Pendekar 4 Alis – Keajaiban Negeri Es (Seri 5)

New Picture (1)

Pendekar 4 Alis

Keajaiban Negeri Es (Seri 5)

Karya : Khu-Lung

Saduran : Gan K.L

 

Bab 1 …

Rahasu, negeri yang hendak dituju oleh Liok Siau-hong terletak di selatan Siang-hoa-kang, sungai bunga cemara. Sungai yang terletak di ujung utara, berbatasan dengan daerah yang kini dikenal sebagai Siberia. Arti Rahasu adalah Lau-ok atau rumah tua, suatu tempat dingin dan terpencil, setiap tahun bila sudah menginjak bulan kesembilan, sungai itu lantas beku, sampai Jing-beng pada bulan keempat tahun berikutnya barulah air sungai akan cair lagi.

Sungai terbeku selama tujuh bulan, jadi selama setahun sungai itu lebih lama dalam keadaan beku daripada cair.

Akan tetapi selama tujuh bulan itu tidaklah menyusahkan. Sesungguhnya, penduduk Lau-ok

malahan selalu menantikan masa bekunya sungai selama tujuh bulan itu, sebab dalam jangka

waktu selama itu kehidupan mereka justru akan lebih menarik, lebih banyak gaya ragamnya.

“Sesungguhnya dimana letak Rahasu?” “Di atas Siong-hoa-kang.” “Masa di atas sungai ada

kota?”

“Bicara sesungguhnya, letaknya tidak di atas sungai, tapi di atas es.”

“Di atas es?” Siau-hong tertawa oleh keterangan Jo-jo itu. Meski sudah sangat banyak

pengalamannya yang aneh-aneh, tapi kota di atas es belum pernah dilihatnya.

Orang yang tidak pernah berkunjung ke Rahasu memang sulit untuk mempercayai hal ini.

Tapi Rahasu memang betul-betul terletak di atas es.

Permukaan sungai itu tidak terlalu luas, cuma dua-tiga puluh tombak saju, tapi pada waktu air

sungai membeku, tebal esnya belasan kaki.

Orang yang sudah lama berdiam di ‘rumah tua’ itu kebanyakan mempunyai firasat sebelumnya

bilamana sungai akan membeku, Seakan Ikan dari hembusan angin sudah dapat tercium berita

akan terbekunya air sungai, dari alunan air sungai pun dapat diketahui waktunya air sungai

akan membeku. .

Maka beberapa hari sebelum sungai membeku, penduduk lantas melemparkan kerangka kayu

yang sudah disiapkan ke dalam sungai dan diikat erat-erat dengan tali sehingga serupa

2

imigran zaman purba membuat batas wilayah masing-masing di ladang belukar. Setelah air

sungai membeku, permukaan sungai lantas berubah menjadi sebuah jalan raya kristal yang

panjang lengang dan bercahaya kemilau.

Saat itu kerangka kayu yang semula terapung di permukaan sungai juga terbeku dan seakanakan

tonggak beton yang kuat. lalu di atas kerangka kayu ditambah dengan belandar, usuk

dan diberi alap dan bergeming, dapat juga dibuat dinding dengan pasir diaduk air, cukup

semalam saja bangunan baru inipun akan mengeras serupa batu.

Dan begitulah beraneka macam rumah lantas berderet-deret dibangun di atas sungai, hanya

dalam waktu beberapa hari saja tempat ini pun berubah menjadi sebuah kota yang sangat

ramai, bahkan kereta besar ditarik delapan kuda juga dapat berlarian di jalan raya

Berbagai toko dengan aneka macam usaha juga mulai buka. Meski di luar rumah suhu sangat

dingin, air menetes segera beku menjadi es. namun di dalam rumah terasa hangat seperti pada

musim semi.

Tentu saja Siau-hong tidak mengerti dan merasa seperti dongeng saja, sementara di dalam

rumah es itu masa hawa bisa sehangat musim padahal di luar tetesan air saja segera membeku,

hidung pun bisa terlepas bila ditarik.

“Sebab dalam rumah dapat dihuni api,” demikian Jo-jo bertutur.

“Membuat api di atas es?”

“Betul”

“Dan esnya bagaimana?”

“Esnya tetap es, sedikit pun tidak cair.”

Maklumlah, kalau dimana-mana es melulu, meski setitik bagian es itu cair, dengan segera

akan beku lagi.

Dan sungai yang membeku itu baru akan cair pada musim Jing-beng tahun berikutnya,

sebelum itu orang sudah pindah ‘rumah” ke daratan. Yang tersisa cuma kerangka kayu dan

barang tak berguna yang ikut terhanyut oleh gumpalan es.

Maka kota yang ramai di atas es itu pun lenyap dalam waktu singkat sehingga serupa dalam

dongeng atau impian saja.

Dan sekarang adalah waktunya sungai membeku, sesungguhnya saat ini juga merupakan

waktu yang paling dingin dalam setahun. Dan pada saat inilah Liok Siau-hong tiba di Rahasu.

Dengan sendirinya dia tidak datang sendirian, sebab kedudukannya sekarang sudah berlainan,

bahkan wajahnya juga sudah berubah.

Kecuali kumisnya yang serupa alis itu, di bawah janggutnya bertambah lagi secomot jenggot.

Perubahan ini tidak terlalu besar bila terjadi pada orang lain, Tapi bagi Liok Siau-hong tentu

saja tidak sama, sebab semula dia adalah orang yang “beralis empat”. sekarang cirinya yang

khas itu telah ditutup oleh kelebihan secomot jenggot itu.

Dengan demikian kelihatannya dia telah berubah jadi orang lain, berubah menjadi Kah Loksan,

itu hartawan yang paling kaya-raya di daerah Kanglam.

Biasanya lagak Siau-hong memang bukan orang kecil, apalagi sekarang ia membawa

serombongan pengiring, membawa mantel kulit yang bernilai tinggi dan berada di dalam

kereta besar yang mewah, kelihatannya memang benar seorang maha hartawan.

Dan Jo-jo yang cantik, dengan memakai mantel berbulu perak, seperti seekor merpati yang

jinak berdekapan di sampingnya.

Anak perempuan ini kadang suka gila-gilaan, angin-anginan, terkadang justru sangat jinak,

sangat penurut. Bahkan terkadang seperti setiap saal siap akan naik ranjang bersamamu. Tapi

bilamana engkau benar-benar hendak menyentuhnya, seketika dia akan ber ubah menjadi

mawar berduri yang menyakiti jarimu. Liok Siau-hong juga tidak terkecuali menghadapi nona

ini, sebab itulah selama beberapa hari ia selalu masgul. Maklum, Liok Siau-hong adalah

seorang lelaki normal dan sehat, jika siang dan malam selalu dirangsnag o]eh anak perempuan

3

secantik ini, tapi pada waktu dia membutuhkan, terpaksa dia hanya melongo memandang

langit, tentu saja hatinya kesal tak keruan.

Dalam pada itu, Swe-han-sam-yu masih menguntit dari kejauhan dan tidak pernah

mengganggu kebebasannya. Satu-satunya tujuan mereka hanya berharap Liok Siau-hong

dapat menemukan Lo-sat-pay bagi mereka, untuk itu apakah Liok Siau-hong akan berubah

menjadi Kah Lok-san atau berubah menjadi Kau-ce-thian juga masa bodoh, sama sekali

mereka tidak peduli.

Dipandang dari kejauhan, jalan raya kristal yang kemilau itu sudah terlihat jelas.

Jo-jo menghela napas perlahan, katanya, “Perjalanan ini akhirnya dapatlah kita selesaikan.”

Siau-hong juga menghela napas, ia tahu betapa sulit dan panjangnya perjalanan, pada suatu

saat akhirnya pasti akan tercapai. Kini melihat tempat tujuan sudah di depan mata, hatinya

terasa gembira sekali.

Pengendara kereta juga lantas bersemangat dan mempercepat lari kudanya, hidung kuda

menyemburkan kabut dan buih putih mengucur dari mulut.

Dari jauh kelihatan deretan rumah di sepanjang jalan raya kota es itu.

Tidak lama kemudian, malam pun tiba.

Di negeri yang jauh dan dingin ini. malam seolah-olah datang terlebih cepat dan sangat

mendadak. Jelas tadi senja belum lagi tiba, tahu-tahu cuaca sudah gelap dan malam

menyelimuti bumi.

Jalan raya kristal yang kemilau itu pun berubah kelam, maka lampu lantas menyala di kanan

kiri jalan, kota yang kelihatan tenggelam dlaam kegelapan mendadak berubah menjdai gilang

gemilang lagi.

Cahaya lampu menimpa permukaan es dan menimbulkan sinar pantul yang menyilaukan

sehingga tampaknya kota itu penuh istana kristal yang berderet-deret di atas dunia kaca.

Barang siapa pertama kali melihat pemandangan seperti ini tentu akan silau dan terpesona.

Siau-hong tidak terkecuali.

Sepanjang jalan dia sudah banyak merasakan pahit getir, bahkan beberapa kali nyawanya

hampir melayang. Tapi dalam sekejap ini, tiba-tiba ia merasa segala macam penderitaan itu

cukup berharga baginya. Kalau sang waktu dapat diputar balik dan mengembalikan dia ke

kasino ‘pancing perak, sana dan dia disuruh memilih, maka tanpa sangsi dia bersedia

mengulanginya satu kali lagi.

Pengalaman yang pahit dan sulit bukankah dapat menambah bekal kehidupan manusia dan

membuatnya lebih masak?

Agar dapat menemukan kegembiraan dan kebahagiaan yang sesungguhnya, bukankah harus

membayar imbalannya dengan jerih payah?

Liok Siau-hong menghela napas perlahan, katanya kemudian. “Sungguh kota yang ajaib dan

indah.”

Jo-jo hanya mengiakan dengan tersenyum.

Pasar malam kota es ini sama ramainya dengan kota-kota di tempat lain. Di bawah cahaya

lampu yang gilang-gemilang, biar pun bagian yang paling ramai di kotaraja juga tidak dapat

melebihinya.

Jalan raya tidak sempit dengan macam-macam toko di kedua tepi jalan, orang berlalu lalang

dengan kereta kuda yang hilir-mudik. suara hiruk-pikuk berkumandang dan rumah minum

dan restoran.

Setiba di jalan ini, yang menarik perhatian Siau-hong pertama-tama adalah sebuah rumah

minum (arak) dengan papan merek yang tertulis ‘Thay-pek-ih-hong’ atau warisan Thay-pek

(Li Thay-pek penyair besar yang gemar minum arak), di depan pintu rumah minum itu berdiri

seorang nona berbaju kulit dan sedang memandangnya dengan tersenyum-senyum.

4

Nona ini tidak terlalu cantik, tapi sangat manis senyumannya dan menggiurkan. Mukanya

yang bulat dengan dekiknya waktu tersenyum sungguh sangat menarik, nona ini terus

menatap Liok Siau-hong dengan lirikan matanya yang memikat.

Tiba-tiba Jo-jo menjengek, “Tampaknya dia tertarik padamu.”

“Hakikatnya aku tidak kenal dia,” ujar Siau-hong.

“Dengan sendirinya tidak kau kenal dia, tapi kukenal dia,” kata Jo-jo.

“Oo?!” Siau-hong ingin tahu.

“Dia she Tong, lengkapnya Tong Ko-king, setiap orang merasa dia sangat menarik dan dapat

didekati, tampaknya kau pun tidak terkecuali.

Siau-hong tertawa. “Agaknya tak sedikit pengetahuanmu atas dirinya.”

“Tentu saja.” sahut Jo-jo.

“Tapi dia seperti tidak kenal dirimu?”

Jo-jo berkedip-kedip, katanya, “Coba kau terka, cara bagaimana kukenal dia?” “Aku tidak

dapat menerka, juga malas untuk menerka,” kata Siau-hong

“Cara bekerja Kah Lok-san biasanya sangat cermat,” tutur Jo-jo. “Sebelum kemari, lebih dulu

mereka berempat sudah diselidikinya dengan jelas, bahkan minta orang melukiskan wajah

mereka.”

Siau-hong berkerut kening, “Memangnya nona ini juga salah seorang dari keempat

perempuan yang dibuang oleh si jenggot biru?”

Jo-jo mengangguk, “Ya, dia terhitung bini muda kedua si jenggot biru.”

Tanpa terasa Siau-hong berpaling memandangnya lagi, tetapi ada seorang perempuan lain,

yang terlihat olehnya.

Perempuan ini baru saja keluar dari toko obat di seberang sana dan masuk ke rumah minum

Tong Ko-king, berbaju hitam dan berperawakan kurus kecil, mukanya selalu dingin dan

bersungut, serupa setiap orang di dunia ini sama berhutang padanya dan tidak membayar.

Cara bagaimana pun memandangnya jelas perempuan ini bukanlah perempuan yang

menimbulkan simpatik. Tapi dia justru sangat menarik perhatian, dia dan Tong Ko-king jelas

dua jenis model perempuan yang berbeda, tapi keduanya justru bersahabat, bahkan tampaknya

sangat karib.

“Apakah kau pun menaksir perempuan ini?” tanya Jo-jo. “Aku kan tidak kenal dia?” Siauhong

menyengir. “Tapi aku kan kenal dia,” kata Jo-jo. “Memangnya dia juga….”

“Ya, dia juga bini muda si jenggot biru, bini muda ketiga, she Leng dan bernama Hong-ji.”

Siau-hong menghela napas. “Si jenggot biru sungguh seorang aneh, setelah dia mengambil

bini muda semanis Tong Ko-king, mengapa menambah lagi bini muda yang bermuka dingin

begini?”

“Orang bermuka dingin tentu juga ada baiknya.” ucap Jo-jo dengan hambar. “Jika tidak

percaya, kalau ada kesempatan boleh kau coba-coba dia.”

Tanpa terasa Siau-hong menoleh lagi ke sana, tapi yang terlihat olehnya adalah dua orang

lelaki menggotong seorang yang patah kakinya ke depan toko obat sana dan sedang berteriak,

“Adakah tabib Leng di rumah? Mohon memberi pertolongan, lekas!”

Kiranya Leng Hong-ji itu adalah seorang tabib ahli penyakit luar, juga juragan toko obat itu

sendiri.

Siau-hong tertawa, katanya, “”Sungguh tak kusangka, dia ternyata masih mempunyai

kepandaian demikian.”

“‘Tidak cuma demikian saja, dia masih mempunyai beberapa kepandaian lain,” jengek Jo-jo.

Siau-hong tak dapat bicara lagi. Ia merasa di dunia ini mungkin ada perempuan yang tidak

makan nasi, tapi pasti tidak ada perempuan yang tidak minum cuka (cemburu).

Tapi Jo-jo lantas tertawa, ucapnya sambil berkedip. “Padahal, di antara keempat bini muda si

jenggot biru, yang paling cantik tetap bini pertama, Tan Cing-cing.”

“Tan Cing-cing?

5

Liok Siau-hong pernah mendengar nama ini.

“… Kebanyakan penduduk Rahasu berpikiran sempit, selalu mencurigai setiap pendatang

baru. kecuali dua orang, apa yang dikatakan siapa pun jangan kau percaya … yang seorang

bernama si Kambing tuat bekas pegawai mendiang ayahku, dan seorang lagi bernama Tan

Cing-cing …”

Begitulah ia lantas teringat kepada pesan Ting-hiang-ih tempo hari. Sungguh tak tersangka

olehnya bahwa Tan Cing-cing juga bini si Jengot Biru.

Jo-jo meliriknya sekejap, ucapnya pula, “Jika kau ingin melihat dia, dapat juga kubawa kau ke

sana.”

“Kau tahu tempat tinggalnynya? tanya Siau-hong tak tahan.

“Dia adalah komplotan Li He, tentu tinggalnya di dalam kasino dan membantu Li He.”

Kasino? Kasino apa?” tanya Siau-hong. “Kasino Pancing Perak.”Di sini juga ada sebuah

kasino bernama Pancing Perak?

Jo-Jo mengangguk, “Li He telah berjanji dengan kami untuk bertemu di rumah judi Pancing

Perak ini.””

Siau-hong tidak bertanya lagi, sebab sudah dilihatnya sebuah kail perak yang mengkilat

sedang bergoyang-goyang tertiup angin.

Pintu rumah judi ini tidak lebar, kail perak yang tergantung di bawah papan merek itu

bergoyang memantulkan cahaya gilap.

Siau-hong mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah yang terasa hangat seperti di musim

semi. Ia menanggalkan mantel kulitnya dan dilemparkan di atas kursi di belakang pintu, lalu

menarik napas dalam-dalam.

Hawa di dalam rumah terasa menyesakkan napas, ada bau tembakau, bau arakt bau bedak dan

bau minyak wangi …

Hawa semacam ini tidak cocok bagi orang yang hendak menarik napas dalam-dalam, bau

semacam ini sudah sangat dikenal oleh Liok Siau-hong.

Ucapan Sukong Ti-seng memang tidak salah, Liok Siau-hong memang betul lebih sesuai

berada di tempat-tempat demikian.

Dia suka foya-foya. suka rangsangan, suka kenikmatan, meski semua ini adalah

kelemahannya, tapi ia sendiri tidak pernah menyangkalnya.

Setiap manusia kan punya titik kelemahan? Kemegahan kasino ini memang tidak dapat

menandingi kasino Pancing Perak yang dikelola sendiri oleh si jenggot biru itu, penjudinya

juga tidak berjubal seperti di sana, namun meski kecil burung pipit, isi perutnya cukup

lengkap. Segala macam ragam alat judi, semuanya tersedia di sini.

Siau-hong tidak menunggu Jo-jo merangkul lengannya, segera ia mendahului masuk ke situ

dengan membusungkan dada.

Ia tahu setiap orang sedang memperhatikan dia, melihat pakaiannya, melihat gayanya, melihat

gerak-geriknya, siapa pun dapat melihat pendatang ini pasti seorang tamu besar yang

berkantung tebal, seorang ‘cukong’.

Dan biasanya mata ‘cukong’ suka memandang ke atas daripada melihat ke bawah, sebab itulah

kepala Liok Siau-hong juga menegak dan tidak sudi memandang ke arah lain. Tapi dia justru

dapat melihat seorang sedang mendekatinya dengan tersenyum.

Siau-hong tidak khusus memperhatikan seseorang, akan tetapi bentuk orang ini terasa sangat

aneh baginya. Dandanannya terlebih aneh, sampai Siau-hong yang sudah berpengalaman juga

merasa heran terhadap makhluk aneh ini.

Orang ini memakai jubah satin merah yang sangat longgar, di atas jubah penuh tersulam

macam-macam bunga, ada yang berwarna kuning, biru dan ada juga hijau.

Yang paling ajaib adalah topi hijau yang dipakainya itu, topi hijau yang lancip dan tinggi,

pada topi itu tersulam pula enam huruf besar berwarna merah dan berbunyi ‘Thian-he-te-itsin-

tong’.

6

‘Thian-he-te-it-sin-tong atau anak ajaib nomor satu di dunia.

Siau-hong tertawa, dengan sendirinya ia tahu siapa “orang ini, jelas orang inilah adik

kesayangan Li He yang bernama Li Sin-tong, si anak ajaib.

Melihat Siau-hong tertawa, Li Sin-tong juga tertawa, tertawa linglung dan seperti orang

kurang waras, dengan langkah berlenggang kangkung ia mendekati Siau-hong, dengan gaya

seperti orang perempuan dia memberi salam kepada tamunya dan menyapa. “Selamat

datang!”

Siau-hong mengangguk dengan menahan rasa geli.

“Siapa she Anda yang mulia?” tanya Li Sin-tong.

“Kah,” jawab Siau-hong,

Li Sin-tong memicingkan mata dan mengamati Siau-hong dari atas ke bawah dan dari bawah

ke atas, lalu bertanya pula, “Kah-heng datang dari daerah lain?”

“Ehhmm,” Siau-hong mengangguk.

“Entah Kah-heng suka bertaruh jenis apa? Apa Lah Pai-kiu? Dadu? Atau main ganjil dan

genap?” tanya Li Sin-tong pula.

Bentuknya kelihatan sinting, tapi cara bicaranya ternyata cukup jelas.

Siau-hong tidak sempat buka mulut, sebab dari belakang sudah ada orang mewakilinya

menjawab. “Kedatangan juragan Kah kita ini bukan untuk berjudi melainkan hendak mencari

orang.”

Suaranya lembut dan merdu, jelas suara orang perempuan, tapi bukan suara Jo-jo. melainkan

seorang perempuan yang kelihatan lemah lembut dan berwajah cantik. Jo-jo berdiri di

belakang perempuan ini dan sedang mengedipi Liok Siau-hong.

Siau-hong pikir jangan-jangan perempuan inilah Tan Cing-cing?

Tanpa memperlihatkan sesuatu tanda ia berkata, “Jika kau tahu kudatang untuk mencari

orang, tentunya kau pun tahu siapa yang hendak kucari?”

Perempuan itu memang betul Tan Cing-cing. Ia mengangguk

dan berkata, “Mari ikut padaku!”

ooo000ooo

Di belakang rumah judi itu terdapat pula sebuah rumah kecil yang terpajang sangat indah, tapi

tiada kelihatan seorang pun di situ.

Siau-hong duduk di atas kursi bambu besar yang berlapiskan kulit rase. “Dimana Li He?”

segera ia bertanya.

“Dia tidak berada di sini,” jawab Tan Cing-cing.

Seketika Siau-hong menarik muka, omelnya, “Jauh-jauh kudatang mencari dia, mengapa dia

tidak ada?”

Tan Cing-cing tertawa, lembut sekali tertawanya, ucapnya dengan halus, “Justru lantaran dia

tahu akan kedatangan Kah-loaya, makanya dia tidak berada di sini.”

“Memangnya apa artinya ini?” tanya Siau-hong dengan marah.

“Sebab untuk sementara ini dia belum dapat bertemu dengan Kah-toaya.”

“Apa alasannya?”

“Dia minta kusampaikan pada Kah-toaya, asalkan Kah-toaya dapat melakukan sesuatu, maka

bukan saja segera dia akan muncul untuk minta maaf kepada Kah-toaya, bahkan datang

dengan membawa Lo-sat-pay.”

“Urusan apa yang dimaksudkannya?”

“Dia berharap Kah-toaya menyerahkan dulu uangnya kepadaku setelah kuantarkan uang ini

kepadanya dan segera dia akan datang kemari.”

Siau-hong sengaja menggebrak meja dan berteriak, “Hah, apa-apaan, belum lihat barangnya

sudah minta bayaran!?”

7

Tan Cing-cing tetap tertawa lembut, katanya, “Dia juga memberi pesan agar disampaikan

kepada Kah-toaya, bahwasanya bilamana Kah-toaya tidak dapat menerima syaratnya, maka

bisnis ini dianggap batal.”

Mendadak Siau-hong berbangkit, tapi lantas berduduk pula perlahan.

“Menurut pendapatku, akan lebih baik Kah-toaya menerima syaratnya ini,” ujar Tan Cingcing

dengan tersenyum. “Sebab Lo-sat-pay sudah disembunyikan di suatu tempat yang sangat

rahasia dan aman. kecuali dia sendiri tidak ada orang kedua yang tahu. Jika dia tidak mau

mengeluarkannya, orang lain pasti tidak mampu menemukannya.”

Gemerdap sinar mata Liok Siau-hong, “Apakah dia kuatir kupaksa dia menyerahkan Lo-satpay,

maka begitu kutiba di sini dia lantas bersembunyi?”

Tan Cing-cing hanya tersenyum saja dan tidak menyangkal.

“Memangnya dia tidak takut kutemukan dia?” jengek Siau-hong,

“Engkau tak dapat menemukan dia,” ujar Tan Cing-cing dengan tertawa. “Jika dia tidak suka

bertemu dengan orang, siapa pun tidak dapat menemukan dia.”

Meski tertawanya sangat lembut, tapi sorot matanya penuh ra sa yakin atas ucapannya itu,

tampaknya dia juga seorang perempuan yans berpendirian teguh, bahkan yakin orang lain

pasti tidak mampu menemukan tempat sembunyi Li He.

Siau-hong memandangnya lekat-lekat, jengeknya, “Seumpama tidak dapat kutemukan dia,

tentu ada caraku untuk menyuruhmu

mencari dia bagiku.”

Tan Cing-cing tersenyum dan menggeleng, katanya. “Dengan sendirinya kutahu cara Kahtoaya

pasti sangat hebat. Cuma sayang, aku tidak tahu di mana Lo-sat-pay itu disimpan, juga

tidak tahu ke mana Li-toaci pergi. Kalau tidak, masakah dia meninggalkan diriku di sini?”

Sikapnya tetap sangat tenang, suaranya juga halus, siapa pun percaya ucapannya itu pasti

tidak berdusta.

Siau-hong menghela napas, “Wah, jika demikian, tampaknya kalau ingin kudapatkan Lo-satpay,

mau tak mau harus kuterima syaratnya ini?”

Cing-cing juga menghela napas, “Ai Li-toaci memang seorang perempuan yang sangat cerdik

dan cermat, kami juga…..”

Dia tidak melanjutkan, juga tidak perlu menyambung, sebab dari helaan napasnya sudah dapat

diketahui tentu mereka pun banyak merasakan pahit getir atas perlakuan Li He.

Siau-hong berpikir sejenak, katanya kemudian, “Tetapi kalau sudah kubayar dan dia ternyata

tidak menyerahkan barangnya?”

“Untuk ini pun tak dapat kuberi jaminan apa-apa,” sahut Cing-cing. “Sebab itulah boleh Kahtoaya

mempertimbangkannya lebih masak. Kami sudah menyediakan tempat tinggal bagi

Kah-toaya.”

‘Tidak perlu,” mendadak Siau-hong terbangkit. “Aku dapat mencari tempat tinggal sendiri.”

“Tapi Kah-toaya baru pertama kali datang ke sini, belum ada seorang kenalan pun, cara

bagaimana akan dapat mencari tempat tinggal?” 1

Siau-hong melangkah pergi, ucapnya sambil mendongak dengan lagak angkuh, “Meski aku

tidak punya kenalan, tapi aku punya uang!”

Jo-jo selalu berada di samping Siau-hong, begitu keduanya keluar dari kasino “Pancing

Perak”, segera Jo-jo bertepuk tangan memuji, “Bagus, sungguh hebat sekali !”

“Urusan apa kau bilang bagus?” tanya Siau-hong. “Sikapmu yang pongah itu sungguh sangat

bagus,” ujar Jo-jo. “Sungguh mirip benar seorang cukong besar berkantung tebal.”

“Padahal kutahu pribadi Kah Lok-san sangat pendiam dan culas, tidak nanti berlagak OKB

(orang kaya baru) seperti diriku tadi.” kata Siau-hong sambil menyengir. “Cuma aku memang

tidak dapat berlagak lain.”

“Lagakmu itu sudah cukup bagus,” ujar Jo-jo dengan tertawa. “Jika aku tidak kenal Kah Loksan,

tentu aku pun gentar kau gertak.”

8

“Akan tetapi Tan Cing-cing tampaknya tidak sederhana, apalagi Li He, pasti terlebih lihai,

apakah dapat kugertak dia?”

“Padahal bukan soal apakah dapat menggertak dia atau tidak,” kata Jo-jo. “Toh yang

dikenalnya cuma uang dan bukan manusianya.”

Siau-hong tertawa dan tak bicara lagi, ia sedang berpikir, “Tan Cing-cing sudah kulihat,

dalam keadaan begini dengan sendirinya tidak dapat kuberitahukan diriku yang sebenarnya

kepadanya, lebih-lebih tak dapat kukatakan dia adalah sahabat karib Ting-hiang-ih.” Lantas

bagaimana dengan seorang lagi, yaitu si Kambing Tua?

Pada saat dia mulai memikirkan si Kambing Tua, mendadak seorang didepak keluar dari

sebuah rumah minum, “bruk”. orang itu terbanting di atas tanah es dan meluncur dua-tiga

tombak jauhnya dan tepat berhenti di depan Liok Siau-hong.

Orang ini memakai jaket kulit kambing dengan terbalik, kepala bertopi kulit kambing, di atas

topi bahkan dihiasi dua tanduk kambing, mukanya kurus kering, pucat lagi keriput ditambah

lagi jenggotnya ala bandot, maka wujudnya benar-benar serupa seekor kambing tua.

Siau-hong memandangnya tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, bahkan berkedip saja

tidak.

Kambing Tua itu terengah-engah dan meronta-ronta, sampai sekian lama baru merangkak

bangun sambil mengomel. “Bedebah, biar pun tuan Besar tidak gablek duit untuk minum

arak, kan tidak pantas kawanan tikus semacam kalian ini mendepak orang sesukanya.

Sambil mencaci maki, dengan berincang-incut ia terus melangkah pergi. Dengan suara

tertahan Siau-hong lantas berpesan kepada Jo-jo, “Suruh Sin-loji menguntit dia!”

Sin loji yang dimaksud adalah orang yang mahir menggunakan senjata rahasia itu, dia adalah

anak murid mendiang Sin-cap-niocu yang dahulu terkenal sebagai ahli senjata rahasia itu.

Sedangkan si baju hitam yang berpedang antik itu she Pek, menurut urutannya dia nomor tiga,

Losam. mereka berdua dan si kakek dari Hoa-san-pay itu adalah saudara angkat. Lantaran

dahulu pernah berbuat sesuatu kesalahan, ciri mereka ini terpegang oleh Kah Lok-san,

terpaksa mereka rela menjadi anak buah Kah Lok-san, sudah tujuh-delapan tahun mereka

merendahkan diri dan belum sempat melepaskan diri.

Cerita ini adalah penuturan mereka sendiri, Liok Siau-hong hanya mendengarkan saja, apakah

dia percaya, entahlah!

Liok Siau-hong menyatakan akan mencari tempat tinggal sendiri, baginya persoalan ini

memang bukan urusan sulit.

‘Thian-tiang-ciu-lau’, sebuah restoran di jalan raya ini, tidak perlu disangsikan lagi adalah

restoran terbesar di kota ini, bangunannya diatur dengan sangat baik.

Sekarang rumah ini sudah menjadi milik Liok Siau-hong, hanya dengan beberapa patah kata

saja jual beli sudah terjadi.

“Berapa keuntunganmu sehari?” demikian tanya Siau-hong. “Pada waktu ramai, belasan tahil

perak sehari pasti masuk,” sahut si pemilik restoran.

“Nah, kubayar seribu tahil perak, berikan tempatmu ini kepadaku, bila kupergi, rumah ini

tetap menjadi milikmu. Jadi?” Tentu saja jadi, bahkan cepat sekali jadinya. Dan segera papan

merek di depan rumah ditanggalkan, restoran pun tutup. Setengah jam kemudian, bahkan

tempat tidur juga sudah tersedia.

Orang yang berduit memang serba gampang jika ingin berbuat sesuatu. Fasilitas yang paling

menyenangkan adalah di sini memang sudah ada santapan dan arak, bahkan ada seorang koki

yang tergolong lumayan.

Sambil berduduk di tepi perapian, beberapa cawan arak ditenggaknya, maka hampirlah Liok

Siau-hong melupakan hawa dingin di luar yang dapat membikin hidung orang terlepas.

Setelah satu poci arak dihabiskan, dilihatnya Sin-loji telah kembali meski dia menggigil

kedinginan, tapi hanya dapat berdiri jauh di ambang pintu dan tidak berani mendekati

perapian. Ia tahu bila mendadak dirinya mendekati perapian itu, bisa jadi seluruh tubuh bisa

9

cair serupa es lilin kena panas. Bila ia masukkan kedua tangannya ke dalam air panas, waktu

ditarik keluar mungkin tangannya akan tertinggal tulang belulang belaka.

Siau-hong menunggu setelah orang berganti napas barulah bertanya, “Bagaimana?”

Dengan gemas Sin-loji bertutur, “Tua bangka itu seharusnya tidak bernama Kambing Tua.

tapi lebih tepat si rase tua.” “Oo, apakah kau dikibuli dia?” tanya Siau-hong. “Hm, sejak mula

dia sudah mengetahui aku sedang menguntitnya, maka dia sengaja membawaku berputarkayun

kian kemari, akhirnya dia menoleh dan bertanya padaku apakah engkau yang

menyuruhku menguntitnya?”

“Dan bagaimana jawabanmu?” tanya Siau-hong. “Jika dia sudah tahu segalanya, apakah aku

dapat menyangkal?”

“Sekarang dia berada di mana?”

“Lagi menunggumu di luar,” jawab Sin-loji. “Dia bilang, peduli siapa dirimu, peduli apa

kehendakmu mencari dia, jika engkau yang ingin mencari dia, maka harus kau sendiri yang

menemui dia.”

Siau-hong menghela napas, ucapnya sambil menyengir. “Peduli dia Kambing tua atau bukan,

peduli dia rase tua segala, tampaknya tulangnya cukup keras.”

Dan hasil penemuan mereka adalah Liok Siau-hong ikut pergi bersama si Kambing tua.

Bandot itu berjalan di depan dengan mem busungkan dada dan Siau-hong mengintil di

belakang.

Tampaknya bukan cuma tulangnya saja yang keras, kulitnya

juga tebal, seperti tidak takut dingin sedikit pun.

Setelah meninggalkan jalan raya yang panjang ini, di depan sana adalah langit es dan bumi

salju, lautan es yang keperak-perakan membentang luas ke depan, kedua tepi remang kelabu,

apa pun tidak kelihatan.

Dari tempat yang terang benderang mendadak berada di tempat gelap gutita ini, tentu saja

rasanya tidak enak.

Sebenarnya Siau-hong ingin tahu permainan apa yang hendak dilakukan si Kambing tua, tapi

sekarang ia tidak sabar lagi, segera ia menegur, “Hei, hendak kemana kau bawa diriku?”

Tanpa menoleh si Kambing tua menjawab. “Hendak kubawa pulang ke rumah.”

“Untuk apa ke rumahmu?” tanya Siau-hong. “Sebab engkau yang mencari diriku dan bukan

diriku yang mencari engkau!”

Terpaksa Siau-hong mengaku kalah, tanyanya lagi dengan tersenyum getir, “Dimana letak

rumahmu?”

“Di dalam gentong,” jawab si Kambing tua. “Gentong itu tempat macam apa?” “Gentong ya

gentong, gentong air, masa tidak tahu?” Liok Siau-hong melenggong.

Gentong yang dimaksud memang betul sebuah gentong tulen sebuah gentong air raksasa.

Hidup Liok Siau-hong sudah dua-tiga puluh tabun, tapi tidak pernah melihat gentong air

sebesar ini.

Padahal, jika dia tidak datang ke sini, biarpun dia hidup lagi dua-tiga ratus tahun juga takkan

pernah melihat gentong air raksasa begini.

Gentong ini lebih dua tombak tingginya, tampaknya menjadi seruPa sebuah rumah bulat, juga

serupa tenda yang bundar, tapi itu justru betul-betul sebuah gentong air, sebab tidak berpintu

tidak berjendela, hanya bagian atas ada mulutnya yang lebar. Seutas tambang kelihatan

terjulur dari atas.

Segera si Kambing tua merambat ke atas dengan tali itu, lalu ia menggapai dari atas, “Kau

naik kemari tidak?”

“Untuk apa kunaik ke situ?” omel Siau-hong. “Aku tidak haus, sekalipun ingin minum air

juga tidak perlu kupanjat gentong ini.”

Walaupun di mulut dia menggerundel dia toh merambat juga ke atas.

10

Di dalam gentong ternyata tidak ada air, setetes pun tidak ada. Yang ada cuma arak. Sebuah

kantung kulit kambing yang besar penuh terisi arak, dari baunya dapat diperkirakan arak ini

sangat keras.

Si Kambing tua minum seceguk arak itu, matanya lantas bertambah terang malah.

Di dalam gentong penuh tertumpuk macam-macam kulit binatang yang tidak teratur, sambil

memeluk sebuah kantung arak, si Kambing tua berduduk dengan santai, setelah

menghembuskan napas, lalu ia berkata, “Pernah kau lihat gentong sebesar ini?”

“Tidak,” jawab Siau-hong.

“Pernah kau lihat diriku sebelum ini?”

“Tidak.”

“Tapi rasanya pernah kulihat dirimu.” “Oo?” heran juga Siau-hong. “Kau ini Kah Lok-san,

Kah-toaya?” “Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

Mendadak si Kambing tua tertawa sambil menggeleng kepala, lalu berkata pula sambil

memicingkan mata, “Kau bukan Kah Lok-san?”

“Aku bukan Kah Lok-san?” Siau-hong menegas. “Ya, bukan, pasti bukan.” “Habis siapa

diriku?”

“Peduli kau mengaku sebagai si Amat atau si Badu, yang jelas dan pasti engkau bukan Kah

Lok-san, sebab dahulu pernah kulihat si tua bangka itu.”

Maka tertawalah Siau-hong.

Mestinya ia tidak ingin tertawa, tapi ia tidak tahan, sebab mendadak kakek ini dirasakannya

sangat menarik. “Aku ingin minta……”

Mendadak si kambing tua memotong ucapannya, “Li He memang seorang aneh, Ting-lotoa

terlebih aneh dan nyentrik, hanya

lantaran dia suka minum Bu-kin-cui (air non mineral), dia tidak sayang menjual tanah dan

menjual rumah serta membuang waktu dua tahun barulah berhasil membuat dua gentong

raksasa begini, tujuannya hanya untuk menadahi air hujan untuk persediaan minum

Pada musim panas.”

“Ting-lotoa’yang kau sebut apakah laki Li He yang dahulu?”

tanya Siau-hong. .

Si Kambing tua mengangguk, katanya. “Meski sekarang Li He menghilang, tapi pasti tidak

meninggalkan tempat ini, dapat kujamin dia pasti bersembunyi di tengah kota. cuma kalau

kau tanya padaku dimana dia bersembunyi, jawabku adalah tidak tahu.”

“Darimana kau tahu kedatanganku ini hendak mencari keterangan hal-hal ini?”

“Memangnya bukan begitu?” “Jadi kau tahu siapa diriku?”

“Aku tidak perlu tahu, juga tidak ingin tahu. Peduli siapa dirimu kan tidak ada sangkut-paut

sedikitpun denganku.”

Lalu si Kambing tua memicingkan mata, sorot matanya membawa semacam senyuman yang

misterius, sambungnya kemudian. “Kulihat engkau ini bukan orang yang menjemukan, sebab

itulah kubawa kau ke sini dan memberikan keterangan ini kepadamu Jika ada urusan lain lagi

yang hendak kau tanya, lebih baik kau cari orang lain saja.”

“Tadi kau bilang gentong raksasa ini ada dua?” tiba-tiba Siau-hong bertanya pula.

“Ehmm,” si Kambing tua mengangguk. “Dan dimanakah yang satu lagi?” “Entah.”

“Urusan lain tidak ada yang kau ketahui?”

Kambing tua menghela napas, “Aku sudah tua, sudah pikun sampai nama sendiri saja lupa.

Banyak anak muda di kota ini, baik cowok maupun cewek, jika kau ingin mencari sesuatu

berita, boleh kau tanya kepada mereka.”

Lalu ia memejamkan mata dan minum arak seceguk lagi lalu berbaring dengan santai, seolaholah

sudah mengambil keputusan takkan memandang sekejap lagi kepada Liok Siau-hong.

dan juga takkan bicara pula padanya.

11

Kembali Siau-hong tertawa, katanya. “Kau tahu aku bukan Kah Lok-san, kau tahu kukenal

putri Ting-lotoa, makanya waktu kusebut namanya sedikit pun tidak mengherankan dirimu,

bahkan kau pun tahu Li He tidak pergi dari sini, tapi berulang-ulang kau bilang tidak tahu

apa-apa lagi,”

Dia menggeleng, lalu menyambung dengan tertawa. Tampaknya Sin-loji memang tidak salah,

seharusnya engkau tidak bernama Kambing tua, tapi lebih tepat si rase tua.”

Si Kambing tua juga tertawa, mendadak matanya setengah terbuka dan mengedipinya dan

berkata, “Mendingan kau temukan rase tua semacam diriku, kuharap jangan lagi kau temukan

seekor siluman rase.”

Bab 2 …

Rumah minum yang diusahakan Tong Ko-king itu pakai merek ‘Put-cui-bu-kui’ atau sebelum

mabuk tidak pulang.

Meski hari sudah gelap sejak tadi, malam belum larut, waktu Siau-hong kembali ke

pondoknya, lampu di jalan masih cerlang-cemerlang, dan rumah minum ‘sebelum mabuk

tidak pulang’ itu pun belum tutup.

Tampaknya rumah minum ini memang tidak busuk, nyonya pemiliknya juga ayu, tapi entah

mengapa, sangat jarang tamunya, suasana rumah minum ini sunyi sepi.

Sebab itulah yang pertama dilihat oleh Liok Siau-hong tetap si nona manis yang tidak terlalu

cantik itu, dia masih berdiri di bawah papan merek dan sedang menunggu kedatangannya. I

Senyumnya itu tidak cuma semacam pikatan, tapi juga serupa semacam undangan. Dan

biasanya Liok Siau-hong tidak dapat menolak, undangan demikian, apalagi biasanya ia

memandang seorang anak perempuan yang suka tertawa tentu juga pintar bicara, anak

perempuan yang pintar bicara pasti juga lebih mudah membocorkan rahasia orang lain.

Karena itulah ia pun membalas dengan senyuman menantang dan perlahan mendekat ke sana.

Selagi dia tidak tahu cara bagaimana akan menyapanya, Tong Ko-king ternyata sudah

mendahului buka mulut, “Eh, kabarnya Thian-tiang-ciu-lau telah kau beli?” Siau-hong

tertawa. “Wah, berita di tempat mi sungguh cepat siarannya.”

“Tempat sekecil ini, kan jarang terlihat tokoh besar semacam dirimu,” kata Tong Ko-king.

Tertawanya sungguh teramat manis, benar-benar serupa siluman rase.

Perlahan Siau-hong berdehem dua kali, ucapnya, “Sebelum mabuk tidak pulang, orang yang

minum ke sini apakah harus mabuk?”

“Betul” jawab Tong Ko-king dengan tertawa. “Orang yang minum arak ke sini, kalau tidak

mabuk tentulah Oh-kui (kura-kura. kiasan bagi germo).”

“Dan kalau mabuk?” tanya Siau-hong pula. “Kalau mabuk ialah Ong-pat (makian bagi lelaki

bejat).” “Wah, jadi orang yang minum arak ke sini, kalau bukan Oh-kui akan menjadi Ongpat,

pantas tidak ada orang yang berani berkunjung kemari,” ujar Siau-hong sambil tergelak.

Tong Ko-king meliriknya sambil tertawa, “Dan sekarang engkau toh berkunjung ke sini.”

“Aku ..,”

“Jelas kau sendiri sudah membeli sebuah restoran, tapi masih juga berkunjung dan minum

arak ke sini. Nyata engkau tidak takut menjadi Oh-kui. juga tidak gentar dianggap sebagai

Ong-pat, memangnya apa sebabnya?”

Tertawanya bertambah manis, tambah memikat, benar-benar serupa siluman rase.

Tiba-tiba Siau-hong merasa dirinya terangsang dan bergairah. Ia coba pegang tangan si dia

dan berkata, “Coba kau terka apa sebabnya?”

“Apakah karena diriku?” tanya Tong Ko-king sambil mengerling.

Siau-hong tidak menyangkal, dia tidak dapat menyangkal, sebab tangan si dia sudah

digenggamnya dengan sangat erat.

Tangannya indah dan lunak, tapi dingin,

12

“Asalkan kau mau menemani aku minum arak. boleh kau bikin aku mabuk atau tidak, terserah

kepada kehendakmu,” kata Siau-hong pula.

Tong Ko-king tersenyum genit, “Makanya dapat kubikin kau jadi Oh-kui atau Ong-pat,

semuanya akan kau terima?”

Mata Siau-hong terpicing, “Bergantung padamu, mau atau tidak?”

Muka Tong Ko-king menjadi merah. “Mau atau tidak mau kan harus kau lepaskan dulu

tanganku, biar kuambilkan arak bagimu.” Jantung Siau-hong sudah mulai berdetak. Dia

adalah lelaki yang sehat, apalagi sudah sekian lama dia ‘berpuasa’, maka sekali ini ada alasan

baginya untuk memaafkan perbuatannya sendiri. Apalagi, demi mencari info, apa salahnya

kalau memakai tipu rayuan?

Siau-hong melepaskan tangan si dia, pikirannya mulai membayangkan adegan yang mesra

bilamana dua orang berada bersama di tengah malam sunyi dan terpengaruh oleh alkohol.

Siapa tahu pada saat itu juga mendadak Tong Ko-king mengangkat tangannya dan menampar

mukanya.

Tamparan ini dengan sendirinya tidak tepat mengenai muka Liok Siau-hong, tapi cukup

membuatnya terkejut. “Hei, apa yang kau lakukan?” teriak Siau-hong.

“Apa yang kulakukan?” jengek Tong Ko-king dengan muka masam. “Justru ingin kutanya

padamu, apa yang kau lakukan? Memangnya kau anggap aku ini orang macam apa? Kau kira

dengan beberapa duitmu yang berbau busuk lantas boleh sembarangan mempermainkan kaum

wanita? Huh, supaya kau tahu, di tempatku ini hanya menjual arak dan tidak menjual lain.”

Makin bicara makin gusar dia, sampai akhirnya dia terus berjingkrak dan membentak,

“Enyah, lekas enyah dari sini. Bila lain kali berani datang lagi, Pasti kuserampang patah kaki

anjingmu!”

Siau-hong melenggong oleh caci-makinya. Tapi dalam hati ia pun paham apa sebabnya rumah

minum ini sunyi sepi, setan pun tidak berani berkunjung kemari.

Kiranya perempuan ini meski tampaknya semanis madu, tapi sebenarnya sepotong cabai yang

pedas, bahkan mengidap semacam penyakit aneh! penyakit yang suka memperlakukan lelaki

dengan sadis kalau lelaki kesakitan baru dia merasa senang.

Sebab itulah dia selalu berdiri di depan pjntu dan pasang aksi untuk memancing lelaki yang

berlalu di situ, bilamana lelaki sudah terpikat, lalu lelaki itu akan dipitesnya sampai setengah

mati seperti seekor burung pipit yang terpegang tangannya.

Lelaki yang disiksa dan dianiaya olehnya di sini pasti sudah tidak sedikit. Liok Siau-hong

terhitung mujur, dia masih dapat keluar dengan baik tanpa babak belur.

Untung di luar, tidak ada orang. Maklum, di tempat yang setetes air saja bisa beku menjadi es,

tentu jarang ada orang yang mau berjalan-jalan pada waktu larut malam.

Jika pada waktu masuk ke sana tadi lagak Siau-hong serupa seorang cukong besar yang penuh

gairah, sekarang dia keluar dengan setengah ngacir seperti anjing kena gebuk.

“O, perempuan……” demikian dia mengeluh, “mengapa di dunia ini terdapat perempuan sialan

sebanyak ini?”

Belum lagi sempat ia berpikir bagaimana jadinya dunia ini bilamana tidak ada perempuan,

mendadak terdengar suara jeritan.

Suara jeritan itu berkumandang dari toko obat di seberang sana, suara orang lelaki.

Waktu Siau-hong memburu ke situ, dilihatnya Leng Hong-ji yang kurus kecil dan masam

dingin itu sedang menelikung seorang lelaki di atas kursi, sebelah tangannya mencengkeram

urat pundaknya, tangan yang lain menelikung lengannya, dan lagi bertanya dengan dingin,

“Sesungguhnya bagian mana yang keseleo’ Tempat mana yang salah urat? Bagian mana yang

terkilir? Ayo lekas katakan!”

Tapi lelaki itu cuma meringis kesakitan saja, jawabnya dengan gelagapan, “Aku … aku

tidak…..”

13

“Habis untuk apa kau datang kemari?” bentak Leng Hong-ji. “Apakah hendak memijat diriku,

ingin mengurut badanku?”

Lelaki itu hanya manggut-manggut saja, tidak berani membenarkan, juga tidak dapat

menyangkal.

Mendadak Leng Hong-ji mendengus sambil mengangkatnya, lelaki besar itu berubah seperti

bola keranjang saja terus dilemparkannya keluar. “Bruk”, orang itu jatuh terguling di atas

tanah es yang keras dan licin.

Sekali ini dia benar-benar salah urat dan terkilir, terpaksa ia pulang untuk melampiaskannya

atas diri sang bini.

Diam-diam Siau-hong menyengir, sekali ini sungguh dia tidak dapat membedakannya dengan

jelas apakah lelaki itu yang mengidap penyakit atau perempuan ini yang ada penyakit?

“Bagaimana, apakah kau pun sakit dan minta kuobati?” didengarnya Leng Hong-ji sedang

menegurnya sambil memandang dengan dingin.

Siau-hong tak dapat menjawab, ia cuma menyengir saja dan segera melangkah pergi.

“Di antara ke-36 tipu, angkat kaki adalah tipu utama.” demikian kata pameo yang paling

terkenal, artinya jalan paling selamat adalah kabur saja. Tiba-tiba Siau-hong merasa

perempuan di tempat ini sukar direcoki, kalau mau aman harus cepat menjauhinya.

Siapa tahu, dia tidak mau merecoki orang, sebaliknya orang malah merecoki dia.

Mendadak Leng Hong-ji mengadang di depannya dan menegur, “Sesungguhnya mau apa kau

datang kemari? Mengapa tidak bicara?”

“Mengapa aku harus bicara?” sahut Siau-hong sambil tersenyum getir.

Leng Hong-ji menggigit bibir dan melotot padanya, “Padahal tidak kau katakan juga kutahu,

tentu dalam hatimu kau anggap aku ini perempuan yang dingin, galak dan sadis.”

“Aku tidak berpikir demikian” kata Siau-hong.

Sekali ini jelas dia bohong, sebab di dalam hati dia memang berpikir begitu.

Masih juga Hong-ji menggigit bibir dan mendelik, sorot matanya yang dingin itu tiba-tiba

mengucur keluar dua titik air mata.

Perempuan macam begini juga bisa menangis, Siau-hong jadi terkejut pula, “He., ken …

kenapa kau?”

Hong-ji menunduk, ucapnya dengan menangis, “Tidak apa-apa, aku … aku cuma merasa

susah.”

“Susah?” Siau-hong menegas.

“Busyet! Orang lain kau hajar hingga terguling-guling di tanah dan kau bilang susah? Lantas

bagaimana dengan orang yang kau hajar itu?”

Dengan sendirinya Leng Hong-ji tidak dapat mendengar perkataan di dalam batin Liok Siauhong

itu. Ia bertanya pula, “Kau datang dari daerah lain, tidak kau ketahui orang macam

apakah lelaki di sini. Mereka melihat kutinggal sendirian di sini, maka dengan segala daya

upaya mereka bermaksud menghina dan mengganggu diriku.”

Waktu menangis, perempuan ini kelihatan seperti berubah terlebih kecil mungil, terlebih

lemah, sikapnya yang garang dan galak tadi lenyap sama sekali sehingga benar-benar serupa

seorang anak perempuan yang penuh derita.

Lalu ia menyambung lagi, “Jika aku diganggu sekali oleh mereka, selanjutnya tentu aku tidak

mampu hidup dengan baik lagi, sebab orang lain takkan menyalahkan mereka, sebaliknya aku

yang dituduh sebagai perempuan pemikat dan pengganggu. Maka terpaksa aku bersikap ketus

dan dingin. Akan tetapi bilamana berada sendirinya di tengah malam sunyi, aku … aku

menjadi …”

Ia tidak melanjutkan, dan juga tidak perlu melanjutkan. Tengah malam sunyi, tinggal

sendirian dalam kamar, rasa sunyi dan hampa, rasa kesepian itu, tidak perlu dijelaskan lagi

juga cukup dimaklumi Siau-hong.

14

Mendadak ia merasa anak perempuan kecil mungil yang berdiri di depannya ini bukan saja

tidak menakutkan, sebaliknya harus dikasihani.

Perlahan Hong-ji mengusap air matanya, ia seperti memaksakan diri untuk tertawa, lalu

berkata pula, “Sebenarnya, sebelum ini kita tidak pernah bertemu, mestinya tidak pantas

kubicara hal-hal ini di depan orang asing.”

“Tidak apa,” cepat Siau-hong menanggapi. “Aku juga banyak menanggung persoalan,

terkadang aku pun ingin bertemu dengan seorang asing untuk kubeberkan isi hatiku.”

Hong-ji menengadah dan memandangnya seperti anak kecil aleman, tanyanya kemudian

dengan lembut, “Dapatkah kau beberkan padaku?”

Air matanya belum kering, dia bertanya sambil menengadah, sehingga kelihatannya terlebih

kecil mungil dan lemah.

Dalam keadaan demikian Siau-hong jadi tidak sampai hati untuk tinggal pergi. Ajakan yang

disertai cucuran air mata bukankah terlebih sukar untuk ditolak daripada undangan dengan

tersenyum?

Maka tidak lama kemudian di atas meja sudah tersedia beberapa macam santapan yang

mengepulkan asap, juga arak Tiok-yap-jing yang dihangatkan.

“Arak ini kubawa dari pedalaman dulu dan sejauh ini kusayang meminumnya ” kata Hong-ji,

air matanya sekarang sudah kering, dia sedang mengatur meja makan dan sibuk menuang

arak.

“Setiap malam, sendirian kuminum sedikit arak, kekuatanku minum arak memang kurang,

tapi aku baru dapat tidur apabila sudah mabuk.”

Lalu ia pun mengaku terus terang kepada Siau-hong. “Terkadang biar pun mabuk juga sukar

pulas. Dalam keadaan begitu aku lantas berlari keluar dan berduduk di sungai es untuk

menantikan datangnya fajar.”

Siau-hong memandangnya dan ikut menyesal, seorang anak perempuan semuda ini harus

duduk kesepian di sungai es untuk menantikan fajar, sungguh kejadian yang mengenaskan.

Pada saat dia merasa gegetun baginya, kebetulan tangan si dia berada di depannya. Maka ia

terus pegang tangannya. Tangan yang kecil, lunak dan halus, malahan terasa agak panas.

Hawa di dalam rumah cukup hangat, jantung si dia berdetak keras. Sebelum Siau-hong tahu

bagaimana jadinya, tahu-tahu si dia sudah jatuh dalam pelukannya. Tubuh yang kecil mungil

dan lemah itu serupa segumpal bara. tapi bibirnya terasa dingin. licin dan harum.

Selagi permainan mulai meningkat, sekonyong-konyong terdengar suara orang bertepuk

tangan. Keruan mereka berjingkat kaget sehingga santapan di atas meja tertubruk dan

berantakan.

Waktu mereka memandang ke sana, ternyata Li Sin-tong alias Li si anak ajaib sedang berdiri

di depan pintu dan memandangi mereka dengan cengar-cengir, malahan ia terus berseru,

“Wah, jangan kalian berhenti main, sandiwara menarik begini, sudah lama sekali tidak pernah

kulihat. Asalkan kalian mau main lagi sebentar, besok pagi akan kujamu makan kalian.”

Ucapannya tidak ada kata kotor, akan tetapi bagi pendengarannya Liok Siau-hong hampir saja

membuatnya tumpah.

Hampir saja ia menerjang ke sana untuk memberi hajaran kepada si gila itu bilamana Leng

Hong-ji tidak mendahului menubruk ke sana.

Perempuan kecil mungil itu mendadak berubah serupa serigala betina, ganas lagi buas, keji

amal cara turun tangannya.

Siau-hong tahu perempuan itu mahir ilmu silat, cuma tidak menyangka kungfunya ternyata

boleh juga. serangannya cepat dan ganas, gerakannya membawa jurus mencengkeram dan

memuntir yang dapat membikin tulang lawan terkilir. Asalkan bagian tubuh Li Sin-tong

terpegang, dapat dipastikan dua macam suara akan timbul, suari retaknya tulang dan suara

jeritan ngeri seperti babi hendak disembelih.

Akan tetapi Li Sin-tong tidak menjerit, malahan ujung bajunya saja tidak tersentuh olehnya.

15

Lukisan ‘anak ajaib’ ini mungkin sangat indoh mutunya pakaiannya juga jenaka, tapi ilmu

silatnya sama sekali tidak Jenaka.

Bahkan Siau-hong harus mengakui kungfunya sudah tergolong kelas satu.

Anehnya seorang macam begini mengapa, rela bersembunyi di bawah gaun kakak

perempuannya dan bertingkah seperti orang sin ting? Mengapa tidak mau berdikari dan

mencari dunianya sendiri? Apakah karena ilmu silat kakak perempuannya jauh lebih lihai

daripadanya?

Waktu Siau-hong memandang lagi ke sana, kebetulan dilihatnya tangan Li Sin-tong baru

menggeser dari dada Leng Hong-ji. Lalu Leng Hong-ji berlari keluar, setiba di balik pintu

lantas terdengar suara tangisannya.

Siau-hong menjadi murka, kedua tinjunya terkepal erat, segera ia bermaksud memberi hajaran

setimpal kepada orang sinting ini.

Dilihatnya Li Sin-tong sedang tertawa malah, ucapnya sambil menggoyang tangan, “Eh,

jangan kau maju, kutahu bukan tandinganmu, sebab kutahu siapa dirimu.”

“Kau tahu?” tanya Siau-hong dengan menarik muka.

“Orang lain dapat kau kelabui, jangan harap akan kau bohongi diriku,” ujar Li Sin-tong

dengan tertawa. “Biarpun jenggotmu ditambah lebih tebal juga percuma, tetap dapat kulihat

engkau ini bukan lain daripada Liok Siau-hong yang berempat alis itu.”

Seketika Siau-hong mclenggong dan tidak jadi menubruk maju.

Kedatangannya ke tempat ini baru dua-tiga jam, yang dijumpainya baru lima orang, dan

kelima orang ini ternyata semuanya sudah membuatnya terkejut. Tampaknya orang di sini

seluruhnya tidak sederhana, agaknya bukan pekerjaan mudah bila dia ingin membawa pulang

Lo-sat-pay.

Tertawa Li Sin-tong bertambah riang, katanya pula, “Namun jangan kau kuatir, pasti takkan

kubongkar rahasiamu ini, sebab kita memang berasal dari satu garis, sudah lama kutunggu

kedatanganmu.”

“Ha, kau tunggu diriku? Kau tahu aku akan datang?” Siau-hong bertambah heran.

“Ya, sebab si jenggot biru menyatakan dia pasti akan mengirim dirimu ke sini, selama ini

kupercaya penuh pada ucapannya.”

Akhirnya Siau-hong paham juga, teringat olehnya ucapan si jenggot biru, “….. seumpama tak

dapat kau temui, tentu juga ada orang akan membawamu kepadanya. Begitu kau tiba di sana,

segera ada orang akan menghubungimu.”

“Tentunya tak kau duga aku dapat mengkhianati kakakku sendiri dan menjadi mata-mata bagi

si jenggot biru,” kata Li Sin-tong pula dengan tertawa.

“Tapi aku pun tidak terlalu heran.” jawab Siau-hong. “Orang semacam dirimu, pekerjaan apa

yang tidak dapat kau lakukan?”

“Tapi setelah kau lihat kakakku sayang nanti, baru kau tahu mengapa aku bertindak

demikian,” tiba-tiba Li Sin-tong bisa menghela napas juga.

“Cara bagaimana supaya dapat kulihat dia?” tanya Siau-hong. “Hanya ada satu jalan,” jawab

Li Sin-tong. “Jalan bagaimana?”

“Lekas antarkan beberapa peti yang kau bawa itu.” “Kau pun tidak tahu dia bersembunyi

dimana?” “Ya. aku pun tidak tahu.” sahut Li Sin-tong. Lalu ia menghela napas dan berkata

pula, “Kecuali uang perak yang gemilapan dan emas yang bercahaya, boleh dikatakan

kakakku tidak mau kenal lagi kepada siapa pun. sekali pun orang tua dan saudara sendiri.”

Siau-hong menatapnya lekat-lekat hingga sekian lama, tiba-tiba ia tanya, “Kau minta dihajar

tidak?”

Tentu saja Li Sin-tong tidak mau. Ia menggeleng. “Jika tidak mau. lekas kau lalap santapan

yang terserak di lantai ini, bila ada yang tersisa, akan kubikin kau menyesal selama hidup,”

ancam Siau-hong.

16

Setelah santapan di atas meja tertumbuk berantakan, macam-macam makanan yang

berserakan di lantai es itu lantas membeku.

Waktu Li Sin-tong mulai berjongkok dengan menyengir, perlahan Liok Siau-hong lantas

melangkah keluar. Baru sampai di ambang pintu segera didengarnya suara Li Sin-tong lagi

tumpah ….

ooo000ooo

Sudah jauh malam, cahaya lampu yang tadinya gilang gemilang sudah mulai jarang-jarang,

kota yang semarak kini diliputi kegelapan dan kedinginan.

Angin meniup kencang, di kejauhan seperti ada lolong serigala yang mengerikan.

Kemana perginya Leng Hong-ji, apakah dia lagi duduk di sungai es dan menantikan

datangnya fajar?

Siau-hong merasa susah, bukan cuma susah bagi Leng Hong-ji, juga bagi dirinya sendiri.

Mengapa manusia selalu harus tersiksa oleh gairahnya sendiri.

Lampu di Thian-tiang-ciu-lau masih menyala, cahaya lampu menerobos keluar melalui celah

pintu, tercium pula bau sedap hangat santapan.

Siau-hong mengernyitkan kening, ia tahu yang sedang menunggunya di dalam kembali adalah

seorang anak perempuan yang aneh serta santapan yang lezat.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dilihatnya sesosok bayangan melayang keluar dan

belakang rumah, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.

Gerakannya ringan dan hebat, Ginkang setinggi itu sudah tidak di bawah Liok Siau-hong lagi.

Di tempat ini siapakah yang memiliki Ginkang sehebat itu?

Kembali Siau-hong berkerut kening. Sementara pintu sudah terbuka, sepasang mata yang

mengandung senyum sedang memandangnya dan menegur, “Mendingan kau ingat untuk

pulang, semula kukira engkau sudah mati di atas perut perempuan itu.”

Di atas meja memang betul tersedia santapan yang mengepul hangat, juga tersedia arak Tiokyap-

jing.

“Arak ini kubawa dari pedalaman …” demikian ucap Jo-jo dengan tersenyum manis.

Siau-hong hampir tak tahan dan ingin lari saja. Santapan dan perempuan yang serupa sudah

hampir membuatnya tidak tahan, apalagi cara bicara mereka juga sama.

Maka apa yang diucapkan selanjutnya sama sekali tak diperhatikan oleh Liok Siau-hong.

Mendadak ia berjingkrak dan berteriak, “Lekas suruh orang mengantar kepadanya, lekas!”

Jo-jo tampak melengak, “Mengantar barang apa? Mengantar ke mana?”

“Lekas mengantar peti-peti itu ke kasino Pancing Perak!” seru Siau-hong.

Bab 3 …

Rumah bekas restoran ini sudah dipotong-potong menjadi beberapa buah kamar, dipisahkan

dengan papan. Kamar yang paling besar terdapat sebuah ranjang besar dengan selimut yang

tebal. Dan Liok Siau-hong sekarang berbaring di tempat tidur ini sambil selimutan, namun

masih terasa kedinginan.

Setiap orang tentu pernah mengalami penurunan mental, Siau-hong juga manusia, dalam

keadaan demikian, ia merasa segala urusan telah dilakukannya dengan kacau-balau tak

keruan, ia menjadi gemas dan ingin menghajar dirinya sendiri hingga setengah mati.

Di luar kamar ramai orang menggotong peti, sebagian pekerja menguap kantuk, ada yang

bersin kedinginan.

Maklum, tengah malam buta, orang sedang enak-enak tidur berselimut dibangunkan dan

disuruh menggotong peti, jelas orang yang menyuruhnya ini rada-rada sadis.

17

Siau-hong membalik tubuh, ia ingin lekas pulas, tapi sayang, tidur serupa perempuan,

semakin kau harapkan dia lekas datang, dia justru datang lambat-lambat. Hidup manusia ini

memang banyak terjadi hal demikian.

Pada saat itulah mendadak terdengar serentetan jeritan kaget. Siau-hong melompat bangun

dan mengenakan baju luar. sampai sepatu saja tidak sempat dipakai, dengan kaki telanjang ia

terus menerobos keluar. Dilihatnya beberapa lelaki penggotong peti berdiri termangu di situ

sambil memandangi sebuah peti.

Peti jatuh di lantai dan terbuka, isi peti sama berantakan keluar, tapi bukan emas, juga bukan

perak, melainkan batu bata. Siau-hong juga melenggong.

Untuk sekian kalinya dia melenggong malam ini. Sekali ini bukan saja dia terkejut, bahkan

juga gusar. Sebab ia merasa tertipu, perasaan ini sangat tidak enak.

Sebaliknya Jo-jo tidak memperlihatkan sesuatu tanda terkejut, dengan hambar ia berkata,

“Untuk apa kalian berdiri kesima di situ? Batu bata itu kan tidak berkurang, lekas dan diantar

ke sana.

“Diantar ke sana?” jengek Siau-hong. “Memang antar ke mana?”

“Dengan sendirinya ke kasino Pancing Perak sesuai pesanmu,” sahut Jo-jo.

“Huh, hendak kau gunakan batu untuk menukar Lo-sat-pay orang? Memangnya kau kira

orang lain semuanya orang tolol?” jengek Siau-hong.

“Justru lantaran nona Tan itu sedikit pun tidak tolol, makanya akan kuantarkan begini saja

peti-peti ini. Jika dia seorang yang tahu kwalitas barang, sekali pandang tentu takkan bicara

lagi.”

“Apakah isi peti yang lain juga batu?”

“Ya, semuanya batu, cuma …..”

“Cuma apa?” tanya Siau-hong.

Jo-jo tertawa, lalu menyambung. “Cuma meski isi peti ini semuanya batu, tapi petinya sendiri

adalah buatan dari emas murni. Maklumlah, kita menempuh perjalanan sejauh ini dengan

membawa separtai emas, mau tak mau kita harus bertindak lebih hati-hati.”

Seketika Siau-hong tak dapat bicara lagi, tiba-tiba dirasakannya satu-satunya orang tolol di

sini tak lain tak bukan ialah dia sendiri.

Dan sisa beberapa peti itu dengan cepat pun sudah diangkut pergi, tertinggal Liok Siau-hong

yang masih berdiri termangu di situ dengan kaki telanjang.

Jo-jo memandangnya, katanya pula dengan tersenyum, “Kutahu engkau lagi marah padaku,

kutahu.”

Ia tahu di balik baju luar Siau-hong itu tidak memakai apa-apa, maka ia mendekatinya dan

membuka jubahnya, ditempelkannya mukanya ke dada yang telanjang itu serta merangkul

pinggangnya dengan erat, lalu bisiknya, “Namun malam ini pasti takkan kubikin kau marah

lagi, pasti tidak.”

Siau-hong menunduk dan memandangi kundai di atas kepalanya, sampai sekian lamanya

barulah ia bicara, “Urusan apa yang mengubah pendirianmu.”

Dengan suara lembut Jo-jo menjawab, “Selamanya aku hanya berbuat menurut kehendakku,

sebelum ini aku tidak suka menemanimu, tapi sekarang…..”

“Sekarang kau suka?” tanya Siau-hong. “Ehmm,” Jo-jo mengangguk.

Siau-hong tertawa, mendadak ia angkat si dia dan dibawa ke kamarnya, dengan kuat ia

lemparkan Jo-jo ke atas tempat tidurnya, lalu ditinggal pergi tanpa bicara.

Segera Jo-jo melompat bangun dari tempat tidur sambil berteriak, “Hei, apa artinya ini?”

Siau-hong tidak menoleh, sahutnya dengan tak acuh, “Tidak berarti apa-apa, cuma ingin

kuberitahukan padamu, urusan begini harus dilakukan pada saat keduanya sama-sama sukaf

meski sekarang kau suka, tapi aku tidak suka.”

ooo000ooo

18

Malam ini meski Siau-hong tidur sendirian, tapi sangat lelap tidurnya. Betapa pun terlampias

rasa dongkolnya.

Esok paginya waktu mendusin, ia merasa nafsu makannya bertambah besar, hampir lipat tiga

kali.

Meski sudah dekat lohor, Jo-jo masih juga bersembunyi di kamarnya, entah masih tidur atau

karena marah.

Anehnya dari pihak kasino Pancing Perak sana juga tidak ada sesuatu berita.

Dengan lahap Siau-hong menyikat santapannya, makan pagi sekaligus makan siang, habis

makan semangatnya kelihatan bertambah menyala, malahan dia sengaja mendatangi dapur

dan memberi pujian kepada si koki.

Pada waktu hatinya riang gembira, selalu dia menghendaki orang lain juga ikut gembira.

Habis itu barulah dia keluar.

Pancing Perak itu masih bergoyang-goyang tertiup angin, Siau-hong melangkah masuk ke

kasino itu, merasa hari ini nasibnya pasti sangat mujur, hampir saja ia berhenti di depan meja

dadu untuk bermain.

Tapi ia tidak jadi berhenti, ia tidak ingin menghamburkan ke mujurannya di atas meja judi.

Dari jauh Li Sin-tong sudah melihat kedatangannya, maka cepat dia mengeluyur pergi. Orang

ini kelihatan terlebih kurus pucat daripada biasanya, juga sangat lesu, mirip orang yang

semalam habis sakit muntah berak.

Dengan tersenyum Siau-hong mendekat ke sana, ia mendekati pintu kamar yang bertuliskan

“dilarang masuk”. Betul juga, segera dua lelaki kekar datang mengadangnya.

Seorang lantas menunjuk papan pengumuman itu dan menegur, “Apa kau buta huruf?”

Siau-hong tersenyum, jawabnya, “Buta huruf sih tidak, cuma aku bukan patung, aku suka

bergerak.”

Belum lagi orang itu paham maksud Liok Siau-hong, tahu-tahu pinggangnya terasa

kesemutan, orangnya lantas terkulai dan tidak sanggup bangun lagi.

Tan Cing-cing ternyata di dalam kamar rahasia itu, Li Sin-tong juga di situ, melihat

kedatangan Siau-hong, keduanya menyambut dengan senyum yang dibuat-buat.

Siau-hong juga tersenyum dan mengucapkan selamat pagi.

“Sekarang tidak pagi lagi, mengapa tidak kau beri kabar padaku?”tanya Siau-hong.

Cing-cing berdehem perlahan dua kali, lalu menjawab, “Kami justru hendak mengundang

Kah-toaya agar malam ini sudi makan di sini.”

“Aku tidak suka makan di sembarang tempat, kalau makan harus satu meja perjamuan

penuh.”

“Dengan sendirinya satu meja perjamuan lengkap, tiba waktunya nanti Li-toaci juga akan

hadir,” ujar Tan Cing-cing.

“Tapi sekarang aku sudah hadir maka sekarang juga aku mau makan,” kata Siau-hong.

“Wah, lantas bagaimana?” ucap Cing-cing.

“Sederhana sekali,” ujar Siau-hong. “Cukup kau beritakan kepada Li-toacimu, katakan aku

sudah datang, jia dia masih belum mau keluar menemuiku, segera akan kupotong kedua daun

telinga dan batang hidung adiknya.”

Air muka Li Sin-tong tampak berubah. Tan Cing-cing menjadi agak kikuk, katanya, “Tapi

sayang kami juga tidak tahu beliau berada di mana, cara bagaimana dapat kuberitahukan

padanya?”

“Kalian tidak tahu dia berada dimana. aku justru tahu sedikit,” kata Siau-hong.

“Oo, kau tahu?” Cing-cing tercengang.

“Di sini sebenarnya ada dua buah gentong air raksasa, sekarang di luar cuma tersisa sebuah,

masih ada sebuah lari kemana?”

Air muka Tan Cing-cing menjadi rada berubah juga dan tidak menjawab.

19

“Dimana gentong itu berada, di situ pula Li He berada,” sambung Siau-hong.

“Apa artinya ucapanmu, aku tidak paham,” kata Cing-cing.

“Kau harus paham,” ujar Siau-hong, “kecuali orang gila, siapa pun takkan menjual rumah dan

tanah untuk membuat dua buah gentong raksasa hanya karena ingin menadahi air hujan untuk

diminum,”

Cing-cing sependapat, ia mengangguk.

“Dan Ting-lotoa bukanlah orang gila, dia berbuat demikian tentu ada maksud tujuan lain.”

“Menurut pendapatmu apa maksud tujuannya?” tanya Cing-cing.

“Dia dan Li He minggat ke sini, tentunya kuatir orang akan menyusul kemari, maka dia lantas

membuat dua gentong raksasa ini agar bilamana perlu dapat digunakan sebagai tempat

sembunyi.”

“Orangnya bersembunyi di dalam gentong?” Cing-cing menegas.

“Pada waktu biasa tentu saja tak dapat dibuat sembunyi,” tutur Siau-hong, “tapi bila kau

rendam di dalam sungai est jadilah suatu tempat sembunyi yang sangat bagus. Siapa pun

takkan menyangka di dasar sungai es bersembunyi orang.”

Cing-cing ingin tertawa, tapi tidak jadi.

Sedangkan Li Sin-tong lantas bertanya, “Kau tahu gentong itu berada dimana?”

Siau-hong mengangguk, mendadak kakinya menggentak lantai papan dan berkata. “Di sini, di

bawah sini!”

Cing-cing memandang Li Sin-tong, dan Li Sin-tong memandang Cing-cing. keduanya tidak

bicara tapi di bawah lantai sudah terdengar orang berbicara.

Suara seorang perempuan yang terdengar agak serak dan dingin berseru, “Jika kau tahu aku

berada di bawah sini, mengapa tidak lekas kau turun kemari!?”

ooo000ooo

Gentong yang tingginya lebih dua tombak itu terbagi lagi menjadi dua susun, bagian bawah

penuh berlapiskan kulit berbulu halus sehingga berwujud sebuah tempat tidur yang sangat

enak. Melalui sebuah tangga kecil akan mencapai tingkat atas, tempat yang digunakan makan

minum dan keperluan lain. Kecuali ada meja kursi, sekelilingnya tergantung pula permadani

yang tebal, dan ada sebuah anglo atau perapian yang sangat indah terbuat dari tembaga.

Siau-hong menghela napas, umbul khayalan dalam benaknya bilamana dirinya dapat tinggal

selama beberapa hari dengan anak perempuan yang menyenangkan, maka kehidupan

beberapa hari itu tentu seperti berada di surga.

Dilihatnya seorang perempuan setengah baya dengan wajah lumayan sedang berduduk di

depan sana dan lagi menatapnya.

Rambut perempuan ini tersisir dengan licin dan rajin, mukanya lebar, tulang pelipis agak

tinggi, bibirnya tebal, pori-pori kulit badannya sangat kasar, sikapnya kereng, sama sekali

tidak ada bagian yang menarik.

Orang lain akan merasa mukanya tidak terlalu jelek, bisa jadi lantaran matanya, yaitu pada

waktu dia menatap orang, matanya kelihatan sayu dan menimbulkan perasaan rawan orang.

“Aku Li He,” kata perempuan itu sambil menatap Siau-hong. “Dan kau sendiri tentulah Kah

Lok-san.”

Siau-hong mengangguk.

“Apakah kau tahu orang lain sama bilang engkau adalah seekor rase tua?”

“Aku memang rase tua.”

“Tapi tampaknya engkau belum lagi tua.”

Siau-hong tertawa, katanya. “Sebab kutahu cara membuat orang lelaki awet muda.”

“Bagaimana caranya?” tanya Li He. “Perempuan.” jawab Siau-hong.

20

Sinar mata Li He seakan-akan mengandung senyuman, ucapnya, “Eh. caramu ini

kedengarannya boleh juga.”

Siau-hong juga menatapnya dan berkata dengan tersenyum, “Tampaknya kau pun belum tua.”

“Oo?” Li He melengak.

“Dengan cara bagaimana engkau bertahan awet muda?” Mendadak Li He menarik muka,

jengeknya, “Memangnya kau kira kugunakan orang lelaki?”

Dengan tak acuh Siau-hong menjawab, “Asal tidak kau gunakan diriku, apa yang kau pakai

sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan diriku.”

Kembali Li He menatapnya, sorot matanya menampilkan semacam perasaan aneh, mendadak

ia berseru, “Ayo, sediakan arak!” “Kedatanganku bukan untuk minum arak,” kata Siau-hong.

“Tapi mau tak mau kau harus minum.”

“Sebab apa?”

“Sebab ku suruh kau minum, kebetulan barang yang kau perlukan juga berada padaku.”

Diam-diam Siau-hong gegetun di dalam hati, hidungnya sudah mencium semacam bau sedap

yang sudah sangat dikenalnya.

Santapan yang keluar memang benar serupa yang disajikan Leng Hong-ji dan Jo-jo semalam.

Saking dongkolnya hampir saja Siau-hong jatuh kelengar.

Makanan itu mengepulkan asap, arak Tiok-yap-jing juga masih hangat.

Sebelum Li He buka suara, lebih dulu Siau-hong sudah bicara. Dengan sendirinya arak ini kau

bawa dari pedalaman sana, selama ini tentunya sayang kau minum.”

Ia mengira Li He pasti akan merasa heran mengapa dia dapat mengucapkan apa yang hendak

dikatakannya.

Siapa tahu Li He justru menggeleng dan berkata, “Salah. arak ini justru diantar kemari oleh

perempuanmu itu. Aku belum minum, sebab kutakut di dalam arak ditaruh racun.”

Siau-hong menyengir, setiap orang tentu pernah berbuat salah. Katanya kemudian. “Makanya

kau minta kucoba dulu arak ini?”

Li He tidak bicara, dan Siau-hong lantas angkat cawan, sekali menenggak dihabiskannya

isinya.

Pembawaan Siau-hong menguasai semacam kepandaian istimewa, yaitu daya rasanya jauh

lebih peka daripada kebanyakan orang. Bilamana di dalam arak ada racun, begitu arak

menempel bibir segera akan dirasakannya. Kalau tidak mungkin selama ini dia sudah mati

keracunan beratus kali.

Li He meliriknya sekejap, tiba-tiba ia bertanya pula, “Kabarnya perempuanmu itu sangat

cantik. Siapa namanya?” “Jo-jo,” jawab Siau-hong.

“Hm, jika kau punya perempuan secantik itu, mengapa kau main gila lagi di luaran, sambar

sini dan gaet sana, sampai bini orang juga kau sikat?”

Siau-hong tertawa, katanya, “Hong-ji dan Tong cilik itu agaknya bukan lagi bini orang, dan

aku suka kepada perempuan.”

Mendadak Li He tertawa, katanya. “Sekarang aku pun bukan isteri orang lagi, aku pun

perempuan.”

“Tapi sayang dalam pandanganku, engkau tidak lebih cuma seorang yang hendak

mengadakan bisnis denganku.”

“Bisnis kita sekarang kan juga sudah selesai?” ujar Li He.

“Kurasa belum, meski uang sudah kubayar, tapi barang belum kau serahkan.”

“Jangan kualir, barang yang kau minta besok akan kuberikan padamu.”

“Mengapa harus menunggu sampai besok?” tanya Siau-hong. Li He juga menuang satu cawan

arak dan diminum perlahan, matanya menampilkan pula perasaan yang aneh. Katanya

kemudian “Kita sudah sama-sama dewasa, tidak perlu bermain seperti anak kecil.”

“Aku pun tidak ingin main-main seperti anak kecil,” kata Siau-hong.

21

“Lelaki di tempat ini kebanyakan serupa keledai yang dungu, kotor dan bau,” ucap Li He

sambil menatapnya. “Hampir sepanjang tahun mereka tidak pernah mandi, asalkan berdekatan

dengan mereka, aku lantas muak akan tetapi engkau … engkau …”

“Aku kenapa?” tanya Siau-hong.

“Engkau ternyata lebih muda daripada dugaanku, badanmu kelihatan kekar, keras dan

pandangan Li He bertambah sayu, napasnya tiba-tiba menjadi agak memburu. “Apa yang

kuinginkan, masa belum lagi kau pahami?”

”Sedikitpun aku tidak paham,” sahut Siau-hong. Li He menggigit bibir, “‘Aku pun perempuan,

dan perempuan kebanyakan tidak dapat kekurangan lelaki. Namun aku … aku sudah beberapa

bulan tidak punya lelaki, aku……”

Napasnya bertambah terengah, mendadak ia condong ke sebelah sini dan memegang tangan

Siau-hong. Terlalu kuat pegangannya sehingga kukunya hampir menancap daging tangan

Liok Siau-hong.

Mukanya sudah ada butiran keringat, hidungnya berkembang-kempis dan tersengal-sengal,

mukanya bersemu merah dan ….

Tapi Siau-hong tetap tidak bergerak. Tingkah orang perempuan begini sudah sering

dilihatnya, yaitu pada saat penuh gairah dan sangat terangsang burulah wajahnya

menunjukkan perasaan demikian. Tapi sekarang Li He hanya memegang tangannya saja.

Dalam sekejap ini tiba-tiba ia paham sebab apa perempuan ini minggat bersama Ting-lotoa

dan mengapa mau menjadi isteri si jenggot biru.

Tak perlu disangsikan lagi, dia pasti seorang perempuan yang bernafsu besar, apalagi usianya

juga pada masa penuh birahi.

Meski mukanya tidak cantik, tapi perempuan macam ini biasanya memiliki semacam daya

tarik yang aneh dan jahat, lebih-lebih bibirnya yang tebal itu, selalu mengingatkan lelaki pada

hal-hal yang tidak senonoh.

Siau-hong masih juga tidak bergerak. Tapi mau tak mau dia harus mengakui bahwa hatinya

mulai goyang.

Biji lehernya mulai naik turun, mulutnya mendadak terasa kering, ia ingin pergi saja. tapi Li

He sudah lantas jatuh dalam pelukannya, menindihnya erat-erat,

Belum pernah Siau-hong melihat perempuan yang begini besar hasratnya, hampir saja ia tidak

dapat bernapas. Li He sudah mulai ….

Pada saat itulah mendadak terdengar suara “blang” yang keras, papan di atas telah dibuka

orang, seorang berteriak dengan histeris, “Biarkan kumasuk, aku harus masuk ke situ! Barang

siapa merin-tangiku, segera kubunuh dia.”

Siau-hong terkejut, Li He juga lantas bangun berduduk dengan napas masih terengah-engah.

Mendadak seorang perempuan melompat turun dari atas, mukanya yang bulat tampak

berkerut-kerut karena marahnya, matanya mendelik. Seketika Siau-hong hampir tidak kenal

lagi bahwa perempuan ini adalah Tong Ko-king yang selalu pasang ak.si di bawah papan

merek rumah minumnya.

“Kau………. ” Li He melompat bangun dan menegur dengan gusar, “Untuk apa kau datang ke

sini, lekas enyah!”

Tapi Tong Ko-king mendeliki Li He dan menjawab dengan tidak kurang garangnya, “Aku

justru tidak mau enyah! Mengapa aku tidak boleh datang ke sini? Kau larang aku menyentuh

orang lelaki, kau sendiri mengapa main gila dengan lelaki?”

Li He tambah gusar, bentaknya dengan bengis. “Kau tidak berhak mengurus, apa pun yang

kulakukan bukan hakmu untuk ikut campur!”

“Siapa bilang aku tidak berhak ikut campur? Kau milikku, aku pun melarang lelaki

menyentuh dirimu!” teriak Ko-king.

22

Mendadak Li He memburu maju dan menampar mukanya dengan keras, kontan muka Tong

Ko-king bertambah beberapa jalur merah. Sekonyong-konyong ia pun menubruk maju dan

menggeluti Li He, serupa cara Li He menggeluti Siau-hong tadi.

“Aku perlu kau, mati pun aku menghendaki kau,” teriak Tong Ko-king. Meski kepalan Li He

menghujani tubuhnya, tetap digelutinya tak terlepas. Malahan ia berteriak pula, “Aku pun

sama baiknya serupa lelaki, tentunya kau tahu. mengapa kau ….”

Siau-hong tidak mau mendengarkan lagi, juga tidak ingin menonton pergumulan dua

perempuan lesbian ini, ia cuma merasa mereka harus dikasihani, menggelikan dan juga

memuakkan.

Diam-diam ia mengeluyur pergi, akhirnya ia paham juga mengapa Tong Ko-king benci kaum

lelaki dan ingin menyiksa orang lelaki. Ia jadi ingin tumpah bilamana teringat dirinya pernah

memegang tangannya.

Malam mendadak tiba. Sampai Siau-hong sendiri tidak tahu bilakah hari mulai gelap. Ia pun

tidak kembali ke Thian-tiang-ciu-lau, dia masuk rumah minum terdekat, membeli satu guci

arak dan duduk minum sendiri di tempat ini.

Inilah sebuah rumah papan kayu yang tak berpenghuni, terletak di tepi sungai, mungkin

penghuni rumah ini telah pindah ke kota yang dibangun di atas sungai beku itu. Pintu rumah

ini hampir tersumbat oleh timbunan salju beku.

Angin menembus masuk melalui celah-celah jendela dan pintu, dingin seperti menyayat. Tapi

Siau-hong tidak merasakannya.

Dia berharap Li He akan menepati janji dan esoknya akan menyerahkan Lo-sat-pay, lalu dia

akan berangkat.

Pada waktu datang ia pernah merasakan tempat ini indah dan gemilang, dimana-mana penuh

sesuatu yang serba baru dan merangsang.

Tapi sekarang dia berharap bisa lekas angkat kaki, lekas pulang, makin cepat makin baik.

Di atas meja butut ada sebuah lentera minyak, masih ada sisa minyak sedikit. Tapi dia tidak

ingin menyalakan lampu, ia sendiri tidak lahu mengapa selama dua hari ini dia berubah

sedemikian pendiam, muram dan kesal, sungguh ia ingin mencari Koh-siong Sian-sing untuk

beradu minum arak saja.

Anehnya, begitu sampai di sini, Swe-han-sam-yu seakan-akan menghilang dari muka bumi

ini.

Dipandang dari jauh, kota di atas es itu masih gilang gemilang, malam di sini datangnya

terlebih cepat, saat ini mungkin belum terlalu malam, masih cukup panjang menantikan

datangnya esok.

Dan cara bagaimana dia harus mengisI malam yang panjang ini?

Siau-hong mengangkat guci araknya, tapi lantas ditaruh lagi. sebab tiba-tiba didengarnya dari

permukaan salju di luar berkumandang suara langkah orang yang sangat perlahan.

Dalam keadaan dan di tempat seperti ini, siapakah yang datang kemari?

Mendadak daun jendela didobrak dan seorang melompat masuk.

Karena pintu sudah tersumbat, Siau-hong juga masuk ke situ melalui jendela.

Di bawah pantulan cahaya salju .samar-samar dapat diketahui orang ini memakai sebuah

mantel yang panjang dan longgar, tangan membawa sebungkus barang dan “brak”, bungkusan

yang dibawanya itu ditaruh di atas meja, dengan tangan yang menggigil kedinginan ia

mengeluarkan geretan dan menyalakan lampu di atas meja.

Habis itu barulah dia berpaling menghadapi Liok Siau-hong, katanya dengan tersenyum,

“Dugaanku ternyata tidak meleset, engkau memang berada di sini.”

Muka tampak pucat sebab kedinginan, hidungnya kemerah-merahan, senyumnya tetap lembut

dan cantik, dia adalah Tan Cing-cing.

Siau-hong tidak terkejut, tapi ia ingin tahu, maka tanyanya. “Cara bagaimana dapat kau duga

aku berada di sini?”

23

“Sebab kulihat engkau menuju ke sini dengan membawa seguci arak, di sekitar sini hanya ada

tempat peneduh ini,” tutur Cingcing dengan tersenyum, “Meski aku tidak pintar, tapi juga

tidak bodoh.”

“Jadi sengaja kau datang kemari mencariku.” “Ehmm,” Cing-cing mengangguk. “Untuk apa?”

tanya Siau-hong.

Tan Cing-cing menuding bungkusan yang dibawanya, kata nya, “Mengantar santapan

pengiring arak bagimu.”

Sambil tersenyum ia lantas membuka bungkusan itu dan berkata pula, “Betapapun engkau

adalah tamu kami, tidak boleh sampai engkau kelaparan.”

Siau-hong memandangnya dengan dingin, mendadak ia menjengek. Mestinya kau tidak

datang kemari.”

“Kenapa tidak boleh kemari?” tanya Cing-cing. “Sebab aku ini setan perempuan, masakah kau

tidak takut….” Cing-cing tidak memberi kesempatan bicara lebih lanjut padanya, dengan

tersenyum ia memotong, “Jika aku takut, tentu aku tidak datang,”

Bilamana kata-kata ini diucapkan Ting-hiang-ih, tentu akan penuh gaya merayu. Jika

diucapkan Jo-jo, tentu penuh gaya menantang.

Tapi sikap Cing-cing ternyata tenang-tenang saja, sebab dia cuma bicara tentang kenyataan

saja.

Ucapan itu sama artinya: Kutahu engkau seorang Kuncuv maka kudatang. Aku pun tahu

engkau pasti akan memperlakukan diriku sebagai seorang Kuncu.

Dalam keadaan biasa, bila seorang perempuan bersikap demikian kepada seorang lelaki,

memang dapat dikatakan akal yang pintar. Cuma sayang, keadaan Liok Siau-hong sekarang

tidaklah biasa.

Dia justru sedang lesu, muram, bahkan keki setengah mati. Dia keki kepada Jo-jo, kepada Li

He, kepada Tong Ko-king, juga keki terhadap dirinya sendiri. Ia merasa apa yang

diperbuatnya selama dua-tiga hari ini pantas dihukum rangket seratus kali.

Didengarnya Tan Cing-cing berkata lagi, “Sengaja kubawakan ayam bakar dan daging

pindang, perlu kau makan sedikit.”

Siau-hong menatapnya tajam, katanya perlahan, “Aku cuma ingin makan sesuatu.”

“Kau ingin makan apa?” tanya Cing-cing. “Makan dirimu!” jawab Siau-hong.

Tidak terjadi perlawanan, tidak ada pengelakkan, bahkan juga tidak ada penolakan. Apa pun

yang akan berlangsung agaknya memang siap diterimanya.

Meski reaksi Cing-cing tidak terlalu mesra, tapi cukup wajar. Sekarang keduanya sudah

kembali dalam keadaan tenang. Perlahan Cing-cing berjangkit dan berdandan sekadarnya.

Tiba-tiba ia menoleh dan bertanya dengan tertawa, “Sekarang kau ingin makan apa?”

Siau-hong juga tertawa, “Sekarang apa pun ingin kumakan, umpama seekor lembu kau bawa

kemari juga dapat kutelan bulat-bulat.”

Kalau hasrat sudah terpenuhi, nafsu makan pun bertambah besar.

Keduanya tersenyum dan saling pandang, sesuatu perbuatan yang mestinya harus disesali

tiba-tiba berubah menjadi riang gembira.

Mencorong sinar mata Tan Cing-cing, katanya, “‘Sekarang dapatlah kupahami sesuatu

urusan.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hong.

“Betapapun bagusnya sesuatu makanan, bila di dalamnya tidak diberi garam, makanan itu

pasti akan berubah cemplang dan tidak enak.”

“Ya, pasti hambar,” tukas Siau-hong dengan tertawa. “Dan lelaki juga begitu,” sambung Cingcing.

“Mengapa bisa kau persamakan lelaki?” Siau-hong merasa tidak paham.

Dengan tersenyum Cing-cing menjawab, “Betapa baiknya lelaki kalau tidak ada perempuan,

tentu dia akan berubah menjadi rusak, rusak sama sekali.”

24

Wajahnya yang bersemu merah itu sungguh sangat menggiurkan. Hati Siau-hong jadi

berdetak lagi dan ingin menarik pula tangannya.

Tapi sekali ini dengan gesit Cing-cing menghindarinya, lalu bicara dengan sungguh-sungguh,

“Sebenarnya kedatanganku ini hendak memberitahukan satu hal padamu.”

“Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?”

“Sebab kulihat engkau lagi lesu dan kesal, tidak berani kukatakan,” “Dan sekarang tentunya

dapat kau katakan.” Cing-cing mengangguk perlahan, dengan sendirinya ia tahu kelesuan

Siau-hong sekarang sudah sembuh, katanya, “Kuharap setelah kau dengar urusan ini

Janganlah kau cemas dan gelisah.”

“Aku takkan gelisah, lekas katakan.” pinta Siau-hong. Meski di mulut dia bilang takkan

gelisah, buktinya dia sudah tidak sabar lagi.

Akhirnya Cing-cing menghela napas dan berkata, ‘Tong Ko-king sudah mati, dibunuh oleh Li

He.”

“Li He membunuhnya?” Siau-hong menegas dengan kening berkernyit. “Sebab apa?”

“Entah?” sahut Cing-cing.

“Tidak kau tanya dia?”

‘Tidak, sebab Li He kembali menghilang. Sekali ini dia benar-benar hilang, sudah lama sekali

kami mencarinya, bayangannya saja tidak kelihaian.”

Belum habis ceritanya, serentak Siau-hong sudah meloncat bangun.

“Kutahu bila kau dengar kabar ini. tentu kau akan melonjak kaget. Sebab selain dia, siapa pun

tidak tahu Lo-sat-pay disimpannya dimana.”

Kembali Siau-hong melonjak terlebih tinggi. “Ke-12 buah peti juga dia sendiri yang

memerintahkan orang membawanya pergi, orang lain juga tak tahu peti dikirim kemana.”

“Mengapa urusan ini baru sekarang kau beritahukan padaku?” teriak Siau-hong.

“Sekarang saja sudah setinggi ini engkau melonjak, jika kukatakan tadi, bukan mustahil

hidungku bisa meleyot kau jotos.”

Siau-hong duduk kembali dan tidak melonjak lagi, juga tidak berteriak.

“Lantaran diriku, makanya kau mau menyerahkan peti lebih dulu kepadanya?”

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

“Dan sekarang petimu sudah tidak ada, dia juga menghilang. Menurut pendapatmu, apa yang

harus kulakukan?”

“Kan sudah kau dapatkan akal yang sangat baik dan telah menutup mulutku,'” jcngek Siau

hong.

Cing-cing menunduk, ucapnya lirih, “Jika kau sangka sengaja kubcrbuat demikian hanya

untuk membungkam mulutmu, maka salahlah kau. Aku kan dapat lari bilamana kutakut

dilabrak olehmu.”

Matanya kelihatan basah, hampir menitikkan air matanya.

Hati Siau-hong menjadi lunak, mendadak ia berdiri dan berkata, “Jangan kuatir, dia takkan

mampu kabur,”

“Kau yakin dapat menemukan dia?” tanya Cing-cing.

“Kalau pertama kali dapat kutemukan dia, sekali ini juga dapat.

Meski di mulut dia bicara demikian, padahal dalam hati ia pun tahu sulitnya utusan.

Tujuannya hanya sekedar menghibur Cing-cing saja.

Maklum, bilamana engkau sudah ada hubungan istimewa dengan seorang perempuan,

seumpama dia berbuat salah sesuatu, terpaksa harus kau maafkan dia, malah harus mencari

jalan untuk menghiburnya.

“Ai, mengapa kaum lelaki selalu diliputi persoalan ruwet begini?” demikian Siau-hong

membatin. Dalam keadaan begini, sungguh ia ingin cukur rambut dan menjadi Hwesio saja

seperti Lau-sit Hwesio.

25

“Setelah membunuh Tong Ko-king. tentu timbul rasa takutnya, makanya dia kabur,” demikian

kata Siau-hong. “Ehmm,” Cing-cing setuju.

“Waktu itu tentunya kau pun berada di kasino sana, masa tidak kau lihat dia kabur ke arah

mana?”

‘Tidak,” jawab Cing-cing. “Ketika kudengar jeritan Ko-king dan memburu ke bawah, ternyata

dia sudah menghilang.”

“Orang lain juga tak ada yang melihatnya?” tanya Siau-hong.

Cing-cing menggeleng, “Tempat ini, asalkan hari sudah gelap, setiap orang lantas

bersembunyi di dalam rumah masing-masing, apalagi semalam terlebih dingin daripada

biasanya Waktu itu juga saatnya orang makan malam “

Siau-hong termenung, katanya, “Tapi kutahu ada satu orang yang tidak takut dingin, betapa

dinginnya cuaca dia tetap berkeluyuran di luaran.”

“Siapa yang kau maksudkan?” tanya Cing-cing.

“Si Kambing tua.”

“Apakah makhluk tua aneh yang tinggal di dalam gentong raksasa itu?”

Siau-hong mengangguk, “Ya, kau pun tahu gentong raksasa itu?”

“Tadi waktu kudatang kemari, kulihat ada cahaya api di sana, seperti rumah terbakar.”

“Tapi di sana tidak ada rumah, gentong itu juga tidak dapat terbakar,” ujar Siau-hong sambil

berkerut kening.

“Makanya aku pun tidak mengerti apa yang terjadi.” “Jika begitu lekas kita pergi ke sana,”

ajak Siau-hong. Hawa sungguh teramat dingin, angin yang meniup kencang serasa menembus

baju kulit dan merasuk tulang.

Sebelum mereka melihat gentong raksasa itu, lebih dulu dari hembusan angin sudah tercium

bau sedap arak yang keras.

Hidung Siau-hong hampir beku, tapi dapat tercium juga bau arak itu, seketika ia berkerut

kening dan berseru, “Wah, celaka!” “Celaka urusan apa?” tanya Cing-cing, “‘Arak apapun

kalau terminum ke dalam perut takkan menyiarkan bau harum demikian.”

“Tapi kalau atak terbakar, bukankah baunya akan tersebar luas?” tukas Cing-cing.

Siau-hong mengangguk, “Tapi si Kambing tua takkan membakar arak, biasanya dia masukkan

arak ke perutnya.”

Cing-cing juga mengernyitkan kening, “Apakah kau pikir ada orang menyalakan arak untuk

membakar gentongnya?”

“Ya, seumpama gentong itu tak terbakar, orangnya bisa mati terbakar.”

“Tapi siapa yang membakarnya? Mengapa Kambing Tua harus dibakar?”

“Sebab rahasia yang diketahuinya terlalu banyak,” ujar Siau-hong.

Seorang kalau perutnya terisi rahasia terlalu banyak, jadinya serupa gudang kayu yang

disiram minyak, mudah terbakar.

Sekarang api kelihaian sudah padam. Waktu mereka tiba, gentong raksasa itu tampak sudah

berubah berwarna hitam, di sekelilingnya bertimbun kayu bakar yang tinggi, semua kayu

sudah hangus terbakar.

Di tengah hembusan angin masih tersisa bau harum arak, tumpukan kayu setinggi ini, disiram

arak lagi, temu apinya sangat besar. Jangankan di dalam gentong cuma ada seekor ‘Kambing

tua’ sekali pun terdapat sepuluh ekor lembu juga akan terpanggang sampai hangus.

“Bau arak belum buyar, api juga belum lama padam.” ucap Cing-cing.

“Coba kumasuk ke sana. kau tunggu saja di sini,” kata Siau-hong.

Segera ia meloncat ke atas, tetapi mendadak melompat turun pula.

“MEngapa tidak jadi masuk ke situ?” tanya Cing-cing. “Aku tidak dapat masuk! “Sebab apa?”

“Sebab di dalam gentong penuh terisi es beku.”

26

Di tempat ini, biar pun air panas yang dituangkan juga akan segera terbeku menjadi esr siapa

pun tidak mampu menuang air satu gentong penuh, apalagi gentong sebesar ini, dan mengapa

di dalam gentong bisa penuh es beku?

Siau-hong angkat pundak dan berkala, “Setan yang tahu…..”

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar suara “prak”. gentong raksasa itu merekah,

menyusul terdengar lagi suara “krek” kembali merekah lagi satu celah besar. Gentong raksasa

buatan khusus ini dalam sekejap telah pecah dan tercerai-berai, dinding gentong pecah sebesar

meja, lalu rontok dan hancur.

Meski gentong itu pecah, tapi es di dalamnya tidak remuk, di bawah cahaya bintang yang

remang-remang tampaknya serupa sebuah bukit es yang berdiri tegak, bukit es yang bening

dan tembus pandang, di dalamnya seperti ada lukisannya.

“Apakah kau membawa geretan api?” tanya Siau-hong.

Cing-cing lantas menyerahkan geretan yang diminta. Siau-hong menjumput sebatang kayu

dan disulut. Setelah obor menyala, hati kedua orang seketika tenggelam, hampir saja Cingcing

tidak kuat berdiri lagi.

Sampai Siau-hong sendiri juga merasa ngeri. Selama hidupnya tidak pernah dilihatnya adegan

sedemikian menakutkan.

Di bawah gemerdep cahaya obor, bukit es yang tembus pandang itu serupa sepotong batu

kristal raksasa dengan cahayanya yang kemilauan. Di tengah gemerdepnya cahaya kemilau itu

terdapat dua manusia yang berdiri terapung tanpa bergerak. Dua sosok tubuh yang terbeku di

dalam bukit es.

Keduanya telanjang bulat, seorang kepalanya di atas sedang seorang lagi kaki di atas. Yang

satu kurus kering, jelas dia si Kambing tua. Seorang lagi berpayudara besar dan berpaha

padat, ternyata Li He adanya.

Mata kedua orang sama melotot besar, yang satu di atas dan yang lain di bawah, seakan-akan

sedang mendeliki Cing-cing dan Siau-hong.

Akhirnya Cing-cing menjerit, lalu jatuh pingsan. Waktu ia siuman kembali, ia sudah berada di

kasino Pancing Perak, sudah berada di dalam kamar tidur sendiri.

Kamar tidur Cing-cing ini terpajang sangat indah, setiap benda terasa ditaruh pada tempat

yang sangat serasi, hanya kulit beruang yang besar dan tebal, yang dilapiskan di atas kursi itu

yang kelihatan agak menyolok.

Dan sekarang Liok Siau-hong duduk di atas kursi berlapiskan kulit beruang itu. Belum pernah

dia berduduk di kursi seenak ini, empuk dan hangat.

Sudah sekian lama Cing-cing siuman, sedangkan Siau-hong seperti ingin tidur, sejak tadi

tidak pernah terpaling.

Api tungku menyala keras, cahaya lampu juga sangat terang, apa yang terjadi dirasakan

seperti impian masa kanak-kanak yang sudah lama berlalu.

Perlahan Cing-cing menghela napas, ucapnya dengan tersenyum, “Untung tadi aku jatuh

pingsan, bilamana kulihat mereka sekejap lagi, bisa jadi aku akan mati kaget.”

Siau-hong tidak buka suara, juga tidak menanggapi.

Cing-cing memandangnya dengan terbelalak, katanya pula, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Akhirnya Siau-hong menjawab dengan perlahan, “Jika di dalam gentong tak berisi air, tentu

takkan beku menjadi es. Jika siapa pun tak sanggup menuang air ke dalam gentong, lalu

darimana datangnya air segentong penuh itu?”

“Apakah dapat kau pecahkan hal itu sekarang?” tanya Cing-cing.

Siau-hong tidak langsung menjawabnya, katanya pula. “Waktu aku pergi ke sana kemarin, di

tepi sungai sana masih banyak timbunan salju, tapi tadi timbunan salju itu sudah lenyap,

kemana perginya?”

Biji mata Cing-cing berputar, “Apakah lari ke dalam gentong itu?”

27

Siau-hong mengangguk, “Ya. jika kau nyalakan api di luar gentong, bukankah salju yang

tertimbun di dalam gentong akan cair menjadi air?”

Mencorong sinar mata Cing-cing, “Dan kalau api padam, air di dalam gentong dengan cepat

akan beku menjadi es pula.”

”Dan sebelum air membeku, Li He dan si Kambing tua sudah dilemparkan orang ke dalam

gentong,” tukas siau-hong,

Cing-cing menggigit bibir, “Rupanya setelah membunuh Ko-king, Li He lantas mencari si

Kambing tua, sebab mereka memang kenalan lama. bahkan……”

Bahkan keduanya sudah ada main, maklum, meski usia si Kambing tua agak lanjut, tapi

tubuhnya masih kuat. Li He sendiri juga sedang memerlukan lelaki.

Hal itu tidak diucapkan oleh Cing-cing, juga tidak sampai hati mengucapkannya. Tapi ia tahu

Siau-hong pasti juga paham.

Benarlah, Siau-hong lantas menghela napas panjang, katanya. “Bisa jadi pada saat mereka

sedang bergumul itulah mereka dibunuh orang”.

“Siapa yang membunuh mereka? Dan sebab apa?” tanya Cing-Cing.

“Aku tidak tahu siapa orang ini, tapi kuyakin pasti juga lantaran Lo-sat-pay.”

“Tapi setelah Li He terbunuh. Lo-sat-pay kan belum pasti akan diperolehnya?”

Siau-hong menyengir, katanya, “Sekali pun ia sendiri tidak memperolehnya, yang jelas dia

juga tidak suka kuperoleh Lo-sat-pay itu.”

“Aku tetap tidak mengerti, setelah dia membunuh Li He, mengapa mesti bersusah payah

mencairkan salju menjadi air, lalu membekukan Li He di dalam es.”

“Mungkin semula dia hanya mengancam Li He agar menyerahkan Lo-sat-pay sebelum air

membeku menjadi es.”

“Akan tetapi Li He juga bukan orang bodoh, dengan sendirinya ia tahu biarpun Lo-sat-pay

diserahkan toh nasibnya tetap akan mati, maka ….”

“Maka Lo-sat-pay saat ini pasti masih tersimpan di tempat semula.” tukas Siau-hong,

Cing-cing menghela napas, katanya, “Cuma sayang Li He sudah mati, rahasia ini tidak

diketahui oleh orang lain.”

Siau-hong berbangkit dan termenung sampai lama menghadapi api tungku, lalu berkala

perlahan, “Ada seorang kawanku, dia pernah memberitahukan padaku bahwa di tempat ini

hanya ada dua orang yang dapat dipercaya, yang satu ialah si Kambing tua, dan yang lain

ialah dirimu.”

Cing-cing tampak sangat terkejut, tanyanya, “Siapa sahabatmu isu? Dia kenal padaku?”

“Dia adalah kawanmu sejak masa kanak-kanak.” “Hah, dia Ting-hiang-ih?!” seru Cing-cing

dengan terbelalak “Cara bagaimana kau kenal dia?”

“Kuharap asalkan kau tahu dia adalah sahabatku, urusan lain sebaiknya jangan kau tahu

terlalu banyak.”

Cing-cing memandangnya lekat-lekat, akhirnya mengangguk dan berkata. “Baik. kupaham

maksudmu, aku pun berharap kau tahu bahwa setiap sahabatnya adalah juga sahabatku.”

“Sebab itulah engkau pasti takkan berdusta padaku.” “Ya, pasti tidak.”

“Jika kau tahu dimana Lo-sat-pay disembunyikan, pasti akan kau katakan padaku?”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu.”

Kembali Siau-hong menghela napas panjang, “Makanya seharusnya Li He tidak boleh mati,

lebih-lebih tidak boleh mati sedemikian mengerikan. Padahal di sini tidak ada orang gila,

yang ada cuma orang setengah gila.”

“Siapa?” tanya Cing-cing.

“Li Sin-tong,” jawab Siau-hong.

Cing-cing tambah terkejut, “Hah, kau anggap dia tega turun tangan keji terhadap kakaknya

sendiri?”

28

Siau-hong tidak menjawab, sebab mendadak dari luar menerobos masuk satu orang sambil

berteriak dan berkeplok tertawa, “Ha … ha … akhirnya dia mau kawin denganku, akhirnya aku

mempunyai isteri. Lekas kalian hadir pada pesta nikahku.”

Orang ini ternyata Li Sin-tong adanya.

Dia masih memakai jubah merah besar dan longgar itu, tetap memakai topi hijau tinggi,

mukanya bahkan berbedak sehingga kelihatannya tambah gila daripada dulu, entah dia benar

gila atau cuma pura-pura gila?

Cing-cing tidak tahan, segera ia bertanya, “Siapa yang mau menjadi isterimu?”

“Dengan sendirinya pengantin baruku.” sahut Li Sin-tong.

“Dimana pengantin barumu?” tanya Cmg-cmg pula.

“Dengan sendirinya di kamar pengantin,” sahut Li Sin-tong. lalu ia berkeplok sambil

bernyanyi seperti orang gila benar terus berlari pergi lagi.

“Apakah kau ingin melihat pengantin barunya?” tanya Cing-cing kepada Siau-hong.

“Ingin,” sahut Siau-hong.

Dengan sendirinya Li Sin-tong juga mempunyai kamar tidur sendiri, di dalam kamar benarlah

sudah dinyatakan sepasang lilin merah besar di atas meja, di tempat tidur juga berduduk

seorang pengantin perempuan yang bergaun merah dan memakai cadar merah.

Pengantin perempuan ini duduk miring bersandar di ujung tempat tidur, dan Li Sin-tong

berdiri di sampingnya, tiada hentinya tertawa dan dada hentinya bernyanyi. Nyanyinya lebih

buruk dari pada suara gagak.

Cing-cing berkerut kening, ucapnya, “Kedatangan kami bukan untuk mendengarkan

nyanyianmu, dapatkah kau tutup mulut?”

Li Sin-tong cengar-cengir, katanya, “Tapi biniku sungguh cantik, kau ingin melihatnya

tidak?” “Ingin,” sahut Cing-cing.

Segera Li Sin-tong hendak menyingkap cadar merah itu, tapi mendadak ia menarik tangannya

dan bergumam, “Ah, harus kutanya lebih dulu apakah dia mau menemui kalian.”

Dia benar-benar setengah berjongkok dan bisik-bisik dengan si pengantin perempuan.

Jelas pengantin perempuan sama sekali tidak buka mulut, bahkan tidak memberi reaksi sedikit

pun, namun Li Sin-tong lantas berjingkrak gembira dan berteriak, “Aha, dia mau, malahan dia

minta kalian menyuguh secawan arak kepadanya.”

Lalu ia menjulurkan tangannya lagi dan sekali ini dia benar-benar menyingkap cadar si

pengantin perempuan.

Seketika hati Siau-hong dan Cing-cing tenggelam pula, sekujur badan terasa dingin dan kaku,

bahkan jauh lebih terkejut dan lebih mual daripada melihat kedua mayat yang terbingkai di

dalam gumpalan es tadi.

Muka si pengantin perempuan juga teroles pupur yang tebal, Tapi matanya melotot besar

seperti mata ikan emas. Pengantin perempuan ini ternyata sudah mati.

“Tong cilik.” seru Cing-cing, “Tong Ko-king!” Tapi Li Sin-tong terus tertawa dengan

riangnya, ia malah membawakan empat cawan arak dan mendekati mereka, secawan

diberikan kepada Tan Cing-cing. Katanya, “Nah, secawan untukmu, secawan untukku,

secawan untuk dia, satu cawan lagi untuk pengantin perempuan.”

Terpaksa Siau-hong dan Cing-cing menerima cawan arak itu hati keduanya sama-sama tidak

enak.

Tampaknya orang ini benar-benar sudah tidak waras lagi Li Sin-tong lantas berduduk di ujung

tempat tidur, secawan arak diberikan kepada pengantin perempuan, kalanya dengan tertawa,

“Marilah kita minum satu cawan sebagai tanda bahagia kita, habis minum segera kuusir

mereka.”

Dengan sendirinya pengantin perempuan tidak dapat menerima cawan araknya, maka

mendeliklah dia, ucapnya, “Kenapa engkau tidak sudi minum? Apakah pikiranmu berubah

lagi dan tidak mau menikah denganku?”

29

Cing-cing tidak sampai hati menyaksikan adegan demikian, ia kuatir dirinya bisa menangis,

juga takut dirinya akan tumpah, segera ia berteriak, “Masa tidak kau lihat dia sudah mati,

mengapa……”

Mendadak Li Sin-tong berjingkrak dan berseru, “Siapa bilang dia mati? Siapa bilang?”

“Aku yang bilang,” sahut Cing-cing.

Li Sin-tong menatapnya dengan beringas dan berteriak, “Mengapa kau bicara semacam ini?1J

“Sebab dia memang betul sudah mati.” kata Cing-cing. “jika benar kau suka padanya,

seharusnya kau biarkan dia istirahat dengan tenang.”

Mendadak Li Sin-tong menerjang maju sambil berteriak, “Dia tidak mati, tidak mati! Dia

pengantin baruku, dia tidak mati!”

Ia jambret leher baju Tan Cing-cing dan diguncang-guncangkan dengan keras. Muka Cingcing

kelihatan pucat, tapi juga gusar, mendadak ia menggamparnya dengan keras.

“Plak”, setelah suara tamparan terdengar, seketika suara tangisan dan teriakannya berhenti,

suasana dalam rumah berubah sunyi senyap seperti di kuburan. Li Sin-tong berdiri termangumangu

kedua matanya yang kaku buram itu tiba-tiba menitikkan air mata, perlahan air mata

merembes ke bawah melalui mukanya yang berbedak tebal itu.

Sorot matanya yang kaku itu masih mendelik. Tan Cing-cing, kelihatan sangat berduka, tapi

juga persis orang gila.

Tanpa terasa Cing-cing menyurut mundur dan mengkirik.

Tiba-tiba Li Sin-tong berkata. “Ya, dia memang sudah mati, kuingat bcnar siapa yang

membunuhnya.”

“”Sia … siapa?” tanya Cing-cing.

“Kau. tentu saja kau!” seru Li Sin-Tong. “Kusaksikan sendiri, dengan sebuah kaos kaki kau

cekik mati dia.”

Mendadak ia membalik dan berlari ke sana, dibukanya leher baju Tong Ko-king sehingga

kelihatan bekas jiratan pada lehernya, lalu berkata pula, “Coba lihat, inilah hasil karyamu,

masa dapat kau sangkal?”

Tan Cing-cing merasa gemas dan gelisah sehingga sekujur badan bergemetar, ucapnya. “Gila,

kau benar-benar gila, untung siapa pun tidak mau percaya ocehan seorang gila.”

Li Sin-tong tidak menghiraukannya lagi, mendadak ia menubruk di atas badan Tong Ko-king

dan menangis tergerung-gerung, teriaknya, “O, sayang! Kau tahu sebab apa selama ini aku

mau ikut Ciciku? Soalnya diam-diam aku cinta padamu. Sejauh ini kunantikan jawabanmu

agar mau menikah denganku. Meski aku tidak berduit, tapi si jenggot biru sudah berjanji akan

memberikan 30 laksa tahil perak padaku. Demi ke 30 laksa tahil perak inilah kakak pun

kukorbankan, akan tetapi … akan tetapi mengapa engkau malah mati?”

Diam-diam Siau-hong mengeluyur keluar, ia merasa bila tinggal lebih lama lagi di situ,

mungkin ia sendiri akan berubah menjadi gila juga.

Seorang memang tidak boleh terlampau mencintai seorang, bila cintanya terlalu mendalam,

akibatnya sering-sering adalah tragis.

Di luar gelap dan dingin, setiba di luar, Siau-hong menarik napas dalam-dalam.

Malam sudah larut, Siau-hong berjalan sendirian kian kemari menyusuri jalan raya. Cahaya

lampu sudah banyak yang dipadamkan, suasana tambah hening.

Entah sudah berapa jauhnya ia berjalan, dan juga entah kapan ia berhenti. Waktu ia

menengadah baru diketahuinya dirinya telah berada di depan toko obat Leng Hong-ji.

Dari balik pintu masih ada cahaya lampu yang menerobos keluar, sampai seban lamanya

Siau-hong termangu. Diam diam ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah memang ingin

kucari dia? Kalau tidak, mengapa tepat kuberhenti di depan rumahnya?”

Pertanyaan ini biar pun dia sendiri juga tidak sanggup menjawabnya. Dalam lubuk hati setiap

orang, seringkali tersimpan sesuatu rahasia yang tiduk diketahuinya sendiri, atau mungkin

bukannya tidak tahu. hanya tidak berani menyingkapnya.

30

“Peduli apa pun juga, aku kan sudah datang kemari?” demikian akhirnya Siau-hong

mengambil keputusan. Ia mulai mengetuk pintu.

Pintu hanya dirapatkan saja tanpa dipalang. maka sekali dorong perlahan pintu lantas terbuka.

Di dalam lampu masih menyala, cuma tidak kelihatan orangnya.

Kemana perginya Leng Hong-ji?

Tiba-tiba timbul semacam firasat tidak enak dalam hati Liok Siau-hong, segera ia melangkah

ke dalam. Di ruangan depan tidak ada orang, kamar tidur juga kosong, di dapur pun tidak ada

orang.

Sebuah pintu kecil di belakang dapur juga cuma dirapatkan begitu saja sehingga

menimbulkan suara gemeratak bilamana tertiup angin.

Apakah Leng Hong-ji kembali tidak dapat pulas, maka dia keluar melalui pintu belakang ini

dan berduduk di sungai es sana untuk mengintip beruang hitam sebagaimana pernah

diceritakannya itu.

Siau-hong meninggalkan tempat Hong-ji itu.

Malam yang gelap seakan dimana-mana penuh sesuatu yang misterius dan menakutkan. Apa

yang akan ditemuinya malam ini?

Meski Siau-hong tidak dapat meramalkannya, tapi ia sudah bertekad akan menemukan Leng

Hong-ji, ia tak ingin Hong-ji juga lenyap dalam kegelapan malam yang misterius ini.

Lalu kemana Hong-ji? Apakah benar lagi mengintai beruang hitam yang katanya sering

muncul, lalu menghilang lagi secara ajaib?

Dilihatnya di kejauhan sana ada kerlipan beberapa titik bintang. Segera ia menuju ke arah

sinar bintang itu.

Mendadak didengarnya suara jeritan ngeri dari depan sana, suaranya tajam dan seram, jelas

suara orang perempuan.

Dengan kecepatan penuh ia memburu ke sana, di bawah kerlipan bintang yang menyinari

sungai es, kelihatan di situ ada secomot darah segar, beberapa puluh langkah mengikuti

ceceran darah itu dapatlah dilihatnya tubuh Leng Hong-ji yang meringkuk di sana tanpa

bergerak.

Tubuhnya sudah kaku, mukanya rusak seperti bekas dicakar oleh lima cakar maut. Apakah

Hong-ji kepergok oleh beruang hitam dan menemui ajalnya di bawah cakar beruang yang kuat

itu.

Anehnya binatang buas yang kelaparan itu mengapa tidak menyentuh mayatnya, sama sekali

tidak mengoyaknya. Tubuh Hong-ji tidak ada bekas gigitan, jelas tidak diseret ke sini oleh

seekor beruang, tapi merangkak sendiri ke sini.

Mengapa dia meronta mati matian dan menggunakan sisa tenaganya untuk merangkak sejauh

ini?

Meski tubuhnya meringkuk, tapi kedua tangannya terjulur ke depan, kukunya menancap di

dalam es yang keras, seperti orang yang hendak menggali isi sungai. Memangnya ada rahasia

di bawah sungai es ini? Apa pula yang hendak digalinya?

Beberapa bintik bintang di langit akhirnya lenyap juga, bumi raya dengan sungai esnya

diliputi kegelapan belaka.

Saat inilah saat yang paling gelap dalam sehari. Tapi waktu Siau-hong menengadah, matanya

tampak bersinar, seperti cahaya terang sudah berada di depan mata.

Saat yang paling gelap dalam sehari, juga saat yang dekat dengan cahaya terang.

Kehidupan manusia juga begitu. Asalkan dapat kau tahan penderitaan selama masa gelap itu,

akan tercapailah hidupmu yang terang dan penuh harapan.

Ketika sang surya mulai akan memancarkan cahayanya, Liok Siau-hong sudah bersama Jo-jo

dan Tan Cing-cing. Dengan sorot mata yang lembut, mereka lagi memandang Siau-hong,

cuma pan dangan mereka merasa sedih dan bingung Mereka tidak mengerti untuk apa pagiKeajaiban

Negeri Es > Gan K.L. > buyankaba.com 31

pagi buta begini Siau-hong mengajak mereka ke sini. Tapi kemudian baru mereka tahu apa

yang terjadi.

Mayat Leng Hong-ji telah digotong pergi, noda darah juga sudah hilang, tapi semua itu sudah

mereka lihat dan sukar untuk dilupakan.

Sejak tadi Cing-cing berdiri diam di samping Siau hong, mukanya pucat, baru sekarang ia

menghela napas dan bergumam, “Sudah lama kudengar di sini ada beruang, tak tersangka

binatang ini sedemikian buas.”

“Kau kira dia mati di bawah cakar beruang?” tanya Siau-hong. Hanya cakar binatang buas

saja yang memiliki tenaga sebesar ini, dan hanya beruang saja yang dapat berdiri serupa

manusia serta menubruk mangsanya dengan telapak kaki depan.” “Ehmm, betul juga?” ucap

Siau-hong.

“Coba kalau tidak kebetulan kau tiba di sini, saat ini mungkin mayatnya saja sukar

ditemukan,” ujar Cing-cing dengan sedih. “Di antara kami berempat, hanya aku dan dia saja

yang akrab. Sungguh aku…….”

Mendadak suaranya tersendat dan matanya merah, ia terus mendekap di bahu Liok Siau-hong

dan menangis tersedu-sedan.

Tanpa terasa Siau-hong merangkul pinggangnya. Jika di antara seorang lelaki dan seorang

perempuan sudah mempunyai sesuatu hubungan yang istimewa, maka serupa debu yang

tersorot sinar matahari, sukar mengelabui mata orang.

Jo-jo melototi mereka, mendadak ia mendengus, “Hm, kedatanganku ini bukan untuk melihat

kalian main sandiwara. Selamat tinggal!”

Sekali bicara pergi, seketika juga dia angkat kaki.

Sesudah Jo-jo melangkah agak jauh, tiba-tiba Siau-hong berucap, “Kau tidak mau menonton

sandiwara, memangnya juga tidak mau melihat Lo-sat-pay?”

Kata-kata ini serupa tali laso yang menjerat kaki Jo-jo, seketika ia memutar balik dan berseru.

“Kau bilang Lo-sat-pay? Benda itu sudah kau temukan? Dimana?”

“Di sini,” sahut Siau-hong.

Sini yang dimaksudkan adalah tempat dimana mayat Leng Hong-ji menggeletak tadi, yaitu

tempat yang sedang digaruk tangan Hong-ji sehingga kukunya masih tertanam di dalam es.

Padahal es beku itu tebalnya belasan kaki, kerasnya serupa baja, jangankan tangan manusia,

sekalipun dicangkul atau dipalu juga sukar menembusnya.

“Kau bilang Lo-sat-pay berada di bawah sungai es ini?” Jo-jo

bertanya pula.

“Ya, pasti berada di sini, paling-paling dalam lingkaran satu tombak di bawah sini,” tutur

Siau-hong.

“Memangnya matamu mampu tembus pandang tanah es setebal ini sehingga kau tahu apa

yang terpendam di dasar sungai?” ejek Jo-jo.

Tempat ini sangat dekat dengan tepi sungai, warna es di sini seperti lebih gelap daripada

tempat lain. Hanya mata telanjang manusia tentu saja sukar memandang tembus ke bawah,

tapi terlihat juga sepotong pohon kering yang menongol di permukaan sungai. Mungkin pada

waktu sungai mulai beku, pohon itu kebetulan tumbang dari tepi sungai. Ranting pohon entah

dipapas oleh siapa, hanya sebagian batang pohon yang menongol di permukaan sungai

sehingga serupa bangku panjang, bila duduk di atas ‘bangku’ ini, tepat berhadapan dengan

bukit bersalju di kejauhan serta sebuah kuil di seberang sana.

“Meski tidak dapat kutembus pandang, tapi dapat kurasakan,” demikian jawab Siau-hong atas

ejekan Jo-jo tadi.

“Toh hal ini belum ada buktinya, seumpama betul Lo-sat-pay terpendam di bawah, betapa pun

sukar bagimu untuk menggalinya,” jengek Jo-jo.

Siau-hong tertawa, ucapnya, “Sejak kecil sudah kudengar dua pameo yang sangat berguna

bagi orang hidup.”

32

“Tapi sayang, pameo yang betapa bergunanya tetap tak dapat membuat sungai es ini cair,”

jengek Jo-jo pula.

Siau-hong tidak menghiraukannya lagi, “Pameo pertama mengatakan: “Di dunia ini tidak ada

pekerjaan sulit, yang diperlukan adalah tekad orang”. Lalu pameo lain bilang, “Bila ingin

menyelesaikan sesuatu pekerjaan denganlancar, yang utama adalah ketajaman peralatannya”.

Nah, tentunya kau paham arti kedua pameo ini.”

“Aku justru tidak paham,” sahut Jo-jo. “Artinya, asalkan punya tekad yang teguh dan punya

genggaman yang efektif, maka di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tak dapat

diselesaikan.”

“Cuma sayang, tekadmu tak kulihat, genggamanmu juga tidak kulihat.”

Kembali Siau-hong tertawa, “Nanti pasti akan kau lihat.”

Maka Jo-jo lantas berdiri di samping dan melihatnya.

Siapa pun tidak menyangka gaman atau alat yang digunakan Liok Siau-hong tidak lain cuma

belasan batang bambu dan sebuah botol kecil saja.

“Inikah alat kerjamu?” tanya Jo-jo dengan tertawa geli.

Siau-hong tidak menghiraukan ocehannya, dia kelihatan sangat prihatin dan bekerja dengan

sangat khidmat, dengan hati-hati ia membuka tutup botol lalu menuang satu tetes isi botol itu,

cairan warna kuning muda yang menetes di atas sungai es itu seketika menerbitkan suara

“cress” disertai mengepulnya asap hijau. Es batu sekeras baja itu lantas berlubang oleh tetesan

kuning itu.

Belum lagi asap itu buyar, Siau-hong lantas mengangkat sebatang bambu dan ditancapkan ke

dalam lubang es, dengan sebelah tangan memegang botol dan tangan lain memegang galah,

hanya sekejap saja belasan galah bambu itu telah ditancapkan semua di dalam sungai es

dalam lingkaran seluas satu tombak.

Di antara galah bambu itu terdapat pula dua-tiga utas sumbu yang panjangnya dua-tiga kaki,

Siau-hong lantas menyulut sebatang dupa kecil, serentak ia berlari mengitari pagar bambu itu,

kembali dalam sekejap saja belasan sumbu itu telah disulutnya.

Mendadak ia berteriak, “Mundur, lekas mundur sejauhnya!” Cepat ketiga orang berlari

mundur, baru lima-enam tombak jauhnya, terdengar suara ledakan. Beribu kerikil es muncrat

ke atas bercampur dengan potongan bambu dan berhamburan seperti hujan, terdengar suara

gemerincing ramai mirip gotri yang dilemparkan ke talam.

Pada saat itulah sepolong barang hitam juga mencelat ke udara dan “trang” benda itu jatuh ke

tanah es. Ternyata sebuah bumbung yang terbuat dari baja.

Ketika tutup bumbung itu dibuka, segera sepotong Gok-pay atau batu kemala yang berbentuk

pipih dan berwarna putih gilap meluncur keluar. Ternyata benda inilah Lo-sat-pay yang

sedang dicari.

Jo-jo berdiri melenggong, Cing-cing juga terkesima, meski badan mereka kejatuhan kerikil es

juga lupa merasakan sakit.

Siau-hong menghela napas lega, ucapnya dengan tersenyum, “Inilah alat kerjaku, bagaimana

menurut pendapatmu?!”

Mau tak mau Jo-jo tertawa, katanya, “Cara yang aneh-aneh begini mungkin cuma kau saja

yang dapat menemukannya.”

“Jika tidak ada obat peledak buatan Pi-pek-tong dari Kanglam, betapa baik sesuatu akal juga

sukar terlaksana,” tutur Siau-hong.

“Darimana kau dapatkan obat peledak Pi-pek-tong?” tanya Jo-jo heran.

“Dapat kucuri,” jawab Siau-hong.

“Curi! Darimana kau curi?” tanya Jo-jo pula.

“Dan dalam gentong raksasa itu.”

“Gentong raksasa mana?”

“Tempat Li He,” tutur Siau-hong.

33

Rupanya waktu menemukan mayat Leng Hong-ji segera timbul kecurigaannya bahwa Lo-satpay

mungkin disembunyikan di bawah sungai es ini, cuma saja belum seratus persen yakin.

“Setelah kutemukan barang-barang ini di dalam gentong Li He itu, baru tahulah aku bahwa

dugaanku tidak meleset.'” demikian tutur Siau-hong pula. “Sebab setiap pekerjaannya selalu

dilakukan dengan cermat. Tindakan apapun pasti dipikirkan olehnya jalan mundurnya. Maka

kalau dia berani menyembunyikan Lo-sat-pay di bawah sungai e.s yang beku ini, tentu dia

mempunyai jalan untuk mengeluarkannya.”

Maklum, cairan yang sangat keras itu ditambah obat peledak, jika gunung saja dapat

diruntuhkan, tentu sungai beku juga mudah dihancurkan.

“Kupikir bila dia sudah menyiapkan alat pembobol sungai sebagus ini, dengan sendirinya Losat-

pay pasti juga sudah disembunyikannya di dasar sungai, teori ini kan sangat sederhana

seperti halnya teori satu tambah satu sama dengan dua.”

Padahal teori ini tidaklah sederhana, kesimpulannya ini baru diperoleh setelah dia

mengumpulkan bahan pembuktian dari sana sini.

Tiba-tiba Jo-jo menghela napas, katanya, “Mestinya hendak kumaki kau lagi, cuma dalam

hatiku mau tak mau harus merasa kagum padamu.”

“Jangankan kau, aku pun sangat kagum pada diriku sendiri,” kata Siau-hong dengan tertawa.

Biji mata Jo-jo berputar, katanya tiba-tiba, “Cuma kepandaianmu masih belum terlalu hebat,

apabila kau mampu menemukan pembunuh Li He itulah baru dapat kukatakan engkau

memang sangat hebat.”

Siau-hong tertawa, ucapnya, “Aku tidak ingin orang mengatakan diriku hebat, juga bukan

datang kemari untuk mencarikan pembunuh bagi orang lain, yang hendak kucari adalah Losat-

pay.”

Cing-cing memandangnya dengan termangu, mendadak ia berkata. “Dan sekarang barangnya

sudah kau temukan, apakah segera engkau akan berangkat?”

Pertanyaan ini diucapkannya dengan perlahan, terasa mengandung semacam perasaan duka

dan hampa.

Siau-hong lantas menghela napas pula. ucapnya, “Mungkin memang sudah waktunya aku

harus pergi.”

Cing-cing tersenyum, “Apa pun juga, aku kan nyonya rumah di sini. Lohor nanti akan

kuadakan jamuan makan selamat jalan kepada kalian, hendaknya kalian sudi hadir.”

“Dia pasti hadir, tapi aku tidak,” Jo-jo mendahului menjawab.

“Sebab apa?” tanya Cing-cing.

“Sebab di dalam hidanganmu nanti pasti banyak terdapat cuka, bilamana terlalu banyak

makan cuka, lambungku bisa sakit.”

lalu Jo-jo menghela napas dan melirik Siau-hong sekejap. “Bukan saja lambung akan sakit,

hati pun juga sakit. Maka lebih baik aku tidak hadir saja.”

Sepulangnya di Thian-tiang-ciu-lau, segera ia berbaring dan tertidur. Cuma sebelumnya ia

sudah mengingatkan dirinya sendiri hanya boleh tidur dua jam. Dan benar, belum sampai dua

jam dia sudah mendusin. Dan begitu membuka mata, segera dilihatnya Jo-jo berdiri di

ambang pintu dan sedang memandangnya.

“Sudah lama kutunggu,” kata Jo-jo.

“Ada apa menungguku?” tanya Siau-hong sambil kucek-kucek matanya yang masih sepat,

“Untuk pamit padamu,” jawab Jo-jo. “Pamit? Sekarang juga kau hendak pergi?” “Setelah kau

dapatkan Lo-sat-pay, semua hutangku padamu sudah lunas. Sebentar lagi kau mau minum

arak, sedangkan aku tidak ingin minum cuka, mau apa kalau tidak pergi saja?”

Tanpa memberi kesempatan buka suara kepada Siau-hong, segera Jo-jo bertanya pula, “Cuma

aku rada heran, mengapa engkau dan dia bisa mendadak berubah menjadi begitu akrab?

Bahkan tampaknya seperti sudah ada … ada deh!”

34

“Alasannya cukup sederhana,” sahut Siau-hong dengan tertawa. “Sebab aku adalah lelaki

yang normal, dan dia juga seorang perempuan yang normal.”

“Dan aku?” tukas Jo-jo. “Apakah aku bukan perempuan, apakah aku tidak normal?”

“Kau pun sangat normal, cuma sayang, agak terlalu normal sedikit!” kata Siau-hong,

Jo-jo mendelik, mendadak ia menerjang maju. membuka selimut Siau-hong tcrus menindih di

atas tubuhnya.

“He, kau mau apa?” tanya Siau-hong.

“Ingin kukatakan padamu, asalkan aku mau, apa yang dapat dilakukannya tentu juga dapat

kulakukan, bahkan akan kukerjakan dengan lebih baik daripada dia.” desis Jo-jo.

Tubuhnya yang panas terus meliuk-liuk dun menggesek di atas tubuh Siau-hong, sambil

menggigit daun telinganya ia mendesis pula dengan napas terengah. “Sebenarnya aku sudah

mau mengapa kau malah tidak menghendaki diriku Dan sekarang apakah engkau mulai

menyesal?”

Siau-hong menghela napas, mau tak mau ia harus mengaku sesungguhnya anak perempuan ini

adalah siluman cilik yang sangat menggiurkan.

Mendadak Jo-jo melompat bangun, lalu menerjang keluar tanpa berpaling lagi, terdengar

suaranya berkumandang dari luar. “Skarang bolehlah kau tidur sendirian dan menyesal

selamanya.”

Tapi Siau-hong tidak berbaring lama, sebab baru saja Jo-jo pergi, segera Cing-cing muncul,

bahkan membawa dua cawan dan satu poci arak.

“Nona yang suka minum cuka dan juga takut sakit lambung itu mengapa tergesa-gesa

berangkat lebih dulu?” tanya Cing-cing dengan tertawa.

“Sebab kalau dia tidak pergi, tentu kepalaku akan terlebih sakit daripada lambungnya,” jawab

Siau-hong sambil menyengir.

“Baik juga dia sudah pergi,” ujar Cing-cing dengan tersenyum, “Sudah kututup kasino di sana,

aku memang hendak kemari.”

“Cuma sayang, arak yang kau bawa ini hanya cukup untuk berkumur saja bagiku,” ujar Siauhong

dengan tertawa.

“Minum arak tidak perlu banyak, yang penting adalah hati yang tulus,” ucap Cing-cing

dengan lembut.

“Baik. tuangkan, akan kuminum,” kata Siau-hong.

Perlahan Cing-cing menuang dua cawan, lalu berkata dengan sedih, “Kuhormati engkau satu

cawan sebagai ucapan selamat jalan padamu, semoga engkau sampai di tempat tujuan dengan

baik. Boleh juga kau suguh aku satu cawan sebagai tanda selamat jalan, selanjutnya kita

berpisah ke arah sendiri-sendiri” “Kau pun akan pergi?” tanya Siau-hong. Cing-cing menghela

napas, “Kami datang berlima, sekarang tersisa aku seorang saja. Untuk apa pula kutinggal di

sini?”

“Kau … kau hendak kemana? Jika kita toh akan pergi semua, kenapa kita tidak pergi

bersama?”

Cing-cing tertawa, “Sebab aku tahu engkau tidak bersungguh-sungguh ingin membawaku

pergi, kutahu juga banyak sekali anak perempuan yang kau kenal. Tidak ada perempuan yang

tidak cemburu, aku juga perempuan, maka…..”

Dia tidak melanjutkan, tapi lantas menenggak araknya, perlahan ia taruh cawan arak, lalu

membalik tubuh dengan perlahan dan melangkah pergi.

Sama sekali ia tidak menoleh, seakan-akan kualir sekali menoleh lantas sukar lagi melangkah

pergi.

Siau-hong juga tidak mencegahnya, ia memandangi kepergi-annya dengan diam saja, air

mukanya mirip orang yang habis menenggak secawan arak getir.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong didengarnya seorang berucap di luar, “Selamat, selamat

atas keberhasilan segala usahamu!”

35

Suaranya serak tua, jelas yang datang ialah Swe-han-sam-yu.

Belum lagi Siau-hong memandang orangnya, sudah terlihat tangan mereka lebih dulu.

“Serahkan!” belum lagi masuk Kohsiong Lojin sudah menjulurkan tangannya lebih dulu.

“Berikan barangnya lantas boleh kau pergi, segala persoalan kita selanjutnya pun lunas.”

Siau-hong tidak menjawab, juga tidak bergerak, hanya tertawa lebar seperti orang linglung.

Koh-siong Lojm menarik muka, katanya pula, “Masa kau tidak mengerti apa yang

kukatakan?!”

“Mengerti,” sahut Siau-hong.

“Nah, mana Lo-sat-pay?” tanya pula si kakek.

“Hilang!”

Seketika berubah air muka Koh-siong Lojin. “Apa katamu?” bentaknya dengan bengis.

“Aku mengerti perkataanmu, masa kau tidak mengerti ucapanku?” Siau-hong tetap tertawa.

“Masa Lo-sat-pay tidak berada padamu sekarang?” tanya pula si kakek.

“Tadi ada,” jawab Siau-hong. “Dan sekarang?”

“Sekarang sudah dicuri orang,” “Dicuri siapa?”

“Orang yang tadi menindih dan bergelimang di atas tubuhku itu.”

“Maksudmu perempuan yang kau bawa kemari itu?”

“Ya, tentu saja perempuan. Bila lelaki yang menindih dan bergelimang di atas tubuhku, bisa

jadi aku sudah pingsan,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

Koh-siong Lojin menjadi gusar, “Jika jelas kau tahu dia mencuri Lo-sat-pay itu, kenapa kau

lepaskan dia pergi?”

“Harus kulepaskan dia pergi,” kata Siau-hong.

“Apa alasanmu?”

“Sebab Lo sat-pay yang dicurinya itu palsu.” Koh-siong Lojin jadi melongo.

Bab 4 …

Angin meniup dingin, udara kelam kelabu, jalan penuh tertimbun salju, seorang perempuan

menunggang seekor keledai kurus menempuh perjalanan sendirian. Dan kejauhan sayupsayup

terdengar suara seruling yang memilukan, namun bumi raya ini tetap suram dan sunyi.

Si nona berada jauh di rantau, hatinya terlebih jauh di luar langit. Dia menjalankan keledainya

dengan sangat lambat, ia sendiri tidak tahu harus kemana, tapi entah mengapa dia terburuburu

melanjutkan perjalanan.

Mendadak dari persimpangan jalan sana muncul sebuah kereta kuda yang besar, pengendara

kereta memakai topi kulit, memegang cambuk panjang, waktu berlalu di samping si nona,

sekilas dia tersenyum padanya.

Perempuan itu juga tersenyum. Sama-sama pengelana dan kebetulan berjumpa, apa

halangannya saling tersenyum walaupun tidak saling kenal?

Pengendara kereta itu mendadak bertanya, “Nona kedinginan tidak?”

“Dingin!” sahut perempuan itu. Dia adalah Tan Cing-cing. “Kalau duduk di dalam kereta

tentu takkan kedinginan,” ujar si pengendara kereta.

“Tentu saja, kutahu,” kata Cing-cing.

“Jika begitu. mengapa nona tidak naik ke atas kereta saja?” ujar si lelaki pengendara kereta.

Tan Cing-cing berpikir sejenak, perlahan ia turun dari keledainya, kereta pun sudah-berhenti.

Jika gentong es saja pernah dimasuki, apa artinya naik kereta.

Sesudah Cing-cing naik ke dalam kereta, mendadak si pengendara mengangkat cambuknya

dan menyabet sekerasnya pantat keledai yang ditinggalkan itu.

Karena kesakitan, keledai itu berlari pergi seperti kesurupan setan.

Si pengendara kereta tersenyum senang, lalu berdendang lagu cinta “si nona manis siapa yang

punya” segala. Tidak lama kemudian, kereta ini pun menjauh.

36

Tidak terlalu lama, sampailah kereta besar ini di Hiula, sebuah tempat yang sangat terpencil

meski bukan sebuah kota, tapi sudah tergolong tidak kecil di daerah kutub seperti ini.

Pengendara kereta mendadak menoleh dan berkata dengan tertawa, “Sudah sampai di

rumahku, nona mau mampir tidak?”

Selang sejenak barulah terdengar suara Tan Cing-cing menjawab hambar di dalam kereta,

“Kalau sudah berada di sini, mampir sebentar juga tidak menjadi soal.'”

Baru saja ia turun dari kereta, pintu rumah papan yang sudah reyot berkeriat-keriut dan

terbuka, seorang anak yang kotor dan ketolol-tololan melongok keluar dan memandang Cingcing

dengan cengar-cengir.

Wajah Cing-cing tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia kebut-kebut bajunya, lalu masuk

ke rumah dengan langkah gemulai.

Di dalam adalah sebuah ruang tamu yang sangat sederhana, di tengah ruangan terpuja patung

Toapekong kekayaan dengan tangan memegang Kim-goan-po (bongkah emas), sebuah pintu

di belakang ditutupi tabir biru yang sudah luntur, di atas pintu tertempel kertas merah yang

tertuliskan “Hi” dan “Cay” (Selamat dan Rejeki). Jelas kelihatan penghuni rumah yang rudin

ini setiap hari senantiasa bermimpi agar cepat kaya mendadak.

Seorang rudin dengan seorang anak dekil, dua-tiga buah rumah bobrok, empat-lima buah

bangku yang reyot, huruf tempelan yang miring, lukisan patung yang lucu, semuanya serba

tidak serasi.

Tempat seperti ini seharusnya sukar didiami lama-lama oleh Tan Cing-cing. Maklum, dia

suka kebersihan, suka ketenangan suka barang-barang yang indah dan bernilai. Tapi sekarang

dia ternyata sangat kerasan di sini, sangat betah, seperti di rumah sendiri sama sekali tidak ada

niat hendak pergi lagi.

Memangnya sudah tidak ada tempat lain lagi yang dapat ditujunya?

Anak dekil tadi masih memandangnya dengan cengar-cengir, tapi wajah Cing-cing tetap tidak

memperlihatkan sesuatu perasaan! Ia melongok kian kemari, habis itu terus menyingkap tabir

biru yang sudah luntur itu dan masuk ke kamar tidur orang.

Di dalam kamar tidur dengan sendirinya ada ranjang, ternyata sebuah ranjang yang besar,

bahkan masih baru gres. Kasur selimut dan bantal semuanya juga serba baru dengan sulaman

bunga dan sepasang merpati yang indah.

Di belakang tempat tidur tertumpuk empat-lima buah peti kayu yang juga masih baru, ada

pula sebuah meja rias, dinding sekeliling kamar terkapur putih bersih sehingga kelihatannya

seperti kamar pengantin baru.

Cing-cing berkerut kening, sorot matanya menampilkan rasa jemu, tapi ketika ia memandang

ke arah peti, seketika sinar matanya mencorong terang.

Lalu dilakukannya sesuatu yang tak terbayangkan, dia justru melompat ke atas tempat tidur

orang, lalu dari bajunya dikeluarkannya serenceng kunci, dibukanya gembok pada salah

sebuah peti itu.

Sekonyong-konyong sinar mengkilat emas terpancar, di dalam peti kayu ini ternyata berisi

Kim-goan-po atau emas lantakan, yang jelas emas berkadar murni.

Cahaya emas membuat muka Cing-cing mencorong terang.

untuk pertama kalinya dia tersenyum, dengan ujung jarinya ia merabai tumpukan lantakan

emas yang rapi itu, serupa seorang ibu yang sedang membelai anak bayinya dengan penuh

kasih sayang.

Untuk mendapatkan emas ini memang bukan pekerjaan yang gampang, bahkan jauh lebih

susah daripada seorang ibu melahirkan anak.

Akan tetapi sekarang semua kesulitan sudah berlalu, dengan puas ia menghela napas, lalu

menengadah, dilihatnya si lelaki pengendara kereta lagi melangkah ke dalam kamar sambil

menegurnya dengan tersenyum, “Bagaimana permainanku ini, cukup menarik tidak?”

37

Cing-cing tersenyum manis dan berkata, “Bagus, memang hebat sekali, sungguh engkau tidak

malu bergelar sebagai anak ajaib nomor satu di dunia.”

Lelaki pengendara kereta itu tertawa, ia menanggalkan topi yang hampir menutupi setengah

mukanya sehingga terlihatlah wajahnya yang kekanak-kanakan, dia ternyata Li Sin-tong

adanya.

Setelah menanggalkan jubah hijau yang besar, dengan lagaknya yang sinting, kini orang ini

kelihatan tidak sinting sedikit pun, bahkan wajahnya juga tidak jelek.

Cing-cing memandangnya dengan senyuman lembut, katanya kemudian, “Selama dua hari

sungguh telah membikin susah padamu.”

“Ah. susah sedikit sih tidak apa-apa, hanya rada tegang,” ujar Li Sin-tong dengan tertawa,

“Keparat yang beralis empat itu sungguh tidak boleh diremehkan.”

Sejenak kemudian, tiba-tiba ia bertanya, “Waktu kau berangkat, apakah dia bertanya

mengenai diriku?”

Cing-cing menggeleng, “Dia mengira kini seorang gila benar, hakikatnya tidak menaruh

perhatian padamu.”

“Ha .., ha … makanya biarpun dia cerdik seperti setan, akhirnya juga kena kau kibuli,” kata Li

Sin-tong dengan tertawa.

“Semua itu kan juga berkat permainanmu,” ujar Cing-cing. “Pada waktu engkau berlagak gila

sampai aku pun hampir percaya.”

“Apa sulitnya untuk berbuat begitu? Asalkan kuanggap Hong-ji sebagai dirimu, tentunya kau

pun tahu ucapanku itu kutujukan kepadamu.

Dia memandang Cing-cing dengan terkesima, serupa seorang anak yang minta disusui sang

ibu. Selang agak lama, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Eh, coba lihat, bagaimana

pajangan rumah ini?”

“Ehmm, bagus sekali, benar-benar serupa kamar pengantin baru,” jawab Cing-cing dengan

senyuman manis.

Sembari tersenyum ia terus berbaring berbantal sulam merpati itu, dengan sorot mata yang

sayu ia pandang Li Sin-tong, katanya dengan lembut. “Kau lihat diriku mirip pengantin baru

tidak?”

Biji leher Li Sin-tong bergerak naik turun, napasnya mulai sesak, mendadak ia menubruk ke

atas tubuh Cing-cing, serunya dengan megap-megap, “Aku perlu kau, sudah lama kutahan,

sungguh aku bisa gila. Kejadian tempo hari sudah tiga bulan yang lalu ….”

Sembari bicara, sebelah tangannya terus menarik baju Cing-cing.

Cing-cing tidak menolak, malahan napasnya juga rada memburu, napasnya yang panas

menyembur telinga Li Sin-tong sehingga membuat tulangnya terasa lemas juga. Malahan

Cing-cing terus merangkul lehernya.

“Wah, aku tidak tahan …” seru Li Sin-tong dengan parau.

Tapi mendadak terdengar suara “krek”. suara tulang patah. Seketika Li Sin-tong melonjak dari

atas tubuh Tan Cing-cing, tapi kepalanya sudah terkulai ke samping, sekujur badan lemas

seperti karet, “bluk” ia jatuh terkapar dengan mata melotot. Nyata jiwanya sudah melayang.

Sama sekali Cing-cing tidak memandangnya, melirik pun tidak. Dengan tenang ia tetap

berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara mengikik tawa di luar, suara seorang

perempuan berseru sambil berkeplok, “Ha … ha ,.. bagus sekali! Pantas Ting-ting bilang

engkau ini perempuan yang berhati keji, buktinya memang betul.”

Air muka Cing-cing berubah seketika, tapi waktu ia berbangkit air mukanya lantas

menampilkan senyuman yang lembut dan menggiurkan, ucapnya, “Meski hatiku keji, tapi

belum terlalu hitam seperti hatimu!”

38

Maka muncullah seorang anak perempuan berbaju kulit kembang dengan topi kulit berbulu

halus, senyumnya cerah seperti bunga mekar pada musim semi, dia ternyata si Jo-jo yang

genit itu.

Di belakangnya mengikut pula tiga orang, yang satu berbaju hitam dan berpedang, yang

kedua gesit serupa kera, yang ketiga kakek berambut putih dan selalu berada di belakang Jojo.

Cing-cing lantas menyongsongnya dan menegur, “Sungguh tak kusangka engkau bisa datang

ke sini, kalau tahu tentu akan kusediakan makanan kegemaranmu dan minum bersamamu arak

kesukaanmu.”

Tertawa Jo-jo sangat manis, kalanya, “Tak tersangka engkau masih ingat kepada santapan

kesukaanku.”

“Kita dibesarkan bersama, biar pun kau lupa pada diriku, tidak nanti kulupakan dirimu,” kata

Cing-cing.

“Apa betul?” Jo-jo menegas.

“Tentu saja betul,” jawab Cing-cing. “Sudah beberapa hari ingin kucari kesempatan untuk

bercengkerama denganmu, cuma aku pun kuatir akan dicurigai orang lain.”

“Betul, aku pun begitu. Setan yang beralis empat itu sungguh bukan manusia baik-baik.”

Begitulah kedua orang bersendau-gurau penuh keakraban. “Tampaknya engkau tidak berubah

sedikit pun,” kata Cing-cing pula dengan lembut.

“Kau pun tidak,” jawab Jo-jo.

“Sungguh aku sangat rindu padamu selama beberapa tahun ini.

“Aku pun tidak kurang rindunya padamu.”

Berbareng kedua orang sama mengulurkan tangan dan melangkah ke depan, seperti saling

rangkul untuk memperlihatkan perasaan sayangnya.

Akan tetapi belum mendekat, senyuman Cing-cing lantas lenyaP, kerlingan matanya yang

lembut itu mendadak berubah beringas, gerak tangannya juga berubah, sekonyong-konyong ia

mencengkeram pergelangan tangan Jo-jo, tangan yang lain juga mencengkeram iga kirinya.

Serangan ini cepat lagi ganas, yang digunakan adalah cara yang serupa waktu membunuh

Leng Hong-ji. Apabila Jo-jo terpegang jangan harap dapat lolos dengan hidup.

Akan tetapi meski serangannya sangat cepat, gerak Jo-jo ternyata lebih cepat, baru saja ia

mulai menyerang, tiba-tiba terdengar suara “tring” yang perlahan, dua titik sinar lembut

menyambar keluar dari lengan baju Jo-jo.

Seketika Cing-cing merasa dengkulnya kesemutan seperti digigit nyamuk, tenaga sekujur

badan lantas lenyap, kaki pun lemas dan “bluk” ia jatuh berlutut di depan Jo-jo.

Jo-jo lantas tertawa nyaring dan berseru, “Eeh, kita kan saudara sendiri, baru bertemu

mengapa engkau banyak adat begini?”

Di tengah suara tertawanya, kembali setitik sinar perak menyambar ke arah depan, tepat

mengenai Siau-yau-hiat di pinggang Cing-cing, bagian Hiat-to yang menimbulkan tertawa

terus menerus.

Benarlah, segera Cing-cing tertawa dan tertawa terus meski sinar matanya tidak mengandung

rasa tertawa sedikit pun. Mukanya yang cantik juga berkerut-kerut karena tersiksa, butiran

keringat sebesar kedelai juga mengucur.

Jo-jo berkedip-kedip, lalu berkata, “Ah, pahamlah aku, tentu kau tahu telah berbual sesuatu

yang tidak baik padaku, makanya hendak kau minta maaf padaku. Akan tetapi kau juga tidak

perlu bertekuk lutut padaku. Asalkan kau serahkan barangnya, tentu aku takkan marah

padamu.”

Cing-cing masih terus tertawa dan mengucurkan keringat dingin, ucapnya sekuatnya, “Barang

apa?” “Masa perlu kau tanya?” ujar Jo-jo.

Cing-cing menggeleng sambil meliuk-liuk. agaknya sekujur badan sudah lemas seluruhnya

karena tertawa terus menerus itu sehingga tenaga untuk menggeleng kepala saja terasa berat.

39

Jo-jo menarik muka dan menjengek. “Meski saudara sendiri, hutang piutang harus dihitung

yang jelas. Kita juga begitu, bahwa Kah Lok-san mau membeli Lo-sat-pay kepada Li He

dengan 40 laksa tahil emas, tapi kau hanya minta pembayaran sepuluh ribu tahiI saja padaku

dan Lo-sat-pay akan kau serahkan. Begitu bukan?”

“Tapi tapi Lo-sat-pay kan sudah … sudah diambil oleh lelaki yang kau bawa kemari itu?”

sahut Cing-cing dengan menahan siksaan. Segera Jo jo mengeluarkan sepotong Giok-pay dan

berkata, “Inikah yang kau maksudkan?” Cing-cing mengangguk.

Mendadak Jo-jo mendekatinya terus memberi tamparan keras satu kali sambil menjengek,

“Hm, memangnya kau kira tak dapat kulihat barang ini palsu?”

Mendadak ia membanting Giok-pay itu ke atas kepala Li Sin-tong yang sudah tak bernyawa

itu, lalu berkata pula, “Kau anggap keparat ini maha pintar, kau kira barang imitasi

bikinannya dapat digunakan mengelabui orang, tapi sayang, gambar yang diukirnya pada

Giok-pay ini lebih mirip cakar ayam.”

Sekuatnya Cing-cing menggigit bibir dan berusaha berhenti tertawa, namun sampai bibirnya

pecah tergigit, tertawanya tetap sukar berhenti.

“Sebenarnya sudah lama kucurigai dirimu,” ucap Jo-jo pula, “Jelas kau tahu Lo-sat-pay adalah

benda mestika yang tak ternilai, mengapa kau mau menjualnya kepada orang lain. Padahal

hatimu biasanya jauh lebih hitam daripada siapa pun, ibaratnya makan manusia juga kau telan

bulat-bulat berikut tulangnya, maka sejak mula sudah kusuruh Sin-loji mengawasi dirimu,

sekali pun kau masuk ke bumi juga dapat kuseret keluar dirimu.”

“Apakah kau kira Lo-sat-pay yang asli telah … telah kubawa pergi?” kata Cing-cing.

“Sebelum Li He menyembunyikan Lo-sat-pay di bawah sungai es, tentu barangnya sudah kau

tukar, walaupun tadinya ……”

Rupanya menurut perundingan yang telah disepakati mereka, cukup Jo-jo membayar

seperempat dari harga yang ditetapkan antara Kah Lok-san dan Li He, di antara ke-12 peti

asalkan tiga di antaranya berisi emas, maka selebihnya boleh diisi dengan batu. Sebab yang

akan menerima peti itu ialah Tan Cing-cing, bilamana ke-12 peti itu sudah diterima, segera ia

memberitahukan kepada Li He agar Lo-sat-pay boleh diserahkan.

Dia memang orang kepercayaan Li He, dengan sendirinya Li He tidak menyangka akan

dipermainkan, mestinya dia hendak meledakkan sungai beku itu pada esok harinya untuk

mengambil Lo-sat-pay, yang dikehendakinya cuma emas dan lelaki saja, dia tidak berminat

terhadap kedudukan ketua Ma-kau segala.

“Kau tahu, kalau diketahuinya Lo-sat-pay telah ditukar oleh orang, tentu dia akan menyangka

dirimu yang melakukannya,” kata Jo-jo pula. “Sebab selain dia sendiri dan dirimu pasti tak

ada orang ketiga yang mengetahui rahasia ini, makanya pada malam itu juga telah kau bunuh

dia, malahan kau sengaja membekukan dia bersama si Kambing tua di dalam es untuk

mengalihkan perhatian orang lain, sebab siapa pun takkan menyangka orang semacam dirimu

ini dapat melakukan tindakan yang gila itu.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Coba, bukankah semua rahasiamu tak dapat

mengelabui diriku, untuk apa engkau mesti berlagak pilon lagi?”

Sekujur badan Tan Cing-cing kelihatan mengejang, bukan saja air mata dan keringat

mengucur, bahkan celananya juga sudah basah, kedua dengkulnya sakit seperti ditusuk jarum,

tapi dia justru terus tertawa ngakak seperti orang yang mendapat rezeki nomplok.

“Eh, masih juga tidak kau keluarkan? Tidakkah kau tahu bagaimana akibatnya jika kau

tertawa lagi terus menerus cara begini?” tanya pula Jo-jo.

Sekuatnya Cing-cing ingin mengatupkan mulut namun sukar terlaksana.

“Walaupun kau tertawa dan yang mengucur hanya air mata dan keringat saja, sekarang kau

pasti sudah terkencing-kencing dan terberak-berak. Tidak lama lagi seluruh ruas tulangmu

bisa terlepas semua karena tertawamu ini badanmu akan lemas lunglai seperti tidak bertulang,

40

dalam keadaan begitu, cukup tersentuh oleh jari saja. tentu kau akan menjerit kesakitan seperti

babi hendak disembelih.

“Kau .„ kau …” sedapatnya Cing-cing ingin bicara, tapi sukar “Jika kau sangka aku tidak tega

turun tangan lebih keji, maka salah besar, kau serupa Kah Lok-san mengira aku pasti tidak

dapat membunuh dia.”

“Telah kau bunuh dia?” tanya Cing-cing mendadak.

“Dia berduit, juga punya pengaruh, meski usia sudah lanjut, tapi kondisi badannya masih

sangat baik, permainan di atas ranjang tidak kalah daripada anak muda, malahan tekniknya

terlebih tinggi, terhadapku juga lembut dan penurut, siapa pun takkan menyangka

dapat kubunuh dia.”

Lalu dia menyambung dengan tak acuh, “Tapi, toh aku telah membunuhnya. Dan kalau dapat

kubunuh dia, urusan apa pula yang tidak dapat kulakukan?”

Mendadak Tan Cing-cing berteriak sekuatnya, “Lo-sat-pay berada di dalam kain kotoranku,

hendaknya kau ampuni diriku!”

Sudah berhenti suara tertawa Tan Cing-cing tapi dia jatuh terkulai di lantai seperti ikan

mampus.

Dengan sendirinya Lo-sat-pay sudah berada di tangan Jo-jo, dengan hati-hati dia pegang

Giok-pay itu seperti seorang raja memegang cap kebesarannya, gembira dan bangga, saking

senangnya ia bergelak tertawa.

Pada saat sedang tertawa gembira itulah, mendadak dari luar jendela menyambar masuk

seutas cambuk panjang tanpa suara, sekali ujung cambuk membelit, Giok-pay yang dipegang

Jo-jo lantas terbang keluar jendela.

Seketika Jo-jo tidak dapat tertawa lagi, ia meringis kaget serupa orang yang mendadak

tergorok lehernya.

Didengarnya seorang berkala di luar jendela dengan tertawa. “Kalian tidak perlu mengejar

keluar, sebab aku segera akan masuk ke situ, berkat bantuan kalian sehingga Lo-sat-pay ini

dapat ditemukan kembali, sedikitnya harus kusampaikan rasa terima kasihku padamu secara

langsung.”

Liok Siau-hong!

Yang bicara itu ternyata Liok Siau-hong.

Dengan menggreget gemas Jo-jo berkata, “Ya. kutahu pasti dirimu dan mengapa tidak lekas

kau masuk kemari?”

Baru habis ucapannya, tahu-tahu Liok Siau-hong sudah berdiri di depannya dan tersenyum

simpul, sebelah tangan memegang cambuk, tangan yang lain memegang Lo-sat-pay.

Melihat Liok Siau-hong, Jo-jo lantas tertawa juga, katanya, “Hah, tak tersangka engkau juga

mahir memainkan cambuk sebagus ini!”

“Cambuk ini adalah hasil curianku!” tutur Siau-hong dengan tersenyum.

“Hasil curian? Cara bagaimana dapat kau curi?” tanya Jo-jo, “Kucuri dari kereta di luar sana,

permainan cambuk ini juga hasil curianku dari ‘Bu-eng-sin-pian’ (si cambuk sakti tanpa

bayangan),” kata Siau-hong pula. “Kalau bicara tentang kepandaian curi mencuri, meski aku

tak dapat dibandingkan dengan si rajanya raja pencuri Coh Liu-hiang, sedikitnya jauh lebih

pandai daripadamu.”

Jo-jo menghela napas, katanya, “Sebenarnya sejak mula sudah harus kuduga kepintaranmu

dalam mencuri, hatiku saja hampir kau curi, apalagi barangku.”

“Hatimu bukankah sudah lama membusuk?” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Cepat juga kedatanganmu ini?” kata Jo-jo pula mengalihkan pembicaraan.

‘Tak kau sangka bukan?”

“Mengapa bisa kau pikirkan akan tempat ini?”

Siau-hong tertawa, jawabnya, “Sebab terlalu banyak yang kupikirkan waktu aku berbaring di

tempat tidur, makanya juga banyak urusan yang dapat kupikirkan.”

41

“Untuk apa banyak berpikir, kenapa tidak kau perkosa diriku saja?” omel Jo-jo mendadak,

bahwa orang tidak memperkosanya ternyata membuatnya marah malah “Dirimu kan bukan

seorang Kuncu, jika kau dapat memperkosa orang lain. kenapa tidak kau perkosa diriku?”

“Soalnya waktu itu aku tidak kebelet,” sahut Siau-hong dengan tertawa.”Karena kau sengaja

membikin kecewa hasratku, aku pun balas merusak hasratmu.”

Jo-jo berkedip-kedip, mendadak ia tanya, “Sejak kapan kau ganti keputusan?”

“Pada waktu batu tertumpah dari dalam peti,” dengan tersenyum Siau-hong menyambung

pula. “Meski aku bukan perampok yang biasa melakukan pekerjaan bongkar dan rampas, tapi

sebuah peti yang terbuat dan besi atau emas, rasanya masih dapat kubedakan dengan baik.”

“Wah, kiranya bukan cuma mahir mencuri, engkau juga masih memiliki kepandaian simpanan

begini,” ujar Jo-jo dengan gegetun. ”Orang seperti dirimu ini ternyata tidak menjadi

perampok, sungguh sayang.”

Dengan gegetun Siau-hong menjawab, “Ya, sesungguhnya terkadang aku pun menyesal,

beberapa kali hampir saja aku berganti pekerjaan.”

“Jjka kau ganti pekerjaan, tentu aku mau menjadi isteri gembong perampok,” ucap Jo-jo

dengan tersenyum.

“Tentu saja akan kuterima dengan senang hati, akan kuangkat dirimu sebagai permaisuri

seperti halnya sahabatmu Ting-hiang-ih.”

Jo-jo terbelalak, “Jadi sudah lama kau tahu kukenal dia?” “Ya. sebab begitu berada di Rahasu,

kulihat dirimu serupa pulang ke rumah saja, hampir setiap tempat sudah kau kenal, tatkala

mana aku sudah mulai curiga, sangat mungkin engkau dibesarkan di tempat itu, juga mungkin

sudah lama kau kenal Tan Cing-cing dan Ting-hiang-ih.”

“Jika kau kenal si Ting-ting, kuyakin kau pun pernah bergumul dengan dia,” ucap Jo-jo

dengan menatapnya lekat-lekat. “Aku mengerti pribadinya, bilamana bertemu dengan lelaki

semacam dirimu, tidak mau dilepaskannya begitu saja.” Siau-hong tidak menyangkal dan juga

tidak membenarkan.

Segera Jo-jo mengomel lagi, “Di antara kami bertiga sudah ada dua pernah tidur denganmu,

mengapa hanya diriku saja yang kau lewatkan?”

Begitulah mereka berdua terus bersenda_gurau dan bercumbu rayu, keruan ketiga orang yang

berdiri di samping sama mendongkol setengah mati, mendadak ketiga orang itu melompat

maju dan mengepung Liok Siau-hong di tengah dengan mau mendelik.

Siau-hong berlagak seperti baru melihat mereka sekarang, ucapnya dengan tersenyum,

“Tempo hari kalian mengundurkan diri tanpa bertempur, sekali ini apakah ingin mencobacoba

lagi?”

“Tempo hari seharusnya kami membunuh dirimu!” jengek si kakek beruban.

“Kami tidak membunuhmu tempo hari sebab dia masih ingin menggunakan dirimu satu kali

lagi sebagai boneka,” sambung Sin-loji.

Siau-hong tergelak, katanya, “Jika aku bonekanya, lalu kalian bertiga ini apanya? Padahal

asalkan aku mengangguk saja segera dia akan naik ranjang bersamaku, dan kalian?”

Air muka ketiga orang itu berubah beringas, waktu mereka berpaling ternyata Jo-jo sudah

menyingkir seakan-akan urusan ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dia.

“Padahal anak murid Hoa-san It-ci-thong-thian Hoa Giok-kun, tokoh daerah utara To-pi-sianwan

Oh Sin dan jago pedang Oh-ih-sin-kiam Toh Pek, semuanya sudah lama terkenal, tapi

sejauh ini tidak berani kusebut mereka, sebab aku tidak percaya ketiga tokoh terkenal ini bisa

menjadi budak seorang perempuan,” demikian Siau-hong berolok-olok.

Keruan muka ketiga orang itu sebentar merah sebentar pucat, mereka telah menyamar dan

menggunakan nama sebagai she, tak terduga tetap dikenali oleh Liok Siau-hong.

Si kakek berambut putih yang semula bertubuh bungkuk perlahan lantas menegak, ia menjura

dan berkata, “Ya. betul, akulah Hoa Giok-kun. Silakan!”

42

“Hendak kau lawan diriku sendirian?” tanya Siau-hong. “Jika asal-usulku tidak kau ketahui,

tentu aku akan mengerubut dirimu bersama mereka, tapi sekarang …” sikap Hoa Giok-kun

mendadak berubah menjadi kereng. Ucapnya pula dengan bengis, “Mati-hidupku tidak

menjadi soal, nama Hoa-san-pay harus ditegakkan dan tidak boleh runtuh di tanganku.”

Meski Hoa-san-pay bukan perguruan kelas utama di dunia persilatan, tapi aliran ini terkenal

bersih, jarang sekali anak muridnya tersesat, juga tidak ada pengecut yang suka main kerubut.

Segera Liok Siau-hong berubah menjadi serius juga. Maklum, orang yang dapat menghormati

dirinya sendiri tentu juga akan dihormati orang.

“Sudah lama kudengar ilmu tenaga jari Liok-tayhiap nomor satu di dunia, kebetulan yang

kuyakinkan juga kungfu ilmu jari, maka mohon Liok-tayhiap sudi memberi petunjuk,” kata

Hoa Giok-kun.

“Baik!” seru Siau-hong.

Dia menarik napas panjang-panjang, Lo-sat-pay disimpan di dalam baju. Cambuk dilepaskan,

segera terdengar suara “crit” sekali, angin tajam berjangkit, jari Hoa Giok-kun setajam pedang

telah menutuk Kok-cing-hiat pada bahu kanan-kirinya,

Sekali menyerang lantas dua gerakan dengan tenaga yang kuat, memang tidak malu sebagai

anak murid perguruan ternama.

Akan tetapi dari serangannya segera Liok Siau-hong dapat melihat meski tenaga serangannya

cukup kuat, tapi gerakannya kaku dan banyak memiliki ciri-ciri anak perguruan ternama

umumnya, yaitu sombong.

Cukup Siau-hong memandang sekejap saja lantas yakin dalam dua-tiga gebrakan saja pasti

dapat mengatasi lawan.

Namun lantas timbul juga pertanyaan pada dirinya sendiri apakah sekaligus harus kukalahkan

dia? Apakah tidak perlu memberi muka sedikit padanya?

Jika seorang jatuh cinta, tak peduli siapa yang dicintainya, sepantasnya tidak dapat cuma

menyalahkan dia, apalagi dia sudah tua, sekali jatuh tentu sukar bangun kembali.

Pikiran itu hanya timbul sekilas saja dalam benaknya dan jarak tutukan Hoa Giok-kun dengan

Hiat-to yang diarahnya sudah tinggal beberapa senti saja, angin tutukan sudah menembus

bajunya tidak ada peluang baginya untuk memilih cara lain lagi. Terpaksa ia harus turun

tangan. Secepat kilat ia gunakan ujung jari sendiri untuk memapak ujung jari si kakek.

Segera Hoa Giok-kun merasakan hawa panas tersalur dan ujung jari lawan, tenaga sendiri

mendadak hilang sirna.

‘Tan-ci-sin-thong’ atau ilmu tenaga jari sakti dari Hoa-san-pay mestinya termasuk satu di

antara tujuh ilmu sakti, biasanva bilamana bertempur, dari jarak lima kaki saja dia mampu

menutuk Hiat-to lawan dengan angin tutukannya. Tapi sekarang tenaga tutukannya seperti

salju yang mencair di bawah terik sinar matahari, berubah menjadi keringat dingin yang

membasahi tubuhnya.

Siapa tahu mendadak Liok Siau-hong juga mundur dua langkah dan berucap, “Ilmu jari sakti

Hoa-san ternyata tidak bernama kosong!”

“Tapi … tapi aku sudah kalah!” ucap Hoa Giok-kun.

“Engkau tidak kalah,” ujar Siau-hong, “Meski sudah kusambut seranganmu ini, caraku

bergerak mungkin lebih cepat daripadamu. tapi tenagamu jauh lebih kuat daripadaku kenapa

engkau…..”

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara mendering, berpuluh titik perak

berhamburan seperti hujan menyerang punggungnya.

Punggung Siau-hong tidak bermata, juga tidak bertangan, dengan sendirinya ia menjadi repot.

Berubah air muka Hoa Giok-kun, sorot mata Jo-jo juga mencorong.

Tapi pada detik itu juga mendadak tubuh Siau-hong berputar, berpuluh titik perak itu secara

ajaib menerobos lewat di bawah ketiaknya, semuanya menancap di dada Hoa Giok-kun yang

tadinya berdiri berhadapan dengan Siau-hong.

43

Kedua mata Hoa Giok-kun tampak melotot, mendeliki Oh Sin sambil mendesak maju

selangkah demi selangkah.

Air muka Oh Sin juga berubah dan menyurut mundur setindak

demi setindak.

Tapi Hoa Giok-kun hanya sempat mendesak maju tiga langkah saja, lalu ujung mata, lubang

hidung dan mulut mengucurkan darah berbareng.

Oh Sin seperti menghela napas lega dan berkata. “Aku………”

Ia pun cuma sempat mengucapkan satu kata ini saja, mendadak dadanya juga mengucurkan

darah segar berikut menongolnya sepotong ujung ‘pedang. Dengan terkejut ia memandangi

ujung pedang ini, seakan-akan tidak percaya hal ini bisa terjadi, namun mulutnya juga lantas

mengeluarkan darah, mendadak ia meraung keras dan roboh ke depan, lalu tidak bergerak

lagi.

Sesudah dia roboh baru terlihat Toh Pek berdiri di belakangnya dengan memegang pedang,

pada ujung pedangnya masih meneteskan darah segar.

Hoa Giok-kun memandang Toh Pek dengan tertawa sebisanya sambil berkata, “Terima

kasih!”

Toh Pek juga menyengir, tapi tidak bersuara. Lalu Hoa Giok-kun menoleh dan memandang

Liok Siau-hong, ucapnya sekata demi sekata, “Juga terlebih terima kasih padamu!”

Toh Pek telah membalaskan sakit hatinya dengan membunuh Oh Sin, sedangkan Liok Siauhong

telah menjaga nama baiknya, kedua hal inilah yang paling diutamakan oleh orang

persilatan.

Hoa Giok-kun memejamkan mata sambil berucap dengan perlahan, “Kalian … kalian semua

sangat baik padaku … sangat baik…..”

Perlahan ia lantas jatuh terkulai, pada ujung mulutnya masih menampilkan senyuman puas,

senyuman terakhir.

Angin dingin meniup dari luar jendela dan menggigilkan semua orang.

Sampai lama sekali barulah Liok Siau-hong menghela napas panjang, gumamnya, “Mengapa?

… Semuanya ini disebabkan apa?”

Air muka Toh Pek tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya perlahan, “Seharusnya

kau tahu semua ini sebab apa? Aku sendiri sudah tahu!”

Angkara murka!

Angkara murka terhadap duit, angkara murka terhadap kekuasaan, angkara murka akan

kehormatan dan angkara murka terhadap Seks.

Segala macam penderitaan dan bencana manusia di dunia ini bukankah juga timbul lantaran

berbagai angkara murka tersebut?

Kembali Siau-hong menghela napas panjang, lalu ia berpaling dan berkata terhadap Toh Pek,

“Kau…..”

“Aku bukan tandinganmu,” ucap Toh Pek dengan dingin.

Siau-hong tertawa-tawa, katanya sambil memberi tanda, “Jika begitu, pergilah kau!”

Darah sudah habis menetes pada ujung pedang, perlahan Toh Pek menyimpan kembali

pedang ke dalam sarungnya, lalu dia mendekati Jo-jo dan berkata, “Marilah kita pergi!”

“Pergi?” Jo-jo menegas. “Kau minta kupergi bersamamu?”

“Ya, kuminta kau ikut pergi bersamaku,” kata Toh Pek.

Tiba-tiba Jo-jo tertawa geli, tertawa terpingkal-pingkal hingga menungging, sampai air mata

pun hampir mengucur.

Ketika melihat cara tertawa Tan Cing-cing tadi baru diketahui Siau-hong bahwa tertawa

kadang-kadang terlebih menyiksa daripada menangis.

Kini melihat cara tertawa Jo-jo, Siau-hong baru tahu tertawa terkadang juga jauh lebih sakit

melukai orang.

44

Wajah Toh Pek tampak putih pucat, kedua tangan juga gemetar tapi dia belum lagi kehilangan

harapan, kembali ia bertanya, “Kau tidak mau pergi?”

Mendadak berhenti suara tertawa Jo-jo, ia pandang Toh Pek dengan dingin serupa orang yang

sama sekali tidak mengenalnya. Sampai lama sekali barulah dari mulutnya tercetus satu kata

yang teramat dingin, “Enyah!”

Kata ini serupa cambuk yang tidak kenal ampun, yang sekaligus telah membuat kulit badan

Toh Pek tersabet dan pecah sehingga hatinya ikut melompat keluar dan menggelinding ke

bawah kaki sendiri serta terinjak-injak.

Ia tidak bicara apa-apa lagi, ia membalik tubuh terus melangkah pergi.

Sekonyong-konyong Jo-jo melompat ke atas. Dilolosnya pedang yang tersandang di

punggung Toh Pek itu, sekali jumpalitan di udara, pedang itu terus disambitkan ke

punggungnya.

Toh Pek tidak berkelit dan membiarkan pedang itu menembus badannya. Tapi dia tidak

roboh, sebaliknya ia malah memutar tubuh dan berdiri berhadapan dengan Jo-jo dan

memandangnya dengan dingin.

Air muka Jo-jo berubah, ucapnya dengan menyengir, “Kutahu engkau tidak dapat kehilangan

diriku, maka akan lebih baik kumatikan kau saja dan habis perkara!”

Mulut Toh Pek juga merembeskan darah, perlahan ia mengangguk, katanya, “Baik, baik

sekali…..”

Belum lenyap suaranya, mendadak ia menubruk ke depan, Jo-jo dirangkulnya erat-erat, mati

pun tak dilepaskannya.

Ujung pedang yang menembus di depan dadanya juga menikam masuk ke dalam dada Jo-jo,

darah yang mengucur dari dadanya juga mengalir ke dada Jo-jo.

Kepala Jo-jo mendekap di bahu Toh-pek, matanya mulai mendelik, napasnya semakin

terengah, dirasakannya tubuh orang yang merangkulnya itu mulai dingin, lalu kaku, tapi

kedua tangannya masih merangkulnya erat-erat.

Kemudian ia merasakan tubuh sendiri juga mulai dingin, sampai merasuk tulang sungsum,

tapi matanya berbalik terbeliak, tiba-tiba ia pandang Liok Siau-hong dengan tertawa,

“Mengapa tidak kau perkosa diriku? Mengapa….?”

Dan itulah tertawanya yang terakhir, juga ucapannya yang terakhir.

Bab 5 …

Cing-cing tidak mati, ia malahan sangat sadar sejak tadi.

Dalam keadaan demikian, kesadaran sendiri merupakan semacam siksaan yang sukar ditahan,

di alam halus seakan-akan benar ada badan halus yang menegakkan keadilan dan sengaja

memberi hukum siksa kepadanya.

Seorang Siau-hong telah membawanya ke suatu kamar lain dan membaringkan dia dengan

tenang, namun penderitaannya belum lagi berakhir, mungkin cuma kematian saja yang dapat

menghindarkan dia dari penderitaan.

Jika penderitaan sudah mencapai titik yang sukar ditahan, kematian akan berubah menjadi hal

yang tidak menakutkan sedikit pun.

Sekarang Cing-cing benar-benar ingin mati saja. dia berharap Liok Siau-hong akan

memberikan pembebasan pada dirinya secara cepat, tapi dia pasti tidak mau memperlihatkan

keinginannya itu, sebab sejak kecil dia sudah mendapatkan suatu pelajaran, yaitu bilamana

kau ingin mati. orang lain justru sengaja membiarkan kau hidup. Bila engkau tidak ingin mati,

orang lain justru hendak membunuhmu.

Sampai sekarang dia masih ingat kepada pelajaran ini, sebab dia sudah menyaksikan banyak

orang yang tidak ingin mati, tapi justru mati di depannya. Juga banyak melihat orang yang

ingin mati. tapi justru masih hidup sampai sekarang. Dia memang tumbuh di dalam kesulitan,

45

Meski Liok Siau-hong masih berdiri di depan tempat tidur dengan tenang, tapi dapat

dilihatnya di dalam hati Siau-hong juga tidak tenang.

Betapapun bila melibat kejadian yang mengerikan tadi, tentu hati seseorang akan terganggu.

Mendadak Cing-cing tertawa, katanya. “Tak kusangka engkau akan datang kemari, tapi pasti

sudah lama kau tahu akan perbuatanku.”

Siau-hong tidak menyangkal.

Maka Cing-cing berkata pula, “Mestinya kuanggap tindakanku cukup rapi, apabila Jo-jo juga

bertindak lebih hati-hati dan tidak menumpahkan isi peti, bisa jadi engkau takkan mencurigai

diriku.”

Siau-hong termenung agak lama, katanya kemudian, “Bahwa peti itu berisi batu dan ternyata

dapat kau terima dengan baik, bahwa Jo-jo adalah kenalanmu sejak kecil, tapi sengaja

berlagak tidak kenal. Meski kedua hal ini cukup membuatku sangat curiga, tetap bukan

petunjuk yang penting bagiku.”

“Petunjuk apa yang penting?” tanya Cing-cing.

“Beruang hitam!” jawab Siau-hong.

“Beruang hitam?” Cing-cing menegas.

“Ya,” tutur Siau-hong, “Leng Hong-ji selalu bilang dia melihat beruang hitam di sungai es

sana, padahal yang dilihatnya cuma manusia berkulit beruang hitam. Sebab tindak-tanduk

orang ini sangat misterius, bentuknya justru sangat mudah dikenali orang, maka dia sengaja

menutupi dirinya dengan kulit beruang. Siapa pun kalau melihat beruang hitam tentu akan lari

terbirit birit dan takkan memperhatikannya lebih lanjut.”

“Kau anggap orang itu ialah diriku?” tanya Cing-cing.

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk,

“Sebab kau lihat di dalam kamarku ada sehelai kulit beruang?”

“Tentunya tak kau sangka akan kudatangi kamarmu, hal itu memang kejadian yang sangat

kebetulan.”

Cing-cing menghela napas, “Kamarku memang tidak pernah dimasuki orang lain, dalam hal

ini kau tidak salah.”

“Memangnya ada hal lain yang salah?” tanya Siau-hong. “Dapatnya kau datang ke kamarku

bukanlah lantaran kebetulan aku pingsan, sebab hari itu pada hakikatnya aku tidak pingsan.”

Meski suara Cing-cing tak bertenaga, tapi setiap katanya terdengar dengan jelas, sebab sejauh

itu dia dapat mengatasi penderitaannya, di dunia ini mungkin sangat sedikit orang yang

sanggup bertahan seperti dia.

Ia menyambung pula, “Kubiarkan engkau datang ke kamarku, sebab pada waktu kau pondong

diriku, tiba-tiba timbul semacam hasrat yang selama ini belum pernah ada pada diriku,

sebenarnya … sebenarnya aku pun tidak menyangka Li Sin-tong bisa mendadak menerobos ke

kamarku.”

Siau-hong tertawa, “Jika aku menjadi dia, aku pun bisa mendadak menerobos masuk ke sana.”

“Kulit beruang yang serupa ada dua helai, yang satu lagi milik Li He,” tutur Cing-cing.

“Dan waktu kalian menanam Lo-sat-pay dulu, kalian mengenakan kulit beruang?”

“Ya, waktu itu sudah larut malam, kami tidak menyangka Hong-ji masih duduk termenung di

tepi sungai. Waktu kulihat dia, dengan sendirinya dia juga melihat diriku.”

“Tapi dia tidak melihat jelas, sejauh itu dia menyangka melihat seekor beruang hitam.” tutur

Siau-hong.

“Apa pun juga aku tetap kuatir,” ujar Cing-cing dengan tersenyum getir. “Umumnya rasa

curiga orang perempuan kan jauh lebih besar daripada orang biasa.”

“Maka ketika aku tahu kemarin malam dia datang lagi ke sana, lantas kau bunuh dia untuk

menghilangkan saksi.”

Cing-cing tidak menyangkal, katanya, “Selama ini Ting-hiang-ih menganggap hatiku terlebih

keji daripada siapa pun.”

46

“Mestinya dia tidak tahu rahasiamu,” kata Siau-hong. “Tapi pada waktu kau turun tangan

membunuhnya, akhirnya ia dapat mengenali dirimu.”

“Ya, waktu dia mengenali wajahku, sorot matanya itu takkan kulupakan untuk selamanya.”

ujar Cing-cing dengan gegetun.

“Tatkala itu hatimu tentu rada takut juga, maka begitu berhasil membunuh dia, segera kau

tinggal pergi.”

“Betul, sebab kuyakin dia pasti tidak dapat hidup lagi.”

“Tapi tidak kau pikirkan, seorang yang dekat ajalnya, terkadang juga merupakan saat yang

paling terang pikirannya selama hidupnya.”

Cing-cing tidak menanggapi, tapi hatinya terasa kecut sebab sekarang juga dia merasa

pikirannya jauh lebih terang daripada biasanya.

“Maka sebelum menghembuskan napas terakhir, teringat olehnya beruang hitam yang pernah

dilihatnya itu pastilah dirimu, juga terpikir olehnya tujuanmu pasti untuk menanam Lo-satpay,

maka sekuatnya dia merangkak ke tempat yang pernah kau datangi waktu itu.”

“Makanya kau pun tahu di situlah kami menyembunyikan Lo-sat-pay?”

“Ya, begitulah!” sahut Siau-hong.

“Hm, jika begitu, kenmatiannya kan sangat menguntungkan dirimu, kenapa kau risaukan?”

Siau-hong ingin bicara, tapi urung.

“Urusan yang tak perlu dirisaukan justru kau pikirkan, yang seharusnya kau risaukan malah

kau rasakan dengan sangat gembira,” kata Cing-cing pula.

Siau-hong tetap bungkam dan menantikan ucapannya lebih lanjut.

“Hari itu, waktu kucari dirimu, bukan sengaja kuantar arak dan makanan padamu, juga bukan

lantaran memperhatikan dirimu dan suka padamu, kucari dirimu karena ingin mengganggu

dirimu agar Li Sin-tong sempat membekukan mayat Li He di dalam es, sebab itulah terpaksa

kuterima dihina olehmu, padahal bila tersentuh olehmu sungguh rasanya aku ingin tumpah.”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, katanya, “Ah, pahamlah aku.”

“Kau paham apa?” tanya Cing-cing.

“Kau ingin mati,” kata Siau-hong.

“Berdasarkan apa kau anggap aku ingin mati?”

“Sebab sengaja kau pancing kemarahanku, supaya kubunuh dirimu.”

“Hm, kutahu kau tidak berani,” jengek Cing-cing. “Selama ini kau cuma melihat orang lain

membunuh orang, kau sendiri hakikatnya tidak berani membunuh orang.”

Kembali Siau-hong tertawa, tiba-tiba ia membalik tubuh dan melangkah keluar.

“Untuk apa kau pergi?” seru Cing-cing.

“Memasang kereta,” sahut Siau-hong.

“Mengapa sekarang kau perlu mengatur kereta?”

“Sebab kau tidak dapat menunggang kuda, juga tidak dapat berjalan,”

“Maksudmu hendak … hendak kau bawa diriku pergi?” tanya Cing-cing.

“Meski senjata rahasia dalam Hiat-tomu tak dapat kukeluarkan, tapi kutahu ada seorang dapat

menolongmu.”

“Mengapa tidak … tidak kau biarkan kumati saja?”

“Sebab orang yang mati hari ini sudah terlalu banyak!” jawab Siau-hong dengan hambar,

tanpa berpaling lagi ia terus keluar.

Melihat kepergian Siau-hong, air mata Cing-cing mengalir perlahan, akhirnya ia menangis

tergerung-gerung, tapi entah tangis nya itu karena duka? Atau karena menyesal? Atau karena

terharu?

Tapi apa pun juga, seorang kalau ingin menangis, akan lebih baik bilamana dibiarkan

menangis sepuas-puasnya dan sebebas-bebasnya.

47

Dengan sendirinya Siau-hong mendengar suara tangisnya, dia memang berharap Cing-cing

bisa menangis, supaya semua rasa sedih, duka dan menyesal dapat terlampias seluruhnya.

Habis menangis, mungkin hilanglah niatnya ingin mati.

Sinar sang surya sudah lenyap, angin semakin dingin. Si anak dekil yang ketolol-tololan itu

masih berdiri di sana dengan ingusnya yang meler, apa yang terjadi tadi seakan-akan tidak

mempengaruhi dia. Mungkin orang lain menertawakan dia tolol, tapi mungkin hidupnya jauh

lebih gembira daripada orang lain,

Siau-hong tepuk-tepuk pundak anak itu sambil berkata, “Coba kau jagakan bibi di dalam

kamar itu, dia punya uang banyak, nanti akan dibelikan gula-gula bagimu.”

Anak itu ternyata dapat menangkap maksudnya, sambil berjingkrak girang dia berlari masuk

ke kamar.

Siau-hong menghela napas, baru saja ia keluar pintu, segera dilihatnya sebuah tangan terulur

padanya.

Hal ini tidak di luar dugaannya, memang sudah diperhitungkannya Swe-han-sam-yu pasti

menunggunya di luar. “Serahkan!” ucap Koh-siong Siansing. Siau-hong berkedip-kedip,

jawabnya kemudian, “Kau minta apa? Uang atau nasi?”

Air muka Koh-siong Siansing berubah menjadi hijau, jengek-nya, “Mungkin sekali ini

kuminta jiwamu!”

“Minta nasi atau uang tidak dapat kuberi, kalau jiwa memang ada satu,” ujar Siau-hong

dengan tersenyum.

“Memangnya perlu kupatahkan kakimu dahulu baru akan kau serahkan Lo-sat-pay?” tanya

Koh-siong dengan gusar.

“Sekalipun kakiku kau patahkan juga takkan kuserahkan Lo-sat-pay padamu.”

“Apa artinya ucapanmu”” tanya Koh-siong dengan gemas. “Justru ingin kutanya padamu apa

maksudmu? Bilakah pernah kuberjanji akan menyerahkan Lo-sat-pay kepadamu?”

“Memangnya hendak kau serahkan kepada siapa?”

“Si jenggot biru,” jawab Siau-hong.

“Harus kau serahkan padanya?”

“Ya, harus!” sahut Siau-hong tegas.

“Sebab apa?” tanya pula Koh-siong.

“Sebab harus kutukar dengan sesuatu?”

“Tukar sesuatu apa?” “Kehormatanku!”

Koh-siong Siansing memandangnya tajam-tajam, katanya pula. “Memangnya kau sendiri

tidak pernah timbul pikiran hendak mengangkangi Lo-sat-pay?”

“Pernah,” jawab Siau-hong.

“Dan sekarang masih punya pikiran begitu?”

“Ya,” sahut Siau-hong singkat.

Kembali air muka Koh-siong Siansing berubah.

“Urusan yang kupikirkan sangat banyak,” sambung pula Siau-hong dengan tak acuh,

“Terkadang kupikirkan menjadi raja, tapi kuatir kesepian. Sering juga ingin menjadi perdana

menteri, tapi kuatir repot. Lebih sering ingin kaya, tapi takut dicuri orang. Pernah juga kupikir

akan beristri, tapi kuatir ketemu perempuan bawel. Dan sekarang malahan kupikirkan ingin

menempeleng dirimu, cuma kuatir akan timbul keonaran.”

Belum habis ucapannya, tertawalah Koh-siong Siansing, tapi sekejap kemudian dia lantas

menarik muka pula, katanya, “Urusan yang kau pikirkan terlalu banyak, tapi tidak satu pun

kau kerjakan.”

Siau-hong menghela napas, “Setiap orang hidup tentu banyak sekali yang dipikirkan, tapi

pada umumnya orang cuma banyak pikir sedikit bekerja. Kan tidak cuma diriku saja.”

Mendadak Koh-siong memandang jauh ke sana seakan-akan juga sedang bertanya kepada

dirinya sendiri. Apa yang pernah kupikirkan dan apa yang pernah kukerjakan?

48

Orang hidup pasti akan mengalami macam-macam ikatan, bila setiap orang boleh berbuat

sesukanya setiap apa yang dipikirnya, lalu bagaimana jadinya dunia ini?

Selang agak lama barulah Koh-siong menghela napas panjang dan memberi tanda, “Pergilah

kau!”

Siau-hong merasa lega, “Semula kukira sekali ini takkan kau biarkan kupergi. tak tersangka

kau masih sangat percaya padaku.”

Dengan muka dingin Koh-siong Siansing berkata, “Ini merupakan penghabisan kalinya!”

Siau-hong tersenyum, katanya, “Asalkan kau ingin minum sampai mabuk, setiap saat boleh

kau cari diriku, aku senantiasa berada di dekatmu.”

Selagi ia hendak melangkah pergi, mendadak Han-bwe Lojin berucap, “Tunggu dulu!”

“Ada keperluan apa lagi?” terpaksa Siau-hong berhenti.

“Ingin kulihat dirimu!” kata Han-bwe Lojin.

“Silakan lihat saja, kabarnya banyak orang menarik kesimpulan aku ini cukup cakap!” kata

Siau-hong dengan tertawa.

Wajah si kakek Han-bwe tidak memperlihatkan senyuman, juga tidak ada perasaan lain,

katanya dengan dingin. “Yang kulihat bukan fisikmu ini.”

“O, lantas apa yang hendak kau lihat?” tanya Siau-hong dengan tertawa.

“Ingin kulihat kungfumu!” kata Han-bwe. Seketika tertawa Siau-hong berubah menjadi

menyengir, ucapnya, “Ah, kukira akan lebih baik kau lihat ketampananku saja, berani kujamin

kungfuku pasti tidak lebih menarik daripada kebagusan orangnya!”

Tapi Han-bwe tidak memandangnya lagi, mendadak ia memutar tubuh, katanya sambil

melangkah pergi, “Ikut padaku!”

Siau-hong merasa ragu, dipandangnya Koh-siong, lalu dipandang pula Koh-tiok, air muka

mereka ternyata juga kaku dan dingin tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan.

Setelah menghela napas, terpaksa Siau-hong ikut pergi bersama Han-bwe sambil

menggerundel. “Sesungguhnya hendak kau bawa aku kemana? Jika ingin minum arak atau

berjudi setiap saat dapat kutemani, bila mengajak berkelahi, terpaksa aku akan angkat kaki

saja.”

Tapi Han-bwe tidak menghiraukan dia, setelah berputar dan membelok, sampailah mereka di

jalan raya, di situ terdapat sebuah restoran besar, di depan restoran terparkir belasan kereta

barang, sehelai panji perusahaan pengawalan terpancang di depan pintu restoran dan berkibar

tertiup angin. Panji itu bersulam seekor naga emas dan sebuah huruf “Tio”.

Siau-hong kenal panji pengenal ini, ‘Kim-liong-piaukiok’ atau perusahaan pengawalan Naga

Emas, namanya cukup terkenal, langganannya banyak tersebar luas, terutama pencari Jinsom

yang biasa menjelajahi pegunungan di daerah utara.

Nama Piaukiok ini juga cukup disegani di dunia persilatan, sebab pemimpin umum Piaukiok

ini, Hek-hian-tan Tio Kun-bu, si malaikat muka hitam, semula juga tokoh silat terkemuka

yang baru saja diangkat menjadi pimpinan Kim-liong-piaukiok.

Dan sekarang Tio Kun-bu justru sedang minum arak di restoran ini, seorang yang ternama dan

berkedudukan seperti dia, dengan sendirinya lagaknya tidak sembarangan.

Begitu naik ke atas loteng restoran, langsung Han-bwe mendekati dia dan menegur, “Apakah

kau ini Hek-hian-tan Tio Kun-bu?”

Tentu saja Tio Kun-bu melengak, diamat-amatinya kakek aneh yang bukan Hwesio juga

bukan Tosu ini. Biasanya pandangannya cukup tajam, tapi ia merasa tidak kenal kakek ini,

terpaksa ia mengangguk dan mengiakan.

“Dan kau tahu siapa diriku?” tanya pula Han-bwe. Tio Kun-bu menggeleng dan menjawab,

“Tidak tahu, mohon diberi petunjuk.”

“Akulah Han-bwe Siansing, satu di antara Swe-han-sam-yu yang tinggal di puncak Kun-lunsan,

juga Hou-hoat-tianglo (tetua pembela agama) Ma-kau dari barat.”

49

Han-bwe sengaja bicara dengan lambat dan tandas, ketika mendengar sebutan Swe-han-samyu,

air muka Tio Kun-bu menjadi agak pucat, apalagi mendengar pula nama Ma-kau dari

barat, keringat dingin lantas merembes di dahi Tio Kun-bu.

“Nah. sekarang kau tahu tidak siapa diriku?” kembali Han-bwe menegas.

Seketika Tio Kun-bu berbangkit dan memberi hormat, ucap ucap nya. Maaf bila Wanpwe

bermata tapi tidak mengetahui kedatangan Locianpwe….”

Dia ingin mengeluarkan segenap kata-kata merendah diri dan puji sanjung terhadap si kakek,

tapi Han-bwe lantas mengitar ke depan Liok Siau-hong, lalu bertanya padanya. “Dan apakah

kau tahu siapa dia ini?”

“Pernah kudengar namanya,” sahut Siau-hong.

“Namanya tidak kecil, kungfunya juga tidak lemah, tapi di depanku dia toh sangat

menghormati diriku, mengapa sikapmu kepada kami justru acuh tak acuh?” kata Han-bwe

pula.

“Waktu kecilnya tentu terdidik dengan baik, seorang yang mendapatkan pendidikan baik di

rumah jelas akan lebih sopan san tun,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Dan kau?” tanya Han-bwe.

“Aku anak yatim piatu,” sahut Siau-hong.

“Makanya kau tidak mendapat pendidikan yang baik?”

“Ya.”

“Jika begitu, kau perlu diberi pelajaran sedikit,” mendadak Han-bwe berpaling kepada Tio

Kun-bu dan bertanya sambil menuding Liok Siau-hong, “Apakah kau tahu siapa orang ini?”

Tio Kun-bu menggeleng.

“Kau memang tidak perlu tahu, aku cuma menyuruh kau memberi hajaran sedikit padanya,”

kata Han-bwe Siansing.

Wajah Tio Kun-bu kelihatan serba salah, ucapnya dengan menyengir. “Tapi … tapi tidak

pernah ada persengketaan apapun antara kami, mana … mana boleh ….”

“Takkan kupaksa dirimu,” potong Han-bwe dengan dingin, “Boleh kau pilih, memberi hajaran

padanya, atau aku yang menghajar dirimu?”

Sembari bicara, sebuah poci arak buatan timbel di atas meja terus dipegangnya, diremas

sekenanya, seketika poci arak itu meleyot, waktu ditariknya perlahan, poci timbel lantas

berubah lagi

menjadi satu batangan.

Keruan air muka Tio Kun-bu berubah pucat, mendadak ia melompat maju, sebelah tangannya

lantas menabas ke kuduk Liok Siau-hong. Serangan ini sangat cepat dan ganas tanpa kenal

ampun sedikit pun.

Tapi Liok Siau-hong tidak mengelak juga tidak bergerak, dia tetap berdiri di tempatnya dan

menerima pukulan itu.

Di belakang kiri leher setiap orang ada sebuah pembuluh darah besar, tempat ini merupakan

salah satu bagian fatal di tubuh manusia. Meski Lwekang Tio Kun-bu tidak terlatih baik, tapi

kedua tangannya sekeras baja, tenaga pukulannya sungguh tidak ringan, mestinya kalau Liok

Siau-hong tidak terpukul mati, sedikitnya juga akan jatuh kelengar.

Siapa tahu Siau-hong justru masih berdiri dengan tegak, bahkan air mukanya tidak berubah

sama sekali.

Muka Tio Kun-bu berkeringat lagi, mendadak ia melangkah maju, sekuatnya ia menghantam

pula perut Liok Siau-hong.

Namun Siau-hong tetap mandah dipukul, tetap tidak bergerak dan tidak balas menyerang.

Tio Kun-bu sendiri menjadi kelabakan, air keringat bercucuran seperti hujan, dua kali

hantamannya jelas mengenai sasaran, tapi justru seperti mengenai tempat kosong, dirasakan

pihak lawan seakan tidak berisi, ketika terkena kepalannya, rasanya seperti mengenai tempat

kosong.

50

Mestinya dia siap untuk menghantam lagi untuk ketiga kalinya, kepalan sudah tergenggam

erat, tapi tidak sanggup menyerang pula.

Padahal Liok Siau-hong seolah-olah sedang menunggu untuk dipukul lagi, setelah menunggu

sekian lama tiba-tiba ia pandang Tio Kun-bu, katanya dengan tertawa, “Apakah hajaran Anda

sudah cukup?”

Tio Kun-bu juga ingin tertawa sebisanya, tapi jadinya serba salah sehingga dia cuma

menyengir belaka.

Lalu Siau-hong berpaling kepada Han-bwe dan berkata, “Nah. apakah sekarang aku boleh

pergi?”

Air muka Han-bwe tampak masam, belum lagi dia bicara, Koh-tiok sudah mendahului

berucap, “Silakan kau pergi saja!”

“Terima kasih,” ucap Siau-hong dengan tersenyum. Ia tepuk-tepuk bajunya, lalu angkat poci

arak lain yang tidak teremas peyot itur arak lantas dituangkan ke dalam mulut, lalu ia

melangkah pergi di depan Han-bwe Siansing.

Tapi sebelum dia keluar dan restoran itu, tiba-tiba pelayan berlari datang dengan membawa

sepucuk surat sambil berteriak, “Adakah Liok Siau-hong, Liok-tayhiap berada di sini?”

Siau-hong menuding hidungnya sendiri dan menjawab dengan tertawa, “Akulah Liok Siauhong,

tapi bukan Tayhiap, sebab Tay-hiap biasanya cuma memukul orang dan takkan dipukul

orang.”

Dia masih tersenyum simpul dan tidak marah, sebab ia tahu di dunia ini terlalu banyak

manusia yang suka menjilat ke atas dan mendepak ke bawah, orang yang berpuluh kali lebih

konyol dari pada Tio Kun-bu masih sangat banyak, dan hal ini memang merupakan salah satu

kelemahan manusia.

Liok Siau-hong cinta kepada kemanusiaan, cinta kepada kehidupan, maka terhadap hal-hal

demikian biasanya dengan cepat dan mudah dapat dimaafkannya.

Akan tetapi setelah dia membaca surat yang diserahkan si pelayan, dia jadi marah benarbenar.

Bukan cuma marah saja bahkan juga cemas dan gelisah. Surat itu tertulis:

Liok Siau-hong, Liok-tayhiap yth,

Banyak terima kasih atas bantuan Anda selama ini, maka

segala sesuatu telah kuselesaikan dengan Tan Cing-cing.

Mengingat kemungkinan akan mengganggu perjalanan Anda, maka beberapa peti barang

keras juga sudah kuangkut pergi lebih dulu.

Sekian, supaya Anda maklum.

Penanda tangan di bawah surat jelas tertulis nama “Hui-thian-giok-hou”.

Pada waktu Siau-hong membaca surat, Swe-han-sam-yu justru sedang membaca wajah Siauhong

Mereka sangat terkejut juga, sebab tidak pernah mereka duga bahwa air muka Liok

Siau-hong juga bisa berubah beringas begini.

Maka pada waktu Siau-hong menerjang keluar serentak mereka pun ikut berlari pergi,

tertinggal Tio Kun-bu saja yang masih berdiri melenggong di situ seperti seorang yang sangat

menyesal dan kalau bisa ingin membunuh diri.

Mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa orang yang dihajarnya tadi tak lain tak bukan ialah

Liok Siau-hong, si Pendekar Empat Alis yang termashur.

Meski Liok Siau-hong dapat memaafkan dia, tapi selamanya dia tak dapat memaafkan dirinya

sendiri. Meski Siau-hong tidak bertindak apa-apa, tapi sama halnya telah memberi hajaran

berat kepadanya.

Namun Liok Siau-hong sendiri juga telah melakukan suatu kesalahan besar, seharusnya dia

tidak meninggalkan Tan Cing-cing, lebih-lebih tidak boleh meninggalkan rumah itu, sebab

pada waktu dia memburu kembali ke sana, tempat itu sudah menjadi lautan api.

51

Untung udara dingin dan tanah beku, di mana-mana timbunan salju belaka, maka menjalarnya

api sangat terbatas, tidak banyak rumah di sekitarnya yang ikut menjadi korban, namun begitu

tetap ada pihak yang tak berdosa ikut tertimpa musibah tersebut.

Tubuh Tan Cing-cing yang indah itu tidak perlu disangsikan lagi pasti sudah terbakar menjadi

abu. Kedatangan Siau-hong sudah terlambat.

Di bawah cahaya api yang berkobar, muka Siau-hong tampak merah, matanya juga merah

membara, tapi tangan dan kakinya terasa dingin, hati juga dingin.

Suasana tampak kacau-balau, kaum lelaki berlari kian kemari sambil berteriak-teriak dan

berusaha memadamkan api, kaum perempuan menjerit dan menangis, anak kecil juga

menangis dan ketakutan.

Kehidupan mereka mestinya aman tentram, tidak pernah merugikan orang lain, tapi sekarang

tanpa sebab mereka ikut menjadi korban.

Mendadak Liok Siau-hong berpaling dan melototi Han-bwe, katanya dengan beringas, “Sudah

kau lihat belum?”

“Melihat apa?” tanya Han-bwe dengan agak bingung.

“Inilah bencana gara-gara perbuatanmu, masa kau sendiri tidak melihatnya? kata Siau-hong.

Han-bwe bungkam saja tanpa menjawab, jelas hatinya juga merasa tidak enak.

“Sekarang apakah kau masih ingin melihat kungfuku?” tanya Siau-hong. J

“Tadi kan sudah kulihat,” jawab Han-bwe. “Itu kan baru kungfu menahan pukul, sekarang

apakah kau ingin melihat kungfuku memukul orang?” tanya Siau-hong. Jelas inilah tantangan!

Dia tidak pernah menantang cara demikian terhadap siapa pun, meski sikapnya sangat dingin

dan tenang, tapi ketenangan yang melampaui batas tentu juga akan meledak menjadi

kemurkaan.

Wajah Han-bwe juga dingin, di bawah cahaya api kelihatan pucat, sampai bibirnya juga putih.

Maklumlah, selama ini tidak pernah ada orang berani menantangnya secara langsung begini

padanya.

Dia tidak gentar terhadap pemuda ini, selamanya dia tidak pernah jeri terhadap siapa pun.

Akan tetapi dalam sekejap ini, tiba-tiba ia merasakan semacam ketegangan yang belum

pernah dirasakannya, ketegangan yang membuatnya seakan-akan berhenti bernapas.

Sebab biasanya dia selalu berdiri di atas angin, dia sudah terbiasa menggunakan nama dan

kedudukan sendiri untuk menindas dan memerintah orang lain, tapi sekarang untuk pertama

kalinya dirasakannya daya tekan orang lain terhadapnya.

Malahan tekanan Liok Siau-hong semakin kuat katanya, “Bagaimana, kau ingin lihat tidak?”

Belum lagi Han-bwe bicara, Koh-tiok telah mendahului menjawab, “Dia tidak ingin melihat?”

Dan Koh-siong lantas menyambung, “Satu-satunya barang yang ingin dilihatnya adalah Losat-

pay, aku pun sama.”

Dia menggeser ke depan Siau-hong dan membiarkan Koh-tiok menarik pergi Han-bwe, lalu

dia berucap pula perlahan, “Maka kuharap janganlah kau bikin kecewa kami.”

Dia tidak membalik tubuh, tetap berdiri menghadapi Liok Siau-hong, cuma menyurut mundur

selangkah demi selangkah, mendadak lengan jubahnya mengebas terus melayang ke

belakang, dalam sekejap saja ia lantas menghilang.

Siau-hong tidak bergerak, juga tidak merintangi orang, sampai lama sekali barulah ia

menghela napas.

Tiba-tiba ia merasakan dirinya sudah terlalu lama mengalah kepada ketiga orang itu, sekarang

sudah waktunya menyuruh mereka mengalah juga.

Untuk pertama kalinya dia bergerak, meski tidak menyerang, tapi sudah memperoleh

kemenangan.

Namun ia pun tahu, ketiga kakek itu takkan mundur terlalu jauh, bilamana mereka mendesak

maju lagi entah bagaimana akibatnya? Untuk ini dia tak mau memikirkannya.

52

Api belum lagi padam, tidak boleh dia berdiri dan menonton melulu, meski masih banyak

persoalan yang harus dipikirnya, juga harus ditunda dahulu, sekarang dia harus berusaha

memadamkan api.

Segera ia menyingsing lengan baju dan ikut menerjang ke tengah api, dari tangan orang lain

direbutnya seember air, dia melompat ke dinding rumah sebelah, air terus disiramkan pada api

yang berkobar itu.

Dengan sendirinya gerak-geriknya jauh lebih cepat dan tangkas daripada orang lain, tenaga

seorang sama dengan tenaga sepuluh orang, namun di sebelahnya masih ada lagi seorang

yang gerak-geriknya juga tidak kurang cepatnya daripada dia. bahkan terlebih giat

daripadanya satu kali, orang itu melompat ke dinding yang sudah terjilat api dan hampir saja

terjerumus ke dalam lautan api.

Dengan mencairnya salju dan air yang disiramkan, ditambah lagi gotong royong para

penolong, dengan cepat menjalarnya api dapat dicegah, dan tidak lama kemudian api pun

dapat dipadamkan.

Siau-hong merasa lega, ia mengusap keringatnya dengan lengan baju, hati terasa enak, sudah

lama ia tak pernah mengalami perasaan demikian.

Di sampingnya ada seorang sedang mengaso dengan napas terengah, ucapnya dengan tertawa,

“Seluruhnya kau siram 73 ember air, aku cuma 65 ember, engkau delapan ember lebih

banyak.”

Waktu Siau-hong berpaling, baru diketahuinya orang yang bahu membahu memadamkan api

bersamanya tadi ialah Hek-hian-tan Tio Kun-bu.

Tertawa Tio Kun-bu sangat cerah, katanya pula. “Sepergimu tadi sungguh aku ingin

membunuh diri, tapi sekarang kuingin bisa hidup beberapa tahun lebih lama, makin panjang

umur makin baik.” Siau-hong tersenyum, dia tidak tanya apa sebabnya? Karena dia sudah

tahu jawabannya.

Jika seorang merasakan dirinya adalah orang yang berguna, tentu dia takkan mencari mati,

sebab hidupnya dirasakan cukup berharga dan menyenangkan.

Apabila engkau pernah membantu seorang dengan setulus hati dan sepenuh tenaga, tentu

engkau akan paham hal ini, sebab seorang yang mau membantu orang lain berarti dia adalah

seorang berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat.

Sambil tersenyum Siau-hong menepuk bahu Tio Kun-bu. Katanya, “Kutahu tadi engkau jauh

lebih giat daripada siapa pun, waktu kau hajar diriku dengan tenaga sehebat ini, pasti aku

tidak tahan.”

Dengan muka merah Tio Kun-bu menjawab. “Waktu kupukul orang tidak nanti kugunakan

tenaga sebesar itu, sebab memukul orang bukan hal yang menyenangkan, aku pun takut

tanganku akan kesakitan sendiri.”

Kedua orang lantas bergelak tertawa, kemudian baru diketahui mereka bahwa di sekitarnya

sudah berkerumun orang banyak dan sedang mengiringi tertawa mereka, sorot mata semua

orang sama penuh rasa gembira, hormat dan terima kasih.

Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikuncir dua berlari maju dan

memegang tangan mereka serta memberikan dua-tiga biji gula-gula kepada mereka, ucapnya

dengan muka merah, “Inilah gula-gula kesukaanku, tapi biarlah kuberikan kepada kalian,

sebab kalian adalah orang baik hati, jika aku sudah besar kelak, tentu aku pun akan membantu

orang lain, terutama membantu memadamkan api bilamana terjadi kebakaran.”

Perlahan Siau-hong membelai rambut anak itu, ingin bicara, tapi rasanya kerongkongan

seakan-akan tersumbat.

Tio Kun-bu juga memandang anak perempuan itu dengan terharu, air mata hampir saja

menitik, ia merasa sekalipun dirinya tadi terbakar mati oleh api juga cukup berharga,

53

Pada saat itu juga, tiba-tiba sebuah kepala kecil menongol keluar dari dalam got yang sempit

dan kotor di tepi jalan, serunya sambil menuding Siau-hong, “Dia bukan orang baik, dia

menipuku, bibi itu tidak memberi gula-gula kepadaku.”

Lalu seorang anak hitam kecil merangkak keluar dari dalam got, kiranya si anak dekil yang

ketolol-tololan itu.

Anak ini ternyata tidak ikut mati terbakar, mungkin nasibnya mujur, lantaran dia anak bodoh,

selain dia, siapa pun tak mungkin memasukkan dirinya sendiri ke dalam got yang kotor dan

sempit itu.

Akan tetapi anak ini juga bermata, bahkan tadi berada di dalam rumah Tan Cing-cing,

sekarang cuma anak inilah satu-satunya orang yang dapat memberi keterangan apa yang

terjadi tadi.

Mata Siau-hong terbeliak, segera ia mendekati anak itu. Apakah anak ini dapat menunjukkan

bentuk si pengganas itu atau tidak? Memang belum meyakinkan Liok Siau-hong, tapi kan ada

setitik harapan pada anak itu.

Tak terduga, di tengah kerumunan orang banyak mendadak adu orang berteriak. “Itu dia yang

membakar rumah! Meski dia ikut membantu memadamkan api, tapi yang membakar juga dia,

jangan kita tertipu olehnya!”

Serentak beberapa orang berteriak-teriak sambil menubruk maju, suasana seketika menjadi

kacau.

Meski ada sementara orang tidak percaya, tapi ada sebagian lagi menjadi curiga, terutama

beberapa orang yang rumahnya ikut terbakar, mereka menjadi kalap, tanpa pikir mereka terus

menubruk ke arah Liok Siau-hong.

Pada umumnya mereka adalah rakyat jelata yang berpikiran sederhana, karena rumahnya

musnah dan harta benda ludes, dengan sendirinya mereka mata gelap dan ingin melabrak

orang.

Siau-hong tidak menyalahkan mereka, juga tidak ingin menghajarnya, syukur Tio Kun-bu

telah mewakilkan dia untuk mengadang para pengamuk itu. Meski Siau-hong terkena

beberapa pukulan yang tak berarti, tapi dapatlah dia menerjang keluar kepungan. Namun si

anak dekil tadi sudah menghilang.

Di tepi got masih terlihat bekas tapak kaki yang kotor, di tengah tumpukan puing masih

mengepulkan asap. Mendadak Siau-hong mengertak gigi, dengan nekat ia menerjang ke

tengah puing yang masih membara itu,

Para anak buah Tio Kun-bu juga sudah memburu tiba untuk ikut mengatasi kekacauan, Tio

Kun-bu juga memberi jaminan dengan kehormatan pribadinya bahwa Liok Siau-hong pasti

bukan orang yang membakar rumah mereka, sebab sejak tadi Liok Siau-hong berada bersama

dia di restoran dan minum arak. Karena itulah baru kepanikan dapat diredakan, namun waktu

mengusut siapa orang yang berteriak tadi, ternyata tidak ada yang tahu.

Dalam pada itu Liok Siau-hong masih berada di tengah puing yang membara itu, tidak ada

yang tahu apa yang hendak dicarinya?

“Apa yang kau cari di sana?” tanya Tio Kun-bu sesudah mereka meninggalkan tempat

kebakaran itu.

Namun Siau-hong tidak menjawab, matanya memancarkan semacam sinar yang aneh, entah

sedang merenungkan sesuatu soal sulit atau ada soal sulit yang sudah dipecahkannya.

Tio Kun-bu tidak bertanya lagi, ia pun mulai merenung, tiba-tiba ia berkata, “Tadi orang yang

memfitnah dirimu itu pasti orang yang membakar, dia sengaja mengkambing hitamkan

dirimu.”

Siau-hong berpikir lagi agak lama. katanya kemudian, “Mereka tidak cuma menjadikan diriku

sebagai kambing hitam, tapi ingin menghilangkan saksi.”

“Menghilangkan saksi siapa?” tanya Tio Kun-bu. “Apakah anak yang merangkak keluar dari

got itu?” Siau-hong mengangguk.

54

“Anak tolol begitu apa yang diketahuinya?” ujar Tio Kun-bu sambil berkerut kening.

“Mestinya mereka memang tidak perlu bertindak demikian,” kata Siau-hong dengan

menyesal.

Tio Kun-bu juga menghela napas menyesal. Apa pun juga urusan toh sudah berlalu, marilah

kita pergi minum arak.”

“Jika kau minta minum arak bersamaku, mungkin kau perlu menunggu agak lama,” jawab

Siau-hong.

“Sebab apa?” Lanya Tio Kun-bu.

Siau-hong mengepal tinjunya erat-erat, jawabnya perlahan, “Sebelum menemukan Hui-thiangiok-

hou, seterusnya aku takkan minum arak setetes pun.”

“Apakah dapat kubantu engkau?” tanya Kun-bu.

“Dapat,” jawab Siau-hong.

“Caranya?”

“Engkau lebih paham sekitar daerah sini, hendaknya engkau ….” tiba-tiba Siau-hong menahan

suaranya seakan-akan kuatir didengar orang.

Maklum, kini telah diketahuinya bahwa wilayah pengaruh Hui-thian-giok-hou ternyata jauh

lebih luas dan besar daripada dugaannya semula.

Selesai ia bicara, segera Tio Kun-bu berkata, “Tugas ini pasti akan kukerjakan dengan baik,

bila ada kabar, cara bagaimana dapat kuberitahukan padamu?”

“Pernah kau datang ke kasino Pancing Perak?” tanya Siau-hong.

“Bukan saja pernah, bahkan sudah beberapa kali berjudi langsung dengan si jenggot biru,

malahan aku yang menang beberapa ratus tahil perak,” tutur Tio Kun-bu dengan tertawa.

“Baik, setengah bulan lagi kita akan bertemu di sana,” kata Siau-hong. “Yang dalang lebih

dulu harus menunggu, sebelum bertemu tidak boleh pergi.”

Tio Kun-bu mengiakan, ia memandang Siau-hong sekian lama, tiba-tiba katanya pula,

“Terima kasih padamu!”

Siau-hong tertawa, “Kuminta kau bekerja bagiku, bukannya aku yang berterima kasih, kenapa

malah engkau yang berterima kasih padaku?”

“Justru lantaran engkau tidak berterima kasih padaku, makanya aku perlu berterima kasih

padamu,” ujar Kun-bu. “Aneh, mengapa begitu?” tanya Siau-hong.

Mencorong sinar mata Tio Kun-bu, jawabnya, “Sebab kutahu engkau pasti menganggap

diriku sebagai kawan!” Kawan!

Betapa bahagia dan betapa indahnya istilah ini’ Jika kau pun ingin serupa Liok Siau-hong,

disukai dan dihormati orang, maka lebih dulu engkau perlu memahami sesuatu yaitu bahwa

kekuatan yang dapat membuat orang takluk benar-benar pasti bukan kekerasan atau ilmu silat,

melainkan kasih sayang sesamanya dan kebesaran jiwa seseorang.

Dan itu bukanlah hal yang mudah, selain diperlukan kelapangan dada, juga harus punya

keberanian yang besar.

Bab 6 …

Setengah bulan kemudian, di dalam rumah yang teratur rapi dan resik, cuaca cerah, cahaya

mentari gilang gemilang, di depan jendela ada hiasan pot bunga yang indah.

Ting-hiang-ih ternyata sudah dapat berduduk, wajahnya yang pucat sudah mulai bersemu

merah, serupa setangkai bunga yang semula sudah layu mendadak segar kembali.

Dengan sendirinya semua ini sangat menyenangkan orang, perasaan Liok Siau-hong juga jauh

lebih riang daripada beberapa hari yang lalu.

“Kan sudah kujanjikan, aku pasti akan datang lagi menjengukmu,” kata Siau-hong.

“Ya, kutahu,” sahut Ting-hiang-ih, tersembul juga senyuman lembut pada wajahnya, “Kutahu

engkau pasti akan datang lagi.”

55

Dia duduk bersandar tempat tidur, seprei tempat tidur baru saja diganti, dia memakai baju

tidur yang longgar hingga menutupi kaki dan tangannya yang buntung.

Sinar sang surya menembus masuk melalui jendela, dia kelihatan masih sangat cantik.

“Kedatanganku juga membawa sesuatu barang, tutur Siau-hong dengan tersenyum.

Mencorong sinar mata Ting-hiang-ih. Serunya, “Lo-sat-pay?!”

Siau-hong mengangguk, “Apa yang sudah kujanjikan padamu pasti dapat kulakukan, aku

tidak berdusta padamu.”

Mata Ting-hiang-ih berkedip-kedip, katanya. “Memangnya aku yang berdusta padamu?”

Siau-hong menarik sebuah kursi dan berduduk, katanya, “Kau bilang padaku bahwa Cingcing

adalah sahabatmu dan boleh kupercaya padanya.”

Ting-hiang-ih membenarkan.

“Apakah dia benar-benar sahabatmu? Kau benar-benar mempercayai dia?” Siau-hong

menegas.

Ting-hiang-ih melengos ke arah lain, menghindari pandangan Siau-hong yang tajam,

napasnya mendadak berubah memburu seakan sedang mengekang perasaan sendiri, selang

agak lama. akhirnya ia tidak tahan dan tercetus ucapan setulusnya, “Dia perempuan jalang!”

“Dan kau suruh aku mempercayai seorang perempuan jalang!” kata Siau-hong dengan

tertawa.

Akhirnya Ting-hiang-ih berpaling kembali, ucapnya dengan tertawa, “Sebab aku seorang

perempuan, bukankah perempuan selalu suka menyuruh orang lelaki mengerjakan sesuatu

yang tidak suka dikerjakannya sendiri?”

Alasan ini sebenarnya tidak begitu tepat, namun Siau-hong seperti merasa puas, sebab ia tahu

berhadapan dengan seorang perempuan, jika orang perempuan disuruh bicara secara

peraturan, sama sulitnya kau minta unta menerobos lubang jarum.

Tiba-tiba Ting-hiang-ih bertanya, “Apakah dia benar-benar sudah mati?”

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

Ting-hiang-ih menghela napas lega perlahan.

Siau-hong menatapnya tajam-tajam, tiba-tiba ia bertanya, “Darimana kau tahu dia sudah

mati?”

Kembali Ting-hiang-ih berpaling dan berdehem, lalu menjawab perlahan, “Aku tidak tahu,

aku cuma menduga begitu saja.”

“Mengapa dapat kau pikirkan demikian?”

“Jika cara begitu kau tanya padaku tadi, suatu tanda dia telah banyak melakukan hal-hal vang

tidak baik padamu, orang yang berbuat tidak baik padamu bukankah pantas mati?”

Alasan ini kurang baik, tapi diterima juga oleh Liok Siau-hong, katanya, “Apa pun juga, toh

akhirnya sudah kutemukan kembali Lo-sat-pay, tidak tersia-sia perjalananku ini.”

Mendengar Lo-sat-pay, sinar mata Ting-hiang-ih tambah mencorong, ia memandang tangan

Liok Siau-hong yang sedang meraba bajunya itu, lalu menyaksikan dia mengeluarkan

sepotong Giok-pay, mendadak ia menitikkan air mata.

Siau-hong dapat memahami perasaannya.

Lantaran Giok-pay itulah dia tidak sayang menghancurkan rumah tangganya, menghancurkan

kebahagian sendiri, bahkan ia sendiri pun berubah menjadi cacat selamanya.

Biarpun Giok-pay itu adalah benda mestika yang tidak ternilai harganya, namun harga

kebahagiaan bukanlah terlebih sukar diukur?

Apakah cukup berharga tindakannya itu? Apakah sekarang dia merasa menyesal?

Tanpa terasa Siau-hong menghela napas gegetun, ucapnya. “Jika barang ini milikku, pasti

akan kuberikan padamu, namun sekarang …”

“Kutahu maksudmu,” potong Ting-hiang-ih, “tidak perlu kau jelaskan, sekarang meskipun kau

berikan padaku juga tiada gunanya bagiku.”

56

Kembali air matanya mengucur lagi. Perlahan ia menyambung pula, “Sekarang aku cuma

ingin melihatnya dan memegangnya, dengan begitu sudah puas hatiku.”

Siau-hong juga dapat memahami perasaannya ini, ia menyodorkan Lo-sat-pay itu kepadanya,

namun wajah Ting-hiang-ih kelihatan bertambah menderita.

Dia sudah tidak bertangan, padahal Giok-pay yang diidam-idamkannya tanpa sayang

mengorbankan segalanya itu sekarang berada di depan matanya, namun dia tidak mampu

memegangnya Penderitaan ini sungguh sukar ditahan oleh siapa pun, namun dia justru dapat

menahannya.

Kembali Siau-hong menghela napas menyesal, katanya, “Bagaimana kalau kuletakkan Giokpay

ini di atas tubuhmu, sedikitnya dapat kau lihat lebih jelas!”

Ting-hiang-ih mengangguk, dilihatnya Liok Siau-hong menaruh Giok-pay itu di atas dadanya,

mata yang berlinang air mata itu tiba-tiba menampilkan semacam perasaan yang sukar

dijelaskan, entah berterima kasih? Terhibur atau berduka?

Mendadak Ting-hiang-ih menundukkan kepala dan mencium perlahan Giok-pay itu, serupa

mencium sang kekasih pada cinta pertamanya.

“Terima kasih, terima kasih ….” berulang-ulang ia menyebut, dengan kedua tangannya yang

buntung sebatas pergelangan tangan itu ia jepit Giok-pay itu dan ditempelkan pada pipi

sendiri.

Siau-hong tidak tega memandangi dia. Ia ingat tangan Ting-hiang-ih mestinya sangat halus

lagi indah, kukunya memakai cat kuku merah muda serupa warna bunga mawar sehingga

tangannya mirip setangkai bunga mawar yang baru mekar.

Akan tetapi bunga mawar itu sekarang telah dipatahkan tanpa ampun sehingga cuma tersisa

ranting yang kering.

Bunga mawar yang sekarang telah dipatahkan itu masih akan tumbuh lagi tahun depan,

namun tangannya? ….

Siau-hong berbangkit dan berpaling, pada saat itu mendadak terdengar suara “pluk” sekali,

semacam barang terbang keluar menerobos jendela, menyusul terdengar pula “critt” sekali,

semacam barang menyambar masuk menembus jendela.

Cepat Siau-hong berpaling, ternyata Giok-pay yang dijepit oleh kedua tangan Ting-hiang-ih

yang buntung itu sudah lenyap, malahan dadanya kelihatan merembeskan darah seperti air

ledeng.

Wajahnya yang bersemu merah kembali berubah pucat, ujung mata dan ujung mulut tampak

berkedut-kedut, seperti menangis, serupa tertawa pula.

Umpama tertawa juga semacam tertawa yang terlebih duka daripada menangis. .

Ia memandang Siau-hong, sinar matanya yang mencorong tadi telah berubah jadi guram,

sekuatnya ia berucap, “Meng … mengapa engkau tidak mengejar?”

Siau-hong menggeleng, tertampil rasa kasihan dan simpatinya sedikit pun tidak

memperlihatkan rasa kejut dan gusar.

Apa yang dilakukan Ting-hiang-ih ini seolah-olah sudah berada dalam dugaannya, selang

agak lama barulah ia bicara dengan muram, “Apakah kau tertipu orang lagi?”

Dengan suara lemah Ting-hiang-ih menjawab, “Kutipu kau tapi dia juga menipuku, setiap

orang seperti sudah ditakdirkan harus ditipu oleh semacam orang, betul tidak menurut

pendapatmu? Betul tidak?”

Suaranya sangat perlahan, sangat lirih, tidak terdapat lagi suara duka dan tersiksa.

Sedetik sebelum ajalnya, tiba-tiba ia menyadari semacam falsafah orang hidup yang ruwet,

tapi juga sederhana dan ajaib. Lalu tamatlah riwayat hidupnya.

ooo000ooo

57

Malam di musim dingin, malam yang panjang. Pada jalan yang gelap gulita itu sunyi senyap

tiada seorang pun, yang terlihat cuma sebuah lentera.

Lentera berkerudung putih dan sudah tua sehingga hampir berubah menjadi kelabu, masih

tergantung di atas pintu sempit di ujung jalan itu, di bawah lampu tergantung sebuah pancing

perak yang mengkilat, serupa pancing yang biasa digunakan kaum pengail.

Pancing perak bergoyang-goyang tertiup angin malam yang dingin, deru angin seolah-olah

helaan napas orang menyesal, menyesali di dunia ini mengapa terdapat sedemikian banyak

orang bodoh yang rela terkail oleh pancing perak ini.

Dari sudut yang lembab di bawah kabut malam Pui Giok-hui melangkah masuk ke kasino

Pancing Perak yang gemerlapan itu. Ia menanggalkan mantelnya yang berwarna putih

sehingga tertampak pakaiannya yang terbuat dan kain satin dan sangat pas dengan

perawakannya.

Setiap hari pada waktu demikian ini adalah waktu perasaannya sangat gembira, terutama hari

ini. Sebab Liok Siau-hong sudah pulang dan Liok Siau-hong adalah sahabat yang paling

disukai dan paling dihormatinya.

Dengan sendirinya Liok Siau-hong juga sangat gembira, sebab dia sudah pulang. Pulang dari

negeri es yang jauh dan dingin itu.

Di ruangan besar kasino yang berpajang mewah itu penuh suasana hangat dan

menggembirakan, bau harum arak bercampur dengan bau bedak diselingi suara gemerincing

uang perak menimbulkan serentetan suara yang menawan, hampir tiada suara musikyang

lebih menawan di dunia ini daripada suara di dalam kasino ini.

Dan Siau-hong suka kepada suara ini, serupa kebanyakan orang lain di dunia ini, ia pun suka

akan kemewahan dan hidup nikmat.

Lebih-lebih sekarang setelah mengalami masa sulit sekian lamanya di negeri es nan jauh dan

kesepian itu, kini dia pulang kembali di sini, dia jadi serupa seorang anak kecil yang tersesat

telah pulang ke rumah yang hangat, kembali ke dalam pangkuan ibunda tersayang.

Bahwa sekali ini dapat pulang dengan hidup, sungguh bukan sesuatu yang sederhana.

Dia baru saja habis mandi air panas dan berganti baju, jenggot palsu dan kerut buatan pada

ujung matanya serta kapur yang memutihkan rambutnya kini sudah dibuang dan dicucinya

hingga bersih.

Sekarang dia kelihatan bercahaya, menyala, penuh semangat, sampai dia juga merasa sangat

suka kepada dirinya sendiri.

Tentu saja ada berapa orang perempuan yang berada di ruangan judi itu diam-diam

meliriknya, meski kebanyakan perempuan itu sudah tergolong ‘tante’, namun Siau-hong tetap

memperlihatkan senyuman yang paling menarik bagi mereka.

Setiap perbuatan yang dapat membuat gembira orang lain dan toh tidak merugikan dia sendiri,

selamanya takkan ditolaknya untuk melakukannya.

Melihat senyumannya, sampai Pui Giok-hui juga merasa sa

ngat senang, dengan tersenyum ia bertanya, “Tampaknya engkau sangat suka pada tempat

ini?!”

“Ya, orang yang menyukai tempat ini tampaknya makin lama makin banyak,” ujar Siau-hong.

“Usaha tempat ini memang makin maju,” kata Pui Giok-hui, “bisa jadi lantaran sekarang

semua orang dapat hidup lebih longgar dan iseng, hawa juga dingin, kan lebih baik berdiam di

dalam rumah, minum arak dan berjudi.”

“Apakah juga banyak orang perempuan yang khusus datang untuk melihat dirimu?” tanya

Siau-hong dengan tertawa.

Maka tergelaklah Pui Giok-hui.

Dia memang seorang lelaki yang menggiurkan, charming, kata orang sekarang, mukanya

selalu terawat bersih, dandanannya mutakhir, perawakannya juga gagah, meski terkadang

58

kelihatan rada sok, tapi justru lagaknya inilah model yang paling disukai oleh perempuan

setengah baya yang tergolong tante itu.

Dengan suara tertahan Siau-hong berkata pula kepada Giok-hui, “Kukira pasti banyak orang

perempuan yang terpancing olehmu di tempat ini?!”

Pui Giok-hui tidak menyangkal, jawabnya dengan tersenyum. “Perempuan yang suka

berkeluyuran di rumah judi, hampir semuanya tidak beres.”

“Dan bagaimana perempuan yang membuka kasino? Apakah juga…..”

Mendadak ucapannya terhenti, sebab tiba-tiba dilihatnya ada seorang sedang menubruk dari

belakang Pui Giok-hui dengan memegang belati, langsung iga kiri Pui Giok-hui ditikamnya.

Pui Giok-hui tidak melihat kejadian ini, sebab pada punggungnya tidak ada mata. Waktu

Siau-hong melihatnya juga sudah terlambat, belati orang itu tinggal belasan senti saja di

belakang punggung Pui Giok-hui.

Padahal tempat itu merupakan bagian mematikan pada tubuh manusia, sekali tertikam tentu

jiwa melayang. Tentu saja Siau-hong ikut kuatir bagi Pui Giok-hui.

Siapa tahu, pada detik terakhir, mendadak Pui Giok-hui menekuk pinggang, sekali berputar,

kontan pergelangan tangan orang yang memegang belati itu kena dicengkeramnya, “trinng”,

belati jatuh ke lantai dan orang itu pun mencaci maki.

Tapi baru memaki satu-dua kata segera mulutnya tersumbat, dua lelaki kekar mendadak

muncul di belakangnya, satu orang satu sisi, serentak orang itu digusur keluar.

Air muka Pui Giok-hui ternyata tidak berubah sama sekali, dengan tersenyum ia berkala, “Di

tempat begini memang sering terjadi hal-hal demikian.”

“Apakah kau tahu sebab apa dia hendak membunuhmu?” tanya Siau-hong.

“Tentunya tidak ada lain, kalau bukan mabuk pastilah kalap karena kalah habis-habisan,”

sahut Pui Giok-hui dengan tak acuh.

“Tapi juga bisa jadi lantaran dia gila saking gemasnya,” ujar Siau-hong.

“Sebab apa?” tanya Giok-hui. “Sebab telah kau kerjai bininya.” Kembali Pui Giok-hui

bergelak tertawa. Menurut pandangannya, kalau dapat mengerjai bini orang seakan-akan

merupakan perbuatan yang gemilang dan terpuji, tidak perlu malu atau menyesal.

Siau-hong memandangnya dengan melongo, serupa baru pertama kali melihat orang ini.

Peristiwa tadi berlangsung secara mendadak, juga berakhir dengan cepat, namun tetap saja

menimbulkan sedikit kepanikan, lebih-lebih beberapa meja judi yang berdekatan dengan

mereka, kebanyakan orang sudah meninggalkan tempat duduknya dan sedang bisik bisik

membicarakan kejadian ini.

Hanya ada satu orang saja yang masih duduk di tempatnya tanpa bergeser, malahan sedang

terkesima menatap kepingan kartu Pai-kiu yang tertaruh di depannya, tidak sedikit taruhannya

pada permainan Pai-kiu ini. kalau tidak menang sangat banyak pastilah sudah kalah tidak

sedikit.

Orang ini memakai topi kulit berbulu halus, memakai jaket kulit yang dibalik, mukanya penuh

berewok, jelas seorang saudagar jinsom yang haru pulang dari luar perbatasan di utara. Pada

sabuknya kelihatan penuh terikat hasil usaha jerih payahnya akan tetapi uang sebanyak itu

seakan siap diludeskan dalam semalam saja. “Mengapa kau pandang dia? Tampaknya besar

minatmu untuk 1 menangkan duitnya?” dengan suara tertahan Pui Giok-hui berseloroh.

Siau-hong tertawa dan menjawab, “Uang yang didapatkan dari meja judi biasanya paling enak

untuk dibuat foya-foya, kesempatan baik begini mana boleh kusia-siakan?”

“Tapi adik iparku sudah lama menunggu kedatanganmu di dalam, kabarnya ketiga makhluk

tua Swe-han-sam-yu juga sudah tiba lebih dulu,” kata Giok-hui.

“Mereka boleh menunggu, sedangkan duit pada orang semacam ini tidak dapat menunggu,

setiap saat bisa kabur dan sukar dicari lagi!” ujar Siau-hong.

“Ehm, betul juga,” kata Giok-hui dengan tertawa. “Makanya lekas kau beritahukan kepada

mereka, tunggu sebentar lagi, segera kudatang.”

59

Dan tanpa menunggu persetujuan Pui Giok-hui, segera Siau-hong menuju ke meja judi Paikiu,

dia berdiri tepat di samping si berewok, dengan tersenyum ia menantang, “Kecuali

taruhan di atas meja dengan bandar, bagaimana kalau kita berdua mengadakan pertaruhan

tersendiri?”

Tanpa pikir si berewok menyetujui, ucapnya, “Jadi! Cara pertaruhanku biasanya semakin

besar semakin menyenangkan. Berapa banyak engkau ingin bertaruh?”

“Mau bertaruh harus sepuas-puasnya, taruhan berapa besar pun pasti kuiringi,” jawab Siauhong.

Pui Giok-hui memandangi mereka dari jauh, ia tersenyum dan menggeleng kepala, tiba-tiba ia

merasa tangan sendiri juga gatal.

Waktu dia mengitari meja judi ini dan menuju ke belakang sana, mendadak Siau-hong

meremas tangan si berewok sekait di bawah meja….

Bab 7 …

Di dalam sana si jenggot biru sedang mengamat-amati tangannya sendiri.

Kedua tangannya terawat sangat baik, kukunya terpotong rajin, jarinya juga panjang lentik.

Sungguh tangan yang indah, tidak perlu disangsikan juga pasti sepasang tangan yang gesit.

Tangan si jenggot biru diletakkan di atas meja, Pui Giok-hiang sedang memandangnya,

bahkan Koh-siong, Koh-tiok, dan Han-bwe bertiga kakek itu juga sedang memandangnya

seakan-akan kagum pada tangan yang putih mulus itu.

Meski yang dipandang mereka adalah sepasang tangan yang sama, tapi yang terpikir dalam

benak mereka justru sama sekali berbeda.

Mau tak mau Pui Giok-hiang harus mengakui juga keindahan tangan itu, tangan yang putih

bersih. Tapi siapakah yang tahu bahwa kedua tangan yang putih bersih ini sudah berapa

banyak berbuat hal-hal yang kotor? Sudah berapa banyak membunuh orang? Sudah berapa

banyak melepaskan baju anak perempuan?

Teringat kepada hal yang terakhir itu, muka Giok-hiang menjadi rada merah, terkenang

olehnya waktu pertama kalinya kedua tangan itu membuka bajunya, dan perasaan pada waktu

kedua tangan meraba kian kemari di atas tubuhnya, sampai sekarang pun ia tidak dapat

menjelaskan bagaimana rasanya.

Swe-han-sam-yu juga sedang bertanya pada dirinya sendiri, “Selain meraba tubuh orang

perempuan dan meraba kartu, apa pula yang dapat dilakukan kedua tangan ini?”

Tangan ini tidak mirip tangan yang sudah pernah giat berlatih kungfu. Namun tangan Liok

Siau-hong bukankah juga putih halus seperti ini, tapi kungfunya sukar dijajaki.

Si jenggot biru sendiri entah sedang memikirkan urusan apa? Agaknya tidak ada orang bisa

menyelami perasaannya bilamana dia sedang termenung.

Cukup lama Pui Giok-hui masuk ke situ dan belum bicara, akhirnya ia berdehem perlahan dan

berucap, “Sudah datang orangnya!”

“Dimana? Mengapa tidak ikut masuk kemari?” kata Giok-hiang.

Giok-hui tersenyum, “Sebab kebetulan dia melihat permainan Pai-kiu, kebetulan pula melihat

seorang lawan yang bersaku tebal.”

Orang yang gila judi, jika sekaligus menemukan sasaran empuk begitu, biarpun tengah malam

buta istrinya lagi melahirkan anak pertama juga akan ditinggalkannya untuk berjudi.

“Hm, kiranya dia bukan cuma gila arak dan perempuan, juga setan judi,” jengek Han-bwe

Lojin.

“Orang yang suka minum dan main perempuan, mungkin jarang sekali yang tidak gemar

berjudi,” ujar Giok-hui.

Giok-hiang melototinya sekejap dan mengomel, “Tentu saja kau paham watak orang semacam

ini, sebab kau sendiri juga satu di antaranya.”

60

“Gagak di dunia ini sama hitamnya, kaum lelaki memang tidak ada seorang pun manusia

baik-baik,” ucap Giok-hui dengan menghela napas.

Kata-kata ini sebenarnya adalah olok-olok orang perempuan terhadap lelaki, tapi ia sendiri

sudah mendahuluinya memaki.

Giok-hiang tertawa, jelas dia seorang adik yang baik, bukan saja sangat baik pada kakaknya,

bahkan juga sangat mesra.

Tiba-tiba si jenggot biru bertanya, “Lawan judi yang diincarnya itu orang macam apa?”

“Seorang saudagar jinsom yang baru pulang dari utara, she Tio bernama Pin,” tutur Giok-hui.

“Bukankah orang ini bermuka penuh berewok?” tanya si jenggot biru pula.

“Betul,” jawab Giok-hut”.

“Jika berewoknya tidak keliru, maka kaulah yang keliru,” ucap si jenggot biru dengan

hambar.

“Keliru? Keliru apa?” tanya Giok-hui bingung.

“Segala apa pun selalu kau keliru.” omel si jenggot biru. “Orang itu bukan saudagar jinsom,

juga tidak bernama Thio Pin.”

“Oo?!” Giok-hui melengak.

“Dia seorang pengawal barang, she Tio bernama Kun-bu. Tucar si jenggot.

Giok-hui berpikir sejenak. “Apakah Tio Kun-bu yang berjuluk

Hek-hian-tan itu?”

“Siapa lagi? Tio Kun-bu kan cuma ada satu?”

“Sebelum ini apakah dia pernah berkunjung kemari?” tanya Giok-hui.

“Pengawal barang yang berlalu di sini, sembilan di antara sepuluh orang pasti pernah kemari.”

“Jika sebelum ini dia pernah berkunjung ke sini secara terang-terangan, mengapa sekali ini dia

pakai menyamar segala?”

“Kenapa tidak kau tanya dia langsung?” ujar si jenggot biru.

Pui Giok-hui tidak bicara lagi, sorot matanya memancarkan semacam perasaan yang aneh.

Dalam pada itu tangan si jenggot biru telah ditarik ke bawah meja, sebaliknya tangan Kohsiong

Siansing lantas diangkat ke atas, sebab dilihatnya Liok Siau-hong telah muncul,

“Serahkan sini!” ucap Koh-siong Siansing sambil menjulurkan tangan.

Siau-hong tertawa, katanya. “Jika kau minta uang, jelas kau salah waktu dan alamat.

Kebetulan uangku telah ludes di meja judi tadi.”

Koh-siong juga tidak marah, ucapnya dengan tak acuh, “Agaknya tujuanmu hendak menang

dan mengeruk duit orang lain.”

Siau-hong menghela napas gegetun, “Justru lantaran kuingin menang makanya juga dapat

kalah hingga ludes. Orang yang dapat kalah habis-habisan biasanya juga orang yang ingin

menang banyak.”

“Memangnya Lo-sat-pay juga telah kau kalahkan di atas meja judi?” jengek Koh-siong.

“Jika Lo-sat-pay berada padaku, bukan mustahil bisa ikut ludes juga,” jawab Siau-hong.

“Memangnya Lo-sat-pay tidak berada padamu?”

“Semula memang ada!”

“Dan sekarang?”

“Sekarang sudah hilang!”

Koh-siong menatapnya tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, namun lensa matanya tampak

mengecil.

Sebaliknya Siau-hong lantas tertawa. katanya, “Meski Losat-pay hilang, untung aku tidak

sampai mati.”

“Mengapa kau tidak mati saja?” jengek Koh-siong Siansing. “Sebab aku masih bersedia

menemukan kembali Lo-sat-pay bagimu.”

Tergerak pula hati Koh-siong Siansing, tanyanya, “Dapat kau temukan kembali?”

61

Siau-hong mengangguk, “Jika engkau menghendakinya, setiap saat akan kucari bagimu,

cuma….”

“Cuma apa?” tanya Koh-siong.

“Ingin kunasehati dirimu lebih baik jangan kau cari barang itu, sebab bila sudah kutemukan

bagimu, pasti engkau akan tambah marah.”

“Sebab apa?”

“Sebab Lo-sat-pay itu juga palsu!”

Tangan si jenggot biru sudah ditaruh lagi di atas meja, tangan Koh-siong juga terangkat.

Mungkin mereka ingin mencekik mampus Liok Siau-hong dengan tangan mereka itu.

Siau-hong menghela napas, katanya, “Seluruhnya sudah kutemukan dua potong Lo-sat-pay,

tapi sayang, kedua-duanya palsu.”

Semua orang mendengarkan dengan cermat ingin tahu penjelasannya lebih lanjut.

“Pertama kali kutemukan Lo-sat-pay dari dalam sungai es, untuk itu bolehlah kita

menyebutnya Peng-hopay (batu dari sungai es). Kedua kalinya kurebut dari tangan orang

dengan cambuk, maka boleh kita menyebutnya Sin-pian-pay (batu dari cambuk sakti), sebab

orang sama memuji permainan cambukku itu sangat hebat.”

“Semula Li He mencuri Sin-pian-pay, lalu ditukar oleh Tan Cing-cing dengan Peng-ho-pay,

kemudian jatuh ke tanganmu,” kata

Koh-siong.

“Jika demikian, tidak mungkin palsu.”

“Aku pun percaya pasti tidak palsu, tapi kenyataannya justru barang palsu,” ujar Siau-hong

dengan gegetun.

“Darimana kau tahu Lo-sat-pay itu tulen atau palsu?” jengek Koh-siong.

“Sebenarnya tidak dapat kubedakan, tapi toh dapat kuketahui juga,” kata Siau-hong.

“Bagaimana caranya kau membedakan barang palsu dan tulen?” tanya Koh-siong.

“Sebab kebetulan ada seorang kawanku bernama Cu Ting, Sin-pian-pay itu kebetulan adalah

barang tiruan buatannya.”

“Cu Ting yang kau maksudkan itu apakah orang yang berjuluk Juragan Besar?” tanya Kohsiong.

“Betul. Kau pun kenal dia?”

“Cuma pernah mendengar namanya saja.”

“Meski orang ini teramat pemalas, tapi benar-benar seorang jenius yang sukar dicari, barang

apa pun yang aneh dan sukar pasti dapat dibuatnya. Barang tiruan buatannya itu tiada ubahnya

seperti barang yang asli. Terutama barang tiruan lukisan dan barang ukiran, boleh dikatakan

ahli nomor satu di dunia.”

Membicarakan Cu Ting, tanpa terasa wajahnya menampilkan senyuman.

Cu Ting memang kenalan lama dan juga sahabat baiknya, dalam kasus ‘Tan hong Kongcu

atau bandit ahli bordir’ dahulu, jika tidak ada bantuan Cu Ting, mungkin sampai saat ini dia

masih terkurung di dalam perut bukit di belakang markas Jing-ih-lau sana.

Kembali Siau-hong menghela napas, ucapnya, “Jika bukan gara-garanya, tentu aku takkan

mengalami kesulitan sebanyak ini.”

“Dia juga sahabatmu?” tanya Koh-siong.

“Ehmm.” Siau-hong mengangguk

“Siapa yang minta membuat Sin-pian-pay itu? Pernah kau tanya padanya?”

“Belum,” jawab Siau-hong.

“Mengapa tidak kau tanyakan padanya?”

“Sedikitnya sudah ada dua tahun aku tidak berbicara dengan dia.”

“Katanya dia sahabatmu, tapi kalian tidak berbicara?”

Siau-hong menyengir, “Sebab dia seorang telur busuk agaknya aku pun tidak banyak

berbeda.”

62

“Dan kalau ada orang mau percaya kepada ocehanmu tentu orang itu pun telur busuk.”

“Masa engkau tidak percaya?” tanya Siau-hong.

“Pokoknya, apakah Sin-pian-pay itu tulen atau palsu harus kuperiksa sendiri,” jawab Kohsiong.

“Kan, sudah kukatakan juga, bila engkau menghendakinya setiap saat dapat kutemukannya

kembali bagimu.”

“Kemana akan kau cari?” tanya Koh-siong.

“Di sini!” jawab Siau-hong,

“Di sini?” Koh-siong menegas. “Di dalam rumah ini?”

“Saat ini mungkin tidak ada, tapi bila kupadamkan lampu, lalu aku membaca jampi, waktu

lampu menyala lagi, Giok-pay itu pasti akan berada di atas meja.”

Si jenggot biru tertawa, Pui Giok-hui juga tertawa. Tertawa geli. Hal yang mustahil ini mana

ada orang mau percaya.

Pui Giok-hiang juga tertawa, katanya, “Memangnya kau kira ada orang mau percaya kepada

bualanmu?”

“Ada, paling tidak ada satu orang yang percaya,” kata Siau-hong.

“Siapa?” tanya Pui Giok-hiang.

“Aku!” seru Koh-siong mendadak sambil berdiri, lalu lampu pertama ditiupnya padam.

Di dalam rumah ada tiga buah lampu, segera ketiga lampu padam, keadaan menjadi gelap

gulita, jari tangan sendiri saja tidak kelihatan.

Dalam kegelapan terdengar mulut Siau-hong berkomat-kamit seperti membaca mantera, kalau

didengarkan dengan cermat, agaknya berulang-ulang ia menyebut nama beberapa tempat dan

nama orang.

Tapi apa pun yang disebutnya, suaranya memang kedengaran rada misterius.

Jantung semua orang sama berdetak, jantung satu-dua orang di antaranya berdetak semakin

keras, agaknya benar-benar menjadi tegang. Cuma sayang, keadaan gelap gulita sehingga

siapa pun tidak dapat melihat perubahan air muka masing-masing dan sukar menebak jantung

siapa yang berdebar paling keras.

Semakin keras detak jantung orang itu, semakin cepat pula Siau-hong membaca mantera.

berulang-ulang entah berapa kali ia membaca manteranya, sekonyong-konyong ia

membentak, “Menyala!”

Cahaya api berkelebat, sebuah lampu telah dinyalakan, dan di bawah cahaya lampu ternyata

benar-benar muncul sepotong Giok-pay.

Di bawah cahaya lampu batu kemala itu kelihatan halus dan cemerlang, sebaliknya wajah

orang menjadi pucat menghijau.

Air muka setiap orang hampir tidak banyak berbeda, sorot mata orang penuh rasa kejut dan

heran.

Siau-hong tersenyum puas dan memandang mereka, katanya tiba-tiba. “Sekarang kalian mau

percaya kepada bualanku atau tidak?”

Pui Giok-hiang menghela napas, katanya, “Sebenarnya harus kupercaya kepadamu, kau

sendiri memang seorang setan hidup.”

“Tapi Giok-pay ini bukan barang setan, tidak mungkin terbang sendiri dari luar,” jengek Kohsiong

Siansing,

“Dengan sendirinya tidak,” tukas Siau-hong.

“Habis darimana datangnya?” tanya Koh-siong.

Siau-hong tertawa, “Kukira hal ini bukan urusanmu, bila kau tanya terlalu banyak, bisa jadi

Giok-pay ini akan terbang pergi lagi.”

Dengan sendirinya Giok-pay ini takkan terbang pergi sendiri, seperti halnya dia tak bisa

terbang sendiri, tapi Koh-siong Siansing tidak bertanya lebih lanjut.

63

Giok-pay inilah yang dikehendakinya, jika sekarang sudah didapatkan, untuk apa bertanya

terlalu banyak.

Ia menatap Giok-pay di atas meja itu, tapi sejauh itu tidak mengangsurkan tangannya untuk

memegangnya, malahan menyentuhnya saja tidak.

Batu kemala pusaka ini berasal dari Giok Thian-po dan digadaikan kepada si jenggot biru,

lalu dibawa lari oleh Li He, kemudian ditukar oleh Tan Cing-cing, lalu melalui Jo-jo, Liok

Siau-hong dan Ting-hiang-ih, akhirnya entah jatuh ke tangan siapa hingga muncul di sini?

Di bawah cahaya lampu meski Giok-pay itu kelihatan mulus padahal sudah penuh berlepotan

darah, darah belasan orang dan juga jiwa belasan orang. Apakah berharga pengorbanan

mereka?

Tiba-tiba Koh-siong menghela napas panjang, ucapnya, “Kematian orang-orang itu sungguh

terlalu penasaran.”

“Orang-orang itu?” si jenggot biru menegas.

“Ya, orang-orang yang mati karena benda ini.”

“Sesungguhnya Giok-pay ini tulen atau palsu?”

“Palsu,” jawab Koh-siong. Sejenak kemudian ia menyambung pula, “Ukiran pada barang

palsu ini memang serupa benar dengan barang asli, cuma kadar batu kemala ini sangat banyak

bedanya.”

Si jenggot biru termangu hingga lama, lalu ia berpaling dan menatap Liok Siau-hong,

katanya, “Inikah Giok-pay yang kau rampas dari Cing-cing?”

Siau-hong mengangguk.

Si jenggot biru menghela napas juga. ucapnya dengan menyesal, “Cing-cing masih sangat

muda, juga sangat pintar, hari depannya mestinya sangat cerah, tapi dia telah menjadi korban

oleh karena barang tiruan yang tidak berharga ini, sungguh kasihan.”

“Dia berbuat demikian, sebab sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya bahwa Giok-pay ini

adalah barang palsu.” kata Siau-hong.

Si jenggot biru mengangguk setuju.

“Dia memang seorang anak perempuan yang cermat, bila ada setitik tanda yang

mencurigakan, tidak mungkin dia menyerempet bahaya.”

Kembali si jenggot biru menyatakan setuju, “Ya, cara bekerjanya biasanya sangat cermat.”

“Tapi sekali ini dia sama sekali tidak curiga, sebab dia tahu Giok-pay ini memang dicuri Li

He dari tempatmu ini. Tatkala mana sangat mungkin dia ikut menyaksikannya di sini.”

“Tapi Cing-cing justru lupa bahwa Li He juga seorang perempuan yang sangat cermat dan

cerdik,” ujar si jenggot biru dengan gegetun.

“Memangnya kau anggap Lo-sat-pay tulen telah dibawa lari Li He?” tanya Siau-hong.

“Apakah bukan begitu?” jawab si jenggot biru.

“Kau tahu sejak kecil Ting-hiang-ih dan Tan Cing-cing sudah berkumpul dengan Li He,

kukira pandangan mereka pasti tidak keliru.”

“Bagaimana pandangan mereka terhadap Li He?” tanya si jenggot biru.

“Kecuali emas dan lelaki, urusan lain sudah tidak ada yang menarik baginya, dengan

sendirinya ia juga takkan mau menyerempet bahaya dan mencari penyakit.”

“Apakah maksudmu, Lo-sat-pay yang dicuri Li He sejak mula itu adalah barang palsu?” tanya

si jenggot.

“Ya, begitulah,” jawab Siau-hong.

“Lantas di mana yang tulen?” tanya si jenggot biru pula,

Siau-hong tertawa, mendadak ia bertanya, “Jika di piring ada sepotong roti dan sepotong ubi,

ubi sudah kumakan dan roti masih berada di atas piring. Lantas bagaimana jadinya?

Bukankah sangat sederhana jawabannya?”

Si jenggot biru tertawa, “Ya. memang sangat sederhana!”

64

“Nah, kalau Lo-sat-pay yang dicuri Li He itu palsu, yang ditukar Cing-cing itu juga palsu, lalu

lari kemanakah Lo-sat-pay yang tulen?”

“Ya. aku sendiri tidak habis mengerti,” ucap si jenggot biru.

Kembali Siau-hong tertawa, katanya, “Padahal soal ini sama sederhananya serupa roti dan ubi

di atas piring tadi. Jika engkau tidak mendadak berubah menjadi dungu, mustahil tak bisa kau

pikirkan.”

“Oo?!” si jenggot bersuara tak acuh.

“Dan kalau Lo-sat-pay yang berada di tangan orang lain semuanya palsu, dengan sendirinya

yang tulen masih berada padamu,” ucap Siau-hong pula dengan hambar.

Maka tertawalah si jenggot biru.

Dia seorang sopan, seorang ramah, suara tertawanya juga halus.

Tapi pada waktu tertawa, dia tidak pernah memandang orang lain, selalu memandang kedua

tangannya sendiri

Bukankah kedua tangannya juga serupa Giok-pay yang berada di atas meja, kelihatan putih

bersih, padahal penuh berlepotan darah.

“Kau sengaja membuat kesempatan agar Li He membawa lari sebuah Giok-pay palsu…”

“Mengapa harus kulakukan hal ini?” sela si jenggot biru dengan tersenyum.

“Justru di sinilah letak kunci rencanamu yang paling penting,” jawab Siau-hong. “Sesudah Li

He tertipu, maka rencana yang kau rancang akan terlaksana selangkah demi selangkah.”

Di atas meja ada arak. Si jenggot menuang secawan penuh, ia angkat cawan arak dengan

kedua tangan dan perlahan diminumnya.

Setiap gerak-geriknya selalu perlahan, lemah lembut, sikapnya juga adem ayemr serupa

seorang yang sedang mendengarkan dongeng yang menarik.

Maka Siau-hong menyambung lagi, “Engkau memang sudah merasa bosan dan benci kepada

Li He, sebab dia sudah tua, tapi kebutuhannya akan lelaki justru bertambah kuat. Kesempatan

ini kebetulan dapat kau gunakan bual menyingkirkan dia sejauh-jauhnya, bahkan selamanya

takkan kembali lagi padamu. Inilah langkah pertama rencanamu.”

Si jenggot biru menghirup araknya lagi sambil bergumam,

“Ehmm, arak sedap!”

“Kau pun tahu hubungan antara Li He dan Ting-hiang-ih, sambung Siau-hong, “sudah kau

perhitungkan Li He pasti akan mencari Ting-hiang-ih, ini pun salah satu langkah dalam

rencanamu sebab sudah lama kau ragukan kesetiaannya kepadamu, kebetulan kesempatan ini

dapat kau gunakan untuk mengujinya, sekaligus menemukan gendaknya.”

Kembali si jenggot biru tertawa, “Untuk apa kuuji dia? Toh dia bukan isteriku.”

“Dia bukan isterimu?” Siau-hong juga tertawa.

“Suaminya ialah Hui-thian-giok-hou dan bukan diriku,” kata si jenggot biru.

Siau-hong menatapnya tajam dan berucap sekata demi sekata, “Lantas siapakah Hui-thiangiok-

hou? Engkau atau bukan?”

Si jenggot bergelak tertawa, seperti orang yang tidak pernah mendengar cerita selucu ini, dia

tertawa geli hingga arak yang sudah diminumnya hampir tersembur keluar.

Tapi Siau-hong tidak lagi tertawa, ucapnya dengan perlahan dan keren, “Hui-thian-giok-hou

adalah seorang yang ambisius, dia memusuhi Ma-kau dari barat, namun sekali ini dia tidak

ikut serta dalam perebutan Lo-sat-pay ini, sebab dia sudah tahu bahwa Lo-sat-pay yang

diperebutkan orang ini adalah barang palsu.”

Si jenggot biru masih tertawa, tapi “krek”, mendadak cawan arak yang dipegangnya teremas

hancur.

Siau-hong berkata pula. “Ting-hiang-ih tidak tahu Hui-thian-giok-hou ialah si jenggot biru,

sebab si jenggot biru yang dilihatnya adalah seorang lelaki kekar penuh berewok, selamanya

dia tidak mencurigai hal ini, sebab dia juga serupa kebanyakan orang, menganggap si jenggot

biru dengan sendirinya berjenggot, kalau tidak masakah disebut si jenggot biru?”

65

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan dingin, “Yang tahu rahasiamu ini mungkin cuma

Pui Giok-hiang saja seorang, bahkan sangat mungkin sampai lama sekali baru diketahuinya

rahasiamu ini, sebab belum lama baru dia menemukan kau di sini.”

Air muka Pui Giok-hiang tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, perlahan ia berdiri, dari

almari sana dikeluarkannya sebuah cawan emas, diusapnya hingga bersih dengan sepotong

handuk putih, lalu menuangkan secawan arak bagi si jenggot biru.

Perlahan si jenggot memegang tangannya, sorot matanya mendadak berubah menjadi lembut

dan mesra.

“Kau gunakan jenggot biru sebagai kedok,” tutur Siau-hong lebih lanjut, “mestinya sangat

sulit diketahui orang. Setelah dia menemukan dirimu di sini, mestinya dapat kau membunuh

dia untuk menutup mulutnya, tapi engkau tidak tega turun tangan, sebab dia terlalu memikat,

kau takut dia cemburu dan membocorkan rahasiamu, terpaksa kau enyahkan keempat

perempuan yang lain.”

Sejak tadi Pui Giok-hiang hanya berdiri dan mendengarkan di samping dengan tenang. Jika

Han-bwe dan Koh-tiok juga tidak dapat menimbrung, tentu saja Pui Giok-hui lebih-lebih tidak

sempat ikut bicara.

Tetapi sekarang mendadak ia mengajukan suatu pertanyaan yang seharusnya tidak perlu

ditanyakan, “Jika engkau mengaku dia menggunakan jenggot biru sebagai kedok untuk

menutupi asal-usulnya sebagai suatu cara yang cerdik, lalu cara bagaimana pula dapat kau

ketahui penyamarannya?”

Seketika air muka si jenggot biru berubah hebat dengan pertanyaan Pui Giok-hui ini, sama

halnya ia pun mengaku bahwa dia juga tahu si jenggot biru dan Hui-thian-giok-hou adalah

satu orang yang sama.

Siau-hong lantas tertawa, jawabnya, “Betapa rapinya sesuatu rencana, sedikit banyak toh pasti

ada lubang kelemahannya. Seharusnya dia tidak perlu menyuruh kau dan Giok-hiang untuk

membereskan Ting-hiang-ih, jika Ting-hiang-ih bukan isterinya, tidak nanti dia menyuruhmu

turun tangan sekeji itu, malahan juga tidak perlu ikut campur urusan orang lain.”

Sorot mata Pui Giok-hui menampilkan perasaan pedih, perlahan ia menunduk dan tidak bicara

lagi.

Tiba-tiba si jenggot biru mendengus, “Darimana kau tahu aku yang menyuruhnya ke sana’?

Bagaimana kau tahu Hui-thian-giok-hou bukan dia?”

Jawaban Siau-hong sangat sederhana dan jelas, “Sebab aku adalah sahabat lamanya.”

Si jenggot biru menjadi bungkam.

Mendadak Siau-hong tertawa pula dan berkata, “Ada lagi seorang sahabatku juga kau kenal

dia seperti pernah menang beberapa ratus tahil perak darimu.”

“Kau maksudkan Tio Kun-bu?” tanya si jenggot biru.

Siiau-bong mengangguk, katanya, “Yang dilihatnya juga seorang berjenggot, juga lelaki yang

berewok, kukira yang dilihat orang lain juga serupa.”

“Tapi si jenggot biru yang kau lihat justru tidak berjenggot,” jengek si jenggot biru.

“Ya, sebab kau tahu ada sementara orang betapa pun matanya takkan kelilipan oleh sebiji

debu yang kecil, apalagi secomot jenggot palsu,” jawab Siau-hong dengan tersenyum.

“Dan engkau orang yang tidak dapat kelilipan itu?”

“Kau sendiri apakah bukan begitu?” sahut Siau-hong.

Kembali si jenggot biru mendengus.

“Bukan saja sudah lama kau tahu perbuatan seorang Ting-hiang-ih, bahkan juga kau ketahui

siapa gendaknya,” sambung Siau-hong pula. “Caramu bertindak ini hanya kau gunakan

kesempatan untuk membunuh mereka, juga sekaligus mengalihkan perhatian orang lain.”

Tiba-tiba Koh-siong Siansing menjengek, “Hm, orang lain yang kau maksudkan tentunya

diriku?”

“Yang kumaksudkan memang dirimu,” sahut Siau-hong. “Dan kau sendiri?” tanya Koh-siong.

66

“Aku kan hanya boneka yang diperalat olehnya saja,” ujar Siau-hong dengan menyengir,

“Serupa seorang pemburu yang biasanya melepaskan seekor kelinci sebagai pancingan.”

Bilamana seorang mengumpamakan dirinya sebagai kelinci, maka jelas karena hatinya sangat

kesal dan menyesal. Barang siapa kalau mengetahui dirinya telah diperalat oleh orang lain,

hatinya pasti tidak enak.

“Dan ketika kalian melihat dia telah berusaha sedapatnya untuk menemukan Lo-sat-pay, tentu

kalian lebih-lebih takkan curiga bahwa Lo-sat-pay masih berada padanya,” tutur Siau-hong

pula. Koh-siong mengangguk setuju.

“Dengan begitu, apakah dapat kutemukan Lo-sat-pay atau tidak, apakah Lo-sat-pay yang

kutemukan nanti tulen atau palsu, yang jelas kan tidak ada lagi sangkut-pautnya dengan dia,

sebab dia telah mengalihkan seluruh tanggung-jawab kepadaku.”

“Ya, jika terjadi apa-apa atas Lo-sat-pay yang kau pegang, yang kami cari tentu saja dirimu,”

tukas Koh-siong.

Siau-hong menghela napas, “Perjalanan ini sungguh sangat jauh serupa orang yang dibuang.

Di tengah jalan kita makan angin dan kedinginan, dia justru lagi menunggu dengan enaknya

di samping perapian. Bilamana sudah lewat tanggal 7 bulan satu nanti sekali pun rahasianya

akan terbongkar juga orang lain tak dapat berbuat apa-apa lagi.”

“Sebab waktu itu dia sudah menjabat ketua Ma-kau,” tukas Koh-siong.

“Ya, bukan saja menjadi Kaucu yang berpengaruh itu, tapi dia juga akan menjabat Pangcu

(kepala) Hek-hou-pang (sindikat harimau kumbang), cuma sayang….”

“Sayang sekarang dia belum berhasil,” jengek Koh-siong.

“Ya, sungguh sayang,” sambung Siau-hong.

“Dan sekarang dia tidak lebih cuma seekor bulus di dalam kaleng, seekor ikan di dalam

jaring,” ejek Koh-siong pula.

Tiba-tiba si jenggot biru alias Hui-thian-giok-hou juga menghela napas, ucapnya, “Ya,

sungguh sayang, sayang sekali!”

“Apa yang kau sayangkan?” tanya Siau-hong.

“Sayang kita sama-sama bermata buta.”

“Kita?” Siau-hong menegas.

“Ya, yang kumaksudkan ialah kau dan aku.”

“Aku? …” bingung juga Siau-hong.

“Hanya orang yang buta dapat salah berkawan.”

“Aku salah berkawan?” Siau-hong menegas.

“Ya, salah besar.”

“Dan kau sendiri?” tanya Siau-hong.

“Aku terlebih buta daripada kau.” tiba-tiba si jenggot biru menghela napas. “Sebab aku selain

salah mengambil isteri …”

Baru kata “isteri” diucapkan, secepat kilat ia mencengkeram pergelangan tangan Pui Giokhiang

sambil membentak dengan bengis, “Keluarkan!”

Wajah Giok-hiang yang cantik berubah menjadi pucat, serunya, “Darimana kutahu Lo-sat-pay

berada di mana? Cara bagaimana dapat kukeluarkan?”

“Yang kuinginkan bukan Lo-sat-pay tapi…..”

“Apa?” potong Pui Giok-hiang.

Si jenggot biru tidak menjawab, sama sekali tidak bersuara, bahkan pernapasannya juga

seperti sudah berhenti, serupa ada tangan yang tidak kelihatan mendadak mencekik lehernya.

Wajahnya yang tetap tidak ada perubahan apa-apa itu mendadak berkerut sehingga berubah

menjadi pucat hijau yang mengerikan.

Giok-hiang memandangnya dengan terkesiap, ucapnya, “Sesungguhnya, apa … apa yang kau

kehendaki?”

Tapi mulut si jenggot tetap terkancing rapat, keringat dingin tampak bercucuran seperti hujan.

67

Tiba-tiba sorot mata Giok-hiang memancarkan perasaan kasih sayang yang lembut, ucapnya

dengan lirih, “Aku kan isterimu, apa pun yang kau inginkan tentu akan kuberikan, untuk apa

kau marah-marah?”

Si jenggot biru juga lagi melotot padanya, mendadak ujung matanya pecah, darah pun

merembes keluar dari ujung mata, ujung mulut, lubang hidung dan juga lubang telinga. Darah

yang segar, tapi bukan darah segar yang merah.

Darahnya ternyata juga berubah menjadi hijau pucat. Dia tidak sanggup berduduk lagi, ia

mulai roboh ke belakang.

Giok-hiang meronta perlahan dari pegangannya, sedangkan Giok-hui memburu maju untuk

memayangnya.

“Ken … kenapa kau? ….”

Mereka tidak tanya lagis sebab mereka tahu orang mati pasti tidak mampu menjawab.

Sekejap yang lalu si jenggot biru masih mampu mencengkeram tangan Giok-hiang secepat

kilat, tapi sekarang mendadak berubah menjadi orang mati. Namun kedua matanya yang

melotot itu seakan-akan masih menatap Giok-hiang dengan penuh rasa benci, duka dan

murka.

Giok-hiang memandangnya sambil menyurut mundur selangkah demi selangkah, butiran air

matanya juga lantas bercucuran.

“Mengapa … mengapa ..” ratapnya dengan suara sedih, “Urusan kan masih dapat diselesaikan

secara baik-baik, mengapa engkau mesti mencari jalan pendek dengan membunuh diri?”

Di dalam rumah tidak ada suara lain, hanya terdengar suara ratapannya yang penuh duka.

Semua orang sama mclenggong. Si jenggot biru ternyata sudah mati, perubahan ini sungguh

jauh lebih mengejutkan daripada apa yang terjadi tadi.

Anehnya, Liok Siau-hong sama sekali tidak terkejut, bahkan merasa heran sedikit saja tidak

ada.

Yang kelihatan paling sedih ialah Koh-siong Siansing, dia malah bergumam, “Lo-sat-pay

yang tulen masih berada padanya, pasti disembunyikannya di tempat yang dirahasiakan, dan

cuma dia sendiri yang tahu tempat rahasia itu, tapi sekarang dia… dia mati…..”

“Dia mati atau tidak takkan menjadi soal,” ucap Siau-hong tiba-tiba.

“Tidak menjadi soal?” Koh-siong menegas. “Rahasianya bukan cuma diketahui oleh dia

sendiri saja,” ujar Siau-hong.

“Ada siapa lagi yang tahu?” tanya Koh-siong ccpat. “Aku,” jawab Siau-hong.

Serentak Koh-siong berdiri, lalu berduduk kembali perlahan, dia dapat menenangkan diri lagi,

ucapnya perlahan, “Kau tahu di-mana dia menyembunyikan Lo-sat-pay?”

“Dia memang orang licin dan licik, orang yang licin biasanya sok curiga, sebab itulah satusatunya

orang yang dipercayainya mungkin cuma dia sendiri.”

“Sebab itulah Lo-sat-pay pasti berada pada tubuhnya sendiri, begitu maksudmu?” tanya Kohsiong.

“Ya, pasti,” kata Siau-hong.

Serentak Koh-siong berdiri pula dan siap memburu maju.

Tapi Siau-hong lantas berkata lagi, “Jika sekarang hendak kau cari pada tubuhnya pasti takkan

kau temukan.”

“Tapi jelas kau bilang Lo-sat-pay pasti terdapat pada tubuhnya,” tukas Koh-siong.

“Tadi urusan tadi. sekarang urusan sekarang, dalam sekejap mata kan bisa terjadi banyak

perubahan?”

“Maksudmu, Lo-sat-pay yang tadi berada pada tubuhnya sekarang justru tidak ada lagi?”

“Ya. pasti sudah hilang.” sahut Siau-hong. “Habis dimana sekarang?” tanya Koh-siong.

Mendadak Siau-hong berpaling menghadapi Pui Giok-hiang, perlahan ia ulurkan tangan dan

berkata. “Serahkan sini!”

68

Giok-hiang menggigil bibir, ucapnya dengan gemas, “Sampai jiwa suamiku saja sudah

melayang gara-garamu, apa yang kau minta lagi sekarang?”

“Yang dimintanya padamu tadi memang betul bukan Lo-sat-pay, sebab saat itu Lo-sat-pay

masih berada padanya,” ujar Siau-hong.

“Kau tahu apa yang dimintanya padaku?”

“Kutahu, obat penawar.”

“Obat penawar?” Giok-hiang berlagak bingung.

Siau-hong tertawa, diambilnya cawan emas yang baru saja digunakan si jenggot biru, lalu

berkata, “Biasanya dia seorang yang cermat dan hati-hati, tidaklah mudah jika orang hendak

meracuni dia, akan tetapi sekali ini ….”

“Sekali ini masakah dia mati diracun orang?” tukas Giok-hiang.

Siau-hong mengangguk. “Sekali ini dia dapat keracunan, sebab dia yakin arak dalam cawan

tidak beracun, cawannya juga tidak beracun.”

“Habis, mengapa dia bisa mati keracunan?” Giok-hiang sengaja bertanya.

“Sebab dia lupa sesuatu,” kata Siau-hong. “Sesuatu apa?”

“Dia lupa cawan ini dikeluarkan olehmu, bahkan telah kau gosok dengan saputanganmu.”

Siau-hong memandang saputangan yang terselip di baju Pui Giok-hiang, perlahan ia berucap

pula, “Dia juga lupa, meski di dalam arak tidak beracun dan cawan juga tak beracun, namun

pada saputanganmu justru beracun,”

Giok-hiang terdiam agak lama, katanya kemudian, “Aku cuma ingin tanya satu hal padamu.”

“Katakan.” sahut Siau-hong.

‘Coba jawab, orang semacam Hui-thian-giok-hou ini pantas dibunuh atau tidak?”

“Pantas!”

“Jika begitu, umpama kubunuh dia, kan tidak kau salahkan diriku.

“Aku tidak menyalahkan dirimu, aku cuma minta kau serahkan barang itu?”

“Serahkan barang apa?” tanya Giok-hiang. “Lo-sat-pay!”

“Lo-sat-pay? Darimana aku dapatkan Lo-sat-pay?” ujar Pui Giok-hiang.

“Tadinya memang tidak, tapi sekarang sudah kau dapatkan.” “Yang kau minta adalah…..”

“Barang yang kau gerayangi dari tubuh si jenggot biru tadi.” Kembali Giok-hiang terdiam

hingga lama, kemudian menghela napas perlahan dan berkata, “Tampaknya Liok Siau-hong

memang tidak malu sebagai Liok Siau-hong, agaknya segala urusan tak dapat mengelabui

dirimu.”

Siau-hong tersenyum, “Meski terkadang mataku juga bisa lamur, syukur kebanyakan waktu

aku dapat melihat dengan awas.”

Pui Giok-hiang menggigit bibir, dipandangnya Liok Siau-hong, lalu memandang juga kepada

Swe-han-sam-yu, akhirnya ia menggentak kaki dan berkata, “Baik, serahkan juga boleh, toh

benda setan ini hanya membawa maut bagi orang saja,”

Dia benar-benar mengeluarkan sepotong Giok-pay yang mulus, jelas kualitasnya jauh di atas

kedua potong Giok-pay tiruan itu.

Baru saja Giok-pay ini ditaruh di atas meja, secepat kilat lengan baju Koh-siong lantas

menyambar, kontan Giok-pay itu masuk kc dalam lengan bajunya,

Siau-hong tersenyum, katanya sambil memandang Koh-siong Siansing, “Barang sudah

kembali kandang, syukur tidak mengecewakan kehendakmu.”

“Segala dendam dan sakit hati selanjutnya juga hapus,” kata Koh-siong.

“Terima kasih,” ucap Siau-hong.

Wajah Pui Giok-hiang tampak masam, jcngeknya, “Sekarang Hui-thian-giok-hou sudah mati,

Lo-sat-pay juga sudah dikembalikan kepada kalian mengapa kalian tidak lekas pergi?”

“Kau usir kami?” tanya Siau-hong.

“Memangnya apa yang kau inginkan lagi? Menghendaki diriku?” kata Giok-hiang dengan

menggreget.

69

Siau-hong tertawa, “Sudah tentu dirimu kuinginkan, cuma masih ada sesuatu urusan kecil.”

“Urusan apa?” tanya Giok-hiang pula. “Apakah benar engkau seorang manusia?” Giok-hiang

tertawa, Siau-hong juga tertawa. Sembari tertawa ia melangkah keluar. Mendadak ia

berpaling lagi dan menepuk bahu Pui Giok-hui dan berkata, “Cing cing adalah anak

perempuan yang pintar, jika kau suka padanya, harus kau perlakukan dia dengan baik.”

“Cing-cing? Cing-cing yang mana?” Giok-hui menegas. “Dengan sendirinya Tan Cing-cing

yang kita kenal itu,” kata Siau-hong.

“Jika begitu tentunya kau tahu bahwa dia sudah mati di dalam rumah yang terbakar itu.”

“Dia tidak mati terbakar.” “Tidak mati?”

“Di dalam puing memang ada kerangka tulang orang perempuan, tapi bukan tulang jenazah

Tan Cing-cing.” “Oo?” Giok-hui melcngak.

“Cing-cing terkena tiga buah paku Jo-jo, tapi pada tulang jenazah orang perempuan itu tidak

kutemukan sebiji paku apa pun. Memangnya sebelum kau bakar mati dia dapat mencabut

lebih dulu senjata rahasia yang mengenainya?”

Giok-hui tertawa, “Aku mengaku tidak punya kepandaian sebesar itu.”

“Makanya jenazah di dalam puing itu pasti bukan Tan Cing-cing.” kata Siau-hong.

Tertawa Giok-hui tampak rada kikuk, ucapnya, “Jika yang mati itu bukan Tan Cing-cing,

lantas kemana perginya Tan Cing-cing?

“Bila roti masih berada di atas piring, yang sudah kau makan tentulah ubi.

“Maksudmu bila yang mati di tengah kebakaean itu bukan Tan Cing-cing, tentu dia telah

dibawa lari orang?”

“Kan sudah kukatakan, dalih ini sebenarnya sangat sederhana.”

“Kau tahu dibawa lari siapa?” tanya Giok-hui. “Kau!” jawab Siau-hong tanpa pikir. Seketika

Giok-hui bungkam.

“Semula aku pun tidak mencurigai dirimu, tapi tidak seharusnya kau bunuh anak dungu itu.”

Giok-hui menunduk dan memandangi tangan sendiri dengan tetap bungkam.

“Jika kau tahu anak itu seorang linglung, tentu dia takkan mengenalimu lagi, tapi dia tetap kau

bunuh untuk menutup mulutnya, sebab kau kuatir dia akan memberitahukan padaku bahwa

bibi yang hendak memberi permen padanya itu tidak mati. Biarpun dungu, dia tentu dapat

membedakan orang mati atau hidup.”

“Mulai saat itulah baru kau curigai diriku?” tanya Giok-hui.

“Ya, aku lantas mencari-cari di tengah puing dan menemukan tulang jenazah itu bukan Tan

Cing-cing.”

“Tapi engkau tetap belum dapat membuktikan bahwa aku yang membawa pergi Cing-cing.”

“Makanya kuminta bantuan Tio Kun-bu untuk menyelidiki sesuatu bagiku.”

“Urusan apa?” tanya Giok-hui.

“Waktu itu Cing-cing terluka parah, jika kau ingin dia hidup, tentu akan kau carikan tabib, di

tempat terpencil itu tabib yang mampu menyelamatkan luka separah itu tidaklah terlalu

banyak.”

“Ya. di daerah sana mungkin cuma ada seorang tabib saja,” tukas Giok-hui.

“Betul, memang cuma ada satu, di Lau-ho-kau, toko obatnya pakai merek Tong-tik-tong,

tabib itu she Pang, seorang buta, tutur Siau-hong. “Yang kebetulan, justru lantaran dia tabib

buta, tentu saja dia tidak dapat melihat dan dengan sendirinya juga tak dapat mengenali

dirimu.”

“Mungkin karena kubawa dia mencari tabib itu dapatlah dia kusembuhkan,” ucap Giok-hui

dengan tak acuh.

“Cuma sayang, paku beracun yang mengenai Cing-cing itu semacam senjata rahasia yang

khas yang jarang ada bandingannya.”

“Makanya begitu Tio Kun-bu bertanya kepada tabib itu lantas diperoleh keterangan yang

diperlukan,” sambung Giok-hui.

70

“Ya. dari situ terbukti juga bahwa Ting-hiang-ih juga terbunuh olehmu dan gendaknya juga

dirimu. Sebab Giok-pay yang kuperlihatkan kepadanya itu sudah jatuh ke tanganmu, maka

tadi waktu kubaca mantera dengan menyebut toko obat dan nama tabib si buta, mau tak mau

harus kau keluarkan Giok-pay itu.”

Siau-hong tersenyum, lalu menyambung, “Mantera yang kubaca itu mungkin tidak berguna

sama sekali terhadap orang lain, tapi justru merupakan ancaman bagimu.”

“Menolong jiwa orang bukanlah perbuatan yang memalukan, kenapa aku harus merasa

terancam olehmu?” jawab Giok-hui.

“Sebab kau takut ada seorang akan mengetahui kejadian ini,” kata Siau-hong-

“Sia…. siapa yang kutakuti?” tanya Giok-hui.

Siau-hong tersenyum dan berpaling, dipandangnya Pui Giok-hiang.

Muka Giok-hiang tampak masam.

Kembali Siau-hong menepuk bahu Pui Giok-hui. katanya dengan tersenyum. “Kan sudah

kukatakan, Cing-cing memang seorang anak perempuan yang menyenangkan, bukan saja

cantik dan pintar, bahkan lemah lembut dan mengasyikkan, jika sudah kau selamatkan dia

dengan menyerempet bahaya, seharusnya kau perlakukan dia sebaik-baiknya, betul tidak?”

“Betul, betul sekali,” ujar Giok-hui.

Ia tersenyum, Siau-hong juga tersenyum, tapi senyum kedua orang sama sekali berbeda.

Maka sambil tersenyum Siau-hong lantas melangkah pergi.

“Tunggu dulu!” mendadak Giok-hiang berteriak. Kembali Siau-hong berhenti. “Kau pun

melupakan sesuatu,” kata Giok-hiang. “Oo?” Siau-hong tercengang juga.

“Kau lupa memberi sesuatu padanya.” kata pula Giok-hiang “nya” yang dimaksudkan ialah

Pui Giok-hui.

Dia memandangi Giok-hui, sebelum ini pandangannya selalu disertai senyuman manis dan

mesra, tapi sekarang senyuman hambar, tiada sesuatu perasaan.

Dalam pandangannya sekarang hanya ada kepedihan, kebencian, dendam dan gemas.

“Kau lupa memberikan bogem mentah padanya!” akhirnya ia menyambung dengan sekata

demi sekata.

Pui Giok-hui masih berdiri tidak bergerak di tempatnya tanpa memperlihatkan sesuatu

perasaan, tapi entah mengapa wajahnya yang cakap dan menggiurkan itu sekarang telah

berubah menjadi kelam dan seram.

Sampai Pui Giok-hiang juga seakan-akan tidak berani lagi memandangnya. Lalu ia menoleh

kepada Liok Siau-hong dan berkata. “Kan pernah kau katakan, hendak kau beri bogem

mentah padanya.”

“Ya, pernah kubilang begitu,” sahut Siau-hong.

“Dan akan kau beri?”

“Pasti!”

Mendadak Giok-hiang bergelak tertawa, tertawa latah, sampai air mata pun bercucuran.

Dia mengusap air matanya dengan saputangan dan berkala pula, “Lebih baik mataku buta

daripada kulihat, perempuan jalang itu berada bersamamu.”

Ia menjerit dengan suara parau, darah pun merembes keluar dari ujung mulutnya. Lalu

diusapnya pula dengan saputangan.

“Sebenarnya harus kuketahui sejak dulu bahwa aku cuma diperalat olehmu, tapi tidak pernah

kusangka engkau bisa menyukai sundel itu.”

Dia mulai terbatuk-batuk dan menyambung pula. Selama ini kau bohongi diriku, tentunya kau

kuatir kubocorkan rahasiamu. Tapi bila semua urusan sudah beres, tentu aku pun akan binasa,

sebab rahasia yang kuketahui sudah terlalu luas, ya. terlalu banyak ….”

71

Ia ingin bicara lagi, tapi kerongkongannya terasa tercekik oleh tangan yang tidak kelihatan.

Lalu mukanya yang cantik itu mulai berkerut-kerut, darah juga mengalir keluar dari lubang

hidung dan telinga.

Darahnya tidak merah segar, tapi hijau pucat, waktu dia roboh, kebetulan jatuh di atas tubuh

si jenggot biru.

Pui Giok-hui menyaksikan dia roboh tanpa bergerak, air matanya juga tidak memperlihatkan

sesuatu perasaan.

Tapi Siau-hong lantas menghela napas dan bergumam, “Ada hal-hal yang sebenarnya tidak

ingin kukatakan, tapi sayang….”

“Sayang sudah lama kau curigai diriku,” potong Giok-hui mendadak.

Siau-hong mengangguk, “Ya, sebab kutahu engkaulah Hui-thian-giok-hou yang sebenarnya,

si jenggot biru tidak lain hanya boneka yang kau peralat saja.”

“Jadi sudah lama kau tahu dia bukan adik iparku?” tanya Giok-hui.

“Baik Jo-jo, Cing-cing, maupun Ting-hiang, mereka dibesarkan bersama dia, tapi belum

pernah mereka menyinggung bahwa dia mempunyai seorang kakak.”

“Ehmm, engkau sangat cermat,” puji Giok-hui. “Setiap kali Hui-thian-giok-hou muncul,

engkau selalu berada di sekitarnya, sebaliknya si jenggot biru jelas tidak pernah meninggalkan

tempat ini.”

Giok-hui tidak menyangkal.

“Kau tahu Lo-sat-pay berada di tangan si jenggot biru, maka kausuruh Tan Cing-cing

menghasut Li He agar membawa lari Lo-sat-pay, lalu kau gunakan Pui Giok-hiang sebagai

umpan untuk memancing diriku, kau peralat pula Li He untuk memancing Kah Lok-san,

akhirnya kau gunakan si jenggot biru sebagai tumbal dan mati bagimu. Dengan sendirinya

segenap harta benda milik mereka juga akan berubah menjadi milikmu.”

“Tentunya kau tahu biayaku cukup besar, aku perlu memiara perempuan yang tidak sedikit

jumlahnya. Perempuan kan makhluk pemakai uang, lebih-lebih perempuan yang pintar dan

cantik.”

“Ya, beberapa perempuanmu ini memang sangat pintar,” kata Siau-hong. Tapi dalam

pandanganmu mereka tidak lebih hanya……” “Hanya sekawanan anjing betina belaka,” tukas

Giok-hui. “Apa pun juga, bahwa sekaligus engkau dapat memperalat perempuan sebanyak ini,

kepandaianmu memang sangat hebat, cuma sayang……”

“Cuma sayang akhirnya aku telah dibikin celaka oleh seorang perempuan,” kembali Giok-hui

memotong ucapannya.

‘Tapi yang benar-benar membikin celaka dirimu bukanlah Pui Giok-hiang.”

“Habis siapa kalau bukan dia?”

“Tan Cing-cing,” ucap Siau-hong.

Pui Giok-hui melengak, “Dia …”

“Hanya dia saja yang dapat membikin celaka dirimu, sebab hanya kepadanya kau benar-benar

mencintainya, jika bukan lantaran dia, mana bisa kau bocorkan rahasia sebanyak itu?”

Giok-hui menjadi bungkam, meski tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, tapi jelas

kelihatan dia sedang menahan gejolak perasaan sendiri.

“Justru lantaran ada setitik perasaanmu yang murni, maka aku pun akan memberi kesempatan

padamu,” kata Siau-hong pula. “Kesempatan apa?” tanya Giok-hui.

“Terhadap orang semacam dirimu mestinya tidak perlu bicara tentang moral dan etika orang

Kangouw segala,” kata Siau-hong. “Di sini kami berempat, jika kami turun tangan bersama,

dalam sekejap saja kau pasti akan mampus.”

Giok-hui tidak menyangkal.

“Tapi sekarang aku hendak memberi kesempatan padamu untuk suatu pertarungan yang adil.”

“Antara aku dan engkau?” tanya Giok-hui.

“Betul, kau dan aku, satu lawan satu.”

72

“Jika aku menang, lantas bagaimana7”

“Bila kau kalahkan diriku, aku mati dan kau pergi.”

Segera Pui Giok-hui beralih pandang kepada Swe-han-sam-yu.

Dengan dingin Koh-siong Siansing lantas berkata, “Jika kau menang, dia mati dan kau pergi.”

“Cukup disepakati dengan perjanjian ini?” Giok-hui menegas.

“Ya, pasti takkan menyesal,” sahut Siau-hong.

Mendadak Pui Giok-hui tertawa, katanya, “Kutahu apa sebabnya engkau berbuat demikian,”

“Oo, kau tahu?” heran juga Siau-hong.

“Sebab kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri,” kata Giok-hui.

Siau-hong tidak menyangkal.

Pui Giok-hui tersenyum, katanya pula, “Tapi kau keliru.”

“Aku memang sering berbual keliru, untung sekali tempo aku pun dapat berbuat tepat.”

‘Tapi sekali ini kembali kau salah lagi, bahkan kesalahan yang besar.”

“Oo?!” Siau-hong melengak.

“Sebab tidak dapat kau kalahkan diriku, asal kuturun tangan, tidak perlu disangsikan lagi kau

pasti mati.” Siau-hong jadi tertawa juga.

“Kungfumu sudah dapat kuselami dengan jelas,” kata Giok-hui pula. “Ilmu jarimu yang sakti

itu sama sekali tiada gunanya untuk menghadapi diriku, sebaliknya ada caraku yang khas

untuk mengatasi dirimu.”

Siau-hong mendengarkan dengan tersenyum.

Mendadak Giok-hui membalik tubuh, waktu dia berpaling kembali, tangannya sudah

bertambah dengan memakai sarung tangan yang berwarna perak mengkilat.

Pada sarung tangannya itu selain terpasang jarum lembut yang berujung mengail, juga

terdapat benda tajam serupa cakar.

“Inilah senjata yang khusus kulatih untuk menghadapi dirimu,” tutur Pui Giok-hui, “asalkan

jarimu menyentuhnya, tidak lebih dari tiga langkah kau pasti akan menggeletak dan binasa.”

“Dapatkah aku tidak menyentuhnya?” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Tidak bisa,” sahut Giok-hui. Lalu sambungnya dengan perlahan, Menggunakan jari untuk

menjepit senjata lawan adalah kebiasaanmu yang khas, kebiasaan bertahun-tahun seketika tak

mungkin berubah, lebih-lebih pada saat menghadapi serangan maut kujamin kau pasti akan

mendapat serangan maut terus menerus.”

Siau-hong memandang sarung tangan perak yang mengkilat itu, akhirnya ia menghela napas,

ucapnya. “Wah, tampaknya aku seperti pasti akan mati.”

“Memangnya kau pasti akan mati,” suara Pui Giok-hui dan sikapnya penuh rasa mantap.

Pertarungan di antara jago kelas tinggi, kemantapan dan keyakinan pada kemampuan diri

sendiri adalah segi yang paling penting.

Senyuman lenyap dari wajah Liok Siau-hong.

Pada saat itulah Pui Giok-hui lantas menyerang. Sinar perak gemerdep menyilaukan

pandangan Siau-hong.

Sungguh serangan aneh, hampir tertutup setiap gerakan Liok Siau-hong oleh serangan Pui

Giok-hui itu, apalagi ruangan ini tidak terlalu longgar, hampir tidak ada jalan mundur

baginya.

Di dunia ini memang tidak ada manusia yang tidak pernah terkalahkan selamanya, Liok Siauhong

juga manusia. Apakah hari ini dia akan dikalahkan di sini?

Koh-siong Siansing berdiri di pojok sana dengan berpangku tangan, tiba-tiba ia bertanya

kepada temannya. “Kau lihat apakah dia pasti akan kalah?”

Koh-tiok termenung sejenak, lalu balas bertanya, “Bagaimana

menurut pandanganmu?”

“Kulihat dia pasti kalah,” sahut Koh-siong.

73

Koh-tiok menghela napas, ucapnya, “Sungguh tak tersangka pada suatu hari Liok Siau-hong

juga bisa dikalahkan orang.”

“Yang kumaksudkan bukan Liok Siau-hong.”

“Oo bukan dia,” Koh-tiok melengak.

“Yang pasti kalah ialah Pui Giok-hui,” kata Koh Siong Sian-sing.

“Tapi sekarang jelas kelihatan dia berada di atas angin,” ujar Koh-tiok.

“Mendahului berada di atas angin hanya akan membuang-buang tenaga saja.” kata Koh-siong,

“Pertarungan di antara dua tokoh kelas tinggi, kunci menang atau kalah hanya terletak pada

serangan terakhir saja.”

“Tapi sekarang Liok Siau-hong seperti tidak sanggup lagi balas menyerang,” ujar Koh-tiok.

“Dia bukan tidak dapat, melainkan tidak mau.”

‘Tidak mau? Sebab apa?”

“Dia sedang menunggu.”

“Menunggu kesempatan yang paling baik untuk melakukan serangan terakhir?”

“Terlalu banyak omong tentu bisa selip lidah,” ujar Koh-siong. “Orang yang mendapat angin

dan menyerang habis-habisan, akhirnya pasti bisa salah hitung.”

“Dan pada saat itulah kesempatan bagi Liok Siau-hong untuk melancarkan serangan

menentukan?”

“Ya, begitulah.” sahut Koh-siong,

“Seumpama ada kesempatan baik begitu, pasti juga hanya terjadi sekejap saja lantas lenyap,”

‘Tentu saja,” kata Koh-siong.

“Dan kau yakin sekejap itu takkan dilewatkan dengan percuma olehnya?”

“Aku tidak yakin, asalkan dia balas menyerang, sekali saja pasti berhasil.”

Han bwe Lojin hanya mendengarkan saja dengan diam, sorot matanya menampilkan

senyuman mengejek, jengeknya tiba-tiba, “Cma sayang, setiap orang terkadang juga bisa

salah hitung.”

Pada saat dia mulai bicara demikian, terlihat Siau-hong sudah terdesak oleh Pui Giok-hui ke

pojok tempat mereka berdiri ini. Pada saat yang hampir sama mendadak Han-bwe juga

melolos pedang.

Jarang ada yang mampu melukiskan betapa cepat caranya melolos pedang dan tahu-tahu sinar

pedang berkelebat, secepat kilat ia menusuk punggung Liok Siau-hong.

Inilah benar-benar serangan maut yang menentukan.

Bagian depan Siau-hong memang sedang menghadapi jalan buntu mungkin mimpi pun dia

tidak menyangka serangan maut justru datang dari belakang.

Lantas cara bagaimana dia mampu mengelak?

Tapi dia dapat, sebab dia Liok Siau-hong.

“Yang menentukan mati hidup selalu terjadi dalam waktu sekejap. Justru pada sekejap itu

mendadak ia menggeliat, sinar pedang menyambar lewat, langsung menusuk ke depan,

menembus bajunya! tapi tidak menembus punggungnya, malahan ujung pedang terus

memapak Pui Giok-hui yang sedang mendesak maju itu.

Sekali kedua tangan Pui Giok-hui mendekap, ujung pedang tepat terjepit. Dia tidak sempat

menghindar lagi, terpaksa mengeluarkan gerak penyelamat yang berbahaya ini.

Cuma sayang, dia lupa lawannya bukan Han-bwe Siansing melainkan Liok Siau-hong. Dan

Liok Siau-hong justru berada di samping.

Hampir pada detik yang sama Liok Siau-hong sudah turun tangan, Tidak ada orang yang

dapat melukiskan kecepatan serangannya, juga tidak ada yang dapat melihat jelas gerak

tangannya.

Namun setiap orang dapat melihat di dadanya telah bertambah sebuah lubang, sebab darah

segar lantas mengucur.

74

Sekujur badan Pui Giok-hui seolah-olah kaku, dia tidak lantas roboh, sebab pada dadanya

menancap sebilah pedang. Pedang Han bwe Siansing.

Serangan maut yang benar-benar mematikan juga bukan jari sakti Liok Siau-hong melainkan

pedang ini, sebab pada waktu jari Siau-hong menutuk batok kepala Pui Giok-hui, kedua

tangannya yang menjepit ujung pedang lantas mengendur, dan pedang masih terus menusuk

ke depan dan menembus dadanya.

Tubuh Han-bwe Siansing seakan-akan beku. Setiap orang ada kalanya salah hitung, sekali ini

yang salah hitung ialah dia.

Akibat dari serangannya sungguh jauh di luar dugaannya.

Wajah Giok-hui tampak pucat, sorot mata yang serupa mata elang itu mulai kabur, mendadak

ia bergelak tertawa sambil menyurut mundur, terlepas dari pedang yang menancap di

dadanya, darah segar lantas muncrat.

Segera berhenti suara tertawanya. Waktu napasnya putus, darah masih menetes dari ujung

pedang yang dipegang Han-bwe Sian-sing.

Muka Han-bwe Siansing juga kelihatan pucat. Darah yang menetes dari ujung pedangnya

seolah-olah bukan darah Pui Giok-hui saja, tapi juga darahnya.

Dia tidak berani mengangkat kepala, tidak berani menghadapi Koh-siong dan Koh-tiok, sejak

tadi mereka menatap rekannya ini dengan tajam.

Mendadak Koh-siong menghela napas, katanya, “Ucapanmu memang tidak salah, setiap

orang ada kalanya salah lihat. Aku juga telah salah hitung terhadapmu.”

Koh-tiok juga berucap dengan gegetun, “Mengapa kau bisa berkomplot dengan keparat ini

dan berbuat hal seperti ini?”

Mendadak Han-bwe berteriak, “Sebab aku tidak sudi selama hidup berada di bawah perintah

kalian !”

“Memangnya kau lebih suka diperintah oleh Pui Giok-hui?” kata Koh-tiok.

“Huh. bilamana usaha ini berhasil, segera aku akan menjadi Kaucu agama besar kita,” jengek

Han-bwe. “Pui Giok-hui memerintah daerah pedalaman, aku berkuasa di luar perbatasan sana.

Makau akan bersekutu dengan Hek-hou-pang dan pasti tidak ada tandingannya.”

“Masa sudah kau lupakan usiamu yang sudah lanjut ini?” kata Koh-tiok. “Kita sudah tirakat

lebih 20 tahun di Kun-lun-san, memangnya belum hilang angkara murkamu yang ingin

menang dan berkuasa?”

“Justru lantaran aku sudah tua, sudah bosan hidup kesepian, makanya mumpung masih hidup

ingin kulakukan sesuatu yang menggemparkan,” teriak Han-bwe.

“Hm. cuma sayang usahamu gagal sama sekali,” jengek Koh-siong.

“Apakah gagal atau berhasil, yang jelas aku takkan diperintah lagi oleh kalian.” jengek Hanwe.

Tentu saja, orang mati mana bisa diperintah orang pula?

Kegelapan masih meliputi gang yang panjang itu. Perlahan Liok Siau-hong melangkah keluar,

Koh-siong dan Koh-tiok mengikut di belakangnya.

Perasaan mereka sangat tertekan, keberhasilan terkadang takkan mendatangkan kegembiraan.

Akan tetapi berhasil sedikitnya lebih baik daripada gagal.

Keluar dan gang yang panjang itu, suasana tetap gulita.

Tiba-tiba Koh-siong bertanya, “Apakah sebelumnya sudah kau perhitungkan akan serangan

dari belakang itu?”

Siau hong mengangguk.

“Memang sudah kau ketahui dia berkomplot dengan Pui Giok-hui?”

Kembali Siau-hong mengangguk, katanya. “Sebab mereka telah sama-sama berbuat salah

sesuatu.” “Coba jelaskan,” pinta Koh-siong.

“Tempo hari seharusnya Han-bwe tidak perlu memaksaku menempur Tio Kun-bu, ia seperti

sengaja membikin kesempatan bagi aksi Pui Giok-hui.”

75

“Oo?” Koh-siong merasa tidak mengerti. “Seorang bila rahasianya terbongkar dan merasa

menghadapi jalan buntu, seharusnya tidak ada lagi keyakinan akan kemampuan sendiri seperti

Pui Giok-hui tadi terkecuali dia masih mempunyai langkah penyelamat yang terakhir.”

“O, makanya kau sengaja memojokkan dirimu sendiri untuk memancing langkahnya yang

terakhir itu?” tanya Koh-siong.

“Ya, setiap orang memang harus mempercayai akan kemampuan sendiri, namun jika terlalu

percaya juga bukan hal yang baik.” “Justru lantaran mereka yakin kau pasti akan mati, maka

engkau tidak jadi mati.”

Siau-hong tertawa, “Seorang kalau sudah mendekati saat suksesnya terkadang juga

merupakan saatnya yang paling lengah.”

“Ya, sebab dia anggap sukses sudah di depan mata, rasa waspadanya lantas berkurang dan

merasa dirinya terbesar.”

“Makanya di dunia ini orang yang benar-benar sukses tidak terlalu banyak.”

Koh-siong termenung, selang agak lama, tiba-tiba ia bertanya pula. “Ada satu hal aku merasa

tidak mengerti.” uCoba katakan,” ucap Siau-hong.

“”Engkau kan tidak pernah melihat Lo-sat-pay yang asli?” “Ya, tidak pernah.”

“Tapi sekali pandang saja dapat kau bedakan tulen dan palsunya.”

“Hal ini disebabkan benda itu adalah buah karya Cu-toalopan, dan juragan Cu itu adalah

sahabatku, aku cukup kenal cirinya.” “Ciri apa?” tanya Koh-siong.

“Setiap kali dia membuat barang tiruan, dia suka meninggalkan setitik cacat pada hasil

karyanya itu agar orang mencarinya.”

“Setitik cacat bagaimana?” tanya Koh-siong pula.

“Umpamanya, bila dia membuat seekor kuda kemala tiruan, terkadang pada bulu suri kuda

ditambahinya seekor ulat kecil.”

“Dan pada Lo-sat-pay tiruan itu diberinya cacat apa?”

“Pada sebelah bawah Lo-sat-pay itu terukir macam-macam malaikat dan satu di antaranya

adalah bidadari penyebar bunga, betul tidak?”

“Betul.”

“Wajah bidadari pada barang tiruan itu sekali pandang saja dapat kukenal.”

“O, sebab apa?”

“Sebab wajah yang diukirnya itu adalah wajah Lopannio.”

“Lopannio?” Koh-siong menegas dengan tidak mengerti.

“Namanya Lopannio (nyonya juragan), dengan sendirinya dia adalah bini Cu-toalopan,” tutur

Siau-hong dengan tersenyum.

Muka Koh-siong berubah menjadi kelam, jengeknya, “Makanya dapat kau lihat bahwa Losat-

pay yang diambil Pui Giok-hiang dari saku si jenggot biru itu pun barang palsu.”

“Mestinya aku tidak mau melihatnya, tapi akhirnya tetap kulirlk juga. sekejap,” kata Siauhong

dengan menyesal, “Tapi jadinya……”

“Jadi bagaimana?”

“Jadi celaka bagiku sendiri, selekasnya aku bisa celaka.”

“Celaka? Celaka bagaimana?” “Celaka seperti nasib Han-bwe.” Seketika Koh-siong menarik

muka.

“Han-bwe berbuat begitu lantaran dia tidak rela di bawah perintah kalian, dia juga tidak mau

kesepian. Tapi apa tujuan kalian?”

Koh-siong Siansing tutup mulut dan tidak mau menjawab. “Jika kalian adalah pertapa yang

rela hidup menyepi, mana bisa kalian masuk menjadi anggota Lo-sat-kau (Ma-kau). Jika

kalian memang tidak ingin menjadi ketua Lo-sat-kau, untuk apa pula kalian membunuh Giok

Thian-po?”

Air muka Koh-tiok juga berubah, bentaknya dengan bengis, “Apa katamu?”

“Aku cuma bicara sesuatu dalih yang sangat sederhana,” jawab Siau-hong dengan tak acuh.

76

“Dalih apa maksudmu?” tanya Koh-tiok. “Jika benar kalian setia kepada Lo-sat-kau, mengapa

kalian tidak membunuh diriku untuk membalas sakit hati kematian putra Kaucu kalian?”

Setelah tertawa, lalu Siau-hong menjawab sendiri pertanyaannya, “Sebab kalian sendiri tahu

Giok Thian-po tidak mati di tanganku, bahkan kenal saja tidak denganku, dan sesungguhnya

siapa yang membunuhnya, tentu kalian tahu sendiri.”

Koh-tiok menjengek, “Jika benar engkau seorang pintar, mestinya tidak perlu kau bicarakan

hal-hal ini.”

“Kubicara hal ini, sebab kutahu pula masih ada suatu dalih yang lebih sederhana.”

“Dalih bagaimana?1′ tanya Koh-tiok. “Yaitu, apakah kubicarakan hal-hal ini atau tidak, toh

aku tetap akan celaka.” “Sebab apa?” “Sebab aku sudah melihat Lo-sat-pay itu, di dunia ini

hanya aku saja yang tahu Lo-sat-pay itu barang palsu, bilamana kalian ingin menggunakan

Lo-sat-pay ini untuk menukar singgasana ketua Lo-sat–kau terpaksa kalian harus membunuh

diriku untuk menghilangkan saksi.”

Ia menghela napas, lalu menyambung, “Sekarang di sekitar sini tiada orang lain, inilah

kesempatan baik bagi kalian untuk turun tangan kepadaku. Pedang sakti gabungan Siong dan

Tiok, dengan sendirinya aku bukan tandingan kalian.”

Koh-siong memandangnya dengan dingin, katanya tiba-tiba, “Kau beri suatu kesempatan

kepada Pui Giok-hui, aku juga dapat memberi kesempatan padamu.”

“Kesempatan apa?” tanya Siau-hong.

Kesempatan untuk melarikan diri,” kata Koh-siong. “Asalkan sekali ini dapat kau lolos,

selanjutnya kami pasti takkan mencarimu.”

“Jika tidak dapat kabur?” tanya Siau-hong.

Meski Koh-siong dan Koh-tiok seperti berdiri seenaknya, tapi tempat yang mereka ambil

justru sangat bagus, serupa sebuah langgam, Liok Siau-hong telah terjepit di tengah.

Meski sekarang langgam belum menjepit, tapi sudah siap bekerja, di dunia ini pasti tidak ada

seorang pun dapat lolos dari jepitan tanggam ini.

Hal ini dapat dilihat Siau-hong dengan jelas, tapi dia tetap tertawa riang, katanya, “Kutahu tak

dapat kulari, tapi ada satu hal tidak kalian ketahui.”

“Hal apa?” tanya Koh-siong,

“Andaikan dapat kulari, pasti juga aku takkan lari. Biar pun kalian mengusir diriku juga aku

tidak mau pergi.” “Memangnya kau cari mampus?” “Tidak.”

Keruan Koh-siong tidak mengerti, Koh-tiok juga bingung. Setiap tindakan Liok Siau-hong

memang sukar dipahami orang.

“Beberapa tahun terakhir ini sedikitnya beberapa puluh kali aku harus mati, tapi sampai saat

ini aku masih hidup sehat walafiat, apakah kalian tahu apa sebabnya?”

“Coba jelaskan.”

“Sebab aku mempunyai kawan, kawan yang banyak, kebetulan satu-dua di antaranya juga

mahir ilmu pedang.”

Baru saja ia menyebut pedang, seketika punggung Ko-siong terasa dingin seperti disambar

hawa pedang.

Seketika ia menoleh, dia tidak melihat pedang tapi melihat satu orang.

Hawa pedang yang dingin justru timbul dari tubuh orang ini. Tubuh orang ini sendiri sudah

serupa pedang yang tajam.

Kabut agak tebal, orang ini berdiri di tengah kabut sehingga kelihatan dingin dan samarsamar,

seakan-akan hantu yang muncul mendadak.

Koh-siong tidak dapat melihat jelas wajahnya, hanya kelihatan bajunya yang putih mulus

bagai salju.

“Sebun Jui-soat?” seru Koh-siong dan Koh-tiok.

Meski wajah orang tidak terlihat jelas, pada hakikatnya malahan mereka tidak pernah melihat

Sebun Jui-soat, tapi dalam sekejap ini mereka merasa orang ini pasti Sebun Jui-soat.

77

Sebun Jui-soat tidak bergerak, juga tidak bicara, tidak melolos pedang, pada hakikatnya tidak

terdapat pedang.

Siau-hong tersenyum,

“Kapan kau datangkan dia?” tanya Koh-siong “Aku tidak mendatangkan dia, cuma di antara

sahabatku, kebetulan ada satu-dua orang akan mengundangnya kemari.”

“Tepat juga orang yang kau datangkan,” ujar Koh-siong. “Memang sudah lama kami ingin

berkenalan dengan Sebun Jui-soat yang sejurus saja mengalahkan Yap Koh-seng itu,”

sambung Koh-tiok.

“Makanya seumpama dia tidak datang kemari, tentu kalian juga akan mencari dia,1′ kata Siauhong.

Koh-tiok hanya mendengus saja, “Kau salah!” kata Sebun Jui-soat tiba-tiba. “Salah

apa?” tanya Koh-tiok.

“Ilmu pedang Pek-in-sengcu serupa awan putih dan langit biru, jernih tanpa cacat, tiada orang

yang mampu mematahkan jurus andalannya yang disebut Thian-gwa-hui-sian (dewa terbang

dan dari langit) itu.”

“Kau pun tidak dapat?” tanya Koh-tiok. “Tidak,” jawab Sebun Jui-soat.

“Tapi toh sudah kau patahkan, kau menang.”

“Yang mematahkan jurus serangannya itu bukan diriku.”

“Habis siapa?” tanya Koh-tiok.

“Dia sendiri,” jawab Sebun Jui-soat.

Koh-siong tidak paham. Koh-tiok juga tidak. Ucapan Sebun Jui-soat memang sukar dipahami

orang.

“Meski ilmu pedangnya jernih dan murni, tapi hatinya cacat,” kata Sebun Jui-soat pula.

Mencorong terang sinar matanya, perlahan ia menyambung pula, “Intisari ilmu pedang

terletak pada hati yang tulus dan perasaan yang murni, bilamana hati seorang kotor, tentu saja

akan kalah.”

Mendadak Koh-tiok merasakan hawa pedang menyambar, kata-kata itu dirasakan lebih tajam

daripada ujung pedang. Hal ini bukankah disebabkan juga hatinya kotor? “Bilamana hatinya

kotor, pedangnya pasti lemah ….” “Dan dimana pedangmu?” potong Koh-tiok dengan bengis,

karena tidak tahan.

“Pedang selalu ada padaku,” jawab Sebun Jui-soat. “Dimana?” tanya Koh-tiok pula, “Dimanamana

ada!”

Jawaban yang sukar dimengerti ini justru dapat dipahami Koh-tiok, Koh-siong juga paham.

Jika orang dan pedangnya sudah terlebur menjadi satu, maka orangnya adalah pedangnya,

asalkan orangnya ada, segala macam benda di jagat ini adalah pedangnya. Inilah tingkatan

yang paling tinggi dalam pengertian ilmu pedang.

Siau-hong tersenyum, ucapnya, “Tampaknya setelah kemenanganmu atas Pek-in-sengcu Yap

Koh-seng, ilmu pedangmu telah bertambah maju setingkat lagi.”

Sep align=”left”bun Jui-soat termenung agak lama, katanya kemudian, “Masih ada sesuatu yang tidak kau

pahami.”

“Oo, apa?” tanya Siau-hong.

Sinar mata Sebun Jui-soat yang mencorong itu tiba-tiba berubah menjadi guram, katanya,

“Setelah kukalahkan Peng-in-sengcu dengan pedang itu, siapa pula di kolong langit ini yang

pantas kuhadapi dengan pedangku itu?

Mendadak Koh-tiok mendengus, “Aku…..”

Tapi Sebun Jui-soat tidak memberi kesempatan bicara padanya, jengeknya, “Kau lebih-lebih

tidak setimpal, Jika kalian harus menghadapi lawan dengan pedang gabungan, ilmu pedang

macam ini hanya pantas untuk memotong babi.”

“Cring,” seketika Koh-tiok melolos pedangnya.

Begitu Koh-tiok melolos pedangnya, seketika cahaya pedang menyambar,

78

Sebun Jui-soat tetap tidak bergerak, juga tidak menghunus pedangnya. Pada hakikatnya tiada

pedang yang perlu dihunusnya. Di mana pedangnya?

Mendadak terdengar pula suara “cring” yang nyaring, sinar pedang gemerdep, bayangan

orang terpencar dan merapat lagi. Tahu-tahu kedua orang telah berdiri muka berhadapan

muka, ujung pedang Koh-tiok menitikkan darah.

Darah menitik dan ujung pedangnya sendiri. Tapi pedang tidak lagi terpegang olehnya

melainkan telah menembus tubuhnya dari dada ke punggung.

Dengan terkejut Koh-tiok memandang Sebun Jui-soat seolah-olah tidak percaya kepada apa

yang telah terjadi itu.

“Sekarang tentunya kau tahu di mana pedangku?” ucap Sebun Jui-soat dengan dingin.

Koh-tiok ingin bicara, tapi hanya terbatuk-batuk saja.

“Pedangku berada di tanganmu, pedangmu adalah pedangku,”

kata Sebun Jui-soat pula.

Koh-tiok meraung, ia melolos pedang lagi. Ketika pedang tercabut dari dadanya, darah segar

lantas menyembur seperti air mancur.

Sebun Jui-soat tetap tidak bergerak, darah segar muncrat sampai di depannya dan jatuh

berhamburan, ujung pedang juga menyambar ke depannya dan melambai ke bawah.

Waktu Koh-tiok ambruk, Sebun Jui-soat juga tidak memandangnya, yang dipandangnya ialah

Liok Siau-hong.

“Kausuruh orang mengundangku dan aku sudah datang!” kata

“Kutahu kau pasti datang.” kata Siau-hong. “Sebab aku berhutang budi padamu.” “Yang lebih

penting, sebab engkau adalah sahabatku.” “Biar pun kita adalah sahabat, tapi inipun

merupakan penghabisan kalinya.”

“Penghabisan kali?” Siau-hong menegas. “Ya,”sudah kubayar lunas hutangku padamu.” ujar

Jui-soat dengan dingin. “Aku tidak ingin hutang lagi padamu, juga tak mau kau berhutang

padaku, maka…..”

“Maka lain kali biar pun kau lihat aku dibunuh orang juga takkan turun tangan menolong

lagi,” tukas Siau-hong dengan tersenyum getir.

Sebun Jui-soat hanya memandangnya dengan dingin tanpa menyangkal. Lalu dia melangkah

pergi dan menghilang di balik kabut secara misterius, serupa munculnya tadi secara

mendadak.

Koh-siong tidak bergerak, sampai lama sekali ia tetap tak bergerak, seolah-olah benar telah

berubah sebatang “koh-siong” atau cemara kering.

Kabut semakin tebal, sampai jenazah Koh-tiok yang cuma beberapa tombak jauhnya itu tidak

terlihat lagi. Tentu saja bayangan Sebun Jui-soat sudah menghilang sejak tadi.

Tiba-tiba Koh-siong menghela napas, katanya, “Orang ini bukan manusia, pasti bukan.”

Siau-hong tidak menyangkal, juga tidak membenarkan.

Ilmu pedang seorang kalau sudah terbaur dengan jiwa-raganya, maka orangnya kan sudah

mendekati ‘Sin’ atau dewata.

Tiba-tiba sinar mata Liok Siau hong memancarkan semacam perasaan simpatik dan sedih.

Dapat juga Koh-siong menyelami perasaan Siau-hong itu, tiba-tiba ia bertanya dengan dingin,

“Kau bersimpati padanya?”

“Simpatiku bukan kepadanya,” jawab Siau-hong.

Bukan dia?” Koh-siong menegas.

“Dia sudah beristri dan beranak, mestinya kukira dia sudah berubah menjadi seorang.”

“Namun dia tidak berubah.”

“Ya, dia tidak berubah.”

“Pedang kan benda abadi yang takkan berubah. Jika orangnya sama dengan pedangnya, mana

bisa dia berubah?”

79

Siau-hong menghela napas. Pedang takkan berubah selamanya, pedang juga akan melukai

orang selamanya.

“Seorang perempuan kalau sudah menjadi isteri pedang tentu hidupnya takkan enak,” kata

Koh-siong. “Kukira begitu,” ujar Siau-hong. “Makanya simpatimu kepada isterinya.” Kembali

Siau-hong menghela napas gegetun. Koh-siong memandangnya lekat-lekat, katanya

kemudian. “Di antara kalian pasti ada pengalaman yang sedih, sangat mungkin isterinya

adalah sahabatmu, kenangan lama yang mengharukan maka kau …”

Baru kata “kau” terucapkan, serentak pedangnya juga bergerak secepat kilat menusuk leher

Liok Siau-hong.

Leher adalah bagian mematikan, saat ini juga merupakan kelemahan jiwa Siau-hong yang lagi

mengenangkan masa lampau.

Koh-siong telah memilih kesempatan yang paling tepat untuk turun tangan. Pedangnya

terlebih cepat daripada pedang Koh-tiok, jaraknya dengan Liok Siau-hong juga sangat dekat,

serangan kilat ini jelas serangan maut, untuk ini dia yakin sepenuhnya.

Cuma sayang, ia melalaikan sesuatu. Yaitu, lawannya bukan orang lain, tapi Liok Siau-hong.

Pada saat sinar pedang berkelebat, pada detik yang sama tangan Siau-hong juga bergerak,

hanya dua jarinya yang digunakan dan menjepit dengan pelahan.

Sukar untuk dilukiskan betapa cepat dan ajaibnya jepitan tangan Siau-hong itu Begitu sinar

pedang lenyap, tahu-tahu ujung pedang juga sudah terjepit di tengah jari Siau-hong.

Koh-siong menarik pedangnya dan menarik lagi. Tapi pedang tidak bergeming.

Gemetar Koh-siong karena takut, mendadak ia lepas tangan dan melompat mundur sejauhjauhnya.

Tenaga dan kecepatan lompatan ini juga sukar untuk dibayangkan, sebab ia

menyadari saat ini menyangkut mati hidupnya.

Kekuatan manusia yang timbul pada saat menghadapi pilihan antara hidup dan mati memang

sukar untuk dibayangkan orang.

Siau-hong tidak mengejar, sebab pada saat itu juga diketahuinya di tengah kabut tebal sana

muncul lagi sesosok bayangan manusia. Bayangan yang remang, lebih remang daripada kabut

dan sukar diraba apa sesungguhnya.

Gerak cepat Koh-siong itu mendadak berhenti dan anjlok ke bawah, tenaganya seperti runtuh

mendadak dalam sekejap itu, runtuh seluruhnya. Sebab dia juga sudah melihat orang itu,

orang yang serupa hantu itu.

“Bluk”, tokoh kelas tinggi dunia persilatan dengan Ginkangnya yang hebat ini mendadak

jatuh ke tanah serupa sepotong batu yang terbanting, lalu tidak bergerak lagi.

Tampaknya bukan cuma tenaganya yang runtuh habis-habisan, bahkan jiwanya juga sudah

runtuh, tamat.

Keruntuhan yang mendadak ini apakah lantaran dia melihat pendatang ini? Apakah pendatang

ini membawa semacam kekuatan yang dapat membuat keruntuhan dan kematian orang?

Kabut belum buyar, orang itu juga belum pergi. Orang dalam kabut itu seperti sedang

memandang Liok Siau-hong dari jauh. Siau-hong juga memandangnya dan dapat melihat

matanya. Sukar untuk dilukiskan bagaimana mata orang itu, “Liok Siau-hong?” tegur orang

dalam kabut itu tiba-tiba. “Kau kenal diriku?” jawab Siau-hong. “Bukan saja kenal, bahkan

sangat berterima kasih.” “Terima kasih?”

“Ya, terima kasih mengenai dua hal. Selain terima kasih karena engkau telah menumpas

anggota kami yang berkhianat dan musuh dari luar, juga berterima kasih karena engkau bukan

musuhku.”

Siau-hong menarik napas dalam-dalam, ucapnya, “Jadi engkau …”

“Aku she Giok,” kata orang itu.

“Jadi engkau Giok Lo-sat dari barat?” Orang di tengah kabul mengiakan.

Kabut berwarna putih kelabu, samar-samar Giok Lo-sat juga kelihatan putih kelabu, serupa

asap yang mengambang seperti ada seperti tak ada. Sesungguhnya dia manusia atau hantu?

80

Tiba-tiba Siau-hong tertawa dan menggeleng, katanya, “Sebenarnya sudah harus kupikirkan

sejak tadi.”

“Pikirkan apa?” tanya Giok Lo-sat.

“Tentang dirimu, bahwa kematianmu hanya sebagai kedok saja.”

“Kenapa perlu kulakukan hal ini?”

“Sebab engkau adalah ketua Lo-sat-kau, tentunya kau harapkan agamamu akan berkembang

dan takkan musnah untuk selamanya.”

Giok Lo-sat diam saja, diam berarti membenarkan.

“Akan tetapi organisasi Lo-sat-kau sudah teramat besar, dengan sendirinya anggotanya juga

meliputi berbagai unsur yang ruwet. Pada waktu hidupmu tentu tidak ada yang berani

berkhianat, bila engkau meninggal, kau sangsi apakah semua anggota akan tetap setia kepada

anak-cucumu?”

“Emas yang paling murni saja tetap ada kotorannya, apalagi manusia,” ujar Giok Lo-sat.

“Karena kau tahu di antara pengikutmu itu pasti ada yang tidak setia padamu, agar pondasi

yang kau tinggalkan bagi anak-cucumu ini tetap kuat. unsur perusak ini harus kau temukan

selagi engkau masih hidup.”

“Pada waktu engkau hendak menanak nasi, bukankah butiran pasir dalam beras harus kau

buang lebih dulu?” kata Giok Lo-sat.

“Tapi kau tahu usaha ini bukan pekerjaan mudah, ada biji pasir yang berwarna putih dan sukar

untuk dibedakan di tengah beras. Mereka baru akan kelihatan dengan jelas bilamana mereka

merasa tiada sesuatu lagi yang perlu ditakuti.”

“Selama aku belum mati, tentu mereka tidak berani bertindak,” tukas Giok Lo-sat.

“Tapi sayang, bukan urusan gampang menghendaki kematian mu, sebab itulah engkau sendiri

lantas pura-pura mati.”

“Tipu muslihat kuno ini masih hidup sampai sekarang, justru lantaran dia selalu berhasil.”

“Tampaknya sekarang tipu muslihatmu ini sudah sukses, bukankah engkau sangat gembira?”

tanya Siau-hong dengan tertawa. Meski tertawa, namun suaranya seperti mengandung ejekan.

Dengan sendirinya Giok Lo-sat dapat merasakannya, segera ia balas bertanya, “Mengapa aku

tidak boleh bergembira?”

“‘Sekalipun usahamu telah sukses, akan tetapi bagaimana dengan anakmu?” tanya Siau-hong.

Mendadak Giok Lo-sat tertawa, tertawa seram, serupa orangnya, suara tertawa yang sukar

diraba, suara tertawa yang kedengarannya juga penuh mengandung ejekan.

Siau-hong tidak mengerti mengapa Giok Lo-sat masih dapat tertawa begini.

“Haha, jika kau sangka orang yang mati di tangan mereka itu adalah putraku sesungguhnya,

maka jelas engkau terlalu rendah menilai diriku,” kata Giok Lo-sat kemudian.

“Memangnya orang yang dibunuh mereka itu bukan Giok Thian-po yang sesungguhnya?”

“Yang mati itu memang Giok Thian-po yang sesungguhnya, cuma Giok Thian-po bukanlah

putraku.”

“Sudah sekian puluh tahun mereka menjadi pengikutmu, masa siapa putramu saja tidak

mereka ketahui?”

Dengan perlahan Giok Lo-sat menjawab, “Soalnya, putraku sendiri pada saat dilahirkan lantas

bukan putraku lagi.”

Liok Siau-hong merasa bingung.

“Kutahu engkau takkan mengerti urusan ini, sebab engkau bukan ketua Lo-sut-kau dari

barat.”

“Apabila aku menjabat ketuanya?” tanya Siau-hong.

“Jika kau jadi ketua Lo-sat-kau, tentu kau tahu seorang yang telah menduduki tempat setinggi

itu pasti sukar untuk mendidik anaknya sendiri, sebab urusan yang harus dikerjakannya terlalu

banyak. “

81

Sampai di sini mendadak suaranya berubah berduka, katanya pula, “Perempuan yang

melahirkan anak bagiku itu, pada hari melahirkan juga dia lantas meninggal, bilamana

seorang anak dilahirkan sebagai calon ketua Lo-sat-kau di kemudian hari, tapi tidak dapat lagi

mendapatkan didikan ayah-bundanya. Lalu bagaimana jadinya dia kelak?”

“Tentu saja akan jadi orang serupa Giok Thian-po itu,” kata Siau-hong.

“Nah, makanya pada hari ketujuh setelah anak itu lahir segera kuserahkan dia kepada seorang

kepercayaanku untuk dididik pada hari yang sama itu aku pun menerima seorang anak lain

sebagai putraku, rahasia ini sampai sekarang belum diketahui oleh siapa pun.”

“Mengapa sekarang kau beritahukan padaku?”

“Sebab kupercaya padamu.”

“Kita kan bukan sahabat?”

“Justru lantaran kita bukan musuh, juga bukan sahabat, maka kupercaya penuh padamu.”

Kembali sinar mata Giok-lo-sat menampilkan rasa ejekan. “Jika kau jadi ketua Lo-sat-kau

dari barat, tentu engkau akan paham maksudku ini.”

Liok Siau-hong paham.

Ada sementara orang yang namanya sahabat terkadang jauh lebih menakutkan daripada

musuh.

Tapi meski dia sendiri juga berpengalaman pahit begitu, namun dia bukan ketua Lo-sat-kau.

Liok Siau-hong tetap Liok Siau-hong.

Sinar mata Giok Lo-sat seperti menembus kabut dan menembus hati Liok Siau-hong, dengan

tertawa ia berkata pula. “Meski engkau bukan ketua Lo-sat-kau, tapi kutahu engkau sangat

memahami diriku, sama halnya meski aku bukan Liok Siau-hong, tapi aku pun sangat

memahami pribadimu.”

Mau tak mau Siau-hong harus mengakui kebenaran hal ini. Meski dia tidak melihat jelas

wajah orang, tapi di antara mereka sudah timbul semacam saling pengertian dan saling

menghormati yang sukar dipahami orang lain.

Giok Lo-sat seperti dapat menyentuh lagi jalan pikiran Siau hong, perlahan ia berkata pula,

“Aku bersyukur engkau bukan musuhku, sebab dapat kurasakan sesuatu yang sangat

menakutkan.” “Urusan apa?” tanya Siau-hong.

“Engkau adalah orang yang paling menakutkan yang pernah kulihat selama hidup ini. Apa

yang dapat kau lakukan banyak yang tidak dapat kukerjakan, sebab itulah, kedatanganku ini

sebenarnya hendak membunuh dirimu.”

“Dan sekarang?” tanya Siau-hong.

“Sekarang aku cuma ingin bertanya sesuatu padamu.”

“Silakan tanya.”

“Sekarang kita bukan sahabat, juga bukan musuh, tapi bagaimana kelak?”

“Kelak semoga juga begini.” “Sungguh engkau berharap demikian?” “Sungguh,”

“Namun tidaklah mudah untuk mempertahankan hubungan baik begini.”

“Kutahu.”

“Engkau tidak menyesal?”

Siau-hong tertawa, katanya, “Aku pun berharap engkau mengerti sesuatu.”

“Coba katakan.”

“Selama hidupku ini banyak juga kutemui orang yang menakutkan, tapi tiada satu pun yang

lebih menakutkan daripadamu.”

Giok Lo-sat tertawa. Waktu dia mulai tertawa jelas dia masih berada dalam kabul, tapi waktu

suara tertawanya berkumandang, tahu-tahu bayangannya sudah menghilang.

Tiba-tiba Siau-hong merasa dirinya seolah-olah menghilang juga di tengah kabut.

Ia tidak tahu apa yang telah dilakukannya ini berhasil atau gagal?

T A M A T

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s