika golok Ki Tanda Permati hampir menyentuh

sasaran sementara Risang terlambat mengangkat

pedangnya menangkis sehingga sentuhannya tidak

akan banyak berpengaruh, tiba-tiba saja tangan Ki Tanda

Permati telah terjerat sehelai selendang. Dengan kekuatan

yang besar selendang itu dihentakkanya sehingga

arah golok Ki Tanda Permati itu telah berubah.

Bahkan sama sekali tidak menyentuh tubuh Risang.

Risang yang mendapat kesempatan itupun segera

meloncat surut mengambil jarak. Demikian pula Ki

Tanda Permati yang berhasil menyentakkan tangannya

sehingga selendang yang membelit tangannya itu telah

terurai.

Sesaat kemudian Ki Tanda Permati itu berdiri tegak

dengan mata yang membara. Dipandanginya seorang

perempuan yang agak gemuk berdiri sambil tertawa.

Di kedua tangannya digenggamnya ujung dan pangkal

selendangnya yang telah menggagalkan serangannya

yang hampir mengenai tubuh Risang.

“Bibi “desis Risang.

“Orang ini memang sangat berbahaya Risang —

berkata Bibi sambil menunjuk Ki Tanda Permati.

“Kau siapa perempuan gemuk? “bertanya Ki

Tanda Permati.

“Bukankah kita sudah saling mengenal? Tetapi

itu dahulu, ketika aku masih muda dan tidak bertubuh

gemuk seperti ini. “jawab Bibi.

“Siapakah kau? “Ki Tanda Permati membentak.

“Aku ibu anak muda yang bernama Risang itu.

“jawab Bibi.

“Bohong. Ibunya adalah perempuan yang bertempur

melawan Ki Gede Watu Kuning itu. “jawab

Ki Tanda Permati.

“Ya. Ia memang ibunya. Tetapi aku juga ibunya.

He, apakah kau belum ingat, siapakah aku? Aku dahulu

memang cantik, ramping dan barangkali kulitku dahulu

kuning langsat, tidak hitam seperti sekarang. —

—Iblis betina. Sebut kau siapa? “bentak Ki Tanda

Permati.

“Apakah kau benar-benar lupa padaku Dolop. ;—

bertanya Bibi.

“Kau tahu namaku? Dengar, namaku sekarang

adalah Ki Tanda Permati. “geram orang gemuk itu.

Bibi tertawa. Dipandanginya Risang yang

termangu-mangu. Demikian pula kedua orang pengawal

yang telah bertempur bersamanya. Keduanya berdiri

beberapa langkah dari Bibi dengan pedang siap ditangan.

Namun Bibi itu berkata “Tolong seorang kawanmu

yang terluka itu. Biarlah aku dan angger Risang

menghadapi orang ini. —

“Rupa-rupanya kau ingin mati perempuan dungu.

Tetapi siapa kau sebenarnya? “desak Ki Tanda Permati.

“Ingat-ingat Dolop. Kau tentu ingat seorang kawanmu

yang sering, ingat, hanya sering dan tidak selalu,

mempergunakan selendangnya sebagai senjatanya,

“sahut Bibi.

“Tangseh “desis Ki Tanda Permati “kaukah

Serigala Betina itu? Sejak kapan kau berada disini? —

“Ternyata ingatanmu tajam Dolop. Aku tidak

lupa padamu meskipun berpuluh tahun kita tidak bertemu.

Kau masih tetap gemuk, sombong dan angkuh.

Hanya garis-garis diwajahnya menjadi semakin dalam.

Tetapi mungkin aku sudah terlalu banyak berubah, sehingga

kau tidak lagi dapat mengingat siapa aku. —

jawab Bibi.

“Ya. Tangsen. Aku ingat itu. Duapuluh tahun

yang lalu. Bahkan lebih. Kau masih gadis tanggung

waktu itu. Tetapi kau sudah digelari Serigala Betina

karena kau sejak gadismu memang seganas Serigala Betina.

“desis Ki Tanda Permati.

“Ya. Kita bersama-sama terdampar dilembah hitam

itu. Tetapi aku kemudian ternyata mampu melepaskan

diri. Ada sepercik petunjuk dari Yang Maha Agung

sehingga aku mampu keluar dari neraka itu dan berada

di Tanah Perdikan Sembojan sejak Risang belum lahir.

Aku adalah salah seorang ibunya meskipun aku tidak

melahirkannya. “berkata Bibi.

“Dan sekarang kau akan melindungi anakmu

yang tidak kau lahirkan itu? “bertanya Ki Tanda

Permati yang dikenal Bibi bernama Dolop itu.

“Ya. Ia adalah juga anakku. Jika terang dari

Yang Maha Agung itu tidak memercik di jiwaku, maka

anak itu tidak akan pernah lahir. “jawab Bibi —

karena itu, maka aku juga berkepentingan dengan kelanjutan

hidupnya. —

“Kau masih seekor Serigala Betina “geram Ki

Tanda Permati.

“Ya. Mungkin lebih garang karena aku menjadi

semakin tua “jawab Bibi.

“Baik. Kita bertemu lagi setelah berpisah puluhan

tahun. Justru berdiri berseberangan “geram Ki

Tanda Permati.

“Tetapi kenapa kau dapat terjebak kedalam Padepokan

Watu Kuning? “bertanya Bibi.

—Terjebak? “Ki Tanda Permati menjadi heran —

kenapa aku terjebak? Aku adalah salah seorang pemimpin

di Padepokan Watu Kuning. —

“Apakah kau juga dilahirkan oleh perguruan Watu

Kuning? “bertanya Bibi.

“Apa pedulimu? Sekarang kita sudah berhadapan.

Lindungi anakmu itu. Aku tentu akan berhasil membunuhnya.

Jika ia mati, maka akulah Kepala Tanah Perdikan

Sembojan. “jawab Ki Tanda Permati.

Bibi tidak menjawab lagi. Iapun mempersiapkan

diri sebaik-baiknya. Sambil memberi isyarat kepada Risang

ia bergeser mendekati lawannya.

“Bibi “berkata Risang kemudian “bukankah

Bibi berada didapur? —

“Aku datang bersama pasukan cadangan. Aku

sudah tidak mempunyai tugas apa-apa didapur. —

“Tetapi bukankah Bibi harus melindungi dapur

yang ada dipadukuhan itu? “bertanya Risang.

“Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyi Soka ada di

padukuhan itu. —

“Jadi kakek dan nenek ada disana? “bertanya

Risang.

“Ya. Karena itu aku berani meninggalkan padukuhan

itu “jawab Bibi.

Risang tidak bertanya lagi. Sebenarnyalah hatinya

menjadi semakin tenang karena Bibi ada disampingnya.

Iapun tahu bahwa Bibi memiliki landasan ilmu yang

cukup tinggi. Sementara itu, meskipun umurnya yang

sudah menjadi semakin tua, namun Bibi masih rajin

berada disanggar, sehingga karena itu, maka kemampuan

Bibi memang dapat diperhitungkan.

Demikianlah maka Risangpun kemudian bersiap

bersama Bibi menghadapi Ki Tanda Permati yang nama

sebelumnya adalah Dolop. Dengan hati-hati bibi bergeser

sambil memutar selendangnya yang dikedua ujungnya

diberati dengan bandul-bandul timah.

Dengan demikian maka sejenak kemudian Bibi dan

Risang telah terlibat dalam pertempuran melawan Ki

Tanda Permati yang memang berilmu tinggi. Sementara

itu kedua orang pengawal pilihan yang semula bertempur

bersama Risang telah menyingkirkan kawannya

yang terluka dan menyerahkannya kepada orang lain.

Keduanyapun kemudian telah kembali kemedan untuk

mengamati pertempuran antara Ki Tanda Permati yang

gemuk itu melawan Bibi yang juga agak kegemukan

dan Risang yang tangkas dan bergerak dengan kecepatan

yang tinggi.

Meskipun Ki Tanda Permati itu bertubuh gemuk,

tetapi iapun mampu berloncatan setangkas Risang. Goloknya

berputar cepat, berayun mendatar, menebas dan

mematuk. Namun Bibi yang agak gemuk itu ternyata

juga mampu bergerak secepat Ki Tanda Permati yang

dikenal bernama Dolop itu.

Ketika kedua orang pengawal yang sebelumnya

bertempur bersama Risang itu mendekati pertempuran,

maka mereka menjadi ragu-ragu. Mereka melihat bahwa

Risang dan Bibi ternyata mamou mengimbangi Ki

Tanda Permati.

Namun kedua orang pengawal itu tidak segera beranjak

dari tempatnya, keduanya bersiap untuk setiap

saat meloncat terjun kemedan jika diperlukan. Karena

mereka sadar, bahwa Ki Tanda Permati memang seorang

yang berilmu sangat tinggi.

Tetapi Bibi sama sekali tidak mengenal gentar. Dengan

berani Bibi berloncatan menyusup putaran golok

lawannya yang besar dan berat itu. Selendangnya berputaran

menyambar-nyambar. Bandul-bandul timah diujung

selendangnya itu berdesing disekeliling tubuh Ki

Tanda Permati. Sementara itu pedang Risangpun dengan

cepatnya berputaran dan mematuk-matuk kearah

lawannya. Tetapi Ki Tanda Permati masih sempat

mengelak dan menangkis serangan-serangan itu.

Dalam pada itu, kedua sayap pasukan Tanah Perdikan

Sembojan yang diperkuat oleh kelompok-kelompok

pasukan cadangan itu ternyata telah berhasil mengguncang

kedudukan lawan. Kekuatan Watu Kuning yang

semula menggelembung, telah mulai terdesak lagi. Bahkan

pasukan Watu Kuning yang berhadapan dengan

sayap-sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan telah

menghisap kekuatan di induk pasukan mereka.

Ki Gede Watu Kuning mulai merasakan, perubahan

keseimbangan itu. Karena itu, maka kemarahannya

menjadi semakin membakar ubun-ubun. Tetapi ia tidak

mampu beranjak dari lawannya, Nyi Wiradana, ibu Kepala

Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata Nyi Wiradana benar-benar seorang perempuan

yang berilmu sangat tinggi. Pedangnya berputaran

dengan cepatnya mengatasi putaran canggah Ki

Gede Watu Kuning. Jika kemudian terjadi benturan,

maka kekuatan tenaga dalam Ny Wiradana mampu

mengimbangi kekuatan Ki Gede Watu Kuning.

“Ternyata bukan hanya namamu yang besar Nyi

“geram Ki Gede Watu Kuning “kau memang memiliki

ilmu yang tinggi. —

Nyi Wiradana tidak menjawab. Dipusatkannya perhatiannya

pada pertempuran yang sedang terjadi itu.

Dengan cepat diputarnya pedangnya sambil bergeser

maju. Ketika kedua mata canggah Ki Gede terangkat,

pedangnya dengan cepat justru menepis senjata lawan

nya itu. Sambil meloncat maju, Nyi Wiradana menjulurkan

ujung pedangnya mengarah kedada lawannya.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning cepat bergeser surut.

Canggahnya sempat berputar menangkis serangan

Nyi Wiradana.

Dengan demikian pertempuran antara keduanya

menjadi semakin sengit. Keduanya semakin meningkatkan

ilmu mereka, sehingga dengan demikian maka keduanya

telah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu mereka.

Para cantrik terbaik dari Watu Kuning yang mengiringi Ki Gede Watu Kuning ternyata tidak mempunyai

banyak kesempatan pula. Para Demang yang menjadi

pengapit di paruh gelar Garuda Nglayang bersama para

pengawal terpilih telah berusaha membatasi gerak mereka.

Sehingga dengan demikian maka pertempuran antara

Ki Gede Watu Kuning dengan Nyi Wiradana itu

seakan-akan justru telah terpisah dari keseluruhan pertempuran.

Dalam pada itu, keadaan pasukan Watu Kuning

yang berhadapan dengan sayap-sayap gelar Garuda

Nglayang itupun menjadi semakin sulit. Tekanan para

pengawal yang baru memasuki lingkaran pertempuran

itupun menjadi semakin berat. Disayap kiri Ki Lurah

Cublik mendapat lawan semakin banyak. Tidak hanya

tiga orang. Kehadiran orang-orang baru disayap memberikan

kesempatan lima orang bersama-sama menghadapi

Ki Lurah Cublik yang berilmu tinggi.

Namun seperti yang diperhitungkan Risang, kehadiran

pasukan cadangan dikedua ujung sayap, ternyata

benar-benar mempengaruhi seluruh medan. Pasukan Tanah

Perdikan Sembojan dalam gelar Garuda Nglayang

itu memang semakin mendesak orang-orang Watu Kuning.

Sayap-sayap gelar Garuda Nglayang telah mampu

melingkar kembali menekan orang-orang Watu Kuning

dari lambung.

Ki Pandansirat yang bertempur melawan ibu Kasadha

menjadi semakin terdesak. Demikian pula Wira –

srana Gandar ternyata semakin lama menjadi semakin

garang.

Kesulitan Pandansirat dan Wirasrana bukan saja

disebabkan oleh kelebihan kemampuan lawan-lawan

mereka. Tetapi keadaan disekitar mereka menjadi tidak

membantu sama sekali.

Seorang putut yang bertempur dengan bibi Kasa –

dha itupun tidak lagi mampu bertahan. Tetapi seorang

cantrik dengan cepat telah melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Dalam pada itu, secara keseluruhan, pasukan Watu

Kuning benar-benar terdesak. Kekalutan pertahanan

mereka memang berpengaruh langsung terhadap para

pemimpin yang bertempur diantara mereka. Ki Wanda

Dumung, Singa Wantek dan Ki Lurah Cublikpun menjadi

gelisah. Meskipun mereka sendiri masih mampu

bertahan, tetapi keadaan disekitarnya sama sekali tidak

mendukungnya. Sementara itu, para pengawal Tanah

Perdikan Sembojan yang mulai menguasai keadaan telah

mengganggu pertahanan para pemimpin Watu Kuning

yang gelisah.

Namun keadaan itu telah membuat para pemimpin

itu semakin marah. Mereka segera menghentakkan kekuatan

dan kemampuan mereka. Jika mereka dengan

cepat menyelesaikan lawan-lawan mereka, maka mereka

akan dapat menghancurkan para pengawal Tanah

Perdikan Sembojan itu.

Tetapi para pemimpin Tanah Perdikanpun memiliki

ilmu yang tinggi pula. Kegelisahan para pemimpin Padepokan

Watu Kuning membuat mereka tidak lagi

mampu memusatkan perhatian mereka sepenuhnya terhadap

lawan-lawan mereka betapapun mereka ingin

melakukannya, karena menurut perhitungan penalaran

mereka, tanpa orang-orang berilmu tinggi itu Tanah

Perdikan akan segera dapat dihancurkan.

Disayap kanan, meskipun ibu Kasadha tidak lagi

mampu meningkatkan ilmu sejak ia dikalahkan oleh

Nyi Wiradana dalam perang tandingnya yang terakhir,

namun ternyata bahwa ilmunya masih mampu mengimbangi

kemampuan Pandansirat. Bahkan semakin lama

Pandansirat semakin terdesak sebagaimana orang-orang

Watu Kuning yang bertempur disekitarnya. Demikian

pula Wirasrana yang sulit bertahan melawan Gandar

yang menjadi semakin garang. Sedangkan seorang Putut

yang harus bertempur melawan bibi Kasadhapun

seakan-akan tidak mampu berbuat .apa-apa. Sementara

itu para cantrik Padepokan Watu Kuning tidak sempat

membantu mereka sama sekali. Kasadha dan salah seorang

pemimpin kelompoknya telah membuat orangorang

Watu Kuning itu setiap kali bergetar surut.

Bersama-sama para pengawal, Kasadha dan seorang

prajurit yang dibawanya itu bagaikan kekuatan yang

menghentak-hentak menekan kekuatan Padepokan Watu

Kuning.

Demikian pula terjadi disayap yang lain. Ki Lurah

Cublik yang melawan lima orang pengawal pilihan

benar-benar mengalami kesulitan, demikian pula Wanda

Dumung dan Singa Wantek yang berjanggut putih.

Ketika matahari mulai menurun, maka keadaan

pasukan Watu Kuning memang menjadi semakin sulit.

Yang tidak tertahankan lagi adalah kekuatan pasukan

Watu Kuning yang berhadapan dengan sayap kanan

gelar Garuda Nglayang, ketika Pandansirat terdesak oleh

Ibu Kasadha yang bertempur semakin keras. Pandansirat

adalah bagian dari orang-orang yang bertempur

dengan kasarnya sebagaimana orang-orang Watu Kuning

yang lain. Namun iapun terkejut ketika ia mengalami

tekanan yang keras dan kasar dari perempuan

yang menyebut dirinya adik Nyi Wiradana itu.

Hampir diluar sadarnya Pandansirat berdesis —

Aku kenal unsur-unsur gerak ilmu yang keras, kasar

dan garang ini. —

Ibu Kasadha ternyata mendengar desis lawannya

itu. Karena itu, maka iapun menyahut “Dimana kau

mengenalinya? —

“Aku memang ragu-ragu, bahkan hampir tidak

mempercayai penglihatanku sendiri. Apakah benar aku

melihat unsur-unsur gerak dari kelompok Kalamerta?

“sahut Pandansirat.

“Apa pedulimu dengan ilmu dari kelompok Kalamerta?

“bertanya ibu Kasadha.

“Apakah ada unsur Kalamerta di Tanah Perdikan

Sembojan? “bertanya Pandansirat.

Tetapi ibu Kasadha itu tertawa. Katanya “Kau

memang mulai rabun Ki Pandansirat. Kau tidak dapat

membedakan unsur-unsur gerak dari ilmu yang hidup

dilingkungan gerombolan Kalamerta dan ilmu keturunannya

dengan ilmu yang lain. Barangkali karena orangorangmu

menjadi semakin terdesak, maka kau sudah

mulai berkhayal. —

Pandansirat tidak menjawab. Namun ia mencoba

mengerahkan kemampuannya. Tetapi ternyata bahwa ia

memang tidak dapat mengatasi kemampuan ibu Kasadha.

Bahkan ketika pertempuran itu menjadi semakin

serigit, yang nampak adalah pertempuran dari dua kekuatan

yang keras dan kasar. Rantai ditangan ibu Kasadha

itu berputaran dengan cepatnya mematuk-matuk.

Sekali-sekali terdengar dentang rantai bajanya itu membentur

senjata Pandansirat. Sebilah keris yang besar

dan panjang, sebagaimana sebilah pedang.

Dalam pada itu ketika keduanya bertempur semakin

sengit setelah keduanya sampai kepuncak kemampuan

mereka, maka senjata-senjata merekapun

mulai menyentuh kulit lawannya. Ketika ujung rantai

Warsi menyusup diantara putaran keris Pandansirat,

maka Pandansiratpun harus meloncat surut sambil

mengusap bahunya yang tergores rantai baja Warsi, sehingga

bahunya itupun telah terluka. Namun pada kesempatan

lain, keris Pandansiratlah yang sempat menggores

tubuh Warsi. Ketika ayunan rantainya lewat diatas

kepala Pandansirat yang merendah, maka ujung

keris Pandansirat yang panjang itu memang sempat

menggapai lengan Warsi.

Dengan tangkas Pandansirat meloncat surut, sambil

tertawa Pandansirat berkata “Nah nenek tua, kulitmu

telah tergores ujung kerisku.–

“Kenapa? Lukanya tidak lebih dari seujung rambut. Sedangkan bahumu telah mulai menitikkan darah.–

“Tetapi kau akan segera mati. Darahmu akan

mengumpal menyumbat pembuluhnya, sehingga akhirnya

darahmu akan berhenti sama sekali, Semakin banyak

kau bergerak, maka semakin cepat racun warangan

kerisku membunuhmu. —

Tetapi Warsi justru tertawa. Katanya “Warangan

kerismu bukan warangan yang mampumembunuh. Barangkali

kerismu telah kau mandikan dengan air jeruk

pecel sehingga goresannya tidak akan berarti apa-apa

bagiku. —

Wajah Pandansirat menegang. Namun ia memang

tidak melihat pengaruh warangan kerisnya pada perempuan

itu. Bahkan sejenak kemudian keduanya telah

terlibat dalam pertempuran yang semakin keras dan

kasar. Ujung rantai Warsi semakin banyak mengoyak

tubuh Pandansirat, Namun ujung keris Pandansiratpun

telah menggores kulit Warsi di beberapa bagian tubuhnya.

Pakaian Warsipun mulai koyak dilengan, pundak

dan bahkan dadanya. Namun warangan keris Pandansirat

sama sekali tidak berpengaruh.

Barulah kemudian Pandansirat teringat, bahwa perempuan

itu telah menelan obat yang disebutnya sebagai

obat yang dapat menambah kekuatannya, sehingga

seolah-olah ia dapat menjadi muda kembali. Tetapi

Pandansirat mulai menyadari, bahwa obat itu tentu obat

penawar racun.

“Perempuan licik “Pandansirat menggeram —

kau benar-benar iblis betina. Kau tentu bagian dari

kekuatan Kalamerta. —

“Apapun yang akan kau katakan, kau akan mati

Pandansirat. “berkata Warsi.

Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi

semakin sengit. Kedua senjata itupun berputaran, saling

menggapai dan mematuk.

Namun ternyata bahwa Pandansirat benar-benar tidak mampu mengimbangi puncak kemampuan Warsi.

Ketika Warsi benar-benar mengerahkan ilmunya, betapapun

keras dan kasarnya, akhirnya Pandansirat benarbenar

telah kehilangan segala kesempatan untuk mempertahankan

diri.

Ternyata bukan saja Pandansirat. Wirasrana yang

berusaha menghindari Gandarpun telah terjebak dalam

pusaran kekuatan para pengawal Tanah Perdikan. Karena

itu, maka Wirasrana sama sekali tidak mampu lagi

mempertahankan hidupnya didalam pusaran kekuatan

Gandar dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan

Dengan demikian maka kekuatan pasukan Watu

Kuning dihadapan sayap kanan gelar Garuda Nglayang

itu sudah tidak banyak berarti lagi. Meskipun pertempuran

masih berlangsung, tetapi orang-orang Watu Kuning

itu rasa-rasanya telah menjadi putus asa.

Namun dalam pada itu, Kasadhapun harus meninggalkan

pertempuran. Ia harus membantu ibunya menyingkir

kebelakang medan. Meskippun Warsi sempat

menyelesaikan pertempuran dan mengakhiri perlawanan

Pandansirat, namun dibeberapa bagian tubuhnya terdapat

luka-luka yang menganga. Goresan-goresan luka itu

mengalirkan darah yang merah kebiru-biruan. Racun

warangan yang didorong keluar oleh obat penawar racun

yang lebih dahulu berada didalam darahnya telah

mengalir bersama darahnya.

Dalam pada itu, Pandansiratpun masih bertahan hidup

meskipun sudah tidak berdaya. Para cantrik padepokan

Watu Kuning telah membawanya pula menghindari

pertempuran. Tetapi keadaan Pandansirat ternyata

jauh lebih buruk dari keadaan ibu Kasadha. Karena

itu maka para cantrik yang membawanya sudah

tidak berpengharapan lagi bahwa nyawa Pandansirat dapat

diselamatkan.

Sementara itu Wirasrana benar-benar telah terbunuh

dipeperangan justru oleh senjata Gandar. Tetapi

beberapa ujung senjata telah mengoyak tubuhnya. Senjata

para pengawal yang sudah tidak lagi harus terikat

dalam pertempuran melawan orang-orang Watu Kuning

karena orang-orang Watu Kuning sudah semakin terdesak.

Disayap yang lainpun keadaan orang-orang Watu

Kuning menjadi semakin sulit. Sambi Wulung dengan

kemampuannya yang tinggi, telah mendesak Ki Wanda

Demung.

Orang yang bertubuh tinggi kekar dengan kulit

yang kehitam-hitaman itu sulit untuk dapat mengerti,

Sahwa orang tua yang dihadapinya itu mampu mengimbanginya.

Bahkan semakin lama semakin mendesak dan

bahkan ujung senjatanya telah melukai kulitnya. Demikian

pula Singa Wantek. Tongkatnya yang berselut

baja dari pangkal sampai keujungnya itupun tidak

mampu mengatasi kecepatan gerak senata Jati Wulung,

sementara Ki Lurah Ceblik seakan-akan telah kehilangan

kesempatan. Para pengawal tidak memberinya peluang

untuk mempertahankan dirinya, sementara orangorang

Watu Kuning tidak lagi dapat membantunya, karena

mereka telah didesak semakin jauh surut.

Keadaan itu membuat Ki Gede Watu Kuning bagaikan

kehilangan kendali. Dikerahkannya segenap kemampuannya.

Canggahnya berputaran semakin cepat.

Angin yang berdesing oleh putaran senjatanya itu telah

menampar kulit Nyi Wiradana yang menghadapinya dengan

senjata pedangnya.

Namun Nyi Wiradana adalah pewaris ilmu Janget

Tinatelon. Karena itu, maka tubuhnya seakan-akan

menjadi semakin liat, Kakinya berloncatan dengan cepatnya,

sementara tangannya yang menggenggam pedang

itu bergerak-gerak menyusup disela-sela pertahanan

Ki Gede Watu Kuning.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka

keduanya benar-benar telah sampai pada puncak per

tempuran yang sangat menggentarkan jantung. Beberapa

orang pengawal yang menyaksikan pertempuran itu

telah menahan nafas. Sementara orang-orang Watu Kuning

seakan-akan telah tidak dapat mempertahankan

kedudukannya lagi. Semakin lama mereka telah terdesak

semakin jauh sehingga Ki Gede Watu Kuning itu

telah terpisah beberapa langkah dari garis pertempuran.

Meskipun demikian namun tidak seorangpun yang

berani mencampuri pertempuran antara Ki Gede melawan

Nyi Wiradana. Pertempuran antara dua orang yang

berilmu sangat tinggi. Bahkan pertempuran itu seakanakan

telah berubah menjadi pusaran bayang-bayang

yang berterbangan. Sekali-sekali memercik bunga api

dari benturan senjata keduanya yang beradu. Namun

kadang-kadang mereka melihat seleret seleret cahaya

yang saling menyambar.

Disisi lain, juga masih terjadi pertempuran yang

garang antara Ki Tanda Permati melawan Risang dan

Bibi. Kedua belah pihak juga telah mengerahkan segenap

kemampuan mereka. Para pengawal juga tidak lagi

dapat mencampuri pertempuran yang semakin cepat itu.

Beruntunglah Risang karena ia sudah sampai pada batas

kematangan untuk menerima ilmu janget Kinatelon

sehingga ia masih sempat ikut terlibat dalam pertempuran

itu bersama Bibi. Meskipun kadang-kadang Risang

menjadi tergetar melihat unsur-unsur gerak Bibi yang

kasar. Namun hanya dengan cara itu Bibi mampu

mengimbangi tata gerak Ki Tanda Permati.

Dalam pada itu, kekuatan pasukan Watu Kuning

benar-benar sudah dipatahkan. Mereka tidak lagi berpengharapan

untuk dapat mempertahankan diri. Namun

merekapun merasa sulit untuk dapat melarikan diri dari

medan justru karena dibelakang pasukan mereka juga

terjadi pertempuran dengan sekelompok pengawal yang

nampaknya sudah menjadi bertambah banyak karena

para pengawal yang ada disayap sebagian telah bergeser

bergabung dengan para pengawal yang beradadibelakang

pasukan Watu Kuning..

Tanpa perintah Risang, maka pasukan Tanah Perdikan

justru seakan-akan telah mengepung pasukan Watu

Kuning.

Dalam saat-saat terakhir, Ki Gede Watu Kuning ternyata

masih berada selapis dibawah kemampuan Nyi Wiradana.

Didalam diri perempuan itu bergetar ilmu yang

matang dari ketiga landasan ilmu yang dimiliki oleh Kiai

Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Karena itulah, maka

betapapun Ki Gede Watu Kuning menghentakkan ilmu pamungkasnya,

namun sulit baginya untuk dapat mengimbangi

puncak ilmu Nyi Wiradana. Janget Tinatelon.

Karena itulah, maka ketika keduanya berada dalam

puncak kemampuan masing-masing, canggah di tangan

Ki Gede Watu Kuning seakan-akan tidak banyak berarti

lagi. Setiap benturan senjata, maka terasa bahwa

tangan Ki Gede menjadi pedih. Percikan api yang memancar rasa-rasanya bagaikan meletik mematuk kulitnya

sehingga panas yang tajam terasa menyengatnya.

Ki Gede Watu Kuning yang menjadi sangat marah

itu berteriak nyaring. Suaranya bagaikan guruh yang

meledak dilangit. Getaran suaranya seakan-akan telah

membentur menghentak selaput telinga menyusup

menggetarkan jantung didatem dada.

Bukan saja para pengawal Tanah Perdikan Sembo –

an yang dadanya terguncang, tetapi juga orang-orang

Watu Kuning sendiri. Tetapi orang-orang Watu Kuning

yang tersisa dimedan agaknya sudah terlatih mendengar

suara Ki Gede yang menggelegar itu, sehingga mereka

dengan cepat telah memusatkan daya tahan mereka menangkal

suara itu. Meskipun dada mereka masih juga

terasa sakit, tetapi keadaan mereka jauh lebih baik dari

para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sama

sekali tidak bersiap sebelumnya.

Namun Nyi Wiradana tidak membiarkannya. Ia sadar,

jika suara itu berkepanjangan, maka keadaan para

pengawal akan menjadi parah, khususnya di induk pasukan.

Bahkan para Demangpun menjadi pening dan nafasnya

serasa menjadi sesak.

Dengan tangkasnya Nyi Wiradana yang mempunyai

kelebihan kemampuan dan daya tahan yang tinggi, telah

menutup telinganya dengan kemampuan pemusatan galar

budinya. Dengan demikian suara itu sama sekali

tidak berpengaruh lagi atasnya. Bahkan kemudian satu

loncatan panjang pedangnya telah terjulur menguak

pertahanan Ki Gede. Meskipun canggah Ki Gede sempat

menangkis uluran ujung pedang itu, namun kecepatan

gerak Nyi Wiradana sempat mendahuluinya sekejap.

Ki Gede itu terdorong surut sambil mengumpat

kasar. Kelembutan dan keramahannya saat ia datang

mengunjungi Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah

lenyap sama sekali. Sebagai seorang yang mengenakan

topeng seraut wajah yang manis itu telah ditanggalkannya.

Ketika ia tidak berhasil membujuk dan menakutnakuti

Kepala Tanah Perdikan yang muda itu, maka

yang nampak kemudian adalah wajah aslinya. Wajah

raksasa dengan taringnya yang panjang dan tajam.

Namun Nyi Wiradana sama sekali tidak gentar.

Dengan tangkasnya ia menyerang pula. Ujung pedangnya

yang telah menyentuh kulit Ki Gede Watu Kuning

itu membuat perempuan itu semakin sengit. Tetapi Ki

Gede sudah tidak sempat lagi berteriak mengguncang

jantung Nyi Wiradana dan orang-orang Tanah Perdikan

Sembojan. Karena itu, maka kembali para pengawal

telah menekan orang-orang Watu Kuning yang sudah

semakin kehilangan pegangan.

Kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantung

Ki Gede Watu Kuning. Darah yang hangat yang

meleleh dari lukanya telah membuat kemarahannya memanjat

sampai keubun-ubun. Namun ia tidak dapat

mengingkari kenyataan. Lawannya, meskipun seorang

perempuan, tetapi memiliki kemampuan yang tidak dapat

diatasinya.

Ketika Ki Gede mencoba untuk berteriak lagi, maka

Nyi Wiradana dengan cepat pula meloncat sambil

memutar pedangnya. Ki Gede terkejut bukan buatan.

Tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh Nyi Wiradana,

maka tiba-tiba saja Nyi Wiradana itu telah berada

didepan hidungnya dengan pedang terjulur. Karena itu,

dengan serta merta Ki Gede bergeser dan menjatuhkan

dirinya untuk menghindari serangan itu. Serangan yang

tentu dilambari dengan ilmu yang sangat tinggi, sehingga

Ki Gede terlambat menyadari keadaannya.

Serangan Nyi Wiradana memang tidak mengenai

sasaran. Tetapi demikian Ki Gede bangkit berdiri maka

Nyi Wiradana itu seakan-akan telah melenting tinggi.

Ujung pedangnya seakan-akan telah meluncur bagaikan

cahaya yang menyilaukan mata Ki Gede. Nyi Wiradana

yang sudah melambari kemampuannya dengan ilmu Janget

Tinatelon, benar-benar sulit untuk dilawan meskipun

Ki Gede Watu Kuning memiliki ilmu-ilmu andalannya.

Yang dapat dilakukan oleh Ki Gede adalah mempertajam

ilmu Gelap Ngamparnya. Ki Gede itu berteriak

sekeras-kerasnya. Getaran udara yang melontarkan

ilmunya itu mengarah kepada Nyi Wiradana yang sedang

melenting sambil mengacukan pedangnya yang

seakan-akan telah bercahaya itu.

Ilmu yang dihentakkannya itu ternyata mampu menembus

daya tahan Nyi Wiradana. Bukan saja telinganya

yang menjadi sakit, tetapi jantungnyapun bagaikan

diguncang didalam dadanya.

Namun Nyi Wiradana masih tetap sadar akan keadaannya.

Itulah sebabnya, betapapun dadanya merasa

sesak dan telinganya menjadi sakit, namun ujung pedangnya

telah tidak berubah.

Ki Gede yang memusatkan nalar budinya untuk

menghentakkan ilmu Gelap Ngamparnya, ternyata terlambat

mengangkat canggahnya. Ia menduga bahwa Nyi

Wiradana yang sedang- melenting itu akan rontok dan

jatuh ditanah. Tetapi ternyata tidak Nyi Wiradana itu

masih tetap meluncur sambil menjulurkan pedangnya.

Ternyata canggah Ki Gede Watu Kuning tidak

sempat menangkis serangan itu. Ujung pedang Nyi Wiradana

yang terjulur lurus itu kemudian telah menghunjam

didadanya langsung menembus sampai kejantung.

Namun disaat terakhir, Ki Gede masih mampu menggerakkan

canggahnya, sehingga salah satu mata canggah

itu sempat menyentuh lambung Nyi Wiradana.

Nyi Wiradana yang kmudian berdiri tegak menyaksikan

Ki Gede itu terdorong beberapa langkah surut.

Canggahnyapun terlepas dari tangannya. Perlahanlahan

Ki Gede jatuh berlutut. Namun kemudian tubuhnyapun

telah berguling. Sementara pedang Nyi Wiradana masih tetap didalam genggamannya.

Perasaan pedih terasa mulai menggigit lambungnya

yang terluka meskipun tidak terlalu dalam. Namun darah

sudah mulai mengembun dilukanya itu.

Namun dalam pada itu, Nyi Wiradana itu terkejut

ketika ia mendengar Risang berteriak nyaring “Bibi.–

Nyi Wiradana tidak menghiraukan lagi luka dilambungnya.

Iapun segera meloncat kearah suara Risang.

Jantung Nyi Wiradana menjadi berdebar-debar. Ia

melihat Risang yang terluka berjongkok disisi tubuh

Bibi yang terbaring diam. Namun masih terdengar suara

Bibi lirih”Kau tidak apa-apa Risang. —

“Tidak Bibi, tidak. “jawab Risang sambil

mengangkat kepala Bibi yang lemah.

“Panggil aku ibu ngger “desis Bibi.

“Ya, ya ibu “desis Risang.

Sementara itu Nyi Wiradanapun telah berjongkok

pula disampingnya. Ia telah melihat sosok tubuh orang

gemuk itu terbaring diam beberapa langkah dari tubuh

Bibi yang lemah itu.

“Iswari “desis Bibi “aku titipkan anakku

kepadamu. —

“Bibi “desis Nyi Wiradana “kau akan sembuh.

Aku akan memanggil Ki Juru Respati. Ia akan

mengobatimu. —

Tetapi Bibi menggeleng. Katanya —- Lukaku terlalu

parah. Aku akan mati. Tetapi aku tidak menyesal.

Apalagi anakku sudah memegang jabatannya, Kepala

Tanah Perdikan Sembojan. —

“Ya Bibi. Tetapi kau akan sembuh. “desis Nyi

Wiradana.

Sekali lagi Bibi menggeleng. Nampaknya bibirnya

merapat menahan sakit. Tetapi kemudian ia tersenyum.

Katanya dengan suara yang tersendat “Risang.–

“Ya ibu “jawab Risang.

“Hati-hatilah. Kau bertanggung jawab atas keseTIRAIKASIH

lamatan dan kesejahteraan rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Semoga kau dapat melakukan tugasmu dengan

baik. —

“Ya ibu. Tetapi ibu harus bertahan. Sebentar lagi

Ki Juru Respati akan datang. —

“Tidak usah. Aku tidak dapat bertahan lebih

lama lagi. —

Nyi Wiradana dan Risang memang tidak dapat berbuat

sesuatu. Mereka bergeser ketika ternyata Kiai Badra,

Kiai dan Nyai Soka telah hadir pula di pertempuran

yang sudah hampir berakhir itu. Merekapun kemudian

berjongkok disisi Bibi. Namun ketiganya saling berpandangan

sejenak, seakan-akan mereka sepakat menilai

keadaan Bibi yang sudah menjadi sangat gawat.

Namun bibi masih sempat melihat mereka. Sambil

tersenyum Bibi berkata “Kiai dan Nyai, nampaknya

keadaan sudah sangat mendesak. Sebaiknya kepada’Risang

segera diturunkan ilmu Janget Tinatelon agar jika

terjadi sesuatu atas Tanah Perdikan ini, anak itu sudah

mempunyai perisai yang baik untuk melindunginya. Sudah

tentu juga bagi dirinya sendiri. —

“Ya, ya Bibi “jawab Kiai Badra “kami akan

segera melakukannya. Tetapi sudahlah Bibi, sebaiknya

kau berbaring dengan baik. Sebentar lagi Ki Juru akan

datang. —

Bibi memandang orang-orang yang ada disekitar¬nya

dengan mata yang semakin redup. Tetapi ia masih

bertanya “Bagaimana dengan pertempuran ini? —

“Kita sudah menguasai seluruh medan “berkata

Risang.

Senyum itu masih nampak dibibir Bibi. Namun mata

yang redup itu menjadi semakin redup. Akhirnya

terdengar suaranya lirih “Risang. Risang. —

“Suara itu terputus. Mata Bibipun segera terpejam.

“Bibi “Risang berteriak sekali lagi. Namun Bibi

itu sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Wajah Risang menunduk dalam-dalam. Namun

tiba-tiba saja ia bangkit berdiri sambil berteriak “Gila

kau orang-orang Watu Kuning. Kalian harus dihancur-.

kan sampai orang yang terakhir. —

Namun ketika pedang Risang terangkat tinggi, ibunya

memeluknya sambil berdesis “Risang. Kau tidak

boleh kehilangan penalaranmu. —

“Tetapi mereka membunuh Bibi, ibu “geram

Risang.

“Yang membunuh bibimu sudah terbaring lebih

dahulu. Ki Tanda Permati sudah terbunuh. “desis

ibunya.

Risang memang telah menurunkan pedang yang diangkatnya.

Sementara itu ibunya bertanya “Siapakah

yang telah membunuh Ki Tanda Permati? —

“Bibi “jawab Risang “tetapi iapun harus

menebus dengan nyawanya. —

“Kita memang kehilangan. Tetapi kemungkinan

seperti itu memang dapat saja terjadi dipeperangan. —

berkata ibunya. Lalu katanya pula “Sebagaimana Ki

Gede Watu Kuning juga sudah tidak akan pernah bangkit

lagi. —

“Jadi ibu berhasil membunuh Ki Gede? “bertanya

Risang.

“Ya. Nampaknya yang Maha Agung masih melindungi

Tanah Perdikan ini. —

Risang menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia

ingin mengendorkan ketegangan yang mencengkam jantungnya.

Namun tiba-tiba saja ia melihat darah dipakaian

ibunya. Kembali ia tersentak sambil bertanya “Ibu

terluka? —

“Tidak parah “jawab Nyi Wiradana.

“Darah itu “desis Risang.

Tetapi Nyi Wiradana menggeleng “Tidak apaapa.

Meskipun demikian Kiai Soka berkata kepada Nyi

Soka “Nyai, lihat luka Iswari. Jika tidak terlalu parah,

kau tidak usah menunggu Ki Juru. Barangkali kau dapat

mengobatinya sendiri. —

Nyai Sokapun mengangguk. Katanya “Marilah

Iswari, kita pergi ke balik batang-batang perdu itu. Aku

lihat lukamu. —

Nyi Wiradana tidak menolak. Sementara ia pergi

ke balik segerumbul perdu,, maka iapun berpesan —

Lihat pertempuran itu dalam keseluruhan. —

Risang termangu-mangu sejenak. Ia masih memandang

tubuh Bibi yang terbujur diam. Lukanya memang

terlalu parah dan tidak mungkin untuk diobati. Namun

lawannya, Ki Tanda Permatipun telah terbujur diam

pula sebagaimana Bibi.

Kematian Bibi memang merupakan satu pukulan

yang berat bagi Risang. Bibi sudah menganggap Risang

sebagai anaknya sendiri. Ia, yang mengurungkan niatnya

untuk membunuh Nyi Wiradana yang sedang mengandung

justru membuatnya merasa ikut memiliki anak

yang kemudian dilahirkan oleh Nyi Wiradana itu.

Tetapi Bibi itu sudah tidak ada lagi. Ia gugur saat

Tanah Perdikan Sembojan mengalami keadaan yang sangat

rumit.

Dalam pada itu, maka pertempuran itupun agaknya

benar-benar sudah dapat diselesaikan. Orang-orang Watu

Kuning yang tersisa sudah menyerah. Hanya beberapa

orang sajalah yang benar-benar berhasil melarikan

diri dari medan. Sementara yang lebih banyak lagi telah

tertawan.

Beberapa saat kemudian, sebelum matahari turun

kebalik gunung, maka para pemimpin Tanah Perdikan

Sembojanpun telah berkumpul. Luka Nyi Wiradana

memang tidak berbahaya. Bahkan luka Warsi agak lebih

parah dari luka-luka Nyi Wiradana meskipun luka

Warsipun tidak membahayakan jiwanya. Beberapa o-..

rang yang lainpun telah terkena goresan-goresan senjata

ditubuhnya.

Namun para pengawal Tanah Perdikan Sembojan,

anak-anak muda dan bahkan laki-laki yang sudah lebih

tua lagi yang telah ikut dalam pertempuran itu harus

menyerahkan beberapa diantara mereka kepada tanah

kelahiran. Diantara mereka ternyata telah gugur dipertempuran,

sementara yang lain terluka. Ada yang parah,

tetapi ada juga yang tidak seberapa.

Tanah Perdikan Sembojan memang benar-benar.

menjadi berkabung. Demikian pula beberapa Kademangan

yang telah ikut melibatkan diri dalam pertempuran

itu. Kademangan yang ada disekitar Tanah Perdikan

Sembojan.

Ketika matahari kemudian turun dan senjapun mulai

membayang dilangit, para pengawal dan anak-anak

muda Tanah Perdikan masih sibuk mengumpulkan

kawan-kawan mereka yang gugur dan terluka. Demikian

pula dibawah pengawasan yang ketat, para tawananpun

harus melakukan hal yang sama. Mengumpulkan

kawan-kawan mereka yang terbunuh dan terluka parah.

Sementara itu, Nyi Wiradana, Warsi dan beberapa

orang pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah berada

dirumah Kepala Tanah Perdikan di padukuhan in

duk, selain mendapat pengobatan yang lebih baik, merekapun

harus beristirahat setelah bertempur mengerahkan

tenaga dan kemampuan mereka.

Bukan saja dirumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan,

tetapi dimedanpun orang-orang yang bertugas

menyediakan makan dan minum menjadi sibuk. Yang

kemudian mereka beri makan dan minum bukan hanya

orang-orang Tanah Perdikan itu sendiri, tetapi juga para

tawanan. Bagaimanapun juga, Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat membiarkan mereka menjadi kelaparan.

Dalam pada itu, Risang dan Kasadha masih tetap

berada di medan, Sambi Wulung, Jati Wulung dan

Gandar masih juga menemaninya. Mereka menunggui

para pengawal yang masih sibuk meskipun kemudian

malam turun. Bergantian mereka makan dan minum

tanpa sempat mencuci tubuh mereka yang basah, kotor

dan berbau darah.

Sampai lewat tengah malam ternyata pekerjaan itu

masih belum selesai seluruhnya. Risang, Kasadha, Sambi

Wulung, Jati Wulung dan Gandar masih juga ada di

medan meskipun mereka kemudian duduk bersandar

batang-batang perdu yang tumbuh disekitar medan.

Meskipun mereka merasa letih sekali, tetapi mereka

tidak sampai hati meninggalkan para pengawal, yang

tentu juga letih sekali sebagaimana mereka, menyelesaikan

tugas mereka.

Baru menjelang pagi, mereka yang gugur dipertempuran

sudah ditempatkan di banjar padukuhan terdekat

yang menjadi landasan pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Demikian pula mereka yang terluka, yang menjadi

parah telah ditempatkan dirumah Ki Bekel padukuhan

itu pula, sementara yang terluka ringan dan masih

mampu untuk bergerak lebih banyak, telah dibawa

dengan pedati ke padukuan induk.

Adapun korban yang terbunuh dari orang-orang

Watu Kuning akan langsung dikuburkan didekat sebuah

kuburan tua dikaki bukit, sedangkan yang terluka dibawa

dengan pedati pula ke padukuhan yang lain yang

berada tidak jauh dengan padukuhan yang menjadi landasan

pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Seorang pemimpin kelompok prajurit Pajang yang

datang bersama Kasadha itu juga terluka. Tetapi tidak

berbahaya. Prajurit itu bahkan seakan-akan tidak merasakan

bahwa lengannya telah tergores senjata.

Hari berikutnya, maka Tanah Perdikan Sembojan

terasa menjadi semakin berkabut. Keluarga mereka

yang gugur dan terluka parah tidak dapat menyebunyikan

rasa duka. Beberapa orang perempuan telah menangisi

anak mereka, suami mereka atau kekasih mereka

yang gugur dipertempuran.

Bahkan Risang sendiri juga merasa kehilangan pula.

Bibi yang menganggapnya sebagai anaknya pula,

telah gugur pula dipertempuran, sampyuh dengan orang

yang pernah dikenalnya beberapa puluh tahun yang lalu,

Dolop, yang terakhir menyebut dirinya Ki Tanda

Permati.

Ketika upacara pelepasan mereka yang gugur dipertempuran

dari banjar padukuhan yang menjadi landasan

pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu, nampak

bahwa Risang benar-benar telah merasa kehilangan..

Matanya menjadi berkaca-kaca.

Hari itu Risang masih belum sempat berbicara dengan

para tawanan. Iapun sibuk pula membantu Kasadha

yang merawat ibunya, dibawah pengobatan Ki Juru

Respati. Bahkan juga ikut melayani para pengawal dan

anak-anak muda yang terluka dalam pertempuran yang

keras dan berat itu.

Beberapa orang anak muda dari Kademangankademangan

yang ikut membantu dalam pertempuran

melawan orang-orang Watu Kuning itupun telah dirawat

pula dengan baik. Bahkan orang-orang Watu Kuning

yang terluka juga mendapat perawatan pula.

Disore hari setelah upacara penguburan para korban

yang gugur dipertempuran, Risang mulai mencoba

berbicara dengan para tawanan. Sebelumnya ia telah

berbincang dengan Kasadha tentang sekelompok orang

yang mempunyai perilaku yang agak berbeda dengan

yang lain. Beberapa jenis keseragaman diantara mereka

menunjukkan bahwa mereka satu dengan yang lain

mempunyai keterikatan yang lebih tinggi daripada penghuni Padepokan Watu Kuning yang nampaknya berasal

dari beragam landasan perguruan.

“Yang kita lihat itu mungkin justru orang-orang

Watu Kuning yang sebenarnya “berkata Kasadha.

“Mungkin. Tetapi nampaknya lebih dari satu keterikatan

sebuah Padepokan yang mempunyai watak

memberikan kebebasan secara pribadi untuk mengembangkan

ilmunya. Meskipun ilmunya bersumber pada

alas yang sama, namun perkembangannya justru dapat

menjadi bermacam-macam bentuknya. Unsur kerja sama

diantara merekapun tidak serapat pada kelompokkelompok

yang kita lihat di medan pertempuran itu.

Orang-orang Padepokan Watu Kuning yang lain lebih

mengandalkan kemampuan mereka secara pribadi. Bahkan

mereka tidak membentur gelar Garuda Nglayang

kita dengan gelar pula, merupakan satu pertanda bahwa

mereka memang lebih mementingkan kemampuan pribadi

setiap orang dalam pasukan mereka.—-

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya “Memang

mungkin pula. Tetapi kita coba saja berbicara dengan

salah seorang dari mereka. Seorang dari mereka yang

kita anggap mempunyai beberapa kesamaan dan nampaknya

mempunyai ikatan kerja sama dalam pertempuran

itu dan seorang dari kelompok yang lain.

Risang memang sependapat. Iapun kemudian telah

menemui para tawanan dan menunjuk dua orang yang

mereka anggap mempunyai watak yang berbeda didalam

pertempuran yang telah terjadi.

Secara terpisah Rsang dan Kasadha telah berbicara

dengan mereka. Namun nampaknya kedua orang itu

telah bertekad untuk tidak berbicara tentang diri mereka

masing-masing serta tentang Padepokan Watu Kuning

“Aku dapat memaksamu untuk berbicara “berkata

Risang kepada seorang yang dianggapnya salah

seorang dari mereka yang memiliki beberapa kesamaan

dan keseragaman dalam pertempuran yang telah terjadi

itu.

“Apapun yang terjadi, tetapi aku tidak dapat

mengatakan yang lain dari yang sudah aku katakan.

Aku adalah bagian dari Padepokan Watu Kuning. Jika

aku mempunyai kesamaan dengan sekelompok orang

dari padepokan yang sama, bukanlah itu wajar sekali?

Kami sejak mulai mengenal ilmu kanuragan sampai kami

menguasai dasar-dasar ilmu itu, berada dalam asuhan

orang-orang yang sama. Tentu ilmu yang mereka

turunkanpun sama pula bagi kami. Dan kesamaan itu

telah mewarnai sikap dan gerak kami dipertempuran.

“Kesamaan itu tidak pada dasar ilmu yang kalian

miliki. Tetapi sikap kalian di medan menghadapi keadaan

dan kebersamaan kalian dalam setiap benturan dengan

kelompok-kelompok pengawal Tanah Perdikan. —

berkata Risang pula.

“Hal seperti itulah yang memang ditanamkan oleh

padepokan kami. “jawab orang itu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Orang itu cagaknya

benar-benar tidak mau berbicara tentang dirinya

dan padepokannya. Namun Risangpun kemudian berkata —

Ki Sanak. Aku tidak tergesa-gesa. Kau dapat

tinggal disini sebagai tawanan untuk sebulan, dua bulan

atau bahkan setahun, sementara kawan-kawanmu akan

kami bawa ke Pajang. Selama kau berada ditempat mi,

aku masih mempunyai kesempatan untuk berbicara denganmu,

Mungkin sebagai seorang yang baru saling

mengenal. Mungkin sebagai seorang sahabat karerna kau

berada di Tanah Perdikan, tetapi juga mungkin sebagai

musuh bebuyutan karena kau sudah menyerang Tanah

Perdikan ini. Semua itu tergantung kepada sikapmu.

Apakah kau bersikap sebagai seorang tamu atau seorang

sahabat atau seorang musuh bebuyutan. Sehingga

dengan demikian maka perlakuanku atasmu tergantung

pada sikapmu itu. —

Orang itu tidak menjawab.Tetapi pada sorot matanya

nampak kecemasannya yang mencengkam. Ia memang

membayangkan, bahwa perlakuan yang paling kasar

dapat terjadi atasnya.

Tetapi hari itu Risang dan Kasadha memang tidak

berbuat apa-apa. Orang yang lain, yang kemudian dipanggil

oleh Risang, juga tidak mau berkata lebih luas

dari pada pengakuannya bahwa ia adalah salah seorang

cantrik dari Padepokan Watu Kuning.

Risang dan Kasadha justru lebih percaya kepada

orang yang mengaku cantrik dari Padepokan Watu Ku

ning itu. Ia masih muda dan pada wajahnya nampak

betapa ia menjadi ketakutan menghadapi Risang dan

Kasadha. Apalagi jika Risang atau Kasadha mulai.

membentaknya.

Namun kedua orang itupun kemudian telah dikembalikan

ke tempat tahanan mereka masing-masing. Beberapa

orang kawannya memang bertanya apa saja

yang telah mereka alami. Namun keduanya memang

belum mengalami perlakukan apa-apa.

Orang yang dianggap datang dari sebuah kelompok

diluar Padepokan Watu Kuning itu memang menjadi

sangat cemas. Ia mengeluh kenapa tiba-tiba saja dirinya

yang telah diambil oleh Kepala Tanah Perdikan Sembojan

itu.

“Aku akan dapat mengalami perlakukan yang

sangat buruk. Meskipun Kepala Tanah Perdikan itu belum

berbuat sesuatu sekarang, tetapi pada waktu mendatang,

entahlah. Wajahnya nampak keras dan barangkali

juga dapat berbuat kasar. Seorang lagi, yang wajahnya

mirip, juga nampak keras dan tegas. —

Tidak seorangpun diantara kawan-kawannya akan

dapat menolong orang itu. Yang dapat mereka lakukan

hanyalah berharap agar bukan mereka yang pada kesempatan

lain diambil oleh Kepala Tanah Perdikan

Sembojan untuk dimintai keterangan.

Dihari berikutnya, kehidupan di Tanah Perdikan

Sembojan mulai berjalan wajar kembali. Meskipun

orang-orang Tanah Perdikan masih saja berbicara tentang

pertempuran yang baru saja terjadi. Jika mereka

lewat didekat banjar padukuhan, maka merekapun selalu

berdesis “Masih banyak tawanan ada di banjar. —

Sebenarnyalah tawanan orang-orang Watu Kuning

itu ditempatkan dibanjar-banjar beberapa padukuhan.

Para pemimpin Tanah Perdikan itu sedang mempersiapkan

rencana bersama Kasadha untuk menghadap ke

Pajang.

Mereka harus segera melaporkan apa yang telah

terjadi di Tanah Perdikan Sembojan itu untuk mendapatkan

penanganan selanjutnya.

Namun dalam pada itu, sebelum Kasadha kembali

ke Pajang bersama Risang yang akan memberikan laporan

tentang peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan

Sembojan, maka Tanah Perdikan itu telah dikejutkan

oleh kehadiran seseorang yang disertai oleh tiga orang

pengiringnya. Seorang yang nampaknya bukan orang

kebanyakan.

Ketika diujung Tanah Perdikan orang itu bertemu

dengan para pengawal Tanah Perdikan yang masih selalu

siap berjaga-jaga, maka orang itu minta agar ia diantar

bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Dua diantara para pengawal itu telah mengantar

keempat orang itu langsung ke rumah Kepala Tanah

Perdikan Sembojan di padukuhan induk untuk bertemu

dengan Risang.

Sejenak kemudian, keempat orang itu sudah duduk

dipendapa ditemui oleh Risang, ibunya dan Kasadha.

Sebagai tuan rumah, setelah mengucapkan selamat

datang kepada tamu-tamunya, maka Risangpun kemudian

bertanya, siapakah mereka dan untuk apa mereka

datang ke Tanah Perdikan Sembojan, justru saat

Tanah Perdikan itu baru saja diguncang oleh pertempuran

yang telah menelan korban.

“Angger Risang “berkata tamunya “aku adalah

Tumenggung Puspalaga. Aku datang atas nama Panembahan

Mas di Madiun. Panembahan Mas telah

mendapat laporan, bahwa ada sekelompok prajurit Madiun

yang terlibat dalam pertempuran melawan para

pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Mereka bergabung

dalam pasukan Padepokan Watu Kuning yang dipimpin

oleh Ki Gede Watu Kuning itu sendiri. —

Dahi Risang berkerut. Kasadhapun bergeser setapak

sementara Nyi Wiradana mengangguk-angguk kecil.

Dengan nada rendah Risang itupun bertanya —

Jadi didalam pasukan Padepokan Watu Kuning itu terdapat

sekelompok prajurit Madiun?

“Ya. Prajurit Madiun dibawah pimpinan Ki Lurah

Mertapraja. Ki Lurah ternyata telah melanggar paugeran

sehingga ia telah mengambil langkah yang salah. Ia

tidak menghiraukan kedudukannya sebagai seorang prajurit

yang tidak boleh melakukan tindakan sendiri, apalagi

bertentangan dengan kebijaksanaan atasannya.

Nampaknya Ki Lurah Martapraja telah dihubungi langsung

oleh Ki Gede Watu Kuning. Mungkin dengan

janji-janji yang membuatnya kehilangan akal dan melakukan

tindakan yang tercela itu. Karena itu, maka

kami datang untuk melacak, apakah benar ada sekelompok

prajurit Madiun yang ikut bertempur dipihak

Padepokan Watu Kuning. —

Risang mengangguk-angguk kecil. Kepada Kasadha

ia berkata “Aku memang melihat sesuatu yang lain

dalam pasukan orang-orang Watu Kuning. —

“Ya “sahut Kasadha “aku juga melihat.

Kelompok-kelompok yang mungkin prajurit Madiun

yang telah melibatkan diri. —

Risang yang kemudian berpaling kepada ibunya

bertanya “Apakah ibu juga melihatnya? —

“Ya Risang. Aku juga melihatnya. “jawab ibunya.

“Angger Risang “berkata Ki Tumenggung Puspalaga

“jika diperkenankan, apakah aku dapat menemui

Ki Lurah Mertapraja? Jika ia tidak mengaku tentang

dirinya, maka aku akan dapat mengenalinya kecuali

jika ia sudah terbunuh dipeperangan. —

Risang termangu-mangu sejenak. Sambil memandangi

ibunya Risang itu bertanya “Bukankah kita tidak

berkeberatan? —

Ibunya menggeleng. Katanya “Tidak. Kita akan

mengantarkannya ketempat mereka kita tawan. —

Risang mengangguk-angguk. Sementara Ki Tumenggung

menahan senyumnya. Katanya didalam hati

“Kepala Tanah Perdikan ini masih terlalu muda. Agaknya

ada ketergantungan pada ibunya yang sudah

cukup lama memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan

ini. —

“Baiklah Ki Tumenggung “berkata Risang —

jika Ki Tumenggung ingin berbicara dengan orang yang

Ki Tumenggung maksudkan, biarlah kami mengantar Ki

Tumenggung. —

“Terima kasih ngger. Mudah-mudahan Ki Lurah

itu masih hidup sehingga kami dapat berbicara kepadanya

dan menuntut tanggung jawabnya. —

“Apakah Ki Tumenggung akan membawa orang

itu ke Madiun? “bertanya Kasadha yang agaknya merasa

berkeberatan jika ki Lurah itu akan diambil oleh

Ki Tumenggung, karena Ki Lurah itu akan dapat dibawanya

ke Pajang untuk memberikan bukti keterlibatan

Madiun. Meskipun mungkin diluar pengetahuan Panembahan

Mas.

Tetapi jawab Ki Tumenggung “Tidak. Sama sekali tidak. Aku tahu bahwa Ki Lurah Mertapraja itu

akan dibawa ke Pajang untuk dihadapkan kepada para

pemimpin di Pajang. Akupun tahu bahwa dengan demikian,

Ki Lurah telah mencemarkan nama Kangjeng

Adipati di Madiun. Tetapi biarlah ia dihadapkan pada

para pemimpin di Pajang untuk mendapatkan hukumannya.

Pajang tidak usah mempertimbangkan kemungkinan

Madiun akan melindunginya. Sama sekali

tidak. Kami serahkan segala sesuatunya kepada kebijaksanaan

para pemimpin di Pajang, karena Ki Lurah

Mertapraja telah melakukan kejahatan terhadap Tanah

Perdikan Sembojan yang berada didalam lingkungan

pemerintahan Pajang. —

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ternyata para

pemimpin di Madiun mempunyai pandangan yang

cukup luas sehingga mereka tidak berusaha melindungi

orang-orangnya yang bersalah.

Demikianlah, maka Risang dan Kasadhapun telah

bersiap untuk mengantarkan keempat orang yang datang

dari Madiun itu untuk menemui para tawanan.

Khususnya mereka yang dalam penglihatan Risang dan

Kasadha terdiri dari satu kelompok yang khusus. Sambi

Wulung dan Jati Wulung telah diajaknya serta untuk

menemani mereka.

Namun dalam pada itu, pada satu kesempatan Nyi

Wiradana sempat berbisik “Hati-hatilah. Nampaknya

mereka jujur dan berkata sebenarnya. Meskipun demikian,

dapat saja terjadi satu permainan diantara mereka.

Risang mengangguk sambil berdesis “Ya ibu. Kami

akan selalu menunggui apa saja yang mereka lakukan.

Demikianlah, maka Risangpun telah membawa Ki

Tumenggung Puspalaga ke sebuah padukuhan terdekat

dari tempat para tawanan ditempatkan. Bagaimanapun

juga Risang selalu memperhatikan pesan ibunya, sehingga Ki Tumenggung itu tidak langsung diajak ke

tempat orang-orang Watu Kuning itu ditawan.

Kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung Risang

memerintahkan untuk membawa dua orang diantara

mereka yang dianggap memiliki kekhususan diantara

pasukan Watu Kuning.

Beberapa saat lamanya Risang dan Kasadha berada

di banjar padukuhan itu bersama Ki Tumenggung Puspalaga

dan ketiga orang pengawalnya. Merekapun nampaknya

menyadari sikap hati-hati Kepala Tanah Perdikan

yang muda itu, sehingga mereka tidak memaksa

mereka untuk membawanya langsung menemui para tawanan.

Ketika kedua orang itu dibawa dan dihadapkan

kepada Ki Tumenggung Puspalaga, maka kedua orang

itu terkejut bukan buatan. Wajah mereka menjadi pucat.

Tiba-tiba saja mereka menunduk dalam-dalam.

Ki Tumenggung Puspalaga kemudian berkata kepada

salah seorang pengiringnya “Ki Lurah Samekta.

Lihat kedua orang itu dan berbicaralah dengan mereka.

“Baik Ki Tumenggung “jawab Ki Lurah Samekta

yang kemudian berpaling kepada Risang “aku

mohon ijin untuk berbicara dengan mereka berdua. —

“Silahkan. Silahkan Ki Lurah “jawab Risang.

Ki Lurah itupun kemudian bergeser mendekat, Diamatinya

kedua orang itu dari ujung kepalanya. Dengan

nada rendah ia bertanya “Ki Sanak. Siapakah

nama lurahmu? —

Pertanyaan itu begitu tiba-tiba. Ki Lurah Samekta

tidak bertanya nama mereka atau dari mana asal mereka,

atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan

dengan mereka berdua. Tetapi tiba-tiba saja Ki Lurah

Samekta itu bertanya siapakah pemimpin mereka.

Keduanya tidak sempat berpikir. Pertanyaan yang

tiba-tiba dan yang harus mereka jawab itu, telah menghentakkan

mereka untuk mengatakan apa yang sebenarnya.

Karena itu, maka hampir berbareng keduanya

menjawab “Ki Lurah Mertapraja. —

Ki Lurah Samekta mengangguk-angguk. Betapa

wajahnya menjadi tegang, namun nampaknya ia masih

menahan diri. Dengan geram ia bertanya “Kalian

mengenal kami?’—

Kedua orang itu ternyata terkejut mendengar jawaban

mereka sendiri. Dihadapan perwira yang berpakaian

resmi sebagai prajurit Madiun, maka kedua orang

itu rasa-rasanya tidak dapat berbicara lain daripada

yang sebenarnya.

Dengan suara gemetar maka kedua orang itu menjawab

bersamaan pula “Ya. —

“Jika kalian mengenal kami, siapakah kami berempat?

“desak Ki Lurah Samekta.

Seorang diantara keduanya menjawab sendat —

Kami mengenal Ki Tumenggung Puspalaga. Sebelumnya

kami belum mengenal Ki Lurah secara pribadi.

Tetapi kami tahu, bahwa Ki Lurah adalah Lurah prajurit

Madiun. —

“Bagus “jawab Ki Lurah Samekta “dimana

sekarang Ki Lurah Mertapraja. Apakah masih hidup

atau sudah mati dipeperangan yang baru saja terjadi?

Keduanya memang menjadi sangat ragu-ragu. Jika

saja yang bertanya bukan para prajurit Madiun, maka

ia akan dapat ingkar. Tetapi kepada para prajurit Madiun

itu sendiri, mereka tidak dapat berbuat banyak.

Seandainya mereka berdusta, maka keempat orang itu

tentu akan dapat menemukan Ki Lurah Mertapraja.

Karena itu, maka seorang diantara mereka menjawab

“Sepengetahuan kami Ki Lurah Mertapraja itu

telah terluka. Kami tidak tahu dimana Ki Lurah itu

dirawat atau bahkan dibunuh sama sekali oleh orangorang

Tanah Perdikan. —

“Aku yakin bahwa hal seperti itu tidak akan

terjadi di Tanah Perdikan Sembojan ini “berkata Ki

Lurah Samekta.

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi kepala

mereka menunduk dalam-dalam.

“Kami akan bertemu dan berbicara dengan Ki

Lurah Mertapraja yang telah melanggar paugeran prajurit

di Madiun. Yang dilakukan telah mencemarkan

nama baik Kadipaten Madiun. Kita, termasuk aku dan

kalian, memang merupakan bagian dari Madiun yang

nampaknya sedang diliputi persoalan dengan Pajang

dan Mataram. Tetapi persoalan-persoalan itu sedang diusahakan

untuk dapat dipecahkan dengan baik. Namun

tiba-tiba kalian telah melakukan tindakan yang bodoh

itu. “geram Ki Lurah Samekta.

Kedua orang prajurit itu menunduk semakin dalam.

Tetapi mereka sama sekali tidak menjawab.

Sementara itu Ki Lurah Samektapun kemudian telah

beringsut dan berbicara dengan Ki Tumenggung

Puspalaga. Katanya “Kita sebaiknya bertemu dan berbicara

dengan Ki Lurah Mertapraja. Biarlah kedua orang

itu berusaha mencarinya diantara para tawanan

yang tentu saja atas ijin Kepala Tanah Perdikan Sembojan

dan tentu diperlukan pengawalan. —

Ki Tumenggung Puspalaga itupun menganggukangguk

kecil. Kemudian katanya kepada Risang —

Ngger. Angger telah mendengar langsung pendapat Ki

Lurah Samekta. Apabila diijinkan, kami ingin bertemu

dengan Ki Lurah Mertapraja. Biarlah kedua orang itu

mencarinya diantara para tawanan. Keduanya tidak akan

berani ingkar karena kami ada disini. —

Risang mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah

Ki Tumenggung. Biarlah keduanya diantar untuk mencari

orang yang bernama Mertapraja karena kami tidak

mengenalnya. —

Sambi Wulung dan Jati Wulunglah yang telah ditugaskan

untuk mengantar kedua orang tawanan itu. Mereka harus menemukan Ki Lurah Mertapraja diantara para tawanan, termasuk yang terluka.

Ternyata kedua orang prajurit Madiun yang melibatkan

diri pada Padepokan Watu Kuning itu benarbenar

menjadi bingung. Keduanya merasa takut untuk

menolak perintah itu. Tetapi keduanya juga merasa sangat

cemas untuk menunjukkan orang yang bernama Ki

Lurah Mertapraja itu.

Diluar pengetahuan Sambi Wulung dan Jati Wulung

keduanya sempat berbicara diantara mereka. Dengan

berbisik seorang diantara mereka berkata “Kita

berusaha melarikan diri. Hanya dua orang yang mengawal

kita. Sementara kita juga berdua. —

“Mereka bersenjata “desis yang lain.

“Kita dahului mereka. “jawab kawannya.

“Kita tidak mengenal mereka, apakah mereka

memiliki kemampuan tinggi atau tidak. —

“Kita akan mencobanya. Jika kita terbunuh karenanya,

agaknya itu justru lebih baik, karena jika kita

berkhianat terhadap Ki Lurah, kitapun akan dibunuhnya

pula. Sementara jika kita menolak perintah Ki Tumenggung

Puspalaga, kita dapat dibunuhnya pula atau

lebih buruk dari kematian itu sendiri. —

Yang seorang lagi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi

agaknya itu adalah jalan yang terbaik bagi mereka.

Apalagi jika mereka kemudian sempat melarikan diri.

Karena itu, ketika mereka sampai ditengah-tengah

bulak panjang, maka keduanyapun segera mempersiapkan

diri. Mereka akan dengan tiba-tiba menyerang untuk

mendapat kesempatan lebih dahulu, sehingga membuat kedua orang yang mengawalnya itu kehilangan kesempatan untuk bertahan. Apalagi jika mereka berhasil menyerang tempat yang paling lemah dari kedua orang yang mengawalnya itu, sehingga pada serangan pertama keduanya kehilangan sebagian dari kekuatan dan kemampuan mereka karena kesakitan.

Demikian mereka sampai disebuah simpang empat ditengah-tengah bulak panjang, maka seorang diantara keduanyapun memberi isyarat. Dengan serta merta keduanya berhenti, berbalik dan langsung menyerang Sambi Wulung yang berjalan dibelakang mereka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang terkejut.

Keduanya tidak menyangka bahwa kedua orang tawanan itu dengan tiba-tiba menyerang mereka.

Namun kedua ,orang tawanan itu belum mengenai Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kedua tawanan itu kebetulan tidak berada dihadapan sayap yang dipimpin oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu. Keduanya menganggap bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak lebih dari pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang lain.

Tetapi ternyata bahwa perhitungan kedua tawanan itu salah. Sambi Wulung dan Jati Wulung bukannya orang kebanyakan. Mereka memiliki landasan ilmu yang tinggi. Karena itu, meskipun keduanya terkejut, tetapi keduanya tidak memerlukan waktu yang panjang untuk menghentikan perlawanan kedua orang tawanan itu. Dengan beberapa langkah saja, maka keduanya benar-benar telah dikuasai oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Seorang diantara kedua tawanan itu menyeringai menahan sakit karena lengannya terasa bagaikan patah. Ketika dengan serta-merta ia meloncat dan memukul kening Sambi Wulung, ternyata bahwa serangannya itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.

Sambi Wulung berhasil menangkap pergelangan tangan itu dan memilinnya sehingga orang itu mengaduh kesakitan.

Lengannya yang terpilin itu serasa telah dipatahkannya.

Sementara itu, seorang yang lain, yang meloncat menyerang dengan kakinya kearah dada Jati Wulung, telah kehilangan sasarannya ketika Jati Wulung dengan cepat bergeser kesamping. Demikian kaki itu terjulur tanpa menyentuh sasaran, maka dengan kuatnya Jati Wulung mengangkat kaki yang terjulur itu. Hentakkan itu telah merusak keseimbangannya sehingga orang itu terjatuh ditanah. Dengan cepat ia berusaha untuk bangkit, Namun Jati Wulung dengan cepat menangkap rambut dan dagu orang itu dari arah belakang dengan kedua tangannnya.

“Jika kau berusaha untuk melepaskan diri, aku patahkan lehermu “geram Jati Wulung.

Orang itu memang tidak berani bergerak. Ia merasa lehernya memang bagaikan patah. Tangan Jati Wulung terasa demikian kuatnya mencengkam kepalanya, seakan-akan jari-jarinya terbuat dari baja.

Karena keduanya tidak berusaha melawan lagi dan sudah tidak berdaya, maka Sambi Wulungpun bertanya “Nah, apakah yang kau kehendaki sekarang? Apakah kau merasa lebih baik mati daripada menunjukkan Lurah Mertapraja itu?

Orang yang terpilin lengannya itu menjawab diselasela desah kesakitan “Ampun. Aku tidak akan berbuat lagi. Aku minta ampun dan jangan patahkan tanganku.

“Kau ternyata terlalu licik. Rasa-rasanya sulit untuk mengampunimu. Kau setiap saat akan dapat berbuat licik lagi seperti ini. “geram Sambi Wulung.

“Tidak. Aku berjanji “jawab orang itu.

Tetapi Sambi Wulung menjawab “Mulutmu sama sekali tidak dapat dipercaya. Janjimu tidak berharga sama sekali.

Tetapi kali ini aku berkata sesungguhnya jawab orang itu.

“Ternyata kau sudah mempersulit dirimu sendiri.

Karena itu, maka setelah kau menunjukkan Ki Lurah Mertapraja, maka kau akan mendapat penanganan khusus.

Aku akan melaporkanmu kepada Ki Lurah Samekta dan Ki Tumenggung Puspalaga.

“Jangan. Jangan katakan kepada mereka. Prajurit Madiun memiliki paugeran yang sangat ketat. Mereka dapat bertindak lebih keras dari yang kau duga.

berkata orang yang dipilin tangannya itu.

Tetapi Sambi Wulung menjawab “Aku tetap tidak mempercayai mulutmu. Bagiku Ki Tumenggung Puspalaga adalah orang yang baik sebagai seorang prajurit.

“Tetapi tolong kami “orang itu hampir menangis.

Sambi Wulungpun kemudian mendorong orang itu sambil membentak “Cepat, kita akan mengambil Ki Lurah Mertapraja. Kau tidak akan dapat menipu. Seandainya dipadukuhan sebelah tidak ada Ki Tumenggung Puspalaga dan para pengiringnya, kau akan dapat menunjuk siapa saja diantara kalian dan menyebutnya sebagai Ki lurah Mertapraja. Tetapi para prajurit Madiun itu tentu sudah mengenal atau salah seorang dari mereka, tidak akan dapat dikelabui lagi.

Kedua orang tawanan itu tidak menjawab lagi. Ketika keduanya dilepaskan, maka keduanya memerlukan beberapa saat untuk mengatasi perasaan sakit mereka.

Namun Sambi Wulung kemudian membentaknya “Cepat. Para tamu itu sudah menunggu. Kita harus segera kembali dan membawa Ki lurah Mertapraja atau kalian berdua akan digantung dihalaman banjar untuk menjadi tontonan orang banyak.

Kedua orang tawanan itu tidak menjawab. Ternyata kedua orang yang mengawal mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi, sehingga dalam waktu sekejap kedua orang tawanan itu sudah menjadi tidak berdaya.

Sejenak kemudian, maka berempat mereka memasuki padukuhan landasan pasukan Tanah Perdikan itu ketika mereka bertempur melawan orang-orang Watu Kuning. Di padukuhan itu terdapat orang-orang Watu Kuning yang tertawan terbanyak dibandingkan dengan padukuhan-padukuhan yang lain.

Ditempat itu, kedua orang tawanan itupun telah dihadapkan kepada para tawanan yang dijaga dengan ketat oleh para pengawai Tanah Perdikan.

Tetapi kedua orang itu tidak segera menunjuk orang yang bernama Ki Lurah Mertapraja. Sambi Wulung, Jati Wulung dan beberapa orang pengawal yang berjaga-jaga ditempat itu menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Namun kedua orang itu kemudian justru menggeleng sambil berkata “Tidak ada disini.

“Kau berkata sebenarnya?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Aku berkata sebenarnya. “jawab orang itu.

“Baiklah. Kita akan melihat para tawanan di padukuhan lain. Jika di padukuhan lain kita juga tidak menemukannya, maka aku akan mempersilahkan salah seorang dari tamu-tamu itu untuk mencarinya sendiri.

Jika mereka kemudian menemukannya, itu artinya bencana bagi kalian berdua. “berkata Sambi Wulung.

Kedua orang itu tidak menjawab. Wajah mereka memang nampak tegang. Kecemasan membayang diwajah kedua orang itu. Namun agaknya mereka memang tidak menemukan Ki Lurah Mertapraja ditempat itu.

“Kita akan pergi ke padukuhan disebelah Selatan.

Jika Ki Lurah itu ada dipadukuhan sebelah Utara, kau tentu sudah melihatnya karena kau diambil dari sana. “berkata Jati Wulung kemudian.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tetapi keduanya sama sekali tidak berkata sesuatu.

Demikianlah maka kedua orang itupun kemudian telah dibawa ke padukuhan sebelah Selatan untuk mencari Ki Lurah Mertapraja yang akan dihadapkan kepada Ki Tumenggung Puspalaga yang berada dipadukuhan yang lain.

Dengan jantung yang berdebaran, kedua orang tawanan itu kemudian memasuki halaman banjar padukuhan disebelah Selatan yang juga dipergunakan untuk menawan beberapa orang yang tertangkap di pertempuran.

Diantara mereka memang terdapat orang-orang yang oleh Risang dan Kasadha diduga berasal dari sekelompok orang yang berbeda dengan orang-orang Watu Kuning yang lain.

JILID 52

KEDUA orang itu memang tidak dapat ingkar lagi. Dibanjar itu terdapat beberapa orang yang terluka,te­tapi tidak terlalu parah. Diantara merekaadalah KiLurah Mertapraja.

Tetapi kedua orang itu tidak beraniberkata berte­rus terang. Kepada Sambi Wulung danJatiWulung kedua orang itu hanya mengatakan darikejauhan, bah­wadiantara mereka memang terdapat Ki Lurah Mer­tapraja.

—            Tunjukkan kepada kami orang itu —berkataSambi Wulung.

—            Aku mohon, jangan katakan bahwa akulah yang telah menunjukkannya. —

—            Kau memang dungu. Kau kira orang itu belum melihat kalian berdua disini bersama kami? — bentak Jati Wulung — lihat para tawananyangsedang berada dipendapa itu memperhatikankita berempat. Setelahmereka akan dikembalikan kedalambilik-biliktertutup.Seandainya kami tidakmengatakan kepadamereka, na­mun merekapun akantahu juga bahwa tentu kalianberdualah yangtelah menunjukkan kepada kami —

—Keduaorangitu termangu-mangu. Namun akhir­nya merekamemangtidak dapat ingkar. Dengari cemaskeduanyatelah melangkah mendekati para tawanan yangsedangmakan dipendapa setelah mereka menda­pat pengobatan. Sedangkan yang tidak mengalamicidc­ra apapun agaknya masih tetap berada di bilik-bilik tertutup meskipun mereka juga sedang makan sebagai­mana yang berada di pendapa itu.

Namun kedua orang itu masih minta kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka nampak bertin­dak lebih keras kepada mereka berdua, sehingga kesan bahwa mereka terpaksa menunjukkan pemimpinnya itu dapat dilihat langsung oleh Ki Lurah Mertapraja.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang menjadi iba kepada kedua orang itu. Karena itu, maka Sambi Wulung telah mendorong salah seorang diantara kedua­nya sehingga benar-benar jatuh terjerembab. Wajahnya telah mencium tanah sehingga menjadi kotor oleh de­bu yang melekat.

— Tunjukkan kepadaku, yang manakah yang ber­nama Ki Lurah Mertapraja — bentak Sambi Wulung demikian orang itu bangkit. Sementara itu Jati Wulung-pun telah menarik baju tawanan yang lain sambil mem­bentak — Katakan, atau kepalamu akan membentur tiang pendapa itu. —

Kedua orang, itupun memandang salah seorang yang terluka yang duduk diantara beberapa orang yang lain.

Tetapi ketika orang itu memandangnya juga dengan sorot mata yang bagaikan api, maka kedua orang itupun justru menundukkan kepalanya.

Tetapi Sambi Wulungpun berkata dengan lantang — Cepat, tunjukkan kepadaku, siapakah yang bernama Ki Lurah Mertapraja.

Kedua orang itu masih saja ragu-ragu. Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung menekan mereka, maka kedua­nya menjadi semakin kebingungan.

Namun sebenarnyalah bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung telah dapat menduga arah tatapan mata kedua orang itu. Merekapun melihat diantara orang-orang yang terluka itu seorang yang memiliki wibawa yang lain dari kawan-kawannya. Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun bahkan menjadi yakin, bahwa orang itu­lah Ki Lurah Mertapraja.

Meskipun demikian Sambi Wulung itupun berkata — Baik. Jika kalian berdua atau orang lain di tempat ini tidak ada yang mau menunjukkan, siapakah yang bernama Ki Lurah Mertapraja, maka aku akan memaksa kalian se­orang demi seorang. Bukan hanya kalian berdua, tetapi semua orang. —

Kedua orang tawanan itu memang menjadi berdebar-debar. Jika mereka tidak mau menunjuk salah seorang di­antara mereka, maka mereka tentu akan mengalami perla­kuan yang kasar. Kedua orang yang membawa mereka tentu tidak akan hanya sekedar pura-pura. Tetapi kedua­nya tentu benar-benar akan menyakiti mereka, jauh lebih sakit dari orang-orang yang terluka itu.

Dalam pada itu, para pengawal yang menjaga para ta­wanan itupun menjadi tegang pula. Mereka menunggu, siapakah diantara para tawanan itu yang bernama Ki Lu­rah Mertapraja yang sedang dicari itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang mulai men­jadi kehilangan kesabaran. Meskipun mereka sudah dapat menduga, siapakah orang yang bernama Mertapraja itu, namun kekerasan hati kedua tawanan itu telah menying­gung harga diri mereka.

Karena itu, kepada dua orang pengawal di banjar itu ia berkata — Ikat kedua orang ini pada pohon dihalaman itu. Mereka harus mengatakan, siapakah yang bernama Mertapraja itu. —

Kedua orang itu tidak dapat melawan ketika para pengawal itu mengikat mereka pada dua batang pohon di halaman. Dengan lantang Sambi Wulung berkata — Nah, sebelum aku menemukan orang yang .bernama Merta­praja, maka aku tidak akan berhenti berusaha dengan caraku. —

Orang-orang yang berada di banjar itu menjadi te­gang. Bukan saja para tawanan, tetapi juga para pengawal. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Lebih-lebih lagi kedua orang yang dibawa oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu.

Dalam pada itu, maka Sambi Wulung itupun berkata kepada salah seorang pengawal — Tolong, carikan cam­buk. Kalau tidak ada cambuk, ambil rotan dan kalau tidak ada rotan, potong sebatang carang bambu ori atau bambu ampel. —

Keringat mengalir membasahi tubuh kedua orang yang terikat itu. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung berdiri dihadapan mereka dengan wajah yang mulai menunjukkan ketidak-sabaran mereka. Sambil ber­tolak pinggang Sambi Wulung berteriak—He,apakah kalian masih tidak mau mengatakan, siapakah yang ber­nama Mertapraja itu? Lurah Mertapraja? —

Kedua orang yang terikat itu benar-benar merasa ter­siksa. Mereka tidak segera dapat memilih, langkah yang manakah yang akan mereka ambil. Seakan-akan semua jalan yang akan ditempuhnya akan dapat mencelakainya.

Dalam pada itu, seorang pengawal telah datang dengan membawa sepotong carang bambu. Bukan bambu ori atau ampel, tetapi bambu wulung.

—          Hanya ada bambu wulung di belakang banjar — berkata pengawal itu.

—          Bagus — jawab Sambi Wulung — carang ini adalah pembunuh ular yang paling baik. —

—          Nah, apakah kalian masih tidak mau mengatakan­nya? — bentak Jati Wulung.

Kedua orang yang terikat itu masih diam saja. Tiba-tiba saja Sambi Wulung melangkah mendekati para tawanan itu sambil berkata — Nah, salah seorang dari kalian harus dapat memaksa kedua orang itu untuk berbicara. —

Para tawanan itu justru menjadi semakin tegang. Se­jenak Sambi Wulung mengamati orang-orang yang terta­wan itu. Baru kemudian ia menunjuk kepada seorang di­antara mereka sambil berkata — Nah, kau. Pergunakan carang pring wulung ini untuk memaksa kawanmu itu ber­bicara. Biarlah mereka menunjukkan siapakah orang yang bernama Lurah Mertapraja. —

Orang yang ditunjuk itupun menjadi sangat terkejut. Bahkan kemudian menjadi gelisah sekali. Orang itulah yang diduga oleh Sambi Wulung bernama Ki Lurah Merta­praja.

— Cepat — bentak Sambi Wulung — atau aku harus menyeretmu dan mengikatmu pada sebatang pohon yang lain? Apakah aku harus mencambukmu dan memaksamu menunjukkan siapakah Ki Lurah Mertapraja yang bersem­bunyi diantara anak buahnya? Aku berharap bahwa orang yang bernama Mertapraja itu bersikap jantan. Sebelum orang-orangnya menjadi debu dan ndeg pangamun-amun, sebaiknya ia menyatakan dirinya. —

Orang yang diduga Ki Lurah Mertapraja itu meman­dang dengan sorot mata yang menyala. Tetapi ia tidak da­pat berbuat apa-apa. Ia memang berusaha untuk tetap ber­sembunyi diantara anak buahnya untuk tidak dapat dike­nali. Ia menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab atas langkah yang diambilnya, membawa anak buahnya meli­batkan diri menyerang Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Sambi Wulungpun membentaknya lagi — Cepat kau tikus kecil. Paksa kawanmu mengatakan siapakah Ki Lurah Mertapraja, atau kau sendiri yang ha­rus dipaksa untuk berbicara dengan cara yang lebih keras.

Orang itupun kemudian telah bangkit dan melangkah mendekati Sambi Wulung. Meskipun orang itu terluka, te­tapi lukanya memang tidak terlalu parah.

Sambi Wulungpun kemudian telah memberikan carang pring wulung kepada orang itu. Katanya — Paksa orang itu menyebut seorang diantara kalian, siapakah yang bernama Ki Lurah Mertapraja. Seorang prajurit Ma­diun yang harus bertanggung jawab terhadap tingkah la­kunya yang keluar dari paugeran yang berlaku di Madiun. Jika kau tidak berhasil, maka kau akan mengalami nasib yang sama. Orang lain akan memukulmu sampai kau ber­bicara. Jika kau sampai mati tidak mau berbicara, biarlah orang lain itu akan menjadi sasaran pertanyaan. Jika kalian semua habis mati dipukuli carang pring wulung, maka justru kami akan terbebas dari kewajiban menyerah­kan Ki Lurah Mertapraja. —

Kata-kata Sambi Wulung memang cukup berpenga­ruh. Orang yang disangka Ki Lurah Mertapraja itu memang menjadi semakin gelisah.

— Cepat, lakukan sebelum aku mengambil sikap yang lain. — geram Sambi Wulung.

Selangkah demi selangkah orang itu mendekati salah . seorang yang terikat. Sementara Jati Wulung yang menungguinya membentaknya lagi — Cepat. Katakan kepadanya agar ia mulai menunjuk atau kau cambuk orang itu. —

Orang itu melangkah semakin mendekati salah seo­rang diantara mereka yang terikat. Dengan nada berat ia berkata — Tunjukkan, dimana Ki Lurah Mertapraja. —

Orang yang terikat itu menjadi semakin bingung. Se­mentara itu Jati Wulung berkata — Cambuk orang itu. Cambuk, cepat, sebelum kau sendiri yang akan terikat. —

Orang itu memang tidak dapat berbuat lain. lapun mulai menyentuh orang yang terikat itu dengan carang pring wulungnya. Tetapi tidak terlalu keras. Sekali lagi orang itu berkata — Cepat, tunjukkan, dimana Ki Lurah Mertapraja itu. Ia berada diantara kalian. —

Orang yang terikat itu masih berdiam diri, sementara orang yang membawa pring wulung itu justru semakin mendekat sambil membentak — Katakan sebelum aku sen­diri mengalami perlakuan buruk seperti yang kau alami. —

Tetapi ketika orang itu menjadi semakin dekat dan bahkan menggenggam rambutnya, iapun berbisik — jika kau sebut juga, kau akan mati. —

Orang itu memang semakin ketakutan dan kebi­ngungan. Namun dalam pada itu Jati Wulung berkata — Kau sudah memegang cambuk, kau tidak perlu menarik rambutnya. Mundur. —

Orang itu memang melangkah mundur. Tetapi perin­tah-perintah dan bentakan-bentakan itu sangat menya­kitkan hatinya.

Namun ia terpaksa sekali lagi mencambuk orang yang terikat itu. Justru semakin sakit. Tetapi masih belum melampaui daya tahannya, sehingga karena itu, maka ia masih menahan keluhannya.

Tetapi Jati Wulung nampak tidak sabar lagi. Katanya — itukah caramu memaksa seseorang untuk berbicara? Atau aku harus menunjukkan cara yang lain? —

Orang itu memandang Jati Wulung dengan penuh kebencian. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain.

Orang yang memegang carang pring wulung itu sen­diri menmang bingung. Jika ia memukul semakin keras, melampaui daya tahan orang yang terikat itu, mungkin orang itu justru akan mengatakan siapakah Ki Lurah Mertapraja. Tetapi jika ia tidak melakukannya, maka ia sendirilah yang akan mengalaminya.

Memang timbul niatnya untuk membunuh saja orang yang terikat itu. Ia tentu akan mampu melakukan dalam waktu yang pendek. Ia dapat memukul leher orang itu dengan ujung-ujung jari tangannya yang terbuka merapat langsung membunuhnya. Tetapi jika demikian maka orang yang satu lagi, yang juga terikat, akan segera mengatakan, siapakah orang yang bernama Mertapraja itu.

Selagi orang itu kebingungan, maka Jati Wulung telah membentaknya sambil menendang pantatnya — Cepat. —

Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Orang itu tidak memukul orang yang terikat itu dengan carang pring wulungnya, Tetapi tiba-tiba saja ia berbalik menyerang Jati Wulung dengan carang itu kearah matanya sambil ber­teriak —he,bangkit semua dari mimpi burukmu. Penga­wal yang bertugas tidak cukup banyak untuk menahan kita. —

Sikap orans itu memang mengejutkan. Carang pring wulung itu memang hampir saja mengenai sasarannya. Jika carang pring wulung itu melukai mata Jati Wulung, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melawan orang yang disangkanya Ki Lurah Mertapraja.

Tetapi Jati Wulung bukan sekedar pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka ketika ia melihat gerak yang mencurigakan, iapun dengan cepat telah ber­geser selangkah. Ketika carang pring wulung itu terjulur kematanya, maka Jati Wulung sempat mengelak dengan memiringkan kepalanya sambil merendah.

Namun perintah orang itu ternyata mampu mengge­rakkan orang-orang yang ditawan di banjar itu.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang sedang ditawan di banjar itu bangkit, Beberapa orang dengan sigapnya berlari kebilik kawan-kawan mereka ditawan. Mereka berniat untuk melepaskan kawan-kawan mereka dan bersama-sama melawan para pengawal yang jumlah­nya memang tidak terlalu banyak.

Meskipun orang-orang yang ada diluar bilik tertutup itu adalah mereka yang terluka, namun mereka masih juga mampu bergerak cepat. Dua orang dengan serta merta telah menyerang dua orang pengawal yang tidak siap menghadapi keadaan yang berkembang sangat cepat itu. Karena itu, maka kedua orang itu tidak sempat memberi­kan perlawanan. Bahkan senjata-senjata mereka dengan cepat pula telah jatuh ketangan para tawanan.

Untunglah bahwa pengawal yang lain sempat melin­dungi mereka, sehingga kedua orang itu tidak sempat ter­tikam senjata mereka sendiri.

Tetapi dalam waktu yang pendek, maka pengawalpun telah bergeser dari tempat mereka dan segera menempat­kan diri ditempat-tempat yang rawan. Beberapa orang yang terkejut berusaha menahan mereka yang berusaha menahan mereka yang berusaha membuka pintu bilik ter­tutup.

Tetapi gerakan yang tiba-tiba itu benar-benar menge­jutkan. Beberapa orang tawanan yang berada dipendapa telah mendesak dua orang penjaga dipintu bilik tertutup itu. Sementara yang lain telah berusaha membuka selarak pintu bilik tertutup itu.

Ketika beberapa orang pengawal berlari-lari kepintu bilik tertutup maka mereka telah terlambat. Bilik itu telah terbuka. Beberapa orang telah menghambur keluar. Se­mentara seorang diantara mereka yang membuka selarak pintu itu berteriak — Atas nama Ki Lurah Mertapraja yang telah memerintahkan kita semua untuk bangkit dan melawan. —

Banjar itu memang menjadi kisruh. Sementara itu, Jati Wulung yang berhasil menghindari serangan carang pring wulung kearah matanya, telah bertempur melawan Ki Lurah Mertapraja dengan kemarahan yang membakar jantung.

Disaat Jati Wulung dengan marah bertempur me­lawan Ki Lurah Mertapraja, maka Sambi Wulung justru meninggalkannya. Dengan lantang Sambi Wulung ber­teriak —He,para prajurit Madiun yang tertawan. Jangan menjadi gila. Menyerahlah. Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta dari Madiun telah berada disini. Kami sedang membicarakan persoalan yang menyangkut kalian. Karena itu, jangan membuat persoalan menjadi keruh karena tingkah Ki Lurah Mertapraja. Ki Lurah Mertapraja agaknya menjadi putus asa karena ia bertang­gung jawab atas kesalahan yang telah dilakukannya, menyeret kalian dalam tindakan yang tidak terpuji. Baik sebagai prajurit maupun sebagai kawula Panembahan Mas di Madiun. Karena itu, jangan membuat kesulitan kalian menjadi berlipat ganda. —

Namun dalam pada itu, Ki Lurah Mertapraja telah menyahut tidak kalah lantangnya — jangan dengarkan kata-kata orang yang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Satu kesempatan bagi kita untuk membebaskan diri. Kita adalah prajurit-prajurit pilihan yang hanya men­genal kemenangan disetiap perjuangan. Hancurkan para pengawal dan kita akan segera kembali ke Madiun. Penga­wal yang menjaga kita hari ini tidak terlalu banyak. —

Sambi Wulung masih berusaha untuk menenangkan keadaan. Katanya — Masih ada kesempatan untuk menye­rah. —

Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya. Karena itu, maka Sambi Wulungpun berteriak kepada para pengawal — Lakukan tugas kalian dengan baik. Tetapi kalian bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. —

Para pengawal itupun segera meningkatkan tekanan mereka. Senjata para pengawal itupun segera berputaran. Meskipun demikian para penjaga itu masih tetap menge­kang diri agar tidak terlalu banyak terjadi korban.

Meskipun demikian, maka korban memang tidak dapat dihindari. Betapa lembutnya hati seseorang. Namun sikap para tawanan itu benar-benar menyakitkan hati para pengawal. Karena itu, maka ada satu dua diantara para tawanan itu telah memungut apa saja yang dapat mereka pergunakan sebagai senjata. Bahkan potongan kayu, bam­bu dan batu.

Dalam pada itu, maka Jati Wulung yang marah telah menyerang Ki Lurah Mertapraya dengan segenap ke­mampuannya. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka Jati Wulung mempunyai banyak kesempatan untuk menguasai keadaan. Meskipun demikian, Ki Lurah Merta­praja bukannya orang yang tidak berdaya sama sekali. Ia-pun dengan garangnya telah melakukan perlawanan ter­hadap Jati Wulung.

Bahkan ternyata bahwa Ki Lurah Mertapraja memang seorang yang memiliki bekal yang memadai bagi seorang lurah prajurit Madiun.

Dalam pada itu, pertempuranpun telah berlangsung diseluruh halaman banjar. Bahkan dihalaman samping dan di longkangan. Para tawanan yang telah keluar dari dalam biliknya, berusaha muntuk menyusup kemana saja. Mereka berusaha untuk merunduk para pengawal dan menyerang dari belakang. Bahkan ada diantara mereka yang berlari memasuki ruang dalam banjar dan berusaha keluar dari butulan.

Suasana memang menjadi kisruh. Tetapi para penga­wal sudah menempatkan dirinya dengan baik. Mereka memang lebih memahami lingkungan banjar padukuhan mereka daripada para tawanan.

Para tawanan yang masih berusaha mengekang diri itu semakin lama terasa semakin panas pula. Apalagi ke­tika ada diantara para pengawal itu yang mulai terluka.

Sementara itu, Ki Lurah Mertapraja masih saja bertempur melawan Jati Wulung. Selain Ki Lurah me­mang sudah terluka, sebenarnyalah bahwa sulit baginya untuk mengimbangi kemampuan Jati Wulung. Apalagi Jati Wulung yang sedang marah itu.

Karena itu, dalam waktu yang terhitung tidak terlalu lama Ki Lurah itu sudah menjadi semakin terdesak.

Tetapi agaknya Ki Lurah itu sama sekali tidak mau menyerah untuk kedua kalinya. Ia berusaha untuk bertem­pursampai tarikan nafasnya yang terakhir.

Namun Jati Wulung sudah memperhitungkan dengan baik, bahwa Ki Lurah Mertapraja harus tertangkap hidup-hidup. Justru dengan kelebihan yang dimiliki oleh Jati Wulung, maka ia merasa yakin bahwa ia akan dapat me­nangkap Ki Lurah itu hidup-hidup.

Sambi Wulung yang bertempur diantara para penga­wal dengan cepat telah melumpuhkan para tawanan. Tan­pa senjata ditangan beberapa orangpun telah jatuh pingsan tersentuh serangan-serangan yang keras. Apalagi sebagian besar para tawanan itupun juga tidak bersenjata.

Dengan demikian, maka perlawanan para tawanan yang seperti meledak itu, dalam waktu yang terhitung sing­kat telah dapat dikuasai. Seorang pengawal yang hampir saja membunyikan tanda dengan memukul kentongan telah sempat dicegah oleh Sambi Wulung.

— Seluruh Tanah Perdikan akan dapat menjadi gem­par _ desis Sambi Wulung — kita akan mengatasi per­soalan di banjar ini. —

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian, perlawanan para tawanan itu sudah dapat dikuasai. Mereka telah digi­ring kembali memasuki bilik-bilik tertutup. Namun dengan demikian, korban benar-benar tidak dapat dihin­dari. Tiga orang pengawal terluka parah. Beberapa orang terluka ringan. Beberapa butir batu mengenai kepala para pengawal yang untung memakai ikat kepala. Tetapi dua orang pengawal pelipisnya berdarah terkena lemparan batu yang tajam.

Ki Lurah Mertapraja memang tidak dapat bertahan lebih lama. Meskipun ia sama sekali tidak ingin menyerah, tetapi serangan-serangan Jati Wulung tanpa memper­gunakan senjata, telah membuat nafasnya menjadi sesak. Kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang-kunang. Meskipun ia berusaha untuk tetap sadar dan memberikan perlawanan, namun sentuhan tangan Jati

Wulung membuat tubuhnya menjadi sangat kesakitan. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak dan sendi-sendinya bagaikan terlepas.

Akhirnya, Ki Lurah benar-benar kehilangan kendali atas kesadarannya. Ketika ia kemudian menjadi pingsan, maka kedua tangannyapun segera diikat dibelakang tubuhnya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi termangu-mangu sejenak melihat akibat dari gejolak yang telah ter­jadi sesaat itu. Namun merekapun kemudian melangkah mendekati kedua orang yang telah diikat pada batang pohon di halaman.

— Lihat Ki Sanak — berkata Sambi Wulung — yang terjadi itu adalah akibat dari keragu-raguanmu. Mungkin karena kebodohanmu, tetapi juga mungkin karena kau pengecut. Jika kau berani menyebut siapakah Ki Lurah , Mertapraja, maka tidak akan jatuh korban seperti ini. —

Kedua orang itu hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu Sambi Wulung berkata selanjutnya — Kau lihat, apa yang terjadi. Tiga orang pengawal terluka cukup parah. Beberapa yang lain terluka lebih ringan. — Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu — Kau tahu berapa orang kawanmu yang terbunuh dalam gejolak yang tidak terlalu lama ini? Ampat orang. Ada pula yang terluka parah dan luka-luka yang ringan. Kau tahu bahwa dihari terakhir kami sedang berusaha menyembuhkan kawan-kawanmu yang luka. Pada hari ini, justru yang tidak terluka harus dilukai. Semua itu adalah tanggung jawabmu. Kesalahan itu dibebankan kepadamu. —

Kedua orang itu masih saja menunduk, sementara tubuhnya masih terikat pada batang pohon dihalaman banjar. Ketika beberapa orang pengawal mendekati, maka Sambi Wulungpun berkata — Kita akan membawa Ki Lurah Mertapraja. —

Tetapi mereka masih harus menunggu Ki Lurah itu sadar dari pingsannya.

—            Kenapa kalian tidak membunuh aku saja? — geram Ki Lurah demikian ia menjadi sadar.

—            Kami memerlukan kau hidup-hidup. Ki Tumeng­gung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta ingin berbicara denganmu. Jika kemudian kau akan dibunuh oleh mereka, itu bukan persoalanku lagi. —

Ki Lurah yang baru sadar dari pingsannya itu meng­geram. Tetapi tangannya sudah terikat dibelakang tubuh­nya. Dua orang pengawal bersenjata telanjang menja­ganya dengan penuh kewaspadaan.

—          Satu tindakan bodoh — geram Jati Wulung — karena tingkahmu maka beberapa orang anak buahmu mati terbunuh. Yang lain terluka dan yang tersisa akan mengalami perlakuan yang kasar dan keras dari para pengawal yang marah dan kecewa atas sikapmu dan srkap orang-orangmu. —

—          Persetan dengan para pengecut itu — sahut Ki Lu­rah.

—          Kau tentu akan berkata seperti itu untuk menutupi kegagalanmu. Jika seorang pemimpin prajurit gagal di-peperangan, ia tidak akan dapat membebankan kesalahan atas kegagalan itu kepada anak buahnya. — berkata Jati Wulung kemudian.

—     Kau bukan seorang prajurit. Kau tidak perlu mengajari aku. Aku seorang Lurah prajurit tentu lebih tahu tentang keprajuritan dari petani-petani dungu di Tanah Perdikan ini. —

Ternyata Jati Wulung tidak dapat menahan kemarah­annya. Dengan telapak tangannya ia menampar wajah Ki Lurah Mertapraja dengan kerasnya, sehingga mulut Ki Lurah itu berdarah.

Ki Lurah itu mengumpat kasar. Katanya — Kau dapat berbuat demikian karena kedua tanganku terikat. —

—          Lepaskan ikatan itu — teriak Jati Wulung yang marah.

—      Sudah cukup — Sambi Wulunglah yang menyahut — Ki Lurah Mertapraja sedang membunuh diri. Biarlah hal itu dilakukan nanti dihadapan Ki Tumenggung Puspa-laga dan Ki Lurah Samekta. —

Jati Wulung menggeram. Tetapi ia memang mem­batalkan niatnya untuk melepaskan tali ikatan tangan Ki Lurah Mertapraja.

Demikianlah, sejenak kemudian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itupun telah membawa Ki Lurah Merta­praja menuju ke padukuhan tempat Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Sameksa menunggu bersama Risang dan Kasadha.

Diperjalanan ikatan tangan Ki Lurah Mertapraja memang dilepaskan. Tetapi disebelahnya berjalan Jati Wulung dan Sambi Wulung. Sementara itu dibelakang me­reka berjalan dua orang pengawal dari banjar tempat Ki Lurah Mertapraja ditawan.

Betapapun kerasnya hati Ki Lurah Mertapraja, na­mun ketika ia melangkah mendekati banjar padukuhan tempat Ki Tumenggung Puspalaga menunggu, terasa jantungnya bergetar semakin cepat. Keringat telah mem­basahi seluruh tubuhnya. Bukan karena perjalanannya. Tetapi ia benar-benar menjadi gelisah.

Tetapi Ki Lurah Mertapraja juga tidak dapat beru­saha melarikan diri. Ia tahu benar bahwa kedua orang yang berjalan disebelah-menyebelahnya adalah orang ber­ilmu tinggi. Apalagi Jati Wulung yang marah itu telah mengancamnya — Jika kau berusaha untuk membunuh diri diperjalanan dengan cara apapun juga, maka kau akan diikat lagi. Bahkan kau akan digiring seperti meng­giring seekor sapi jantan liar dan dungu. —

Ki Lurah Mertapraja tidak menjawab. Tetapi ia menyadari, bahwa orang yang marah-marah dan berilmu tinggi itu darahnya lebih panas dari seorang yang lain yang berjalan disebelah. Jika ia berbuat sesuatu, mungkin orang itu benar-benar akan menghinakannya dihadapan Ki Tumenggung Puspalaga.

Karena itu, maka Ki Lurah Mertapraja itu berjalan saja sebagaimana diperintahkan oleh Jati Wulung.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, Ki Lurah Mertapraja itu sudah duduk dipendapa banjar padukuhan menghadap Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta. Kepalanya menunduk dalam-dalam, sementara keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya. Ia tidak merasakan lagi luka-lukanya yang pedih. Bahkan wa­jahnya yang menjadi lembab oleh tangan Jati Wulung ketika mereka bertempur.

—    Apa kabar Ki Lurah Mertapraja? — bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

Sapa yang kedengarannya cukup ramah itu ternyata membuat jantung Ki Lurah Mertapraja berdegup semakin deras.

Perlahan-lahan kepala Ki Lurah Mertapraja itu terangguk dalam. Katanya — Kami telah terseret arus sam­pai ke Tanah Pe’rdikan ini Ki Tumenggung. —

—    Ya. Aku sudah mendengar laporan tentang ke­giatanmu disini. Demikian kami mendapat laporan, maka kami segera mengambil langkah-langkah yang perlu. Te­tapi kami terlambat. Kau sudah berangkat ke Tanah Per-dikan Sembojan. Ketika aku menyusul kemari, nah, inilah yang aku temui. —- berkata Ki Tumenggung Puspalaga.

Wajah Ki Tumenggung Puspalaga menjadi merah. Sementara itu Ki Lurah Samekta berkata — Kenapa hal ini kau lakukan adi? —

Ki Lurah Mertapraja memandang Ki Lurah Samekta dengan wajah yang tegang. Namun Ki Lurah Samekta itupun berkata — Sekarang aku mengemban tugas sebagai seorang prajurit Madiun, Kau tidak. —

Ki Lurah Mertapraja menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya.

Ki Tumenggung Puspalaga itupun kemudian berkata kepada Risang dan Kasadha — Kami mohon waktu untuk berbicara dengan orang ini ngger. Kami sama sekali tidak berniat membawanya ke Madiun. Karena mereka mela­kukan kesalahan disini, maka segala sesuatunya kami serahkan kepada angger. —

—           Silahkan Ki Tumenggung — jawab Risang sambil mengangguk.

—           Terima kasih ngger — berkata Ki Tumenggung kemudian. Lalu katanya kepada Ki Lurah Mertapraja — Ki Lurah, aku minta kau bersedia menjawab pertanyaan— pertanyaanku dengan jujur. Kami ingin tahu apakah yang telah mendorongmu melakukan semua itu. Karena sebe­narnyalah Kangjeng Panembahan tentu merasa malu sekali bahwa sekelompok prajuritnya telah ikut melibat­kan diri kedalam laku kejahatan sebagaimana dilakukan oleh Padepokan Watu Kuning. Kamipun harus mendapat penjelasan agar para pemimpin di Tanah Perdikan ini tidak menjadi salah paham terhadap Madiun. Seakan-akan Madiun berdiri dibelakang tingkah-laku orang-orang Padepokan Watu Kuning. Sementara itu orang-orang Padepokan Waku Kuning dengan cerdik memanfaatkan perselisihan yang terjadi antarajMadiundan-Mataramlter-masuk Pajang. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan akan dapat menyangka bahwa Madiun telah melakukan satu perbuatan yang licik untuk menguasai Sembojan yang subur sehingga akaa dapat menjadi sumber bahan makan bagi Madiun jika terjadi perang yang panjang. —

Ki Lurah Mertapraja tidak segera menjawab. Namun

kepalanya justru menjadi semakin menunduk.

—    Ki Lurah Mertapraja — suara Ki Tumenggung menjadi semakin keras — aku ingin mendengar jawabmu. Atau aku harus memaksamu menjawab? Meskipun aku berada di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi aku tidak akan segan melakukannya jika kau memang menghendaki aku berbuat demikian. —

—          Ampun Ki Tumenggung — jawab Ki Lurah Merta­praja — kami telah menjadi silau oleh janji-janji Ki Gede Watu Kuning. —

—          Aku ingin bertemu dan berbicara dengan Ki Gede Watu Kuning — berkata Ki Tumenggung kemudian — tentu saja jika angger Risang mengijinkan. —

—          Maaf Ki Tumenggung — sahut Risang — Ki Gede Watu Kuning telah terbunuh dipertempuran yang terjadi antara pasukan Watu Kuning dan Tanah Perdikan Sem­bojan. —

—          O — Ki Tumenggung mengangguk-angguk — jadi Ki Gede sudah terbunuh? —

—              Ya Ki Tumenggung, kami tidak mempunyai pilihan lain. Tidak seorangpun yang akan mampu menangkapnya hidup-hidup. Namun kami berhasil mem­bunuhnya di peperangan. —

—              Ki Gede memang seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi betapapun tingginya, namun akhirnya ada pula yang lebih tinggi — berkata Ki Tumenggung Puspa­laga — sebenarnyalah kami orang-orang Madiun memang agak segan kepadanya. —

Risang menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga terbersit kebanggaannya atas ibunya didalam hatinya. Jika Ki Gede Watu Kuning itu termasuk orang yang dise­gani di Madiun, maka ibunya tentu akan diperhitungkan pula karena ibunya telah mampu mengatasi kemampuan Ki Gede Watu Kuning.

Risang justru termangu-mangu sejenak ketika Ki Tumenggung Puspalaga itu bertanya — Siapakah yang te­lah berhasil membunuh Ki Gede Watu Kuning? —

Risang memang merasa segan untuk mengatakan bahwa ibunyalah yang telah melakukannya. Meskipun memang demikian yang terjadi, tetapi orang lain akan dapat menduga bahwa ia telah berceritera dengan bangga dan sudah tentu merupakan salah satu kesombongan karena ibunya telah mengalahkan orang yang disegani di Madiun.

Karena Risang tidak segera menjawab, maka Kasa-dhalah yang menjawab — Yang mengalahkan Ki Gede Watu Kuning adalah Nyi Wiradana, yang pernah menjadi pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. —

—          Seorang perempuan? — bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

—          Ya — jawab Kasadha — ibu Risang yang sekarang menjadi Kepala Tanah Perdikan ini.

—          O — Ki Tumenggung mengangguk-angguk — bukan main. Meskipun seorang perempuan, namun ter­nyata bahwa ilmunya sangat tinggi. —

Diluar dugaan Risang menyahut — Ada dua orang perempuan di Tanah Perdikan ini yang memiliki ilmu yang tinggi. Seorang adalah ibuku yang telah membunuh Ki Gede Watu Kuning karena ibu tidak mempunyai kesem­patan untuk menangkapnya hidup-hidup, sedang seorang perempuan yang lain adalah adiknya, ibu Kasadha. —

—   Bukan main — desis Ki Tumenggung Puspalaga — tentu sangat mengagumkan. Di Madiun yang lebih besar dari Tanah Perdikan ini hanya ada seorang perempuan yang memiliki kemampuan seorang prajurit. Itupun belum setataran dengan Ki Gede Watu Kuning. — berkata Ki Tu­menggung Puspalaga.

—   Apakah ia seorang Senapati? — bertanya Kasadha.

—   Anak perempuan Kangjeng Adipati di Madiun. — jawab Ki Tumenggung Puspalaga.

Kasadha dan Risangpun mengangguk-angguk. Namun mereka tidak memberikan tanggapan apapun juga, karena perempuan itu adalah putera Kangjeng Panembahan Mas di Madiun.

Sementara itu Ki Tumenggung itupun kemudian memandang Ki Lurah Mertapraja dengan tajamnya. Dengan nada rendah ia bertanya — Nah Ki Lurah. Aku ingin mendengar, apakah yang telah dijanjikan oleh Ki Gede Watu Kuning sehingga Ki Lurah telah hanyut dan terseret ikut dalam permainan yang kotor ini? —

Ki Lurah Mertapraja termangu-mangu sejenak. Baru beberapa saat kemudian ia berkata — Aku akan menjadi pemimpin pasukan pengawal Tanah. Perdikan ini jika Tanah Perdikan ini sudah dikuasai oleh Ki Gede Watu Kuning. —

—           Lalu? — desak Ki Tumenggung Puspalaga.

—           Dengan demikian aku akan mempunyai kekuasaan yang besar di Tanah Perdikan ini, Ki Tumenggung. — jawab Ki Lurah pula.

—           Hanya itu? Hanya karena kau ingin menjadi pe­mimpin pasukan sebuah Tanah Perdikan kau telah ber­khianat terhadap tugasmu? —

Ki Lurah Mertapraja termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya — Ada janji lain Ki Tu­menggung. —

—           Apa? — desak Ki Tumenggung Puspalaga.

—           Jika Tanah Perdikan ini kemudian menjadi besar. — jawab Ki Lurah.

—           Maksudmu? —

—           Tanah Perdikan ini akan menjadi landasan per­juangan Ki Gede Watu Kuning selanjutnya. Jangkauan yang lebih tinggi dari sebuah Tanah Perdikan. — berkata Ki Lurah.

—           Jadi Watu Kuning kemudian akan menentang Ma­diun dan Pajang serta Mataram? Lalu kau akan menjadi Panglima pasukannya? —

Ki Lurah Mertapraja mengangguk kecil dengan penuh keraguan.

—     Ki Lurah — berkata Ki Tumenggung — kau memang dungu. Kau kira Ki Gede Watu Kuning memper­cayaimu? Jika kau sudah berkhianat terhadap Madiun, maka kau adalah orang yang tidak berharga sama sekali. Jika Ki Gede kemudian berhasil menguasai Tanah Per­dikan ini, maka kau tentu akan disingkirkannya. Lambat atau cepat. Jangankan untuk menjadi Panglima pasukan­nya. Untuk melihat hasil jerih-payahmu merebut Tanah Perdikan inipun kau tidak akan sempat. Apalagi bagi langkah-langkah selanjutnya. Jika kau mendapat janji itu hanya karena kau memiliki satu pasukan yang akan dapat membantu langkah pertama Ki Gede. Tetapi kemudian kau dan orang-orang terpenting dalam pasukanmu akan disingkirkannya. —

Ki Lurah Mertapraja menjadi tegang. Keringat dingin semakin membasahi pakaiannya. Namun kemudian dengan nada berat ia berkata — Aku sadari itu Ki Tu­menggung. Tetapi jika aku bertindak lebih dahulu, maka bukan aku yang akan disingkirkannya. —

—     Jadi kau sudah mempunyai rencana untuk me­nyingkirkan Ki Gede Watu Kuning dan mengambil alih pimpinan atas Tanah Perdikan ini? — bertanya Ki Tu­menggung.

Ki Lurah Mertapraja mengangguk sambil menjawab lirih — Ya Ki Tumenggung. —

Tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu tertawa berkepan­jangan. Iapun kemudian berpaling kepada Risang dan Ka­sadha. — Katanya — Ki Lurah memang seorang pemimpi.

Risang dan Kasadhapun mengangguk-angguk kecil. Mereka tahu kenapa Ki Tumenggung mentertawakan jawaban Ki Lurah itu. Bahkan kemudian Ki Tumenggung itupun berkata — Ki Lurah Mertapraja. Apakah kau tidak pernah mendengar betapa tinggi ilmu Ki Gede Watu Ku­ning. Bukan hanya Ki Gede saja, tetapi ada beberapa orang lain yang berilmu tinggi. Apa yang dapat kau laku­kan seandainya kau benar-benar akan melakukan renca­namu. Bukankah kau hanya akan membunuh diri saja jika kau akan melawan Ki Gede Watu Kuning? —

Wajah Ki Lurah menjadi semakin tegang. Dikening-nya keringat mengembun semakin tebal sehingga kemu­dian mengalir sehingga ia harus mengusap dengan lengan bajunya.

—   Ki Lurah — berkata Ki Tumenggung Puspalaga — aku tahu bahwa ceriteramu adalah ceritera ngaya-wara. Bukan sekedar mimpi buruk. Tetapi kebohongan yang tidak sempurna sehingga anak-anak pun akan menter-tawakannya. —

Wajah Ki Lurah menjadi semakin tegang. Ada sesuatu yang agaknya ingin dikatakannya. Tetapi keragu-raguan yang sangat telah mencengkam jantungnya.

Namun agaknya Ki Lurah Samekta melihat gejolak perasaan Ki Lurah Mertapraja. Karena itu, maka katanya — Adi Mertapraja. Apakah masih ada yang ingin adi kata­kan? Aku melihat sesuatu yang masih tertahan dikerong-kongan adi. —

Ki Lurah Mertapraja memandang Ki Lurah Samekta dengan tajamnya. Namun kemudian katanya — Memang ada kakang. —

—   Kenapa tidak kau katakan saja? Ki Tumenggung tentu lebih senang mendengar jawabanmu yang tuntas. —

Ki Lurah Mertapraja menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian — Ampun Ki Tumenggung. Aku memang merasa tidak mampu menandingi Ki Gede Watu Kuning. Tetapi bukankah aku tidak berdiri sendiri. —

—   Apa pula artinya prajurit-prajuritmu? — bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

—        Bukan prajurit-prajuritku. Tetapi ada orang lain yang menurut penilaianku akan dapat mengimbangi ^ kemampuan Ki Gede Watu Kuning. —

—        Siapa? — Ki Tumenggung memandangnya dengan tajamnya.

Ki Lurah Mertapraja memang menjadi ragu-ragu., Namun Ki Tumenggung Puspalaga itupun berkata — Ki j Lurah. Aku ingin mendengar semuanya. Kau tahu maksudku? Meskipun kau berada di Tanah Perdikan Sem­bojan, namun aku masih mempunyai wewenang atasmu.

Ki Lurah Mertapraja mengangguk dalam-dalam. Katanya — Aku mengerti Ki Tumenggung. —

—  Karena itu sebaiknya kau katakan saja. Apapun akibatnya. Mungkin akan dapat memperingan kesalahan­mu. Tetapi dapat pula berakibat sebaliknya. —

—     Segala sesuatunya tergantung kepada angger Risang — sambung Ki Lurah Samekta.

Ki Lurah Mertapraja itu beringsut setapak. Katanya — Ki Tumenggung. Sebenarnyalah bahwa sekelompok orang berilmu tinggi, namun tidak mempunyai pengikut yang cukup telah berdiri dibelakangku. Aku tidak takut dikhianati oleh mereka, karena mereka adalah sanak kadangku sendiri. Terutama pamanku dan gurunya. Sementara keduanya tidak mempunyai anak isteri. Aku adalah pewaris yang paling berhak mewarisi semua milik mereka. Juga seandainya mereka berhasil menggeser kedu­dukan Ki Gede Watu Kuning. —

—   Mereka bermimpi untuk merebut kepemimpinan Tanah Perdikan ini, kemudian Madiun, Pajang dan Mataram? — bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

Ki Lurah Mertapraja mengangguk kecil. Diwajahnya terbayang kegelisahan dan ketidak pastian. Ki Lurah sen­diri memang tidak tahu apakah ia sedang berbangga dengan pamannya dan guru pamannya atau ia sedang ber­putus asa karena kegagalannya.

Selagi jantung Ki Lurah sedang terguncang-guncang, maka Ki Tumenggung Puspalaga itupun bertanya — Siapakah pamanmu dan gurunya itu? —

Ki Lurah Mertapraja memandang Ki Tumenggung itu dengan tatapan mata yang kosong. Bahkan kemudian mulutnya asal saja bergerak. Katanya — Keduanya adalah pertapa yang ada di kaki pegunungan Kendeng. Keduanya hampir tidak pernah keluar dari pertapaan mereka. —

—    Kenapa tiba-tiba mereka ingin menguasai Tanah Perdikan ini, Madiun, Pajang dan bahkan Mataram? — bertanya Ki Lurah Samekta dengan dahi berkerut.

Ki Lurah Mertapraja beringsut lagi setapak. Kemu­dian katanya — Keduanya telah menerima isyarat dari Penguasa Matahari dan Bulan. Bahkan saatnya sudah tiba bagi mereka. Dari langit telah turun sipat kandel yang akan dapat mendukung keduanya untuk merambah jalan menuju ke kedudukan tertinggi di Tanah ini. —-

—    Apakah bentuk isyarat itu? — bertanya Ki Lurah Samekta.

Ki Lurah Mertapraja tidak segera menjawab. Dipan­danginya Ki Tumenggung Puspalaga yang juga meman­danginya dengan tajamnya. Bahkan Ki Tumenggung itu kemudian berkata — Kau belum menjawab pertanyaan Ki Lurah Samekta. —

Ki Lurah Mertapraja mengangguk-anggug kecil. Rasa-rasanya ia sudah kehilangan dirinya sendiri. Per­tanyaan-pertanyaan, ancaman-ancaman yang meskipun tidak dikatakan berterus terang, tekanan-tekanan betapa ramahnya kata-kata yang diucapkan, membuat Ki Lurah Mertapraja tidak mempunyai pegangan lagi.

Dengan gagap iapun menjawab — Paman dan guru­nya telah mendapatkan sepasang pusaka yang akan dapatmendukung rencana mereka menguasai Tanah ini. —

—           Apakah ujud dari sepasang pusaka itu — bertanya Ki Lurah Samekta.

—           Sebilah pedang dan sebilah perisai. Pedang yang jarang ada duanya. Dan bahkan mungkin pedang itu adalah satu-satunya yang ada dimuka bumi. Suara dari langit mengatakan bahwa pedang itu bernama Kiai Wisa Raditya dan perisai yang bernama Nyai Lar Sasi. Ke­duanya terbuat dari bahan yang tidak ada di bumi. Pedang yang berwarna kehitam-hitaman itu mempunyai pamor yang bercahaya kemerah-merahan bagaikan gemerlapnya api di Matahari. Sementara itu perisai yang berwarna kekuning-kuningan itu bagaikan bulatnya bulan saat pur­nama. —

Ki Tumenggung itupun tersenyum. Katanya — Ki Lurah. Aku kira kau seorang prajurit yang mempunyai penalaran yang masak. Ternyata kau sudah terbius oleh ceritera khayal seperti tentang kucing candramawa yang menunggui bulan bersama seorang bidadari yang sangat cantik. —

—           Aku tidak berkhayal Ki Tumenggung. Aku pernah melihat pedang serta perisai itu. Paman yakin, bahwa pada saatnya kedua pusaka itu akan membawa aku ke kedu­dukan tertinggi di Tanah ini. — berkata Ki Lurah Merta­praja.

—           Lalu, apa yang terjadi? — bertanya Ki Tumeng­gung.

Ki Lurah Mertapraja memandang orang-orang diseki-tarnya. Dipandanginya Risang dan Kasadha berganti-ganti. Kemudian Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta.Agak ke belakang nampak dua orang yang telah membawanya dari padukuhan sebelah.

Wajah Ki Lurah menjadi sangat gelisah. Namun tiba-tiba ia tersenyum dan bahkan tertawa. Katanya — Tunggu Ki Tumenggung. Pada saatnya Ki Tumenggung akan mengakui kuasaku. Tetapi jangan takut. Ki Tumenggung akan aku angkat menjadi narpacundaka setelah aku mene­rima kedudukan dari paman dan gurunya. —

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Dipandangi­nya wajah Ki Lurah Mertapraja dengan wajah yang te­gang. Ki Lurah Samektapun terkejut melihat sikap Ki Lurah Mertapraja yang berubah itu.

Sementara itu, Ki Lurah Mertapraja masih saja terta­wa. Namun ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wu-lungyang duduk agak dibelakang wajahnya segera men­jadi gelap. Dengan nada keras ia berkata — Kecuali kedua ekor serigala itu. Keduanya harus mati. —

Masih belum ada yang menjawab. Ketika Ki Lurah Mertapraja memandang Risang dan Kasadha, iapun berkata — Kalian dapat memilih anak-anak muda. Jika kalian berpihak kepadaku, maka kalian akan mendapat kedudukan yang baik di Tanah Perdikan ini. Bahkan ke­mudian di Madiun, Pajang atau Mataram.

Risang dan Kasadhapun menjadi termangu-mangu. Perubahan sikap Ki Lurah Mertapraja itu memang mem­buat keduanya menjadi berdebar-debar.

Untuk beberapa saat lamanya, maka mereka mem­biarkan Ki Lurah Mertapraja berbicara tanpa ujung dan pangkal. Tetapi pusaran persoalan yang dikatakannya adalah rencananya untuk menguasai Tanah Perdikan Sem­bojan, kemudian Madiun, Pajang dan Mataram.

Beberapa kali ia menyebut paman dan gurunya yang telah mendapat pusaka dari langit berujud pedang dan perisai. Senjata yang akan dapat menjadi landasan per­juangan mereka, karena suara dari langit mengatakan, sia­pa yang memiliki pedang Kiai Wisa Raditya dan perisai Nyai Lar Sasi akan dapat memegang kekuasaan tertinggi di Tanah Jawa.

Ki Tumenggung Puspalaga yang termangu-mangu itupun kemudian bertanya — Ki Lurah. Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan? Apakah kau sadari kata-kata­mu atau kau sedang terganggu? —

Ki Lurah Mertapraja itupun tertawa. Katanya — Aku sadar sepenuhnya Ki Tumenggung. Aku tahu pasti dengan siapa aku berbicara. Dengan Ki Tumenggung Puspalaga, Ki Lurah Samekta dan dua anak muda dari Tanah Per­dikan Sembojan. Disana duduk dua ekor serigala yang dengan kasar telah menyiksa prajurit-prajuritku dan aku sendiri untuk mendapatkan pengakuanku bahwa aku ada­lah Ki Lurah Mertapraja. —

Ki Lurah itupun kemudian tertawa berkepanjangan.

—        Ki Lurah — berkata Ki Tumenggung — jika Ki Lurah berkata dengan penuh kesadaran, kenapa Ki Lurah bertingkah laku seperti itu? —

—        Kenapa? Aku kenapa? — Ki Lurah justru bertanya — aku berkata dengan sebenarnya. Sebagai calon pengua­sa di Tanah ini, maka aku telah memberikan janji kepada kalian dengan kesungguhan hati. —

Ki Tumenggung Puspalaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Dipandanginya mata Ki Lurah Mertapraja dengan tajamnya. Ia memang melihat dimata itu memba­yang kelainan pada kesadaran Ki Lurah. Biji mata yang hitam ditengah putih matanya itu seakan-akan bergerak dengan liar. Sekali-sekali memandangi Ki Tumenggung, namun kemudian berputar-putar dengan gelisah. Bibirnya nampak tersenyum-senyum tanpa arti sama sekali.

Ki Lurah Samekta justru bergeser mendekat. Dengan kerut dikeningnya ia berkata — Ki Lurah. Apakah Ki Lu­rah ingin pulang?

—        Pulang? Pulang kemana? — mata Ki Lurah Merta­praja bagaikan menyala.

—        Apakah adi tidak ingin bertemu dengan isteri dan anak-anak adi? — bertanya Ki Lurah Samekta pula.

Tiba-tiba suara tertawa Ki Lurah Mertapraja itu me­ledak. Katanya — Buat apa aku kembali kepada isteriku? Perempuan yang banyak tingkah.He,apakah kau tidak tahu bahwa isteriku selalu berhubungan dengan Ki Tu­menggung Resaniti?He,kau tentu tahu kalau Tumeng­gung Resaniti itu isterinya banyak. Selirnya banyak dan ia masih saja mengejar isteri orang? Tetapi aku relakan isteriku. Jika aku berkuasa kelak, Resaniti akan aku gan­tung di alun-alun bersama perempuan-perempuannya. Termasuk isteriku. —

—            Lalu, bagaimana dengan anak-anakmu? — ber­tanya Ki Lurah Samekta.

—            Kau kira anak-anak itu anak-anakku sendiri? Tidak. Mereka adalah anak-anak oranglain. He,kau kira aku dapat menaburkan benih diperut isteriku? — Ki Lurah itu tertawa berkepanjangan.

Ki Lurah Samekta menarik nafas dalam-dalam. Iapun melihat kelainan pada sorot mata Ki Lurah itu. Perlahan-lahan ia berkata kepada Ki Tumenggung — Ki Tumeng­gung. Menurut pendengaranku, Ki Lurah Mertapraja me­mang mempunyai seorang saudara laki-laki yang mempu­nyai penyakit syaraf. Jika penyakit itu penyakit ke­turunan, maka dalam keadaan yang tersudut seperti sekarang ini, kekecewaan dan kegagalan, hatinya benar-benar terguncang. Apalagi kepercayaannya yang sesat ten­tang pusaka-pusaka dari langit itu, akan mempercepat guncangan penalarannya. —

Tetapi tiba-tiba saja Ki Lurah Mertapraja itu menya­hut — Apa yang kau katakan itu? —

—            Kau. Keadaanmu — jawab Ki Lurah Samekjta — Ki Tumenggung sedang menilai, apakah kaii pantas men­jadi penguasa tertinggi dari Tanah ini. —

—            Ki Tumenggung Puspalaga maksudmu? Ia tidak berhak menilai aku, karena akulah yang justru berhak menilainya. —

Ki Lurah Samekta tidak membantah. Ia memang tidak dapat berbantah dengan seseorang yang sedang ter­ganggu kesadarannya. Bahkan Ki Tumenggung Puspa-lagapun tidak membantah pula. Dibiarkannya Ki Lurah Mertapraja hanyut kedunia mimpinya yang ceria.

Kepada Risang dan Kasadha Ki Tumenggung itu ber­kata — Ternyata Ki Lurah Mertapraja mempunyai per­soalan dengan dirinya sendiri. —

—          Ya, Ki Tumenggung — jawab Risang — latar be­lakang kehidupannya memang suram. Nampaknya,ia me­mang seorang prajurit yang baik. Tetapi ia mempunyai cacat yang tersembunyi. —

—          Ya — sahut Ki Lurah Samekta — ada dua kutub kehidupan terdapat didalam dirinya. Sebagai seorang pra­jurit, ia adalah seorang laki-laki yang disegani. Dibarak-nya maupun dimedan pertempuran. Tetapi didalam ke­luarganya, ia adalah seorang laki-laki yang tidak lengkap. Seorang laki-laki yang tidak berdaya. Kenyataan itulah yang membuatnya tidak mampu mencari pegangan yang kuat bagi dirinya. Apalagi pada dasarnya ada darah yang keruh yang mengalir didalam tubuhnya.

—            He,apa yang kalian bicarakan? — bertanya Ki Lurah Mertapraja. Pandangan matanya masih liar dan se­olah-olah berputar-putar.

—            Bukan apa-apa Ki Lurah — jawab Ki Lurah Sa­mekta — kami sedang membicarakan tentang kedudukan Ki Lurah kelak. —

—            Kalian tidak usah ikut membicarakan keduduk­anku. Sesuai dengan janji dari langit, maka aku akan berada dijenjang tertinggi di Tanah ini. Akulah yang akan mengatur kedudukan kalian. — berkata Ki Lurah itu.

—   Ya, ya Ki Lurah — jawab Ki Lurah Samekta. Sementara itu Ki Tumenggung Puspalagapun berkata

kepada Risang — Ngger, inilah kenyataan tentang Ki Lurah Mertapraja. Sejak semula kami memang tidak ingin membawanya ke Madiun. Segala sesuatunya kami serah­kan kepada angger disini. Sayang, keadaan Ki Lurah Mertapraja agak lain dengan para prajurit yang lain. Tetapi mudah-mudahan dalam waktu dekat, keadaannya menjadi semakin baik. —

Risang mengangguk-angguk. Katanya — Baiklah Ki Tumenggung. Ki Lurah Mertapraja akan mendapat tem­pat yang khusus. Mudah-mudahan ia segera menjadi tenang dan dapat berbicara dengan penuh kesadaran. —

Ki Tumenggung Puspalaga mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak dapat bertanya lebih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaannya tentu tidak akan mendapat jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan kebenar­annya.

Karena itu, maka katanya — Baiklah ngger. Kali ini kami akan mengakhiri pertanyaan-pertanyaan kami. Se­andainya angger mengijinkan kami bermalam disini, kami akan dapat melihat perkembangan keadaan Ki Lurah Mertapraja. Mudah-mudahan malam nanti kami dapat berbicara lagi dengan orang itu. —

—           Tentu tidak Ki Tumenggung. Kami tidak berkebe­ratan mempersilahkan Ki Tumenggung untuk bermalam dan mungkin nanti malam atau besok dapat berbicara lagi dengan Ki Lurah. — jawab Risang.

—           Terima kasih ngger. Ketika akan datang ke Tanah Perdikan ini, aku merasa ragu, apakah kedatanganku akan dapat diterima. Bukan malahan dimusuhi karena ada prajurit Madiun yang terlibat dalam kerusuhan yang ter­jadi di Tanah Perdikan ini. Namun ternyata bahwa aku di­terima dengan baik. Bahkan kami mendapat bantuan yang cukup besar bagi kelancaran tugas kami. — berkata Ki Tumenggung Puspalaga.

—           Kami bersama-sama ingin mendapatkan kesim­pulan yang benar tentang peristiwa yang baru saja terjadi Ki Tumenggung. Seandainya Ki Tumenggung tidak datang kemari, maka akan mungkin sekali kami mempunyai dugaan yang salah terhadap para prajurit Madiun yang terlibat. Seandainya mereka tidak mengaku sekalipun, sebenarnyalah bahwa kami akan dapat menaruh kecuri­gaan terhadap mereka dengan dugaan-dugaan dan barang­kali kesimpulan yang salah tentang kehadiran mereka. —

—         Beruntunglah bahwa Kepala Tanah Perdikan ini, meskipun masih muda, tetapi mempunyai wawasan yang luas. — desis Ki Tumenggung Puspalaga.

—         Kami hanya sekedar melakukan kewajiban kami Ki Tumenggung — jawab Risang yang kemudian memper-silahkan Ki Tumenggung untuk kembali ke padukuhan in­duk.

—         Ki Tumenggung akan bermalam di padukuhan in­duk. — berkata Risang kemudian.

Demikianlah, ketika Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta dipersilahkan pergi ke padukuhan in­duk, maka Ki Mertapraja telah ditempatkan diruang yang khusus. Dikhawatirkan bahwa Ki Lurah akan dapat ber­buat sesuatu yang dapat mencelakakan orang lain. Bahkan mungkin prajurit-prajuritnya sendiri.

Namun Risang telah memerintahkan para pengawal untuk menjaga Ki Lurah dengan sebaik-baiknya. Apalagi Ki Lurah telah menyebut-nyebut paman beserta guru pamannya yang telah menerima senjata dari langit.

Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samektapun telah memperingatkannya, bahwa ada kemungkinan kedua orang itu akan ikut campur dengan persoalan Ki Lurah Mertapraja itu.

Ketika kemudian mereka berada di padukuhan induk, serta setelah mereka mempersilahkan Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta beristirahat, maka Risang telah berbicara dengan ibunya, Kasadha dan ibu Kasadha, tentang keadaan salah seorang lurah prajurit

Madiun beserta prajurit-prajuritnya yang berada ditangan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata Ki Lurah Mertapraja telah terganggu kesa­darannya — berkata Risang dengan menceriterakan tingkah lakunya. Namun juga igauannya tentang paman dan guru pamannya yang telah menerima pusaka-pusaka dari langit.

—          Apakah orang itu menyebut nama pusaka-pusaka itu? — bertanya ibu Kasadha.

—          Ya. Mereka menyebutnya sebilah pedang bernama Kiai Wisa Raditya dan perisai yang disebutnya Nyai Lar Sasi. Kedua pusaka itu merupakan landasan kekuatan gaib yang akan dapat menjadi tumpuan kekuasaan atas Tanah ini. — jawab Risang.

Ibu Kasadha itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia kemudian bergumam seakan-akan kepada diri sendiri — Jadi pergulatan untuk menguasai pusaka-pusaka itu masih belum selesai sampai saat ini. —

—   Maksud ibu? — bertanya Kasadha.

—   Sejak berpuluh tahun yang lalu, orang-orang dari golongan hitam yang ingin bukan saja sekedar berjcuasa dalam bayangan kekuasaan yang sah, tetapi menyingkir­kan kekuasaan yang sah itu, telah mencari pegangan. Ada yang menelusuri keturunannya yang kemudian dengan bangga menceriterakan bahwa ia adalah anak seorang jin yang paling berkuasa di Tanah ini. Ada yai\g menganggap dirinya titisan dewa yang berkuasa dilangit dan ada yang ingin bersandar pada tuah .pusaka-pusaka seperti kedua pusaka’ yang disebut-sebut Ki Lurah Mertapraja. Jika Ki Lurah Mertapraja menyebut-nyebut pusaka yang bernama Kiai Wisa Raditya dan Nyai Lar Sasi, orang itu tentu mem­punyai hubungan dengan perguruan yang dinamakan Per­guruan Wukir Gading. Pantas jika Ki Lurah Mertapraja yang merasa dinaungi oleh pusaka-pusaka Kiai Wisa Ra­ditya dan Nyai Lar Sasi dapat bekerja sama dengan Pade­pokan Watu Kuning. —

—      Tetapi ternyata Ki Lurah Mertapraja beserta paman dan guru pamannya itu mempunyai rencana ter­sendiri. Mereka berniat menyingkirkan Ki Gede Watu Ku­ning jika usaha mereka bersama-sama sudah berhasil. Setidak-tidaknya menjadikan Tanah Perdikan ini lan-dasan kekuatan mereka menuju ke Madiun, Pajang dan Mataram. Paman dan guru paman Ki Lurah Mertapraja itu merasa mampu menyingkirkan Ki Gede Watu Kuning.

—   Itu adalah salah satu ciri perguruan Wukir Gading. Licik dan sama sekali tidak setia. Tidak semua gerombolan dari golongan hitam yang licik dan tidak setia. Ada dian­tara mereka yang mempunyai dasar kesetia-kawanan yang sangat tinggi. Tetapi sebaliknya ada pula ciri sebagaimana Perguruan Wukir Gading. Namun nampaknya Padepokan Watu Kuning tidak mengetahui sifat itu. Atau bahkan Pa-depoan Watu Kuningpun mempunyai rencana seperti itu pula. — jawab ibu Kasadha.

Mereka yang mendengarkan keterangan ibu Kasada itu mengangguk-angguk. Ibu Kasadha memang mempu­nyai pengalaman hidup dilingkungan orang-orang berilmu hitam sehingga ia dapat mengetahui ciri-ciri dari golongan itu.

Untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Na­mun kemudian ibu Kasadha itupun berkata — Jika demi­kian,-berhati-hatilah. Orang-orang dari Perguruan Wukir Gading adalah orang-orang yang keras kepala. Ki Lurah Mertapraja tentu termasuk orang penting dalam urutan rencana paman dan guru pamannya itu. Mungkin memang ada usaha untuk mengambil Ki Lurah itu dari bilik tawa­nannya. —

—   Tetapi bukankah Ki Lurah Mertapraja sudah tidak berarti lagi bagi Perguruan Wukir Gading? Ki Mertapraja dibutuhkan oleh paman dan guru pamannya karena Ki Lurah Mertapraja memiliki sepasukan prajurit yang dapat dimanfaatkan. Tanpa prajurit itu bukankah Ki Lurah sudah tidak berarti apa-apa lagi? — bertanya^Kasadha.

—    Tetapi jika benar seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah, bahwa ia adalah satu-satunya pewaris dari semua warisan paman dan guru pamannya, maka ia tentu sangat diperlukansebagai penerus usaha-usaha yang pernah dirin­tisnya. Mungkin pamannya justru akan membentuk kekuatan dengan caranya sendiri. Ki Lurah yang sudah terbiasa memimpin sepasukan prajurit akan dapat diper­gunakannya sebaik-baiknya. — jawab ibunya.

Kasadha mengangguk-angguk. Kepada Risang ia ber­kata — Ternyata persoalan ini masih belum selesai. —

Tetapi agaknya dapat dibatasi — justru ibu Risanglah yang menyahut — kekuatan yang menjadi tumpuan Ki Lurah Mertapraja adalah kekuatan beberapa orang saja dari Perguruan Wukir Gading. Tidak seluas pasukan yang dihimpun oleh Padepokan Watu Kuning. —

Ibu Kasadya mengangguk-angguk. Katanya — Ya. Agaknya memang demikian. Tetapi kita harus tetap ber­hati-hati menghadapi mereka yang nampaknya lebih ter­batas itu. —

Ibu Risang itupun kemudian bertanya kepada anak­nya — Siapakah yang kau serahi tawanan yang satu itu? —

—           Para pengawal. Tetapi paman Sambi Wulung dan Jati Wulung ada disana. — jawab Risang.

—           Baiklah. Jika paman Sambi Wulung ada disana, maka setidak-tidaknya berdua akan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika terjadi sesuatu di tempat orang itu disimpan. — berkata ibunya kemudian.

Demikianlah, maka meskipun Tanah Perdikan itu sudah nampak tenang, tetapi justru orang-orang terpen­ting di Tanah Perdikan itu menjadi sangat berhati-hati. Meskipun kekuatan yang dicemaskan tidak segarang kekuatan yang datang bersama Ki Gede Watu Kuning, tetapi jika benar paman dan guru paman Ki Lurah Merta­praja itu berusaha untuk mengambilnya, maka Tanah Per­dikan itu akan dapat terguncang lagi.

Ketika kemudian senja turun; maka Risang dan Kasadha telah berbincang pula dengan Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta. Mereka masih belum berniat untuk berbicara lagi dengan Ki Lurah Mertapraja. Mereka baru saja mendapat laporan, bahwa keadaan Ki Lurah masih saja tidak menentu. Bahkan baru saja Ki Lu­rah berteriak-teriak dari dalam bilik tahanannya. Seakan-akan ia sedang memberikan perintah-perintah kepada para prajuritnya. Ki Lurah Mertapraja itu sudah berusaha pula merusak pintu biliknya dan juga dindingnya. Tetapi karena dindingnya terbuat dari kayu, demikian pula pintu­nya, maka ia tidak berhasil.

—    Apakah paman Sambi Wulung dan Jati Wulung masih ada disana? — bertanya Risang.

Ya. Keduanya masih berada disana — jawab pe­ngawal yang memberikan laporan itu.

—    Baiklah. Katakan kepada paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung. Sebaiknya keduanya tetap ber­ada disana. Mereka justru harus berhati-hati sekali. — pesan Risang.

Ketika pengawal itu meninggalkan rumah Kepala Tanah Perdikan itu, maka untuk beberapa saat lamanya, Risang dan Kasadha masih berbincang dengan kedua orang tamunya dari Madiun. Sampai saatnya Nyi Wira-dana mempersilahkan mereka untuk makan malam.

Namun setelah makan malam, maka merekapun duduk lagi dipendapa untuk berbincang lagi tentang ber­bagai macam persoalan. Tentang Ki Lurah Mertapraja, tentang mendung yang bergantung diatas Madiun, Pajang dan Mataram. Penilaian Madiun atas kekuatan Pajang yang berada di tangan Pangeran Gagak Baning. Namun ternyata bahwa Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta menjadi sangat berhati-hati.

Keduanya menyadari bahwa mereka berada di Tanah Perdikan yang berkiblat kepada kekuasan Pajang dan ten­tu saja juga Mataram. Namun sampai sekian jauh, baik Ki Tumenggung Puspalaga maupun Ki Lurah Samekta tidak meyinggung perasaan Risang dan Kasadha. Keduanya berusaha berbicara pada pokok-pokok persoalan yang wa­jar dan masuk akal.

Namun setiap kali Ki Tumenggung berkata — Maaf ngger. Mungkin aku berdiri pada satu pihak, karena aku adalah seorang prajurit Madiun. —

Risang dan Kasadha masih dapat tersenyummen-,dengar pengakuan itu. Sebagaimana Risang dan Kasadha sendiri kadang-kadang tidak dapat menyembunyikan sudut pandang mereka sebagai orang yang berkiblat kepada Pajang dan Mataram.

Namun kedua belah pihak berusaha untuk membatasi diri, berusaha untuk mengerti tempat berpijak masing-masing. Sehingga keduanya dapat mengerti dan menghor­mati perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka.

Ternyata mereka telah berbincang cukup lama. Ka­rena itu, maka Risangpun kemudian telah meiflpersilah-kan kedua orang tamunya untuk beristirahat. Kasadhapun kemudian telah masuk kedalam biliknya. Kawannya, seorang pemimpin kelompok dalam kesatuannya telah berbaring dipembaringan.

Risang ternyata masih saja gelisah. Sepeninggal Bibi, rumah itu memang terasa sepi. Bibi sering mondar-mandir dirumah itu untuk menyediakan makan dan kemudian menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang kotor. Sepening­gal Bibi, yang melakukan adalah orang lain yang tidak ada bedanya dengan orang-orang yang lain lagi.

Karena udara terasa panas didalam, maka Risangpun telah keluar lewat pintu butulan daii kemudian melalui seketheng turun ke halaman. Gandarkah yang kemudian mendekatinya sambil bertanya — kau belum juga tidur?

—   Udara didalam panas sekali — jawab Risang sam­bil menggelengkan kepalanya.

—   Sekarang kau akan kemana? — bertanya Gandar.

—   Tidak kemana-mana. Aku hanya ingin menyejuk­kan badan sejenak. — jawab Risang.

Berdua merekapun berjalan keregol dan bahkan kemudian keluar regol halaman dan berjalan-jalan dalam gelapnya malam. Digardu beberapa orang peronda nam­pak berjaga-jaga. Tiga orang pengawal mereka jumpai berjalan menyusuri lorong-lorong Padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Risang menarik nafas panjang. Ia bangga atas ke-siagaan para pengawal Tanah Perdikan.

Bersama Gandar maka keduanya berjalan semakin jauh melingkari jalan-jalan di Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan. Di setiap gardu mereka melihat para peronda bersiaga sepenuhnya menghadapi setiap kemung­kinan.

Namun Risang dan Gandar tidak menjumpai per­soalan yang penting di Padukuhan Induk Tanah Perdikan itu.

Adalah diluar dugaannya ketika seorang pemimpin pengawal yang bertugas diregol Padukuhan Induk, dengan tidak sadar bertanya — Apakah ada sesuatu yang penting, sehingga Nyi Wiradana kedua-duanya berkuda meninggal­kan Padukuhan Induk ini? —

Risang dan Gandar memang terkejut. Dengan serta-merta Risang bertanya — Kapan? —

—   Belum lama — jawab peronda itu.

Risang memandang Gandar sejenak. Hampir tidak terdengar ia bergumam — Kemana? —

—   Aku dengar, tawanan yang seorang itu sangat ber­bahaya — berkata Gandar.

—    Mungkin ibu dan bibi itu pergi kesana. — desis Risang — biarlah aku memberitahu Kasadha. Kami akan kesana. Aku titipkan padukuhan induk ini kepadamu. Berhati-hatilah. —

Sebenarnya Gandar juga ingin pergi. Tetapi Risang justru menitipkan Padukuhan Induk itu kepadanya, sehingga dengan demikian maka ia terikat untuk tetap berada di padukuhan induk itu.

Ternyata Risang yang tergesa-gesa kembali kerumah-nya itu telah membangunkan Kasadha. Dengan singkat ia memberitahukan laporan peronda tentang ibu mereka.

— Kau tunggu disini — berkata Kasadha kepada kawannya.

Demikianlah, sejenak kemudian maka keduanyapun telah berpacu menyusul ibu mereka. Mereka memang mengira bahwa keduanya pergi ke padukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja ditawan. Agaknya ibu Kasadha benar-benar merasa cemas dengan tawanan yang satu itu.

Jarak antara Risang dan Kasadha dengan kedua ibu mereka cukup panjang. Karena itu, mereka tidak sempat menyusulnya di perjalanan. Namun keduanya hampir pasti bahwa Nyi Wiradana kedua-duanya ada di padu­kuhan itu.

Sebenarnyalah Risang dan Kasadha menemukan kedua orang perempuan itu di banjar padukuhan.

—           Kenapa ibu pergi tanpa memberitahukan kepada kami? — bertanya Risang.

—           Aku kira kalian berdua sudah tidur karena letih. Kami tidak mau mengganggu kalian — jawab ibu Risang.

—           Kami belum tidur — jawab Risang — kami memang berjalan-jalan diluar halaman karena udara terasa panas sekali. —

Namun Kasadha sempat menggamit Risang karena sebenarnyalah bahwa ia sudah tertidur.

Tetapi Risang tidak menghiraukannya. Ia sama sekali tidak berpaling kepada Kasadha.

—    Kami sebenarnya merasa gelisah justru karena Ki Lurah Mertapraja — berkata ibu Kasadha — perguruan yang pernah berbicara tentang pedang Kiai Wisa Raditya dan perisai Nyai Lar Sasi adalah perguruan yang sangat keras. Perguruan itu bukan perguruan yang besar. Pemim­pin perguruan itu tidak pernah menerima banyak murid sekaligus. Muridnya hanya ada dua atau tiga saja. Namun yang benar-benar memiliki sifat dan kemampuan gurunya. Mungkin paman Ki Lurah Mertapraja itu salah seorang murid dari perguruan itu. Karena itu aku mencemaskan paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung yang sudah menjadi semakin tua pula. —

Risang dan Kasadha hanya mengangguk-angguk saja. Bagi mereka Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah orang-orang berilmu tinggi, meskipun masih belum seting­kat dengan ibu Risang. Namun mereka juga harus memperhitungkan lawan mereka pada saat itu.

Demikianlah mereka berempat untuk beberapa lama duduk dan berbilang diruang dalam banjar padukuhan. Namun mereka terkejut ketika terjadi keributan dihalaman banjar itu. Dengan serta-merta keempat orang itupun telah keluar dari ruang dalam melintasi pendapa turun ke halaman.

Mereka melihat dua orang peronda terbaring di halaman. Beberapa kawan mereka mengerumuninya dengan gelisah. Sementara itu beberapa orang pengawal menjadi sibuk pula diluar pintu regol halaman banjar itu.

—    Apa yang terjadi? — bertanya Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada ditem-pat itu pula. Kepada para pengawal Sambi Wulung berkata — Bawa naik ke pendapa, Kita akan melihat kenapa kedua pengawal itu pingsan. —

Kedua orang pengawal itupun kemudian telah diangkat dan dibaringkan diatas tikar pandan di pendapa. Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berusaha untuk membantu mempercepat kedua orang itu menjadi sadar. Beberapa titik air telah membasahi bibir mereka sehingga untuk beberapa saat kemudian, keduanya mulai bergerak dan membukakan mata.

Seorang diantara mereka berdua ternyata tidak men­jadi separah kawannya. Perlahan-lahan anak muda itu berusaha untuk bangkit dan duduk. Sementara kawannya justru berdesah menahan sakit.

—    Apa yang telah terjadi? — bertanya Sambi Wulung.

Anak muda yang tidak begitu parah itu mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atas dirinya. De­ngan nada rendah ia berkata agak terbata-bata — Kami bertugas mengamati keadaan disekitar banjar. Ketika kami berdua berada disimpang tiga, tiba-tiba saja kami diserang oleh seseorang yang tidak kami ketahui darimana datangnya. Aku ternyata masih sempat berteriak ketika kawanku itu tersungkur jatuh. Kemudian akupun tidak inlgat apa-apa lagi. —

—    Siapakah yang menolongmu? — bertanya Jati Wulung.

—         Aku tidak tahu — jawab anak muda itu.

—            Kamilah yang menolongnya — berkata pengawal yang lain — kami memang mendengar teriakannya. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Tetapi nadanya telah memanggil kami untuk datang. Ketika kami berempat sampai kesimpang tiga, kami temui kedua orang telah ter­baring pingsan. —

—            Apakah kau sama sekali tidak mendapat kesem­patan untuk melawan? — bertanya Sambi Wulung.

—            Peristiwa itu terjadi begitu tiba-tiba. Aku melihat bayangan itu terbang menyambar kawanku. Sebelum aku sempat berbuat sesuatu, bayangan itu telah menyerang aku pula. Aku melihat ayunan tangannya. Aku memang mencoba untuk menangkis. Tetapi naluriku mengatakan bahwa aku tidak akan dapat melawannya sehingga aku berteriak memanggil para pengawal yang lain. — jawab anak muda itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk kecil. Merekapun kemudian berpaling kepada Nyi Wira-dana dan berdesis — Kita harus berhati-hati menghadapi keadaan seperti ini. —.

Nyi Wiradana itupun berdesis — Mereka benar-benar sudah mulai. Gelar perang yang kita pergunakan harus berubah. —

—           Ya — ibu Kasadha mengangguk-angguk. — Sasar­an mereka memang berbeda dengan sasaran orang-orang Watu Kuning. Cara merekapun berbeda. Orang-orang Wukir Gading tidak mempedulikan Tanah Perdikan ini, setidak-tidaknya untuk sementara. Mereka hanya ingin membebaskan Ki Lurah Mertapraja. —

—           Dengan demikian, maka pusat perhatian kita ter­tuju kepada Ki Lurah. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak memperhatikan soal-soal lain di Tanah Perdikan ini. — desisNyi Wiradana.

Namun tiba-tiba Nyi Wiradana itu bertanya — Dimana Ki Lurah itu ditempatkan? —

—    Digandok itu, Nyi — jawab salah seorang penga­wal.

Kepada Sambi Wulung Nyi Wiradana itu berkata — Lihat, apakah ia sedang tidur? —

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menyadari, bahwa seluruh perhatian se­akan-akan ditujukan kepada kedua orang anak muda yang menemukan orang yang telah menyerang para pengawal itu diluar halaman banjar. Karena itu, maka iapun segera pergi ke gandok. Dari depan ia masih melihat pintu dan dinding bilik yang dipergunakan untuk menahan Ki Lurah Mertapraja utuh. Tetapi Sambi Wulung ingin meyakinkan apakah bilik itu benar-benar tidak disentuh orang.

Meskipun Sambi Wulung tahu bahwa dibelakang gan­dok itu telah ditempatkan pula dua orang pengawal, tetapi keadaan yang tidak diharapkan mungkin saja terjadi seba­gaimana dua orang pengawal yang pingsan itu.

Jati Wulung yang melihat Sambi Wulung justru me­nuju kebelakang gandok melingkari sudut depan, maka iapun segera menyusul. Iapun tiba-tiba saja mencemaskan para pengawal yang ada dibelakang gandok.

Demikian Sambi Wulung berada dibelakang gandok, maka iapun terkejut. Ia melihat dua orang pengawal ter­baring diam.

Dengan cepat Sambi Wulung berlari mendekati dua sosok tubuh yang terbaring diam itu. Namun ia tidak sem­pat berbuat sesuatu. Selagi ia berjongkok memperhatikan tubuh itu, maka ia mendengar derak dinding terbuka.

Sesosok bayang bagaikan terbang menyambarnya. -Demikian cepatnya. Tangannya terayun kearah tengkuk Sambi Wulung.

Tetapi Sambi Wulung bukannya sekedar pengawal Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana yang terbaring diam itu. Karena itu, maka demikian tubuh itu menyam­bar, maka Sambi Wulung justru menjatuhkan dirinya. Demikian bayangan itu melayang disisinya, kakinya telah bergerak dengan cepatnya.

Bayangan itu memang tidak mengira bahwa ia akan mendapat perlawanan. Karena itu, kaki Sambi Wulung telah terantuk kakinya, sehingga bayangan itupun telah jatuh pula berguling melingkar dua kali. Namun dengan cepat orang itu meloncat bangkit kembali.

— Setan kau — orang itu mengumpat. Namun ia lelah siap menyerang Sambi Wulung yang telah bangkit pula.

Namun hampir saja Sambi Wulung lengah. Ketika dari sudut depan gandok itu muncul Jati Wulung, maka Jati Wulung itupun segera berteriak — Hati-hati, dibe-lakangmu. —

Sambi Wulung dengan cepat berbalik. la tidak meng­hiraukan orang yang telah menyerangnya lebih dahulu, karena kehadiran Jati Wulung, Sambi Wulung memper­cayakan orang itu kepada Jati Wulung.

Ternyata Jati Wulung cukup tanggap. Dengan cepat ia telah menyerang orang yang gagal melumpuhkan Sambi Wulung.

Orang itu menggeram. Ia menjadi marah sekali bahwa serangannya telah gagal. Bahkan ada orang lain yang telah berani menyerangnya.

Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan diri menghadapi serangan Jati Wulung. Ia ingin meghancur-kan orang yang telah berani menyerangnya itu dalam se­kejap.

Karena itu, demikian ia berhasil menghindari serang­an Jati Wulung, maka dengan serta-merta orang itu telah membalas menyerangnya. Dengan satu putaran, maka kakinya telah terayun mendatar mengarah kekening Jati Wulung.

Tetapi sekali lagi orang itu terkejut. Serangannya yang keras dan tiba-tiba itu, sama sekali tidak menyentuh sasarannya. Orang yang datang itupun berhasil meng­hindar sebagaimana orang yang datang lebih dahulu.

Demikianlah, maka pertempuranpun telah terjadi dibelakang gandok itu. Kedua orang yang tidak dikenal itu menjadi semakin marah. Dua orang Tanah Perdikan ini agak berbeda dengan para pengawal yang lain. Keduanya mampu bertahan untuk beberapa lama. Bahkan meng­hindari serangan-serangannya yang datang beruntun.

Namun baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung ter­kejut ketika ia mendengar orang yang bertempur melawan Sambi Wulung itu berteriak — Bawa orang itu pergi. Aku akan menyelesaikain orang ini.

— Kenapa begitu lama? — terdengar orang dari dalam bilik itu bertanya.

— Ia memiliki kemampuan iblis — jawab orang itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat kemudian dinding yang telah koyak itu tersibak. Sementara itu, maka keduanya sedang bertempur dengan orang yang agaknya berilmu tinggi, sehingga baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung tidak dapat meninggalkan lawan-lawannya itu.

Karena itu, maka Sambi Wulungpun tiba-tiba telah berteriak — Jangan bawa orang itu pergi.He,tunggu. —

Jati Wulungpun berteriak pula sebagaimana Sambi Wulung. Bukan sekedar mencegah agar Ki Lurah Merta­praja tidak dibawa pergi. Tetapi ia juga berharap agar orang-orang yang ada di pendapa banjar mendengar suaranya.

—    Pengecut, jangan lari. —

Suara Sambi Wulung dan Jati Wulung memang di­dengar oleh orang-orang yang ada dipendapa. Dengan ser­ta merta para pengawal yang ada di pendapa segera ber­lari-lari menuju kebelakang gandok.

Ternyata hal itu diketahui juga oleh dua orang yang keluar dari bilik Ki Lurah Mertapraja lewat dinding yang koyak itu. Dengan geram seorang diantaranya berkata — Kau panggil kawan-kawanmu. Jika demikian apaboleh buat, aku terpaksa membunuh mereka. —

Sambi Wulung memang menjadi cemas. Dengan cepat ia berteriak ketika ia mendengar derap langkah para

pengawal berlari — Hati-hati. Jangan tergesa-gesa. —

Tetapi Sambi Wulung terlambat. Demikian dua orang muncul dari sudut gandok bagian depan, maka salah se­orang yang keluar dari bilik lewat dinding yang koyak itu telah menyongsongnya. Dalam sekejap, dua orang penga­wal terpelanting jatuh. Seorang masih sempat menyerang. Tetapi seorang yang lain sama sekali tidak sempat meng­aduh .

Sementara itu, seorang yang lain telah membimbing Ki Lurah Mertapraja melintasi halaman menuju ke kebun yang gelap.

Tetapi bayangan yang lain, yang juga keluar dari din­ding yang koyak itu telah memburunya kedalam gelap. Jarak mereka memang belum terlalu j^uh, sehingga karena itu, maka orang yang melarikan Ki Lurah Mertapraja itu harus berhenti, melepaskan Ki Lurah dan siap menghadapi orang yang memburunya itu.

Suasanapun menjadi kacau. Dua orang lagi pengawal yang datang telah terlempar jatuh pula.

Namun yang kemudian datang, ternyata agak lain dari para pengawal yang telah terbaring diam. Ampat orang pengawal telah jatuh. Namun ketika bayangan yang lain muncul, maka ketika orang yang’menunggu disudut belakang gandok itu menyerang, dengan tangkas bayang­an itu menghindar. Demikian pula serangan-serangaif beruntun yang datang selalu berhasil dihindarinya.

—    Iblis kau — geram orang itu.

Orang itu terkejut ketika terdengar jawaban, suara se­orang perempuan — Jangan licik begitu Ki Sanak. —

—    Siapa yang licik? aku berhak mempergunakan

caraku untuk mengambil anakku. — jawab orang itu.

Namun tiba-tiba ia bertanya —He,kau seorang perem-

puan? —

—    Kenapa? — bertanya perempuan itu.

—    Kaukah ibu Kepala Tanah Perdikan ini? —

—    Bukan.Akubibinya — jawab perempuanitu.

—          Persetan kau. Kaulah yang akan mati kemudian setelah para pengawalitu.— geram orangitu.

Tetapi perempuan itu, ibu Kasadha, sama sekali tidak menjadi gentar. Iapun bersiap menghadapi segala ke­mungkinan. Bahkan ia masih sempat bertanya — Apa hubunganmu dengan Ki Lurah Mertapraja sehingga kau mempertaruhkan nyawamu untuk melepaskannya? —

—   Apa pedulimu — sahut orang itu.

—          Aku hanya ingin tahu, karena jika tidak ada sang­kut pautnya sama sekali, tidak mungkin kalian melaku­kannya. Apalagi dengan satu kemungkinan bahwa kau tidak akan keluar lagi dari padukuhan ini. — desis ibu Kasadha.

—          Apa pedulimu. Jika kau mau membunuh dirimu, lakukanlah. Aku akan membantumu tanpa harus kau ketahui siapa aku. —

—   Baiklah. Kau akan mati tanpa nama — desis Warsi.

Orang itu tidak menghiraukannya lagi. Dengan serta merta iapun meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi ibu Kasadha itu telah bersiap sepenuhnya. Ke­tika tangan orang itu menyambarnya, maka dengan cepat­nya ia meloncat menghindar. Namun ketika getar udara yang timbul karena ayunan tangan orang itu menerpa wa­jahnya, maka ibu Kasadha itupun segera menyadari, bahwa orang itu memiliki ilmu yang tinggi.

Sementara itu, Risang dan Kasadha telah berada dibe­lakang gandok itu pula. Seorang pengawal yang melihat seseorang berlari ke kegelapan bersama Ki Lurah Merta­praja telah memburunya pula sambil berkata— Ki Lurah telah melarikan diri. —

Risang dan Kasadhapun segera berlari pula mengikuti pengawal itu kedalam gelap.

Mereka tertegun ketika mereka melihat dua orang yang telah bertempur didalam gelap. Sementara itu ter­dengar suara seorang perempuan — Cari Ki Lurah Merta­praja yang melarikan diri. —

Risang segera mengenali suara itu. Suara itu adalah suara ibunya. Ketika terdengar keributan, maka ibunya itu telah langsung membuka bilik Ki Lurah dari pintu depan dan berlari masuk. Namun agaknya Ki Lurah telah melari­kan diri lewat dinding yang koyak, sehingga ibunyapun telah menyusul pula lewat dinding yang terbuka itu.

Ketika Risang dan Kasadha berlari memburu Ki Lurah Mertapraja bersama pengawal itu, maka terdengar suara tertawa berkepanjangan. Katanya — Ki Lurah bukan orang kebanyakan. Mereka tidak akan terlalu mu­dah menangkapnya. —

—   Mereka yang mengejarnya juga bukan orang keba­nyakan. Apalagi sekitar banjar ini, para pengawal sudah siap berjaga-jaga. — jawab Nyi Wiradana.

Tetapi orang itu masih tertawa. Katanya — Semakin banyak orang yang mengejarnya, korban akan menjadi semakin banyak berhamburan di jalan-jalan padukuhan ini. Tetapi itu adalah tanggung jawab kalian sendiri. Kalian yang membuat persoalan, jadi kalianlah yang akan menanggung akibatnya.

Tetapi Nyi Wiradanapun tersenyum sambil berkata — Betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi ia mempunyai ke­terbatasan. Sementara itu jumlah para pengawal tidak ter­hitung lagi. Jika mereka yang ada di padukuhan ini tidak cukup banyak, maka kami dapat membunyikan isyarat memanggil para pengawal dari padukuhan yang lain, se-ii hingga betapapun tinggi ilmu kalian, maka kalian akan ; kehabisan tenaga. Akhirnya kami akan dapat menangkap kalian hidup atau mati. —

— Satu mimpi buruk bagimu — sahut orang itu.

Nyi Wiradana tidak sempat menjawab lagi. Dengan cepatnya orang itu menyambar dengan tangannya yang ga­rang. Jari-jarinya terbuka seperti jari-jari seekor burung elang yang lapar.

Tetapi Nyi Wiradana dengan cepat mengelak pula. Namun lawannya tidak melepaskannya. Dengan garang­nya ia memburu. Tangannya masih saja terbuka dengan jari-jari yang mengembang siap untuk mencengkeram kulit dagingnya yang seakan-akan hendak dikoyakkan.

Tetapi Nyi Wiradana cukup tangkas. Serangan-se­rangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan Nyi Wiradana itupun dengan cepat pula membalas menyerang.

Dalam pada itu, Risang dan Kasadha telah sampai kedinding halaman di kegelapan. Mereka memang men­jadi agak kebingungan. Mereka tidak segera menemukan Ki Mertapraja.

—   Orang itu tentu meloncat keluar — desis Risang.

—    Ya — sahut Kasadha — kita lihat saja diluar din­ding halaman ini. —

Keduanyapun kemudian telah meloncati dinding. Me­reka memang melihat pertempuran yang terjadi beberapa puluh langkah dari dinding halaman itu. Risang dan Kasadhapun segera menduga, bahwa para pengawal itu se­dang berusaha menangkap Ki Lurah Mertapraja.

Karena itu, maka mereka berduapun segera meloncat turun keluar halaman dan berlari-lari kearah keributan yang diterangi oleh oncor diregol halaman seseorang mes­kipun hanya lamat-lamat.

Tetapi Risang dan Kasadha terkejut ketika ia melihat para pengawal sedang bertempur melawan dua orang yang berilmu tinggi. Seorang diantara mereka adalah Ki Lurah Mertapraja, sedangkan yang seorang lagi nampaknya il­munya lebih tinggi dari Ki Lurah, sehingga para pengawal mengalami kesulitan. Dua orang pengawal telah terbaring clipinggir jalan ditunggui oleh masing-masing seorang kawannya yang membantunya memperingan penderita­annya.

—   Tangkap Ki Lurah — berkata Risang kepada Kasa­dha — aku akan mencoba melawan yang seorang lagi. —

—    Kita jangan kehilangan orang itu. Karena itu, biarlah kita berdua bertempur melawannya dan berusaha menangkapnya. Biarlah para pengawal berusaha menang­kap Ki Lurah. Kecuali jika para pengawal tidak berhasil, aku akan berusaha menangkapnya bersama parNa pengawal. — jawab Kasadha.

Ternyata Risang sependapat. Katanya — Baiklah. Marilah. —

Ketika keduanya kemudian memasuki arena, maka seorang lagi dari antara para pengawal yang terlempar dari arena dan jatuh terbanting ditanah.

—    Bawa anak itu menepi — perintah Risang.

Para pengawal itu menjadi berbesar hati ketika mere­ka melihat Risang dan Kasadha ada diantara mereka.

Demikianlah, maka Risang dan Kasadhapun segera mempersiapkan diri menghadapi orang yang telah beru­saha melindungi Ki Lurah itu. Sementara Risang memberi­kan isyarat agar para pengawal berusaha menangkap Ki Lurah Mertapraja.

Meskipun kesadaran Ki Lurah itu terganggu, tetapi ternyata ia masih mampu bertempur dengan garangnya. Kakinya berloncatan dengan cepatnya. Tangannya tera­yun-ayun mengerikan. Sambil berteriak-teriak ia ber­tempur dengan segenap kekuatan dan kemampuannya. Justru karena kesadarannya tidak utuh itu, maka Ki Lurah menjadi seakan-akan semakin berbahaya. Segala gerak dan sikapnya benar-benar berada diluar kendali.

Beberapa orang pengawal yang mengepungnya me­mang menjadi sangat berhati-hati. Sementara itu Risang masih sempat memperingatkan — Tangkap ia hidup-hidup. —

Justru karena itulah, maka para pengawal itu ber­tempur semakin berhati-hati. Mereka harus menangkap Ki Lurah itu tanpa menyakitinya, sementara Ki Lurah sendiri sama sekali tidak mengendalikan diri. Demikian pula sen­jata yang diberikan kepadanya oleh orang-orang yang ber­usaha membebaskannya.

Sementara itu Risang dan Kasadha telah bertempur melawan orang yang berusaha melindungi Ki Lurah Mertapraja itu. Dengan kasarnya orang itu mengumpat ketika ia menyadari, bahwa dua orang anak muda itu me­miliki kelebihan dari para pengawal yang lain.

—    Ternyata kalian mempunyai kemampuan lebih baik dari kawan-kawanmu. Apakah kau pemimpin pe­ngawal di Tanah Perdikan ini? — bertanya orang itu.

—    Ya — jawab Risang — karena itu menyerahlah.

Orang itu tertawa. Katanya — Kau tidak mengenal aku dan kawan-kawanku yang datang untuk mengambil Ki Lurah Mertapraja. —

—        Ya. Kami memang belum mengenal kalian. Karena

itu, katakan, siapakah kalian yang berusaha membebas­kan Ki Lurah dan apa hubungan kalian dengan Pade­pokan Watu Kuning. —

—     Kami bukan orang-orang Watu Kuning. Kami tidak mempunyai hubungan apapun dengan Watu Kuning. Tetapi kami mempunyai hubungan dengan Ki Lurah Mertapraja. — jawab orang itu.

Risang yang pernah mendengar ceritera Warsi tentang Perguruan Wukir Gading, tiba-tiba saja bertanya — Apakah kalian termasuk orang-orang dari Perguruan Wukir Gading? —

Orang itu terkejut. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya — Darimana kau tahu tentang Wukir Gading? Tetapi Wukir Gading yang mana yang kalian maksud? —

—   Setahuku hanya ada satu Wukir Gading — jawab Risang.

—   Ada tiga Perguruan Wukir Gading — jawab orang

itu.

—   Aku tidak peduli — jawab Risang — dari Wukir Gading yang manapun, menyerahlah. —

Tetapi orang itu tertawa semakin keras. Katanya — Ternyata kau tidak tahu apa-apa. Nah, sekarang perintah­kan pengawal-pengawal Tanah Perdikan itu untuk meng­hentikan usahanya menangkap Ki Lurah Mertapraja. Jika tidak, maka kalian semua akan mati malam ini. —

Tetapi Risang justru berteriak — Cepat, tangkap Ki Lurah yang terganggu kesadarannya itu. Ia akan dapat menjadi orang yang sangat berbahaya. —

—   Setan kau — geram orang itu. Katanya kemudian — Kalian memang harus segera mati. —

Tetapi justru Risanglah yang menyerang lebih dahulu, disusul dengan serangan Kasadha yang keras. Tetapi dengan tangkasnya orang itu menghindar dengan loncatan kesamping. Namun demikian kakinya menyentuh tanah, maka iapun segera melenting menyerang kembali.

Demikianlah, maka merekapun segera bertempur dengan sengitnya. Risang dan Kasadha bersama-sama melawan orang yang berilmu tinggi itu. Sedangkan para pengawal juga telah bertempur dengan sengitnya melawan Ki Lurah Mertapraja yang benar-benar telah kehilangan penalarannya.

Sementara itu, di halaman banjar, dibelakang gan­dok, telah terjadi pula pertempuran yang sengit. Justru orang-orang berilmu tinggi sedang mempertaruhkan kemampuan mereka.

Selain mereka ternyata masih ada lagi seorang yang bertempur dihalaman banjar. Orang itu tanpa diketahui darimana datangnya telah memotong tali kentongan. Dan bahkan dengan kapaknya ia mencoba untuk memecahkan kentongan yang memang tidak begitu besar dan terbuat dari kayu yang lunak.

Beberapa orang pengawal yang masih berjaga-jaga di halaman banjar itu terkejut. Dengan serta-merta mere-kapun telah mengepung orang itu. Bahkan ada diantara para pengawal yang telah memanggil kawan-kawannya yang ada diluar halaman. Sementara kawannya yang lain telah berada dibelakang gandok melihat dengan kebingu­ngan pertempuran yang hampir tidak mereka mengerti apa yang terjadi antara orang-orang yang berilmu tinggi.

Orang yang berada dihalaman dan memutus tali ken­tongan itu tertawa. Katanya — Kalian tidak dapat mem­beri isyarat lagi.—

—         Kau kira kenthongan hanya ada satu di padukuhan ini. — jawab seorang pengawal.

—         Di setiap gardu kita mempunyai kentongan — ber­kata pengawal yang lain.

—     Kentongan-kentongan kecil itu suaranya tidak akan menggapai padukuhan sebelah — berkata orang itu masih sambil tertawa, sementara itu kapaknya terayun-ayun mengerikan.

Beberapa orang pengawal yang mengepung orang itu memang menjadi termangu-mangu. Orang itu agaknya memiliki ilmu yang tinggi. Ia samar sekali tidak gentar melihat beberapa orang pengawal yang mengepungnya.

Tetapi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sudah berpengalaman itupun tidak akan melepaskan mereka. Seorang pengawal tertua diantara mereka telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk maju mendekat.

—    Menyerahlah — berkala pengawal itu.

—    Untuk apa aku menyerah? Jika hanya untuk menyerah saja, aku tidak akan datang memutuskan tali kentongan dan memecahnya. Bukankah lebih baik bagiku untuk melarikan diri saja? Nah, sekarang aku ada disini. Marilah, semakin banyak para pengawal yang mengepung­ku, maka korbanpun akan semakin banyak berjatuhan. —-berkata orang itu masih sambil tertawa.

Orang yang tertua diantara para pengawal itupun kemudian justru memberikan aba-aba kepada kawan-kawannya untuk menyerang.

Sejenak kemudian maka dihalaman itupun telah ter­jadi pertempuran. Ternyata orang berkapak itu memang orang berilmu tinggi. Ketika para pengawal yang menge­pungnya itu menyerang bersama-sama dari beberapa arah, maka iapun telah menerobos kepungan itu dengan me­mutar kapaknya.

Ternyata para pengawal memang tidak mampu mena­hannya. Seorang pengawal yang mencoba untuk menahan ayunan kapak itu, pedangnya justru telah terpental. Se­mentara sebuah tombak pendek yang terjulur kearah dada orang itu tidak mengenai sasarannya. Bahkan dengan satu ayunan kapak yang sangat keras, landeyan tombak itu telah menjadi patah.

Demikian orang itu terlepas dari kepungan, maka’ suara tertawanya telah meledak lagi memenuhi halaman banjar. Sementara para pengawal telah memburunya dan berusaha untuk mengepungnya lagi.

Ketika kemudian terjadi lagi benturan, maka oranglu  dengan  tangkasnya berhasil menyibak satu sisi kepungan. Sekali lagi orang itu lolos dan seorang pengawal lelah terdorong beberapa langkah surut. Dadanya nampak berdarah karena seleret luka menyilang di dadanya itu.

Orang itu tertawa lagi. Katanya — Marilah. Satu demi satu kalian akan jatuh menjadi korban. —

Meskipun jantung para pengawal memang agak ter­getar, tetapi para pengawal itu tidak ingkar akan kewa­jiban mereka. Dengan dada tengadah mereka telah ber­gerak maju. Merekapun segera mengepung lagi orang yang tidak dikenal itu.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang ada di halaman banjar itu telah dikejutkan oleh derap kaki kuda. Beberapa ekor kuda berlari kencang menuju keregol ha­laman banjar itu.

Pertempuran dihalaman itupun terhenti. Semua orang memandang keregol halaman.

Dibawah cahaya oncor diregol, mereka melihat ampat orang berkuda memasuki halaman. Dua orang pengawal Tanah Perdikan dan dua orang lainnya adalah para per­wira prajurit Madiun yang sedang bermalam di banjar.

—           Apa yang terjadi? — bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

—           Beberapa orang berusaha mengambil Ki Lurah Mertapraja — jawab pengawal tertua yang mengepung orang yang memutuskan tali kentongan.

—           Sudah aku duga — jawab Ki Ttimenggung Puspa­laga — dimana angger Risang dan angger Kasadha.

— Mereka tadi pergi ke belakang gandok. — jawab

pengawal itu.

Ki Tumenggung Puspalaga termangu-mangu sejenak. Ia melihat seorang pengawal yang terluka dan melihat pula landeyan tombak yang patah. Karena itu, maka iapun segera mengetahui, bahwa orang itu tentu orang yang ber­ilmu tinggi. Tanpa gentar, dihadapinya sejumlah para pe­ngawal yang mengepungnya.

—   Ki Lurah Samekta — berkata Ki Tumenggung Puspalaga — lihat apa yang terjadi dibelakang gandok. Biarlah aku setidak-tidaknya menahan orang ini agar tidak dengan semena-mena membunuh para pengawal.

—   Siapa kauhe?— bertanya orang itu.

—          Aku salah seorang pemimpin pengawal Tanah Per­dikan — jawab Ki Tumenggung Puspalaga yang memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan sebagaimana Ki Lurah Samekta.

—          Marilah jika kau ingin membunuh diri mendahului para pengawal. Aku akan dengan senang hati memecah dahimu dengan kapakku ini. — berkata orang itu.

Ki Tumenggung Puspalaga yang sudah turun dan kudanya melangkah perlahan-lahan mendekati orang itu, sementara Ki Lurah Samekta setelah menyerahkan kudanya kepada seorang pengawal, dengan tergesa-gesa pergi kebelakang gandok.

Ki Lurah memang terkejut. Ia melihat pertempuran yang sedang terjadi di belakang gandok. Justru pertem­puran antara orang-orang berilmu tinggi.

Ki Lurah Samekta memang tidak dengan serta merta ikut campur dalam pertempuran itu. Ia berdiri diantara beberapa orang pengawal Tanah Perdikan yang berdiri termangu-mangu.

Sementara itu, Ki Tumenggung Puspalaga telah ber­hadapan dengan orang yang bersenjata kapak itu, semen­tara beberapa orang pengawal masih tetap mengepungnya dari segala arah. Ujung-ujung senjata yang teracu nampak seperti ujung daun pohon seribu tombak yang runcing ber­duri.

Ternyata orang itu mulai menjadi bersungguh-sungguh. Ia melihat sikap Ki Tumenggung Puspalaga yang tenang dan mantap. Dengan demikian maka orang itu menyadari, bahwa orang yang mengaku pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu memiliki kelebihan dari para pengawal yang lain.

Ternyata sejenak kemudian orang yang bersenjata kapak itu mulai menyerang. Sementara itu Ki Tumeng­gung Puspalaga sudah menggenggam hulu pedangnya. Pedang seorang perwira tinggi prajurit Madiun.

Sejenak kemudian, maka pertempuran sengitpun ter­jadi. Ternyata Ki Tumenggung Puspalaga cukup tangkas menghadapi orang bersenjata kapak itu. Dengan demi­kian, maka pertempuran itupun dengan cepat menjadi semakin garang. Keduanya saling menyerang dan saling bertahan.

Orang bersenjata kapak itu memang seorang yang berilmu tinggi. Beberapa kali ia berhasil mendesak Ki Tu­menggung Puspalaga. Namun setiap kali ujung ujung sen­jata para pengawal telah bergerak pula. Seperti gelombang air laut, maka beruntun ujung-ujung tombak itu menye­rang dari segala arah.

Dalam pada itu, dibelakang gandok, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Orang-orang berilmu sangat tinggi telah mengerahkan kemampuan mereka. Karena itu, maka beberapa orang pengawal yang telah berada ditem-pat itu tidak dapat langsung melibatkan diri dalam pertem­puran itu. Demikian pula Ki Lurah Samekta. Meskipun ia termasuk seorang prajurit pilihan, namun ia masih belum mencapai tataran ilmu dari mereka yang sedang bertempur itu.

Namun dalam pada itu, Warsi, ibu Kasadha terkejut ketika lawannya tiba-tiba saja berkata —He,siapa kau se­benarnya? —

—   Kenapa? — bertanya Warsi.

—   Aku kenal dengan satu dua unsur gerakmu ciri dari perguruan Kalamerta.He,apakah kau memang berasal dari perguruan Kalamerta yang menakutkan itu? — ber­tanya orang itu.

— Siapapun aku, kau tidak perlu menghiraukan. Kita berdiri berhadapan dengan kepentingan yang berlawanan pula.He,apakah kau kira aku tidak mengenali unsur-unsur dari perguruan Wukir Gading yang kau pergunakan itu?— jawab Warsi.

Orangitutermangu-mangu sejenak. Namun kemu­dian katanya — Aku memang dari perguruan Wukir Gading. Nah, kita akan melihat, apakah perguruan Kala­merta yang pernah ditakuti itu mampu mengalahkan ilmu dari perguruan Wukir Gading. —

—   Baik — jawab Warsi — kita akan melihat, apa yang terjadi nanti. Kau atau aku. —

Lawannya tidak menjawab lagi. Namun serangan-se­rangannya menjadi semakin cepat dan garang. Tetapi Warsipun bertempur semakin keras pula. Bahkan ketika ia benar-benar harus mengerahkan kemampuannya, maka unsur-unsur geraknya memang nampak menjadi semakin kasar. Namun bagi para pengawal yang melihat pertem­puran itu dikeremangan malam, tidak dapat membedakan antara unsur-unsur yang keras dan kasar. Pertempuran yang mereka saksikan adalah pertempuran yang sengit.

Tetapi kehadiran para pengawal itu mau tidak mau telah berpengaruh pula. Ujung-ujung senjata yang men­cuat dalam kegelapan dan sekali-sekali nampak berkilau memantulkan cahaya bintang dilangit dan lampu oncor dikejauhan, membuat jantung lawan Warsi itu bergetar. Betapapun lemahnya para pengawal, namun jika ujung senjata itu mengurungnya, sementara seorang yang ber­ilmu tinggi harus dihadapinya dengan penuh perhatian,

maka ia akan dapat mengalami kesulitan.

Tetapi dengan tekad yang bergelora dihatinya, maka orang itu benar-benar ingin menunjukkan bahwa ia akan mampu mengalahkan perempuan yang garang, yang ternyata memiliki latar belakang ilmu Kalamerta itu. Apalagi setelah keduanya bertempur dengan senjata. Ran­tai ditangan Warsi berputaran dengan cepatnya. Suaranya berdesing menghentak-hentak ditelinga.

Semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka merambat sampai kepuncak. Sementara beberapa penga­wal memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebar-debar.

Ditempat lain, dikegelapan kebun dibe/ikang, Nyi Wiradanapun bertempur dengan sengitnya pula. Lawan­nya ternyata memiliki kekuatan dan kecepatan gerak yang sangat tinggi: Namun Nyi Wiradana yang memiliki ilmu Janget Kinatelon mampu mengimbangi kecepatan dan ke­tangkasan lawannya itu. Dengan demikian maka pertem­puran itupun menjadi semakin sengit. Keduanya telah mempergunakan senjatanya pula. Nyi Wiradana memper­gunakan pedangnya, sedangkan lawannya memperguna­kan bindi baja kecil tetapi agak panjang.

Dengan demikian, maka Nyi Wiradana memang menghindari benturan langsung antara senjatanya yang tipis dengan bindi lawannya. Meskipun bindi itu terhitung bindi yang kecil, tetapi besi gligen itu akan dapat mem­bahayakan pedangnya.

Sementara itu lawannya yang memiliki senjata yang dianggapnya lebih kokoh, dengan garangnya telah menye­rang sejadi-jadinya. Bindinya berputaran dan sekali-sekali terayun mengarah ketubuh Nyi Wiradana. Namun Nyi Wiradana mampu bergerak lebih cepat dari ayunan bindi itu, sementara itu pedangnyapun berputar dengan cepat pula. Bahkan sekali-sekali mampu menembus putaran bin-di lawannya.

Nyi Wiradana yang juga memikirkan anaknya kemu­dian telah mengerahkan segenap kemampuannya.Untuk berusaha mengatasi perlawanan orang bersenjata bindiitu, maka Nyi Wiradana telah mengetrapkan kemampuannya, ilmu Janget Kinatelon.

Lawannya memang terkejut. Perempuanitu kemu­dian telah bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Meskipun perempuan itu masih belum membenturkan senjatanya, tetapi terasa bahwa kekuatannya seakan-akan menjadi berlipat.

Karena itu, maka lawannya itupun telah mengerah­kan segenap kemampuan dan ilmunya. Dengan garang orang itu menggeram. Matanya bagaikan menyinarkan cahaya kemerah-merahan yang menyala dikegelapan. Beberapa pengawal memang berusaha mendekat. Tetapi seperti pertempuran yang terjadi antara Warsi dan lawan­nya, maka para pengawal tidak dapat dengan serta merta ikut campur.

Mereka hanya dapat menyaksikan pertempuranitu dengan tegangnya. Meskipun demikian, para pengawalitu telah bersiap untuk berbuat sesuatu jika diperlukan.

Dalam pada itu, beberapa orang di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan menjadi gelisah. Berurutan be­berapa orang telah meninggalkan rumah itu. Bibi Kasadha yang ada dirumah itu juga menjadi gelisah.

Sebenarnya ia ingin ikut bersama ibu Kasadha ke padukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja ditahan. Tetapi ibu Kasadha minta agar ia tinggal saja di rumah itu. Demikian pula Gandar yang ada diantara para peronda. Bahkan kemudian menyusul pula dua orang prajurit Madiun pengiring Ki Tumenggung Puspalaga bersama Ki Lurah Samekta. Mereka berbincang­di gardu didepan rumah Kepala Tanah Perdikan Sembo-. jan.Kepergian para pemimpin Tanah Perdikan yang kemudian disusul oleh Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta yang diantar oleh dua orang pengawal Ta­nah Perdikan Sembojan, mengisyaratkan kepada mereka bahwa memang ada sesuatu yang gawat.

Karena itu, maka Gandar tidak kehilangan kewas­padaan. Mungkin saja keributan itu justru timbul di padu­kuhan induk. Tidak di padukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja ditahan.

Tetapi sampai jauh lewat tengah malam tidak terjadi sesuatu di padukuhan induk. Namun kemudian mereka dikejutkan oleh kehadiran dua orang pengawal dari pa­dukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja itu ditahan.

Kedua orang pengawal itu telah menceriterakan apa yang telah terjadi di padukuhan itu. Tentang orang-orang yang datang untuk membebaskan Ki Lurah Mertapraja serta tentang kentongan di banjar yang tidak dapat di­pergunakan lagi.

—           Apa hanya ada satu kentongan di padukuhan itu? — bertafiya Gandar.

—           Kami hanya ingin membatasi persoalan agar tidak seluruh Tanah Perdikan ini menjadi kisruh. Aku hanya ingin minta bantuan beberapa pengawal terbaik untuk ikut

mengatasi persoalan. — berkata pengamal itu.

—     Bagaimana dengan para pemimpin Tanah Per­dikan yang sudah datang kesana? — bertanya Gandar pula.

Nampaknya mereka memang menguasai beberapa orang berilmu tinggi yang akan membebaskan Ki Lurah Mertapraja. Tetapi kami masih mencemaskan jika kea­daan berkembang semakin buruk. Tiba-tiba saja muncul orang-orang baru yang harus dihadapi oleh para penga­wal.

Gandar memang menjadi agak bingung. Ia ingin pergi ke padukuhan itu. Tetapi Risang telah menyerahkan khususnya padukuhan induk itu untuk dijaganya.

Karena itu, kemudian Gandar telah mengambil kepu-tusan untuk menunjuk sepuluh orang pengawal terbaik yang ada malam itu di halaman rumah Kepala Tanah Per­dikan Sembojan. Dengan sepuluh ekor kuda yang dengan tergesa-gesa dipersiapkan diantara kuda-kuda yang ada, maka sepuluh orang pengawal terbaik itu berpacu ke padukuhan yang sedang dilanda keributan itu.

Sepuluh orang pengawal memang tidak terlalu ba­nyak. Tetapi mereka adalah pengawal-pengawal yang telah ada, maka mereka akan dapat membantu mengatasi keri­butan yang terjadi di padukuhan itu.

Sementara itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Ternyata diluar halaman banjar telah muncul lagi seorang yang tidak diketahui darimana datangnya. Orang itu berusaha untuk membantu melin­dungi Ki Lurah Mertapraja, sehingga dengan demikian, maka Risang dan Kasadha harus membagi diri. Bersama para pengawal yang ada mereka bertempur melawan dua orang itu, sementara Ki Lurah Mertapraja juga masih ber­tempur dengan caranya melawan orang-orang yang akan menangkapnya.

Di halaman Ki Tumenggung Puspalaga masih ber­tempur pula dengan mengerahkan Segenap kemampuan­nya. Lawannya memang orang berilmu tinggi sehingga sulit bagi Ki Tumenggung untuk dengan cepat mengua­sainya.

Sementara itu Ki Lurah Samekta yang sempat mem­perhatikan pertempuran dibelakang gandok dan melihat bahwa para pemimpin Tanah Perdikan mampu mengim­bangi orang-orang yang datang untuk berusaha mem­bebaskan Ki Lurah Mertapraja, telah bergeser pula kehalaman. Dengan cepat ia bergerak menempatkan diri bersama Ki Tumenggung Puspalaga dan beberapa pe­ngawal.

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih juga bertem­pur dengan sengitnya. Keduanya juga harus menghadapi dua orang berilmu tinggi. Mereka harus mengerahkan segenap kemampuan mereka agar mereka tidak dihancur­kan oleh lawan-lawan mereka.

Namun dalam pada itu, lawan Nyi Wiradana yang telah membawa Ki Lurah Mertapraja keluar dari biliknya, telah mengerahkan segenap ilmunya pula. Apalagi karena Nyi Wiradana sudah sampai kepuncak ilmunya. Janget Kinatelon.

Sebenarnyalah bahwa lawan Nyi Wiradana itu men­jadi sangat Jieran mengalami perlawanan dari seorang perempuan yang berilmu sangat tinggi. Perempuan yang mampu bergerak dengan cepat. Pedangnya berputaran dan ayunan kekuatannya sama sekali bukan kekuatan ke-wadagan sewajarnya.

Bahkan sekali-sekali orang itu harus meloncat mengambil jarak, jika pengamatannya terhadap ujung senjata lawannya itu terlambat.

Namun ternyata bahwa kemampuan ilmunya, masih belum dapat mengimbangi ilmu perempuan itu. Semakin lama. ia justru menjadi semakinterdesak. Bahkan beberapa kali ujung pedang perempuan itu telah menyentuh tubuh­nya.

— Ilmu apa pula yang dipergunakan perempuan itu? — bertanya lawannya didalam hatinya.

Bukan saja pedang itu sendiri yang memburunya, tetapi sambaran anginnya terasa semakin lama semakin pedih ditubuhnya. Benturan-benturan yang terjadipun telah membuat lawan Nyi Wiradana itu semakin terdesak.

Ilmu Janget Kinatelon memang sangat mencemaskan lawannya. Ia sama sekali tidak tahu apakah yang diper­gunakan oleh perempuan itu. Tetapi rasa-rasanya ilmu itu membelitnya semakin lama semakin erat. Luka-luka kecil lelah mulai mewarnai kulitnya pula, sehingga nyeri dan pedih telah menyengatnya.

Sementara itu Nyi Wiradana sendiri berusaha untuk segera menyelesaikan pertempuran itu. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan Risang dan Kasadha yang telah mem­buru Ki Lurah Mertapraja ke kegelapan. Bahkan kemu­dian mereka seakan-akan telah hilang ditelan pohon-pohon perdu digelapnya malam.

Dalam pada itu, betapapun lawannya meningkatkan kemampuannya sampai kepuncak ilmunya, namun orang itu tidak mampu mengatatasi ilmu perempuan itu.

Bukan hanya orang itu yang mengalami kesulitan. Lawan Warsipun ternyata tidak mampu mengimbanginya. Ternyata bahwa ilmu perempuan yang mempunyai latar belakang perguruan Kalamerta itu tidak dapat ditun­dukkan oleh ilmu yang disadap dari perguruan Wukir Ga­ding. Bahkan semakin lama orang itu menjadi semakin terdesak. Warsi yang bertempur dengan keras dan kasar benar-benar tidak terlawan oleh orang dari Wukir Gading itu.

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan pertem­puran itu pula. Betapapun lawan-lawan mereka berusaha memberikan perlawanan sekuat-kuatnya, namun mereka ternyata semakin lama menjadi semakin terdesak.

Dalam pada itu, orang yang bertempur melawan Nyi Wiradana benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk bertahan lebih lama. Serangan-serangan ilmu Janget Kina-telon benar-benar menjadi semakin tidak dimengertinya. Seperti angin pusaran yang melilitnya berputaran sehingga rasa-rasanya tidak ada lagi tempat untuk menghindar.

Karena itu, sebelum keadaan menjadi semakin sulit, maka tiba-tiba saja dari mulutnya telah terdengar suitan nyaring. Keras sekali, seakan-akan mengguncang seisi ban­jar dan halamannya yang terhitung luas itu.

Nyi Wiradana memang terkejut mendengar suitan nyaring itu. Bukan sekedar bunyi yang nyaring. Tetapi getarannya terasa menusuk kedalam dadanya.

Nyi Wiradana pernah mendapat serangan ilmu gelap ngampar. Tetapi jauh lebih kuat dari getar teriakan lawan Nyi Wiradana itu. Karena itu, setelah mengerahkan daya tahannya, maka iapun telah siap menyerang lagi.

Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata dipergunakan sebaik-baiknya. Orang itu sama sekali tidak berusaha menyerang Nyi Wiradana yang sedang mengatasi sentuhan getar ilmu yang terlontar lewat suitan nyaringnya. Namun ia telah memanfaatkan waktu yang sekejap itu untuk meloncat melarikan diri.

Suitan nyaring itu ternyata memang aba-aba yang diberikan untuk mengajak kawan-kawannya meninggal­kan tempat itu.

Beberapa orang pengawal yang melihat orang itu ber­usaha melarikan diri memang serentak berusaha untuk memburunya. Tetapi suitan nyaring yang baru saja ter­dengar, rasa-rasanya telah menghambat gerak mereka. Mereka masih harus mengatur denyut jantung mereka yang baru saja seakan-akan diguncang oleh getar suitan nyaring itu.

Karena itu, maka merekapun telah terlambat pula. Orang itu sudah berlari menjauh menusuk kegelapan dike­jar oleh Nyi Wiradana. Tetapi kelebihan waktu yang se­kejap, serta kemampuannya berlari yang bagaikan terbang itu, telah memungkinkannya untuk mencapai dinding lebih dahulu dari Nyi Wiradana. Dengan tangkasnya pula orang itu meloncati dinding, seolah-oleh bagaikan seekor burung srikatan yang terbang hinggap sekejap diatas din­ding yang kemudian hilang diseberang.

Nyi Wiradana memang juga meloncat naik keatas bibir dinding halaman. Namun ia sudah kehilangan buruannya. Nyi Wiradana tidak melihat, kemana orangitu melarikan diri, apalagi ketika perhatiannya tertuju pada pertempuran tidak terlalu jauh dari dinding itu.

Sekali lagi banjar dan sekitarnya diguncang oleh suitan nyaring. Tetapi sumber bunyi itu ternyata telah menjadi agak jauh dari dinding halaman, sehingga Nyi Wi­radana tidak lagi berniat untuk mencarinya. Bahkan ia berharap bahwa para pengawal Tanah Perdikan itu juga tidak memburunya, karena orang itu adalah orang yang sangat berbahaya.

Sementara itu, ternyata Ki Lurah Mertapraja telah tertangkap kembali. Dua orang berilmu tinggi yang ber­tempur untuk melindungi Ki Lurah Mertapraja itu ter­nyata tidak berhasil. Selain Risang dan Kasadha yang ber­tempur melawan mereka, para pengawal yang datang kemudian dari padukuhan induk telah bergabung dengan mereka pula. Seorang dadi keduanya tidak lagi dapat ter­tolong jiwanya. Sementara yang lain memang berhasil melarikan diri.

Sedangkan Ki Lurah Mertapraja sendiri berhasil ditangkap hidup-hidup meskipun ia telah terluka lagi, sementara lukanya yang terdahulu masih belum sembuh.

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Risang dan Kasadha selamat tanpa mengalami cidera.

Namun tiba-tiba Nyi Wiradana itupun berkata — Marilah, kita melihat bibimu yang bertempur bersama paman Sambi Wulung dan Jati Wulung. —

Risangpun kemudian telah memerintahkan para pengawal untuk menguasai Ki Lurah dengan baik. Kata­nya — Cepat, bawa ke banjar. Jika terjadi sesuatu, beri isyarat. Jangan ragu-ragu. —

Risang tidak menunggu jawaban. Bersama ibunya dan Kasadha merekapun telah meloncati dinding halaman itu lagi.

Ketika mereka sampai dibelakang gandok, mereka melihat Warsi berdiri tegak sambil memegangi ujung dan pangkal rantainya dengan kedua tangannya. Dihadapan-nya terkapar sesosok tubuh salah seorang dari perguruan Wukir Gading.

—   Aku tidak berhasil membujuknya untuk menyerah — desis Warsi dengan kepala tunduk:

Kasadha mendekatinya sambil berkata — Ibu tidak mempunyai pilihan lain. —

—   Ya— sahut Risang — aku kira, itu adalah penye­lesaian yang terbaik. Jika ia tidak mau menyerah, maka satu-satunya kemungkinan yang akan dijalaninya adalah kematian. —

Nyi Wiradanapun kemudian mendekatinya dan mem­bimbingnya — Marilah. Kita pergi ke banjar. —

Tetapi tiba-tiba saja Risang teringat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Dengan ragu ia berdesis — Di­mana paman Sambi Wulung dan Jati Wulung? —

Ibu Kasadha itulah yang menjawabnya — Mereka berusaha mengejar lawan masing-masing. Tetapi oraug itu berlari seperti angin, sementara aku masih harus menye­lesaikan orang ini. —

Nyi Wiradana mengangguk-angguk, Ketika ia melihat beberapa orang pengawal termangu-mangu, maka Risang itupun berdesis — Para pengawal tidak akan dapat ber­buat banyak. Jika mereka berusaha mengejai, maka mereka berada dalam bahaya. —

—   Ya — desisNyi Wiradana — akujugakehilanganburuankiKMudah-mudahan para pengawal juga tidak mengejarnya. —

Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud rimnya, karena para pengawal tentu tidak akan berhasil menangkapnya.

Risangpun kemudian mengajak mereka semua ke halaman. Sementara itu para pengawalpun telah mendapat perintah untuk membawa sosok tubuh yang terbaring ituke halaman.

Namun Risang dan Kasadha terkejut ketika mereka melihat sosok tubuh yang lain terbaring pula dihalaman. Ditangannya masih tergenggam kapak yang cukup besar, sementara kentongan banjar itu tergolek dan bahkan pecah tidak terlalu jauh dari sosok tubuh itu. Di tangga pendapa berdiri Ki Tumenggung Puspalaga, Ki Lurah Samekta sementara para pengawal yang bersenjata telan­jang berdiri didepan tangga.

—           Apa yang terjadi disini? — bertanya Risang.

—           Orang itu telah memutuskan tali kentongan dan berusaha merusaknya. Ia adalah salah seorang diantara mereka yang ingin mengambil Ki Lurah Mertapraja. — jawab seorang pengawal.

—           Tetapi Ki Tumenggung? — bertanya Kasadha.

Ki Tumenggung yang masih menggenggam senjatanya menjawab agak ragu — Sebenarnya aku hanya ingin melihat apa yang terjadi. Aku tahu bahwa beberapa orang telah pergi ke padukuhan ini. Karena itu, aku telah minta i jinkepada kakang Gandar untuk melihat apa yang terjadi disini diantar oleh dua orang pengawal yang ada di hala­man rumah Kepala Tanah Perdikan. —

Kasadha mengangguk-angguk. Demikian pula Ri­sang. Mereka segera mengetahui apa yang telah terjadi. Bahkan Ki Tumenggung dan Ki Lurah telah terlibat pula dalam pertempuran di halaman.

Selain Ki Tumenggung dan Ki Lurah, maka Risang­pun melihat beberapa orang pengawal telah berada di halaman itu pula selain mereka yang telah membantu menangkap Ki Lurah Mertapraja. Namun Risang masih belum sempat bertanya, kenapa mereka tiba-tiba saja telah berada di padukuhan itu.

Demikianlah, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu bersama Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta telah naik kependapa. Mereka menunggu laporan terakhir dari peristiwa yang menggemparkan pedukuhan itu.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa orang pengawal telah membawa Ki Lurah Mertapraja yang sudah terikat tangannya dibelakang tubuhnya. Namun ia masih saja berteriak-teriak dan mengumpat-umpat.

—   He,orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dan orang-orang Madiun. Kenapa kalian merasa iri hati jika aku pada suatu saat akan meraih kekuasaan tertinggi di bumi ini. —

Orang-orang yang berada di pendapa hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak akan dapat berbicara dengan Ki Lurah dalam keadaan seperti itu. Seandainya diajukan pertanyaan-pertanyaan juga ke­pada Ki Lurah, maka persoalannya tentu tidak akan dapat sambung.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Puspalaga itupun berkata — Sudahlah ngger. Biarlah Ki Lurah Mertapraja disimpan saja lebih dahulu. Tentu saja dengan penjagaan yang lebih ketat. —

—   Aku akan membawanya ke padukuhan induk saja Ki Tumenggung — berkata Risang kemudian — kita akan lebih mudah mengawasinya. Jika terulang kembali usaha untuk melepaskannya, maka kami akan dapat mencegah­nya. —

Ki Tumenggung Puspalaga mengangguk-angguk kecil. Katanya — Segala sesuatunya terserah kepada angger yang memiliki kekuasaan di Tanah Perdikan ini. — Sambil berpaling kepada ibunya Risang bertanya — liagaimana pendapat ibu? —

—         Aku setuju Risang. Nampaknya persoalan Ki Lurah ini masih belum selesai. — jawab ibunya.

—         Ya — sahut ibu Kasadha — aku belum melihat pedang Wisa Raditya dan perisai Lar Sasi dalam pertem­puran itu. Aku kira pen