Maling Budiman Berpedang Perak

New Picture (2)

Maling Budiman Berpedang Perak

(Gian Kiam Gi To)

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Ebook oleh : Dewi KZ

Jilid 01

“Tangkap, tangkap! Maling, maling!!!” Di malam yang gelap gulita itu terpecahlah kesunyian oleh suara teriakan-teriakan di atas dan di bawah rumah gedung Thio Wan-gwe (hartawan Thio). Sesosok bayangan hitam melayang ke atas genteng dengan gerakan yang luar biasa gesitnya.

Bayangan ini bertubuh sedang dan agak tinggi kurus, pakaiannya serba hitam dan pada mukanya terdapat kedok terbuat daripada saputangan sutera hitam yang menutup bagian muka dari bawah mata ke bawah. Matanya yang tidak tertutup mengeluarkan sinar tajam, melirik ke sana ke mari. Di punggungnya nampak gagang sebuah pedang. Dan pada saat itu ia menggendong dua buah kantong kain yang besar dan berat.

“Tangkap! Tangkap maling!!” Terdengar lagi teriakan dan beberapa orang penjaga gedung Thio Wan-gwe yang memiliki kepandaian silat tinggi mengejar ke atas genteng dengan pedang atau golok di tangan.

Akan tetapi, baru saja mereka menginjak genteng, maling itu telah mendahului menyerang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk memegang dua kantong besar yang digendongnya di pundak. Gerakannya cepat dan tak terduga hingga seorang penjaga kena hantam dadanya hingga roboh di atas genteng, menyebabkan beberapa buah genteng pecah dan menerbitkan suara hiruk-pikuk. Kawan-kawannya yang berjumlah lima orang segera mengepung, akan tetapi sebelum mereka dapat menggunakan senjata untuk menyerang, maling yang berkepandaian tinggi itu telah melompat ke atas wuwungan.

Dua orang penjaga cepat mengeluarkan senjata piauw, lalu menggerakkan tangan mereka. Empat batang piauw menyambar ke arah punggung maling yang melarikan diri itu. Akan tetapi sungguh mengagumkan, tanpa menoleh lagi, bagaikan di punggungnya terdapat mata yang melihat datangnya senjata-senjata rahasia itu, si maling mengelak ke samping dan ketika sebatang piauw menyambar dekat, ia gerakkan tangan kanannya menangkap piauw itu tanpa

melihat! Betapa tinggi ilmu silatnya, serta ketajaman pendengarannya!

Sebatang piauw menyambar lagi dan kini maling itu memperlihatkan kepandaiannya yang benar-benar hebat. Ia ayunkan piauw dari tangannya, yakni piauw yang ditangkapnya tadi ke arah piauw yang melayang ke arah dirinya hingga kedua batang senjata rahasia itu saling berbenturan dan jatuh di atas genteng!

Sebelum para penjaga itu dapat menyerang lagi, si maling yang hebat ini telah dapat melompat jauh dan menghilang dalam gelap! Para penjaga masih mencoba untuk mengejar dan mencari-cari, tetapi malam sangat gelap hingga tak mungkin mereka dapat mengejar seorang maling yang memiliki kepandaian demikian tinggi itu. Terpaksa mereka kembali ke gedung Thio Wan-gwe dan mendapatkan hartawan itu masih berdiri gemetar di dalam kamarnya sambil memandang ke arah sebuah lukisan di atas dinding.

Lukisan itu adalah lukisan sebuah pedang tajam dan dibuat dengan tinta hitam dan dilukis mempergunakan jari telunjuk saja. Biarpun demikian, namun pedang itu nampak indah hingga mudah difahami bahwa pelukisnya mencoba untuk melukis sebuah pedang putih, baik gagang maupun pedangnya. Inilah tanda dari Gim-kiam Gi-to, si Maling Budiman Berpedang Perak! Tanda ini sudah banyak dikenal orang terutama golongan orang-orang hartawan yang banyak menumpuk harta benda.

Yang paling mengherankan adalah tempat di mana maling itu menggambar, yakni di dinding sebelah atas yang tingginya tidak kurang daripada dua tombak! Orang-orang biasa takkan dapat menduga bagaimana orang dapat melukis di tempat setinggi itu tanpa mempergunakan tangga atau alat pemanjat lain, akan tetapi seorang ahli silat tinggi

akan dapat mengerti dan mengagumi bahwa orang yang melukisnya tentu memiliki kepandaian Pek-houw-yu-chong (Cecak Bermain di Tembok). Dengan ilmu kepandaian ini, si pelukis dapat merayap di tembok seperti seekor cecak! Dan ilmu kepandaian ini hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli lweekeh yang memiliki lweekang dan khikang tinggi!

Melihat tanda gambar ini, para penjaga gedung Thio Wan-gwe diam-diam bersyukur karena pencuri yang sangat terkenal itu tidak melakukan kekejaman kepada mereka dan yang kena dirobohkannya hanya seorang saja, itupun tak sampai mendapat luka parah. Baru mereka percaya bahwa pencuri itu terkenal sebagai Maling Budiman yang jarang sekali mau melukai orang, kecuali kalau terpaksa sekali.

Tidak saja di rumah keluarga Thio Wan-gwe yang ribut dan gempar, akan tetapi semenjak saat itu sampai pagi, banyak orang-orang merasa heran dan bingung disertai kegirangan besar, tidak seperti kebingungan dalam gedung Thio Wan-gwe, mereka ini adalah penghuni gubuk-gubuk dan pondok-pondok di dusun-dusun dekat kota tempat tinggal Thio Wan-gwe itu merasa girang oleh karena pada malam hari itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja mereka mendapatkan beberapa potong perak yang beratnya sampai empat lima tail menggeletak begitu saja di atas pembaringan mereka yang bobrok! Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena perak itu dapat dijadikan uang untuk penyambung nyawa keluarga mereka untuk beberapa bulan lamanya! Segera mereka ini menjatuhkan diri berlutut dan memuji nama Tuhan Yang Maha Murah yang telah mengirim utusan untuk menolong mereka. Dan orang-orang yang mengalami hal ini adalah beberapa puluh keluarga di malam hari itu! Mereka sama sekali tak pernah mendengar atau menduga bahwa di atas genteng mereka

yang telah bocor itu melayang bayangan orang yang gesit bagaikan burung dan yang memasuki tiap gubuk tua untuk dengan diam-diam meletakkan uang-uang perak dan potongan-potongan perak itu di atas pembaringan penghuninya!

Inilah maling budiman yang tadi mencuri dua kantong uang perak dari dalam gedung Thio Wan-gwe. Maling budiman ini datang di gedung Thio Wan-gwe tanpa permisi dan pergi tanpa pamit, demikian juga ia memasuki rumah-rumah rakyat miskin tanpa mengetuk pintu dan pergi tanpa memberitahukan pula!

Setelah dua kantong perak itu habis, Maling Budiman lalu melipat dua kantongnya yang telah kosong dan memasukkan kedua kantong kain itu ke dalam saku bajunya, lalu ia berlari dengan cepatnya menuju ke sebuah kuil tua yang telah rusak dan kosong di luar kampung, tak jauh dari kota tempat tinggal Thio Wan-gwe.

Ia melompat masuk ke dalam kuil dan duduk di atas lantai yang kotor. Lalu dilepaskannya kedok sutera hitam dari mukanya. Pada saat itu fajar telah mulai menyingsing hingga nampak wajahnya yang kurus, tetapi yang memiliki potongan cukup tampan. Ia menghela napas lega laksana seorang pekerja yang telah menunaikan tugasnya dengan baik, lalu merebahkan tubuhnya di atas lantai begitu saja. Tak lama kemudian iapun tertidur pulas!

Siapakah orang aneh yang menuntut pekerjaan lebih aneh lagi ini? Mengapa ia melakukan pekerjaan yang dari satu sudut dianggap buruk dan jahat, akan tetapi dipandang dari sudut lain dapat juga disebut baik hingga iapun mendapat julukan bertentangan? Sebutan Maling Budiman memang terdengar janggal dan lucu. Maling tetap maling dan termasuk penjahat berdosa, akan tetapi Budiman

adalah satu sifat yang hanya dimiliki oleh seorang yang menjunjung tinggi kebaikan!

***

Pada beberapa belas tahun yang lalu, di daerah selatan Tiongkok mengalami serangan bencana alam yang maha dahsyat. Musim kering tahun itu benar-benar hebat, untuk berbulan-bulan tak setitik airpun jatuh membasahi bumi sedangkan panasnya tak terperikan lagi. Tanah sampai pecah-pecah dan retak-retak karena panas yang membakarnya dan semua sumur menjadi kering. Bahkan sungai-sungai pada kering sehingga penderitaan rakyat bukan main hebatnya. Semua tanaman-tanaman mengering dan mati sebelum menghasilkan buah. Kalau saja ini terjadi pada tahun-tahun yang lalu masih tidak seberapa hebat, oleh karena penduduk masih mempunyai simpanan sedikit makanan yang mereka sengaja sediakan seperti yang biasa mereka lakukan tiap tahun dalam menghadapi musim kering. Akan tetapi celakanya, panen yang lalu hampir habis oleh serangan belalang yang datang dari utara hingga memenuhi udara.

Rakyat di daerah selatan menjerit-jerit dan mereka hidup amat sengsara. Bibir-bibir manusia mengering dan kulit bibir mereka pecah-pecah. Mata menjadi merah karena hawa terlampau panas. Hewan ternak banyak yang mati kepanasan dan kehausan.

Penduduk telah melakukan berbagai macam usaha, bahkan mereka telah melakukan sembahyang di mana-mana untuk meminta hujan. Setelah keadaan mereka betul-betul genting yang mencapai puncaknya, datanglah hujan bagaikan dicurahkan dari langit! Jutaan manusia menyambut hujan pertama dengan sangat bersyukur kepada Illahi. Semua orang keluar dari rumahnya menengadah ke langit dengan kedua tangannya menampung dan mulut

ternganga lebar untuk merasai kenikmatan air yang turun dari sorga dan yang menjadi pelindung mereka itu!

Kaum tani sambil bersiul-siul dan bernyanyi-nyanyi mengerjakan sawah ladang mereka. Semua beriang gembira, walaupun mereka rata-rata hanya dapat makan sehari sekali. Hati mereka penuh pengharapan baik untuk panen yang akan datang. Tanah yang tadinya merekah dan retak-retak menjadi tertutup kembali dan nampak kerbau-kerbau yang sudah kurus karena kehabisan rumput itu kini menarik bajak di sawah sambil menggoyang-goyang ekor. Agaknya binatang-binatang ini dapat juga merasakan pengharapan yang memancar keluar dari setiap mata manusia.

Akan tetapi, semua itu ternyata hanya merupakan mimpi belaka. Hujan turun terus, makin hari makin besar dan akhirnya, ketika semua benih sudah ditanam dan orang-orang menanti tumbuh dan suburnya benih itu menjadi bahan makanan mereka, hujan turun bagaikan samudera telah berpindah ke langit! Air mengalir terus tiada hentinya hingga semua tanah digenangi air! Sungai meluap-luap dan air mengalir cepat mengamuk, menerjang, menyeret segala apa yang berada di depan yang menghalangi alirannya. Rumah-rumah, tanaman-tanaman, manusia, hewan dan apa saja dibawa hanyut!

Mayat manusia mengapung di mana-mana. Manusia-manusia kecapaian menggeletak di dalam gubuk-gubuk tinggi dan di atas gunung-gunung telah menjadi mayat. Hebat dan ngeri bukan kepalang!

Amukan alam yang memperlihatkan kekuasaannya ini terasa sekali oleh penduduk dusun Giam-hok-ceng. Biarpun dusun itu agak tinggi letaknya hingga rumah-rumah mereka tidak sampai terbawa hanyut, namun semua sawah lading telah habis digenangi merupakan danau yang lebar dan luas

mengerikan. Persediaan makanan telah habis dan tiap hari pasti ada orang mati kelaparan. Jerit tangis terdengar dimana-mana dan keluh kesah menjulang setinggi langit, membawa rasa kecewa, manusia-manusia yang mulai menuduh bahwa Tuhan tidak adil!

Di dalam sebuah rumah yang tak patut disebut rumah lagi, lebih pantas disebut kandang manusia miskin, dua tubuh manusia laki-laki dan wanita yang hanya merupakan kerangka-kerangka terbungkus kulit belaka, rebah bersanding di atas tikar buruk. Keduanya adalah suami isteri she Tan yang sudah menjadi mayat, korban kelaparan! Di dekat dua mayat itu, seorang anak laki-laki berusia lima tahun menangis terisak-isak, karena suara tangisnya sudah hampir habis, tenggorokkannya kering dan sakit karena semenjak pagi ia menangis tiada hentinya. Berkali-kali anak itu memanggil-manggil ayah dan ibunya, akan tetapi ayah-bundanya diam tak bergerak seakan-akan sama sekali tidak mau memperdulikan nasib putera tunggal mereka yang bernama Tan Hong.

“Ayah … ibu … bangunlah … aku lapar, minta makan. Ibuuu … !” suara Tan Hong parau dan hanya keluar sebagai bisikan belaka, sedangkan matanya tak dapat mengeluarkan air mata lagi. Ia masih terlampau kecil hingga kematian baginya masih merupakan teka-teki.

Telah berhari-hari ia hanya mengisi perutnya dengan sedikit gandum kering, dan ayah ibunya bahkan sama sekali tidak makan karena makanan yang sedikit mereka dapatkan, selalu diberikan kepadanya. Akhirnya kedua orang tuanya tertidur dan tidak mau bangun lagi, sedangkan di dalam gubuk itu tak terdapat sedikitpun makanan lagi dan semenjak kemarin perutnya belum diisi apa-apa!

Oleh karena rasa lapar yang membuat perutnya terasa perih dan tubuhnya lemas itu tak tertahankan lagi, Tan Hong lalu bangun berdiri dan mencari-cari di dalam gubuk, kalau-kalau masih ada sisa-sisa makanan yang dapat dimakannya. Segala kaleng dan kertas dibuka dan dibolak-balikkan, akan tetapi usahanya sia-sia. Tan Hong menjadi bingung, ia mulai mengeluh dan menangis lagi sambil memeluki tubuh ibunya.

Kemudian timbul pikirannya untuk minta makanan kepada tetangga, seperti yang telah dilakukan beberapa kali oleh ibunya. Ia bangun dan berdiri lagi, dan tiba-tiba kepalanya terasa pening, tanah yang dipijaknya seolah-olah berputar-putar dan bergoyang-goyang.

“Aduh … ibu … aduh … !” Ia terhuyung-huyung, rasa perih di perutnya ditahan dengan tangan kiri yang ditekankannya ke perutnya yang kempis itu, tangan kanan meraba-raba ke depan agar ia jangan menabrak sesuatu, kedua kakinya terhuyung-huyung maju dan dengan mata kabur ia mencari pintu untuk keluar.

Ketika ia tiba di pintu gubuk tetangganya yang terdekat, ia disambut dengan suara tangis riuh rendah yang keluar dari pintu itu. Ia membelalakkan kedua matanya dan menjenguk ke dalam. Ternyata seluruh keluarga tetangga itu sedang menangisi mayat-mayat yang membujur di atas balai-balai. Mati karena kelaparan pula!

Tan Hong mundur ketakutan. Tubuhnya yang hanya tulang terbungkus kulit dan dibalut oleh sisa-sisa kain lapuk yang menutupi sebagian badannya, terseok-seok bergerak maju lagi dengan segala daya upayanya. Kini ia menuju ke sebuah rumah besar. Ia tahu bahwa rumah itu adalah milik Thio-chungcu (Pak Lurah Thio) yang mempunyai banyak beras dan gandum. Sebetulnya semenjak kecil ia sangat takutnya kepada kepala kampung ini, bahkan baru

mendengar namanya saja ia sudah menggigil. Dulu tiap kali ia menangis, asal ibunya menyebut nama Thio-chungcu, ia menjadi ketakutan dan tak berani menangis lagi!

Akan tetapi, rasa lapar melenyapkan takutnya. Ia pernah mendengarkan ibunya bercerita bahwa Thio-chungcu adalah seorang yang mempunyai gandum terbanyak di dalam dusun itu. Maka, selain minta kepada Thio-chungcu, kepada siapa lagi ia dapat minta makanan? Tubuh kecil kurus itu terhuyung-huyung di atas jalan yang sunyi mati itu dan di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Thio-chungcu, ia mendengar suara tangis di kanan kiri jalan, tangis anak-anak yang sebayanya keluar dari dalam rumah-rumah gubuk. Jelas terdengar olehnya suara mereka itu mengeluh dan merengek-rengek, “Ayah … perutku lapar … “ “Ibu … makan, perutku perih sekali … “

Suara-suara ini menusuk-nusuk hati dan telinga Tan Hong, menikam ulu hatinya dan terukir dalam-dalam di sanubarinya. Suara-suara itu merupakan suara maut yang mengejar-ngejarnya, maka tiba-tiba Tan Hong memaksa kedua kakinya yang lemas untuk berlari. Berlari pergi dari suara-suara itu, menuju ke rumah gedung Thio-chungcu!

Rumah gedung Thio-chungcu itu dikelilingi dinding tebal dan tinggi, dan di depannya terdapat pintu gerbang dari jeruji besi. Tan Hong mendorong-dorong pintu yang berat itu dan akhirnya ia berhasil juga membukanya setelah menggeser dan melepaskan palangnya dari luar dengan jalan memasukkan lengannya yang kecil kurus di sela-sela jari-jari besi itu.

Akan tetapi, baru saja ia melangkahkan kaki memasuki ambang pintu, tiba-tiba dari dalam terdengar salak anjing yang menyeramkan dan tak lama kemudian, dua ekor anjing yang gemuk-gemuk dan tinggi besar berlari keluar sambil menggonggong keras. Tan Hong menjadi pucat

sekali dan tubuhnya menggigil. Cepat-cepat ia mundur dan berlari keluar kembali dari pintu gerbang itu. Kedua anjing yang galak itu masih tetap menggonggong dan memperlihatkan gigi, akan tetapi setelah mereka melihat bahwa Tan Hong telah keluar dari pintu gerbang, mereka tak menggonggong lagi dan lari kembali sambil menggoyang-goyangkan ekornya.

Thio-chungcu yang bertubuh gemuk seperti anjing-anjingnya itu keluar dari dalam gedungnya, mendengar suara gong-gongan anjing dan sambil tertawa senang ia berkata, “Bagus, bagus! Kalau ada maling masuk, serbu dan gigitlah sampai mampus! Hah, menyebalkan benar! Begitu kecil sudah belajar menjadi pencuri!” Kepala kampung itu lalu masuk kembali ke dalam rumahnya, diikuti oleh dua anjingnya yang menggerak-gerakkan ekornya.

Tan Hong memperhatikan kepala kampung itu dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Entah bagaimana, ketika mendengar kata-kata kepala kampung itu, timbullah hawa panas yang membuat seluruh tubuhnya serasa terbakar! Kepalanya berdenyut-denyut dan kedua tangannya dikepalkan.

Baru setelah kepala kampung dan kedua ekor anjingnya masuk kembali ke dalam rumah, Tan Hong merasakan kembali keletihan dan keperihan perutnya. Ia berjalan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu dan kepalanya mulai terasa pening lagi. Pandangan matanya kabur hingga terpaksa ia memejamkan matanya sambil berjalan terus sedapat mungkin. Akhirnya, tubuh yang kecil itu tidak kuat lagi berjalan dan ia terguling roboh di pinggir jalan. Ia menahan keperihan perutnya dengan mengangkat kedua lutut ke dada hingga perutnya seperti dilipat dan ditekan oleh lutut. Ia meringkuk dalam keadaan demikian di pinggir jalan, dan merasa betapa enaknya rebah di situ seperti ini!

Lenyap rasa pusing di kepalanya, bahkan rasa lapar yang tadinya mendatangkan rasa sakit dan perih di perutnya, kini lenyap dan yang terasa hanyalah kekosongan belaka. Kosong dan lemah …

Dan ketika nyawa anak kecil itu telah mulai menjadi bosan tinggal di tubuh yang tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya ini, nyawa yang telah siap untuk meninggalkan tubuh kurus kering yang menggeletak melingkar di pinggir jalan, tiba-tiba nampak seorang kakek yang memegang tongkat berdiri di dekatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Ya Tuhan, kesenangan apakah yang pernah kauberikan kepada anak ini hingga sekarang dia harus menderita sehebat ini?”

Kemudian, kakek tua yang berambut panjang dan yang diikat ke atas kepala dengan sehelai pita putih, membungkuk dan mengangkat tubuh Tan Hong ke pundaknya. Setelah itu, ia lalu berjalan cepat meninggalkan dusun Giam-hok-ceng.

Kemudian ternyata bahwa kakek ini adalah Cin Cin Tojin, seorang tosu pengembara yang tidak tertentu tempat tinggalnya. Seorang tosu yang amat terkenal karena ketinggian ilmu silatnya, hingga di dunia kang-ouw ia mendapat julukan Sin-kiam atau Pedang Sakti.

Cin Cin Tojin belum pernah mempunyai murid, akan tetapi ketika melihat keadaan Tan Hong yang amat menyedihkan ini, ia menjadi kasihan dan menolongnya. Kemudian ia melihat bahwa sebenarnya anak itu mempunyai bakat yang baik sekali, maka ia lalu mengambil anak itu sebagai murid tunggalnya.

Bertahun-tahun lamanya Tan Hong ikut suhunya berkelana. Ia mempelajari ilmu silat dari suhunya itu hingga setelah dewasa, delapan bagian kepandaian Cin Cin Tojin

telah dapat diwarisinya. Di sepanjang perantauannya, Tan Hong melihat kesengsaraan rakyat jelata, hingga timbul perasaan kasihan di dalam hatinya. Pengalaman dan penderitaannya ketika masih kecil menggores dalam-dalam di kalbunya, terutama peristiwa ketika ia berdiri di depan pintu gerbang rumah Thio-chungcu, tak dapat ia lupakan. Kini setelah ia dewasa dan merantau bersama suhunya, dimana-mana ia banyak melihat hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar model Thio-chungcu ini. Orang yang menumpuk harta benda sampai berlebih-lebihan di dalam gudang mereka, tanpa memperdulikan sedikitpun kepada rakyat kecil yang mati kelaparan. Ia merasa marah dan gemas sekali kepada mereka ini. Memang benar bahwa banyak pula terdapat hartawan-hartawan yang berhati dermawan dan mengenal perikemanusiaan hingga seringkali mengulurkan tangan menolong dan memberi sumbangan kepada orang-orang yang menderita kesengsaraan, akan tetapi dibandingkan dengan jumlah mereka yang kikir dan kedekut, maka hanya beberapa orang dermawan saja yang tidak ada artinya.

Setelah ikut merantau dan belajar silat selama tiga belas tahun, Cin Cin Tojin lalu menetap di puncak Bukit Kwihong-san, karena merasa tua dan bosan merantau. Ia lalu memberi izin kepada muridnya untuk merantau seorang diri dan kepada muridnya ini ia memberi banyak nasehat dan petuah, serta memberinya pula sebatang pedang bergagang perak dan berwarna putih berkilauan.

Semenjak itu, dalam usia delapan belas tahun, Tan Hong mulai dengan perantauannya seorang diri dan ia mulai mengerjakan maksud dan cita-cita yang selalu terkandung di dalam hatinya, yakni mencuri uang hartawan-hartawan untuk kemudian pada waktu itu juga dibagi-bagikan kepada para penduduk miskin di dusun-dusun! Tiap kali ia

melakukan pencurian dalam sebuah gedung hartawan, ia selalu meninggalkan tanda gambar pedangnya hingga dalam waktu yang pendek ia sudah terkenal oleh karena tak pernah ia dapat ditangkap, berkat kepandaiannya yang amat tinggi. Ia lalu mendapat julukan Gin-kiam Gi-to, si Maling Budiman Berpedang Perak!

Demikianlah, dua tahun telah berlalu dengan cepatnya dan selama dua tahun itu, selain mendapatkan nama besar, ia dibenci oleh golongan yang dirugikan, dipuja-puja oleh golongan yang ditolongnya.

Dan sebagaimana telah dituturkan pada permulaan cerita ini, sebagaimana biasanya, setelah berhasil mencuri kantong besar uang perak dari gedung Thio Wan-gwe, seorang hartawan yang kaya raya, akan tetapi teramat kikirnya, Tan Hong lalu membagi-bagikan uang itu sampai habis kepada para penduduk dusun yang miskin. Kemudian, setelah “pekerjaannya” itu beres, baru ia mencari tempat peristirahatan di dalam sebuah kuil rusak yang tiada penghuninya lagi.

***

Kota Wi-ciu di mana Thio Wan-gwe yang dijadikan korban oleh Tan Hong itu tinggal, adalah sebuah kota besar yang cukup ramai, dan di kota itu banyak terdapat hartawan-hartawan besar.

Ketika Thio Wan-gwe mendapat giliran didatangi oleh si Maling Budiman, sebetulnya hartawan ini bukanlah merupakan korban pertama di kota itu. Sebelum Thio Wan-gwe, sudah ada dua orang hartawan lain yang disikat hartanya oleh Tan Hong, akan tetapi oleh karena kedua orang hartawan ini memang mempunyai hati dermawan dan dari tanda gambar di dinding itu mereka tahu bahwa sedikit uang mereka yang dicuri oleh Maling Budiman itu

yang akan dibagikan kepada orang-orang miskin, maka mereka tidak mau membuat banyak ribut hingga orang-orang lain tidak mengetahuinya.

Akan tetapi, Thio Wan-gwe seorang hartawan yang sangat kikir. Maka, setelah orang mencuri dua kantong uang peraknya yang amat disayangi melebihi dari jiwanya sendiri, ia lalu melaporkan hal pencurian ini kepada pembesar setempat, bahkan lalu mengumpulkan kaki tangan dan jago-jagonya untuk menyelidiki dan mencari maling yang telah mencuri hartanya itu.

Pembesar setempat yang juga telah mendengar tentang sepak terjang Gin-kiam Gi-to, segera mengerahkan tenaga untuk berusaha menangkap maling terkenal ini, agar ia dapat berbuat jasa besar dan dipuji oleh atasannya. Dan pada keesokan harinya setelah terjadi pencurian itu, ia mengumpulkan seluruh kepala penjaga dan jagoan-jagoan yang ada di kota Wi-ciu untuk berunding. Pembesar itu tidak hanya mendatangkan para petugas, tapi juga mengundang para kauw-su (guru-guru silat), para piauwsu (pengantar-pengantar barang) yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan To Tek Hosiang, ketua kuil Kim-ci-tang dipanggil juga, oleh karena semua orang tahu bahwa hwesio (pendeta Agama Buddha) ini memiliki kepandaian tinggi.

“Cu-wi (tuan-tuan sekalian),” kata pembesar itu setelah semua orang berkumpul dan arak telah dihidangkan. “Kami mengumpulkan cu-wi di sini untuk bersama-sama merundingkan soal pencurian-pencurian yang mulai merajalela di kota kita. Cu-wipun tentu maklum pula bahwa yang melakukan pencurian ini adalah Gin-kiam Gi-to yang terkenal itu. Oleh karena dia sekarang telah berani mengacau dan menganggu ketenteraman kota kita, maka

sudah sewajarnya dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menangkapnya!”

Beberapa saat semua yang hadir diam saja. Bermacam-macam pikiran timbul di hati masing-masing. Ada yang merasa sangsi dan takut menghadapi Maling Budiman yang terkenal itu. Ada yang setuju dan ada pula yang kurang setuju. Akhirnya To Tek Hosiang berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang botak itu.

“Memang pendapat tai-jin ini benar. Dia harus dapat ditangkap untuk membersihkan Wi-ciu daripada kekacauan dan kejahatan.”

“Maafkan, tai-jin,” kata seorang tinggi kurus, yakni ketua piauw-kiok (perusahaan pengawal barang antaran) di kota itu yang cukup terkenal dan bernama Kwee Seng. “Menurut pendapatku, agaknya kurang sempurna kalau kita mengganggu maling luar biasa ini. Siauwte (hamba) telah kenyang merantau dan bertemu dengan orang-orang di dunia kangouw dan liok-lim (para perampok dan penjahat), dan karenanya siauwte mengerti bahwa di dunia liok-lim terdapat tiga macam atau tiga tingkat cara melakukan perampokan dan pencurian. Pertama, mencuri dan merampok bukan untuk diri pribadi dan hasilnya diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan pertolongan. Kedua, mencuri dan merampok semata-mata berdasarkan pekerjaannya oleh karena perbuatan itu mereka anggap sebagai tugas pekerjaan. Ke tiga, mencuri untuk mengumpulkan kekayaan dan mempersenang diri sendiri. Di antara ketiga tingkat ini, tingkat pertama dianggap sebagai sempurna dan bahkan dianggap sebagai perbuatan terpuji dan yang sudah selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar! Demikianlah anggapan kalangan liok-lim. Maka oleh karena Gin-kiam Gi-to ini sepanjang yang siauwte dengar, selalu membagi-bagikan hasil pencuriannya kepada

fakir miskin, dia termasuk golongan pertama yang dianggap oleh dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar yang bijaksana! Inilah sebabnya maka ia disebut Maling Budiman. Kalau sekarang kita bertindak memusuhinya, apakah hal ini tidak akan mendatangkan musuh dari pihak liok-lim?”

Semua orang terdiam mendengar ucapan ini, akan tetapi To Tek Hosiang lalu berdiri dan berkata dengan suara nada tinggi, “Ucapan Lim-piauwsu memang ada betulnya, akan tetapi pandangan ini tidak adil. Mungkin oleh karena pekerjaan Lim-piauwsu, maka ia mengajukan alasan seperti itu. Menurut pendapat pinceng (aku) bahkan sebaliknya. Biarpun Gin-kiam Gi-to seorang pendekar, akan tetapi ia harus memakai aturan juga. Kalau memang ia membutuhkan uang untuk menolong orang-orang lain, mengapa ia harus mencuri di kota kita? Kalau dia memang mengerti aturan kang-ouw, mengapa ia memandang rendah kepada kita dan berbuat sesuka hatinya, seakan-akan di kota ini tidak ada orang yang berani menentangnya? Dia mempunyai kewajiban sebagai seorang Maling Budiman, akan tetapi kitapun mempunyai tugas sebagai penduduk Wi-ciu dan sebagai orang-orang yang diharapkan oleh penduduk untuk menolak datangnya bahaya kekacauan!”

Semua orang setuju dengan pendapat ini dan setelah mengadakan perdebatanperdebatan dan perundingan yang cukup hangat, akhirnya diputuskan untuk mengadakan penjagaan secara gotong-royong pada malam hari. Oleh karena di antara semua orang di situ yang memiliki kepandaian tertinggi adalah To Tek Hosiang dan Lim-piauwsu, maka kedua orang ini diangkat menjadi kepala penjaga.

Pada siang hari itu juga banyak penyelidik disebar di sekeliling kota Wi-ciu untuk mencari jejak Maling Budiman

itu. Dan pada malam harinya, penjagaan diatur dengan diamdiam hingga tidak kentara bahwa di atas wuwungan rumah para hartawan telah diadakan penjagaan keras.

Menjelang tengah malam, Tan Hong kembali melakukan pekerjaannya. Tubuhnya bergerak ringan dan gesit melalui genteng-genteng rumah dan ia berhenti di atas genteng rumah Lie Wan-gwe yang tinggi. Setelah memandang ke sekeliling dan tak melihat sesuatu yang mencurigakan, si Maling Budiman ini lalu melompat turun dengan gerakan melayang yang indah dan cepat.

Para penjaga yang berada di atas genteng Lie Wan-gwe kebetulan sekali adalah To Tek Hosiang sendiri dan beberapa orang pembantunya. Mereka telah melihat kedatangan Maling Budiman, akan tetapi dari tempat persembunyiannya To Tek Hosiang memberi tanda agar kawan-kawannya jangan bergerak dulu. Ia hendak menanti sampai maling itu telah menyelesaikan pekerjaannya dan hendak dihadang ketika keluarnya dari rumah yang menjadi sasarannya, agar mereka dapat menangkap basah maling itu!

Tak lama kemudian, Tan Hong telah berhasil mengambil uang perak sebanyak dua kantong penuh dan dengan cepat ia melompat ke atas genteng kembali. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika melihat betapa di atas genteng berdiri seorang hwesio gundul dan lima orang lain yang kesemuanya memegang sebatang pedang. Hwesio itu berdiri memegang sebatang toya yang panjang dan berat.

“Ha, maling sombong! Kau menyerahlah agar pinceng tak usah mengotorkan tangan. Dosamu telah bertumpuk-tumpuk dan sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk menebus dosa itu. “

Tan Hong tersenyum dan menjawab, “Hwesio, mengurus dosamu sendiripun kau tak sanggup, apapula mengurus dosa orang lain? Kalau kau memang hendak menangkapku, lakukanlah jika kau berani.”

Setelah berkata demikian, Tan Hong lalu melompat tinggi melewati kepala dua orang pembantu To Tek Hosiang dan langsung melompat ke wuwungan lain! Alangkah terkejut dan kagumnya To Tek Hosiang melihat kepandaian loncat yang hebat ini, maka iapun segera mengejar sambil membentak, “Maling rendah, kau hendak lari ke mana?”

To Tek Hosiang adalah seorang tokoh dari Houw-san dan memiliki ilmu silat yang tinggi, maka ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya sudah cukup sempurna. Sekali tubuhnya melayang, ia cepat dapat mengejar Tan Hong dan mengirim serangan dari belakang dengan toyanya!

Tan Hong mendengar desiran angin pukulan toya menyambar, akan tetapi ia tidak menjadi gugup. Dengan memiringkan tubuh, ia dapat mengelak serangan ini dan sebelum To Tek Hosiang dapat menyerang lagi, tubuh pemuda ini telah melayang lagi jauh sekali dan menghilang di dalam gelap.

To Tek Hosiang menghela napas dan memuji, “Sungguh hebat! Sayang orang sehebat dia menjadi maling!”

Demikianlah, malam itu kembali Tan Hong berhasil mendapatkan dua kantong penuh berisi uang perak dan langsung dibagi-bagikan secara diam-diam kepada orang-orang miskin yang tinggal di dalam gubuk tua, hingga untuk kesekian kalinya, pada malam hari itu terdapat satu orang yang merasa marah dan menyesal karena kehilangan banyak uang, tapi terdapat puluhan orang lain yang

mengucap syukur kepada Tuhan oleh karena mereka mendapatkan uang perak secara tiba-tiba!

Setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk malam itu, Tan Hong kembali ke kuil tempat persembunyiannya untuk beristirahat. Sama sekali ia tidak menduga bahwa tempat persembunyian ini telah diketahui oleh para penyelidik. Seperti biasa, setelah membuka kedoknya, ia lalu tidur dengan enak di atas lantai.

Matahari telah naik tinggi dan sinarnya memasiki ruang di mana Tan Hong tidur. Sinar matahari itu masuk dari jendela dan lambat laun bergerak naik hingga akhirnya sinar penuh itu menimpa muka Tan Hong. Panas matahari menyengat kulit muka Tan Hong hingga pemuda itu terjaga dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan alangkah kagetnya ketika melihat bahwa di dalam ruang itu terdapat orang-orang lain yang berdiri mengurungnya sambil menatap wajahnya dengan pandangan tajam. Mereka itu tidak lain ialah To Tek Hosiang, Lim-piauwsu dan pembesar-pembesar lain kota Wi-ciu!

Semenjak tadi mereka mengurung kuil rusak itu, akan tetapi, oleh karena tidak terlihat Tan Hong muncul, mereka diam-diam lalu menghampiri dan mendapatkan pemuda yang sedang tidur nyenyak itu diatas lantai!

Kawanan penjaga keamanan kota itu hendak maju menangkap, akan tetapi To Tek Hosiang dan Lim-piauwsu mencegah mereka. Baik To Tek Hosiang maupun Lim-piauwsu merasa heran dan juga terharu melihat keadaan pemuda yang menjadi maling itu. Sungguh di luar dugaan bahwa maling besar yang tiap malamnya menggondol pergi dua kantong uang perak yang beratnya lebih dari lima ratus tail itu kini menggeletak tidur di atas lantai begitu saja dalam keadaan sangat sederhana, bahkan menyedihkan. Sebuah bantalpun ia tidak punya! Pakaiannya yang

berwarna hitam itu telah usang, bahkan telah banyak tambalan di sana-sini. Maling Budiman ini sama sekali tidak mempunyai bungkusan pakaian atau barang-barang lain kecuali pedangnya yang terselip di pinggangnya. Keadaannya tiada ubahnya dengan seorang pengemis atau orang terlantar. Tubuhnya kurus dan pada mukanya yang kurus dan tampan itu terdapat garis-garis yang hanya terdapat pada muka orang yang telah banyak menderita kesengsaraan hidup!

Keadaan ini meragukan hati To Tek Hosiang. Sebenarnya, mudah saja baginya dan bagi kawan-kawannya untuk menangkap dan mengikat maling yang sedang tidur itu, akan tetapi tiba-tiba timbul rasa kasihan di dalam hatinya dan ia merasa malu untuk menyerang seorang yang sedang tidur nyenyak!

Sebaliknya, ketika melihat betapa dirinya telah terkurung, Tan Hong tidak menjadi gugup atau bingung. Ia menggeliat dan menguap, lalu menatap wajah To Tek Hosiang dengan tajam dan bibirnya tersenyum, akan tetapi sebagaimana biasa, senyumnya tidak membayangkan kegembiraan hati.

“Hwesio, mengapa kau tidak lekas-lekas menangkapku selagi aku masih tidur tadi? Sekarang setelah aku bangun kalian belum tentu dapat menawanku, bukankah itu sayang sekali?” Tiba-tiba ia menyambar pedangnya dan melompat berdiri menghadapi mereka dengan muka tenang dan tabah.

“Anak muda, kau masih begini muda dan memiliki kepandaian lumayan, mengapa kau telah tersesat dan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah)? Dan mengapa kau malam tadi begitu pengecut, hingga tidak sesuai dengan sikapmu sekarang yang pemberani?”

“Hwesio, dengarlah. Aku tidak tahu apakah artinya siauw-jin dan apa artinya kuncu (orang budiman) pada jaman seburuk ini! Kalau kau dan semua orang mau menyebutku siauw-jin, biarlah, aku tidak merasa dirugikan. Dan kau anggap aku pengecut karena malam tadi aku tidak berani menghadapimu dan tidak melakukan perlawanan, bahkan terus melarikan diri? Inilah sebabnya ; pertama-tama aku memegang teguh dan memenuhi peraturan yang telah ada semenjak dunia berkembang, bahwa seorang maling atau pencuri adalah seorang pengambil barang orang lain tanpa diketahui oleh orang itu dan seorang pencuri bukanlah seorang perampok yang mempergunakan kekerasan. Pencuri hanya akan membela diri dan selalu mencari kesempatan pertama untuk melarikan diri, oleh karena keperluanku hanya untuk mengambil barang dan bukan untuk bertempur. Inilah sebab pertama, dan sebab ke dua ialah oleh karena kalian ini bukan musuh-musuhku dan tidak pernah bermusuhan dengan aku, maka aku tidak hendak bertempur dengan kalian!”

To Tek Hosiang menggeleng-gelengkan kepala. “Kau bicara seenakmu saja. Bukankah kau yang disebut Gin-kiam Gi-to?”

Tan Hong mengangguk. “Itulah hadlah yang diberikan orang kepadaku.”

“Nah, sekarang kaudengarlah nasehat dan turutlah demi kebaikanmu sendiri. Kami takkan mengganggumu dan akan melupakan segala perbuatanmu yang telah mengacau kota kami, asal saja kau suka berjanji bahwa mulai hari ini kau takkan melakukan pekerjaan mencuri lagi. “

Tiba-tiba sepasang mata Tan Hong yang biasanya mengeluarkan pandangan acuh tak acuh itu terkilatlah pandangan marah.

“Hwesio! Kau ini siapakah, maka berani melarang dan menentukan jalan hidupku? Kau mempunyai hak apakah maka berani melarangku mencuri?”

“Pinceng bukan orang luar biasa, hanya seorang hwesio sederhana yang bernama To Tek Hosiang dan mengepalai kuil di Wi-ciu. Akan tetapi pinceng berhak memberi nasehat kepada setiap orang yang berjalan sesat, sesuai dengan kedudukan pinceng sebagai seorang pemeluk agama. Kau berjanjilah, dan kami semua akan mengampunimu. Kalau tidak, terpaksa kami akan menangkapmu dan menyerahkan kepada yang berwajib.”

“To Tek Hosiang berkata benar, dan sudah sepatutnya kalau kau mendengar nasehatnya,” kata Lim-piauwsu dengan suara halus. “Aku adalah seorang piauwsu yang telah banyak bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh liok-lim, maka aku merasa sayang sekali apabila seorang muda seperti kau ini menjadi seorang maling.”

Tan Hong mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, “Hm, hm, kata-kata usang membosankan! Kalian semua menaruh kasihan kepadaku, tanpa sebab tertentu menaruh perhatian besar akan nasibku, akan tetapi tengoklah!” Jari telunjuknya menuding ke arah jauh, “Lihatlah mereka itu, rakyat miskin yang mati kelaparan, yang telanjang kedinginan! Mengapa kalian tidak mempergunakan rasa kasihan yang kalian tujukan kepadaku itu kepada mereka? Kalian pura-pura menjadi baik dengan memberi nasehat-nasehat indah kepadaku, tapi pernahkah kalian memikirkan nasib mereka yang terlantar, nasib para jembel yang berkeliaran ke sana ke mari tanpa makan dan tanpa pakaian di luar kulit? Siapa sudi menerima nasehat-nasehatmu? Aku tetap hendak menjadi pencuri, kalian mau apa?”

Mendengar ucapan sombong ini semua penjaga keamanan itu menjadi marah. Tiga orang muda dengan

pedang di tangan maju menubruk, akan tetapi sekali menggerakkan kedua tangan dan kaki kirinya saja, sudah cukup membuat ketiganya terjungkal!

“Mundur semua, biar aku menangkap Gin-kiam Gi-to!” teriak To Tek Hosiang.

“Nanti dulu, losuhu, biarlah aku mencoba kepandaiannya dulu,” kata Lim-piauwsu yang merasa kagum melihat gerakan Tan Hong dan timbul keinginan hatinya untuk menguji.

“Boleh, boleh, majulah!” Tan Hong menantang. “Siapa saja yang hendak menangkapku, majulah! Tapi ingat dan camkanlah bahwa bukan aku yang menghendaki permusuhan. Aku Tan Hong hanya bertempur melawan kalian! Ayoh, siapa hendak menonjolkan kepandaian, majulah!”

Melihat sikap dan ucapan anak muda yang gagah dan berani itu, semua orang merasa tertegun dan sangsi. Hanya Lim-piauwsu dan To Tek Hosiang saja yang mempunyai keinginan untuk mencoba kepandaian Maling Budiman ini dan kalau mungkin menangkapnya.

Lim-piauwsu lalu melangkah maju. Oleh karena ia mengingat akan pekerjaannya sebagai pengantar dan pengawal barang berharga yang dikirim dan dipercayakan di bawah penjagaannya, maka ia selalu berhati-hati dalam menghadapi seorang tokoh dari golongan perampok maupun pencuri dan tak ingin mananam bibit permusuhan yang hanya akan menimbulkan kesukaran dan rintangan bagi perusahaannya. Oleh karena itulah, dalam menghadapi Tan Hong, ia sengaja tidak mengeluarkan senjatanya.

Melihat piauwsu itu maju tanpa membawa senjata, Tan Hong juga tidak mau mengeluarkan senjatanya dan bersiap sedia sambil memasang kuda-kuda.

“Awas kepalanku, anak muda!” Lim-piauwsu mulai menyerang dengan gerak tipu Cio-po-thian-keng atau Batu Meledak Langit Gempur, sebuah tipu pukulan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya hingga merupakan serangan berbahaya. Tan Hong melihat gerakan ini maklum bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, maka ia tidak berani menangkis, hanya mengelak ke samping mempergunakan kelincahan tubuhnya, lalu membarengi dengan serangan balasan yang dilakukan dengan tangan miring, yakni dengan gerak tipu Puja Kwan Im Dengan Tangan Miring (Heng-pai Kwan-im). Serangannya ini tidak kalah hebatnya, akan tetapi oleh karena maksud dari Lim-piauwsu memang hendak menguji kekuatan dan kepandaian Tan Hong, piauwsu itu tidak mengelak, bahkan menggunakan tangannya menangkis. Dua buah tangan beradu dan bukan main terkejutnya Lim-piauwsu ketika pukulan yang tertangkis itu demikian berat dan kuatnya hingga pasangan kuda-kuda kakinya menjadi teranjak mundur sampai tiga langkah!

Lim-piauwsu yang telah banyak mengalami pertempuran-pertempuran dengan tokohtokoh berilmu tinggi, maklum bahwa tenaga lwekang anak muda ini lebih tinggi daripada tenaganya sendiri maka ia lalu mengeluarkan ilmu silat Ho-kun (Ilmu Silat Burung Ho) yang menjadi ilmu kebanggaannya. Gerakannya menjadi lincah, kedua tangannya berkembang merupakan umpan, akan tetapi kalau umpan ini dimasuki lawan, kedua kepalan tangan yang dipentang itu akan melancarkan serangan dari kanan kiri yang sukar ditangkis atau dihindari. Tan Hong telah mengalami gemblengan hebat dari Cin Cin Tojin, dan ilmu silatnya telah mencapai tingkat yang tinggi, maka pertunjukan ilmu silat Ho-kun yang dikeluarkan oleh Lim-piauwsu ini sama sekali tak membingungkannya. Dengan tiba-tiba pemuda ini merobah gerakannya dan kini ia

memainkan ilmu Silat Rajawali Sakti yang mempunyai gerakan lebih cepat lagi, menyambar-nyambar dari atas sambil mempergunakan gerakan ginkang yang tinggi hingga dalam waktu yang singkat Lim-piauwsu telah terdesak sekali.

Belum ada empat puluh jurus, mereka bertempur Lim-piauwsu telah terdesak tanpa dapat membalas hingga diam-diam piauwsu ini heran dan kagum sekali karena belum pernah ia menghadapi lawan yang dapat membuatnya tidak berdaya dalam pertempuran sedemikian pendek! Ia lalu melompat ke belakang sambil berseru, “Hebat sekali!”

Tan Hong tidak mengejar, hanya berdiri menghadapi semua orang dengan sikap waspada. Ia tak hendak mendesak lawan, dan hanya akan melawan mati-matian apabila dia sendiri yang terdesak.

To Tek Hosiang maju sambil melintangkan toyanya. “Maling muda, benar-benar kau tidak mau menyerah dan menurut nasehatku?”

“Hwesio, kaumajulah. Aku Tan Hong sekali mengeluarkan ucapan, hanya akan dapat dirobah setelah aku menggeletak tak berdaya!”

“Anak sombong! Keluarkan senjatamu!”

Tan Hong maklum bahwa hwesio itu tentu memiliki kepandaian tinggi, maka tanpa ragu-ragu lagi, iapun lalu menghunus pedangnya dan semua orang terpesona melihat pedang yang putih berkilauan karena tajamnya. Inilah Gin-kiam atau Pedang Perak yang telah amat terkenal. Gagang pedang itu terbuat seluruhnya daripada perak putih berkilat dan di ujung gagangnya digantungi rambu-rambu merah.

Setelah melihat pemuda itu mengeluarkan pedangnya, To Tek Hosiang lalu menyerang dengan toyanya sambil berseru keras, “Lihat toya!”

Tan Hong berlaku waspada dan tenang. Dari sambaran angin senjata toya itu, ia dapat menduga bahwa To Tek Hosiang memiliki tenaga lwekang yang tak boleh dipandang ringan, maka cepat ia mengelak sambil melompat ke kiri. Akan tetapi gerakan To Tek Hosiang benar-benar cepat. Biarpun serangannya yang ditujukan ke arah dada lawannya itu dapat dielakkan, namun toyanya diteruskan dari samping dan merupakan sapuan ke arah kaki Tan Hong dengan cepat dan kuat! Tan Hong juga memperlihatkan ketangkasan dan kecepatannya. Dengan satu gerakan ia berhasil melompat ke atas dan menghindarkan diri dari sambaran toya. Sebelum tubuhnya turun kembali, Tan Hong membarengi dengan tusukan pedangnya ke arah tenggorokan lawan dalam gerak tipu Elang Merah Meyambar Kelinci.

To Tek Hosiang juga cepat menangkis lalu menyerang kembali. Hwesio ini memiliki ilmu toya yang luar biasa sekali dan belum pernah ia dikalahkan orang selama ia menjagoi di daerah timur waktu mudanya. Maka bukan kepalang herannya ketika ia melihat betapa pemuda ini dapat menghadapinya dengan baik, bahkan dapat mengimbangi serangan-serangannya.

Orang-orang yang menonton pertempuran ini menahan napas. Tubuh Tan Hong yang berpakaian warna hitam telah lenyap dan hanya nampak bayangan hitam saja berpusing-pusing diliputi sinar pedang yang putih gemilang. Sebaliknya, sinar toya To Tek Hosiang memanjang dan menderu mengeluarkan angin bagaikan gelombang dahsyat menyambar-nyambar.

Kalau hendak diukur kepandaian mereka, memang sukar dipastikan mana yang lebih unggul, karena cabang persilatan mereka memang berlainan. Masing-masing mempunyai gerak dan tipu tersendiri dan memiliki keistimewaan masing-masing pula. Tentu saja, Tan Hong kalah pengalaman dan kalah latihan. Sebaliknya, jelas nampak dari gerakan tubuh mereka bahwa Tan Hong masih menang dalam hal ginkang, sedangkan tenaga mereka agaknya berimbang.

Sudah diakui oleh seluruh kaum persilatan bahwa pedang yang baik adalah raja sekalian senjata, oleh karena pedang ini tidak berat dan cukup panjang sedangkan bagi seorang ahli apabila pedang telah berada di tangan, maka pedang itu seakan-akan telah berubah menjadi anggauta tubuh yang bergerak sekehendak hatinya.

Kini kedua orang ini bertempur mati-matian dan oleh karena kepandaian mereka berimbang, maka Tan Hong yang memegang pedang mendapat keuntungan dari perbedaan senjata ini. To Tek Hosiang memainkan sebuah toya yang besar dan berat, oleh karena itu ia memerlukan tenaga yang lebih besar. Ditambah pula usianya yang sudah lanjut, maka setelah bertempur seratus jurus lebih, hwesio itu mulai merasa lelah dan peluh mulai keluar dari keningnya. Sebaliknya Tan Hong masih segar bugar dan serangan-serangannya makin gencar dan rapat.

Karena merasa bahwa makin lama makin lemah, To Tek Hosiang lalu mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat. Ia menerjang sambil menggeram keras dan tiba-tiba diputarnya toyanya dari kanan ke kiri menerjang leher Tan Hong. Akan tetapi, sambaran toyanya ini diikuti oleh gerakan membalikkan toya dan kini dengan gagang toya, hwesio itu menotok ke arah ulu hati Tan Hong dengan kecepatan luar biasa! Inilah gerakan Bintang Api Jatuh dari

Langit yang berbahaya sekali oleh karena sodokan ini sesungguhnya dilakukan di luar dugaan lawan yang hanya menjaga datangnya serangan pertama yang nampaknya lebih berbahaya.

Akan tetapi Tan Hong yang selalu berlaku hati-hati dan tidak mau memandang rendah setiap gerakan lawan, cepat menjaga dadanya dengan gerakan Seng-siok-hut-si atau Musim Panas Kebut Kipas. Pedangnya berputar-putar menjadi sinar bundar di depan dada dan ujung toya To Tek Hosiang terpukul ke samping. Saat itu digunakan oleh Tan Hong untuk mengirim pukulan kilat dengan tangan kiri ke arah dada lawannya! To Tek Hosiang masih sempat memiringkan tubuhnya, akan tetapi pukulan itu masih saja mengenai pundaknya. Tubuh hwesio itu mundur ke belakang untuk mempertahankan dirinya agar tidak sampai roboh dan melangkah cepat ke belakang lima langkah lebih!

Dengan wajah merah karena malu, To Tek Hosiang lalu berkata, “Gin-kiam Gi-to! Memang kau gagah perkasa dan hebat. Baiklah, kali ini pinceng mengaku telah berlaku kurang hati-hati, hingga dapat kaukalahkan. Akan tetapi, apabila benar-benar kau seorang pendekar sejati, pinceng undang kau datang pada tanggal lima belas bulan depan untuk minta pengajaran sekali lagi!”

“To Tek Hosiang, biarpun kau ini sudah tua, akan tetapi hatimu masih muda dan bersemangat!” jawab Tan Hong. “Baiklah, kalau kau masih ada keinginan untuk main-main lagi dengan aku, pada hari itu aku akan datang mengunjungi kelentengmu.”

Biarpun di luarnya tampak berseri, akan tetapi di dalam hatinya To Tek Hosiang merasa marah serta malu yang tiada terperikan. Dia adalah seorang tokoh Houw-san, yang sudah ulung dan sangat dikenal orang sebagai seorang ahli silat kalangan tinggi yang jarang mendapat tandingan, akan

tetapi sekarang ternyata dia tidak berhasil menangkap seorang maling yang masih demikian muda, bahkan ia dapat dikalahkan! Kalau hal ini terjadi di luar setahu orang lain, masih belum apa-apa, akan tetapi di situ terdapat banyak saksi di antaranya Lim-piauwsu sendiri. Ini adalah suatu hal yang sungguh-sungguh memalukan.

Maka setelah mendengar jawaban Tan Hong, hwesio ini lalu melangkah lebar meninggalkan tempat itu. Juga Tan Hong lalu menjura kepada semua orang dan kemudian tubuhnya melayang ke atas genteng dan lenyap dari pandangan! Lim-piauwsu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sungguh istimewa dan luar biasa! Jarang bisa menemukan seorang pemuda yang memiliki kepandaian sehebat itu. Mudah-mudahan saja dia pergi meninggalkan kota kita dan jangan mengganggu lagi di sini.”

Dan kata-katanya ini memang benar, oleh karena Tan Hong yang menganggap bahwa setelah dirinya dimusuhi oleh para pendekar di kota Wi-ciu, merasa bahwa sudah tiba waktunya untuk pindah ke kota lain. Ia tidak ingin menanam bibit permusuhan yang makin mendalam di hati para pendekar itu.

***

Ketika dalam perantauannya Tan Hong tiba di kota Biauw-men, ia mendengar betapa dalam sebuah dusun berjangkit penyakit menular yang berbahaya. Banyak penduduk mati karena penyakit ini dan masih banyak pula yang rebah tak berdaya, menanti datangnya maut.

Tan Hong yang biasanya hanya menolong orang dengan membagi-bagikan uang hasil curiannya, kini melihat malapetaka yang menimpa dusun itu, menjadi bingung. Apakah yang bisa ia lakukan untuk menolong mereka selain

memberi uang seperti biasa? Orang kena penyakit tidak hanya membutuhkan uang, tapi juga membutuhkan pengobatan!

Oleh karena inilah, maka pada suatu malam, ketika ia sedang mencari-cari gedung mana yang hendak dijadikan korban, ia berdiri termangu di atas genteng sebuah rumah yang cukup tinggi dan besar. Di depan rumah ini terdapat merk yang ditulis dengan huruf besar dan menyatakan bahwa itu adalah sebuah toko obat. Melihat besarnya rumah itu, dapat diduga bahwa pemilik toko itu tentulah seorang yang kaya raya pula. Maka Tan Hong lalu mengambil keputusan untuk menjadikan rumah ini korbannya. Kali ini ia tidak hanya hendak mencuri uang, akan tetapi juga hendak mengambil obat-obatan sebanyak mungkin untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang dusun yang sedang ditimpa bencana itu!

Dengan mudah ia melompat turun ke dalam rumah itu. Ketika ia sedang menghampiri sebuah jendela kamar yang masih terang, tiba-tiba ia merasa pundaknya seperti ditepuk orang! Tan Hong cepat membalikkan tubuh dan bersiap sedia, akan tetapi aneh, ia tidak melihat apaapa! Boleh jadi hanya angina yang meniup dari belakang, pikirnya. Ia lalu menghampiri jendela itu dan pada saat itu ia mendengar suara orang berpantun dari dalam kamar. Hatinya merasa heran karena siapakah orangnya yang masih berpantun seorang diri pada tengah malam ini?

Ketika ia mengintai ke dalam kamar, terlihat olehnya seorang laki-laki tua berpakaian seperti seorang sasterawan atau yang juga biasa dipakai oleh ahli-ahli obat sedang duduk pada sebuah kursi yang dapat digoyang-goyangkan ke depan dan ke belakang. Orang itu duduk dengan enaknya, tangan kanannya memegang sebuah buku yang sedang dibacanya, dan tangan kirinya mengetuk-ngetuk

meja untuk memberi irama pada ucapan pantunnya. Kemudian orang itu berhenti membaca kitab kuno itu dan menguap, lalu berkata seorang diri, cukup keras hingga terdengar juga oleh Tan Hong.

“Segala macam penyakit timbul, obat-obat yang dibutuhkan hingga membikin kaya orang dagang obat saja! Sesudah sakit mencari obat, sebelum sakit tak mau menjaga diri, diobati juga apa artinya? Lebih baik menjaga diri sebelum sakit, ini sama sempurnanya dengan berpikir masak dulu sebelum berbuat!”

Setelah berkata demikian, orang tua itu meniup api lilin di atas meja hingga kamarnya menjadi gelap dan terdengarlah suara di pembaringan dijatuhi tubuh orang.

Diam-diam Tan Hong mengakui kebenaran ucapan tukang obat itu dan iapun pernah mendengar pernyataan suhunya, Cin Cin Tojin, bahwa segala macam penyakit datangnya tidak lain ialah dari mulut. Kalau orang dapat menjaga baik-baik dan memilih dengan teliti barang apa yang hendak dimasukkan ke dalam mulut, dan menjaga dengan teliti pula, suara apa yang hendak dikeluarkan oleh mulut, orang demikian itu akan selamat dan bahagia selama hidupnya!

Kemudian Tan Hong teringat akan maksud kedatangannya. Ia tersenyum geli, karena tukang obat itu benar-benar telah membuat ia termenung dan hampir lupa akan maksud kedatangannya. Ia lalu mencari-cari dan memasuki toko dari atas genteng. Ternyata di situ tidak terdapat banyak uang hingga ia hanya mendapatkan paling banyak lima puluh tail perak yang berada di laci meja toko. Uang ini ia keduk semua dan dimasukkan ke dalam sebuah kantong yang memang selalu ia bawa. Ia lalu mulai mencari-cari obat apa yang harus diambilnya? Di situ terdapat beratus-ratus macam obat yang berupa akar, daun-

daunan, buahbuahan, kembang-kembang kering, malah banyak pula terlihat binatang-binatang kecil yang sudah kering seperti cecak, kodok dan binatangbinatang lain lagi yang sudah dikeringkan. Tan Hong benar-benar menjadi bingung karena ia tidak tahu harus mengambil yang mana. Ia lalu teringat akan obat jin-som, semacam akar yang amat mahal karena sukar di dapat dan yang terkenal sebagai raja obat dan kabarnya dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Maka ia mulai mencari-cari dan menggeledah semua lemari dan meja dagangan. Akhirnya dapat juga ia menemukan seperti kecil akar yang bentuknya seperti jin-som yang pernah dilihatnya. Tanpa banyak pikir lagi ia memindahkan semua benda ini dari dalam peti ke dalam kantongnya.

Setelah itu, ia lalu keluar dari toko itu dan melompat naik ke atas genteng. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika melihat bahwa di atas genteng telah menanti seorang berpakaian serba hitam pula, berdiri dengan tegap, tangan kirinya bertolak pinggang dan tangan kanannya memegang sebatang pedang yang tajam!

“Maling hina dina! Sudah puaskah kau dengan hasil-hasil curianmu?” Orang itu membentak dan Tan Hong merasa makin heran dan kaget karena setelah bersuara orang itu dapat dikenal bahwa ia adalah seorang gadis muda!

Tan Hong merasa maludan tak perlu melayani gadis itu lebih lama, maka ia lalu melompat ke wuwungan lain dengan cepat. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia mendengar sambaran angina dan tahu-tahu gadis itu sudah mengejar dan menghadang pula di depannya! Mungkinkah gadis ini memiliki kepandaian ginkang sedemikian tingginya? Tan Hong lalu memandang dengan penuh perhatian dan pada saat ia menatap wajah gadis itu, terjadi

sesuatu dalam dada kirinya. Jantungnya seakan-akan berhenti berdetak dan kedua matanya memandang kagum. Dalam pandangannya, gadis itu sangat cantik jelita, dan gagah pula!

“Maling hina! Kaukira akan dapat melarikan diri dariku? Kembalikan dulu uang dan obat yang kaucuri dari tokoku, baru aku akan pikir-pikir apakah kau dapat diampuni atau tidak!”

Tan Hong merasa mendongkol juga mendengar kesombongan ini, pula ia memang sangat tertarik dan ingin menguji sampai di mana ketinggian ilmu pedang nona cantik ini. Maka ia lalu menggerakkan tangan kanannya ke pundak untuk mencabut keluar gin-kiam atau Pedang Peraknya. Akan tetapi, tiba-tiba ia menjadi pucat oleh karena pedangnya itu telah lenyap dari sarungnya! Ia teringat akan tepukan yang terasa pada pundaknya tadi, maka cepat ia memandang kepada gadis itu dengan tajam. Gadis inikah yang mempermainkannya dan yang telah mencuri pedangnya? Sampai demikian tinggikah ilmu ginkangnya hingga dapat mencuri pedang dari pundaknya tanpa diketahuinya?

Sementara itu, gadis berbaju hitam itu membentak, “Kau hendak melawanku? Cabutlah senjatamu dan rasailah gempuranku!” Ketika melihat bahwa Tan Hong tak mengeluarkan senjata, gadis itu segera memasukkan pedangnya di sarung pedang yang tergantung di pinggangnya, lalu berkata, “Kau tidak memiliki senjata? Baiklah, kau lihat! Untuk menghadapi seorang maling semacam kau saja aku tak perlu mempergunakan senjata!”

Mendengar ucapan ini tahulah Tan Hong bahwa yang mencuri pedangnya bukanlah nona ini, maka ia makin terkejut oleh karena tak pernah dalam sangkaannya bahwa di rumah obat itu terdapat demikian banyak orang pandai.

Baru nona ini saja sudah memiliki kegesitan yang mengagumkan, apalagi pencuri pedangnya tadi! Ia makin tertarik dan hendak mengenal nona ini lebih dekat lagi.

“Maaf, nona. Aku tidak menyangka bahwa kau adalah pemilik obat itu. Akan tetapi dengarlah, biarpun andaikata aku tahu, tetap aku hendak mengambil obat dan uang ini untuk keperluan penduduk di dusun sebelah barat yang sedang menderita sakit itu. Kalau kau rela memberikan, terima kasih. Sebaliknya kalau kau hendak memaksa aku mengembalikan obat dan uang yang sudah kucuri ini, jangan kauharapkan?”

“Maling, kalau begitu aku harus mengambilnya sendiri!” Setelah berkata demikian, nona itu maju menyerang dengan sengitnya.

Kembali Tan Hong dibuat kagum dan heran melihat gerakan gadis ini, karena pukulannya benar-benar mempunyai isi tenaga lwekang yang hebat dan kegesitannya mengagumkan pula. Ia cepat berkelit dan oleh karena tangan kirinya memanggul kantong maka gerakannya menjadi kurang leluasa. Ia lalu menurunkan kantong itu di atas genteng, lalu maju lagi dan kini ia dapat mengimbangi kegesitan gadis itu. Setelah bertempur agak lama, maka kekaguman Tan Hong meningkat karena ternyata bahwa gadis itu benar-benar lincah sekali. Gerakannya gesit dan tenaganya cukup mengagetkan, bahkan gerakangerakannya tidak banyak bedanya dengan ilmu silatnya sendiri! Berkali-kali ia terdesak karena ia berkelahi dengan setengah hati sebab ia kuatir kalau-kalau melukai kulit yang halus itu, sebaliknya gadis itu berkelahi dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Tan Hong makin tertarik dan kagum. Ia menahan sebuah serangan dengan kebutan tangannya, lalu berkata, “Nona, tahan dulu!”

Gadis itu berdiri sambil bertolak-pinggang. “Eh, maling kecil, mengapa kau menahan gerakanku?”

“Nanti dulu nona. Ilmu silatmu sangat tinggi. Sebenarnya siapakah kau ini?”

-oo0dw0oo-

Jilid 02 …

“Kurang ajar! Apakah kaukira kau cukup berharga untuk berkenalan dengan aku? Aku tidak sudi berkenalan dengan segala maling! Sekarang rasakanlah kehebatan pedangku!” Sambil berkata begitu, nona itu lalu mencabut pedangnya dan mengirim serangan hebat, lupa akan ucapannya tadi yang memandang rendah Tan Hong karena sekarang iapun maklum bahwa maling kecil ini mempunyai kepandaian tinggi dan amat tangguh!

Kini Tan Hong yang sibuk mengelak ke sana ke mari karena ilmu pedang nona itu benar-benar luar biasa dan jauh lebih hebat daripada sekalian lawan yang pernah dijumpainya! Ia tahu bahwa kalau ia bertahan terus, ia tentu akan roboh, maka apa boleh buat, ia mengambil keputusan hendak lari!

Pada saat itu, terdengar suara orang, “Lan-ji, jangan kau menyerang orang yang bertangan kosong dengan mempergunakan senjata!”

Gadis itu melompat mundur dengan muka malu, sementara itu Tan Hong diam-diam memuji kehebatan orang yang baru datang itu, karena ia sama sekali tidak mendengar langkah kakinya!

“He, anak muda, bukankah kau Gin-kiam Gi-to?” tiba-tiba orang yang baru datang itu bertanya.

Tan Hong membalikkan tubuh dan memandang. Ternyata orang itu adalah seorang tua dan ketika ia melihat lebih teliti, alangkah heran dan terkejutnya karena orang ini tidak lain adalah orang tua yang berpantun di dalam kamar tadi! Bajunya masih baju sasterawan yang lebar dan besar itu dan lagaknya masih lemah lembut seperti seorang sasterawan tulen. Dan yang membuatnya makin terkejut lagi adalah ketika ia melihat bahwa tangan orang itu memegang sebatang pedang yang tidak lain adalah pedangnya sendiri yang dicuri orang tadi!

Tan Hong tidak berani berlaku sembrono karena maklum bahwa ia menghadapi seorang tokoh yang berilmu tinggi, maka ia lalu memberi hormat dan berkata, “Siauwte yang rendah dan bodoh dengan tak sengaja telah mengganggu cianpwee, kini tak lain hanya menanti jatuhnya hukuman!”

“Ha, ha, ha, anak muda. Kau terlalu merendah. Setelah dapat menghadapi anakku sampai sekian lamanya, boleh diukur ketinggian ilmu silatmu. Nah, ini terimalah pedangmu kembali dan coba kauhadapi ilmu pedang anakku, hendak kulihat sampai di mana kehebatan Gin-kiam Gi-to!” Setelah berkata demikian, orang tua itu menggerakkan jari-jari tangannya dan tahu-tahu pedang Tang Hong sudah melayang terus meluncur ke arah dada pemuda itu! Tan Hong tahu bahwa orang sedang menguji kepandaiannya, maka ia lalu mengulurkan tangan kanan sambil merendahkan diri dan berhasil menyambut gagang pedangnya sendiri yang hendak makan tuan! Ia merasa betapa besar tenaga sentilan jari itu dan makin kagumlah dia!

“Lan-ji, sekarang seranglah lawanmu ini. Tapi berhati-hatilah, kalau tidak kau akan kalah!”

Panas hati gadis itu mendengar kata-kata pujian ayahnya terhadap maling itu, maka ia lalu maju menerjang dengan

pedangnya. Sinar pedangnya berkelip-kelip bagaikan bintang berpindah di angkasa hingga Tan Hong terpaksa menggunakan pedangnya menangkis. Bunga api memancar keluar dari perbenturan kedua senjata tajam itu.

Tak lama kemudian kedua orang muda-mudi itu telah bertempur dengan hebat sekali. Keduanya sama kuat dan sama gesit, bahkan ilmu pedang mereka mempunyai gerakan-gerakan yang banyak persamaannya. Tan Hong makin kagum dan gadis itupun kini tahu akan kehebatan Tan Hong hingga ia tidak berani memandang rendah lagi. Setelah bertempur sampai seratus jurus lebih, tanpa ada yang terdesak, tiba-tiba tukang obat itu berseru, “Sudah cukup, tahan!”

Kedua anak muda itupun menaati perintah ini.

Tan Hong terkejut sekali karena tadipun ia melihat betapa gerakan pedang gadis itu mempunyai dasar-dasar yang sama dengan ilmu pedangnya sendiri, yakni Bok-san Kiamhwat.

Ia lalu menundukkan kepalanya lagi dengan penuh hormat dan berkata, “Benar, siauwte yang bodoh adalah murid Cin Cin Tojin. Mohon maaf bahwa siauwte tidak mengenal locianpwe. “

“Ha, ha, ha, anak muda. Memang, kalau belum bertempur, takkan mengenal orangnya sendiri. Cin Cin Tojin adalah suhengku.”

Bukan main terperanjatnya Tan Hong mendengar bahwa gurunya masih kakak seperguruan orang tua ini. Ia teringat akan penuturan suhunya bahwa suhunya mempunyai seorang sute, adik seperguruan yang berilmu tinggi, bahkan yang menurut pengakuan suhunya memiliki kepandaian di atas suhunya sendiri.

Segera Tan Hong menjatuhkan diri berlutut, “Ampunkan teecu, bukankah susiok ini yang bernama Lo Cin Ki dan terkenal dengan nama Jian-jiauw-sin-eng (Garuda Sakti Berkuku Seribu)?”

Kakek itu tertawa lagi terbahak-bahak, “Benar, akulah orang she Lo itu, bagaimana dengan suhumu? Dan siapakah namamu, anak muda?”

“Teecu bernama Tan Hong.“ Kemudian ia menuturkan keadaan suhunya ketika ia turun gunung, menceritakan bahwa suhunya kini telah menghentikan kebiasaannya merantau dan menetap di puncak Bukit Kwi-hong-san untuk bertapa.

Si Garuda Sakti menghela napas. “Pekerjaanmu ini baik juga, akan tetapi berbahaya. Baiklah aku tak usah ikut campur dengan pekerjaan yang telah kau pilih dan kauanggap baik itu. Bagiku segala perbuatan itu baik saja, asal ditujukan untuk kebaikan. Kau telah mengambil obat yang keliru dan kalau kau menghendaki obat untuk menolong penduduk di Cin-tong, pergunakanlah obat ini!”

Lo Cin Ki lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari saku bajunya yang lebar dan memberikannya kepada Tan Hong. Dengan muka merah karena malu, Tan Hong menerima obat itu dan ia tidak berani membawa kantong-kantongnya. Akan tetapi, susioknya hanya mengambil kembali jin-som yang tidak perlu dibawa itu dan menambahkan obat dan uang seratus tail lagi sambil berkata, “Terus terang saja, kami bukanlah orang kaya yang dapat menyumbangkan uang. Akan tetapi, biarlah dengan sedikit uang ini aku dapat membantu melancarkan pekerjaanmu itu!”

Bukan main rasa malunya Tan Hong, karena susioknya itu berkata dengan setulus ikhlas hati. Ia menerima

pemberian itu dan setelah menghaturkan terima kasih, ia lalu berdiri dan memberi hormat kepada gadis tadi, “Mohon dimaafkan kekasaranku.”

Gadis itu memandang dengan masih marah, akan tetapi ayahnya berkata, “Siok Lan, kau harus memberi hormat kepada suhengmu ini!” Terpaksa Siok Lan menjura pula, tapi tak berkata sesuatu. Hatinya masih mendongkol dan panas, dan ia merasa malu mempunyai seorang suheng pemaling!

Tan Hong dapat menyelami perasaan gadis itu, maka dengan hati berat dan menyesal ia lalu melompat pergi untuk menjalankan kebiasaannya membagi-bagi uang dan juga obat yang didapatnya dari susioknya itu.

Seperti biasa, setelah membagi-bagikan hasil curiannya Tan Hong lalu pergi ke sebuah tempat yang sunyi untuk beristirahat. Akan tetapi kalau biasanya ia terus merebahkan diri di mana saja untuk tidur setelah bekerja semalam suntuk, kali ini ia tidak dapat tidur. Ia duduk di bawah sebatang pohon besar karena tak bisa mendapatkan kuil atau gubuk kosong, maka ia duduk saja sambil melamun! Bayangan nona Lo Siok Lan yang cantik jelita dan gagah itu tak pernah meninggalkan ruang matanya. Ia amat tertarik kepada gadis itu tiada habisnya ia mengaguminya. Akan tetapi, ia masih merasa sakit hati, apabila teringat olehnya ucapanucapan dan pandangan mata gadis itu yang ditujukan kepadanya dengan secara sangat menghina. Siok Lan yang menarik hati dan yang dikaguminya itu memandang amat rendah kepadanya!

Tan Hong lalu teringat akan keadaan dirinya sendiri. Siapa orangnya yang takkan memandang rendah dan menghinanya? Lihat saja keadaan tubuhnya yang kurus kering tak terawat dan pakaiannya yang kotor lagi usang serta penuh tambalan itu! Pemuda apakah dia ini? Dan ia

adalah seorang maling pula. Takkan ada orang yang tidak akan menghina dan memandang rendah padanya karena ia seorang pencuri atau pemaling, biar maling budiman sekalipun! Tan Hong teringat kepada orang tuanya yang meninggal dalam keadaan sangat menyedihkan. Hatinya terharu. Ah, betapapun juga ia tak dapat melepaskan diri dari ikatan pekerjaan yang sudah menjadi idaman hatinya, yakni menolong mereka yang kelaparan. Ia tak dapat melupakan keadaan keluarganya, tak dapat melupakan kesengsaraan dan penderitaannya ketika ia kelaparan dulu! Tak dapat ia melupakan kekejaman dan kekikiran kepala kampung she Thio dulu! Orang-orang hartawan yang menumpuk makanan dan uang itu tak mau mengulurkan tangan kepada fakir miskin. Baik, ia akan mengambil makanan dan uang itu dengan jalan mencuri dan setelah itu membagikannya kepada mereka yang kelaparan! Biarlah, ia tidak memperdulikan keadaan sendiri asal ia dapat menolong orangorang yang kini menderita sebagaimana yang telah dideritanya dulu, mereka yang terancam bahaya maut kelaparan, maut yang mengambil jiwa kedua orang tuanya dulu!

Akan tetapi, kembali bayangan Siok Lan yang manis dengan pandangan mata menghina itu terbayang di depan matanya dan tiba-tiba Tan Hong merasa lemah dan bersedih hati. Ia lalu menundukkan muka dan menyembunyikan kepalanya di dalam pelukan kedua tangannya yang memeluk lutut. Disandarkannya punggungnya pada batang pohon besar itu dan akhirnya dapat juga ia tertidur dalam keadaan duduk!

Tiongkok selatan masih terus dilanda banjir hingga persediaan bahan makanan rakyat makin menipis dan kesensaraan makin memuncak. Di mana-mana bahaya

kelaparan mengamuk dan merajalela hingga jumlah korban yang tewas akibat kelaparan makin banyak.

Tentu saja, bahaya kelaparan itu tidak dapat mempengaruhi atau mengganggu kesenangan hidup para hartawan dan pembesar yang telah mempunyai persediaan bahan makanan bertumpul-tumpuk di dalam gedung-gedung mereka yang besar. Bahkan, keadaan ini menguntungkan bagi mereka, mendatangkan keuntungan yang bukan sedikit! Kalau dulu mereka membeli bahan makanan yang kini ditumpuk itu dengan harga murah, kini mereka dapat menjualnya dengan harga puluhan kali lipat daripada harga pembelian. Tidak ada perdagangan yang lebih menguntungkan daripada menumpuk dan menyimpan bahan makanan ini! Mudah dan mendatangkan untung besar. Syaratnya hanya modal uang besar dan gudang yang luas! Datangnya setan kelaparan yang merupakan bahaya maut bagi ratusan ribu rakyat miskin ini, bagi para hartawan yang kikir dan licin itu merupakan datangnya dewa-dewa rejeki yang sekali pukul dapat memperlipat-gandakan kekayaan mereka! Dan untuk menutupi kejahatan yang bagi mereka bukan merupakan kejahatan, akan tetapi yang mereka dengungkan sebagai hasil kecerdikan dan kepandaian dagang mereka itu, mereka sengaja memberi sekedar hadlah kepada para handai-taulan yang sebetulnya tak memerlukan sumbangan oleh karena keadaan mereka tak begitu mengkhawatirkan. Sumbangan ini hanya untuk mempropagandakan bahwa mereka adalah orang-orang dermawan besar!

Bahkan, banyak kota-kota besar mendirikan sebuah panitia penolong korban banjir yang terdiri daripada orang-orang kaya dan pembesar-pembesar. Mereka mencari sumbangansumbangan daripada hartawan yang ingin “mendapatkan nama” ini, menuliskan nama para hartawan

pada papan di depan gedung panitia agar diketahui oleh umum. Kepalsuan yang menjemukan ini masih belum seberapa hebat, yang lebih celaka lagi ialah bahwa pendapatan hasil sumbangan yang berupa uang dan bahan makanan ini sebagian besar “tersesat” dan “salah jalan” masuk ke dalam kantong-kantong para pengurusnya! Dan bagian yang sangat kecil itu barulah diberikan kepada korban-korban banjir menurut pilihan para pengurus panitia sendiri yang tentu saja mengadakan pilihan sesuka hatinya, berdasarkan sesuatu yang mereka anggap menguntungkan mereka pula! Maka, bukan hal yang dilebih-lebihkan atau isapan jempol belaka apabila diceritakan di sini bahwa dalam masa sukar itu, banyak anak-anak perempuan “ditukarkan” dengan beberapa kati bahan makanan!

Di dalam kota Seng-koan yang besar dan ramai juga terdapat sebuah panitia macam ini. Pengurus panitia adalah orang-orang yang dianggap paling berpengaruh di dalam kota itu dan penasehatnya tentu saja pembesar setempat yang berpengaruh. Oleh karena itu di daerah Seng-koan ini seringkali terjadi kekacauan dan perampokan yang dilakukan dengan nekad oleh orang-orang yang hampir mati kelaparan, maka sebagai penjaga dan pelindung panitia ini, diangkatlah tiga orang pembesar yang menjadi cabang atas atau jagoan kota Seng-koan. Tiga orang pendekar ini dijuluki Seng-koan Sam-eng atau Tiga Orang Pendekar dari Sengkoan. Akan tetapi, oleh karena sepak terjang mereka yang tidak sesuai dengan sikap pendekar-pendekar, terlampau membanggakan kepandaian mereka dan tidak segan-segan memukul dan menindas orang-orang yang lemah, maka julukan mereka itu diam-diam dirobah oleh orang-orang menjadi Seng-koan Sam-kwi atau Tiga Setan dari Seng-koan!

Setelah diangkat menjadi pengurus dan pelindung Panitia Penolong Korban Banjir, ketiga jagoan ini lalu mempergunakan kesempatan itu untuk melakukan pemerasan dan perampasan berkedok “minta sumbangan”.

Pada suatu hari, terlihat banyak orang berkerumun di depan sebuah toko yang menjual hasil bumi. Ternyata bahwa telah terjadi percekcokan antara pemilik toko yang bernama Gui San dan seorang di antara Seng-koan Sam-kwi. Gui San adalah seorang pedagang muda yang berdarah panas dan juga mempunyai hati berani dan tabah, oleh karena biarpun tidak sempurna benar, akan tetapi ia pernah belajar silat di bawah pimpinan orang pandai. Ia baru beberapa bulan tinggal di Seng-koan, maka ia belum kenal betul akan kehebatan Seng-koan Sam-kwi dan berani melawan ketika seorang di antara tiga jagoan ini datang minta sumbangan dengan paksa.

“Orang menyumbang harus berdasarkan hati rela dan suka, sama sekali tidak mungkin diharuskan dan ditentukan besar jumlah sumbangannya! Biarpun menyumbang sedikit, asal memberinya dengan senang dan rela hati, seharusnya diterima dengan baik. Mana ada aturan minta sumbangan dengan secara paksa?” Gui San berkata dengan suara keras sambil bertolak pinggang menghadapi Ban Hui, saudara termuda daripada Seng-koan Sam-kwi.

Ban Hui bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam dan adatnya keras sekali. Mendengar ucapan orang yang disertai muka merengut dan marah, iapun menjadi marah sekali. Sambil menuding dengan jari telunjuknya ke arah hidung Gui San, Ban Hui memaki, “Orang She Gui, jangan kau membuka mulutmu yang lebar dan busuk itu! Kau harus tahu bahwa sekarang ini musim apa? Kau adalah seorang pedagang, maka apa artinya bagimu menderma seratus kantong gandum untuk mereka yang sengsara

karena banjir? Kau hidup terlalu kikir hingga kelak kau akan mati seperti seekor anjing! Kau tak mau menderma dan menolong mereka yang menderita, apakah kau hendak makan semua gandummu itu? Betapapun kaya dan kikirmu, yang kau makan tiap hari tak lebih hanya semangkok saja! Apa kau mau mati ditimbuni kekayaanmu?”

Bukan main marahnya Gui San mendengar orang memaki-makinya. “Ban Hui! Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku tidak perduli akan segala gertak sambalmu! Jangan kau pura-pura menjadi orang budiman dan berhati pengasih! Ketahuilah, aku hendak menyumbang sepuluh kantong gandum adalah terbit dari hati kasihanku kepada mereka yang menderita, Biarpun hanya sepuluh kantong gandum, akan tetapi hendak kuberikan dengan tulus ikhlas. Sedangkan kau ini apa? Kau mengeluarkan kata-kata seakan-akan kau seorang dewata yang berhati suci murni, akan tetapi semua orang tahu bahwa ke kantong siapa semua sumbangan itu lari? Ban hui, jangan kau menjual lagak di sini, aku bukan anak kecil. Sepak terjangmu sudah kuketahui betul-betul. Pendeknya, aku hanya mau menyumbang sepuluh kantong gandum kepada panitia, kau sebagai pesuruh panitia tinggal mau terima atau tidak. Kalau mau terima, baik. Kalau tidak mau, tidak apa!”

Ban Hui membelalakkan kedua matanya dan mukanya yang hitam itu menjadi hitam lagi! “Bangsat rendah, kau harus dihajar tahu adat!” Setelah berkata begitu, Ban Hui melompat dan menyerang dengan pukulan Thai-san-ap-teng (Bukit Thai-san Menimpa). Gui San yang berhati tabah itu cepat mengelak dan tiba-tiba ia mengangkat sebuah bangku dan hendak memukul kepala si muka hitam dengan bangku itu. Wajahnya merah, matanya berapi-api!

Melihat hal ini, orang-orang yang berkerumun di situ dan yang mengkhawatirkan keselamatan Gui San, segera datang mencegah dan memisahkan. Kedua orang itu masih bersitegang tidak mau mengalah dan menyudahi perkara itu sampai di situ saja. Pada waktu mereka masih meronta-ronta dalam pegangan orang banyak, tiba-tiba terdengar bentakan orang.

“Eh, eh, ada apa ini?”

Semua orang mundur karena yang membentak ini adalah seorang pendek kecil, akan tetapi yang mempunyai sikap dan gaya yang sangat gagah. Inilah Ban Siauw, saudara kedua daripada Seng-koan Sam-kwi, seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan yang sikapnya lebih halus daripada kedua saudaranya, akan tetapi semua orang tahu bahwa dibalik sikap yang halus itu, bersembunyi sifat seekor serigala yang jahat dan kejam.

Ketika mendengar duduknya persoalan, Ban Siauw memandang kepada Gui San dengan tetap tersenyum, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan pandangan yang menakutkan.

“Gui-congsu, kau benar-benar gagah berani. Tak kusangka bahwa di kota kita ini telah datang seorang jagoan berilmu tinggi! Sekarang baiklah diatur begini saja, congsu. Soal sumbangan ini adalah soalnya orang banyak, dan bukanlah menjadi kehendak kami sendiri. Kita telah bertemu dan belum saling berkenalan, maka aku persilahkan kepadamu untuk datang ke gedung panitia pada besok pagi. Di sana kami akan mengadakan sambutan selayaknya dan hendak minta pengajaran darimu. Mari kita berkenalan sambil mengukur kepandaian masing-masing. Dan sebagai iseng-iseng saja, kalau congsu tak dapat mengalahkan kami, congsu harus menyerahkan dua ratus kantong gandum. Sebaliknya kalau kami tak dapat

mengalahkan congsu, maka biarlah congsu tak usah mengeluarkan sesuatu untuk menyumbang, sebaliknya kami akan datang ke sini memohon maaf dan mengirimkan bingkisan. Bagaimana, congsu! Setuju atau tidak?”

Memang sifat si pendek ini sangat lihai. Ia dapat melihat bahwa orang she Gui ini berhati keras dan mudah marah, maka sengaja pada akhir kata-katanya ia menggunakan kalimat pertanyaan “setuju atau tidak” ia terang-terangan ditantang orang dan kalau ia menolaknya, maka ia akan dianggap penakut dan pengecut hingga akan menjadi bahan tertawaan penduduk Seng-koan. Apalagi pada saat itu terdapat banyak orang menyaksikan pertengkaran ini, maka ia lalu berkata, “Kalian Seng-koan Sam-kwi sudah kudengar tentang kehebatan namamu. Hari ini aku Gui San tanpa sebab telah digangu, bahkan ditantang, maka terpaksa aku melupakan kebodohanku sendiri dan biarlah besok pagi aku datang.”

Ban Siauw tertawa girang dan bertepuk-tepuk tangan. “Bagus, bagus!! Beginilah sikap seorang pendekar yang sekali bicara tentu takkan menarik kata-katanya kembali. Bagaikan ludah yang telah dijatuhkan ke atas tanah takkan dijilat lagi!” Kemudian si pendek ini menggunakan kefasihan lidahnya untuk menyindir dan mencegah agar orang she Gui itu tidak bermuka tebal untuk membatalkan kesanggupannya.

Setelah kedua orang she Ban itu meninggalkan tempat itu, maka banyak orang menyesalkan peristiwa ini dan memberi nasehat kepada Gui San agar supaya pedagang muda itu berlaku hati-hati, karena Seng-koan Sam-kwi terkenal jahat dan kejam. Akan tetapi Gui San yang berhati tabah itu tidak memperlihatkan sikap takut, maka diam-diam semua orang menjadi ingin tahu sampai dimana kepandaian orang ini. Tentu saja mereka ini sebagian besar

memihak Gui San dan mengharapkan mudah-mudahan orang she Gui ini dapat mengalahkan dan memberi hajaran kepada Seng-koan Sam-kwi.

Berita tentang akan diadakannya pibu (adu kepandaian) itu tersiar cepat di seantero negeri, hingga terdengar juga oleh Tan Hong yang kebetulan lewat di kota itu. Pemuda ini tertarik juga dan ingin sekali menyaksikan pibu yang disertai taruhan dua ratus kantong gandum itu! Maka pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia telah berada dalam arus orang yang berbondong-bondong menuju ke gedung panitia penolong korban banjir.

Di depan gedung itu telah didirikan sebuah panggung luitai yang cukup tinggi hingga terlihat oleh semua orang yang berdiri di sekelilingnya. Para pengurus (panitia) yang telah terdiri dari hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar setempat telah pula mendengar tentang pibu ini. Mereka menganggapnya lucu dan merekapun merasa marah kepada orang she Gui yang menolak untuk menyumbang, yakni menurut laporan Seng-koan Sam-kwi, maka mereka lalu datang menonton juga.

Tak lama kemudian, dari jurusan selatan, datanglah Gui San yang bertindak dengan langkah lebar dan dada terangkat. Melihat kedatangan orang muda yang tabah dan berani ini semua penonton menoleh dan memandangnya. Suara mereka terdengar seperti suara sarang lebah di obrak-abrik.

Ban Siauw lalu berdiri di atas panggung dan menyambut kedatangan Gui San dengan tertawa lebar dan berseru keras. “Gui-congsu yang gagah, silahkan naik ke panggung!”

“Baik!” jawab Gui San dengan gagah perkasa, lalu ia melompat ke atas panggung dengan gerakan Burung Walet

Menyambar Hujan. Gerakan ini kelihatan indah benar dan tubuhnya seperti melayang ke atas panggung. Para penonton yang tidak mengerti ilmu silat lalu bertepuk tangan riuh rendah menyambut demonstrasi ini.

Akan tetapi, melihat cara melompat Gui San ini, diam-diam Tan Hong merasa khawatir, karena ia maklum bahwa Gui San lebih banyak memiliki ketabahan daripada kepandaian. Juga Ban Siauw yang berkepandaian tinggi dapat mengukur kepandaian lawan dari caranya melompat itu, maka ia tersenyum sinis dan berkata sambil menjura memberi hormat, “Bagaimana, Gui-congsu. Apakah kau tetap bersedia menyumbangkan dua ratus gandum apabila kau kalah?”

Wajah Gui San memerah, karena merasa betapa ia dipandang rendah oleh lawan, seolah-olah ia telah memastikan bahwa ia pasti akan kalah!

“Aku telah datang dan kata-kata yang telah kuucapkan sebagai seorang laki-laki takkan kutarik lagi.”

“Ha, ha, ha! Sungguh kita beruntung sekali mendapat warga kota yang begini gagah!” kata Ban Siauw sambil memandang ke sekitar tempat pertandingan itu, seakan-akan kata-katanya ini merupakan suatu lelucon. Kemudian ia menghadapi Gui San kembali dan sikapnya tiba-tiba menjadi angkuh, lalu ia berkata lagi, “Orang she Gui! Kaudengarlah baik-baik! Kami Seng-koan Sam-eng tidak biasa dihina orang, juga kami tidak suka berlaku curang! Oleh karena itu, maka akan janggal dan tidak adil apabila aku sendiri atau twako (kakak ketua) maju menghadapimu, maka biarlah adikku Ban Hui yang termuda dan terbodoh di antara kami bertiga, maju melayanimu. Kalau ia kalah, berarti kami sendiri yang kalah, dan kalau dia menang, kau harus menepati janji, membayar kekalahanmu dengan dua ratus kantong gandum!”

“Seng-koan Sam-kwi! Sudahlah jangan banyak bicara seperti perempuan. Siapa yang hendak maju, aku tidak perduli, karena aku adalah seorang tamu yang diundang! Apa saja yang hendak dihidangkan oleh tuan rumah, akan kulayani dengan baik!”

Secara diam-diam Tan Hong merasa simpati kepada Gui San, sekalipun ia mudah marah, akan tetapi benar-benar pemberani yang jujur.

“Jiko, kau mundurlah! Tanganku sudah gatal-gatal!” kata Ban Hui tiba-tiba dengan angkuhnya dan segera naik ke atas panggung. Ban Siauw tertawa bangga, lalu mengundurkan diri.

“Nah, orang she Gui. Kemarin kita tidak mendapat kesempatan banyak. Sekarang kauperlihatkanlah kesombonganmu!” Sembari berkata demikian, Ban Hui melemparkan baju luarnya ke bawah panggung dan langsung menghadapi lawannya dengan dadanya yang bidang dan kuat dan lengannya yang besar bertolak pinggang.

“Baik, kau hati-hatilah!” kata Gui San yang lalu menyerang dengan kepalan kanannya. Ban Hui menangkis sambil mengerahkan tenaganya akan tetapi ketika lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Gui San, ia mengetahui bahwa orang she Gui itupun memiliki tenaga besar. Mereka lalu bertempur dengan serunya, akan tetapi sebagaimana telah dapat diduga oleh Tan Hong, dan juga dapat diduga oleh Ban Siauw ketika melihat gerak lompatan Gui San tadi ke atas panggung ternyata bahwa pedagang muda itu masih kalah dalam hal kegesitan dan kepandaian ginkang. Sedangkan Ban Hui sebagai saudara termuda dari Seng-koan Sam-kwi yang terkenal, tentu saja memiliki kepandaian cukup tinggi hingga dalam saat yang pendek sekali ia dapat mendesak lawannya dengan pukulan bertubi-

tubi dengan gerakannya yang cepat. Gui San kini hanya dapat bersilat sambil mundur dan menangkis atau mengelak, hingga tidak sempat membalas!

Melihat kelemahan lawannya, sambil menyerang dan mendesak, Ban Hui mengeluarkan lagaknya yang memuakkan. Ia tertawa terbahak-bahak sambil mengejek lawannya. “Hai, orang she Gui! Mana kepandaianmu yang amat kau sombongkan itu? Sudahlah, kau menyerah saja dan cepat serahkan dua ratus karung gandum itu daripada kepalamu nanti kena kupukul sampai picak!”

Gui San menjadi marah sekali hingga gerakannya makin kalut. Ia terus terdesak mundur sehingga akhirnya ketika ia mengelak dari sebuah pukulan ke arah dadanya, kakinya menginjak tempat kosong di pinggir panggung! Pukulan Ban Hui masih tetap mengenai pundaknya dan akhirnya tubuhnya terbanting ke bawah panggung!

Para pengurus pertandingan itu bersorak-sorak dan tertawa geli melihat hal ini yang mereka anggap lucu juga, sebaliknya para penonton yang terdiri dari penduduk kota Sengkoan merasa kecewa sekali. Kendatipun demikian mereka tentu tidak berani memperlihatkan sikap menentang kepada Seng-koan Sam-kwi, maka merekapun lalu bertepuk tangan memuji.

Dengan lagak sombong Ban Hui lalu menjura memberi hormat kepada orang sekelilingnya dengan lagak sebagai seorang jagoan besar yang baru saja menang berkelahi. Kemudian ia mendapat sebuah pikiran yang terbit dari adat sombongnya.

“Cu-wi (tuan-tuan sekalian) yang terhormat! Dengan jatuhnya orang she Gui itu, bukan berarti satu keuntungan bagiku, akan tetapi panitialah yang untung karena mendapat tambahan sumbangan sebanyak dua ratus karung

gandum! Kami bertiga Seng-koan Sameng selalu berusaha untuk mengumpulkan barang sumbangan sebanyak mungkin, demi kepentingan para korban banjir yang menderita sengsara! Maka, pertunjukkan kali ini anggaplah sebagai hiburan dan apabila di antara saudara-saudara sekalian ada yang berminat hendak naik di atas panggung ini, kami silahkan! Akan tetapi syaratnya harus bertaruh, demi kepentingan panitia yang berusaha membantu para korban berdasarkan perikemanisiaan yang luhur!”

Mendengar kata-kata ini, panitia pertandingan bertepuk tangan menyatakan kegembiraannya. Penonton saling pandang dan saling berbisik. Tapi siapakah orangnya yang berani naik ke panggung untuk main-main dengan Tiga Setan dari Seng-koan itu?

Karena Ban Siauw mendapat firasat yang kurang baik, maka ia lalu naik ke panggung menggantikan adiknya. “Saudara-saudara sekalian, mungkin kata-kata adikku tadi kurang tepat dan juga kurang adil. Karena siapakah yang berani melawan dia yang tinggi besar itu? Bahkan Gui-congsu sendiripun tidak bisa melawannya! Aku mempunyai usul lain yang lebih bagus dan menarik. Lihat tubuhku yang kecil pendek ini. Nah, sekarang siapa saja yang berani naik ke panggung ini, diperbolehkan memukul aku dengan tangan kosong. Sekali pukul harus membayar sepuluh karung gandum! Ayoh, siapa mau ikut serta?”

Di antara penonton banyak yang mendongkol melihat kesombongan ini, akan tetapi biarpun ada yang ingin memukul juga, siapa orangnya yang berani mencoba-coba? Kalau yang dipukul tidak apa-apa, pemukulnya akan mendapat malu dan mengeluarkan sepuluh karung gandum tiap pukulan. Sedangkan andaikata pemukulnya dapat melukai dan membinasakan Ban Siauw, apakah hal ini

tidak akan menimbulkan permusuhan hebat? Dan siapakah gerangan yang berani bermusuhan dengan mereka?

Semua orang dapat menduga bahwa tak seorangpun yang akan berani menantangnya. Tetapi tanpa dinyana tiba-tiba seorang dari penonton yang berdiri didepan, terdengar berteriak, “Aku hendak mencoba!”

Semua orang memandang dan mereka melihat seorang pemuda berpakaian serba hitam menaiki panggung. Ia tidak melompat sebagaimana biasanya seorang ahli silat menaiki panggung, akan tetapi mengambil jalan memutar dan menaiki panggung melalui anak tangga yang dipasang untuk para hartawan. Dengan demikian, pemuda itu menuju ke panggung sambil melewati tempat duduk para hartawan dan pembesar. Sikapnya sopan sekali, tampak ketika ia lewat di dekat para hartawan itu, ia menundukkan kepala memberi hormat ke kanan dan ke kiri dengan tubuh setengah membungkuk.

Pemuda itu adalah Tan Hong dan munculnya secara mendadak itu menimbulkan bermacam-macam tafsiran. Tak seorangpun yang berada di situ yang pernah melihat pemuda ini. Wajah Tan Hong yang kurus dan pakaiannya yang usang penuh tambalan itu tidak mendatangkan kesan yang mengagumkan, maka semua penonton hanya tertawa geli dan menganggap bahwa pemuda itu tentullah seorang pemuda terlantar yang telah berubah ingatannya karena menderita kelaparan!

Juga Ban Siauw merasa kurang senang melihat bahwa yang naik itu adalah seorang yang lebih tepat disebut jembel. “He, anak muda! Kau naik ke sini mau mengapa?” tanyanya dengan sombong sambil menahan amarahnya.

“Apalagi kalau bukan hendak memenuhi usulmu tadi!”

Ban Siauw tertawa keras dan mengejek, “Jembel muda! Kau sendiri agaknya telah tiga hari tiga malam belum makan. Apakah orang seperti kau ini pula kelak dapat memberikan sumbangan sepuluh karung gandum sebagai taruhan, andaikata kau kalah?”

Semua orang tertawa mendengar kata-kata ini, lebih-lebih lagi di antara para hartawan yang bertubuh gemuk tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang gendut menahan tertawanya. Akan tetapi serta merta wajahnya menjadi pucat dan tertawanya lenyap berganti dengan kebingungan ketika ia merasa bahwa kantong uang emas yang tadi digantung di bawah bajunya telah lenyap! Ia meraba-raba di sekeliling tubuhnya, akan tetapi benar-benar kantong uangnya telah tak ada! Tak seorangpun melihat kebingungannya ini dan iapun tidak berani membuat ribut, karena merasa malu dan ragu-ragu karena kalau-kalau kantong uangnya itu ketinggalan di rumah. Maka ia lalu menonton lagi, akan tetapi kini tak sanggup tertawa seperti tadi, karena kegembiraannya telah ikut lenyap bersama dengan lenyapnya kantong berharga itu!

Sekalipun ia telah dihina dengan perkataan yang tak wajar oleh Ban Siauw di muka penonton banyak itu, namun Tan Hong tetap tersenyum dan dengan tenang ia mengeluarkan kantongnya yang berwarna kuning dari balik bajunya. Kantongnya itu kini telah berisi barangbarang yang berat dan ketika ia membuka tutupnya dan menumpahkan isinya ke atas panggung, Ban Siauw melongo. Ternyata isi kantong itu adalah uang emas dan perak yang banyak sekali jumlahnya!

“Kawan pendek! Aku tidak punya beras, akan tetapi agaknya uangku ini sudah cukup untuk membeli gandum sebanyak ribuan karung!”

“Boleh, boleh, dibayar uang juga boleh!” kata Ban Siauw. Sementara itu, tidak hartawan gemuk itu saja yang kelihatan bingung, akan tetapi empat orang hartawan lainnya lebih bingung lagi, karena kehilangan uang bekalnya yang banyak jumlahnya itu yang telah dicuri orang dari kantong baju mereka! Kini melihat betapa pemuda jembel itu membawa uang demikian banyaknya, mereka sangat curiga, akan tetapi apakah buktinya untuk memperkuat kecurigaan mereka?

Tan Hong tersenyum. “Sabar, kawan! Segala taruhan harus jangan berat sebelah! Dengarlah, kalau kau dan dua orang saudaramu yang terkenal dengan sebutan Tiga Setan dari Seng-koan itu dapat merobohkanku di atas panggung ini, seperti yang telah dilakukan oleh adikmu terhadap orang gagah she Gui tadi, kau boleh ambil semua uangku ini!”

“Akan tetapi, bagaimana kalau kalian setan bertiga ini dapat kurobohkan? Apakah taruhanmu?”

Suara para penonton terdengar riuh rendah bagaikan lebah dibubarkan, mendengar tantangan pemuda aneh ini.

Ban Siauw tercengang, karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan macam ini. Tapi ia sudah yakin pasti akan menang menghadapi pemuda jembel yang kurus ini, maka ia lalu tertawa terkekeh-kekeh. “Ha, ha, ha, memang kau ini orang aneh. Siapa menyangka kau mempunyai harta sebanyak ini? Tentu kau seorang begal! Akan tetap, tidak apalah! Uang ini dapat kami gunakan nanti untuk menolong korban banjir! Sekarang kau sebutkan sendiri, anak muda! Jika kau dapat mengalahkan kami, apakah yang kau hendaki?”

“Berapa banyak gandum yang dimiliki oleh panitia ini?” tanya Tan Hong.

Ban Siauw memikir-mikir sebentar, lalu berkata, “Ada dua ribu karung lebih.”

“Nah, demikian saja, kawan pendek. Kalau kau dengan kedua orang saudaramu dapat kurobohkan, kalian harus memberikan gandum itu semuanya kepadaku.”

“Apa?” Ban Siauw terkejut dan heran. “Untuk apa dua ribu karung gandum itu bagimu?”

“Tak perlu kauketahui! Pokoknya begini, uang ini jumlahnya menurut perkiraanku cukup untuk membeli semua gandum itu, maka sudah adil apabila aku minta kau pertaruhkan semua gandum itu. Dan apabila aku menang, tidak saja gandum itu harus diberikan kepadaku, akan tetapi kau harus menyediakan kereta dan tenaga untuk mengangkut gandumgandum itu ke dusun-dusun yang menderita akibat banjir itu dan di bawah pengawasanku membagi-bagikan semua bahan makanan itu kepada penduduk dengan adil!”

Mendengar ini tidak saja Ban Siauw dengan kedua orang saudaranya yang masih berada di atas panggung itu saja yang memandang dengan mata terbelalak, tetapi semua penonton demikian pula.

“Orang ajaib! Apakah kau tidak main-main? Apakah kau gila? Memang semua gandum itu akan disumbangkan kepada para korban banjir!” kata Ban Kok, saudara tertua dari Seng-koan Sam-eng.

Tan Hong mengeluarkan ejekan dari hidungnya. “Hah! Apakah kaukira aku tidak tahu kwalitet orang-orang yang kau sebut panitia penolong ini? Sudahlah, tak perlu aku membongkar rahasia busuk yang kalian jalankan, pendeknya, kau sanggup atau tidak menerima tantangan dan syarat-syaratku?”

“Bolehlah! Sebagai manusia sombong kau memang harus diberi pelajaran!” kata Ban Hui dari tadi menahan rasa gemasnya. Kemudian ia berkata kepada kedua saudaranya. “Biarlah aku menghajar jembel muda yang kurang ajar ini. Twako, simpanlah dulu uangnya itu agar nanti ia tidak lari pergi!”

Akan tetapi Tang Hong cepat mengambil semua uangnya dan dimasukkannya ke dalam kantongnya kembali dan berkata, “Sabar dulu kawan. Aku belum kalah! Dan uang ini belum menjadi hakmu!” Ia lalu membawa kantong kuning itu ke pinggir panggung dan menggantungkan kantongnya pada sebuah tiang. Kemudian ia berkata kepada semua penonton, “Saudara-saudara sekalian menjadi saksi. Kalau aku kalah, aku takkan banyak bicara lagi. Uang ini akan kuberikan kepada pengurus-pengurus curang ini. Akan tetapi, kalau aku menang, uang inipun akan kubagi-bagikan kepada para korban banjir!”

Para penonton bersorak-sorai dengan riuhnya. Mereka memuji dan kagum kepada pemuda yang aneh ini.

Tiba-tiba Gui San lalu menghampiri panggung, lalu berkata dengan kerasnya, “Bagus, kalau kau menang, akupun akan menyumbangkan lima ratus karung gandum yang terbaik!”

“Akupun menyumbang dua ratus karung!” kata salah seorang penonton yakni seorang hartawan yang telah tahu akan kecurangan panitia tersebut, tetapi tidak berani berkata apa-apa karena takut menghadapi Seng-koan Sam-eng yang selalu mendapat perlindungan para pembesar dari segala macam kecurangan yang pernah mereka perbuat.

“Akupun dua ratus karung!”

“Dan aku seratus!”

Masih banyak terdengar suara orang berkumandang meyambut yang diikuti suara riuh dari penonton lainnya yang tak ikut menyumban, tapi ikut merasa gembira.

“Ha, ha, ha! Jangan ribut dulu. Apakah kaukira jembel kurus ini akan dapat mengalahkan Seng-koan Sam-eng?” tiba-tiba terdengar salah seorang dari rombongan para pembesar dan hartawan itu berkata keras.

Kata-katanya ini terdengar oleh semua penonton dan mereka menjadi terdiam, karena mereka baru ingat bahwa pemuda itu akan berhadapan dengan tiga jago terkuat dari Sengkoan! Kini mereka merasa khawatir dan memandang ke arah Tan Hong dengan ragu-ragu.

Tan Hong berlaku tenang, lalu ia menghampiri Ban Hui yang berdiri bertolak pinggang dengan gagahnya. Kedua kakaknya sudah turun dari panggung untuk memberi kesempatan kepadanya untuk menghadapi pemuda jembel itu.

“Kaukah yang hendak melawanku?” tanya Tan Hong.

“Ya, bersiaplah untuk menerima pukulanlu yang akan membuat kau berguling-guling ke bawah panggung!” kata Ban Hui sambil memasang kuda-kuda.

“Majulah, dan lebih baik kauajak kedua kakakmu maju bersama, karena kalau kau maju sendiri, dalam lima jurus kau pasti akan terlempar ke luar panggung!”

Semua penonton menjadi heran dan menganggap pemuda itu berlaku berani dan sombong. Mendengar ini Ban Hui menjadi marah tiada terhingga.

“Bangsat sombong! Untuk kesombonganmu ini, aku takkan membuat kau menggelinding ke bawah panggung, tetapi aku akan membuat kauroboh untuk selamanya!” serunya dan ia lalu menyerang dengan hebat.

Tan Hong cepat mengelak dengan gerakan lemas sambil menghitung, “Jurus ke satu!” Penonton mulai bersorak dan Ban Hui segera mengirim serangan kedua.

“Jurus ke dua!” kata Tan Hong sambil melompat ke pinggir, hingga kembali serangan Ban Hui mengenai tempat kosong.

Melihat gerakan Tan Hong yang sangat cepat itu, hingga tak terlihat olehnya, Ban Hui mulai terkejut dan ia tak berani memandang ringan lagi. Ia lalu menyerang lagi dan kini sekali

serang kedua tangannya bergerak maju, karena ia telah menggunakan gerak tipu Siluman Membawa Mustika Biru. Akan tetapi, Tan Hong menganggap serangan ini sebagai permainan anak-anak saja. Dengan kedua tangannya ia menangkis serangan kedua kepalan lawannya itu sambil menghitung “jurus ke tiga!”

Ban Hui terkejut bukan main karena ketika tangannya beradu dengan tangan pemuda itu, ia merasa terdorong sangat kerasnya hingga hampir saja jatuh ke bawah panggung. Untung di dalam terhuyung-huyung ia dapat menangkap tiang, menyebabkan ia tidak sampai jatuh ke bawah!

“Eh, hati-hati! Baru tiga jurus! Jangan tergesa-gesa turun ke bawah!” kata Tan Hong. Dengan perasaan kagum, semua penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorak.

Tak terkatakan marahnya Ban Hui mendengar ejekan ini. Mukanya menjadi merah, matanya menyinarkan pandangan mengandung ancaman maut dan giginya digertakkannya sedangkan hidungnya kembang-kempis. Ia lalu berseru keras dan menubruk maju dalam serangan maut. Dengan sepenuh tenaga ia menggunakan tangan kanannya memukul kepala Tan Hong dari atas dan tangan

kirinya menyodok ke arah lambung pemuda itu! Baik serangan tangan kanan, maupun sodokan tangan kiri ini kalau mengenai sasaran, pasti akan mendatangkan maut! Sambil menghitung “jurus ke empat!” Tan Hong memiringkan kepala mengelak dari pukulan tangan kanan lawan, sedangkan sodokan tangan kiri Ban Hui tidak ditangkis atau dielakkannya, tapi secepat kilat ditangkapnya tangan itu lalu ditariknya ke belakang! Tanpa ampun lagi, tubuh Ban Hui terdorong ke belakang dan roboh telungkup mencium lantai panggung!

“Nah, nah … dalam jurus ini kau mencium lantai panggung, tapi dalam jurus ke lima kau akan mencium tanah di bawah panggung!” Tan Hong mengejek lagi sedangkan para penonton karena girangnya tertawa geli dan bertepuk tangan dengan riuhnya!

Pada saat itu, Ban Kok dan Ban Siauw yang melihat betapa adik mereka dipermainkan lawannya, lalu melompat ke atas panggung dengan sikap mengancam.

“Aah, dua iblis tua ini sungguh cerdik! Rupanya kau tahu bahwa adikmu akan benar-benar terlempar ke luar panggung!” kata Tan Hong sambil bergurau, tapi ia tetap waspada.

“Bangsat hina dina! Bersedialah untuk mampus!” teriak Ban Siauw dengan geramnya dan ia segera maju menyerang bersama dengan kakaknya. Sedangkan Ban Hui juga melompat bangun dan ikut menyerang.

“Ah, ha, bagus! Tiga iblis sekarang kemasukan setan dan mengamuk. Bagus!” Tan Hong mempergunakan kegesitannya yang luar biasa dan tubuhnya seakan-akan dapat menyusup di antara sekian banyak kepalan dan tendangan yang dilancarkan dengan hebat dan bertubi-tubi ke arahnya.

Semua penonton kini tidak berani bersorak lagi karena mereka merasa sangat khawatir sekali melihat keadaan Tan Hong. Siapa orangnya yang dapat bertahan menghadapi keroyokan ketiga iblis itu? Mereka menonton pertempuran itu sambil menahan napas.

Tan Hong yang sedari tadi merasa sangat benci dan gemas kepada Seng-koan Samkwi ini lalu memperlihatkan kepandaiannya. Ketika tubuhnya melayang berputar-putar melakukan serangan pembalasan dengan gerak tipu terhebat dari ilmu silat Ngo-heng Lianhwat, maka terdengar pekik kesakitan. Ternyata Ban Hui serta Ban Siauw kena terdorong roboh! Masih untung bagi kedua orang itu, karena Tan Hong tak bermaksud mencelakakan mereka, maka serangan yang seharusnya dilakukan dengan kepalan kedua tangannya itu dirobah menjadi dorongan dengan tangan terbuka, hingga kedua orang itu walaupun berguling-guling di atas panggung, namun tidak menderita luka-luka, hanya kepala mereka saja bengkak-bengkak karena beradu dengan papan yang keras!

Kini riuh rendahlah sambutan penonton! Ketiga saudara Ban itu bertambah marah dan bersamaan dengan itu mereka mencabut pedang mereka.

“Bangsat rendah! Kalau hari ini kami tidak dapat membunuh kau, jangan panggil kami Seng-koan Sam-eng lagi!” teriak Ban Kok.

“Baik! Mulai hari ini kalian akan kusebut Seng-koan Sam-ti (Tiga Babi dari Sengkoan).” Tentu saja hinaan ini menimbulkan suara tertawaan dari penonton. Mendengar hinaan ini ketiga saudara Ban itu makin bertambah marah. Pedang mereka bergerak seperti kilat menyambar ke arah tubuh Tan Hong. Dalam kemarahannya itu, ketiga orang ini lupa akan kesopanan berpibu. Seharusnya mereka tidak boleh menyerang lawan yang belum mengeluarkan senjata,

akan tetapi oleh karena mereka sedang marah dan juga oleh karena mereka maklum bahwa Tan Hong adalah seorang lawan yang tangguh, maka mereka sengaja mendahuluinya tanpa mengenal malu!

Melihat kenekatan mereka ini, timbul marah dalam hati Tan Hong. “Baik, kalian mencari celaka sendiri!”

Tiba-tiba terlihat sinar berkilauan ketika pemuda itu tahu-tahu telah memegang sebatang pedang berwarna putih seluruhnya dan sekali putar saja pedangnya, maka ketiga senjata musuhnya dapat ditangkis semua.

“Kau … kau Gin-kiam Gi-to?” ujar Ban Kok setelah ia melihat pedang ini.

“Matamu awas juga, orang she Ban!” jawab Tan Hong sambil memutar pedangnya balas menyerang. Mendengar nama ini ketiga Seng-koan Sam-eng tiba-tiba menjadi sangat gentar, maka permainan pedang mereka menjadi kacau-balau. Apalagi ketika Tan Hong mengubah gerakan pedangnya yang semula hanya mempertahankan diri saja, kini menjadi ganas menyerang dengan tipu-tipu berbahaya, ketiga pengeroyok itu menjadi terdesak dan terkurung oleh sinar pedang Tan Hong.

Pada saat yang tepat, Tan Hong berseru keras, “Lepaskan pedangmu!” Dan terdengar jerit kesakitan dari ketiga orang pengeroyok ini, disusul dengan terlepasnya pedang mereka dari tangan masing-masing. Lengan kanan mereka telah terluka oleh guratan pedang yang memanjang dari siku sampai ke tangan. Luka ini biarpun tidak berbahaya, namun karena telah mengiris kulit, darah keluar banyak juga.

“Seng-koan Sam-eng, biarlah ini menjadi pelajaran bagi kalian bertiga! Lain kali kalau kau bertiga masih menggunakan kepandaian untuk melakukan pemerasan dan

korupsi berkedok sebagai panitia, akan kutujukan pedangku ini ke arah lehermu!” Setelah memberi peringatan ini kepada ketiga jagoan yang kini telah mati kutunya itu, Tan Hong lalu menghadapi para hartawan yang duduk dengan mata terbelalak heran dan tercengang itu, ia lalu menujukan kata-katanya kepada semua penonton, “Cu-wi sekalian! Daerahmu ini sedang terserang bahaya banjir hingga timbul bahaya kelaparan di kalangan penduduk miskin. Sudah sepatutnyalah apabila saudarasaudara sekalian mengulurkan tangan membantu meringankan beban penderitaan mereka. Saudara sekalian harus sadar dan ingat sekalian gandum dan beras yang tiap hari memasuki perut kita dan membuat tetap tinggal hidup, adalah hasil jerih payah dan tetesan peluh para kaum tani yang justeru pada waktu ini menjadi korban banjir! Bayangkan saja, kita di sini makan enak sekenyang-kenyangnya dan gandum serta beras kita bertumpuk-tumpuk di gudang sampai membusuk, sedangkan mereka yang dulu menanam dan menghasilkan semua gandum dan beras itu, kini menderita kelaparan! Apakah ini adil? Memang kalian berhak atas segala bahan makanan itu yang telah kalian beli, akan tetapi ingatlah lagi, andaikata kaum tani itu semua mati kelaparan karena tak makan, hingga tak ada seorang jua yang akan mengerjakan sawah ladang, apakah yang harus kita lakukan kelak? Apakah saudara sekalian terutama para hartawan, bisa mengerjakan sawah ladang itu? Maka, pergunakanlah kesempatan ini untuk membalas jasa para petani. Ayoh, siapa yang hendak menyumbang lagi?”

Orang-orang menyambut ucapan ini dengan riuh gembira dan banyak lagi lainnya yang menyumbang dengan suka rela. Maka Tan Hong lalu mengumpulkan semua sumbangan itu, dan setelah semua dikumpulkan, maka jumlah gandum yang sudah terkumpul menjadi tiga ribu karung lebih! Semua bahan makanan dan uang yang ada

lalu diangkut dengan gerobak yang ada di kota itu dan yang sengaja dikerahkan untuk pengangkutan istimewa ini.

Maka berangkatlah gerobak-gerobak itu menuju ke daerah banjir, diikuti oleh Tan Hong dan orang-orang yang menaruh minat, yang kebanyakan terdiri dari mereka yang telah menyumbang. Juga Seng-koan Sam-eng dengan lengan terbalut ikut pula mengantar.

Para korban banjir yang tinggal berkelompok-kelompok dalam gubuk-gubuk kecil di pinggir sawah, menerima kedatangan para penolong ini dengan sangat girangnya. Gandum lalu dibagi rata dan semua penderita banjir menerima sumbangan gandum dan uang. Orangorang menjadi terharu ketika melihat betapa wajah para korban banjir itu menerima sumbangan ini dengan air mata berlinang, karena bahan makanan yang mereka terima hari ini benar-benar merupakan penyambung nyawa keluarga mereka, dan mereka menjadi sangat heran, karena sumbangan yang diberikan pada mereka yang menderita dengan suka rela, tanpa minta syarat seperti yang biasa berlaku dari si kaya pada mereka! Akhirnya para korban banjir mengetahui ketika mendengar bahwa semua ini adalah berkat sepak terjang Gin-kiam Gi-to. Kemudian bersama-sama mereka lalu maju berlutut di depan Tan Hong!

Akan tetapi Tan Hong tidak mau menerima kehormatan ini, bahkan ia lalu berkata, “Saudara-saudara sekalian! Jangan berterima kasih kepadaku, karena aku tidak memberi apa-apa kepada kalian. Berterima kasihlah kepada para dermawan dari Seng-koan, dan juga kepada Seng-koan Sam-eng, karena semenjak hari ini ketiga orang ini akan benar-benar menolong saudara sekalian dengan jujur dan adil!”

Mendengar ucapan pemuda yang tahu membawa diri ini, semua orang dari Seng-koan menjadi terharu, bahkan Seng-koan Sam-eng sendiri merasa seakan-akan muka mereka mendapat tamparan hebat dan mereka lalu insyaf akan kekeliruan mereka yang sudah-sudah. Mereka telah menyombongkan diri sebagai jagoan-jagoan yang tak terkalahkan, sama sekali tidak ingat bahwa di dunia ini tidak ada orang yang terpandai dan segala kepandaian pasti ada yang melebihi. Maka diam-diam mereka berjanji dalam hati hendak merobah tabiat mereka.

Pembagian gandum dan uang itu berlangsung sehari penuh, karena daerah yang dilanda banjir itu banyak jumlahnya. Setelah semua tempat dikelilingi dan gandum serta uang telah habis dibagikan sama sekali, Tan Hong lalu berkata kepada semua orang, “Saudara sekalian. Sekarang, setelah kalian melihat sendiri cara pembagian yang adil, jujur dan tanpa syarat, saya percaya bahwa lain kali Panitia Penolong Korban Banjir akan dapat bekerja lebih aktif dan jujur. Apabila terdapat kecurangan-kecurangan, aku akan kembali dan akan memberi pelajaran kepada mereka yang bersalah itu! Akan tetapi aku percaya penuh kepada Seng-koan Sam-eng yang tentu akan menjaga jangan sampai terjadi kembali hal demikian, bukan?”

“Kami akan menjaga, taihiap!” kata Ban Kok dengan terharu.

Setelah itu, Tan Hong lalu meninggalkan Seng-koan, diikuti oleh pandangan mata kagum dari seluruh penduduk.

***

Ketika Tan Hong yang melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah rimba belantara, ia berjalan perlahan sambil termenung. Bayangan nona Lo Siok Lan yang selama ini tak pernah meninggalkan bayangan matanya,

kini sangat mempengaruhi otaknya, setelah ia merasa kesunyian seorang diri di dalam hutan yang luas itu. Bahkan kini perasaannya seolah-olah ia melihat wajah Siok Lan yang sebenarnya muncul di mana-mana, di tempat-tempat mana yang dilaluinya. Tiba-tiba saja wajah yang jelita dan gagah itu terbayang di sela-sela daun-daun hijau dan di antara kembang-kembang merah.

“Ah, aku sudah menjadi gila!” Tan Hong mengoceh pada dirinya di bawah sebatang pohon untuk beristirahat. Akan tetapi, makin celaka, setelah ia berhenti dan duduk, bayangan Siok Lan makin jelas kelihatan dan makin bertambah hebat menggoda pikirannya! Ia lalu melompat bangun dari duduknya dan melanjutkan perjalanannya.

Tiba-tiba kedua matanya terbelalak, hatinya berdebar kegirangan dan penuh harapan ketika ia menujukan pandangan matanya ke arah gerombolan pohon. Di situ muncul tubuh seorang wanita dengan pedang di tangan. Sesaat lamanya, wajah wanita itu dalam pandangan Tan Hong kelihatan seperti wajah Siok Lan itu berubah menjadi wajah seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih yang sedang berduka, pada wajahnya yang muram itu dapat diterka bahwa ia dalam kesusahan.

Akan tetapi, ketika wanita itu melihat Tan Hong, wajahnya berubah menjadi bengis dan sekali melompat saja ia telah berada di depan Tan Hong terus membentak, “Sobat, berhenti dulu!”

Tan Hong jadi terperanjat dan melihat gerakan wanita ini, menunjukkan bahwa ia memiliki kepandaian yang cukup baik. Ia memandang wanita itu dengan rasa kagum dan lalu bertanya, “Apakah perlunya Toanio menahan perjalananku?”

Wanita itu memandang ke arah pakaian Tan Hong dan ketika melihat bahwa Tan Hong tidak berbekal bungkusan pakaian atau barang lain, jelas nampak perubahan pada mukanya yang menjadikan ia kecewa. Kemudian setelah ia melihat gagang pedang dari perak yang tersembul keluar di belakang punggung Tan Hong, maka ia lalu berkata, “Anak muda, kalau kau ingin melanjutkan perjalananmu denga selamat, serahkanlah pedangmu itu kepadaku!”

“Eh, mengapa begitu? Pedang ini adalah senjata untuk melindungi diriku apabila aku diserang oleh binatang buas di dalam hutan. Kalau pedang ini kau minta, dengan apakah aku dapat melindungi diri lagi?”

Mendengar jawaban ini, wanita itu memandang Tan Hong dengan tajam. “Kalau kau perlu memakai senjata juga, pakailah pedangku ini, dan sebagai gantinya pedangmu itu harus kauberikan kepadaku, mengerti!”

Tan Hong memandang pedang wanita itu, ternyata pedang itu adalah pedang yang telah berkarat dan buruk sekali, agaknya seringkali digunakan untuk membelah kayu! Tanpa disadarinya Tan Hong tertawa geli.

“Eh, eh, Toanio kau ini sedang main-main atau benar-benar hendak merampok?”

“Jangan banyak bicara!” hardiknya. “Kauserahkan pedang itu atau tidak!” Sambil berkata demikian, wanita itu mengancam dengan ujung pedangnya yang telah tumpul itu!

“Bagaimanakah kiranya, jika aku tak mau memberikannya?”

“Akan kupaksa!” kata wanita, lalu maju menyerang dengan pedang tumpulnya. Akan tetapi serangan ini membuat Tan Hong hampir berseru terkejut karena pedang

yang telah tumpul ini dengan tepat sekali menyerang ke arah jalan darahnya! Ah, tak disangkanya bahwa wanita ini adalah ahli tiam-hwat (ilmu menotok jalan darah) maka, ia segera mengelak dengan cepat. Serangan kedua dan ketiga menyusul cepat dan semua serangan tertuju ke arah jalan darah yang berbahaya.

“Hebat benar!” Tan Hong memuji dan iapun segera mencabut pedangnya untuk mempertahankan diri karena ternyata wanita ini betul-betul tangguh. Segera mereka bertempur dengan seru. Tan Hong bersilat dengan hati-hati dan penuh cermat. Ia kagum juga melihat ilmu pedang wanita ini benar-benar hebat, lebih tinggi daripada ilmu kepandaian Seng-koan Sam-eng! Maka ia melawan dengan hati-hati dan waspada. Ia masih belum dapat menduga mengapa wanita ini ingin sekali memiliki pedangnya. Sebaliknya, ketika ia melihat bahwa pemuda ini bukan makanan empuk, wanita ini kelihatannya sangat kesal dan menyerang kembali dengan nekad. Seakan-akan ia seorang yang telah terlanjur berbuat suatu kesalahan yang tak mungkin dapat dimaafkan lagi!

Melihat kenekatan wanita ini, Tan Hong lalu memperlihatkan kepandaiannya, berkelahi dengan menggunakan ilmu pedang Ngo-heng Lian-hoan Kiam-hwat yang memiliki gerakan luar biasa. Sebentar saja wanita ini sudah sangat terdesak oleh serangan Tan Hong yang bertubi-tubi itu, hingga akhirnya pedang tumpulnya itu terlempar jauh lepas dari genggamannya. Baiknya tubuh wanita ini tidak cedera atau luka oleh pedang Tan Hong.

Anehnya, setelah menderita kekalahan, wanita itu tiba-tiba menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.

Tan Hong mengerutkan alisnya dan menyimpan pedangnya. “Toanio, kau sangat aneh. Kepandaian dan

kiam-hoat (ilmu pedang) mu cukup tinggi, akan tetapi mengapa kau ingin merampas pedangku? Apakah kau suka kepada pedangku ini?”

Mendengar suara Tan Hong yang sopan dan lemah lembut, wanita ini mengangkat mukanya lalu memandang, “Eng-hiong, aku … aku tadi memang sengaja hendak merampas pedangmu. “

“Mengapa demikian?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Bukan karena aku suka pedang orang lain, tetapi aku tertarik karena yang kau miliki pedang yang berharga yang mana gagangnya terbuat daripada perak!”

Tan Hong tercengang dan ia memandang penuh perhatian. Ternyata pakaian wanita itu compang-camping dan penuh tambalan, menandakan bahwa ia seorang miskin, sedangkan wajahnya yang kurus pucat menandakan pula bahwa wanita ini tentu terkena penyakit kelaparan! Tiba-tiba, Tan Hong merasa terharu.

“Toanio … kau hanya ingin mendapat sedikit perak ini? Sampai demikian besar minat kau untuk memiliki perak?” pertanyaan ini dikeluarkan dengan perlahan dan ragu-ragu.

Wajah wanita itu memerah karena malu. “Bukan untukku sendiri taihiap, sungguh mati, bukan untukku sendiri, tapi untuk anak-anakku!”

Tan Hong makin tertarik dan kasihan. Melihat pandangan pemuda itu, wanita tadi lalu menuturkan keadaannya dengan suara pilu, “Aku adalah seorang janda she Yo dan ditinggal mati suamiku dengan tiga orang anak masih kecil-kecil. Rumah dan sawah kami habis dilanda air bah. Tidak ada orang yang suka menolong kami, karena mereka yang merasa kasihan kepada kami itu adalah para

pengungsi yang senasib dengan kami, sedangkan untuk mengisi perut mereka sendiripun mereka tak mampu. Sebaliknya para kaum mampu, hanya mau menolong kami dengan syarat-syarat kejinya!”

Tan Hong mengangguk-angguk mengerti.

“Apakah yang bisa dilakukan oleh seorang janda seperti aku? Justeru karena anakanakku menderita kelaparan dan aku tidak bisa mencarikan makannya dengan cara yang wajar, maka terpaksalah aku mencoba merampok. Akan tetapi dasar nasibku malang dan nasib anak-anakku yang harus mati kelaparan, karena pertama-tama aku mencoba merampok, aku langsung berhadapan dengan kau, dengan orang yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya dariku dan yang memiliki pedang perak ajaib, dengan gampang mengalahkanku! Taihiap, bunuh sajalah aku agar tamat riwayatku yang penuh derita ini. Aku tidak sanggup pulang ke rumah dengan tangan kosong dan melihat anak-anakku mati kelaparan!” Nyonya janda Yo itu lalu menangis terisak-isak.

Tan Hong menghela napas dalam-dalam. Lagi-lagi seorang korban bencana banjir! Tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran baik. Nyonya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, apa sukarnya mencarikan pekerjaan untuknya?

“Toanio, jangan kau bersedih. Selama nyawa masih dikandung badan, tak boleh sekali-kali kita berputus asa. Aku mempunyai kenalan baik di kota Seng-koan, marilah kau dan anak-anakmu kuantarkan ke sana agar kau dapat tertolong.”

-oo0dw0oo-

Jilid 03

Nyonya Yo hendak berlutut menghaturkan terima kasih, akan tetapi Tan Hong segera mencegahnya. Kemudian ia lalu ikut nyonya Yo mengambil ketiga orang anaknya yang kecilkecil dan kurus kering itu, lalu diantarkannya nyonya itu ke Seng-koan. Di kota ini Tan Hong menyerahkan nyonya Yo bersama ketiga orang anaknya kepada Panitia yang dipimpin oleh Seng-koan Sam-eng, dan setelah menuturkan keadaan nyonya janda itu serta menyatakan bahwa kepandaian silat nyonya ini cukup tinggi, akhirnya nyonya Yo diperbantukan kepada Panitia itu dan mendapat jaminan hidup yang lumayan.

Seselesainya pemuda yang menolong jiwanya dan ketiga orang anaknya menyerahkan kepada panitia korban banjir itu di Seng-koan ia segera berlalu meninggalkan kota itu untuk melanjutkan perjalanannya.

***

Tan Hong teringat akan janjinya kepada To Tek Hosiang, tokoh persilatan Houw-sanpai yang pernah dikalahkannya dulu dan yang menantangnya agar ia suka datang berpibu di kelentengnya, yakni kuil Kim-ci-tang di kota Wi-ciu. Kebetulan sekali hari itu adalah tepat pada hari perjanjiannya, maka ia lalu cepat-cepat menuju ke kota Wi-ciu.

Di dalam hati Tan Hong tidak suka sekali-kali mencari permusuhan dengan orangorang dari dunia kang-ouw, akan tetapi sebagai seorang ksatria, ia harus memegang teguh jamjinya. Ia maklum bahwa To Tek Hosiang masih belum mau mengalah, maka sebagai seorang pemuda yang menghargai orang tua, apalagi orang tua itu adalah seorang hwesio dan tokoh ternama di dunia persilatan, ia harus datang memenuhi janjinya. Ia dapat menduga pula bahwa

kali ini hwesio itu tentu berusaha hendak menebus kekalahannya yang dulu, akan tetapi Tan Hong tidak perduli. Pemuda yatim piatu yang hidup seorang diri di dunia ini memang tidak khawatir akan dirinya terhadap segala macam bahaya yang bakal menimpa dirinya.

Kelenteng Kim-ci-tang adalah sebuah kelenteng yang besar dan mempunyai ruangan yang amat luas. Kebetulan sekali ketika Tan Hong tiba di kuil tersebut, hari itu banyak sekali tamu-tamu memenuhi ruang depan kelenteng dan para hwesio penyambut para tamu sibuk menyediakan segala macam keperluan sembahyang. Kepenuhan kelenteng ini ada hubungannya dengan bencana banjir yang mengamuk di mana-mana hingga orang-orang pada datang minta berkah dan bersembahyang di kelenteng itu. Orang-orang hartawan bersembahyang untuk minta perlindungan bagi keselamatan sekeluarganya. Ada pula yang minta supaya sanak keluarganya yang tinggal di daerah banjir mendapat perlindungan, dan banyak pula yang lainnya hanya datang umtuk minta jodoh, minta peruntungan baik dan sebagainya. Memang, di manapun juga, selalu dunia ini penuh dengan kebutuhan dan permintaan manusia yang tak ada batasnya dan tak pula puas-puasnya!

Melihat banyaknya para tamu yang datang, Tan Hong menjadi ragu-ragu. Ia merasa kurang baik kalau mengganggu ketenteraman mereka itu dengan maksudnya mengadu kepandaian, karena hal ini akan mendatangkan sangkaan, bahwa ia sengaja datang hendak mangacaukan suasana yang aman tenteram itu. Apakah To Tek Hosiang sudah lupa akan janjinya? Diam-diam ia merasa girang juga, karena iapun tidak ada nafsu untuk bertempur memperbesar rasa permusuhan.

Tan Hong lalu mengikuti orang-orang yang bersembahyang dan agar jangan menimbulkan curiga pada

para hwesio penyambut tamu, iapun membeli hiosoa (dupa) dan bersembahyang pula, sungguhpun ia menyalakan hiosoa dan mengangkat-angkatnya itu hanya sekedar memberi hormat belaka.

Akan tetapi, setelah ia selesai bersembahyang dan keluar dari ruang sembahyang, tiba-tiba saja To Tek Hosiang telah berdiri di depannya dan berkata, “Ha, Gin-kiam Gi-to, ternyata kau benar-benar menepati janji!”

Tan Hong segera mengangkat tangannya sambil tersenyum, “Losuhu, apakah selama ini kau baik-baik saja? Kukira kau telah lupa akan janji kita.”

Berubah air muka To Tek Hosiang mendengar hal ini. “Tan-sicu (tuan she Tan yang gagah), seorang laki-laki, sekali mengeluarkan janji, selamanya takkan lupa. Sayang sekali hari ini tak kusangka-sangka tamu datang begini banyak, maka terpaksa pinceng tak dapat melayanimu. Kalau kau tidak berkeberatan, harap kau datang nanti malam dan pinceng tentu telah bersedia untuk menyambut dan melayanimu.”

Tan Hong tertawa. “Losuhu, benar-benarkah kau masih berhati muda dan masih suka berkelahi? Baiklah, aku hanya memenuhi keinginanmu saja.” Tiba-tiba pemuda ini tak mau berbicara lagi, karena ia melihat bahwa di situ ada beberapa orang yang memandang ke arah mereka dengan tajam. To Tek Hosiang lalu menjura memberi hormat kepada Tan Hong dan berkata, “Sahabatku yang baik. Pinceng menanti kedatanganmu nanti malam.” Setelah berkata demikian, To Tek Hosiang lalu mengundurkan diri ke ruang dalam, sedangkan Tan Hong-pun lalu menuju keluar. Tiba-tiba pemuda itu menyelinap di antara para pengunjung dan menyembunyikan dirinya di belakang tubuh orang-orang lain, karena pada saat itu ia melihat dua orang pengunjung yang membuat hatinya berdebar-debar.

Mereka ini tidak lain ialah Siok Lan dan ayahnya! Tan Hong merasa heran kepada dirinya sendiri, mengapa ketika ia melihat nona itu beserta ayahnya, hatinya secara mendadak menjadi berdebar-debar dan ia menjadi malu, hingga tak berani memperlihatkan mukanya! Ia berbuat begitu, karena ia sadar bahwa pakaiannya sangat buruk dan memalukan, maka secara diam-diam ia mengintai dan memandang ke arah Siok Lan dengan mata berseri dari jauh. Alangkah cantiknya gadis itu, hingga ia serasa melihat seorang bidadari yang baru saja turun dari kahyangan. Ketika ia mengetahui betapa banyak mata laki-laki lain, pengunjung kuil itu, juga tertuju kepada Siok Lan dengan kagumnya, timbullah rasa kurang senang di hatinya!

“Haaa, apakah aku sudah gila?” bisiknya dalam hati dan ketika ia melihat Siok Lan dan ayahnya masuk ke ruang sembahyang, ia lalu melangkah keluar. Akan tetapi, ketika ia hendak meninggalkan kelenteng itu, kakinya terasa amat berat. Sebetulnya hatinyalah yang terasa berat, berat untuk meninggalkan gadis itu. Kemudian diam-diam Tan Hong lalu bersembunyi di belakang sebatang pohon yang tumbuh di kelenteng itu, pura-pura beristirahat dan duduk menyandar pada sebatang pohon. Tetapi sebenarnya ia memperhatikan pintu kelenteng dengan penuh perhatian, melihat kalau-kalau Siok Lan dan ayahnya keluar dari situ.

Sejurus lamanya ia menanti dengan sabar, dan akhirnya ia melihat nona itu keluar dari pintu kelenteng sambil berbisik-bisik dengan ayahnya, entah apa yang sedang dibicarakannya. Mereka berdua keluar dari kelenteng dan terus berjalan menuju ke utara, Tan Hong diamdiam mengikuti mereka dari belakang untuk mengetahui ke mana kedua orang itu hendak pergi. Ternyata bahwa Siok Lan dan ayahnya tinggal di sebuah rumah penginapan yang tak jauh dari kelenteng itu. Tan Hong benar-benar seperti orang

yang tidak waras otaknya. Sehari itu, ia berdiri saja di satu tempat yang tak jauh dari rumah penginapan itu dan memandang ke arah hotel dengan penuh harap melihat gadis itu kalau-kalau keluar. Akan tetapi ia kecewa, karena Siok Lan dan ayahnya Lo Cin Ki si Garuda Sakti, sampai sore tidak muncul-muncul keluar dari hotel itu.

Tan Hong terpaksa meninggalkan tempat itu, karena ia harus pergi ke kelenteng Kimci-teng untuk memenuhi janjinya dengan To Tek Hosiang. Ia mengambil keputusan, apabila malam nanti urusannya dengan To Tek Hosiang telah beres, ia akan mengunjungi susioknya itu.

Hari telah mulai gelap dan ketika Tan Hong meninggalkan tempat itu hendak menuju ke kelenteng, tiba-tiba dari atas pohon di mana ia tadi berdiri terdengar suara laki-laki yang parau menegur, “Sahabat, berhenti dulu!”

Tan Hong terkejut dan bersiap sedia. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa di atas pohon itu ada orang. Orang itu melompat turun dan ternyata yang melompat turun dari atas pohon itu adalah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam. Biarpun tubuhnya tinggi besar dan gerakannya lamban, akan tetapi sepasang matanya membayangkan kecerdikan dan ketika ia melompat turun tadi, Tan Hong dapat menduga bahwa orang itu memiliki kepandaian tinggi.

Tan Hong berhenti dan menghadapi orang tinggi besar itu. “Sahabat, bukankah kau Gin-kiam Gi-to?” tegur si muka hitam itu.

Tan Hong tercengang mendengar pertanyaan ini, akan tetapi ia tidak mau menyangkal. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Tan Hong.

Si muka hitam tertawa dan ketika ia tertawa, maka mukanya yang hitam itu nampak menarik dan gagah.

“Mudah saja. Kau mempunyai gerakan yang menyatakan bahwa kau pandai ilmu silat, sedangkan pedang yang berada di punggungmu itu bergagang perak. Pakaianmu juga serba hitam seperti biasanya pakaian seorang ya-heng-jin (orang pejalan malam). Siapa lagi selain seorang pencuri berilmu tinggi yang memiliki pedang perak yang bernama Gin-kiam Gi-to?”

Tan Hong merasa kagum juga akan kejituan orang ini, maka ia lalu berseru, “Ah, kau benar-benar orang luar biasa, kawan. Apakah kau ini seorang penyelidik atau penjaga keamanan?” pertanyaan ini diucapkannya dengan tenang, menandakan bahwa ia sama sekali tidak takut.

“Bukan! Aku hanya merasa heran sekali, mengapa Gin-kiam Gi-to yang namanya tersohor sebagai seorang gagah, ternyata kini diam-diam mengintai seorang gadis cantik seperti lakunya seorang bangsat rendah! Ayoh kau ikut aku pergi kepada gadis itu untuk minta maaf!”

Merahlah muka Tan Hong mendengar celaan ini. Ia harus datang kepada Siok Lan untuk minta maaf?

“Kau ngigau! Siapa sudi menuruti permintaanmu yang bukan-bukan itu?”

Si muka hitam tertawa lagi dan tiba-tiba ia mencabut pedangnya. “Jangan kau banyak tingkah! Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku Hek-bin-mo (Setan Muka Hitam) Ong Kai tidak nanti takut kepadamu! Apakah kau harus ikut aku pergi menemui gadis itu atau pedangku akan bicara?”

“Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bertengkar dengan segala iblis muka hitam!” kata Tan Hong, lalu ia membalikkan tubuhnya dan lari cepat. Akan tetapi Ong Kai juga melompat dan berseru, “Baik, pedangku akan bicara. Awas serangan!” teriaknya dan ia

mengirim tusukan dengan pedangnya. Tan Hong berlaku waspada, dan iapun sudah mencabut gin-kiamnya dan segera menangkis. Terkejut juga ia ketika merasa betapa tenaga si muka hitam itu benar-benar kuat dan mengejutkan. Si muka hitam tertawa lagi dan terus menyerang dengan sengit. Ilmu pedangnya sungguh hebat, segalanya ini di luar dugaan Tan Hong. Diam-diam Tan Hong mengeluh, karena sebelum ia menghadapi To Tek Hosiang, ternyata sekarang bertemu dengan seorang lawan yang tangguh, kukwai (aneh), lihai dan mempunyai maksud yang bukanbukan! Terpaksa ia melayani dan mengerahkan tenaganya dengan maksud menjatuhkan pedang lawan. Akan tetapi, gerakan Ong Kai benar-benar di luar terkaannya dan untuk beberapa lama keduanya bertempur seru dalam keadaan seimbang.

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara suitan nyaring yang terdengar jelas sampai ke tempat itu. Mendengar suara suitan yang tidak mempunyai arti apa-apa bagi Tan Hong ini, si muka hitam menghela napas dan berkata, “Sayang sekali! Baru saja enak-enak bertempur denga lawan yang menyenangkan, suhu telah memanggilku! Sudahlah, maling! Kali ini aku mengampunimu, akan tetapi lain kali kalau aku melihat kau mengintai gadis-gadis lain nanti, awas, aku takkan berhenti berusaha untuk dapat merobohkanmu!”

“Iblis Muka Hitam yang bodoh!” Tan Hong memaki gemas, akan tetapi si muka hitam sudah melompat jauh meninggalkannya. Tan Hong tidak mau mengejar, karena ia harus pergi ke tempat To Tek Hosiang. Diam-diam ia kagum juga melihat ketangkasan dan kehebatan si muka hitam itu, dan ingin sekali mengetahui siapakah suhunya yang tadi bersuit memberi tanda panggilan. Alangkah anehnya orang-orang di kalangan kang-ouw, dan alangkah

banyaknya orang-orang pandai di dunia ini! Peristiwa tadi memberi pelajaran lagi bagi Tan Hong, bahwa orang-orang yang berkepandaian tinggi sungguh banyak jumlahnya di dunia ini.

Ketika Tan Hong tiba di kuil Kim-ci-tang, hari telah mulai gelap, akan tetapi di ruang depan kuil itu nampak terang karena dipasangi lampu beberapa buah. Agaknya di situ ada tamu, karena di meja besar duduk empat orang hwesio bercakap-cakap. Ternyata bahwa To Tek Hosiang sedang menghadapi tiga orang hwesio lain yang gemuk-gemuk dan berpakaian mewah, ternyata jubah yang dipakai hwesio terbuat daripada sutera halus! Dari luar Tan Hong dapat melihat betapa sikap To Tek Hosiang hormat sekali terhadap ketiga orang tamunya yang nampaknyapun lemah-lembut dan sikapnya seperrti hwesio-hwesio yang berilmu tinggi dan sopan-santun.

Oleh karena ini, tan Hong tidak mau mengganggu dan berdiri di tempat gelap. Akan tetapi, To Tek Hosiang yang mempunyai pandangan dan pendengaran tajam, telah dapat melihatnya, maka hwesio ini lalu menghadap ke arah Tan Hong dan berkata, “Selamat datang, Tan-sicu. Silahkan masuk!”

Tan Hong lalu masuk dan menjura kepada To Tek Hosiang sambil berkata, “Maafkan apabila aku mengganggu, agaknya losuhu masih sibuk melayani tamu.”

“Tidak apa, tidak apa! Tamu-tamu ini adalah orang-orang segolongan dengan pinceng.” Kemudian To Tek Hosiang berkata kepada ketiga tamunya, “Mohon dimaafkan, karena pinceng terpaksa meninggalkan sam-wi sebentar untuk melayani pemuda ini menyelesaikan perhitungannya dengan pinceng, dan malam ini juga kami hendak main-main sedikit guna menambah pengertian dalam ilmu silat.”

Ketiga hwesio yang menjadi tamu itu sangat senang mendengar ini. “Kebetulan sekali, sudah lama pinceng tidak melihat pertunjukan silat. Silahkan, To Tek suhu, kami bertiga bahkan lebih senang melihat pertunjukan silat daripada pertunjukan lain.”

Setelah mendapat persetujuan ketiga orang tamunya To Tek Hosiang lalu menghadapi Tan Hong dan berkata, “Tan-sicu, marilah kita sekarang main-main sebentar untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Harap kau berlaku murah kepada seorang hwesio tua!” katanya sambil tersenyum.

“Losuhu, aku yang muda minta pengajaran.”

To Tek Hosiang lalu mengambil toyanya yang telah disediakan di satu sudut, Tan Hong lalu mencabut pedangnya dan bersiap dengan waspada.

Sebelum mereka bertanding, seorang di antara ketiga tamu itu bertanya kepada To Tek Hosiang, “Siapakah sebenarnya anak muda yang gagah ini?”

To Tek Hosiang tertawa lalu memperkenalkan, “Inilah Gin-kiam Gi-to yang terkenal di mana-mana dan mempunyai ilmu pedang yang tinggi.”

Hwesio itu mengangguk-angguk dan dari mata ketiga orang tamu ini memancarlah cahaya berkilat yang ganjil dan bersinar-sinar akan tetapi Tan Hong tidak sempat memperhatikan karena pada saat itu To Tek Hosiang yang sudah siap dengan toyamya lalu berseru, “Tan-sicu, awaslah terhadap toyaku!” Hwesio itu lalu maju menggerakkan toyanya dalam sebuah serangan yang hebat. Mula-mula To Tek Hosiang menggunakan gerakan Ouwliong-cut-tong atau Naga Hitam Keluar Gua, yakni sebuah gerakan ilmu toya dari cabang Siauwlim, akan tetapi ketika Tan Hong dapat mengelak dengan cepat, ia lalu

memutar toyanya dan menyerang dengan menyapu ke arah paha pemuda itu dalam tipu Hing-sau chian-kun atau Menyerampang Bersih Ribuan Prajurit. Tan Hong memperlihatkan kelincahannya dan untuk menghindarkan diri dari serampangan yang hebat ini ia melompat ke atas dengan cepat dan ringannya. Ketika tubuhnya melayang turun, ia balas menyerang dengan tipu Chong-eng-kim-touw atau Garuda Menyambar Kelinci. To Tek Hosiang menangkis cepat, akan tetapi Tan Hong lalu merobah serangannya, menarik kembali pedangnya dan maju menyerang lagi dengan gerak tipu Pek-hong-koan-jit atau Bianglala Putih Menutup Matahari. Akan tetapi To Tek Hosiang juga dapat menangkis dengan tepatnya.

Demikianlah, kedua lawan ini mengeluarkan ilmu silat masing-masing dan berusaha mengalahkan lawan secepat mungkin. To Tek Hosiang yang maklum akan kehebatan Tan Hong, hendak mendahuluinya dan segera memutar toyanya dan memainkan ilmu silat toya asli dari partai silatnya yakni Houw-san-pai. Tan Hong tidak kurang waspada, maka iapun lalu mengeluarkan ilmu pedang warisan suhunya, yakni ilmu pedang dari Bok-san-pai. Makin lama mereka bertempur, makin hebatlah gerakan senjata mereka hingga yang kelihatan hanya sinar pedang yang berkilauan bagaikan seekor burung garuda menyambar, sedangkan toya To Tek Hosiang-pun mengamuk bagaikan seekor naga yang ganas.

Berkali-kali ketiga orang hwesio gemuk yang menjadi tamu itu memuji, “Bagus, bagus!”

Namun betapapun hebat To Tek Hosiang yang telah bersiap sedia dan setiap hari melatih ilmu toyanya khusus untuk digunakan menghadapi Tan Hong, namun pemuda itu masih menang setingkat. Perlahan-lahan ia mulai mendesak dan sinar toya To Tek Hosiang makin lemah dan

makin mengecil, sedangkan pedang peraknya makin menyambar dengan ganas dan garang.

Pada saat itu, tiba-tiba menyambar angin yang dahsyat diiringi suara keras, To Tek Suhu mundurlah dan biarkan pinceng menghadapi pemuda maling ini!”

Ternyata yang datang melompat ke tengah lapangan pertandingan adalah seorang hwesio gemuk, yakni seorang di antara tiga tamu tadi. To Tek Hosiang terkejut sekali, karena sama sekali ia tak pernah menyangka bahwa ketiga tamunya yang datang dari barat ini memiliki ilmu silat yang tinggi. Ia hanya berdiri di pinggir dan memandang dengan heran. Ia bersyukur karena ia telah tertolong. Ia maklum bahwa kalau pertandingan tadi diteruskan, akhirnya dia pasti akan kalah dan roboh untuk kedua kalinya oleh pemuda itu.

Tangan kiri hwesio gemuk itu memegang sebatang hudtim (kebutan pertapa) dan ia berdiri menghadapi Tan Hong dengan mulut menyeringai. Lagak hwesio ini sungguh menyebalkan, karena mirip dengan lagak seorang pemuda tengik yang menganggap dirinya sendiri yang gagah dan tampan!

“Losuhu, kau siapa dan apa sebabnya maka kau datang-datang hendak mengajak aku bertempur?” tanya Tan Hong.

“Ha, ha, ha, Gin-kiam Gi-to! Sudah lama pinceng mendengar namamu yang besar, hingga suara itu bergema di empat penjuru membuat telingaku menjadi bising dan sakit. Pinceng adalah Beng Kong Hwesio, dan kedua suhengku yang duduk itu adalah Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio. Barangkali nama ini belum pernah kau dengar, maka akan lebih muda dikenal kiranya apabila pinceng sebutkan bahwa kami bertiga disebut orang Pekhoa Sam-sian atau Tiga Dewa dari Pek-hoa-san!”

Kini bukan saja Tan Hong yang terkejut, bahkan To Tek Hosiang sendiripun sangat terkejut karena nama Tiga Dewa dari Pek-hoa-san ini amat terkenal sebagai tokoh-tokoh dan pendiri-pendiri cabang persilatan Pek-hoa-san-pai yang termasyur itu! Tadi ketika datang, ketiga tamu To Tek Hosiang itu hanya memperkenalkan nama-nama mereka, sama sekali tidak disangkanya bahwa ia mendapat kehormatan menerima tamu-tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang telah masuk golongan tertinggi itu!

Biarpun Tan Hong maklum bahwa tokoh-tokoh Pek-hoa-san ini menurut suhunya dulu adalah orang-orang yang berilmu silat tinggi, akan tetapi suhunya pernah menyatakan bahwa mereka bertiga itu bukanlah orang baik-baik, maka pemuda ini sedikitpun tidak memperlihatkan rasa gentar. Ia bahkan tersenyum dan berkata dengan tenang.

“Ah, kiranya Pek-hoa Sam-sian yang kuhadapi! Lalu apakah kehendakmu?”

kembali Beng Kong Hwesio tertawa gelak-gelak. “Sudah pinceng katakan tadi bahwa telah lama pinceng mendengar nama Maling Budiman Berpedang Perak yang kesohor. Dan kebetulan sekali, kami bertiga paling benci dengan segala macam maling, baik yang besar maupun yang kecil. Maka sekarang, setelah pinceng berhadapan dengan seorang maling, biarlah pinceng mewakili To Tek Hosiang untuk menangkapnya dan menyerahkannya kepada yang berwajib!”

“Hwesio gundul jangan kau sombong!” Tan Hong berseru marah sambil menggerakkan pedangnya.

“Bagus, bagus! Mainkanlah pedangmu, hendak kulihat sampai di mana kehebatan ilmu pedang dari Bok-san-pai!”

Tan Hong tercengang juga mendengar bahwa hwesio ini telah mengenal ilmu pedangnya, akan tetapi dengan hati-hati ia terus menyerang sambil mengerahkan tenaga serta kepandaiannya. Benar saja, ilmu silat Beng Kong Hwesio benar-benar luar biasa, kebutannya digerakkan dengan cepat dan bulu-bulu yang halus dari kebutan itu menyambar-nyambar dan tak boleh dipandang ringan karena bulu-bulu yang halus ini berkat tenaga lwekangnya yang tinggi, merupakan senjata yang sangat berbahaya. Sedangkan tangan kanan hwesio itu memainkan ujung lengan bajunya yang panjang, lebar dan berujung kecil pula. Ujung lengan baju ini tak kurang berbahayanya, karena digerakkan untuk menotok jalan darah lawan dengan gerakan tetap dan kuat sekali! Ketika serangannya yang bertubi-tubi itu dapat dihindarkan oleh lawannya yang masih muda, Beng Kong Hwesio merasa sangat kesal. Ia berseru keras dan kedua tangannya memainkan kebutan dengan ujung lengan baju dengan lebih hebat! Kedua senjata istimewa itu mengurung dan menyerang Tan Hong dari kiri kanan dan dari atas dan bawah dengan gencar, dan setiap sambarannya membawa hawa maut!

Akan tetapi, selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, Tan Hong adalah seorang pemuda yang berhati tabah dan bersikap tenang serta waspada. Ia maklum bahwa ilmu silatnya masih kalah jika dibandingkan dengan kepandaian lawannya dan ia mungkin tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Akan tetapi dengan keuletan yang mengagumkan, ia mempertahankan diri dengan seluruh tenaga dan kepandaiannya hingga setelah bertempur seratus jurus lebih, belum juga hwesio itu dapat merobohkannya! Hal ini tentu saja membuat Beng Kong Hwesio merasa gemas dan marah, tapi kagum juga. Belum pernah ia mendapat lawan semuda ini yang memiliki daya tahan selama itu!

Pada saat itu, tiba-tiba dari atas genteng melayang turun tiga bayangan orang dan orang terdepan membentak dengan nyaring, “Pek-hoa Sam-sian! Bagus sekali, akhirnya kami dapat juga menemukan kalian!”

Tiga bayangan orang itu melayang turun dengan gerakan yang gesit dan ringan seperti tiga ekor burung. Serentak Bhok Kong Hwesio dan Kim Hong Hwesio bangun dari duduknya dan mencabut senjata mereka, masing-masing bersenjatakan sebatang kebutan yang berbulu merah!

Biarpun sedang bertanding dan didesak oleh lawannya, akan tetapi Beng Kong Hwesio dapat memperhatikan ketiga orang yang datang itu, Tan Hong dapat juga melirik sekejap dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat dengan jelas, bahwa yang datang itu tidak lain ialah Lo Cin Ki atau yang dijuluki Jian-jiauw-sin-eng si Garuda Sakti Berkuku Seribu, yakni susioknya (paman gurunya) sendiri, nona Lo Siok Lan, dan si muka hitam Ong Kai yang sore tadi pernah bertempur dengannya!

Melihat bahwa yang bertempur melawan seorang di antara Pek-hoa Sam-sian adalah pemuda yang sore tadi bertempur dengannya, Ong Kai lalu maju menerjang dengan pedang di tangan dan berkata, “Eh, Maling Budiman, kau juga bertempur melawan mereka? Jangan takut, kini kita bersatu menghadapi mereka dan aku akan membantumu!”

Akan tetapi, serbuan si muka hitam ini lalu disambut oleh To Tek Hosiang, karena hwesio ini berpikir bahwa sudah selayaknya ia membela para tamunya, apalagi karena tamutamunya itu adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-hoa-san! Ia berpikir bahwa orang-orang yang datang membantu Maling Budiman ini tentulah golongan maling atau perampok juga. Apalagi melihat Ong Kai yang tinggi besar, kasar dan bermuka hitam, tak salah lagi, orang ini tentulah

kepala perampok yang buas dan ganas. Ia lalu memutar toyanya dan membentak, Bangsat pemaling dan perampok hina dina! Jangan kau kotorkan kelentengku yang suci ini!”

Ong Kai tercengang dan mengurungkan niatnya membantu Tan Hong. Ia pandang To Tek Hosiang dengan sepasang matanya yang bundar lebar, lalu bertanya, “Eh, eh, ini ada lagi kepala gundul yang berkedok agama! Baik, baik kau mampuslah di tanganku agar segera masuk ke neraka!” Maka ia lalu menyerang To Tek Hosiang kembali dengan sengit dan keduanya lalu bertempur seru!

Sementara itu, Lo Cin Ki melompat maju dan berhadapan dengan Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio, lalu menuding dengan pedangnya, “Hwesio gadungan! Serahkan nyawa kalian untuk menebus dosa yang telah kaulakukan terhadap keponakan Lie-sio-cia!”

“Ha, ha, ha! Jadi inikah si Garuda Sakti Berkuku Seribu? Kau mengantarkan jiwa tuamu! Apakah kau sudah bosan hidup?” Sambil berkata demikian, Kim Hong Hwesio lalu maju menyerbu, disambut dengan sengit oleh Lo Cin Ki.

Lo Cin Ki adalah seorang tokoh Bok-san-pai yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali serta bertenaga besar, maka begitu kebutan Kim Kong Hwesio bertemu dengan pedang si Garuda Sakti, hwesio itu terhuyung ke belakang! Bukan kepalang kagetnya, karena tak pernah diduganya bahwa tenaga orang tua itu melebihi tenaganya sendiri! Semetara itu, ketika Bhok Kong Hwesio melihat betapa suhengnya tak dapat merobohkan Lo Cin Ki, malah jelas sekali nampak olehnya bahwa suhengnya kalah tenaga. Ia lalu ikut maju menyerbu dan mengeroyok jago tua dari Bok-san itu!

Sebetulnya, kalau saja Bok-san-pai tidak lebih mengutamakan ilmu pengobatan dan khusus memajukan ilmu silatnya, cabang persilatan ini akan memperoleh kemajuan besar, karena memang dasar-dasar persilatan Bok-san-pai kuat dan sempurna sekali. Akan tetapi Lo Cin Ki lebih suka mempelajari secara mendalam ilmu pengobatan, maka dalam hal silat, boleh dibilang ia hanya mencapai tingkat delapan bagian saja. Namun kepandaian ini agaknya cukup untuk mengimbangi kedua pengeroyoknya itu!

Ketika Lo Siok Lan melihat betapa ayahnya dikeroyok, walaupun ia maklum bahwa kepandaian kedua hwesio gemuk itu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, ia lalu membentak, “Bangsat gundul curang! Jangan maju mengeroyok ayahku!” Gadis yang tabah inipun lalu menggerakkan pedangnya hendak membantu ayahnya, akan tetapi si Garuda Sakti berseru, “Jangan Lan-ji! Kaubantu saja suhengmu Tan Hong yang terdesak oleh iblis gundul itu!” Ternyata, biarpun ia sendiri terdesak, jago tua ini masih ingat kepada orang lain dan minta puterinya membantu Tan Hong!

Biarpun dengan hati ragu-ragu, namun gadis itu tidak berani membantah perintah ayahnya. Ketika ia memandang, benar saja bahwa keadaan Tan Hong amat terdesak, sungguhpun pemuda itu telah memainkan pedangnya sedemikian rupa merupakan sebuah benteng baja yang kuat sekali, hingga andaikata disiram airpun takkan membasahi tubuhnya yang terlindung sedemikian rapatnya oleh gerakan pedang! Tanpa mengeluarkan suara apaapa. Siok Lan lalu memutar pedangnya menyerbu dan menahan serangan Beng Kong Hwesio. Hwesio ini terkejut juga, melihat gerakan nona ini tidak kalah hebatnya daripada gerakan Tan Hong yang baginya sukar sekali

untuk dirobohkan. Sebaliknya, ketika Tan Hong melihat betapa nona impiannya itu datang membantunya, timbullah semangatnya. Ia serasa dalam mimpi karena saat itu ia dapat bertempur melawan musuh bersama nona yang menjadi idamannya itu!

Dalam kegirangannya, Tan Hong beberapa kali mengerling dan memandang nona itu hingga Siok Lan menjadi tertekan oleh serbuan Beng Kong Hwesio yang mengamuk padanya, karena gerakan Tan Hong menjadi terlambat.

“Ayoh, kauseranglah dia! Mengapa … lelah?” tegur gadis itu tanpa melihat Tan Hong, namun ia merasa betapa pemuda itu gerakannya agak mengendur.

Tan Hong terkejut dan bagaikan baru sadar dari mimpi ketika mendengar teguran ini. Wajahnya berubah merah karena malu kepada diri sendiri. Ia lalu menggertakkan giginya dan maju dengan semangat berapi-api! Kini keadaan menjadi berbalik. Beng Kong Hwesio yang menghadapi Tan Hong seorang diri saja hanya menang sedikit, tetapi tidak sanggup merobohkannya, kini menghadapi keroyokan Tan Hong dan Siok Lan yang memiliki kepandaian setingkat dengan Tan Hong, tentu saja sangat terdesak dan tak lama kemudian tubuhnya sudah mandi keringat dan napasnya terengah-engah!

Sementara itu, To Tek Hosiang yang menghadapi Ong Kai bertempur dengan seru pula, karena kepandaian si muka hitam inipun hebat pula dan setingkat dengan To Tek Hosiang! Mereka saling serang dengan mati-matian, akan tetapi sebegitu jauh belum terlihat siapa yang akan menang di antara mereka. Melihat pertempuran hebat ini di ruang kelentengnya itu, diam-diam To Tek Hosiang menjadi ragu-ragu dan bingung. Apalagi ketika tadi ia mendengar nama orang tua itu yang disebut si Garuda Sakti, ia menjadi

tambah ragu-ragu karena sepanjang pendengarannya, nama ini adalah nama seorang tokoh persilatan yang termasyur sebagai seorang pendekar tua pembela keadilan! Tadinya ia bermaksud mengukur kepandaian Tan Hong si Maling Budiman, tapi sekarang ia telah terlibat dalam pertempuran antara mati dan hidup yang belum diketahui sebab-sebabnya. Oleh karena inilah maka ia berkelahi sambil mundur dan mendekati Tan Hong untuk mengajukan pertanyaan!

Pada saat itu, Beng Kong Hwesio sudah sangat terdesak, akhirnya dengan sebuah tendangan kilat dari Tan Hong yang berhasil mengenai tepat pada tulang kakinya menyebabkan hwesio ini serta-merta roboh terguling. Siok Lan dengan gemas sekali lalu menubruk maju dan menusuk dengan pedangnya! Tan Hong terkejut melihat niat Siok Lan ini, maka cepat-cepat ia memegang tangan nona itu dan berkata, “Nona … sumoi … ! jangan sembarangan membunuh!”

Siok Lan merenggutkan tangannya dengan gemas. “Kau tahu apa? Ketiga hwesio cabul ini telah menculik dan membunuh piauwmoi-ku (adik perempuan misan)!” Sambil berkata demikian, gadis ini dengan marah sekali melanjutkan serangannya dan pedangnya menancap ke dada Beng Kong Hwesio. Dan sejurus kemudian terdengar pekik nyaring Beng Kong Hwesio dan ia tewas pada saat itu juga!

Mendengar keterangan gadis ini, Tan Hong terkejut sekali hingga ia berdiri diam tak kuasa mencegah gadis itu membunuh Beng Kong Hwesio, sedangkan To Tek Hosiang ketika mendengar keterangan inipun lalu melompat ke belakang dan berseru, “Tahan dulu! Pinceng tidak tahu bahwa mereka ini hwesio-hwesio jahat!”

Si muka hitam yang dalam keadaan masih marah hendak menyerbu terus, akan tetapi Siok Lan berseru, “Tahan … ! Suheng!” Sungguh heran, si muka hitam yang tinggi besar ini segera menghentikan serangannya, demikian taat dan tunduk ia rupanya terhadap dara itu.

Akan tetapi, pada saat itu terdengar keluhan Lo Cin Ki dan ketika mereka semua memandang, ternyata dalam satu benturan nekad, Lo Cin Ki telah berhasil memukul pundak Bhok Kong Hwesio membuat ia terhuyung ke belakang, akan tetapi sebaliknya, ujung kebutan Kim Kong Hwesio-pun telah menghantam ke belakang dan mengeluarkan darah dari mulutnya!

“Ayah … !” Siok lan memburu dan memeluk ayahnya, sedangkan Kim Kong Hwesio yang melihat Beng Kong Hwesio sudah tewas dan Bhok Kong Hwesio juga terluka pada pundaknya, secepatnya ia mengangkat tubuh Beng Kong Hwesio yang sudah menjadi mayat itu, lalu mengajak Bhok Kong Hwesio pergi dari tempat itu. Ia berpikir sia-sia saja untuk terus melawan, karena biarpun Lo Cin Ki telah menderita luka berat, akan tetapi di situ masih ada tiga orang muda yang hebat itu, bahkan ada pula To Tek Hosiang yang agaknya hendak membalik dan membantu mereka!

Tan Hong dan Ong Kai hendak mengejar, tetapi karena Siok Lan sedang sibuk menangisi ayahnya, maka mereka berdua tidak berdaya dan merasa tidak sanggup menghadapi Kim Kong dan Bhok Kong hwesio sekalipun ia telah luka, tetapi masih kelihatan gesit dan kuat jua.

Ong Kai yang bertubuh tinggi besar lalu mengangkat tubuh suhunya dan atas petunjuk To Tek Hosiang yang tadi bertempur mati-matian dengannya, jago tua yang terluka itu dibawa masuk ke dalam sebuah kamar di kuil itu.

Ternyata bahwa Lo Cin Ki telah mendapat luka yang berbahaya di dalam tubuhnya. Pukulan ujung hudtim itu buruk sekali akibatnya, karena pukulan ini telah mematahkan dua buah tulang iga di dada Lo Cin Ki dan menggoncangkan paru-parunya! Untung Siok Lan juga telah mempelajari ilmu pengobatan, maka setelah memeriksa luka di dada ayahnya yang masih pingsan itu, gadis ini dengan jari-jari tangannya yang halus, tapi cekatan itu lalu menyambung tulang-tulang yang patah dan menggunakan obat gosok dan obat minum yang dimasukkannya ke dalam mulut ayahnya.

Pada keesokan harinya, setelah berkali-kali diminumkan obat, jago tua itu siuman dari pingsannya. Selama ia masih pingsan, semua orang, termasuk juga To Tek Hosiang, diam saja dan tak berani berkata apa-apa, sedangkan Tan Hong dan Ong Kai hanya saling pandang dan menghela napas. Mengapa Tan Hong tidak pergi dari tempat itu? Ia merasa tak sampai hati meninggalkan Siok Lan, sekalipun gadis itu tak sepatah katapun mau berbicara dengannya.

Akan tetapi setelah ayahnya siuman kembali, wajah gadis itu tampak berseri, lalu ia berkata kepada Tan Hong, “Tan-suheng, kiam-hoatmu sungguh hebat!”

Merahlah muka Tan Hong mendengar pujian ini. “Ah … ! Sumoi, kepandaianku masih belum dapat dibandingkan dengan kepandaianmu yang tinggi itu!”

Sementara itu, setelah Lo Cin Ki siuman, ia lalu menggunakan jari-jari tangannya meraba dadanya. Ia menarik napas panjang ketika ia mengetahui bahwa dua tulang iganya patah, akan tetapi ia memuji kecekatan puterinya yang telah melakukan penyambungan tulang iganya dengan sempurna.

Ketika semua orang datang ke kamar, untuk menjenguknya, ia menghela napas dan berkata kepada Tan Hong, “Tan hong! Untung kau telah lebih dulu turun tangan, kalau tidak, mungkin kerugian besar yang akan kita derita.”

Tan Hong mengeluarkan ucapan merendah diri untuk sebagai jawaban atas pujian susioknya ini padanya, sedangkan To Tek Hosiang buru-buru tunduk memberi hormat kepada Lo Cin Ki sambil berkata, “Lo-enghiong, maafkan pinceng yang telah sesat dan telah pula membantu orang-orang jahat. Percayalah, hal ini pinceng lakukan tanpa pinceng sadari, bahkan sampai sekarangpun pinceng masih bingung dan tidak tahu duduk perkara sebenarnya.”

Oleh karena ia tahu bahwa apabila ia banyak berkata-kata, maka hal ini akan mengganggu kesehatannya, Lo Cin Ki lalu mendesak muridnya untuk menceritakan hal yang telah terjadi sehingga mereka datang mencari Pek-hoa Sam-sian untuk membalas dendam.

Ong Kai lalu bercerita yang didengarkan oleh Tan Hong dan To Tek Hosiang dengan penuh perhatian.

***

Ong Kai adalah murid tunggal dari Lo Cin Ki si Garuda Sakti Berkuku Seribu yang telah menamatkan pelajarannya dan bekerja sebagai seorang piauwsu di kota Lui-koan-bun. Ia adalah seorang pemuda yang biarpun beradat kasar, akan tetapi ia mempunyai kecerdikan luar biasa. Sayang sekali, bakatnya dalam hal ilmu silat kurang baik, maka biarpun telah lama ia belajar silat, paling banyak ia hanya dapat mewarisi setengah bagian saja dari kepandaian suhunya, bahkan ia masih kalah oleh Siok Lan.

Lo Cin Ki mempunyai seorang adik perempuan yang telah menjadi janda dan adiknya ini mempunyai seorang

anak gadis yang cukup cantik dan halus budi bahasanya. Gadis ini bernama Kiu Hwa dan semenjak kecil menjadi sahabat baik Siok Lan yang lebih tua setahun daripadanya. Siok Lan berbakat baik dalam ilmu silat, sebaliknya Kiu Hwa tidak suka belajar silat, ia lebih suka menjadi seorang gadis yang lemah-lembut. Dan dalam hal kepandaian tangan, ia jauh lebih pandai daripada Siok Lan.

Lo Cin Ki tahu, sekalipun mukanya hitam, akan tetapi hatinya tetap suci bersih. Ia mengusulkan kepada adiknya untuk mengambil Ong Kai si muka hitam itu jadi iparnya. Demikianlah, tak lama kemudian pemuda ini dipertunangkan dengan Kui Hwa.

Beberapa hari yang lalu datanglah malapetaka menimpa diri Kiu Hwa. Pada suatu malam, kota Lui-koan-bun didatangi oleh tiga orang penjahat besar, yang tidak lain ialah Pekhoa Sam-sian, tiga hwesio gemuk berbatin kotor itu. Di sepanjang jalan mereka ini melakukan perbuatan-perbuatan yang keji yaitu, mengganggu anak bini orang.

Walaupun Kiu Hwa adalah seorang gadis lemah-lembut, akan tetapi memiliki kenekatan besar. Melihat ketiga orang hwesio biadab itu berniat jahat terhadap dirinya, ketika ia diculik dan dibawa ke sebuah kelenteng rusak di luar kota. Gadis ini mendapat kesempatan untuk mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada perak yang tajam seperti pisau belati itu dari rambutnya. Dengan nekad Kiu Hwa lalu memasukkan benda tajam itu ke tenggorokannya hingga ia tewas pada saat itu juga!

Saat itu Ong Kai sedang berada di luar kota karena sedang menjalankan tugasnya mengawal barang-barang. Ketika pada keesokan harinya ia kembali ke rumah dan mendengar tunangannya diculik orang, bukan main marah dan geramnya. Pemuda ini lalu melakukan penyelidikan di rumah tunangannya di mana calon ibu mertuanya didapati

sedang menangis sedih dan berkali-kali ia jatuh pingsan memikirkan nasib gadisnya. Oleh karena tidak melihat tanda-tanda yang mendatangkan curiga dalam kamar tunangannya itu, Ong Kai dapat menduga bahwa yang melakukan penculikan tentu seorang penjahat berilmu tinggi, maka ia terus melakukan penyelidikan. Kebetulan sekali ketika tiga orang hwesio biadab itu sedang membawa lari Kiu Hwa yang dalam keadaan meronta-ronta, terlihat oleh seorang petani di luar kota, akan tetapi karena takutnya, petani itu menyembunyikan diri di balik pohon. Dari petani inilah Ong Kai tahu bahwa orang yang melarikan tunangannya itu adalah tiga orang hwesio gemuk. Ia segera melakukan pengejaran sampai ke kuil tua itu. Dan alangkah hancur rasa hatinya ketika mendapatkan tunangannya rebah di lantai kuil dalam keadaan telah tak bernyawa lagi.

Sebaliknya, di dalam kesedihannya, Ong Kai merasa bangga dan lega juga melihat kematian tunangan yang dicintainya itu adalah karena membunuh diri dengan tusuk konde! Dalam menangisi jenazah Kiu Hwa, dalam hatinya Ong kai memuji kesucian gadis ini dan bersumpah hendak membalas dendam dan mencari ketiga orang hwesio gemuk itu.

Ong Kai yang cerdik itu lalu melakukan pengejaran dan penyelidikan. Untung baginya bahwa Pek-hoa sam-sian adalah tokoh-tokoh persilatan yang mempunyai adat sombong dan menganggap bahwa di dunia ini tidak ada orang yang berani melawan mereka. Karena kesombongannya inilah, ketiga orang hwesio gemuk ini sama sekali tidak ada niat untuk menyembunyikan diri atau berusaha agar jejak mereka nanti tidak diikuti dan dicari orang. Secara terang-terangan mereka berjalan di jalan

umum melanjutkan perjalanan mereka hingga akhirnya mereka sampai di Wi-ciu.

Ong Kai tentu dengan mudah saja dapat mengikuti jejak ketiga orang hwesio gemuk itu, dan ketika melihat mereka masuk di kota Wi-ciu, dengan cepat Ong Kai lalu menuju ke rumah suhunya yang berada tak jauh dari kota Wi-ciu itu.

Tak terkira marah hatinya Lo Cin Ki dan Lo Siok Lan mendengarkan bencana yang menimpa diri Kiu Hwa, maka tidak ayal lagi ayah dan anak ini melakukan penyelidikan ke Wi-ciu untuk membalas dendam. Oleh karena inilah maka Tan Hong sampai melihat Siok Lan dan ayahnya berkunjung ke kelenteng Kim-ci-tang, di mana gadis dan ayahnya itu sedang menyelidiki keadaan kelenteng. Dan ini pulalah sebabnya mengapa Tan Hong dapat bertemu dengan ong Kai yang tadinya mencurigainya.

Setelah mendengar penuturan Ong kai sambil mengalirkan air mata karena teringat akan tunangannya itu, Tan Hong menjadi terharu sekali.

“Saudara Ong kai, jangan kau khawatir. Biarpun aku bodoh, akan tetapi aku bersumpah hendak membantumu mencari dan membinasakan dua orang iblis yang masih hidup itu!”

Juga To tek Hosiang menyatakan penyesalannya mengapa matanya seakan-akan telah buta, tidak melihat dan membedakan mana orang jahat dan mana yang baik. Berkali-kali hwesio ini menyebut nama dewata, karena heran dan terkejut mendengarkan kejahatan dan kekejian yang dilakukan oleh tiga orang hwesio yang berkepandaian tinggi dan yang terkenal sebagai tokoh-tokoh dunia persilatan itu!

Ketika mereka menengok keadaan Lo Cin Ki lagi, orang tua ini berkata dengan suara menyesal kepada Ong Kai, “Ong Kai … ! Sungguh menyesal aku, sebab kurang hati-hati hingga aku dapat dilukai oleh Kim Kong Hwesio! Dan menurut pemeriksaanku, lukaku ini sedikitnya dalam waktu satu bulan baru bisa sembuh dan pulih kembali seperti sediakala. Aku menyesalkan juga, Ong Kai, karena luka ini menghalangiku untuk membantumu menangkap dan menewaskan musuh-musuh besar kita itu,” Lo Cin Ki menarik napas dalam-dalam.

“Tidak apa, suhu. Biarlah teecu sendiri yang akan pergi berhadapan dengan mereka!” kata Ong kai dengan kesal dengan menggertakkan giginya.

“Ong-suheng, mengapa kau berkata begitu? Jangan khawatir, aku akan mewakili ayah membantumu!” kata Siok Lan dengan perkasanya.

“Dan akupun bersedia setiap detik menjadi pembantumu, saudara Ong!” kata Tan Hong dengan muka berseri.

“Baik sekali, kalian anak-anak muda memiliki semangat demikian besar,” kata Lo Cin Ki dengan girangnya. “Memang, sudah seharusnya demikianlah watak dan sikap orangorang ksatria, pantang mundur menghadapi bahaya besar dalam membela kebenaran. Dan dengan adanya kalian bertiga, apabila maju bersama, kurasa takkan sangat berat menghadapi dua orang hwesio iblis itu. “

Ong Kai tidak berani membantah, lalu kemudian ia memandang wajah Tan Hong dengan ragu-ragu. Mengapa pemuda maling ini dibawa-bawa? Bukankah pemuda inipun menuntut penghidupan yang tidak layak? Lo Cin Ki agaknya dapat menduga apa yang dipikirkan oleh muridnya, maka ia lalu berkata, “Ong Kai, ketahuilah. Tan

Hong ini adalah Gin-kiam Gi-to yang biarpun menjadi maling, akan tetapi bukan untuk diri sendiri. Untuk melakukan kebajikan dengan jalan apa yang akan diambil seseorang, dapat dipilihnya menurut pertimbangannya sendiri. Pokoknya asalkan berdasarkan kebenaran dan kebaikan, maka jalan itu adalah jalan satu-satunya yang dianggap baik. Lagi pula, agaknya kau belum tahu bahwa Tan Hong ini sebenarnya masih suhengmu sendiri!”

Terbelalak kedua mata Ong Kai memandang gurunya yang segera tersenyum, “Bukankah kau pernah mendengar ceritaku tentang suhengku yang bernama Cin Cin Tojin? Nah, pemuda ini adalah murid tunggal Cin Cin Tojin!”

Ong Kai yang berwatak jujur itu menjadi bertambah girang mendengar hal ini, “Ah! Pantas saja ilmu kepandaianmu lebih tinggi dari kepandaianku! Rupanya kau murid Cin Cin Supek. Pantas, pantas! Tan-suheng, kalau demikian, kita adalah masih sekeluarga dan tentu saja kau harus ikut membantuku!”

Tan Hong tersenyum dan merasa girang melihat kejujuran pemuda muka hitam yang mengalami kesedihan ditinggalkan mati oleh tunangannya dalam keadaan menyedihkan itu. Diam-diam ia lalu bertekad untuk membalas sakit hatinya itu.

Demikianlah setelah mendapat doa restu dari Lo Cin Ki, ketiga anak muda itu, Ong Kai, Tan Hong dan Siok Lan berangkat untuk mengejar Bhok Kong Hwesio dan kim Kong Hwesio ke mana saja.

***

Kali ini, karena maklum bahwa musuh-musuh mereka yang hebat itu tentu takkan membiarkan mereka melarikan diri begitu saja. Bhok Kong dan Kim Kong Hwesio melarikan diri dengan cara bersembunyi dan diam-diam.

Mereka berdua juga merasa sakit hati sekali. Setelah mengubur jenazah Beng Kong Hwesio di sebuah hutan mereka berjanji dalam hati akan membalaskan sakit hati sute mereka ini. Akan tetapi, kedua hwesio ini maklum bahwa mereka takkan dapat melawan Lo Cin Ki dan pembantu-pembantunya yang gesit dan cekatan itu. Maka keduanya lalu mengambil keputusan untuk kembali ke Pek-hoa-san dan mencari daya upaya untuk menjaga kedatangan musuh dan sekalian membasmi mereka.

Mereka lalu mengambil jalan memutar dan mencari seorang kawan mereka yang bernama Ti Bong Hosiang, seorang hwesio perantau yang memiliki kepandaian tinggi dan jauh lebih lihai daripada mereka sendiri. Mereka bermaksud untuk mengajak kawan ini naik ke Pek-hoa-san bersama beberapa orang kawan lain untuk memperkuat kedudukan mereka sambil menjaga kedatangan Lo Cin Ki dan pembantu-pembantunya.

Sementara itu Tan Hong, Ong Kai dan Siok Lan mencari jejak mereka sambil bertanya-tanya sepanjang jalan. Tiap kali mendengar cerita orang tentang dua orang hwesio gemuk, mereka lalu pergi menyelidik dan mengejar. Akan tetapi hasilnya nihil belaka, karena kedua musuh besar yang dicari-carinya itu telah pergi lagi tanpa meninggalkan jejak. Memang tidak mudah untuk mengejar dua orang musuh yang berkepandaian tinggi dan yang telah berlaku hati-hati dan melarikan diri secara sembunyi-sembunyi. Maka tak lama kemudian, ketiga orang anak muda itu telah kehilangan jejak kedua musuhnya hingga Ong Kai menjadi tambah sakit hati. Pemuda muka hitam ini merasa tidak sabar dan kalau mungkin, menurut hatinya, ingin sekali ia segera bertemu dan menyabung jiwa dengan pembunuh-pembunuh tunangannya yang tercinta itu!

Melihat kemurungan Ong Kai, Siok Lan menghibur, “Ong-suheng! Sudahlah, jangan kau bersedih terus, ingat, kesedihan yang berlarut-larut dapat merusak kesehatan, justeru pada waktu ini kau harus dapat menjaga kesehatanmu untuk dapat menunaikan tugasmu membalas dendam!” Kata-kata Siok Lan ini membangkitkan semangat Ong Kai.

“Aku telah bersumpah untuk membunuh kedua iblis itu!” katanya dengan geram.

“Ucapan sumoi tadi benar, Ong-sute. Memang tak perlu kau terlalu berduka cita, sebaliknya yang terpenting ialah kita bersama mencari daya upaya dan jalan bagaimana kita bisa menyusul dan mendapatkan tempat persembunyian mereka itu,” kata Tan Hong.

“Tak dinyana bahwa selain kejam dan jahat, mereka itupun pengecut sekali. Tidak tahu malu, namanya saja besar sebagai tokoh-tokoh Pek-hoa-san, tetapi menghadapi musuh, mereka lari dan bersembunyi!” Ong Kai berkata dengan gemas yang meluap-luap.

Mendengar nama bukit ini, tiba-tiba wajah Tan Hong berseri. “Ah … ! Benar juga! Tentu mereka itu telah lari kembali ke Pek-hoa-san! Mari kita mengejar ke sana! Tahukah kalian di mana Pek-hoa-san itu?”

Kedua kawannya menyatakan tidak tahu, maka mereka lalu mulai mencari keterangan di mana adanya Bukit Pek-hoa-san. Dari para penduduk yang sering mengadakan perantauan mereka mendapat keterangan bahwa Pek-hoa-san adalah sebuah bukit di barat yang letaknya jauh juga dari tempat itu. Sesudah mereka mendapat keterangan, hari ini juga mereka lalu memulai perjalanan, mereka ke barat untuk mencari musuh-musuh mereka di sarang kedua hwesio itu.

Malam hari itu mereka bermalam di sebuah rumah penginapan. Tan Hong sekamar dengan Ong Kai, sedangkan Siok Lan mengambil kamar terpisah seorang diri.

Pada waktu itu, bekas-bekas kerusakan yang diakibatkan oleh bencana banjir masih terasa sekali, maka Tan Hong tidak melupakan pekerjaannya yang telah biasa ia lakukan. Ia lalu berpamitan dengan Siok Lan dan Ong Kai untuk pergi sebentar mencuri uang dari rumah para hartawan, lalu kemudian membagi-bagikannya kepada penderita korban banjir.

Ong Kai berkata, “Aah, aku tidak perduli akan segala pekerjaan mencuri ini! Kalau ini memang sudah menjadi tugasmu untuk menolong sesama manusia yang menderita sengsara, silahkan kaupergi, Tan-suheng. Akan tetapi berhati-hatilah.”

Tan Hong tersenyum. “Biarlah kau tinggal di kamar saja, sute. Memang pekerjaan ini adalah pekerjaanku sendiri yang tak dapat kutinggalkan. Semalam saja aku tidak melakukan pekerjaan ini, aku merasa seakan-akan berhutang kepada rakyat dusun yang menderita dan sengsara yang perlu ditolong. Nah! Sute, dan kau juga sumoi, tinggallah baik-baik di sini, aku akan pergi malam ini dan besok pagi-pagi aku tentu telah kembali ke sini untuk melanjutkan perjalanan kita.”

Ketika Tan Hong telah melayang naik ke atas genteng untuk melakukan pekerjannya sebagai Maling Budiman, tiba-tiba dari bawah melompat pula bayangan orang yang gerakannya tidak kalah gesitnya. Tan Hong menengok dan ternyata bahwa yang mengejarnya adalah Siok Lan sendiri!

“Sumoi, mengapa kau menyusul?” tanyanya.

“Tan-suheng, perkenalkanlah aku ikut denganmu. Aku menjadi tertarik dan ingin sekali menyaksikan hasil pekerjaanmu. Aku ingin menambah pengalamanku.”

“Eh … eh … ! Kau ingin belajar menjadi … maling?” Tan Hong menggoda, akan tetapi hatinya girang bukan alang kepalang karena ditemani oleh sumoinya yang telah merebut hati sanubarinya itu.

Wajah Siok Lan memerah. “Suheng! Jangan kau memperolok-olokkanku! Dulu aku masih belum mengerti betul tentang sifat pekerjaanmu ini, bahkan sekarangpun aku masih belum tahu jelas. Oleh karena itu sekarang aku hendak menyaksikan sendiri dan kemudian barulah aku dapat memutuskan apakah pekerjaanmu ini baik atau tidak. “

Di dalam hatinya Tan Hong berkata seorang diri, “Hmm! Jadi kau hendak … mengujiku? Baik … nona manis! Akan kaulihat nanti bahwa aku Tan Hong bukanlah seorang jahat.” Akan tetapi kepada Siok Lan ia hanya tersenyum dan berkata, “Baiklah sumoi, akan tetapi apakah kau sudah memberi tahu kepada Ong-sute? Jangan-jangan nanti ia mencarimu dan merasa khawatir bila ia tidak mendapatkan kau berada di dalam kamarmu.”

“Perlu apa memberi tahu orang lain? Segala sesuatu yang kulakukan tak perlu harus mendapat izin dulu dari siapapun juga!”

Diam-diam Tan Hong merasa heran juga melihat kekerasan hati gadis ini, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa, hanya mengajaknya. “Marilah kita berangkat, sumoi. Dan jangan lupa, kalau berada di rumah yang kita jadikan sasaran, harap kau suka menutupi mukamu dengan saputangan agar tak mudah dikenal orang.”

Siok Lan hendak membantah dan menyatakan bahwa perbuatan ini bersifat penakut, akan tetapi Tan Hong mendahuluinya dan berkata, “Ingat, sumoi! Pada saat ini kita adalah maling, dan tahukah kau apa kewajiban maling? Yakni, seorang maling harus mengambil barang atau uang orang dengan diam-diam dan menjaga sedapat mungkin agar jangan sampai dikenal mukanya!”

Siok Lan tak dapat membantah lagi, lalu mangangguk sambil tersenyum pula. Mereka lalu melompat pergi dan penduduk kota itu tentu akan geger dan ribut apabila mereka mengetahui bahwa di saat itu diatas genteng-genteng rumah mereka terdapat dua sosok bayangan hitam yang gerakannya gesit sekali, yakni sepasang Maling Budiman sedang menjalankan tugasnya!

Dengan matanya yang tajam Tan Hong mencari-cari rumah-rumah gedung yang besar dan yang tak salah lagi menjadi tempat kediaman seorang hartawan, baik ia seorang pedagang maupun seorang pembesar. Akhirnya ia melihat sebuah gedung yang mempunyai wuwungan tinggi. Gedung ini besar sekali, temboknya tebal dan disekeliling tembok tebal dan tinggi berwarna hijau. Tan Hong memberi tanda kepada Siok Lan dan keduanya lalu menggunakan ilmu loncat mereka dan bagaikan dua ekor burung kepinis mereka melayang masuk ke dalam taman itu.

“Sumoi, ikuti saja aku,” Bisik Tan Hong yang segera maju menghampiri gedung itu dengan jalan menyusup di antara tumbuh-tumbuhan di dalam taman. Hati Siok Lan berdebardebar juga karena selama hidupnya baru kali ini ia bertindak dengan jalan sembunyi dan menyusup-nyusup sebagai lakunya seorang maling tulen! Ia merasa heran sekali karena dadanya berdebar gembira dan ia teringat akan masa kanak-kanak dulu ketika dengan Kiu Hwa ia bermain kejar-kejaran dan sembunyi-sembunyian. Pada saat

itu iapun merasa girang dan dadanya berdebar gembira seperti sekarang ini, rasa gembira dan berdebar yang ditimbulkan oleh rasa takut kalau-kalau dilihat orang! Ia ikut menyusup-nyusup di belakang Tan Hong dan kagum melihat betapa Tan Hong bergerak demikian gesit dan cepat, tetapi amat hati-hati hingga daun-daun kering yang terpijak oleh pemuda itu seakan-akan tak mengeluarkan suara! Iapun lalu berjalan dengan ujung kakinya agar tidak menimbulkan suara berisik.

Dari balik batang pohon, Tan Hong mengintai ke sekeliling gedung itu. Setelah merasa pasti bahwa di situ aman dan tidak ada orang, ia lalu memberi isyarat kepada sumoinya dan dengan cepat sekali tubuhnya melayang ke atas genteng gedung itu. Siok Lan lalu ikut melompat. Kembali ia mendapatkan Tan Hong mendekam di atas wuwungan bagaikan seorang sedang bersembunyi. Iapun ikut mendekam pula dan keduanya lalu memandang ke sekeliling dengan mata tajam. Ketika tak disengaja mereka saling pandang, hampir Siok Lan tak dapat menahan ketawanya, demikian pula Tan Hong. Entah mengapa, mereka merasa gembira dan geli, merasa bahwa mereka kembali ke masa kanak-kanak dan sedang bermainmain sembunyi untuk dicari oleh kawan lain.

Setelah mencari letak kamar besar di dalam gedung itu, Tan Hong lalu membuka genteng dengan cepat kemudian mereka lalu mengintai ke dalam. Dengan hati ingin tahu sekali, Siok Lan-pun mengincar ke dalam kamar.

Tan Hong dan Siok Lan yang mengintai di atas genteng melihat sebuah kamar besar yang mewah dan indah. Di dalam kamar itu duduk seorang setengah tua bersama isterinya. Mereka ini adalah pemilik rumah dan mereka sedang sibuk bekerja. Yang kali-laki menulis dalam sebuah buku, mencatat-catat dan yang perempuan sedang

menghitung uang emas yang bertumpuk-tumpuk di atas meja!

Melihat betapa Tan Hong diam saja tak bergerak, gadis itu menjadi heran dan memberi isyarat dengan tangannya sambil menuding ke bawah. Akan tetapi Tan Hong menggelengkan kepala, bahkan lalu berdiri menjauhi tempat itu sambil memberi tanda kepada Siok Lan supaya ikut. Setelah mereka berada agak jauh dari kamar itu, Tan Hong berkata, “Kita tak dapat bertindak sekarang, mereka masih sibuk dan belum pergi tidur, “ katanya perlahan.

Siok Lan merasa heran sekali. “Mengapa kau takuti mereka suheng? Bukankah mereka itu orang-orang lemah yang mudah saja disingkirkan?”

Sekali lagi Tan Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau masih belum memahami sifat pekerjaanku ini, sumoi. Ingatlah bahwa aku adalah seorang maling, bukan seorang perampok yang mengambil barang orang dengan kekerasan dan menggunakan senjata. Aku hanya mengambil uang orang tanpa diketahui oleh pemiliknya.”

Siok Lan tidak puas mendengar keterangan ini. “Kalau kau tidak mau terlihat oleh mereka, bukankah ada jalan lain yang lebih mudah? Mengapa harus menanti sampai mereka tidur?” Bagaimana kalau mereka semalam ini tidak tidur?”

“Kita harus menanti di atas genteng.”

“Apa … ? Menanti di sini sampai mereka tidur dan membiarkan diri kedinginan di atas genteng menjadi korban tiupan angin malam yang dingin ini? Alangkah bodohnya!”

Tan Hong tersenyum. “Memang pekerjaan ini memerlukan kesabaran besar, sumoi. Atau, barangkali kau mempunyai cara lain yang lebih sempurna?”

Siok Lan merasa bahwa sekarang iapun telah menjadi kawanan maling yang merundingkan cara bagaimana untuk mencuri barang orang lain! Ia merasa mendapat kegembiraan luar biasa dalam pekerjaan baru yang tadinya dianggap hina ini.

“Mengapa kita tidak membuat mereka tidak berdaya tanpa terlihat? Dengan menggunakan tiam-hwat (ilmu menotok urat) yang dilakukan dengan sambitan benda keras, kita mudah saja membuat mereka tak berdaya!”

Tan Hong mengangguk-angguk dan menganggap bahwa usul ini baik juga. Memang kalau ia mau, mudah saja ia membikin kedua orang di dalam kamar itu tidak berdaya tanpa mereka sempat melihat dirinya. Ia lalu bermufakat dan keduanya lalu turun mencari beberapa buah kerikil yang halus, kemudian keduanya melompat pula ke atas dan mengintai dari atas genteng.

Kedua suami isteri hartawan yang tidak mendengar sesuatu dan tak pernah menyangka akan datangnya bahaya itu masih sibuk bekerja, yang perempuan menghitung-hitung uang, yang laki-laki mencatatkan besarnya hasil yang mereka dapat dalam perdagangan mereka. Tiba-tiba dari atas genteng, melalui lubang yang dibuat oleh Tan Hong, dua butir batu kecil melayang cepat dan dengan tepat dua butir batu kecil itu menotok jalan darah di leher suami isteri hartawan itu. Tanpa dapat mengeluarkan suara apa-apa, keduanya menjadi lemas dan pingsan di tempat masing-masing!

-oo0dw0oo-

Jilid 04

Tak lama kemudian, Tan Hong dan Siok Lan melayang turun ke dalam kamar itu. Tanpa memandang kepada kedua korban itu, Tan Hong lalu mengeluarkan dua buah kantong kuningnya dari saku baju dan mengisi kantong itu penuh-penuh dengan uang perak dan emas yang bertumpuk di atas meja, bahkan ditambahnya pula dengan uang perak yang tersimpan di dalam lemari. Ketika ia telah selesai dengan pekerjaannya dan menoleh kepada Siok Lan, ia melihat betapa gadis ini berdiri bagaikan patung memandang kepada dua orang itu. Wajah gadis itu memperlihatkan perasaan iba kepada mereka. Tan Hong memandang kepada mereka dan melihat bahwa kedua orang suami isteri itu mempunyai wajah yang baik dan sabar, mempunyai watak yang baik dan tidak kikir. Akan tetapi ia tidak memperdulikan semua ini dan segera memegang tangan sumoinya untuk diajak pergi dari situ. Siok Lan tidak berkata apa-apa, akan tetapi segera ikut melompat keluar dari kamar itu dengan wajah masih menyatakan tidak tega dan tidak senang. Ketika mereka tiba di luar, ia berkata kepada Tan Hong, “Tan-suheng! Betapapun juga aku tidak suka melihat pekerjaanmu ini.”

“Mengapa, sumoi?” tanya Tan Hong dengan tenang. “Kuanggap terlalu kejam!”

“Mengapa kejam? Bukankah kau sendiri yang mengusulkan tindakan itu dan totokan kita itu tidak berbahaya, dan paling lama satu jam lagi mereka akan sadar kembali tanpa menderita sakit?”

“Bukan itu maksudku. Tapi ketika aku melihat wajah kedua orang itu, aku merasa pasti bahwa mereka adalah orang-orang yang baik hati. Kini uangnya kau curi, bukankah mereka akan merasa kecewa dan sedih? Suheng … ! Kau begitu tega membuat orang lain menderita sedih?”

Tan Hong tersenyum. “Sabarlah, sumoi, dan jangan kau berlaku kepalang tanggung. Marilah ikut aku dan saksikanlah sendiri pekerjaanku yang kauanggap kejam dan hina ini sampai selesai. Kalau sudah selesai, barulah kau boleh memberi komentar dan kritik.”

Biarpun masih merengut, namun Siok Lan menganggap bahwa ucapan ini benar juga, maka ia terus mengikuti pemuda itu menuju ke dusun-dusun. Alangkah bedanya keadaan di kota dan di dusun. Pada saat itu, bulan telah muncul setengah dan dari atas genteng Siok Lan dapat melihat jelas perbedaan ini. Baru genteng-gentengnya saja sudah jauh berbeda. Kalau rumah-rumah di kota tinggi-tinggi dan mempunyai wuwungan serta genteng yang kokoh kuat dan berwarna merah, adalah rumah di dusun-dusun jarang yang mempunyai genteng dari tanah. Kebanyakan hanya dipasangi daun-daun kering sebagai atap dan rumah-rumahnya rendah lagi kecil pula. Jika dibuat perbandingan, agaknya kandang kuda para hartawan di kota jauh lebih besar dan bagus daripada rumah orang-orang kampung ini.

Apalagi ketika itu kemiskinan sedang merajalela akibat bencana alam yang mengamuk dan yang paling merasakan akibatnya adalah orang-orang miskin ini.

Biasanya, apabila melakukan pekerjaan membagi-bagi hasil curiannya, Tan Hong tidak banyak memilih dan melemparkan potongan perak begitu saja dari atas atap ke atas pembaringan orang, akan tetapi kini ia sengaja membuka atap dan minta supaya Siok Lan menengok ke dalam. Tergetar juga hati Siok Lan melihat tubuh orang-orang yang kurus kering dengan pakaian tambal-tambalan serta dalam keadaan rumah yang benar-benar kosong dan miskin menyedihkan, tidur meringkuk kedinginan oleh karena mereka tidak mempunyai selimut untuk melindungi

diri dari serangan angin yang dapat masuk melalui celah-celah bilik mereka yang bobrok.

Tan Hong sengaja melemparkan uang perak ke atas pembaringan dengan mengerahkan tenaga hingga uang itu menimpa papan pembaringan mengeluarkan suara keras.

Biasanya ia melempar dengan perlahan hingga tidak mengagetkan tuan rumah dan kebanyakan, mereka yang mendapat bagian ini pada keesokan harinya baru akan dapat melihat potongan uang di atas pembaringannya.

Karena suara nyaring yang ditimbulkan oleh bantingan uang di atas pembaringan itu, orang-orang yang tidur di dalam kamar menjadi terkejut dan terbangun. Alangkah kaget mereka ketika melihat tiga potong perak yang bercahaya di dalam gelap. Mereka segera menyalakan lampu minyak dan ketika melihat bahwa barang berkilau itu benar-benar uang perak, semua orang lalu merubung dan dengan mata terbelalak memandang.

Tan Hong mengajak Siok Lan pergi dari atas rumah itu, akan tetapi Siok Lan masih sempat melihat betapa orang-orang di dalam rumah itu menjatuhkan diri berlutut dan mengucapkan terima kasih kepada dewata yang telah memberi pertolongan kepada mereka!

Tanpa banyak cakap Tan Hong mengajak Siok Lan ke sebuah rumah lain dan secara bergilir ia membagi-bagikan potongan perak dan emas kepada penghuni-penghuni rumah gubuk di desa-desa itu. Banyak sekali pemandangan yang menimbulkan ngeri dan haru dalam hati gadis itu malam ini. Ia melihat pemandangan-pemandangan di dalam rumah yang benar-benar hebat mengharukan. Ada penghuni rumah yang sedang menangisi tubuh seorang anggota keluarga yang telah kaku dan mati. Ada pula yang

sedang menangisi anaknya yang sakit, dan banyak sekali yang mengeluh dan menangis karena menderita lapar!

Yang paling mengesan di hati sanubari Siok Lan ketika mereka melihat dari atap ke dalam sebuah rumah yang amat bobrok. Seorang wanita muda tapi kurus kering dan pucat sedang menangisi mayat suaminya yang membuyur di atas balai-balai rusak dan seorang anak laki-laki berusia paling banyak enam tahun menangis pula memeluki ibunya.

“Ibu … ! ibu … ! ayah mengapa … ibu … ?”

Wanita itu tidak dapat menjawab, hanya menangis makin keras dan memeluki anaknya. Dari gerakan wanita itu, Siok Lan dapat menduga bahwa wanita itu juga menderita sakit payah, tubuhnya demikian lemah tak bertenaga.

“Sian-ji … anakku … jaga dirimu baik-baik nak … kalau kau merasa lapar … jangan malu-malu … mintalah kepada orang lain … minta belas kasihan orang-orang … !”

“Aku harus mengemis, ibu … ?” tanya anak itu.

“Terpaksa, Sian-ji … ! Apa boleh buat, kau tidak boleh mati kelaparan seperti orang tuamu … ! Kau masih anak-anak, perlu hidup lebih lama … anakku … ! Oh, anakku Sian ji … !” Wanita itu memeluk anaknya dan dekapan ini agaknya akan merupakan dekapan terakhir apabila wanita itu tidak segera mendapat pertolongan yang berupa obat-obat bagi penyakitnya dan beras bagi perutnya yang telah berhari-hari tidak diisi.

Akhirnya, setelah kesedihan dan keharuan itu agak mereda, terdengar ibu itu bertanya, “Sian-ji … ! Kau … lapar, nak?”

Lama tidak terdengar jawaban, tapi kemudian terdengar juga suara anak itu lemah, “Ti … tidak, ibu … aku tidak lapar!”

“Sian-ji, jangan kau membohong, ibu dapat mendengar suara perutmu berkeruyuk … “

“Tidak, ibu!” suara anak itu tetap dan keras. “Selama kau belum bisa mendapat makanan, aku takkan mau merasa lapar!”

Tak tertahan pula hati Siok Lan memandang dan mendengar semua ini, dan terdengarlah isak tangis gadis ini di atas atap! Dipegangnya lengan Tan Hong yang berjongkok di dekatnya. “Ah! Suheng … kasihan sekali mereka itu … tolonglah mereka!”

Tan Hong lalu mengambil semua sisa uang emas dan perak yang masih ada beberapa belas potong lagi lalu dilemparkannya uang itu ke dalam kamar tersebut.

Tak terdengar suara apa-apa di dalam kamar, seakan-akan kedua manusia yang berada di dalamnya merasa terkejut dan takut. Kemudian terdengar anak itu berseru lemah, “Ibu, ibu … lihat, apakah ini?”

“Uang … ! Ya Tuhan, uang emas dan perak … Sian-ji … “ terdengar wanita itu menangis lagi dan Siok Lan yang tak dapat menahan tangisnya, lalu melompat pergi dari situ sambil terisak-isak!”

Tan Hong mengejarnya dan segera memegang lengan sumoinya. “Sumoi, tenanglah! Pemandangan seperti itu bagiku tidak aneh lagi, dan sekarang nyatakanlah pendapatmu tentang pekerjaanku ini.” Sambil berkata demikian, Tan Hong mengebut-ngebutkan kedua kantong kuningnya yang telah kosong dan memasukkan ke dalam saku bajunya. Siok Lan memandang semua ini dengan

mata berlinang penuh air mata, kemudian ia berkata, “Ah, Tan-suheng, tak kusangka di dunia ini ada pemandangan yang demikian menyedihkan. Tak kusangka bahwa banyak sekali bangsa kita yang hidup sengsara! Ah, kini aku mengerti mengapa kau menjadi maling!”

Tan Hong menghela napas lega. “Sumoi, ternyata kau juga mempunyai keadilan dan kejujuran serta hati welas asih. Memang, jangan kaukira bahwa akupun tidak kasihan melihat kedua suami isteri hartawan yang kucuri uangnya tadi. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa selain harta yang kucuri, mereka itu masih mempunyai banyak harta lain yang takkan habis mereka makan selama hidup bersama anak cucu mereka! Dibandingkan dengan kesengsaraan para rakyat miskin itu, apakah arti kesedihan kedua suami isteri hartawan yang kehilangan sedikit uangnya itu?”

“Kau benar, suheng. Mulai sekarang aku tidak mau memandang rendah lagi kepada pekerjaanmu. “

“Sumoi! Baru melihat saja keadaan orang-orang yang miskin dan menderita kelaparan, hatimu telah tidak kuat, itu tanda seorang berbudi mulia. Kau baru melihat saja sudah ikut merasa sengsara, apalagi aku telah mengalami sendiri!” Tan Hong menghela napas karena teringat akan pengalamannya di waktu masih kecil.

“Engko Hong, kau pernah mengalami … kelaparan?” tanyanya dan panggilannya

berubah “engko” yang lebih mesra daripada “suheng”. Perubahan ini terloncat keluar dari mulutnya tanpa dirasainya, sedangkan kedua matanya memandang dengan bersinar penuh perasaan iba.

Tan Hong tersenyum sedih. “Ayah ibuku meninggal karena kelaparan! Hal ini baru kepadamu saja kuceritakan dan tak perlu aku malu akan hal itu. Sedangkan aku

sendiripun hampir saja mati kelaparan kalau tidak ditolong oleh suhu.”

Siok Lan makin tertarik dan mendesak supaya Tan Hong menceritakan pengalamannya dengan singkat dan Siok Lan yang mendengar penuturan ini, mengucurkan air mata karena terharu dan kasihan.

“Alangkah malang nasibmu, engko Hong. Kini mengertilah aku mengapa kau selalu bermuram durja seperti seorang yang telah menderita kesengsaraan hebat, dan tahu pula aku mengapa kau demikian memperhatikan nasib-nasib orang-orang yang menderita kelaparan hingga rela menjadi maling untuk menolong mereka! Kau mencuri semata-mata untuk menolong rakyat miskin hingga kau melupakan dirimu sendiri, dan lihatlah pakaianmupun sudah penuh tambalan. Ah, aku dulu sala sangka, engko Hong. Kau benar-benar seorang maling budiman yang mulia dan suci!”

“Terima kasih, adikku yang baik. Sekarang aku tidak menderita lagi, bahkan aku merasa hidupku penuh bahagia. Terutama sekali semenjak kita bertemu.” Tan Hong memandang tajam dan untuk sesaat Siok Lan membalas pandang, mata pemuda itu, akan tetapi gadis ini segera menundukkan muka dengan malu.

“Ah, hari telah mulai terang, mari kita pulang. Tentu Ong-suheng menanti-nanti kita!” katanya sambil melompat jauh. Tan Hong mengejar dan mereka lalu lari dengan cepat menuju ke rumah penginapan.

***

Ketika mereka tiba di atas genteng rumah penginapan itu, alangkah terkejut mereka melihat betapa Ong Kai sedang mengamuk dan dikeroyok oleh lima orang yang berpakaian sebagai piauwsu!

Ternyata ketika Ong Kai berada seorang diri di dalam kamarnya dan tidur nyenyak, menjelang fajar, tiba-tiba ia mendengar suara banyak kaki orang berada di atas genteng kamarnya. Pemuda ini menyangka bahwa tentu ada orang-orang jahat hendak menyerbu, maka cepat ia mencabut pedangnya dan keluar dari jendela kamarnya. Benar saja, di atas genteng ia melihat bayangan beberapa orang memegang pedang.

Ong Kai memang pemberani dan tabah. Ia segera mengayun tubuhnya melompat ke atas sambil membentak, “Bangsat-bangsat kecil, mau apa pagi-pagi datang mengganggu orang?”

Kelima orang yang berada di atas genteng melihat pemuda muka hitam ini, berseru, “Nah, ini dia orangnya! Tangkap! Bunuh!” Mereka lalu maju mengeroyok tanpa banyak pertanyaan lagi!

Tentu saja Ong Kai sangat marah. Ia maklum tentu telah terdapat salah paham dan salah sangka, akan tetapi dasar ia berhati keras dan tabah, ia tidak mau banyak bertanya pula. Dengan sengit ia memutar-mutar pedangnya dan kelima orang piauwsu yang mengepungnya itu terpaksa mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk menahan amukan pemuda muka hitam itu! Biarpun ia hebat dan keras hati, namun Ong Kai masih dapat membedakan orang jahat dan orang baik, maka iapun tidak mau menurunkan tangan kejam, dan hanya memainkan pedangnya sedemikian rupa untuk memamerkan kepandaian saja tanpa mengirim serangan yang dapat mendatangkan bahaya bagi kelima orang musuhnya!

Pada saat itu datanglah Tan Hong dan Siok Lan. Melihat bahwa para pengeroyok Ong Kai berpakaian piauwsu, Tan Hong segera berseru, “Saudara-saudara, tahan dulu!

Saudaraku inipun seorang piauwsu, mengapa kalian mengeroyoknya?”

Kelima orang piauwsu itu memang telah terdesak hebat dan tak berdaya, maka ketika mendengar teriakan Tan Hong ini mereka lalu melompat mundur dan berdiri berjajar sambil memandang tajam.

Ong Kai tertawa bergelak-gelak. “Ha, ha, ha! Piauwsu kampungan! Bagaimana, sudah kenal kehebatanku? Tiada hujan tiada angin kalian datang mengeroyokku, apakah di rumah tidak mempunyai pekerjaan lalu iseng-iseng memamerkan kepandaianmu?”

Seorang di antara kelima piauwsu itu tidak lain adalah Lim-piauwsu dari Wi-ciu yang pernah bertempur dan mengejar dan berusaha menangkap Tan Hong ketika pemuda ini berada di Wi-ciu. Melihat kedatangan Tan Hong, Lim-piauwsu terkejut dan segera menjura, “Ah, Gin-kiam Gi-to datang, tentu taihiap akan dapat menerangkan sejelasnya kepada kami, oleh karena kami percaya bahwa taihiap bukan tergolong para perampok hina!”

“Sabarlah dulu kawan-kawan, sebenarnya apakah yang telah terjadi?” tanya Tan Hong.

“Mereka berlima ini datang-datang menyerbuku tanpa memberi kesempatan sedikitpun!” seru Ong Kai dengan suara marah.

Lim-piauwsu menghela napas. “Mungkin sekali kami salah sangka, harap kau sudi memberi maaf,” katanya kepada Ong Kai. Kemudian kepada Tan Hong ia berkata, “Marilah kita turun ke bawah saja, kurang leluasa bicara di atas genteng. “

Semua orang lalu melayang turun dan oleh karena rombongan piauwsu-piauwsu itu telah dikenal dan

dihormati semua penduduk sebagai orang-orang gagah, maka mudah saja bagi Lim-piauwsu untuk minta kepada pengurus hotel agar supaya ruang belakang disediakan khusus untuk mereka dan tidak boleh diganggu orang lain.

Setelah memasuki ruang belakang dan makan suguhan bakpauw dan air teh yang dipesan Lim-piauwsu, sebelum bercerita, Lim-piauwsu minta kepada Tan Hong supaya memperkenalkan si muka hitam dan si nona cantik itu.

“Ini adalah suteku bernama Ong Kai dan pekerjaannya juga menjadi piauwsu di Luikoan-bun, dan nona ini adalah sumoi-ku bernama Lo Siok Lan. “

Lim-piauwsu kembali menyatakan penjelasannya yang telah salah melihat orang dan minta supaya Ong Kai suka memberi maaf.

“Nanti dulu!” kata Ong Kai, “Soal minta maaf tidak ada artinya. Yang penting aku ingin sekali mengetahui, kalian sangka siapa aku ini?”

Dengan sejujurnya Lim-piauwsu menjawab, “Kami tadinya menyangka bahwa kau adalah Hek-bin-mo!”

“Hai!!” Oang Kai bangun dari tempat duduknya dengan kaget dan heran, sedangkan Tan Hong dan Siok Lan juga merasa terkejut sekali. Akan tetapi kelima piauwsu itu memandang heran tidak mengerti mengapa ketika orang muda itu menjadi demikian kaget.

“Apakah kalian ini kembali hendak mencari perkara dengan aku? Jangan kalian main-main!” Ong Kai membentak dan wajahnya yang hitam itu menjadi makin hitam oleh karena darah merah menjalar di urat-urat mukanya.

“Lim-piauwsu, suteku ini memang bernama Hek-bin-mo!” kata Tan Hong.

Kini Lim-piausu dan kawan-kawannyalah yang terkejut sekali dan Lim-piauwsu buruburu berdiri menjura kepada Ong Kai. “Maaf … ! Maaf …, sekali lagi terjadi salah paham yang sama sekali tak kami sangka dan sekali-kali kami tidak sengaja hendak membikin marah dan tak senang kepada Ong-enghiong. Kami memang tidak membohong atau hendak mempermainkan orang, akan tetapi benar-benar kepala perampok yang kami musuhi itupun disebut Hek-bin-mo dan bernama Ciauw Lek.”

Lim-piauwsu lalu menuturkan bahwa baru-baru ini muncul serombongan perampok yang berkepandaian tinggi dan yang sama sekali tidak menghargai persahabatan dan mengganggu pengiriman barang-barang yang dikawal oleh para piauwsu. Lim-piauwsu dan beberapa orang kawan telah mendatangi sarang perampok baru itu di sebuah hutan, akan tetapi mereka tidak mau memperdulikannya, bahkan para piauwsu itu lalu dimaki, dihina, kemudian diserang hingga sebuah pertempuran hebatpun terjadi. Akan tetapi, perampokperampok itu terlampau hebat hingga rombongan piauwsu itu dipukul mundur, bahkan tiga orang kawan Lim-piauwsu mendapat luka berat.

Dengan hati marah Lim-piauwsu lalu mengumpulkan kawan-kawannya dari beberapa kota dan mereka ini lalu menyerbu ke dalam hutan untuk membuat pembalasan, akan tetapi kembali mereka dipukul mundur. Di antara pimpinan perampok, terdapat tiga orang kepala perampok yang memiliki kepandaian silat tinggi sekali. Seorang di antara ketiga kepala rampok ini bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dan berjuluk Hek-bin-mo! Dua orang yang lain adalah orang-orang tua yang berkepandaian hebat sekali, yakni dua saudara kembar bernama Ang Houw dan Ang Touw dan yang dinamai orang Sepasang iblis Kembar!”

Setelah menceritakan ini semua, Lim-piauwsu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Tan Hong dan kawan-kawannya, hingga ketiga orang muda itu menjadi terkejut lalu buru-buru mengangkat bangun Lim-piauwsu dan piauwsu-piauwsu lain yang juga ikut berlutut.

“Sam-wi enghiong yang mulia, kami mohon pertolongan sam-wi untuk membantu kami, oleh karena selain sam-wi yang maju membantu, rasanya tak mungkin bagi kami untuk mengusir perampok-perampok itu dan ini berarti bahwa sumber nafkah kami menjadi lenyap! Tolonglah kami, demi persahabatan di kalangan kang-ouw.”

Tan Hong merasa kasihan juga melihat keadaan para piauwsu itu. Sebetulnya ia tidak tertarik dan tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan para jago liok-lim (perampok), maka ia lalu mengambil keputusan untuk menjadi orang penengah saja dan mencoba mendamaikan perampok-perampok itu dengan para piauwsu agar dapat bekerja sama dengan baik. Juga ia tertarik mendengar kehebatan mereka dan ingin sekali menyaksikan sendiri.

Akan tetapi tidak demikian dengan Ong Kai. Semenjak tadi hatinya telah amat tertarik mendengar bahwa ada kepala rampok yang bernama sama, bermuka serupa dan bertubuh sebentuk dengan dia! Maka ia lalu berkata kepada Lim-piauwsu, “Jangan khawatir, Lim-piauwsu! Aku takkan membiarkan seorang Hek-bin-mo lain melakukan kejahatan dan membikin cemar nama julukanku! Hendak kulihat bagaimana kehebatannya Hek-bin-mo palsu itu!”

“Lim-piauwsu, memang benar ucapan Ong-sute. Kita harus saling bantu dan sudah menjadi keharusan kita untuk membantu kawan-kawan yang menderita kesukaran. Biarlah siauwte ikut bersamamu ke sarang perampok itu dan mencoba mendamaikan urusan ini.”

Sementara itu, Siok Lan tidak mau berkata apa-apa, dalam hati gadis ini merasa heran sekali melihat sikap Tan Hong. Pemuda itu sendiri adalah seorang maling besar, bagaimana sekarang ia mau memusuhi perampok? Bukankah mereka masih segolongan? Betapapun juga, apabila Tan Hong memusuhi golongan perampok, maka ia akan dapat dianggap mengkhianati golongan sendiri!

Setelah bersiap sedia, Lim-piauwsu lalu memberitahukan kepada kawan-kawan piauwsu lainnya, hingga tak lama kemudian telah berkumpul dua puluh orang piauwsu yang mengantar ketiga orang muda itu ke hutan tempat perampok itu bersarang. Mereka ini merupakan sebuah barisan panjang yang berjalan dengan sikap gagah oleh karena mereka menaruh pengharapan besar untuk dapat membalas dendam kepada para perampok yang bertindak sewenang-wenang itu. Dari Lim-piauwsu mereka mendengar bahwa ketiga anak muda yang hendak membantu mereka itu adalah pendekar-pendekar yang berkepandaian tinggi, bahkan yang seorang adalah Gin-kiam Gi-to yang terkenal. Para piauwsu ini kagum sekali melihat Siok Lan yang selain cantik jelita, juga bersikap pendiam dan tampak gagah sekali. Oleh karena di antara rombongan piauwsu ini banyak pula yang masih muda-muda, maka sebagaimana biasanya pemuda-pemuda menghadapi seorang gadis jelita, biarpun mereka tidak berani terang-terangan oleh karena mendengar akan kehebatan Siok Lan, namun mereka tetap berlumba untuk berlagak agar nampak gagah dan menarik perhatian gadis itu! Akan tetapi, Siok Lan berjalan sambil tunduk dan sama sekali tidak mau memperdulikan pandangan mata semua orang, baik yang datang dari fihak rombongan piauwsu sendiri, maupun yang datang dari penduduk yang melihat rombongan itu berjalan. Para penduduk telah mendengar berita bahwa rombongan ini hendak menyerbu perampok

dan mereka kagum melihat bahwa di antara sekian banyak laki-laki gagah, terdapat seorang pendekar wanita yang demikian cantik jelita dan yang berjalan dengan tenang, seakan-akan tidak sedang hendak menghadapi pertempuran dengan para perampok ganas !

***

Yang merajai hutan Pek-siong-lim adalah tiga orang kepala rampok yang diceritakan oleh Lim-piauwsu tadi, yakni kedua saudara kembar yang sudah tua Ang Houw dan Ang Touw yang berjuluk Sepasang Iblis Kembar, dan si muka hitam Ciauw Lek yang disebut orang Hek-bin-mo si Iblis Muka Hitam, julukan yang sama benar dengan julukan Ong Kai!

Mereka bertiga merupakan tiga serangkai yang telah membuat nama besar di daerah utara, akan tetapi pada suatu hari, di utara telah muncul seorang pendekar tua yang memiliki kepandaian tinggi sekali, sungguhpun keadaan kakek itu amat miskin dan buruk. Munculnya pendekar perantau ini membuat gempar kalangan liok-lim oleh karena pendekar ini benci sekali kepada bangsa perampok dan penjahat. Banyak sekali rampok yang telah tewas dan roboh di tangan pendekar ini, dan Ciauw Lek beserta kedua orang kawannya lalu lekas-lekas melarikan diri. Mereka lalu kabur ke selatan dan akhirnya memilih tempat di hutan Pek-sionglim, menjadi kepala rampok disitu. Tertarik oleh kehebatan tiga orang kepala rampok ini, banyak anak buah rampok yang datang membantu mereka.

Tak lama kemudian daerah itu menjadi tidak aman. Kepala rampok yang dulu, yang ditewaskan oleh ketiga kepala rampok baru ini, dapat bekerja sama dan menghargai para piauwsu hingga tak pernah mengganggu barang-barang yang dilindungi oleh para piauwsu ini. Sebaliknya para piauwsu juga seringkali memberi

sumbangan-sumbangan kepada kepala rampok itu. Akan tetapi, setelah kepala rampok digantikan oleh Sepasang Iblis Kembar dan si Muka Hitam, siapa saja yang melewati daerah itu tentu akan dirampok habis-habisan tanpa pilih bulu! Bahkan ketiga orang kepala rampok baru ini tidak segan-segan menyerbu ke dalam dusun-dusun dan merampok penduduk dusun, mengangkut hasil bumi yang mereka tanam dengan susah payah!

Di antara semua piauwsu yang menjadi korban, juga barang-barang di bawah perlindungan Lim-piauwsu tak terkecuali. Lim-piauwsu menjadi marah dan menyerbu, akan tetapi kepandaian ketiga kepala rampok itu benar-benar hebat, hingga bukan saja ia tidak dapat mengalahkan mereka, bahkan di antara kawan-kawannya ada yang tewas dan luka!

Kini setelah para piauwsu itu bertemu dengan Ong Kai yang telah mereka ketahui kehebatannya ketika kelima piauwsu itu mengeroyoknya, dan terutama oleh karena Ong Kai berkawan dengan Tan Hong si Maling Budiman yang terkenal itu, ditambah pula dengan seorang pendekar wanita yang biarpun belum mereka saksikan kehebatannya, akan tetapi oleh karena pendekar wanita itu menjadi adik seperguruan dari si Maling Budiman, mereka percaya bahwa gadis pendekar itupun tentu memiliki ilmu silat yang tinggi pula. Tentu saja mereka berbesar hati dan timbul pengharapan mereka untuk dapat mengusir gerombolan perampok yang jahat itu.

Ang Houw dan Ang Touw serta Ciauw Lek, mempunyai banyak sekali anak buah dan mereka memang mengadakan aturan yang keras serta berdisiplin. Di setiap sudut hutan Peksiong-lim mereka tugaskan penjaga-penjaga dan penyelidik-penyelidik hingga kedatangan para piauwsu itu telah mereka ketahui dengan cepat.

Ciauw Lek tertawa geli, “Ha, ha, ha, piauwsu-piauwsu anjing itu benar-benar ingin mampus! Apakah mereka belum juga kapok? Lebih baik mengirim tanda takluk kepada kita agar kita dapat mengampuni mereka, daripada datang mengantar kematian! Ha, ha, ha!”

“Ciauw-sute, jangan kau pandang rendah mereka. Menurut laporan penyelidik, kini mereka datang mengiringkan tiga orang muda yang agaknya menjadi jago mereka. Lebih baik kita berhati-hati menghadapi mereka,” kata Ang Houw yang tertua dan lebih berhati-hati sikapnya.

“Twako berkata benar, sute,” kata Ang Touw yang selalu membela kakaknya. “Memang tidak ada salahnya kalau kita berhati-hati agar jangan sampai mengalami kegagalan seperti ketika di utara. “

Ciauw Lek yang bermuka hitam mencibirkan bibirnya dan tersenyum menghina. “Orang-orang selatan yang lemah ini perlu apa ditakuti? Tapi, kalau ji-wi twako hendak mengadakan sambutan secara baik-baik, akupun setuju saja. Apakah aku harus melarang anak buah yang hendak menganggu mereka?”

“Biarlah, biar mereka maju lebih dulu untuk sekedar menguji keadaan dan kekuatan mereka. Kita bersembunyi dan melihat sepak terjang mereka lebih dulu. “

Ketiga kepala rampok ini lalu mengatur persiapan dan memberi perintah-perintah kepada anak buah mereka. Mereka lalu mengadakan pencegatan di sebuah tikungan yang banyak ditumbuhi pohon siong yang besar-besar.

Rombongan piauwsu itu masuk ke dalam hutan dan hampir semua piauwsu yang pernah mengalami kekalahan besar di dalam hutan ini mau tidak mau merasa dag-dig-dug juga. Akan tetapi oleh karena melihat betapa Tan Hong, Ong Kai dan Siok Lan berjalan dengan sikap tenang dan

berani, mereka lalu turut maju sambil memandang kekanan ke kiri sambil bersiap-sedia dengan pedang atau senjata lain di tangan!

Ketika mereka tiba di tukungan di mana para perampok telah menanti sambil bersembunyi di belakang pohon, tiba-tiba Tan Hong dan kedua orang kawannya yang bermata tajam berhenti dan mengangkat tangan ke belakang memberi isyarat supaya semua piauwsu berhenti.

Tiba-tiba dari depan terdengar suara mengiuk dan belasan batang anak panah meluncur cepat dari segala jurusan! Akan tetapi anak-anak panah ini kesemuanya menuju ketiga orang muda yang berdiri di depan. Ini memang kehendak para kepala perampok yang hendak menguji kepandaian ketiga orang muda itu!

Ong Kai dan Tan Hong tenang-tenang saja, akan tetapi Siok Lan merasa marah sekali. Gadis ini tahu-tahu telah melompat ke depan sambil mencabut pedangnya hingga semua anak panah kini menuju kepada tubuhnya. Para piauwsu memandang dengan mata terbelalak dan hati berdebar. Akan tetapi, secepat kilat Siok Lan memutar pedangnya dan runtuhlah semua anak panah yang menyambar ke arah dirinya, bagaikan air hujan terhalang payung. Inilah gerakan pedang yang disebut Dewi Kwan Im Membuka Payung! Kagumlah para piauwsu melihat kehebatan gadis ini dan mereka memuji dengan girang. Ternyata gadis pendekar ini tidak mengecewakan harapan mereka!

“Perampok-perampok rendah tak tahu malu! Keluarlah kalau kalian laki-laki sejati, jangan menyerang secara gelap bagaikan lakunya pengecut hina!”

Tiba-tiba dari belakang pohon berlompatan keluar lima orang tinggi besar yang memegang golok di tangan. Mereka

ini maju menubruk dengan golok terangkat ke arah Siok Lan!

Kagetlah para piauwsu itu, apalagi ketika mereka melihat betapa Tan Hong dan Ong Kai hanya tersenyum sambil menonton saja, sama sekali tidak hendak membantu dara jelita

yang dikeroyok lima orang itu! Akan tetapi, sekali lagi mereka tertegun dan kagum. Siok Lan berseru keras dan memutar pedangnya sedemikian rupa hingga sekali tangkis saja kelima golok lawannya terpental! Anak buah perampok itu terkejut dan hendak lari, akan tetapi tangan kiri dan kaki kanan Siok Lan bergerak cepat, dan robohlah dua orang perampok yang larinya paling belakang!

Gadis pendekar itu lalu memasukkan pedangnya di sarung pedang dan kini ia menyambar lengan tangan kedua orang itu dan menyentak keras ke atas sambil berseru, “Perampok-perampok hina, terimalah kembali dua ekor anjingmu ini!” Dan luar biasa sekali! Dengan sekali ayun saja kedua tubuh anak buah perampok itu, terlempar ke arah pohonpohon di depan bagaikan jatuhnya dua buah nangka!

Akan tetapi pada saat itu terdengar seruan “Hebat sekali!” dan dari belakang semak-semak melayang keluar tubuh seorang tua yang cepat meyambar tubuh kedua anak buah perampok yang masih melayang dan agaknya hendak membentur batang pohon itu! Begitu kakek itu mengulur kedua tangannya, ia berhasil menangkap dengan tepat leher baju kedua perampok dan tubuhnya melayang turun dengan gerakan ringan sekali. Kemudian ia mendorong kedua perampok itu ke kanan dan ke kiri hingga keduanya jatuh terguling ke dalam semak!

Diam-diam Tan Hong, Ong Kai dan Siok Lan kagum juga melihat gerakan Garuda Sakti Menyambar Kelinci yang diperlihatkan oleh kakek tadi untuk menolong kedua orang perampok itu.

Kakek itu tidak lain ialah Ang Houw dan pada saat itu juga, Ang Touw dan Ciauw Lek keluar pula dari tempat persembunyian mereka. Ketika melihat Ciauw Lek keluar, Tan Hong dan Siok Lan hampir tak dapat menahan geli hati mereka. Memang, orang tinggi besar ini hampir serupa dengan Ong Kai, baik kehitaman mukanya, maupun tubuhnya yang tinggi besar itu. Kalau saja Ong Kai berdiri di sebelah orang hitam ini, maka di situ akan terdapat dua orang kembar, oleh karena kedua orang itupun serupa betul!

Ang Houw yang selalu berhati-hati lalu menjura kepada ketiga anak muda itu dan bertanya, “Bolehkah kami mengetahui siapakah lihiap yang gagah ini dan siapa pula ji-wi enghiong yang datang memasuki daerah kami dengan para piauwsu itu?”

Sebelum Tan Hong membuka mulut menjawab, ia telah didahului oleh Ong Kai yang menuding sambil membentak marah, “Perampok-perampok busuk! Sebelum kalian bertanya, mengakulah lebih dulu. Apakah setan ini yang berani memakai nama julukan Hek-bin-mo?” Sambil berkata demikian, ia menunjuk ke arah hidung Ciauw Lek!

Memang semenjak tadi Ciauw Lek memperhatikan Ong Kai yang nampak gagah itu, maka kini mendengar betapa pemuda muka hitam itu, mengeluarkan kata-kata menghina dan datang-datang memaki dirinya, ia lalu balas membentak, “Akulah Hek-bin-mo Ciauw Lek! Kau setan hitam, mau apa bertanya dan menyebut-nyebut namaku?”

“Bagus! Kalau begitu, mulai saat ini aku melarang kau menggunakan nama julukan Hek-bin-mo dan mulai saat ini

kaupun harus pergi dari hutan ini dan jangan berani mengganggu orang lagi. Kalau tidak, tuanmu ini akan memutar batang lehermu!”

Bukan main marahnya Ciauw Lek mendengar ini. Kedua matanya melotot dan dadanya naik turun terdorong gelombang kemarahan, “Setan hutan! Siapa kau maka berani berlagak sesombong ini?”

Ong Kai tertawa, “Dengarlah, monyet! Aku bernama Ong Kai dan aku disebut Hek-bin-mo!”

Tan Hong dan Siok Lan tersenyum geli dan para piauwsu itupun menahan geli hati mereka, sungguhpun mata mereka memandang dengan penuh ketegangan melihat lagak kedua orang tinggi besar yang menyeramkan itu. Dengan heran Ciauw Lek melangkah mundur setindak.

“Kau … ! Hek-bin-mo palsu!”

“Bangsat, kalau begitu kau harus mampus!” Ong Kai lalu menerjang dengan kepalan tangan dalam gerak pukulan Raja Maut Merampas Nyawa! Pukulan ini hebat sekali, akan tetapi dengan berani Ciauw Lek lalu menangkis dengan lengan tangannya. Dua lengan tangan yang besar dan kuat beradu dan akibatnya Ciauw Lek terhuyung mundur tiga langkah!

Melihat ini, kedua saudara kembar she Ang itu lalu maju dan berkata, “Sute, tahan dulu. Biar kita bicara dulu dengan mereka ini!”

Juga Tan Hong yang sebetulnya hanya bermaksud menjadi pendamai saja, mencegah Ong Kai menyerang terus, “Ong-sute, sabarlah dulu. “

Ong Kai menggigit bibirnya. “Kalau tidak dihalangi, pasti aku akan putar batang lehermu sampai putus!”

Ang Houw lalu bertanya kepada Tan Hong, oleh karena itu ia tahu bahwa pemuda ini yang menjadi pemimpin rombongan itu.

“Enghiong yang gagah, sekali lagi kami ulangi pertanyaan kami tadi. Apakah maksudmu datang ke sini dan memusuhi kami? Apakah sam-wi sengaja datang hendak membela para piauwsu itu?”

Tan Hong menjawab dengan suara halus dan tenang. “Tai-ong, sebenarnya kami datang hanya hendak mendamaikan urusan yang timbul di antara kalian dan para piauwsu. Kami minta kiranya kalian sudi bertindak bijaksana dan tidak melakukan perampasan terhadap barang-barang yang dilindungi oleh para piauwsu itu. Ingatlah bahwa mereka inipun melakukan tugas pekerjaan mereka dan apabila kalian mengganggu, maka berarti kalian menanam bibit permusuhan yang tiada habisnya. “

“Kau anak muda, kurus kering dan jembel busuk! Siapakah kau ini maka begini cerewet?” Tiba-tiba Ciauw Lek membentak dan menubruk ke arah Tan Hong sambil mengirim kepalan ke arah kepala Tan Hong. Tan Hong berlaku tenang, dengan sedikit memiringkan kepala ia mengelak dari pukulan ini dan tanpa bergerak dari tempatnya, kaki kirinya meluncur ke depan dan tubuh Ciauw Lek tertendang sampai terlempar dua tombak jauhnya! Untung bagi si muka hitam bahwa Tan Hong tidak hendak mencelakakan jiwanya, maka ia hanya mendapat sedikit luka dan kecet saja ketika tubuhnya terlempar ke semak-semak berduri!

Biarpun Ang Touw juga mempunyai watak lebih sabar daripada Ciauw Lek, akan tetapi ia tidak sesabar Ang Houw. Melihat sutenya dirobohkan orang sedemikian mudahnya, naiklah darahnya dan secepat kilat ia maju menyerang dengan pedang di tangan! Ia menyerang dengan

gerakan Burung Walet Pulang ke Sarang dan pedangnya meluncur ke arah leher Tan Hong! Melihat kecepatan gerakan ini dan merasa betapa pedang itu mendatangkan angin yang cukup hebat, Tan Hong lalu mencabut pedangnya dan menangkis. Tergetarlah telapak tangan Ang Touw ketika pedangnya kena ditangkis, akan tetapi tangkisan itu tidak cukup kuat untuk membuat pedangnya terpental! Diam-diam Tan Hong juga memuji tenaga orang itu.

Akan tetapi, ketika melihat pedang perak itu berkilauan di tangan Tan Hong, seorang di antara para anak buah perampok berteriak, “Hai, dia adalah Gin-kiam Gi-to si Maling Budiman!”

Terkejutlah ketiga kepala rampok itu mendengar nama ini disebut, Ang Houw segera menjura dan bertanya, “Betulkan, kau Gim-kiam Gi-to?”

Tan Hong tak menyembunyikan nama julukannya dan mengangguk sambil memandang tajam.

Maka merahlah wajah Ang Houw mengetahui bahwa pemuda yang hebat ini benar-benar si Maling Budiman adanya! Ia lalu menuding dan berkata marah, “Gin-kiam Gi-to! Kau seorang maling yang telah membuat nama besar, akan tetapi ternyata kau sama sekali tidak tahu aturan dalam kalangan liok-lim! Kau sendiri seorang maling, mengapa kau membela para piauwsu dan datang memusuhi kami? Apakah ini takkan membuat sesama kaum mengatakan bahwa sebagai seekor bebek kau telah berani masuk ke kandang besar dan menyerang angsa?” Perumpamaan ini dimaksudkan bahwa seekor bebek yang kecil tentu tidak mau menyerang angsa yang masih segolongan dengannya!

Tan Hong tersenyum dingin dan menjawab, “Tai-ong, jangan kau berlancang mulut dan menggolongkan aku sebagai golonganmu! Biarpun aku seorang maling, akan tetapi bukan sembarang maling seperti yang kaukira! Memang pada umumnya, seorang maling boleh diumpamakan saudara muda dari seorang perampok! Akan tetapi, kau merampok, membunuh, dan mencelakakan orang lain hanya untuk memenuhi dan menyenangkan kebutuhan sendiri. Kau melakukan kejahatan terdorong oleh nafsu tamak dan terdorong oleh keinginan hidup mewah sehingga melupakan perikemanusiaan dan perikeadilan! Jangan kau persamakan aku dengan golonganmu ini! Selama menjalankan pencurian, aku belum pernah mempergunakan hasil curianku untuk kepentinganku sendiri! Kau dan kawan-kawanmu telah mengganggu dan mencelakakan para piauwsu ini, serta menurut pendengaranku, kalian telah melakukan perampokan ke dusun-dusun, merampok penduduk yang miskin, bahkan melakukan pembunuhan-pembunuhan! Oleh karena itulah maka aku dan kedua adikku ini datang untuk memberi peringatan keras kepadamu!”

Ucapan Tan Hong ini disertai amarah yang meluap oleh karena ia tidak rela bahwa dirinya dipersamakan dengan mereka, penjahat-penjahat kejam ini!

Merahlah muka Ang Houw, “Jangan sembarangan menuduh! Aku tak pernah merampok penduduk dusun sebagaimana yang kau katakan itu!”

Tan Hong tersenyum menyindir, “Mungkin bukan kau sendiri yang bertindak. Akan tetapi kalau anak buahmu yang berbuat, apakah kau hendak melepaskan tanggung jawab dari tanganmu? Tidak bisa, tai-ong. Anak kecil yang berbuat jahat, orang tua harus bertanggung jawab. Anak

buah yang menyeleweng, pemimpinnya tak lepas dari pertanggung jawabnya!”

Kini Ang Touw tak dapat menahan sabarnya lagi. “Gin-kiam Gi-to, apa kaukira kami berdua saudara Ang takut kepadamu? Marilah kita putuskan perkara ini dengan tangan, bukan dengan lidah! Apakah yang kau kehendaki? Kau datang bertiga dan kamipun bertiga pula! Kita mengadu kepandaian tiga lawan tiga atau maju semua dengan piauwsu itu? Anak buah kami juga sudah bersiap!”

Tan Hong maklum bahwa apabila semua maju akan terjadilah pertempuran besar dan akan banyak orang yang terluka atau tewas, maka ia berkata lantang, “Sam-wi tai-ong! Marilah kita mengadu kepandaian sebagai layaknya orang-orang ksatria, dan tidak main keroyokan! Ingin sekali kami bertiga minta pengajaranmu!”

Tiba-tiba Ciauw Lek melompat maju dengan marah. “Aku maju lebih dulu, siapa yang hendak main-main denganku?”

Ong Kai cepat menyambut si muka hitam ini. “Setan palsu! Akulah lawanmu!” Hekbin-mo ini cepat mencabut pedangnya.

“Bagus! Kaukira aku takut kepada tenagamu yang besar? Majulah kau, setan!”

Ong Kai lalu menyerang yang ditangkis dengan gesit oleh Ciauw Lek dan mereka lalu bertempur sengit. Semua orang menonton pertempuran ini dan para piauwsu bersiap sedia menghadapi kemungkinan majunya para anggauta perampok jika akan menyerbu.

Ilmu pedang Ciauw Lek cukup hebat dan ganas dan dari gerakan kaki dan tangan kirinya yang kadang-kadang maju pula menyerang dengan cengkeraman, dapat diduga bahwa

ia mempunyai ilmu kepandaian silat dari utara yang tercampur dengan ilmu berkelahi bangsa Mongol. Akan tetapi, menghadapi Ong Kai ia tak mendapat banyak kesempatan, oleh karena selain tenaga lweekang Ong Kai lebih besar, juga ilmu pedangnya yang berdasarkan ilmu pedang Bok-san Kiam-hoat itu ternyata mempunyai gerakan-gerakan yang aneh dan lebih cepat daripada ilmu pedang Ciauw Lek. Akan tetapi, oleh karena Ciauw Lek bertempur dengan nafsu besar dan dengan nekad, untuk beberapa lama Ong Kai belum mendapat kesempatan merobohkannya.

Para penonton merasa khawatir melihat pertempuran yang hebat ini. Tubuh kedua orang itu berputar-putar cepat hingga sukar membedakan mana Ong Kai dan mana Ciauw Lek! Akan tetapi Tan Hong dan Siok Lan dengan girang dapat melihat bahwa Ong Kai berada di pihak yang lebih unggul dan perlahan tapi tentu Hek-bin-mo itu mendesak lawannya.

“Hai, setan busuk! Kau berjanjilah untuk menanggalkan nama julukan Hek-bin-mo, baru aku mau mengampuni kau!” Ong Kai berseru sambil mendesak dengan pedangnya.

“Bangsat rendah, jangan banyak mulut!” balas Ciauw Lek sambil menangkis dengan sekuat tenaga. Akan tetapi ternyata serangan Ong Kai itu hanya gertak belaka dan ketika lawannya menangkis dengan keras, Ong Kai menarik kembali pedangnya dan cepat membuat serangan dari samping. Serangan ini tidak diduga-duga sama sekali oleh Ciauw Lek, oleh karena si muka hitam ini sedang mengerahkan tenaga untuk menangkis serangan pertama, maka tidak ampun lagi ujung pedang Ong Kai mengenai pundak kirinya! Ciauw Lek menjerit dan darah mengucur

dari pundaknya, akan tetapi dengan nekad, ia menyerang lagi.

“Eh … eh, masih belum kapok? Ayoh, berjanjilah untuk tidak mengganggu penduduk kampung, baru aku mau memberi ampun!” Sekali lagi Ong Kai berseru.

“Bangsat sombong, saat ini aku Ciauw Lek akan menyabung jiwa denganmu!”

Melihat keadaan Ciauw Lek, Ong Kai lalu menggerakkan pedangnya bagaikan kitiran angin cepatnya dan ketika Ciauw Lek terdesak mundur hingga terhuyung-huyung, kaki kanan Ong Kai cepat menyambar dan tepat menendang dada lawannya hingga tubuh Ciauw Lek terlempar jauh dan roboh pingsan!

Para piauwsu bersorak girang melihat robohnya kepala rampok muka hitam yang tangguh itu, sedangkan pihak perampok menjadi marah sekali. Mereka telah bersiap untuk mengeroyok kalau saja mendapat komando dari kedua saudara Ang. Akan tetapi, baik Ang Touw maupun Ang Houw tidak memberi perintah apa-apa, hanya Ang Touw yang segera melompat maju dengan pedang di tangan, dan yang segera disambut oleh Siok Lan.

“Apakah kau mengiri melihat robohnya adikmu dan ingin juga merasakan betapa senangnya roboh pingsan?” Gadis ini menyindir hingga Ang Touw menjadi marah dan tanpa berkata apa-apa kepala rampok yang tua itu menyerang. Serangannya benar-benar hebat dan kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada kepandaian Ciauw Lek hingga Siok Lan mengelak cepat dan berlaku hati-hati.

Kalau pertempuran Ciauw Lek dan Ong Kai tadi mendebarkan jantung para penontonnya oleh karena keduanya mengadu tenaga dan kekuatan hingga debu

mengepul di sekitar tempat di mana kaki mereka bergerak, adalah pertempuran kali ini membuat mata para penonton menjadi kabur dan kepala mereka pening. Gerakan kedua orang ini demikian cepatnya hingga tubuh mereka merupakan sinar saja, yakni sinar berkelebatnya pedang mereka yang menutupi tubuh! Diam-diam Tan Hong memuji kepandaian Ang Touw ini, akan tetapi ia percaya akan ketangguhan dan kehebatan Siok Lan.

Memang sebenarnya Siok Lan kalah pengalaman dan kalah ulet, akan tetapi dalam hal ilmu pedang gadis yang telah mewarisi ilmu pedang Bok-san-pai dari ayahnya ini, ternyata masih menang setingkat. Juga oleh karena lawannya sudah tua, maka kegesitan Ang Touw telah banyak berkurang, berbeda dengan Siok Lan yang memiliki ginkang yang cukup sempurna hingga gerakan-gerakannya tiada ubahnya bagaikan seekor burung kepinis saja!

Dalam saat yang tepat, ketika Ang Touw menyerang dengan tipu gerakan Angin Selatan Menghembus Cemara, Siok Lan tidak mau menangkis pedang yang ditusukkan ke arah lehernya, akan tetapi dengan gerakan yang tak terduga gadis ini lalu berjongkok dan dari bawah mengirim tusukan ke arah perut lawannya! Gerakannya lebih cepat daripada gerakan Ang Touw hingga kepala rampok itu terkejut sekali. Untuk menangkis sudah tiada waktu baginya, maka ia terpaksa lalu menjatuhkan diri ke belakang, berjungkir balik dan membuat salto tiga kali di udara baru tubuhnya turun ke tanah. Gerakan ini indah sekali hingga Siok lan menjadi kagum, akan tetapi gadis ini tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya, dan cepat mengejar. Baru saja kedua kaki Ang Touw menginjak tanah, tiba-tiba Siok Lan telah menyerang lagi dengan tipu Ikan Leehi Gerakkan Ekor dan pedangnya menyambar kedua kaki Ang Touw. Oleh karena baru saja kakinya turun, maka kakek ini tidak

keburu melompat ke atas lagi dan terpaksa cepat menggerakkan pedangnya menangkis. Pada saat itu Siok Lan maju dan menggerakkan tangan kirinya dengan jari telunjuk dan jari tengah terbuka, menusuk ke arah mata lawan! Ang Touw terkejut dan memiringkan kepala sehingga gerakan pedangnya yang menangkis menjadi kalut. Saat ini digunakan dengan baiknya oleh Siok Lan yang mengubah tujuan pedang. Kini ujung pedangnya dimajukan sedikit hingga tahu-tahu Ang Touw merasa tangannya perih sekali dan terpaksa melepaskan pedang sambil melompat ke belakang! Ternyata sebuah jari tangannya telah putus oleh pedang Siok Lan dan darah mengucur keluar!

Ang Houw yang melihat betapa kedua orang sutenya berturut-turut dikalahkan, menjadi marah sekali dan sambil mengeluarkan geraman keras, ia menyerang Siok Lan. Akan tetapi Tan Hong lalu melompat maju sambil berkata, “Sabar dulu, tai-ong. Untukmu sudah disediakan lawan, yakni aku sendiri. Akan tetapi sebelum kita bertempur, hendak kujelaskan lagi kepadamu, bahwa pertempuran ini bersifat mengadu kepandaian belaka dan bukan maksud kami hendak mengambil jiwa kalian. Cukup asal kalian merasa bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatanmu yang sewenangwenang, dan suka mengembalikan barang-barang para piauwsu yang terampas, kami akan merasa puas.”

“Anak muda! Kau sungguh sombong! Kau hanya bicara tentang kemenanganmu, bagaimana kalau kau kalah olehku?”

Tan Hong tersenyum, “Hal ini bukan tidak mungkin! Kalau aku sampai kalah, maka segala keputusan terserah kepadamu!”

“Dengar, Gin-kiam Gi-to! Kalau kau kalah olehku, aku akan menawanmu dan menyerahkan kau kepada pangcu (ketua) kami dengan tuduhan bahwa kau sebagai orang dari golongan liok-lim telah mengkhianati golongan sendiri!”

Tan Hong menjadi heran karena ia tidak menyangka bahwa mereka memiliki pangcu. “Siapakah pangcu yang kau maksudkan itu?”

Juga Ang Houw merasa heran mendengar bahwa Maling Budiman ini belum pernah mendengar nama pangcu dari golongan liok-lim.

“Pangcu kami adalah Kim-liong Hwat-su, dan beliau yang berhak menghukum segala pengkhianat golongan liok-lim. “

Tan Hong merasa heran oleh karena terdengar menggelikan bahwa golongan liok-lim yang terdiri dari segala macam penjahat seperti perampok, bajak, maling dan copet itu mempunyai seorang ketua dan dengan julukan Hwat-su yang berarti seorang berilmu dan ahli kebatinan atau singkatnya seorang pendeta!

“Selain itu, jika kau tak dapat mengalahkan aku, semua piauwsu harus berjanji untuk setiap kali lewat di sini, membayar pajak kepada kami sebanyak sepuluh bagian daripada harga barang yang mereka kawal!”

Semua piauwsu marah mendengar usul yang keterlaluan ini. Sedangkan mereka sendiri yang bekerja keras dan mengawal barang-barang itu, tidak berani menuntut upah yang demikian tingginya!

Tan Hong tersenyum dan bersikap tenang. “Sudah kukatakan tadi bahwa jika kami kalah, semua keputusan terserah kepadamu, akan tetapi ingat, aku belum kalah!

Maka mari kita main-main sebentar dan segala macam keputusan itu dapat dilakukan nanti!”

“Baik dan awas pedang!” tiba-tiba Ang Houw berseru dan langsung melakukan serangan pertama. Melihat serangan Ang Houw yang mengembangkan tangan kiri keluar dan memasang bhesi (kuda-kuda) sambil menjungkitkan kedua kakinya, Tan Hong tercengang, inilah Sin-thiauw Kiam-hoat (Ilmu Pedang Rajawali Sakti) yang amat berbahaya dan hebat! Maka ia berlaku hati-hati dan melawan sambil mengeluarkan gerakan-gerakan paling hebat dari Bok-san Kiam-hoat.

Kalau dibuat perbandingan tentang ilmu pedang Bok-san Kiam-hoat yang dimiliki Tan Hong dan Siok Lan, memang terdapat sedikit perbedaan dan sebetulnya Tan Hong jauh lebih kuat daripada gadis itu. Dulu ketika melawan Siok Lan, sengaja Tan Hong tidak mau mengalahkan dan merobohkan gadis itu. Ayah Siok Lan, yakni si Garuda Sakti Lo Cin Ki, biarpun seguru dengan Cin Cin Tojin, suhu Tan Hong, namun Lo Cin Ki lebih mengutamakan dan memperdalam pelajaran ilmu pengobatan, maka ilmu silatnya agak kurang tinggi apabila dibandingkan ilmu silat Cin Cin Tojin. Apalagi Cin Cin Tojin adalah seorang tosu perantau yang telah banyak sekali mengalami pertempuran dan banyak bertemu dengan orang-orang pandai dari segala cabang persilatan, maka tosu ini telah banyak mempelajari ilmu silat dan karenanya ia dapat menambah kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam gerakan ilmu pedang Bok-san-pai. Pula oleh karena Tan Hong mempelajari silat dengan sebuah cita-cita yakni untuk menggunakan kepandaian itu menolong sesama manusia yang menderita sengsara, maka pemuda ini belajar dengan tekun, rajin, dan sepenuh hati hingga tentu saja ia memperoleh hasil yang gemilang.

Ang Houw memang hebat sekali dan kalau saja Siok Lan yang menghadapi orang tua ini, maka keadaan mungkin akan berimbang. Akan tetapi kini ia bertemu dengan Tan Hong, maka baru beberapa puluh jurus saja mereka bertempur, tampaklah sudah betapa kepandaian pemuda itu memang lebih tinggi daripada kepandaiannya! Keduanya bergerak perlahan, tidak seperti ketika Siok Lan bertempur melawan Ang Touw, hingga para penonton yang kurang paham ilmu silat tinggi, menganggap bahwa Siok Lan lebih gesit dan lebih hebat daripada Tan Hong. Akan tetapi, gadis itu sendiri, Ong Kai dan juga kedua kepala rampok Ang Touw dan Ciauw lek yang telah dikalahkan, maklum bahwa kedua orang itu telah memperlihatkan kepandaian asli mereka. Setiap gerakan, biar dilakukan dengan lambat atau perlahan, namun mengandung tenaga lweekang yang tinggi dan setiap serangan itu kalau ditangkis oleh sembarang orang, maka penangkisnya akan roboh terpukul tenaga dalam yang melayang keluar dari serangan itu. Tidak ada debu mengebul dari bawah kaki mereka, bahkan gerakan kaki mereka tidak terdengar sama sekali, seakan-akan tidak menginjak tanah, akan tetapi apabila diperhatikan, ternyata daun-daun di sekeliling tempat itu melambai dan bergoyang bagaikan terhembus angin, padahal pada saat itu tidak ada angin menghembus! Inilah angin pukulan yang diterbitkan oleh serangan dan gerakan kedua orang itu!

Merasa bahwa kepandaiannya kalah tinggi, tiba-tiba Ang Houw membuat gerakan serangan nekad. Ia berseru nyaring dan pedangnya membacok, sedangkan tangan kirinya dari bawah mengirim pukulan hebat ke arah perut tan Hong dengan jari-jari tangan miring! Tan Hong mengelak, akan tetapi ia lalu membuat gerakan yang sama, yakni Dewa Mabuk Menolak Gunung. Pedang kedua orang itu bertemu dan menempel, sedangkan kedua tangan kiri

mereka juga bertumbuk keras. Untuk sesaat seakan-akan kedua tangan dan kedua pedang itu melekat, akan tetapi, tiba-tiba Ang Houw mengeluh dan tubuhnya seakan-akan terdorong oleh tenaga keras sekali, terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah! Wajahnya pucat sekali dan ia telah mendapat luka dalam.

Ang Houw menjura. “Gin-kiam Gi-to, kau memang hebat sekali. Aku mengaku kalah, akan tetapi tunggulah datangnya hari pembalasanku!” Setelah berkata demikian, ia ajak kedua sutenya pergi dari tempat itu setelah meninggalkan pesan kepada para anak buahnya untuk mengembalikan semua barang-barang pada piauwsu.

Diam-diam Tan Hong merasa menyesal sekali oleh karena ia maklum bahwa ia telah menanam bibit permusuhan dengan kepala rampok yang tangguh itu. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan kemenyesalannya, lalu bersama kawan-kawannya membantu para piauwsu mengambil kembali barang-barang mereka yang terampas dan masih berada di dalam sarang perampok di tengah hutan itu.

Para piauwsu, di bawah pimpinan Lim-piauwsu menghaturkan banyak terima kasih kepada Tan Hong dan kedua kawannya, dan menyebut mereka sebagai Bok-san Sam-hiap atau Tiga Pendekar dari Bok-san, yakni mengingat bahwa ketiganya adalah anak murid dari Bok-san-pai! Ong Kai merasa girang sekali atas kemenangan ini dan berkata, “Mulai sekarang si iblis hitam itu tentu tak berani lagi mengembari nama julukanku!”

Tan Hong dan Siok Lan tersenyum mendengar ini. Diam-diam ketika mereka mendapat kesempatan bicara empat mata, Tan Hong berkata kepada Siok Lan, “Sumoi, mulai sekarang kita harus berhati-hati sekali oleh karena

menurut dugaanku, ketiga kepala rampok itu tentu manaruh dendam kepada kita dan berusaha mencari balas!”

Siok lan memandang kepada tan Hong dengan muka kagum setelah mengetahui bahwa kepandaian pemuda ini sesungguhnya masih berada lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya sendiri.

“Hong-ko, dengan adanya kau di dekatku, aku tidak pernah merasa takut?” Melihat kerlingan mata dan senyum bibir gadis itu, tiba-tiba di dada kiri Tan Hong terasa detak jantungnya mengeras.

“Aah, kau terlalu memuji, sumoi, “ katanya perlahan.

“Hong-ko, ketika kita bertemu dan bertempur dulu itu, mengapa kau tidak mau mengalahkan aku? Padahal kalau kau mau, mudah saja, bukan?” tanya Siok Lan sambil memandang tajam.

Muka Tan Hong menjadi merah. “Mengapa kau berkata demikian, sumoi? Aku tak dapat mengalahkanmu, karena memang ilmu pedangmu hebat sekali!”

Diam-diam Siok Lan merasa girang oleh karena pemuda ini ternyata pandai sekali membawa diri dan tidak sombong, biarpun memiliki kepandaian tinggi. Diam-diam ia merasa tertarik dan suka sekali kepada pemuda ini, apalagi setelah ia mendengar riwayat Tan Hong ketika masih kecil yang amat menyedihkan dan mengharukan itu. Hatinya menjadi lemah dan perasaan iba serta sayang timbul dalam dadanya!

***

Ketiga pendekar Bok-san-pai ini melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Pek-hoasan, mencari musuh-musuh mereka, yakni Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio. Di sepanjang perjalanan, tak pernah lupa Tan Hong

melakukan pekerjaannya seperti biasa, dan kini tiap kali ia keluar malam untuk melakukan pencurian, Siok Lan tak pernah ketinggalan dan selalu membantunya dengan setia!

Bahkan Ong Kai yang selalu merasa kesepian karena ditinggal seorang diri diwaktu malam, mulai mencoba ikut membantu pula. Akan tetapi, setelah sekali dua kali ia ikut dan melihat betapa di dalam pekerjaan ini ia dapat pula merasakan kebahagiaan yang nampak pada sikap orang-orang miskin yang mereka tolong, Ong Kai makin sering ikut dan mulai melakukan pekerjaan itu dengan gembira. Bahkan kini mereka bekerja secara terpisah, seorang mencuri di gedung seorang hartawan dan setelah mendapat hasil, mereka bertemu di tempat yang sudah dijanjikan lebih dulu untuk bersama-sama pergi menbagi-bagikan hasil itu ke dusun-dusun yang berdekatan!

Pada suatu malam, Ong Kai mendapat bagian mencuri di rumah seorang pedagang hasil bumi yang kaya raya. Tan Hong dan Siok Lan mendatangi rumah lain. Ketika Ong Kai sedang mengintai dari atas genteng, tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan orang berkelebat di atas genteng itu juga! Ia cepat bersembunyi di balik wuwungan rumah yang tinggi dan mengintai gerak-gerik orang yang baru datang ini. Orang itu berpakaian hitam dan di punggungnya nampak sebatang golok. Ong Kai merasa curiga dan menduga bahwa kalau ia bukan seorang maling, tentulah seorang yang mempunyai maksud lain yang buruk.

Dari gerakan orang itu, Ong Kai maklum bahwa tamu malan itu memiliki sedikit kepandaian dan bukan merupakan lawan berat, maka hatinya menjadi lega dan ia terus mengintai. Ketika ia melihat orang itu melompat turun ke belakang gedung, iapun ikut pula melompat di belakangnya dengan diam-diam dan terus mengintai. Ia melihat betapa dengan cekatan menandakan seorang ahli,

orang itu membongkar jendela sebuah kamar, lalu melompat masuk! Ong Kai juga cepat melompat dan mengintai! Alangkah marah dan gemasnya melihat bahwa kamar itu adalah kamar seorang wanita dan hal ini dapat diketahuinya ketika penjahat itu menyingkap kelambu pembaringan oleh karena ia melihat tubuh seorang gadis sedang tidur pulas di atas pembaringan itu. Ong Kai berniat melompat masuk dan menyerbu penjahat itu, akan tetapi ia menahan maksud hatinya, lalu memandang penuh perhatian, siap untuk menolong apabila penjahat itu melakukan sesuatu. Akan tetapi, tiba-tiba penjahat itu membungkuk dan menotok jalan darah gadis itu yang menjadi sadar dari tidurnya, tetapi tak dapat bergerak maupun berteriak karena jalan darahnya telah di-tiam oleh penjahat tadi. Kemudian dengan cepat penjahat itu memondong tubuh gadis itu dan melompat keluar melalui jendela kamar!

Ong Kai tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia maklum bahwa penjahat ini tentu seorang jai-hoa-cat atau penjahat pemetik bunga, maka tanpa ajal lagi ia menghadang di depan kamar dan membentak,

-oo0dw0oo-

Jilid 05

“Bangsat penculik hina dina!” Dengan gemas Ong Kai menyerang ke arah leher penjahat itu. Terkejutlah penjahat itu dan cepat ia berkelit. Akan tetapi oleh karena ia sedang memondong tubuh gadis itu, gerakannya tidak leluasa lagi dan terpaksa melepaskan tubuh gadis itu.

Ong Kai cepat menyambar tubuh orang yang dilepas ke bawah dan secepat kilat ia menepuk pundak gadis tadi yang lalu dapat bergerak kembali. Gadis ini lalu berteriak-teriak

minta tolong dan mundur sampai ke dinding, melihat pertempuran yang terjadi antara penjahat yang menculiknya dan penolong yang gagah ini. Ong Kai melayani penjahat dengan bertangan kosong, sedangkan penjahat itu yang ternyata masih muda, menggunakan goloknya untuk menyerang penghalang dan pengganggunya.

Sementara itu, teriakan gadis tadi telah membangunkan penghuni rumah dan beberapa orang, termasuk ayah ibu gadis tadi, berlari keluar. Akan tetapi mereka hanya dapat memeluk anak gadis mereka dan selanjutnya menonton pertempuran itu dengan wajah pucat ketakutan.

Penjahat yang telah kepergok itu lalu berlaku nekad dan mengamuk sambil memutarmutarkan goloknya menyerang dengan nekad. Ong Kai berlaku waspada dan hati-hati. Tubuhnya bergerak ke sana ke mari dalam usahanya mengelakkan serangan golok, dan sengaja mempermainkan penjahat itu.

Gadis yang hampir terculik itu beserta kedua orang tuanya dan beberapa orang pelayan, melihat pertempuran dengan mata terbelalak. Selama hidup mereka belum pernah melihat pertempuran sehebat ini dan diam-diam mereka kagum sekali melihat betapa penolong yang tinggi besar dan gagah itu melayani penjahat yang memegang golok dengan tangan kosong belaka!

“In-kong (tuan penolong), pergunakanlah pedangmu!” tiba-tiba gadis itu berteriak kepada Ong Kai. Suaranya merdu dan nyaring hingga Ong Kai tersenyum sambil berpaling kepadanya. Ketika kedua matanya memandang wajah gadis itu, ia tercengang dan dadanya berdebar aneh! Gadis itu memiliki sepasang mata dan mulut semanis mendiang tunangannya! Maka ketika teringat akan tunangannya yang juga tewas karena terculik penjahat-penjahat cabul, timbul marahnya dengan hebat. Dengan

menggeram, ketika golok penjahat itu menyerang lagi, ia membalas dengan sebuah tendangan kilat hingga golok itu terlepas dari pegangan si penjahat dan sebelum penjahat itu sempat melarikan diri, sebuah pukulan mampir di pundaknya membuat penjahat itu roboh pingsan!

“Ikat ia, lekas! Ikat dan bawa ke kantor tihu!” Ayah gadis itu memerintah kepada para pelayannya yang segera berlari-lari mencari tambang besar dan beramai-ramai mengikat tangan penjahat itu yang tak dapat bergerak lagi!

Gadis itu lalu menghampiri Ong Kai dan menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda ini sambil berkata, “In-kong, budimu sungguh besar dan selama hidupku aku takkan melupakan pertolonganmu ini.”

Ong Kai menjadi bingung, Untuk mengangkat bangun ia harus menyentuh pundak gadis itu dan hal ini tak dapat dilakukannya, takut dianggap kurang sopan. Maka dalam bingungnya, iapun lalu berlutut di depan gadis itu sambil berkata, “Siocia! Janganlah kau berlutut kepadaku. Aku takkan berdiri sebelum kau bangun juga.”

Gadis itu memandang dengan mata yang bening dan bersinar jujur. Ia makin kagum melihat wajah Ong Kai yang walaupun berkulit hitam akan tetapi cukup gagah. Melihat betapa penolongnya itupun ikut berlutut, ia tersenyum lalu bangun berdiri. Juga kedua orang tuanya lalu menjura dan menghaturkan terima kasih kepada Ong Kai.

“Siapa nama in-kong dan bagaimana dapat melihat penjahat itu?” tanya ayah si gadis yang memandang dengan kagum.

Bingung juga Ong Kai mendengar pertanyaan ini. Ia datang ke situ memang sengaja dan dengan maksud hendak mencuri harta orang yang bertanya kepadanya!

“Siauwte hanya kebetulan saja bertemu dengan penjahat itu dan menjadi curiga melihat gerak-geriknya, maka siauwte lalu mengejarnya dan mengintainya.” Walaupun jawaban ini kurang jelas, akan tetapi ia rasa tidak menyimpang dari kebenaran, oleh karena memang secara kebetulan ia bertemu dengan penjahat itu dan memang ia merasa curiga lalu mengintainya! Kemudian ia melanjutkan jawabannya, “Siauwte she Ong bernama Kai dan siauwte sedang merantau bersama-sama dengan seorang sumoi dan seorang suheng yang tinggal di rumah penginapan.”

Pada saat itu, dari atas genteng melayang turun dua orang yang tidak lain adalah Siok Lan dan Tan Hong.

“Nah, itu mereka datang!” kata Ong Kai kepada tuan rumah dan gadisnya. Semua orang memandang kepada dua orang muda itu dengan kagum dan Ong Kai lalu memperkenalkan Tan Hong dan Siok Lan.

Ketika mendengar bahwa Ong Kai telah menolong puteri tuan rumah dan agaknya diperlakukan dengan hormat dan manis, baik oleh tuan rumah, maupun oleh gadis yang bernama Lai Hwa Eng itu, diam-diam Siok Lan dan Tan Hong saling lirik dan tersenyum. Kedua pemuda ini kembali dari mencuri harta, lalu membawa uang itu di dalam kantung dan menanti di tempat yang telah dijanjikan. Akan tetapi, setelah menanti beberapa lama belum juga mereka melihat Ong Kai, keduanya lalu pergi menyusul ke rumah yang menjadi bagian Ong Kai untuk dicuri uangnya, dan di situ mereka melihat betapa Ong Kai sedang beramahtamah dengan tuan rumah! Hampir saja Ong Kai lupa bahwa ia telah menjadi tamu orang di waktu tengah malam! Ia agaknya lupa pulang oleh karena ia merasa kerasan dan senang berada di dekat Hwa Eng. Kalau Tan Hong dan Siok Lan tidak mengajaknya pergi, mungkin ia akan bercakap-cakap terus sampai pagi.

Setelah mendapat pesan dari hartawan yang bernama Lai Kin Tek itu agar supaya ketiga orang muda itu besok pagi suka datang mampir, ketiga orang muda pendekar itu lalu melompat ke atas genteng diikuti pandangan kagum oleh pihak tuan rumah.

“Ah … Ong-sute! Bagaimana kau ini? Mana pendapatanmu dan barang apakah yang sudah kau ambil dari rumah hartawan Lai?” Tan Hong menggoda.

Ong Kai hanya tersenyum. “Aku tidak diberi kesempatan oleh mereka.“ Jawabnya.

“Ah … ! Mana Ong-suheng tega mencuri barang-barang Lai-siocia yang cantik jelita itu!” Siok Lan ikut menggoda.

Ong Kai tak dapat menjawab godaan ini dan hanya tertawa malu.

“Ha …, ha …, ha … ! Kalau aku tidak salah lihat, sebaliknya bahkan Ong-sute yang kecurian!”

“Apa maksudmu?” tanya Ong Kai dengan heran, akan tetapi Tan Hong hanya tertawa sambil melanjutkan perjalanannya menuju ke kampung untuk membagi-bagi hasil curiannya dan hasil curian Siok Lan. Juga Siok Lan merasa tidak mengerti lalu bertanya, “Hong-ko, apa maksudmu? Ong-suheng kecurian apa?”

“Ha, ha! Ong-sute memiliki apa yang pantas dan berharga untuk dicuri selain hatinya? Ia telah kecurian hatinya dan pencurinya tidak lain tentu Lai-siocia!”

Siok Lan juga tertawa gelid an Ong Kai pura-pura marah. “Sudahlah! Kalau kalian tetap menggodaku, aku takkan ikut ke desa-desa. “

Siok Lan dan Tan Hong tetap tertawa dan demikianlah, malam hari itu mereka bekerja membagi-bagi uang

pendapatan mencuri dengan tertawa-tawa dan dalam suasana gembira.

Pada keesokan harinya, mereka memenuhi permintaan Lai Kin Tek dan mengunjungi rumah keluarga Lai yang kaya itu. Mereka disambut dengan gembira dan disuguhi masakanmasakan lezat dan mahal. Berkali-kali tuan rumah menyatakan kekaguman dan terima kasihnya dan Lai Hwa Eng sendiri bahkan turut menyambut tamu-tamunya karena di situ terdapat Siok Lan. Kedua orang gadis ini cepat dapat bergaul dengan mesra bagaikan dua orang sahabat lama. Siok Lan suka kepada Hwa Eng yang selain peramah, juga tidak malumalu dan pandai bercerita serta mempunyai pengertian ilmu surat yang membuatnya kagum. Sebaliknya, tiada habisnya Hwa Eng bertanya tentang ilmu silat yang dikaguminya kepada pendekar wanita ini.

Pada suatu saat Hwa Eng disuruh ibunya mengajak Siok Lan ke dalam kamar. Ibu Hwa Eng lalu menyuruh anaknya pergi meninggalkannya dengan Siok Lan berdua! Baik Siok Lan maupun Hwa Eng merasa heran sekali, melihat sikap orang tua ini. Setelah Hwa Eng meninggalkan kamar, nyonya Lai lalu berkata kepada Siok Lan, “Nona, harap kau tidak menganggap kami terlalu sembrono. Akan tetapi sayapun hanya mendapat perintah dari suamiku, yakni dapatkah kau memberi keterangan berapa usia Ong-enghiong dan apakah ia telah mempunyai tunangan?”

Siok Lan diam-diam merasa geli dan juga girang karena pertanyaan ini saja ia dapat menduga bahwa nyonya rumah ini ingin mengambil menantu Ong Kai si muka hitam yang telah menolong puterinya! Untung ia mengetahui tentang diri Ong Kai yang seperti kakaknya sendiri, maka ia lalu menuturkan segala hal ichwal pemuda itu, bahkan menuturkan pula betapa tunangan pemuda itu telah terbunuh hingga mereka bertiga sekarang melakukan

perjalanan untuk mencari pembunuh dan membalas dendam. Nyonya Lai makin tertarik dan merasa kasihan, maka ia lalu minta kepada Siok Lan untuk suka menjadi perantara dalam hal ini. Siok Lan menyanggupi dan hendak menyampaikan hal ini kepada ayahnya yang menjadi guru dan wali pemuda yang telah kehilangan kedua orang tuanya itu, dan hendak menyampaikan pula kepada orang yang berkepentingan sendiri. Ia menyatakan bahwa sekembali mereka bertiga dari perantauan, hal ini akan segera diselesaikan. Tentu saja nyonya rumah menjadi girang sekali dan meyatakan terima kasihnya.

Ketika ketiga orang anak muda itu hendak minta pamit, keluarga Lai lalu menawarkan bantuan berupa uang untuk bekal mereka. Ong Kai mewakili kawan-kawannya menjawab, “Tak usah, Lai-lopeh, kami bertiga tidak perlu uang bekal. Kalau lopeh suka mengorbankan sedikit uang untuk menderma kepada rakyat miskin yang menderita korban banjir, itu sudah berarti sama dengan memberi sumbangan kepada kami.”

Bukan main heran hati Lai Kin Tek mendengar ucapan ini dan ketika melihat wajah ketiga orang pendekar muda ini kesemuanya tersenyum sebagai tanda bahwa ucapan Ong Kai ini memang cocok dengan suara hati yang lain, ia menjadi kagum dan timbullah perasaan hormatnya kepada ketiga orang itu. Bukan saja mereka ini masih muda dan gagah perkasa, akan tetapi juga berhati mulia dan dermawan! Pikiran ini makin mendorong keinginan hatinya untuk mengambil menantu Ong Kai!

***

Setelah melakukan perjalanan beberapa hari lagi, akhirnya ketiga orang pendekar muda itu tiba di kaki Gunung Pek-hoa-san yang tinggi dan penuh dengan hutan belukar dan liar. Bukit ini sukar sekali dinaiki karena tidak

terdapat jalan maupun lorong menuju ke atas. Akan tetapi berkat ginkang mereka yang sempurna, Tan Hong, Ong Kai dan Siok Lan dapat juga mendaki ke atas.

Ketika mereka tiba di pinggir sebuah hutan liar, tiba-tiba ketiga orang muda ini terkejut dan heran melihat dua orang kakek duduk berhadapan di bawah sebatang pohon siong besar. Ketika mereka mendekat ternyata kedua orang kakek itu sedang enak-enak bermain catur!

Keadaan kedua kakek ini aneh sekali. Yang seorang adalah seorang tua berusia sedikitnya tujuh puluh tahun, bertubuh kurus tinggi dan rambutnya yang masih hitam itu beriap-riapan sampai ke pundak. Akan tetapi pakaiannya terbuat dari kain yang ditambaltambal hingga nampak aneh sekali, karena pakaian ini seperti terbuat dari bahan yang puluhan macam hingga berkembang-kembang aneh dan ramai! Kedua kakinya telanjang hingga ia nampak seperti seorang pengemis jembel. Sambil memperhatikan biji-biji catur, ia sering kali menggaruk-garuk rambut di kepalanya seakan-akan di atas kepalanya banyak terdapat kutu rambut yang gatal!

Juga kakek yang seorang lagi tak kalah aneh. Usianya juga sudah sangat tinggi, mungkin lebih dari tujuh puluh tahun. Rambut di kepalanya sudah putih berkilat bagaikan benang-benang perak, akan tetapi mukanya yang penuh dan gemuk itu seperti muka kanakkanak, begitu segar dan kemerah-merahan! Kepalanya bundar dan rambutnya diikalkan ke atas, diikat dengan tali terbuat dari kulit pohon yang kasar. Tubuhnya gemuk pendek dan bajunya tebal sekali, berwarna biru dan sudah luntur. Sepasang kakinya memakai sepatu yang bawahnya terbuat daripada besi dan kelihatan sangat berat. Seperti lawannya bercatur, kakek ini menatap biji-biji catur dengan penuh perhatian dan dengan

kening dikerutkan seakan-akan ia menghadapi persoalan yang amat rumit!

Kedua orang kakek itu sama sekali tidak memperdulikan ketiga orang muda yang datang mendekati mereka. Tan Hong dan kedua orang kawannya yang berpandangan tajam dapat menduga bahwa kedua orang kakek ini tentu orang-orang berilmu tinggi yang mengasingkan diri di situ.

Baik Tan Hong maupun Ong Kai, keduanya adalah penggemar permainan catur yang pada masa itu sedang populer dan banyak digemari orang. Bahkan kedua pemuda ini boleh disebut ahli-ahli yang pandai bermain catur. Pernah kedua orang muda itu di waktu senggang bermain catur di sebuah rumah penginapan dan keduanya mempunyai kepandaian seimbang. Maka tak mengherankan apabila mereka kini lalu mendekati kedua kakek itu untuk menonton pertandingan catur di tempat sunyi ini. Sebaliknya, Siok Lan yang tidak mengerti akan permainan ini, setelah memandang sebentar dengan tak mengerti, lalu menjadi bosan dan oleh karena semenjak pagi mereka belum makan hingga merasa lapar sekali, gadis ini lalu masuk ke dalam hutan untuk mencari buah-buahan yang dapat dimakan.

Tanpa disengaja dan secara otomatis, kedua orang pemuda itu lalu berdiri di belakang kedua kakek itu, Tan Hong berdiri di belakang kakek yang berbaju tambal-tambalan dan Ong Kai berdiri di belakang kakek yang berambut putih. Baru saja kedua orang kakek itu menggerakkan biji-biji catur mereka dua kali, maklumlah kedua anak muda ini bahwa kedua kakek itu adalah pemain-pemain catur yang baru saja dapat bermain dan permainan mereka amat lemah sekali! Gerakan-gerakan yang mereka buat adalah gerakan yang ngawur dan lemah, akan tetapi oleh karena kepandaian mereka yang dangkal

itu berimbang, maka pertandingan itupun berjalan lama dan ramai juga. Agaknya oleh karena berada di pegunungan dan jarang melihat ahli-ahli catur di kota, kedua kakek ini tidak mendapat kemajuan dalam permainan mereka.

Pada saat itu tiba giliran kakek berambut putih yang harus menggerakkan biji caturnya. Akan tetapi sampai lama ia tidak dapat mengambil keputusan harus menggerakkan yang mana, oleh karena agaknya Raja biji caturnya terancam oleh Gajah lawan. Kakek ini menggigit jari telunjuknya dan memandang ke arah papan catur dengan bingung.

Melihat keraguan dan kebingungan kakek di depannya itu, Oang Kai menjadi tidak sabar dan tanpa disengaja ia berkata, “Gerakkan Kuda ke kiri menjaga serangan Gajah dari depan Raja!” Ong Kai sebetulnya tidak sengaja hendak menasehati kakek itu, akan tetapi jalan pikirannya telah menggerakkan lidahnya hingga tanpa disengaja ia mengeluarkan suara hatinya melalui mulut!

Untuk sesaat kedua kakek itu tak bergerak, juga tidak memandang kepada pemuda yang berkata-kata tadi. Kemudian, kakek berambut putih itu berkata, “Ha, benar juga! Gerakan bagus!” Ia menengok dan memandang kepada Ong Kai dengan kedua mata berseri, lalu ia menggerakkan Kudanya menghadang di depan Rajanya hingga Gajah lawannya tak dapat menyerang!

Sebaliknya, kakek yang seperti pengemis jembel itupun mengangkat kepala memandang ke arah Ong Kai. Pemuda ini terkejut sekali dan dadanya berhenti berdetak untuk sesaat ketika melihat betapa dari kedua mata si jembel tua itu bersinar pandangan tajam yang seakan-akan menembusi kepalanya! Kakek jembel ini menjadi marah dan sikapnya tiada ubahnya seperti seorang anak kecil yang diganggu permainannya hingga menjadi kalah!

Tan Hong juga melihat kemarahan kakek ini kepada Ong Kai, maka ia buru-buru berkata, “Majukan Prajurit di kiri mengancam Kuda!”

Kini kakek jembel itu menatap kembali ke atas papan catur, dan tak lama kemudian ia tertawa terkekeh dengan girang, lalu mengangkat muka memandang Tan Hong dengan girang dan menggerakkan biji caturnya menurut petunjuk Tan Hong! Tiba giliran kakek berambut putih itu yang menatap wajah Tan Hong dengan tajam dan marah hingga Tan Hong menjadi tercengang dan kaget! Ia maklum bahwa nesehatnya kepada kakek jembel tadi telah membuat kakek berambut putih itu marah sekali kepadanya! Memang kakek berambut putih itu marah oleh karena ia tidak tahu bagaimana harus menolong Kudanya yang kini terancam bahaya maut!

Ong Kai dan Tan Hong yang berdiri berhadapan di belakang kedua kakek itu saling pandang dan dari sinar mata mereka yang berpandangan, mereka lalu membuat persetujuan untuk melanjutkan bantuan masing-masing oleh karena sudah kepalang tanggung dan agar jangan sampai kedua kakek itu menjadi marah kepada mereka! Maka Ong Kai lalu cepat berkata, “Balas mengancam Gajah dengan majukan Prajurit kanan ke depan!”

Setelah memperhatikan papan caturnya kakek berambut putih itu merasa bahwa gerakan ini memang tepat untuk membalas ancaman lawan pada Kudanya, maka sambil tertawa girang ia memajukan Prajurit menurut petunjuk Ong Kai!

Demikianlah, secara bergiliran Tan Hong dan Ong Kai memberi petunjuk hingga boleh dikata kedua anak muda itulah yang bermain catur, sedangkan kedua orang kakek itu hanya menjadi penggeraknya saja! Akan tetapi, gerakan-gerakan tepat yang ditunjukkan oleh kedua anak muda itu

membuat mereka benar-benar kagum dan girang hingga keadaan yang tadinya sunyi kini berubah menjadi ramai karena suara tertawa kedua kakek itu. Suara ketawa jembel tua itu seperti burung hantu, sedangkan suara kakek berambut putih itu berkakakan seperti suara ular besar mengakak!

Oleh karena kedua anak muda yang cerdik itu memang maklum bahwa kakek kakek yang kalah pasti akan marah sekali kepada penasehat lawan sedangkan hal ini berbahaya sekali oleh karena mereka maklum akan kehebatan kakek-kakek ini, maka mereka sengaja bermain hati-hati sekali dan membuat permainan ini berakhir remis! Setelah biji-biji catur kedua pihak habis dan tinggal seorang Raja saja kedua kakek itu tertawa senang. Si jembel berkata, “Ha, ha, kakek penuh uban! Kali ini kau tidak dapat mengalahkan aku!” Lalu ia tertawa terkekeh-kekeh lagi.

Sebaliknya, orang tua berambut putih itupun tertawa dan berkata, “Lo-kai (pengemis tua), kaupun tidak bisa mengalahkan aku!”

Pada saat itu, Siok Lan satang sambil membawa banyak sekali buah ang-co dan buahbuah lain yang lezat nampaknya karena warnanya yang kuning kemerah-merahan itu menandakan bahwa buah-buah itu matang di atas pohon! Gadis ini merasa heran sekali mendengar suara kedua orang kakek itu tertawa girang, maka ia lalu menghampiri tempat itu sambil membawa buah-buahnya.

“Bagus, bagus, perut kita memang sudah lapar sekali!” kata si jembel sambil mengulurkan tangan dan mengambil beberapa tangkai buah dari tangan Siok Lan.

“Memang, sudah semenjak pagi tadi kita belum makan apa-apa! Permainan catur ini biarpun menarik hati, akan tetapi membuat orang lupa waktu dan lupa makan!”

menjawab si rambut putih yang juga mengulurkan tangannya dan tahu-tahu iapun sudah mengambil beberapa butir buah dari tangan Siok Lan!

Perbuatan kedua kakek ini sekaligus membuat ketiga anak muda itu melongo keheranan! Harus diketahui bahwa gadis itu berdiri di tempat yang agak jauh hingga jangankan baru mengulurkan tangan, biarpun bangun berdiri dan menjangkau dengan tubuh dibongkokkan kedepanpun orang belum dapat mengambil buah itu dari jarak yang sedikitnya masih ada setombak itu. Akan tetapi, entah dengan cara bagaimana, kedua kakek itu tidak pindah dari tempat duduk, dan hanya mengulurkan tangan, dan buah-buah itu telah berada di tangan mereka!

Sambil makan buah, kedua kakek itu memandang kepada penasehat masing-masing. “Kalian makanlah, bukankah perutmu lapar juga?” kata mereka hampir bersamaan.

“Aku mendengar cacing perutmu berteriak-teriak dan mengeluh-ngeluh ketika kau berdiri di belakangku tadi!” kata si jembel kepada Tan Hong.

“Dan perut si muka hitam ini membikin sakit telingaku karena selalu berkeruyuk dengan bising!” kata si rambut putih kepada bekas lawannya sambil menunjuk Ong Kai.

Kedua anak muda itu saling pandang, lalu ikut tertawa dan menerima buah dari tangan Siok Lan. Sebaliknya, gadis itu telah mengisi perutnya di dalam hutan tadi hingga ia telah merasa kenyang dan tidak ikut makan.

Tiba-tiba si jembel berkata kepada Tan Hong, “Aku si jembel tua tidak biasa menerima kebaikan orang tanpa balas. Kau telah membelaku hingga aku tidak dikalahkan oleh si kakek uban ini, maka marilah kau ikut padaku sebentar untuk menerima upah.”

Tan Hong menjawab, “Maaf locianpwe, Teecu tidak biasa menerima upah dari apa yang teecu lakukan. “

Tiba-tiba kakek jembel itu memandangnya dengan melotot, “Apa katamu? Aku tidak biasa menerima bantahan, mengerti!” Dengan gerakan cepat sekali tangannya meluncur ke depan dan sebelum Tan Hong dapat mengelak, tahu-tahu lengan kanannya telah dipegang dengan erat sekali. Tan Hong mengerahkan lweekangnya, mencoba meloloskan diri, akan tetapi makin ia kerahkan tenaga, makin eratlah pegangan tangan si jembel itu.

“Ha …, ha …, ha … ! Tak kusangka kaupun telah memiliki kepandaian lumayan juga. Mari kau ikut aku!” Tan Hong tahu-tahu merasa dirinya melayang dari atas tanah, oleh karena kakek jembel itu telah menarik tubuhnya dan dibawa lari ke dalam hutan!

Si kakek ubanan tertawa gelak hingga suara ketawanya yang keras itu memenuhi hutan dan bergema keras sekali.

“Ha …, ha …, ha … ! Si jembel membuat aku merasa malu! Mari, mari, muka hitam, kaupun ikut aku sebentar untuk menerima hadlah atas petunjuk-petunjukmu tadi!”

Ong Kai memang berotak cerdik, maka ia dapat menangkap maksud kakek ini dan ia mengikuti kakek itu masuk ke dalam hutan, biarpun ia telah mengerahkan ilmu kepandaiannya berlari cepat, namun masih saja ia tertinggal jauh oleh kakek yang hanya jalan biasa itu!

Melihat keadaan ini, Siok Lan yang tidak mengerti asal mula perkara yang membuat kedua suhengnya seakan-akan menjadi pelepas budi, diam-diam merasa khawatir. Terutama sekali ia merasa khawatir akan keselamatan Tan Hong, maka segera ia mengangkat kaki dan mengejar ke arah Tan Hong dibawa lari oleh si jembel tadi!

Ketika ia sampai di tengah hutan, ia melihat betapa Tan Hong duduk berlutut di depan kakek jembel itu yang kini telah memegang pedang Gin-kiam kepunyaan Tan Hong. Gadis ini terkejut hingga tak terasa pula ia mencabut pedangnya.

Tiba-tiba si jembel tua itu berpaling ke arahnya dan biarpun gadis itu mengintai dari balik pohon, agaknya si jembel telah melihatnya karena si jembel tua itu berkata keras-keras, “Eh … ! Gadis! Kau mengejar kemari dengan pedang di tangan. Ha …, Ha! Tentu kau cinta kepada pemuda ini dan hendak membelanya bukan?”

Tan Hong terkejut dan memandang. Ketika melihat bahwa Siok Lan telah berada di situ sambil memegang pedang, pemuda itu menjadi terkejut dan girang. Benarkah dugaan si jembel ini? Dan aneh sekali, ketika mendengar ucapan yang tepat mengenai jantungnya itu, Siok Lan lalu berlari pergi keluar dari hutan!

“Locianpwe, betulkah dugaan locianpwe tadi?” tanyanya penuh harap.

“Ha … ,ha …, ha … ! Anak muda, kau hanya pandai main catur, akan tetapi tak pandai mengukur hati seorang gadis manis! Sudahlah, sekarang kauperhatikan gerakan-gerakanku. Aku hendak mengajarmu ilmu pedang Sin-hong-kiam-sut (Ilmu Pedang Burung Hong Sakti) yang hanya delapan belas jurus banyaknya. Perhatikan baik-baik dan catat semua gerakannya di dalam otakmu yang pandai main catur itu!”

Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menggerakkan pedang perak dengan gerakan perlahan dan lambat sekali hingga Tan Hong dapat mengikuti dan mengingat semua gerakannya. Ia merasa bahwa gerakan-gerakan itu biasa saja dan sama sekali tak dapat melawan ilmu pedang Bok-

san-kiam-sut yang telah dimilikinya. Setelah menghabiskan delapan belas jurus dengan gerakan lambat, si jembel lalu berkata, “Nah! Sekarang kau saksikanlah bagaimana harus memainkannya.” Tiba-tiba saja tubuh si jembel itu berkelebat dan sinar pedang lalu menutupi tubuhnya dengan gerakan cepat sekali hingga mata Tan Hong menjadi kabur! Kakek jembel itu masih memainkan ilmu pedang seperti tadi, akan tetapi kini ia menggunakan gerakan cepat dan ternyata bahwa ilmu pedang itu memang hebat!

Tan Hong menjadi girang sekali dan setelah kakek selesai bermain pedang, ia lalu menerima kembali pedangnya dan meniru gerakan-gerakan kakek itu. Otaknya memang cerdas dan mudah saja baginya untuk mengingat semua gerakan kakek jembel tadi.

“Bagus, bagus! Kau telah dapat memahaminya cepat sekali, pantas saja ilmu main caturmu juga hebat. Nah, kau latihlah baik-baik karena delapan belas jurus ini saja sudah cukup untuk menumpas seluruh penjahat dan perampok yang merajalela di daerah utara!”

Tan Hong lalu menjatuhkan diri berlutut, “Locianpwe, bolehkah teecu mengetahui namamu yang mulia?”

“Di daerah utara aku disebut Pembasmi Perampok oleh karena aku memang benci sekali kepada perampok-perampok jahat yang tidak kenal perikebajikan dan perikemanusiaan. Sebenarnya aku adalah Lui Song yang dijuluki orang Raja Pengemis!”

Terkejutlah Tan Hong mendengar nama ini. Jadi inikah pendekar tua yang telah mengamuk dan membasmi para perampok di utara hingga kedua saudara Ang dan Ciauw Lek juga lari karena takut kepadanya. Pantas saja, karena ia memang luar biasa hebatnya! Pernah juga ia mendengar

dari suhunya nama si Raja Pengemis yang dipuji-puji karena kehebatan ilmunya dan ia merasa beruntung bahwa kini dapat berjumpa dengan orang tua ini, bahkan telah diberi pelajaran ilmu pedang! Ia lalu berlutut lagi dan menyatakan terima kasihnya.

“Dan kau bukankah Gin-kiam Gi-to si Maling Budiman?”

Tan Hong terkejut dan khawatir, karena bukankah kakek itu menyatakan paling benci kepada perampok? Akan tetapi oleh karena ia tidak merasa pernah melakukan kejahatan yang melanggar perikemanusiaan, ia tidak takut.

“Locianpwe sungguh berpemandangan tajam, teecu memang benar Tan Hong yang disebut orang Maling Budiman,” jawabnya.

“Ha … ,ha …, ha … ! Sungguh lucu! Di utara aku membasmi kawanan perampok dan maling, sebaliknya di sini aku menerima murid secara tidak langsung yang pekerjaannya juga menjadi maling! Ha, ha, ha! Tapi aku telah mendengar tentang pekerjaanmu yang mulia itu. Kalau tidak, tentu kau takkan dapat bertemu dengan aku dalam keadaan selamat!”

Raja Pengemis itu lalu mengajak Tan Hong kembali ketempat mereka bermain catur tadi. Tan Hong melihat bahwa Ong Kai dan Siok Lan telah menanti di situ lagi, akan tetapi kakek berambut putih tadi tidak berada di situ lagi. Melihat wajah Ong Kai yang berseri-seri, tiba-tiba Raja Pengemis tertawa dan berkata kepada si muka hitam, “Ha, ha, muka hitam! Apakah untuk petunjuk-petunjukmu yang telah kau berikan kepada Kim Liong Hoatsu, kau telah diberi hadiah?”

Ong Kai yang maklum bahwa kakek jembel itu bukan orang sembarangan, lalu menjawab sambil memberi

hormat, “Teecu telah menerima sedikit petunjuk dari orang tua itu. “

“Ha …, ha …, ha …, bagus! Sekarang tak perlu kalian takuti lagi kedua hwesio tersesat. Naiklah ke sebelah kiri gunung ini, dan di lereng sebelah belakang akan kalian dapatkan musuh-musuh yang kalian cari-cari!” Setelah berkata demikian, si kakek jembel lalu pergi dari situ dengan tindakan kaki lebar.

Mendengar nama Kim Liong Hoatsu, terkejutlah Tan Hong.

“Ong-sute, benarkah kakek rambut putih tadi Kim Liong Hoatsu, pangcu dari sekalian penjahat di liok-lim?” tanyanya kepada Ong Kai.

“Demikianlah menurut pengakuan orang tua hebat itu.” Kemudian Ong Kai menuturkan bahwa ketika ia ikut orang tua itu memasuki hutan, kakek berambut putih itu lalu menurunkan ilmu silat tangan kosong yang disebut Ngo-lian-ciang-hwat atau Ilmu Silat lima Teratai yang mempunyai gerakan delapan belas jurus dan yang merupakan ilmu silat tinggi. Kakek berambut putih itu dengan aneh sekali mengetahui tentang perbuatannya ketika menolong puteri keluarga lai, bahkan berkata, “Muka hitam, perbuatanmu di rumah keluarga lai itu boleh dipuji dan selanjutnya kau harus selalu mengulurkan tangan menolong sesama hidup. Ngo-lian-ciang-hwat ini hanya sekedar sebagai penambah pengertian, asal kau suka melatih diri baik-baik kau tak usah takut kepada segala macam penjahat. O, ya. Keluarga Lai mempunyai maksud baik terhadap kau, jangan kau menolak!” Kemudian kakek itu lalu berkelebat dan pergi!

Tan Hong merasa girang mendengar ini, dan iapun lalu menuturkan pengalamannya. Jika kedua pemuda itu

bercakap-cakap dengan girang, adalah Siok Lan selalu menundukkan muka dan tidak mau ikut bicara. Tan Hong lalu menghampiri gadis itu yang tak berani memandang kepadanya, dan berkata halus, “Sumoi … harap kau maafkan orang tua tadi yang bicara secara sembarangan. Memang orang-orang berilmu tinggi kadang-kadang mempunyai adat dan tingkah laku yang aneh. “

Oleh karena sikap Tan Hong yang tepat dan baik ini, hilanglah perasaan malu yang mengganggu hati Siok Lan, wajahnya berseri kembali dan bibirnya tersenyum ketika ia berkata, “Perduli apa aku akan segala kakek-kakek yang memberi upah orang dengan sedikit ilmu silat? Yang kupikirkan adalah pernyataan Kim Liong Hoatsu terhadap Ong-suheng tadi, bahwa keluarga Lai mempunyai maksud baik terhadap Ong-suheng. Alangkah tepatnya ucapan itu sehingga tiada habisnya aku heran mengapa kakek rambut putih itu dapat mengetahuinya!”

“Eh! Apa maksudmu?” tanya Ong Kai dengan heran. Juga Tan Hong ingin sekali tahu. Sementara itu, Siok Lan merasa bahwa ia telah bicara terlalu banyak, maka ia lalu menyambung, “Ah, tidak apa-apa. Aku tidak boleh menceritakan hal ini sebelum tugas kita selesai. Marilah kita melanjutkan perjalanan menurut petunjuk kakek jembel tadi!”

Mendengar ucapan ini, Ong Kai yang cerdik dapat menduga apakah yang disebut “maksud baik keluarga Lai” itu, maka diam-diam hatinya berdebar girang dan perasaan bangga bercampur malu membayang pada wajahnya yang hitam. “Sudahlah, jangan mengobrol saja di sini, mari kita pergi mencari musuh-musuh kita!” katanya.

Tan Hong hanya tersenyum oleh karena pemuda inipun dapat menduga maksud baik keluarga Lai itu. Mereka bertiga lalu melanjutkan pendakian di bukit yang tinggi dan

berbahaya ini tanpa mengalami kesukaran berkat kepandaian mereka yang tinggi. Sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Raja Pengemis, mereka menuju ke lereng gunung sebelah kiri mencari-cari tempat tinggal Bhok Kong dan Kim Kong Hwesio.

Bhok Kong dan Kom Kong Hwesio telah berhasil bertemu dengan kawan mereka Ti Bong Hosiang yang hebat dan tidak kalah jahatnya dengan mereka dan mengajak hwesio ini ke Pek-hoa-san untuk menghadapi serbuan lawan. Dengan adanya Ti Bong Hosiang, mereka berdua tidak takut akan datangnya pembalasan dari si Garuda Sakti, Maling Budiman, dan yang lain-lain.

Demikianlah ketika Bok-san Sam-hiap mendaki lereng sebelah kiri dari bukit Pek-hoasan, tiba-tiba mereka melihat kedua musuh mereka dan seorang hwesio lain lagi yang bertubuh tinggi besar berdiri di depan sebuah gua menanti mereka dengan sikap menantang!

“Bagus sekali! Kalian tiga tikus kecil telah datang mengantar kematian!” Kim Kong Hwesio menyindir dan tersenyum menghina. Hwesio tinggi besar itu memandang ke arah Siok Lan tanpa berkedip, menyatakan kekagumannya melihat kecantikan gadis itu, hingga Siok Lan merasa marah dan gemas sekali.

“Bhok Kong dan Kim Kong, hwesio cabul tersesat!” Ong Kai memaki marah. “Ternyata kalian juga telah mendatangkan seorang keparat lain untuk membantumu!”

“Aduh, musuh-musuhmu ini benar-benar muda dan tabah!” tiba-tiba Ti Bong Hosiang berkata kepada kedua kawannya dengan suaranya yang parau. “Anak-anak muda!

Ketahuilah, aku adalah tamu kedua sahabat ini dan namaku Ti Bong Hosiang. Apakah benar-benar kalian bertiga ini memusuhi Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong

Hwesio? Sungguh aneh, bukankah ini berarti kalian mencari kesukaran dan kematian sendiri? Sayang, sayang, terutama nona ini, sayang sekali kalau sampai mendapat luka!” Setelah berkata demikian, ia pandang wajah Siok Lan dengan mulut menyeringai menjemukan.

Akan tetapi ketiga anak muda itu sama sekali tidak memperdulikan omongan Ti Bong Hosiang, ketiga anak muda itu sudah merasa marah dan benci sekali hingga pada saat itu juga mereka telah mencabut senjata masing-masing.

“Bhok Kong dan Kim Kong Hwesio. Tak perduli kalian akan dibantu oleh siapa juga, saat ini kami pasti akan mengirimkan nyawa kalian yang kotor!” kata Tan Hong sambil melangkah maju.

“Ha, ha, ha! Gin-kiam Gi-to maling rendah, kau sungguh sombong! Mengapa kau tidak ajak Lo Cin Ki si tua bangka itu ke sini? Apakah ia telah mampus kena pukulan dulu?” Kim Kong Hwesio berkata menyindir sambil mengeluarkan kebutannya yang ampuh, demikian pula Bhok Kong Hwesio.

“Hwesio bangsat, lihat pedang!” tiba-tiba Siok Lan berseru keras dan maju menyerang, oleh karena gadis ini tidak tahan lagi mendengar nama ayahnya dihina. Kim Kong Hwesio tertawa menghina dan menyambut serangan Siok Lan dengan kebutannya. Ong Kai berseru keras dan menyerbu pula, membantu sumoinya mengeroyok Kim Kong Hwesio yang hebat.

Tan Hong juga tidak mau menyia-nyiakan waktu dan segera maju menyerang dan ia diterima oleh Bhok Kong Hwesio yang memainkan kebutannya dengan sengit. Hwesio ini teringat akan kekalahannya dulu terhadap Lo Cin Ki dan kini hendak menebus kekalahan itu kepada anak-anak muda ini. Dengan menggeram keras ia putar

kebutannya sedemikian rupa hingga Tan Hong harus berlaku hati-hati sekali untuk menghadapinya.

Memang sesungguhnya, ketiga orang anak muda ini telah berlaku terlalu berani mencari kedua orang musuh besar itu bertiga saja. Sedangkan dulu, ketika Lo Cin Ki ikut turun tangan, tiga dewa dari Pek-hoa-san ini masih sukar sekali dikalahkan, dan hanya setelah mengeroyok Beng Kong Hwesio berdua bersama Siok Lan, barulah Tan Hong dan Siok Lan berhasil mengalahkan hwesio itu. Sekarang Lo Cin Ki tidak berada di situ, sedangkan kedua orang hwesio tangguh itu mendapat bantuan seorang hwesio lain! Akan tetapi, berkat ketabahan dan ketangkasan mereka, sedikitpun mereka tidak merasa takut dan menyerang dengan mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga!

Tan Hong yang menghadapi Bhok Kong Hwesio seorang diri, segera merasa betapa berat dan tangguh lawannya ini, labih tangguh daripada mendiang Beng Kong Hwesio. Sedangkan dulu ketika menghadapi Beng Kong Hwesio, pemuda ini masih berada di pihak yang terdesak, apalagi kini menghadapi Bhok Kong Hwesio yang memainkan hudtimnya dengan cara luar biasa sekali. Tan Hong harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menahan semua serangan yang dilancarkan secara bertubi-tubi dan dilakukan sambil tertawa menyindir!

Sedangkan Ong Kai dan Siok Lan yang bekerja sama, hanya dapat menangkis dan mempertahankan diri saja dari desakan Kim Kong Hwesio yang berkepandaian lebih tinggi daripada Bhok Kong! Untung kedua orang anak muda ini mendapat didikan ilmu pedang dari seorang guru, maka gerakan-gerakan mereka dapat sesuai dan cocok sekali hingga merupakan sebuah pertahanan yang kuat juga dan agaknya takkan mudah dapat dikalahkan.

Keadaan ketiga anak muda itu benar-benar terdesak dan berbahaya, sedangkan Ti Bong Hosiang sama sekali belum bertindak apa-apa, hanya berdiri menonton sambil tersenyum. Kalau hwesio yang berkepandaian amat tinggi, lebih tinggi daripada Bhok Kong atau Kim Kong ini maju pula menyerang, pasti Tan Hong dan kawan-kawannya takkan kuat mempertahankan diri lebih lama lagi!

Bhok Kong Hwesio merasa gemas sekali setelah beberapa lama menyerang belum juga dapat menjatuhkan Tan Hong yang benar-benar memiliki ilmu pedang cukup sempurna dan pertahanan yang sangat kuat. Pedang perak di tangan anak muda ini berputar cepat merupakan benteng putih yang sukar ditembus oleh hudtimnya. Sebaliknya Tan Hong menjadi sibuk juga oleh karena serbuan hwesio itu benar-benar tak memungkinkan ia melakukan serangan balasan. Tiba-tiba Tan Hong teringat akan pelajaran Sin-hong Kiam-sut yang baru saja dipelajarinya dari Raja Pengemis. Ia lalu bermaksud mempergunakan ilmu pedang baru ini, dan sambil berseru keras tiba-tiba ia merubah gerakan pedangnya yang dipergunakan untuk menyerang sambil melompat ke atas. Gerakan ini tak terduga sama sekali dan ketika Tan Hong memutar pedang dengan gerakan aneh melakukan gerak tipu Burung Hong Pentang Sayap dan menyerang pundak kiri dan kanan lawannya dengan gerakan cepat, hampir saja pundak kanan Bhok Kong Hwesio tertusuk! Pendeta ini terkejut sekali dan melompat mundur dengan wajah pucat. Tan hong merasa gembira bahwa jurus pertama dari Sin-hong Kiam-sut ternyata telah berhasil baik, maka ia lalu menyusul dengan serangan ke dua, yakni tipu gerakan Burung Hong Mematuk Ular, jurus ke lima dari Sin-hong Kiam-sut. Pedangnya yang dipakai menusuk tenggorokan musuh bergerak ke depan dan tidak seperti gerakan ilmu pedang lain yang menusuk langsung dan cepat, gerakan ini

dibarengi dengan ujung pedang yang digetar-getarkan hingga membingungkan lawan yang tidak tahu ke mana pedang itu hendak ditusukkan! Ketika pedang telah mendekati leher dan Bhok Kong Hwesio sudah mengangkat hudtimnya untuk melihat ujung pedang, ternyata bahwa tusukan pada leher itu hanyalah gertakan belaka karena sebenarnya ujung pedang diturunkan ke bawah dan langsung menusuk ulu hati!

Kembali Bhok Kong Hwesio dikejutkan oleh tipu silat yang aneh ini, dan untuk kedua kalinya ia terpaksa mengelak sambil melompat ke samping, akan tetapi secepat kilat Tan Hong sudah melayang ke atas dan mengirim tusukan ke arah kepala lawan dan kaki kirinya menendang pundak dari atas. Inilah gerak tipu Burung Hong Menyambar Rumput. Hampir saja serangan ini berhasil oleh karena Bhok Kong Hwesio kena tertipu oleh serangan pedang Tan Hong yang menuju ke kepalanya dan sama sekali tidak menduga akan datangnya tendangan kaki kiri itu. Hwesio ini tadinya telah merasa girang oleh karena tusukan pedang Tan Hong telah dapat ditangkisnya dengan hudtim, bahkan ujung kebutan itu dipakai untuk melibat pedang lawan untuk dirampas, akan tetapi ketika ia merasa sambaran yang menuju ke pundaknya, ia menjadi terkejut sekali oleh karena tahu-tahu ujung kaki Tan Hong yang hendak menendang jalan darah di pundaknya telah datang dekat sekali! !! Terpaksa ia melepaskan libatan hudtim dari pedang lawannya dan membuang dirinya ke belakang untuk mengelak tendangan yang cukup berbahaya itu!

Tan Hong makin bersemangat dan melakukan serangan dengan Sin-hong Kiam-sut bertubi-tubi. Benar-benar Bhok Kong Hwesio terdesak hebat oleh karena hwesio ini sama sekali tidak mengenal ilmu pedang yang hebat ini. Hal ini diketahui baik oleh Ti Bong Hosiang, maka hwesio ini

merasa tidak enak untuk tinggal diam saja. Ia lalu mencabut keluar sebatang tongkat kepala ular dan berkata kepada Bhok Kong Hwesio, “Bhok-bengyu mundurlah biar pinceng menghadapi bocah ini. “

Bho Kong Hwesio bernapas lega dan melompat mundur. Ia merasa gemas dan heran sekali oleh karena tidak tahu darimana pemuda itu mendapatkan ilmu pedang demukian aneh dan hebatnya. Diam-diam ia merasa kagum sekali, dan maklum bahwa ilmu pedang yang berturut-turut digerakkan oleh pemuda itu dan yang hampir saja mencelakakannya bukanlah Bok-san Kiam-hoat. Ia lalu memandang ke arah Kim Kong Hwesio yang masih dikeroyok oleh Siok Lan dan Ong Kai dilihatnya bahwa biarpun suhengnya itu mendesak hebat, namun pertahanan kedua murid Bok-san-pai itu amat kuat dan sukar sekali dirobohkan. Maka ia lalu memutar hudtimnya dan menyerbu sambil berkata, “Hai, anjing-anjing kecil, bersedialah untuk mampus!” Ia lalu menyerang Siok Lan oleh karena tahu bahwa gadis ini adalah puteri Lo Cin Ki dan ia hendak membalas sakit hatinya oleh karena kekalahannya terhadap si Garuda Sakti dulu itu kepada puterinya! Terpaksa Siok Lan meninggalkan Kim Kong Hwesio menyambut serangan Bhok Kong Hwesio. Tadinya gadis ini terkejut sekali hingga mukanya menjadi pucat ketika mendengar bentakan Bhok Kong Hwesio yang tadi ia lihat bertempur melawan Tan Hong. Dengan sangat khawatir ia menyangka bahwa Tan Hong telah kena dirobohkan, akan tetapi ketika ia mengerling dan mengetahui bahwa pemuda itu sedang bertempur melawan hwesio tinggi besar itu, ia bernapas lega dan menyambut serangan Bhok Kong Hwesio dengan penuh semangat!

Tadinya Bhok Kong Hwesio bermaksud keji, yakni hendak menawan gadis itu hiduphidup untuk

dipermainkan, akan tetapi begitu mereka bertempur, terpaksa ia membuang jauhjauh pikiran kotor itu, karena ilmu pedang gadis ini hampir sama hebatnya dengan Bok-san Kiam-hoat yang dimainkan oleh Tan Hong untuk mempertahankan diri. Pedang gadis inipun berputar cepat merupakan benteng baja yang sukar ditembus, hingga jangankan hendak menawan hidup-hidup dan mempermainkan, kalau ia tidak mengerahkan kepandaiannya pasti

ia akan terdesak. Terpaksa Bhok Kong Hwesio lalu mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga hingga akhirnya Siok Lan menjadi sibuk sekali untuk mempertahankan diri. Gadis ini telah mulai lelah oleh karena ia harus terus menerus memutar pedangnya melindungi tubuhnya dari serangan hudtim yang berbahaya itu. Keringat mulai membasahi keningnya, akan tetapi setapakpun ia tidak mundur dan seujung rambutpun ia tidak menjadi takut atau bingung. Dengan menggigit bibir, ia mengeluarkan seluruh kepandaian yang pernah dipelajarinya dari ayahnya, dan mengambil keputusan untuk bertahan sampai detik terakhir! Tentu saja kenekatan gadis ini telah memperkuat pertahanannya lagi hingga untuk sementara waktu Bhok Kong Hwesio tak berdaya dan belum dapat mengalahkannya walaupun ia terus menerus mendesak keras.

Yang paling berat dan berbahaya kedudukannya adalah Ong Kai. Pemuda ini menghadapi lawan terberat dari Pek-hoa Sam-sian dan tadi ketika masih ada Siok Lan yang membantunya, mereka berduapun hanya dapat mempertahankan diri saja. Sekarang Siok Lan dipaksa menghadapi Bhok Kong Hwesio dan ia ditinggal seorang diri menghadapi amukan Kim Kong Hwesio. Tentu saja ia menjadi sibuk dan beberapa kali ujung kebutan lawannya

hampir saja merobohkannya. Ia teringat akan pelajaran Ngo-lian-ciang-hwat yang diturunkan oleh Kim Liong Hoatsu kepadanya baru-baru ini. Celakanya ilmu silat yang dipelajarinya itu adalah ilmu silat tangan kosong dan tak dapat dimainkan dengan pedang di tangan! Akan tetapi Ong Kai memang berotak cerdik dan mempunyai banyak akal. Sambil melompat mundur menghindarkan diri dari sabetan kebutan Kim Kong Hwesio, ia berseru, “He … hwesio tua busuk! Kalau kau memang jantan simpanlah kebutan lalatmu itu dan mari kita berkelahi dengan tangan kosong! Aku merasa benci, bosan dan jijik melihat kebutan lalatmu yang bau bangkai itu!”

Kim Kong Hwesio menyangka bahwa pemuda muka hitam itu sengaja menggunakan akal dengan kata-kata keji untuk memancing supaya ia menjadi marah. Maka ia tertawa dan berkata, “Cacing! Kalau mau mampus selalu berkelejetan dulu! Kau juga anjing kecil muka hitam yang sudah menghadapi maut menjual banyak tingkah! Kau lebih senang mati di bawah kepalan tanganku daripada di bawah hudtimku? Baik, baik! Aku akan membikin kau mampus dengan sekali pukul!” Hwesio itu lalu menyimpan hudtimnya yang diselipkan di belakang punggung sedangkan Ong Kai juga menyimpan pedangnya dan memasang kuda-kuda.

Sekali lagi Kim Kong Hwesio tertawa mengejek, kemudian tiba-tiba tubuhnya meloncat maju dan menubruk mengirim serangan maut! Ong Kai mengelak ke kiri balas menyerang hingga tak lama kemudian mereka berkelahi kembali dengan lebih hebat, walaupun kini keduanya tidak memegang senjata. Mula-mula Ong Kai mainkan ilmu silat Bok-san-pai, akan tetapi baru dua puluh jurus saja mereka berkelahi, ketika Kim Kong Hwesio memukul dadanya dan Ong Kai menanti, tahu-tahu tangan yang memukul itu ubah

mencengkeram dan berhasil memegang lengan tangan Ong Kai yang menangkis! Kim Kong Hwesio tertawa menyeramkan sebaliknya Ong Kai terkejut sekali karena merasa betapa lengan tangannya sakit. Ia tak berdaya melepaskan cengkeraman ini dan tahu bahwa kematiannya telah membayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat akan pelajaran silat Ngolian-ciang-hwat dan ia segera memutar tubuhnya dan oleh karenanya lengan yang terpegang ikut terputar. Kemudian sambil berseru keras ia ulurkan tangan kirinya menotok ke arah lambung lawannya sambil menggerakkan lengan yang terpegang itu ke arah ibu jari tangan Kim Kong yang memegang. Hwesio ini cepat mengulur tangan untuk menangkap tangan kiri Ong Kai, tahu-tahu totokan itu ditarik kembali dan kini jari-jari tangan Ong Kai menyerang ke atas hendak menusuk matanya! Kim Kong Hwesio terkejut sekali dan sebelum ia dapat bertahan, tahu-tahu tangan kanan Ong Kai yang tadi dipegang secara aneh telah terlepas!

Inilah kehebatan ilmu silat Ngo-lian-ciang-hwat yang mempunyai bagian lemas dan keras, kuat dan tahan lama bagaikan bunga teratai dan licin pula, sesuai dengan namanya Ngo-lian-ciang-hwat, Ilmu Silat Tangan Kosong Lima Teratai! Biarpun gerakan Ngo-lianciang-hwat tadi telah menggirangkan hati Ong Kai karena telah melepaskan dirinya daripada bahaya maut, akan tetapi pada pergelangan lengan tangannya nampak bekas pegangan Kim Kong Hwesio yang membuat kulit lengannya menjadi merah dan matang biru! Bulu romanya berdiri membayangkan nasibnya apabila ia tidak dapat segera melepaskan diri tadi. Maka dengan marah ia lalu balas menyerang, kini mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat Ngo-lianciang-hwat yang baru dipelajarinya.

Kim Kong Hwesio sangat heran melihat gerakan pemuda hitam itu. Inilah ilmu silat yang belum pernah dilihatnya dan ketika Ong Kai telah menyerangnya dengan Ngo-lianciang-hwat sebanyak sebelas jurus, telah dua kali kepalan Ong Kai berhasil memasuki pertahanan Kim Kong. Sekali menghantam pundaknya dan yang kedua kali memukul pahanya. Biarpun berkat kehebatannya pukulan itu tidak mendatangkan luka, akan tetapi cukup membuat Kim Kong Hwesio menjadi terkejut, marah, dan juga takut, hingga ia berkelahi dengan lebih hati-hati dan tidak sembarangan mendesak secara membabi buta seperti tadi!

Sementara itu, Tan Hong yang menghadapi Ti Bong Hosiang benar-benar merasa bahwa kepandaian hwesio ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian Kim Kong Hwesio. Tongkat kepala ular di tangan hwesio tinggi besar ini luar biasa hebatnya dan gerakannya menyambar-nyambar bagaikan seekor ular hidup yang sukar sekali diduga gerakannya. Sayang sekali bahwa Sin-hong Kiam-sut yang baru dipelajarinya, belum terlatih lama dan sempurna. Karena bila ilmu pedang ini telah ia latih secara sempurna dan mendalam, agaknya ia akan dapat mengimbangi permainan tongkat hwesio itu. Akan tetapi, karena ilmu pedang itu belum dipahami secara mendalam, dan tingkat kepandaian hwesio itu memang masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya sendiri, Tan Hong terdesak hebat dan terkurung oleh sinar tongkat yang menyerang dari semua jurusan dengan sangat berbahaya. Keadaan Tan Hong, seperti juga keadaan dua orang kawannya, benar-benar terdesak dan berbahaya sekali!

Pada saat yang berbahaya itu, dua orang kakek dengan kecepatan seperti terbang mendaki bukit Pek-hoa-san. Mereka ini tidak ialah Lo Cin Ki si Garuda Sakti Kuku Seribu dan yang seorang lagi adalah seorang tosu tua yang

berjenggot putih panjang dan berpakaian putih pula. Tosu ini adalah Cin Cin Tojin atau suhengnya, yakni guru dari Tan Hong!

Cin Cin Tojin yang sudah lama tidak bertemu dengan sutenya, pada suatu hari datang mengunjungi sute itu dan mendapatkan Lo Cin Ki dalam keadaan luka oleh musuh. Setelah mendengar penuturan Lo Cin Ki tentang peristiwa itu dan bahwa kini Tan Hong, Siok Lan dan Ong Kai bertiga sedang pergi mencari Bhok Kong dan Kim Kong Hwesio, Cin Cin Tojin merasa sangat khawatir.

“Kedua hwesio sesat itu dapat merobohkan kau, maka dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu silatnya. Kalau Tan Hong dan puteri serta muridmu pergi mencari dan bertemu dengan mereka, apakah itu tidak terlalu berbahaya?” katanya.

Lo Cin Ki menghela napas. “Habis apa dayaku? Aku harus memulihkan kembali tenagaku, dan kulihat muridmu Tan Hong itu memiliki kepandaian cukup tinggi.”

Cin Cin Tojin menggelengkan kepalanya yang sudah penuh dengan uban. “Kau terlalu percaya kepada anak-anak muda, sute! Marilah kita susul ke Pek-hoa-san, dan mudah-mudahan saja kita masih belum terlambat.”

Oleh karena Lo Cin Ki memang telah hampir sembuh dan orang tua inipun mengkhawatirkan keadaan puterinya, maka kedua pendekar tua ini lalu berangkat ke Pek-hoasan dengan cepat. Dan kedatangan mereka memang pada saat yang tepat sekali oleh karena ketiga orang muda itu justeru sedang terancam bahaya maut!

“Bhok Kong dan Kim Kong pendeta rendah budi! Marilah kita membuat perhitungan terakhir!” Lo Cin Ki berseru dan bukan main girang ketiga anak muda itu mendengar suara yang amat dikenalnya ini! Apalagi ketika

Tan Hong melihat bahwa suhunya juga datang, maka ia lalu cepat-cepat melompat keluar dari lapangan pertandingan dan berlutut di depan Cin Cin Tojin sambil memanggil, “Suhu!”

“Orang she Lo! Kau belum mampus? Baiklah, sekarang kami akan bikin mampus kamu!” Kim Kong Hwesio tidak gentar melihat kedatangan Lo Cin Ki oleh karena ia mengandalkan tenaga bantuan Ti Bong Hosiang yang hebat. Akan tetapi, ketika Ti Bong Hosiang melihat kedatangan Cin Cin Tojin, hwesio ini merasa terkejut dan menjura, “Eh, kiranya Cin Cin To-yu ikut datang pula.”

Cin Cin tojin membalas pemberian hormat itu dan bertanya, “Sahabat Ti Bong! Bagaimana menurut pandanganmu, apakah kepandaian muridku tidak terlalu mengecewakan?”

Kembali Ti Bong Hosiang terkejut karena tidak disangkanya sama sekali bahwa Tan Hong adalah murid tosu pendekar itu. Juga Bhok Kong dan Kim Kong merasa terkejut mendengar bahwa tosu yang ikut datang ini adalah guru Tan Hong. Sedangkan pemuda itu saja sudah demikian tangguh, apalagi gurunya! Akan tetapi, oleh karena maklum bahwa Lo Cin Ki tentu takkan melepaskan mereka begitu saja, dan bahwa pertandingan mati-matian tak dapat dihindarkan lagi, Kim Kong Hwesio tertawa menyindir, “Hm …, si Garuda Sakti datang membawa jagoan. Baik, hendak kulihat sampai di mana hebatnya jago ini!” Sambil berkata demikian, Kim Kong Hwesio lalu maju dan menghantam dada Cin Cin Tojin dengan hudtimnya! Cin Cin Tojin tersenyum dan mengelak sambil melangkah mundur.

“Aduh, galak benar hwesio ini!” katanya dan iapun menyambut serangan berikutnya dengan ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar.

“Bhok Kong, terimalah kematianmu dengan tenang!” Lo Cin Ki membentak dan menyerang Bhok Kong Hwesio yang segera menyambut dengan hudtimnya.

Tan Hong tidak tinggal diam dan ia lalu menyerang Ti Bong Hosiang lagi dengan penuh ketabahan oleh karena sekarang guru dan susioknya berada di situ. Melihat serbuan

Tan Hong, Siok Lan dan Ong kai juga tidak tinggal diam dan membantunya hingga tak lama kemudian Ti Bong Hosiang dikeroyok tiga oleh Bok-san Sam-hiap itu!

Sebetulnya Ti Bong Hosiang biarpun jahat namun ia masih merasa segan dan hormat kepada Cin Cin Tojin yang ternama dan sakti, maka tadi ia telah merasa ragu-ragu untuk membantu kedua hwesio itu. Akan tetapi kini melihat serbuan ketiga orang muda itu, ia lalu berkata keras, agaknya dengan maksud supaya terdengar oleh Cin Cin Tojin, “Anak-anak muda, kalian hendak mencoba kepandaian? Baiklah, biar pinceng saksikan kehebatan anak-anak muda sekarang!” Dengan ucapan tersebut ia bermaksud bahwa ia tidak mengambil sikap bermusuhan, hanya melayani ketiga anak-anak muda itu secara “main-main” belaka. Akan tetapi, setelah ia menghadapi ketiga anak muda itu, ia tidak mendapat kesempatan untuk main-main lagi, oleh karena biarpun kepandaian mereka ini ratarata rendah tingkatnya, namun kini digabung menjadi satu merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan! Apalagi ketika Tan Hong lagi-lagi mengeluarkan Sin-hong Kiam-sutnya, segera Ti Bong Hosiang dapat didesak. Hwesio ini timbul marahnya dan ia lalu mengeluarkan serangan-serangan berbahaya tanpa segan-segan lagi.

Sementara itu, Bhok Kong Hwesio yang melawan Lo Cin ki menjadi sibuk dan tak berdaya, hingga pada saat yang tepat, pedang jago tua itu berhasil menusuk

lambungnya dan tepat menembus jantung hingga Bhok Kong tak sempat berteriak lagi. Hwesio yang jahat ini roboh mandi darah dan tewas di saat itu juga!

Kim Kong Hwesio memang sudah repot menjaga desakan Cin Cin Tojin yang benar-benar tangguh dan yang memainkan ujung lengan baju hingga mengeluarkan angin pukulan dingin, kini melihat betapa Bhok Kong Hwesio telah tewas, semangatnya sebagian besar telah melayang pergi dan permainan silatnya menjadi kalut. Kalau Cin Cin Tojin mau dengan mudah saja ia dapat menewaskan hwesio ini, akan tetapi oleh karena Cin Cin Tojin telah melakukan pantangan dan tidak mau membunuh, maka tosu ini lalu melompat mundur sambil berkata kepada sutenya, “Sute, mari kaulayani musuhmu ini!” Kemudian tosu itu hanya berdiri menjadi penonton saja. Ketika ia melihat ke arah ketiga anak muda yang mengeroyok Ti Bong, hampir saja ia mengeluarkan teriakan heran. Ia lalu memandang kepada Tan Hong dengan penuh perhatian. Dari manakah anak itu mendapat gerakan-gerakan macam itu? Demikian tosu ini berpikir dengan bingung dan heran melihat gerakan pedang Tan Hong yang memainkan ilmu silat pedang Sin-hong Kiam-sut!

Ti Bong Hosiang benar-benar terdesak oleh kurungan Tan Hong bertiga. Hwesio ini merasa gemas dan malu dan mencoba untuk balas mendesak, akan tetapi Bok-san Kiam-hwat bukanlah ilmu pedang sembarangan. Apalagi sekarang dimainkan dengan hebatnya oleh tiga orang anak muda secara berbareng dalam kerja sama yang kompak dan cocok serta saling bantu hingga makin sibuklah Ti Bong Hosiang. Akhirnya dengan sebuah gerak tipu Air Hujan Tertiup Angin, ujung pedang Tan Hong berhasil melukai pundaknya dan darah mengucur membasahi jubah pendeta itu.

Ti Bong Hosiang melompat mundur dan berkata sambil menahan kemarahannya, “Sudahlah! Aku yang tua telah menerima pelajaran dari yang muda, kalau ada kesempatan baik, kelak bertemu pula!” Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya berkelebat, Ti Bong Hosiang telah lenyap di balik pohon-pohon!

Sementara itu. Lo Cin Ki telah mendesak hebat dengan pedangnya kepada Kim Kong Hwesio yang hanya mampu menangkis sambil bertindak mundur, agaknya mencari kesempatan untuk melarikan diri. Ia sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk menang, apalagi setelah melihat betapa Ti Bong Hosiang yang diandalkan itu telah lari pula. Akan tetapi Lo Cin ki tidak memberi kesempatan kepadanya dan ke”tika Kilm Kong Hwesio semakin kalut permainan silatnya, dengan sekali ayun, putuslah kebutan di tangan Kim Kong Hweslo dan sebelum Kim Kong Hwesio hilang kagetnya tahu-tahu si Garuda Sakti telah melayang dan tepat menendang sambungan lutut Kim Kong Hwesio! Kwesio itu tak kuasa menahan tubuhnya lagi dan ia roboh terlentang tak berdaya. Lo Cin Ki menggerakkan pedang, akan tetapi pada saat itu terdengar Ong Kai berseru, “Suhu, biarkan teecu yang membalas sakit hati ini.” Dan pemuda muka hitam ini dengan marah lalu melompat mengirim bacokan ke arah leher musuhnya! Kim Kong Hwesio berusaha miringkan kepala, akan tetapi terlambat. Pedang Ong Kai yang digerakkan dengan kuat telah mengenai lehernya dan putuslah leher hwesio cabul yang Jahat Itu. Dengan mata merah menahan turunnya air mata karena terharu dan sedih mengingat akan kematian tunangannya Ong Kai lalu berlutut di depan Lo Cin Ki dan Cin Cin Tojin menghaturkan terima kasih. Kemudian, iapun mengucapkan terima kasih kepada Tan Hong dan Siok Lan yang telah membantunya hingga pembalasan dendam ini terlaksana baik.

Cin Cin Tojin lalu bertanya kepada muridnya, “Tan Hong, dari mana kau mendapatkan ilmu pedang Sin-hong Kiam-sut itu?”

Tan Hong memandang kepada suhunya dengan kagum. Ternyata pandangan mata suhunya itu tajam sekali, Ia lalu menuturkan pengalamannya di kaki-gunung tadi dan ketika mendengar bahwa murid masing-masing telah menerima petunjuk dari Raja Pengemis dan Kim Liong Hoat-su, baik Cin Cin Tojin maupun Lo Cin Ki saling pandang dengan heran. Dua orang kakek itu termasuk orang-orang tingkat tinggi yang jarang sekali mau muncul di dunia kang-ouw, apalagi Kim Liong Hoatsu yang bertapa di Kim-liong san, sedangkan si Raja Pengemis biasanya hanya bergerak di utara saja.

“Sekarang kita harus kubur kedua mayat ini baik-baik,” kata Cin Cin Tojin yang merasa kasihan juga melihat mayat kedua hwesio itu. “Kita boleh membenci kejahatan mereka, akan tetapi tubuh-tubuh mereka yang hanya menjadi alat ini harus kita kembalikan kepada asalnya

-oo0dw0oo-

Jilid 06

Lo Cin Ki dan ketiga anak muda itu mematuhi perintah ini, maka mereka lalu menggali dua lubang dan mengubur dua jenazah itu baik-baik.

Kemudian, setelah penguburan itu selesai, Cin Cin Tojin berkata kepada Tan Hong dan Siok Lan, “Tan Hong, dan kau Siok Lan, aku dan sute telah membuat persetujuan dan rasanya tidak ada salahnya apabila pinto memberitahu kalian di sini juga, oleh karena sifat orang-orang ksatria tak perlu malu-malu membicarakan urusan yang baik.

Ketahuilah, kami berdua orang tua telah bermufakat untuk menyandingkan kalian sebagai suami isteri.”

Baik Tan Hong maupun Siok Lan ketika mendengar pernyataan yang demikian terus terang dan tanpa tedeng aiing-aling ini keduanya menunduk, tanpa berani mengangkat muka, bahkan sedikitpun tak berani berkutik!

Untuk sesaat keadaan menjadi sunyi, dan tiba-tiba Cin Cin Tojin tertawa senang. “Tan Hong, bukankah kau seorang laki-laki? Jawablah, bagaimana pendirianmu?”

“Suhu yang mulia, teecu adalah seorang yang tidak mempunyai sanak famili yang patut ditaati dan dijunjung tinggi selain suhu seorang. Maka, mengenai diri teecu, mati atau hidup teecu serahkan seluruhnya kepada suhu.” Suara Tan Hong terdengar mengharukan ketika ia mengucapkan kata-kata ini oleh karena pemuda itu teringat akan keadaan dirinya yang sebatang kara.

Cin Cin Tojin memandang ke arah muridnya dan melihat pakaian Tan Hong yang penuh tambalan serta keadaan tubuh pemuda itu yang kurus, ia merasa amat kasihan. “Tan Hong muridku, biarpun pinto maklum akan ketulusan dan kebaktian hatimu terhadap gurumu, akan tetapi pinto sekali-kali tidak akan memaksa atau memerintahkan sesuatu yang berlawanan dengan kehendak hatimu sendiri. Apalagi dalam soal perjodohan, karena bukan pinto yang akan menjalani, akan tetapi kau sendiri. Maka sebelum mendapat jawabanmu yang menyatakan setuju, pinto takkan merasa puas.”

Tan Hong mengerti bahwa kata-kata suhunya ini bukan dimuksudkan untuk menggodanya, akan tetapi desakan ini berdasarkan rasa kasih sayang yang timbul dari keinginan hati orang tua itu untuk melihat ia berbahagia. Maka biarpun ia menjadi makin malu dan menundukkan

mukanya makin dalam, ia menjawab juga, “Suhu, kalau suhu menghendaki … baiklah, teecu setuju dan teecu merasa amat bangga oleh karena diri teecu yang tidak berharga ini mendapat perhatian dari susiok. Tak lain teecu hanya menghaturkan beribu terima kasih!”

Terdengar Lo Cin Ki dan Cin Cin Tojin tertawa puas dan senang, “Bagus, Tan Hong, demikian seharusnya sikap seorang ksatria, jujur dan terus terang, tak usah malu-malu lagi,” kata Lo Cln Ki.

“Dalam hal perjodohan tak perlu memandang keadaan calon menantu, yakni maksudku keadaan kekayaannya. Yang terpenting adalah keadaan batinnya. Eh, Siok Lan bagaimana dengan kau? Setujukah kau? Seperti juga Cin Cin suheng, ayahmu inipun tidak mau mempergunakan hak sebagai seorang ayah untuk memaksa anaknya. JawabJah, setujukah kau?”

Siok Lan adaJah seorang wanita, maka daJam hal ini tentu saja amat berat baginya untuk menjawab. Biarpun di dalam hati ia merasa girang dan setuju, akan tetapi mulutnya tak sanggup menyatakannya. la hanya menunduk dengan muka merah dan menggunakan jari telunjuknya untuk menggurat-gurat tanah. Sampai lama keadaan menjadi sunyi oleh karena semua orang menanti jawaban Siok Lan yang tak kunjung keluar.

Tiba-tiba Ong Kai teringat akan godaan kedua orang muda itu dulu ketika terjadi peristiwa di rumah keluarga Lai, tertawa dan ingin membalas godaan mereka. “Suhu,” katanya sambil tersenyum, “sudah tentu saja sumoi setuju sekali! Hal ini kiranya tak perlu dijelaskan lagi, bukankah begitu, sumoi?”

Siok Lan menggerakkan kepalanya dan memandang kepada Ong Kai dengan marah. Tapi Ong Kai tersenyum

saja dan mengedip-ngedipkan mata seperti hendak menyatakan bahwa mereka telah “tahu sama tahu!” Melihat hal ini, Lo Cin Ki dan Cin Cin Tojin tertawa bergelak-gelak.

“Lanji, kalau kau tidak setuju dengan pendapat Ong Kai, katakanlah!” Akan tetapi ia diam saja tanpa berani berkutik. Tan Hong merasa kasihan sekali kepada “tunangannya” dan tiba-tiba ia teringat sesuatu, maka untuk membantu Siok Lan, ia lalu berkata kepada gadis itu dengan suara perlahan, “Sumoi, dulu kau berjanji akan menceritakan sesuatu mengenai keluarga Lai setelah kita berhasil menunaikan pembalasan dendam kita.”

Siok Lan teringat dan wajahnya berseri. Ia tidak merasa malu lagi setelah mendengar Tan Hong bicara kepadanya. Ia lalu mengangkat muka memandang kepada ayahnya dan Ong Kai dan berkata, “Ayah, sebelum aku menyatakan pesan keluarga Lai, terlebih dulu hendak kuceritakan tentang sepak terjang gagah perkasa dari Ongsuheng yang menolong seorang gadis bernama Lai siocia!” Kemudian dengan singkat Siok Lan menceritakan peristiwa penculikan Lai Hwa Eng dan bagaimana dengan gagah Ong Kai menolong gadis itu.

“Dan sebelum kami bertiga meninggalkan rumah keluarga Lai, aku mendapat tugas untuk menjadi perantara dan menjodohkan Lai Hwa Eng dengan Ong suheng!”

Muka Ong Kai yang sudah hitam itu menjadi makin hitam ketika darah menyerbu naik ke mukanya. Ia pandang sumoinya dengan mata terbuka lebar, setengah tidak percaya dan setengah marah. Akan tetapi Siok Lan tidak memperdulikannya, lalu berkata selanjutnya, “Dan Lai Wangwe suami isteri minta supaya hal ini kumintakan perkenan dari ayah sebagai guru dan wali Ong suheng.”

Lo Cin Ki tertawa geli. “Aah, kalian anak-anak muda ini memang aneh! Bagaimana menurut pandanganmu, Lanji? Apakah Hwa Eng itu seorang gadis baik?”

“Baik sekali, ayah, lebih baik daripada anakmu sendiri. Kalau ayah tidak percaya, boleh ayah bertanya kepada Ong suheng!”

Siok Lan dan Tan Hong saling pandang dan keduanya tertawa girang oleh karena mendapat kesempatan untuk menggoda dan membalas Ong Kai. Sedangkan Cin Cin Tojin yang mendengar ini hanya tersenyum saja dengan girang. Ia senang dan ikut gembira melihat kebahagiaan anak-anak muda ini, kebahagiaa yang belum pernah ia alami semasa mudanya, “Eh, Ong Kai, jadi diam-diam kau telah membuat pilihan sendiri?” Lo Cin Ki bertanya kepada muridnya. “Kau telah mendengar sendiri uraian Siok Lan, bagaimana pikiranmu? Setujukah kau? Kalau setuju, sekarang juga aku akan ikut Siok Lan pergi ke rumah keluarga Lai untuk merundingkan urusan perjodohan ini.”

Sekarang Ong Kai yang merasa malu sekali dan diam saja. Tubuhnya yang tinggi besar dan kuat itu hanya duduk tak bergerak bagaikan patung, hanya kedua matanya saja kadang-kadang melirik ke arah Siok Lan dan Tan Hong yang mentertawakannya!

Setelah lama Ong Kai tak dapat menjawab, tiba-tiba Siok Lan berkata, membalas godaan Ong Kai tadi. “Ayah, tak perlu banyak ditanya lagi, sudah tentu Ongsuheng setuju sekali bukankah begitu, Ong suheng? Ayoh, Ong suheng, kalau kau tidak setuju dengan keteranganku ini, coba kau sangkal dan nyatakanlah?” Seperti halnya Siok Lan tadi, kini Ong Kaipun sama sekali tidak berani menyangkal, oleh karena memang ia telah setuju sekali dengan nona Lai Hwa Eng yang mempunyai mata dan bibir seperti mendiang tunangannya dulu!

“Baiklah kalau begitu dari sini aku dan Siok Lan akan langsung menuju ke rumah keluarga Lai dan membicarakan urusan ini,” kata Lo Cin Ki dengan suara sungguh-sungguh karena ia tidak mau menggoda lebih jauh kepada muridnya.

“Nah, sekarang, anak-anak, pinto hendak bicarakan hal yang penting sekali.”

“Ketahuilah, pada waktu ini, para pengacau bangsa Tartar yang mempergunakan kesempatan selagi keadaan negara sedang kacau dan sukar karena akibat bencana alam, mereka datang mengacau di perbatasan barat dan melakukan perampokan dan penculikan terhadap bangsa kita. Tentara kerajaan yang lemah tak dapat menghalau mereka, maka kini para enghiong dari seluruh negeri berhimpun dan bersatu disana, mengumpulkan tenaga untuk mengusir para pengacau itu. Kita pun tak boleh ketinggalan membela tanah air dan bangsa! Sudah menjadi tugas kewajiban kita untuk menyumbangkan tenaga untuk mengusir pengacau. Tan Hong dan Ong Kai, kalian berdua sekarang pergilah ke Seelok, di mana telah terjadi pertempuran antara pihak kita dan para pengacau yang banyak jumlahnya dan kuat. Pinto sendiri hendak mencari balabantuan di antara kawan-kawan di kalangan kangouw, sedangkan Lo sute bersama puterinya biar membereskan urusan dengan keluarga Lai terlebih dulu untuk selanjutnya menyusul ke Seelok. Nah, mari kita berpisah dari sini menjalankan tugas masing-masing dan selamat bekerja!”

Setelah berkata demikian, tosu yang gagah perkasa itu laiu meninggalkan tempat itu, dan Lo Cin Ki yang sebelumnya telah berunding dengan suhengnya, juga meninggaikan tempat itu bersama Siok Lan. Tan Hong dan Ong Kai, juga pergi dengan cepat menuju ke barat untuk memenuhi perintah Cin Cin Tojin. Di sepanjang jalan kedua pemuda ini nampak gembira dan wajah mereka

berseriseri karena telah menerima warta bahagia dari kedua guru mereka itu. Kini setelah di situ tidak ada Siok Lan dan kedua orang tua itu, Tan Hong dan Ong Kai tanpa malu-malu lagi saling menyatakan kegirangan hati mereka dan tiada hentinya mereka membicarakan keadaan tunangan masing-masing dengan hati puas!

Memang betul apa yang dituturkan oleh Cin Cin Tojin. Bangsa Tartar yang selalu menggunakan segala kesempatan untuk memasuki tapai batas Tiongkok, merampok dan menculik orang-orang dari dusun-dusun pinggir tapal batas untuk dijadikan pekerja paksa, kini mulai mengacau lagi setelah mereka dipukui mundur pada beberapa tahun yang lalu. Mereka sengaja mempergunakan kesempatan pada waktu Tiongkok mengalami kesukaran dan kekalutan berhubung dengan datangnya bencana alam itu. Pada masa itu, Kaisar Tiongkok memang kurang memperhatikan keadaan negerinya, terutama sekali oleh karena datangnya bencana aiam itu yang melemahkan semangat rakyat, maka pertahanan menjadi lemah dan tentara kerajaan yang dikirim ke perbatasan barat itu tidakkuat menghadapi pengacau bangsa Tartar yang selain berjumlah besar, juga memiliki banyak sekali orang-orang kuat yang berkepandaian tinggi.

Biarpun para ksatria di masa itu tidak senang melihat kelaliman kaisar, akan tetapi kini melihat sepak terjang para pengacau yang merampok dan menculik bangsanya, maka timbullah semangat perlawanan dan kebencian mereka. Serentak dari segenap penjuru daratan Tiongkok, para enghiong ini menujli ke perbatasan barat dan membantu dengan sukarela kepada rakyat untuk mengusir pengacau-pengacau Tartar.

Pada, waktu itu, kaum pengacau yang membanjir dari utara dan barat, berpusat di sekitar Seeipk, sebuah dusun

besar di dekat tapal batas Tiongkok. Di daerah inilah pertempuran-pertempuran besar terjadi dan setiap hari banyak pendekar-pendekar datang ke tempat ini untuk menyumbangkan tenaganya.

Ketika Tan Hong dan Ong Kai tiba di dusun ini, yang menjadi pemimpin para enghiong adalah Lee Kun, seorang pendekar yang tersohor gagah perkasa dari selatan. Lee Kun adalah seprang tokoh persilatan yang paham akan segala macam ilmu silat, terutama dalam ilmu silat Siauw lim pai dan Butongpai. Usianya empat puluh tahun lebih dan walaupun tubuhnya tak beberapa besar, namun alis matanya yang tebal dan hitam itu membuat mukanya tampak gagah dan menakutkan.

Lee Kun menyambut kedatangan Tan Hong dan Ong Kai dengan gembira, apalagi ketika ia mendengar bahwa keduanya adalah muridmurid Cin Cin Tojin dan Lio Cin Ki si Garuda Sakti yang telah terkenal itu. Ketika ia mendengar kenyataan bahwa Tan Hong adalah Gin kiam Gin to, ia membelalakkah matanya dengan kagum ia berkata, “Ah, Tan hiante, tak kusangka bahwa Gin-kiam Gi-to yang tersohor di kalangan kangouw itu, adalah seorang yang masih begini muda seperti engkau!”

Tan Hong menjawab dengan ucapan merendah, “Lee taihiap, aku yang muda dan bodoh tak pantas dikagumi.”

Lee Kun tertawa dan merasa senang melihat kesopanan anak muda ini. Iapun kagum melihat sikap Ong Kai yang gagah seperti Thio Hwi (seorang tokoh besar dalam cerita sejarah Sam Kok).

“Dari mengapa kedua suhu kalian tidak tiatang?” tanyanya.

“Suhu sedang melanjutkan perjalanan mencari kawan-kawan pembantu yang hendak dibawa ke sini untuk

membantu pula.” jawab Ong Kai hingga Lee Kun menjadi makin girang.

“Ah, kalau semua orang seperti kedua suhumu dan kalian berdua saudara muda ini turut membantu, sebentar saja para pangacau itu tentu dapat terbasmi habis!” katanya sambil menghela napas.

“Sayang, sebagian besar para ksatria pada waktu ini hanya mengingat kepentingan sendiri saja dan sama sekali tidak mau memperdulikan keadaan negara dan rakyat. Sungguh sayang!”

Para pendekar, yang telah datang dan membantu di tempat itu berjumlah empat puluh orang lebih yang dipencarpencar ke tempat sepanjang batas negeri untuk memperkuat penjagaan tentara kerajaan dan membantu para perwira kerajaan. Tan Hong dan Ong Kai lalu mendapat tugas dari Lee Kun untuk membantu pertahanan di Pegunungan Kimkesan, karena di situ seringkali mendapat serbuan para pengacau yang dipimpin oleh orang-orang pandai. Lee Kun yang menduga akan ketinggian ilmu silat kedua pemuda ini, tak ragu-ragu lagi mengirim mereka ke tempat yang paling berbahaya, di mana kedudukan musuh paling kuat.

Kedatangan Tan Hong dan Ong Kai di Kimkesan mendapat sambutan riang gembira dari para petugas di situ, oleh karena mereka telah berkali-kali mendapat gangguan serangan para pengacau yang sangat kuat hingga menderita banyak kerugian. Dalam keadaan seperti itu, makin banyak datangnya balabantuan, makin menggirangkan mereka. Dan pada saat itu yang memimpin penjagaan di Kimkesan adalah seorang perwira bernama Bu Sam Kwi. Perwira ini masih muda dan lagaknya sombong sekali, oleh karena ia merasa bahwa dirinya sudah sangat pandai dan gagah perkasa. Memang ia memiliki ilmu silat cabang Kunlun

yang cukup tinggi. Ia terkenal keras memegang peraturan hingga ditakuti oleh anak buahnya, sedangkan beberapa orang enghiong yang datang sebagai pembantu sukarela, tidak dapat bergaul dengannya.

Biarpun Bu Sam Kwi tidak beram menolak bantuan para enghiong ini dan tidak berani terang-terangan menceia atau memandahg rendah kepada mereka, namun sikapnya terhadap mereka acuh tak acuh.

Padahal lima orang enghiong yang dikirim Lee Kun untuk membantunya, bukanlah orang sembarangan, karena mereka ini adalah Biciu Ngoeng (Lima Pendekar dari Biciu) yang cukup terkenal. Baru setelah tempat penjagaan yang berada di bawah pengawasannya itu diserang berkali-kali oleh pengacau Tartar dan ia menderita banyak sekali kekalahan dan berkat bantuan kelima pendekar itu saja maka tempat penjagaan tak sampai jatuh di tangan musuh, ia muiai bersikap lebih ramah dan hormat.

Tah Hong dan Ong Kai disambut dengan hangat oleh Biciu Ngoeng dan setelah penyambutan resmi dilakukan oleh Bu Sam Kwi, kelima pendekar yang sudah ianjut usia itu lalu mengajak Tan Hong dah Ong Kai untuk bicara di tenda mereka. Biciu Ngoeng ini lalu menuturkan keadaan di situ dan memesan agar mereka berdua suka melakukan pekerjaan menurut pendapat dan kebijaksanaan sendiri saja, pleh karena kalau hanya menurut perintah Bu Sam Kwi yang sombong, tapi sebenarnya tidak pandai apa-apa itu, maka bantuan mereka akan sia-sia belaka.

“Telah berkali-kali kami berlima mehgusulkan supaya mengejar dan memukul pengacau di tempat pemberhentian mereka, karena kami menganggap menanti datangnya serbuan mereka bukanlah taktik yang sempurna. Kita menjadi lelah karena melakukan penjagaan saja tanpa mengetahui bila mereka akan datang menyerbu, sedangkan

para pangacau itu dengan enaknya dapat mempermainkan kita. Kalau kita mengantuk karena terlalu lama menjaga, mereka tiba-tiba datang menyerbul”

Tan Hong dan Ong Kai tidak banyak mengerti tentang taktik peperangan akan tetapi mereka dapat juga memberikan pendapat pendekar tua itu.

“Bagaimana mereka itu bisa mengetahui keadaan kita?” tanya Ong Kai dan mereka berdua mendapat jawaban yang membuat keduanya tertegun karena heran.

“Ketahuilah, jiwi hiante, agaknya pihak pengacau mempunyai banyak kaki tangan yang terdiri dari bangsa kita sendiri di sini dan dimana-mana, bahkan setiap tempat penjagaan kami rasa terdapat pula mata-matanya!” Kata-kata ini diucapkan dalam bisikan.

“Bangsat benar!” Tan Hong memaki marah. “Kalau aku dapat menangkap pengkhianat macam itu, tentu takkan kuberi ampun! Dan sudah tahukah Lee enghiong akan hal ini?”

Kelima jago dari Biciu itu mengangguk, “Kami semua sudah tahu dan bahkan sudah banyak yang kami tangkap dan kami bunuh. Akan tetapi agaknya ada seorang pemimpinnya di daerah ini yang mengatur semua langkah-langkah mereka itu hingga pihak pengacau telah mengetahui semua rencana kita. Karena inilah, maka tiap Lee enghiong mengadakan sergapan, selalu sarang pengacau itu didapati kosong!”

Tan Hong dan Ong Kai merasa gemas sekali. Mereka berjanji di dalam hati untuk membasmi pengkhianat-pengkhianat ini!

Penuturan Biciu Ngo eng memang betul terjadi dan hal ini sebenarnya tidak aneh. Para perwira yang membantu

dan mendatangi daerah barat di mana terjadi pergolakan ini, terdiri dari bermacam-macam orang. Ada piauwsu, guru silat, pendeta, perampok dan siapa saja yang memiiiki kepandaian dan kesanggupan bertempur. Dan hal inipun diketahui oleh pihak pengacau yang merasa betapa beratnya menghadapi sekalian orang-orang pintar ini, lebih berat daripada menghadapi tentara-tentara kerajaan yang banyak jumlahnya, akan tetapi yang tidak becus bertempur. Maka mereka lalu mencari akal. Diam-diam mereka mengutus kaki tangannya untuk menghubungi para pembantu sukarela ini dan memilih-milih mereka yang memang berbatin rendah. Dengan pengaruh emas mereka akhirnya dapat juga mempengaruhi beberapa tokoh liok-lim untuk diam-diam membantu pihak mereka dan menjalankan pekerjaan sebagai mata-mata dan penyelidik! Bahkan tidak kurang jumlahnya tentara kerajaan yang kena disuap hingga merekapun menjadi pengkhianat bangsa!

Bu Sam Kwi memandang rendah kepada Tan Hong dan Ong Kai dan iapun memperlakukan kedua anak muda ini dengan dingin saja, akan tetapi kedua pendekar ini yang sudah mendengar dari Biciu Ngo eng akan sikap perwira ini, tidak ambil pusing.

Malam harinya, kembali para pengacau datang menyerbu dari sebelah kiri di mana penjagaan tidak begitu kuat. Banyak tentara kerajaan kena disergap dan tewas. Kebetulan sekali Tan Hong dan Ong Kai yang meronda di bagian itu untuk melihat-lihat pertahanan sebagai pendatang-pendatang baru yang perlu mengetahui kedudukan pihaknya, berada di situ pada saat penyerbuan terjadi. Kedua anak muda ini lalu mencabut pedang mereka dan mengamuk hingga banyak sekali pengacau tewas di ujung pedang mereka. Pengacau-pengacau yang menyerbu

menjadi kalangkabut dan mereka segera mundur kembali ke tempat gelap.

Para tentara kerajaan merasa bersyukur dan tiada habis-habisnya memuji kedua orang muda itu. Hal ini lalu terdengar oleh Bu Sam Kwi yang segera mengubah sikapnya dan menyatakan terima kasih kepada kedua pendekar itu. Tan Hong lalu berkata kepada Bu Sam Kwi, “Bu ciangkun, melihat datangnya serbuan malam tadi, maka akupun beranggapan bahwa sudah seharusnya kita mendahului dan mengejar serta memukul mereka di tempat mereka. Hal ini lebih baik daripada kita harus berjaga-jaga selalu tanpa mengetahui bila mereka akan bergerak menyerang kita. Pula, pertempuran di siang hari lebih menguntungkan kita, di mana kita dapat mengadu kepandaian secara terbuka. Kurasa kita takkan kalah oleh mereka yang hanya memiliki tenaga besar, akan tetapi kurang pandai memainkan senjata.”

Bu Sam Kwi memperlihatkan muka tidak senang. “Tan enghiong, aku mendapat tugas dari kerajaan untuk menjaga tempat ini, bukan untuk menyerbu tempat mereka, dan aku tidak mau mengorbankan jiwa anak buahku. Bagaimanapun juga, aku merasa bahwa lebih baik kita berjaga daripada menyerbu tempat mereka yang belum kita ketahui betul. Bagaimana kalau mereka menjebak kita dan mengurung dengan barisan yang besar jumlahnya? Tidak, Tan enghiong, aku tidak sebodoh itu!”

Tan Hong merasa sebal dan gemas sekali, akan tetapi kareha yang memegang komando di situ adalah Bu Sam Kwi, ia tidak berani memaksa. Pada keesokan harinya, ia dan Ong Kai kembali ke Seelok untuk mengadakan perundingan dengan Lee Kun dan untuk mengusulkan agar supaya semua pendekar bergerak sendiri mengejar dan menyerbu para pengacau itu di luar tapal batas.

Pada saat ia dan Ong Kai memasuki dusun Seelok, tiba-tiba Tan Hong memegang tangan Ong Kai dan menarik kawan ini bersembunyi di belakang pohon besar. Tan Hong menunjuk ke arah seorang tua yang mendatangi dari depan. Ong Kai memandang dan dadanya berdebar ketika ia mengenali orang itu dan yang tidak lain adalah Ang Houw, kepala rampok yang dulu pernah bentrok dengan mereka dan telah dikalahkan oleh Tan Hong.

“Apa maksudnya datang ke tempat ini?” bisik Tan Hong.

“Mungkin jiwa patriotnya tergerak dan ia datang hendak membantu,” jawab Ong Kai.

Tan Hong menggeleng-gelengkan kepala. “Ah, aku tidak bisa mempercayai orang seperti dia itu.” Diam-diam mereka lalu mengejar dan mengikuti kepala rampok itu. Ang Houw masuk ke dalam sebuah rumah penginapan dan Tan Hong lalu melompat ke atas genteng melakukan pengintaian. Dari celah-celah genteng ia melihat kepala rampok itu memasuki sebuah kamar, menurunkan buntalannya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari buntalan itu yang lalu dimasukkan ke dalam saku bajunya. Tan Hong makin curiga, ia segera melompat turun lagi dan diceritakannya kepada Ong Kai apa yang telah dilihatnya.

“Kita pura-pura tidak tahu saja,” kata Ong Kai, “kurasa kotak itu mempunyai maksud kurang baik. Biarlah kita temui dia dengan biasa saja, akan tetapi diam-diam kita selidiki dan ikuti ke mana ia pergi.” Tan Hong menyatakan persetujuannya dan mereka tidak jadi menjumpai Lee Kun, oleh karena ketika itu Ang Houw telah keluar dari kamarnya dan menggendong buntalannya lagi, lalu perampok itu berjalan cepat menuju ke … Kimkesan!

Kemudian ternyata bahwa perampok itu juga diperbantukan ke Kimkesan oleh Lee Kun atas permintaan

Ang Houw sendiri oleh karena ia mendengar bahwa di tempat itulah yang paling membutuhkan tenaga pembantu yang pandai dan kuat. Ketika Ang Houw telah menghadap Bu Sam Kwi dan memberikan surat Lee Kun kepada perwira itu, Tan Hong dan Ong Kai muncul menjumpainya. Ang Houw nampak terkejut dan pucat, tak disangkanya sama sekali akan bertemu dengan kedua anak muda itu di situ. Akan tetapi, dengan ramah tamah Tan Hong menjura dan berkata, “Ah, Ang loenghiong juga datang membantu? Bagus sekali, sekarang kita menjadi kawan seperjuangan.”

Lega hati Ang Houw melihat sikap Tan Hong ini, maka iapun balas menjura dan berkata, “Aku girang melihat Tantaihiap juga berada di sini. Dengan adanya kau orang muda yang gagah ini, kita tak usah merasa takut terhadap serangan pengacau!”

Ketika Bu Sam Kwi mengajak Ang Houw memasuki kamarnya karena katanya hendak membicarakan sesuatu perintah yang penting mengenai pertahanan tempat itu, diam-diam Tan Hong mengintai dari belakang tenda. Ia membuat lubang kecil dan mengintai ke dalam. Hatinya berdebar ketika ia melihat betapa Ang Houw mengeluarkan kotak kecil itu dan menyerahkannya kepada Bu Sam Kwi dan ketika perwira itu membuka kotak tersebut, ternyata kotak itu penuh berisi batu-batu permata yang besar berikut sepucuk surat!

Malam itu, kembali para pengacau mengadakan serbuan yang dilakukan secara besar-besaran, agaknya hendak menebus kekalahannya malam tadi. Tan Hong lalu berbisik kepada Ong Kai, “Kau layanilah pengacau-pengacau itu dan ajak Ang Houw bertempur bersama. Aku tinggal di sini menyelidiki isi surat itu.”

Ong Kai mengangguk maklum dan ia lalu bersama Biciu Ngo eng mengajak Ang Houw untuk menolong bagian yang diserang oleh para pengacau. Ang Houw lalu ikut mereka mengusir pengacau yang datang menyerbu.

Tan Hong kembali mengintai di dalam tenda Bu Sam Kwi. Ia melihat betapa perwira muda itu enak-enak menghitung dan mengagumi permata yang diterimanya dari Ang Houw, sama sekali tidak memperdulikan adanya serbuan pengacau malam itu! Tan Hong lalu mengambil keputusan cepat. Ia cabut keluar pedang peraknya, lalu sekali ia menggerakkan tangan, tenda itu telah pecah dan robek hingga ia dapat melompat ke dalam. Bu Sam Kwi terkejut sekali dan melompat berdiri memandang. Ketika melihat Tan Hong masuk dengan pedang terhunus perwira inipun lalu mencabut pedangnya dan membentak, “Tan enghiong! Apa maksudmu memasuki tendaku tanpa dipanggil dan dengan cara sekasar ini?”

Tan Hong tersenyum. “Tidak apa-apa, hanya serahkanlah peti kecil dan surat dari Ang Houw tadi!”

“Kau hendak merampok?” bentak Bu Sam Kwi, akan tetapi dari mukanya yang pucat Tan Hong maklum bahwa tentu ada rahasia sesuatu dalam surat itu.

“Tidak, aku hanya hendak melihat surat tadi!”

Tiba-tiba tangan kiri Bu Sam Kwi menyambar sehelai surat yang tadi terletak di atas meja dan cepat ia menghampiri lilin hendak membakar surat itu. Akan tetapi sebuah tendangan dari Tan Hong membuat surat itu terlepas dan cepat sekali Tan Hong berhasil menyambar surat itu. Dengan tangan kiri Tan Hong membaca surat yang ternyata ditulis oleh Pangeran Liong Tek Ong dari kota raja!

“Bangsat, serahkan surat itu kepadaku,” Bu Sam Kwi membentak sambil menusuk dengan pedangnya. Akan tetapi, tanpa melepaskan matanya dari surat yang dipegang di tangan kiri, Tan Hong menggerakkan pedangnya menangkis keras hingga pedang Bu Sam Kwi hampir terlepas dari pegangan! Sementara itu, ketika membaca surat tersebut, makin lama wajah Tan Hong makin merah dan sepasang matanya memancarkan sinar kilat. Setelah selesai, pada saat ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya, kembali Bu Sam Kwi menyerang. Kini Tan Hong tidak memberi kesempatan kepadanya, dan terus memaki, “Bangsat pengkhianat!”

Pemuda ini lalu menangkis sekerasnya hingga pedang perwira itu terlempar menancap tenda dan sebelum ia dapat melarikan diri, pedang perak di tangan Tan Hong telah menembusi punggungnya! Bu Sam Kwi roboh dan tewas. Tan Hong lalu menuju ke tempat pertempuran untuk mencari Ang Houw, akan tetapi Ang Houw telah lari dari situ, bahkan Ong Kai sendiri yang tadi melihat Ang Houw bertempur bersama-sama, tidak tahu ke mana larinya kepala rampok itu. Ketika semua orang kembali setelah berhasil memukul mundur para pengacau, mereka terkejut sekali melihat bahwa Bu Sam Kwi telah mati di dalam tendanya dengan sebuah luka tikaman pedang yang menembusi dadanya!

Ributlah keadaan di situ dan semua orang yang menduga-duga siapa yang berani membunuh perwira ini. Oleh kareha Ang Houw yang baru datang tidak narnpak di situ, maka semua orang menduga bahwa tentu orang itulah yang membunuh Bu Sam Kwi. Yang tahu akan duduknya hal itu sebenarnya hanyalah Tan Hong dan Ong Kai. Ketika Tan Hong memperlihatkan surat yang dirampasnya

dari tangan Bu Sam Kwi itu kepada Ong Kai, pemuda muka hitam inipun merasa marah sekali.

“Sayang aku tidak tahu sebelumnya, kalau aku tahu, tentu aku akan menikam dada Ang Houw si pengkhianat tua itu!” katanya menyesal.

Hal adanya surat ini dirahasiakan benar oleh kedua anak muda itu, bahkah Biciu Ngo eng pun tidak mereka beritahu. Pada keesokan harinya, Tan Hong dan Ong Kai menuju ke Seelok dan menjumpai Lee Kun. Tan Hong mengusulkan agar supaya semua enghiong dikerahkan untuk memukul para pengacau di tempat persembunyian mereka, dan kemudian ia memperiihatkan surat rahasia yang dirampasnya.

Setelah membaca surat itu dan mengembalikannya kepada Tan Hong, wajah Lee Kun menjadi pucat. “Pantas saja pengacau-pengacau ini sukar dikalahkan, rupanya mereka telah berhasil menyuap banyak pengkhianat, bahkan telah mengadakan kontak dengan pangeran yang hendak memberontak di kota raja! Baiklah, sekarang kita kerahkan tenaga untuk memukul mereka itu sebelum mereka sempat bersiap-siap!”

Lee Kun lalu mengirim kawan-kawan untuk memanggil enghiong yang disebar di berbagai tempat dan pada hari itu juga, empat puluh orang lebih pendekar tinggi berkumpul di SeeIok. Kemudian, setelah mengadakan perundingan, mereka memutuskan bahwa besok pagi-pagi mereka akan menyerbu dan naik ke bukit sebelah luar tapal batas untuk mencari dan mengusir barisan Tartar. Oleh karena komandan daerah itu telah tewas dan kini kedudukannya masih kosong, maka tidak ada orang dari tentara kerajaan yang berani menghalangi maksud para enghiong ini, bahkan di antara para perwira bawahan banyak yang

mengatakan hendak membantu hingga kepergian para enghiong itu diikuti oleh ratusan orang tentara kerajaan!

Operasi pembersihan yang diiakukan oleh Lee Kun dan kawan-kawannya berhasli baik. Tempat persembunyian pertama telah dapat dihancurkan dan para pengacau banyak yang ditewaskan, selebihnya melarikan diri, terus dikejar oleh Lee Kun dan kawan-kawannya.

Akan tetapi pada hari ke dua, dari atas puncak bukit turunlah barisan pengacau yang besar jumlahnya dan barisan ini dikepalai oleh belasan perwira bangsa Tartar yang berpakaian indah dan garang sekali nampaknya. Dan yang mengherankan para enghiong ialah bahwa di antara belasan perwira Tartar ini kelihatan pula dua orang hwesio gemuk bangsa Han (Tionghoa) yang memegang senjata toya panjang yang berat!

Pertempuran hebat terjadi tanpa banyak tanya jawab lagi, dan para perwira bangsa Tartar itu benar-benar tangguh dan hebat ilmu silatnya terutarna kedua orang hweisio yang bernama Kang Sian Hosiang dain Kang Ban Hosiang itu benar-benar berilmu tinggi sekali hingga Lee Kun, Tan Hong dan Ong Kai yang mengeroyok mereka ini terdesak hebat dan tak sanggup melawan karena ilmu silat kedua orang kepala gundul yang membela pengacau itu benar-benar berada setingkat lebih tinggi daripada kepandaian mereka. Kali ini oleh karena pihak pengacau lebih besar jumlahnya dan mempunyai banyak orang pandai, maka pihak para ksatria itu terpukul hebat dan banyak diantara tentara dan enghiong gugur dalam pertempuran itu. Akan tetapi, oleh karena orang-orang itu memang pantang mundur, mereka masih tetap mengadakan perlawanan yang menimbulkan kerugian bukan sedikit di pihak pengacau. Tan Hong yang tak pernah menjauhi Ong Kai, mengamuk hebat bersama si muka hitam itu dan

mereka berdua kini menahan serangan Kang Sian Hosiang dengan mati-matian! Biarpun telah dikeroyok dua oleh kedua pemuda itu, namun Kang Sian Hosiang masih dapat mendesak dengan toyanya yang diputar bagaikan mengamuknya seekor naga hitam yang ganas dan liar.

Sementara itu dengan bantuan dua orang dari kelima Biciu Ngoeng, Lee Kun mengeroyok Kang Ban Hosiang, tapi ketiga orang pendekar inipun terdesak hebat oleh toya Kang Ban Hosiang! Sungguh keadaan para patriot itu terancam bahaya maut pada saat itu dan agaknya tak lama lagi mereka akan tersapu bersih semua!

Akan tetapi, pada saat itu, dari bawah bukit mendatangi belasan orang di bawah pimpinan Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki. Di antara belasan orang ini nampak juga Siok Lan yang berlari dengan gagah sekali. Oleh karena rata-rata belasan orang ini berkepandaian tinggi maka mereka dapat maju cepat sekali mendaki bukit menuju ke arah suara teriakan-teriakan pertempuran yang sedang berlangsung.

Datangnya bala bantuan ini mendatangkan semangat baru bagi para enghiong yang sudah amat terdesak dan ketika belasan orang pembantu ini menyerbu, para pengacau terdesak mundur dan banyak yang roboh bergelimpangan di bawah amukan para enghiong itu. Siok Lan juga mengamuk dan matanya mencari-cari Tan Hong dan Ong Kai. Alangkah terkejutnya dan khawatirnya ketika ia melihat betapa kedua pemuda itu terdesak hebat sekali oleh seorang hwesio gemuk yang memainkan toyanya dengan hebat sekali.

Akan tetapi, pada saat itu Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki juga telah melihat bahwa pimpinan rombongan pengacau yang paling tinggi kepandaiannya ialah kedua orang hwesio itu, maka kedua orang pendekar tua ini lalu melayang maju dan menggantikan Tan Hong dan yang lain-lain

menghadapi kedua orang hwesio bersenjata toya itu. Tan Hong, Ong Kai, Lee Kun dan yang lain-lain lalu melayani perwira-perwira Tartar lain yang segera terpukul mundur dan banyak yang tewas.

Gin Cin Tojin menghadapi Kang Sian Hosiang dan menangkis serangan toya, dengan kebutan ujung lengan bajunya sambil berkata, “Sahabat, bukankah kau juga orang Han, mengapa kau membela penjahat-penjahat yang merusak negara dan menggangu bangsa? Apakah kau tidak memiliki jiwa ksatria sedikit juga?”

Akan tetapi Kang Sian Hosiang membentak marah, “Tosu siluman jangan banyak cakap. Rasakan pukuian toyaku yang akan menghancurkan kepalamu!” Dan ia terus maju dengan hebat sekali, akan tetapi dengan tenang Cin Cin Tojin dapat menghadapinya dan balas menyerang tak kalah hebatnya.

Lo Cin Ki melawan Kang Ban Hosiang dan mereka berdua juga bertempur dengan sama kuatnya. Pendekar tua Garuda Sakti itu memutar-mutar pedangnya dan memainkan ilmu pedang Boksan Kiamhoat yang asli hingga tubuhnya lenyap dalam sinar pedang hingga Kang Ban Hosiang merasa terkejut sekali.

Sementara itu, perlahan-lahan pihak pengacau telah berkurang kekuatannya, bahkan telah banyak yang melarikan diri mundur ke belakang gunung, dikejar-kejar oleh barisan kerajaan. Akhirnya yang bertempur di situ, hanyalah kedua hwesio melawan kedua jago tua dan para pendekar yang lain hanya menonton saja, karena mereka merasa bahwa kepandaian mereka terlampau rendah untuk ikut mengeroyok.

Tiba-tiba terdengar pekik kesakitan ketika Cin Cin Tojin berhasli menotok dada kiri lawannya dengan ujung lengan

bajunya. Toya Kang Sian Hosiang terlepas dan tubuh hwesio gemuk itu terhuyung mundur sedangkan wajahnya pucat sekali. Hwesio yang telah kena pukulan penuh tenaga iweekang ini mendapat luka hebat di dalam dadanya dan tanpa memperdulikan saudaranya, ia lalu melarikan diri! Cin Cin Tojin menghela napas dan merasa menyesal bahwa ia terpaksa harus melukai orang.

Ketika melihat betapa kakaknya dapat dikalahkan, Kang Ban Hosiang menjadi khawatir dan bingung hingga gerakan toyanya menjadi lambat. Kesempatan ini digunakan oleh Lo Cin Ki untuk mendesak dengan pedangnya dan akhirnya ia berhasil membacok paha lawannya hingga Kang Ban Hosiang roboh mandi darah. Sebelum orang lain dapat mencegahnya, hwesio yang telah putus harapan dan malu kalau sampai tertawan sebagai pengkhianat bangsa, lalu menggerakkan toyanya sendiri memukul kepala, hingga kepalanya yang gundul itu pecah dan jiwanya melayang!

Tan Hong memandang kepada Siok Lan dengan girang dan wajahnya berseri. Juga para pendekar merasa gembira mendapat bantuan yang tak diduga-duga ini, karena tadinya mereka telah merasa bahwa akhirnya mereka semua akan gugur. Mereka menyambut kedua pendekar tua itu dengan muka gembira dan mengucapkan terima kasih serta menyatakan kekaguman mereka.

Akan tetapi pada saat itu dari atas gunung datang pula serombongan perwira dan di depan sekali nampak seorang pendeta Lama yang berkepala gundul lari bagaikan terbang cepatnya. Ketika pendeta Lama ini berada di depan para patriot, mereka melihat bahwa Lama ini bertubuh tinggi sekali dan bermata biru, sedangkan jubahnya yang lebar itu berwarna kuning. Pendeta Lama ini memegang sebuah tongkat panjang yang ujungnya dipasangi kaitan besi yang berkilau karena tajamnya. Lama ini berdiri sambil bertolak

pinggang dan menantang, “Hai, orang-orang Han. Majukan jago-jagomu untuk melawanku kalau memang kalian orang-orang ksatria!”

Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki maju berbareng dan menjura, “Tidak tahu siapakah losuhu yang mulia?”

Lama memandang dengan tajam kepada dua orang pendekar tua ini, lalu ia tertawa, “Ha, ha, ha, pantas saja kawan-kawanku lari kocar kacir! Rupanya ada kalian dua tua bangka! Ayoh, kalian maju dan menerima kematian dari tangan Pek Lek Hoatsu!”

Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki terkejut mendengar nama ini dan mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendeta berilmu tinggi. Akan tetapi oleh karena pada saat itu mereka merupakan wakil dari rakyat yang mengusir kaum pengacau sedangkan pendeta Lama itu adalah pelindung para pengacau sendiri, mereka tidak merasa takut-takut. Lo Cin Ki lalu menggunakan pedangnya menyerang, akan tetapi ketika Pek Lek Hoatsu menangkis dengan toyanya yang panjang. Lo Cin Ki berseru kaget dan melompat mundur dan ketika ia melihat telapak tangannya yang terasa perih, ternyata bahwa telapak tangannya telah lecet dan mengeluarkan darah! Alangkah hebat ilmu Iweekang pendeta Lama itu! “

Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki maklum bahwa mereka berdua bukan lawan pendeta Lama itu, akan tetapi mereka tidak mau memperlihatkan kelemahan, maka segera mereka maju berbareng.

“Ha, ha, ha! Bukankah kalian ini dua orang tua bangka dari Boksanpai? Ketahuilah, ketika dulu guru kalian melawanku, dia masih belum dapat mengalahkan aku, apalagi kalian ini yang hanya berkepandaian rendah.” Akan tetapi kedua pendekar tua itu tidak memperdulikan

ocehannya dan terus menyerang dengan hebat. Namun, begitu Pek Lek Hoatsu memutar senjatanya yang mengeluarkan cahaya berkilauan, keduanya terpaksa bertempur sambil mundur! Permainan tongkat Pek Lek Hoatsu benar-benar luar biasa dan tenaganyapun besar sekali.

Pada saat itu, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang kakek yang aneh dan ketika Tan Hong dan Ong Kai memandang, mereka merasa girang sekali oleh karena segera mengenali bahwa mereka ini adalah Raja Pengemis Lui Song dan Kim Liong Hoatsu si kakek rambut putih!

Pada saat itu si Raja Pengemis menggunakan jari telunjuknya menuding kearah Kim Liong Hoatsu sambil tertawa berkakakan, “Eh, eh, lagi-lagi kau datang juga hendak membawa pahala! Agaknya dalam segala hal, kecuali dalam permainan catur, kau tidak mau kalah dariku, kakek ubanan!”

Juga Kim Liong Hoatsu tertawa. “Jembel tua! Jangan banyak bicara, perlihatkan kepandaianmu!”

Si Raja Pengemis lalu melangkah maju ke arah mereka yang sedang bertempur dan berseru keras kepada kedua jago tua yang mengeroyok pendeta Lama itu, “Kalian orang-orang Bok san pai mundurlah!”

Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki yang telah amat terdesak itu segera melompat ke belakang dan ketika Pek Lek Hoatsu melihat siapa orangnya yang menghadang di depannya, wajahnya berubah pucat. Akan tetapi ia membesarkan suaranya untuk menutupi rasa takutnya ketika ia berkata, “Ah! Si Raja Pengemis juga datang ke sini, apakah kau hendak mengemis?”

Lui Song si Raja Pengemis itu tertawa geli. “Benar, aku hendak mengemis, akan tetapi yang kuminta adalah jiwamu yang kotor!”

Tanpa berkata-kata lagi Pek Lek Hoatsu lalu mengayun tongkatnya menghantam kepala Raja Pengemis itu yang segera mengelak dengan mudah dan cepat. Sambil mengelak, jembel tua itu memaki-maki dan memperolok-olok, hingga Pek Lek Hoatsu menjadi makin marah dan gemas. Serangannya makin cepat dan bertubi-tubi hingga tongkat di tangannya seakan-akan berubah menjadi puluhan bahyaknya yang kesemuanya menyambar sambil membawa maut! Akan tetapi, Raja Pengemis itu benar-benar lihai. Tubuhnya berkelebat ke sana ke mari di antara sambaran tongkat dan jangankan tubuhnya terkena toya, bahkan ujung bajunya saja tak pernah kena sambaran senjata itu! Semua orang yang menonton menjadi pening melihat demonstrasi kepandaian yang tinggi ini, bahkan Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki memandang dengan penuh perhatian dan kagum. Kepandaian Pek Lek Hoatsu agaknya setingkat dengan kepandaian mendiang guru mereka yang menciptakan Boksan Kiamhwat, akan tetapi kepandaian kakek jembel ini lebih hebat lagi!

Tiba-tiba terdengar Kim Liong Hoatsu mencela, “Eh, jembel tua, apakah kau mau borong sendiri saja?”

Si Raja Pengemis tertawa geli dan ketika ia berseru, “Ini, kau kuberi bagian.” Tiba-tiba sekali renggut saja ia berhasil membuat tongkat Pek Lek Hoatsu terlempar ke arah Kim Liong Hoatsu dengan luncuran cepat sekali. Kim Liong Hoatsu menggunakan jari tangannya menyabet ke arah batang tongkat yang menyambar dan “krak!” tongkat panjang itu patah menjadi dua!

Lagi-lagi si Raja Pengemis tertawa dan berkata, “Mari, kau kuberi giliran!” dan tahu-tahu ia telah berhasil

menangkap kaki Pek Lek Hoatsu yang langsung dilemparkan ke arah Kim Liong Hoatsu dengan keras!

Kim Liong Hoatsu mengulurkan tangannya dan sebelum Pek Lek Hoatsu dapat mengelak, kakek ubanan ini telah dapat menangkap lehernya dan cepat melemparkan tubuh itu kembali ke arah si Raja Pengemis dibarengi bentakan, “Untuk apa benda kotor ini? Terimalah kembali!”

Ketika tubuh Pek Lek Hoatsu masih melayang di udara menuju kepada Raja Pengemis, kakek ini lalu, menggunakan tangan kanannya untuk mendorong ke udara, dah aneh! Sebelum tubuh Pek Lek Hoatsu sampai di tangannya, tubuh itu telah kena dorong oleh tenaga hebat yang keluar dari tangan kakek jembel itu dan terpental kembali ke arah si kakek ubanan! Inilah tenaga khikang yang sudah mencapai tingkat tinggi hingga tenaga dorongan yang keluar dari situ cukup hebat untuk mementalkan kembali tubuh Pek Lek Hoatsu yang begitu besar dan berat.

Kim Liong Hoatsu tidak mau mengalah. Iapun menggunakan khikang untuk mendorong tubuh yang masih berada di atas itu hingga tubuh Pek Lek Hoatsu yang sial dan bernasib malang itu seakan-akan menjadi sebuah bola yang dipermainkan ke sana ke mari oleh kedua orang kakek tadi! Dan ketika keduanya mengakhiri permainan ini, ternyata tubuh Pek Lek Hoatsu telah tak bernyawa lagi!

“Nah, nah, kau telah membunuhnya!” kata Lui Song si Raja Pengemis kepada Kim Liong Hoatsu.

“Bukan aku, kaulah yang membunuhnya!” jawab kakek ubanan itu.

“Tidak, aku tidak membunuhnya, kaulah yang melakukannya!” jawab Raja Pengemis pula.

“Bukan, kau!”

“Kau!”

“Biarlah kita putuskan hal ini di atas papan catur nanti!” kata Kim Liong Hoatsu akhirnya.

“Baik!” Si Raja Pengemis menerima tantangan ini.

Setelah bersitegang yang akhirnya diputuskan untuk mengambil kemenangan di atas papan catur, kedua orang kakek itu menggerakkan tubuh dan lenyap dari situ, dan tak seorangpun tahu ke mana perginya, seperti juga tak seorangpun melihat dari mana tadi mereka muncul!

Semua perwira pengacau telah melarikan diri ketika Pek Lek Hoatsu masih dipakai main bola tadi, dan kini keadaan di situ sunyi. Cin Cin Tojin menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas, “Dewasa ini yang memiliki kepandaian setinggi kepandaian mereka, kurasa hanya dua orang itu saja.”

Tan Hong dan Ong Kai merasa agak kecewa mengapa kedua orang kakek yang telah mereka kenal itu sama sekali tidak memperdulikan mereka! Semua orang tiada habisnya memuji dan mengagumi kedua kakek luar biasa yang berilmu tinggi itu.

Setelah banyak perwira para pengacau kena ditewaskan, apalagi setelah Pek Lek Hoatsu yang menjadi orang kuat pengacau Tartar itu tewas pula, maka gerombolan Tartar itu mengundurkan diri dan tidak berani mengganggu daerah perbatasan lagi sebelum tenaga mereka pulih kembali. Para enghiong pun lalu kembali ke tempat masing-masing, melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Tidak sedikitpun tanda jasa atau terima kasih yang mereka terima dari kaisar, bahkan di dalam laporan-laporan nama mereka tak pernah disebut-sebut!

Rumah Lo Cin Ki terhias indah dan suasana gembira sekali. Banyak sekali tamu-tamu dari seluruh daerah memeriakan datang menghadiri pesta perayaan yang diadakan oleh jago tua si Garuda Sakti itu untuk merayakan perkawinan anaknya dan muridnya, yakni Siok Lan dan Tan Hong, sedangkan Ong Kai menikah dengan Lai Hwa Eng.

Pada malam harinya, masih banyak tamu yang datang berkunjung dan pihak tuan rumah menyambut para tamu dengan ramah tamah dan suasana makin gembira setelah para tamu diberi hidangan arak wangi dan masakan lezat.

Pada saat orang-orang bergembira ria, tiba-tiba dari luar muncul seorang tosu berbaju putih rambut dan jenggotnya yang putih berkilau itu mendatangkan sikap menghormat daripada sekalian yang hadir.

Lo Cin Ki dan Cin Cin Tojin yang juga hadir di situ, segera maju menyambut dengan menjura dalam sekali, oleh karena dengan kaget dan heran kedua jago tua ini mengenal kakek ini yang tak lain ialah Kim Liong Hoatsu, kakek iuar biasa yang dulu pernah muncul di puncak pegunungan di tapal batas sebelah barat dan yang bersama si Raja Pengemis telah menewaskan Pek Lek Hoatsu! Di belakang Kim Liong Hoatsu kelihatan seorang tua lain yang berjalan di belakang tosu itu dengan sikap takut-takut dan orang tua ini adalah Ang Houw, bekas kepala rampok!

Melihat Ang Houw, Tan Hong dan Ong Kai terkejut, dan Ong Kai segera menyambut tosu itu sambil berlutut dan memanggii, “Suhu.”

Kim Liong Hoatsu agaknya terkejut mendengar sebutan ini, akan tetapi ketika memandang muka Ong Kai yang hitam, ia teringat bahwa pemuda ini adalah ahli main catur yang dulu pernah memberi petunjuk padanya. Ia tersenyum

dan berkata, “Bangunlah kau muka hitam. Dan di mana adanya Tan Hong yang berjuluk Gin-kiam Gi-to? Panggil ia keluar, pinto hendak bertemu dengannya!” Tosu ini hanya membalas penghormatan Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki dengan anggukan kepala sederhana saja.

Tan Hong yang mendengar bahwa tosu itu mencari dia, segera maju dan berlutut pula, “Locianpwe, teecu Tan Hong berada di sini.”

Kim Liong Hoatsu segera memandang dan ia tercengang ketika melihat bahwa si Maling Budiman adalah pemuda yang dulu membantu Raja Pengemis dalam permainan catur.

“Eh, eh, jadi kaukah Gin kiam Gito yang telah berlaku sewenang-wenang itu? Bangunlah berdiri, pinto hendak bicara sedikit!”

Tan Hong bangun berdiri di depan tosu itu dengan menundukkan kepala sebagai penghormatan.

“Gin kiam Gito, benarkah bahwa kau telah berlaku sewenang-wenang, mengkhianati kaum liok-lim dan melukai cucu muridku si Ang Houw ini? Jawablah yang betul, karena aku sangat benci kepada semua kebohongan!”

Tan Hong terkejut dan maklum bahwa ini tentu gara-gara Ang Houw yang tak disangkanya masih cucu murid tosu luar biasa ini sendiri dan ia teringat bahwa dulu Ang Houw akan mengancam hendak melaporkannya kepada pangcu atau ketua dari kalangan liok-lim, yakni Kim Liong Hoatsu! Akan tetapi, sedikitpun pemuda ini tidak memperlihatkan sikap takut-takut.

“Locianpwe, memang teecu pernah mengalahkan saudara Ang Houw ini dalam sebuah pertempuran. Ketika itu para piauwsu minta pertolongan kepada teecu bertiga

dan oleh karena teecu yang tadinya hendak mendamaikan urusan itu mendengar pula bahwa anak buah saudara Ang Houw ini mengganggu rakyat jelata, maka teecu berusaha memperingatkannya, akan tetapi hal ini ditolak oleh saudara Ang Houw sehingga kami lalu bertempur. Inilah hal yang sebenarnya terjadi, locianpwe!”

“Kau pandai sekali memutarbalikkan duduknya perkara!” Tiba-tiba Ang Houw membentak dengan galaknya. “Aku bersumpah tak pernah mengganggu rakyat dusun!”

“Tak perlu kita ribut mulut saudara Ang Houw, biarlah locianpwe yang memutuskan. Aku percaya penuh akan kebijaksanaannya.” jawab Tan Hong dengan suara tenang.

Sementara itu, semua tamu dan juga Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki, tidak berani mencampuri urusan ini, karena mereka takut kepada kakek yang luar biasa ini.

“Hm, hm, anak muda. Agaknya karena telah memiliki sedikit kepandaian dan mempunyai julukan yang dianggap orang budiman, kau lalu menjadi sombong dan hendak memperlihatkan kepandaianmu di kalangan liok-lim, begitukah?” Suara Kim Liong Hoatsu terdengar mengandung teguran dan ancaman yang menakutkan.

Tiba-tiba Ong Kai maju berlutut, “Suhu, hal ini sama sekali keliru! Tansuheng ini benar-benar pembela keadilan dan perikebajikan dan teecu yang pada waktu itu juga ikut bertempur melawan kawan-kawan Ong taiong ini, berani bersumpah sebagai saksi bahwa Tan suheng sama sekali tidak mengandung maksud untuk menyombong. Semua kesalahan datang dari pihak Ong taiong ini!”

Kata-kata ini diucapkan oleh Ong Kai dengan lantang dan berani dan Kim Liong Hoatsu menganggukkan kepala, “Hm, kau memiliki pribudi dan secara setia kawan, muka

hitam, akan tetapi kau masih terlalu muda untuk dapat mengetahui isi hati seseorang!”

Pada saat yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar suara, “Eh, eh, kakek ubanan, kalau menjadi hakim harus yang adil!”

Belum habis gema suara ini, tahu-tahu orangnya telah nampak di hadapan Kim Liong Hoatsu. Orang ini tak lain adalah Lui Song si Raja Pengemis!

Kim Liong Hoatsu tersenyum dingin ketika ia berkata, “Hah! Jembel tua. Lagi-lagi kau datang menggangguku, akan tetapi kali ini aku minta kepadamu dengan baik supaya kau ke pinggir dan jangan mencampuri urusan orang!”

Lui Song maklum bahwa kali ini tosu itu benar-benar marah dan mungkin kalau ia berkeras akan terjadi hal yang tak menyenangkan, akan tetapi ia harus berdiri di pihak yang benar.

“Kim Liong Hoatsu! Kau terkenal sebagai Pangcu dari golongan liok-lim, mengapa kau tidak tahu akan sepak terjang Gin-kiam Gi-to? Aha! Oleh karena orang she Ang yang berwajah pucat ketakutan ini menjadi cucu muridmu, kau telah menjadi berat sebelah!”

“Lui Song! Sekali lagi kuminta kepadamu supaya minggir dan jangan ikut campur. Tunggulah sampai aku memberi hukuman yang setimpal kepada yang bersalah, baru nanti aku akan melayanimu bermain catur lagi!”

“Ha, ha, kakek ubanan! Kalau sekali kau turun tangan, apakah ada obatnya lagi? Kalau kau turunkan tangan yang betul, itu tidak apa dan aku pengemis jembel tidak berkeberatan, akan tetapi kalau kau sampai salah tangan,

tidak saja aku yang ikut gemas, bahkan kau sendiri akan menyesal!”

“Jembel tua! Sekali lagi dan untuk penghabisan kali, minggirlah!” ucapan Kim Liong Hoatsu mengandung ancaman hebat

“Tidak, kalau pendirianmu masih seperti tadi!” jawab Lui Song dengan kata-kata yang sama kerasnya!

Suasana menjadi tegang dan sunyi. Tak seorangpun berani bergerak atau bernapas keras-keras, bahkan Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki menjadi pucat. Kedua nona pengantin yang berada di dalam kamar tidak berani keluar oleh karena masih mengenakan pakaian pengantin!

Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara Ong Kai yang menubruk dan memeluk kaki Kim Liong Hoatsu. “Suhu, suhu! Mohon bersabar dulu dan janganlah urusan kecil ini menjadi perkara besar! Agaknya suhu sendiri tidak pernah menyangka orang macam apakah Ang Houw ini! Dia adalah seoring pengkhianat yang telah bersekutu dengan para pangacau Tartar!”

“Apa katamu?” Kim Liong Hoatsu menggerakkan kakinya dan tubuh Ong Kai terlempar jauh sampai bergulingan! Akan tetapi oleh karena kakek itu tidak menendang untuk menyerang, hanya karena kaget dan gemas, maka Ong Kai tidak menderita luka dan segera bangkit kembali. Ong Kai lalu menghampiri Tan Hong dan ketika melihat betapa pemuda ini berlutut dan tak bergerak, ia lalu merogoh saku baju Tan Hong dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Melihat kotak kecil ini, wajah Ang Houw menjadi pucat seperti mayat dan kedua kakinya menggigil.

“Suhu, tak perlu teecu banyak bicara karena mungkin suhu takkan percaya. Silakan suhu membaca surat di dalam kotak ini dan suhu akan mengetahui semuanya. Bu Sam Kwi si pengkhianat telah mampus dalam tangan Tansuheng dan bahkan peti inipun dirampas oleh suheng .dari tangan Bu Sam Kwi yang menerimanya dari pengkhianat she Ang ini!”

“Sucouw, jangan percaya obrolannya!” Dengan suara gemetar Ang Houw berkata, akan tetapi sucouwnya melotot kepadanya hingga ia tidak berani berkutik lagi.

“Ha, ha, ha! Bagus, bagus! Anak-anak muda lebih berjasa daripada kita tua bangka yang tak tahu diri!” Si Raja Pengemis menyindir kepada Kim Liong Hoatsu. Sementara itu, si kakek ubanan telah membuka peti kecil itu dan mengeluarkan sepucuk surat. Ketika ia membaca isi surat, wajahnya yang merah itu menjadi pucat dan kedua tangannya gemetar, tanda bahwa hatinya terpukul hebat. Surat itu berbunyi seperti berikut Bu Sam Kwi Ciangkun, Surat ini berikut barang-barang hadiah, kupercayakan kepada seorang pembantuku yang setia bernama Ang Houw, dan apabila bukan dia yang membawa dan mengantarkan padamu, kau bunuh saja pembawa itu!”

“Sebagaimana yang telah kita bicarakan dulu, aku telah bersiap sedia menerima kedatangan kawan-kawan Tartar untuk merobohkan kedudukan kaisar.”

“Harap kau suka membuka jalan agar memudahkan barisan Tartar menerobos tapal batas dan bawalah Ang Houw ini untuk berunding. Aku sudah menyediakan tentara di daerah Tiangan untuk menggabungkan diri dengan tentara Tartar.”

“Sekian dan sedikit hadiah ini harap diterima dengan baik sebagai tanda penghargaanku atas bantuanmu. Hadiah besar menyusul kelak.”

“Tertanda, Pangeran Liong Tek Ong.”

Terlepaslah kotak berisi permata dan surat itu dari tangan Kim Liong Hoatsu setelah ia membaca habis isi surat itu. Ang Houw cepat membungkuk untuk menyambar surat itu, akan tetapi tiba-tiba kaki kiri Kim Liong Hoatsu bergerak menendang dan tubuh Ang Houw terpental jauh sekali sampai menghantam dinding dan tubuhnya roboh dengan kepala pecah! Demikian hebat kemarahan dan tendangan Kim Liong Hoatsu ini hingga semua orang menjadi terkejut dan ngeri, “Nah, nah, kau mengumbar nafsumu lagi!” kata Raja Pengemis.

“Bangsat pengkhianat, bagiannya ialah mati seribu kali dalam sehari!” kata Kim Liong Hoatsu dengan marah sekali, kemudian ia menoleh kepada Tan Hong dan bertanya dengan suara keras, “Eh, Maling Budiman, mengapa tidak dari tadi kau keluarkan bukti-bukti keji ini agar aku tidak sampai salah duga kepadamu?”

Dengan suara tenang dan penuh hormat, Tan Hong berkata, “Maaf, locianpwe, oleh karena locianpwe sedang mengadili sesuatu perkara yang timbul antara teecu dan saudara Ang itu dan yang berlainan sifatnya dengan yang tersebut dalam surat, maka teecu tidak berani mencampuri dengan bukti-bukti lain.”

Jawaban ini membuat muka Kim Liong Hoatsu menjadi merah kembali, tanda bahwa marahnya telah lenyap, akan tetapi kini merahnya lebih hebat dari biasanya, tanda bahwa ia merasa malu kepada diri sendiri. Ia memandang kepada Raja Pengemis dan berkata, “Eh, jembel tua. Aku yang pikun memang telah salah ayoh lekas kau persalahkan aku!”

Si Raja Pengemis tertawa, “Orang yang lekas marah akan tetapi lekas pula menyadari kesalahannya adalah orang bijaksana!” Kemudian kakek jembel ini menjura kepada tuan rumah dan berkata, “Garuda Sakti harap kau maafkan kami dua orang tua bangka yang tak tahu diri dan mengganggu pestamu”

Lo Cin Ki cepat menghampiri dengan muka tersenyum. “Tidak apa, kedatangan jiwi sungguh merupakan kehormatan luar biasa bagi kami sekeluarga. Silakan duduk dan minum arak pengantin. Ingat, arak pengantin mendatangkan rejeki baik, bukan?” Kedua kakek itu saling pandang dan ruang itu lalu penuh suara ketawa Raja Pengemis dan Kitin Liong Hoatsu.

Tan Hong dan Ong Kai cepat memerintahkan orang supaya menyingkirkan jenazah Ang Houw dan menyuruh supaya mayat itu dirawat sebagaimana mestinya. Kemudian keduanya melayani guru mereka dengan penuh penghormatan.

“Eh, muka hitam, ayoh kauambil papan catur dan lawanlah aku. Jangan kau hanya bisa memberi petunjuk kepada Kim Liong Hoatsu seperti dulu!” Raja Pengemis menantang, sebaliknya kakek ubananpun menantang main catur kepada Tan Hong!

Demikianlah, kedua kakek luar biasa itu segera tekun menghadapi papar catur. Lui Song si Raja Pengemis melawan Ong Kai dan Kim Liong Hoatsu melawan Tan Hong sampai semua tamu bubar kedua kakek ini masih berjuang mati-matian melawan kedua pengantin laki-laki! Cin Cin Tojin dan Lo Cin Ki hanya saling pandang tersenyum dan mengangkat pundak!

Ternyata kedua pemuda itu masih unggul dalam permainan catur hingga perlahan tapi tentu, mereka

mendesak biji-biji catur kedua kakek itu hingga keduanya sampai mengeluarkan peluh karena terlalu memutar otak!

Tiba-tiba Raja Pengemis yang cerdik dan tidak mau dikalahkan itu, mendapat akal dan berkata, “Eh, tua bangka ubanan, kita ini benar-benar tak tahu diril Dari tadi telinga kiriku berkejutan tanda bahwa ada orang yang marah-marah dan memaki-makiku! Ah tak salah lagi, tentu pengantin perempuan yang memaki-makiku oleh karena aku menahan suaminya terus-terusan! Ah, sudahlah, aku tidak berani menanti lebih lama, khawatir kalau-kalau pengantin wanita keluar dan mengamuk!” Kakek ini lalu berdiri sambil tertawa.

Kim Liong Hoatsu yang juga telah terdesak dalam permainan itu tertawa pula. “Tua bangka jembel, semenjak tadi telingaku juga berbunyi saja, tentu calon isteri Maling Budiman ini juga memaki-maki dan marah padaku. Maaf, maaf!”

Kedua kakek itu lalu berdiri dan sekali melambaikan tangan, keduanya keluar dan lenyap di dalam gelap.

Tan Hong dan Ong Kai saling pandang dengan tersenyum, dan ketika mereka menengok ke arah meja di mana kotak tadi berada, benda itu telah lenyap dibawa oleh kedua kakek tadi!

Kedua pengantin pria ini lalu masuk ke kamar masing-masing di mana calon isteri mereka telah menanti dengan hati penuh kekhawatiran.

Dan pada beberapa hari di kota raja terjadi kegemparan oleh karena Pangeran Liong Tek Ong kedapatan mati tertusuk pedang dadanya dan di bawah pedang itu tertancap surat pengkhianatan yang ditulis oleh pangeran itu sendiri! Siapa yang melakukan hal ini, tak seorangpun tahu, sedangkan Tan Hong, Ong Kai dan keluarga mereka yang

mendengar akan hal ini, hanya menarik napas dan kagum atas sepak terjang dua orang kakek yang luar biasa itu.

TAMAT

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s