SENOPATI PAMUNGKAS II

SENOPATI PAMUNGKAS II

Arswendo Atmowiloto

Source : http://lontaraemas.blogspot.com/

Tokoh-Tokoh

Berdasarkan Urutan Penyebutan

Sanggrama Wijaya, atau Naraya Sanggarama Wijaya, atau Raden Wijaya. Nama yang dikenal ketika mengalahkan Raja Jayakatwang, yang secara culas menguasai Keraton Singasari dan mendepak Baginda Raja Kertanegara. Bersama dengan prajurit dan senopati yang setia, Wijaya berhasil menggempur balik pasukan Tartar dari negeri Cina. Menurut catatan sejarah, dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tanggal 15 bulan Kartika atau sekitar bulan Oktober-November 1298. Nama kebesarannya adalah Kertarajasa Jayawardhana. Nama ini menunjukkan rasa hormat terhadap leluhurnya, raja-raja Singasari.

Upasara Wulung, salah seorang ksatria hasil godokan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan adalah semacam perguruan yang berusaha melahirkan ksatria sejati yang dilatih ilmu surat dan ilmu silat, atau kanuragan. Para ksatria yang terpilih, dilatih sejak lahir di Ksatria Pingitan. Menurut cerita mi, Ksatria Pingitan didirikan atas dasar gagasan Baginda Raja Sri Kertanegara, Raja Singasari yang terakhir, dengan tujuan menciptakan manusia yang selain jago silat juga mempunyai watak luhur, yang kelak diharapkan menjadi senopati utama yang melanjutkan kebesaran Keraton dan melindungi penduduk. Selama dua puluh tahun Upasara Wulung berada dalam Ksatria Pingitan, dilatih oleh Ngabehi Pandu, sebelum terjun ke medan persilatan. Ilmu dasarnya adalah Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka. Akan tetapi mengalami perubahan besar sejak mempelajari Bantala Parwa atau Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang serta Delapan Jurus Penolak Bumi. Bantala Parwa dianggap babon segala kitab kanuragan. Merupakan puncak berbagai sumber ilmu silat yang ada di tanah Jawa.

Gayatri, atau Permaisuri Rajapatni, salah satu dari empat putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raja Majapahit. Menjelang penyerbuan ke Daha untuk menaklukan Jayakatwang Gayatri pergi bersama

Upasara Wulung untuk mengetahui kekuatan lawan. Di sinilah bibit-bibit daya asmara tumbuh. Dan berpuncak saat Gayatri ditawan di atas benteng dan Upasara maju menggempur tanpa memedulikan keselamatan dirinya. Akan tetapi menurut perhitungan dan ramalan para pendeta, Gayatri harus menikah dengan Sanggrama Wijaya, karena inilah pasangan Dewi Uma dan Dewa Siwa, yang kelak kemudian hari akan menurunkan raja terbesar. Hubungan masa lalu ini ternyata banyak membebani tapi sekaligus juga mewarnai perjalanan hidupnya.

Mpu Renteng, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bujangga Andrawina, atau Ular Naga Berpesta Pora, dengan menggunakan ujung kain yang tersampir di pundaknya.

Mpu Sora, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bramara Bekasakan, atau Lebah Hantu. Tokoh yang tangguh ini banyak mendapat dukungan untuk menjabat sebagai mahapatih. Mahapatih ialah jabatan tertinggi di Keraton, orang kedua sesudah raja. Namun ia sendiri merasa tidak berhak. Pangkat yang disandang adalah adipati, semacam penguasa daerah, di Dahanapura. Tempat Kala Gemet, putra mahkota, berada.

Mpu Elam, salah seorang senopati Majapahit, yang menjadi prajurit telik sandi. Prajurit yang terpilih dalam pasukan telik sandi, atau pasukan rahasia, adalah prajurit pilihan yang tugasnya mengumpulkan semua laporan yang menyangkut keamanan. Dalam jajaran pemerintahan ditangani secara langsung oleh Mahapatih.

Dyah Palasir, salah seorang senopati muda Majapahit. Anak buah langsung Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja. Bersama Dyah Pamasi, mereka merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti.

Klikamuka, tokoh yang selalu menutupi wajahnya dengan klika atau kulit kayu. Kelihatannya mempunyai hubungan dekat dengan Keraton.

Toikromo, penduduk biasa yang ingin mengangkat Upasara Wulung sebagai menantu.

Gendhuk Tri, calon penari Keraton Singasari yang menjadi anak murid Mpu Raganata sebentar, lalu dilatih Jagaddhita. Ilmu andalannya menggunakan selendang seperti penari. Karena satu dan lain hal, seluruh darahnya teraliri racun sangat ganas. Dalam usianya yang masih belasan tahun, dan hidup di tengah pergolakan jago silat, adatnya memang aneh. Diam diam sangat mengagumi Upasara Wulung, dan mencemburui setiap wanita yang mendekati Upasara.

Jaghana, salah seorang murid Perguruan Awan, perguruan yang dianggap sumber segala ilmu kanuragan di tanah Jawa. Kepalanya gundul pelontos, pakaian yang dikenakan asal menutup tubuh. Sabar dan welas asih. Namanya bisa diartikan sebagai “pantat”. Ini cara merendahkan diri sebagai “bukan apa-apa, bukan siapa-siapa”, salah satu ciri ajaran Perguruan Awan.

Eyang Sepuh, lebih dikenal sebagai nama seorang empu yang mahasakti yang mendiami Perguruan Awan. Dari Eyang Sepuh-lah terdengar gema ajaran Kitab Bumi dengan jurus yang ampuh, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ajaran yang sejajar dengan ajaran Buddha, baik di negeri Hindia, Cina, maupun Jepun. Atau bahkan sampai ke negeri Turkana. Eyang Sepuh pula yang membuat para jago seluruh penjuru jagat datang ke Trowulan, untuk membuktikan siapa yang mewarisi ilmu sejati. Namun sejak semula, Eyang Sepuh tak pernah menampakkan diri. Hanya beberapa orang, Gayatri dan Upasara, yang pernah mendengar suaranya. Penguasaan ilmu Eyang Sepuh lelah sampai ke tingkat moksa, lenyap bersama raga dan jiwanya.

Adipati Lawe, atau Ranggalawe, salah seorang senopati Majapahit yang besar jasanya. Putra Aria Wiraraja ini nama kecilnya seperti juga ayahnya, Aria Adikara. Ranggalawe, nama pemberian Raden Sanggrama Wijaya yang mungkin menjadi petunjuk kepangkatannya ketika itu. Rangga adalah jabatan yang sama dengan camat sekarang ini. Kuda hitam dan umbul-umbul bergambar kuda, menunjukkan kegagahannya ketika menjadi adipati, semacam patih penguasa suatu wilayah, di daerah Tuban. Sebutan yang lain ialah patih amancanegara, yaitu semacam kepala di daerah wilayah di luar Keraton. Patih amancanegara menunjukkan penguasaan di luar wilayah kekuasaan Keraton. Yang terbagi di daerah barat, timur, utara, maupun selatan letak Keraton.

Galih Kaliki, tokoh yang asal-usul ilmu silat dan perguruannya tidak gampang dimengerti. Senjata andalannya sebuah tongkat galih asam, bagian tengah atau hati pohon asam. Baru kemudian diketahui bahwa gaya permainannya mirip dengan ksatria pedang panjang dari Jepun. Orangnya keras, jujur, apa adanya. Dan sepanjang hidupnya kesengsem atau tergila-gila pada Nyai Demang.

Senopati Anabrang, atau Mahisa Anabrang. Salah seorang senopati zaman Kerajaan Singasari yang menjelajah sampai ke tlatah Melayu dan baru kembali dua puluh tahun kemudian. Melanjutkan pengabdian kepada Raja Majapahit, dengan membawa dua putri ayu yang salah satunya dipermaisurikan Baginda Raja.

Senopati Nambi, atau Mpu Nambi, salah seorang senopati Majapahit, pimpinan prajurit telik sandi, atau pasukan rahasia. Diangkat sebagai mahapatih, suatu jabatan tertinggi sesudah raja. Mahapatih menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, adipati, ataupun patih. Pengangkatannya sebagai mahapatih banyak mengundang pertentangan. Terutama dari Adipati Lawe, yang mengharapkan dirinya atau Mpu Sora yang memangku jabatan tersebut.

Wilanda, salah seorang murid Perguruan Awan yang kemudian melepaskan diri dan menjadi prajurit andalan Keraton Singasari, dan kemudian kembali lagi ke Perguruan awan. Budinya luhur, dan menjadi pendamping Upasara sejak kecil. Ilmunya yang sulit ditandingi ialah cara mengentengkan tubuh seperti capung hinggap di ujung daun.

Kiai Sumelang Gandring, atau Mpu Sumelang Gandring, turunan seorang ahli pembuat keris yang mengembara sampai ke ujung barat tanah Jawa. Di sana meneruskan ilmunya. Seluruh muridnya berjumlah dua belas, dan semua memakai sebutan Gandring. Istimewanya ialah kedua belas Gandring ini bisa menyusun barisan yang luwes dan ampuh. Di antaranya gaya serangan Jiwandana Jiwana, atau Tembang Kehidupan.

Nyai Demang, satu-satunya tokoh wanita yang sering dinilai hanya karena mengobral asmara, serta bentuk tubuhnya yang montok. Menurut cerita, dulu istri seorang demang, pangkat setingkat kepala desa. Banyak para ksatria menjadi korban senyuman dan bentuk tubuhnya. Akan tetapi di balik segala daya tarik lahiriahnya, Nyai Demang selama ini tak tertandingi dalam soal kemampuannya mempelajari bahasa mancanegara. Dialah yang menjadi penyalin bahasa sewaktu pasukan Tartar mendarat.

Halayuda, salah seorang senopati Majapahit yang tak terlalu menonjol dalam peperangan. Gerak-geriknya penuh teka-teki, karena hubungannya yang sangat dekat dengan Raja Majapahit, dan kemampuannya untuk merendah dalam rangka mengelabui ambisinya yang sangat tinggi. Strategi, taktik yang dijalankan sangat culas, bergetah, tapi berhasil. Ilmu silatnya termasuk sangat tinggi karena ia murid langsung Paman Sepuh, ditambah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri.

Tribhuana, putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raden Wijaya. Sebagai putri Keraton, Tribhuana dikenal memiliki pengetahuan yang luas dan cara berbicara yang ulung dalam menangkap suasana, sehingga digelari Mahalalila. Sebagai permaisuri pertama, sebenarnya Tribhuana berhak melahirkan putra mahkota. Akan tetapi nyatanya tidak, karena Raja Majapahit memilih permaisuri yang lain.

Mahadewi, adik Tribhuana yang juga dipermaisuri oleh Raja. Mahadewi dikenal sebagai putri landasan daya asmara Baginda.

Jayendradewi, atau Permaisuri Pradnyaparamita, adik Mahadewi yang juga dipermasurikan Baginda. Tidak secantik adiknya, Gayatri, namun kesetiaan dan keluhuran budinya menjadi contoh teladan.

Dara Jingga, putri boyongan dari Melayu yang dipersembahkan Senopati Anabrang kepada Baginda. Namun kemudian menikah dengan salah seorang bangsawan Keraton yang melanjutkan pemerintahan di tlatah Melayu.

Dara Petak, adik Dara Jingga, yang dipermaisurikan Baginda dengan gelar Permaisuri Indreswari. Disebut sebagai stri tinuheng pura atau permaisuri yang dituakan. Menggeser kedudukan Tribhuana dan dengan demikian berarti anak keturunannya yang bakal mewarisi takhta Baginda Kertarajasa.

Dewa Maut, tadinya menjadi tokoh yang ganas, setiap kali berperang hams mencabut nyawa lawan karena daya asmara kepada gadis pujaannya bertepuk sebelah tangan. Hidup menyendiri hanya dengan sesama kaum pria, di atas perahu yang selalu berada di Kali Brantas. Dalam salah satu pertarungan ilmunya lenyap, dan gayanya seperti kehilangan ingatan. Seluruh rambutnya putih. Gendhuk Tri dianggap “kekasihnya” yang hilang dan selalu dipanggil Tole, panggilan untuk anak lelaki. Dewa Maut hanya mau mengikuti perintah Gendhuk Tri.

Kama Kalacakra, salah seorang ksatria Jepun yang mahir memainkan pedang panjang.

Kama Kalandara, saudara seperguruan Kama Kalacakra. Dua nama yang berbeda akan tetapi artinya sama, yaitu “benih matahari”. Bila bergabung, keduanya menjadi disegani, karena bisa memindah serangan sambil berputar kencang.

Kama Kangkam, guru Kama Kalacakra maupun Kama Kalandara. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu kekuatan dengan Eyang Sepuh, memperebutkan gelar sebagai ksatria lelananging jagat, atau ksatria yang paling lelaki, yang paling tak terkalahkan.

Senopati Semi, salah seorang senopati Majapahit. Salah seorang dari tujuh dharmaputra, putra istana yang mendapat perlakuan istimewa dari Baginda. Senopati lain yang termasuk dharmaputra ialah Senopati Kuti, Senopati Pangsa, Senopati Wedeng, Senopati Yuyu, Senopati Tanca, serta Senopati Banyak.

Kala Gemet, putra mahkota Keraton Majapahit, putra Permaisuri Indreswari. Sejak muda telah diangkat menjadi calon pewaris takhta dengan mengambil tempat latihan kekuasaan di Dahanapura. Ketakutan disaingi saudaranya, ia melarang saudara lain ibu menikah.

Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang, yang terbakar oleh dendam sejak kematian ayahnya di tangan Senopati Sora. Merasa pengabdian ayahnya kepada Keraton disia-siakan, Mahisa Taruna mudah dipermainkan orang lain.

Aria Wiraraja, tokoh yang dihormati dari Sumenep, Madura, inilah yang pertama kali mengulurkan tangan kepada Sanggrama Wijaya. Taktik dan strateginya jitu. Dengan kematian Lawe, putra kesayangannya, Aria Wiraraja sangat kecewa. Kemudian meninggalkan Keraton dan berdiam di Lumajang, yang membawahkan wilayah Majapahit sebelah timur.

Naga Nareswara, atau Raja Segala Naga, merupakan utusan tertinggi dari Tartar, yang masih menyimpan dendam, karena pasukannya yang mampu menaklukkan dunia dikalahkan oleh senopati-senopati Majapahit. Akan tetapi kedatangannya yang terutama untuk bertarung dengan Eyang Sepuh, dalam memperebutkan gelar ksatria lelananging jagat. Untuk membuktikan siapa pewaris suci dari ajaran yang sama sumbernya.

Kiai Sambartaka, atau Kiai Kiamat, seorang pendeta dari tanah Hindia. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu ilmu sejati dengan Kama Kangkam, Naga Nareswara, serta Eyang Sepuh. Agaknya, lima puluh tahun lalu, para tokoh itu sudah berjanji untuk mengadakan pertempuran habis-habisan.

Paman Sepuh Dodot Bintulu, atau menyebut dirinya Bik Suka Bintulu karena menyamakan dirinya sebagai pendeta peminta-minta. Dodot Bintulu adalah nama untuk menunjukkan kesederhanaan sebagai rakyat jelata. Panggilan Paman Sepuh karena tokoh sakti ini saudara seperguruan Eyang Sepuh maupun Mpu Raganata, dan yang sesungguhnya menuliskan Kitab Bumi atau Bantala Parwa bagian pertama, yaitu yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Wajahnya hancur karena dikhianati dua muridnya yang durhaka, yaitu Ugrawe dan Halayudha. Kemunculannya kembali ke dalam dunia persilatan untuk memenuhi undangan yang disebarkan Eyang Sepuh lima puluh tahun yang lalu. Di mana akan berkumpul seluruh jago silat, jawara dari jawara seluruh jagat. Salah satu gubahan ilmunya yang terkenal, selain Banjir Bandang Segara Asat yang disempurnakan Ugrawe, adalah jurus-jurus Timinggila Kurda, atau jurus-jurus Ikan Gajah Murka. Ikan gajah adalah sebutan untuk ikan paus pada masa lalu.

Kiai Gajah Mahakrura, nama lain Paman Sepuh yang dipakai oleh Halayudha, yang menggambarkan gurunya yang dianggap sebagai gajah mahabengis.

Ratu Ayu Bawah Langit, menunjukkan sebutan bahwa di seluruh kolong langit ini, dialah yang paling ayu tanpa tanding. Nama sesungguhnya Ratu Ayu Azeri Baijani, datang dari negeri Turkana. Suatu negeri yang disebut sebagai tlatah tapel mates, karena merupakan tapal batas dengan wilayah yang tak dikenal. Ratu Ayu berkelana ke tanah Jawa karena mendengar bakal ada pertemuan seluruh jago silat. Bersama para senopatinya, Ratu Ayu ingin mencari jodoh, yaitu yang bisa mengalahkannya. Karena ia percaya bahwa bersama lelaki yang mampu mengalahkannya, ia bisa membebaskan negerinya dari jajahan Raja Tartar. Repotnya, justru dalam pengelanaannya, tak ada yang mampu mematahkan ilmunya, yaitu Tathagati, atau ilmu Buddha Wanita, yang dianggap sesat karena menyamakan sang Buddha dengan wanita. Gerak langkah ilmu ini disebut Tathagata Pratiwimba atau gerakan Area Buddha yang Kaku, serupa dengan cara bergerak boneka.

Sariq, senopati utama Ratu Ayu Bawah Langit. Sariq berarti kuning, karena ketika memainkan ilmunya seakan tubuhnya berwarna kuning seluruhnya. Senopati lainnya ialah Uighur, Karaim, Wide, Chagatai, dan Kazakh. Bersama-sama mereka mampu memainkan barisan yang disebut Lompat Turkana, atau 64 Langkah Jong. Jong bisa berarti payung, bisa berarti tertutup. Barisan Lompat Turkana ini disusun sedemikian rupa, sehingga langkah ke belakang tertutup. Mereka selalu bergerak maju ke depan, ke samping kanan, atau ke samping kiri. Konon ini merupakan permainan yang lazim di negeri Turkana.

Gajah Biru, senopati yang setia kepada Mpu Sora, baik di saat jaya maupun ketika tersisih, seperti juga:

Juru Demung

Maha Singanada, gagah perkasa, wajah dan penampilannya sangat mirip dengan Upasara Wulung. Hanya rambutnya dibiarkan tergerai dan sikapnya jauh lebih urakan, tak mengenal tata krama. Senopati ini termasuk dalam rombongan yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara dari Keraton Singasari (itu sebabnya masih memakai nama Singa) ke tlatah Campa, ke Keraton Caban. Untuk mengantarkan Dyah Ayu Tapasi, putri Baginda Raja, untuk dipermaisurikan Raja Campa. Senjata utamanya adalah kantar, atau tombak pendek. Ilmunya bersumber pada Kitab Bumi, akan tetapi cara mengatur pernapasannya disebut Nawawidha, atau Mengatur Tenaga Dalam Lipat Sembilan. Jurus-jurusnya dikenal sebagai Nawagraha, atau Siasat Sembilan Bintang, yang kesemuanya berintikan kepada angka sembilan.

Pendeta Syangka, atau Pendeta Sidateka, berasal dari tanah Syangka atau Sri Langka. Merupakan pendeta kesayangan  Putra Mahkota Bagus Kala

Gemet, sehingga kelak kemudian hari sang putra mahkota ini memakai gelar kebesaran sebagai Sri Sundarapandya Adiswara. Sebutan pandya berarti mengakui kebesaran dinasti Pandya yang memerintah di Sri Langka. Sejak tata pemerintahan Keraton Sriwijaya, pendeta-pendeta dari Syangka mencoba menanamkan pengaruhnya, akan tetapi selalu gagal. Sekali ini, Pendeta Sidateka yang menguasai Pukulan Dingin, berhasil.

Maha Singa Marutma, salah seorang senopati yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara ke Keraton Mon, di delta Sungai Saluen, di tlatah Burma. Keraton Mon menjadi rebutan kekuasaan antara Keraton Burma dan Keraton Sukothai, dari bangsa Thai. Maha Singa Marutma kembali ke tanah Jawa mencari bantuan untuk membebaskan Keraton Mon dari serbuan Burma maupun Sukothai.

Pangeran Jenang, nama yang dimudahkan untuk menyebutkan Pangeran Che Nam, yang terdesak oleh bangsa Vietnam. Karena Keraton Campa merupakan wilayah yang dikuasai Singasari, Pangeran Jenang minta bantuan ke tanah Jawa. Hanya saja ketika ia datang, yang memerintah bukan lagi Baginda Raja Sri Kertanegara. Oleh Bagus Kala Gemet, ditarik sebagai salah seorang pendukungnya.

Kebo Berune, oleh Upasara dipanggil dengan sebutan hormat Eyang Kebo Berune, sedangkan Nyai Demang memanggil dengan Kakek Kebo Berune. Salah seorang tokoh sakti yang hidup sezaman dan seangkatan dengan Paman Sepuh, Eyang Sepuh, maupun Mpu Raganata. Bahkan sama-sama merumuskan lahirnya Kitab Bumi. Kebo Berune hanyalah nama sebutan, karena tokoh ini mengembara sampai ke tlatah Berune atau Brunei, dan baru kembali untuk bertanding menguji ilmu siapa yang paling unggul. Suatu pertemuan setiap lima puluh tahun sekali. Sayangnya, karena cara berlatih tenaga dalam yang keliru, Kebo Berune selalu dibayangi maut, dan tak bisa bergerak. Salah satu ajiannya yang sejajar dengan ilmu Weruh Sadurunging Winarah Mpu Raganata, sejajar dengan ajian Tepukan Satu Tangan Eyang Sepuh, sejajar dengan Banjir Bandang Segara Asat Paman Sepuh, adalah Pukulan Pu-Ni yang diciptakannya. Pu-Ni sekadar untuk mengingatkan bahwa ilmu itu diciptakan di tanah Pu-Ni atau Berune atau Brunei. Konon ilmu-ilmu itu diciptakan untuk menjadi penangkal ilmu Dua Belas Jurus Nujum Bintang.

Pulangsih, atau Putri Pulangsih dalam sebutan Nyai Demang. Menurut cerita yang dituturkan Kebo Berune, Pulangsih adalah gadis yang diperebutkan oleh Mpu Raganata, Eyang Sepuh, Paman Sepuh, maupun Kebo Berune. Tokoh wanita yang masih serba samar ini memilih Eyang Sepuh yang disebut Bejujag atau si kurang ajar, namun justru pada saat itu Eyang Sepuh mencampakkannya. Penolakan itulah yang mengilhami lahirnya bagian terakhir Kitab Bumi, yang disebut Kitab Penolak Bumi, atau Tumbal Bantala Parwa. Pulangsih pastilah sebutan di antara keempat ksatria muda pada zamannya, karena arti pulangsih sesungguhnya adalah bersatunya daya asmara secara jasmani.

Cebol Jinalaya, si cebol berkulit hitam. Mewakili pemuja yang tetap mengagungkan Sri Kertanegara, sehingga menganggap bahwa bila mereka mati, bisa terus menjadi abdi Baginda Raja. Jinalaya sendiri nama yang dipakai untuk menunjukkan tempat untuk mati.

Senopati Agung Brahma, bangsawan tua yang dihormati oleh kalangan keraton, tetapi juga jauh dari kekuasaan karena lebih suka menyepi. Kepedihan hatinya tetap tak terhibur dengan menikahi Dyah Dara Jingga, yang dengan demikian ia adalah kakak ipar Baginda. Termasuk salah seorang senopati yang dikirimkan ke seberang oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya satu yang menyebabkan ia keluar dari “persembunyiannya”, yaitu terutama karena mendengar berita datangnya utusan dari Keraton Caban di Campa, di samping keruwetan yang menimpa Keraton.

Bagus Janaka Marmadewa atau Janaka Rajendra atau biasa dipanggil dengan Pangeran Anom, putra Senopati Agung Brahma. Ketekunannya mempelajari Kitab Air menyebabkan ia menemukan rahasia permainan ganda. Sifatnya yang polos, jujur, sering dibandingkan dengan saudara sepupunya yang menduduki takhta. Oleh sebab itu dianggap saingan di belakang hari. Dalam kepolosannya, ia menaruh hati kepada Gendhuk Tri.

Barisan Padatala, sebutan untuk ketiga pendeta dari Syangka yang memakai gelang kaki. Sebenarnya padatala lebih tepat diartikan sebagai telapak kaki. Mereka ini terdiri atas Pendeta Resres, Wacak, serta Taletekan.

Puspamurti, tokoh yang ganjil, bukan karena selalu memakai pakaian perempuan atau bersenjata kipas gede, melainkan karena selalu memainkan ilmu silatnya yang hanya satu jurus. Dikenal sebagai pemuja Kidungan Paminggir, yang biasa disebut sebagai Kitab Maha manusia.

Manmathaba, pendeta yang menjadi pemimpin tertinggi dari tanah Syangka. Agak ganjil bahwa dasar-dasar ilmu silatnya sama dengan ajaran dalam Tirta Parwa atau Kitab Air. Yang mengerikan adalah senjata rahasia berupa bubuk pagebluk yang bisa membunuh dan atau membuat korbannya ketagihan terus-menerus. Di samping itu juga memiliki senjata bandring cluring, yang talinya konon dibuat dari otot manusia. Ilmu kebalnya juga belum ada tandingannya.

Truwilun, muncul sebagai peramal atau dukun yang membela rakyat kecil dengan memberi pengobatan dan penyuluhan. Rambut, jenggot, dibiarkan tumbuh secara liar, akan tetapi pandangan matanya menyorotkan kasih dan kedamaian. Potongan kayu digunakan sebagai alas kaki.

Cantrik, pengikut setia Kiai Truwilun.

Pengasihan, sebutan untuk sejumlah senopati yang diangkat ketika Manmathaba berkuasa. Di antaranya, Senopati Jaran Pengasihan, Senopati Kebo Pengasihan. Mereka sengaja diberi kekuasaan pada saat terjadi perebutan kekuasaan dan pengaruh di kalangan senopati.

Tantra, senopati yang sangat dekat hubungannya dengan tujuh senopati utama, atau pada dharmaputra, yaitu senopati yang dianggap berjasa besar oleh Baginda Kertarajasa ketika mendirikan Keraton Majapahit.

Praba Raga Karana, sebutan untuk kekasih Raja Jayanegara. Sebutan ini agak berlebihan, karena praba berarti sinar yang memancar dari orang suci, sedangkan raga karana sebutan untuk tubuh yang mengimbau berahi. Dulunya juru pijat yang diangkat dan dipersiapkan menjadi permaisuri.

Sodagar Galgendu, saudagar yang mempunyai tambang emas Gua Kencana, di Desa Kedung Dawa. Karena jasa dan sumbangannya kepada Keraton, ia diberi gelar Wong Agung. Tubuhnya yang gemuk dan kelembutan sikapnya tertutupi berita bahwa dirinya bisa membuat pohon kelapa yang seluruhnya terdiri atas emas. Ia sangat mengagumi dan mengharapkan bisa mempersunting Ratu Ayu.

Ki Dalang Memeling, tokoh dalang dari Desa Memeling yang mampu memainkan wayang kulit tanpa menyentuh. Ia termasuk pemilik Gua Kencana, namun belum suka mendalang. Meskipun digemari rakyat, Ki Dalang kurang disukai kalangan Keraton.

Mada, pemuda desa yang mempunyai cita-cita menjadi prajurit Keraton sebagai pembebas derita hidup dan pengakuan pribadinya. Mada bisa diartikan air berahi, atau air asmara. Sebuah nama yang agaknya sengaja dipakai untuk memperlihatkan latar belakangnya yang berasal dari rakyat kebanyakan, seperti petani dan tukang perahu, seperti juga keempat sahabatnya berikut ini:

Madana, yang bisa berarti dewa asmara.

Senggek dan Genter, yang arti harfiahnya galah, akan tetapi juga simbol kejantanan.

Kwowogen, yang berarti rasa puas yang berlebihan dalam kenikmatan badani, seperti makan terlalu banyak. Kelimanya menemukan persamaan tujuan, dan berguru langsung untuk memahami Kidung Pamungkas. Ini berbeda dari generasi sebelumnya yang mulai mempelajari Kitab Bumi, sehingga melahirkan sikap yang juga berbeda.

Pangeran Hiang, satu-satunya putra mahkota Kaisar Tartar yang berani memakai umbul-umbul atau bendera dengan simbol Siung Naga Bermahkota. Ini menunjukkan bahwa pangeran yang pernah menyusup masuk dan menaklukkan Jepun serta Koreyea itu merupakan calon pewaris takhta di Keraton yang menguasai jagat.

Putri Koreyea, istri Pangeran Hiang yang berasal dari tlatah Koreyea, yang berdiam di perahu yang memiliki perlengkapan serba sempurna untuk menghalau siapa pun yang mencoba mendekat.

Barisan Api, atau Pendekar Api, sebutan untuk para pengawal utama pasangan Pangeran Sang Hiang dengan Putri Koreyea. Terdiri atas tiga belas prajurit pilihan, yang tenaganya luar biasa besar. Lebih menakjubkan lagi, tenaga dalam mereka ini bisa berlipat jika telapak tangannya bersentuhan. Nama-nama mereka semua berarti sama, yaitu berarti taji api. Seperti Jalugeni, Jalulatu, Jaluapi, Jaluapyu, Jaluagni, Jalubahni, Jaludahana, Jalubtama, Jaluguna, Jaluanala, Jalusiking, Jalupawaka, Jalupuja yang agaknya tidak pernah dipergunakan karena tidak berhubungan dengan orang luar.

Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara, kakek buyut Pangeran Hiang yang menyatukan seluruh bangsa Mongol, Tartar yang gagah perkasa. Gelaran sebagai Penguasa Jagat diberikan setelah berhasil mengakhiri dinasti Keraton Tang yang menguasai tanah Cina.

Senopati Temujin nama yang dipakai ketika menyatukan suku bangsa yang hidup liar di gurun pasir terbuka.

Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, ayah Pangeran Hiang, cucu Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara, berhasil mengembangkan tradisi kemenangan, setelah menggantikan kakaknya. Keraton Tawu dibangkitkan kembali dengan mengambil nama dinasti Yuan.

Gemuka, saudara tua Pangeran Hiang, keturunan ketiga Jamuka, senopati Tartar yang bersama Temujin berhasil menguasai seluruh dataran Cina, hingga ke Persia dan Samudra Adriatik. Tradisi kemenangan dan darah Tartar yang murni mengalir dalam tubuhnya, sehingga mengikuti Pangeran Hiang ke Jepun dan Koreyea. Sewaktu rombongan ke tanah Jawa, Gemuka sebenarnya merasa keberatan.

Dyah Palasir, salah seorang senopati muda Majapahit. Anak buah langsung Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja. Bersama Dyah Pamasi, mereka merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan menjadi pengganti.

Dewi Renuka, nama yang dikenakan kepada wanita yang kurang jelas asal-usulnya, yang ditemui Halayudha ketika masih berguru kepada Paman Sepuh. Sebutan ini mengambil nama tokoh dalam dunia pewayangan yang melakukan penyelewengan asmara dan kemudian hari dibunuh putranya. Dewi Renuka ini yang mengakibatkan Halayudha buntu tenaga planangan atau tenaga kelelakiannya.

Nyai Makacaru, atau Nyai Sesajian, istri Senopati Tanca yang lebih dikenal sebagai tabib Keraton. Keunggulannya dalam meracik jamu dan jejampian dikabarkan membuat suaminya tidak melirik wanita lain. Nurani kewanitaan Nyai Makacaru terobek ketika mengetahui niatan Raja Jayanegara mengawini Tunggadewi dan Rajadewi, saudara seayah.

Senopati Gandhing, pengikut setia Mahapatih Nambi yang menguasai Benteng Gandhing. Senjata andalannya kalawai, tombak bermata tiga.

Senopati Bango Tontong, semula adalah pengikut setia Mahapatih Nambi yang diangkat Halayudha sebagai pemimpin Barisan Kosala, barisan untuk menjaga ketenteraman, ketertiban, dan kesejahteraan. Akan tetapi julukan yang beredar di masyarakat ialah Barisan Kopina atau Barisan Cawat. Sebutan Bango Tontong, karena kakinya panjang, kurus, hitam seperti burung bangau tontong.

Tenggala Seta, diduga putra Dewi Renuka. Sekurangnya menurut pendekatan merogoh sukma yang dilakukan Eyang Puspamurti. Tenggala berarti luku atau bajak, atau dalam bahasa lain juga hala, yang juga mengandung arti yang berdosa, hina, celaka, dan kalah. Arti lahiriahnya bajak atau luku putih.

Jabung Krewes, senopati yang diunggulkan dan diberi jabatan kuat dalam tata pemerintahan Keraton. Oleh Halayudha dimaksudkan untuk mengimbangi pengaruh Senopati Bango Tontong yang bisa meluas. Dengan mengadu dua kekuatan, kedudukan Halayudha sebagai tempat bergantung semakin kokoh.

Baginda Koryo, raja yang memerintah Keraton Koreyea, yang berhasil menyatukan bangsa yang selama ini terjajah oleh bangsa Cina. Merupakan leluhur atau nenek moyang Putri Koreyea.

Si Bawuk, sebutan yang diduga keras untuk Jagaddhita, guru sekaligus pengasuh Gendhuk Tri.

Angon Kertawardhana, pangeran muda yang berasal dari Cakradaran, yang mendiami keraton petilasan Singasari. Putra Cakradara yang merupakan pewaris takhta dari wilayah yang dulunya menjadi pusat kekuasaan.

Pangeran Muda Wengker, pangeran muda yang mendiami Keraton Tua, sebutan untuk Keraton Daha, cikal bakal sebelum berdirinya Singasari.

Jurang Grawah, prajurit yang diangkat sebagai senopati oleh Senopati Kuti. Sebagaimana biasanya, setiap pergantian pimpinan, terjadi pula pergeseran di lapisan bawahnya.

Patih Arya Tilam, patih Daha yang sakti. Jabatan utamanya adalah penasihat rohani Pangeran Muda Wengker. Kemampuannya meramal masa depan agaknya justru merepotkan hidup yang dijalani sekarang.

Patih Arya Wangkong, patih wilayah Singasari yang kasar dan terbuka. Pengabdi setia Pangeran Muda Angon Kertawardhana.

Ngwang, sebutan untuk pendeta yang mempunyai hubungan erat dan ganjil dengan Pangeran Sang Hiang. Ilmu andalannya berdasarkan kekuatan angin, yang diciptakan khusus untuk mengalahkan Kitab Bum. Ngwang sebenarnya sebutan untuk orang yang belum diketahui asal-usulnya.

Cubluk, gadis kecil yang ditemukan di tempat mangkatnya Jaghana. Sangat cerdas, lembut, dan tidak menyukai ajaran silat.

Klobot, bocah kecil yang ditemukan bersama Cubluk. Kedua anak ini dinamai demikian karena ketika pertama ditemukan hanya kata itulah yang diucapkan. Berbeda dari Cubluk, Klobot sangat bernafsu mempelajari ilmu silat.

Nala, salah seorang prajurit pratama, atau prajurit kelas satu, dari Daha. Seperti juga Naka


Ayang-Ayang Raja

MESKIPUN dalam keadaan limbung dan menggabruk ke lantai, ternyata serangan yang serentak menyerbu ke arahnya tak menimbulkan gangguan sedikit pun.

Halayudha tetap berdiri tegak sementara puluhan tombak menusuk ke arahnya. Dengan menyalurkan tenaga dalam ke seluruh lubang kulitnya, arah tombak seakan melenceng.

Seperti mengenai baja yang licin.

Tusukan pedang berikutnya malah menimbulkan rasa takjub.

Dua pedang bahkan bisa dikempit di bawah ketiak Halayudha. Penusuknya tak bisa bergerak. Ketika Halayudha melonggarkan kempitannya, tubuh penyerang justru tergelosor di lantai.

Tanpa bisa bangun lagi.

Pameran yang luar biasa dari penguasaan tenaga dalam yang sempurna. Kalau Halayudha berniat membalas, puluhan prajurit kawal tak bakal bisa menghirup udara lagi. Tanpa mengerti apa kekeliruan yang dilakukan.

Baginda menyadari bahwa ilmu Halayudha jauh di atas prajurit kawal pribadinya. Akan tetapi bahwa tanpa membuat gerakan membalas sedikit pun mampu mengenyahkan seluruh serangan, tetap menimbulkan kekaguman.

Semua itu dilakukan tanpa membalas serangan.

“Kidung Ayang-Ayang Raja!”

Perintah Baginda bukan menyebutkan nama jurus ilmu silat. Mengatakan ayang-ayang berarti mengatakan bayang-bayang raja, atau bayangan tubuh raja.

Kembali tubuh Halayudha menggeletar.

Bibirnya tipis dan alunan tembangnya terasa ringan.

Seorang raja ialah seorang yang mempunyai bayang-bayang tubuh sepanjang tanah, sepanjang air, sepanjang udara itulah bedanya dengan pohon paling tinggi dan burung yang bisa terbang, dan angin yang tak berbentuk tak berwujud seorang raja perkasa tanpa jejak tanpa tapak ia menciptakan bayangan tubuh masa depan, di mana anak-cucu berlindung dan meneruskan hingga ke keturunan yang kemudian bayangan tubuh seorang raja ialah sarang angin bayangan tubuh seorang raja ialah tempat terangingatlah semua keturunan darah Singasari, ingatlah semuanya agar Dewa menjadi iri, sakit hati, tapi tak bisa apa-apa  itulah bayangan tubuh seorang raja, itu hanya bayangannya…

“Lalu apa maumu?”

“Jadilah seorang raja.”

“Apa yang kamu lihat?”

“Seorang raja tanpa ayang-ayang!”

“Kembalikan semua kepada ingsun, sebab kamu tak berhak mengidungkan. Itu kidungan raja, dan kamu tak berhak meminjam, Halayudha!”

Suara Baginda mengguntur keras sekali.

Saat itu Mahapatih Nambi dan para senopati yang lain sudah mengurung. Mereka melakukan sembah dan berjongkok menunggu gerakan napas yang berbeda.

Sementara Halayudha berdiri tegak.

Kembali terjadi perubahan pada tubuhnya. Yang perlahan terangkat ke atas, ke atas hingga setengah tombak.

“Tak ada gunanya matahari diciptakan kalau tak mampu membuat bayangan tubuh.”

Didengar dari nadanya jelas itu ucapan Halayudha. Akan tetapi sekilas terlihat bahwa tak ada bagian tubuh Halayudha yang bergerak.

Juga ketika turun kembali dan kakinya menginjak tanah.

Mahapatih Nambi menjadi tidak sabar. Tangannya mencabut keris dari pinggang, dan dengan menotol keras tubuhnya melesat dari samping. Lambung Halayudha yang ditusuk langsung. Di dalam pergelangan tangannya tersalur tenaga tusukan yang luar biasa ganasnya.

Sret, sret, pakaian Halayudha terobek.

Sewaktu Nambi membalik kerisnya, kali ini kain Halayudha yang robek. Tersayat-sayat. Dalam satu gerakan tangannya telah bergerak naik-turun tujuh kali. Ada tujuh sayatan.

Akan tetapi tetap saja.

Tubuh Halayudha berdiri tegak. Tak terluka sedikit pun.

Kali  ini Mahapatih Nambi terkesiap. Sungguh luar biasa! Tusukan kerisnya seakan menikam dan merobek kulit. Akan tetapi ternyata hanya mengenai kain.

Dua kali Mahapatih mengulangi gerakannya, hanya sobekan kain yang makin banyak. Seakan rumput panjang yang digantungkan.

Tetapi sedikit pun tak ada kulit yang terluka.

Luar biasa!

Setebal apa pun kulit, sekebal ilmu apa pun, sulit dipercaya bahwa kain yang menempel di kulit bisa hancur tersayat, akan tetapi tak melukai kulit ari sekalipun.

Rasanya seumur hidup Mahapatih Nambi tak pernah membayangkan ada ilmu yang begitu hebat. Bahkan kalau tidak mengalami sendiri, tidak menusuk sendiri, agak sulit mempercayai.

Halayudha diakui mempunyai seribu satu akal. Baik yang benar-benar licik maupun yang penuh akal-akalan. Kabar mengenai hal ini sudah menyebar.

Bukan tidak mungkin di balik kain yang dipakai, Halayudha memakai pelapis yang tak mempan disentuh senjata.

Bisa terjadi hal semacam itu.

Akan tetapi tidak sekarang ini.

Jelas terlihat kulit Halayudha melalui kain yang tersobek. Tidak mengenakan sesuatu.

Tidak memakai pelindung apa-apa.

“Kembalikan, Halayudha!”

Perintah Baginda kembali mengguntur.

“Kembalikan ke mana, siapa yang punya?

“Lihatlah ke tanah. Adakah bayangan tubuhmu?”

Mahapatih Nambi kembali menggebrak. Kali ini dengan pukulan kosong. Mencoba menangkap tubuh Halayudha yang tak bergerak. Merenggut paksa dan membanting ke lantai.

Akan tetapi lagi-lagi hanya sobekan pakaian yang tertarik.

Sementara ayunan senjata yang lain juga tak mempunyai pengaruh apa-apa. Seakan melesat di kiri dan di kanan, di samping, di atas tubuh Halayudha.

Kalau seratus tusukan bisa dihindari tanpa menggerakkan tubuh, tanpa diperintahkan para penyerang melangkah surut.

Halayudha maju setapak.

Mendekati Baginda.

Yang mundur setindak.

Keadaan menjadi sunyi.

“Kidungan Para Raja bagian mana lagi yang diperlukan?”

Tak ada jawaban.

Halayudha maju lagi dua tindak.

“Kidung pambuka…” terdengar suara halus merdu.

Baginda melirik kaget.

Permaisuri Rajapatni duduk bersimpuh di kejauhan belakang, akan tetapi suaranya mendenging lemah.

Halayudha menghirup napas dalam-dalam. Suaranya mengalun perlahan, seolah berbisik.

Bacalah Kidungan Para Raja

sebab ini wejangan Kertanegara

yang perkasa

yang dikasihi Dewa

yang dipuja

bacalah jika rohmu roh raja….

Halayudha masih akan melanjutkan, karena nada kidungan itu belum selesai, ketika Permaisuri Rajapatni berseru lirih,

“Tutuplah, sebab kamu tak memiliki roh raja….”

Tubuh Halayudha tergetar, dan mendadak lututnya seperti terkena pukulan keras. Tertekuk. Tubuhnya ambruk.

Baginda mendongak ke atas.

Matanya menyipit.

Apa yang diucapkan permaisurinya sangat tepat. Memotong kidungan yang ditembangkan Halayudha.

Seharusnya lanjutan kidungan tadi ialah:

Bacalah jika rohmu roh raja

roh rajamu, Raja Singasari….

Dan selanjutnya. Namun dengan memutus hubungan dengan lirik berikutnya, Permaisuri Rajapatni mampu menghentikan kekuatan roh kidungan.

Halayudha seperti dibanting kembali ke alam kenyataan, bahwa ia bukan raja. Bahwa ia tak berhak membaca kidungan yang khusus ditulis untuk para raja.

Baginda mengetahui dengan pasti. Hafal segala lekuk-liku cara menembangkan. Hanya tidak menyadari bahwa dengan mencegat di tengah, artinya bisa lain sama sekali.

Asmara Dayinta

KIDUNGAN PARA RAJA menurut cerita selalu ditulis sendiri oleh raja yang sedang berkuasa. Ditulis sendiri dalam artian didiktekan secara langsung lalu dicatat abdi kepercayaannya maupun ditulis sendiri dalam artian sebenarnya.

Inti kidungan itu ialah isi pemikiran yang ingin ditularkan kepada raja penerus. Ajaran-ajaran suci ataupun mengenai pembagian kekuasaan.

Semacam kitab wasiat terakhir yang hanya boleh dibaca setelah raja yang bersangkutan kembali ke alam para Dewa.

Menurut kisah yang didengar ketika Baginda masih berada di Singasari, Kidungan Para Raja ditulis sendiri oleh Sri Baginda Raja Kertanegara. Juga sampai saat-saat terakhir ketika prajurit Jayakatwang menyerbu.

Kalau sampai Permaisuri Rajapatni bisa menghafal, bukan sesuatu yang luar biasa. Karena Sri Baginda Raja memang raja yang lain dari raja-raja sebelumnya. Tata aturan itu tidak berlaku. Masih di saat memegang tampuk pemerintahan, Sri Baginda Raja mengizinkan putri-putrinya membaca segala apa yang ada di ruang pustaka raja atau perpustakaan bagi keluarga raja.

Jadi bisa dimengerti kalau Rajapatni, atau kakak-kakaknya, turut membaca dan dengan sendirinya bisa hafal.

Sri Baginda Raja bertindak nerak angger-angger, atau melabrak aturan dalam soal semacam ini. Keinginannya yang besar untuk menghimpun satu kitab silat saja sudah menunjukkan sesuatu yang tak sama dengan raja sebelumnya.

Hasilnya memang tidak mengecewakan.

Sekian banyak senopati dikirimkan ke tlatah seberang. Beberapa putrinya mampu menguasai banyak ilmu. Seperti Permaisuri Tribhuana yang mahir dalam tata pemerintahan.

Dan seperti yang baru saja terbukti.

Permaisuri Rajapatni mampu mencegat kidungan yang ditembangkan Halayudha. Hal ini menandakan bahwa Permaisuri bukan hanya hafal kidungan itu, akan tetapi juga mampu menguasai dengan sempurna. Tahu di mana titik, tahu di mana ketika menembangkan si penembang menarik napas. Karena kidungan seperti itu adalah kidungan yang perlu dipahami dengan kecerdasan pikir dan sekaligus ketulusan hati. Karena kidungan seperti itu adalah kidungan yang penuh nasihat, penuh perlambang, di mana kalimat-kalimat yang diucapkan mempunyai makna serba ganda.

Kidungan Para Raja pada bait yang ditembangkan Halayudha menunjukkan bahwa hanya boleh dibaca oleh yang mempunyai roh raja, bacalah jika rohmu roh raja. Dalam hal ini Rajapatni masuk secara jitu dengan mengatakan bahwa Halayudha tidak mempunyai darah raja.

Padahal kalau dibaca lengkap sampai bait terakhir, bukan tidak mungkin justru Sri Baginda Raja memberi makna yang berbeda. Karena di ujung kalimat berbunyi roh rajamu, Raja Singasari. Yang berarti ada perbedaan antara roh raja dan roh rajamu, Raja Singasari.

Perbedaan yang sangat besar antara keturunan dan calon raja, dengan yang memiliki jiwa seorang raja!

Apa pun juga, Rajapatni bisa mempergunakan dengan tepat.

Pada saat yang menentukan.

Baginda tak habis pikir. Permaisurinya yang selama ini mampu duduk bersila tanpa mengubah tempat duduk sekian lama, yang membiarkan air mata menetes tanpa diusap, pada saat tertentu mampu tampil dengan perkasa.

Nyatanya hanya dengan kidungan itu seluruh tenaga gaib yang menguasai Halayudha bisa buyar.

Padahal sebelumnya, tenaga gaib itu yang demikian besar pengaruhnya sehingga seorang Halayudha berani berdiri sama tinggi dengan Baginda, berani berbicara sambil memandang mata.

Suasana lengang.

Geraham Baginda beradu.

Semua yang hadir menunggu.

Kelu.

Membisu.

Miliki roh raja

meskipun kamu paminggir

kembalilah ke pinggir

dengan roh rajamu

kembali ke kembali

kembali

ke asalnya

seperti keris jadi besi

kembali bertani

di sawah atau di laut

sebab di situ tempat

pengabdian

kembali ke kembali

kembali

ke roh pengabdian….

Dengan tarikan napas lega, Rajapatni mengakhiri kidungannya dan menyembah secara hormat sekali.

Baginda menarik napas dan mengibaskan tangannya.

“Bagus, Yayi.

“Kini kembalilah ke tempatmu. Sebab wanita punya tempat sendiri.”

Permaisuri kembali menyembah hormat.

“Apa benar begitu?

“Rasanya tak ada yang menyalahkan kalau wanita berada di antara lelaki. Sri Baginda Raja tak pernah melarang saya berada di mana saja untuk menembangkan Kidung Asmara Dayinta?

Tanpa terasa Halayudha maupun Mahapatih Nambi menoleh ke arah datangnya suara.

Sesuatu yang tak akan dilakukan secara sadar di depan Baginda. Di depan dan tengah menghadap rajanya!

Langit boleh runtuh dan bumi boleh terangkat ke atas, akan tetapi tetap tak akan menggugah pemusatan pikiran untuk hanya mendengar kalimat dari Raja.

Dan untuk sejenak Halayudha merasa dadanya bergolak.

Karena mengenali sekilas Putri Pulangsih yang berdiri tegap sambil menyilangkan kedua tangannya, sedakep, di depan dada.

Yang membuat darah Halayudha berdesir kencang, juga Mahapatih Nambi, ialah karena sosok tubuh lelaki yang bersila di dekat kaki Putri Pulangsih.

Sekelebatan seperti Maha Singanada.

Akan tetapi Mahapatih sadar bahwa Maha Singanada masih bertarung di halaman dengan Senopati Agung.

Tak salah lagi.

Itulah Upasara Wulung.

Upasara Wulung!

“Kakang…”

Terdengar suara seakan rintihan hewan yang terluka. Suara wanita.

Suara siapa?

Suara Permaisuri Rajapatni?

Dugaan Mahapatih memang begitu karena sejak tadi tak ada suara wanita, sampai dengan pemunculan Putri Pulangsih yang tak dikenalnya, selain Permaisuri.

Senopati Pamungkas II – 2

Namun Halayudha yang lebih tajam pendengarannya mengetahui bahwa asal suara itu jauh di belakangnya.

Siapa lagi yang berani keluyuran dan menerobos masuk selain Gendhuk Tri?

Kalaupun Baginda mendengar suara itu, hatinya seperti ditoreh sesuatu yang menyakitkan ulu hatinya. Seperti tertusuk belahan bambu tipis yang menimbulkan luka tanpa mengalirkan darah. Pun setelah mengetahui bahwa bukan permaisurinya yang meneriakkan “Kakang”….

Torehan yang memilukan itu karena suara Putri Pulangsih yang menyebutkan Kidungan Asmara Dayinta. Yang artinya kira-kira adalah Tembang Asmara Permaisuri, puisi cinta permaisuri.

Sebutan itu tak berarti apa-apa bila saat itu tak ada Upasara Wulung dan Permaisuri Rajapatni alias Gayatri.

Sebutan itu tak ada artinya apabila tidak dikaitkan dengan kidungan yang diciptakan Sri Baginda Raja.

Bagi Baginda, kata-kata itu menusuk tajam sampai dasar.

Karena, seperti hampir semua kerabat Keraton mengetahui atau setidaknya pernah mendengar, Sri Baginda Raja dikenal memanjakan daya asmara secara terbuka. Pesta-pesta Keraton hampir tak pernah sepi dari tata asmara.

Sehingga kidungan yang diciptakan pun, bisa dihubungkan dengan daya asmara. Atau hubungan asmara, yang menjadi inti utama kehidupan.

Baginda bisa mengetahui secara tepat karena sudah membaca dari bait pertama hingga bait terakhir.

Rasanya saat itu bayang-bayang tubuh Baginda mengecil.

“Nenek tua, apa maksudmu sowan tanpa tinimbalan ngarsaningsun?”

Sebutan ngarsaningsun menunjukkan bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi atas karsa, atau kehendak, Baginda.

Putri Mulanguni

BERAGAM tanda tanya muncul seketika di banyak benak. Gendhuk Tri sendiri bertanya-tanya bagaimana Upasara Wulung bisa mendadak muncul bersama Putri Pulangsih. Mahapatih dan para senopati bertanya-tanya apa yang harus dilakukan untuk melindungi Baginda. Akan tetapi yang terdengar suara lembut dan dingin nadanya.

“Kalau saya mau pergi ke mana, itu atas kemauan sendiri. Tak ada yang harus menentukan. Dulu, sekarang, atau kapan saja. Apakah saya sudah menjadi nenek-nenek atau tidak, apa hubungannya dengan kamu?

“Siapa kamu sebenarnya, berani berdiri dan membuka kaki?”

“Ingsun Kertarajasa Jayawardhana yang memerintah merah atau birunya Keraton Majapahit.”

“O, rupanya kamu raja.

“Rasanya terlalu lembut seperti bayi….”

Mahapatih Nambi mengentak, kedua tangannya terulur ke depan. Satu lontaran tenaga meluncur. Akan tetapi kali ini, Mahapatih justru tersungkur ke depan. Rata dengan lantai tak bisa bergerak lagi.

“Siapa namamu dan apa kemauanmu?”

“Nama saya sudah dilupakan, kecuali oleh beberapa orang yang sudah mati. Apa kemauan saya, hanya ingin mendengarkan Kidung Asmara Permaisuri ditembangkan untuk ksatria yang nasibnya sebaik gurunya yang kurang ajar.”

Jelas yang dimaksudkan adalah Upasara Wulung dan Gayatri!

Putri Pulangsih tetap berdiri tegak. Tangannya tetap bersilangan, hanya dadanya sedikit bergerak naik-turun.

“Kenapa bersila dan menunduk? Katanya mau bertemu kekasih dan menembangkan daya asmara. Apa lagi yang kamu tunggu?”

Upasara Wulung diam tak bergerak.

“Upasara!”

Teriakan Baginda terdengar mengguntur.

“Sembah dalem, Gusti yang dipuja seluruh Keraton.

“Apa pun keinginanmu datang kemari, ingsun tidak suka tindakanmu. Sebelum lebih marah lagi, lebih baik kamu meninggalkan Keraton dan tak usah menginjakkan kaki lagi.”

Upasara menyembah.

“Tunggu dulu!

“Kenapa kamu begitu bodoh? Kenapa kamu tak mewarisi sedikit pun keberanian si Bejujag, yang bisa menaklukkan putri kesayangan Sri Baginda Raja?

“Lihat baik-baik.

“Buka mata lebar-lebar.

“Rasakan getaran asmara yang sama dari kekasihmu, Putri Mulanguni yang tak bisa menahan berahi….”

Bahkan Gendhuk Tri pun merasa wajahnya merah.

Rasa malu dan jijik menjadi satu.

Selama ini wanita yang dikenalnya yang bisa mengeluarkan kata-kata tidak senonoh adalah Nyai Demang. Tak tahunya ada yang lain. Yang dianggap suci karena masih eyang gurunya. Yang tidak seharusnya berbuat seperti itu.

Alangkah sempurnanya bayangan Gendhuk Tri jika saja Eyang Putri Pulangsih moksa begitu saja, seperti Eyang Sepuh. Lebih meninggalkan kesan suci.

Dan bukannya malah muncul dengan cara seperti ini.

Selama ini gambaran yang ada di benak Gendhuk Tri sudah membentuk sempurna. Rasa hormat hingga menyerupai pemujaan yang luar biasa dalam terhadap Mpu Raganata serta Eyang Sepuh. Hal yang sama yang dirasakan secara tulus terhadap Eyang Putri Pulangsih. Karena hidup sezaman dan memperlihatkan kebijakan serta kearifan yang sama.

Tak tahunya membuatnya sangat jengah.

Kikuk.

Rendah.

Apalagi menyebut Permaisuri Rajapatni dengan sebutan Putri Mulanguni. Sebagai putri yang membangkitkan berahi.

Dewa segala Dewa, apakah serendah itu omongan eyang gurunya? Yang usianya lebih pantas untuk disembah dan dipuja?

Sebenarnya yang paling rikuh, paling malu, dan tidak enak hati, adalah Upasara Wulung.

Sama sekali tak menyangka akan menghadapi kenyataan yang dalam mimpi pun tak berani dihadapi. Selama ini betapapun rindunya bergolak, Upasara selalu berusaha menenggelamkan. Berusaha mengubur ke bawah sadarnya.

Pun di puncak kerinduannya yang tak tertahankan, Upasara memilih tidak menemui Gayatri.

Akan tetapi sekarang justru terjebak dalam keadaan yang sama sekali tak terbayangkan.

Tak bisa dihindari.

Ini memang perjalanan yang panjang. Sangat panjang.

Upasara tidak membayangkan bisa bangkit lagi. Saat ia tergeletak beku merayap dari kedua kaki, Upasara tak mempunyai niatan untuk bangkit lagi.

Ia membiarkan tubuhnya terseret oleh arus pukulan yang membekukan, menyesakkan, dan membuatnya tidak sadar. Beberapa kali Upasara tersadar, akan tetapi untuk kesekian kalinya pula tak sadar lagi.

Sampai akhirnya ia menyadari berada di bawah lindungan pohon di tengah malam saat bulan sangat pucat.

Ada bayangan lelaki tua di sebelahnya sedang bersemadi, dengan janggut panjang putih seperti menyentuh tanah.

Upasara hampir saja berseru kegirangan dan memeluk bayangan kakek yang dikiranya Eyang Sepuh.

“Masih mau mencari mati, anak muda?”

Antara sadar dan tidak, Upasara mengenali nada suara itu.

“Eyang…”

“Apa aku masih pantas dipanggil eyang kalau hanya seorang kakek tua tak berguna, yang berjalan menyelusuri bayangan pohon kala rembulan mau bersinar.

“Upasara, kamu tidak pantas menjadi ksatria. Tidak pantas menjadi senopati Singasari. Putraku lebih pantas menjadi ksatria lelananging jagat daripada kalian semua.”

Upasara memaksa diri duduk dan menyembah.

“Eyang Wiraraja…”

“Oho, kamu masih mengenaliku dan mengenali putraku yang gagah?”

” Sembah pangabekti buat Eyang Wiraraja.

“Mana mungkin saya bisa melupakan Kakang Senopati Lawe yang gagah dan digdaya?”

Eyang Wiraraja mengangguk-angguk.

Kini jelas jenggotnya yang putih bagai kapas menyentuh tanah berkali-kali.

“Jadi kamu menganggap putraku lelaki gagah, digdaya, perkasa, dan berjiwa ksatria?

“Tidak sia-sia aku mendidiknya.

“Tidak sia-sia….”

Upasara bisa merasakan nada getir yang mengalir. Lebih dari itu, Upasara Wulung mengenal tokoh tua yang menolongnya untuk sementara.

Ketika prajurit di bawah pimpinan Raden Sanggrama Wijaya menyiapkan benteng pertahanan di desa Tarik, Eyang Wiraraja inilah yang berjasa besar. Bukan hanya melatih para prajurit, mendirikan benteng, dan melindungi dari ancaman masuknya prajurit telik sandi Raja Jayakatwang, melainkan juga yang mengatur siasat sejak semula.

Jauh dalam hatinya, Upasara sangat menghormati tokoh tua yang dianggap sakti serta bijak ini.

Apalagi sejak lama Eyang Wiraraja mengabdi kepada Sri Baginda Raja Kertanegara.

Hanya saja ketika itu Upasara tak pernah berhubungan langsung. Karena dirinya hanyalah prajurit biasa, sementara Eyang Wiraraja adalah penasihat utama Raden Sanggrama Wijaya. Yang ketika naik takhta pun masih memandang hormat padanya. Jarak pangkat dan derajat yang jauh berbeda.

Meskipun demikian, Upasara cukup mengerti apa yang terjadi pada Eyang Wiraraja. Yang akhirnya memilih menyingkir dari Keraton dan meminta bagiannya di seberang timur.

Setelah kecewa atas terbunuhnya putra kesayangannya yang mempunyai nama sama dengannya. Yang lebih dikenal sebagai Senopati Lawe.

Sebaliknya, Upasara juga merasa dikenal. Sekurangnya ketika menyebut ksatria lelananging jagat, menunjukkan bahwa Eyang Wiraraja mendengar dan mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia persilatan.

Di atas persoalan itu, Upasara juga bertanya-tanya dalam hati. Kalau tokoh yang begitu dihormati dan pernah mengasingkan diri ke tanah timur, kemudian berniat kembali ke Keraton, pasti ada sesuatu yang luar biasa.

Selama mengasingkan diri dan mendirikan keraton pemerintahan di tlatah Madura, boleh dikatakan mengibarkan umbul-umbul, mengibarkan bendera sendiri.

Akan malu hati untuk datang ke Keraton Majapahit.

Upasara tak melanjutkan jalan pikirannya, karena kebekuan yang menusuk-nusuk membuat tubuhnya kejang dan ngilu. Hawa dingin yang tadinya di ujung kaki, kini telah menjalar sampai perut.

Perlahan tetapi pasti, perutnya terasa keras dan tidak memungkinkan bernapas dengan leluasa.

Ada Ketika Tiada

EYANG WIRARAJA ternyata tidak peduli sama sekali dengan penderitaan Upasara. Tetap duduk, tenang. Malah membuka bekalnya yang berupa daun-daun dan mengunyah perlahan.

“Putraku Lawe, lanang yang sesungguhnya. Lelaki sejati. Dan Dewa tak menciptakan lelaki semacam itu dua orang.

“Cukup seorang.

“Ketika Tarik masih tinggi dengan ilalang dan binatang buas, dialah yang pertama kali membersihkan. Ketika pertarungan dengan Raja Muda Jayakatwang, dialah yang pertama kali mengangkat pedang, membunyikan genderang perang. Ketika pasukan Tartar digempur, dialah yang maju paling depan tanpa gentar, tanpa menunggu orang lain ikut campur.

“Dia selalu berani.

“Berani berbuat apa yang terbaik menurut suara hatinya.

“Itulah darah lelaki.

“Yang kuturunkan padanya.

“Itu sebabnya ia berteriak gusar tatkala Nambi diangkat menjadi mahapatih. Ia tak menghendaki untuk dirinya sendiri. Ia menghendaki yang lebih berhak. Yaitu Sora.

“Semua mengetahui bahwa yang dikatakan putraku yang benar.

“Orang yang buta, tuli, lumpuh pun mengetahui dan membenarkan. Akan tetapi, ia bicara seperti itu di depan seorang raja. Raja yang baru. Yang dulunya bersama-sama menebas ilalang dan mengangkat pedang.

“Putraku salah.

“Putraku disalahkan.

“Karena tak mengenal tata krama, tak mengenal unggah-ungguh, tak membedakan bicara dengan siapa. Padahal apa sebenarnya tata krama itu?

“Bagi kami dari tlatah Madura, mengatakan kebenaran itulah tata krama. Itulah budi pekerti. Itulah jiwa mulia.

“Kalau putraku dianggap mursal, dianggap kurang ajar, barangkali ada benarnya karena dilihat dari tata krama di tanah Jawa. Tapi kenapa mereka yang di tanah Jawa ini tak sedikit pun mau melihat tata krama Madura?

“Apakah Madura bukan tanah?

“Apakah Madura tak punya tata krama?

“Kalau tak punya, kenapa bisa membangun Tarik? Kenapa bisa merebut Singasari?”

Upasara hanya mendengar sebagian.

Hawa dingin yang menusuk makin tak tertahankan. Giginya gemeretak, keringat dinginnya mengucur. Sedemikian hebat rasa sakit sehingga Upasara menggelinding. Tubuhnya terbanting dan melengkung kaku.

“Setua ini, aku menelusuri jalanan. Mencari jawaban. Apa sebenarnya tata krama itu? Apa yang membedakan seorang bekas teman perjuangan untuk mendengar nasihat yang benar?

“Kutelusuri jalanan.

“Kutelusuri pinggir sungai.

“Kudengar Sora, paman putraku yang juga gagah berani, mati karena kraman.

“Wahai, Dewa, apa yang sebenarnya terjadi?

“Apakah perbedaan tata krama harus diartikan kraman. Kenapa bukan Lawe putraku yang memakai takhta sehingga manusia di tanah Jawa ini mengenal tata krama, unggah-ungguh kami? Dan kami yang ganti menghukum mereka?

“Dewa tak menjawab apa-apa.

“Hingga kakiku pegal.

“Hingga kutemukan kamu. Ksatria lelananging jagat bagai anjing, menggeletak tak bergerak.

“Hanya seperti inikah ksatria hebat tanah Jawa itu?”

Merasa makin sesak napas Upasara, secara tidak sadar tenaga penolakan muncul. Melawan, dalam penyerahan. Pasrah sebagai bentuk perlawanan.

Dibiarkannya rasa sakit yang terus menusuk-nusuk, dinikmatinya rasa sakit dengan pemusatan pikiran sepenuhnya. Gigitan rasa sakit makin meninggi.

Makin menusuk.

Sampai akhirnya Upasara merasa tak sadar. Tak merasakan apa-apa. Tetapi dengan begitu pikirannya menjadi jernih. Tubuhnya yang lemas bisa digerakkan seperti apa maunya. Bungkahan dingin yang membeset seluruh sarafnya yang begitu peka mencair bagai udara.

Eyang Wiraraja melihat perubahan.

Dari sekujur tubuh Upasara seperti mengeluarkan asap, bau, yang jernih. Tidak wangi. Tidak busuk. Bersih, jernih, segar. Kesejukan yang menyentuh.

“Apa yang kamu lakukan?”

Upasara mengikuti arah pikirannya. Melambung, lepas, seperti berada dalam lamunan. Jalan pikirannya bisa digerakkan ke mana ia mengerahkan. Tangan dan tubuhnya menjadi sangat ringan.

Belum sepenanak nasi, Upasara merasa tubuhnya menjadi segar bugar. Dadanya longgar,

“Kukira kamu Bejujag….”

Terdengar suara halus.

Eyang Wiraraja menggeleng. Karena seperti melihat seorang wanita, akan tetapi pada saat betul-betul diperhatikan bayangan itu lenyap. Samar.

Upasara kembali duduk.

Bibirnya menyunggingkan senyuman. Tangan kanannya tergeletak di paha, sementara tangan kirinya terangkat perlahan. Bergerak ke depan.

“Kiranya memang kamu.”

Upasara kali ini benar-benar tersenyum.

“Kiranya benar-benar kamu, Bejujag….”

“Hamba yang rendah bernama Upasara Wulung. Sama sekali bukan bayangan, dan bukan apa-apa dibandingkan dengan Eyang Sepuh. Memang bagian pernapasan ini diajarkan oleh Eyang Sepuh dalam Tumbal Bantala Parwa, akan tetapi hamba tak becus mempelajari. Mohon petunjuk Eyang Putri….”

Karena tidak mengenal siapa tokoh yang dihadapi, Upasara menyebut dengan panggilan Eyang Putri. Suatu tanda memberi hormat yang dalam.

Karena Upasara yakin hanya tokoh yang mengenal Eyang Sepuh secara pribadi yang berani memanggil dengan sebutan Bejujag.

“Saya yang menjadikan ilmu itu sempurna.

“Saya tahu kamu Upasara Wulung atau celeng nggoteng yang lain. Tetapi kamu sesungguhnya Bejujag. Bejujag menjadi ada ketika ia tiada.

“Pantas ia terus moksa, karena telah menemukan kamu.

“Bejujag, sungguh beruntung nasibmu dari kita semua.”

Eyang Putri yang tiada lain Putri Pulangsih memandang tajam ke arah Upasara.

“Kepasrahanmu sungguh luar biasa, anak muda.

“Penderitaan batin apa yang membuat kamu begitu rumangsuk, begitu meresapi?”

Dua kalimat yang membuat Upasara bergidik karenanya.

Pertama, meskipun ia disebut sebagai celeng atau babi hutan dan bukan banteng, tapi sangat jelas dikatakan sebagai pewaris ilmu Eyang Sepuh.

Memang Upasara sendiri merasakan mukjizat.

Beberapa kali berusaha melawan, berusaha pasrah—menyerah, akan tetapi gagal mengusir hawa dingin.

Akan tetapi kemudian, tenaga itu terkuasai sepenuhnya dan bisa diatasi.

Kedua, karena dengan tepat bisa menebak apa yang dialami Upasara. Apa yang dialami batinnya. Apa yang dirinya sendiri tak berani menatap apalagi mengungkapkan.

Akan tetapi sekali ini Upasara tak bisa menyembunyikan. Perasaannya tergetar dan luluh.

“Hanya penderitaan yang membahagiakan yang memungkinkan latihan pernapasan seperti itu. Seperti juga Bejujag, yang secara wadak menolakku akan tetapi secara batin menerima.

“Ia ada saat tak ada.”

Eyang Wiraraja menggelengkan kepalanya.

“Kamu bicara dengan putraku Lawe?

“Di mana dia?”

“Rasanya aku pernah mendengar suara yang gagah ini. Siapa kamu, kakek tua?”

Upasara menyembah hormat dan menceritakan siapa Aria Wiraraja.

“Ooo, yang pernah sakit hati ketika ikut tersingkir oleh Sri Baginda Raja?”

“Siapa itu?”

“Ah, kamu tak mengenal.

“Kamu tak mengenal bagaimana menerima secara ikhlas, tanpa ganjalan, tanpa sakit hati, bagaimana pasrah dan berkorban untuk kebahagiaan orang lain.

“Upasara, kalau kamu sudah menjadi lelananging jagat, kenapa tidak kamu coba untuk kalahkan aku? Lima puluh tahun tak menjajal, rasanya masih kaku sedikit. Tapi tak apa.

“Majulah, Upasara!”

“Bagaimana mungkin hamba berani berbuat lancang?”

“Ooo, kenapa kamu tak seperti Bejujag yang sombong itu?”

“Siapa Bejujag?”

Suara Eyang Wiraraja tak terjawab.

Karena kini Upasara tak bisa menjawab. Tak tahu harus berbuat apa.

Pernapasan Tujuh Padma

EYANG WIRARAJA menoleh kiri-kanan.

“Apakah kamu ditantang seseorang, Upasara?”

Upasara mengangguk pelan.

“Dan kamu takut?”

Upasara terdiam.

“Kalau putraku Lawe masih hidup, sebelum tantangan itu diucapkan, mulut penantangnya telah terkancing tanpa bisa dibuka selamanya.”

“Saya tak seperti Senopati Lawe.”

“Tapi kamu lelaki.

“Putraku juga lelaki.

“Aku sendiri juga lelaki.”

Upasara menggeleng.

Memandang hormat ke arah bayangan Putri Pulangsih.

“Murid Bejujag satu ini benar-benar cubluk. Tolol dan dungu. Pantas saja dipilih sebagai pewaris ilmunya. Aku tak perlu sakit hati.

“Untuk apa menyesali lelaki yang punya purus.”

Tajam dan panas kalimat Putri Pulangsih.

Eyang Wiraraja langsung berdiri. Mengurut jenggotnya yang putih dengan tangan gemetar. Ini penghinaan yang menyakitkan.

Purus bisa berarti umbi, bisa berarti dasar tiang. Tapi bisa juga berarti umbi atau dasar kelelakian. Mengatakan lelaki tak mempunyai purus berarti lelaki tanpa kelelakian. Rasanya tak pernah ada cacian yang begitu merendahkan seperti ini.

Makanya walaupun sudah tua, berdiri juga kedua kakinya.

Bagi Upasara ucapan itu pun membuat daun telinganya panas dan merah. Tapi secepat itu pula kesadarannya timbul. Karena purus bukan hanya diartikan seperti itu.

Kata purus terdapat dalam Kitab Bumi dalam olah napas. Dalam latihan pernapasan ada tujuh tempat menahan napas. Salah satunya yang disebut adistara, yaitu memusatkan napas di antara perut dan purus.

Upasara menyetdot udara membusung, menempatkan udara ke dalam tataran adisastra.

“Rupanya kamu berani menerima tantangan.

“‘Tidak sejelek yang kuduga. Entah sampai mana cakram yang kamu miliki.”

Upasara merasa menjawab dengan tepat.

Ketika Eyang Putri Pulangsih mengeluarkan tantangan, Upasara ragu. Mana mungkin dirinya bertarung dengan tokoh tua yang bisa memanggil Eyang Sepuh dengan sebutan seenaknya.

Tak mungkin.

Tak mungkin berani.

Tak mungkin berani kurang ajar.

Ini yang membedakannya dengan Eyang Wiraraja. Yang menjadi panas hatinya. Sementara Upasara justru menangkap secara lain. Dan menjawabnya dengan tarikan napas, sesuai dengan tantangan yang diterima.

Tarikan napas berikutnya, udara naik ke pusar, yang disebut manipura, dan beralih ke dalam hati, anahata.

Eyang Putri Pulangsih mengeluarkan suara di hidung.

Ternyata dalam jarak yang cukup jauh, bisa mengamati apa yang dilakukan Upasara. Meskipun yang dilakukan itu adalah cara bernapas. Yang sama sekali tak terlihat sedikit pun dari gerakan tangan, atau bahkan gerakan otot perut.

Sewaktu telinganya mendengar cakram, Upasara sudah mengetahui bahwa ia diuji seberapa jauh bisa memutar, bisa men-cakram, cara pernapasan. Itulah sebabnya ia terus melanjutkan dengan wisudi, di mana udara tertahan di tenggorokan, disusul dengan ayana, di antara kedua alis, dan selanjutnya dengan cara sahasraya di dalam hening pikiran otak.

Upasara menahan beberapa lama, sebelum meluncurkan ke bawah, sedikit di atas dubur dengan pernapasan yang disebut adara, yang sebenarnya merupakan permulaan.

Tujuh tempat untuk mencari kekuatan pernapasan, juga disebut tujuh padma, yang bisa berarti darah, roh atau juga rasa. Kekuatan yang menjadi latihan utama yang dianjurkan dalam Bantala Parwa. Sesungguhnya, inilah keistimewaan Kitab Bumi.

Yaitu memberi peluang besar untuk menafsirkan, untuk memainkan, dengan memutar, dengan gerakan cakram, arah-arah sumber tenaga. Sehingga setiap saat tenaga bisa dikerahkan dari tujuh tempat yang berbeda.

Seperti yang dilakukan Upasara sekarang ini.

Yang lebih istimewa lagi, beberapa pengertian yang terkandung dalam setiap kata. Seperti padma yang bisa menjadi darah, sehingga seolah-olah darah mengalir ke tempat yang disebutkan tadi. Tapi bisa juga berarti pengerahan tenaga. Sebaliknya juga bisa berarti pengerahan atau pemusatan rasa. Perasaan yang dituntun ke arah tujuh tempat.

Ini yang luar biasa.

Pengertian tenaga dalam, tenaga luar, juga bisa berarti perasaan.

Pengertian yang terakhir ini pula yang digunakan Eyang Putri Pulangsih untuk mengetahui apakah yang dilakukan Upasara betul atau salah.

Pertarungan rasa.

Yang tidak tertangkap sedikit pun oleh Eyang Wiraraja. Yang merasa aneh melihat Upasara takut menghadapi tantangan dari orang yang tak diketahui. Malah bersila dan berdiam diri.

Kelihatannya saja sederhana.

Akan tetapi sesungguhnya Upasara sedang memusatkan pikiran sepenuhnya untuk memutar perputaran udara, melatih pernapasan sesuai dengan rasa yang terwujud dalam udara. Karena sedikit saja meleset, atau tak bisa dikuasai, angin yang sama bisa terputus seketika.

Kalau ini terjadi, pernapasan Upasara akan kacau-balau. Tenaga dalamnya akan bertabrakan dengan sendirinya. Pernapasan Tujuh Padma tak bisa berhenti atau menjadi tidak teratur. Inti perputaran atau cakram ini yang tadi diucapkan Eyang Putri Pulangsih sebagai dasar untuk menguji.

“Kang wasesa winisesa wus.”

Suara lirih kembali terdengar.

Upasara makin memusatkan perhatiannya. Apa yang diucapkan Eyang Putri Pulangsih adalah pengertian “apa yang terjadi dalam tubuh tergantung pada angin di luar”. Atau menyandarkan pada hubungan dunia kecil, dunia batin, dunia rasa di dalam tubuh dengan dunia di luar.

Upasara mengosongkan pikirannya, dan membiarkan udara di luar leluasa, merasuk, mengaduk dalam tubuhnya. Ke mana arah udara mengalir dan berhenti, di adistara, manipura, sahasraya diikuti dengan tenang.

“Dengan cara apa kamu mempelajari Kitab Bumi?”

Pertanyaan itu seperti menggema dalam hati.

Karena Upasara tidak mendengar lewat telinga. Seperti juga Eyang Wiraraja yang tidak mendengar apa-apa.

“Dengan rasa.” Jawaban Upasara juga diucapkan dalam hati, dengan rasa.

“Siapa gurumu?”

“Eyang Sepuh.”

“Siapa gurumu?”

“Siapa saja.”

“Apa yang kamu cari?”

“Tidak mencari apa-apa.”

“Dusta.

“Kamu dusta. Kamu mencariku.”

“Tidak.

“Bukan.”

“Iya. Kamu mencariku, Kakang.”

Dada Upasara sedikit terguncang. Karena suara yang masuk menyelinap dalam relung hatinya bukan lagi suara Eyang Putri Pulangsih, melainkan suara Gayatri.

Baik nadanya, tekukan suaranya.

Gambaran yang jelas, seakan berbisik dalam denyut nadi.

“Kenapa kamu menahan diri, Bejujag?”

“Aku tidak menahan diri.”

“Kenapa kamu tak datang?”

“Aku menunggu.”

“Aku sudah datang, kamu masih menunggu.”

“Aku sudah menunggu, kamu belum datang.”

“Kita datang bersama, Kakang….”

“Jalan bersama, Yayi….”

“Kakang….”

“Yayi….”

Upasara kadang masih merasa dirinya dipanggil Bejujag, kadang dipanggil sebagai Kakang. Akan tetapi secara perlahan, kemudian menyatu, tak bisa terpisahkan lagi.

Juga tak bisa membedakan apakah yang mengajak bicara tanpa suara itu Eyang Putri Pulangsih atau Gayatri.

Keduanya menyatu.

Tak terpisahkan.

“Kakang….”

“Yayi….”

Panggilan Asmara

TUBUH UPASARA terasa ringan. Dengan satu sentakan napas, kedua tangannya tertarik ke atas. Perlahan tangan kiri mendorong ke depan, sementara tangan kanan lunglai di dekat lutut.

Terdengar helaan napas dalam.

Helaan napas Eyang Putri Pulangsih.

Seperti nada penyesalan dan kebanggaan. Seperti melepaskan suatu perasaan tertentu.

Yang tak bisa ditebak dengan pasti oleh Upasara setelah dirinya sadar.

“Upasara, kenapa kamu membuat nasib Bejujag begitu baik? Kenapa kamu tidak menjadi muridku saja?

“Dewa mana yang pilih kasih?

“Ketahuilah, Upasara, Bejujag ku adalah Eyang Sepuh mu. Lewat dirimu, aku bisa menemuinya, tanpa menghancurkan dirimu. Tanpa merusak, tanpa kau hambat.

“Bukankah itu pertanda Dewa pilih kasih?

“Raganata mempunyai banyak kelebihan, mempunyai ratusan murid. Tapi tak mampu apa-apa. Aku tak bisa menemui. Dodot Bintulu katanya punya murid turunan yang tangguh, tapi serba gelap. Tak bisa ku tengok.

“Berune masih tersisa.

“Akan tetapi dengan menyiksa orang lain.

“Merusak raga yang masih bisa hidup.

“Bejujag, aku tahu di mana dan siapa kamu sebenarnya.

“Aku mengaku kalah. Kamu sudah bisa moksa dengan sempurna, selamanya. Aku masih gentayangan. Masih keluyuran tak menentu.

“Tapi aku bahagia.

“Bahagia sekali.

“Bukankah sebaiknya Upasara juga merasakan bahagia?

“Bahagia sebelum dan sesudah moksa.

“Ayolah, Upasara! Kita berangkat ke Keraton. Ambil Gayatri-mu. Jangan pedulikan apa saja.

Tidak semua kata-kata Eyang Putri Pulangsih bisa ditangkap dan dimengerti secara sempurna. Akan tetapi Upasara menyembah dan segera berdiri.

“Kamu ksatria.

“Kamu lelaki. Bukan merenungi kekalahan. Pasrah bukanlah membiarkan penderitaan.”

Upasara mengangguk.

Menoleh ke arah Eyang Wiraraja.

“Maaf, Eyang, saya ingin melanjutkan perjalanan….”

“Aku juga akan ke Keraton.”

“Mari kita jalan bersama, Eyang.”

“Tidak.

“Aku berjalan sebagai lelaki. Berani berjalan mendongak ke atas pada sinar rembulan.”

Upasara menyembah hormat, lalu berjalan cepat. Mendampingi bayangan Eyang Putri Pulangsih.

“Apakah kamu akan mundur lagi setelah bertemu Gayatri?”

“Hamba tak berani menatap Permaisuri….”

“Tak ada permaisuri.

“Asmara tak mengenal permaisuri atau bukan dalam tarikan daya asmara. Dengarkan panggilan hatimu. Ketuk semua pintu.

“Upasara, kamu bisa mendengarkan apa yang kualami dulu. Mendengar panggilan asmara, seperti juga Bejujag meneriakkannya. Akan tetapi kami sama-sama tak tahu harus berbuat bagaimana. Kami sama-sama keras kepala. Kami sama-sama memperhitungkan kebahagiaan pasangan yang ternyata buntung.

“Kalau sejak awal Bejujag, dan juga aku, lebih terus terang, rasanya tak ada pertengkaran dengan Raganata, Bintulu, dan Berune, atau yang lainnya.

“Kalau kami tidak sama-sama keras kepala.

“Sok tinggi hati.

“Seperti sekarang ini.

“Apakah tanpa itu Bejujag tak bisa menyempurnakan Tumbal Bantala Parwa? Mungkin, mungkin sekali.

“Tapi mungkin juga ada kitab lain.

“Kitab bahagia.

“Kitab yang tidak menjadi tumbal.

“Kamu tahu itu semua, Upasara?”

Dengan mengerahkan tenaganya Upasara mencoba mengimbangi kecepatan tubuh Eyang Putri Pulangsih yang seperti melayang. Beriringan dengan kecepatan angin berpindah.

“Aku bercerita banyak.

“Karena barangkali saja ini kesempatan terakhirku. Mempertemukan dua hati yang tergetar panggilan asmara. Aku ingin meninggalkan jagat ini dengan bahagia.

“Aku telah menunggu lima puluh tahun.

“Lebih dari yang lainnya, aku bisa bertahan. Sampai sekarang. Sehingga aku mempunyai waktu untuk mempertimbangkan kembali. Kitab dan kitab yang selalu ditulis dengan keyakinan, akan ditulis kembali.

“Barangkali itu sebabnya aku tak bisa moksa dengan baik, dengan rela.

“Karena masih ada yang ingin kulakukan.

“Mempertemukan asmaramu.

“Kamu tahu semua ini, Upasara?”

“Kenapa hamba yang dipilih?

“Rasanya begitu banyak yang mendengar panggilan asmara….”

“Karena kamu berbeda dari yang lainnya.

“Karena kamu Bejujag yang sesungguhnya.”

“Eyang, apa sesungguhnya daya asmara itu?

“Apakah harus didengar panggilannya? Apakah tidak lebih wigati mendengarkan panggilan daya yang lain?”

Gerakan tubuh Eyang Putri Pulangsih menurun. Tidak secepat sebelumnya. “Manusia harus selalu menjadi manusia.

“Lelaki harus menjadi lelaki. Apakah ia lelananging jagat atau tidak, sama saja. Hanya lebih berarti, menjadi sempurna, setelah berdua. Karena Dewa menitahkan begitu. Ada langit ada bumi, ada tanah ada air, ada rembulan ada matahari….

“Sri Baginda Raja Kertanegara bisa menyatukan itu.”

“Kalau benar begitu, untuk apa kita ke Keraton?

“Hamba bisa menemukan air yang lain.”

“Jangan kauingkari suara hatimu. Jangan kaubutakan matamu. Jangan kautulikan telingamu. Rasa tidak bisa mati. Tak bisa dibunuh.

“Selama kamu tak berani menemukan jawaban, kamu akan selalu terombang-ambing. Kamu tak mempunyai kekuatan. Seperti aku, seperti Berune, seperti Raganata. Lima puluh tahun mencari-cari, dan terus-menerus gelisah.

“Dan menyerah.

“Seperti membiarkan dirimu terbaring diserang udara dingin.

“Kamu tak menemukan pegangan. Tak menemukan akar kekuatan. Kamu mengemohi, menolak Gayatri, menolak panggilan asmara yang sesungguhnya.”

“Apakah hamba akan menemukan?”

“Bagaimana bisa kamu jawab kalau kamu tak berani mencari?”

“Apakah Eyang Sepuh…”

“Bejujag itu orang yang beruntung.

“Nasib tak bisa ditiru. Itu sebabnya aku berkata, Dewa pun pilih kasih. Barangkali saja itulah keadilan Dewa, Upasara.”

“Kalau…”

“Kamu sudah memegang gelar lelananging jagat. Akan tetapi lebih ringkih, lebih lemah dari bayi.

“Apa kamu berhasil atau tidak, bukan urusanku.

“Juga bukan urusanmu.

“Tapi coba datangi. Rebut. Menangkan.

“Sehingga pasrah yang kaurasa, adalah pasrah yang sesungguhnya.”

“Hamba kira…”

“Sebagai Eyang Putri-mu, hari ini kamu antarkan aku.

“Mengantarkan ke gerbang di mana aku bisa pergi dengan ikhlas, dengan rela. Kalau tidak, aku masih akan terus penasaran hingga lima puluh tahun yang akan datang.”

Upasara mengangguk.

Mantap.

“Itulah jiwamu yang kerdil.

“Yang kekanak-kanakan.

“Itulah Bejujag.”

Baru sekarang ini Upasara merasa dijungkirbalikkan. Satu saat merasa pasti, menjadi ragu, dan setelah diyakinkan, digoyahkan kembali.

Kalau sekarang Upasara menyertai Eyang Putri Pulangsih ke Keraton, karena lebih terdorong niat agar keinginan terakhir Eyang Putri Pulangsih terkabul.

Akan tetapi justru itu yang direncanakan Eyang Putri Pulangsih.

Yang dipakai sebagai cara untuk membujuk Upasara.

Dan itu yang dikatakan.

“Entah kenapa begitu banyak persamaan kedunguan antara kamu dan Bejujag. Darah apa yang bisa sama seperti ini?

“Upasara, benarkah kamu bukan anak kandung Bejujag?”

Upasara merasa disambar geledek.

Tak pernah terduga akan ada pertanyaan semacam ini. Pertanyaan yang membanting kakinya ke tanah kenyataan.

Kidungan Kenyung

UPASARA menjadi peka jika asal-usulnya diusik. Terutama jika yang mengusik seseorang yang dianggap terhormat.

Seperti pertanyaan Eyang Putri Pulangsih yang langsung menyodok ulu hatinya.

Apakah dirinya masih keturunan langsung Eyang Sepuh?

Pertanyaan itu mengusik, justru karena dirinya tak bisa menjawab dengan pasti, apakah dengan anggukan atau gelengan. Dua-duanya tak memiliki dasar.

Upasara tak pernah mengenal dirinya. Sepanjang ia ingat, ia sudah dididik sebagai Ksatria Pingitan. Sepanjang dua puluh tahun, ia tak mengenal dunia luar. Selalu berada dalam ksatrian.

Satu-satunya yang dikenal sebagai ayah angkatnya adalah Ngabehi Pandu. Tokoh yang menciptakan ilmu silat mligi, atau khusus baginya. Yang dikenal dengan nama Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka.

Gerakan-gerakan ini disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuannya ketika itu.

Sepanjang yang bisa diingat, Upasara mengucapkan terima kasih yang tulus dan hormat kepada Ngabehi Pandu. Yang bukan hanya mendidiknya dalam kanuragan, akan tetapi juga mengenai kehidupan.

Setelah bergaul dengan dunia di luar Keraton, Upasara lebih sadar mengenai asal-usul seseorang. Ia sendiri yang merasa tak memiliki untuk diceritakan.

Suatu ketika Upasara pernah menanyakan hal ini.

Akan tetapi Ngabehi Pandu hanya menjawab dengan gelengan, dan kemudian mengalihkan ke pembicaraan yang lain. Dalam hati Upasara timbul pertanyaan yang mengganjal. Akan tetapi tak pernah menjadikan persoalan benar.

Hatinya merasa bahagia jika dirinya boleh mengaku anak kepada Ngabehi Pandu.

Rasanya semua persoalan telah selesai sampai di situ.

Sampai kemudian Upasara mengalami jalan hidup yang menentukan. Sewaktu bersama Gayatri, saat itu tumbuh daya asmara. Apalagi Gayatri justru memberi semangat dan mengisyaratkan kesediaan mendampingi Upasara.

Seribu rembulan bersinar bersama.

Dan serentak padam tenggelam oleh awan. Selamanya.

Hanya karena ramalan para pendeta, bahwa Gayatri harus diperistri oleh keturunan raja, karena dari rahimnya akan lahir raja yang tiada taranya, yang akan menguasai jagat. Saat itulah Upasara merasa dirinya tidak berarti apa-apa.

Sejak saat itu kepekaan asal-usulnya menjadi tinggi.

Kalau saja ia mempunyai darah raja!

Persoalan yang sangat mengganjal ialah bahwa bukan tidak mungkin dirinya mempunyai darah raja. Bukan tidak mungkin! Karena Ksatria Pingitan memang hanya diperuntukkan keluarga raja. Yaitu dialiri darah raja, walau tidak dari permaisuri resmi.

Bukan tidak mungkin dari sekian banyak yang masuk dan dididik dalam Ksatria Pingitan adalah putra-putra peteng, putra-putra tidak resmi Baginda Raja Sri Kertanegara.

Kalau benar begitu, dirinya masih memiliki darah raja.

Keturunan langsung!

Namun sayangnya, tak ada yang memberi kepastian siapa sesungguhnya orangtua nya. Siapa sebenarnya yang mempunyai anak lelaki untuk dididik di ksatrian?

Kebimbangan yang dikubur perlahan-lahan.

Walaupun sesekali muncul kembali. Karena makin direnungkan, makin tidak mungkin keluarga yang agak jauh bisa dididik di Ksatria Pingitan. Anak keturunan senopati pun tak bakal dizinkan masuk mengikuti.

Kebimbangan yang memunculkan berbagai gagasan.

Upasara merasakan sendiri keanehan sewaktu menghadapi pasukan Tartar. Saat itu, Eyang Sepuh hanya membisikkan sesuatu kepada dirinya dan kepada Gayatri.

Tidak kepada yang lain.

Juga tidak kepada Jaghana.

Padahal jelas Paman Jaghana merupakan pewaris dan murid Perguruan Awan yang paling setia.

Yang lebih tak bisa dipercaya lagi ialah ketika Upasara menuju ke Perguruan Awan, dan akhirnya dipilih sebagai ketua Perguruan Awan, yang menurut kepercayaan Paman Jaghana dan Paman Wilanda karena bisikan dan penunjukan Eyang Sepuh.

Upasara mulai guncang.

Justru karena asal-usulnya tidak jelas, siapa saja yang ditunjukkan seakan mempunyai kemungkinan besar.

Seperti yang dikatakan oleh Eyang Putri Pulangsih.

“Apa anehnya kalau kamu keturunan langsung Bejujag?

“Apa bedanya dengan Sri Baginda Raja yang sama-sama lelaki dan suka mengumbar daya asmara?”

Senopati Pamungkas II – 3

“Bagaimana Eyang Putri bisa menduga begitu?” Suara Upasara tergetar, terpengaruh perasaannya yang bisa ditebak dengan jitu.

“Persamaanmu terlalu banyak.

“Terutama dalam ketakutan menghadapi panggilan asmara.”

Upasara menggeleng sedih.

“Hamba tak berani membayangkan itu….”

“Juga tak perlu.

“Suatu waktu mungkin kamu akan mengetahui.

“Upasara, kalaupun kamu anak keturunan Bejujag, bagiku tak ada persoalan. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku.

“Tidak apa-apa.

“Tidak apa-apa….

“Mungkin karena aku sedang memikirkan Bejujag, lalu terlintas dan membersit saja.

“Lupakan saja, Upasara.”

Tapi Upasara tak bisa melupakan.

Gerakan kakinya tak bisa mengimbangi kegesitan Eyang Putri Pulangsih.

“Kamu akan mengerti juga nanti.

“Bahwa Bejujag tidak mau menerimaku karena keangkuhannya. Karena kekerasan kepalanya tiada bandingannya. Bejujag selalu merasa dirinya lelaki yang tak bisa dikalahkan hatinya.

“Kepongahannya hanya bisa ditandingi oleh Sri Baginda Raja.

“Hmmm…

“Dua-duanya memang lelaki sejati. Tak pernah mau mengalah satu sama lainnya. Ketika Bejujag bisa menyelesaikan Tumbal Bantala Parwa, Sri Baginda Raja tidak mau menerima. Karena jurus-jurus Tumbal adalah jurus-jurus Bantala Parwa. Maka sebagai penyelesaiannya, Tumbal Bantala Parwa termasuk dalam Bantala Parma. Sehingga dengan demikian bukan Bejujag yang berhasil mengungguli Sri Baginda Raja, melainkan sebaliknya.

“Kami semua memang memikirkan cara-cara untuk meredam Kitab Bumi. Kami semua menciptakan dengan susah payah. Bejujag yang diakui secara jantan oleh Sri Baginda Raja, tapi sekaligus juga dikalahkan.

“Dalam kemelut yang luar biasa, Bejujag tak mau menerima perlakuan itu. Ia mengundurkan diri dan makin tak mau bertemu dengan siapa saja. Ia bertapa di Perguruan Awan. Untuk kemudian menciptakan kidungan, yang rasanya kidungan terbaik yang pernah diciptakan. Yaitu Kidung Paminggir.

“Secara terang-terangan Bejujag mengatakan bahwa yang kelak kemudian hari akan membuat Keraton bersinar jaya menaungi seluruh tanah Jawa dan jagat seisinya adalah orang-orang paminggir. Orang-orang pinggiran yang selama ini tak diperhitungkan. Gampangnya bukan anak-cucu raja.

“Di sinilah puncak kemurkaan Sri Baginda Raja tak bisa ditunda. Secara resmi Sri Baginda Raja menyatakan Kidung Paminggir adalah kitab yang tidak boleh dibaca, ditembangkan, atau dituliskan.

“Sebagai gantinya Sri Baginda Raja menuliskan Kidungan Para Raja, yang menurut Raganata ditulis oleh tangan Sri Baginda Raja sendiri.

“Meskipun itu kidungan khusus untuk raja yang akan memegang mahkota, akan tetapi aku sempat membacanya. Juga Bejujag dan Raganata.

“Kamu pernah mendengar?”

Upasara menggeleng.

“Bejujag pasti menganggap tak ada nilainya. Maka tak diajarkan. Atau menganggap tak ada gunanya. Karena intinya kurang-lebih sama.

“Dua-duanya tak mau mengalah.

“Hanya karena seorang kenyung yang tak berarti.”

Di akhir kalimat, nada suaranya menggantung. Sengaja dibiarkan mengambang.

Upasara mengerti bahwa kenyung adalah sebutan untuk monyet betina.

Agak ganjil juga.

Seorang raja yang sakti mandraguna berselisih dengan seorang tokoh persilatan yang mumpuni gara-gara monyet betina.

“Akulah kenyung itu.

“Akulah yang disebut sebagai kenyung oleh Sri Baginda Raja. Dan agaknya ini yang membuat Bejujag tak mau mengerti bahwa hubunganku dengan Sri Baginda Raja tak ada apa-apanya. Ini pula sebabnya mereka menyebutku sebagai Pulangsih.

“Sebutan yang maksudnya untuk merendahkan derajat ke tingkat yang paling hina. Wanita sebagai tempat hubungan asmara badani belaka.”

Kenyung Sampiran

SUNYI sesaat.

Tak ada helaan napas berat.

Tapi justru Upasara merasa dadanya pepat. Untuk pertama kalinya ia mendengar cerita langsung dari yang mengalami mengenai masa-masa yang tak pernah dikenalnya.

Sekelebat terbayang betapa sesungguhnya terjadi perebutan pengaruh yang besar di antara para ksatria sezaman. Akan tetapi yang lebih membuat Upasara kagum luar biasa adalah kenyataan Sri Baginda Raja mempunyai jiwa luas bagai laut. Pada saat perbedaan kawruh dengan rakyatnya, Sri Baginda Raja bisa mengedipkan sebelah mata untuk melenyapkan siapa pun yang dianggap mengganjal atau mengganggu kewibawaannya.

Nyatanya hal itu tidak dilakukan.

Bahkan sebaliknya.

Dalam batas-batas tertentu, malah dibiarkan berkembang.

“Apa yang kamu pikirkan, Upasara?”

“Eyang Putri lebih mengetahui….”

“Sri Baginda Raja memang raja segala raja, raja segala Dewa. Sejak tiupan napas kita yang pertama, yang terasakan benar ialah keharuman, kebesaran. Sri Baginda Raja adalah raja yang anjakrawati, maharaja yang memerintah dengan adil dan bijaksana.

“Terbayangkah olehmu hal itu, Upasara?

“Terpikirkah olehmu bahwa saat itu aku ini hanyalah gadis remaja yang ingin belajar ilmu silat? Pada saat aku sudah tumbuh remaja, saat itulah Raja Maha diraja tampil dengan gagah.

“Rasanya kalau bisa membasuh bekas bayangan tubuh Sri Baginda Raja, aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia.

“Rupanya inilah yang tidak disukai Bejujag.

“Ia menilai diriku tak berbeda dari wanita yang lain di jagat ini.

“Saat itu dan sekarang ini juga, aku mengakui bahwa kata-katanya benar.

Tak ada bedanya. Tak perlu ada. Kami semua kaum wanita bersedia nyuwita, mengabdi, kepada Sri Baginda Raja.

“Meskipun ini hanya kata-kata, agaknya ini melukai perasaan Bejujag yang paling dalam.

“Sehingga ia memutuskan tak mau lagi menemui aku, melihat bayanganku.

“Kami hanya berhubungan kala Bejujag memberikan tulisan Kitab Bumi yang disampaikan oleh Raganata. Begitu juga aku sebaliknya. Ketika aku menciptakan Kitab Air, Bejujag masih dendam. Ia mencoret kidungan di situ, dan mengatakan apa yang ditulis hanyalah Kidungan Kenyung Sampiran.

“Bejujag terlalu angkuh.

“Angkuh untuk menyakiti hatinya sendiri.

“Itu yang membuatku penasaran.”

Meskipun tak bisa mengetahui dengan tepat, akan tetapi Upasara bisa memperkirakan. Bahwa Eyang Sepuh saat itu paling tidak mau mengakui keberadaan Eyang Putri, dan memakai sebutan kenyung. Tambahan kata sampiran, barangkali saja…

“Apakah Eyang mempergunakan selendang untuk memainkan lebih sempurna? Selendang sebagai pengganti senjata?”

Mendadak Putri Pulangsih tersenyum lebar.

Tubuhnya berputar.

Tangannya terentang seperti anak kecil.

“Upasara, jangan-jangan kamu ini Bejujag yang sesungguhnya!”

Tawa itu melebar.

Baru kemudian mereda.

“Sama sekali tidak.

“Aku menciptakan begitu saja. Menciptakan Kitab Air untuk menandingi Kitab Bumi, atau kitab lain yang akan dijadikan panutan di Keraton.

“Ceritanya lucu.

“Saat Raganata membawa kembali Kitab Air, ia mengatakan bahwa Bejujag menganggap tidak berarti apa-apa. Ini cuma sampir. Aku tadinya merasa panas, karena kukira Bejujag mau mengatakan bahwa ilmu silat yang kuciptakan hanya gerakan bahu. Artinya baru terhenti pada menggerakkan bahu.

“Ini namanya penghinaan.

“Dan memang Bejujag bermaksud menghinaku.

“Namun sesungguhnya di balik itu, aku bisa menangkap maksudnya yang baik. Bejujag memberitahu bahwa gerakan-gerakan yang kuciptakan akan menemukan bentuk yang sesungguhnya dengan sampiran. Seperti dalam wayang, sampir mempunyai arti selendang yang tersandang di bahu.”

“Maaf, Eyang Putri, kalau begitu…”

“Kamu diam saja.

“Aku sudah lima puluh tahun tidak bicara seperti sekarang ini.”

Upasara terdiam.

Putri Pulangsih juga terdiam.

“Apa yang kamu tanyakan?”

“Apakah Eyang Putri yang kemudian menciptakan gerakan dengan selendang?”

“Tidak.

“Aku bukan jago silat yang total.

“Aku tak di bawah Bejujag atau Raganata atau Berune atau Dodot Bintulu.

“Kamu juga salah sangka dan meremehkanku.

“Kamu sama piciknya dengan Bejujag!”

Upasara tak menyangka akan diberondong dengan tuduhan yang menyakitkan. Meskipun dalam hatinya juga merasa betapa Eyang Putri Pulangsih lebih sakit hati.

“Kalau aku mengikuti saran Bejujag, berarti ia lebih pintar dariku. Tak mungkin!

“Itu yang kukatakan kepada Raganata.

“Tahu apa yang dikatakan Raganata? Aku masih ingat. Ia mengatakan bahwa Bejujag benar sekali. Pendapat Raganata sejalan dengan Bejujag.

“Aku bersikeras tidak.

“Raganata meminta izinku, apakah boleh menjajal Kitab Air dengan mempergunakan selendang. Aku katakan boleh saja, tapi jangan sebutkan bahwa Kitab Air sebagai sumbernya.

“Upasara… padamu aku berterus terang. Mungkin juga Bejujag benar. Tapi aku tak mau mengakui itu.

“Karena temyata apa yang dikatakan Raganata ada benarnya. Inti tenaga air, untuk menemukan bentuknya lebih tepat dengan selendang sebagai senjata.

“Sebagai latihan pernapasan dan mengerahkan tenaga dalam tak menjadi masalah, akan tetapi dalam suatu pertempuran, sibakan selendang bagai gelombang laut, bagai aliran sungai, bagai tetesan hujan, sangat tepat dengan jiwa dasar Kitab Air.

“Tapi karena memegang janji, Raganata tidak mengatakan apa-apa kepada muridnya. Tidak mengatakan nama ilmu silat. Bahkan mengajarnya pun secara sembunyi-sembunyi.”

Upasara menepuk jidatnya.

Cukup keras. Sehingga Eyang Putri Pulangsih seakan menggerakkan alis-nya.

“Kamu menertawakan aku?” Buru-buru Upasara menggeleng dan menyembah.

Kemudian berusaha menceritakan dengan ringkas. Bahwa selama ini ia mengenal seorang tokoh wanita sakti yang biasa mempergunakan selendang sebagai senjata dalam memainkan ilmu silatnya. Tokoh sakti itu bernama Jagaddhita, dan ia tak mengerti bahwa sesungguhnya guru yang mengajarinya adalah Mpu Raganata!

Upasara juga tak pernah mengetahui sebelum ini.

Karena tadinya hanya mengira bahwa Mpu Raganata sengaja melarikan gadis-gadis yang akan nyuwita kepada Baginda Raja.

“Itu ada benarnya.

“Raganata memang tak menginginkan semua gadis menjadi nyamikan, makanan kecil, Sri Baginda Raja.”

Upasara juga menceritakan bahwa ia pernah bertemu dan pernah terkurung bersama dengan Jagaddhita, yang kini telah tiada.

Namun masih ada salah seorang muridnya, yang biasanya dipanggil dengan nama Gendhuk Tri.

“Aku sudah melihat sendiri.

“Ia dengan kekasihnya.”

Untuk kedua kalinya, Upasara menepuk jidatnya.

Ada perasaan yang bergolak, sehingga ia memalingkan wajahnya karena sungkan.

Adalah sesuatu yang luar biasa jika Gendhuk Tri mempunyai kekasih. Sekurangnya dalam bayangannya. Bukan semata karena ia selalu menganggapnya sebagai gadis kecil.

Akan tetapi, Gendhuk Tri menempati sudut yang istimewa dalam hati Upasara.

Dengan segala kenakalan, kegenitan, dan kemanjaan!

Selama ini Upasara lebih lama dan lebih sering bersama dengan Gendhuk Tri. Jauh lebih mengenal siapa Gendhuk Tri, dibandingkan dengan Gayatri sendiri.

Atau bahkan Ratu Ayu Azeri Baijani yang resminya adalah istrinya.

Gendhuk Tri telah mempunyai kekasih?

Siapa gerangan lelaki yang begitu bahagia hidupnya? Dan apa yang sesungguhnya terjadi?

“Ia ada di Keraton bersama kekasihnya.”

Kalimat ini lebih membulatkan tekad Upasara Wulung datang ke Keraton. Langkahnya bergegas.

Langkah Ganiti Kundha

UPASARA mengerahkan tenaganya.

Kedua kakinya ringan melangkah, tubuhnya serasa melayang, mengikuti gerakan yang berada di sebelahnya. Beberapa kali Upasara secara sengaja menambah kecepatan dan memperkuat totolan ujung kakinya.

Akan tetapi bayangan di sebelahnya selalu berada di sampingnya. Tidak berkelebat, tidak menimbulkan desiran angin. Seolah melaju tanpa terhalang apa-apa.

Ini yang sedikit-banyak meninggalkan pertanyaan dalam benak Upasara.

Dalam soal mengentengkan tubuh, Upasara tidak merasa dirinya paling jago. Bahkan sejak kecil otot-otot kakinya tidak dilatih secara khusus untuk berlari kencang atau untuk meloncat. Ilmu silat Banteng Ketaton justru berintikan kekuatan kaki untuk menahan diri.

Seperti umumnya aliran silat yang berkembang di daerah pedalaman, cara-cara meloncat tidak mendapat perhatian utama. Ini bisa dibandingkan dengan mereka yang belajar dari aliran puncak gunung. Karena keadaan alam memaksa siapa yang mempelajari menjadi bisa berloncatan. Dengan sendirinya ilmu meringankan tubuh boleh dikatakan cemerlang.

Sejauh ini Upasara hanya mengenal seorang yang menguasai ilmu meringankan tubuh secara sempurna. Yaitu Wilanda. Bekas pengawal yang kemudian menyepi di Perguruan Awan ini seolah bisa hinggap di ujung ranting tanpa membuatnya bergoyang. Sama seperti capung.

Akan tetapi dalam melakukan perjalanan jauh, Upasara yakin ia bisa mengimbangi. Karena, kini, kemampuan tenaga dalamnya jauh lebih kokoh.

Akan tetapi yang membuat Upasara bertanya-tanya, Eyang Pulangsih ini mampu melesat dengan cepat dan tahan lama. Dua kali sepenanak nasi, tubuhnya masih serba ringan.

Sehingga Upasara mengentak kembali, agar bisa mengimbangi.

Namun masih tercecer.

Terutama kalau melalui gerombolan pohon. Mau tak mau Upasara menghindar sedikit. Hanya karena kemampuannya yang tinggi dan tingkat kewaspadaannya tajam, Upasara bisa melakukan dengan cepat.

Yang tetap mengherankan, Eyang Putri Pulangsih seakan tak perlu berkelit atau mengegos. Tubuhnya, atau bayangan tubuhnya, seperti bisa menerabas, melalui penghalang yang ada.

Ini bisa terasakan karena mereka berdua berlari bersama, berdampingan.

“Kenapa kamu, Upasara?”

“Tidak apa-apa, Eyang Putri….”

“Kenapa kamu keluarkan tenaga begitu banyak hanya untuk melangkah?”

Telinga Upasara menjadi panas sejenak. Biar bagaimanapun, Eyang Putri yang tua ini kedengarannya sangat angkuh. Bagaimana mungkin dikatakan melangkah kalau ia mengempos seluruh tenaganya? Bagaimana tidak mengeluarkan tenaga kalau harus secepat ini?

“Kamu salah.

“Itu kebodohan Bejujag.

“Bumi itu kaku. Diam. Tak bergerak. Sedangkan air mengalir, bergerak. Air bergerak tanpa mengeluarkan tenaga. Tenaga yang dipergunakan ialah tenaga tinggi dan rendah daerah sekitar. Panas dan dingin daerah sekitar. Berangin dan tidaknya daerah sekitar. Perbedaan tinggi-rendah, panas-dingin, berangin-tidak berangin yang membuat air bergerak.”

Upasara jadi ingat Ratu Ayu Bawah Langit. Ratu negeri Turkana yang perkasa itu juga menguasai apa yang disebut Langkah Jong. Yang menjadi sangat istimewa karena bisa meloncati satu benda yang ada di depannya. Sehingga satu kali mengayun langkah, ibarat kata bisa meloncati apa saja yang ada di depannya. Jauh atau dekat benda di depannya tak menjadi masalah.

Dengan cara-cara itu pula, jauh atau dekat bisa menjadi sama. Sehingga pendengarannya mampu menerobos.

Demikian pula gerakan tubuhnya.

“Kalau matahari bergerak, ia mengikuti gerakan air. Kalau rembulan bergerak, ia mengikuti gerakan air. Bergerak tanpa mengeluarkan tenaga.

“Kalau seperti kamu ini, bisa pegal sekali kakimu.”

Meskipun gusar, Upasara tetap merendah nadanya.

“Mohon Eyang Putri memberi petunjuk.”

“Mana mungkin?

“Pelajari sendiri saja. Bejujag juga tak mau mendengarkan apa yang kukatakan. Ia lebih suka mencela apa yang kurang dariku, tanpa mau mempelajari untuk dirinya sendiri.

“Untuk apa aku memberi petunjuk kalau kamu bisa melihat sendiri? Atau warisan Bejujag demikian dangkal sehingga tak bisa melihat mana yang baik dan mana yang biasa-biasa.”

Upasara mengentakkan kakinya.

Tubuhnya melesat ke depan. Ia sengaja meninggalkan jauh, karena tak ingin diboncengi. Dibiarkannya tenaga yang terlepas buyar oleh angin.

Benar saja, dengan demikian ia bisa maju sendirian.

Akan tetapi belum sampai sepeminum teh, bayangan Eyang Putri Pulangsih sudah mendampingi lagi.

“Sudah kukatakan kalau begini caranya, sebelum sampai ke Keraton kamu sudah minta istirahat. Sebelum ketemu Gayatri kamu sudah loyo.

“Upasara, lihatlah.

“Jangan gerakkan kakimu. Jangan menotol tanah.

“Biarkan ia bergerak seperti air. Inilah langkah Ganiti Kundha. Dengan cara ini kamu tak perlu menghindar dari pohon atau gundukan tanah di depanmu. Tak perlu berkelit. Itu membuang waktu percuma. Dan juga tenaga.

“Lihat baik-baik, Upasara….”

Darah Upasara mendidih.

Tetapi memang tubuh Eyang Putri Pulangsih bisa leluasa menerabas halangan yang ada di depannya. Seolah bayangan tubuh itu bisa melalui sela-sela pepohonan yang rapat. Tanpa ada ujung rambut atau kainnya yang tersobek atau tersenggol.

Diam-diam Upasara mengakui kehebatan Eyang Putri Pulangsih.

Apalagi gerakan terbang seperti ini dikatakan sebagai langkah Ganiti Kundha. Hanya diartikan sebagai langkah!

Bukan loncatan.

Ganiti Kundha, atau ganitikundha, arti yang sebenarnya ialah tasbih yang biasa digunakan para pendeta. Apa hubungannya dengan tasbih?

“Pasti kamu bertanya-tanya apa hubungannya dengan tasbih.

“Kenapa kamu sungkan mengakui?

“Pasang telinga baik-baik. Supaya Bejujag ikut mendengarkan. Langkah yang kuciptakan ini, intinya mempergunakan tenaga air. Tenaga yang mampu menggerakkan dirinya.

“Ganiti Kundha ialah tasbih. Terdiri atas berbagai biji-bijian yang disambung dengan tali.

“Apa yang dilakukan air jika ia melewati tasbih?

“Ia tak perlu membuat lubang. Karena ia bisa melalui lubang yang ada. Ia tak perlu menenggelamkan tasbih, karena tasbih itu akan tenggelam oleh tenaganya sendiri. Ia juga tak perlu mengeluarkan tenaga untuk mengambangkan, karena tasbih itu akan mengambang dengan sendirinya.

“Segala sesuatu sudah berjalan, bertenaga dengan kemampuannya sendiri. Jadi tak perlu direpotkan.

“Tinggal mengarahkan saja.

“Agar tidak menabrak.”

“Hamba bisa mengerti, Eyang Putri… Oleh Eyang Sepuh ini yang disebut sebagai Manjing Ajur Ajer.”

Eyang Putri Pulangsih menggeleng gemas.

“Salah.

“Salah besar.

“Bejujag salah dalam hal ini. Ia menggunakan ajian Manjing Ajur Ajer untuk memindahkan seluruh raga. Yang pada tingkat tertentu menjadi moksa. Lenyap-muncul tanpa diketahui.

“Itu berlebihan.

“Untuk menuju Keraton, untuk melakukan perjalanan, tak perlu ajian seperti itu. Terlalu angkuh.

“Tapi itulah.

“Bejujag itu diterima Dewa. Nasibnya baik. Lebih baik daripada nasib Dewa sendiri. Sehingga apa yang dikatakan, apa yang diciptakan, dianggap puncak ciptaan.

“Dengan ajian Manjing Ajur Ajer, seolah ilmu lain tentang itu tak ada artinya.

“Apa gunanya air mengalir, kalau bisa berpindah dalam satu ketika?

“Itu yang dikatakan Raganata.

“Itu keangkuhannya.”

Eyang Putri Pulangsih seperti masih dibakar gusar, sehingga Upasara tak berani memutuskan kalimat lanjutan.

“Padahal soalnya berbeda.

“Ini memang gerakan untuk berpindah tempat tanpa mengeluarkan tenaga, sedangkan ilmunya untuk menghilang.

“Bukankah berbeda, Upasara?”

“Hamba tak tahu.”

“Kamu tahu tapi tolol.

“Kenyung macam aku saja bisa mengerti.

“Tapi kamu takut sama Bejujag!”

Pertemuan Kerinduan

TANPA terasa perjalanan jadi bisa cepat sekali. Sebelum Upasara menyadari betul, kakinya sudah memasuki wilayah Keraton. Dan dalam sekejap sudah melewati gerbang.

Sampai di halaman depan, Upasara melihat pertarungan antara Maha Singanada dengan Senopati Agung yang tidak dikenal. Upasara juga melihat bayangan Gendhuk Tri yang berdiri di pinggir.

Yang mendadak mengentakkan selendangnya!

Melibat dua tangan yang sedang bertarung.

“Cukup.

“Untuk apa mengadu nyawa percuma seperti ini?”

Maha Singanada menyeringai.

“Ini bukan urusanmu.

“Lelaki ini telah menghinaku. Dan aku bersumpah akan membunuhnya.”

Sebaliknya Senopati Agung juga menjadi berang.

“Tantangan sesama lelaki, hendaknya jangan diganggu.”

Upasara tak tahu bagaimana kelanjutannya. Hanya masih terlihat sekelebatan Gendhuk Tri menjadi jengkel sekali. Mengibaskan selendangnya hingga terlepas dan bergerak meninggalkan arena.

Saat itu Upasara Wulung sudah berada di dalam.

Langsung duduk bersila.

Karena sekilas melihat cahaya mata Gayatri tertuju ke arahnya.

Tertuju ke arahnya.

Ke arah bola matanya!

Ah!

Pandangan mata yang membuatnya menggeletar. Membuat seluruh bulu tubuhnya berdiri, dan seakan seratus ekor semut merayap secara bersamaan di permukaan kulitnya.

Itulah Gayatri-nya.

Yang melantunkan kidungan, yang membuat Upasara terbang di antara awan.

Sewaktu Eyang Putri Pulangsih menggoda, Upasara masih terus menunduk.

Tapi merasakan semua getaran, derit urat-urat tubuhnya.

Menjadi lebih mencabik dan menjepit urat-urat itu kala Upasara sadar bahwa Gayatri mengetahui kehadirannya dan menatap dengan tajam.

Upasara benar-benar tak mengetahui bagaimana sebaiknya.

Teriakan Gendhuk Tri menyadarkan kembali. Akan tetapi wajahnya tetap tak sepenuhnya bisa menguasai apa yang terjadi.

Kerinduannya bagai timbunan segala kerinduan.

Selama ini Upasara hanya berani melihat dari kejauhan. Itu pun berakhir ketika Gayatri dibimbing Baginda ke dalam kamar peraduan.

Dalam perasaan yang diombang-ambingkan penalarannya sendiri, Upasara bisa merasakan jatuh-bangun, mengawang dan menggelepar. Sendirian.

Tidak seperti sekarang ini.

Di depan Gayatri.

Di hadapan Baginda, dan sekian banyak senopati.

Kalau saat itu Upasara bisa masuk ke liang tanah, Upasara akan menenggelamkan dirinya. Kalau bisa moksa, akan melenyapkan diri.

Tapi kini ia terpaku.

Bersila.

Bahkan ketika Baginda memerintahkannya meninggalkan tempat, Upasara masih belum sepenuhnya sadar harus berbuat apa dan bagaimana.

Jadinya berdiam di tempatnya.

Tetap bersila.

“Upasara, apakah kamu tidak mendengar perintah rajamu?”

Di akhir kalimatnya, semua senopati yang ada bersiap. Setelah menyembah sekilas, lalu bersiap dengan senjata.

“Saya akan pergi setelah membawa Gayatri….”

Gendhuk Tri menggigil tubuhnya.

Sungguh luar biasa.

Tak pernah didengarnya kalimat begitu terbuka dari Upasara.

Mahapatih Nambi sudah mengayunkan ujung tombak.

Satu telapak tangan Upasara menengadah ke depan. Memapak datangnya ujung tombak. Dan tanpa diketahui bagaimana caranya, tombak itu amblas ke telapak tangan.

Tidak.

Tidak amblas ke telapak tangan.

Melainkan dijepit oleh jari tangan.

Bahwa tenaga dalam Upasara Wulung boleh dikata sulit dicari tandingannya sejak menguasai Kitab Bumi, Halayudha mengetahui. Ia pun bisa melakukan apa yang dilakukan Upasara.

Yang menjadikannya berpikir keras, ialah bahwa ucapan itu sebenarnya bukan ucapan yang keluar dari bibir Upasara Wulung.

Seratus kali keberanian yang dimiliki, tak akan Upasara mengatakan hal itu.

Memang.

Yang melakukan adalah Eyang Putri Pulangsih.

Yang menirukan suara Upasara Wulung.

Upasara sendiri merasa bahwa ia tak bisa berbuat lain. Kalau dulu hanya mengetahui bahwa tokoh yang bisa memainkan suara itu Kiai Sambartaka, atau Paman Sepuh, atau juga Eyang Sepuh, kini jadi bertambah satu.

Yang celakanya justru menirukan suaranya.

Inilah yang membuat Upasara makin kikuk.

Hanya ketika serangan datang, dengan sendirinya tangan Upasara bergerak memapak.

“Bagus!

“Hari ini secara terbuka kamu menantang rajamu.

“Upasara…”

Upasara menyembah hormat. Menunduk sampai tanah.

“Sewaktu kuserahkan, kamu menolak. Sewaktu kukirimkan ke Perguruan Awan, kamu tidak mau menemui. Tapi begitu di tanganku, kamu datang merebut.

“Bagus, sungguh kurang ajar caramu.”

Kini semua mengepung Upasara.

Termasuk Halayudha.

“Kamu kira kamu ini siapa dan punya apa?

“Ambillah jika berani.”

Upasara mendongak.

Mendadak pandangannya bentrok dengan sorot mata Gayatri yang melirik sekilas ke arahnya.

Kembali perasaannya seperti dilewati seribu semut, terasa di semua kulitnya.

“Sinuwun, dalem tidak berniat kraman atau membantah perintah. Sampai tujuh turunan yang akan datang tidak akan pernah berani.

“Abdi sinuwun ini hanya…”

Suaranya terhenti.

Halayudha memusatkan perhatian. Ia sedang mengerahkan kemampuan apakah ini suara yang keluar dari Upasara atau dari Putri Pulangsih.

Semua menunggu.

“Kakang, kenapa sungkan mengatakan apa yang Kakang inginkan?”

Keheningan pecah oleh suara Gendhuk Tri.

Dengusan napas terdengar bersamaan dari para senopati. Gendhuk Tri tidak peduli. Ia malah berdiri, mendongak ke arah pucuk atas Keraton.

“Kakang pantas mendampingi Permaisuri Rajapatni.

Tak ada yang akan berani menghalangi….”

Nada suara Gendhuk Tri menyayat hati. Tapi juga mengisyaratkan keikhlasan yang tulus.

Perasaan yang sesungguhnya terwakili dari ucapannya.

Bagi Gendhuk Tri, Upasara Wulung adalah segalanya. Seorang kakak, seorang bapak, seorang teman, seorang sahabat yang lebih tua, seorang yang dipuja. Semua perasaan, semua naluri hubungan perempuan-lelaki berkumpul menjadi satu.

Dalam keadaan seperti itu, perasaan Gendhuk Tri tumbuh dan berkembang.

Salah satu bentuk perkembangannya ialah merasa rela jika Upasara Wulung bersanding dengan Gayatri.

Karena hati wanita Gendhuk Tri mengatakan itu semua akan membuat Upasara Wulung bahagia.

Yang berarti, biar bagaimanapun, dirinya juga bahagia.

Perasaan itu berubah jika Upasara berdampingan dengan wanita lain.

Termasuk Ratu Ayu Bawah Langit yang kesohor kecantikannya.

Termasuk Nyai Demang.

Bahkan untuk yang terakhir ini, melihat Upasara menggandeng sewaktu meloncati dinding Keraton pun, membuat Gendhuk Tri murka.

“Adik kecil, bagaimana keadaanmu?

“Apakah kamu masih mengenali Eyang Putri Pulangsih yang mulia?”

Eyang Putri Pulangsih menggeleng-geleng.

Dalam hatinya menjadi bingung sendiri oleh ulah Upasara Wulung. Di saat yang gawat, di saat yang menentukan, ia justru bicara kepada Gendhuk Tri.

Lalu apa maunya lelaki ini?

Kenapa Bejujag juga begitu? Selalu begitu?

Sayembara Mahapatih

YANG paling murka adalah Baginda.

Bisa diduga.

Bagi siapa pun, yang mengenal sedikit tata krama, apa yang dilakukan Upasara sangat kurang ajar. Boleh dikatakan biadab. Di saat diajak bercakap oleh Baginda, malah beralih kepada pembicara lain.

Ini sama dengan menganggap Baginda tak ada.

Ini sama dengan ngilani dada Baginda. Atau mengukur dengan telapak tangan berapa lebar dada Baginda. Suatu perlambang menantang dengan cara yang kurang ajar. Seakan menghitung berapa lebar dada Baginda untuk dipukul.

Tak boleh terjadi.

Raja adalah raja. Pusat sesembahan yang paling dihormati. Puncak kesucian seluruh Keraton.

Perbuatan Upasara tak akan terampuni. Apalagi dilakukan secara terang-terangan.

Padahal Upasara sendiri tak bermaksud demikian. Sama sekali tak terbersit dalam angannya untuk bersikap kurang ajar. Suatu yang tak mungkin terjadi karena ia sendiri dibesarkan dalam tata krama Keraton.

Apa yang dilakukan lebih dikarenakan merasa bingung. Merasa nggragap, tak tahu persis harus berbuat bagaimana. Karena kikuknya menghadapi situasi, menghadapi Gayatri.

Gendhuk Tri sendiri juga tak peduli bahwa sikapnya merupakan tantangan terbuka.

Menghadapi sikap tak peduli, Baginda makin terbakar murkanya.

“Hari ini Ingsun perintahkan untuk menangkap Upasara Wulung. Dalam keadaan hidup atau mati!

“Sayembara ini terbuka untuk siapa saja.

“Yang bisa mengalahkan Upasara, saat itu juga akan kuangkat menjadi mahapatih Keraton.”Sabda Raja tak bisa ditarik kembali.

Halayudha menelan napasnya yang mendadak memburu. Ini kesempatan terbuka yang paling bagus untuk tampil.

Bukan pekerjaan yang gampang untuk mengalahkan Upasara, akan tetapi Halayudha mampu meringkus. Dengan satu dan lain cara.

“Kakang, Kakang dengar Sayembara Mahapatih yang baru diucapkan Baginda?”

“Ya….”

“Bagaimana kalau Kakang menyerah di tanganku. Agar aku menjadi mahapatih Keraton?”

Kalaupun merasa geli tak ada yang berani tersenyum!

Kalimat Gendhuk Tri lebih kurang ajar dari yang paling kurang ajar. Mana mungkin di saat begini gawat, ia malah bermain-main? Meskipun yang diucapkan tidak keliru, akan tetapi jadinya seperti mempermainkan Baginda.

“Kalau itu baik, silakan….”

Gendhuk Tri baru akan bergerak, ketika mendadak kakinya seperti menginjak tanah longsor. Tubuhnya terseret ke depan tanpa bisa ditahan lagi. Halayudha mendengus sambil menyentakkan tangannya dan tubuh Gendhuk Tri melayang ke atas.

“Jangan bersikap kurang ajar.

“Masih ada aku yang tua.”

Eyang Putri Pulangsih mengeluarkan suara dingin.

“Siapa dia ini?”

Jelas sekali bahwa cara mengerahkan tenaga jarak jauhnya cukup kuat, sehingga menarik perhatian Eyang Putri Pulangsih. Karena sejak Mahapatih Nambi bergerak, Halayudha boleh dikatakan tak bergerak sedikit pun.

“Eyang Putri, yang ada di depan Eyang Putri adalah Senopati Halayudha….”

“Itu aku tak peduli.

“Tapi dari mana ia mempelajari ilmunya?”

Halayudha mendongak.

“Cukup untuk meringkus Upasara, Eyang?”

“Itu aku tak peduli.

“Tapi rasa-rasanya kamu masih saudara. Atau kamu mencuri ilmu siapa?”

“Eyang Putri, saya pernah mengatakan, kita pernah bertemu. Bagaimana mungkin Eyang Putri melupakan?”

Terdengar dari nada dan caranya berbicara, Halayudha seperti merendah. Dengan perhitungan kalau terjadi sesuatu, ia tak ingin menempatkan Eyang Putri Pulangsih pada sudut sebagai lawan.

Karena secara terang-terangan, Halayudha merasa jeri akan kemampuan Eyang Putri.

“Kalau ini dianggap perselisihan sesama saudara, biarlah saya minta restu Eyang Putri untuk mengamankan ksatria yang sombong dan besar kepala.”

“Itu bukan urusanku.

“Tugasku hanya membawa Upasara dan mempertemukan kepada kekasihnya. Selebihnya urusannya sendiri.

“Aku tak peduli.”

Halayudha menyembah hormat.

Rasanya dalam kalimat pertama, ia bisa menyingkirkan penghalang terbesar.

“Sungguh, saya menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

“Sudah kubilang, itu bukan urusanku.”

Selama pembicaraan berlangsung, Mahapatih Nambi sudah menempatkan posisi melindungi Baginda. Bersama para senopati, ia menempatkan diri sebagai perisai, jika sewaktu-waktu terjadi pertarungan.

“Berdirilah, Upasara! Aku yang tua ini ingin menjajalmu.

“Atas nama Baginda, sebagai prajurit aku menjalankan tugasku sebisanya.”

Upasara menggelengkan kepalanya.

Gendhuk Tri mengentakkan kakinya.

“Jangan biarkan ia menghina Kakang.

“Bukankah Kakang tidak suka padanya?”

“Ya, akan tetapi… akan tetapi… saya tidak memusuhi karena soal ini. Lagi pula itu sudah lama berlalu.

“Kalau Senopati Halayudha sudah menyadari kekeliruannya, kenapa dibiarkan mengulangi?”

“Kakang seperti aki tua saja.

“Musuh besar diampuni. Itu masih tak apa.

“Tapi kalau kekasih menunggu juga dibiarkan saja, itu namanya keterlaluan.”

Upasara menggeleng.

“Tidak.”

“Kakang ini bagaimana?

“Apa Kakang berharap Mbakyu Ayu Permaisuri berkata bahwa Kakang Upasara ditunggu? Kan tidak mungkin. Masa hal semacam ini harus saya katakan?

“Kakang, Kakang… Kapan Kakang menjadi dewasa?”

“Itulah soalnya,” potong Eyang Putri Pulangsih. “Selama dunia isinya hanya lelaki bimbang, ya tak akan pernah beres.

“Ini sudah bagus.

“Persis seperti dulu.

“Bejujag menghadapi Baginda Raja dalam soal asmara.

“Bejujag pengecut, takut.

“Sekarang ini malah diulangi.”

Mahapatih Nambi menggerung keras.

“Upasara, mari ke medan yang lebih luas. Agar lebih leluasa melemaskan otot.”

Pertimbangan Mahapatih Nambi hanyalah semakin jauh dari Baginda, semakin besar keselamatan Baginda. Cara yang bijaksana, karena tak mungkin menyarankan agar Baginda masuk ke dalam.

Upasara mengangguk.

“Mbakyu Ayu Permaisuri, mari ikut kami….”

Gendhuk Tri mengulurkan tangan setelah menyembah. Kembali angin panas menyambar dan membuat tubuhnya terputar. Kali ini Gendhuk Tri sudah bersiap, sehingga dengan cepat tangannya ditarik kembali, dan kuda-kudanya diperkuat.

Akan tetapi sambaran tenaga Halayudha tetap membuat tubuhnya terputar dua kali.

Ulu hatinya terasa panas.

Upasara mengangkat sebelah tangannya, dan impitan tenaga yang memutar tubuh Gendhuk Tri menjadi buyar. Sehingga bisa berdiri tegak kembali.

Halayudha menyembah sekali ke arah Baginda, lalu meloncat ke tengah, dan tangannya menyambar. Sebelum tenaga pukulan mendekat, Upasara menarik mundur Gendhuk Tri dengan cara mengangkat tenaga ke arah kaki Gendhuk Tri.

Sehingga seolah-olah Gendhuk Tri sengaja meloncat mundur.

Berdiri di samping Upasara.

Pemandangan yang aneh. Upasara tetap bersila di tanah, dengan Eyang Putri Pulangsih di sebelah, sambil tetap menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sementara di sebelahnya lagi Gendhuk Tri.

Halayudha menggerakkan kedua tangannya. Berputar pada persendian di pangkal bahu. Kedua tangannya melengkung bagai busur. Pandangannya menyorot tajam.

Pertarungan tak bisa dihindari lagi.

Seribu satu alasan menyatu untuk saling bertarung.

Pertarungan Mantra

HALAYUDHA menggerakkan kedua tangan bersumbu pada kedua lengan bukannya tanpa arti. Karena dengan cara pengerahan tenaga dalam ini, Halayudha seketika menutup ruang serang Upasara.

Sesuatu yang lebih halus caranya dibandingkan apa yang dilakukan Mahapatih Nambi. Yang secara terang-terangan meminta mengalihkan medan pertarungan untuk melindungi Baginda.

Halayudha siap bertarung.

Selama ini menampilkan diri sebagai senopati yang kebawah keprentah, atau senopati bawahan yang selalu diperintah. Yang menurut perhitungannya akan menempatkan diri pada posisi yang aman dan tidak dicurigai.

Nyatanya begitu.

Hanya saja dorongan untuk tampil ke depan terasa kini sudah saatnya. Halayudha ingin muncul, ingin menunjukkan siapa sesungguhnya dirinya. Yang dalam ilmu silat menduduki peringkat utama.

Ini juga bukan sesuatu yang mengada-ada. Halayudha adalah murid langsung Paman Sepuh, salah satu tokoh utama yang sakti mandraguna, bahkan yang menciptakan Kitab Bumi. Ditambah dengan kemauan yang keras, ambisinya yang membakar, Halayudha mampu mempelajari hampir semua cabang dan aliran persilatan yang nomor satu.

Merasa bekalnya sempurna, Halayudha memperlihatkan dadanya. Itu sebabnya ia mendobrak ke permukaan dan memamerkan ilmunya ketika menaklukkan Pendeta Syangka.

Selama ini bayangan akan kehebatan ksatria lain adalah Upasara Wulung yang memegang gelar lelananging jagat. Adalah hal yang wajar jika Halayudha ingin menjajal. Seperti semua ksatria ingin menguji ilmunya dengan yang paling unggul.

Bagi Upasara, saat ini merupakan cara yang paling baik untuk mengalihkan kekikukannya bertemu dengan Gayatri. Lebih dari itu, Halayudha adalah satu-satunya manusia di bumi ini yang pernah menimbulkan murka. Yang membuatnya tak bisa memusnahkan dendam yang ada.

Kalau sekarang Upasara berniat menghadapi, karena merasa inilah kesempatan yang tepat.

Suasana sepi.

Lengang.

Tak ada yang bergerak.

Keinginan yang sama, sebenarnya diam-diam juga bersemi dalam hati yang hadir. Termasuk Baginda.

Senopati Pamungkas II – 4

Biar bagaimanapun, nama besar Upasara selama ini selalu tergema. Namun bagaimana sesungguhnya tingkat penguasaan ilmunya tak banyak diketahui. Kini saatnya menguji dengan mata kepala sendiri. Menghadapi Halayudha yang dengan tenang bisa mempermainkan Pendeta Syangka seperti mempermainkan anak yang baru belajar silat.

Suasana sepi.

Lengang.

Tapi Upasara seperti mendengar kidungan yang terulang-ulang membisik.

Ingsun menutup rasa

rasa lindungilah ingsun

rasa makan cahaya

abadi dalam cipta

tetap mantap tak berubah

`Ini semacam kidungan pambuka yang setiap kali diucapkan jika seseorang mulai berlatih ilmu silat. Untuk memusatkan pikiran, dengan kidungan yang diucapkan dalam batin.

Seperti apa yang dikenal dengan mantra.

Upasara Wulung makin menyadari bahwa satu tingkat kesadaran baru merasuk dalam dirinya.

Yaitu bisa merasakan bisikan lirih mantra yang tidak diucapkan.

Sesuatu yang pernah diperlihatkan Eyang Putri Pulangsih dengan sempurna ketika bisa membawa udara pernapasan Upasara!

Mantra yang berada dalam kalbuningsun

ada tempat berisi apa saja

tetaplah di situ, di tempatnya

tidak goyah, tidak berpindah

di situ ada Ingsun

di situ ada sinar

sinar kalbuningsun

bercahaya karena

diriku yang bercahaya

gilang-gemilang

bersinar karena

rasaku…

Eyang Putri Pulangsih membuat gerakan lirih di bibir. Seakan memendam perasaan bahwa ia mengetahui pertarungan mantra yang terjadi. Pertarungan kekuatan batin untuk mencari pijakan.

Kejadiannya hanya sepersekian kejap. Akan tetapi justru pada saat-saat seperti itulah ucapan niyatingsun, kehendak batin, itu tertancap.

Yang bisa mempengaruhi kekuatannya sendiri atau kekuatan lawan. Karena menanamkan kepercayaan diri adalah bagian yang penting sebelum menggerakkan tenaga dalam. Atau bahkan sebelum bernapas.

Hanya sekejap.

Mendadak tanah seperti menjadi goyang. Getaran terasa menggigilkan tiang-tiang utama. Bersamaan dengan gerakan tangan Halayudha yang makin lama makin kencang. Anginnya memaksa untuk mundur satu-dua tangan.

Upasara membiarkan tangan kirinya bergerak leluasa, mencari dan menemukan sumber tenaga; Matanya tertutup, sementara tangan kanan terkulai di lutut.

Seluruh kepekaan Upasara hanya berawal dari getaran tenaga yang terasakan lewat udara.

Tubuh Halayudha menekuk sedikit, sebelum dengan satu gerakan sangat cepat bagai berkelebatnya pedang tubuhnya melayang.

Menusuk ke arah Upasara.

Dengan kedua tangan terkembang ke depan.

Tidak memukul, tidak menjotos, tidak menusuk. Lurus terbuka telapak tangannya. Upasara mengangkat tangannya perlahan, menyongsong datangnya serangan.

Tubuh Halayudha mendesing di atas kepala Upasara.

Plak!

Terdengar suara lirih.

Benturan dua telapak tangan Halayudha dengan satu telapak tangan kiri Upasara.

Tubuh yang tengah meluncur bagai tombak dilontarkan dengan sepenuh tenaga terbalik. Memutar di tengah udara, lurus ke arah dinding!

Akan tetapi kaki Halayudha bisa menyentuh dinding, atau malah belum menyentuh sama sekali, tubuhnya telah berbalik lagi, menyerang dengan cara yang sama.

Lagi-lagi terdengar “plak” lirih.

Tubuh Halayudha meluncur ke tempat semula.

Dan mendadak berbalik sebelum kakinya menyentuh tiang Keraton. Berbalik lebih cepat sehingga mengeluarkan desingan suara yang menyobek udara.

Sungguh luar biasa!

Jarak antara tubuh Upasara dan dinding Keraton cukup jauh. Demikian juga dari tempat di mana Halayudha meluncur. Namun semua itu hanya dilewati dalam sekejap. Benar-benar seperti kecepatan anak panah yang dilepaskan dari busur yang terentang penuh.

Bolak-balik.

Dan setiap kali hanya terdengar suara “plak” lirih.

Mahapatih Nambi merasa menyaksikan pertarungan yang belum pernah dibayangkan. Tubuh Halayudha bisa meluncur begitu cepat dan berputar balik, tidak terlalu istimewa. Andaikata tidak meluncur tepat di tengah dua tubuh yang berdiri di tempatnya sejak tadi.

Di antara tubuh Eyang Putri Pulangsih dan Gendhuk Tri.

Yang seakan menjadi tiang, di mana Halayudha menerobos dengan leluasa.

Yang tidak diperhitungkan Mahapatih Nambi ialah bahwa setiap kali tubuh Halayudha meluncur ke dekatnya, Gendhuk Tri merasa tertekan tenaga yang berat sekali. Mengimpit dadanya.

Kesiuran angin Halayudha memaksa untuk minggir dua langkah ke samping.

Sementara Eyang Putri Pulangsih masih menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Halayudha sendiri merasa getaran yang terpancar keras dari tenaga dalamnya, tiap kali seperti membentur permukaan yang licin. Sehingga benturan tenaga itu membuat tubuhnya melesat.

Upasara tidak meladeni keras lawan keras.

Juga tidak mengisap tenaga lawan.

Telapak tangannya seperti membiaskan tenaga yang datang.

Lima kali berputar balik, Halayudha menyimpan tenaga benturan yang keras. Ia pusatkan tenaga di pundak. Dengan demikian ia ingin memaksa beradu tangan, dan pada saat yang sama akan menyusul dengan serangan keras.

Akan tetapi Halayudha rada kecele.

Kembalinya Timinggila Kurda

Tenaga dalam Upasara sama saja.

Tak terdesak tak membalik.

Yang terjadi justru sebaliknya. Tubuhnya sendiri yang terlontar lebih keras dari semula. Di saat meluncur, tenaga dalam Halayudha bereaksi sendiri dengan keras. Sehingga luncuran tubuhnya makin kencang.

Dengan mengeluarkan suara keras, Halayudha mendadak membalik tubuhnya. Bagai geliatan yang liat, tubuhnya berbalik seketika, dan kedua tangannya memagut tubuh Upasara!

Inilah jurus-jurus Timinggila Kurda atau Ikan Gajah Murka. Jurus-jurus maut andalan Paman Sepuh!

Gendhuk Tri sudah tersingkir makin jauh tanpa terasa. Lingkaran yang mengepung juga membuka makin lebar.

Dengan jurus ini, Halayudha memaksa pertarungan jarak pendek. Menggelut Upasara, yang mendadak memutar tubuhnya ke arah yang berlawanan dengan putaran Halayudha.

Masih bersila, tubuh Upasara berputar makin lama makin kencang. Makin lebar putarannya, sehingga kini mengelilingi tubuh Eyang Putri Pulangsih yang masih berdiri tegak sejak tadi.

Apa yang dilakukan Upasara sebenarnya membuka ruang pertarungan yang lebih longgar. Karena merasa bahwa jurus-jurus Timinggila Kurda akan lebih menemukan bentuknya dalam ruang pertarungan yang lebar.

Seekor ikan paus yang murka membuat gelombang lebih besar.

Halayudha tidak merasa bahwa Upasara terpancing atau terdesak oleh serangannya. Nalurinya yang tajam justru mengatakan sebaliknya. Upasara sedang memberi kesempatan. Untuk menjajal ilmu yang sejati.

Halayudha tak mau menyia-nyiakan kesempatan.

Belitan tubuhnya makin menggila. Menerjang bolak-balik dari segala penjuru dengan tangan dan kaki terentang. Seolah seorang anak yang kesetanan, yang menyerang dengan gerakan apa saja.

Inti Timinggila Kurda memang demikian halnya. Tak berbeda dari yang dikuasai Upasara ketika masih memainkan Banteng Ketaton. Inti pengerahan tenaga sama caranya.

Hanya latihan dan penguasaan tenaga yang jauh berbeda yang juga membedakan kekuatan serangan yang ada.

Tangan kiri Upasara mendadak mengeras.

Kepalannya terbentuk.

Ke arah mana serangan Halayudha datang, ke arah itu pula tangannya bergerak. Menyambut.

Tiga gempuran berlalu.

Sebelum kemudian tangan itu bergerak menangkap gerakan Halayudha. Memotong gerakan dengan paksa.

“Hiyah!!”

Halayudha berteriak nyaring.

Dua tenaga kuat beradu.

Tubuh Halayudha melesat jauh ke dinding Keraton di mana ia memanggang Pendeta Syangka!

Sementara Upasara berdiri gagah.

Beberapa kejap tubuh Halayudha seperti tertahan di dinding.

Akan tetapi beberapa pasang mata yang awas mengetahui, bahwa justru sekarang Halayudha menunjukkan kesaktiannya. Ia terlempar sampai dinding, akan tetapi sekarang ini tubuhnya tidak menempel dinding, dan kakinya tidak menginjak tanah.

Seolah mengapung.

“Hebat!”

Upasara tak menjawab pujian Halayudha.

Telapak tangannya terdorong ke depan.

Tubuh Halayudha bergoyang-goyang sebelum turun ke tanah.

“Hebat!

“Itukah jurus Penolak Bumi yang kondang tanpa tanding itu?”

“Kondang atau tidak, apa bedanya?

“Tanpa tanding, apa mungkin?”

Halayudha maju setindak.

“Upasara, katakan jurus mana yang kamu mainkan?”

“Tak ada jurus.

“Saya tak memainkan apa-apa.”

Kalau ada yang menggelengkan kepalanya perlahan, itu hanyalah Eyang Putri Pulangsih. Dalam hatinya seperti terbersit umpatan yang mengatakan bahwa Upasara Wulung sangat tolol.

Mengatakan apa adanya.

Itulah ketololan yang juga dimiliki Bejujag.

“Coba ini!”

Halayudha menggertak maju. Kedua tangannya terayun ke depan, akan tetapi sapuan kakinya lebih cepat. Jauh sebelum mengenai tubuh Upasara, kakinya telah berputar balik. Pada saat yang sama tangannya mendorong tubuh Upasara.

Walaupun kelihatan tetap tenang, Upasara merasa bahwa tekanan tenaga dalam Halayudha makin lama makin berat. Dengan mengosongkan tenaga di bagian kaki dan mendorong di bagian atas, Upasara menyadari bahwa bagian jurus-jurus Banjir Bandang Segara Asat sedang dimainkan.

Dengan tenaga dalam dan penguasaan yang lebih sempurna dari Ugrawe!

Saat Ugrawe menguasai jurus itu, ia bisa malang-melintang tanpa lawan. Semua lawan bisa disikat dan dilumpuhkan. Karena tenaga dalam diisap habis, untuk dipindahkan ke dalam dirinya. Memakai perimbangan banjir besar di tubuh sendiri, akan tetapi kering kerontang di laut.

Pemindahan tenaga dalam yang sangat berbahaya.

Karena ini berarti pertarungan akhir.

Pada saat tenaga dalam Ugrawe kalah kuat, yang terjadi adalah sebaliknya. Tenaga dalamnya yang terisap ke luar.

Yang berarti habis!

Akan menjadi cacat seumur hidup.

Upasara terkesiap. Sama sekali tak menyangka bahwa Halayudha akan memainkan jurus yang paling berbahaya. Kalau berani mengeluarkan Banjir Bandang Segara Asat, berarti sudah menakar kekuatan tenaga dalam lawan.

Dan yakin akan memperoleh kemenangan.

Sepersekian kejap Upasara ragu, Halayudha mendesakkan tenaganya. Upasara memutar tubuhnya dengan kencang. Tangan kanannya bergerak ke bawah, memotong arus tenaga isap dan tenaga dorong.

Halayudha memutar tubuhnya ke samping.

Dua tangannya berada di sebelah atas pundak. Sedikit miring. Siap melancarkan serangan berikutnya.

“Hebat!”

Kali ini Upasara yang memuji.

“Tak percuma menjadi lelananging jagat!” teriak Halayudha dengan napas sedikit tersengal.

Pujian Upasara bukan basa-basi.

Untuk pertama kalinya ia menyaksikan bahwa Halayudha mampu menguasai pernapasan dan pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Yang sulit dicari tandingannya.

Selama ini Upasara hanya mengetahui bahwa jurus maut memindahkan tenaga dalam hanya bisa dimainkan untuk meraih kemenangan atau kalah.

Dan bukannya bisa ditarik kembali.

Itulah sebabnya ia memuji tulus.

Sebaliknya, Halayudha juga merasakan kekuatan yang sesungguhnya. Sejak melancarkan Banjir Bandang, ia tidak melakukan sepenuh hati.

Karena masih menjadi tanda tanya apakah keunggulan penguasaan tenaga dalamnya lebih atau masih kalah.

Makanya di tengah perjalanan ia menarik kembali.

Pujian Halayudha terutama karena Upasara mampu bergerak memotong gerakannya.

Dan bukan sekadar menerima.

Ini juga untuk pertama kali Halayudha mengetahui bahwa gerakan lawan bukan hanya sekadar menerima, akan tetapi juga mementahkan.

Meskipun belum tentu Upasara mampu mementahkan serangan kalau dirinya menyerang sepenuh tenaga, Halayudha merasakan keunggulan Upasara menangkap arah dan mengukur serangan.

Mahapatih Nambi yang mencoba mengikuti jalannya pertarungan dengan saksama, memperhitungkan bahwa dalam gebrakan ini Halayudha lebih unggul. Sekurangnya mampu memaksa Upasara berdiri, dan menggunakan tangan kanan.

Padahal dalam prinsip-prinsip dasar, jurus-jurus Tumbal Bumi yang disebut Tepukan Satu Tangan, tetap dengan satu tangan. Mahapatih Nambi tidak menganggap dirinya sok tahu. Akan tetapi seperti dimaklumi, Kitab Bumi— lengkap dengan bagian Tumbal Bumi atau Penolak Bumi—boleh dikatakan dipelajari oleh semua senopati utama.

Halayudha mengibaskan tangannya.

Tangan kanannya bergerak melengkung seperti menyampok air di sungai, dan dengan satu gerakan yang sama tubuhnya mengikuti tarikan tenaga sampokannya.

Hanyut menuju Upasara.

“Pencuri dungu!”

Kali ini Gendhuk Tri yang bersuara keras. Ia mengetahui bahwa Halayudha memainkan ilmu silat yang selama ini dimainkannya!

Itu sebabnya Gendhuk Tri menganggap Halayudha sebagai pencuri ilmu orang.

Nyatanya memang begitu.

 

Tirta Karkata

INI yang membuat para senopati menahan napas.

Tadinya mereka berharap melihat pertarungan yang seru, yang mengucurkan darah dengan gerakan-gerakan ajaib. Akan tetapi nyatanya yang terjadi hanya gebrakan-gebrakan lirih.

Sesekali saja.

Perhitungan seperti itu bisa saja keliru.

Harapan menyaksikan pertarungan kelas satu pernah diangankan juga oleh Gendhuk Tri. Ketika secara tidak langsung mengetahui pertarungan di Trowulan.

Akan tetapi jangan kata melihat tontonan yang menarik, untuk bisa mengikuti gerakan saja susah.

Tidak persis sama, akan tetapi inilah yang tengah terjadi.

Halayudha meliuk seolah sedang memamerkan tarian, tubuhnya hanyut secara lembut. Menggelinding ke arah tubuh Upasara. Akan tetapi ketika mendekat, mendadak kedua tangan terulur ke depan.

Menjepit tenggorokan Upasara.

“Hhh!”

Terdengar tarikan napas pendek.

Upasara seakan mendengar tarikan napas pendek itu. Berarti Eyang Putri Pulangsih pun mau tak mau akhirnya bereaksi.

Berarti ada apa-apanya.

Dugaan Upasara tak sepenuhnya meleset. Telinganya mendengar desahan napas Eyang Putri Pulangsih. Hanya saja makna yang ditangkap terlalu jauh.

Eyang Putri Pulangsih mendengus bukan karena Halayudha memperlihatkan jurusnya secara bagus, akan tetapi melihat bahwa apa yang selama ini diajarkan, bisa menjadi lain.

Sebagai pencipta ilmu silat yang bersumber dari Kitab Air yang ditulis oleh tangannya sendiri, Eyang Putri Pulangsih mengetahui persis apa yang terjadi. Akan tetapi tidak menyangka bahwa di tangan Halayudha gerakan itu bisa diubah menjadi gerakan panas.

Tak pernah terbayangkan ketika menciptakan dulu.

Gendhuk Tri yang tadinya mengenali ilmu silatnya yang ditiru Halayudha, jadi sangsi. Tapi sekaligus juga kuatir. Karena Halayudha memainkan secara telengas.

Memang di tangan Halayudha, segala ilmu silat bercampur aduk menjadi satu. Dengan kemampuan mengendalikan napas dan kemampuan menimba serta menyaring, Halayudha boleh dikata tanpa tandingan dalam soal ini.

Ilmu murni yang dipelajari sudah bercampur dengan ilmu yang lain. Yang kebetulan sama-sama ilmu kelas satu.

“Air apa? Air kotor macam begitu dipamerkan?”

Suara Gendhuk Tri lebih merupakan gambaran kecemasan yang ada.

Upasara mengertakkan giginya. Jepitan di tenggorokan ditangkis keras, dan dengan gerakan yang sama sikunya amblas ke dada lawan.

Trak! Traak!

Traaaak! Trak!

Empat kali terdengar suara benturan keras, seakan tulang-tulang patah. Upasara mengimbangi kekerasan dengan kekerasan. Jepitan yang masuk ditolak dengan menerobos ke dalam dan dengan tenaga keras coba dipatahkan.

Tangan Halayudha yang menjepit menjadi renggang. Seolah jepitan yang menemukan barang lebih keras. Dua kali usaha dilakukan dengan hasil yang sama.

Halayudha mendesis perlahan, mengubah gerakannya menjadi lembut, dan seakan membelai leher Upasara, atau mengili-ngili. Dibarengi gerak tubuhnya yang hanyut oleh irama tangan, sangat kontras dengan apa yang dimainkan sebelumnya.

Upasara segera menyadari bahwa Halayudha memperlihatkan kelebihannya dalam mengatur tenaga dalam. Sebelum menggila dengan Timinggila Kurda yang dahsyat serta Banjir Bandang, dalam sekejap sudah mengganti dengan jurus keras yang lembut, lalu berubah lagi dengan jurus lembut yang keras.

“Amati baik-baik. Inilah Tirta Kartaka!”

Gendhuk Tri memang tidak mengenal nama jurus-jurus yang dimainkan. Ia tahu persis arah gerakan dan perubahan-perubahan yang terjadi, akan tetapi secara langsung tidak mengerti istilah atau penamaan jurus-jurus tersebut.

Bisa dimengerti karena dulu Eyang Raganata yang menurunkan ilmunya, baik kepada Jagaddhita maupun kepadanya secara langsung, tak pernah memberitahu. Karena memang itu bukan hak Eyang Raganata. Eyang Putri Pulangsih yang lebih berhak.

“Aku sengaja memberikan pelajaran.”

Gendhuk Tri gondok sekali.

Dongkol hingga ke pangkal leher.

Akan tetapi diam-diam tetap mengagumi kehebatan Halayudha. Bukan hanya lidahnya yang culas dan otaknya yang licin, akan tetapi ilmu silatnya juga serba tak terduga.

“Ia benar sekali, Gendhuk.

“Kamu perhatikan baik-baik.” Gendhuk Tri mendengar bisikan di telinganya. Pasti Eyang Putri yang berdiri di kejauhan, yang seperti tak bergerak itu, yang memberitahu.

“Dasar-dasar yang digerakkan adalah dasar yang sama dengan yang kamu pelajari. Sumber gerakan yang ada adalah sumber tenaga air. Akan tetapi ia menggabungkan dengan kemampuannya sendiri untuk mengembangkan.

“Kembangan atau variasi yang dimunculkan sekarang adalah gabungan tenaga menjepit yang keras-lembut dan lembut-keras, yang tak ada dalam tenaga air.

“Tenaga air adalah tenaga mengalir.

“Halayudha ini menghimpun dan memainkannya.

“Ia menyebutnya sebagai Tirta Kartaka atau bisa berarti Air Udang atau Air Ketam. Udang mempergunakan tenaga lembut-keras, sedangkan ketam mempergunakan tenaga keras-keras dalam menjepit lawan.

“Boleh juga orang ini!

“Kartaka yang bisa berarti ketam dan atau udang, sengaja tidak dipisahkan, melainkan digabungkan. Mana ketam dan mana udang tak dipersoalkan lagi.

“Boleh. Orang ini ilmunya boleh juga.”

Menghadapi benturan yang keras atau elusan, Upasara menggeser kedua kakinya. Miring ke samping, sambil kedua tangannya menarik udara sekitar. Dengan demikian Halayudha menjadi sedikit sempoyongan.

Kalau tadinya Halayudha sedikit lebih unggul, kini nampak justru keteter. Gerakannya tak lagi bisa perkasa. Beberapa kali terseret maju, dan dengan membuang tubuhnya, Halayudha berusaha tampil dengan perkasa.

“Kakang bisa mengatasi!”

“Jangan tolol,” bisik suara Eyang Putri Pulangsih agak menyakitkan telinga. “Bukan kakangmu yang hebat. Tapi Bejujag. Apa yang dimainkan sekarang adalah jurus Penolak Bumi.

“Kembangan yang diperlihatkan Upasara menunjukkan ia sedang mengisap dan membuang habis tenaga sekitar. Tenaga air yang dipakai Halayudha sedang ditawu. Sedang dikuras habis.

“Bejujag menciptakan Kitab Penolak Bumi secara sempurna. Ilmu yang kuciptakan sekian tahun bisa dimentahkan.

“Apa artinya udang atau ketam dalam soal menyerang kalau tak ada air?

“Sayang sekali kalau segera habis.

“Gendhuk, kamu katakan agar Halayudha segera memainkan Kidungan Lwah Gangga Gahan”

Gendhuk Tri jadi bingung sendiri.

Ia menggigit bibirnya.

“Jangan tolol.

“Ini pelajaran penting bagimu. Kalau pertarungan berjalan lama, kamu bisa mendapatkan banyak kesempatan melihat. Sekalian aku melihat seberapa jauh Bejujag menghadapi ilmuku.”

Dengan napas terengah-engah Gendhuk Tri berteriak,

“Halayudha, kamu jangan menjadi tolol.

“Sudah terang tenaga air kamu menjadi musnah, masih saja nekat. Jangan membuat aku yang mewarisi ilmu itu menjadi malu. Kenapa tidak memainkan Kidungan Lwah. Bukankah Sungai Gangga sangat masyhur?”

Eyang Putri Pulangsih tersenyum dalam hati.

Sama sekali tak disangka bahwa “cucu-muridnya” mempunyai lidah yang tajam.

“Aku coba….”

Gendhuk Tri kaget sendiri.

Karena Halayudha bisa menangkap dengan baik. Gerakan tangannya ditarik kembali, dan kini tubuhnya mengambang ke atas, bagai gelombang. Begitu saja menyerang ke arah Upasara dengan suara kesiuran angin yang keras.

Halayudha bisa menangkap pengertian Lwah, yaitu tenaga sungai atau tenaga bengawan. Dengan mengambil perumpamaan Sungai Gangga, Halayudha bisa mengubah serangannya yang mulai kering, dengan awalan. Seolah menghapus pertarungan yang tengah berlangsung dan memulai dari awal.

“Lyap-Lyus yang menjadi lanjutannya. Bukankah begitu?”

Gendhuk Tri tertegun. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Pertanyaan itu tak bisa dimengerti. Karena kidungan yang utuh tak diketahui.

Tapi Gendhuk Tri tak mau kehilangan akal.

“Untuk hal kecil begitu saja pakai tanya segala….”

 

Prathiwibhara

UPASARA yang merasakan akibatnya. Tubuh Halayudha seakan menyeret dan melontarkan, mengaduk-aduk dirinya. Mau tak mau Upasara mengimbangi dengan meloncat ke atas, membalik, dan membiarkan Halayudha menguasai medan pertarungan.

Pukulan kanan-kiri yang menyambar, membuat Upasara bertahan.

Kembali jantung Gendhuk Tri terguncang keras.

Lyap-Lyus yang hanya sepatah dan sekali diucapkan, membawa perubahan yang besar. Lyap artinya meluap atau penuh. Kini tenaga bengawan itu diluapkan. Lyus artinya binasa atau meninggal, atau meninggalkan gelanggang. Kemungkinan ketiga inilah yang terjadi pada diri Upasara.

Medan pertarungan dikuasai sepenuhnya oleh Halayudha. Yang secara perlahan tapi keras dan pasti mengurung Upasara.

“Katigalyus…”

Seruan di telinga Gendhuk Tri segera tergema tanpa bisa dikuasai sendiri.

Padahal Gendhuk Tri mengetahui bahwa ucapan itu berarti petunjuk bagi Halayudha. Mungkin yang menentukan. Karena kini Halayudha meningkatkan serangan menjadi tiga kali lipat. Katigalyus berarti ketiga-tiganya sekaligus!

Yang bisa berarti tiga kali lipat.

Tiga lawan bisa diringkus dalam saat yang sama.

Brett!

Upasara meloncat mundur dengan sebat hingga ke dinding, dan Halayudha menyambar datang. Bentrokan kecil, membuat Upasara meninggalkan dinding, meloncat ke atas, dan sekejap kemudian gelombang bengawan sudah merangseknya.

Dengan menggerung keras, Upasara menyelinap masuk.

Ketika Halayudha menerjang ke arahnya, Upasara menyelinap di antara dua kaki Halayudha. Lolos di balik tubuh Halayudha.

Luar biasa!

Akan tetapi sebelum bisa melancarkan serangan, tubuh Halayudha sudah berbalik dan tangannya terayun, seakan merogoh isi perut Upasara.

Diiringi desisan kecil Upasara berusaha menangkis.

Plak!

Terdengar suara kecil, lirih.

Tubuh Upasara menjadi bergoyang karenanya.

Halayudha tersenyum penuh kemenangan ketika untuk kedua kalinya tangannya terayun. Lompatan Upasara hanya membuat tubuhnya makin jauh saja.

Pukulan Halayudha tidak ditarik.

Tangannya meluncur terus menembus dinding Keraton.

Amblas ke dalam.

Baru ketika ditarik kembali, dinding itu menjadi bolong dan debu beterbangan tertiup angin.

Di dinding, membekas dua tangan Halayudha, sebatas siku!

Leher Gendhuk Tri menjadi beku.

Bisa dibayangkan jika dada atau isi perut Upasara tersambar pukulan ini! Dinding saja amblas. Dan bekasnya hanya sebatas kepalan tangan.

Sekitarnya masih utuh.

Ludah pun tak bisa ditelan.

Sungguh tak masuk akal jika Upasara Wulung dikalahkan oleh Halayudha karena petunjuk Gendhuk Tri. Sampai mati pun ia akan terus menyesali.

Tapi Gendhuk Tri tak bisa berbuat lain.

Karena yang membisiki adalah eyang gurunya.

Yang membuatnya pusing dan tak mengerti ialah, bahwa tadi Eyang Putri Pulangsih datang bersama Upasara Wulung. Dan berdiam diri pada saat permulaan pertarungan.

Tapi kini justru berbalik.

Membantu Halayudha.

Walaupun sebenarnya telah diberitahu, Gendhuk Tri tak bisa menangkap keinginan Eyang Putri Pulangsih. Baginya tidak masuk akal kalau ini semua hanya dikarenakan Eyang Putri Pulangsih ingin menjajal ilmunya dengan apa yang diajarkan Eyang Sepuh. Tak masuk akal karena risikonya begitu tinggi.

Sedikit saja salah, tubuh. bisa hancur.

Atau setidaknya, cacat seumur hidup.

“Jangan tolol.

“Semua mempunyai risiko. Kalau tidak mau menjadi ksatria, jangan terjun ke dunia silat. Menenun kain mungkin lebih tepat. Atau menjadi waranggana.”

Eyang Putri Pulangsih mengetahui jalan pikiran Gendhuk Tri dan mencegat dengan pernyataan, bahwa itu sudah biasa. Kalau mau aman ya menjadi pesinden atau penyanyi kidungan diiringi gamelan.

Bahwa Gendhuk Tri bisa menolak mengatakan apa yang terbisikkan di telinganya, bukan hal yang sulit. Ia bisa melakukan hal itu.

Namun ia juga sadar, bahwa Eyang Putri Pulangsih jauh lebih bisa membisikkan itu secara langsung kepada Halayudha.

“Aku mau tahu, apakah Bejujag bisa menandingiku.

“Kitab Bumi macam mana yang tidak hanyut oleh air?”

“Tapi sungguh tidak adil,” kata Gendhuk Tri.

“Apanya yang tidak adil?”

“Kakang Upasara tak ada yang membisiki.”

“Biar saja sampai Bejujag muncul.”

“Kalau tidak?”

“Berarti Bejujag mengakui kekalahannya.”

“Belum tentu, belum tentu….”

“Gendhuk geblek, jadi kamu lebih mengakui keunggulan Bejujag?”

Gendhuk Tri tersenyum tawar.

Sunggingan senyuman menjadi gambaran kesakitan.

“Tidak adil, karena Halayudha tinggal memainkan saja. Padahal yang sangat menentukan justru pada jurus keberapa ilmu ini dimainkan.

“Menentukan itu yang lebih wigati, bukan sekadar memainkannya. Kalau cuma itu, saya juga bisa melakukannya.”

“Belum tentu.

“Apa yang dimainkan Halayudha mempunyai dasar Kitab Bumi juga. Sekurangnya ketika masih diciptakan Dodot Bintulu.”

Padahal dengan ucapan tadi, Gendhuk Tri mengisyaratkan dirinya yang maju menggantikan Halayudha. Kalau ini bisa terjadi, bukankah adu ilmu antara para tokoh sakti masa lalu tak perlu meninggalkan korban?

“Keampuhan ilmu silat berbeda dengan bunyi kidungan.

“Ilmu silat harus dilatih, harus ditemukan lawan. Tanpa itu latihan yang ada lebih untuk kesegaran dan olah tubuh. Dan seorang ksatria harus terjun ke medan pertempuran. Dengan menjadi prajurit atau apa saja.

“Sri Baginda Raja berpesan begitu.

“Apa gunanya punya ilmu silat tinggi kalau tak bisa membunuh lawan? Itu belum ilmu silat!”

Gendhuk Tri makin merasa jengkel dinasihati seperti itu.

“Kamu masih perlu mendengar lebih banyak.

“Kalau mengaku pewaris Kitab Air.”

Gendhuk Tri memejamkan matanya.

“Sekarang saatnya…

“Gendhuk Tri, katakan sekarang saatnya lwa, lwang, lwar”

Gendhuk Tri mengulangi.

Halayudha mendadak mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tubuhnya berputar dengan satu kaki sebagai sumbu.

Makin kencang, dan bergeser ke arah lwar atau utara. Sementara lwa atau keluasan, kelapangan Lwang atau ruang yang ada, menjadi kekuasaan pengaruh Halayudha.

Bagai terseret arus, Upasara tak bisa menghindar ke arah lain. Tubuhnya terseret, menghadap ke arah utara, di mana Halayudha makin gencar melancarkan serangan.

“Bagus!

“Ikuti aku….”

Halayudha menggeser ke arah timur, dan Upasara mengikuti. Bahkan ketika Halayudha berputar, tubuh Upasara ikutan berputar.

“Bagus!

“Kumakan kamu….”

Gendhuk Tri menjerit lemas.

Bukan hanya dirinya yang mengetahui bahwa permainan Halayudha sudah mencapai puncak yang menentukan kemenangan. Karena kini Halayudha sepenuhnya mendikte pertarungan. Ke arah permainan keras, lembut, keras-lembut, lembut-keras, Halayudha-lah yang menentukan.

Upasara hanya bisa melayani.

Tanpa bisa menentukan gerakan atau cara bertarung.

Sekuat apa pun bertahan, akan tetapi jika pertarungan mulai dikuasai seseorang, yang terpaksa mengikuti akan kedodoran. Karena tak bisa seperti apa yang diharapkan. Hanya bisa mengimbangi.

Kedua tangan Halayudha terangkat tinggi.

Upasara mengikuti, seakan siap menahan serangan.

Tapi mendadak sekali, tangan itu terulur turun dengan tubuh terbalik ke atas. Sedemikian cepatnya, sehingga sebelum kedua tangan Upasara mengikuti, tubuhnya kena jamah.

Terpegang erat.

Tinggal membanting atau meremukkan.

“Prathiwibhara!”

Prathiwitala

GENDHUK TRI merasa pertarungan berakhir.

Teriakan itu seperti mengakhiri pertarungan yang sesungguhnya. Karena dengan meneriakkan serangan terakhir, Halayudha yakin dan pasti apa yang dilakukan!

Dalam keadaan terdesak, Upasara tak mempunyai pilihan lain.

Gendhuk Tri tak berani membuka matanya.

Akan tetapi telinganya seperti mendengar desahan napas yang ditarik dengan berat.

Barulah kini sadar, bahwa teriakan itu bukan diucapkan oleh Halayudha. Melainkan oleh Upasara Wulung.

Ah, bagaimana mungkin ia bisa melupakan nada suara Upasara?

Desahan napas berat itu pasti dari Eyang Putri Pulangsih yang merasa kecewa.

Berarti…

Gendhuk Tri membuka matanya.

Pemandangan yang terlihat masih seperti semula.

Upasara Wulung berdiri tegap. Dadanya dipegang kencang oleh Halayudha yang menangkap dari atas. Kini siap membanting atau menghancurkan. Tampak sekali tenaga yang tengah dikerahkan Halayudha, sehingga udara sekitar seperti dipenuhi dengus keras.

Tapi anehnya, Upasara bergeming.

Tetap berdiri tegak.

Kalau pukulan Halayudha bisa membuat lubang di dinding Keraton menganga, kenapa sekarang tak berarti?

Tak kurang kagetnya, Halayudha sendiri. Dengan pengalaman bertarung yang boleh dikatakan lebih dari mengenyangkan, Halayudha sangat yakin bahwa ia sepenuhnya menguasai pertarungan. Bisa memaksa Upasara bertahan.

Pada saat yang menentukan tenaga air bah yang ada disalurkan, dan bisa menangkap Upasara.

Tanpa sempat melawan.

Akan tetapi seperti ada keajaiban.

Tubuh Upasara menjadi kelewat berat. Tak bisa digerakkan, apalagi diangkat. Semakin keras ia mengeluarkan tenaga, semakin yakin bahwa usahanya sia-sia.

Bahkan ketika berusaha menyalurkan tenaga dalam untuk menggempur, Upasara tetap bergeming. Seakan tenaga dalamnya demikian kuat mewadahi air bah yang menyerang.

Baginda yang sejak tadi mengikuti jalannya pertarungan yakin bahwa kini kemenangan di tangan Halayudha, salah seorang senopatinya. Setidaknya sampai saat bisa menangkap tubuh Upasara. Maka cukup mengherankan, kalau sekarang Halayudha berkutetan sendiri hingga tubuhnya mengepulkan asap tebal berwarna cokelat. Tanda pengerahan tenaga yang berlebihan.

Sebaliknya, Upasara tetap gagah.

Bahkan kedua tangan yang tadi mengikuti gerakan Halayudha, masih tetap terbuka telapak tangannya ke arah langit.

Bukankah…

“Kemplang saja ubun-ubunnya… atau Kakang pilih pencet hidungnya!”

Perhitungan Gendhuk Tri yang memberi komentar sederhana alasannya. Melihat Halayudha terpaku, Upasara bisa melakukan apa aja sesuka hatinya. Telapak tangan yang menengadah ke langit bisa diturunkan ke ubun-ubun lawan.

Andai tahu nasihatnya bisa menghancurkan Upasara, Gendhuk Tri tak punya sisa umur untuk menyesali.

Hal ini baru jelas, ketika bisikan Eyang Putri Pulangsih yang geram terdengar lirih.

“Jangan tolol, jangan sembrono.

“Upasara tak akan mengubah tubuhnya sekarang ini. Ia sedang melakukan pernapasan dan sekaligus juga gerakan Prathiwibhara, atau Memberat Seperti Bumi.

“Inilah jurus yang paling curang yang diciptakan Bejujag.

“Gendhuk, kamu tahu air yang bergerak. Bukan oleh tenaganya sendiri, melainkan tenaga lain yang ada. Tanpa memaksa.

“Bejujag curang. Ia menyandarkan kekuatannya pada bumi, pada tanah. Kekuatan tanah yang diambil untuk intinya. Seperti sekarang ini.

“Tak apa, hampir semua ilmu begitu.

“Tapi lihatlah.

“Telapak tangan Upasara Wulung yang menengadah ke atas. Lihat baik-baik, bukankah itu curang?”

“Curang?”

“Ya.

“Bejujag curang.

“Masa kamu pura-pura tak melihat?”

Mata Gendhuk Tri sampai berkejap-kejap karenanya.

“Curang?”

“Jangan kamu ulang seperti keheranan.

“Itulah kecurangan Bejujag. Dalam ilmu pernapasan yang mengambil kekuatan bumi, telapak tangan selalu menghadap ke bawah, berputar gerakannya. Menghadap tanah sebagai tanda hormat.

“Tapi Bejujag menciptakan itu dengan menghadapkan telapak tangan ke atas. Ke langit.

“Berarti ia memakai tenaga bumi, tapi juga main mata dengan tenaga langit. Apa itu tidak curang?

“Kalau Bejujag ada, sekarang ini pasti sudah terkencing-kencing karena malu.”.

“Kenapa, Eyang?”

“Kenapa? Kamu tanya kenapa?

“Sudah jelas ia mengabdi bumi. Memuliakan bumi. Kenapa memunggungi bumi?”

“Menghormati tidak berarti hanya menyembah.

“Mencintai tidak berarti hanya memiliki.”

Gendhuk Tri terbelalak.

Upasara bersuara dengan keras.

Apakah itu suara Bejujag, ah maaf, Eyang Sepuh?

“Bagaimana kamu bisa bilang begitu, Upasara?”

Suara Eyang Putri Pulangsih memecah kesunyian.

Kini Eyang Putri Pulangsih tidak melalui bisikan, melainkan langsung menanyakan kepada Upasara yang masih berdiri gagah dengan kedua tangan Halayudha memegangi erat-erat.

“Mencintai adalah menjadi diri sendiri.

“Dalam diri, tak ada perasaan iri kepada tubuh sendiri.”

“Siapa mengajarimu itu?”

“Maaf, Eyang Putri, dalam kidungan Penolak Bumi, semua diajarkan. Hamba hanya menghafal belaka.”

“Kenapa telapak tanganmu tidak menutup ke bawah?”

“Tak perlu, Eyang.

“Bumi adalah diri kita sendiri. Disembah atau tidak, tak mengubah arah.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tak berani bergerak?”

“Tenaga berat bumi, menunjukkan penghormatan yang besar kepada bumi. Tenaga yang menyerahkan sepenuhnya kepada bumi.”

“Kenapa tanganmu tak berani bergerak, itu pertanyaanku.”

“Prathiwitala.”

Itu berarti Upasara sedang melakukan gerakan Permukaan Bumi. Prathiwitala artinya adalah Permukaan Bumi. Dengan demikian, Upasara telah menjawab pertanyaan Eyang Putri Pulangsih.

Bahwa sebagai permukaan bumi, tangan tengadah juga merupakan bagian dari bumi.

Tak peduli ke mana pun tengadahnya.

Atau tengkurapnya.

Sekilas seperti tanya-jawab yang mengada-ada.

Akan tetapi sesungguhnya Eyang Putri Pulangsih sedang menakar sejauh mana kekuatan utama Bejujag yang dikenalnya, yang akan dijajal ilmu silatnya setelah berpisah lima puluh tahun. Setelah saling membicarakan tidak langsung.

Dan Bejujag bisa menjawab.

Bejujag-nya bisa menjelaskan bagaimana tenaga bumi yang dipergunakan dengan leluasa, tanpa harus tergantung pada gerakan yang formal. Dengan kata lain, gerakan-gerakan tertentu tak lagi harus mencerminkan pengerahan tenaga tertentu.

Gerakan tangan memukul, tidak berarti mengerahkan tenaga ke telapak tangan.

Ini pula sebabnya pukulan yang paling berarti diberi nama Tepukan Satu Tangan.

Yang sulit diterima akal, bagaimana mungkin bertepuk dengan sebelah tangan, dan menghasilkan suara lebih nyaring.

Tapi justru penguasaan inilah yang tertulis dalam Tumbal Bantala Parma.

“Bukankah pengerahan tenaga dalam seperti itu justru aku yang memulai? Tenaga bisa mengalir dari arah mana saja?”

“Hamba tidak tahu, Eyang.”

“Ya, kamu tidak tahu.

“Bejujag juga akan menjawab begitu. Karena malu mengakui, akulah sumbernya.”

Gendhuk Tri menggeleng.

“Eyang Putri Pulangsih, kenapa meributkan soal itu?

Senopati Pamungkas II – 5

“Baru saja Eyang Putri mengatakan, tanpa pertarungan tak bisa ditentukan siapa yang mempunyai ilmu lebih tinggi. Bukankah sekarang sudah terbukti?”

Mendadak terdengar suara nyaring.

Nadanya tinggi sekali.

Sehingga Baginda sempoyongan dan ditopang oleh Mahapatih Nambi. Dan Permaisuri Rajapatni jatuh telentang.

Suara Eyang Putri Pulangsih!

Tangisan Manastapa

ROBOHNYA Baginda bukan karena pengaruh tenaga dalam.

Seperti juga terjengkangnya Permaisuri Rajapatni.

Suara mendesis yang keluar dari tarikan napas berat Eyang Putri Pulangsih adalah apa yang dikenal dengan Tangisan Manastapa, Tangisan Dukacita yang Menyayat.

“Bejujag, kuakui keunggulanmu.

“Hari ini aku kera wanita yang tak bodoh, sepenuhnya mengakui keunggulanmu.

“Lima puluh tahun waktu yang lama bagiku untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Akan tetapi kenakalanmu lebih disayang Dewa.”

Selesai berkata, Eyang Putri Pulangsih menunduk.

Ganti kini yang bergoyang keras adalah tubuh Upasara Wulung. Halayudha yang sejak tadi berkutetan merasa aneh. Kalau tadi tubuh Upasara Wulung bagai tertanam dalam bumi, kini ada saat-saat luang yang bisa dipakai untuk membedol tubuhnya. Dan seperti rencana semula. Bisa dibanting atau diremukkan.

Kesempatan yang baik.

Kesempatan yang baik untuk merenggut kemenangan.

Dengan mahapatih sebagai jabatan imbalan. Dan gelar ksatria lelananging jagat.

Hanya saja Halayudha ragu. Apakah kondisi Upasara terpengaruh teriakan Eyang Putri Pulangsih atau sedang mencoba sesuatu yang lain.

Karena rasanya tak masuk akal jika Upasara bisa tergetarkan hatinya dan terpengaruh tenaga dalamnya.

Karena meskipun tenaga dalam yang terpancarkan sangat kuat, akan tetapi Upasara masih bisa mengungguli.

Yang tak pernah terpikirkan oleh Halayudha yang cerdik dan banyak akalnya ialah adanya liku-liku di balik penciptaan segala ilmu yang kini dipertarungkan.

Upasara terpengaruh bukan karena tenaga dalamnya terbetot. Melainkan karena duka hati Eyang Putri Pulangsih tergema dalam dirinya.

Itu memang keunikan Tangisan Manastapa.

Bagi mereka yang tengah dilanda duka, perasaan akan terseret keras.

Begitu juga halnya dengan Baginda.

Yang sedang berduka karena satu dan lain hal. Berbeda dari Eyang Putri Pulangsih, Baginda berduka karena merasa caranya mengendalikan kekuasaan gagal.

Sementara Permaisuri Rajapatni, mudah diduga.

Kemunculan Upasara Wulung membuyarkan semua angan-angannya. Mencampuradukkan perasaannya. Ia menjadi kikuk dan serbasalah. Tak jauh berbeda dari Upasara Wulung yang menjadi salah tingkah. Hanya karena sejak tadi duduk bersila tanpa bergerak dan tak begitu diperhatikan, jadi tidak begitu kelihatan.

Sebaliknya, Gendhuk Tri tidak terpengaruh selain telinganya sedikit sakit.

Bukan karena tak menyimpan duka, melainkan karena dukacita yang dialami Gendhuk Tri bukanlah dukacita yang mengendap ke dalam bawah sadar. Ke lubuk hati yang dalam dan tak tersingkirkan, tak hilang oleh perhatian yang lain.

“Lima puluh tahun aku menunggu. Untuk melihatmu mengakui bahwa aku mempunyai harga yang dibanggakan. Kukeduk semua isi Kitab Bumi, kusempurnakan dalam Kitab Air.

“Ternyata kamu memang lelaki perkasa.

“Bejujag, hari ini aku rela menerima kekalahan itu.”

Tangan Eyang Putri Pulangsih mengibas.

Untuk pertama kalinya bergerak sejak datang tadi.

“Tugasku yang terakhir, mempertemukan Upasara dengan Gayatri, telah selesai. Tugasku menemukan dirimu dengan diriku telah selesai.

“Bejujag, aku tak bisa iri dengan kabegjan, dengan keberuntungan yang kamu peroleh.

“Kudengar Raganata pergi, Dodot Bintulu pergi, dan kamu bisa moksa. Aku yang masih hidup ternyata tetap tak bisa membuktikan keunggulanku.

“Bejujag, kamulah lelaki sejati.

“Baginda Raja akan menerimamu di sampingnya.”

Halayudha bersiap menggempur Upasara.

Sekali dicoba dengan menyalurkan tenaga dalamnya. Dan membuat heran, karena Upasara seperti merasakan kesakitan yang luar biasa. Daya balik tenaga dalamnya seperti tak terarah.

Ini saatnya!

Upasara sendiri merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan kemampuannya mengerahkan tenaga dalam. Sesuatu yang memang kadang masih dirasakan tanpa bisa dikuasai.

Hanya saja kalau terjadi di saat segenting ini, bisa berbahaya. Apalagi yang dihadapi adalah Halayudha.

Tetapi tak bisa lain.

Tak bisa mengubah gerakannya menancap bumi dan menengadah langit. Sedikit saja perubahan, Halayudha bisa merasakan. Dan dengan segera akan menyerbu masuk.

Satu kali cukup untuk melukai Upasara.

Atau bahkan melumpuhkan.

Itu yang akan terjadi, kalau tidak terdengar teriakan dalam nada yang sama tingginya.

“Raganata telah mati, Dodot Bintulu sudah mati. Bejujag sudah sembunyi, sampai mati kering.

“Tapi masih ada aku.

“Pulangsih, Pulangsih-ku, masih ingatkah kau padaku?”

Siapa pun yang mendengarkan merasa ganjil. Suara yang sember dengan nada masih remaja.

Lebih aneh lagi begitu memperhatikan siapa yang mengatakan itu. Yaitu Nyai Demang yang menggendong tubuh kaku Kebo Berune.

Kehadirannya saja aneh. Apalagi suaranya, dan isi ucapan yang menggambarkan kerinduan mendalam.

“Pulangsih, ini aku.”

Eyang Putri Pulangsih menghela napas.

“Kebo tolol, kamu mau apa lagi?

“Semua sudah terlambat. Kamu sendiri sudah terlambat.”

“Sama sekali tidak.

“Aku masih segar bugar. Lima puluh tahun lalu, seperti yang kujanjikan, aku akan datang merebut kemenangan dan menempatkan kamu di sisiku.

“Selamanya.

“Aku mau tahu siapa yang bisa berdiri menghalangi. Raganata? Aha, mayatnya pun sudah jadi tanah. Dodot Bintulu? Cacing yang makan tulangnya sudah berdebu. Bejujag? Apa anehnya lelaki kurang ajar yang beraninya bersembunyi sepanjang hidupnya? Yang kerjanya mencuri dan mengatakan tak bisa apa-apa?

“Pulangsih, aku Kebo tolol.

“Tapi akulah yang mendapatkanmu.”

Halayudha tak tahu persis. Apakah ia bergembira atau sedih dengan membawa Nyai Demang ke Keraton. Kalau semula ingin mempelajari ilmunya kini menjadi lain akhirnya.

“Kamu sudah modar.

“Jangan memaksa diri.”

“Pulangsih, siapa bilang aku mati?

“Tidakkah kamu lihat diriku sekarang ini?”

Gendhuk Tri menggigil.

Ini benar-benar tak masuk akal. Pertarungan lima puluh tahun lalu masih terus berlanjut sampai kini.

Eyang Kebo Berune masih merasa hidup. Walau hanya memakai pinjaman tubuh Nyai Demang.

“Nyai…”

Teriakan Gendhuk Tri membuat tubuh Nyai Demang miring ke arahnya.

“Itu Kakang Upasara.

“Tidakkah kamu perlu menanyakan kabar keselamatannya?”

Inilah cara Gendhuk Tri untuk memotong hubungan batin antara Eyang Kebo Berune dan Nyai Demang. Karena kalau kesadaran Nyai Demang muncul, pengaruh pada dirinya surut.

Dengan menyebutkan nama Upasara, Gendhuk Tri berharap Nyai Demang akan muncul kesadarannya.

Perhitungan yang bagus!

Tapi tidak berarti tepat pada sasaran.

Karena kini pengaruh Eyang Kebo Berune sangat kuat. Niatan dan keinginan yang selalu mendesak untuk bertemu dengan Eyang Putri Pulangsih, jauh menindih keinginan Nyai Demang untuk menyapa Upasara.

“Nyai…”

“Percuma…” Kalimat Eyang Putri Pulangsih seperti tertuju ke arah Gendhuk Tri dan Nyai Demang sekaligus. “Tak ada gunanya lagi.”

Halayudha mencelos.

Kini tubuh Upasara menjadi kokoh lagi.

Tak bisa digasak lewat tenaga dalam.

“Nenek tua, kenapa tidak kamu tolong orang itu?”

Kali ini Gendhuk Tri jadi pencilakan. Matanya berputar, mencari-cari suara yang seperti dikenalnya.

Benar saja, itu suara Cebol Jinalaya!

Yang makin membuat Gendhuk Tri gelisah tak menentu. Bagaimana mungkin si Cebol itu berlaku kurang ajar? Menyebut dengan panggilan nenek tua?

Bukankah tadi masih di depan? Masih menyaksikan pertarungan antara Singanada dan Senopati Agung?

Di mana mereka kini, dan apa yang terjadi?

Keraton Tanpa Tata Krama

BARU Gendhuk Tri sadar.

Bahwa Singanada juga berada di halaman dalam. Bersama dengan Senopati Agung dan para pengiringnya.

Halaman dalam Keraton benar-benar penuh sesak.

Sesuatu yang untuk pertama kalinya terjadi. Orang-orang luar bisa masuk seenaknya. Bisa leluasa berdiri seperti juga yang dilakukan Cebol Jinalaya.

Semua terjadi di depan Raja.

Gendhuk Tri bersyukur bahwa Singanada tidak melanjutkan pertarungan mati-hidup dengan Senopati Agung. Ia hanya bisa menduga-duga bahwa pertarungan mereka berdua terhenti.

Terhenti sementara.

Dugaan Gendhuk Tri tak jauh meleset.

Di saat keduanya bertarung makin ketat, makin menuju penentuan, terlihat dua bayangan berkelebat. Yang muncul dan lenyap kembali.

Sebagai sesama jago silat, Singanada maupun Senopati Agung sudah terbiasa dengan kejadian itu. Tak bakal terpengaruh. Akan tetapi sekali ini lain.

Desiran bayangan yang muncul dan pergi bukan sekadar bayangan jago silat. Melainkan juga membersitkan sesuatu yang begitu hebat dan dekat dengan mereka.

Bisa dimengerti karena keduanya mempunyai akar yang sama. Yaitu sama-sama bersumber dari Kitab Bumi. Dan yang sedang dimainkan oleh Upasara maupun Halayudha saat itu tak jauh berbeda.

Tanpa sungkan-sungkan, Singanada meloncat mundur.

“Aku tetap akan membunuhmu.

“Tapi rasanya sayang sekali kalau tidak melihat apa yang terjadi di dalam.”

Senopati Agung mengusap janggutnya perlahan.

Walau dirinya sangat ingin tahu, hatinya tak bisa mengatakan seperti apa yang diinginkan. Ada perasaan yang tak ingin merendah—meminta kesediaan lawan, hanya untuk melihat pertarungan yang lain.

Rasa sungkan itu yang justru tak ada dalam diri Singanada.

Melihat Senopati Agung berdiam diri, Singanada menggertak.

“Kalau mau bilang mau.”

“Kalau tidak?”

“Aku mau lihat dulu.”

“Hmmm…”

“Apa hmmm? Aku sudah berjanji membunuh siapa pun yang menanyakan dan mengungkapkan asal-usulku.

“Itu pasti kutepati.

“Tapi di dalam ada tontonan yang lebih bagus.”

Sikap terbuka. Dada yang lapang, mengakui keunggulan orang lain.

“Baik kalau itu keinginanmu.”

“Tunggu saja!”

Tanpa peduli diserang dari bokong, Singanada segera masuk ke dalam. Dan menjadi bagian penonton yang larut dalam pertarungan.

Begitu juga halnya Senopati Agung.

Hanya perbedaannya, perasaan Senopati Agung seperti ditusuk dengan ujung sapu lidi yang kotor. Merobek wajahnya, meninggalkan luka yang memalukan.

Biar bagaimanapun, Senopati Agung adalah kakak ipar Raja. Yang justru lebih ketat memegang tata krama dan aturan Keraton.

Sama sekali tidak menduga bahwa halaman dalem, yang biasanya dilewati orang-orang tertentu sambil berjongkok dan menyembah, kini tak bisa dibedakan dengan alun-alun.

Diam-diam, Senopati Agung melirik Raja.

Untuk menangkap perasaan yang terpendam. Karena rasanya sangat ganjil bagian utama Keraton diinjak-injak orang luar secara kasar.

Ini bisa berarti penghinaan yang memalukan.

Tak bisa dibiarkan.

Karena membiarkan hal ini berlalu, seperti juga tidak lagi menghormati kebesaran Raja yang tak tertandingi.

Salah satu bentuk penilaian kejayaan Keraton bisa dilihat dari seberapa jauh penduduk menghormati tata krama ini.

Ini yang membuatnya sangat sedih.

Apa artinya sebuah Keraton megah tanpa tata krama? Apa artinya seorang raja kalau tidak diperhatikan dan tak dihormati?

Kerisauan Senopati Agung juga dirasakan oleh para senopati yang lain, termasuk Mahapatih Nambi. Bahkan sejak semula ia mengalihkan pembicaraan agar medan pertarungan tidak terjadi di dalam.

Semua menjadi serbasalah.

Menyarankan Raja masuk ke dalam juga salah.

Membiarkan pertarungan terus berlangsung juga keliru.

Mahapatih Nambi tetap tak bisa menerima, meskipun yang memerintahkan penangkapan Upasara Wulung adalah Raja sendiri.

Singanada mengangguk ke arah Gendhuk Tri, begitu sorot mata gadis itu tertuju ke arahnya.

Gendhuk Tri menunduk tersipu.

Tiba-tiba saja ia merasa sangat kikuk. Melihat Singanada dan sekaligus melihat Upasara.

Entah kenapa.

“Nenek tua, apa kamu dengar yang kukatakan?

“Kamu bisa mengucapkan dengan enak, tokoh pujaan yang sakti seperti Eyang Raganata. Berarti mereka temanmu sendiri. Kenapa orang yang sudah mati tak kamu tolong?

“Bukankah menolong orang yang mau mati termasuk kebajikan yang direstui Baginda Raja yang bijaksana, yang kamu sebut-sebut namanya?”

Eyang Putri Pulangsih menutup matanya sambil menggeleng.

“Itu bukan urusanku.”

“Kalau bukan urusan Nenek, urusan siapa?

“Apa semua menjadi urusan Baginda Raja yang mulia?”

Mahapatih Nambi menggertak keras. Tombaknya terlepas. Dua tombak meluncur.

Tepat di antara dua kaki Cebol Jinalaya.

Kemurkaan Mahapatih adalah kemurkaan untuk menghormati Baginda. Bagaimana mungkin seorang yang cebol, berkulit hitam, begitu memuja-muja Baginda Raja Sri Kertanegara di depan Baginda?

Hal seperti itu tak bisa dibiarkan.

Hanya yang membuatnya sedikit kaget ialah bahwa arahan tombaknya menjadi meleset beberapa jari.

Mahapatih tidak melanjutkan lagi. Hanya berharap Cebol Jinalaya tahu diri.

Tak berani mencoba karena tidak mengetahui siapa yang telah menolong Cebol Jinalaya. Begitu banyak tokoh yang sakti di sekelilingnya.

Hanya berharap tahu diri, karena sesungguhnya Mahapatih tak bisa terjun langsung ke gelanggang. Tapi juga tak bisa berdiam diri.

“Pulangsih, putri asmaraku.

“Kamu masih tak percaya aku masih hidup?”

“Terlambat.

“Tangisan yang paling duka, tak bersisa air mata.

“Kebo tolol, untuk apa mencari lebih derita.

“Bahkan selama ini harapanmu sia-sia.”

Eyang Putri Pulangsih mengucapkan dengan datar. Tak ada lagi kata. Tidak seperti orang yang berbicara. Seperti mengeja, dan terbata-bata.

“Apakah itu berarti selama ini kamu tak pernah memperhitungkan diriku?

“Apakah selama ini kamu tak mempunyai daya asmara setitik pun padaku?

“Pulangsih, katakanlah!”

Cebol Jinalaya menepuk jidatnya sendiri.

“Mayat hidup alias Kebo tolol, kenapa sudah bisa mati malah bicara soal daya asmara?”

Tangan Nyai Demang terangkat. Telunjuknya menuding ke arah Cebol Jinalaya. Pada saat yang bersamaan Singanada dan Gendhuk Tri meloncat masuk ke dalam gelanggang.

Bersatu dengan gerakan sama, di angkasa, keduanya mengeluarkan tenaga dalam, menghalang arah tudingan.

Dengan terpaksa, dua tenaga gabungan mencoba mematahkan serangan berjarak Nyai Demang.

Singanada terpental kembali.

Hingga perlu berjumpalitan untuk menenangkan dirinya. Demikian juga Gendhuk Tri yang merasa ujung selendangnya menjadi beku dan terasa dingin serta perih.

Cebol Jinalaya terdorong ke samping, merintih.

Tapi senyumnya tersungging.

“Mudah-mudahan ini jalan kematian yang kurindukan itu.”

Perlahan Halayudha mulai mengendurkan tenaganya. Merasa sia-sia. Kalau ia bisa segera melepaskan, ia bisa leluasa dan bertarung dari awal lagi.

Sungguh tidak enak berada di tengah lapangan sambil memegangi Upasara yang berdiri mematung.

“Baru menghadapi sebutir air dan secuil bumi kamu sudah tak bisa apa-apa.

“Kebo tolol, sungguh aneh, kenapa kamu tak tahu diri?”

“Karena aku memang tolol, seperti yang kaukatakan, Pulangsih.”

Mati dalam Hidup

“Tolol.

“Sangat menyedihkan.

“Kebo, Kebooo… Kenapa Dewa begitu sampai hati menciptakan manusia sejenis kamu?”

“Apa salahnya jika aku tolol dalam pandanganmu?”

Eyang Putri Pulangsih memalingkan wajah.

Sambil meludah.

“Kamu membuat kesalahan sejak lahir ke dunia.

“Juga ketika merasa dirimu ksatria utama, sejajar dengan Raganata, Bejujag, atau Dodot Bintulu. Kamu terlalu memaksa diri dalam segala hal.

“Juga dalam mengharapkan asmara dariku.

“Kebo tolol, seujung kuku pun aku tak pernah memperhitungkanmu.”

Suaranya terdengar sangat dingin.

Ada nada putus asa.

“Untuk apa kamu memaksa diri?

“Kamu tak pernah masuk hitungan sejak dulu kala. Akan tetapi kamu merasa sebagai ksatria utama. Ketika Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang diciptakan, tak ada sebaris kidungan pun yang berasal dari sumbanganmu.

“Ketika beramai-ramai memikirkan tumbal Kitab Bumi, kamu mengeluarkan Pukulan Pu-Ni. Sesat. Pemikiran yang sesat.

“Sekali lihat aku sudah tahu kamu masuk aliran sesat.

“Dodot Bintulu yang rakus dan jahat, tidak sesesat dan sehitam apa yang kamu lakukan.

“Dengarkan baik-baik.

“Akan kutunjukkan semua kekeliruanmu.

“Dalam melatih pernapasan, kamu memulai dari titik henti. Bahwa semua tenaga berasal justru dari napas yang tertahan. Bahwa umur menjadi panjang, tenaga menjadi berlipat saat tidak bernapas.

“Barangkali itu pemikiran yang luhur, terobosan yang mencuat. Akan tetapi sesungguhnya itu pemikiran yang keliru. Asal lain daripada yang lain.

“Mau aneh saja.

“Kamu tidak tahu bahwa dasar-dasar ilmu silat adalah kasunyatan, yaitu bumi yang sebenarnya. Mempunyai akar, yaitu bumi yang dipakai Bejujag, air yang kupakai, dan bintang yang dipergunakan Dodot Bintulu kemudian.

“Yang begini saja kamu belum mengerti.

“Tapi dasar tolol, kamu justru berlatih makin keras. Tenaga dalam dari napas tertahan kamu latih terus, sehingga seluruh tubuhmu hancur, seluruh tenaga dalammu sungsang-sumbel tak keruan.

“Kamu jauh memasuki daerah hitam.

“Kamu kira kami tak mengetahui perkembangan ilmu yang kamu latih sehingga Bejujag pernah mengatakan bahwa ilmu kamu berkembang ke arah mati jroning urip, kematian di dalam kehidupan. Kamu merasa masih hidup, tetapi sebenarnya sudah mati. Kamu merasa melatih tenaga dalam, padahal sebenarnya membunuh tenaga dalam yang murni.

“Bejujag mengatakan padamu, bahwa kumpuling kawula Gusti, bersatunya manusia dengan Dewa Pencipta, adalah mengagungkan kemanusiaan sebagai ciptaan Dewa.

“Tidak cukup jelaskah ketika dikatakan bahwa kamu keliru dengan menentang kematian?

“Pada tahap kamu mampu mematikan darah, daging, kulit, sumsum, jerohan, kamu mulai memutarbalikkan apa yang diwarisi dari ibu….”

Sampai di sini Baginda tertegun.

Apa yang dikatakan Eyang Putri Pulangsih bisa dimengerti. Bahwa memang ada aliran hitam yang mampu membunuh rasa dari darah, daging, kulit, sumsum, yang berada di tengah tulang, serta jerohan yaitu segala jenis anggota dalam tubuh seperti paru-paru, hati, limpa, dan lain sebagainya. Ilmu yang begini menjadikan pemiliknya orang yang kebal. Tidak mempan terkena pukulan atau senjata di bagian-bagian yang disebutkan.

Karena cara-cara melatihnya dengan menggunakan mayat, atau kalau perlu orang hidup yang dimayatkan, aliran ini dianggap sesat. Pemikiran kekebalan dengan mematikan rasa bagian-bagian itu disebut sebagai pengkhianatan, atau mbalela, atau menentang kodrat seorang ibu.

Ini memang istilah yang dipergunakan. Akan tetapi di balik istilah “menolak kodrat seorang ibu” tersembunyi kutukan yang luar biasa bagi mereka yang melatih ilmu tersebut.

Eyang Putri Pulangsih bisa bercerita dengan jelas, karena mengalami sendiri. Di saat Baginda Raja Sri Kertanegara ingin memasyarakatkan ilmu silat, ingin membuat babon semua kitab silat, banyak yang mengusulkan aliran-aliran sesat semacam ini. Yang memang selintas seperti lebih tangguh dan gampang dipamerkan.

Namun Sri Baginda Raja sejak awal memutuskan bahwa ajaran semacam itu dilarang keras. Bahkan harus dihapuskan. Karena pada akhirnya tidak mendidik akal budi yang baik. Padahal justru ini yang menjadi tujuan utama.

“Pada latihan kedua, ketika kamu mematikan barang keras seperti kuku, bulu, otot, urat, gigi, kamu makin jauh melenceng dan tak bisa kembali setelah langkah berikutnya kamu berusaha mematikan otak.”

Tanpa terasa Baginda menggaruk rambutnya.

Karena menyadari bahwa untuk melatih setiap tingkatan, seseorang harus mengumpulkan sekian banyak bagian tubuh mayat. Sekian banyak urat, sekian banyak nadi, sekian banyak tulang, sekian banyak gigi, dan sekian banyak otak.

Dilihat dari cara berlatih ini saja, pastilah sudah memerlukan sekian ratus mayat, yang terpaksa digali dari kubur.

Atau seperti dugaan semula, kalau tak begitu banyak mayat ditemukan, yang hidup dibunuh lebih dulu.

Ilmu mati jroning urip, untuk bisa mencapai tingkat Kakek Kebo Berune yang dipanggil sebagai Kebo tolol ini, pastilah melalui latihan yang memerlukan korban ratusan jiwa.

Bisa berarti seluruh pengikut ke tanah Berune dimusnahkan, di samping ksatria setempat.

Benar-benar mengerikan!

“Jadi kamu pun menganggap aku tersesat?”

“Cacing pun akan bilang yang sama.

“Kebo tolol, lihatlah! Apa dan siapa dirimu sekarang? Bejujag bisa moksa sebagai jiwa yang suci. Raganata pergi sebagai ksatria dan prajurit utama. Dodot Bintulu menghadap Dewa Pencipta dengan ikhlas.

“Kamu, apa yang kamu lakukan sekarang ini?

“Membonceng seorang yang tak berdosa.

“Untuk apa memaksa diri seperti itu?

“Keabadian, kelanggengan, bukanlah dalam mati jroning urip atau sebaliknya, urip jroning mati. Bukan mati di dalam hidup, atau hidup di dalam mati.

“Mati adalah mati.

“Hidup adalah hidup.

“Tak bisa dicampur adukkan.

“Itu pengertian yang salah. Yang sampai sekarang ini pun tak bisa kamu pahami.

“Tidakkah itu tolol?

“Tidakkah itu perlu dikasihani?

“Ah, apakah aku perlu berkomentar panjang-lebar?”

Cebol Jinalaya mengangguk-angguk, seakan bisa mengerti.

“Aku mencari kematian.

“Bukan mempertahankan. Nenek tua, kata-katamu ada benarnya.”

Eyang Putri Pulangsih melirik Cebol Jinalaya.

“Manusia yang tingginya hanya separo, otaknya lebih berguna dari kamu. Rasa yang dimiliki lebih peka.”

Gendongan Nyai Demang bergoyang-goyang.

“Apa pun yang kamu katakan, itu tandanya ada daya asmara dalam dirimu yang tersambung dariku.”

“Tidak.

“Aku sebenarnya tidak bicara denganmu. Tak ada maknanya.

“Aku bicara dengan diriku sendiri, bahwa sejak semula aku tidak salah menolakmu. Tidak keliru aku tidak memperhitungkanmu.”

“Nenek tua, kalau begitu tolonglah. Biar Nyai Demang atau siapa pun namanya, terbebas dari Kebo tolol itu.”

“Itu bukan urusanku.”

“Kalau kamu tidak mau, jangan halangi aku bertindak.”

Cebol Jinalaya bersiap-siap dan maju mendekat.

“Tunggu!” teriak Gendhuk Tri keras. “Cebol, kamu tak tahu angin di atas tubuhmu. Lebih baik kamu berdiri di pinggir dan menyaksikan.”

“Kalau yang tahu tak mau menolong, biar saja yang tak tahu yang menolong.”

Gendhuk Tri tak bisa membalas dengan kata-kata.

Walau tak keruan ujung-pangkalnya, kata-kata yang diucapkan Cebol Jinalaya ada benarnya. Setidaknya tak bisa dibantah.

Saat itu justru Halayudha yang memanfaatkan keadaan!

Merasa bahwa Upasara tak bisa dikalahkan dengan jurusnya, Halayudha mencari kesempatan lain. Genggaman pada tubuh Upasara diperlonggar, dan pada kejapan yang sama meloncat jauh. Meraih Permaisuri Rajapatni yang menggeletak.

Sekali raup tubuh itu berada dalam gendongannya.

“Lepaskan!”

Pasangan Asmara

APA yang dilakukan Halayudha memang serba tak terduga.

Di saat semua perhatian tercurah dalam bantah kawruh, atau adu ilmu, antara Eyang Putri Pulangsih dan Kebo Berune mengenai ilmu sesat, di saat itu pula Halayudha menggasak Permaisuri Rajapatni yang tak sepenuhnya terjaga oleh para prajurit yang kikuk.

Kikuk karena tak bisa segera menolong.

Maka dengan satu gerakan, Halayudha mampu meraih Permaisuri Rajapatni dan bisa menggendong.

Merasa bahwa gempuran dalam tubuhnya berkurang, Upasara awas akan adanya perubahan dari Halayudha. Maka begitu Halayudha memindahkan serangan ke arah Permaisuri Rajapatni, saat itu pula Upasara meluncurkan telapak tangannya ke depan.

Telapak tangan yang tadinya terbuka ke atas, menyodok ke depan.

Ganti meraih Permaisuri Rajapatni.

Justru ini yang diperhitungkan Halayudha.

Karena sangatlah mudah menebak bahwa Upasara akan bereaksi cepat mengetahui Permaisuri Rajapatni berada dalam bahaya.

Maka Halayudha menunggu sampai telapak tangan Upasara menyentuh tubuh Permaisuri Rajapatni dan berteriak “lepas”. Saat itu beban di pundaknya dilepaskan, dan sebagai gantinya dua tangan menjotos dada Upasara.

Dengan jotosan yang mampu melubangi dinding Keraton.

Maha Singanada mencelos.

Dialah yang pertama-tama mengeluarkan seruan tertahan. Karena melihat bahwa gerakan Halayudha sangat tepat sekali.

“Celaka!”

Bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri melapis dan menyerang. Sedikit-banyak akan membuat Halayudha terganggu pemusatan pikirannya. Kalaupun mengenai Upasara tak akan fatal.

Akan tetapi Upasara memang tidak memperhitungkan serangan Halayudha.

Begitu Permaisuri Rajapatni diambil dan disampirkan di pundaknya, pukulan Halayudha tak diperhitungkan lagi.

Akibatnya tubuhnya terbanting ke belakang.

Darah segar menyembur.

Membasahi dadanya.

Membasahi Permaisuri Rajapatni.

Yang menjadi sadar.

“Kakangmas…”

Suara Permaisuri Rajapatni, yang di telinga Upasara tetap seorang Gayatri, menyusup ke sukma. Membuat ubun-ubunnya berdenyut keras.

Untuk pertama kalinya kerinduan asmara yang meluap dan terbendung selama ini berhasil diwujudkan. Menggendong kekasihnya.

Bibir Upasara tersenyum.

Darah segar masih menetes.

“Kakangmas Upasara…”

“Yayimas…”

Suara Upasara sama lembut.

Mengusap, meniup rasa di sekujur kulit Permaisuri Rajapatni.

“Kakangmas terluka….”

Upasara menggeleng.

“Yayi tidak apa-apa?”

Permaisuri Rajapatni menggeleng.

Sementara itu dengan dua gerakan pendek, Halayudha bisa mengusir serangan Gendhuk Tri. Gerakan ketiga, Halayudha meluncurkan tubuhnya. Satu tangan memapak tenaga Gendhuk Tri, yang justru dipakai sebagai loncatan untuk menggempur dada Upasara.

Dengan kakinya.

Pada saat tubuhnya meluncur, kakinya menjadi keras bagai logam. Di-tambah dengan gerakan meluncur cepat, dada Upasara adalah sasaran empuk. Karena tak sempat menghindar.

Dan tak mungkin menggunakan tubuh Permaisuri Rajapatni sebagai perisai.

Baginda bersorak dalam hati.

Kini saatnya Upasara terkalahkan. Bagaimanapun caranya, itu soal nanti.

“Awas, Kakang….”

Teriakan Gendhuk Tri pastilah sudah terlambat.

Karena ujung kaki Halayudha sudah menyentuh dada Upasara.

Upasara tersenyum ringan. Pandangan matanya masih menatap Permaisuri Rajapatni. Begitu juga sebaliknya. Saling pandang dalam jarak yang begitu dekat.

Tidak memedulikan bahwa mereka berdua disaksikan seluruh isi halaman Keraton. Yang sekarang memang penuh sesak.

Sejak para senopati berkumpul, sejak itu pula senopati yang lain siap gegaman, atau dalam keadaan siaga. Tanpa diperintah, kalau Keraton diperkirakan dalam bahaya semua akan berkumpul. Apalagi kini jelas-jelas, bahwa Baginda berada di tengah kerumunan.

Maka jadinya suatu pemandangan yang ganjil.

Sangat ganjil.

Di satu bagian seorang nenek tua yang bicara keras dan mengajari seorang wanita yang menggendong mayat hidup, di bagian lain ada Gendhuk Tri, yang berdampingan dengan Singanada, serta Halayudha yang perkasa dikepung seluruh prajurit Keraton.

Puncak keganjilan itu adalah Upasara yang mengeluarkan darah segar, membopong Permaisuri dan tetap saling pandang.

Bahkan kali ini pun, Eyang Putri Pulangsih memandang ke arah Upasara Wulung. Seakan menyetujui teriakan peringatan Gendhuk Tri.

Tubuh Halayudha terus meluncur.

Gendhuk Tri tak bisa melihat jelas. Apakah menembus dada Upasara atau setidaknya melukai. Yang jelas tubuh itu terus meluncur, sementara Upasara seperti bergeming.

Tetap membopong Permaisuri Rajapatni dengan kedua tangannya.

Rambut Permaisuri terlepas dari sanggulnya, terurai menyentuh tanah.

Tubuh Halayudha meluncur terus, dan begitu menginjak tanah, berbalik seperti tombak dilepas. Seperti anak panah meluncur dari busur. Kembali berusaha menggunting Upasara.

Kali ini benar-benar menggunting.

Karena kedua kakinya bergerak sangat cepat sekali.

Kalau Upasara tak berkelit, bisa dilipat habis.

Upasara memang tak berkelit.

Saat itu Gendhuk Tri sudah berseru keras, membebaskan semua selendang dari tubuhnya. Matanya mengisyaratkan Singanada yang juga sudah menggerung sambil memasang kuda-kuda.

Baik Gendhuk Tri maupun Singanada sama-sama menyadari bahwa gabungan kedua ilmu silat mereka mempunyai kelebihan dibandingkan hanya dua kekuatan yang dijumlahkan.

Tapi mereka tidak bergerak sendiri.

Mahapatih Nambi sudah mengibaskan tangannya. Semua senopati dan para prajurit pilihan juga sudah meloncat ke tengah pertarungan. Sehingga mau tidak mau Gendhuk Tri dan Singanada terkurung pagar betis dengan tombak, keris, pedang, dan anak panah.

Bagi Mahapatih Nambi tak ada pilihan lain.

Sejak Baginda menitahkan bahwa Upasara musuh Keraton, penjabarannya ialah menangkap Upasara. Dalam keadaan hidup atau mati atau terluka. Dengan sendiri-sendiri seperti yang dilakukan Halayudha atau dengan mengeroyok.

Alasan keamanan Baginda bisa membenarkan kenapa dirinya mengeroyok Upasara.

Dan berbeda dari saat-saat sebelumnya, kini tidak ada lagi kesangsian sedikit pun untuk menangkap Upasara.

Bahkan Senopati Agung yang sejak tadi hanya bersila di pinggir, ikut terjun ke gelanggang.

Yang tidak ikut terlibat hanya Eyang Putri Pulangsih.

Dan Cebol Jinalaya yang kebingungan.

Guntingan kaki Halayudha seperti berhasil merontokkan iga Upasara Wulung. Terdengar suara tulang beradu keras.

Hanya saja, Upasara masih tetap berdiri tegak.

Tetap membopong.

Sementara Halayudha terpincang-pincang.

Tak masuk akal.

Sepersekian kedipan mata, Mahapatih Nambi menduga bahwa Halayudha berpura-pura. Menduga Halayudha memainkan tipu muslihat yang lain, yang belum diketahui apa rencana sebenarnya.

Bisa dimengerti.

Karena Halayudha sendiri seakan tidak percaya. Jelas-jelas guntingan kakinya tak bisa dihindari oleh Upasara. Akan tetapi yang ngilu justru kaki-nya sendiri.

Sangat ngilu hingga terpincang-pincang.

Inilah yang ajaib.

Seorang jago utama, tokoh silat setingkat Halayudha bisa menjadi terpincang-pincang. Patah tangan atau kaki, tubuh hancur, adalah sesuatu yang bisa dimengerti kalau terlibat dalam pertarungan. Akan tetapi pasti bukan terpincang-pincang.

Ini hanya dilakukan seorang pemula. Karena salah urat atau salah melakukan gerakan.

Yang mustahil dilakukan Halayudha.

“Kakangmas…”

Tangan Permaisuri Rajapatni mengusap lembut tepi bibir Upasara, sementara sorot matanya tetap tertuju ke mata Upasara.

Satebah Lemah, Sanyari Bumi

MENGAGUMKAN! Itulah satu kata yang tepat menggambarkan keberadaan Upasara saat ini.

Bahkan Baginda pun mengeluarkan pujian itu.

Di dalam hati.

Wajah dan sikap tubuhnya tetap dingin, tidak memancarkan perasaan apa-apa. Seakan mampu mengatasi gelombang keirian. Seakan justru memperlihatkan bahwa sikap Permaisuri Rajapatni yang mengelap darah di sudut bibir Upasara sama sekali tidak menjadi persoalan baginya.

Apa yang dilakukan permaisurinya tak cukup membuatnya melirik.

Tindakan permaisurinya tak cukup berharga untuk diperhatikan.

Sesungguhnya memang begitu.

Bagi Baginda kehadiran Permaisuri Rajapatni hanyalah satu dari sekian banyak permaisuri yang tak resmi. Salah satu dari sedikitnya permaisuri yang resmi. Masih ada puluhan, bahkan ratusan wanita lain yang akan merasa bahagia bisa melayaninya. Dari sisi ini, Baginda tak bisa disalahkan.

Kalau ada sesuatu yang mengganggu kehormatannya dan menimbulkan rasa iri ialah kenyataan bahwa Permaisuri Rajapatni yang telah bersanding dengannya, masih menyimpan ksatria lain. Sesuatu yang seharusnya tak bisa terjadi.

Tak boleh terjadi!

Bisa bersanding dan melayani Baginda adalah kehormatan yang tinggi bagi semua wanita Keraton dan wilayah yang dikuasai Majapahit.

Kelelakian Baginda tak menghendaki ada lelaki lain yang mendekati atau menyamai.

Akan tetapi kenyataan bahwa permaisurinya, bahwa prameswari dalem, permaisuri raja, menunjukkan perhatian kepada orang lain, lebih dari tamparan terompah kotor ke wajah Baginda.

Padahal Permaisuri Rajapatni tidak secara sengaja menantang. Tidak secara sengaja memamerkan perasaannya.

Bahkan secara diam-diam, keinginan dan impian membayangkan Upasara ditenggelamkan ke dalam bawah sadarnya.

Apa yang dilakukan sekarang ini lebih merupakan juluran naluri seorang wanita. Yang ditolong oleh seorang lelaki, dan penolong itu menjadi terluka parah karenanya.

Usapan kemesraan itu adalah ungkapan perhatian, tanda terima kasih.

Akan tetapi karena sebelumnya ada perasaan asmara, jadinya bermakna lain.

Gendhuk Tri yang berdiri berjajar dengan Maha Singanada menyaksikan pemandangan yang menggetarkan hati.

Upasara Wulung membopong kekasihnya, di tengah kepungan para prajurit dan senopati yang kikuk. Mau menyerang takut keliru mengenai Permaisuri. Tidak menyerang, merasa tidak melakukan kewajiban.

Yang sedikit di luar perhitungan adalah Halayudha. Ternyata ia tidak sekadar terpincang-pincang dan minggir dari gelanggang pertarungan. Lebih dari itu, kakinya seakan tidak kuat menyangga tubuhnya. Sehingga mau tak mau terpaksa duduk!

Sambil mengurut kedua kakinya.

Tepatnya di keempat mata kaki.

Baginda mengembuskan napas ringan.

“Ada apa Halayudha itu?”

Pertanyaan Baginda tak tertuju kepada siapa-siapa. Tak perlu mengetahui siapa yang diajak bicara. Mahapatih Nambi menyembah dengan penuh hormat.

“Menurut dugaan hamba, keempat mata kakinya terluka.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Hamba kurang tahu, Baginda.

“Barangkali saja sewaktu berusaha menebas tubuh Upasara secara bersamaan, terjadi sesuatu yang keliru. Sehingga saling beradu sendiri.”

Baginda berdehem.

“Apa itu bisa terjadi pada seorang semacam Halayudha?”

Tak ada jawaban.

Mahapatih Nambi sendiri tak begitu yakin. Tak begitu pasti apa yang sesungguhnya terjadi. Seperti juga para senopati yang lain.

Namun dalam satu hal, hati mereka sepakat mengakui keunggulan Upasara. Dalam pertarungan yang mengesankan, Upasara memantapkan dirinya sebagai ksatria yang tiada tandingannya. Dengan sebelah tangan mengungguli Halayudha sehingga pontang-panting. Dengan bantuan Gendhuk Tri, Halayudha bisa mendesak Upasara. Namun justru ketika sampai pada jurus yang menentukan, tubuh Upasara tak bisa digerakkan.

Sewaktu Halayudha mengubah taktiknya, berhasil keras. Akan tetapi segera disusul dengan terjongkok sendiri.

Berhasil keras karena membuat Upasara muntah darah.

Anehnya, justru setelah itu keempat mata kakinya perlu dipijat-pijat untuk mematikan rasa yang menyebabkan sakit. Berarti untuk sementara, Halayudha tak akan bisa bertarung.

Ini berarti rasa sakitnya kelewat batas.

Di luar kemampuan Halayudha untuk mengatasi, untuk menahan.

Halayudha sendiri merasa tak sanggup mengalihkan rasa sakit. Berbagai pertarungan telah dijalani. Baik yang membuat jari-jarinya putus, atau yang dijalani sendiri dengan menusukkan keris ke arah lambungnya.

Senopati Pamungkas II – 6

Semua rasa sakit masih bisa ditahan.

Masih bisa dikuasai.

Akan tetapi sekarang ini tidak.

Rasanya keempat mata kakinya hancur. Menjadi serpihan kecil-kecil, atau malah menjadi abu. Yang setiap ada aliran darah menuju tempat itu, membuatnya sangat ngilu.

Halayudha setengah menyalahkan dirinya sendiri.

Seharusnya, sewaktu serangan pertama dengan menendang lurus meleset, dirinya mulai memperhitungkan bahwa ada sesuatu yang luar biasa dari Upasara. Tapi ternyata itu tak membuatnya waspada, justru karena ia merasa hampir berhasil.

Malah mengulangi dan hasilnya luar biasa sakitnya.

Kalau tidak malu, mau rasanya Halayudha menjerit!

“Kakang tidak apa-apa?”

Permaisuri Rajapatni mengulangi pertanyaannya, dengan nada lembut yang sarat oleh rasa kuatir.

Upasara menggeleng.

“Benar, Kakang?”

“Benar, Yayi Permaisuri….”

“Bibirmu berdarah, Kakang….”

“Karena dada Kakang terkena tendangan Halayudha.”

“Sakit?”

“Sedikit.”

“Darahnya banyak, Kakang….”

“Tak apa.

“Darah memang ada di mana-mana, Yayi. Kalau kaki terantuk, juga mengeluarkan darah. Sakit sedikit. Tapi tak apa, karena tak mengganggu tenaga dalam.

“Tak apa, Yayi….”

“Betul, Kakang?”

Upasara mengangguk lagi.

Meskipun diucapkan perlahan, karena suasana sangat sepi, percakapan itu terdengar jelas.

Angin pun berhenti, seakan sungkan mengganggu pertemuan sepasang kekasih yang menyimpan segunung kerinduan.

“Tapi Halayudha menendang lagi.”

“Ya, tapi tidak mengenai.”

“Tidak.”

“Rasanya seperti mengenai.”

Upasara menggeleng lembut.

“Yayi Ratu tak apa-apa?”

“Tidak. Kakang jangan mencemaskan saya.

“Hanya ketika Eyang Putri berteriak tadi, saya merasa sangat sedih tak bisa menguasai diri.

“Sedih sekali.”

Permaisuri Rajapatni menghela napas.

“Bagaimana dengan putri-putri Yayi Ratu?”

“Baik-baik semuanya… Kakang.

“Dewa memberkati mereka.”

Sunyi sesaat.

“Kakang, benar Kakang tidak terluka parah? Atau Kakang menyembunyikan sesuatu? Atau Kakang sudah mati seperti Kebo Berune, Eyang yang membonceng Nyai Demang?”

Upasara merasa sudut matanya panas.

Kekuatiran Permaisuri Rajapatni bagai mencabut sukmanya. Keprihatinan kasih sayang yang mengalahkan semua bentuk perhatian.

“Tendangan Halayudha sangat sakti, memang.

“Tenaga yang dipakai adalah Suduk Gunting Tatu Loro, sekali menendang dengan dua luka seperti dua mata pisau.

“Kalau mengenai bisa menghancurkan.

“Tapi tidak mengenai tubuh saya.”

“Ilmu apa yang Kakang pergunakan?”

“Yang pernah kita baca bersama, Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi. Apakah Yayi Ratu masih ingat?”

Setebah Tanah, Sejari Bumi

PERMAISURI RAJAPATNI bagai ditarik ke masa lalu.

Ketika masih Gayatri, yang diajak menemani Upasara menyusup ke Keraton Singasari, di mana Raja Muda Jayakatwang berkuasa setelah menyingkirkan Baginda Raja Sri Kertanegara.

Dalam perjalanan sebagai duta Keraton, bibit-bibit asmara tumbuh di antara keduanya. Bersemi dan mekar dengan indah. Bagi Upasara Wulung dan Dyah Gayatri, itulah kenangan yang paling indah dalam hidup mereka berdua. Karena memang itu satu-satunya kesempatan bisa berdua, dalam waktu yang cukup lama.

Kalau saat itu masih ada ganjalan antara mereka berdua, itu semata-mata karena Upasara Wulung merasa dirinya sebagai orang kebanyakan, sebagai hamba, sementara Gayatri adalah putri Sri Baginda Raja yang agung binatara, raja besar yang dihormati. Kekakuan itu mencair, setelah Gayatri mengisyaratkan bahwa ia tak berkeberatan menerima Upasara.

Betapa indah.

Betapa gagah.

Betapa agung.

Betapa mekar semerbak, segalanya memancarkan bau harum.

Saat itu keduanya belum menduga, bahwa kemudian para pendeta Keraton mempunyai ramalan bahwa Gayatri dan Raden Sanggrama Wijaya harus dipersandingkan, harus menurunkan raja yang kelak kemudian hari akan membawa Keraton ke puncak kejayaan yang belum pernah dialami oleh seluruh raja di tanah Jawa.

Saat itu mereka berdua berbicara mengenai apa saja.

Mengenai langit, mengenai mata angin, mengenai kuda, laut, bunga-bunga yang tak dimengerti Upasara, mengenai jurus-jurus ilmu silat yang tak dimengerti oleh Gayatri.

“Kalau saya bisa silat, saya tak akan merepotkan dirimu, Kakang….”

“Hamba tidak merasa direpoti….”

“Kenapa Kakang masih selalu menghamba? Tidakkah menyebut dengan Kakang lebih mudah tanpa harus menghamba?

“Apakah menyebut begitu lebih sulit, Kakang?”

“Entahlah.

“Suatu hari nanti, hamba bisa menyebut diri secara kurang ajar. Akan tetapi memang hamba tak bisa dengan cepat menguasai kidungan dalam Kitab Bumi.”

“Kalau yang lainnya bisa, kenapa Kakang tidak?”

“Sangat sulit.

“Ada bagian yang tak bisa ditafsirkan dengan baik. Kidungan tentang Satebah Lemah, Sanyari Bumi… Rasanya setiap kali saya kidungkan, setiap kali hamba berusaha memahami…”

“Coba lagi, Kakang.

“Saya tak mengerti banyak tentang pengaturan napas atau menggerakkan jari. Tapi rasanya, para empu yang menuliskannya bukannya sekadar mengarang kata-kata….”

“Jangan ditertawakan, Putri….”

Upasara mencoba menembangkan kidungan itu.

Mencintai bumi, ialah mencintai diri sendiri

sebab bumi adalah tubuh

bumi adalah kehormatan

bumi adalah kehidupan ksatria

bumi adalah roh

bumi adalah jiwa

pertahankan tanah

walau setebah

hingga rebah

pertahankan bumi

walau sejari

hingga mati

bumi adalah ibu pertiwi

di pusar menjalar

ke semua akar

tanah itu bumi

bumi itu tanah

tanah bumi

bumi

bumi…

Gayatri tertawa mengikik.

Untuk pertama kalinya berada di luar tata kesopanan Keraton, Gayatri bisa tertawa bebas.

Wajah Upasara menjadi merah padam.

“Hamba tak bisa menembang. Maaf.”

“Aku tertawa karena matamu melirik kian-kemari.”

Wajah Upasara makin merah-hitam.

“Kakang, bukankah segalanya telah jelas?

“Bumi adalah kehormatan yang tak bisa dikotori. Selama masih ada yang bisa dipertahankan, harus dipertahankan. Biarpun hanya satebah, hanya selebar tangan dengan jari yang rapat. Biarpun hanya sanyari, atau satu jari.

“Harus tetap dipertahankan.

“Bukankah semua prajurit, semua ksatria, harus mempertahankan bumi kelahirannya, hingga sejengkal sekalipun?”

“Yang begitu saya… hamba… saya tidak sangsi.

“Tapi rasanya bukan hanya itu.”

“Tenaga pusar?”

“Saya tahu, Putri… Tenaga yang dipergunakan adalah tenaga yang berasal dari pusar. Yang kita kumpulkan di bagian pusar, bukan di bagian lain.” “Tapi saya merasa tak bisa leluasa.

“Justru seperti tertahan.”

“Kakang mau mencoba lagi?”

“Percuma, Yayi… eh, Tuan Putri….”

Memang bagian-bagian itulah yang lebih teringat oleh Permaisuri Rajapatni. Bagian-bagian yang mendekatkan dirinya dengan Upasara. Dan bukan pergulatan Upasara menemukan inti kekuatan lirik Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi.

“Yang bagi Halayudha kini mempunyai makna yang bisa ditelusuri. Seperti para senopati lain yang mempelajari Kitab Bumi.

Satebah adalah ukuran besar, yang sama dengan telapak tangan dari ibu jari ke kelingking dalam keadaan rapat.

Ini yang dirasakan Halayudha.

Samar-samar ia mengetahui bahwa tendangannya, guntingan kakinya, hampir menyentuh tubuh Upasara. Mungkin jaraknya tinggal satebah atau malah sanyari.

Tetapi tetap belum mengenai!

Inilah hebatnya!

“Apa itu semacam kidungan ilmu hitam?” Baginda bertanya lirih, karena tak bisa menahan diri untuk mengetahui. Sebagai bekas ksatria yang mempelajari ilmu silat, perhatian Baginda pada perkembangan ilmu silat tak terusir begitu saja. Apalagi dengan menyaksikan sendiri kehebatan ilmu Upasara.

Mahapatih Nambi menggeleng setelah menyembah.

“Hamba kira bukan, atau hamba belum pernah mendengar ada ilmu hitam seperti itu.

“Memang tadi hamba dengar, kalau tak salah, Putri Pulangsih dan Kebo Berune menyebut tentang ilmu sesat yang bisa mematikan rasa pada kulit, daging, darah, ataupun kuku.

“Mohon ampun, Baginda sesembahan seluruh Keraton, hamba tak mengetahui….” “Aku tahu.

“Aku tahu ada latihan mengelak dan menangkis yang bisa disebut ilmu Sekilan. Seperti Sardula Sekilan atau juga Lembu Sekilan. Apakah ilmu Upasara bagian dari itu?”

“Baginda sungguh bijak dan mengetahui segalanya.”

Pujian Mahapatih Nambi bukan pujian kosong.

Jauh dalam hatinya, begitu Upasara mengatakan Satebah Lemah, Sanyari Bumi, sudah terbayang akan ilmu yang jauh lebih kondang, yaitu Sardula Sekilan ataupun Lembu Sekilan.

Sekilan adalah ukuran lebar jika jari tangan direntangkan, antara ibu jari dengan kelingking. Jarak itulah yang diusahakan selalu terjaga pada serangan musuh.

Tambahan sebutan sardula yang artinya harimau, lebih menunjukkan penghormatan kepada Sri Baginda Raja yang memakai simbol harimau. Kembangan jurus itu disebut dengan Lembu Sekilan, atau Gerakan Seekor Lembu.

Meskipun diakui kelebihannya, jurus itu tidak terlalu digemari dan tidak menonjol. Karena jurus Sekilan lebih bersifat mempertahankan diri, dan bukan menyerang.

Jurus yang mematahkan pertahanan.

Kurang cocok dalam suatu pertarungan.

Makanya, sungguh luar biasa Upasara mampu memainkan dengan hebat. Justru ketika kedua tangannya tak bisa menyerang atau menangkis karena sedang membopong seseorang! Pas sekali.

Yang lebih menganggumkan ialah Upasara mampu mengembangkan jarak serangan dari sekilan menjadi satebah. Atau bahkan hanya sanyari. Sejarak satu jari!

Menakjubkan.

Gugatan Sejarah

SATU jari!

Siapa pun yang pernah melatih jurus Sekilan, menyadari betapa gawat dan rumitnya. Sebab harus disertai ketenangan yang sempurna. Membiarkan lawan memukul, menusuk, melukai, dan baru ketika jaraknya sekilan, tenaga lawan dimusnahkan.

Meleset sedikit saja, bisa ambruk.

Keliru perhitungan saat yang diambil, bisa hancur.

Dan Upasara ternyata mampu mendekatkan lagi jarak serangan lawan menjadi satebah dan akhirnya sanyari.

Baru sekarang Halayudha sadar sepenuhnya bahwa memang kedua kakinya yang saling beradu dengan keras. Karena merasa mengenai tubuh lawan, tenaganya ditumpahkan.

Tak tahunya mengenai kakinya sendiri.

Saling gempur.

Bisa dimengerti kalau mata kakinya hancur luluh!

“Tugasku selesai.

“Selamat tinggal, jagat dan isinya, aku yang tua tak ada gunanya lagi.”

Eyang Putri Pulangsih melebarkan kedua tangannya.

“Tugasku belum selesai!” teriak Cebol Jinalaya.

“Itu bukan urusanku.”

Nyai Demang yang sejak tadi tertegun kini bergerak-gerak.

“Mau ke mana, Pulangsih?

“Aku akan mengikutimu selalu. Perjalanan asmara ini akan selalu bersama. Getaran asmaramu akan selalu menuntunku.”

Eyang Putri Pulangsih justru memalingkan wajahnya.

Menatap ke arah Upasara.

Lalu ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

“Tergantung kalian yang muda, yang masih pantas menempati jagat yang ruwet ini.”

Dengan satu kibasan, tubuh Eyang Putri Pulangsih lenyap.

Seketika.

Tak ada bekas.

Tak ada jejak yang ditinggalkan.

Nyai Demang celingukan.

“Pulangsih… Pulangsih… Tunggu aku….”

Gendhuk Tri mengentakkan kakinya.

“Kakang Upasara.

“Hentikan Mbakyu Demang!”

Tapi perhatian Upasara tertuju penuh pada Permaisuri Rajapatni yang berada dalam rangkulannya.

Sementara itu seluruh prajurit dan para senopati sudah sepenuhnya bersiaga total.

Mahapatih Nambi menggenggam dua senjata di kanan dan di kiri. Di bagian luar benteng, prajurit siap meluncurkan semua anak panah yang tersedia.

Untuk seletikan api, Baginda ragu.

Apakah memerintahkan penyerangan, atau menunda.

Memerintahkan penyerangan, berarti nyawa Permaisuri Rajapatni bisa cedera. Ratusan anak panah dan tusukan serta bacokan senjata tajam, tak mungkin hanya mengenai tubuh Upasara. Karena Permaisuri Rajapatni berada dalam dekapan.

Menunda serangan, berarti membiarkan Upasara pergi dengan leluasa. Sambil membawa permaisurinya.

Ini dilakukan secara terang-terangan.

Di depan hidungnya. Di hadapan semua kawula Keraton.

Gendhuk Tri seakan bisa menebak ke arah mana jalan pikiran Baginda.

“Kakang, aku di depanmu.

“Jangan ragu.

“Dulu Kakang menyelamatkan diri menyabung nyawa untuk membebaskanku, ketika pasukan Kediri menawanku.

“Sekarang bisa terulang lagi.

“Jangan kuatir, Kakang.

“Singanada, ayo kemari. Kita rapatkan barisan.”

Tanpa segan-segan, Gendhuk Tri menarik tangan Maha Singanada ke dekatnya.

“Apa kata kamu, Kanyasukla.”

Singanada mengambil sikap bersiaga, memasang kuda-kuda.

Tinggal satu perintah.

Satu kedipan mata.

Dari Baginda.

Tapi masih tertahan.

Hanya beberapa senopati utama yang mengetahui bahwa kata-kata

Gendhuk Tri mempunyai bisa yang dalam. Yang menggugat kembali ke jantung hati Baginda.

Karena kata-kata Gendhuk Tri merobek luka lama, mengingatkan bahwa pada suatu ketika dulu terjadi sesuatu.

Saat di mana prajurit Tarik menyerbu masuk ke Keraton yang diduduki Raja Muda Jayakatwang. Ketika itu Gendhuk Tri dan Gayatri ditawan. Diikat pada tiang di ujung benteng Keraton.

Dalam keadaan yang gawat dan menentukan, Baginda yang saat itu masih Raden Sanggrama Wijaya memilih untuk meneruskan pertempuran. Dengan mengabaikan keselamatan Gayatri dan Gendhuk Tri.

Hanya dengan kenekatan yang luar biasa, Upasara Wulung meloncat naik dan bertarung mengadu jiwa.

Kejadian yang begitu mengenaskan dan nyaris mengantar Gendhuk Tri ke Hang kubur karena tindakan Baginda, tak akan terlupakan seumur hidup.

Bahwa kemudian Gendhuk Tri tak mempersoalkan dan tidak menggugat, karena merasa tak ada urusan. Apalagi sejarah Keraton yang kemudian didengar lewat berbagai kidung pemujaan, justru menokohkan Baginda.

Bahwa serangan dan aba-aba yang diberikan dahulu, karena Baginda lebih mengutamakan kebenaran, lebih mendahulukan kepentingan Keraton, dibandingkan kepentingan pribadinya.

Bahwa kalau perlu keluarga atau dirinya sendiri dikorbankan demi kemenangan kebenaran, daripada surut karena memikirkan keselamatan satu orang keluarganya.

Dari peristiwa yang sama, bisa berbagai kidungan yang muncul. Yang menguasai Keraton dan diajarkan adalah kidungan perjuangan Baginda.

Keluhuran serta kebesaran jiwanya.

Gendhuk Tri memang tak merasa mempunyai kepentingan. Apakah pemujaan itu dituliskan dengan jujur atau dibuat untuk menokohkan Baginda. Juga tak ada senopati dan pendeta yang meragukan. Bahkan sebaliknya saling menyokong memberikan alasan yang membenarkan.

Gendhuk Tri tak peduli.

Sampai merasa bahwa kini posisinya terulang kembali.

Sadar bahwa keadaannya yang sekarang ini lebih gawat. Karena menghadapi serbuan begitu banyak. Sakti seperti Dewa sekalipun, belum tentu Upasara bisa lolos dari kepungan. Apalagi tanpa membuat Permaisuri Rajapatni terluka atau cacat.

Kalau ini terjadi dalam pelukan Upasara Wulung, pertarungan habis-habisan bakal terjadi.

Tak bersisa lagi.

Maka Gendhuk Tri menyentakkan kembali ingatan Baginda.

Satu-satunya harapan kecil yang membersit ialah, jika Baginda merasa yakin apa yang diputuskan dahulu murni untuk mendahulukan kepentingan Keraton, pasti tetap memerintahkan penyerangan.

Dan berarti ia bersiap diri.

Kalau tidak, Baginda akan tergugat.

Dan ragu.

Itu yang lebih diharapkan.

Dan nyatanya begitu.

Baginda masih termangu.

Tapi hanya sebentar. Karena kemudian terdengar kumandang nyaring suara seseorang.

“Kalau semua durjana dibiarkan keluar-masuk seenaknya, apa bedanya Keraton dengan pasar?

“Di mana kalian semua memuja Dewa yang menginjak tanah? Di mana darma bakti kalian ke hadapan duli Raja?”

Itu suara wanita.

Yang berada dalam joli, yang dikawal ketat sekali.

Suara Permaisuri Indreswari.

“Kalau tak ada yang berani maju, biarlah hamba yang tak berarti ini maju pertama kali.

“Membersihkan dan menjaga kesucian wanita adalah tugas utama kaum putri Keraton.”

Gendhuk Tri melihat gelagat yang buruk.

Karena Permaisuri Indreswari mengaitkan dengan Keraton, kesucian, dan membersihkan wanita yang tidak suci, yang mengotori. Pastilah yang dimaksudkan Permaisuri Rajapatni, yang dianggap tidak pantas berada dalam bopongan Upasara Wulung.

Cara menyulut kebencian yang sangat tepat.

Mahapatih Nambi mengangkat kedua tangannya.

Seluruh prajurit dan senopati merentang busur, menyiagakan pedang, keris, tombak, dan semua persenjataannya.

Begitu tangannya turun, atau aba-aba terdengar, tak ada kecualinya. Hujan senjata akan terjadi.

Pertarungan habis-habisan dimulai.

Upasara Wulung seakan melayang ke dunianya sendiri. Tak peduli sama sekali. Pandangan tertuju langsung ke Permaisuri Rajapatni.

Pabaratan Asmara

PERMAISURI INDRESWARI menyibakkan joli.

Wajahnya masih geram ketika menyembah ke hadapan Baginda, lalu jarinya yang lentik menuding ke arah Upasara.

“Manusia tak berbudi, jangan kotori bumi pusaka ini.”

Tudingannya menurun.

Serentak dengan itu dari arah dalam muncul rombongan baru.

Gendhuk Tri menghela napas.

Rombongan yang baru masuk juga menggunakan songsong atau payung kebesaran. Benar dugaannya, bahwa Putra Mahkota Bagus Kala Gemet yang datang. Diiringi oleh senopati yang siap siaga.

Secara bersamaan menyembah ke hadapan Baginda.

Putra Mahkota menyembah sampai menyentuh tanah.

“Maaf, Yang Mulia Baginda, sesembahan Keraton.

“Izinkanlah hamba yang muda usia menyelesaikan bencana.

“Adalah kehinaan yang sempuma.

“Mengubah halaman suci.

“Menjadi pabaratan asmara….

“Mohon izin Baginda….”

Sejenak wajah Baginda menoleh perlahan.

Dipandangnya Putra Mahkota yang masih menunduk.

Adalah sangat tepat sekali kemunculan Putra Mahkota sekarang ini. Pada saat yang menentukan, Putra Mahkota muncul untuk menyelesaikan. Cara penampilan yang sempuma.

Karena saat itu Baginda sedang kikuk untuk memutuskan. Apakah melepaskan atau menahan Upasara.

Sabda seorang raja tak bisa ditarik kembali.

Lain masalahnya jika komando dipegang oleh Putra Mahkota. Bisa ditarik atau diubah kembali. Jika Baginda tidak menghendaki.

Akan tetapi sekarang ini masalahnya tidak segampang itu. Dalam soal menyerahkan kepemimpinan sehari-hari, Baginda merasa sejak awal telah menunjuk Bagus Kala Gemet sebagai putra mahkota. Bahkan merestui, secara tidak langsung, ketika Putra Mahkota mengangkat diri dan memakai gelar raja.

Baginda berpikir seperti itu karena tidak menginginkan adanya pertarungan di kelak kemudian hari. Siapa yang berhak atas takhta? Maka sejak dini hari sudah digariskan suatu keputusan. Diakui betapa akan ruwet andai tidak sejak dini disabdakan kehendaknya. Karena soal pengangkatan mahapatih saja boleh dikatakan selesai sepenuhnya dengan enak.

Yang membuat Baginda sedikit bimbang ialah kenyataan Putra Mahkota telah menyiapkan diri secara terencana.

Kemunculannya, caranya memaksa dengan halus dan menyebutkan pabaratan asmara, menunjukkan cara pemikiran yang sepenuhnya dipompakan oleh Permaisuri Indreswari.

Pabaratan bisa berarti medan perang atau peperangan. Apa yang terjadi sekarang ini boleh dikatakan mengubah halaman Keraton menjadi medan perang. Akan tetapi Putra Mahkota menekankan adanya pabaratan asmara, seakan menekankan masalah dasarnya hanyalah soal asmara. Hubungan antara Baginda dan Permaisuri Rajapatni hanya semata-mata urusan asmara. Yang dengan demikian menjadi lebih gampang mengatasinya. Di lain pihak dengan menyebutkan sebagai pabaratan asmara, Putra Mahkota menyodok pengertian bahwa urusan Permaisuri Rajapatni dan Upasara Wulung pun semata-mata urusan asmara. Asmara yang kotor.

Kalau sekarang ini Baginda memberi izin Putra Mahkota untuk memegang komando, berarti menyetujui sepenuhnya kekuasaan di tangan Putra Mahkota. Berarti melepaskan kekuasaannya.

Halayudha melihat gelagat.

Tangannya meraih seorang senopati, dan ia meloncat ke atas pundaknya. Bagian kakinya, terutama lutut ke bawah, memang dimatikan sehingga seperti lumpuh. Akan tetapi, bagian atas tetap sempurna.

Dengan begitu Halayudha bisa ikut ambil bagian dalam peristiwa yang menentukan.

Gelagat yang ditangkap Halayudha terutama sekali bukan dari kemungkinan Baginda mengiya atau tidak, melainkan bahwa pengiring Putra Mahkota boleh dikatakan lengkap.

Sekilas saja bisa terlihat adanya Maha Singa Marutma dan Pangeran Jenang dengan semua pengikutnya. Serta adanya beberapa tokoh yang sekilas bisa berjalan sangat ringan.

Lebih dari itu, Halayudha bisa mencium bahwa Permaisuri Indreswari pasti sudah membuat rencana yang matang.

Sejak ada huru-hara, Permaisuri Indreswari sudah menyusun kekuatan, dan masuk tepat pada saat yang menguntungkan.

Sekarang ini.

Kalau dirinya hanya duduk sebagai penonton, di kelak kemudian hari tak bisa memainkan perannya.

Maka Halayudha naik ke punggung seorang senopati.

“Susun Saharsa Bala!”

Teriakan Halayudha segera diikuti oleh semua prajurit. Dari semua prajurit yang ada di halaman hingga di luar Keraton segera bersiap, membentuk barisan yang mengepung.

Rapat sesak di bagian depan.

Sakti seperti Dewa sekalipun, Upasara belum tentu lolos dari kepungan. Karena Halayudha sudah menyiapkan Barisan Saharsa Bala. Yaitu strategi perang dalam keadaan mendesak.

Saharsa berarti seribu. Akan tetapi juga bisa berarti dilakukan dengan paksa. Jadi Saharsa Bala berbeda dari Bala Sewu atau Bala Srewu, walau secara harfiah artinya sama. Seribu Prajurit.

Bedanya dari Bala Srewu ialah dalam taktik serangan Saharsa Bala, prajurit yang berada di depan tak akan minggir atau mundur, apa pun yang terjadi!

Mau atau tidak, harus tetap berada di depan.

Inilah maka kata saharsa mempunyai makna ganda. Makna terpaksa.

Dengan strategi ini Halayudha mengisyaratkan bahwa apa pun yang terjadi tak nanti Upasara dan Permaisuri ataupun Gendhuk Tri dan Singanada serta Cebol Jinalaya bisa lolos.

Kecuali melalui seribu mayat.

Siasat Halayudha bersifat mengancam lawan, tetapi juga mendesakkan keinginan secara tersamar agar Baginda memilih jalan untuk tetap menahan Upasara.

Baginda mendongak ke langit.

“Putraku…

“Usahakan jalan terbaik. Ini saat kamu tampil dengan baik.”

Putra Mahkota mendongak, masih dengan sikap menyembah.

“Segala kehormatan untuk kebesaran Baginda….”

Lalu dengan cepat berbalik.

Berdiri gagah.

“Singanada, ini Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, dengan nama gelaran resmi Sri Sundarapandya Adiswara, mengeluarkan sabdanya.

“Dengar baik-baik!

“Jika kamu mengundurkan diri secara baik-baik, aku akan mengampuni semua kesalahanmu. Untuk kebesaranku, siapa yang mengikuti langkahmu akan mendapatkan pengampunan yang sama denganmu.

“Kamu dengar, Singanada?”

“Dengan sangat jelas.”

“Aku yang memberi tempat perlindungan, memberi kehormatan ketika kamu kembali ke tanah Jawa. Seperti Singa Marutma, seperti Pangeran Jenang, seperti semua senopati sabrang.

“Kamu tak akan melupakan itu.”

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu, minggirlah!”

“Sebaiknya mungkin begitu.

“Tapi aku tak ada ikatan apa-apa dengan siapa-siapa. Aku sudah memutuskan kembali ke perantauan. Ke tanah sabrang, meneruskan tugas mengibarkan umbul-umbul kebesaran Keraton.”

“Bagus, minggirlah!”

“Aku akan minggir, kalau sudah bertemu dengan Senopati Agung untuk menentukan siapa yang berhak hidup.”

Gendhuk Tri tak menduga sama sekali, bahwa Maha Singanada memang hanya memikirkan kepentingan sendiri.

Benar-benar lugas, apa adanya.

Kejujurannya yang tiada tandingannya.

“Urusan itu bisa diselesaikan di kemudian hari.”

“Tidak bisa,” sahut Singanada cepat. “Apa hak kamu mencampuri urusan pribadiku?”

Keras, lantang, dan menantang.

Putra Mahkota terbatuk keras.

Kalau ia sengaja memberi pengampunan bagi Singanada, semata-mata bukan karena ingin mengurangi jumlah korban. Juga bukan gentar. Tapi hanya ingin memperlihatkan kebesarannya, keagungannya dalam memberi ampun.

Siapa sangka akan mendapat jawaban yang begitu kasar?

“Kalau itu yang kamu kehendaki, bersiaplah menerima hukuman!”

Putra Mahkota masih menunjukkan kelebihannya dengan membusungkan dada.

“Upasara, masih ada kesempatan terakhir bagimu untuk meminta maaf. Aku janjikan bukan hukuman mati sekarang ini juga.”

Tak ada jawaban.

Barisan Padatala

UPASARA masih kesengsem.

Apalagi saat itu, Permaisuri Rajapatni tersenyum lembut.

“Kakangmas…”

“Kenapa Yayi Ratu memanggil dengan sebutan Kakangmas?”

“Kenapa?

“Apa ada bedanya Kakang dengan Kakangmas?”

“Saya lebih suka dipanggil Kakang….”

Senyum Permaisuri Rajapatni terkembang.

“Saya pun lebih suka disebut Yayi, tanpa tambahan Ratu di belakangnya.”

Dada Upasara mengembang.

“Kakang, kenapa saya tidak diturunkan saja?

“Sejak tadi Kakang membopong….”

Kali ini Upasara menjadi kikuk.

Hidungnya merah dan berkeringat.

“Yayi… Yayi Ratu tak apa-apa?”

“Sama sekali tidak.

“Sejak tadi juga tidak.”

Upasara menyadari ketololannya. Memang sejak tadi Permaisuri yang dibopong ini tidak terluka, tidak terganggu. Hanya karena rasa kuatirnya saja yang menyebabkan Upasara ingin melindungi seperti induk ayam.

Upasara menurunkan perlahan.

Kini Permaisuri Rajapatni berdiri.

Sejajar.

Berdampingan.

Di tengah kepungan rapat.

“Kakang….”

Upasara memandang lembut.

“Saya tidak menyangka Kakang akan datang.

“Saya kira Kakang sama sekali tak mau menemui. Saya kira Kakang telah mati.

“Tapi Dewa yang Maha Pencipta mengabulkan doa kita.

“Kakang datang.

“Menjemput saya.

“Bukan membebaskan kala saya berada dalam bahaya. Bukan karena alasan lain yang menyertai. Bukan karena Keraton sedang diserbu musuh. Bukan karena putri-putriku dalam bahaya.

“Kali ini Kakang datang mligi untuk saya.”

Upasara memalingkan wajahnya.

Sekarang ini kedatangannya memang khusus untuk Gayatri yang dirindukan. Bukan ditambahi alasan lain yang membenarkan tindakannya secara tersamar.

Kali ini Upasara datang khusus untuk menemui Gayatri.

Inilah yang membuat Gayatri yakin bahwa semua doa yang pernah diucapkan siang dan malam terkabul.

“Kakang, kalau ini pertemuan terakhir, saya merasa bahagia.”

“Saya tak tahu, Yayi.”

“Kakang jangan ragu lagi.

“Jangan mundur lagi.

“Saya akan sedih sekali.”

“Tidak, Yayi.

“Kakangmu datang kepadamu. Tanpa ragu.

“Eyang Putri Pulangsih muncul hanya untuk ini. Untuk pertemuan ini. Pastilah ini dikehendaki Dewa.

“Kakang tak akan mundur lagi.”

Upasara melangkah gagah.

Pandangannya menyapu seluruh halaman Keraton.

“Sobat Singanada, terima kasih atas simpati sobat.

“Akan tetapi biarlah saya menanggung sendiri. Ini urusan pribadi.”

Lalu menatap Gendhuk Tri. Bibir Upasara tersenyum.

“Saya banyak mendengar tentang dirimu, kamu sungguh luar biasa.

“Kakang bangga mempunyai adik manis seperti ini.”

“Kakang juga mau minta saya mundur?”

“Mati dan hidup bukanlah masalah besar bagi kita.

“Mari kita berjajar, agar merasakan panas dan dingin bersama-sama.”

Gendhuk Tri berbunga-bunga hatinya.

Wajahnya cerah.

Langkahnya ringan mendekat ke arah Upasara.

Seumur hidupnya, inilah pertama kali Upasara bersikap begitu lembut, begitu mesra, dengan perhatian yang hangat.

Maha Singanada juga mengingsut langkahnya.

Mereka berjajaran berempat.

“Beri tempat kepada Barisan Padatala.”

Perintah Putra Mahkota segera diikuti berkelebatnya beberapa bayangan menuju ke depan. Menjadi inti serangan.

Kalau Upasara tak terlalu memperhatikan, sebaliknya Halayudha berpikir keras. Apa yang disebut Barisan Padatala atau Barisan Telapak Kaki, bukan orang sembarangan. Kelihatan dari geraknya yang sangat ringan.

Walau jumlahnya hanya tiga orang, akan tetapi Putra Mahkota menyebut sebagai barisan.

Ketiganya bertelanjang kaki, hanya saja kelihatan jelas mengenakan gelang di kaki, yang biasa disebut padahatkala. Sejauh yang diketahui Halayudha, warna gelang kaki yang keemasan itu menunjukkan tingkatan mereka.

Dilihat dari gerak-geriknya, sangat dekat sekali dengan apa yang dilakukan Pendeta Syangka. Pendeta Sidateka!

Masuk akal.

Selama ini Putra Mahkota sangat mengagungkan pendeta dari tanah Syangka. Pendeta Sidateka yang berhasil menanamkan pengaruhnya, pastilah tidak sendirian setelah berhasil.

Beberapa tokoh lain diminta datang.

Sekarang ini, sedikitnya tiga tokoh yang muncul.

Kalau dilihat dari tingkat kaki, jelas ketiganya di atas Pendeta Syangka.

Dengan kesimpulan lain, Halayudha mencium bahwa Putra Mahkota, di bawah pengaruh Permaisuri Indreswari, menyiapkan diri secara sempurna.

Menggalang semua kekuatan yang ada.

Secara tidak tanggung-tanggung.

Halayudha menganggap dirinya memperhatikan segala sesuatu yang terjadi dan merencanakan dengan cermat. Sekali ini mengakui bahwa Permaisuri Indreswari justru lebih teliti dan terarah.

Terarah pada puncak kekuasaan.

Bahwa pengaruh dan kekuasaannya sebagai permaisuri utama sangat memungkinkan untuk melakukan apa saja, bisa dimengerti. Tetapi bahwa cara-cara memilih orang yang dipercaya bisa tepat, ini membuat Halayudha kagum.

Dan tak bisa meremehkan seperti sebelumnya.

“Kami datang bertiga.

“Sebenarnya tidak biasa dengan pertarungan keroyokan seperti ini. Akan tetapi keadaan menghendaki begini.

“Maafkan kami, ksatria besar.”

Gendhuk Tri menyibakkan rambutnya.

“Aha, masih ada tata krama kecil-kecilan. Kalian tak perlu malu. Mengabdi seseorang memang berarti membunuh harga diri, berarti merendahkan diri dengan telanjang kaki.”

Ketiganya berpandangan.

Lalu memandang lurus ke depan.

“Apa hubunganmu dengan Pendeta Sidateka?”

“Aku pemilik Kitab Air yang dicuri Sidateka.

“Kalian juga datang untuk melakukan pencurian?”

Gendhuk Tri melihat kesempatan untuk mengulur waktu.

Ketiganya menggeleng bersamaan.

“Kami tidak mencuri apa-apa.

“Kami mempunyai ilmu silat sendiri. Hanya memang Sidateka mengirimkan kepada kami beberapa baris kidungan dari Kitab Air yang mempunyai banyak persamaan.

“Terima kasih atas penjelasan Kisanak.”

Singanada bertepuk tangan.

“Masih ada ksatria, walau dari negara sabrang.

“Baik, perkenalkan! Namaku Maria Singanada, dan ini calon pasanganku, Gendhuk Tri. Itu yang namanya Upasara Wulung, ksatria lelananging jagat, dan pasangannya… saya tak tahu nama gelarannya.

“Cukup?”

“Kami bertiga disebut sebagai Resres, Wacak, dan Taletekan.”

Tak ada yang istimewa dari nama yang disebutkan.

Resres berarti capung, wacak berarti belalang, sedangkan taletekan berarti daun-daunan. Tidak menunjukkan gelaran atau nama besar.

Bahkan boleh dikatakan nama yang sembarangan.

Asal jumput nama saja.

Upasara justru mengerutkan keningnya.

Karena nama-nama yang biasa, justru mempunyai gema yang besar dalam tradisi Perguruan Awan. Seperti juga Paman Jaghana yang berarti pantat. Seperti Eyang Sepuh pun, hanya sebutan kehormatan belaka. Nama sebenarnya tak pernah diketahui, selain disebut-sebut sebagai Bejujag. Demikian juga Kebo Berune. Hanya Mpu Raganata yang berarti. Tapi pasti itu nama gelaran yang dimiliki karena mengabdi kepada Keraton.

Bukankah tokoh utama Eyang Putri juga disebut Pulangsih? Atau malah kenyung.

Upasara maju setindak, melindungi Permaisuri Rajapatni.

 

Bubuk Pagebluk

HANYA Cebol Jinalaya yang tetap tenang.

“Ternyata begini banyak kesempatan untuk mati. Kenapa teman-teman di Jinalaya tak kemari?”

Gendhuk Tri menyadari bahwa bahaya bisa terjadi setiap saat, ketika melihat Upasara dengan cepat melepaskan bajunya dan sekaligus juga kain yang dikenakan.

Dengan bertelanjang dada, nampak kulitnya yang putih halus jarang terkena matahari.

Senopati Pamungkas II – 7

Lirikan sekilas kepada Gendhuk Tri merupakan pertanda siaga. Sejak tadi Gendhuk Tri belum mengikatkan semua selendangnya. Tinggal memasang kuda-kuda di samping Singanada.

“Kakang….”

“Yayi, pegang sabuk Kakang baik-baik. Jangan dilepaskan, dalam keadaan apa pun.”

Permaisuri Rajapatni mengangguk.

Tanpa segan-segan memegangi sabuk Upasara. Hanya karena kikuk, Permaisuri Rajapatni melepaskan setagen atau ikat pinggang yang biasa dikenakan kamu wanita. Dililitkan ke tubuh Upasara.

Serentak dengan itu terdengar teriakan keras.

Aba-aba Putra Mahkota disusul dengan teriakan Mahapatih Nambi yang bersamaan dengan teriakan Halayudha.

Dalam sekejap kerumunan menggempur maju. Merangsek maju tanpa peduli. Hujan senjata dan tusukan menyatu. Saharsa Bala benar-benar barisan yang siap mati.

Upasara berseru keras.

Baju di tangan kirinya menggulung bagai payung yang melindungi tubuhnya dan tubuh Permaisuri Rajapatni. Semua senjata yang terarah ke dirinya disapu bersih sebelum menyentuh tubuh. Sementara kain yang dikembangkan di tangan kanan, menciptakan angin keras. Menyabet kiri kanan berkeliling. Prajurit yang terkena sapuan anginnya mengeluarkan pekikan tertahan. Terlempar dari gelanggang.

Upasara tidak mempunyai pilihan lain.

Dalam suasana terkepung oleh barisan siap mati bersama, dengan melindungi seseorang yang tak mengenal ilmu silat, mengenyahkan serangan dalam bentuk apa pun, merupakan pilihan utama. Tenaga dalam yang tersalur lewat tangan kanan dan kainnya yang mengembang, setiap kali bergerak seperti menyapu daun-daun kering. Tubuh-tubuh terpelanting, terbanting keras.

Akan tetapi lima prajurit terbanting, lima prajurit lain merangsek maju.

Gendhuk Tri merapatkan tubuhnya ke arah Singanada yang segera menggertak maju. Pasangan pendekar bagai sumber api yang menyebabkan serbuan yang datang terpisah. Baik Gendhuk Tri maupun Singanada tak menahan tenaganya. Tanpa sungkan-sungkan mengerahkan seluruh kemampuannya.

Apalagi karena Mahapatih Nambi dan para senopati lainnya ikut menerjang maju. Demikian juga pukulan Halayudha terasa sangat keras menerpa.

“Kita maju,” bisik Gendhuk Tri berani.

“Ayo….”

Singanada menjawab tanggap.

Seolah mengerti bahwa tujuan utama Gendhuk Tri sekarang ini adalah maju ke arah Baginda atau setidaknya Putra Mahkota. Hanya dengan menawan tokoh paling berpengaruh ini, pertarungan bisa segera diakhiri.

Akan tetapi keliru kalau menyangka bisa dilakukan dengan mudah.

Karena sejak awal justru Baginda, Putra Mahkota, serta Permaisuri Indreswari dijaga sangat ketat.

Upasara menggeserkan kakinya, kebutan kainnya menyebabkan Cebol Jinalaya terpental ke atas, dan segera diamankan dengan tarikan kain. Seakan mengapung di atas permadani yang nyaman.

“Enak…!

“Enak sekali.”

“Pegang setagen!”

Peringatan Upasara begitu cepat. Begitu Cebol Jinalaya memegangi setagen seperti halnya Permaisuri Rajapatni, tubuhnya kembali melayang. Ikut terbawa tubuh Upasara Wulung yang melayang ke atap Keraton.

Permaisuri Rajapatni menutup matanya, mengikuti arah angin yang membawanya.

Bagian atap juga bukan bagian yang kosong, karena serangan sudah menunggu di sana. Puluhan tombak menyambut Upasara yang menggerung keras sambil mengebutkan kainnya. Lima prajurit terpental jatuh ke bawah, yang lainnya tersingkir.

Sehingga Upasara bisa melayang turun.

Menginjak atap dengan tenang.

Dengan gagah.

Begitu juga tubuh Permaisuri Rajapatni dan Cebol Jinalaya.

Empuk, lembut.

Gerakan Upasara bukan sekadar memamerkan tenaga dalam yang diatur secara sempurna. Tersalur lembut sehingga Permaisuri Rajapatni dan Cebol Jinalaya tidak merasakan guncangan yang berarti, sementara tangan kiri memutar menahan serangan dan tangan kanan mengedut keras merampas serangan.

Dengan menempatkan diri di atas, Upasara bisa melihat suasana sekitar lebih jelas. Dan makin yakin bahwa kepungan sudah temu gelang bagai sabuk tebal mengelilingi seluruh Keraton. Sampai ke alun-alun, prajurit siap siaga.

Itu tak terlalu merisaukan.

Yang menjadi pikirannya justru ketika Barisan Padatala bergerak bersama-an. Meluncur ke atas dan menyebabkan angin serangan berbeda arahnya. Resres, Wacak, Taletekan bergerak secara bersamaan, dengan gerak yang sama, akan tetapi hasil pukulannya berbeda satu dengan yang lainnya.

Sama-sama memukul ke depan, akan tetapi tenaga pukulan Resres, seperti namanya, mengapung, dan tenaga dalam Wacak menyentuh keras, sementara Taletekan mengisi sela-selanya.

Kedutan keras kain Upasara jadi terpatah-patah.

Tiga kali Upasara berusaha memapak serangan, hasilnya kainnya mulai menggelendong. Menjadi kaku di satu bagian, dan lembut di bagian lain.

Satu totolan keras, membuat Upasara melayang turun kembali.

“Bagus, Kakang….”

“Pemandangan yang bagus,” tambah Singanada memberi komentar.

Bukan hanya bagus dipandang.

Tapi juga mengagumkan.

Itulah yang terpikirkan oleh Halayudha yang lebih memusatkan perhatian kepada pertarungan Upasara daripada menggempur Gendhuk Tri-Singanada.

Karena justru di tengah jalan, Upasara memutar tubuhnya.

Mengedut ke atas.

Kainnya terbuka lebar, menggulung Barisan Padatala yang melayang turun.

Luar biasa hebat!

Di saat tubuhnya diganduli dua tubuh lain, yang satu putri jelita dan satunya manusia cebol hitam yang masih meluncur turun, Upasara bisa

membalikkan tubuh.

Menyerang tanpa mengganggu yang mengikuti.

Tenaga kedutannya begitu keras, sehingga Barisan Padatala mengeluarkan seruan yang tak bisa dimengerti. Tubuhnya tertahan di angkasa, sementara prajurit lain yang ikut menyergap terpental jauh.

Upasara sedikit heran.

Karena Barisan Padatala yang diduga memberi perlawanan keras ternyata bisa ditahan begitu saja. Bahkan menunjukkan kemampuan mereka bertiga tak terlalu istimewa dari segi pengaturan tenaga dalam.

Keistimewaan sebagai barisan hanyalah arah serangan yang berbeda-beda, dan berbeda-beda pula daya gempurnya.

Akan tetapi Upasara justru lebih waspada.

Kalau tokoh yang diunggulkan di barisan terdepan kemampuannya tak lebih istimewa seperti yang sekarang terlihat, pasti masih ada yang disembunyikan.

Itu yang perlu diwaspadai.

Maka Upasara bergerak cepat.

Lipatan setagen dirapatkan, sehingga Cebol Jinalaya dan Permaisuri Rajapatni seakan melengket di punggungnya.

Barisan Padatala turun dengan berjungkir-balik.

Saling menjaga.

Mengepung.

Gelang di kakinya mengeluarkan suara berdering.

“Pagebluk!”

Perintah Putra Mahkota membuat Halayudha mengerutkan keningnya. Bukan karena pagebluk berarti kematian serentak dan berturut-turut, akan tetapi dengan aba-aba seperti itu lawan sempat mempersiapkan diri.

Kalau jurus kunci yang merupakan jurus maut dikeluarkan pada babak-babak awal, masih bukan hal yang luar biasa. Akan tetapi kalau orang luar ikutan memberi perintah, padahal tidak cukup menguasai, akibatnya bisa mengurangi daya serang.

Apalagi yang dihadapi adalah ksatria lelananging jagat!

“Adik manis, awas…!”

Teriakan Upasara bagai guntur keras.

Tubuhnya tergulung bagai kitiran, bagai baling-baling yang pesat sekali.

Putaran Bumi

SlNGANADA mengeluarkan pujian kagum.

Akan tetapi segera merasakan tubuhnya sempoyongan. Hanya karena Gendhuk Tri mendampingi rapat, Singanada masih bisa bertahan. Akan tetapi perlahan pandangannya mengabur, kakinya lemas, dan kedua tangannya seperti melayang-layang.

Baginda menggaruk rambut kepalanya.

Sesuatu yang tak mungkin dilakukan di depan prajuritnya, di dekat abdinya.

Ada sesuatu yang tak bisa dimengerti.

Sejak tadi bisa mengkuti jalannya pertarungan, dengan jelas. Sejak Upasara seolah rajawali terbang yang dengan gagah turun dan naik, menyambar dan menyapu kiri-kanan sampai ketika mendadak tubuhnya bergulung.

Baginda boleh dikata mengetahui ilmu dasar Upasara Wulung, yang bisa bergulung. Ditambah dengan latihan tenaga dalam dan pemecahan dari Kitab Bumi, pastilah kemampuannya luar biasa.

Namun bahwa dengan menggulung diri, semua prajurit dan senopati di sekitarnya jadi ambruk bersamaan, itu di luar dugaan sama sekali.

Bahkan dalam jarak yang cukup jauh, Mahapatih Nambi pun jatuh!

Juga tubuh Halayudha, karena penggendongnya telungkup tak bangun lagi.

Barisan depan yang terdiri atas puluhan prajurit rebah ke tanah seketika!

Ilmu ajaib macam apa lagi yang dipamerkan Upasara?

Dari sekian banyak kidungan dalam Tumbal Bantala Parwa, boleh dikatakan hanya beberapa yang membuat Baginda seperti mengenali jurus-jurus baru, karena dasarnya cukup diketahui.

Jurus baru yang baru saja diperlihatkan Upasara adalah jurus Satebah Lemah, Sanyari Bumi, yang ternyata bisa mengecoh Halayudha.

Lalu gerakan yang baru saja dilakukan.

Dari sumbernya, Baginda bisa mengenali bahwa putaran tubuh Upasara adalah Putaran Bumi, atau dikenal dalam kidungan sebagai Putaran Dhomas Bumi. Yang mengambil kekuatan bumi, berputar seperti bumi dengan kecepatan delapan ratus kali, dhomas!

Itu memang luar biasa.

Delapan ratus kali lebih cepat.

Akan tetapi Baginda juga menyadari bahwa sebutan dalam kidungan atau dalam ilmu silat tidak berlaku mutlak. Sebutan dhomas tidaklah bisa diartikan sebagai apa adanya kata tersebut. Meskipun memang luar biasa.

Hanya saja, kalaupun demikian hebat, bagaimana mungkin puluhan prajuritnya, senopati yang paling kuat, termasuk Mahapatih Nambi, terpengaruh dan jatuh?

Ilmu setan yang paling ganas pun rasanya belum pernah seperti yang disaksikan sekarang ini.

Atau dirinya salah lihat?

Baginda merasa dirinya tercekam dengan kehebatan Upasara, sehingga jalan pikirannya terlalu mengagungkan setiap gerakan yang ada. Perasaan ini disadari ketika terdengar suara dingin Putra Mahkota.

“Perang telah selesai.”

Suara penuh kebanggaan.

Baginda menahan napas.

Putra Mahkota bersujud di kaki Baginda.

“Mohon ampun kalau jatuh korban begitu banyak. Hamba tak ingin lebih banyak lagi.”

“Apa yang terjadi?”

Putra Mahkota tersenyum bangga dalam hatinya ketika menyembah dan tetap menunduk.

“Para pendeta dari Syangka menggunakan bubuk pagebluk. Semacam racun dalam bubuk lembut. Siapa yang mengisap udara akan terpengaruh karenanya.

“Hamba telah melihat latihan mereka, Baginda.

“Hasilnya tak mengecewakan.

“Memang ketiga Barisan Padatala ikut tumbang, akan tetapi mereka telah meminum penangkal sebelumnya. Sehingga sebentar lagi akan siuman kembali.”

Apa yang dikatakan Putra Mahkota terjadi.

Dari puluhan orang yang rebah tak bergerak, nampak ketiga orang yang kakinya bergelang bangkit perlahan. Jalannya masih bergoyang-goyang akan tetapi sudah bisa berdiri.

“Yang lainnya tak tertolong.

“Mohon ampun, Baginda.”

Sejauh Baginda memandang, tak ada yang bergerak.

Benar luar biasa. Dalam jarak yang cukup jauh yang mengisap bubuk pagebluk seketika itu roboh dan tak bangun lagi. Bahkan tokoh yang cukup tangguh pun ikut terbantai.

Hanya Halayudha yang masih sepenuhnya sadar.

Namun ia tak bisa bergerak.

Karena kebekuan kakinya yang dimatikan sarafnya, belum bisa dipulihkan. Akan tetapi bisa menyaksikan bahwa yang berada di sekitarnya ambruk tak bergerak. Termasuk Gendhuk Tri dan Maha Singanada, yang baru saja tampil sebagai pasangan pendekar yang gagah perkasa.

Bubuk pagebluk, bubuk yang paling menjijikkan!

Halayudha yang mengaku sering merencanakan tipu muslihat yang paling busuk pun tak menyangka bahwa Putra Mahkota akan memerintahkan pemakaian bubuk pagebluk.

Karena menghancurkan sekian puluh prajurit utama.

Para senopati.

Termasuk dirinya dan Mahapatih Nambi.

Betul-betul kelewat ganas.

Untuk pertama kalinya Halayudha bergidik. Kalau semasa masih menjadi putra mahkota sudah begini kejam dan memerintahkan pembantaian, bisa dibayangkan apa yang terjadi di kelak kemudian hari.

Halayudha bergidik, justru karena ia yang memerintah menyusun Barisan Saharsa Bala. Seribu prajurit yang siap mati dalam pertarungan.

Namun itu masih ada alasannya.

Mati karena menyerang musuh. Atau diserang.

Bukan mati dikorbankan sebagaimana terkena bubuk pagebluk.

Sementara Halayudha masih tertegun dan terguncang, Putra Mahkota segera memerintah agar diadakan pembersihan.

“Singkirkan mayat-mayat.

“Bersihkan halaman Keraton seperti semula.

“Para perusuh kumpulkan jadi satu. Para prajurit yang gugur akan mendapat anugerah dariku.

“Cukup!”

Di akhir kalimatnya, terdengar bunyi genderang bertalu-talu dan trompet penghormatan dengan nada tinggi.

Halayudha tertunduk.

Makin jelas kini bahwa Putra Mahkota telah menyiapkan segala sesuatu dengan rinci. Termasuk upacara mengeluarkan sabda yang diakhiri dengan bunyi genderang dan terompet tanduk, yang biasanya hanya mengiringi raja.

Sempat terlintas dalam benak Halayudha, bahwa kini keadaannya pun bisa terancam. Bisa tiba-tiba terkena bubuk pagebluk atau yang sejenis dengan itu.

Dada Halayudha terasa sakit.

Sakit sekali.

Ia merasa dirinya tidak gentar dengan ilmu yang paling sakti. Ia maju dengan gagah menghadapi Upasara Wulung yang menyandang gelar ksatria lelananging jagat. Ia tak akan gentar menghadapi ilmu hitam atau ilmu sesat seperti yang terlihat pada diri Nyai Demang.

Tapi sungguh tak terbayangkan bahwa ia akan menghadapi bubuk pagebluk!

Sesuatu yang tak bisa dilawan dengan ilmu silat yang sakti sekalipun. Karena berbeda tata aturannya.

Halayudha merasa pedih.

Pedih sekali.

Ia merasa dirinya orang yang paling tidak berbudi. Mencelakakan gurunya. Menyiasati semua orang tanpa pandang bulu, tanpa peduli.

Tapi dalam batas-batas tertentu, ia tak mungkin menggunakan racun bubuk pemusnah seperti yang digunakan Barisan Padatala.

Di bawah kelicikan, tersembunyi kelicikan yang lebih keji.

Tiba-tiba saja membersit perasaan eman, perasaan sayang akan nasib yang dialami oleh Upasara. Bukan karena apa, tapi semata-mata pertimbangan seorang ksatria yang begitu gagah perkasa, yang begitu tinggi ilmu silatnya, ambruk karena bubuk racun.

Betapa sia-sia.

Betapa tak adilnya dunia.

Kalau gugatan itu lebih bergema pada diri Halayudha, sebenarnya bisa dimengerti. Kekerasan hatinya, keculasan siasatnya selama ini, diakui sendiri tak mengenal perikemanusiaan. Halayudha mengakui, dan menjadi lebih sadar ketika mempelajari Kidungan Para Raja.

Tapi peristiwa sekejap yang baru saja dilihat, lebih menampar kesadarannya. Merobek dan menjungkirbalikkan pengertian-pengertian tentang kelicikan dan ketelengasan.

Bibir Halayudha tergetar.

Sanggar Pamujan

BAGINDA meninggalkan tempat.

Tanpa memberi tanda pada para prajurit kawal pribadi. Atau para senopati. Meskipun demikian langkahnya tidak kelihatan tergesa.

Melewati bagian dalam Keraton, Baginda tidak menuju kamar peraduan. Meneruskan langkah ke sisi kiri ruang utama, melewati samping luar.

Kakinya menginjak kerikil-kerikil kecil yang ditata apik, sehingga menimbulkan suara kerisik berirama.

Para prajurit yang mengantar bersimpuh di kejauhan.

Baginda mencuci tangan, kaki, dan wajah dari air mancur kecil. Tanpa memperhatikan keadaan sekitar.

Sekilas wajahnya seperti tak mencerminkan apa-apa.

Sunyi.

Para prajurit tak ada yang berani mendongak atau melirik.

Mereka hanya mendengar langkah kaki yang sangat ringan, perlahan, mendaki tangga kayu.

Baginda sedang menuju sanggar pamujan.

Masuk ke dalam bangunan dari kayu yang dibuat sangat sederhana. Tanpa hiasan ukiran atau tanda-tanda kebesaran. Tak ada petunjuk sebagai tempat yang istimewa. Tak ada umbul-umbul, tak ada janur atau daun kelapa yang masih muda.

Tak ada apa-apa.

Selain bangunan sederhana.

Juga di dalamnya.

Baginda terus mendaki. Melewati 55 anak tangga, lalu masuk ke bagian luar bilik. Di sini semua pakaian kebesaran yang masih melekat dilepaskan. Baik sumping di telinga, gelang di pergelangan tangan, cincin permata, cunduk kepala, bahkan rambutnya dibiarkan tergerai.

Semua tanda kehormatan dan kebesaran dibiarkan tergeletak begitu saja.

Bahkan pakaiannya, kain kebesaran yang coraknya tak mungkin disamai oleh yang lain, dibiarkan tergeletak, nglumbruk di lantai kayu.

Baginda hanya mengenakan kerudung kain putih yang membalut sekenanya.

Memasuki bilik kecil sempit.

Dalam keadaan seperti ini, Baginda merasa dirinya manusia kecil yang menghadapi alam semesta yang besar. Menjadi manusia biasa yang telanjang, juga dalam artian sebenarnya.

Bersila, dengan tangan menyembah ke arah depan.

Memusatkan perhatian sepenuhnya.

Kalau kemudian membakar dupa, tangannya sendiri yang melakukan. Mengumpulkan dupa, menyalakan api, meniup agar dupa terbakar dan bau harum menyebar.

Sendiri.

Sendirian.

Berhadapan dengan Dewa Yang Mahakuasa, Baginda menempatkan diri sebagaimana umat yang lain. Tak ada perbedaan derajat atau pangkat, tak ada perbedaan warna darah. Tak ada perbedaan seorang raja yang bayangan tubuhnya mampu menentukan nasib seseorang.

Adalah suatu tradisi utama bagi para raja untuk bersemadi di sanggar pamujan, sanggar tempat memuja.

Yang bangunannya dibuat demikian sederhana. Dari kayu, seluruhnya, tanpa pernik-pernik. Tanpa dihias, tanpa penutup pintu yang istimewa.

Sanggar pamujan adalah tempat yang istimewa bagi kehidupan seorang raja. Karena begitu melangkah masuk ke dalamnya, ia menjadi manusia biasa, menanggalkan semua tanda yang membedakannya dari manusia yang lain.

Sendiri.

Sendirian.

Memusatkan perhatian sepenuhnya kepada suara-suara gaib, kepada suara hatinya yang bertanya, dan berusaha menangkap jawaban-jawaban. Baik berupa isyarat atau perlambang. Impian atau desir angin atau suara daun jatuh.

Para prajurit pengawal yang berada di kejauhan hanya bisa menunggu. Sambil melirik sesekali ke dupa yang asapnya meliuk dari dalam sanggar.

Jika asap itu lurus ke atas, tanda doa Baginda diterima.

Jika asapnya masih melenggok, tanda persembahan dan percakapan batin Baginda belum diterima.

Sederhana.

Baginda sendiri tidak mengetahui bagaimana keadaan asap di luar sanggar pamujan. Karena seluruh kemampuan lahir dan batin sedang dipusatkan kepada satu hal.

Kekuasaan yang lebih tinggi.

Dewa yang lebih menentukan.

Keinginan Baginda untuk masuk dan bersemadi di sanggar pamujan bukan muncul begitu saja. Sejak beberapa hari terakhir, ada semacam kegelisahan yang tak bisa diusir atau ditenggelamkan dalam perintah-perintah besar.

Sendiri.

Sendirian.

Baginda menghadapi dirinya. Menatap apa yang selama ini dilakukan, melihat dirinya sebagai raja yang memerintah, yang memutuskan segala persoalan.

Menatap kembali apa yang diputuskan.

Dan mempertanyakan.

Serta menunggu jawaban.

“Tunjukkan jalan yang seharusnya hamba tempuh, duh Dewa segala Dewa.

“Di mana salah di mana keliru.

“Di mana doa, di mana dusta.

“Hamba menunggu dawuh, menunggu perintah.”

Sunyi.

Sendiri.

Percakapan batin yang tak terdengar selain yang mengucapkan dan yang diajak bicara.

Pada saat-saat yang khusyuk seperti sekarang ini, kepakan sayap burung bisa menjadi pertanda. Angin, ujung daun, atau seekor cicak menjadi perlambang.

Baginda menunggu.

Bergeming.

Tak bergerak.

Bersila dengan kerudung kain putih.

Sesekali tangannya menaburkan dupa.

Sendiri.

Sanggar pamujan yang dibangun di tempat yang lebih tinggi, yang selalu kosong tanpa pernah ada yang menyentuh sejak selesai dibuat, memang diperuntukkan khusus bagi Baginda.

Kalau ada debu, Baginda yang membersihkan sendiri.

Kalau ada daun kering yang jatuh ke dalam, tangan Baginda sendiri yang membersihkan.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya percakapan batin.

Yang berlangsung dalam diam.

Sendiri.

Sendirian.

Pertanyaan dan jawaban hanya bisa didengarkan sendiri.

Pada saat semacam itu Baginda melupakan semua kebesaran dan keleluasaan yang dimiliki. Menyisihkan Keraton yang gemerlap, melupakan para permaisuri, para gundik, dan abdi, menanggalkan masalah tentang peperangan, para senopati, tentang Putra Mahkota, atau bahkan dirinya sendiri.

Di sanggar pamujan semua lepas.

Tanggal.

Di luar, para pengawal menunggu. Sampai kapan pun akan menunggu. Dengan menjaga sebaik mungkin, agar suasana sekitar sanggar pamujan ikut menjaga ketenangan.

Tak ada suara kaki berjalan.

Tak ada dengusan napas dalam jarak lima puluh tombak.

Bahkan semuanya, tanpa diperintah ikut bersemadi. Ikut membantu semadi Baginda. Juga di rumah kediaman para kerabat Keraton, para sentana. Baik di biliknya yang kosong, atau di tempat yang biasa digunakan untuk memuja.

Bagi para sentana dalem, kehadiran Baginda ke sanggar pamujan mempunyai nilai batin yang tinggi.

Sebelum memutuskan sesuatu yang penting, yang wigati, Baginda akan memasuki sanggar pamujan. Dan akan terus berada di dalamnya, sampai merasa mendapat jawaban.

Sunyi.

Sendiri.

Sendirian.

Hanya asap dupa yang menjadi pertanda dari kejauhan.

Selebihnya tak ada apa-apa.

Bangunan kayu yang mati, yang tak menentukan apa-apa, tapi menjadi begitu penting. Karena justru dari bangunan kayu sederhana ini ditentukan nasib kelanjutan bangunan-bangunan utama yang megah dalam Keraton.

Tiang-tiang yang sepemeluk tiga orang, seakan ditentukan dari lantai kayu di sanggar pamujan. Juga gerbang utama yang perlu delapan orang untuk membuka dan menutup. Juga takhta.

Semuanya.

Dari kesunyian.

Kesendirian.

Bersih Desa

SEMENTARA itu di halaman Keraton, terjadi pembersihan.

Semua korban yang terkena bubuk pagebluk dikumpulkan. Dirawat dengan percikan bunga tujuh rupa. Darah dicuci hingga meninggalkan bau harum, senjata dibersihkan dan disarungkan kembali.

Putra Mahkota Bagus Kala Gemet menyaksikan dari kejauhan, sebelum akhirnya masuk ke dalam.

Menemui Permaisuri Indreswari yang berada dalam kamar peraduannya.

Menyembah dengan hormat.

“Putramu lelaki sowan, Ibu….”

“Duduklah yang tenang, anakku.

“Baginda sedang berada di sanggar pamujan.”

Putra Mahkota menyembah dan mengangguk hormat.

“Semua berjalan sesuai dengan rencana.

“Berhati-hatilah, anakku. Kini saatnya dirimu memerintah. Tunjukkan bahwa dirimu pantas mengendalikan Keraton. Pantas duduk di singgasana.

“Semua keluarga prajurit yang menjadi korban, beri imbalan yang pantas. Beri hadiah yang menggembirakan.

“Rakyat kecil selalu mengharapkan.

“Kamu bisa memberikan tanpa pernah kehilangan apa-apa.”

“Sudah diperintahkan, Ibu.”

“Mulai sekarang ini juga, kamu harus tampil.

“Kejadian di halaman Keraton harus menjadi titik tolak. Seumpama kata ini bersih desa, pembersihan segala benalu dan penghalang. Mencabut semua rumput dan tumbuhan yang mengganggu.

“Di saat Baginda berada di sanggar pamujan, kamu melanjutkan tata pemerintahan.

“Jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini.

“Jalan sudah rata di depanmu.

“Restu Ibu akan selalu menyertaimu.

“Ibu hanya bisa berdoa memohon Dewa Yang Maha Mengetahui.”

Putra Mahkota menghaturkan sembah.

“Yang sudah tunduk, tak boleh mendongak lagi.

“Pada saat kecemasan sedang mengembang, siapa yang berdiri paling tegak yang didengarkan.

“Sekarang ini, Mahapatih Nambi pun tak mempunyai kekuatan batin apa-apa. Halayudha juga tidak. Para sentana tak akan melihat Rajapatni sebagai putri utama.

“Anakku, jalan begitu rata.

“Kakimu tak akan tersandung lagi.”

Putra Mahkota menyembah dan berjalan jongkok ketika keluar dari kamar peraduan.

Merasa bahwa segalanya telah berada dalam genggaman kekuasaan tangannya.

Hanya saja hatinya sedikit tergetar ketika Wacak memberikan laporan yang mengejutkan.

“Tak ada mayatnya?”

“Sampai sekarang belum ditemukan, Baginda Muda.”

“Cari sampai ketemu!

“Bongkar semua tanah!”

Ini termasuk mengherankan. Dari sekian banyak prajurit yang meninggal atau terpengaruh bubuk pagebluk, ternyata tak ditemukan mayat Upasara Wulung. Juga Permaisuri Rajapatni. Yang jelas ditemukan dalam keadaan hancur adalah Cebol Jinalaya.

Sementara Gendhuk Tri dan Maha Singanada bisa ditawan.

Satu demi satu dari puluhan mayat diperiksa. Sebagian sudah hancur tubuhnya karena hujan senjata, sebagian masih dikenali. Akan tetapi, sepertinya tetap tak ada mayat yang bisa diduga sebagai Upasara atau Permaisuri Rajapatni.

“Rahasiakan hal ini.

“Usahakan menemukan mayatnya sampai dapat.”

Keheranan dan pertanyaan juga terbersit dalam diri Resres. Mereka bertiga boleh dikatakan melepaskan bubuk beracun secara bersamaan. Hanya karena telah menelan obat penangkal, mereka bertiga tidak ambruk untuk selamanya.

Hanya sementara.

Maka akan sangat mengherankan sekali kalau Upasara Wulung bisa lolos.

Selama ini, belum pernah ada yang bisa luput dari serbuan bubuk beracun. Apalagi dalam pertarungan jarak pendek, di mana angin berkesiuran sehingga bubuk menyebar ke segala jurusan.

Ketiga pendeta Syangka yang khusus datang untuk memperlihatkan ramuan bubuk beracun, tak akan percaya kalau ada yang kebal.

Mereka yang menciptakan pun tak bisa sepenuhnya bebas dari pengaruh.

Bagaimana mungkin manusia yang menghirup udara bisa terbebas?

Sedikit sekali yang mengetahui bahwa Upasara dan Permaisuri Rajapatni tak ditemukan mayatnya. Dalam pengumuman resmi Keraton, dinyatakan bahwa semua pemberontak telah berhasil diamankan.

Halayudha mengendus ada sesuatu yang tak beres.

Namun tak bisa merasa yakin.

Apakah Upasara bisa lolos ataukah sekarang ini tertawan. Ia tak bisa bergerak secara leluasa. Karena kakinya tak bisa bergerak, dan sekarang seluruh keamanan Keraton di bawah pengawasan Barisan Padatala.

Perhitungan Halayudha lebih kepada ilmu silat Upasara Wulung.

Dalam tingkatnya sekarang ini, Upasara telah menguasai Kitab Bumi secara sempurna. Bahkan telah mampu mengembangkan secara luar biasa. Jurus Sanyari Bumi atau Sejari Bumi menjadi sangat luar biasa.

Ditambah dengan jurus terakhir yang dimainkan, di mana tubuhnya bergerak sangat cepat, lebih cepat dari putaran bumi, membuktikan kelebihan yang luar biasa.

Bukan tidak mungkin Upasara lolos dari kepungan.

Bersama Permaisuri Rajapatni.

Kalau Cebol Jinalaya tak bisa ikut lenyap, karena dua kemungkinan. Tidak memegang setagen secara baik. Atau… secara sengaja melepaskan diri.

Selama ini Cebol Jinalaya selalu mencari jalan kematian yang terbaik. Agar bisa sowan dan melayani roh Sri Baginda Raja di alam abadi.

Sekarang, menurut perhitungan Halayudha, ke arah mana Upasara meloloskan diri?

Dalam kemelut yang terjadi, segalanya serba samar.

Akan tetapi Halayudha berada di medan pertarungan. Bahkan bisa melihat lebih jelas karena posisi tubuhnya lebih tinggi dari yang lain. Di samping itu, ia sengaja lebih memperhatikan pertarungan Upasara, dibandingkan menggempur Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

Masih terbayang di saat terakhir, ketika Putra Mahkota memerintahkan penyebaran bubuk pagebluk.

Ketika itu ada bubuk yang menyebar. Dan seketika semuanya menjadi lunglai.

Roboh.

Tetapi Upasara, beberapa kejap sebelumnya telah menggulung diri.

Bisa jadi tidak terpengaruh langsung.

Masalahnya kalau kemudian bisa lolos, ke arah mana?

Halayudha mendesis.

Terseret jalan pikirannya.

Kalau Upasara meleset ke luar, agak tidak mungkin tidak diketahui prajurit yang lain. Saat itu seluruh Keraton sampai alun-alun penuh dengan prajurit yang bersiaga. Bahkan ia sendiri yang memerintahkan untuk mengatur strategi begitu. Dengan harapan Upasara tidak bisa meloloskan diri ke luar.

Berarti kemungkinan utama ialah masuk ke dalam Keraton.

Dengan kata lain, sekarang ini masih berada dalam Keraton.

Berada di salah satu bagian Keraton.

Ini menarik.

Karena menegangkan.

Dengan berada di dalam Keraton, masalahnya bukan hanya belum selesai, akan tetapi justru seperti baru mulai.

Kalau berada di dalam Keraton, kira-kira bersembunyi di mana?

Tak terlalu sulit bagi Halayudha untuk menebak.

Mereka berdua akan memilih kaputren. Atau lebih tepatnya di mana Tunggadewi dan Rajadewi berada.

Tak ada tempat lain yang ingin dilindungi oleh Upasara maupun Permaisuri Rajapatni selain dua putrinya.

Halayudha berusaha mencari sisik melik, mencari kabar dari kaputren. Akan tetapi tanpa hasil. Tak ada kesan bahwa Upasara berada di sekitar. Lagi pula tempat itu dijaga sangat ketat.

Ataukah Upasara sedang terluka parah?

Tak berbeda dari Gendhuk Tri dan Maha Singanada yang terkena pengaruh bubuk beracun?

Kalaupun begitu, di mana kira-kira Upasara menyembunyikan diri?

Bagi Halayudha hal ini jauh lebih menarik ditelusuri.

Keberadaan Upasara.

Mendadak Halayudha menggerung keras.

Hanya ada satu tempat di mana Upasara bisa bersembunyi tanpa diketahui, tanpa diusik oleh siapa pun.

Yaitu di sanggar pamujan!

Pustaka Asmara

PERHTTUNGAN-PERHITUNGAN Halayudha tak meleset sedikit pun.

Kecuali perhitungan yang terakhir.

Sejak Barisan Padatala muncul, Upasara bersiaga penuh. Kewaspadaannya berlipat.

Sebelum perintah Putra Mahkota untuk menyebarkan bubuk pagebluk, Upasara telah menggulung diri dalam Putaran bumi. Sehingga praktis seluruh tubuhnya tertutup dari kemungkinan serangan dalam bentuk apa pun.

Akan tetapi dengan demikian, Upasara terpaksa melepaskan kain dan bajunya.

Hanya saja sewaktu merapatkan tubuh Permaisuri Rajapatni dan Cebol Jinalaya, yang terakhir ini menatap Upasara.

“Terima kasih, Ksatria….”

Ucapan itu tak selesai.

Cebol Jinalaya melepaskan pegangannya.

Seperti yang diperhitungkan Halayudha.

Sebenarnya bagi Upasara masih ada kesempatan untuk menyentakkan tenaga lewat setagen. Sehingga tubuh Cebol Jinalaya masuk ke dalam rangkulan. Lengket dengan tubuhnya. Itu yang akan dilakukan.

Ia sama sekali tidak mengenal si cebol hitam yang nampak aneh. Akan tetapi mengingat persahabatan yang begitu dekat dengan Gendhuk Tri dan melihat kegagahannya sewaktu menghadapi masa-masa kritis, hati Upasara tersentuh.

Kegagahan yang hanya dimiliki ksatria.

Akan tetapi sorot mata Cebol Jinalaya yang berharap dan berterima kasih sesaat melepaskan pegangan, menyebabkan Upasara ragu dengan niatnya.

Semuanya berjalan sangat cepat.

Kelewat cepat.

Sebab tenaga Putaran Bumi adalah tenaga dhomas yang mampu melipat ganda sebanyak delapan ratus kali. Sehingga sebelum mata berkejap, tubuh Upasara sudah bergulung.

Bagai angin beliung melesat.

Perhitungan Halayudha bahwa Upasara tidak menuju ke bagian luar Keraton sejalan dengan jalan pikiran Upasara. Sewaktu meloncat ke atap Keraton, Upasara melihat bahwa lautan prajurit menyemut rapat sampai ke alun-alun.

Sehingga tak mungkin menerobos tanpa meninggalkan korban yang banyak sekali.

Detik itu Upasara melesat ke arah dalam.

Di tengah hiruk-pikuk dan tebaran bubuk, tubuhnya yang melesat dengan kecepatan tinggi memang tak bisa diikuti dengan pandangan mata biasa.

Maka sebelum semua yang mengepung sadar, Upasara sudah melewati dinding bagian dalam, melesat terus.

Perhitungan Halayudha yang keliru hanya di bagian akhir.

Upasara tidak menuju ke sanggar pamujan. Melainkan ke ruang pustaka raja. Tempat yang sama sunyinya, sama tak mungkin didatangi orang lain kecuali Baginda.

Bahkan penjaga yang termangu di depan pintu tertutup tak menyadari bahwa Upasara menerobos masuk dengan berputar. Menyebabkan pintu terbuka lebar dan kemudian tertutup kembali.

Sampai di dalam, Upasara mengembalikan tenaga Putaran Bumi menjadi sediakala.

Tubuhnya berhenti berputar.

Berdiri gagah di antara kitab-kitab yang diasapi dengan dupa.

Upasara mencari tempat di sudut, di mana Baginda biasa duduk sambil membaca, atau menuliskan sesuatu.

Tubuh Permaisuri Rajapatni dibaringkan perlahan.

Tak bergerak.

Cepat Upasara memeriksa nadinya.

Giginya gemeretak karena detak jantung dan jalan darah Permaisuri Rajapatni tak menentu.

“Yayi…”

Suara Upasara benar-benar sarat dengan kecemasan.

Ksatria gagah yang sanggup melayang bagai rajawali sakti, mengaum bagai singa, mendadak berubah seperti orang bingung.

Tangan Permaisuri Rajapatni diurut.

Pundaknya disentuh.

Juga diperiksa nadi di bagian punggung.

“Yayi…”

Senyum Permaisuri Rajapatni terkembang.

“Kakang…”

“Yayi tak apa-apa?”

“Apakah kita telah sampai ke surga, Kakang?”

Upasara menghela napas.

Dadanya seakan mau meledak.

Dirasakan ketololannya karena menguatirkan detak nadi Permaisuri Rajapatni yang tak menentu. Padahal bukan karena apa. Ketidakaturan detak itu sama dengan yang dialaminya.

Sekarang ini.

Berada dalam ruang yang sunyi.

Berdua.

Dan Upasara merangkul, dengan dada terbuka.

Upasara memalingkan wajah ke arah lain.

“Kenapa, Kakang?”

“Tak apa, Yayi?”

“Kakang malu?

“Apakah di surga masih perlu sungkan?”

Upasara menggeleng lemah. Meletakkan kepala Permaisuri Rajapatni ke kayu kecil sebagai bantalan.

“Kita berada dalam ruang pustaka Raja. Bukan di surga.

“Kita masih hidup, Yayi….”

Sekilas justru Permaisuri Rajapatni tampak kecewa.

“Kenapa, Yayi?”

Senopati Pamungkas II – 8

“Alangkah bahagianya, damainya, agungnya, jika inilah akhir segalanya.

Di surga kita bisa bersama-sama.

“Apa yang terjadi, Kakang?”

“Tiga pendeta dari Syangka menebarkan bubuk racun yang sangat berbahaya. Aku segera meninggalkan gelanggang. Membawa Yayi….”

“Gendhuk Tri?”

Upasara menggeleng.

“Bisa kutengok sebentar lagi.”

Permaisuri Rajapatni menggenggam tangan Upasara.

“Tinggallah di tempat ini agak sekejap.

“Kepada Kakang aku tak ragu-ragu, tak sungkan-sungkan. Dewa telah mempertemukan kita. Aku keliru kalau masih malu-malu kepada Kakang.

“Kakang, kenapa tanganmu dingin?

“Kakang terkena racun?”

Upasara menggeleng.

“Tidak, Yayi.”

“Tanganmu dingin sekali, Kakang.”

“Tangan Yayi juga sama dinginnya.”

Permaisuri Rajapatni bangun perlahan. Punggungnya menyandar di

dinding. Bersila.

Upasara tepekur di dekatnya.

“Pandanglah aku, Kakang!

“Pandanglah aku dan katakan bahwa Kakang juga kangen padaku.”

Upasara tak bergerak.

Melirik pun tak berani.

“Sejak ada guritan di dinding Keraton, sejak sanjak itu terbaca, aku yakin sekali Kakang merindukanku. Kangen padaku. Seperti yang kurasakan selalu.

“Meskipun Kakang tak pernah mengucapkan….”

“Yayi…”

“Aku tahu.

“Aku tahu apa yang akan Kakang katakan. Di luar masih ada pertarungan, masih banyak korban. Masih ada yang harus diselesaikan. Masih banyak tugas menunggu.

“Aku tahu, Kakang.

“Aku tahu panggilan seorang ksatria.

“Tetapi tidakkah kita mempunyai waktu, sejenak sekalipun, untuk diri kita sendiri? Berapa puluh tahun kita saling memendam kangen, saling mengalahkan keinginan sendiri, saling sungkan, dan saling tak mau mengganggu?

“Sejak semula aku memberanikan diri. Melangkah dengan langkah lebar. Mendatangi Kakang.

“Sejak ke Keraton Singasari yang dulu, aku sudah mengisyaratkan menerima Kakang. Tetapi Kakang tak mau menerima uluran tangan. Juga sewaktu aku datang ke Perguruan Awan sebagai utusan Baginda.

“Kakang sama sekali tak mau menemuiku.

“Sekarang Kakang datang. Menjemput dengan gagah. Sebagaimana sikap lelaki.

“Apakah harus ditinggal pergi begitu saja?

“Apa yang sebenarnya Kakang cari?”

Dada Upasara panas.

Kalimat yang tenang, lembut, itu bagai membanting tubuhnya berkeping-keping.

“Apa yang Kakang cari?”

Upasara menunduk.

Memegang tangan Permaisuri Rajapatni dengan gemetar.

Mencium lembut.

Kidungan Asmara Sejati

ANGIN tak bergerak.

Tak ada bau dupa.

Tak ada siapa-siapa.

Selain dengus napas tertahan.

Rintihan kerinduan.

Pertemuan rasa kangen yang panjang tak bertepi. Gulungan ombak dari tengah lautan bergolak yang akhirnya mencium pantai berlumut.

Permaisuri Rajapatni membiarkan tangannya tersentuh bibir hangat Upasara. Hangat oleh bibir dan air mata.

“Kakang menangis?”

Upasara menggeleng.

Air matanya makin membasah.

“Menangislah, Kakang!

“Aku pun akan menguras air mata,  andai masih ada yang tersisa. Menangislah, Kakang, untuk pertemuan ini!”

Dua tangan Permaisuri Rajapatni mengelus lembut. Mengelap air mata Upasara.

“Tak ada permaisuri. Tak ada putri Sri Baginda Raja.

“Yang ada di sini adalah Gayatri. Gayatri Kakang.”

Upasara mengangguk-angguk.

“Katakanlah sesuatu, Kakang….”

Upasara menatap Permaisuri Rajapatni.

“Yayi masih Gayatri yang pernah menjadi milik Kakang.

“Hanya milik Kakang seorang.

“Kakang percaya?”

Mata Upasara memandang tak berkedip.

“Lihatlah, Kakang!

“Rabalah! Peganglah! Temukan hati Gayatri yang kosong, yang telah diberikan kepada Kakang.

“Kakang akan bisa merasakan semua.

“Membuktikan semua perasaanku.”

“Aku percaya, Yayi.”

Permaisuri menghela napas.

Berat.

Dalam.

“Aku bertanya-tanya, sejak perpisahan kita.

“Apa yang sebenarnya Kakang cari? Pertarungan demi pertarungan, ilmu demi ilmu, jurus demi jurus, sehingga Kakang seperti jatuh-bangun. Seperti mengisi kekosongan yang tak bisa diisi.

“Hatiku sedih.

“Kenapa Kakang tidak mau menyadari apa yang sebenarnya Kakang cari? Kenapa Kakang tak mau melihat, menatap, dan merenggut apa yang ada di hadapan Kakang sekarang ini?”

Upasara mendongak ke atas.

Wajahnya mengeras.

“Yayi…

“Kakang mau menyadari sekarang ini. Menghimpun tenaga dalam, memusnahkan, membiarkan keracunan, mempelajari lagi, sungsang-sumbel mencari mati, karena jiwa yang kosong.

“Karena Kakang…”

“…kesepian.”

“Barangkali, Yayi.”

“Seperti yang kurasakan sepenuhnya, Kakang.

“Karena aku masih selalu menunggu Kakang.

“Karena Dewa menunjukku memberi keturunan yang kelak akan menjadi raja terbesar di tanah Jawa yang belum pernah ada, aku jalani kewajibanku.

“Tapi jiwaku bersama Kakang.

“Bahkan aku berdoa siang dan malam, agar Kakang segera datang menjemput. Mengambilku. Karena tugas muliaku sudah selesai.

“Tapi Kakang tak pernah datang.

“Sampai anak-anak besar.

“Kakang… katakan terus terang, apakah aku tak pantas menyanding Kakang?”

Upasara menggeleng cepat.

“Kakang tak pernah mempunyai bayangan itu.”

“Kakang masih mau menerima pengabdian Yayi-mu ini?”

Genggaman tangan Upasara mengeras.

Menggenggam kencang.

“Aneh sekali….” Permaisuri Rajapatni memandang Upasara lekat sekali. Seakan menghitung bulu alis dan bulu hidung satu demi satu secara perlahan.

“Aneh sekali.

“Kamu sama sekali tidak tampan, Kakang. Tidak bogus. Tidak gagah. Tak bisa disandingkan dengan Baginda, bahkan dengan kukunya yang terawat sempurna.

“Rambut Kakang kasar sekali…”

Upasara merasakan getaran tangan Permaisuri Rajapatni di rambutnya yang membuat tergetar.

Membuat kulitnya merinding.

Peka.

“Hidungmu bagai arca bersila…

“Ah, Pak Toikromo pun menyesal mengambil menantu.”

“Yayi tahu tentang Pak Toikromo?” Cepat-cepat Upasara mengalihkan pembicaraan.

“Aku tahu semua yang terjadi dengan Kakang.”

“Semua?

“Juga pernikahan Kakang dengan Ratu Ayu Bawah Langit?”

Upasara menjilat bibirnya yang mendadak kering.

“Aneh.

“Kenapa aku bisa kangen pada Kakang?

“Kenapa aku merindukan Kakang?

“Jampi apa yang Kakang pakai?”

Wajah Upasara nampak lugu ketika menjawab bahwa ia tidak memakai jampi apa-apa, dan tak mengetahui hal semacam itu.

Permaisuri Rajapatni tersenyum lebar.

“Aku tahu soal itu, Kakang.

“Kakang… Kakang!

“Jagat Dewa Batara, siapa yang dulu menciptakan daya asmara itu?

“Alangkah indahnya. Alangkah agungnya.”

“Yayi…”

Tangan Permaisuri Rajapatni menutup bibir Upasara. Jemarinya menelusuri dari sudut ke sudut.

“Bibirmu sangat lebar, Kakang….

“Jangan bicara yang lain. Jangan singgung Ratu Ayu Azeri Baijani, jangan singgung Baginda, atau membicarakan Tunggadewi.

“Atau apa saja.

“Kita bicara mengenai diri kita. Ruangan ini menjadi pustaka asmara, kidungan kerinduan yang akan terus menggeletar sepanjang jagat masih berputar.

“Bibirmu lebar.

“Tetapi aku mengagumi.

“Aku merindukan.”

Upasara menangkap tangan Permaisuri Rajapatni.

“Kenapa?

“Kakang tidak suka?”

Upasara menggeleng.

“Kakang malu?”

“Mungkin.”

Tangan yang lembut itu mencowel pipi.

“Kakang tak perlu malu.

“Inilah perasaan yang sesungguhnya.

“Tak ada siapa-siapa di sini. Dewa pun menyingkir memberi kesempatan kepada kita berdua. Jagat berhenti berputar sekarang ini.

“Katakan apa yang ingin Kakang katakan!

“Teriakkan apa yang ingin Kakang teriakkan!

“Cekik leherku kalau Kakang menganggap jijik! Tampar bibirku kalau Kakang anggap lancang!

“Rangkul tubuhku kalau Kakang mau!

“Jagat Dewa Batara, kenapa Kakang malah terdiam?”

Upasara menutup matanya.

Kepalanya menggeleng berkali-kali.

“Yayi…”

Tak ada jawaban.

Hanya sorot mata saling pandang.

“Yayi…”

Dagu Permaisuri Rajapatni bergerak turun sedikit.

Mengangguk.

Menyilakan Upasara meneruskan kalimatnya.

“Apakah yang kita lakukan ini benar?”

“Maksud Kakang…?”

“Kita berdua di sini.

“Yayi adalah permaisuri Keraton. Aku sendiri…”

“Benar atau tidak, apa bedanya?

“Kita saling menyimpan kerinduan. Kita saling menginginkan, mengharapkan, mendoakan pertemuan ini.

“Kakang takut berdosa?”

“Mungkin tidak.

“Tapi apakah kita tidak berdosa berada berdua di sini?”

Permaisuri Rajapatni menarik tangannya.

Duduk tepekur.

Sejenak.

“Apa Kakang menghendaki saya pergi dari ruang ini?”

Guritan Katresnan

UPASARA terperangah.

Ia tak menduga bahwa Permaisuri Rajapatni benar-benar berniat melangkah ke luar.

“Yayi akan keluar?”

“Kalau Kakang tidak menghendaki ditemani.”

“Tidak.”

Kaki Permaisuri Rajapatni turun ke lantai.

“Yayi Gayatri, maksudku, maksudku jangan pergi….”

Sehabis mengucapkan “Yayi Gayatri”, wajah Upasara bersemu merah.

Diam-diam Gayatri geli sendiri.

Upasara yang ditemui sekarang ini sama sekali tak ada bedanya dengan belasan tahun yang lalu. Ketika masih muda. Mudah kikuk, tak menentu geraknya, canggung dan serbasalah.

Gayatri tahu, jika ia menanyakan kenapa Upasara memanggil dengan sebutan Yayi Gayatri, Upasara akan merasa salah dan minta maaf.

Dan serba keliru lagi sikapnya.

“Kenapa Kakang memikirkan dosa?”

“Entahlah, Yayi.”

“Kakang tidak merasa bahagia sekarang ini?”

“Bahagia sekali.

“Tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Tapi kenapa kita bisa bersama-sama? Kenapa kita dibebani pertanyaan dan rasa bersalah?”

Suara Upasara terdengar mengharukan di telinga Gayatri.

“Kakang, marilah kita mensyukuri pertemuan ini.

“Tanpa beban pikiran yang merisaukan.

“Bagaimana kalau Kakang menuliskan guritan….”

Kepala Upasara tertarik ke belakang karena herannya.

Seumur-umur rasanya Upasara tak pernah menuliskan sanjak.

Kecuali…

“Seperti yang terukir di dinding Keraton itu.”

“Apa itu bisa disebut guritan?”

“Kenapa tidak?”

“Kakang asal mencoret saja. Tidak tahu bagaimana tata aturannya yang benar.

“Yayi yang pintar tata aksara.

“Jangan membuat Kakang sungkan. Kalau sekarang Yayi minta Kakang maju ke medan pertarungan, Kakang akan berangkat. Tapi menulis guritan…”

“Tuliskan, Kakang!

“Apa Kakang menolak satu-satunya permintaanku?”

Upasara memandang kiri-kanan. Ke arah susunan kitab-kitab pusaka.

“Di sini banyak kidungan yang luhur dan apik.

“Kita ambil salah satu pasti sudah bagus sekali. Diciptakan para empu yang sakti.”

“Aku menginginkan ciptaan Kakang.

“Untuk diriku.”

“Baik.

“Kapan-kapan, Yayi.”

“Sekarang.”

“Sekarang?”

“Sekarang.

“Kapan lagi?”

Upasara menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.

“Kakang Upasara Wulung.

“Selama menunggu Kakang, aku belajar menanak nasi, belajar membuat sajian makanan. Aku mencoba mengerti bagaimana menanam padi satu per satu, menanam bunga, memelihara ayam, ikan.

“Aku selalu membayangkan suatu ketika nanti kita akan hidup bersama-sama. Kakang pergi ke sawah, dan aku membantu sedikit-sedikit, lalu memasak buat Kakang.

“Di tengah malam, saat gerimis atau panas, saat ada rembulan atau gelap, Kakang bercerita tentang sawah, burung, dan menuliskan guritan katresnan.

“Hanya sesekali bercerita tentang ilmu silat.

“Kalau kebetulan ada penjahat.

“Kakang menuliskan dan menembangkan keras-keras sehingga anak-anak kita terbangun, menertawakan ayahnya yang tersipu-sipu membacakan sanjak cinta.”

Mata Upasara berkejap-kejap.

Kata demi kata diucapkan Gayatri seperti hidup.

Membayang jelas. Di suatu desa, mirip desa yang didiami Pak Toikromo, dirinya berkeringat, dan Gayatri membuatkan sambal serta menyiapkan

nasi.

Mungkin ada ayam, tikus, burung yang lewat.

Tapi bayangan itu pupus tatkala teringat mengenai guritan katresnan.

“Kakang tahu berapa jumlah anak kita?”

“Tidak.”

“Tebak.”

“Berapa?”

“Kakang yang menebak.”

“Tujuh.”

“Kenapa tujuh?”

“Mana aku tahu, Yayi.

“Aku hanya menebak.”

“Salah.”

“Tadinya aku mau menebak delapan.”

“Salah.”

“Yang benar berapa?”

“Satu.”

“Kenapa satu?”

“Satu sudah cukup.

“Karena begitu lahir perangainya seperti Kakang. Mudah kikuk. Tak bisa mengutarakan perasaannya.”

Upasara tertawa lebar.

“Dan suatu hari ketika kita sudah tua, kita saling bercerita.

“Bahwa Kakang sebenarnya paling suka kerak nasi.”

Upasara memandang heran.

“Begini ceritanya.

“Kakang mau mendengarkan?

“Ketika kita hidup di desa, aku yang menanak nasi. Karena tak becus menanak nasi, jadi yang tersisa lebih banyak kerak nasi. Karena takut mengecewakan Kakang, kerak nasi itu aku buang setiap kali.

“Yang selalu kuhidangkan adalah nasi putih yang bagus.

“Begitu selalu setiap kali, sampai kita tua.

“Baru saat itu, kita saling mengetahui bahwa Kakang sebenarnya suka kerak nasi.

“Hanya karena kita saling coba memperhatikan, kita jadi kehilangan kesempatan yang baik. Karena Kakang terlalu sungkan mengatakan apa yang sebenarnya Kakang inginkan.”

Upasara tersenyum lebar. “Sekarang Kakang ganti cerita.”

“Aku tak punya cerita.”

“Aku juga mendengarkan para emban yang menanak nasi.”

“Lain kali aku akan mendengarkan.”

“Kalau begitu buatkan guritan katresnan?

Upasara menunduk.

Jarinya tergetar.

Bangku kayu yang dipakai duduk tergetar, karena jari-jari Upasara menoreh tajam.

Gayatri menunggu.

Guritan katresnan ini

bukan ditulis tangan tapi dengan hati

guritan katresnan ini

hanya bisa dibaca

oleh rasa

Dewa keliru

ketika memisahkan

kita keliru

ketika menggambarkan

Yayi, inilah guritan katresnan

dari Kakang yang menyukai kerak nasi

Yayi, inilah kerinduan bumi…

Upasara menggelengkan kepalanya.

“Rasanya malah tak bisa, Yayi.”

Wajah Gayatri berubah.

“Yayi tak suka?”

Jawabannya hanya helaan napas.

“Kalau begitu Kakang hapus saja.”

Gayatri mengangguk.

“Hapus saja.

“Nadanya begitu sedih, begitu pasrah.”

Dengan sekali menggerakkan tangan, cukilan huruf lenyap seketika.

Angin Palguna

GAYATRI terisak.

“Kenapa, Yayi?”

“Tak apa-apa, Kakang.

“Tapi kenapa guritan Kakang begitu menyedihkan?”

“Aku malah tak mengerti.

“Sudahlah, Yayi, aku memang tak bisa. Tak becus.”

Keduanya terdiam.

Bungkam.

“Kakang, bagaimana kalau Kakang bercerita tentang istri Kakang? Ratu Ayu Azeri Baijani?”

“Kakang tak tahu harus bercerita bagaimana….”

“Di mana ia berada?”

“Kakang juga tidak tahu.”

“Kakang mencintainya?”

Upasara memandang tajam ke arah Gayatri.

Lalu mengangguk.

“Rasanya iya.

“Aku mengawininya.”

“Syukur kepada Dewa.

“Kakang harus menyayanginya.”

“Ya, aku akan mencarinya.

“Pasti terjadi sesuatu yang besar sehingga ia tidak muncul lagi.”

“Gendhuk Tri?”

Upasara tak segera menangkap maksud Gayatri.

“Bagaimana dengan Gendhuk Tri?”

“Ia baik-baik saja.

“Barangkali tertawan, atau… ah, rasanya tak mungkin terkena racun bubuk hingga meninggal.”

“Kekasihnya mirip Kakang.”

“Ya.

“Tapi lebih gagah.”

“Tahukah Kakang, bahwa Gendhuk Tri mencintai Kakang?”

Upasara menggeleng.

“Kalau tidak, ia tak akan memilih Singanada yang mirip Kakang.”

“Aku tak mengerti.”

“Nyai Demang?”

“Kasihan, ia menjadi korban Eyang Berune….”

“Bukan itu.

“Aku menanyakan perasaan Kakang pada Nyai Demang.”

Upasara tak menjawab.

“Kakang pernah merasakan daya asmara Nyai Demang?”

Upasara mengangguk.

“Siapa lagi wanita yang Kakang kenal?”

“Kenapa Yayi bertanya yang aneh-aneh?”

“Ini bukan Palguna….”

Upasara mengerti bahwa Palguna adalah bulan hitungan kedelapan. Seperti setiap bulan ada sebutannya sendiri. Akan tetapi tak bisa menangkap maksud Gayatri.

“Pada bulan Palguna, angin meniupkan getaran asmara.

“Sehingga banyak perbuatan yang aneh, janggal, lucu, mengecutkan hati tapi menggetarkan, bisa terjadi.”

“Yayi percaya hal itu?”

“Bintang pun menemukan jodohnya pada Palguna.”

“Yayi percaya hal itu?”

“Sejak kecil aku diajari mempercayai hal-hal semacam itu. Alam telah memberi firasat jauh sebelum kita lahir….” Di ujung kalimatnya, suara Gayatri menjadi sember.

“Itulah nasib yang dituliskan Dewa.

“Nasib kita, Kakang.

“Nasibku. Nasib Kakang.

“Para pendeta menemukan ramalan, menemukan firasat dari alam bahwa dari kandunganku akan lahir seorang raja terbesar yang belum ada di tanah Jawa.

“Bukankah itu nasib, Kakang?

“Bukankah setelah melahirkan anak-anak pun Kakang tak mau datang?

“Apakah dengan begitu, aku tak mempercayai nasib?”

Upasara mengangguk.

Tangannya menggenggam tangan Gayatri dengan berani.

“Kakang juga percaya, Yayi.

“Percaya bahwa Dewa itu Maha welas Asih. Maha asmara.

“Kalau tidak, kita tak akan dipertemukan. Kalau tidak, hati kita tak tergetar oleh daya asmara.

“Begitu banyak ksatria, begitu banyak pangeran yang menghendaki Yayi. Yang mulutnya tidak lebar, yang rambutnya tidak kasar….”

“Kakang…”

“Tapi bukankah Yayi memilih Kakang?

“Bukankah itu nasib Kakang yang baik?”

“Tapi bukan akhir yang bahagia?”

Upasara termenung.

Matanya menerawang jauh.

“Apa iya, Yayi?

“Aku ragu.

“Pertemuan seperti sekarang ini pun tak terbayangkan sebelumnya. Kalau Dewa Mahaasih mengetahui, mendengar suara hati dan keinginan kita, apa mungkin kita tidak dipersatukan?”

“Nyatanya tidak.”

Upasara menggeleng.

“Kakang, kenapa Kakang begitu baik?

“Kenapa nasib yang mengenaskan begini malah Kakang syukuri? Kenapa Kakang menuliskan guritan yang menyedihkan sebagai tanda katresnan?’

Tak ada jawaban.

Sejak tadi Upasara hanya bisa mengangguk, menggeleng, dan tidak menjawab.

“Kenapa Kakang tidak mengubah nasib yang digariskan Dewa?

“Kita lari dari tempat ini. Ke ujung gunung atau ke tengah lembah. Atau mengangkat pedang sebagai ksatria.

“Mengumandangkan sebagai pasangan bersama.

“Kenapa, Kakang?”

“Karena Yayi sendiri ragu.

“Karena Yayi mempertanyakan apa yang Kakang risaukan. Apakah Dewa merestui hubungan kita sekarang ini?

“Pertanyaan itu saja menandakan keraguan pada apa yang kita lakukan.”

Gayatri menelan ludahnya.

Upasara, Upasara-nya yang kikuk, yang merah padam wajahnya jika bertatapan, yang tangannya dingin dan bibirnya gemetar, adalah Upasara yang bisa mengatakan secara terus terang.

Yang tidak ragu mengatakan secara jujur apa yang dirasakan.

“Nasib kita buruk sekali, Kakang.

“Kalau kita tak pernah tergetar asmara sebelumnya, perjalanan kita masing-masing pastilah bahagia. Aku menjadi permaisuri yang bakal menurunkan raja terbesar yang belum ada, dan Kakang bisa tenang bersama Ratu Ayu Bawah Langit.”

“Nasib kita bahagia sekali, Yayi. Tanpa bertemu Yayi, aku tak bisa mengetahui apa arti sawah, apa arti kerak nasi, apa arti guritan, apa arti asmara, apa arti mensyukuri nasib.

“Tanpa Yayi, aku tak mengerti apa yang kucari.”

Gayatri merebahkan kepalanya di dada Upasara yang telanjang.

Menarik tangan Upasara hingga memeluk tubuhnya.

“Rengkuhlah aku, Kakang!

“Masukkan aku ke dalam tubuhmu!”

Upasara memeluk kencang.

“Angin Palguna, jangan cepat berlalu.

“Biarkan aku dan Kakang Upasara menikmati selalu.”

Akan tetapi justru saat itu Gayatri melihat bahwa cahaya dari luar telah lenyap. Alam telah berubah.

Tak ada lagi matahari.

Angin malam terasakan.

“Sudah malam, Kakang….”

“Perutmu berbunyi, Yayi.

“Pasti tidak biasanya Yayi belum makan….”

Gayatri tertawa.

“Kenapa Kakang bicara soal makan?”

“Karena Yayi bercerita tentang kerak nasi.”

“Ah!

“Sebenarnya banyak cerita yang lain. Para emban mempunyai cerita yang banyak sekali. Yang ingin kuceritakan kembali. Sengaja kucatat dan kuingat-ingat untuk kuceritakan kembali kepada Kakang.

“Ah!

“Sebenarnya banyak guritan yang kutulis. Sengaja kusimpan rapat-rapat, agar suatu kali Kakang membacanya. Mengetahui bagaimana perasaanku yang sebenarnya.

“Tapi justru semuanya terlupa.”

“Kalau kita bersama, apa semua itu perlu?”

Gayatri merangkul, memeluk, merengkuh erat sekali.

“Kakang, kalau suatu ketika kita berpisah lagi, pertemuan ini akan menjadi kenangan yang paling berharga.”

“Pun andai kita tak berpisah, kenangan ini masih tetap berharga.”

“Kakang… benarkah kamu Kakang-ku?”

Kawruh Kodrat

KEDUANYA masih berangkulan. Tenggelam dalam lamunan.

“Apa yang Kakang pikirkan?”

“Banyak sekali.

“Gendhuk Tri yang sudah menjadi perawan ayu. Singanada yang bahagia. Barisan Padatala yang mengganas. Nyai Demang yang dikuasai Eyang Berune. Putra Mahkota yang kini memegang tata pemerintahan….”

“Apakah Kakang selalu memikirkan itu?”

“Entahlah, Yayi.

“Akan tetapi kadang tak bisa melepaskan begitu saja.”

“Apakah itu yang disebut sebagai dharma ksatria?”

“Ya, Yayi.

“Dan aku dibesarkan dalam tata nilai begitu. Tradisi yang kuterima sejak kecil, sejak belajar berjalan, adalah tradisi berbuat kebaikan demi Keraton.”

“Nasib Kakang lebih menarik.

“Dilahirkan sebagai ksatria lebih jelas apa yang dilakukan. Apa yang harus dilakukan. Sedangkan aku? Kodratku sebagai sekar kedaton, sebagai bunga keraton, tak memungkinkan berbuat yang lain.

“Seperti juga kedua putriku.

“Hanya bisa menunggu. Sampai suatu hari kelak, ada lelaki yang datang meminang.

“Pertarungan atau perdamaian, tak akan pernah mengguncang diriku.

“Ah, andai aku dilahirkan sebagai ksatria, mau tak mau aku harus belajar ilmu silat. Dan barangkali ada gunanya untuk penduduk.

“Kakang, apakah sulit belajar ilmu silat?”

“Rasanya tidak.

“Siapa saja yang mempelajari bisa melakukan.”

“Kalau aku belajar sekarang ini?”

“Kenapa tidak?

“Di ruangan ini tersedia semua kitab ilmu silat yang ada. Tinggal membaca, memahami, dan melatih.”

“Aku tak pernah mengetahui.

“Bagaimana mungkin Kakang bisa menguasai semuanya?”

Upasara merasa dadanya mekar. Untuk pertama kalinya terasa kebanggaan yang membengkak.

“Bukan semuanya.

“Dasar ilmu silat sebenarnya sama sumbernya. Yaitu cara pengerahan tenaga, cara mengatur keluar atau tertahannya tenaga. Pengendaliannya dengan melatih pernapasan. Gerakan-gerakan yang ada disesuaikan dengan apa yang dilatih selama ini. Yang kemudian ada kembangan yang beraneka warna.”

“Kalau semua belajar dari Kitab Bumi, kenapa Kakang lebih unggul?”

“Dalam ilmu silat, keunggulan hanya bersifat sementara.

“Di atas langit masih ada langit. Di atas atas langit masih ada matahari. Di atas matahari masih ada langit yang lain.

“Tak bisa dikatakan Kakang ini yang paling jago. Kakang malah merisaukan gelaran lelananging jagat yang Kakang sandang.

“Semua mempelajari Kitab Bumi, akan tetapi kitab utama yang menjadi babon semua ilmu silat itu hanya membuat kidungan dasar. Terutama delapan kidungan atau delapan jurus yang dinamakan Tumbal Bantala Parwa.

“Isinya pekat, padat, dan harus ditafsirkan kembali.

“Barangkali penafsiran kembali ini yang membedakan satu sama lainnya. Persiapan batin kita yang membedakan pada akhirnya. Seperti yang Kakang mainkan dengan Putaran Bumi.

“Jauh sebelum ini Kakang telah mencoba, telah menguasai. Akan tetapi dengan pengaturan napas yang tepat, hasilnya juga berbeda.”

“Kalau kita sama-sama mempelajari, apakah tetap berbeda hasilnya?”

“Mungkin saja, Yayi.

“Kenapa Yayi bertanya soal ilmu silat?”

“Aku hanya ingin membandingkan, bahkan dalam mempelajari ilmu silat pun, kodrat turut menentukan nasib seseorang. Sejak awal sudah ada pembedaan.

“Jadi, apa artinya kawruh, apa artinya ngelmu, apa artinya pengetahuan dan segala usaha kalau pada akhirnya bermuara kepada kodrat?”

“Terus terang aku tak bisa menjawab, Yayi.

“Aku menjalani tanpa risau. Tanpa mempertanyakan.”

Gayatri melepaskan diri dari rangkulan.

Duduk bersila.

Upasara juga bersila.

“Berarti sejak semula sudah digariskan oleh kodrat. Oleh nasib. Kemenangan dan kekalahan, mati dan hidup. Kita tinggal pasrah saja.”

“Pasrah yang tidak menyerah.”

“Itu hanya untuk menghibur diri saja, Kakang. Pasrah dalam artian yang sesungguhnya. Pasrah karena kita dikuasai kodrat. Dikuasai nasib sejak masih kecil. Pengaruh itu telah mendarah daging, dan membuat kita ketakutan.

“Kita terbelenggu.

“Sehingga kalau kita akan keluar bersama dari tempat ini, berlari ke lembah atau puncak gunung, kita tak berani melakukan. Karena kita disadarkan akan kodrat sejak awal.

“Karena kita dikodratkan menerima nasib. Yang satu putri keraton dan satunya ksatria tanpa ketahuan siapa orangtua nya.

“Kodrat sebagai permaisuri.

“Sehingga merasa tercela melepaskan diri dari Baginda. Sehingga Kakang perlu bertanya, apa benar yang kita lakukan saat ini? Apakah kita tak berdosa berdua sekarang ini?”

“Ya.”

“Padahal kenyataannya bisa kita balik.

“Apakah justru bukan melakukan suatu dosa jika aku menjalani hidup seperti sekarang ini? Apakah justru kehidupanku sebagai permaisuri ini bisa dibenarkan?

“Siapa yang bisa membenarkan atau menyalahkan, Kakang?

“Dewa?

“Adakah Dewa yang memberikan kodrat tertentu?

“Dewa?

“Kenapa kita selalu lari kepada Dewa sebagai kata akhir? Sebagai penentu nasib?”

“Yayi, kata-katamu membuatku gelisah.

“Aku tak pernah mempertanyakan itu.”

“Kakang… Kakang menderita.

“Tetapi aku juga lebih menderita karena kerinduan ini. Sehingga dalam doa dan semadi aku sering menggugat, sering bertanya.

“Tapi Dewa tak pernah menjawab.

“Tak pernah memberi isyarat.

“Tak ada perlambang.

“Tak ada tanda-tanda.

“Tak ada, Kakang.

“Tak ada apa-apa.”

“Hati kita yang menjawab, Yayi.”

“Benarkah?

“Apakah hati kita sendiri, atau hati kita rasa yang percaya kepada kodrat? Yang telah tunduk mengikuti aturan nasib?”

Upasara terdiam.

Gayatri menghela napas.

“Aku bisa letih, Kakang.

“Letih memikirkan ini semua.

“Tapi tak apa.

“Tak apa.

“Malam ini aku begitu bahagia.

“Bertemu dengan Kakang. Berbincang dengan Kakang.

“Aku sudah bahagia bisa merasa memiliki Kakang. Dan mengetahui bahwa Kakang masih menyimpan kerinduan yang sama.

“Tak apa.”

Gayatri menutup matanya.

“Aku haus, Kakang….”

Upasara mengangguk. Beringsut.

“Tapi Kakang tak usah pergi.

“Biarlah setiap kejap kurasakan, Kakang.”

Kaki Upasara menjejak ke lantai. Keras. Sehingga terbelah. Tangan kanannya mencaruk tanah. Amblas sampai siku. Disusul tangan kiri dengan sama kerasnya. Setiap kali amblas ditarik ke atas bersama gumpalan tanah. Hingga menggunduk.

Senopati Pamungkas II – 9

Belasan kali Upasara melakukan dengan cepat sekali.

“Ada…”

Upasara mengulurkan setagen Gayatri ke bawah lubang yang dibuatnya, dan dengan sekali sentak, setagen itu tertarik ke atas.

Basah.

Gayatri tertawa sambil menutupi bibirnya.

Air dari sumbernya terasa segar.

“Terima kasih, Kakang….”

Gayatri memeras untuk Upasara.

Yang segera meminum dengan lahap.

“Kalau begini caranya, kita bisa meloloskan diri lewat lubang bawah tanah.”

Upasara mengangguk.

“Lewat pintu depan pun bisa.”

Rembulan Tak Bersisa

GAYATRI memegang tangan Upasara. Membersihkan tangannya yang kotor.

“Lewat mana pun bisa, Kakang.

“Tapi pertanyaannya, apakah kita mau keluar bersama atau tidak.”

“Ya,” jawab Upasara pendek seperti kehabisan kata-kata.

“Itulah kodrat.

“Itulah nasib kita.

“Tapi sekali lagi, Kakang, aku tak ingin menangis untuk selamanya. Biarlah malam ini saja, kita bisa berdua-dua. Hanya untuk kita berdua.”

Upasara mengikuti pandangan Gayatri yang menembus ke arah luar.

“Aku yakin sekali, di luar purnama bersinar sempurna.

“Selama masih ada sisa-sisa rembulan, selama itu kita masih bisa berdua di sini.

“Malam ini milik kita berdua.

“Atau Kakang ingin pergi sekarang?”

“Kalau Yayi menghendaki kita pergi bersama, sekarang ini pun kita bisa berangkat.”

“Kakang, aku senang mendengar kata-kata Kakang.

“Lebih dari air yang diambil dari sumbernya, menyebabkan jiwaku segar kembali.

“Lebih baik kujawab tidak, walau aku merindukan.

“Karena aku tahu, Kakang akan repot dan dibebani perasaan bersalah kalau kita pergi sekarang ini. Pergi meninggalkan urusan Keraton, pergi meninggalkan semua urusan yang ada.

“Tidak, Kakang tak bisa mengabaikan semuanya.

“Seperti juga diriku.

“Kita telah dicencang kodrat dan nasib.

“Perlu keberanian dan waktu untuk mengalahkannya. Mungkin kita bisa mengalami, mungkin juga tidak.

“Tak apa, Kakang.

“Tak apa.

“Malam ini aku bahagia.”

Upasara tepekur.

Semua kalimat Gayatri bergema jelas dalam hatinya.

Upasara menyadari bahwa jika Gayatri mengajaknya pergi ke puncak gunung atau ke lembah dan hidup berdua seperti Pak Toikromo, dirinya tak sanggup menolak.

Akan menerima dengan senang hati.

Meskipun tetap ada kerisauan.

Ada beban yang masih terbawa.

Itu yang tak dikehendaki.

Upasara mencium punggung tangan Gayatri.

“Di luar masih ada purnama, Kakang….”

“Ya, Yayi….”

“Selama itu pula Kakang menjadi milikku. Dan aku milik Kakang.”

“Ya, dan setiap kali ada purnama.”

“Tapi sekali ini purnama milik kita.

“Aku tak tahu, apakah setelah ini aku masih bisa melihat purnama lagi.

“Kehormatanku sebagai permaisuri, harga diriku sebagai wanita, telah rata dengan tanah. Tak ada yang tidak menyesali perbuatanku. Saudara-saudaraku, atau bahkan arwah Baginda Raja mungkin menyesali apa yang kulakukan sekarang ini.

“Barangkali saja, ini harga yang harus kutebus seumur hidup.

“Tapi aku tak pernah menyesali.”

“Yayi, apakah aku yang menyebabkan ini semua?”

“Kakang tak perlu menyesali.

“Sebab aku merasa bahagia.”

Air mata Gayatri menetes.

Dalam gelap, Upasara tak bisa melihat.

Tapi bisa merasakan.

Perlahan tangannya mengusap sudut mata Gayatri. Dengan cepat Gayatri menggenggam tangan itu dan memegang erat-erat.

Darah menggeliat.

Udara menjadi padat.

Napas tertarik ketat. Seakan susah menerobos lubang hidung.

Sesaat.

Gayatri melepaskan cekalannya.

Darah Upasara mengendur kembali.

Hawa panas di ujung hidungnya mendingin.

“Ah, aneh sekali.

“Tahu apa yang aku bayangkan, Kakang?”

Upasara menggeleng dalam gelap.

“Kalau saja malam ini kita berada di kamar peraduanku, kamar yang selalu ditata untuk menunggu kedatangan Kakang. Lalu kita bicara panjang-lebar. Tentang ilmu silat, tentang kidungan, tentang Keraton, hingga fajar yang berikutnya.

“Aneh sekali.

“Kenapa aku berpikir begitu?

“Apakah Kakang pernah membayangkan begitu?”

“Mestinya iya.

“Tapi aku tak tahu.”

“Kakang, apakah waktu kecil dulu kita pernah bertemu?”

“Mungkin saja, Yayi.”

“Kenapa Kakang selalu ragu menjawab iya atau tidak?”

“Sebab memang tidak tahu.

“Aku tak bisa mengingat.

“Tapi bukan tidak mungkin. Karena sejak bayi aku berada di Keraton. Yayi berada di Keraton. Dalam masa dua puluh tahun, besar kemungkinannya kita telah saling melihat.”

“Tapi kalau sudah, harusnya ingat.”

“Ya.”

“Kakang ingat?”

“Tidak.”

“Yayi ingat?”

“Tidak.

“Lalu kenapa kita bisa saling tergetar oleh daya asmara?”

“Kodrat.”

“Ah, Kakang!

“Sejak kapan Kakang bisa mengucap itu dengan enteng?”

“Aku tak mengerti jawaban yang sebenarnya.”

“Aku juga tidak.

“Tapi apakah bukan karena kita dalam titisan sebelumnya adalah pasangan yang selalu bersama-sama? Pada titisan sebelumnya kita selalu bahagia?

“Hanya pada sekali ini tidak dipertemukan.

“Bukan Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang selalu berjodohan, pada suatu ketika menjadi kakak dan adik? Hanya satu kali.

“Kakang percaya hal itu?”

Upasara mendengar napas Gayatri yang teratur.

Tanpa menyentuh, Upasara mengetahui bahwa Gayatri kini terbaring. Mungkin setengah tertidur.

Kejadian yang berlangsung sejak siang sangat menegangkan dan melelahkan untuk seorang permaisuri. Kini dalam kegelapan, dalam amukan rasa yang mulai mereda, kelelahan yang pasrah merayapi dan menguasai.

Hanya karena keinginan untuk bercakap-cakap yang besar, yang membuat Gayatri masih bisa bertahan.

“Kakang…”

“Aku di sini, Yayi…”

“Kakang jangan pergi selama masih ada bulan.”

“Kakang masih di sini.”

Tangan Gayatri memegang tangan Upasara.

“Kurasakan dengus napas Kakang.

“Kurasakan tangan Kakang yang kasar. Berceritalah, Kakang, agar aku yakin Kakang masih terus menemani.”

“Cerita apa?”

“Apa saja.

“Aku tak mau tidur. Waktu hanya beberapa kejap. Sebentar lagi bulan lenyap.

“Berceritalah, Kakang….”

“Seumur hidup, rasanya aku tak pernah bercerita.

“Aneh, tak ada yang mendongengiku. Para emban yang menanak nasi juga tidak. Ngabehi Pandu, guruku yang mulia, juga tidak. Aku tak tahu indahnya rembulan, sebelum Yayi katakan.

“Aku tak pernah cemas rembulan bakal lenyap atau tidak, sampai saat ini.

“Tak ada yang bisa kuceritakan.

“Kujalani hidup, meluncur sebagaimana adanya. Mungkin Yayi benar sekali, aku bergerak, mencari-cari yang tak kuketahui.

“Sampai sekarang ini.

“Tiba-tiba timbul keinginanku bercerita, keinginanku menulis guritan, merasakan setiap tarikan napas mempercepat jalannya rembulan.

“Perasaan yang menjadi bermakna. Yayi…”

Upasara tidak melanjutkan lagi. Suara napas Gayatri makin lama makin teratur.

Pegangannya mengendur.

Tapi begitu Upasara berhenti, Gayatri bersuara lirih.

“Lalu, bagaimana lanjutannya, Kakang?”

Sisa Angin Pagebluk

UPASARA kembali menggenggam erat.

“Istirahatlah, Yayi.

“Jangan memaksa diri.”

Gayatri membalas genggaman Upasara dengan keras. Tapi kemudian mengendur. Napasnya teratur.

“Kakang, berbaringlah di sisiku!

“Sesekali tengoklah ke luar. Kalau-kalau bulan tak bersisa lagi. Itulah saat kita berpisah.

“Malam ini milik kita sepenuhnya.

“Kakang, kamu masih di sisiku?”

“Masih, Yayi.”

Suara Gayatri melemah.

Seperti berbisik, terputus-putus.

“Ah, inilah kebiasaan buruk di kaputren.

“Seumur hidup tak pernah melihat rembulan. Seumur hidup harus masuk ranjang peraduan, menutup mata bersama gelapnya malam. Padahal rembulan bisa indah sekali.

“Indah sekali.

“Sinarnya samar tapi terbaca.

“Getarnya samar tapi terasa.

“Bayangnya samar tapi tereja.

“Mataku mengantuk sekali. Mengantuk sekali.”

Dalam gelap Upasara merasakan makin lama wajah Gayatri makin mengendur. Seakan terseret oleh kekuatan yang tak bisa ditahan. Kelelahan yang tak bisa dilawan.

“Yayi…”

“Hmmm….”

“Yayi tak apa-apa?”

“Tidak.

“Aku bisa merasakan semuanya, Kakang. Aku bisa mendengar, merasa, tapi rasanya mengantuk sekali. Tubuhku terasa melayang.”

Upasara hanya memperkirakan satu hal.

Bahwa rasa kantuk yang menguasai Gayatri bukan kantuk sebagaimana biasanya. Reaksinya sesekali keras untuk menahan, akan tetapi beberapa kali mengendur. Membiarkan larut.

Satu dan lain hal, Upasara menguatirkan pengaruh bubuk beracun!

Kalau ini yang terjadi, Upasara akan melakukan apa saja. Saat ini juga pun bisa saja ia menggebrak ke luar.

“Yayi…”

“…Hmmmmm.”

Disusul suara yang tak begitu jelas.

Upasara menunduk. Dengus napasnya dekat sekali dengan napas Gayatri. Terasakan udara panas dari lubang hidung Gayatri.

Pernapasan yang wajar.

Normal.

Upasara berpikir keras.

Bubuk beracun yang disebut bubuk pagebluk bukan hanya sangat luar biasa pengaruhnya, tetapi juga tak begitu dikenal. Sebagai tokoh yang menguasai ilmu silat dan melatih dengan keras, Upasara sudah sampai pada tingkat mengetahui pengaruh segala macam racun. Walau belum mengenali jenis-jenisnya, akan tetapi bisa memperkirakan kekuatannya.

Ketika Gendhuk Tri dikuasai darah beracun yang dahsyat, tanpa mengenali jenis racunnya, Upasara bisa memperkirakan bagaimana melawannya.

Akan tetapi sekali ini menjadi gamang.

Napas Gayatri teratur, normal.

Tidak menunjukkan kelainan. Juga peredaran darahnya. Akan tetapi seperti tak bisa menguasai diri.

Jelas sekali ini berbeda keadaannya dari yang dialami Nyai Demang. Ketidakmampuan menguasai dirinya karena pengaruh tenaga lain.

Dalam diri Gayatri jelas tak terasakan pengaruh lain sama sekali.

“Yayi…”

Erangan kecil sebagai jawaban.

“Yayi…”

“Kakang tahu, aku melakukan ini semua demi kamu, Kakang. Kakang-ku Upasara.”

Makin tak terbantah bahwa Gayatri turun kesadarannya. Seperti seorang yang mabuk. Kata-katanya meluncur begitu saja. Bukan tidak mungkin sejak pertama tadi, dengan berbicara tak keruan juntrungannya. Menanyakan ini dan itu, merangkul, mengelus bibir Upasara.

Bahwa itu juga merupakan dorongan batinnya tak bisa ditolak. Akan tetapi bahwa keberanian untuk berbuat itu karena dorongan pengaruh bubuk beracun, sangat mungkin sekali.

Betapapun besar kerinduannya, Gayatri adalah putri Baginda Raja yang ketat oleh tata krama dan kemudian menjadi permaisuri, tak nanti berbuat begitu berani dan terbuka.

Upasara bisa mengerti kalau Gayatri terkena pengaruh. Angin yang menyebarkan bubuk itu meluas. Meskipun sebelumnya ia telah menutup diri   bukan tidak mungkin sepersekian isapan masuk ke dalam tubuh Gayatri.

Untuk seorang yang tidak pernah melatih tenaga dalam, bubuk yang sangat sedikit pun bisa mempengaruhi.

Hanya karena dorongan untuk bersama Upasara demikian besar, sampai waktu tertentu Gayatri masih bisa memaksa menguasai dirinya. Meskipun makin lama makin lemah.

Upasara benar-benar gegetun.

Benar-benar menyesali apa yang terjadi. Malam purnama Palguna yang dinikmati berdua, barangkali akan hilang separuhnya. Lebih daripada itu, Gayatri seperti tak bisa menikmati secara sempurna. Karena batas kesadarannya menipis. Sehingga tak bisa membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan.

Inilah yang membuat Upasara gegetun.

Di samping itu, kini perhatiannya terpecah. Kalau Gayatri yang bisa terlindungi nyaris sempurna menderita seperti ini, bagaimana halnya dengan Gendhuk Tri dan Singanada? Bagaimana nasib mereka?

Apakah tidak mungkin justru sekarang ini saat-saat yang menentukan untuk menyelamatkan?

“Yayi…”

“Awasi bulan itu, Kakang!

“Jangan-jangan Dewi yang menjaga rembulan iri pada kita dan mempercepat jalannya.

“Awasi, Kakang!”

Upasara memandang ke arah luar.

Telunjuknya menuding dan tenaga dalam yang disalurkan menggeser jendela.

Tanpa suara.

“Awasi, Kakang….”

“Ya, Yayi….”

“Apa yang kelihatan?”

“Dupa dari sanggar pamujan.”

Lidah Upasara terjulur pendek. Selintas terbersit keinginan untuk masuk ke sanggar pamujan. Barangkali tak memerlukan waktu lama untuk bisa menerobos masuk. Dan memaksa Baginda memintakan obat penangkal bubuk beracun.

Jalan yang singkat.

Tapi Upasara ragu.

Hati kecilnya tak ingin meninggalkan Gayatri barang sesaat. Kalau ia setengah tersadar dan mengetahui dirinya ditinggal, bisa jadi lain masalahnya. Penjaga akan mengetahuinya.

Kalau ini terjadi, sisa rembulan yang bersinar dengan sendirinya habis.

“Aku melakukan semua ini demi Kakang….”

“Ya, Yayi.”

“Demi katresnan-ku pada Kakang….”

“Aku merasakan sepenuhnya, Yayi….”

“Tidak, Kakang tidak merasakan.

“Kakang malah menjadi ksatria tanpa tanding. Menjadi ksatria lelananging jagat. Apa kelebihannya, kalau itu hanya menempatkan Kakang menjadi ksatria yang tak bisa dilawan siapa pun juga?

“Kalau sudah menjadi yang paling menang, apa lagi yang Kakang cari?

“Tidak, Kakang tidak merasakan.

“Kakang malah menjadi pengantin tanpa tanding. Menjadi mempelai ratu yang paling ayu di seluruh kolong langit. Apa kelebihannya, kalau itu hanya menghapus katresnan Kakang padaku? Bukankah lebih baik Kakang berkawan dengan Nyai Demang atau Gendhuk Tri?

“Tidak, Kakang tidak merasakan.

“Kakang malah sengaja menghapus hubungan kita. Ratu Ayu Azeri Baijani adalah wanita yang sempurna kecantikannya, luhur budi, dan mempunyai kecintaan luar biasa pada tanah airnya.

“Aku tak bisa dibandingkan dengannya.

“Aku tak bisa ilmu silat, aku tak bisa membuktikan dharma bakti pada tanah kelahiran, aku tidak seayu dia.

“Tidak, Kakang tidak merasakan betapa hatiku menjadi sakit sekali.”

“Yayi Gayatri…”

“Air dari sumbernya itu sangat segar, Kakang.

“Awasi rembulan itu. Bukan dupa dari sanggar pamujan. Baginda sering menipu diri. Pura-pura membakar dupa, tapi sembunyi entah di mana….”

Asap Dupa Pamujan

UPASARA justru memandang ke asap dupa yang mengepul dari sanggar pamujan.

Seperti para prajurit jaga yang lain, melirik secara diam-diam.

Dan menemukan jawaban yang sama.

Sejak tadi asap itu tak pernah bisa lurus. Selalu buyar. Padahal angin tak terasa meniup.

Kebetulan atau tidak, kegelisahan itu juga melanda Baginda. Sejak pertama membakar dupa dan mencoba bersemadi, pemusatan pikirannya beberapa kali buyar kembali.

Bukan keheningan yang dirasakan.

Melainkan justru gambaran-gambaran yang kian lama kian jelas, muncul berganti-ganti.

Gambaran ketika dirinya masih bertelanjang dada, mengendarai kuda, dan memimpin langsung pertarungan yang menentukan. Bersama para senopati menggempur prajurit Singasari yang dipimpin Raja Muda Jayakatwang.

Gagah, muda, bersemangat, seolah memancarkan cahaya.

Gambaran ketika menggempur mundur pasukan Tartar. Menyerang terus hingga mereka terbirit-birit ke arah laut. Sorak-sorai membahana. Mengelukan kemenangan.

Disusul pesta pora yang panjang.

Kemeriahan, kemenangan, kejayaan yang membanggakan hati.

Sampai kemudian sabda-nya mengenai pengangkatan mahapatih yang menjadi pertentangan. Disusul gambaran munculnya Upasara Wulung yang berdiri lebih gagah, lebih bersemangat, dan lebih bercahaya.

Baginda berusaha membunuh bayangan Upasara.

Berganti dengan kemenangan, kebahagiaan, dan saat-saat menikmati puncak kekuasaan. Saat begitu terpesona melihat putranya, Bagus Kala Gemet, yang tubuhnya bercahaya. Kulitnya lebih bersih dari semua pangeran dan bangsawan.

Sejak kelahirannya, Baginda sudah jatuh hati. Apalagi Permaisuri Indreswari, putri sabrang yang jelita itu, bisa melayani hampir dalam segala hal.

“Akulah raja.

“Aku yang memutuskan semua.”

Bayangan yang muncul di depannya ialah wajahnya sendiri, saat masih bertelanjang dada, tanpa tanda-tanda kebesaran.

“Aku sekarang raja.

“Aku bukan Sanggrama Wijaya, ksatria berkuda tanpa mahkota.”

Bayangan di depannya seperti menuding langsung. Di belakangnya wajah Adipati Lawe, Senopati Sora, dan beberapa senopati yang telah gugur.

Baginda menghentikan semadinya.

Berdiri perlahan.

Berjalan mondar-mandir.

Kini pertanyaan-pertanyaan yang tadi mengganggu masih terus berlanjut.

“Aku tidak bersalah.

“Aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun, karena aku adalah raja. Karena aku yang memerintah. Yang diberi kekuasaan oleh Dewa. Dewa yang menunjukku, memilihku.

“Kekuasaanku adalah kekuasaan Dewa.

“Dewa tak bisa salah, tak bisa keliru.”

Baginda berusaha duduk kembali.

Membakar dupa.

Merangkapkan tangan, menyembah. Matanya tertutup rapat, mencoba menemukan rang, keheningan yang sejati.

Menyepi.

Mengosong.

Tapi baru dua tarikan napas, tampak kembali wajah Upasara Wulung yang menggendong permaisurinya, yang berjalan berdampingan, dengan kemesraan, di bawah sinar rembulan. Masuk ke pustaka raja, dan keduanya membaca Kidungan Para Raja, satu demi satu.

Menembangkan kidungan itu.

Sampai kemudian permaisurinya tergeletak di bangku panjang. Tergeletak bagai mayat beku. Upasara masih menembangkan kidungan di sampingnya.

Mendadak Baginda merasa terluka hatinya.

Permaisurinya mati di samping Upasara tanpa dipedulikan. Dirinya hanya memandang saja.

Kedua tangan Baginda turun dari sikap menyembah.

Menghela napas.

Membasuh wajahnya dengan telapak tangan.

Lalu mulai bersemadi kembali.

Yang kembali terlihat adalah Upasara “Wulung, sedang menggali kubur. Dengan kedua tangannya. Dengan gagah. Ketika akan dimasukkan ke dalam lubang, mayat Rajapatni bergerak-gerak terkena semburan air.

“Aku hidup lagi, Kakang.”

“Itulah air kehidupan.”

“Tapi aku ingin mati bersama Kakang.”

“Kita kubur diri kita sama-sama.”

Tanah kembali menutup.

Mengubur keduanya.

Baginda kembali berdiri. Berjalan bolak-balik di ruangan yang sempit.

Ada beberapa tanda, ada beberapa isyarat yang berbunyi di hatinya yang dalam, akan tetapi tidak jelas. Tidak mudah ditangkap apa sebenarnya yang terjadi.

Justru dalam keadaan berdiri, dalam keadaan berjalan bolak-balik, bayangan Indreswari yang muncul.

Yang berlutut di depannya.

Yang menciumi telapak kaki Baginda.

“Segala kenikmatan bagi Baginda yang mulia. Hamba tak bisa menyamai Maha Dewi, permaisuri Paduka yang selalu dipuji dalam melayani Paduka, akan tetapi hamba bersedia melakukan apa saja.

“Demi Baginda.

“Demi kenikmatan Baginda.”

Bagus Kala Gemet ikut merayap, menyembah.

“Baginda, beristirahatlah dengan tenang.

“Sudah saatnya Baginda menikmati segala jerih perjuangan. Menikmati dan mensyukuri karunia Dewa Yang Maha agung. Karena Baginda telah membebaskan angkara murka. Telah menyapu bersih segala kejahatan dan kebatilan.

“Biarlah putramu ini yang memikul tanggung jawab.

“Istirahatlah, Baginda.

“Pujilah, Dewa.”

Asap telah lenyap.

Dupa mati.

Baginda berjongkok, meniup kembali.

Gumpalan asap meliuk kembali, membentuk wajah Halayudha yang kelihatan sangat tua, terluka di semua tubuhnya. Jari-jarinya yang kutung, perutnya yang robek tertikam keris, dan kedua kakinya tak bisa digerakkan, sehingga ketika bergerak mendekat bagai ular yang menjijikkan.

Baginda menyingkirkan dengan gerakan kaki yang keras.

Menyentak.

Mengenai wajah Halayudha.

“Kamu tak mungkin diampuni, Halayudha.

“Kamu terlalu lancang membaca Kidungan Para Raja. Dosamu tak bisa diampuni.”

“Kitab itu tak terbaca di kapustakan.

“Baginda tidak membaca.

“Anai-anai juga tak membaca.”

Baginda menyentak sekali lagi. Menendang keras.

Hingga api pedupaan terguling.

Seperti sadar kembali, Baginda mengumpulkan lagi. Dengan tangan telanjang. Dan berusaha meniup lagi. Agar bara yang sudah cerai-berai itu bisa memancarkan panas dan membakar dupa.

Akan tetapi karena terlalu bernafsu, yang terjadi justru kobaran api.

Baginda menghela napas.

Keringatnya meleleh.

Kembali diusahakannya bersemadi. Mencari ning, mencoba larut dalam satu pemusatan pemikiran, dan lenyap bersamanya. Bayangan-bayangan yang datang dan pergi dibiarkan. Tak dilawan.

Kosong.

Hening.

Ning.

Perlahan, suara gemercik air terdengar. Entah dari mana. Alam di dalam pikirannya kosong. Luas bagai langit.

Tanpa ujung.

Kosong.

Hanya mega.

Yang minggir karenanya.

Hening.

Ning.

Tak ada siapa-siapa. Tak ada Indreswari, Rajapatni, Kala Gemet, Halayudha, Upasara. Tak ada siapa-siapa.

Hanya awan. Abu-abu.

Hening.

Di luar, para prajurit secara bersamaan mengucapkan doa dalam hati, melihat asap lurus ke angkasa.

Menuju langit.

Rerasan Dua Mahapatih

SEJAK Baginda meninggalkan halaman Keraton yang menjadi ajang pertarungan, Mahapatih Nambi yang merasa menderita kekalahan secara utuh.

Sebagai mahapatih, ia telah mengecewakan Baginda yang memberi wewenang penuh. Sehingga Baginda menitahkan, barang siapa pun menangkap Upasara akan diangkat sebagai mahapatih.

Nyatanya yang maju ke medan pertarungan seketika itu juga Senopati Halayudha.

Walaupun tidak berhasil menundukkan Upasara, Halayudha berhasil tampil dan memperlihatkan keunggulannya.

Kemudian muncul Permaisuri Indreswari dan Putra Mahkota yang langsung memegang komando. Bersama para pendeta Syangka yang bergelar Barisan Padatala, mampu memorak-porandakan lawan. Termasuk prajurit Keraton sendiri.

Dengan jatuhnya korban begitu banyak di kalangan prajurit Keraton, Mahapatih Nambi semakin yakin bahwa kepemimpinannya telah rontok.

Kabar bahwa Baginda menuju sanggar pamujan mempunyai makna simbolis yang dalam. Dalam pengertian Mahapatih Nambi, Baginda mencari wangsit, mencari petunjuk dari Dewa Yang Mahakuasa untuk mencari pengganti Mahapatih.

Dalam keadaan pikiran terombang-ambing, Mahapatih Nambi mengunjungi Senopati Halayudha.

Yang meskipun seakan bisa menebak jalan pikiran Mahapatih Nambi, berpura-pura terkejut.

“Angin kebahagiaan apa yang membawa keberuntungan bagi hamba, sehingga Mahapatih yang terhormat sudi menginjakkan kaki kemari?”

Tampak sekali Mahapatih letih wajahnya.

Bahkan caranya bersila seakan mau meletakkan semua kelelahan batin yang diderita.

“Paman Halayudha, segalanya telah gamblang dan jelas.

“Tak ada yang perlu dirahasiakan lagi antara kita berdua. Mari kita buang tata krama yang menghambat.

“Saya ingin rerasan, ingin berbicara dari hati ke hati.”

Halayudha memerintahkan para prajurit segera menyingkir. Pintu ruangan dalam ditutup dari luar.

Keduanya duduk berhadapan.

Halayudha menunggu.

Sambil menyembah.

“Tidakkah Mahapatih meminum seteguk air atau menikmati sirih dan…”

“Ada saat tersendiri, Paman.

“Saya datang kemari pertama, menghaturkan terima kasih yang dalam. Menghaturkan pujian yang tulus atas sikap Paman Halayudha yang gagah berani dalam pertarungan yang baru saja terjadi. Tanpa Paman Halayudha, entah bagaimana nasib para prajurit kita semua, termasuk saya…”

“Aduh, Mahapatih terlalu memuji hamba.”

“Perasaan saya yang sesungguhnya mengatakan begitu.

“Ketahuilah, Paman Halayudha, sejak peristiwa sore tadi, saya menyadari bahwa sesungguhnya pangkat dan derajat mahapatih yang saya sandang terlalu berat. Tubuh saya yang ringkih tak mampu memikul. Beban itu terlalu berat, kehormatan itu tidak pas untuk saya.

“Rasanya Paman Halayudha lebih pantas.”

Halayudha bercekat hatinya.

Seumur-umur, jabatan mahapatih adalah yang menjadi incaran utama. Karena dengan begitu bisa menguasai Keraton. Langkah awal untuk melanjutkan ke langkah berikut yang lebih menentukan.

Keinginan yang begitu keras dan diusahakan dengan berbagai cara sampai itu merasuki dan meracuni tubuhnya. Sampai ketika akhirnya membaca Kidungan Para Raja yang menyadarkan bahwa langkah tertinggi yang bisa diraih adalah menjadi mahapatih. Dan bukan takhta.

Krenteg atau ambisi yang selalu berkobar itu tak pernah hilang, meskipun ada pasang-surutnya.

Maka tawaran Mahapatih Nambi sangat mengejutkan.

Di balik otaknya, seketika itu tersusun beberapa kemungkinan. Kenapa Mahapatih Nambi justru mengatakan hal itu. Ada siasat apa yang terjadi? Apakah ini jebakan? Apakah justru bukan Putra Mahkota, yang kini memegang komando, yang menjalankan siasat tertentu?

“Paman Halayudha pasti terkejut.

“Sejak semula, saya sudah mengatakan saya datang untuk rerasan, untuk mengumbar perasaan.

“Hati kecil saya mengatakan Paman Halayudha lebih pantas menjadi mahapatih.

“Paman Halayudha lebih sakti, lebih tegas, dan mempunyai siasat yang jitu.

“Paman Halayudha pasti kaget.

“Karena saya tidak mempunyai hak untuk mengatakan itu. Pilihan utama untuk menentukan mahapatih semata-mata di tangan Baginda.

“Saya datang kemari untuk meminta pendapat Paman Halayudha. Mohon kiranya Paman sudi mengutarakan secara jujur.”

Halayudha menyembah perlahan.

“Selama ini saya mencurigai Paman.

“Lebih dari semua senopati yang ada. Lebih dari Senopati Agung sekalipun. Karena hanya Paman Halayudha yang mampu menggeser pangkat dan derajat saya.

“Paman sakti, punya siasat, dan dekat dengan Baginda, Putra Mahkota, ataupun Permaisuri Indreswari. Segala kemungkinan Paman miliki, segala kekuasaan bisa Paman jalankan.”

“Duh, Mahapatih yang perkasa, apakah hamba tidak salah dengar? Kaki hamba yang pincang menjadi saksi, bahwa hamba tak mampu berbuat apa-apa.

Mahapatih Nambi seakan tidak menggubris kata-kata Halayudha.

“Selama ini saya mencurigai Paman.

“Sampai saat ini.

“Akan tetapi dari peristiwa yang baru saja terjadi, saya memperoleh keyakinan baru, bahwa Paman memang lebih pantas. Dan barangkali ketenteraman dan keamanan Keraton akan lebih baik.

“Kalau begitu, kenapa tidak itu saja yang dipilih Baginda?

“Bagi saya ini pencerahan. Hati saya tinarbuka. Saya menerima ini semua sebagai bagian sejarah yang ditulis Dewa dan digariskan lewat sabda Baginda.

“Saya mengatakan apa adanya, Paman.

“Saya tidak berhak apa-apa. Tetapi sebagai mahapatih, saya berhak memberikan bahan pertimbangan, seandainya Baginda menanyakan.

“Sekarang, saya minta kejujuran Paman Halayudha. Apakah Paman bersedia saya usulkan kepada Baginda?”

Halayudha meluruskan punggungnya.

Pandangannya tajam.

Suaranya memberat.

“Adalah kehormatan yang besar hamba dipilih untuk diajak rerasan oleh Mahapatih Nambi yang terhormat.

“Seribu sembah dan pujian tak bisa menggambarkan rasa syukur hamba.

“Karena Mahapatih menganggap hamba pantas diajak rerasan secara pribadi, hamba akan mengutarakan sebagaimana adanya.

“Mohon Mahapatih tidak menganggap hamba terlalu lancang.”

“Katakan, Paman.”

Halayudha meremas tangannya.

Wajahnya yang keras berubah menjadi dingin.

“Hamba hanyalah prajurit. Jiwa-raga hamba adalah jiwa-raga abdi dalem. Tugas utama hamba hanyalah mengabdi.

“Ditempatkan di mana pun, hamba akan bersedia.

“Sejak perebutan takhta di Kediri atau pengusiran pasukan Tartar, hamba tak pernah menolak ditempatkan di barisan belakang. Ketika Baginda memegang tampuk kendali pemerintahan, hamba ditugaskan sebagai prajurit di dalam, dengan pangkat luhur senopati.

“Sejak itu pula, hamba menyadari bahwa pangkat yang hamba sandang terlalu besar, terlalu memancing perhatian di antara sesama senopati dan manggalaning praja, para pembesar Keraton. Termasuk sang Mahapatih.

“Ini semua beban yang tak bisa hamba terima.

“Tapi karena hamba prajurit, karena sifat pengabdian semata, hamba jalankan semua titah Baginda.

“Tak ada sedikit pun…”

“Maaf saya potong sebentar, Paman Halayudha.

“Kalau Baginda memilih Paman, berarti Paman akan menerima juga? Sebagai prajurit, sebagai abdi dalem?”

Ini pertanyaan yang rumit.

Kalau Halayudha mengangguk, ia merasa seperti menyerahkan kepalanya bulat-bulat. Sebab jika pertanyaan ini merupakan jebakan yang membuat Mahapatih—atau Putra Mahkota yang menyuruh—mengetahui bahwa dirinya masih mempunyai niat menduduki jabatan tertinggi sesudah Raja, bisa berakibat fatal.

Kalau menggeleng, berarti mengingkari kalimatnya terdahulu.

Otak Halayudha bergerak cepat sekali.

Mengatur rangkaian ke depan.

Satu langkah yang diayun sekarang ini seharusnya bisa membaca sepuluh langkah yang akan datang.

“Bagaimana, Paman?”

Tata Krama Tugas

HALAYUDHA memandang Mahapatih Nambi. Lurus. Tak berkedip.

“Barangkali Mahapatih keliru menanyakan hal itu kepada hamba.”

Tangkisan pertanyaan yang jitu.

Jawaban yang, jika saja Mahapatih berusaha menjebak Halayudha, menggagalkan perangkap.

“Pertama, Mahapatih tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan. Dalam Kitab Tata Krama Tugas dan Wewenang Mahapatih, disebutkan bahwa kekuasaan dan wewenang mahapatih tak bisa dilimpahkan atau diwakilkan. Bila sang pengemban tugas dianggap tidak mampu menjalankan tugas, wewenang dan tugas kembali ke telapak kaki Baginda.”

Kali ini wajah Mahapatih yang berubah.

Pucat.

“Kedua, Mahapatih bisa didakwa menghasut hamba. Atau setidaknya Mahapatih bisa didakwa ingin menanamkan pengaruh pada diri hamba, sehingga kelak kemudian hari meskipun Mahapatih Nambi tidak memegang jabatan dan kehormatan, masih bisa menyalurkan kepentingannya melalui hamba.

“Yang dalam hal ini naik derajat karena budi Mahapatih.

“Maaf, Mahapatih, hamba tidak menuduh seperti itu. Karena hamba percaya sampai rumangsuk dalam hati, Mahapatih sedikit pun tiada mempunyai niatan seperti itu.

“Bahwa ini semua karena Mahapatih Nambi ingin melaksanakan tugas sebaik-baiknya, seperti juga kepercayaan Baginda yang dilimpahkan selama ini.

“Hamba yakin, seyakin-yakinnya, Baginda pasti akan menanyai Mahapatih, akan meminta pertimbangan—lepas didengar atau tidak.

“Akan tetapi situasinya sekarang ini berbeda.”

Halayudha menahan kata-katanya.

Wajahnya menunduk.

Kemampuannya mengubah wajah dan memberi tekanan pada nada suara untuk menggambarkan perasaan seperti yang ditonjolkan, selama ini mampu mengelabui orang lain.

Halayudha percaya sekarang ini pun demikian juga.

Yang sedikit di luar perhitungan yang paling menggembirakan sekalipun, ialah bahwa Mahapatih Nambi memerlukan datang kepadanya untuk meminta pertimbangan!

Dulunya, ia harus merayap ke sana-kemari untuk bisa didengar usulannya!

Sekarang yang memegang kunci pembicaraan adalah dirinya.

Betapa mudah mengarahkan.

Ini yang di luar dugaannya.

Kalaupun bisa begitu, tak secepat ini waktunya.

Sekarang Halayudha bisa menekan Mahapatih Nambi, tanpa perlu menjabat secara langsung.

Kalau saja ini terjadi pertengahan tahun lalu, Halayudha akan mengambil putusan cepat.

Akan tetapi justru sekarang ini Halayudha sedikit berhati-hati. Karena kini medan pertarungan kekuasaan sudah berbeda perimbangan kekuatannya.

“Seberapa jauh bedanya, Paman?”

“Mahapatih lebih mengetahui dari hamba.”

“Pandangan Paman benar, dari segi yang wadak. Yang nampak di permukaan. Akan tetapi, dari segi lain Paman bisa melihat lebih luas.”

“Beberapa kali Mahapatih memuji hamba secara berlebihan.”

“Katakan, Paman. Aku ingin mengetahui.

“Apakah dengan munculnya Putra Mahkota akan mengubah seluruh kebijaksanaan Keraton?”

Halayudha menyembah.

“Hamba berani mengatakan demikian adanya. Akan tetapi sebelum lebih jauh, hamba ingin menghaturkan sesuatu agar Mahapatih tidak keliru memilih.

“Hamba sangat tidak pantas memegang jabatan dan derajat sebagai mahapatih. Bahkan sebagai senopati pun tidak.

“Juga di saat Baginda masih memegang kekuasaan secara langsung.

Senopati Pamungkas II – 10

“Bukan karena badan hamba penuh dengan cacat mulai dari jari, perut, dan kaki. Bukan karena hamba suka kasak-kusuk. Tetapi ada satu noda yang tak pernah akan diampuni oleh Baginda. Hamba ikut membaca Kidungan Para Ra/a.

“Baginda masih welas asih, masih berbelas kasihan, tidak membunuh saat itu juga.

“Tapi kalau Putra Mahkota yang memakai takhta dan menduduki kursi emas, barangkali perhitungannya bisa lain.

“Maaf, Mahapatih…

“Hamba tidak memperburuk angin timur. Akan tetapi segala sesuatunya masih serba samar sekarang ini.”

“Justru pertimbangan itulah yang ingin kudengar.

“Katakan, Paman.”

“Semua sudah hamba haturkan, Mahapatih.”

“Apakah dengan kata lain Paman ingin mengatakan, bahwa kemahapatihan saya pun bisa dicopot begitu saja oleh Putra Mahkota tanpa perlu Baginda sendiri yang bersabda?”

Ingin rasanya Halayudha menggeliat saat itu.

Atau berteriak kegirangan.

Umpan telah ditelan secara utuh.

Ditarik keras atau dibiarkan, umpan telah tenggelam dalam perut. Tak bisa dilepaskan kembali.

“Hamba tidak berani mengatakan seperti itu.

“Akan tetapi sejarah mengajarkan apa yang terjadi. Sewaktu Putra Mahkota menghendaki Ratu Ayu Azeri Baijani, dan swargi Senopati Sora yang disuruh mendampingi gagal, akibatnya musnah.

“Hamba tidak menyalahkan Mahapatih yang mengemban tugas.

“Hamba lebih menyalahkan Senopati Sora yang secara terang-terangan membangkang sewaktu penobatan. Dan malah kraman membawa prajuritnya yang setia menghadap Baginda.

“Sekarang ini Putra Mahkota yang direstui menghadapi persoalan yang harus diselesaikan dengan munculnya Upasara Wulung. Sehingga Baginda secara cepat tanpa banyak pertimbangan mengatakan siapa yang menangkap Upasara diberi pangkat mahapatih.

“Sebagai raja yang berkuasa, Baginda—ampun segala Dewa—agak tergesa-gesa. Seolah tidak memandang wajah Mahapatih Nambi sama sekali.

“Jawabannya akan sama, jika Putra Mahkota merasa bahwa Barisan Padatala, yang kakinya bergelang itu, yang dianggap menyelesaikan tugas.

“Yang menjadi pertanyaan hamba, kenapa Putra Mahkota menitahkan Barisan Padatala bergerak lebih dulu.

“Dan bukan Mahapatih Nambi.

“Atau senopati yang lain.

“Atau hamba. Misalnya saja….”

Dalam hati Halayudha berteriak kegirangan karena bisa menelanjangi Mahapatih Nambi yang nampak makin letih.

“Berarti Putra Mahkota tidak menyukai diriku?”

Halayudha membiarkan pertanyaan itu tergema sebagai jawaban.

“Berarti pengabdianku tak diterima?”

“Hamba tidak yakin seperti itu.

“Tetapi baik Baginda maupun Putra Mahkota nyatanya memberi kesempatan pada orang lain. Yang dinyatakan secara terbuka.”

Nadanya lebih lembut. Pengucapannya lebih pelan.

Akan tetapi apa yang dikatakan Halayudha justru lebih menancap dalam. Karena Halayudha mengaitkan Baginda dan Putra Mahkota sekaligus.

Bagi Mahapatih Nambi, kalimat itu sangat perih.

Apa artinya “tidak yakin disukai”, akan tetapi memberi kesempatan pada orang lain?

Nyatanya begitu.

“Paman, aku sedih bukan karena melepaskan jabatan. Aku sedih karena pengabdianku selama ini tidak diterima.”

“Hamba sepenuhnya percaya.

“Mahapatih pun secara pribadi tidak menghendaki derajat mahapatih. Semua demi tugas, demi Utah Baginda.”

Mahapatih Nambi mengangguk-angguk.

“Sekarang jelas.

“Keberadaanku tak diperhitungkan lagi. Bahkan dalam pembersihan mayat prajurit, dalam menawan lawan, aku sama sekali tak diajak bicara.

“Barisan Padatala yang mengurusi semua.

“Yang membawa tawanan.

“Yang mengumumkan anugerah bagi keluarga prajurit yang menjadi korban.

“Yang menyusun prajurit pengawal pribadi.”

“Duh, Mahapatih, hamba tak berani mengusulkan agar Mahapatih mengundurkan diri. Akan tetapi sebagai ksatria, ini jauh lebih gagah.

“Mahapatih jangan salah mengerti.

“Mengundurkan diri bukan berarti melepaskan jabatan dan derajat yang mulia. Biarlah nanti Baginda sendiri yang melakukan, jika Baginda menghendaki.

“Menyurutkan diri tanpa melepas jabatan, agar para prajurit tidak bertanya-tanya.

“Dalam tata krama tugas, disebutkan bahwa para prajurit dan senopati bisa mengundurkan diri untuk sementara. Seperti mereka yang kematian istrinya, bisa minta izin tidak melakukan tugas.”

Kali ini tombak berbisa yang ditusukkan. Setelah yakin ikan menelan umpan dan tak bisa menghindar.

Palapa Karya

HALAYUDHA terlonjak. Kaget, sewaktu Mahapatih Nambi menubruk. Hanya karena kedua kakinya tak bisa digerakkan untuk menghindar, tubuhnya masih tetap tertahan.

Kedua tangannya bersiaga.

Sekali tenaga Mahapatih mengenai, ia juga balas menghantam.

Dugaannya ternyata keliru jauh.

Mahapatih Nambi menubruk untuk memeluk.

“Terima kasih, Paman….”

Suara yang mengharukan.

Menyayat bagi siapa yang mendengar.

Halayudha pun terharu.

Dalam arti yang lain.

Tadinya ia menyangka bahwa Mahapatih Nambi akan murka. Tersinggung karena dianjurkan mengundurkan diri tanpa kehilangan pangkat. Meskipun tata krama keprajuritan menyebutkan hal itu, akan tetapi biasanya hanya dilakukan para prajurit. Bagi para senopati, apalagi mahapatih, tak perlu secara khusus meminta izin untuk tidak mengikuti tugas.

Sudah dengan sendirinya bisa begitu.

Tadinya Halayudha menduga bahwa kemurkaan Mahapatih Nambi karena mengetahui strategi yang dipakai Halayudha. Bahwa dengan mengundurkan diri secara sementara, hubungan Mahapatih akan makin jauh. Tali kekuasaan yang saling menghubungkan akan terputus untuk sementara.

Garis komando bisa berjalan tanpa kehadirannya.

Ini berarti secara resmi memberikan kesempatan munculnya senopati yang lain.

Namun Mahapatih Nambi menanggapi dari sisi yang berbeda.

Bahwa dengan mengundurkan diri sementara, Mahapatih tidak akan kehilangan muka kalau terjadi sesuatu yang melangkahi kekuasaannya.

Halayudha sama sekali tidak menduga bahwa mempersoalkan kehormatan ternyata menjadi bagian penting taktiknya. Selama ini kepekaan dan rasa antara pengikut Sri Baginda Raja dan pengikut Baginda yang dipertentangkan.

Ternyata ada hal lain yang bisa menjadi sangat peka.

Soal kehormatan!

Soal merasa terhormat dan tidak.

Soal tata krama, soal unggah-ungguh. Mahapatih Nambi tak ingin kehilangan muka sebagai mahapatih.

Ini hebat!

Setidaknya bagi Halayudha. Selama ini ia bisa menahan diri, merasakan kehormatan yang kurang atau justru menyembunyikan. Dan menganggap tidak perlu tata krama menyembah dan menghormat. Baginya tak berbeda terlalu banyak.

Tetapi ternyata mempunyai makna luar biasa bagi Mahapatih Nambi!

“Paman Halayudha ternyata sangat bijaksana….”

Mahapatih Nambi merenggangkan rangkulannya.

“Dengan melakukan palapa ing karya, beristirahat dari tugas, tak akan menjadi masalah lagi bagi diriku.

“Juga merupakan gugatan kepada Baginda secara tidak langsung.

“Sekali lagi terima kasih, Paman….”

“Sumangga, Mahapatih….”

“Paman sungguh luar biasa. Sama-sama mengerti tata krama keprajuritan, tetapi tak pernah terpikirkan apa yang Paman usulkan.”

“Kebetulan saja hamba teringat, Mahapatih.

“Dengan palapa ing karya, akan menjadi jelas. Apakah Baginda atau Putra Mahkota kemudian hari akan memanggil kembali secepatnya atau tidak.

“Jika secepatnya, berarti Baginda sangat membutuhkan Mahapatih.”

“Bila tidak?”

“Bila tidak, berarti Baginda atau Putra Mahkota menghormati wewenang Mahapatih untuk beristirahat.”

“Aku akan memulai malam ini juga.”

“Barangkali saja Mahapatih perlu menunggu sampai Baginda selesai di sanggar pamujan. Masih ada waktu bagi Mahapatih merenung kembali.”

“Rasanya ini sudah merupakan jalan terbaik.”

“Merenung kembali dalam artian jika Mahapatih menganggap terbaik, senopati lain yang langsung di bawah Mahapatih bisa mengikuti jejak.”

Kening Mahapatih berkerut.

“Senopati yang lain?

“Apakah ini bukan berarti pengunduran diri sementara secara besar-besaran?”

“Begitulah, Mahapatih.

“Untuk lebih memberi keyakinan bahwa tindakan Mahapatih tidak sendirian.” “Apakah tidak ada tuduhan kraman?”

Halayudha mendesis.

“Sama sekali tidak.

“Semuanya diatur dalam tata krama tugas prajurit. Tata krama resmi bagi keprajuritan Keraton Majapahit yang disahkan oleh Baginda.

“Tidak menyalahi titik dan koma.

“Maaf, Mahapatih, hamba sekadar mengingatkan kembali. Bahwa prajurit hanya mengenal tata krama keprajuritan. Bagi penduduk biasa, bisa menunjukkan ketidaksukaannya dengan berjemur diri di alun-alun.

“Bagi para pendeta, bisa menuliskan kidungan sindiran.

“Bagi para gundik, bisa membunuh diri.

“Bagi para pemberontak, bisa mengangkat senjata.

“Prajurit menjadi sangat istimewa tugasnya, sehingga tak bisa menunjukkan perasaannya dengan cara-cara yang dipakai orang lain. Selain palapa ing karya.

“Kalau Mahapatih tidak keberatan, hamba yang pertama akan mengikuti langkah Mahapatih.”

Mahapatih Nambi mengangguk.

“Karena izin untuk itu datang dari Mahapatih, dengan ini resmi hamba, Senopati Halayudha yang bertugas di dalem, memohon izin. Semoga Mahapatih Nambi berkenan mengabulkan keinginan hamba.”

Mahapatih Nambi mengangguk.

“Kululuskan permintaanmu, Senopati Halayudha.

“Kembalilah bertugas jika aku memanggilmu.”

“Sembah terima kasih atas kebaikan Mahapatih.”

Halayudha merasa geli.

Juga ketika mengantarkan Mahapatih Nambi sambil digendong oleh prajuritnya.

Begitu masuk kembali ke kamarnya, pikirannya cepat bekerja keras.

Dalam waktu singkat akan terjadi perubahan besar.

Para senopati yang setia pada Mahapatih akan mengambil istirahat. Yang kemudian disusul Mahapatih.

Biar bagaimanapun, akan menimbulkan keguncangan dalam Keraton. Pada situasi seperti itu, ia bisa masuk kembali.

Mengisiki Putra Mahkota bahwa Mahapatih menempuh jalan keras untuk tidak mengindahkan perintah Putra Mahkota. Bahwa dalam hatinya, Mahapatih tidak menyetujui penyerahan kekuasaan dari Baginda.

Dalam situasi seperti sekarang ini, gelitikan kecil ini akan mudah dipercaya.

Yang menjadi perhitungan Halayudha sekarang ini hanyalah bagaimana cara menyampaikan kepada Putra Mahkota.

Jaraknya menjadi jauh.

Karena kini ada Barisan Padatala yang secara langsung ke depan. Yang keculasannya sudah dibuktikan dengan bubuk pagebluk yang meminta banyak korban.

Secepat Halayudha mencari jalan keluar, secepat itu pula menemukan.

Jalan untuk bertemu dengan Barisan Padatala adalah dengan mengirimkan kitab yang dulu disalin dari Pendeta Syangka.

Seolah ia menemukan kitab pusaka para pendeta dari Syangka.

Halayudha tersenyum sendiri dalam hati.

Dengan memberikan kitab pusaka, dirinya akan mudah diterima. Sambil lalu akan diceritakan bahwa ia setengah dipaksa Mahapatih Nambi untuk palapa ing karya. Seperti juga para senopati yang lain.

Berita ini akan segera sampai ke telinga Putra Mahkota.

Atau Permaisuri Indreswari.

Alangkah gampangnya menguasai jika Mahapatih Nambi dan pengikutnya yang setia tersingkir. Sekarang ini tak ada yang menghalangi. Tak ada calon kuat untuk memegang jabatan mahapatih.

Selain dirinya.

Halayudha mengusap bibirnya.

Ketika ia berusaha keras, yang ditemui malah halangan dan hambatan. Ketika ia mengendurkan diri, justru kesempatan itu datang.

“Inilah nasib.

“Nasib baik hanyalah saat yang tepat memanfaatkan kesempatan. Itu bedanya dengan nasib buruk.

“Hanya orang yang selalu bersiap mampu menangkap kesempatan.

“Sebelum bulan bersinar kembali esok malam, kesempatan itu di tanganku. Di tangan manusia kutung yang pincang!”

Telapak Siladri

MAHA SINGANADA tak sempat menyaksikan rembulan Palguna. Di tengah pertarungan tadi, mendadak saja ia merasa lemas. Pikirannya melayang, tak seirama dengan kemampuan tenaganya. Gerakannya menjadi kacau, dan sebelum mengetahui apa yang terjadi, tanah yang diinjak serasa lenyap.

Dalam keadaan antara sadar dan tidak, Singanada merasa dilepaskan dari puncak bukit.

Melayang-layang, mengapung.

Setiap kali bibirnya ingin meneriakkan sesuatu, yang terjadi malah bertambah sesak.

Dibesarkan di tanah seberang, Singanada mengetahui bahwa dirinya berada dalam bahaya karena pengaruh racun tertentu. Ketika usaha melawan dirasakan sia-sia, dibiarkannya tubuhnya terseret arus.

Yang sedikit membuat Singanada heran ialah bahwa pancaindranya masih bekerja secara sempurna. Masih didengarnya suara orang jatuh, teriakan Gendhuk Tri. Masih dilihatnya bayangan yang datang dan pergi, yang menyeretnya, membawa ke suatu tempat.

Hanya saja bibirnya terasa tebal dan matanya mengantuk.

Singanada membiarkan tubuhnya diangkut dan diletakkan di suatu ruangan yang dijaga ketat.

Baru kemudian perlahan mengatur pernapasannya.

Tak ada yang terganggu.

Hanya saja kembali rasa kantuk yang luar biasa menyeretnya ke arah kelelapan. Beberapa kali Singanada berusaha melawan, akan tetapi beberapa kali gagal.

Hanya pikirannya yang masih bisa berjalan.

Sambil menutup matanya, Singanada memperkirakan apa yang terjadi. Ketika muncul tiga tokoh yang kakinya bergelang, dalam pertempuran yang singkat, hidungnya mencium semacam bau apak. Bau yang berasal dari bubuk yang dilemparkan secara bersamaan oleh ketiga lelaki bergelang kaki.

Bubuk itulah penyebabnya.

Telinganya masih sempat mendengar disebutnya bubuk pagebluk. Yang diketahui oleh Singanada bukan dari namanya. Ada bau apak yang dikenali semasa masih di tanah seberang. Bau apak-manis racun putih halus yang menyebar ke udara.

Racun semacam itu juga dijumpai di Keraton Caban, di tanah Campa. Hanya kehebatannya tidak seperti yang dilihat sekarang ini. Bubuk putih di wilayah Caban membuat seseorang hilang ingatan dan limbung, akan tetapi tidak mematikan seketika.

Agaknya ketiga orang yang maju ke medan perang itu telah berhasil membuat ramuan yang luar biasa. Sehingga siapa pun yang menghirup bisa mati seketika. Atau paling tidak hilang seluruh tenaganya.

Beberapa saat kemudian, ada langkah mendatangi. Singanada tak bisa menggerakkan anggota badannya. Setiap kali menutup mata, tubuhnya kembali serasa berayun-ayun di awan.

Akan tetapi pendengarannya masih bisa berjalan sempurna.

“Ini bukan Upasara, walau wajahnya sama jeleknya,” terdengar suara di atasnya. Singanada mengenali sebagai suara Putra Mahkota.

“Kami yakin bahwa Upasara tak akan bisa lolos.”

“Bapa Pendeta, saya juga mau percaya setelah melihat tubuhnya.”

“Kalaupun bisa lolos, hidupnya akan sangat tergantung pada bubuk pagebluk ini. Setiap kali ia akan mencari bubuk dahsyat ini. Karena semua saraf dan darahnya telah teracuni. Hanya bisa dipuaskan dengan bubuk ini, sampai kemudian tak memerlukan lagi.” “Cerita itu aku sudah dengar.

“Bosan aku mendengarnya.

“Yang belum aku dengar, di mana mayat Upasara? Kalau ia bisa lolos, kira-kira ke mana? Seberapa daya tahannya?”

Terdengar jawaban dari salah seorang.

“Mayatnya akan ditemukan dalam lima hari. Hamba yakin, tubuhnya akan ditemukan sebentar lagi. Karena menghirup bubuk pagebluk, apalagi kami terang-terangan melemparkan ke arahnya, seluruh kemampuannya akan lenyap. Diperlukan waktu lama untuk bisa memulihkan kembali. Itu pun pasti sudah akan ketagihan.

“Dan pancaindranya akan menuntun ke kami bertiga, yang masih menyimpan bubuk lainnya.

“Sekali terkena bubuk ini, seumur hidup akan tergantung pada kami. Sampai sekarang belum ada yang bisa lolos dari cengkeraman neraka. “Sungguh tepat Paduka memberi nama bubuk pagebluk.”

Singanada mendelik.

Bubuk semacam itu, tak salah lagi berasal dari jenis tumbuhan tertentu yang sangat gawat. Pada ramuan yang hanya beberapa lembar dedaunan atau putiknya, bisa membuat nikmat. Akan tetapi memang makin lama makin membuat ketagihan dan tergantung.

Di tanah Campa bubuk semacam ini memang dikenal luas.

Menjadikan para sambiwara, para pedagang, lalu-lalang di seluruh jagat dengan keuntungan yang luar biasa.

Seperti dugaannya semula, tiga orang yang dipanggil sebagai bapa pendeta ini mampu menciptakan ramuan yang luar biasa pekat dan ganas.

Singanada menyadari bahwa keadaannya sekarang ini lebih parah dari yang diperkirakan. Karena, kalau benar yang diutarakan, dirinya terpengaruh oleh bubuk pagebluk sepanjang hidupnya.

Setelah pengaruh sekarang ini berkurang, seluruh tubuhnya bakal dijalari ingin merasakan kembali.

Bubuk yang paling jahat yang pernah dikenalnya.

Sekarang justru dirinya yang terkena.

“Bagaimana dengan perawan yang satunya?”

“Keadaannya lebih parah, Paduka. Karena aneh sekali, tenaga dalamnya justru membantu mencairkan bubuk pagebluk.”   .

Singanada menduga pastilah yang dibicarakan itu Gendhuk Tri. Tak mungkin Permaisuri Rajapatni.

“Paduka…

“Ini saat terbaik melatih ilmu silat tenaga dalam. Upasara atau Rajapatni hanya soal waktu. Hamba bertiga jauh-jauh datang dari Syangka untuk membawa bubuk pagebluk ini.

“Marilah, Paduka, kita tidak perlu memikirkan hal ini lebih lama.”

“Baik.

“Sementara itu jalankan terus ramuan bubuk pagebluk yang tak terlalu ganas, agar semua menjadi tergantung kepada kita. Ingat, aku sendiri yang menentukan siapa yang menerima seberapa….”

“Sembah bagi Paduka….”

Lalu terdengar langkah kaki meninggalkan.

Singanada terbaring.

Merasa kalah.

Hancur.

Sia-sia.

Kenapa aku tidak mati seperti Cebol Jinalaya saja?

Bagaimana dengan Gendhuk Tri? Seberapa jauh ia lebih parah? Kenapa tubuhnya lebih memungkinkan bubuk itu bekerja sempurna?

Kembali rasa kantuk menyeretnya. Perasaan melayang dari puncak gunung mengganggunya. Bayangan demi bayangan yang serba aneh muncul dari angannya. Tangannya serasa berjalan sendiri, kepalanya lepas dan menertawakannya.

Antara igauan dan lamunan, Singanada melihat sesosok mendekat. Tangannya bergerak, entah cepat entah lambat, akan tetapi dua penjaga yang berada di depan mendelik dan tak bergerak.

Sosok tubuh itu mendekat ke arah Singanada.

Sebelum Singanada menyadari, pipinya telah dijepit. Sebutir buah yang sangat pahit dijejalkan hingga ke pangkal lidahnya. Ketika ia akan terbatuk, tangan yang keras menutup mulutnya.

“Jangan bergerak, jangan mengerahkan tenaga. Biarkan buah itu masuk ke dalam tubuh dan larut dalam darah.

“Dalam sepenanak nasi, tenagamu akan kembali untuk jangka waktu satu putaran terbit dan tenggelamnya matahari.

“Baik sekali bagimu kalau kau segera meninggalkan tempat ini.”

Tubuh Singanada menggigil.

“Tanganmu sangat kasar, bagai batu gunung.”

“Pergilah, Singanada! Selamatkan dirimu!

“Jangan memikirkan Gendhuk Tri atau orang lainnya. Yang penting kamu selamat. Keraton sedang dalam bahaya mengancam yang luar biasa.

“Pengaruh bubuk pagebluk sudah menyebar.”

“Siapa kamu?”

“Karena kamu menyebut tanganku seperti batu, panggil aku Siladri.

“Aku tak punya banyak waktu.”

“Tunggu!

“Kenapa kamu tolong aku?”

“Sebab kamu ksatria.

“Keraton membutuhkan ksatria.

“Jaga diri baik-baik, Singanada. Jangan memikirkan orang lain lebih dulu.”

Dengan gerakan lembut sosok itu bergerak.

Seorang prajurit yang menjenguk masuk, sekali kena pukulan langsung tertunduk, jatuh.

Kurungan Pagebluk

SINGANADA menggerung keras.

Akan tetapi suaranya setengah tertahan.

Ada beberapa keinginan yang akan diteriakkan. Ia seperti mengenal Siladri. Baik gerakan tangannya ketika memukul, atau bahkan caranya berjalan.

Ilmu itu sangat dikenalnya.

Melihat kemampuannya, jelas ilmu silatnya bukan dari golongan sembarangan. Malah kentara sekali dilatih dengan teratur.

Lalu kenapa menolongnya?

Seperti yang dikatakan tadi, dirinya “seorang ksatria dan Keraton membutuhkan ksatria”? Kalau demikian Siladri adalah tokoh dari Keraton. Tak bisa tidak.

Bahwa ia bisa masuk menerobos dengan leluasa menunjukkan tak mungkin dari kelompok di luar Keraton. Kalau benar begitu, kenapa kelihatannya tidak sependapat dengan Putra Mahkota atau bahkan Baginda?

Kenapa membantunya secara diam-diam?

Kelompok mana lagi?

Apa hubungannya dengan Upasara Wulung? Kelihatannya juga cukup kenal. Bahkan Gendhuk Tri pun dikenalnya. Setidaknya kalau diingat bahwa tadi ia mengatakan agar tidak memikirkan orang lain lebih dulu. Yang penting bisa meloloskan diri.

Singanada makin kuatir.

Bagaimana keadaan Gendhuk Tri saat ini?

Apakah ia lebih parah lagi dan akan lebih tergantung kepada bubuk pagebluk yang kini telah menguasai Keraton? Yang telah disisipkan dalam jamuan Keraton?

Benar-benar gawat!

Hanya dengan bubuk yang tak seberapa, seluruh Keraton bisa dikuasai. Dan ini langsung diperintah oleh Putra Mahkota.

Celaka!

Ah!

Singanada merasa bisa menggerakkan tangannya. Benar saja. Kini jari-jarinya bisa digerakkan. Bisa direnggangkan. Bahkan ketika coba diangkat, ternyata bisa.

Hanya kemudian jatuh kembali.

Singanada segera memusatkan perhatiannya. Kalimat petunjuk Siladri yang serba pendek dan tergesa diikuti dengan cermat.

Ia tak akan membuat gerakan apa-apa.

Untuk memudahkan buah pahit yang dijejalkan ke dalam mulutnya larut di dalam darah.

Sejenak Singanada merasakan perbedaan. Pengaruh buruk yang menyeretnya ke dalam kantuk mulai surut. Kini matanya bisa dibuka dengan lebar, bisa melihat benda-benda lebih jelas. Tak ada lagi perasaan gamang atau seperti terayun-ayun dari puncak gunung. Tak ada lagi pikiran dan tubuh melambung seperti ketika di tengah samudra.

Menunggu sepenanak nasi, Singanada menjadi kuatir kalau-kalau ada penjaga yang datang. Namun sebisa mungkin ditenangkan hatinya.

Benar saja. Segera dirasakan kesegaran tubuhnya. Sewaktu tenaga dalamnya disalurkan, bisa berjalan leluasa.

Ini hebat!

Pengaruh bubuk pagebluk bisa dilawan!

Bisa dimusnahkan.

Meskipun hanya dalam jangka waktu terbitnya matahari. Hanya dalam waktu sehari-semalam. Kalau ia tak bisa segera menemukan Siladri yang menjejalkan buah pahit, ia akan ketagihan lagi. Akan hilang seluruh kemampuannya.

Singanada tak berpikir panjang.

Segera ia pulihkan tenaganya, digerakkannya semua anggota tubuhnya. Begitu merasa menguasai tenaganya, Singanada segera melangkah ke luar. Keluar dari ruangan, mengendap-endap menuju bagian lain.

Tak terlalu sulit menemukan jalan keluar, karena Singanada sedikit banyak hafal mengenai keadaan Keraton.

Hanya saja langkahnya tertahan.

Apa gunanya meloloskan diri seorang diri?

Bagaimana mungkin meninggalkan Gendhuk Tri seorang diri?

“Kalau bisa menolongku, pastilah Siladri bisa juga menolong Gendhuk Tri. Pasti sekarang sudah diusahakan.

“Tapi rasanya aku tak bisa meninggalkan perawan suci itu sendirian. Lagi pula untuk apa aku melarikan diri? Meskipun hanya hidup sehari-semalam, untuk apa bersembunyi?

“Jalan yang terbaik adalah menemui pendeta-pendeta jahanam itu. Kalau bisa membunuh mereka atau memaksa mereka menyembuhkan Gendhuk Tri, barangkali ada gunanya sisa hidupku ini.”

Singanada memandang ke arah lain.

“Siladri, aku menempuh jalanku sendiri.”

Singanada berbalik.

Kembali ke dalam Keraton. Mengendap-endap mencari tempat persembunyian Gendhuk Tri. Akan tetapi geraknya terlalu terbatas, karena penjagaan sangat ketat.

Dua kali Singanada memaksa prajurit yang ditemui untuk mengatakan di Gendhuk Tri. Bukan jawaban yang diterima, akan tetapi pelototan mata yang segera dibungkam.

Tak ada jalan lain.

Menelusuri satu demi satu.

Memasuki ruangan-ruangan satu demi satu.

Sekurangnya di mana banyak penjagaan, di situ Singanada mengendap-endap masuk.

Empat ruangan ternyata tak ada apa-apanya.

Ketika mencoba ruangan yang kelima, Singanada menahan diri. Kali ini penjagaan sangat ketat. Sehingga Singanada, di luar kebiasaannya, melewati jalan berputar. Lalu memakai pakaian prajurit Keraton dan mengintip dari balik gerbang.

Darahnya berdesir lebih cepat.

Karena yang berada di dalam adalah orang-orang yang dicarinya.

Semuanya berkumpul.

Putra Mahkota berada di tengah lingkaran dengan telanjang dada. Di sekelilingnya, agak jauh, duduk ketiga pendeta dengan telanjang dada pula.

Di lingkaran yang agak jauh, para prajurit siap siaga.

“Paduka telah bersiap….”

“Mulailah!”

Ketiga pendeta Syangka mengangguk, menyembah, lalu berdiri. Masing-masing telapak tangan bersentuhan.

“Ilmu yang kami turunkan ini adalah ilmu pusaka negeri Syangka. Ilmu yang dikenal dengan nama ilmu Kekal Abadi, atau ilmu Langgeng Bareng Jagat. Selama jagat masih tergelar, selama itu pula ilmu ini masih berlaku.

“Dasar-dasar ilmu ini adalah perubahan Sepuluh Wajah atau Dasamuka.

“Sebelum kami bertiga memulai, kami ingin mengutarakan siapa Dasamuka.”

“Itu aku sudah tahu.”

“Paduka tak boleh menyela.

“Sebab apa yang Paduka ketahui salah.”

Singanada merasa aneh bahwa ada cara mengajarkan ilmu dengan disaksikan begini banyak orang. Dalam pengawalan ketat. Tapi bukan itu yang dipikirkan. Singanada hanya memikirkan bagaimana bisa meloncat masuk dan menerjang ketiganya! Untuk meminta paksa obat penangkal atau memusnahkan ketiganya.

“Dasamuka dikenal sebagai roh jahat.

“Padahal beliau adalah tokoh yang kekal abadi. Hidup bersama jagat. Tanpa menitis seperti Wisnu, yang dipuja di tanah Hindia.

“Dasamuka adalah roh yang sejati.

“Ia membunuh gurunya, mengawini anaknya. Karena yang bisa kekal abadi tak terikat oleh pengaruh jagat yang sifatnya sementara.

“Paduka siap mendengarkan kidungan?”

Putra Mahkota mengangguk.

Adalah roh kekal abadi

hidup bersama jagat raja

tak kenal ikatan sementara

jiwanya melampaui zaman

orang bodoh menyebut durhaka

padahal sesungguhnya

durhaka dan berdharma

hanya sementara

orang sakit menyebut culas

padahal sesungguhnya

tak ada bedanya

untuk keabadian

Dasamuka bisa kalah, sementara

Tapi tak bisa mati, ia abadi

Segala bisa

Segala jadi

Tak ada yang menghalangi

Tidak juga Dewa atau Dewi!

Pertarungan Syangka-Hindia

SINGANADA mengusap wajahnya. Sekuat mungkin menahan dirinya.

Kalau biasanya, mengikuti adatnya, ia pasti sudah menggebrak maju. Akan tetapi, sekali ini, justru ketika keselamatannya tinggal sehari-semalam, hatinya menjadi lebih tenang.

Sebagai senopati yang lahir dan besar di tanah seberang, Singanada bisa melihat lebih jernih apa yang sekarang terjadi.

Kehadiran tiga pendeta dari tanah Syangka merupakan kelanjutan usaha tlatah Syangka menanamkan pengaruh dan kekuasaannya atas tanah Jawa. Tak jauh berbeda dengan ketika Sri Baginda Raja Kertanegara mengirimkan kedua orangtua nya ke tanah Campa. Bedanya hanyalah Sri Baginda Raja mengirimkan para senopati, sementara Syangka mengirimkan para pendeta.

Hal ini bisa terbaca jelas.

Sebab Pendeta Sidateka telah berhasil menanamkan pengaruhnya yang kuat kepada Putra Mahkota. Maka segera disusul pendeta-pendeta lain yang sangat mungkin tingkatannya lebih hebat. Bahkan kemudian memperlihatkan kehebatan bubuk pagebluk.

Salah satu yang diajarkan adalah ilmu Kekal Abadi yang bersumber dari Dasamuka.

Bagi Singanada ilmu silat bukan soal yang dipertentangkan.

Akan tetapi bahwa para pendeta Syangka berdatangan dan diterima secara resmi, bisa membuka medan pertarungan baru. Karena selama ini, selama ratusan tahun, terjadi permusuhan yang luar biasa antara pendeta dari Syangka dan pendeta dari tlatah Hindia. Bahkan dalam babon ajaran, kitab antara keduanya bermusuhan.

Adalah sesuatu yang menyedihkan jika terjadi di tanah Jawa. Karena tanah Jawa akan menjadi ajang peperangan antara Syangka dan Hindia.

Dengan mudah Singanada bisa melihatnya sebagai kemunduran.

Justru karena selama ini ia dibesarkan dalam tradisi Keraton Singasari yang mengumbar gagasan ke tlatah seberang. Yang mengirimkan para senopati ke segala penjuru jagat.

Kelahiran dan kehadirannya di tanah Campa dalam mengirimkan Dyah Tapasi antara lain justru untuk mengikat tali persaudaraan dengan Keraton Caban. Yang menemukan hasilnya tatkala pasukan Tartar gelombang kedua mau menyerbu kembali.

Yang bisa ditahan di tanah Campa.

Dengan jalan perundingan ataupun peperangan.

Hal yang sama yang dilakukan oleh Maha Singa Marutma ke Keraton Mon di tlatah Burma. Atau Senopati Anabrang ke tlatah Melayu.

Suatu kebesaran yang tiada taranya.

Keunggulan prajurit Singasari atas pasukan Tartar yang mampu menaklukkan seluruh jagat, menjadi buah bibir dan kidungan yang agung di negara yang bernaung dalam kebesaran Sri Baginda Raja.

Sungguh menyedihkan justru sekarang ini pendeta dari Syangka meminjam tanah Jawa untuk medan pertarungan.

Sebab jika para pendeta Syangka mulai muncul, bisa dipastikan bahwa sebentar lagi para pendeta dari tanah Hindia juga akan berdatangan.

Paling tidak salah satu tokoh utama yang masih menyembunyikan diri, yaitu Kiai Sambartaka, akan muncul kembali. Dengan berbagai upaya, halus atau kasar, Kiai Sambartaka akan membendung dan menggempur pengaruh dari Syangka.

Bibit persemaian itu menjadi subur karena suasana dalam Keraton sedang berantakan. Perpecahan yang terjadi sekarang ini adalah perpecahan tingkat atas.

Antara Baginda dan Putra Mahkota.

Kalau perpecahan ini berhasil digunakan oleh para pendeta Syangka dan pendeta dari Hindia, habislah sudah keutuhan dan kejayaan Keraton.

Dalam memperhitungkan situasi semacam ini, Singanada boleh bertepuk dada karena merasa mengetahui lebih luas. Bukan sesuatu yang berlebihan. Ia dididik dalam tradisi memikirkan hubungan dengan tata pemerintahan seberang.

Dan yang tak habis membuatnya dongkol ialah ternyata Putra Mahkota menerima begitu saja ajaran dan kehadiran para pendeta Syangka.

Masalahnya kemudian ialah bagaimana mencoba memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Tanpa harus diterima dengan prasangka.

Sebersit gagasan mulia muncul di benak Singanada untuk mengorbankan diri memberitahukan hal ini.

Namun juga sangat disadari bahwa sebelum usahanya berhasil, ia sudah menjadi korban.

Bagi Dasamuka salah itu belakangan

dosa itu perhitungan sementara

sebab yang kekal dan abadi

bisa apa saja

norma dan tata krama itu belenggu

ibarat kata bendungan

yang harus dipecahkan

bagi Dasamuka

kemenangan adalah segalanya

sebab tak pernah bisa dikalahkan

sepanjang segala zaman!

Putra Mahkota menirukan dengan cermat. Tubuhnya yang gemuk bergerak-gerak, mengikuti irama kidungan.

Singanada mendongak ke langit.

Bulan mulai bergeser ke barat.

“Paduka bisa mengerti?”

“Sepenuhnya.”

“Tata krama hanyalah belenggu, hanyalah bendungan yang harus dimusnahkan. Kalau Paduka mempunyai keinginan, harus dilaksanakan. Pengerahan tenaga, melepaskan pukulan, tak boleh ditahan. Dalam latihan ataupun dalam pertarungan.

“Senjata bisa keris, pedang, tombak, kantar, atau bubuk pagebluk.

“Tak ada beda.

“Paduka bisa mengerti?”

“Sepenuhnya.”

“Sekarang latihan memukul dengan tenaga dasar.”

Tiga prajurit yang berdiri di pinggir lapangan ditarik maju. Putra Mahkota menggerakkan kedua tangan secara bersamaan. Diiringi teriakan keras bagai jeritan hewan, pukulan itu terarah ke prajurit yang berdiri tegap.

Seketika itu ambruk.

Muntah darah tak bangun lagi.

Singanada meringis.

“Pukulan Dasamuka tak bisa dikerahkan dengan kedua kaki sebagai kuda-kuda. Paduka harus mempergunakan satu kaki.”

Latihan kedua dijajal.

Kembali dua prajurit menjadi korban.

“Dalam latihan dan pertarungan sejati tak dibedakan.”

“Aku mengerti.”

Sampai di sini Singanada tak bisa menahan diri. Ia berkerumun di antara para prajurit yang mulai minggir ketakutan. Dengan harapan bisa dipanggil maju ke depan.

Hanya saja ketika ia mendekat terdengar suara berbisik di telinganya.

“Bukan sekarang saatnya.”

“Siladri…”

“Jangan maju sekarang, Singanada.”

Singanada menggeleng.

“Aku tak bisa menahan diri.”

Mendadak terdengar teriakan keras.

“Siapa berani berbisik?

“Maju!”

Maha Singanada maju sambil berjongkok.

Duduk bersila di tempat yang agak gelap. Semua prajurit memandangi dengan cemas.

“Tampangmu pengecut, wajahmu ketakutan.

“Sungguh tak pantas untuk latihanku.”

Singanada menunduk.

Bukan takut dikenali, akan tetapi menenteramkan darahnya yang mendidih.

“Pilih yang lain, aku masih mau berlatih.”

Dua prajurit diarak ke depan.

Gemetar di tengah perjalanan. Merunduk. Sehingga terpaksa diseret.

Singanada menunggu kesempatan.

Sekali ini ia akan menyambar maju.

Tapi seorang prajurit yang lain menariknya. Singanada terkesiap, karena ternyata Siladri.

“Pengecut macam kamu sebaiknya jadi makanan harimau.

“Pergi sana. Bandel.”

Hanya karena Siladri beberapa kali mengejapkan mata, Singanada mengikuti tarikan yang menyeretnya.

Sampai jauh di pinggir.

“Pergilah, Singanada.

“Ada waktunya membalas rencana. Gendhuk Tri masih aman.”

Senopati Pamungkas II – 11

 

Sengatan Berahi

TELAPAK tangan yang keras bagai batuan yang menggenggam Singanada masih tetap mencekal kencang.

“Apa maumu, Siladri?”

“Gendhuk Tri dalam keadaan aman untuk sementara,” ulang Siladri

berbisik.

“Kita harus menemukan Upasara dan Permaisuri Rajapatni. Dengan bersatu kalian bisa melawan Barisan Padatala.”

Siladri melepaskan cekalan dan menjauh.

Di luar kori, Singanada tertinggal sendiri.

Banyak pertanyaan yang mengganjal.

“Hampir saja kamu kukira musuh terbesarku, Senopati Agung. Cara jalanmu sama.”

Dugaan itu terlontar begitu saja. Singanada tak yakin apakah itu dugaan

yang tepat atau tidak.

Sejak ia kembali ke tanah Jawa, tak begitu banyak tokoh yang dikenal. Paling hanya beberapa nama. Makanya ia heran sekali kalau ada orang yang mirip dengan yang pernah dikenal. Mestinya ia bisa tahu.

Siladri tokoh utama dalam Keraton. Jelas.

Bisa keluar-masuk dan menyamar sebagai prajurit. Peta permasalahannya tahu persis. Bahwa Gendhuk Tri dalam keadaan aman, dan Upasara serta Permaisuri Rajapatni masih belum ditemukan. Agaknya juga cukup sakti, karena memiliki buah pahit yang untuk sementara bisa membuat tawar pengaruh bubuk pagebluk.

Singanada menduga bahwa Siladri tak mengetahui di mana Upasara berada. Apakah berada dalam tawanan, ataukah meloloskan diri. Itu sebabnya ia memberi saran agar segera meninggalkan tempat. Barangkali terpikir bahwa Upasara bisa meloloskan diri, dan berada entah di mana dalam keadaan ngengleng alias linglung.

Saat itu Upasara memang bingung.

Gayatri yang tertidur nyenyak, mendadak menarik tubuh Upasara. Merangkul kencang. Mendekatkan kepala Upasara ke dada Gayatri. Seolah seorang ibu yang ingin menyusui anaknya yang sudah kehausan.

“Yayi…”

“Peluk aku, Kakang. Rengkuh aku sepuasmu, Kakang….”

Upasara bergidik.

Dalam bayangannya, Gayatri adalah wanita yang suci, dengan sorot mata jernih dan senyum tersembunyi. Tak pernah memperlihatkan perasaan yang sesungguhnya secara wadak. Kalau tadi menggenggam tangan Upasara, diartikan sebagai luapan dari kerinduan yang tak bisa dibendung lagi.

Namun hanya sebatas itu.

Tidak seperti sekarang ini.

Upasara tidak menduga buruk. Justru akal sehatnya bekerja cepat. Kini ia makin yakin bahwa Gayatri terkena pengaruh bubuk beracun, walau hanya sepersekian hirupan.

Pengaruh itu menyebabkan Gayatri berani mengutarakan apa yang terpendam dalam hatinya. Apa yang selama ini disembunyikan bisa muncul secara berlebihan.

Dan karena saat-saat terakhir perasaan Gayatri sedang hanyut dalam kerinduan, yang mendesak ke luar adalah nafsu berahi. Desakan berahi yang memanas.

Upasara tak menduga bahwa bubuk beracun itu mengandung bahaya ganda.

Dalam dosis kecil mampu membuka simpul-simpul perasaan. Menghilangkan rasa sungkan, rasa malu, rasa yang ditutup-tutupi. Dalam dosis besar keinginan itu sedemikian membesar sehingga bisa membunuh dirinya sendiri.

Anehnya bubuk ini secara langsung tidak menimbulkan luka dalam sebagaimana racun yang lain. Kalau racun atau bisa tertentu, bagian yang terkena dapat segera ditandai. Sehingga untuk mengobati dapat mengerahkan tenaga dalam ke bagian itu. Akan tetapi bubuk putih ini langsung terlarut ke dalam darah. Larut menjadi satu.

“Kakang…”

Upasara berusaha melepaskan pelukan Gayatri.

“Kakang mengemohi aku?

“Apakah aku menjijikkan?”

Upasara pernah tahu ada semacam dedaunan yang tumbuh di Perguruan Awan, yang bisa membuat mabuk kepayang, bisa menghilangkan ingatan sementara dan membuat orang menjadi lebih berani. Tak jauh berbeda dengan minuman keras. Dedaunan semacam ini banyak digunakan oleh para

Petani agar giat menggarap sawah, atau prajurit yang menuju medan perang agar lebih berani, atau mereka yang biasa malu-malu kalau ingin bermain asmara.

Dalam soal mempengaruhi sama persis. Namun bubuk putih ini ternyata diramu lebih dahsyat lagi. Karena selain mengendurkan saraf, sekaligus juga mematikan. Sehingga mereka yang terkena pengaruhnya, mengetahui apa yang diperbuat tapi tidak sepenuhnya sadar.

Perbedaan yang kedua ialah bahwa pengaruh dedaunan yang memabukkan itu hanya sebentar, sementara pengaruh bubuk dalam tubuh Gayatri seperti menyentak datang dan pergi berkali-kali.

Kini Upasara merasakan bahwa seluruh tubuh Gayatri basah oleh keringat. Basah dan membanjir, memberikan bau apak yang manis.

Bahkan keringat pun terkena pengaruh bubuk putih.

Meresap ke seluruh tubuh.

Upasara bersila. Kedua tangannya cepat menempel di tengah dada dan perut Gayatri. Tanpa dipengaruhi pikiran-pikiran yang merangsang dirinya.

Perlahan tenaga dalamnya masuk, menerobos pori-pori, mencari hawa nadi yang bergetar. Ke arah itulah Upasara mendorong keras, mencarikan jalan keluar tenaganya.

Tujuannya hanya satu.

Kalau bubuk itu bisa larut sampai ke keringat, berarti sebagian terserap di situ. Dan bagian itulah yang didorong ke luar.

Dalam sekejap saja seluruh tubuh Gayatri benar-benar basah. Cairan dalam tubuh dipompa ke luar dengan dorongan tenaga murni. Bagi Upasara hal ini bukan pekerjaan yang sulit.

Penguasaan tenaga dalamnya untuk dikerahkan dengan perlahan atau cepat, ke bagian mana, bisa dilakukan dengan enteng. Seperti menuntun jalan pikiran atau menggerakkan anggota tubuh. Dan dalam hal ini perlawanan dari tenaga dalam Gayatri boleh dikatakan tidak ada.

Tetapi juga tidak berarti bahwa penyembuhan bisa secepat yang dikehendaki. Sebab kalau cairan tubuh Gayatri didorong ke luar semua, tubuhnya akan mengering. Bisa mati bagian-bagian kulit dan sarafnya.

Kalau terus-menerus dilakukan, Gayatri bisa mati kehabisan cairan tubuh.

Maka Upasara menempuh jalan aman.

Setiap kali mendorong semua keringat Gayatri berhasil, ia berhenti sejenak, mengelap dengan kain yang melekat pada tubuh Gayatri. Tak bisa lain karena tak ada barang lain. Tubuhnya sendiri telanjang dada, tanpa kain.

Setelah itu ia menimba air sumur dengan menggunakan setagen Gayatri. Lalu dengan setengah paksa dijejalkannya air ke bibir Gayatri. Baru kemudian air di dalam tubuh Gayatri didorong ke luar lagi.

Dua kali Upasara melakukan, ternyata ada hasilnya.

Gayatri seolah mendusin dari kelelapan.

“Kakang…”

“Ya. Yayi…”

“Kakang tidak kurang ajar padaku?”

“Tidak, Yayi.

“Kakang hanya berusaha menyembuhkan Yayi….”

Kekuatiran Gayatri bisa dimengerti. Kini tubuhnya terbaring di bangku kayu. Setagennya telah lepas. Kain yang rangkap melibat tubuhnya sebagian telah lepas. Hanya ditutupkan begitu saja. Dalam keadaan antara sadar dan tidak, bisa saja muncul pikiran yang tidak-tidak.

“Yayi harus minum banyak sekali.

“Agar air tubuh Yayi bisa saya dorong ke luar.

“Ceritanya banyak dan panjang. Nanti akan Kakang ceritakan semua.”

Gayatri mengangguk.

Rasa dingin karena keringat kini sepenuhnya terasa. Juga telapak tangan Upasara di belahan dada dan di bagian pusar. Ada hawa enak, nyaman, yang menerobos masuk, mengalir bersama darahnya dan menyebabkan keringatnya bagai disuntakkan ke luar.

“Kakang… Aku tak tahan.”

Upasara menarik kembali tenaganya.

Dan mengelap tubuh Gayatri.

Mendadak Gayatri merebut kain yang masih menempel di tubuhnya.

“Aku bisa melakukan sendiri.”

Upasara berpaling ke arah lain.

Walau sebenarnya tidak perlu.

Karena ruangan sangat gelap tanpa cahaya. Tak bisa melihat ujung hidungnya sendiri. Hanya saja irama dan desiran darah yang bergolak serta udara panas dari sela-sela hidung bisa menjadi pertanda bahwa tanpa melihat langsung, gelora berahi itu tak bisa ditutupi secara sempurna.

Kidungan Pamungkas

AKAN tetapi karena batin Upasara bersih dari niatan yang nakal, demikian juga Gayatri, keduanya dengan cepat bisa menguasai diri kembali.

“Kita coba kembali, Yayi?”

“Tubuhku sangat lemas.

“Tapi kalau Kakang anggap baik, silakan….”

Tangan Upasara bergerak. Kali ini tidak ke pusar atau belahan dada, melainkan menutup bibir Gayatri. Yang hampir saja berteriak karena kaget.

Baru kemudian Gayatri sadar bahwa ada langkah kaki menuju ruangan pustaka raja.

Ini hebat!

Ketika pintu terbuka, tampak bayangan tubuh seorang wanita memasuki ruangan pustaka raja sambil membawa obor penerangan.

Upasara mendelik.

Karena yang datang adalah Permaisuri Indreswari.

Berbagai pertanyaan serentak mengentak Upasara dan Gayatri.

Ruangan pustaka raja tidaklah luas. Lebih banyak untuk tempat penyimpanan kitab-kitab yang dituliskan pada kain sutra, kulit binatang, maupun dedaunan. Semuanya tersimpan dalam kotak yang dibuat dari kayu cendana. Semua disusun, menyita hampir sebagian besar ruangan.

Satu-satunya tempat yang luang hanyalah di bagian bangku kayu di mana Upasara dan Gayatri bersembunyi. Tempat yang biasanya digunakan Baginda untuk membaca atau menembang.

Jika Permaisuri Indreswari melangkah masuk, mereka berdua pasti segera ketahuan.

Karena tak mungkin mencari persembunyian lain. Kalaupun Upasara melayang dan menempel di langit-langit, jejak yang ditinggalkan sangat mudah terbaca. Apalagi ada bongkaran tanah dan bangku kayu yang basah oleh keringat.

Bagi Upasara dan Gayatri, bukan masalah utama kalau dianggap mencuri tahu mengenai kitab-kitab yang hanya diperuntukkan Baginda. Akan tetapi diketahui berada dalam ruangan dan berdua-dua, sementara Gayatri hanya mengenakan kain yang mirip selimut, bisa memorak-porandakan cerita yang ada.

Apalagi yang mengetahui adalah Permaisuri Indreswari!

Bahwa tanpa melihat langsung cerita yang berkembang di luaran sangat menyakitkan hati, Gayatri sejak awal sudah mengetahui. Apalagi ditangkap basah—dan benar-benar basah seperti sekarang ini.

Sebenarnya ada pertanyaan lain yang muncul.

Yaitu kenapa Permaisuri Indreswari di tengah malam seperti ini memasuki kamar pustaka raja. Bahkan para emban atau prajurit jaga yang baru masuk mengabdi sudah tahu adalah larangan utama bagi siapa saja untuk masuk ke pustaka raja atau sanggar pamujan.

Selain Baginda sendiri.

Barang siapa berani mendekati saja sudah bisa didakwa melanggar tata aturan Keraton.

Tapi pertanyaan itu tenggelam dengan sendirinya.

Permaisuri Indreswari tak mungkin nantinya akan disalahkan memasuki kamar pustaka raja. Karena bisa saja beralasan mendengar suara di dalam, dan kemudian masuk. Permaisuri Indreswari dengan mudah mengatakan curiga dengan adanya suara di dalam karena saat itu Baginda sedang berada di sanggar pamujan. Berarti ada orang lain.

Para prajurit jaga akan membenarkan semua kalimat Permaisuri Indreswari.

Upasara menarik tubuh Gayatri.

Menempel erat di tubuhnya. Tangan kanannya memeluk Gayatri, sementara tangan kirinya menggantung. Satu gerakan tangan kiri akan mampu menyeret Permaisuri Indreswari masuk atau terlontar ke luar melewati halaman.

Gayatri bersandar di punggung Upasara.

Menunggu.

Bayangan tubuh Permaisuri Indreswari bergerak. Cahaya obor yang dibawa tergoyang oleh tubuhnya sendiri.

Berhenti.

Mengawasi tumpukan peti kayu cendana. Perlahan membuka salah satu peti, dan tangannya mengambil salah satu gulungan kitab yang ada.

Cepat menutup peti kembali.

Dan berbalik.

Berbalik!

Gayatri menutup matanya.

Napasnya mendengus lega.

Permaisuri Indreswari hanya berada di bagian ujung. Mengambil satu gulungan lalu melangkah ke luar.

“Aku sudah periksa. Di dalam tak ada apa-apa.

“Lanjutkan penjagaan, karena banyak musuh.”

“Sendika dawuh dalem, sang Prameswari Agung…”

Jawaban para prajurit jaga terdengar serempak dan hormat. Lalu terdengar langkah menjauh.

Sunyi lagi.

“Mbakyu Ayu Indreswari sudah tahu keadaan di dalam ruangan ini. Sudah hafal di mana disimpan kitab apa. Sehingga hanya perlu melangkah masuk dan mengambil apa yang diinginkan.

“Sungguh kurang ajar.”

“Tenang, Yayi….”

Gayatri melepaskan diri dari rangkulan Upasara.

“Bagaimana aku bisa tenang?

“Sudah jelas Mbakyu Ayu Indreswari mengambil kitab pusaka yang tak boleh disentuh oleh siapa pun. Dengan cara sembunyi-sembunyi, seolah ingin memeriksa, sehingga prajurit jaga pun dikelabui.

“Ini benar-benar keterlaluan.

“Yang selama ini dianggap permaisuri paling berbakti, paling suci, diam-diam melakukan tindak dursila.”

Gayatri menuju ke arah depan. Ke tumpukan peti kayu cendana.

“Yang diambil kitab yang berisi Kidungan Pamungkas.”

Upasara menunggu sampai Gayatri dekat.

Dan berbisik.

“Bagaimana Yayi tahu?”

“Saya tahu, Kakang.”

“Bukankah ini hanya untuk Baginda?”

Gayatri menghela napas.

“Sekarang ini hanya untuk Baginda. Iya.

“Tapi sebelum ini, kitab-kitab itu milik Sri Baginda Raja. Dan kami semua putri-putrinya diberi izin untuk mempelajari. Aku sendiri yang mengatur kitab mana diletakkan di mana.

“Semua kitab ini peninggalan dari leluhur sebelum Sri Baginda Raja. Ditambah dengan yang ditulis Sri Baginda Raja.

“Aku tahu, bukan mencuri tahu, Kakang.”

“Maaf, Yayi…

“Kalau tidak mengetahui, mana mungkin Yayi bisa mematahkan kidungan Senopati Halayudha….”

Gayatri terdiam.

Lama.

Lalu,

“Kakang, aku benar-benar takut, cemas.

“Selama ini ruang pustaka raja tak pernah dimasuki siapa pun. Akan tetapi secara diam-diam Halayudha bisa masuk kemari. Dan kini Mbakyu Ayu Indreswari juga leluasa mengambil begitu saja.

“Aku cemas sekali, Kakang.

“Keraton kita tak tersisa lagi.”

Upasara mengangguk.

“Pada zaman Ayahanda Sri Baginda Raja, banyak kitab yang diizinkan untuk diketahui para senopati. Bahkan Kitab Bumi disebarkan secara luas. Akan tetapi semua di bawah pengawasan yang ketat.

“Tidak main curi seperti sekarang ini.

“Kalau ini bukan pertanda kekacauan, apa lagi?”

Upasara membiarkan Gayatri mengumbar emosinya.

Sesaat.

“Maaf, Kakang.

“Aku tak bisa menahan diri. Betapapun aku putri Keraton dan permaisuri. Aku tak bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja.

“Maaf, Kakang.

“Kakang jangan tersinggung kalau kukatakan aku permaisuri Baginda.

“Adalah kewajibanku untuk menjaga kebesaran Baginda.

“Bukan karena beliau guru laki yang harus kusembah, tapi beliau adalah raja.”

Suara Upasara serak.

“Tak apa, Yayi.

“Kalau Yayi menghendaki, sekarang ini juga kita ambil kembali.”

Upasara memandang Gayatri.

“Yayi sudah baik?”

“Lebih baik dari tadi, Kakang.”

“Kalau begitu Yayi tunggu sebentar. Kakang akan merebut kembali.”

“Tunggu dulu!

“Tunggu, Kakang! Kenapa Mbakyu Ayu Indreswari justru mengambil kitab Kidungan Pamungkas} Itu bukan kitab yang luar biasa.

“Kenapa bukan Kidungan Para Raja, kalau ia mengharapkan putranya segera memegang takhta?”

Enakkan Hatimu, Adimas

DALAM banyak hal Upasara mendalami berbagai kitab. Sejak kecil dididik dalam tradisi Keraton yang bukan hanya mempelajari kitab kanuragan, melainkan juga kitab-kitab yang berisi tata krama dan cara-cara mengatur

pemerintahan.

Akan tetapi sejauh ini, dirinya lebih mendalami kitab ilmu silat, terutama Kitab Bumi. Boleh dikatakan hafal setiap lekuk-liku cara mengidung. Maka tidak bisa segera menghayati kenapa Gayatri mempertanyakan Permaisuri Indreswari yang mengambil Kidungan Pamungkas dan bukan kitab Kidungan Para Raja.

“Pasti ada yang istimewa, Yayi.

“Kalau tidak, di tengah malam seperti ini Permaisuri Indreswari tak perlu datang kemari.”

“Semua kitab yang ada di sini istimewa, Kakang.”

Upasara tersipu.

“Yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa justru Kidungan Pamungkas yang diambil.

“Kitab itu tak berisi sesuatu yang istimewa mengenai kekuasaan, mengenai asal-usul keturunan, mengenai tata cara menggempur musuh, ataupun mengenai berlatih tenaga dalam. Itulah sebabnya susunannya berada di luar.

“Kalau hanya datang untuk mengambil itu, sebenarnya bisa kapan saja

tanpa diketahui.

“Ini aneh.”

Upasara merasakan betapa Gayatri tetap bagian dari Keraton yang utuh. Segala kecemasan dan kebanggaannya berhubungan dengan Keraton.

“Kakang…”

“Ya, Yayi…”

“Kakang tidak marah kalau saya minta sesuatu?”

Upasara memberanikan diri menggenggam tangan Gayatri.

Gayatri sengaja tak menghindar.

“Kakang tidak marah?”

“Tidak.”

“Kakang, malam ini malam milik kita berdua. Ditakdirkan menjadi milik kita.

“Hanya saja kita tak bisa berkurung di sini.

“Kakang tidak marah kalau kita pergi dari sini?”

“Tidak.”

“Saya ingin kembali ke kamar prameswaren.

“Kakang tidak marah?”

“Tidak.”

Gayatri merapikan kainnya. Mengikat dengan setagen.

Lalu berjalan.

Upasara mendampingi. Di sisi jendela, Upasara mendorong dengan telapak tangan tanpa menyentuh. Jendela merenggang, dan sesaat kemudian Upasara sudah berada di luar, sementara jendela tertutup kembali.

Hanya dengan satu totolan kaki, tubuh Upasara dan Gayatri melesat ke bangunan dalam. Melewati beberapa emban dan penjaga, keduanya menyusup ke dalam kamar.

Untuk pertama kalinya Upasara masuk ke kamar seorang wanita. Yang menampar hidungnya pertama kali adalah bau harum. Dan angin dingin yang masuk dari sela-sela jendela bagian atas.

Sebuah ranjang tidur yang indah.

Sangat indah.

Ditata apik. Resik.

Kelambu sutra menutupi seluruhnya.

“Ini kamarku, Kakang.

“Kamar yang menemani hari-hariku.”

Upasara mengangguk.

Berdiri kikuk.

“Kakang tunggu sebentar di sini.

“Saya akan menjemput Mbakyu Ayu Tribhuana….”

“Barangkali sudah berada di dalam,” jawaban Upasara pendek dan menggeser kakinya ke depan. Siap melindungi Gayatri kalau terjadi segala sesuatu.

Gayatri melengak.

Kamarnya hanya satu ruangan. Bagaimana mungkin ada orang di dalamnya, selain mereka berdua?

Bagi Upasara terlalu mudah mengetahui ada orang lain. Dari dengus tarikan napas dengan mudah bisa diketahui asalnya dari ranjang peraduan yang tertutup tirai.

Benar dugaannya.

Tirai terungkap.

Upasara menunduk, bersila, dan menghaturkan sembah.

Gayatri hampir tak percaya. Kakaknya yang sulung duduk bersila di ranjang. Pandangannya luruh, tenang, dan bahagia, sementara bibirnya sedikit sekali menyimpan senyuman.

“Baik-baik saja, Adimas Upasara?”

Siraman air suci yang segar seakan mengguyur seluruh badan Upasara. Sambutan yang dirasa begitu hangat, ramah, membuyarkan semua kekuatirannya.

Jauh dalam hatinya Upasara merasa sangat tidak enak. Datang ke kamar peraduan Gayatri. Lebih tidak enak lagi karena mengetahui ada Permaisuri Tribhuana di dalam.

Jalan pikiran Upasara ialah apa yang dikatakan Permaisuri Tribhuana mengenai hubungan mereka berdua selama ini? Tidak enak sekali, karena justru seakan tidak menghormati sedikit pun bahwa Gayatri masih mempunyai kakak tertua.

“Atas restu Permaisuri Tribhuana….”

“Enakkan hatimu, enakkan dudukmu.

“Aku tahu bahwa kalian berdua akan datang kemari. Maka aku mendahului kemari. Supaya tidak banyak waktu terbuang.

“Nimas Ayu, dandanlah yang baik.

“Rasanya kurang menghormati Adimas Upasara….”

Permaisuri Tribhuana turun dari ranjang peraduan. Menutup tirai.

“Maafkan adikmu ini, Mbakyu Ayu….”

Gayatri segera masuk ke balik tirai.

Sejenak Permaisuri Tribhuana memandang Upasara yang menunduk. Dari ujung rambut ke ujung kaki. Upasara merasa seperti telanjang di bawah sorot mata Permaisuri Tribhuana.

Yang terngiang di telinga Upasara adalah sebutan Adimas Upasara, cara penyebutan yang menerima kehadiran. Menyambut dengan baik. Sangat bersikap kekeluargaan, walaupun tidak berlebihan.

“Aku mendengar begitu banyak berita sejak kemarin.

“Sejak kalian berdua hilang bersama, aku sudah tahu ke mana kalian akhirnya akan pergi. Menemuiku.

“Adimas Upasara, kamu kuanggap bukan orang lain.

“Adalah salah kalau aku memberikan kesempatan pada adik kandungku untuk berduaan denganmu. Sebagai sesama permaisuri, aku tak mengizinkan orang lain menggandeng bayangan tubuh Permaisuri Rajapatni.

“Tetapi sejauh ini, aku mengerti siapa diri Adimas.

“Aku percaya penuh kepada Adimas Upasara.”

Upasara mengakui bahwa sebutan mahalalila bagi Permaisuri Tribhuana adalah sebutan yang sangat tepat. Apa yang diucapkan tepat, pas, tanpa basa-basi dan sanjungan atau merendahkan yang diajak bicara.

“Kenapa Rajapatni ingin mencariku?

“Ingin memperkenalkan ksatria yang telah dikenal jagat?”

Upasara menceritakan secara singkat kejadian terakhir, di mana Permaisuri Indreswari masuk ke pustaka raja dan mengambil kitab Kidungan Pamungkas.

“Memang ganjil.

“Kidungan Pamungkas tidak berisi sesuatu yang istimewa. Kalau dibaca selintas. Sewaktu Sri Baginda Raja masih memegang kebijakan, hanya Kidung Paminggir yang telah begitu direstui untuk dibaca kerabat Keraton.

“Adimas Upasara lebih mengetahui kenapa.”

“Serba sedikit, Permaisuri Tribhuana….”

“Serba sedikit?

“Semua memang serba sedikit. Tak ada yang mengetahui sedalam-dalamnya. Kidung Paminggir ditulis dan disusun oleh Eyang Sepuh, dan membuat Sri Baginda Raja Murka. Karena intinya mengisyaratkan munculnya seorang paminggir, seorang yang tidak mempunyai darah keturunan, bakal memegang kendali Keraton di masa yang akan datang.

“Itu yang terbaca.

“Perintah larangan Sri Baginda Raja diketahui secara luas. Namun dalam Kidungan Para Raja, Sri Baginda Raja justru menuliskan bahwa roh raja bisa bersemi dalam dada setiap prajurit dan ksatria.

“Bukankah sedikit membingungkan?

“Ah, kenapa kita bicara seperti ini, Adimas?”

Permaisuri Rajapatni membuka tirai. Kini muncul dengan dandanan yang anggun, ayu, membuat Upasara tak berani melirik.

“Karena Mbakyu Ayu paling bijaksana dan mengetahui.”

“Itu anggapan yang keliru.

“Semakin membaca kidungan, semakin banyak yang tidak diketahui.”

Permaisuri Rajapatni bersila di bawah.

Berseberangan dengan Upasara.

Permaisuri Tribhuana duduk di pinggir ranjang.

“Mudah-mudahan Baginda menangkap wangsit, menangkap ilham yang sejati di sanggar pamujan.”

Akhir kalimatnya benar-benar menggambarkan pengharapan.

Kidung Mahamanusia

PERMASURI TRIBHUANA menunduk, bersama dengan Permaisuri Rajapatni. Lamat, samar, keduanya menembangkan kidungan secara bersamaan.

Atas nama Sri Baginda Raja

yang menguasai tanah Singasari

disusun Kidungan Pamungkas

atas perkenan pribadi Sri Baginda Raja

dan kemurahan hati yang bijak

semata-mata karena Sri Baginda Raja

sebagai manusia

manusia ialah manusia

bukan Dewa, bukan penjelmaan Dewa

manusia mempunyai raga

manusia mempunyai jiwa

keduanya menjelma

menjadi manusia

manusia menjadi mahamanusia

jika mengagungkan manusia

bukan Dewa

bukan gerhana

bukan nirwana

manusia bukan hewan

bukan tumbuhan

bukan cairan

maha manusia bisa berkaca

melihat dirinya

mahamanusia bisa berkata

dan mendengarnya

menghadapi diri

melihat batin yang sejati

dalam hidup sejati

mahamanusia

bertatap muka dengan Dewa

yang sebenarnya entah di mana

mahamanusia

menguasai jagat seisinya

mahamanusia

hidup di akhir peradaban

di zaman pamungkas

zaman yang telah selesai

bagi kehidupan

ketika mahamanusia lahir

mengagungkan manusia

adalah kodrat jagat

menjadi maha manusia

adalah kodrat jagat

mengagungkan manusia

bukan menyatu dengan Dewa

mengagungkan manusia

adalah menjadi maha manusia

atas perkenan Sri Baginda Raja

yang menguasai Keraton seisinya

Kidungan Pamungkas disusun

untuk memuja manusia

bukan Dewa

bukan raja

bukan nirwana

bukan gerhana

bukan raga

bukan jiwa

sebab maha manusia

sudah segalanya….

Kedua permaisuri mengakhiri dengan menyembah.

Upasara masih tak bergerak.

“Semoga Sri Baginda Raja mengampuni putrinya yang telah lancang membaca kidungan di depan orang lain.”

Kembali keduanya menyembah.

“Adimas Upasara, apa yang Adimas rasakan?”

“Hamba tak begitu paham tentang tata krama, Permaisuri Tribhuana. Agaknya memang bukan ajaran ilmu silat atau berlatih pernapasan.”

“Kidungan Pamungkas, kalau ditilik dari tembangan yang disajikan, masih dekat dengan saat-saat Kidungan Para Raja. Kalau dilihat dari pilihan kata-kata bukan tidak mungkin ditulis Eyang Mpu Raganata.

“Kalau pada awalnya ditulis atas perkenan Sri Baginda Raja, berarti Sri Baginda Raja turut membaca sejak huruf pertama.

“Adimas, saya pernah sowan Kanjeng Rama dan menanyakan dimasukkan ke dalam deretan apa Kidungan Pamungkas ini.

“Kanjeng Rama mengatakan bisa di mana saja. Bisa di bagian tata cara pemerintahan, ilmu silat, atau tembang dolanan, permainan anak-anak.

“Memang ganjil.

“Di saat-saat terakhir Sri Baginda Raja hanya memusatkan pada penulisan Kidungan Para Raja. Sampai akhir hayatnya, sebelum kembali ke keabadian yang sempurna.

“Akan tetapi kidungan ini juga sempat diperhatikan.”

Permaisuri Tribhuana menggerakkan tangannya.

“Kalau tak banyak yang bisa menangkap isinya, untuk apa Dara Petak mengambilnya?

“Untuk kitab yang biasa-biasa, Dara Petak tak mampu memahami. Apalagi Gemet….”

Masih terasa kegetiran yang tak terhapuskan. Permaisuri Tribhuana tetap menyebut Dara Petak, dan bukan Permaisuri Indreswari.

“Nimas Ayu, apakah Keraton sedang ketamuan seseorang?”

“Rasanya yang muncul hanyalah para pendeta dari tanah Syangka.”

“Saya tak melihat adanya hubungan dengan tanah Syangka.

“Ataupun tanah Hindia.

“Atau tanah Turkana….”

Sampai di sini, Permaisuri Tribhuana memandang Upasara selintas.

Cukup bagi Upasara untuk merasakan sesuatu yang mengganjal.

“Rasanya hamba sudah cukup lama.

“Mohon perkenan Permaisuri Tribhuana dan Permaisuri Rajapatni untuk mengundurkan diri.”

Permaisuri Tribhuana menghela napas.

“Malam ini meskipun angin segar, tapi alam seperti bergegas. Dan beringas. Semua memanfaatkan saat-saat Baginda berada di sanggar pamujan.

“Adimas Upasara Wulung.

“Adimas ksatria sejati, senopati Keraton. Menjadi tanggung jawab Adimas untuk membantu tegaknya wibawa Keraton, dalam keadaan apa pun.

“Seperti juga kami semua.”

“Kehormatan bagi hamba, Permaisuri Tribhuana.”

“Terima kasih, Adimas.

“Nimas Ayu, Kakang-mu akan meninggalkan prameswaren. Apakah ada yang ingin Nimas Ayu katakan tanpa kudengar?”

“Apa bedanya, Mbakyu Ayu?

“Mbakyu Ayu sudah saya anggap pengganti kedua orangtua sejak masih kanak-kanak. Rasanya tak ada yang bisa saya sembunyikan dari Mbakyu Ayu.

“Kakang Upasara…”

Udara di dada Upasara tertahan.

“Kakang tahu aku masih keracunan bubuk putih?”

“Dengan dua atau tiga kali pengobatan rasanya akan segera bersih kembali, Yayi.

“Kakang hanya menunggu kalau Yayi sudah merasa sehat.”

“Sekarang sudah.”

Upasara mengangguk.

Bersiap.

Permaisuri Rajapatni tersenyum tipis.

Permaisuri Tribhuana memandang ke arah lain.

“Saya tak mau Kakang menyembuhkan seketika. Supaya suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi. Supaya Kakang tetap mengingat bahwa saya masih penyakitan, dan Kakang mau datang menolong.”

Kali ini Permaisuri Tribhuana yang tersenyum tipis sekali.

“Kakang berjanji?”

Upasara mengangguk.

“Kakang, aku menyimpan pakaian untuk Kakang. Aku menyambung dengan tanganku sendiri. Sekarang Kakang bisa mengenakan. Maukah, Kakang?”

Busana Kanendran

UPASARA mengangguk. Seperti juga ia mengangguk terhadap semua permintaan Permaisuri Rajapatni.

Tapi sekali ini membuatnya terbengong.

Melongo.

Banyak kejadian yang membuat Upasara kikuk tak bisa berbuat apa-apa. Yang seperti ini sama sekali tak pernah diduga.

Dari peti yang berbau harum, Permaisuri Rajapatni mengeluarkan semua isinya. Semua permata, pakaian kebesaran, sebelum mengambil pakaian Upasara.

Saat itu Upasara berpikir bahwa pakaian yang disiapkan untuknya diletakkan di bagian bawah, agar tak mudah diketahui orang lain. Meskipun boleh dikata tak ada emban yang diizinkan menyentuh debu dalam peti busana.

Sewaktu sudah diangkat, Upasara masih menduga bahwa bukan yang disodorkan itu yang harus ia pakai.

Pakaian yang luar biasa.

Warna dasar hitam, dengan renda-renda emas di ujung lengan, di bagian leher.

“Yayi…”

“Pakai saja… Nimas Ayu sudah menyiapkan sejak puluhan tahun yang lalu.”

Permaisuri Tribhuana ikut mendandani Upasara.

Menggelung rambutnya, memakaikan kain secara tepat pada goresan kecil-kecil yang ada. Mengenakan sabuk besar yang bertatahkan berlian.

“Yayi…”

“Kakang seperti narendra…”

Seumur hidup, Upasara tak pernah mengenakan pakaian kebesaran seperti sekarang ini. Apalagi busana narendra, busana raja!

Mimpi pun tak pernah.

“Ah!

“Siapa sangka dengan busana kanendran ini Adimas tak kalah gagah dari Gemet atau bahkan Baginda?”

“Yayi…”

“Inilah impian yang mewujud, Kakang.

“Impianku tentang Kakang.”

“Ya, tapi…”

“Kenakan, Kakang!

“Sebagai kenangan padaku.”

Upasara menggeleng-geleng.

“Yayi…”

“Aku menyimpan pakaian yang sepadan dengan yang Kakang kenakan. Suatu hari nanti kita akan memakai bersama. Sekarang Kakang pakai sendiri.”

“Ya, tapi…”

“Biarlah Kakang melangkah dari kamar ini seperti kenangan yang kumiliki.”

Upasara benar-benar mati kutu.

Tak bisa menolak.

Tak bisa mengelak.

Apalagi Permaisuri Rajapatni begitu bersungguh-sungguh, dan Permaisuri Tribhuana merapikan hampir di semua tempat. Termasuk membetulkan keris yang bertatahkan permata. “Yayi…”

“Berangkatlah, Kakang. Rembulan sudah hampir tak bersisa lagi.”

Air mata Permaisuri Rajapatni menetes.

Air mata Permaisuri Tribhuana menggenang.

Upasara menyembah.

Berjalan menuju pintu dengan langkah kaku.

Gerahamnya beradu.

Permaisuri Rajapatni meneriakkan kata batinnya. Menahan. Mengerem. Menjeritkan agar Upasara kembali.

Atau setidaknya menoleh.

Tapi Upasara berlalu.

Membuka pintu dengan gagah. Dan sebelum pintu betul-betul terbuka lebar, tubuhnya melesat dan pintu tertutup kembali.

Melewati bayangan pepohonan, Upasara meloncati dinding bagian belakang. Menyusup di antara prajurit jaga.

Senopati Pamungkas II – 12

Hanya karena tidak biasa dengan pakaian kebesaran yang dikenakan, geraknya jadi serba tanggung. Kuatir kainnya sobek atau kotor, Upasara berjalan seperti biasa.

Dalam bayangannya hanya ada satu tujuan. Mencari tempat yang aman untuk segera menukar pakaian. Menyimpan pakaian kebesaran, dan menggantinya dengan yang biasa dikenakan sehari-hari.

Kembali menjadi Upasara Wulung.

Seorang ksatria.

Tangan Upasara masih memegang, menelusuri pakaian itu dari atas hingga ke bawah. Kalau tidak mengenakan busana kanendran ini, semua yang dialami siang sampai dini hari ini pastilah impian.

Betapa tidak.

Bisa berdua bersama Gayatri.

Bercerita banyak sekali.

Mengantarkan dan masuk ke dalam kamar peraduan.

Diterima dengan hangat oleh Permaisuri Tribhuana.

Pengalaman yang tak pernah akan tertindih oleh pengalaman lain sampai tujuh turunan berikutnya.

Upasara terlelap dalam pikirannya sehingga tanpa sadar berpapasan dengan barisan prajurit.

Sebelum sempat bereaksi, para prajurit menyembah hormat padanya.

Upasara mengangguk dan berjalan menjauh.

Walau merasa geli dan risi, Upasara tak bisa menanggalkan begitu saja. Celakanya, langkahnya yang asal-asalan justru membawanya ke tempat yang lebih banyak prajuritnya.

Yang semuanya kembali membungkuk hormat.

“Dengan segala hormat, silakan masuk ke dalam, Gusti Pangeran….”

Barulah Upasara sadar bahwa yang dikenakannya adalah pakaian kebesaran yang biasa dipakai oleh para pangeran. Atau setingkat dengan Putra Mahkota.

Karena tak bisa melepaskan diri, Upasara masuk. Mengikuti prajurit yang bertugas mengantarkan para tamu yang datang.

Hatinya bercekat ketika dipersilakan duduk di barisan depan, pada kursi prada, kursi warna emas.

Lebih bercekat lagi karena yang di sebelahnya ialah Pangeran Jenang, yang mengangguk hormat padanya.

“Adalah kehormatan besar berada di sebelah Pangeran Jenang,” kata Upasara perlahan.

“Kehormatan yang sama, Pangeran…”

Pangeran Jenang tidak melanjutkan kalimatnya.

Dalam hatinya juga bingung. Begitu banyak pangeran di tanah Jawa ini. Nyatanya begitu.

Hampir semua pembesar datang.

Sebelum matahari bersinar sempurna.

Agak di luar dugaan bahwa ada pasewakan agung yang diselenggarakan dini hari. Tapi Upasara tak banyak mengikuti. Pikirannya hanya bagaimana segera melepaskan diri dari kerumunan yang begini banyak, untuk menjelajah ke dalam Keraton mencari tahu di mana Singanada dan Gendhuk Tri tertawan.

Bersama dengan iringan genderang dan trompet serta gamelan panjang, semua yang hadir menunduk, menyembah.

Putra Mahkota Bagus Kala Gemet memasuki ruangan. Dengan pakaian kebesaran serta mengenakan mahkota. Diiringi para senopati, dinaungi payung kebesaran.

“Hari ini, ingsun, Sri Sundarapandya Adiswara, pemegang tunggal kekuasaan Majapahit dan seisinya, memerintahkan para kawula untuk mendengarkan sabda ingsun.

“Bahwa mulai pagi tadi, ketika sang surya keluar dari peraduannya, Baginda Kertarajasa Jayawardhana menitiskan wahyu Keraton ke tangan ingsun.

“Unjuk kesetiaan ditandai dengan sembah kalian, semua hambaku, serta minum tuak beras bersama-sama….”

Para pelayan segera menghidangkan bumbung bambu yang berisi tuak beras, untuk ditenggak satu demi satu.

Upasara berada di urutan depan untuk menerima pertama kali.

“Tahan!

“Tuak beras itu sudah diracuni bubuk pagebluk!”

Singanada, teriak Upasara dalam hati.

Kepalanya miring ke kiri, ke arah datangnya suara.

Benar saja, di kejauhan tampak Maha Singanada sedang meloncat maju meninggalkan prajurit yang mengeroyoknya.

“Perintah Baginda Sundarapandya harap dipenuhi….”

Kali ini Pendeta Resres yang berkata dengan perlahan tapi mengandung ancaman. Pendeta Wacak dan Taletekan juga melakukan gerakan yang sama.

“Para pengacau akan sirna….”

“Omong kosong!

“Lihat diriku! Senopati Maha Singanada. Masih berdiri tegak, gagah, tak terluka sedikit pun. Bubuk pagebluk dari tanah Syangka tak lebih hanyalah bedak bagi pipi ledhek Keraton yang binal. Untuk ksatria macam aku, tak ada artinya.

“Tapi rencana perjamuan ini busuk.”

Tantangan Raja

SINGANADA melangkah dengan gagah, sesuai dengan pembawaannya. Rambutnya yang tergerai dibiarkan beriapan terkena angin malam. Matanya memandang nyalang.

Siap menyabung nyawa.

Upasara tidak segera menemukan jalan keluar harus berbuat bagaimana. Menahan pemunculan Singanada sama juga dengan membuka kedoknya sendiri. Itu tak menjadi soal. Akan tetapi dengan begitu berarti perang tanding terbuka. Namun membiarkan Singanada menempuh bahaya sendirian juga bertentangan dengan jiwanya. Adalah sesuatu yang kurang diperhitungkan jika pada saat semacam ini Singanada muncul dan mengeluarkan

tantangan.

Bahwa Singanada lama dan besar dalam perantauan bisa dimengerti dari sikapnya yang kurang mengenal tata krama. Akan tetapi sekali ini membangkitkan perlawanan seluruh Keraton.

Tak mungkin Bagus Kala Gemet, yang merasa baru menerima wangsit untuk menduduki takhta, membiarkan kekurangajaran di depan matanya.

Ketika tidak resmi diadakan upacara pemberian gelar dan ada senopati yang diduga tidak mau datang, tanpa ampun lagi disikat. Apalagi seperti sekarang ini.

Sekelebat Upasara juga melihat bahwa Singanada tak mempunyai jalan keluar yang lain.

Ini berarti tak bisa terhindarkan lagi perang tanding yang tak seimbang.

Pada saat begitu, Upasara tak bisa berdiam diri.

Di luar dugaan Upasara, Bagus Kala Gemet mengangkat tangannya.

“Agaknya ada seekor hamba sahaya yang tidak diundang datang ke perjamuan.

“Sebagai raja, aku ingin mengetahui apa yang terjadi. Majulah, prajurit

kecil. Apa maumu?”

Yang mendengar ucapannya melengak.

Tak menyangka sama sekali bahwa Singanada akan ditanggapi. Dengan mengangkat satu tangan saja semua senopati dan Barisan Padatala bisa menyerang habis.

Ini juga menunjukkan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi ingin menunjukkan sikap yang berbeda, sekaligus menjelaskan kekuasaannya.

“Kalau kamu kurang puas dengan pesta yang tak memperhitungkanmu, silakan bersembah di depanku. Dengan kebesaran hatiku, kuizinkan kamu menikmati hidangan Keraton.

“Kalau kamu mau menantang aku sebagai sesama ksatria, hari ini juga aku hadapi.

“Kalau ada yang ingin kamu minta, katakan maumu!”

Tantangan yang sama gagahnya.

Singanada sendiri kelihatan tak menduga akan adanya sergapan jawaban seperti itu.

Jalan pikirannya yang sederhana tak menemukan alasan bahwa sebenarnya kehadirannya bukan tidak diperhitungkan. Yang menyebut dirinya Sri Sundarapandya Adiswara bisa memperhitungkan bahwa pada saat upacara akan muncul para pembangkang.

Meskipun sebenarnya yang lebih diperhitungkan adalah pemunculan Upasara Wulung, yang dianggap satu-satunya orang yang bisa mengganggu di kelak kemudian hari.

Justru upacara ini selain untuk memperlihatkan siapa dirinya dan kekuasaannya juga untuk menyikat habis semua lawan atau yang dianggap tidak mengakui kebesarannya.

Bahwa Singanada yang muncul, tak terlalu menjadi perhatian.

Dari kisikan para pendeta Syangka, keadaan tubuh Singanada saat ini tidak cukup kuat. Kalaupun bisa bebas dari pengaruh bubuk pagebluk, itu hanya sementara sifatnya.

Kalau itu berarti harus melakukan pertarungan “sesama ksatria” juga tak terlalu membahayakan.

Dalam soal siasat semacam ini, Upasara maupun Singanada tak berbeda jauh. Keduanya tidak melihat bahwa di balik ucapan-ucapan sudah tersedia jawaban yang direncanakan dengan cermat, dengan perhitungan yang matang.

“Aku menerima tantanganmu.

“Rajamu menerima tantangan.

“Katakan apa maumu!”

Singanada menggerung.

“Kembalikan Gendhuk Tri!”

“Hanya itu?

“Kamu akan segera mendapatkannya….”

Gerakan dagu yang kecil membuat prajurit di sebelahnya mengangguk dan menyembah hormat sebelum melangkah ke dalam.

“Temui, ambil, dan bawa….”

Singanada tetap berdiri.

“Aku ingin Gendhuk Tri dibawa kemari….”

“Itu berlebihan.

“Kamu mengganggu pesta ini, dan tak mempunyai jiwa ksatria sedikit nun Takut diperdayai… Kamu berhadapan dengan Raja junjungan yang sabdanya didengarkan semua orang waras….”

Sejenak Singanada ragu.

“Datang dan temui Gendhuk Tri.

“Baginda telah memberi kesempatan yang bagus, anak muda….”

Senopati Agung beringsut maju, menyembah sebelum berkata.

“Baik.

“Tapi kita masih akan saling bunuh, Senopati Agung….” ,

“Seusai pesta ini, tantanganmu tetap kuterima.”

Upasara menghela napas perlahan.

Ia merasa bersyukur bahwa pertarungan besar bisa terhindar. Walau gagah perkasa, Singanada tak mungkin menghadapi sendirian. Entah kenapa, Upasara merasa dekat dengan Maha Singanada. Ada semacam jiwa ksatria yang gagah yang bergema sama dengan hatinya. Ada pengabdian sempurna kepada Keraton Singasari. Lebih dari itu semua, Upasara merasa bahwa kini Gendhuk Tri telah mempunyai pendamping yang tepat.

Singanada mengangguk.

Ia melangkah ke dalam, mengikuti para prajurit yang mendahului. …

Suasana kembali seperti sediakala.

“Mari kita lanjutkan,” kata Putra Mahkota dengan penuh wibawa. “Kalau kalian ragu apakah tuak ini dicampuri bubuk pagebluk, biarlah aku yang mulai….”

Tangan kanan Putra Mahkota Bagus Kala Gemet meraup bumbung kayu dari tangan Upasara dan segera menenggak habis.

Semua yang hadir mengikuti.

Upasara sendiri mendapat ganti bumbung yang lain.

Hanya saja keraguan masih ada. Maka ketika menenggak, dengan satu sentakan, bumbung yang isinya tumpah itu bisa kembali ke tempatnya ketika ditarik dari bibirnya.

Bukan karena apa.

Upasara hanya sedikit gentar dengan bubuk pagebluk. Yang membuatnya berjaga-jaga justru karena seumur hidupnya ia tak biasa menenggak tuak. Dari jenis apa pun.

Dalam hal semacam ini Ngabehi Pandu tak pernah memberi kelonggaran sedikit pun.

“Sekarang lebih jelas semuanya.

“Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sebagai pewaris takhta yang ditunjuk dan dipilih Dewa Maha dewa, sekarang ini segala urusan Keraton di bawah pengetahuan dan izinku.

“Tak ada yang lain.

“Malam ini juga, Mahapatih Nambi diterima keinginannya untuk mengaso sementara dari tugas-tugas keprajuritan. Bagi yang ingin mengajukan permohonan yang sama, tak usah menunggu besok.

“Keadaan Keraton sekarang kuat dan sentosa.

“Dewa selalu memberkati.

“Kalau ada yang masih tetap bisa ditata dengan baik, ingsun pribadi yang akan menjelaskan.

”Ingsun yang bertanggung jawab.

“Tak ada yang lain….”

Suaranya keras dan bulat.

Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.

“Malam ini juga ingsun pribadi tidak berkeberatan bila Paman Senopati Agung dan seluruh keluarganya ingin meninggalkan Keraton yang mengibarkan panji Keraton ke tanah sabrang.

“Ingsun katakan di sini, malam ini, agar tidak ada lagi suara-suara di belakang hari yang mempertanyakan.

“Itu tak akan terjadi dalam tata pemerintahan yang sekarang.”

Upasara merasa seluruh ruangan sunyi, senyap.

Seakan nyamuk pun takut mengganggu kebisingan.

Untuk pertama kalinya selama mengabdi di Keraton baru sekarang ini Upasara mendengar sabda Raja yang dilontarkan secara terbuka, sebagaimana apa adanya. Tidak dibungkus dengan kata-kata yang mempunyai makna penghalus.

Penyingkiran Mahapatih Nambi sudah diduga, akan tetapi tidak secepat ini. Juga caranya mempersilakan Senopati Agung untuk segera meninggalkan Keraton.

Tokoh yang begitu dihormati Baginda, diusir begitu saja.

Gigi Upasara berderak menahan gusar.

Pakaian kebesaran yang dikenakan terasa panas, pengap, dan membuat tak enak dipakai.

Raja Niratma

SENOPATI AGUNG menunduk.

Bahunya gemetar menahan rasa gusar. Hanya dalam waktu beberapa kejap saja. Lalu melakukan sembah dengan hormat.

“Bila memang Baginda Muda berkenan, saya akan segera berangkat sebelum fajar tiba.

“Mohon doa restu Baginda Muda….”

Jawabannya hanyalah anggukan pendek.

“Ini bagus, tetapi salah.

“Senopati Agung, bagaimana kamu menyebut dengan panggilan Baginda Muda? Apakah hatimu masih ragu mengakui sebagai Baginda Raja? Kenapa pakai sebutan Muda?”

Suara yang terdengar sangat kenes, manja, tanpa memedulikan tata krama karena menyebut begitu saja. Juga tak begitu terpengaruh dengan keadaan sekitar, di mana yang hadir hampir semua bangsawan dan pembesar.

Meskipun suara itu terdengar jelas, tak ada yang berusaha melirik. Juga Upasara yang berada di deretan depan, karena kuatir menyinggung perasaan Raja Muda.

“Itu bagus tetapi salah.

“Senopati Agung, Baginda menyebut dirinya dengan ingsun, yang berarti aku yang besar, yang hebat. Bagaimana mungkin kamu bisa begitu sembrono terhadap keponakanmu sendiri?

“Tidak pantas kamu menyebutnya sebagai Raja Muda.

“Yang lebih pantas ialah Raja Niratma….”

Kali ini semua yang hadir menoleh tanpa kecuali ke arah datangnya suara.

Kalau tadinya merasa bahwa Senopati Agung dipersalahkan, kini keadaan berbalik. Dengan mengatakan sebagai Raja Niratma sama juga menyebut sebagai raja yang tidak mempunyai jiwa!

Bagaimana mungkin ada suara yang begitu kurang ajar?

Siapa yang berani berkata semacam itu?

Lebih mengejutkan lagi karena suara itu berasal dari seorang yang tubuhnya tinggi-besar, akan tetapi wajahnya tampak aneh. Karena bagian alis dipoles lebih hitam dan melengkung, sementara rambutnya digelung seperti wanita.

Dan kalau diperhatikan lebih jelas, tokoh yang seperti muncul secara tiba-tiba ini seakan tak menghiraukan semua mata yang memandang ke arahnya. Malah kemudian mengeluarkan kipas yang berukiran, untuk dikebut-kebutkan.

Alis Upasara sedikit berkerut.

Sekian lama ia malang-melintang di dunia persilatan, tak pernah menduga adanya seorang tokoh lelaki yang berdandan seperti wanita. Yang bisa masuk dalam daftar undangan, dan agaknya cukup mengetahui hubungan antara keponakan dan paman. Antara Baginda dan Senopati Agung.

Meskipun rada sembarangan, kalimatnya yang menyebut “raja tanpa jiwa” sangat tepat. Seorang keponakan yang berani mengusir pamannya, yang tak mungkin dilakukan oleh Baginda sendiri, apalagi namanya kalau bukan manusia tanpa jiwa?

“Kalau ingsun raja tanpa jiwa, kamu manusia macam apa?”

“Jangan marah.

“Baru akan menjabat jadi raja nanti saat matahari terbit, kok sekarang sudah marah-marah? Nanti kamu disebut Raja Momo….”

Benar-benar rada kelewatan tokoh yang satu ini.

Momo bisa berarti marah, bisa pula berarti congkak. Tapi bisa pula berarti gila.

Menghina secara terang-terangan semacam ini, benar-benar keterlaluan. Akan tetapi sampai sejauh ini tak ada prajurit kawal pribadi yang bergerak. Juga Barisan Padatala masih bersikap menunggu.

“Raja Momo, kamu menanyakan siapa diriku?

“Sungguh lucu. Pantas saja kamu tidak mengenalku. Ketika kamu masih menjadi air kencing, aku sudah mendiami keraton ini. Aku tahu kamar mana yang bau wangi dan mana yang bau apak.

“Apa betul di antara penggede di sini tak ada yang mengenalku?”

Pendeta Resres terbatuk perlahan.

Dari hidungnya terdengar udara yang disedot keras.

“Kakek tua, apa urusanmu datang kemari?”

“Ladlahom, seayu aku begini kamu panggil kakek tua? Aku bukan kakek dan aku belum tua. Kamu manusia mana? Pesuruh Raja Momo ini?

“Ladlahom, bagaimana kamu bisa dua kali menyebut dua kali salah?”

Pendeta Wacak mengulurkan tangannya, mendorong tubuh lelaki berpakaian wanita yang hanya menggerakkan kipasnya untuk menolak.

“Mana yang lainnya?

“Kenapa kalian tidak maju bersamaan saja?”

Sebagian yang hadir merasakan bau kipas yang wangi menusuk hidung. Bau kayu cendana yang menjadi sangat tajam.

Bagi Upasara bukan hanya bau wangi yang menyengat, akan tetapi juga sentakan tenaga dalam yang sangat kuat. Dalam hati Upasara menduga-duga siapa gerangan tokoh yang ganjil ini. Gerakannya sangat terbatas, dan belum dikenali asal-usulnya.

Pendeta Taletekan beringsut maju.

“Tadi kalian senopati yang diunggulkan dari tlatah Syangka itu? Tingkat gelang kaki kalian masih belum pantas untuk menjadi senopati perkasa.

“Rasa-rasanya kalian masih harus belajar banyak untuk tidak kurang ajar.”

Senopati Agung mendongak.

“Apakah yang datang turun gunung ini Mahamata Puspamurti?”

“Ladlahom.

“Kamu masih mengenali siapa aku?

“Tolong katakan kepada orang Syangka yang kakinya bergelang ini agar menyingkir jauh-jauh dariku.”

Upasara sedikit heran.

Sebutan mahamata adalah sebutan untuk seorang nenek. Padahal kini yang dihadapi jelas-jelas laki-laki walaupun berdandan sebagaimana wanita. Puspamurti berarti berbadan bunga, sementara yang dilihat tak keruan ujung-pangkalnya.

Tetapi Upasara bisa menangkap penyebutan “turun gunung”. Berarti Puspamurti ini berasal dari perguruan di daerah pegunungan. Sejauh Upasara bisa mengenali, ksatria yang berasal dari gunung yang turun ke gelanggang selama ini hanyalah Tiga Pengelana Gunung Semeru. Tiga ksatria yang pernah dikenal dengan ilmu memainkan gerakan kaki yang luar biasa-sesuatu yang menjadi tradisi kuat bagi mereka yang sumber ilmu silatnya dari pegunungan.

“Raja Muda, tuak yang kamu sajikan tak enak di tenggorokanku. Sungguh menyesal jauh-jauh aku datang hanya untuk minuman seperti ini.

“Campuran bubuk pagebluk yang disebut-sebut orang gila tadi juga terlalu kecil ukurannya….”

Bicaranya terdengar ngawur.

Satu kejap mengusir para pendeta dari Syangka, di kejapan berikutnya

membicarakan soal tuak.

“Tak apa.

“Tak apa.

“Ladlahom sekali. Kamu sebenarnya tampan, Raja Momo, hanya saja

kamu ini agak membosankan.”

Tiga pendeta dari Syangka tak menunggu komando lagi. Setelah menyembah dengan gerakan cepat, ketiganya mengurung Puspamurti.

“Percuma kalian bertiga datang ke tanah Jawa untuk memamerkan gelang kaki yang buruk itu.

“Kalau kalian mau mengandalkan ilmu silat, cara mengatur napas saja masih susah. Kalau mau mengandalkan bubuk pagebluk, yang bakal terkena lebih banyak.

“Mundur saja….”

Kipas bergerak.

Dengan gerakan genit dan manja.

Bau wangi kembali menyambar.

Dan bersamaan dengan itu ketiga pendeta dari Syangka terdorong mundur satu tindak.

Terdengar seruan tertahan.

Apa yang dipamerkan Mahamata Puspamurti memang luar biasa.

Juga dalam pandangan Upasara.

Terutama bukan karena kekuatan yang besar, akan tetapi cara Puspamurti mengatur tenaga. Empasan dari kipas kayu bisa menghantam bagian kaki. Yang disebut “bergelang buruk”.

Bisa jadi memang itulah sasaran yang diarah.

Karena Puspamurti melihat bahwa bagian kaki adalah bagian yang terlemah dari ketiga pendeta tersebut.

“Mana itu Kidungan Pamungkas yang dijanjikan?

“Raja Momo, mana ibumu?”

Boleh dikatakan hanya Upasara, selain yang bersangkutan, yang mengetahui bahwa kitab Kidungan Pamungkas diambil oleh Permaisuri Indreswari.

Ternyata ada hubungannya dengan tokoh ganjil satu ini.

“Setiap kali ia berjanji mau memberikan lelaki muda yang gagah, tetapi tiap kali yang diberikan lelaki pengecut. Padahal di sini ada yang memenuhi seleraku.

“Anak muda, kamu pangeran dari mana?”

Upasara melengak.

Sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan ditunjuk sebagai lelaki yang “memenuhi” selera.

Puspita Gatra

BAGI Upasara kekagetan dipilih oleh Mahamata Puspamurti bukan sesuatu yang luar biasa. Selama ini boleh dikatakan ia sangat akrab dengan Dewa Maut, yang sejak daya asmaranya tidak kesampaian lalu memutuskan hidup dengan seorang bocah lelaki.

Upasara sangat mengenal ilmu tangkas telengas Dewa Maut. Akan tetapi jauh dalam hatinya, Upasara justru merasa welas, merasa simpati yang dalam atas penderitaan Dewa Maut.

Yang berbeda hanyalah, Puspamurti dipanggil nenek karena berpakaian seperti kaum wanita.

“Mana itu permaisuri sipit… Kenapa ia tak pernah menceritakan ada lelaki begitu tampan penuh pesona… Ladlahom. Ladlahom…”

Pasti yang dimaksudkan adalah Permaisuri Indreswari. Berarti memang

orang dalam.

Upasara merasa bahwa Permaisuri Indreswari lebih dari yang diduganya, mampu membangkitkan kembali jago silat yang selama ini tidak muncul ke tengah gelanggang.

“Kalau hanya itu urusannya, hamba akan segera menghaturkan buat Bunga dari Segala Bunga…”

“Ah, Halayudha. Kamu juga lebih suka bicara.

“Kalau sudah tahu seleraku, kenapa perlu tunggu waktu…?”

“Segera sesudah pasewakan ini….”

Dari cara menghormatnya, semua yang hadir menyadari bahwa Puspamurti memang sering berhubungan dengan orang dalam. Bagi Upasara yang sedikit aneh hanyalah, kenapa Raja Muda tampak begitu kaget dengan pemunculan Puspamurti. Malah memberi kesan tidak mengenalnya.

Upasara memang tak bisa segera menebak apa yang sesungguhnya terjadi di balik pemunculan para tokoh ini. Yang diketahui hanyalah bahwa Raja Muda sudah mulai mengumpulkan ksatria yang mau bergabung dengannya. Di samping itu, secara diam-diam Permaisuri Indreswari juga menyusun kekuatan. Kalau tadinya diduga satu kubu, bukan tidak mungkin ada sesuatu yang lain. Apalagi kaitannya dengan permintaan akan Kidungan Pamungkas. Yang secara tergesa diambil oleh Permaisuri Indreswari.

“Senopati Halayudha salah tebak,” kata Upasara dengan suara sedikit diserakkan. “Yang diminta adalah Kidungan Pamungkas… yang telah diambil oleh Permaisuri Indreswari, akan tetapi sampai sekarang belum diserahkan….”

Puspamurti mengangguk.

“Kamu benar…. Siapa nama gurumu?”

Upasara tahu bahwa Halayudha mengetahui kehadirannya. Akan tetapi agaknya Halayudha sengaja menahan diri. Kejapan matanya bisa diketahui.

“Saya yang rendah hanyalah seorang raden yang mendapat kehormatan untuk sowan…”

“Ladlahom.

“Tak mungkin. Bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku perlu kitab itu?”

“Gusti Permaisuri yang mengatakan. Dan mengambil kitab itu secara pribadi….”

Puspamurti mengejapkan matanya.

“Suaramu jelek.

“Nafsuku jadi turun.

“Aku paling tidak suka suara yang jelek seperti suaramu, raden kecil yang memakai pakaian kebesaran.

“Tapi apa kamu tahu tentang kitab itu?” “Kitab yang tidak berisikan ilmu kanuragan….”

“Salah.”

Upasara menggigit bibirnya bagian bawah karena geram.

“Kitab tentang manusia….”

“Salah.

“Aku makin tidak suka padamu. Selain suaramu jelek, otakmu juga tumpul.”

Puspamurti menggoyangkan kipas kayu di tangannya.

“Berpuluh tahun Baginda Raja bisa merampungkan ratusan kitab yang tiada artinya. Hanya satu kitab yang benar-benar menyelamatkan manusia, di jagat dan di kelak kemudian hari. Itulah Kidungan Pamungkas!

“Kalian tak pernah tahu.

“Ladlahom..”

Kepalanya menggeleng.

Mendadak kipasnya melengkung ke depan, menyambar ke arah hadirin yang mengelilingi. Terasa tusukan logam yang menyambar. Upasara menahan napas di dadanya, akan tetapi kemudian bersama dengan yang lain seperti terhuyung-huyung.

“Puspita Gatra….”

Desis suara Halayudha membuat Upasara sadar.

Puspita Gatra adalah sebutan untuk sesuatu yang berbunga di bagian ujung. Itu adalah nama jurus yang baru saja dimainkan oleh Puspamurti.

Sejauh Upasara bisa mengingat apa yang pernah diajarkan oleh gurunya ketika masih di ksatrian, ada beberapa nama perguruan yang mengembangkan sendiri ilmunya yang pantas dicatat dan perlu diingat, walau ajaran itu sendiri sudah tak ada lagi.

Saat itu Ngabehi Pandu hanya menyebutkan sekilas adanya ajaran yang menggunakan rangkaian bunga yang diperdalam. Tokoh terakhir yang muncul memamerkan ilmu jurus bunga sudah lama lewat dan tak muncul lagi.

Siapa sangka kalau saat ini seperti bangkit kembali dari kubur.

“Kamu kenal jurus ini, Halayudha?”

“Begitu saja yang saya ketahui….”

“Ladlahom.

“Memang hanya satu jurus saja. Bunga tak akan berbunga dengan warna dan bentuk yang lain. Kalau sudah berbunga di ujung apa lagi yang diperlukan?”

Halayudha mengangguk pelan.

Puspamurti menyeret kipasnya. Berjalan ke arah dalam. Dua prajurit yang mencoba menghalangi, atau menghadang di depannya, tersingkir seperti ditebas.

Tak ada yang menghalangi.

Kecuali Maha Singanada yang membopong Gendhuk Tri.

Keduanya berpapasan.

Akan tetapi dalam jarak dua tombak, tubuh Singanada seperti didorong dengan keras. Jalannya menjadi sempoyongan.

“Badut tua!”

Makian Singanada membuat Puspamurti menghentikan langkahnya.

“Kamu memaki aku?”

“Jelas.

“Siapa lagi kalau bukan kamu yang pantas disebut badut tua?”

Kipas yang tadi diseret tiba-tiba saja terulur. Dan Singanada seperti kena tendang dadanya, terdorong ke belakang. Terdengar jeritan lirih. Gendhuk Tri yang terbopong lunglai mengeluarkan seruan kesakitan.

Mau tak mau Upasara menggeser kakinya.

“Raden tanpa nama, kamu mau menjajal ilmuku?”

“Saya bergerak karena takut….”

“Suaramu jelek, otakmu tumpul, nyalimu juga cecurut.

“Tapi kenapa langkahmu tetap, dua tindak ke samping kanan? Kenapa tangan kirimu kamu turunkan?”

“Sok tahu.

“Kenapa di tanah Jawa ini kalau sudah tua menjadi pikun dan merasa paling tahu?”

Singanada berdiri tegak.

Siap menghadapi gempuran baru.

Akan tetapi kembali tubuhnya seperti disentakkan di belakang oleh tenaga yang besar. Sebelum menyadari apa yang terjadi, Gendhuk Tri yang berada dalam bopongannya terlepas.

Meluncur ke bawah.

Halayudha bergerak cepat.

Tubuhnya yang memang berada dalam jarak dekat, bisa membungkuk, mengambil Gendhuk Tri sebelum menyentuh lantai. Lalu perlahan diangsurkan ke arah Upasara Wulung.

Upasara bersikap tenang ketika menerima Gendhuk Tri, yang sebelum bisa dibopong sempurna, sudah direbut kembali oleh Singanada.

“Jangan sentuh.

“Ini milikku….”

Upasara mundur dua tindak.

Kembali Puspamurti menggerakkan kipasnya. Kali ini untuk diletakkan di pundaknya yang bergerak-gerak.

“Halayudha, ilmumu boleh juga.

“Tapi raden kecil ini juga boleh.

“Harusnya kalian berdua menjadi mahapatih, pastilah Keraton akan aman dan kuat. Tak perlu orang yang kakinya bergelang.

“Mereka hanya main bubuk racun anak-anak….”

Halayudha mencoba menebak angin sedang bertiup ke arah mana. Bagaimana reaksi Baginda? Apakah membiarkan Puspamurti berbuat seenaknya ataukah perlu dihentikan segera?

Akan tetapi ketika melirik, hatinya mencelos.

Baginda tak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan tubuhnya seperti tak bisa berdiri dengan tegak. Kakinya bergoyang-goyang.

“Selamatkan Baginda!”

Halayudha mengangkat kedua tangannya, dan dengan cepat meloncat ke tengah ruangan. Memberi aba-aba para senopati untuk membentuk barisan yang mengelilingi Baginda.

Kalau saja ada yang mengamati perubahan Halayudha, bisa mengeluarkan seruan kagum. Betapa tidak, kalau dengan enteng bisa meloncat seakan mata kakinya yang hancur tak ada pengaruhnya lagi!

Pendeta Manmathaba

REAKSI Halayudha sangat cepat.

Nalurinya sebagai senopati, sebagai prajurit kawal Keraton yang setiap saat berada dalam lingkungan keamanan dan ketenteraman, bisa membaca cepat situasi yang buruk.

Begitu melihat ada yang tidak wajar pada Baginda, seketika itu juga bereaksi. Dan menentukan langkah, mengambil keputusan.

Inilah kelebihan Halayudha dari senopati mana pun.

Pada saat semua serba bimbang, serba ragu dan menunggu, tanpa ayal lagi Halayudha muncul sebagai pemimpin. Mengambil alih komando.

Namun juga kalah cepat.

Karena ketiga pendeta Syangka sudah menggulung diri, dan melindungi Baginda. Kini nampak jelas bahwa ketiga pendeta Syangka sejak semula telah menyiapkan diri. Bahkan beberapa prajurit langsung berada di bawah komando mereka.

Siap menghadang ke arah Halayudha dan yang berdiri di belakangnya.

“Tak ada aba-aba perintah selain dari Baginda,” terdengar suara dingin. “Halayudha, mundur, sebelum kamu hancur….”

Upasara segera bisa melihat bahwa yang bersuara mempunyai wibawa besar. Karena ketiga pendeta Syangka pun segera mundur dan memberikan hormat yang dalam.

“Saya berdiri di sini atas nama Baginda dan Permaisuri, memerintahkan semua yang ada untuk memenuhi perintah, untuk mendengarkan sabda Baginda….”

Halayudha menyedot udara keras beberapa kali dari lubang hidungnya.

Matanya tak berkedip ketika Permaisuri Indreswari muncul dan mengangguk ke arah pembicara.

“Semua kata dan perintah Pendeta Manmathaba adalah perintahku. Harap dipatuhi!”

Tanpa diperintah kedua kalinya, semua prajurit dan senopati segera menyembah dan meletakkan senjata.

Hanya Halayudha yang tetap berdiri.

Matanya melirik ke arah Upasara.

“Upasara, atas nama Keraton, aku mohon bantuanmu….” Lalu berpaling ke arah Pendeta Manmathaba.

“Rupanya Bapa Pendeta selama ini menyembunyikan diri dan menyuruh ketiga muridnya menyebarkan bubuk racun. Sekarang, karena merasa perlu mempengaruhi takhta, menampakkan diri.

“Aku bukan anak kemarin sore, Manmathaba.

“Dengan menguasai Baginda yang terkena pengaruh minuman pagebluk-mu, kamu pikir kamu bisa menikam kami semua?

“Tak segampang itu.

“Di mana ada Manmathaba, di situ ada Manmathabaribu….”

Singanada mendesis.

Ia tak begitu paham lekuk-liku Keraton yang penuh dengan intrik dan perebutan kekuasaan serta pengaruh. Ia tak begitu peduli. Namun sekali ini ia merasa bahwa situasinya sangat gawat.

Munculnya Pendeta Manmathaba, sebagai pemimpin para pendeta dari tlatah Syangka, menjelaskan bahwa keinginan mereka untuk menanamkan pengaruh tidak akan berhenti begitu saja. Juga tidak menempuh jalan perlahan.

Dilihat dari sebutannya, Manmathaba disejajarkan dengan Dewa Kama. Yang merupakan Dewa segala Dewa bagi pendeta Syangka.

Berarti juga penguasa paling tinggi di antara semua pendeta Syangka yang berada di tanah Jawa sekarang ini.

Agaknya Halayudha juga mengetahui hal ini.

Maka ia menyebutkan, “di mana ada Manmathaba, di situ ada Manmatharibu”. Gelaran Manmatharibu adalah gelaran musuh besar Dewa Kama, yang bisa juga diartikan Dewa Syiwa.

Dua dewa yang selalu bertarung dipakai sebagai penjelasan oleh Halayudha untuk menentang.

Halayudha bukan hanya secara langsung menarik garis pemisah antara kawan dan lawan, antara Manmathaba dengan Manmatharibu, akan tetapi sekaligus memberi isi pertentangan.

Bahwa sekarang ini baik Baginda maupun Permaisuri Indreswari berada dalam pengaruh bubuk pagebluk, yang antara lain disisipkan ke dalam tuak beras.

Upasara memuji Halayudha.

Kelicikan dan cara berpikirnya serta bertindak yang serba rumit itu menemukan tempat yang pas di saat kritis.

Dengan satu kalimat, secara jelas ia menarik semua yang setia kepada Baginda untuk bergabung dengannya.

Hanya saja kali ini posisinya agak kurang menguntungkan.

Karena Baginda baru saja menerima permintaan pengunduran diri

Mahapatih Nambi. Namun perintah-perintah Baginda tak bisa ditarik begitu saja oleh orang lain, selain Baginda sendiri.

Di saat begini, justru Baginda seperti berdiri mematung.

Memandang sekitar tanpa bereaksi.

Upasara sendiri sudah merasa ada sesuatu yang tak beres. Hanya tidak menduga bahwa ramuan bubuk kecil yang dicampur dalam minuman masih mempunyai reaksi yang sangat keras. Sejak munculnya Puspamurti yang mengeluarkan kata-kata kasar, Upasara menyadari adanya reaksi lamban dari Baginda.

Kalaupun Puspamurti sangat berhubungan erat dengan Permaisuri Indreswari, Baginda yang ini tak begitu saja menerima kata-kata kasar. Karena pribadinya, perasaan keakuannya, ingsun-nya, sangat pribadi.

Upasara mengusap bibirnya.

Pada situasi yang menyangkut masalah Keraton, apalagi dengan masuknya kekuasaan dari Syangka, ia tak bisa berdiam diri. Ajakan Halayudha tergema sebagai panggilan kepada jiwa prajuritnya. Jiwa pengabdian kepada Keraton yang sedang berada dalam bahaya.

Semua dendam atas perlakuan buruk dari Baginda selama ini surut dengan sendirinya. Pun melihat bahwa Gendhuk Tri masih lemas dan tak sadarkan diri.

Matanya melirik ke arah Singanada, dan mengangguk.

Singanada meloncat ke tengah.

Kini Halayudha, Upasara Wulung dengan pakaian kebesaran pangeran, dan Singanada berdiri berjajar.

“Halayudha, apakah kamu menentang perintahku?”

“Duh, Gusti Permaisuri, seujung rambut dipecah seribu pun hamba tak punya niatan ke arah itu.

“Kalau hamba harus mundur, sekarang ini hamba ingin mundur dan masuk ke tanah.

“Hamba hanya mendengar sabda dari Baginda…”

Permaisuri Indreswari memandang putranya.

“Anakku, raja yang dipatuhi, perintahkan Halayudha mundur….”

Baginda memandang kiri-kanan.

Pandangan kosong. Tangannya mengilap karena keringat.

“Basmi para pemberontak….”

Manmathaba menggerakkan tangan. Ketiga pendeta Syangka segera bergerak menyerang Halayudha, yang dengan suara dingin menangkis gagah. Belum terjadi benturan, Pendeta Manmathaba mengibaskan tangannya.

Halayudha mengeluarkan seruan keras, sambil berjumpalitan.

Upasara sendiri merasakan bahwa uluran tangan Manmathaba mengandung tenaga yang sangat kuat. Tenaga yang membelit. Seolah tangannya berubah menjadi empat atau delapan, yang secara serentak memeluk tubuh Halayudha di sembilan jalan udara.

Bahwa Manmathaba lebih hebat ilmunya dari ketiga pendeta Syangka mudah diduga. Kepemimpinan memang didasarkan atas kemampuan ilmu silat.

Akan tetapi bahwa jenis pukulannya jauh berbeda dari yang selama ini dikenal, itu termasuk luar biasa.

“Selamatkan Baginda….”

Sambil jungkir-balik, Halayudha masih sempat memberi komando.

Seketika itu juga Senopati Agung dan pengikutnya bangkit mengangkat senjata.

Tak bisa dicegah lagi.

Kini terdiri atas dua pasukan yang siap bertarung.

Upasara bergerak cepat. Sewaktu Manmathaba menggempur Halayudha, ia segera menggeser kakinya. Tangannya terulur untuk menarik Baginda.

Ketiga pendeta Syangka bergerak menghalangi dengan gerakan yang sama.

Upasara mengerahkan tenaganya di tangan kiri, dengan memutar keras, ketiga pasang tangan yang menghadang disampok sekaligus.

Membarengi dengan itu, satu langkah ke depan, tangan kanan Upasara menarik tubuh Baginda.

Manmathaba mengeluarkan pekikan keras. Dua tangannya terulur ke arah Upasara ketika tubuhnya melayang, meninggalkan Halayudha.

Belitan kekuatan menjulur dari delapan penjuru, menjadi enam belas, 32, semuanya mencengkeram.

Upasara mengegos dengan menggeliatkan tubuhnya. Telapak tangan kiri yang terbuka memapak ke depan.

Manmathaba mengeluarkan ejekan di hidung.

Tangan Upasara diterima.

Bahkan digenggam dan siap dipelintir keras.

Ini gawat.

Dengan satu tangan menarik tubuh Baginda, perhatian Upasara terpecah. Apalagi ia tak akan mengorbankan Baginda.

Perang Terbuka

MANMATHABA selain sakti juga bisa menebak jalan pikiran Upasara.

Dan mengetahui bagaimana menggunakan ilmunya. Dengan cengkeraman kuat tak nanti Upasara bisa meloloskan diri.

Perhitungan yang matang.

Hanya saja Upasara yang sekarang ini bukan Upasara yang bisa dikalahkan dalam satu-dua gebrakan. Mengetahui tangan kirinya seakan tenggelam dalam belitan tangan-tangan kuat, Upasara mengendurkan tenaganya. Sehingga Manmathaba seakan meremas kapas yang kosong.

Menggenggam udara.

Tapi Manmathaba tidak menghiraukan itu. Bahkan tangannya seakan bisa memutari tangan Upasara. Membelit seakan akar tumbuhan yang liat.

Pakaian kebesaran Upasara di bagian lengan hangus terbakar.

Ini hebat.

Pameran penggunaan tenaga dalam yang dilatih sempurna.

Sehingga Puspamurti yang berada di kejauhan berteriak,

“Ladlahom!

“Manmathaba ini boleh juga.”

Upasara merasa tangannya bagai dibelit dan tenaganya diisap habis, sementara lengan bajunya hangus.

Senopati Pamungkas II – 13

Upasara melepaskan pegangan tangan kanannya, dan mengubah tenaga dalamnya menjadi gelombang yang menghantam balik.

Manmathaba tersenyum.

Tubuhnya berdiri kukuh.

Dorongan gelombang itu menyelinap, menggempur, akan tetapi seakan tak mempengaruhi belitan kekuatannya. Yang mencengkeram makin dalam.

“Bahaya!”

Teriakan Puspamurti tenggelam dalam teriakan keras Manmathaba.

“Putus!”

Sentakan yang dahsyat disertai jungkir-balik ke atas membuat semua yang ada di balai Keraton tertahan geraknya. Bahkan Senopati Agung memalingkan wajahnya ke arah lain.

Halayudha sendiri menggerung keras dan meloncat ke atas, memapaki Manmathaba.

Apa yang terjadi sesungguhnya memang pertarungan tenaga dalam yang luar biasa. Manmathaba merasa bisa menguasai Upasara dengan tenaga belitan. Dengan menyentakkan keras, ia berharap tangan kiri Upasara lepas dari bahunya. Atau sekurangnya seluruh otot dan uratnya putus.

Itu yang diharapkan.

Dan merasa berhasil.

Hanya di luar dugaannya yang tertarik bukannya tangan Upasara melainkan sisa-sisa lengan baju!

Yang terlepas dari bahu seolah dipotong secara sempurna.

Sebenarnya Upasara sudah merasa bahwa langkah awal yang dimulai keliru, ketika membiarkan dirinya dalam terkaman dan belitan lawan. Ternyata Manmathaba sangat menguasai tenaga membelit yang perkasa. Empasan gelombang tenaga dalamnya seperti terkuras, akan tetapi tak berhasil menembus atau menggoyahkan.

Maka Upasara hanya berpikir mendorong tangannya ke depan, mendahului menyerang begitu belitannya mengendur.

Ini yang membuat Puspamurti berteriak bahaya.

Karena siapa yang tenaganya lebih dulu mengenai sasaran, ia terbebas. Akan tetapi yang terlambat, akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Dan dilihat dari posisi serta belitan tangan, jelas Manmathaba bisa mencapai sasaran lebih dulu!

Akan tetapi ilmu Manmathaba ternyata tidak menyerang ke dalam, melainkan mencabut.

Saat itulah Upasara kembali mengosongkan tenaganya secara sempurna.

Sehingga Manmathaba hanya mampu menarik lengan baju!

Di tengah udara, Halayudha kembali mundur terkena sabetan tenaga Manmathaba.

Senopati Agung maju setindak.

“Kamu tak apa-apa…?”

“Tidak, Senopati Agung….

“Hamba mohon, jangan terjadi pertumpahan darah lebih besar.”

Upasara menarik tangan kanannya, dan Baginda seperti terseret maju, ke arah perlindungan Senopati Agung dan prajurit kawalnya.

Pendeta Manmathaba meloloskan gelang emas di kakinya yang bersusun.

“Luar biasa sekali.

“Ksatria mana dan siapa namamu?”

“Aku prajurit Keraton Singasari.

“Namaku yang rendah Upasara Wulung.”

“Tidak percuma nama besar itu.

“Tapi jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Hari ini kami semua sudah siap memusnahkan siapa yang menghalangi.

“Aku secara pribadi tertarik dengan ilmu silatmu. Akan tetapi agaknya kita tak mempunyai waktu banyak.”

“Pendeta Manmathaba, kamu salah perhitungan.

“Dalam keadaan seperti sekarang ini, Keraton masih di bawah kebijaksanaan Baginda. Putra Mahkota akan memegang kekuasaan mulai besok ketika matahari terbit.

“Kamu tak bisa mempercepat jalannya matahari, tak bisa memacu kemauan Dewa.”

Puspamurti tertawa keras.

“Kamu pandai dan hebat.

“Aku mulai suka kamu, Upasara.”

“Puspamurti, akan kita atur nantinya.

“Jangan ikutan pertarungan ini.”

Suara Senopati Agung keras dan berpengaruh.

Ia sama sekali tak ingin melibatkan Puspamurti dalam pertarungan terbuka ini. Karena dengan melihat selintas adatnya yang aneh dan kemampuan ilmunya yang juga tak bisa dikatakan sembarangan, bisa sangat merepotkan.

Akan tetapi justru kalimatnya keliru.

Karena malah memancing kemarahan Puspamurti.

“Siapa yang bisa menghalangi aku?

“Tidak ada.

“Tidak juga Dewa.

“Manusia adalah mahamanusia.

“Baca Kidungan Pamungkas agar kamu tahu itu. Ladlahom

Singanada meletakkan Gendhuk Tri di salah satu sudut. Ia melangkah ke depan dan siap terjun ke dalam gelanggang.

“Aku tak ada urusan dengan Keraton.

“Manmathaba, kamu berikan obat pemusnah, dan aku akan meninggalkan tempat ini. Kalau tidak, mari kita mati bersama.”

Permaisuri Indreswari mengangkat tinggi tangannya. Telunjuknya menuding dan suaranya melengking.

“Apakah kalian, para prajurit Keraton, sudah sedemikian kurang ajarnya sehingga tak mematuhi perintahku?

“Apakah aku tidak ada harganya lagi?

“Dengarkan, para prajurit semua! Dengarkan aku!”

Teriakannya seakan tak mendapat perhatian sama sekali.

Tidak juga dari Senopati Agung yang tetap berdiri.

Mendadak tubuh Permaisuri Indreswari terhuyung-huyung. Keringatnya bercucuran, napasnya tersengal-sengal.

“Pengkhianat ini telah meracuni Permaisuri!”

Teriakan Halayudha yang mengguntur mengubah situasi dengan cepat. Kini semua prajurit Keraton bersiaga. Menghunus senjata dan mengepung Manmathaba serta ketiga pendeta Syangka dan beberapa prajurit yang setia kepadanya.

Untuk kedua kalinya, Upasara memuji kecerdikan Halayudha.

Tokoh yang satu ini memang luar biasa.

Nalurinya sebagai prajurit, nalurinya untuk memenangkan dirinya tak ada yang lawan.

Jelas bahwa di antara semua pembesar Keraton, hanya Permaisuri Indreswari yang tidak terpengaruh oleh pengaruh bubuk pagebluk.

Kalau tindakannya sedikit ganjil, itu karena kemauannya. Semua dilakukan dalam keadaan sadar sepenuhnya.

Kalau sekarang tubuhnya bergoyang, itu terutama karena pukulan batin yang menyakitkan. Sebagai permaisuri yang diterima dan resmi menjadi ibu bagi Putra Mahkota, kekuasaannya sangat besar sekali. Bahkan bisa melampaui Baginda, dalam tugas sehari-hari.

Sekarang untuk pertama kalinya, perintahnya tak ada yang mematuhi.

Tidak satu pun!

Guncangan perasaan yang hebat ini hanya mungkin dirasakan oleh mereka yang terbiasa dengan kekuasaan, dengan kepatuhan mutlak yang selalu mengelilingi.

Kekagetan yang lebih menyakitkan dari pukulan apa pun.

Dengan cerdik, Halayudha memanfaatkan situasi dengan mengatakan bahwa Permaisuri Indreswari terkena pengaruh minuman beracun.

Penjelasan seperti ini lebih mudah ditangkap oleh semua prajurit.

Di sinilah keunggulan Halayudha.

Perang Tertunda

HALAYUDHA tak membiarkan kesempatan yang sudah berada di tangannya. Dengan gagah ia memandang sekeliling, maju setindak ke arah Pendeta Manmathaba.

“Pendeta dari negeri seberang, selama ini kamu dan semua anak buahmu mengabdi kepada Permaisuri Yang Mulia. Tak ada alasan untuk tidak mendengarkan perintahnya.

“Kalau kalian menghendaki pertarungan, sekarang ini juga darah akan tumpah semuanya. Kalau memang itu yang kalian kehendaki, anggukkan kepala, dan kita bertarung.

“Akan tetapi jika keinginan kalian menjaga Permaisuri serta Putra Mahkota yang sebentar fajar akan menduduki takhta, akan lain soalnya.

“Tinggal pilih, jangan ragu.

“Agar semuanya jelas, siapa berdiri di mana dan apa maksudnya. Ketahuilah, apa pun yang kalian inginkan, kami semua bisa melayani.”

Upasara menahan geretakan di rahangnya.

Jalan pikirannya tak bisa menebak apa yang dimaksudkan Halayudha. Tak bisa mengetahui apa yang direncanakan. Justru dengan menyebut “agar semuanya jelas, siapa berdiri di mana dan apa maksudnya”, sikap Halayudha sendiri menjadi kabur.

Beberapa saat sebelumnya, dengan sangat jelas Halayudha mengajak Upasara dan Singanada bertarung menghadapi Manmathaba dan ketiga pembantunya. Bahkan sudah menggebrak. Lalu kemudian jadi berubah. Menawarkan perdamaian dengan cara yang tak merendahkan dirinya. Malah memberikan kesan gagah.

Kalau Upasara tak menangkap maksudnya, Singanada lebih lagi. Ia malah menjadi tidak mengerti harus bagaimana. Membela siapa dan melawan yang mana.

Dua ksatria yang perkasa itu memang bukan tandingan bagi Halayudha untuk siasat semacam ini.

Dengan sangat mudah, Halayudha bisa membalik sikapnya seperti membalik telapak tangannya sendiri.

Saat pertama, ia merasa perlu mengajak semua ksatria dan senopati berpihak ke arahnya karena ancaman Manmathaba. Saat berikutnya, ia menyadari bahwa ia bisa mengambil keuntungan lebih jika berada di antara keduanya. Dengan perhitungan, siapa pun yang bertarung akan habis-habisan, dan terlalu besar risikonya. Sementara hasil akhir juga tak terlalu menguntungkan bagi dirinya.

Kalau kelompok ksatria yang menang, cepat atau lambat ia akan menghadapi mereka. Cukup membuat segan karena di situ ada Upasara Wulung. Kalau kelompok pendeta Syangka yang keluar sebagai pemenang, posisinya di Keraton juga akan turut terguncang.

Maka jalan keluar yang melesat dalam angannya ialah tidak keduanya, tapi bisa memperoleh semuanya. Dengan memakai titik permasalahan Permaisuri, Putra Mahkota, atau bahkan Baginda sendiri.

Maka nama itulah yang dibawa-bawa untuk mempengaruhi dan menahan. Dengan begitu posisinya tetap aman kalau nanti terjadi apa-apa, di samping ia telah berjasa menyelamatkan Permaisuri dan Putra Mahkota.

Halayudha bisa berbuat cepat karena di dalam batok kepalanya telah terkumpul latar belakang masing-masing kelompok.

Kelompok ksatria dengan mudah bisa dipermainkan mengenai kesetiaan dan pengabdian kepada raja dan Keraton. Kelompok pendeta Syangka jelas lebih suka menanamkan pengaruhnya daripada harus bertarung.

Maka pertanyaan Halayudha sangat tepat.

“Kalau memang menghendaki kebahagiaan dan ketenteraman Baginda, marilah kita lanjutkan upacara minum tuak. Bagi yang tidak suka akan perjamuan ini, atau mereka yang tersesat datang kemari, pintu masih tetap terbuka.

“Marilah kita isi sepenggal sisa rembulan ini dengan ketenteraman yang ada.”

Pengaruh kata-kata Halayudha terasakan seketika.

Bahkan Senopati Agung memasukkan kembali keris ke sarungnya, yang segera diikuti oleh semua pengikutnya.

“Tunggu dulu!

“Aku tak mau pergi dari sini sebelum dua urusan selesai.” Singanada bertolak pinggang.

“Pertama, aku minta pemusnah racun untuk Gendhuk Tri. Yang kedua, aku akan membunuh Senopati Agung.”

Halayudha tersenyum tipis.

“Aku juga.

“Aku tak mau pergi begitu saja sebelum ada Kidungan Pamungkas.” Kali ini Puspamurti melenggok ke depan.

“Anakmas ksatria gagah Maha Singanada, soal jampi pemusnah racun akan diberikan dengan sendirinya.

“Para pendeta ini selalu mengikuti Permaisuri Yang Mulia.

“Soal bunuh-membunuh karena masalah pribadi, kapan pun Anakmas bisa mencari dan menemui Senopati Agung Brahma. Beliau mempunyai nama besar, pangkat, dan kedudukan yang besar. Tak terlalu sulit mencarinya.

“Dan Mahamata Puspamurti, janji Yang Mulia Permaisuri belum pernah tak tertepati. Sekarang pun bisa diterima.”

Dengan cara yang halus, Halayudha memaksa Pendeta Manmathaba memberikan jampi pemusnah bubuk pagebluk, dan sekaligus memaksa Permaisuri memberikan kitab yang dikehendaki Puspamurti.

Cara penyelesaian yang terbaik.

Karena memakai nama besar Permaisuri Indreswari.

Yang mau tidak mau harus dituruti.

Apalagi Permaisuri Indreswari mengangguk perlahan.

Pendeta Manmathaba mengedip, dan ketiga pendeta segera mengambil sesuatu dari balik lipatan kain yang membelit tubuhnya. Yang segera diangsurkan ke Maha Singanada.

“Aha, jadi mereka memang benar-benar busuk, berniat meracuni kita semua….”

Itu suara Gendhuk Tri.

Yang dalam keadaan setengah sadar mengikuti jalannya pembicaraan. Tubuhnya lemas, duduk tersandar di tiang, akan tetapi sejak ditinggalkan Singanada, kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri berangsur pulih, meskipun masih sangat lemah.

Akan tetapi lidahnya masih tajam.

Membuka tajam semua mata yang dikuasai pandangan Halayudha. Dengan sepotong kalimat itu, Gendhuk Tri berhasil mengubah pandangan mengenai Pendeta Manmathaba. Dari seseorang yang memberikan pertolongan menjadi seseorang yang mengakui meracuni!

Semua telinga bisa mendengar apa yang dikatakan Gendhuk Tri, dan menangkap maksud di balik kata-kata tuduhan tidak langsung.

Semua mata melihat sendiri bagaimana Pendeta Manmathaba menjadi beku wajahnya.

Gendhuk Tri menggeleng.

“Kakang Singa, untuk apa Kakang mengemis jampi pada orang yang busuk. Aku lebih suka mati dengan cara ksatria.”

Maha Singanada memandang bingung.

“Jadi buat apa jampi ini?”

“Buang saja.”

Upasara tahu bahwa Gendhuk Tri memang suka bicara melantur. Tapi Singanada mengikuti saja apa yang dikatakan. Jampi yang berada dalam buah yang dikeringkan itu dibanting ke bawah.

Hancur berkeping.

“Gila,” Pendeta Resres mencoba meraup akan tetapi sia-sia. “Puluhan tahun diperlukan untuk meracik dan membuatnya, kamu buang begitu saja….”

“Gendhuk Tri tidak mau.”

“Sungguh biadab,” Pendeta Wacak menggeram keras. “Yang seperti inikah yang disebut ksatria?”

Gendhuk Tri malah tertawa lebar.

Tubuhnya yang masih lemah bergoyang.

“Sudahlah, kalian tak punya persediaan banyak. Kalau jampi pemusnah itu lenyap, kalian membutuhkan waktu lama. Sudahlah, anggap saja ini pelajaran pertama.

“Kakang Singanada, ayo kita keluar dari tempat ini.”

Singanada membalikkan tubuh seketika mendekati Gendhuk Tri.

“Boleh juga zaman percintaan sekarang ini.

“Sungguh tak tahu malu.”

Mendengar suara Puspamurti yang tajam, Gendhuk Tri hanya mengedipkan sebelah matanya.

“Nenek yang kakek, untuk apa kamu merisaukan kami berdua?

“Kamu tak akan pernah mengerti. Baca saja kitab kidungan baik-baik, pelajari, yakini, dan kamu akan merasa menjadi yang paling hebat.

“Seperti semua yang ada di sini.

“Merasa yang paling berkuasa, merasa yang paling hebat ilmu silatnya, merasa paling mengabdi Keraton, merasa ada sesuatu yang luhur yang sedang dipertaruhkan.

“Padahal kalian semua tak ada bedanya dengan kami berdua.”

Bahwa kata-kata Gendhuk Tri meluncur dari kesadarannya yang tipis bisa dimengerti. Akan tetapi dengan cara bicara yang acak, justru bisa mengoyak sesuatu yang tersembunyi.

Yang paling terkena adalah Upasara Wulung.

Kamukah Telapak Siladri?

HUBUNGAN Upasara dengan Gendhuk Tri sedikit-banyak susah dimengerti. Baik oleh Upasara sendiri maupun oleh Gendhuk Tri. Atau setidaknya, keduanya berusaha memperlihatkan sikap yang wajar.

Hubungan yang pertama adalah hubungan antara kakak dan adiknya. Upasara mengenal Gendhuk Tri pertama kali semasa masih kanak-kanak, bisa dikatakan begitu. Semua tingkah dan polah Gendhuk Tri lebih menunjukkan kemanjaan seorang adik. Bisa dimengerti, karena sejak kecil Gendhuk Tri tak mengenal kasih sayang seorang kakak, atau bahkan orangtua. Kalaupun ada orang tua yang mengasuh dan mendidiknya, seperti gurunya Jagaddhita, hubungannya lebih bersifat resmi. Maka kehadiran Upasara dalam hidup dan perkembangan ke arah kedewasaan, mempunyai arti yang mendalam.

Perasaan menjadi kakak tak pernah lepas dari bayangan Upasara. Sikapnya yang selalu ingin melindungi, selalu mengayomi, tak berubah.

Bagi Gendhuk Tri sendiri, perasaan menganggap Upasara sebagai kakak sangat menyenangkan. Hanya karena ia wanita, perasaan yang tumbuh lebih halus bisa dimengerti. Setidaknya lebih dirasakan dibandingkan Upasara yang agaknya memang tak begitu mengenal hubungan emosional.

Adalah perasaan seorang adik pula yang menyertai Gendhuk Tri ketika menyadari bahwa Upasara Wulung telah menyerahkan hatinya kepada Gayatri. Gendhuk Tri rela menerima hadirnya Gayatri dalam dunia Upasara.

Akan tetapi perasaan lain tak terbendung lagi sewaktu Upasara, dalam pandangan Gendhuk Tri, mulai dekat dengan Nyai Demang. Rasa cemburu tak bisa ditutupi.

Perlahan perasaan cemburu, tersaingi, mulai membentuk. Ditutupi atau disamarkan, tetapi menyeruak ke permukaan pada saat-saat tertentu.

Sama yang dihadapi Upasara sekarang ini. Ketika melihat Gendhuk Tri mulai menaruh perhatian kepada Maha Singanada. Ada perasaan tertentu yang tak bisa diterangkan dengan satu pengertian.

Itu sebabnya Upasara merasakan getaran yang aneh ketika Gendhuk Tri menyebutkan “Kakang”, akan tetapi sebutan itu tidak diperuntukkan bagi dirinya.

Sebutan untuk lelaki yang lain.

Ada semacam keangkuhan, atau tak bisa diartikan, untuk mengatakan bahwa hatinya cemburu. Rasa yang berkembang dalam diri Upasara justru rasa bersyukur, karena kini Gendhuk Tri sudah menemukan pasangan yang serasi.

Bahkan kalau bukan baru saja bertemu Gayatri, Upasara tak sepenuhnya bisa menangkap makna dari hubungannya dengan Gendhuk Tri.

Pertemuannya dengan Gayatri membuat simpul-simpul perasaan yang selama ini terkunci erat membuka.

Itu sebabnya Upasara merasa paling terpukul.

Kalau saja ia juga menyadari bahwa Gendhuk Tri sengaja mengucapkan kata-kata “kami berdua” untuk memanaskan hati Upasara, dan sekaligus menyalurkan kejengkelannya!

Akan tetapi Upasara tidak mampu menembus jalan pikiran Gendhuk Tri. Pun andai waktu dan kesempatan tidak seperti sekarang ini.

“Baik, mari kita sama-sama mati sebagai ksatria….” Singanada mengangguk mantap.

Tangannya menggandeng Gendhuk Tri dan melangkah bersama. Hanya empat langkah, karena kemudian Gendhuk Tri seperti berjalan limbung. Kakinya tak kuat menahan tubuh.

“Kenapa…” Upasara yang bergerak lebih dulu mendekat. Ketika tangannya mencekal tangan Gendhuk Tri, terasa sangat dingin dan mengeluarkan keringat yang lembap.

Sorot mata Gendhuk Tri menunjukkan kekaguman dan kebanggaan.

“Kakang Upasara masih sempat memperhatikan saya?”

“Bagaimana rasanya?”

Pertanyaan Upasara seperti menunjukkan kedunguan. Memang sebenarnya Upasara tak bisa menebak apa yang sesungguhnya dirasakan Gendhuk Tri. Tubuhnya begitu dingin dengan keringat yang melembap, akan tetapi getaran jalan darahnya deras.

“Letih, ringan, tapi tak apa.

“Bagaimana dengan istri Kakang?”

Upasara merah wajahnya.

Menghela napas.

“Ia baik-baik saja.”

“Jadi Kakang sudah ketemu?”

Upasara mengangguk.

“Syukurlah. Saya kuatir karena saya melihat Kangkam Galih ada di dalam Keraton.”

Upasara mendesis.

Seketika ia menyadari bahwa pertanyaan yang diajukan Gendhuk Tri adalah menanyakan Ratu Ayu Azeri Baijani. Sedangkan ia menjawab mengenai Gayatri.

Perubahan wajah Upasara membuat Gendhuk Tri menatap heran.

“Benar Kakang sudah bertemu?”

“Yang itu… yang itu… Hmmm, bagaimana pedang itu bisa ada di

Keraton?”

Gendhuk Tri tak bisa menjawab. Tubuhnya melongsor jatuh. Hanya karena Singanada dan Upasara memegang dari sisi kanan dan kiri, tubuhnya tidak ambruk ke lantai.

Pada saat itu seorang berpakaian kebangsawanan maju ke depan. Singanada mengangkat tangan kanannya bersiap menghalangi.

“Cepat masukkan ke tubuh Gendhuk Tri. Kalau tidak, ia akan ketagihan seumur hidupnya.”

Singanada mendehem.

“Bagus. Kamu yang memberi obat saya.

“Tak sangka kamu ternyata pemilik telapak tangan Siladri. Tapi mana mungkin aku menerima budi baik tanpa mengenal nama?

“Siapa kamu sebenarnya?

“Kalau pangeran, siapa nama besarmu?”

Siladri segera menjejalkan sesuatu ke mulut Gendhuk Tri. Upasara memandang dengan hormat, lalu menyembah.

Singanada ikut mengangguk.

“Rupanya inilah pengkhianat itu….”

Kali ini yang bersuara adalah calon baginda.

“Tidak kusangka, sanak saudaraku sendiri menjadi musuh dari balik selimut.”

Suaranya mengandung ancaman, hukuman keras.

Tapi Singanada malah berkata keras,

“Siapa pun dia, tolong katakan namanya. Biar saya bisa mengenang kebaikannya.”

Singanada benar-benar polos dan tak tahu situasi yang sedang terjadi.

Bahwa calon baginda yang memerintah segalanya begitu murka, ditanggapi dengan tenang. Bahwa nama yang disebut oleh calon baginda ini di belakang hari akan mengalami bencana besar.

Dan ia masih sanak saudara, masih mempunyai hubungan yang erat dengan calon baginda sendiri.

“Kakang Singanada, jangan membuat malu saya. Masa Kakang tidak mengenal nama Pangeran Janaka Rajendra?”

Gendhuk Tri yang kembali sadar berlutut dan menghaturkan sembah.

Singanada ikutan dengan kaku.

“Siapa dia?”

Wajahnya yang polos membuat Gendhuk Tri tersenyum.

“Dia putra utama Senopati Agung Brahma yang mau kamu bunuh. Masih kurang jelas?

“Senopati Agung Brahma adalah kakak ipar Baginda, sekaligus kakak ipar Permaisuri yang sekarang berada di sini.

“Masih kurang jelas?”

“Aku bingung.

“Aku berjanji untuk membunuh Senopati Agung karena mulutnya lancang. Tapi anak lelaki nya baik sekali.

“Jadi bagaimana?

“Aku tetap akan membunuh bapaknya, dan mengucapkan terima kasih padanya. Begitu saja.

“Kamu sudah baik?”

Ketika sebagian perhatian tertuju ke arah Gendhuk Tri dan Singanada serta Pangeran Janaka Rajendra, Barisan Padatala sudah bersiap dan mengurung. Sekali menggerakkan tangan, ketiganya sudah bisa meraih Singanada.

Upasara mengibaskan tangannya.

Pada saat yang bersamaan Manmathaba bergerak.

Lebih cepat dari Upasara, dan lebih mengarah. Upasara berusaha menangkis, untuk kemudian maju selangkah ke sebelah kanan, mencari ruang yang lega.

Akan tetapi kali ini Manmathaba tidak memberi kesempatan sedikit pun. Menyadari bahwa Upasara cukup tangguh, Manmathaba mengerahkan seluruh kemampuannya. Tanpa memedulikan bahwa geseran angin pukulannya bisa melukai para prajurit yang lain.

Gelang emas yang tersusun di kakinya berdering ketika tubuhnya membalik.

Upasara menebas maju dengan tangan kosong. Kali ini rangkaian tenaga Kitab Bumi yang sudah mendarah daging tersalur sempurna. Gelombang tenaga yang mengisap, memutar, dihadapi dengan tenang.

Tapi kali ini Upasara salah perhitungan.

Bandring Cluring

MANMATHABA mendesis, tubuhnya meluncur ke atas, dan seketika itu pula gelang emas di kaki kanan dan kiri meluncur cepat. Mendesing dengan suara keras.

Bukan hanya itu.

Ketiga pendeta Syangka membentuk Barisan Padatala, dan dengan bersamaan juga menggempur ke arah Upasara. Dengan berbagai pukulan sekaligus dan serangan gelang kaki seperti Manmathaba. Bedanya, ketiga pendeta Syangka ini menyerang secara diam-diam. Bahkan lemparan gelang dari ketiganya tidak memperdengarkan suara.

Upasara boleh hebat, akan tetapi tak memperhitungkan serangan seperti ini.

Tidak juga yang lain.

Karena sungguh tidak layak bagi seorang seperti Manmathaba menyerang dengan dibantu secara keroyokan.

Barangkali dari sekian banyak orang, hanya Halayudha yang sedikit-banyak bisa menerjemahkan dalam hati kenapa Manmathaba melakukan keroyokan.

Tradisi kehidupan di Syangka sangat berat. Apalagi dalam kehidupan kesehari-hariannya selalu di bawah pamor para pendeta dan ksatria dari Hindia yang terkenal penuh tipu daya. Baik dari segi ilmu silat maupun cara mengatur tenaga dalam.

Mungkin contoh yang tepat, akan tetapi Kiai Sambartaka menunjukkan ciri-ciri itu.

Dalam situasi semacam itu, bisa dimengerti bahwa merebut kemenangan merupakan tujuan utama. Bukan mempersoalkan bagaimana cara menempuhnya.

Setidaknya dari cara pengeroyokan sekarang ini. Bagi Manmathaba kemenangan adalah yang utama. Dan ia, seperti juga ketika pendeta anak buahnya, menyadari bahwa Upasara yang paling kuat. Yang bisa lolos dari serangan bubuk pagebluk!

Upasara terkejut, akan tetapi dengan memutar kedua tangan melindungi tubuh, kakinya bergerak cepat. Meloncat ke tengah udara sebatas pinggang, dan menyelusup ke sela-sela udara yang tersisa dari gempuran gelang kaki.

Bentrokan gelang kaki memekakkan telinga bagi yang mendengarkan.

Tapi lebih dari itu semua, ternyata gelang kaki yang berbenturan itu pecah, dan arahnya tetap tertuju ke Upasara Wulung!

Terdengar seruan keras dari Puspamurti yang menggerakkan kipas besarnya.

Akan tetapi jarak terlalu jauh, sehingga angin kesiuran yang dikeluarkan tidak bisa sempurna arahnya.

Justru menambah bahaya!

Karena pecahan gelang itu seperti tertuju ke arah yang lebih tak terduga, dengan tambahan dorongan tenaga yang dahsyat.

Bisa dibayangkan betapa hebatnya pecahan gelang yang jumlahnya puluhan disentakkan dengan tenaga besar. Satu saja bisa menancap akan lain ceritanya.

Belum lagi kalau itu juga disusupi racun. Sesuatu yang sangat masuk akal mengingat pada hampir semua tubuh para pendeta tersembunyi hal-hal yang tak terduga.

Tubuh Upasara yang berada di tengah udara mendadak membeku, tangan kirinya terulur ke depan dan untuk pertama kalinya tangan kanannya mengikuti gerak kaki berputar.

Matanya tertutup, akan tetapi mulutnya menyunggingkan semburan keras.

Halayudha menahan napas dalam-dalam.

Apa yang diperlihatkan oleh Upasara adalah bagian dari ilmu mengatur napas dalam Kitab Bumi yang sangat dihapal. Yaitu berusaha memakai tenaga bumi secara penuh.

Pada tingkat Upasara, pengerahan tenaga dalam itu bisa melalui mulut, tenaga dorongan tangan atau kaki, tetapi juga dari seluruh tubuh.

Dari sembilan lubang atau lebih.

Cara ini memang kuat untuk menahan serangan, akan tetapi dengan begitu menempatkan Upasara pada posisi bertahan total. Embusan tenaga untuk memencongkan pecahan gelang, akan tetapi tidak untuk serangan berikut yang lain sifatnya.

Bagi seorang pesilat yang tengah memainkan jurus bertahan, apalagi dengan tenaga bumi yang dipakai Upasara, akan sangat sulit sekali mengubahnya.

Tenaga itu tak bisa diperhalus atau diubah seperti tenaga yang berada dalam tangan atau kaki. Yang bisa diubah dari mencakar, meninju, mengelus, atau mengusap dalam seketika.

Pengerahan tenaga bumi melalui sembilan lubang atau lebih, memerlukan pengerahan tenaga sepenuhnya.

Sebab kalau tidak, hasilnya akan sia-sia.

Dalam perhitungan Halayudha, bahkan di saat Upasara digempur dengan bubuk racun pagebluk, ia tidak menghindarkan diri dengan cara seperti ini.

Seputar tubuh Upasara mengeluarkan udara tipis karena pengerahan tenaga dalam.

Gerincing pecahan gelang menimbulkan jeritan tertahan dari para prajurit yang terkena.

Bahkan Senopati Agung Brahma perlu jumpalitan untuk menghindarkan diri.

Dan serangan beruntun masih terus menyergap.

Manmathaba tidak membiarkan begitu saja. Belitan tangannya mencengkeram Upasara yang seakan bergeming. Kalau tadinya bisa menghancurkan lengan baju Upasara, sekarang dengan perhitungan lain. Membelit ke tulang.

Tangan kiri Upasara bergerak ke samping bawah, bersamaan dengan tangan kanan yang tertarik ke atas. Kedua telapak tangannya membentuk kepalan tinju, berbeda dari biasanya yang selalu terbuka. Kaki kanan maju serong ke kiri, dan kaki kiri sedikit mundur.

Sepasang tangan melawan dua tangan membelit, dan enam tangan menggempur sekaligus.

Hasilnya mengejutkan.

Baik bagi Upasara maupun lawan-lawannya.

Upasara merasa belitan di tangan kanannya membuat ngilu, sementara dua pukulan menerobos masuk ke dadanya dan menimbulkan rasa perih.

Sementara Manmathaba tak menduga bahwa belitannya kali ini bisa dipatahkan dengan tenaga keras. Bahkan tenaga membalik yang keluar dari siku Upasara seperti mengentak ulu hatinya.

Yang paling menderita adalah Pendeta Resres yang terkena agak telak. Masih untung tenaga yang lain menahan gempuran itu. Kalau tidak, Pendeta Resres tak akan bisa berdiri tegak tanpa memegangi dadanya.

Pendeta Taletekan melihat kesempatan untuk maju.

Inilah kehebatan Barisan Padatala. Ketiganya bisa maju-mundur dan saling mengisi dengan cepat. Dengan mengetahui bahwa tenaga yang mengarah kepadanya paling bisa ditanggulangi, Pendeta Taletekan menerjang maju. Dua jarinya terjulur ke depan, siap mencukil mata Upasara. Pendeta Wacak memancing perhatian pengerahan tenaga ke arah serangan dada.

Saat itu Manmathaba sudah bergerak maju.

“Lipat!”

Aba-aba melipat menggambarkan betapa yakinnya Manmathaba bahwa sekarang belitannya tak akan meleset lagi.

Nyatanya begitu!

Baru kemudian Halayudha menyadari bahwa tenaga belitan itu sangat erat mencekik. Siapa yang terkena, tak akan bisa meloloskan diri.

Hanya jeritan mengaduh dan teriakan kencang.

Lalu tubuh terjerembap ke bawah, seakan tak mempunyai tulang lagi.

Benar-benar luar biasa.

Benar-benar luar biasa dan mengerikan.

Belitan yang memutuskan tenaga di dalam tubuh.

Manmathaba sendiri tergoyang-goyang mundur, seolah mencari napas karena baru saja mengerahkan seluruh tenaganya.

Nyatanya begitu.

Hanya saja ia tak menduga bahwa di kejauhan Upasara masih berdiri, meskipun kakinya agak limbung menjaga tubuhnya.

Singanada mengejapkan matanya.

Baru sekarang menjadi jelas bahwa Pendeta Taletekan yang menjadi korban. Terbelit dua tangan Manmathaba yang merontokkan semua urat tubuh.

Pada detik yang menentukan tadi, sewaktu Pendeta Taletekan maju, Upasara menggeser kakinya dengan sebat. Sekali seblak, kaki Pendeta Taletekan terguncang kuda-kudanya. Tubuhnya tersuruk maju pada saat Manmathaba seolah memeluk dirinya.

Hebat, akan tetapi Upasara sendiri merasa kesakitan di dadanya. Pukulan Wacak sempat masuk mengenai tulang iganya.

Puspamurti bergerak maju.

“Siapa kamu sebenarnya? Sejak kapan kamu gunakan Bandring Cluring itu?”

Dari nadanya terdengar antara rasa ingin tahu, kekaguman, sekaligus kengerian.

Bisa dibayangkan kalau tokoh seperti Puspamurti sampai tergetar. Bisa dibayangkan senjata yang dikeluarkan oleh Manmathaba sekarang ini.

Jurus-Jurus Kebat Klewat

KALI ini Halayudha yang menyipitkan mata.

Apa yang membuat Puspamurti mengeluarkan seruan keheranan tak sebanding dengan apa yang dilihat. Manmathaba hanya memegang seutas tali panjang yang berwarna putih lentur, dan di ujungnya ada benda bulat. Senjata yang disebut Bandring Cluring.

Di tangan Manmathaba bandring itu berputar, mengeluarkan suara mendesing.

Apa hebatnya?

Pertanyaan ini lebih merupakan pertanyaan untuk menemukan jawaban yang pas. Halayudha tahu betul bahwa Manmathaba bukan pendeta sembarangan. Ilmunya sudah dirasakan sendiri kehebatannya. Ditambah dengan tipu muslihat menggunakan bubuk beracun atau memecah gelang kaki, memang sulit disamai.

Tapi itu karena kehebatan ilmu silatnya.

Bukan andalan senjata yang ternyata hanya seutas tali yang diberi bandul ujungnya.

Pertanyaan ini lebih merupakan rasa ingin tahu untuk lebih waspada. Jelas Puspamurti tidak menyinggung sedikit pun jurus-jurus maut yang dikeluarkan Manmathaba. Tidak dengan ilmu belitan bagai gurita, tidak gelang kakinya yang menjadi senjata rahasia. Akan tetapi begitu mengeluarkan bandring, langsung mengeluarkan kekaguman.

“Apa istimewanya katapel buah duku itu?”

Itu suara Gendhuk Tri. Suara yang seperti bisa diduga, untuk mengejek lawan. Tetapi kentara juga suaranya bernada tawar. Atau dengan kata lain tersirat juga perasaan gentar.

Apalagi setelah Singanada menghela napas dan menggeleng. Memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak setuju dengan penilaian Gendhuk Tri.

Kalau dilihat sekelebatan, apa yang dikatakan Gendhuk Tri tidak salah. Bandring memang tak lebih dari katapel, alat untuk melantingkan batu kecil yang biasa dipakai anak-anak menjepret burung. Bahkan di ujungnya ada bandul yang mirip batu. Cluring sendiri bisa diartikan buah duku, atau buah langsat. Tidak terlalu mengada-ada kalau Gendhuk Tri menyebutnya sebagai katapel duku.

Singanada merasa perlu bersikap lebih waspada. Caranya berdiri mendekat ke arah Upasara menunjukkan keinginan untuk setengah membantu.

Sebab pengalamannya membuktikan bahwa Bandring Cluring adalah senjata yang sangat ganas. Sepanjang hidupnya Singanada hanya menjumpai dua tokoh yang menggunakan senjata tersebut.

Ini yang kedua.

Tidak terlalu luar biasa kalau tali panjang yang menggelantung itu tidak dibuat dari otot manusia. Entah dengan cara bagaimana, otot manusia itu dipilin menjadi tali yang liat. Membayangkan itu saja sudah menimbulkan rasa jijik. Karena untuk bisa mendapatkan tali sepanjang badan manusia, entah dibutuhkan berapa puluh mayat yang dibelah tubuhnya untuk diambil otot-ototnya.

Singanada pernah diajari mengenai ilmu yang paling sesat selama ini. Yaitu suatu aliran yang menggunakan tubuh manusia sebagai bahan percobaan untuk memperdalam ilmu silat. Di antaranya yang menggunakan batok kepala serta otot tubuh sebagai latihan. Yang berarti perlu ratusan korban tak berdosa untuk percobaan dan berlatih.

Menurut kabar yang didengar, semua ksatria di seluruh jagat dianggap bukan manusia kalau melakukan latihan semacam itu, karena bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.

Tapi memang masih banyak yang secara diam-diam mempelajari.

Hanya saja baru sekarang ini Singanada melihat ada tokoh yang dianggap sakti, ternyata justru memperdalam ilmu sesat tersebut.

Desingan bandring menjadi sangat cepat. Kesiuran angin berkelebat menyabet sana-sini. Dalam pandangan sekilas saja bisa diketahui  bahwa bandring itu seakan bisa menjadi panjang dan tiba-tiba berubah menjadi pendek. Seperti otot manusia hidup.

Ini salah satu bahayanya.

Bandring menjadi bagian anggota tubuh.

Bisa digerakkan sesukanya.

Sebenarnya Gendhuk Tri tak begitu kuatir bahwa Upasara bakal bisa menghadapi dengan baik. Selama ini telah terbukti, Upasara bisa menghadapi dan mengatasi berbagai senjata dan ilmu silat yang paling aneh. Terutama sejak pertarungan di Trowulan, Gendhuk Tri yakin bahwa tak ada tokoh yang bisa mengungguli Upasara. Karena nyatanya di atas tokoh seperti Kiai Sambartaka, Kama Kangkam, Naga Nareswara, Paman Sepuh bisa diungguli. Bahkan Eyang Sepuh tidak bisa bertahan sebagai pemenang utama.

Namun kondisinya sekarang ini lain.

Sekarang Upasara tidak dalam kekuatan yang penuh. Setelah dikeroyok beramai-ramai, ia seperti terkena pukulan yang cukup menguatirkan.

“Kakang Singa bisa berbuat sesuatu…,” bisik Gendhuk Tri.

“Susah.

“Kalau aku ikutan maju, bisa-bisa malah membuat Upasara repot.”

“Kita maju bersama.”

“Kalau itu maumu, ayo….”

Gendhuk Tri masih ragu. Justru karena Singanada bersedia maju karena ajakan Gendhuk Tri. Bukan karena yakin bisa membantu atau berbuat sesuatu.

Pada saat Gendhuk Tri masih bimbang, Manmathaba sudah bergerak maju.

Bandring bergerak dalam putaran yang kencang dan mengurung Upasara dari arah kanan dan kiri. Dua bandring di kedua tangan berputar sangat keras.

Tiap kali menyentuh lantai menimbulkan suara sangat keras. Dan agaknya ini disengaja oleh Manmathaba, karena suara berisik, suara peletok-peletok yang keras sekali bagai irama tertentu yang memberi aba-aba kepada Resres dan Wacak untuk bergerak maju.

Ketiganya secara langsung mengurung, menyerang seirama dengan suara ujung bandul yang mengenai lantai atau tiang atau apa saja.

Tok-tok-tok-tok-tok-tok-tok.

Trotok-tok.

Tok-tok… tok-tok-tok-tok-tok.

Upasara sendiri berdiri dengan gagah, kedua tangan terangkat di dada dengan tenaga penuh. Dengus napasnya menunjukkan ada beban berat yang diatasi.

Begitu dua kali bandring menggunting dari dua sisi, Upasara meloncat tinggi, meraup senjata seadanya, dan menangkis.

Segera terdengar peletokan lagi.

Senjata di tangan Upasara terkutung. Karena tebasan tali bandring!

Inilah hebat.

Hancurnya senjata di tangan Upasara karena tebasan tali. Karena digunting dengan tali bandring.

Upasara sendiri menyadari bahwa ia terlambat memberikan perlawanan. Selama ini kepercayaan dirinya terlalu kuat hingga boleh dikata tak pernah memakai senjata andalan. Sungguh tak diperhitungkan bahwa ada tokoh seperti Manmathaba yang menggunakan keunggulan senjata untuk mengalahkannya.

Setiap kali Upasara berusaha mendesak maju, ujung bandul berputar di depan matanya, sehingga ia buru-buru meloncat minggir atau mundur. Sementara itu pula Wacak dan Resres makin merapat, menutup kemungkinan menghindar.

Siapa pun yang menyaksikan jalannya pertarungan menghela napas. Merasa bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Tubuh yang terpotong-potong!

Ini karena putaran dan desing bandring Manmathaba yang makin lama makin menggila, dan seperti tak bisa dihentikan.

Bagi Gendhuk Tri, ini pertarungan yang menggeletarkan sukmanya untuk kedua kalinya.

Yang pertama di Trowulan.

Akan tetapi saat itu pertarungan berlangsung dalam jarak pandang yang jauh dan yang dimainkan adalah kelihaian dalam menguasai tenaga dalam. Sehingga yang terlihat adalah gerak-gerak, kepulan asap.

Berbeda dari sekarang ini.

Yang jelas mana senjata dan bagaimana gerakan menggunting.

“Jurus-jurus dalam ilmu bandring disebut jurus Kebat Klewat, karena jurus ini kelewat cepat dan kelewat telengas. Tenaga yang disalurkan tak bisa ditarik kembali. Dan putaran itu makin lama makin cepat hingga akhirnya akan berhenti sendiri.

“Baik karena telah berhasil membunuh lawan atau yang bersangkutan kehabisan tenaga.

“Entah bagaimana Upasara bisa meloloskan diri.

“Mungkin kita akan mati juga sebelum bisa bertanya. Tapi karena kita mati sama-sama, rasanya aku rela juga, Kanyasukla…”

Gendhuk Tri tak menangkap getaran asmara yang terpancar dari kata-kata Singanada. Karena perhatiannya terserap sepenuhnya ke gelanggang pertarungan. Karena makin lama Upasara makin mundur setindak-dua tindak secara berurutan.

Ini tandanya betul-betul terdesak.

Senopati Pamungkas II – 14

Sebagai jago silat, seperti juga yang lainnya, kehancuran seseorang ditentukan kalau ia mulai mundur secara teratur. Beban yang menindih makin lama makin kuat. Seumpama gelundungan batu, makin ke bawah makin besar, dan makin berat.

Ilmu Kulit Ketela

SINGANADA menggeram keras. Ia tak bisa menahan diri. Rambutnya yang tergerai meliar ketika tubuhnya menerkam maju, menerobos kepungan. Tekadnya hanya satu: tak akan membiarkan Upasara mati dikeroyok.

Tindakan yang nekat. Karena bahayanya terlalu besar.

Sejenak Gendhuk Tri terpana. Ada rasa kagum dan kesal. Kagum karena sikap ksatria yang ditunjukkan Singanada, kesal karena dirinya belum leluasa bergerak.

Kegagahan Singanada memang terbukti. Dengan auman seekor singa, tubuhnya menerjang maju, tangannya mencakar kiri dan kanan, dengan cepat menarik Wacak ke arahnya. Dua sambaran pukulan lawan dibiarkan mendekat dan Singanada malah memapak maju. Benar-benar tak memedulikan keselamatan diri.

Bagi sebagian prajurit, tindakan Singanada seperti bunuh diri dengan sia-sia. Bagi Halayudha, tindakan Singanada sangat cerdik. Dengan menerjang masuk ke dalam bahaya, Singanada bisa menahan serbuan gencar yang mengarah ke Upasara.

Tanpa tindakan nekat, tak mungkin perhatian lawan terpecah.

Nyatanya, untuk sementara, perhatian lawan terbelah.

Akan tetapi yang tak diduganya, justru serangan yang tertuju ke arahnya datang dari Bandring Cluring Manmathaba.

Satu irisan tajam membuat desis kecil.

Yang terasa kemudian adalah potongan rambut yang terbang ke udara.

Bagai pisau tajam, tali bandring yang terbuat dari otot berhasil memutuskan rambut Singanada. Meleng sedikit saja, bisa-bisa kepala atau tangan Singanada yang teriris putus.

Gendhuk Tri tak bisa menahan diri.

Ia menerobos masuk dengan selendangnya. Kembali sebelum tubuhnya mendekat, kesiuran angin mengurung dirinya. Sebelum Gendhuk Tri sadar bahaya yang sesungguhnya, secara sempurna selendangnya menutup tubuh untuk melindungi.

Tok-pletok, bret-breeet.

Tok-tok, pletok-tok.

Di antara bunyi peletok ujung bandul yang menyentuh lantai dengan irama tetap yang makin lama makin cepat, terdengar suara robeknya kain. Ternyata sobekan selendang Gendhuk Tri yang menjadi compang-camping dan putus kena sabetan tali bandring.

Siapa pun yang menyaksikan jalannya pertarungan, menahan napas karena ngerinya.

Dengan penguasaan tenaga dalam dan senjata bandring yang sakti Manmathaba sedang menunjukkan kelihaiannya. Tali bandringnya bisa menebas rambut, seperti juga mengiris selendang. Dua benda yang jauh berbeda. Rambut adalah bagian dari tubuh yang keras, kuat, dan cukup liat. Apalagi kalau jumlahnya ribuan. Diperlukan pisau yang kelewat tajam untuk bisa menebas. Sebaliknya selendang adalah benda yang lembut, apalagi tergerai oleh angin.

Akan tetapi keduanya ternyata bisa ditebas oleh tali bandring.

Berarti tali bandring Manmathaba sangat luar biasa, atau juga si pemakai sangat sakti. Bisa jadi keduanya. Kemampuannya menebas benda keras atau lembut tak ada celanya.

Sementara suara pletok-tok-tok makin keras, makin mendesing.

Ketiga senopati Keraton Singasari bagai kanak-kanak yang dipermainkan oleh seorang pelatih. Singanada dipaksa jumpalitan oleh gerakan yang menyerang. Tak ubahnya singa yang dipaksa meloncati api atau digulung dalam liang kecil. Yang tak bisa menghindar kalau tidak mau tercincang ayunan bandring.

Sementara Gendhuk Tri sendiri sejak loncatan pertama praktis tertahan serangannya. Hanya bisa mundur dengan robekan selendang yang makin hancur. Beberapa kali malah terancam jiwa dan kain yang dikenakan. Padahal bandring itu tidak tertuju langsung ke arahnya.

Padahal bandring itu sepenuhnya tertuju ke Upasara Wulung. Hanya sesekali mengarah kepadanya. Itu sudah membuat repot sekali. Bisa dibayangkan kedudukan Upasara sekarang ini. Upasara memang makin terdesak. Pukulan kiri-kanan yang seakan makin nempel dan mendesak, sementara ayunan bandring dengan tok-tok-pletok makin kencang di seputar tubuhnya.

Dalam keadaan terdesak, Upasara justru bisa menemukan beberapa kali pemecahan. Melihat kemungkinan untuk balas menyerang. Hanya saja kini perhatian terpecah sedikit untuk memperhatikan Singanada dan terutama Gendhuk Tri.

Hal ini sebenarnya sudah diketahui oleh Singanada. Menghadapi jurus Kebat Kelewat, tak perlu dibantu. Karena bantuan bisa berubah menjadi gangguan.

Keberanian Upasara untuk menjajal menangkap tali bandring atau bandulnya beberapa kali urung dengan sendirinya. Karena setiap kali mencoba merangsek maju, satu bandring bisa dipunahkan, bandring yang lain justru tertuju keras kepada Gendhuk Tri. Agaknya Manmathaba mampu mengatur serangan secara sempurna. Menyeimbangkan antara tenaga menyerang kanan dan kiri.

“Upasara, jangan pedulikan kami.

“Gempur!” teriak Singanada.

“Tidak!”

“Tolol, kamu.

“Harus bisa. Harus berani.”

“Tidak.”

“Kalau kamu tak mau, biar aku mati duluan.”

Singanada menggerung keras. Tubuhnya menggeliat, punggungnya tertekuk ke dalam. Dengan sekali menyentak, badannya berbalik. Maju ke arah

Manmathaba!

Upasara tidak menduga bahwa Singanada akan berbuat seperti itu. Sengaja masuk ke tengah gelanggang.

Cepat Upasara membebaskan dari pikiran kasihan atau menguatirkan orang lain, ia melabrak maju. Tangan kirinya membelit ke arah putaran bandring, sementara tangan kanannya melakukan gerakan yang sama. Tubuhnya sendiri berputar keras sekali, cepat sekali seperti menggulung dengan kecepatan bumi.

Hebat.

Teriakan kekaguman dalam hati meluncur dengan ikhlas dari hati Halayudha. Gulungan tubuh Upasara bagai gelombang air laut yang mengempaskan apa saja yang menghalangi. Membuyarkan serangan yang datang.

Pada kesempatan yang pendek, tangan Upasara meraih keris dari pinggang Senopati Agung Brahma, dan secepat itu kembali lagi ke gelanggang.

“Maaf….”

Hanya itu yang menandai bahwa Upasara meminjam dengan cara yang agak kasar.

Bahwa Upasara melakukan ini dalam keadaan terpaksa, bisa dimengerti. Karena tiada pilihan lain. Dan dengan keris di tangan, Upasara bisa memainkan jurus-jurus Banteng Ketaton. Yang lebih baik daripada menghadapi dengan tangan kosong.

Gelombang tubuh Upasara yang bergulat cepat, bisa membuyarkan serangan Manmathaba. Bahkan Wacak dan Resres tersurut mundur.

“Jangan pedulikan kami….”

Teriakan Singanada yang kedua, ditandai dengan gempuran langsung dan auman tinggi.

“Awas….”

Peringatan Upasara tertuju kepada Singanada dan Gendhuk Tri, juga kepada lawan. Tangan kiri yang terbuka menuju ke arah tali bandring, sementara ujung keris di tangan kanan berputar menusuk ke arah lawan. Dua kaki yang menjadi kuda-kuda menekuk ke belakang sehingga tubuhnya condong ke depan, siap melakukan gerakan lanjutan.

Dan betul-betul bergerak!

Tangan kiri Upasara berhasil mengibaskan bandring, tangan kanan bagai menuding langsung ke arah tangan Manmathaba. Menusuk masuk menebas kulit dan menggores dalam!

Amblas!

Bersamaan dengan itu terdengar dua jeritan keras. Bandul pertama yang tertolak oleh Upasara mengenai batok kepala Pendeta Resres yang seketika pecah berantakan.

Bandul yang lain menyabet kaki Singanada yang langsung jatuh terjerembap.

Anehnya, Manmathaba tetap berdiri gagah.

Kedua tangannya memainkan Bandring Cluring. Tanpa terluka sedikit pun! Tak ada darah mengalir, tak ada goresan. Tak ada bekas apa-apa.

Bahkan bibirnya tersenyum.

“Ksatria lelananging jagat, saat telah sampai. Sebelum matahari bercahaya….”

Bibir Halayudha tergetar keras. Giginya sampai gemeretuk. Tubuhnya tetap berdiri tegak tidak kelihatan menggigil, akan tetapi terasakan betapa seluruh bulu tubuhnya berdiri.

Ilmu yang dipamerkan Manmathaba adalah ilmu yang dikenal bernama Kulit Ketela. Ilmu kebal yang meskipun kulit menjadi setipis kulit ketela, akan tetapi kebal dari senjata apa pun.

Jelas sekali Upasara berhasil menikam, menggoreskan, akan tetapi bahkan bekasnya pun tak terlihat.

Pendeta Manmathaba memiliki ilmu simpanan yang makin lama makin sulit dipercaya.

Kisah Sepasang Air

BETAPA tidak. Upasara adalah tokoh kelas utama dalam dunia persilatan. Apalagi menggunakan jurus yang diketahui dan dilatih sejak kecil, jurus Banteng Ketaton. Dengan tenaga dalam hasil latihan ajaran Kitab Bumi secara sempurna boleh dikatakan tak ada tandingannya. Senjata keris yang digunakan, pastilah juga bukan sembarang keris, karena milik Senopati Agung Brahma.

Bahkan dalam keadaan yang paling lemah sekali pun, kerisnya masih bisa menembus karang, membelah batu.

Nyatanya kulit luar Manmathaba pun tak tergores.

Bahkan tak sempat terguncang karenanya.

“Baginda, bagian tubuh mana yang Baginda paling tidak sukai? Batok kepala, tulang dada, kemaluan, atau jakunnya? Itu yang pertama hamba ledakkan….”

Gendhuk Tri terhuyung-huyung.

Di satu pihak sangat mencemaskan Singanada yang rebah tak bergerak, di lain pihak khawatir melihat nasib Upasara. Ksatria gagah yang selama ini selalu dikagumi dan bisa unggul, kini seakan menunggu nasib.

Mendadak satu tubuh mendekat ke arahnya. Merangkul erat.

Masih tercium bau harum tubuhnya.

“Gendhuk, maaf, mari kita mainkan gerakan dari Kitab Air, seperti semula. Ini saatnya sepasang air menemukan denyutnya, menemukan gelora, menjadi mengalir.

“Ayo, Yayi Tri….”

Gendhuk Tri bagai terseret mengikuti gerakan lelaki di sebelahnya. Ia seakan terbimbing dan mulai bergerak. Bagai penari yang mulai rombeng selendangnya. Lelaki di sebelahnya melakukan gerakan yang sama.

“Ah, itu dia….”

Itu teriakan Halayudha.

Serentak dengan itu, Manmathaba meloncat mundur menjauh.

Apa yang terlihat adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Di antara kepungan para prajurit, di antara Putra Mahkota dan Permaisuri serta para petinggi Keraton yang mengenakan pakaian kebesaran, di situ terlihat bekas-bekas pertarungan yang mengerikan. Sesosok mayat yang tercabik-cabik, sesosok lainnya hancur kepalanya. Satu orang terluka kakinya dan tergeletak.

Sementara Upasara masih berdiri gemetar.

Dan Pendeta Manmathaba yang baru saja ganas telengas meloncat mundur.

Di gelanggang hanya ada sepasang lelaki-perempuan yang seolah sedang menari. Gerakannya serba lembut, bagai irama air mengalir tenang, sempurna, seirama dengan irama alami.

Sangat ganjil.

Juga mengerikan.

Beberapa saat tak ada suara.

Hanya desir angin dari tangan Gendhuk Tri dan pasangan yang tak lain tak bukan adalah Pangeran Janaka Rajendra.

Teriakan kaget Halayudha bisa dimengerti. Selama ini ia banyak mempelajari ilmu silat dari berbagai kitab kelas utama. Salah satu yang membuatnya sangat gregetan ialah Tirta Parwa atau Kitab Air. Yang tadinya dianggap bersumber dari ilmu Pendeta Sidateka. Itu yang dipelajari secara perlahan, hingga ia perlu mengejar Gendhuk Tri.

Baru belakangan diketahui bahwa jurus-jurus Kitab Air itu diciptakan oleh Eyang Putri Pulangsih! Tokoh yang sezaman dan sekelas dengan Eyang Sepuh.

Yang membuat Halayudha sangat penasaran ialah kitab yang dipergunakan dan banyak dipelajari itu seperti tak memberikan apa-apa padanya. Artinya tak terlalu luar biasa. Sehingga Halayudha mempunyai dua kesimpulan. Pertama, kitab itu tidak sehebat yang digambarkan orang. Yang kedua, dirinya tak bisa menemukan kunci bagaimana memainkannya.

Baru kemudian sedikit terjawab, ketika Gendhuk Tri memainkan bersama Singanada. Mereka berdua bagai pasangan pendekar yang tak terkalahkan. Yang terpadu erat.

Saat itu Halayudha terdesak oleh mereka.

Saat itu Halayudha menemukan sumber utama kekuatan Kitab Air. Bahwa jurus-jurus itu mempunyai kekuatan berlipat ganda apabila dimainkan dengan dasar-dasar pernapasan dari Kitab Bumi. Yang bisa diterima, karena semasa hidupnya Eyang Putri Pulangsih mempunyai daya asmara terhadap Eyang Sepuh, ataupun Paman Sepuh.

Halayudha merasa menemukan kunci utama.

Namun ternyata masih ada kemungkinan lain.

Jurus-jurus yang sama, yang dimainkan oleh Gendhuk Tri dan Pangeran Janaka Rajendra, mempunyai kekuatan lain. Yang sekilas lebih lembut, lebih alami, tetapi menyimpan kekuatan yang lebih mendesak.

Sepasang air yang tak kalah hebatnya dengan pasangan air dengan bumi.

Sungguh luar biasa.

Tak terduga.

Bahwa di balik kehebatan, masih tersimpan kehebatan yang lain.

Halayudha terbengong karenanya.

Terbersit kekaguman bahwa Eyang Sepuh yang mumpuni yang menguasai itu bukan satu-satunya yang paling hebat. Masih ada Eyang Putri Pulangsih yang justru menyimpan kehebatan berlapis-lapis.

Betapa sesungguhnya para empu mempunyai pandangan yang jauh, yang mampu meletakkan dasar-dasar kanuragan yang bisa terus dikembangkan sampai suatu tingkat yang tak bisa diperkirakan.

Siapa mengira bahwa memainkan jurus yang sama bisa menjadikan tenaga berlipat ganda?

Siapa yang mengira, kalau selama ini tumbuh anggapan bahwa barisan atau perpaduan kekuatan dilakukan dengan jurus yang dasarnya sama, akan tetapi gerakannya berbeda?

Dua belas murid Kiai Sumelang Gandring memperlihatkan barisan yang melipat gandakan kekuatan dengan gerakan yang berbeda. Demikian juga yang dilahirkan dari Perguruan Semeru. Bahkan yang dikenal dari negeri Turkana dengan Lompatan Turkana atau 64 Langkah Jong yang terkenal juga begitu. Bahkan Barisan Padatala, barisan tiga pendeta bergelang kaki, juga demikian prinsip-prinsip dasarnya.

Sepasang air tidak membeda-bedakan.

Sama.

Sepasang air ialah air dengan air!

Itu sebabnya Halayudha ternganga. Untuk pertama kali menyadari bahwa ada sesuatu yang tak terpecahkan oleh kemampuan daya pikir dan keuletan berlatihnya.

Lebih mengherankan lagi bahwa Pangeran Janaka Rajendra melihat kemungkinan itu dan kemudian memainkannya. Hanya dari melihat gerakan Gendhuk Tri, bisa langsung menggabungkan.

Bagi Pendeta Manmathaba lain lagi alasannya melompat mundur.

Ilmu yang diperlihatkan Gendhuk Tri adalah ilmu yang dikenali, karena itu ilmu utama di negeri Syangka. Ilmu yang menjadi babon utama di negerinya, tak jauh berbeda dari Kitab Bumi di tanah Jawa.

Maka tadi ketika Gendhuk Tri menyerang masuk, Manmathaba segera mengenali. Dan juga menyadari kenapa beberapa serangannya hanya mampu merobek selendang, tapi tak bisa seketika menghancurkan lawan, atau setidaknya melukai.

Segalanya baru menjadi jelas ketika Pangeran Janaka Rajendra memainkan secara bersama. Jauh lebih indah, jauh lebih mengesankan, dan membuka hatinya.

Biar bagaimanapun telengasnya, Manmathaba masih bisa tergetar melihat ilmu andalannya yang dianggap suci. Apalagi kini dimainkan oleh orang lain!

Ini yang membuatnya melangkah mundur.

Setengah tidak percaya.

Tapi itulah yang dilihatnya sendiri.

Perlahan Manmathaba bisa mengerti. Kenapa bubuk racun yang maha mematikan, bubuk pagebluk, bisa ditemukan pemusnahnya-walau mungkin untuk sementara.

Selama ini, hanya dirinya yang mampu membuat ramuan obat pencegah bubuk pagebluk!

Tak tahunya ada juga orang lain.

Bisa dimengerti kalau Pangeran Janaka Rajendra mampu menciptakan atau menemukan obat pemusnah, karena juga mempelajari dari sumber yang sama.

“Manmathaba, majulah! Biar kita sempurnakan ilmu kita.”

Manmathaba meloncat maju. Bandring di tangannya bergetar.

“Mari, akan kuberi pelajaran yang berarti kalian….”

Mendadak Puspamurti menggeleng.

“Kamu jangan main curang, pendeta busuk.

“Kalau ada ilmu yang begini indah, kamu rusak begitu saja, aku tak bisa berdiam diri.

“Pangeran tampan dan penari jalanan, kalian menjauh saja. Pendeta busuk ini akan main curang lagi.”

Manmathaba sadar bahwa Puspamurti mengetahui sesungguhnya walau indah luar biasa akan tetapi gerakan Sepasang Air belum saatnya untuk diadu dengan ilmu Manmathaba.

Hal ini mudah dimengerti oleh mereka yang mempunyai penglihatan luas. Biar bagaimanapun, pasangan yang baru bertemu, belum bisa memainkan secara bersamaan. Menganut prinsip air mengalir, keduanya belum sepenuhnya bisa menyatu. Sehingga satu peluang kecil bisa diterobos oleh lawan.

Gelang Kaki Ketiga

PERMAISURI INDRESWARI mengangkat dagunya.

“Biarlah mereka lewat jalan yang tersesat. Itu bukan urusanmu, Manmathaba.”

Tanpa tarikan napas yang membedakan nada, Permaisuri Indreswari

melanjutkan,

“Biarkan Manmathaba menyelesaikan tugasnya, nenek ayu. Itu bukan urusanmu. Yang kamu cari adalah Kidungan Pamungkas. Terimalah….”

Puspamurti tersenyum.

“Ya, biar saja yang tolol bermain dengan yang dungu. Itu bukan urusanku.”

Kipas gedenya bergerak, dan angin menyambar kitab di tangan Permaisuri Indreswari. Puspamurti meraih, membaca sekilas. :

“Benar, ini kitab asli.

“Permaisuri bermata sipit, ternyata kamu memenuhi janjimu. Aku tak mau lagi berurusan dengan pendeta bau….”

Puspamurti langsung ngeloyor dengan langkah tenang. Satu tangan membaca kitab, tangan yang lain menyeret kipas, sambil terus berjalan.

Tak memedulikan sekitar.

Manmathaba memutar bandringnya. Mendesing.

Dengan mundurnya Puspamurti dan menjauhnya Pangeran Janaka serta Gendhuk Tri, yang tertinggal hanyalah Upasara, Wacak, serta Manmathaba. Sementara yang lain berada di tempat yang rada jauh.

“Aku akan menyelesaikan tugasku.

“Bersiaplah!”

Kalimat Manmathaba pendek, seolah bergumam. Bandul bandringnya mendesing. Upasara mengeluarkan seruan sambil membidikkan kerisnya.

Kakinya menotol lantai, dan tubuhnya menyambar maju.

Senopati Agung Brahma mendesis.

Apa yang dilihatnya di luar semua jalan pikirannya. Sungguh tak disangka bahwa Manmathaba menghajar Wacak. Bandul bandring justru mengarah kepada Wacak!

Setelah dua pendeta yang lain tewas, agaknya Manmathaba ingin menyelesaikan semuanya. Itulah yang dikatakan sebagai “menyelesaikan tugas”. Itulah sebabnya mengatakan “bersiaplah”. Karena kalau mau mengarah ke Upasara, tak ada kata pendahuluan “bersiaplah”.

Sulit diduga jalan pikiran para pendeta dari tanah Syangka ini. Kalaupun ketiga pendeta ini dianggap gagal dalam menjalankan tugas, tentunya hukuman tidak dijatuhkan saat itu juga. Di tengah pertarungan yang masih berlangsung.

Tata krama macam apa ini semua?

Sungguh licik dan tanpa perasaan.

Tapi ternyata Senopati Agung Brahma juga tak bisa menduga jalan pikiran Upasara! Justru Upasara bergerak membidikkan kerisnya untuk menghalangi Manmathaba. Upasara melindungi pembunuhan atas diri Wacak, yang berdiri tegak sambil menutup mata.

Tata krama seorang ksatria.

Sungguh luhur budinya.

Tapi juga susah dimengerti. Upasara yang dalam pertarungan dicurangi, masih membela Wacak.

Lebih menakjubkan lagi ternyata bidikan Upasara tepat mengenai ujung bandul yang nyaris menghancurkan batok kepala Wacak. Lebih menakjubkan lagi, karena ketika keris yang membalik kena benturan, bisa menghalau bandul kedua!

Luar biasa.

Tanpa terasa Halayudha menepukkan tangan tiga kali.

Untuk pertama kalinya, Halayudha memuji dengan ikhlas. Rela sampai ke dasar hatinya memuji kehebatan Upasara. Bidikan keris secara seketika, dilakukan sebagai reaksi dari serangan yang tak terduga, dan bisa menggagalkan dua serangan aneh sekaligus. Aneh, karena dalam penilaian Halayudha, ayunan bandul bandring berbeda satu sama lain. Berbeda arahnya, getaran, serta kekuatan yang terkandung dalam masing-masing bandul.

Sesungguhnya itulah ilmu bandring yang tadi dikagumi oleh Puspamurti. Adakalanya seperti membentuk lingkaran ke depan, tapi di sebelah lain bisa ke arah belakang, membentuk lingkaran yang tidak bulat. Dari suara tok-tok-pletok pun berbeda satu sama lain iramanya. Sehingga menyulitkan, karena serangan beruntun akan tetapi tidak dalam napas yang sama. Tidak dalam irama yang bisa diperkirakan perbedaan waktu antara serangan pertama dan kedua.

Kekaguman Halayudha terutama juga karena Upasara begitu cepat menangkap inti perbedaan tersebut. Dalam pertarungan, meskipun terdesak berat, ternyata Upasara bisa mempelajari gaya dan makna serangan.

Halayudha masih merasa kagum, meskipun ia menyadari ini semua terutama dari pendalaman dan pemahaman Delapan Jurus Penolak Bumi. Dasar-dasarnya adalah mengenali keadaan bumi. Di kiri ada gunung, di sebelah kanan ada mata air. Di barat ada lembah, arus angin berputar di selatan, pastilah titik lemah sebagai penangkal ada di tempat tertentu.

Begitu seterusnya.

Masing-masing kekuatan ada imbangan kelemahan. Akan tetapi lawan lakukan dengan cepat, sehingga memerlukan waktu untuk mengenali kiri dan mana kanan, mana bawah dan mana atas. Akan tetapi, Upasara menunjukkan daya serap yang cepat sekali.

“Upasara, kenapa kamu lakukan itu?” Pertanyaan yang pertama justru terlontar dari Pendeta Wacak.

“Kenapa tidak?”

“Kematian adalah wajar dalam pertempuran.”

“Kematian adalah kewajaran dalam pertarungan,” Upasara mengulangi, dan dengan nada yang berbeda melanjutkan, “akan tetapi tidak dengan cara bunuh diri.”

“Aku anggota Barisan Padatala. Barisan berkaki gelang. Kalau dua yang lainnya sudah binasa, bukankah aku harus mati juga? Atau kamu lebih puas kalau aku mati di tanganmu?”

Senopati Agung menghela napas.

Sungguh bagai langit dan bumi perbedaan antara pendeta dari Syangka yang ini dan Upasara. Kalau yang satu serba curiga dan tidak bisa menghargai kebaikan hati orang lain, ksatria satunya justru tak menduga akan mendengar pertanyaan semacam itu.

“Aku gelang kaki terakhir, dan akan berakhir.

“Kalau kamu memang menginginkan aku mati di tanganmu, silakan….”

Wacak melangkah maju mendekat. Matanya tertutup, jalannya limbung, seakan menyerah. Upasara menggeleng. Kedua tangannya turun. Helaan napasnya dipenuhi rasa penyesalan. Penyesalan dan tidak mengerti sikap yang diambil Wacak.

Senopati Agung Brahma mendecak.

Belum terungkap semua decaknya, apa yang dikuatirkan terjadi!

Wacak yang seakan pasrah, linglung, limbung langkahnya, mendadak saja menubruk Upasara! Menyerang dengan tangan terbuka! Pada saat yang sama, bandul bandring Manmathaba menotol arah batok kepala bagian belakang.

Sakti seperti dewa sekalipun, Upasara tak pernah menduga serangan seperti sekarang ini. Dan nalurinya secara ksatria berbuat seperti diduga oleh Manmathaba! Yaitu menolong Wacak terlebih dulu! Membuka kedua tangan yang menubruk ke arahnya, baru memikirkan menyelamatkan diri sendiri dari serangan Manmathaba. Yang datang lebih cepat, karena Manmathaba menyerang bersamaan dengan Wacak, tanpa memedulikan keselamatan keduanya.

Kalau Upasara masih menggenggam keris, atau tidak begitu memedulikan dirinya, atau kalau Wacak tidak asal nekat, hasil akhir tak akan seperti sekarang.

Tapi Upasara hanya bisa memiringkan kepalanya, kedua tangan yang menjadi terlambat ditarik sepenuhnya ke belakang, menangkap tali bandring yang satu dan menyentakkan dengan keras. Sangat keras. Sangat mendadak. Sehingga Manmathaba terpental ke tengah udara.

Namun bersamaan dengan itu, kedua tangan Wacak telak-telak menghantam dada Upasara. Kedua kaki Upasara tak kuat menahan tubuhnya yang berputar, terjatuh sambil memuntahkan darah.

Tanpa memedulikan lawan yang sudah jatuh, Wacak meloncat ke atas dan siap menghancurkan dada Upasara dengan injakan sepasang kaki.

“Biadab!”

Samar, lamat, setengah sadar, Upasara berusaha menggulingkan tubuh. Namun satu kaki Wacak sempat mampir di pundaknya. Terasa ngilu di sekujur tubuh. Apalagi ketika kemudian tendangan Wacak berikutnya mengenai punggungnya, Upasara bagai batang pisang, terlempar ke tengah udara.

Wacak bagai menemukan permainan yang mengasyikkan. Dua sikunya ditekuk ke depan, tepat mengenai dada Upasara yang kembali bergulingan sambil memuntahkan darah segar.

Senopati Agung Brahma merasa terlambat maju.

Karena dua atau tiga pukulan berikutnya tetap mengenai tubuh Upasara yang terus meluncur menghantam dinding Keraton bagian luar.

“Cukup!” teriak Permaisuri Indreswari.

Wacak bagai kesetanan, ia menyerang terus. Bahkan kali ini mengambil keris yang tadi dipergunakan Upasara untuk membebaskan dirinya dari maut!

Pukulan Pinggir

KERIS Senopati Agung Brahma itu untuk menikam habis Upasara.

“Berani benar melanggar perintah Ratu!”

Suara Halayudha yang keras, dibarengi dengan dua tangan yang bergerak cepat memukul ke arah tubuh Wacak. Cukup cepat dan tepat. Tubuh Wacak bagai terdorong ke arah lain, agak menyerong ke arah kiri.

Kakinya bersandungan, akan tetapi keris itu tetap meluncur.

Amblas ke dalam tubuh Upasara.

Inilah akhirnya.

Upasara yang tadi membebaskan Wacak justru terkena sabetan keris yang dipakai untuk menolong.

Di antara semua yang hadir, Senopati Agung Brahma yang paling menggigil dan menjadi pucat wajahnya. Apa yang disaksikan sejak awal membuat perutnya mual, dan rasanya sudah muntah berkali-kali akan tetapi tertelan kembali, sehingga makin menimbulkan rasa tidak enak.

Manmathaba sangat keji, Wacak demikian juga.

Tapi Halayudha ternyata sama biadabnya!

Kalau Manmathaba dan Wacak melakukan kekejian dengan cara terang-terangan, Halayudha melakukan dengan kedok!

Dengan topeng mengikuti perintah Permaisuri. Untuk menghentikan gerakan Wacak. Dengan demikian seolah ia melaksanakan perintah Permaisuri untuk menahan serangan Wacak. Yang berarti menjalankan tugas. Di samping mendapat pujian dari para ksatria dan senopati, yang sebagian besar tidak pernah menganggap Upasara sebagai musuh utama yang harus dilenyapkan.

Padahal yang dilakukan, sebenarnya lebih busuk.

Halayudha memang memukul ke arah Wacak, sehingga Wacak terserong dan kakinya bersandungan. Akan tetapi sesungguhnya ia melakukan pukulan dengan tenaga Dayaka Dawata.

Senopati Agung Brahma bisa melihat dengan jelas.

Dayaka adalah sebutan untuk orang yang memberi sedekah, menaruh belas kasihan. Sedangkan dawata berarti pinggir atau tepi. Dua kata yang digabung menyimpan pengertian tersendiri.

Dengan mempergunakan tenaga Dayaka Dawata, atau Pukulan Pinggir, Halayudha seperti menolong Upasara padahal sebenarnya justru mencelakakan. Dengan pukulan pinggir, apalagi yang di arah bagian lengan dan pinggang kanan, jelas bahwa Halayudha ingin keris itu langsung tertuju ke arah Upasara!

Dengan demikian, Upasara akan tetap terkena tusukan keris yang dibidikkan, sementara tubuh Wacak tersungkur.

Kelicikan yang jelas terlihat di mata Senopati Agung ini yang membuat tiba-tiba jiwanya menjadi kosong. Kepercayaan diri kepada sesama manusia, sesaat terbang semuanya.

Tak ada yang tersisa.

Tubuhnya makin menggigil.

Bagaimana mungkin ada manusia sejahat Halayudha yang sangat licik? Bagaimana mungkin manusia itu berada di Keraton, dan memegang jabatan yang tinggi, bahkan menjadi salah seorang senopati utama?

Berapa banyak korban tak berdosa jatuh ke tangannya? Dan masih berapa lagi yang akan berjatuhan?

Dan bagaimana mungkin Halayudha yang bersikap curang bisa duduk tenang, menyembah hormat kepada Permaisuri tanpa terlihat sedikit pun penyesalan?

Pergolakan batin Senopati Agung makin lama makin menggerogoti kekuatan dalamnya. Hingga tanpa terasa lututnya melemas, tubuhnya terjatuh di tempat.

Tubuhnya menggigil.

Kalau kemudian Wacak diamankan para senopati yang lain, tak banyak artinya bagi apa yang terjadi.

Tidak juga bagi Halayudha yang menyembah hormat.

“Maaf, Permaisuri Yang Mulia, hamba tak bisa melakukan tugas dengan baik. Saya hanya bisa menahan pembunuhan terhadap Upasara yang perlu kita tanyai….”

Dengan samar Halayudha mengisyaratkan bahwa Upasara tidak mati, hanya terluka. Sehingga maksud Permaisuri untuk menangkap Upasara hidup-hidup masih bisa terlaksana.

“Semua prajurit harap membersihkan ruangan. Sebentar lagi fajar akan tiba, dan Baginda akan memulai pemerintahannya pada lantai yang bersih dari semua kotoran.”

Halayudha menyembah lagi.

Permaisuri Indreswari melirik kecil, kemudian diiringkan oleh putranya masuk kembali ke dalam Keraton, diiringi para dayang dan pengawal utama.

Halayudha memerintahkan untuk menawan Upasara di tempat yang

Ditentukan, untuk kemudian ia sendiri bergegas memerintahkan pembersihan dan persiapan adanya pertemuan baru bersamaan dengan fajar.

Halayudha tahu bagaimana mengambil alih kepemimpinan sementara, sebelum Mahapatih atau senopati lain menyadari.

Bahkan dengan suara sangat tenang, Halayudha-lah yang meminta Pendeta Manmathaba beristirahat.

“Agar segar kembali dalam pasowanan yang akan datang.

“Apa yang Bapa Pendeta tunjukkan, lebih hebat dari semua yang ada di sini Bapa Pendeta berhasil mengalahkan ksatria jagat yang selama ini tak

terkalahkan.”

“Pujian yang berlebihan, meskipun begitulah kenyataannya.

“Aku perlu belajar banyak darimu, Halayudha.”

“Ini yang berlebihan.

“Saya tidak layak mendengarnya….”

Manmathaba mendehem.

“Agaknya kita ditakdirkan akan bertemu lagi….”

“Saya siap melayani, seperti perintah Baginda….”

Halayudha bisa menangkap ancaman Manmathaba yang agaknya cukup mengetahui bahwa Halayudha mempunyai peranan yang unik tapi menentukan dalam tata pemerintahan Keraton.

Meskipun demikian, Halayudha tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda ia mengetahui dirinya dicurigai atau diperhitungkan. Halayudha seakan menganggap ucapan “kita ditakdirkan akan bertemu lagi”, seperti arti yang diucapkan.

Sikapnya yang waspada, hati-hati, dan penuh dengan perhitungan, ditutupi dengan penampilan polos, seadanya, sebagai prajurit yang selalu mengikuti perintah atasan.

Itu pula yang dilakukan Halayudha ketika mendapat isyarat agar menghadap Permaisuri Indreswari di kamarnya.

Halayudha berjalan jongkok dan menyembah beberapa kali, duduk tepekur di tempat yang agak jauh dari pembaringan, di mana Permaisuri Indreswari terbaring menatap langit-langit.

“Apa yang harus kulakukan, Halayudha?”

Halayudha menyembah.

Tanpa menjawab.

“Apa yang harus kulakukan, Halayudha?”

“Permaisuri yang Mulia lebih dari tahu apa yang sebaiknya dilakukan.”

Halayudha tetap bisa menahan diri untuk tidak segera menunjukkan bahwa ia mempunyai rencana tertentu yang sudah dipersiapkan.

“Bagaimana keadaan sekarang ini?”

Halayudha menyembah, menunduk lama.

“Fajar yang sangat indah sekali sebentar lagi mewarnai Putra Mahkota untuk memulai takhta.

“Sekarang semuanya sudah rata, bercahaya, dan harum.

“Tak ada lagi yang menghalangi. Tidak juga sebutir kerikil yang paling kecil sekalipun.”

“Apa benar begitu?”

Halayudha menyembah lagi.

“Siapa saja bisa menangkap firasat bahwa fajar akan dimulai setelah semua kegelapan tersapu rata. Tak ada lagi penghalang yang tersisa. Tidak dari Mahapatih atau semua senopati yang masih ingin membangkang. Tidak dari para ksatria yang sok gagah perkasa. Upasara Wulung yang di zaman Baginda tak bisa dicegah kenakalannya pun sekarang bisa ditundukkan.

“Semua pertanda dari Dewa bagi kesejahteraan dan kebesaran putra utama Permaisuri yang Mulia.”

“Bagaimana dengan Senopati Agung?”

Halayudha terdiam.

“Bersama dengan fajar nanti, putraku, raja yang berkuasa, akan memutuskan apa yang harus ditaati oleh Senopati Agung dan seluruh keluarganya.”

“Hamba bisa mengerti kesulitan Permaisuri yang Bijak untuk mengampuni Senopati Agung….”

“Aku lebih memikirkan putranya….

“Senopati Agung sudah tua. Tak nanti akan berbuat, dan tak akan bisa. Akan tetapi putranya… aku melihat sinar matanya tajam menerawang, jernih, wajahnya bercahaya…. Aku tak pernah menyadari si bocah kecil itu sudah tumbuh menjadi dewasa, menjadi ksatria… mempunyai sinar mata jernih dan alis mata yang teduh…. Ah, ia tak mempunyai darah turunan yang direstui Dewa….”

Halayudha menyembah sambil menunduk hingga mencium lantai.

Lama.

“Hamba tak berani mengatakan, akan tetapi manusia bisa lupa bahwa hanya satu yang ditakdirkan Dewa menduduki kursi dampar kencana, kursi emas Keraton….”

Menang Awu, Menang Selamanya

“BERANI benar kamu mempunyai dugaan sejahat itu, Halayudha?”

Suara Permaisuri Indreswari mengandung kemurkaan yang mendendam. Akan tetapi Halayudha mulai tahu bahwa apa yang menjadi pertimbangannya sesaat ini masuk ke dalam pertimbangan Permaisuri.

“Dosamu besar, Halayudha.”

Halayudha menghela napas penyesalan yang dalam, menyembah dengan tangan gemetar.

“Biarlah hamba yang menanggung dosa itu. Sekurangnya itu lebih menenteramkan Keraton dibandingkan dengan dugaan hamba yang benar.”

“Apa maksudmu?”

“Sekadar lamunan orang tidak waras.

“Pangeran Anom Janaka bisa merasa lebih pantas kalau terus-menerus digosok perasaan seperti itu. Sebongkah batu yang keras bisa berlubang oleh tetesan air. Hutan luas yang lebat bisa hangus oleh satu letikan api. Apalagi hati manusia yang tak ada sekepal besarnya.”

“Katakan terus terang, jangan bersembunyi di balik kata-kata yang samar.”

“Duh, Permaisuri yang Mulia.

“Janganlah melihat apa yang terjadi sekarang ini. Yang sekarang ini tumbuh dari masa lalu. Ada bayi yang dilahirkan sama, akan tetapi setelah besar nasibnya berubah. Kalau tidak mau menyadari perubahan, satu bayi dengan yang lainnya akan menyalahi tata krama.

“Ketika Baginda masih bernama Raden Sanggrama Wijaya, yang dengan gemilang bisa mengusir pasukan dari Tartar, ketika itu datanglah Senopati Anabrang dari negeri seberang. Yang turut dibawa serta adalah emas intan berlian dan segala kekayaan. Akan tetapi dari sekian yang paling berharga, ada dua yang paling bermakna besar. Yaitu dua wanita ayu, agung, dan memancarkan cahaya Dewa.

“Tubuhnya lembut, bercahaya sinar perak, wajahnya menunduk luruh.

Dyah Dara Jingga nama sang kakak, dan Dyah Dara Petak nama sang adik.

“Tergetarlah hati Raden Sanggrama Wijaya yang kemudian naik takhta. Tergetarlah sukmanya, terbangkit daya asmara. Daya asmara yang menyebabkan tak bisa tidur dan tak enak makan. Walaupun segalanya ada, termasuk putri-putri Keraton Singasari yang ayu, jelita bagai bidadari.

“Akan tetapi semuanya tak ada artinya dibandingkan dengan apa yang diinginkan. Sang Baginda sedemikian rindunya, sehingga ketika akhirnya berhasil mendapatkan wanita ayu putih idamannya, semuanya rela diserahkan. Termasuk petunjuk Dewa yang menguasai alam, yang membisikkan bahwa di kelak kemudian hari, hanya keturunannya lah yang pantas meneruskan kebesaran dan kewibawaan serta kekuasaan Keraton.

“Dyah Dara Petak, gadis ayu berkulit putih bagai cahaya perak, resmi menjadi permaisuri utama, pendamping utama raja, ibu yang melahirkan penerus kejayaan.

“Dyah Dara Jingga, sang kakak, yang merasa selalu bersama-sama dengan adiknya, menyadari adanya nasib yang tiba-tiba berbeda.

“Perubahan yang bisa dimengerti, bisa diterima karena itulah kemauan Dewa, akan tetapi selalu dirasa kurang bisa dijalani. Apalagi dirinya hanya diperistrikan oleh senopati yang pernah ditugaskan ke tanah seberang. Tak jauh beda pangkat dan derajatnya dari senopati yang membawanya ke Keraton.”

“Sebegitukah rasa iri itu?”

“Sangat mungkin sekali.

“Senopati Agung Brahma adalah tokoh yang dihormati. Senopati yang unggul dan perkasa. Akan tetapi tetap seorang senopati. Pada tatanan para Dewa tidak dikenal sebagai apa-apa, selain seperti kawula yang lain.

“Para Dewa hanya melihat satu orang yang bakal meneruskan wahyu Dewa. Yaitu Baginda dan keturunannya.

“Bagi senopati yang lain, seperti siapa saja, tidaklah menjadi beban, karena menyadari derajat dan pangkatnya hanyalah titipan dan anugerah Baginda. Akan tetapi Senopati Agung Brahma merasa lain dari senopati biasa. Bukan hanya karena memakai gelaran ‘Agung’, tetapi juga karena istrinya adalah kakak Permaisuri yang Mulia.

“Senopati Agung Brahma merasa lebih tua, merasa lebih harus dihormati karena usia yang lebih tua, menang awu. Menang urutan darah yang berlaku selamanya.

“Perlakuan istimewa dari Baginda, bisa disalahartikan bahwa Senopati Agung Brahma berhak berbuat apa saja. “Kesempatan demi kesempatan ditunggu.

“Sampai tradisi diteruskan kepada putranya. Yang secara diam-diam dilatih segala jenis ilmu yang baik dan buruk, setiap saat dipompa untuk meraih yang paling tinggi. Yang lebih tinggi dari kodratnya.

“Semuanya dilakukan secara sembunyi, dipersiapkan dengan sangat hati-hati.

“Menunggu saat tepat.

”Tetapi Dewa tak pernah keliru. Baginda tak salah memilih siapa yang bijak dan bisa meneruskan kebesaran Keraton. Ketika pilihan itu dijatuhkan, saat itu Senopati Agung Brahma tak bisa menahan diri untuk memanaskan suasana mengeruhkan keadaan. Agar dalam keadaan yang keruh ini pandangan yang biasa terhalangi. Sehingga Baginda salah pilih.”

“Apakah benar suami Kakangmbok Dara Jingga berbuat itu?”

“Selama ini Senopati Agung Brahma boleh dikatakan tak pernah tampil, tak pernah muncul dalam urusan apa pun. Kraman demi kraman terjadi, Senopati Agung malah menyembunyikan diri.

“Apakah bukannya justru menunggu saat di mana Baginda disingkirkan, dan dirinya yang kemudian tampil? Bukankah kalau sampai ada apa-apa dengan Baginda, sebelum Putra Mahkota naik takhta, Senopati Agung yang akan menjalankan roda pemerintahan Keraton setiap hari?”

“Perhitungan masuk akal.

“Aku tak pernah menduga sejauh itu.”

“Duh, Permaisuri…

“Kalau tidak begitu, kenapa sejak semula Pangeran Anom mempelajari ilmu penangkis bubuk pagebluk? Dan menyembunyikan secara rahasia? Kenapa yang dibantu secara terang-terangan justru orang-orang yang memusuhi Baginda? Bukankah Gendhuk Tri, Maha Singanada, apalagi Upasara Wulung adalah abdi-abdi yang melakukan kraman?

“Kenapa dibantu secara diam-diam?

“Bahkan Singanada dibebaskan dari tahanan?

“Bahkan Pangeran Anom melakukan tarian bersama Gendhuk Tri secara tak senonoh?”

“Agak masuk akal.

“Tapi kenapa Kakang Senopati Agung melakukan itu? Bukankah selama ini mereka hidup enak, tenteram, tak kurang suatu apa?”

“Tidak semua orang bisa mensyukuri hidup, duh, Permaisuri yang Mulia.

“Senopati Agung tidak mau bersyukur bahwa semua pangkat, derajat, kemewahan, dan kekuasaannya selama ini karena kemurahan hati Permaisuri yang Mulia.

“Bukan lagi kemewahan yang dicari, melainkan kekuasaan. Kekuasaan yang tunggal.”

“Sejahat itukah?”

“Yang ditunggangi setan, tak sadar apa yang diperbuat.”

“Kenapa kamu tak mengatakan ini sebelumnya?”

“Duh, Gusti…

“Sekarang ini, setelah ada bukti nyata, rasanya hamba masih tak pantas melaporkan hal ini….”

Suara Halayudha terdengar menggeletar karena cemas, takut, dan ragu-ragu.

Kemampuan berpura-pura yang tak dimiliki dan tak diduga oleh lawan bicaranya. Siapa pun dia ini!

Bagi Halayudha persoalannya memang sederhana.

Kini musuh utamanya yang dianggap paling kuat dan sulit ditaklukkan, yaitu Upasara Wulung, sudah selesai perlawanannya. Yang tersisa hanya dua kekuatan.

Yang pertama adalah kekuatan dari kelompok pendeta Syangka yang dipimpin oleh Manmathaba. Bukan kebetulan kalau Manmathaba sangat sakti dan penuh tipu daya. Kekuatannya yang utama, bisa langsung dekat dengan Permaisuri dan Baginda. Namun kelemahan yang utama adalah bahwa Manmathaba tak mungkin bisa menjabat mahapatih atau lebih tinggi dari itu.

Senopati Pamungkas II – 15

Kekuatan kedua adalah pengikut setia Senopati Agung Brahma. Sudah jelas dalam perhitungan Halayudha, bahwa di kelak kemudian hari Senopati Agung Brahma tak akan bisa ditarik ke pihaknya. Senopati lanjut usia itu terlalu keras pendiriannya, terlalu teguh tak bisa diusik sedikit pun.

Apalagi jika kelompok ini sempat naik dan memegang beberapa jabatan, Halayudha akan mengalami kesulitan di belakang hari.

Itu masih harus ditambahkan bahwa kemungkinannya untuk naik ke tata pemerintahan sangat besar.

Jalan satu-satunya adalah merontokkan sebelum terlalu kuat akarnya, terlalu luas pengaruhnya.

Halayudha memilih sasaran kelompok Senopati Agung Brahma.

Sekarang dalam hatinya ia tersenyum, karena sudah menduga apa yang akan ditanyakan Permaisuri Indreswari.

Hadiah Tanah Seberang

“APA yang pantas kuberikan sebagai hadiah atas jasanya?”

Itu sudah diduga Halayudha. Dengan menyebutkan hadiah, secara tidak langsung justru sudah menanyakan hukuman apa yang pantas dijatuhkan.

Pantas karena tak bisa menghilangkan pangkatnya begitu saja. Akan banyak masalah yang timbul. Tetapi jelas juga tak bisa biarkan begitu saja.

“Baginda Muda pernah menitahkan.

“Rasa-rasanya hamba belum lupa mengingatnya. Senopati Agung Brahma berjasa menaklukkan tanah Melayu. Bukankah tlatah ini bisa diberikan sebagai balas jasa pengabdiannya membesarkan kekuasaan Keraton?”

Permaisuri Indreswari mengangguk perlahan.

Tanah adalah hadiah tertinggi yang diberikan kepada seseorang. Akan tetapi maknanya berbeda jauh jika tanah kekuasaan yang diberikan berada di seberang! Itu sama artinya dengan dibuang!

Cara yang paling halus untuk mengasingkan, untuk meniadakan, untuk menghapus dari percaturan tata pemerintahan.

Akhirnya memang harus begitu.

Jalan keluar terbaik.

Permaisuri Indreswari menghela napas. Di satu pihak ia sama sekali tak menyangka bahwa Halayudha selalu saja bisa menunjukkan jalan keluar terbaik. Di pihak yang lain, kecurigaan pada Halayudha makin tumbuh. Justru karena senopati yang satu ini seakan mengetahui segala apa yang tengah terjadi di Keraton. Mengetahui sampai hal yang sekecil-kecilnya.

Ini berarti bisa menimbulkan bahaya di belakang hari.

Apalagi Halayudha cukup sakti. Ilmu silatnya cukup tinggi dan sulit dicari tandingannya di Keraton. Dengan keleluasaan bergerak, bisa saja menjadi lain kalau melihat kesempatan.

Dan Permaisuri Indreswari tak akan memberikan kesempatan, sedikit pun.

Halayudha seakan bisa menebak jalan pikiran Permaisuri.

“Hamba lancang dan seakan mengetahui rahasia Keraton.

“Padahal hamba hanya bisa menduga-duga.

“Kalau hamba dibebaskan dari kesalahan bicara sekarang ini, biarlah mulai besok hamba mengembalikan semua pangkat dan derajat yang Permaisuri anugerahkan.

“Hamba akan menjadi petani di dusun.”

“Tidak sejauh itu.

“Aku tak mengetahui banyak tentang dirimu yang sesungguhnya, akan tetapi rasanya kamu masih bisa melanjutkan pengabdianmu.”

Halayudha menyembah hormat. Dalam sekali.

“Adalah kerikil yang lain?”

“Rasanya dari kalangan ksatria yang suka bikin onar tak ada lagi selain Puspamurti.”

“Aku bisa mengatasi.

“Bagaimana dengan Manmathaba?”

Halayudha berhati-hati ketika menjawab.

“Permaisuri yang Mulia lebih tahu.

“Selama bisa membantu, tak ada salahnya tinggal di sini. Hanya liku-likunya terlalu banyak yang disembunyikan.”

“Apakah mereka akan menimbulkan bencana di belakang hari?”

“Tidak bagi Keraton. Hanya saja mungkin menyulitkan karena sebentar lagi teman-temannya akan berdatangan.”

“Kalau begitu, aku tahu bagaimana mengatasinya.

“Bagaimana dengan kalangan senopati?”

“Nasib mereka tergantung di bawah telapak kaki Permaisuri yang Mulia. Hari ini diperintahkan berhenti, akan berhenti. Hari ini menjadi mahapatih, begitulah yang terjadi.

“Kemurahan hati dan kebesaran jiwa Permaisuri-lah yang menghidupkan atau mematikan mereka.”

“Juga Mahapatih?”

Halayudha menunduk dalam sembah.

“Bagaimana bila aku menunjuk kamu sebagai mahapatih?”

Halayudha menggeleng perlahan.

“Kalau hamba masih diperkenankan mengabdi sebagai prajurit biasa sekalipun, bagi hamba itu sudah suatu anugerah. Berarti semua kelancangan hamba dimaafkan.”

“Apakah kamu jujur mengatakan ini?”

“Demi segala Dewa yang Maha benar.”

Permaisuri bangkit dari peraduannya.

“Kalau begitu panggil juru tulis Keraton, perintahkan membuat keputusan Raja.

“Bahwa Senopati Agung Brahma diberi kehormatan tlatah kulon, wilayah yang pernah dikunjungi. Senopati Agung Brahma bisa menikmati bersama seluruh keluarganya tanpa kecuali.

“Bahwa Mahapatih Nambi direstui untuk kembali sementara ke tempat

kelahirannya.

“Bahwa wewenang Keraton sepenuhnya di tangan Manmathaba.”

Halayudha terus menyembah.

“Lakukan itu.”

“Segala titah dijalankan sebagaimana kehendak Dewa….”

Dini hari itu pula layang kekancingan, surat rahasia, keputusan raja yang juga memakai nama kebesaran Raja Jayanegara, disampaikan kepada Senopati Agung Brahma.

Ketika Dyah Dara Jingga menyatakan keheranan dan menyampaikan niatnya untuk menemui adiknya, jawabannya tidak mungkin.

Bagi Senopati Agung Brahma sendiri, putusan itu seperti tak mengejutkan sama sekali. Dengan sembah yang dalam, Senopati Agung menerima.

Dalam tarikan napas yang sama, diperintahkan untuk mengemasi apa yang bisa dibawa. Sebelum matahari tenggelam, Senopati Agung diperintahkan untuk meninggalkan Keraton.

“Kalau Janaka masih belum kembali, biarlah suatu hari ia segera menyusul.”

Hanya itu yang dikatakan secara pendek.

Selebihnya masuk ke dalam kamar, bersemadi.

Tak ada yang berani mengusik.

Tak ada yang berani berbisik. Tak ada yang tahu bahwa dalam kesendiriannya, Senopati Agung Brahma seperti melihat semua yang pernah dilakukan. Semua tergambar secara jelas, berjejer satu demi satu.

Itulah saat-saat di mana ia akan menjelajah lautan sebagai duta Keraton Singasari. Tak ada yang lebih membanggakan, tetapi sekaligus memberatkan hati.

Membanggakan karena itulah puncak pengabdiannya kepada Baginda Raja yang sangat dihormati. Dirinya terpilih sebagai senopati utama yang mewakili Baginda ke tanah seberang.

Menyedihkan karena dengan itu ia harus berpisah dari putri Keraton yang menjadi idaman hatinya, yang telah direstui oleh Baginda untuk dipersunting di kelak kemudian hari.

Senopati Agung Brahma tak pernah melupakan malam menjelang keberangkatannya. Ia meminta izin Baginda untuk menemui tambatan hatinya, meminta diri.

Malam yang kemudian mengubah pandangan hidupnya.

Karena wanita tambatan hatinya, putri sekar kedaton, putri Baginda Kertanegara yang disembah, menolak pertemuan itu. Hanya menerima di balik sekat yang membatasi.

“Gusti Putri, kenapa Gusti tak mau menemui hamba?”

“Berangkatlah, Senopati!

“Kamulah prajurit sejati. Ksatria yang menjadi panutan. Berangkatlah kenegeri seberang, taklukkan, boyong putri yang tercantik, permaisurikan dia….

“Berangkatlah….”

“Gusti Putri….”

“Gusti Putri telah layu….”

“Hamba bersumpah….”

“Saya tak mau mendengar….”

“Hamba berjanji demi Dewa….”

“Saya tak mau mendengar….

“Berangkatlah, Senopati… Ksatria… Pendekar… Duta… Pemimpin… Panglima Perang….

“Berangkatlah….

“Itulah duniamu. Takdirmu.

“Itulah dirimu….”

Malam yang menggelisahkan. Hingga fajar tak ada pembicaraan lain. Hanya kerinduan dan ketidaktahuan akan apa yang sesungguhnya terjadi. Kenapa secara tiba-tiba tambatan hatinya tidak mau menemuinya.

Di tengah amukan gelombang laut, di antara pepohonan di negeri seberang, Senopati Brahma baru kemudian sekali menemukan jawaban yang masih serba samar.

Bahwa kepergiannya diartikan sebagai perpisahan.

Bahwa dunianya yang kemudian adalah dunia yang tak punya hubungan dengan tambatan hatinya.

Senopati Brahma ingin membuktikan kesungguhan hatinya. Kesucian tekadnya. Menunaikan tugas utama, dan kembali dengan hati yang sama, untuk menemui tambatan hatinya.

Itulah yang selalu menghuni benaknya siang dan malam.

Sampai kemudian utusan yang dikirim ke Keraton membawa kabar yang membuatnya tak mampu menatap matahari.

Senopati Brahma merasa bahwa kepergiannya, pengabdiannya, ternyata sia-sia, tanpa arti apa-apa bagi dirinya.

Putri Keraton Singasari menyusul ke negeri seberang. Sebagai mempelai wanita.

Permaisuri Keraton Caban

SENOPATI BRAHMA mengetahui jauh setelah putri tambatan hatinya meninggalkan Keraton Singasari.

Utusan yang membawa berita hanya melaporkan bahwa tak lama setelah Senopati Brahma berangkat, rombongan Dyah Ayu Tapasi juga berangkat ke negeri seberang, ke tlatah Campa. Untuk dipermaisurikan Raja dari Keraton Caban.

“Adakah sesuatu yang dikatakan sebelum berangkat? Adakah pesan tertentu dari Mpu Raganata?”

“Hamba hanya mendapat kisikan dari Mpu Raganata yang bijak, bahwa semua ini atas kehendak Tuan Putri sendiri. Ketika Tuan Putri Dyah Ayu Tapasi mendengar berita bahwa Raja Caban meminta salah seorang putri Keraton Singasari, beliau sendiri yang mengajukan diri, dan memutuskan untuk berangkat secepatnya.

“Baginda Raja sendiri tak menolak.

“Hanya itu yang dikisikkan, selebihnya, Baginda Raja berkenan menyampaikan restu dan menunggu Senopati kembali ke Keraton.”

Pertarungan batin Senopati Brahma, saat itu, tak selesai. Pandangan matanya selalu nyalang setiap kali berada di tepian samudra. Ombak yang bergolak, angin yang bertiup, seakan mendorong jiwanya untuk segera kembali ke Keraton, untuk mendengar kabar yang sesungguhnya.

Pertanyaan yang ingin dipuaskan ialah: Kenapa tambatan hatinya, Dyah Ayu Tapasi, mendadak saja menerima lamaran dari Raja Caban? Ada berita apa sesungguhnya di balik ini semua? Kenapa setelah sekian lama memadu kasih, merencanakan jalan kehidupan yang bahagia, yang direstui Baginda, keinginan itu tak terwujud? Buyar begitu saja.

Tak ada yang mengganggu hubungan asmara selama ini.

Dyah Ayu Tapasi walaupun putri sekar kedaton, putri istana, sudah lama menerima dirinya-yang kalau dirunut masih mempunyai darah keturunan seorang raja. Ia bukan sekadar senopati yang berasal dari darah petani.

Bahkan ia tak pernah bermimpi, tak pernah mendapat firasat buruk sedikit pun sebelumnya. Sampai langkah terakhir ketika mengunjungi kaputren, masih tak terasa bakal ada sesuatu yang mengubah jalan sejarah hidupnya.

Tertumpuk semua pertanyaan tanpa jawaban.

Dan semua ingin ditumpahkan pada saat kembali ke bumi Singasari.

Hanya saja segalanya telah berubah.

Sri Baginda Raja yang dikagumi dan dipuja sudah tidak memerintah lagi. Demikian juga Mpu Raganata. Yang meneruskan takhta adalah Sanggrama Wijaya. Seperti senopati seberang yang lain, Senopati Brahma meneruskan pengabdiannya. Dan diterima dengan sangat terhormat oleh Raja Kertarajasa, diangkat menjadi sesepuh para senopati dengan gelar Senopati Agung Brahma. Akan tetapi sejak itu, pertanyaan yang masih menggumpal tak terjawab.

Dalam kedudukan, dalam menjalankan tugas sehari-hari, Senopati Agung Brahma seperti tidak bersemangat. Lebih banyak mengurung diri dan menjauh dari segala kegiatan.

Sampai suatu ketika Baginda memanggil, dan mengatakan bahwa sudah layak dan sepantasnya Senopati Agung ada yang mendampingi.

“Paman Senopati Agung, rasa-rasanya hanya Paman yang pantas memperistri Dyah Dara Jingga….”

Senopati Agung tak bisa menjawab selain mengangguk, mengiyakan. Sewaktu didesak lebih jauh, Senopati Agung menerangkan bahwa ia menunggu berita apa yang terjadi dengan Dyah Ayu Tapasi. Baginda menyanggupi akan mencari kabar secepatnya.

“Akan tetapi pernikahan Paman tak bisa ditunda. Sebab Dyah Dara Jingga harus menikah lebih dulu, sebelum adiknya ada yang mengambil.”

Semua berjalan sebagaimana yang direncanakan. Pesta pernikahan yang megah. Akan tetapi Senopati Agung Brahma kembali mengasingkan diri. Tak mau terlibat kejadian sehari-hari. Lebih suka mengurung diri dalam kapustakan, mempelajari kitab, menembang, berlatih, dan sering dalam waktu tiga bulan tidak berbicara satu patah kata pun.

Demikian juga ketika putranya lahir, Senopati Agung mendidik sendiri, bergulat sendiri dengan putranya. Tanpa pernah mau secara langsung melibatkan diri dengan peristiwa Keraton.

Tak ada yang bisa menggugah Senopati Agung Brahma.

Tak ada yang bisa membuat perhatiannya teralih.

Membingungkan siapa pun, akan tetapi Senopati Agung yang dianggap bertapa membisu terus menjauhkan diri dari tata pergaulan, sampai belasan tahun.

Sampai suatu ketika, Senopati Agung mendengar bahwa sebagian rombongan para senopati yang dulu dikirim ke tanah seberang telah datang.

Yang membuatnya tergerak karena di antara yang datang kembali ada yang dari tlatah Campa! Seorang ksatria gagah perkasa yang bernama Maha Singanada.

Sewaktu berangkat dulu, Senopati Agung tidak mengenali Singanada. Akan tetapi wajahnya, sikap keras kepalanya, mengingatkan kepada salah seorang senopati yang dikenalnya.

Celakanya, justru ketika mencoba berhubungan dengan Singanada yang terjadi adalah salah paham yang tak terselesaikan. Saat itu Singanada bahkan berniat membunuhnya.

Makin tak masuk akal.

Senopati Agung menyadari bahwa semua rombongan dari tlatah Campa tak ada sedikit pun yang mau membuka mulut mengenai tugas di tanah seberang. Jangan kata mendengar laporan mengenai Dyah Ayu Tapasi, kalau ia menyebut tlatah Campa, yang diajak bicara langsung mengerutkan dahi dan menjauh.

Rasa ingin tahu makin menebal.

Tapi tetap tak ada jawaban.

Sampai kemudian terjadi gegeran di Keraton, dan dirinya tak bisa menghindarkan diri. Yang sedikit disesali karena putranya ikut terlibat. Ini berarti semua dosa akan ditanggung bersama.

Bagi Senopati Agung, dibuang ke tanah seberang selalu menimbulkan bayangan yang tidak enak. Karena itulah dulu ia kehilangan putri tambatan hatinya. Dan mau tak mau sekarang harus dijalani lagi.

Pertarungan batin yang meletihkan.

Karena tak ada jawaban. Karena tak ada gema.

Semua ditanggung sendiri.

Doa dari sukma yang merintih tak juga memperoleh penerangan, atau firasat akan sesuatu.

Buntu.

Mangu.

Menengok kembali ke masa yang dijalani, Senopati Agung Brahma merasa selama ini dirinya hidup dalam mimpi. Dalam bayangan daya asmara Dyah Ayu Tapasi yang hanya hidup dalam angannya. Dirinya selalu hidup dalam keadaan sukma yang kering.

Betapa sia-sia.

Senopati Agung menatap dirinya sendiri dengan sorot mata kasihan, iba tak terperi.

“Itulah dirimu.

“Seorang ksatria, seorang senopati yang jiwanya kosong. Yang tak mengerti bahkan jawaban pertanyaan yang paling sederhana pun. Ke mana Dyah Ayu Tapasi? Kenapa malam itu memutuskan tak mau bertemu? Kenapa tiba-tiba mau menerima lamaran Raja Campa? Apa yang terjadi di sana?

“Pertanyaan yang paling sederhana.

“Tapi kamu tak bisa menjawab.

“Brahma, apa sebenarnya yang sudah kamu jalani selama ini? Apa arti dirimu lahir, besar, dan menjadi senopati?

“Kamu tidak melakukan apa-apa.

“Kamu sudah mati ketika kapal meninggalkan Keraton Singasari.”

Pertanyaan yang tergema kembali sebagai pertanyaan.

“Telah terlambat,” jawabnya sendiri. “Terlambat untuk memulai sesuatu.

“Kenapa tidak dari dulu mencari ke tlatah Campa? Kenapa tidak dari semula kamu tanyai Dyah Ayu Tapasi?

“Sekarang apa yang kamu peroleh?

“Tak ada siapa-siapa.

“Tak ada apa-apa.

“Sekarang dan selamanya.

“Kamu tak pernah ada.”

Senopati Agung menggeleng. Berulang kali. Menghela napas berulang kali.

Sesungguhnya inilah yang membuatnya sedih.

Bukan karena dibuang. Bukan karena mendapat perlakuan yang kurang ajar dari keponakannya sendiri. Bukan karena pangkat atau derajat.

“Kamu kehilangan yang sangat berharga dalam hidupmu, tetapi kamu tak tahu apa yang hilang itu. Sebab kamu tak memiliki hidup.

“Bahkan sekarang ini kalau kamu bunuh diri, kamu tidak mati. Karena kamu sudah tidak ada.

“Hanya memperpanjang beban istrimu, anak-anakmu, terutama Janaka Rajendra….”

“Hanya yang terakhir ini mempunyai gema yang menggeletar dalam hatinya. Putranya, Pangeran Anom Janaka yang begitu cepat menangkap pelajaran yang diberikan, yang begitu mengerti dirinya, yang bisa berhari-hari menemani tanpa mengucapkan sepatah kata. Bentuk lain dari dirinya.

Jalinan Tetes Air

APA yang dipikirkan Senopati Agung Brahma mengenai putranya adalah pikiran yang membuatnya merasa ngeri, sedih, dan hanya bisa menghela napas tertahan.

Barangkali perasaan yang bisa melihat ke depan.

Yang melihat bagaimana akhir perjalanan hidup dari mata batin yang mampu menjangkau ke depan.

Janaka Rajendra tidak menyadari hal itu. Bahkan tidak menyadari akan mencapai tatanan yang sama sekali tak diduganya.

Sejak menyaksikan Gendhuk Tri yang berpasangan dengan Singanada, yang membersit dalam pikirannya ialah permainan ilmu silat yang selama ini dipelajari dari Kitab Air. Selama ini ia selalu dilatih ayahnya, tanpa henti dan tanpa mengenai ilmunya dimainkan orang lain.

Maka hatinya sangat tertarik ketika melihat Gendhuk Tri memainkan. Bagai tersedot tenaga gaib, ia sendiri ikut memainkan, dan hanyut ke dalamnya. Sehingga tak bisa menghentikan sendiri.

Hanya sewaktu sadar, segera membantu Gendhuk Tri menggotong Singanada untuk dibawa bersembunyi ke dalam rumah kediaman Janaka Rajendra.

Saat itu juga semua tabib dikerahkan, akan tetapi semuanya menggeleng. Tempurung lutut kanan Singanada telah membusuk, hancur lumat, tak bisa dipisahkan antara tulang, daging, dan urat.

“Bandul bandring itu benar-benar biadab.”

“Saya yang biadab,” kata Janaka. “Karena saya tak bisa berbuat apa-apa.

“Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menjejali dengan ramuan jamu untuk menahan rasa sakit.”

Gendhuk Tri menunggui Singanada.

Rajendra ikut menunggui.

“Maaf, saya lupa mengucapkan rasa terima kasih yang dalam. Pangeran Anom telah berbuat sangat baik kepada kami berdua. Jiwa budi luhur ini tak nanti kami lupakan.”

“Sayalah yang seharusnya minta maaf pada Adik Tri.

“Karena telah lancang mengajak Adik memainkan bersama bagian-bagian dari Tirta Parwa.”

“Dari mana Pangeran Anom mempelajari itu?”

“Dari Rama….”

“Kalau begitu kita satu aliran….”

“Semua ksatria berada dalam arus yang sama. Semua air adalah sama sumbernya. Kehidupan….”

Gendhuk Tri mendadak memalingkan wajahnya.

“Pangeran Anom selama ini berlaku sangat baik.

“Saya sungguh tak berhak atas kehormatan semacam ini. Silakan beristirahat atau meninggalkan kami. Biarlah kami meneruskan perjalanan ini.”

“Tidak mungkin.

“Adik Tri mau pergi ke mana?”

Gendhuk Tri tak bisa menjawab. Ia tak tahu apakah perlu menjelaskan bahwa usianya jauh di atas Pangeran Anom, sehingga ganjil kalau dipanggil dengan sebutan “adik” atau “yayi”. Tapi yang lebih membebani pikirannya ialah ia tak tahu harus pergi ke mana. Juga tak mengerti apa yang terjadi dengan Upasara Wulung serta yang lainnya. Yang diketahui hanyalah dirinya berada di kediaman Pangeran Anom, ditunggui, dan menunggui Singanada yang hancur kakinya.

“Sekarang ini Adik Tri masih terkena pengaruh bubuk pagebluk. Setiap setengah hari akan ada serangan yang membuat Adik Tri ketagihan. Sehingga harus ditawarkan.

“Selama ini saya tak membuat banyak, akan tetapi akan saya usahakan.”

“Pangeran makin membuat saya malu.”

“Tidak. Saya ingin menolong Adik Tri.”

“Kenapa Pangeran begitu baik?”

Janaka Rajendra menatap mata Gendhuk Tri.

Gendhuk Tri memalingkan wajahnya yang mendadak merah.

Terasa panas menjalar di pipinya.

Lalu berubah menjadi penyesalan. Gendhuk Tri membuang pikiran yang secara aneh menyelinap ke dalam benaknya. Bagaimana ia bisa berpikir yang bukan-bukan kalau Singanada sedang tak keruan nasibnya?

Akan tetapi Pangeran Anom ini memandang begitu lekat, dan tak mau meninggalkan tempat.

Kenapa tak segera menjawab?

Pertanyaan yang wajar bagi wanita yang justru memahami sikap asmara Pangeran Anom yang sedang tumbuh. Yang hidungnya mulai menghirup angin asmara. Sikap Pangeran Anom yang begitu baik menimbulkan tanda tanya.

Bagi Janaka Rajendra sendiri agak susah menguraikan bagaimana sesungguhnya perasaan hatinya. Ia menjadi bengong dan memandang lekat ke Gendhuk Tri ketika ditanya “kenapa begitu baik” dan tak bisa segera menjawab. Bukan karena apa, tetapi terutama sekali seumur hidupnya tak

pernah ada pertanyaan semacam itu yang ditujukan kepada dirinya.

Selama ini ia hanya belajar dari ayahnya mengenai ilmu silat, mengenai ilmu pengobatan dan jampi-jampi. Dan setiap kali melakukan. Tanpa pernah ada yang menanyakan untuk apa.

Maka itu membuatnya tertegun.

Yang begini tak bisa dipahami Gendhuk Tri. Yang justru latar belakangnya terbalik dengan Pangeran Anom. Betapa tidak. Sejak kecil ia sudah langsung bergaul di tengah masyarakat persilatan, di tengah hiruk-pikuknya pertarungan dan pergaulan. Sedangkan Pangeran Anom justru hanya mengenai secara langsung ayahnya sendiri.

Jalan pikiran Gendhuk Tri yang menjadi sangat peka, terutama juga karena dirinya merasa gadis dewasa, sebenarnya tak terpikirkan oleh Janaka Rajendra secara sadar.

Akan tetapi justru karena Janaka Rajendra terdiam bengong, Gendhuk Tri merasa serbasalah.

Mereka berdua jadi terdiam lama.

Gendhuk Tri menjadi tidak enak.

Ia mengalihkan ke pembicaraan yang lain.

“Pangeran Anom, apakah Pangeran sudah lama mempelajari Kitab Air?”

“Sejak semula saya belajar dari Rama.”

“Kenapa Pangeran mengajak saya memainkan bersama…”

Kalimat Gendhuk Tri tak selesai. Baru ia menyadari bahwa setiap kali pertanyaan justru seperti mendesak pengakuan dari Janaka Rajendra.

“Saya sangat tertarik.

“Adik Tri bisa memainkan sangat bagus. Saya tertarik karena sesama air akan saling menarik tanpa menyusahkan. Sesama air akan menjalin dengan sendirinya.

“Persamaan perasaan akan menjelma menjadi kekuatan.

“Setetes air adalah setetes air.

“Sekian tetes air yang menyatu bisa menjadi tenaga banjir.”

“Saya tak pernah menduga….”

“Tidak bisa diduga.

“Air menemukan pasangannya dengan sesama air. Itulah kodrat alam. Saya merasa menemukan pasangan dengan perasaan Adik Tri….”

Gendhuk Tri menunduk.

“Apa yang sesungguhnya ingin Pangeran katakan?”

“Bahwa air pasangannya dengan air.

“Ketika Adik Tri memainkan dan menjelmakan kekuatan air dan berpasangan dengan tenaga bumi, sungguh luar biasa. Bagai pasangan yang abadi tak terpisahkan. Akan tetapi tenaga air dalam diri saya meluap, mencari persatuan dengan sesama air.

“Kita bisa menjadi pasangan yang cocok.

“Lebih cocok daripada air dengan bumi.”

Gendhuk Tri menggeleng lagi.

“Rasanya kurang pantas kita bicarakan sekarang, Pangeran….”

“Maaf….”

“Bagaimana kalau Pangeran beristirahat sebentar? Biarlah saya menunggui Kakang Singanada….”

Ganti Janaka Rajendra menggeleng.

“Tak bisa, tak bisa.

“Saya akan menemani Adik Tri.”

“Kurang baik bagi abdi Keraton, Pangeran….”

“Mereka tidak apa-apa.

“Atau… atau… Adik Tri tidak mau saya temani?”

“Bukan begitu,” jawab Gendhuk Tri buru-buru. Lalu menggeleng lagi, merasa serbasalah lagi. Tiba-tiba saja ada perasaan kikuk, jengah, tidak enak.

Gendhuk Tri yang biasa bersikap semaunya, asal berbuat menuruti kata hatinya, sekarang merasa mati langkah. Merasa tak bisa bersikap wajar lagi.

“Adik Tri, apakah Singanada ini kekasih Adik?”

Pertanyaan yang polos.

Seadanya. Janaka Rajendra memang kurang memiliki kepekaan dalam pergaulan. Sehingga apa yang dirasakan langsung ditanyakan begitu saja.

Gendhuk Tri terdiam.

Tak bisa seketika mengangguk atau menggeleng.

Mengangguk belum tentu tepat. Tetapi menggeleng juga jelas salah. Selama ini Singanada menganggap dirinya adalah kekasihnya. Atau setidaknya mempunyai hubungan yang khusus. Untuk sementara Gendhuk Tri juga menerima.

Perhatiannya terpecah ketika mendengar erangan Singanada.

Rintihan Bumi

BURU-BURU Gendhuk Tri mendekat, dan karena gugup ia menyentuh kaki kanan yang terluka. Singanada mengerang hebat. Tubuhnya menggigil, rasa sakit yang memilukan.

“Celaka, jamu penahan sakit telah hilang pengaruhnya.”

“Tobat! Aku tobat!”

“Apa yang harus kita lakukan, Pangeran?”

“Tobat… Kanya… aku tak kuat…”

Gendhuk Tri mengucak-ngucak rambutnya hingga dandanannya makin tidak keruan. Janaka Rajendra memencet paha Singanada yang terjulur ke arahnya.

“Bangsawan tengik, kamu… kamu membunuhku.”

Sesaat tubuh Singanada menggelinjang, lalu tenang kembali.

Janaka Rajendra masih mengurut beberapa kali. Hingga tubuhnya mandi keringat.

“Bagaimana, Pangeran?”

“Susah sekali, Adik Tri.

Rasa sakit yang diderita Singanada sangat hebat. Urat-urat kepekaan bagian kakinya hancur. Satu-satunya jamu penahan rasa sakit hanya bisa dibuat dalam waktu satu purnama penuh, dengan mengumpulkan ramuan yang diseduh dari ujung embun.

“Saya tak mempunyai persediaan lagi.”

“Tidak adakah jampi yang lain?”

“Saya tak berani mengatakan.”

“Katakan, ini soal hidup-matinya Kakang Singanada.”

“Untuk menahan rasa sakit, jamu dari embun yang paling tepat. Tidak mempunyai akibat sampingan.

“Saya tidak berani mengatakan kalau kita gunakan jenis bubuk pagebluk yang bisa mematikan rasa. Karena akan membuat Kakang Singanada terus-menerus ketagihan.”

“Lalu akan kita biarkan ia mengerang begini?”

“Kecuali… kecuali kalau kakinya dipotong.”

Gendhuk Tri mundur setapak.

“Dipotong?”

“Ya. Dengan demikian urat perasa yang peka bisa kita matikan. Sehingga yang tertinggal adalah rasa sakit yang ada, tanpa menjalar.”

“Pangeran bisa melakukan?”

“Selama ini Rama hanya mengajari bagaimana meramu jamu. Saya belum pernah melakukan.”

“Pangeran mau mencobanya?”

“Mau, akan tetapi tetap harus menunggu kekuatan Singanada membaik. Selama tenaga dalamnya masih tak beraturan, akan susah mengaturnya. Kekuatan erangan bumi tak bisa sepenuhnya saya kuasai.

“Kalau Adik Tri yang terluka, saya bisa mengimbangi dengan tenaga dalam saya.”

“Saya jadi bingung.

“Bagaimana sebaiknya, Pangeran?”

“Kita harus menunggunya.”

“Sampai kapan?”

“Sampai tenaganya pulih sebagian. Panas tubuhnya tidak menjalar seperti sekarang.”

“Sampai kapan?”

“Itulah susahnya. Saya tak tahu.

“Makin cepat makin baik. Karena sekarang ini darahnya kita alihkan alirannya. Rasa sakitnya kita hentikan. Kalau terlalu lama bisa mengganggu.”

“Apakah tidak ada yang bisa menolongnya?”

“Rama bisa.”

“Kenapa…” Pertanyaan Gendhuk Tri terkunci oleh jawaban yang diketahui. Agak repot kalau sampai Senopati Agung Brahma yang menolong. Singanada pasti menolak.

“Kalaupun dipaksa, setelah sembuh nanti Singanada pasti akan membunuh karena alasan yang belum tersingkap.

“Rama sudah dibuang ke tanah seberang.”

Gendhuk Tri menepuk jidatnya sendiri.

“Kenapa Pangeran tidak ikut?”

“Tidak.

“Saya lebih suka menunggui Adik Tri di sini.”

Kembali tangan Gendhuk Tri menggaruk rambutnya. Kali ini hanya tangan kiri, walau tidak menunjukkan berkurangnya rasa bingung dibandingkan menggaruk dengan kedua tangan.

“Kenapa Pangeran lebih suka menunggui di sini?”

“Karena saya senang pada Adik Tri. Karena kita adalah sepasang air yang akan selalu bersama.”

Gendhuk Tri mendongak.

Suaranya menggeletar.

“Pangeran, saya tak tahu bagaimana harus bersikap. Saat ini saya sangat bingung. Saya tak tahu di mana dan bagaimana keadaan Kakang Upasara.

“Sekarang ini Kakang Singanada juga tak ketahuan mati-hidupnya. Tapi semua ini tak menghalangi Pangeran jika akan pergi ke tlatah seberang. Saya cukup tahu diri untuk tidak membebani Pangeran….”

“Tidak, Adik Tri.

“Saya sendiri yang memutuskan berada di sini.”

Gendhuk Tri menggigit bibirnya.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Mengobati Singanada.”

“Baik-baik-baik.

“Apa yang perlu kita persiapkan?”

“Menunggu sampai tubuh Singanada tidak begitu panas. Lalu kita memotong kakinya, dan menunggui hingga agak sembuh.”

“Dengan apa memotongnya?”

“Kita cari senjata atau apa saja….”

Gendhuk Tri merasa perlu menahan diri. Makin dipaksakan berbicara, makin dipaksakan bertanya, makin disadari bahwa susunan kata-katanya tidak urut. Sudah jelas untuk memotong kaki diperlukan senjata. Masa hal sepele begitu perlu ditanyakan?

“Bagaimana caranya agar Kakang Singanada tidak terlalu panas?”

“Dengan tenaga air.

“Adik Tri bisa mengirimkan tenaga dalam untuk mengurangi panas tubuh Kakang Singanada. Kalau mau dicoba kita bisa melakukan bersama-sama.”

“Saya tahu tenaga dalam saya belum pulih sepenuhnya. Bantuan Pangeran sangat besar artinya. Tetapi kalau kita berdua melakukan pengerahan tenaga, bagaimana mungkin bisa memotong kaki?”

“Saya tidak tahu apakah Adik Tri setuju atau tidak.

“Kita bisa melakukan secara bersama. Apalagi jika kekuatan batin kita menyatu, pikiran kita satu, perasaan kita satu, rasanya apa yang akan kita lakukan tak akan saling mengganggu. Kekuatan air yang bergabung, tak akan’ saling menolak. Kekuatan air yang bergabung, bisa dialirkan ke mana saja.”

Kini Gendhuk Tri menyadari sepenuhnya.

“Bahwa dengan menyatukan perasaan dan pikiran, tenaga dalamnya bisa bersatu dengan tenaga dalam Janaka Rajendra. Dengan demikian bisa disalurkan dan diatur.

“Syaratnya harus bersatu.

“Seperti ketika pertama kali dipadukan dan mereka seakan menari bersama!

“Hanya karena sekarang harus bersemadi, berarti harus berdua-dua pula.

“Sebenarnya jauh dalam hati Gendhuk Tri tak dibebani perasaan apa-apa, kalaupun harus mengerahkan tenaga dalam bersama-sama. Hanya saja ia mengetahui bahwa bersatunya rasa dan pikiran bisa berbuntut panjang. Karena kalau pengerahannya bisa searus, pastilah dengan betul-betul menyatukan perasaan yang paling peka dan pemusatan pikiran yang paling dalam.

“Kalau bisa menyatu, tenaga bisa dikerahkan dan diatur.

“Kalau tidak, akan saling membentur.

“Yang pertama artinya ia menyatukan keinginan dengan Pangeran Anom, yang kedua kalau gagal makin membahayakan Singanada.

“Pangeran, apakah Pangeran bersedia?”

“Saya bersedia.

“Apakah Adik Tri bersedia, itu yang menjadi pertanyaan.”

Gendhuk Tri mengangguk mantap.

“Demi Kakang Singanada, marilah kita menyatukan….”

Gendhuk Tri segera bersila. Dua tangannya bergerak bagai menarikan sesuatu, sebelum kemudian Janaka Rajendra melakukan hal yang sama.

Tiga kali tarikan napas, Gendhuk Tri masih menggelinjang. Pemusatan pikiran masih dibebani dengan apa dan siapa Pangeran Anom sebenarnya. Dan apa maksudnya? Apa di balik kebaikannya? Secara tiba-tiba dikenal, dan secara tiba-tiba pula berbuat begitu banyak kebaikan.

Justru perasaan curiga inilah yang menghalangi pemusatan pikiran.

Janaka Rajendra menggeleng.

“Sulit… sulit… tak bisa dipaksa.”

“Maaf….”

“Bukan salah Adik Tri….”

Keduanya berpandangan.

Gendhuk Tri tergetar. Sesungguhnyalah yang dipandangi seorang lelaki yang sangat tampan, bersinar wajahnya, polos, dan sangat menaruh perhatian. Sangat dekat. Lekat. Hingga terasakan desiran napasnya.

Ditunggui Ratu Ayu

DADA Gendhuk Tri bergerak naik-turun. Deru napasnya tak bisa ditutupi. Tak syak lagi bahwa hati kewanitaannya tergetar melihat sepasang mata lelaki yang menatap ke arahnya.

Lelaki yang tampan.

Lelaki yang memperhatikan.

Yang baik budinya, yang mempunyai latar belakang darah keturunan. Yang mempunyai gelar Pangeran Anom atau Pangeran Muda. Rasanya tak gampang menghapus wajah itu begitu saja. Apalagi secara terus terang Pangeran Anom mengakui tertarik kepada Gendhuk Tri.

Ini yang membuat dada Gendhuk Tri naik-turun.

Akan tetapi kalau hati dan pikiran serta perasaannya sulit dipusatkan, bukan karena Pangeran Anom. Justru sebaliknya. Yang memenuhi isi kepala dan perasaan Gendhuk Tri, tak lain dan tak bukan masih tetap Upasara Wulung.

Entah kenapa perasaan yang diselimuti daya asmara tak bisa disingkirkan. Keinginan membuang jauh-jauh pikiran mengenai Upasara justru berakibat makin lekat. Bayangan Upasara seakan selalu ada di sekitarnya, memandangi ke arahnya, mengedip, dan terkadang tersenyum.

Juga ketika menatap Pangeran Anom, Gendhuk Tri justru serasa bersalah kepada Upasara.

Perasaan aneh yang tak bisa dipahami sendiri.

Tapi itu yang hidup dalam rasa batinnya. Sekarang ini seluruh pikirannya justru tertuju ke arah Upasara. Ketika ia tinggalkan gelanggang sementara ia mengetahui bahwa keris milik Senopati Agung Brahma, karena perbuatan Halayudha, menusuk tubuh Upasara. Gendhuk Tri mengetahui bahwa sasaran keris yang amblas itu adalah pundak kiri.

Halayudha cerdik dan bisa mematahkan tepat di mana kekuatan Upasara tersimpan. Tangan kiri Upasara jauh lebih mudah digunakan untuk menyimpan kekuatan. Dalam latihan Kitab Bumi, tangan kiri lah yang membuka, sementara tangan kanan terkulai lemah. Itulah yang menjadi sasaran Halayudha.

Dan kena.

Rasa kuatir mengenai nasib Upasara sama seperti ketika ia berada di dalam Keraton dan ditawan di sana. Antara sadar dan tidak, ia mengetahui dirinya berada dalam tempat penyimpanan pusaka. Dalam keadaan tak menentu kesadarannya, pandangan matanya justru menemukan Galih Kangkam! Pedang tipis hitam yang dipakai oleh Upasara!

Pedang yang ditemukan secara tak sengaja karena berada di dalam galih asam milik Galih Kaliki. Pedang itu hanya berpindah sekali dari tangan Upasara, yaitu ketika diberikan kepada Ratu Ayu Azeri Baijani. Ratu Ayu Bawah Langit dari negeri Turkana, biar bagaimanapun juga adalah istri Upasara Wulung.

Yang terbersit ketika itu ialah bagaimana mungkin pedang utama milik suaminya bisa tergeletak dan tersimpan dalam Keraton. Apa yang terjadi dengan pemiliknya? Apa sekarang ini Ratu Ayu justru sedang menunggui? Alangkah mesranya!

Gendhuk Tri tak akan memedulikan nasib Ratu Ayu kalau itu tak ada hubungannya dengan Upasara. Maka bisa dimengerti kalau begitu keluar dan dibopong oleh Singanada, yang pertama kali terucap dari bibirnya ialah menanyakan kepada Upasara Wulung, bagaimana keadaan Ratu Ayu.

Bagi Gendhuk Tri segala sesuatu yang bisa dihubungkan dengan Upasara tak akan hilang begitu saja. Bahkan membekas dan mempunyai makna tertentu.

Hatinya sendiri mengakui bahwa satu daya tarik Singanada justru karena wajah dan perawakannya sangat mirip dengan Upasara!

Dalam waktu yang sangat pendek, hatinya mengenali siapa sesungguhnya Singanada. Seorang ksatria gagah yang lugu, yang begitu mencintai dan memperhatikan.

Dalam keadaan tak mungkin memperoleh kembali Upasara yang hatinya telah diserahkan kepada Gayatri, walau resminya menjadi suami Ratu Ayu, Gendhuk Tri membuka pintu bagi kehadiran Singanada untuk melangkah lebih jauh.

Yang berikutnya adalah pemunculan Pangeran Anom.

Agak tergesa-gesa ia mengartikan kehadiran Pangeran Anom ini, akan tetapi hati kecilnya mengatakan ia tak keliru menebak jalan pikiran seseorang yang menaruh minat padanya.

Tidak, bagi Gendhuk Tri tak begitu mudah mengalihkan perhatian kepada lelaki lain.

Apalagi setelah batinnya ditata untuk menerima Singanada.

Namun yang terjadi sekarang ini ialah ia harus bisa menyatukan rasa dan pikiran dengan Pangeran Anom. Sebab hanya itu jalan satu-satunya untuk bisa menolong Singanada.

“Apa yang Adik Tri pikirkan?”

“Tidak…,” jawab Gendhuk Tri mengambang.

“Untuk sementara ini, Adik Tri jangan terganggu oleh pikiran yang lain. Saya bermaksud menolong Kakang Singanada. Saya tak akan berbuat curang untuk keuntungan pribadi saya.”

“Tidak. Bukan itu, Pangeran Anom.

“Saya sendiri yang tak begitu….”

Gendhuk Tri tak biasa berdusta, makanya tak bisa menyusun alasan dengan urut. Tapi ia tak mungkin menceritakan bahwa sesungguhnya pikirannya sedang tertuju kepada Upasara.

Agak kurang waras menurut perhitungan Gendhuk Tri. Justru di saat Singanada menggeletak antara mati dan hidup, ia masih memikirkan keselamatan Upasara!

Ah!

Senopati Pamungkas II – 16

Ah, jangan kata kala Upasara sedang menderita seperti sekarang ini. Ketika sedang segar bugar dan hanya bergandengan tangan dengan Nyai Demang saja ia menjadi gusar.

“Kalau begitu, kita tenangkan dulu….”

“Pangeran Anom, Pangeran begitu menguasai ilmu untuk mengobati. Bahkan bisa menciptakan buah untuk melawan racun pagebluk. Apakah Pangeran mempelajari secara khusus?”

“Saya mempelajari dari Rama. Apa yang Rama ajarkan, saya ikuti.”

“Bagaimana mungkin Pangeran bisa langsung membuat jampi penawar racun pagebluk?”

“Tidak secara khusus, Adik Tri.

“Saya mempelajari sesuatu yang dibuat dari bahan murni alam, seperti juga terciptanya embun, terutama di bagian ujungnya. Semua itu diajarkan di dalam Kitab Air maupun Kitab Bumi. Hanya karena kebetulan saja cocok untuk menawarkan racun pagebluk.”

“Pangeran tahu kenapa Pendeta Manmathaba begitu sakti?”

Janaka Rajendra menggeleng.

“Pengalaman saya kosong melompong. Kemampuan saya hanya mengenai yang diajarkan Rama.

“Pendeta Manmathaba sungguh luar biasa. Ilmu silatnya sangat luar biasa tingginya, senjata andalannya betul-betul maut yang tak bisa ditolak.

“Luar biasa.”

“Saya rasa tak begitu hebat. Ilmu silatnya masih jauh di bawah Kakang Upasara. Senjata andalannya, Bandring Cluring, boleh dikatakan luar biasa, akan tetapi saya percaya Kakang Upasara sanggup menandingi, bahkan menundukkan.

“Bagi saya yang menjadi tanda tanya besar adalah penguasaan akan ilmu kebal. Jelas-jelas keris pusaka Senopati Agung bisa dipakai Kakang Upasara untuk menusuk, dan nyatanya bisa, tetapi rasanya tak ada guratan yang tersisa.

“Bukankah ini luar biasa?”

“Ya, Ya. Mengherankan.

“Saya banyak membaca mengenai ilmu kebal….”

“Saya sering menyaksikan dan menjajal. Akan tetapi tak ada yang mampu menyamai Manmathaba.

“Saya heran sendiri. Dengan penguasaan ilmu kebal semacam itu, tak akan ada yang bisa mengalahkan.”

Janaka Rajendra menggeleng keras sekali.

“Tidak betul.

“Semua ilmu di jagat ini tak ada yang paling unggul. Tidak juga Kitab Bumi atau Kitab Air. Jurus apa pun, latihan pernapasan macam apa pun rasanya bukanlah yang paling sempurna.

“Demikian juga ilmu kebal Pendeta Manmathaba. Hanya saja hasilnya memang luar biasa.

“Kulit ari, kulit bagian luar, tidak tergores sedikit pun.”

“Bagaimana dengan Nenek atau Kakek Puspamurti? Kelihatannya ia menguasai ilmu yang lain, yang cukup berani menggertak Manmathaba.”

“Iya.”

“Bagaimana pendapat Pangeran?”

“Seperti tadi saya katakan, saya tak begitu mengerti aliran yang lain dari kisah-kisah air.

“Maaf, Adik….”

“Siapa dia sebenarnya?”

“Maaf….”

Gendhuk Tri mengusap wajahnya.

“Maaf, saya mungkin lancang dan asal bertanya saja. Semuanya tidak penting. Hanya untuk mengendorkan ketegangan saja.

“Pangeran, bagaimana kalau kita jajal sekali lagi?”

Janaka Rajendra mengangguk.

Memusatkan pikiran sebentar, lalu tangannya bergerak bagai membentuk lengkungan busur. Gendhuk Tri tak mau menunggu lama-lama, segera mengikuti gerakannya secara persis.

Tembang Duka

YANG tidak diperhitungkan oleh Gendhuk Tri adalah perasaan Maha Singanada.

Senopati gagah perkasa yang lahir dalam perjalanan ke tanah seberang, yang besar oleh ombak laut dengan akar Keraton Singasari ini tumbuh dengan tata krama yang berbeda. Justru ketika berada di tanah asing, keinginan untuk menjadi orang Singasari lebih menjadi-jadi.

Lebih-lebih dengan pengalaman dan perjalanan hidup yang membuatnya bersikap keras, atau sangat keras, Singanada tumbuh dengan kemauan yang susah diterka.

Kekecewaan yang utama ialah ketika pulang kembali ke tanah Singasari dan menemukan bahwa keagungan dan kebesaran Keraton yang dipuja para leluhur, tak seperti yang ditemui. Justru serba bertentangan dengan yang tertanam dan tumbuh dalam akal budinya. Kekecewaan yang makin mendalam, sehingga Singanada merasa tak ada tempat bernaung lagi. Dan memutuskan untuk mengembara ke tanah seberang, tanpa tujuan yang jelas. Dengan tujuan: meninggalkan Keraton Singasari.

Pada saat-saat yang menentukan pilihan hidupnya, hatinya tersambar oleh kepolosan Gendhuk Tri. Gadis yang sedang tumbuh, yang berbeda dari putri-putri Keraton yang dikenal. Segera saja Singanada menentukan bahwa ia akan hidup bersama sampai akhir hayatnya.

Jalan pikirannya sangat polos dan sederhana.

Tanpa lekuk-liku, tanpa renda-renda.

Segala apa akan dihadapi dengan gagah berani. Tak ada pertimbangan lain yang memberati. Baginya, sesama ksatria saling menolong, sesama orang jahat harus dibasmi, bersama kekasih hidup selamanya dan hanya dengan kekasihnya. Tidak dengan orang lain.

Kini dalam keadaan setengah sadar, Singanada melihat bahwa Gendhuk Tri masih tetap menunggui, masih sangat memperhatikan. Baginya, itulah nilai yang utama.

Akan tetapi juga dalam keadaan samar itulah dilihatnya ada bayangan lelaki lain. Yang begitu dekat dengan Gendhuk Tri. Bahkan melakukan latihan pernapasan bersama.

Dalam alam pikiran Singanada, hal semacam ini tak masuk akal.

Bagi Gendhuk Tri, sama sekali tak ada bayangan apa-apa selain berusaha menolong Singanada. Kalaupun, hanya kalaupun sebagai pengandaian, Pangeran Anom menaruh perhatian padanya, tak nanti ia tega bermain mata dengannya.

Tetapi memang Gendhuk Tri tak bisa menduga apa yang menjadi jalan pikiran Singanada.

Tak mungkin mengetahui, karena selama ini Singanada juga tidak membuka diri.

Hanya Singanada yang merasakan sendiri.

Betapa menyakitkan pengalaman hidupnya selama ini. Menanggung semacam beban yang tak dimengerti kenapa bisa terjadi. Dan tak mengerti harus membicarakan dengan siapa. Selain menerima sebagai nasib dan diam-diam menelan pribadinya, menjadi sosok yang ganjil tanpa diketahui sendiri.

Semuanya berangkat dari masa kanak-kanaknya. Seingatnya, itulah masa-masa ia berada di atas perahu besar yang lama sekali. Hampir setiap saat ia melihat ombak ketika bangun dan masuk kembali ke kamar tidur. Ia sudah mulai berlatih silat, dan mengetahui bahwa dirinya adalah rombongan yang mengemban tugas suci Keraton.

Ayah dan ibunya adalah senopati utama yang memimpin utusan Baginda Raja menuju tlatah Campa.

Tak ada aral melintang sampai ketika mendarat, dan masuk ke daratan. Ujian dan pertarungan para senopati dengan Keraton Caban dengan mudah dapat dimenangkan.

Lalu pada suatu malam, ia mengetahui ada sesuatu yang menampar kesadarannya. Untuk pertama kalinya ia tak menjumpai ibunya. Tak ada yang memberitahukan apa-apa, selain ayahnya mengatakan pendek bahwa ibunya kembali ke tanah Jawa sendirian.

“Itu yang terbaik, Singanada.

“Kamu tak usah memikirkan.”

Ia ternyata justru sangat memikirkan. Dan dari pembicaraan kiri-kanan yang sempat terdengar tidak langsung, ia mengetahui bahwa ibunya sangat kecewa pada ayahnya, sehingga memutuskan kembali ke tanah Jawa, hanya dengan beberapa pengikut. Kekecewaan itu dikarenakan ayahnya lebih dekat dengan Dyah Ayu Tapasi!

Singanada yang mulai menginjak masa remaja tak mengetahui secara persis, dan tak ingin mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi.

Hanya saja telinganya menjadi merah manakala ada yang membicarakan hal itu.

Jiwanya terobek dan terombang-ambing untuk mengambil pilihan. Meliar mencari jawaban apakah ayahnya yang benar, atau ibunya, atau Dyah Ayu Tapasi, atau siapa. Tak ada pegangan. Pandangan yang hormat sangat terhadap ayahnya tak luntur, akan tetapi serentak dengan itu tumbuh kebencian yang luar biasa

Rasa hormatnya yang dalam terhadap Dyah Ayu Tapasi sebagai junjungan tak berkurang, akan tetapi juga tumbuh semacam kebencian yang membakar setiap kali melihat putri Keraton.

Semua dirasakan sendiri.

Mengendap bertahun-tahun.

Tumbuh bersama kedewasaan dan keahlian ilmu silatnya.

Singanada tak pernah mau membuka pembicaraan mengenai hal ini kepada siapa saja. Malah menjadi murka bila ada yang menyebut-nyebut soal Campa. Seolah menyindir dan merendahkan ayahnya, yang membuat ibunya pulang kembali ke tanah Jawa dan tidak ketahuan ceritanya. Apakah kembali dengan selamat atau hilang di tengah gelombang lautan.

Beberapa orang yang mengetahui, memang tak pernah menanyakan dan menyinggung persoalan itu. Karena sedikit saja Singanada mendengar hal itu, ia akan mendatangi dan membunuhnya!

Jiwa yang tumbuh dalam diri Singanada mengenai tata krama lelaki-perempuan menemukan bentuknya sendiri yang berbeda dari ksatria lain, karena ia dibesarkan dalam situasi yang sangat khusus.

Itu sebabnya hatinya bisa menjadi sakit, terluka sangat dalam. Karena dengan mudah, kepekaannya mengembang manakala melihat Gendhuk Tri yang dikasihi berduaan dengan Pangeran Anom.

Alam berpikirnya akan kembali lagi: bahwa Dyah Ayu Tapasi, putri Keraton yang sangat dipuja bagai dewi surga, juga mau berbuat yang tercela dengan ayahnya. Apalagi seorang Gendhuk Tri. Dan kesimpulannya: semua wanita pada akhirnya sama, demikian juga Pangeran Anom, tak berbeda dari ayahnya.

Sifat-sifat culas yang ingin dilibas habis. Akan tetapi justru dialami sendiri.

Andai saja Singanada bisa mengutarakan isi hatinya mengenai masalah ini, persoalannya menjadi lain. Akan tetapi selama ini Singanada tak mengenai siapa yang bisa menjadi curahan hatinya. Selama ini, hatinya makin lama makin tertutup. Tak ada yang mengetahui apa yang dirasakan.

Ketertutupan yang berkembang, menjadi payung yang makin lama makin keras.

Tak bisa dipungkiri hati Singanada yang terobek ketika itu. Akan tetapi Singanada tak berbuat apa-apa. Ia malah membiarkan semuanya terjadi.

Tidak mengerang, tidak mendesis. Semua keperihan dan penderitaan ditanggung sendiri. Makin terasa betapa dirinya tak berharga ketika kaki kanannya dipotong oleh Pangeran Anom dan Gendhuk Tri.

Sewaktu keduanya tenggelam dalam keletihan yang panjang dan menyeretnya tertidur, Singanada menyeret tubuhnya keluar dari ruangan. Dengan mengeraskan hati dan kekuatan, Singanada merangkak keluar dari ruangan untuk kemudian menembus kegelapan malam.

Duka yang sarat membebani seluruh tubuhnya.

Duka yang terseret setiap langkah gontainya. Ia mengambil tombak yang dipatahkan seperti senjata andalannya, kantar, untuk menopang langkah kakinya.

Tak tahu mau pergi ke mana dan akan apa.

Apa yang dimiliki telah hancur. Apa yang ditakutkan telah terjadi Mengalami nasib yang sama. Mengagumi dan membenci wanita. Seperti pandangannya terhadap ibunya sendiri. Yang disalahkan begitu picik melarikan diri. Seperti pandangannya terhadap Dyah Ayu Tapasi. Yang dipuja akan tetapi melakukan perbuatan tercela.

Singanada mengerang.

Tanpa suara.

Beberapa kali ia pingsan dan sadar kembali, beberapa kali disadari bahwa darah masih terus mengucur dari bagian kakinya yang terpotong, akan tetapi dipaksakan untuk terus berjalan. Untuk terus berloncatan.

Ada dorongan kekuatan yang luar biasa untuk melarikan diri. Melarikan diri dari bayangan Gendhuk Tri.

Singanada tak peduli dan sama sekali tak memperhatikan bahwa justru Gendhuk Tri yang merasa kelabakan dan tak mengerti sama sekali apa yang dipikirkan oleh Singanada. Setelah mengirim tenaga dalam dan membantu Janaka Rajendra, ia seperti tenggelam dalam kelelahan dan rasa mengantuk yang hebat.

Kalaupun ia terbangun, karena kepalanya berdenyut-denyut dan ada sesuatu yang diinginkan, yang menyebabkan tubuhnya basah kuyup oleh keringat.

Apakah ia ketagihan racun pagebluk?

Kembalinya Kiai Kiamat

GENDHUK TRI baru menyadari ada sesuatu yang tak di tempatnya semula. Yaitu Pangeran Anom, dan Singanada. Yang terpikir pertama ialah bahwa Singanada dirawat di ruang lain. Akan tetapi ketika Pangeran Anom muncul sambil membawa jamu dalam batok kelapa, Gendhuk Tri tak bisa menahan pertanyaan dengan suara tinggi.

“Kakang Singanada lebih memerlukan perawatan dari saya.”

“Kakang Singanada telah pergi.”

“Pergi?

“Dan Pangeran membiarkan saja?”

“Kakang Singanada dalam keadaan terluka parah, akan tetapi memaksakan diri pergi. Pasti ada sesuatu yang besar yang akan dilakukan. Dan sebaiknya saya tidak menahannya.”

“Saya tak mengerti!” teriak Gendhuk Tri, kali ini malah lebih keras. “Bagaimana mungkin dibiarkan begitu saja?”

“Air hanya mengantarkan, tak pernah menahan. Kalau memang mau pergi, untuk apa ditahan?

“Kakang Singanada mempunyai alasan untuk pergi.”

“Tapi… tapi… kita tak tahu ke mana…”

“Kalau memang merasa perlu memberitahukan, pastilah sudah diberitahukan.”

“Pangeran, apa yang sebenarnya Pangeran inginkan?”

“Yang saya inginkan saat ini Adik Tri meminum jamu yang saya buat. Agar kekuatan racun pagebluk tak mempengaruhi lagi.”

“Apa yang Pangeran inginkan, selain itu?”

“Tak ada. Air tak boleh memiliki keinginan sendiri. Keinginannya adalah keinginan alam. Air akan berdiam diri selamanya. Kalau alam membedakan tanah dan rendah, air akan mengalir ke tempat yang rendah. Sebab merendah itu sikap yang baik.

“Kalau angin bergerak, air akan mengikuti.

“Ia bergerak, digerakkan bersama alam. Atas kemauan alam.”

“Susah dimengerti.

“Pangeran masih muda begini, tapi cara ngomongnya sudah seperti kakek-kakek. Kita membicarakan Kakang Singanada yang kehilangan kaki dan belum pulih kembali, akan tetapi malah dijawab dengan sifat air.

“Apakah memang semua orang sekarang menjadi linglung semacam ini?”

“Adik Tri, orang bisa linglung, bisa kehilangan sifatnya. Tapi air tidak pernah. Air adalah diam, tenang, adalah alam.

“Adik Tri, saya tahu bahwa Rama berangkat ke tanah seberang, karena perintah Raja. Saya sedang dicari-cari. Tetapi biar saja. Kalau Rama memang mau ke negeri seberang, kenapa harus ditahan? Kalau Raja memerintahkan begitu, untuk apa dibantah? Biarlah semua mengalir sebagaimana kodratnya.”

“Kalau semua dibiarkan begitu, untuk apa sejak semula Pangeran menolong saya? Kenapa mengobati saya, membuat jamu segala macam?

“Bukankah lebih mudah membiarkan saja?”

“Pertanyaan yang salah menemukan jawaban yang salah.

“Menolong atau tidak menolong, tak ada bedanya. Mengobati atau tidak mengobati, sama saja. Saya tidak menolong, tidak sengaja mengobati.”

“Tidak sengaja?”

“Tidak sengaja melakukan itu.

“Air memang selalu mengalir. Kalau ada tanah yang kering, ia akan merembes ke dalamnya, meresap, karena itu kodratnya. Ia tak akan lebih suka berkumpul dengan sesama air, meskipun masuk di tanah kering ia akan lenyap.

“Bagi air tak berarti ia menolong atau tidak menolong. Ia menjalani kodratnya sebagaimana alam menjalani kodratnya. Air yang terisap tanah tak menjadi hilang, karena ia akan tetap menjadi air, dan akan kembali menjadi air. Tak ada yang bisa menahan.

“Ia bisa menjadi air sungai, air laut, air hujan, atau banjir. Tapi ia tetap air.

“Ia bisa disebut kotor, bersih, dan suci. Padahal yang kotor dan bersih adalah yang lain. Air tetap air.”

Gendhuk Tri memiringkan bibirnya hingga mencong. Ia segera menenggak habis isi batok kelapa. Terasa sedikit lebih segar.

“Terima kasih, Pangeran….”

“Saya akan membuat minuman berikutnya….”

“Setiap kali Pangeran akan melakukan itu.”

“Karena jamu itu hanya bisa menawarkan racun ketagihan selama setengah hari.”

Gendhuk Tri mengusap matanya.

Lalu duduk.

Menatap kosong.

Banyak sekali tokoh yang perangainya sangat aneh dan ganjil. Bahkan dilihat dari penampilan pertama saja bisa langsung diketahui. Dewa Maut, tokoh yang kurang aneh apanya. Dijuluki Dewa Maut karena kalau ketemu lawan tanding pasti membunuhnya. Hidup menyendiri di atas rakit dengan sesama lelaki. Ia juga mengenal Jaghana yang sedemikian lugunya sehingga namanya saja sama dengan bagian tubuh yang paling rendah dan terletak di belakang- Pakaian dan cara hidupnya sehari-hari serba seadanya. Tak memiliki apa-apa selama hidupnya.

Di pihak yang lain juga ada tokoh semacam Halayudha.

Dan kini dikenal satu jenis yang lain lagi. Pangeran Anom Janaka Rajendra. Yang penampilannya gagah menunjukkan asal-usulnya, yang merasa tidak tahu ilmu silat orang lain, dan merasa dirinya adalah air, air yang merupakan bagian dari alam.

Perlahan menyusup kesadaran lain dalam diri Gendhuk Tri. Bahwa Kitab Air ataupun Kitab Bumi, atau juga kitab pusaka yang lain, mempunyai pengaruh yang lebih dalam dari sekadar cara memainkan ilmu silat, atau cara melatih pernapasan. Secara langsung dan telak, pengaruh itu menjadi sikap hidup. Satu-satunya pandangan hidup.

Dalam hal ini, Gendhuk Tri melihat dirinya tumbuh dengan cara yang berbeda dari Upasara atau Pangeran Anom.

Dirinya tumbuh tidak dari kitab yang dipelajari lengkap dengan kidungan. Dirinya mempelajari ilmu silat dalam artian langsung berlatih, hanya kadang mendengar rangkaian-rangkaian yang melatar belakangi.

Lebih asing lagi, karena dirinya tidak mengetahui nama dasar ilmu silatnya dan induk kitab yang dipelajari. Belakangan baru diketahui ada hubungan langsung dengan Kitab Air yang diciptakan oleh Eyang Putri Pulangsih, yang ternyata juga menjadi sumber utama kitab-kitab dari negeri Syangka.

Betapa jauh bedanya bila dibandingkan dengan Pangeran Anom. Yang menekuni dari tembang-tembang yang ada, yang mendapatkan guru yang tepat seperti Senopati Agung Brahma.

“Apa yang Adik lamunkan?”

Yang dilamunkan Gendhuk Tri, sekilas lagi, ialah Upasara Wulung. Kakangnya yang satu ini, juga merupakan cerminan dari intisari Kitab Bum yang sesungguhnya. Sikap pasrah, manembah, yang menjadi sumber kekuatan. Sikap yang menyebabkan Upasara menjadi ragu untuk merebut Gayatri. Semangat dan daya asmaranya yang besar, dikalahkan oleh sikap pasrah dalam pengertian menerima perhitungan para pendeta bahwa Gayatri dan Raden Wijaya sudah dijodohkan oleh para Dewa.

Dibandingkan itu semua, di mana kakinya berdiri?

Bagaimana dengan Nyai Demang?

“Siapa yang Pangeran ajak kemari?”

“Saya tidak mengajak. Sejak tadi ia bersembuyi di sini, Adik Tri….”

Satu bayangan bergerak, menampakkan diri.

Ternyata sejak semula Pangeran Anom juga telah mengetahui bahwa ada seseorang yang berada dalam ruangan secara sembunyi-sembunyi.

Gendhuk Tri berusaha tetap tenang, walaupun hatinya bercekat luar biasa. Karena yang muncul di depannya adalah tokoh yang membuat debaran darah mengalir deras.

Kiai Sambartaka.

Yang secara telengas melukai Eyang Sepuh dan mencurangi Upasara Wulung.

Tokoh yang ikut memperebutkan gelar lelananging jagat, yang bisa lenyap dan muncul secara tiba-tiba.

“Aku sudah tahu siapa kalian dan apa keinginan kalian.

“Rasanya untuk sementara kita bisa bekerja sama demi tujuan yang berbeda. Gendhuk Tri, kamu sangat cerdik. Pasti bisa membaca kemauanku. Untuk ini aku tak akan menyembunyikan keinginanku yang sesungguhnya. Mengetahui inti ajaran Kitab Air dari kalian berdua. Sebagai imbalannya, aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Nada suaranya yang tenang, menunjukkan bahwa kini Kiai Sambartaka telah banyak berubah. Tak ada lagi terlihat kepongahan yang luar biasa. Kepercayaan diri yang menjurus pada meremehkan orang lain sama sekali tak terlihat.

Bahkan guratan yang bersinar dari matanya tak lagi tidak memandang sebelah mata lawan bicara.

Dari nada suaranya yang urut, Kiai Sambartaka memberi kesan bahwa ia mengetahui bagaimana harus menampilkan diri. Tanpa ditandai dengan basa-basi, melainkan mengatakan apa yang diinginkan dari situasi yang ada.

Perubahan yang sulit dibayangkan pada diri Kiai Sambartaka. Dalam kedudukannya yang sekarang, Gendhuk Tri merasa dirinya dan Pangeran Anom tetap bukan tandingan Kiai Sambartaka, yang kalau mau bisa membekuk dan memaksakan kehendaknya.

 

Perlawanan Mahamanusia (1)

AGAKNYA itu yang tidak dilakukan Kiai Sambartaka.

Agaknya sekarang Kiai Sambartaka menjadi lebih cerdik dalam memperhitungkan suasana. Tidak hanya sekadar mengandalkan ilmu silatnya, yang ternyata juga bukan yang paling unggul.

Benak Gendhuk Tri juga melihat persoalan yang dihadapi Kiai Sambartaka.

Tokoh kelas utama yang menduduki peringkat paling atas dari tlatah Hindia ini khusus datang ke tanah Jawa untuk membuktikan sebagai yang paling hebat. Akan tetapi justru ketika menghadapi Upasara Wulung, ia bisa dikalahkan.

Berarti ambisinya menjadi ksatria utama yang tak terkalahkan gagal total.

Ambisinya yang kedua, menanamkan pengaruh ajarannya di tanah Jawa, seperti yang telah berjalan sekian lama, mendadak runtuh dengan naiknya Putra Mahkota Kala Gemet yang memakai gelar dari tanah Syangka. Negeri dengan siapa Kiai Sambartaka selalu bermusuhan hingga ke keturunan yang akan datang.

Pukulan kedua yang sangat menyakitkan. Yang menghancurkan seluruh kebanggaan dan harga dirinya. Baik sebagai jago silat maupun tetua keagamaan.

Jalan terbaik yang masih bisa dilakukan ialah mencoba menyusun kembali rencana untuk kembali. Mau tidak mau harus mengadakan pendekatan dari dalam. Pilihan jatuh ke Gendhuk Tri dan Pangeran Anom, yang secara jelas mempunyai banyak persamaan dengan ilmu silat dari Syangka.

Menurut dugaan Gendhuk Tri, pastilah Kiai Sambartaka sudah mengetahui semua yang terjadi belakangan ini. Pasti juga sudah berada di Keraton saat terjadi pertarungan. Hanya saja Kiai Sambartaka merasa perlu tetap menyembunyikan diri. Hanya mau muncul pada saat yang dianggap tepat.

Dilihat dari keadaan itu, Gendhuk Tri sadar bahwa kalau sejak semula Kiai Sambartaka ingin menurunkan tangan jahat, boleh dikata sangat gampang sekali.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Gendhuk Tri. Dan semuanya benar.

“Itu sebabnya aku mengajukan tawaran. Kalau kalian berdua bersedia memberi kesempatan padaku untuk bersama-sama mempelajari Kitab Air aku akan membebaskan Upasara Wulung.”

Gendhuk Tri tersenyum tipis.

Ia tak mau ditebak begitu saja bahwa Upasara sangat besar artinya bagi dirinya. Mendapat pikiran begitu, Gendhuk Tri membalik dengan bertanya,

“Kakang Upasara keadaannya tak memungkinkan lagi untuk diselamatkan. Pundak kirinya telah tertusuk keris pusaka. Urat nadi utamanya telah terkena sabetan tenaga Halayudha. Di samping itu, sebagai tawanan utama tak nanti bisa diambil begitu saja.

“Saya kira tawar-menawar yang berat sebelah, Kiai….”

Kiai Sambartaka melirik ke arah Pangeran Anom.

“Kalau begitu, apa yang bisa saya tawarkan sebagai pengganti kesediaan kalian berdua?”

“Maaf,” suara Janaka Rajendra terdengar sangat sopan. “Kenapa Kiai ingin mempelajari ilmu silat kami? Bukankah Kiai sudah melihat dengan jelas, dan bisa mendapatkan kitabnya?”

“Maaf, Pangeran Anom yang tampan.

“Saya tak menemukan kesulitan sedikit pun untuk mempelajari Kitab Air. Seluruh kidungan yang ada sudah saya pelajari habis. Juga yang berasal dari Syangka, sejak Pendeta Sidateka.

“Akan tetapi bagi saya masih ada beberapa teka-teki, yang secara tidak langsung telah Pangeran jawab ketika memainkan gerakan secara bersamaan dengan Gendhuk Tri.

“Dari sekilas saja semua bisa menyaksikan bahwa ada kemungkinan besar yang selama ini tak terduga, bisa mencuat dari kekuatan air.

“Barangkali kalau kita mempelajari secara bersama, masih ada kemungkinan lain yang bisa kita keduk, kita rengkuh, kita kuras habis-habisan. Karena mungkin yang selama ini kita ketahui tentang kitab itu barulah kulit permukaannya saja.”

“Apa maksud Kiai mempelajari?”

Pertanyaan yang kelewat polos.

Yang membuat Gendhuk Tri merasa geli.

Akan tetapi Kiai Sambartaka menjawab dengan bersungguh-sungguh,

“Saya mempunyai permusuhan dengan para pendeta Syangka yang susah diterangkan dalam kalimat yang singkat. Ketika Pendeta Sidateka datang, dan disusul kemunculan Barisan Padatala, saya masih menganggap mereka anak-anak yang bisa ditundukkan pada saat saya menghendaki.

“Akan tetapi dengan munculnya Pendeta Manmathaba yang merupakan pemimpin tertinggi di negerinya, saya merasa sudah seharusnya saya tampil sendiri juga.

“Hanya saja, rasanya sekarang ini belum saatnya bertanding sebagai sesama ksatria. Karena Manmathaba melibatkan banyak ksatria dan senopati, dalam kaitan dengan tata pemerintahan Keraton.

“Sambil menunggu saat tepat, saya ingin menyiapkan lebih dalam cara menghadapi.

“Pangeran, dendam dan permusuhan saya tertuju kepada Manmathaba. Tidak ada kaitannya dengan Keraton.”

Janaka Rajendra mengangguk.

“Bisa dimengerti.

“Tetapi rasanya saya tak mungkin memberikan ilmu, kalau tujuannya untuk menghancurkan orang lain.”

“Saya ingin mempelajari bersama Pangeran dan Adik Tri…. Kalau memang saya tidak mampu, saya akan pulang ke negeri saya….”

Gendhuk Tri memainkan bibirnya.

Banyak lagi perubahan Kiai Sambartaka. Bukan hanya menjadi rendah hati tetapi mulai memperhatikan dengan siapa ia berbicara, dan bagaimana cara menyusun kata-kata.

Dari cara menyebutkan “mempelajari bersama, dan kalau merasa tak mampu akan mundur” jelas menunjukkan ingin memberi kesan tidak untuk menyerang lawan. Dengan menyebut “Adik Tri” secara tidak langsung ingin lebih akrab lagi.

“Kalau itu alasannya, saya bisa menerima.

“Tetapi terserah apakah Adik Tri bersedia atau tidak.”

Gendhuk Tri mengedipkan matanya.

“Aha, sekarang kita bisa bicara lebih enak, Kiai.

“Begini saja. Saya dan Pangeran Anom menyetujui usul Kiai. Akan tetapi kalau selama kita berlatih atau bercakap-cakap saya menemukan satu dusta yang disengaja oleh Kiai, saya akan menghentikan ini semua.

“Dusta macam apa, Adik Tri? Kenapa kita mencurigai?”

“Biar saya yang memutuskan. Karena Pangeran telah menyerahkan kepada saya untuk memutuskan menerima atau tidak.”

“Maaf, Adik Tri….”

“Saya, Kiai Sambartaka, dengan ini mengatakan akan berkata apa adanya, sejujurnya, terhadap setiap pertanyaan atau percakapan, selama berlatih dan mempelajari bersama Kitab Air….”

Gendhuk Tri tertawa.

“Ya, hanya selama kita mempelajari. Setelah itu boleh berdusta dan mungkin kita akan berhadapan.

“Nah, Kiai, sekarang saya ingin mendengar beberapa jawaban Kiai. Karena selama ini Kiai sudah mendengar dan melihat sendiri kami berlatih, saya ingin mulai dengan pertanyaan. Ingat, setiap kali saya tahu Kiai sengaja berdusta, apa pun yang terjadi, persetujuan kita batal.”

Janaka Rajendra menunjukkan wajah kurang setuju. Karena Gendhuk Tri terlihat seperti ingin mencari menang sendiri. Gendhuk Tri bukannya tidak tahu apa yang dipikirkan Pangeran Anom, akan tetapi ia tak peduli.

Perlawanan Mahamanusia (2)

“MENURUT perhitungan Kiai, siapa yang paling hebat sekarang ini?”

Kiai Sambartaka sepenuhnya menyadari bahwa pertanyaan Gendhuk Tri bukan hanya didorong rasa ingin tahu, akan tetapi sekaligus juga menguji. Jika jawaban yang dikemukakan tidak semestinya, Gendhuk Tri mungkin bisa mengetahui. Jika ini terjadi, Gendhuk Tri akan membatalkan semua rencana.

Kiai Sambartaka tahu betul mengenai hal ini.

“Masih perlu dibuktikan secara terbuka.

“Secara ilmu silat murni, hanya beberapa nama. Eyang Sepuh, Eyang Putri Pulangsih, serta Upasara Wulung.

“Eyang Sepuh tak bisa diketahui bakal muncul lagi atau tidak sama sekali. Kemungkinan kedua lebih masuk akal. Tokoh kedua, pencipta Kitab Air kurang-lebihnya sama. Ataupun kalau muncul kembali, agaknya tidak berurusan dengan masalah ilmu silat atau tata pemerintahan Keraton.

“Secara murni, memang hanya Upasara. Tenaga dalamnya luar biasa, pengerahannya sempurna, dan penguasaannya istimewa.

“Akan tetapi, sekarang terbukti bahwa Upasara Wulung juga bisa dikalahkan. Dengan cara apa pun, betapapun tidak ksatrianya, nyatanya Upasara Wulung bisa ditaklukkan. Berarti memang memperhitungkan dari ilmu silat murni tidaklah tepat.

“Deretan tokoh yang ada segaris tipis di belakangnya, tak banyak. Hanya ada Kiai Sambartaka dan setingkat dengan itu Kakek Berune, yang masih hinggap di tubuh Nyai Demang. Yang ini agak susah diperhitungkan sejauh mana bisa hebat atau tidak.

“Deretan lain ialah Pendeta Manmathaba karena kemampuannya yang luar biasa memainkan bandring, ditambah ilmu kebal yang sangat sempurna. Lalu bisa diperhitungkan pula Halayudha. Senopati satu ini memang di luar perhitungan. Ia berhasil mempelajari semua dasar ilmu silat, mempunyai bakat hebat, dibesarkan dan dididik tokoh yang sakti, akan tetapi perhatiannya terpecah antara menjadi ksatria atau orang berpangkat. Di belakang hari, tokoh ini bisa menjadi manusia yang tak bisa dikalahkan telak.

“Mengerikan.

“Maaf kalau belum menjawab semuanya.”

“Bagaimana dengan Ratu Ayu?”

“Ilmunya aneh, apalagi kalau dengan barisan lompat yang rumit. Akan tetapi, sulit diperhitungkan untuk menjadi yang paling hebat, mengingat keinginan yang lain.

“Semua tadi perhitungan yang bisa dibuat dengan melihat kenyataan yang ada. Dalam pertandingan, sering lain hasilnya. Saya tak perlu mengulang bahwa Upasara pun bisa kalah.”

“Kenapa Kiai tidak memperhitungkan Puspamurti?”

Pandangan Kiai Sambartaka menjadi keras.

Matanya memancarkan kebencian.

“Banyak orang mengatakan bahwa ilmu negeri Hindia, terutama yang saya pelajari, adalah ilmu sesat. Ilmu hitam.

“Akan tetapi sesungguh-sungguhnyalah, ilmu yang dipelajari Puspamurti ilmu yang paling sesat di jagat.”

“Ilmu satu jurus itu ilmu sesat?”

“Ilmu yang mendasari jurus-jurus Puspamurti berawal pada sikap pengertian mahamanusia yang ada dalam Kidungan Pamungkas.

“Saya mungkin harus bercerita sedikit.

“Pada saat seluruh jagat terguncang dengan ilmu yang dinamai Jalan Buddha atau di sini dikenal dengan Kitab Bumi, terjadi pergolakan besar. Eyang Sepuh yang memprakarsai pertemuan setiap lima puluh tahun untuk saling menguji, siapa yang paling mewarisi ilmu jagat itu.

“Pada saat puncak pembicaraan mengenai Kitab Bumi, terdengar kabar santer mengenai Kidungan Pamungkas, yang di beberapa negeri mempunyai nama yang berbeda-beda, dengan dasar yang kurang-lebih sama.

“Kidungan ini pada dasarnya tidak mengajarkan ilmu silat atau latihan pernapasan sebagaimana kitab yang lain, melainkan mengajarkan bahwa manusia itu sebenarnya mahamanusia. Sehingga tak perlu mempelajari ilmu silat, mempelajari pernapasan, tak perlu mempelajari jurus-jurus.

“Kidungan Pamungkas tak percaya kekuatan bumi, kekuatan air, kekuatan alam, bahkan para Dewa. Mereka mempercayai bahwa sumber segala sumber adalah manusia.

“Tanpa manusia, tak ada artinya semua alam ini.

“Sebutannya ialah mahamanusia.

“Pemikiran yang ganjil sekali, dan lain daripada yang ada. Hampir semua perguruan mempunyai ilmu andalannya. Jenisnya bisa ratusan atau bahkan ribuan. Salah satu yang sangat menonjol adalah Perguruan Awan, di mana Eyang Sepuh berhasil menanamkan ajarannya.

“Demikian juga di negeri lain, selalu ada satu yang lebih menonjol dibandingkan perguruan yang lain.

“Akan tetapi baik Perguruan Awan atau yang lain, masih mempunyai sumber alam. Bahkan penamaan Awan, mempunyai simbol dan makna tertentu.

“Sementara ajaran Kidungan Pamungkas tak mengakui semua itu. Titik dasarnya berbeda sekali. Bukan kekuatan tangan, kaki, pancaindria, sembilan lubang tubuh, empat penjuru angin. Bukan semuanya.

“Sejauh yang saya tahu, tak ada perguruan resmi yang bisa berdiri. Mungkin juga tak akan ada.”

“Kalau Kiai diadu dengan Puspamurti, siapa yang bakal menang?”

“Saat ini pasti saya.

“Akan tetapi saya tidak berani memastikan setelah satu perjalanan waktu tertentu. Bisa bulan depan atau lima puluh tahun yang akan datang.

“Mempelajari ilmu silat seperti mencari wahyu. Mencari pencerahan diri dengan cara penyerahan diri.

“Upasara Wulung bisa tiba-tiba mencuat dan mengalahkan lawan-lawannya karena pencerahan yang diperoleh dari mempelajari Kitab Bumi, yang dipelajari sekian banyak ksatria di tanah Jawa ini. Dan hanya Upasara yang agaknya sampai sekarang mampu menangkap intisari, dan memperoleh pencerahan itu.

“Hal yang sama sebenarnya bisa terjadi pada Adik Tri. Atau yang sudah diperoleh Pangeran Anom. Sekian banyak yang mempelajari Kitab Air, akan tetapi hanya Pangeran Anom yang mendapat pencerahan bahwa gabungan kembar dari jurus yang sama bisa menghasilkan sesuatu yang tak terduga.

“Kalau kita tanyai, barangkali Pangeran Anom akan susah menerangkan dari mana diperoleh pencerahan semacam itu. Seperti tiba-tiba, seperti tarikan yang tak dikuasai yang menyeret ke arah itu.

“Kalau tidak mempelajari secara bersungguh-sungguh, rasanya tak mungkin ada pencerahan semacam itu.

“Itulah yang ingin saya jajal bersama kalian berdua.”

Kiai Sambartaka mengembuskan udara agak lama.

“Kenapa bukan Manmathaba yang memperoleh pencerahan memainkan bersama? Bukankah justru ia yang membentuk Barisan Padatala?

“Inilah pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan kata-kata, akan tetapi bisa dirasakan.

“Karena Manmathaba mendapat pencerahan yang lain, yaitu ilmu kulit kentang yang kebal.

“Kalau kita menukik ke dalam, mempelajari dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin kita bisa mengetahui caranya. Karena tingkat pencerahan hanya terjadi sekali secara tak bisa dimengerti. Sesudah itu semua bisa mengikuti.

“Setelah melihat Pangeran Anom dan Adik Tri memainkan bersama, semua yang mempelajari Kitab Air bisa ikut memainkan dengan cara itu.”

“Saya bisa menerima keterangan Kiai.

“Baiklah, kalau mau berlatih kita bisa mulai sekarang.”

Kiai Sambartaka mengangguk.

“Melatih adalah gampang. Mengikuti apa yang tertulis. Akan tetapi kalau hati kita tidak bersatu dengan rasa dan pikiran, agak susah.

“Adik Tri tak akan mencapai hasil yang sempurna, kalau masih ada perasaan bahwa Pangeran Anom bukan air yang sama. Yang bisa menyatu tanpa perasaan apa-apa.

“Tetes air di laut, bisa bercampur begitu saja dengan tetes air pegunungan atau keringat.

“Semuanya air.

“Dan air itu satu.

“Rasanya saya tidak salah bicara….”

“Saya mengerti.

“Tetapi dalam batas tertentu, saya tak bisa menjalani.”

“Saya juga tidak berharap itu terjadi di depan mata saya. Akan tetapi kalau Adik Tri masih terbelenggu ganjalan-ganjalan tertentu, agak sulit bisa terbangun jalinan tetes air. Kecuali kalau Adik Tri mau menceritakan, dan kemudian Pangeran Anom bisa memahami.

“Air laut berbeda dari air gunung.

“Persatuan air laut dengan air gunung, berbeda dibandingkan persatuan antara air gunung dan air gunung. Akan tetapi karena mengetahui perbedaan, percampurannya juga menghasilkan yang berbeda.

“Namun di atas semua itu, menyatu.

“Air laut yang digabung dengan air gunung, bisa berkurang rasa asinnya. Akan tetapi begitu keduanya digabungkan, tak lagi bisa dipisahkan yang mana tadi air laut yang asin dan mana air gunung yang tawar.

“Kalau kondisi ini bisa diterima, kita sebenarnya sudah melangkah setengah jalan.”

Air Tak Bisa Ditandai

JANAKA RAJENDRA mengangguk, membenarkan.

Gendhuk Tri mengikuti. Hanya bedanya ia menambahi,

“Kiai Sambartaka, katakan sejujurnya, apa yang membuat Kiai merasa sulit menangkap isi Kitab Air!”

Sejenak Kiai Sambartaka mengurut dagunya.

“Sebenarnya tak ada. Kidungan lengkap, rinciannya jelas. Tak ada yang samar. Akan tetapi yang menjadi masalah ialah penyerapan hakikat. Saya bisa dengan mudah dan lancar menjelaskan sifat-sifat air, akan tetap saja tak bisa menangkap secara keseluruhan.

“Kemungkinan ilmu kebal yang dimainkan Manmathaba tetap saja tak terpikirkan sebelumnya, bahwa itu juga bersumber dari Kitab Air.

“Adik Tri punya gambaran yang lain?”

“Entahlah, Kiai.

“Tapi karena kita sudah bertekad saling jujur, saya akan menceritakan sesuatu.

“Kiai masih ingat tokoh dari negeri Tartar yang bernama Naga Nareswara? Kami berdua pernah terkurung dalam gua bawah tanah. Rasanya tak mungkin ada jalan keluar, karena jalan keluar tertimbun. Waktu itu saya berusaha sendiri, mengeduk terus menerus, mencari jalan keluar asal-asalan. Sampai hampir habis tenaga saya. Naga Nareswara yang tadinya melihat saja atau sama sekali tidak menggubris, lalu ikut membantu. Hingga akhirnya kami bisa menemukan jalan keluar, yang membawa kami ke Trowulan.

“Dalam perjalanan itu, saya bertanya mengapa Naga Nareswara tiba-tiba mau membantu saya, padahal sebelumnya hanya memandang sebelah mata.

“Ia menjawab, ‘Yu Gong yi shan.’ Belakangan baru ia bercerita bahwa dulu kala ada orang tua bernama Yu Gong yang berdiam di desa yang dikelilingi gunung. Yu Gong ingin membuat jalan menerobos gunung. Ia terus-menerus bekerja, membongkar batu gunung. Suatu kerja keras tanpa harapan. Tapi Dewa kemudian menolongnya dan gunung yang menghalangi  kampungnya sekarang mudah dicapai orang lain, dan penduduk desa itu bisa dengan mudah bepergian ke tempat lain. Apa yang saya lakukan tak ubahnya Yu Gong yang memahat gunung.”

“Adik Tri ingin menyamakan usaha kita seperti itu?

Gendhuk Tri menggeleng. Pandangan meneropong jauh.

“Selama kami sama-sama terkurung dalam gua, saya banyak berlatih. Tidak jarang Naga Nareswara ikut berlatih, memberi petunjuk sedikit, bertanya banyak, dan manggut-manggut.

“Sekarang saya ingat kembali betapa ia sangat mengagumi ilmu Kitab Air yang dikenali dari sifat-sifatnya. Ia mengatakan bahwa ia tak gentar menghadapi jurus-jurus ilmu Kitab Bumi, namun akan berpikir dua kali kalau menghadapi orang yang mampu menguasai ilmu saya-yang bahkan saat itu saya belum menyadari sumbernya dari sifat air.

“Saya kira ia hanya sekadar memuji. Tapi melihat sifatnya yang tinggi hati seperti Kiai-atau seperti setiap tokoh yang merasa tak tertandingi- saya jadi bertanya-tanya: Di mana hebatnya ilmu saya, dibandingkan dengan Kitab Bumi?

“Jawabannya, lagi-lagi membuat saya tak mengerti. Ia mengatakan, ‘Ke zhou iu jian.’

Janaka Rajendra mengerutkan keningnya, akan tetapi Kiai Sambartaka mengangguk-angguk.

“Apa yang dikatakan Naga Nareswara sangat tepat.”

“Apa artinya, Adik Tri?”

Kiai Sambartaka yang menjawab perlahan, “Artinya kira-kira, menandai perahu untuk mencari pedang. Dengan kata lain, susah mengenali sifat air. Semakin kita yakin, sebenarnya kita semakin keliru. Air yang kita kenal itu bukan ditandai dengan benda lain, melainkan dengan air itu sendiri.

Kalau saya tidak salah, ada dongengan mengenai hal itu. Di zaman dulu, di Keraton Chu ada orang yang menyeberangi danau. Di tengah perjalanan, pedangnya terjatuh. Ia kemudian memberi tanda di perahunya, tempat di mana pedang itu jatuh.

Ketika sampai ke tepi, ia mencari-cari persis di bawah tanda yang dibuat

di perahu.”

Janaka Rajendra tersenyum geli.

Akan tetapi Gendhuk Tri yang biasanya mengumbar tawa, malah tampak bersungguh-sungguh. Demikian juga Kiai Sambartaka.

“Kisah semacam ini banyak jumlahnya, banyak juga ragam dan artinya.

“Dengan sangat mudah kita mengatakan betapa tololnya orang yang kehilangan pedang itu. Mana mungkin dicari di pantai kalau jatuhnya di tengah.

“Akan tetapi sesungguhnya, kita sering melakukan kesalahan yang sama. Melakukan kekeliruan yang tidak kita sadari.

“Dalam kaitan dengan ilmu yang bersumber dari Kitab Air, kita semua merasa menguasai, akan tetapi ternyata yang kita kuasai belum yang Sesungguhnya.

“Kemunculan ilmu kebal, pelipatgandaan tenaga, hanya salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang bisa digali dari tenaga dan sifat air.

Senopati Pamungkas II – 17

“Benar yang dikatakan Raja Segala Naga itu. Ia akan berpikir dua kali kalau menghadapi pencipta atau yang menguasai sifat air. Karena titik tolaknya berbeda dari ilmu Kitab Bumi.

“Seperti orang yang kehilangan pedang. Kalau ia memakai patokan kejadian di darat, pedang itu akan ditemukan kembali. Akan tetapi ia tak bisa menyamakan sifat air dengan sifat bumi.

“Air tak bisa ditandai.”

“Sekurangnya kalau kita mencoba menandai dengan cara di bumi,” kata Gendhuk Tri perlahan.

“Ya. Dan untuk mengetahui, tak ada jalan lain selain menyelam ke dalamnya.”

“Selama ini saya mempelajari Kitab Air, akan tetapi tak pernah mengetahui yang seperti itu. Bahkan tak pernah terpikir ada jalan seperti itu.” “Tidak menjadi apa, Pangeran Anom.

“Justru jalan yang Pangeran tempuh bukan tidak mungkin jalan yang sebenarnya. Saya tidak bisa berbuat seperti Pangeran, karena tradisi yang membentuk saya berbeda. Karena dasar-dasar ilmu silat saya berbeda. “Itulah sebabnya saya berusaha menyelami.

“Itulah sebabnya kita bertiga harus menyatukan rasa dan pikir, dan menjadi air. Sebab ketika salah satu dari kita tak mempercayai yang lainnya, usaha kita bertiga tak ada artinya.

“Maaf, Pangeran Anom yang suci.

“Saya bukan manusia yang baik menurut ukuran ksatria tanah Jawa. Tata krama di tanah Jawa mempunyai aturan dan ukuran yang tidak bisa saya terima. Akan tetapi kalau saya ingin mendalami dan mengerti, saya harus mau menerima tata krama itu.

“Sama halnya dengan kalau saya ingin mendalami Kitab Air. Rasanya tak mungkin sama sekali tanpa menjadi air itu sendiri.”

Pengertian itu juga menyusup dalam kesadaran Gendhuk Tri. Itu pula sebabnya ia menerima kehadiran Kiai Sambartaka untuk mencoba berlatih bersama. Paling tidak, selama latihan, mereka tak ada yang berniat lain, tak mempunyai hati yang bercabang. Karena masing-masing mengetahui bahwa kalau itu terjadi, usaha selama ini sia-sia belaka.

Maka saat itu juga, Janaka Rajendra mulai menembangkan, menuliskan kidungan dalam Tirta Parwa, untuk perlahan-lahan dipelajari, dipraktekkan.

Kadang Janaka Rajendra bersama Gendhuk Tri, kadang bertiga bersama Kiai Sambartaka, kadang bergantian pasangan. Setiap gerak, setiap lekukan menjadi perhatian bersama.

Dalam lima kali berlatih makin terlihat bahwa pasangan Gendhuk Tri dengan Janaka Rajendra kian menyatu. Hasil latihan bersama, memberikan tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan mereka berdua melatih bersama Kiai Sambartaka.

Ketiganya menyadari hal ini, akan tetapi terus juga berlatih. Tanpa mengenal pergantian siang dan malam. Bagi Gendhuk Tri tidak menjadi masalah, karena ia memang gemar belajar ilmu silat. Apalagi ini ilmunya sendiri, yang baru sekarang dibuka dengan pandangan yang lebih urut. Demikian juga Janaka Rajendra yang tampak bersemangat setiap kali berlatih bersama Gendhuk Tri.

Kiai Sambartaka lebih banyak membuat komentar dan penilaian setiap kali selesai melakukan latihan.

Satu demi satu kidungan yang ada dilalap, hingga dalam waktu sekejap mereka bertiga berlatih kembali dari awal.

“Sejauh ini rasanya tak ada yang menyebut mengenai ilmu kebal,” kata Janaka Rajendra. “Apakah kita tidak salah duga? Apakah tidak mungkin Pendeta Manmathaba mempelajari dari sumber yang lain?”

“Tidak mungkin, Pangeran Anom.

“Kita sama-sama melihat bahwa keluwesan pengaturan tenaga dalam itu berasal dari sumber yang sama. Jurus ilmu silatnya bisa saja dikembangkan dari sumber lain, akan tetapi jelas pengaturan tenaga dalamnya dari Kitab

“Kiai sudah menemukan bagian itu?”

Gendhuk Tri menyeka tangannya.

Mendadak ia bersila di lantai. Kedua tangannya terkulai, rambutnya dibiarkan tergerai. Pundaknya bergetar.

“Coba serang.”

Yang Bukan Air, Memisah

JANAKA RAJENDRA tertegun.

Sebaliknya Kiai Sambartaka bergerak cepat. Tangannya meraih sebatang kayu yang dengan sangat cepat diruncingkan bagai ujung tombak. Perlahan tombak kayu yang runcing ditimpukkan ke arah Gendhuk Tri.

Janaka Rajendra tertegun.

Tombak itu mengenai lengan Gendhuk Tri!

Tapi terjatuh ke lantai.

“Kita berhasil!”

Gendhuk Tri menghela napas.

“Tidak.

“Kiai menyerang dengan ragu-ragu. Tanpa ilmu apa pun, tongkat ini tak akan melukai saya. Pangeran Anom, pinjam keris….”

Ragu Janaka Rajendra mengambil keris. Gendhuk Tri memberikan kepada Kiai Sambartaka.

“Saya akan memainkan kidungan kedua, dan begitu selesai, Kiai menusuk saya.”

“Bagian mana?” tanya Janaka Rajendra cemas. “Mana saja yang dianggap bisa ditusuk, asal jangan bagian mata….”

Gendhuk Tri segera bersiap, kedua tangannya melengkung, kakinya yang lebih dulu bergerak. Bagai penari Keraton yang gemulai. Kiai Sambartaka masih menunggu sampai Gendhuk Tri menjentikkan jari ke arah jakunnya. Dengan sedikit mengelak, Kiai Sambartaka membalas. Ujung keris di tangan kanan menyabet ke arah Gendhuk Tri, tapi mendadak diubah letaknya di tangan kiri dan yang diarah adalah dada.

Gendhuk Tri menjatuhkan dirinya.

Punggungnya rata dengan lantai.

Kedua kakinya menggunting kaki Kiai Sambartaka, yang tak membiarkan begitu saja. Dengan meloncat ke atas, tidak secara bersamaan, Kiai Sambartaka berhasil membebaskan diri. Akan tetapi begitu menginjak lantai tubuh Gendhuk Tri yang masih rata dengan lantai tiba-tiba meliuk dan kini ada di punggungnya. Siap memotes dua telinga Kiai Sambartaka.

Tidak menduga serangan semacam itu, Kiai Sambartaka menggerung

keras. Tubuhnya berputar membalik, dengan lima kuku siap ganti mencakar, sementara keris menikam di bagian paha.

Gendhuk Tri justru mempertontonkan kelebihannya dengan membalik. Kakinya terangkat ke atas, dengan tubuh pada posisi yang sama.

Serangan lawan bisa dihindari, sementara serangannya sendiri tetap.

Yang dimainkan Gendhuk Tri adalah jurus-jurus yang diandalkan. Menjatuhkan diri kemudian berbalik terbang melayang adalah jurus pancingan untuk menjebak lawan. Jurus ini pula dulu yang bisa melukai Ugrawe!

Ditambah pengalamannya selama ini, dan kesadaran baru dalam mempelajari, hasilnya boleh dikata lebih berbahaya dari yang dulu.

Ini yang tak diduga Kiai Sambartaka.

Tokoh kelas utama ini justru seperti terdesak. Baik karena tidak bisa mengembangkan permainan keris, maupun karena tempat pertarungan kurang leluasa. Sekurangnya Kiai Sambartaka enggan menghancurkan.

Akan tetapi dua-tiga jurus berikutnya, Kiai Sambartaka menemukan kembali kekuatannya. Dengan menindih tenaga lawan, Gendhuk Tri dipaksa mundur. Satu sabetan di belakang, membuat tubuh Gendhuk Tri terputar ke arah lain.

Ke arah tiang.

Tak bisa mundur.

Saat itu tusukan keris menyambar ke arah pipi.

“Awas!”

Teriakan Janaka Rajendra terlambat.

Keris itu telah terlepas dan mengenai pipi Gendhuk Tri.

Satu pukulan dari Janaka Rajendra telak mengenai dada Kiai Sambartaka yang tidak menangkis, sehingga tubuhnya terdorong mundur, menghantam dinding.

Bibirnya meringis dan dari sela-selanya mengalirkan darah, akan tetapi pandangannya tak lepas dari Gendhuk Tri.

Yang juga berdiri melongo.

Karena tak menyangka bahwa ujung keris yang mengenai pipinya, yang terasa menusuk, terjatuh ke lantai.

“Adik Tri, kamu tidak apa-apa?”

“Tidak… tidak….”

“Bagaimana rasanya?”

“Sakit sedikit, tapi tak apa. Tak terluka. Tak tergores.”

Kiai Sambartaka menghapus ujung bibirnya dengan punggung tangan.

Langkahnya tertahan ketika melihat Gendhuk Tri berdiri garang.

“Apa…”

“Maaf, Kiai, latihan tak perlu kita teruskan. Kita tidak sejiwa dalam hal ini. Tujuan kita menjadi berbeda.

“Air hanya berkumpul dengan air. Yang bukan air akan menyingkir dengan sendirinya.”

Kiai Sambartaka mengangguk.

“Akhirnya akan begitu, Adik Tri….”

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”

Kiai Sambartaka melipat tangannya di dada. Kedua kakinya mengangkang gagah.

“Kamu yang pertama mendapat pencerahan. Lebih cepat dari dugaanmu sendiri menerima itu. Apakah akan kamu kangkangi sendiri?”

“Apakah Kiai akan memaksaku?”

“Bisa.

“Tapi tak ada gunanya.”

Gendhuk Tri menemukan tangannya.

“Baik. Aku tidak seserakah yang Kiai duga. Tapi aku juga tak mau sedermawan yang Kiai kehendaki. Kidungan mengenai itu ada di bagian kedua belas, dan bagian ketiga belas awal.

“Dengar baik-baik:

Air berbeda dengan bumi

yang bisa ditandai, dipisahkan

air berbeda dengan api

yang bisa dipadamkan, dibasahi

air berbeda dengan kayu

yang bisa dibakar, diabukan

air tak menyerap bumi

yang berputar

air tak memakan api

yang membakar

air tak merusak kayu

yang tumbuh

setetes air menahan bumi

api

kayu

air tak bisa menolak bumi

api dan kayu

air menyentuh bumi

api dan kayu

tanpa membasahi

tanpa terpanasi, tanpa mengairi….

Kiai Sambartaka mendongak ke arah langit-langit. Tanpa menoleh ke arah Gendhuk Tri, ia berbalik.

“Terima kasih atas penjelasanmu.

“Karena kita tak berhubungan lagi, karena kita bukan sesama air, jangan sesalkan diri nanti….”

Tubuh Kiai Sambartaka melenyap ke arah luar kamar.

Janaka Rajendra masih tertegun.

Ketika itu sayup-sayup mulai terdengar langkah mendekati. Gendhuk Tri menjilat bibirnya yang kering.

“Adik Tri berhasil.”

“Kiai Sambartaka benar. Sebentar lagi ada rombongan yang datang, dan kita harus menghadapi sendiri.”

“Tidak, kita berdua menghadapi.”

“Apa bedanya kita berdua atau sendirian?”

Janaka Rajendra mundur satu langkah.

“Adik Tri tidak percaya kita berdua lebih mampu menghadapi bahaya apa pun?”

“Tidak. Yang datang ini tak bisa dihadapi oleh Pangeran Anom, dengan ilmu silat apa pun….”

“Memangnya siapa mereka?”

Gendhuk Tri tak menjawab.

“Tapi… tapi bagaimana penjelasannya sehingga Adik Tri bisa langsung menemukan pencerahan?”

Langkah terdengar makin mendekat.

Janaka Rajendra maju lagi. Mengamati pipi Gendhuk Tri. Tanpa terasa tangannya mengusap.

Ketika itulah langkah terdengar di dalam ruangan.

Panggilan Tanah Seberang

GENDHUK TRI masih terdiam, sampai suara kaki yang menapak teratur mulai membentuk lingkaran, berjongkok menyembah.

“Yang Mulia sesembahan Permaisuri berkenan datang dan ingin bertemu dengan Pangeran Anom Janaka Marmadewa Pratapa Krama Rajendra. Mohon kesediaan Paduka….”

Janaka Rajendra kelihatan kikuk disebut dengan nama panggilan selengkap itu. Kikuk karena Gendhuk Tri kelihatan mengangkat alisnya sebelah, sementara bibirnya menyunggingkan senyuman. Ia merasa geli mendengar nama dan gelaran Janaka Rajendra yang sangat panjang.

“Ibu datang….”

“Silakan Pangeran Anom yang Mulia menemui….”

“Adik Tri tahu, saya kurang suka….”

Gendhuk Tri malah menyembah dengan hormat.

“Duh, Pangeran Anom Udayadityawarman yang Mulia, adalah kewajiban seorang pangeran Anom untuk menerima ibu kandung, apalagi sesembahan dari Permaisuri Indreswari…

“Jangan bimbang dan ragu….”

Wajah Janaka Rajendra makin merah.

Tak bisa berbuat banyak karena kemudian terdengar langkah, dan semua prajurit menyembah hormat, menunduk, seiring dengan masuknya Dara Jingga, yang dengan sudut matanya mengawasi Gendhuk Tri.

“Putraku, Bagus Mantlorot….”

“Sembah sujud putra Ibu ke hadapan Yang Mulia….

“Rasanya segala kesalahan dan dosa tak terampuni telah saya lakukan, sehingga Kanjeng Ibu sampai datang kemari.”

“Saya bisa melupakan, memaafkan, dan mengerti.

“Ketahuilah, anakku lelaki yang bagus, Rama telah berangkat. Berkemaslah, Ibu akan segera menyusul bersamamu.” Janaka Rajendra menyembah.

Tetap menunduk memandang lantai.

“Biarlah saya menenteramkan hati di tempat ini…”

“Ini bukan lagi tempat bagimu. Sebentar lagi ada senopati lain yang kan’ menghuni. Panggilan dari tanah seberang telah terdengar, tanah asal-muasal ibumu.”

“Kalau tak ada tempat di Keraton, masih ada tempat yang lain….

Jelas dari jawaban Janaka ia lebih suka tetap tinggal. Kalau tak bisa berdiam di Keraton, ia akan berada di mana saja.

“Itu artinya menentang perintah Raja….”

Tak ada jawaban segera.

Hanya terasakan bahwa para prajurit yang mengawal tadi seperti bersiap sedia. Terasakan dari getaran napas mereka semua.

“Ibu tak pernah memimpikan putranya menjadi pembangkang. Apa pun alasannya, engkau harus berangkat sekarang juga.

“Kalau tidak bersedia, biarlah Ibu dikeramatkan di sini. Sekarang juga.”

Gendhuk Tri tergetar hatinya. Dalam percakapan yang nadanya sangat halus lembut, ramah ini terkandung kekerasan, keliatan, dan sekaligus juga ancaman.

Kalau Pangeran Anom tetap tak mau mengikuti perintah, bisa terjadi pertumpahan darah dengan dingin. Entah dengan cara bagaimana.

Yang mengerikan ialah semua tadi diucapkan dengan nada yang seolah tidak mengandung sesuatu yang penting. Mengatakan tentang mati dan hidup, menurut perintah atau kraman, dalam nada yang sama.

“Bagaimana, anakku lelaki?”

Janaka Rajendra melirik ke arah Gendhuk Tri.

Nyata sekali bahwa yang membuatnya tak ingin segera meninggalkan Keraton adalah Gendhuk Tri. Yang membalas lirikan secara sembunyi sambil mengangguk.

Kali ini Janaka Rajendra mendongak.

“Bagaimana, Adik Tri? Adik Tri ingin saya pergi? Adik Tri tidak mau saya temani?”

“Duh, Pangeran Anom junjungan kawula, sebagai abdi hamba akan mengikuti ke mana pun Pangeran Anom pergi, jika masih diperkenankan melayani.”

“Sungguh?”

Janaka Rajendra mendongak lebih tegak. Melihat secara jelas ke arah Gendhuk Tri. Suatu sikap yang tidak biasanya diperlihatkan. Apalagi di depan ibunya.

Gendhuk Tri mengangguk pelan.

“Sekarang juga saya mengikuti perintah Ibu….”

Dara Jingga melirik tipis ke arah Gendhuk Tri.

“Gadis manis, siapa namamu? Kamu pelayan di bagian apa? Kenapa selama ini tak pernah kuketahui?”

Janaka Rajendra benar-benar merasa sangat kikuk dan serbasalah. Agak sulit baginya untuk menerangkan dalam sekejap. Akan tetapi Gendhuk Tri menyembah dengan khidmat.

“Hamba bernama Gendhuk Tri… abdi bagian… bagian… busana….”

“Gendhuk Tri? Siapa namamu yang lengkap?”

Kali ini Gendhuk Tri tak mau menjawab. Ia bisa menjawab bahwa oleh gurunya ia dipanggil Jagattri. Akan tetapi sejak dipanggil dengan sebutan Gendhuk Tri oleh Upasara Wulung, ia lebih suka memakai sebutan itu Maka ia tak mau segera menjawab.

“Baiklah kalau kamu tidak mau menyebutkan namamu. Jaga dan rawat putraku….”

Tanpa menunggu sembah Gendhuk Tri, Dara Jingga segera meninggalkan ruangan. Diikuti oleh para prajurit yang mengawal. Tinggal Janaka Rajendra dan Gendhuk Tri yang saling pandang.

“Adik Tri… benar Adik mau pergi ke tanah seberang?”

“Saya sudah mengatakan….”

“Kenapa Adik mau berangkat?”

“Tak ada alasan lain. Kalau saya tidak mengatakan itu, Pangeran tak mau berangkat. Dan bisa terjadi hal-hal yang luar biasa. Lagi pula sebagai abdi, sebagai pelayan, saya…”

Janaka Rajendra menepuk pahanya keras sekali.

“Saya tak mau mendengar omongan seperti itu. Kenapa Adik Tri tega mempermainkan perasaan saya?” Gendhuk Tri bercekat hatinya.

Tak menyangka bahwa Janaka Rajendra akan semurka itu. Diam-diam ia merasa bahwa apa yang diperbuat, barangkali saja agak keterlaluan. Ia tak bisa mempermainkan perasaan pangeran seperti Janaka Rajendra. Yang kelihatannya sangat tidak suka diperlakukan sebagai bangsawan yang sesungguhnya sesuai dengan derajatnya.

“Jadi hanya karena itu?”

“Ya.”

Janaka Rajendra menghela napas penyesalan. “Apa pun alasannya, saya bersyukur. Meskipun saya akan lebih bersyukur jika Adik Tri memang ingin pergi bersama saya….”

Kali ini Gendhuk Tri terperanjat.

Kali ini perasaan bersalah menjalar ke seluruh tubuhnya. Aku tak bisa main-main, tak bisa berbuat secara sembrono. Ini bukan tempatnya. Suara hatinya mendesak Gendhuk Tri mengatakan bahwa ia tak bisa meninggalkan Keraton saat ini.

“Karena Kakang Singanada?”

“Karena Kakang Singanada, karena yang lainnya.”

“Apa yang lain itu?”

“Urusan Keraton….”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Mengikuti perintah, kemudian diam-diam saya akan kembali.

“Maaf Pangeran Anom, saya tak ingin mengecewakan Pangeran di belakang hari. Saya tak ingin Pangeran berharap yang bukan-bukan. Saya tak tahu bagaimana harus mengatakan, akan tetapi rasanya hubungan kita selama waktu yang singkat ini tidak menjanjikan apa-apa di belakang hari.

“Saya mengucapkan beribu terima kasih atas kebaikan hati Pangeran selama ini yang telah menyelamatkan nyawa saya, akan tetapi begitulah sebenarnya yang terjadi. Tak lain. Tak lebih.

“Maaf, Pangeran…

“Kata-kata saya kurang tata krama, tetapi saya tak bisa memilih kalimat yang lain.”

“Saya bisa mengerti

“Saya juga tak ingin memaksakan kehendak saya. Jadinya tidak baik. Sesama air tak akan saling memaksa.

“Jangan merasa berutang budi karena saya menolong Adik Tri. Tak perlu beban pikiran seperti itu. Saya bersyukur dan berterima kasih Adik Tri mau menyertai ke kapal….”

Yang sedikit di luar dugaan Gendhuk Tri ternyata bahwa keberangkatan mereka diiringkan pasukan secara lengkap. Dengan upacara kenegaraan, di mana Permaisuri Indreswari sendiri menyusul ke arah rombongan yang akan berangkat.,

Gendhuk Tri bisa membayangkan bahwa kalau seorang pangeran bepergian pasti repot. Akan tetapi yang disaksikan sekarang ini lebih dan sekadar repot Puluhan kuda disiapkan hanya untuk mengangkut perlengkapan busana Puluhan yang lain disiapkan untuk persediaan makanan. Puluhan yang lain untuk keperluan yang Gendhuk Tri sendiri tak bisa memperkirakan.

“Gila. Rasa-rasanya seluruh Keraton ikut boyong….”

“Apa, Adik Tri?”

“Tidak, tidak apa-apa….”

Yang membuat Gendhuk Tri luar biasa risi dan dongkol ialah bahwa semua mata seolah melihat ke arahnya. Semua prajurit memberi hormat yang dalam padanya. Ada lima belas pelayan yang siap di sekelilingnya.

Ini tak masuk akal.

Selamat Jalan, Kakangmbok…

GENDHUK TRI makin kecut hatinya, ketika lima belas pelayan itu menunduk di belakangnya, akan tetapi selalu siaga. Sewaktu akan naik ke joli, kelima belas pelayan bergerak semua melayani. Ada yang memegangi pijakan kaki membuka tirai, mengangkat ujung kain bagian belakang, ada yang dengan ragu menuntun tangannya ke arah pegangan.

Pengalaman yang ganjil bagi Gendhuk Tri yang dibesarkan di alam terbuka. Rasanya seumur-umur ia tak pernah dilayani. Apalagi sekaligus seperti sekarang ini. Belum terhitung yang tak terperhatikan seperti para prajurit yang mengangkat tandu.

Hanya karena risi dipandangi, Gendhuk Tri masuk ke joli yang berdupa harum. Yang ternyata dihias dengan pernik-pernik ukiran warna emas.

Joli bergerak.

Hampir tanpa bergoyang sedikit pun. Pastilah keempat prajurit yang memanggul tandu adalah prajurit yang terlatih. Sehingga jalan yang naik-turun tidak menyebabkan joli bergerak.

Lebih heran lagi ketika baru melangkah belum seratus langkah, joli telah berhenti, diturunkan perlahan. Kembali para pelayan membuka tirai, menuntun tangannya, mengambil tempat pijakan. Gendhuk Tri mengikuti saja. Sekilas terbayang hal yang akan dialami oleh Upasara andai menjadi suami Gayatri. Atau andai berangkat ke tanah Turkana.

Gendhuk Tri melangkah ke luar, dan ikut duduk di belakang Pangeran Anom, yang duduk bersila. Demikian juga prajurit yang lain.

Barulah Gendhuk Tri sadar bahwa mereka semua menunggu Permaisuri Indreswari yang melenggang lembut, sementara payung kebesaran menaungi wajah dan seluruh tubuhnya.

“Kakangmbok Ratu berangkat hari ini?”

Dara Jingga menyembah lembut sambil mengangguk.

“Saya hanya bisa mengantarkan sampai tempat ini. Semoga Kakangmbok Ratu selalu dilindungi Dewa Yang Maha Pelindung. Bisa mengembangkan kekuasaan dan kejayaan Keraton di tanah seberang….”

“Doa dan puji Yayi Permaisuri pasti didengar Dewa.

“Saya menyusul Senopati Agung yang telah lebih dulu berangkat….”

“Saya tak bisa mencegah kehendak Raja, Kakangmbok Ratu. Barangkali justru ini yang terbaik.

“Apalagi Janaka sudah bisa memilih pasangannya. Rasa-rasanya saya ingin datang saat pesta pernikahan nanti….”

Gendhuk Tri tak ingin usil melihat kesungguhan Pangeran Anom menunduk mendengarkan

“Ada bagian yang selalu menyenangkan, Kakangmbok Ratu. “Putramu Bagus Mantlorot bisa memilih pasangan dengan mudah. Akan tetapi tidak demikian dengan anakku. Sebagai raja, tak bisa sembarangan. Sebab darahnya tak bisa diturunkan tanpa perhitungan. Itulah nasib yang ditentukan Dewa. Tak bisa ditolak. Berbahagialah Kakangmbok Ratu. Bisa merasakan hidup seperti ratu, tanpa beban ratu….”

Gendhuk Tri mendesis lirih karena jengkelnya.

Dalam benaknya, kata-kata Permaisuri Indreswari sangat merendahkan orang lain. Dengan suara ringan, seolah membuat telinga lain berbahagia, akan tetapi sekaligus menjatuhkan. Ya kalau Kala Gemet susah dan tak bisa sembarangan mencari jodohnya. Tidak asal ambil seperti Mantlorot.

Itu sama dengan menampar wajah Gendhuk Tri yang dianggap sembarangan.

“Sungguh aneh hidup ini.

“Kita dilahirkan sama. Dibesarkan bersama. Diboyong dari seberang bersamaan. Akan tetapi pilihan Dewa berbeda. Saya menjadi permaisuri utama dan Kakangmbok Ratu bersuamikan senopati. Sehingga sebagai kakak, harus bersila di depan adiknya. Demikian juga seluruh keturunannya.

“Apakah ini bukan nasib?

“Apakah ini bukan takdir?

“Dan kita hanya bisa menjalani. Menjalani sebagai yang tertulis oleh tangan Dewa yang tak bisa diubah lagi. Mungkin kehidupan kita sebelumnya yang membuat perbedaan ini.

“Maka kalau Kakangmbok Ratu bisa berbuat lebih baik, mengabdi atas nama Keraton lebih sujud, rasa-rasanya di kelak kemudian hari, di titisan yang kemudian, bisa berubah.

“Tidak pantas seorang adik memberi nasihat seperti ini. Akan tetapi hanya ini yang bisa saya antarkan kepada Kakangmbok Ratu.”

Dara Jingga hampir menjawab ketika Permaisuri melanjutkan.

“Jadilah penguasa di tanah seberang, atas nama Raja yang sekarang memegang takhta. Jagalah kebesaran, sebagai tanda bekti dan mengabdi. Jangan lupa kewajiban untuk mengirimkan upeti….”

Inilah yang makin membuat Gendhuk Tri jengkel.

Di saat perpisahan, tak ada kata yang menyenangkan, malah mengungkit-ungkit masa lalu. Malah menuntut pengabdian yang lebih tinggi, karena selama ini dinilai kurang berbakti.

Sungguh luar biasa, bahwa hal ini bisa terjadi pada sesama saudara.

“Mantlorot anakku.

“Mulai sekarang kamu bisa belajar lebih baik, lebih tekun, lebih bisa menyadari bahwa semua yang kamu nikmati ini berasal dari kemurahan hati Raja….”

Gendhuk Tri bersiap menyentilkan sepotong tanah untuk menyambit kain Permaisuri, ketika terdengar bisikan lembut, “Jangan, Adik Tri. Kalau itu terjadi, semua pelayan Permaisuri akan dihukum gantung karena dianggap tidak becus mendandani….”

“Apa yang kamu katakan, Mantlorot?”

“Semua yang disabdakan Ibu Permaisuri Utama sangat tepat.”

“Belajarlah bicara lebih jelas, Mantlorot.

“Kakangmbok Ratu, perahu sudah lama menunggu….” Hanya dengan satu anggukan kecil, Permaisuri Indreswari berbalik. Masuk ke joli yang lebih indah. Lalu lenyap dari kerumunan.

Baru kemudian Dara Jingga melangkah ke dalam tandu. Diikuti yang lain. Dalam pengawalan ketat, rombongan menuju ke dalam perahu besar. Ada tiga perahu yang siap menelusuri sungai, untuk kemudian melintasi samudra yang luas.

Pengawalan ini hanya untuk meyakinkan bahwa rombongan memang benar-benar berangkat ke dalam perahu.

Gendhuk Tri berdiam diri.

Begitu masuk ke perahu, ia segera bersemadi untuk memulihkan tenaga dalamnya. Begitu malam menjelang, Gendhuk Tri segera berindap ke luar, dan mencebur ke sungai.

Walau tidak begitu pandai berenang, tak terlalu sulit Gendhuk Tri menepi. Dengan badan yang basah kuyup hingga ke rambutnya, Gendhuk Tri bisa naik ke darat.

Wajahnya berubah ketika melihat bayangan mendekat ke arahnya.

“Pakai yang sudah kering….”

“Pangeran…”

“Saya tahu Adik Tri pasti akan kembali. Makanya saya mendahului, sambil membawa pakaian untuk ganti.”

“Kenapa Pangeran turun?”

“Karena Adik Tri juga turun.”

“Bukankah…”

“Lebih baik Adik Tri ganti pakaian lebih dulu.”

Pangeran Anom segera pergi.

Membiarkan Gendhuk Tri sendirian, mengganti pakaiannya di balik pepohonan. Sebenarnya tak bersembunyi pun tak ada yang melihat karena malam sangat pekat.

Hati Gendhuk Tri bercekat karena hal lain. Pangeran Anom yang baru saja dikenal ini sudah menunjukkan perangai yang aneh. Di saat ia menjadi putra mahkota yang diberi janji tanah seberang, malah lebih suka memilih keluyuran.

Apakah betul ini semua karena daya asmara?

“Saya ingin mendengar jawaban yang jujur, Pangeran…,” kata Gendhuk Tri ketika keduanya berjalan bersama. “Saya tak ingin membuat Pangeran menyesal di belakang hari. Saya tidak menjanjikan apa-apa….”

“Adik Tri, saya tidak menuntut apa-apa. Tidak menuntut janji. Saya hanya merasa bahagia bersama Adik.

“Kalau Adik Tri merasa terganggu, saya akan pergi….”

“Sama sekali tidak.

“Tapi apa yang Pangeran harapkan?”

“Merasakan kebahagiaan ini.

“Sekarang ini.

“Kalau bisa berlangsung terus, alangkah indahnya. Kalau tidak, ya tak apa-apa. Kalau suatu ketika nanti Adik Tri memutuskan berjalan bersama Kakang Singanada, saya mendoakan agar Adik Tri bahagia, selamanya.

“Saya tak meminta apa-apa.

“Saya mungkin bisa membantu sedikit-sedikit untuk mencari Kakang Singanada atau mengobatinya….”

Hati wanita Gendhuk Tri terharu.

Tergugah oleh ketulusan Pangeran Anom. Wajahnya yang polos, tekadnya yang membara, semua didasari pengertian, sekurangnya sekarang ini bisa bersama.

Alangkah murninya!

Apakah pikirannya akan berubah jika mengetahui bahwa yang dipikirkan Gendhuk Tri saat itu justru Upasara Wulung? Bukan Pangeran Anom dan bukan pula Singanada?

Apa yang melintas dalam ingatan Gendhuk Tri saat ini memang bayangan Upasara. Saat mereka berdua-dua di Perguruan Awan. Setelah kemelut Keraton Majapahit dulu, itu adalah waktu yang paling menyenangkan.

Saat itu Upasara mempunyai waktu paling banyak bersamanya.

Ilmu Berjalan di Atas Api

KENANGAN yang manis.

Saat di mana Upasara memilih berdiam diri di Perguruan Awan. Siang dan malam selalu bersama Gendhuk Tri. Ada saja yang mereka lakukan berdua. Mencari ikan, buah-buahan, berlatih silat, atau kadang mencari kutu.

Kadang kala Gendhuk Tri menerima tamu Nyai Demang serta Galih Kaliki. Suasana lebih ramai, akan tetapi tetap menyinarkan ketenteraman, kebahagiaan. Di luar hutan, kejadian berlangsung seperti sedia kala. Pertarungan, perebutan kekuasaan, saling mengganas. Tetapi alangkah menyenangkan berada dalam rimba ketenteraman.

Alangkah indahnya andai saat itu dunia berhenti.

Tapi nyatanya tidak.

Upasara keluar dari sarang perdamaian. Getaran asmara yang mencuat tak bisa disembunyikan, menyeretnya kembali ke Keraton. Daya asmara terhadap Gayatri tak pernah selesai.

Saat itulah mulai pergolakan yang menggelora. Menemukan musuh-musuh dari senopati Raja Jayakatwang, atau beberapa pasukan dari Tartar. Mereka bertarung habis-habisan.

Dan setelah selesai tugas utama, kembali ke Perguruan Awan. Menikmati hari-hari yang membahagiakan. Tak peduli dengan urusan pangkat dan derajat. Upasara menolak menjadi mahapatih.

Bahkan juga ketika utusan Baginda, Permaisuri Gayatri, datang secara khusus membujuknya.

Namun getaran yang sama pula menyeret kembalinya Upasara ke gelanggang. Dan sejak itu Gendhuk Tri tak pernah mendapat kesempatan berduaan secara khusus. Malah merasa tak terperhatikan. Upasara dengan segala kesibukannya dari matahari terbit hingga tenggelam.

Hingga sekarang ini.

“Adik Tri memikirkan apa?”

“Tidak memikirkan apa-apa.”

“Rasanya seperti melamunkan sesuatu.”

“Tidak.”

“Atau masih memikirkan bahwa sekarang Kiai Sambartaka bisa mengenali ilmu kebal?”

Gendhuk Tri menggeleng.

“Pangeran, bagi Kiai Sambartaka sebenarnya tak ada masalah untuk mengenali ilmu kebal. Tradisi ilmu dari tlatah Hindia tak berbeda jauh dari tanah Syangka. Segala jenis ilmu kebal bisa dipelajari, dan sudah menjadi ajaran.”

“Kalaupun benar begitu, kenapa Kiai Sambartaka perlu berguru kepada Adik?”

“Pangeran jangan membuat saya malu.

“Kita mempelajari bersama-sama.”

“Apa pun istilahnya. Nyatanya mengajak kita. Nyatanya juga Adik yang bisa memecahkan dengan cepat.”

Mungkin lebih baik membicarakan hal ini, kata hati Gendhuk Tri. Daripada melamunkan Upasara. Ya, Kakang Upasara yang waktu itu masih beringasan, suka bercanda, dan bisa jengkel. Bukan Upasara yang terlalu angker, yang sedikit bicaranya, dan seolah sama tuanya dengan Eyang Sepuh.

“Bagaimana Adik bisa memecahkan rahasia ilmu kebal Pendeta Manmathaba?”

“Saya teringat ajaran Mbakyu Jagaddhita.

“Saat itu kami berlatih bersama. Mbakyu Jagaddhita menceritakan bahwa sebenarnya kunci ilmu silat yang kami mainkan berawal dari tarian. Tarian berawal dari gerak. Jadi gerak yang mula-mula adalah sumber utama.

“Kenapa justru gerak yang menjadi sumber kekuatan, dan bukannya diam?

“Saat itu Mbakyu Jagaddhita tak bisa menerangkan. Atau tak mau. Atau menganggap tak perlu.

“Saya baru sadar ketika kita berlatih bersama….”

Sampai di sini Janaka Rajendra tak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Kekuatan kita berdasar pada gerak karena sifat air. Air yang bergerak karena mempunyai dan menemukan irama alam. Di samping itu air mempunyai sifat yang tersendiri, yaitu dingin, basah, mengalir.

“Entah bagaimana, pikiran saya membersit ke arah orang yang biasa berjalan di atas api membara. Suatu pameran ilmu yang sebenarnya tak pernah dipandang sebelah mata, karena dianggap permainan anak-anak.”

“Lalu…”

“Orang yang berjalan di atas api tanpa terbakar, sebenarnya memainkan sifat air. Sifat air yang ada dalam tubuh dipergunakan. Itu sebabnya orang yang akan berjalan di atas api, kakinya berkeringat. Telapak kaki yang berkeringat, yang mengandung air, tak akan terbakar.”

“Apa betul begitu?”

“Ya.”

“Bagaimana mungkin…”

“Sangat mungkin, Pangeran… Ilmu berjalan di atas api sebenarnya bukan ilmu kebal. Bukan sesuatu yang luar biasa dilihat dari pengerahan tenaga dalam. Tak perlu setengah sadar untuk melakukan itu.

“Sebab yang utama karena dingin tubuh akan menolak api dengan sendirinya.

“Sebab yang lain ialah karena orang itu berjalan di atas api. Bukan menginjak atau berdiri di atas api.”

“Karena bergerak.”

“Ya.”

“Dengan bergerak, kekuatan panas akan mengalir. Tidak menusuk sepenuhnya. Demikian juga serangan lawan, dalam hal ini tusukan keris Kakang Upasara…” Gendhuk Tri mencoba berbicara dengan nada biasa. Karena kuatir Pangeran Anom merasakan adanya perubahan getaran hatinya.

“Tusukan itu bergerak. Dan Manmathaba sendiri bergerak. Pada saat itu sebenarnya yang terjadi adalah singgungan. Seperti ketika Kiai Sambartaka menyerang saya.

“Sebenarnya, kalau waktunya tidak tepat, saya pasti akan terluka. Hanya saja karena saat itu saya bisa mengerahkan tenaga dalam secara tepat dan mengalir, yang terjadi adalah singgungan. Seperti telapak kaki telanjang yang menginjak api.

“Semakin bisa dikuasai, semakin leluasa penggunaannya.

“Pada tingkat Manmathaba, penguasaan itu sudah nyaris sempurna. Hanya saja ia tak bisa terus mengulang dalam jangka yang panjang. Tak ubahnya mereka yang berjalan di atas bara. Hanya mungkin pada jarak tertentu.

“Kalau terus-menerus pasti akan terbakar, karena daya air dalam tubuh terganggu. Kecuali kalau dilatih.”

“Tunggu dulu, Adik.

“Dengan kata lain, kalau Pendeta Manmathaba diserang, misalnya dua kali berturut-turut, ia bisa terluka.”

“Tidak begitu persis.

“Tapi jika lawan telah mengenali rahasia ini, ia menjadi lebih tenang, dan tidak kaget karena serangan utama tiba-tiba saja kandas secara tidak masuk akal.

“Itu yang terjadi pada Kakang Upasara. Itu yang mengejutkan Manmathaba. Sekarang setelah mengetahui itu, besar kemungkinannya bisa menundukkan.

“Dengan satu perkecualian, kalau ternyata Manmathaba masih menyimpan kemungkinan yang lain.

“Dan hal semacam ini sangat mungkin sekali.”

Janaka Rajendra mengangguk-angguk.

“Benar sekali.

“Agaknya Pendeta Manmathaba mempunyai kelebihan ganda. Di samping memang peng-pengan atau sakti, mampu meramu dengan kekuatan-kekuatan tak terpikirkan lawan. Agak licik, tapi cukup bisa mengelabui.”

“Apa yang Pangeran ketahui mengenai Bandring cluring?”

“Tak berbeda dari yang diketahui orang lain secara umum.

“Hanya saja… hanya saja… Sayang sekali kalau Upasara sampai tak bisa diselamatkan.”

“Kenapa?”

“Ia ksatria sejati. Orang yang baik, gagah, dan besar jiwanya. Dalam jagat yang begini banyak orang jungkir balik, Upasara masih bisa menjadi pendekar sejati. Saya kira gelar lelananging jagat sangat pantas disandang.”

Suara Janaka Rajendra mendadak terhenti.

“Adik sangat mengenal Upasara?”

“Kami pernah bersama-sama ketika Baginda mengutus memerangi pasukan Tartar…

“Ketika itu…”

Gendhuk Tri tak jadi melanjutkan, karena menyadari saat itu Pangeran Anom belum lahir.

Tapi agaknya Janaka Rajendra sedang memikirkan hal lain.

“Akan ke mana kita, Adik?”

“Entahlah, asal jalan saja.”

“Atau kita cari Kakang Singanada?

“Rasanya kalaupun pergi tak terlalu jauh. Kakinya buntung dan butuh perawatan. Pastilah masih ada di sekitar Keraton.”

Gendhuk Tri menghela napas.

“Percayalah, Adik. Apa yang baik bagi Adik, saya juga akan merasakan kebahagiaan itu.”

Sebenarnya Gendhuk Tri masih ingin mendengarkan pujian atau komentar Pangeran Anom mengenai Upasara Wulung. Kalimat yang bagaimanapun pendeknya, ternyata bisa membuat Gendhuk Tri lega.

Ah, kenapa pikirannya tak bisa lepas sedikit pun dari Upasara?

Ataukah ada sesuatu yang gawat yang terjadi padanya?

Peramal Truwilun

BELUM sepenanak nasi berjalan, mereka berdua sampai ke tempat yang cukup ramai. Gendhuk Tri merasa agak heran. Karena tidak biasanya larut malam seperti sekarang ini masih banyak penduduk berada di luar rumah. Apalagi jumlahnya cukup banyak.

Tanpa sengaja, Gendhuk Tri menarik tangan Janaka Rajendra, karena takut dikenali.

“Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak menyenangkan,” bisik Gendhuk Tri.

“Untuk apa kita mencurigai yang belum pasti?”

“Ssstttt. Pangeran tak banyak tahu keadaan di luar Keraton. Kalau begini banyak orang berkumpul…”

Dugaan Gendhuk Tri terbentur pada apa yang dilihatnya. Ternyata penduduk itu bergerombol di halaman sebuah rumah yang cukup besar, diterangi banyak sekali obor. Mereka yang datang dan berkumpul kebanyakan penduduk desa biasa. Bahkan beberapa orang datang bersama dengan keluarganya.

Tak sulit bagi Gendhuk Tri untuk berbaur dan mulai bertanya kiri-kanan. Janaka Rajendra lebih suka memuaskan pandangannya, seolah belum pernah melihat manusia yang begitu banyak berkumpul, dalam keadaan seperti sehari-hari. Baik pakaian yang dikenakan, maupun sikap mereka.

Sebagian besar malah tiduran di halaman yang terbuka.

“Kalian pasti datang dari jauh. Inilah rumah Kiai Dukun yang bisa memberikan ketenteraman itu.”

Gendhuk Tri mengangguk-angguk. Ia menganggap wajar jika ada dukun yang dianggap sakti dan masyarakat berbondong-bondong datang. Untuk situasi sekarang ini sangat mungkin sekali. Dalam tata pemerintahan yang mengalami perubahan, di mana pegangan lama terlepas sementara pegangan baru belum di tangan, dukun adalah pilihan utama.

“Apakah Kiai Dukun bisa menyembuhkan segala jenis penyakit?”

“Tidak, kalau beliau tidak berkenan.

“Lebih suka memberikan jampi-jampi untuk ketenteraman.”

“Kapan giliran kita bisa menemui?”

Senopati Pamungkas II – 18

“Besok pagi atau lusa.  Banyak sekali yang datang.  Baru sore tadi rombongan dari Keraton datang, sehingga kita harus menunggu.”

“Rombongan dari Keraton?

“Ya, utusan Permaisuri….”

Kali ini Gendhuk Tri mengerutkan keningnya agak lama. Bahwa seorang permaisuri memerlukan dukun, itu bukan hal yang aneh. Seratus dukun bisa didatangkan dan dimintai nasihatnya. Akan tetapi bahwa seorang permaisuri melakukan secara terang-terangan, pasti ada alasannya.

Kalau bukan karena kebutuhan yang mendesak, pasti karena kiai dukun ini tak mau diundang ke Keraton. Meskipun tidak begitu mendalami, Gendhuk Tri cukup tahu bahwa dukun sering mempunyai perilaku yang aneh

Dan ternyata jawaban yang kedua yang benar. Ini diketahui ketika Gendhuk Tri berdiam cukup lama dan mendengarkan pembicaraan. Bahwa Kiai Truwilun tidak mau dipaksa pergi ke Keraton..

Cara menamakan diri yang aneh. Truwilun bisa diartikan bodoh. Agak tidak lazim seseorang yang mencari nama justru menyebut dirinya bodoh.

“Ayo kita teruskan mencari Kakang Singanada….”

“Ssstttt, siapa tahu Pak Kiai ini bisa melihat dari kejauhan. Daripada kita susah mengaduk-aduk seluruh kampung, lebih baik bertanya ke dalam.

“Apa salahnya?”

“Kalau Adik menghendaki, apa salahnya?”

Tetapi mereka berdua tak bisa masuk begitu saja. Antrean sangat panjang. Tak mungkin menerobos masuk. Lebih banyak yang menunggu giliran sambil berbaring. Baik yang kelihatannya sehat, maupun yang datang digotong sambil merintih.

Gendhuk Tri memutuskan segera meninggalkan tempat, ketika mendengar suara seseorang dari kejauhan.

“Siapa pun yang datang dan membutuhkan pertolongan Kiai Truwilun, silakan menunggu giliran. Kami tak peduli utusan dari mana saja datangnya. Kami tak membedakan pangkat dan derajat.”

Boleh juga, pikir Gendhuk Tri dalam hati. Sehingga langkahnya kembali tertahan. Sementara agaknya para prajurit yang menjadi utusan tampak jengkel, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

“Saya hanya menyampaikan pesan Kiai, jangan marah kepada saya….”

Mendadak saja semua suara terdiam.

Terdengar langkah kaki mendekat. Gendhuk Tri berusaha mendekat agar bisa melihat lebih jelas.

Ternyata yang disebut Kiai Truwilun adalah lelaki yang rambutnya dibiarkan tumbuh secara liar. Pakaian yang dikenakan berlapis-lapis dari berbagai kain. Langkahnya lebar dan suara kayu sembarangan yang digunakan sebagai sandal terasa keras. Jenggot dan kumisnya sama seradakan-nya.

Hanya sekilas, Gendhuk Tri melihat sorot mata yang damai, menenteramkan, ramah.

“Saya tak bisa meninggalkan tempat ini, sebelum yang membutuhkan pertolongan saya temui. Senopati Halayudha, tolong sampaikan hal ini kepada yang menyuruh Senopati….”

Gendhuk Tri melengak.

Sejauh matanya memandang tak tampak bayangan Halayudha. Bagaimana mungkin Kiai Dukun itu menyebut nama senopati yang berkuasa begitu saja?

“Wajah dan tubuh bisa disembunyikan, akan tetapi niatan hati yang sebenarnya tak bisa ditutupi.

“Terima kasih atas pengertian Senopati….”

Baru ketika mengikuti pandangan Kiai Truwilun, Gendhuk Tri menyadari bahwa di antara para prajurit terlihat bayangan Senopati Halayudha.

Inilah hebat!

Meskipun Gendhuk Tri sering melihat Halayudha, akan tetapi tak bisa mengenali dalam samaran. Begitu juga orang lain, demikian jalan pikiran Gendhuk Tri.

Bahwa Halayudha bisa dikenali, itu saja menunjukkan kejelian. Karena meskipun berkuasa dan sangat terkenal, tak begitu banyak yang melihat pemunculan Halayudha. Apalagi sewaktu menyamar.

Bukan tidak mungkin, Kiai Truwilun ini memang bisa menangkap suara hati-seperti yang dikatakan.

“Baik, kalau memang begitu.

“Tapi karena kamu dikatakan orang yang bisa melihat apa yang orang lain tidak melihat, katakan apa yang dikehendaki oleh Paduka yang menyuruhku.”

“Maaf, Senopati Halayudha, saya tidak bisa mengatakan di sini. Kecuali kalau Senopati Halayudha tidak kuatir persoalan Paduka dibeberkan di sini.

“Saya tahu bahwa ada yang ingin menyembuhkan kakinya yang terluka, ada yang sedang gelap hatinya, ada yang mencari pujaannya, ada yang mencari orang yang terluka… Tapi saya tak ingin mengatakan secara terbuka.”

Kali ini ganti Janaka Rajendra yang menggenggam tangan Gendhuk Tri.

“Apa yang dimaksudkan kita?”

“Siapa lagi?”

Kiai Truwilun mengangguk ke arah Gendhuk Tri, lalu berbalik ke dalam. Suara sandal kayunya terdengar berat, karena diseret seenaknya.

Halayudha segera menjauh. Meninggalkan kerumunan, diikuti para prajurit.

Mendadak pembicara pertama yang tadi menuding ke arah Gendhuk Tri.

“Silakan, kamu diperkenankan masuk lebih dulu….”

Gendhuk Tri mengangkat alisnya.

Janaka Rajendra ikut melangkah ke dalam rumah.

Sebuah ruangan yang lega, luas. Hanya Kiai Truwilun yang duduk di tengah ruangan, sendirian.

“Kamu ragu, apakah saya bisa menebak jalan pikiran, dan apa yang bisa saya lakukan. Bukankah begitu?”

“Kecuali kalau satu patah kata saja membuat saya yakin. Apa betul saya mencari seseorang yang terluka?”

“Kamu sudah mengatakan sendiri.

“Kamu gadis yang baik hati, memikirkan kakang yang juga memikirkanmu. Ia terluka parah, keadaannya sulit diketahui. Sangat memerlukan pertolongan, dan harus berhati-hati. Jangan berbuat sembrono seperti biasanya.”

“Apa kakinya tidak membusuk?”

Kiai Truwilun menoleh ke arah Janaka Rajendra.

“Yang kamu tanyakan orang lain.

“Bukankah kamu, Pangeran yang budiman, seharusnya tak berada di tanah ini lagi? Kenapa tidak mengikuti orangtua yang sedang membangun Keraton untukmu?”

Pandangan Janaka Rajendra memperlihatkan rasa kaget.

Bibirnya setengah terbuka.

“Tak ada yang tahu siapa kamu. Kecuali kalau kamu memperlihatkan diri. Itu sebabnya aku memintamu masuk lebih dulu. Bersembunyilah di sini. Jangan perlihatkan dirimu.”

Lalu Kiai Truwilun menatap Gendhuk Tri.

“Juga kamu.”

Gendhuk Tri setengah tak percaya apa yang didengarnya. Jelas bahwa Kiai Truwilun bisa menebak jitu bahwa yang dicari dan dikuatirkan adalah Upasara. Sementara Janaka Rajendra sendiri masih menduga Singanada. Atau suatu kebetulan?

Tamu dari Langit

TRUWILUN tak menunggu reaksi Gendhuk Tri maupun Janaka Rajendra. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju halaman, diikuti pengikutnya.

“Cantrik, kamu siapkan dirimu. Kita layani semua ini sebelum tamu dari langit datang….”

Suaranya ulem, lembut, dan menenteramkan. Truwilun segera berkeliling. Menemui pengunjungnya satu demi satu. Mengusap wajah bayi yang kesakitan, memijat lelaki tua yang mengerang tak bisa bergerak, mengurut, dan adakalanya menyuruh orang yang dipanggil Cantrik itu untuk meneruskan pengobatan. Truwilun sendiri berkeliling dan menyelesaikan dengan cepat.

Semua yang ada di halaman menunduk hormat.

“Bawalah kembali semua barang itu, Kisanak. Saya masih bisa makan dan kalian sendiri membutuhkan.”

Dalam waktu yang singkat separuh halaman yang luas sudah didatangi satu per satu, diobati. Gendhuk Tri mengawasi dari kejauhan. Bisa dimengerti kalau kiai yang satu ini sangat terkenal. Ia melakukan pertolongan tanpa pamrih sama sekali. Bahkan pemberian yang ikhlas seperti ayam, ketela, padi sayuran, ditolaknya.

“Tak perlu cemas, Ibu. Kalau sekarang anak Ibu tidak mau bekerja dan maunya termenung saja, itu tak akan berlangsung lama. Sebentar lagi ia akan menjadi prajurit Keraton. Asal mau tekun dan menghilangkan pikiran yang bukan-bukan.”

Pada wanita yang lain, Truwilun berbisik lirih,

“Saya sendiri lelaki. Saya bisa mengerti kalau lelaki yang sudah mempunyai istri melirik wanita lain dan tak mau pulang. Pada dasarnya suami Ibu baik. Sebentar lagi akan kembali. Legalah menerima ini sebagai kenyataan, atau kalau Ibu ingin berpisah, berpisahlah dengan cara yang baik.

“Tak ada gunanya membuka kesalahan suami. Suami Ibu telah mengetahui salahnya, hanya menunggu saat yang baik untuk menarik langkah itu.”

“Akan tetapi, Kiai…”

“Ibu perlu menenangkan diri. Itu saja. Jangan berpikir yang merugikan hati Ibu sendiri. Kalau tak pulang, bukan berarti bersenang-senang terus. Ketahuilah bahwa suami Ibu juga sama gelisahnya dengan Ibu. Kalau dijumlah bisa tak tertahankan.”

“Apakah saya diberi jampi tertentu atau suami saya…”

“Tak perlu.

“Ibu pulang saja. Suami Ibu menunggu di rumah sekarang ini.”

Separuh halaman sisanya diselesaikan secara cepat. Kadang hanya nasihat, kadang disertai pijitan atau urutan di bagian tubuh. Meskipun kelihatan hanya mengusap, akan tetapi karena jumlah yang ditolong sangat banyak sekali, Truwilun kelihatan berkeringat.

Baru kemudian melangkah kembali ke dalam, sementara Cantrik melanjutkan pengobatan.

“Apa yang mengherankanmu?”

“Rasanya Kiai benar-benar bisa meramal dengan baik dan tepat.”

“Pertama, jangan panggil Kiai atau sebutan lain. Kedua, semua orang bisa melakukan jika mau. Yang penting adalah niat, kemauan yang sangat.

“Kamu sendiri bisa menyembuhkan penyakit patah tulang, keseleo, dengan mengirimkan tenaga dalam yang terlatih. Kamu bisa menolong kalau mempunyai niat.

“Dan kamu, Pangeran, bisa menolong sesama dengan harta kekayaan yang kamu miliki, bila mau.

“Tak ada yang menghalangi.”

“Apakah Kiai… ngng… melakukan ini setiap hari?”

“Selama mereka masih datang dan membutuhkan pertolongan, membutuhkan jawaban, dan saya masih mempunyai niat, akan terus saya lakukan.”

Janaka Rajendra mengangguk.

“Saya akan melakukan, bila waktunya mengizinkan.”

“Setiap waktu adalah izin tetapi juga bukan izin. Untuk membantu orang tak perlu menunggu kapan datangnya kiriman atau kapan memegang harta. Apa yang kita miliki bisa kita serahkan.

“Tak ada yang perlu ditunggu, Pangeran.”

“Dari mana Kiai mengetahui saya Pangeran Anom?”

“Tak ada rahasia bagi kemauan baik.”

“Apakah Adik Tri bakal menemukan Kakang Singanada?”

“Kalau memang akan bertemu, pasti akan terjadi. Kalau Pangeran mencemaskan itu, juga tak ada gunanya. Semua yang harus terjadi, akan terjadi dengan sendirinya. Daya asmara tak akan berhenti hanya karena Adik Tri bertemu Singanada atau tidak.

“Kecuali…”

Gendhuk Tri menggeleng.

“Lebih baik kita menunggu di belakang, Pangeran. Karena agaknya yang mengutus Halayudha sudah terdengar derap kakinya.”

Truwilun mengelap bibirnya.

Wajahnya penuh dengan sinar welas asih.

“Siapa yang mengutus?”

“Permaisuri Indreswari.”

Truwilun menggeleng pendek.

“Tamu yang sekarang ini tamu dari langit. Raja yang telah melayang ke langit, karena telah menyerahkan kekuasaan Keraton kepada putranya.

“Tak apa kalau kalian merasa tidak takut dikenali. Kalau tidak, menyingkirlah ke dalam….”

Gendhuk Tri melangkah ke dalam. Adalah di luar dugaannya bahwa sekali ini yang datang mengunjungi adalah Raja Kertarajasa yang diibaratkan tamu dari langit, karena kini tak lagi menginjak bumi.

Untuk urusan apa?

Berada di ruangan dalam, Gendhuk Tri memasang pendengarannya baik-baik. Sebaliknya Janaka Rajendra hanya berdiam diri, lebih banyak mengawasi apa yang dilakukan Gendhuk Tri.

Dari celah-celah papan kayu Gendhuk Tri masih bisa mengenali lelaki gagah yang dulu dikenali sebagai Raden Sanggrama Wijaya. Hanya saja sekarang ini tampak jauh lebih tua. Wajahnya lebih kelam, sebagian rambutnya dibiarkan memutih.

Caranya melangkah dan menatap tak berubah sedikit pun.

“Jadi kamu ingin saya datang sendiri, Truwilun?”

Truwilun menyembah dengan hormat dan dalam.

“Sebab hamba mengetahui jiwa besar Baginda….”

“Apa masih tepat kamu menyebut Baginda? Aku bukan raja yang memerintah lagi.”

“Sebutan raja bukan hanya bagi yang tengah memerintah. Baginda Raja Sri Kertanegara telah lama berada di alam kebahagiaan tanpa batas, akan tetapi bagi sebagian kawula sebutan itu seolah Baginda Raja masih ada.”

“Aku mendengar nama besarmu, Truwilun. Setiap hari semua orang membicarakanmu. Apakah kamu tiba-tiba saja menjadi orang sakti?”

“Hamba sama sekali tidak sakti, Baginda. Dan tidak tiba-tiba. Kalau semasa Baginda memerintah, hamba tidak menjalankan darma bakti, karena hamba merasa bahwa tanpa itu, alam telah berjalan dengan damai dan sejahtera.”

“Dengan kata lain, kamu mau mengatakan sekarang ini zaman kemelut?”

“Baginda yang menyabdakan itu. Bukan hamba.”

“Truwilun, katakan apa adanya. Di mana kelebihan Baginda Raja atas diriku, di mana kelebihan diriku atas putraku, dan di mana kelebihan putraku atas Baginda Raja?”

Sejenak Truwilun tepekur.

Dari balik bilik, Gendhuk Tri agak kecewa. Tadinya ia berharap bakal mendengar sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan di belakang hari. Akan lebih menarik kalau Baginda bertanya mengenai selir atau minta jampi memikat asmara atau sejenis itu. Ternyata yang dibicarakan masalah Keraton

“Baginda tak perlu risau mengenai hal itu. Sejarah dan para Dewa sudah menuliskan jasa besar Baginda. Segunung kebaikan telah Baginda tanamkan, curahkan untuk seluruh kawula. Tak ada yang bisa mengurangi.”

“Kamu tidak menjawab pertanyaanku, Truwilun.

“Aku sengaja datang untuk mendengar jawabanmu.”

“Keunggulan Baginda Raja yang tak tertandingi ialah pandangannya seluas lautan tanpa tepi, sejauh angin bisa berembus. Baginda Raja Sri Kertanegara tidak melihat batas cakrawala. Jagat dan seluruh isinya bukanlah batas. Sepanjang sejarah para raja. Hanya Baginda Raja yang mampu melihat tanpa batas.

“Baginda Raja membuka jagat yang baru. Membuat batas-batas tanpa batas. Membuat gunung menjadi rendah dan bisa dilalui, membuat samudra bagai parit kecil yang bisa dilewati.”

“Aku tidak mempunyai pandangan sejauh itu?”

“Kalaupun ada, Baginda Raja yang memulai.

“Baginda yang memulai tatanan di mana jagat yang diciptakan Baginda Raja masih perlu ditempatkan tata aturannya.

“Kelebihan raja yang masih sangat muda usia sekarang ini, dibandingkan dengan Baginda Raja, adalah kemampuan yang tak tertandingi. Di usia raja yang sekarang ini, Baginda sendiri masih bermain bunga, dan Baginda sendiri masih belajar menembang kidungan dasar. Raja Jayakatwang yang sekarang sudah memikul dan sanggup menjalankan tata pemerintahan Keraton.

“Apakah ini bukan kelebihan utama?”

“Apakah itu berarti aku terlalu pagi memberi kesempatan kepada putraku?”

“Cepat atau lambat, wahyu dari Dewa harus diteruskan. Baginda tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, karena waktu bukanlah kebenaran yang sejati.”

Percakapan Takhta

“APA maksudmu?”

“Waktu adalah kebenaran yang dibuat oleh manusia. Bukan oleh Dewa di atas semua Dewa. Cepat atau lambat, cepat atau lama adalah semata-mata perhitungan kita manusia yang tak bisa melepaskan putaran waktu. Yang menghitung kala rembulan muncul dan tenggelam.

“Hamba ingin menjawab sekaligus pertanyaan Baginda mengenai apakah Putra Baginda bakal memerintah lama atau sebentar.”

“Apakah itu berarti putraku hanya memerintah sementara?”

“Hamba telah menjawab sebisa hamba, Baginda.”

“Aku ingin mendengar jawaban yang tidak harus ditafsirkan dua atau tiga kali. Kamu hanya harus menjawab: Apakah putraku bakal memerintah lama atau tidak?”

“Hamba telah menjawab. Dan itu tak perlu ditafsirkan. Lagi pula takhta dan kebijaksanaan tidak dihitung dari lama atau tidak lama.

“Baginda telah mendengar jawabannya, sebelum hamba berbicara.”

Baginda terbatuk agak keras.

“Truwilun, katakan apakah aku keliru memilih Kala Gemet menjadi pewarisku?”

“Seorang raja tak bisa disalahkan, kecuali kalau mencabut kata-katanya. Dan Baginda tidak mencabut kata-kata Baginda.

“Apa yang harus disalahkan?”

“Selama ini aku percaya ramalan dan perhitungan para pendeta di Keraton. Bahwa anak turunanku dari Gayatri akan melahirkan raja yang tiada taranya di tanah Jawa. Apakah perhitungan ramalan itu terlihat olehmu?”

“Dengan sangat jelas, Baginda.

“Puncak-puncak Keraton akan mewujud, atas perkenan Dewa dari segala Dewa.”

“Apakah itu berarti pertarungan perebutan takhta?”

Truwilun menunduk. Pundaknya menggigil.

Baginda menunggu.

“Hamba manusia yang sangat terbatas oleh kebodohan dan kepicikan…

“Kalau kamu bisa melihat dan tak mau mengatakan apa yang kamu lihat bukankah itu mengingkari dharma bekti-mu?”

“Hamba, Baginda, hamba…”

“Katakan…”

“Sejauh yang bisa hamba lihat, perebutan takhta tak akan terjadi lagi. Raja Muda Gelang-Gelang adalah yang terakhir kali ingin membelokkan aliran darah biru.

“Itu tak bisa terjadi lagi.

“Itulah takdir Dewa.”

Baginda menghela napas lega.

Tetapi batuknya terdengar lagi.

“Ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hatiku. Kalau benar suatu hari nanti Keraton akan memuncak dan memayungi jagat seluruh isinya, kenapa harus melalui jalan yang rumit?

“Apakah kamu akan menjawab bahwa semuanya karena waktu? Dan waktu adalah kungkungan manusia?

“Aneh.

“Truwilun, kamu mengetahui bahwa Raja tak bisa menarik kata-katanya kembali, sabda pendita ratu. Tetapi, apakah tidak lebih baik kalau takhta saya tarik kembali?”

“Hamba tidak melihat itu, Baginda.

“Takhta adalah wahyu. Takhta adalah jelmaan kekuasaan Dewa di atas semua Dewa. Kekuasaan di atas semua kekuasaan di bumi. Adalah pegangan di atas semua pegangan.

“Kalau ini digoyahkan, tata krama atau tata aturan akan jungkir-balik, dan rakyat akan risau, kacau, bagai ditumpahkan dari sumbernya.

“Baginda adalah pilihan Dewa.”

“Apa betul begitu?

“Apa bukan karena saat itu, putra keturunan Singasari yang berada di medan pertarungan yang bisa dilihat adalah aku?”

“Dewa memilih Baginda, dan memperlihatkan itu.”

“Dewa yang mana?

“Sebelum aku menjatuhkan pilihan kepada putraku, aku berdoa siang-malam. Aku bersemadi secara khusyuk. Tak ada petunjuk, tak ada wangsit. Tak ada suara apa-apa.”

Suara Baginda tertahan lama.

Tanpa getaran. Tanpa gema.

“Apa itu artinya, Truwilun?”

“Artinya hanya kesangsian, Baginda….”

“Kesangsian?”

“Kalau benar Baginda tak mendengar isyarat apa pun, berarti selama ini tak pernah ada isyarat apa-apa. Berarti Dewa telah menyatu dalam diri Baginda.”

“Aha, kamu pun masih ingin menghiburku?

“Saat-saat terakhir sisa hidupku ini, aku tak mempunyai teman berbicara seperti ini. Aku terkurung, sendirian, bolak-balik tak menentu. Aku merasa kehilangan pegangan, kehilangan suara yang mendesis yang dulu kadang kudengar lamat-lamat dalam hatiku yang dalam.

Tetapi aku tak peduli.

Dulu, aku tak peduli. Sekarang aku mencoba mencari, akan tetapi seperti kamu katakan aku tamu dari langit yang tak menginjak bumi.”

“Raja yang besar adalah raja yang tak pernah menyesali dan mencabut apa yang dikatakan.”

“Tetapi, Truwilun, apa sesungguhnya yang telah kulakukan? Aku menduduki takhta, dan aku tak berbuat apa-apa.

“Aku menduduki takhta, karena takhta itu disorongkan kepadaku. Karena aku butuh tempat duduk setelah kelelahan yang panjang.

“Apa yang kulakukan sebelumnya?

“Tak ada. Para senopati yang menghalau prajurit Jayakatwang. Yang menggiring pasukan Tartar hingga ke laut. Yang membuat penjagaan ketika mereka kembali.

“Aku hanya menjadi umbul-umbul, menjadi bendera yang dikibarkan. Hanya karena aku manusia, aku memutuskan ini dan itu. Yang bisa saja malah tidak pada tempatnya. Sehingga soal mahapatih saja berlarut-larut.

“Hanya karena akulah Raja yang tak bisa menarik kembali apa yang kukatakan, semuanya terjadi dan dianggap semestinya terjadi.

“Bukankah itu sebenarnya yang terjadi?

“Bukankah begitu banyak nasib manusia yang lain yang sangat tergantung pada sepatah kataku yang tak bisa ditarik dan tak akan dibantah?”

“Maaf, Baginda, hamba…”

“Aku tidak menginginkan jawaban yang menghibur.

“Kalau kamu menjadi aku sekarang ini, apa yang kamu lakukan Truwilun?”

“Hamba tak bisa diandaikan, Baginda.”

“Kenapa tidak?”

“Hamba bisa diandaikan mahapatih, senopati, bahkan permaisuri. Tetapi bukan raja.”

“Kenapa?”

“Karena takhta hanya satu, dan tak bisa diandaikan.”

“Dengan kata lain, seharusnya aku menyadari itu sebelum aku mengatakan dan memutuskan sesuatu? Harusnya aku menyadari ini semua ketika aku masih memegang takhta dan bukan sekarang ini?

“Itukah yang akan kamu katakan?”

Truwilun menyembah.

Dalam.

Tepekur.

“Bukankah aku terlambat…”

“Tak ada yang terlambat untuk memulai berpikir sebagaimana seharusnya. Tak ada derajat atau pangkat yang membatasi untuk berbuat ke arah yang lebih baik.

“Banyak jalan ke arah itu.

“Jalan Buddha jumlahnya sembilan.

“Juga jalan yang lain.”

“Apakah kalau aku berbuat baik bagi orang lain, bagi penduduk, bagi diriku sendiri, akan menghapus atau mengurangi kesalahanku?”

“Dewa yang memperhitungkan dengan maha adil, bukan sesama manusia.”

“Tidak juga aku, walaupun aku Raja?”

“Raja hanya bisa memperhitungkan dirinya sendiri, bersama Dewa.”

“Truwilun, kamu sudah mengatakan kejujuran yang luar biasa. Ini pertama kalinya aku mendengar suara yang jujur. Tapi sebenarnya aku berharap lebih dari ini.

“Terima kasih.

“Semoga Dewa memberkatimu.

“Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu, dan aku bisa melakukan, katakan sekarang juga.”

Wajah Truwilun mendongak.

“Hamba tak pernah meminta sesuatu….”

“Kalau begitu aku yang meminta sesuatu padamu. Apa yang kamu minta?”

“Biarkanlah alam mengikuti iramanya. Angin tak bisa dikurung, rembulan tak bisa ditahan. Takhta akan tetap di tempatnya, tanpa perlu mengubah siang menjadi malam.”

Baginda tertunduk.

Lama.

“Truwilun, bolehkah aku berguru padamu?”

“Seperti yang lainnya, hamba akan menerima. Seperti permintaan yang lain lagi, dari siapa pun, hamba akan menerima.”

Baginda mengangguk dalam.

“Dewa selalu mengasihi orang yang baik. Teruskan amal bekti-mu, Truwilun….”

Mengulangi Sejarah

RAJA KERTARAJASA menangguhkan langkahnya.

“Ada yang tersimpan dalam sorot matamu, Truwilun. Katakan, sebelum entah kapan malam titisan mana kita bisa bertemu.

“Tak perlu ragu.

“Seluruh tubuhmu murni, akan tetapi yang terutama ialah sorot matamu. Itu sebabnya sejak pertama kali melihatmu, aku tak menaruh prasangka sedikit pun.

“Apa yang ingin kausampaikan?”

“Baginda lebih mengetahui.”

“Adakah kegelisahan yang kurasakan juga dirasakan Baginda Raja?”

“Ketika merasa menjadi manusia, hamba kira tak ada bedanya. Semua manusia mengalami kegelisahan yang sama.”

“Itu yang ingin kausampaikan, Truwilun?”

“Sesungguhnyalah, Baginda….”

“Apa dosanya sehingga Baginda Raja yang perwira, sakti, yang menurut kamu membuat batas tanpa batas, yang menguak cakrawala, yang meluaskan lautan dan mengikuti angin, harus mangkat secara mengenaskan? Apakah itu juga takdir? Apakah karena itu aku naik takhta?

“Apakah jalannya harus seperti itu?

“Demikian juga yang terjadi dengan putraku, sebelum raja yang sebenarnya muncul? Apakah semua raja harus mengulangi sejarah yang kitabnya dituliskan Dewa?”

“Hamba tak berani dan tak kuasa menjawab.

“Baginda Raja yang kondang sampai ke Keraton para Dewa, yang diakui dan dihormati, bukannya tidak menyadari kemungkinan datangnya bencana yang mengenaskan.”

“Ah, kamu selalu memuji kebesarannya.”

“Memang kenyataannya seperti itu, Baginda.”

“Aha, apakah Baginda Raja bercerita padamu sebelumnya?”

Nada suaranya menegaskan rasa gusar yang tak tertutupi. Karena dalam hal begini, emosi yang lebih dulu berbicara. Bahwa seorang raja bisa emosional, sesuatu yang wajar karena yang dibicarakan juga kelas raja.

“Juga bercerita kepada Baginda.”

“Oh ya?”

“Dalam Kidung Pamungkas, kitab terakhir yang direstui, Baginda Raja menceritakan semuanya secara jelas, Baginda.”

“Truwilun, kamu lebih mengerti. Tolong sebutkan di bagian mana, kidungan keberapa yang mengatakan itu.”

“Di semua lirik, dalam setiap kidungan.”

“Diceritakan bahwa akan ada pengkhianat yang akan menewaskan Baginda Raja?”

“Lebih dari itu.”

“Aku tak pernah membaca….”

“Kidung Pamungkas adalah kitab terakhir yang direstui Baginda Raja yang secara resmi diwajibkan untuk menjadi bacaan utama. Setelah Kitab Bumi dan Kitab Air, inilah kitab yang berikutnya.

“Maaf kalau bicara hamba lancang….”

“Teruskan…”

“Dalam Kidung Pamungkas, dari awal hingga akhir diceritakan mengenai manusia, yang akan bisa menjadi mahamanusia. Bahwa sesungguhnya manusia adalah sumber segala kehidupan, napas, dan juga tenaga dalam. Bahwa sesungguhnya manusia yang menguasai, yang bisa berubah menjadi apa saja. Diam bagai tanah, menggeliat bagai api, menyiram bagai air, terbang bagai burung, merayap bagai ular, menjilat bagai serigala…

“Manusia bisa berubah menjadi pendeta, ksatria, senopati, pangeran, bahkan raja, tapi juga bisa berubah menjadi cacing, kepinding, dan yang paling hina.

“Bahwa anak bisa menolak bapak, keponakan menyalahkan bibi, mertua bisa membunuh menantu, manusia melawan Dewa. Semua hanya bisa dilakukan oleh manusia.”

“Aku mendengar semua itu.”

“Bukankah secara gamblang telah diperkirakan bahwa seorang Jayakatwang bisa mengangkat senjata kepada Baginda Raja. Apa pun kebaikan yang telah ditanam sejak Jayakatwang belum lahir.”

“Oho, jadi itu yang kamu maksudkan telah mengatakan segalanya?

“Truwilun, apakah kamu lupa kisah mengenai Kidung Paminggir Bahwa kitab itu ditulis Eyang Sepuh dari Perguruan Awan, yang juga melahirkan Kitab Bumi! Bahwa Baginda Raja sedemikian murkanya, sehingga sejak saat itu Baginda Raja tak sudi melihat bayangannya sekalipun?

“Apakah kamu tak pernah mendengar, Truwilun?”

“Sejauh yang hamba dengar, begitulah permulaannya.

“Baginda Raja sedemikian murka, seperti siapa saja yang mendengarkan.

Karena dari kitab itu, kidungan yang ada bisa diartikan jauh melenceng dari kehendak para Dewa. Bahwa orang-orang paminggir, orang-orang yang tidak diperhitungkan, orang-orang kesrakat, selama ia masih manusia, bisa naik ke jenjang yang tinggi.

“Bahwa bukan hanya keturunan raja yang bisa memegang takhta. Bahwa orang-orang pinggiran, suatu ketika akan memegang kekuasaan, baik secara resmi ataupun tidak.”

“Tunggu,” Baginda memotong dengan cepat. “Apakah itu yang mau kamu katakan dari sorot sinar matamu tadi? Apakah itu ada kaitannya dengan penerus setelah putraku Jayanegara memegang takhta untuk waktu yang tidak lama?

“Itukah yang ingin kamu katakan?”

“Hamba tak akan mengatakan apa yang samar dan tak terlihat. Kalau betul hamba bisa mengetahui, hamba tak akan berani berdusta.”

“Truwilun, rasa-rasanya kamu mengetahui apa yang telah terjadi di Keraton Singasari. Sejauh ini keterangan yang ada agak simpang-siur. Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga Baginda Raja tak mau menerima dan merestui Kidung Paminggir?”

“Kidungan itu diciptakan oleh Eyang Sepuh, karena perkenan dan permintaan Baginda Raja. Akan tetapi ketika kitab itu dijabarkan dan diuraikan, Baginda Raja merasa bahwa Eyang Sepuh menyiapkan kraman, pemberontakan besar-besaran seluruh rakyat. Bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk berada di kursi kekuasaan, di dampar kencana.

“Ajaran yang sangat kurang ajar.

“Meniadakan tata krama.

“Menjungkir-balikkan sejarah. Mengubah kemauan para Dewa.”

“Dan kemudian Baginda Raja merasa bahwa itu yang akan terjadi?”

“Baginda Raja menegaskan, bahwa keleluasaan manusia tak pernah jelas batasnya. Bahwa kesempurnaan manusia akan dicapai saat menjadi maha-manusia.”

“Truwilun, jelaskan padaku, kenapa Baginda Raja melihat kemungkinan menjadi mahamanusia pada diri manusia?”

“Hamba baru saja mengatakan, bahwa Baginda Raja membuat batas tanpa tepi. Usaha yang dilakukan Baginda Raja tak pernah setengah-setengah. Itu sebabnya seluruh senopati yang ada dikirimkan ke tanah seberang. Itu sebabnya Ksatria Pingitan didirikan. Itu sebabnya semua penduduk diajari ilmu silat yang bersumber dari Kitab Bumi secara besar-besaran.

“Hamba hanya bisa menangkap seujung rambut dari gagasan Baginda Raja yang maha luas, yang melihat sesuatu tanpa batas-batas yang ada. Demikian juga halnya dalam melihat manusia.”

“Apakah ada pengaruhnya, dalam dunia persilatan dan keprajuritan?”

“Masih harus dibuktikan, Baginda.

“Sewaktu Kitab Bumi diresmikan sebagai ajaran resmi ilmu kanuragan, terjadilah perubahan besar-besaran yang luar biasa.  Semua penduduk, semua lelaki, tanpa kecuali, bisa bermain silat. Setiap saat ada prajurit yang berada di tengah sawah, di tengah laut, di pasar.

“Rencana berikutnya untuk meresmikan Kitab Air, agak sayang, tak bisa dilaksanakan karena sejarah berjalan berbeda dari yang diperkirakan Baginda Raja.

“Apalagi dengan Kidung Paminggir.

“Adakah gemanya?”

“Kitab Bumi, Baginda bisa menemukan secara langsung. Sejak menghadapi prajurit dari Gelang-Gelang, hingga penggiringan pasukan Tartar yang kesohor, sampai sekarang ini.

“Pengaruh Kitab Air, sekarang mulai terasakan dengan munculnya Pendeta Manmathaba, Pangeran Anom, Gendhuk Tri, yang dalam beberapa waktu dekat ini akan meramaikan percaturan dunia persilatan.

“Kitab Paminggir… tak ada yang mampu meramaikan apa yang sesungguhnya bakal terjadi dengan gelombang perubahan dalam jagat ini. Sebab semua dibuka kemungkinannya.”

“Berbeda dari Kitab Bumi dan Kitab Air, Kitab Paminggir dalam kidungannya sama sekali tidak menyinggung cara berlatih ilmu silat atau mengatur pernapasan.”

“Justru karena itu agak mengerikan, Baginda. Dengan niat, niyatingsun menjadi mahamanusia, dengan bekal Kitab Bumi atau Kitab Air, segala apa bisa terjadi. Segala jalan bisa ditempuh dan diadakan.

“Tak ada lagi yang bisa dibedakan, mana jalan ksatria yang sesungguhnya dan mana jalan yang menjadikan pembenaran semata.”

“Apakah aku masih akan mengalaminya?”

“Baginda sudah mengalami, sekarang ini….”

Baginda memejamkan matanya. Menghela napas berat.

Tubuhnya seperti menggigil.

Bersamaan dengan masuknya Pendeta Manmathaba yang menyembah hormat, bersila, dan menunduk dengan dalam.

Sanggar Pamujan di Simping

BAGINDA mengelus dagunya sambil mengembuskan napas kesal.

“Ada kabar apa, Manmathaba?”

“Duh, Baginda, semata-mata hanya karena menjalankan tugas dari Raja, sehingga hamba memberanikan diri menyeruak kemari. Segala dosa dan kehinaan sepenuhnya hamba tanggung.

“Berat menjadi senopati yang ngemban dawuh, menjalankan perintah Raja.”

“Apa yang menjadi dawuh pada malam begini?”

“Raja telah membangun sanggar pamujan di wilayah Keraton yang paling tenteram, paling indah, di wilayah Simping. Sanggar pamujan yang lama telah diperbaharui, telah dijadikan lebih indah dari semua sanggar pamujan yang ada dalam wilayah kekuasaan Keraton.

“Bila Baginda berkenan…”

“Cukup!”

Baginda berdiri dengan gagah.

“Raja yang memberi titah itu anakku. Yang kujadikan raja karena kehendakku.”

“Hamba hanya…”

“Tidak bisakah menunggu…

“Dewa Jagat Binatara, atas nama para Dewa yang kuasa, sedemikian inikah balas budi yang dilakukan putraku? Memberitahu ayahnya di tengah malam, agar segera berangkat ke Simping, agar tak berdiam lagi di Keraton?

“Mimpi pun tak pernah seperti ini.”

Lalu dalam tarikan napas yang berikutnya, menatap ke arah Truwilun.

“Semua yang kamu katakan benar, Truwilun.

“Aku sudah mengalami masa itu. Sekarang ini. Mengulang apa yang dialami Baginda Raja. Hanya kali ini oleh putraku sendiri….”

Pendeta Manmathaba menyembah hormat.

“Tidak ada maksud buruk Raja.

“Baginda bisa memilih di mana saja….”

“Tanggalkan topengmu, Manmathaba.

“Aku mempunyai pengalaman lebih luas dari wilayah yang pernah kamu jelajahi. Apa pun kalimat yang dipakai, aku tak baik tinggal di Keraton.

“Karena kamu diminta menyampaikan malam ini juga.

“Luar biasa.”

Tangan Baginda mengibas.

Pendeta Manmathaba masih menyembah.

“Apakah gerakan tanganku bahkan tak punya arti untuk memerintahkan kamu minggat dari hadapanku, Manmathaba?”

“Secepatnya, Baginda.

“Hanya saja Raja memerintahkan Truwilun menghadap….”

Alis Baginda berkerut.

“Tahukah kamu bahwa Truwilun tak akan meninggalkan tempat ini?”

“Hamba diperintahkan untuk menghadapkan. Sebisa mungkin hamba menjalankan tugas.”

Mendadak Baginda menepukkan kedua tangannya keras sekali.

Tawanya menggelegar.

Sehingga Gendhuk Tri merinding.

“Ini hebat, kelewat-lewat.

“Aku tak mau mencampuri urusan siapa saja. Hanya ingin mendengar dari mulut Truwilun. Apakah kamu akan sowan kepada rajamu ataukah kamu menunggu di sini?”

Truwilun menyembah.

“Kalau batu tak bisa mendekat, manusia yang mendekati batu. Kalau gunung tak bisa mendatangi, manusia yang mendatangi.”

Baginda mengangguk.

“Aku terluka, Truwilun.

“Sakit dadaku.

“Tapi aku ingin menitipkan putra. Barangkali kamu masih bisa berbuat sesuatu….”

Baginda menunduk, menepuk pundak Truwilun, mendekap. Sesaat.

Kemudian bergegas pergi, diiringkan prajurit yang mengawal.

Truwilun dan Manmathaba masih terus menyembah, sampai bau harum tubuh Baginda tak berbekas lagi.

“Kita berangkat sekarang, Senopati Manmathaba?”

Pendeta Manmathaba menyunggingkan senyumnya.

“Tadinya aku mengira kamu ini peramal sakti mandraguna, yang ilmunya linuwih, bisa melihat ke masa depan. Tak tahunya melihat apa yang terjadi sekarang saja tak mampu.

“Ilmu anak-anak yang kamu pamerkan tak ada gunanya bagiku.

“Bagaimana mungkin Raja tergugah memanggilmu? Apakah Halayudha itu yang ingin memancing di kericuhan?

“Truwilun, benarkah kamu bisa meramal? Benarkah kamu mempunyai ilmu nujum yang mengagumkan?

“Kenapa kamu tak bisa melihat siapa diriku yang sebenarnya? Kenapa kamu menyebutku Senopati Manmathaba?”

“Maaf, Senopati Manmathaba, rasanya Senopati tidak berharap disebut sebagai Pendeta, karena terlibat langsung dengan cara mengatur pemerintahan.

“Saya tak bisa menyebut sebagai Mahapatih, karena nyatanya masih ada Mahapatih Nambi, yang walaupun tidak berada di Keraton, masih memegang pangkat tersebut. Dan Raja belum berniat mengangkat dua mahapatih.”

“Raja dan Permaisuri telah mengatakan dan menjanjikan pangkat itu ”

“Kalau demikian halnya, kenapa Senopati Manmathaba kuatir dengan kebodohan saya?”

Manmathaba berdiri.

Tangannya menepiskan pakaian yang dikenakan.

“Apa pun atau siapa pun, tak bisa bermain-main denganku. Tidak juga kamu atau Halayudha. Setiap saat aku bisa melumatkan tubuhmu.

“Truwilun, bersiaplah.

“Para pengawal akan menyertaimu.”

Truwilun menunduk hormat. Menghela napas. Lalu berjalan ke arah halaman. Menemui Cantrik yang masih mengikuti.

Para prajurit Keraton bersenjata lengkap mengawal dari segala penjuru.

“Saya berangkat dulu, Cantrik….”

“Sumangga…”

Sampai di sini Gendhuk Tri tak melihat apa-apa. Karena bayangan Truwilun makin menjauh dan hilang dalam kegelapan.

Janaka Rajendra menghapus keringat di dahinya.

“Pangeran Anom…”

“Apa, Adik Tri?”

“Rasa-rasanya akan banyak terjadi perubahan dalam Keraton. Untuk sementara pasti akan merepotkan Pangeran. Karena itu, bagaimana kalau kita berpisah di sini saja? Saya akan meneruskan perjalanan seorang diri, dan Pangeran tak perlu menerjang bahaya….”

“Adik Tri, kalau Adik tidak menghendaki saya temani, Adik bisa mengatakan langsung. Saya akan pergi dengan sendirinya.  Tapi kalau memakai alasan yang lain, saya tak akan menerima. Tak ada sanggar pamujan di Simping bagi saya….”

Gendhuk Tri menggeleng cepat.

“Bukan begitu masalahnya.”

“Kalau begitu, biar saja saya menemani Adik.”

Kali ini Gendhuk Tri yang menyeka keningnya.

“Baiklah, baiklah.

“Kita berdua tak perlu mempertengkarkan masalah ini. Hanya kelihatannya Keraton akan membara kembali….”

Yang namanya Keraton selalu membara, Adik. Saya hidup dan dibesarkan di Keraton.

“Ya, ya, Pangeran benar.

“Akan tetapi sekali ini…”

“Selalu begitu….”

Senopati Pamungkas II – 19

“Ya sudah, selalu begitu!

“Yang sekarang ini, raja sekarang ini, ternyata mulai mengasingkan Baginda. Dalam pengaruh Manmathaba yang sakti dan jahat, seluruh Keraton bisa porak-poranda. Agaknya yang bernama Halayudha juga masih berperan.

“Saya mempunyai dugaan kuat, bahwa Halayudha yang langsung melaporkan kepada Raja, bahwa Baginda datang ke Kiai Truwilun Dan mengusulkan sesuatu, agar Raja berada di tanah yang lapang, tak ada batu sandungan.

“Melihat ketelengasan hati Raja dan cara memutuskan perkara begitu cepat, bukan tidak mungkin sekarang ini semua telah terbasmi.

“Semua siapa saja?

Hampir saja Gendhuk Tri menyebutkan nama Upasara. Nama itu sudah bergantung di ujung lidahnya, akan tetapi ditelan kembali.

“Raja benar-benar sendirian..

“Senopati Agung Brahma dikirim ke seberang. Kemudian Baginda ditempatkan di sanggar pamujan, di Simping. Mahapatih Nambi diistirahatkan.

“Tak ada lagi yang tersisa.”

“Kalau semua yang menghalangi dihabisi, atau yang dianggap melawan dihabisi seketika, wah, akan banyak korban. Termasuk Upasara Wulung yang masih menjadi tawanan.”

“Kenapa Pangeran lebih memperhatikan Kakang Upasara?

“Tak ada yang tidak saya kagumi dalam diri Upasara Wulung. Ksatria yang begitu luhur budinya, tetapi begitu buruk nasibnya.

“Mudah-mudahan jasadnya dimakamkan dengan baik.”

“Ngawur!” Kali ini Gendhuk Tri berteriak keras, hingga seluruh isi rumah terkejut.

“Siapa yang bilang Kakang Upasara sudah meninggal?

Tata Tentrem

JANAKA RAJENDRA terkejut melihat reaksi Gendhuk Tri. Lebih terkejut lagi karena serentak dengan itu puluhan prajurit menyerbu masuk.

Ruangan bagian dalam yang tadinya lengang, sepi, kini dipenuhi para prajurit yang berdiri dengan senjata terhunus. Gendhuk Tri dan Janaka Rajendra yang berada di balik ruang utama melihat bayangan Cantrik menyelinap masuk.

Wajahnya tampak kuyu, sedih, prihatin, menggeleng lembut.

“Barang siapa menyebut-nyebut nama Upasara Wulung, harap segera keluar,” terdengar perintah dari salah seorang pemimpin prajurit.

Gendhuk Tri ragu antara menampakkan diri atau bersembunyi.

“Kalian tak bisa menyembunyikan diri terus-menerus. Kalau tikus tak mau keluar, rumahnya yang dibakar.”

Ini yang tersirat dari wajah Cantrik.

Bahwa kesulitan yang utama, rumah yang didiami ini bisa diobrak-abrik atau bahkan dibakar. Dengan demikian akan terjadi keonaran, dan masyarakat yang sedianya datang berobat kepada Kiai Truwilun jadi tidak mempunyai tempat lagi.

“Maaf…,” kata Gendhuk Tri lirih.

Sekali menekuk lututnya, tubuhnya melayang dari bagian belakang. Sehingga memancing para prajurit agar ke bagian lain rumah.

Namun ternyata di sana sudah ada pasukan yang menunggu.

“Mau lari ke mana, tikus kecil?”

Rasa dongkol Gendhuk Tri meninggi sampai sebatas leher.

“Aku di sini. Marilah mendekat, biar kalian mengetahui siapa aku. Jangan main sesongaran, membusungkan dada seperti anak kecil. Kalian boleh menjajal menangkapku, setelah kalian mengatakan apa salahku.”

“Sungguh tak kukira, anak gadis kemarin sore berani bermulut lebar. Masih berani bertanya apa salahnya?

“Sungguh berlebihan.

“Ketahuilah bahwa kami semua ini para prajurit penjaga keamanan, menjaga tata tentrem, agar semua berjalan tertib dan damai. Kami berhak menahan dan  mengetahui serta menanyakan hal-hal yang dianggap bisa mengganggu tata tentrem.

“Karena kamu meneriakkan nama Upasara, lebih baik kita bicara di tempatku bekerja.”

Diam-diam Gendhuk Tri merasa heran.

Rasanya belum sepekan lalu ia malang-melintang di Keraton. Rasanya saat itu seluruh prajurit Keraton melihat ke arahnya. Meskipun sekarang penampilannya sedikit berbeda, akan tetapi bukan berarti tak bisa dikenali dengan gampang.

Namun nyatanya para prajurit yang mengepungnya ini sama sekali tak mengenali. Berarti mereka adalah para prajurit yang baru.

Yang agaknya dibentuk secara mendadak untuk menjadi prajurit yang menjaga tata tentrem, agar masyarakat menjadi tertib dan damai. Dilihat dari sisi ini benar dugaannya semula. Bahwa selalu banyak perubahan mendadak yang dilancarkan dari Keraton.

Bahkan membicarakan Upasara saja dinilai mengganggu tata tentrem sehingga harus berurusan dengan pihak prajurit Keraton.

“Memangnya apa salahnya menanyakan Kakang Upasara?”

“Tak perlu berpura-pura. Larangan pertama yang dikeluarkan adalah dilarang keras membicarakan siapa atau apa yang melakukan kraman di hari penobatan.

“Kalau mau sok gagah, akui kesalahanmu.”

Gendhuk Tri merasa sebal. Tangannya bergerak cepat. Memutar ke depan, sementara kakinya juga membuat gerakan memutar. Tubuhnya bergerak, dan seirama dengan itu, dua prajurit yang berada di depan terdorong dalam putaran. Hanya dengan sekali menyentak dan menarik tenaganya, dua prajurit itu bertubrukan. Jatuh berimpitan dan berteriak.

“Tidak berhenti di situ saja, Gendhuk Tri menerjang maju. Setiap gerakan, baik dengan siku, tinju, tendangan, sabetan, membuat para prajurit yang bersiaga gagah jadi tunggang-langgang. Buyar tak tentu tempatnya berdiri.

“Apalagi ketika Janaka Rajendra ikut bergabung.

“Belum tiga jurus dimainkan bersama, para prajurit yang mengepung terpontang-panting. Sebagian besar malah tergeletak di tanah sambil memegangi bagian tubuhnya yang benjol atau kesakitan.

“Adik, jangan kita buat onar di sini. Pasti sebentar lagi akan datang bantuan.”

“Sayang juga. Ini permainan menarik. Tetapi daripada Cantrik tertimpa bencana, kita lebih baik pergi.”

Gendhuk Tri menotol dan tubuhnya melayang ke angkasa dengan indah. Janaka Rajendra melakukan gerakan yang sama. Sehingga keduanya bagai pasangan penari yang sedang memamerkan kebolehannya. Apalagi ketika keduanya turun bersamaan, menotol tanah, dan kemudian dengan gerakan yang sama melayang kembali.

Bagai sepasang kupu-kupu yang menari.

Hanya karena Gendhuk Tri tak ingin melibatkan Truwilun dan Cantrik serta penduduk yang berobat, ia segera melarikan diri ke arah yang lebih jauh lagi.

“Pangeran, berapa lama sebenarnya kita berjalan?”

“Kenapa, Adik?”

“Bukan kenapa-kenapa. Rasanya belum ada sepasar kita berada di Keraton kini keadaannya jauh berubah. Para prajurit yang siap mengamankan tata tentrem berkeliaran di sembarang tempat. Memata-matai setiap sudut, menangkap semua pembicaraan.”

“Mereka menjadi sangat hati-hati.”

Hal ini terbukti pada keesokan harinya. Ketika keduanya melintas di depan pasar yang biasanya ramai di pagi hari. Tempat yang menguntungkan karena di pinggiran jalan menuju ke arah Keraton. Beberapa waktu yang lalu, Gendhuk Tri selalu menemukan tempat yang menyenangkan untuk mengisi perut.

Sekali ini sangat sepi.

Masih ada satu atau dua warung yang berjualan. Akan tetapi selebihnya tutup, dan lebih banyak prajurit yang membawa tombak dan pedang, berjalan kian-kemari mengawasi keadaan secara mencolok.

“Saat pasukan Tartar menyerbu Keraton, tak dijaga seperti sekarang ini.”

“Sssttt, jangan bicara keras-keras, Adik.”

“Ini benar-benar keterlaluan. Kalau menjaga tata tenteram dengan berlebihan, pasar pun menjadi sepi.”

Tetapi Gendhuk Tri menyadari bahwa cara pengamanan yang sekarang ini sangat membatasi gerak-geriknya. Jangan kata mendekat ke arah Keraton, di jalan pun diawasi dengan ketat. Lebih membuatnya kecut, karena hampir semua yang ditemui tak mau menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan beberapa orang segera memalingkan mukanya dan pergi meninggalkan begitu saja.

Kesadaran lain yang menyelinap dalam benaknya ialah bahwa rumah yang dipakai Truwilun bisa ditutup. Kalau dilihat sebagai sumber keonaran, Cantrik akan menemui kesulitan besar. Juga masyarakat yang datang ke tempat itu.

Gendhuk Tri sedikit menyesali apa yang diperbuat.

“Kita masih bisa berbuat sesuatu, kalau mau….”

“Apa?”

“Misalnya kita memberi laporan kepada pengawal Keraton, bahwa Cantrik dan Truwilun tak pernah berbuat jahat atau merencanakan gangguan….”

“Siapa yang bisa menjamin?

“Pangeran Anom? Dengan menyebut nama itu saja pasti sudah mengundang bahaya.”

“Repot juga.

“Bagaimana sebaiknya, Adik?”

Pembicaraan mereka juga tidak bisa berjalan lancar. Karena sesekali harus berdiam, sewaktu ada iringan prajurit yang berbaris bersama.

“Saya tak tahu. Kalau mau tahu apa yang terjadi di dalam Keraton, hanya dengan satu jalan. Mendaftarkan diri menjadi prajurit.”

“Mana mungkin? Saya akan segera dikenali.”

“Masa Pangeran tak mempunyai kenalan sedikit pun? Dulu kan berdiam di Keraton.”

“Semua yang dekat hubungannya dengan saya ikut pindah.”

“Pasti bukan semuanya. Masih ada yang tersisa.”

Janaka Rajendra membenarkan gagasan Gendhuk Tri. Keduanya menyusup ke arah salah seorang kerabat Keraton. Dengan mengendap-endap, Janaka Rajendra bisa menemui, dan setelah meyakinkan bahwa dirinya sekadar mampir untuk pergi lagi, bisa memperoleh keterangan.

Yang intinya seperti yang telah diduga Gendhuk Tri.

Sejak penobatan Raja Jayanegara, wilayah sekitar Keraton dijaga oleh prajurit khusus. Tugas utamanya ialah menjaga agar tata tenteram bisa terlaksana. Siapa saja yang dicurigai berbuat onar, bisa ditangkap. Siapa saja dapat dikenai tuduhan seperti itu. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, beberapa orang lebih suka meninggalkan wilayah dekat Keraton secara diam-diam.

Karena yang terjadi semacam balas dendam. Para prajurit baru bisa menangkap siapa saja, dengan alasan mengganggu ketenteraman. Situasi sangat buruk karena para pedagang dan para saudagar tak bisa bergerak. Bahkan di pelabuhan tak ada kegiatan sama sekali. Kegiatan seolah berhenti.

Hanya mereka yang sakit, sudah tua, dan tak bisa menjadi prajurit yang berani bertahan.

Janaka Rajendra menitikkan air matanya.

Di Langit, Mega Pun Tak Bersisa

GENDHUK TRI tak menduga keprihatinan Pangeran Anom sedalam itu. Selama ini dianggapnya hanya sekadar basa-basi kalau membicarakan Keraton atau rakyat kecil. Kalau ada sedikit perhatian, itu juga sebatas para pengikutnya.

Akan tetapi ternyata Pangeran Anom mempunyai perhatian yang mendarah daging. Tetesan air mata duka memperlihatkan hubungan batin selama ini.

“Kalau keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, entah apa jadinya nanti.

“Adik Tri, saya akan sowan ke Raja.”

“Mana mungkin….”

“Saya sangat mengenal Raja. Kami dilahirkan dengan usia yang tak jauh berbeda. Kami dibesarkan dalam tradisi yang sama. Kami masih dipertalikan oleh darah yang berdekatan.

“Rasanya segarang apa pun, Raja masih akan mendengarkan apa yang saya katakan. Seperempat bagian saja didengarkan, akan memperbaiki keadaan.”

“Apa yang Pangeran rencanakan?”

“Menyampaikan bahwa keadaan ini sangat gawat. Kalau sampai pasar dan pelabuhan tak ada kegiatan, berarti habislah semuanya. Kalau sampai penduduk merasa tak tenteram berdiam di rumahnya sendiri, itu pertanda keruntuhan kepercayaan.”

“Lalu?”

“Saya tahu Adik akan menertawakan saya. Akan tetapi inilah kewajiban saya menyampaikan hal yang sebenarnya.”

“Itu baik, Pangeran.

“Akan tetapi Pangeran justru akan menemui bahaya. Senopati Agung Brahma akan diungkit-ungkit, demikian juga Ibu. Semua jadi berantakan.”

“Barangkali akan begitu. Namun saya tak bisa berdiam diri. Demi kebesaran Keraton, demi kebenaran…”

“Kalau Pangeran memang mantap, silakan.”

Janaka Rajendra mengangguk.

“Selama ini saya ingin menemani Adik. Tetapi ternyata saya tak bisa memenuhi janji. Segera setelah semua urusan ini selesai, saya tetap akan mencari Adik.”

Gendhuk Tri seperti tertusuk sentuhan halus di relung hatinya.

Selama ini mereka selalu berduaan. Selama ini Gendhuk Tri menduga bahwa Pangeran Anom mati-matian ingin berdekatan dengannya. Sehingga melupakan segala urusan. Termasuk kembali ke tanah seberang.

Ternyata itu belum semuanya.

Ternyata di balik itu, masih ada nada ksatria yang tetap bisa berbicara.

Kalau selama ini Gendhuk Tri ingin melepaskan diri dari Pangeran Anom sekarang justru merasa berat. Akan tetapi, sebaliknya dari menahan, Gendhuk Tri malah mengangguk.

“Selama ini semua kebaikan Pangeran…”

“Saya tak ingin mendengar ucapan terima kasih dari Adik. Kita bukan orang lain yang perlu mengutarakan itu.”

“Baik kalau tak perlu ucapan seperti itu.

“Pangeran… saya minta Pangeran berhati-hati.”

“Demikian juga Adik.

“Kalau sempat bertemu Kakang Singanada, sampaikan permintaan maaf saya. Dan salam saya, serta rasa iri saya akan kebahagiaannya.”

Gendhuk Tri menjilat bibirnya.

“Juga kepada Upasara Wulung, ksatria yang saya kagumi.

“Kalau saya mau bicara jujur, saya rela kalau Adik hidup berdampingan dengan Upasara. Maaf, saya tak berhak berbicara seperti ini.

“Barangkali karena akan berpisah sebentar lagi, saya bicara secara ngawur. Tapi ini semua perasaan saya, yang menjadi lebih lega kalau saya katakan. Adik Tri mau mengerti?”

Tak ada cara lain selain mengangguk.

“Saya tak tahu nasib apa yang akan terjadi pada diri saya. Keraton telah berubah menjadi kuburan raksasa. Siapa yang masuk ke dalamnya tak bisa keluar lagi.

“Barangkali hal yang sama akan terjadi pada diri saya.

“Kalau semua itu terjadi, Adik Tri… biarlah saya alami sendiri. Saya sempat mempunyai kenangan kehidupan yang paling indah.

“Sewaktu bersama Adik.”

Wajah Gendhuk Tri berganti antara merah malu dan dingin kuatir.

“Kalau saya selamat, orang yang pertama saya cari adalah Adik Tri. Maukah Adik bertemu lagi dengan saya?”

“Dengan senang hati, Pangeran.”

Janaka Rajendra tersenyum.

Tangannya gemetar memegang bahu Gendhuk Tri.

Tanpa suara.

Tanpa kata-kata.

Lalu bergegas berjalan menjauh. Melangkah ke arah pintu luar tanpa menoleh. Gendhuk Tri ingin meneriakkan sesuatu, akan tetapi mulutnya terkunci. Dan hati kecilnya merasa dingin.

Ada sesuatu yang turut hilang bersama langkah-langkah Pangeran Anom Seperti langit sekarang ini. Bersih dari mega. Tampak sedemikian luas tapi mengesankan kosong. Gendhuk Tri termangu.

Apa sesungguhnya yang telah terjadi dengan dirinya?

Hanya dalam waktu yang singkat, sangat singkat. Sewaktu dirinya kena racun pagebluk, diam-diam Pangeran Anom membantu. Lalu di tengah pertarungan di halaman Keraton, terang-terangan Pangeran Anom membantunya. Sampai ketika merawat dan mencoba mengobati Singanada, kemudian mempelajari Kitab Air bersama Kiai Sambartaka.

Sehingga akhirnya mengikuti perahu ke negeri seberang, dan lebih dulu ke pinggir.

Ada sesuatu yang aneh, yang menggembirakan.

Tetapi juga memilukan.

Daya asmara yang tulus, yang rela, yang murni dari Pangeran Anom menggugah jiwanya. Menyentuh kedewasaannya. Membuka simpul yang talinya tak disadari.

Apakah selama ini Pangeran Anom kecewa kepada sikapnya yang tak memberi jaminan sesuatu di belakang hari? Ataukah sikapnya yang agak tiba-tiba ingin masuk ke Keraton lebih dikarenakan mendengar nama Upasara? Yang sangat dikagumi dan rela menyerah dalam persaingan asmara? Ternyata tidak gampang menerima kenyataan ini.

Jauh dalam hatinya, Gendhuk Tri tidak meremehkan Pangeran Anom. Tidak menganggap sebagaimana ia mengenal Galih Kaliki dulu, atau bahkan Dewa Maut. Bahkan diakui secara diam-diam, hatinya mulai tertarik dengan segala kebaikan dan kebajikan serta perhatiannya yang berlebih.

Semua dirasakannya sebagai daya tarik utama Pangeran Anom. Di samping wajahnya yang bercahaya.

Kalau ia tak bisa memberikan harapan atau janji tertentu, karena itulah kenyataan yang sesungguhnya. Gendhuk Tri tak tahu harus mengatakan apa, harus menjanjikan apa.

Ketulusannya tak menghendaki ia mengatakan sesuatu yang lebih banyak untuk menenteramkan hati atau menghibur.

Tidak. Selama ini hatinya sudah tercabut untuk Kakang Upasara Wulung. Tak ada orang lain yang bisa menggantikan kedudukan Upasara di dalam hatinya.

Tapi juga disadari bahwa itu semua tidak mungkin.

Saat kesadaran itu membayang, secara tidak langsung ia menjatuhkan pilihan kepada Singanada. Dan tekadnya sudah bulat. Ia tak bisa mempermainkan kepercayaan yang ditumpahkan kepadanya, dan telah disanggupi.

Itu sebabnya ia merasa sangat kikuk terhadap Pangeran Anom.

Di satu pihak daya asmara perlahan tumbuh, tapi di pihak lain dimatikan perlahan karena tak ingin membuat kekecewaan lebih besar di kelak kemudian hari.

Kalau ada sesuatu yang menghibur Gendhuk Tri ialah bahwa selama ini hubungannya dengan Pangeran Anom baik-baik saja. Tidak saling menyakiti, tidak mendustai dari lubuk hati masing-masing.

Gendhuk Tri tersadar dari lamunannya ketika meninggalkan kediaman kerabat Keraton, dan di sudut jalan ada papan pengumuman yang ditulis besar-besar.

Pemberitahuan bahwa barang siapa melihat orang atau menemukan senjata yang mencurigakan, diharapkan segera melaporkan kepada prajurit Keraton. Barang siapa melihat orang asing yang selama ini belum pernah dilihat ada di sekeliling Keraton, diharapkan melaporkan. Barang siapa merasa diajak membicarakan sesuatu mengenai tata kenegaraan, diharap melaporkan kepada prajurit Keraton.

Barang siapa…

Makin lama Gendhuk Tri makin menyadari bahwa suasana Keraton memang lebih mengerikan dari yang dibayangkan. Membersit rasa kuatir akan nasib yang menimpa Pangeran Anom.

Benarkah Keraton menjadi kuburan raksasa?

Siapa yang masuk tak akan keluar lagi?

Gendhuk Tri menepi ketika terdengar langkah para prajurit. Di barisan depan terlihat enam belas prajurit berkuda yang mengibarkan panji. Diiringi barisan yang rapat. Agaknya mereka tengah mengawal seorang bangsawan, kalau dilihat cara pengawalannya. Agaknya sedang dalam keadaan tergesa.

Gendhuk Tri tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat selintas bahwa yang dikawal beramai-ramai itu adalah Ratu Ayu Azeri Baijani.

Atau matanya yang salah lihat?

Memasang dan Menelan Umpan

MESKIPUN jarak penglihatan cukup jauh, Gendhuk Tri bisa mengenali Ratu Ayu walau hanya sekelebatan. Baginya tokoh yang satu itu bisa menjadi jelas dalam angannya.

Pertanyaan pertama yang segera muncul ialah apa yang sesungguhnya direncanakan di balik penampilan Ratu Ayu. Karena agaknya arak-arakan yang sekarang terjadi seperti sengaja mempertontonkan hal ini. Semacam memasang umpan.

Kalau benar dugaannya, berarti memang ada yang diarah. Siapa lagi kalau bukan Upasara Wulung?

Gendhuk Tri bersorak dalam hati. Kalau ini benar, berarti Upasara bisa meloloskan diri. Rada mustahil, akan tetapi bukannya tidak mungkin. Dan karena masih berada di sekitar Keraton, atau diduga begitu, Upasara dipancing kembali pemunculannya dengan menampilkan Ratu Ayu.

Atau ada hal lain?

Gendhuk Tri tak bisa menebak dengan tepat, tak bisa mencari pegangan dugaannya, karena kemudian disusul barisan prajurit yang lain. Yang berjajar rapi, mendatangi penduduk sekitar.

“Aku, Senopati Jaran Pengasihan, yang berkuasa atas keamanan dan ketenteraman wilayah Keraton, dengan ini menyatakan bahwa para penduduk Majapahit tidak diperkenankan melakukan segala sesuatu yang tidak mendapat restu dariku.

“Segala hal yang bertentangan dengan ini dapat dikenai hukuman.”

Bahwa setiap penguasa baru memunculkan senopati baru, bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi bahwa penguasa yang baru kelihatan perlu turun tangan sendiri menerangkan kepada penduduk, di saat ada barisan lain yang secara sengaja mengarak Ratu Ayu ini membuatnya bertanya-tanya.

“Tak ada yang perlu ditonton, tak ada yang perlu dilihat. Semua penduduk dianjurkan kembali ke rumah masing-masing, dan hanya menerima komando dariku.”

Belum habis bicaranya, prajuritnya segera membubarkan kerumunan. Sesuatu yang agak sia-sia, karena iringan prajurit yang membawa Ratu Ayu bersorak riuh rendah.

Bahkan kemudian bernyanyi bersama:

Seekor kuda membawa beban

masuk ke Keraton

ia merasa dirinya prajurit

yang dimakan tetaplah rumput

seekor kuda tak pernah makan nasi

apa pun yang digendongnya….

Menurut Gendhuk Tri ini agak keterlaluan. Jelas bahwa rombongan yang mengiringkan Ratu Ayu sengaja menyindir dengan tembang yang biasa dimainkan anak-anak. Dari liriknya, arahnya meledek Senopati Jaran Pengasihan. Karena kuda yang dimaksudkan dalam lirik itu artinya sama saja dengan jaran.

“Jangan terpancing emosi. Kita prajurit menjaga ketenteraman. Selama mereka hanya bersorak-sorai, biarkan saja. Akan tetapi jika mulai membuat keonaran, aku perintahkan untuk mengambil tindakan tegas dan keras.”

Gendhuk Tri makin melongo.

Mana mungkin dalam wilayah dinding Keraton bisa muncul dua komando yang bertentangan? Agaknya juga, kedua kelompok ini saling menunggu, saling memasang umpan, agar kelompok lain bergerak lebih dulu, untuk kemudian bisa diamankan.

Persaingan bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi kalau diperlihatkan secara terbuka, dalam wilayah dinding Keraton, kelihatannya sangat tidak menggembirakan.

Mau tak mau Gendhuk Tri bertambah gelisah. Berarti di Keraton sendiri masih berlangsung perebutan kekuasaan secara terang-terangan. Sehingga sampai tingkat para senopati berebut keunggulan. Kalau begini situasinya, Pangeran Anom akan sia-sia. Sebelum ia melangkah masuk, sudah disergap oleh kelompok yang berbeda dan akan saling memanfaatkan.

Gendhuk Tri tak habis mengerti. Dalam waktu yang sangat singkat, segala tata aturan bisa jungkir-balik tidak keruan. Kini bahkan pertengkaran pendapat itu mengakar sampai ke tingkat para prajurit.

“Penduduk tidak diperkenankan menyimpan senjata. Baik keris, tombak, pedang, cundrik, atau apa saja. Selain prajurit yang resmi, sama sekali tidak diperkenankan. Bagi yang lain, akan dikenai hukuman.”

Gendhuk Tri mendekat ke arah barisan prajurit yang mengawal Ratu Ayu. Kini dalam jarak yang lebih dekat, matanya bisa melihat bahwa Ratu Ayu memang masih seperti gelaran yang dipakai.

Wajahnya benar-benar mencerminkan ratu. Keayuannya segera bisa diakui.

Hanya sekarang tubuhnya kelihatan sangat kurus, wajahnya pucat, cara duduknya di atas joli terbuka seperti tak ada tenaga sama sekali.

Gendhuk Tri mencari-cari kalau-kalau melihat bayangan Senopati Sariq atau pengikut Ratu Ayu yang setia. Namun kelihatannya tak ada wajah yang asing.

Gendhuk Tri menyadari bahwa Ratu Ayu seperti terkena pengaruh kekuatan sihir, atau semacam bubuk pagebluk, sehingga hanya badaniahnya saja yang dihadirkan. Pandangan matanya kosong melompong.

“Ratu Ayu, di mana Adimas Upasara?”

Teriakan yang sangat akrab di telinga Gendhuk Tri.

Itulah suara Nyai Demang!

Benar, bersamaan dengan itu muncul sosok bayangan yang menggendong mayat di punggungnya.

Dengan pemunculan Nyai Demang, para prajurit pengawal segera membuat barisan pertahanan. Akan tetapi dengan menepiskan kiri-kanan sambil terus melangkah mendekat, barisan para prajurit terdepak ke kanan dan kiri.

Bagai ditebas dengan kekuatan yang besar.

“Ratu, di mana Upasara?”

Mendadak terdengar terompet dan genderang ditabuh bertalu-talu. Dari arah Keraton muncul barisan yang lain. Dipimpin senopati yang lain, yang segera menuju ke arah Nyai Demang.

“Aku, Senopati Kebo Pengasihan, memerintahkan agar semua prajurit mundur. Biarlah aku yang membereskan wanita tidak waras ini.”

Belum habis kata-katanya, Nyai Demang menyambar ke arahnya. Dengan sekali tekuk, Senopati Kebo Pengasihan berada dalam cengkeramannya. Tubuhnya diangkat ke atas.

Digoyangkan.

“Kamu mengerti apa urusan ini?”

Dengan sekali sentak, tubuh Senopati Kebo Pengasihan melayang dan ambruk ke tanah.

Nyai Demang maju ke arah joli. Kedua tangannya bergerak cepat dan para prajurit yang menjaga joli terlempar sambil mengeluarkan jeritan mengerikan.

“Ratu Ayu, kamu masih mengenaliku?” Suara Nyai Demang sangat jelas nadanya. Tidak seperti sebelumnya yang hanya bisa berhaha-hihi tak keruan.

Ratu Ayu mengangguk.

“Di mana Adimas Upasara? Apa benar mereka telah menguburkannya di perut binatang buas?”

Gendhuk Tri tak bisa menahan diri. Tubuhnya melayang ke depan, dan hinggap di sisi Nyai Demang!

“Ke mana kamu selama ini?”

“Nyai, kamu baik-baik saja?”

“Apa benar Upasara diumpankan ke binatang buas?”

Gawat, pikir Gendhuk Tri.

Dalam keadaan seperti ini, ternyata Nyai Demang belum pulih kesadarannya. Dilihat dari pembicaraannya yang masih melantur, bisa dimengerti keadaannya. Meskipun sudah lebih baik, akan tetapi pengaruh kekuatan Eyang Kebo Berune yang menempel di punggungnya tidak hilang sepenuhnya.

Gawat juga karena ternyata Ratu Ayu, dalam pengertian yang berbeda, juga mengalami nasib yang sama.

“Nyai segalanya belum jelas. Mari kita sama-sama membuktikan di mana kebenaran yang sesungguhnya.

“Ratu Ayu, apakah kamu bisa berbicara?”

Ratu Ayu mendongak sebentar.

Lalu menunduk lagi.

“Nyai, mari kita masuk ke Keraton. Kita jebol apa yang menghalangi.”

“Untuk apa?”

“Untuk menjemput Kakang Upasara.”

“Siapa?”

“Adimas Upasara!” teriak Gendhuk Tri kesal.

“Baik. Mari…”

Nyai Demang segera membalikkan tubuh. Tidak lagi memedulikan Ratu Ayu.

Perhitungan Gendhuk Tri mengenai Nyai Demang tak meleset. Meskipun sudah lebih bisa diajak bicara, akan tetapi Nyai Demang yang sekarang ini hanya tubuhnya saja yang sehat. Pengaruh utama masih tetap kekuatan dalam dari Eyang Kebo Berune.

“Segala macam patung boneka kecil, menyingkirlah.”

Sekali menggebrak, Gendhuk Tri membuka jalan. Dengan Nyai Demang di sampingnya, lima jurus berikutnya mereka berdua telah sampai di depan pintu utama.

“Tak semudah itu masuk ke Keraton….”

Pendeta Manmathaba tersenyum dingin. Di tangannya, Bandring Cluring berayun-ayun.

Pukulan Lima Arah

GENDHUK TRI bersiul.

“Pendeta tua, kamu tak bisa main-main lagi dengan segala jenis ilmu kebal kulit kentang. Mari, aku jajal sedikit….”

Seperti watak yang sebenarnya, Gendhuk Tri benar-benar tak mau menunggu lawan atau kawan. Tidak menunggu reaksi Manmathaba ataupun persiapan Nyai Demang. Tidak menunggu apakah gertakannya berhasil mempengaruhi atau tidak.

Tangan kirinya menyabet ke kiri, ke arah yang kosong, sementara tubuhnya membalik. Dengan tendangan kaki kanan. Tanpa memedulikan bandring yang tengah diputar.

Nyai Demang dengan terhuyung-huyung ikut maju, ke arah tubuh Manmathaba bergerak.

Manmathaba justru menarik mundur bandringnya. Bunyi tok-pletok yang keras berurutan berganti deru angin. Agaknya Manmathaba jeri. Atau setidaknya memperhitungkan gerakan dan tenaga dalam Gendhuk Tri.

Pukulan tangan kiri Gendhuk Tri yang diarahkan ke tempat kosong, tenaganya jauh berbeda sifatnya dengan tenaga tendangan kaki kanan. Apa-lagi putaran tubuhnya mendesirkan tenaga yang berbeda lagi sifatnya. Dalam satu gerakan, Gendhuk Tri memperlihatkan pengaturan tenaga air, kayu, dan api. Yang sifatnya berbeda-beda. Manmathaba surut karena ingin mengetahui apakah rangkaian tenaga yang berikut tenaga bumi dan disusul dengan tenaga logam mulia.

Gebrakan semacam ini akan mudah dimengerti karena rangkaian yang agak urut ialah tenaga kayu, api, bumi, logam mulia, air, bisa diperkirakan. Dengan mengenali cara mengatur tenaga lawan, Manmathaba akan merasa lebih mudah menguasai. Karena hal semacam itu sudah dikenali.

Kalau ada yang membuat Manmathaba sedikit ngeri terhadap gadis yang suka nekat ini hanyalah karena mereka mempunyai dasar ilmu yang sama.

Apa yang dikatakan Gendhuk Tri bahwa ia mengetahui ilmu kebal, pastilah bukan omong kosong belaka.

Manmathaba menangkis tendangan kaki dengan telapak tangan mendongak ke atas, seakan siap memelintir. Dugaannya tidak meleset. Gendhuk Tri tidak menarik mundur kakinya, malah memakai sebagai pijakan kuda-kuda. Karena kemudian meloncat ke atas seakan terbang.

Gendhuk Tri boleh bangga dengan gerakannya, akan tetapi bagi Manmathaba ini keberuntungan. Dengan loncatan ke atas, Manmathaba sudah memperkirakan dua kaki yang akan mencoba menjepit lehernya dalam gerakan memutar.

Manmathaba mengerahkan tenaga ke bahu. Dua bandringnya menghalau Nyai Demang, sementara lehernya dibiarkan dijepit.

Jika Gendhuk Tri memakai tenaga bumi yang tenang, dan tenaga logam mulia yang berat, dari kaki kiri maupun kanan, ia siap mengandaskan.

Dengan memakai tenaga sebaliknya!

Tenaga bumi akan dilawan dengan tenaga logam. Di sini, ia mengerti betul bahwa tenaga bumi menjadi kurang berarti dibandingkan tenaga logam mulia. Seakan bumi hanya berarti kalau menyimpan logam mulia. Demikian juga seterusnya. Tenaga kayu kalah oleh tenaga api, tenaga api kalah oleh tenaga air, tenaga air terserap oleh bumi.

Dalam pertarungan cepat seperti sekarang ini, bisa saja urutan itu dibalik. Bisa jadi jepitan kedua kaki Gendhuk Tri memakai tenaga air, atau gabungan antara air dan kayu.

Kembangan atau variasi serangan yang bagaimanapun dibolak-balik urutannya, tak membuat Manmathaba takut. Karena merasa menguasai rangkaian gerakan.

Dalam pertarungan semacam ini akan cepat diketahui siapa yang unggul dan siapa yang keteter atau terdesak.

Semakin orang mengetahui kembangan serangan lawan dari inti gerakannya, semakin besar kemungkinannya untuk mematikan. Itu sebabnya dalam suatu pertarungan, betapapun berbeda-beda jurusnya, bisa tetap digolongkan dalam inti yang sangat mendasar.

Perhitungan Gendhuk Tri lain lagi.

Bahwa Manmathaba tidak terlalu menggeser leher membuktikan bahwa ia siap menghadapi. Baik karena merasa menguasai, ataupun karena merasa tak terganggu.

Tapi Gendhuk Tri tetap Gendhuk Tri.

Adu keras pun akan dilayani.

Menyadari lawan memberi umpan, tak disia-siakan. Disambut. Gerakan kakinya yang memuntir leher lawan malah diperkencang, dipercepat putarannya. Tubuhnya bagai gasing, sementara rambutnya yang tergerai menyapu angin.

Gerakan yang indah.

Sangat berbeda dari gerakan Nyai Demang yang serba tanggung karena menggendong mayat, yang bagai gerakan limbung, menyusup dari sisi kiri tahu-tahu muncul dari sisi kanan. Biasan tangannya mendorong bandul bandring menjauh.

Gendhuk Tri memperkeras jepitannya begitu menyentuh pundak lawan Terdengar teriakan keras. Tubuh Manmathaba terguling, mengerang, dan mendadak meloncat ke angkasa. Kali ini kedua tangannya mengembang dan mendorong tubuh Gendhuk Tri. Yang seketika terputar ke arah belakang!

“Wu….!”

Teriakan itu berasal dari Manmathaba yang alisnya sedikit berkerut. Ia bisa mengenali bahwa pengaturan tenaga dalam Gendhuk Tri seperti yang diduganya. Tak meleset sedikit pun.

Hanya saja, Gendhuk Tri mampu mengembangkan lebih jauh. Dalam memainkan urutan tenaga dasar dari semua tenaga, yaitu tenaga emas kayu, air, api dan bumi, bukan dimainkan secara berurutan atau berbalik-balik, melainkan dalam satu pengaturan! Bisa dilakukan secara serentak!

“Aha, kamu mengenali ilmu kanak-kanak itu?”

Teriakan Gendhuk Tri seakan menertawakan lawan. Walau jelas ia sendiri terdesak, akan tetapi dalam soal adu silat lidah, ia tak pernah mau kalah.

“Wu apa ini?”

Kembali Gendhuk Tri menyerang. Tangan kanan memukul ke depan, tangan kiri ke samping, demikian juga dengan gerakan kaki, seakan kaki kanan dan kaki kiri tidak satu sasaran.

Liukan tubuhnya juga dalam irama yang berbeda.

Kali ini Manmathaba tak berani memandang enteng. Dengan menahan rasa herannya, ia terpaksa melangkah mundur hingga dekat pintu. Sehingga serangan lawan dari jurusan yang berbeda bisa terhalangi.

“Ilmu naga apa itu namanya?”

“Nyai akan segera tahu,” jawab Gendhuk Tri.

Jawaban Gendhuk Tri memperlihatkan bahwa ia menyadari pada saat seperti ini yang menguasai jalan pikiran Nyai Demang adalah Eyang Kebo Berune. Yang tidak mengenali jurus-jurus dan pengaturan tenaga yang dimainkan. Karena menurut dugaan Gendhuk Tri, gerakannya bukan sesuatu yang tak dimengerti Nyai Demang. Baik karena pengetahuannya yang luas, maupun karena secara langsung Nyai Demang bergaul dengan para ksatria dari Tartar.

Kalau Manmathaba saja bisa segera mengenali, pastilah Nyai Demang juga bisa. Hanya karena kini yang menguasai adalah Eyang Kebo Berune, jadinya lain.

“Rasanya iya….”

“Nyai sudah pernah tahu. Coba perhatikan baik-baik….”

Tubuh Gendhuk Tri menggeliat, menerobos masuk pintu. Begitu bandul Manmathaba bergerak, Gendhuk Tri bisa membelokkan tubuhnya dengan gerakan indah.

Sekarang, keterlindungan Manmathaba justru menjadi halangan!

Dinding kiri-kanan menjadi penghalang.

Dalam hati Manmathaba tak habis mengerti. Bagaimana mungkin gadis seusia Gendhuk Tri mampu mempelajari dan langsung mempraktekkan dengan leluasa beberapa dasar ilmu kelas utama. Bagaimana mungkin dasar-dasar Kitab Air bisa dimainkan dengan dasar-dasar ilmu dari negeri Tartar.

Apa yang diperlihatkan Gendhuk Tri dan diteriaki Wu adalah pameran kemahiran itu.

Wu yang menekankan lima unsur tadi menjadi salah satu bagian saja. Yaitu yang biasa disebut Wuxing. Sedangkan serangan yang berbeda kanan dan kiri, kaki dan tangan, serta gerakan tubuh disebut Wufang-Pukulan Lima Arah. Utara, timur, selatan, barat, dan pusat.

Wuxing dan Wufang adalah bagian dari lima Wu yang secara lengkapnya mencakup juga Wucai-Lima Asmara, Wucai-Lima Warna, serta Wujing- Lima Logam.

Kalau tadinya Manmathaba hanya menduga lima kemungkinan, sekarang sedikitnya harus berjaga-jaga dari lima kali lima kemungkinan, yaitu 25 kemungkinan pengaturan tenaga dari satu gerakan.

Makin jelas bahwa Gendhuk Tri tak bisa dipandang enteng.

Ini yang mengherankan sejak menyuruk masuk di tengah pintu.

Dan akan tetap membuat Manmathaba heran jika dikatakan bahwa sesungguhnya Gendhuk Tri berguru langsung dari sumber utama ilmu tersebut, yaitu dari Naga Nareswara, Raja Segala Naga!

Sesungguhnya, itu kelebihan yang tak disadari oleh lawan-lawan Gendhuk Tri. Karena mereka menduga bahwa keunggulan yang diperlihatkan Gendhuk Tri adalah keunggulan dari satu pendalaman akan suatu ilmu. Bukan rangkuman dari berbagai tradisi yang sumbernya berlainan.

Sesungguhnyalah, ini yang juga kurang disadari oleh Gendhuk Tri sendiri.

Kalau saja ia memahami kelebihannya, hasilnya akan lain. Gendhuk Tri bisa menghantam dan menyudutkan lawan dengan lebih terarah.

Pukulan Bertumbuh-Bertambah

PERJALANAN hidup Gendhuk Tri dalam dunia persilatan memang tidak biasa. Tidak seperti Upasara Wulung yang sejak lahir sudah dilatih secara tekun dan terarah oleh Ngabehi Pandu. Atau juga seperti Pangeran Anom yang mendapat didikan langsung dari ayahnya, Senopati Agung Brahma.

Gendhuk Tri, sejauh bisa mengenang dirinya, berasal dari penduduk biasa. Yang tumbuh tanpa darah bangsawan secara langsung dan jelas. Kulitnya hitam, raut wajah, bentuk hidung, bibir, mata, ataupun kening sama sekali tak menunjukkan dirinya keturunan bangsawan.

Ia begitu saja mengikuti apa yang biasa terjadi pada anak dusun. Belajar nembang, dan diajari untuk bisa menjadi sinden-penembang, dan menjadi penari untuk menghibur Baginda Raja.

Saat itulah Mpu Raganata merasa eman, sayang kalau anak gadis kecil yang lugu ini hanya mengakhiri hidupnya sebagai wanita penghibur. Tanpa setahu Baginda Raja, Mpu Raganata melarikan dan menyerahkannya ke dalam asuhan Jagaddhita, yang juga murid tidak langsung Mpu Raganata, yang bisa saja dijadikan murid karena alasan yang tak sepenuhnya diketahui.

Perjalanan hidup ini membuat Gendhuk Tri tidak mempelajari ilmu silat dari tata aturan yang semestinya. Apalagi ia menerkam langsung berbagai pengalaman dalam berbagai medan pertarungan yang ganas.

Baru belakangan Gendhuk Tri menyadari bahwa sumber ilmu silatnya ialah Kitab Air. Sewaktu mempelajari kembali bersama Singanada ataupun Pangeran Anom, dan terlebih lagi bersama Kiai Sambartaka, segalanya menjadi terbuka.

Apa yang dipelajari selama ini mempunyai dasar pijakan yang jelas dan ke arah mana hubungannya. Dengan keterbukaan yang sering diartikan pencerahan itulah Gendhuk Tri bisa menggabungkan dengan apa yang dipelajari dari Naga Nareswara. Apa yang selama ini diketahui secara terpisah, sekarang bisa disatukan.

Lejitan pikiran dan rasa yang menyatu itulah yang membuat Gendhuk Tri bisa segera membaca rahasia ilmu kebal yang dimainkan Manmathaba!

Hal yang sama ketika menghadapi lawan, kekuatan jurus-jurus Wu bisa menyeruak dengan sendirinya.

Ada semacam naluri yang muncul dengan sendirinya, yang terangkai untuk menggabungkan semua kekuatan yang ada, yang selama ini tersimpan.

Sewaktu menyerang dengan tenaga air, kayu, api, bumi, dan logam mulia kombinasi dari rangkaian yang sama yang berasal dari tradisi lain bisa muncul dengan sendirinya.

Itulah yang terlihat ketika memainkan jurus Pukulan Lima Arah atau Wufang.

Kalau simpul mengenai hal ini terbuka, kemungkinan yang lain juga bisa terjadi dengan sendirinya. Selama Gendhuk Tri menguasai.

Ini sesungguhnya yang ditakuti atau setidaknya membuat Manmathaba menjadi sangat berhati-hati.

Pengetahuannya yang luas, secara tidak sengaja justru membuatnya waswas. Seperti juga ketika berlindung di tengah pintu. Dari terlindung, menjadi terhalang.

Pengetahuan Manmathaba yang luas, membuatnya bersiaga kalau-kalau Gendhuk Tri nanti memainkan tidak dengan pengerahan Tenaga Wu, melainkan dengan mengubah menjadi pengerahan Tenaga Jiu atau memainkan Tenaga Sembilan.

Seperti yang pernah ditunjukkan oleh Singanada, yang mampu melipat-gandakan tenaga dalam sembilan kali lebih besar.

Sebenarnya kalau itu yang terjadi, masih tidak membuat Manmathaba kuatir.

Yang dikuatirkan adalah bila Gendhuk Tri mahir memainkan gabungan dari Pukulan Lima, Pukulan Sembilan, dan jenis pukulan lain.

Sebab kembangan pukulan dari negeri Tartar sangat luas dan rangkaiannya tidak terduga. Pada seorang tokoh yang sudah menguasai, pengerahan tenaga itu bisa berarti memasuki tahap bertambah-bertumbuh. Tahap di mana ketika memainkan Tenaga Delapan Belas misalnya, berarti Tenaga Sembilan. Tenaga Tujuh Belas berarti Tenaga Delapan.

Rangkaian ini makin rumit, apabila rangkaian Tenaga Tiga dan Tenaga Delapan digabung. Hasilnya bukan Tenaga Sebelas atau Tenaga Dua. Melainkan tetap Tiga dan Delapan. Tenaga Tiga mirip dengan Tenaga Sheng yang berarti tenaga yang selalu bertambah saat mengenai sasaran. Sementara Tenaga Delapan mirip dengan Tenaga Fa, keamanan untuk bertahan, yang dilambangkan dengan kemakmuran.

Kalau keliru mengenali sebagai Pukulan Dua bisa mengira bahwa pukulan tersebut kosong dan sebagai pancingan, dan akibatnya terkena sasaran.

Senopati Pamungkas II – 20

Sebenarnya Gendhuk Tri tidak mendalami seperti yang diperkirakan Manmathaba. Jurus-jurusnya meluncur begitu saja. Begitu menemukan reaksi, segera menjawab dengan sendirinya.

Dengan dasar-dasar ajaran Mpu Raganata, dimatangkan dengan tenaga Kitab Bumi dan menerima didikan tidak langsung dari Naga Nareswara Gendhuk Tri menjadi gadis yang sulit dikalahkan oleh mereka yang seusia dengannya.

Keluwesan itulah yang menyebabkan Gendhuk Tri mampu berpasangan dengan Singanada, ataupun dengan Pangeran Anom. Padahal jelas sumber tenaga dalam kedua tokoh itu sangat berbeda.

Sepuluh jurus telah berlalu.

Perlahan tetapi pasti, Manmathaba mulai bisa membaca pengerahan tenaga yang belum sempurna. Maka memasuki jurus ketiga belas, Manmathaba memancing Gendhuk Tri merasuk masuk, dan dengan segera memapak maju.

Tangan kanan miring, lurus ke atas dengan jari yang lengket satu sama lain, sementara tangan kirinya memainkan dua bandring sekaligus.

Gendhuk Tri masuk perangkap.

Nyai Demang berteriak keras.

“Awas… Awas… Mundur…!”

Dalam kilatan pikiran, agaknya hubungan Nyai Demang dengan Gendhuk Tri muncul kembali. Pribadi Nyai Demang yang utuh menguasai pikiran dan perasaannya.

Itu sebabnya Nyai Demang tidak memedulikan keselamatan dirinya, menyerbu masuk.

Manmathaba telah siap.

Kedua kakinya menyapu keras, dan tubuh Nyai Demang terungkit ke atas.

Gerakan Nyai Demang memang tidak sempurna. Baik karena beban mayat di punggungnya maupun karena tenaga dalamnya tak bisa sepenuhnya menyatu dengan tenaga dalam Eyang Kebo Berune.

Makanya bisa diungkit.

Hingga sempoyongan. Bahkan terjatuh.

Sementara pada saat yang sama dengan terungkitnya tubuh Nyai Demang, Gendhuk Tri tak bisa meloloskan diri. Ia telanjur masuk ke daerah serangan lawan. Mundur atau menjatuhkan diri sangat sulit. Kalaupun bisa, bandul Bandring Cluring siap menghancurleburkan.

Maju berarti dada atau wajahnya kena tebas tangan Manmathaba yang telah rapat oleh pengerahan tenaga.

“Ladlahom….”

Tak ada yang mendengar ucapan kaget Puspamurti. Karena ketiganya tengah bergulat dalam pertarungan yang tak memungkinkan pecahnya perhatian.

Manmathaba mengeraskan tenaganya. Kelima jari yang rapat, dalam Gerakan miring menebas dada Gendhuk Tri, yang tubuhnya sedang melaju ke arahnya. Kalaupun Gendhuk Tri mencoba mendahului atau menangkis, adu tenaga dalam yang terjadi. Ini berarti Gendhuk Tri akan terluka parah.

Manmathaba merasakan kemenangan.

Batas kelingking seakan memecahkan tubuh Gendhuk Tri!

Hanya anehnya, tubuh Gendhuk Tri justru melesat jauh! Menerobos ke dalam Keraton.

Tanpa kurang suatu apa!

Berdiri tegar sambil mengumbar senyum.

Manmathaba mengeluarkan seruan kagum.

Ia begitu yakin telah merebut kemenangan. Ia yakin bahwa tak ada orang lain yang secara diam-diam menolong Gendhuk Tri.

Tapi nyatanya Gendhuk Tri segar bugar.

Bisa lolos.

Bahkan senyumannya berubah menjadi tawa yang meringkik, mendesis.

“Wanara Seta…”

Gendhuk Tri meringis. Seakan malah gembira dan sekaligus bangga dikenali sebagai kera putih atau Wanara Seta.

“Lahir dari batu, akulah lawanmu sekarang ini…”

Tubuh Manmathaba menggigil. Bandringnya terkulai.

Jurus yang baru saja dimainkan oleh Gendhuk Tri sangat dikenali oleh Manmathaba sebagai jurus yang mengambil pengerahan tenaga dari batu yang terbelah. Batu itu adalah tenaga dalam lawan yang mengurung secara sempurna.

Ini adalah ilmu dari Sembilan Jalan Buddha yang paling sulit dipelajari. Dasar jurus Wanara Seta adalah kisah mengenai kelahiran seekor kera dari kandungan batu. Yang menjadi kisah klasik, karena kera putih inilah yang kelak kemudian hari menuntun sang ksatria utama menuju Jalan Buddha yang sesungguhnya.

Kalau benar Gendhuk Tri sampai di tingkat itu, berarti Manmathaba keliru menduga. Satu lagi kekeliruan yang bisa berarti kematian bagi Manmathaba. Karena jika saat itu Gendhuk Tri berbalik dan melancarkan serangan, Manmathaba tamat riyawatnya.

Tapi kalau sekarang tubuhnya menggigil, itu karena sebab yang lain.

Pertemuan Mahamanusia

MANMATHABA menggigil karena tulang kakinya menjadi ngilu, sehingga tak kuat menahan tubuhnya.

Sesaat ketika mengungkit kaki Nyai Demang dan menggajul, menendang ke atas dengan keras, kelihatannya sepintas ia unggul. Tubuh lawan bisa terpental, terbanting jatuh karena beban di punggung.

Akan tetapi yang juga tak diduganya sama sekali ialah bahwa setelah itu Manmathaba merasa kakinya tak bisa digerakkan. Menjadi ngilu luar biasa, seakan semua tulangnya remuk, berkeping-keping, dan setiap serpihan menimbulkan rasa sakit yang menggigit sarafnya.

Manmathaba menggigil karena hatinya terguncang.

Selama ini dirinya tokoh kelas satu di negerinya. Pemimpin para pendeta sekaligus juga empu yang tidak mempunyai lawan. Sewaktu melihat peluang untuk menanamkan pengaruh di tanah Jawa yang telah dirintis oleh Pendeta Sidateka, ia berangkat disertai tiga pengikutnya.

Langkah-langkah pendahuluan menunjukkan siapa dirinya. Dengan bubuk pagebluk ia bisa menguasai semua bangsawan di Keraton tanpa kecuali. Termasuk Raja dan Permaisuri. Dengan ilmu silatnya dan senjata andalan Bandring Cluring ia merontokkan semua ksatria di tanah Jawa. Termasuk Upasara Wulung yang sudah menyandang gelar lelananging jagat. Gebrakan sapu bersih, tanpa ada yang mampu menghadang.

Siapa sangka belum sebulan ia telah terjungkal kembali di tempat di mana ia mampu mengalahkan semuanya?

Rasa-rasanya tak habis pikir.

Apalagi dikalahkan seorang gadis, dan seorang wanita yang menggendong mayat.

Betapa nanti semua tumbuhan dan batu di negerinya akan menertawakan kalau mengetahui hal ini.

Saat itu Manmathaba menyadari kesalahannya. Pertama ia tak menduga bahwa Gendhuk Tri ternyata bisa lolos dari kurungannya. Bisa jadi ini dikarenakan ia menganggap enteng lawan. Ini berdasarkan perhitungan bahwa yang paling perkasa seperti Upasara Wulung mampu ditekuk habis.

Kedua karena hal yang sama, tak menduga bahwa tenaga dalam Nyai Demang bisa menerobos masuk, dan menghancurkan.

Perhitungan Manmathaba yang paling jauh pun tak menemukan bahwa sesungguhnya Nyai Demang dialiri tenaga dalam yang dimiliki Eyang Kebo Berune. Tenaga dalam yang luar biasa, yang dihimpun dalam Pukulan Pu-Ni. Pukulan yang pada intinya bertenaga menghancurkan sekaligus.

Seperti diketahui jurus-jurus yang dahsyat itu diciptakan oleh tokoh-tokoh kelas utama sebagai penangkal Dua Belas Jurus Nujum Bintang yang telah diajarkan secara luas, dan diperdalam oleh hampir semua ksatria.

Ilmu-ilmu itu diciptakan karena kekuatiran bahwa kalau Dua Belas Jurus Nujum Bintang menjadi kekuatan yang disalahgunakan, tetap ada penangkalnya.

Walaupun yang kemudian sangat dikenal adalah Delapan Jurus Penolak Bumi akan tetapi ilmu-ilmu yang lain tak kalah saktinya. Baik ilmu Mpu Raganata, Paman Sepuh, maupun Kebo Berune sendiri, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Pada ajaran ilmu Mpu Raganata, jurus-jurus penangkal itu disebut sebagai Weruh Sadurunging Winarah, yang intinya Mengetahui Sebelum Terjadi. Sebelum lawan memainkan jurus tertentu, sudah bisa diketahui. Bahkan sebelum satu gerakan yang paling kecil sekalipun. Dengan kata lain mengembangkan kekuatan batin untuk menangkap apa yang dirasakan lawan.

Pada ajaran Eyang Sepuh, terciptalah jurus-jurus yang kemudian dikenal sebagai Tepukan Satu Tangan, yang intinya menjadikan dirinya tumbal, menjadikan dirinya sebagai korban. Semakin rela diri kita berkorban, menyerahkan diri, semakin mungkin untuk mementahkan serangan. Dengan kata lain, inti utamanya ialah pasrah.

Pada ajaran Paman Sepuh, lahirlah jurus-jurus yang terangkai dalam Banjir Bandang Segara Asat, yang intinya memindahkan tenaga serangan lawan untuk memerangi sendiri. Dengan kata lain, tenaga dalam lawan yang membanjir dipindahkan untuk menghantam balik, dengan perumpamaan terjadi banjir besar saat laut surut.

Pada ajaran Kebo Berune, lahir jurus-jurus yang dikenal dengan sebutan Pukulan Pu-Ni, yang intinya menghancurleburkan tenaga lawan saat serangan lawan datang. Keras dilawan dengan lebih keras. Dengan kata lain, saling menghancurkan tenaga dalam.

Pada ajaran lain, yang sebenarnya bukan semata-mata diciptakan untuk menangkal, adalah Kitab Air. Eyang Putri Pulangsih mencari pengembangan tenaga dari sifat air, sebagai kemungkinan lain dari pengembangan tenaga dalam yang bersifat bumi.

Bahwa kemudian yang diakui secara resmi adalah Tumbal Bantala Parwa, itu semua merupakan kesepakatan para tokoh utama, yang direstui oleh Baginda Raja.

Besar sekali kemungkinannya karena inti ajaran Eyang Sepuh dalam Kitab Penolak Bumi adalah sikap pasrah, sumarah. Sikap menyerah secara tulus dalam artian yang luas, baik kepada sang Maha Pencipta ataupun kepada Raja, lebih sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat maupun Keraton.

Sekurangnya jika dibandingkan dengan ajaran Kebo Berune ataupun Paman Sepuh yang lebih mengandalkan kepada tenaga keras menghancurkan Atau dibandingkan ajaran Mpu Raganata yang mengacu kepada kebatinan yang terkuasai.

Manmathaba bukannya tidak mengetahui bahwa ada begitu banyak ilmu atau ajaran yang tangguh di jagat ini.

Yang tak diduganya, bahwa seorang Nyai Demang menyimpan tenaga merusak yang dahsyat.

Itulah yang dirasakan kini.

Tulang-tulang kakinya seakan remuk jadi bubuk.

Dalam keadaan di mana dirinya menjadi pemenang satu-satunya, tiba-tiba harus menyadari kekalahan yang memalukan.

Manmathaba menghimpun kekuatannya yang terakhir. Bandul bandringnya memutar dengan keras, dan meluncur lepas ke arah Nyai Demang.

Yang tengah terduduk.

Yang tak sepenuhnya sadar bahaya mengancam.

Gendhuk Tri tak sempat memberi peringatan atau menolong.

Terdengar bunyi pletok keras. Kipas kayu besar Puspamurti yang dilemparkan untuk menghadang remuk menjadi bubuk. Seakan ditumbuk oleh palu godam yang besar.

“Ladlahom.

“Siapa suruh kamu membunuh?”

Satu tangan Puspamurti bergerak, dan tubuh Manmathaba terjatuh ke bawah. Tanpa tenaga dorongan keras pun, Manmathaba sudah akan ambruk!

“Siapa kamu?”

Pertanyaan Nyai Demang dalam nada yang ganjil menandai bahwa Eyang Kebo Berune yang menguasai alam pikiran.

“Aku adalah aku.

“Sejak kapan kamu main-main di tubuh orang lain?”

“Sejak aku mau.”

“Sejak kamu mau. Baik juga. Tak kuduga ada juga yang mau mempelajari Kitab Pamungkas”

Nyai Demang berdiri dengan gagah. Gerakannya cepat dan agak patah.

“Ngawur. Aku adalah Kebo Berune, senopati ulung dan ksatria utama Keraton Singasari yang menguasai dan menaklukkan tlatah Berune. Mana mungkin aku mempelajari ilmu lain?

“Aku hanya mempelajari dari ajaranku sendiri.”

“Ladlahom.

“Kok teganya kamu ini mengingkari harkatmu sebagai manusia. Apa kurangnya?”

“Ngawur.”

“Memang. Itulah kita berdua. Manusia-manusia yang perkasa. Yang mementahkan soal dunia dan alam. Soal mati dan hidup tanpa jarak.

“Ladlahom.

“Baguslah itu. Kita sesama manusia.”

Nyai Demang meludah ke arah Puspamurti, yang justru bergelak.

“Rasanya baru sekarang aku ketemu sesama manusia. Manusia yang tengik yang busuk, yang mahamanusia. Yang malu mengakui sebagai manusia. Yang tidak mau disebut penjilat, pencuri ajaran orang lain.

“Hei  Kebo, siapa kamu ini? Semakin kamu menolak, semakin jelas bahwa kamu ini mengintip ajaran yang bukan milikmu. Tapi ya memang begitu.

“Itulah maha manusia.”

Kali ini Gendhuk Tri yang bengong.

Berbagai pengertian masuk ke dalam kesadarannya. Yang bukan tidak mungkin akan menyingkap apa yang terjadi selama lima puluh tahun lalu.

Puspamurti, tokoh yang aneh ini, selalu menyembunyikan diri dan mengaku sebagai penganut ajaran Kidung Pamungkas. Kitab yang dianggap paling sesat oleh Kiai Sambartaka, karena mengagungkan manusia.

Setelah sekian lama bersembunyi, kemudian muncul untuk lebih meyakini Kidung Pamungkas, Puspamurti merasa sekian banyak ksatria tak ada satu pun yang mempelajari.

Baru sekarang merasa bertemu dengan seorang yang menurut dugaannya, diam-diam mempelajari.

Tanpa pemberitahuan Kiai Sambartaka mengenai Kidung Pamungkas, Gendhuk Tri tak bisa mengerti arah pembicaraan Puspamurti dengan Kebo Berune.

 

Gelombang Tanpa Buih

DALAM kepala Gendhuk Tri terbentuk gambaran apa yang sedang terjadi.

Puspamurti menemukan “saudara seperguruan”, sementara Kebo Berune menolak dengan keras.

“Kebo tua, sekian lama aku mencari tahu bagaimana bentuk mahamanusia itu sebenarnya. Bagaimana mahamanusia itu bisa mengatasi soal hidup dan soal mati.

“Sekarang baru aku tahu. Ternyata seperti ini kelihatannya. Kamunya sudah mati, akan tetapi masih bisa berkuasa atas manusia lain, masih bisa bercakap, masih bisa menjawab.

“Ladlahom, inilah rupanya yang kupertanyakan.”

“Kamu… kamu menuduhku…”

“Apa bedanya?

“Kamu merasa hina? Ladlahom. Apa artinya kehinaan dan tidak?

“Menjadi hina atau mulia, kamu kan tetap manusia. Dan akan selalu tetap manusia. Kalau kamu hina, kamu tidak berubah jadi cacing. Kalau kamu mulia, kamu tidak akan menjadi bunga.

“Ladlahom.

“Sayangnya kamu tidak mau mengakui sebagai manusia. Tapi tak apa. Tak mau mengakui sebagai manusia, karena ia mahamanusia, itu juga manusia dan sekaligus mahamanusia.

” Ladlahom.

“Dasar-dasar ilmu silat kamu boleh juga. Tak buruk. Tapi mengganggu. Begitu kamu mempelajari Kidung Pamungkas, semua itu tak ada gunanya. Malah merusakmu.

“Iya, kan?

“Lihat dan rasakan sendiri. Tenaga dalammu jadi ngawur dan saling berebut, sehingga tubuhmu jadi cacat. Lihat dan rasakan sendiri, bagaimana aku tetap tegak seperti layaknya manusia.”

Sekarang, sedikit-banyak Gendhuk Tri lebih memahami latar belakang Eyang Kebo Berune.

Tokoh yang satu ini di masa mudanya tak pernah diperhitungkan oleh Raganata, Eyang Sepuh, Paman Sepuh, maupun Putri Pulangsih. Bahkan dalam menyusun kitab kanuragan yang akan dijadikan babon, induk segala ilmu silat, pun tak diajak bicara.

Akan tetapi karena tekadnya yang besar, Kebo Berune terus mempelajari. Dari kemungkinan besar selalu gundah, karena merasa tak bisa mengungguli empat tokoh yang lain. Sampai kemudian merasa mendapat “pencerahan” dari Kidung Pamungkas. Itulah yang diperdalam.

Akan tetapi, sebagaimana dikatakan Puspamurti, kesadaran batin Kebo Berune tidak siap untuk menerima nilai-nilai menjadi mahamanusia. Ini menjadi sumber pertarungan batin, yang ternyata tak pernah selesai.

Akibatnya tubuhnya menjadi lumpuh.

Lumpuh seluruhnya.

Gambaran ini tak seluruhnya bertentangan dengan apa yang pernah diperkirakan oleh Gendhuk Tri, bahwa gangguan dalam latihan tenaga dalam yang menyebabkan Kebo Berune menjadi cacat.

Mengikuti cara berpikir Puspamurti, soal mencuri ajaran ilmu lain, soal tidak mau mengakui adalah hal yang biasa. Hal yang biasa terjadi pada maha manusia.

Akan tetapi justru karena Kebo Berune belum bisa menerima ajaran dalam Kidung Pamungkas sepenuhnya, tuduhan itu membuatnya murka dan terhina.

Agaknya ini yang dilihat pula oleh Puspamurti.

“Kebo manusia, lihat diriku.

“Aku adalah aku. Apakah aku lelaki atau perempuan, apa bedanya kalau aku manusia? Apakah aku bersuami atau beristri, apa salahku? Apakah aku mencuri ilmu silat atau mengajarkan, apa bedanya? Kalau aku mau pakai kipas, biar saja kipas ukuran seberapa pun.

“Aku adalah aku.

“Aku adalah manusia. Dan kamu juga manusia, Kebo. Ilmu curian atau bukan, apa bedanya? Ilmu ciptaan sendiri atau orang lain, apa membedakanmu sebagai manusia? Satu jurus atau seratus jurus, apa perlu dipertanyakan?”

“Tidak… aku bukan…”

“Ya, kamu bukan daun, bukan cacing, bukan Dewa. Kamu manusia. Sama dengan aku, sama dengan Upasara Wulung, sama dengan yang lainnya, hanya lebih mengerti….”

Puspamurti berbicara seolah membuka simpanan pembicaraan yang telah dipendam puluhan tahun. Nyatanya begitu.

Hingga tidak menyadari bahwa ketika mengucapkan nama Upasara Wulung, seketika itu pula Gendhuk Tri bereaksi. Tubuhnya meloncat ke atas, satu tangan meraup tubuh Manmathaba dan tangan yang lain segera menggampar pipi.

Plok-plok-plok!

Keras dan geram pukulan Gendhuk Tri, karena membekas di kedua pipi Manmathaba yang disusul cairan darah menetes dari sudut bibir.

Gerakan Gendhuk Tri menyambar tubuh Manmathaba dan mengangkat serta menampar, merupakan rangkaian gerakan “menjadi gelombang tanpa menimbulkan buih”. Penamaan yang mulai dihayati Gendhuk Tri.

Dalam kaitan ini, sebenarnya buih dimaksudkan sebagai emosi, sebagai rasa kasar yang mencuat ke luar. Seharusnya Gendhuk Tri tidak mengikuti perasaan hatinya.

Akan tetapi hal ini memang sulit terkuasai.

Bukan karena Gendhuk Tri tidak memahami. Sebab utama ia “berbuih” yang membuatnya menggampar pipi, karena secara emosional kepekaannya terlukai oleh sikap Manmathaba pada Upasara Wulung.

Padahal itu yang menyebabkan ia datang dan menerjang ke Keraton.

“Katakan di mana Kakang Upasara.

“Jawab atau…”

Plak-plak… Plak.

Tamparan yang terakhir membuat kepala Manmathaba terkulai ke belakang. Sewaktu Gendhuk Tri melepaskan pegangannya, tubuh Manmathaba melongsor ke bawah. Yang segera disambut dengan tekukan lutut Gendhuk Tri, sehingga tubuhnya mental lagi ke atas.

Tangan kiri Gendhuk Tri kembali bergerak.

Seiring dengan suara plak, Manmathaba memuntahkan darah disertai beberapa buah gigi yang somplak sampai ke akar-akarnya.

“Akan kubikin ompong. Akan kutelanjangi di sini, dan kukencingi kalau kamu tetap kepala batu….”

Puspamurti jadi menengok.

“Ladlahom.

“Manusia kok bisa kesetanan. Harusnya setan yang kemanusiaan. Gadis dusun, jangan ganggu omongan sesama manusia.”

Mana mungkin Gendhuk Tri memedulikan Puspamurti. Sekali tangannya bergerak, leher Manmathaba tercekik.

“Satu tenaga kecil, kamu mati dengan mendelik.

“Katakan di mana Kakang Upasara….”

“Ya, di mana Adimas….” Kali ini suara Nyai Demang nyaring sekali. Langkahnya perlahan mendekat.

“Ladlahom.

“Kebo, kamu kalah dengan manusia yang kamu pakai, kan?”

“Di mana?”

Suara Nyai Demang meninggi. Tangannya mengusap wajah Manmathaba yang sudah berubah bentuknya akibatnya tamparan berturut-turut dari Gendhuk Tri.

“Manmathaba, kamu pendeta tinggi. Tidak baik mati dengan cara seperti ini. Katakan di mana Adimas Upasara….”

“Di mana dia?”

Kali ini baik Gendhuk Tri maupun Nyai Demang terkesima. Suara kuatir yang menanyakan di mana Upasara terdengar sangat menggeletar. Seperti suara rintihan yang terendam luka lama.

Suara Ratu Ayu.

Suara seorang istri yang memprihatinkan suaminya!

Sepersekian kejap, Nyai Demang dan Gendhuk Tri saling pandang. Seolah dalam sepersekian kejap keduanya menyadari bahwa sebenarnya yang paling berhak kuatir adalah Ratu Ayu. Pada kejapan berikutnya sekaligus juga lucu. Mereka bertiga mempertanyakan orang yang sama.

Seorang gadis, seorang janda, dan seorang ratu!

“Kamu tak akan memperoleh jawaban,” jawab Manmathaba tenang sekali.

“Kalian bisa mengalahkanku, akan tetapi kalian tak bisa memaksaku.”

Nyai Demang terdiam.

Ratu Ayu melangkah mundur.

Gendhuk Tri malah tersenyum.

“Kamu pikir, aku tak bisa memaksa kamu buka mulut?”

“Coba saja,” tantang Manmathaba. “Kalau kamu kencingi saya, siapa yang lebih malu?”

Puspamurti tertawa lebar.

Kalimat-kalimat yang terdengar membuat perhatiannya teralihkan, untuk

sesaat.

“Akan aku bawa tubuhmu ke Kiai Sambartaka. Biar ia bawa kamu ke negerimu sana….”

Gendhuk Tri asal mengancam saja. Karena mengetahui bahwa mereka berdua mempunyai dendam permusuhan yang mendarah daging sejak beberapa keturunan.

Di luar dugaannya, Manmathaba menutupkan matanya.

“Bunuh aku.”

“Enak saja.”

“Akan kukatakan di mana Upasara. Setelah itu bunuh aku. Kamu harus berjanji. Atau beri kesempatan aku membunuh diri.

“Bagaimana?”

Duka yang Tertunda

“BOLEH juga permintaanmu. Aku tak mau membunuhmu karena akan mengotori tanganku.

“Sekarang katakan di mana Kakang Upasara.”

Manmathaba mengerjapkan matanya. Menelan ludahnya dengan perasaan penuh. Seolah merasakan setiap getaran urat tubuhnya sebagai akhir semua gerakan.

Jauh dalam hati Manmathaba mengagumi bahwa jiwa ksatria sangat berharga. Kalau Gendhuk Tri sudah berjanji, biar bagaimanapun ia akan memenuhinya.

Itu seratus kali lebih baik baginya. Dibandingkan harus diserahkan hidup-hidup kepada Kiai Sambartaka. Manmathaba tak bisa membayangkan berapa puluh turunannya bakal menanggung kehinaan kalau hal itu sampai terjadi.

“Katakan…”

“Upasara telah lama mati.”

Tangan Gendhuk Tri terangkat ke atas. Siap menampar keras. Kalau itu dilakukan, tulang pipi Manmathaba bakal hancur.

Nyai Demang menjerit keras. Tubuhnya bergoyang-goyang dan ambruk. Sementara Ratu Ayu merintih kecil sebelum akhirnya jatuh tak bergerak

Sekelebat, Gendhuk Tri menduga bahwa Manmathaba sengaja memainkan perasaannya. Akan tetapi dugaan itu melemah dengan sendirinya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana kehormatan terakhir sangat tergantung pada Gendhuk Tri, sulit dibayangkan bahwa Manmathaba akan memainkan peranan mempermainkan perasaan. Kalau Halayudha, sangat boleh jadi.

Sepicik apa pun, agaknya Manmathaba tak perlu bersiasat lagi. Tak ada gunanya, di saat-saat yang terakhir.

Jalan pikiran Gendhuk Tri berbalik lagi.

Jangan-jangan memang sengaja begitu. Agar…

Agar apa?

Agar ia membunuhnya!

“Kamu keliru, Manmathaba. Aku tak akan membunuhmu karena gusar berita yang kamu sampaikan. Akalmu bisa ketahuan. Dari mana kamu mengetahui Kakang Upasara telah…”

Manmathaba menghela napas.

“Upasara terluka dalam di pundak kirinya. Sumber kekuatannya selama ini. Dalam tawanan keadaannya memburuk, karena siksaan. Baik dari aku maupun dari Halayudha.

“Usahanya untuk mengembalikan kekuatan makin membuat parah lukanya.

“Itulah sesungguhnya.”

“Dusta! Tak mungkin.”

“Di belakang Keraton, di bawah pohon sawo kecik yang membelukar ada gundukan tanah. Kenalilah sendiri. Barangkali bukan dia, tapi itulah yang kusaksikan.

“Aku sendiri tak begitu mudah percaya. Upasara Wulung tokoh yang sakti. Bahkan lebih dari siapa pun, ia bisa memulihkan tenaga dalamnya yang hilang. Mampu mengembangkan dan mengerahkan kembali tenaga cadangan yang, barangkali, hanya dia satu-satunya yang memiliki.”

“Baik, aku akan seret kamu ke sana. Kalau dusta, aku panggil Kiai Sambartaka….”

Perlahan Manmathaba mengangguk.

“Ladlahom.

“Duka saja kok bisa tertunda. Dasar bukan manusia. Apa kalian bertiga ini tak punya perasaan sebelumnya? Tak punya firasat apa-apa? Kok sampai ditinggal mati saja tidak merasakan….”

“Tutup mulutmu, kanyawandu….”

Makian Gendhuk Tri terdengar sangat kasar. Dengan menyebut kanyawandu, Gendhuk Tri menyamakan Puspamurti sebagai “wanita yang tidak mempunyai jenis kelamin”.

Kata-kata yang paling kasar yang diteriakkan dengan murka.

“Kalau Upasara mau mempelajari Kidung Pamungkas, nasibnya tak akan seburuk ini.”

“Aku bilang, tutup mulutmu.”

Kali ini tubuh Gendhuk Tri yang gemetaran. Menahan kemurkaan dan perasaan campur aduk tak menentu.

“Tenangkan perasaan.

“Yang mati memperoleh ketenangan, kalau kita rela melepaskan.”

Gendhuk Tri berpaling ke arah datangnya suara.

Pandangannya hampir tak bisa dipercaya.

Kiai Truwilun mendatangi dengan langkah perlahan. Penuh ketenangan dan kearifan. Di balik mata yang selalu menyiratkan kedamaian dan kebahagiaan, tersirat duka yang sarat. Tetapi juga kepasrahan.

“Kiai…”

“Dewa Yang Maha dewa menghendaki yang terbaik….”

Gendhuk Tri menyeka wajahnya, dengan tangan masih gemetar. Kalau tadi masih ada setitik harapan bahwa apa yang dikatakan Manmathaba bohong, kini seakan tak ada lagi pegangan.

Rasanya lebih tidak mungkin kalau Truwilun berdusta. Ia tak mempunyai alasan untuk itu! Ia bisa mengetahui apa yang terjadi bukan sekadar dari ramalan, melainkan ia sendiri baru berada dalam Keraton.

Mungkin…

“Saya berusaha menolong sebisa mungkin, akan tetapi nasib dan takdir telah digariskan….” “Kakang…”

Tubuh Gendhuk Tri menjadi limbung. Dadanya sesak. Semua urat tubuhnya melemah. Tarikan napas yang sangat dalam dan panjang, tak sedikit mengurangi kepekatan yang menindih.

Apa arti ini semua?

Upasara Wulung, Upasara kakangnya, yang selalu hidup dalam angannya tiba-tiba saja diberitakan sudah mati. Tidak dalam pertarungan habis-habisan yang menegangkan. Tidak dalam pertarungan utama seperti di Trowulan, atau ketika menghadapi senopati Tartar di ujung benteng selama pembebasan Singasari.

Tapi meninggal karena luka oleh keris.

Meninggal tidak secara ksatria gagah.

Apa artinya ini semua?

Apakah ini juga kemauan Dewa? Dewa yang mana yang menghendaki kematian Upasara? Apa dosa Upasara sehingga harus meninggal sedini ini?

Bibir Gendhuk Tri mengering.

Pandangannya berputar. Kepalanya menjadi pening.

“Mungkin kematian yang menyenangkan.” Suara Puspamurti memecah kesunyian yang berlangsung lama. “Upasara lahir tanpa diketahui siapa sanak saudara atau orangtuanya. Tapi ia ditangisi sedikitnya tiga wanita, seorang dukun sakti, dan masih banyak yang lain.

“Entahlah, aku tak tahu. Apakah kenangan itu perlu atau tidak.

“Ladlahom”

Perlahan ia mendekati Nyai Demang. Berjongkok.

“Ilmumu masih dangkal, Kebo. Kekuatanmu kalah oleh yang hidup. Kematianmu benar-benar tak menguasai hidup.

“Bangkitlah. Jawablah aku kalau kuasa.”

Nyai Demang yang diajak bicara melongo. Pandangannya tak berkedip. Puspamurti berdiri.

Dengan satu gerakan memutar yang cepat sekali, kedua tangannya menyerang Eyang Kebo Berune yang membeku. Dengan sekali sentak, tubuh yang sudah lama menjadi mayat terangkat dan melayang di tengah udara.

Seketika tercium bau busuk.

Agaknya setelah sekian lama meninggal, karena kekuatan tertentu dari tenaga dalam yang dilatih, Eyang Kebo Berune masih bisa mempertahankan jasad kasar dan kemauannya. Sehingga meskipun sudah menjadi mayat, tubuhnya masih utuh.

Hanya setelah Nyai Demang terkena pukulan batin yang tak tertahankan, penguasaan itu terputus. Saat itulah Puspamurti melepaskan.

Agaknya juga kekuatan yang menahan proses pembusukan alami itu hanya bertahan sementara.

Karena begitu terlepas, tubuh Eyang Kebo Berune seperti telah membusuk sekian lama. Sehingga tubuh itu hancur meleleh dan memancarkan bau busuk ke seluruh penjuru.

Nyai Demang sendiri seperti lepas dan pengaruh gaib yang selama ini menguasainya. Seperti memperoleh kembali pribadinya. Hanya saja, di saat memperoleh kembali penguasaan jiwa dan raganya, saat itu justru merasakan sentakan batin yang mengguncang kekuatannya.

Truwilun mendekati Nyai Demang, menuntun ke pinggir.

“Dewa Maha kasih, Nyai… Maha Di Atas, Maha… Ingat, Nyai…”

Truwilun juga mengajak Gendhuk Tri. Akan tetapi dengan mata merah dan pandangan buas, Gendhuk Tri mengibaskan tangannya. Truwilun hanya menghela napas dalam, lalu membopong Ratu Ayu.

“Kakang… Rakyat Turkana menunggu Kakang… Takhta Turkana…”

Semua prajurit dan senopati yang melihat sejak awal tetap terdiam. Juga ketika Manmathaba berusaha menyeret tubuhnya sambil menahan kesakitan yang menghebat.

Hanya Puspamurti yang masih berdiri.

Wajahnya menengadah, mencari sesuatu di langit.

Kedua tangannya ditekuk beberapa kali, dan setiap kali menimbulkan suara tak-tak-tak.

“Maha manusia menguasai mati atas hidup. Apa hanya dalam bentuk Kebo tadi?

“Kalau kematian memang ada, apa arti Kidung Pamungkas sesungguhnya?”

 

Tangis di Perjalanan

PUSPAMURTI masih tertegun.

Pertarungan pikiran terus berlangsung. Tak banyak yang mengetahui bagaimana riwayat hidupnya, dan bagaimana keadaan dirinya. Hingga lebih banyak menganggap sebagai orang aneh, yang mempunyai hubungan langsung dengan Permaisuri Indreswari.

Sesungguhnya Puspamurti sejak awal mempelajari Kidung Pamungkas, dan memilih kitab itu sebagai babon utama untuk mempelajari ilmu silat. Terutama sejak awal gagasan itu dituliskan.

Tenggelam dalam kesendiriannya, Puspamurti masuk merasuk dalam ajaran Kitab Pamungkas. Puluhan tahun dihabiskan hanya dengan membaca dan mempelajari kitab yang mengagungkan manusia. Sesuai dengan ajaran itu, sekurangnya dalam tanggapan Puspamurti, ia bisa melakukan segalanya seorang diri. Tak memerlukan orang lain. Sampai kemudian mendengar cerita mengenai ksatria lelananging jagat, sehingga Puspamurti meninggalkan persembunyiannya. Karena tidak mengetahui di mana pertemuan, serta tak mau bertanya, Puspamurti nyasar ke Keraton.

Saat itu di Keraton sedang diadakan penghimpunan kekuatan yang setia kepada Raja Jayakatwang. Sehingga kedatangannya tidak menimbulkan kecurigaan. Karena memang saat itu banyak senopati dan ksatria yang datang bergabung. Baik dari tanah Jawa maupun dari negeri seberang.

Karena kebetulan bisa bertemu langsung dengan Permaisuri Indreswari yang memperlakukan dengan baik, Puspamurti kerasan di Keraton. Apalagi ia mendapat perlakuan sangat istimewa. Pada saat itulah Permaisuri Indreswari menjanjikan akan memberikan Kitab Pamungkas yang asli.

Itu yang ditunggu.

Setelah diberikan, kembali mempelajari dari awal.

Puspamurti tak merasa berhubungan atau tergantung perintah siapa pun. Maka sebenarnya kedudukannya dalam hal ini tidak memihak siapa saja, atau bisa diperalat oleh salah seorang penguasa.

Kalau ia keluar dari kamarnya karena mendengar keributan, juga tak jelas akan berpihak ke mana. Karena baginya, tak ada perbedaan benar harus ke mana atau berbuat apa.

Satu-satunya yang menggembirakan hanyalah bahwa dirinya mendapat pelayanan sangat istimewa, dan di sekitarnya begitu banyak manusia yang memainkan ilmu silat.

Sampai kemudian melihat Nyai Demang yang menggendong Kebo Berune, dan serta-merta mengenali perwujudan nyata dari salah satu sifat maha manusia dalam soal mengalahkan kematian.

Kegembiraan karena menemukan saudara seperguruan “satu aliran” runtuh ketika mengetahui bahwa Kebo Berune tak berkuasa atas tubuh Nyai Demang.

Itu yang menyebabkannya tertegun.

Bukan karena dari dalam Keraton muncul rombongan yang berarakan dengan rapi. Ia hanya melihat dari kejauhan, memandangi apa yang terjadi.

Baginda Kertarajasa ternyata jengkar kedaton, meninggalkan Keraton. Dalam iringan yang panjang, penuh dengan simbol kebesaran. Hanya karena rombongan terhenti di mulut pintu, perhatiannya jadi tersedot.

Baginda terhenti karena melihat Truwilun yang berada di pinggir.

“Aku melihat kamu pertama kali bersedih, Truwilun. Pandangan matamu tak bercahaya lagi….”

Truwilun menyembah hormat.

“Apa yang bisa membuatmu sedih?”

Truwilun menceritakan apa yang dilihat, kaitannya dengan kematian Upasara Wulung yang menyebabkan Gendhuk Tri, Nyai Demang, serta Ratu Ayu tenggelam dalam duka.

Baginda menggeleng.

“Bagus juga kalau hal ini diketahui langsung oleh Gayatri. Ksatria yang menjadi pujaan hatinya, yang dianggap masih selalu mengenangnya, ditangisi tiga wanita….”

Truwilun menyembah hormat.

“Aku bisa membaca perasaanmu, Truwilun.

“Kenapa aku lebih memasalahkan kematian Upasara yang ditangisi, dibandingkan dengan kekalahan Manmathaba, atau bahkan kematian Upasara itu sendiri.

“Itu yang akan kamu katakan?

“Aku bisa membacamu. Seterang matahari.

“Truwilun, aku masih belum bisa membebaskan rasa manusia yang biasa. Kecemburuan, keirian, keinginan untuk merasakan getaran duniawi masih besar.

“Itu sebabnya aku berpikir, apa yang akan kulakukan di Simping? Bersemadi? Berdoa?

“Apa itu mungkin, kalau hatiku masih di sini?”

Baginda menoleh ke belakang.

Sebentar.

Lain menutup tirai tandu, dan memerintahkan rombongan berangkat. Berurutan, perlahan dalam kehormatan besar.

Iringan berlalu.

Sampai kemudian Halayudha muncul dan membubarkan kerumunan

“Senopati Jaran Pengasihan, Kebo Pengasihan, Gudel Pengasihan, Lembu dan segala macam binatang pengasihan atau yang dikasihani… adalah tugas kalian bersama untuk menjaga tata tenteram Keraton.

“Hal semacam ini tak boleh terjadi lagi.

“Aku perintahkan segera tempat ini dibersihkan. Dan mulai sekarang tak perlu ada keributan lagi. Hanya ada satu perintah, dari Raja.”

Dari suaranya jelas Halayudha ingin segera tampil kembali. Kekalahan Manmathaba membuka peluangnya untuk maju dan mengisi.

Selama ini dirinya dikesampingkan.

Maka segala cara dicari untuk membuat suasana serba onar. Sehingga Manmathaba tak bisa sepenuhnya menguasai-bahkan terhadap senopati-senopati yang baru diangkat.

Hal yang pertama dilakukan ialah menggosok para senopati lama, untuk tidak patuh begitu saja. Arakan Ratu Ayu untuk menunjukkan masih adanya kekuatan yang harus diperhitungkan. Karena ini tak ada perintah dari Manmathaba, yang secara tidak resmi menjadi mahapatih.

Demikian juga usulan kepada Raja agar Baginda bisa segera berangkat ke Simping. Keresahan akan mencuat ke permukaan, karena tindakan-tindakan ini pasti  akan menyinggung pengikut Baginda yang setia, di samping menampar kekuasaan Manmathaba.

Ada kegiatan yang tidak dikuasai secara penuh.

Tidak tahunya rencananya yang telah disusun sedemikian rapinya menjadi berantakan gara-gara Gendhuk Tri maupun Nyai Demang. Yang ternyata dengan tidak mengalami banyak kesulitan bisa mengalahkan Manmathaba.

Dengan cara begitu, posisi Halayudha jadi berubah lagi. Bisa-bisa, dirinyalah yang dimusuhi pengikut Baginda. Padahal dukungan itulah yang tadinya diharapkan agar posisinya di hadapan Raja bisa dianggap kuat.

Kini, dengan mundurnya Manmathaba, Raja akan berpaling ke arahnya. Tak bisa tidak.

Maka ketika malam harinya ditimbali, Halayudha segera bergegas.

Raja Jayanegara sedang bercengkerama dilayani para dayang dan penari sewaktu Halayudha merunduk masuk.

“Halayudha, agaknya pengawasan di Keraton masih belum sempurna. Apalagi dengan mundurnya Manmathaba.

“Aku perintahkan hari ini juga kamu berangkat ke Lumajang. Panggil kembali Mahapatih Nambi. Kurasa hanya dia yang bisa menyatukan kembali keamanan dan ketenteraman.”

Tiga geledek yang berbunyi  sekaligus  saat  itu tak akan  membuat Halayudha seterkejut sekarang ini.

Tak masuk akal bahwa ternyata Raja masih lebih memperhitungkan Nambi.

“Nambi lebih setia. Padanya aku bisa percaya.

“Temui dia, Halayudha….”

“Sendika dawuh….”

Halayudha menyembah dan segera berlalu. Dengan perasaan masih belum menentu. Baginya keputusan Raja sangat tidak masuk akal. Pengaruh siapa yang membuat Raja memanggil kembali Nambi?

Kalau itu yang terjadi nanti, Halayudha makin merasa terjepit. Selama ini hubungannya dengan Mahapatih Nambi boleh dikatakan kurang baik. Kalau Mahapatih kembali, keleluasaannya akan sangat terbatas.

Kenapa kembali ke Nambi?

Ataukah Raja melihat bahwa pergolakan yang akan muncul dari pengikut Baginda akan bisa ditenangkan dengan pulihnya kekuasaan Nambi? Karena mahapatih yang satu ini pilihan Baginda?

Benarkah Raja yang masih muda usia ini mempunyai strategi yang begitu hebat?

Apa pun yang dirisaukan saat ini, tak ada alasan untuk tidak segera menjalankan tugas.

Perjalanan duka.

Tak ubahnya dengan Permaisuri Gayatri yang terpaksa mengikuti Baginda, yang terpaksa mendengar kabar kematian Upasara Wulung.

Bedanya, dirinya tidak mengikuti Baginda.

Berarti masih ada peluang kecil yang akan dimainkan dengan hati-hati. Namun juga hatinya ciut. Tak gampang suasananya sekarang ini.

Raja Jayanegara tak seperti dugaannya semula. Bukan bersuka ria menikmati singgasana, akan tetapi juga secara langsung memutuskan.

Dengan pertimbangan yang cukup masak.

 

Perlawanan Semu

HALAYUDHA tak bisa bertahan lama-lama.

Begitu menerima perintah Raja, segera menyiapkan sepuluh prajurit pilihan, dan memerintahkan berangkat secepatnya. Ia sendiri minta disiapkan tiga ekor kuda sekaligus, agar perjalanan tak tertunda.

Lepas dari gerbang Keraton, Halayudha sedikit memperlambat gerak lajunya. Karena sadar bahwa ada yang mengikuti. Dengan cepat jalan pikirannya bekerja, karena mengetahui bahwa yang mengikuti bukan orang sembarangan.

“Ada perlu apa Senopati mendadak pergi dengan tergesa?”

Halayudha membalik tubuhnya. Kudanya ikut terangkat kaki depannya.

Di depannya berdiri Senopati Tantra yang berjalan cepat mendekati. Otak Halayudha segera menemukan apa yang harus dilakukan, dikatakan, begitu mengetahui hadirnya Senopati Tantra, yang merupakan orang kepercayaan Senopati Semi serta Kuti.

“Rasanya Senopati Tantra lebih tahu.”

“Apakah tidak lebih baik dikatakan saja?”

Senopati Pamungkas II – 21

Halayudha tersenyum dalam hati.

Selama ini hubungannya dengan sesama senopati memang kurang baik. Apalagi dengan senopati utama yang diangkat sebagai dharmaputra oleh Baginda Kertarajasa. Di antara tujuh senopati yang diistimewakan, Senopati Kuti dan Senopati Semi yang secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Halayudha.

Kini saatnya ia memainkan peranannya.

“Saya hanya ngemban dawuh, menjalankan perintah Raja. Senopati Tantra jangan memperlambat gerak maju saya.”

“Begitu tergesakah?”

“Bahkan barangkali sudah terlambat, kalau diingat persiapan yang sudah sedemikian rapi.”

Senopati Tantra mengerutkan keningnya.

“Tak ada untungnya bagi saya mengatakan apa keperluan saya. Harap diketahui saja, bahwa belum tentu kalian bisa menemukan jalan yang lapang menjadi pegangan kalian senopati yang diistimewakan Baginda, tak bersisa lagi.

“Baginda telah kena tundung ke Simping.

Halayudha sengaja menggunakan kata tundung yang artinya diusir. Sebutan menyakitkan dan menghina karena diucapkan untuk Baginda. Sama dengan membakar jenggot para pengikutnya yang setia.

“Kamu terlalu kasar, Halayudha….”

“Saya bisa lebih kasar lagi, Tantra…. Mari kita lihat, siapa yang bisa bergerak lebih cepat. Dengan Mahapatih berpihak kepada Raja, kalian semua bisa memperkirakan apa yang akan terjadi.”

“Kamu akan ke Lumajang?”

“Terlalu mudah diketahui, karena tak ada kepercayaan kepada para senopati yang kini ada di Keraton. Segala macam senopati pengasihan, yang diberi pangkat dan derajat, tak lebih dari cacing yang diberi prada…”

Umpan yang pertama bagi Halayudha ialah memastikan agar lawan mengetahui dirinya pergi ke Lumajang. Yang berarti memanggil kembali Mahapatih Nambi. Yang ditambahi arti oleh Halayudha bahwa ini bukti bahwa Raja tidak mempercayai senopati yang ada. Sekaligus Halayudha mengaitkan dengan diangkatnya berbagai senopati yang memakai nama Pengasihan, yang dianggap tetap cacing meskipun dilapisi emas.

“Halayudha   tahu   bahwa   semua   senopati pengasihan   diangkat   oleh Manmathaba. Namun dengan melemparkan kesalahan, seolah kelompok dharmaputra yang sengaja membentuk barisan.

“Tak segampang itu. Halayudha….”

“Apakah aku perlu memperlihatkan surat perintah Raja?”

Halayudha mencabut cincin dari jari manisnya. Tantra tak ragu lagi bahwa Halayudha memang menjadi utusan resmi Raja.

“Tantra, masih ada waktu untuk bertobat. Sebagai sesama senopati, saya memberi kesempatan padamu untuk sowan kepada Raja. Besar kemungkinan Raja berkenan mengampuni orang yang bersedia bertobat….”

Senopati Tantra menggeram. Kakinya menginjak tanah lebih keras.

“Saya tahu selama ini pengaruh Senopati Semi dan Senopati Kuti…”

Beringas Senopati Tantra menggebrak maju. Satu tangan bergerak cepat merampas tali kekang kuda Halayudha. Yang hanya dengan sedikit menjepit perut kuda dan menarik keras, sambaran lawan bisa dihindari.

Senyum kemenangan Halayudha memancing kemarahan Senopati Tantra yang segera menghunus kerisnya. Tubuhnya terayun ke depan, mengangkasa. Tusukan kerisnya langsung ke tangan Halayudha, persis yang memegang tali kekang.

Halayudha menjilat bibirnya. Tali kekangnya justru dibuka, disabetkan kearah keris. Dengan sekali sentak, tali ditarik kuat. Senopati Tantra merasa tenaganya terpancing. Masih terkelebat bayangan untuk adu tenaga Karena merasa lebih unggul. Keris dan tali kekang, bagaimanapun lebih menguntungkan pemegang keris.

Tapi Halayudha tidak membiarkan tali kekangnya putus. Bersamaan dengan menyentak, tangan kanannya yang bebas meraup wajah Senopati Tantra. Yang terpaksa membuang ke belakang dan melepaskan sergapannya. Hanya ketika membuang ke belakang, pada saat menyentuh tanah, tubuhnya kembali lagi menyerang. Halayudha hanya mengeluarkan suara dingin. Kaki depan kuda yang ditunggangi mendadak terangkat keras, disertai ringkikan tinggi.

Tendangan kaki kuda ke arah tubuh yang tengah menyergap.

Bagi Senopati Tantra serangan kaki kuda tak menjadi masalah besar Dengan mudah Ia bisa menangkis atau menghindar. Akan tetapi ternyata bersamaan dengan itu, tubuh Halayudha melorot turun, memutari punggung dan perut kuda, untuk menyerang dan bawah.

Gesit, liat, dan tepat.

Tungkai kaki Senopati Tantra bisa disentuh dan disentakkan. Sehingga ketika bisa menginjak tanah, agak terpincang-pincang. Sementara Halayudha sudah duduk kembali di punggung kuda dengan gagah.

“Tantra… cukup….”

Suara yang mempunyai pengaruh besar menghentikan langkah Senopati Tantra.

“Bagus, kamu mendengar perintah dengan baik. Seperti kuda ini…”

Halayudha tidak memedulikan wajah Senopati Tantra yang marah terbakar. Halayudha memutar kudanya dan segera melaju ke arah timur.

Tanpa melihat pun Halayudha mengetahui bahwa Senopati Semi yang memerintahkan agar pertarungan tak usah dilanjutkan. Bagi Halayudha sudah cukup untuk meletikkan dendam permusuhan.

Api telah disulut. Dengan cara seperti ini, biar bagaimanapun kelompok Senopati Semi akan memperhitungkan apa yang akan dilakukan nanti.

Dengan harapan, bahwa mereka tidak sabar dan membuat gerakan perlawanan. Saat itulah Halayudha akan maju menumpas. Perlawanan semu itu sengaja diciptakan, agar lawan terpancing.

Dan lawan bergerak lebih dulu.

Saat itu Halayudha akan mendahului.

Untuk itu Halayudha memerlukan sedikit persiapan. Maka kira-kira sepenanak nasi, ia memberi perintah kepada sepuluh anak buahnya untuk tidak menyatu.

“Kita berpencar untuk menghindari kuntitan orang yang tidak menyukai tugas. Kalau perlu kita hanya bertemu di Lumajang.”

Tak sulit bagi Halayudha untuk memutar kudanya ketika sendirian. Memutar balik ke Keraton.

Berindap masuk, menemui Permaisuri Indreswari.

“Apa lagi yang kamu ributkan?”

Dengan suaranya yang gemetar Halayudha menceritakan apa yang ada di kepalanya. Bahwa ketika sedang mengemban dawuh, ia mendengar adanya kelompok senopati yang akan melakukan perlawanan.

“Saat Keraton tengah sepi. Karena Manmathaba sudah kalah, karena tak ada lagi yang ditakuti. Duh, Permaisuri yang agung dan bijaksana… Bahkan mereka menyinggung-nyinggung nama Yang Mulia….”

“Apa yang mereka katakan tentang diriku?”

“Mereka mengatakan, kenapa Permaisuri tidak mengikuti Baginda ke Simping? Kata mereka, bukankah selayaknya istri mengikuti suaminya?

“Mereka picik dan tak bisa membedakan antara permaisuri dan selir yang harus melayani Baginda….”

“Orang-orang kecil mulai berani bersuara….

“Aku tak bisa menerima kalimatmu begitu saja, Halayudha. Aku akan meneliti secara saksama apakah laporanmu benar atau tidak. Kalau tidak, kamu tahu sendiri akibatnya.”

“Hamba hanya melaporkan apa adanya….”

“Apa yang ada di kepala mereka ini? Dikiranya aku lebih suka di sini karena di sini lebih enak? Keraton ini makin lama makin menjadi tempat orang bisa membuka mulut sembarangan….

“Baik kalau begitu. Akan kuselesaikan sekarang juga. Akan kupanggil semuanya….”

Halayudha tak menduga bahwa itu yang akan dilakukan Permaisuri Indreswari. Dugaannya: secara diam-diam Permaisuri Indreswari akan mengadakan penyelidikan. Dan bukan memanggil secara terbuka.

“Maaf, Permaisuri Yang Mulia, mana ada pencuri mengakui perbuatannya?

“Aku sudah muak dengan omongan di belakang. Panggil Kuti, Semi, Pangsa… menghadapku, sekarang juga. Bersama kamu di sini. Aku ingin tahu semuanya.”

Taktik Menampi Beras

SEKALI ini Halayudha tak berkutik.

Ia tak bisa pergi ke mana pun, sementara tujuh senopati utama yang diistimewakan diperintahkan menghadap Permaisuri. Bagi Halayudha, kini dirinya seperti ditelanjangi.

Dengan berhadapan langsung, kedoknya terbuka. Secara tidak langsung Senopati Semi mengetahui dengan jelas tak terbantah bahwa Halayudha mempunyai tipu muslihat busuk. Di belakang hari atau sekarang ini juga, dirinya bisa hancur.

Sebagai sesama ksatria, menghadapi para senopati pilihan ini, Halayudha tidak gentar. Pertarungan satu melawan satu akan dihadapi dengan tenang. Akan tetapi sekali ini jauh berbeda. Tak ada pertarungan terbuka satu lawan satu.

Yang ada adalah satu orang melawan kekuasaan.

Dirinya menghadapi seluruh Keraton.

Terang tak mungkin bisa menang. Bahkan untuk mundur pun tak sempat.

Selama menunggu, Halayudha berusaha berpikir keras. Segala taktiknya yang dikira kuat, setiap kali buyar tak menentu. Keinginannya untuk mengadu domba yang dianggap begitu matang, bisa dimengerti oleh Permaisuri.

Padahal dengan melaporkan kepada Permaisuri, Halayudha tadinya mengira bisa masuk ke sisi yang lebih aman.

Akan tetapi justru sebaliknya.

Berarti hanya tinggal satu pegangan. Yaitu Raja!

Berbekal cincin Keraton, Halayudha berusaha menghadap Raja. Meskipun ini hanya bersifat untung-untungan, akan tetapi tak ada kesempatan yang lain. Di saat para senopati yang dipanggil belum terkumpul, Halayudha berharap bisa sowan ke Raja.

Betapa leganya ketika akhirnya dirinya dipersilakan menghadap. Sekali ini Halayudha memantapkan dirinya. Tak akan ragu lagi.

“Apa lagi urusannya?”

“Duh, Raja yang bijaksana… hamba ternyata tak bisa menunaikan tugas dengan baik. Hamba bersedia dihukum sekarang juga. Dengan ini hamba mengembalikan mandat Raja, mengembalikan cincin….”

“Sebelum aku menghukum mati, apa yang akan kamu katakan?”

“Dalam perjalanan, hamba mendengar suara-suara aneh yang tak bisa dipercaya. Suara dari tujuh senopati utama yang meminta bantuan Permaisuri Indreswari agar Mahapatih Nambi tak perlu ditarik kembali ke Keraton….”

“Tujuh senopati utama… senopati utama?”

“Duh, Raja yang bijak…

“Mereka masih memakai sebutan dharmaputra, gelar pemberian Baginda. Sesungguhnyalah mereka ini masih berharap Baginda berada di Keraton.

“Itu sebabnya mereka memohon kepada Permaisuri, yang mengetahui jasa-jasa ketujuh senopati saat membangun Keraton….”

“Apakah suara aneh yang kamu dengar ada buktinya?”

“Saat ini mereka sedang dikumpulkan Permaisuri. Untuk didengar dan dipertimbangkan usulnya, agar Mahapatih Nambi tak usah ditarik kembali. Kalau tidak begitu, pastilah tak perlu menahan hamba yang sudah berada dalam perjalanan….”

Raja Jayanegara mengeluarkan suara agak keras.

“Sampai sejauh itukah?

“Ibu lupa bahwa aku sekarang adalah raja. Dan raja hanya seorang, satu-satunya yang didengar dan memerintah.

“Kadang aku tidak percaya padamu. Tapi sekali ini agaknya perlu didengarkan. Semakin tidak masuk akal kabar itu, kadang semakin ada kebenarannya.”

Bagi Halayudha ini merupakan permainan terakhir. Kalau usahanya gagal, semuanya berantakan. Dan habislah dirinya. Karena kini ia bermain langsung di pusat kekuasaan.

Nyatanya lebih berhasil.

Ibarat kata seperti beras yang ditampi. Yang diputar-putar di atas nyiru. Makin di pinggir, gerakan itu makin kuat. Sedang di tengah, berasnya justru tak bergerak. Tapi sumber gerak di pinggir berasal dari bagian tengah. Inilah yang sekarang dimainkan.

“Menurut pendapatmu, kenapa senopati utama melakukan itu?”

“Bisa saja kesalahan ditimpakan kepada para senopati, yang masih lebih setia kepada Baginda. Mohon maaf atas kelancangan yang berdosa ini.

“Akan tetapi, lebih maaf lagi, rasa-rasanya Permaisuri Indreswari membuka peluang untuk muncul pengaduan seperti ini. Karena tanpa peluang, rasa-rasanya, para senopati tetap tak berani mendongak.”

“Bisa kuterima.

“Mereka tetap prajurit, tetap kawula. Kalau tak diberi kesempatan, tetap tak berani membuat tafsiran kenapa Baginda pergi ke Simping karena aku telah memerintahkan.

“Bisa kuterima alasanmu.

“Yang menjadi pertanyaanku sekarang, kenapa Ibunda memberi kelonggaran itu?

Masuk! Tepat!

Halayudha tahu bahwa kegelisahan dan kecurigaan mulai bersemi. Dan akan sangat cepat tumbuh.

Kalau Raja sudah mencurigai Ibunda Ratu-dan atau sebaliknya, berarti sudah segalanya.

Halayudha tak perlu memberikan jawaban.

Karena tanpa dikatakan pun, Raja mengetahui. Atau menduga bahwa campur tangan Ibunda Ratu bisa diartikan belum menganggap raja yang sekarang ini mampu mengatasi sendiri. Bahwa raja yang sekarang ini masih terlalu kanak-kanak untuk mengambil keputusan.

“Agaknya mereka semuanya perlu tahu siapa yang memerintah Keraton

“Halayudha, kamu tetap berangkat ke Lumajang….”

“Hamba…”

“Tak ada urusan. Ingsun yang akan menyelesaikan, tanpa harus mengangkat pantat dari tempat ini….”

Halayudha menyembah. Memundurkan diri.

Tidak segera menuju Lumajang, akan tetapi menghadap kepada Permaisuri Indreswari. Melaporkan bahwa ia meninggalkan tempat penantian, karena ada prajurit yang mengetahui kehadirannya, dan melaporkan kepada Raja. Sehingga ia dianggap tidak mau menjalankan tugas.

“Hamba melaporkan juga mengenai komplotan senopati utama yang sudah diselesaikan persoalannya oleh Permaisuri Yang Mulia….”

“Apa lagi?”

“Hanya itu….”

“Jangan kamu sembunyikan sesuatu….”

“Duh, hamba tak bisa menghaturkan apa-apa….”

“Apakah Raja juga menanyakan kenapa aku tidak segera ke Simping?”

Halayudha menyembah hormat dan menggeleng.

“Apakah Raja menyinggung kenapa aku yang memanggil para senopati utama?”

Halayudha kembali menyembah dan menggeleng lembut.

“Apakah ini menjadi persoalan?”

Halayudha menyembah, tidak menggeleng.

“Apa?

“Katakan, Halayudha!”

“Raja Jayanegara hanya mengisyaratkan Permaisuri jangan terlalu berbaik dan bermurah hati….”

Permaisuri bangkit dari duduknya.

“Apakah tersirat bahwa aku dianggap tidak mengetahui dan tidak bijaksana, karena terlalu murah dan baik hati? Apakah aku dianggap tidak mengetahui urusan Keraton?

“Raja Jayanegara adalah putraku.

“Kukandung. Kulahirkan. Kudidik.

“Sejak sebelum berada dalam kandungan pun, aku sudah menyiapkan takhta untuknya. Segala penderitaan dan pengorbanan kulakukan untuk putraku.

“Apakah mungkin aku tidak mengetahui keadaan dan tata pemerintahan dan tipu muslihat?

“Apa aku sudah sedemikian bodoh, sehingga menjadi terlalu mulia, terlalu baik hati?”

Halayudha menggigil. Kali ini betul-betul karena gemetar. Untuk pertama kalinya, komentar Permaisuri Indreswari terdengar secara langsung. Dan di luar dugaannya. Tak pernah diperhitungkan sama sekali. Selama ini dianggapnya sebagai satu.

Ya ibunya, ya anaknya.

Ternyata tersisa pula ganjalan.

Betapapun kecilnya, ternyata bisa diperbesar.

“Lalu apa maumu?”

“Hamba hanya mengabdi….”

“Kamu tetap akan ke Lumajang?”

“Biarlah hamba mati kaku di tempat ini….”

“Tidak, Halayudha.

“Matamu bersinar terang ketika kusebut nama Lumajang. Kamu lebih suka pergi ke sana. Karena itu berarti menunaikan tugas Raja.

“Itulah mengabdi.”

Halayudha tak berani menelan ludah.

“Kala Gemet putraku. Tapi ia raja….

“Ibunya bukan ibunya, ramanya bukan lagi ramanya….”

Suaranya mengandung nada getir.

Luh Putri Boyongan

NAPAS Permaisuri Indreswari tersengal. Bibirnya gemetar, kering, pandangannya kosong, menembus jarak pandang di depannya. Walaupun Halayudha mampu menyelam ke dalam alam pikiran Permaisuri, barangkali tetap tak bisa menemukan alasan yang tepat. Apa yang sesungguhnya membuat Permaisuri Indreswari mendadak begitu berduka, begitu merintih. Jalan pikiran Halayudha terhenti kepada perhitungan bahwa duka itu terasakan, karena kini Raja memutuskan sesuatu di luar pengetahuan ibunya. Atau sekitar itu. Lebih jauh lagi tak teraba.

Bukan salah Halayudha kalau tak bisa menangkap getaran kepiluan. Karena selama ini Halayudha tidak benar-benar bisa merasakan apa yang sesungguhnya bertarung dalam batin Permaisuri.  Apa yang membuat Permaisuri yang selalu kelihatan perkasa, yang jari tangan lentiknya mampu mengubah kehidupan seseorang, yang tatapannya tak pernah menunduk itu, kini meneteskan luh, air mata, sementara tangannya terkulai.  Derita batin yang hanya bisa dirasakan oleh wanita yang menjalani.  Itulah yang menyelimuti dengan rapat seluruh perasaan Permaisuri. Yang secara diam-diam tak pernah dirasakan, tak pernah dipikirkan, karena takut inti perasaan itu diketahui orang lain. Dirinya tumbuh sebagai gadis remaja di Keraton Melayu, dengan segala kemewahan, segala kebahagiaan yang ada taranya. Masa-masa yang paling indah.

Sampai suatu ketika, di suatu pagi yang menyenangkan, ia mendengar kabar bahwa ada utusan dari Keraton Singasari memasuki Keraton. Melalui pertemuan dengan Raja, akhirnya diputuskan bahwa dirinya dan kakak perempuannya dikirim ke tanah Jawa. Indreswari masih mengingat jelas. Pagi itu ramanya mengunjungi kaputren, tidak seperti biasanya. Tidak berada di luar kamar seperti biasanya, melainkan langsung masuk ke kamar. Tidak seperti biasanya, ramanya berdiam diri lama sekali. Sewaktu dirinya menghadap bersama kakak perempuannya, tetap tak ada suara yang keluar. Sampai waktu yang lama, sampai helaan napas yang kesekian belas kalinya. Saat itu Indreswari menyadari bahwa ramanya kelihatan menjadi tua puluhan tahun. Pandangan matanya yang gagah, sikapnya yang berwibawa sebagai raja tak bersisa. Akhirnya setelah sekian lama,

“Anakku, putriku, bungaku.

“Pagi ini, Rama meminta pengorbanan kalian berdua, demi keselamatan dan kedamaian di Keraton. Hanya kalian berdua yang bisa menolong.”

Kalimatnya terhenti oleh dehaman panjang.

“Sejak beberapa waktu yang lalu, ada utusan dari tanah Jawa. Ada seorang senopati lengkap dengan persenjataan dan kedigdayaan datang kemari. Rama menyambut dengan baik dan hormat, karena mereka ini utusan dari raja di tanah Jawa yang gagah perkasa. Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang tersohor.

“Setiap tahun sekali, Rama mengirimkan utusan ke tanah Jawa, mempersembahkan upeti. Tak pernah terlambat satu hari pun. Tak pernah berkurang satu barang pun. Maka sungguh mengherankan bahwa ada utusan yang khusus dikirimkan kemari.

“Senopati membawa cincin Keraton dan mengatakan bahwa Sri Baginda Raja berkenan melestarikan dan mengukuhkan hubungan kekerabatan antara Keraton Melayu dan Keraton Singasari.

“Itu artinya tawaran secara resmi.

“Selama ini kita mengakui kebesaran Keraton di tanah Jawa. Selama ini kita tak pernah berbuat sesuatu yang membuat Sri Baginda Raja murka. Akan tetapi sekarang ini, kehendak Sri Baginda Raja untuk lebih mengukuhkan dan menyatukan semua Keraton di luar tanah Jawa.

“Ini artinya tawaran secara resmi.

“Tawaran untuk menolak dan tawaran untuk menerima. Pilihan untuk menolak, dan pilihan untuk menerima.

“Penolakan berarti perang besar. Aku sedikit pun tak gentar dengan utusan ini. Jumlah mereka tak seberapa. Aku sudah menyiasati bahwa dalam suatu sergapan kuat, para senopati kita akan berhasil melumpuhkan, meskipun akan banyak jatuh korban. Para senopatiku telah berjanji akan melakukan tugas dengan baik, dengan kesediaan berkorban. Begitu aku memberi perintah, mati atau hidup mereka akan maju ke medan perang.

“Kalau kamu tanya hati kecilku, aku menyetujui pendapat para senopati. Berperang sebagai ksatria, mempertahankan sejengkal tanah dengan darah dan kepahlawanan.

“Aku tak pernah takut mati.

“Apalagi mempertahankan Keraton warisan leluhur ini.

“Putriku, permataku, bungaku…

“Dalam aku merenung, kudengar suara Dewa. Yang berbisik lirih di telingaku, bahwa Sri Baginda Raja adalah raja yang pantas disuwitani diabdi.

“Beliau raja besar yang tidak serakah.

“Senopatinya bisa menyerang langsung, tetapi memilih perundingan lebih dulu. Pedang dan kerisnya datang dalam keadaan terbungkus.

“Aku memilih yang kedua.

“Bukan hanya karena dengan demikian kita terhindar dari pertumpahan darah, bukan dengan demikian kehormatan besar kita terjaga. Akan tetapi sesungguhnya, itu yang terbaik.

“Yang bisa melakukan itu, hanyalah kalian dua putriku.

“Kalian berdua akan mengabdi, menemukan sesembahan seorang raja yang tiada taranya. Yang berwibawa, yang namanya berkumandang sampai batas langit.

“Kalian akan meneruskan bibit-bibit yang mulia. “Putriku, permataku, bungaku,

“Itu semua tak menghalangi Rama bersedih. Karena kalian berdua akan segera meninggalkan Keraton, menempuh perjalanan yang sangat jauh akan berada di negeri seberang yang tata kramanya berbeda, yang tak menjanjikan kita akan saling bertemu kembali.

“Rama tahu itu yang terberat.

“Tapi itu yang terbaik.

“Betapa leganya, akhirnya Rama bisa mengatakan ini semua. Berangkatlah putriku, bungaku, hatiku…. Berangkatlah sebagai dewi, sebagai bidadari, sebagai bunga Keraton yang meninggalkan warisan kedamaian dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat, yang akan menyemaikan kebesaran Keraton Melayu. “Jangan teteskan air mata, sebab ini kegembiraan. Luh yang kalian teteskan adalah puji syukur kepada Dewa Yang Mahaagung.

“Berangkatlah, putriku….

“Bersama sukmaku.

“Bersama seluruh kebahagiaan Keraton.

“Berjanjilah bahwa kalian akan menunaikan tugas dengan baik dan mulai, berjanjilah kalian tak akan meneteskan air mata di negeri seberang….” Indreswari bisa mendengar ulang semuanya dengan lengkap. Bisa mengingat betapa mendadak ramanya memeluknya kencang, menciumi pipi kanan dan kiri, tangannya mengusapi wajah, dan kemudian meninggalkan kaputren.

Kemudian disusul dengan upacara kenegaraan yang lengkap, dirinya diantarkan ke dalam kapal. Semua rakyat Melayu datang mengelukan sepanjang perjalanan. Seluruh rakyat seakan tumpah ke jalanan untuk menunjukkan rasa hormat yang dalam.

Untuk pertama kali, Indreswari merasa dirinya benar-benar putri raja dengan segala kebesarannya.

Tak ada yang kurang selama perjalanan. Dayang-dayang yang dibawa, ditambah pelayanan yang luar biasa selama perjalanan, sedikitnya menghibur hati. Tak ada mainan dan perhiasan yang dikenali yang tertinggal.

Setiap malam  setiap siang, hatinya tergetar karena mendengar cerita kebesaran Sri Baginda Raja. Raja seperti apakah yang mampu membuat Dewa membisikkan kegagahannya ke telinga ramanya?

Kalau ada sesuatu yang sedikit mengganggu hanyalah sikap kakak perempuannya yang wajahnya lebih muram.

“Kakang Ayu menangis?”

“Tidak akan pernah. Tak akan ada air mata karena kita sudah berjanji di depan Rama.”

“Kenapa Kakang Ayu bersedih?

“Tidak akan pernah ada kesedihan.”

Baru pada malam harinya, kala berduaan, Indreswari mendengar sebagian dari duka kakaknya.

Bahwa mereka berdua disebut-sebut sebagai putri boyongan, putri yang dipersembahkan kepada Raja, sebagai tanda takluk, sebagai tanda kalah.

“Kita berdua adalah korban, adalah bebanten.

“Tahukah, Yayi Ayu, bahkan mereka tak mau menyebut nama kita. Mereka menamai kita Dyah Dara Jingga dan Dyah Dara Petak, karena warna kulit kita.

“Nama kita, nama besar pemberian Rama, nama Keraton Melayu, tak akan terdengar lagi. Terkubur bersama kekalahan kita, lenyap dalam kemenangan Sri Baginda Raja.

“Kita ini tak berbeda dengan emas, berlian, permata yang dipersembahkan.

“Kita tidak menjadi manusia lagi.”

Kesadaran itu merayap lebih pelan, mengalir lebih lambat dalam pembuluh Indreswari. Ia tak pernah melihat kakak perempuannya begitu berduka, begitu merasa seperti sekarang ini. Perlahan kesadaran itu menemukan bentuk dalam sikapnya. Membatu, dan lebih keras, serta liat.

Itu terasakan benar ketika kakinya sudah mendarat di tanah Jawa.

Pondokan di Luar Tembok

SAAT itu mulai dirasakan kebenaran yang dikatakan kakak perempuannya

Indreswari tidak menemukan upacara penyambutan besar-besaran sebagai calon mempelai Sri Baginda Raja. Bahkan untuk kurun waktu sepasar, lima hari, setelah kapal merapat, tak ada yang memberitahukan apa yang terjadi. Tak ada jemputan istimewa.

“Apa yang terjadi, Paman Senopati?”

“Tak ada apa-apa. Putri menunggu perintah untuk turun, dan menempati pondokan….”

“Perintah untuk turun? Pondokan?”

“Ya.”

Suara Senopati Anabrang sangat dingin seperti es. Dan pada malam hari, dirinya diboyong bersama dalam pengawalan yang sederhana untuk menempati sebuah rumah besar yang terawat, teratur sempurna. Tak ada yang kurang dalam pelayanan, karena kini dayang-dayang yang melayani jumlahnya jauh lebih banyak.

Tapi kenyataan bahwa dirinya menunggu di luar Keraton, itulah yang membuatnya sakit hati, terhina.

“Adakah Rama mengetahui kita dipermalukan seperti ini, Kakang Ayu?”

“Kita mencegah jangan sampai Rama mengetahui.”

“Kakang Ayu…”

“Yayi Ayu, inilah pengorbanan yang kita berikan. Berbakti kepada Rama, kepada Keraton. Perlakuan apa pun akan kita terima dengan ikhlas.

“Sri Baginda Raja telah mangkat. Barangkali nasib kita akan lebih buruk lagi, kalau tak ada prajurit yang mau memperistrikan kita. Kita dibuang dan kembali sebagai wanita yang tidak mempunyai harga.” Indreswari terpukul keras. Batinnya guncang.

Sejak saat itu ia memutuskan untuk melakukan semadi. Melakukan tapa brata tak mau menyentuh makanan, minuman, tak mau berdandan. Siang dan malam, hanya batinnya yang berbicara. Menerobos langit-langit, menerobos langit menuju ke arah Dewa Yang Maha Mengetahui.

Indreswari tak peduli hidup atau mati.

Tidak mau mendengar bujukan kakak perempuannya.

Tidak mau mendengar kata-kata Senopati Anabrang yang memberitahukan bahwa raja yang menggantikan Sri Baginda Raja berkenan menerima mereka berdua.

Indreswari tetap bergeming.

Sampai ia terpaksa digotong ke dalam Keraton.

Sampai ia mendengar suara Baginda.

Dendam, kekecewaan, sakit hati atas perlakuan selama ini, membuat Indreswari berbuat sebaliknya. Sejak mendengar suara Baginda, Indreswari mau melakukan apa saja untuk Baginda. Ketulusan, kesetiaan, pengabdian, diserahkan dengan tulus dan ikhlas. Tak ada yang didengar dan dibayangkan selain Baginda.

Juga ketika secara resmi dirinya diangkat menjadi permaisuri utama, dengan gelar Permaisuri Indreswari. Tak ada yang mengetahui apa sesungguhnya isi hatinya yang sebenarnya. Tidak juga kakak perempuannya diberitahu, atau diberi kisikan.

Bahwa dengan demikian hubungannya dengan kakak perempuannya menjadi renggang, Indreswari tak memedulikan.

Yang dilakukan hanyalah pengabdian secara total.

Sepenuh hati.

Semakin dendam, semakin sakit hati, semakin tulus Permaisuri Indreswari

melayani Baginda.

Segala keinginannya, impiannya, dendamnya tersalurkan kepada putranya. Bagus Kala Gemet. Sejak dalam kandungan, Permaisuri telah menyiapkan segala macam doa dan jampi. Segala apa yang dipegang, dipandang, dilihat oleh putranya, berada dalam pengawasannya.

Siang dan malam tugasnya yang mulia adalah menyiapkan putranya, yang kelak akan naik takhta.

Bagus Kala Gemet adalah cahaya yang bersinar, yang terakhir dirasakan.

Permaisuri Indreswari memusatkan semua perhatiannya, arahan batinnya, untuk membesarkan putranya. Segala apa ditempuhnya. Termasuk menghubungi guru-guru yang akan melatih, pendekar yang memberi bekal, dan semua dayang.

Bahwa dengan itu dirinya akan berhadapan dan bisa bentrok dengan siapa saja, Indreswari sudah memperhitungkan dan siap menghadapi.

Maka segalanya dijalani.

Menemui para senopati, mempelajari tata pemerintahan, meredakan permusuhan batin dengan permaisuri yang lain.

Bagus Kala Gemet adalah segalanya.

Puncak dari itu semua ialah ketika penobatan putranya, Permaisuri Indreswari bertindak langsung, muncul sebagai pelindung utama, berada dalam barisan terdepan.

Puncak dari segala puncak itu ialah ketika Baginda memerintahkan untuk berangkat ke Simping, dan Indreswari mengatakan keinginan untuk mendampingi putranya.

Menjadi jelas baginya sekarang, di mana kakinya harus berdiri di mana harus memilih.

Kini saatnya untuk memperlihatkan dirinya, setelah sepuluh tahun lebih merayap di tanah bagai cacing.

Tumpuannya, harapannya, hanyalah putranya.

Jangan kata Baginda, bahkan kakak perempuannya pun direlakan untuk pergi atas permintaannya sendiri.

Demi putranya!

Demi kesumatnya!

Demi rintihan putri boyongan!

Akan tetapi, ternyata yang terjadi di luar dugaannya. Tumpuan dari semua tumpuan, harapan dari semua harapan, putranya yang perkasa menoleh ke arah lain. Putranya yang sudah menduduki takhta, seakan menjadi manusia yang lain.

Hanya dalam satu-dua bulan, putranya memberi perintah yang berbeda.

Sesungguhnyalah, ini merupakan pukulan paling tajam di dasar batin Permaisuri Indreswari.

Yang membuatnya meneteskan luh duka untuk pertama kalinya.

Indreswari tak bisa segera menguasai dirinya. Desisan suara di bibir menandai keperihan hati dan guncangan batin yang tak bisa ditutup-tutupi.

Selama ini semua penderitaan, semua duka, semua kehinaan bisa diatasi. Bisa dialihkan menjadi pengabdian. Tapi tidak sekarang ini.

Kala Gemet putraku. Tapi ia raja…. Kalimatnya bergema sendiri, lebih nyaring.

Kembali terbayang ramanya.

Apa dosanya yang dilakukan selama ini? Bukankah ia menjalani sebagaimana yang tertuliskan? Menjadi putri boyongan. Datang ke negeri seberang untuk nyuwita. Bahkan ketika Sri Baginda Raja sudah mangkat, ia rela mengabdi kepada penggantinya. Ia rela, bahkan untuk hal ini tak ada satu kata pun yang meminta persetujuannya.

Seolah ia tinggal menjalani.

Nyatanya begitu.

Apa dosaku selama ini?

Apakah aku kurang bekti kepada Rama? Kepada kakak perempuan? Kepada Keraton?

Kenapa semua bisa terjadi?

Kenapa putraku menilai keliru?

Indreswari memejamkan matanya. Seluruh punggungnya tersandar di kursi. Dadanya naik turun.

Halayudha masih duduk bersila menunduk.

Sampai agak lama.

“Halayudha…”

“Hamba masih di sini, Permaisuri….

“Apakah ketika kamu sowan, masih ada wulanjar tua itu di dekatnya?”

Suaranya bernada dingin.

Sebenarnya, jauh dalam hatinya, Indreswari tak ingin siapa pun mengetahui apa yang dikuatirkan. Ia merasa dirinya paling bisa menguasai perasaannya, jauh dari siapa pun. Akan tetapi sekarang ini, pertanyaan itu tercetus.

Sebagian rahasia kekuatirannya dibuka di depan orang lain.

Halayudha menyembah pelan.

Baginya juga menjadi lebih jelas. Bahwa ada yang dikuatirkan Permaisuri, yang kini menguasai Raja. Yang disebutkan sebagai wulanjar tua. Sebutan yang agak aneh.

Wulanjar adalah sebutan untuk janda muda. Namun Permaisuri Indreswari menyebutkan sebagai “janda muda yang sudah tua”.

“Apa ia masih di sana?”

“Hamba tak menangkap apa yang Permaisuri maksudkan….”

Permaisuri Indreswari menggeleng lembut. Pandangannya masih menerawang.

“Tak perlu pura-pura itu. Semua, seisi Keraton sudah tahu.”

Lalu terdiam agak lama.

“Aku menertawakan Janaka Rajendra yang memilih gadis liar, tak tahunya…

Mendadak suaranya terhenti.

Penguasaan atas emosi berhasil dimenangkan.

“Telingamu seperti tikus, Halayudha.

“Kamu bisa mendengar segala yang busuk, dan akan kamu ceritakan lebih busuk lagi. Agar kamu tak main-main dengan lidah dan pendengaranmu, hari ini aku akan membuatmu bisu dan tuli untuk selamanya.”

Praba Raga Karana

HALAYUDHA menyembah.

Tangannya sedikit dimiringkan, sehingga cincin pemberian Raja terlihat jelas. Di satu pihak seakan menerima hukuman untuk dibisutulikan, di lain pihak menjelaskan bahwa saat ini masih menjalankan tugas Raja.

Seseorang yang sedang menjalankan tugas dari Raja, mempunyai posisi yang sangat istimewa. Menjadi sangat penting, sehingga siapa pun yang menghalangi tugasnya, seolah menantang Raja.

Apalagi yang berbekal cincin tanda kekuasaan.

Berarti sedang menjalankan tugas sangar penting dan rahasia. Para pemakai cincin tugas, biasanya menyembunyikan tanda tersebut, karena bisa memancing keramaian yang bisa menggagalkan tugasnya. Para pejabat di pusat atau di daerah jika mengetahui ada utusan khusus Raja, akan memperlakukan dengan hormat dan baik. Mengundang makan, menikmati hiburan, dan lain sebagainya. Undangan semacam ini agak merepotkan kalau ditolak.

Kali ini justru Halayudha berusaha memamerkan.

“Segera setelah menunaikan tugas, hamba akan sowan Permaisuri untuk menerima hukuman.

“Bila Permaisuri berkenan, hamba akan membawa Kiai Truwilun, dukun terkondang yang bisa membuat jampi….”

Permaisuri Indreswari tertegun sejenak.

“Setiap kali aku akan menghukummu, setiap kali kamu bisa mengajukan usul. Entah Dewa mana yang sudi melindungimu selama ini. Sungguh suatu keberuntungan bagimu.”

Permaisuri Indreswari segera meninggalkan Halayudha.

Melalui dayang kepercayaan dikisikkan bahwa ia akan menemui Raja. Jika diketahui sedang berada di mana, ia akan segera mendatangi. Tidak perlu melewati senopati atau prajurit kepercayaannya.

Namun  laporan  yang  diberitahukan  seketika  membuat  Permaisuri Indreswari menahan rasa gusarnya. Raja  sedang tidak mau diganggu atau tak ada yang berani mengusik.

Tak usah dijelaskan, tak usah diulang, berarti Raja sedang bersama wanita yang dalam penilaian Permaisuri Indreswari tak memiliki sesuatu yang pantas dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki.

Tak ada sedikit pun.

Wajahnya terlalu biasa, dengan jidat yang menonjol. Pipi dan bibirnya tebal. Dalam penilaian berdasarkan bentuk tubuh, wanita itu tak menyimpan satu pun nilai lebih.

Maka bagi Permaisuri Indreswari agak mengherankan bahwa putranya bisa tertambat daya asmaranya oleh wanita seperti itu. Lebih mengherankan lagi karena selama ini selalu dikelilingi oleh gadis-gadis yang ayu, cantik, jelita, dan sedang tumbuh mekar. Akan tetapi justru putranya tengah kesengsem dengan yang sama sekali tak diperhitungkan!

Sebagai ibu yang mengawasi setiap gerak bayangan putra yang sangat dikasihi Permaisuri Indreswari bukannya tidak mengetahui ketika putranya menanyakan wanita itu.

‘Siapa dia?”

“Waila yang mana?”

Sengaja ia menyebutkan waila atau sebutan untuk wanita kebanyakan.

Saat itu Permaisuri merasa heran karena yang ditunjuk Raja adalah wanita yang bekerja sebagai pengurut. Juru pijat bagi para putri atau para selir.

Tak ada gambaran sedikit pun bahwa hubungan itu akan terus berlanjut. Sejak malam itu, Raja memerintahkan untuk membuatkannya kamar khusus yang berada dalam lingkungan Keraton. Dan mendapat perlakuan sebagaimana selir-selir yang lain, dengan segala kehormatan yang pantas diterima.

Sebenarnya sampai sejauh itu, Permaisuri tidak merasa risau. Dirinya dibesarkan dalam tata krama Keraton. Sejak kecil, sejak sebelum bisa mengeja huruf, telah melihat kenyataan bahwa seorang raja mempunyai banyak sekali selir. Demikian juga ketika dirinya menjadi permaisuri, sebelumnya Baginda telah memiliki empat permaisuri yang setengah resmi. Demikian juga sesudahnya, bila sesekali Baginda menghendaki atau tertarik kepada seseorang.

Ibarat kata tinggal membalik telapak tangan.

Atau semudah mengangkat alls.

Semua itu diterima sebagai bagian dari suatu kehidupan yang memang begitulah keharusannya.

Hanya kemudian Permaisuri merasa ada sesuatu yang salah, ketika putranya lebih sering mengunjungi wanita itu, atau lebih sering memanggilnya ke dalam Keraton. Untuk bermalam di kamar Raja!

Sejak itu Permaisuri memerintahkan secara khusus untuk mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang bisa menyambar dan menyengat asmara putranya. Keterangan yang diperoleh tak lebih dari yang diketahui sebelumnya.

Wanita itu bekerja sebagai juru urut, seorang yang menjanda karena semua dayang yang tinggal di wilayah Keraton-meskipun tidak di dalam tidak boleh mempunyai suami atau kekasih.

Permaisuri tak mau mengingat siapa nama wanita itu.

Baginya tetap tidak penting.

Betapa terkejutnya ketika dari dayang-dayang, Permaisuri mengetahui bahwa wanita itu mendapat gelar Praba Raga Karana. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan.

Bahwa Raja sampai memanggil untuk masuk ke kamar peraduan saja, merupakan kehormatan yang tertinggi. Biasanya, kalau seorang raja menghendaki, cukup memberitahukan lewat prajurit yang dipercaya, agar selir yang bersangkutan bersedia, karena Raja berkenan datang.

Dan bukan mengundang.

Apalagi memberi gelar.

Yang bukan sembarang gelar. Praba adalah gelar yang mulia, yang suci karena mempunyai arti “cahaya suci”. Cahaya yang memancar dari orang yang suci. Selama ini bahkan para pendeta Keraton belum pernah ada yang memakai gelaran itu.

Tidak juga permaisuri-permaisuri sebelumnya.

Tambahan sebutan Raga Karana juga membuat Permaisuri tak habis mengerti. Kata itu berarti memberahikan, membuat bangkitnya nafsu asmara.

Gabungan kata itu berarti wanita yang memancarkan cahaya suci dan cahaya berahi. Semacam cara berolok-olok yang keterlaluan. Akan tetapi itulah kenyataannya. Raja selalu menyempatkan diri berduaan, dan kala berduaan tak ada yang berani mengusik.

Bahkan dirinya, sebagai permaisuri, sebagai ibu, tetap tak akan mendapat kesempatan melewati penjagaan yang berlapis.

Ganjalan yang luar biasa menampar Permaisuri. Tak dibayangkan bahwa dalam sisa hidupnya setelah mencapai puncak kekuasaan tertinggi, akan dipermalukan seperti sekarang ini.

Kalau Halayudha mengusulkan memanggil Truwilun, itu bukan sesuatu yang luar biasa. Sejak wanita itu berada dalam lingkungan Keraton, sejak menempati salah satu kaputren, Permaisuri sudah melakukan berbagai cara.

Yang pertama, mengadakan pesta suka ria, menghadirkan putri-putri Keraton yang bisa memalingkan pandangan Raja. Akan tetapi tak ada hasilnya. Ada satu atau dua yang berkenan di hati Raja, akan tetapi tak pernah berumur lebih dari tiga hari.

Senopati Pamungkas II – 22

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA – Senopati Pamungkas II

Yang kedua, Permaisuri memanggil para tetua yang bisa merenggangkan hubungan Raja. Tak kurang dari sepuluh dukun dipanggil untuk diminta pertolongannya, termasuk Pendeta Manmathaba sendiri.

“Ilmu pelet apa yang digunakan wulanjar tua itu?”

“Tidak ada yang secara khusus digunakan,” kata Pendeta Manmathaba ketika itu. “Hamba tak menemukan….”

“Sama sekali tidak mungkin kalau putraku sampai terseret daya asmara dengan Wulanjar tua seperti itu. Apa yang dilakukan seakan secara sengaja memilih yang terjelek dan terhina.”

“Hamba melihat sebagaimana adanya.

“Raja memang sedang terpesona, sedang tenggelam dalam lautan asmara…”

Semua pendeta dan juru ramal yang ditanyai mengeluarkan jawaban yang sama.

“Aku tak peduli. Cari jalan untuk memisahkan….”

“Dengan sedikit kekerasan sangat gampang, Permaisuri.

“Suatu bubuk racun akan menyebabkan wanita itu berbau seluruh kulit dan keringatnya, menjadi gatal-gatal di seluruh lubang tubuhnya secara menjijikkan.

“Melenyapkan, sama mudahnya.

“Namun hamba tak melihat itu membawa ke suasana yang lebih baik. Setidaknya untuk sekarang ini….”

Baik Manmathaba atau para peramal yang lain, tak bisa menyelami bahwa kegundahan Permaisuri disebabkan oleh hal-hal yang bisa diterangkan dan tidak.

Yang tak sepenuhnya bisa diterangkan ialah, kenapa putranya yang  dianggap paling tampan, paling gagah, paling berwibawa memilih wanita yang jidatnya menonjol dan bibirnya tebal serta berkulit hitam!

Apakah ini bukan tamparan keras, kalau ibunya justru berkulit putih sehingga dijuluki Dyah Dara Petak?

Apa yang sesungguhnya tumbuh di dalam jiwa putranya? Yang selama ini diketahui segala sesuatu yang disukai, dan tak disukai, lalu tiba-tiba menentukan pilihan semacam ini?

Yang makin membuat Permaisuri geram ialah sewaktu bisa menawan Ratu Ayu Bawah Langit yang kesohor itu, dan berhasil menguasai dengan ilmu sirep, Raja tetap tak menoleh. Bahkan ketika diberitahu bahwa Ratu Ayu sudah berada di kaputren, belum sekali pun Raja menengok.

Seakan Ratu Ayu yang pernah diperebutkan dalam sayembara itu tak menyentuh emosi sedikit pun.

Ciptakan Kidung Onengan

SAAT itu Raja Jayanegara seakan mendengar suara batin kegelisahan Permaisuri, atau kebetulan merasa perlu menjawab pertanyaan yang tak disuarakan Praba Raga Karana.

Raja menghentikan langkahnya.

Tangannya memainkan bunga-bunga secara sembarangan. Praba yang berada lima langkah di belakangnya, berdiam. Menunduk. Sementara para pengawal pribadi, berada puluhan tombak di belakang, tak tampak dalam pandangan.

“Ingsun bukan bocah. Langkah ingsun sama lebar dengan semua raja sebelumnya.

“Tahukah kamu itu semua, Praba?”

“Sembah dalem,  Sinuwun….”

“Marilah mendekat kemari. Saat berdua seperti sekarang ini, aku ingin merasakan kehidupan, ingin hidup sebagai manusia.

“Adakah kamu masih bertanya-tanya terus dalam batinmu kenapa aku memilihmu?”

“Sembah dalem, ingkang Sinuwun….”

“Dengar, Praba.

“Hanya kepadamulah aku mengatakan ini. Karena aku tak merasa perlu berkata kepada yang lain.

“Aku sudah dewasa. Jangan pernah kamu ragu mengenai hal itu. Jangan kamu menganggap ini perbuatan kanak-kanak. Ibu akan mengatakan bahwa usiaku belum genap dua windu, belum ada enam belas tahun, akan tetapi aku sama dewasanya seperti Baginda ketika naik takhta, sama dewasanya ketika Sri Baginda Raja naik takhta.

“Aku memang lebih cepat dewasa. Aku mengerti lebih cepat dari siapa pun seluruh isi Keraton ini. Sejak lahir aku memiliki kelebihan ini. Kalau aku memilihmu yang usianya lebih tua, karena aku sebenarnya sama tua, sama dewasa denganmu.

“Aku tahu bagaimana menjadi raja. Aku sudah belajar hal itu sejak belum berjalan. Aku diberi pengertian itu, aku belajar keras selama di Daha. Dengan sangat cepat aku bisa mengerti, bagaimana tata pemerintahan, bagaimana kekuasaan dan tanggung jawabku.

“Bahwa dari tanganku, dan bibirku, nasib manusia lain akan ditentukan baik atau buruknya. Aku menguasai hidup dan mati seluruh isi Keraton.

“Lebih dari siapa pun.

“Jangan gelisah, jangan takut kalau aku memberimu gelaran Praba Raga Karana. Karena kamu sesungguhnya seperti itu, karena aku sudah mensabdakan itu. Tak ada bedanya dengan Baginda ketika akhirnya memilih ibu sebagai permaisuri utama.

“Semua bisa terjadi karena sabda Raja.

“Karena akulah yang menentukan.”

Raja menarik tangan Praba, mendekap tubuhnya.

Satu tangan mengusap wajah Praba.

Sambil tertawa.

“Apa yang kamu takutkan, Praba?”

“Hamba…”

“Tak ada yang perlu kamu takutkan. Kalau aku mau memelukmu sekarang, itu yang terjadi. Kalau aku mengajakmu bermain asmara sekarang, di sini, itu yang akan terjadi. Tak ada yang menghalangi, tak ada yang buruk. Tak ada yang ditakuti.”

“Ingkang Sinuwun, hamba tak akan pernah menolak bayangan Sinuwun yang menghendaki apa pun….”

“Itulah semuanya.

“Aku tahu apa yang dikatakan orang, nantinya. Kenapa aku memilihmu, dan bukannya Tunggadewi atau Rajadewi, atau siapa saja. Aku tahu kenapa sekarang ini aku tak mau melihat Ratu Ayu. Sebab aku tak ingin.

“Sebab aku tak ingin.

“Sebab aku ingin kamu, Praba, yang menjadi permaisuriku, mendampingiku di takhta kerajaan. Merasakan kehormatan ini.”

“Ingkang Sinuwun, izinkanlah hamba menyampaikan…”

“Katakan, katakan…”

“Adalah karunia Dewa Yang Mahakuasa, lewat keluhuran nama besar Paduka, sehingga nasib hamba yang hanya juru pijat…”

Raja bergelak.

Tampak betul menikmati suasana dan perubahan wajah Praba.

“Sebentar, Praba, aku potong sebentar. :   “Kamu mengatakan dirimu hanya juru pijat. Hanya. Juru pijat. Ehem. Siapa yang memberi pangkat dan derajat itu? Ingsun, aku! Mulai dari juru pijat, mahapatih, senopati, permaisuri, selir, prajurit, semua karena aku.

“Saat ini aku bisa memanggil prajurit yang menjaga kita dan aku bisa mengangkatnya menjadi senopati utama. Atau bahkan mahapatih. Aku bisa juga memenggal kepalanya sekarang.

“Karena aku. Karena aku raja.

“Dan aku akan mengubahmu, sehingga tak ada lagi hanya juru pijat. Tak perlu lagi.”

“Sinuwun, hamba akan tetap melayani, mengabdi, dengan seluruh jiwa dan raga ke hadapan Sinuwun, sampai turunan yang entah kapan.

“Namun rasanya, hamba belum bisa merasakan anugerah yang maha besar itu.”

“Kalau aku menginginkan, siapa yang bisa melarangku?”

“Hamba tak bisa menjalankan….”

“Apa?”

“Mohon maaf atas segala kelancangan….”

“Praba, kamu menolak kuangkat sebagai permaisuri?”

“Hamba tetap akan melayani sampai…”

“Jawab, kamu akan menolak kuangkat sebagai permaisuri?”

Praba menunduk, bersila, melepaskan din dari rangkulan Raja. Menyembah.

Mengangguk.

Raja mengisap udara keras.

Dan tertawa sangat keras.

“Praba…  Praba…

“Tahukah kamu, bahwa caramu menghadapiku, membuatku makin tergetar oleh asmara? Bahwa di seluruh jagat ini hanya ada dua wanita yang bisa membuatku mencabut keinginanku?

“Hanya kamu dan Ibu.

“Ibu yang bisa dan berani melarangku memetik bunga, menangkap burung dan kupu-kupu. Selebihnya tak ada lagi. Seluruh Keraton menunduk, menyembah, dan melakukan apa yang ku minta. Juga Baginda, yang paling berkuasa meluluskan apa yang ku minta.

“Tapi Ibu berani melarangku.

“Berani mengatur tidurku.

“Itu dulu.

“Ketika aku makin dewasa, tak ada lagi yang berani. Tak ada yang terang-terangan berani menolak selain kamu.

“Dan aku akan mendengar kata-katamu.

“Haha….”

Praba menelan ludahnya dengan seret.

“Kalau sekarang ini Ibu memintaku jangan mengangkatmu sebagai permaisuri, justru saat itu juga aku akan mengangkatmu. Kalau saat ini Kanjeng Ibu meminta aku mengangkatmu sebagai permaisuri, aku tetap akan bertanya padamu.

“Praba, kamu mendengar kata-kata ini dari Raja.”

Praba melangkah beberapa tindak ke depan.

“Tangan kirinya terulur, dan Praba menggandeng dengan hati-hati.

“Kenapa kamu menolak, Praba?

“Merasa tak pantas?”

“Sinuwun, pantas atau tidak, apalah artinya kalau Sinuwun sudah bersabda? Tak ada lagi perbedaan itu.

“Sementara ini hamba ingin menikmati kebahagiaan bersama Sinuwun.”

“Apakah kalau kamu menjadi permaisuri akan terganggu?”

“Sinuwun hamba tak bisa membiasakan diri secepat Sinuwun…”

“Haha, kamu makin cerdik saja. Kalau itu maumu, itu yang akan terjadi.

“Praba tahukah kamu bahwa aku kedanan padamu? Bahwa aku tergila-gila oleh daya asmaramu yang hebat?

“Aku merasakan dari ujung rambut ke ujung kulit. Semua tubuhku tergetar merasakan daya asmaramu.

“Aku bisa memilih siapa saja.

“Aku bisa memanggil siapa saja.

“Tetapi aku memilihmu.

“Menetapkanmu.

“Haha, apakah ini bukan asmara yang sejati? Daya asmara yang sesungguhnya? Bukankah akan baik sekali jika sekarang ini dituliskan Kidung Asmara, Kidung Onengan, atau Kidung Kerinduan?

“Haha, akan menarik sekali.

“Semua raja begitu naik takhta ribut soal membuat Kidungan Para Raja, sibuk memikirkan kitab apa yang akan ditinggalkan sebagai warisan kebesarannya.

“Aku bisa membayangkan bagaimana Sri Baginda Raja siang-malam menghabiskan kebahagiaannya untuk merestui Kitab Bumi.

“Aku bisa memutuskan sesaat. Dengan gampang.

“Kidung Onengan.

“Haha, siapa yang akan mengatakan bahwa apa yang kutemukan dan kuwariskan sebagai raja kalah dari yang dilakukan Eyang Kertanegara?

“Bukankah itu hebat, Praba?”

“Hamba rasa begitu, Sinuwun.”

“Apakah di jagat ini kamu kira ada yang bisa menemukan asmara yang sejati seperti kita berdua?”

Praba tak segera menjawab.

“Hamba pernah mendengar kisah Upasara Wulung dengan Permaisuri Gayatri….”

Pusthika Asmara

RAJA mengayun-ayunkan tangan secara bebas.

Kentara sekali bisa membebaskan perasaan dari sikap kala bertindak menjadi raja.

“Apa yang kamu dengar dari kisah asmara Upasara dan Ibunda Alit Gayatri?”

“Seperti semua kisah yang mendebarkan, menggemaskan, dan membuat kita merasa gegetun….”

“Haha….

“Kamu juga merasa getun, merasa sayang kenapa hal itu terjadi? Upasara memang ksatria yang lain dari yang pernah kudengar selama ini. Ia berani menolak tawaran Baginda untuk memegang jabatan mahapatih, walaupun Ibu Alit sendiri yang menemui. Ia memilih tinggal di hutan, di Perguruan Awan, sebelum akhirnya terjun ke gelanggang.

“Beberapa kali aku sempat melihatnya.

“Aku kagum.

“Tapi juga kasihan.

“Tahu kamu, Praba, apa sebabnya? Karena ia tidak ditakdirkan sebagai raja.

“Sinuwun, karena itulah kisahnya menjadi kisah pusthika asmara. Kisah asmara yang akan selalu memberi tuah, memberi berkah, bagai batu permata.”

“Kenapa begitu?”

“Karena, Sinuwun, karena… Upasara memilih untuk tidak merebut kesempatan yang memenangkan dirinya. Upasara memilih cara lain untuk menyelamatkan asmara, dan dengan demikian menjadi langgeng, menjadi abadi.

“Upasara tidak memiliki, dan dengan demikian menjadi utuh selamanya.”

Wajah Raja sedikit berubah.

“Itu yang kamu rencanakan, Praba?”

Praba menyembah.

Duduk bersila di kaki Raja. Kedua tangannya memeluk kaki. Kepalanya tersandar ke lutut. Tangan Raja mengelus rambut, tanpa irama.

“Sinuwun, apalah artinya hamba ini?

“Janda yang tidak mempunyai keelokan apa-apa. Yang tak bisa menari, menembang, memasak, menghias diri, memuji. Hamba hanyalah juru pijat.

“Karena itulah Sinuwun mengangkat hamba. Untuk membuktikan bahwa Sinuwun sangat berkuasa. Menentukan derajat dan pangkat yang bisa berbalik-balik bagai bumi dan langit.

“Itu sudah kesampaian.

“Rasanya tak perlu ditambahi yang aneh-aneh, untuk mengangkat hamba sebagai permaisuri….”

“Dalam pandanganmu, aku hanya ingin memperlihatkan kekuasaanku semata, bukan karena dorongan daya asmara?”

“Mohon seribu ampun….”

“Praba… sejak pertama aku mengenalmu, aku tertarik akan kepolosanmu. Keberanianmu untuk mengutarakan apa yang kamu pikirkan di depanku.

“Hanya kamu yang berani melakukan itu.

“Katakan, Praba….”

“Sudah hamba katakan, Sinuwun….”

“Kamu tak percaya aku mempunyai daya asmara….”

“Sedikit pun hamba tak meragukan.

“Seperti juga hamba.

“Akan tetapi rasanya terlalu berlebihan jika hamba menjadi permaisuri. Akan lebih banyak mendatangkan bencana, permusuhan, yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hamba tak akan pernah pergi dari bayangan Sinuwun, selama masih diperkenankan.”

“Jagat ini memang aneh.

“Sekian ratus wanita bermimpi kusanding. Sekian puluh berdoa agar bisa kujadikan garwa prameswari dalem. Menjadi permaisuri yang utama. Tetapi kamu justru menolak.”

“Hamba tidak menolak….”

“Tapi kamu tidak suka….”

“Hamba bersyukur, hamba bersuka…”

“Tidak juga. “

“Kamu merasa apa yang kuambil sebagai putusan juga berlebihan. Atau memang begitu? Atau kamu terpengaruh kisah Upasara?

“Aku tahu kisahnya menjadi dongengan di antara rakyat. Pada malam yang baik, kisah kepahlawanannya ketika menghancurkan pasukan Tartar, kejagoannya dalam pertarungan di Trowulan, dan kisah asmaranya makin menjadi-jadi. Kini akan lebih abadi lagi karena kematiannya.

“Praba, dalam pandanganku, Upasara bukan ksatria dalam asmara, meskipun ia bisa digolongkan pahlawan.

“Kalau itu yang dikehendaki biar saja. Tetapi aku tak ingin menjalani nasib seperti itu. Aku juga tak ingin kamu menjalani hidup seperti itu, Praba….”

“Sabda Sinuwun berlaku sekarang dan selamanya….”

Raja berjalan menuju satu sisi tembok.

“Praba, kamu tahu apa yang ada di balik dinding ini?

“Kebun yang indah, yang dibangun Ibu Alit untuk melepaskan hari-harinya kala menunggu Baginda. Di situ terkubur Upasara.

“Apakah itu kemenangan bagi Ibu Alit?

“Aku tak tahu pasti. Apalagi sekarang Ibu Alit harus mengikuti Baginda ke Simping.

“Kamu tahu di balik dinding sebelah sana….” Raja menunjuk ke dinding yang lain. “Di sana ada rumah yang bagus, yang ditata sangat elok Di sana ada seorang pangeran, seusia denganku, tampan, gagah, berjiwa ksatria. Aku mengurung Pangeran Anom di sana. Saat ini menunggu keputusanku, apakah esok atau lusa harus dihukum mati karena menentang perintahku untuk berangkat ke tanah seberang. Karena aku mengenal sejak kecil, aku menemuinya. Aku menanyakan kenapa ia melawanku, dan apa permintaan terakhir sebelum menjalani hukuman pati.

“Yang pertama ia menjawab, bahwa ia tak ingin Keraton hancur oleh perebutan kekuasaan yang tak menentu.

“Yang kedua ia menjawab, mohon perlindungan untuk dua orang. Yaitu Gendhuk Tri dan Maha Singanada. Apa alasannya? Pertama, ia kasmaran, dengan Gendhuk Tri, sehingga wajar bila meminta keselamatan bagi gadis itu. Yang kedua, karena Gendhuk Tri telah menetapkan pasangan hatinya, Maha Singanada.

“Aku tertawa dalam hati.

“Tetapi aku tak menertawakan. Aku tak mau menyakiti dengan menertawakan ketololannya.

“Dan ketika aku menyanggupi, ia kelihatan bahagia.

“Mati dengan tenang, nantinya.

“Aneh sekali. Kukira tadinya ia akan minta agar kedua orangtuanya juga diampuni. Atau sesuatu yang lain. Ternyata minta perlindungan bagi kekasihnya, serta kekasih dari kekasihnya.

“Aku tak bisa menertawakan.

“Karena mungkin aku tak akan menemukan kebahagiaan seperti dirinya. Karena keinginanku untuk membahagiakanmu tak terkabul….”

Praba memeluk kaki Raja untuk kesekian kalinya.

Air matanya menetes.

Membasahi.

“Duh Sinuwun, hamba… hamba yang hina ini tak menolak… Hamba hanya mengatakan tanpa semua kehormatan itu, hamba tetap akan dan hanya mendampingi, selama masih diperkenankan….”

“Praba…

“Aku mengenal asmara, hari pertama aku merasa diriku lelaki. Selama itu tak pernah berhenti mencari dan mencari. Rasanya semua gerakan asmara pernah kujalani. Rasanya semua bentuk wanita yang pernah ada, sudah kujajal.

“Hanya padamu kurasakan semua kenikmatan duniawi dan surgawi ini…”

Raja menghela napas.

“Aku tak peduli kata jagat ini kalau kamu kuangkat sebagai permaisuri.

“Selama kamu mau….”

Praba tenggelam dalam isakan.

Tubuhnya gemetar.

Hingga ke ujung rambutnya yang tergerai karena sanggulnya terlepas.

Raja mengangkat tubuh Praba. Menuntun ke dalam.

“Apa yang kamu rasakan, Praba?”

“Bahagia, Sinuwun… Bahagia….”

“Sekarang katakan sesuai dengan suara hati yang sesungguhnya.

“Apa yang harus kulakukan pada Ibu? Mengirim ke Simping? Atau membiarkannya berada di Keraton?”

“Di Simping, suara hati yang memenangkan hati hamba secara pribadi. Tetapi Sinuwun lebih arif.

“Sebelum tetap di Simping atau di Keraton, apakah hamba diperkenankan menghadap Permaisuri?”

Kali ini Raja menghela napas.

Pegangannya terlepas.

Kalimatnya terdengar keras.

“Ingsun tak mengizinkanmu menemui Ibu.”

Mendadak Raja berbalik.

Meninggalkan Praba yang bersila menyembah.

Langkah Raja terasa tergesa.

Begitu di luar sendirian, para prajurit kawal segera mengawal, ada yang memayungi, ada yang menyembah, ada yang melihat kiri-kanan.

Raja terus melangkah kembali ke dalam.

Tujuh Senopati Utama

PADA saat yang sama di tempat yang berbeda, Senopati Kuti dan Senopati Semi hampir bersamaan masuk ke Keraton. Kedua senopati yang gagal menunggu khidmat di depan pintu dalam.

Tanpa suara.

Permaisuri hanya muncul sekilas.

“Atas nama Raja, kalian para senopati utama yang berjumlah tujuh mulai sekarang ini juga tidak boleh mengenakan dan atau memakai senjata.

“Hanya itu yang perlu kalian ketahui.”

Permaisuri segera meninggalkan ruangan.

Pintu kembali tertutup.

Senopati Semi menyembah bersamaan dengan Senopati Kuti. Keduanya mengambil keris dari pinggang. Dengan khidmat meletakkan di lantai.

Setelah menyembah kembali, keduanya mundur dengan jalan berjongkok.

Tanpa suara.

Hanya setelah di halaman bagian luar, Senopati Kuti berkata lirih,

“Kakang Senopati yang memberitahukan hal ini kepada yang lain.”

“Apa yang Kakang katakan akan saya laksanakan.”

“Kita akan bertemu kalau bulan masih bersinar sempurna.”

Senopati Semi mengangguk perlahan.

Saat itu juga Senopati Kuti segera mencari kuda yang bisa dipakai secepatnya. Tanpa menghiraukan persiapan, segera mengendarai ke arah luar.

Apa yang dipikirkan hanya satu.

Keselamatan Baginda.

Begitu banyak tanda tanya dalam hatinya, akan tetapi keselamatan Baginda tetap menjadi perhatian utama. Senopati Kuti terus mengempos kudanya hingga menjelang matahari tenggelam, kudanya menjadi kelelahan.

Ketika sedang mencari cara untuk melanjutkan perjalanan, mendadak terdengar derap kaki kuda mendatangi.

“Kamu menyusulku, Tantra?”

Suaranya menggelegar menandakan keperkasaannya.

“Majulah kemari, siapa pun kisanak yang kamu bawa…”

Dari arah bayangan pohon, Senopati Tantra muncul sambil membawa dua ekor kuda.

“Maaf Senopati… Saya memberanikan menyusul, karena…”

“Kukira kamu membawa teman.”

Senopati Tantra menoleh ke arah belakang. Hatinya menjadi ciut seketika. Bukan karena takut, melainkan tidak menyadari apakah ada yang mengikuti tidak. Karena sangat terburu-buru, sehingga kurang waspada.

Sebaliknya Senopati Kuti mengernyitkan dahinya. Rasanya ia mendengar tapak kuda yang lain. Adakah seseorang yang menguntit secara diam-diam? Adakah karena Tantra membawa lebih dari seekor kuda?

“Silakan, Senopati….”

“Terima kasih.” Senopati Kuti langsung meloncat ke punggung kuda.

“Tantra sebaiknya kamu berjaga di Keraton. Biarkan aku sendiri yang berangkat ke Simping. Bila bulan purnama nanti…”

“Mohon maaf sebesarnya.

“Saya ditugaskan menemani Senopati Kuti, karena terbetik kabar bahwa ada rombongan yang mencegat perjalanan Baginda menuju Simping….”

“Dari mana kabar itu?”

“Dari Senopati Tanca….

“Beliau menuju Simping, akan tetapi ternyata rombongan Baginda belum sampai ke tempat itu.

“Sampai sekarang masih dilacak, karena tidak ketahuan di perjalanan yang mana.”

“Siapa lagi yang berbuat begitu kurang ajar?”

Senopati Kuti mengepit perut kuda dan seakan terbang. Senopati Tantra mengikuti dari belakang. Keduanya terus memacu kudanya.

Melewati pedusunan, sawah, pedusunan, jalan menurun, mengikuti aliran sungai.

Saat itu rombongan Senopati Pangsa muncul dari seberang sungai.

“Saya dari Simping. Baginda belum sampai di tempat. Hilang dalam perjalanan.

“Yang kutemukan di jalan adalah prajurit Halayudha….”

“Apa pendapatmu, Kakang?”

“Rombongan Baginda yang berjumlah sekian banyak tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi. Menghilang tanpa jejak. Ada kekuatan lain yang mendadak mengacaukan semua rencana.

“Mengingat bahwa kekuasaan di Keraton sendiri compang-camping, agak sulit memperhitungkan kelompok mana yang membelokkan rombongan Baginda.”

Senopati Kuti bersungut.

“Kita lahir dan besar dalam pertempuran.

“Udara yang kita isap setiap harinya adalah udara medan laga. Tak nanti mereka bisa lolos. Kita hafal setiap lekukan tanah di sini.

“Hanya memang sangat mengherankan.

“Saat ini Raja sedang bercengkerama dan tak meninggalkan Keraton. Kelompok yang dipimpin Manmathaba sudah lama tak bergerak sejak pemimpinnya rontok.

“Rasanya terlalu gegabah kalau Halayudha yang melakukan ini.”

“Manusia yang satu itu sulit dipercaya….”

“Tetapi pasti tak akan pernah berani bermain-main dengan Baginda.

“Kakang Pangsa, ada kabar apa dari Lumajang?”

“Sama aneh dan sama ganjilnya.

“Mahapatih ternyata belum sampai ke Lumajang.”

Kali ini Senopati Kuti mengelus rambutnya.

“Kakang Pangsa melihat sendiri?”

“Ya. Rombongannya memang ada di sana, akan tetapi sejak semula Mahapatih Nambi tak terlihat.”

“Jangan-jangan Mahapatih dan Baginda bergabung?”

“Mungkin sekali.

“Hanya saja untuk apa?”

“Apa pendapat Kakang Pangsa? Apa yang akan kita lakukan? Terus menuju ke Simping?”

“Terserah Kakang Kuti.”

Senopati Kuti mendongak.

“Tantra, kamu melewati sebelah utara. Kakang Pangsa menelusuri jalan balik hingga ke Keraton. Aku sendiri akan memutar melewati Perguruan Awan.”

Senopati Pangsa mengangguk.

“Apa yang terjadi di Perguruan Awan?”

“Aku belum mengerti, Kakang. Hanya firasatku mengatakan, setiap kali ada sesuatu yang ganjil, hutan itu bisa memberi jawaban. Tempat itu sangat memungkinkan untuk persembunyian sekian banyak orang tanpa mengganggu pohon yang tumbuh. Kalau selama ini tak ada kabar beritanya, itu tak berarti di tempat itu tak ada kegiatan.”

Senopati Kuti mengangguk, lalu dengan sebat memacu kudanya. Ke arah kiri dari keinginan semula. Kuda yang masih segar dipacu kembali dengan keras. Hingga penumpang dan yang ditumpangi seakan mandi keringat.

Kadang Senopati Kuti masuk ke pedusunan, berhenti sebentar dan menanyakan kalau-kalau melihat adanya satu rombongan. Jawabannya ternyata gelengan.

Hanya sewaktu melewati pedusunan yang lain, Senopati Kuti mendengar adanya pembelian besar-besaran di pasar. Menurut penuturan, semua barang yang ada di pasar diborong, dan pembelinya seakan tak mengerti bagaimana cara menukar barang.

Senopati  Kuti segera menyemplak kudanya ke arah yang dilalui para pembeli.

Kali ini lebih berhati-hati.

Ketika mulai menemukan bekas-bekas kaki kuda yang agaknya sarat dengan muatan, hatinya mengatakan agar ia meneruskan perjalanan tanpa kuda.

Seperti biasanya, begitu mendapatkan pikiran tertentu, segera dilaksanakan. Kudanya dilepas begitu saja.

Langsung meneruskan perjalanan dengan jalan kaki.

Benar saja. Belum separuh hari, jejak-jejak yang diikuti makin lama makin jelas. Banyak tetumbuhan yang dipapras di sana-sini, bahkan ada tempat yang dipakai untuk beristirahat.

Berarti apa yang diburu tak jauh lagi.

Gua Kencana

APA yang disaksikan Senopati Kuti sebenarnya bisa dilihat tanpa perlu bersembunyi. Karena begitu lepas dari pepohonan, jalan yang dilalui cukup lebar. Cukup untuk berpapasan dua kereta yang lewat bersamaan.

Ini agak mengherankan.

Biasanya jalan utama dari desa ke desa dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dikenali. Akan tetapi yang sekarang ini ternyata agak tersembunyi. Lebih membuatnya bertanya-tanya dalam hati karena jalanan ini masih dalam tahap penyelesaian. Di sana-sini masih ada perkakas, masih ada bongkahan batu besar yang belum disingkirkan.

Sekitar tiga ratus tombak, Senopati Kuti bertemu rombongan yang mengangkut barang-barang. Ada tujuh gerobak ditarik sapi, beriringan. Tampaknya ketujuh gerobak itu penuh muatan, sehingga jalannya perlahan sekali. Di salah satu jalanan, malah terhenti karena roda kayu menghantam batu keras yang masih bertonjolan.

Senopati Kuti segera turun tangan. Dengan sekali sentak, kedua tangannya memutar roda dengan keras. Sapi-sapi di depan bersuara, sebelum akhirnya melangkah dengan tubuh bergoyang.

“Menghaturkan sembah dan terima kasih….”

Senopati Kuti mengangguk pendek.

“Kami mempunyai setetes air. Jika Paduka berkenan….”

Dari suaranya, Senopati Kuti mengetahui bahwa mereka umumnya penduduk biasa. Juga dari caranya menyebut paduka, yang tidak membedakan sebutan untuk senopati atau perwira Keraton tertentu, agaknya mereka ini tak mempunyai pengetahuan mengenai tata Keraton.

“Aku yang seharusnya berterima kasih. Saat ini aku belum haus.

“Kisanak, kalau aku boleh tahu, ke mana kalian akan pergi, dan apa saja bawaan kalian ini?”

Lelaki tua yang agaknya menjadi pemimpin rombongan mengangguk ramah.

Seperti Paduka, kami menuju ke Gua Kencana. Apa yang kami bawa hanyalah keperluan sehari-hari. Ada ayam, ada kambing, ada burung, ada bumbu-bumbu, serta gula….”

Rasa ingin tahu Senopati jadi bertambah.

Selama ini dirinya sangat mengenai nama-nama tempat yang menjadi wilayah Keraton. Akan tetapi rasanya baru sekarang ini mendengar nama Gua Kencana. Nama itu sendiri termasuk di luar kebiasaan. Gua Kencana, berarti gua emas, Dan agak aneh jika ada nama tempat di desa kecil begitu bagus. Nama-nama yang berbau emas, permata, atau mutiara hanyalah nama-nama yang dipakai di Keraton. Mana mungkin tempat kecil begini berani dinamai kencana?

Hal kedua yang membuat bertanya-tanya ialah bahwa penduduk yang dijumpai sangat lugu, sangat polos. Sehingga tak mungkin rasanya berdusta. Dan mengatakan kebutuhan sehari-hari, pastilah itu yang sebenarnya. Akan tetapi jika kebutuhan sehari-hari saja begini banyak, apa yang sesungguhnya tengah terjadi?

“Masih berapa lama menuju Gua Kencana?”

“Sebelum matahari tenggelam. Kalau Paduka ingin berangkat lebih dulu, kami hanya bisa mengantarkan dengan doa.

“Silakan….”

Senopati Kuti mengangguk. Ia mempercepat jalannya, kemudian melesat setelah merasa tak diperhatikan. Ia tak ingin mengejutkan dengan ilmu meringankan tubuh, mengingat dirinya belum mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Kali ini di depan juga ada rombongan lain. Bahkan suasananya lebih meriah, karena terdengar bunyi gamelan. Sementara iringan yang ada jumlahnya mencapai puluhan.

Beberapa di antaranya malah menenggak tuak.

Seseorang tampak terpengaruh minuman keras, dan mulai bersenandung.

Begini indahnya hidup

tidur memeluk bidadari

bangun memeluk bidadari

biar saja ada apa di mana

asal Kedung Dawa masih ada

hidup di surga.

Ada sesuatu yang melecehkan dalam kidungan itu. Yang menyebutkan tak peduli apa saja yang terjadi-di mana saja-asal tidak terjadi di Kedung Dawa, yang disamakan dengan surga. Senopati Kuti menahan diri untuk tidak menanyakan sesuatu. Hatinya mencatat sendiri bahwa wilayah ini bernama Kedung Dawa, nama yang pantas untuk sebuah desa. Kedung berarti bagian sungai yang dalam, sedang dawa berarti panjang atau luas. Dinamai begitu, tentunya daerah ini dekat dengan aliran sungai. Bisa jadi ini simpangan dari Kali Brantas.

Kalau benar begitu, dirinya agak tersesat ke arah lebih ke timur dari yang direncanakan.  Desa Simping lebih ke arah selatan dari Keraton Senopati Kuti bersiap membalik mencari jalan lain, ketika mendengar suara-suara yang seakan ditujukan kepada dirinya.

“Tetamu sudah berdatangan. Kalau Baginda saja datang lebih dini, bukankah ini pesta besar? Bukankah yang berjalan tergesa itu penggede Keraton juga?

“Mana saya tahu,” jawab yang diajak bicara. “Siapa saja bisa menjadi penggede, menjadi penguasa. Di Kedung Dawa segala apa bisa terjadi.”

“Kenapa Dewa memilih Kedung Dawa untuk menyimpan emas?”

“Apa pedulimu?

“Dewa itu seperti manusia juga. Mereka berperang, berebutan, dan melarikan diri. Salah satu Dewa itu kesasar di desa ini. Masuk ke Gua Kencana. Hartanya disimpan di sana. Menurut rencana akan membuat barisan pohon kelapa dari emas.

“Jumlahnya seribu pohon.”

“Setinggi pohon kelapa yang sesungguhnya?”

“Apa setinggi kamu!”

“Kalau satu Dewa saja bisa melarikan begitu banyak emas, bagaimana kalau sepuluh Dewa melarikan diri ya?”

Pembicaraan di antara minuman keras memang sering melenceng jauh. Akan tetapi Senopati Kuti merasa bahwa yang dibicarakan bukan sepenuhnya omong kosong. Ada sesuatu yang bergerak yang membuat desa Kedung Dawa menjadi pusat kegiatan yang mencengangkan. Mudah diduga bukan harta karun yang dibawa Dewa, akan tetapi ada kaitannya dengan emas yang menyebabkan ada sebutan Gua Kencana.

“Sebenarnya kita ini masih lebih baik dari penggede”

“Sudah tentu.

“Kita begini-begini masih melakukan sesuatu. Masih ada yang kita sumbangkan. Sedangkan para penggede itu hanya datang, melihat, dan pulangnya membawa harta.”

“Hei, jangan omong sembarangan. Kalau penggede itu mendengar, kamu tak bisa bertemu anak dan istrimu.”

“Untuk apa bertemu istri di rumah, kalau di sini saja banyak pesinden ayu?”

Jawaban yang terdengar disertai gelak tawa yang keras.

“Benar kalau dikatakan di sinilah sesungguhnya surga dunia itu. Aku sedang membayangkan makan paling enak, tidur bersama pesinden paling ayu, selama hidup sampai berdiri pun tak mampu lagi.”

Makin lama pembicaraan makin ngawur. Senopati Kuti mempercepat jalannya. Jalan yang dibuat agak tergesa ini ternyata cukup panjang.

Paling sedikit diperlukan ratusan orang dan memerlukan waktu beberapa bulan. Dari anehnya, selama ini Senopati Kuti tak pernah mendengar adanya rencana besar ini.

Ketika sampai di suatu lapangan yang luas, Senopati Kuti benar-benar makin heran. Karena di sana ada puluhan gerobak. Semuanya seperti tengah menurunkan muatan.

Benar-benar luar biasa.

Yang juga membuat lebih heran lagi ialah terlihatnya tanda payung kebesaran yang digunakan Baginda!

Apa benar Baginda dan rombongannya juga nyasar kemari?

Tidak, ini pasti tidak nyasar. Ada kesengajaan menuju Kedung Dawa. Kalau benar Baginda ada di sini…

Jidat senopati Kuti berkerut.

Kini sepenuhnya yakin bahwa rombongan Baginda berada di Kedung Dawa. Karena beberapa prajurit kawal yang mengenal segera menuju ke arahnya dan bersila di depannya.

“Bagaimana keadaan Baginda?”

“Semua dalam lindungan Dewa, sang Senopati….”

“Sejak kapan kalian berada di sini?”

“Sepekan lalu, Baginda memerintahkan bermalam di sini.”

Rasa lega mengguyur Senopati Kuti.

Sekarang segalanya yang dikuatirkan tak ada sisanya lagi. Baginda dan rombongannya dalam keadaan selamat. Bahkan sudah bermalam selama sepekan. Sungguh tidak imbang dengan kecemasan para senopati yang mencari siang dan malam.

Tapi apa sesungguhnya yang terjadi di desa ini?

Sehingga Baginda yang sedang menuju Simping pun berputar arah?

“Prajurit, sampaikan kepada atasanmu, aku Senopati Kuti ingin sowan kepada Baginda jika diperkenankan.”

“Maaf, Senopati… Baginda sedang berada dalam Gua Kencana….”

Candi Senopaten Pamungkas

“APA itu artinya?”

“Baginda sedang berkenan meninjau Gua Kencana, dan tak ada yang bisa dihubungi saat ini.”

“Jangan-jangan bahaya…,” desis Senopati Kuti yang mendadak keringat dinginnya mengucur. Kalau sampai Baginda pergi sendirian, tanpa pengawal itu berarti mengundang bahaya besar. Darahnya mendidih.

“Di mana gua itu?”

“Di balik rumah, di lembah….”

Tanpa menunggu penjelasan, Senopati Kuti segera bergegas ke arah yang ditunjuk. Di seberang tanah lapang yang mirip alun-alun terdapat bangunan rumah yang luar biasa bagus dan besar. Bahkan kalau bangunan itu berada dalam Keraton, tetap terlihat mewah. Apalagi gerbangnya diukir dan dijaga ketat.

Tapi Senopati Kuti tak mempunyai perhatian sedikit pun. Tujuannya mengejar Baginda ke Gua Kencana. Maka langkahnya diteruskan lewat samping bangunan.

Belum sepuluh tombak sudah tampak penjagaan yang berlapis-lapis. Senopati Kuti tak bisa menghindar karena jalanan setapak yang juga baru dibuat ini tak memungkinkan untuk menyelinap. Kalau ia nekat menerobos, berarti mengundang keributan.

“Selamat datang, Senopati…. Boleh kami tahu siapa nama dan apa perlunya datang kemari?”

Senopati Kuti mengibaskan tangannya.

Pandangan matanya tajam menatap penjaga yang berusaha memperlihatkan sikap hormat.

“Aku Senopati Kuti, satu di antara Tujuh Senopati Utama Keraton Majapahit, seorang dharmaputra, ingin menghadap Baginda….”

“Nama besar Senopati Kuti sudah terdengar sampai ke pelosok jagat. Maafkan kami yang buta dan tidak mengenali. Saya Prajurit Sariq menyampaikan hormat.

“Hanya saja kami tak bisa memberikan jalan kepada Senopati. Kami silakan Senopati menunggu di dalem utama….

“Rasa-rasanya aku mengenalmu. Apakah kamu senopati dari Turkana?”

“Dulunya begitu….”

“Hmmmmm… Tak kusangka, kamu menjadi pengabdi di sini.

“Senopati Sariq, karena kamu sudah mengerti tata Keraton, karena kamu sudah mengenal siapa aku, bukakan jalan. Rasanya tak bisa aku membiarkan Baginda berada dalam gua tanpa pengawalan.

Senopati Sariq membungkuk hormat. Dua orang yang berada di belakangnya bersiap.

“Tugas saya di sini menjaga jalan ini, Senopati.

“Saya pun tak rela junjungan saya lepas tanpa pengawalan. Akan tetapi ini perintah.”

“Apa Ratu Ayu juga berada di dalam?

“Begitulah adanya.”

“Sejak kapan datang?”

“Sebelum Senopati….”

“Bagaimana mungkin kalian bergabung di sini?”

“Panjang ceritanya….”

“Katakan sekarang.”

“Tugas saya sekarang menjaga jalan ini.”

Terlihat jelas bahwa meskipun sangat menghormat, Senopati Sariq bersikap keras, lugas. Siap menghadapi ancaman apa pun, untuk mempertahankan tugas.

“Apa yang ingin Paman ketahui?”

Senopati Kuti hafal dengan nada suara. Ketika pandangannya berpaling ke arah pembicara, matanya berkejap.

Jakunnya bergerak.

“Gendhuk Tri, kamu juga ada di sini?”

Senopati Pamungkas II – 23

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA – Senopati Pamungkas II

Gendhuk Tri menghela napas duka. Sesak.

Pandangannya tidak berubah.

Bagi Senopati Kuti, Gendhuk Tri bukan orang lain. Semasa masih memakai kemben, sudah berada di medan laga menggempur pasukan Jayakatwang, dan terakhir malah terlibat pertarungan mati-hidup dengan pasukan Tartar.

Sejak itu memang jarang bisa bertemu dan berbicara karena kesibukan dan urusan yang berbeda.

“Paman Kuti tak usah kuatir. Baginda dalam keadaan aman. Tak akan ada musuh yang bisa menyusup masuk. Kecuali kalau di dalam terpeleset atau masuk ke perapian.”

Senopati Kuti mengangguk. Meskipun kalimat Gendhuk Tri sembrono dan kurang ajar, akan tetapi rasa kuatirnya punah mendengar jaminan keselamatan yang diucapkan.

“Akan lebih baik Paman menunggu di sini. Sehingga kalau ada apa-apa, bisa berbuat sesuatu.”

Senopati Kuti mendekati Gendhuk Tri.

“Katakan apa yang terjadi di sini.

“Aku bisa edan….”

“Paman Kuti, sebelum saya mengatakan, Paman harus menjawab pertanyaan saya lebih dahulu.

“Selama ini Paman berada di Keraton. Apakah betul Kakang Upasara tewas terbunuh?

Senopati Kuti mengejapkan matanya.

Senopati Sariq menunggu. Tubuhnya seolah berubah menjadi kuning pertanda menyimpan perasaan yang bergolak.

“Aku di Keraton, akan tetapi sejak lama aku tak mempunyai tangan dan kaki. Hanya melihat dan mendengar. Aku ibarat manusia lumpuh tak ada gunanya.

“Apa yang bisa kulakukan, kalau aku hanya senopati yang tidak memegang kekuasaan memerintah?”

“Paman belum menjawab pertanyaan saya.

“Apa benar Kakang Upasara mangkat?”

Senopati Kuti mengangguk.

“Upasara ksatria sejati. Lelananging jagat kang sejati. Di jagat ini hanya ada satu orang ksatria yang begitu mulia, itulah Upasara Wulung. Yang tidak tertarik pangkat dan derajat. Yang sakti, yang mulia hatinya.

“Bagaimanapun, Upasara gugur sebagai pahlawan. Sebagai Senopati Utama, lebih dari Tujuh Senopati Utama ini!

“Dewa menghendaki begitu.”

Sesaat Gendhuk Tri mengeluarkan suara tertahan.

“Aku akan membalaskan sakit hati, dendam ini, kepada Halayudha, segera setelah urusan ini selesai.”

“Paman Kuti, apakah benar Kakang Upasara dipoteng-poteng jasadnya?”

Tubuh Gendhuk Tri gemetar. Kentara sekali masih terguncang batinnya. Ketika mengucapkan kata dipoteng-poteng-dipotong-potong, getaran itu masih menyayat.

Tubuh Senopati Kuti juga gemetar.

Tak kuasa mengangguk.

Hanya bisa menunduk.

Selama ini ia tak percaya bahwa seorang senopati, seorang ksatria seperti Upasara Wulung harus menerima hukum poteng. Tubuhnya dipotong-potong, dipisahkan kedua kaki, kedua tangan, kepalanya…

“Lupakan yang…”

“Tak akan pernah kulupakan, Paman.

“Sekarang Paman jawab pertanyaan ini. Apa benar itu semua perintah Gayatri?”

416

Cara menyebut Gayatri, benar-benar ditandai dengan kebencian yang bergetah. Biar bagaimanapun, Senopati Kuti tak bisa menerima junjungannya dijangkar, disebut nama kecilnya begitu saja. Tak sembarangan lidah boleh menyebutkan nama Permaisuri Rajapatni.

Namun agak sulit Senopati Kuti melampiaskan kemarahannya. Ia menyadari bahwa Upasara adalah pujaan bagi masyarakat Majapahit secara keseluruhan. Sejak pertarungan di Kediri, keunggulannya atas pasukan Tartar secara gemilang dalam pertarungan yang disaksikan dengan mata telanjang, sejak itu nama Upasara menjadi nama harum yang semakin melegenda. Di Kalangan para ksatria, nama Upasara memuncak tatkala pertarungan di Trowulan berakhir.

Kabar kematiannya sudah mengguncang seluruh masyarakat. Apalagi mengenai hukum poteng yang menyebar luas sebagai pelaksanaan perintah dari Permaisuri Rajapatni.

“Sesungguhnya aku tak mengetahui pasti dan mana asal mula perintah

“Tapi hukum potong itu benar?”

“Ya….”

“Paman Kuti, dengar baik-baik.

“Kita sama-sama di sini. Menunggu Baginda, dengan keinginan dan tujuan yang berbeda. Paman berniat melindungi Baginda, saya berniat bertanya.

“Saya ingin mengetahui, apa yang ada di hati Baginda yang membiarkan atau malah merestui hukum poteng bagi Kakang Upasara, sementara di tempat ini Baginda ingin meresmikan Candi Senopaten Pamungkas.

“Saya tak tahu siapa yang waras dan siapa yang berubah ingatan.”

“Jaga mulutmu baik-baik.”

“Saya ulangi, saya tak tahu siapa yang waras. Kalau benar Baginda membiarkan Kakang Upasara dihukum pisah tubuh, dan sekarang meresmikan candi untuk mengenang kedigdayaannya, apa-apaan ini semua?

“Serigala yang paling busuk pun tak memakai cara seperti ini.”

Kedua tangan Senopati Kuti terangkat. ‘ Senopati Sariq maju selangkah.

Gendhuk Tri berdiri dengan gagah.

“Kalau Paman tidak terima, majulah. Saya siap menghadapi.”

Lamaran Sodagar Galgendu

TANTANGAN main keras.

“Ada waktunya tersendiri.”

“Baik, sampai kapan pun saya siap menghadapi orang yang membela manusia berhati serigala.”

“Tidak sekasar itu omongan gadis yang waras.

“Apa pun yang kamu katakan, sebagai senopati Keraton saya akan membela Baginda.

“Masalahnya belum jelas benar, apakah itu betul-betul perintah Permaisuri Rajapatni atau hanya ulah Halayudha….

“Dengar baik-baik, Gendhuk Tri.

“Aku senopati, aku prajurit. Bayangan tubuh Baginda yang dipelototi pun, akan kucari sebabnya, akan kucungkil matanya. Salah atau tidak salah, itulah tugasku.

“Dengar dulu baik-baik, agar mulutmu tak lancang.

“Dalam kekisruhan sekarang ini, agaknya perlu menenangkan hati. Selama ini Halayudha bisa terus-menerus malang-melintang dan mengatur segala apa yang terjadi di Keraton. Sejak semula, Halayudha mempunyai dendam kepada Upasara.

“Siapa yang melukai tangan kanan Upasara, sehingga tak bisa leluasa digerakkan?

“Sehingga Upasara harus menggunakan tangan kirinya?

“Siapa yang meneruskan sabetan keris Senopati Agung Brahma, kalau bukan Halayudha? Kenapa yang diarah persis pundak kiri? Agar seluruh kemampuan Upasara musnah.

“Setelah tangan kanannya dilumpuhkan, kemudian tangan kirinya.

“Setelah ditawan, muncul kekuatiran bahwa Upasara Wulung bisa bangkit kembali. Hal yang bisa diterima kalau mengingat bahwa Upasara Wulung bahkan mampu mengembalikan tenaga dalamnya yang musnah. Satu-satunya jalan untuk memusnahkan secara total adalah memotong tangan dan kakinya.

“Bukankah ini lebih masuk akal dibandingkan permintaan atau perintah Permaisuri Rajapatni yang bijak dan mulia?

“Berpikirlah yang luas.”

“Tapi Paman mendengar sendiri kabar bahwa hukum poteng itu perintah Gayatri?”

“Dalam suasana seperti sekarang, kabar yang paling aneh memang sengaja disebarluaskan.”

“Untuk Apa?”

“Jangan tanya padaku. Semua orang juga akan mengetahui untuk apa.”

“Paman Kuti, saya minta maaf kalau saya berlaku lancang.

“Mari kita teruskan pembicaraan ini. Untuk apa Halayudha menyebar berita ini kalau kenyataannya tidak begitu?”

“Untuk mengadu.”

“Tak mungkin.” Gendhuk Tri menggeleng keras. “Paman, Halayudha adalah manusia busuk. Paling busuk.

“Di seluruh jagat ini, Kakang Upasara hanya pernah mendendam pada satu orang. Namanya si busuk lahir-batin Halayudha….”

“Nah, jalan pikiran kamu mulai waras.”

“Paman yang tidak waras.”

Kali ini Senopati Kuti benar-benar berkeringat karena gusar. Diikuti omongannya, akan tetapi setiap kali Gendhuk Tri justru mempermainkan.

“Paman yang tidak waras.

“Halayudha memang culas, hina, dan segala yang busuk. Tapi Halayudha tak akan sebodoh itu menyebarkan kabar bahwa Kakang Upasara dipotong-potong karena perintah Gayatri, kalau hal itu tidak benar.

“Karena akan sangat mudah dibantah.

“Bukankah ini jalan pikiran yang waras?”

Diam-diam Senopati Kuti mengakui kebenaran omongan Gendhuk Tri. Halayudha pastilah tidak sebodoh itu. Menyiarkan kabar yang akan sangat mudah dibantah.

Kalau benar begitu…

Tubuh Senopati Kuti kini sepenuhnya mandi keringat. Desisan napasnya memburu.

“Aku tak tahu.

“Barangkali kamu bisa menunggu….”

“Itu sebabnya saya berada di sini. Saya sengaja datang bersama Nyai Demang dan Ratu Ayu untuk mengetahui hal yang sebenarnya.”

“Dari mana kamu tahu Baginda berkenan mampir kemari?”

Gendhuk Tri menyunggingkan bibirnya.

Seakan meremehkan nama yang dibicarakan.

“Siapa yang berkenan? Baginda datang kemari karena Sodagar Galgendu. Sodagar Galgendu yang membuat Baginda terkesima dan ingin melihat Gua Kencana. Yang membuat Sodagar Galgendu melakukan itu  karena ada saya, ada Nyai Demang, dan terutama karena ada Ratu Ayu….”

Mata Senopati Kuti berkejap-kejap.

Seakan kalimat sederhana Gendhuk Tri terlalu sulit diterima. Agak tidak masuk akal bahwa Baginda berkenan singgah ke suatu tempat, dalam perjalanan penting ke Simping,  karena terkesima Gua Kencana. Yang ternyata dimiliki oleh seseorang yang disebut Sodagar Galgendu. Dan yang disebut Sodagar Galgendu ternyata diperintah oleh Gendhuk Tri, Nyai Demang, dan Ratu Ayu!

“Paman Kuti, saya tak mendengar apa-apa selain kabar kematian Kakang Upasara ketika berada di Keraton. Dalam kekecewaan yang besar, kami bertiga-saya, Nyai Demang, dan Ratu Ayu-berniat melanjutkan perjalanan sendiri-sendiri.  Saat itulah kami mendengar berita bahwa cara Kakang Upasara menemui ajalnya sangat mengerikan.

“Kami berniat membuktikan sendiri dengan menanyai Gayatri. Tapi ternyata kemudian ia bersama Baginda. Atas kemauan baik Sodagar Galgendu, daripada susah-susah mengejar Baginda dan belum tentu mau menjawab, lebih baik di tempat ini.

“Galgendu mengirimkan utusan, dan rombongan Baginda membelok. Berada di sini.

“Apa tidak hebat yang namanya Galgendu itu?”

Nada suara Gendhuk Tri sudah mulai kembali seperti biasanya.

“Siapa itu Sodagar Galgendu?”

“Paman tidak tahu?”

“Tidak.”

“Saya juga tidak.”

Gendhuk Tri tertawa lebar.

Disusul,

“Sampai sekarang saya juga tidak tahu siapa dia.

“Yang saya tahu orangnya gemuk, gede. Yang saya tahu sejak lama ia tergila-gila kepada Ratu Ayu. Ia mau melakukan ini semua, termasuk membuat Candi Senopaten Pamungkas, karena berharap bisa mendekati dan mendapatkan Ratu Ayu….

“Sariq, kamu tak usah malu.

“Itu biasa.

“Belum tentu Ratu Ayu mau….”

“Apa lagi hebatnya?”

“Tak perlu banyak. Satu saja kehebatannya cukup. Galgendu mempunyai gua emas, yang sanggup membuat seratus pohon kelapa sebesar aslinya. Semua dari emas.

“Nah, Baginda saja tergiur….”

Kembali tangan Senopati Kuti melayang. Senopati Sariq menangkis cepat. Dua benturan tangan mengeluarkan suara keras.

Pada kejap yang bersamaan, seluruh jalanan penuh dengan prajurit yang bersiaga.

“Paman, Paman boleh merasa unggul.

“Tapi di tempat ini, terlalu banyak orang sakti yang mau bertarung karena mendapat emas. Kalau Paman lihat sekeliling, di lapangan terbuka semua manusia ada. Ksatria, prajurit, sodagar atau pedagang besar-kecil, pendeta, semua mau berada di sink

“Mau mendengarkan dan mengikuti perintah Galgendu yang mempunyai gua emas.

“Nah kalau Paman masih mau adu tenaga, silakan.”

Senopati Kuti menggeleng.

“Baik, kita tunggu persoalannya.”

“Itu yang sejak tadi dikatakan Senopati Sariq. Ada tempat untuk menunggu. Yang saya kira lebih bagus dari rumah senopaten. Seperti Paman, saya pun menunggu.

“Hanya saja saya menunggu di sini, karena lebih cepat mendengar dari Ratu Ayu….”

“Siapa saja yang berada dalam Gua Kencana?”

“Galgendu, karena ia yang punya. Baginda, karena ia yang ingin tahu. Dan tentu saja semua permaisurinya, yang juga ingin tahu seperti apa gua emas itu.

“Saya bisa masuk, akan tetapi untuk apa melihat barang rongsokan yang dipuja itu?”

Senopati Kuti menghirup udara keras-keras. Dadanya menggembung.

“Gendhuk Tri, terima kasih atas penjelasan ini semua.”

“Aha, Paman jadi kelihatan sungkan.

“Sejak dulu kita tak berhubungan erat, akan tetapi juga tidak bermusuhan. Entah sebentar lagi. Kecuali kalau di dalam gua sana Ratu Ayu sudah membereskan semuanya.”

Itu yang dikuatirkan Senopati Kuti!

Baginda boleh jadi masih sakti, masih bisa memainkan ilmu silatnya yang memang hebat. Akan tetapi kalau bersama empat permaisuri, berada di tempat yang belum diketahui medannya, pastilah sulit menyelamatkan diri. Apalagi yang dihadapi adalah Ratu Ayu Bawah Langit. Yang sewaktu diadakan sayembara pilih jodoh, hanya bisa diungguli oleh Upasara.

Itu yang membuat Senopati Kuti tak bisa berbuat apa-apa. Karena tetap tak bisa menyusul masuk. Tak bisa berbuat apa.

Apa yang terjadi dalam gua sekarang ini?

Perjalanan Kangkam Kencana

RATU AYU sendiri tak membayangkan perjalanan hidupnya hingga ke Gua Kencana.

Sejak berkelana dari Negeri Turkana, keinginannya hanya satu. Menemukan ksatria yang mampu mengalahkannya, yang akan membebaskan negerinya dari cengkeraman bangsa Tartar.

Sampailah perjalanannya ke tanah Jawa. Selain mendengar dari gurunya bahwa ada pertemuan yang berlangsung setiap lima puluh tahun, juga mendengar kabar bahwa hanya di tanah Jawa pasukan Tartar bisa ditundukkan. Pasukan yang menguasai separuh jagat ini ternyata tak berkutik menghadapi raja tanah Jawa, baik semasa Sri Baginda Raja maupun penerusnya.

Dalam sayembara yang menemukan, Upasara yang muncul sebagai pemenang. Yang bisa mengalahkannya. Lebih dari itu, Upasara memiliki Kangkam Galih, pedang tipis panjang yang tadinya tersembunyi di dalam tongkat galih pohon asam. Pedang itu dipercayai sebagai pusaka dari Negeri Turkana, sehingga baik Ratu Ayu maupun para senopati pengiringnya percaya setulusnya, bahwa Upasara adalah pembebas yang dicari.

Sejak saat itu tekad Ratu Ayu sudah bulat untuk nyuwita, mengabdi sebagai istri. Sambil menunggu hari baik, saat Upasara bersedia menduduki takhta di Turkana.

Akan tetapi Upasara seperti lenyap ditelan bumi. Ratu Ayu tak bisa mencari, tak bisa menemukan tempat bertanya. Serta rasanya tak mungkin terus-menerus bertahan di Keraton.

Maka mulailah petualangan, perjalanan yang melelahkan. Sangat melelahkan karena sebagai ratu, tak bisa berhenti di sembarang tempat untuk beristirahat, makan, atau mandi. Tak bisa bertanya langsung. Kerepotan yang utama, selain pembiayaan yang besar, masalah yang dihadapi selalu muncul. Sebagai wanita yang mendapat julukan Ratu Ayu Bawah Langit, selalu ada saja yang mencoba mendekati. Baik yang sekadar ingin tahu, atau memang tergila-gila.

Selama ini para senopatinya yang setia mengawal bisa menyelesaikan, akan tetapi  persoalan yang sama selalu datang. Ke mana pun pergi, rombongannya selalu menjadi pusat perhatian.

Pada saat itu, Senopati Sariq menghadap dan mengatakan bahwa ada yang berniat mempersembahkan sesuatu kepada Ratu Ayu.

“Untuk apa kamu laporkan, kalau kamu sudah tahu jawabannya?”

“Maaf, Gusti Ratu.

“Sekali ini lain. Utusan yang datang ingin menyerahkan Kangkam Kencana, pedang emas yang sama bentuknya, sama rupanya dengan Kangkam Galih, hanya seluruhnya terbuat dari emas.”

“Untuk apa membawa barang yang hanya akan memberati?”

“Selain itu juga bisa memberi pertolongan mencari dan menemukan Raja Turkana Upasara Wulung….”

“Orang macam apa dia itu?”

Ratu Ayu mendengar laporan lebih lengkap. Bahwa yang ingin bertemu bernama Galgendu, biasa disebut Sodagar Galgendu. Sodagar, atau saudagar, adalah sebutan untuk kaum pedagang besar. Yang biasanya menggunakan perahu besar dalam melancarkan usahanya.

Kaum sodagar ini tak pernah mendapat tempat terhormat dalam tata masyarakat. Yang dianggap mempunyai darah pilihan ialah kaum ningrat, kaum pendeta, serta kaum ksatria. Derajat dan pangkat kaum sodagar dianggap sama dengan masyarakat biasa.

Yang sedikit membedakan hanyalah ketika Sri Baginda Raja memegang pemerintahan. Saat itu para saudagar mendapat tempat yang lebih terhormat. Karena Baginda Raja banyak membutuhkan bantuan untuk mengirimkan puluhan armadanya ke negeri seberang. Untuk pertama kalinya pula, Sri Baginda Raja mengizinkan saudagar hadir dalam pasewakan agung, pertemuan besar Keraton.

Menurut cerita, Sri Baginda Raja tidak segan-segan menanyakan pendapat secara terbuka, dan memperlakukan tak beda dengan para pendeta.

Salah satu yang sejak kanak-kanak sudah sering sowan ke Keraton adalah Galgendu, yang mengikuti ayahnya. Menurut cerita pula, nama itu pemberian langsung dari Sri Baginda Raja.

Semasa pemerintahan Baginda Kertarajasa, Galgendu dengan setia pula memberikan upeti, memberikan bantuan dalam melancarkan perdagangan. Baik dalam urusan di tanah Jawa maupun ke negeri seberang. Hanya saja yang terakhir ini sangat kecil kegiatannya. Kapal yang membawa Senopati Agung Brahma juga merupakan sumbangan Galgendu.             Senopati Sariq telah menyaksikan sendiri dan berhasil menemui Galgendu untuk meyakinkan hatinya. Itu sebabnya berani mengajukan usul kepada Ratu Ayu.

Dalam pertemuan itu, Senopati Sariq yakin bahwa bukan tidak mungkin pencarian Upasara bisa lebih cepat. Karena semua pejabat Keraton dikenal dan sangat mengenal Galgendu.

Termasuk para permaisuri yang perhiasannya dibuat Galgendu.

Itu sebabnya kemudian, Ratu Ayu bisa berada dalam Keraton. Kali ini sepenuhnya atas jaminan Galgendu. Bulan demi bulan, Ratu Ayu menerima laporan di mana dan bagaimana keadaan Upasara. Tinggal mencari waktu yang tepat untuk menemui.

Akan tetapi sebelum saat yang tepat tiba, muncullah rombongan pendeta Syangka yang dipimpin oleh tetuanya sendiri, Pendeta Manmathaba. Penguasa yang naik ke permukaan satu ini, tak mempunyai ikatan dengan Galgendu Atas kemauannya sendiri, dengan diam-diam Ratu Ayu dikenai pengaruh racun bubuk pagebluk. Meskipun ramuannya sangat tipis, akan tetapi perlahan-lahan Ratu Ayu berada di bawah pengaruh bubuk beracun.

Sehingga bisa disembunyikan dari incaran dan pusat kegiatan. Kangkam Galih yang tak pernah lepas dari sisinya itu bahkan bisa diambil.

Pedang itulah yang dilihat Gendhuk Tri ketika ia juga jatuh ke tangan Manmathaba.

Betapa kemudian perjalanan hidup Ratu Ayu makin menyuruk ke dasar penderitaan. Antara sadar dan tidak ia mendengar bahwa Upasara Wulung raja Turkana, suaminya, sang pembebas, telah tiada. Justru di halaman Keraton, di mana dirinya berada! Tanpa sempat bisa berbuat suatu apa.

Dalam keadaan terombang-ambing jiwanya, sekali lagi Galgendu mengulurkan tangan, berusaha menolong. Memberi jaminan keamanan, dan menyediakan semua keperluan Ratu Ayu.

Itu sebabnya ketika keluar dari Keraton, Ratu Ayu mengajak Gendhuk Tri dan Nyai Demang untuk menuju Kedung Dawa. Mereka diterima dengan segala kebesaran dan kemewahan, tak ubahnya seperti ketiganya adalah ratu-ratu-ratu.

Memenuhi janjinya, Galgendu menceritakan apa yang bisa diketahui mengenai Upasara. Termasuk kabar yang merobek hati dan menyayat perasaan. Bahwa tubuh Upasara dipisah-pisahkan sebelum akhirnya dikubur di kebun Keraton.

Galgendu yang mempunyai kekuasaan atas gua emas, bisa memperoleh kabar yang barangkali tak pernah didengar oleh kalangan yang berdiam di Keraton sekalipun.

Dari berbagai sumber yang bisa diperoleh kabar, hukum poteng yang dilaksanakan atas Upasara Wulung berasal dari perintah Permaisuri Rajapatni. Walau kabar itu pertama kali dari pengakuan Halayudha-yang nyatanya sangat mengindahkan Galgendu-tetapi sumber yang lain membenarkan.

Galgendu kemudian mengajukan usulan, agar sebaiknya Upasara Wulung dimakamkan sebagai layaknya ksatria, dengan segala kebesaran dan kegagahannya. Bahkan untuk itu akan didirikan Candi Senopaten Pamungkas.

Bahwa selama ini hanya para raja yang dimuliakan pemakamannya dalam bentuk candi, tidak menghalangi sedikit pun niat Galgendu. Atas kekuasaannya, para pendeta dan para bangsawan di Keraton bisa menyetujui.

Termasuk Baginda.

Dalam perasaan tertindih dan hati yang dibalut derita, Ratu Ayu merasa bahwa pertolongan Galgendu sangat diharapkan. Bantuan Galgendu berarti banyak bagi dirinya.

Apalagi, Galgendu bahkan menyanggupi akan menyelesaikan semua mengenai pemindahan tubuh Upasara dari dalam Keraton hingga ke Kedung Dawa, atau bahkan sampai ke Negeri Turkana sekalipun!

Sewaktu Ratu Ayu mengisikkan bahwa ia ingin mendengar sendiri dari Permaisuri Rajapatni mengenai pelaksanaan hukum poteng, Galgendu pula menyanggupi mendatangkannya ke Kedung Dawa. Bahwa saat itu Permaisuri Rajapatni sedang mengikuti ke Simping, tetap tak mempengaruhi niatnya.

Sesuai dengan janjinya, Baginda memang benar-benar bisa dibelokkan arahnya.

“Galgendu, kamu begitu baik padaku. Sangat baik. Apa yang sebenarnya kamu harapkan dariku?”

Lelaki bertubuh gemuk, wajahnya tampak welas asih dengan gerakan lembut, menunduk lama.

“Duh Ratu, sejak pertama melihat Ratu Ayu, saya tak bisa memejamkan mata barang sekejap pun. Saya merasakan getaran daya asmara. Malu atau tidak, daripada saya membawa mati kerinduan asmara ini, lebih baik saya katakan kepada Ratu.”

“Galgendu yang budiman, selama ini aku hanya mengenal satu lelaki. Dan hanya Raja Turkana itulah tempatku mengabdi sepanjang hidupku ini. Tak akan pernah ada orang lain.

“Bukankah kamu bisa mencari yang lainnya?

“Di Keraton puluhan banyaknya wanita yang harum bau tubuhnya, yang mengalahkan para bidadari. Kekuasaanmu atas Gua Kencana akan membuka semua pintu kaputren.”

“Ratu, saya bukan anak muda lagi. Biarkanlah saya menyimpan perasaan hati: saya. Ratu tak perlu memberi nasihat seperti itu. Karena yang begitu, cacing dan burung di sini sudah lebih dulu mengetahui.”

Ki Dalang Memeling

RATU AYU meminta maaf dengan suara lembut.

“Ratu, kalaupun saya tak bisa bersanding dengan Ratu, rasanya lebih dari bahagia menerima kehadiran Ratu di tempat ini. Segalanya saya sediakan untuk Ratu, dan segalanya disediakan dengan rasa bahagia.

“Saya berharap, lamaran saya ini tidak menimbulkan rasa kurang enak atau kekikukan hati, sehingga Ratu tergesa meninggalkan tempat ini.”

“Aku bisa mengerti keinginanmu, sejak kamu berani menawarkan membuat Kangkam Kencana.

“Aku tak bisa merangkai kata-kata dengan baik, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat berterima kasih. Kamu sangat baik padaku, pada Negeri Turkana. Akan tetapi, mengenai satu hal itu, rasanya aku tak bisa mengatakan apa-apa.

“Setengah menjanjikan pun tak bisa.

“Kamu bisa mengerti, Galgendu?”

“Sebisanya, Ratu.”

“Kalau mau mengerti, aku akan berada di sini sampai segalanya jelas. Sampai aku membalaskan sakit hatiku, dan kemudian aku akan kembali ke Negeri Turkana.”

“Baik, Ratu.

“Saya bisa memperpanjang waktu agar Ratu tetap berada di sini. Tetapi saya tidak akan melakukan itu. Saya sudah terhibur dan bahagia dengan kedatangan Ratu.”

“Galgendu, apa yang menyebabkan kamu menginginkan aku?

“Maaf kalau tata krama di sini tidak biasa dengan pertanyaan semacam itu. Aku dibesarkan dalam tradisi yang berbeda, dan bahkan di negeriku pun aku tidak sehalus mereka.”

“Duh, Ratu, saya tak bisa menerangkan. Itu perasaan dan suara batin saya.

“Selebihnya saya tak mengerti.

“Maaf, Ratu… Tadinya saya mengira bahwa saya menghendaki wanita paling ayu. Ada benarnya. Ratu adalah Ratu Ayu Bawah Langit. Akan tetapi tetap bukan yang satu-satunya.

“Tadinya saya mengira bahwa saya menghendaki derajat dan pangkat yang luhur. Dengan mempermaisurikan Ratu, saya dan seluruh keturunan saya akan terangkat.

“Benar, Ratu…

“Di negeri ini, atau di negeri mana pun, sodagar bukanlah kaum yang terpandang. Kami ini kaum yang wadag, yang raga, yang kasar, yang mencari sesuap nasi. Bukan yang menenteramkan jagat, bukan pahlawan, bukan ksatria.

“Saya memiliki segalanya, tetapi seperti tak memiliki apa-apa.

“Rama mendapat gelar kebangsawanan dari Sri Baginda Raja, akan tetapi tetap saja kami ini keturunan saudagar. Maka pernikahan dengan Ratu merupakan pembebasan yang sesungguhnya, sampai ke keturunan yang terakhir.

“Tadinya saya kira itu alasannya.

“Bukan tidak mungkin memang itu alasan yang ada.

“Akan tetapi jika hanya menghendaki wanita paling ayu, saya bisa menemukan yang lain. Jika hanya keselamatan dan derajat untuk anak-cucu, saya bisa mencari yang lain. Yang berasal dari keraton ini.

“Nyatanya selama ini hati dan batin saya tak pernah tergetar. Malah sebaliknya.”

“Kata-katamu menggetarkan hati, Galgendu.”

“Saya tak pandai menyusun kata-kata. Saya bukan dari kaum susastra, bukan ksatria, bukan pendeta….”

Ratu Ayu menghela napas panjang.

“Sudahilah perasaan kurang itu, Galgendu.

“Apa yang kamu lakukan lebih baik dan berguna bagi penduduk, daripada ksatria, pangeran, atau pendeta yang lain.”

“Sembah nuwun, Ratu, beribu terima kasih saya haturkan….

“Biarlah sekarang ini saya menyiapkan upacara untuk pencandian Senopaten Pamungkas….”

Apa yang dilakukan Galgendu memang luar biasa. Ia mengerahkan kemampuannya untuk mengadakan persiapan yang luar biasa besarnya. Agar upacara nanti dianggap sebagai upacara resmi. Para pendeta yang dipanggil adalah para pendeta yang biasa melayani di Keraton. Alun-alun dibuka, jalan yang besar diciptakan. Rasanya, kalau perlu memindahkan gunung dan membuat samudra, akan dilakukan juga.

Dari Senopati Sariq, Ratu Ayu mendapatkan laporan bahwa semua kegiatan yang dilakukan serba istimewa.

Kadang di tengah malam, Ratu Ayu merasakan getaran suara dan permintaan Galgendu. Hanya satu yang diinginkan lelaki itu, memperistrinya! Tetapi justru itu yang ia tak bisa menerima.

Hanya satu keinginannya.

Itu yang tak tercapai.

Dalam banyak hal, Ratu Ayu sering membandingkan dirinya dengan Galgendu. Ada persamaan dalam hal bisa melakukan semua-tapi justru yang diimpikan sekali tak terpegang.

Akan tetapi untuk perasaan semacam ini, Ratu Ayu tidak menceritakan kepada Galgendu. Hati kecilnya mengatakan justru sebaiknya ia membatasi diri, juga dalam percakapan, agar Galgendu tidak tenggelam dalam harapan yang makin melambung.

Tujuan hidup dan tekad utamanya ketika meninggalkan Turkana hanya satu. Menemukan sang pembebas.

Dan ia berhasil.

Walau tak mungkin membawa ke Negeri Turkana.

Sekarang, ketika Galgendu mengatakan bahwa Baginda berkenan masuk ke Gua Kencana, Ratu Ayu menyiapkan batinnya. Itulah saat yang sangat ditunggunya. Untuk bisa bertemu langsung dengan Baginda, dengan Permaisuri Rajapatni. Untuk mengetahui jawaban yang sesungguhnya!

Sejak dini Ratu Ayu telah bersiap. Maka ketika utusan menjemput, Ratu Ayu tidak menunggu tarikan napas kedua. Nyai Demang yang mendampingi, karena Ratu Ayu merasa kurang enak hanya menemui bersama Galgendu.

Nyai Demang berdandan sebagaimana putri Keraton. Walau tubuhnya masih tampak pucat dan lemah, akan tetapi terlihat jelas bahwa semangatnya pulih kembali. Seolah jawaban mengenai cara matinya Upasara memberi dorongan untuk hidup kembali.

Baginda diiringkan para dayang ketika muncul di pendapa. Galgendu menyembah hingga menyentuh lantai, demikian juga Nyai Demang. Hanya Ratu Ayu yang menunduk tanpa menyembah.

“Seperti permintaanmu, Galgendu, aku datang tanpa pengawalan. Tanpa prajurit.

“Kita berangkat setelah saatnya tiba.”

“Sendika dawuh dalem, Gusti….”

“Sebelum kita berangkat, ingsun mempunyai satu pertanyaan. Apa benar Ki Dalang Memeling akan kamu tanggap untuk memainkan wayang kulit di sini…?”

“Semuanya jika Baginda tidak berkenan…”

“Ingsun sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi yang memutuskan adalah Raja Jayanegara, bukan aku. Aku ini raja palapa, raja yang telah beristirahat.

“Galgendu, kenapa kamu memilih Ki Dalang Memeling untuk memainkan wayang kulit saat pencandian?”

“Sendika dawuh dalem, Gusti…

“Hamba tak tahu banyak. Hamba hanya mencari tahu, yang memberitahu…”

Galgendu menunduk. Pundaknya bergetar. Keringat menetes dari daun telinga. Seakan membuat kesalahan dengan memanggil Ki Dalang Memeling.

Nyai Demang menyembah dengan hormat.

“Mohon petunjuk Baginda….”

“Ah, aku sama sekali tidak berkeberatan, Nyai Demang. Bagiku tak ada bedanya dari dalang yang lain.

“Hanya memang semasa ingsun masih memegang kekuasaan, Memeling , tak pernah ditanggap. Aku dengar ia dalang yang hanya bisa memainkan lakon zaman Keraton Singasari.

“Apa betul?”

“Hamba belum pernah melihat sendiri.”

“Ah, lupakan itu.

“Nyai Demang, kamu dan Ratu Ayu berada di sini, dan akan mengikuti masuk ke Gua Kencana yang belum pernah dimasuki orang lain. Aku ingin tahu apa maksud kedatangan kalian. Ingin menemui aku, atau…?”

Ratu Ayu menatap Baginda.

“Baginda, pepujen seluruh Keraton.

“Ratu Ayu Azeri Baijani ingin mendengar langsung dari Permaisuri Rajapatni. Apa benar Raja Turkana yang perkasa, Upasara Wulung, sebelum mangkat dihukum poteng atas perintah langsung Permaisuri?”

Sejenak Baginda tergetar.

Pandangannya samar.

Sampai sepuluh hitungan Baginda terdiam.

“Ratu Ayu, apakah itu masih menjadi persoalan?

“Tidakkah lebih baik kalau kita mendoakan arwahnya, membuat candi yang besar dan berwibawa?”

“Kehinaan tak pernah bisa dibiarkan. Apalagi bagi seorang Raja Turkana….”

Baginda berdiri dengan geram.

Wajahnya berubah seketika.

“Galgendu, kamu ingin menyudutkan ingsun?

“Kamu kira siapa yang berdiri di depanmu ini? Anak kecil yang bisa dikelabui? Pangeran yang tertarik atas upeti lempengan emas yang kamu unggulkan?”

Galgendu menyembah hingga rata dengan tanah.

Tak bergerak.

Kaku.

Buddha Murka

BISA dimengerti kalau Galgendu rata dengan tanah. Biar bagaimanapun kekayaannya berlimpah dengan memiliki gua emas, tak nanti kesadarannya bisa menerima kemurkaan Baginda.

Bahkan Nyai Demang pun terdiam kaku.

Nyai Demang pernah melabrak masuk kamar peraduan Baginda, pernah berusaha melawan. Akan tetapi saat itu hatinya sedang dibakar dendam dan merasa sangat terhina. Pada suasana yang normal, rasa hormat dan memuja seorang raja tak bisa dihapus.

Yang paling tidak terlalu terpengaruh adalah Ratu Ayu. Karena di negerinya ia ratu yang dihormati. Tak nanti begitu saja kena pengaruh dan wibawa sesama raja. Apalagi ia merasa dirinya tidak bersalah.

“Tunggu, Baginda…

“Jangan mengumbar suara keras. Aku juga ratu. Aku tak bisa menerima kemurkaan seperti itu.

“Aku yang kamu hadapi, jangan kawula yang bisa kamu injak sesuka kakimu.”

Baginda balik menantang sorot mata Ratu Ayu.

“Apa maumu, akan kuladeni.”

Keadaan tubuh Ratu Ayu belum sepenuhnya sehat. Pengaruh bubuk beracun masih menggerogoti dirinya. Akan tetapi pada saat seperti sekarang ini, tak ada pilihan lain.

“Aku hanya meminta keterangan, apakah benar Raja Turkana mangkat dengan cara hukum poteng.”

“Ratu telah tahu hal itu.”

“Apa benar Permaisuri Rajapatni yang memerintahkan?”

Tangan kanan Baginda menepuk paha karena murka. Telunjuknya menuding garang.

“Ratu, jangan kurang ajar.

“Ingsun ini raja tanah Jawa. Sembahan seluruh umat di Jawa. Ratu jangan sembarangan menuding dengan pertanyaan semacam itu. Tata krama adalah segalanya”

“Baginda tak menjawab pertanyaan saya.

“Tak ada gunanya!

“Tak ada hak Ratu menanyai.”

Kedua kaki Ratu Ayu sedikit membuka. Bahu kanan dan kiri bergerak.

“Apakah aku akan kualat, terhukum karena tak mengenal tata krama? Apakah kakiku akan berada di atas, dan kepalaku di bawah karena berlaku kurang ajar kepada Baginda?

“Siapa yang lebih tidak mengenal tata krama? Sikapku yang kurang ajar, atau orang yang memerintahkan memotong ksatria yang tak bisa melawan?”

“Lancang mulutmu….”

Tangan kanan Baginda melayang. Menampar pipi Ratu Ayu dengan gerakan yang masih perkasa. Pergelangan tangan menekuk, sehingga telapak tangan menyambar keras.

Galgendu tetap tak bergerak.

Nyai Demang tetap menunduk.

Ratu Ayu mengangkat tangannya untuk menangkis. Satu kelebatan, mengubah menjadi memiringkan wajahnya. Tamparan Baginda mengenai angin.

Dalam gebrakan yang singkat dan pendek, Ratu Ayu merasa bahwa tenaga dalamnya belum sepenuhnya pulih. Penguasaan kekuatan masih belum sepenuhnya terkuasai. Apalagi serangan lawan mengandung tenaga yang penuh.

Ini agak mengherankan karena selama ini yang dilihat gerakan Baginda sangat lamban.

Dengan memiringkan wajah, Ratu Ayu mengakui tak berani menggempur keras lawan keras.

Baginda tidak melanjutkan serangan.

Hanya sekilas seperti menelan ludah, karena jakunnya bergerak naik-turun.

“Sebelum kita melanjutkan pertarungan, aku ingin kepastian. Apakah benar…”

“Ratu, itu tak ada urusannya.

“Aku raja, aku suami. Kalau ada apa-apa dengan bawahanku, akulah yang bertanggung jawab.”

“Itulah hebat.

“Yang kutanyakan apakah benar Permaisuri memerintahkan.”

“Ya atau tidak apa bedanya.”

Kedua tangan Ratu Ayu lurus ke bawah. Pundaknya kaku. Dari pusar ke atas seperti beku.

Itulah awal dari pemusatan tenaga dalam Tathagata Pratiwimba, jurus-jurus Arca Buddha yang Kaku. Bergerak bagai boneka kayu, terpatah-patah, akan tetapi telah dibuktikan mampu mengungguli lawan-lawannya.

Kalimat yang membakar Ratu Ayu bukanlah tantangan dari Baginda.

Melainkan ucapan  “ya atau tidak apa  bedanya”.  Seakan cara apa pun kematian Upasara tak punya makna apa-apa.

Selama ini Ratu Ayu bisa menahan diri. Karena merasa bahwa yang dihadapi adalah raja, yang oleh suaminya pun sangat dihormati. Sehingga dengan sendirinya, secara tulus Ratu Ayu juga menghormati. Akan tetapi batas kesabarannya jebol begitu Raja Turkana direndahkan.

Satu gerakan pendek kaku, Baginda segera menyilangkan kedua tangannya di dada. Seketika jurus-jurus Kerta Rajasa Jaya Wardhana mengurung Ratu Ayu. Yang masih dengan gerakan kaku menyamplok setiap serangan yang datang.

Satu putaran tubuh, Ratu Ayu merenggangkan kedua tangannya. Kali ini seakan mengisap Baginda untuk masuk di antara kedua tangannya yang terulur kaku. Bersamaan dengan itu, lututnya terangkat naik.

Kalau bisa menjepit tubuh lawan dan menyaduk dengan lutut, akibatnya bisa membuat tubuh lawan patah tulangnya. Meskipun dengan demikian, besar kemungkinan Ratu Ayu sendiri terluka.

“Ilmu sesat….”

Baginda memutar tubuh. Satu tangan dipakai untuk menangkis, sementara kakinya memasang kuda-kuda yang kuat. Tubuh Ratu Ayu terputar terkena tangkisan, akan tetapi lutut yang terangkat, membuat dada Baginda sesak seketika.

Pertarungan yang lain dari biasanya. Seorang raja yang selama ini boleh dikatakan tak pernah memperlihatkan diri berlatih ilmu silat, mendadak mengeluarkan ilmunya. Sementara yang dihadapi seorang wanita, yang juga ratu, yang bergerak dengan kaku.

Keduanya seakan tidak siap bertarung saat itu. Baik dilihat dari cara berpakaian maupun kedudukannya. Sehingga meskipun saling serang, sebenarnya tidak sepenuh tenaga.

Ratu Ayu sendiri makin sadar bahwa lebih dari dua pertiga bagian tenaga dalamnya tersendat. Kadang malah mengganjal. Kalau tidak, dalam sepuluh jurus sudah bisa menguasai lawan. Yang meskipun luas pengetahuannya, akan tetapi gerakannya terlihat kaku karena kurang latihan.

Pengetahuan yang luas, karena dalam satu pertarungan, Baginda segera bisa mengenali jurus yang tidak biasanya. Jurus yang kelihatan bertentangan. Sekurangnya tak seharusnya wanita menyerang dengan cara merangkul dan menggunakan lututnya. Tata krama kesopanan tidak memungkinan gerakan seperti itu.

Penilaian yang bisa dibenarkan.

Bahkan oleh Nyai Demang sekalipun. Yang mengetahui bahwa sumber ilmu Ratu Ayu adalah apa yang dikenal sebagai jurus-jurus dalam Tathagati, atau Buddha Wanita. Penamaan yang bertentangan. Antara pengerahan tenaga dalam Buddha, tetapi dilakukan oleh wanita. Antara sifat welas asih dan kemurkaan.

Bau harum Ratu Ayu menyebar.

Kali ini malah rambutnya terurai, dan ketika menyerang maju, entakan rambut panjang ikal ini yang lebih dulu menyambar. Baginda mengeluarkan dehaman kecil seakan memperlihatkan bahwa gerakan apa pun yang akan dilakukan Ratu Ayu sudah terbaca jelas.

Tetapi tak urung Baginda meloncat mundur.

Inilah kekeliruan.

Karena dengan meloncat mundur, membuka peluang Ratu Ayu menyergap maju dengan demikian rangkaian susunan langkah jong muncul. Enam Puluh Empat Langkah yang berbeda kembangan dan gerakannya.

Baginda menyadari, tetapi terlambat. Terlibat dalam kepungan bayangan Ratu Ayu, sehingga makin lama makin bertahan dan mundur.

Kalau saja Ratu Ayu tidak sangat parah kondisi tubuhnya, jegalan kaki Ratu Ayu sudah berhasil merobohkan lawan.

“Ratu Ayu, tahan sebentar….”

Suara Nyai Demang terdengar lirih.

“Adimas Upasara sendiri pastilah tak ingin menyaksikan hal ini…”

Dengan cara yang tepat, kalimat Nyai Demang membuat Ratu Ayu melompat mundur, mengendurkan tekanan.

“Kamu benar, Nyai….”

“Duh, Baginda, karena Permaisuri yang memerintahkan hal ini, biarlah Permaisuri yang menjawab dan menanggung akibatnya.”

Meskipun tadi melindungi Baginda, sikap Nyai Demang bergeming. Bahwa ia bermaksud menuntut balas. Bahwa Baginda akan melindungi, itu soal lain. Ia tak akan mundur karenanya.

Meskipun yang dihadapi adalah rajanya.

“Kalau Baginda ingin memanggil para senopati untuk melindungi, kami siap menunggu.

“Tidak adil memang meminta Baginda datang sendirian lalu kami mengeroyok. Jiwa besar Adimas Upasara akan tercoreng karenanya.

Senopati Pamungkas II – 24

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA – Senopati Pamungkas II

“Sumangga, Sinuwun…”

Pilihan akhir di tangan Baginda. Melindungi sendiri atau melindungi dengan bantuan para senopati.

Pengakuan Permaisuri Rajapatni

BAGINDA menggerakkan dagunya.

“Ingsun bisa menghadapi sendiri.”

“Kalau itu memang kemauan Baginda, jangan menyesal di belakang hari.”

Ratu Ayu kembali bersiap.

Galgendu memukuli lantai rumahnya.

“Bunuh saya lebih dulu. Saya sungguh durhaka kepada siapa saja….”

Rasa bersalah yang menyayati kesadarannya membuat ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyesali. Karena kejadian ini berlangsung di tempat kediamannya. Atas undangannya. “Saya yang bersalah….”

Terdengar suara lirih dari ujung ruangan. Bersamaan dengan itu muncul bayangan tubuh Permaisuri Rajapatni yang berjalan jongkok, mendekat.

Caranya menyembah tetap menunjukkan rasa hormat yang dalam. Sejarak lima tombak, Permaisuri Rajapatni duduk bersila, menunduk.

“Permaisuri Rajapatni, saya Ratu Ayu dari Negeri Turkana. Sejak lama saya mengagumi Permaisuri yang cantik jelita. Saya sengaja menemui untuk mencari tahu kabar kebenaran tentang Raja Turkana.”

Permaisuri Rajapatni menatap.

Pandangan matanya kosong.

“Saya sudah mengatakan semuanya….”

Hening.

Tak ada suara nyamuk atau angin.

“Sayalah yang durhaka, yang melakukan semua itu….”

Suaranya mengambang. Ringan seperti tanpa perasaan apa-apa. Seperti digetarkan oleh kekosongan. Suwung.

Nyai Demang seperti menebak-nebak pandangan mata Permaisuri Rajapatni yang melompong. Ada sesuatu yang menggetarkan perasaannya, perasaan kewanitaannya.

Apa yang menyebabkan Permaisuri Rajapatni memerintahkan tindakan yang sangat kejam itu?

Selama ini. Rajapatni bukanlah seorang yang tega. Seekor lalat pun akan diperintahkan untuk diusir dan bukan dibunuh. Selama hidupnya tak pernah memperlihatkan sikap yang ganjil. Apalagi tindakan yang kasar.

Tetapi mengapa, justru saat Upasara tertawan, terluka, diperintahkan untuk dipenggal kepalanya, kedua kaki dan tangannya?

Dendam asmara?

Sangat mungkin sekali. Meskipun masih perlu diragukan bahwa itu yang membuat Rajapatni bertindak kejam. Hubungannya dengan Upasara, sejauh Nyai Demang mengetahui, hubungan daya asmara yang dijalin dengan benang asmara yang halus, yang tulus, yang murni.

Lalu apa?

Karena Rajapatni ingin memperlihatkan bahwa ia bisa memerintahkan hal itu agar Baginda menjadi yakin bahwa Rajapatni tak mempunyai ikatan apa pun dengan Upasara?

Ini masih mungkin.

Atau lebih mendekati kebenaran.

Karena bagi seorang permaisuri, bekti dan pengabdian adalah yang utama, dan satu-satunya. Kalau sampai teragukan, rasa berdosa akan ditanggung sampai turunan yang terakhir.

Selama ini Baginda tidak meragukan kesetiaan dan pengabdian Permaisuri Rajapatni. Akan tetapi memang Upasara menjadi ganjalan dalam hati. Sejak sebelum menyerbu Raja Jayakatwang!

“Dosa saya semuanya….”

Ratu Ayu merangkapkan kedua tangannya. Tubuhnya bersandar ke tiang.

Pandangannya sama kosongnya.

Pengakuan Rajapatni sangat sederhana diucapkan. Apa yang membuatnya terbanting-banting oleh alunan perasaan tak menentu, kini telah menemukan jawaban.

Bahwa Upasara Wulung memang benar mangkat secara mengerikan. Bahwa yang memerintahkan adalah Permaisuri Rajapatni sendiri.

Sekarang semua telah jelas.

Gamblang.

Kalau ingin menuntut balas, ya sekarang ini waktunya. Kalau ingin membuat perhitungan tak ada yang menghalangi. Rajapatni telah bersila, pasrah, menerima akibatnya.

“Kenapa…  kenapa…”

Nyai Demang terbatuk, gugup, tak bisa melanjutkan pertanyaannya.

“Kakangmas Upasara… tidak tahan akan penderitaan. Sakit tak tertahankan. Malu tak tertahankan. Kalah tak tertahankan. Menderita tak tertahankan. Hanya dengan memutus anggota badannya, semua bisa bebas, dan tak ada lagi penderitaan.

“Kakangmas Upasara… tidak meminta apa-apa.

“Saya yang memerintahkan.”

Wajah Baginda berubah dingin.

“Jadi benar Yayi yang memberi restu?”

Galgendu melengak. Meskipun masih terus menunduk, telinganya mendengar semua pembicaraan. Tumbuh perasaan kagum dan hormat. Bahwa Baginda yang tidak menduga permaisurinya memerintahkan hal itu, sudah bersiap melindungi. Melindungi sebagai ksatria.

“Inggih, Sinuwun…”

“Kamu merasa lega sekarang ini?

“Lega karena telah mengatakan?

“Jagat Dewa Batara!

“Lalu apa maumu sekarang?”

“Sumangga, Ingkang Sinuwun…”

Rajapatni menyerahkan tubuh dan jiwanya! Apa pun akibatnya akan ditanggung.

“Hebat, sungguh hebat.

“Upasara, sesungguhnya kamu ini manusia macam apa? Di saat kamu hidup menebarkan asmara yang menjaring banyak hati wanita. Sehingga kamu membuat banyak penderitaan. Di saat kamu mati pun, masih meninggalkan bekas-bekas yang menimbulkan keonaran.

“Sungguh aku tak mengerti.

“Apa yang kamu peroleh dari ini semua?

“Satu pun tak ada.”

Dada Nyai Demang bergerak turun-naik. Kedua tangannya gemetar.

Rajapatni mengeluarkan cundrik, keris kecil, dari balik kembennya. Diletakkan di depan tubuhnya.

“Sumangga kersa Dalem….”

Terserah kemauan Baginda.

Rajapatni sudah memutuskan menerima hukuman mati. Tetapi tetap menunjukkan hormat dan pengabdian, bahwa yang berkuasa atas mati dan hidupnya adalah Baginda.

“Yayi, karena kamu sudah mengetahui salah dan dosamu. Ingsun tak ragu menjatuhkan keputusan.”

Tangan Baginda bergerak cepat, menyambar cundrik.

Pandangannya menyapu ruangan.

“Ratu, ini adalah urusan kami. Karena Yayi Permaisuri bersalah, aku yang menghukum. Kalau kamu masih kurang puas, akan tetap kuhadapi.”

Sikap Baginda sangat tegas dan berwibawa.

Di satu pihak ingin menghukum Permaisuri Rajapatni yang dianggap bersalah, di pihak lain tetap akan menghadapi tantangan.

“Apa… apa Adimas Upasara waktu itu masih hidup?”

Rajapatni menunduk.

Air matanya menetes.

Membasahi kain di lututnya.

“Permaisuri… apa Adimas Upasara masih hidup ketika dipotong-potong?”

Air mata Rajapatni membanjir.

“Saya tak tahu… Kakangmas… tak bergerak, saya…”

Mendadak Nyai Demang menjerit keras. Tubuhnya berdiri, bergoyang-goyang melesat ke arah luar.

“Gendhuuuk…!”

Hanya kata itu yang terdengar bagai lengkingan pita rebab yang putus. Teriakan tinggi itu yang terdengar oleh Gendhuk Tri yang berada di jalan menuju Gua Kencana. Bersama dengan Senopati Sariq dan Senopati Kuti, ketiga tubuh melayang bersamaan menuju ke  arah bangunan rumah Galgendu.

Di bagian depan rumah ada penjagaan yang luar biasa ketatnya. Semua prajurit yang ada dalam keadaan siap siaga. Baik prajurit dari Keraton yang mengiringi Baginda, maupun prajurit yang sejak semula menjaga.

Bersamaan dengan datangnya Nyai Demang, Gendhuk Tri juga melayang masuk.

“Apa…   apa…”

Gendhuk Tri menjadi gugup.

Nyai Demang hanya bisa menubruk Gendhuk Tri, memeluk kencang, menuding ke dalam rumah, sebelum ambruk.

Gendhuk Tri memandang ke dalam rumah.

Serentak dengan itu, semua prajurit bersiaga.

“Tak ada yang bisa masuk, selain perintah dari Sodagar Galgendu.”

Gendhuk Tri berdiri dengan pandangan bingung. Sambil memanggul Nyai Demang, Gendhuk Tri berkata dengan gagah,

“Kalian prajurit yang tak tahu diri.

“Bagiku tak ada hubungannya untuk masuk ke dalam. Tapi pasti ada bahaya yang mengancam di dalam.”

“Kami hanya menjalankan satu perintah.”

“Bagaimana keadaan Baginda?”

Senopati Kuti segera mendekat ke arah Nyai Demang yang masih dalam panggulan Gendhuk Tri. Senopati Kuti segera bergerak menolong. Tiga sodokan tenaga dalamnya dikirimkan ke tubuh Nyai Demang.

Permaisuri yang Ditinggalkan

SENOPATI KUTI terperanjat.

Tenaga dalam yang dikirimkan lewat sodokan membal kembali. Pada sodokan pertama, tenaganya seperti mengempas karang. Pada sodokan kedua, tangannya terasa sakit. Pada sodokan ketiga, sebelum tenaganya berhasil dikerahkan, tenaga dalam Nyai Demang lebih dulu menyodok.

Sedemikian keras rasanya, sehingga Senopati Kuti terhuyung-huyung dan muntah darah seketika!

Gendhuk Tri mengetahui bahwa dalam tubuh Nyai Demang masih bersarang tenaga dalam Eyang Berune. Akan tetapi tak menduga bahwa masih sedemikian kuatnya sehingga bisa melukai Senopati Kuti.

Pukulan Pu-Ni yang menghancurkan masih luar biasa kekuatannya, walau seperti tak ada.

Nyai Demang sendiri sebenarnya tak merasakan sesuatu yang ganjil. Dalam keadaan lemas, sodokan Senopati Kuti dirasakan tak lebih dari pijitan saja. Ia tak merasa memberikan perlawanan.

Para prajurit yang mengepung tetap bersiaga. Agaknya mereka mendapat perintah, selama tidak memaksa masuk, tidak menjadi perhatian mereka sama sekali.

“Bagaimana, Paman Kuti?”

Senopati Kuti tak menjawab. Segera memusatkan kekuatannya untuk melawan guncangan dalam dadanya. Yang terasa sangat sakit, seolah ada serpihan dari tenaga dalamnya yang hancur di dalam.

“Apa yang terjadi di dalam?”

Nyai Demang memandang dengan sorot mata kosong.

“Semuanya benar….”

Gendhuk Tri berdeham keras.

“Jadi Gayatri yang memerintahkan?”

Nyai Demang mengangguk.

“Apa maunya wanita tua tak berbudi itu?”

Suara Gendhuk Tri sangat keras.

Dengan gagah ia bersiap melangkah ke dalam.

Akan tetapi pada saat yang bersamaan, dari dalam muncul rombongan yang mendapat pengawalan ketat. Gendhuk Tri bersiap-siap.

Rombongan Baginda yang agaknya terburu-buru meninggalkan tempat. Seluruh prajurit disiagakan seketika, dan tanpa menunggu persiapan sempurna segera meninggalkan tempat.

Hanya satu yang menahan langkah Gendhuk Tri. Pemunculan Ratu Ayu yang melangkah gontai ke dekatnya.

“Ratu biarkan mereka pergi begitu saja?”

“Baginda pergi bersama ketiga permaisurinya. Rajapatni ditinggal di dalam.”

“Apa maunya Baginda?

“Hanya satu kalimat: Selama Rajapatni masih memikirkan Upasara, selama itu tak berhak meladeni Baginda.”

“Apa yang akan Ratu lakukan?”

“Kita semua bisa menjatuhkan hukuman apa saja. Rajapatni siap menerimanya. Ia sedang menunggu di dalam.”

Gendhuk Tri ragu.

Apa yang akan dilakukan? Hukuman apa yang akan dijatuhkan? Setelah membakar dan menghanguskan kemarahan, keinginan murka meranggas dengan sendirinya. Tadinya ia berharap Permaisuri Gayatri akan menolak, dan Baginda serta para senopati akan melindungi. Dengan demikian akan terjadi pertarungan untuk melampiaskan dendam.

Tapi keadaannya sekarang lain.

Rajapatni mengakui, dan menerima hukuman.

Terbersit rasa iba dalam hati Gendhuk Tri. Alangkah buruk nasib Rajapatni. Putri sekar kedaton Keraton Singasari ini menyimpan daya asmara terhadap Upasara. Lebih hebat lagi, sesungguhnyalah Upasara juga menyimpan daya asmara yang sama. Akan tetapi perjalanan asmara tak bisa sempurna, karena Rajapatni ditakdirkan melahirkan keturunan dari Baginda, yang kelak akan memimpin kebesaran Keraton!

Sejak saat itu daya asmara menjadi bungkam dan tersumbat.

Namun justru berkobar, membakar hati dan perasaan. Baik Upasara Wulung maupun Rajapatni. Dua-duanya seperti hidup dalam alam impian.

Upasara bahkan memutuskan tidak mau menemui, memutuskan untuk surut dari gelanggang. Semua ini pasti memberati rasa batin Rajapatni yang masih merasakan getar dan gema hati Upasara.

Kemudian terjadi pertemuan yang masih misteri bagi Gendhuk Tri. Upasara dalam keadaan luka parah. Dan Rajapatni mengambil keputusan hukuman.

Untuk memotong tubuh Upasara.

Karena ingin memperlihatkan rasa  bekti dan setia kepada Baginda?

Kalau benar begitu, kenapa sekarang menyesali dan siap menerima hukuman?

Sesungguhnya rasa iba Gendhuk Tri karena menyadari bahwa Permaisuri Rajapatni sekarang ini sudah menjalani hukuman yang paling berat. Hukuman dikebonake, hukuman ditinggalkan, hukuman dibuang!

Hukuman yang paling hina bagi seorang istri. Bagi seorang permaisuri!

Sementara yang sekarang  merayapi  batin Rajapatni  adalah perasan berdosa yang besar. Telah melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas.

Ataukah ketika itu Rajapatni berada dalam pengaruh Manmathaba?

Pertanyaan dan jawaban silih berganti memenuhi isi kepala Gendhuk Tri. Ratu Ayu masih tetap memandangi, menunggu.

“Mari kita ke dalam….”

“Ratu…”

“Ya….”

“Apa yang akan Ratu lakukan?”

Sambil masih memanggul Nyai Demang, Gendhuk Tri melangkah perlahan di samping Ratu Ayu. Para prajurit yang menjaga menyibak dengan hormat.

“Menunggu sampai pencandian Raja Turkana….”

“Maksud saya, hukuman apa yang akan dijatuhkan untuk Rajapatni?”

“Aku kasihan padanya. Tetapi karena ia memotong tubuh Raja Turkana ia akan mengalami nasib yang sama. Tubuhnya akan dipotong, dijadikan tumbal bagi Candi Senopaten Pamungkas.”

“Ratu akan melakukan sendiri?”

“Ya.

“Gendhuk Tri, aku tahu bagaimana perasaanmu. Sebagai sesama wanita, kita dipersatukan karena Raja Turkana. Demikian juga Rajapatni. Akan tetapi tetap harus bisa dipisahkan mana yang berhubungan dengan keadilan.

“Sekarang ini kita berjalan bersama. Akan tetapi kalau suatu hari kelak aku mengetahui kamu berbuat jahat kepada Raja Turkana, aku akan membalas sakit hati dan dendam ini.”

“Saya bisa mengerti, Ratu….”

“Gendhuk Tri, bukankah kamu juga akan melakukan hal yang sama?”

“Bisa jadi.

“Saya agak berbeda hubungannya dengan Kakang Upasara. Demikian juga Nyai Demang. Yang paling berkepentingan adalah Ratu. Karena Ratu secara resmi adalah istri Kakang….”

Wajah Ratu Ayu berubah.

Ada kilasan warna tertentu yang meronai pipinya.

“Itulah yang paling membahagiakan dalam hidupku yang singkat ini. Sangat indah seperti di kayangan, tempat para dewa dan dewi….

“Walau kami tak pernah bersentuhan, tak pernah berpegangan tangan sekali pun. Ini semua tak mengurangi kebahagiaan yang ada, yang telah kuhirup sampai ke tulang sumsum….”

Keduanya melewati bagian utama di ruang tengah.

“Bagaimana kabar Singanada?”

“Sampai sekarang saya belum tahu.”

“Pangeran Anom?”

Gendhuk Tri membuat gerakan menggeleng kecil.

“Apakah Nyai Demang telah menceritakan semuanya?”

“Sesama wanita selalu mempunyai waktu untuk saling bercerita. Seperti ketika kalian sedang berdua, aku akan menjadi bahan cerita.

“Kamu sudah pantas bersuami, Gendhuk….”

“Saya tak ingin membicarakan itu.”

“Maaf.”

Keduanya terdiam.

Nyai Demang mengerang kecil sebelum minta diturunkan. Saat itu muncul seorang lelaki yang gemuk, yang berkeringat luar biasa dari dalam ruangan.

Sodagar Galgendu berhenti, menyambut dengan hormat.

“Duh Ratu dan para ksatria sejati, silakan beristirahat…. Saya akan menyelesaikan persiapan pelaksanaan pembuatan candi. Kebetulan sekarang ini ada utusan dari Keraton, utusan khusus Raja Jayanegara….”

“Apa lagi? Minta upeti lebih besar?”

Galgendu tersenyum tipis.

Tubuhnya yang gemuk berusaha membungkuk lebih dalam.

“Tidak. Menurut yang disampaikan kepada saya, utusan khusus Raja datang untuk memberikan gelar Wong Agung Galgendu. Saya tak bisa tidak menyambutnya.

“Ratu dan para pendekar sejati, saya akan merasa sangat bahagia, bila kalian semua masih berkenan tinggal satu-dua malam sampai upacara peresmian candi….”

“Di mana Permaisuri Rajapatni?”

“Di dalam kamar, sedang menenteramkan diri, mandi keramas dan membersihkan tubuh, sehingga siap sewaktu-waktu menerima hukuman.”

Wayang, Warisan Sukma

Di luar terjadi upacara yang megah. Utusan dari Keraton diterima dengan segala kebesaran dan perjamuan yang sangat istimewa. Utusan Raja menyampaikan lempengan emas yang bertuliskan bahwa karena jasa-jasanya kepada Keraton, Galgendu berhak memakai gelar Wong Agung, sehingga sejak sekarang bisa memakai nama Wong Agung Galgendu, dan bukan lagi Sodagar Galgendu.

“Maha terima kasih atas kemurahan hati Raja.”

“Semoga Wong Agung Galgendu bisa menjalani hidup lebih baik atas perkenan Raja….”

“Sembah kagem Sinuwun…”

Bersamaan dengan penyerahan, gendang ditabuh bertalu-talu. Suaranya menggema ke seluruh bagian, merambah seluruh Desa Kedung Dawa.

Menjelang larut, suasana makin meriah.

Pesta merayakan pemberian gelar disusul dengan dimulainya pembangunan Candi Senopaten Pamungkas.

Malam itu  Gendhuk Tri  meninggalkan  kamarnya,  menuju ke arah lapangan, di mana kegembiraan berlangsung. Untuk pertama kalinya, hatinya merasa sunyi.

Di tengah segala kegalauan, perasaannya kosong. Apa lagi yang akan dilakukan kini? Rasanya tak ada pegangan.

Singanada tak jelas di mana berada. Tak jelas nanti bagaimana meneruskan hidup bersamanya. Pangeran Anom tak jelas di mana. Juga tak tahu, apa yang terjadi nanti. Upasara sudah tak ada. Betapapun menyakitkan dan sulit diterima, akan tetapi itulah kenyataannya.

Di masa-masa terakhir, Gendhuk Tri tidak bersama dengan Upasara. Akan tetapi sekarang ini terasa betul kehilangan. Makin terasakan betapa tak mungkin lagi bertemu dengan Kakang, sampai ia menyusul ke alam yang berbeda.

Begitu gampangkah kematian?

Apakah sebenarnya kematian itu?

“Kematian itu tak ada kalau kita percaya hidup yang diberkati Dewa. Kematian tak berbeda dengan orang tidur. Tak perlu dirisaukan.”

Gendhuk Tri baru menyadari bahwa suara itu berasal dari Ki Dalang yang sedang memainkan wayang kulit.

“Tetapi kenapa orang yang saya sayangi yang meninggal, dan bukan orang lain? Bukan saya?”

“Hoho kamu merasa owel, merasa sayang karena mempunyai pengharapan besar karena kamu mementingkan dirimu sendiri. Itu cara berpikir yang angkuh, deksiya, mau menang dan enaknya sendiri….”

Gendhuk Tri tak bisa mendesak maju karena lautan manusia memenuhi lapangan. Hanya dari kejauhan, Gendhuk Tri bisa melihat jelas wayang kulit yang sedang dimainkan. Percakapan antara dua tokoh yang rasanya sangat dikenal.

Gendhuk Tri merasa ganjil karena apa yang dikatakan Ki Dalang Memeling seperti secara langsung ditujukan ke arahnya.

“Relakan kematian, jangan ditangisi. Apalagi yang kamu tangisi adalah ksatria luhur, pembela Keraton yang tidak meminta pamrih. Banyak contoh ksatria agung yang tak meminta apa-apa semasa hidupnya. Baik Raden Gatutkaca maupun Upasara Wulung yang luhur….”

Terdengar tepuk tangan yang keras, bersamaan.

Gendhuk Tri mengangkat alisnya.

Sudah lama ia mendengar bahwa Dalang Memeling dalang wayang kulit yang sangat terkenal, baik dalam memainkan wayang maupun dalam mengatur kalimat-kalimatnya. Itu pula sebabnya, semasa Baginda berkuasa tak mendapat restu.

Kali ini disaksikannya sendiri, bagaimana Ki Dalang memasukkan nama Upasara dalam lakonnya.

“Siapa itu Upasara, rasanya saya tak mengenal. Tak ada dalam pakem, tak ada dalam buku pewayangan….”

“Hoho, kamu tak mengetahui. Wayang itu bukan hanya Ramayana dan Mahabharata saja. Itu kan yang dibawa-bawa orang hitam dari tlatah Hindia. Kita telah mempunyai tokoh, telah mempunyai cerita sendiri, yang dianggit, dikarang para empu dan pujangga negeri ini, negeri Jawa yang menjadi pusat alam semesta.”

“Mana mungkin?”

“Kenapa tidak? Dalam bahasa wayang kulit ini, semua perlengkapan, semua nama tabuhan, nama gamelan, tidak ada yang berasal dari bahasa Hindia.

“Semua milik kita sendiri.”

“Benarkah wayang kulit milik kita?”

“Sejak zaman Raja Airlangga, sudah begitu. Di zaman Sri Baginda Raja Kertanegara yang menjadi pamor segala pamor, cahaya dari semua cahaya, hal itu sudah jelas.

“Kalau tadi saya katakan Upasara Wulung itu ksatria, siapa yang mendidik? Zaman apa yang melahirkan pahlawan perkasa seperti Upasara Wulung kang kinurmatan, yang terhormat itu?

“Apa zaman sekarang ini?

“Zaman di mana gua emas menjadi sumber kekuatan? Zaman di mana raja bisa begitu saja memberi gelar terhormat? Kok murah amat.

“Hoho, ketahuilah, bahwa gelar itu hanya sandang. Seperti kain yang tersampir di pundak. Yang menentukan adalah pundak siapa.

“Apa artinya gelar Wong Agung? Kenapa masih ragu dengan menyebut wong yang artinya manusia biasa-biasa, rakyat biasa, kalau memang mau memakai kata agung, di belakangnya?

“Ini bisa berarti pemberian gelar itu tidak rela, atau pujangga di Keraton sudah tak mengerti tata krama berbahasa….”

Suasana menjadi sunyi.

Penonton berpandangan dengan wajah waswas.

Gendhuk Tri yang mulai mengikuti pembicaraan tokoh wayang juga merasa bahwa apa yang dikatakan Ki Dalang bukan hanya melenceng jauh tetapi mulai menyinggung Keraton.

“Ketahuilah, bahwa wayang yang sekarang ini diadakan untuk melengkapi pencandian ksatria titisan Dewa, Upasara Wulung. Tapi titisan Dewa atau lebih dari itu, mana pernah ada kuburan bagi senopati?

“Seumur-umur saya belum pernah tahu.

“Makam pepujan untuk raja dan keluarganya. Tapi kenapa sekarang ini Upasara Wulung mendapat kehormatan yang sangat besar? Karena jasa-jasanya yang tak tertandingi, bahkan oleh semua senopati yang ada dikumpulkan menjadi satu!

“Upasara Wulung yang terhormat, sangat pantas menerima kehormatan ini.

“Lebih pantas lagi saat masih hidup.”

Ketokan di kotak wayang yang menggeretak, menjadikan suasana menjadi panas. Seolah menggaris bawahi apa yang diucapkan.

“Saya tanya padamu, apa yang kamu berikan kepada Upasara Wulung? Apa?

“Apa gelar agung?

“Tidak.

“Apa wanita yang dikehendaki?

“Tidak.

“Apa rumah, apa tanah, apa sawah, apa berkah?

“Tidak.

“Apa harta, apa pusaka, apa banda?

“Tidak.

“Tak ada. Tak ada. Kalau sekarang ini begitu dihormati, disanjung tinggi, tak ada gunanya lagi. Sukma Upasara Wulung tidak perlu yang serba kebendaan. Sukma Upasara Wulung memerlukan doa, memerlukan ketulusan hati.

“Itulah wejanganku.

“Demikian juga wayang ini. Ini sukma budaya yang tak terhingga.  Sukma batin para empu, para pujangga yang linuwih, yang memiliki pancaindria lebih. Yang wajib kita tengkarkan, kita kembangkan terus. Bukan malah takut-takut.

“Memangnya para prajurit Keraton itu yang lebih berhak atas sukma budaya? Memangnya kekeliruan dan keterlambatan menghormati Upasara Wulung diselesaikan dengan cara begini?”

Suasana bertambah panas.

Beberapa prajurit mulai bergerak maju.

“Saya ini dalang. Kerjanya juga mendalang. Bisa ngomong yang enak dan baik. Bayaran saya sama. Tapi kalau saya hanya bisa menjilat yang di atas dan menyumbat yang di bawah, apa bedanya Ki Dalang dengan kodok?

“Kalau saya mau ditangkap, silakan.

“Saya mau lihat apakah mereka berani menangkap saya.”

Suasana berubah gaduh. Para prajurit yang mencoba bergerak maju mendapat hambatan dari penonton yang tak mau minggir sedikit pun. Akan tetapi karena para prajurit terus mendesak, yang terjadi adalah keributan.

Gendhuk Tri tak tahu harus berpihak ke mana.

Akan tetapi sebelum keributan memuncak, mendadak semua perhatian tertuju ke geber, layar tempat Ki Dalang Memeling memainkan wayang.

Tepat di tengah geber, terlihat wayang kulit yang bergerak-gerak dengan sendirinya!

Biasanya wayang digerakkan oleh tangan Ki Dalang. Tapi sekarang ternyata bisa berada di tengah udara, menempel di geber, bergerak tanpa digerakkan langsung.

Inilah yang menyerap seluruh perhatian.

“Ini hanya kulit binatang, tetapi mempunyai sukma. Siapa yang mengganggu pertunjukan, akan kutancapi batok kepalanya.”

Gendhuk Tri mengakui kehebatan Dalang Memeling. Terutama dari caranya menghentikan keributan.

Karena wayang kulit yang menempel di geber, bisa bergerak ke tengah, ke arah penonton, sebelum akhirnya kembali ke tengah, dan turun perlahan menancap pada debog, batang pisang.

Lakon Upasara Krama

APA yang diperlihatkan Dalang Memeling memang menarik perhatian.

Bagi Gendhuk Tri sendiri merupakan pameran tenaga dalam yang cukup berarti. Kalau itu memakai tenaga dalam yang murni. Akan tetapi, bagi para dalang, kekuatan yang diperlihatkan sering berasal dari tenaga dalam yang dilatih secara khusus. Untuk menghadapi dalang lain yang akan mengganggu jalannya pertunjukan.

Bisa jadi semacam ilmu hitam yang dipakai untuk menangkis gangguan.

Tapi, biar bagaimanapun, Dalang Memeling berhasil memperlihatkan keunggulannya. Memainkan wayang di tengah udara, perlu pemusatan kekuatan yang tak bisa diperoleh dari latihan satu atau dua tahun.

“Dalang gombal,” mendadak terdengar teriakan keras. Seorang prajurit berdiri di atas dua pundak prajurit yang lain. “Kalau mau memberontak jangan menghasut rakyat kecil yang tak tahu apa-apa.

“Apa maksudmu mengecam pemberian gelar Wong Agung Galgendu? Apakah kamu mau menyangsikan Raja?”

“Jangan menghalangi pandangan orang lain,” teriak Dalang Memeling tak kalah keras.

Mendadak dari kaki Dalang Memeling melayang cempala atau alat pemukul kotak yang biasa dijepit dengan kaki kanan. Bungkah kayu berukir itu menghantam keras.

Sebelum prajurit yang berteriak bisa menghindar, cempala itu telah menghantam. Dan melayang kembali, ke arah kaki.

Kali ini Gendhuk Tri mengejapkan matanya.

Ini jelas bukan karena keahlian. Ini penggunaan tenaga dalam yang kuat. Menyambit dengan menggunakan kaki bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi bahwa cempala itu bisa melayang kembali, jelas penguasaan yang sempurna.

Karena cempala termasuk benda yang berat, dan bentuknya tidak ramping. “Mari kita lanjutkan tontonan ini.

“Kita masih berbicara tentang sukma wayang kulit. Wayang yang diukir, dihias dari kulit binatang. Tak beda dengan kulit lain, berbau dan harganya bisa dinilai dengan uang

“Akan tetapi setelah dimainkan, ia mempunyai sukma. Mempunyai roh. Memiliki  kelanggengan, keabadian.

“Lakon Upasara Wulung bisa diciptakan untuk mengabadikan, selain membuatkan candi.

“Sebagai dalang saya bisa memainkan lakon Upasara Krama, kawinnya Upasara.

“Kecap kacarita, adalah seorang ksatria yang sakti mandraguna, tidak mempan ditusuk senjata apa pun, gagah perkasa melewati Dewa, yang sedang gundah gulana. Karena sedang risau hatinya, ksatria yang tiada lain bernama Upasara Wulung berangkat ke tengah hutan.

“Di tempat itu Upasara bersemadi, memohon petunjuk Dewa yang Maha Mengetahui.

“Upasara bertanya. Siapakah sebenarnya wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya?

“Apakah Permaisuri yang keturunan murni Keraton Singasari yang ayu dan jelita bak bidadari?

“Ataukah seorang gadis yang tumbuh dewasa mempunyai jiwa ksatria yang manis bak bidadari?

“Ataukah seorang nyai yang bisa mengetahui apa keinginannya, yang juga menawan bak bidadari?

“Ataukah ratu yang keayuannya mengguncangkan jagat, yang mempunyai takhta di negeri seberang?

“Ataukah putri Pak Toikromo yang belum dikenalnya?

“Kerisauan Upasara Wulung adalah kerisauan ksatria sejati. Yang tidak menghendaki adanya pilihan satu dan menyebabkan penderitaan bagi yang lain.

“Sebagai dalang, saya bisa membuat wayang Upasara Wulung. Tak ada yang berani melarang. Tidak juga para pujangga dan pendeta dari tlatah Hindia, yang merasa lebih unggul dan merasa lebih kampiun.

“Karena ini wayang kita, sukma kita sendiri.”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara tertahan.

Kini hatinya makin yakin bahwa Ki Dalang Memeling bukan tokoh sembarangan. Agaknya memiliki pengetahuan yang luar biasa mengenai Upasara, sampai ke hal yang paling kecil.

Bahwa Upasara telah menjadi tokoh di hati masyarakat, tidak berarti bahwa nama wanita yang berhubungan dengannya diketahui secara jelas. Termasuk putri Pak Toikromo.

Gendhuk Tri berbalik langkah.

Kembali ke dalam rumah untuk menemui Wong Agung Galgendu.

“Siapa sebenarnya Dalang Memeling?”

“Saya bertemu dengannya di tempat ini, ketika ayah saya mengusahakan  penambangan emas di Gua Kencana. Kenapa tiba-tiba hal itu ditanyakan?”

“Wong Agung…”

“Maaf, marilah kita memakai sebutan yang selama ini kita pergunakan. Saya pun tetap memanggil Gendhuk Tri….”

“Baik, baik, Paman Galgendu.

“Apakah ada alasan lain Paman meminta dan memilih Dalang Memeling?”

“Ia sendiri yang minta main.

“Yang saya tahu ia dalang yang aneh. Belum tentu mau main, dibayar berapa pun. Akan tetapi kalau lagi mau, tidak dibayar pun bersedia.”

“Apakah ia sangat berarti bagi Paman?”

“Sangat.

“Di seluruh jagat ini, hanya saya dan Ki Dalang yang bisa keluar-masuk Gua Kencana. Selebihnya, hanya atas persetujuan kami berdua.”

“Kenapa?”

“Maaf, saya tak bisa mengatakan. Tetapi tak ada hubungannya dengan para ksatria atau maksud jahat.”

“Kenapa orang lain tidak diperbolehkan masuk?”

“Gua Kencana adalah gua emas. Segalanya berkilau di sana. Yang berkilau bisa membuat mata menjadi silau.

“Saya tak ingin memancing huru-hara.

“Anakmas Tri, kalau berniat ke sana, sekarang ini pun akan saya antarkan….”

Gendhuk Tri menunjukkan rasa terima kasih dengan senyum lebar.

“Tidak sekarang ini, Paman.

“Saya hanya ingin mengetahui mengenai Ki Dalang….”

“Segera setelah pertunjukan selesai, fajar nanti, bisa ditemui….”

Gendhuk Tri minta pamit.

Melangkah kembali menuju kamarnya.

Tak terlalu heran melihat Nyai Demang masih duduk di luar, menengadah ke arah bulan.

“Alangkah bagusnya jika ada lakon Upasara Krama…”

“Rupanya Mbakyu Demang nonton juga….”

“Saya bisa mendengar dengan jelas dari tempat ini.

“Aneh, akan tetapi tenaga dalam saya berubah. Sekarang baru saya sadari bahwa yang membuat saya repot karena bisa mendengarkan suara dari kejauhan. Bahkan kalau saya tidak menghendaki pun, suara itu terdengar jelas.”

Gendhuk Tri duduk di sebelahnya.

Memandang ke arah bulan.

“Kenapa Mbakyu cemas? Bukankah Mbakyu bisa mempelajari kelebihan tenaga dalam Eyang Berune? Bukankah Mbakyu bisa memahami berbagai bahasa?”

“Untuk apa?”

Suaranya mengandung kegetiran yang dalam.

“Untuk apa lagi sekarang ini?

“Adikku seumur hidup mbakyumu hanya pernah bercerita satu kali, dan itu kepadamu, adikku.

“Saya mendapat semangat hidup untuk membalas dendam keluarga dan suami saya pak Demang yang malang. Ketika semuanya boleh dikatakan berdamai dengan hati saya, pegangan itu lenyap.

“Syukurlah, berkat pertemuan dengan saudara-saudara dari Perguruan Awan, semangat itu muncul lagi.

“Akan tetapi, sekarang ini setelah…”

Kalimatnya tak selesai.

Tak perlu diselesaikan, karena Gendhuk Tri sudah menangkap bagian akhir. Setelah Upasara tak ada….

“Kepercayaan, pada sesama manusia hilang. Kepercayaan saya kepada Dewa berkurang karenanya.

“Kepercayaan bahwa hidup ini hanya kesia-siaan dan duka makin kuat.

“Kenapa Pak Demang yang baik dan berbakti harus mengalami nasib yang malang? Kenapa anak-anakku yang tak berdosa ikut menanggung beban?

“Kenapa Adimas Upasara harus meninggal dengan cara seperti itu?

“Adikku…

“Mbakyumu ini sudah tua. Mungkin tak perlu lagi mendengar jawaban itu. Baru saja saya katakan alangkah baiknya kalau bisa menonton lakon Upasara Krama. Tapi sebenarnya itu tipuan, hiburan yang tidak menenteramkan untuk waktu yang lama. Karena saya sadar itu semu.

“Adikku, besok pagi saya akan kembali ke Perguruan Awan. Barangkali di sana masih ada secuil tempat untuk menenteramkan hati. Entah untuk sementara atau selamanya.

“Tolong pamitkan kepada Wong Agung, Ratu Ayu, dan kepada Adimas Upasara….”

Air Tenang Mengendapkan

GENDHUK TRI tidak menghela napas. Tidak merapatkan bibirnya. Wajahnya bahkan tidak menunjukkan perubahan. Juga nada suaranya.

“Kalau memang itu kemauan Mbakyu Demang, siapa lagi yang bisa menahan? Kalau menahan, siapa yang bisa?

“Seekor kuda bisa dihela, tapi kemauan akan menerobos terus-menerus. Akan meloncati penghalang dari luar.

“Saya bisa menyayangkan, akan tetapi mangga….”

Nyai Demang mengangguk.

“Sebenarnya…”

“Sebenarnya justru mengherankan. Sewaktu Kakang Upasara hilang semua tenaga dalamnya karena membantu saya, orang yang bisa menghidupkan kembali semangatnya adalah Mbakyu. Yang bertindak secara luar biasa menerjang, sehingga Kakang Upasara berkelana, sehingga akhirnya bisa bertemu Paman Sepuh Dodot Bintulu, yang menyebabkan tenaga dalamnya pulih kembali.

“Entah apa yang terjadi kalau saat itu Mbakyu Demang tidak melakukan hal tersebut.”

“Barangkali Adimas Upasara malah menjadi orang biasa, tanpa harus mengalami kematian yang sia-sia….”

“Mungkin sekali, Mbakyu.

“Tapi mungkin tak ada lelananging jagat, mungkin pertumpahan darah lebih membanjir….”

“Apa ada bedanya?

“Apa ada bedanya bagi Adimas Upasara?

“Marilah sekarang bicara terus terang. Apa yang diperoleh Adimas Upasara dengan pengabdian ini semua? Nama besar? Nama peninggalan yang harum? Candi?

“Apa itu semua artinya?”

“Memang tak ada.

“Kalau kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Mbakyu Demang, kita ini nasibnya kurang-lebih sama. Malah mungkin Mbakyu Demang pernah merasakan bahagianya hidup berkeluarga. Mengenal suami, mengenal anak, mertua, tetangga, kakek-nenek, atau malah cucu?

“Saya dan Kakang Upasara, bahkan orangtua pun kami tak kenal. Adik atau kakak juga tidak. “Nasib kita sama sekarang ini. Kalau hanya memikirkan diri sendiri, alangkah enaknya kita ini. Seperti juga Eyang Raganata. Yang merasa tak perlu melarikan Jagaddhita, tak perlu menyembunyikan saya.

“Tetapi selalu ada dorongan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik, apa pun keadaannya saat itu.”

Nyai Demang tersenyum tipis, wajahnya sedikit merah.

“Omonganmu lebih tajam kala kamu bersungguh-sungguh. Kamu ingin mengatakan aku tak memiliki tanggung jawab lagi? Aku hanya memikirkan diriku?”

Di luar dugaan Nyai Demang, Gendhuk Tri mengangguk.

“Ya.

“Tetapi tak akan ada yang menyalahkan Mbakyu.

“Bahkan Keraton pun akan berterima kasih atas jasa Mbakyu selama ini.

“Kamu akan menyalahkan aku?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu bicara seolah orang yang sudah tua dan memegang pangkat?”

“Karena saya tak berhak menyalahkan Mbakyu. Tak ada yang berhak menyalahkan, selain Mbakyu sendiri.

“Seperti juga saya tak akan menyalahkan Ratu Ayu yang akan menghukum Permaisuri Rajapatni. Seperti Baginda yang kecewa atas perlakuan permaisurinya, seperti Wong Agung Galgendu yang ingin memiliki Ratu Ayu….”

“Gendhuk Tri… apa sebenarnya yang akan kamu katakan?”

“Sederhana sekali, Mbakyu.

“Kalau Mbakyu ingin kembali ke Perguruan Awan, mangga mawon, silakan. Tak ada yang menghalangi. Bukankah kita juga tak menghalangi niatan Dewa Maut yang sampai sekarang mengurung diri dalam gua bawah tanah?

”Kita para ksatria disatukan oleh keinginan, oleh tautan Perguruan Awan. Kalau kemudian satu demi satu memilih jalannya sendiri, tak bisa disalahkan. Tak akan disalahkan.”

“Ada yang berubah dalam dirimu….”

Senopati Pamungkas II – 25

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA – Senopati Pamungkas II

“Sejak saya menelusuri dan melatih pernapasan dari Kitab Air, saya merasa lebih tenang. Merasa bahwa semua pergolakan hanya terjadi di atas. Di bagian bawah, akan mengendap.”

“Selamat.

“Kamu telah maju pesat.”

“Seperti Mbakyu Demang yang sekarang mampu mendengar jarak jauh. Kemajuan yang tak bisa disamai, pun oleh Kakang Upasara….”

“Cukup.

“Aku telah mendengar semuanya. Aku telah mengetahui. Tapi aku sudah sampai kepada keputusan untuk kembali ke Perguruan Awan.. “

Keduanya bertatapan.

Mengangguk bersamaan.

Menoleh bersamaan, ke arah dua bayangan yang mendekat.

Ratu Ayu yang datang bersama Permaisuri Rajapatni.

“Kalau semua yang kecewa harus mengundurkan diri dan tak mau melihat langit, siapa lagi yang tinggal di bumi ini?”

Suara Permaisuri Rajapatni sepenuhnya mampu mengontrol emosi.

“Kalau ada yang bisa dikenang dari Kakang Upasara Wulung, adalah pengabdian kepada Keraton, kepada raja, kepada sesama manusia. Saat-saat terakhir dalam hidup Kakang, tidak mengubah sikapnya sebagai ksatria.

“Itulah sesungguhnya keunggulan Kakangmas Upasara Wulung.”

Nyai Demang mencibirkan bibirnya.

“Apa yang mau Permaisuri katakan?”

“Keraton Majapahit sekarang ini sedang kosong. Sepi dari kekuasaan dan kekuatan. Baginda telah jengkar, menyingkir ke Simping. Raja Jayanegara tenggelam dalam belaian daya asmara.

“Senopati Halayudha sedang pergi ke Lumajang.

“Tak ada yang tersisa….”

“Aha, Permaisuri mau mengatakan bahwa kami mempunyai kewajiban untuk menjaga Keraton?

“Sejak kapan Permaisuri memikirkan hal itu? Sejak memerintahkan hukum poteng Adimas Upasara?”

“Ya, Mbakyu Demang.

“Kalau saya bisa memainkan keris, saya akan menjaga. Kalau saya bisa berbuat sesuatu, akan saya lakukan sekarang.”

“Kalau harus menerima hukuman?”

“Akan saya lakukan sekarang.”

Pandangan matanya keras.

“Saya minta Ratu Ayu melakukan sekarang juga, akan tetapi ia lebih suka minta pendapat kalian. Bagaimana cara menghukum saya. Apa susahnya menjalankan hukum poteng yang sama?

“Mbakyu Demang, Gendhuk Tri, Ratu Ayu… Bukankah kalian datang untuk mendapat kepastian tentang kematian Kakangmas Upasara?

“Kenapa sekarang ragu?”

Ratu Ayu mengambil cundrik dari pinggang Permaisuri.

Gendhuk Tri memandang tak berkedip.

Nyai Demang memandang ke arah lain.

Permaisuri Rajapatni menutupkan matanya, menunduk.

“Satu permintaanku, setelah aku selesai menghukum Permaisuri, salah satu di antara kalian berdua melakukan cara yang sama padaku.”

Permintaan Ratu Ayu disuarakan dengan nada memohon yang lebih merupakan rintihan.

“Saya…saya…tak bisa….”

“Saya bisa.”

Suara Gendhuk Tri terdengar mantap. Selendangnya dikibaskan. Kedua kakinya sedikit merenggang.

“Karena kalian berdua yang menghendaki, biarlah aku yang melakukan. Yang satu permaisuri, yang satu ratu. Semua memilih jalannya sendiri.

“Mbakyu Demang, apakah Mbakyu juga akan mati bela?”

Tantangan Gendhuk Tri membuat Permaisuri menarik napas lega. Juga Ratu Ayu.

“Silakan, Ratu….”

Ratu Ayu melepaskan cundrik dari sarungnya. Tangan kanannya bergerak cepat. Gendhuk Tri mengawasi dengan sorot mata tajam. Mendadak, Nyai Demang bergerak cepat. Tangan kanan mendorong Permaisuri, tangan kiri mendorong Ratu Ayu. Keduanya terdorong cukup jauh.

Bahkan Permaisuri sampai terguling.

“Jangan lakukan sekarang, Ratu. Nanti setelah saya pergi….”

Gendhuk Tri mendesis.

“Kalau begitu, silakan pergi, Mbakyu….”

Sebaliknya dari meninggalkan tempat, Nyai Demang malah berdiri kaku, mematung.

“Apa sebenarnya yang berada dalam dirimu, Gendhuk? Apakah masih ada sisa racun jahat dalam tubuhmu?”

“Saya akan melakukan apa yang diminta seseorang yang datang kepada saya. Tanpa harus mengetahui apakah itu beracun atau tidak.

“Seperti dulu Eyang Putri Pulangsih menerima perpisahan dari Eyang Sepuh.

“Saya tahu bahwa di sebalik kematian Kakang Upasara masih ada yang disembunyikan. Karena kalian berdua menginginkan membawa rahasia ke alam lain, saya tak akan menghalangi.”

Nyai Demang tertegun.

Ada sesuatu yang melintas di otaknya.

Empat Wanita, Empat Rasa

SESUATU yang melintas itu sebenarnya sederhana.

Gendhuk Tri bukanlah tokoh yang bodoh. Bahkan kecerdikannya, caranya berpikir, di atas dirinya. Apalagi dengan pengalaman mati-hidup yang dialami berulang kali, membuatnya lebih bijak dan terang serta jernih dalam menimbang persoalan. Ditambah lagi, kini jauh lebih matang setelah sedikit-banyak menguasai Kitab Air secara teratur.

Kalau sampai menduga “ada sesuatu yang disembunyikan”, pastilah ia tengah menduga sesuatu yang terjadi di balik penyerahan Permaisuri. Dugaan itu cukup beralasan.

Hanya saja, sekarang ini, Nyai Demang tak bisa menduga apa, dan alasan apa.

Tetapi bukannya tak bisa dikira-kira.

Kematian Upasara selama ini masih merupakan teka-teki. Apa betul segampang itu Upasara yang gagah dan sakti mati? Taruh kata memang ia terluka parah, sangat parah. Tangan kiri yang menjadi pusat kekuatan, tertembus keris di bahu. Besar kemungkinan sebagian tenaga dalamnya lenyap. Sementara tangan kanannya belum pulih, ini merupakan hambatan yang besar. Bisa juga Upasara cacat seumur hidup.

Tapi mati?

Rasanya tak semudah itu. Apalagi seorang Upasara, apakah mungkin di saat menderita tak tahan dan minta dihabisi begitu saja?

Itu yang tidak masuk akal.

Namun, Nyai Demang mengakui bahwa dasar berpikirnya sangat rapuh. Dirinya mengandaikan itu semua karena jauh dalam hatinya berharap bahwa Upasara belum meninggal. Upasara masih hidup, segar bugar, di suatu tempat yang untuk sementara belum diketahui di mana.

Kerapuhan itu juga diakui oleh Gendhuk Tri. Ia merasa bahwa kalimatnya yang menyentak mengenai “suatu rahasia” karena lebih berdasarkan keinginannya sendiri. Bahwa ada yang dirahasiakan mengenai kematian Upasara.

Bahwa Upasara belum mati, apalagi dipotong-potong anggota tubuhnya!

Banyak kemungkinan bisa terjadi, tapi bukan kematian.

Apalagi terjadi pada Upasara.

Titik tolak inilah yang membuatnya berpikir bahwa Permaisuri dan Ratu Ayu menyembunyikan rahasia yang hanya diketahui mereka berdua.

Padahal pada saat yang sama Ratu Ayu merasa bahwa Permaisuri tak akan setega itu melakukan hukuman kepada Upasara. Dasar lubuk hatinya mengatakan itu, tak lagi mau mempercayai telinganya. Desakan demi desakan hanya membuat Permaisuri bersedia menerima pembalasan.

Maka di saat semua pegangan luntur, hatinya tak kuat lagi. Cundrik disebut dan dengan sepenuh tenaga ditusukkan ke arah Permaisuri.

Yang menunduk tak mengelak sedikit pun!

Kalau benar Permaisuri tidak melakukan, bagaimana mungkin ia menerima hukuman kematian setenang itu? Apakah ini bukan pertanda penyesalan yang berat atas apa yang sudah dilakukan?

“Kita berempat berada di sini, dengan rasa dan suara batin masing-masing. Barangkali tak bisa dikatakan ini cara yang baik.

“Bukan cara yang baik karena kita saling menumpangkan kekuatan kepada lamunan yang kita susun sendiri.

“Kekuatan Ratu belum pulih sepertiganya. Masih teramat lemah. Mbakyu Demang juga masih belum bisa memusatkan tenaga dalamnya. Sementara Permaisuri sendiri seperti tak waras.

“Saya sendiri, meskipun bisa bicara seperti ini merasa bahwa semua pertimbangan yang ada menjadi kacau-balau. Bisa ngoceh sendiri.

“Kalau saya boleh mengajak, marilah kita bersama-sama mengendapkan semua rasa, mengembalikan kepada sumber kegelisahan ke permukaan, dan memulai dengan ketenangan.”

Nyai Demang sadar sepenuhnya bahwa sejak mereka mendengar kematian Upasara, segalanya seperti berjalan dengan kacau. Jalan pikiran bolak-balik tidak menentu.

Ajakan Gendhuk Tri sangat tepat.

Maka ia tak mau menunggu lama. Segera duduk bersila dengan gerakan lembut, kedua tangannya terkulai. Satu tangan kiri terangkat, dan Ratu Ayu segera menempelkan telapak tangannya, melakukan gerakan semadi yang sama. Gendhuk Tri, dengan caranya sendiri, juga menyatukan telapak tangannya. Permaisuri Rajapatni mengikuti dengan menempelkan telapak tangannya ke arah Gendhuk Tri, dan menyatukan dalam lingkaran.

Segera terasa udara panas menyusup ke dalam tubuhnya. Terasa terbakar. Mendadak saja seluruh tubuhnya mengalirkan keringat.

“Tahan, Permaisuri….”

Suara Gendhuk Tri yang lembut menuntun pikirannya.

Permaisuri membiarkan tubuhnya dialiri tenaga dalam yang seperti menerobos masuk, berguncang dan kembali lagi, mengalir ke arah Ratu Ayu.

Keempatnya mencoba menyatukan pikiran, perasaan, dan semua kekuatan melarut dalam keheningan.

Gendhuk Tri, meskipun bukan yang paling kuat tenaga dalamnya, mampu menyatukan dan menuntun.

Hanya Rajapatni yang paling dangkal penguasaan tenaga dalamnya tampak bergoyang-goyang. Kini seluruh tubuhnya kuyup oleh keringat tubuh. Dari ujung rambut hingga ujung telapak kaki.

“Ya, Kakangmas Upasara mengusir pagebluk dengan cara ini…. Saya menjadi berkeringat….”

“Permaisuri, kosongkan pikiran. Jangan membayangkan Kakang Upasara jangan merasakan udara panas. Biar saja melalui tubuh Permaisuri, ke arah Ratu Ayu….”

Ratu Ayu yang bisa mengerti arah pembicaraan Gendhuk Tri segera menampung tenaga dalam yang tercurah ke tubuhnya. Dibarengi dengan tenaga dalamnya sendiri, seakan semua panas mengumpul di tubuhnya. Dalam kejapan berikutnya, tubuhnya benar-benar basah dan tenggelam dalam cairan keringat. Karena keringat yang mengucur dari tubuhnya sangat deras.

Jauh dalam hatinya terbersit rasa kagum kepada Gendhuk Tri.

Gadis hitam manis ini ternyata mempunyai kemampuan menyatukan tenaga dalam yang luar biasa. Walaupun keempatnya mempunyai dasar ilmu silat yang saling berbeda, tetap bisa disatukan.

Inilah luar biasa.

Dasar tenaga dalam Ratu Ayu sumbernya sama sekali berbeda dengan yang lain. Cara melatih dan mengerahkan tenaga sangat berbeda. Apalagi dibandingkan dengan Nyai Demang yang agaknya masih menyimpan satu gumpalan tenaga dalam yang sepenuhnya belum bisa dikerahkan dengan baik. Kadang gumpalan dingin itu membuatnya menggigil kedinginan, kadang malah membeku, menyumbat tenaga yang masuk.

Demikian juga Permaisuri yang mencoba menjadi pengantar tenaga dalam.

Tubuhnya kosong.

Akan tetapi kekuatan Gendhuk Tri mampu menggiring satu demi satu, mengalirkan ke arah Ratu Ayu. Yang kini bahkan tak mampu membuka mata karena air deras terus mengalir.

Pada saat yang tepat pula, Gendhuk Tri menarik kembali tenaga dalamnya, dan mengembalikan ke tempat asalnya.

“Hebat, hebat sekali.

“Selamat,” kata Nyai Demang terengah-engah. “Tak kusangka kamu sudah sedemikian majunya. Hebat sekali. Eyang Putri Pulangsih betul-betul mahasakti mandraguna.

“Aku mengakui dengan tulus.”

Suara Nyai Demang seperti mengisyaratkan adanya kekuatan lain yang mempengaruhi.

Suara pengakuan Kakek Berune.

Bukan sesuatu yang luar biasa. Beberapa waktu lamanya, Nyai Demang terkulai secara sempurna oleh kekuatan Eyang Kebo Berune. Sehingga kalaupun Secara wadag, lahiriah, dirinya telah terbebaskan dari menggendong mayat, akan tetapi pengaruh itu masih ada.

Hanya saja, kini, pengaruh itu dalam pengertian yang baik.

Yang bisa diterima dengan lega oleh Gendhuk Tri. Senyuman tipis menandai rasa bangga. Sesuatu yang tak pernah diduga akan sedemikian besar pengaruhnya.

Kemampuannya mengalirkan tenaga dalam yang berbeda, dan mengarahkan benar-benar seperti perwujudan tenaga air yang bisa terkuasai.

Sebaliknya Ratu Ayu merasa tubuhnya lebih segar, walau seakan seluruh cairan dalam tubuhnya mengucur keluar. Barulah dimengerti bahwa bubuk pagebluk yang masuk ke tubuhnya, ikut terpompa keluar bersama cucuran keringat.

Cara pengobatan yang luar biasa.

Yang dilakukan Raja Turkana pada Permaisuri?

Ratu Ayu segera membuang kecurigaan jauh-jauh.

“Terima kasih, Gendhuk Tri… Nyai Demang, dan Permaisuri… Saya merasa lebih baik.”

“Saya tidak…”

“Tanpa bantuan Permaisuri, kita semua belum tentu berhasil.”

Kalimat Gendhuk Tri seperti menggurui, berbeda dari biasanya.

Baik Nyai Demang maupun Ratu Ayu mengakui bahwa apa yang dikatakan Gendhuk Tri benar adanya. Tanpa bantuan Permaisuri, akan sulit bisa menyatukan tenaga dingin Nyai Demang, tenaga lompat Ratu Ayu, dan tenaga air Gendhuk Tri.

Harus ada perantaranya.

Dan itu yang dilakukan Permaisuri.

Rahasia Asmara Diam

PAGI terasa.

Suara Dalang Memeling tak terdengar lagi, digantikan gending penutup dan kicauan burung pagi.

Keempatnya masih duduk melingkar.

Ratu Ayu memusatkan semangatnya, melatih untuk mengalirkan tenaga dalamnya sekali lagi. Seperti juga Nyai Demang dan Gendhuk Tri, sementara Permaisuri beristirahat.

Pagi mengantarkan bau tanah. Gendhuk Tri membuka matanya.

“Setelah kita merasa lebih segar, rasanya tak ada masalah yang perlu dirisaukan lagi, apa yang akan kita lakukan.

“Mbakyu Demang masih akan kembali ke Perguruan Awan?”

“Tidak sekarang ini.”

“Ratu Ayu masih…”

“Tidak sekarang ini.”

“Permaisuri…”

“Saya tak mempunyai tujuan apa-apa. Saya hanya nyuwita, mengabdi, kepada Baginda. Kini Baginda sudah jengkar, meninggalkan saya. Kalau salah satu dari kalian mau saya ikuti, saya akan terus mengikuti.”

“Bagaimana rencana Permaisuri kembali ke Keraton?”

Permaisuri Rajapatni menunduk.

“Itu mungkin yang terbaik.

“Selama ini jasad Kakangmas Upasara masih di sana. Sebelum Wong Agung Galgendu memindahkan, rasanya saya ingin melihat untuk yang terakhir kali.”

“Bagaimana dengan keamanan Keraton yang Permaisuri kuatirkan?”

“Saya hanya berpikir selintas. Bahwa Keraton sekarang ini sedang sepi, sedang kosong, sehingga memancing bersemainya bibit kraman, bibit pemberontakan.

“Kalau saya bisa berbuat sesuatu untuk mencegah, saya akan merasa beban dosa ini berkurang.”

“Kalau memang begitu, mari kita pamit bersama.

“Tak ada salahnya kita kembali ke Keraton.”

Jalan ketegasan yang dipilih Gendhuk Tri menghemat pemikiran yang berlarut. Ketiganya menyetujui berangkat bersama ke Keraton. Untuk melihat pemindahan jasad Upasara Wulung dan melihat suasana.

Wong Agung Galgendu yang kelihatannya tak bisa menerima keputusan. Berulang kali ia membungkukkan badan, memohon dengan suara meratap.

“Duh, Permaisuri yang mulia.

“Duh, Ratu Ayu.

“Para pendekar yang mulia.

“Apa lagi kekurangan saya ini? Gua Kencana pun saya buka buat Paduka semua. Kenapa saya ditinggalkan? Apa kesalahan saya? Saya sudah berjanji akan melaksanakan upacara pencandian….”

“Wong Agung…” Suara Ratu Ayu terdengar sangat lembut. “Ini semua tak ada hubungannya dengan keramahan Wong Agung yang hangat dan semanak. Kami semua merasakan persahabatan ini.

“Akan tetapi kali ini, kami ingin berangkat lebih dulu. Karena itu yang terbaik bagi perasaan kami.”

“Ratu akan kembali kemari?”

“Saya tak pernah bisa berjanji, Wong Agung….”

Wajah duka menggores dalam, tatapan mata yang kosong mengantarkan keberangkatan keempat wanita yang pernah ditalikan oleh daya yang sama.

Ratu Ayu sendiri memerintahkan agar Senopati Sariq tidak berada dalam perjalanan yang sama.

Dua hari pertama perjalanan dilakukan dengan berdiam diri. Tak ada yang membuka pembicaraan. Dua hari perjalanan yang tak bisa tergesa, karena Permaisuri memang tak bisa berjalan cepat.

Dua hari yang menyadarkan keempatnya secara bersamaan.

Bahwa yang tiga mau menunggu kesanggupan salah satu.

Yang satu memaksakan diri, dan merasa diperhatikan oleh ketiga yang lain.

Permaisuri sendiri masih mendapat hormat, sungkem dari Gendhuk Tri maupun Nyai Demang, namun secara halus selalu menolak.

“Saya bisa membayangkan bahwa Kakangmas akan tersenyum bahagia bila melihat kita berempat jalan bersama.”

“Apa yang Permaisuri katakan sangat tepat. Saya tahu Adimas merasa berat hati dan tak bisa memberati orang lain karena mengutamakan salah seorang.”

“Raja Turkana bisa menyatukan kita, mempererat perasaan, tanpa pernah menghancurkan atau melukai perasaan kita.”

“Sudahlah, untuk apa kita selalu mengenang dan membicarakan Kakang?

“Biarlah Kakang merasakan istirahat dengan tenang, dengan bahagia sepanjang zaman. Sesuatu yang tidak Kakang rasakan sebelumnya….”

Keempatnya terdiam.

Sesaat.

“Kenapa Mbakyu Demang tersenyum-senyum?”

“Tidak. Tak ada apa-apa.”

“Apakah kita masih perlu saling menyembunyikan rasa?”

“Gendhuk Tri, barangkali kamu yang paling bahagia saat ini. Tak ada lagi beban penyesalan pada Adimas. Dan Adimas juga merestui hubunganmu dengan Singanada.”

Gendhuk Tri menarik sepasang alisnya.

“Apa yang dikatakan Kakang?”

“Adimas menyetujui. Merasa bahwa itu pilihan terbaik. Mendoakan supaya bahagia.”        “Ngawur.

“Dari mana Mbakyu tahu? Bukankah selama ini Mbakyu terkuasai Kakek Berune?”

Nyai Demang tersenyum.

“Saya sempat beberapa saat bersama Adimas…

“Ah, sudahlah itu.

“Aneh juga Maha Singanada itu. Kenapa ia begitu mendendam kepada Senopati Agung Brahma, hanya karena menanyakan sesuatu tentang ayahnya?

“Saya sendiri tak mengetahui.

“Nanti kita tanyakan.”

Permaisuri terhenti.

Menghapus sudut matanya yang basah.

Ketiga yang lain tertegun.

“Kisah yang memilukan.

“Sejauh saya mengetahui….”

Dengan suara masih diseling sedu sedan, Permaisuri menuturkan. Bahwa sesungguhnya Senopati Agung Brahma pada masa dulu menjalin hubungan asmara dengan Dyah Ayu Tapasi, putri Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang berarti masih saudara seayah dengan Permaisuri, meskipun perbedaan usianya sangat jauh.

Akan tetapi hubungan mereka terpisahkan, karena Senopati Agung Brahma menunaikan tugas ke negeri seberang. Itu sebabnya Dyah Ayu Tapasi memutuskan berangkat ke negeri seberang, menjadi putri yang diserahkan ke Keraton di tanah Campa.

“Mungkin bingung karena merasa putus asmara?”

“Bisa juga begitu.

“Akan tetapi, sesungguhnya hati Dyah Ayu Tapasi sudah menyatu dengan Senopati Agung Brahma.  Sehingga sebelum diserahkan ke Raja Campa, Dyah Ayu melakukan sesuatu yang sangat hina, yang bisa menyebabkan hancurnya semua kehormatan.

“Dyah Ayu menyerahkan kehormatannya kepada Senopati Mapanji Paksa yang menjadi pemimpin utusan….”

Terdengar suara “ah” bersamaan dari Gendhuk Tri, Nyai Demang, maupun Ratu Ayu.

“Lalu?”

“Mapanji Paksa sendiri merasa bersalah….”

“Apakah Singanada itu putra Mapanji?”

Permaisuri mengangguk. Kini sepenuhnya tubuhnya menggigil karena sedu sedan.

Dada Gendhuk Tri serasa pepat.

Matanya dipandangkan ke langit. Merasa kurang enak diketahui bahwa air matanya menggenang.

Bisa dimengerti kalau Singanada merasa memanggul beban noda yang tak terpikul, setiap kali diingatkan sesuatu yang nista terjadi pada ayahandanya.

Dalam keadaan selalu tersudut, perangainya menjadi sangat aneh.

“Singanada sesungguhnya cucu Sri Baginda Raja….”

Nyai Demang menggigit bibirnya.

Ada kilas lain yang membetik dalam pikirannya. Kalau benar demikian, Maha Singanada adalah putra Dyah Ayu Tapasi. Kalau dilihat wajah dan perawakannya sangat mirip Upasara Wulung, bukan tidak mungkin Upasara Wulung pun… dengan kata lain, sebenarnya juga berhak untuk menyanding Permaisuri!

Apakah itu yang membuat Permaisuri sangat berduka?

Ratu Ayu paling tidak mengenal dengan baik, akan tetapi ikut larut dalam duka yang sama.

Hanya karena ia merasa dirinya orang luar, sempat terucap olehnya,

“Permaisuri… Kalau Senopati Agung Brahma ksatria dari Keraton dan Tapasi putri Baginda Raja, kenapa harus terjadi perpisahan?”

“Ratu…”

“Apakah Baginda Raja tidak merestui?”

“Semua ini baru diketahui setelah peristiwa itu terjadi. Sebelumnya tak ada yang memahami dengan jelas, bahwa ada daya asmara yang bersemi di dada Dyah Ayu dan Senopati Agung.

“Daya asmara yang hanya dirasakan mereka berdua.

“Dalam diam. Dengan diam.”

Rerasan Empat Wanita

SUARA Permaisuri Rajapatni perlahan. Sebagian malah tertelan keharuan.

Nyai Demang juga merasakan sepenuhnya apa yang terjadi di balik hubungan Dyah Tapasi dengan Senopati Brahma. Suatu perjalanan asmara yang tak pernah muncul ke permukaan, yang ditutupi.

Apakah bukan itu yang juga terjadi antara dirinya dan Upasara, yang dipanggil dengan sebutan Adimas? Bukankah sebutan itu untuk menjaga jarak, agar tak muncul daya asmara?

Nyai Demang sepenuhnya mengakui, seperti secara tidak langsung Upasara pun mengakui, bahwa wanita pertama yang menggetarkan hati kelelakian Upasara adalah dirinya. Dengan alasan apa pun, baik karena tertarik bentuk tubuhnya atau bentuk yang lain.

Ini termasuk istimewa karena sesungguhnya Upasara jarang sekali tertarik kepada wanita.

Tapi sejak awal, Nyai Demang menenggelamkan perasaan itu. Perasaan kemungkinan tumbuhnya daya asmara. Karena satu dan lain pertimbangan. Di antaranya ia merasa tak pantas mempermainkan anak muda yang begitu tulus, jujur, dan penuh sikap ksatria. Akan terasa janggal bila dibandingkan dengan dirinya yang telah mengenal asam-garamnya dunia asmara.

Hal lain, juga terasakan oleh Nyai Demang, berkembangnya perasaan yang sama pada diri Gendhuk Tri. Gadis kecil itu mulai tumbuh dewasa, dan menemukan getaran yang sesungguhnya pada diri Upasara. Akan tetapi, seperti dirinya, Gendhuk Tri juga menindas daya asmara itu jauh-jauh. Gendhuk Tri menempatkan dirinya sebagai adik.

Apakah ini semua juga bukan asmara diam?

Asmara yang sengaja dipendam?

Bukankah Permaisuri sesungguhnya juga mengalami hal yang kurang-lebih sama?

Penjelasan Permaisuri mengenai lelakon asmara Dyah Tapasi-Senopati Brahma seperti menjelaskan lelakon asmara mereka sendiri.

“Bagaimana kabarnya Dyah Tapasi kemudian?” Suara Nyai Demang memecah kesunyian yang menenggelamkan jalan pikiran masing-masing.

“Raja Campa menerima dengan segala kehormatan. Raja Campa sangat mencintainya….”

“Dan Mapanji Paksa?

“Hilang tak ada kabar beritanya.

“Sejak Singanada masih berada dalam kandungan, Senopati Paksa telah kembali dari tanah Campa. Keris pusakanya dikembalikan kepada Sri Baginda Raja, sebagai tanda menjadi manusia biasa, bukan prajurit Keraton lagi. Bukan ksatria lagi.”

“Saya bisa mengerti kemelut hati Senopati Paksa.

“Ksatria yang hatinya terluka dua kali. Pertama, karena melukai keluarganya sendiri. Kedua, karena daya kasih sayang dan asmara yang dimiliki Dyah Tapasi ternyata daya asmara gadungan. Daya asmara yang sesungguhnya berada dalam diri Senopati Brahma….”

Gendhuk Tri yang sejak tadi terdiam, bersuara perlahan.

“Permaisuri, apakah selama ini Senopati Agung Brahma tak pernah bertemu lagi dengan Dyah Tapasi?”

“Rasanya tidak.

“Sejak berangkat sampai kembali, tak pernah bertemu lagi. Pertemuannya hanya dengan Singanada yang berakibat lain.”

“Itulah aneh.

“Sekian puluh tahun, ternyata tak bisa menghapus kenangan dan makna asmara. Tidak bagi Eyang Putri Pulangsih, tidak juga bagi Kebo Berune, atau Dyah Tapasi.

“Permaisuri, bolehkah saya menanyakan sesuatu?”

“Saya tahu apa yang akan kamu tanyakan, gadis manis.

“Kamu ingin menanyakan bagaimana kenangan dan makna asmara itu bagiku?”

“Ya….” Gendhuk Tri menunduk tersipu.

“Kamu bisa menjawab sendiri.”

“Tidak. Saya tak tahu….”

“Kamu sudah bisa mengerti, gadis manis.

“Sejak pertemuan sebelum Kakangmas Upasara Wulung menjadi Senopati Pamungkas, kamu telah melihat sendiri. Kamu masih kecil, masih berlepotan ingus, tapi saat itu pun aku tahu pandangan matamu yang bersinar keras.

“Apa bedanya?”

“Kalau benar Permaisuri menyimpan daya asmara terhadap Kakang, kenapa Permaisuri bisa bersenang-senang dengan Baginda? Bisa meladeni Baginda, dan memberikan putri-putri mungil?”

Nyai Demang mengangkat tangannya, memberi tanda agar Gendhuk Tri tidak berbuat lancang. Akan tetapi Permaisuri Rajapatni juga menggerakkan tangan ke arah Nyai.

“Biar, Nyai….

“Sangat jarang, sangat langka, kesempatan kita kaum wanita membuka perasaan hati seperti sekarang ini. Betapa sesungguhnya selama ini kita selalu memendam rasa, menyembunyikan jauh-jauh di dalam mimpi.

“Pertanyaan gadis manis Gendhuk Tri adalah pertanyaanku juga. Wanita seperti apa aku ini sebenarnya? Yang meratapi Kakangmas Upasara akan tetapi bersanding dan melayani lelaki lain?

“Gadis manis…

“Adalah sangat gampang bagiku untuk menemukan alasan. Aku putri Keraton yang harus berbakti kepada Sri Baginda Raja. Aku permaisuri yang harus berbakti kepada Baginda. Aku harus menjaga kewibawaan Keraton, nilai, harga diri.

“Akan tetapi tetap saja pertanyaan itu terdengar.

“Sama dengan yang dialami Pamanda Senopati Agung Brahma. Seperti Mbakyu Ayu Tapasi yang kini berada di Campa.

“Kadang aku merasa lebih memiliki Kakangmas Upasara, kalau ia masih selalu sendirian. Tapi itu ketololan dan mau mencari menang sendiri.

“Tak ada bedanya apakah Kakangmas sendirian atau beristri….”

Ratu Ayu menggeleng.

“Memang ganjil.

“Kalian membicarakan Raja Turkana yang telah memiliki dan dimiliki orang lain.

“Aku.

“Aku yang paling berhak membicarakan.

“Aku sadar bahwa aku memiliki secara resmi. Tetapi aku tak pernah betul-betul mengenalnya. Tak pernah melihat punggungnya, kakinya, secara utuh.

“Bahkan mungkin, aku… aku… tak percaya kalau Raja Turkana telah hafal dengan wajahku….”

Suaranya menjadi parau.

“Tapi itu tak mengurangi kebahagiaanku….”

Ketiga wanita yang mendengarkan mengangguk bersamaan. Seakan membenarkan kata hatinya masing-masing, bahwa mereka pun tak berkurang rasa bahagianya.

“Karena sebentar lagi kita akan memasuki gerbang Keraton, ada baiknya kita bersiap-siap lebih dulu. Siapa tahu tenaga dan pikiran kita masih akan diperlukan….”

Gendhuk Tri memimpin ketiga wanita itu beristirahat dan mengumpulkan kembali tenaga dalam mereka. Ratu Ayu yang memang dasar-dasar ilmunya kuat, kini tanpa bantuan pun bisa mengerahkan kekuatannya untuk mengusir racun pagebluk dalam tubuhnya. Gendhuk Tri sendiri menemukan rasa lega yang lapang setiap kali selesai melakukan latihan.

Yang tampaknya masih  belum menguasai sepenuhnya adalah Nyai Demang.

Beberapa kali mencoba, bisa dimulai dengan baik, akan tetapi di bagian tengah selalu menjadi tersengal-sengal. Sehingga terpaksa menghentikan latihan di tengah jalan.

”Aku tidak paham dengan kekuatan dingin yang ada dalam tubuh Nyai,” kata Ratu Ayu. “Sewaktu tenaga dalam tersalur ke arahku, bisa sepenuhnya aku mengerti. Tetapi ketika Nyai berlatih, tampaknya ada sesuatu yang tak bisa dikendalikan.”

“Apa mungkin memang latihan pernapasan itu sesat, seperti yang dikatakan Kakek Berune?”

“Tak mungkin, Mbakyu.

“Bagaimanapun, rasanya Eyang Sepuh atau Mpu Raganata tidak secara sengaja memberi salinan Kitab Bumi yang dibuat keliru.”

“Mungkin aku sendiri yang tolol.”

“Itu bisa jadi,” kata Gendhuk Tri tersenyum lebar. “Mbakyu sejak dulu memang tolol. Ditaksir Baginda saja…”

“Jangan omong sembarangan….”

Gendhuk Tri tertawa.

“Apakah itu termasuk rahasia?”

“Bagaimana mungkin kamu masih ngomong sembarangan, di saat kita begini sedih karena…”

Gendhuk Tri berdiri.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan.

“Sedih atau tidak, apakah Kakang bisa hidup lagi? Apakah kalau hidup juga akan bisa lebih bahagia?

“Apa kita juga bisa rerasan seperti sekarang? Begitu nanti melihat tulang Kakang, barangkali kita akan saling berebut, saling merasa berhak.

“Bukankah itu semua hanya membuat Kakang lebih menderita?”

Tetap pedas, agak sembrono.

Itulah Gendhuk Tri.

Yang sedikit membedakan hanyalah bahwa kini ia bisa memimpin, bisa menjadi orang pertama yang menentukan perjalanan dan pertama melangkah.

Kidung Pambagya

MENJELANG memasuki gerbang, Gendhuk Tri merasa heran karena ada serombongan lelaki yang menjemput. Yang segera menyembah, seolah rata dengan tanah.

“Silakan, Tuan Putri yang terhormat….”

Gendhuk Tri pasti sudah berteriak dan tertawa jika ini terjadi saat lalu. Kini ia hanya mengangguk, mengikuti ketua rombongan, dengan tetap waspada.

Ternyata mereka dibawa ke rumah yang agaknya telah dipersiapkan secara istimewa. Lengkap dengan dayang-dayang yang jumlahnya mencapai empat puluh orang. Siap melayani mandi, keramas, menyisir, menggunting kuku, sampai makan.

“Siapa yang menyuruh kalian?”

“Adalah kehormatan bagi kami bisa melayani Paduka Putri….”

Nyai Demang menarik tangan Gendhuk Tri.

“Jangan paksa mereka, agaknya mereka sendiri tak tahu.”

“Lalu, menurut perkiraan Mbakyu, siapa yang melakukan ini semua?”

“Rasa-rasanya orang yang tahu keinginan kita. Barangkali saja kalau kita melewati jalan utama, sudah sejak lama ada penyambutan seperti ini.

“Tapi dilihat selintas mereka bukan jago silat. Beberapa bahkan tak pernah belajar silat sama sekali.”

“Apakah mungkin Wong Agung Galgendu yang menyiapkan ini semua?”

“Rasa-rasanya begitu.

“Tetapi saya tak yakin ia berani melanggar permintaan Ratu Ayu. Bahkan Senopati Sariq saja sejak pertama kita tak melihat bayangannya.”

“Bagaimana rencana kita, Mbakyu?

“Apakah kita langsung masuk ke kebun kaputren dan membongkar kuburan Kakang, atau minta restu Raja?”

“Sebaiknya kita menyelidiki lebih dulu.”

“Mbakyu tunggu saja di sini, menjaga Permaisuri. Saya akan menerobos masuk dengan Ratu Ayu.”

Nyai Demang tersenyum tipis.

“Aku tahu…”

“Hanya Mbakyu Demang yang bisa melayani Permaisuri dengan baik.”

Tanpa menunggu pertimbangan lebih jauh. Gendhuk Tri segera berangkat bersama Ratu Ayu. Tak terlalu sulit bagi keduanya untuk bisa menyusup masuk.

Gendhuk Tri sangat hafal dengan lekuk-liku Keraton dan bisa dengan mudah langsung menuju kaputren. Dengan ilmu yang tinggi, bagi Ratu Ayu tak ada persoalan yang berarti.

Hanya saja ketika mendekat ke arah tempat yang ditunjukkan Permaisuri, mereka menjadi tertegun.

Di salah satu pohon yang mengelilingi makam, ada guratan-guratan yang agaknya baru dibuat beberapa saat sebelumnya. Karena terlihat bahwa sebagian kulit pohon masih meneteskan getah.

Salam pambagya

selamat datang

terima kasih atas perhatian

salam pambagya

salam bahagia…

Ratu Ayu menyentuh pundak Gendhuk Tri.

“Apa maksudnya?”

“Belum jelas ditujukan kepada siapa. Rasanya tak ada sesuatu yang luar biasa. Kata-kata itu sendiri tak menyembunyikan sesuatu selain semacam ucapan selamat datang.”

Keduanya berjongkok.

Kemudian bersila.

Menyembah ke arah tanah di bawah pohon.

Agak lama.

Kemudian secara bersamaan pula berdiri, saling pandang dan segera meloncat Ke luar. Tak ada siapa-siapa. Gendhuk Tri agak sangsi melihat bahwa suasana dalam Keraton tampak sangat lengang.

Baru di bagian depan kelihatan beberapa prajurit jaga hilir-mudik. Gendhuk Tri segera menyelinap dan kembali ke tempat beristirahat.

Ada bersitan rasa kuatir.

Jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa Nyai Demang atau Permaisuri. Perasaan waswas hilang dengan sendirinya ketika Nyai Demang menyambut dengan wajah tenang.

Gendhuk Tri menceritakan apa yang dilihatnya.

“Kalau begitu, jelas itu ditujukan kepada kita. Lihat saja….”

Nyai Demang menunjuk ke arah tiang utama.

Baru Gendhuk Tri sadar bahwa di tiang juga ada tulisan yang sama.

“Mbakyu Demang paling pintar mengenai tata bahasa. Apa maksud salam bahagia itu?”

“Tak ada arti apa-apa selain mengucapkan salam bahagia. Sejauh saya tahu seperti itu agak lumrah di zaman Sri Baginda Raja.”

“Mungkinkah seseorang yang menaruh simpati kepada kita?”

“Kalau benar begitu, untuk apa menyembunyikan diri?”

Ratu Ayu memotong pembicaraan.

“Sudah, biar saja.

“Maksud kita sejak semula ingin memindahkan kerangka Raja Turkana. Kalau memang maksudnya mengucapkan selamat datang, ya kita terima. Kalau nanti merepotkan, kita semua siap menghadapi.”

“Baik juga.

“Bagaimana rencana Ratu?”

“Kita langsung ke Keraton. Mengutarakan maksud kita dengan baik. Kalau ditolak, kita bisa memaksa.”

“Kalau itu sudah menjadi kesepakatan, mari kita kerjakan sekarang.”

Merasa bahwa semua persiapan telah dilakukan, segera Gendhuk Tri memimpin rombongan menuju Keraton. Di gerbang tak ada yang menyambut. Baru ketika di depan pintu utama, beberapa prajurit jaga menghadang.

“Sampaikan kepada yang berwenang mengatur, kami datang untuk mengambil Kakang Upasara….”

“Siapa kalian?”

“Buka mata yang lebar. Kalau melihat bayangan Permaisuri Rajapatni kalian tidak menyembah sampai dagu kalian menempel tanah, itu namanya keterlaluan.

“Mana Senopati Utama atau Mahapatih?”

“Maaf, kami hanya menjalankan perintah….”

Agak lama mereka berunding. Lalu salah seorang pemimpin maju, memberi sembah hormat, dan dengan suara lembut menyilakan keempatnya masuk.

“Hati-hati…,” bisik Gendhuk Tri.

Tanpa pemberitahuan itu pun semua sudah berjaga-jaga. Di luar dugaan keempatnya bahwa mereka akan diizinkan dengan mudah. Dalam bayangan semula, pasti akan repot. Bahkan bisa-bisa harus menunggu dawuh dari Raja.

Atau ini jebakan?

Apa pun juga, Gendhuk Tri memang tak akan mundur lagi. Dalam pengawalan sederhana, keempatnya menuju kaputren.

Baru saja tiba di halaman bagian luar, tubuh Permaisuri Rajapatni terjatuh. Lunglai.

Terpaksa Nyai Demang yang menggotong dan membawa ke pinggir.

“Paman prajurit, apakah benar di sini dikuburkan Kakang Upasara?”

“Demikian adanya….”

Gendhuk Tri merasa bahwa jawaban yang didengar bukan keluar dari hati yang mantap yakin.

“Silakan….”

“Apa Paman bersedia membantu kami membongkar?”

“Kalau diperintahkan….”

Ratu Ayu tak sabar. Setelah memejamkan matanya sekejap, kedua tangannya terulur ke depan. Meraup tanah dan dengan gerakan sangat cepat, kedua tangannya mengeduk tanah. Bagai tikus yang sedang menggangsir. Cepat sekali. Sehingga para prajurit yang mengawal terbengong melihatnya.

Gendhuk Tri juga melakukan hal yang sama.

Cepat kedua tangannya menggali dengan mempergunakan tombak yang dibawa para prajurit. Dalam waktu singkat, keduanya sudah membuat lubang sedalam lutut.

Nyai Demang kemudian turun membantu. Sehingga pekerjaan menggali bisa berjalan lebih cepat. Apalagi Nyai Demang bisa mengarahkan ke bagian tanah yang lebih lunak dari biasanya.

Sepenanak nasi, sebuah lubang sebesar kolam telah tergali. Gundukan tanah sekitarnya meninggi. Gendhuk Tri terus bekerja bagai kesetanan, sementara sejak semula Ratu Ayu seakan memamerkan kemampuannya yang luar biasa. Kedua tangannya bergerak bagai baling-baling.

“Tahan…!”

Senopati Pamungkas II – 26

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA – Senopati Pamungkas II

Suara Permaisuri terdengar bagai rintihan memelas.

Tubuhnya bergoyang, sambil berlutut terus berusaha maju ke arah lubang, dengan merangkak.

“Hati-hati… ada Kakangmas….”

Permaisuri melorot ke bawah. Tangannya mengibas, melepaskan lapisan kainnya bagian luar. Tubuhnya tergetar keras.

“Kakangmas….”

 

Selamat Beristirahat Selamanya

TANGISAN yang memilukan.

Gendhuk Tri mencium bau tak enak dan salah satu sudut yang didatangi Permaisuri.

Benar saja.

Dengan satu sentuhan perlahan, tangannya menyentuh sesuatu yang lunak. Tubuh manusia!

Gendhuk Tri tersentak.

Ia pernah terkubur hidup-hidup dalam Gua Lawang Sewu, alias Pintu Seribu. Pernah mengalami saat-saat bersama mayat yang telah membeku dan kemudian membusuk. Sekarang semua ingatan kembali menyeruak.

Nyai Demang menunduk lemas.

Ratu Ayu melepaskan kainnya bagian luar, juga selendangnya. Demikian juga Gendhuk Tri, yang akhirnya melakukan sendiri. Mengambil bagian-bagian tubuh yang sebagian masih ada sisa daging. Hanya di bagian tertentu telah berubah menjadi tulang. Dengan segala rasa hormat dan getaran hati, Gendhuk Tri mengumpulkan semuanya dalam kain, dan membungkusnya hati-hati.

Bersemadi sebentar.

Menghela napas berat.

Lalu membawa kembali ke atas tanah dengan sekali lompat. Tangannya terulur ke bawah. Nyai Demang menyusul sambil membopong tubuh Permaisuri, disusul oleh Ratu Ayu.

“Paman prajurit, terima kasih atas semua bantuan Paman….”

“Kami hanya melakukan tugas.”

“Sekarang kami akan kembali ke Kedung Dawa untuk memberi tempat istirahat yang layak dan selamanya bagi Kakang….”

Gendhuk Tri bersiaga kalau-kalau terjadi sesuatu.

Ternyata bahkan sampai gerbang Keraton bagian luar, tak ada yang mengganggu, bahkan tak ada yang menegur sapa. Para prajurit yang mengawal juga berhenti dan segera meninggalkan.

Yang kemudian menyambut ialah mereka yang tadi melayani Gendhuk Tri. Yang malah lebih siap dengan peti dan kain putih, dan segera merukti, merawat, dengan sangat hormat. Dengan memberi wangi-wangian dari bunga serta dupa.

Bahkan kemudian menyediakan kereta sapi.

“Kami siap mengantarkan sampai ke Kedung Dawa….”

“Terima kasih.

“Sampaikan rasa terima kasih yang dalam dari kami, kepada siapa pun telah berbuat begitu baik. Karena kami tak mau menunggu lama, sebaiknya berangkat sekarang juga.”

“Sesuai dengan perintah Putri….”

Yang agak merepotkan hanyalah Permaisuri yang tidak pernah sadar sejak keluar dari Keraton. Berkali-kali dan berganti-ganti Nyai Demang dan Ratu Ayu berusaha menyadarkan, akan tetapi hasilnya sia-sia.

Gendhuk Tri lebih memusatkan perhatian di depan, untuk memimpin perjalanan.

Sampai matahari tenggelam, tak ada gangguan apa-apa. Ketika rombongan mengusulkan beristirahat, Gendhuk Tri mengatakan bahwa ia akan terus melanjutkan perjalanan.

“Saya tak mau menahan Kakang dalam perjalanan.

“Kalian cukup mengantar sampai di sini. Selanjutnya saya bisa mengawal sendiri….”

“Kami berkewajiban mengantar sampai selesai….”

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan….”

Tekad Gendhuk Tri sudah tak terbantah oleh siapa pun. Ratu Ayu sendiri tak memberi reaksi apa-apa. Demikian juga Nyai Demang yang merasa bahwa Gendhuk Tri mampu memutuskan secara tegas dan jelas.

Hari kedua rombongan pengantar benar-benar tak mampu lagi melanjutkan perjalanan. Namun Gendhuk Tri tetap berkeras melanjutkan perjalanan.

Ketika itulah rombongan lain datang dan siap membantu melanjutkan perjalanan. Gendhuk Tri tak mempertanyakan siapa yang menyuruh dan bagaimana urusan di belakang hari. Ia hanya mengangguk sebagai isyarat dilanjutkannya perjalanan ke Kedung Dawa.

Ternyata perjalanan yang terus-menerus tak mengubah kesadarannya sedikit pun. Gendhuk Tri tetap bersemangat, tetap berada di depan, dengan pandangan mata nyalang.

Hanya menjelang memasuki perkampungan Gua Kencana, Gendhuk Tri memerintahkan rombongan berhenti. Nyai Demang turun dari kereta.

“Kamu jaga di sini. Sekarang giliran saya menyelinap ke dalam. Agaknya ada yang tak beres.”

“Hati-hati, Mbakyu….

“Saya, akan segera menyusul ke sana.”

“Hati-hati juga. Jaga dirimu, dan Adimas Upasara….”

Gendhuk Tri mengangguk.

Nyai Demang menepuk pundak Gendhuk  Tri,  lalu segera bergegas pergi. Langkahnya tidak terlalu ringan, akan tetapi dengan mengerahkan tenaga terus-menerus, tak berapa lama bisa sampai di lapangan terbuka.

Benar dugaannya. Tempat yang ramai belum sepuluh hari lalu, kini tampak berubah sunyi. Hanya ada beberapa orang yang masih tinggal. Ketika Nyai Demang berusaha masuk ke rumah Wong Agung Galgendu hanya ada empat prajurit yang mengawal.

“Siapa yang datang?”

“Namaku Nyai Demang. Aku sahabat Wong Agung. Izinkan aku masuk dan menemui beliau….”

“Ada urusan apa?”

Tangan Nyai Demang terulur, mendorong keempat prajurit yang tidak siap. Dengan sekali menggertak, Nyai Demang melangkah masuk.

“Maaf, aku tergesa….”

Dengan sekali membalik, tangan dan kaki Nyai Demang bergerak bersamaan. Keempat prajurit, semuanya, menerima tendangan dan pukulan. Tanpa bisa mengelak.

Nyai Demang serasa terbang masuk ke rumah.

Sepi.

Hatinya bercekat.

Begitu masuk ke ruangan dalam, hatinya lebih bercekat lagi. Karena ruangan utama yang mewah itu sekarang porak-poranda. Hanya ada satu ranjang, dan di atasnya berbaring  tubuh  yang  mengerang.  Sementara beberapa orang yang mengelilingi memandang takut kepada Nyai Demang.

“Wong Agung…”

Nyai Demang segera mendekat. Tangannya memegang nadi Wong Agung yang terbujur tak bergerak. Terasakan bahwa Wong Agung sangat menderita. Segera Nyai Demang mematikan sementara saraf yang menyebabkan rasa sakit. Wong Agung mengerang satu kali, setelah itu terlelap.

Mereka yang mengelilingi memandang hormat.

“Ceritakan apa yang terjadi….”

Baru kemudian keadaannya menjadi jelas. Bahwa setelah keberangkatan rombongan Ratu Ayu, Kedung Dawa kedatangan tamu lain, yang jumlahnya tak lebih dari lima orang. Para tamu ini memaksa masuk ke Gua Kencana. Terjadilah pertarungan yang tak seimbang. Semua prajurit kawal dibunuh tanpa kecuali. Bahkan seluruh isi rumah diobrak-abrik, semua barang yang ada dijungkirbalikkan.

“Apa yang mereka cari?”

“Kami kurang mengetahui. Hanya Wong Agung yang mulia yang mengetahui….

“Saat itu Wong Agung yang mulia sedang menyiapkan pencandian Ksatria Pa…”

“Cukup.

“Kalian rawat baik-baik. Sampai esok, Wong Agung masih akan terlelap. Saya akan segera kembali kemari. Kalau ada apa-apa, hadapi sebisanya.”

Nyai Demang tidak membuang waktu.

Segera kembali ke tempat Gendhuk Tri, yang ternyata tak menunggu. Sehingga mereka bisa bertemu di separuh perjalanan.

Gendhuk Tri mendengarkan dengan pandangan tak berubah sedikit pun.

“Mbakyu Demang, rencana kita tak boleh berubah. Kita adakan upacara untuk Kakang….”

“Rasa-rasanya harus dalam bentuk lain.

“Kini tak ada lagi pendeta, tak ada lagi…”

“Dalam bentuk yang bagaimanapun.

“Mbakyu melihat keanehan apa?”

“Sulit dikatakan sekarang. Rombongan yang datang mengacau, jelas dari kalangan yang mengerti ilmu silat dan bertindak bengis. Semua prajurit dibunuh tanpa peduli. Tak ada yang bersisa lagi.”

“Sasaran mereka adalah Gua Kencana, untuk merampok emas….”

“Tidak juga.

“Kalau hanya itu, agaknya tak perlu menghancurleburkan. Dan agak susah juga, karena prajurit Keraton pun ada di situ. Pastilah bukan orang biasa.”

“Mbakyu, kita membagi tugas.

“Mulai sekarang ini agaknya hanya kita yang masih bisa waras. Kita mempersiapkan pencandian Kakang, dan melihat kemungkinan yang terjadi.

“Mulai sekarang ini, siapa pun yang menghalangi, akan kita hadapi bersama.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Gendhuk Tri, Nyai Demang merasa gentar. Kalimat Gendhuk Tri seakan membeset dari luka hati yang dalam. Tekad yang meniadakan kemungkinan lain.

Gendhuk Tri yang tadinya dianggap paling jernih, kini telah berubah.

Gendhuk Tri saat ini memancarkan sorot mata ganas dan telengas.

 

Dalang Kurang Sesaji

APA yang dilakukan Gendhuk Tri seperti apa yang biasa dilakukan oleh lima orang sekaligus. Dengan wajah dingin ia memerintahkan persiapan upacara pencandian Upasara Wulung.

Pada saat yang sama ia ikut mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan dupa, mengatur letak pemasangan batu utama, dan mencari tujuh ekor sapi yang tanduknya gagah untuk dikorbankan. Rambutnya sengaja dibiarkan tergerai. Kain yang dipakai adalah kain yang digunakan untuk mengangkat tulang Upasara.

Nyai Demang merasa ngeri, akan tetapi tak bisa berbuat sesuatu untuk menahan. Juga tak ada alasan.

Hanya sekali Gendhuk Tri kembali ke ruang dalam, memeriksa nadi Wong Agung Galgendu.

Lalu menggeleng.

“Tak ada harapan lagi. Bagian dalamnya luka parah, hancur….” Suara Ratu Ayu seperti bergema di ruang kosong.

“Siapa lagi yang tega berbuat seperti ini?

“Rasanya tak ada lagi tokoh yang bisa berkeliaran tanpa kita kenal. Mungkinkah Kiai Sambartaka muncul kembali?”

Gendhuk Tri tak menjawab. Meskipun dalam hatinya setengah membenarkan dugaan Ratu Ayu. Tokoh sakti yang bisa berbuat telengas sekarang ini boleh dikatakan tinggal Kiai Sambartaka. Yang bisa berbuat jahat menghabisi semua prajurit atau ksatria yang menghalangi jalannya.

Satu per satu dihabisi.

Dan dilihat dari rontoknya bagian dalam tubuh Wong Agung Galgendu, hanya mungkin dilakukan oleh tokoh setingkat Kiai Sambartaka. Apalagi bekas luka dalam yang diakibatkan jelas menunjukkan pengaruh itu.

“Agak aneh juga. Untuk apa ia menghancurkan ini semua?”

Pertanyaan yang sama bukannya tidak menggoda Gendhuk Tri. Hanya saja ia lebih suka memusatkan perhatian kepada hal lain. Karena siapa pun

Yang begitu ganas melakukan hal itu, tak akan mengubah kenyataan yang ada. Sehingga akan lebih baik memikirkan langkah apa yang akan dihadapi.

“Tunggui Wong Agung, Ratu….

“Biarkan di saat-saat terakhir dalam hidupnya Wong Agung merasa bahagia karena berada di dekat orang yang dicintainya.”

Tanpa terasa Ratu Ayu meneteskan air mata.

“Gendhuk manis, sekarang ini aku tahu bahwa Wong Agung lebih bahagia Raja Turkana. Yang di saat terakhir tak ada yang menunggui….”

Suara keharuan yang terulang.

Seakan setiap kali, setiap saat, setiap peristiwa bisa ditarik perbandingannya dengan Upasara. Dan itu berarti membeset luka lama yang belum bisa pulih.

Sebenarnya baik Ratu Ayu, Gendhuk Tri, maupun Nyai Demang sadar bahwa usaha mendampingi Wong Agung sia-sia belaka. Mereka bertiga sadar bahwa keadaan Wong Agung lebih buruk dari yang diperkirakan. Kalau sekarang masih terbaring dan bernapas satu-satu, hanya jasmaninya saja yang bertahan. Selebihnya tak bisa merasakan apa-apa, tak  bisa bereaksi. Pun kelopak matanya.

Namun Ratu Ayu melakukan apa yang dikatakan Gendhuk Tri. Bersila di samping Wong Agung, memanjatkan doa mengantarkan kepergian untuk selamanya.

Ketika itu dari ruang tengah terdengar jeritan ketakutan. Gendhuk Tri baru saja akan melangkah ketika dari pintu berhamburan beberapa orang yang tadi menjaga peti Upasara. Mereka menabrak begitu saja.

Apa yang terjadi di ruang tengah memang bisa membuat rasa takut setengah hidup.

Peti yang berada di tengah ruangan, mendadak bergerak sendiri. Bergoyang-goyang. Sesaat ada bersitan dalam pikiran Gendhuk Tri bahwa suatu keajaiban telah terjadi.

Tapi Gendhuk Tri bisa menenangkan diri pada bersitan pikiran berikutnya. Adalah tak mungkin sama sekali potongan tubuh yang sebagian sudah menjadi tulang, sebagian sudah membusuk, bisa utuh kembali.

Selendangnya bergerak, suaranya mengguntur.

“Dalang gendheng, jangan main-main….”

Dari langit-langit rumah melayang turun tubuh yang sedikit bongkok, wajah yang keruh tapi keras. Ki Dalang Memeling! Hanya Ki Dalang yang mampu menggerakkan benda dari jarak jauh.

Sebutan dalang gendheng, atau dalang kurang waras, merupakan tebakan yang sangat tepat. Dengan sekali melihat Gendhuk Tri bisa mengetahui siapa yang membuat ulah.

“Bagaimana kamu tahu aku ini dalang gendheng? Aku adalah dalang paling hebat dari Desa Memeling yang tanpa tanding. Yang bisa memainkan wayang kulit sambil berbaring.”

“Hari ini aku tidak butuh ucapan kotor semacam itu.”

“Di jagat ini tak ada ucapan kotor, tak ada ungkapan kotor. Kalau ada yang bocor, itu memang kehendak alam.”

“Menyingkirlah dari sini….”

“Lho, kenapa kamu lebih galak dari enam ekor anjing yang sedang beranak? Tubuhmu tegak, matamu membelalak, tapi tak nanti aku bisa kamu gertak.

“Di jagat ini tak ada gertak.

“Kamu bilang aku harus menyingkir, justru aku mau berada di sini Mau terus hadir. Kamu larang aku mempermainkan peti, aku justru mau mengambil….”

Apa yang dikatakan benar-benar dilakukan.

Dari tubuhnya, Ki Dalang mengeluarkan tali kampar, tali yang dibuat dari sabut kelapa pilihan. Besarnya separuh kepalan, dan cukup panjang karena sekali disentakkan bisa langsung menggulung peti.

Gendhuk Tri tak membuang waktu sedikit pun. Begitu tali bergerak ujung selendangnya lebih dulu berkibar. Desiran angin menyampok keras, membelokkan ujung tali.

Akan tetapi ternyata Ki Dalang cukup lihai memainkan talinya. Bagai ular hidup, ujung tali satunya justru melenggok ke dalam, menyusup, dan menggulung peti. Sementara ujung yang tak tertolak sapuan selendang, kini dipegang.

Pada saat itu tubuh Gendhuk Tri sudah berada di sampingnya. Sehingga sebelum Ki Dalang sempat menarik, pinggangnya disodok dengan siku, bersamaan dengan guntingan dua kaki sekaligus.

“Lepas….”

Ki Dalang mengeluarkan seruan tertahan.

Serangan Gendhuk Tri mengguyur bagai siraman air hujan. Tak ada peluang sedikit pun untuk menghindar, kalau ingin tetap di tempat.

Bahwa Gendhuk Tri lebih mengisyaratkan “lepas”, karena tidak ingin petinya terganggu.

Jalan yang terbaik memang melepaskan ujung tali.

Di luar dugaan Gendhuk Tri, Ki Dalang meloncat mundur sambil berjumpalitan, dengan tangan tetap memegang tali.

Ini berarti peti yang tadi tergulung bisa melayang bagai disentakkan!

Nyatanya tidak.

Gulungan tali itu lepas dengan manis, tanpa membuat getaran. Sungguh kemampuan mengendalikan tenaga yang luar biasa. Kalau itu yang terjadi, bisa dibayangkan betapa murka Gendhuk Tri.

Kini sambil berdiri tegak, Ki Dalang memainkan tali di bagian tengah. Sehingga dua ujungnya bisa digunakan untuk menyerang. Mematuk, menyelinap, melibat tubuh Gendhuk Tri. Yang tidak membiarkan dirinya dilibat begitu saja. Rentetan serangan dari Kitab Air mengalir dalam tubuh Gendhuk Tri.

Kelihatan tetap tenang, gerakan Gendhuk Tri yang serba perlahan justru bisa mementahkan ikatan. Setiap kali ujung tali mematuk, setiap kali pula Gendhuk Tri bisa menerobos maju.

Dua kali mencoba menangkap bagian tengah tak, akan tetapi setiap kali bisa lolos.

Ini termasuk mengherankan juga.

Tali kampar yang dipilin dari sabut kelapa bukan barang yang licin. Malah boleh dikatakan sangat kasar. Akan tetapi toh di tangan Ki Dalang bisa menjadi licin!

Lima jurus berlalu.

Gendhuk Tri mulai mengubah gerakannya. Kini tak lagi mengikuti arus sungai yang tenang, akan tetapi menambah getaran di tangan, dan terutama kaki. Pertarungan berkembang tajam, karena empat selendang Gendhuk Tri secara langsung mengarah ke wajah lawan, menyingkirkan tali, di samping guntingan kaki yang mau tak mau membuat Ki Dalang berloncatan, seakan menghindari rembesan air.

“Aku tahu jalan pikiranmu.

“Kamu heran kenapa aku ingin peti itu. Karena itu milikku. Akulah yang harus merawatnya dan memperlakukan seperti tubuhku. Kalian tak punya hak untuk mencampuriku.

“Aku tahu jalan pikiranmu.

“Kamu heran kenapa aku tak mau mengurusi Galgendu. Tubuhnya sudah mulai bau, sudah kaku, dan tak ada apa-apanya yang berharga, bahkan juga kukunya.”

Nyai Demang yang berada di pinggir, merasakan betapa tajam ungkapan Ki Dalang.

Bisa mengutarakan secara pas apa yang dipikirkan orang lain. Pertanyaan pertama tentunya: Kenapa Ki Dalang mau mengurusi peti Upasara, sementara Wong Agung Galgendu dibiarkan begitu saja? Bukankah sejauh ini hanya dua orang yang bebas keluar-masuk Gua Kencana, yaitu Ki Dalang dan Wong Agung? Bukankah itu pertanda hubungan yang sangat dekat dan istimewa?

“Aku tahu semuanya, meskipun dibilang dalang kurang sesaji, dalang kurang persembahan.

“Aku lebih waras dari kalian.”

Tangisan Masa Lalu

SAMBIL terus mengoceh, Ki Dalang berusaha membebaskan diri dari serangan Gendhuk Tri.

Yang terakhir ini menjadi tidak sabar. Dengan mengertakkan gigi, Gendhuk Tri merangsek lebih dalam. Gerakannya menjadi makin tajam, menyuruk masuk. Bentrokan tenaga tak dihindari, sabetan dan gulungan tali yang jelas-jelas mengarah ke leher tak dipedulikan.

Gendhuk Tri terus mengurung dengan tebaran selendangnya. Ia memainkan bagian yang disebut ngelebi, menggenangi.

Sifat dasar permainan silat Gendhuk Tri ialah sifat air. Yang tenang, mengalir ke tempat rendah. Sekarang pun pola itu yang dipakai, hanya saja bukan ketenangan yang digunakan, melainkan tenaga keras. Sehingga bukan tenaga air mengalir ke tempat rendah, melainkan tenaga air yang ngelebi yang mengurung dan menggenangi, untuk membenamkan.

Tanpa memedulikan hambatan yang ada.

Semua serangan yang datang disampok keras.

Kibaran selendangnya benar-benar mengurung habis, sehingga Ki Dalang tampak tak bisa menghindarkan diri. Satu gulungan tubuh disertai tebaran selendang, membuat Gendhuk Tri dua tindak maju. Tangan kirinya memapak serangan keras tangan kanan, kedua kakinya siap menjebol kuda-kuda Ki Dalang.

Kena!

Seruan dalam hati ini tertahan.

Karena meskipun selendang Gendhuk Tri berhasil menutup wajah Ki Dalang, kedua ujung tali Ki Dalang berhasil menggulung peti.

Sehingga kalau Gendhuk Tri berbuat sesuatu, peti itu yang rontok lebih dulu.

“Aku yang menang.

“Aku yang bisa membaca dengan tenang. Saat kamu menguasaiku, sebetulnya aku yang menguasaimu.

“Masih akan kamu teruskan melumatkan wajahku?”

Gendhuk Tri menarik selendangnya dengan kesal.

Ki Dalang juga melepaskan ikatan pada peti. Sekali lagi tanpa membuat peti itu bergoyang sedikit pun.

Hanya saja yang tidak diperhitungkan oleh Ki Dalang bisa terjadi! Begitu terlepas dari belitan peti, Gendhuk Tri menjatuhkan dirinya ke bawah merosot ke arah depan. Kedua kakinya terangkat ke atas, menggunting tubuh Ki Dalang.

“Apa ini?”

Seruan keras dibarengi dengan loncatan tubuh ke atas, melengkung dengan punggung ke dalam. Loncatan yang memesona, karena Ki Dalang mempergunakan tenaga yang berada di tulang belakang.

Sehingga bisa jatuh secara jungkir balik dan menarik untuk ditonton.

Nyai Demang memuji cara Ki Dalang meloloskan diri dari serangan mendadak. Cara mempergunakan tenaga di bagian punggung adalah sesuatu yang luar biasa.

Tapi Gendhuk Tri jauh lebih siap.

Begitu kedua tangan Ki Dalang menyentuh tanah, langsung kena serimpung kedua kakinya.

Tanpa bisa menghindar lagi, Ki Dalang terbanting.

“Apa hebatnya Siasat Sembilan Bintang yang sudah ketinggalan zaman?”

Ki Dalang meringis.

“Siapa kamu?”

“Namaku Gendhuk Tri.”

“Bagaimana mungkin kamu tahu apa yang aku tidak tahu?”

Wajah Gendhuk Tri sedikit berubah.

Tak ada lagi perasaan gelisah.

“Ilmu silatmu cukup bagus, Paman.

“Sejak Paman bisa memainkan wayang dari jarak jauh, saya sudah bisa menduga dari mana asal-usul ilmu silat yang merupakan tetiron ajaran Kitab Bumi.

“Begitu Paman membalikkan tubuh dengan tenaga bagian belakang, semua anak juga tahu itu jurus Nawagraha, sehingga sekali tebas, Paman akan meraung kesakitan.”

Dalam pendengaran Nyai Demang, gaya penyebutan Gendhuk Tri yang memanggil “Paman”, merupakan tanda hormat. Bisa dimengerti karena kemudian Gendhuk Tri menjelaskan dengan menyebut Siasat Sembilan Bintang. Rangkaian jurus pelipatan tenaga sembilan kali yang selama ini dimainkan oleh Maha Singanada!

Gendhuk Tri bukan hanya mengetahui, akan tetapi bahkan pernah memainkan.

Lebih dari itu semua, Gendhuk Tri pernah memainkan bersama-sama Maha Singanada.

Bisa dimengerti kalau ketika Ki Dalang memainkan jurus itu, sekali lihat langsung tahu titik lemahnya. Yaitu dengan menyerimpung tangan Ki Dalang.

Bukan sesuatu yang luar biasa.

Bukan sesuatu yang luar biasa kalau Gendhuk Tri bisa mematahkan serangan lawan seketika.

Yang luar biasa adalah bahwa bisa dengan cepat  mengenali gerakan lawan, dan memastikan langkah penangkalnya. Bahkan ia mengenali ilmu silat Nawagraha, tidak berarti segera mengenali hanya dari satu jurus.

Dalam hal ini, Nyai Demang mengakui Gendhuk Tri bisa maju pesat ilmunya, karena memiliki naluri yang sangat tajam. Naluri mengenali lawan, dan dengan sama cepatnya berani mengambil keputusan.

Nyai Demang merasa, unsur inilah yang membuat Gendhuk Tri bisa melebihi sesama pendekar. Termasuk dirinya. Yang dalam situasi seperti yang dialami Gendhuk Tri, tak berani menghadapi risiko dengan memotong gerakan tangan lawan.

Gendhuk Tri memang berbeda dan Nyai Demang.

Kalau yang terakhir ini mempelajari dari berbagai kitab dan mengolah dalam pikiran, sebaliknya Gendhuk Tri terjun ke lapangan, jauh sebelum mengenal kitab. Semua yang dilakukan mengalir dengan sendirinya, sebagaimana orang yang melatih reaksi secara langsung.

“Paman Senopati Mapanji, tak perlu berpura-pura menjadi dalang gila…”

Mendadak Ki Dalang meraung keras.

Tubuhnya berkelojotan.

Tangannya memukul lantai ruangan sehingga batunya retak. Tangannya sendiri berdarah.

“Itu tidak betul.

“Senopati Mapanji Paksa sudah lama menyerahkan keris Keraton. Ia sudah tak ada lagi. Itu tidak betul. Kamu kena kibul.”

“Apa pun yang Paman katakan, Paman tak bisa menyembunyikan diri terus-menerus….”

“Lihat, aku hampir menangis.

“Hatiku teriris, karena dituduh yang bukan-bukan. Apa yang kamu omongkan?”

Gendhuk Tri mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian meluruskan rambutnya, dan menggelung dengan rapi.

Sorot matanya berubah iba.

“Baik, kalau begitu kemauan Paman.

“Sebagai Ki Dalang Memeling, apa yang Paman inginkan sekarang ini?”

Nyai Demang mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, disertai helaan napas yang dalam. Sangat dalam.

Sekali lagi tak bisa dipungkiri, ia memuji kemajuan Gendhuk Tri. Bukan hanya dalam ilmu silat, akan tetapi juga dalam kedewasaan berpikir dan bertindak.

Dalam sekejap bisa menduga jurus lawan, dan kemudian mematahkan.

Dalam sekejap bisa menebak siapa lawan, dan kemudian membiarkan saja.

Ini luar biasa.

Justru setelah Gendhuk Tri mengetahui bahwa Ki Dalang adalah Senopati Mapanji Paksa, pada saat yang sama Gendhuk Tri menyadari tak perlu mendesakkan kenyataan itu kepada yang bersangkutan. Karena Ki Dalang sudah menolak mengakui dirinya sebagai Senopati Mapanji Paksa, senopati utusan Keraton Singasari ke Negeri Campa. Menolak keras, karena peristiwa yang dialami dengan Dyah Ayu Tapasi.

Duka lama yang ditelan untuk dihancurluluhkan.

Berubah menjadi Ki Dalang yang dipaksakan, menjadi dirinya yang baru pribadinya yang baru, sehingga semua jalan pikiran benar ditolak.

Ada tepatnya sebutan dalang gendheng, karena secara total ingin mengubah sosoknya.

Dan Gendhuk Tri cukup arif untuk tidak menelanjangi kenyataan yang sesungguhnya.

“Aku mau peti itu. Karena yang berada di dalam itu milikku.”

Ki Dalang berdiri kembali. Suaranya lantang.

“Kamu bisa mengalahkanku satu kali. Tanganku keduanya sakit sekali. Tapi aku tetap akan merebut.”

“Ki Dalang keliru. Yang Ki Dalang inginkan adalah Sodagar Galgendu….”

“Orang itu hanya gemuk tubuhnya.

“Tak lebih.

“Aku sedih. Karena selama ini Galgendu hanya mau membuat semua dari emas, menggali emas. Itu juga aku yang mengajari. Tidak, Galgendu tak pantas dirawat dan dicandikan. Orang dalam peti itu yang pantas.”

“Kita akan merawat bersama-sama, Paman.”

“Tidak bisa. Jangan coba.”

Permaisuri Pengayom

KI DALANG MEMELING yang tak lain adalah Senopati Mapanji Paksa menggerakkan tali kamparnya. Seketika menjadi lurus mengarah ke peti.

Bahwa orang yang mempelajari tenaga dalam bisa menyalurkan lewat seutas tambang bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi bahwa Ki Dalang mampu menyalurkan secara penuh pada tambang yang panjangnya hampir dua setengah tombak secara lurus, boleh dikatakan termasuk luar biasa.

Kali ini Nyai Demang yang bergerak cepat. Begitu ujung tali hampir menyentuh peti, Nyai Demang mengibaskan keras. Akibatnya agak di luar dugaan Nyai Demang.

Ujung tali tambang mematuk tangan Nyai Demang.

“Aduh!”

Teriakan yang mengagetkan.

Gendhuk Tri sendiri tidak menduga bahwa Nyai Demang bisa kena diserang dalam satu jurus yang dimainkan secara lurus. Lempeng saja gerakan tali mengeras itu. Nyatanya Nyai Demang tak sempat menghindar.

Kibasan berikutnya, Ratu Ayu yang berada di tengah ruangan. Di tangannya tergenggam Kangkam Galih.

Tanpa memberi pembukaan, Ratu Ayu menebaskan pedangnya yang tipis hitam panjang. Ki Dalang menarik pulang tambangnya, mengganti dengan ujung yang lain untuk menyerang. Tapi Ratu Ayu sempat dengan mudah menggerakkan batang pedangnya untuk menangkis, mengusir, dan sekaligus balas menyerang. Satu lompatan panjang, Ratu Ayu sudah bisa berdiri dekat sekali. Ketika Ki Dalang melibatkan talinya, hanya dengan sekali sentak tali itu putus jadi beberapa potongan kecil.

“Ratu, kita tak perlu membuat permusuhan dan pertumpahan darah di depan Kakang….”

Suara Gendhuk Tri menghentikan pertarungan, untuk sesaat. Gendhuk Tri memang merasa kurang enak membiarkan Ratu Ayu melukai Ki Dalang. Baik karena Ki Dalang ayah kandung Maha Singanada maupun sebab yang diutarakan.

“Biar bagaimanapun, aku yang merawat peti. Aku yang memiliki. Suara hatiku mengatakan, persis yang kukatakan sekarang ini.”

“Kalau begitu kita rawat bersama, Paman.”

“Begitu juga boleh.”

“Nah sekarang Paman mencari pendeta yang bijak untuk memimpin upacara.”

“Bisa saja. Apa susahnya.

“Dengan emas segede kepala, apa saja bisa.”

Ratu Ayu menangkap maksud Gendhuk Tri. Yang memperlakukan Ki Dalang sebagai orang yang kurang waras. Agaknya itu jalan keluar yang lebih baik.

Untuk sesaat mereka semua malah bisa berbagi tugas. Dan ternyata Ki Dalang mempunyai wawasan yang luas. Pandangan yang selama ini tak dimengerti Gendhuk Tri.

Meskipun saat itu sebenarnya Gendhuk Tri tak mempunyai minat mendengarkan.

“Kamu tahu apa, gadis manis?

“Kulit manusia itu tipis. Mudah tergores, apalagi oleh emas dan oleh keris.

“Emas dianggap sangat luar biasa berharga. Seakan jagat dan isinya bisa dibeli semua. Memang benar begitu. Aku dan Galgendu menemukan tempat penambangan emas di sini. Itu biasa-biasa.

“Sampai kemudian aku menemukan cara yang baik untuk mengelabui sesama mata.

“Aku bisa melapis. Aku bisa membuat tali tambang ini seakan seluruhnya dari emas. Padahal hanya dilapis saja. Semua orang percaya. Termasuk Raja, termasuk orang seberang.

“Jadilah kami berdua sangat kaya raya.

“Mampu membangun pohon kelapa dari emas.

“Memang bisa. Tapi sebenarnya hanya lapisan luar. Hanya kulitnya yang bisa terbakar.

“Gadis manis, kapan-kapan kamu akan kuajari bagaimana membuat lapisan seperti itu. Peti itu kita lapis, dan semua orang mengira seluruhnya emas.

“Bukankah itu menarik?”

“Saya kurang mengerti, Paman.”

“Lebih banyak yang tidak mengerti makin baik. Jadi setiap orang tetap tertarik, matanya melirik.”

“Saya kurang mengerti kenapa Paman tertarik menjadi dalang.”

Agaknya ini pertanyaan yang keliru dilontarkan. Karena dengan sangat bersemangat Ki Dalang bercerita sejak awal bagaimana wayang kulit yang hanya terbuat dari kulit bisa membuat orang menangis, tertawa, mati, dan hidup lagi. Bagaimana memindahkan sukma ke dalam kulit, dan menggerakkannya. Tidak menggerakkan dengan tangan secara langsung, akan tetapi dengan rasa.

Itulah sesungguhnya ilmu yang paling sejati.

Kalau hanya mewarisi bagaimana memainkan wayang, semua orang asal tidak buntung tangannya dan tidak kutung pikirannya, pasti bisa. Akan tetapi menerima nilai yang benar, yaitu menerima sukmanya, tak bisa ditangkap sembarang orang.

Itu sebabnya Ki Dalang memilih menjadi dalang. Karena dengan menjadi dalang…

Makin panjang cerita Ki Dalang, Gendhuk Tri makin tak betah mendengarkan.

“Bagaimana kalau Paman mencari pendeta sekarang ini?”

“Itu gampang.

“Asal ada uang, semua pendeta bakal datang. Doa sangat mudah melayang, dan biasanya menjadi panjang.

“Jangan kuatir, jangan terlalu banyak mikir.

“Tunggulah sesaat. Tak akan terlambat. Aku segera berangkat.”

Yang tertinggal dalam ingatan Gendhuk Tri hanyalah setitik pengertian. Bahwa Ki Dalang ataupun Singanada menjadi tidak waras kalau disinggung mengenai Dyah Tapasi.

Tapi selebihnya biasa-biasa saja. Walau masing-masing mempunyai pembawaan yang berbeda.

Setitik pengertian yang tertinggal itu adalah kenyataan betapa sesungguhnya hati manusia sangat rawan. Peristiwa yang hanya terjadi satu kali, satu saat, bisa berakibat begitu panjang. Sepanjang perjalanan hidup mereka masing-masing.

Bahkan kadang melebihi.

Seperti yang terjadi pada Eyang Berune, yang bahkan setelah meninggal masih penasaran karena daya asmara yang terpendam terhadap Eyang Putri Pulangsih.

Contoh yang juga terjadi pada diri Ki Dalang.

Dyah Tapasi memutuskan untuk menghancurkan dirinya, menghancurkan daya asmaranya. Hal itu membuat Senopati Agung Brahma mengucilkan diri dan Ki Dalang melepaskan semua derajat dan pangkat, menanggalkan kewarasan pikiran, sehingga mengubah dirinya.

Bukankah itu pula yang dialami Dewa Maut?

Yang memutuskan hidup sebatang kara di atas perahu, setelah kekasihnya lepas dari genggamannya? Sehingga melarikan diri untuk hidup bersama sesama kaum lelaki?

Kalau benar begitu, apa sesungguhnya daya asmara itu? Yang mampu membuat manusia jungkir balik?

Bagaimana dengan dirinya sendiri?

Gendhuk Tri tercenung.

Daya asmara yang bersemi dalam dirinya terhadap Kakang Upasara dipendam. Yang muncul ke permukaan kemudian adalah penerimaan pada Singanada Pada saat itu pula muncul Pangeran Anom, yang dengan tulus, yang dengan segala kepolosannya menyatakan daya asmaranya.

Kenapa dirinya tidak bertemu dengan Pangeran Anom saja lebih dulu? Kenapa justru sesaat setelah hatinya menerima Singanada, muncul Pangeran Anom?

Gendhuk Tri membuang pikiran mengenai Pangeran Anom. Akan tetapi menjadi kejutan yang tak dimengerti sendiri ketika Ki Dalang kembali dan bercerita tentang Pangeran Anom.

Tak masuk akal!

“Betul, gadis manis, perawan manis.

“Ini aku membawa serombongan prajurit Keraton yang datang untuk menjemputmu, menjemput Permaisuri Rajapatni. Mereka mengetahui kamu di sini dari Pangeran Anom, putra Senopati Agung Brahma yang tak ikut ke seberang.”

“Apa hubungannya, Paman?

“Bukankah Paman mencari pendeta?”

“Aku memang mencari pendeta, tapi ketemu mereka. Jadi aku antar saja. Lagi pula mereka menginginkan Permaisuri untuk menjadi pengayom, untuk menjadi pelindung di Keraton.

“Permaisuri dan kalian semua harus berada di Keraton. Agar Keraton tidak sepi, agar… agar… apa tadi?”

Nyai Demang yang datang kemudian mengerutkan dahinya. Pandangannya bertatapan dengan Gendhuk Tri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Nyai Demang mengetahui sesuatu telah terjadi di Keraton. Sesuatu yang sangat menentukan jalannya tata pemerintahan.

Tanda pertama ialah ketika beberapa hari lalu mereka masuk ke halaman kaputren, dan hanya dikawal para prajurit biasa. Suasana Keraton boleh dikatakan sangat sepi. Tak ada yang secara resmi menguasai dan memutuskan sesuatu.

Bahkan sampai mereka selesai membawa balik jenazah Upasara, boleh dikata tak ada halangan yang berarti.

Kalau dihubung-hubungkan dengan cerita Gendhuk Tri, adanya kidung pambagya di kulit pohon juga menunjukkan keleluasaan bagi orang luar.

Seakan Keraton tak ada wibawanya lagi.

Takhta Tanpa Raja

TAK ada yang bisa menduga apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tidak yang sekarang berada di Kedung Dawa, atau juga di Simping.

Karena yang mengambil prakasa utama adalah Senopati Tantra. Senopati yang masih berdarah muda penuh gelegak merasa bahwa para Senopati Utama yang terdiri atas tujuh dharmaputra selama ini hanya berbisik-bisik dan tak jelas apa yang diinginkan. Setiap kali mau mengambil keputusan, selalu dibayangi keraguan.

Senopati Tantra tak sabar.

Dengan prajurit seadanya yang setia kepadanya, senopati muda ini mengambil langkah gawat. Ia memimpin para prajurit utama, dan langsung menyergap ke dalam Keraton.

Hampir tak ada pertumpahan darah. Senopati Tantra melucuti prajurit kawal di bagian dalam. Lalu dengan gagah perkasa menemui Raja di tempat peraduannya.

Mengatakan bahwa mulai sekarang, semua perintah dan tata penyelenggaraan Keraton berada di tangannya. Tak ada yang berhak memberikan perintah apa pun juga.

Semua terjadi tanpa deru angin lebih keras.

Tanpa debu terbang.

Tanpa pohon bergoyang.

Senopati Tantra menemukan apa yang selama ini dicari-cari. Apa yang ditakuti oleh Tujuh Senopati Utama yang selama ini dikagumi. Ia bisa melakukan.

Baru setelah itu, Senopati Tantra mengirim utusan menuju Simping. Memberitahukan bahwa Keraton kini sudah dikuasai secara penuh, dan mohon agar Baginda bersedia duduk kembali di singgasana.

Apa yang menjadi tujuan utama Senopati Tantra bukanlah jabatan dan pangkat mahapatih yang akan diberikan sebagai ganjaran, sebagai hadiah. Melainkan dorongan untuk melakukan langkah besar.

Yang tak berani dilakukan oleh mereka yang dikagumi. Mereka yang pernah menjadi senopati perang.

Dengan sama girangnya, Senopati Tantra mengirim utusan ke Lumajang, untuk memanggil kembali Mahapatih Nambi, untuk kembali mengabdi kepada Baginda. Mengirim utusan ke Kedung Dawa untuk menjemput Permaisuri Rajapatni.

Karena menurut pandangannya, Permaisuri Rajapatni lah yang pantas menjadi permaisuri utama.

Dari Pangeran Anom yang berada dalam tawanan, Senopati Tantra mengetahui bahwa Permaisuri Rajapatni bersama rombongan Gendhuk Tri berada di Kedung Dawa, dan bahwa mereka berhasil membawa kembali tubuh Upasara.

Senopati Tantra merasa di puncak awang-awang, kakinya tak menyentuh tanah, tangannya bisa menyentuh awan di langit ketika itu.

Maka adalah di luar semua perkiraannya ketika Senopati Kuti datang dengan murka.

“Bocah ingusan, apa yang kaulakukan, hah?”

“Paman Senopati Kuti, harap sabar.”

“Perbuatan terburuk apa yang sedang kaulakukan ini?”

Senopati Tantra mengertakkan giginya.

“Paman, sayalah sekarang yang menguasai Keraton. Takhta sedang kosong, karena tak ada raja. Saya meminta, memohon agar Baginda kembali memerintah.

“Sesuai dengan keinginan Paman semua.

“Apa saya keliru?”

“Jagat Dewa!

“Demi Dewa!

“Langit murka!

“Kamu bocah ingusan, tak pernah mengerti dunia. Tantra, perbuatanmu sangat berbahaya. Kamu tak tahu apa-apa.”

“Paman, saya tak tahu apa-apa.

“Baik, tapi sekarang Paman tahu, bahwa saya tak suka dimarahi seperti itu. Sekarang ini Paman Kuti tak bisa mengatakan hal seperti itu kepada saya.

“Tinggal pilih.

“Paman ingin menempuh jalan yang mana.”

Senopati Kuti menepuk jidatnya keras sekali.

“Tantra! Kamu menantangku?”

“Saya menantang keraguan. Karena setiap keraguan hanya menghasilkan gerutuan.

“Silakan, Paman Kuti.”

Senopati Kuti menunduk ketika beberapa prajurit bersiaga dengan tombak. Sebagian adalah prajurit-prajuritnya sendiri!

Tak masuk akal.

“Tantra! Tantra!

“Dagelan apa yang kaumainkan sekarang ini? Mimpi apa yang membuatmu mabuk seperti ini?”

Senopati Tantra berdiri.

“Sekarang Paman mengatakan ingin memilih jalan yang mana? Mengecam saya dan berarti berhadapan, atau menyampaikan apa yang sebenarnya merupakan keinginan Paman sendiri?”

“Haha, kamu mau menawanku?”

Senopati Kuti tak bereaksi ketika para prajurit menyembah ke arahnya, akan tetapi kemudian mengikat kedua tangannya. Di bilik tempat penahanan, Senopati Kuti menangis.

Menangis bagai anak-anak.

Matanya masih sembap ketika Senopati Tanca masuk dengan tangan yang terikat pula.

“Kisanak Tanca, senopati yang bijak dalam soal pengobatan dan jiwa manusia, sesungguhnya ini semua lelakon apa?”

Senopati Tanca mengangkat alisnya.

Senopati Pamungkas II – 27

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA – Senopati Pamungkas II

“Sebentar lagi bilik ini akan penuh diisi para dharmaputra yang selama ini diagungkan, akan tetapi tak mampu berbuat apa-apa selain menggerutu….”

Senopati Kuti terbatuk keras.

Darah segar tersembur. Membasahi dada yang telanjang.

“Tenangkan dirimu, Senopati Kuti yang gagah berani.

“Tantra sudah melakukan. Berani melakukan. Itu yang lebih hebat.  Dengan perhitungan yang sangat berani. Di saat Keraton sepi dari segala kekuatan, ia bergerak maju.

“Tak ada Mahapatih Nambi sekarang ini.

“Tak ada Halayudha.

“Tak ada pergolakan para ksatria.

“Bukankah itu sederhana sekali? Tapi justru yang sederhana ini tak kita mengerti.”

“Senopati…  Tanca…”

“Saya bisa mengerti apa yang dilakukan Tantra.

“Tidak berarti setuju atau tidak.

“Kita lihat saja nanti.

“Hmmmmm, saya bisa mengerti kerisauan Senopati yang gagah berani. Dengan tindakan ini, Tantra mengguncang sendi-sendi yang kita bangun dengan susah payah. Rintisan yang kita lakukan secara perlahan jadi buyar karenanya.

“Tapi apa bedanya?

“Sekarang sudah berhasil.

“Senopati yang gagah berani, maafkan kalau saya banyak bicara sekali

Marilah kita kurangi ingsun kita, perasaan menang, perasaan sebagai senopati perang yang selalu menyelesaikan persoalan.

“Apakah ketidaksetujuan kita dengan tindakan Tantra karena kita iri, karena bukan kita yang melakukan?”

Senopati Kuti memuntahkan darah segar untuk kedua kalinya.

Senopati Tanca memanggil penjaga, dan mengatakan bahwa sebaiknya diberikan perawatan. Kalau ia diberi izin, ia bisa meramu jejamuan.

Ketika keleluasaan itu diberikan, Senopati Tanca menelan ludahnya dengan lega.

“Sampaikan rasa hormat dan terima kasih atas kamardikan yang diberikan ini.

“Rasanya dalam zaman mana pun, belum pernah ada kelonggaran yang begini sempurna.”

Senopati Tanca meminta bahan ramuan, dan ia menggilas sendiri serta meminumkan cairan secara paksa ke mulut Senopati Kuti.

“Saya mengobati, akan tetapi saya ingin bicara yang mungkin bisa melukai hati Senopati.

“Hmmm, bukankah lebih baik kita membantu Tantra?

“Bukankah Tantra perlu persiapan jika Mahapatih Nambi kembali nanti? Atau juga Halayudha?

“Bagaimana pendapatmu, Senopati?”

Senopati Kuti menggeleng berkali-kali. Cairan jamu yang sudah masuk ke mulut dimuntahkan kembali.

“Tantra kraman kepada kita, meludahi kita, menginjak wajah kita dengan kaki yang kotor!

“Bukan memberontak kepada Raja.”

Senopati Tanca menjilat bibirnya.

“Satu hal selalu akan saya ingat. Bahwa keraguan tak pernah memberikan hasil apa-apa…

“Juga kalau kita sendiri ragu menilai apa yang dilakukan oleh Tantra.

“Hmmm, Senopati yang gagah berani…

“Maaf, mulai sekarang ini kita memilih jalan sendiri-sendiri. Apa yang baik bagi Senopati, silakan lakukan. Apa yang baik bagi saya, akan saya lakukan.

“Kita bertujuh diikat oleh kebersamaan dalam peperangan. Tapi ternyata tidak dalam hati.

“Maaf, Senopati….”

Senopati Sumlirih

YANG paling terpana sebenarnya Halayudha.

Sehingga rencana perjalanan ke Lumajang tak diteruskan. Begitu mendengar kabar perubahan yang terjadi di Keraton dengan naiknya Senopati Tantra sebagai pemegang kekuasaan sehari-hari, Halayudha memutuskan kembali secepatnya. Dalam perjalanan, Halayudha berusaha keras menenangkan hatinya. Beberapa kali ia mengucak-ngucak matanya, seakan meyakinkan din bahwa apa yang didengarnya bukanlah mimpi yang berkepanjangan.

Ia yang bergulat terus-menerus di dalam Keraton tak pernah menyangka sama sekali bahwa dengan satu gerakan sederhana, Tantra bisa mengubah jalannya tata pemerintahan.

Selama ini Halayudha menyiapkan diri dengan segala kemampuan akalnya untuk merayap naik atau setidaknya bisa bertahan. Dengan cara apa pun. Kalau perlu menjadikan dirinya sebagai keset atau pembersih alas kaki, dan memang benar-benar rata dengan tanah. Semua keinginan dan pandangannya diratakan hingga runduk benar. Sebutan sebagai gedibal atau pembantu yang paling tidak berarti pun diterima dengan lapang dada. Hanya untuk mempertahankan dirinya dari gelombang perubahan naik dan turunnya pangkat serta derajat. Boleh dikatakan sepenuh kemampuan yang ada dikerahkan untuk itu. Tanpa menikmati hal-hal kecil yang bersifat duniawi.

Sungguh tak masuk akal sama sekali. Bahwa ternyata hanya dengan satu langkah saja, Tantra berhasil merebut segalanya.

Sepanjang perjalanan kembali, Halayudha menghitung langkah apa yang akan diambil. Menghadap Tantra? Melaporkan hasil kunjungannya?

Ada rasa risi untuk menemui senopati muda usia. Kalau yang naik Senopati Kuti atau Semi, Halayudha masih bisa menindih rasa sungkannya. Akan tetapi kalau yang disowani anak kemarin sore yang tak bisa menangkap kekang kudanya, itu soal harga diri.

Akan tetapi jika ia tidak melapor, ia akan dimusuhi seluruh Keraton

Yang setia kepada Senopati Tantra. Lagi pula kini dirinya secara resmi adalah utusan Raja, yang mengenakan cincin pemberian Raja.

Halayudha terus berhitung.

Yang juga masih menjadi teka-teki bagi Halayudha ialah bagaimana kelanjutan gerakan Tantra. Satu hal pasti: Tantra menunggu restu dari Baginda. Hal ini yang belum jelas benar.  Apakah Baginda berkenan memegang takhta kembali atau tidak. Jika ada restu, tak menjadi masalah. Jika tidak, Keraton akan benar-benar menjadi karang abang, menjadi lautan api. Kembali berdarah.

Halayudha merasa tak bisa menentukan sikap secepatnya.

Kekayaan akalnya menjadi jungkir balik menghadapi Tantra.

Jagat selalu memberi kesempatan kepada pandangan muda. Aneh sekali. Kenapa bisa terjadi perubahan seperti ini? Apa yang sesungguhnya dikehendaki Dewa?”

Situasi yang ada sekarang ini benar-benar di luar dugaan siapa pun. Rasanya para Dewa yang biasa-biasa bisa kaget.

Dari mana Tantra menyandarkan kekuatannya?

Kalau benar tak ada dukungan dari Tujuh Senopati Utama, ini bisa dipakai sebagai cara untuk membangkitkan pertentangan.

Akan tetapi jalan pikiran itu terpupus dengan sendirinya. Memang ada pertentangan, akan tetapi tak bisa dipakai landasan buat memperkeruh suasana. Dua dari Tujuh Senopati Utama sekarang berada di Keraton, akan tetapi dengan serta-merta Senopati Tantra mengumumkan sendiri, bahwa selama ini kedua senopati utama itu berada di Keraton atas kemauannya sendiri. Bahkan dikatakan bahwa keduanya, seperti juga senopati yang lain, tetap berhak atas derajat dan pangkat serta kehormatannya selama ini.

Ruwet.

Ruwet, justru karena sikap Senopati Tantra sangat lugas dan apa adanya.

“Semua bangsawan agung bisa kukenali kelemahannya. Bisa kuajak dan kuarahkan ke apa yang disukai secara diam-diam. Apa yang menjadi kesukaan Tantra, rasanya masih sulit ditebak.

“Kemudaannya menyingkirkan semua pamrih….”

Tak ada keinginan tertentu, pahala tertentu yang dikejar. Tidak juga mengenal harta benda, emas intan berlian. Bahkan sejak awal, Senopati Tantra menyebut-nyebut bahwa senopati yang berjiwa ksatria harus bisa menjaga diri dari godaan nafsu makan dan minum. Sebutan Senopati Sumlirih menjadi bahan pembicaraan yang umum.

Senopati Tantra memelopori jatah makan secara ransum. Jatah makan yang berlebihan, upacara minum tuak buah kelapa, ditiadakan. Bahkan diperintahkan untuk tidak mengadakan perjamuan yang menghambur-hamburkan kekayaan secara tak perlu.

Ia sendiri memulai membagikan harta miliknya, yang mau tak mau segera diikuti oleh para bangsawan yang lain. Setiap hari ada saja bangsawan dan kerabat Keraton yang menyerahkan perhiasan serta harta simpanan untuk disumbangkan kepada rakyat.

Yang juga mencengangkan adalah tindakan Senopati Tantra untuk membebaskan semua bandan, semua tawanan. Termasuk Pangeran Anom! Para pembesar dari negeri seberang seperti Pangeran Jenang juga diberi kebebasan penuh untuk kembali ke negerinya atau tetap berdiam diri di Keraton.

Agaknya Senopati  Tantra berada dalam mimpi, begitu perhitungan Halayudha. Semua tindakannya hanya mencari nama yang harum. Upeti-upeti yang selama ini dikenakan untuk pasar, untuk binatang, serta-merta ditiadakan. Persediaan bahan makanan yang berada di lumbung Keraton dibongkar dan dibagikan kepada masyarakat.

Benar-benar berlebihan, menurut penilaian Halayudha. Akan tetapi nyatanya, gema dari tindakan Senopati Tantra segera mendapatkan dukungan yang lain. Bukan hanya lumbung Keraton yang sebagian isinya dibagi-bagikan, melainkan juga beberapa senjata yang selama ini menumpuk, diberikan kepada mereka yang berniat menjadi prajurit.

Sehingga Halayudha harus memeras otaknya kalau ingin muncul ke permukaan. Muncul sebagai orang yang tak menyukai perubahan sekarang ini. Karena kalau ia memilih memihak kepada Senopati Tantra, besar kemungkinannya ia tak akan mendapatkan apa-apa. Mengingat hubungan pribadi yang juga tidak baik, di samping Senopati Tantra sangat keras memegang teguh tata pemerintahan.

Perhitungan yang masih ada, menyisakan kemungkinan hadirnya Mahapatih Nambi. Ia bisa memakai sebagai kekuatan utama. Biar bagaimanapun, Mahapatih Nambi masih mempunyai pengaruh yang sangat luas. Hanya saja, jawabannya masih teka-teki lama. Apakah Mahapatih akan memihak kepada Senopati Tantra atau sebaliknya? Kemungkinan pertama yang dikuatirkan akan terjadi. Sebab, Senopati Tantra sejak awal mengatakan bahwa ia tak berniat memegang jabatan itu, dan tetap akan menolak. Ia tetap akan menjalankan tugasnya sebagai senopati. Berarti tempat utama tak diubah.

Berarti Mahapatih Nambi malah bisa kembali memegang kekuasaan, karena keadaan menghendaki.

Peluang yang lain ialah keadaan Raja Jayanegara.

Halayudha mulai menjalankan aksinya. Melalui para kerabat Keraton, Halayudha menyebarkan kabar bahwa Baginda tidak merestui apa yang dilakukan oleh Senopati Tantra. Bahkan para senopati utama yang menjadi atasan langsung juga mengutuk perbuatan Tantra. Sementara para pengikut Raja disulut dengan kabar bahwa sesungguhnya perlakuan yang dialami Raja sangat menyedihkan. Sama sekali tidak mengenal tata krama.

Akan tetapi ternyata tak ada gemanya. Kabar mengenai Senopati Utama bisa terbantah dengan mudah. Kabar mengenai Raja tidak diperlakukan.

Dengan baik, ternyata juga tak menggoyang keadaan. Agaknya penduduk dan para senopati lebih terikat kepada Baginda.

Ini berarti peluang.

Dengan mempergunakan peluang dan nama besar Baginda, Halayudha bisa menyusun persiapan.

Namun juga tak bisa secepatnya. Karena sejak semula tak ada penegasan resmi dari Simping!

Halayudha memakai cara yang sederhana.

Mengembangkan kabar bahwa Tantra sebenarnya berada dalam pengaruh aji sirep sehingga tidak sadar apa yang dilakukan. Kalau tidak